Laporan Produksi Yufid Bulan Juli 2022

Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara gratis untuk semua kalangan masyarakat. Selama lebih dari 12 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, yaitu Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah ada lebih dari 16.000 (enam belas ribu) video yang sudah dipublikasikan dan dapat dinikmati oleh seluruh umat muslim di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 633 juta kali.  Selain di YouTube, Yufid juga memiliki beberapa website yang telah menyediakan hampir 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website yang berada di bawah naungan Yufid, seperti konsultasisyariah.com, kisahmuslim.com, khotbahjumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah. Mulai awal tahun 2022, kami Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar para pemirsa dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produksi dari Yufid itu sendiri, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama.  1. Channel YouTube YUFID.TV  (https://www.youtube.com/yufid) Jumlah Video : 15.119Jumlah Subscribers :  3.551.054Total Tayangan Video (Total Views) :  564.635.005Rata-rata Produksi Perbulan : 110 videoTayangan Video/Bulan Juli (Views/Month) : 10.890.805Jam Tayang Video/Bulan Juli (Watch time/Month) : 1.543.756 JamPenambahan Subscribers : 48.826 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 168 video. 2. Channel YouTube YUFID EDU  (https://www.youtube.com/yufidedu) Jumlah Video : 1.619Jumlah Subscribers :  269.743Total Tayangan Video (Total Views) :  18.083.908Rata-rata Produksi Perbulan : 15 videoTayangan Video/Bulan Juli (Views/Month) : 158.707Jam Tayang Video/Bulan Juli (Watch time/Month) : 8.462 JamPenambahan Subscribers : 2.044 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 57 video. 3. Channel YouTube YUFID KIDS (https://www.youtube.com/yufidkids) Jumlah Video : 70Jumlah Subscribers :  274.070Total Tayangan Video (Total Views) :  74.046.419Rata-rata Produksi Perbulan : 1 videoTayangan Video/Bulan Juli (Views/Month) : 2.546.867Jam Tayang Video/Bulan Juli (Watch time/Month) : 160.779 JamPenambahan Subscribers : 6.327 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022 channel Yufid Kids telah mempublikasikan 1 video.  Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  4. Channel YouTube Dunia Mengaji  (https://www.youtube.com/channel/UCY17jHxhMDhFhBYKNr7aCew) Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272Jumlah Subscribers : 4.083Total Tayangan Video (Total Views) : 410.150Rata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulanTayangan Video/Bulan Juli (Views/Month) : 3.182Jam Tayang Video/Bulan Juli (Watch time/Month) : 594 JamPenambahan Subscribers : 36 5. Channel YouTube العلم نور (https://www.youtube.com/channel/UCLFxhG3-8bloS720P9YXKcQ) Jumlah Video : 339Jumlah Subscribers : 26.400Total Tayangan Video (Total Views) : 1.083.911Rata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulanTayangan Video/Bulan Juli (Views/Month) : 18.588Jam Tayang Video/Bulan Juli (Watch time/Month) :  JamPenambahan Subscribers Perbulan : 500 6. Instagram Yufid TV  (https://www.instagram.com/yufid.tv/) Total Konten : 2.832Total Pengikut : 1.125.417Rata-Rata Produksi : 46 Konten/bulanPenambahan Follower : 9.231 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022 akun Instagram Yufid TV telah memposting 63 konten. 7. Instagram Yufid Network  (https://www.instagram.com/yufid/) Total Konten : 2.853Total Pengikut : 488.386Rata-Rata Produksi : 46 Konten/bulanPenambahan Follower : 4.535 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  8. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 30 video. 9. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022, video Motion Graphic dan Yufid Kids telah mempublikasikan 2 video.  Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  10. Website KonsultasiSyariah.com  (https://konsultasisyariah.com/) KonsultasiSyariah.com adalah sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4752 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1702 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV di YouTube. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2022, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 21 artikel.  11. Website KisahMuslim.com  (https://kisahmuslim.com/) KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1049 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel. 12.  Website KhotbahJumat.com  (https://khotbahjumat.com/) KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah Shalat Jumat, terdapat 1166 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2022, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 5 artikel.  13. Website PengusahaMuslim.com  (https://pengusahamuslim.com/) PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2466 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  14. Website Kajian.net  (https://kajian.net/) Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar. Total audio yang tersedia dalam website kajian.net hingga bulan Juli 2022 yaitu 22.001 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Juli 2022 ini saja telah didengarkan 37.692 kali dan telah di download sebanyak 1.636 file audio.  15. Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website.  Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1,5 juta lebih kata dengan rata-rata produksi per bulan 38 ribu kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022, project terjemahan ini telah memproduksi 71.720 kata. 16.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam menjadi audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 1.702 artikel dengan total durasi audio 122 jam, dan audio yang direkam sebulan terakhir bulan Juli 2022 yaitu 29 artikel dengan jumlah durasi 3,5 jam. 17. Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. 🔍 Urutan Wali Nikah, Memotong Rambut Saat Haid, Hukum Imunisasi Menurut Ulama Salaf, Berapa Ayat Surat Al Kahfi Yang Dibaca Pada Hari Jumat, Arti Kodam, Syarat Penyembelihan Hewan Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 199 QRIS donasi Yufid

Laporan Produksi Yufid Bulan Juli 2022

Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara gratis untuk semua kalangan masyarakat. Selama lebih dari 12 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, yaitu Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah ada lebih dari 16.000 (enam belas ribu) video yang sudah dipublikasikan dan dapat dinikmati oleh seluruh umat muslim di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 633 juta kali.  Selain di YouTube, Yufid juga memiliki beberapa website yang telah menyediakan hampir 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website yang berada di bawah naungan Yufid, seperti konsultasisyariah.com, kisahmuslim.com, khotbahjumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah. Mulai awal tahun 2022, kami Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar para pemirsa dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produksi dari Yufid itu sendiri, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama.  1. Channel YouTube YUFID.TV  (https://www.youtube.com/yufid) Jumlah Video : 15.119Jumlah Subscribers :  3.551.054Total Tayangan Video (Total Views) :  564.635.005Rata-rata Produksi Perbulan : 110 videoTayangan Video/Bulan Juli (Views/Month) : 10.890.805Jam Tayang Video/Bulan Juli (Watch time/Month) : 1.543.756 JamPenambahan Subscribers : 48.826 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 168 video. 2. Channel YouTube YUFID EDU  (https://www.youtube.com/yufidedu) Jumlah Video : 1.619Jumlah Subscribers :  269.743Total Tayangan Video (Total Views) :  18.083.908Rata-rata Produksi Perbulan : 15 videoTayangan Video/Bulan Juli (Views/Month) : 158.707Jam Tayang Video/Bulan Juli (Watch time/Month) : 8.462 JamPenambahan Subscribers : 2.044 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 57 video. 3. Channel YouTube YUFID KIDS (https://www.youtube.com/yufidkids) Jumlah Video : 70Jumlah Subscribers :  274.070Total Tayangan Video (Total Views) :  74.046.419Rata-rata Produksi Perbulan : 1 videoTayangan Video/Bulan Juli (Views/Month) : 2.546.867Jam Tayang Video/Bulan Juli (Watch time/Month) : 160.779 JamPenambahan Subscribers : 6.327 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022 channel Yufid Kids telah mempublikasikan 1 video.  Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  4. Channel YouTube Dunia Mengaji  (https://www.youtube.com/channel/UCY17jHxhMDhFhBYKNr7aCew) Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272Jumlah Subscribers : 4.083Total Tayangan Video (Total Views) : 410.150Rata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulanTayangan Video/Bulan Juli (Views/Month) : 3.182Jam Tayang Video/Bulan Juli (Watch time/Month) : 594 JamPenambahan Subscribers : 36 5. Channel YouTube العلم نور (https://www.youtube.com/channel/UCLFxhG3-8bloS720P9YXKcQ) Jumlah Video : 339Jumlah Subscribers : 26.400Total Tayangan Video (Total Views) : 1.083.911Rata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulanTayangan Video/Bulan Juli (Views/Month) : 18.588Jam Tayang Video/Bulan Juli (Watch time/Month) :  JamPenambahan Subscribers Perbulan : 500 6. Instagram Yufid TV  (https://www.instagram.com/yufid.tv/) Total Konten : 2.832Total Pengikut : 1.125.417Rata-Rata Produksi : 46 Konten/bulanPenambahan Follower : 9.231 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022 akun Instagram Yufid TV telah memposting 63 konten. 7. Instagram Yufid Network  (https://www.instagram.com/yufid/) Total Konten : 2.853Total Pengikut : 488.386Rata-Rata Produksi : 46 Konten/bulanPenambahan Follower : 4.535 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  8. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 30 video. 9. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022, video Motion Graphic dan Yufid Kids telah mempublikasikan 2 video.  Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  10. Website KonsultasiSyariah.com  (https://konsultasisyariah.com/) KonsultasiSyariah.com adalah sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4752 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1702 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV di YouTube. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2022, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 21 artikel.  11. Website KisahMuslim.com  (https://kisahmuslim.com/) KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1049 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel. 12.  Website KhotbahJumat.com  (https://khotbahjumat.com/) KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah Shalat Jumat, terdapat 1166 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2022, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 5 artikel.  13. Website PengusahaMuslim.com  (https://pengusahamuslim.com/) PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2466 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  14. Website Kajian.net  (https://kajian.net/) Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar. Total audio yang tersedia dalam website kajian.net hingga bulan Juli 2022 yaitu 22.001 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Juli 2022 ini saja telah didengarkan 37.692 kali dan telah di download sebanyak 1.636 file audio.  15. Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website.  Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1,5 juta lebih kata dengan rata-rata produksi per bulan 38 ribu kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022, project terjemahan ini telah memproduksi 71.720 kata. 16.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam menjadi audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 1.702 artikel dengan total durasi audio 122 jam, dan audio yang direkam sebulan terakhir bulan Juli 2022 yaitu 29 artikel dengan jumlah durasi 3,5 jam. 17. Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. 🔍 Urutan Wali Nikah, Memotong Rambut Saat Haid, Hukum Imunisasi Menurut Ulama Salaf, Berapa Ayat Surat Al Kahfi Yang Dibaca Pada Hari Jumat, Arti Kodam, Syarat Penyembelihan Hewan Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 199 QRIS donasi Yufid
Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara gratis untuk semua kalangan masyarakat. Selama lebih dari 12 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, yaitu Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah ada lebih dari 16.000 (enam belas ribu) video yang sudah dipublikasikan dan dapat dinikmati oleh seluruh umat muslim di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 633 juta kali.  Selain di YouTube, Yufid juga memiliki beberapa website yang telah menyediakan hampir 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website yang berada di bawah naungan Yufid, seperti konsultasisyariah.com, kisahmuslim.com, khotbahjumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah. Mulai awal tahun 2022, kami Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar para pemirsa dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produksi dari Yufid itu sendiri, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama.  1. Channel YouTube YUFID.TV  (https://www.youtube.com/yufid) Jumlah Video : 15.119Jumlah Subscribers :  3.551.054Total Tayangan Video (Total Views) :  564.635.005Rata-rata Produksi Perbulan : 110 videoTayangan Video/Bulan Juli (Views/Month) : 10.890.805Jam Tayang Video/Bulan Juli (Watch time/Month) : 1.543.756 JamPenambahan Subscribers : 48.826 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 168 video. 2. Channel YouTube YUFID EDU  (https://www.youtube.com/yufidedu) Jumlah Video : 1.619Jumlah Subscribers :  269.743Total Tayangan Video (Total Views) :  18.083.908Rata-rata Produksi Perbulan : 15 videoTayangan Video/Bulan Juli (Views/Month) : 158.707Jam Tayang Video/Bulan Juli (Watch time/Month) : 8.462 JamPenambahan Subscribers : 2.044 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 57 video. 3. Channel YouTube YUFID KIDS (https://www.youtube.com/yufidkids) Jumlah Video : 70Jumlah Subscribers :  274.070Total Tayangan Video (Total Views) :  74.046.419Rata-rata Produksi Perbulan : 1 videoTayangan Video/Bulan Juli (Views/Month) : 2.546.867Jam Tayang Video/Bulan Juli (Watch time/Month) : 160.779 JamPenambahan Subscribers : 6.327 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022 channel Yufid Kids telah mempublikasikan 1 video.  Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  4. Channel YouTube Dunia Mengaji  (https://www.youtube.com/channel/UCY17jHxhMDhFhBYKNr7aCew) Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272Jumlah Subscribers : 4.083Total Tayangan Video (Total Views) : 410.150Rata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulanTayangan Video/Bulan Juli (Views/Month) : 3.182Jam Tayang Video/Bulan Juli (Watch time/Month) : 594 JamPenambahan Subscribers : 36 5. Channel YouTube العلم نور (https://www.youtube.com/channel/UCLFxhG3-8bloS720P9YXKcQ) Jumlah Video : 339Jumlah Subscribers : 26.400Total Tayangan Video (Total Views) : 1.083.911Rata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulanTayangan Video/Bulan Juli (Views/Month) : 18.588Jam Tayang Video/Bulan Juli (Watch time/Month) :  JamPenambahan Subscribers Perbulan : 500 6. Instagram Yufid TV  (https://www.instagram.com/yufid.tv/) Total Konten : 2.832Total Pengikut : 1.125.417Rata-Rata Produksi : 46 Konten/bulanPenambahan Follower : 9.231 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022 akun Instagram Yufid TV telah memposting 63 konten. 7. Instagram Yufid Network  (https://www.instagram.com/yufid/) Total Konten : 2.853Total Pengikut : 488.386Rata-Rata Produksi : 46 Konten/bulanPenambahan Follower : 4.535 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  8. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 30 video. 9. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022, video Motion Graphic dan Yufid Kids telah mempublikasikan 2 video.  Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  10. Website KonsultasiSyariah.com  (https://konsultasisyariah.com/) KonsultasiSyariah.com adalah sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4752 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1702 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV di YouTube. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2022, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 21 artikel.  11. Website KisahMuslim.com  (https://kisahmuslim.com/) KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1049 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel. 12.  Website KhotbahJumat.com  (https://khotbahjumat.com/) KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah Shalat Jumat, terdapat 1166 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2022, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 5 artikel.  13. Website PengusahaMuslim.com  (https://pengusahamuslim.com/) PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2466 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  14. Website Kajian.net  (https://kajian.net/) Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar. Total audio yang tersedia dalam website kajian.net hingga bulan Juli 2022 yaitu 22.001 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Juli 2022 ini saja telah didengarkan 37.692 kali dan telah di download sebanyak 1.636 file audio.  15. Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website.  Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1,5 juta lebih kata dengan rata-rata produksi per bulan 38 ribu kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022, project terjemahan ini telah memproduksi 71.720 kata. 16.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam menjadi audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 1.702 artikel dengan total durasi audio 122 jam, dan audio yang direkam sebulan terakhir bulan Juli 2022 yaitu 29 artikel dengan jumlah durasi 3,5 jam. 17. Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. 🔍 Urutan Wali Nikah, Memotong Rambut Saat Haid, Hukum Imunisasi Menurut Ulama Salaf, Berapa Ayat Surat Al Kahfi Yang Dibaca Pada Hari Jumat, Arti Kodam, Syarat Penyembelihan Hewan Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 199 QRIS donasi Yufid


Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara gratis untuk semua kalangan masyarakat. Selama lebih dari 12 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, yaitu Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah ada lebih dari 16.000 (enam belas ribu) video yang sudah dipublikasikan dan dapat dinikmati oleh seluruh umat muslim di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 633 juta kali.  Selain di YouTube, Yufid juga memiliki beberapa website yang telah menyediakan hampir 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website yang berada di bawah naungan Yufid, seperti konsultasisyariah.com, kisahmuslim.com, khotbahjumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah. Mulai awal tahun 2022, kami Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar para pemirsa dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produksi dari Yufid itu sendiri, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama.  1. Channel YouTube YUFID.TV  (https://www.youtube.com/yufid) Jumlah Video : 15.119Jumlah Subscribers :  3.551.054Total Tayangan Video (Total Views) :  564.635.005Rata-rata Produksi Perbulan : 110 videoTayangan Video/Bulan Juli (Views/Month) : 10.890.805Jam Tayang Video/Bulan Juli (Watch time/Month) : 1.543.756 JamPenambahan Subscribers : 48.826 <img decoding="async" src="https://lh4.googleusercontent.com/Tp36OJSENc2LdhRyeZ8DC8J8FB2-PBIFKx4q4w5GluQxmSU2KdCo3PzQYXA4gD3m1LbRETYXjEqX25XlXZwbuFXrnwVIdieLYa9VOFymf7HO2mRTlINU23UBaaGjT9jdjAcnra5ptBoj8WVdja_FhBw" alt="" width="660" height="496"/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 168 video. 2. Channel YouTube YUFID EDU  (https://www.youtube.com/yufidedu) Jumlah Video : 1.619Jumlah Subscribers :  269.743Total Tayangan Video (Total Views) :  18.083.908Rata-rata Produksi Perbulan : 15 videoTayangan Video/Bulan Juli (Views/Month) : 158.707Jam Tayang Video/Bulan Juli (Watch time/Month) : 8.462 JamPenambahan Subscribers : 2.044 <img decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/169ZoyxCK1IOalIrbDW94NOxhFfa6UwT1l4Pa-QqT1wLbOT-K9wIbGBGpR1P_lSdN018x-wHCq0QBMHK0AScB0WMAURStnaKJt6nreVlvxAWo-ayHNwcOQiRtpSHUiq86NjcJKGtMKbYaLdlMj2F20c" alt="" width="661" height="497"/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 57 video. 3. Channel YouTube YUFID KIDS (https://www.youtube.com/yufidkids) Jumlah Video : 70Jumlah Subscribers :  274.070Total Tayangan Video (Total Views) :  74.046.419Rata-rata Produksi Perbulan : 1 videoTayangan Video/Bulan Juli (Views/Month) : 2.546.867Jam Tayang Video/Bulan Juli (Watch time/Month) : 160.779 JamPenambahan Subscribers : 6.327 <img decoding="async" src="https://lh4.googleusercontent.com/kMkKxH8e2Av0S4dk4QISNXWZXt0iyL_yZ1l2mQzYXM_HDu4VwsABYMrRNhL5HsSI1hUEDxbkYr1jr60v57tzicIlBTx9mwRWZBRCm95_gRzJEVxYJ9j-zJZ9vgv0ftkkxFl03HR-OmQZ9OctZ0uO3SE" alt="" width="663" height="498"/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022 channel Yufid Kids telah mempublikasikan 1 video.  Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  4. Channel YouTube Dunia Mengaji  (https://www.youtube.com/channel/UCY17jHxhMDhFhBYKNr7aCew) Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272Jumlah Subscribers : 4.083Total Tayangan Video (Total Views) : 410.150Rata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulanTayangan Video/Bulan Juli (Views/Month) : 3.182Jam Tayang Video/Bulan Juli (Watch time/Month) : 594 JamPenambahan Subscribers : 36 5. Channel YouTube العلم نور (https://www.youtube.com/channel/UCLFxhG3-8bloS720P9YXKcQ) Jumlah Video : 339Jumlah Subscribers : 26.400Total Tayangan Video (Total Views) : 1.083.911Rata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulanTayangan Video/Bulan Juli (Views/Month) : 18.588Jam Tayang Video/Bulan Juli (Watch time/Month) :  JamPenambahan Subscribers Perbulan : 500 6. Instagram Yufid TV  (https://www.instagram.com/yufid.tv/) Total Konten : 2.832Total Pengikut : 1.125.417Rata-Rata Produksi : 46 Konten/bulanPenambahan Follower : 9.231 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. <img decoding="async" src="https://lh3.googleusercontent.com/p8k5WHiSJhTMrIe-xMYFz3636cDF4UXC021E5Rg-NYaOkj2T05OPIKXJ46FJJguwb9Lbtb4xGNSomp9oP_HWxlsKnNJmEAj1s4eJJojgnK0ZmeYtyhdi2Ceg4VHGdKR4cQ-9lS-O0q3puH3zMHxoD6c" alt="" width="660" height="495"/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022 akun Instagram Yufid TV telah memposting 63 konten. 7. Instagram Yufid Network  (https://www.instagram.com/yufid/) Total Konten : 2.853Total Pengikut : 488.386Rata-Rata Produksi : 46 Konten/bulanPenambahan Follower : 4.535 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  8. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. <img decoding="async" src="https://lh3.googleusercontent.com/g40KpeEEO5Q2sSOBVWRlwbCTAo2VpIMjvPrrIsShXjjCZoJGlqYAV1fgaLX8mwn4hqZNZhCss6qW5HOSWb-JsmMe2dHd-ROuZX-G_GnZWqSsyxGsSBTIWb0PtsphlLkquhm4CBxXPl9sNL_wOcpISZo" alt="" width="662" height="497"/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022 video Nasehat Ulama telah dipublikasikan sebanyak 30 video. 9. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. <img decoding="async" src="https://lh3.googleusercontent.com/k1eq23W5CSzb49hKKih7GUv1ldLPfq7EDBXhGY4NZyizeH_THayM1SQUYZpiaYWHbHSUgmxlKnhCYGMxDXbGFxO96hkDBeJnWowzVCm8tdv7i3Ywkrm8PLV9bgVsuGmgGZ1R1yV9ZejoJd1i7TzMYUw" alt="" width="661" height="496"/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022, video Motion Graphic dan Yufid Kids telah mempublikasikan 2 video.  Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  10. Website KonsultasiSyariah.com  (https://konsultasisyariah.com/) KonsultasiSyariah.com adalah sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4752 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1702 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV di YouTube. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2022, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 21 artikel.  11. Website KisahMuslim.com  (https://kisahmuslim.com/) KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1049 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel. 12.  Website KhotbahJumat.com  (https://khotbahjumat.com/) KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah Shalat Jumat, terdapat 1166 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2022, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 5 artikel.  13. Website PengusahaMuslim.com  (https://pengusahamuslim.com/) PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2466 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  14. Website Kajian.net  (https://kajian.net/) Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar. Total audio yang tersedia dalam website kajian.net hingga bulan Juli 2022 yaitu 22.001 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Juli 2022 ini saja telah didengarkan 37.692 kali dan telah di download sebanyak 1.636 file audio.  15. Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website.  Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1,5 juta lebih kata dengan rata-rata produksi per bulan 38 ribu kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2022, project terjemahan ini telah memproduksi 71.720 kata. 16.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam menjadi audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 1.702 artikel dengan total durasi audio 122 jam, dan audio yang direkam sebulan terakhir bulan Juli 2022 yaitu 29 artikel dengan jumlah durasi 3,5 jam. 17. Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. 🔍 Urutan Wali Nikah, Memotong Rambut Saat Haid, Hukum Imunisasi Menurut Ulama Salaf, Berapa Ayat Surat Al Kahfi Yang Dibaca Pada Hari Jumat, Arti Kodam, Syarat Penyembelihan Hewan Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 199 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Bergembira Sebagai Seorang Muslim

Segala puji bagi Allah. Selawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. Amma ba’du. Allah Ta’ala berfirman,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan kepada-Nya. Dan janganlah kamu meninggal, kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran: 102)Menjadi muslim merupakan kebahagiaan. Bagaimana tidak? Sebab dengan memeluk Islam kita bisa merasakan nikmatnya hidayah. Tahukah anda, seberapa besar keagungan nikmat ini?Allah Ta’ala berfirman,لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ إِذۡ بَعَثَ فِیهِمۡ رَسُولࣰا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ یَتۡلُوا۟ عَلَیۡهِمۡ ءَایَـٰتِهِۦ وَیُزَكِّیهِمۡ وَیُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبۡلُ لَفِی ضَلَـٰلࣲ مُّبِینٍ“Sungguh Allah telah menganugerahkan kepada orang-orang yang beriman, yaitu ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunnah), padahal sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran: 164)Seorang ahli tafsir kontemporer kenamaan Syekh As-Sa’di rahimahullah (semoga Allah merahmatinya) mengatakan, “Nikmat yang Allah karuniakan kepada hamba-hamba-Nya ini merupakan nikmat yang terbesar, bahkan itulah pokok seluruh kenikmatan yang ada; yaitu karunia kepada mereka dengan diutusnya Rasul yang mulia ini yang dengan perantara (dakwah)nya Allah menyelamatkan mereka dari kesesatan dan menjaga mereka dari kehancuran…” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 155)Ketika menguraikan ayat di atas, Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri hafizhahullah (semoga Allah menjaganya) mengatakan bahwa salah satu pelajaran penting yang dapat dipetik dari ayat ini adalah, “Islam merupakan kenikmatan yang paling agung dan paling mulia bagi umat Islam. Maka, wajib untuk menyukurinya dengan mengamalkan (ajaran)nya serta mengikatkan diri dengan aturan syari’at dan hukum-hukum-Nya.” (Aisar At-Tafasir, Makt. Asy-Syamilah)Maka, menjadi seorang muslim adalah sebuah kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan kenikmatannya, karena betapa agungnya nikmat ini. Inilah kenikmatan yang membuat para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum rela mengorbankan harta, tenaga, waktu, bahkan nyawa mereka untuk berjihad di jalan-Nya. Dahulu, ketika belum mengenal Islam, ada di antara mereka yang begitu benci kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, setelah mereka mengenal kebenaran Islam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berubah menjadi manusia di atas muka bumi ini yang paling mereka cintai.Baca Juga: Sikap Muslim yang Tepat terhadap Perkara DuniawiIni bukan dongeng atau khayalan. Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu mengatakan (setelah masuk Islam) bahwa dulu (di masa jahiliah) tidak ada orang yang lebih dia benci daripada beliau (Nabi). Namun tatkala sudah masuk Islam, maka tidak ada lagi orang yang lebih dia cintai daripada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. (lihat Kitab At-Tauhid li Shaffits Tsalits Al-‘Ali, hal. 66)Oleh sebab itu, merupakan sebuah keburukan dan tindakan yang amat ceroboh tatkala banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan nikmat ini, bahkan menelantarkannya. Benarkah demikian? Lihatlah di sekeliling anda, berapa banyak kaum muslimin yang hidup di negeri ini? 100 juta lebih bukan? Jutaan manusia mengucapkan la ilaha illallah, namun banyak di antara mereka yang belum mengerti kandungan kalimat syahadat yang agung ini. Apa buktinya? Lihatlah, berapa banyak di antara mereka yang masih sering berdoa di kubur-kubur wali dengan tujuan untuk ber-tawassul kepada mereka?! Berapa banyak di antara mereka yang masih percaya dengan dukun dan paranormal?! Berapa banyak di antara mereka yang meremehkan masalah syirik dan menganggap dakwah tauhid sudah ketinggalan jaman?! Cermatilah kenyataan yang pahit ini, niscaya anda akan mengerti bahwa kenikmatan Islam yang Allah anugerahkan kepada anda merupakan kenikmatan yang tiada tara.Maka, tidak semestinya seorang muslim merasa rendah diri di hadapan orang-orang kafir yang konon katanya telah mengalami kemajuan teknologi yang ‘sundul langit’ (mencapai langit, istilah orang Jawa, saya sering mendengar kata-kata ini dari ceramah ustadz Afifi hafizhahullah). Namun, hendaknya dia merasa bangga dan mulia dengan keislamannya. Bergembiralah saudaraku dengan nikmat Islam yang Allah berikan kepadamu! Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَ ٰ⁠لِكَ فَلۡیَفۡرَحُوا۟ هُوَ خَیۡرࣱ مِّمَّا یَجۡمَعُونَ“Katakanlah, dengan keutamaan Allah dan dengan rahmat-Nya, maka dengan itu semua hendaknya mereka merasa bergembira. Hal itu lebih baik daripada apa yang mereka (orang-orang kafir) kumpulkan.” (QS. Yunus : 58)Semoga Allah menambahkan kenikmatan ini kepada saya dan anda. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Hukum Berjual-Beli dan Menggunakan Produk Non-MuslimApa Perbedaan Muslim dan Mukmin?***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Syirik, Fatwa Mui Tentang Koperasi Simpan Pinjam, Mencela, Adab Tidur Rasulullah, Suap Dalam IslamTags: ahlussunnahAqidahaqidah islamislamkeutamaan islamkeutamaan muslimkeutamaan tauhidmanhaj salafmuslimnasihatnasihat islamTauhid

Bergembira Sebagai Seorang Muslim

Segala puji bagi Allah. Selawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. Amma ba’du. Allah Ta’ala berfirman,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan kepada-Nya. Dan janganlah kamu meninggal, kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran: 102)Menjadi muslim merupakan kebahagiaan. Bagaimana tidak? Sebab dengan memeluk Islam kita bisa merasakan nikmatnya hidayah. Tahukah anda, seberapa besar keagungan nikmat ini?Allah Ta’ala berfirman,لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ إِذۡ بَعَثَ فِیهِمۡ رَسُولࣰا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ یَتۡلُوا۟ عَلَیۡهِمۡ ءَایَـٰتِهِۦ وَیُزَكِّیهِمۡ وَیُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبۡلُ لَفِی ضَلَـٰلࣲ مُّبِینٍ“Sungguh Allah telah menganugerahkan kepada orang-orang yang beriman, yaitu ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunnah), padahal sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran: 164)Seorang ahli tafsir kontemporer kenamaan Syekh As-Sa’di rahimahullah (semoga Allah merahmatinya) mengatakan, “Nikmat yang Allah karuniakan kepada hamba-hamba-Nya ini merupakan nikmat yang terbesar, bahkan itulah pokok seluruh kenikmatan yang ada; yaitu karunia kepada mereka dengan diutusnya Rasul yang mulia ini yang dengan perantara (dakwah)nya Allah menyelamatkan mereka dari kesesatan dan menjaga mereka dari kehancuran…” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 155)Ketika menguraikan ayat di atas, Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri hafizhahullah (semoga Allah menjaganya) mengatakan bahwa salah satu pelajaran penting yang dapat dipetik dari ayat ini adalah, “Islam merupakan kenikmatan yang paling agung dan paling mulia bagi umat Islam. Maka, wajib untuk menyukurinya dengan mengamalkan (ajaran)nya serta mengikatkan diri dengan aturan syari’at dan hukum-hukum-Nya.” (Aisar At-Tafasir, Makt. Asy-Syamilah)Maka, menjadi seorang muslim adalah sebuah kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan kenikmatannya, karena betapa agungnya nikmat ini. Inilah kenikmatan yang membuat para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum rela mengorbankan harta, tenaga, waktu, bahkan nyawa mereka untuk berjihad di jalan-Nya. Dahulu, ketika belum mengenal Islam, ada di antara mereka yang begitu benci kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, setelah mereka mengenal kebenaran Islam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berubah menjadi manusia di atas muka bumi ini yang paling mereka cintai.Baca Juga: Sikap Muslim yang Tepat terhadap Perkara DuniawiIni bukan dongeng atau khayalan. Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu mengatakan (setelah masuk Islam) bahwa dulu (di masa jahiliah) tidak ada orang yang lebih dia benci daripada beliau (Nabi). Namun tatkala sudah masuk Islam, maka tidak ada lagi orang yang lebih dia cintai daripada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. (lihat Kitab At-Tauhid li Shaffits Tsalits Al-‘Ali, hal. 66)Oleh sebab itu, merupakan sebuah keburukan dan tindakan yang amat ceroboh tatkala banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan nikmat ini, bahkan menelantarkannya. Benarkah demikian? Lihatlah di sekeliling anda, berapa banyak kaum muslimin yang hidup di negeri ini? 100 juta lebih bukan? Jutaan manusia mengucapkan la ilaha illallah, namun banyak di antara mereka yang belum mengerti kandungan kalimat syahadat yang agung ini. Apa buktinya? Lihatlah, berapa banyak di antara mereka yang masih sering berdoa di kubur-kubur wali dengan tujuan untuk ber-tawassul kepada mereka?! Berapa banyak di antara mereka yang masih percaya dengan dukun dan paranormal?! Berapa banyak di antara mereka yang meremehkan masalah syirik dan menganggap dakwah tauhid sudah ketinggalan jaman?! Cermatilah kenyataan yang pahit ini, niscaya anda akan mengerti bahwa kenikmatan Islam yang Allah anugerahkan kepada anda merupakan kenikmatan yang tiada tara.Maka, tidak semestinya seorang muslim merasa rendah diri di hadapan orang-orang kafir yang konon katanya telah mengalami kemajuan teknologi yang ‘sundul langit’ (mencapai langit, istilah orang Jawa, saya sering mendengar kata-kata ini dari ceramah ustadz Afifi hafizhahullah). Namun, hendaknya dia merasa bangga dan mulia dengan keislamannya. Bergembiralah saudaraku dengan nikmat Islam yang Allah berikan kepadamu! Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَ ٰ⁠لِكَ فَلۡیَفۡرَحُوا۟ هُوَ خَیۡرࣱ مِّمَّا یَجۡمَعُونَ“Katakanlah, dengan keutamaan Allah dan dengan rahmat-Nya, maka dengan itu semua hendaknya mereka merasa bergembira. Hal itu lebih baik daripada apa yang mereka (orang-orang kafir) kumpulkan.” (QS. Yunus : 58)Semoga Allah menambahkan kenikmatan ini kepada saya dan anda. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Hukum Berjual-Beli dan Menggunakan Produk Non-MuslimApa Perbedaan Muslim dan Mukmin?***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Syirik, Fatwa Mui Tentang Koperasi Simpan Pinjam, Mencela, Adab Tidur Rasulullah, Suap Dalam IslamTags: ahlussunnahAqidahaqidah islamislamkeutamaan islamkeutamaan muslimkeutamaan tauhidmanhaj salafmuslimnasihatnasihat islamTauhid
Segala puji bagi Allah. Selawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. Amma ba’du. Allah Ta’ala berfirman,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan kepada-Nya. Dan janganlah kamu meninggal, kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran: 102)Menjadi muslim merupakan kebahagiaan. Bagaimana tidak? Sebab dengan memeluk Islam kita bisa merasakan nikmatnya hidayah. Tahukah anda, seberapa besar keagungan nikmat ini?Allah Ta’ala berfirman,لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ إِذۡ بَعَثَ فِیهِمۡ رَسُولࣰا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ یَتۡلُوا۟ عَلَیۡهِمۡ ءَایَـٰتِهِۦ وَیُزَكِّیهِمۡ وَیُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبۡلُ لَفِی ضَلَـٰلࣲ مُّبِینٍ“Sungguh Allah telah menganugerahkan kepada orang-orang yang beriman, yaitu ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunnah), padahal sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran: 164)Seorang ahli tafsir kontemporer kenamaan Syekh As-Sa’di rahimahullah (semoga Allah merahmatinya) mengatakan, “Nikmat yang Allah karuniakan kepada hamba-hamba-Nya ini merupakan nikmat yang terbesar, bahkan itulah pokok seluruh kenikmatan yang ada; yaitu karunia kepada mereka dengan diutusnya Rasul yang mulia ini yang dengan perantara (dakwah)nya Allah menyelamatkan mereka dari kesesatan dan menjaga mereka dari kehancuran…” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 155)Ketika menguraikan ayat di atas, Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri hafizhahullah (semoga Allah menjaganya) mengatakan bahwa salah satu pelajaran penting yang dapat dipetik dari ayat ini adalah, “Islam merupakan kenikmatan yang paling agung dan paling mulia bagi umat Islam. Maka, wajib untuk menyukurinya dengan mengamalkan (ajaran)nya serta mengikatkan diri dengan aturan syari’at dan hukum-hukum-Nya.” (Aisar At-Tafasir, Makt. Asy-Syamilah)Maka, menjadi seorang muslim adalah sebuah kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan kenikmatannya, karena betapa agungnya nikmat ini. Inilah kenikmatan yang membuat para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum rela mengorbankan harta, tenaga, waktu, bahkan nyawa mereka untuk berjihad di jalan-Nya. Dahulu, ketika belum mengenal Islam, ada di antara mereka yang begitu benci kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, setelah mereka mengenal kebenaran Islam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berubah menjadi manusia di atas muka bumi ini yang paling mereka cintai.Baca Juga: Sikap Muslim yang Tepat terhadap Perkara DuniawiIni bukan dongeng atau khayalan. Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu mengatakan (setelah masuk Islam) bahwa dulu (di masa jahiliah) tidak ada orang yang lebih dia benci daripada beliau (Nabi). Namun tatkala sudah masuk Islam, maka tidak ada lagi orang yang lebih dia cintai daripada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. (lihat Kitab At-Tauhid li Shaffits Tsalits Al-‘Ali, hal. 66)Oleh sebab itu, merupakan sebuah keburukan dan tindakan yang amat ceroboh tatkala banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan nikmat ini, bahkan menelantarkannya. Benarkah demikian? Lihatlah di sekeliling anda, berapa banyak kaum muslimin yang hidup di negeri ini? 100 juta lebih bukan? Jutaan manusia mengucapkan la ilaha illallah, namun banyak di antara mereka yang belum mengerti kandungan kalimat syahadat yang agung ini. Apa buktinya? Lihatlah, berapa banyak di antara mereka yang masih sering berdoa di kubur-kubur wali dengan tujuan untuk ber-tawassul kepada mereka?! Berapa banyak di antara mereka yang masih percaya dengan dukun dan paranormal?! Berapa banyak di antara mereka yang meremehkan masalah syirik dan menganggap dakwah tauhid sudah ketinggalan jaman?! Cermatilah kenyataan yang pahit ini, niscaya anda akan mengerti bahwa kenikmatan Islam yang Allah anugerahkan kepada anda merupakan kenikmatan yang tiada tara.Maka, tidak semestinya seorang muslim merasa rendah diri di hadapan orang-orang kafir yang konon katanya telah mengalami kemajuan teknologi yang ‘sundul langit’ (mencapai langit, istilah orang Jawa, saya sering mendengar kata-kata ini dari ceramah ustadz Afifi hafizhahullah). Namun, hendaknya dia merasa bangga dan mulia dengan keislamannya. Bergembiralah saudaraku dengan nikmat Islam yang Allah berikan kepadamu! Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَ ٰ⁠لِكَ فَلۡیَفۡرَحُوا۟ هُوَ خَیۡرࣱ مِّمَّا یَجۡمَعُونَ“Katakanlah, dengan keutamaan Allah dan dengan rahmat-Nya, maka dengan itu semua hendaknya mereka merasa bergembira. Hal itu lebih baik daripada apa yang mereka (orang-orang kafir) kumpulkan.” (QS. Yunus : 58)Semoga Allah menambahkan kenikmatan ini kepada saya dan anda. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Hukum Berjual-Beli dan Menggunakan Produk Non-MuslimApa Perbedaan Muslim dan Mukmin?***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Syirik, Fatwa Mui Tentang Koperasi Simpan Pinjam, Mencela, Adab Tidur Rasulullah, Suap Dalam IslamTags: ahlussunnahAqidahaqidah islamislamkeutamaan islamkeutamaan muslimkeutamaan tauhidmanhaj salafmuslimnasihatnasihat islamTauhid


Segala puji bagi Allah. Selawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. Amma ba’du. Allah Ta’ala berfirman,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan kepada-Nya. Dan janganlah kamu meninggal, kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran: 102)Menjadi muslim merupakan kebahagiaan. Bagaimana tidak? Sebab dengan memeluk Islam kita bisa merasakan nikmatnya hidayah. Tahukah anda, seberapa besar keagungan nikmat ini?Allah Ta’ala berfirman,لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ إِذۡ بَعَثَ فِیهِمۡ رَسُولࣰا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ یَتۡلُوا۟ عَلَیۡهِمۡ ءَایَـٰتِهِۦ وَیُزَكِّیهِمۡ وَیُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبۡلُ لَفِی ضَلَـٰلࣲ مُّبِینٍ“Sungguh Allah telah menganugerahkan kepada orang-orang yang beriman, yaitu ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunnah), padahal sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran: 164)Seorang ahli tafsir kontemporer kenamaan Syekh As-Sa’di rahimahullah (semoga Allah merahmatinya) mengatakan, “Nikmat yang Allah karuniakan kepada hamba-hamba-Nya ini merupakan nikmat yang terbesar, bahkan itulah pokok seluruh kenikmatan yang ada; yaitu karunia kepada mereka dengan diutusnya Rasul yang mulia ini yang dengan perantara (dakwah)nya Allah menyelamatkan mereka dari kesesatan dan menjaga mereka dari kehancuran…” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 155)Ketika menguraikan ayat di atas, Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri hafizhahullah (semoga Allah menjaganya) mengatakan bahwa salah satu pelajaran penting yang dapat dipetik dari ayat ini adalah, “Islam merupakan kenikmatan yang paling agung dan paling mulia bagi umat Islam. Maka, wajib untuk menyukurinya dengan mengamalkan (ajaran)nya serta mengikatkan diri dengan aturan syari’at dan hukum-hukum-Nya.” (Aisar At-Tafasir, Makt. Asy-Syamilah)Maka, menjadi seorang muslim adalah sebuah kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan kenikmatannya, karena betapa agungnya nikmat ini. Inilah kenikmatan yang membuat para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum rela mengorbankan harta, tenaga, waktu, bahkan nyawa mereka untuk berjihad di jalan-Nya. Dahulu, ketika belum mengenal Islam, ada di antara mereka yang begitu benci kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, setelah mereka mengenal kebenaran Islam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berubah menjadi manusia di atas muka bumi ini yang paling mereka cintai.Baca Juga: Sikap Muslim yang Tepat terhadap Perkara DuniawiIni bukan dongeng atau khayalan. Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu mengatakan (setelah masuk Islam) bahwa dulu (di masa jahiliah) tidak ada orang yang lebih dia benci daripada beliau (Nabi). Namun tatkala sudah masuk Islam, maka tidak ada lagi orang yang lebih dia cintai daripada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. (lihat Kitab At-Tauhid li Shaffits Tsalits Al-‘Ali, hal. 66)Oleh sebab itu, merupakan sebuah keburukan dan tindakan yang amat ceroboh tatkala banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan nikmat ini, bahkan menelantarkannya. Benarkah demikian? Lihatlah di sekeliling anda, berapa banyak kaum muslimin yang hidup di negeri ini? 100 juta lebih bukan? Jutaan manusia mengucapkan la ilaha illallah, namun banyak di antara mereka yang belum mengerti kandungan kalimat syahadat yang agung ini. Apa buktinya? Lihatlah, berapa banyak di antara mereka yang masih sering berdoa di kubur-kubur wali dengan tujuan untuk ber-tawassul kepada mereka?! Berapa banyak di antara mereka yang masih percaya dengan dukun dan paranormal?! Berapa banyak di antara mereka yang meremehkan masalah syirik dan menganggap dakwah tauhid sudah ketinggalan jaman?! Cermatilah kenyataan yang pahit ini, niscaya anda akan mengerti bahwa kenikmatan Islam yang Allah anugerahkan kepada anda merupakan kenikmatan yang tiada tara.Maka, tidak semestinya seorang muslim merasa rendah diri di hadapan orang-orang kafir yang konon katanya telah mengalami kemajuan teknologi yang ‘sundul langit’ (mencapai langit, istilah orang Jawa, saya sering mendengar kata-kata ini dari ceramah ustadz Afifi hafizhahullah). Namun, hendaknya dia merasa bangga dan mulia dengan keislamannya. Bergembiralah saudaraku dengan nikmat Islam yang Allah berikan kepadamu! Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَ ٰ⁠لِكَ فَلۡیَفۡرَحُوا۟ هُوَ خَیۡرࣱ مِّمَّا یَجۡمَعُونَ“Katakanlah, dengan keutamaan Allah dan dengan rahmat-Nya, maka dengan itu semua hendaknya mereka merasa bergembira. Hal itu lebih baik daripada apa yang mereka (orang-orang kafir) kumpulkan.” (QS. Yunus : 58)Semoga Allah menambahkan kenikmatan ini kepada saya dan anda. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Hukum Berjual-Beli dan Menggunakan Produk Non-MuslimApa Perbedaan Muslim dan Mukmin?***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Syirik, Fatwa Mui Tentang Koperasi Simpan Pinjam, Mencela, Adab Tidur Rasulullah, Suap Dalam IslamTags: ahlussunnahAqidahaqidah islamislamkeutamaan islamkeutamaan muslimkeutamaan tauhidmanhaj salafmuslimnasihatnasihat islamTauhid

Keutamaan dan Urgensi Tauhid

Daftar Isi sembunyikan 1. Urgensi tauhid 2. Tauhid, intisari ajaran Islam 3. Tauhid, fikih yang paling agung Urgensi tauhidIbnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah (penulis Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah) mengatakan,“Ketahuilah, tauhid merupakan seruan pertama dakwah para rasul. Ia adalah fase perjalanan pertama dan maqam awal yang harus dipijak oleh seorang yang menempuh jalan menuju Allah ‘Azza Wajalla.Allah Ta’ala berfirman,لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ فَقَالَ یَـٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤ“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Dia menyerukan ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian, selain Dia.’”(QS. Al-A’raf: 59)Hud ‘alaihis salam mengatakan kepada kaumnya, ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۚ“Sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian, selain Dia.” (QS. Al-A’raf: 65)Shalih ‘alaihis salam mengatakan kepada kaumnya, ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۚ“Sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian, selain Dia.” (QS. Al-A’raf: 73)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ“Tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun sebelum engkau, melainkan Kami telah wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang hak, kecuali Aku. Maka sembahlah Aku saja.” (QS. Al-Anbiya’: 25)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ“Aku diperintahkan untuk memerangi seluruh manusia sampai mereka mau bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Oleh sebab itulah, maka sesungguhnya pendapat yang benar ialah yang menyatakan bahwa kewajiban pertama yang ditanggung oleh setiap hamba adalah bersaksi la ilaha illallah, sehingga tauhid itulah kewajiban yang pertama. Bahkan, dia juga menjadi kewajiban terakhir. Hal ini sebagaimana tercantum dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ“Barangsiapa yang perkataan terakhirnya adalah laa ilaaha illallah pasti masuk surga.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan al-Hakim, dia mensahihkannya dan Adz-Dzahabi menyetujuinya) (lihat Al-Minhah Al-Ilahiyah fi Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal. 35)Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaSyekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan, ”Ketahuilah, semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya. Sesungguhnya hakikat Al-Hanifiyah, yaitu agama yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim adalah engkau beribadah kepada Allah dengan ikhlas dalam melakukan ketaatan (tidak berbuat syirik, pent). Dan dengan hal itulah Allah memerintahkan seluruh manusia dan untuk itulah Allah menciptakan mereka semua…” (Majmu’ah Tauhid, hal. 19)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Tauhid merupakan perkara paling agung yang diperintahkan oleh Allah. Hal ini disebabkan ia (tauhid) menjadi pondasi seluruh ajaran agama. Oleh karena itu, dengan tauhidlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memulai dakwahnya mengajak kepada agama Allah. Demikian juga beliau memerintahkan utusan dakwahnya supaya memulai dakwah dengan perkara ini.” (Syarh Tsalatsatu Ushul, hal. 41).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Mu’adz bin Jabal tatkala hendak diutus berdakwah ke negeri Yaman, “Hendaklah perkara pertama kali yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah syahadat laa ilaaha illallah” dalam riwayat lain, “Supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Di dalam riwayat Muslim dengan lafaz, “Hendaknya perkara paling pertama yang harus engkau sampaikan kepada mereka adalah ibadah kepada Allah.”Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ibadah kepada Allah di sini adalah bertauhid (Fath al-Bari, 20: 440. Asy-Syamilah)Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Tauhid, intisari ajaran IslamSyaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Dan telah diketahui dengan pasti suatu prinsip yang termasuk ajaran agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga disepakati oleh seluruh umat, yaitu pokok ajaran Islam dan perintah pertama yang diberikan kepada manusia ialah syahadat la ilaha illallah wa anna muhammadar rasulullah. Dengan itulah seorang kafir berubah menjadi muslim, musuh menjadi teman, yang semula darah dan hartanya boleh diambil, berubah menjadi terpelihara darah dan hartanya.” (Dikutip dari Fath Al-Majid, hal. 81)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata, “Simpul ajaran agama (Islam) ada pada dua prinsip: [1] Kita tidak menyembah, kecuali kepada Allah, [2] Dan kita tidak menyembah-Nya, kecuali dengan syari’at-Nya, bukan dengan kebid’ahan. Hal ini sebagaimana terkandung dalam firman Allah Ta’ala,فَمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ لِقَاۤءَ رَبِّهِۦ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَلَا یُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا“Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan sesuatu pun (berbuat syirik) dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)Itulah perwujudan dua kalimat syahadat. Syahadat laa ilaha illallah dan syahadat anna muhammadar rasulullah. Pada (syahadat) yang pertama terkandung prinsip bahwa kita tidak beribadah, kecuali kepada-Nya. Sedangkan pada (syahadat) yang kedua terkandung prinsip bahwa Muhammad-lah utusan-Nya yang menyampaikan wahyu dari-Nya. Oleh sebab itu, kita wajib membenarkan beritanya dan mentaati perintahnya.” (Al-‘Ubudiyah, hal. 137)Tauhid, fikih yang paling agungSyekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa pengertian fikih dalam syariat adalah mengetahui hukum-hukum Allah yang berupa akidah ataupun amalan. Maka, dalam pengertian syariat, fikih tidaklah hanya terbatas pada urusan amal perbuatan orang yang dibebani syariat atau hukum amaliah semata. Akan tetapi, fikih itu juga mencakup hukum-hukum akidah. Bahkan, sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya ilmu akidah itulah fikih yang terbesar (al-fiqh al-akbar).”Ini adalah pernyataan yang benar. Sebab, anda tidak mungkin bisa beribadah dengan benar kepada Al-Ma’bud (Allah), kecuali setelah mengetahui keesaan-Nya dalam hal rububiyah-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan uluhiyah-Nya. Kalau tidak demikian, maka bagaimana mungkin anda beribadah kepada sesuatu yang tidak dimengerti? Oleh sebab itu, asas yang pertama adalah tauhid, dan memang pantas ia disebut sebagai fikih yang terbesar. (Syarh Al-Mumti’, I: 10-11)Terkait dengan pentingnya tauhid ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya kebutuhan hamba untuk senantiasa beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya merupakan kebutuhan yang tak tertandingi oleh apapun yang bisa dianalogikan dengannya. Akan tetapi, dari sebagian sisi ia bisa diserupakan dengan kebutuhan tubuh terhadap makanan dan minuman. Di antara keduanya sebenarnya terdapat banyak sekali perbedaan. Karena sesungguhnya, jati diri seorang hamba adalah pada hati dan ruhnya. Padahal, tidak ada kebaikan baginya (hati dan ruh), kecuali dengan (pertolongan) Tuhannya, yang tiada ilah (sesembahan) yang hak, selain Dia. Sehingga, ia tidak akan bisa merasakan ketenangan, kecuali dengan mengingat-Nya.Seandainya seorang hamba bisa memperoleh kelezatan dan kesenangan dengan selain Allah, maka hal itu tidak akan terus menerus terasa. Akan tetapi, ia akan berpindah dari satu jenis ke jenis yang lain, dari satu individu ke individu yang lain. Adapun Tuhannya, maka dia pasti membutuhkan-Nya dalam setiap keadaan dan di setiap waktu. Di mana pun dia berada, maka Dia (Allah) senantiasa menyertainya.” (Majmu’ Fatawa, I: 24. Dikutip dengan perantara Kitab Tauhid Syekh Shalih al-Fauzan, hal. 43)Baca Juga:Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhSepuluh Kaidah Pemurnian Tauhid***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Belajar Islam, Tundukan Pandanganmu, Surat Al Baqarah Ayat 120, Zakat Mal Pertanian, Arti Seorang Istri Dimata SuamiTags: agamaAqidahaqidah islamislamkeutamaan tauhidmakna tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islampentingnya tauhidTauhidurgensi tauhid

Keutamaan dan Urgensi Tauhid

Daftar Isi sembunyikan 1. Urgensi tauhid 2. Tauhid, intisari ajaran Islam 3. Tauhid, fikih yang paling agung Urgensi tauhidIbnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah (penulis Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah) mengatakan,“Ketahuilah, tauhid merupakan seruan pertama dakwah para rasul. Ia adalah fase perjalanan pertama dan maqam awal yang harus dipijak oleh seorang yang menempuh jalan menuju Allah ‘Azza Wajalla.Allah Ta’ala berfirman,لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ فَقَالَ یَـٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤ“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Dia menyerukan ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian, selain Dia.’”(QS. Al-A’raf: 59)Hud ‘alaihis salam mengatakan kepada kaumnya, ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۚ“Sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian, selain Dia.” (QS. Al-A’raf: 65)Shalih ‘alaihis salam mengatakan kepada kaumnya, ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۚ“Sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian, selain Dia.” (QS. Al-A’raf: 73)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ“Tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun sebelum engkau, melainkan Kami telah wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang hak, kecuali Aku. Maka sembahlah Aku saja.” (QS. Al-Anbiya’: 25)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ“Aku diperintahkan untuk memerangi seluruh manusia sampai mereka mau bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Oleh sebab itulah, maka sesungguhnya pendapat yang benar ialah yang menyatakan bahwa kewajiban pertama yang ditanggung oleh setiap hamba adalah bersaksi la ilaha illallah, sehingga tauhid itulah kewajiban yang pertama. Bahkan, dia juga menjadi kewajiban terakhir. Hal ini sebagaimana tercantum dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ“Barangsiapa yang perkataan terakhirnya adalah laa ilaaha illallah pasti masuk surga.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan al-Hakim, dia mensahihkannya dan Adz-Dzahabi menyetujuinya) (lihat Al-Minhah Al-Ilahiyah fi Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal. 35)Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaSyekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan, ”Ketahuilah, semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya. Sesungguhnya hakikat Al-Hanifiyah, yaitu agama yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim adalah engkau beribadah kepada Allah dengan ikhlas dalam melakukan ketaatan (tidak berbuat syirik, pent). Dan dengan hal itulah Allah memerintahkan seluruh manusia dan untuk itulah Allah menciptakan mereka semua…” (Majmu’ah Tauhid, hal. 19)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Tauhid merupakan perkara paling agung yang diperintahkan oleh Allah. Hal ini disebabkan ia (tauhid) menjadi pondasi seluruh ajaran agama. Oleh karena itu, dengan tauhidlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memulai dakwahnya mengajak kepada agama Allah. Demikian juga beliau memerintahkan utusan dakwahnya supaya memulai dakwah dengan perkara ini.” (Syarh Tsalatsatu Ushul, hal. 41).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Mu’adz bin Jabal tatkala hendak diutus berdakwah ke negeri Yaman, “Hendaklah perkara pertama kali yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah syahadat laa ilaaha illallah” dalam riwayat lain, “Supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Di dalam riwayat Muslim dengan lafaz, “Hendaknya perkara paling pertama yang harus engkau sampaikan kepada mereka adalah ibadah kepada Allah.”Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ibadah kepada Allah di sini adalah bertauhid (Fath al-Bari, 20: 440. Asy-Syamilah)Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Tauhid, intisari ajaran IslamSyaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Dan telah diketahui dengan pasti suatu prinsip yang termasuk ajaran agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga disepakati oleh seluruh umat, yaitu pokok ajaran Islam dan perintah pertama yang diberikan kepada manusia ialah syahadat la ilaha illallah wa anna muhammadar rasulullah. Dengan itulah seorang kafir berubah menjadi muslim, musuh menjadi teman, yang semula darah dan hartanya boleh diambil, berubah menjadi terpelihara darah dan hartanya.” (Dikutip dari Fath Al-Majid, hal. 81)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata, “Simpul ajaran agama (Islam) ada pada dua prinsip: [1] Kita tidak menyembah, kecuali kepada Allah, [2] Dan kita tidak menyembah-Nya, kecuali dengan syari’at-Nya, bukan dengan kebid’ahan. Hal ini sebagaimana terkandung dalam firman Allah Ta’ala,فَمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ لِقَاۤءَ رَبِّهِۦ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَلَا یُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا“Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan sesuatu pun (berbuat syirik) dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)Itulah perwujudan dua kalimat syahadat. Syahadat laa ilaha illallah dan syahadat anna muhammadar rasulullah. Pada (syahadat) yang pertama terkandung prinsip bahwa kita tidak beribadah, kecuali kepada-Nya. Sedangkan pada (syahadat) yang kedua terkandung prinsip bahwa Muhammad-lah utusan-Nya yang menyampaikan wahyu dari-Nya. Oleh sebab itu, kita wajib membenarkan beritanya dan mentaati perintahnya.” (Al-‘Ubudiyah, hal. 137)Tauhid, fikih yang paling agungSyekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa pengertian fikih dalam syariat adalah mengetahui hukum-hukum Allah yang berupa akidah ataupun amalan. Maka, dalam pengertian syariat, fikih tidaklah hanya terbatas pada urusan amal perbuatan orang yang dibebani syariat atau hukum amaliah semata. Akan tetapi, fikih itu juga mencakup hukum-hukum akidah. Bahkan, sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya ilmu akidah itulah fikih yang terbesar (al-fiqh al-akbar).”Ini adalah pernyataan yang benar. Sebab, anda tidak mungkin bisa beribadah dengan benar kepada Al-Ma’bud (Allah), kecuali setelah mengetahui keesaan-Nya dalam hal rububiyah-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan uluhiyah-Nya. Kalau tidak demikian, maka bagaimana mungkin anda beribadah kepada sesuatu yang tidak dimengerti? Oleh sebab itu, asas yang pertama adalah tauhid, dan memang pantas ia disebut sebagai fikih yang terbesar. (Syarh Al-Mumti’, I: 10-11)Terkait dengan pentingnya tauhid ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya kebutuhan hamba untuk senantiasa beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya merupakan kebutuhan yang tak tertandingi oleh apapun yang bisa dianalogikan dengannya. Akan tetapi, dari sebagian sisi ia bisa diserupakan dengan kebutuhan tubuh terhadap makanan dan minuman. Di antara keduanya sebenarnya terdapat banyak sekali perbedaan. Karena sesungguhnya, jati diri seorang hamba adalah pada hati dan ruhnya. Padahal, tidak ada kebaikan baginya (hati dan ruh), kecuali dengan (pertolongan) Tuhannya, yang tiada ilah (sesembahan) yang hak, selain Dia. Sehingga, ia tidak akan bisa merasakan ketenangan, kecuali dengan mengingat-Nya.Seandainya seorang hamba bisa memperoleh kelezatan dan kesenangan dengan selain Allah, maka hal itu tidak akan terus menerus terasa. Akan tetapi, ia akan berpindah dari satu jenis ke jenis yang lain, dari satu individu ke individu yang lain. Adapun Tuhannya, maka dia pasti membutuhkan-Nya dalam setiap keadaan dan di setiap waktu. Di mana pun dia berada, maka Dia (Allah) senantiasa menyertainya.” (Majmu’ Fatawa, I: 24. Dikutip dengan perantara Kitab Tauhid Syekh Shalih al-Fauzan, hal. 43)Baca Juga:Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhSepuluh Kaidah Pemurnian Tauhid***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Belajar Islam, Tundukan Pandanganmu, Surat Al Baqarah Ayat 120, Zakat Mal Pertanian, Arti Seorang Istri Dimata SuamiTags: agamaAqidahaqidah islamislamkeutamaan tauhidmakna tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islampentingnya tauhidTauhidurgensi tauhid
Daftar Isi sembunyikan 1. Urgensi tauhid 2. Tauhid, intisari ajaran Islam 3. Tauhid, fikih yang paling agung Urgensi tauhidIbnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah (penulis Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah) mengatakan,“Ketahuilah, tauhid merupakan seruan pertama dakwah para rasul. Ia adalah fase perjalanan pertama dan maqam awal yang harus dipijak oleh seorang yang menempuh jalan menuju Allah ‘Azza Wajalla.Allah Ta’ala berfirman,لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ فَقَالَ یَـٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤ“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Dia menyerukan ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian, selain Dia.’”(QS. Al-A’raf: 59)Hud ‘alaihis salam mengatakan kepada kaumnya, ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۚ“Sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian, selain Dia.” (QS. Al-A’raf: 65)Shalih ‘alaihis salam mengatakan kepada kaumnya, ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۚ“Sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian, selain Dia.” (QS. Al-A’raf: 73)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ“Tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun sebelum engkau, melainkan Kami telah wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang hak, kecuali Aku. Maka sembahlah Aku saja.” (QS. Al-Anbiya’: 25)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ“Aku diperintahkan untuk memerangi seluruh manusia sampai mereka mau bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Oleh sebab itulah, maka sesungguhnya pendapat yang benar ialah yang menyatakan bahwa kewajiban pertama yang ditanggung oleh setiap hamba adalah bersaksi la ilaha illallah, sehingga tauhid itulah kewajiban yang pertama. Bahkan, dia juga menjadi kewajiban terakhir. Hal ini sebagaimana tercantum dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ“Barangsiapa yang perkataan terakhirnya adalah laa ilaaha illallah pasti masuk surga.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan al-Hakim, dia mensahihkannya dan Adz-Dzahabi menyetujuinya) (lihat Al-Minhah Al-Ilahiyah fi Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal. 35)Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaSyekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan, ”Ketahuilah, semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya. Sesungguhnya hakikat Al-Hanifiyah, yaitu agama yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim adalah engkau beribadah kepada Allah dengan ikhlas dalam melakukan ketaatan (tidak berbuat syirik, pent). Dan dengan hal itulah Allah memerintahkan seluruh manusia dan untuk itulah Allah menciptakan mereka semua…” (Majmu’ah Tauhid, hal. 19)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Tauhid merupakan perkara paling agung yang diperintahkan oleh Allah. Hal ini disebabkan ia (tauhid) menjadi pondasi seluruh ajaran agama. Oleh karena itu, dengan tauhidlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memulai dakwahnya mengajak kepada agama Allah. Demikian juga beliau memerintahkan utusan dakwahnya supaya memulai dakwah dengan perkara ini.” (Syarh Tsalatsatu Ushul, hal. 41).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Mu’adz bin Jabal tatkala hendak diutus berdakwah ke negeri Yaman, “Hendaklah perkara pertama kali yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah syahadat laa ilaaha illallah” dalam riwayat lain, “Supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Di dalam riwayat Muslim dengan lafaz, “Hendaknya perkara paling pertama yang harus engkau sampaikan kepada mereka adalah ibadah kepada Allah.”Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ibadah kepada Allah di sini adalah bertauhid (Fath al-Bari, 20: 440. Asy-Syamilah)Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Tauhid, intisari ajaran IslamSyaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Dan telah diketahui dengan pasti suatu prinsip yang termasuk ajaran agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga disepakati oleh seluruh umat, yaitu pokok ajaran Islam dan perintah pertama yang diberikan kepada manusia ialah syahadat la ilaha illallah wa anna muhammadar rasulullah. Dengan itulah seorang kafir berubah menjadi muslim, musuh menjadi teman, yang semula darah dan hartanya boleh diambil, berubah menjadi terpelihara darah dan hartanya.” (Dikutip dari Fath Al-Majid, hal. 81)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata, “Simpul ajaran agama (Islam) ada pada dua prinsip: [1] Kita tidak menyembah, kecuali kepada Allah, [2] Dan kita tidak menyembah-Nya, kecuali dengan syari’at-Nya, bukan dengan kebid’ahan. Hal ini sebagaimana terkandung dalam firman Allah Ta’ala,فَمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ لِقَاۤءَ رَبِّهِۦ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَلَا یُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا“Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan sesuatu pun (berbuat syirik) dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)Itulah perwujudan dua kalimat syahadat. Syahadat laa ilaha illallah dan syahadat anna muhammadar rasulullah. Pada (syahadat) yang pertama terkandung prinsip bahwa kita tidak beribadah, kecuali kepada-Nya. Sedangkan pada (syahadat) yang kedua terkandung prinsip bahwa Muhammad-lah utusan-Nya yang menyampaikan wahyu dari-Nya. Oleh sebab itu, kita wajib membenarkan beritanya dan mentaati perintahnya.” (Al-‘Ubudiyah, hal. 137)Tauhid, fikih yang paling agungSyekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa pengertian fikih dalam syariat adalah mengetahui hukum-hukum Allah yang berupa akidah ataupun amalan. Maka, dalam pengertian syariat, fikih tidaklah hanya terbatas pada urusan amal perbuatan orang yang dibebani syariat atau hukum amaliah semata. Akan tetapi, fikih itu juga mencakup hukum-hukum akidah. Bahkan, sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya ilmu akidah itulah fikih yang terbesar (al-fiqh al-akbar).”Ini adalah pernyataan yang benar. Sebab, anda tidak mungkin bisa beribadah dengan benar kepada Al-Ma’bud (Allah), kecuali setelah mengetahui keesaan-Nya dalam hal rububiyah-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan uluhiyah-Nya. Kalau tidak demikian, maka bagaimana mungkin anda beribadah kepada sesuatu yang tidak dimengerti? Oleh sebab itu, asas yang pertama adalah tauhid, dan memang pantas ia disebut sebagai fikih yang terbesar. (Syarh Al-Mumti’, I: 10-11)Terkait dengan pentingnya tauhid ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya kebutuhan hamba untuk senantiasa beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya merupakan kebutuhan yang tak tertandingi oleh apapun yang bisa dianalogikan dengannya. Akan tetapi, dari sebagian sisi ia bisa diserupakan dengan kebutuhan tubuh terhadap makanan dan minuman. Di antara keduanya sebenarnya terdapat banyak sekali perbedaan. Karena sesungguhnya, jati diri seorang hamba adalah pada hati dan ruhnya. Padahal, tidak ada kebaikan baginya (hati dan ruh), kecuali dengan (pertolongan) Tuhannya, yang tiada ilah (sesembahan) yang hak, selain Dia. Sehingga, ia tidak akan bisa merasakan ketenangan, kecuali dengan mengingat-Nya.Seandainya seorang hamba bisa memperoleh kelezatan dan kesenangan dengan selain Allah, maka hal itu tidak akan terus menerus terasa. Akan tetapi, ia akan berpindah dari satu jenis ke jenis yang lain, dari satu individu ke individu yang lain. Adapun Tuhannya, maka dia pasti membutuhkan-Nya dalam setiap keadaan dan di setiap waktu. Di mana pun dia berada, maka Dia (Allah) senantiasa menyertainya.” (Majmu’ Fatawa, I: 24. Dikutip dengan perantara Kitab Tauhid Syekh Shalih al-Fauzan, hal. 43)Baca Juga:Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhSepuluh Kaidah Pemurnian Tauhid***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Belajar Islam, Tundukan Pandanganmu, Surat Al Baqarah Ayat 120, Zakat Mal Pertanian, Arti Seorang Istri Dimata SuamiTags: agamaAqidahaqidah islamislamkeutamaan tauhidmakna tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islampentingnya tauhidTauhidurgensi tauhid


Daftar Isi sembunyikan 1. Urgensi tauhid 2. Tauhid, intisari ajaran Islam 3. Tauhid, fikih yang paling agung Urgensi tauhidIbnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah (penulis Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah) mengatakan,“Ketahuilah, tauhid merupakan seruan pertama dakwah para rasul. Ia adalah fase perjalanan pertama dan maqam awal yang harus dipijak oleh seorang yang menempuh jalan menuju Allah ‘Azza Wajalla.Allah Ta’ala berfirman,لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ فَقَالَ یَـٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤ“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Dia menyerukan ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian, selain Dia.’”(QS. Al-A’raf: 59)Hud ‘alaihis salam mengatakan kepada kaumnya, ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۚ“Sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian, selain Dia.” (QS. Al-A’raf: 65)Shalih ‘alaihis salam mengatakan kepada kaumnya, ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۚ“Sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian, selain Dia.” (QS. Al-A’raf: 73)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ“Tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun sebelum engkau, melainkan Kami telah wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang hak, kecuali Aku. Maka sembahlah Aku saja.” (QS. Al-Anbiya’: 25)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ“Aku diperintahkan untuk memerangi seluruh manusia sampai mereka mau bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Oleh sebab itulah, maka sesungguhnya pendapat yang benar ialah yang menyatakan bahwa kewajiban pertama yang ditanggung oleh setiap hamba adalah bersaksi la ilaha illallah, sehingga tauhid itulah kewajiban yang pertama. Bahkan, dia juga menjadi kewajiban terakhir. Hal ini sebagaimana tercantum dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ“Barangsiapa yang perkataan terakhirnya adalah laa ilaaha illallah pasti masuk surga.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan al-Hakim, dia mensahihkannya dan Adz-Dzahabi menyetujuinya) (lihat Al-Minhah Al-Ilahiyah fi Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal. 35)Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaSyekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan, ”Ketahuilah, semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya. Sesungguhnya hakikat Al-Hanifiyah, yaitu agama yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim adalah engkau beribadah kepada Allah dengan ikhlas dalam melakukan ketaatan (tidak berbuat syirik, pent). Dan dengan hal itulah Allah memerintahkan seluruh manusia dan untuk itulah Allah menciptakan mereka semua…” (Majmu’ah Tauhid, hal. 19)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Tauhid merupakan perkara paling agung yang diperintahkan oleh Allah. Hal ini disebabkan ia (tauhid) menjadi pondasi seluruh ajaran agama. Oleh karena itu, dengan tauhidlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memulai dakwahnya mengajak kepada agama Allah. Demikian juga beliau memerintahkan utusan dakwahnya supaya memulai dakwah dengan perkara ini.” (Syarh Tsalatsatu Ushul, hal. 41).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Mu’adz bin Jabal tatkala hendak diutus berdakwah ke negeri Yaman, “Hendaklah perkara pertama kali yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah syahadat laa ilaaha illallah” dalam riwayat lain, “Supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Di dalam riwayat Muslim dengan lafaz, “Hendaknya perkara paling pertama yang harus engkau sampaikan kepada mereka adalah ibadah kepada Allah.”Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ibadah kepada Allah di sini adalah bertauhid (Fath al-Bari, 20: 440. Asy-Syamilah)Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Tauhid, intisari ajaran IslamSyaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Dan telah diketahui dengan pasti suatu prinsip yang termasuk ajaran agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga disepakati oleh seluruh umat, yaitu pokok ajaran Islam dan perintah pertama yang diberikan kepada manusia ialah syahadat la ilaha illallah wa anna muhammadar rasulullah. Dengan itulah seorang kafir berubah menjadi muslim, musuh menjadi teman, yang semula darah dan hartanya boleh diambil, berubah menjadi terpelihara darah dan hartanya.” (Dikutip dari Fath Al-Majid, hal. 81)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata, “Simpul ajaran agama (Islam) ada pada dua prinsip: [1] Kita tidak menyembah, kecuali kepada Allah, [2] Dan kita tidak menyembah-Nya, kecuali dengan syari’at-Nya, bukan dengan kebid’ahan. Hal ini sebagaimana terkandung dalam firman Allah Ta’ala,فَمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ لِقَاۤءَ رَبِّهِۦ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَلَا یُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا“Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan sesuatu pun (berbuat syirik) dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)Itulah perwujudan dua kalimat syahadat. Syahadat laa ilaha illallah dan syahadat anna muhammadar rasulullah. Pada (syahadat) yang pertama terkandung prinsip bahwa kita tidak beribadah, kecuali kepada-Nya. Sedangkan pada (syahadat) yang kedua terkandung prinsip bahwa Muhammad-lah utusan-Nya yang menyampaikan wahyu dari-Nya. Oleh sebab itu, kita wajib membenarkan beritanya dan mentaati perintahnya.” (Al-‘Ubudiyah, hal. 137)Tauhid, fikih yang paling agungSyekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa pengertian fikih dalam syariat adalah mengetahui hukum-hukum Allah yang berupa akidah ataupun amalan. Maka, dalam pengertian syariat, fikih tidaklah hanya terbatas pada urusan amal perbuatan orang yang dibebani syariat atau hukum amaliah semata. Akan tetapi, fikih itu juga mencakup hukum-hukum akidah. Bahkan, sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya ilmu akidah itulah fikih yang terbesar (al-fiqh al-akbar).”Ini adalah pernyataan yang benar. Sebab, anda tidak mungkin bisa beribadah dengan benar kepada Al-Ma’bud (Allah), kecuali setelah mengetahui keesaan-Nya dalam hal rububiyah-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan uluhiyah-Nya. Kalau tidak demikian, maka bagaimana mungkin anda beribadah kepada sesuatu yang tidak dimengerti? Oleh sebab itu, asas yang pertama adalah tauhid, dan memang pantas ia disebut sebagai fikih yang terbesar. (Syarh Al-Mumti’, I: 10-11)Terkait dengan pentingnya tauhid ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya kebutuhan hamba untuk senantiasa beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya merupakan kebutuhan yang tak tertandingi oleh apapun yang bisa dianalogikan dengannya. Akan tetapi, dari sebagian sisi ia bisa diserupakan dengan kebutuhan tubuh terhadap makanan dan minuman. Di antara keduanya sebenarnya terdapat banyak sekali perbedaan. Karena sesungguhnya, jati diri seorang hamba adalah pada hati dan ruhnya. Padahal, tidak ada kebaikan baginya (hati dan ruh), kecuali dengan (pertolongan) Tuhannya, yang tiada ilah (sesembahan) yang hak, selain Dia. Sehingga, ia tidak akan bisa merasakan ketenangan, kecuali dengan mengingat-Nya.Seandainya seorang hamba bisa memperoleh kelezatan dan kesenangan dengan selain Allah, maka hal itu tidak akan terus menerus terasa. Akan tetapi, ia akan berpindah dari satu jenis ke jenis yang lain, dari satu individu ke individu yang lain. Adapun Tuhannya, maka dia pasti membutuhkan-Nya dalam setiap keadaan dan di setiap waktu. Di mana pun dia berada, maka Dia (Allah) senantiasa menyertainya.” (Majmu’ Fatawa, I: 24. Dikutip dengan perantara Kitab Tauhid Syekh Shalih al-Fauzan, hal. 43)Baca Juga:Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhSepuluh Kaidah Pemurnian Tauhid***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Belajar Islam, Tundukan Pandanganmu, Surat Al Baqarah Ayat 120, Zakat Mal Pertanian, Arti Seorang Istri Dimata SuamiTags: agamaAqidahaqidah islamislamkeutamaan tauhidmakna tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islampentingnya tauhidTauhidurgensi tauhid

Apa Makna “Rabb” – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Adapun, “Tuhan (Rabb) semesta alam.” Ar-Rabb terkadang bermakna “yang memperbaiki”.Sebagaimana firman Allah, “… anak-anak tirimuyang berada dalam pemeliharaanmu, … ” (QS. An-Nisa: 23)Maksudnya yang engkau rawat merekadan engkau perbaiki urusan mereka. Dikatakan, “Rabīb-nya si Fulan,”artinya orang yang memelihara dan mengurusinya.Termasuk juga apa yang sekarang kalian dengar, “Kementerian Pendidikan”,yaitu yang mendidik manusia. Si Fulan adalah murabbī, artinya yang mengurusi orang-orangdengan mengajari mereka adab dan ilmu. Ar-Rabb terkadang bermakna “pemilik”,pemilik sesuatu.Misalnya perkataan Abdul Muthalib, “Aku hanya pemilik unta,sedangkan Ka’bah ada Pemilik yang akan menjaganya.” Anda berkata, “Aku pemilik rumah tersebut.”“Aku pemilik binatang tersebut.”“Aku pemilik kitab ini.”Artinya, dia yang punya, yang memilikinya. Ar-Rabb juga bermaknaYang Maha Pencipta, Yang Maha Memiliki dan Yang Maha Mengurusi,ini maksudnya di sini. Ketika Anda berkata, “Rabb semesta alam,”artinya Pemilik semesta alam dan Yang Mengurusi keduanya,Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. ==== وَرَبُّ الْعٰلَمِيْنَ الرَّبُّ تَأْتِي بِمَعْنَى الْمُصْلِحِ كَمَا يُقَالُ: وَرَبَاۤىِٕبُكُمُ الّٰتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ أَيْ الَّتِي تُرَبُّونَهُنَّ تُصْلِحُونَ شُؤُونَهُنَّ وَيُقَالُ رَبِيبُ فُلَانٍ أَيْ الَّذِي رَبَّاهُ وَاعْتَنَى بِهِ وَمِنْهُ الْآنَ تَسْمَعُونَ وِزَارَةَ التَّرْبِيَةِ الَّتِي تُرَبِّي النَّاسَ وَفُلَانٌ مُرَبِّي أَيْ يَعْتَنِي بِالنَّاسِ وَيُؤَدِّبُهُمْ وَيُعَلِّمُهُمْ وَتَأْتِي الرَّبُّ بِمَعْنَى الْمَالِكِ مَالِكُ الشَّيْءِ كَمَا قَالَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ أَنَا رَبُّ الْإِبِلِ وَلِلْبَيْتِ رَبٌّ يَحْمِيهِ أَنْتَ تَقُولُ أَنَا رَبُّ الْبَيْتِ أَنَا رَبُّ الدَّابَّةِ أَنَا رَبُّ هَذَا الْكِتَابِ أَيْ صَاحِبُهُ مَالِكُهُ وَتَأْتِي الرَّبُّ بِمَعْنَى الْخَالِقِ الْمَالِكِ الْمُتَصَرِّفِ وَهِيَ هُنَا عِنْدَمَا تَقُولُ رَبُّ الْعَالَمِينَ أَيْ مَالِكُ الْعَالَمِينَ الْمُتَصَرِّفُ فِيهِمَا سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Apa Makna “Rabb” – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Adapun, “Tuhan (Rabb) semesta alam.” Ar-Rabb terkadang bermakna “yang memperbaiki”.Sebagaimana firman Allah, “… anak-anak tirimuyang berada dalam pemeliharaanmu, … ” (QS. An-Nisa: 23)Maksudnya yang engkau rawat merekadan engkau perbaiki urusan mereka. Dikatakan, “Rabīb-nya si Fulan,”artinya orang yang memelihara dan mengurusinya.Termasuk juga apa yang sekarang kalian dengar, “Kementerian Pendidikan”,yaitu yang mendidik manusia. Si Fulan adalah murabbī, artinya yang mengurusi orang-orangdengan mengajari mereka adab dan ilmu. Ar-Rabb terkadang bermakna “pemilik”,pemilik sesuatu.Misalnya perkataan Abdul Muthalib, “Aku hanya pemilik unta,sedangkan Ka’bah ada Pemilik yang akan menjaganya.” Anda berkata, “Aku pemilik rumah tersebut.”“Aku pemilik binatang tersebut.”“Aku pemilik kitab ini.”Artinya, dia yang punya, yang memilikinya. Ar-Rabb juga bermaknaYang Maha Pencipta, Yang Maha Memiliki dan Yang Maha Mengurusi,ini maksudnya di sini. Ketika Anda berkata, “Rabb semesta alam,”artinya Pemilik semesta alam dan Yang Mengurusi keduanya,Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. ==== وَرَبُّ الْعٰلَمِيْنَ الرَّبُّ تَأْتِي بِمَعْنَى الْمُصْلِحِ كَمَا يُقَالُ: وَرَبَاۤىِٕبُكُمُ الّٰتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ أَيْ الَّتِي تُرَبُّونَهُنَّ تُصْلِحُونَ شُؤُونَهُنَّ وَيُقَالُ رَبِيبُ فُلَانٍ أَيْ الَّذِي رَبَّاهُ وَاعْتَنَى بِهِ وَمِنْهُ الْآنَ تَسْمَعُونَ وِزَارَةَ التَّرْبِيَةِ الَّتِي تُرَبِّي النَّاسَ وَفُلَانٌ مُرَبِّي أَيْ يَعْتَنِي بِالنَّاسِ وَيُؤَدِّبُهُمْ وَيُعَلِّمُهُمْ وَتَأْتِي الرَّبُّ بِمَعْنَى الْمَالِكِ مَالِكُ الشَّيْءِ كَمَا قَالَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ أَنَا رَبُّ الْإِبِلِ وَلِلْبَيْتِ رَبٌّ يَحْمِيهِ أَنْتَ تَقُولُ أَنَا رَبُّ الْبَيْتِ أَنَا رَبُّ الدَّابَّةِ أَنَا رَبُّ هَذَا الْكِتَابِ أَيْ صَاحِبُهُ مَالِكُهُ وَتَأْتِي الرَّبُّ بِمَعْنَى الْخَالِقِ الْمَالِكِ الْمُتَصَرِّفِ وَهِيَ هُنَا عِنْدَمَا تَقُولُ رَبُّ الْعَالَمِينَ أَيْ مَالِكُ الْعَالَمِينَ الْمُتَصَرِّفُ فِيهِمَا سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Adapun, “Tuhan (Rabb) semesta alam.” Ar-Rabb terkadang bermakna “yang memperbaiki”.Sebagaimana firman Allah, “… anak-anak tirimuyang berada dalam pemeliharaanmu, … ” (QS. An-Nisa: 23)Maksudnya yang engkau rawat merekadan engkau perbaiki urusan mereka. Dikatakan, “Rabīb-nya si Fulan,”artinya orang yang memelihara dan mengurusinya.Termasuk juga apa yang sekarang kalian dengar, “Kementerian Pendidikan”,yaitu yang mendidik manusia. Si Fulan adalah murabbī, artinya yang mengurusi orang-orangdengan mengajari mereka adab dan ilmu. Ar-Rabb terkadang bermakna “pemilik”,pemilik sesuatu.Misalnya perkataan Abdul Muthalib, “Aku hanya pemilik unta,sedangkan Ka’bah ada Pemilik yang akan menjaganya.” Anda berkata, “Aku pemilik rumah tersebut.”“Aku pemilik binatang tersebut.”“Aku pemilik kitab ini.”Artinya, dia yang punya, yang memilikinya. Ar-Rabb juga bermaknaYang Maha Pencipta, Yang Maha Memiliki dan Yang Maha Mengurusi,ini maksudnya di sini. Ketika Anda berkata, “Rabb semesta alam,”artinya Pemilik semesta alam dan Yang Mengurusi keduanya,Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. ==== وَرَبُّ الْعٰلَمِيْنَ الرَّبُّ تَأْتِي بِمَعْنَى الْمُصْلِحِ كَمَا يُقَالُ: وَرَبَاۤىِٕبُكُمُ الّٰتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ أَيْ الَّتِي تُرَبُّونَهُنَّ تُصْلِحُونَ شُؤُونَهُنَّ وَيُقَالُ رَبِيبُ فُلَانٍ أَيْ الَّذِي رَبَّاهُ وَاعْتَنَى بِهِ وَمِنْهُ الْآنَ تَسْمَعُونَ وِزَارَةَ التَّرْبِيَةِ الَّتِي تُرَبِّي النَّاسَ وَفُلَانٌ مُرَبِّي أَيْ يَعْتَنِي بِالنَّاسِ وَيُؤَدِّبُهُمْ وَيُعَلِّمُهُمْ وَتَأْتِي الرَّبُّ بِمَعْنَى الْمَالِكِ مَالِكُ الشَّيْءِ كَمَا قَالَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ أَنَا رَبُّ الْإِبِلِ وَلِلْبَيْتِ رَبٌّ يَحْمِيهِ أَنْتَ تَقُولُ أَنَا رَبُّ الْبَيْتِ أَنَا رَبُّ الدَّابَّةِ أَنَا رَبُّ هَذَا الْكِتَابِ أَيْ صَاحِبُهُ مَالِكُهُ وَتَأْتِي الرَّبُّ بِمَعْنَى الْخَالِقِ الْمَالِكِ الْمُتَصَرِّفِ وَهِيَ هُنَا عِنْدَمَا تَقُولُ رَبُّ الْعَالَمِينَ أَيْ مَالِكُ الْعَالَمِينَ الْمُتَصَرِّفُ فِيهِمَا سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Adapun, “Tuhan (Rabb) semesta alam.” Ar-Rabb terkadang bermakna “yang memperbaiki”.Sebagaimana firman Allah, “… anak-anak tirimuyang berada dalam pemeliharaanmu, … ” (QS. An-Nisa: 23)Maksudnya yang engkau rawat merekadan engkau perbaiki urusan mereka. Dikatakan, “Rabīb-nya si Fulan,”artinya orang yang memelihara dan mengurusinya.Termasuk juga apa yang sekarang kalian dengar, “Kementerian Pendidikan”,yaitu yang mendidik manusia. Si Fulan adalah murabbī, artinya yang mengurusi orang-orangdengan mengajari mereka adab dan ilmu. Ar-Rabb terkadang bermakna “pemilik”,pemilik sesuatu.Misalnya perkataan Abdul Muthalib, “Aku hanya pemilik unta,sedangkan Ka’bah ada Pemilik yang akan menjaganya.” Anda berkata, “Aku pemilik rumah tersebut.”“Aku pemilik binatang tersebut.”“Aku pemilik kitab ini.”Artinya, dia yang punya, yang memilikinya. Ar-Rabb juga bermaknaYang Maha Pencipta, Yang Maha Memiliki dan Yang Maha Mengurusi,ini maksudnya di sini. Ketika Anda berkata, “Rabb semesta alam,”artinya Pemilik semesta alam dan Yang Mengurusi keduanya,Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. ==== وَرَبُّ الْعٰلَمِيْنَ الرَّبُّ تَأْتِي بِمَعْنَى الْمُصْلِحِ كَمَا يُقَالُ: وَرَبَاۤىِٕبُكُمُ الّٰتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ أَيْ الَّتِي تُرَبُّونَهُنَّ تُصْلِحُونَ شُؤُونَهُنَّ وَيُقَالُ رَبِيبُ فُلَانٍ أَيْ الَّذِي رَبَّاهُ وَاعْتَنَى بِهِ وَمِنْهُ الْآنَ تَسْمَعُونَ وِزَارَةَ التَّرْبِيَةِ الَّتِي تُرَبِّي النَّاسَ وَفُلَانٌ مُرَبِّي أَيْ يَعْتَنِي بِالنَّاسِ وَيُؤَدِّبُهُمْ وَيُعَلِّمُهُمْ وَتَأْتِي الرَّبُّ بِمَعْنَى الْمَالِكِ مَالِكُ الشَّيْءِ كَمَا قَالَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ أَنَا رَبُّ الْإِبِلِ وَلِلْبَيْتِ رَبٌّ يَحْمِيهِ أَنْتَ تَقُولُ أَنَا رَبُّ الْبَيْتِ أَنَا رَبُّ الدَّابَّةِ أَنَا رَبُّ هَذَا الْكِتَابِ أَيْ صَاحِبُهُ مَالِكُهُ وَتَأْتِي الرَّبُّ بِمَعْنَى الْخَالِقِ الْمَالِكِ الْمُتَصَرِّفِ وَهِيَ هُنَا عِنْدَمَا تَقُولُ رَبُّ الْعَالَمِينَ أَيْ مَالِكُ الْعَالَمِينَ الْمُتَصَرِّفُ فِيهِمَا سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Beda Asmaul Husna: Al-Kholiq, Al-Bari’ dan Al-Mushowwir – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Beda Asmaul Husna: Al-Kholiq, Al-Bari’ dan Al-Mushowwir – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Di sini, penulis rahimahullahu menyebutkan beberapa Asmaul Husna, yaitu tiga nama yang disebutkan dalam al-Quran dan terhimpun dalam satu kalimat, yaitu dalam akhir surat al-Hasyr. Nama-nama ini adalah al-Kholiq, al-Bari’, dan al-Mushowwir. Tiga nama ini memiliki kesamaan dalam perkara yang ditetapkan, yaitu penciptaan. Jadi, nama al-Kholiq, al-Bari’, dan al-Mushowwir pada dasarnya memiliki makna penciptaan. Namun, di antara tiga nama itu, terdapat perbedaan makna yang tipis. AL-KHOLIQ: Adapun nama al-Kholiq berkaitan dengan penciptaan secara umum, yang berupa penetapan (at-Taqdir). AL-BARI’: Sedangkan al-Bari’ berkaitan dengan pembedaan penciptaan antara satu makhluk dengan makhluk yang lain (yang tidak sejenis). Sehingga makna al-Bari’ lebih khusus daripada makna penciptaan secara umum. AL-MUSHOWWIR: Sedangkan al-Mushowwir adalah penyempurnaan perincian, dengan membedakan bentuk antara satu makhluk dengan makhluk lain (yang sejenis). Penyempurnaan pembedaan, dengan membedakan bentuk satu makhluk dengan yang lain (yang sejenis). Jadi, Allah ‘Azza wa Jalla adalah al-Kholiq, al-Bari’, al-Mushowwir. Dia menciptakan makhluk dengan ketetapan dari-Nya, dengan ketetapan secara umum dalam penciptaannya. Kemudian membedakan antara satu jenis makhluk dengan jenis lainnya. Kemudian membedakan bentuk tiap makhluk yang masih dalam satu jenis. Sebagai contoh, Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan penciptaan binatang-binatang. Kemudian Allah membedakan antara jenis-jenis binatang tersebut. Sehingga, singa bukanlah citah (cheetah), bukan pula harimau, meskipun semuanya termasuk binatang buas. Kemudian binatang yang masih satu jenis itu, seperti jenis singa atau jenis citah (cheetah), Allah menjadikan setiap individu binatang-binatang sejenis tersebut memiliki bentuk tersendiri. Dan ini adalah tanda kesempurnaan kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala. ====================================================================================================== ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى هُنَا مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ثَلَاثَةَ أَسْمَاءٍ وَقَعَتْ فِي الْقُرْآنِ عَلَى نُسَقٍ وَاحِدٍ فِي آخِرِ سُورَةِ الْحَشْرِ هِيَ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ وَهَذِهِ الْأَسْمَاءُ الثَّلَاثَةُ تَشْتَرِكُ فِي أَمْرٍ مُقَدَّرٍ وَهُوَ الْإِيْجَادُ فَمَعَانِي الْخَلْقِ وَالْبَرْءِ وَالتَّصْوِيرِ كُلُّهَا تَجْتَمِعُ فِي أَصْلِ الْإِيجَادِ إِلَّا أَنَّ بَيْنَهَا فَرْقًا لَطِيفًا فَالْخَلْقُ يَتَعَلَّقُ بِالْإِيجَادِ الْعَامِّ وَهُوَ التَّقْدِيرُ وَالْبَرْءُ يَتَعَلَّقُ بِفَصْلِ الْمُقَدَّرَاتِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ بَعْضِهَا عَنْ بَعْضٍ فَهُوَ أَخَصُّ مِنَ الْمَعْنَى الْعَامِّ وَالتَّصْوِيرُ تَتْمِيمٌ لِلْفَصْلِ بِالتَّفْرِيْقِ بِالصُّوَرِ تَتْمِيمٌ لِلْفَصْلِ بِالتَّفْرِيقِ لِلصُّوَرِ فَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ خَالِقٌ بَارِئٌ مُصَوِّرٌ فَهُوَ خَلَقَ الْأَشْيَاءَ بِتَقْدِيرِهَا تَقْدِيرًا عَامًّا فِي إِيْجَادِهَا ثُمَّ فَصَلَ نَظَائِرَهَا بَعْضَهَا عَنْ بَعْضٍ ثُمَّ فَرَّقَ بَيْنَهَا بِالصُّوَرِ فَالْحَيَوَانَاتُ مَثَلًا قَدْ قَدَّرَهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ مَوْجُوْدَاتِهِ ثُمَّ فَرَقَ بَيْنَ هَذِهِ الْحَيَوَانَاتِ بِمَا جَعَلَ مِنْ أَنْوَاعِهَا وَبَرَأَ فَالْأَسَدُ غَيْرُ الْفَهْدِ غَيْرُ النَّمِرِ مَعَ كَوْنِهَا مِنَ السِّبَاعِ جَمِيْعًا ثُمَّ فِي الْجِنْسِ الْوَاحِدِ كَالْأُسُوْدِ مَثَلًا أَوِ الْفُهُودِ مَثَلًا جَعَلَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْكَائِنَاتِ صُورَةً تَخْتَصُّ بِهِ وَهَذَا دَالٌّ عَلَى كَمَالِ قُدْرَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى   KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Beda Asmaul Husna: Al-Kholiq, Al-Bari’ dan Al-Mushowwir – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Beda Asmaul Husna: Al-Kholiq, Al-Bari’ dan Al-Mushowwir – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Di sini, penulis rahimahullahu menyebutkan beberapa Asmaul Husna, yaitu tiga nama yang disebutkan dalam al-Quran dan terhimpun dalam satu kalimat, yaitu dalam akhir surat al-Hasyr. Nama-nama ini adalah al-Kholiq, al-Bari’, dan al-Mushowwir. Tiga nama ini memiliki kesamaan dalam perkara yang ditetapkan, yaitu penciptaan. Jadi, nama al-Kholiq, al-Bari’, dan al-Mushowwir pada dasarnya memiliki makna penciptaan. Namun, di antara tiga nama itu, terdapat perbedaan makna yang tipis. AL-KHOLIQ: Adapun nama al-Kholiq berkaitan dengan penciptaan secara umum, yang berupa penetapan (at-Taqdir). AL-BARI’: Sedangkan al-Bari’ berkaitan dengan pembedaan penciptaan antara satu makhluk dengan makhluk yang lain (yang tidak sejenis). Sehingga makna al-Bari’ lebih khusus daripada makna penciptaan secara umum. AL-MUSHOWWIR: Sedangkan al-Mushowwir adalah penyempurnaan perincian, dengan membedakan bentuk antara satu makhluk dengan makhluk lain (yang sejenis). Penyempurnaan pembedaan, dengan membedakan bentuk satu makhluk dengan yang lain (yang sejenis). Jadi, Allah ‘Azza wa Jalla adalah al-Kholiq, al-Bari’, al-Mushowwir. Dia menciptakan makhluk dengan ketetapan dari-Nya, dengan ketetapan secara umum dalam penciptaannya. Kemudian membedakan antara satu jenis makhluk dengan jenis lainnya. Kemudian membedakan bentuk tiap makhluk yang masih dalam satu jenis. Sebagai contoh, Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan penciptaan binatang-binatang. Kemudian Allah membedakan antara jenis-jenis binatang tersebut. Sehingga, singa bukanlah citah (cheetah), bukan pula harimau, meskipun semuanya termasuk binatang buas. Kemudian binatang yang masih satu jenis itu, seperti jenis singa atau jenis citah (cheetah), Allah menjadikan setiap individu binatang-binatang sejenis tersebut memiliki bentuk tersendiri. Dan ini adalah tanda kesempurnaan kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala. ====================================================================================================== ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى هُنَا مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ثَلَاثَةَ أَسْمَاءٍ وَقَعَتْ فِي الْقُرْآنِ عَلَى نُسَقٍ وَاحِدٍ فِي آخِرِ سُورَةِ الْحَشْرِ هِيَ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ وَهَذِهِ الْأَسْمَاءُ الثَّلَاثَةُ تَشْتَرِكُ فِي أَمْرٍ مُقَدَّرٍ وَهُوَ الْإِيْجَادُ فَمَعَانِي الْخَلْقِ وَالْبَرْءِ وَالتَّصْوِيرِ كُلُّهَا تَجْتَمِعُ فِي أَصْلِ الْإِيجَادِ إِلَّا أَنَّ بَيْنَهَا فَرْقًا لَطِيفًا فَالْخَلْقُ يَتَعَلَّقُ بِالْإِيجَادِ الْعَامِّ وَهُوَ التَّقْدِيرُ وَالْبَرْءُ يَتَعَلَّقُ بِفَصْلِ الْمُقَدَّرَاتِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ بَعْضِهَا عَنْ بَعْضٍ فَهُوَ أَخَصُّ مِنَ الْمَعْنَى الْعَامِّ وَالتَّصْوِيرُ تَتْمِيمٌ لِلْفَصْلِ بِالتَّفْرِيْقِ بِالصُّوَرِ تَتْمِيمٌ لِلْفَصْلِ بِالتَّفْرِيقِ لِلصُّوَرِ فَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ خَالِقٌ بَارِئٌ مُصَوِّرٌ فَهُوَ خَلَقَ الْأَشْيَاءَ بِتَقْدِيرِهَا تَقْدِيرًا عَامًّا فِي إِيْجَادِهَا ثُمَّ فَصَلَ نَظَائِرَهَا بَعْضَهَا عَنْ بَعْضٍ ثُمَّ فَرَّقَ بَيْنَهَا بِالصُّوَرِ فَالْحَيَوَانَاتُ مَثَلًا قَدْ قَدَّرَهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ مَوْجُوْدَاتِهِ ثُمَّ فَرَقَ بَيْنَ هَذِهِ الْحَيَوَانَاتِ بِمَا جَعَلَ مِنْ أَنْوَاعِهَا وَبَرَأَ فَالْأَسَدُ غَيْرُ الْفَهْدِ غَيْرُ النَّمِرِ مَعَ كَوْنِهَا مِنَ السِّبَاعِ جَمِيْعًا ثُمَّ فِي الْجِنْسِ الْوَاحِدِ كَالْأُسُوْدِ مَثَلًا أَوِ الْفُهُودِ مَثَلًا جَعَلَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْكَائِنَاتِ صُورَةً تَخْتَصُّ بِهِ وَهَذَا دَالٌّ عَلَى كَمَالِ قُدْرَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى   KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Beda Asmaul Husna: Al-Kholiq, Al-Bari’ dan Al-Mushowwir – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Di sini, penulis rahimahullahu menyebutkan beberapa Asmaul Husna, yaitu tiga nama yang disebutkan dalam al-Quran dan terhimpun dalam satu kalimat, yaitu dalam akhir surat al-Hasyr. Nama-nama ini adalah al-Kholiq, al-Bari’, dan al-Mushowwir. Tiga nama ini memiliki kesamaan dalam perkara yang ditetapkan, yaitu penciptaan. Jadi, nama al-Kholiq, al-Bari’, dan al-Mushowwir pada dasarnya memiliki makna penciptaan. Namun, di antara tiga nama itu, terdapat perbedaan makna yang tipis. AL-KHOLIQ: Adapun nama al-Kholiq berkaitan dengan penciptaan secara umum, yang berupa penetapan (at-Taqdir). AL-BARI’: Sedangkan al-Bari’ berkaitan dengan pembedaan penciptaan antara satu makhluk dengan makhluk yang lain (yang tidak sejenis). Sehingga makna al-Bari’ lebih khusus daripada makna penciptaan secara umum. AL-MUSHOWWIR: Sedangkan al-Mushowwir adalah penyempurnaan perincian, dengan membedakan bentuk antara satu makhluk dengan makhluk lain (yang sejenis). Penyempurnaan pembedaan, dengan membedakan bentuk satu makhluk dengan yang lain (yang sejenis). Jadi, Allah ‘Azza wa Jalla adalah al-Kholiq, al-Bari’, al-Mushowwir. Dia menciptakan makhluk dengan ketetapan dari-Nya, dengan ketetapan secara umum dalam penciptaannya. Kemudian membedakan antara satu jenis makhluk dengan jenis lainnya. Kemudian membedakan bentuk tiap makhluk yang masih dalam satu jenis. Sebagai contoh, Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan penciptaan binatang-binatang. Kemudian Allah membedakan antara jenis-jenis binatang tersebut. Sehingga, singa bukanlah citah (cheetah), bukan pula harimau, meskipun semuanya termasuk binatang buas. Kemudian binatang yang masih satu jenis itu, seperti jenis singa atau jenis citah (cheetah), Allah menjadikan setiap individu binatang-binatang sejenis tersebut memiliki bentuk tersendiri. Dan ini adalah tanda kesempurnaan kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala. ====================================================================================================== ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى هُنَا مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ثَلَاثَةَ أَسْمَاءٍ وَقَعَتْ فِي الْقُرْآنِ عَلَى نُسَقٍ وَاحِدٍ فِي آخِرِ سُورَةِ الْحَشْرِ هِيَ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ وَهَذِهِ الْأَسْمَاءُ الثَّلَاثَةُ تَشْتَرِكُ فِي أَمْرٍ مُقَدَّرٍ وَهُوَ الْإِيْجَادُ فَمَعَانِي الْخَلْقِ وَالْبَرْءِ وَالتَّصْوِيرِ كُلُّهَا تَجْتَمِعُ فِي أَصْلِ الْإِيجَادِ إِلَّا أَنَّ بَيْنَهَا فَرْقًا لَطِيفًا فَالْخَلْقُ يَتَعَلَّقُ بِالْإِيجَادِ الْعَامِّ وَهُوَ التَّقْدِيرُ وَالْبَرْءُ يَتَعَلَّقُ بِفَصْلِ الْمُقَدَّرَاتِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ بَعْضِهَا عَنْ بَعْضٍ فَهُوَ أَخَصُّ مِنَ الْمَعْنَى الْعَامِّ وَالتَّصْوِيرُ تَتْمِيمٌ لِلْفَصْلِ بِالتَّفْرِيْقِ بِالصُّوَرِ تَتْمِيمٌ لِلْفَصْلِ بِالتَّفْرِيقِ لِلصُّوَرِ فَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ خَالِقٌ بَارِئٌ مُصَوِّرٌ فَهُوَ خَلَقَ الْأَشْيَاءَ بِتَقْدِيرِهَا تَقْدِيرًا عَامًّا فِي إِيْجَادِهَا ثُمَّ فَصَلَ نَظَائِرَهَا بَعْضَهَا عَنْ بَعْضٍ ثُمَّ فَرَّقَ بَيْنَهَا بِالصُّوَرِ فَالْحَيَوَانَاتُ مَثَلًا قَدْ قَدَّرَهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ مَوْجُوْدَاتِهِ ثُمَّ فَرَقَ بَيْنَ هَذِهِ الْحَيَوَانَاتِ بِمَا جَعَلَ مِنْ أَنْوَاعِهَا وَبَرَأَ فَالْأَسَدُ غَيْرُ الْفَهْدِ غَيْرُ النَّمِرِ مَعَ كَوْنِهَا مِنَ السِّبَاعِ جَمِيْعًا ثُمَّ فِي الْجِنْسِ الْوَاحِدِ كَالْأُسُوْدِ مَثَلًا أَوِ الْفُهُودِ مَثَلًا جَعَلَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْكَائِنَاتِ صُورَةً تَخْتَصُّ بِهِ وَهَذَا دَالٌّ عَلَى كَمَالِ قُدْرَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى   KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Beda Asmaul Husna: Al-Kholiq, Al-Bari’ dan Al-Mushowwir – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Di sini, penulis rahimahullahu menyebutkan beberapa Asmaul Husna, yaitu tiga nama yang disebutkan dalam al-Quran dan terhimpun dalam satu kalimat, yaitu dalam akhir surat al-Hasyr. Nama-nama ini adalah al-Kholiq, al-Bari’, dan al-Mushowwir. Tiga nama ini memiliki kesamaan dalam perkara yang ditetapkan, yaitu penciptaan. Jadi, nama al-Kholiq, al-Bari’, dan al-Mushowwir pada dasarnya memiliki makna penciptaan. Namun, di antara tiga nama itu, terdapat perbedaan makna yang tipis. AL-KHOLIQ: Adapun nama al-Kholiq berkaitan dengan penciptaan secara umum, yang berupa penetapan (at-Taqdir). AL-BARI’: Sedangkan al-Bari’ berkaitan dengan pembedaan penciptaan antara satu makhluk dengan makhluk yang lain (yang tidak sejenis). Sehingga makna al-Bari’ lebih khusus daripada makna penciptaan secara umum. AL-MUSHOWWIR: Sedangkan al-Mushowwir adalah penyempurnaan perincian, dengan membedakan bentuk antara satu makhluk dengan makhluk lain (yang sejenis). Penyempurnaan pembedaan, dengan membedakan bentuk satu makhluk dengan yang lain (yang sejenis). Jadi, Allah ‘Azza wa Jalla adalah al-Kholiq, al-Bari’, al-Mushowwir. Dia menciptakan makhluk dengan ketetapan dari-Nya, dengan ketetapan secara umum dalam penciptaannya. Kemudian membedakan antara satu jenis makhluk dengan jenis lainnya. Kemudian membedakan bentuk tiap makhluk yang masih dalam satu jenis. Sebagai contoh, Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan penciptaan binatang-binatang. Kemudian Allah membedakan antara jenis-jenis binatang tersebut. Sehingga, singa bukanlah citah (cheetah), bukan pula harimau, meskipun semuanya termasuk binatang buas. Kemudian binatang yang masih satu jenis itu, seperti jenis singa atau jenis citah (cheetah), Allah menjadikan setiap individu binatang-binatang sejenis tersebut memiliki bentuk tersendiri. Dan ini adalah tanda kesempurnaan kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala. ====================================================================================================== ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى هُنَا مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ثَلَاثَةَ أَسْمَاءٍ وَقَعَتْ فِي الْقُرْآنِ عَلَى نُسَقٍ وَاحِدٍ فِي آخِرِ سُورَةِ الْحَشْرِ هِيَ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ وَهَذِهِ الْأَسْمَاءُ الثَّلَاثَةُ تَشْتَرِكُ فِي أَمْرٍ مُقَدَّرٍ وَهُوَ الْإِيْجَادُ فَمَعَانِي الْخَلْقِ وَالْبَرْءِ وَالتَّصْوِيرِ كُلُّهَا تَجْتَمِعُ فِي أَصْلِ الْإِيجَادِ إِلَّا أَنَّ بَيْنَهَا فَرْقًا لَطِيفًا فَالْخَلْقُ يَتَعَلَّقُ بِالْإِيجَادِ الْعَامِّ وَهُوَ التَّقْدِيرُ وَالْبَرْءُ يَتَعَلَّقُ بِفَصْلِ الْمُقَدَّرَاتِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ بَعْضِهَا عَنْ بَعْضٍ فَهُوَ أَخَصُّ مِنَ الْمَعْنَى الْعَامِّ وَالتَّصْوِيرُ تَتْمِيمٌ لِلْفَصْلِ بِالتَّفْرِيْقِ بِالصُّوَرِ تَتْمِيمٌ لِلْفَصْلِ بِالتَّفْرِيقِ لِلصُّوَرِ فَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ خَالِقٌ بَارِئٌ مُصَوِّرٌ فَهُوَ خَلَقَ الْأَشْيَاءَ بِتَقْدِيرِهَا تَقْدِيرًا عَامًّا فِي إِيْجَادِهَا ثُمَّ فَصَلَ نَظَائِرَهَا بَعْضَهَا عَنْ بَعْضٍ ثُمَّ فَرَّقَ بَيْنَهَا بِالصُّوَرِ فَالْحَيَوَانَاتُ مَثَلًا قَدْ قَدَّرَهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ مَوْجُوْدَاتِهِ ثُمَّ فَرَقَ بَيْنَ هَذِهِ الْحَيَوَانَاتِ بِمَا جَعَلَ مِنْ أَنْوَاعِهَا وَبَرَأَ فَالْأَسَدُ غَيْرُ الْفَهْدِ غَيْرُ النَّمِرِ مَعَ كَوْنِهَا مِنَ السِّبَاعِ جَمِيْعًا ثُمَّ فِي الْجِنْسِ الْوَاحِدِ كَالْأُسُوْدِ مَثَلًا أَوِ الْفُهُودِ مَثَلًا جَعَلَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْكَائِنَاتِ صُورَةً تَخْتَصُّ بِهِ وَهَذَا دَالٌّ عَلَى كَمَالِ قُدْرَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى   KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Q&A: Imam Keliru Menambah Menjadi Lima Rakaat, Apakah Harus Mengikuti Imam?

    Pertanyaan dari Santi (Anggota grup Shahib Rumaysho Telegram) Pertanyaan: “Jika imam menambah rakaat shalat karena lupa (seperti yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits Dzulyadain), apakah makmum juga ikut menambah rakaat?” Jawaban: Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam (3:218) menyatakan: “Jika imam telah diingatkan karena adanya penambahan, lalu imam tidak kembali, imam saat itu tidaklah diikuti dalam hal menambah dalam shalat tersebut. Bahkan, makmum tetap duduk dan menunggu hingga imam salam bersama makmum, atau makmum salam lebih dahulu sebelum imam. Namun, menunggu imam yang menambah hingga salam bersama itu lebih baik. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Majmu’ah Al-Fatawa, 23:53). Namun, para sahabat masih khawatir kalau terjadi perubahan hukum. Karenanya dalam hadits Dzulyadain, mereka selesaikan shalat bersama nabi lantas keluar. Saat itu masih zaman turunnya wahyu dan bisa ada naskh (penghapusan hukum). Adapun sekarang wahyu sudah tidak ada lagi, yang ada hanyalah kelupaan.” Dengarkan Juga: Q&A: Sujud Sahwi juga Berlaku dalam Shalat Sunnah – Muhammad Abduh Tuasikal  Rumaysho.Com Tagssujud sahwi

Q&A: Imam Keliru Menambah Menjadi Lima Rakaat, Apakah Harus Mengikuti Imam?

    Pertanyaan dari Santi (Anggota grup Shahib Rumaysho Telegram) Pertanyaan: “Jika imam menambah rakaat shalat karena lupa (seperti yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits Dzulyadain), apakah makmum juga ikut menambah rakaat?” Jawaban: Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam (3:218) menyatakan: “Jika imam telah diingatkan karena adanya penambahan, lalu imam tidak kembali, imam saat itu tidaklah diikuti dalam hal menambah dalam shalat tersebut. Bahkan, makmum tetap duduk dan menunggu hingga imam salam bersama makmum, atau makmum salam lebih dahulu sebelum imam. Namun, menunggu imam yang menambah hingga salam bersama itu lebih baik. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Majmu’ah Al-Fatawa, 23:53). Namun, para sahabat masih khawatir kalau terjadi perubahan hukum. Karenanya dalam hadits Dzulyadain, mereka selesaikan shalat bersama nabi lantas keluar. Saat itu masih zaman turunnya wahyu dan bisa ada naskh (penghapusan hukum). Adapun sekarang wahyu sudah tidak ada lagi, yang ada hanyalah kelupaan.” Dengarkan Juga: Q&A: Sujud Sahwi juga Berlaku dalam Shalat Sunnah – Muhammad Abduh Tuasikal  Rumaysho.Com Tagssujud sahwi
    Pertanyaan dari Santi (Anggota grup Shahib Rumaysho Telegram) Pertanyaan: “Jika imam menambah rakaat shalat karena lupa (seperti yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits Dzulyadain), apakah makmum juga ikut menambah rakaat?” Jawaban: Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam (3:218) menyatakan: “Jika imam telah diingatkan karena adanya penambahan, lalu imam tidak kembali, imam saat itu tidaklah diikuti dalam hal menambah dalam shalat tersebut. Bahkan, makmum tetap duduk dan menunggu hingga imam salam bersama makmum, atau makmum salam lebih dahulu sebelum imam. Namun, menunggu imam yang menambah hingga salam bersama itu lebih baik. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Majmu’ah Al-Fatawa, 23:53). Namun, para sahabat masih khawatir kalau terjadi perubahan hukum. Karenanya dalam hadits Dzulyadain, mereka selesaikan shalat bersama nabi lantas keluar. Saat itu masih zaman turunnya wahyu dan bisa ada naskh (penghapusan hukum). Adapun sekarang wahyu sudah tidak ada lagi, yang ada hanyalah kelupaan.” Dengarkan Juga: Q&A: Sujud Sahwi juga Berlaku dalam Shalat Sunnah – Muhammad Abduh Tuasikal  Rumaysho.Com Tagssujud sahwi


    Pertanyaan dari Santi (Anggota grup Shahib Rumaysho Telegram) Pertanyaan: “Jika imam menambah rakaat shalat karena lupa (seperti yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits Dzulyadain), apakah makmum juga ikut menambah rakaat?” Jawaban: Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam (3:218) menyatakan: “Jika imam telah diingatkan karena adanya penambahan, lalu imam tidak kembali, imam saat itu tidaklah diikuti dalam hal menambah dalam shalat tersebut. Bahkan, makmum tetap duduk dan menunggu hingga imam salam bersama makmum, atau makmum salam lebih dahulu sebelum imam. Namun, menunggu imam yang menambah hingga salam bersama itu lebih baik. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Majmu’ah Al-Fatawa, 23:53). Namun, para sahabat masih khawatir kalau terjadi perubahan hukum. Karenanya dalam hadits Dzulyadain, mereka selesaikan shalat bersama nabi lantas keluar. Saat itu masih zaman turunnya wahyu dan bisa ada naskh (penghapusan hukum). Adapun sekarang wahyu sudah tidak ada lagi, yang ada hanyalah kelupaan.” Dengarkan Juga: Q&A: Sujud Sahwi juga Berlaku dalam Shalat Sunnah – Muhammad Abduh Tuasikal  Rumaysho.Com Tagssujud sahwi

Q&A: Sujud Sahwi juga Berlaku dalam Shalat Sunnah

  Pertanyaan dari Suratno (Anggota grup Shahib Rumaysho Ikhwan 15) Pertanyaan: “Apabila ada kesalahan pada shalat sunnah, perlukah sujud sahwi?” Jawaban: Dalam Nail Ar-Raja’ bi Syarh Safinah An-Naja (hlm. 264) disebutkan oleh Syaikh Ahmad bin ‘Umar Asy-Syathiri, “Sujud sahwi itu berlaku dalam setiap shalat (shalat wajib maupun shalat sunnah). Sujud tersebut disunnahkan ketika mendapati salah satu dari sebab sujud sahwi. Sujud ini juga juga dalam sujud tilawah dan syukur, tetapi sujud sahwi tidak berlaku dalam shalat jenazah.” Dengarkan Juga: Q&A: Imam Keliru Menambah Menjadi Lima Rakaat, Apakah Harus Mengikuti Imam? – Muhammad Abduh Tuasikal  Rumaysho.Com Tagssujud sahwi

Q&A: Sujud Sahwi juga Berlaku dalam Shalat Sunnah

  Pertanyaan dari Suratno (Anggota grup Shahib Rumaysho Ikhwan 15) Pertanyaan: “Apabila ada kesalahan pada shalat sunnah, perlukah sujud sahwi?” Jawaban: Dalam Nail Ar-Raja’ bi Syarh Safinah An-Naja (hlm. 264) disebutkan oleh Syaikh Ahmad bin ‘Umar Asy-Syathiri, “Sujud sahwi itu berlaku dalam setiap shalat (shalat wajib maupun shalat sunnah). Sujud tersebut disunnahkan ketika mendapati salah satu dari sebab sujud sahwi. Sujud ini juga juga dalam sujud tilawah dan syukur, tetapi sujud sahwi tidak berlaku dalam shalat jenazah.” Dengarkan Juga: Q&A: Imam Keliru Menambah Menjadi Lima Rakaat, Apakah Harus Mengikuti Imam? – Muhammad Abduh Tuasikal  Rumaysho.Com Tagssujud sahwi
  Pertanyaan dari Suratno (Anggota grup Shahib Rumaysho Ikhwan 15) Pertanyaan: “Apabila ada kesalahan pada shalat sunnah, perlukah sujud sahwi?” Jawaban: Dalam Nail Ar-Raja’ bi Syarh Safinah An-Naja (hlm. 264) disebutkan oleh Syaikh Ahmad bin ‘Umar Asy-Syathiri, “Sujud sahwi itu berlaku dalam setiap shalat (shalat wajib maupun shalat sunnah). Sujud tersebut disunnahkan ketika mendapati salah satu dari sebab sujud sahwi. Sujud ini juga juga dalam sujud tilawah dan syukur, tetapi sujud sahwi tidak berlaku dalam shalat jenazah.” Dengarkan Juga: Q&A: Imam Keliru Menambah Menjadi Lima Rakaat, Apakah Harus Mengikuti Imam? – Muhammad Abduh Tuasikal  Rumaysho.Com Tagssujud sahwi


  Pertanyaan dari Suratno (Anggota grup Shahib Rumaysho Ikhwan 15) Pertanyaan: “Apabila ada kesalahan pada shalat sunnah, perlukah sujud sahwi?” Jawaban: Dalam Nail Ar-Raja’ bi Syarh Safinah An-Naja (hlm. 264) disebutkan oleh Syaikh Ahmad bin ‘Umar Asy-Syathiri, “Sujud sahwi itu berlaku dalam setiap shalat (shalat wajib maupun shalat sunnah). Sujud tersebut disunnahkan ketika mendapati salah satu dari sebab sujud sahwi. Sujud ini juga juga dalam sujud tilawah dan syukur, tetapi sujud sahwi tidak berlaku dalam shalat jenazah.” Dengarkan Juga: Q&A: Imam Keliru Menambah Menjadi Lima Rakaat, Apakah Harus Mengikuti Imam? – Muhammad Abduh Tuasikal  Rumaysho.Com Tagssujud sahwi

Tafsir al-Fatihah (3): Alhamdulillahirobbil’alamin – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)Artinya, segala puji hanya untuk Allah,Tuhan seluruh alam. Kata “ar-Rabb” bisa bermakna:Sang Pemilik Yang Maha Menciptakan, Yang Maha Mengadakan,dan Yang Maha Mengatur. “Ar-Rabb” bisa bermakna “pemilik” saja.Seperti ketika Anda berkata, “Aku pemilik rumah.”“Aku pemilik buku.”“Aku pemilik mobil.”Artinya yang memilikinya. “Ar-Rabb” bisa juga bermakna Yang Memperbaiki dan Yang Memelihara,misalnya firman Allah Tabāraka wa Ta’ālā:“… dan anak-anak tirimu yang dalam pemeliharaanmu …” (QS. An-Nisa’: 23)Artinya yang engkau rawat mereka. Semua makna-makna ini benar,tapi maksudnya di siniadalah Tuhan Yang Maha Memiliki, Mahakuasa, Maha Mengatur,Maha Mengurusi, Maha Menghidupkan, dan Maha Mematikan,Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. Al-ʿĀlamīn, artinya, sebagian ulama berkata,“Manusia dan jin.”Sebagian lain berkata, “Manusia, jin, dan malaikat.” Ada juga yang mengatakan, “Segala sesuatu selain Allah.”Ini makna yang benar.Dialah Rabbul ʿĀlamīn artinya Dia Subẖānahu adalah Tuhan segala sesuatu.Ar-Rabb adalah Tuhan segala sesuatu selain Dia,Yang Mahamulia Ketinggian-Nya. ===== الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ أَيْ كُلُّ الْحَمْدِ كَائِنٌ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالرَّبُ تَأْتِي بِمَعْنَى الْمَالِكِ الْخَالِقِ الْبَارِئِ الْمُتَصَرِّفِ وَتَأْتِي الرَّبُّ مِنَ الْمَالِكِ فَقَطْ كَمَا تَقُوْلُ أَنَا رَبُّ الْبَيْتِ أَنَا رَبُّ الْكِتَابِ أَنَا رَبُّ السَّيَّارَةِ أَيْ مَالِكُهَا وَتَأْتِي الرَّبُّ بِمَعْنَى الْمُصْلِحِ الْمُرَبِّيِّ وَمِنْهُ قَوْلُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ أَيْ اللَّاتِي تُرَبُّونَهُنَّ كُلُّ هَذِهِ الْمَعَانِي صَالِحَةٌ وَلَكِنْ هُنَا الْمَقْصُودُ الرَّبُّ الْمَالِكُ الْقَادِرُ الْمُتَصَرِّفُ الْمُدَبِّرُ الْمُحْيِي الْمُمِيتُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْعَالَمِيْنَ قَالَ بَعْضُهُمْ هُمُ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ وَقَالَ بَعْضُهُمْ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ وَالْمَلَاَئِكَةُ وَقَالَ آخَرُونَ كُلُّ مَا سِوَى اللهِ وَهُوَ الصَّحِيحُ وَهُوَ رَبُّ الْعَالَمِينَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ سُبْحَانَهُ الرَبُّ رَبُّ كُلِّ مَا سِوَاهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tafsir al-Fatihah (3): Alhamdulillahirobbil’alamin – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)Artinya, segala puji hanya untuk Allah,Tuhan seluruh alam. Kata “ar-Rabb” bisa bermakna:Sang Pemilik Yang Maha Menciptakan, Yang Maha Mengadakan,dan Yang Maha Mengatur. “Ar-Rabb” bisa bermakna “pemilik” saja.Seperti ketika Anda berkata, “Aku pemilik rumah.”“Aku pemilik buku.”“Aku pemilik mobil.”Artinya yang memilikinya. “Ar-Rabb” bisa juga bermakna Yang Memperbaiki dan Yang Memelihara,misalnya firman Allah Tabāraka wa Ta’ālā:“… dan anak-anak tirimu yang dalam pemeliharaanmu …” (QS. An-Nisa’: 23)Artinya yang engkau rawat mereka. Semua makna-makna ini benar,tapi maksudnya di siniadalah Tuhan Yang Maha Memiliki, Mahakuasa, Maha Mengatur,Maha Mengurusi, Maha Menghidupkan, dan Maha Mematikan,Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. Al-ʿĀlamīn, artinya, sebagian ulama berkata,“Manusia dan jin.”Sebagian lain berkata, “Manusia, jin, dan malaikat.” Ada juga yang mengatakan, “Segala sesuatu selain Allah.”Ini makna yang benar.Dialah Rabbul ʿĀlamīn artinya Dia Subẖānahu adalah Tuhan segala sesuatu.Ar-Rabb adalah Tuhan segala sesuatu selain Dia,Yang Mahamulia Ketinggian-Nya. ===== الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ أَيْ كُلُّ الْحَمْدِ كَائِنٌ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالرَّبُ تَأْتِي بِمَعْنَى الْمَالِكِ الْخَالِقِ الْبَارِئِ الْمُتَصَرِّفِ وَتَأْتِي الرَّبُّ مِنَ الْمَالِكِ فَقَطْ كَمَا تَقُوْلُ أَنَا رَبُّ الْبَيْتِ أَنَا رَبُّ الْكِتَابِ أَنَا رَبُّ السَّيَّارَةِ أَيْ مَالِكُهَا وَتَأْتِي الرَّبُّ بِمَعْنَى الْمُصْلِحِ الْمُرَبِّيِّ وَمِنْهُ قَوْلُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ أَيْ اللَّاتِي تُرَبُّونَهُنَّ كُلُّ هَذِهِ الْمَعَانِي صَالِحَةٌ وَلَكِنْ هُنَا الْمَقْصُودُ الرَّبُّ الْمَالِكُ الْقَادِرُ الْمُتَصَرِّفُ الْمُدَبِّرُ الْمُحْيِي الْمُمِيتُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْعَالَمِيْنَ قَالَ بَعْضُهُمْ هُمُ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ وَقَالَ بَعْضُهُمْ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ وَالْمَلَاَئِكَةُ وَقَالَ آخَرُونَ كُلُّ مَا سِوَى اللهِ وَهُوَ الصَّحِيحُ وَهُوَ رَبُّ الْعَالَمِينَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ سُبْحَانَهُ الرَبُّ رَبُّ كُلِّ مَا سِوَاهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)Artinya, segala puji hanya untuk Allah,Tuhan seluruh alam. Kata “ar-Rabb” bisa bermakna:Sang Pemilik Yang Maha Menciptakan, Yang Maha Mengadakan,dan Yang Maha Mengatur. “Ar-Rabb” bisa bermakna “pemilik” saja.Seperti ketika Anda berkata, “Aku pemilik rumah.”“Aku pemilik buku.”“Aku pemilik mobil.”Artinya yang memilikinya. “Ar-Rabb” bisa juga bermakna Yang Memperbaiki dan Yang Memelihara,misalnya firman Allah Tabāraka wa Ta’ālā:“… dan anak-anak tirimu yang dalam pemeliharaanmu …” (QS. An-Nisa’: 23)Artinya yang engkau rawat mereka. Semua makna-makna ini benar,tapi maksudnya di siniadalah Tuhan Yang Maha Memiliki, Mahakuasa, Maha Mengatur,Maha Mengurusi, Maha Menghidupkan, dan Maha Mematikan,Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. Al-ʿĀlamīn, artinya, sebagian ulama berkata,“Manusia dan jin.”Sebagian lain berkata, “Manusia, jin, dan malaikat.” Ada juga yang mengatakan, “Segala sesuatu selain Allah.”Ini makna yang benar.Dialah Rabbul ʿĀlamīn artinya Dia Subẖānahu adalah Tuhan segala sesuatu.Ar-Rabb adalah Tuhan segala sesuatu selain Dia,Yang Mahamulia Ketinggian-Nya. ===== الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ أَيْ كُلُّ الْحَمْدِ كَائِنٌ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالرَّبُ تَأْتِي بِمَعْنَى الْمَالِكِ الْخَالِقِ الْبَارِئِ الْمُتَصَرِّفِ وَتَأْتِي الرَّبُّ مِنَ الْمَالِكِ فَقَطْ كَمَا تَقُوْلُ أَنَا رَبُّ الْبَيْتِ أَنَا رَبُّ الْكِتَابِ أَنَا رَبُّ السَّيَّارَةِ أَيْ مَالِكُهَا وَتَأْتِي الرَّبُّ بِمَعْنَى الْمُصْلِحِ الْمُرَبِّيِّ وَمِنْهُ قَوْلُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ أَيْ اللَّاتِي تُرَبُّونَهُنَّ كُلُّ هَذِهِ الْمَعَانِي صَالِحَةٌ وَلَكِنْ هُنَا الْمَقْصُودُ الرَّبُّ الْمَالِكُ الْقَادِرُ الْمُتَصَرِّفُ الْمُدَبِّرُ الْمُحْيِي الْمُمِيتُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْعَالَمِيْنَ قَالَ بَعْضُهُمْ هُمُ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ وَقَالَ بَعْضُهُمْ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ وَالْمَلَاَئِكَةُ وَقَالَ آخَرُونَ كُلُّ مَا سِوَى اللهِ وَهُوَ الصَّحِيحُ وَهُوَ رَبُّ الْعَالَمِينَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ سُبْحَانَهُ الرَبُّ رَبُّ كُلِّ مَا سِوَاهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)Artinya, segala puji hanya untuk Allah,Tuhan seluruh alam. Kata “ar-Rabb” bisa bermakna:Sang Pemilik Yang Maha Menciptakan, Yang Maha Mengadakan,dan Yang Maha Mengatur. “Ar-Rabb” bisa bermakna “pemilik” saja.Seperti ketika Anda berkata, “Aku pemilik rumah.”“Aku pemilik buku.”“Aku pemilik mobil.”Artinya yang memilikinya. “Ar-Rabb” bisa juga bermakna Yang Memperbaiki dan Yang Memelihara,misalnya firman Allah Tabāraka wa Ta’ālā:“… dan anak-anak tirimu yang dalam pemeliharaanmu …” (QS. An-Nisa’: 23)Artinya yang engkau rawat mereka. Semua makna-makna ini benar,tapi maksudnya di siniadalah Tuhan Yang Maha Memiliki, Mahakuasa, Maha Mengatur,Maha Mengurusi, Maha Menghidupkan, dan Maha Mematikan,Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. Al-ʿĀlamīn, artinya, sebagian ulama berkata,“Manusia dan jin.”Sebagian lain berkata, “Manusia, jin, dan malaikat.” Ada juga yang mengatakan, “Segala sesuatu selain Allah.”Ini makna yang benar.Dialah Rabbul ʿĀlamīn artinya Dia Subẖānahu adalah Tuhan segala sesuatu.Ar-Rabb adalah Tuhan segala sesuatu selain Dia,Yang Mahamulia Ketinggian-Nya. ===== الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ أَيْ كُلُّ الْحَمْدِ كَائِنٌ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالرَّبُ تَأْتِي بِمَعْنَى الْمَالِكِ الْخَالِقِ الْبَارِئِ الْمُتَصَرِّفِ وَتَأْتِي الرَّبُّ مِنَ الْمَالِكِ فَقَطْ كَمَا تَقُوْلُ أَنَا رَبُّ الْبَيْتِ أَنَا رَبُّ الْكِتَابِ أَنَا رَبُّ السَّيَّارَةِ أَيْ مَالِكُهَا وَتَأْتِي الرَّبُّ بِمَعْنَى الْمُصْلِحِ الْمُرَبِّيِّ وَمِنْهُ قَوْلُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ أَيْ اللَّاتِي تُرَبُّونَهُنَّ كُلُّ هَذِهِ الْمَعَانِي صَالِحَةٌ وَلَكِنْ هُنَا الْمَقْصُودُ الرَّبُّ الْمَالِكُ الْقَادِرُ الْمُتَصَرِّفُ الْمُدَبِّرُ الْمُحْيِي الْمُمِيتُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْعَالَمِيْنَ قَالَ بَعْضُهُمْ هُمُ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ وَقَالَ بَعْضُهُمْ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ وَالْمَلَاَئِكَةُ وَقَالَ آخَرُونَ كُلُّ مَا سِوَى اللهِ وَهُوَ الصَّحِيحُ وَهُوَ رَبُّ الْعَالَمِينَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ سُبْحَانَهُ الرَبُّ رَبُّ كُلِّ مَا سِوَاهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tafsir al-Fatihah (2): Makna Bismillahirrohmanirrohim – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Firman-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā:“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Fatihah: 1)Artinya, “Aku memulai dengan menyebut nama Allah,”atau “Aku membaca dengan menyebut nama Allah,”atau “Aku mulai dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Allah artinya Yang Disembah dan Yang Diibadahikarena rasa cinta, takut, dan harap kepada-Nya.Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. Ar-Raẖmān adalah nama Allah Subẖānahu wa Ta’ālā yang paling khusussetelah nama Allah.Ar-Raẖmān disebut setelah nama Allah dengan selaludikedepankan dari Asmaul Husna yang lainnya. Ulama berkata, “Ar-Raẖīm artinya Maha Pengasih terhadap kaum mukminin,adapun ar-Raẖmān artinya Maha Penyayang terhadap semua makhluk-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā.” ==== قَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ أَيْ أَبَدَأُ بِسْمِ اللهِ أَوْ أَقْرَأُ بِسْمِ اللهِ أَوْ بِدَايَتِي بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَاللهُ هُوَ الْمَأْلُوهُ وَالْمُعْبُودُ حُبًّا وَخَوْفًا وَرَجَاءً سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الرَّحْمٰنُ أَخَصُّ أَسْمَاءِ اللهِ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَعْدَ اسْمِ اللهِ وَيَأْتِي دَائِمًا بَعْدَ اسْمِ اللهِ مُقَدَّمًا عَلَى سَائِرِ الْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى وَالرَّحِيمُ قَالُوا: هُوَ الرَّحِيمُ بِالْمُؤْمِنِينَ وَالرَّحْمٰنُ بِالْخَلْقِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tafsir al-Fatihah (2): Makna Bismillahirrohmanirrohim – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Firman-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā:“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Fatihah: 1)Artinya, “Aku memulai dengan menyebut nama Allah,”atau “Aku membaca dengan menyebut nama Allah,”atau “Aku mulai dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Allah artinya Yang Disembah dan Yang Diibadahikarena rasa cinta, takut, dan harap kepada-Nya.Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. Ar-Raẖmān adalah nama Allah Subẖānahu wa Ta’ālā yang paling khusussetelah nama Allah.Ar-Raẖmān disebut setelah nama Allah dengan selaludikedepankan dari Asmaul Husna yang lainnya. Ulama berkata, “Ar-Raẖīm artinya Maha Pengasih terhadap kaum mukminin,adapun ar-Raẖmān artinya Maha Penyayang terhadap semua makhluk-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā.” ==== قَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ أَيْ أَبَدَأُ بِسْمِ اللهِ أَوْ أَقْرَأُ بِسْمِ اللهِ أَوْ بِدَايَتِي بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَاللهُ هُوَ الْمَأْلُوهُ وَالْمُعْبُودُ حُبًّا وَخَوْفًا وَرَجَاءً سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الرَّحْمٰنُ أَخَصُّ أَسْمَاءِ اللهِ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَعْدَ اسْمِ اللهِ وَيَأْتِي دَائِمًا بَعْدَ اسْمِ اللهِ مُقَدَّمًا عَلَى سَائِرِ الْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى وَالرَّحِيمُ قَالُوا: هُوَ الرَّحِيمُ بِالْمُؤْمِنِينَ وَالرَّحْمٰنُ بِالْخَلْقِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Firman-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā:“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Fatihah: 1)Artinya, “Aku memulai dengan menyebut nama Allah,”atau “Aku membaca dengan menyebut nama Allah,”atau “Aku mulai dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Allah artinya Yang Disembah dan Yang Diibadahikarena rasa cinta, takut, dan harap kepada-Nya.Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. Ar-Raẖmān adalah nama Allah Subẖānahu wa Ta’ālā yang paling khusussetelah nama Allah.Ar-Raẖmān disebut setelah nama Allah dengan selaludikedepankan dari Asmaul Husna yang lainnya. Ulama berkata, “Ar-Raẖīm artinya Maha Pengasih terhadap kaum mukminin,adapun ar-Raẖmān artinya Maha Penyayang terhadap semua makhluk-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā.” ==== قَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ أَيْ أَبَدَأُ بِسْمِ اللهِ أَوْ أَقْرَأُ بِسْمِ اللهِ أَوْ بِدَايَتِي بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَاللهُ هُوَ الْمَأْلُوهُ وَالْمُعْبُودُ حُبًّا وَخَوْفًا وَرَجَاءً سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الرَّحْمٰنُ أَخَصُّ أَسْمَاءِ اللهِ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَعْدَ اسْمِ اللهِ وَيَأْتِي دَائِمًا بَعْدَ اسْمِ اللهِ مُقَدَّمًا عَلَى سَائِرِ الْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى وَالرَّحِيمُ قَالُوا: هُوَ الرَّحِيمُ بِالْمُؤْمِنِينَ وَالرَّحْمٰنُ بِالْخَلْقِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Firman-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā:“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Fatihah: 1)Artinya, “Aku memulai dengan menyebut nama Allah,”atau “Aku membaca dengan menyebut nama Allah,”atau “Aku mulai dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Allah artinya Yang Disembah dan Yang Diibadahikarena rasa cinta, takut, dan harap kepada-Nya.Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. Ar-Raẖmān adalah nama Allah Subẖānahu wa Ta’ālā yang paling khusussetelah nama Allah.Ar-Raẖmān disebut setelah nama Allah dengan selaludikedepankan dari Asmaul Husna yang lainnya. Ulama berkata, “Ar-Raẖīm artinya Maha Pengasih terhadap kaum mukminin,adapun ar-Raẖmān artinya Maha Penyayang terhadap semua makhluk-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā.” ==== قَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ أَيْ أَبَدَأُ بِسْمِ اللهِ أَوْ أَقْرَأُ بِسْمِ اللهِ أَوْ بِدَايَتِي بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَاللهُ هُوَ الْمَأْلُوهُ وَالْمُعْبُودُ حُبًّا وَخَوْفًا وَرَجَاءً سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الرَّحْمٰنُ أَخَصُّ أَسْمَاءِ اللهِ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَعْدَ اسْمِ اللهِ وَيَأْتِي دَائِمًا بَعْدَ اسْمِ اللهِ مُقَدَّمًا عَلَى سَائِرِ الْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى وَالرَّحِيمُ قَالُوا: هُوَ الرَّحِيمُ بِالْمُؤْمِنِينَ وَالرَّحْمٰنُ بِالْخَلْقِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

40 Alasan Kenapa Ilmu Agama itu Lebih Baik daripada Harta

Ilmu diin (agama) itu lebih baik daripada harta. Pernyataan ini diambil dari perkataan Ali bin Abi Thalib berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Hadits Ali Tentang Ilmu Lebih Baik daripada Harta 2. 40 Alasan “Ilmu Diin (Agama) Lebih Baik Daripada Harta” Hadits Ali Tentang Ilmu Lebih Baik daripada Harta Kumail bin Ziyad An-Nakha’i berkata bahwa ‘Ali bin Abi Thalib mengambil tangannya lantas berkata: ِيا كميلُ بن زياد! القلوبُ أوعيةٌ؛ فخيرها أوعاها؛ احفظْ ما أقول لك: الناسُ ثلاثةٌ؛ فعالمٌ ربَّانيٌّ، ومتعلِّمٌ على سبيل نجاةٍ، وهَمَجٌ رِعَاعٌ أتباعُ كلِّ ناعقٍ يميلون مع كلِّ رِيح؛ لم يستضيئوا بنور العلم ولم يلجَئوا إلى ركنٍ وثيقٍ؛ 
العلمُ خيرٌ من المال: العلمُ يحرِسُك وأنت تحرِسُ المالَ، العلمُ يزكُوْ على الإنفاق–وفي رواية على العمل–والمالُ تنقُصُه النفقةُ، العلمُ حاكمٌ  و المالُ محكومٌ عليه ومحبةُ العلمِ دينٌ يُدان بها، العلمُ يُكسِب العالمَ الطاعةَ في حياته وجميلَ الأُحْدُوْثَةِ بعد موته، وصنيعةُ المال تزول بزواله، مات خُزَّانُ الأموال وهم أحياءٌ، والعلماءُ باقُون ما بقي الدهرُ، أعيانُهم مفقودةٌ، وأمثالهُم في القلوب موجودةٌ. “Wahai Kumail bin Ziyaad! Ingatlah, hati itu ibarat wadah. Hati yang paling baik adalah yang paling banyak menampung (kebaikan). Ingatlah, apa yang akan aku katakan kepadamu. Manusia itu ada tiga (golongan): alim rabbani (ulama), penuntut ilmu yang berada di atas jalan keselamatan, dan orang awam yang mengikuti setiap orang yang berteriak (seruan), mereka condong sesuai dengan arah angin (kemanapun diarahkan) , tidak menerangi diri dengan cahaya ilmu, dan tidak berpegangan dengan pegangan yang kuat.” Ilmu itu lebih baik daripada harta: – Ilmu itu menjagamu. Sedangkan harta itu dijaga olehmu. – Ilmu bertambah dengan diamalkan, sedangkan harta berkurang setiap kali diinfakkan (dikeluarkan). – Ilmu itu menjadi haakim (yang memberikan hukum), sedangkan harta itu menjadi objek hukum (terkena hukum). – Mencintai orang yang berilmu (ulama) bagian dari agama, cinta yang mendekatkan diri kepada Allah. – Ilmu menjadikan orang yang memilikinya menjadi seorang yang ditaati semasa hidupnya dan disebut dengan kebaikan setelah matinya. – Apa yang dihasilkan oleh harta akan hilang bersama kemusnahannya. – Orang yang menumpuk harta, (nama) mereka mati sedang dalam keadaan hidup (jasadnya), dan para ulama akan tetap ada selamanya; jasad mereka musnah, tapi sifat-sifat teladan mereka hidup di dalam hati-hati manusia. (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah Al-Auliya’, 1:79-80; Al-Khathib dalam Al-Faqiih wa Al-Mutafaqqih, 1:49; Asy-Syajari dalam Amaalihi, hlm. 66; Al-Muzani dalam Tahdzib Al-Kamaal, 24:220; An-Nahrawaani dalam Al-Jaliis Ash-Shaalih, 3:331. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaan Al-‘Ilmi, 2:112, “Hadits ini begitu masyhur di kalangan ahli ilmu, tanpa lagi memperhatikan sanadnya karena sudah saking masyhurnya).   40 Alasan “Ilmu Diin (Agama) Lebih Baik Daripada Harta” Kelebihan ilmu terhadap harta dapat diketahui melalui beberapa sisi yang bertolak belakang sebagai berikut. Ilmu adalah warisan para nabi, sementara harta adalah warisan para raja dan orang kaya. Ilmu akan menjaga pemiliknya. Sedangkan, harta itu harus dijaga oleh pemiliknya. Ilmu kian bertambah dengan diamalkan dan dibagikan, sedangkan harta berkurang setiap kali diinfakkan (dikeluarkan). Pemilik harta ketika meninggal dunia, harta meninggalkannya. Sementara, ilmu akan ikut ke dalam kubur bersama pemiliknya. Ilmu mampu menguasai harta, sedangkan harta tidak akan mampu menguasai ilmu. Harta bisa dimiliki oleh setiap orang, yaitu orang mukmin maupun kafir, orang yang taat maupun durhaka. Sedangkan, ilmu yang bermanfaat hanya dimiliki oleh orang beriman. Ilmu itu dibutuhkan oleh para raja dan orang-orang di bawahnya. Adapun harta itu dibutuhkan dan dicari oleh orang fakir miskin. Hati itu jadi mulia, tenang, bersih dengan adanya ilmu. Sehingga memiliki ilmu dianggap sebagai kesempurnaan dan kemuliaan jiwa. Sedangkan harta jika bertambah tidak menjadikan kita mulia, malah muncul sifat-sifat jelek seperti rakus dan kikir. Maka bertambah ilmu membuat kita bertambah derajat di sisi Allah, diri semakin mulia, beda halnya dengan bertambahnya harta. Harta bisa mengantarkan pada sifat semena-mena, bangga diri, dan sombong. Sedangkan, ilmu mengantarkan pada sifat tawadhu‘ dan menghambakan diri kepada Allah (‘ubudiyah). Maka, harta mengantarkan pada sifat para raja (muluuk) dan ilmu mengantarkan pda sifat para hamba (‘abiid). Ilmu itu mengantarkan kepada kebahagiaan yang menjadi tujuan penciptaan yaitu menghambakan diri kepada Allah. Hal ini berbeda dengan harta yang malah menghalangi ke tujuan tersebut. Orang yang kaya ilmu lebih mulia daripada orang yang kaya harta. Kaya harta itu keluar dari hakikat manusia. Seandainya harta itu dipakai dalam semalam, seorang akan menjadi miskin saat itu juga. Hal ini berbeda dengan kaya ilmu, ia tak pernah takut jatuh miskin. Bahkan, ilmu kian hari, kian bertambah. Kaya ilmu itulah sejatinya kaya yang paling tinggi. Cinta harta menjadikan seseorang budak harta. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, “Celakalah budak dinar, celakalah budak dirham.” Sedangkan, cinta ilmu menjadikan seseorang menjadi hamba Allah sejati. Ilmu yang benar tidak akan mengajak seseorang untuk beribadah kepada selain Allah. Cinta ilmu dan mencari ilmu adalah asal pokok dari segala ketaatan. Sedangkan, cinta harta dan mencari harta adalah asal pokok segala kejelekan. Orang disebut kaya dengan adanya harta. Sedangkan orang disebut ‘aalim dengan ilmunya. Jika harta hilang pada orang kaya, hilanglah jati diri orang kaya, tak dipandang kaya lagi. Namun, seorang alim selalu dipandang dengan ilmunya, bahkan ilmu kian bertambah dan berlipat ganda ketika dibagikan. Esensi (jauhar) dari harta sama dengan esensi (jauhar) dari badan. Sedangkan, esensi ilmu sama dengan esensi ruh. Yunus bin Habib berkata: Ilmumu itu dari ruhmu, sedangkan hartamu dari badanmu. Perbedaan antara ilmu dan harta sama dengan perbedaan ruh dan badan. Seorang ‘aalim ketika sebagian ilmunya ditawarkan untuk diganti dengan dunia, ia tidak rida dengan ilmu yang digantikan tersebut. Sedangkan, orang kaya yang ‘aaqil (cerdas) jika ia melihat keutamaan, kemuliaan, dan kebahagiaan orang berilmu karena ilmu yang dimilikinya, orang kaya ini berharap tergabung padanya antara ilmu dan kekayaan. Kata Imam Ibnul Qayyim: ِأن ما أطاع الله أحد قط إلا بالعلم وعامة من يعصيه إنما يعصيه بالمال “Seseorang itu bisa menaati Allah dengan benar karena ilmu yang ia miliki. Namun, sebaliknya, maksiat itu terjadi umumnya karena harta.” Lihat Miftaah Daar As-Sa’adah (1:414) karya Ibnul Qayyim. Kata Imam Ibnul Qayyim: ِأن العالم يدعو الناس إلى الله بعلمه وحاله وجامع المال يدعوهم إلى الدنيا بحاله وماله “Sesungguhnya ‘aalim itu mengajak manusia kepada Allah dengan ilmu dan keadaannya. Sedangkan, orang yang mengumpulkan harta mengantarkan manusia pada dunia dengan penampilan dan hartanya.” Lihat Miftaah Daar As-Sa’adah (1:415) karya Ibnul Qayyim. Orang yang kaya harta seringkali ia menyebabkan pemiliknya celaka, sebab harta memang sangat disukai jiwa. Sehingga ketika jiwa seseorang melihat orang lain menguasai apa yang dicintai itu, ia pun akan berusaha membinasakan orang tadi, seperti yang nyata-nyata terjadi. Berbeda dengan kaya ilmu, yang menyebabkan kehidupan sejati bagi pemiliknya juga bagi kehidupan orang lain. Saat seseorang melihat orang yang menguasai ilmu dan senantiasa mencari ilmu, mereka akan mencintai, melayani, dan memuliakannya. Kenikmatan yang dihasilkan oleh harta kemungkinan hanyalah kenikmatan yang bersifat halusinasi (khayalan) atau kenikmatan ala binatang (bahimah). Si pemilik harta ketika merasa nikmat saat mengumpulkan dan meraih harta, hakikatnya itu hanyalah khayalan atau halusinasi. Sedangkan, apabila pemilik harta merasa nikmat ketika menggunakan harta demi memenuhi syahwatnya, ini namanya kenikmatan ala binatang. Tentu hal tadi berbeda dengan ilmu. Kenikmatan ilmu adalah kenikmatan akal dan rohani, mirip seperti kenikmatan dan kebahagiaan yang dirasakan oleh para malaikat. Itulah kenapa kenikmatan antara harta dan ilmu pada hakikatnya adalah kenikmatan yang bertolak belakang.  Orang-orang yang berakal (cerdas) dari seluruh umat sepakat membenci sikap tamak dalam menumpuk harta. Mereka semua mencela dan mencemooh sifat buruk ini. Sebaliknya, mereka sepakat mengagungkan sikap tamak ketika mengumpulkan dan meraih ilmu. Mereka menyukai sikap yang terakhir ini, serta memandangnya sebagai suatu kesempurnaan. Umat manusia sepakat mengagungkan orang yang zuhud dalam harta, tidak menumpuk-numpuk harta, tidak meliriknya, dan tidak menjadikan hatinya budak harta. Mereka juga sepakat mencela orang yang merasa tidak membutuhkan ilmu, tidak mau melirik ilmu, dan tidak gigih mencari ilmu.  Pemilik harta itu disanjung manakala ia rida melepaskan dan memberi harta miliknya (TAKHLIYYAH), sementara orang yang berilmu dipuji saat menyandang dan memilikinya (TAHLIYYAH).  Kaya harta itu disertai rasa takut serta rasa sedih. Orang berharta itu sedih sebelum mendapatkannya, serta takut setelah mendapatkannya. Semakin banyak harta yang didapat, semakin kuat dan besar rasa takut pemiliknya. Ini berbeda dengan ilmu. Kaya ilmu itu disertai oleh rasa aman, senang, dan bahagia. Orang yang kaya harta suatu saat nanti pasti ditinggal oleh hartanya. Dia akan tersiksa dan sakit oleh sebab perpisahan ini. Sementara orang kaya ilmu, ilmu tidak pernah meninggalkannya, juga ia tidak akan tersiksa atau tersakiti. Dengan demikian, kenikmatan harta ialah kenikmatan semu yang pasti berakhir hingga berujung kepada kepedihan, sementara kenikmatan ilmu adalah kenikmatan kekal abadi yang tidak disertai kepedihan.  Kenikmatan dan kesempurnaan jiwa dengan harta adalah kesempurnaan pinjaman yang harus dikembalikan. Oleh sebab itulah, manakala jiwa berhias diri dengan harta berarti ia telah mengenakan pakaian pinjaman yang harus dikembalikan kepada pemilik aslinya. Sementara keindahan serta kesempurnaan jiwa dengan ilmu, ia adalah keindahan permanen yang tidak akan terlepas dari jiwa. Kaya harta adalah inti kemiskinan jiwa. Sedangkan, kaya ilmu adalah inti kekayaan jiwa, karena ilmu adalah kekayaan hakiki bagi jiwa. Orang yang diprioritaskan serta dimuliakan karena hartanya, ia tidak lagi diutamakan dan dimuliakan tatkala hartanya lenyap. Sedangkan, orang yang diprioritaskan dan dimuliakan karena ilmu, ilmu itu justru semakin membuatnya diutamakan dan dimuliakan. Mengutamakan orang karena harta yang dimilikinya adalah inti celaan baginya, lantaran prioritas ini berarti memanggil dengan menyebut aibnya. Sebab andai bukan karena harta, maka ia pantas diakhirkan dan diperlakukan secara hina. Hal ini berbeda ketika seseorang diutamakan dan dimuliakan karena ilmu. Itulah inti kesempurnaan baginya, karena ia diutamakan oleh sebab sifat pribadinya, bukan karena faktor di luar dirinya.  Orang yang mencari kesempurnaan lewat kekayaan harta laksana orang yang menyatukan dua hal yang bertolak belakang. Intinya, ia mencari sesuatu yang tidak bisa diperoleh. Berbeda dengan orang kaya ilmu, ia tidak mengalami sedikit pun dari keburukan itu. Bahkan sebaliknya, semakin membagikan ilmu, maka ia pun merasa semakin senang dan berbahagia. Orang berilmu ini tidak merasakan kenikmatan orang-orang kaya dalam hal harta benda, sebagaimana orang kaya tidak merasakan kenikmatan orang berilmu dalam hal pengetahuan dan kebahagiaan jiwa. Orang berilmu punya faktor-faktor kenikmatan yang lebih besar, lebih kuat, serta lebih langgeng daripada kenikmatan orang kaya. Keletihan dalam mendapatkan, mengumpulkan, dan menjaga ilmu tidak seberapa jika dibandingkan dengan keletihan orang kaya dalam mengumpulkan harta. Sebab mengumpulkan harta itu sendiri merupakan duka cerita di luar duka derita yang dirasakan pencarinya. Kenikmatan yang diperoleh dari harta dan kekayaan bersifat situasional, yaitu saat harta diperoleh. Kenikmatan ini mungkin lenyap atau berkurang. Buktinya, watak manusia terus mencari kekayaan lain dan tamak di sisi ini. Di selalu berusaha mencari tambahan sehingga merasa selalu kurang. Andai ia memiliki seluruh harta simpanan di bumi, kemiskinan dan ketamakan tetap bersarang dalam dirinya, karena ia termasuk salah satu di antara dua orang rakus yang tidak pernah kenyang, sebab sifat tamak serta sifat serakah ingin menumpuk-numpuk harta tidak pernah lepas dari hatinya. Berbeda dengan orang kaya ilmu dan kaya iman, kenikmatan yang dirasa seiring keberadaan keduanya sama seperti yang dirasakan saat kenikmatan tersebut didapatkan kembali, bahkan lebih nikmat. Pencarian dan kegigihan orang yang berilmu dalam mencari ilmu selalui disertai kenikmatan ilmu yang didapatkan, kebaikan yang diharapkan, dan kebahagiaan diri dalam proses pencariannya. Orang kaya harta mengharuskan dirinya berbuat baik kepada orang lain, hingga ia dihadapkan pada dua kemungkinan, yaitu menutup pintu kebaikan itu atau membukanya. Jika menutup pintu berbuat baik kepada orang lain, ia dikenal sebagai orang yang jauh dari kebaikan dan manfaat sehingga ia dibenci, dicela, lagi dihina banyak orang sehingga hatinya merasa pedih, duka, dan pilu. Sedangkan, jika ia membuka pintu kebaikan dan berbagai dengan orang lain, tetap saja ia tidak akan mampu melakukannya kepada semua orang. Ia hanya bisa berbuat baik kepada sebagian orang. Cara seperti ini tentu saja akan membuka pintu permusuhan serta celaan orang miskin dan orang yang tidak dibantu. Kekurangan-kekurangan semacam ini tidaklah menimpa orang yang kaya ilmu. Orang yang berilmu bisa membagikan ilmunya kepada semua orang. Ilmu yang telah dibagikan darinya justru tetap utuh dan tidak pernah lenyap. Bahkan, ia seperti berbisnis dengan ilmu yang diberikannya. Seperti orang kaya yang memberikan hartanya kepada orang fakir, lantas harta tersebut dipakai untuk berdagang, sehingga si fakir menjadi orang kaya seperti dirinya. Mengumpulkan harta itu disertai tiga kesusahan hidup, yaitu: (1) penyakit dan ujian sebelum punya harta, (2) penyakit dan ujian saat mendapat harta itu di mana sulit menjaga dan hati terkait terus pada harta sehingga pada dan sore selalu dirundung duka dan sedih, (3) penyakit dan ujian saat berpisah dengan harta, yaitu bagi seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan harta. Hal ini tentu berbeda dengan orang yang kaya ilmu dan iman. Selain terhindar dari berbagai penyakit tadi, ia mampu menjamin semua kenikmatan, kebahagiaan, dan kesenangan pribadi tanpa ada sakit hati. Hanya saja kenikmatan demikian dapat diraih setelah melalui keletihan, kesabaran, dan kesulitan.  Lengkapnya nikmat kekayaan dapat dirasakan ketika bergaul dengan orang lain, seperti dengan pembantunya, istri, selir, atau para pengikut (followernya). Orang kaya itu akan selalu diusik oleh orang lain sehingga timbul kebencian, permusuhan, timbul rasa marah karena hanya bisa menyenangkan sebagian orang. Itulah alasan keburukan yang ditimbulkan kerabat dan sanak keluarga pada harta berlipat kali dibandingkan dengan keburukan orang yang jauh atau bukan kerabat. Pergaulan seperti ini hanya dialami oleh orang kaya harta. Adapun jika ia tidak memiliki jasa kepada orang lain, orang lain akan menjauhi dirinya agar terhindar dari sisi negatif interaksi dengannya. Penyakit demikian tidak ada dalam orang yang kaya ilmu. Harta itu hanyalah alat untuk menggapai tujuan untuk kenyang, hilang dahaga, kehangatan, mendapat perlindungan, hingga selamat dari berbagai rasa sakit.  Berbeda dengan kekayaan ilmu, selalu membahagiakan hati, menimbulkan kesenangan dan keceriaan. Ilmu itu tidak lenyap yang membuat orang sedih dan terluka. Bahkan, pemilik kekayaan ilmu LAA KHAUFUN ‘ALAIHIM WA LAA HUM YAHZANUUN, yaitu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak bersedih hati. Orang yang kaya harta akan membenci kematian dan perjumpaan dengan Allah. Karena kalau sudah cinta pada harta, ia tidak suka untuk berpisah dan ingin harta tetap bertahan agar ingin terus dinikmati. Berbeda dengan ilmu, ia membuat hamba menginginkan pertemuan dengan Allah dan mendorongnya untuk zuhud terhadap kehidupan yang penuh kesusahan dan fana ini. Orang yang menumpuk harta, (nama) mereka mati sedang dalam keadaan hidup (jasadnya), dan para ulama akan tetap ada selamanya; jasad mereka musnah, tetapi sifat-sifat teladan mereka hidup di dalam hati-hati manusia. Ruh itu hidup dengan ilmu seperti halnya raga hidup dengan ruh. Orientasi orang kaya harta adalah menambah kehidupan raga. Sedangkan ilmu adalah kehidupan hati dan rohani. Hati itu adalah raja bagi tubuh. Sedangkan, ilmu adalah hiasan, bekal, sekaligus harta bagi hati. Ilmu menjadi penopang kerajaan tubuh. Raja harus memiliki persenjataan, prajurit, harta, dan hiasan. Ilmulah yang menjadi tunggangan, senjata, dan keindahannya. Harta itu menjadi hiasan dan keindahan bagi raga tatkala dibelanjakan untuk itu. Ketika seseorang menyimpannya serta tidak membelanjakan harta itu, ia tidak lagi menjadi hiasan atau keindahan, melainkan menjadi kekurangan dan petaka baginya. Yang dimaksudkan harta yang secukupnya adalah sekadar menegakkan tulang dan menangkal bahaya agar hamba bisa menyiapkan bekal guna meniti perjalanan menuju Rabb. Lebih dari itu, harta justru mengganggu, menghalangi perjalanan menuju Allah, dan menghalangi persiapan membawa bekal ke akhirat. Bahaya harta jauh lebih banyak daripada manfaatnya. Jadi, semakin banyak kekayaan yang dimiliki, hamba semakin lamban tertinggal untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian yang menanti. Berbeda dengan ilmu yang bermanfaat, maka semakin bertambahnya ilmu, hamba akan semakin mempersiapkan bekal untuk meniti perjalanan menuju Allah. Allah jua yang memberi taufik. Kita memohon pertolongan, serta tiada daya dan kekuatan tanpa pertolongan-Nya. Bekal perjalanan menuju Allah adalah ilmu dan amal. Sementara bekal di dunia adalah menumpuk dan menyimpan harta. Siapa yang menginginkan sesuatu, pasti akan bersiap-siap mendapatkan sesuatu itu. ِوَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَٰكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ “Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu”.” (QS. At-Taubah: 46)   Catatan lain yang sudah disebutkan dalam perkataan ‘Ali bin Abi Thalib: Ilmu itu menjadi haakim (yang memberikan hukum), sedangkan harta itu menjadi objek hukum (terkena hukum). Mencintai orang yang berilmu (ulama) bagian dari agama, cinta yang mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu menjadikan orang yang memilikinya menjadi seorang yang ditaati semasa hidupnya dan disebut dengan kebaikan setelah matinya. Apa yang dihasilkan oleh harta akan hilang bersama kemusnahannya.   Semoga Allah karuniakan kita ilmu yang manfaat.   Baca juga: Lebih dari 100 Keutamaan Orang Berilmu dari Kitab Miftah Daar As-Sa’adah karya Imam Ibnul Qayyim   Referensi: Miftah Daar As-Sa’aadah wa Mansyur Walaayah Ahli Al-‘Ilmi wa Al-Idarah. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Takhrij: Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid Al-Halabiy Al-Atsariy. Penerbit Dar Ibnul Qayyim dan Dar Ibnu ‘Affan. Mulai dari 1:412-430.   —   Diselesaikan 15 Muharram 1444 H, 13 Agustus 2022 dini hari @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbuang harta ilmu ilmu agama ilmu dan amal keutamaan ilmu mengelola harta miftah daar as saadah orang berilmu sedekah harta

40 Alasan Kenapa Ilmu Agama itu Lebih Baik daripada Harta

Ilmu diin (agama) itu lebih baik daripada harta. Pernyataan ini diambil dari perkataan Ali bin Abi Thalib berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Hadits Ali Tentang Ilmu Lebih Baik daripada Harta 2. 40 Alasan “Ilmu Diin (Agama) Lebih Baik Daripada Harta” Hadits Ali Tentang Ilmu Lebih Baik daripada Harta Kumail bin Ziyad An-Nakha’i berkata bahwa ‘Ali bin Abi Thalib mengambil tangannya lantas berkata: ِيا كميلُ بن زياد! القلوبُ أوعيةٌ؛ فخيرها أوعاها؛ احفظْ ما أقول لك: الناسُ ثلاثةٌ؛ فعالمٌ ربَّانيٌّ، ومتعلِّمٌ على سبيل نجاةٍ، وهَمَجٌ رِعَاعٌ أتباعُ كلِّ ناعقٍ يميلون مع كلِّ رِيح؛ لم يستضيئوا بنور العلم ولم يلجَئوا إلى ركنٍ وثيقٍ؛ 
العلمُ خيرٌ من المال: العلمُ يحرِسُك وأنت تحرِسُ المالَ، العلمُ يزكُوْ على الإنفاق–وفي رواية على العمل–والمالُ تنقُصُه النفقةُ، العلمُ حاكمٌ  و المالُ محكومٌ عليه ومحبةُ العلمِ دينٌ يُدان بها، العلمُ يُكسِب العالمَ الطاعةَ في حياته وجميلَ الأُحْدُوْثَةِ بعد موته، وصنيعةُ المال تزول بزواله، مات خُزَّانُ الأموال وهم أحياءٌ، والعلماءُ باقُون ما بقي الدهرُ، أعيانُهم مفقودةٌ، وأمثالهُم في القلوب موجودةٌ. “Wahai Kumail bin Ziyaad! Ingatlah, hati itu ibarat wadah. Hati yang paling baik adalah yang paling banyak menampung (kebaikan). Ingatlah, apa yang akan aku katakan kepadamu. Manusia itu ada tiga (golongan): alim rabbani (ulama), penuntut ilmu yang berada di atas jalan keselamatan, dan orang awam yang mengikuti setiap orang yang berteriak (seruan), mereka condong sesuai dengan arah angin (kemanapun diarahkan) , tidak menerangi diri dengan cahaya ilmu, dan tidak berpegangan dengan pegangan yang kuat.” Ilmu itu lebih baik daripada harta: – Ilmu itu menjagamu. Sedangkan harta itu dijaga olehmu. – Ilmu bertambah dengan diamalkan, sedangkan harta berkurang setiap kali diinfakkan (dikeluarkan). – Ilmu itu menjadi haakim (yang memberikan hukum), sedangkan harta itu menjadi objek hukum (terkena hukum). – Mencintai orang yang berilmu (ulama) bagian dari agama, cinta yang mendekatkan diri kepada Allah. – Ilmu menjadikan orang yang memilikinya menjadi seorang yang ditaati semasa hidupnya dan disebut dengan kebaikan setelah matinya. – Apa yang dihasilkan oleh harta akan hilang bersama kemusnahannya. – Orang yang menumpuk harta, (nama) mereka mati sedang dalam keadaan hidup (jasadnya), dan para ulama akan tetap ada selamanya; jasad mereka musnah, tapi sifat-sifat teladan mereka hidup di dalam hati-hati manusia. (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah Al-Auliya’, 1:79-80; Al-Khathib dalam Al-Faqiih wa Al-Mutafaqqih, 1:49; Asy-Syajari dalam Amaalihi, hlm. 66; Al-Muzani dalam Tahdzib Al-Kamaal, 24:220; An-Nahrawaani dalam Al-Jaliis Ash-Shaalih, 3:331. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaan Al-‘Ilmi, 2:112, “Hadits ini begitu masyhur di kalangan ahli ilmu, tanpa lagi memperhatikan sanadnya karena sudah saking masyhurnya).   40 Alasan “Ilmu Diin (Agama) Lebih Baik Daripada Harta” Kelebihan ilmu terhadap harta dapat diketahui melalui beberapa sisi yang bertolak belakang sebagai berikut. Ilmu adalah warisan para nabi, sementara harta adalah warisan para raja dan orang kaya. Ilmu akan menjaga pemiliknya. Sedangkan, harta itu harus dijaga oleh pemiliknya. Ilmu kian bertambah dengan diamalkan dan dibagikan, sedangkan harta berkurang setiap kali diinfakkan (dikeluarkan). Pemilik harta ketika meninggal dunia, harta meninggalkannya. Sementara, ilmu akan ikut ke dalam kubur bersama pemiliknya. Ilmu mampu menguasai harta, sedangkan harta tidak akan mampu menguasai ilmu. Harta bisa dimiliki oleh setiap orang, yaitu orang mukmin maupun kafir, orang yang taat maupun durhaka. Sedangkan, ilmu yang bermanfaat hanya dimiliki oleh orang beriman. Ilmu itu dibutuhkan oleh para raja dan orang-orang di bawahnya. Adapun harta itu dibutuhkan dan dicari oleh orang fakir miskin. Hati itu jadi mulia, tenang, bersih dengan adanya ilmu. Sehingga memiliki ilmu dianggap sebagai kesempurnaan dan kemuliaan jiwa. Sedangkan harta jika bertambah tidak menjadikan kita mulia, malah muncul sifat-sifat jelek seperti rakus dan kikir. Maka bertambah ilmu membuat kita bertambah derajat di sisi Allah, diri semakin mulia, beda halnya dengan bertambahnya harta. Harta bisa mengantarkan pada sifat semena-mena, bangga diri, dan sombong. Sedangkan, ilmu mengantarkan pada sifat tawadhu‘ dan menghambakan diri kepada Allah (‘ubudiyah). Maka, harta mengantarkan pada sifat para raja (muluuk) dan ilmu mengantarkan pda sifat para hamba (‘abiid). Ilmu itu mengantarkan kepada kebahagiaan yang menjadi tujuan penciptaan yaitu menghambakan diri kepada Allah. Hal ini berbeda dengan harta yang malah menghalangi ke tujuan tersebut. Orang yang kaya ilmu lebih mulia daripada orang yang kaya harta. Kaya harta itu keluar dari hakikat manusia. Seandainya harta itu dipakai dalam semalam, seorang akan menjadi miskin saat itu juga. Hal ini berbeda dengan kaya ilmu, ia tak pernah takut jatuh miskin. Bahkan, ilmu kian hari, kian bertambah. Kaya ilmu itulah sejatinya kaya yang paling tinggi. Cinta harta menjadikan seseorang budak harta. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, “Celakalah budak dinar, celakalah budak dirham.” Sedangkan, cinta ilmu menjadikan seseorang menjadi hamba Allah sejati. Ilmu yang benar tidak akan mengajak seseorang untuk beribadah kepada selain Allah. Cinta ilmu dan mencari ilmu adalah asal pokok dari segala ketaatan. Sedangkan, cinta harta dan mencari harta adalah asal pokok segala kejelekan. Orang disebut kaya dengan adanya harta. Sedangkan orang disebut ‘aalim dengan ilmunya. Jika harta hilang pada orang kaya, hilanglah jati diri orang kaya, tak dipandang kaya lagi. Namun, seorang alim selalu dipandang dengan ilmunya, bahkan ilmu kian bertambah dan berlipat ganda ketika dibagikan. Esensi (jauhar) dari harta sama dengan esensi (jauhar) dari badan. Sedangkan, esensi ilmu sama dengan esensi ruh. Yunus bin Habib berkata: Ilmumu itu dari ruhmu, sedangkan hartamu dari badanmu. Perbedaan antara ilmu dan harta sama dengan perbedaan ruh dan badan. Seorang ‘aalim ketika sebagian ilmunya ditawarkan untuk diganti dengan dunia, ia tidak rida dengan ilmu yang digantikan tersebut. Sedangkan, orang kaya yang ‘aaqil (cerdas) jika ia melihat keutamaan, kemuliaan, dan kebahagiaan orang berilmu karena ilmu yang dimilikinya, orang kaya ini berharap tergabung padanya antara ilmu dan kekayaan. Kata Imam Ibnul Qayyim: ِأن ما أطاع الله أحد قط إلا بالعلم وعامة من يعصيه إنما يعصيه بالمال “Seseorang itu bisa menaati Allah dengan benar karena ilmu yang ia miliki. Namun, sebaliknya, maksiat itu terjadi umumnya karena harta.” Lihat Miftaah Daar As-Sa’adah (1:414) karya Ibnul Qayyim. Kata Imam Ibnul Qayyim: ِأن العالم يدعو الناس إلى الله بعلمه وحاله وجامع المال يدعوهم إلى الدنيا بحاله وماله “Sesungguhnya ‘aalim itu mengajak manusia kepada Allah dengan ilmu dan keadaannya. Sedangkan, orang yang mengumpulkan harta mengantarkan manusia pada dunia dengan penampilan dan hartanya.” Lihat Miftaah Daar As-Sa’adah (1:415) karya Ibnul Qayyim. Orang yang kaya harta seringkali ia menyebabkan pemiliknya celaka, sebab harta memang sangat disukai jiwa. Sehingga ketika jiwa seseorang melihat orang lain menguasai apa yang dicintai itu, ia pun akan berusaha membinasakan orang tadi, seperti yang nyata-nyata terjadi. Berbeda dengan kaya ilmu, yang menyebabkan kehidupan sejati bagi pemiliknya juga bagi kehidupan orang lain. Saat seseorang melihat orang yang menguasai ilmu dan senantiasa mencari ilmu, mereka akan mencintai, melayani, dan memuliakannya. Kenikmatan yang dihasilkan oleh harta kemungkinan hanyalah kenikmatan yang bersifat halusinasi (khayalan) atau kenikmatan ala binatang (bahimah). Si pemilik harta ketika merasa nikmat saat mengumpulkan dan meraih harta, hakikatnya itu hanyalah khayalan atau halusinasi. Sedangkan, apabila pemilik harta merasa nikmat ketika menggunakan harta demi memenuhi syahwatnya, ini namanya kenikmatan ala binatang. Tentu hal tadi berbeda dengan ilmu. Kenikmatan ilmu adalah kenikmatan akal dan rohani, mirip seperti kenikmatan dan kebahagiaan yang dirasakan oleh para malaikat. Itulah kenapa kenikmatan antara harta dan ilmu pada hakikatnya adalah kenikmatan yang bertolak belakang.  Orang-orang yang berakal (cerdas) dari seluruh umat sepakat membenci sikap tamak dalam menumpuk harta. Mereka semua mencela dan mencemooh sifat buruk ini. Sebaliknya, mereka sepakat mengagungkan sikap tamak ketika mengumpulkan dan meraih ilmu. Mereka menyukai sikap yang terakhir ini, serta memandangnya sebagai suatu kesempurnaan. Umat manusia sepakat mengagungkan orang yang zuhud dalam harta, tidak menumpuk-numpuk harta, tidak meliriknya, dan tidak menjadikan hatinya budak harta. Mereka juga sepakat mencela orang yang merasa tidak membutuhkan ilmu, tidak mau melirik ilmu, dan tidak gigih mencari ilmu.  Pemilik harta itu disanjung manakala ia rida melepaskan dan memberi harta miliknya (TAKHLIYYAH), sementara orang yang berilmu dipuji saat menyandang dan memilikinya (TAHLIYYAH).  Kaya harta itu disertai rasa takut serta rasa sedih. Orang berharta itu sedih sebelum mendapatkannya, serta takut setelah mendapatkannya. Semakin banyak harta yang didapat, semakin kuat dan besar rasa takut pemiliknya. Ini berbeda dengan ilmu. Kaya ilmu itu disertai oleh rasa aman, senang, dan bahagia. Orang yang kaya harta suatu saat nanti pasti ditinggal oleh hartanya. Dia akan tersiksa dan sakit oleh sebab perpisahan ini. Sementara orang kaya ilmu, ilmu tidak pernah meninggalkannya, juga ia tidak akan tersiksa atau tersakiti. Dengan demikian, kenikmatan harta ialah kenikmatan semu yang pasti berakhir hingga berujung kepada kepedihan, sementara kenikmatan ilmu adalah kenikmatan kekal abadi yang tidak disertai kepedihan.  Kenikmatan dan kesempurnaan jiwa dengan harta adalah kesempurnaan pinjaman yang harus dikembalikan. Oleh sebab itulah, manakala jiwa berhias diri dengan harta berarti ia telah mengenakan pakaian pinjaman yang harus dikembalikan kepada pemilik aslinya. Sementara keindahan serta kesempurnaan jiwa dengan ilmu, ia adalah keindahan permanen yang tidak akan terlepas dari jiwa. Kaya harta adalah inti kemiskinan jiwa. Sedangkan, kaya ilmu adalah inti kekayaan jiwa, karena ilmu adalah kekayaan hakiki bagi jiwa. Orang yang diprioritaskan serta dimuliakan karena hartanya, ia tidak lagi diutamakan dan dimuliakan tatkala hartanya lenyap. Sedangkan, orang yang diprioritaskan dan dimuliakan karena ilmu, ilmu itu justru semakin membuatnya diutamakan dan dimuliakan. Mengutamakan orang karena harta yang dimilikinya adalah inti celaan baginya, lantaran prioritas ini berarti memanggil dengan menyebut aibnya. Sebab andai bukan karena harta, maka ia pantas diakhirkan dan diperlakukan secara hina. Hal ini berbeda ketika seseorang diutamakan dan dimuliakan karena ilmu. Itulah inti kesempurnaan baginya, karena ia diutamakan oleh sebab sifat pribadinya, bukan karena faktor di luar dirinya.  Orang yang mencari kesempurnaan lewat kekayaan harta laksana orang yang menyatukan dua hal yang bertolak belakang. Intinya, ia mencari sesuatu yang tidak bisa diperoleh. Berbeda dengan orang kaya ilmu, ia tidak mengalami sedikit pun dari keburukan itu. Bahkan sebaliknya, semakin membagikan ilmu, maka ia pun merasa semakin senang dan berbahagia. Orang berilmu ini tidak merasakan kenikmatan orang-orang kaya dalam hal harta benda, sebagaimana orang kaya tidak merasakan kenikmatan orang berilmu dalam hal pengetahuan dan kebahagiaan jiwa. Orang berilmu punya faktor-faktor kenikmatan yang lebih besar, lebih kuat, serta lebih langgeng daripada kenikmatan orang kaya. Keletihan dalam mendapatkan, mengumpulkan, dan menjaga ilmu tidak seberapa jika dibandingkan dengan keletihan orang kaya dalam mengumpulkan harta. Sebab mengumpulkan harta itu sendiri merupakan duka cerita di luar duka derita yang dirasakan pencarinya. Kenikmatan yang diperoleh dari harta dan kekayaan bersifat situasional, yaitu saat harta diperoleh. Kenikmatan ini mungkin lenyap atau berkurang. Buktinya, watak manusia terus mencari kekayaan lain dan tamak di sisi ini. Di selalu berusaha mencari tambahan sehingga merasa selalu kurang. Andai ia memiliki seluruh harta simpanan di bumi, kemiskinan dan ketamakan tetap bersarang dalam dirinya, karena ia termasuk salah satu di antara dua orang rakus yang tidak pernah kenyang, sebab sifat tamak serta sifat serakah ingin menumpuk-numpuk harta tidak pernah lepas dari hatinya. Berbeda dengan orang kaya ilmu dan kaya iman, kenikmatan yang dirasa seiring keberadaan keduanya sama seperti yang dirasakan saat kenikmatan tersebut didapatkan kembali, bahkan lebih nikmat. Pencarian dan kegigihan orang yang berilmu dalam mencari ilmu selalui disertai kenikmatan ilmu yang didapatkan, kebaikan yang diharapkan, dan kebahagiaan diri dalam proses pencariannya. Orang kaya harta mengharuskan dirinya berbuat baik kepada orang lain, hingga ia dihadapkan pada dua kemungkinan, yaitu menutup pintu kebaikan itu atau membukanya. Jika menutup pintu berbuat baik kepada orang lain, ia dikenal sebagai orang yang jauh dari kebaikan dan manfaat sehingga ia dibenci, dicela, lagi dihina banyak orang sehingga hatinya merasa pedih, duka, dan pilu. Sedangkan, jika ia membuka pintu kebaikan dan berbagai dengan orang lain, tetap saja ia tidak akan mampu melakukannya kepada semua orang. Ia hanya bisa berbuat baik kepada sebagian orang. Cara seperti ini tentu saja akan membuka pintu permusuhan serta celaan orang miskin dan orang yang tidak dibantu. Kekurangan-kekurangan semacam ini tidaklah menimpa orang yang kaya ilmu. Orang yang berilmu bisa membagikan ilmunya kepada semua orang. Ilmu yang telah dibagikan darinya justru tetap utuh dan tidak pernah lenyap. Bahkan, ia seperti berbisnis dengan ilmu yang diberikannya. Seperti orang kaya yang memberikan hartanya kepada orang fakir, lantas harta tersebut dipakai untuk berdagang, sehingga si fakir menjadi orang kaya seperti dirinya. Mengumpulkan harta itu disertai tiga kesusahan hidup, yaitu: (1) penyakit dan ujian sebelum punya harta, (2) penyakit dan ujian saat mendapat harta itu di mana sulit menjaga dan hati terkait terus pada harta sehingga pada dan sore selalu dirundung duka dan sedih, (3) penyakit dan ujian saat berpisah dengan harta, yaitu bagi seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan harta. Hal ini tentu berbeda dengan orang yang kaya ilmu dan iman. Selain terhindar dari berbagai penyakit tadi, ia mampu menjamin semua kenikmatan, kebahagiaan, dan kesenangan pribadi tanpa ada sakit hati. Hanya saja kenikmatan demikian dapat diraih setelah melalui keletihan, kesabaran, dan kesulitan.  Lengkapnya nikmat kekayaan dapat dirasakan ketika bergaul dengan orang lain, seperti dengan pembantunya, istri, selir, atau para pengikut (followernya). Orang kaya itu akan selalu diusik oleh orang lain sehingga timbul kebencian, permusuhan, timbul rasa marah karena hanya bisa menyenangkan sebagian orang. Itulah alasan keburukan yang ditimbulkan kerabat dan sanak keluarga pada harta berlipat kali dibandingkan dengan keburukan orang yang jauh atau bukan kerabat. Pergaulan seperti ini hanya dialami oleh orang kaya harta. Adapun jika ia tidak memiliki jasa kepada orang lain, orang lain akan menjauhi dirinya agar terhindar dari sisi negatif interaksi dengannya. Penyakit demikian tidak ada dalam orang yang kaya ilmu. Harta itu hanyalah alat untuk menggapai tujuan untuk kenyang, hilang dahaga, kehangatan, mendapat perlindungan, hingga selamat dari berbagai rasa sakit.  Berbeda dengan kekayaan ilmu, selalu membahagiakan hati, menimbulkan kesenangan dan keceriaan. Ilmu itu tidak lenyap yang membuat orang sedih dan terluka. Bahkan, pemilik kekayaan ilmu LAA KHAUFUN ‘ALAIHIM WA LAA HUM YAHZANUUN, yaitu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak bersedih hati. Orang yang kaya harta akan membenci kematian dan perjumpaan dengan Allah. Karena kalau sudah cinta pada harta, ia tidak suka untuk berpisah dan ingin harta tetap bertahan agar ingin terus dinikmati. Berbeda dengan ilmu, ia membuat hamba menginginkan pertemuan dengan Allah dan mendorongnya untuk zuhud terhadap kehidupan yang penuh kesusahan dan fana ini. Orang yang menumpuk harta, (nama) mereka mati sedang dalam keadaan hidup (jasadnya), dan para ulama akan tetap ada selamanya; jasad mereka musnah, tetapi sifat-sifat teladan mereka hidup di dalam hati-hati manusia. Ruh itu hidup dengan ilmu seperti halnya raga hidup dengan ruh. Orientasi orang kaya harta adalah menambah kehidupan raga. Sedangkan ilmu adalah kehidupan hati dan rohani. Hati itu adalah raja bagi tubuh. Sedangkan, ilmu adalah hiasan, bekal, sekaligus harta bagi hati. Ilmu menjadi penopang kerajaan tubuh. Raja harus memiliki persenjataan, prajurit, harta, dan hiasan. Ilmulah yang menjadi tunggangan, senjata, dan keindahannya. Harta itu menjadi hiasan dan keindahan bagi raga tatkala dibelanjakan untuk itu. Ketika seseorang menyimpannya serta tidak membelanjakan harta itu, ia tidak lagi menjadi hiasan atau keindahan, melainkan menjadi kekurangan dan petaka baginya. Yang dimaksudkan harta yang secukupnya adalah sekadar menegakkan tulang dan menangkal bahaya agar hamba bisa menyiapkan bekal guna meniti perjalanan menuju Rabb. Lebih dari itu, harta justru mengganggu, menghalangi perjalanan menuju Allah, dan menghalangi persiapan membawa bekal ke akhirat. Bahaya harta jauh lebih banyak daripada manfaatnya. Jadi, semakin banyak kekayaan yang dimiliki, hamba semakin lamban tertinggal untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian yang menanti. Berbeda dengan ilmu yang bermanfaat, maka semakin bertambahnya ilmu, hamba akan semakin mempersiapkan bekal untuk meniti perjalanan menuju Allah. Allah jua yang memberi taufik. Kita memohon pertolongan, serta tiada daya dan kekuatan tanpa pertolongan-Nya. Bekal perjalanan menuju Allah adalah ilmu dan amal. Sementara bekal di dunia adalah menumpuk dan menyimpan harta. Siapa yang menginginkan sesuatu, pasti akan bersiap-siap mendapatkan sesuatu itu. ِوَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَٰكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ “Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu”.” (QS. At-Taubah: 46)   Catatan lain yang sudah disebutkan dalam perkataan ‘Ali bin Abi Thalib: Ilmu itu menjadi haakim (yang memberikan hukum), sedangkan harta itu menjadi objek hukum (terkena hukum). Mencintai orang yang berilmu (ulama) bagian dari agama, cinta yang mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu menjadikan orang yang memilikinya menjadi seorang yang ditaati semasa hidupnya dan disebut dengan kebaikan setelah matinya. Apa yang dihasilkan oleh harta akan hilang bersama kemusnahannya.   Semoga Allah karuniakan kita ilmu yang manfaat.   Baca juga: Lebih dari 100 Keutamaan Orang Berilmu dari Kitab Miftah Daar As-Sa’adah karya Imam Ibnul Qayyim   Referensi: Miftah Daar As-Sa’aadah wa Mansyur Walaayah Ahli Al-‘Ilmi wa Al-Idarah. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Takhrij: Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid Al-Halabiy Al-Atsariy. Penerbit Dar Ibnul Qayyim dan Dar Ibnu ‘Affan. Mulai dari 1:412-430.   —   Diselesaikan 15 Muharram 1444 H, 13 Agustus 2022 dini hari @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbuang harta ilmu ilmu agama ilmu dan amal keutamaan ilmu mengelola harta miftah daar as saadah orang berilmu sedekah harta
Ilmu diin (agama) itu lebih baik daripada harta. Pernyataan ini diambil dari perkataan Ali bin Abi Thalib berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Hadits Ali Tentang Ilmu Lebih Baik daripada Harta 2. 40 Alasan “Ilmu Diin (Agama) Lebih Baik Daripada Harta” Hadits Ali Tentang Ilmu Lebih Baik daripada Harta Kumail bin Ziyad An-Nakha’i berkata bahwa ‘Ali bin Abi Thalib mengambil tangannya lantas berkata: ِيا كميلُ بن زياد! القلوبُ أوعيةٌ؛ فخيرها أوعاها؛ احفظْ ما أقول لك: الناسُ ثلاثةٌ؛ فعالمٌ ربَّانيٌّ، ومتعلِّمٌ على سبيل نجاةٍ، وهَمَجٌ رِعَاعٌ أتباعُ كلِّ ناعقٍ يميلون مع كلِّ رِيح؛ لم يستضيئوا بنور العلم ولم يلجَئوا إلى ركنٍ وثيقٍ؛ 
العلمُ خيرٌ من المال: العلمُ يحرِسُك وأنت تحرِسُ المالَ، العلمُ يزكُوْ على الإنفاق–وفي رواية على العمل–والمالُ تنقُصُه النفقةُ، العلمُ حاكمٌ  و المالُ محكومٌ عليه ومحبةُ العلمِ دينٌ يُدان بها، العلمُ يُكسِب العالمَ الطاعةَ في حياته وجميلَ الأُحْدُوْثَةِ بعد موته، وصنيعةُ المال تزول بزواله، مات خُزَّانُ الأموال وهم أحياءٌ، والعلماءُ باقُون ما بقي الدهرُ، أعيانُهم مفقودةٌ، وأمثالهُم في القلوب موجودةٌ. “Wahai Kumail bin Ziyaad! Ingatlah, hati itu ibarat wadah. Hati yang paling baik adalah yang paling banyak menampung (kebaikan). Ingatlah, apa yang akan aku katakan kepadamu. Manusia itu ada tiga (golongan): alim rabbani (ulama), penuntut ilmu yang berada di atas jalan keselamatan, dan orang awam yang mengikuti setiap orang yang berteriak (seruan), mereka condong sesuai dengan arah angin (kemanapun diarahkan) , tidak menerangi diri dengan cahaya ilmu, dan tidak berpegangan dengan pegangan yang kuat.” Ilmu itu lebih baik daripada harta: – Ilmu itu menjagamu. Sedangkan harta itu dijaga olehmu. – Ilmu bertambah dengan diamalkan, sedangkan harta berkurang setiap kali diinfakkan (dikeluarkan). – Ilmu itu menjadi haakim (yang memberikan hukum), sedangkan harta itu menjadi objek hukum (terkena hukum). – Mencintai orang yang berilmu (ulama) bagian dari agama, cinta yang mendekatkan diri kepada Allah. – Ilmu menjadikan orang yang memilikinya menjadi seorang yang ditaati semasa hidupnya dan disebut dengan kebaikan setelah matinya. – Apa yang dihasilkan oleh harta akan hilang bersama kemusnahannya. – Orang yang menumpuk harta, (nama) mereka mati sedang dalam keadaan hidup (jasadnya), dan para ulama akan tetap ada selamanya; jasad mereka musnah, tapi sifat-sifat teladan mereka hidup di dalam hati-hati manusia. (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah Al-Auliya’, 1:79-80; Al-Khathib dalam Al-Faqiih wa Al-Mutafaqqih, 1:49; Asy-Syajari dalam Amaalihi, hlm. 66; Al-Muzani dalam Tahdzib Al-Kamaal, 24:220; An-Nahrawaani dalam Al-Jaliis Ash-Shaalih, 3:331. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaan Al-‘Ilmi, 2:112, “Hadits ini begitu masyhur di kalangan ahli ilmu, tanpa lagi memperhatikan sanadnya karena sudah saking masyhurnya).   40 Alasan “Ilmu Diin (Agama) Lebih Baik Daripada Harta” Kelebihan ilmu terhadap harta dapat diketahui melalui beberapa sisi yang bertolak belakang sebagai berikut. Ilmu adalah warisan para nabi, sementara harta adalah warisan para raja dan orang kaya. Ilmu akan menjaga pemiliknya. Sedangkan, harta itu harus dijaga oleh pemiliknya. Ilmu kian bertambah dengan diamalkan dan dibagikan, sedangkan harta berkurang setiap kali diinfakkan (dikeluarkan). Pemilik harta ketika meninggal dunia, harta meninggalkannya. Sementara, ilmu akan ikut ke dalam kubur bersama pemiliknya. Ilmu mampu menguasai harta, sedangkan harta tidak akan mampu menguasai ilmu. Harta bisa dimiliki oleh setiap orang, yaitu orang mukmin maupun kafir, orang yang taat maupun durhaka. Sedangkan, ilmu yang bermanfaat hanya dimiliki oleh orang beriman. Ilmu itu dibutuhkan oleh para raja dan orang-orang di bawahnya. Adapun harta itu dibutuhkan dan dicari oleh orang fakir miskin. Hati itu jadi mulia, tenang, bersih dengan adanya ilmu. Sehingga memiliki ilmu dianggap sebagai kesempurnaan dan kemuliaan jiwa. Sedangkan harta jika bertambah tidak menjadikan kita mulia, malah muncul sifat-sifat jelek seperti rakus dan kikir. Maka bertambah ilmu membuat kita bertambah derajat di sisi Allah, diri semakin mulia, beda halnya dengan bertambahnya harta. Harta bisa mengantarkan pada sifat semena-mena, bangga diri, dan sombong. Sedangkan, ilmu mengantarkan pada sifat tawadhu‘ dan menghambakan diri kepada Allah (‘ubudiyah). Maka, harta mengantarkan pada sifat para raja (muluuk) dan ilmu mengantarkan pda sifat para hamba (‘abiid). Ilmu itu mengantarkan kepada kebahagiaan yang menjadi tujuan penciptaan yaitu menghambakan diri kepada Allah. Hal ini berbeda dengan harta yang malah menghalangi ke tujuan tersebut. Orang yang kaya ilmu lebih mulia daripada orang yang kaya harta. Kaya harta itu keluar dari hakikat manusia. Seandainya harta itu dipakai dalam semalam, seorang akan menjadi miskin saat itu juga. Hal ini berbeda dengan kaya ilmu, ia tak pernah takut jatuh miskin. Bahkan, ilmu kian hari, kian bertambah. Kaya ilmu itulah sejatinya kaya yang paling tinggi. Cinta harta menjadikan seseorang budak harta. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, “Celakalah budak dinar, celakalah budak dirham.” Sedangkan, cinta ilmu menjadikan seseorang menjadi hamba Allah sejati. Ilmu yang benar tidak akan mengajak seseorang untuk beribadah kepada selain Allah. Cinta ilmu dan mencari ilmu adalah asal pokok dari segala ketaatan. Sedangkan, cinta harta dan mencari harta adalah asal pokok segala kejelekan. Orang disebut kaya dengan adanya harta. Sedangkan orang disebut ‘aalim dengan ilmunya. Jika harta hilang pada orang kaya, hilanglah jati diri orang kaya, tak dipandang kaya lagi. Namun, seorang alim selalu dipandang dengan ilmunya, bahkan ilmu kian bertambah dan berlipat ganda ketika dibagikan. Esensi (jauhar) dari harta sama dengan esensi (jauhar) dari badan. Sedangkan, esensi ilmu sama dengan esensi ruh. Yunus bin Habib berkata: Ilmumu itu dari ruhmu, sedangkan hartamu dari badanmu. Perbedaan antara ilmu dan harta sama dengan perbedaan ruh dan badan. Seorang ‘aalim ketika sebagian ilmunya ditawarkan untuk diganti dengan dunia, ia tidak rida dengan ilmu yang digantikan tersebut. Sedangkan, orang kaya yang ‘aaqil (cerdas) jika ia melihat keutamaan, kemuliaan, dan kebahagiaan orang berilmu karena ilmu yang dimilikinya, orang kaya ini berharap tergabung padanya antara ilmu dan kekayaan. Kata Imam Ibnul Qayyim: ِأن ما أطاع الله أحد قط إلا بالعلم وعامة من يعصيه إنما يعصيه بالمال “Seseorang itu bisa menaati Allah dengan benar karena ilmu yang ia miliki. Namun, sebaliknya, maksiat itu terjadi umumnya karena harta.” Lihat Miftaah Daar As-Sa’adah (1:414) karya Ibnul Qayyim. Kata Imam Ibnul Qayyim: ِأن العالم يدعو الناس إلى الله بعلمه وحاله وجامع المال يدعوهم إلى الدنيا بحاله وماله “Sesungguhnya ‘aalim itu mengajak manusia kepada Allah dengan ilmu dan keadaannya. Sedangkan, orang yang mengumpulkan harta mengantarkan manusia pada dunia dengan penampilan dan hartanya.” Lihat Miftaah Daar As-Sa’adah (1:415) karya Ibnul Qayyim. Orang yang kaya harta seringkali ia menyebabkan pemiliknya celaka, sebab harta memang sangat disukai jiwa. Sehingga ketika jiwa seseorang melihat orang lain menguasai apa yang dicintai itu, ia pun akan berusaha membinasakan orang tadi, seperti yang nyata-nyata terjadi. Berbeda dengan kaya ilmu, yang menyebabkan kehidupan sejati bagi pemiliknya juga bagi kehidupan orang lain. Saat seseorang melihat orang yang menguasai ilmu dan senantiasa mencari ilmu, mereka akan mencintai, melayani, dan memuliakannya. Kenikmatan yang dihasilkan oleh harta kemungkinan hanyalah kenikmatan yang bersifat halusinasi (khayalan) atau kenikmatan ala binatang (bahimah). Si pemilik harta ketika merasa nikmat saat mengumpulkan dan meraih harta, hakikatnya itu hanyalah khayalan atau halusinasi. Sedangkan, apabila pemilik harta merasa nikmat ketika menggunakan harta demi memenuhi syahwatnya, ini namanya kenikmatan ala binatang. Tentu hal tadi berbeda dengan ilmu. Kenikmatan ilmu adalah kenikmatan akal dan rohani, mirip seperti kenikmatan dan kebahagiaan yang dirasakan oleh para malaikat. Itulah kenapa kenikmatan antara harta dan ilmu pada hakikatnya adalah kenikmatan yang bertolak belakang.  Orang-orang yang berakal (cerdas) dari seluruh umat sepakat membenci sikap tamak dalam menumpuk harta. Mereka semua mencela dan mencemooh sifat buruk ini. Sebaliknya, mereka sepakat mengagungkan sikap tamak ketika mengumpulkan dan meraih ilmu. Mereka menyukai sikap yang terakhir ini, serta memandangnya sebagai suatu kesempurnaan. Umat manusia sepakat mengagungkan orang yang zuhud dalam harta, tidak menumpuk-numpuk harta, tidak meliriknya, dan tidak menjadikan hatinya budak harta. Mereka juga sepakat mencela orang yang merasa tidak membutuhkan ilmu, tidak mau melirik ilmu, dan tidak gigih mencari ilmu.  Pemilik harta itu disanjung manakala ia rida melepaskan dan memberi harta miliknya (TAKHLIYYAH), sementara orang yang berilmu dipuji saat menyandang dan memilikinya (TAHLIYYAH).  Kaya harta itu disertai rasa takut serta rasa sedih. Orang berharta itu sedih sebelum mendapatkannya, serta takut setelah mendapatkannya. Semakin banyak harta yang didapat, semakin kuat dan besar rasa takut pemiliknya. Ini berbeda dengan ilmu. Kaya ilmu itu disertai oleh rasa aman, senang, dan bahagia. Orang yang kaya harta suatu saat nanti pasti ditinggal oleh hartanya. Dia akan tersiksa dan sakit oleh sebab perpisahan ini. Sementara orang kaya ilmu, ilmu tidak pernah meninggalkannya, juga ia tidak akan tersiksa atau tersakiti. Dengan demikian, kenikmatan harta ialah kenikmatan semu yang pasti berakhir hingga berujung kepada kepedihan, sementara kenikmatan ilmu adalah kenikmatan kekal abadi yang tidak disertai kepedihan.  Kenikmatan dan kesempurnaan jiwa dengan harta adalah kesempurnaan pinjaman yang harus dikembalikan. Oleh sebab itulah, manakala jiwa berhias diri dengan harta berarti ia telah mengenakan pakaian pinjaman yang harus dikembalikan kepada pemilik aslinya. Sementara keindahan serta kesempurnaan jiwa dengan ilmu, ia adalah keindahan permanen yang tidak akan terlepas dari jiwa. Kaya harta adalah inti kemiskinan jiwa. Sedangkan, kaya ilmu adalah inti kekayaan jiwa, karena ilmu adalah kekayaan hakiki bagi jiwa. Orang yang diprioritaskan serta dimuliakan karena hartanya, ia tidak lagi diutamakan dan dimuliakan tatkala hartanya lenyap. Sedangkan, orang yang diprioritaskan dan dimuliakan karena ilmu, ilmu itu justru semakin membuatnya diutamakan dan dimuliakan. Mengutamakan orang karena harta yang dimilikinya adalah inti celaan baginya, lantaran prioritas ini berarti memanggil dengan menyebut aibnya. Sebab andai bukan karena harta, maka ia pantas diakhirkan dan diperlakukan secara hina. Hal ini berbeda ketika seseorang diutamakan dan dimuliakan karena ilmu. Itulah inti kesempurnaan baginya, karena ia diutamakan oleh sebab sifat pribadinya, bukan karena faktor di luar dirinya.  Orang yang mencari kesempurnaan lewat kekayaan harta laksana orang yang menyatukan dua hal yang bertolak belakang. Intinya, ia mencari sesuatu yang tidak bisa diperoleh. Berbeda dengan orang kaya ilmu, ia tidak mengalami sedikit pun dari keburukan itu. Bahkan sebaliknya, semakin membagikan ilmu, maka ia pun merasa semakin senang dan berbahagia. Orang berilmu ini tidak merasakan kenikmatan orang-orang kaya dalam hal harta benda, sebagaimana orang kaya tidak merasakan kenikmatan orang berilmu dalam hal pengetahuan dan kebahagiaan jiwa. Orang berilmu punya faktor-faktor kenikmatan yang lebih besar, lebih kuat, serta lebih langgeng daripada kenikmatan orang kaya. Keletihan dalam mendapatkan, mengumpulkan, dan menjaga ilmu tidak seberapa jika dibandingkan dengan keletihan orang kaya dalam mengumpulkan harta. Sebab mengumpulkan harta itu sendiri merupakan duka cerita di luar duka derita yang dirasakan pencarinya. Kenikmatan yang diperoleh dari harta dan kekayaan bersifat situasional, yaitu saat harta diperoleh. Kenikmatan ini mungkin lenyap atau berkurang. Buktinya, watak manusia terus mencari kekayaan lain dan tamak di sisi ini. Di selalu berusaha mencari tambahan sehingga merasa selalu kurang. Andai ia memiliki seluruh harta simpanan di bumi, kemiskinan dan ketamakan tetap bersarang dalam dirinya, karena ia termasuk salah satu di antara dua orang rakus yang tidak pernah kenyang, sebab sifat tamak serta sifat serakah ingin menumpuk-numpuk harta tidak pernah lepas dari hatinya. Berbeda dengan orang kaya ilmu dan kaya iman, kenikmatan yang dirasa seiring keberadaan keduanya sama seperti yang dirasakan saat kenikmatan tersebut didapatkan kembali, bahkan lebih nikmat. Pencarian dan kegigihan orang yang berilmu dalam mencari ilmu selalui disertai kenikmatan ilmu yang didapatkan, kebaikan yang diharapkan, dan kebahagiaan diri dalam proses pencariannya. Orang kaya harta mengharuskan dirinya berbuat baik kepada orang lain, hingga ia dihadapkan pada dua kemungkinan, yaitu menutup pintu kebaikan itu atau membukanya. Jika menutup pintu berbuat baik kepada orang lain, ia dikenal sebagai orang yang jauh dari kebaikan dan manfaat sehingga ia dibenci, dicela, lagi dihina banyak orang sehingga hatinya merasa pedih, duka, dan pilu. Sedangkan, jika ia membuka pintu kebaikan dan berbagai dengan orang lain, tetap saja ia tidak akan mampu melakukannya kepada semua orang. Ia hanya bisa berbuat baik kepada sebagian orang. Cara seperti ini tentu saja akan membuka pintu permusuhan serta celaan orang miskin dan orang yang tidak dibantu. Kekurangan-kekurangan semacam ini tidaklah menimpa orang yang kaya ilmu. Orang yang berilmu bisa membagikan ilmunya kepada semua orang. Ilmu yang telah dibagikan darinya justru tetap utuh dan tidak pernah lenyap. Bahkan, ia seperti berbisnis dengan ilmu yang diberikannya. Seperti orang kaya yang memberikan hartanya kepada orang fakir, lantas harta tersebut dipakai untuk berdagang, sehingga si fakir menjadi orang kaya seperti dirinya. Mengumpulkan harta itu disertai tiga kesusahan hidup, yaitu: (1) penyakit dan ujian sebelum punya harta, (2) penyakit dan ujian saat mendapat harta itu di mana sulit menjaga dan hati terkait terus pada harta sehingga pada dan sore selalu dirundung duka dan sedih, (3) penyakit dan ujian saat berpisah dengan harta, yaitu bagi seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan harta. Hal ini tentu berbeda dengan orang yang kaya ilmu dan iman. Selain terhindar dari berbagai penyakit tadi, ia mampu menjamin semua kenikmatan, kebahagiaan, dan kesenangan pribadi tanpa ada sakit hati. Hanya saja kenikmatan demikian dapat diraih setelah melalui keletihan, kesabaran, dan kesulitan.  Lengkapnya nikmat kekayaan dapat dirasakan ketika bergaul dengan orang lain, seperti dengan pembantunya, istri, selir, atau para pengikut (followernya). Orang kaya itu akan selalu diusik oleh orang lain sehingga timbul kebencian, permusuhan, timbul rasa marah karena hanya bisa menyenangkan sebagian orang. Itulah alasan keburukan yang ditimbulkan kerabat dan sanak keluarga pada harta berlipat kali dibandingkan dengan keburukan orang yang jauh atau bukan kerabat. Pergaulan seperti ini hanya dialami oleh orang kaya harta. Adapun jika ia tidak memiliki jasa kepada orang lain, orang lain akan menjauhi dirinya agar terhindar dari sisi negatif interaksi dengannya. Penyakit demikian tidak ada dalam orang yang kaya ilmu. Harta itu hanyalah alat untuk menggapai tujuan untuk kenyang, hilang dahaga, kehangatan, mendapat perlindungan, hingga selamat dari berbagai rasa sakit.  Berbeda dengan kekayaan ilmu, selalu membahagiakan hati, menimbulkan kesenangan dan keceriaan. Ilmu itu tidak lenyap yang membuat orang sedih dan terluka. Bahkan, pemilik kekayaan ilmu LAA KHAUFUN ‘ALAIHIM WA LAA HUM YAHZANUUN, yaitu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak bersedih hati. Orang yang kaya harta akan membenci kematian dan perjumpaan dengan Allah. Karena kalau sudah cinta pada harta, ia tidak suka untuk berpisah dan ingin harta tetap bertahan agar ingin terus dinikmati. Berbeda dengan ilmu, ia membuat hamba menginginkan pertemuan dengan Allah dan mendorongnya untuk zuhud terhadap kehidupan yang penuh kesusahan dan fana ini. Orang yang menumpuk harta, (nama) mereka mati sedang dalam keadaan hidup (jasadnya), dan para ulama akan tetap ada selamanya; jasad mereka musnah, tetapi sifat-sifat teladan mereka hidup di dalam hati-hati manusia. Ruh itu hidup dengan ilmu seperti halnya raga hidup dengan ruh. Orientasi orang kaya harta adalah menambah kehidupan raga. Sedangkan ilmu adalah kehidupan hati dan rohani. Hati itu adalah raja bagi tubuh. Sedangkan, ilmu adalah hiasan, bekal, sekaligus harta bagi hati. Ilmu menjadi penopang kerajaan tubuh. Raja harus memiliki persenjataan, prajurit, harta, dan hiasan. Ilmulah yang menjadi tunggangan, senjata, dan keindahannya. Harta itu menjadi hiasan dan keindahan bagi raga tatkala dibelanjakan untuk itu. Ketika seseorang menyimpannya serta tidak membelanjakan harta itu, ia tidak lagi menjadi hiasan atau keindahan, melainkan menjadi kekurangan dan petaka baginya. Yang dimaksudkan harta yang secukupnya adalah sekadar menegakkan tulang dan menangkal bahaya agar hamba bisa menyiapkan bekal guna meniti perjalanan menuju Rabb. Lebih dari itu, harta justru mengganggu, menghalangi perjalanan menuju Allah, dan menghalangi persiapan membawa bekal ke akhirat. Bahaya harta jauh lebih banyak daripada manfaatnya. Jadi, semakin banyak kekayaan yang dimiliki, hamba semakin lamban tertinggal untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian yang menanti. Berbeda dengan ilmu yang bermanfaat, maka semakin bertambahnya ilmu, hamba akan semakin mempersiapkan bekal untuk meniti perjalanan menuju Allah. Allah jua yang memberi taufik. Kita memohon pertolongan, serta tiada daya dan kekuatan tanpa pertolongan-Nya. Bekal perjalanan menuju Allah adalah ilmu dan amal. Sementara bekal di dunia adalah menumpuk dan menyimpan harta. Siapa yang menginginkan sesuatu, pasti akan bersiap-siap mendapatkan sesuatu itu. ِوَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَٰكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ “Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu”.” (QS. At-Taubah: 46)   Catatan lain yang sudah disebutkan dalam perkataan ‘Ali bin Abi Thalib: Ilmu itu menjadi haakim (yang memberikan hukum), sedangkan harta itu menjadi objek hukum (terkena hukum). Mencintai orang yang berilmu (ulama) bagian dari agama, cinta yang mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu menjadikan orang yang memilikinya menjadi seorang yang ditaati semasa hidupnya dan disebut dengan kebaikan setelah matinya. Apa yang dihasilkan oleh harta akan hilang bersama kemusnahannya.   Semoga Allah karuniakan kita ilmu yang manfaat.   Baca juga: Lebih dari 100 Keutamaan Orang Berilmu dari Kitab Miftah Daar As-Sa’adah karya Imam Ibnul Qayyim   Referensi: Miftah Daar As-Sa’aadah wa Mansyur Walaayah Ahli Al-‘Ilmi wa Al-Idarah. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Takhrij: Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid Al-Halabiy Al-Atsariy. Penerbit Dar Ibnul Qayyim dan Dar Ibnu ‘Affan. Mulai dari 1:412-430.   —   Diselesaikan 15 Muharram 1444 H, 13 Agustus 2022 dini hari @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbuang harta ilmu ilmu agama ilmu dan amal keutamaan ilmu mengelola harta miftah daar as saadah orang berilmu sedekah harta


Ilmu diin (agama) itu lebih baik daripada harta. Pernyataan ini diambil dari perkataan Ali bin Abi Thalib berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Hadits Ali Tentang Ilmu Lebih Baik daripada Harta 2. 40 Alasan “Ilmu Diin (Agama) Lebih Baik Daripada Harta” Hadits Ali Tentang Ilmu Lebih Baik daripada Harta Kumail bin Ziyad An-Nakha’i berkata bahwa ‘Ali bin Abi Thalib mengambil tangannya lantas berkata: ِيا كميلُ بن زياد! القلوبُ أوعيةٌ؛ فخيرها أوعاها؛ احفظْ ما أقول لك: الناسُ ثلاثةٌ؛ فعالمٌ ربَّانيٌّ، ومتعلِّمٌ على سبيل نجاةٍ، وهَمَجٌ رِعَاعٌ أتباعُ كلِّ ناعقٍ يميلون مع كلِّ رِيح؛ لم يستضيئوا بنور العلم ولم يلجَئوا إلى ركنٍ وثيقٍ؛ 
العلمُ خيرٌ من المال: العلمُ يحرِسُك وأنت تحرِسُ المالَ، العلمُ يزكُوْ على الإنفاق–وفي رواية على العمل–والمالُ تنقُصُه النفقةُ، العلمُ حاكمٌ  و المالُ محكومٌ عليه ومحبةُ العلمِ دينٌ يُدان بها، العلمُ يُكسِب العالمَ الطاعةَ في حياته وجميلَ الأُحْدُوْثَةِ بعد موته، وصنيعةُ المال تزول بزواله، مات خُزَّانُ الأموال وهم أحياءٌ، والعلماءُ باقُون ما بقي الدهرُ، أعيانُهم مفقودةٌ، وأمثالهُم في القلوب موجودةٌ. “Wahai Kumail bin Ziyaad! Ingatlah, hati itu ibarat wadah. Hati yang paling baik adalah yang paling banyak menampung (kebaikan). Ingatlah, apa yang akan aku katakan kepadamu. Manusia itu ada tiga (golongan): alim rabbani (ulama), penuntut ilmu yang berada di atas jalan keselamatan, dan orang awam yang mengikuti setiap orang yang berteriak (seruan), mereka condong sesuai dengan arah angin (kemanapun diarahkan) , tidak menerangi diri dengan cahaya ilmu, dan tidak berpegangan dengan pegangan yang kuat.” Ilmu itu lebih baik daripada harta: – Ilmu itu menjagamu. Sedangkan harta itu dijaga olehmu. – Ilmu bertambah dengan diamalkan, sedangkan harta berkurang setiap kali diinfakkan (dikeluarkan). – Ilmu itu menjadi haakim (yang memberikan hukum), sedangkan harta itu menjadi objek hukum (terkena hukum). – Mencintai orang yang berilmu (ulama) bagian dari agama, cinta yang mendekatkan diri kepada Allah. – Ilmu menjadikan orang yang memilikinya menjadi seorang yang ditaati semasa hidupnya dan disebut dengan kebaikan setelah matinya. – Apa yang dihasilkan oleh harta akan hilang bersama kemusnahannya. – Orang yang menumpuk harta, (nama) mereka mati sedang dalam keadaan hidup (jasadnya), dan para ulama akan tetap ada selamanya; jasad mereka musnah, tapi sifat-sifat teladan mereka hidup di dalam hati-hati manusia. (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah Al-Auliya’, 1:79-80; Al-Khathib dalam Al-Faqiih wa Al-Mutafaqqih, 1:49; Asy-Syajari dalam Amaalihi, hlm. 66; Al-Muzani dalam Tahdzib Al-Kamaal, 24:220; An-Nahrawaani dalam Al-Jaliis Ash-Shaalih, 3:331. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaan Al-‘Ilmi, 2:112, “Hadits ini begitu masyhur di kalangan ahli ilmu, tanpa lagi memperhatikan sanadnya karena sudah saking masyhurnya).   40 Alasan “Ilmu Diin (Agama) Lebih Baik Daripada Harta” Kelebihan ilmu terhadap harta dapat diketahui melalui beberapa sisi yang bertolak belakang sebagai berikut. Ilmu adalah warisan para nabi, sementara harta adalah warisan para raja dan orang kaya. Ilmu akan menjaga pemiliknya. Sedangkan, harta itu harus dijaga oleh pemiliknya. Ilmu kian bertambah dengan diamalkan dan dibagikan, sedangkan harta berkurang setiap kali diinfakkan (dikeluarkan). Pemilik harta ketika meninggal dunia, harta meninggalkannya. Sementara, ilmu akan ikut ke dalam kubur bersama pemiliknya. Ilmu mampu menguasai harta, sedangkan harta tidak akan mampu menguasai ilmu. Harta bisa dimiliki oleh setiap orang, yaitu orang mukmin maupun kafir, orang yang taat maupun durhaka. Sedangkan, ilmu yang bermanfaat hanya dimiliki oleh orang beriman. Ilmu itu dibutuhkan oleh para raja dan orang-orang di bawahnya. Adapun harta itu dibutuhkan dan dicari oleh orang fakir miskin. Hati itu jadi mulia, tenang, bersih dengan adanya ilmu. Sehingga memiliki ilmu dianggap sebagai kesempurnaan dan kemuliaan jiwa. Sedangkan harta jika bertambah tidak menjadikan kita mulia, malah muncul sifat-sifat jelek seperti rakus dan kikir. Maka bertambah ilmu membuat kita bertambah derajat di sisi Allah, diri semakin mulia, beda halnya dengan bertambahnya harta. Harta bisa mengantarkan pada sifat semena-mena, bangga diri, dan sombong. Sedangkan, ilmu mengantarkan pada sifat tawadhu‘ dan menghambakan diri kepada Allah (‘ubudiyah). Maka, harta mengantarkan pada sifat para raja (muluuk) dan ilmu mengantarkan pda sifat para hamba (‘abiid). Ilmu itu mengantarkan kepada kebahagiaan yang menjadi tujuan penciptaan yaitu menghambakan diri kepada Allah. Hal ini berbeda dengan harta yang malah menghalangi ke tujuan tersebut. Orang yang kaya ilmu lebih mulia daripada orang yang kaya harta. Kaya harta itu keluar dari hakikat manusia. Seandainya harta itu dipakai dalam semalam, seorang akan menjadi miskin saat itu juga. Hal ini berbeda dengan kaya ilmu, ia tak pernah takut jatuh miskin. Bahkan, ilmu kian hari, kian bertambah. Kaya ilmu itulah sejatinya kaya yang paling tinggi. Cinta harta menjadikan seseorang budak harta. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, “Celakalah budak dinar, celakalah budak dirham.” Sedangkan, cinta ilmu menjadikan seseorang menjadi hamba Allah sejati. Ilmu yang benar tidak akan mengajak seseorang untuk beribadah kepada selain Allah. Cinta ilmu dan mencari ilmu adalah asal pokok dari segala ketaatan. Sedangkan, cinta harta dan mencari harta adalah asal pokok segala kejelekan. Orang disebut kaya dengan adanya harta. Sedangkan orang disebut ‘aalim dengan ilmunya. Jika harta hilang pada orang kaya, hilanglah jati diri orang kaya, tak dipandang kaya lagi. Namun, seorang alim selalu dipandang dengan ilmunya, bahkan ilmu kian bertambah dan berlipat ganda ketika dibagikan. Esensi (jauhar) dari harta sama dengan esensi (jauhar) dari badan. Sedangkan, esensi ilmu sama dengan esensi ruh. Yunus bin Habib berkata: Ilmumu itu dari ruhmu, sedangkan hartamu dari badanmu. Perbedaan antara ilmu dan harta sama dengan perbedaan ruh dan badan. Seorang ‘aalim ketika sebagian ilmunya ditawarkan untuk diganti dengan dunia, ia tidak rida dengan ilmu yang digantikan tersebut. Sedangkan, orang kaya yang ‘aaqil (cerdas) jika ia melihat keutamaan, kemuliaan, dan kebahagiaan orang berilmu karena ilmu yang dimilikinya, orang kaya ini berharap tergabung padanya antara ilmu dan kekayaan. Kata Imam Ibnul Qayyim: ِأن ما أطاع الله أحد قط إلا بالعلم وعامة من يعصيه إنما يعصيه بالمال “Seseorang itu bisa menaati Allah dengan benar karena ilmu yang ia miliki. Namun, sebaliknya, maksiat itu terjadi umumnya karena harta.” Lihat Miftaah Daar As-Sa’adah (1:414) karya Ibnul Qayyim. Kata Imam Ibnul Qayyim: ِأن العالم يدعو الناس إلى الله بعلمه وحاله وجامع المال يدعوهم إلى الدنيا بحاله وماله “Sesungguhnya ‘aalim itu mengajak manusia kepada Allah dengan ilmu dan keadaannya. Sedangkan, orang yang mengumpulkan harta mengantarkan manusia pada dunia dengan penampilan dan hartanya.” Lihat Miftaah Daar As-Sa’adah (1:415) karya Ibnul Qayyim. Orang yang kaya harta seringkali ia menyebabkan pemiliknya celaka, sebab harta memang sangat disukai jiwa. Sehingga ketika jiwa seseorang melihat orang lain menguasai apa yang dicintai itu, ia pun akan berusaha membinasakan orang tadi, seperti yang nyata-nyata terjadi. Berbeda dengan kaya ilmu, yang menyebabkan kehidupan sejati bagi pemiliknya juga bagi kehidupan orang lain. Saat seseorang melihat orang yang menguasai ilmu dan senantiasa mencari ilmu, mereka akan mencintai, melayani, dan memuliakannya. Kenikmatan yang dihasilkan oleh harta kemungkinan hanyalah kenikmatan yang bersifat halusinasi (khayalan) atau kenikmatan ala binatang (bahimah). Si pemilik harta ketika merasa nikmat saat mengumpulkan dan meraih harta, hakikatnya itu hanyalah khayalan atau halusinasi. Sedangkan, apabila pemilik harta merasa nikmat ketika menggunakan harta demi memenuhi syahwatnya, ini namanya kenikmatan ala binatang. Tentu hal tadi berbeda dengan ilmu. Kenikmatan ilmu adalah kenikmatan akal dan rohani, mirip seperti kenikmatan dan kebahagiaan yang dirasakan oleh para malaikat. Itulah kenapa kenikmatan antara harta dan ilmu pada hakikatnya adalah kenikmatan yang bertolak belakang.  Orang-orang yang berakal (cerdas) dari seluruh umat sepakat membenci sikap tamak dalam menumpuk harta. Mereka semua mencela dan mencemooh sifat buruk ini. Sebaliknya, mereka sepakat mengagungkan sikap tamak ketika mengumpulkan dan meraih ilmu. Mereka menyukai sikap yang terakhir ini, serta memandangnya sebagai suatu kesempurnaan. Umat manusia sepakat mengagungkan orang yang zuhud dalam harta, tidak menumpuk-numpuk harta, tidak meliriknya, dan tidak menjadikan hatinya budak harta. Mereka juga sepakat mencela orang yang merasa tidak membutuhkan ilmu, tidak mau melirik ilmu, dan tidak gigih mencari ilmu.  Pemilik harta itu disanjung manakala ia rida melepaskan dan memberi harta miliknya (TAKHLIYYAH), sementara orang yang berilmu dipuji saat menyandang dan memilikinya (TAHLIYYAH).  Kaya harta itu disertai rasa takut serta rasa sedih. Orang berharta itu sedih sebelum mendapatkannya, serta takut setelah mendapatkannya. Semakin banyak harta yang didapat, semakin kuat dan besar rasa takut pemiliknya. Ini berbeda dengan ilmu. Kaya ilmu itu disertai oleh rasa aman, senang, dan bahagia. Orang yang kaya harta suatu saat nanti pasti ditinggal oleh hartanya. Dia akan tersiksa dan sakit oleh sebab perpisahan ini. Sementara orang kaya ilmu, ilmu tidak pernah meninggalkannya, juga ia tidak akan tersiksa atau tersakiti. Dengan demikian, kenikmatan harta ialah kenikmatan semu yang pasti berakhir hingga berujung kepada kepedihan, sementara kenikmatan ilmu adalah kenikmatan kekal abadi yang tidak disertai kepedihan.  Kenikmatan dan kesempurnaan jiwa dengan harta adalah kesempurnaan pinjaman yang harus dikembalikan. Oleh sebab itulah, manakala jiwa berhias diri dengan harta berarti ia telah mengenakan pakaian pinjaman yang harus dikembalikan kepada pemilik aslinya. Sementara keindahan serta kesempurnaan jiwa dengan ilmu, ia adalah keindahan permanen yang tidak akan terlepas dari jiwa. Kaya harta adalah inti kemiskinan jiwa. Sedangkan, kaya ilmu adalah inti kekayaan jiwa, karena ilmu adalah kekayaan hakiki bagi jiwa. Orang yang diprioritaskan serta dimuliakan karena hartanya, ia tidak lagi diutamakan dan dimuliakan tatkala hartanya lenyap. Sedangkan, orang yang diprioritaskan dan dimuliakan karena ilmu, ilmu itu justru semakin membuatnya diutamakan dan dimuliakan. Mengutamakan orang karena harta yang dimilikinya adalah inti celaan baginya, lantaran prioritas ini berarti memanggil dengan menyebut aibnya. Sebab andai bukan karena harta, maka ia pantas diakhirkan dan diperlakukan secara hina. Hal ini berbeda ketika seseorang diutamakan dan dimuliakan karena ilmu. Itulah inti kesempurnaan baginya, karena ia diutamakan oleh sebab sifat pribadinya, bukan karena faktor di luar dirinya.  Orang yang mencari kesempurnaan lewat kekayaan harta laksana orang yang menyatukan dua hal yang bertolak belakang. Intinya, ia mencari sesuatu yang tidak bisa diperoleh. Berbeda dengan orang kaya ilmu, ia tidak mengalami sedikit pun dari keburukan itu. Bahkan sebaliknya, semakin membagikan ilmu, maka ia pun merasa semakin senang dan berbahagia. Orang berilmu ini tidak merasakan kenikmatan orang-orang kaya dalam hal harta benda, sebagaimana orang kaya tidak merasakan kenikmatan orang berilmu dalam hal pengetahuan dan kebahagiaan jiwa. Orang berilmu punya faktor-faktor kenikmatan yang lebih besar, lebih kuat, serta lebih langgeng daripada kenikmatan orang kaya. Keletihan dalam mendapatkan, mengumpulkan, dan menjaga ilmu tidak seberapa jika dibandingkan dengan keletihan orang kaya dalam mengumpulkan harta. Sebab mengumpulkan harta itu sendiri merupakan duka cerita di luar duka derita yang dirasakan pencarinya. Kenikmatan yang diperoleh dari harta dan kekayaan bersifat situasional, yaitu saat harta diperoleh. Kenikmatan ini mungkin lenyap atau berkurang. Buktinya, watak manusia terus mencari kekayaan lain dan tamak di sisi ini. Di selalu berusaha mencari tambahan sehingga merasa selalu kurang. Andai ia memiliki seluruh harta simpanan di bumi, kemiskinan dan ketamakan tetap bersarang dalam dirinya, karena ia termasuk salah satu di antara dua orang rakus yang tidak pernah kenyang, sebab sifat tamak serta sifat serakah ingin menumpuk-numpuk harta tidak pernah lepas dari hatinya. Berbeda dengan orang kaya ilmu dan kaya iman, kenikmatan yang dirasa seiring keberadaan keduanya sama seperti yang dirasakan saat kenikmatan tersebut didapatkan kembali, bahkan lebih nikmat. Pencarian dan kegigihan orang yang berilmu dalam mencari ilmu selalui disertai kenikmatan ilmu yang didapatkan, kebaikan yang diharapkan, dan kebahagiaan diri dalam proses pencariannya. Orang kaya harta mengharuskan dirinya berbuat baik kepada orang lain, hingga ia dihadapkan pada dua kemungkinan, yaitu menutup pintu kebaikan itu atau membukanya. Jika menutup pintu berbuat baik kepada orang lain, ia dikenal sebagai orang yang jauh dari kebaikan dan manfaat sehingga ia dibenci, dicela, lagi dihina banyak orang sehingga hatinya merasa pedih, duka, dan pilu. Sedangkan, jika ia membuka pintu kebaikan dan berbagai dengan orang lain, tetap saja ia tidak akan mampu melakukannya kepada semua orang. Ia hanya bisa berbuat baik kepada sebagian orang. Cara seperti ini tentu saja akan membuka pintu permusuhan serta celaan orang miskin dan orang yang tidak dibantu. Kekurangan-kekurangan semacam ini tidaklah menimpa orang yang kaya ilmu. Orang yang berilmu bisa membagikan ilmunya kepada semua orang. Ilmu yang telah dibagikan darinya justru tetap utuh dan tidak pernah lenyap. Bahkan, ia seperti berbisnis dengan ilmu yang diberikannya. Seperti orang kaya yang memberikan hartanya kepada orang fakir, lantas harta tersebut dipakai untuk berdagang, sehingga si fakir menjadi orang kaya seperti dirinya. Mengumpulkan harta itu disertai tiga kesusahan hidup, yaitu: (1) penyakit dan ujian sebelum punya harta, (2) penyakit dan ujian saat mendapat harta itu di mana sulit menjaga dan hati terkait terus pada harta sehingga pada dan sore selalu dirundung duka dan sedih, (3) penyakit dan ujian saat berpisah dengan harta, yaitu bagi seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan harta. Hal ini tentu berbeda dengan orang yang kaya ilmu dan iman. Selain terhindar dari berbagai penyakit tadi, ia mampu menjamin semua kenikmatan, kebahagiaan, dan kesenangan pribadi tanpa ada sakit hati. Hanya saja kenikmatan demikian dapat diraih setelah melalui keletihan, kesabaran, dan kesulitan.  Lengkapnya nikmat kekayaan dapat dirasakan ketika bergaul dengan orang lain, seperti dengan pembantunya, istri, selir, atau para pengikut (followernya). Orang kaya itu akan selalu diusik oleh orang lain sehingga timbul kebencian, permusuhan, timbul rasa marah karena hanya bisa menyenangkan sebagian orang. Itulah alasan keburukan yang ditimbulkan kerabat dan sanak keluarga pada harta berlipat kali dibandingkan dengan keburukan orang yang jauh atau bukan kerabat. Pergaulan seperti ini hanya dialami oleh orang kaya harta. Adapun jika ia tidak memiliki jasa kepada orang lain, orang lain akan menjauhi dirinya agar terhindar dari sisi negatif interaksi dengannya. Penyakit demikian tidak ada dalam orang yang kaya ilmu. Harta itu hanyalah alat untuk menggapai tujuan untuk kenyang, hilang dahaga, kehangatan, mendapat perlindungan, hingga selamat dari berbagai rasa sakit.  Berbeda dengan kekayaan ilmu, selalu membahagiakan hati, menimbulkan kesenangan dan keceriaan. Ilmu itu tidak lenyap yang membuat orang sedih dan terluka. Bahkan, pemilik kekayaan ilmu LAA KHAUFUN ‘ALAIHIM WA LAA HUM YAHZANUUN, yaitu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak bersedih hati. Orang yang kaya harta akan membenci kematian dan perjumpaan dengan Allah. Karena kalau sudah cinta pada harta, ia tidak suka untuk berpisah dan ingin harta tetap bertahan agar ingin terus dinikmati. Berbeda dengan ilmu, ia membuat hamba menginginkan pertemuan dengan Allah dan mendorongnya untuk zuhud terhadap kehidupan yang penuh kesusahan dan fana ini. Orang yang menumpuk harta, (nama) mereka mati sedang dalam keadaan hidup (jasadnya), dan para ulama akan tetap ada selamanya; jasad mereka musnah, tetapi sifat-sifat teladan mereka hidup di dalam hati-hati manusia. Ruh itu hidup dengan ilmu seperti halnya raga hidup dengan ruh. Orientasi orang kaya harta adalah menambah kehidupan raga. Sedangkan ilmu adalah kehidupan hati dan rohani. Hati itu adalah raja bagi tubuh. Sedangkan, ilmu adalah hiasan, bekal, sekaligus harta bagi hati. Ilmu menjadi penopang kerajaan tubuh. Raja harus memiliki persenjataan, prajurit, harta, dan hiasan. Ilmulah yang menjadi tunggangan, senjata, dan keindahannya. Harta itu menjadi hiasan dan keindahan bagi raga tatkala dibelanjakan untuk itu. Ketika seseorang menyimpannya serta tidak membelanjakan harta itu, ia tidak lagi menjadi hiasan atau keindahan, melainkan menjadi kekurangan dan petaka baginya. Yang dimaksudkan harta yang secukupnya adalah sekadar menegakkan tulang dan menangkal bahaya agar hamba bisa menyiapkan bekal guna meniti perjalanan menuju Rabb. Lebih dari itu, harta justru mengganggu, menghalangi perjalanan menuju Allah, dan menghalangi persiapan membawa bekal ke akhirat. Bahaya harta jauh lebih banyak daripada manfaatnya. Jadi, semakin banyak kekayaan yang dimiliki, hamba semakin lamban tertinggal untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian yang menanti. Berbeda dengan ilmu yang bermanfaat, maka semakin bertambahnya ilmu, hamba akan semakin mempersiapkan bekal untuk meniti perjalanan menuju Allah. Allah jua yang memberi taufik. Kita memohon pertolongan, serta tiada daya dan kekuatan tanpa pertolongan-Nya. Bekal perjalanan menuju Allah adalah ilmu dan amal. Sementara bekal di dunia adalah menumpuk dan menyimpan harta. Siapa yang menginginkan sesuatu, pasti akan bersiap-siap mendapatkan sesuatu itu. ِوَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَٰكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ “Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu”.” (QS. At-Taubah: 46)   Catatan lain yang sudah disebutkan dalam perkataan ‘Ali bin Abi Thalib: Ilmu itu menjadi haakim (yang memberikan hukum), sedangkan harta itu menjadi objek hukum (terkena hukum). Mencintai orang yang berilmu (ulama) bagian dari agama, cinta yang mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu menjadikan orang yang memilikinya menjadi seorang yang ditaati semasa hidupnya dan disebut dengan kebaikan setelah matinya. Apa yang dihasilkan oleh harta akan hilang bersama kemusnahannya.   Semoga Allah karuniakan kita ilmu yang manfaat.   Baca juga: Lebih dari 100 Keutamaan Orang Berilmu dari Kitab Miftah Daar As-Sa’adah karya Imam Ibnul Qayyim   Referensi: Miftah Daar As-Sa’aadah wa Mansyur Walaayah Ahli Al-‘Ilmi wa Al-Idarah. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Takhrij: Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid Al-Halabiy Al-Atsariy. Penerbit Dar Ibnul Qayyim dan Dar Ibnu ‘Affan. Mulai dari 1:412-430.   —   Diselesaikan 15 Muharram 1444 H, 13 Agustus 2022 dini hari @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbuang harta ilmu ilmu agama ilmu dan amal keutamaan ilmu mengelola harta miftah daar as saadah orang berilmu sedekah harta

Menyelami Makna Tauhid

Daftar Isi sembunyikan 1. Makna tauhid 2. Hanifiyah = beribadah dengan ikhlas 3. Buah keikhlasan 4. Millah Ibrahim adalah tauhid Makna tauhidSyekh Ibnu ‘Utsaimin memaparkan bahwa kata tauhid secara bahasa adalah isim (kata benda) yang berasal dari perubahan fi’il (kata kerja) ’wahhada-yuwahhidu’ yang bermakna menunggalkan sesuatu. Sedangkan dalam kacamata syari’at, tauhid bermakna mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan diri-Nya. Kekhususan itu meliputi perkara rububiyah, uluhiyah, dan asma’ washifat (Al-Qaul Al-Mufid, I: 5)Syekh Hamad bin ‘Atiq menerangkan bahwa agama Islam disebut sebagai agama tauhid disebabkan agama ini dibangun di atas pondasi pengakuan bahwa Allah adalah esa dan tiada sekutu bagi-Nya, baik dalam hal kekuasaan maupun tindakan-tindakan. Allah Maha Esa dalam hal zat dan sifat-sifat-Nya. Tiada sesuatu pun yang menyerupai diri-Nya. Allah Maha Esa dalam urusan peribadahan. Tidak ada yang berhak dijadikan sekutu dan tandingan bagi-Nya. Tauhid yang diserukan oleh para nabi dan rasul telah mencakup ketiga macam tauhid ini (rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat, pen). Setiap jenis tauhid adalah bagian yang tidak bisa dilepaskan dari jenis tauhid yang lainnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mewujudkan salah satu jenis tauhid saja tanpa disertai dengan jenis tauhid lainnya, maka hal itu tidak mungkin terjadi. Hal ini disebabkan dia tidak melaksanakan tauhid dengan sempurna sebagaimana yang dituntut oleh agama. (Ibthal At-Tandid, hal. 5-6)Syekh Muhammad bin Abdullah Al-Habdan menjelaskan bahwa tauhid itu hanya akan terwujud dengan memadukan antara kedua pilar ajaran tauhid, yaitu penolakan (nafi) dan penetapan (itsbat). ’Laa ilaaha’ adalah penafian. Kita menolak segala sesembahan selain Allah. Sedangkan ’illallah’ adalah itsbat/ penetapan. Kita menetapkan bahwa Allah saja yang berhak disembah. (At-Taudhihat Al-Kasyifat, hal. 49).Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata dalam Tsalatsatul Ushul,“Ketahuilah –semoga Allah membimbingmu untuk menaati-Nya. Sesungguhnya hakikat al-hanifiyah millah Ibrahim adalah engkau beribadah kepada Allah semata dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Dengan maksud itulah seluruh umat manusia diciptakan oleh Allah.Sebagaimana ditegaskan Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ‘Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.’ (QS. Az-Zariyat: 56)Makna ‘supaya mereka beribadah kepada-Ku’ dalam ayat tersebut adalah agar mereka men-tauhid-kan-Ku. Perintah terbesar yang dititahkan Allah adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam hal peribadahan. Sedangkan larangan Allah yang terbesar adalah kesyirikan, yaitu berdoa kepada selain Allah di samping berdoa kepada-Nya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ ‘Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.’ (QS. An-Nisa’ : 36)Baca Juga: Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid Hanifiyah = beribadah dengan ikhlasSyekh Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan bahwa makna hanifiyah adalah beribadah dengan mengikhlaskan agama kepada Allah. Ibadah memiliki asal makna merendah dan menundukkan diri. Oleh sebab itu, berbagai tugas yang dibebankan Allah kepada umat manusia disebut ibadah karena mereka diperintahkan untuk mengerjakannya dalam keadaan tunduk dan patuh kepada Allah.Adapun makna ibadah dalam terminologi syariat yaitu suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridai-Nya, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Dan sebagaimana sudah dimaklumi bahwa ibadah hanya akan diterima jika dilandasi dengan keikhlasan.Makna ikhlas adalah seorang hamba beramal dengan mengharapkan rida dan pahala dari Rabbnya, bukan dalam rangka mencari tujuan lain berupa kepemimpinan, kedudukan, ataupun perkara duniawi lainnya. Mengharapkan rida dan pahala dari Allah tidaklah mengurangi keikhlasan. Bahkan orang yang beribadah kepada Allah tanpa mengharapkan pahala itu tercela. Hal itu merupakan tata cara beragama kaum sufi yang bertentangan dengan dalil-dalil syari’at. (lihat Hushuulul Ma’muul, hal. 43)Buah keikhlasanSyekh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan menyebutkan beberapa buah dari keikhlasan. Menyempurnakan tauhid dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah akan menyempurnakan ketaatan dan melenyapkan segala bentuk penyembahan dan pemujaan kepada selain-Nya.Orang yang ikhlas dalam beribadah kepada Allah akan dibersihkan dari maksiat dan dosa. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,كَذَ ٰ⁠لِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوۤءَ وَٱلۡفَحۡشَاۤءَۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِینَ“Demikianlah agar Kami memalingkan darinya (Nabi Yusuf) keburukan (maksiat) dan perbuatan keji. Sesungguhnya dia termasuk hamba Kami yang terpilih (dikaruniai keikhlasan).” (QS. Yusuf: 24)Orang yang ikhlas dalam beribadah, maka dia akan terjaga dari tipu daya setan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِبَادِی لَیۡسَ لَكَ عَلَیۡهِمۡ سُلۡطَـٰنٌ “Sesungguhnya tidaklah engkau (setan) mampu menyesatkan hamba-hamba-Ku (yang terpilih).” (QS. Al-Hijr: 42)Dan setan pun berkata,فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِیَنَّهُمۡ أَجۡمَعِینَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِینَ”Demi kemuliaan-Mu sungguh aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (ikhlas).” (QS. Shad: 82-83)Haram masuk neraka, sebagaimana disebutkan dalam hadis ‘Itban, “Sesungguhnya Allah mengharamkan orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah dengan mengharapkan wajah Allah masuk ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim) (lihat Majmu’ Fatawa, 10: 260-261. disadur dari Hushuulul Ma’muul, hal. 43-44)Millah Ibrahim adalah tauhidSyekh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan berkata, “Al-Hanifiyah adalah millah (agama) Ibrahim. Agama Ibrahim biasa disebut dengan istilah al-hanifiyah.” (Hushulul Ma’mul, hal. 42).Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Al-Hanifiyah adalah millah (agama) yang memiliki kecenderungan menjauhi syirik. Agama yang ditegakkan di atas landasan keikhlasan untuk Allah ‘Azza Wajalla.” (Syarh Tsalatsatil Ushul, hal. 37)Syekh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alu Syaikh hafizhahullah berkata, ”Yang dimaksud dengan al-hanifiyah millah Ibrahim ‘alaihis salam adalah ajaran yang dititahkan Allah Jalla Wa‘ala kepada Nabi-Nya. Ajaran yang diperintahkan Allah untuk diikuti oleh seluruh umat manusia. Allah Jalla Wa‘ala berfirman,ثُمَّ أَوۡحَیۡنَاۤ إِلَیۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ حَنِیفࣰاۖ”Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengikuti millah Ibrahim dengan hanif.” (QS. An-Nahl : 123)Hakikat millah Ibrahim adalah ajaran tauhid…” (Syarh Kitab Tsalatsatil Ushul, hal. 16)Ath-Thabari rahimahullah menafsirkan kata-kata ‘dengan hanif’ dalam ayat tersebut (QS. An-Nahl: 123) adalah dengan “istikamah di atas agama Islam”. Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa makna kata hanif ialah almunharif qashdan ‘an syirki ila tauhid (sengaja menjauhi dan meninggalkan syirik menuju tauhid). Al-Baghawi rahimahullah mengatakan bahwa makna hanif adalah, ”Muslim yang lurus berada di atas agama Islam.” Al-Alusi rahimahullah mengatakan bahwa makna hanif adalah, ”Berpaling dari semua agama yang batil menuju agama yang hak dan tidak bergeser darinya.” Tafsir serupa disampaikan oleh Asy-Syaukani rahimahullah dalam Fathul Qadir. Syekh As-Sa’di mengatakan bahwa makna hanif adalah muqbilan ‘alallah bil mahabbah wal inaabah wal ‘ubuudiyah mu’ridhan ‘an man siwaahu  (menghadapkan jiwa raga kepada Allah dengan rasa cinta, tobat, dan penghambaan serta berpaling dari segala sesembahan selain-Nya). Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri mengatakan tentang makna hanif adalah condong kepada agama yang lurus, yaitu Islam (lihat Maktabah Syamilah)Baca Juga:Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaDakwah Tauhid, Perusak Persatuan?***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Malas Sholat, Sabar Syukur Ikhlas, Syarah Kitab Tauhid, Tata Cara Sholat LailTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidmakna tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamTauhid

Menyelami Makna Tauhid

Daftar Isi sembunyikan 1. Makna tauhid 2. Hanifiyah = beribadah dengan ikhlas 3. Buah keikhlasan 4. Millah Ibrahim adalah tauhid Makna tauhidSyekh Ibnu ‘Utsaimin memaparkan bahwa kata tauhid secara bahasa adalah isim (kata benda) yang berasal dari perubahan fi’il (kata kerja) ’wahhada-yuwahhidu’ yang bermakna menunggalkan sesuatu. Sedangkan dalam kacamata syari’at, tauhid bermakna mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan diri-Nya. Kekhususan itu meliputi perkara rububiyah, uluhiyah, dan asma’ washifat (Al-Qaul Al-Mufid, I: 5)Syekh Hamad bin ‘Atiq menerangkan bahwa agama Islam disebut sebagai agama tauhid disebabkan agama ini dibangun di atas pondasi pengakuan bahwa Allah adalah esa dan tiada sekutu bagi-Nya, baik dalam hal kekuasaan maupun tindakan-tindakan. Allah Maha Esa dalam hal zat dan sifat-sifat-Nya. Tiada sesuatu pun yang menyerupai diri-Nya. Allah Maha Esa dalam urusan peribadahan. Tidak ada yang berhak dijadikan sekutu dan tandingan bagi-Nya. Tauhid yang diserukan oleh para nabi dan rasul telah mencakup ketiga macam tauhid ini (rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat, pen). Setiap jenis tauhid adalah bagian yang tidak bisa dilepaskan dari jenis tauhid yang lainnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mewujudkan salah satu jenis tauhid saja tanpa disertai dengan jenis tauhid lainnya, maka hal itu tidak mungkin terjadi. Hal ini disebabkan dia tidak melaksanakan tauhid dengan sempurna sebagaimana yang dituntut oleh agama. (Ibthal At-Tandid, hal. 5-6)Syekh Muhammad bin Abdullah Al-Habdan menjelaskan bahwa tauhid itu hanya akan terwujud dengan memadukan antara kedua pilar ajaran tauhid, yaitu penolakan (nafi) dan penetapan (itsbat). ’Laa ilaaha’ adalah penafian. Kita menolak segala sesembahan selain Allah. Sedangkan ’illallah’ adalah itsbat/ penetapan. Kita menetapkan bahwa Allah saja yang berhak disembah. (At-Taudhihat Al-Kasyifat, hal. 49).Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata dalam Tsalatsatul Ushul,“Ketahuilah –semoga Allah membimbingmu untuk menaati-Nya. Sesungguhnya hakikat al-hanifiyah millah Ibrahim adalah engkau beribadah kepada Allah semata dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Dengan maksud itulah seluruh umat manusia diciptakan oleh Allah.Sebagaimana ditegaskan Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ‘Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.’ (QS. Az-Zariyat: 56)Makna ‘supaya mereka beribadah kepada-Ku’ dalam ayat tersebut adalah agar mereka men-tauhid-kan-Ku. Perintah terbesar yang dititahkan Allah adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam hal peribadahan. Sedangkan larangan Allah yang terbesar adalah kesyirikan, yaitu berdoa kepada selain Allah di samping berdoa kepada-Nya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ ‘Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.’ (QS. An-Nisa’ : 36)Baca Juga: Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid Hanifiyah = beribadah dengan ikhlasSyekh Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan bahwa makna hanifiyah adalah beribadah dengan mengikhlaskan agama kepada Allah. Ibadah memiliki asal makna merendah dan menundukkan diri. Oleh sebab itu, berbagai tugas yang dibebankan Allah kepada umat manusia disebut ibadah karena mereka diperintahkan untuk mengerjakannya dalam keadaan tunduk dan patuh kepada Allah.Adapun makna ibadah dalam terminologi syariat yaitu suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridai-Nya, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Dan sebagaimana sudah dimaklumi bahwa ibadah hanya akan diterima jika dilandasi dengan keikhlasan.Makna ikhlas adalah seorang hamba beramal dengan mengharapkan rida dan pahala dari Rabbnya, bukan dalam rangka mencari tujuan lain berupa kepemimpinan, kedudukan, ataupun perkara duniawi lainnya. Mengharapkan rida dan pahala dari Allah tidaklah mengurangi keikhlasan. Bahkan orang yang beribadah kepada Allah tanpa mengharapkan pahala itu tercela. Hal itu merupakan tata cara beragama kaum sufi yang bertentangan dengan dalil-dalil syari’at. (lihat Hushuulul Ma’muul, hal. 43)Buah keikhlasanSyekh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan menyebutkan beberapa buah dari keikhlasan. Menyempurnakan tauhid dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah akan menyempurnakan ketaatan dan melenyapkan segala bentuk penyembahan dan pemujaan kepada selain-Nya.Orang yang ikhlas dalam beribadah kepada Allah akan dibersihkan dari maksiat dan dosa. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,كَذَ ٰ⁠لِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوۤءَ وَٱلۡفَحۡشَاۤءَۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِینَ“Demikianlah agar Kami memalingkan darinya (Nabi Yusuf) keburukan (maksiat) dan perbuatan keji. Sesungguhnya dia termasuk hamba Kami yang terpilih (dikaruniai keikhlasan).” (QS. Yusuf: 24)Orang yang ikhlas dalam beribadah, maka dia akan terjaga dari tipu daya setan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِبَادِی لَیۡسَ لَكَ عَلَیۡهِمۡ سُلۡطَـٰنٌ “Sesungguhnya tidaklah engkau (setan) mampu menyesatkan hamba-hamba-Ku (yang terpilih).” (QS. Al-Hijr: 42)Dan setan pun berkata,فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِیَنَّهُمۡ أَجۡمَعِینَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِینَ”Demi kemuliaan-Mu sungguh aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (ikhlas).” (QS. Shad: 82-83)Haram masuk neraka, sebagaimana disebutkan dalam hadis ‘Itban, “Sesungguhnya Allah mengharamkan orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah dengan mengharapkan wajah Allah masuk ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim) (lihat Majmu’ Fatawa, 10: 260-261. disadur dari Hushuulul Ma’muul, hal. 43-44)Millah Ibrahim adalah tauhidSyekh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan berkata, “Al-Hanifiyah adalah millah (agama) Ibrahim. Agama Ibrahim biasa disebut dengan istilah al-hanifiyah.” (Hushulul Ma’mul, hal. 42).Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Al-Hanifiyah adalah millah (agama) yang memiliki kecenderungan menjauhi syirik. Agama yang ditegakkan di atas landasan keikhlasan untuk Allah ‘Azza Wajalla.” (Syarh Tsalatsatil Ushul, hal. 37)Syekh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alu Syaikh hafizhahullah berkata, ”Yang dimaksud dengan al-hanifiyah millah Ibrahim ‘alaihis salam adalah ajaran yang dititahkan Allah Jalla Wa‘ala kepada Nabi-Nya. Ajaran yang diperintahkan Allah untuk diikuti oleh seluruh umat manusia. Allah Jalla Wa‘ala berfirman,ثُمَّ أَوۡحَیۡنَاۤ إِلَیۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ حَنِیفࣰاۖ”Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengikuti millah Ibrahim dengan hanif.” (QS. An-Nahl : 123)Hakikat millah Ibrahim adalah ajaran tauhid…” (Syarh Kitab Tsalatsatil Ushul, hal. 16)Ath-Thabari rahimahullah menafsirkan kata-kata ‘dengan hanif’ dalam ayat tersebut (QS. An-Nahl: 123) adalah dengan “istikamah di atas agama Islam”. Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa makna kata hanif ialah almunharif qashdan ‘an syirki ila tauhid (sengaja menjauhi dan meninggalkan syirik menuju tauhid). Al-Baghawi rahimahullah mengatakan bahwa makna hanif adalah, ”Muslim yang lurus berada di atas agama Islam.” Al-Alusi rahimahullah mengatakan bahwa makna hanif adalah, ”Berpaling dari semua agama yang batil menuju agama yang hak dan tidak bergeser darinya.” Tafsir serupa disampaikan oleh Asy-Syaukani rahimahullah dalam Fathul Qadir. Syekh As-Sa’di mengatakan bahwa makna hanif adalah muqbilan ‘alallah bil mahabbah wal inaabah wal ‘ubuudiyah mu’ridhan ‘an man siwaahu  (menghadapkan jiwa raga kepada Allah dengan rasa cinta, tobat, dan penghambaan serta berpaling dari segala sesembahan selain-Nya). Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri mengatakan tentang makna hanif adalah condong kepada agama yang lurus, yaitu Islam (lihat Maktabah Syamilah)Baca Juga:Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaDakwah Tauhid, Perusak Persatuan?***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Malas Sholat, Sabar Syukur Ikhlas, Syarah Kitab Tauhid, Tata Cara Sholat LailTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidmakna tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamTauhid
Daftar Isi sembunyikan 1. Makna tauhid 2. Hanifiyah = beribadah dengan ikhlas 3. Buah keikhlasan 4. Millah Ibrahim adalah tauhid Makna tauhidSyekh Ibnu ‘Utsaimin memaparkan bahwa kata tauhid secara bahasa adalah isim (kata benda) yang berasal dari perubahan fi’il (kata kerja) ’wahhada-yuwahhidu’ yang bermakna menunggalkan sesuatu. Sedangkan dalam kacamata syari’at, tauhid bermakna mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan diri-Nya. Kekhususan itu meliputi perkara rububiyah, uluhiyah, dan asma’ washifat (Al-Qaul Al-Mufid, I: 5)Syekh Hamad bin ‘Atiq menerangkan bahwa agama Islam disebut sebagai agama tauhid disebabkan agama ini dibangun di atas pondasi pengakuan bahwa Allah adalah esa dan tiada sekutu bagi-Nya, baik dalam hal kekuasaan maupun tindakan-tindakan. Allah Maha Esa dalam hal zat dan sifat-sifat-Nya. Tiada sesuatu pun yang menyerupai diri-Nya. Allah Maha Esa dalam urusan peribadahan. Tidak ada yang berhak dijadikan sekutu dan tandingan bagi-Nya. Tauhid yang diserukan oleh para nabi dan rasul telah mencakup ketiga macam tauhid ini (rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat, pen). Setiap jenis tauhid adalah bagian yang tidak bisa dilepaskan dari jenis tauhid yang lainnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mewujudkan salah satu jenis tauhid saja tanpa disertai dengan jenis tauhid lainnya, maka hal itu tidak mungkin terjadi. Hal ini disebabkan dia tidak melaksanakan tauhid dengan sempurna sebagaimana yang dituntut oleh agama. (Ibthal At-Tandid, hal. 5-6)Syekh Muhammad bin Abdullah Al-Habdan menjelaskan bahwa tauhid itu hanya akan terwujud dengan memadukan antara kedua pilar ajaran tauhid, yaitu penolakan (nafi) dan penetapan (itsbat). ’Laa ilaaha’ adalah penafian. Kita menolak segala sesembahan selain Allah. Sedangkan ’illallah’ adalah itsbat/ penetapan. Kita menetapkan bahwa Allah saja yang berhak disembah. (At-Taudhihat Al-Kasyifat, hal. 49).Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata dalam Tsalatsatul Ushul,“Ketahuilah –semoga Allah membimbingmu untuk menaati-Nya. Sesungguhnya hakikat al-hanifiyah millah Ibrahim adalah engkau beribadah kepada Allah semata dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Dengan maksud itulah seluruh umat manusia diciptakan oleh Allah.Sebagaimana ditegaskan Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ‘Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.’ (QS. Az-Zariyat: 56)Makna ‘supaya mereka beribadah kepada-Ku’ dalam ayat tersebut adalah agar mereka men-tauhid-kan-Ku. Perintah terbesar yang dititahkan Allah adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam hal peribadahan. Sedangkan larangan Allah yang terbesar adalah kesyirikan, yaitu berdoa kepada selain Allah di samping berdoa kepada-Nya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ ‘Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.’ (QS. An-Nisa’ : 36)Baca Juga: Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid Hanifiyah = beribadah dengan ikhlasSyekh Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan bahwa makna hanifiyah adalah beribadah dengan mengikhlaskan agama kepada Allah. Ibadah memiliki asal makna merendah dan menundukkan diri. Oleh sebab itu, berbagai tugas yang dibebankan Allah kepada umat manusia disebut ibadah karena mereka diperintahkan untuk mengerjakannya dalam keadaan tunduk dan patuh kepada Allah.Adapun makna ibadah dalam terminologi syariat yaitu suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridai-Nya, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Dan sebagaimana sudah dimaklumi bahwa ibadah hanya akan diterima jika dilandasi dengan keikhlasan.Makna ikhlas adalah seorang hamba beramal dengan mengharapkan rida dan pahala dari Rabbnya, bukan dalam rangka mencari tujuan lain berupa kepemimpinan, kedudukan, ataupun perkara duniawi lainnya. Mengharapkan rida dan pahala dari Allah tidaklah mengurangi keikhlasan. Bahkan orang yang beribadah kepada Allah tanpa mengharapkan pahala itu tercela. Hal itu merupakan tata cara beragama kaum sufi yang bertentangan dengan dalil-dalil syari’at. (lihat Hushuulul Ma’muul, hal. 43)Buah keikhlasanSyekh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan menyebutkan beberapa buah dari keikhlasan. Menyempurnakan tauhid dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah akan menyempurnakan ketaatan dan melenyapkan segala bentuk penyembahan dan pemujaan kepada selain-Nya.Orang yang ikhlas dalam beribadah kepada Allah akan dibersihkan dari maksiat dan dosa. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,كَذَ ٰ⁠لِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوۤءَ وَٱلۡفَحۡشَاۤءَۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِینَ“Demikianlah agar Kami memalingkan darinya (Nabi Yusuf) keburukan (maksiat) dan perbuatan keji. Sesungguhnya dia termasuk hamba Kami yang terpilih (dikaruniai keikhlasan).” (QS. Yusuf: 24)Orang yang ikhlas dalam beribadah, maka dia akan terjaga dari tipu daya setan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِبَادِی لَیۡسَ لَكَ عَلَیۡهِمۡ سُلۡطَـٰنٌ “Sesungguhnya tidaklah engkau (setan) mampu menyesatkan hamba-hamba-Ku (yang terpilih).” (QS. Al-Hijr: 42)Dan setan pun berkata,فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِیَنَّهُمۡ أَجۡمَعِینَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِینَ”Demi kemuliaan-Mu sungguh aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (ikhlas).” (QS. Shad: 82-83)Haram masuk neraka, sebagaimana disebutkan dalam hadis ‘Itban, “Sesungguhnya Allah mengharamkan orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah dengan mengharapkan wajah Allah masuk ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim) (lihat Majmu’ Fatawa, 10: 260-261. disadur dari Hushuulul Ma’muul, hal. 43-44)Millah Ibrahim adalah tauhidSyekh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan berkata, “Al-Hanifiyah adalah millah (agama) Ibrahim. Agama Ibrahim biasa disebut dengan istilah al-hanifiyah.” (Hushulul Ma’mul, hal. 42).Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Al-Hanifiyah adalah millah (agama) yang memiliki kecenderungan menjauhi syirik. Agama yang ditegakkan di atas landasan keikhlasan untuk Allah ‘Azza Wajalla.” (Syarh Tsalatsatil Ushul, hal. 37)Syekh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alu Syaikh hafizhahullah berkata, ”Yang dimaksud dengan al-hanifiyah millah Ibrahim ‘alaihis salam adalah ajaran yang dititahkan Allah Jalla Wa‘ala kepada Nabi-Nya. Ajaran yang diperintahkan Allah untuk diikuti oleh seluruh umat manusia. Allah Jalla Wa‘ala berfirman,ثُمَّ أَوۡحَیۡنَاۤ إِلَیۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ حَنِیفࣰاۖ”Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengikuti millah Ibrahim dengan hanif.” (QS. An-Nahl : 123)Hakikat millah Ibrahim adalah ajaran tauhid…” (Syarh Kitab Tsalatsatil Ushul, hal. 16)Ath-Thabari rahimahullah menafsirkan kata-kata ‘dengan hanif’ dalam ayat tersebut (QS. An-Nahl: 123) adalah dengan “istikamah di atas agama Islam”. Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa makna kata hanif ialah almunharif qashdan ‘an syirki ila tauhid (sengaja menjauhi dan meninggalkan syirik menuju tauhid). Al-Baghawi rahimahullah mengatakan bahwa makna hanif adalah, ”Muslim yang lurus berada di atas agama Islam.” Al-Alusi rahimahullah mengatakan bahwa makna hanif adalah, ”Berpaling dari semua agama yang batil menuju agama yang hak dan tidak bergeser darinya.” Tafsir serupa disampaikan oleh Asy-Syaukani rahimahullah dalam Fathul Qadir. Syekh As-Sa’di mengatakan bahwa makna hanif adalah muqbilan ‘alallah bil mahabbah wal inaabah wal ‘ubuudiyah mu’ridhan ‘an man siwaahu  (menghadapkan jiwa raga kepada Allah dengan rasa cinta, tobat, dan penghambaan serta berpaling dari segala sesembahan selain-Nya). Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri mengatakan tentang makna hanif adalah condong kepada agama yang lurus, yaitu Islam (lihat Maktabah Syamilah)Baca Juga:Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaDakwah Tauhid, Perusak Persatuan?***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Malas Sholat, Sabar Syukur Ikhlas, Syarah Kitab Tauhid, Tata Cara Sholat LailTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidmakna tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamTauhid


Daftar Isi sembunyikan 1. Makna tauhid 2. Hanifiyah = beribadah dengan ikhlas 3. Buah keikhlasan 4. Millah Ibrahim adalah tauhid Makna tauhidSyekh Ibnu ‘Utsaimin memaparkan bahwa kata tauhid secara bahasa adalah isim (kata benda) yang berasal dari perubahan fi’il (kata kerja) ’wahhada-yuwahhidu’ yang bermakna menunggalkan sesuatu. Sedangkan dalam kacamata syari’at, tauhid bermakna mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan diri-Nya. Kekhususan itu meliputi perkara rububiyah, uluhiyah, dan asma’ washifat (Al-Qaul Al-Mufid, I: 5)Syekh Hamad bin ‘Atiq menerangkan bahwa agama Islam disebut sebagai agama tauhid disebabkan agama ini dibangun di atas pondasi pengakuan bahwa Allah adalah esa dan tiada sekutu bagi-Nya, baik dalam hal kekuasaan maupun tindakan-tindakan. Allah Maha Esa dalam hal zat dan sifat-sifat-Nya. Tiada sesuatu pun yang menyerupai diri-Nya. Allah Maha Esa dalam urusan peribadahan. Tidak ada yang berhak dijadikan sekutu dan tandingan bagi-Nya. Tauhid yang diserukan oleh para nabi dan rasul telah mencakup ketiga macam tauhid ini (rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat, pen). Setiap jenis tauhid adalah bagian yang tidak bisa dilepaskan dari jenis tauhid yang lainnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mewujudkan salah satu jenis tauhid saja tanpa disertai dengan jenis tauhid lainnya, maka hal itu tidak mungkin terjadi. Hal ini disebabkan dia tidak melaksanakan tauhid dengan sempurna sebagaimana yang dituntut oleh agama. (Ibthal At-Tandid, hal. 5-6)Syekh Muhammad bin Abdullah Al-Habdan menjelaskan bahwa tauhid itu hanya akan terwujud dengan memadukan antara kedua pilar ajaran tauhid, yaitu penolakan (nafi) dan penetapan (itsbat). ’Laa ilaaha’ adalah penafian. Kita menolak segala sesembahan selain Allah. Sedangkan ’illallah’ adalah itsbat/ penetapan. Kita menetapkan bahwa Allah saja yang berhak disembah. (At-Taudhihat Al-Kasyifat, hal. 49).Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata dalam Tsalatsatul Ushul,“Ketahuilah –semoga Allah membimbingmu untuk menaati-Nya. Sesungguhnya hakikat al-hanifiyah millah Ibrahim adalah engkau beribadah kepada Allah semata dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Dengan maksud itulah seluruh umat manusia diciptakan oleh Allah.Sebagaimana ditegaskan Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ‘Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.’ (QS. Az-Zariyat: 56)Makna ‘supaya mereka beribadah kepada-Ku’ dalam ayat tersebut adalah agar mereka men-tauhid-kan-Ku. Perintah terbesar yang dititahkan Allah adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam hal peribadahan. Sedangkan larangan Allah yang terbesar adalah kesyirikan, yaitu berdoa kepada selain Allah di samping berdoa kepada-Nya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ ‘Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.’ (QS. An-Nisa’ : 36)Baca Juga: Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid Hanifiyah = beribadah dengan ikhlasSyekh Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan bahwa makna hanifiyah adalah beribadah dengan mengikhlaskan agama kepada Allah. Ibadah memiliki asal makna merendah dan menundukkan diri. Oleh sebab itu, berbagai tugas yang dibebankan Allah kepada umat manusia disebut ibadah karena mereka diperintahkan untuk mengerjakannya dalam keadaan tunduk dan patuh kepada Allah.Adapun makna ibadah dalam terminologi syariat yaitu suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridai-Nya, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Dan sebagaimana sudah dimaklumi bahwa ibadah hanya akan diterima jika dilandasi dengan keikhlasan.Makna ikhlas adalah seorang hamba beramal dengan mengharapkan rida dan pahala dari Rabbnya, bukan dalam rangka mencari tujuan lain berupa kepemimpinan, kedudukan, ataupun perkara duniawi lainnya. Mengharapkan rida dan pahala dari Allah tidaklah mengurangi keikhlasan. Bahkan orang yang beribadah kepada Allah tanpa mengharapkan pahala itu tercela. Hal itu merupakan tata cara beragama kaum sufi yang bertentangan dengan dalil-dalil syari’at. (lihat Hushuulul Ma’muul, hal. 43)Buah keikhlasanSyekh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan menyebutkan beberapa buah dari keikhlasan. Menyempurnakan tauhid dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah akan menyempurnakan ketaatan dan melenyapkan segala bentuk penyembahan dan pemujaan kepada selain-Nya.Orang yang ikhlas dalam beribadah kepada Allah akan dibersihkan dari maksiat dan dosa. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,كَذَ ٰ⁠لِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوۤءَ وَٱلۡفَحۡشَاۤءَۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِینَ“Demikianlah agar Kami memalingkan darinya (Nabi Yusuf) keburukan (maksiat) dan perbuatan keji. Sesungguhnya dia termasuk hamba Kami yang terpilih (dikaruniai keikhlasan).” (QS. Yusuf: 24)Orang yang ikhlas dalam beribadah, maka dia akan terjaga dari tipu daya setan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِبَادِی لَیۡسَ لَكَ عَلَیۡهِمۡ سُلۡطَـٰنٌ “Sesungguhnya tidaklah engkau (setan) mampu menyesatkan hamba-hamba-Ku (yang terpilih).” (QS. Al-Hijr: 42)Dan setan pun berkata,فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِیَنَّهُمۡ أَجۡمَعِینَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِینَ”Demi kemuliaan-Mu sungguh aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (ikhlas).” (QS. Shad: 82-83)Haram masuk neraka, sebagaimana disebutkan dalam hadis ‘Itban, “Sesungguhnya Allah mengharamkan orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah dengan mengharapkan wajah Allah masuk ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim) (lihat Majmu’ Fatawa, 10: 260-261. disadur dari Hushuulul Ma’muul, hal. 43-44)Millah Ibrahim adalah tauhidSyekh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan berkata, “Al-Hanifiyah adalah millah (agama) Ibrahim. Agama Ibrahim biasa disebut dengan istilah al-hanifiyah.” (Hushulul Ma’mul, hal. 42).Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Al-Hanifiyah adalah millah (agama) yang memiliki kecenderungan menjauhi syirik. Agama yang ditegakkan di atas landasan keikhlasan untuk Allah ‘Azza Wajalla.” (Syarh Tsalatsatil Ushul, hal. 37)Syekh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alu Syaikh hafizhahullah berkata, ”Yang dimaksud dengan al-hanifiyah millah Ibrahim ‘alaihis salam adalah ajaran yang dititahkan Allah Jalla Wa‘ala kepada Nabi-Nya. Ajaran yang diperintahkan Allah untuk diikuti oleh seluruh umat manusia. Allah Jalla Wa‘ala berfirman,ثُمَّ أَوۡحَیۡنَاۤ إِلَیۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ حَنِیفࣰاۖ”Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengikuti millah Ibrahim dengan hanif.” (QS. An-Nahl : 123)Hakikat millah Ibrahim adalah ajaran tauhid…” (Syarh Kitab Tsalatsatil Ushul, hal. 16)Ath-Thabari rahimahullah menafsirkan kata-kata ‘dengan hanif’ dalam ayat tersebut (QS. An-Nahl: 123) adalah dengan “istikamah di atas agama Islam”. Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa makna kata hanif ialah almunharif qashdan ‘an syirki ila tauhid (sengaja menjauhi dan meninggalkan syirik menuju tauhid). Al-Baghawi rahimahullah mengatakan bahwa makna hanif adalah, ”Muslim yang lurus berada di atas agama Islam.” Al-Alusi rahimahullah mengatakan bahwa makna hanif adalah, ”Berpaling dari semua agama yang batil menuju agama yang hak dan tidak bergeser darinya.” Tafsir serupa disampaikan oleh Asy-Syaukani rahimahullah dalam Fathul Qadir. Syekh As-Sa’di mengatakan bahwa makna hanif adalah muqbilan ‘alallah bil mahabbah wal inaabah wal ‘ubuudiyah mu’ridhan ‘an man siwaahu  (menghadapkan jiwa raga kepada Allah dengan rasa cinta, tobat, dan penghambaan serta berpaling dari segala sesembahan selain-Nya). Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri mengatakan tentang makna hanif adalah condong kepada agama yang lurus, yaitu Islam (lihat Maktabah Syamilah)Baca Juga:Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaDakwah Tauhid, Perusak Persatuan?***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Malas Sholat, Sabar Syukur Ikhlas, Syarah Kitab Tauhid, Tata Cara Sholat LailTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidmakna tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamTauhid

Sudahkah Persaudaraan dan Persahabatanmu Sesuai Ajaran Islam?

Ikatan persaudaraan dan persahabatan yang berlandaskan agama Islam merupakan ikatan yang paling dijaga dan dikuatkan oleh agama ini. Islam memiliki konsep yang berbeda dengan konsep orang-orang terdahulu. Kala itu, ikatan nasab dan suku sangatlah diunggulkan dari ikatan-ikatan selainnya. Barulah kemudian Islam datang dengan menjadikan ikatan persaudaraan berlandaskan agama unggul dan berada di atas ikatan-ikatan selainnya.Ikatan persaudaraan dengan asas agama Islam ini bukanlah sekedar omong kosong yang tidak ada maknanya. Sungguh ia membawa makna yang sangat mulia. Dengan ikatan ini, seorang muslim dengan muslim lainnya akhirnya memiliki hak-hak dan kewajiban di antara mereka. Semuanya melaksanakan kewajiban dan memenuhi hak saudaranya dengan kerelaan dan tanpa paksaan. Karena Islam sejatinya tidak pernah membuat hukum dan syariat yang berlawanan dengan fitrah manusia.Bahkan, syariat dan hukum terkait persaudaraan dan persahabatan ditegakkan karena melihat kebutuhan manusia. Di mana seseorang tidak dapat hidup, kecuali dengan adanya orang lain. Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dengan sifat membutuhkan saudara dan teman. Anak kecil yang belum paham makna persaudaraan dan persahabatan saja fitrahnya akan akrab dengan saudara dan berteman dengan yang sebaya dengannya. Apalagi mereka yang sudah dewasa, tentu ia lebih memerlukan sahabat dan orang selainnya.Besarnya kebutuhan seorang manusia terhadap temannya ini, sampai-sampai Allah Ta’ala jadikan ‘kawan atau sahabat’ sebagai salah satu anggota keluarga seseorang. Hal ini karena seringnya ia keluar masuk rumahnya dan seringnya ia bepergian bersamanya serta seringnya mereka saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ عَلَى الْاَعْمٰى حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْاَعْرَجِ حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْمَرِيْضِ حَرَجٌ وَّلَا عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَنْ تَأْكُلُوْا مِنْۢ بُيُوْتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اٰبَاۤىِٕكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اُمَّهٰتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اِخْوَانِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اَخَوٰتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اَعْمَامِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ عَمّٰتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اَخْوَالِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ خٰلٰتِكُمْ اَوْ مَا مَلَكْتُمْ مَّفَاتِحَهٗٓ اَوْ صَدِيْقِكُمْۗ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَأْكُلُوْا جَمِيْعًا اَوْ اَشْتَاتًاۗ فَاِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوْتًا فَسَلِّمُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُبٰرَكَةً طَيِّبَةً ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ ࣖ“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu, makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudara-saudaramu yang perempuan, di rumah saudara-saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara-saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara ibumu yang perempuan, (di rumah) yang kamu miliki kuncinya atau (di rumah) kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendiri-sendiri. Apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagimu, agar kamu mengerti.” (QS. An-Nur: 61)Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala menyebutkan kawan/ teman saat menyebutkan bapak dan ibu serta saudara-saudara lainnya. Karena seringnya mereka bersama kita, baik dalam kemudahan maupun dalam kesulitan, kebahagiaan maupun kesengsaraan, saat dalam kondisi sehat maupun sakit, sehingga mereka seakan-akan adalah saudara kita sendiri.Baca Juga: Utang Bisa Menjadi Pemutus Silaturahmi dan Pertemanan Daftar Isi sembunyikan 1. Kriteria sahabat yang sesuai dengan ajaran Islam 1.1. Pertama: orang yang jujur 1.2. Kedua: Teman yang mencintai kita karena Allah Ta’ala bukan karena faktor yang lain 2. Indahnya persaudaraan dan persahabatan di atas agama Islam Kriteria sahabat yang sesuai dengan ajaran IslamSelain memperhatikan pentingnya teman dalam kehidupan seseorang, Islam juga memperhatikan beberapa kriteria teman yang seharusnya kita perhatikan, sehingga kita lebih selektif di dalam memilih siapa yang akan kita jadikan sahabat dekat dan kawan kita.Pertama: orang yang jujurAllah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)Di dalam Tafsir As-Sa’di disebutkan,“Dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”, dalam ucapan, perbuatan, dan keadaan mereka, orang-orang yang perkataannya adalah benar, perbuatannya dan keadaannya tidak lain kecuali benar, bebas dari kemalasan dan kelesuan, selamat dari maksud-maksud buruk, mengandung keikhlasan dan niat yang baik, karena kejujuran mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan kepada surga.”Teman yang baik adalah teman yang membimbing dan menunjukkan kepada kebenaran dan kebaikan dan mengingatkan saat terjatuh ke dalam keburukan.Kedua: Teman yang mencintai kita karena Allah Ta’ala bukan karena faktor yang lainKarena hal ini menyebabkan kecintaan Allah Ta’ala kepada kita. Allah Ta’ala berfirman di dalam hadis qudsi,وجبَتْ محبَّتي للمُتحابِّين فيَّ وللمُتجالسين فيَّ ، وللمُتباذلين فيَّ“Kecintaan-Ku wajib bagi orang-orang yang saling mencintai karena Aku, orang-orang yang saling berteman karena Aku (orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku), dan orang-orang yang saling berkorban karena Aku.” (HR. Ahmad no. 22030 dan Malik dalam Muwattha’-nya no. 2/953)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang 7 golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat. Di antaranya beliau bersabda,ورَجُلَانِ تَحَابَّا في اللَّهِ اجْتَمعا عليه وتَفَرَّقَا عليه“Dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya.” (HR. Bukhari no. 660)Baca Juga: Pilihlah Teman yang Baik di SosmedIndahnya persaudaraan dan persahabatan di atas agama IslamKetahuilah, bahwa hanya dengan masuk Islamnya seseorang, maka ia sudah menjadi salah satu saudara kita. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)Dalam persaudaraan Islam ini, secara umum ada beberapa hak dan kewajiban yang harus dijaga oleh seorang muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjelaskan,لاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَتَنَاجَشُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخوَانَاً، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَكْذِبُهُ، وَلايَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا – وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ”Janganlah kalian saling dengki, melakukan najasy, saling membenci, saling membelakangi. Dan janganlah sebagian dari kalian berjual beli di atas jual beli saudaranya. Jadilah kalian semua hamba–hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh menzaliminya, menghinanya, mendustakannya, dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini (sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seseorang itu dalam kejelekan selama dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram dan terjaga darah, harta, dan kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2564)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 2580)Persahabatan dan persaudaraan di dalam Islam bukan hanya sekedar tentang bercengkerama dan bergembira saja. Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis, sebuah persahabatan dan persaudaraan harus diisi dengan saling menjalankan kewajiban dan pemenuhan hak-hak saudara serta sahabatnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjadi teladan dan panutan kita, sudah mempersaudarakan di antara kaum muhajirin sebelum hijrahnya ke kota Madinah. Beliau menjadikan untuk setiap individu kaum muslimin seorang saudara yang didasari oleh Islam. Kemudian setelah hijrahnya beliau ke Madinah, beliau kembali menjadikan untuk masing-masing individu muhajirin seorang saudara dari kalangan anshor.Sungguh persaudaraan yang mereka amalkan merupakan pemandangan yang indah. Karena persaudaraan itu telah melampaui level cinta ‘mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri’ yang disebutkan di dalam hadis,لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ”Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman (dengan keimanan yang sempurna) sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)Mereka telah sampai pada level cinta ‘mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri’. Cukuplah pujian Allah bagi mereka sebagai tanda kemuliaan dan keindahan persaudaraan tersebut,وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ “Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga hubungan baik kita dengan saudara dan sahabat, menjadikan persaudaraan dan persahabatan ini berlandaskan agama Islam. Sungguh sahabat dan lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter seseorang sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,إِنَّما مثَلُ الجلِيس الصَّالِحِ وَجَلِيسِ السُّوءِ: كَحَامِلِ المِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحامِلُ المِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ ريحًا طيِّبةً، ونَافِخُ الكِيرِ إِمَّا أَن يَحْرِقَ ثِيابَكَ، وإمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا مُنْتِنَةً“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 2101 dan Muslim 2628)Wallahu A’lam Bisshowaab.Baca Juga:Inti Pendidikan Anak adalah Menjauhkan dari Teman yang BurukTeman Akrab Menjadi Musuh di Hari Kiamat***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Mengusap Wajah Setelah Shalat, Hadits Tentang Keistimewaan Wanita, Pengertian Beribadah, Hukum Tahlilan Dan Yasinan Menurut MuhammadiyahTags: adabadab IslamAkhlakakhlak islamnasihatnasihat islampersahabatanpertemananteman

Sudahkah Persaudaraan dan Persahabatanmu Sesuai Ajaran Islam?

Ikatan persaudaraan dan persahabatan yang berlandaskan agama Islam merupakan ikatan yang paling dijaga dan dikuatkan oleh agama ini. Islam memiliki konsep yang berbeda dengan konsep orang-orang terdahulu. Kala itu, ikatan nasab dan suku sangatlah diunggulkan dari ikatan-ikatan selainnya. Barulah kemudian Islam datang dengan menjadikan ikatan persaudaraan berlandaskan agama unggul dan berada di atas ikatan-ikatan selainnya.Ikatan persaudaraan dengan asas agama Islam ini bukanlah sekedar omong kosong yang tidak ada maknanya. Sungguh ia membawa makna yang sangat mulia. Dengan ikatan ini, seorang muslim dengan muslim lainnya akhirnya memiliki hak-hak dan kewajiban di antara mereka. Semuanya melaksanakan kewajiban dan memenuhi hak saudaranya dengan kerelaan dan tanpa paksaan. Karena Islam sejatinya tidak pernah membuat hukum dan syariat yang berlawanan dengan fitrah manusia.Bahkan, syariat dan hukum terkait persaudaraan dan persahabatan ditegakkan karena melihat kebutuhan manusia. Di mana seseorang tidak dapat hidup, kecuali dengan adanya orang lain. Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dengan sifat membutuhkan saudara dan teman. Anak kecil yang belum paham makna persaudaraan dan persahabatan saja fitrahnya akan akrab dengan saudara dan berteman dengan yang sebaya dengannya. Apalagi mereka yang sudah dewasa, tentu ia lebih memerlukan sahabat dan orang selainnya.Besarnya kebutuhan seorang manusia terhadap temannya ini, sampai-sampai Allah Ta’ala jadikan ‘kawan atau sahabat’ sebagai salah satu anggota keluarga seseorang. Hal ini karena seringnya ia keluar masuk rumahnya dan seringnya ia bepergian bersamanya serta seringnya mereka saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ عَلَى الْاَعْمٰى حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْاَعْرَجِ حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْمَرِيْضِ حَرَجٌ وَّلَا عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَنْ تَأْكُلُوْا مِنْۢ بُيُوْتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اٰبَاۤىِٕكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اُمَّهٰتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اِخْوَانِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اَخَوٰتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اَعْمَامِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ عَمّٰتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اَخْوَالِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ خٰلٰتِكُمْ اَوْ مَا مَلَكْتُمْ مَّفَاتِحَهٗٓ اَوْ صَدِيْقِكُمْۗ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَأْكُلُوْا جَمِيْعًا اَوْ اَشْتَاتًاۗ فَاِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوْتًا فَسَلِّمُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُبٰرَكَةً طَيِّبَةً ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ ࣖ“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu, makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudara-saudaramu yang perempuan, di rumah saudara-saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara-saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara ibumu yang perempuan, (di rumah) yang kamu miliki kuncinya atau (di rumah) kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendiri-sendiri. Apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagimu, agar kamu mengerti.” (QS. An-Nur: 61)Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala menyebutkan kawan/ teman saat menyebutkan bapak dan ibu serta saudara-saudara lainnya. Karena seringnya mereka bersama kita, baik dalam kemudahan maupun dalam kesulitan, kebahagiaan maupun kesengsaraan, saat dalam kondisi sehat maupun sakit, sehingga mereka seakan-akan adalah saudara kita sendiri.Baca Juga: Utang Bisa Menjadi Pemutus Silaturahmi dan Pertemanan Daftar Isi sembunyikan 1. Kriteria sahabat yang sesuai dengan ajaran Islam 1.1. Pertama: orang yang jujur 1.2. Kedua: Teman yang mencintai kita karena Allah Ta’ala bukan karena faktor yang lain 2. Indahnya persaudaraan dan persahabatan di atas agama Islam Kriteria sahabat yang sesuai dengan ajaran IslamSelain memperhatikan pentingnya teman dalam kehidupan seseorang, Islam juga memperhatikan beberapa kriteria teman yang seharusnya kita perhatikan, sehingga kita lebih selektif di dalam memilih siapa yang akan kita jadikan sahabat dekat dan kawan kita.Pertama: orang yang jujurAllah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)Di dalam Tafsir As-Sa’di disebutkan,“Dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”, dalam ucapan, perbuatan, dan keadaan mereka, orang-orang yang perkataannya adalah benar, perbuatannya dan keadaannya tidak lain kecuali benar, bebas dari kemalasan dan kelesuan, selamat dari maksud-maksud buruk, mengandung keikhlasan dan niat yang baik, karena kejujuran mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan kepada surga.”Teman yang baik adalah teman yang membimbing dan menunjukkan kepada kebenaran dan kebaikan dan mengingatkan saat terjatuh ke dalam keburukan.Kedua: Teman yang mencintai kita karena Allah Ta’ala bukan karena faktor yang lainKarena hal ini menyebabkan kecintaan Allah Ta’ala kepada kita. Allah Ta’ala berfirman di dalam hadis qudsi,وجبَتْ محبَّتي للمُتحابِّين فيَّ وللمُتجالسين فيَّ ، وللمُتباذلين فيَّ“Kecintaan-Ku wajib bagi orang-orang yang saling mencintai karena Aku, orang-orang yang saling berteman karena Aku (orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku), dan orang-orang yang saling berkorban karena Aku.” (HR. Ahmad no. 22030 dan Malik dalam Muwattha’-nya no. 2/953)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang 7 golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat. Di antaranya beliau bersabda,ورَجُلَانِ تَحَابَّا في اللَّهِ اجْتَمعا عليه وتَفَرَّقَا عليه“Dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya.” (HR. Bukhari no. 660)Baca Juga: Pilihlah Teman yang Baik di SosmedIndahnya persaudaraan dan persahabatan di atas agama IslamKetahuilah, bahwa hanya dengan masuk Islamnya seseorang, maka ia sudah menjadi salah satu saudara kita. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)Dalam persaudaraan Islam ini, secara umum ada beberapa hak dan kewajiban yang harus dijaga oleh seorang muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjelaskan,لاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَتَنَاجَشُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخوَانَاً، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَكْذِبُهُ، وَلايَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا – وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ”Janganlah kalian saling dengki, melakukan najasy, saling membenci, saling membelakangi. Dan janganlah sebagian dari kalian berjual beli di atas jual beli saudaranya. Jadilah kalian semua hamba–hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh menzaliminya, menghinanya, mendustakannya, dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini (sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seseorang itu dalam kejelekan selama dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram dan terjaga darah, harta, dan kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2564)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 2580)Persahabatan dan persaudaraan di dalam Islam bukan hanya sekedar tentang bercengkerama dan bergembira saja. Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis, sebuah persahabatan dan persaudaraan harus diisi dengan saling menjalankan kewajiban dan pemenuhan hak-hak saudara serta sahabatnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjadi teladan dan panutan kita, sudah mempersaudarakan di antara kaum muhajirin sebelum hijrahnya ke kota Madinah. Beliau menjadikan untuk setiap individu kaum muslimin seorang saudara yang didasari oleh Islam. Kemudian setelah hijrahnya beliau ke Madinah, beliau kembali menjadikan untuk masing-masing individu muhajirin seorang saudara dari kalangan anshor.Sungguh persaudaraan yang mereka amalkan merupakan pemandangan yang indah. Karena persaudaraan itu telah melampaui level cinta ‘mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri’ yang disebutkan di dalam hadis,لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ”Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman (dengan keimanan yang sempurna) sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)Mereka telah sampai pada level cinta ‘mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri’. Cukuplah pujian Allah bagi mereka sebagai tanda kemuliaan dan keindahan persaudaraan tersebut,وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ “Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga hubungan baik kita dengan saudara dan sahabat, menjadikan persaudaraan dan persahabatan ini berlandaskan agama Islam. Sungguh sahabat dan lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter seseorang sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,إِنَّما مثَلُ الجلِيس الصَّالِحِ وَجَلِيسِ السُّوءِ: كَحَامِلِ المِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحامِلُ المِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ ريحًا طيِّبةً، ونَافِخُ الكِيرِ إِمَّا أَن يَحْرِقَ ثِيابَكَ، وإمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا مُنْتِنَةً“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 2101 dan Muslim 2628)Wallahu A’lam Bisshowaab.Baca Juga:Inti Pendidikan Anak adalah Menjauhkan dari Teman yang BurukTeman Akrab Menjadi Musuh di Hari Kiamat***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Mengusap Wajah Setelah Shalat, Hadits Tentang Keistimewaan Wanita, Pengertian Beribadah, Hukum Tahlilan Dan Yasinan Menurut MuhammadiyahTags: adabadab IslamAkhlakakhlak islamnasihatnasihat islampersahabatanpertemananteman
Ikatan persaudaraan dan persahabatan yang berlandaskan agama Islam merupakan ikatan yang paling dijaga dan dikuatkan oleh agama ini. Islam memiliki konsep yang berbeda dengan konsep orang-orang terdahulu. Kala itu, ikatan nasab dan suku sangatlah diunggulkan dari ikatan-ikatan selainnya. Barulah kemudian Islam datang dengan menjadikan ikatan persaudaraan berlandaskan agama unggul dan berada di atas ikatan-ikatan selainnya.Ikatan persaudaraan dengan asas agama Islam ini bukanlah sekedar omong kosong yang tidak ada maknanya. Sungguh ia membawa makna yang sangat mulia. Dengan ikatan ini, seorang muslim dengan muslim lainnya akhirnya memiliki hak-hak dan kewajiban di antara mereka. Semuanya melaksanakan kewajiban dan memenuhi hak saudaranya dengan kerelaan dan tanpa paksaan. Karena Islam sejatinya tidak pernah membuat hukum dan syariat yang berlawanan dengan fitrah manusia.Bahkan, syariat dan hukum terkait persaudaraan dan persahabatan ditegakkan karena melihat kebutuhan manusia. Di mana seseorang tidak dapat hidup, kecuali dengan adanya orang lain. Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dengan sifat membutuhkan saudara dan teman. Anak kecil yang belum paham makna persaudaraan dan persahabatan saja fitrahnya akan akrab dengan saudara dan berteman dengan yang sebaya dengannya. Apalagi mereka yang sudah dewasa, tentu ia lebih memerlukan sahabat dan orang selainnya.Besarnya kebutuhan seorang manusia terhadap temannya ini, sampai-sampai Allah Ta’ala jadikan ‘kawan atau sahabat’ sebagai salah satu anggota keluarga seseorang. Hal ini karena seringnya ia keluar masuk rumahnya dan seringnya ia bepergian bersamanya serta seringnya mereka saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ عَلَى الْاَعْمٰى حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْاَعْرَجِ حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْمَرِيْضِ حَرَجٌ وَّلَا عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَنْ تَأْكُلُوْا مِنْۢ بُيُوْتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اٰبَاۤىِٕكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اُمَّهٰتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اِخْوَانِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اَخَوٰتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اَعْمَامِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ عَمّٰتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اَخْوَالِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ خٰلٰتِكُمْ اَوْ مَا مَلَكْتُمْ مَّفَاتِحَهٗٓ اَوْ صَدِيْقِكُمْۗ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَأْكُلُوْا جَمِيْعًا اَوْ اَشْتَاتًاۗ فَاِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوْتًا فَسَلِّمُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُبٰرَكَةً طَيِّبَةً ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ ࣖ“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu, makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudara-saudaramu yang perempuan, di rumah saudara-saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara-saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara ibumu yang perempuan, (di rumah) yang kamu miliki kuncinya atau (di rumah) kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendiri-sendiri. Apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagimu, agar kamu mengerti.” (QS. An-Nur: 61)Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala menyebutkan kawan/ teman saat menyebutkan bapak dan ibu serta saudara-saudara lainnya. Karena seringnya mereka bersama kita, baik dalam kemudahan maupun dalam kesulitan, kebahagiaan maupun kesengsaraan, saat dalam kondisi sehat maupun sakit, sehingga mereka seakan-akan adalah saudara kita sendiri.Baca Juga: Utang Bisa Menjadi Pemutus Silaturahmi dan Pertemanan Daftar Isi sembunyikan 1. Kriteria sahabat yang sesuai dengan ajaran Islam 1.1. Pertama: orang yang jujur 1.2. Kedua: Teman yang mencintai kita karena Allah Ta’ala bukan karena faktor yang lain 2. Indahnya persaudaraan dan persahabatan di atas agama Islam Kriteria sahabat yang sesuai dengan ajaran IslamSelain memperhatikan pentingnya teman dalam kehidupan seseorang, Islam juga memperhatikan beberapa kriteria teman yang seharusnya kita perhatikan, sehingga kita lebih selektif di dalam memilih siapa yang akan kita jadikan sahabat dekat dan kawan kita.Pertama: orang yang jujurAllah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)Di dalam Tafsir As-Sa’di disebutkan,“Dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”, dalam ucapan, perbuatan, dan keadaan mereka, orang-orang yang perkataannya adalah benar, perbuatannya dan keadaannya tidak lain kecuali benar, bebas dari kemalasan dan kelesuan, selamat dari maksud-maksud buruk, mengandung keikhlasan dan niat yang baik, karena kejujuran mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan kepada surga.”Teman yang baik adalah teman yang membimbing dan menunjukkan kepada kebenaran dan kebaikan dan mengingatkan saat terjatuh ke dalam keburukan.Kedua: Teman yang mencintai kita karena Allah Ta’ala bukan karena faktor yang lainKarena hal ini menyebabkan kecintaan Allah Ta’ala kepada kita. Allah Ta’ala berfirman di dalam hadis qudsi,وجبَتْ محبَّتي للمُتحابِّين فيَّ وللمُتجالسين فيَّ ، وللمُتباذلين فيَّ“Kecintaan-Ku wajib bagi orang-orang yang saling mencintai karena Aku, orang-orang yang saling berteman karena Aku (orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku), dan orang-orang yang saling berkorban karena Aku.” (HR. Ahmad no. 22030 dan Malik dalam Muwattha’-nya no. 2/953)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang 7 golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat. Di antaranya beliau bersabda,ورَجُلَانِ تَحَابَّا في اللَّهِ اجْتَمعا عليه وتَفَرَّقَا عليه“Dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya.” (HR. Bukhari no. 660)Baca Juga: Pilihlah Teman yang Baik di SosmedIndahnya persaudaraan dan persahabatan di atas agama IslamKetahuilah, bahwa hanya dengan masuk Islamnya seseorang, maka ia sudah menjadi salah satu saudara kita. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)Dalam persaudaraan Islam ini, secara umum ada beberapa hak dan kewajiban yang harus dijaga oleh seorang muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjelaskan,لاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَتَنَاجَشُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخوَانَاً، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَكْذِبُهُ، وَلايَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا – وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ”Janganlah kalian saling dengki, melakukan najasy, saling membenci, saling membelakangi. Dan janganlah sebagian dari kalian berjual beli di atas jual beli saudaranya. Jadilah kalian semua hamba–hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh menzaliminya, menghinanya, mendustakannya, dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini (sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seseorang itu dalam kejelekan selama dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram dan terjaga darah, harta, dan kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2564)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 2580)Persahabatan dan persaudaraan di dalam Islam bukan hanya sekedar tentang bercengkerama dan bergembira saja. Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis, sebuah persahabatan dan persaudaraan harus diisi dengan saling menjalankan kewajiban dan pemenuhan hak-hak saudara serta sahabatnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjadi teladan dan panutan kita, sudah mempersaudarakan di antara kaum muhajirin sebelum hijrahnya ke kota Madinah. Beliau menjadikan untuk setiap individu kaum muslimin seorang saudara yang didasari oleh Islam. Kemudian setelah hijrahnya beliau ke Madinah, beliau kembali menjadikan untuk masing-masing individu muhajirin seorang saudara dari kalangan anshor.Sungguh persaudaraan yang mereka amalkan merupakan pemandangan yang indah. Karena persaudaraan itu telah melampaui level cinta ‘mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri’ yang disebutkan di dalam hadis,لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ”Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman (dengan keimanan yang sempurna) sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)Mereka telah sampai pada level cinta ‘mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri’. Cukuplah pujian Allah bagi mereka sebagai tanda kemuliaan dan keindahan persaudaraan tersebut,وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ “Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga hubungan baik kita dengan saudara dan sahabat, menjadikan persaudaraan dan persahabatan ini berlandaskan agama Islam. Sungguh sahabat dan lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter seseorang sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,إِنَّما مثَلُ الجلِيس الصَّالِحِ وَجَلِيسِ السُّوءِ: كَحَامِلِ المِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحامِلُ المِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ ريحًا طيِّبةً، ونَافِخُ الكِيرِ إِمَّا أَن يَحْرِقَ ثِيابَكَ، وإمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا مُنْتِنَةً“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 2101 dan Muslim 2628)Wallahu A’lam Bisshowaab.Baca Juga:Inti Pendidikan Anak adalah Menjauhkan dari Teman yang BurukTeman Akrab Menjadi Musuh di Hari Kiamat***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Mengusap Wajah Setelah Shalat, Hadits Tentang Keistimewaan Wanita, Pengertian Beribadah, Hukum Tahlilan Dan Yasinan Menurut MuhammadiyahTags: adabadab IslamAkhlakakhlak islamnasihatnasihat islampersahabatanpertemananteman


Ikatan persaudaraan dan persahabatan yang berlandaskan agama Islam merupakan ikatan yang paling dijaga dan dikuatkan oleh agama ini. Islam memiliki konsep yang berbeda dengan konsep orang-orang terdahulu. Kala itu, ikatan nasab dan suku sangatlah diunggulkan dari ikatan-ikatan selainnya. Barulah kemudian Islam datang dengan menjadikan ikatan persaudaraan berlandaskan agama unggul dan berada di atas ikatan-ikatan selainnya.Ikatan persaudaraan dengan asas agama Islam ini bukanlah sekedar omong kosong yang tidak ada maknanya. Sungguh ia membawa makna yang sangat mulia. Dengan ikatan ini, seorang muslim dengan muslim lainnya akhirnya memiliki hak-hak dan kewajiban di antara mereka. Semuanya melaksanakan kewajiban dan memenuhi hak saudaranya dengan kerelaan dan tanpa paksaan. Karena Islam sejatinya tidak pernah membuat hukum dan syariat yang berlawanan dengan fitrah manusia.Bahkan, syariat dan hukum terkait persaudaraan dan persahabatan ditegakkan karena melihat kebutuhan manusia. Di mana seseorang tidak dapat hidup, kecuali dengan adanya orang lain. Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dengan sifat membutuhkan saudara dan teman. Anak kecil yang belum paham makna persaudaraan dan persahabatan saja fitrahnya akan akrab dengan saudara dan berteman dengan yang sebaya dengannya. Apalagi mereka yang sudah dewasa, tentu ia lebih memerlukan sahabat dan orang selainnya.Besarnya kebutuhan seorang manusia terhadap temannya ini, sampai-sampai Allah Ta’ala jadikan ‘kawan atau sahabat’ sebagai salah satu anggota keluarga seseorang. Hal ini karena seringnya ia keluar masuk rumahnya dan seringnya ia bepergian bersamanya serta seringnya mereka saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ عَلَى الْاَعْمٰى حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْاَعْرَجِ حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْمَرِيْضِ حَرَجٌ وَّلَا عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَنْ تَأْكُلُوْا مِنْۢ بُيُوْتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اٰبَاۤىِٕكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اُمَّهٰتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اِخْوَانِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اَخَوٰتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اَعْمَامِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ عَمّٰتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اَخْوَالِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ خٰلٰتِكُمْ اَوْ مَا مَلَكْتُمْ مَّفَاتِحَهٗٓ اَوْ صَدِيْقِكُمْۗ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَأْكُلُوْا جَمِيْعًا اَوْ اَشْتَاتًاۗ فَاِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوْتًا فَسَلِّمُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُبٰرَكَةً طَيِّبَةً ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ ࣖ“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu, makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudara-saudaramu yang perempuan, di rumah saudara-saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara-saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara ibumu yang perempuan, (di rumah) yang kamu miliki kuncinya atau (di rumah) kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendiri-sendiri. Apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagimu, agar kamu mengerti.” (QS. An-Nur: 61)Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala menyebutkan kawan/ teman saat menyebutkan bapak dan ibu serta saudara-saudara lainnya. Karena seringnya mereka bersama kita, baik dalam kemudahan maupun dalam kesulitan, kebahagiaan maupun kesengsaraan, saat dalam kondisi sehat maupun sakit, sehingga mereka seakan-akan adalah saudara kita sendiri.Baca Juga: Utang Bisa Menjadi Pemutus Silaturahmi dan Pertemanan Daftar Isi sembunyikan 1. Kriteria sahabat yang sesuai dengan ajaran Islam 1.1. Pertama: orang yang jujur 1.2. Kedua: Teman yang mencintai kita karena Allah Ta’ala bukan karena faktor yang lain 2. Indahnya persaudaraan dan persahabatan di atas agama Islam Kriteria sahabat yang sesuai dengan ajaran IslamSelain memperhatikan pentingnya teman dalam kehidupan seseorang, Islam juga memperhatikan beberapa kriteria teman yang seharusnya kita perhatikan, sehingga kita lebih selektif di dalam memilih siapa yang akan kita jadikan sahabat dekat dan kawan kita.Pertama: orang yang jujurAllah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)Di dalam Tafsir As-Sa’di disebutkan,“Dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”, dalam ucapan, perbuatan, dan keadaan mereka, orang-orang yang perkataannya adalah benar, perbuatannya dan keadaannya tidak lain kecuali benar, bebas dari kemalasan dan kelesuan, selamat dari maksud-maksud buruk, mengandung keikhlasan dan niat yang baik, karena kejujuran mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan kepada surga.”Teman yang baik adalah teman yang membimbing dan menunjukkan kepada kebenaran dan kebaikan dan mengingatkan saat terjatuh ke dalam keburukan.Kedua: Teman yang mencintai kita karena Allah Ta’ala bukan karena faktor yang lainKarena hal ini menyebabkan kecintaan Allah Ta’ala kepada kita. Allah Ta’ala berfirman di dalam hadis qudsi,وجبَتْ محبَّتي للمُتحابِّين فيَّ وللمُتجالسين فيَّ ، وللمُتباذلين فيَّ“Kecintaan-Ku wajib bagi orang-orang yang saling mencintai karena Aku, orang-orang yang saling berteman karena Aku (orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku), dan orang-orang yang saling berkorban karena Aku.” (HR. Ahmad no. 22030 dan Malik dalam Muwattha’-nya no. 2/953)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang 7 golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat. Di antaranya beliau bersabda,ورَجُلَانِ تَحَابَّا في اللَّهِ اجْتَمعا عليه وتَفَرَّقَا عليه“Dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya.” (HR. Bukhari no. 660)Baca Juga: Pilihlah Teman yang Baik di SosmedIndahnya persaudaraan dan persahabatan di atas agama IslamKetahuilah, bahwa hanya dengan masuk Islamnya seseorang, maka ia sudah menjadi salah satu saudara kita. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)Dalam persaudaraan Islam ini, secara umum ada beberapa hak dan kewajiban yang harus dijaga oleh seorang muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjelaskan,لاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَتَنَاجَشُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخوَانَاً، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَكْذِبُهُ، وَلايَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا – وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ”Janganlah kalian saling dengki, melakukan najasy, saling membenci, saling membelakangi. Dan janganlah sebagian dari kalian berjual beli di atas jual beli saudaranya. Jadilah kalian semua hamba–hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh menzaliminya, menghinanya, mendustakannya, dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini (sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seseorang itu dalam kejelekan selama dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram dan terjaga darah, harta, dan kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2564)Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 2580)Persahabatan dan persaudaraan di dalam Islam bukan hanya sekedar tentang bercengkerama dan bergembira saja. Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis, sebuah persahabatan dan persaudaraan harus diisi dengan saling menjalankan kewajiban dan pemenuhan hak-hak saudara serta sahabatnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjadi teladan dan panutan kita, sudah mempersaudarakan di antara kaum muhajirin sebelum hijrahnya ke kota Madinah. Beliau menjadikan untuk setiap individu kaum muslimin seorang saudara yang didasari oleh Islam. Kemudian setelah hijrahnya beliau ke Madinah, beliau kembali menjadikan untuk masing-masing individu muhajirin seorang saudara dari kalangan anshor.Sungguh persaudaraan yang mereka amalkan merupakan pemandangan yang indah. Karena persaudaraan itu telah melampaui level cinta ‘mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri’ yang disebutkan di dalam hadis,لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ”Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman (dengan keimanan yang sempurna) sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)Mereka telah sampai pada level cinta ‘mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri’. Cukuplah pujian Allah bagi mereka sebagai tanda kemuliaan dan keindahan persaudaraan tersebut,وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ “Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga hubungan baik kita dengan saudara dan sahabat, menjadikan persaudaraan dan persahabatan ini berlandaskan agama Islam. Sungguh sahabat dan lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter seseorang sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,إِنَّما مثَلُ الجلِيس الصَّالِحِ وَجَلِيسِ السُّوءِ: كَحَامِلِ المِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحامِلُ المِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ ريحًا طيِّبةً، ونَافِخُ الكِيرِ إِمَّا أَن يَحْرِقَ ثِيابَكَ، وإمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا مُنْتِنَةً“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 2101 dan Muslim 2628)Wallahu A’lam Bisshowaab.Baca Juga:Inti Pendidikan Anak adalah Menjauhkan dari Teman yang BurukTeman Akrab Menjadi Musuh di Hari Kiamat***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Mengusap Wajah Setelah Shalat, Hadits Tentang Keistimewaan Wanita, Pengertian Beribadah, Hukum Tahlilan Dan Yasinan Menurut MuhammadiyahTags: adabadab IslamAkhlakakhlak islamnasihatnasihat islampersahabatanpertemananteman

Jangan Kau Foto Kecuali Darurat dan Penting – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

Jangan Kau Foto Kecuali Darurat dan Penting – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama (Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh) Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh. (Aku mencintaimu karena Allah, wahai Syaikh!) Semoga Allah mencintaimu! (Wahai Syaikh, saya punya pertanyaan di luar tema episode dan yang berkenaan dengan bulan Ramadhan) (Yakni tentang hukum merekam acara, dengan video dan foto biasa, untuk kenangan, bagaimana pendapat Anda tentang ini?) Wahai saudaraku, para ulama kontemporer berbeda pendapat tentang hukum gambar fotografi. Ada ulama yang mengharamkan dan menganggapnya termasuk gambar yang dilarang, Allah melaknat para penggambar, semua penggambar di neraka, dan orang akan bersama gambarnya di hari kiamat, dan dikatakan padanya, “Hidupkan yang telah kamu buat!” Dan sebagian ulama lain berpendapat bahwa gambar fotografi bukanlah gambar yang dilarang, ini hanyalah mencetak bayangan aslinya saja, seperti bayangan di cermin, dst. Maka dari itu, yang lebih aman bagi seorang muslim adalah tidak mengambil gambar foto, kecuali ada kebutuhan. Inilah kesimpulannya. Jangan kamu mengambil gambar, kecuali karena ada kebutuhan! Terlebih lagi, saat ini, ada banyak fitnah dari foto: foto-foto wanita, aurat kaum muslimin, peretasan handphone, dan alat-alat elektronik, serta pencurian foto-foto. Juga masalah foto pemuda (pria) yang dapat menjadi fitnah bagi kaum wanita, karena tidak hanya foto-foto wanita yang mendatangkan fitnah, tapi juga foto-foto kaum pria. Dia berfoto dengan berdandan, dan lain sebagainya. Dan bahkan foto-foto ini seringkali menjadi penyingkap rahasia ibadah (riya). Seharusnya seseorang pergi beribadah antara dirinya dengan Allah, namun sekarang pasti kamu dapati ia mengumumkannya! Ia katakan, “Perjalanan kami di tanah suci (Makkah)!” Lalu ia sebarkan infonya. Baik wahai saudaraku, rahasiakan itu! Cukup itu antara dirimu dengan Allah saja! Untuk Apa kamu ambil foto dan kamu sebarkan di (Media Sosial)! Dan foto juga sekarang menjadi ajang pamer. Ibu rumah tangga mengambil foto seakan-akan ingin membuat teman-temannya jengkel, “Lihat apa yang kami masak hari ini!” Dan ia ingin terlihat mewah, menyombongkan diri. Ingin memamerkan kemewahan, menyombongkan, dan membanggakan diri. Dan terkadang foto-foto dapat menyakiti hati orang-orang miskin. Jadi intinya, janganlah kamu mengambil foto, kecuali dibutuhkan! Ini nasehatnya. Janganlah kamu mengambil foto, kecuali dibutuhkan! ====================================================================================================== السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ أُحِبُّكَ فِي اللهِ يَا شَيْخُ أَحَبَّكَ اللهُ يَا شَيْخُ عِنْدَنَا سُؤَالٌ الَّذِي هُوَ عَلَى خَارِجٍ عَنْ مَوْضوعِ الْحَلْقَةِ وَمَا يَتَعَلَّقُ بِشَهْرِ رَمَضَانَ الَّذِي هُوَ تَصْوِيرُ الذِّكْرَى بِالْفِيْدِيُو وَالصُّوَرِ الْعَادِيَّةِ مَا رَأْيُكَ فِيهَا؟ يَا أَخِي أَهْلُ الْعِلْمِ الْمُعَاصِرِيْنَ اخْتَلَفُوا فِي التَّصْوِيرِ هَذَا الفُتُوغَرَافِيَّةِ فَبَعْضُهُمْ حَرَّمَهُ وَقَال دَاخِلٌ فِي التَّصْوِيرِ وَلَعَنَ اللهُ الْمُصَوِّرِينَ وَكُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ وَالنَّاسُ مَعَ الصُّورَةِ وَيُقَالُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ وَبَعْضُهُمْ قَالَ لَا هَذَا لَيْسَ تَصْوِيرًا مِنَ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ هَذَا نَسْخٌ فَقَطْ لِلْحَقِيقَةِ كَالصُّورَةِ فِي الْمِرْآةِ إِلَى آخِرِهِ وَلِذَلِكَ الْأَحْوَطُ لِلْمُسْلِمِ مَا يُصَوِّرُ إِلَّا لِلْحَاجَةِ هَذِهِ هِيَ الْخُلَاصَةُ لَا تُصَوِّرْ إِلَّا لِلْحَاجَةِ لَا تُصَوِّرْ إِلَّا لِلْحَاجَةِ خُصُوصًا الْآنَ صَارَ فِيهِ فِتْنَةٌ عَظِيمَةٌ فِي التَّصْوِيرِ صُوَرِ النِّسَاءِ عَوْرَاتِ الْمُسْلِمِينَ اِخْتِرَاقِ الْجَوَّالَاتِ اِخْتِرَاقِ الْأَجْهِزَةِ السَّطْوُ عَلَى الصُّوَرِ قَضِيَّةُ أَيْضًا تَصْوِيْرِ الشَّبَابِ الَّذِي فِيهَا فِتْنَةٌ لِلنِّسَاءِ لِأَنَّهُ مَا هُوَ بَسْ صُوَرُ النِّسَاءِ الَّتِي تَفْتِنُ حَتَّى صُوَرِ الشَّبَابِ وَيَأْتِي مُتَزَيِّنًا وَإِلَى آخِرِهِ وَصَارَتْ يَعْنِي أَحْيَانًا صُوَرٌ حَتَّى تَكْشِفَ سِرَّ الْعِبَادَةِ يَكُونُ المَفْرُوضُ وَاحِدٌ رَاحَ لِلْعِبَادَةِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ مَا تَجِدُ إِلَّا يَقُولُ سَفْرَتُنَا فِي الْحَرَمِ مَدَّهُ وَلَفَّهُ طَيِّبٌ يَا أَخِي أَخْفِ ذَلِكَ هَذَا بَيْنَك وَبَيْنَ اللهِ لِيشْ تُصَوِّرُ وَتَنْقُلُ عَلَى وَالتَّصْوِيرُ صَارَ أَيْضًا فِيهِ مُبَاهَاةٌ رَبَّةُ الْمَنْزِلِ تُصَوِّرُ كَأَنَّهُ لِإِغَاظَةِ صَاحِبَاتِهَا شُوْفُوا أَيْش طَبَخْنَا الْيَوْمَ وَتَكَاثُرًا تَفَاخُرٌ وَتَكَاثُرٌ تَفَاخُرٌ تَبَاهٍ وَأَحْيَانًا فِيهَا كَسْرُ نُفُوسِ الْفُقَرَاءِ فَالْمُهِمُّ لَا تُصَوِّرْ إِلَّا لِلْحَاجَةِ هَذِهِ هِيَ النَّصِيحَةُ لَا تُصَوِّرْ إِلَّا لِلْحَاجَةِ طَيِّبٌ   KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Jangan Kau Foto Kecuali Darurat dan Penting – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

Jangan Kau Foto Kecuali Darurat dan Penting – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama (Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh) Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh. (Aku mencintaimu karena Allah, wahai Syaikh!) Semoga Allah mencintaimu! (Wahai Syaikh, saya punya pertanyaan di luar tema episode dan yang berkenaan dengan bulan Ramadhan) (Yakni tentang hukum merekam acara, dengan video dan foto biasa, untuk kenangan, bagaimana pendapat Anda tentang ini?) Wahai saudaraku, para ulama kontemporer berbeda pendapat tentang hukum gambar fotografi. Ada ulama yang mengharamkan dan menganggapnya termasuk gambar yang dilarang, Allah melaknat para penggambar, semua penggambar di neraka, dan orang akan bersama gambarnya di hari kiamat, dan dikatakan padanya, “Hidupkan yang telah kamu buat!” Dan sebagian ulama lain berpendapat bahwa gambar fotografi bukanlah gambar yang dilarang, ini hanyalah mencetak bayangan aslinya saja, seperti bayangan di cermin, dst. Maka dari itu, yang lebih aman bagi seorang muslim adalah tidak mengambil gambar foto, kecuali ada kebutuhan. Inilah kesimpulannya. Jangan kamu mengambil gambar, kecuali karena ada kebutuhan! Terlebih lagi, saat ini, ada banyak fitnah dari foto: foto-foto wanita, aurat kaum muslimin, peretasan handphone, dan alat-alat elektronik, serta pencurian foto-foto. Juga masalah foto pemuda (pria) yang dapat menjadi fitnah bagi kaum wanita, karena tidak hanya foto-foto wanita yang mendatangkan fitnah, tapi juga foto-foto kaum pria. Dia berfoto dengan berdandan, dan lain sebagainya. Dan bahkan foto-foto ini seringkali menjadi penyingkap rahasia ibadah (riya). Seharusnya seseorang pergi beribadah antara dirinya dengan Allah, namun sekarang pasti kamu dapati ia mengumumkannya! Ia katakan, “Perjalanan kami di tanah suci (Makkah)!” Lalu ia sebarkan infonya. Baik wahai saudaraku, rahasiakan itu! Cukup itu antara dirimu dengan Allah saja! Untuk Apa kamu ambil foto dan kamu sebarkan di (Media Sosial)! Dan foto juga sekarang menjadi ajang pamer. Ibu rumah tangga mengambil foto seakan-akan ingin membuat teman-temannya jengkel, “Lihat apa yang kami masak hari ini!” Dan ia ingin terlihat mewah, menyombongkan diri. Ingin memamerkan kemewahan, menyombongkan, dan membanggakan diri. Dan terkadang foto-foto dapat menyakiti hati orang-orang miskin. Jadi intinya, janganlah kamu mengambil foto, kecuali dibutuhkan! Ini nasehatnya. Janganlah kamu mengambil foto, kecuali dibutuhkan! ====================================================================================================== السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ أُحِبُّكَ فِي اللهِ يَا شَيْخُ أَحَبَّكَ اللهُ يَا شَيْخُ عِنْدَنَا سُؤَالٌ الَّذِي هُوَ عَلَى خَارِجٍ عَنْ مَوْضوعِ الْحَلْقَةِ وَمَا يَتَعَلَّقُ بِشَهْرِ رَمَضَانَ الَّذِي هُوَ تَصْوِيرُ الذِّكْرَى بِالْفِيْدِيُو وَالصُّوَرِ الْعَادِيَّةِ مَا رَأْيُكَ فِيهَا؟ يَا أَخِي أَهْلُ الْعِلْمِ الْمُعَاصِرِيْنَ اخْتَلَفُوا فِي التَّصْوِيرِ هَذَا الفُتُوغَرَافِيَّةِ فَبَعْضُهُمْ حَرَّمَهُ وَقَال دَاخِلٌ فِي التَّصْوِيرِ وَلَعَنَ اللهُ الْمُصَوِّرِينَ وَكُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ وَالنَّاسُ مَعَ الصُّورَةِ وَيُقَالُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ وَبَعْضُهُمْ قَالَ لَا هَذَا لَيْسَ تَصْوِيرًا مِنَ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ هَذَا نَسْخٌ فَقَطْ لِلْحَقِيقَةِ كَالصُّورَةِ فِي الْمِرْآةِ إِلَى آخِرِهِ وَلِذَلِكَ الْأَحْوَطُ لِلْمُسْلِمِ مَا يُصَوِّرُ إِلَّا لِلْحَاجَةِ هَذِهِ هِيَ الْخُلَاصَةُ لَا تُصَوِّرْ إِلَّا لِلْحَاجَةِ لَا تُصَوِّرْ إِلَّا لِلْحَاجَةِ خُصُوصًا الْآنَ صَارَ فِيهِ فِتْنَةٌ عَظِيمَةٌ فِي التَّصْوِيرِ صُوَرِ النِّسَاءِ عَوْرَاتِ الْمُسْلِمِينَ اِخْتِرَاقِ الْجَوَّالَاتِ اِخْتِرَاقِ الْأَجْهِزَةِ السَّطْوُ عَلَى الصُّوَرِ قَضِيَّةُ أَيْضًا تَصْوِيْرِ الشَّبَابِ الَّذِي فِيهَا فِتْنَةٌ لِلنِّسَاءِ لِأَنَّهُ مَا هُوَ بَسْ صُوَرُ النِّسَاءِ الَّتِي تَفْتِنُ حَتَّى صُوَرِ الشَّبَابِ وَيَأْتِي مُتَزَيِّنًا وَإِلَى آخِرِهِ وَصَارَتْ يَعْنِي أَحْيَانًا صُوَرٌ حَتَّى تَكْشِفَ سِرَّ الْعِبَادَةِ يَكُونُ المَفْرُوضُ وَاحِدٌ رَاحَ لِلْعِبَادَةِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ مَا تَجِدُ إِلَّا يَقُولُ سَفْرَتُنَا فِي الْحَرَمِ مَدَّهُ وَلَفَّهُ طَيِّبٌ يَا أَخِي أَخْفِ ذَلِكَ هَذَا بَيْنَك وَبَيْنَ اللهِ لِيشْ تُصَوِّرُ وَتَنْقُلُ عَلَى وَالتَّصْوِيرُ صَارَ أَيْضًا فِيهِ مُبَاهَاةٌ رَبَّةُ الْمَنْزِلِ تُصَوِّرُ كَأَنَّهُ لِإِغَاظَةِ صَاحِبَاتِهَا شُوْفُوا أَيْش طَبَخْنَا الْيَوْمَ وَتَكَاثُرًا تَفَاخُرٌ وَتَكَاثُرٌ تَفَاخُرٌ تَبَاهٍ وَأَحْيَانًا فِيهَا كَسْرُ نُفُوسِ الْفُقَرَاءِ فَالْمُهِمُّ لَا تُصَوِّرْ إِلَّا لِلْحَاجَةِ هَذِهِ هِيَ النَّصِيحَةُ لَا تُصَوِّرْ إِلَّا لِلْحَاجَةِ طَيِّبٌ   KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Jangan Kau Foto Kecuali Darurat dan Penting – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama (Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh) Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh. (Aku mencintaimu karena Allah, wahai Syaikh!) Semoga Allah mencintaimu! (Wahai Syaikh, saya punya pertanyaan di luar tema episode dan yang berkenaan dengan bulan Ramadhan) (Yakni tentang hukum merekam acara, dengan video dan foto biasa, untuk kenangan, bagaimana pendapat Anda tentang ini?) Wahai saudaraku, para ulama kontemporer berbeda pendapat tentang hukum gambar fotografi. Ada ulama yang mengharamkan dan menganggapnya termasuk gambar yang dilarang, Allah melaknat para penggambar, semua penggambar di neraka, dan orang akan bersama gambarnya di hari kiamat, dan dikatakan padanya, “Hidupkan yang telah kamu buat!” Dan sebagian ulama lain berpendapat bahwa gambar fotografi bukanlah gambar yang dilarang, ini hanyalah mencetak bayangan aslinya saja, seperti bayangan di cermin, dst. Maka dari itu, yang lebih aman bagi seorang muslim adalah tidak mengambil gambar foto, kecuali ada kebutuhan. Inilah kesimpulannya. Jangan kamu mengambil gambar, kecuali karena ada kebutuhan! Terlebih lagi, saat ini, ada banyak fitnah dari foto: foto-foto wanita, aurat kaum muslimin, peretasan handphone, dan alat-alat elektronik, serta pencurian foto-foto. Juga masalah foto pemuda (pria) yang dapat menjadi fitnah bagi kaum wanita, karena tidak hanya foto-foto wanita yang mendatangkan fitnah, tapi juga foto-foto kaum pria. Dia berfoto dengan berdandan, dan lain sebagainya. Dan bahkan foto-foto ini seringkali menjadi penyingkap rahasia ibadah (riya). Seharusnya seseorang pergi beribadah antara dirinya dengan Allah, namun sekarang pasti kamu dapati ia mengumumkannya! Ia katakan, “Perjalanan kami di tanah suci (Makkah)!” Lalu ia sebarkan infonya. Baik wahai saudaraku, rahasiakan itu! Cukup itu antara dirimu dengan Allah saja! Untuk Apa kamu ambil foto dan kamu sebarkan di (Media Sosial)! Dan foto juga sekarang menjadi ajang pamer. Ibu rumah tangga mengambil foto seakan-akan ingin membuat teman-temannya jengkel, “Lihat apa yang kami masak hari ini!” Dan ia ingin terlihat mewah, menyombongkan diri. Ingin memamerkan kemewahan, menyombongkan, dan membanggakan diri. Dan terkadang foto-foto dapat menyakiti hati orang-orang miskin. Jadi intinya, janganlah kamu mengambil foto, kecuali dibutuhkan! Ini nasehatnya. Janganlah kamu mengambil foto, kecuali dibutuhkan! ====================================================================================================== السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ أُحِبُّكَ فِي اللهِ يَا شَيْخُ أَحَبَّكَ اللهُ يَا شَيْخُ عِنْدَنَا سُؤَالٌ الَّذِي هُوَ عَلَى خَارِجٍ عَنْ مَوْضوعِ الْحَلْقَةِ وَمَا يَتَعَلَّقُ بِشَهْرِ رَمَضَانَ الَّذِي هُوَ تَصْوِيرُ الذِّكْرَى بِالْفِيْدِيُو وَالصُّوَرِ الْعَادِيَّةِ مَا رَأْيُكَ فِيهَا؟ يَا أَخِي أَهْلُ الْعِلْمِ الْمُعَاصِرِيْنَ اخْتَلَفُوا فِي التَّصْوِيرِ هَذَا الفُتُوغَرَافِيَّةِ فَبَعْضُهُمْ حَرَّمَهُ وَقَال دَاخِلٌ فِي التَّصْوِيرِ وَلَعَنَ اللهُ الْمُصَوِّرِينَ وَكُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ وَالنَّاسُ مَعَ الصُّورَةِ وَيُقَالُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ وَبَعْضُهُمْ قَالَ لَا هَذَا لَيْسَ تَصْوِيرًا مِنَ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ هَذَا نَسْخٌ فَقَطْ لِلْحَقِيقَةِ كَالصُّورَةِ فِي الْمِرْآةِ إِلَى آخِرِهِ وَلِذَلِكَ الْأَحْوَطُ لِلْمُسْلِمِ مَا يُصَوِّرُ إِلَّا لِلْحَاجَةِ هَذِهِ هِيَ الْخُلَاصَةُ لَا تُصَوِّرْ إِلَّا لِلْحَاجَةِ لَا تُصَوِّرْ إِلَّا لِلْحَاجَةِ خُصُوصًا الْآنَ صَارَ فِيهِ فِتْنَةٌ عَظِيمَةٌ فِي التَّصْوِيرِ صُوَرِ النِّسَاءِ عَوْرَاتِ الْمُسْلِمِينَ اِخْتِرَاقِ الْجَوَّالَاتِ اِخْتِرَاقِ الْأَجْهِزَةِ السَّطْوُ عَلَى الصُّوَرِ قَضِيَّةُ أَيْضًا تَصْوِيْرِ الشَّبَابِ الَّذِي فِيهَا فِتْنَةٌ لِلنِّسَاءِ لِأَنَّهُ مَا هُوَ بَسْ صُوَرُ النِّسَاءِ الَّتِي تَفْتِنُ حَتَّى صُوَرِ الشَّبَابِ وَيَأْتِي مُتَزَيِّنًا وَإِلَى آخِرِهِ وَصَارَتْ يَعْنِي أَحْيَانًا صُوَرٌ حَتَّى تَكْشِفَ سِرَّ الْعِبَادَةِ يَكُونُ المَفْرُوضُ وَاحِدٌ رَاحَ لِلْعِبَادَةِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ مَا تَجِدُ إِلَّا يَقُولُ سَفْرَتُنَا فِي الْحَرَمِ مَدَّهُ وَلَفَّهُ طَيِّبٌ يَا أَخِي أَخْفِ ذَلِكَ هَذَا بَيْنَك وَبَيْنَ اللهِ لِيشْ تُصَوِّرُ وَتَنْقُلُ عَلَى وَالتَّصْوِيرُ صَارَ أَيْضًا فِيهِ مُبَاهَاةٌ رَبَّةُ الْمَنْزِلِ تُصَوِّرُ كَأَنَّهُ لِإِغَاظَةِ صَاحِبَاتِهَا شُوْفُوا أَيْش طَبَخْنَا الْيَوْمَ وَتَكَاثُرًا تَفَاخُرٌ وَتَكَاثُرٌ تَفَاخُرٌ تَبَاهٍ وَأَحْيَانًا فِيهَا كَسْرُ نُفُوسِ الْفُقَرَاءِ فَالْمُهِمُّ لَا تُصَوِّرْ إِلَّا لِلْحَاجَةِ هَذِهِ هِيَ النَّصِيحَةُ لَا تُصَوِّرْ إِلَّا لِلْحَاجَةِ طَيِّبٌ   KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Jangan Kau Foto Kecuali Darurat dan Penting – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama (Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh) Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh. (Aku mencintaimu karena Allah, wahai Syaikh!) Semoga Allah mencintaimu! (Wahai Syaikh, saya punya pertanyaan di luar tema episode dan yang berkenaan dengan bulan Ramadhan) (Yakni tentang hukum merekam acara, dengan video dan foto biasa, untuk kenangan, bagaimana pendapat Anda tentang ini?) Wahai saudaraku, para ulama kontemporer berbeda pendapat tentang hukum gambar fotografi. Ada ulama yang mengharamkan dan menganggapnya termasuk gambar yang dilarang, Allah melaknat para penggambar, semua penggambar di neraka, dan orang akan bersama gambarnya di hari kiamat, dan dikatakan padanya, “Hidupkan yang telah kamu buat!” Dan sebagian ulama lain berpendapat bahwa gambar fotografi bukanlah gambar yang dilarang, ini hanyalah mencetak bayangan aslinya saja, seperti bayangan di cermin, dst. Maka dari itu, yang lebih aman bagi seorang muslim adalah tidak mengambil gambar foto, kecuali ada kebutuhan. Inilah kesimpulannya. Jangan kamu mengambil gambar, kecuali karena ada kebutuhan! Terlebih lagi, saat ini, ada banyak fitnah dari foto: foto-foto wanita, aurat kaum muslimin, peretasan handphone, dan alat-alat elektronik, serta pencurian foto-foto. Juga masalah foto pemuda (pria) yang dapat menjadi fitnah bagi kaum wanita, karena tidak hanya foto-foto wanita yang mendatangkan fitnah, tapi juga foto-foto kaum pria. Dia berfoto dengan berdandan, dan lain sebagainya. Dan bahkan foto-foto ini seringkali menjadi penyingkap rahasia ibadah (riya). Seharusnya seseorang pergi beribadah antara dirinya dengan Allah, namun sekarang pasti kamu dapati ia mengumumkannya! Ia katakan, “Perjalanan kami di tanah suci (Makkah)!” Lalu ia sebarkan infonya. Baik wahai saudaraku, rahasiakan itu! Cukup itu antara dirimu dengan Allah saja! Untuk Apa kamu ambil foto dan kamu sebarkan di (Media Sosial)! Dan foto juga sekarang menjadi ajang pamer. Ibu rumah tangga mengambil foto seakan-akan ingin membuat teman-temannya jengkel, “Lihat apa yang kami masak hari ini!” Dan ia ingin terlihat mewah, menyombongkan diri. Ingin memamerkan kemewahan, menyombongkan, dan membanggakan diri. Dan terkadang foto-foto dapat menyakiti hati orang-orang miskin. Jadi intinya, janganlah kamu mengambil foto, kecuali dibutuhkan! Ini nasehatnya. Janganlah kamu mengambil foto, kecuali dibutuhkan! ====================================================================================================== السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ أُحِبُّكَ فِي اللهِ يَا شَيْخُ أَحَبَّكَ اللهُ يَا شَيْخُ عِنْدَنَا سُؤَالٌ الَّذِي هُوَ عَلَى خَارِجٍ عَنْ مَوْضوعِ الْحَلْقَةِ وَمَا يَتَعَلَّقُ بِشَهْرِ رَمَضَانَ الَّذِي هُوَ تَصْوِيرُ الذِّكْرَى بِالْفِيْدِيُو وَالصُّوَرِ الْعَادِيَّةِ مَا رَأْيُكَ فِيهَا؟ يَا أَخِي أَهْلُ الْعِلْمِ الْمُعَاصِرِيْنَ اخْتَلَفُوا فِي التَّصْوِيرِ هَذَا الفُتُوغَرَافِيَّةِ فَبَعْضُهُمْ حَرَّمَهُ وَقَال دَاخِلٌ فِي التَّصْوِيرِ وَلَعَنَ اللهُ الْمُصَوِّرِينَ وَكُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ وَالنَّاسُ مَعَ الصُّورَةِ وَيُقَالُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ وَبَعْضُهُمْ قَالَ لَا هَذَا لَيْسَ تَصْوِيرًا مِنَ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ هَذَا نَسْخٌ فَقَطْ لِلْحَقِيقَةِ كَالصُّورَةِ فِي الْمِرْآةِ إِلَى آخِرِهِ وَلِذَلِكَ الْأَحْوَطُ لِلْمُسْلِمِ مَا يُصَوِّرُ إِلَّا لِلْحَاجَةِ هَذِهِ هِيَ الْخُلَاصَةُ لَا تُصَوِّرْ إِلَّا لِلْحَاجَةِ لَا تُصَوِّرْ إِلَّا لِلْحَاجَةِ خُصُوصًا الْآنَ صَارَ فِيهِ فِتْنَةٌ عَظِيمَةٌ فِي التَّصْوِيرِ صُوَرِ النِّسَاءِ عَوْرَاتِ الْمُسْلِمِينَ اِخْتِرَاقِ الْجَوَّالَاتِ اِخْتِرَاقِ الْأَجْهِزَةِ السَّطْوُ عَلَى الصُّوَرِ قَضِيَّةُ أَيْضًا تَصْوِيْرِ الشَّبَابِ الَّذِي فِيهَا فِتْنَةٌ لِلنِّسَاءِ لِأَنَّهُ مَا هُوَ بَسْ صُوَرُ النِّسَاءِ الَّتِي تَفْتِنُ حَتَّى صُوَرِ الشَّبَابِ وَيَأْتِي مُتَزَيِّنًا وَإِلَى آخِرِهِ وَصَارَتْ يَعْنِي أَحْيَانًا صُوَرٌ حَتَّى تَكْشِفَ سِرَّ الْعِبَادَةِ يَكُونُ المَفْرُوضُ وَاحِدٌ رَاحَ لِلْعِبَادَةِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ مَا تَجِدُ إِلَّا يَقُولُ سَفْرَتُنَا فِي الْحَرَمِ مَدَّهُ وَلَفَّهُ طَيِّبٌ يَا أَخِي أَخْفِ ذَلِكَ هَذَا بَيْنَك وَبَيْنَ اللهِ لِيشْ تُصَوِّرُ وَتَنْقُلُ عَلَى وَالتَّصْوِيرُ صَارَ أَيْضًا فِيهِ مُبَاهَاةٌ رَبَّةُ الْمَنْزِلِ تُصَوِّرُ كَأَنَّهُ لِإِغَاظَةِ صَاحِبَاتِهَا شُوْفُوا أَيْش طَبَخْنَا الْيَوْمَ وَتَكَاثُرًا تَفَاخُرٌ وَتَكَاثُرٌ تَفَاخُرٌ تَبَاهٍ وَأَحْيَانًا فِيهَا كَسْرُ نُفُوسِ الْفُقَرَاءِ فَالْمُهِمُّ لَا تُصَوِّرْ إِلَّا لِلْحَاجَةِ هَذِهِ هِيَ النَّصِيحَةُ لَا تُصَوِّرْ إِلَّا لِلْحَاجَةِ طَيِّبٌ   KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bulughul Maram – Shalat: Jika Sujud Sahwi Bakda Salam, Apakah Perlu Tasyahud Sebelum Salam?

Jika sujud sahwi dilakukan bakda salam, apakah perlu tasyahud sebelum salam?   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Jika Sujud Sahwi Bakda Salam, Apakah Perlu Tasyahud Sebelum Salam? 2. Hadits 3/332 3. Faedah hadits 3.1. Referensi:   Jika Sujud Sahwi Bakda Salam, Apakah Perlu Tasyahud Sebelum Salam? Hadits 3/332 عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِمْ، فَسَهَافَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ تَشَهَّدَ، ثُمَّ سَلَّمَ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ، وَالْتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ، وَالْحَاكِمُوَصَحَّحَهُ. Dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama mereka, lalu beliau lupa, maka beliau sujud dua kali, kemudian tasyahud lalu salam. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Hadits ini hasan menurut At-Tirmidzi dan sahih menurut Al-Hakim) [HR. Abu Daud, no. 1039; Tirmidzi, no. 395; Al-Hakim, 1:323. Sanad hadits ini sahih, tetapi dalam teks hadits yang tepat tidak ada penyebutan tasyahud. Tambahan tasyahud adalah tambahan yang syadz—menyelisihi riwayat yang lebih kuat–sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Mundzir, Al-Baihaqi, dan Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari, 3:99].   Faedah hadits Pertama: Jika sujud sahwi dilakukan bakda salam, maka urutannya adalah dua kali sujud untuk sujud sahwi, lalu tasyahud, lalu salam. Inilah pendapat sebagian ulama sebagaimana masyhur dalam madzhab Hambali, Malikiyyah, Hanafiyyah. Pendapat lainnya menyatakan bahwa jika sujud sahwi dilakukan bakda salam, setelah melakukan sujud sahwi langsung salam, tanpa tasyahud. Pendapat ini dianut oleh Imam Al-Auza’i dan Imam Syafii, serta menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Hal ini berdalil dengan hadits dari ‘Imran yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat lagi satu rakaat (sebelumnya sudah tiga rakaat), lalu salam, kemudian beliau lakukan sujud sahwi dengan dua kali sujud, lalu salam.” (HR. Muslim, no. 574) Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata, “Adapun tasyahud untuk sujud sahwi yang dilakukan dengan dua kali sujud, aku sendiri tidak menghafal riwayatnya dari jalan yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Al-Istidzkaar, 4:382). Pendapat terakhir inilah yang lebih kuat menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan. Kedua: Hadits ini jadi dalil adanya sujud sahwi bakda shalat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:220-221. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:539-540. — Baca Juga: Sujud Sahwi, Pengertian, Sebab, dan Hikmahnya Sujud Sahwi Sebelum ataukah Sesudah Salam?   Jumat siang, 14 Muharram 1444 H, 12 Agustus 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat bulughul maram sujud sahwi cara sujud sahwi cara tasyahud doa saat tasyahud duduk tasyahud sujud sahwi tasyahud

Bulughul Maram – Shalat: Jika Sujud Sahwi Bakda Salam, Apakah Perlu Tasyahud Sebelum Salam?

Jika sujud sahwi dilakukan bakda salam, apakah perlu tasyahud sebelum salam?   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Jika Sujud Sahwi Bakda Salam, Apakah Perlu Tasyahud Sebelum Salam? 2. Hadits 3/332 3. Faedah hadits 3.1. Referensi:   Jika Sujud Sahwi Bakda Salam, Apakah Perlu Tasyahud Sebelum Salam? Hadits 3/332 عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِمْ، فَسَهَافَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ تَشَهَّدَ، ثُمَّ سَلَّمَ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ، وَالْتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ، وَالْحَاكِمُوَصَحَّحَهُ. Dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama mereka, lalu beliau lupa, maka beliau sujud dua kali, kemudian tasyahud lalu salam. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Hadits ini hasan menurut At-Tirmidzi dan sahih menurut Al-Hakim) [HR. Abu Daud, no. 1039; Tirmidzi, no. 395; Al-Hakim, 1:323. Sanad hadits ini sahih, tetapi dalam teks hadits yang tepat tidak ada penyebutan tasyahud. Tambahan tasyahud adalah tambahan yang syadz—menyelisihi riwayat yang lebih kuat–sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Mundzir, Al-Baihaqi, dan Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari, 3:99].   Faedah hadits Pertama: Jika sujud sahwi dilakukan bakda salam, maka urutannya adalah dua kali sujud untuk sujud sahwi, lalu tasyahud, lalu salam. Inilah pendapat sebagian ulama sebagaimana masyhur dalam madzhab Hambali, Malikiyyah, Hanafiyyah. Pendapat lainnya menyatakan bahwa jika sujud sahwi dilakukan bakda salam, setelah melakukan sujud sahwi langsung salam, tanpa tasyahud. Pendapat ini dianut oleh Imam Al-Auza’i dan Imam Syafii, serta menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Hal ini berdalil dengan hadits dari ‘Imran yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat lagi satu rakaat (sebelumnya sudah tiga rakaat), lalu salam, kemudian beliau lakukan sujud sahwi dengan dua kali sujud, lalu salam.” (HR. Muslim, no. 574) Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata, “Adapun tasyahud untuk sujud sahwi yang dilakukan dengan dua kali sujud, aku sendiri tidak menghafal riwayatnya dari jalan yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Al-Istidzkaar, 4:382). Pendapat terakhir inilah yang lebih kuat menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan. Kedua: Hadits ini jadi dalil adanya sujud sahwi bakda shalat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:220-221. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:539-540. — Baca Juga: Sujud Sahwi, Pengertian, Sebab, dan Hikmahnya Sujud Sahwi Sebelum ataukah Sesudah Salam?   Jumat siang, 14 Muharram 1444 H, 12 Agustus 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat bulughul maram sujud sahwi cara sujud sahwi cara tasyahud doa saat tasyahud duduk tasyahud sujud sahwi tasyahud
Jika sujud sahwi dilakukan bakda salam, apakah perlu tasyahud sebelum salam?   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Jika Sujud Sahwi Bakda Salam, Apakah Perlu Tasyahud Sebelum Salam? 2. Hadits 3/332 3. Faedah hadits 3.1. Referensi:   Jika Sujud Sahwi Bakda Salam, Apakah Perlu Tasyahud Sebelum Salam? Hadits 3/332 عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِمْ، فَسَهَافَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ تَشَهَّدَ، ثُمَّ سَلَّمَ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ، وَالْتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ، وَالْحَاكِمُوَصَحَّحَهُ. Dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama mereka, lalu beliau lupa, maka beliau sujud dua kali, kemudian tasyahud lalu salam. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Hadits ini hasan menurut At-Tirmidzi dan sahih menurut Al-Hakim) [HR. Abu Daud, no. 1039; Tirmidzi, no. 395; Al-Hakim, 1:323. Sanad hadits ini sahih, tetapi dalam teks hadits yang tepat tidak ada penyebutan tasyahud. Tambahan tasyahud adalah tambahan yang syadz—menyelisihi riwayat yang lebih kuat–sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Mundzir, Al-Baihaqi, dan Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari, 3:99].   Faedah hadits Pertama: Jika sujud sahwi dilakukan bakda salam, maka urutannya adalah dua kali sujud untuk sujud sahwi, lalu tasyahud, lalu salam. Inilah pendapat sebagian ulama sebagaimana masyhur dalam madzhab Hambali, Malikiyyah, Hanafiyyah. Pendapat lainnya menyatakan bahwa jika sujud sahwi dilakukan bakda salam, setelah melakukan sujud sahwi langsung salam, tanpa tasyahud. Pendapat ini dianut oleh Imam Al-Auza’i dan Imam Syafii, serta menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Hal ini berdalil dengan hadits dari ‘Imran yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat lagi satu rakaat (sebelumnya sudah tiga rakaat), lalu salam, kemudian beliau lakukan sujud sahwi dengan dua kali sujud, lalu salam.” (HR. Muslim, no. 574) Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata, “Adapun tasyahud untuk sujud sahwi yang dilakukan dengan dua kali sujud, aku sendiri tidak menghafal riwayatnya dari jalan yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Al-Istidzkaar, 4:382). Pendapat terakhir inilah yang lebih kuat menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan. Kedua: Hadits ini jadi dalil adanya sujud sahwi bakda shalat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:220-221. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:539-540. — Baca Juga: Sujud Sahwi, Pengertian, Sebab, dan Hikmahnya Sujud Sahwi Sebelum ataukah Sesudah Salam?   Jumat siang, 14 Muharram 1444 H, 12 Agustus 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat bulughul maram sujud sahwi cara sujud sahwi cara tasyahud doa saat tasyahud duduk tasyahud sujud sahwi tasyahud


Jika sujud sahwi dilakukan bakda salam, apakah perlu tasyahud sebelum salam?   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Jika Sujud Sahwi Bakda Salam, Apakah Perlu Tasyahud Sebelum Salam? 2. Hadits 3/332 3. Faedah hadits 3.1. Referensi:   Jika Sujud Sahwi Bakda Salam, Apakah Perlu Tasyahud Sebelum Salam? Hadits 3/332 عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِمْ، فَسَهَافَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ تَشَهَّدَ، ثُمَّ سَلَّمَ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ، وَالْتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ، وَالْحَاكِمُوَصَحَّحَهُ. Dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama mereka, lalu beliau lupa, maka beliau sujud dua kali, kemudian tasyahud lalu salam. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Hadits ini hasan menurut At-Tirmidzi dan sahih menurut Al-Hakim) [HR. Abu Daud, no. 1039; Tirmidzi, no. 395; Al-Hakim, 1:323. Sanad hadits ini sahih, tetapi dalam teks hadits yang tepat tidak ada penyebutan tasyahud. Tambahan tasyahud adalah tambahan yang syadz—menyelisihi riwayat yang lebih kuat–sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Mundzir, Al-Baihaqi, dan Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari, 3:99].   Faedah hadits Pertama: Jika sujud sahwi dilakukan bakda salam, maka urutannya adalah dua kali sujud untuk sujud sahwi, lalu tasyahud, lalu salam. Inilah pendapat sebagian ulama sebagaimana masyhur dalam madzhab Hambali, Malikiyyah, Hanafiyyah. Pendapat lainnya menyatakan bahwa jika sujud sahwi dilakukan bakda salam, setelah melakukan sujud sahwi langsung salam, tanpa tasyahud. Pendapat ini dianut oleh Imam Al-Auza’i dan Imam Syafii, serta menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Hal ini berdalil dengan hadits dari ‘Imran yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat lagi satu rakaat (sebelumnya sudah tiga rakaat), lalu salam, kemudian beliau lakukan sujud sahwi dengan dua kali sujud, lalu salam.” (HR. Muslim, no. 574) Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata, “Adapun tasyahud untuk sujud sahwi yang dilakukan dengan dua kali sujud, aku sendiri tidak menghafal riwayatnya dari jalan yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Al-Istidzkaar, 4:382). Pendapat terakhir inilah yang lebih kuat menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan. Kedua: Hadits ini jadi dalil adanya sujud sahwi bakda shalat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:220-221. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:539-540. — Baca Juga: Sujud Sahwi, Pengertian, Sebab, dan Hikmahnya Sujud Sahwi Sebelum ataukah Sesudah Salam?   Jumat siang, 14 Muharram 1444 H, 12 Agustus 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat bulughul maram sujud sahwi cara sujud sahwi cara tasyahud doa saat tasyahud duduk tasyahud sujud sahwi tasyahud
Prev     Next