Semoga Dijauhkan dari Syubhat, Syahwat, dan Amarah

Setiap muslim sangat ingin istikamah dalam beragama dan merasakan manisnya iman. Akan tetapi, ada tiga hal yang perlu kita waspadai, yang dapat menyebabkan kita tidak istikamah, bahkan futur dalam beragama, yaitu syubhat, syahwat, dan amarah. Apabila kita bisa menghindari dan mengendalikannya, Allah akan menjaga agama kita.Perhatikan ucapan dari Ibnul Qayyim berikut,:دخل الناس النار من ثلاثة أبواب(١) باب شبهة أورثت شكاً في دين الله(٢) وباب شهوة أورثت تقديم الهوى على طاعته ومرضاته(٣) وباب غضب أورث العدوان على خلقه“Manusia masuk ke dalam neraka melalui tiga pintu:Pertama, pintu syubhat  yang menimbulkan keraguan terhadap agama Allah.Kedua, pintu syahwat yang mengakibatkan seseorang lebih mengedepankan hawa nafsunya daripada ketaatan dan menggapai rida-Nya.Ketiga, pintu amarah/emosi yang akan menimbulkan permusuhan terhadap orang lain” (Al-Fawa’id, hal. 105).Berikut sedikit pembahasan dan bagaimana cara menghindari ketiga hal tersebut.Baca Juga: Cara Menangkal Fitnah Syubhat Dan SyahwatPertama, menghindari syubhat dan syahwatKedua hal ini sangat berbahaya apabila tidak dikendalikan oleh seorang hamba.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَفُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ“Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan (syubhat)” (HR Ahmad).Syubhat dan syahwat sangat mudah tersebar di zaman ini, terlebih melalui sosmed dan internet. Terlebih syahwat, hal ini memang menjadi tabiat manusia. Akan tetapi, apabila tidak terkontrol, maka akan sangat berbahaya.Allah Ta’ala berfirman,زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga)” (QS. Ali Imran: 14).Cara menghindari kedua hal ini adalah dengan ilmu dan sabar. Syubhat dihindari dengan ilmu yang menangkis dan menjelaskan syubhat tersebut serta membimbing ke arah penjelasan yang benar. Sedangkan syahwat dihadapi dengan sabar. Oleh karena itu, inti kehidupan adalah saling menasihati tentang kebenaran (ilmu yang benar) dan saling menasihati tentang kesabaran.Allah Ta’ala berfirman,وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ“Dan mereka saling menasihati supaya menaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.\” (QS. Al-Hasyr: 3).Baca Juga: Syubhat-Syubhat Penghalal MusikKedua, mengendalikan amarahHal ini harus dikendalikan karena emosi yang tidak terkendali banyak merusak dan menghancurkan kehidupan seseorang. Suami menyesal menceraikan istrinya karena amarah sesaat, seseorang kehilangan pekerjaan hanya karena emosi dan amarah sesaat, dan masih banyak cerita tragis terkait dengan emosi sesaat yang tidak dikendalikan.Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menasihati kita agar tidak marah, yaitu mengendalikan diri ketika marah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِيْ ، قَالَ:  لَا تَغْضَبْ . فَرَدَّدَ مِرَارًا. قَالَ:  لَا تَغْضَبْ“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Berilah aku wasiat!’ Beliau menjawab, ‘Engkau jangan marah!’ Orang itu mengulangi pertanyaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Engkau jangan marah!’ (HR. Bukhari).Amarah dan emosi yang memuncak menyebabkan seseorang tidak berpikir jernih. Oleh karena itu, seorang hakim tidak boleh memutuskan perkara dalam keadaan marah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ﻻَ ﻳَﻘْﻀِﻴَﻦَّ ﺣَﻜَﻢٌ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﺛْﻨَﻴْﻦِ ﻭَﻫُﻮَ ﻏَﻀْﺒَﺎﻥُ“Seorang hakim tidak boleh memutuskan perkara di antara dua orang dalam keadaan marah” (HR. Bukhari dan Muslim).Semoga kita semua selalu dihindarikan dari syubhat, syahwat dan amarah yang tidak terkendali dan semoga kita selalu istikamah di jalan Allah.يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ‎”Wahai Zat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu” (HR. ‎Tirmidzi)‎Baca Juga:***@Lombok, pulau seribu masjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Ilmu Tauhid, Membela Kebenaran Dan Ahlinya, Hadist Sholat Subuh Berjamaah, Doa Ketika Sai, Obat Dalam Al Quran

Semoga Dijauhkan dari Syubhat, Syahwat, dan Amarah

Setiap muslim sangat ingin istikamah dalam beragama dan merasakan manisnya iman. Akan tetapi, ada tiga hal yang perlu kita waspadai, yang dapat menyebabkan kita tidak istikamah, bahkan futur dalam beragama, yaitu syubhat, syahwat, dan amarah. Apabila kita bisa menghindari dan mengendalikannya, Allah akan menjaga agama kita.Perhatikan ucapan dari Ibnul Qayyim berikut,:دخل الناس النار من ثلاثة أبواب(١) باب شبهة أورثت شكاً في دين الله(٢) وباب شهوة أورثت تقديم الهوى على طاعته ومرضاته(٣) وباب غضب أورث العدوان على خلقه“Manusia masuk ke dalam neraka melalui tiga pintu:Pertama, pintu syubhat  yang menimbulkan keraguan terhadap agama Allah.Kedua, pintu syahwat yang mengakibatkan seseorang lebih mengedepankan hawa nafsunya daripada ketaatan dan menggapai rida-Nya.Ketiga, pintu amarah/emosi yang akan menimbulkan permusuhan terhadap orang lain” (Al-Fawa’id, hal. 105).Berikut sedikit pembahasan dan bagaimana cara menghindari ketiga hal tersebut.Baca Juga: Cara Menangkal Fitnah Syubhat Dan SyahwatPertama, menghindari syubhat dan syahwatKedua hal ini sangat berbahaya apabila tidak dikendalikan oleh seorang hamba.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَفُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ“Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan (syubhat)” (HR Ahmad).Syubhat dan syahwat sangat mudah tersebar di zaman ini, terlebih melalui sosmed dan internet. Terlebih syahwat, hal ini memang menjadi tabiat manusia. Akan tetapi, apabila tidak terkontrol, maka akan sangat berbahaya.Allah Ta’ala berfirman,زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga)” (QS. Ali Imran: 14).Cara menghindari kedua hal ini adalah dengan ilmu dan sabar. Syubhat dihindari dengan ilmu yang menangkis dan menjelaskan syubhat tersebut serta membimbing ke arah penjelasan yang benar. Sedangkan syahwat dihadapi dengan sabar. Oleh karena itu, inti kehidupan adalah saling menasihati tentang kebenaran (ilmu yang benar) dan saling menasihati tentang kesabaran.Allah Ta’ala berfirman,وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ“Dan mereka saling menasihati supaya menaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.\” (QS. Al-Hasyr: 3).Baca Juga: Syubhat-Syubhat Penghalal MusikKedua, mengendalikan amarahHal ini harus dikendalikan karena emosi yang tidak terkendali banyak merusak dan menghancurkan kehidupan seseorang. Suami menyesal menceraikan istrinya karena amarah sesaat, seseorang kehilangan pekerjaan hanya karena emosi dan amarah sesaat, dan masih banyak cerita tragis terkait dengan emosi sesaat yang tidak dikendalikan.Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menasihati kita agar tidak marah, yaitu mengendalikan diri ketika marah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِيْ ، قَالَ:  لَا تَغْضَبْ . فَرَدَّدَ مِرَارًا. قَالَ:  لَا تَغْضَبْ“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Berilah aku wasiat!’ Beliau menjawab, ‘Engkau jangan marah!’ Orang itu mengulangi pertanyaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Engkau jangan marah!’ (HR. Bukhari).Amarah dan emosi yang memuncak menyebabkan seseorang tidak berpikir jernih. Oleh karena itu, seorang hakim tidak boleh memutuskan perkara dalam keadaan marah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ﻻَ ﻳَﻘْﻀِﻴَﻦَّ ﺣَﻜَﻢٌ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﺛْﻨَﻴْﻦِ ﻭَﻫُﻮَ ﻏَﻀْﺒَﺎﻥُ“Seorang hakim tidak boleh memutuskan perkara di antara dua orang dalam keadaan marah” (HR. Bukhari dan Muslim).Semoga kita semua selalu dihindarikan dari syubhat, syahwat dan amarah yang tidak terkendali dan semoga kita selalu istikamah di jalan Allah.يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ‎”Wahai Zat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu” (HR. ‎Tirmidzi)‎Baca Juga:***@Lombok, pulau seribu masjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Ilmu Tauhid, Membela Kebenaran Dan Ahlinya, Hadist Sholat Subuh Berjamaah, Doa Ketika Sai, Obat Dalam Al Quran
Setiap muslim sangat ingin istikamah dalam beragama dan merasakan manisnya iman. Akan tetapi, ada tiga hal yang perlu kita waspadai, yang dapat menyebabkan kita tidak istikamah, bahkan futur dalam beragama, yaitu syubhat, syahwat, dan amarah. Apabila kita bisa menghindari dan mengendalikannya, Allah akan menjaga agama kita.Perhatikan ucapan dari Ibnul Qayyim berikut,:دخل الناس النار من ثلاثة أبواب(١) باب شبهة أورثت شكاً في دين الله(٢) وباب شهوة أورثت تقديم الهوى على طاعته ومرضاته(٣) وباب غضب أورث العدوان على خلقه“Manusia masuk ke dalam neraka melalui tiga pintu:Pertama, pintu syubhat  yang menimbulkan keraguan terhadap agama Allah.Kedua, pintu syahwat yang mengakibatkan seseorang lebih mengedepankan hawa nafsunya daripada ketaatan dan menggapai rida-Nya.Ketiga, pintu amarah/emosi yang akan menimbulkan permusuhan terhadap orang lain” (Al-Fawa’id, hal. 105).Berikut sedikit pembahasan dan bagaimana cara menghindari ketiga hal tersebut.Baca Juga: Cara Menangkal Fitnah Syubhat Dan SyahwatPertama, menghindari syubhat dan syahwatKedua hal ini sangat berbahaya apabila tidak dikendalikan oleh seorang hamba.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَفُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ“Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan (syubhat)” (HR Ahmad).Syubhat dan syahwat sangat mudah tersebar di zaman ini, terlebih melalui sosmed dan internet. Terlebih syahwat, hal ini memang menjadi tabiat manusia. Akan tetapi, apabila tidak terkontrol, maka akan sangat berbahaya.Allah Ta’ala berfirman,زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga)” (QS. Ali Imran: 14).Cara menghindari kedua hal ini adalah dengan ilmu dan sabar. Syubhat dihindari dengan ilmu yang menangkis dan menjelaskan syubhat tersebut serta membimbing ke arah penjelasan yang benar. Sedangkan syahwat dihadapi dengan sabar. Oleh karena itu, inti kehidupan adalah saling menasihati tentang kebenaran (ilmu yang benar) dan saling menasihati tentang kesabaran.Allah Ta’ala berfirman,وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ“Dan mereka saling menasihati supaya menaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.\” (QS. Al-Hasyr: 3).Baca Juga: Syubhat-Syubhat Penghalal MusikKedua, mengendalikan amarahHal ini harus dikendalikan karena emosi yang tidak terkendali banyak merusak dan menghancurkan kehidupan seseorang. Suami menyesal menceraikan istrinya karena amarah sesaat, seseorang kehilangan pekerjaan hanya karena emosi dan amarah sesaat, dan masih banyak cerita tragis terkait dengan emosi sesaat yang tidak dikendalikan.Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menasihati kita agar tidak marah, yaitu mengendalikan diri ketika marah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِيْ ، قَالَ:  لَا تَغْضَبْ . فَرَدَّدَ مِرَارًا. قَالَ:  لَا تَغْضَبْ“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Berilah aku wasiat!’ Beliau menjawab, ‘Engkau jangan marah!’ Orang itu mengulangi pertanyaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Engkau jangan marah!’ (HR. Bukhari).Amarah dan emosi yang memuncak menyebabkan seseorang tidak berpikir jernih. Oleh karena itu, seorang hakim tidak boleh memutuskan perkara dalam keadaan marah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ﻻَ ﻳَﻘْﻀِﻴَﻦَّ ﺣَﻜَﻢٌ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﺛْﻨَﻴْﻦِ ﻭَﻫُﻮَ ﻏَﻀْﺒَﺎﻥُ“Seorang hakim tidak boleh memutuskan perkara di antara dua orang dalam keadaan marah” (HR. Bukhari dan Muslim).Semoga kita semua selalu dihindarikan dari syubhat, syahwat dan amarah yang tidak terkendali dan semoga kita selalu istikamah di jalan Allah.يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ‎”Wahai Zat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu” (HR. ‎Tirmidzi)‎Baca Juga:***@Lombok, pulau seribu masjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Ilmu Tauhid, Membela Kebenaran Dan Ahlinya, Hadist Sholat Subuh Berjamaah, Doa Ketika Sai, Obat Dalam Al Quran


Setiap muslim sangat ingin istikamah dalam beragama dan merasakan manisnya iman. Akan tetapi, ada tiga hal yang perlu kita waspadai, yang dapat menyebabkan kita tidak istikamah, bahkan futur dalam beragama, yaitu syubhat, syahwat, dan amarah. Apabila kita bisa menghindari dan mengendalikannya, Allah akan menjaga agama kita.Perhatikan ucapan dari Ibnul Qayyim berikut,:دخل الناس النار من ثلاثة أبواب(١) باب شبهة أورثت شكاً في دين الله(٢) وباب شهوة أورثت تقديم الهوى على طاعته ومرضاته(٣) وباب غضب أورث العدوان على خلقه“Manusia masuk ke dalam neraka melalui tiga pintu:Pertama, pintu syubhat  yang menimbulkan keraguan terhadap agama Allah.Kedua, pintu syahwat yang mengakibatkan seseorang lebih mengedepankan hawa nafsunya daripada ketaatan dan menggapai rida-Nya.Ketiga, pintu amarah/emosi yang akan menimbulkan permusuhan terhadap orang lain” (Al-Fawa’id, hal. 105).Berikut sedikit pembahasan dan bagaimana cara menghindari ketiga hal tersebut.Baca Juga: Cara Menangkal Fitnah Syubhat Dan SyahwatPertama, menghindari syubhat dan syahwatKedua hal ini sangat berbahaya apabila tidak dikendalikan oleh seorang hamba.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَفُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ“Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan (syubhat)” (HR Ahmad).Syubhat dan syahwat sangat mudah tersebar di zaman ini, terlebih melalui sosmed dan internet. Terlebih syahwat, hal ini memang menjadi tabiat manusia. Akan tetapi, apabila tidak terkontrol, maka akan sangat berbahaya.Allah Ta’ala berfirman,زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga)” (QS. Ali Imran: 14).Cara menghindari kedua hal ini adalah dengan ilmu dan sabar. Syubhat dihindari dengan ilmu yang menangkis dan menjelaskan syubhat tersebut serta membimbing ke arah penjelasan yang benar. Sedangkan syahwat dihadapi dengan sabar. Oleh karena itu, inti kehidupan adalah saling menasihati tentang kebenaran (ilmu yang benar) dan saling menasihati tentang kesabaran.Allah Ta’ala berfirman,وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ“Dan mereka saling menasihati supaya menaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.\” (QS. Al-Hasyr: 3).Baca Juga: Syubhat-Syubhat Penghalal MusikKedua, mengendalikan amarahHal ini harus dikendalikan karena emosi yang tidak terkendali banyak merusak dan menghancurkan kehidupan seseorang. Suami menyesal menceraikan istrinya karena amarah sesaat, seseorang kehilangan pekerjaan hanya karena emosi dan amarah sesaat, dan masih banyak cerita tragis terkait dengan emosi sesaat yang tidak dikendalikan.Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menasihati kita agar tidak marah, yaitu mengendalikan diri ketika marah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِيْ ، قَالَ:  لَا تَغْضَبْ . فَرَدَّدَ مِرَارًا. قَالَ:  لَا تَغْضَبْ“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Berilah aku wasiat!’ Beliau menjawab, ‘Engkau jangan marah!’ Orang itu mengulangi pertanyaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Engkau jangan marah!’ (HR. Bukhari).Amarah dan emosi yang memuncak menyebabkan seseorang tidak berpikir jernih. Oleh karena itu, seorang hakim tidak boleh memutuskan perkara dalam keadaan marah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ﻻَ ﻳَﻘْﻀِﻴَﻦَّ ﺣَﻜَﻢٌ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﺛْﻨَﻴْﻦِ ﻭَﻫُﻮَ ﻏَﻀْﺒَﺎﻥُ“Seorang hakim tidak boleh memutuskan perkara di antara dua orang dalam keadaan marah” (HR. Bukhari dan Muslim).Semoga kita semua selalu dihindarikan dari syubhat, syahwat dan amarah yang tidak terkendali dan semoga kita selalu istikamah di jalan Allah.يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ‎”Wahai Zat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu” (HR. ‎Tirmidzi)‎Baca Juga:***@Lombok, pulau seribu masjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Ilmu Tauhid, Membela Kebenaran Dan Ahlinya, Hadist Sholat Subuh Berjamaah, Doa Ketika Sai, Obat Dalam Al Quran

Nasihat Untuk Kaum Lelaki yang Sedang Mencari Istri

Ilustrasi danau @unsplashRenungan Untukmu Kaum Lelaki Ketika Mencari IstriHendaknya seseorang yang ingin mencari istri membenarkan niatnya, bahwa niatnya ingin menikah adalah bukan sekedar untuk bersenang-senang dengan wanita yang cantik namun niat utamanya adalah untuk beribadah dan menjaga dirinya agar tidak terjatuh pada hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Dengan niat yang baik maka Allah akan memudahkannya mewujudkan apa yang ia harapkan. Rasulullah ﷺ bersabda,ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُمْ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَالْمُكَاتِبُ الَّذِي يُرِيْدُ الْأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيْدُ الْعَفَافَTiga golongan yang pasti Allah menolong mereka, orang yang berjihad di jalan Allah, budak yang ingin membebaskan dirinya, dan orang yang menikah karena ingin menjaga dirinya (dari berbuat kenistaan).[1]Allah berfirman,﴿وَأَنْكِحُوْا الأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُوْنُوْا فُقَرَاءَ يُغْنِهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ﴾Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:32)Semakin besar niat seseorang bahwa ia menikah adalah untuk beribadah kepada Allah, untuk menerapkan sunnah-sunnah Nabi ﷺ[2] maka pahala yang diperolehnya semakin besar, dan Allah akan semakin membantunya mencapai kebahagiaan. Perkaranya kembali kepada niat yang benar, seseorang bisa saja mengandalkan usaha yang ia lakukan, namun taufik hanyalah di tangan Allah, barangsiapa yang niatnya benar maka Allah akan memberi taufik kepadanya untuk memilih istri yang shalihah.Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ تَزَوَّجَ امْرَأَةً بِعِزِّهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلاَّ ذُلاًّ وَمَنْ تَزَوَّجَهَا لِمَالِهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلاَّ فَقْرًا وَمَنْ تَزَوَّجَهَا لِحَسَبِهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلاَّ دَنَاءَةً وَمَنْ تَزَوَجَّ امْرَأَةً لَمْ يَتَزَوَّجْهَا إِلاَّ لِيَغُضَّ بَصَرَهُ أَوْ لِيَحْصُنَ فَرْجَهُ أَوْ يَصِلَ رَحِمَهُ بَارَكَ اللهُ لَهُ فِيْهَا وَبَارَكَ لَهَا فِيْهِ“Barangsiapa yang menikahi wanita karena pamornya maka Allah tidak akan menambahkan kepadanya kecuali kehinaan, barangsiapa yang menikahi wanita karena menginginkan hartanya maka Allah tidak akan menambah baginya kecuali kemiskinan, barangsiapa yang menikahi wanita karena kedudukannya maka Allah tidak akan menambah baginya kecuali kerndahan, dan barangsiapa yang menikahi wanita agar bisa menjaga pandangannya atau untuk menjaga kemaluannya atau untuk menyambung silaturrahmi maka Allah akan memberikan barokah baginya pada istrinya dan memberikan barokah bagi istrinya padanya”[3]Kisah menarik yang dialami oleh Muhaddits terkenal Sufyan bin ‘Uyainah semoga menjadi bahan renungan bagi para pencari istri.قَالَ يَحْيَى بْنُ يَحْيَى النيسابوري كُنْتُ عِنْدَ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ أَشْكُوْ إِلَيْكَ مِنْ فُلاَنَةٍ يَعْنِي امْرَأَتَهُ. أَنَا أَذَلُّ الأَشْيَاءِ عِنْدَهَا وَأَحْقَرُهَا فَأَطْرَقَ سُفْيَانُ مَلِيًّا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ لَعَلَّكَ رَغِبْتَ إِلَيْهَا لِتَزْدَادَ بِذَلِكَ عِزًا فَقَالَ نَعَمْ يَا أبَا مُحَمَّدٍ. فَقَالَ مَنْ ذَهَبَ إِلَى الْعِزِّ ابتُلِيَ بِالذُّلِّ وَمَنْ ذَهَبَ إِلَى الْمَالِ ابْتُلِيَ باِلْفَقْرِ وَمَنْ ذَهَبَ إِلَى الدِّيْنِ يَجْمَعُ اللهُ لَهُ الْعِزَّ وَالمْاَلَ مَعَ الدِّيْنِثُمَّ أَنْشَأَ يُحَدِّثُهُ فَقَالَ كُنَّا إِخْوَةً أَرْبَعَةً مُحَمَّدٌ وَعِمْرَانُ وَإِبْرَاهِيْمُ وَأنَا، فَمُحَمَّدٌ أَكْبَرُنَا وَعِمْرَانُ أَصْغَرُنَا وَكُنْتُ أَوْسَطَهُمْ. فَلَمَّا أَرَادَ مُحَمَّدٌ أَنْ يَتَزَوَّجَ رَغِبَ فِي الْحَسَبِ فَتَزَوَّجَ مَنْ هِيَ أَكْبَرُ مِنْهُ حَسَبًا فَابْتَلاَهُ اللهُ بِالذُّلِّ وَعِمْرَانُ رَغِبَ فِي الْمَالِ فَتَزَوَّجَ مَنْ هِيَ أَكْبَرُ مَالاً مِنْهُ فَابْتَلاَهُ اللهُ بِالْفَقْرِ أَخَذُوْا مَا فِي يَدَيْهِ وَلَمْ يُعْطُوْهُ شَيْئًا فَنَقَّبْتُ فِي أَمْرِهِمَا فَقَدِمَ عَلَيْنَا مَعْمَرُ بْنُ رَاشِدٍ فَشَاوَرْتُهُ وَقَصَصْتُ عَلَيْهِ قِصَّةَ أَخَوَيَّ فَذَكَّرَنِي حَدِيْثَ يَحْيَى بْنِ جَعْدَة وَحَدِيْثَ عَائِشَةَ فَأَمَّا حَدِيْثُ يَحْيَى بْنِ جَعْدَةَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ عَلَى أَرْبَعٍ دِيْنِهَا وَحَسَبِهَا وَمَالِهَا وَجَمَالِها فَعَلَيْكَ بَذَاتِ الدَّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ، وَحَدِيْثُ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ  ﷺ قَالَ أَعْظَمُ النِّسَاءَ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ مُؤْنَةً.فَاخْتَرْتُ لِنَفْسِي الدِّيْنَ وَتَخْفِيْفَ الظَّهْرِ اقْتِدَاءً بِسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ  ﷺ فَجَمَعَ اللهُ لِيَ الْعِزَّ وَالْمَالَ مَعَ الدِّيْنِBerkata Yahya bin Yahya An-Naisaburi ia berkata, “Aku duduk bersama Sufyan bin ‘Uyaiynah, lalu datanglah kepadanya seorang pria lalu berkata, “Wahai Abu Muhammad (kunyahnya aku mengeluh kepadamu tentang si fulanah (yaitu istrinya), aku adalah sesuatu yang paling rendah dan yang paling hina di mata istriku”. Sufyanpun menundukkan kepalanya sesaat kemudian ia mengangkat kepalanya seraya berkata, “Mungkin engkau dahulu menikah dengannya karena engkau ingin derajat dan martabatmu naik?”, pria itu berkata, “Benar wahai Abu Muhammad”. Sufyan berkata, “Barangsiapa yang (menikah) karena menginginkan martabat maka ia ditimpa dengan kerendahan dan kehinaan, barangsiapa yang menghendaki harta maka akan ditimpa dengan kemiskinan dan barangsiapa yang menghendaki agama maka Allah akan mengumpulkan mertabat dan harta bersama dengan agama”. Kemudian Sufyanpun bercerita kepadanya, ia berkata, “Kami empat bersaudara yaitu Muhammad, Imran, Ibrahim, dan saya. Muhammad adalah yang tertua diantara kami dan Imran adalah yang paling muda diantara kami, adapun aku adalah anak yang tengah. Tatkala Muhammad ingin menikah maka ia ingin mencari pamor dan martabat, lalu iapun menikahi wanita yang lebih tinggi martabatnya daripada dia, maka Allah menimpakan kepadanya kerendahan, Imran menghendaki harta lalu ia menikahi dengan wanita yang lebih kaya darinya maka Allah menimpakan kemiskinan kepadanya, mereka (keluarga istrinya) mengambil harta Imran dan mereka sama sekali tidak memberikan sesuatupun kepadanya. Akupun meneliti kejadian mereka berdua, lalu datang di negeri kami Ma’mar bin Rasyid lalu akupun bermusyawarah dengannya, aku ceritakan kepadanya tentang kejadian yang dialami oleh dua saudaraku lalu iapun mengingatkan aku pada suatu hadits Yahya bin Ja’dah dan hadits ‘Aisyah. Adapun hadits Yahya bin Ja’dah “Wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena martabatnya, karena kecantikannya, karena agamanya, maka hendaklah engkau mendapatkan wanita yang baik agamanya (jika tidak kau lakukan) maka tanganmu akan menempel dengan tanah”, dan hadits Aisyah bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, أََعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أيْسَرُهُنَّ مُؤْنَةً “Wanita yang paling banyak barokahnya adalah yang paling ringan maharnya”. Akupun memilih untuk diriku wanita yang baik agamanya dan yang ringan maharnya dalam rangka mngamalkan sunnah Nabi ﷺ maka Allahpun mengumpulkan bagiku martabat, harta dan agama.” [4].Karya: DR. Firanda Andirja, MA Tema: Kiat Memilih Kekasih Idaman (Series)_____________ Footnote:[1] HR At-Thirmidzi 4/184, An-Nasai di Al-Kubro 3/194, Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro 10/318 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani (Misykat Al-Mashobih 2 no 3089, shahih targhib wat Tarhib 2 no 1308, goyatul marom no 210) [2] Banyak sunnah-sunnah Nabi ﷺ yang tidak bisa diterapkan kecuali oleh oang-orang yang menikah, diantaranya adalah Sabda Nabiمَنْ غسل وَاغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ ثُمَّ غَدَا وَابْتَكَرَ ثُمَّ جَلَسَ قَرِيْبًا مِنَ الإِمَامِ وَأَنْصَتَ وَلَمْ يَلْغُ حَتَّى يَنْصَرِفَ الإِمَامُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوْهَا كَعَمَلِ سَنَةٍ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَاBarangsiapa yang memandikan dan mandi pada hari jum’at kemudian pergi pagi-pagi (ke mesjid) dan bersegera kemudian duduk dekat dengan imam dan konsentrasi mendengarkan, tidak melakukan hal-hal yang sia-sia hingga imam selesai sholat maka baginya pahala puasa dan sholat malam selama setahun untuk setiap langkah kaki yang dilangkahkannya. (HR Ahmad 2/209, Ibnu Hibban 7/19, Ibnu Khuzaimah, An-Nasai di Al-Kubro 1/522, At-Thirmidzi 2/368 3/128 Ad-Darimi 1/437, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).Sabda Nabi (غسل)  diriwayatkan dengan mentasydid huruf sin ((غسَّل)) dan artinya adalah menjima’i istri sehingga menyebabkan istrinya mandi janabah. Dan ini adalah pendapat Abdurrahman bin Al-Aswad dab Hilal bin Yasaf dari kalangan tabi’in dan merupakan pendapat Imam Ahmad dan Al-Qurtubhi- sebagaimana dihikayatkan oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (II/73), lihat juga Fathul Baari (II/366)Menurut pendapat ini seseorang yang hendak berangkat ke mesjid untuk melaksanakan sholat jum’at disunnahkan baginya untuk menjima’i istrinya karena hal itu menenangkan hatinya dan lebih menundukan pandangannya tatkala ia berjalan menuju mesjid.  Adapun pendapat yang kedua yaitu yang memilih riwayat  tanpa mentasydidi huruf siin (غسَل) maksudnya adalah ia mencuci (kepalanya) dan ini adalah pendapat Imam An-Nawawi. (Lihat Al-Fath 2/366 dan Al-Mughni 2/73).[3] HR At-Thabrani dalam Al-Awshoth 3/21-22. dan hadits ini didhoifkan oleh Syaikh Al-Albani, lihat Ad-Dho’ifah  3/68 no 1055, demikian juga dalam Dho’if Targhib wat Tarhib no 1208 [4] Tahdzibul Kamal 11/194-195

Nasihat Untuk Kaum Lelaki yang Sedang Mencari Istri

Ilustrasi danau @unsplashRenungan Untukmu Kaum Lelaki Ketika Mencari IstriHendaknya seseorang yang ingin mencari istri membenarkan niatnya, bahwa niatnya ingin menikah adalah bukan sekedar untuk bersenang-senang dengan wanita yang cantik namun niat utamanya adalah untuk beribadah dan menjaga dirinya agar tidak terjatuh pada hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Dengan niat yang baik maka Allah akan memudahkannya mewujudkan apa yang ia harapkan. Rasulullah ﷺ bersabda,ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُمْ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَالْمُكَاتِبُ الَّذِي يُرِيْدُ الْأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيْدُ الْعَفَافَTiga golongan yang pasti Allah menolong mereka, orang yang berjihad di jalan Allah, budak yang ingin membebaskan dirinya, dan orang yang menikah karena ingin menjaga dirinya (dari berbuat kenistaan).[1]Allah berfirman,﴿وَأَنْكِحُوْا الأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُوْنُوْا فُقَرَاءَ يُغْنِهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ﴾Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:32)Semakin besar niat seseorang bahwa ia menikah adalah untuk beribadah kepada Allah, untuk menerapkan sunnah-sunnah Nabi ﷺ[2] maka pahala yang diperolehnya semakin besar, dan Allah akan semakin membantunya mencapai kebahagiaan. Perkaranya kembali kepada niat yang benar, seseorang bisa saja mengandalkan usaha yang ia lakukan, namun taufik hanyalah di tangan Allah, barangsiapa yang niatnya benar maka Allah akan memberi taufik kepadanya untuk memilih istri yang shalihah.Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ تَزَوَّجَ امْرَأَةً بِعِزِّهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلاَّ ذُلاًّ وَمَنْ تَزَوَّجَهَا لِمَالِهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلاَّ فَقْرًا وَمَنْ تَزَوَّجَهَا لِحَسَبِهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلاَّ دَنَاءَةً وَمَنْ تَزَوَجَّ امْرَأَةً لَمْ يَتَزَوَّجْهَا إِلاَّ لِيَغُضَّ بَصَرَهُ أَوْ لِيَحْصُنَ فَرْجَهُ أَوْ يَصِلَ رَحِمَهُ بَارَكَ اللهُ لَهُ فِيْهَا وَبَارَكَ لَهَا فِيْهِ“Barangsiapa yang menikahi wanita karena pamornya maka Allah tidak akan menambahkan kepadanya kecuali kehinaan, barangsiapa yang menikahi wanita karena menginginkan hartanya maka Allah tidak akan menambah baginya kecuali kemiskinan, barangsiapa yang menikahi wanita karena kedudukannya maka Allah tidak akan menambah baginya kecuali kerndahan, dan barangsiapa yang menikahi wanita agar bisa menjaga pandangannya atau untuk menjaga kemaluannya atau untuk menyambung silaturrahmi maka Allah akan memberikan barokah baginya pada istrinya dan memberikan barokah bagi istrinya padanya”[3]Kisah menarik yang dialami oleh Muhaddits terkenal Sufyan bin ‘Uyainah semoga menjadi bahan renungan bagi para pencari istri.قَالَ يَحْيَى بْنُ يَحْيَى النيسابوري كُنْتُ عِنْدَ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ أَشْكُوْ إِلَيْكَ مِنْ فُلاَنَةٍ يَعْنِي امْرَأَتَهُ. أَنَا أَذَلُّ الأَشْيَاءِ عِنْدَهَا وَأَحْقَرُهَا فَأَطْرَقَ سُفْيَانُ مَلِيًّا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ لَعَلَّكَ رَغِبْتَ إِلَيْهَا لِتَزْدَادَ بِذَلِكَ عِزًا فَقَالَ نَعَمْ يَا أبَا مُحَمَّدٍ. فَقَالَ مَنْ ذَهَبَ إِلَى الْعِزِّ ابتُلِيَ بِالذُّلِّ وَمَنْ ذَهَبَ إِلَى الْمَالِ ابْتُلِيَ باِلْفَقْرِ وَمَنْ ذَهَبَ إِلَى الدِّيْنِ يَجْمَعُ اللهُ لَهُ الْعِزَّ وَالمْاَلَ مَعَ الدِّيْنِثُمَّ أَنْشَأَ يُحَدِّثُهُ فَقَالَ كُنَّا إِخْوَةً أَرْبَعَةً مُحَمَّدٌ وَعِمْرَانُ وَإِبْرَاهِيْمُ وَأنَا، فَمُحَمَّدٌ أَكْبَرُنَا وَعِمْرَانُ أَصْغَرُنَا وَكُنْتُ أَوْسَطَهُمْ. فَلَمَّا أَرَادَ مُحَمَّدٌ أَنْ يَتَزَوَّجَ رَغِبَ فِي الْحَسَبِ فَتَزَوَّجَ مَنْ هِيَ أَكْبَرُ مِنْهُ حَسَبًا فَابْتَلاَهُ اللهُ بِالذُّلِّ وَعِمْرَانُ رَغِبَ فِي الْمَالِ فَتَزَوَّجَ مَنْ هِيَ أَكْبَرُ مَالاً مِنْهُ فَابْتَلاَهُ اللهُ بِالْفَقْرِ أَخَذُوْا مَا فِي يَدَيْهِ وَلَمْ يُعْطُوْهُ شَيْئًا فَنَقَّبْتُ فِي أَمْرِهِمَا فَقَدِمَ عَلَيْنَا مَعْمَرُ بْنُ رَاشِدٍ فَشَاوَرْتُهُ وَقَصَصْتُ عَلَيْهِ قِصَّةَ أَخَوَيَّ فَذَكَّرَنِي حَدِيْثَ يَحْيَى بْنِ جَعْدَة وَحَدِيْثَ عَائِشَةَ فَأَمَّا حَدِيْثُ يَحْيَى بْنِ جَعْدَةَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ عَلَى أَرْبَعٍ دِيْنِهَا وَحَسَبِهَا وَمَالِهَا وَجَمَالِها فَعَلَيْكَ بَذَاتِ الدَّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ، وَحَدِيْثُ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ  ﷺ قَالَ أَعْظَمُ النِّسَاءَ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ مُؤْنَةً.فَاخْتَرْتُ لِنَفْسِي الدِّيْنَ وَتَخْفِيْفَ الظَّهْرِ اقْتِدَاءً بِسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ  ﷺ فَجَمَعَ اللهُ لِيَ الْعِزَّ وَالْمَالَ مَعَ الدِّيْنِBerkata Yahya bin Yahya An-Naisaburi ia berkata, “Aku duduk bersama Sufyan bin ‘Uyaiynah, lalu datanglah kepadanya seorang pria lalu berkata, “Wahai Abu Muhammad (kunyahnya aku mengeluh kepadamu tentang si fulanah (yaitu istrinya), aku adalah sesuatu yang paling rendah dan yang paling hina di mata istriku”. Sufyanpun menundukkan kepalanya sesaat kemudian ia mengangkat kepalanya seraya berkata, “Mungkin engkau dahulu menikah dengannya karena engkau ingin derajat dan martabatmu naik?”, pria itu berkata, “Benar wahai Abu Muhammad”. Sufyan berkata, “Barangsiapa yang (menikah) karena menginginkan martabat maka ia ditimpa dengan kerendahan dan kehinaan, barangsiapa yang menghendaki harta maka akan ditimpa dengan kemiskinan dan barangsiapa yang menghendaki agama maka Allah akan mengumpulkan mertabat dan harta bersama dengan agama”. Kemudian Sufyanpun bercerita kepadanya, ia berkata, “Kami empat bersaudara yaitu Muhammad, Imran, Ibrahim, dan saya. Muhammad adalah yang tertua diantara kami dan Imran adalah yang paling muda diantara kami, adapun aku adalah anak yang tengah. Tatkala Muhammad ingin menikah maka ia ingin mencari pamor dan martabat, lalu iapun menikahi wanita yang lebih tinggi martabatnya daripada dia, maka Allah menimpakan kepadanya kerendahan, Imran menghendaki harta lalu ia menikahi dengan wanita yang lebih kaya darinya maka Allah menimpakan kemiskinan kepadanya, mereka (keluarga istrinya) mengambil harta Imran dan mereka sama sekali tidak memberikan sesuatupun kepadanya. Akupun meneliti kejadian mereka berdua, lalu datang di negeri kami Ma’mar bin Rasyid lalu akupun bermusyawarah dengannya, aku ceritakan kepadanya tentang kejadian yang dialami oleh dua saudaraku lalu iapun mengingatkan aku pada suatu hadits Yahya bin Ja’dah dan hadits ‘Aisyah. Adapun hadits Yahya bin Ja’dah “Wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena martabatnya, karena kecantikannya, karena agamanya, maka hendaklah engkau mendapatkan wanita yang baik agamanya (jika tidak kau lakukan) maka tanganmu akan menempel dengan tanah”, dan hadits Aisyah bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, أََعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أيْسَرُهُنَّ مُؤْنَةً “Wanita yang paling banyak barokahnya adalah yang paling ringan maharnya”. Akupun memilih untuk diriku wanita yang baik agamanya dan yang ringan maharnya dalam rangka mngamalkan sunnah Nabi ﷺ maka Allahpun mengumpulkan bagiku martabat, harta dan agama.” [4].Karya: DR. Firanda Andirja, MA Tema: Kiat Memilih Kekasih Idaman (Series)_____________ Footnote:[1] HR At-Thirmidzi 4/184, An-Nasai di Al-Kubro 3/194, Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro 10/318 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani (Misykat Al-Mashobih 2 no 3089, shahih targhib wat Tarhib 2 no 1308, goyatul marom no 210) [2] Banyak sunnah-sunnah Nabi ﷺ yang tidak bisa diterapkan kecuali oleh oang-orang yang menikah, diantaranya adalah Sabda Nabiمَنْ غسل وَاغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ ثُمَّ غَدَا وَابْتَكَرَ ثُمَّ جَلَسَ قَرِيْبًا مِنَ الإِمَامِ وَأَنْصَتَ وَلَمْ يَلْغُ حَتَّى يَنْصَرِفَ الإِمَامُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوْهَا كَعَمَلِ سَنَةٍ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَاBarangsiapa yang memandikan dan mandi pada hari jum’at kemudian pergi pagi-pagi (ke mesjid) dan bersegera kemudian duduk dekat dengan imam dan konsentrasi mendengarkan, tidak melakukan hal-hal yang sia-sia hingga imam selesai sholat maka baginya pahala puasa dan sholat malam selama setahun untuk setiap langkah kaki yang dilangkahkannya. (HR Ahmad 2/209, Ibnu Hibban 7/19, Ibnu Khuzaimah, An-Nasai di Al-Kubro 1/522, At-Thirmidzi 2/368 3/128 Ad-Darimi 1/437, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).Sabda Nabi (غسل)  diriwayatkan dengan mentasydid huruf sin ((غسَّل)) dan artinya adalah menjima’i istri sehingga menyebabkan istrinya mandi janabah. Dan ini adalah pendapat Abdurrahman bin Al-Aswad dab Hilal bin Yasaf dari kalangan tabi’in dan merupakan pendapat Imam Ahmad dan Al-Qurtubhi- sebagaimana dihikayatkan oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (II/73), lihat juga Fathul Baari (II/366)Menurut pendapat ini seseorang yang hendak berangkat ke mesjid untuk melaksanakan sholat jum’at disunnahkan baginya untuk menjima’i istrinya karena hal itu menenangkan hatinya dan lebih menundukan pandangannya tatkala ia berjalan menuju mesjid.  Adapun pendapat yang kedua yaitu yang memilih riwayat  tanpa mentasydidi huruf siin (غسَل) maksudnya adalah ia mencuci (kepalanya) dan ini adalah pendapat Imam An-Nawawi. (Lihat Al-Fath 2/366 dan Al-Mughni 2/73).[3] HR At-Thabrani dalam Al-Awshoth 3/21-22. dan hadits ini didhoifkan oleh Syaikh Al-Albani, lihat Ad-Dho’ifah  3/68 no 1055, demikian juga dalam Dho’if Targhib wat Tarhib no 1208 [4] Tahdzibul Kamal 11/194-195
Ilustrasi danau @unsplashRenungan Untukmu Kaum Lelaki Ketika Mencari IstriHendaknya seseorang yang ingin mencari istri membenarkan niatnya, bahwa niatnya ingin menikah adalah bukan sekedar untuk bersenang-senang dengan wanita yang cantik namun niat utamanya adalah untuk beribadah dan menjaga dirinya agar tidak terjatuh pada hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Dengan niat yang baik maka Allah akan memudahkannya mewujudkan apa yang ia harapkan. Rasulullah ﷺ bersabda,ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُمْ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَالْمُكَاتِبُ الَّذِي يُرِيْدُ الْأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيْدُ الْعَفَافَTiga golongan yang pasti Allah menolong mereka, orang yang berjihad di jalan Allah, budak yang ingin membebaskan dirinya, dan orang yang menikah karena ingin menjaga dirinya (dari berbuat kenistaan).[1]Allah berfirman,﴿وَأَنْكِحُوْا الأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُوْنُوْا فُقَرَاءَ يُغْنِهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ﴾Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:32)Semakin besar niat seseorang bahwa ia menikah adalah untuk beribadah kepada Allah, untuk menerapkan sunnah-sunnah Nabi ﷺ[2] maka pahala yang diperolehnya semakin besar, dan Allah akan semakin membantunya mencapai kebahagiaan. Perkaranya kembali kepada niat yang benar, seseorang bisa saja mengandalkan usaha yang ia lakukan, namun taufik hanyalah di tangan Allah, barangsiapa yang niatnya benar maka Allah akan memberi taufik kepadanya untuk memilih istri yang shalihah.Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ تَزَوَّجَ امْرَأَةً بِعِزِّهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلاَّ ذُلاًّ وَمَنْ تَزَوَّجَهَا لِمَالِهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلاَّ فَقْرًا وَمَنْ تَزَوَّجَهَا لِحَسَبِهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلاَّ دَنَاءَةً وَمَنْ تَزَوَجَّ امْرَأَةً لَمْ يَتَزَوَّجْهَا إِلاَّ لِيَغُضَّ بَصَرَهُ أَوْ لِيَحْصُنَ فَرْجَهُ أَوْ يَصِلَ رَحِمَهُ بَارَكَ اللهُ لَهُ فِيْهَا وَبَارَكَ لَهَا فِيْهِ“Barangsiapa yang menikahi wanita karena pamornya maka Allah tidak akan menambahkan kepadanya kecuali kehinaan, barangsiapa yang menikahi wanita karena menginginkan hartanya maka Allah tidak akan menambah baginya kecuali kemiskinan, barangsiapa yang menikahi wanita karena kedudukannya maka Allah tidak akan menambah baginya kecuali kerndahan, dan barangsiapa yang menikahi wanita agar bisa menjaga pandangannya atau untuk menjaga kemaluannya atau untuk menyambung silaturrahmi maka Allah akan memberikan barokah baginya pada istrinya dan memberikan barokah bagi istrinya padanya”[3]Kisah menarik yang dialami oleh Muhaddits terkenal Sufyan bin ‘Uyainah semoga menjadi bahan renungan bagi para pencari istri.قَالَ يَحْيَى بْنُ يَحْيَى النيسابوري كُنْتُ عِنْدَ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ أَشْكُوْ إِلَيْكَ مِنْ فُلاَنَةٍ يَعْنِي امْرَأَتَهُ. أَنَا أَذَلُّ الأَشْيَاءِ عِنْدَهَا وَأَحْقَرُهَا فَأَطْرَقَ سُفْيَانُ مَلِيًّا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ لَعَلَّكَ رَغِبْتَ إِلَيْهَا لِتَزْدَادَ بِذَلِكَ عِزًا فَقَالَ نَعَمْ يَا أبَا مُحَمَّدٍ. فَقَالَ مَنْ ذَهَبَ إِلَى الْعِزِّ ابتُلِيَ بِالذُّلِّ وَمَنْ ذَهَبَ إِلَى الْمَالِ ابْتُلِيَ باِلْفَقْرِ وَمَنْ ذَهَبَ إِلَى الدِّيْنِ يَجْمَعُ اللهُ لَهُ الْعِزَّ وَالمْاَلَ مَعَ الدِّيْنِثُمَّ أَنْشَأَ يُحَدِّثُهُ فَقَالَ كُنَّا إِخْوَةً أَرْبَعَةً مُحَمَّدٌ وَعِمْرَانُ وَإِبْرَاهِيْمُ وَأنَا، فَمُحَمَّدٌ أَكْبَرُنَا وَعِمْرَانُ أَصْغَرُنَا وَكُنْتُ أَوْسَطَهُمْ. فَلَمَّا أَرَادَ مُحَمَّدٌ أَنْ يَتَزَوَّجَ رَغِبَ فِي الْحَسَبِ فَتَزَوَّجَ مَنْ هِيَ أَكْبَرُ مِنْهُ حَسَبًا فَابْتَلاَهُ اللهُ بِالذُّلِّ وَعِمْرَانُ رَغِبَ فِي الْمَالِ فَتَزَوَّجَ مَنْ هِيَ أَكْبَرُ مَالاً مِنْهُ فَابْتَلاَهُ اللهُ بِالْفَقْرِ أَخَذُوْا مَا فِي يَدَيْهِ وَلَمْ يُعْطُوْهُ شَيْئًا فَنَقَّبْتُ فِي أَمْرِهِمَا فَقَدِمَ عَلَيْنَا مَعْمَرُ بْنُ رَاشِدٍ فَشَاوَرْتُهُ وَقَصَصْتُ عَلَيْهِ قِصَّةَ أَخَوَيَّ فَذَكَّرَنِي حَدِيْثَ يَحْيَى بْنِ جَعْدَة وَحَدِيْثَ عَائِشَةَ فَأَمَّا حَدِيْثُ يَحْيَى بْنِ جَعْدَةَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ عَلَى أَرْبَعٍ دِيْنِهَا وَحَسَبِهَا وَمَالِهَا وَجَمَالِها فَعَلَيْكَ بَذَاتِ الدَّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ، وَحَدِيْثُ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ  ﷺ قَالَ أَعْظَمُ النِّسَاءَ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ مُؤْنَةً.فَاخْتَرْتُ لِنَفْسِي الدِّيْنَ وَتَخْفِيْفَ الظَّهْرِ اقْتِدَاءً بِسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ  ﷺ فَجَمَعَ اللهُ لِيَ الْعِزَّ وَالْمَالَ مَعَ الدِّيْنِBerkata Yahya bin Yahya An-Naisaburi ia berkata, “Aku duduk bersama Sufyan bin ‘Uyaiynah, lalu datanglah kepadanya seorang pria lalu berkata, “Wahai Abu Muhammad (kunyahnya aku mengeluh kepadamu tentang si fulanah (yaitu istrinya), aku adalah sesuatu yang paling rendah dan yang paling hina di mata istriku”. Sufyanpun menundukkan kepalanya sesaat kemudian ia mengangkat kepalanya seraya berkata, “Mungkin engkau dahulu menikah dengannya karena engkau ingin derajat dan martabatmu naik?”, pria itu berkata, “Benar wahai Abu Muhammad”. Sufyan berkata, “Barangsiapa yang (menikah) karena menginginkan martabat maka ia ditimpa dengan kerendahan dan kehinaan, barangsiapa yang menghendaki harta maka akan ditimpa dengan kemiskinan dan barangsiapa yang menghendaki agama maka Allah akan mengumpulkan mertabat dan harta bersama dengan agama”. Kemudian Sufyanpun bercerita kepadanya, ia berkata, “Kami empat bersaudara yaitu Muhammad, Imran, Ibrahim, dan saya. Muhammad adalah yang tertua diantara kami dan Imran adalah yang paling muda diantara kami, adapun aku adalah anak yang tengah. Tatkala Muhammad ingin menikah maka ia ingin mencari pamor dan martabat, lalu iapun menikahi wanita yang lebih tinggi martabatnya daripada dia, maka Allah menimpakan kepadanya kerendahan, Imran menghendaki harta lalu ia menikahi dengan wanita yang lebih kaya darinya maka Allah menimpakan kemiskinan kepadanya, mereka (keluarga istrinya) mengambil harta Imran dan mereka sama sekali tidak memberikan sesuatupun kepadanya. Akupun meneliti kejadian mereka berdua, lalu datang di negeri kami Ma’mar bin Rasyid lalu akupun bermusyawarah dengannya, aku ceritakan kepadanya tentang kejadian yang dialami oleh dua saudaraku lalu iapun mengingatkan aku pada suatu hadits Yahya bin Ja’dah dan hadits ‘Aisyah. Adapun hadits Yahya bin Ja’dah “Wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena martabatnya, karena kecantikannya, karena agamanya, maka hendaklah engkau mendapatkan wanita yang baik agamanya (jika tidak kau lakukan) maka tanganmu akan menempel dengan tanah”, dan hadits Aisyah bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, أََعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أيْسَرُهُنَّ مُؤْنَةً “Wanita yang paling banyak barokahnya adalah yang paling ringan maharnya”. Akupun memilih untuk diriku wanita yang baik agamanya dan yang ringan maharnya dalam rangka mngamalkan sunnah Nabi ﷺ maka Allahpun mengumpulkan bagiku martabat, harta dan agama.” [4].Karya: DR. Firanda Andirja, MA Tema: Kiat Memilih Kekasih Idaman (Series)_____________ Footnote:[1] HR At-Thirmidzi 4/184, An-Nasai di Al-Kubro 3/194, Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro 10/318 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani (Misykat Al-Mashobih 2 no 3089, shahih targhib wat Tarhib 2 no 1308, goyatul marom no 210) [2] Banyak sunnah-sunnah Nabi ﷺ yang tidak bisa diterapkan kecuali oleh oang-orang yang menikah, diantaranya adalah Sabda Nabiمَنْ غسل وَاغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ ثُمَّ غَدَا وَابْتَكَرَ ثُمَّ جَلَسَ قَرِيْبًا مِنَ الإِمَامِ وَأَنْصَتَ وَلَمْ يَلْغُ حَتَّى يَنْصَرِفَ الإِمَامُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوْهَا كَعَمَلِ سَنَةٍ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَاBarangsiapa yang memandikan dan mandi pada hari jum’at kemudian pergi pagi-pagi (ke mesjid) dan bersegera kemudian duduk dekat dengan imam dan konsentrasi mendengarkan, tidak melakukan hal-hal yang sia-sia hingga imam selesai sholat maka baginya pahala puasa dan sholat malam selama setahun untuk setiap langkah kaki yang dilangkahkannya. (HR Ahmad 2/209, Ibnu Hibban 7/19, Ibnu Khuzaimah, An-Nasai di Al-Kubro 1/522, At-Thirmidzi 2/368 3/128 Ad-Darimi 1/437, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).Sabda Nabi (غسل)  diriwayatkan dengan mentasydid huruf sin ((غسَّل)) dan artinya adalah menjima’i istri sehingga menyebabkan istrinya mandi janabah. Dan ini adalah pendapat Abdurrahman bin Al-Aswad dab Hilal bin Yasaf dari kalangan tabi’in dan merupakan pendapat Imam Ahmad dan Al-Qurtubhi- sebagaimana dihikayatkan oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (II/73), lihat juga Fathul Baari (II/366)Menurut pendapat ini seseorang yang hendak berangkat ke mesjid untuk melaksanakan sholat jum’at disunnahkan baginya untuk menjima’i istrinya karena hal itu menenangkan hatinya dan lebih menundukan pandangannya tatkala ia berjalan menuju mesjid.  Adapun pendapat yang kedua yaitu yang memilih riwayat  tanpa mentasydidi huruf siin (غسَل) maksudnya adalah ia mencuci (kepalanya) dan ini adalah pendapat Imam An-Nawawi. (Lihat Al-Fath 2/366 dan Al-Mughni 2/73).[3] HR At-Thabrani dalam Al-Awshoth 3/21-22. dan hadits ini didhoifkan oleh Syaikh Al-Albani, lihat Ad-Dho’ifah  3/68 no 1055, demikian juga dalam Dho’if Targhib wat Tarhib no 1208 [4] Tahdzibul Kamal 11/194-195


Ilustrasi danau @unsplashRenungan Untukmu Kaum Lelaki Ketika Mencari IstriHendaknya seseorang yang ingin mencari istri membenarkan niatnya, bahwa niatnya ingin menikah adalah bukan sekedar untuk bersenang-senang dengan wanita yang cantik namun niat utamanya adalah untuk beribadah dan menjaga dirinya agar tidak terjatuh pada hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Dengan niat yang baik maka Allah akan memudahkannya mewujudkan apa yang ia harapkan. Rasulullah ﷺ bersabda,ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُمْ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَالْمُكَاتِبُ الَّذِي يُرِيْدُ الْأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيْدُ الْعَفَافَTiga golongan yang pasti Allah menolong mereka, orang yang berjihad di jalan Allah, budak yang ingin membebaskan dirinya, dan orang yang menikah karena ingin menjaga dirinya (dari berbuat kenistaan).[1]Allah berfirman,﴿وَأَنْكِحُوْا الأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُوْنُوْا فُقَرَاءَ يُغْنِهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ﴾Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:32)Semakin besar niat seseorang bahwa ia menikah adalah untuk beribadah kepada Allah, untuk menerapkan sunnah-sunnah Nabi ﷺ[2] maka pahala yang diperolehnya semakin besar, dan Allah akan semakin membantunya mencapai kebahagiaan. Perkaranya kembali kepada niat yang benar, seseorang bisa saja mengandalkan usaha yang ia lakukan, namun taufik hanyalah di tangan Allah, barangsiapa yang niatnya benar maka Allah akan memberi taufik kepadanya untuk memilih istri yang shalihah.Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ تَزَوَّجَ امْرَأَةً بِعِزِّهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلاَّ ذُلاًّ وَمَنْ تَزَوَّجَهَا لِمَالِهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلاَّ فَقْرًا وَمَنْ تَزَوَّجَهَا لِحَسَبِهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلاَّ دَنَاءَةً وَمَنْ تَزَوَجَّ امْرَأَةً لَمْ يَتَزَوَّجْهَا إِلاَّ لِيَغُضَّ بَصَرَهُ أَوْ لِيَحْصُنَ فَرْجَهُ أَوْ يَصِلَ رَحِمَهُ بَارَكَ اللهُ لَهُ فِيْهَا وَبَارَكَ لَهَا فِيْهِ“Barangsiapa yang menikahi wanita karena pamornya maka Allah tidak akan menambahkan kepadanya kecuali kehinaan, barangsiapa yang menikahi wanita karena menginginkan hartanya maka Allah tidak akan menambah baginya kecuali kemiskinan, barangsiapa yang menikahi wanita karena kedudukannya maka Allah tidak akan menambah baginya kecuali kerndahan, dan barangsiapa yang menikahi wanita agar bisa menjaga pandangannya atau untuk menjaga kemaluannya atau untuk menyambung silaturrahmi maka Allah akan memberikan barokah baginya pada istrinya dan memberikan barokah bagi istrinya padanya”[3]Kisah menarik yang dialami oleh Muhaddits terkenal Sufyan bin ‘Uyainah semoga menjadi bahan renungan bagi para pencari istri.قَالَ يَحْيَى بْنُ يَحْيَى النيسابوري كُنْتُ عِنْدَ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ أَشْكُوْ إِلَيْكَ مِنْ فُلاَنَةٍ يَعْنِي امْرَأَتَهُ. أَنَا أَذَلُّ الأَشْيَاءِ عِنْدَهَا وَأَحْقَرُهَا فَأَطْرَقَ سُفْيَانُ مَلِيًّا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ لَعَلَّكَ رَغِبْتَ إِلَيْهَا لِتَزْدَادَ بِذَلِكَ عِزًا فَقَالَ نَعَمْ يَا أبَا مُحَمَّدٍ. فَقَالَ مَنْ ذَهَبَ إِلَى الْعِزِّ ابتُلِيَ بِالذُّلِّ وَمَنْ ذَهَبَ إِلَى الْمَالِ ابْتُلِيَ باِلْفَقْرِ وَمَنْ ذَهَبَ إِلَى الدِّيْنِ يَجْمَعُ اللهُ لَهُ الْعِزَّ وَالمْاَلَ مَعَ الدِّيْنِثُمَّ أَنْشَأَ يُحَدِّثُهُ فَقَالَ كُنَّا إِخْوَةً أَرْبَعَةً مُحَمَّدٌ وَعِمْرَانُ وَإِبْرَاهِيْمُ وَأنَا، فَمُحَمَّدٌ أَكْبَرُنَا وَعِمْرَانُ أَصْغَرُنَا وَكُنْتُ أَوْسَطَهُمْ. فَلَمَّا أَرَادَ مُحَمَّدٌ أَنْ يَتَزَوَّجَ رَغِبَ فِي الْحَسَبِ فَتَزَوَّجَ مَنْ هِيَ أَكْبَرُ مِنْهُ حَسَبًا فَابْتَلاَهُ اللهُ بِالذُّلِّ وَعِمْرَانُ رَغِبَ فِي الْمَالِ فَتَزَوَّجَ مَنْ هِيَ أَكْبَرُ مَالاً مِنْهُ فَابْتَلاَهُ اللهُ بِالْفَقْرِ أَخَذُوْا مَا فِي يَدَيْهِ وَلَمْ يُعْطُوْهُ شَيْئًا فَنَقَّبْتُ فِي أَمْرِهِمَا فَقَدِمَ عَلَيْنَا مَعْمَرُ بْنُ رَاشِدٍ فَشَاوَرْتُهُ وَقَصَصْتُ عَلَيْهِ قِصَّةَ أَخَوَيَّ فَذَكَّرَنِي حَدِيْثَ يَحْيَى بْنِ جَعْدَة وَحَدِيْثَ عَائِشَةَ فَأَمَّا حَدِيْثُ يَحْيَى بْنِ جَعْدَةَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ عَلَى أَرْبَعٍ دِيْنِهَا وَحَسَبِهَا وَمَالِهَا وَجَمَالِها فَعَلَيْكَ بَذَاتِ الدَّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ، وَحَدِيْثُ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ  ﷺ قَالَ أَعْظَمُ النِّسَاءَ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ مُؤْنَةً.فَاخْتَرْتُ لِنَفْسِي الدِّيْنَ وَتَخْفِيْفَ الظَّهْرِ اقْتِدَاءً بِسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ  ﷺ فَجَمَعَ اللهُ لِيَ الْعِزَّ وَالْمَالَ مَعَ الدِّيْنِBerkata Yahya bin Yahya An-Naisaburi ia berkata, “Aku duduk bersama Sufyan bin ‘Uyaiynah, lalu datanglah kepadanya seorang pria lalu berkata, “Wahai Abu Muhammad (kunyahnya aku mengeluh kepadamu tentang si fulanah (yaitu istrinya), aku adalah sesuatu yang paling rendah dan yang paling hina di mata istriku”. Sufyanpun menundukkan kepalanya sesaat kemudian ia mengangkat kepalanya seraya berkata, “Mungkin engkau dahulu menikah dengannya karena engkau ingin derajat dan martabatmu naik?”, pria itu berkata, “Benar wahai Abu Muhammad”. Sufyan berkata, “Barangsiapa yang (menikah) karena menginginkan martabat maka ia ditimpa dengan kerendahan dan kehinaan, barangsiapa yang menghendaki harta maka akan ditimpa dengan kemiskinan dan barangsiapa yang menghendaki agama maka Allah akan mengumpulkan mertabat dan harta bersama dengan agama”. Kemudian Sufyanpun bercerita kepadanya, ia berkata, “Kami empat bersaudara yaitu Muhammad, Imran, Ibrahim, dan saya. Muhammad adalah yang tertua diantara kami dan Imran adalah yang paling muda diantara kami, adapun aku adalah anak yang tengah. Tatkala Muhammad ingin menikah maka ia ingin mencari pamor dan martabat, lalu iapun menikahi wanita yang lebih tinggi martabatnya daripada dia, maka Allah menimpakan kepadanya kerendahan, Imran menghendaki harta lalu ia menikahi dengan wanita yang lebih kaya darinya maka Allah menimpakan kemiskinan kepadanya, mereka (keluarga istrinya) mengambil harta Imran dan mereka sama sekali tidak memberikan sesuatupun kepadanya. Akupun meneliti kejadian mereka berdua, lalu datang di negeri kami Ma’mar bin Rasyid lalu akupun bermusyawarah dengannya, aku ceritakan kepadanya tentang kejadian yang dialami oleh dua saudaraku lalu iapun mengingatkan aku pada suatu hadits Yahya bin Ja’dah dan hadits ‘Aisyah. Adapun hadits Yahya bin Ja’dah “Wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena martabatnya, karena kecantikannya, karena agamanya, maka hendaklah engkau mendapatkan wanita yang baik agamanya (jika tidak kau lakukan) maka tanganmu akan menempel dengan tanah”, dan hadits Aisyah bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, أََعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أيْسَرُهُنَّ مُؤْنَةً “Wanita yang paling banyak barokahnya adalah yang paling ringan maharnya”. Akupun memilih untuk diriku wanita yang baik agamanya dan yang ringan maharnya dalam rangka mngamalkan sunnah Nabi ﷺ maka Allahpun mengumpulkan bagiku martabat, harta dan agama.” [4].Karya: DR. Firanda Andirja, MA Tema: Kiat Memilih Kekasih Idaman (Series)_____________ Footnote:[1] HR At-Thirmidzi 4/184, An-Nasai di Al-Kubro 3/194, Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro 10/318 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani (Misykat Al-Mashobih 2 no 3089, shahih targhib wat Tarhib 2 no 1308, goyatul marom no 210) [2] Banyak sunnah-sunnah Nabi ﷺ yang tidak bisa diterapkan kecuali oleh oang-orang yang menikah, diantaranya adalah Sabda Nabiمَنْ غسل وَاغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ ثُمَّ غَدَا وَابْتَكَرَ ثُمَّ جَلَسَ قَرِيْبًا مِنَ الإِمَامِ وَأَنْصَتَ وَلَمْ يَلْغُ حَتَّى يَنْصَرِفَ الإِمَامُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوْهَا كَعَمَلِ سَنَةٍ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَاBarangsiapa yang memandikan dan mandi pada hari jum’at kemudian pergi pagi-pagi (ke mesjid) dan bersegera kemudian duduk dekat dengan imam dan konsentrasi mendengarkan, tidak melakukan hal-hal yang sia-sia hingga imam selesai sholat maka baginya pahala puasa dan sholat malam selama setahun untuk setiap langkah kaki yang dilangkahkannya. (HR Ahmad 2/209, Ibnu Hibban 7/19, Ibnu Khuzaimah, An-Nasai di Al-Kubro 1/522, At-Thirmidzi 2/368 3/128 Ad-Darimi 1/437, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).Sabda Nabi (غسل)  diriwayatkan dengan mentasydid huruf sin ((غسَّل)) dan artinya adalah menjima’i istri sehingga menyebabkan istrinya mandi janabah. Dan ini adalah pendapat Abdurrahman bin Al-Aswad dab Hilal bin Yasaf dari kalangan tabi’in dan merupakan pendapat Imam Ahmad dan Al-Qurtubhi- sebagaimana dihikayatkan oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (II/73), lihat juga Fathul Baari (II/366)Menurut pendapat ini seseorang yang hendak berangkat ke mesjid untuk melaksanakan sholat jum’at disunnahkan baginya untuk menjima’i istrinya karena hal itu menenangkan hatinya dan lebih menundukan pandangannya tatkala ia berjalan menuju mesjid.  Adapun pendapat yang kedua yaitu yang memilih riwayat  tanpa mentasydidi huruf siin (غسَل) maksudnya adalah ia mencuci (kepalanya) dan ini adalah pendapat Imam An-Nawawi. (Lihat Al-Fath 2/366 dan Al-Mughni 2/73).[3] HR At-Thabrani dalam Al-Awshoth 3/21-22. dan hadits ini didhoifkan oleh Syaikh Al-Albani, lihat Ad-Dho’ifah  3/68 no 1055, demikian juga dalam Dho’if Targhib wat Tarhib no 1208 [4] Tahdzibul Kamal 11/194-195

Bersama Menanggulangi Wabah Corona

Kaum muslimin yang semoga selalu dirahmati Allah, tidaklah samar bagi kita keadaan musibah wabah yang saat ini tengah melanda dunia, yaitu wabah SARS CoV-2/COVID-19 (Corona Virus Infection Disease-19) atau umum disebut sebagai virus corona. Banyak korban jiwa yang telah melayang di berbagai negara dan Indonesia pun termasuk negara dengan presentase kematian yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Menempuh Sebab dalam Menanggulangi WabahUntuk menanggulangi wabah dan musibah ini, kita perlu melakukan sebab-sebab secara syar’i (sebab non fisik) dan sebab-sebab secara fisik (sebab kauni). Di antara kedua sebab ini yang paling ditekankan adalah menempuh sebab-sebab syar’i karena bersumber dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya (berdasarkan bimbingan wahyu). Meskipun demikian kita tidak boleh mengabaikan sebab fisik/sebab kauni karena hal itu adalah bagian dari usaha (mengambil sebab) yang diperintahkan dalam agama. Itulah bentuk tawakal kita kepada Allah ta’ala. Karena rukun tawakal adalah menempuh sebab yang mengantarkan untuk memperoleh apa yang kita inginkan lalu hati kita pasrah total kepada Allah ta’ala. Jika kita terhindar dari penyakit atau mendapatkan kesembuhan dari penyakit, hal itu semata karena karunia Allah ta’ala. Jika ternyata setelah melakukan sebab syar’i dan sebab kauni (usaha lahiriah) kita tetap terkena penyakit atau tidak mendapatkan kesembuhan, maka itu merupakan takdir Allah yang semestinya kita terima dengan hati legowo (lapang) dan semua itu baik bagi seorang mukmin. [1] Menempuh Sebab-Sebab FisikPemerintah telah membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 (wabah Corona). Di antara poin-poin penting yang sepatutnya diperhatikan oleh segenap warga masyarakat ialah melakukan pencegahan dalam level individu dalam bentuk menjaga kebersihan diri dan rumah (universal precaution). Di antara himbauan yang diberikan adalah sebagai berikut. Sering mencuci tangan dengan air dan sabun dengan langkah yang benar (5-6 langkah cuci tangan), terutama saat baru memasuki rumah, sebelum dan sesudah makan, sesudah dari toilet, setelah menyentuh benda-benda yang tidak diketahui pasti kebersihannya, setelah mengurus binatang, dan lain-lain. Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang belum dicuci. Segera ganti baju dan mandi sepulang dari bepergian. Tidak berjabat tangan. Tidak berinteraksi dari jarak dekat dengan orang lain, baik yang memiliki gejala sakit ataukah tidak. Tutupi mulut saat batuk dan bersin dengan lengan atas dan ketiak dan segera cuci tangan. Sering membersihkan/mengelap permukaan benda seperti meja/kursi yang sering disentuh . Kemudian, juga ada beberapa cara untuk mencegah meluasnya wabah ini pada tingkatan masyarakat dengan melakukan pembatasan interaksi fisik seperti: Tidak berdekatan atau berkumpul di tempat keramaian. Gunakan masker saat keluar rumah. Tidak mengadakan pertemuan yang melibatkan banyak peserta. Hindari melakukan perjalanan ke luar kota. Mengurangi berkunjung ke rumah orang lain dan kurangi menerima kunjungan. Mengurangi frekuensi pergi untuk belanja dan usahakan bukan pada jam ramai. Menerapkan bekerja dari rumah. Menjaga jarak saat mengantri atau duduk di bus, kereta, atau fasilitas umum lainnya minimal 1 meter. Anak-anak bermain di rumah saja. Ibadah dapat dilaksanakan di rumah untuk sementara waktu. [2] Selain itu, pemerintah juga menghimbau atau memberikan ketentuan bagi masyarakat untuk melakukan pembatasan sosial berupa menjaga jarak fisik dengan beberapa cara, misalnya: Tidak bersalaman, berpelukan atau berciuman (cipika cipiki). Hindari penggunaan transportasi publik dan hindari jam sibuk ketika bepergian. Dilarang berkumpul massal di kerumunan dan fasilitas umum. Hindari berkumpul tatap muka dengan banyak orang dan menunda kegiatan bersama. Gunakan telepon atau layanan online untuk menghubungi orang lain. Jika anda sakit jangan mengunjungi/berdekatan dengan orang lanjut usia. Semua orang harus mengikuti ketentuan ini. Pemerintah juga menghimbau untuk mengikuti petunjuk ini dengan ketat dan membatasi tatap muka dengan teman dan keluarga, khususnya jika anda berusia 60 tahun ke atas, atau memiliki penyakit penyerta seperti diabetes melitus, hipertensi, kanker, asma dan penyakit paru obstruksi kronik, atau ibu hamil. [3]  Pemerintah juga telah memberikan penjelasan ringkas berkaitan dengan klasifikasi kasus COVID-19 untuk masyarakat sebagai berikut : Orang Tanpa Gejala (OTG): Orang tanpa gejala yang memiliki kontak dengan kasus positif. Maka bagi kelompok ini diberlakukan isolasi diri sendiri di rumah. Orang Dalam Pemantauan (ODP): Orang yang memiliki gejala ringan, dan membutuhkan pemeriksaan. Bagi kelompok ini juga harus mengisolasi diri sendiri di rumah.  Pasien Dalam Pengawasan (PDP): Pasien yang memiliki gejala ringan/sedang/berat yang memiliki riwayat perjalanan/kontak dan membutuhkan pemeriksaan. Bagi kelompok ini jika sakitnya ringan cukup mengisolasi diri di rumah. Jika sakitnya sedang perlu dirawat di Rumah Sakit Darurat. Dan apabila sakitnya berat harus dirawat di Rumah Sakit Rujukan.  Konfirmasi: Yaitu pasien yang terinfeksi COVID-19 dengan hasil pemeriksaan positif. Apabila sakitnya ringan bisa mengisolasi diri di rumah. Apabila sakitnya sedang harus dirawat di Rumah Sakit Darurat. Dan apabila sakitnya berat harus dirawat di Rumah Sakit Rujukan. [4] Menempuh Sebab-Sebab Non-FisikPerlu diketahui oleh segenap kaum muslimin bahwasanya dalam kondisi wabah dan musibah yang begitu berat semacam ini perlu dilakukan usaha-usaha non fisik yang berkaitan dengan agama dan keyakinan kita sebagai seorang muslim. Salah satu perkara mendasar yang harus kita ingat adalah betapa fakir dan butuhnya kita kepada Allah.Allah berfirmanيَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ“Wahai manusia, kalian adalah orang-orang yang fakir/butuh kepada Allah. Dan Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji” (QS. Fathir: 15) Kebutuhan ini semakin penting dan mendesak pada saat tertimpa kesulitan dan musibah berat semacam ini.Kaidah pertama. Kita harus meyakini bahwa Allah telah menakdirkan segala sesuatu. Allah berfirman وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا“Dan Allah menciptakan segala sesuatu dan menetapkan takdirnya dengan sebenar-benarnya.” (QS. al-Furqan: 2)Oleh sebab itu kita mengimani takdir Allah ini dan menghadapi musibah yang menimpa dengan kesabaran. Kaidah kedua. Kita harus menyempurnakan tawakal kepada Allah dan menyandarkan segala urusan kepada-Nya. Allah berfirman,قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ“Katakanlah; Tidak akan menimpa kami kecuali apa-apa yang telah ditetapkan Allah menimpa kami, Dia lah penolong bagi kami. Dan kepada Allah semata hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. At-Taubah : 51)Kaidah ketiga. Kita harus kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Allah berfirman,ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan ulah tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat dari apa yang mereka kerjakan, mudah-mudahan mereka kembali/bertaubat.” (QS. Ar-Rum : 41) Kaidah keempat. Kita harus menempuh sebab-sebab (upaya nyata) untuk menghindar dari wabah. Allah berfirman,وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ“Dan janganlah kalian dengan sengaja menjerumuskan diri kalian menuju kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)Termasuk dalam usaha ini adalah dengan tidak mendatangi tempat-tempat yang terkena wabah dan melakukan upaya-upaya fisik (secara medis) untuk terhindar atau selamat dari wabah atau penyakit tersebut. Kaidah kelima. Kita harus bersungguh-sungguh dalam mengambil informasi yang berkaitan dengan wabah ini dari sumber-sumber yang terpercaya dan ahli pada bidangnya. Dan harus menjauhi berbagai berita yang tidak jelas kebenarannya (kabar burung). Hendaknya kita mengembalikan setiap urusan kepada ahlinya dan tidak menerima kabar-kabar yang tidak jelas yang pada akhirnya justru akan membahayakan atau merugikan orang banyak. Kaidah keenam. Semestinya kita terus bersungguh-sungguh dalam berdoa kepada Allah karena doa itulah intisari dari ibadah. Baik itu doa secara umum agar dihindarkan atau diangkat dari bencana yang menimpa. Seperti dengan ucapan, “Ya Allah, singkirkanlah dari kami wabah ini.” atau doa-doa serupa. Oleh sebab itu, para ulama juga telah menyampaikan anjuran untuk banyak-banyak berdoa agar wabah ini diangkat dan disingkirkan bahkan hal itu telah tertulis dalam kitab-kitab hadits sejak ratusan tahun yang silam. Bisa juga dengan doa-doa secara khusus seperti: Membaca surat al-Falaq dan an-Naas Membaca doa  اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ ، وَالجُنُونِ ، والجُذَامِ ، وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ‘Allahumma inni a’uudzu bika minal barash wal junun wal judzam wa sayyi’il asqam’Artinya:“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, kusta, dan dari segala penyakit yang buruk lainnya.” Rutin membaca dzikir pagi-petang, misalnya: بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.”Artinya:“Dengan nama Allah yang apabila disebut, tidak akan berbahaya segala sesuatu yang ada di bumi maupun di langit. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”dibaca sebanyak tiga kali setiap pagi (habis subuh) dan sore (habis ashar). Inilah ringkasan enam kaidah pokok untuk menyikapi merebaknya wabah Corona sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah al-Ushaimi hafizhahullah; seorang ulama besar dan pengajar tetap di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Arab Saudi dalam sebuah nasihat beliau yang berjudul ‘Ushul Sittah fil Iftiqar ilallah fisy Syiddah’ atau enam kaidah dalam mewujudkan perasaan fakir/butuh kepada Allah dalam kondisi musibah yang sangat berat. Kemudian juga perlu kami tekankan di sini apa-apa yang telah dinasihatkan oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah tentang wajibnya kita untuk bertaubat kepada Allah atas semua dosa. Beliau mengutip nasihat dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, ما نزل البلاء إلا بذنب وما رفع إلا بتوبة“Tidaklah Allah menurunkan bala’ (bencana, wabah penyakit) kecuali disebabkan perbuatan dosa, dan tidaklah diangkat bala’ tersebut kecuali dengan bertaubat kepada Allah.”  Beliau juga mengingatkan kita terhadap firman Allah, وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. an-Nur: 31) Allah juga berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (QS. at-Tahrim: 8)Beliau juga mewasiatkan agar kita tetap menegakkan sholat 5 waktu dan mengerjakan sholat-sholat sunnah, memperbanyak istighfar, tasbih/membaca subhanallah, memuji Allah/mengucapkan alhamdulillah, berdzikir dan melakukan amal salih, perbanyak sedekah dan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. [5] Berdzikir kepada Allah merupakan sebab Allah mengingat dan memberikan pertolongan kepada hamba-Nya. Allah berfirman,فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun ingat kepada kalian.” (QS. al-Baqarah : 152)Ibnu ‘Abbas menafsirkan ayat tersebut, “Ingatlah kalian kepada-Ku dengan melakukan ketaatan kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian dengan memberikan ampunan-Ku kepada kalian.”  Sa’id bin Jubair berkata, “Artinya; Ingatlah kalian kepada-Ku pada waktu berlimpah nikmat dan kelapangan niscaya Aku akan mengingat kalian ketika berada dalam keadaan tertimpa kesusahan dan bencana.” [6]Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى رَبِّكُمْ فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allah. Karena sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari kepada-Nya seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702)Syaikh Abdul Qayyum as-Suhaibani hafizhahullah mengatakan dalam sebuah nasehatnya, “Tidaklah musibah-musibah -dan kehinaan- menimpa kaum muslimin kecuali disebabkan minimnya perendahan diri mereka kepada Allah. Dan hal ini merupakan sunnah kauniyah; barangsiapa yang tidak mau tunduk merendahkan diri kepada Allah, maka Allah akan buat dia tunduk/merendah kepada selain-Nya.” [7]Demikian sedikit rangkuman arahan dan nasihat yang dapat kami kumpulkan dengan taufik dari Allah semata. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan segera mengangkat wabah ini, sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha dekat serta mengabulkan doa-doa. [8]***Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Tambahan faidah dari Ustadz Afifi Abdul Wadud hafizhahullah.[2] Pedoman Penanganan Cepat, Hal. 11-12[3] Idem Hal. 13[4] Idem Hal. 33[5] Lihat Sikap Seorang Muslim Terhadap Wabah Virus Corona, hlm. 25-27 penerbit Masjid Imam Ahmad bin Hanbal Bogor.[6] Lihat Ma’alim at-Tanzil, Hal.74[7] Dinukil dari Mafhum ‘Ibadah, seri 2 menit 20.15 – 20.31.  [8] Tulisan telah dikoreksi oleh Ust. Afifi Abdul Wadud, Ust. dr. Agung Panji Widiyanto, dan Ust. Herbi Yuliantoro.

Bersama Menanggulangi Wabah Corona

Kaum muslimin yang semoga selalu dirahmati Allah, tidaklah samar bagi kita keadaan musibah wabah yang saat ini tengah melanda dunia, yaitu wabah SARS CoV-2/COVID-19 (Corona Virus Infection Disease-19) atau umum disebut sebagai virus corona. Banyak korban jiwa yang telah melayang di berbagai negara dan Indonesia pun termasuk negara dengan presentase kematian yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Menempuh Sebab dalam Menanggulangi WabahUntuk menanggulangi wabah dan musibah ini, kita perlu melakukan sebab-sebab secara syar’i (sebab non fisik) dan sebab-sebab secara fisik (sebab kauni). Di antara kedua sebab ini yang paling ditekankan adalah menempuh sebab-sebab syar’i karena bersumber dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya (berdasarkan bimbingan wahyu). Meskipun demikian kita tidak boleh mengabaikan sebab fisik/sebab kauni karena hal itu adalah bagian dari usaha (mengambil sebab) yang diperintahkan dalam agama. Itulah bentuk tawakal kita kepada Allah ta’ala. Karena rukun tawakal adalah menempuh sebab yang mengantarkan untuk memperoleh apa yang kita inginkan lalu hati kita pasrah total kepada Allah ta’ala. Jika kita terhindar dari penyakit atau mendapatkan kesembuhan dari penyakit, hal itu semata karena karunia Allah ta’ala. Jika ternyata setelah melakukan sebab syar’i dan sebab kauni (usaha lahiriah) kita tetap terkena penyakit atau tidak mendapatkan kesembuhan, maka itu merupakan takdir Allah yang semestinya kita terima dengan hati legowo (lapang) dan semua itu baik bagi seorang mukmin. [1] Menempuh Sebab-Sebab FisikPemerintah telah membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 (wabah Corona). Di antara poin-poin penting yang sepatutnya diperhatikan oleh segenap warga masyarakat ialah melakukan pencegahan dalam level individu dalam bentuk menjaga kebersihan diri dan rumah (universal precaution). Di antara himbauan yang diberikan adalah sebagai berikut. Sering mencuci tangan dengan air dan sabun dengan langkah yang benar (5-6 langkah cuci tangan), terutama saat baru memasuki rumah, sebelum dan sesudah makan, sesudah dari toilet, setelah menyentuh benda-benda yang tidak diketahui pasti kebersihannya, setelah mengurus binatang, dan lain-lain. Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang belum dicuci. Segera ganti baju dan mandi sepulang dari bepergian. Tidak berjabat tangan. Tidak berinteraksi dari jarak dekat dengan orang lain, baik yang memiliki gejala sakit ataukah tidak. Tutupi mulut saat batuk dan bersin dengan lengan atas dan ketiak dan segera cuci tangan. Sering membersihkan/mengelap permukaan benda seperti meja/kursi yang sering disentuh . Kemudian, juga ada beberapa cara untuk mencegah meluasnya wabah ini pada tingkatan masyarakat dengan melakukan pembatasan interaksi fisik seperti: Tidak berdekatan atau berkumpul di tempat keramaian. Gunakan masker saat keluar rumah. Tidak mengadakan pertemuan yang melibatkan banyak peserta. Hindari melakukan perjalanan ke luar kota. Mengurangi berkunjung ke rumah orang lain dan kurangi menerima kunjungan. Mengurangi frekuensi pergi untuk belanja dan usahakan bukan pada jam ramai. Menerapkan bekerja dari rumah. Menjaga jarak saat mengantri atau duduk di bus, kereta, atau fasilitas umum lainnya minimal 1 meter. Anak-anak bermain di rumah saja. Ibadah dapat dilaksanakan di rumah untuk sementara waktu. [2] Selain itu, pemerintah juga menghimbau atau memberikan ketentuan bagi masyarakat untuk melakukan pembatasan sosial berupa menjaga jarak fisik dengan beberapa cara, misalnya: Tidak bersalaman, berpelukan atau berciuman (cipika cipiki). Hindari penggunaan transportasi publik dan hindari jam sibuk ketika bepergian. Dilarang berkumpul massal di kerumunan dan fasilitas umum. Hindari berkumpul tatap muka dengan banyak orang dan menunda kegiatan bersama. Gunakan telepon atau layanan online untuk menghubungi orang lain. Jika anda sakit jangan mengunjungi/berdekatan dengan orang lanjut usia. Semua orang harus mengikuti ketentuan ini. Pemerintah juga menghimbau untuk mengikuti petunjuk ini dengan ketat dan membatasi tatap muka dengan teman dan keluarga, khususnya jika anda berusia 60 tahun ke atas, atau memiliki penyakit penyerta seperti diabetes melitus, hipertensi, kanker, asma dan penyakit paru obstruksi kronik, atau ibu hamil. [3]  Pemerintah juga telah memberikan penjelasan ringkas berkaitan dengan klasifikasi kasus COVID-19 untuk masyarakat sebagai berikut : Orang Tanpa Gejala (OTG): Orang tanpa gejala yang memiliki kontak dengan kasus positif. Maka bagi kelompok ini diberlakukan isolasi diri sendiri di rumah. Orang Dalam Pemantauan (ODP): Orang yang memiliki gejala ringan, dan membutuhkan pemeriksaan. Bagi kelompok ini juga harus mengisolasi diri sendiri di rumah.  Pasien Dalam Pengawasan (PDP): Pasien yang memiliki gejala ringan/sedang/berat yang memiliki riwayat perjalanan/kontak dan membutuhkan pemeriksaan. Bagi kelompok ini jika sakitnya ringan cukup mengisolasi diri di rumah. Jika sakitnya sedang perlu dirawat di Rumah Sakit Darurat. Dan apabila sakitnya berat harus dirawat di Rumah Sakit Rujukan.  Konfirmasi: Yaitu pasien yang terinfeksi COVID-19 dengan hasil pemeriksaan positif. Apabila sakitnya ringan bisa mengisolasi diri di rumah. Apabila sakitnya sedang harus dirawat di Rumah Sakit Darurat. Dan apabila sakitnya berat harus dirawat di Rumah Sakit Rujukan. [4] Menempuh Sebab-Sebab Non-FisikPerlu diketahui oleh segenap kaum muslimin bahwasanya dalam kondisi wabah dan musibah yang begitu berat semacam ini perlu dilakukan usaha-usaha non fisik yang berkaitan dengan agama dan keyakinan kita sebagai seorang muslim. Salah satu perkara mendasar yang harus kita ingat adalah betapa fakir dan butuhnya kita kepada Allah.Allah berfirmanيَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ“Wahai manusia, kalian adalah orang-orang yang fakir/butuh kepada Allah. Dan Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji” (QS. Fathir: 15) Kebutuhan ini semakin penting dan mendesak pada saat tertimpa kesulitan dan musibah berat semacam ini.Kaidah pertama. Kita harus meyakini bahwa Allah telah menakdirkan segala sesuatu. Allah berfirman وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا“Dan Allah menciptakan segala sesuatu dan menetapkan takdirnya dengan sebenar-benarnya.” (QS. al-Furqan: 2)Oleh sebab itu kita mengimani takdir Allah ini dan menghadapi musibah yang menimpa dengan kesabaran. Kaidah kedua. Kita harus menyempurnakan tawakal kepada Allah dan menyandarkan segala urusan kepada-Nya. Allah berfirman,قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ“Katakanlah; Tidak akan menimpa kami kecuali apa-apa yang telah ditetapkan Allah menimpa kami, Dia lah penolong bagi kami. Dan kepada Allah semata hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. At-Taubah : 51)Kaidah ketiga. Kita harus kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Allah berfirman,ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan ulah tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat dari apa yang mereka kerjakan, mudah-mudahan mereka kembali/bertaubat.” (QS. Ar-Rum : 41) Kaidah keempat. Kita harus menempuh sebab-sebab (upaya nyata) untuk menghindar dari wabah. Allah berfirman,وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ“Dan janganlah kalian dengan sengaja menjerumuskan diri kalian menuju kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)Termasuk dalam usaha ini adalah dengan tidak mendatangi tempat-tempat yang terkena wabah dan melakukan upaya-upaya fisik (secara medis) untuk terhindar atau selamat dari wabah atau penyakit tersebut. Kaidah kelima. Kita harus bersungguh-sungguh dalam mengambil informasi yang berkaitan dengan wabah ini dari sumber-sumber yang terpercaya dan ahli pada bidangnya. Dan harus menjauhi berbagai berita yang tidak jelas kebenarannya (kabar burung). Hendaknya kita mengembalikan setiap urusan kepada ahlinya dan tidak menerima kabar-kabar yang tidak jelas yang pada akhirnya justru akan membahayakan atau merugikan orang banyak. Kaidah keenam. Semestinya kita terus bersungguh-sungguh dalam berdoa kepada Allah karena doa itulah intisari dari ibadah. Baik itu doa secara umum agar dihindarkan atau diangkat dari bencana yang menimpa. Seperti dengan ucapan, “Ya Allah, singkirkanlah dari kami wabah ini.” atau doa-doa serupa. Oleh sebab itu, para ulama juga telah menyampaikan anjuran untuk banyak-banyak berdoa agar wabah ini diangkat dan disingkirkan bahkan hal itu telah tertulis dalam kitab-kitab hadits sejak ratusan tahun yang silam. Bisa juga dengan doa-doa secara khusus seperti: Membaca surat al-Falaq dan an-Naas Membaca doa  اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ ، وَالجُنُونِ ، والجُذَامِ ، وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ‘Allahumma inni a’uudzu bika minal barash wal junun wal judzam wa sayyi’il asqam’Artinya:“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, kusta, dan dari segala penyakit yang buruk lainnya.” Rutin membaca dzikir pagi-petang, misalnya: بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.”Artinya:“Dengan nama Allah yang apabila disebut, tidak akan berbahaya segala sesuatu yang ada di bumi maupun di langit. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”dibaca sebanyak tiga kali setiap pagi (habis subuh) dan sore (habis ashar). Inilah ringkasan enam kaidah pokok untuk menyikapi merebaknya wabah Corona sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah al-Ushaimi hafizhahullah; seorang ulama besar dan pengajar tetap di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Arab Saudi dalam sebuah nasihat beliau yang berjudul ‘Ushul Sittah fil Iftiqar ilallah fisy Syiddah’ atau enam kaidah dalam mewujudkan perasaan fakir/butuh kepada Allah dalam kondisi musibah yang sangat berat. Kemudian juga perlu kami tekankan di sini apa-apa yang telah dinasihatkan oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah tentang wajibnya kita untuk bertaubat kepada Allah atas semua dosa. Beliau mengutip nasihat dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, ما نزل البلاء إلا بذنب وما رفع إلا بتوبة“Tidaklah Allah menurunkan bala’ (bencana, wabah penyakit) kecuali disebabkan perbuatan dosa, dan tidaklah diangkat bala’ tersebut kecuali dengan bertaubat kepada Allah.”  Beliau juga mengingatkan kita terhadap firman Allah, وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. an-Nur: 31) Allah juga berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (QS. at-Tahrim: 8)Beliau juga mewasiatkan agar kita tetap menegakkan sholat 5 waktu dan mengerjakan sholat-sholat sunnah, memperbanyak istighfar, tasbih/membaca subhanallah, memuji Allah/mengucapkan alhamdulillah, berdzikir dan melakukan amal salih, perbanyak sedekah dan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. [5] Berdzikir kepada Allah merupakan sebab Allah mengingat dan memberikan pertolongan kepada hamba-Nya. Allah berfirman,فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun ingat kepada kalian.” (QS. al-Baqarah : 152)Ibnu ‘Abbas menafsirkan ayat tersebut, “Ingatlah kalian kepada-Ku dengan melakukan ketaatan kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian dengan memberikan ampunan-Ku kepada kalian.”  Sa’id bin Jubair berkata, “Artinya; Ingatlah kalian kepada-Ku pada waktu berlimpah nikmat dan kelapangan niscaya Aku akan mengingat kalian ketika berada dalam keadaan tertimpa kesusahan dan bencana.” [6]Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى رَبِّكُمْ فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allah. Karena sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari kepada-Nya seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702)Syaikh Abdul Qayyum as-Suhaibani hafizhahullah mengatakan dalam sebuah nasehatnya, “Tidaklah musibah-musibah -dan kehinaan- menimpa kaum muslimin kecuali disebabkan minimnya perendahan diri mereka kepada Allah. Dan hal ini merupakan sunnah kauniyah; barangsiapa yang tidak mau tunduk merendahkan diri kepada Allah, maka Allah akan buat dia tunduk/merendah kepada selain-Nya.” [7]Demikian sedikit rangkuman arahan dan nasihat yang dapat kami kumpulkan dengan taufik dari Allah semata. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan segera mengangkat wabah ini, sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha dekat serta mengabulkan doa-doa. [8]***Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Tambahan faidah dari Ustadz Afifi Abdul Wadud hafizhahullah.[2] Pedoman Penanganan Cepat, Hal. 11-12[3] Idem Hal. 13[4] Idem Hal. 33[5] Lihat Sikap Seorang Muslim Terhadap Wabah Virus Corona, hlm. 25-27 penerbit Masjid Imam Ahmad bin Hanbal Bogor.[6] Lihat Ma’alim at-Tanzil, Hal.74[7] Dinukil dari Mafhum ‘Ibadah, seri 2 menit 20.15 – 20.31.  [8] Tulisan telah dikoreksi oleh Ust. Afifi Abdul Wadud, Ust. dr. Agung Panji Widiyanto, dan Ust. Herbi Yuliantoro.
Kaum muslimin yang semoga selalu dirahmati Allah, tidaklah samar bagi kita keadaan musibah wabah yang saat ini tengah melanda dunia, yaitu wabah SARS CoV-2/COVID-19 (Corona Virus Infection Disease-19) atau umum disebut sebagai virus corona. Banyak korban jiwa yang telah melayang di berbagai negara dan Indonesia pun termasuk negara dengan presentase kematian yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Menempuh Sebab dalam Menanggulangi WabahUntuk menanggulangi wabah dan musibah ini, kita perlu melakukan sebab-sebab secara syar’i (sebab non fisik) dan sebab-sebab secara fisik (sebab kauni). Di antara kedua sebab ini yang paling ditekankan adalah menempuh sebab-sebab syar’i karena bersumber dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya (berdasarkan bimbingan wahyu). Meskipun demikian kita tidak boleh mengabaikan sebab fisik/sebab kauni karena hal itu adalah bagian dari usaha (mengambil sebab) yang diperintahkan dalam agama. Itulah bentuk tawakal kita kepada Allah ta’ala. Karena rukun tawakal adalah menempuh sebab yang mengantarkan untuk memperoleh apa yang kita inginkan lalu hati kita pasrah total kepada Allah ta’ala. Jika kita terhindar dari penyakit atau mendapatkan kesembuhan dari penyakit, hal itu semata karena karunia Allah ta’ala. Jika ternyata setelah melakukan sebab syar’i dan sebab kauni (usaha lahiriah) kita tetap terkena penyakit atau tidak mendapatkan kesembuhan, maka itu merupakan takdir Allah yang semestinya kita terima dengan hati legowo (lapang) dan semua itu baik bagi seorang mukmin. [1] Menempuh Sebab-Sebab FisikPemerintah telah membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 (wabah Corona). Di antara poin-poin penting yang sepatutnya diperhatikan oleh segenap warga masyarakat ialah melakukan pencegahan dalam level individu dalam bentuk menjaga kebersihan diri dan rumah (universal precaution). Di antara himbauan yang diberikan adalah sebagai berikut. Sering mencuci tangan dengan air dan sabun dengan langkah yang benar (5-6 langkah cuci tangan), terutama saat baru memasuki rumah, sebelum dan sesudah makan, sesudah dari toilet, setelah menyentuh benda-benda yang tidak diketahui pasti kebersihannya, setelah mengurus binatang, dan lain-lain. Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang belum dicuci. Segera ganti baju dan mandi sepulang dari bepergian. Tidak berjabat tangan. Tidak berinteraksi dari jarak dekat dengan orang lain, baik yang memiliki gejala sakit ataukah tidak. Tutupi mulut saat batuk dan bersin dengan lengan atas dan ketiak dan segera cuci tangan. Sering membersihkan/mengelap permukaan benda seperti meja/kursi yang sering disentuh . Kemudian, juga ada beberapa cara untuk mencegah meluasnya wabah ini pada tingkatan masyarakat dengan melakukan pembatasan interaksi fisik seperti: Tidak berdekatan atau berkumpul di tempat keramaian. Gunakan masker saat keluar rumah. Tidak mengadakan pertemuan yang melibatkan banyak peserta. Hindari melakukan perjalanan ke luar kota. Mengurangi berkunjung ke rumah orang lain dan kurangi menerima kunjungan. Mengurangi frekuensi pergi untuk belanja dan usahakan bukan pada jam ramai. Menerapkan bekerja dari rumah. Menjaga jarak saat mengantri atau duduk di bus, kereta, atau fasilitas umum lainnya minimal 1 meter. Anak-anak bermain di rumah saja. Ibadah dapat dilaksanakan di rumah untuk sementara waktu. [2] Selain itu, pemerintah juga menghimbau atau memberikan ketentuan bagi masyarakat untuk melakukan pembatasan sosial berupa menjaga jarak fisik dengan beberapa cara, misalnya: Tidak bersalaman, berpelukan atau berciuman (cipika cipiki). Hindari penggunaan transportasi publik dan hindari jam sibuk ketika bepergian. Dilarang berkumpul massal di kerumunan dan fasilitas umum. Hindari berkumpul tatap muka dengan banyak orang dan menunda kegiatan bersama. Gunakan telepon atau layanan online untuk menghubungi orang lain. Jika anda sakit jangan mengunjungi/berdekatan dengan orang lanjut usia. Semua orang harus mengikuti ketentuan ini. Pemerintah juga menghimbau untuk mengikuti petunjuk ini dengan ketat dan membatasi tatap muka dengan teman dan keluarga, khususnya jika anda berusia 60 tahun ke atas, atau memiliki penyakit penyerta seperti diabetes melitus, hipertensi, kanker, asma dan penyakit paru obstruksi kronik, atau ibu hamil. [3]  Pemerintah juga telah memberikan penjelasan ringkas berkaitan dengan klasifikasi kasus COVID-19 untuk masyarakat sebagai berikut : Orang Tanpa Gejala (OTG): Orang tanpa gejala yang memiliki kontak dengan kasus positif. Maka bagi kelompok ini diberlakukan isolasi diri sendiri di rumah. Orang Dalam Pemantauan (ODP): Orang yang memiliki gejala ringan, dan membutuhkan pemeriksaan. Bagi kelompok ini juga harus mengisolasi diri sendiri di rumah.  Pasien Dalam Pengawasan (PDP): Pasien yang memiliki gejala ringan/sedang/berat yang memiliki riwayat perjalanan/kontak dan membutuhkan pemeriksaan. Bagi kelompok ini jika sakitnya ringan cukup mengisolasi diri di rumah. Jika sakitnya sedang perlu dirawat di Rumah Sakit Darurat. Dan apabila sakitnya berat harus dirawat di Rumah Sakit Rujukan.  Konfirmasi: Yaitu pasien yang terinfeksi COVID-19 dengan hasil pemeriksaan positif. Apabila sakitnya ringan bisa mengisolasi diri di rumah. Apabila sakitnya sedang harus dirawat di Rumah Sakit Darurat. Dan apabila sakitnya berat harus dirawat di Rumah Sakit Rujukan. [4] Menempuh Sebab-Sebab Non-FisikPerlu diketahui oleh segenap kaum muslimin bahwasanya dalam kondisi wabah dan musibah yang begitu berat semacam ini perlu dilakukan usaha-usaha non fisik yang berkaitan dengan agama dan keyakinan kita sebagai seorang muslim. Salah satu perkara mendasar yang harus kita ingat adalah betapa fakir dan butuhnya kita kepada Allah.Allah berfirmanيَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ“Wahai manusia, kalian adalah orang-orang yang fakir/butuh kepada Allah. Dan Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji” (QS. Fathir: 15) Kebutuhan ini semakin penting dan mendesak pada saat tertimpa kesulitan dan musibah berat semacam ini.Kaidah pertama. Kita harus meyakini bahwa Allah telah menakdirkan segala sesuatu. Allah berfirman وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا“Dan Allah menciptakan segala sesuatu dan menetapkan takdirnya dengan sebenar-benarnya.” (QS. al-Furqan: 2)Oleh sebab itu kita mengimani takdir Allah ini dan menghadapi musibah yang menimpa dengan kesabaran. Kaidah kedua. Kita harus menyempurnakan tawakal kepada Allah dan menyandarkan segala urusan kepada-Nya. Allah berfirman,قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ“Katakanlah; Tidak akan menimpa kami kecuali apa-apa yang telah ditetapkan Allah menimpa kami, Dia lah penolong bagi kami. Dan kepada Allah semata hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. At-Taubah : 51)Kaidah ketiga. Kita harus kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Allah berfirman,ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan ulah tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat dari apa yang mereka kerjakan, mudah-mudahan mereka kembali/bertaubat.” (QS. Ar-Rum : 41) Kaidah keempat. Kita harus menempuh sebab-sebab (upaya nyata) untuk menghindar dari wabah. Allah berfirman,وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ“Dan janganlah kalian dengan sengaja menjerumuskan diri kalian menuju kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)Termasuk dalam usaha ini adalah dengan tidak mendatangi tempat-tempat yang terkena wabah dan melakukan upaya-upaya fisik (secara medis) untuk terhindar atau selamat dari wabah atau penyakit tersebut. Kaidah kelima. Kita harus bersungguh-sungguh dalam mengambil informasi yang berkaitan dengan wabah ini dari sumber-sumber yang terpercaya dan ahli pada bidangnya. Dan harus menjauhi berbagai berita yang tidak jelas kebenarannya (kabar burung). Hendaknya kita mengembalikan setiap urusan kepada ahlinya dan tidak menerima kabar-kabar yang tidak jelas yang pada akhirnya justru akan membahayakan atau merugikan orang banyak. Kaidah keenam. Semestinya kita terus bersungguh-sungguh dalam berdoa kepada Allah karena doa itulah intisari dari ibadah. Baik itu doa secara umum agar dihindarkan atau diangkat dari bencana yang menimpa. Seperti dengan ucapan, “Ya Allah, singkirkanlah dari kami wabah ini.” atau doa-doa serupa. Oleh sebab itu, para ulama juga telah menyampaikan anjuran untuk banyak-banyak berdoa agar wabah ini diangkat dan disingkirkan bahkan hal itu telah tertulis dalam kitab-kitab hadits sejak ratusan tahun yang silam. Bisa juga dengan doa-doa secara khusus seperti: Membaca surat al-Falaq dan an-Naas Membaca doa  اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ ، وَالجُنُونِ ، والجُذَامِ ، وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ‘Allahumma inni a’uudzu bika minal barash wal junun wal judzam wa sayyi’il asqam’Artinya:“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, kusta, dan dari segala penyakit yang buruk lainnya.” Rutin membaca dzikir pagi-petang, misalnya: بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.”Artinya:“Dengan nama Allah yang apabila disebut, tidak akan berbahaya segala sesuatu yang ada di bumi maupun di langit. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”dibaca sebanyak tiga kali setiap pagi (habis subuh) dan sore (habis ashar). Inilah ringkasan enam kaidah pokok untuk menyikapi merebaknya wabah Corona sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah al-Ushaimi hafizhahullah; seorang ulama besar dan pengajar tetap di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Arab Saudi dalam sebuah nasihat beliau yang berjudul ‘Ushul Sittah fil Iftiqar ilallah fisy Syiddah’ atau enam kaidah dalam mewujudkan perasaan fakir/butuh kepada Allah dalam kondisi musibah yang sangat berat. Kemudian juga perlu kami tekankan di sini apa-apa yang telah dinasihatkan oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah tentang wajibnya kita untuk bertaubat kepada Allah atas semua dosa. Beliau mengutip nasihat dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, ما نزل البلاء إلا بذنب وما رفع إلا بتوبة“Tidaklah Allah menurunkan bala’ (bencana, wabah penyakit) kecuali disebabkan perbuatan dosa, dan tidaklah diangkat bala’ tersebut kecuali dengan bertaubat kepada Allah.”  Beliau juga mengingatkan kita terhadap firman Allah, وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. an-Nur: 31) Allah juga berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (QS. at-Tahrim: 8)Beliau juga mewasiatkan agar kita tetap menegakkan sholat 5 waktu dan mengerjakan sholat-sholat sunnah, memperbanyak istighfar, tasbih/membaca subhanallah, memuji Allah/mengucapkan alhamdulillah, berdzikir dan melakukan amal salih, perbanyak sedekah dan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. [5] Berdzikir kepada Allah merupakan sebab Allah mengingat dan memberikan pertolongan kepada hamba-Nya. Allah berfirman,فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun ingat kepada kalian.” (QS. al-Baqarah : 152)Ibnu ‘Abbas menafsirkan ayat tersebut, “Ingatlah kalian kepada-Ku dengan melakukan ketaatan kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian dengan memberikan ampunan-Ku kepada kalian.”  Sa’id bin Jubair berkata, “Artinya; Ingatlah kalian kepada-Ku pada waktu berlimpah nikmat dan kelapangan niscaya Aku akan mengingat kalian ketika berada dalam keadaan tertimpa kesusahan dan bencana.” [6]Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى رَبِّكُمْ فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allah. Karena sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari kepada-Nya seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702)Syaikh Abdul Qayyum as-Suhaibani hafizhahullah mengatakan dalam sebuah nasehatnya, “Tidaklah musibah-musibah -dan kehinaan- menimpa kaum muslimin kecuali disebabkan minimnya perendahan diri mereka kepada Allah. Dan hal ini merupakan sunnah kauniyah; barangsiapa yang tidak mau tunduk merendahkan diri kepada Allah, maka Allah akan buat dia tunduk/merendah kepada selain-Nya.” [7]Demikian sedikit rangkuman arahan dan nasihat yang dapat kami kumpulkan dengan taufik dari Allah semata. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan segera mengangkat wabah ini, sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha dekat serta mengabulkan doa-doa. [8]***Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Tambahan faidah dari Ustadz Afifi Abdul Wadud hafizhahullah.[2] Pedoman Penanganan Cepat, Hal. 11-12[3] Idem Hal. 13[4] Idem Hal. 33[5] Lihat Sikap Seorang Muslim Terhadap Wabah Virus Corona, hlm. 25-27 penerbit Masjid Imam Ahmad bin Hanbal Bogor.[6] Lihat Ma’alim at-Tanzil, Hal.74[7] Dinukil dari Mafhum ‘Ibadah, seri 2 menit 20.15 – 20.31.  [8] Tulisan telah dikoreksi oleh Ust. Afifi Abdul Wadud, Ust. dr. Agung Panji Widiyanto, dan Ust. Herbi Yuliantoro.


Kaum muslimin yang semoga selalu dirahmati Allah, tidaklah samar bagi kita keadaan musibah wabah yang saat ini tengah melanda dunia, yaitu wabah SARS CoV-2/COVID-19 (Corona Virus Infection Disease-19) atau umum disebut sebagai virus corona. Banyak korban jiwa yang telah melayang di berbagai negara dan Indonesia pun termasuk negara dengan presentase kematian yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Menempuh Sebab dalam Menanggulangi WabahUntuk menanggulangi wabah dan musibah ini, kita perlu melakukan sebab-sebab secara syar’i (sebab non fisik) dan sebab-sebab secara fisik (sebab kauni). Di antara kedua sebab ini yang paling ditekankan adalah menempuh sebab-sebab syar’i karena bersumber dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya (berdasarkan bimbingan wahyu). Meskipun demikian kita tidak boleh mengabaikan sebab fisik/sebab kauni karena hal itu adalah bagian dari usaha (mengambil sebab) yang diperintahkan dalam agama. Itulah bentuk tawakal kita kepada Allah ta’ala. Karena rukun tawakal adalah menempuh sebab yang mengantarkan untuk memperoleh apa yang kita inginkan lalu hati kita pasrah total kepada Allah ta’ala. Jika kita terhindar dari penyakit atau mendapatkan kesembuhan dari penyakit, hal itu semata karena karunia Allah ta’ala. Jika ternyata setelah melakukan sebab syar’i dan sebab kauni (usaha lahiriah) kita tetap terkena penyakit atau tidak mendapatkan kesembuhan, maka itu merupakan takdir Allah yang semestinya kita terima dengan hati legowo (lapang) dan semua itu baik bagi seorang mukmin. [1] Menempuh Sebab-Sebab FisikPemerintah telah membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 (wabah Corona). Di antara poin-poin penting yang sepatutnya diperhatikan oleh segenap warga masyarakat ialah melakukan pencegahan dalam level individu dalam bentuk menjaga kebersihan diri dan rumah (universal precaution). Di antara himbauan yang diberikan adalah sebagai berikut. Sering mencuci tangan dengan air dan sabun dengan langkah yang benar (5-6 langkah cuci tangan), terutama saat baru memasuki rumah, sebelum dan sesudah makan, sesudah dari toilet, setelah menyentuh benda-benda yang tidak diketahui pasti kebersihannya, setelah mengurus binatang, dan lain-lain. Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang belum dicuci. Segera ganti baju dan mandi sepulang dari bepergian. Tidak berjabat tangan. Tidak berinteraksi dari jarak dekat dengan orang lain, baik yang memiliki gejala sakit ataukah tidak. Tutupi mulut saat batuk dan bersin dengan lengan atas dan ketiak dan segera cuci tangan. Sering membersihkan/mengelap permukaan benda seperti meja/kursi yang sering disentuh . Kemudian, juga ada beberapa cara untuk mencegah meluasnya wabah ini pada tingkatan masyarakat dengan melakukan pembatasan interaksi fisik seperti: Tidak berdekatan atau berkumpul di tempat keramaian. Gunakan masker saat keluar rumah. Tidak mengadakan pertemuan yang melibatkan banyak peserta. Hindari melakukan perjalanan ke luar kota. Mengurangi berkunjung ke rumah orang lain dan kurangi menerima kunjungan. Mengurangi frekuensi pergi untuk belanja dan usahakan bukan pada jam ramai. Menerapkan bekerja dari rumah. Menjaga jarak saat mengantri atau duduk di bus, kereta, atau fasilitas umum lainnya minimal 1 meter. Anak-anak bermain di rumah saja. Ibadah dapat dilaksanakan di rumah untuk sementara waktu. [2] Selain itu, pemerintah juga menghimbau atau memberikan ketentuan bagi masyarakat untuk melakukan pembatasan sosial berupa menjaga jarak fisik dengan beberapa cara, misalnya: Tidak bersalaman, berpelukan atau berciuman (cipika cipiki). Hindari penggunaan transportasi publik dan hindari jam sibuk ketika bepergian. Dilarang berkumpul massal di kerumunan dan fasilitas umum. Hindari berkumpul tatap muka dengan banyak orang dan menunda kegiatan bersama. Gunakan telepon atau layanan online untuk menghubungi orang lain. Jika anda sakit jangan mengunjungi/berdekatan dengan orang lanjut usia. Semua orang harus mengikuti ketentuan ini. Pemerintah juga menghimbau untuk mengikuti petunjuk ini dengan ketat dan membatasi tatap muka dengan teman dan keluarga, khususnya jika anda berusia 60 tahun ke atas, atau memiliki penyakit penyerta seperti diabetes melitus, hipertensi, kanker, asma dan penyakit paru obstruksi kronik, atau ibu hamil. [3]  Pemerintah juga telah memberikan penjelasan ringkas berkaitan dengan klasifikasi kasus COVID-19 untuk masyarakat sebagai berikut : Orang Tanpa Gejala (OTG): Orang tanpa gejala yang memiliki kontak dengan kasus positif. Maka bagi kelompok ini diberlakukan isolasi diri sendiri di rumah. Orang Dalam Pemantauan (ODP): Orang yang memiliki gejala ringan, dan membutuhkan pemeriksaan. Bagi kelompok ini juga harus mengisolasi diri sendiri di rumah.  Pasien Dalam Pengawasan (PDP): Pasien yang memiliki gejala ringan/sedang/berat yang memiliki riwayat perjalanan/kontak dan membutuhkan pemeriksaan. Bagi kelompok ini jika sakitnya ringan cukup mengisolasi diri di rumah. Jika sakitnya sedang perlu dirawat di Rumah Sakit Darurat. Dan apabila sakitnya berat harus dirawat di Rumah Sakit Rujukan.  Konfirmasi: Yaitu pasien yang terinfeksi COVID-19 dengan hasil pemeriksaan positif. Apabila sakitnya ringan bisa mengisolasi diri di rumah. Apabila sakitnya sedang harus dirawat di Rumah Sakit Darurat. Dan apabila sakitnya berat harus dirawat di Rumah Sakit Rujukan. [4] Menempuh Sebab-Sebab Non-FisikPerlu diketahui oleh segenap kaum muslimin bahwasanya dalam kondisi wabah dan musibah yang begitu berat semacam ini perlu dilakukan usaha-usaha non fisik yang berkaitan dengan agama dan keyakinan kita sebagai seorang muslim. Salah satu perkara mendasar yang harus kita ingat adalah betapa fakir dan butuhnya kita kepada Allah.Allah berfirmanيَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ“Wahai manusia, kalian adalah orang-orang yang fakir/butuh kepada Allah. Dan Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji” (QS. Fathir: 15) Kebutuhan ini semakin penting dan mendesak pada saat tertimpa kesulitan dan musibah berat semacam ini.Kaidah pertama. Kita harus meyakini bahwa Allah telah menakdirkan segala sesuatu. Allah berfirman وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا“Dan Allah menciptakan segala sesuatu dan menetapkan takdirnya dengan sebenar-benarnya.” (QS. al-Furqan: 2)Oleh sebab itu kita mengimani takdir Allah ini dan menghadapi musibah yang menimpa dengan kesabaran. Kaidah kedua. Kita harus menyempurnakan tawakal kepada Allah dan menyandarkan segala urusan kepada-Nya. Allah berfirman,قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ“Katakanlah; Tidak akan menimpa kami kecuali apa-apa yang telah ditetapkan Allah menimpa kami, Dia lah penolong bagi kami. Dan kepada Allah semata hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. At-Taubah : 51)Kaidah ketiga. Kita harus kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Allah berfirman,ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan ulah tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat dari apa yang mereka kerjakan, mudah-mudahan mereka kembali/bertaubat.” (QS. Ar-Rum : 41) Kaidah keempat. Kita harus menempuh sebab-sebab (upaya nyata) untuk menghindar dari wabah. Allah berfirman,وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ“Dan janganlah kalian dengan sengaja menjerumuskan diri kalian menuju kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)Termasuk dalam usaha ini adalah dengan tidak mendatangi tempat-tempat yang terkena wabah dan melakukan upaya-upaya fisik (secara medis) untuk terhindar atau selamat dari wabah atau penyakit tersebut. Kaidah kelima. Kita harus bersungguh-sungguh dalam mengambil informasi yang berkaitan dengan wabah ini dari sumber-sumber yang terpercaya dan ahli pada bidangnya. Dan harus menjauhi berbagai berita yang tidak jelas kebenarannya (kabar burung). Hendaknya kita mengembalikan setiap urusan kepada ahlinya dan tidak menerima kabar-kabar yang tidak jelas yang pada akhirnya justru akan membahayakan atau merugikan orang banyak. Kaidah keenam. Semestinya kita terus bersungguh-sungguh dalam berdoa kepada Allah karena doa itulah intisari dari ibadah. Baik itu doa secara umum agar dihindarkan atau diangkat dari bencana yang menimpa. Seperti dengan ucapan, “Ya Allah, singkirkanlah dari kami wabah ini.” atau doa-doa serupa. Oleh sebab itu, para ulama juga telah menyampaikan anjuran untuk banyak-banyak berdoa agar wabah ini diangkat dan disingkirkan bahkan hal itu telah tertulis dalam kitab-kitab hadits sejak ratusan tahun yang silam. Bisa juga dengan doa-doa secara khusus seperti: Membaca surat al-Falaq dan an-Naas Membaca doa  اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ ، وَالجُنُونِ ، والجُذَامِ ، وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ‘Allahumma inni a’uudzu bika minal barash wal junun wal judzam wa sayyi’il asqam’Artinya:“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, kusta, dan dari segala penyakit yang buruk lainnya.” Rutin membaca dzikir pagi-petang, misalnya: بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.”Artinya:“Dengan nama Allah yang apabila disebut, tidak akan berbahaya segala sesuatu yang ada di bumi maupun di langit. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”dibaca sebanyak tiga kali setiap pagi (habis subuh) dan sore (habis ashar). Inilah ringkasan enam kaidah pokok untuk menyikapi merebaknya wabah Corona sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah al-Ushaimi hafizhahullah; seorang ulama besar dan pengajar tetap di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Arab Saudi dalam sebuah nasihat beliau yang berjudul ‘Ushul Sittah fil Iftiqar ilallah fisy Syiddah’ atau enam kaidah dalam mewujudkan perasaan fakir/butuh kepada Allah dalam kondisi musibah yang sangat berat. Kemudian juga perlu kami tekankan di sini apa-apa yang telah dinasihatkan oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah tentang wajibnya kita untuk bertaubat kepada Allah atas semua dosa. Beliau mengutip nasihat dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, ما نزل البلاء إلا بذنب وما رفع إلا بتوبة“Tidaklah Allah menurunkan bala’ (bencana, wabah penyakit) kecuali disebabkan perbuatan dosa, dan tidaklah diangkat bala’ tersebut kecuali dengan bertaubat kepada Allah.”  Beliau juga mengingatkan kita terhadap firman Allah, وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. an-Nur: 31) Allah juga berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (QS. at-Tahrim: 8)Beliau juga mewasiatkan agar kita tetap menegakkan sholat 5 waktu dan mengerjakan sholat-sholat sunnah, memperbanyak istighfar, tasbih/membaca subhanallah, memuji Allah/mengucapkan alhamdulillah, berdzikir dan melakukan amal salih, perbanyak sedekah dan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. [5] Berdzikir kepada Allah merupakan sebab Allah mengingat dan memberikan pertolongan kepada hamba-Nya. Allah berfirman,فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun ingat kepada kalian.” (QS. al-Baqarah : 152)Ibnu ‘Abbas menafsirkan ayat tersebut, “Ingatlah kalian kepada-Ku dengan melakukan ketaatan kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian dengan memberikan ampunan-Ku kepada kalian.”  Sa’id bin Jubair berkata, “Artinya; Ingatlah kalian kepada-Ku pada waktu berlimpah nikmat dan kelapangan niscaya Aku akan mengingat kalian ketika berada dalam keadaan tertimpa kesusahan dan bencana.” [6]Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى رَبِّكُمْ فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allah. Karena sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari kepada-Nya seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702)Syaikh Abdul Qayyum as-Suhaibani hafizhahullah mengatakan dalam sebuah nasehatnya, “Tidaklah musibah-musibah -dan kehinaan- menimpa kaum muslimin kecuali disebabkan minimnya perendahan diri mereka kepada Allah. Dan hal ini merupakan sunnah kauniyah; barangsiapa yang tidak mau tunduk merendahkan diri kepada Allah, maka Allah akan buat dia tunduk/merendah kepada selain-Nya.” [7]Demikian sedikit rangkuman arahan dan nasihat yang dapat kami kumpulkan dengan taufik dari Allah semata. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan segera mengangkat wabah ini, sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha dekat serta mengabulkan doa-doa. [8]***Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Tambahan faidah dari Ustadz Afifi Abdul Wadud hafizhahullah.[2] Pedoman Penanganan Cepat, Hal. 11-12[3] Idem Hal. 13[4] Idem Hal. 33[5] Lihat Sikap Seorang Muslim Terhadap Wabah Virus Corona, hlm. 25-27 penerbit Masjid Imam Ahmad bin Hanbal Bogor.[6] Lihat Ma’alim at-Tanzil, Hal.74[7] Dinukil dari Mafhum ‘Ibadah, seri 2 menit 20.15 – 20.31.  [8] Tulisan telah dikoreksi oleh Ust. Afifi Abdul Wadud, Ust. dr. Agung Panji Widiyanto, dan Ust. Herbi Yuliantoro.

Bulughul Maram – Shalat: Hadits Penting tentang Syarat dan Rukun Shalat

Hadits ini penting sekali dalam memahami cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena diterangkan beliau langsung lewat lisan dalam rangka membenarkan orang yang jelek shalatnya (musii’ fii shalatihi). Baca juga: Hadits Musii’ fii Shalatihi   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Tata Cara Shalat Lewat Lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 1.1. Hadits #267 1.2. Hadits #268 1.3. Keterangan hadits 1.4. Faedah hadits Tata Cara Shalat Lewat Lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Hadits #267 عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبيَّ صلّى الله عليه وسلّم قَالَ: «إِذَا قُمْتَ إلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ، ثمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ، فَكَبِّرْ، ثمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ، ثُم ارْكَعْ حَتَّى تَطمَئِنَّ رَاكِعاً، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِماً، ثمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِن َّ سَاجِداً، ثمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِساً، ثمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِداً، ثمَّ افْعَلْ ذلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا». أَخْرَجَهُ السَّبْعَةُ، وَاللّفْظُ لِلْبُخَاريِّ. وَلاِبنِ مَاجَهْ بِإِسْنَادِ مُسْلِمٍ: «حَتَّى تَطْمَئِنَّ قَائِماً». Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (mengajari orang yang jelek shalatnya), “Jika engkau hendak shalat, maka sempurnakanlah wudhu. Kemudian hadaplah kiblat. Lalu bertakbirlah. Lalu bacalah ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu. Lalu rukuklah hingga thumakninah ketika rukuk. Lalu bangkitlah hingga engkau tegak berdiri. Lalu sujudlah hingga engkau thumakninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah hingga engkau thumakninah ketika duduk. Kemudian sujud kembali hingga engkau thumakninah ketika sujud. Kemudian lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (Dikeluarkan oleh yang tujuh, lafaznya adalah lafaz Bukhari. Menurut Ibnu Majah dengan sanad Muslim, “Sampai engkau tenang berdiri”). [HR. Bukhari, no. 757, 793; Muslim, no. 397; Abu Daud, no. 856; Tirmidzi, no. 303; An-Nasai, no. 2:124; Ibnu Majah, no. 1060; Ahmad, 2:437]   Hadits #268 ـ وَمِثْلُهُ فِي حَدِيثِ رِفَاعَةَ عِنْدَ أَحْمَدَ وَابْنِ حِبَّانَ. وَفي لفظٍ لأحْمَدَ: «فَأَقِمْ صُلْبَكَ حَتَّى تَرْجِعَ الْعِظَامُ». وَلِلنَّسَائِيِّ، وَأَبي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ: «إنَّهَا لَنْ تَتِمَّ صَلاَةُ أَحَدِكُمْ حَتَّى يُسْبغَ الْوُضُوءَ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ، ثمَّ يُكَبِّرَ اللهَ، وَيَحْمَدَهُ، وَيُثْنِيَ عَلَيْهِ». وَفِيهَا: «فَإنْ كَانَ مَعَكَ قُرْآنٌ فَاقْرَأْ وَإلاَّ فَاحْمَدِ اللهَ، وَكَبِّرهُ، وَهَلِّلْهُ». وَ لأبي دَاوُدَ: «ثمَّ اقْرَأْ بِأُمِّ الْقرآن وَبِمَا شَاءَ اللهُ». وَ لاِبْنِ حِبَّانَ: «ثمَّ بِمَا شِئْتَ». Hal yang serupa didapatkan dalam hadits Rifa’ah bin Raafi’. Menurut Imam Ahmad dan Ibnu Hibban, “Hingga engkau merasa tenang berdiri.” Menurut Imam Ahmad disebutkan. “Maka tegakkanlah tulang punggungmu hingga tulang-tulang itu kembali seperti semula.” Menurut riwayat Imam An-Nasa’i dan Abu Daud dari hadits Rifa’ah bin Raafi’ disebutkan, “Sungguh tidak sempurna shalat seseorang di antara kalian kecuali dia menyempurnakan wudhu sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, kemudian ia takbir dan memuji Allah.” Dalam hadits itu disebutkan, “Jika engkau hafal Al-Qur’an bacalah. Jika tidak, maka bacalah tahmid (alhamdulillah), takbir (Allahu Akbar), dan tahlil (laa ilaha illallah).” Menurut riwayat Abu Daud disebutkan, “Kemudian bacalah Al-Fatihah dan apa yang dikehendaki oleh Allah.” Menurut Ibnu Hibban disebutkan, “Kemudian bacalah sekehendakmu.” [HR. Abu Daud, no. 859; An-Nasai, 2:226; Ahmad, 4:340; Ibnu Majah, no. 1787. Hadits Rifa’ah ini hadits penting karena ia hadir di dalam kisah secara langsung karena orang yang jelek shalatnya adalah Khalad bin Raafi’ merupakan saudara Rifa’ah bin Raafi’. Hadits ini memiliki sisi keunggulan karena adanya tambahan dhabth dan itqan].   Keterangan hadits Hadits ini adalah hadits yang agung. Para ulama menyebutnya dengan hadits musii’ fii shalatihi (orang yang jelek shalatnya). Di dalamnya berisi banyak hukum mengenai tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diterangkan secara lisan. Sebagaimana diketahui dalam ilmu ushul bahwa hadits berupa ucapan lebih didahulukan daripada perbuatan. Hadits ini menerangkan ayat yang sifatnya global, yaitu: وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ “Dan dirikanlah shalat.” (QS. Al-Baqarah: 43) Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي “Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari, no. 196; Ahmad, 34:157-158) Hadits ini memiliki banyak riwayat dan lafaz. Ada dua sahabat yang meriwayatkan hadits ini yaitu: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rifaa’ah bin Raafi’ radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh mengulangi shalat hingga tiga kali untuk mengingatkannya barangkali ia lupa, atau memantapkan ilmunya jika ia tidak tahu. Seperti ini akan mudah diterima. Ini bukan karena ingin mentakzir yaitu mengingatkan keras orang yang salah. Namun, ini dalam rangka meluruskan. Dalam riwayat ada tambahan untuk isbaaghul wudhu’ yaitu menyempurnakan wudhu. “Kemudian membaca Al-Qur’an yang mudah bagimu” dalam riwayat Abu Hurairah tidak ada perbedaan. Namun, dalam hadits dari Rifa’ah ada perbedaan sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram. Thumakninah yang dimaksud adalah as-sukuun (tenang) walaupun hanya sebentar. Sedangkan yang dimaksud secara istilah adalah diamnya anggota tubuh beberapa saat.   Faedah hadits Hadits ini jadi dalil akan wajibnya wudhu untuk shalat dan diperintahkan untuk isbagh yaitu menyempurnakan wudhu. Hadits ini jadi dalil wajibnya menghadap kiblat. Hadits ini jadi dalil akan wajibnya takbiratul ihram dengan lafazh “Allahu akbar”. Takbiratul ihram ini termasuk rukun shalat, shalat tidaklah sah tanpa takbiratul ihram. Lafazh takbiratul ihram ini tidak bisa digantikan dengan lafazh Allahu Ajall, Allahu A’zhom, seperti itu tidaklah sah. Doa istiftah tidaklah wajib karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memerintahkan dalam hadits ini. Wajib membaca apa yang mudah dibaca dari Al-Qur’an, dan yang dimaksud adalah membaca Al-Fatihah bagi yang bisa membacanya. Al-Fatihah dikatakan sebagai bacaan yang mudah dibaca dari Al-Qur’an karena kaum muslimin mudah menghafalkannya. Jika tidak mampu membaca Al-Fatihah berarti membaca ayat lain yang mudah dibaca. Jika tidak bisa pula, maka beralih pada membaca dzikir (yaitu bisa dengan bacaan tahmid, takbir, dan tahlil). Yang termasuk rukun shalat pula adalah rukuk, berdiri dari rukuk (iktidal), sujud dua kali, dan duduk antara dua sujud. Karena dalam hadits ini Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkannya. Wajib thumakninah dalam setiap rukun seluruhnya. Rukun shalat tidaklah sah jika tidak ada thumakninah, sebagaimana pendapat jumhur ulama (Syafiiyyah, Hambali, Malikiyyah, Zhahiriyyah). Karena dalam hadits ini Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan thumakninah dalam rukuk, bangkit dari rukuk, sujud, dan duduk antara dua sujud. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh mengulangi shalat karena tidak memenuhi rukun ini. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan bahwa ia tidak shalat, padahal ia dalam keadaan tidak tahu (jahil). Hal ini menunjukkan bahwa siapa saja yang meninggalkan thumakninah, ia tidak dikatakan shalat. Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ah Al-Fatawa (22:569) menyebutkan bahwa sukun (tenang) dan thumakninah dalam shalat dihukumi wajib berdasarkan ijmak sahabat. Dasar yang menunjukkan bahwa thumakninah termasuk wajib dalam shalat adalah hadits dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا.أَوْ قَالَ : لاَ يُقِيْمُ صُلْبَهُ فِي الرُّكُوْعِ وَ السُّجُودِ “Sejahat-jahat pencuri adalah yang mencuri dari shalatnya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri dari shalatnya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.” Atau beliau bersabda, “Ia tidak menegakkan punggungnya ketika rukuk dan sujud.” (HR. Ahmad, 22:569. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan dalam Minhah Al-‘Allam, 3:12, bahwa sanad hadits ini sahih). Mengenai kadar thumakninah ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang menyatakan bahwa thumakninah adalah sukun (tenang) walaupun sebentar. Ini seperti pengertian secara bahasa dari thumakninah. Sedangkan pendapat lainnya menyatakan bahwa thumakninah adalah sekadar dzikir yang dibaca tanpa tergesa-gesa. Wajib tartib (berurutan) dalam melakukan rukun-rukun yang ada sebagaiman disebutkan dalam hadits karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkannya berurutan dengan kata “tsumma”. Berurutan ini termasuk rukun shalat yang harus ada dalam shalat. Segala yang disebutkan dalam hadits ini dihukumi wajib. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang jelek shalatnya dengan cara seperti yang beliau sebutkan. Adapun yang tidak disebutkan dalam hadits musii’ fii shalatihi apakah masuk pula dalam wajib ataukah tidak, ada perbedaan pendapat di antara para ulama.   Dalam Safinatun An-Naja disebutkan mengenai syarat shalat, rukun shalat, dan kadar thumakninah sebagai berikut. شُرُوْطُ الصَّلاَةِ ثَمَانِيَةٌ: 1- طَهَارَةُ الْحَدَثَيْنِ. وَ2- الطَّهَارَةُ عَنِ النَّجَاسَةِ فِيْ الثَّوْبِ وَالْبَدَنِ وَالْمَكَانِ. وَ3- سَتْرُ الْعَوْرَةِ. وَ4- اسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ. وَ5- دُخُوْلُ الْوَقْتِ. وَ6- الْعِلْمُ بِفَرْضِيَّتِهَا. وَ7- أَنْ لاَ يَعْتَقِدَ فَرْضَاً مِنْ فُرُوْضِهَا سُنَّةً. وَ8- اجْتِنَابُ الْمُبْطِلاَتِ. Syarat shalat ada 8, yaitu [1] suci dari dua hadats (besar dan kecil), [2] suci dari najis pada pakaian, badan, dan tempat, [3] menutup aurat, [4] menghadap kiblat, [5] masuk waktu, [6] mengetahui bahwa shalat itu fardhu, [7] tidak meyakini fardhu shalat sebagai sunnah, dan [8] menjauhi pembatal-pembatalnya. أَرْكَانُ الصَّلاَةِ سَبْعَةَ عَشَرَ: الأَوَّلُ: النِّيَّةُ. الثَّانِيْ: تَكْبِيْرةُ الإِحْرَامِ. الثَّالِثُ: الْقِيَامُ عَلَى القَادِرِ فِيْ الْفَرْضِ. الرَّابعُ: قِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ. الْخَامِسُ: الرُّكُوْعُ. السَّادِسُ: الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ. السَّابعُ: الاعْتِدَالُ. الثَّامِنُ: الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ. التَّاسِعُ: السُّجُوْدُ مَرَّتَيْنِ. الْعَاشِرُ: الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ. الْحَادِيْ عَشَرَ: الْجُلُوْسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ. الثَّانِيْ عَشَرَ: الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ. الثَّالِثَ عَشَرَ: التَّشَهُّدُ الأَخِيْرُ. الرَّابِعَ عَشَرَ: الْقُعُوْدُ فِيْهِ. الْخَامِسَ عَشَرَ: الصَّلاَةُ عَلَىَ النَّبِيِّ فِيْهِ. السَّادِسَ عَشَرَ: السَّلاَمُ. السَّاِبَعَ عَشَرَ: التَّرْتِيْبُ. Rukun shalat ada 17, yaitu [1] niat, [2] takbiratul ihram, [3] berdiri bagi yang mampu dalam shalat wajib, [4] membaca surah Al-Fatihah, [5] rukuk, [6] thumakninah ketika rukuk, [7] iktidal, [8] thumakninah saat iktidal, [9] sujud dua kali, [10] thumakninah saat sujud, [11] duduk antara dua sujud, [12] thumakninah saat duduk antara dua sujud, [13] tasyahhud akhir, [14] duduk saat tasyahud akhir, [15] shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tasyahhud akhir, [16] salam, dan [17] tartib (berurutan). الظُّمَأْنِيْنَةُ هِيَ: سُكُوْنٌ بَعْدَ حَرَكَةٍ؛ بِحَيْثُ يَسْتَقِرُّ كُلُ عُضْوٍ مَحَلَّهُ بِقَدْرِ » سُبْحَانَ اللهِ « Thumakninah adalah berdiam setelah bergerak di mana tiap anggota badan tenang di tempatnya, lamanya sekitar ucapan SUBHANALLAH. Baca Juga: Cara Kita Bersyukur: Jika Tidak Memenuhi Rukun Syukur Ini, Tidak Disebut Bersyukur Tsalatsatul Ushul: Penjelasan Ringkas Rukun Islam dan Rukun Iman Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:6-13. Berbagai kitab fikih Syafiiyah. — Selasa pagi, 3 Rabiul Akhir 1443 H, 9 November 2021 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat buluhul maram cara shalat cara shalat rukun shalat sifat shalat nabi syarat shalat tata cara shalat tata cara shalat nabi thumakninah

Bulughul Maram – Shalat: Hadits Penting tentang Syarat dan Rukun Shalat

Hadits ini penting sekali dalam memahami cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena diterangkan beliau langsung lewat lisan dalam rangka membenarkan orang yang jelek shalatnya (musii’ fii shalatihi). Baca juga: Hadits Musii’ fii Shalatihi   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Tata Cara Shalat Lewat Lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 1.1. Hadits #267 1.2. Hadits #268 1.3. Keterangan hadits 1.4. Faedah hadits Tata Cara Shalat Lewat Lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Hadits #267 عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبيَّ صلّى الله عليه وسلّم قَالَ: «إِذَا قُمْتَ إلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ، ثمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ، فَكَبِّرْ، ثمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ، ثُم ارْكَعْ حَتَّى تَطمَئِنَّ رَاكِعاً، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِماً، ثمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِن َّ سَاجِداً، ثمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِساً، ثمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِداً، ثمَّ افْعَلْ ذلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا». أَخْرَجَهُ السَّبْعَةُ، وَاللّفْظُ لِلْبُخَاريِّ. وَلاِبنِ مَاجَهْ بِإِسْنَادِ مُسْلِمٍ: «حَتَّى تَطْمَئِنَّ قَائِماً». Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (mengajari orang yang jelek shalatnya), “Jika engkau hendak shalat, maka sempurnakanlah wudhu. Kemudian hadaplah kiblat. Lalu bertakbirlah. Lalu bacalah ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu. Lalu rukuklah hingga thumakninah ketika rukuk. Lalu bangkitlah hingga engkau tegak berdiri. Lalu sujudlah hingga engkau thumakninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah hingga engkau thumakninah ketika duduk. Kemudian sujud kembali hingga engkau thumakninah ketika sujud. Kemudian lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (Dikeluarkan oleh yang tujuh, lafaznya adalah lafaz Bukhari. Menurut Ibnu Majah dengan sanad Muslim, “Sampai engkau tenang berdiri”). [HR. Bukhari, no. 757, 793; Muslim, no. 397; Abu Daud, no. 856; Tirmidzi, no. 303; An-Nasai, no. 2:124; Ibnu Majah, no. 1060; Ahmad, 2:437]   Hadits #268 ـ وَمِثْلُهُ فِي حَدِيثِ رِفَاعَةَ عِنْدَ أَحْمَدَ وَابْنِ حِبَّانَ. وَفي لفظٍ لأحْمَدَ: «فَأَقِمْ صُلْبَكَ حَتَّى تَرْجِعَ الْعِظَامُ». وَلِلنَّسَائِيِّ، وَأَبي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ: «إنَّهَا لَنْ تَتِمَّ صَلاَةُ أَحَدِكُمْ حَتَّى يُسْبغَ الْوُضُوءَ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ، ثمَّ يُكَبِّرَ اللهَ، وَيَحْمَدَهُ، وَيُثْنِيَ عَلَيْهِ». وَفِيهَا: «فَإنْ كَانَ مَعَكَ قُرْآنٌ فَاقْرَأْ وَإلاَّ فَاحْمَدِ اللهَ، وَكَبِّرهُ، وَهَلِّلْهُ». وَ لأبي دَاوُدَ: «ثمَّ اقْرَأْ بِأُمِّ الْقرآن وَبِمَا شَاءَ اللهُ». وَ لاِبْنِ حِبَّانَ: «ثمَّ بِمَا شِئْتَ». Hal yang serupa didapatkan dalam hadits Rifa’ah bin Raafi’. Menurut Imam Ahmad dan Ibnu Hibban, “Hingga engkau merasa tenang berdiri.” Menurut Imam Ahmad disebutkan. “Maka tegakkanlah tulang punggungmu hingga tulang-tulang itu kembali seperti semula.” Menurut riwayat Imam An-Nasa’i dan Abu Daud dari hadits Rifa’ah bin Raafi’ disebutkan, “Sungguh tidak sempurna shalat seseorang di antara kalian kecuali dia menyempurnakan wudhu sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, kemudian ia takbir dan memuji Allah.” Dalam hadits itu disebutkan, “Jika engkau hafal Al-Qur’an bacalah. Jika tidak, maka bacalah tahmid (alhamdulillah), takbir (Allahu Akbar), dan tahlil (laa ilaha illallah).” Menurut riwayat Abu Daud disebutkan, “Kemudian bacalah Al-Fatihah dan apa yang dikehendaki oleh Allah.” Menurut Ibnu Hibban disebutkan, “Kemudian bacalah sekehendakmu.” [HR. Abu Daud, no. 859; An-Nasai, 2:226; Ahmad, 4:340; Ibnu Majah, no. 1787. Hadits Rifa’ah ini hadits penting karena ia hadir di dalam kisah secara langsung karena orang yang jelek shalatnya adalah Khalad bin Raafi’ merupakan saudara Rifa’ah bin Raafi’. Hadits ini memiliki sisi keunggulan karena adanya tambahan dhabth dan itqan].   Keterangan hadits Hadits ini adalah hadits yang agung. Para ulama menyebutnya dengan hadits musii’ fii shalatihi (orang yang jelek shalatnya). Di dalamnya berisi banyak hukum mengenai tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diterangkan secara lisan. Sebagaimana diketahui dalam ilmu ushul bahwa hadits berupa ucapan lebih didahulukan daripada perbuatan. Hadits ini menerangkan ayat yang sifatnya global, yaitu: وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ “Dan dirikanlah shalat.” (QS. Al-Baqarah: 43) Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي “Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari, no. 196; Ahmad, 34:157-158) Hadits ini memiliki banyak riwayat dan lafaz. Ada dua sahabat yang meriwayatkan hadits ini yaitu: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rifaa’ah bin Raafi’ radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh mengulangi shalat hingga tiga kali untuk mengingatkannya barangkali ia lupa, atau memantapkan ilmunya jika ia tidak tahu. Seperti ini akan mudah diterima. Ini bukan karena ingin mentakzir yaitu mengingatkan keras orang yang salah. Namun, ini dalam rangka meluruskan. Dalam riwayat ada tambahan untuk isbaaghul wudhu’ yaitu menyempurnakan wudhu. “Kemudian membaca Al-Qur’an yang mudah bagimu” dalam riwayat Abu Hurairah tidak ada perbedaan. Namun, dalam hadits dari Rifa’ah ada perbedaan sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram. Thumakninah yang dimaksud adalah as-sukuun (tenang) walaupun hanya sebentar. Sedangkan yang dimaksud secara istilah adalah diamnya anggota tubuh beberapa saat.   Faedah hadits Hadits ini jadi dalil akan wajibnya wudhu untuk shalat dan diperintahkan untuk isbagh yaitu menyempurnakan wudhu. Hadits ini jadi dalil wajibnya menghadap kiblat. Hadits ini jadi dalil akan wajibnya takbiratul ihram dengan lafazh “Allahu akbar”. Takbiratul ihram ini termasuk rukun shalat, shalat tidaklah sah tanpa takbiratul ihram. Lafazh takbiratul ihram ini tidak bisa digantikan dengan lafazh Allahu Ajall, Allahu A’zhom, seperti itu tidaklah sah. Doa istiftah tidaklah wajib karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memerintahkan dalam hadits ini. Wajib membaca apa yang mudah dibaca dari Al-Qur’an, dan yang dimaksud adalah membaca Al-Fatihah bagi yang bisa membacanya. Al-Fatihah dikatakan sebagai bacaan yang mudah dibaca dari Al-Qur’an karena kaum muslimin mudah menghafalkannya. Jika tidak mampu membaca Al-Fatihah berarti membaca ayat lain yang mudah dibaca. Jika tidak bisa pula, maka beralih pada membaca dzikir (yaitu bisa dengan bacaan tahmid, takbir, dan tahlil). Yang termasuk rukun shalat pula adalah rukuk, berdiri dari rukuk (iktidal), sujud dua kali, dan duduk antara dua sujud. Karena dalam hadits ini Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkannya. Wajib thumakninah dalam setiap rukun seluruhnya. Rukun shalat tidaklah sah jika tidak ada thumakninah, sebagaimana pendapat jumhur ulama (Syafiiyyah, Hambali, Malikiyyah, Zhahiriyyah). Karena dalam hadits ini Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan thumakninah dalam rukuk, bangkit dari rukuk, sujud, dan duduk antara dua sujud. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh mengulangi shalat karena tidak memenuhi rukun ini. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan bahwa ia tidak shalat, padahal ia dalam keadaan tidak tahu (jahil). Hal ini menunjukkan bahwa siapa saja yang meninggalkan thumakninah, ia tidak dikatakan shalat. Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ah Al-Fatawa (22:569) menyebutkan bahwa sukun (tenang) dan thumakninah dalam shalat dihukumi wajib berdasarkan ijmak sahabat. Dasar yang menunjukkan bahwa thumakninah termasuk wajib dalam shalat adalah hadits dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا.أَوْ قَالَ : لاَ يُقِيْمُ صُلْبَهُ فِي الرُّكُوْعِ وَ السُّجُودِ “Sejahat-jahat pencuri adalah yang mencuri dari shalatnya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri dari shalatnya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.” Atau beliau bersabda, “Ia tidak menegakkan punggungnya ketika rukuk dan sujud.” (HR. Ahmad, 22:569. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan dalam Minhah Al-‘Allam, 3:12, bahwa sanad hadits ini sahih). Mengenai kadar thumakninah ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang menyatakan bahwa thumakninah adalah sukun (tenang) walaupun sebentar. Ini seperti pengertian secara bahasa dari thumakninah. Sedangkan pendapat lainnya menyatakan bahwa thumakninah adalah sekadar dzikir yang dibaca tanpa tergesa-gesa. Wajib tartib (berurutan) dalam melakukan rukun-rukun yang ada sebagaiman disebutkan dalam hadits karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkannya berurutan dengan kata “tsumma”. Berurutan ini termasuk rukun shalat yang harus ada dalam shalat. Segala yang disebutkan dalam hadits ini dihukumi wajib. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang jelek shalatnya dengan cara seperti yang beliau sebutkan. Adapun yang tidak disebutkan dalam hadits musii’ fii shalatihi apakah masuk pula dalam wajib ataukah tidak, ada perbedaan pendapat di antara para ulama.   Dalam Safinatun An-Naja disebutkan mengenai syarat shalat, rukun shalat, dan kadar thumakninah sebagai berikut. شُرُوْطُ الصَّلاَةِ ثَمَانِيَةٌ: 1- طَهَارَةُ الْحَدَثَيْنِ. وَ2- الطَّهَارَةُ عَنِ النَّجَاسَةِ فِيْ الثَّوْبِ وَالْبَدَنِ وَالْمَكَانِ. وَ3- سَتْرُ الْعَوْرَةِ. وَ4- اسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ. وَ5- دُخُوْلُ الْوَقْتِ. وَ6- الْعِلْمُ بِفَرْضِيَّتِهَا. وَ7- أَنْ لاَ يَعْتَقِدَ فَرْضَاً مِنْ فُرُوْضِهَا سُنَّةً. وَ8- اجْتِنَابُ الْمُبْطِلاَتِ. Syarat shalat ada 8, yaitu [1] suci dari dua hadats (besar dan kecil), [2] suci dari najis pada pakaian, badan, dan tempat, [3] menutup aurat, [4] menghadap kiblat, [5] masuk waktu, [6] mengetahui bahwa shalat itu fardhu, [7] tidak meyakini fardhu shalat sebagai sunnah, dan [8] menjauhi pembatal-pembatalnya. أَرْكَانُ الصَّلاَةِ سَبْعَةَ عَشَرَ: الأَوَّلُ: النِّيَّةُ. الثَّانِيْ: تَكْبِيْرةُ الإِحْرَامِ. الثَّالِثُ: الْقِيَامُ عَلَى القَادِرِ فِيْ الْفَرْضِ. الرَّابعُ: قِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ. الْخَامِسُ: الرُّكُوْعُ. السَّادِسُ: الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ. السَّابعُ: الاعْتِدَالُ. الثَّامِنُ: الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ. التَّاسِعُ: السُّجُوْدُ مَرَّتَيْنِ. الْعَاشِرُ: الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ. الْحَادِيْ عَشَرَ: الْجُلُوْسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ. الثَّانِيْ عَشَرَ: الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ. الثَّالِثَ عَشَرَ: التَّشَهُّدُ الأَخِيْرُ. الرَّابِعَ عَشَرَ: الْقُعُوْدُ فِيْهِ. الْخَامِسَ عَشَرَ: الصَّلاَةُ عَلَىَ النَّبِيِّ فِيْهِ. السَّادِسَ عَشَرَ: السَّلاَمُ. السَّاِبَعَ عَشَرَ: التَّرْتِيْبُ. Rukun shalat ada 17, yaitu [1] niat, [2] takbiratul ihram, [3] berdiri bagi yang mampu dalam shalat wajib, [4] membaca surah Al-Fatihah, [5] rukuk, [6] thumakninah ketika rukuk, [7] iktidal, [8] thumakninah saat iktidal, [9] sujud dua kali, [10] thumakninah saat sujud, [11] duduk antara dua sujud, [12] thumakninah saat duduk antara dua sujud, [13] tasyahhud akhir, [14] duduk saat tasyahud akhir, [15] shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tasyahhud akhir, [16] salam, dan [17] tartib (berurutan). الظُّمَأْنِيْنَةُ هِيَ: سُكُوْنٌ بَعْدَ حَرَكَةٍ؛ بِحَيْثُ يَسْتَقِرُّ كُلُ عُضْوٍ مَحَلَّهُ بِقَدْرِ » سُبْحَانَ اللهِ « Thumakninah adalah berdiam setelah bergerak di mana tiap anggota badan tenang di tempatnya, lamanya sekitar ucapan SUBHANALLAH. Baca Juga: Cara Kita Bersyukur: Jika Tidak Memenuhi Rukun Syukur Ini, Tidak Disebut Bersyukur Tsalatsatul Ushul: Penjelasan Ringkas Rukun Islam dan Rukun Iman Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:6-13. Berbagai kitab fikih Syafiiyah. — Selasa pagi, 3 Rabiul Akhir 1443 H, 9 November 2021 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat buluhul maram cara shalat cara shalat rukun shalat sifat shalat nabi syarat shalat tata cara shalat tata cara shalat nabi thumakninah
Hadits ini penting sekali dalam memahami cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena diterangkan beliau langsung lewat lisan dalam rangka membenarkan orang yang jelek shalatnya (musii’ fii shalatihi). Baca juga: Hadits Musii’ fii Shalatihi   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Tata Cara Shalat Lewat Lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 1.1. Hadits #267 1.2. Hadits #268 1.3. Keterangan hadits 1.4. Faedah hadits Tata Cara Shalat Lewat Lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Hadits #267 عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبيَّ صلّى الله عليه وسلّم قَالَ: «إِذَا قُمْتَ إلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ، ثمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ، فَكَبِّرْ، ثمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ، ثُم ارْكَعْ حَتَّى تَطمَئِنَّ رَاكِعاً، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِماً، ثمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِن َّ سَاجِداً، ثمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِساً، ثمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِداً، ثمَّ افْعَلْ ذلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا». أَخْرَجَهُ السَّبْعَةُ، وَاللّفْظُ لِلْبُخَاريِّ. وَلاِبنِ مَاجَهْ بِإِسْنَادِ مُسْلِمٍ: «حَتَّى تَطْمَئِنَّ قَائِماً». Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (mengajari orang yang jelek shalatnya), “Jika engkau hendak shalat, maka sempurnakanlah wudhu. Kemudian hadaplah kiblat. Lalu bertakbirlah. Lalu bacalah ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu. Lalu rukuklah hingga thumakninah ketika rukuk. Lalu bangkitlah hingga engkau tegak berdiri. Lalu sujudlah hingga engkau thumakninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah hingga engkau thumakninah ketika duduk. Kemudian sujud kembali hingga engkau thumakninah ketika sujud. Kemudian lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (Dikeluarkan oleh yang tujuh, lafaznya adalah lafaz Bukhari. Menurut Ibnu Majah dengan sanad Muslim, “Sampai engkau tenang berdiri”). [HR. Bukhari, no. 757, 793; Muslim, no. 397; Abu Daud, no. 856; Tirmidzi, no. 303; An-Nasai, no. 2:124; Ibnu Majah, no. 1060; Ahmad, 2:437]   Hadits #268 ـ وَمِثْلُهُ فِي حَدِيثِ رِفَاعَةَ عِنْدَ أَحْمَدَ وَابْنِ حِبَّانَ. وَفي لفظٍ لأحْمَدَ: «فَأَقِمْ صُلْبَكَ حَتَّى تَرْجِعَ الْعِظَامُ». وَلِلنَّسَائِيِّ، وَأَبي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ: «إنَّهَا لَنْ تَتِمَّ صَلاَةُ أَحَدِكُمْ حَتَّى يُسْبغَ الْوُضُوءَ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ، ثمَّ يُكَبِّرَ اللهَ، وَيَحْمَدَهُ، وَيُثْنِيَ عَلَيْهِ». وَفِيهَا: «فَإنْ كَانَ مَعَكَ قُرْآنٌ فَاقْرَأْ وَإلاَّ فَاحْمَدِ اللهَ، وَكَبِّرهُ، وَهَلِّلْهُ». وَ لأبي دَاوُدَ: «ثمَّ اقْرَأْ بِأُمِّ الْقرآن وَبِمَا شَاءَ اللهُ». وَ لاِبْنِ حِبَّانَ: «ثمَّ بِمَا شِئْتَ». Hal yang serupa didapatkan dalam hadits Rifa’ah bin Raafi’. Menurut Imam Ahmad dan Ibnu Hibban, “Hingga engkau merasa tenang berdiri.” Menurut Imam Ahmad disebutkan. “Maka tegakkanlah tulang punggungmu hingga tulang-tulang itu kembali seperti semula.” Menurut riwayat Imam An-Nasa’i dan Abu Daud dari hadits Rifa’ah bin Raafi’ disebutkan, “Sungguh tidak sempurna shalat seseorang di antara kalian kecuali dia menyempurnakan wudhu sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, kemudian ia takbir dan memuji Allah.” Dalam hadits itu disebutkan, “Jika engkau hafal Al-Qur’an bacalah. Jika tidak, maka bacalah tahmid (alhamdulillah), takbir (Allahu Akbar), dan tahlil (laa ilaha illallah).” Menurut riwayat Abu Daud disebutkan, “Kemudian bacalah Al-Fatihah dan apa yang dikehendaki oleh Allah.” Menurut Ibnu Hibban disebutkan, “Kemudian bacalah sekehendakmu.” [HR. Abu Daud, no. 859; An-Nasai, 2:226; Ahmad, 4:340; Ibnu Majah, no. 1787. Hadits Rifa’ah ini hadits penting karena ia hadir di dalam kisah secara langsung karena orang yang jelek shalatnya adalah Khalad bin Raafi’ merupakan saudara Rifa’ah bin Raafi’. Hadits ini memiliki sisi keunggulan karena adanya tambahan dhabth dan itqan].   Keterangan hadits Hadits ini adalah hadits yang agung. Para ulama menyebutnya dengan hadits musii’ fii shalatihi (orang yang jelek shalatnya). Di dalamnya berisi banyak hukum mengenai tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diterangkan secara lisan. Sebagaimana diketahui dalam ilmu ushul bahwa hadits berupa ucapan lebih didahulukan daripada perbuatan. Hadits ini menerangkan ayat yang sifatnya global, yaitu: وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ “Dan dirikanlah shalat.” (QS. Al-Baqarah: 43) Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي “Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari, no. 196; Ahmad, 34:157-158) Hadits ini memiliki banyak riwayat dan lafaz. Ada dua sahabat yang meriwayatkan hadits ini yaitu: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rifaa’ah bin Raafi’ radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh mengulangi shalat hingga tiga kali untuk mengingatkannya barangkali ia lupa, atau memantapkan ilmunya jika ia tidak tahu. Seperti ini akan mudah diterima. Ini bukan karena ingin mentakzir yaitu mengingatkan keras orang yang salah. Namun, ini dalam rangka meluruskan. Dalam riwayat ada tambahan untuk isbaaghul wudhu’ yaitu menyempurnakan wudhu. “Kemudian membaca Al-Qur’an yang mudah bagimu” dalam riwayat Abu Hurairah tidak ada perbedaan. Namun, dalam hadits dari Rifa’ah ada perbedaan sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram. Thumakninah yang dimaksud adalah as-sukuun (tenang) walaupun hanya sebentar. Sedangkan yang dimaksud secara istilah adalah diamnya anggota tubuh beberapa saat.   Faedah hadits Hadits ini jadi dalil akan wajibnya wudhu untuk shalat dan diperintahkan untuk isbagh yaitu menyempurnakan wudhu. Hadits ini jadi dalil wajibnya menghadap kiblat. Hadits ini jadi dalil akan wajibnya takbiratul ihram dengan lafazh “Allahu akbar”. Takbiratul ihram ini termasuk rukun shalat, shalat tidaklah sah tanpa takbiratul ihram. Lafazh takbiratul ihram ini tidak bisa digantikan dengan lafazh Allahu Ajall, Allahu A’zhom, seperti itu tidaklah sah. Doa istiftah tidaklah wajib karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memerintahkan dalam hadits ini. Wajib membaca apa yang mudah dibaca dari Al-Qur’an, dan yang dimaksud adalah membaca Al-Fatihah bagi yang bisa membacanya. Al-Fatihah dikatakan sebagai bacaan yang mudah dibaca dari Al-Qur’an karena kaum muslimin mudah menghafalkannya. Jika tidak mampu membaca Al-Fatihah berarti membaca ayat lain yang mudah dibaca. Jika tidak bisa pula, maka beralih pada membaca dzikir (yaitu bisa dengan bacaan tahmid, takbir, dan tahlil). Yang termasuk rukun shalat pula adalah rukuk, berdiri dari rukuk (iktidal), sujud dua kali, dan duduk antara dua sujud. Karena dalam hadits ini Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkannya. Wajib thumakninah dalam setiap rukun seluruhnya. Rukun shalat tidaklah sah jika tidak ada thumakninah, sebagaimana pendapat jumhur ulama (Syafiiyyah, Hambali, Malikiyyah, Zhahiriyyah). Karena dalam hadits ini Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan thumakninah dalam rukuk, bangkit dari rukuk, sujud, dan duduk antara dua sujud. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh mengulangi shalat karena tidak memenuhi rukun ini. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan bahwa ia tidak shalat, padahal ia dalam keadaan tidak tahu (jahil). Hal ini menunjukkan bahwa siapa saja yang meninggalkan thumakninah, ia tidak dikatakan shalat. Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ah Al-Fatawa (22:569) menyebutkan bahwa sukun (tenang) dan thumakninah dalam shalat dihukumi wajib berdasarkan ijmak sahabat. Dasar yang menunjukkan bahwa thumakninah termasuk wajib dalam shalat adalah hadits dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا.أَوْ قَالَ : لاَ يُقِيْمُ صُلْبَهُ فِي الرُّكُوْعِ وَ السُّجُودِ “Sejahat-jahat pencuri adalah yang mencuri dari shalatnya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri dari shalatnya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.” Atau beliau bersabda, “Ia tidak menegakkan punggungnya ketika rukuk dan sujud.” (HR. Ahmad, 22:569. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan dalam Minhah Al-‘Allam, 3:12, bahwa sanad hadits ini sahih). Mengenai kadar thumakninah ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang menyatakan bahwa thumakninah adalah sukun (tenang) walaupun sebentar. Ini seperti pengertian secara bahasa dari thumakninah. Sedangkan pendapat lainnya menyatakan bahwa thumakninah adalah sekadar dzikir yang dibaca tanpa tergesa-gesa. Wajib tartib (berurutan) dalam melakukan rukun-rukun yang ada sebagaiman disebutkan dalam hadits karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkannya berurutan dengan kata “tsumma”. Berurutan ini termasuk rukun shalat yang harus ada dalam shalat. Segala yang disebutkan dalam hadits ini dihukumi wajib. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang jelek shalatnya dengan cara seperti yang beliau sebutkan. Adapun yang tidak disebutkan dalam hadits musii’ fii shalatihi apakah masuk pula dalam wajib ataukah tidak, ada perbedaan pendapat di antara para ulama.   Dalam Safinatun An-Naja disebutkan mengenai syarat shalat, rukun shalat, dan kadar thumakninah sebagai berikut. شُرُوْطُ الصَّلاَةِ ثَمَانِيَةٌ: 1- طَهَارَةُ الْحَدَثَيْنِ. وَ2- الطَّهَارَةُ عَنِ النَّجَاسَةِ فِيْ الثَّوْبِ وَالْبَدَنِ وَالْمَكَانِ. وَ3- سَتْرُ الْعَوْرَةِ. وَ4- اسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ. وَ5- دُخُوْلُ الْوَقْتِ. وَ6- الْعِلْمُ بِفَرْضِيَّتِهَا. وَ7- أَنْ لاَ يَعْتَقِدَ فَرْضَاً مِنْ فُرُوْضِهَا سُنَّةً. وَ8- اجْتِنَابُ الْمُبْطِلاَتِ. Syarat shalat ada 8, yaitu [1] suci dari dua hadats (besar dan kecil), [2] suci dari najis pada pakaian, badan, dan tempat, [3] menutup aurat, [4] menghadap kiblat, [5] masuk waktu, [6] mengetahui bahwa shalat itu fardhu, [7] tidak meyakini fardhu shalat sebagai sunnah, dan [8] menjauhi pembatal-pembatalnya. أَرْكَانُ الصَّلاَةِ سَبْعَةَ عَشَرَ: الأَوَّلُ: النِّيَّةُ. الثَّانِيْ: تَكْبِيْرةُ الإِحْرَامِ. الثَّالِثُ: الْقِيَامُ عَلَى القَادِرِ فِيْ الْفَرْضِ. الرَّابعُ: قِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ. الْخَامِسُ: الرُّكُوْعُ. السَّادِسُ: الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ. السَّابعُ: الاعْتِدَالُ. الثَّامِنُ: الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ. التَّاسِعُ: السُّجُوْدُ مَرَّتَيْنِ. الْعَاشِرُ: الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ. الْحَادِيْ عَشَرَ: الْجُلُوْسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ. الثَّانِيْ عَشَرَ: الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ. الثَّالِثَ عَشَرَ: التَّشَهُّدُ الأَخِيْرُ. الرَّابِعَ عَشَرَ: الْقُعُوْدُ فِيْهِ. الْخَامِسَ عَشَرَ: الصَّلاَةُ عَلَىَ النَّبِيِّ فِيْهِ. السَّادِسَ عَشَرَ: السَّلاَمُ. السَّاِبَعَ عَشَرَ: التَّرْتِيْبُ. Rukun shalat ada 17, yaitu [1] niat, [2] takbiratul ihram, [3] berdiri bagi yang mampu dalam shalat wajib, [4] membaca surah Al-Fatihah, [5] rukuk, [6] thumakninah ketika rukuk, [7] iktidal, [8] thumakninah saat iktidal, [9] sujud dua kali, [10] thumakninah saat sujud, [11] duduk antara dua sujud, [12] thumakninah saat duduk antara dua sujud, [13] tasyahhud akhir, [14] duduk saat tasyahud akhir, [15] shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tasyahhud akhir, [16] salam, dan [17] tartib (berurutan). الظُّمَأْنِيْنَةُ هِيَ: سُكُوْنٌ بَعْدَ حَرَكَةٍ؛ بِحَيْثُ يَسْتَقِرُّ كُلُ عُضْوٍ مَحَلَّهُ بِقَدْرِ » سُبْحَانَ اللهِ « Thumakninah adalah berdiam setelah bergerak di mana tiap anggota badan tenang di tempatnya, lamanya sekitar ucapan SUBHANALLAH. Baca Juga: Cara Kita Bersyukur: Jika Tidak Memenuhi Rukun Syukur Ini, Tidak Disebut Bersyukur Tsalatsatul Ushul: Penjelasan Ringkas Rukun Islam dan Rukun Iman Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:6-13. Berbagai kitab fikih Syafiiyah. — Selasa pagi, 3 Rabiul Akhir 1443 H, 9 November 2021 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat buluhul maram cara shalat cara shalat rukun shalat sifat shalat nabi syarat shalat tata cara shalat tata cara shalat nabi thumakninah


Hadits ini penting sekali dalam memahami cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena diterangkan beliau langsung lewat lisan dalam rangka membenarkan orang yang jelek shalatnya (musii’ fii shalatihi). Baca juga: Hadits Musii’ fii Shalatihi   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Tata Cara Shalat Lewat Lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 1.1. Hadits #267 1.2. Hadits #268 1.3. Keterangan hadits 1.4. Faedah hadits Tata Cara Shalat Lewat Lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Hadits #267 عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبيَّ صلّى الله عليه وسلّم قَالَ: «إِذَا قُمْتَ إلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ، ثمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ، فَكَبِّرْ، ثمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ، ثُم ارْكَعْ حَتَّى تَطمَئِنَّ رَاكِعاً، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِماً، ثمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِن َّ سَاجِداً، ثمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِساً، ثمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِداً، ثمَّ افْعَلْ ذلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا». أَخْرَجَهُ السَّبْعَةُ، وَاللّفْظُ لِلْبُخَاريِّ. وَلاِبنِ مَاجَهْ بِإِسْنَادِ مُسْلِمٍ: «حَتَّى تَطْمَئِنَّ قَائِماً». Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (mengajari orang yang jelek shalatnya), “Jika engkau hendak shalat, maka sempurnakanlah wudhu. Kemudian hadaplah kiblat. Lalu bertakbirlah. Lalu bacalah ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu. Lalu rukuklah hingga thumakninah ketika rukuk. Lalu bangkitlah hingga engkau tegak berdiri. Lalu sujudlah hingga engkau thumakninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah hingga engkau thumakninah ketika duduk. Kemudian sujud kembali hingga engkau thumakninah ketika sujud. Kemudian lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (Dikeluarkan oleh yang tujuh, lafaznya adalah lafaz Bukhari. Menurut Ibnu Majah dengan sanad Muslim, “Sampai engkau tenang berdiri”). [HR. Bukhari, no. 757, 793; Muslim, no. 397; Abu Daud, no. 856; Tirmidzi, no. 303; An-Nasai, no. 2:124; Ibnu Majah, no. 1060; Ahmad, 2:437]   Hadits #268 ـ وَمِثْلُهُ فِي حَدِيثِ رِفَاعَةَ عِنْدَ أَحْمَدَ وَابْنِ حِبَّانَ. وَفي لفظٍ لأحْمَدَ: «فَأَقِمْ صُلْبَكَ حَتَّى تَرْجِعَ الْعِظَامُ». وَلِلنَّسَائِيِّ، وَأَبي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ: «إنَّهَا لَنْ تَتِمَّ صَلاَةُ أَحَدِكُمْ حَتَّى يُسْبغَ الْوُضُوءَ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ، ثمَّ يُكَبِّرَ اللهَ، وَيَحْمَدَهُ، وَيُثْنِيَ عَلَيْهِ». وَفِيهَا: «فَإنْ كَانَ مَعَكَ قُرْآنٌ فَاقْرَأْ وَإلاَّ فَاحْمَدِ اللهَ، وَكَبِّرهُ، وَهَلِّلْهُ». وَ لأبي دَاوُدَ: «ثمَّ اقْرَأْ بِأُمِّ الْقرآن وَبِمَا شَاءَ اللهُ». وَ لاِبْنِ حِبَّانَ: «ثمَّ بِمَا شِئْتَ». Hal yang serupa didapatkan dalam hadits Rifa’ah bin Raafi’. Menurut Imam Ahmad dan Ibnu Hibban, “Hingga engkau merasa tenang berdiri.” Menurut Imam Ahmad disebutkan. “Maka tegakkanlah tulang punggungmu hingga tulang-tulang itu kembali seperti semula.” Menurut riwayat Imam An-Nasa’i dan Abu Daud dari hadits Rifa’ah bin Raafi’ disebutkan, “Sungguh tidak sempurna shalat seseorang di antara kalian kecuali dia menyempurnakan wudhu sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, kemudian ia takbir dan memuji Allah.” Dalam hadits itu disebutkan, “Jika engkau hafal Al-Qur’an bacalah. Jika tidak, maka bacalah tahmid (alhamdulillah), takbir (Allahu Akbar), dan tahlil (laa ilaha illallah).” Menurut riwayat Abu Daud disebutkan, “Kemudian bacalah Al-Fatihah dan apa yang dikehendaki oleh Allah.” Menurut Ibnu Hibban disebutkan, “Kemudian bacalah sekehendakmu.” [HR. Abu Daud, no. 859; An-Nasai, 2:226; Ahmad, 4:340; Ibnu Majah, no. 1787. Hadits Rifa’ah ini hadits penting karena ia hadir di dalam kisah secara langsung karena orang yang jelek shalatnya adalah Khalad bin Raafi’ merupakan saudara Rifa’ah bin Raafi’. Hadits ini memiliki sisi keunggulan karena adanya tambahan dhabth dan itqan].   Keterangan hadits Hadits ini adalah hadits yang agung. Para ulama menyebutnya dengan hadits musii’ fii shalatihi (orang yang jelek shalatnya). Di dalamnya berisi banyak hukum mengenai tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diterangkan secara lisan. Sebagaimana diketahui dalam ilmu ushul bahwa hadits berupa ucapan lebih didahulukan daripada perbuatan. Hadits ini menerangkan ayat yang sifatnya global, yaitu: وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ “Dan dirikanlah shalat.” (QS. Al-Baqarah: 43) Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي “Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari, no. 196; Ahmad, 34:157-158) Hadits ini memiliki banyak riwayat dan lafaz. Ada dua sahabat yang meriwayatkan hadits ini yaitu: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rifaa’ah bin Raafi’ radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh mengulangi shalat hingga tiga kali untuk mengingatkannya barangkali ia lupa, atau memantapkan ilmunya jika ia tidak tahu. Seperti ini akan mudah diterima. Ini bukan karena ingin mentakzir yaitu mengingatkan keras orang yang salah. Namun, ini dalam rangka meluruskan. Dalam riwayat ada tambahan untuk isbaaghul wudhu’ yaitu menyempurnakan wudhu. “Kemudian membaca Al-Qur’an yang mudah bagimu” dalam riwayat Abu Hurairah tidak ada perbedaan. Namun, dalam hadits dari Rifa’ah ada perbedaan sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram. Thumakninah yang dimaksud adalah as-sukuun (tenang) walaupun hanya sebentar. Sedangkan yang dimaksud secara istilah adalah diamnya anggota tubuh beberapa saat.   Faedah hadits Hadits ini jadi dalil akan wajibnya wudhu untuk shalat dan diperintahkan untuk isbagh yaitu menyempurnakan wudhu. Hadits ini jadi dalil wajibnya menghadap kiblat. Hadits ini jadi dalil akan wajibnya takbiratul ihram dengan lafazh “Allahu akbar”. Takbiratul ihram ini termasuk rukun shalat, shalat tidaklah sah tanpa takbiratul ihram. Lafazh takbiratul ihram ini tidak bisa digantikan dengan lafazh Allahu Ajall, Allahu A’zhom, seperti itu tidaklah sah. Doa istiftah tidaklah wajib karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memerintahkan dalam hadits ini. Wajib membaca apa yang mudah dibaca dari Al-Qur’an, dan yang dimaksud adalah membaca Al-Fatihah bagi yang bisa membacanya. Al-Fatihah dikatakan sebagai bacaan yang mudah dibaca dari Al-Qur’an karena kaum muslimin mudah menghafalkannya. Jika tidak mampu membaca Al-Fatihah berarti membaca ayat lain yang mudah dibaca. Jika tidak bisa pula, maka beralih pada membaca dzikir (yaitu bisa dengan bacaan tahmid, takbir, dan tahlil). Yang termasuk rukun shalat pula adalah rukuk, berdiri dari rukuk (iktidal), sujud dua kali, dan duduk antara dua sujud. Karena dalam hadits ini Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkannya. Wajib thumakninah dalam setiap rukun seluruhnya. Rukun shalat tidaklah sah jika tidak ada thumakninah, sebagaimana pendapat jumhur ulama (Syafiiyyah, Hambali, Malikiyyah, Zhahiriyyah). Karena dalam hadits ini Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan thumakninah dalam rukuk, bangkit dari rukuk, sujud, dan duduk antara dua sujud. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh mengulangi shalat karena tidak memenuhi rukun ini. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan bahwa ia tidak shalat, padahal ia dalam keadaan tidak tahu (jahil). Hal ini menunjukkan bahwa siapa saja yang meninggalkan thumakninah, ia tidak dikatakan shalat. Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ah Al-Fatawa (22:569) menyebutkan bahwa sukun (tenang) dan thumakninah dalam shalat dihukumi wajib berdasarkan ijmak sahabat. Dasar yang menunjukkan bahwa thumakninah termasuk wajib dalam shalat adalah hadits dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا.أَوْ قَالَ : لاَ يُقِيْمُ صُلْبَهُ فِي الرُّكُوْعِ وَ السُّجُودِ “Sejahat-jahat pencuri adalah yang mencuri dari shalatnya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri dari shalatnya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.” Atau beliau bersabda, “Ia tidak menegakkan punggungnya ketika rukuk dan sujud.” (HR. Ahmad, 22:569. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan dalam Minhah Al-‘Allam, 3:12, bahwa sanad hadits ini sahih). Mengenai kadar thumakninah ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang menyatakan bahwa thumakninah adalah sukun (tenang) walaupun sebentar. Ini seperti pengertian secara bahasa dari thumakninah. Sedangkan pendapat lainnya menyatakan bahwa thumakninah adalah sekadar dzikir yang dibaca tanpa tergesa-gesa. Wajib tartib (berurutan) dalam melakukan rukun-rukun yang ada sebagaiman disebutkan dalam hadits karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkannya berurutan dengan kata “tsumma”. Berurutan ini termasuk rukun shalat yang harus ada dalam shalat. Segala yang disebutkan dalam hadits ini dihukumi wajib. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang jelek shalatnya dengan cara seperti yang beliau sebutkan. Adapun yang tidak disebutkan dalam hadits musii’ fii shalatihi apakah masuk pula dalam wajib ataukah tidak, ada perbedaan pendapat di antara para ulama.   Dalam Safinatun An-Naja disebutkan mengenai syarat shalat, rukun shalat, dan kadar thumakninah sebagai berikut. شُرُوْطُ الصَّلاَةِ ثَمَانِيَةٌ: 1- طَهَارَةُ الْحَدَثَيْنِ. وَ2- الطَّهَارَةُ عَنِ النَّجَاسَةِ فِيْ الثَّوْبِ وَالْبَدَنِ وَالْمَكَانِ. وَ3- سَتْرُ الْعَوْرَةِ. وَ4- اسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ. وَ5- دُخُوْلُ الْوَقْتِ. وَ6- الْعِلْمُ بِفَرْضِيَّتِهَا. وَ7- أَنْ لاَ يَعْتَقِدَ فَرْضَاً مِنْ فُرُوْضِهَا سُنَّةً. وَ8- اجْتِنَابُ الْمُبْطِلاَتِ. Syarat shalat ada 8, yaitu [1] suci dari dua hadats (besar dan kecil), [2] suci dari najis pada pakaian, badan, dan tempat, [3] menutup aurat, [4] menghadap kiblat, [5] masuk waktu, [6] mengetahui bahwa shalat itu fardhu, [7] tidak meyakini fardhu shalat sebagai sunnah, dan [8] menjauhi pembatal-pembatalnya. أَرْكَانُ الصَّلاَةِ سَبْعَةَ عَشَرَ: الأَوَّلُ: النِّيَّةُ. الثَّانِيْ: تَكْبِيْرةُ الإِحْرَامِ. الثَّالِثُ: الْقِيَامُ عَلَى القَادِرِ فِيْ الْفَرْضِ. الرَّابعُ: قِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ. الْخَامِسُ: الرُّكُوْعُ. السَّادِسُ: الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ. السَّابعُ: الاعْتِدَالُ. الثَّامِنُ: الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ. التَّاسِعُ: السُّجُوْدُ مَرَّتَيْنِ. الْعَاشِرُ: الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ. الْحَادِيْ عَشَرَ: الْجُلُوْسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ. الثَّانِيْ عَشَرَ: الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ. الثَّالِثَ عَشَرَ: التَّشَهُّدُ الأَخِيْرُ. الرَّابِعَ عَشَرَ: الْقُعُوْدُ فِيْهِ. الْخَامِسَ عَشَرَ: الصَّلاَةُ عَلَىَ النَّبِيِّ فِيْهِ. السَّادِسَ عَشَرَ: السَّلاَمُ. السَّاِبَعَ عَشَرَ: التَّرْتِيْبُ. Rukun shalat ada 17, yaitu [1] niat, [2] takbiratul ihram, [3] berdiri bagi yang mampu dalam shalat wajib, [4] membaca surah Al-Fatihah, [5] rukuk, [6] thumakninah ketika rukuk, [7] iktidal, [8] thumakninah saat iktidal, [9] sujud dua kali, [10] thumakninah saat sujud, [11] duduk antara dua sujud, [12] thumakninah saat duduk antara dua sujud, [13] tasyahhud akhir, [14] duduk saat tasyahud akhir, [15] shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tasyahhud akhir, [16] salam, dan [17] tartib (berurutan). الظُّمَأْنِيْنَةُ هِيَ: سُكُوْنٌ بَعْدَ حَرَكَةٍ؛ بِحَيْثُ يَسْتَقِرُّ كُلُ عُضْوٍ مَحَلَّهُ بِقَدْرِ » سُبْحَانَ اللهِ « Thumakninah adalah berdiam setelah bergerak di mana tiap anggota badan tenang di tempatnya, lamanya sekitar ucapan SUBHANALLAH. Baca Juga: Cara Kita Bersyukur: Jika Tidak Memenuhi Rukun Syukur Ini, Tidak Disebut Bersyukur Tsalatsatul Ushul: Penjelasan Ringkas Rukun Islam dan Rukun Iman Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:6-13. Berbagai kitab fikih Syafiiyah. — Selasa pagi, 3 Rabiul Akhir 1443 H, 9 November 2021 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat buluhul maram cara shalat cara shalat rukun shalat sifat shalat nabi syarat shalat tata cara shalat tata cara shalat nabi thumakninah

Ayo Perbanyak Membaca Surat Al-Baqarah – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Ayo Perbanyak Membaca Surat Al-Baqarah – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Salah satu keutamaan yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentang keutamaan surat yang agung ini, yang termasuk salah satu surat yang paling agung dalam al-Quran, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak membacanya, bahkan beliau ‘alaihis shalatu wassalam membaca surat ini seluruhnya dalam satu rakaat ketika beliau mengerjakan shalat malam. Diriwayatkan Abu Daud, dari Auf bin Malik al-Asyja’i, ia berkata, “Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada suatu malam, … Beliau mendirikan shalat dan membaca surat al-Baqarah. … Tidaklah beliau melewati ayat tentang rahmat, melainkan beliau berhenti membaca, kemudian berdoa meminta rahmat Allah. … Dan tidaklah beliau melewati ayat tentang azab, melainkan beliau berhenti membaca, dan berdoa meminta perlindungan dari azab.” (HR. Abu Daud) Inilah cara membaca yang dapat mengantarkan pada kesempurnaan pahala dan keutamaannya, di samping dapat juga mengantarkan pada penghayatan makna-makna dan petunjuk-petunjuk dalam kitab Allah ‘Azza wa Jalla. ================================================================================ وَمِنْ هَذِهِ الْفَضَائِلِ الثَّابِتَةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي فَضْلِ هَذِهِ السُّورَةِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي هِيَ مِنْ أَعْظَمِ سُوَرِ الْقُرْآنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكْثِرُ مِنْ قِرَاءَتِهَا حَتَّى لَقَدْ كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقْرَأُ هَذِهِ السُّورَةَ كَامِلَةً فِي رَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ حَالَ قِيَامِهِ اللَّيْلِ رَوَى أَبُو دَاوُدَ عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قُمْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَقَامَ فَقَرَأَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلَّا وَقَفَ فَسَأَلَ وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إِلَّا وَقَفَ فَتَعَوَّذَ وَهَذِهِ هِيَ الْقِرَاءَةُ الَّتِي يَتَحَقَّقُ بِهَا كَمَالُ الْأَجْرِ وَالْفَضْلِ مَعَ مَا فِيهَا مِنْ تَأَمُّلِ الْمَعَانِي وَالدَّلَائِلِ فِي كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Ayo Perbanyak Membaca Surat Al-Baqarah – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Ayo Perbanyak Membaca Surat Al-Baqarah – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Salah satu keutamaan yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentang keutamaan surat yang agung ini, yang termasuk salah satu surat yang paling agung dalam al-Quran, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak membacanya, bahkan beliau ‘alaihis shalatu wassalam membaca surat ini seluruhnya dalam satu rakaat ketika beliau mengerjakan shalat malam. Diriwayatkan Abu Daud, dari Auf bin Malik al-Asyja’i, ia berkata, “Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada suatu malam, … Beliau mendirikan shalat dan membaca surat al-Baqarah. … Tidaklah beliau melewati ayat tentang rahmat, melainkan beliau berhenti membaca, kemudian berdoa meminta rahmat Allah. … Dan tidaklah beliau melewati ayat tentang azab, melainkan beliau berhenti membaca, dan berdoa meminta perlindungan dari azab.” (HR. Abu Daud) Inilah cara membaca yang dapat mengantarkan pada kesempurnaan pahala dan keutamaannya, di samping dapat juga mengantarkan pada penghayatan makna-makna dan petunjuk-petunjuk dalam kitab Allah ‘Azza wa Jalla. ================================================================================ وَمِنْ هَذِهِ الْفَضَائِلِ الثَّابِتَةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي فَضْلِ هَذِهِ السُّورَةِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي هِيَ مِنْ أَعْظَمِ سُوَرِ الْقُرْآنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكْثِرُ مِنْ قِرَاءَتِهَا حَتَّى لَقَدْ كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقْرَأُ هَذِهِ السُّورَةَ كَامِلَةً فِي رَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ حَالَ قِيَامِهِ اللَّيْلِ رَوَى أَبُو دَاوُدَ عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قُمْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَقَامَ فَقَرَأَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلَّا وَقَفَ فَسَأَلَ وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إِلَّا وَقَفَ فَتَعَوَّذَ وَهَذِهِ هِيَ الْقِرَاءَةُ الَّتِي يَتَحَقَّقُ بِهَا كَمَالُ الْأَجْرِ وَالْفَضْلِ مَعَ مَا فِيهَا مِنْ تَأَمُّلِ الْمَعَانِي وَالدَّلَائِلِ فِي كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
Ayo Perbanyak Membaca Surat Al-Baqarah – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Salah satu keutamaan yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentang keutamaan surat yang agung ini, yang termasuk salah satu surat yang paling agung dalam al-Quran, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak membacanya, bahkan beliau ‘alaihis shalatu wassalam membaca surat ini seluruhnya dalam satu rakaat ketika beliau mengerjakan shalat malam. Diriwayatkan Abu Daud, dari Auf bin Malik al-Asyja’i, ia berkata, “Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada suatu malam, … Beliau mendirikan shalat dan membaca surat al-Baqarah. … Tidaklah beliau melewati ayat tentang rahmat, melainkan beliau berhenti membaca, kemudian berdoa meminta rahmat Allah. … Dan tidaklah beliau melewati ayat tentang azab, melainkan beliau berhenti membaca, dan berdoa meminta perlindungan dari azab.” (HR. Abu Daud) Inilah cara membaca yang dapat mengantarkan pada kesempurnaan pahala dan keutamaannya, di samping dapat juga mengantarkan pada penghayatan makna-makna dan petunjuk-petunjuk dalam kitab Allah ‘Azza wa Jalla. ================================================================================ وَمِنْ هَذِهِ الْفَضَائِلِ الثَّابِتَةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي فَضْلِ هَذِهِ السُّورَةِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي هِيَ مِنْ أَعْظَمِ سُوَرِ الْقُرْآنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكْثِرُ مِنْ قِرَاءَتِهَا حَتَّى لَقَدْ كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقْرَأُ هَذِهِ السُّورَةَ كَامِلَةً فِي رَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ حَالَ قِيَامِهِ اللَّيْلِ رَوَى أَبُو دَاوُدَ عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قُمْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَقَامَ فَقَرَأَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلَّا وَقَفَ فَسَأَلَ وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إِلَّا وَقَفَ فَتَعَوَّذَ وَهَذِهِ هِيَ الْقِرَاءَةُ الَّتِي يَتَحَقَّقُ بِهَا كَمَالُ الْأَجْرِ وَالْفَضْلِ مَعَ مَا فِيهَا مِنْ تَأَمُّلِ الْمَعَانِي وَالدَّلَائِلِ فِي كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ


Ayo Perbanyak Membaca Surat Al-Baqarah – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Salah satu keutamaan yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentang keutamaan surat yang agung ini, yang termasuk salah satu surat yang paling agung dalam al-Quran, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak membacanya, bahkan beliau ‘alaihis shalatu wassalam membaca surat ini seluruhnya dalam satu rakaat ketika beliau mengerjakan shalat malam. Diriwayatkan Abu Daud, dari Auf bin Malik al-Asyja’i, ia berkata, “Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada suatu malam, … Beliau mendirikan shalat dan membaca surat al-Baqarah. … Tidaklah beliau melewati ayat tentang rahmat, melainkan beliau berhenti membaca, kemudian berdoa meminta rahmat Allah. … Dan tidaklah beliau melewati ayat tentang azab, melainkan beliau berhenti membaca, dan berdoa meminta perlindungan dari azab.” (HR. Abu Daud) Inilah cara membaca yang dapat mengantarkan pada kesempurnaan pahala dan keutamaannya, di samping dapat juga mengantarkan pada penghayatan makna-makna dan petunjuk-petunjuk dalam kitab Allah ‘Azza wa Jalla. ================================================================================ وَمِنْ هَذِهِ الْفَضَائِلِ الثَّابِتَةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي فَضْلِ هَذِهِ السُّورَةِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي هِيَ مِنْ أَعْظَمِ سُوَرِ الْقُرْآنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكْثِرُ مِنْ قِرَاءَتِهَا حَتَّى لَقَدْ كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقْرَأُ هَذِهِ السُّورَةَ كَامِلَةً فِي رَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ حَالَ قِيَامِهِ اللَّيْلِ رَوَى أَبُو دَاوُدَ عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قُمْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَقَامَ فَقَرَأَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلَّا وَقَفَ فَسَأَلَ وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إِلَّا وَقَفَ فَتَعَوَّذَ وَهَذِهِ هِيَ الْقِرَاءَةُ الَّتِي يَتَحَقَّقُ بِهَا كَمَالُ الْأَجْرِ وَالْفَضْلِ مَعَ مَا فِيهَا مِنْ تَأَمُّلِ الْمَعَانِي وَالدَّلَائِلِ فِي كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Bulughul Maram – Shalat: Pengantar Tata Cara Shalat

Kali ini kita membahas tata cara shalat dari kitab Bulughul Maram, berikut pengantarnya.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Pengantar Sifat Shalat Sifat shalat adalah kaifiyyah (tata cara) yang sudah sepatutnya ada dalam shalat. Cara shalat ini tentu dengan memenuhi rukun berupa ucapan (qauliyyah) dan perbuatan (fi’liyyah) dan sunnahnya (sunnah ab’adh dan sunnah hay’ah). Tata cara shalat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah dijelaskan secara ucapan dan melalui perbuatan. Dari Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي “Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari, no. 196; Ahmad, 34:157-158) Para sahabat sangat semangat mengikuti Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam tata cara shalatnya. Buktinya, mereka sering bertanya tentang segala hal terkait shalat, hingga pembahasannya sampai pada umat. Yang perlu diperhatikan bahwa tata cara shalat secara sempurna tidak dijelaskan oleh satu orang sahabat saja. Dalil tata cara shalat sempurna diterangkan dengan pengumpulan berbagai hadits sebagaimana akan dijelaskan insya Allah. Kita sebagai mukallaf (yang dibebani syariat) hendaklah mengikuti tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengikuti tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan: Kuatnya keimanan terhadap beliau. Benar-benar ittiba’ (mengikuti) tuntunan beliau. Lebih sempurna dalam ibadah. Tak sedikit di antara kita yang shalatnya tidak benar karena tidak tahu atau menganggap remeh. Ada 63 hadits yang dibawakan oleh Ibnu Hajar dalam Bab Sifat Shalat. Imam Ibnu Hajar telah mengurutkan hadits-haditsnya dengan sangat baik dan sesuai. Di awal bab sifat shalat, Imam Ibnu Hajar menyebutkan hadits musii’ fii shalatihi (orang yang jelek shalatnya). Hadits ini berisi keterangan shalat dari Nabi secara lisan. Lalu disebutkan setelah itu hadits Abu Humaid As-Saa’idi radhiyallahu ‘anhu tentang tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Imam Ibnu Hajar menyebutkan setelah itu berbagai hadits tentang masalah per bagian dari shalat, dimulai dari istiftah sampai akhir shalat. Baca Juga: Cara Shalat Bagi Wanita #01 Cara Shalat Pakai Kaos Kaki Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:5. Berbagai kitab fikih Syafiiyah. — Senin pagi, 2 Rabiul Akhir 1443 H, 8 November 2021 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat buluhul maram cara shalat cara shalat sifat shalat nabi tata cara shalat tata cara shalat nabi

Bulughul Maram – Shalat: Pengantar Tata Cara Shalat

Kali ini kita membahas tata cara shalat dari kitab Bulughul Maram, berikut pengantarnya.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Pengantar Sifat Shalat Sifat shalat adalah kaifiyyah (tata cara) yang sudah sepatutnya ada dalam shalat. Cara shalat ini tentu dengan memenuhi rukun berupa ucapan (qauliyyah) dan perbuatan (fi’liyyah) dan sunnahnya (sunnah ab’adh dan sunnah hay’ah). Tata cara shalat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah dijelaskan secara ucapan dan melalui perbuatan. Dari Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي “Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari, no. 196; Ahmad, 34:157-158) Para sahabat sangat semangat mengikuti Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam tata cara shalatnya. Buktinya, mereka sering bertanya tentang segala hal terkait shalat, hingga pembahasannya sampai pada umat. Yang perlu diperhatikan bahwa tata cara shalat secara sempurna tidak dijelaskan oleh satu orang sahabat saja. Dalil tata cara shalat sempurna diterangkan dengan pengumpulan berbagai hadits sebagaimana akan dijelaskan insya Allah. Kita sebagai mukallaf (yang dibebani syariat) hendaklah mengikuti tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengikuti tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan: Kuatnya keimanan terhadap beliau. Benar-benar ittiba’ (mengikuti) tuntunan beliau. Lebih sempurna dalam ibadah. Tak sedikit di antara kita yang shalatnya tidak benar karena tidak tahu atau menganggap remeh. Ada 63 hadits yang dibawakan oleh Ibnu Hajar dalam Bab Sifat Shalat. Imam Ibnu Hajar telah mengurutkan hadits-haditsnya dengan sangat baik dan sesuai. Di awal bab sifat shalat, Imam Ibnu Hajar menyebutkan hadits musii’ fii shalatihi (orang yang jelek shalatnya). Hadits ini berisi keterangan shalat dari Nabi secara lisan. Lalu disebutkan setelah itu hadits Abu Humaid As-Saa’idi radhiyallahu ‘anhu tentang tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Imam Ibnu Hajar menyebutkan setelah itu berbagai hadits tentang masalah per bagian dari shalat, dimulai dari istiftah sampai akhir shalat. Baca Juga: Cara Shalat Bagi Wanita #01 Cara Shalat Pakai Kaos Kaki Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:5. Berbagai kitab fikih Syafiiyah. — Senin pagi, 2 Rabiul Akhir 1443 H, 8 November 2021 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat buluhul maram cara shalat cara shalat sifat shalat nabi tata cara shalat tata cara shalat nabi
Kali ini kita membahas tata cara shalat dari kitab Bulughul Maram, berikut pengantarnya.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Pengantar Sifat Shalat Sifat shalat adalah kaifiyyah (tata cara) yang sudah sepatutnya ada dalam shalat. Cara shalat ini tentu dengan memenuhi rukun berupa ucapan (qauliyyah) dan perbuatan (fi’liyyah) dan sunnahnya (sunnah ab’adh dan sunnah hay’ah). Tata cara shalat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah dijelaskan secara ucapan dan melalui perbuatan. Dari Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي “Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari, no. 196; Ahmad, 34:157-158) Para sahabat sangat semangat mengikuti Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam tata cara shalatnya. Buktinya, mereka sering bertanya tentang segala hal terkait shalat, hingga pembahasannya sampai pada umat. Yang perlu diperhatikan bahwa tata cara shalat secara sempurna tidak dijelaskan oleh satu orang sahabat saja. Dalil tata cara shalat sempurna diterangkan dengan pengumpulan berbagai hadits sebagaimana akan dijelaskan insya Allah. Kita sebagai mukallaf (yang dibebani syariat) hendaklah mengikuti tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengikuti tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan: Kuatnya keimanan terhadap beliau. Benar-benar ittiba’ (mengikuti) tuntunan beliau. Lebih sempurna dalam ibadah. Tak sedikit di antara kita yang shalatnya tidak benar karena tidak tahu atau menganggap remeh. Ada 63 hadits yang dibawakan oleh Ibnu Hajar dalam Bab Sifat Shalat. Imam Ibnu Hajar telah mengurutkan hadits-haditsnya dengan sangat baik dan sesuai. Di awal bab sifat shalat, Imam Ibnu Hajar menyebutkan hadits musii’ fii shalatihi (orang yang jelek shalatnya). Hadits ini berisi keterangan shalat dari Nabi secara lisan. Lalu disebutkan setelah itu hadits Abu Humaid As-Saa’idi radhiyallahu ‘anhu tentang tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Imam Ibnu Hajar menyebutkan setelah itu berbagai hadits tentang masalah per bagian dari shalat, dimulai dari istiftah sampai akhir shalat. Baca Juga: Cara Shalat Bagi Wanita #01 Cara Shalat Pakai Kaos Kaki Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:5. Berbagai kitab fikih Syafiiyah. — Senin pagi, 2 Rabiul Akhir 1443 H, 8 November 2021 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat buluhul maram cara shalat cara shalat sifat shalat nabi tata cara shalat tata cara shalat nabi


Kali ini kita membahas tata cara shalat dari kitab Bulughul Maram, berikut pengantarnya.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Pengantar Sifat Shalat Sifat shalat adalah kaifiyyah (tata cara) yang sudah sepatutnya ada dalam shalat. Cara shalat ini tentu dengan memenuhi rukun berupa ucapan (qauliyyah) dan perbuatan (fi’liyyah) dan sunnahnya (sunnah ab’adh dan sunnah hay’ah). Tata cara shalat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah dijelaskan secara ucapan dan melalui perbuatan. Dari Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي “Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari, no. 196; Ahmad, 34:157-158) Para sahabat sangat semangat mengikuti Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam tata cara shalatnya. Buktinya, mereka sering bertanya tentang segala hal terkait shalat, hingga pembahasannya sampai pada umat. Yang perlu diperhatikan bahwa tata cara shalat secara sempurna tidak dijelaskan oleh satu orang sahabat saja. Dalil tata cara shalat sempurna diterangkan dengan pengumpulan berbagai hadits sebagaimana akan dijelaskan insya Allah. Kita sebagai mukallaf (yang dibebani syariat) hendaklah mengikuti tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengikuti tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan: Kuatnya keimanan terhadap beliau. Benar-benar ittiba’ (mengikuti) tuntunan beliau. Lebih sempurna dalam ibadah. Tak sedikit di antara kita yang shalatnya tidak benar karena tidak tahu atau menganggap remeh. Ada 63 hadits yang dibawakan oleh Ibnu Hajar dalam Bab Sifat Shalat. Imam Ibnu Hajar telah mengurutkan hadits-haditsnya dengan sangat baik dan sesuai. Di awal bab sifat shalat, Imam Ibnu Hajar menyebutkan hadits musii’ fii shalatihi (orang yang jelek shalatnya). Hadits ini berisi keterangan shalat dari Nabi secara lisan. Lalu disebutkan setelah itu hadits Abu Humaid As-Saa’idi radhiyallahu ‘anhu tentang tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Imam Ibnu Hajar menyebutkan setelah itu berbagai hadits tentang masalah per bagian dari shalat, dimulai dari istiftah sampai akhir shalat. Baca Juga: Cara Shalat Bagi Wanita #01 Cara Shalat Pakai Kaos Kaki Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:5. Berbagai kitab fikih Syafiiyah. — Senin pagi, 2 Rabiul Akhir 1443 H, 8 November 2021 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat buluhul maram cara shalat cara shalat sifat shalat nabi tata cara shalat tata cara shalat nabi

Imam Asy Syafi’i dan Ilmu Filsafat 

Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i rahimahullah atau imam Asy Syafi’i adalah seorang imam dan ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah, yang mendakwahkan dan membela akidah Ahlussunnah. Bahkan beliau dijuluki sebagai nashirus sunnah (pembela sunnah). Maka sikap beliau tegas dalam berakidah. Bahkan beliau membantah akidah-akidah menyimpang, diantaranya ilmu kalam.Namun sebagian orang mengatakan: “Imam Asy Syafi’i tidak mencela ilmu filsafat, yang dicela beliau adalah ilmu kalam”. Ini perkataan yang kurang tepat. Pertama, kita perlu pahami dulu apa itu ilmu filsafat dan apa itu ilmu kalam?Disebutkan dalam kamus Mu’jam Al Wasith, definisi filsafat adalah:دراسةُ المبادئ الأُولى وتفسير المعرفة تفسيرًا عقليًّا“Ilmu yang mempelajari prinsip dasar dalam menggunakan akal dan menjelaskan pengetahuan dengan akal” Adapun ilmu kalam, dijelaskan dengan ringkas dan padat oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin : أن أهل الكلام هم الذين اعتمدوا في إثبات العقيدة على العقل“Ahlul kalam (orang yang belajar ilmu kalam) adalah orang-orang yang bersandar pada akal dalam menetapkan perkara-perkara akidah” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman nomor 276).Ahlul kalam memang menggunakan dalil, namun ketika dalil nampak bertentangan dengan akal menurut mereka, maka akal lebih dikedepankan daripada dalil.Maka, memang secara definitif ada perbedaan, filsafat itu ilmu cara berpikir secara umum, sedangkan ilmu kalam itu dalam ranah akidah atau ranah agama.Namun dalam hal ini berlaku umum dan khusus. Dan bisa dari dua sisi pandang: Ilmu filsafat sifatnya umum, jika secara khusus digunakan untuk membahas agama, maka jadilah ilmu kalam.  Ilmu kalam bersifat umum, jika metode yang digunakan dalam menetapkan masalah akidah adalah metode filsafat, maka ketika itu ilmu filsafat termasuk ilmu kalam. Oleh karena itu, tidak keliru jika dikatakan ilmu filsafat itu termasuk ilmu kalam atau sebaliknya. Kedua, sikap imam Asy Syafi’i terhadap ilmu kalam sangat jelas dan tegas. Beliau berkata kepada ar Rabi’ bin Sulaiman rahimahullah:لا تشتغل بالكلام فإني اطلعتُ من أهل الكلام على التعطيل“Janganlah engkau menyibukkan diri dengan ilmu kalam, karena aku telah mengamati ahlul kalam, dan mereka cenderung melakukan ta’thil (menolak sifat-sifat Allah)” (Siyar A’lamin Nubala, 10/28).Baca Juga: Menjawab Syubhat Pembela Ritual TahlilanLebih tegas lagi, beliau berkata:حكمي في أهل الكلام أن يُضربوا بالجريد ويحملوا على الإبل ويطاف بهم في العشائر والقبائل ويُنادى عليهم: هذا جزاء من ترك الكتاب والسنة وأقبل على الكلام“Sikapku terhadap ahlul kalam adalah menurutku hendaknya mereka dipukul dengan pelepah kurma, kemudian ditaruh di atas unta, lalu diarak keliling kampung dan kabilah-kabilah. Kemudian diserukan kepada orang-orang: inilah akibat bagi orang yang meninggalkan Al Qur’an dan As Sunnah serta mengikuti ilmu kalam” (Siyar A’lamin Nubala, 10/28).Dan sebagaimana telah kita bahas di poin pertama, maka perkataan beliau ini juga berlaku bagi ilmu filsafat. Sehingga tidak keliru jika dikatakan imam Asy Syafi’i mencela ilmu filsafat.Ketiga, para ulama mengatakan bahwa adanya ilmu kalam dan adanya ahlul kalam itu karena pengaruh masuknya ilmu filsafat Yunani ke tengah masyarakat Islam dahulu. Sehingga ilmu filsafat ini punya peran besar terhadap munculnya ilmu kalam. Maka, tidak salah sama sekali jika ilmu kalam diidentikkan dengan ilmu filsafat. Oleh karena itulah imam Asy Syafi’i sampai berkata : مَا جَهِلَ النَّاسُ، وَلاَ اخْتَلَفُوا إلَّا لِتَرْكِهِم لِسَانَ العَرَبِ، وَمِيلِهِمْ إِلَى لِسَانِ أَرْسطَاطَالِيْسَ.“Tidaklah manusia itu menjadi jahil (dalam masalah agama), kecuali karena mereka meninggalkan bahasa Arab dan lebih condong pada perkataan Aristoteles” (Siyar A’lamin Nubala, 8/268).Karena ahlul kalam tidak mau meyakini ayat-ayat tentang sifat Allah dengan kaidah bahasa Arab, namun malah memaknainya dengan filsafat Aristoteles sehingga mereka terjerumus dalam ta’thil, tahrif dan ta’wil.Bahkan dalam perkataan ini, sangat jelas sekali imam Asy Syafi’i mencela ilmu filsafat karena kita tahu bersama Aristoteles adalah tokoh filsafat.Ditambah lagi perkataan-perkataan ulama yang lain yang secara tegas maupun secara isyarat mencela ilmu filsafat yang perkataan-perkataan ini sudah tidak asing lagi bagi orang yang membaca kitab-kitab para ulama. Semoga Allah memberi taufik.Baca Juga: Sikap Pertengahan Terhadap Ibnu Sina***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Safar Adalah, Allah Menjamin Rezeki Makhluknya, Arti Jihad Fi Sabilillah, Akhlak Kepada Kedua Orang Tua, Membaca Shalawat

Imam Asy Syafi’i dan Ilmu Filsafat 

Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i rahimahullah atau imam Asy Syafi’i adalah seorang imam dan ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah, yang mendakwahkan dan membela akidah Ahlussunnah. Bahkan beliau dijuluki sebagai nashirus sunnah (pembela sunnah). Maka sikap beliau tegas dalam berakidah. Bahkan beliau membantah akidah-akidah menyimpang, diantaranya ilmu kalam.Namun sebagian orang mengatakan: “Imam Asy Syafi’i tidak mencela ilmu filsafat, yang dicela beliau adalah ilmu kalam”. Ini perkataan yang kurang tepat. Pertama, kita perlu pahami dulu apa itu ilmu filsafat dan apa itu ilmu kalam?Disebutkan dalam kamus Mu’jam Al Wasith, definisi filsafat adalah:دراسةُ المبادئ الأُولى وتفسير المعرفة تفسيرًا عقليًّا“Ilmu yang mempelajari prinsip dasar dalam menggunakan akal dan menjelaskan pengetahuan dengan akal” Adapun ilmu kalam, dijelaskan dengan ringkas dan padat oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin : أن أهل الكلام هم الذين اعتمدوا في إثبات العقيدة على العقل“Ahlul kalam (orang yang belajar ilmu kalam) adalah orang-orang yang bersandar pada akal dalam menetapkan perkara-perkara akidah” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman nomor 276).Ahlul kalam memang menggunakan dalil, namun ketika dalil nampak bertentangan dengan akal menurut mereka, maka akal lebih dikedepankan daripada dalil.Maka, memang secara definitif ada perbedaan, filsafat itu ilmu cara berpikir secara umum, sedangkan ilmu kalam itu dalam ranah akidah atau ranah agama.Namun dalam hal ini berlaku umum dan khusus. Dan bisa dari dua sisi pandang: Ilmu filsafat sifatnya umum, jika secara khusus digunakan untuk membahas agama, maka jadilah ilmu kalam.  Ilmu kalam bersifat umum, jika metode yang digunakan dalam menetapkan masalah akidah adalah metode filsafat, maka ketika itu ilmu filsafat termasuk ilmu kalam. Oleh karena itu, tidak keliru jika dikatakan ilmu filsafat itu termasuk ilmu kalam atau sebaliknya. Kedua, sikap imam Asy Syafi’i terhadap ilmu kalam sangat jelas dan tegas. Beliau berkata kepada ar Rabi’ bin Sulaiman rahimahullah:لا تشتغل بالكلام فإني اطلعتُ من أهل الكلام على التعطيل“Janganlah engkau menyibukkan diri dengan ilmu kalam, karena aku telah mengamati ahlul kalam, dan mereka cenderung melakukan ta’thil (menolak sifat-sifat Allah)” (Siyar A’lamin Nubala, 10/28).Baca Juga: Menjawab Syubhat Pembela Ritual TahlilanLebih tegas lagi, beliau berkata:حكمي في أهل الكلام أن يُضربوا بالجريد ويحملوا على الإبل ويطاف بهم في العشائر والقبائل ويُنادى عليهم: هذا جزاء من ترك الكتاب والسنة وأقبل على الكلام“Sikapku terhadap ahlul kalam adalah menurutku hendaknya mereka dipukul dengan pelepah kurma, kemudian ditaruh di atas unta, lalu diarak keliling kampung dan kabilah-kabilah. Kemudian diserukan kepada orang-orang: inilah akibat bagi orang yang meninggalkan Al Qur’an dan As Sunnah serta mengikuti ilmu kalam” (Siyar A’lamin Nubala, 10/28).Dan sebagaimana telah kita bahas di poin pertama, maka perkataan beliau ini juga berlaku bagi ilmu filsafat. Sehingga tidak keliru jika dikatakan imam Asy Syafi’i mencela ilmu filsafat.Ketiga, para ulama mengatakan bahwa adanya ilmu kalam dan adanya ahlul kalam itu karena pengaruh masuknya ilmu filsafat Yunani ke tengah masyarakat Islam dahulu. Sehingga ilmu filsafat ini punya peran besar terhadap munculnya ilmu kalam. Maka, tidak salah sama sekali jika ilmu kalam diidentikkan dengan ilmu filsafat. Oleh karena itulah imam Asy Syafi’i sampai berkata : مَا جَهِلَ النَّاسُ، وَلاَ اخْتَلَفُوا إلَّا لِتَرْكِهِم لِسَانَ العَرَبِ، وَمِيلِهِمْ إِلَى لِسَانِ أَرْسطَاطَالِيْسَ.“Tidaklah manusia itu menjadi jahil (dalam masalah agama), kecuali karena mereka meninggalkan bahasa Arab dan lebih condong pada perkataan Aristoteles” (Siyar A’lamin Nubala, 8/268).Karena ahlul kalam tidak mau meyakini ayat-ayat tentang sifat Allah dengan kaidah bahasa Arab, namun malah memaknainya dengan filsafat Aristoteles sehingga mereka terjerumus dalam ta’thil, tahrif dan ta’wil.Bahkan dalam perkataan ini, sangat jelas sekali imam Asy Syafi’i mencela ilmu filsafat karena kita tahu bersama Aristoteles adalah tokoh filsafat.Ditambah lagi perkataan-perkataan ulama yang lain yang secara tegas maupun secara isyarat mencela ilmu filsafat yang perkataan-perkataan ini sudah tidak asing lagi bagi orang yang membaca kitab-kitab para ulama. Semoga Allah memberi taufik.Baca Juga: Sikap Pertengahan Terhadap Ibnu Sina***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Safar Adalah, Allah Menjamin Rezeki Makhluknya, Arti Jihad Fi Sabilillah, Akhlak Kepada Kedua Orang Tua, Membaca Shalawat
Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i rahimahullah atau imam Asy Syafi’i adalah seorang imam dan ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah, yang mendakwahkan dan membela akidah Ahlussunnah. Bahkan beliau dijuluki sebagai nashirus sunnah (pembela sunnah). Maka sikap beliau tegas dalam berakidah. Bahkan beliau membantah akidah-akidah menyimpang, diantaranya ilmu kalam.Namun sebagian orang mengatakan: “Imam Asy Syafi’i tidak mencela ilmu filsafat, yang dicela beliau adalah ilmu kalam”. Ini perkataan yang kurang tepat. Pertama, kita perlu pahami dulu apa itu ilmu filsafat dan apa itu ilmu kalam?Disebutkan dalam kamus Mu’jam Al Wasith, definisi filsafat adalah:دراسةُ المبادئ الأُولى وتفسير المعرفة تفسيرًا عقليًّا“Ilmu yang mempelajari prinsip dasar dalam menggunakan akal dan menjelaskan pengetahuan dengan akal” Adapun ilmu kalam, dijelaskan dengan ringkas dan padat oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin : أن أهل الكلام هم الذين اعتمدوا في إثبات العقيدة على العقل“Ahlul kalam (orang yang belajar ilmu kalam) adalah orang-orang yang bersandar pada akal dalam menetapkan perkara-perkara akidah” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman nomor 276).Ahlul kalam memang menggunakan dalil, namun ketika dalil nampak bertentangan dengan akal menurut mereka, maka akal lebih dikedepankan daripada dalil.Maka, memang secara definitif ada perbedaan, filsafat itu ilmu cara berpikir secara umum, sedangkan ilmu kalam itu dalam ranah akidah atau ranah agama.Namun dalam hal ini berlaku umum dan khusus. Dan bisa dari dua sisi pandang: Ilmu filsafat sifatnya umum, jika secara khusus digunakan untuk membahas agama, maka jadilah ilmu kalam.  Ilmu kalam bersifat umum, jika metode yang digunakan dalam menetapkan masalah akidah adalah metode filsafat, maka ketika itu ilmu filsafat termasuk ilmu kalam. Oleh karena itu, tidak keliru jika dikatakan ilmu filsafat itu termasuk ilmu kalam atau sebaliknya. Kedua, sikap imam Asy Syafi’i terhadap ilmu kalam sangat jelas dan tegas. Beliau berkata kepada ar Rabi’ bin Sulaiman rahimahullah:لا تشتغل بالكلام فإني اطلعتُ من أهل الكلام على التعطيل“Janganlah engkau menyibukkan diri dengan ilmu kalam, karena aku telah mengamati ahlul kalam, dan mereka cenderung melakukan ta’thil (menolak sifat-sifat Allah)” (Siyar A’lamin Nubala, 10/28).Baca Juga: Menjawab Syubhat Pembela Ritual TahlilanLebih tegas lagi, beliau berkata:حكمي في أهل الكلام أن يُضربوا بالجريد ويحملوا على الإبل ويطاف بهم في العشائر والقبائل ويُنادى عليهم: هذا جزاء من ترك الكتاب والسنة وأقبل على الكلام“Sikapku terhadap ahlul kalam adalah menurutku hendaknya mereka dipukul dengan pelepah kurma, kemudian ditaruh di atas unta, lalu diarak keliling kampung dan kabilah-kabilah. Kemudian diserukan kepada orang-orang: inilah akibat bagi orang yang meninggalkan Al Qur’an dan As Sunnah serta mengikuti ilmu kalam” (Siyar A’lamin Nubala, 10/28).Dan sebagaimana telah kita bahas di poin pertama, maka perkataan beliau ini juga berlaku bagi ilmu filsafat. Sehingga tidak keliru jika dikatakan imam Asy Syafi’i mencela ilmu filsafat.Ketiga, para ulama mengatakan bahwa adanya ilmu kalam dan adanya ahlul kalam itu karena pengaruh masuknya ilmu filsafat Yunani ke tengah masyarakat Islam dahulu. Sehingga ilmu filsafat ini punya peran besar terhadap munculnya ilmu kalam. Maka, tidak salah sama sekali jika ilmu kalam diidentikkan dengan ilmu filsafat. Oleh karena itulah imam Asy Syafi’i sampai berkata : مَا جَهِلَ النَّاسُ، وَلاَ اخْتَلَفُوا إلَّا لِتَرْكِهِم لِسَانَ العَرَبِ، وَمِيلِهِمْ إِلَى لِسَانِ أَرْسطَاطَالِيْسَ.“Tidaklah manusia itu menjadi jahil (dalam masalah agama), kecuali karena mereka meninggalkan bahasa Arab dan lebih condong pada perkataan Aristoteles” (Siyar A’lamin Nubala, 8/268).Karena ahlul kalam tidak mau meyakini ayat-ayat tentang sifat Allah dengan kaidah bahasa Arab, namun malah memaknainya dengan filsafat Aristoteles sehingga mereka terjerumus dalam ta’thil, tahrif dan ta’wil.Bahkan dalam perkataan ini, sangat jelas sekali imam Asy Syafi’i mencela ilmu filsafat karena kita tahu bersama Aristoteles adalah tokoh filsafat.Ditambah lagi perkataan-perkataan ulama yang lain yang secara tegas maupun secara isyarat mencela ilmu filsafat yang perkataan-perkataan ini sudah tidak asing lagi bagi orang yang membaca kitab-kitab para ulama. Semoga Allah memberi taufik.Baca Juga: Sikap Pertengahan Terhadap Ibnu Sina***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Safar Adalah, Allah Menjamin Rezeki Makhluknya, Arti Jihad Fi Sabilillah, Akhlak Kepada Kedua Orang Tua, Membaca Shalawat


Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i rahimahullah atau imam Asy Syafi’i adalah seorang imam dan ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah, yang mendakwahkan dan membela akidah Ahlussunnah. Bahkan beliau dijuluki sebagai nashirus sunnah (pembela sunnah). Maka sikap beliau tegas dalam berakidah. Bahkan beliau membantah akidah-akidah menyimpang, diantaranya ilmu kalam.Namun sebagian orang mengatakan: “Imam Asy Syafi’i tidak mencela ilmu filsafat, yang dicela beliau adalah ilmu kalam”. Ini perkataan yang kurang tepat. Pertama, kita perlu pahami dulu apa itu ilmu filsafat dan apa itu ilmu kalam?Disebutkan dalam kamus Mu’jam Al Wasith, definisi filsafat adalah:دراسةُ المبادئ الأُولى وتفسير المعرفة تفسيرًا عقليًّا“Ilmu yang mempelajari prinsip dasar dalam menggunakan akal dan menjelaskan pengetahuan dengan akal” Adapun ilmu kalam, dijelaskan dengan ringkas dan padat oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin : أن أهل الكلام هم الذين اعتمدوا في إثبات العقيدة على العقل“Ahlul kalam (orang yang belajar ilmu kalam) adalah orang-orang yang bersandar pada akal dalam menetapkan perkara-perkara akidah” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman nomor 276).Ahlul kalam memang menggunakan dalil, namun ketika dalil nampak bertentangan dengan akal menurut mereka, maka akal lebih dikedepankan daripada dalil.Maka, memang secara definitif ada perbedaan, filsafat itu ilmu cara berpikir secara umum, sedangkan ilmu kalam itu dalam ranah akidah atau ranah agama.Namun dalam hal ini berlaku umum dan khusus. Dan bisa dari dua sisi pandang: Ilmu filsafat sifatnya umum, jika secara khusus digunakan untuk membahas agama, maka jadilah ilmu kalam.  Ilmu kalam bersifat umum, jika metode yang digunakan dalam menetapkan masalah akidah adalah metode filsafat, maka ketika itu ilmu filsafat termasuk ilmu kalam. Oleh karena itu, tidak keliru jika dikatakan ilmu filsafat itu termasuk ilmu kalam atau sebaliknya. Kedua, sikap imam Asy Syafi’i terhadap ilmu kalam sangat jelas dan tegas. Beliau berkata kepada ar Rabi’ bin Sulaiman rahimahullah:لا تشتغل بالكلام فإني اطلعتُ من أهل الكلام على التعطيل“Janganlah engkau menyibukkan diri dengan ilmu kalam, karena aku telah mengamati ahlul kalam, dan mereka cenderung melakukan ta’thil (menolak sifat-sifat Allah)” (Siyar A’lamin Nubala, 10/28).Baca Juga: Menjawab Syubhat Pembela Ritual TahlilanLebih tegas lagi, beliau berkata:حكمي في أهل الكلام أن يُضربوا بالجريد ويحملوا على الإبل ويطاف بهم في العشائر والقبائل ويُنادى عليهم: هذا جزاء من ترك الكتاب والسنة وأقبل على الكلام“Sikapku terhadap ahlul kalam adalah menurutku hendaknya mereka dipukul dengan pelepah kurma, kemudian ditaruh di atas unta, lalu diarak keliling kampung dan kabilah-kabilah. Kemudian diserukan kepada orang-orang: inilah akibat bagi orang yang meninggalkan Al Qur’an dan As Sunnah serta mengikuti ilmu kalam” (Siyar A’lamin Nubala, 10/28).Dan sebagaimana telah kita bahas di poin pertama, maka perkataan beliau ini juga berlaku bagi ilmu filsafat. Sehingga tidak keliru jika dikatakan imam Asy Syafi’i mencela ilmu filsafat.Ketiga, para ulama mengatakan bahwa adanya ilmu kalam dan adanya ahlul kalam itu karena pengaruh masuknya ilmu filsafat Yunani ke tengah masyarakat Islam dahulu. Sehingga ilmu filsafat ini punya peran besar terhadap munculnya ilmu kalam. Maka, tidak salah sama sekali jika ilmu kalam diidentikkan dengan ilmu filsafat. Oleh karena itulah imam Asy Syafi’i sampai berkata : مَا جَهِلَ النَّاسُ، وَلاَ اخْتَلَفُوا إلَّا لِتَرْكِهِم لِسَانَ العَرَبِ، وَمِيلِهِمْ إِلَى لِسَانِ أَرْسطَاطَالِيْسَ.“Tidaklah manusia itu menjadi jahil (dalam masalah agama), kecuali karena mereka meninggalkan bahasa Arab dan lebih condong pada perkataan Aristoteles” (Siyar A’lamin Nubala, 8/268).Karena ahlul kalam tidak mau meyakini ayat-ayat tentang sifat Allah dengan kaidah bahasa Arab, namun malah memaknainya dengan filsafat Aristoteles sehingga mereka terjerumus dalam ta’thil, tahrif dan ta’wil.Bahkan dalam perkataan ini, sangat jelas sekali imam Asy Syafi’i mencela ilmu filsafat karena kita tahu bersama Aristoteles adalah tokoh filsafat.Ditambah lagi perkataan-perkataan ulama yang lain yang secara tegas maupun secara isyarat mencela ilmu filsafat yang perkataan-perkataan ini sudah tidak asing lagi bagi orang yang membaca kitab-kitab para ulama. Semoga Allah memberi taufik.Baca Juga: Sikap Pertengahan Terhadap Ibnu Sina***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Safar Adalah, Allah Menjamin Rezeki Makhluknya, Arti Jihad Fi Sabilillah, Akhlak Kepada Kedua Orang Tua, Membaca Shalawat

INFO UMROH PEBRUARI 2023

INFO UMROH – HAJI  RAMANI | USTADZ FIRANDA ANDIRJA (UFA)UMROH Siroh Nabawiyah 1444 H / 2023Keberangkatan 🗓 15 Februari 2023InsyaaAllah Bersama *Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc, M.A.🌟 Program 12 hari (2x Jum’at)💵 HARGA USD 2.950 (Quad) Upgrade: + USD 3.100 (Triple) + USD 3.200 (Double)🏨 Hotel🕋 Makkah : ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ Swissotel Al Maqam / Dar Al Ghufran / setaraf🕌 Madinah : ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐ Frontel / setarafFlight ✈️ Garuda IndonesiaTrain 🚄 Kereta Cepat 🚡 Cable carLokasi Napak Tilas Siroh Nabawiyah:– Lokasi Perang Khaibar – Lokasi Perang Badr – Lokasi Perang Hunain – Al- Ula (kota Nabi Shalih) – Thaif – Sejarah Mekkah – Perjanjian al-Hudaibiyah – Perang Uhud – Lokasi Perang Hunain – Al-Ji’ronah✅️ Sudah Termasuk • Perlengkapan • Tiket Pesawat PP • Akomodasi/Hotel sesuai program • Bus AC • Kereta Cepat • Cable Car (Thaif) • Makan Menu Nusantara • Visa Umroh dan asuransi • Profesional handling selama di Saudi • Muthowwif Profesional berbahasa Indonesia • Ziarah / City tour sesuai program • Air Zam-zam 5 ltr❎️Belum Termasuk • Biaya Upgrade ke tiket bisnis • Biaya Suntik Meningitis (jika diperlukan) • Pengeluaran Pribadi (telepon, paket data, laundry, kursi roda dll) • Tour Tambahan/makan/minum diluar program • Kelebihan bagasi📄Persyaratan • Sudah vaksin covid 19 minimal dosis 3 (terdaftar di Peduli Lindungi) dan tidak punya penyakit bawaan • Paspor (min. 2 kata) dengan masa berlaku tidak kurang dari 7 bulan sebelum keberangkatan • Foto 4×6 background putih • Buku nikah (Untuk Suami Istri) • Akta lahir (Untuk anak) • Sertifikat vaksin covid dosis terakhir.Syarat dan ketentuan berlakuInformasi & Pendaftaran:🕋 PT Raudhah Amani WisataJl. Asem Baris Raya No. 1-A, Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan. 12830 ☎️ Telp. (021) 8298383 📱 Ibob : 081807146999 📱 Erpan : 0811811186📝 DAFTARKAN SEGERA Diri anda, Seat TerbatasPenasehat travel : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

INFO UMROH PEBRUARI 2023

INFO UMROH – HAJI  RAMANI | USTADZ FIRANDA ANDIRJA (UFA)UMROH Siroh Nabawiyah 1444 H / 2023Keberangkatan 🗓 15 Februari 2023InsyaaAllah Bersama *Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc, M.A.🌟 Program 12 hari (2x Jum’at)💵 HARGA USD 2.950 (Quad) Upgrade: + USD 3.100 (Triple) + USD 3.200 (Double)🏨 Hotel🕋 Makkah : ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ Swissotel Al Maqam / Dar Al Ghufran / setaraf🕌 Madinah : ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐ Frontel / setarafFlight ✈️ Garuda IndonesiaTrain 🚄 Kereta Cepat 🚡 Cable carLokasi Napak Tilas Siroh Nabawiyah:– Lokasi Perang Khaibar – Lokasi Perang Badr – Lokasi Perang Hunain – Al- Ula (kota Nabi Shalih) – Thaif – Sejarah Mekkah – Perjanjian al-Hudaibiyah – Perang Uhud – Lokasi Perang Hunain – Al-Ji’ronah✅️ Sudah Termasuk • Perlengkapan • Tiket Pesawat PP • Akomodasi/Hotel sesuai program • Bus AC • Kereta Cepat • Cable Car (Thaif) • Makan Menu Nusantara • Visa Umroh dan asuransi • Profesional handling selama di Saudi • Muthowwif Profesional berbahasa Indonesia • Ziarah / City tour sesuai program • Air Zam-zam 5 ltr❎️Belum Termasuk • Biaya Upgrade ke tiket bisnis • Biaya Suntik Meningitis (jika diperlukan) • Pengeluaran Pribadi (telepon, paket data, laundry, kursi roda dll) • Tour Tambahan/makan/minum diluar program • Kelebihan bagasi📄Persyaratan • Sudah vaksin covid 19 minimal dosis 3 (terdaftar di Peduli Lindungi) dan tidak punya penyakit bawaan • Paspor (min. 2 kata) dengan masa berlaku tidak kurang dari 7 bulan sebelum keberangkatan • Foto 4×6 background putih • Buku nikah (Untuk Suami Istri) • Akta lahir (Untuk anak) • Sertifikat vaksin covid dosis terakhir.Syarat dan ketentuan berlakuInformasi & Pendaftaran:🕋 PT Raudhah Amani WisataJl. Asem Baris Raya No. 1-A, Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan. 12830 ☎️ Telp. (021) 8298383 📱 Ibob : 081807146999 📱 Erpan : 0811811186📝 DAFTARKAN SEGERA Diri anda, Seat TerbatasPenasehat travel : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.
INFO UMROH – HAJI  RAMANI | USTADZ FIRANDA ANDIRJA (UFA)UMROH Siroh Nabawiyah 1444 H / 2023Keberangkatan 🗓 15 Februari 2023InsyaaAllah Bersama *Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc, M.A.🌟 Program 12 hari (2x Jum’at)💵 HARGA USD 2.950 (Quad) Upgrade: + USD 3.100 (Triple) + USD 3.200 (Double)🏨 Hotel🕋 Makkah : ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ Swissotel Al Maqam / Dar Al Ghufran / setaraf🕌 Madinah : ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐ Frontel / setarafFlight ✈️ Garuda IndonesiaTrain 🚄 Kereta Cepat 🚡 Cable carLokasi Napak Tilas Siroh Nabawiyah:– Lokasi Perang Khaibar – Lokasi Perang Badr – Lokasi Perang Hunain – Al- Ula (kota Nabi Shalih) – Thaif – Sejarah Mekkah – Perjanjian al-Hudaibiyah – Perang Uhud – Lokasi Perang Hunain – Al-Ji’ronah✅️ Sudah Termasuk • Perlengkapan • Tiket Pesawat PP • Akomodasi/Hotel sesuai program • Bus AC • Kereta Cepat • Cable Car (Thaif) • Makan Menu Nusantara • Visa Umroh dan asuransi • Profesional handling selama di Saudi • Muthowwif Profesional berbahasa Indonesia • Ziarah / City tour sesuai program • Air Zam-zam 5 ltr❎️Belum Termasuk • Biaya Upgrade ke tiket bisnis • Biaya Suntik Meningitis (jika diperlukan) • Pengeluaran Pribadi (telepon, paket data, laundry, kursi roda dll) • Tour Tambahan/makan/minum diluar program • Kelebihan bagasi📄Persyaratan • Sudah vaksin covid 19 minimal dosis 3 (terdaftar di Peduli Lindungi) dan tidak punya penyakit bawaan • Paspor (min. 2 kata) dengan masa berlaku tidak kurang dari 7 bulan sebelum keberangkatan • Foto 4×6 background putih • Buku nikah (Untuk Suami Istri) • Akta lahir (Untuk anak) • Sertifikat vaksin covid dosis terakhir.Syarat dan ketentuan berlakuInformasi & Pendaftaran:🕋 PT Raudhah Amani WisataJl. Asem Baris Raya No. 1-A, Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan. 12830 ☎️ Telp. (021) 8298383 📱 Ibob : 081807146999 📱 Erpan : 0811811186📝 DAFTARKAN SEGERA Diri anda, Seat TerbatasPenasehat travel : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.


INFO UMROH – HAJI  RAMANI | USTADZ FIRANDA ANDIRJA (UFA)UMROH Siroh Nabawiyah 1444 H / 2023Keberangkatan 🗓 15 Februari 2023InsyaaAllah Bersama *Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc, M.A.🌟 Program 12 hari (2x Jum’at)💵 HARGA USD 2.950 (Quad) Upgrade: + USD 3.100 (Triple) + USD 3.200 (Double)🏨 Hotel🕋 Makkah : ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ Swissotel Al Maqam / Dar Al Ghufran / setaraf🕌 Madinah : ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐ Frontel / setarafFlight ✈️ Garuda IndonesiaTrain 🚄 Kereta Cepat 🚡 Cable carLokasi Napak Tilas Siroh Nabawiyah:– Lokasi Perang Khaibar – Lokasi Perang Badr – Lokasi Perang Hunain – Al- Ula (kota Nabi Shalih) – Thaif – Sejarah Mekkah – Perjanjian al-Hudaibiyah – Perang Uhud – Lokasi Perang Hunain – Al-Ji’ronah✅️ Sudah Termasuk • Perlengkapan • Tiket Pesawat PP • Akomodasi/Hotel sesuai program • Bus AC • Kereta Cepat • Cable Car (Thaif) • Makan Menu Nusantara • Visa Umroh dan asuransi • Profesional handling selama di Saudi • Muthowwif Profesional berbahasa Indonesia • Ziarah / City tour sesuai program • Air Zam-zam 5 ltr❎️Belum Termasuk • Biaya Upgrade ke tiket bisnis • Biaya Suntik Meningitis (jika diperlukan) • Pengeluaran Pribadi (telepon, paket data, laundry, kursi roda dll) • Tour Tambahan/makan/minum diluar program • Kelebihan bagasi📄Persyaratan • Sudah vaksin covid 19 minimal dosis 3 (terdaftar di Peduli Lindungi) dan tidak punya penyakit bawaan • Paspor (min. 2 kata) dengan masa berlaku tidak kurang dari 7 bulan sebelum keberangkatan • Foto 4×6 background putih • Buku nikah (Untuk Suami Istri) • Akta lahir (Untuk anak) • Sertifikat vaksin covid dosis terakhir.Syarat dan ketentuan berlakuInformasi & Pendaftaran:🕋 PT Raudhah Amani WisataJl. Asem Baris Raya No. 1-A, Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan. 12830 ☎️ Telp. (021) 8298383 📱 Ibob : 081807146999 📱 Erpan : 0811811186📝 DAFTARKAN SEGERA Diri anda, Seat TerbatasPenasehat travel : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Mungkinkah Manusia Melihat Malaikat dalam Wujudnya yang Asli?

Malaikat diberi kemampuan untuk berubah dari wujud aslinyaAllah Ta’ala menjadikan malaikat memiliki kemampuan untuk berubah bentuk dari wujudnya yang asli. Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ ؛ إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَاماً قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُّنكَرُونَ ؛ فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ فَجَاء بِعِجْلٍ سَمِينٍ ؛ فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mengucapkan, “Salaamun”. Ibrahim menjawab, “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.” Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata, “Silakan anda makan.” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 24-27)Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَاناً شَرْقِيّاً ؛ فَاتَّخَذَتْ مِن دُونِهِمْ حِجَاباً فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَراً سَوِيّاً“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Qur’an, yaitu ketika dia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka, lalu Kami mengutus ruh Kami (malaikat) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.” (QS. Maryam [19]: 16-17)Dalam hadis Jibril yang terkenal, disebutkan bahwa malaikat Jibril ‘alaihis salam mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam wujud manusia, dan bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang iman, Islam, dan ihsan. ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menceritakan,بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ، إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ، لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِسْلَامِ“Dahulu kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datanglah seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan. Tidak seorang pun dari kami mengenalnya, hingga dia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menyandarkan lututnya pada lutut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian dia berkata, ‘Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam?’”Baca Juga: Rincian Nama-Nama Malaikat dari Dalil Al-Qur’an dan As-SunnahSampai di akhir hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Wahai ‘Umar, tahukah kamu, siapakah penanya itu?”‘Umar menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ“Sesungguhnya dia adalah jibril, dia mendatangi kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang pengetahuan agama kalian.” (HR. Muslim no. 8)Salman radhiyallahu ‘anhu berkata,وَأُنْبِئْتُ أَنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، أَتَى نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعِنْدَهُ أُمُّ سَلَمَةَ، قَالَ: فَجَعَلَ يَتَحَدَّثُ، ثُمَّ قَامَ فَقَالَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأُمِّ سَلَمَةَ: «مَنْ هَذَا؟» أَوْ كَمَا قَالَ: قَالَتْ: هَذَا دِحْيَةُ“Saya pernah diberitahu bahwasanya Jibril ‘alaihis salam datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang pada saat itu Ummu Salamah ada di samping beliau. Setelah itu beliau mulai berbicara, lalu berdiri, dan akhirnya bertanya kepada Ummu Salamah, ‘Siapakah ini?’ (atau sebagaimana yang beliau katakan kepadanya). Ummu Salamah menjawab, ‘Ini Dihyah Al-Kalbi.:” (HR. Muslim no. 2451)Ayat dan hadis di atas menunjukkan bahwa malaikat diberi kemampuan untuk berubah bentuk (berubah wujud) dari wujudnya yang asli menjadi bentuk manusia yang sempurna (bentuk yang bagus).Akan tetapi, terkadang malaikat berubah wujud menjadi bentuk manusia yang jelek, sebagai bentuk ujian kepada manusia. Ini sebagaimana kisah tiga orang dari Bani Israil yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ceritakan dalam sebuah hadis yang panjang.Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Ada tiga orang dari Bani Israil yang menderita sakit. Yang pertama menderita penyakit kusta, yang kedua berkepala botak ,dan yang ketiga buta. Kemudian Allah Ta’ala menguji mereka dengan mengutus malaikat menemui mereka. Pertama, malaikat mendatangi orang yang berpenyakit kusta lalu bertanya kepadanya, ‘Apa yang paling kamu sukai?’ Orang ini menjawab, ‘Warna kulit dan kulitku yang bagus karena sekarang ini manusia menjauh dariku.’”Beliau melanjutkan, “Maka malaikat itu mengusap kulitnya hingga hilang dan berganti dengan warna dan kulit yang bagus. Lalu malaikat bertanya lagi, ‘Harta apa yang paling kamu sukai?’ Orang itu menjawab, ‘Unta.’ Perawi berkata, ‘Atau sapi’.” (Perawi ragu bahwa orang yang berpenyakit kusta ataukah yang berkepala botak. Yang satu berkata, “Unta” dan yang lainnya berkata, “Sapi.”)Baca Juga: Metode Beriman kepada Malaikat“Maka dia diberi unta yang bunting, lalu malaikat berkata, ‘Semoga pada unta itu ada keberkahan buatmu.’Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang berkepala botak dan bertanya kepadanya, ‘Apa yang paling kamu sukai?’ Orang ini menjawab, ‘Tumbuh rambut yang bagus dan penyakit ini pergi dariku karena sekarang ini manusia menjauh dariku.’”Beliau melanjutkan, “Maka malaikat itu mengusap kepala orang ini hingga hilang dan berganti dengan rambut yang bagus. Lalu malaikat bertanya lagi, ‘Harta apa yang paling kamu sukai?’ Orang itu menjawab, ‘Sapi.’ Maka dia diberi seekor sapi yang sedang bunting lalu malaikat berkata, ‘Semoga pada sapi itu ada keberkahan buatmu.’Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang buta lalu bertanya kepadanya, ‘Apa yang paling kamu sukai?’ Orang ini menjawab, ‘Seandainya Allah Ta’ala mengembalikan penglihatanku sehingga dengan penglihatan itu aku dapat melihat manusia.’ Beliau melanjutkan, ‘Maka malaikat itu mengusap mata orang ini hingga Allah Ta’ala mengembalikan penglihatannya.’ Lalu malaikat bertanya lagi, ‘Harta apa yang paling kamu sukai?’ Orang itu menjawab, ‘Kambing.’ Dia pun diberi seekor kambing yang bunting.Kedua orang yang pertama tadi hewan-hewannya berkembang biak dengan banyak begitu juga orang yang ketiga, masing-masing mereka memiliki lembah untuk menggembalakan unta-unta, lembah untuk menggembalakan sapi-sapi, dan lembah untuk menggembalakan kambing-kambing.Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang tadinya berpenyakit kusta dalam bentuk keadaan seperti orang yang berpenyakit kusta lalu berkata, ‘Saya orang miskin yang bekalku sudah habis dalam perjalananku ini dan tidak ada yang menyampaikan aku hidup hingga hari ini kecuali Allah Ta’ala. Maka aku memohon kepadamu demi orang yang telah memberimu warna dan kulit yang bagus berupa seekor unta, apakah kamu mau memberiku bekal agar aku dapat meneruskan perjalananku ini?’Maka orang ini berkata, ‘Sesungguhnya hak-hak sangat banyak (untuk aku tunaikan).’ Lalu malaikat bertanya kepadanya, ‘Sepertinya aku mengenal Anda. Bukankah kamu dahulu orang yang berpenyakit kusta dan manusia menjauhimu dan kamu dalam keadaan faqir lalu Allah Ta’ala memberimu harta?’Orang ini menjawab, ‘Aku memiliki ini semua dari harta warisan turun menurun.’ Maka malaikat berkata, ‘Seandainya kamu berdusta, semoga Allah Ta’ala mengembalikanmu kepada keadaanmu semula.’Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang dahulunya berkepala botak dalam bentuk keadaan orang yang berkepala botak, lalu malaikat berkata sebagaimana yang dikatakan kepada orang pertama tadi. Orang yang dahulunya berkepala botak ini menjawab seperti jawaban orang yang dahulunya berpenyakit kusta, lalu malaikat berkata, ‘Seandainya kamu berdusta, semoga Allah Ta’ala mengembalikanmu kepada keadaanmu semula.’Lalu malaikat mendatangi orang yang dahulunya buta dalam bentuk sebagai orang buta lalu berkata, ‘Saya orang miskin yang bekalku sudah habis dalam perjalananku ini dan tidak ada yang menyampaikan aku hidup hingga hari ini kecuali Allah Ta’ala. Maka aku memohon kepadamu demi Zat yang telah mengembalikan penglihatanmu berupa seekor kambing, apakah kamu mau memberiku bekal agar aku dapat meneruskan perjalananku ini?’Maka orang ini menjawab, ‘Dahulu aku adalah orang yang buta, lalu Allah Ta’ala mengembalikan penglihatanku. Aku juga seorang yang faqir, lalu Dia memberiku kecukupan. Karena itu, ambillah sesukamu. Demi Allah, aku tidak akan menghalangimu untuk mengambil sesuatu selama kamu mengambilnya karena Allah Ta’ala.’Maka malaikat itu berkata, ‘Tahan hartamu. Sesungguhnya kalian sedang diuji dan Allah Ta’ala telah rida kepadamu dan murka kepada kedua temanmu.’” (HR. Bukhari no. 3464)Hadis ini menunjukkan bahwa malaikat diberi kemampuan untuk berubah wujud menjadi bentuk manusia yang jelek (terkena penyakit).Baca Juga: Berapakah Jumlah Malaikat?Tidak boleh membahas bagaimanakah cara malaikat berubah wujudMeskipun kita mengetahui bahwa malaikat diberi kemampuan untuk berubah wujud, namun kita tidak boleh membahas, apalagi memikirkan dengan terlalu dalam, bagaimanakah cara malaikat berubah wujud. Tidak sebagaimana orang-orang ahlul kalam yang berdalam-dalam dalam membahas masalah ini. (Lihat Fathul Baari, 1: 21)Menurut ahlus sunnah, tidak boleh membahas bagaimanakah cara atau metode malaikat berubah wujud. Hal ini karena tidak ada dalil yang menjelaskan masalah tersebut, sehingga hal ini termasuk ilmu gaib yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.Abul ‘Abbas Al-Qurthubi rahimahullah berkata,“Membahas tentang cara perubahan wujud tersebut tidaklah menghasilkan apapun. Yang menjadi kewajiban kita adalah membenarkan dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut. Dan siapa saja yang mengingkari wujud malaikat, jin, dan kemampuan berubah wujudnya, maka dia kafir.” (Al-Mufhim, 6: 172)Manusia tidak mungkin melihat malaikat dalam wujud yang asliPerkara penting lainnya yang perlu ditegaskan adalah bahwa melihat malaikat dalam wujud yang asli sebagaimana yang Allah Ta’ala ciptakan itu hanya terjadi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga untuk selain beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, tidaklah mungkin melihat malaikat dalam wujud yang asli.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالُواْ لَوْلا أُنزِلَ عَلَيْهِ مَلَكٌ وَلَوْ أَنزَلْنَا مَلَكاً لَّقُضِيَ الأمْرُ ثُمَّ لاَ يُنظَرُونَ  ؛ وَلَوْ جَعَلْنَاهُ مَلَكاً لَّجَعَلْنَاهُ رَجُلاً وَلَلَبَسْنَا عَلَيْهِم مَّا يَلْبِسُونَ“Dan mereka berkata, ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) malaikat?’ Dan kalau Kami turunkan (kepadanya) malaikat, tentulah selesai urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikit pun). Dan kalau Kami jadikan rasul itu dari malaikat, tentulah Kami jadikan dia seorang laki-laki, dan (kalau Kami jadikan ia seorang laki-laki), tentulah Kami meragu-ragukan atas mereka apa yang mereka ragu-ragukan atas diri mereka sendiri.” (QS. Al-An’am [6]: 8-9)Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala katakan bahwa jika Allah mengutus rasul itu dari kalangan malaikat, bukan manusia, maka malaikat itu akan Allah jadikan dalam bentuk seorang lak-laki. Hal ini karena manusia tidak mampu melihat malaikat dalam wujud yang asli.Ibnu Qutaibah berkata menjelaskan maksud ayat di atas, “Allah Ta’ala maksudkan, jika Kami menurunkan malaikat, maka tidak akan bisa dijangkau oleh indera kalian. Karena panca indera manusia tidaklah bisa melihat hakikat wujud malaikat (yang asli). Maka Kami akan jadikan terlebih dulu malaikat itu dalam bentuk (manusia) laki-laki yang semisal dengan kalian agar kalian bisa melihatnya dan bisa memahami apa yang dikatakan.” (Ta’wil Mukhtalaful Hadits, hal. 402)[Selesai]Baca Juga:***@Rumah Kasongan, 23 Rabi’ul awwal 1442/ 30 Oktober 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Haqiqatul Malaikat karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 54-59. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui parantaraan kitab tersebut.

Mungkinkah Manusia Melihat Malaikat dalam Wujudnya yang Asli?

Malaikat diberi kemampuan untuk berubah dari wujud aslinyaAllah Ta’ala menjadikan malaikat memiliki kemampuan untuk berubah bentuk dari wujudnya yang asli. Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ ؛ إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَاماً قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُّنكَرُونَ ؛ فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ فَجَاء بِعِجْلٍ سَمِينٍ ؛ فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mengucapkan, “Salaamun”. Ibrahim menjawab, “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.” Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata, “Silakan anda makan.” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 24-27)Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَاناً شَرْقِيّاً ؛ فَاتَّخَذَتْ مِن دُونِهِمْ حِجَاباً فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَراً سَوِيّاً“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Qur’an, yaitu ketika dia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka, lalu Kami mengutus ruh Kami (malaikat) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.” (QS. Maryam [19]: 16-17)Dalam hadis Jibril yang terkenal, disebutkan bahwa malaikat Jibril ‘alaihis salam mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam wujud manusia, dan bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang iman, Islam, dan ihsan. ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menceritakan,بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ، إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ، لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِسْلَامِ“Dahulu kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datanglah seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan. Tidak seorang pun dari kami mengenalnya, hingga dia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menyandarkan lututnya pada lutut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian dia berkata, ‘Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam?’”Baca Juga: Rincian Nama-Nama Malaikat dari Dalil Al-Qur’an dan As-SunnahSampai di akhir hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Wahai ‘Umar, tahukah kamu, siapakah penanya itu?”‘Umar menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ“Sesungguhnya dia adalah jibril, dia mendatangi kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang pengetahuan agama kalian.” (HR. Muslim no. 8)Salman radhiyallahu ‘anhu berkata,وَأُنْبِئْتُ أَنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، أَتَى نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعِنْدَهُ أُمُّ سَلَمَةَ، قَالَ: فَجَعَلَ يَتَحَدَّثُ، ثُمَّ قَامَ فَقَالَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأُمِّ سَلَمَةَ: «مَنْ هَذَا؟» أَوْ كَمَا قَالَ: قَالَتْ: هَذَا دِحْيَةُ“Saya pernah diberitahu bahwasanya Jibril ‘alaihis salam datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang pada saat itu Ummu Salamah ada di samping beliau. Setelah itu beliau mulai berbicara, lalu berdiri, dan akhirnya bertanya kepada Ummu Salamah, ‘Siapakah ini?’ (atau sebagaimana yang beliau katakan kepadanya). Ummu Salamah menjawab, ‘Ini Dihyah Al-Kalbi.:” (HR. Muslim no. 2451)Ayat dan hadis di atas menunjukkan bahwa malaikat diberi kemampuan untuk berubah bentuk (berubah wujud) dari wujudnya yang asli menjadi bentuk manusia yang sempurna (bentuk yang bagus).Akan tetapi, terkadang malaikat berubah wujud menjadi bentuk manusia yang jelek, sebagai bentuk ujian kepada manusia. Ini sebagaimana kisah tiga orang dari Bani Israil yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ceritakan dalam sebuah hadis yang panjang.Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Ada tiga orang dari Bani Israil yang menderita sakit. Yang pertama menderita penyakit kusta, yang kedua berkepala botak ,dan yang ketiga buta. Kemudian Allah Ta’ala menguji mereka dengan mengutus malaikat menemui mereka. Pertama, malaikat mendatangi orang yang berpenyakit kusta lalu bertanya kepadanya, ‘Apa yang paling kamu sukai?’ Orang ini menjawab, ‘Warna kulit dan kulitku yang bagus karena sekarang ini manusia menjauh dariku.’”Beliau melanjutkan, “Maka malaikat itu mengusap kulitnya hingga hilang dan berganti dengan warna dan kulit yang bagus. Lalu malaikat bertanya lagi, ‘Harta apa yang paling kamu sukai?’ Orang itu menjawab, ‘Unta.’ Perawi berkata, ‘Atau sapi’.” (Perawi ragu bahwa orang yang berpenyakit kusta ataukah yang berkepala botak. Yang satu berkata, “Unta” dan yang lainnya berkata, “Sapi.”)Baca Juga: Metode Beriman kepada Malaikat“Maka dia diberi unta yang bunting, lalu malaikat berkata, ‘Semoga pada unta itu ada keberkahan buatmu.’Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang berkepala botak dan bertanya kepadanya, ‘Apa yang paling kamu sukai?’ Orang ini menjawab, ‘Tumbuh rambut yang bagus dan penyakit ini pergi dariku karena sekarang ini manusia menjauh dariku.’”Beliau melanjutkan, “Maka malaikat itu mengusap kepala orang ini hingga hilang dan berganti dengan rambut yang bagus. Lalu malaikat bertanya lagi, ‘Harta apa yang paling kamu sukai?’ Orang itu menjawab, ‘Sapi.’ Maka dia diberi seekor sapi yang sedang bunting lalu malaikat berkata, ‘Semoga pada sapi itu ada keberkahan buatmu.’Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang buta lalu bertanya kepadanya, ‘Apa yang paling kamu sukai?’ Orang ini menjawab, ‘Seandainya Allah Ta’ala mengembalikan penglihatanku sehingga dengan penglihatan itu aku dapat melihat manusia.’ Beliau melanjutkan, ‘Maka malaikat itu mengusap mata orang ini hingga Allah Ta’ala mengembalikan penglihatannya.’ Lalu malaikat bertanya lagi, ‘Harta apa yang paling kamu sukai?’ Orang itu menjawab, ‘Kambing.’ Dia pun diberi seekor kambing yang bunting.Kedua orang yang pertama tadi hewan-hewannya berkembang biak dengan banyak begitu juga orang yang ketiga, masing-masing mereka memiliki lembah untuk menggembalakan unta-unta, lembah untuk menggembalakan sapi-sapi, dan lembah untuk menggembalakan kambing-kambing.Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang tadinya berpenyakit kusta dalam bentuk keadaan seperti orang yang berpenyakit kusta lalu berkata, ‘Saya orang miskin yang bekalku sudah habis dalam perjalananku ini dan tidak ada yang menyampaikan aku hidup hingga hari ini kecuali Allah Ta’ala. Maka aku memohon kepadamu demi orang yang telah memberimu warna dan kulit yang bagus berupa seekor unta, apakah kamu mau memberiku bekal agar aku dapat meneruskan perjalananku ini?’Maka orang ini berkata, ‘Sesungguhnya hak-hak sangat banyak (untuk aku tunaikan).’ Lalu malaikat bertanya kepadanya, ‘Sepertinya aku mengenal Anda. Bukankah kamu dahulu orang yang berpenyakit kusta dan manusia menjauhimu dan kamu dalam keadaan faqir lalu Allah Ta’ala memberimu harta?’Orang ini menjawab, ‘Aku memiliki ini semua dari harta warisan turun menurun.’ Maka malaikat berkata, ‘Seandainya kamu berdusta, semoga Allah Ta’ala mengembalikanmu kepada keadaanmu semula.’Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang dahulunya berkepala botak dalam bentuk keadaan orang yang berkepala botak, lalu malaikat berkata sebagaimana yang dikatakan kepada orang pertama tadi. Orang yang dahulunya berkepala botak ini menjawab seperti jawaban orang yang dahulunya berpenyakit kusta, lalu malaikat berkata, ‘Seandainya kamu berdusta, semoga Allah Ta’ala mengembalikanmu kepada keadaanmu semula.’Lalu malaikat mendatangi orang yang dahulunya buta dalam bentuk sebagai orang buta lalu berkata, ‘Saya orang miskin yang bekalku sudah habis dalam perjalananku ini dan tidak ada yang menyampaikan aku hidup hingga hari ini kecuali Allah Ta’ala. Maka aku memohon kepadamu demi Zat yang telah mengembalikan penglihatanmu berupa seekor kambing, apakah kamu mau memberiku bekal agar aku dapat meneruskan perjalananku ini?’Maka orang ini menjawab, ‘Dahulu aku adalah orang yang buta, lalu Allah Ta’ala mengembalikan penglihatanku. Aku juga seorang yang faqir, lalu Dia memberiku kecukupan. Karena itu, ambillah sesukamu. Demi Allah, aku tidak akan menghalangimu untuk mengambil sesuatu selama kamu mengambilnya karena Allah Ta’ala.’Maka malaikat itu berkata, ‘Tahan hartamu. Sesungguhnya kalian sedang diuji dan Allah Ta’ala telah rida kepadamu dan murka kepada kedua temanmu.’” (HR. Bukhari no. 3464)Hadis ini menunjukkan bahwa malaikat diberi kemampuan untuk berubah wujud menjadi bentuk manusia yang jelek (terkena penyakit).Baca Juga: Berapakah Jumlah Malaikat?Tidak boleh membahas bagaimanakah cara malaikat berubah wujudMeskipun kita mengetahui bahwa malaikat diberi kemampuan untuk berubah wujud, namun kita tidak boleh membahas, apalagi memikirkan dengan terlalu dalam, bagaimanakah cara malaikat berubah wujud. Tidak sebagaimana orang-orang ahlul kalam yang berdalam-dalam dalam membahas masalah ini. (Lihat Fathul Baari, 1: 21)Menurut ahlus sunnah, tidak boleh membahas bagaimanakah cara atau metode malaikat berubah wujud. Hal ini karena tidak ada dalil yang menjelaskan masalah tersebut, sehingga hal ini termasuk ilmu gaib yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.Abul ‘Abbas Al-Qurthubi rahimahullah berkata,“Membahas tentang cara perubahan wujud tersebut tidaklah menghasilkan apapun. Yang menjadi kewajiban kita adalah membenarkan dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut. Dan siapa saja yang mengingkari wujud malaikat, jin, dan kemampuan berubah wujudnya, maka dia kafir.” (Al-Mufhim, 6: 172)Manusia tidak mungkin melihat malaikat dalam wujud yang asliPerkara penting lainnya yang perlu ditegaskan adalah bahwa melihat malaikat dalam wujud yang asli sebagaimana yang Allah Ta’ala ciptakan itu hanya terjadi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga untuk selain beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, tidaklah mungkin melihat malaikat dalam wujud yang asli.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالُواْ لَوْلا أُنزِلَ عَلَيْهِ مَلَكٌ وَلَوْ أَنزَلْنَا مَلَكاً لَّقُضِيَ الأمْرُ ثُمَّ لاَ يُنظَرُونَ  ؛ وَلَوْ جَعَلْنَاهُ مَلَكاً لَّجَعَلْنَاهُ رَجُلاً وَلَلَبَسْنَا عَلَيْهِم مَّا يَلْبِسُونَ“Dan mereka berkata, ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) malaikat?’ Dan kalau Kami turunkan (kepadanya) malaikat, tentulah selesai urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikit pun). Dan kalau Kami jadikan rasul itu dari malaikat, tentulah Kami jadikan dia seorang laki-laki, dan (kalau Kami jadikan ia seorang laki-laki), tentulah Kami meragu-ragukan atas mereka apa yang mereka ragu-ragukan atas diri mereka sendiri.” (QS. Al-An’am [6]: 8-9)Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala katakan bahwa jika Allah mengutus rasul itu dari kalangan malaikat, bukan manusia, maka malaikat itu akan Allah jadikan dalam bentuk seorang lak-laki. Hal ini karena manusia tidak mampu melihat malaikat dalam wujud yang asli.Ibnu Qutaibah berkata menjelaskan maksud ayat di atas, “Allah Ta’ala maksudkan, jika Kami menurunkan malaikat, maka tidak akan bisa dijangkau oleh indera kalian. Karena panca indera manusia tidaklah bisa melihat hakikat wujud malaikat (yang asli). Maka Kami akan jadikan terlebih dulu malaikat itu dalam bentuk (manusia) laki-laki yang semisal dengan kalian agar kalian bisa melihatnya dan bisa memahami apa yang dikatakan.” (Ta’wil Mukhtalaful Hadits, hal. 402)[Selesai]Baca Juga:***@Rumah Kasongan, 23 Rabi’ul awwal 1442/ 30 Oktober 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Haqiqatul Malaikat karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 54-59. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui parantaraan kitab tersebut.
Malaikat diberi kemampuan untuk berubah dari wujud aslinyaAllah Ta’ala menjadikan malaikat memiliki kemampuan untuk berubah bentuk dari wujudnya yang asli. Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ ؛ إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَاماً قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُّنكَرُونَ ؛ فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ فَجَاء بِعِجْلٍ سَمِينٍ ؛ فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mengucapkan, “Salaamun”. Ibrahim menjawab, “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.” Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata, “Silakan anda makan.” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 24-27)Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَاناً شَرْقِيّاً ؛ فَاتَّخَذَتْ مِن دُونِهِمْ حِجَاباً فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَراً سَوِيّاً“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Qur’an, yaitu ketika dia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka, lalu Kami mengutus ruh Kami (malaikat) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.” (QS. Maryam [19]: 16-17)Dalam hadis Jibril yang terkenal, disebutkan bahwa malaikat Jibril ‘alaihis salam mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam wujud manusia, dan bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang iman, Islam, dan ihsan. ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menceritakan,بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ، إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ، لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِسْلَامِ“Dahulu kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datanglah seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan. Tidak seorang pun dari kami mengenalnya, hingga dia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menyandarkan lututnya pada lutut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian dia berkata, ‘Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam?’”Baca Juga: Rincian Nama-Nama Malaikat dari Dalil Al-Qur’an dan As-SunnahSampai di akhir hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Wahai ‘Umar, tahukah kamu, siapakah penanya itu?”‘Umar menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ“Sesungguhnya dia adalah jibril, dia mendatangi kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang pengetahuan agama kalian.” (HR. Muslim no. 8)Salman radhiyallahu ‘anhu berkata,وَأُنْبِئْتُ أَنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، أَتَى نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعِنْدَهُ أُمُّ سَلَمَةَ، قَالَ: فَجَعَلَ يَتَحَدَّثُ، ثُمَّ قَامَ فَقَالَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأُمِّ سَلَمَةَ: «مَنْ هَذَا؟» أَوْ كَمَا قَالَ: قَالَتْ: هَذَا دِحْيَةُ“Saya pernah diberitahu bahwasanya Jibril ‘alaihis salam datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang pada saat itu Ummu Salamah ada di samping beliau. Setelah itu beliau mulai berbicara, lalu berdiri, dan akhirnya bertanya kepada Ummu Salamah, ‘Siapakah ini?’ (atau sebagaimana yang beliau katakan kepadanya). Ummu Salamah menjawab, ‘Ini Dihyah Al-Kalbi.:” (HR. Muslim no. 2451)Ayat dan hadis di atas menunjukkan bahwa malaikat diberi kemampuan untuk berubah bentuk (berubah wujud) dari wujudnya yang asli menjadi bentuk manusia yang sempurna (bentuk yang bagus).Akan tetapi, terkadang malaikat berubah wujud menjadi bentuk manusia yang jelek, sebagai bentuk ujian kepada manusia. Ini sebagaimana kisah tiga orang dari Bani Israil yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ceritakan dalam sebuah hadis yang panjang.Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Ada tiga orang dari Bani Israil yang menderita sakit. Yang pertama menderita penyakit kusta, yang kedua berkepala botak ,dan yang ketiga buta. Kemudian Allah Ta’ala menguji mereka dengan mengutus malaikat menemui mereka. Pertama, malaikat mendatangi orang yang berpenyakit kusta lalu bertanya kepadanya, ‘Apa yang paling kamu sukai?’ Orang ini menjawab, ‘Warna kulit dan kulitku yang bagus karena sekarang ini manusia menjauh dariku.’”Beliau melanjutkan, “Maka malaikat itu mengusap kulitnya hingga hilang dan berganti dengan warna dan kulit yang bagus. Lalu malaikat bertanya lagi, ‘Harta apa yang paling kamu sukai?’ Orang itu menjawab, ‘Unta.’ Perawi berkata, ‘Atau sapi’.” (Perawi ragu bahwa orang yang berpenyakit kusta ataukah yang berkepala botak. Yang satu berkata, “Unta” dan yang lainnya berkata, “Sapi.”)Baca Juga: Metode Beriman kepada Malaikat“Maka dia diberi unta yang bunting, lalu malaikat berkata, ‘Semoga pada unta itu ada keberkahan buatmu.’Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang berkepala botak dan bertanya kepadanya, ‘Apa yang paling kamu sukai?’ Orang ini menjawab, ‘Tumbuh rambut yang bagus dan penyakit ini pergi dariku karena sekarang ini manusia menjauh dariku.’”Beliau melanjutkan, “Maka malaikat itu mengusap kepala orang ini hingga hilang dan berganti dengan rambut yang bagus. Lalu malaikat bertanya lagi, ‘Harta apa yang paling kamu sukai?’ Orang itu menjawab, ‘Sapi.’ Maka dia diberi seekor sapi yang sedang bunting lalu malaikat berkata, ‘Semoga pada sapi itu ada keberkahan buatmu.’Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang buta lalu bertanya kepadanya, ‘Apa yang paling kamu sukai?’ Orang ini menjawab, ‘Seandainya Allah Ta’ala mengembalikan penglihatanku sehingga dengan penglihatan itu aku dapat melihat manusia.’ Beliau melanjutkan, ‘Maka malaikat itu mengusap mata orang ini hingga Allah Ta’ala mengembalikan penglihatannya.’ Lalu malaikat bertanya lagi, ‘Harta apa yang paling kamu sukai?’ Orang itu menjawab, ‘Kambing.’ Dia pun diberi seekor kambing yang bunting.Kedua orang yang pertama tadi hewan-hewannya berkembang biak dengan banyak begitu juga orang yang ketiga, masing-masing mereka memiliki lembah untuk menggembalakan unta-unta, lembah untuk menggembalakan sapi-sapi, dan lembah untuk menggembalakan kambing-kambing.Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang tadinya berpenyakit kusta dalam bentuk keadaan seperti orang yang berpenyakit kusta lalu berkata, ‘Saya orang miskin yang bekalku sudah habis dalam perjalananku ini dan tidak ada yang menyampaikan aku hidup hingga hari ini kecuali Allah Ta’ala. Maka aku memohon kepadamu demi orang yang telah memberimu warna dan kulit yang bagus berupa seekor unta, apakah kamu mau memberiku bekal agar aku dapat meneruskan perjalananku ini?’Maka orang ini berkata, ‘Sesungguhnya hak-hak sangat banyak (untuk aku tunaikan).’ Lalu malaikat bertanya kepadanya, ‘Sepertinya aku mengenal Anda. Bukankah kamu dahulu orang yang berpenyakit kusta dan manusia menjauhimu dan kamu dalam keadaan faqir lalu Allah Ta’ala memberimu harta?’Orang ini menjawab, ‘Aku memiliki ini semua dari harta warisan turun menurun.’ Maka malaikat berkata, ‘Seandainya kamu berdusta, semoga Allah Ta’ala mengembalikanmu kepada keadaanmu semula.’Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang dahulunya berkepala botak dalam bentuk keadaan orang yang berkepala botak, lalu malaikat berkata sebagaimana yang dikatakan kepada orang pertama tadi. Orang yang dahulunya berkepala botak ini menjawab seperti jawaban orang yang dahulunya berpenyakit kusta, lalu malaikat berkata, ‘Seandainya kamu berdusta, semoga Allah Ta’ala mengembalikanmu kepada keadaanmu semula.’Lalu malaikat mendatangi orang yang dahulunya buta dalam bentuk sebagai orang buta lalu berkata, ‘Saya orang miskin yang bekalku sudah habis dalam perjalananku ini dan tidak ada yang menyampaikan aku hidup hingga hari ini kecuali Allah Ta’ala. Maka aku memohon kepadamu demi Zat yang telah mengembalikan penglihatanmu berupa seekor kambing, apakah kamu mau memberiku bekal agar aku dapat meneruskan perjalananku ini?’Maka orang ini menjawab, ‘Dahulu aku adalah orang yang buta, lalu Allah Ta’ala mengembalikan penglihatanku. Aku juga seorang yang faqir, lalu Dia memberiku kecukupan. Karena itu, ambillah sesukamu. Demi Allah, aku tidak akan menghalangimu untuk mengambil sesuatu selama kamu mengambilnya karena Allah Ta’ala.’Maka malaikat itu berkata, ‘Tahan hartamu. Sesungguhnya kalian sedang diuji dan Allah Ta’ala telah rida kepadamu dan murka kepada kedua temanmu.’” (HR. Bukhari no. 3464)Hadis ini menunjukkan bahwa malaikat diberi kemampuan untuk berubah wujud menjadi bentuk manusia yang jelek (terkena penyakit).Baca Juga: Berapakah Jumlah Malaikat?Tidak boleh membahas bagaimanakah cara malaikat berubah wujudMeskipun kita mengetahui bahwa malaikat diberi kemampuan untuk berubah wujud, namun kita tidak boleh membahas, apalagi memikirkan dengan terlalu dalam, bagaimanakah cara malaikat berubah wujud. Tidak sebagaimana orang-orang ahlul kalam yang berdalam-dalam dalam membahas masalah ini. (Lihat Fathul Baari, 1: 21)Menurut ahlus sunnah, tidak boleh membahas bagaimanakah cara atau metode malaikat berubah wujud. Hal ini karena tidak ada dalil yang menjelaskan masalah tersebut, sehingga hal ini termasuk ilmu gaib yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.Abul ‘Abbas Al-Qurthubi rahimahullah berkata,“Membahas tentang cara perubahan wujud tersebut tidaklah menghasilkan apapun. Yang menjadi kewajiban kita adalah membenarkan dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut. Dan siapa saja yang mengingkari wujud malaikat, jin, dan kemampuan berubah wujudnya, maka dia kafir.” (Al-Mufhim, 6: 172)Manusia tidak mungkin melihat malaikat dalam wujud yang asliPerkara penting lainnya yang perlu ditegaskan adalah bahwa melihat malaikat dalam wujud yang asli sebagaimana yang Allah Ta’ala ciptakan itu hanya terjadi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga untuk selain beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, tidaklah mungkin melihat malaikat dalam wujud yang asli.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالُواْ لَوْلا أُنزِلَ عَلَيْهِ مَلَكٌ وَلَوْ أَنزَلْنَا مَلَكاً لَّقُضِيَ الأمْرُ ثُمَّ لاَ يُنظَرُونَ  ؛ وَلَوْ جَعَلْنَاهُ مَلَكاً لَّجَعَلْنَاهُ رَجُلاً وَلَلَبَسْنَا عَلَيْهِم مَّا يَلْبِسُونَ“Dan mereka berkata, ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) malaikat?’ Dan kalau Kami turunkan (kepadanya) malaikat, tentulah selesai urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikit pun). Dan kalau Kami jadikan rasul itu dari malaikat, tentulah Kami jadikan dia seorang laki-laki, dan (kalau Kami jadikan ia seorang laki-laki), tentulah Kami meragu-ragukan atas mereka apa yang mereka ragu-ragukan atas diri mereka sendiri.” (QS. Al-An’am [6]: 8-9)Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala katakan bahwa jika Allah mengutus rasul itu dari kalangan malaikat, bukan manusia, maka malaikat itu akan Allah jadikan dalam bentuk seorang lak-laki. Hal ini karena manusia tidak mampu melihat malaikat dalam wujud yang asli.Ibnu Qutaibah berkata menjelaskan maksud ayat di atas, “Allah Ta’ala maksudkan, jika Kami menurunkan malaikat, maka tidak akan bisa dijangkau oleh indera kalian. Karena panca indera manusia tidaklah bisa melihat hakikat wujud malaikat (yang asli). Maka Kami akan jadikan terlebih dulu malaikat itu dalam bentuk (manusia) laki-laki yang semisal dengan kalian agar kalian bisa melihatnya dan bisa memahami apa yang dikatakan.” (Ta’wil Mukhtalaful Hadits, hal. 402)[Selesai]Baca Juga:***@Rumah Kasongan, 23 Rabi’ul awwal 1442/ 30 Oktober 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Haqiqatul Malaikat karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 54-59. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui parantaraan kitab tersebut.


Malaikat diberi kemampuan untuk berubah dari wujud aslinyaAllah Ta’ala menjadikan malaikat memiliki kemampuan untuk berubah bentuk dari wujudnya yang asli. Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ ؛ إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَاماً قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُّنكَرُونَ ؛ فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ فَجَاء بِعِجْلٍ سَمِينٍ ؛ فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mengucapkan, “Salaamun”. Ibrahim menjawab, “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.” Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata, “Silakan anda makan.” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 24-27)Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَاناً شَرْقِيّاً ؛ فَاتَّخَذَتْ مِن دُونِهِمْ حِجَاباً فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَراً سَوِيّاً“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Qur’an, yaitu ketika dia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka, lalu Kami mengutus ruh Kami (malaikat) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.” (QS. Maryam [19]: 16-17)Dalam hadis Jibril yang terkenal, disebutkan bahwa malaikat Jibril ‘alaihis salam mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam wujud manusia, dan bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang iman, Islam, dan ihsan. ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menceritakan,بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ، إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ، لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِسْلَامِ“Dahulu kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datanglah seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan. Tidak seorang pun dari kami mengenalnya, hingga dia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menyandarkan lututnya pada lutut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian dia berkata, ‘Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam?’”Baca Juga: Rincian Nama-Nama Malaikat dari Dalil Al-Qur’an dan As-SunnahSampai di akhir hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Wahai ‘Umar, tahukah kamu, siapakah penanya itu?”‘Umar menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ“Sesungguhnya dia adalah jibril, dia mendatangi kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang pengetahuan agama kalian.” (HR. Muslim no. 8)Salman radhiyallahu ‘anhu berkata,وَأُنْبِئْتُ أَنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، أَتَى نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعِنْدَهُ أُمُّ سَلَمَةَ، قَالَ: فَجَعَلَ يَتَحَدَّثُ، ثُمَّ قَامَ فَقَالَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأُمِّ سَلَمَةَ: «مَنْ هَذَا؟» أَوْ كَمَا قَالَ: قَالَتْ: هَذَا دِحْيَةُ“Saya pernah diberitahu bahwasanya Jibril ‘alaihis salam datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang pada saat itu Ummu Salamah ada di samping beliau. Setelah itu beliau mulai berbicara, lalu berdiri, dan akhirnya bertanya kepada Ummu Salamah, ‘Siapakah ini?’ (atau sebagaimana yang beliau katakan kepadanya). Ummu Salamah menjawab, ‘Ini Dihyah Al-Kalbi.:” (HR. Muslim no. 2451)Ayat dan hadis di atas menunjukkan bahwa malaikat diberi kemampuan untuk berubah bentuk (berubah wujud) dari wujudnya yang asli menjadi bentuk manusia yang sempurna (bentuk yang bagus).Akan tetapi, terkadang malaikat berubah wujud menjadi bentuk manusia yang jelek, sebagai bentuk ujian kepada manusia. Ini sebagaimana kisah tiga orang dari Bani Israil yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ceritakan dalam sebuah hadis yang panjang.Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Ada tiga orang dari Bani Israil yang menderita sakit. Yang pertama menderita penyakit kusta, yang kedua berkepala botak ,dan yang ketiga buta. Kemudian Allah Ta’ala menguji mereka dengan mengutus malaikat menemui mereka. Pertama, malaikat mendatangi orang yang berpenyakit kusta lalu bertanya kepadanya, ‘Apa yang paling kamu sukai?’ Orang ini menjawab, ‘Warna kulit dan kulitku yang bagus karena sekarang ini manusia menjauh dariku.’”Beliau melanjutkan, “Maka malaikat itu mengusap kulitnya hingga hilang dan berganti dengan warna dan kulit yang bagus. Lalu malaikat bertanya lagi, ‘Harta apa yang paling kamu sukai?’ Orang itu menjawab, ‘Unta.’ Perawi berkata, ‘Atau sapi’.” (Perawi ragu bahwa orang yang berpenyakit kusta ataukah yang berkepala botak. Yang satu berkata, “Unta” dan yang lainnya berkata, “Sapi.”)Baca Juga: Metode Beriman kepada Malaikat“Maka dia diberi unta yang bunting, lalu malaikat berkata, ‘Semoga pada unta itu ada keberkahan buatmu.’Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang berkepala botak dan bertanya kepadanya, ‘Apa yang paling kamu sukai?’ Orang ini menjawab, ‘Tumbuh rambut yang bagus dan penyakit ini pergi dariku karena sekarang ini manusia menjauh dariku.’”Beliau melanjutkan, “Maka malaikat itu mengusap kepala orang ini hingga hilang dan berganti dengan rambut yang bagus. Lalu malaikat bertanya lagi, ‘Harta apa yang paling kamu sukai?’ Orang itu menjawab, ‘Sapi.’ Maka dia diberi seekor sapi yang sedang bunting lalu malaikat berkata, ‘Semoga pada sapi itu ada keberkahan buatmu.’Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang buta lalu bertanya kepadanya, ‘Apa yang paling kamu sukai?’ Orang ini menjawab, ‘Seandainya Allah Ta’ala mengembalikan penglihatanku sehingga dengan penglihatan itu aku dapat melihat manusia.’ Beliau melanjutkan, ‘Maka malaikat itu mengusap mata orang ini hingga Allah Ta’ala mengembalikan penglihatannya.’ Lalu malaikat bertanya lagi, ‘Harta apa yang paling kamu sukai?’ Orang itu menjawab, ‘Kambing.’ Dia pun diberi seekor kambing yang bunting.Kedua orang yang pertama tadi hewan-hewannya berkembang biak dengan banyak begitu juga orang yang ketiga, masing-masing mereka memiliki lembah untuk menggembalakan unta-unta, lembah untuk menggembalakan sapi-sapi, dan lembah untuk menggembalakan kambing-kambing.Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang tadinya berpenyakit kusta dalam bentuk keadaan seperti orang yang berpenyakit kusta lalu berkata, ‘Saya orang miskin yang bekalku sudah habis dalam perjalananku ini dan tidak ada yang menyampaikan aku hidup hingga hari ini kecuali Allah Ta’ala. Maka aku memohon kepadamu demi orang yang telah memberimu warna dan kulit yang bagus berupa seekor unta, apakah kamu mau memberiku bekal agar aku dapat meneruskan perjalananku ini?’Maka orang ini berkata, ‘Sesungguhnya hak-hak sangat banyak (untuk aku tunaikan).’ Lalu malaikat bertanya kepadanya, ‘Sepertinya aku mengenal Anda. Bukankah kamu dahulu orang yang berpenyakit kusta dan manusia menjauhimu dan kamu dalam keadaan faqir lalu Allah Ta’ala memberimu harta?’Orang ini menjawab, ‘Aku memiliki ini semua dari harta warisan turun menurun.’ Maka malaikat berkata, ‘Seandainya kamu berdusta, semoga Allah Ta’ala mengembalikanmu kepada keadaanmu semula.’Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang dahulunya berkepala botak dalam bentuk keadaan orang yang berkepala botak, lalu malaikat berkata sebagaimana yang dikatakan kepada orang pertama tadi. Orang yang dahulunya berkepala botak ini menjawab seperti jawaban orang yang dahulunya berpenyakit kusta, lalu malaikat berkata, ‘Seandainya kamu berdusta, semoga Allah Ta’ala mengembalikanmu kepada keadaanmu semula.’Lalu malaikat mendatangi orang yang dahulunya buta dalam bentuk sebagai orang buta lalu berkata, ‘Saya orang miskin yang bekalku sudah habis dalam perjalananku ini dan tidak ada yang menyampaikan aku hidup hingga hari ini kecuali Allah Ta’ala. Maka aku memohon kepadamu demi Zat yang telah mengembalikan penglihatanmu berupa seekor kambing, apakah kamu mau memberiku bekal agar aku dapat meneruskan perjalananku ini?’Maka orang ini menjawab, ‘Dahulu aku adalah orang yang buta, lalu Allah Ta’ala mengembalikan penglihatanku. Aku juga seorang yang faqir, lalu Dia memberiku kecukupan. Karena itu, ambillah sesukamu. Demi Allah, aku tidak akan menghalangimu untuk mengambil sesuatu selama kamu mengambilnya karena Allah Ta’ala.’Maka malaikat itu berkata, ‘Tahan hartamu. Sesungguhnya kalian sedang diuji dan Allah Ta’ala telah rida kepadamu dan murka kepada kedua temanmu.’” (HR. Bukhari no. 3464)Hadis ini menunjukkan bahwa malaikat diberi kemampuan untuk berubah wujud menjadi bentuk manusia yang jelek (terkena penyakit).Baca Juga: Berapakah Jumlah Malaikat?Tidak boleh membahas bagaimanakah cara malaikat berubah wujudMeskipun kita mengetahui bahwa malaikat diberi kemampuan untuk berubah wujud, namun kita tidak boleh membahas, apalagi memikirkan dengan terlalu dalam, bagaimanakah cara malaikat berubah wujud. Tidak sebagaimana orang-orang ahlul kalam yang berdalam-dalam dalam membahas masalah ini. (Lihat Fathul Baari, 1: 21)Menurut ahlus sunnah, tidak boleh membahas bagaimanakah cara atau metode malaikat berubah wujud. Hal ini karena tidak ada dalil yang menjelaskan masalah tersebut, sehingga hal ini termasuk ilmu gaib yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.Abul ‘Abbas Al-Qurthubi rahimahullah berkata,“Membahas tentang cara perubahan wujud tersebut tidaklah menghasilkan apapun. Yang menjadi kewajiban kita adalah membenarkan dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut. Dan siapa saja yang mengingkari wujud malaikat, jin, dan kemampuan berubah wujudnya, maka dia kafir.” (Al-Mufhim, 6: 172)Manusia tidak mungkin melihat malaikat dalam wujud yang asliPerkara penting lainnya yang perlu ditegaskan adalah bahwa melihat malaikat dalam wujud yang asli sebagaimana yang Allah Ta’ala ciptakan itu hanya terjadi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga untuk selain beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, tidaklah mungkin melihat malaikat dalam wujud yang asli.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالُواْ لَوْلا أُنزِلَ عَلَيْهِ مَلَكٌ وَلَوْ أَنزَلْنَا مَلَكاً لَّقُضِيَ الأمْرُ ثُمَّ لاَ يُنظَرُونَ  ؛ وَلَوْ جَعَلْنَاهُ مَلَكاً لَّجَعَلْنَاهُ رَجُلاً وَلَلَبَسْنَا عَلَيْهِم مَّا يَلْبِسُونَ“Dan mereka berkata, ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) malaikat?’ Dan kalau Kami turunkan (kepadanya) malaikat, tentulah selesai urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikit pun). Dan kalau Kami jadikan rasul itu dari malaikat, tentulah Kami jadikan dia seorang laki-laki, dan (kalau Kami jadikan ia seorang laki-laki), tentulah Kami meragu-ragukan atas mereka apa yang mereka ragu-ragukan atas diri mereka sendiri.” (QS. Al-An’am [6]: 8-9)Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala katakan bahwa jika Allah mengutus rasul itu dari kalangan malaikat, bukan manusia, maka malaikat itu akan Allah jadikan dalam bentuk seorang lak-laki. Hal ini karena manusia tidak mampu melihat malaikat dalam wujud yang asli.Ibnu Qutaibah berkata menjelaskan maksud ayat di atas, “Allah Ta’ala maksudkan, jika Kami menurunkan malaikat, maka tidak akan bisa dijangkau oleh indera kalian. Karena panca indera manusia tidaklah bisa melihat hakikat wujud malaikat (yang asli). Maka Kami akan jadikan terlebih dulu malaikat itu dalam bentuk (manusia) laki-laki yang semisal dengan kalian agar kalian bisa melihatnya dan bisa memahami apa yang dikatakan.” (Ta’wil Mukhtalaful Hadits, hal. 402)[Selesai]Baca Juga:***@Rumah Kasongan, 23 Rabi’ul awwal 1442/ 30 Oktober 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Haqiqatul Malaikat karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 54-59. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui parantaraan kitab tersebut.

Apa Maksud Perkara Mukmin Itu Menakjubkan? – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Apa Maksud Perkara Mukmin Itu Menakjubkan? – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Maka dari itu, penulis rahimahullah mencantumkan hadits yang agung ini, yang mana Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin! … Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan.” “Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan,” yakni di setiap gerak-gerik orang mukmin adalah dari kebaikan menuju kebaikan lain. Bahkan dalam musibah yang menimpanya, begitu juga dengan bencana, rasa sakit, penyakit, kehilangan orang tercinta, dan lain sebagainya. Semua itu baik bagi seorang mukmin. Oleh sebab itu, hendaklah seorang mukmin memahami hadits ini dengan baik. Jika ia tertimpa musibah, maka hendaklah ia memahami bahwa itu baik untuknya. Itu baik untuk seorang mukmin, karena ia sedang dalam ibadah kepada Allah, atau dalam ujian yang mengandung nilai ibadah. Maka hendaklah ia berusaha menyempurnakan ibadah itu, sehingga ia dapat meraih pahala dan balasannya. Beliau bersabda, “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin! Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan ….” Kemudian beliau ‘alaihis shalatu wassalam menjelaskan faktor penyebab mengapa seluruh perkara orang mukmin adalah kebaikan. Beliau melanjutkan sabdanya, “… Jika ia mendapat kesenangan, ia akan bersyukur, sehingga itu baik baginya ….” Jika ia mendapat sesuatu yang menyenangkan, membahagiakan, kenikmatan, dan hal-hal lain yang mengundang kebahagian dan kesenangan dalam hatinya, maka ia akan menyikapinya dengan bersyukur kepada Allah sang pemberi nikmat, dan ia mengetahui bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, dan karunia berada di tangan Allah, Dia mengaruniakannya kepada yang Dia kehendaki. Dan Allah pemilik karunia yang agung. “… Dan jika ia tertimpa kesusahan, maka ia akan bersabar, sehingga itu juga baik baginya.” Yaitu, ia akan menyikapinya dengan sabar, sehingga ia dapat meraih pahala yang disiapkan bagi orang-orang sabar. Beliau melanjutkan, “… dan itu tidak dapat terjadi, kecuali pada orang mukmin.” Selain orang mukmin akan menyikapi kenikmatan yang didapat dengan kesombongan dan keangkuhan, dan menyikapi musibah dengan ketidakrelaan dan keluh kesah. Berbeda halnya dengan orang mukmin, seorang mukmin, dalam kebahagiaan ia bersyukur kepada Allah sang pemberi kenikmatan, dan dalam kesusahannya ia bersabar, sehingga ia beruntung dalam kedua keadaan itu. Pada keadaan pertama, ia beruntung dengan meraih pahala yang disiapkan bagi orang-orang yang bersyukur. Dan di keadaan kedua, ia beruntung dengan meraih pahala yang disiapkan bagi orang-orang sabar. =============================================================================== وَلِهَذَا أَوْرَدَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى هَذَا الْحَدِيثَ الْعَظِيمَ الَّذِي قَالَ فِيهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ يَعْنِي فِي جَمِيْعِ تَقَلُّبَاتِ الْمُؤْمِنِ هُوَ مِنْ خَيْرٍ إِلَى خَيْرٍ حَتَّى الْمَصَائِبِ الَّتِي تُصِيبُهُ وَالْفَوَاجِعِ وَالْآلَامِ وَالْأَمْرَاضِ وَفَقْدِ الْحَبِيْبِ وَإِلَى آخِرِهِ هَذِهِ كُلُّهَا خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ وَلِهَذَا يَنْبَغِي عَلَى الْمُؤْمِنِ أَنْ يَعِيَ جَيِّدًا هَذَا الْحَدِيثَ فَإِذَا أَصَابَتْهُ مُصِيْبَةٌ عَلَيْهِ أَنْ يَفْهَمَ أَنَّ هَذَا خَيْرٌ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ لِأَنَّهُ فِي عُبُودِيَّةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَوْ فِي ابْتِلَاءٍ لَهُ عُبُودِيَّتُهُ فَيَعْمَلُ عَلَى تَحْقِيقِ تِلْكَ الْعُبُودِيَّةِ لِيَفُوزَ بِثَوَابِهَا وَأَجْرِهَا قَالَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَبَيَّنَ ذَلِكَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَوْ بَيَّنَ وَجْهَ ذَلِكَ أَنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ قَالَ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ إِذَا أَصَابَهُ أَمْرٌ سَارٌّ مُفْرِحٌ نِعْمَةٌ أَشْيَاءُ أَدْخَلَتْ عَلَى قَلْبِهِ سُرُورًا فَرَحًا فَإِنَّه يَتَلَقَّاهَا بِشُكْرِ الْمُنْعِمِ وَيَعْلَمُ أَنَّهُ لَا حَوْلَ لَهُ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ وَأَنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ يَعْنِي يَتَلَقَّاهَا بِالصَّبْرِ فَيَفُوزُ بِثَوَابِ الصَّابِرِيْنَ قَالَ وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ غَيْرِ الْمُؤْمِنِ النِّعَمُ يَتَلَقَّاهَا بِالْبَطَرِ وَالْأَشَرِّ وَالْمَصَائِبُ يَتَلَقَّاهَا بِالسَّخَطِ وَالْجَزَعِ أَمَّا الْمُؤْمِنُ فَأَمْرُهُ آخَرُ فِي سَرَّائِهِ شَاكِرٌ لِلْمُنْعِمِ وَفِي ضَرَّائِهِ صَابِرٌ فَهُوَ فِي الْحَالَتَيْنِ فَائِزٌ فِي الْأُولَى فَائِزٌ فِيهَا بِثَوَابِ الشَّاكِرِيْنَ وَالثَّانِيَةِ فَائِزٌ فِيهَا بِثَوَابِ الصَّابِرِيْنَ        

Apa Maksud Perkara Mukmin Itu Menakjubkan? – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Apa Maksud Perkara Mukmin Itu Menakjubkan? – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Maka dari itu, penulis rahimahullah mencantumkan hadits yang agung ini, yang mana Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin! … Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan.” “Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan,” yakni di setiap gerak-gerik orang mukmin adalah dari kebaikan menuju kebaikan lain. Bahkan dalam musibah yang menimpanya, begitu juga dengan bencana, rasa sakit, penyakit, kehilangan orang tercinta, dan lain sebagainya. Semua itu baik bagi seorang mukmin. Oleh sebab itu, hendaklah seorang mukmin memahami hadits ini dengan baik. Jika ia tertimpa musibah, maka hendaklah ia memahami bahwa itu baik untuknya. Itu baik untuk seorang mukmin, karena ia sedang dalam ibadah kepada Allah, atau dalam ujian yang mengandung nilai ibadah. Maka hendaklah ia berusaha menyempurnakan ibadah itu, sehingga ia dapat meraih pahala dan balasannya. Beliau bersabda, “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin! Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan ….” Kemudian beliau ‘alaihis shalatu wassalam menjelaskan faktor penyebab mengapa seluruh perkara orang mukmin adalah kebaikan. Beliau melanjutkan sabdanya, “… Jika ia mendapat kesenangan, ia akan bersyukur, sehingga itu baik baginya ….” Jika ia mendapat sesuatu yang menyenangkan, membahagiakan, kenikmatan, dan hal-hal lain yang mengundang kebahagian dan kesenangan dalam hatinya, maka ia akan menyikapinya dengan bersyukur kepada Allah sang pemberi nikmat, dan ia mengetahui bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, dan karunia berada di tangan Allah, Dia mengaruniakannya kepada yang Dia kehendaki. Dan Allah pemilik karunia yang agung. “… Dan jika ia tertimpa kesusahan, maka ia akan bersabar, sehingga itu juga baik baginya.” Yaitu, ia akan menyikapinya dengan sabar, sehingga ia dapat meraih pahala yang disiapkan bagi orang-orang sabar. Beliau melanjutkan, “… dan itu tidak dapat terjadi, kecuali pada orang mukmin.” Selain orang mukmin akan menyikapi kenikmatan yang didapat dengan kesombongan dan keangkuhan, dan menyikapi musibah dengan ketidakrelaan dan keluh kesah. Berbeda halnya dengan orang mukmin, seorang mukmin, dalam kebahagiaan ia bersyukur kepada Allah sang pemberi kenikmatan, dan dalam kesusahannya ia bersabar, sehingga ia beruntung dalam kedua keadaan itu. Pada keadaan pertama, ia beruntung dengan meraih pahala yang disiapkan bagi orang-orang yang bersyukur. Dan di keadaan kedua, ia beruntung dengan meraih pahala yang disiapkan bagi orang-orang sabar. =============================================================================== وَلِهَذَا أَوْرَدَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى هَذَا الْحَدِيثَ الْعَظِيمَ الَّذِي قَالَ فِيهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ يَعْنِي فِي جَمِيْعِ تَقَلُّبَاتِ الْمُؤْمِنِ هُوَ مِنْ خَيْرٍ إِلَى خَيْرٍ حَتَّى الْمَصَائِبِ الَّتِي تُصِيبُهُ وَالْفَوَاجِعِ وَالْآلَامِ وَالْأَمْرَاضِ وَفَقْدِ الْحَبِيْبِ وَإِلَى آخِرِهِ هَذِهِ كُلُّهَا خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ وَلِهَذَا يَنْبَغِي عَلَى الْمُؤْمِنِ أَنْ يَعِيَ جَيِّدًا هَذَا الْحَدِيثَ فَإِذَا أَصَابَتْهُ مُصِيْبَةٌ عَلَيْهِ أَنْ يَفْهَمَ أَنَّ هَذَا خَيْرٌ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ لِأَنَّهُ فِي عُبُودِيَّةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَوْ فِي ابْتِلَاءٍ لَهُ عُبُودِيَّتُهُ فَيَعْمَلُ عَلَى تَحْقِيقِ تِلْكَ الْعُبُودِيَّةِ لِيَفُوزَ بِثَوَابِهَا وَأَجْرِهَا قَالَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَبَيَّنَ ذَلِكَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَوْ بَيَّنَ وَجْهَ ذَلِكَ أَنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ قَالَ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ إِذَا أَصَابَهُ أَمْرٌ سَارٌّ مُفْرِحٌ نِعْمَةٌ أَشْيَاءُ أَدْخَلَتْ عَلَى قَلْبِهِ سُرُورًا فَرَحًا فَإِنَّه يَتَلَقَّاهَا بِشُكْرِ الْمُنْعِمِ وَيَعْلَمُ أَنَّهُ لَا حَوْلَ لَهُ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ وَأَنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ يَعْنِي يَتَلَقَّاهَا بِالصَّبْرِ فَيَفُوزُ بِثَوَابِ الصَّابِرِيْنَ قَالَ وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ غَيْرِ الْمُؤْمِنِ النِّعَمُ يَتَلَقَّاهَا بِالْبَطَرِ وَالْأَشَرِّ وَالْمَصَائِبُ يَتَلَقَّاهَا بِالسَّخَطِ وَالْجَزَعِ أَمَّا الْمُؤْمِنُ فَأَمْرُهُ آخَرُ فِي سَرَّائِهِ شَاكِرٌ لِلْمُنْعِمِ وَفِي ضَرَّائِهِ صَابِرٌ فَهُوَ فِي الْحَالَتَيْنِ فَائِزٌ فِي الْأُولَى فَائِزٌ فِيهَا بِثَوَابِ الشَّاكِرِيْنَ وَالثَّانِيَةِ فَائِزٌ فِيهَا بِثَوَابِ الصَّابِرِيْنَ        
Apa Maksud Perkara Mukmin Itu Menakjubkan? – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Maka dari itu, penulis rahimahullah mencantumkan hadits yang agung ini, yang mana Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin! … Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan.” “Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan,” yakni di setiap gerak-gerik orang mukmin adalah dari kebaikan menuju kebaikan lain. Bahkan dalam musibah yang menimpanya, begitu juga dengan bencana, rasa sakit, penyakit, kehilangan orang tercinta, dan lain sebagainya. Semua itu baik bagi seorang mukmin. Oleh sebab itu, hendaklah seorang mukmin memahami hadits ini dengan baik. Jika ia tertimpa musibah, maka hendaklah ia memahami bahwa itu baik untuknya. Itu baik untuk seorang mukmin, karena ia sedang dalam ibadah kepada Allah, atau dalam ujian yang mengandung nilai ibadah. Maka hendaklah ia berusaha menyempurnakan ibadah itu, sehingga ia dapat meraih pahala dan balasannya. Beliau bersabda, “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin! Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan ….” Kemudian beliau ‘alaihis shalatu wassalam menjelaskan faktor penyebab mengapa seluruh perkara orang mukmin adalah kebaikan. Beliau melanjutkan sabdanya, “… Jika ia mendapat kesenangan, ia akan bersyukur, sehingga itu baik baginya ….” Jika ia mendapat sesuatu yang menyenangkan, membahagiakan, kenikmatan, dan hal-hal lain yang mengundang kebahagian dan kesenangan dalam hatinya, maka ia akan menyikapinya dengan bersyukur kepada Allah sang pemberi nikmat, dan ia mengetahui bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, dan karunia berada di tangan Allah, Dia mengaruniakannya kepada yang Dia kehendaki. Dan Allah pemilik karunia yang agung. “… Dan jika ia tertimpa kesusahan, maka ia akan bersabar, sehingga itu juga baik baginya.” Yaitu, ia akan menyikapinya dengan sabar, sehingga ia dapat meraih pahala yang disiapkan bagi orang-orang sabar. Beliau melanjutkan, “… dan itu tidak dapat terjadi, kecuali pada orang mukmin.” Selain orang mukmin akan menyikapi kenikmatan yang didapat dengan kesombongan dan keangkuhan, dan menyikapi musibah dengan ketidakrelaan dan keluh kesah. Berbeda halnya dengan orang mukmin, seorang mukmin, dalam kebahagiaan ia bersyukur kepada Allah sang pemberi kenikmatan, dan dalam kesusahannya ia bersabar, sehingga ia beruntung dalam kedua keadaan itu. Pada keadaan pertama, ia beruntung dengan meraih pahala yang disiapkan bagi orang-orang yang bersyukur. Dan di keadaan kedua, ia beruntung dengan meraih pahala yang disiapkan bagi orang-orang sabar. =============================================================================== وَلِهَذَا أَوْرَدَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى هَذَا الْحَدِيثَ الْعَظِيمَ الَّذِي قَالَ فِيهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ يَعْنِي فِي جَمِيْعِ تَقَلُّبَاتِ الْمُؤْمِنِ هُوَ مِنْ خَيْرٍ إِلَى خَيْرٍ حَتَّى الْمَصَائِبِ الَّتِي تُصِيبُهُ وَالْفَوَاجِعِ وَالْآلَامِ وَالْأَمْرَاضِ وَفَقْدِ الْحَبِيْبِ وَإِلَى آخِرِهِ هَذِهِ كُلُّهَا خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ وَلِهَذَا يَنْبَغِي عَلَى الْمُؤْمِنِ أَنْ يَعِيَ جَيِّدًا هَذَا الْحَدِيثَ فَإِذَا أَصَابَتْهُ مُصِيْبَةٌ عَلَيْهِ أَنْ يَفْهَمَ أَنَّ هَذَا خَيْرٌ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ لِأَنَّهُ فِي عُبُودِيَّةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَوْ فِي ابْتِلَاءٍ لَهُ عُبُودِيَّتُهُ فَيَعْمَلُ عَلَى تَحْقِيقِ تِلْكَ الْعُبُودِيَّةِ لِيَفُوزَ بِثَوَابِهَا وَأَجْرِهَا قَالَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَبَيَّنَ ذَلِكَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَوْ بَيَّنَ وَجْهَ ذَلِكَ أَنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ قَالَ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ إِذَا أَصَابَهُ أَمْرٌ سَارٌّ مُفْرِحٌ نِعْمَةٌ أَشْيَاءُ أَدْخَلَتْ عَلَى قَلْبِهِ سُرُورًا فَرَحًا فَإِنَّه يَتَلَقَّاهَا بِشُكْرِ الْمُنْعِمِ وَيَعْلَمُ أَنَّهُ لَا حَوْلَ لَهُ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ وَأَنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ يَعْنِي يَتَلَقَّاهَا بِالصَّبْرِ فَيَفُوزُ بِثَوَابِ الصَّابِرِيْنَ قَالَ وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ غَيْرِ الْمُؤْمِنِ النِّعَمُ يَتَلَقَّاهَا بِالْبَطَرِ وَالْأَشَرِّ وَالْمَصَائِبُ يَتَلَقَّاهَا بِالسَّخَطِ وَالْجَزَعِ أَمَّا الْمُؤْمِنُ فَأَمْرُهُ آخَرُ فِي سَرَّائِهِ شَاكِرٌ لِلْمُنْعِمِ وَفِي ضَرَّائِهِ صَابِرٌ فَهُوَ فِي الْحَالَتَيْنِ فَائِزٌ فِي الْأُولَى فَائِزٌ فِيهَا بِثَوَابِ الشَّاكِرِيْنَ وَالثَّانِيَةِ فَائِزٌ فِيهَا بِثَوَابِ الصَّابِرِيْنَ        


Apa Maksud Perkara Mukmin Itu Menakjubkan? – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Maka dari itu, penulis rahimahullah mencantumkan hadits yang agung ini, yang mana Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin! … Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan.” “Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan,” yakni di setiap gerak-gerik orang mukmin adalah dari kebaikan menuju kebaikan lain. Bahkan dalam musibah yang menimpanya, begitu juga dengan bencana, rasa sakit, penyakit, kehilangan orang tercinta, dan lain sebagainya. Semua itu baik bagi seorang mukmin. Oleh sebab itu, hendaklah seorang mukmin memahami hadits ini dengan baik. Jika ia tertimpa musibah, maka hendaklah ia memahami bahwa itu baik untuknya. Itu baik untuk seorang mukmin, karena ia sedang dalam ibadah kepada Allah, atau dalam ujian yang mengandung nilai ibadah. Maka hendaklah ia berusaha menyempurnakan ibadah itu, sehingga ia dapat meraih pahala dan balasannya. Beliau bersabda, “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin! Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan ….” Kemudian beliau ‘alaihis shalatu wassalam menjelaskan faktor penyebab mengapa seluruh perkara orang mukmin adalah kebaikan. Beliau melanjutkan sabdanya, “… Jika ia mendapat kesenangan, ia akan bersyukur, sehingga itu baik baginya ….” Jika ia mendapat sesuatu yang menyenangkan, membahagiakan, kenikmatan, dan hal-hal lain yang mengundang kebahagian dan kesenangan dalam hatinya, maka ia akan menyikapinya dengan bersyukur kepada Allah sang pemberi nikmat, dan ia mengetahui bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, dan karunia berada di tangan Allah, Dia mengaruniakannya kepada yang Dia kehendaki. Dan Allah pemilik karunia yang agung. “… Dan jika ia tertimpa kesusahan, maka ia akan bersabar, sehingga itu juga baik baginya.” Yaitu, ia akan menyikapinya dengan sabar, sehingga ia dapat meraih pahala yang disiapkan bagi orang-orang sabar. Beliau melanjutkan, “… dan itu tidak dapat terjadi, kecuali pada orang mukmin.” Selain orang mukmin akan menyikapi kenikmatan yang didapat dengan kesombongan dan keangkuhan, dan menyikapi musibah dengan ketidakrelaan dan keluh kesah. Berbeda halnya dengan orang mukmin, seorang mukmin, dalam kebahagiaan ia bersyukur kepada Allah sang pemberi kenikmatan, dan dalam kesusahannya ia bersabar, sehingga ia beruntung dalam kedua keadaan itu. Pada keadaan pertama, ia beruntung dengan meraih pahala yang disiapkan bagi orang-orang yang bersyukur. Dan di keadaan kedua, ia beruntung dengan meraih pahala yang disiapkan bagi orang-orang sabar. =============================================================================== وَلِهَذَا أَوْرَدَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى هَذَا الْحَدِيثَ الْعَظِيمَ الَّذِي قَالَ فِيهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ يَعْنِي فِي جَمِيْعِ تَقَلُّبَاتِ الْمُؤْمِنِ هُوَ مِنْ خَيْرٍ إِلَى خَيْرٍ حَتَّى الْمَصَائِبِ الَّتِي تُصِيبُهُ وَالْفَوَاجِعِ وَالْآلَامِ وَالْأَمْرَاضِ وَفَقْدِ الْحَبِيْبِ وَإِلَى آخِرِهِ هَذِهِ كُلُّهَا خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ وَلِهَذَا يَنْبَغِي عَلَى الْمُؤْمِنِ أَنْ يَعِيَ جَيِّدًا هَذَا الْحَدِيثَ فَإِذَا أَصَابَتْهُ مُصِيْبَةٌ عَلَيْهِ أَنْ يَفْهَمَ أَنَّ هَذَا خَيْرٌ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ لِأَنَّهُ فِي عُبُودِيَّةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَوْ فِي ابْتِلَاءٍ لَهُ عُبُودِيَّتُهُ فَيَعْمَلُ عَلَى تَحْقِيقِ تِلْكَ الْعُبُودِيَّةِ لِيَفُوزَ بِثَوَابِهَا وَأَجْرِهَا قَالَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَبَيَّنَ ذَلِكَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَوْ بَيَّنَ وَجْهَ ذَلِكَ أَنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ قَالَ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ إِذَا أَصَابَهُ أَمْرٌ سَارٌّ مُفْرِحٌ نِعْمَةٌ أَشْيَاءُ أَدْخَلَتْ عَلَى قَلْبِهِ سُرُورًا فَرَحًا فَإِنَّه يَتَلَقَّاهَا بِشُكْرِ الْمُنْعِمِ وَيَعْلَمُ أَنَّهُ لَا حَوْلَ لَهُ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ وَأَنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ يَعْنِي يَتَلَقَّاهَا بِالصَّبْرِ فَيَفُوزُ بِثَوَابِ الصَّابِرِيْنَ قَالَ وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ غَيْرِ الْمُؤْمِنِ النِّعَمُ يَتَلَقَّاهَا بِالْبَطَرِ وَالْأَشَرِّ وَالْمَصَائِبُ يَتَلَقَّاهَا بِالسَّخَطِ وَالْجَزَعِ أَمَّا الْمُؤْمِنُ فَأَمْرُهُ آخَرُ فِي سَرَّائِهِ شَاكِرٌ لِلْمُنْعِمِ وَفِي ضَرَّائِهِ صَابِرٌ فَهُوَ فِي الْحَالَتَيْنِ فَائِزٌ فِي الْأُولَى فَائِزٌ فِيهَا بِثَوَابِ الشَّاكِرِيْنَ وَالثَّانِيَةِ فَائِزٌ فِيهَا بِثَوَابِ الصَّابِرِيْنَ        

Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 7)

Baca selengkapnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 6)Bismillah.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata,“Maka apabila kamu telah mengetahui bahwa apabila syirik itu mencampuri ibadah, akan membuat ibadah itu menjadi rusak dan menghapuskan amalan serta pelakunya menjadi kelompok orang-orang yang kekal di dalam neraka, maka kamu akan mengetahui bahwasanya sesuatu yang terpenting bagimu adalah mengenali hal itu (syirik). Mudah-mudahan Allah membebaskanmu dari perangkap ini yaitu syirik kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan mengampuni apa-apa yang berada di bawah tingkatan itu bagi siapa yang Dia kehendaki’ (QS. An-Nisa: 48).”PenjelasanDari apa yang telah disampaikan oleh penulis di sini, banyak hal yang bisa kita petik. Di antaranya adalah kita akan memahami bahwa rusaknya ibadah merupakan perkara yang sangat dikhawatirkan oleh para ulama. Perusak-perusak ibadah inilah yang akan membuat amal kebaikan menjadi terbang sia-sia, bahkan membuahkan malapetaka. Syirik tidaklah diragukan menjadi sebab kehinaan dan kehancuran manusia. Allah berfirman,إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu sedikit pun penolong” (QS. Al-Ma’idah: 72).Kita wajib merasa takut terjerumus dalam perbuatan syirik. Apalagi syirik itu tidak hanya sesuatu yang bersifat lahiriyah dalam bentuk ucapan dan perbuatan anggota badan. Sebab ada juga syirik dalam bentuk amalan hati yang tidak tampak alias perkara batin. Di antara yang paling dikhawatirkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menimpa para sahabatnya adalah syirik kecil seperti riyā’. Riya’ adalah beramal saleh, namun dengan harapan mendapatkan pujian dan sanjungan manusia. Oleh sebab itu, sebagian ulama salaf mengatakan, bahwa hakikat ikhlas adalah melupakan pandangan makhluk dengan senantiasa melihat kepada penilaian Allah Al-Khaliq.Dan demikianlah sifat dari orang-orang yang beriman yang tidak ingin amalnya sia-sia dan ibadahnya hancur akibat dosa-dosa hati. Ibnu Abi Mulaikah Rahimahullah -seorang tabiin- mengatakan, “Aku telah bertemu dengan tiga puluh orang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam; dalam keadaan mereka semua khawatir dirinya tertimpa kemunafikan. Tidak seorang pun dari mereka yang mengatakan bahwa imannya sejajar dengan imannya Jibril dan Mikail.”Iman adalah kekayaan paling berharga bagi seorang muslim. Tanpa iman, hidup tidak akan terasa nyaman. Tanpa iman, hidup akan sengsara. Tanpa iman, detik demi detik yang dijalani hanya akan menghasilkan kerugian di dunia dan di akhirat. Sementara tauhid adalah pokok keimanan. Tanpa tauhid, iman lenyap. Karena syirik, iman dan tauhid akan hancur lebur. Allah berfirman,وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا“Dan Kami hadapi segala amal yang dahulu mereka kerjakan lantas Kami pun menjadikannya bagaikan debu-debu yang beterbangan” (QS. Al-Furqan: 23).Baca Juga: 6 Pilar Aqidah dan ManhajMembersihkan diri dari kotoran syirik merupakan bentuk penyucian jiwa yang paling utama. Karena itulah dakwah para nabi dan rasul di sepanjang masa selalu memprioritaskan pembenahan akidah dan pemurnian ibadah kepada Allah. Dengan demikian, sebagai seorang muslim kita wajib mengenal berbagai bentuk kesyirikan dalam rangka menghindari dan menjaga diri darinya. Sebagaimana dikatakan oleh orang Arab bahwa, “Aku kenali keburukan bukan untuk melakukannya, tetapi untuk menjaga diri. Barangsiapa tidak mengenali mana yang buruk dan mana yang baik, niscaya dia akan jatuh pada keburukan tanpa dia sadari.”Syekh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak Hafizhahullah berkata, “Apabila telah dimaklumi bahwasanya salat yang tercampuri dengan hadas, maka hal itu membatalkannya; demikian pula halnya ibadah yang tercampuri syirik, itu juga akan merusak ibadah. Seperti halnya hadas yang mencampuri taharah, hal itu membatalkannya. Akan tetapi, apabila syirik yang dilakukan itu termasuk syirik akbar, ia akan membatalkan semua ibadah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ“Sungguh jika kamu berbuat syirik, pasti akan lenyap seluruh amalmu.” (QS. Az-Zumar: 65).Dan juga firman-Nya,وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka berbuat syirik, niscaya lenyap seluruh amal yang pernah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88).Adapun apabila ia tergolong syirik ashghar, akibatnya adalah menghapuskan amal yang tercampuri dengan riyā’ saja dan tidaklah menghapuskan amal-amal yang lain yang dikerjakan dengan ikhlas karena Allah” (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syekh al-Barrak, hal. 11).Syekh Zaid bin Hadi al-Madkhali Rahimahullah berkata, “Setiap amal yang dipersembahkan oleh orang tanpa dibarengi tauhid atau pelakunya terjerumus dalam syirik, maka hal itu tidak ada harganya dan tidak memiliki nilai sama sekali untuk selamanya. Karena ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah (yang benar pent.) tanpa tauhid. Apabila tidak disertai tauhid, bagaimana pun seorang berusaha keras dalam melakukan sesuatu yang tampilannya adalah ibadah seperti bersedekah, memberikan pinjaman, dermawan, suka membantu, berbuat baik kepada orang, dan lain sebagainya, padahal dia telah kehilangan tauhid dalam dirinya, maka orang semacam ini termasuk dalam kandungan firman Allah ‘Azza wa jalla,وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا“Kami teliti segala sesuatu yang telah mereka amalkan -di dunia- kemudian Kami jadikan ia laksana debu yang beterbangan” (QS. Al-Furqan: 23).” (Lihat Abraz al-Fawa’id min al-Arba’ al-Qawa’id, hal. 11).Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah berkata, “Apabila seorang mukmin mengetahui bahwa apabila tauhid itu tercampuri syirik, hal itu akan merusak tauhid sebagaimana hadas merusak taharah, maka dia pun mengerti bahwa dirinya harus mengenali hakikat tauhid dan hakikat syirik. Supaya dia tidak terjerumus dalam syirik. Karena syirik itulah yang akan menghapuskan tauhid dan agamanya. Karena (hakikat) agama Allah dan hakikat ajaran Islam adalah tauhid. Tauhid inilah petunjuk yang sebenarnya. Apabila dia melakukan salah satu bentuk kesyirikan itu, maka Islamnya menjadi batal dan agamanya lenyap …” (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah, hal. 11).Baca Juga: Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Kunci keberuntunganSyekh Abdul Muhsin al-‘Abbad Hafizhahullah berkata, “… perkara paling agung yang diserukan oleh Nabi kepada umatnya adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Dan perkara terbesar yang beliau larang umat darinya adalah mempersekutukan bersama-Nya sesuatu apapun dalam hal ibadah. Beliau telah mengumumkan hal itu ketika pertama kali beliau diangkat sebagai rasul oleh Allah, yaitu ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Wahai manusia! Ucapkanlah laa ilaha illallah niscaya kalian beruntung.’ (HR. Ahmad dengan sanad sahih, hadis no. 16603)…” (lihat Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 4: 362)Bukanlah yang dimaksud semata-mata mengucapkan laa ilaha illallah dengan lisan tanpa memahami maknanya. Anda harus mempelajari apa makna laa ilaha illallah. Adapun apabila Anda mengucapkannya sementara Anda tidak mengetahui maknanya, maka Anda tidak bisa meyakini apa yang terkandung di dalamnya. Sebab bagaimana mungkin Anda meyakini sesuatu yang Anda sendiri tidak mengerti tentangnya. Oleh sebab itu, Anda harus mengetahui maknanya sehingga bisa meyakininya. Anda yakini dengan hati apa-apa yang Anda ucapkan dengan lisan. Wajib bagi Anda untuk mempelajari makna laa ilaha illallah. Adapun sekedar mengucapkan dengan lisan tanpa memahami maknanya, maka hal ini tidak berfaidah sama sekali (lihat keterangan Syekh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam Syarh Tafsir Kalimat Tauhid, hal. 10-11).Kaum musyrikin di masa silam memahami bahwa laa ilaha illallah menuntut untuk meninggalkan segala sesembahan selain Allah. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada kaum kafir Quraisy, “Ucapkanlah laa ilaha illallah.” Maka mereka mengatakan,أَجَعَلَ ٱلْءَالِهَةَ إِلَٰهًا وَٰحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَىْءٌ عُجَابٌ“Apakah dia -Muhammad- hendak menjadikan sesembahan-sesembahan ini menjadi satu sesembahan saja, sesungguhnya hal ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan.” (QS. Shaad: 5) (HR. Ahmad).Syekh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah berkata, “Mereka memahami bahwasanya kalimat ini menuntut dihapuskannya peribadatan kepada segala berhala dan membatasi ibadah itu hanya untuk Allah saja, sedangkan mereka tidak menghendaki hal itu. Jelaslah dengan makna ini bahwa makna dan konsekuensi dari laa ilaha illallah adalah mengesakan Allah dalam beribadah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya” (lihat Ma’na Laa Ilaha Illallah, hal. 31).Kalimat laa ilaha illallah mewajibkan setiap muslim untuk beribadah kepada Allah dan meninggalkan segala bentuk perbuatan syirik. Inilah yang tidak dikehendaki oleh orang-orang musyrik kala itu. Allah berfirman,إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ يَسۡتَكۡبِرُونَ (٣٥) وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۢ (٣٦)“Sesungguhnya mereka itu dahulu ketika dikatakan kepada mereka laa ilaha illallah, mereka menyombongkan diri. Mereka pun mengatakan, ‘Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair yang gila’” (QS. ash-Shaffat: 35-36).Baca Juga: Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan TauhidBerpegang-teguh dengan kalimat tauhid ini adalah dengan mengingkari segala sesembahan selain Allah (thaghut) dan beribadah kepada Allah semata. Sebagaimana firman-Nya,فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Maka barangsiapa yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya dia telah berpegang-teguh dengan buhul tali yang paling kuat dan tidak akan terputus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. al-Baqarah: 256).Buhul tali yang paling kuat atau al-‘Urwatul Wutsqa yang dimaksud dalam ayat ini mengandung banyak makna. Mujahid menafsirkannya dengan iman. As-Suddi menafsirkan bahwa maksudnya adalah Islam. Sa’id bin Jubair dan adh-Dhahhak menafsirkan bahwa maksudnya adalah kalimat laa ilaha illallah. Anas bin Malik menafsirkan maksudnya adalah al-Qur’an. Salim bin Abil Ja’d menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menyimpulkan, “Semua pendapat ini adalah benar dan tidak bertentangan satu sama lain.” (Lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 1: 684).Kalimat tauhid ini pula yang disebut sebagai kalimatun sawaa’ atau kalimat yang adil. Sebagaimana yang Allah perintahkan,قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ“Katakanlah; Wahai ahli kitab, marilah kami ajak kalian kepada suatu kalimat yang adil antara kami dengan kalian…” (QS. Ali ‘Imran : 64) (lihat Syahadat an Laa Ilaha Illallah karya Syekh Dr. Shalih Sindi Hafizhahullah, hal. 33).Orang yang paling berbahagia dengan syafaat oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kelak pada hari kiamat adalah yang ikhlas dalam mengucapkan kalimat tauhid ini. Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku adalah orang yang mengucapkan laa ilaha illallah ikhlas dari hati atau jiwanya” (HR. Bukhari).Oleh sebab itu, kalimat tauhid yang diwujudkan dalam kehidupan menjadi sebab keberuntungan. Inilah yang diserukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam namun justru ditolak oleh kaum musyrik. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ucapkanlah laa ilaha illallah, niscaya kalian akan beruntung …” (HR. Ahmad dan sanadnya dinyatakan jayyid oleh al-Albani dalam Sahih Sirah) (lihat Syahadat an Laa Ilaha Illallah, hal. 35).Ilmu tentang makna dan konsekuensi kalimat tauhid inilah yang menjadi sebab keselamatan dari azab neraka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa meninggal dalam keadaan mengetahui (berilmu) bahwasanya tidak ada ilah/ sesembahan yang haqq selain Allah, niscaya dia masuk surga” (HR. Muslim).Orang yang mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang haqq kecuali Allah, niscaya dia akan meninggalkan segala bentuk kemusyrikan. Adapun mereka yang mati dalam keadaan berbuat syirik akbar atau tidak bertaubat darinya, niscaya dia masuk neraka dan kekal di dalamnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa meninggal dalam keadaan berdoa/beribadah kepada tandingan/sesembahan selain Allah, dia masuk neraka” (HR. Bukhari).Kenali hakikat agama IslamBeribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, inilah makna tauhid. Adapun beribadah kepada Allah tanpa meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, ini bukanlah tauhid. Orang-orang musyrik beribadah kepada Allah, akan tetapi mereka juga beribadah kepada selain-Nya. Sehingga dengan sebab itulah mereka tergolong sebagai orang musyrik. Maka bukanlah yang terpenting itu adalah seseorang beribadah kepada Allah, itu saja. Akan tetapi, yang terpenting ialah beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Kalau tidak seperti itu, dia tidak dikatakan sebagai hamba yang beribadah kepada Allah. Bahkan dia juga tidak menjadi seorang muwahhid/ahli tauhid. Orang yang melakukan salat, puasa, dan haji tetapi dia tidak meninggalkan ibadah kepada selain Allah, maka dia bukanlah muslim (lihat keterangan Syekh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah dalam I’anatul Mustafid, 1: 38-39).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena Islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah, sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya, dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik, bertentangan dengan Islam. Oleh sebab itulah pokok ajaran Islam adalah syahadat laa ilaha illallah. Syahadat mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلْإِسْلَٰمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ‘Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi’ (QS. Ali ‘Imran: 85).” (Lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30).Ibnu Taimiyah Rahimahullah juga berkata, “Banyak orang yang mengidap riyā’ dan ujub. Riyā’ termasuk mempersekutukan Allah dengan makhluk. Adapun ujub adalah bentuk mempersekutukan Allah dengan diri sendiri. Dan inilah kondisi orang yang sombong. Seseorang yang riyā’ berarti tidak melaksanakan kandungan ayat iyyaka na’budu. Adapun orang yang ujub, dia tidak mewujudkan kandungan ayat iyyaka nasta’in. Barangsiapa yang mewujudkan maksud ayat iyyaka na’budu, maka dia terbebas dari riyā’. Dan barangsiapa yang berhasil mewujudkan maksud ayat iyyaka nasta’in, maka dia akan terbebas dari ujub” (lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 83).Syekh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah berkata, “Di dalam kalimat ‘iyyaka na’budu’ terkandung tauhid uluhiyah, yaitu mengesakan Allah dengan perbuatan-perbuatan hamba yang disyariatkan oleh Allah untuk mereka. Hal ini karena uluhiyah bermakna ibadah. Dan ibadah itu adalah bagian dari perbuatan hamba. Adapun ‘wa iyyaka nasta’in’ mengandung tauhid rububiyah. Karena pertolongan adalah salah satu perbuatan Rabb Yang Maha Suci. Dan tauhid rububiyah itu adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 195).Semua ayat yang membicarakan tentang perbuatan-perbuatan Allah, itu tercakup dalam tauhid rububiyah. Dan semua ayat yang membicarakan tentang ibadah, perintah untuk beribadah dan ajakan kepadanya, maka itu mengandung tauhid uluhiyah. Dan semua ayat yang membicarakan tentang nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka itu mengandung tauhid asma’ wa shifat (lihat at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘alal ‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 29 oleh al-Fauzan).Demikian catatan yang bisa kami rangkum dalam kesempatan ini dengan kemudahan yang Allah berikan. Semoga bermanfaat bagi kita semuanya. Wallahul muwaffiq.Baca Juga:***Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Cadar, Fadhilah Sholat Subuh, Cover Majalah Islam, Artikel Bacaan Yasin Fadilah, Yaumul Bidh

Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 7)

Baca selengkapnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 6)Bismillah.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata,“Maka apabila kamu telah mengetahui bahwa apabila syirik itu mencampuri ibadah, akan membuat ibadah itu menjadi rusak dan menghapuskan amalan serta pelakunya menjadi kelompok orang-orang yang kekal di dalam neraka, maka kamu akan mengetahui bahwasanya sesuatu yang terpenting bagimu adalah mengenali hal itu (syirik). Mudah-mudahan Allah membebaskanmu dari perangkap ini yaitu syirik kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan mengampuni apa-apa yang berada di bawah tingkatan itu bagi siapa yang Dia kehendaki’ (QS. An-Nisa: 48).”PenjelasanDari apa yang telah disampaikan oleh penulis di sini, banyak hal yang bisa kita petik. Di antaranya adalah kita akan memahami bahwa rusaknya ibadah merupakan perkara yang sangat dikhawatirkan oleh para ulama. Perusak-perusak ibadah inilah yang akan membuat amal kebaikan menjadi terbang sia-sia, bahkan membuahkan malapetaka. Syirik tidaklah diragukan menjadi sebab kehinaan dan kehancuran manusia. Allah berfirman,إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu sedikit pun penolong” (QS. Al-Ma’idah: 72).Kita wajib merasa takut terjerumus dalam perbuatan syirik. Apalagi syirik itu tidak hanya sesuatu yang bersifat lahiriyah dalam bentuk ucapan dan perbuatan anggota badan. Sebab ada juga syirik dalam bentuk amalan hati yang tidak tampak alias perkara batin. Di antara yang paling dikhawatirkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menimpa para sahabatnya adalah syirik kecil seperti riyā’. Riya’ adalah beramal saleh, namun dengan harapan mendapatkan pujian dan sanjungan manusia. Oleh sebab itu, sebagian ulama salaf mengatakan, bahwa hakikat ikhlas adalah melupakan pandangan makhluk dengan senantiasa melihat kepada penilaian Allah Al-Khaliq.Dan demikianlah sifat dari orang-orang yang beriman yang tidak ingin amalnya sia-sia dan ibadahnya hancur akibat dosa-dosa hati. Ibnu Abi Mulaikah Rahimahullah -seorang tabiin- mengatakan, “Aku telah bertemu dengan tiga puluh orang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam; dalam keadaan mereka semua khawatir dirinya tertimpa kemunafikan. Tidak seorang pun dari mereka yang mengatakan bahwa imannya sejajar dengan imannya Jibril dan Mikail.”Iman adalah kekayaan paling berharga bagi seorang muslim. Tanpa iman, hidup tidak akan terasa nyaman. Tanpa iman, hidup akan sengsara. Tanpa iman, detik demi detik yang dijalani hanya akan menghasilkan kerugian di dunia dan di akhirat. Sementara tauhid adalah pokok keimanan. Tanpa tauhid, iman lenyap. Karena syirik, iman dan tauhid akan hancur lebur. Allah berfirman,وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا“Dan Kami hadapi segala amal yang dahulu mereka kerjakan lantas Kami pun menjadikannya bagaikan debu-debu yang beterbangan” (QS. Al-Furqan: 23).Baca Juga: 6 Pilar Aqidah dan ManhajMembersihkan diri dari kotoran syirik merupakan bentuk penyucian jiwa yang paling utama. Karena itulah dakwah para nabi dan rasul di sepanjang masa selalu memprioritaskan pembenahan akidah dan pemurnian ibadah kepada Allah. Dengan demikian, sebagai seorang muslim kita wajib mengenal berbagai bentuk kesyirikan dalam rangka menghindari dan menjaga diri darinya. Sebagaimana dikatakan oleh orang Arab bahwa, “Aku kenali keburukan bukan untuk melakukannya, tetapi untuk menjaga diri. Barangsiapa tidak mengenali mana yang buruk dan mana yang baik, niscaya dia akan jatuh pada keburukan tanpa dia sadari.”Syekh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak Hafizhahullah berkata, “Apabila telah dimaklumi bahwasanya salat yang tercampuri dengan hadas, maka hal itu membatalkannya; demikian pula halnya ibadah yang tercampuri syirik, itu juga akan merusak ibadah. Seperti halnya hadas yang mencampuri taharah, hal itu membatalkannya. Akan tetapi, apabila syirik yang dilakukan itu termasuk syirik akbar, ia akan membatalkan semua ibadah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ“Sungguh jika kamu berbuat syirik, pasti akan lenyap seluruh amalmu.” (QS. Az-Zumar: 65).Dan juga firman-Nya,وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka berbuat syirik, niscaya lenyap seluruh amal yang pernah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88).Adapun apabila ia tergolong syirik ashghar, akibatnya adalah menghapuskan amal yang tercampuri dengan riyā’ saja dan tidaklah menghapuskan amal-amal yang lain yang dikerjakan dengan ikhlas karena Allah” (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syekh al-Barrak, hal. 11).Syekh Zaid bin Hadi al-Madkhali Rahimahullah berkata, “Setiap amal yang dipersembahkan oleh orang tanpa dibarengi tauhid atau pelakunya terjerumus dalam syirik, maka hal itu tidak ada harganya dan tidak memiliki nilai sama sekali untuk selamanya. Karena ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah (yang benar pent.) tanpa tauhid. Apabila tidak disertai tauhid, bagaimana pun seorang berusaha keras dalam melakukan sesuatu yang tampilannya adalah ibadah seperti bersedekah, memberikan pinjaman, dermawan, suka membantu, berbuat baik kepada orang, dan lain sebagainya, padahal dia telah kehilangan tauhid dalam dirinya, maka orang semacam ini termasuk dalam kandungan firman Allah ‘Azza wa jalla,وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا“Kami teliti segala sesuatu yang telah mereka amalkan -di dunia- kemudian Kami jadikan ia laksana debu yang beterbangan” (QS. Al-Furqan: 23).” (Lihat Abraz al-Fawa’id min al-Arba’ al-Qawa’id, hal. 11).Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah berkata, “Apabila seorang mukmin mengetahui bahwa apabila tauhid itu tercampuri syirik, hal itu akan merusak tauhid sebagaimana hadas merusak taharah, maka dia pun mengerti bahwa dirinya harus mengenali hakikat tauhid dan hakikat syirik. Supaya dia tidak terjerumus dalam syirik. Karena syirik itulah yang akan menghapuskan tauhid dan agamanya. Karena (hakikat) agama Allah dan hakikat ajaran Islam adalah tauhid. Tauhid inilah petunjuk yang sebenarnya. Apabila dia melakukan salah satu bentuk kesyirikan itu, maka Islamnya menjadi batal dan agamanya lenyap …” (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah, hal. 11).Baca Juga: Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Kunci keberuntunganSyekh Abdul Muhsin al-‘Abbad Hafizhahullah berkata, “… perkara paling agung yang diserukan oleh Nabi kepada umatnya adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Dan perkara terbesar yang beliau larang umat darinya adalah mempersekutukan bersama-Nya sesuatu apapun dalam hal ibadah. Beliau telah mengumumkan hal itu ketika pertama kali beliau diangkat sebagai rasul oleh Allah, yaitu ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Wahai manusia! Ucapkanlah laa ilaha illallah niscaya kalian beruntung.’ (HR. Ahmad dengan sanad sahih, hadis no. 16603)…” (lihat Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 4: 362)Bukanlah yang dimaksud semata-mata mengucapkan laa ilaha illallah dengan lisan tanpa memahami maknanya. Anda harus mempelajari apa makna laa ilaha illallah. Adapun apabila Anda mengucapkannya sementara Anda tidak mengetahui maknanya, maka Anda tidak bisa meyakini apa yang terkandung di dalamnya. Sebab bagaimana mungkin Anda meyakini sesuatu yang Anda sendiri tidak mengerti tentangnya. Oleh sebab itu, Anda harus mengetahui maknanya sehingga bisa meyakininya. Anda yakini dengan hati apa-apa yang Anda ucapkan dengan lisan. Wajib bagi Anda untuk mempelajari makna laa ilaha illallah. Adapun sekedar mengucapkan dengan lisan tanpa memahami maknanya, maka hal ini tidak berfaidah sama sekali (lihat keterangan Syekh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam Syarh Tafsir Kalimat Tauhid, hal. 10-11).Kaum musyrikin di masa silam memahami bahwa laa ilaha illallah menuntut untuk meninggalkan segala sesembahan selain Allah. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada kaum kafir Quraisy, “Ucapkanlah laa ilaha illallah.” Maka mereka mengatakan,أَجَعَلَ ٱلْءَالِهَةَ إِلَٰهًا وَٰحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَىْءٌ عُجَابٌ“Apakah dia -Muhammad- hendak menjadikan sesembahan-sesembahan ini menjadi satu sesembahan saja, sesungguhnya hal ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan.” (QS. Shaad: 5) (HR. Ahmad).Syekh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah berkata, “Mereka memahami bahwasanya kalimat ini menuntut dihapuskannya peribadatan kepada segala berhala dan membatasi ibadah itu hanya untuk Allah saja, sedangkan mereka tidak menghendaki hal itu. Jelaslah dengan makna ini bahwa makna dan konsekuensi dari laa ilaha illallah adalah mengesakan Allah dalam beribadah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya” (lihat Ma’na Laa Ilaha Illallah, hal. 31).Kalimat laa ilaha illallah mewajibkan setiap muslim untuk beribadah kepada Allah dan meninggalkan segala bentuk perbuatan syirik. Inilah yang tidak dikehendaki oleh orang-orang musyrik kala itu. Allah berfirman,إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ يَسۡتَكۡبِرُونَ (٣٥) وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۢ (٣٦)“Sesungguhnya mereka itu dahulu ketika dikatakan kepada mereka laa ilaha illallah, mereka menyombongkan diri. Mereka pun mengatakan, ‘Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair yang gila’” (QS. ash-Shaffat: 35-36).Baca Juga: Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan TauhidBerpegang-teguh dengan kalimat tauhid ini adalah dengan mengingkari segala sesembahan selain Allah (thaghut) dan beribadah kepada Allah semata. Sebagaimana firman-Nya,فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Maka barangsiapa yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya dia telah berpegang-teguh dengan buhul tali yang paling kuat dan tidak akan terputus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. al-Baqarah: 256).Buhul tali yang paling kuat atau al-‘Urwatul Wutsqa yang dimaksud dalam ayat ini mengandung banyak makna. Mujahid menafsirkannya dengan iman. As-Suddi menafsirkan bahwa maksudnya adalah Islam. Sa’id bin Jubair dan adh-Dhahhak menafsirkan bahwa maksudnya adalah kalimat laa ilaha illallah. Anas bin Malik menafsirkan maksudnya adalah al-Qur’an. Salim bin Abil Ja’d menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menyimpulkan, “Semua pendapat ini adalah benar dan tidak bertentangan satu sama lain.” (Lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 1: 684).Kalimat tauhid ini pula yang disebut sebagai kalimatun sawaa’ atau kalimat yang adil. Sebagaimana yang Allah perintahkan,قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ“Katakanlah; Wahai ahli kitab, marilah kami ajak kalian kepada suatu kalimat yang adil antara kami dengan kalian…” (QS. Ali ‘Imran : 64) (lihat Syahadat an Laa Ilaha Illallah karya Syekh Dr. Shalih Sindi Hafizhahullah, hal. 33).Orang yang paling berbahagia dengan syafaat oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kelak pada hari kiamat adalah yang ikhlas dalam mengucapkan kalimat tauhid ini. Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku adalah orang yang mengucapkan laa ilaha illallah ikhlas dari hati atau jiwanya” (HR. Bukhari).Oleh sebab itu, kalimat tauhid yang diwujudkan dalam kehidupan menjadi sebab keberuntungan. Inilah yang diserukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam namun justru ditolak oleh kaum musyrik. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ucapkanlah laa ilaha illallah, niscaya kalian akan beruntung …” (HR. Ahmad dan sanadnya dinyatakan jayyid oleh al-Albani dalam Sahih Sirah) (lihat Syahadat an Laa Ilaha Illallah, hal. 35).Ilmu tentang makna dan konsekuensi kalimat tauhid inilah yang menjadi sebab keselamatan dari azab neraka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa meninggal dalam keadaan mengetahui (berilmu) bahwasanya tidak ada ilah/ sesembahan yang haqq selain Allah, niscaya dia masuk surga” (HR. Muslim).Orang yang mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang haqq kecuali Allah, niscaya dia akan meninggalkan segala bentuk kemusyrikan. Adapun mereka yang mati dalam keadaan berbuat syirik akbar atau tidak bertaubat darinya, niscaya dia masuk neraka dan kekal di dalamnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa meninggal dalam keadaan berdoa/beribadah kepada tandingan/sesembahan selain Allah, dia masuk neraka” (HR. Bukhari).Kenali hakikat agama IslamBeribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, inilah makna tauhid. Adapun beribadah kepada Allah tanpa meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, ini bukanlah tauhid. Orang-orang musyrik beribadah kepada Allah, akan tetapi mereka juga beribadah kepada selain-Nya. Sehingga dengan sebab itulah mereka tergolong sebagai orang musyrik. Maka bukanlah yang terpenting itu adalah seseorang beribadah kepada Allah, itu saja. Akan tetapi, yang terpenting ialah beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Kalau tidak seperti itu, dia tidak dikatakan sebagai hamba yang beribadah kepada Allah. Bahkan dia juga tidak menjadi seorang muwahhid/ahli tauhid. Orang yang melakukan salat, puasa, dan haji tetapi dia tidak meninggalkan ibadah kepada selain Allah, maka dia bukanlah muslim (lihat keterangan Syekh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah dalam I’anatul Mustafid, 1: 38-39).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena Islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah, sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya, dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik, bertentangan dengan Islam. Oleh sebab itulah pokok ajaran Islam adalah syahadat laa ilaha illallah. Syahadat mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلْإِسْلَٰمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ‘Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi’ (QS. Ali ‘Imran: 85).” (Lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30).Ibnu Taimiyah Rahimahullah juga berkata, “Banyak orang yang mengidap riyā’ dan ujub. Riyā’ termasuk mempersekutukan Allah dengan makhluk. Adapun ujub adalah bentuk mempersekutukan Allah dengan diri sendiri. Dan inilah kondisi orang yang sombong. Seseorang yang riyā’ berarti tidak melaksanakan kandungan ayat iyyaka na’budu. Adapun orang yang ujub, dia tidak mewujudkan kandungan ayat iyyaka nasta’in. Barangsiapa yang mewujudkan maksud ayat iyyaka na’budu, maka dia terbebas dari riyā’. Dan barangsiapa yang berhasil mewujudkan maksud ayat iyyaka nasta’in, maka dia akan terbebas dari ujub” (lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 83).Syekh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah berkata, “Di dalam kalimat ‘iyyaka na’budu’ terkandung tauhid uluhiyah, yaitu mengesakan Allah dengan perbuatan-perbuatan hamba yang disyariatkan oleh Allah untuk mereka. Hal ini karena uluhiyah bermakna ibadah. Dan ibadah itu adalah bagian dari perbuatan hamba. Adapun ‘wa iyyaka nasta’in’ mengandung tauhid rububiyah. Karena pertolongan adalah salah satu perbuatan Rabb Yang Maha Suci. Dan tauhid rububiyah itu adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 195).Semua ayat yang membicarakan tentang perbuatan-perbuatan Allah, itu tercakup dalam tauhid rububiyah. Dan semua ayat yang membicarakan tentang ibadah, perintah untuk beribadah dan ajakan kepadanya, maka itu mengandung tauhid uluhiyah. Dan semua ayat yang membicarakan tentang nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka itu mengandung tauhid asma’ wa shifat (lihat at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘alal ‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 29 oleh al-Fauzan).Demikian catatan yang bisa kami rangkum dalam kesempatan ini dengan kemudahan yang Allah berikan. Semoga bermanfaat bagi kita semuanya. Wallahul muwaffiq.Baca Juga:***Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Cadar, Fadhilah Sholat Subuh, Cover Majalah Islam, Artikel Bacaan Yasin Fadilah, Yaumul Bidh
Baca selengkapnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 6)Bismillah.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata,“Maka apabila kamu telah mengetahui bahwa apabila syirik itu mencampuri ibadah, akan membuat ibadah itu menjadi rusak dan menghapuskan amalan serta pelakunya menjadi kelompok orang-orang yang kekal di dalam neraka, maka kamu akan mengetahui bahwasanya sesuatu yang terpenting bagimu adalah mengenali hal itu (syirik). Mudah-mudahan Allah membebaskanmu dari perangkap ini yaitu syirik kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan mengampuni apa-apa yang berada di bawah tingkatan itu bagi siapa yang Dia kehendaki’ (QS. An-Nisa: 48).”PenjelasanDari apa yang telah disampaikan oleh penulis di sini, banyak hal yang bisa kita petik. Di antaranya adalah kita akan memahami bahwa rusaknya ibadah merupakan perkara yang sangat dikhawatirkan oleh para ulama. Perusak-perusak ibadah inilah yang akan membuat amal kebaikan menjadi terbang sia-sia, bahkan membuahkan malapetaka. Syirik tidaklah diragukan menjadi sebab kehinaan dan kehancuran manusia. Allah berfirman,إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu sedikit pun penolong” (QS. Al-Ma’idah: 72).Kita wajib merasa takut terjerumus dalam perbuatan syirik. Apalagi syirik itu tidak hanya sesuatu yang bersifat lahiriyah dalam bentuk ucapan dan perbuatan anggota badan. Sebab ada juga syirik dalam bentuk amalan hati yang tidak tampak alias perkara batin. Di antara yang paling dikhawatirkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menimpa para sahabatnya adalah syirik kecil seperti riyā’. Riya’ adalah beramal saleh, namun dengan harapan mendapatkan pujian dan sanjungan manusia. Oleh sebab itu, sebagian ulama salaf mengatakan, bahwa hakikat ikhlas adalah melupakan pandangan makhluk dengan senantiasa melihat kepada penilaian Allah Al-Khaliq.Dan demikianlah sifat dari orang-orang yang beriman yang tidak ingin amalnya sia-sia dan ibadahnya hancur akibat dosa-dosa hati. Ibnu Abi Mulaikah Rahimahullah -seorang tabiin- mengatakan, “Aku telah bertemu dengan tiga puluh orang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam; dalam keadaan mereka semua khawatir dirinya tertimpa kemunafikan. Tidak seorang pun dari mereka yang mengatakan bahwa imannya sejajar dengan imannya Jibril dan Mikail.”Iman adalah kekayaan paling berharga bagi seorang muslim. Tanpa iman, hidup tidak akan terasa nyaman. Tanpa iman, hidup akan sengsara. Tanpa iman, detik demi detik yang dijalani hanya akan menghasilkan kerugian di dunia dan di akhirat. Sementara tauhid adalah pokok keimanan. Tanpa tauhid, iman lenyap. Karena syirik, iman dan tauhid akan hancur lebur. Allah berfirman,وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا“Dan Kami hadapi segala amal yang dahulu mereka kerjakan lantas Kami pun menjadikannya bagaikan debu-debu yang beterbangan” (QS. Al-Furqan: 23).Baca Juga: 6 Pilar Aqidah dan ManhajMembersihkan diri dari kotoran syirik merupakan bentuk penyucian jiwa yang paling utama. Karena itulah dakwah para nabi dan rasul di sepanjang masa selalu memprioritaskan pembenahan akidah dan pemurnian ibadah kepada Allah. Dengan demikian, sebagai seorang muslim kita wajib mengenal berbagai bentuk kesyirikan dalam rangka menghindari dan menjaga diri darinya. Sebagaimana dikatakan oleh orang Arab bahwa, “Aku kenali keburukan bukan untuk melakukannya, tetapi untuk menjaga diri. Barangsiapa tidak mengenali mana yang buruk dan mana yang baik, niscaya dia akan jatuh pada keburukan tanpa dia sadari.”Syekh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak Hafizhahullah berkata, “Apabila telah dimaklumi bahwasanya salat yang tercampuri dengan hadas, maka hal itu membatalkannya; demikian pula halnya ibadah yang tercampuri syirik, itu juga akan merusak ibadah. Seperti halnya hadas yang mencampuri taharah, hal itu membatalkannya. Akan tetapi, apabila syirik yang dilakukan itu termasuk syirik akbar, ia akan membatalkan semua ibadah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ“Sungguh jika kamu berbuat syirik, pasti akan lenyap seluruh amalmu.” (QS. Az-Zumar: 65).Dan juga firman-Nya,وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka berbuat syirik, niscaya lenyap seluruh amal yang pernah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88).Adapun apabila ia tergolong syirik ashghar, akibatnya adalah menghapuskan amal yang tercampuri dengan riyā’ saja dan tidaklah menghapuskan amal-amal yang lain yang dikerjakan dengan ikhlas karena Allah” (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syekh al-Barrak, hal. 11).Syekh Zaid bin Hadi al-Madkhali Rahimahullah berkata, “Setiap amal yang dipersembahkan oleh orang tanpa dibarengi tauhid atau pelakunya terjerumus dalam syirik, maka hal itu tidak ada harganya dan tidak memiliki nilai sama sekali untuk selamanya. Karena ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah (yang benar pent.) tanpa tauhid. Apabila tidak disertai tauhid, bagaimana pun seorang berusaha keras dalam melakukan sesuatu yang tampilannya adalah ibadah seperti bersedekah, memberikan pinjaman, dermawan, suka membantu, berbuat baik kepada orang, dan lain sebagainya, padahal dia telah kehilangan tauhid dalam dirinya, maka orang semacam ini termasuk dalam kandungan firman Allah ‘Azza wa jalla,وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا“Kami teliti segala sesuatu yang telah mereka amalkan -di dunia- kemudian Kami jadikan ia laksana debu yang beterbangan” (QS. Al-Furqan: 23).” (Lihat Abraz al-Fawa’id min al-Arba’ al-Qawa’id, hal. 11).Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah berkata, “Apabila seorang mukmin mengetahui bahwa apabila tauhid itu tercampuri syirik, hal itu akan merusak tauhid sebagaimana hadas merusak taharah, maka dia pun mengerti bahwa dirinya harus mengenali hakikat tauhid dan hakikat syirik. Supaya dia tidak terjerumus dalam syirik. Karena syirik itulah yang akan menghapuskan tauhid dan agamanya. Karena (hakikat) agama Allah dan hakikat ajaran Islam adalah tauhid. Tauhid inilah petunjuk yang sebenarnya. Apabila dia melakukan salah satu bentuk kesyirikan itu, maka Islamnya menjadi batal dan agamanya lenyap …” (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah, hal. 11).Baca Juga: Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Kunci keberuntunganSyekh Abdul Muhsin al-‘Abbad Hafizhahullah berkata, “… perkara paling agung yang diserukan oleh Nabi kepada umatnya adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Dan perkara terbesar yang beliau larang umat darinya adalah mempersekutukan bersama-Nya sesuatu apapun dalam hal ibadah. Beliau telah mengumumkan hal itu ketika pertama kali beliau diangkat sebagai rasul oleh Allah, yaitu ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Wahai manusia! Ucapkanlah laa ilaha illallah niscaya kalian beruntung.’ (HR. Ahmad dengan sanad sahih, hadis no. 16603)…” (lihat Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 4: 362)Bukanlah yang dimaksud semata-mata mengucapkan laa ilaha illallah dengan lisan tanpa memahami maknanya. Anda harus mempelajari apa makna laa ilaha illallah. Adapun apabila Anda mengucapkannya sementara Anda tidak mengetahui maknanya, maka Anda tidak bisa meyakini apa yang terkandung di dalamnya. Sebab bagaimana mungkin Anda meyakini sesuatu yang Anda sendiri tidak mengerti tentangnya. Oleh sebab itu, Anda harus mengetahui maknanya sehingga bisa meyakininya. Anda yakini dengan hati apa-apa yang Anda ucapkan dengan lisan. Wajib bagi Anda untuk mempelajari makna laa ilaha illallah. Adapun sekedar mengucapkan dengan lisan tanpa memahami maknanya, maka hal ini tidak berfaidah sama sekali (lihat keterangan Syekh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam Syarh Tafsir Kalimat Tauhid, hal. 10-11).Kaum musyrikin di masa silam memahami bahwa laa ilaha illallah menuntut untuk meninggalkan segala sesembahan selain Allah. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada kaum kafir Quraisy, “Ucapkanlah laa ilaha illallah.” Maka mereka mengatakan,أَجَعَلَ ٱلْءَالِهَةَ إِلَٰهًا وَٰحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَىْءٌ عُجَابٌ“Apakah dia -Muhammad- hendak menjadikan sesembahan-sesembahan ini menjadi satu sesembahan saja, sesungguhnya hal ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan.” (QS. Shaad: 5) (HR. Ahmad).Syekh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah berkata, “Mereka memahami bahwasanya kalimat ini menuntut dihapuskannya peribadatan kepada segala berhala dan membatasi ibadah itu hanya untuk Allah saja, sedangkan mereka tidak menghendaki hal itu. Jelaslah dengan makna ini bahwa makna dan konsekuensi dari laa ilaha illallah adalah mengesakan Allah dalam beribadah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya” (lihat Ma’na Laa Ilaha Illallah, hal. 31).Kalimat laa ilaha illallah mewajibkan setiap muslim untuk beribadah kepada Allah dan meninggalkan segala bentuk perbuatan syirik. Inilah yang tidak dikehendaki oleh orang-orang musyrik kala itu. Allah berfirman,إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ يَسۡتَكۡبِرُونَ (٣٥) وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۢ (٣٦)“Sesungguhnya mereka itu dahulu ketika dikatakan kepada mereka laa ilaha illallah, mereka menyombongkan diri. Mereka pun mengatakan, ‘Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair yang gila’” (QS. ash-Shaffat: 35-36).Baca Juga: Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan TauhidBerpegang-teguh dengan kalimat tauhid ini adalah dengan mengingkari segala sesembahan selain Allah (thaghut) dan beribadah kepada Allah semata. Sebagaimana firman-Nya,فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Maka barangsiapa yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya dia telah berpegang-teguh dengan buhul tali yang paling kuat dan tidak akan terputus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. al-Baqarah: 256).Buhul tali yang paling kuat atau al-‘Urwatul Wutsqa yang dimaksud dalam ayat ini mengandung banyak makna. Mujahid menafsirkannya dengan iman. As-Suddi menafsirkan bahwa maksudnya adalah Islam. Sa’id bin Jubair dan adh-Dhahhak menafsirkan bahwa maksudnya adalah kalimat laa ilaha illallah. Anas bin Malik menafsirkan maksudnya adalah al-Qur’an. Salim bin Abil Ja’d menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menyimpulkan, “Semua pendapat ini adalah benar dan tidak bertentangan satu sama lain.” (Lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 1: 684).Kalimat tauhid ini pula yang disebut sebagai kalimatun sawaa’ atau kalimat yang adil. Sebagaimana yang Allah perintahkan,قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ“Katakanlah; Wahai ahli kitab, marilah kami ajak kalian kepada suatu kalimat yang adil antara kami dengan kalian…” (QS. Ali ‘Imran : 64) (lihat Syahadat an Laa Ilaha Illallah karya Syekh Dr. Shalih Sindi Hafizhahullah, hal. 33).Orang yang paling berbahagia dengan syafaat oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kelak pada hari kiamat adalah yang ikhlas dalam mengucapkan kalimat tauhid ini. Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku adalah orang yang mengucapkan laa ilaha illallah ikhlas dari hati atau jiwanya” (HR. Bukhari).Oleh sebab itu, kalimat tauhid yang diwujudkan dalam kehidupan menjadi sebab keberuntungan. Inilah yang diserukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam namun justru ditolak oleh kaum musyrik. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ucapkanlah laa ilaha illallah, niscaya kalian akan beruntung …” (HR. Ahmad dan sanadnya dinyatakan jayyid oleh al-Albani dalam Sahih Sirah) (lihat Syahadat an Laa Ilaha Illallah, hal. 35).Ilmu tentang makna dan konsekuensi kalimat tauhid inilah yang menjadi sebab keselamatan dari azab neraka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa meninggal dalam keadaan mengetahui (berilmu) bahwasanya tidak ada ilah/ sesembahan yang haqq selain Allah, niscaya dia masuk surga” (HR. Muslim).Orang yang mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang haqq kecuali Allah, niscaya dia akan meninggalkan segala bentuk kemusyrikan. Adapun mereka yang mati dalam keadaan berbuat syirik akbar atau tidak bertaubat darinya, niscaya dia masuk neraka dan kekal di dalamnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa meninggal dalam keadaan berdoa/beribadah kepada tandingan/sesembahan selain Allah, dia masuk neraka” (HR. Bukhari).Kenali hakikat agama IslamBeribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, inilah makna tauhid. Adapun beribadah kepada Allah tanpa meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, ini bukanlah tauhid. Orang-orang musyrik beribadah kepada Allah, akan tetapi mereka juga beribadah kepada selain-Nya. Sehingga dengan sebab itulah mereka tergolong sebagai orang musyrik. Maka bukanlah yang terpenting itu adalah seseorang beribadah kepada Allah, itu saja. Akan tetapi, yang terpenting ialah beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Kalau tidak seperti itu, dia tidak dikatakan sebagai hamba yang beribadah kepada Allah. Bahkan dia juga tidak menjadi seorang muwahhid/ahli tauhid. Orang yang melakukan salat, puasa, dan haji tetapi dia tidak meninggalkan ibadah kepada selain Allah, maka dia bukanlah muslim (lihat keterangan Syekh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah dalam I’anatul Mustafid, 1: 38-39).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena Islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah, sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya, dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik, bertentangan dengan Islam. Oleh sebab itulah pokok ajaran Islam adalah syahadat laa ilaha illallah. Syahadat mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلْإِسْلَٰمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ‘Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi’ (QS. Ali ‘Imran: 85).” (Lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30).Ibnu Taimiyah Rahimahullah juga berkata, “Banyak orang yang mengidap riyā’ dan ujub. Riyā’ termasuk mempersekutukan Allah dengan makhluk. Adapun ujub adalah bentuk mempersekutukan Allah dengan diri sendiri. Dan inilah kondisi orang yang sombong. Seseorang yang riyā’ berarti tidak melaksanakan kandungan ayat iyyaka na’budu. Adapun orang yang ujub, dia tidak mewujudkan kandungan ayat iyyaka nasta’in. Barangsiapa yang mewujudkan maksud ayat iyyaka na’budu, maka dia terbebas dari riyā’. Dan barangsiapa yang berhasil mewujudkan maksud ayat iyyaka nasta’in, maka dia akan terbebas dari ujub” (lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 83).Syekh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah berkata, “Di dalam kalimat ‘iyyaka na’budu’ terkandung tauhid uluhiyah, yaitu mengesakan Allah dengan perbuatan-perbuatan hamba yang disyariatkan oleh Allah untuk mereka. Hal ini karena uluhiyah bermakna ibadah. Dan ibadah itu adalah bagian dari perbuatan hamba. Adapun ‘wa iyyaka nasta’in’ mengandung tauhid rububiyah. Karena pertolongan adalah salah satu perbuatan Rabb Yang Maha Suci. Dan tauhid rububiyah itu adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 195).Semua ayat yang membicarakan tentang perbuatan-perbuatan Allah, itu tercakup dalam tauhid rububiyah. Dan semua ayat yang membicarakan tentang ibadah, perintah untuk beribadah dan ajakan kepadanya, maka itu mengandung tauhid uluhiyah. Dan semua ayat yang membicarakan tentang nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka itu mengandung tauhid asma’ wa shifat (lihat at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘alal ‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 29 oleh al-Fauzan).Demikian catatan yang bisa kami rangkum dalam kesempatan ini dengan kemudahan yang Allah berikan. Semoga bermanfaat bagi kita semuanya. Wallahul muwaffiq.Baca Juga:***Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Cadar, Fadhilah Sholat Subuh, Cover Majalah Islam, Artikel Bacaan Yasin Fadilah, Yaumul Bidh


Baca selengkapnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 6)Bismillah.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata,“Maka apabila kamu telah mengetahui bahwa apabila syirik itu mencampuri ibadah, akan membuat ibadah itu menjadi rusak dan menghapuskan amalan serta pelakunya menjadi kelompok orang-orang yang kekal di dalam neraka, maka kamu akan mengetahui bahwasanya sesuatu yang terpenting bagimu adalah mengenali hal itu (syirik). Mudah-mudahan Allah membebaskanmu dari perangkap ini yaitu syirik kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan mengampuni apa-apa yang berada di bawah tingkatan itu bagi siapa yang Dia kehendaki’ (QS. An-Nisa: 48).”PenjelasanDari apa yang telah disampaikan oleh penulis di sini, banyak hal yang bisa kita petik. Di antaranya adalah kita akan memahami bahwa rusaknya ibadah merupakan perkara yang sangat dikhawatirkan oleh para ulama. Perusak-perusak ibadah inilah yang akan membuat amal kebaikan menjadi terbang sia-sia, bahkan membuahkan malapetaka. Syirik tidaklah diragukan menjadi sebab kehinaan dan kehancuran manusia. Allah berfirman,إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu sedikit pun penolong” (QS. Al-Ma’idah: 72).Kita wajib merasa takut terjerumus dalam perbuatan syirik. Apalagi syirik itu tidak hanya sesuatu yang bersifat lahiriyah dalam bentuk ucapan dan perbuatan anggota badan. Sebab ada juga syirik dalam bentuk amalan hati yang tidak tampak alias perkara batin. Di antara yang paling dikhawatirkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menimpa para sahabatnya adalah syirik kecil seperti riyā’. Riya’ adalah beramal saleh, namun dengan harapan mendapatkan pujian dan sanjungan manusia. Oleh sebab itu, sebagian ulama salaf mengatakan, bahwa hakikat ikhlas adalah melupakan pandangan makhluk dengan senantiasa melihat kepada penilaian Allah Al-Khaliq.Dan demikianlah sifat dari orang-orang yang beriman yang tidak ingin amalnya sia-sia dan ibadahnya hancur akibat dosa-dosa hati. Ibnu Abi Mulaikah Rahimahullah -seorang tabiin- mengatakan, “Aku telah bertemu dengan tiga puluh orang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam; dalam keadaan mereka semua khawatir dirinya tertimpa kemunafikan. Tidak seorang pun dari mereka yang mengatakan bahwa imannya sejajar dengan imannya Jibril dan Mikail.”Iman adalah kekayaan paling berharga bagi seorang muslim. Tanpa iman, hidup tidak akan terasa nyaman. Tanpa iman, hidup akan sengsara. Tanpa iman, detik demi detik yang dijalani hanya akan menghasilkan kerugian di dunia dan di akhirat. Sementara tauhid adalah pokok keimanan. Tanpa tauhid, iman lenyap. Karena syirik, iman dan tauhid akan hancur lebur. Allah berfirman,وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا“Dan Kami hadapi segala amal yang dahulu mereka kerjakan lantas Kami pun menjadikannya bagaikan debu-debu yang beterbangan” (QS. Al-Furqan: 23).Baca Juga: 6 Pilar Aqidah dan ManhajMembersihkan diri dari kotoran syirik merupakan bentuk penyucian jiwa yang paling utama. Karena itulah dakwah para nabi dan rasul di sepanjang masa selalu memprioritaskan pembenahan akidah dan pemurnian ibadah kepada Allah. Dengan demikian, sebagai seorang muslim kita wajib mengenal berbagai bentuk kesyirikan dalam rangka menghindari dan menjaga diri darinya. Sebagaimana dikatakan oleh orang Arab bahwa, “Aku kenali keburukan bukan untuk melakukannya, tetapi untuk menjaga diri. Barangsiapa tidak mengenali mana yang buruk dan mana yang baik, niscaya dia akan jatuh pada keburukan tanpa dia sadari.”Syekh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak Hafizhahullah berkata, “Apabila telah dimaklumi bahwasanya salat yang tercampuri dengan hadas, maka hal itu membatalkannya; demikian pula halnya ibadah yang tercampuri syirik, itu juga akan merusak ibadah. Seperti halnya hadas yang mencampuri taharah, hal itu membatalkannya. Akan tetapi, apabila syirik yang dilakukan itu termasuk syirik akbar, ia akan membatalkan semua ibadah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ“Sungguh jika kamu berbuat syirik, pasti akan lenyap seluruh amalmu.” (QS. Az-Zumar: 65).Dan juga firman-Nya,وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka berbuat syirik, niscaya lenyap seluruh amal yang pernah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88).Adapun apabila ia tergolong syirik ashghar, akibatnya adalah menghapuskan amal yang tercampuri dengan riyā’ saja dan tidaklah menghapuskan amal-amal yang lain yang dikerjakan dengan ikhlas karena Allah” (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syekh al-Barrak, hal. 11).Syekh Zaid bin Hadi al-Madkhali Rahimahullah berkata, “Setiap amal yang dipersembahkan oleh orang tanpa dibarengi tauhid atau pelakunya terjerumus dalam syirik, maka hal itu tidak ada harganya dan tidak memiliki nilai sama sekali untuk selamanya. Karena ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah (yang benar pent.) tanpa tauhid. Apabila tidak disertai tauhid, bagaimana pun seorang berusaha keras dalam melakukan sesuatu yang tampilannya adalah ibadah seperti bersedekah, memberikan pinjaman, dermawan, suka membantu, berbuat baik kepada orang, dan lain sebagainya, padahal dia telah kehilangan tauhid dalam dirinya, maka orang semacam ini termasuk dalam kandungan firman Allah ‘Azza wa jalla,وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا“Kami teliti segala sesuatu yang telah mereka amalkan -di dunia- kemudian Kami jadikan ia laksana debu yang beterbangan” (QS. Al-Furqan: 23).” (Lihat Abraz al-Fawa’id min al-Arba’ al-Qawa’id, hal. 11).Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah berkata, “Apabila seorang mukmin mengetahui bahwa apabila tauhid itu tercampuri syirik, hal itu akan merusak tauhid sebagaimana hadas merusak taharah, maka dia pun mengerti bahwa dirinya harus mengenali hakikat tauhid dan hakikat syirik. Supaya dia tidak terjerumus dalam syirik. Karena syirik itulah yang akan menghapuskan tauhid dan agamanya. Karena (hakikat) agama Allah dan hakikat ajaran Islam adalah tauhid. Tauhid inilah petunjuk yang sebenarnya. Apabila dia melakukan salah satu bentuk kesyirikan itu, maka Islamnya menjadi batal dan agamanya lenyap …” (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah, hal. 11).Baca Juga: Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Kunci keberuntunganSyekh Abdul Muhsin al-‘Abbad Hafizhahullah berkata, “… perkara paling agung yang diserukan oleh Nabi kepada umatnya adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Dan perkara terbesar yang beliau larang umat darinya adalah mempersekutukan bersama-Nya sesuatu apapun dalam hal ibadah. Beliau telah mengumumkan hal itu ketika pertama kali beliau diangkat sebagai rasul oleh Allah, yaitu ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Wahai manusia! Ucapkanlah laa ilaha illallah niscaya kalian beruntung.’ (HR. Ahmad dengan sanad sahih, hadis no. 16603)…” (lihat Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 4: 362)Bukanlah yang dimaksud semata-mata mengucapkan laa ilaha illallah dengan lisan tanpa memahami maknanya. Anda harus mempelajari apa makna laa ilaha illallah. Adapun apabila Anda mengucapkannya sementara Anda tidak mengetahui maknanya, maka Anda tidak bisa meyakini apa yang terkandung di dalamnya. Sebab bagaimana mungkin Anda meyakini sesuatu yang Anda sendiri tidak mengerti tentangnya. Oleh sebab itu, Anda harus mengetahui maknanya sehingga bisa meyakininya. Anda yakini dengan hati apa-apa yang Anda ucapkan dengan lisan. Wajib bagi Anda untuk mempelajari makna laa ilaha illallah. Adapun sekedar mengucapkan dengan lisan tanpa memahami maknanya, maka hal ini tidak berfaidah sama sekali (lihat keterangan Syekh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam Syarh Tafsir Kalimat Tauhid, hal. 10-11).Kaum musyrikin di masa silam memahami bahwa laa ilaha illallah menuntut untuk meninggalkan segala sesembahan selain Allah. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada kaum kafir Quraisy, “Ucapkanlah laa ilaha illallah.” Maka mereka mengatakan,أَجَعَلَ ٱلْءَالِهَةَ إِلَٰهًا وَٰحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَىْءٌ عُجَابٌ“Apakah dia -Muhammad- hendak menjadikan sesembahan-sesembahan ini menjadi satu sesembahan saja, sesungguhnya hal ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan.” (QS. Shaad: 5) (HR. Ahmad).Syekh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah berkata, “Mereka memahami bahwasanya kalimat ini menuntut dihapuskannya peribadatan kepada segala berhala dan membatasi ibadah itu hanya untuk Allah saja, sedangkan mereka tidak menghendaki hal itu. Jelaslah dengan makna ini bahwa makna dan konsekuensi dari laa ilaha illallah adalah mengesakan Allah dalam beribadah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya” (lihat Ma’na Laa Ilaha Illallah, hal. 31).Kalimat laa ilaha illallah mewajibkan setiap muslim untuk beribadah kepada Allah dan meninggalkan segala bentuk perbuatan syirik. Inilah yang tidak dikehendaki oleh orang-orang musyrik kala itu. Allah berfirman,إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ يَسۡتَكۡبِرُونَ (٣٥) وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۢ (٣٦)“Sesungguhnya mereka itu dahulu ketika dikatakan kepada mereka laa ilaha illallah, mereka menyombongkan diri. Mereka pun mengatakan, ‘Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair yang gila’” (QS. ash-Shaffat: 35-36).Baca Juga: Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan TauhidBerpegang-teguh dengan kalimat tauhid ini adalah dengan mengingkari segala sesembahan selain Allah (thaghut) dan beribadah kepada Allah semata. Sebagaimana firman-Nya,فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Maka barangsiapa yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya dia telah berpegang-teguh dengan buhul tali yang paling kuat dan tidak akan terputus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. al-Baqarah: 256).Buhul tali yang paling kuat atau al-‘Urwatul Wutsqa yang dimaksud dalam ayat ini mengandung banyak makna. Mujahid menafsirkannya dengan iman. As-Suddi menafsirkan bahwa maksudnya adalah Islam. Sa’id bin Jubair dan adh-Dhahhak menafsirkan bahwa maksudnya adalah kalimat laa ilaha illallah. Anas bin Malik menafsirkan maksudnya adalah al-Qur’an. Salim bin Abil Ja’d menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menyimpulkan, “Semua pendapat ini adalah benar dan tidak bertentangan satu sama lain.” (Lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 1: 684).Kalimat tauhid ini pula yang disebut sebagai kalimatun sawaa’ atau kalimat yang adil. Sebagaimana yang Allah perintahkan,قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ“Katakanlah; Wahai ahli kitab, marilah kami ajak kalian kepada suatu kalimat yang adil antara kami dengan kalian…” (QS. Ali ‘Imran : 64) (lihat Syahadat an Laa Ilaha Illallah karya Syekh Dr. Shalih Sindi Hafizhahullah, hal. 33).Orang yang paling berbahagia dengan syafaat oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kelak pada hari kiamat adalah yang ikhlas dalam mengucapkan kalimat tauhid ini. Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku adalah orang yang mengucapkan laa ilaha illallah ikhlas dari hati atau jiwanya” (HR. Bukhari).Oleh sebab itu, kalimat tauhid yang diwujudkan dalam kehidupan menjadi sebab keberuntungan. Inilah yang diserukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam namun justru ditolak oleh kaum musyrik. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ucapkanlah laa ilaha illallah, niscaya kalian akan beruntung …” (HR. Ahmad dan sanadnya dinyatakan jayyid oleh al-Albani dalam Sahih Sirah) (lihat Syahadat an Laa Ilaha Illallah, hal. 35).Ilmu tentang makna dan konsekuensi kalimat tauhid inilah yang menjadi sebab keselamatan dari azab neraka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa meninggal dalam keadaan mengetahui (berilmu) bahwasanya tidak ada ilah/ sesembahan yang haqq selain Allah, niscaya dia masuk surga” (HR. Muslim).Orang yang mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang haqq kecuali Allah, niscaya dia akan meninggalkan segala bentuk kemusyrikan. Adapun mereka yang mati dalam keadaan berbuat syirik akbar atau tidak bertaubat darinya, niscaya dia masuk neraka dan kekal di dalamnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa meninggal dalam keadaan berdoa/beribadah kepada tandingan/sesembahan selain Allah, dia masuk neraka” (HR. Bukhari).Kenali hakikat agama IslamBeribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, inilah makna tauhid. Adapun beribadah kepada Allah tanpa meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, ini bukanlah tauhid. Orang-orang musyrik beribadah kepada Allah, akan tetapi mereka juga beribadah kepada selain-Nya. Sehingga dengan sebab itulah mereka tergolong sebagai orang musyrik. Maka bukanlah yang terpenting itu adalah seseorang beribadah kepada Allah, itu saja. Akan tetapi, yang terpenting ialah beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Kalau tidak seperti itu, dia tidak dikatakan sebagai hamba yang beribadah kepada Allah. Bahkan dia juga tidak menjadi seorang muwahhid/ahli tauhid. Orang yang melakukan salat, puasa, dan haji tetapi dia tidak meninggalkan ibadah kepada selain Allah, maka dia bukanlah muslim (lihat keterangan Syekh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah dalam I’anatul Mustafid, 1: 38-39).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena Islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah, sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya, dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik, bertentangan dengan Islam. Oleh sebab itulah pokok ajaran Islam adalah syahadat laa ilaha illallah. Syahadat mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلْإِسْلَٰمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ‘Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi’ (QS. Ali ‘Imran: 85).” (Lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30).Ibnu Taimiyah Rahimahullah juga berkata, “Banyak orang yang mengidap riyā’ dan ujub. Riyā’ termasuk mempersekutukan Allah dengan makhluk. Adapun ujub adalah bentuk mempersekutukan Allah dengan diri sendiri. Dan inilah kondisi orang yang sombong. Seseorang yang riyā’ berarti tidak melaksanakan kandungan ayat iyyaka na’budu. Adapun orang yang ujub, dia tidak mewujudkan kandungan ayat iyyaka nasta’in. Barangsiapa yang mewujudkan maksud ayat iyyaka na’budu, maka dia terbebas dari riyā’. Dan barangsiapa yang berhasil mewujudkan maksud ayat iyyaka nasta’in, maka dia akan terbebas dari ujub” (lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 83).Syekh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah berkata, “Di dalam kalimat ‘iyyaka na’budu’ terkandung tauhid uluhiyah, yaitu mengesakan Allah dengan perbuatan-perbuatan hamba yang disyariatkan oleh Allah untuk mereka. Hal ini karena uluhiyah bermakna ibadah. Dan ibadah itu adalah bagian dari perbuatan hamba. Adapun ‘wa iyyaka nasta’in’ mengandung tauhid rububiyah. Karena pertolongan adalah salah satu perbuatan Rabb Yang Maha Suci. Dan tauhid rububiyah itu adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 195).Semua ayat yang membicarakan tentang perbuatan-perbuatan Allah, itu tercakup dalam tauhid rububiyah. Dan semua ayat yang membicarakan tentang ibadah, perintah untuk beribadah dan ajakan kepadanya, maka itu mengandung tauhid uluhiyah. Dan semua ayat yang membicarakan tentang nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka itu mengandung tauhid asma’ wa shifat (lihat at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘alal ‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 29 oleh al-Fauzan).Demikian catatan yang bisa kami rangkum dalam kesempatan ini dengan kemudahan yang Allah berikan. Semoga bermanfaat bagi kita semuanya. Wallahul muwaffiq.Baca Juga:***Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Cadar, Fadhilah Sholat Subuh, Cover Majalah Islam, Artikel Bacaan Yasin Fadilah, Yaumul Bidh

Mencela Seseorang yang Sudah Meninggal Dunia

Hukum Asal Mencela Orang yang Sudah MeninggalDiriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَسُبُّوا الأَمْوَاتَ، فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا“Janganlah kalian mencela mayat karena mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan.” (HR. Bukhari no. 1393)Berdasarkan hadits di atas, hukum asal mencela atau menghina seseorang yang sudah meninggal dunia adalah haram, karena terdapat kalimat larangan dalam hadits di atas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memberikan alasan larangan tersebut, yaitu “mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan.”Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,وهذا عام فإنهم أفضوا إلى ما قدموا لانه أن كانوا من أهل الخير لا تضرهم وإن كانوا من أهل الشر فهي حقت عليهم فلا حاجة لهذا ولا لهذا“Kalimat ini bersifat umum, karena sesungguhnya mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan. Jika mereka adalah orang baik, celaan itu tidaklah mencelakakan mereka. Jika mereka adalah orang jelek (jahat), mereka telah mendapatkan balasannya, sehingga tidak butuh ini dan itu.” [1]Baca Juga: Hukum Meratapi MayitHikmah Larangan Mencela Orang yang Sudah MeninggalAlasan larangan tersebut juga terdapat dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَسُبُّوا الأَمْوَاتَ فَتُؤْذُوا الأَحْيَاءَ“Janganlah kalian mengina mereka yang sudah mati, sehingga kalian menyakiti mereka yang masih hidup.” (HR. Tirmidzi no. 1982, shahih)Menghina atau mencela orang yang sudah meninggal dunia akan menyakiti yang masih hidup, yaitu dari kalangan ahli waris dan kerabatnya. Larangan tersebut bersifat umum, termasuk jika kita ketahui bahwa orang tersebut meninggal di atas kefasikan (melakukan dosa besar dan belum bertaubat sampai mati). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,يعني لا تعيبوهم ولا تذكروهم بسوء فإنهم افضوا إلى ما قدموا حتى لو كانوا فساقا في حال الحياة وماتوا على الفسق فإنك لا تعيبهم ولا تسبهم بفسقهم لا تكن فلان فعل اوفعل لانه افضى إلى ما قدم وحسابه على الله عز وجل“Maksudnya, janganlah mencela mereka, dan janganlah menyebut-nyebut kejelekan mereka. Hal ini karena mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan, meskipun orang yang sudah meninggal tersebut adalah orang fasik semasa hidupnya dan mati di atas kefasikannya. Maka Engkau tidak boleh mencela dan menghina kefasikan mereka. Hal ini karena mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan, dan hisab mereka di tangan Allah Ta’ala.” [2]Baca Juga: Hukum Mencabut IUD/ AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim ) pada MayitPengecualian Larangan Mencela Orang yang Sudah MeninggalPerbuatan mencela orang yang sudah meninggal dunia tidak diperbolehkan, kecuali jika terdapat alasan yang dibenarkan atau terdapat maslahat syar’i di dalamnya. Contoh alasan yang bisa dibenarkan adalah mencela (tokoh) orang-orang kafir yang semasa hidupnya banyak menyengsarakan kaum muslimin, atau semasa hidupnya memerangi negeri-negeri kaum muslimin, dan berusaha merusak agama kaum muslimin. Dikecualikan dalam masalah ini jika perbuatan itu akan menyakiti kerabatnya yang masih hidup, terutama lagi jika kerabatnya adalah muslim. Sehingga mencela orang kafir yang sudah meninggal dunia itu perlu ditimbang secara hati-hati tentang maslahat di dalamnya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,والكافر قد يتأذى قريبه المسلم بسبه, والمسألة تحتاج إلى النظر في المصلحة بالنسبة لسب الأموات الكفار، قد يكون فيه مصلحة.“Adapun (mencela) orang kafir (yang sudah meninggal), terkadang akan menyakiti kerabatnya yang muslim. Masalah ini perlu ditimbang adanya maslahat dalam mencela orang kafir yang sudah meninggal dunia. Terkadang memang terdapat maslahat di dalamnya.” [3]Contoh adanya maslahat syar’i di antaranya adalah mencela tokoh ahlul bid’ah yang sudah meninggal dunia dan mewariskan pemikirannya, baik dalam bentuk tulisan, buku, atau rekaman ceramah-ceramah yang masih bisa didengarkan atau diakses secara luas oleh kaum muslimin. Deangan kata lain, pemikiran (bid’ah) yang menyimpang tersebut telah tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin. Oleh karena itu, terdapat maslahat syar’i ketika kita memperingatkan kaum muslimin dari kesesatan pemikiran tokoh ahlul bid’ah tersebut yang telah meninggal dunia. [4]Sebagai kesimpulan, menyebutkan kejelekan dan keburukan orang yang sudah meninggal dunia, mencela atau menghina mereka, termasuk perbuatan yang diharamkan, meskipun orang tersebut adalah orang fasik. Dikecualikan dalam masalah ini jika terdapat alasan yang bisa dibenarkan atau terdapat maslahat syar’i di dalamnya.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 17 Dzulhijjah 1440/18 Agustus 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id—Catatan Kaki[1] Syarh Mukhtashar ‘ala Buluughul Maraam, 4: 11.[2] Syarh Mukhtashar ‘ala Buluughul Maraam, 4: 71.[3] Liqa’aat Al-Baab Al-Maftuuh, 25: 106.[4] Lihat Syarh Riyadhus Shalihin, 1: 1820; karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. 

Mencela Seseorang yang Sudah Meninggal Dunia

Hukum Asal Mencela Orang yang Sudah MeninggalDiriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَسُبُّوا الأَمْوَاتَ، فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا“Janganlah kalian mencela mayat karena mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan.” (HR. Bukhari no. 1393)Berdasarkan hadits di atas, hukum asal mencela atau menghina seseorang yang sudah meninggal dunia adalah haram, karena terdapat kalimat larangan dalam hadits di atas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memberikan alasan larangan tersebut, yaitu “mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan.”Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,وهذا عام فإنهم أفضوا إلى ما قدموا لانه أن كانوا من أهل الخير لا تضرهم وإن كانوا من أهل الشر فهي حقت عليهم فلا حاجة لهذا ولا لهذا“Kalimat ini bersifat umum, karena sesungguhnya mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan. Jika mereka adalah orang baik, celaan itu tidaklah mencelakakan mereka. Jika mereka adalah orang jelek (jahat), mereka telah mendapatkan balasannya, sehingga tidak butuh ini dan itu.” [1]Baca Juga: Hukum Meratapi MayitHikmah Larangan Mencela Orang yang Sudah MeninggalAlasan larangan tersebut juga terdapat dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَسُبُّوا الأَمْوَاتَ فَتُؤْذُوا الأَحْيَاءَ“Janganlah kalian mengina mereka yang sudah mati, sehingga kalian menyakiti mereka yang masih hidup.” (HR. Tirmidzi no. 1982, shahih)Menghina atau mencela orang yang sudah meninggal dunia akan menyakiti yang masih hidup, yaitu dari kalangan ahli waris dan kerabatnya. Larangan tersebut bersifat umum, termasuk jika kita ketahui bahwa orang tersebut meninggal di atas kefasikan (melakukan dosa besar dan belum bertaubat sampai mati). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,يعني لا تعيبوهم ولا تذكروهم بسوء فإنهم افضوا إلى ما قدموا حتى لو كانوا فساقا في حال الحياة وماتوا على الفسق فإنك لا تعيبهم ولا تسبهم بفسقهم لا تكن فلان فعل اوفعل لانه افضى إلى ما قدم وحسابه على الله عز وجل“Maksudnya, janganlah mencela mereka, dan janganlah menyebut-nyebut kejelekan mereka. Hal ini karena mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan, meskipun orang yang sudah meninggal tersebut adalah orang fasik semasa hidupnya dan mati di atas kefasikannya. Maka Engkau tidak boleh mencela dan menghina kefasikan mereka. Hal ini karena mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan, dan hisab mereka di tangan Allah Ta’ala.” [2]Baca Juga: Hukum Mencabut IUD/ AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim ) pada MayitPengecualian Larangan Mencela Orang yang Sudah MeninggalPerbuatan mencela orang yang sudah meninggal dunia tidak diperbolehkan, kecuali jika terdapat alasan yang dibenarkan atau terdapat maslahat syar’i di dalamnya. Contoh alasan yang bisa dibenarkan adalah mencela (tokoh) orang-orang kafir yang semasa hidupnya banyak menyengsarakan kaum muslimin, atau semasa hidupnya memerangi negeri-negeri kaum muslimin, dan berusaha merusak agama kaum muslimin. Dikecualikan dalam masalah ini jika perbuatan itu akan menyakiti kerabatnya yang masih hidup, terutama lagi jika kerabatnya adalah muslim. Sehingga mencela orang kafir yang sudah meninggal dunia itu perlu ditimbang secara hati-hati tentang maslahat di dalamnya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,والكافر قد يتأذى قريبه المسلم بسبه, والمسألة تحتاج إلى النظر في المصلحة بالنسبة لسب الأموات الكفار، قد يكون فيه مصلحة.“Adapun (mencela) orang kafir (yang sudah meninggal), terkadang akan menyakiti kerabatnya yang muslim. Masalah ini perlu ditimbang adanya maslahat dalam mencela orang kafir yang sudah meninggal dunia. Terkadang memang terdapat maslahat di dalamnya.” [3]Contoh adanya maslahat syar’i di antaranya adalah mencela tokoh ahlul bid’ah yang sudah meninggal dunia dan mewariskan pemikirannya, baik dalam bentuk tulisan, buku, atau rekaman ceramah-ceramah yang masih bisa didengarkan atau diakses secara luas oleh kaum muslimin. Deangan kata lain, pemikiran (bid’ah) yang menyimpang tersebut telah tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin. Oleh karena itu, terdapat maslahat syar’i ketika kita memperingatkan kaum muslimin dari kesesatan pemikiran tokoh ahlul bid’ah tersebut yang telah meninggal dunia. [4]Sebagai kesimpulan, menyebutkan kejelekan dan keburukan orang yang sudah meninggal dunia, mencela atau menghina mereka, termasuk perbuatan yang diharamkan, meskipun orang tersebut adalah orang fasik. Dikecualikan dalam masalah ini jika terdapat alasan yang bisa dibenarkan atau terdapat maslahat syar’i di dalamnya.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 17 Dzulhijjah 1440/18 Agustus 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id—Catatan Kaki[1] Syarh Mukhtashar ‘ala Buluughul Maraam, 4: 11.[2] Syarh Mukhtashar ‘ala Buluughul Maraam, 4: 71.[3] Liqa’aat Al-Baab Al-Maftuuh, 25: 106.[4] Lihat Syarh Riyadhus Shalihin, 1: 1820; karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. 
Hukum Asal Mencela Orang yang Sudah MeninggalDiriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَسُبُّوا الأَمْوَاتَ، فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا“Janganlah kalian mencela mayat karena mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan.” (HR. Bukhari no. 1393)Berdasarkan hadits di atas, hukum asal mencela atau menghina seseorang yang sudah meninggal dunia adalah haram, karena terdapat kalimat larangan dalam hadits di atas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memberikan alasan larangan tersebut, yaitu “mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan.”Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,وهذا عام فإنهم أفضوا إلى ما قدموا لانه أن كانوا من أهل الخير لا تضرهم وإن كانوا من أهل الشر فهي حقت عليهم فلا حاجة لهذا ولا لهذا“Kalimat ini bersifat umum, karena sesungguhnya mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan. Jika mereka adalah orang baik, celaan itu tidaklah mencelakakan mereka. Jika mereka adalah orang jelek (jahat), mereka telah mendapatkan balasannya, sehingga tidak butuh ini dan itu.” [1]Baca Juga: Hukum Meratapi MayitHikmah Larangan Mencela Orang yang Sudah MeninggalAlasan larangan tersebut juga terdapat dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَسُبُّوا الأَمْوَاتَ فَتُؤْذُوا الأَحْيَاءَ“Janganlah kalian mengina mereka yang sudah mati, sehingga kalian menyakiti mereka yang masih hidup.” (HR. Tirmidzi no. 1982, shahih)Menghina atau mencela orang yang sudah meninggal dunia akan menyakiti yang masih hidup, yaitu dari kalangan ahli waris dan kerabatnya. Larangan tersebut bersifat umum, termasuk jika kita ketahui bahwa orang tersebut meninggal di atas kefasikan (melakukan dosa besar dan belum bertaubat sampai mati). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,يعني لا تعيبوهم ولا تذكروهم بسوء فإنهم افضوا إلى ما قدموا حتى لو كانوا فساقا في حال الحياة وماتوا على الفسق فإنك لا تعيبهم ولا تسبهم بفسقهم لا تكن فلان فعل اوفعل لانه افضى إلى ما قدم وحسابه على الله عز وجل“Maksudnya, janganlah mencela mereka, dan janganlah menyebut-nyebut kejelekan mereka. Hal ini karena mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan, meskipun orang yang sudah meninggal tersebut adalah orang fasik semasa hidupnya dan mati di atas kefasikannya. Maka Engkau tidak boleh mencela dan menghina kefasikan mereka. Hal ini karena mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan, dan hisab mereka di tangan Allah Ta’ala.” [2]Baca Juga: Hukum Mencabut IUD/ AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim ) pada MayitPengecualian Larangan Mencela Orang yang Sudah MeninggalPerbuatan mencela orang yang sudah meninggal dunia tidak diperbolehkan, kecuali jika terdapat alasan yang dibenarkan atau terdapat maslahat syar’i di dalamnya. Contoh alasan yang bisa dibenarkan adalah mencela (tokoh) orang-orang kafir yang semasa hidupnya banyak menyengsarakan kaum muslimin, atau semasa hidupnya memerangi negeri-negeri kaum muslimin, dan berusaha merusak agama kaum muslimin. Dikecualikan dalam masalah ini jika perbuatan itu akan menyakiti kerabatnya yang masih hidup, terutama lagi jika kerabatnya adalah muslim. Sehingga mencela orang kafir yang sudah meninggal dunia itu perlu ditimbang secara hati-hati tentang maslahat di dalamnya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,والكافر قد يتأذى قريبه المسلم بسبه, والمسألة تحتاج إلى النظر في المصلحة بالنسبة لسب الأموات الكفار، قد يكون فيه مصلحة.“Adapun (mencela) orang kafir (yang sudah meninggal), terkadang akan menyakiti kerabatnya yang muslim. Masalah ini perlu ditimbang adanya maslahat dalam mencela orang kafir yang sudah meninggal dunia. Terkadang memang terdapat maslahat di dalamnya.” [3]Contoh adanya maslahat syar’i di antaranya adalah mencela tokoh ahlul bid’ah yang sudah meninggal dunia dan mewariskan pemikirannya, baik dalam bentuk tulisan, buku, atau rekaman ceramah-ceramah yang masih bisa didengarkan atau diakses secara luas oleh kaum muslimin. Deangan kata lain, pemikiran (bid’ah) yang menyimpang tersebut telah tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin. Oleh karena itu, terdapat maslahat syar’i ketika kita memperingatkan kaum muslimin dari kesesatan pemikiran tokoh ahlul bid’ah tersebut yang telah meninggal dunia. [4]Sebagai kesimpulan, menyebutkan kejelekan dan keburukan orang yang sudah meninggal dunia, mencela atau menghina mereka, termasuk perbuatan yang diharamkan, meskipun orang tersebut adalah orang fasik. Dikecualikan dalam masalah ini jika terdapat alasan yang bisa dibenarkan atau terdapat maslahat syar’i di dalamnya.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 17 Dzulhijjah 1440/18 Agustus 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id—Catatan Kaki[1] Syarh Mukhtashar ‘ala Buluughul Maraam, 4: 11.[2] Syarh Mukhtashar ‘ala Buluughul Maraam, 4: 71.[3] Liqa’aat Al-Baab Al-Maftuuh, 25: 106.[4] Lihat Syarh Riyadhus Shalihin, 1: 1820; karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. 


Hukum Asal Mencela Orang yang Sudah MeninggalDiriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَسُبُّوا الأَمْوَاتَ، فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا“Janganlah kalian mencela mayat karena mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan.” (HR. Bukhari no. 1393)Berdasarkan hadits di atas, hukum asal mencela atau menghina seseorang yang sudah meninggal dunia adalah haram, karena terdapat kalimat larangan dalam hadits di atas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memberikan alasan larangan tersebut, yaitu “mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan.”Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,وهذا عام فإنهم أفضوا إلى ما قدموا لانه أن كانوا من أهل الخير لا تضرهم وإن كانوا من أهل الشر فهي حقت عليهم فلا حاجة لهذا ولا لهذا“Kalimat ini bersifat umum, karena sesungguhnya mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan. Jika mereka adalah orang baik, celaan itu tidaklah mencelakakan mereka. Jika mereka adalah orang jelek (jahat), mereka telah mendapatkan balasannya, sehingga tidak butuh ini dan itu.” [1]Baca Juga: Hukum Meratapi MayitHikmah Larangan Mencela Orang yang Sudah MeninggalAlasan larangan tersebut juga terdapat dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَسُبُّوا الأَمْوَاتَ فَتُؤْذُوا الأَحْيَاءَ“Janganlah kalian mengina mereka yang sudah mati, sehingga kalian menyakiti mereka yang masih hidup.” (HR. Tirmidzi no. 1982, shahih)Menghina atau mencela orang yang sudah meninggal dunia akan menyakiti yang masih hidup, yaitu dari kalangan ahli waris dan kerabatnya. Larangan tersebut bersifat umum, termasuk jika kita ketahui bahwa orang tersebut meninggal di atas kefasikan (melakukan dosa besar dan belum bertaubat sampai mati). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,يعني لا تعيبوهم ولا تذكروهم بسوء فإنهم افضوا إلى ما قدموا حتى لو كانوا فساقا في حال الحياة وماتوا على الفسق فإنك لا تعيبهم ولا تسبهم بفسقهم لا تكن فلان فعل اوفعل لانه افضى إلى ما قدم وحسابه على الله عز وجل“Maksudnya, janganlah mencela mereka, dan janganlah menyebut-nyebut kejelekan mereka. Hal ini karena mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan, meskipun orang yang sudah meninggal tersebut adalah orang fasik semasa hidupnya dan mati di atas kefasikannya. Maka Engkau tidak boleh mencela dan menghina kefasikan mereka. Hal ini karena mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan, dan hisab mereka di tangan Allah Ta’ala.” [2]Baca Juga: Hukum Mencabut IUD/ AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim ) pada MayitPengecualian Larangan Mencela Orang yang Sudah MeninggalPerbuatan mencela orang yang sudah meninggal dunia tidak diperbolehkan, kecuali jika terdapat alasan yang dibenarkan atau terdapat maslahat syar’i di dalamnya. Contoh alasan yang bisa dibenarkan adalah mencela (tokoh) orang-orang kafir yang semasa hidupnya banyak menyengsarakan kaum muslimin, atau semasa hidupnya memerangi negeri-negeri kaum muslimin, dan berusaha merusak agama kaum muslimin. Dikecualikan dalam masalah ini jika perbuatan itu akan menyakiti kerabatnya yang masih hidup, terutama lagi jika kerabatnya adalah muslim. Sehingga mencela orang kafir yang sudah meninggal dunia itu perlu ditimbang secara hati-hati tentang maslahat di dalamnya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,والكافر قد يتأذى قريبه المسلم بسبه, والمسألة تحتاج إلى النظر في المصلحة بالنسبة لسب الأموات الكفار، قد يكون فيه مصلحة.“Adapun (mencela) orang kafir (yang sudah meninggal), terkadang akan menyakiti kerabatnya yang muslim. Masalah ini perlu ditimbang adanya maslahat dalam mencela orang kafir yang sudah meninggal dunia. Terkadang memang terdapat maslahat di dalamnya.” [3]Contoh adanya maslahat syar’i di antaranya adalah mencela tokoh ahlul bid’ah yang sudah meninggal dunia dan mewariskan pemikirannya, baik dalam bentuk tulisan, buku, atau rekaman ceramah-ceramah yang masih bisa didengarkan atau diakses secara luas oleh kaum muslimin. Deangan kata lain, pemikiran (bid’ah) yang menyimpang tersebut telah tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin. Oleh karena itu, terdapat maslahat syar’i ketika kita memperingatkan kaum muslimin dari kesesatan pemikiran tokoh ahlul bid’ah tersebut yang telah meninggal dunia. [4]Sebagai kesimpulan, menyebutkan kejelekan dan keburukan orang yang sudah meninggal dunia, mencela atau menghina mereka, termasuk perbuatan yang diharamkan, meskipun orang tersebut adalah orang fasik. Dikecualikan dalam masalah ini jika terdapat alasan yang bisa dibenarkan atau terdapat maslahat syar’i di dalamnya.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 17 Dzulhijjah 1440/18 Agustus 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id—Catatan Kaki[1] Syarh Mukhtashar ‘ala Buluughul Maraam, 4: 11.[2] Syarh Mukhtashar ‘ala Buluughul Maraam, 4: 71.[3] Liqa’aat Al-Baab Al-Maftuuh, 25: 106.[4] Lihat Syarh Riyadhus Shalihin, 1: 1820; karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. 

Begini Maksud Perintah “Sering Mengingat Kematian”

Salah kaprah dalam mengingat kematianSebagian kaum muslimin bisa jadi salah paham dengan maksud hadis “perbanyaklah mengingat kematian.” Ketika mendengar hadis ini, mereka langsung menyangka bahwa mereka diperintahkan untuk mengingat hal-hal yang mengerikan dan seram. Misalnya,“Keluargamu akan terlantar.”“Anakmu akan menjadi yatim, istrimu akan menjadi janda.”“Engkau akan mati dengan ngerinya sakaratul maut.”“Engkau akan mati mengenaskan seperti tertabrak, sesak napas tiba-tiba, atau kena serangan jantung.”Dan lain sebagainya.Sebagian kaum muslimin langsung mengingat hal-hal yang justru membuat mereka semakin susah karena mengingat kematian. Padahal bukan ini yang menjadi maksud utama perintah agar memperbanyak mengingat mati. Salah satu maksudnya adalah agar melembutkan hati dan meringankan beban dunia dengan merenungi hakikat kehidupan. Bahkan kehidupan dunia ini hanya sementara saja dan akhirat itu kekal. Pintu gerbang menuju kehidupan sejati dan kehidupan sebenarnya adalah kematian. Berikut sedikit pembahasannya.Perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengingat matiRasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita agar memperbanyak mengingat mati. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺃَﻛْﺜِﺮُﻭﺍ ﺫِﻛْﺮَ ﻫَﺎﺫِﻡِ ﺍﻟﻠَّﺬَّﺍﺕِ ‏ ﻳَﻌْﻨِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian” (HR. Tirmidzi).Maksud kata “memutuskan kelezatan” dalam hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallamBanyak yang bertanya-tanya, apa maksud memutuskan kelezatan. Apakah kita tidak boleh menikmati kelezatan dunia? Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah menjelaskan bahwa maksudnya yaitu agar kita memikirkan akhirat yang merupakan kehidupan abadi dan jauh lebih baik. Dengan mengingat akhirat, kita tidak akan bersenang-senang saja di dunia dan melupakan akhirat. Beliau Rahimahullah berkata,الموت، يعني: اجعلوه على بالكم كثيرًا حتى تعدوا العدّة، والهادم: القاطع؛ لأنَّه يقطع اللَّذات في الدنيا، ولكنه يُدني من لذَّات الآخرة، ويُقرِّب من لذَّات الآخرة،“Maksud dari mengingat kematian yaitu menjadikannya sering teringat dalam pikiran kita, agar kita menyiapkan bekal. Maksud dari ‘pemutus’ yaitu memutuskan kelezatan di dunia dan mendekatkan dengan kelezatan akhirat” (Syarh Bulughul Maram, Kitab Al-Janaiz).Baca Juga: Mati Mendadak Adalah Istirahat & Kenikmatan Bagi MukminManfaat mengingat kematianMengingat kematian juga memiliki beberapa manfaat, beberapa ulama menyebutkan manfaat-manfaat tersebut. Ad-Daqqaq Rahimahullah menjelaskan,من أكثر من ذكر الموت أكرم بثلاثة أشياء: تعجيل التوبة، وقناعة القلب، ونشاط العبادة. ومن نسي الموت عوقب بثلاثة أشياء: تسويف التوبة، وترك الرضى بالكفاف، والتكاسل في العبادة“Barangsiapa yang banyak mengingat kematian, dia akan dimuliakan dengan tiga perkara, yaitu: (1) bersegera dalam bertaubat, (2) hati yang qanaah, (3) bersemangat melakukan ibadah. Barangsiapa yang lupa mengingat kematian, dia akan dihukum dengan tiga perkara, yaitu: (1) menunda-nunda taubat, (2) tidak rida terhadap pemberian (takdir) Allah, (3) malas beribadah” (At-Tadzkirah, 1: 27).Begitu banyaknya manfaat mengingat kematian. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut orang yang pintar adalah orang yang mengingat kematian, lalu mempersiapkan kehidupan setelah kematian. Sebagaimana kita ketahui bahwa apabila kita ingin mempersiapkan sesuatu, pasti kita akan sering mengingatnya.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ﺍﻟْﻜَﻴِّﺲُ ﻣَﻦْ ﺩَﺍﻥَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ، ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﺟِﺰُ ﻣَﻦْ ﺃَﺗْﺒَﻊَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻫَﻮَﺍﻫَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻤَﻨَّﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ“Orang yang pandai adalah  orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal (mencurahkan semua potensi) untuk kepentingan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsu, kemudian berangan-angan kosong kepada Allah” (HR. Tirmidzi).Orang yang mengingat kematian adalah orang yang pandai dan selalu penuh perhitungan. Bagaimana tidak, dia benar-benar memperhitungkan dan menyiapkan kehidupan yang kekal selamanya, dibandingkan kehidupan yang hanya sementara saja.Syekh Al-Mubarakfuri menjelaskan makna “al-Kayyis” yaitu orang yang pandai dan berakal. Beliau Rahimahullah berkata,أي العاقل المتبصر في الأمور الناظر في العواقب“Al-Kayyis yaitu yang berakal dan suka berpikir (merenungkan) pada suatu urusan dan suka memperhatikan akibat-akibatnya (dampak atau hasil akhir)” (Tuhfatul Ahwadzi, 8: 108).Hal ini diperkuat dengan riwayat lainnya, di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan orang yang cerdas adalah orang yang banyak mengingat kematian.Baca Juga: Hukum Berdoa Mengharapkan KematianIbnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam,ﻓَﺄَﻯُّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺃَﻛْﻴَﺲُ ﻗَﺎﻝَ : ‏ ﺃَﻛْﺜَﺮُﻫُﻢْ ﻟِﻠْﻤَﻮْﺕِ ﺫِﻛْﺮًﺍ ﻭَﺃَﺣْﺴَﻨُﻬُﻢْ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﺍﺳْﺘِﻌْﺪَﺍﺩًﺍ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﺍﻷَﻛْﻴَﺎﺱُ“‘Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk  untuk alam berikutnya. Itulah mereka yang paling cerdas’” (HR. Ibnu Majah).Hendaknya banyak mengingat kematianHendaknya kita memperbanyak mengingat kematian dan langsung teringat dengan kehidupan akhirat, lalu kita berusaha mempersiapkannya dan tidak lalai. Mau tidak mau, kita pasti akan mengingat kematian, karena kita semua pasti akan mati.Allah Ta’ala berfirman,كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali ‘Imran: 185).Dan kita tidak akan bisa lari dari kematian.Allah Ta’ala berfirman,ﻗُﻞْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗَﻔِﺮُّﻭﻥَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣُﻼَﻗِﻴﻜُﻢ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu’” (QS. Al-Jumu’ah: 8).Semoga kita termasuk orang yang banyak mengingat kematian dan menyiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.Baca Juga: Mendatangkan Arwah Orang Mati, Mungkinkah? Menyia-nyiakan Waktu Lebih Berbahaya dari Kematian —@Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: muslim.or.id

Begini Maksud Perintah “Sering Mengingat Kematian”

Salah kaprah dalam mengingat kematianSebagian kaum muslimin bisa jadi salah paham dengan maksud hadis “perbanyaklah mengingat kematian.” Ketika mendengar hadis ini, mereka langsung menyangka bahwa mereka diperintahkan untuk mengingat hal-hal yang mengerikan dan seram. Misalnya,“Keluargamu akan terlantar.”“Anakmu akan menjadi yatim, istrimu akan menjadi janda.”“Engkau akan mati dengan ngerinya sakaratul maut.”“Engkau akan mati mengenaskan seperti tertabrak, sesak napas tiba-tiba, atau kena serangan jantung.”Dan lain sebagainya.Sebagian kaum muslimin langsung mengingat hal-hal yang justru membuat mereka semakin susah karena mengingat kematian. Padahal bukan ini yang menjadi maksud utama perintah agar memperbanyak mengingat mati. Salah satu maksudnya adalah agar melembutkan hati dan meringankan beban dunia dengan merenungi hakikat kehidupan. Bahkan kehidupan dunia ini hanya sementara saja dan akhirat itu kekal. Pintu gerbang menuju kehidupan sejati dan kehidupan sebenarnya adalah kematian. Berikut sedikit pembahasannya.Perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengingat matiRasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita agar memperbanyak mengingat mati. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺃَﻛْﺜِﺮُﻭﺍ ﺫِﻛْﺮَ ﻫَﺎﺫِﻡِ ﺍﻟﻠَّﺬَّﺍﺕِ ‏ ﻳَﻌْﻨِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian” (HR. Tirmidzi).Maksud kata “memutuskan kelezatan” dalam hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallamBanyak yang bertanya-tanya, apa maksud memutuskan kelezatan. Apakah kita tidak boleh menikmati kelezatan dunia? Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah menjelaskan bahwa maksudnya yaitu agar kita memikirkan akhirat yang merupakan kehidupan abadi dan jauh lebih baik. Dengan mengingat akhirat, kita tidak akan bersenang-senang saja di dunia dan melupakan akhirat. Beliau Rahimahullah berkata,الموت، يعني: اجعلوه على بالكم كثيرًا حتى تعدوا العدّة، والهادم: القاطع؛ لأنَّه يقطع اللَّذات في الدنيا، ولكنه يُدني من لذَّات الآخرة، ويُقرِّب من لذَّات الآخرة،“Maksud dari mengingat kematian yaitu menjadikannya sering teringat dalam pikiran kita, agar kita menyiapkan bekal. Maksud dari ‘pemutus’ yaitu memutuskan kelezatan di dunia dan mendekatkan dengan kelezatan akhirat” (Syarh Bulughul Maram, Kitab Al-Janaiz).Baca Juga: Mati Mendadak Adalah Istirahat & Kenikmatan Bagi MukminManfaat mengingat kematianMengingat kematian juga memiliki beberapa manfaat, beberapa ulama menyebutkan manfaat-manfaat tersebut. Ad-Daqqaq Rahimahullah menjelaskan,من أكثر من ذكر الموت أكرم بثلاثة أشياء: تعجيل التوبة، وقناعة القلب، ونشاط العبادة. ومن نسي الموت عوقب بثلاثة أشياء: تسويف التوبة، وترك الرضى بالكفاف، والتكاسل في العبادة“Barangsiapa yang banyak mengingat kematian, dia akan dimuliakan dengan tiga perkara, yaitu: (1) bersegera dalam bertaubat, (2) hati yang qanaah, (3) bersemangat melakukan ibadah. Barangsiapa yang lupa mengingat kematian, dia akan dihukum dengan tiga perkara, yaitu: (1) menunda-nunda taubat, (2) tidak rida terhadap pemberian (takdir) Allah, (3) malas beribadah” (At-Tadzkirah, 1: 27).Begitu banyaknya manfaat mengingat kematian. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut orang yang pintar adalah orang yang mengingat kematian, lalu mempersiapkan kehidupan setelah kematian. Sebagaimana kita ketahui bahwa apabila kita ingin mempersiapkan sesuatu, pasti kita akan sering mengingatnya.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ﺍﻟْﻜَﻴِّﺲُ ﻣَﻦْ ﺩَﺍﻥَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ، ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﺟِﺰُ ﻣَﻦْ ﺃَﺗْﺒَﻊَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻫَﻮَﺍﻫَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻤَﻨَّﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ“Orang yang pandai adalah  orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal (mencurahkan semua potensi) untuk kepentingan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsu, kemudian berangan-angan kosong kepada Allah” (HR. Tirmidzi).Orang yang mengingat kematian adalah orang yang pandai dan selalu penuh perhitungan. Bagaimana tidak, dia benar-benar memperhitungkan dan menyiapkan kehidupan yang kekal selamanya, dibandingkan kehidupan yang hanya sementara saja.Syekh Al-Mubarakfuri menjelaskan makna “al-Kayyis” yaitu orang yang pandai dan berakal. Beliau Rahimahullah berkata,أي العاقل المتبصر في الأمور الناظر في العواقب“Al-Kayyis yaitu yang berakal dan suka berpikir (merenungkan) pada suatu urusan dan suka memperhatikan akibat-akibatnya (dampak atau hasil akhir)” (Tuhfatul Ahwadzi, 8: 108).Hal ini diperkuat dengan riwayat lainnya, di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan orang yang cerdas adalah orang yang banyak mengingat kematian.Baca Juga: Hukum Berdoa Mengharapkan KematianIbnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam,ﻓَﺄَﻯُّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺃَﻛْﻴَﺲُ ﻗَﺎﻝَ : ‏ ﺃَﻛْﺜَﺮُﻫُﻢْ ﻟِﻠْﻤَﻮْﺕِ ﺫِﻛْﺮًﺍ ﻭَﺃَﺣْﺴَﻨُﻬُﻢْ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﺍﺳْﺘِﻌْﺪَﺍﺩًﺍ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﺍﻷَﻛْﻴَﺎﺱُ“‘Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk  untuk alam berikutnya. Itulah mereka yang paling cerdas’” (HR. Ibnu Majah).Hendaknya banyak mengingat kematianHendaknya kita memperbanyak mengingat kematian dan langsung teringat dengan kehidupan akhirat, lalu kita berusaha mempersiapkannya dan tidak lalai. Mau tidak mau, kita pasti akan mengingat kematian, karena kita semua pasti akan mati.Allah Ta’ala berfirman,كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali ‘Imran: 185).Dan kita tidak akan bisa lari dari kematian.Allah Ta’ala berfirman,ﻗُﻞْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗَﻔِﺮُّﻭﻥَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣُﻼَﻗِﻴﻜُﻢ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu’” (QS. Al-Jumu’ah: 8).Semoga kita termasuk orang yang banyak mengingat kematian dan menyiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.Baca Juga: Mendatangkan Arwah Orang Mati, Mungkinkah? Menyia-nyiakan Waktu Lebih Berbahaya dari Kematian —@Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: muslim.or.id
Salah kaprah dalam mengingat kematianSebagian kaum muslimin bisa jadi salah paham dengan maksud hadis “perbanyaklah mengingat kematian.” Ketika mendengar hadis ini, mereka langsung menyangka bahwa mereka diperintahkan untuk mengingat hal-hal yang mengerikan dan seram. Misalnya,“Keluargamu akan terlantar.”“Anakmu akan menjadi yatim, istrimu akan menjadi janda.”“Engkau akan mati dengan ngerinya sakaratul maut.”“Engkau akan mati mengenaskan seperti tertabrak, sesak napas tiba-tiba, atau kena serangan jantung.”Dan lain sebagainya.Sebagian kaum muslimin langsung mengingat hal-hal yang justru membuat mereka semakin susah karena mengingat kematian. Padahal bukan ini yang menjadi maksud utama perintah agar memperbanyak mengingat mati. Salah satu maksudnya adalah agar melembutkan hati dan meringankan beban dunia dengan merenungi hakikat kehidupan. Bahkan kehidupan dunia ini hanya sementara saja dan akhirat itu kekal. Pintu gerbang menuju kehidupan sejati dan kehidupan sebenarnya adalah kematian. Berikut sedikit pembahasannya.Perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengingat matiRasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita agar memperbanyak mengingat mati. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺃَﻛْﺜِﺮُﻭﺍ ﺫِﻛْﺮَ ﻫَﺎﺫِﻡِ ﺍﻟﻠَّﺬَّﺍﺕِ ‏ ﻳَﻌْﻨِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian” (HR. Tirmidzi).Maksud kata “memutuskan kelezatan” dalam hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallamBanyak yang bertanya-tanya, apa maksud memutuskan kelezatan. Apakah kita tidak boleh menikmati kelezatan dunia? Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah menjelaskan bahwa maksudnya yaitu agar kita memikirkan akhirat yang merupakan kehidupan abadi dan jauh lebih baik. Dengan mengingat akhirat, kita tidak akan bersenang-senang saja di dunia dan melupakan akhirat. Beliau Rahimahullah berkata,الموت، يعني: اجعلوه على بالكم كثيرًا حتى تعدوا العدّة، والهادم: القاطع؛ لأنَّه يقطع اللَّذات في الدنيا، ولكنه يُدني من لذَّات الآخرة، ويُقرِّب من لذَّات الآخرة،“Maksud dari mengingat kematian yaitu menjadikannya sering teringat dalam pikiran kita, agar kita menyiapkan bekal. Maksud dari ‘pemutus’ yaitu memutuskan kelezatan di dunia dan mendekatkan dengan kelezatan akhirat” (Syarh Bulughul Maram, Kitab Al-Janaiz).Baca Juga: Mati Mendadak Adalah Istirahat & Kenikmatan Bagi MukminManfaat mengingat kematianMengingat kematian juga memiliki beberapa manfaat, beberapa ulama menyebutkan manfaat-manfaat tersebut. Ad-Daqqaq Rahimahullah menjelaskan,من أكثر من ذكر الموت أكرم بثلاثة أشياء: تعجيل التوبة، وقناعة القلب، ونشاط العبادة. ومن نسي الموت عوقب بثلاثة أشياء: تسويف التوبة، وترك الرضى بالكفاف، والتكاسل في العبادة“Barangsiapa yang banyak mengingat kematian, dia akan dimuliakan dengan tiga perkara, yaitu: (1) bersegera dalam bertaubat, (2) hati yang qanaah, (3) bersemangat melakukan ibadah. Barangsiapa yang lupa mengingat kematian, dia akan dihukum dengan tiga perkara, yaitu: (1) menunda-nunda taubat, (2) tidak rida terhadap pemberian (takdir) Allah, (3) malas beribadah” (At-Tadzkirah, 1: 27).Begitu banyaknya manfaat mengingat kematian. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut orang yang pintar adalah orang yang mengingat kematian, lalu mempersiapkan kehidupan setelah kematian. Sebagaimana kita ketahui bahwa apabila kita ingin mempersiapkan sesuatu, pasti kita akan sering mengingatnya.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ﺍﻟْﻜَﻴِّﺲُ ﻣَﻦْ ﺩَﺍﻥَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ، ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﺟِﺰُ ﻣَﻦْ ﺃَﺗْﺒَﻊَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻫَﻮَﺍﻫَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻤَﻨَّﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ“Orang yang pandai adalah  orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal (mencurahkan semua potensi) untuk kepentingan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsu, kemudian berangan-angan kosong kepada Allah” (HR. Tirmidzi).Orang yang mengingat kematian adalah orang yang pandai dan selalu penuh perhitungan. Bagaimana tidak, dia benar-benar memperhitungkan dan menyiapkan kehidupan yang kekal selamanya, dibandingkan kehidupan yang hanya sementara saja.Syekh Al-Mubarakfuri menjelaskan makna “al-Kayyis” yaitu orang yang pandai dan berakal. Beliau Rahimahullah berkata,أي العاقل المتبصر في الأمور الناظر في العواقب“Al-Kayyis yaitu yang berakal dan suka berpikir (merenungkan) pada suatu urusan dan suka memperhatikan akibat-akibatnya (dampak atau hasil akhir)” (Tuhfatul Ahwadzi, 8: 108).Hal ini diperkuat dengan riwayat lainnya, di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan orang yang cerdas adalah orang yang banyak mengingat kematian.Baca Juga: Hukum Berdoa Mengharapkan KematianIbnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam,ﻓَﺄَﻯُّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺃَﻛْﻴَﺲُ ﻗَﺎﻝَ : ‏ ﺃَﻛْﺜَﺮُﻫُﻢْ ﻟِﻠْﻤَﻮْﺕِ ﺫِﻛْﺮًﺍ ﻭَﺃَﺣْﺴَﻨُﻬُﻢْ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﺍﺳْﺘِﻌْﺪَﺍﺩًﺍ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﺍﻷَﻛْﻴَﺎﺱُ“‘Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk  untuk alam berikutnya. Itulah mereka yang paling cerdas’” (HR. Ibnu Majah).Hendaknya banyak mengingat kematianHendaknya kita memperbanyak mengingat kematian dan langsung teringat dengan kehidupan akhirat, lalu kita berusaha mempersiapkannya dan tidak lalai. Mau tidak mau, kita pasti akan mengingat kematian, karena kita semua pasti akan mati.Allah Ta’ala berfirman,كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali ‘Imran: 185).Dan kita tidak akan bisa lari dari kematian.Allah Ta’ala berfirman,ﻗُﻞْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗَﻔِﺮُّﻭﻥَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣُﻼَﻗِﻴﻜُﻢ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu’” (QS. Al-Jumu’ah: 8).Semoga kita termasuk orang yang banyak mengingat kematian dan menyiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.Baca Juga: Mendatangkan Arwah Orang Mati, Mungkinkah? Menyia-nyiakan Waktu Lebih Berbahaya dari Kematian —@Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: muslim.or.id


Salah kaprah dalam mengingat kematianSebagian kaum muslimin bisa jadi salah paham dengan maksud hadis “perbanyaklah mengingat kematian.” Ketika mendengar hadis ini, mereka langsung menyangka bahwa mereka diperintahkan untuk mengingat hal-hal yang mengerikan dan seram. Misalnya,“Keluargamu akan terlantar.”“Anakmu akan menjadi yatim, istrimu akan menjadi janda.”“Engkau akan mati dengan ngerinya sakaratul maut.”“Engkau akan mati mengenaskan seperti tertabrak, sesak napas tiba-tiba, atau kena serangan jantung.”Dan lain sebagainya.Sebagian kaum muslimin langsung mengingat hal-hal yang justru membuat mereka semakin susah karena mengingat kematian. Padahal bukan ini yang menjadi maksud utama perintah agar memperbanyak mengingat mati. Salah satu maksudnya adalah agar melembutkan hati dan meringankan beban dunia dengan merenungi hakikat kehidupan. Bahkan kehidupan dunia ini hanya sementara saja dan akhirat itu kekal. Pintu gerbang menuju kehidupan sejati dan kehidupan sebenarnya adalah kematian. Berikut sedikit pembahasannya.Perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengingat matiRasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita agar memperbanyak mengingat mati. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺃَﻛْﺜِﺮُﻭﺍ ﺫِﻛْﺮَ ﻫَﺎﺫِﻡِ ﺍﻟﻠَّﺬَّﺍﺕِ ‏ ﻳَﻌْﻨِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian” (HR. Tirmidzi).Maksud kata “memutuskan kelezatan” dalam hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallamBanyak yang bertanya-tanya, apa maksud memutuskan kelezatan. Apakah kita tidak boleh menikmati kelezatan dunia? Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah menjelaskan bahwa maksudnya yaitu agar kita memikirkan akhirat yang merupakan kehidupan abadi dan jauh lebih baik. Dengan mengingat akhirat, kita tidak akan bersenang-senang saja di dunia dan melupakan akhirat. Beliau Rahimahullah berkata,الموت، يعني: اجعلوه على بالكم كثيرًا حتى تعدوا العدّة، والهادم: القاطع؛ لأنَّه يقطع اللَّذات في الدنيا، ولكنه يُدني من لذَّات الآخرة، ويُقرِّب من لذَّات الآخرة،“Maksud dari mengingat kematian yaitu menjadikannya sering teringat dalam pikiran kita, agar kita menyiapkan bekal. Maksud dari ‘pemutus’ yaitu memutuskan kelezatan di dunia dan mendekatkan dengan kelezatan akhirat” (Syarh Bulughul Maram, Kitab Al-Janaiz).Baca Juga: Mati Mendadak Adalah Istirahat & Kenikmatan Bagi MukminManfaat mengingat kematianMengingat kematian juga memiliki beberapa manfaat, beberapa ulama menyebutkan manfaat-manfaat tersebut. Ad-Daqqaq Rahimahullah menjelaskan,من أكثر من ذكر الموت أكرم بثلاثة أشياء: تعجيل التوبة، وقناعة القلب، ونشاط العبادة. ومن نسي الموت عوقب بثلاثة أشياء: تسويف التوبة، وترك الرضى بالكفاف، والتكاسل في العبادة“Barangsiapa yang banyak mengingat kematian, dia akan dimuliakan dengan tiga perkara, yaitu: (1) bersegera dalam bertaubat, (2) hati yang qanaah, (3) bersemangat melakukan ibadah. Barangsiapa yang lupa mengingat kematian, dia akan dihukum dengan tiga perkara, yaitu: (1) menunda-nunda taubat, (2) tidak rida terhadap pemberian (takdir) Allah, (3) malas beribadah” (At-Tadzkirah, 1: 27).Begitu banyaknya manfaat mengingat kematian. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut orang yang pintar adalah orang yang mengingat kematian, lalu mempersiapkan kehidupan setelah kematian. Sebagaimana kita ketahui bahwa apabila kita ingin mempersiapkan sesuatu, pasti kita akan sering mengingatnya.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ﺍﻟْﻜَﻴِّﺲُ ﻣَﻦْ ﺩَﺍﻥَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ، ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﺟِﺰُ ﻣَﻦْ ﺃَﺗْﺒَﻊَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻫَﻮَﺍﻫَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻤَﻨَّﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ“Orang yang pandai adalah  orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal (mencurahkan semua potensi) untuk kepentingan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsu, kemudian berangan-angan kosong kepada Allah” (HR. Tirmidzi).Orang yang mengingat kematian adalah orang yang pandai dan selalu penuh perhitungan. Bagaimana tidak, dia benar-benar memperhitungkan dan menyiapkan kehidupan yang kekal selamanya, dibandingkan kehidupan yang hanya sementara saja.Syekh Al-Mubarakfuri menjelaskan makna “al-Kayyis” yaitu orang yang pandai dan berakal. Beliau Rahimahullah berkata,أي العاقل المتبصر في الأمور الناظر في العواقب“Al-Kayyis yaitu yang berakal dan suka berpikir (merenungkan) pada suatu urusan dan suka memperhatikan akibat-akibatnya (dampak atau hasil akhir)” (Tuhfatul Ahwadzi, 8: 108).Hal ini diperkuat dengan riwayat lainnya, di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan orang yang cerdas adalah orang yang banyak mengingat kematian.Baca Juga: Hukum Berdoa Mengharapkan KematianIbnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam,ﻓَﺄَﻯُّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺃَﻛْﻴَﺲُ ﻗَﺎﻝَ : ‏ ﺃَﻛْﺜَﺮُﻫُﻢْ ﻟِﻠْﻤَﻮْﺕِ ﺫِﻛْﺮًﺍ ﻭَﺃَﺣْﺴَﻨُﻬُﻢْ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﺍﺳْﺘِﻌْﺪَﺍﺩًﺍ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﺍﻷَﻛْﻴَﺎﺱُ“‘Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk  untuk alam berikutnya. Itulah mereka yang paling cerdas’” (HR. Ibnu Majah).Hendaknya banyak mengingat kematianHendaknya kita memperbanyak mengingat kematian dan langsung teringat dengan kehidupan akhirat, lalu kita berusaha mempersiapkannya dan tidak lalai. Mau tidak mau, kita pasti akan mengingat kematian, karena kita semua pasti akan mati.Allah Ta’ala berfirman,كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali ‘Imran: 185).Dan kita tidak akan bisa lari dari kematian.Allah Ta’ala berfirman,ﻗُﻞْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗَﻔِﺮُّﻭﻥَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣُﻼَﻗِﻴﻜُﻢ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu’” (QS. Al-Jumu’ah: 8).Semoga kita termasuk orang yang banyak mengingat kematian dan menyiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.Baca Juga: Mendatangkan Arwah Orang Mati, Mungkinkah? Menyia-nyiakan Waktu Lebih Berbahaya dari Kematian —@Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: muslim.or.id
Prev     Next