Menjamak Salat di Kantor ketika Hujan – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Saya punya kantor di salah satu gedung, dan jaraknya dengan masjid sejauh 5 menit.Bolehkah saya menjamak shalat dengan para karyawan yang lain saat turun hujan,hujannya sangat deras, dan jumlah kami 12 orang? Tidak boleh! Menjamak shalat (ketika hujan) hanya boleh dilakukan di masjid.Tidak boleh menjamak shalat (karena hujan) di kantor, di perkemahan, atau di rumah. Menjamak shalat (karena hujan) hanya boleh di masjid, untuk meringankan orang-orang agar tidak perlu datang ke masjid lagi. Inilah tujuannya.Syariat menjamak shalat tujuannya agar orang-orang tidak kesulitan untuk datang ke masjid lagi. Adapun menjamak shalat di jam kerja (kantor), di alam terbuka,di villa, atau di rumah, tidak disyariatkan.Menjamak shalat di masjid (ketika hujan), tujuannya agar orang-orang tidak kesulitan untuk datang kembali ke masjid. ==== أَنَا عِنْدِي مَكْتَبٌ فِي أَحَدِ الْأَبْرَاجِ التِّجَارِيَّةِ وَالْمَسْجِدُ يَبْعُدُ خَمْسَ دَقَائِقَ هَلْ يَصِحُّ أَنْ أَجْمَعَ الصَّلَاةَ مَعَ الْمُوَظَّفِيْنَ أَثْنَاءَ الْمَطَرَ وَكَانَ الْمَطَرُ شَدِيدًا وَعَدَدُنَا اثْنَيْ عَشَرَ؟ لَا الْجَمْعُ خَاصٌّ بِالْمَسَاجِدِ مَا فِيهِ الْجَمْعُ بِالْمَكَاتِبِ الجَمْعُ بِالْخَيْمَاتِ الجَمْعُ بِالْبَيْتِ الْجَمْعُ لِلْمَسَاجِدِ لِإِعْذَارِ النَّاسِ أَلَّا يَأْتُوا إِلَى الْمَسَاجِدِ هَذَا الْمَقْصُودُ وَالْجَمْعُ لِأَجْلِ أَنْ لَا يَتَكَلَّفَ النَّاسُ الْمَجِيءَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَكِنْ جَمْعٌ فِي الدَّوَامِ جَمْعٌ فِي الْبَرِّ أَوْ جَمْعٌ فِي الشَّالِيَةِ أَوْ جَمْعٌ فِي الْبَيْتِ مَا فِيهِ الْجَمْعُ الْجَمْعُ لِلْمَسَاجِدِ لِأَجْلِ لَا يَتَكَلَّفُ النَّاسُ أَنْ يَأْتِي إِلَى الْمَسَاجِدِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Menjamak Salat di Kantor ketika Hujan – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Saya punya kantor di salah satu gedung, dan jaraknya dengan masjid sejauh 5 menit.Bolehkah saya menjamak shalat dengan para karyawan yang lain saat turun hujan,hujannya sangat deras, dan jumlah kami 12 orang? Tidak boleh! Menjamak shalat (ketika hujan) hanya boleh dilakukan di masjid.Tidak boleh menjamak shalat (karena hujan) di kantor, di perkemahan, atau di rumah. Menjamak shalat (karena hujan) hanya boleh di masjid, untuk meringankan orang-orang agar tidak perlu datang ke masjid lagi. Inilah tujuannya.Syariat menjamak shalat tujuannya agar orang-orang tidak kesulitan untuk datang ke masjid lagi. Adapun menjamak shalat di jam kerja (kantor), di alam terbuka,di villa, atau di rumah, tidak disyariatkan.Menjamak shalat di masjid (ketika hujan), tujuannya agar orang-orang tidak kesulitan untuk datang kembali ke masjid. ==== أَنَا عِنْدِي مَكْتَبٌ فِي أَحَدِ الْأَبْرَاجِ التِّجَارِيَّةِ وَالْمَسْجِدُ يَبْعُدُ خَمْسَ دَقَائِقَ هَلْ يَصِحُّ أَنْ أَجْمَعَ الصَّلَاةَ مَعَ الْمُوَظَّفِيْنَ أَثْنَاءَ الْمَطَرَ وَكَانَ الْمَطَرُ شَدِيدًا وَعَدَدُنَا اثْنَيْ عَشَرَ؟ لَا الْجَمْعُ خَاصٌّ بِالْمَسَاجِدِ مَا فِيهِ الْجَمْعُ بِالْمَكَاتِبِ الجَمْعُ بِالْخَيْمَاتِ الجَمْعُ بِالْبَيْتِ الْجَمْعُ لِلْمَسَاجِدِ لِإِعْذَارِ النَّاسِ أَلَّا يَأْتُوا إِلَى الْمَسَاجِدِ هَذَا الْمَقْصُودُ وَالْجَمْعُ لِأَجْلِ أَنْ لَا يَتَكَلَّفَ النَّاسُ الْمَجِيءَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَكِنْ جَمْعٌ فِي الدَّوَامِ جَمْعٌ فِي الْبَرِّ أَوْ جَمْعٌ فِي الشَّالِيَةِ أَوْ جَمْعٌ فِي الْبَيْتِ مَا فِيهِ الْجَمْعُ الْجَمْعُ لِلْمَسَاجِدِ لِأَجْلِ لَا يَتَكَلَّفُ النَّاسُ أَنْ يَأْتِي إِلَى الْمَسَاجِدِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Saya punya kantor di salah satu gedung, dan jaraknya dengan masjid sejauh 5 menit.Bolehkah saya menjamak shalat dengan para karyawan yang lain saat turun hujan,hujannya sangat deras, dan jumlah kami 12 orang? Tidak boleh! Menjamak shalat (ketika hujan) hanya boleh dilakukan di masjid.Tidak boleh menjamak shalat (karena hujan) di kantor, di perkemahan, atau di rumah. Menjamak shalat (karena hujan) hanya boleh di masjid, untuk meringankan orang-orang agar tidak perlu datang ke masjid lagi. Inilah tujuannya.Syariat menjamak shalat tujuannya agar orang-orang tidak kesulitan untuk datang ke masjid lagi. Adapun menjamak shalat di jam kerja (kantor), di alam terbuka,di villa, atau di rumah, tidak disyariatkan.Menjamak shalat di masjid (ketika hujan), tujuannya agar orang-orang tidak kesulitan untuk datang kembali ke masjid. ==== أَنَا عِنْدِي مَكْتَبٌ فِي أَحَدِ الْأَبْرَاجِ التِّجَارِيَّةِ وَالْمَسْجِدُ يَبْعُدُ خَمْسَ دَقَائِقَ هَلْ يَصِحُّ أَنْ أَجْمَعَ الصَّلَاةَ مَعَ الْمُوَظَّفِيْنَ أَثْنَاءَ الْمَطَرَ وَكَانَ الْمَطَرُ شَدِيدًا وَعَدَدُنَا اثْنَيْ عَشَرَ؟ لَا الْجَمْعُ خَاصٌّ بِالْمَسَاجِدِ مَا فِيهِ الْجَمْعُ بِالْمَكَاتِبِ الجَمْعُ بِالْخَيْمَاتِ الجَمْعُ بِالْبَيْتِ الْجَمْعُ لِلْمَسَاجِدِ لِإِعْذَارِ النَّاسِ أَلَّا يَأْتُوا إِلَى الْمَسَاجِدِ هَذَا الْمَقْصُودُ وَالْجَمْعُ لِأَجْلِ أَنْ لَا يَتَكَلَّفَ النَّاسُ الْمَجِيءَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَكِنْ جَمْعٌ فِي الدَّوَامِ جَمْعٌ فِي الْبَرِّ أَوْ جَمْعٌ فِي الشَّالِيَةِ أَوْ جَمْعٌ فِي الْبَيْتِ مَا فِيهِ الْجَمْعُ الْجَمْعُ لِلْمَسَاجِدِ لِأَجْلِ لَا يَتَكَلَّفُ النَّاسُ أَنْ يَأْتِي إِلَى الْمَسَاجِدِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Saya punya kantor di salah satu gedung, dan jaraknya dengan masjid sejauh 5 menit.Bolehkah saya menjamak shalat dengan para karyawan yang lain saat turun hujan,hujannya sangat deras, dan jumlah kami 12 orang? Tidak boleh! Menjamak shalat (ketika hujan) hanya boleh dilakukan di masjid.Tidak boleh menjamak shalat (karena hujan) di kantor, di perkemahan, atau di rumah. Menjamak shalat (karena hujan) hanya boleh di masjid, untuk meringankan orang-orang agar tidak perlu datang ke masjid lagi. Inilah tujuannya.Syariat menjamak shalat tujuannya agar orang-orang tidak kesulitan untuk datang ke masjid lagi. Adapun menjamak shalat di jam kerja (kantor), di alam terbuka,di villa, atau di rumah, tidak disyariatkan.Menjamak shalat di masjid (ketika hujan), tujuannya agar orang-orang tidak kesulitan untuk datang kembali ke masjid. ==== أَنَا عِنْدِي مَكْتَبٌ فِي أَحَدِ الْأَبْرَاجِ التِّجَارِيَّةِ وَالْمَسْجِدُ يَبْعُدُ خَمْسَ دَقَائِقَ هَلْ يَصِحُّ أَنْ أَجْمَعَ الصَّلَاةَ مَعَ الْمُوَظَّفِيْنَ أَثْنَاءَ الْمَطَرَ وَكَانَ الْمَطَرُ شَدِيدًا وَعَدَدُنَا اثْنَيْ عَشَرَ؟ لَا الْجَمْعُ خَاصٌّ بِالْمَسَاجِدِ مَا فِيهِ الْجَمْعُ بِالْمَكَاتِبِ الجَمْعُ بِالْخَيْمَاتِ الجَمْعُ بِالْبَيْتِ الْجَمْعُ لِلْمَسَاجِدِ لِإِعْذَارِ النَّاسِ أَلَّا يَأْتُوا إِلَى الْمَسَاجِدِ هَذَا الْمَقْصُودُ وَالْجَمْعُ لِأَجْلِ أَنْ لَا يَتَكَلَّفَ النَّاسُ الْمَجِيءَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَكِنْ جَمْعٌ فِي الدَّوَامِ جَمْعٌ فِي الْبَرِّ أَوْ جَمْعٌ فِي الشَّالِيَةِ أَوْ جَمْعٌ فِي الْبَيْتِ مَا فِيهِ الْجَمْعُ الْجَمْعُ لِلْمَسَاجِدِ لِأَجْلِ لَا يَتَكَلَّفُ النَّاسُ أَنْ يَأْتِي إِلَى الْمَسَاجِدِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 1) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu takut syirik 1.1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Imam ahli tauhid yang paling sempurna, tetapi beliau khawatir terjatuh ke dalam syirik besar 1.2. Imam hunafa’ (tauhid), utusan Allah, Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang takut terjatuh ke dalam syirik 1.2.1. Kemuliaan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salam 1.3. Sesuatu yang paling ditakutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas diri para ahli tauhid di kalangan umat beliau (para sahabat) adalah riya’ (syirik kecil) 1.4. Kesimpulan 2. Tanda-tanda takut syirik Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu takut syirikRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Imam ahli tauhid yang paling sempurna, tetapi beliau khawatir terjatuh ke dalam syirik besarDari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyak berdoa,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِك‘Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.'”Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan beriman kepada risalah yang engkau bawa. Apakah engkau masih mengkhawatirkan kami?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,نَعَمْ، إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ‘Ya, sesungguhnya hati itu di antara dua jari dari jemari Allah. Allah membolak-balikkannya sesuai dengan kehendak-Nya.'” (Sahih, HR. At-Tirmidzi)Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan segala perkara yang mengeluarkan pelakunya dari agama Allah, termasuk syirik besar. Dan beliau pun mengkhawatirkan segala perkara yang mengeluarkan pelakunya dari jalan ketaatan kepada Allah. Imam hunafa’ (tauhid), utusan Allah, Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang takut terjatuh ke dalam syirikAllah Ta’ala berfirman,وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَ ۗ“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhan-ku, jadikanlah negeri ini (Makkah) sebagai negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah patung.'” (QS. Ibrahim: 35)Kemuliaan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salamPertama: Beliau termasuk ulul ‘azmi minar rusul (para rasul pemilik kekuatan dan ketegaran yang sangat kokoh ‘alaihimush shalatu wassalam). Jumlahnya ada 5 rasul ‘alaihimush shalatu was salam berdasarkan surah Al-Ahzaab ayat 7.Kedua: Beliau adalah Imam hunafa` (tauhid) setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Qanith, haniif, dan jauh dari kesyirikan berdasarkan surah An-Nahl ayat 120.Ketiga: Beliau pernah memecahkan patung langsung dengan tangannya sebagaimana dalam surah Al-Anbiyaa`ayat 58.Baca Juga: Mengenal Tauhid dan Syirik Lebih DekatKeempat: Beliau adalah khaliilullah (rasul yang sangat dicintai Allah). Khalilullah itu hanya ada 2 rasul.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إن الله اتخذني خليلاً كما اتخذ إبراهيم خليلاً “Sesungguhnya Allah mengambilku menjadi khalil sebagaimana Dia mengambil Ibrahim sebagai khalil juga.” (HR. Muslim)Demikian mulianya kedudukan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau sosok yang sempurna tauhidnya, namun dalam surah Ibrahim ayat 35 di atas, beliau masih berdoa, “Jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah patung”. Ini menunjukkan rasa takut beliau yang sangat besar terhadap syirik. Hal ini karena:Pertama: Berdoa bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk anak keturunannya.Kedua: Isi doanya mohon dijauhkan dan bukan sekedar agar tidak terjatuh ke dalamnya. Ini menunjukkan takut yang amat sangat.Ketiga: Jenis kesyirikan yang beliau mohon agar dijauhkan darinya adalah syirik besar/ syirik jali (syirik yang tampak jelas), yang barangkali banyak dari kaum muslimin sekarang tidak pernah satu kali pun terbayang berdoa dengan doa beliau ini. Syirik yang nampak saja beliau demikian takutnya, apalagi syirik yang samar!Oleh karena itu sebagai renungan kita bersama, apabila Nabi Ibrahim ‘alaihis salam saja takut terjatuh ke dalam syirik, apalagi kita? Siapakah yang tingkat keimanan dan tauhidnya di bawah beliau yang layak merasa aman terhadap kesyirikan, kalau beliau saja tidak merasa aman? Sesuatu yang paling ditakutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas diri para ahli tauhid di kalangan umat beliau (para sahabat) adalah riya’ (syirik kecil)Dalam hadis Mahmuud ibnu Lubaid radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر“Sesuatu yang paling aku takutkan atas diri kalian adalah syirik kecil.”Lalu beliau ditanya tentangnya dan menjawab,الرياء“Riya’ (pamer ibadah).” (HR. Ahmad dan selainnya, disahihkan oleh Al-Albani)Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan para sahabatnya terjerumus ke dalam syirik kecil, padahal para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah umat yang terbaik ilmu syar’i dan amal salehnya dibandingkan dengan seluruh umat para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu wassalam. Hal ini berdasarkan ayat ke-110 surah Ali Imran.Allah Ta’ala  berfirman,كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ“Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”Dan berdasarkan hadis Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ“Sebaik-sebaik umat manusia adalah umatku (sahabat), lalu setelahnya (tabi’in), lalu setelahnya (tabi’ut tabi’in).”Dalam hadis di atas, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mengkhawatirkan para sahabatnya terjerumus ke dalam syirik kecil, padahal demikian kuat iman dan tauhid mereka, karena mereka langsung dididik oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.Jika Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam saja sangat mengkhawatirkan syirik kecil menimpa mereka, padahal mereka kuat imannya, lebih-lebih lagi orang yang lemah imannya. Dengan demikian, wajib takut terhadap syirik kecil apalagi syirik besar.Baca Juga: Keutamaan dan Urgensi TauhidKesimpulanTidak ada satu pun ahli tauhid yang benar tauhidnya, kecuali memiliki ciri khas takut terjatuh ke dalam kesyirikan. Hal ini karena syirik adalah dosa terbesar dan sangat membahayakan keimanan serta sangat buruk akibatnya di dunia maupun di akhirat.Tanda-tanda takut syirikTakut terhadap kesyirikan memiliki tanda-tanda, di antaranya:Pertama: Mempelajari syirik dan macam-macamnya secara detail, agar tahu apa itu syirik, dan kuatlah rasa takut serta benci terhadap syirik sehingga benar-benar semangat menjauhinya.Kedua: Mempelajari tauhid dan macam-macamnya secara detail, agar tahu bagaimana men-tauhid-kan Allah Ta’ala, dan kuatlah rasa cinta serta harap kepada Allah Ta’ala, sehingga benar-benar semangat men-tauhid-kan-Nya.Ketiga: Ahli tauhid yang benar-benar takut terhadap syirik, hatinya benar-benar berusaha terus-menerus mencari keridaan Allah dalam rangka mewujudkan ubudiyyah kepada-Nya semata, yang ibadah tersebut merupakan tujuan diciptakan dirinya.[Bersambung]Baca Juga:Menyelami Makna TauhidFatwa Ulama: Perbedaan Makna Iman, Tauhid, dan Akidah*****Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Belajar Islam, Laporan Kegiatan Qurban, Sholat Duduk, Siar Islam, Malu Kepada AllahTags: Aqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddakwahdakwah sunnahdakwah tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyiriktakut syirikTauhid

Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 1) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu takut syirik 1.1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Imam ahli tauhid yang paling sempurna, tetapi beliau khawatir terjatuh ke dalam syirik besar 1.2. Imam hunafa’ (tauhid), utusan Allah, Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang takut terjatuh ke dalam syirik 1.2.1. Kemuliaan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salam 1.3. Sesuatu yang paling ditakutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas diri para ahli tauhid di kalangan umat beliau (para sahabat) adalah riya’ (syirik kecil) 1.4. Kesimpulan 2. Tanda-tanda takut syirik Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu takut syirikRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Imam ahli tauhid yang paling sempurna, tetapi beliau khawatir terjatuh ke dalam syirik besarDari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyak berdoa,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِك‘Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.'”Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan beriman kepada risalah yang engkau bawa. Apakah engkau masih mengkhawatirkan kami?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,نَعَمْ، إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ‘Ya, sesungguhnya hati itu di antara dua jari dari jemari Allah. Allah membolak-balikkannya sesuai dengan kehendak-Nya.'” (Sahih, HR. At-Tirmidzi)Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan segala perkara yang mengeluarkan pelakunya dari agama Allah, termasuk syirik besar. Dan beliau pun mengkhawatirkan segala perkara yang mengeluarkan pelakunya dari jalan ketaatan kepada Allah. Imam hunafa’ (tauhid), utusan Allah, Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang takut terjatuh ke dalam syirikAllah Ta’ala berfirman,وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَ ۗ“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhan-ku, jadikanlah negeri ini (Makkah) sebagai negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah patung.'” (QS. Ibrahim: 35)Kemuliaan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salamPertama: Beliau termasuk ulul ‘azmi minar rusul (para rasul pemilik kekuatan dan ketegaran yang sangat kokoh ‘alaihimush shalatu wassalam). Jumlahnya ada 5 rasul ‘alaihimush shalatu was salam berdasarkan surah Al-Ahzaab ayat 7.Kedua: Beliau adalah Imam hunafa` (tauhid) setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Qanith, haniif, dan jauh dari kesyirikan berdasarkan surah An-Nahl ayat 120.Ketiga: Beliau pernah memecahkan patung langsung dengan tangannya sebagaimana dalam surah Al-Anbiyaa`ayat 58.Baca Juga: Mengenal Tauhid dan Syirik Lebih DekatKeempat: Beliau adalah khaliilullah (rasul yang sangat dicintai Allah). Khalilullah itu hanya ada 2 rasul.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إن الله اتخذني خليلاً كما اتخذ إبراهيم خليلاً “Sesungguhnya Allah mengambilku menjadi khalil sebagaimana Dia mengambil Ibrahim sebagai khalil juga.” (HR. Muslim)Demikian mulianya kedudukan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau sosok yang sempurna tauhidnya, namun dalam surah Ibrahim ayat 35 di atas, beliau masih berdoa, “Jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah patung”. Ini menunjukkan rasa takut beliau yang sangat besar terhadap syirik. Hal ini karena:Pertama: Berdoa bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk anak keturunannya.Kedua: Isi doanya mohon dijauhkan dan bukan sekedar agar tidak terjatuh ke dalamnya. Ini menunjukkan takut yang amat sangat.Ketiga: Jenis kesyirikan yang beliau mohon agar dijauhkan darinya adalah syirik besar/ syirik jali (syirik yang tampak jelas), yang barangkali banyak dari kaum muslimin sekarang tidak pernah satu kali pun terbayang berdoa dengan doa beliau ini. Syirik yang nampak saja beliau demikian takutnya, apalagi syirik yang samar!Oleh karena itu sebagai renungan kita bersama, apabila Nabi Ibrahim ‘alaihis salam saja takut terjatuh ke dalam syirik, apalagi kita? Siapakah yang tingkat keimanan dan tauhidnya di bawah beliau yang layak merasa aman terhadap kesyirikan, kalau beliau saja tidak merasa aman? Sesuatu yang paling ditakutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas diri para ahli tauhid di kalangan umat beliau (para sahabat) adalah riya’ (syirik kecil)Dalam hadis Mahmuud ibnu Lubaid radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر“Sesuatu yang paling aku takutkan atas diri kalian adalah syirik kecil.”Lalu beliau ditanya tentangnya dan menjawab,الرياء“Riya’ (pamer ibadah).” (HR. Ahmad dan selainnya, disahihkan oleh Al-Albani)Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan para sahabatnya terjerumus ke dalam syirik kecil, padahal para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah umat yang terbaik ilmu syar’i dan amal salehnya dibandingkan dengan seluruh umat para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu wassalam. Hal ini berdasarkan ayat ke-110 surah Ali Imran.Allah Ta’ala  berfirman,كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ“Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”Dan berdasarkan hadis Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ“Sebaik-sebaik umat manusia adalah umatku (sahabat), lalu setelahnya (tabi’in), lalu setelahnya (tabi’ut tabi’in).”Dalam hadis di atas, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mengkhawatirkan para sahabatnya terjerumus ke dalam syirik kecil, padahal demikian kuat iman dan tauhid mereka, karena mereka langsung dididik oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.Jika Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam saja sangat mengkhawatirkan syirik kecil menimpa mereka, padahal mereka kuat imannya, lebih-lebih lagi orang yang lemah imannya. Dengan demikian, wajib takut terhadap syirik kecil apalagi syirik besar.Baca Juga: Keutamaan dan Urgensi TauhidKesimpulanTidak ada satu pun ahli tauhid yang benar tauhidnya, kecuali memiliki ciri khas takut terjatuh ke dalam kesyirikan. Hal ini karena syirik adalah dosa terbesar dan sangat membahayakan keimanan serta sangat buruk akibatnya di dunia maupun di akhirat.Tanda-tanda takut syirikTakut terhadap kesyirikan memiliki tanda-tanda, di antaranya:Pertama: Mempelajari syirik dan macam-macamnya secara detail, agar tahu apa itu syirik, dan kuatlah rasa takut serta benci terhadap syirik sehingga benar-benar semangat menjauhinya.Kedua: Mempelajari tauhid dan macam-macamnya secara detail, agar tahu bagaimana men-tauhid-kan Allah Ta’ala, dan kuatlah rasa cinta serta harap kepada Allah Ta’ala, sehingga benar-benar semangat men-tauhid-kan-Nya.Ketiga: Ahli tauhid yang benar-benar takut terhadap syirik, hatinya benar-benar berusaha terus-menerus mencari keridaan Allah dalam rangka mewujudkan ubudiyyah kepada-Nya semata, yang ibadah tersebut merupakan tujuan diciptakan dirinya.[Bersambung]Baca Juga:Menyelami Makna TauhidFatwa Ulama: Perbedaan Makna Iman, Tauhid, dan Akidah*****Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Belajar Islam, Laporan Kegiatan Qurban, Sholat Duduk, Siar Islam, Malu Kepada AllahTags: Aqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddakwahdakwah sunnahdakwah tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyiriktakut syirikTauhid
Baca pembahasan sebelumnya Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 1) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu takut syirik 1.1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Imam ahli tauhid yang paling sempurna, tetapi beliau khawatir terjatuh ke dalam syirik besar 1.2. Imam hunafa’ (tauhid), utusan Allah, Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang takut terjatuh ke dalam syirik 1.2.1. Kemuliaan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salam 1.3. Sesuatu yang paling ditakutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas diri para ahli tauhid di kalangan umat beliau (para sahabat) adalah riya’ (syirik kecil) 1.4. Kesimpulan 2. Tanda-tanda takut syirik Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu takut syirikRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Imam ahli tauhid yang paling sempurna, tetapi beliau khawatir terjatuh ke dalam syirik besarDari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyak berdoa,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِك‘Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.'”Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan beriman kepada risalah yang engkau bawa. Apakah engkau masih mengkhawatirkan kami?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,نَعَمْ، إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ‘Ya, sesungguhnya hati itu di antara dua jari dari jemari Allah. Allah membolak-balikkannya sesuai dengan kehendak-Nya.'” (Sahih, HR. At-Tirmidzi)Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan segala perkara yang mengeluarkan pelakunya dari agama Allah, termasuk syirik besar. Dan beliau pun mengkhawatirkan segala perkara yang mengeluarkan pelakunya dari jalan ketaatan kepada Allah. Imam hunafa’ (tauhid), utusan Allah, Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang takut terjatuh ke dalam syirikAllah Ta’ala berfirman,وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَ ۗ“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhan-ku, jadikanlah negeri ini (Makkah) sebagai negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah patung.'” (QS. Ibrahim: 35)Kemuliaan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salamPertama: Beliau termasuk ulul ‘azmi minar rusul (para rasul pemilik kekuatan dan ketegaran yang sangat kokoh ‘alaihimush shalatu wassalam). Jumlahnya ada 5 rasul ‘alaihimush shalatu was salam berdasarkan surah Al-Ahzaab ayat 7.Kedua: Beliau adalah Imam hunafa` (tauhid) setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Qanith, haniif, dan jauh dari kesyirikan berdasarkan surah An-Nahl ayat 120.Ketiga: Beliau pernah memecahkan patung langsung dengan tangannya sebagaimana dalam surah Al-Anbiyaa`ayat 58.Baca Juga: Mengenal Tauhid dan Syirik Lebih DekatKeempat: Beliau adalah khaliilullah (rasul yang sangat dicintai Allah). Khalilullah itu hanya ada 2 rasul.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إن الله اتخذني خليلاً كما اتخذ إبراهيم خليلاً “Sesungguhnya Allah mengambilku menjadi khalil sebagaimana Dia mengambil Ibrahim sebagai khalil juga.” (HR. Muslim)Demikian mulianya kedudukan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau sosok yang sempurna tauhidnya, namun dalam surah Ibrahim ayat 35 di atas, beliau masih berdoa, “Jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah patung”. Ini menunjukkan rasa takut beliau yang sangat besar terhadap syirik. Hal ini karena:Pertama: Berdoa bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk anak keturunannya.Kedua: Isi doanya mohon dijauhkan dan bukan sekedar agar tidak terjatuh ke dalamnya. Ini menunjukkan takut yang amat sangat.Ketiga: Jenis kesyirikan yang beliau mohon agar dijauhkan darinya adalah syirik besar/ syirik jali (syirik yang tampak jelas), yang barangkali banyak dari kaum muslimin sekarang tidak pernah satu kali pun terbayang berdoa dengan doa beliau ini. Syirik yang nampak saja beliau demikian takutnya, apalagi syirik yang samar!Oleh karena itu sebagai renungan kita bersama, apabila Nabi Ibrahim ‘alaihis salam saja takut terjatuh ke dalam syirik, apalagi kita? Siapakah yang tingkat keimanan dan tauhidnya di bawah beliau yang layak merasa aman terhadap kesyirikan, kalau beliau saja tidak merasa aman? Sesuatu yang paling ditakutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas diri para ahli tauhid di kalangan umat beliau (para sahabat) adalah riya’ (syirik kecil)Dalam hadis Mahmuud ibnu Lubaid radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر“Sesuatu yang paling aku takutkan atas diri kalian adalah syirik kecil.”Lalu beliau ditanya tentangnya dan menjawab,الرياء“Riya’ (pamer ibadah).” (HR. Ahmad dan selainnya, disahihkan oleh Al-Albani)Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan para sahabatnya terjerumus ke dalam syirik kecil, padahal para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah umat yang terbaik ilmu syar’i dan amal salehnya dibandingkan dengan seluruh umat para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu wassalam. Hal ini berdasarkan ayat ke-110 surah Ali Imran.Allah Ta’ala  berfirman,كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ“Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”Dan berdasarkan hadis Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ“Sebaik-sebaik umat manusia adalah umatku (sahabat), lalu setelahnya (tabi’in), lalu setelahnya (tabi’ut tabi’in).”Dalam hadis di atas, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mengkhawatirkan para sahabatnya terjerumus ke dalam syirik kecil, padahal demikian kuat iman dan tauhid mereka, karena mereka langsung dididik oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.Jika Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam saja sangat mengkhawatirkan syirik kecil menimpa mereka, padahal mereka kuat imannya, lebih-lebih lagi orang yang lemah imannya. Dengan demikian, wajib takut terhadap syirik kecil apalagi syirik besar.Baca Juga: Keutamaan dan Urgensi TauhidKesimpulanTidak ada satu pun ahli tauhid yang benar tauhidnya, kecuali memiliki ciri khas takut terjatuh ke dalam kesyirikan. Hal ini karena syirik adalah dosa terbesar dan sangat membahayakan keimanan serta sangat buruk akibatnya di dunia maupun di akhirat.Tanda-tanda takut syirikTakut terhadap kesyirikan memiliki tanda-tanda, di antaranya:Pertama: Mempelajari syirik dan macam-macamnya secara detail, agar tahu apa itu syirik, dan kuatlah rasa takut serta benci terhadap syirik sehingga benar-benar semangat menjauhinya.Kedua: Mempelajari tauhid dan macam-macamnya secara detail, agar tahu bagaimana men-tauhid-kan Allah Ta’ala, dan kuatlah rasa cinta serta harap kepada Allah Ta’ala, sehingga benar-benar semangat men-tauhid-kan-Nya.Ketiga: Ahli tauhid yang benar-benar takut terhadap syirik, hatinya benar-benar berusaha terus-menerus mencari keridaan Allah dalam rangka mewujudkan ubudiyyah kepada-Nya semata, yang ibadah tersebut merupakan tujuan diciptakan dirinya.[Bersambung]Baca Juga:Menyelami Makna TauhidFatwa Ulama: Perbedaan Makna Iman, Tauhid, dan Akidah*****Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Belajar Islam, Laporan Kegiatan Qurban, Sholat Duduk, Siar Islam, Malu Kepada AllahTags: Aqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddakwahdakwah sunnahdakwah tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyiriktakut syirikTauhid


Baca pembahasan sebelumnya Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 1) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu takut syirik 1.1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Imam ahli tauhid yang paling sempurna, tetapi beliau khawatir terjatuh ke dalam syirik besar 1.2. Imam hunafa’ (tauhid), utusan Allah, Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang takut terjatuh ke dalam syirik 1.2.1. Kemuliaan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salam 1.3. Sesuatu yang paling ditakutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas diri para ahli tauhid di kalangan umat beliau (para sahabat) adalah riya’ (syirik kecil) 1.4. Kesimpulan 2. Tanda-tanda takut syirik Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu takut syirikRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Imam ahli tauhid yang paling sempurna, tetapi beliau khawatir terjatuh ke dalam syirik besarDari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyak berdoa,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِك‘Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.'”Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan beriman kepada risalah yang engkau bawa. Apakah engkau masih mengkhawatirkan kami?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,نَعَمْ، إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ‘Ya, sesungguhnya hati itu di antara dua jari dari jemari Allah. Allah membolak-balikkannya sesuai dengan kehendak-Nya.'” (Sahih, HR. At-Tirmidzi)Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan segala perkara yang mengeluarkan pelakunya dari agama Allah, termasuk syirik besar. Dan beliau pun mengkhawatirkan segala perkara yang mengeluarkan pelakunya dari jalan ketaatan kepada Allah. Imam hunafa’ (tauhid), utusan Allah, Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok yang takut terjatuh ke dalam syirikAllah Ta’ala berfirman,وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَ ۗ“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhan-ku, jadikanlah negeri ini (Makkah) sebagai negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah patung.'” (QS. Ibrahim: 35)Kemuliaan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salamPertama: Beliau termasuk ulul ‘azmi minar rusul (para rasul pemilik kekuatan dan ketegaran yang sangat kokoh ‘alaihimush shalatu wassalam). Jumlahnya ada 5 rasul ‘alaihimush shalatu was salam berdasarkan surah Al-Ahzaab ayat 7.Kedua: Beliau adalah Imam hunafa` (tauhid) setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Qanith, haniif, dan jauh dari kesyirikan berdasarkan surah An-Nahl ayat 120.Ketiga: Beliau pernah memecahkan patung langsung dengan tangannya sebagaimana dalam surah Al-Anbiyaa`ayat 58.Baca Juga: Mengenal Tauhid dan Syirik Lebih DekatKeempat: Beliau adalah khaliilullah (rasul yang sangat dicintai Allah). Khalilullah itu hanya ada 2 rasul.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إن الله اتخذني خليلاً كما اتخذ إبراهيم خليلاً “Sesungguhnya Allah mengambilku menjadi khalil sebagaimana Dia mengambil Ibrahim sebagai khalil juga.” (HR. Muslim)Demikian mulianya kedudukan utusan Allah Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau sosok yang sempurna tauhidnya, namun dalam surah Ibrahim ayat 35 di atas, beliau masih berdoa, “Jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah patung”. Ini menunjukkan rasa takut beliau yang sangat besar terhadap syirik. Hal ini karena:Pertama: Berdoa bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk anak keturunannya.Kedua: Isi doanya mohon dijauhkan dan bukan sekedar agar tidak terjatuh ke dalamnya. Ini menunjukkan takut yang amat sangat.Ketiga: Jenis kesyirikan yang beliau mohon agar dijauhkan darinya adalah syirik besar/ syirik jali (syirik yang tampak jelas), yang barangkali banyak dari kaum muslimin sekarang tidak pernah satu kali pun terbayang berdoa dengan doa beliau ini. Syirik yang nampak saja beliau demikian takutnya, apalagi syirik yang samar!Oleh karena itu sebagai renungan kita bersama, apabila Nabi Ibrahim ‘alaihis salam saja takut terjatuh ke dalam syirik, apalagi kita? Siapakah yang tingkat keimanan dan tauhidnya di bawah beliau yang layak merasa aman terhadap kesyirikan, kalau beliau saja tidak merasa aman? Sesuatu yang paling ditakutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas diri para ahli tauhid di kalangan umat beliau (para sahabat) adalah riya’ (syirik kecil)Dalam hadis Mahmuud ibnu Lubaid radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر“Sesuatu yang paling aku takutkan atas diri kalian adalah syirik kecil.”Lalu beliau ditanya tentangnya dan menjawab,الرياء“Riya’ (pamer ibadah).” (HR. Ahmad dan selainnya, disahihkan oleh Al-Albani)Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan para sahabatnya terjerumus ke dalam syirik kecil, padahal para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah umat yang terbaik ilmu syar’i dan amal salehnya dibandingkan dengan seluruh umat para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu wassalam. Hal ini berdasarkan ayat ke-110 surah Ali Imran.Allah Ta’ala  berfirman,كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ“Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”Dan berdasarkan hadis Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ“Sebaik-sebaik umat manusia adalah umatku (sahabat), lalu setelahnya (tabi’in), lalu setelahnya (tabi’ut tabi’in).”Dalam hadis di atas, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mengkhawatirkan para sahabatnya terjerumus ke dalam syirik kecil, padahal demikian kuat iman dan tauhid mereka, karena mereka langsung dididik oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.Jika Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam saja sangat mengkhawatirkan syirik kecil menimpa mereka, padahal mereka kuat imannya, lebih-lebih lagi orang yang lemah imannya. Dengan demikian, wajib takut terhadap syirik kecil apalagi syirik besar.Baca Juga: Keutamaan dan Urgensi TauhidKesimpulanTidak ada satu pun ahli tauhid yang benar tauhidnya, kecuali memiliki ciri khas takut terjatuh ke dalam kesyirikan. Hal ini karena syirik adalah dosa terbesar dan sangat membahayakan keimanan serta sangat buruk akibatnya di dunia maupun di akhirat.Tanda-tanda takut syirikTakut terhadap kesyirikan memiliki tanda-tanda, di antaranya:Pertama: Mempelajari syirik dan macam-macamnya secara detail, agar tahu apa itu syirik, dan kuatlah rasa takut serta benci terhadap syirik sehingga benar-benar semangat menjauhinya.Kedua: Mempelajari tauhid dan macam-macamnya secara detail, agar tahu bagaimana men-tauhid-kan Allah Ta’ala, dan kuatlah rasa cinta serta harap kepada Allah Ta’ala, sehingga benar-benar semangat men-tauhid-kan-Nya.Ketiga: Ahli tauhid yang benar-benar takut terhadap syirik, hatinya benar-benar berusaha terus-menerus mencari keridaan Allah dalam rangka mewujudkan ubudiyyah kepada-Nya semata, yang ibadah tersebut merupakan tujuan diciptakan dirinya.[Bersambung]Baca Juga:Menyelami Makna TauhidFatwa Ulama: Perbedaan Makna Iman, Tauhid, dan Akidah*****Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Belajar Islam, Laporan Kegiatan Qurban, Sholat Duduk, Siar Islam, Malu Kepada AllahTags: Aqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddakwahdakwah sunnahdakwah tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyiriktakut syirikTauhid

Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 2)Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Ahli tauhid itu semangat mendakwahkan tauhid 2. Hubungan antara takut syirik dan dakwah tauhid 3. Hukum berdakwah 4. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu mendakwahkan tauhid 4.1. Pertama: Firman Allah dalam surah Yusuf ayat 108 4.2. Kedua: Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim) 4.3. Ketiga: Hadis Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim) 4.4. Keempat: Hadis-hadis lainnya 5. Kesimpulan Ahli tauhid itu semangat mendakwahkan tauhidProfil ahli tauhid yang sempurna adalah sosok hamba Allah yang mencintai Allah, ajaran-Nya (tauhid), kemudian mencintai ahli tauhid, serta mencintai untuk mempelajari tauhid, mengamalkannya, dan mendakwahkannya.Sebaliknya, ahli tauhid membenci sesembahan selain Allah (yang ia rida untuk disembah), musuh-musuh Allah, syirik, membenci musyrik (pelaku syirik) karena kesyirikannya, dan membenci musuh ahli tauhid (musuh kaum muslimin) karena permusuhan mereka terhadap ahli tauhid. Namun, kebencian ahli tauhid terhadap syirik dan musyrik itu dengan tetap tidak boleh menzaliminya dan tetap berlaku adil dan baik kepadanya. Hal ini selama mereka tidak memerangi kaum muslimin, guna menampakkan keindahan Islam.Bahkan, justru ahli tauhid terdorong untuk mendakwahi pelaku kesyirikan dengan bijak dan kasih sayang. Karena tuntutan tauhid adalah tidak rida jika Allah disamakan/ dipersekutukan dengan makhluk (syirik). Sehingga ahli tauhid (muslim dan muslimah) itu jika melihat kesyirikan di masyarakatnya, maka hatinya akan tergerak untuk mendakwahi pelakunya dengan bijaksana, kelembutan, serta kasih sayang, tidak menggunakan cara-cara radikal yang bertentangan dengan sikap dakwah bilhikmah, demi menggapai rida Allah dan menghindari murka Allah.Perlu diketahui, syahadat laailaha illallah itu mengandung makna meyakini, mengucapkan, dan mengabarkan kalimat tauhid, dan ini mengisyaratkan dakwah tauhid, karena mengabarkan tauhid akan sempurna dengan mengajak orang lain bertauhid dan meninggalkan syirik.Hubungan antara takut syirik dan dakwah tauhidBahwa bentuk kesempurnaan rasa takut terhadap kesyirikan adalah berdakwah mengajak manusia untuk bertauhid. Dan dengan mengingatkan diri dan orang lain akan bahaya syirik sebagai bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri dan orang lain agar tidak terjatuh ke dalam dosa terbesar (syirik). Dan agar tidak terkena azab akibat meninggalkan dakwah tauhid dan meninggalkan pengingkaran terhadap syirik.Baca Juga: Fatwa: Apakah Pelaku Syirik Kecil Kekal di Neraka? Hukum berdakwah Ulama rahimahumullah berselisih pendapat tentang hukum berdakwah. Sebagian ulama ada yang berpendapat hukumnya fardhu ‘ain, namun sebagian ulama yang lainnya menyatakan fardhu kifayah. Pendapat yang terkuat, sebagaimana dinyatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,الدعوة إلى الله تجب على كل مسلم ، لكنها فرض على الكفاية ، وإنما يجب على الرجل المعين من ذلك ما يقدر عليه إذا لم يقم به غيره“Dakwah mengajak manusia kepada Allah hukumnya wajib bagi setiap muslim. Akan tetapi, jenis wajibnya adalah fardhu kifayah. Sedangkan bagi orang tertentu menjadi fardhu (‘ain) sesuai dengan kemampuannya, jika tidak ada seorang pun yang berdakwah (di tempat itu).” (Majmu’ul Fatawa, 15: 166) [1]Dengan demikian, hukum dakwah ilallah, mengajak manusia kepada Allah (termasuk dakwah tauhid dan ajaran syari’at Islam yang lainnya) adalah fardhu kifayah. Namun, bisa menjadi fardhu ‘ain dalam kondisi tertentu, misalnya: (1) tidak ada seorang pun yang berdakwah tauhid atau mengingkari kesyirikan di tempat itu; atau (2) sudah ada orang yang berdakwah di tempat tersebut, namun belum mampu memenuhi kewajiban dakwah di tempat tersebut karena sedikitnya da’i dan luasnya wilayah yang didakwahi. Jadi, jika telah ada sekolompok kaum muslimin yang melaksanakan kewajiban dakwah, maka bagi kaum muslimin lainnya hukumnya menjadi sunah.An-Nawawi rahimahullah juga menjelaskan dalam kitab beliau [2] Syarah Shahih Muslim bahwa hukum amar makruf dan nahi mungkar adalah fardhu kifayah. Apabila semua kaum muslimin meninggalkannya, berdosalah orang yang mampu menunaikannya tanpa uzur dan tanpa takut.Dan terkadang hukum mengingkari kemungkaran itu menjadi fardhu ‘ain bagi orang tertentu, misalnya pada kondisi tidak ada yang mengetahui kemungkaran tersebut kecuali dia saja, atau tidak ada yang bisa menghilangkan kemungkaran tersebut kecuali dia saja, atau seperti orang yang melihat istri, anak, atau pembantunya melakukan kemungkaran sedangkan dia mampu untuk mengingkarinya.Baca Juga: Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu mendakwahkan tauhidPertama: Firman Allah dalam surah Yusuf ayat 108قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, (yaitu) berdakwah mengajak (manusia) kepada Allah dengan ilmu syar’i, Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.'”Ciri khas jalan hidup yang ditempuh Imam ahli tauhid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikutinya (para ahli tauhid, dan tokoh utamanya yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhum) adalah berdakwah di atas ilmu syar’i. Dan mengajak manusia kepada Allah itu termasuk dakwah tauhid dan berdakwah mengajarkan ajaran syari’at Islam yang lainnya.Dan dalam ayat ini, Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyatakan bahwa ciri khas jalan hidupnya adalah berdakwah mengajak manusia kepada Allah di atas ilmu syar’i. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah mengajak manusia kepada Allah di atas ilmu syar’i itu hukumnya wajib. Maka, tidak ada satu pun orang yang mengaku mencintai Allah dan mencintai tauhid serta mengaku sebagai pengikut Imam ahli tauhid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan baik, kecuali ia mencintai tauhid tersebar di muka bumi, mencintai negerinya bertauhid, dan mencintai saudaranya bertauhid. Sebagaimana ia benci jika melihat fenomena kesyirikan, sehingga terdorong untuk mendakwahinya.Kedua: Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim)Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke Yaman,إنك تأتي قوماً من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله ـ وفي رواية: إلى أن يوحدوا الله ـ فإن هم أطاعوك لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك: فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق دعوة المظلوم، فإنه ليس بينها وبين الله حجاب“Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat laailaaha illallah. Dalam riwayat yang lain disebutkan ‘Supaya mereka mentauhidkan Allah.’ Jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang yang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari mengambil harta terbaik mereka, dan takutlah kamu dari doanya orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya dengan Allah.”[3] (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis ini, terdapat semangat yang ditunjukkan oleh Imam ahli tauhid, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam mendakwahi masyarakat. Sampai pun masyarakat yang berbeda akidah di negeri seberang (Yaman) dengan mengutus da’i-nya (Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu). Masyarakat Yaman ketika itu berpotensi menentang dakwah, karena mereka adalah ahli kitab. Berarti mereka memiliki ilmu, yang memungkinkan mendebat da’i, sehingga tergambar beratnya mendakwahi mereka. Dengan kondisi dakwah seperti itu pun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bersemangat memerintahkan Mu’adz radhiyallahu ‘anhu mendakwahi mereka dengan tauhid sebagai materi pertama kalinya.Ketiga: Hadis Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu saat mengutusnya dalam peperangan sebagai panglima perang,انفذ على رسلك حتى تنزل بساحتهم، ثم ادعهم إلى الإسلام وأخبرهم بما يجب عليهم من حق الله تعالى فيه، فوالله لأن يهدي الله بك رجلاً واحداً، خير لك من حمر النعم“Melangkahlah engkau ke depan dengan tenang hingga engkau sampai di tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam, dan sampaikanlah kepada mereka akan hak-hak Allah dalam Islam yang wajib atas mereka. Demi Allah, sungguh Allah memberi hidayah (Islam) kepada seseorang dengan sebab kamu, itu lebih baik dari unta-unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada panglima perang yang beliau utus, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu agar berdakwah mengajak kepada Islam sebelum perang dan hal ini menunjukkan wajibnya berdakwah mengajak kepada Islam.Berdakwah mengajak kepada Islam, berarti berdakwah kepada tauhid, karena paling agung dari rukun-rukunnya adalah syahadatain (dan syahadat pertama adalah tauhid), padahal perintah berdakwah tauhid itu di saat akan berperang, tentunya ini suatu keadaan yang berat. Ini menunjukkan kegigihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperjuangkan ajaran terpenting dari agama Islam, yaitu tauhid, agar tersebar di muka bumi, agar seluruh manusia menyembah Allah semata.Baca Juga: Makna Syirik dan Larangan Berbuat SyirikKeempat: Hadis-hadis lainnyaBahkan, dalam hadis lainnya, ketika tauhid telah kokoh di dada kaum muslimin dan bendera Islam telah berkibar tinggi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar kabar bahwa di Yaman ada sebuah patung yang disembah yang bernama Dzul Khalashah. Beliau pun menjadi gundah gulana.Beliau kemudian mengutus Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu ke Yaman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya,ألا تريحني من ذي الخلصة؟“Tidakkah engkau ingin membuatku tenang dari Dzul Khalashah?” (HR. Bukhari no. 4355-4357 dan Muslim no. 136-137, dan yang lainnya)KesimpulanSosok ahli tauhid adalah sosok yang mencintai Allah dan tauhid, serta membenci syirik dan musyrikin karena kesyirikannya. Oleh karena itu, ahli tauhid itu takut terhadap kesyirikan dan semangat mendakwahkan tauhid, mengajak manusia meninggalkan syirik, sebagai wujud kasih sayang kepada manusia lillahi ta’ala.Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Contoh Syirik Akbar dalam Tauhid RububiyyahNasihat Bagi yang Terjerumus dalam Kesyirikan***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://islamqa.info/ar/177381[2] https://islamqa.info/ar/answers/304654[3] Terjemah Kitab Tauhid, Pustaka Syabab, dengan sedikit perubahan, demikian pula terjemah hadis setelahnya.🔍 Rukun Shalat, Durhaka Kepada Ibu, Ayat Qudsi, Kehidupan Di Surga Menurut Al Quran, Wirid Pagi Dan PetangTags: Aqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddakwahdakwah sunnahdakwah tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyiriktakut syirikTauhid

Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 2)Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Ahli tauhid itu semangat mendakwahkan tauhid 2. Hubungan antara takut syirik dan dakwah tauhid 3. Hukum berdakwah 4. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu mendakwahkan tauhid 4.1. Pertama: Firman Allah dalam surah Yusuf ayat 108 4.2. Kedua: Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim) 4.3. Ketiga: Hadis Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim) 4.4. Keempat: Hadis-hadis lainnya 5. Kesimpulan Ahli tauhid itu semangat mendakwahkan tauhidProfil ahli tauhid yang sempurna adalah sosok hamba Allah yang mencintai Allah, ajaran-Nya (tauhid), kemudian mencintai ahli tauhid, serta mencintai untuk mempelajari tauhid, mengamalkannya, dan mendakwahkannya.Sebaliknya, ahli tauhid membenci sesembahan selain Allah (yang ia rida untuk disembah), musuh-musuh Allah, syirik, membenci musyrik (pelaku syirik) karena kesyirikannya, dan membenci musuh ahli tauhid (musuh kaum muslimin) karena permusuhan mereka terhadap ahli tauhid. Namun, kebencian ahli tauhid terhadap syirik dan musyrik itu dengan tetap tidak boleh menzaliminya dan tetap berlaku adil dan baik kepadanya. Hal ini selama mereka tidak memerangi kaum muslimin, guna menampakkan keindahan Islam.Bahkan, justru ahli tauhid terdorong untuk mendakwahi pelaku kesyirikan dengan bijak dan kasih sayang. Karena tuntutan tauhid adalah tidak rida jika Allah disamakan/ dipersekutukan dengan makhluk (syirik). Sehingga ahli tauhid (muslim dan muslimah) itu jika melihat kesyirikan di masyarakatnya, maka hatinya akan tergerak untuk mendakwahi pelakunya dengan bijaksana, kelembutan, serta kasih sayang, tidak menggunakan cara-cara radikal yang bertentangan dengan sikap dakwah bilhikmah, demi menggapai rida Allah dan menghindari murka Allah.Perlu diketahui, syahadat laailaha illallah itu mengandung makna meyakini, mengucapkan, dan mengabarkan kalimat tauhid, dan ini mengisyaratkan dakwah tauhid, karena mengabarkan tauhid akan sempurna dengan mengajak orang lain bertauhid dan meninggalkan syirik.Hubungan antara takut syirik dan dakwah tauhidBahwa bentuk kesempurnaan rasa takut terhadap kesyirikan adalah berdakwah mengajak manusia untuk bertauhid. Dan dengan mengingatkan diri dan orang lain akan bahaya syirik sebagai bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri dan orang lain agar tidak terjatuh ke dalam dosa terbesar (syirik). Dan agar tidak terkena azab akibat meninggalkan dakwah tauhid dan meninggalkan pengingkaran terhadap syirik.Baca Juga: Fatwa: Apakah Pelaku Syirik Kecil Kekal di Neraka? Hukum berdakwah Ulama rahimahumullah berselisih pendapat tentang hukum berdakwah. Sebagian ulama ada yang berpendapat hukumnya fardhu ‘ain, namun sebagian ulama yang lainnya menyatakan fardhu kifayah. Pendapat yang terkuat, sebagaimana dinyatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,الدعوة إلى الله تجب على كل مسلم ، لكنها فرض على الكفاية ، وإنما يجب على الرجل المعين من ذلك ما يقدر عليه إذا لم يقم به غيره“Dakwah mengajak manusia kepada Allah hukumnya wajib bagi setiap muslim. Akan tetapi, jenis wajibnya adalah fardhu kifayah. Sedangkan bagi orang tertentu menjadi fardhu (‘ain) sesuai dengan kemampuannya, jika tidak ada seorang pun yang berdakwah (di tempat itu).” (Majmu’ul Fatawa, 15: 166) [1]Dengan demikian, hukum dakwah ilallah, mengajak manusia kepada Allah (termasuk dakwah tauhid dan ajaran syari’at Islam yang lainnya) adalah fardhu kifayah. Namun, bisa menjadi fardhu ‘ain dalam kondisi tertentu, misalnya: (1) tidak ada seorang pun yang berdakwah tauhid atau mengingkari kesyirikan di tempat itu; atau (2) sudah ada orang yang berdakwah di tempat tersebut, namun belum mampu memenuhi kewajiban dakwah di tempat tersebut karena sedikitnya da’i dan luasnya wilayah yang didakwahi. Jadi, jika telah ada sekolompok kaum muslimin yang melaksanakan kewajiban dakwah, maka bagi kaum muslimin lainnya hukumnya menjadi sunah.An-Nawawi rahimahullah juga menjelaskan dalam kitab beliau [2] Syarah Shahih Muslim bahwa hukum amar makruf dan nahi mungkar adalah fardhu kifayah. Apabila semua kaum muslimin meninggalkannya, berdosalah orang yang mampu menunaikannya tanpa uzur dan tanpa takut.Dan terkadang hukum mengingkari kemungkaran itu menjadi fardhu ‘ain bagi orang tertentu, misalnya pada kondisi tidak ada yang mengetahui kemungkaran tersebut kecuali dia saja, atau tidak ada yang bisa menghilangkan kemungkaran tersebut kecuali dia saja, atau seperti orang yang melihat istri, anak, atau pembantunya melakukan kemungkaran sedangkan dia mampu untuk mengingkarinya.Baca Juga: Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu mendakwahkan tauhidPertama: Firman Allah dalam surah Yusuf ayat 108قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, (yaitu) berdakwah mengajak (manusia) kepada Allah dengan ilmu syar’i, Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.'”Ciri khas jalan hidup yang ditempuh Imam ahli tauhid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikutinya (para ahli tauhid, dan tokoh utamanya yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhum) adalah berdakwah di atas ilmu syar’i. Dan mengajak manusia kepada Allah itu termasuk dakwah tauhid dan berdakwah mengajarkan ajaran syari’at Islam yang lainnya.Dan dalam ayat ini, Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyatakan bahwa ciri khas jalan hidupnya adalah berdakwah mengajak manusia kepada Allah di atas ilmu syar’i. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah mengajak manusia kepada Allah di atas ilmu syar’i itu hukumnya wajib. Maka, tidak ada satu pun orang yang mengaku mencintai Allah dan mencintai tauhid serta mengaku sebagai pengikut Imam ahli tauhid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan baik, kecuali ia mencintai tauhid tersebar di muka bumi, mencintai negerinya bertauhid, dan mencintai saudaranya bertauhid. Sebagaimana ia benci jika melihat fenomena kesyirikan, sehingga terdorong untuk mendakwahinya.Kedua: Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim)Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke Yaman,إنك تأتي قوماً من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله ـ وفي رواية: إلى أن يوحدوا الله ـ فإن هم أطاعوك لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك: فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق دعوة المظلوم، فإنه ليس بينها وبين الله حجاب“Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat laailaaha illallah. Dalam riwayat yang lain disebutkan ‘Supaya mereka mentauhidkan Allah.’ Jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang yang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari mengambil harta terbaik mereka, dan takutlah kamu dari doanya orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya dengan Allah.”[3] (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis ini, terdapat semangat yang ditunjukkan oleh Imam ahli tauhid, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam mendakwahi masyarakat. Sampai pun masyarakat yang berbeda akidah di negeri seberang (Yaman) dengan mengutus da’i-nya (Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu). Masyarakat Yaman ketika itu berpotensi menentang dakwah, karena mereka adalah ahli kitab. Berarti mereka memiliki ilmu, yang memungkinkan mendebat da’i, sehingga tergambar beratnya mendakwahi mereka. Dengan kondisi dakwah seperti itu pun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bersemangat memerintahkan Mu’adz radhiyallahu ‘anhu mendakwahi mereka dengan tauhid sebagai materi pertama kalinya.Ketiga: Hadis Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu saat mengutusnya dalam peperangan sebagai panglima perang,انفذ على رسلك حتى تنزل بساحتهم، ثم ادعهم إلى الإسلام وأخبرهم بما يجب عليهم من حق الله تعالى فيه، فوالله لأن يهدي الله بك رجلاً واحداً، خير لك من حمر النعم“Melangkahlah engkau ke depan dengan tenang hingga engkau sampai di tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam, dan sampaikanlah kepada mereka akan hak-hak Allah dalam Islam yang wajib atas mereka. Demi Allah, sungguh Allah memberi hidayah (Islam) kepada seseorang dengan sebab kamu, itu lebih baik dari unta-unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada panglima perang yang beliau utus, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu agar berdakwah mengajak kepada Islam sebelum perang dan hal ini menunjukkan wajibnya berdakwah mengajak kepada Islam.Berdakwah mengajak kepada Islam, berarti berdakwah kepada tauhid, karena paling agung dari rukun-rukunnya adalah syahadatain (dan syahadat pertama adalah tauhid), padahal perintah berdakwah tauhid itu di saat akan berperang, tentunya ini suatu keadaan yang berat. Ini menunjukkan kegigihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperjuangkan ajaran terpenting dari agama Islam, yaitu tauhid, agar tersebar di muka bumi, agar seluruh manusia menyembah Allah semata.Baca Juga: Makna Syirik dan Larangan Berbuat SyirikKeempat: Hadis-hadis lainnyaBahkan, dalam hadis lainnya, ketika tauhid telah kokoh di dada kaum muslimin dan bendera Islam telah berkibar tinggi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar kabar bahwa di Yaman ada sebuah patung yang disembah yang bernama Dzul Khalashah. Beliau pun menjadi gundah gulana.Beliau kemudian mengutus Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu ke Yaman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya,ألا تريحني من ذي الخلصة؟“Tidakkah engkau ingin membuatku tenang dari Dzul Khalashah?” (HR. Bukhari no. 4355-4357 dan Muslim no. 136-137, dan yang lainnya)KesimpulanSosok ahli tauhid adalah sosok yang mencintai Allah dan tauhid, serta membenci syirik dan musyrikin karena kesyirikannya. Oleh karena itu, ahli tauhid itu takut terhadap kesyirikan dan semangat mendakwahkan tauhid, mengajak manusia meninggalkan syirik, sebagai wujud kasih sayang kepada manusia lillahi ta’ala.Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Contoh Syirik Akbar dalam Tauhid RububiyyahNasihat Bagi yang Terjerumus dalam Kesyirikan***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://islamqa.info/ar/177381[2] https://islamqa.info/ar/answers/304654[3] Terjemah Kitab Tauhid, Pustaka Syabab, dengan sedikit perubahan, demikian pula terjemah hadis setelahnya.🔍 Rukun Shalat, Durhaka Kepada Ibu, Ayat Qudsi, Kehidupan Di Surga Menurut Al Quran, Wirid Pagi Dan PetangTags: Aqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddakwahdakwah sunnahdakwah tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyiriktakut syirikTauhid
Baca pembahasan sebelumnya Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 2)Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Ahli tauhid itu semangat mendakwahkan tauhid 2. Hubungan antara takut syirik dan dakwah tauhid 3. Hukum berdakwah 4. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu mendakwahkan tauhid 4.1. Pertama: Firman Allah dalam surah Yusuf ayat 108 4.2. Kedua: Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim) 4.3. Ketiga: Hadis Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim) 4.4. Keempat: Hadis-hadis lainnya 5. Kesimpulan Ahli tauhid itu semangat mendakwahkan tauhidProfil ahli tauhid yang sempurna adalah sosok hamba Allah yang mencintai Allah, ajaran-Nya (tauhid), kemudian mencintai ahli tauhid, serta mencintai untuk mempelajari tauhid, mengamalkannya, dan mendakwahkannya.Sebaliknya, ahli tauhid membenci sesembahan selain Allah (yang ia rida untuk disembah), musuh-musuh Allah, syirik, membenci musyrik (pelaku syirik) karena kesyirikannya, dan membenci musuh ahli tauhid (musuh kaum muslimin) karena permusuhan mereka terhadap ahli tauhid. Namun, kebencian ahli tauhid terhadap syirik dan musyrik itu dengan tetap tidak boleh menzaliminya dan tetap berlaku adil dan baik kepadanya. Hal ini selama mereka tidak memerangi kaum muslimin, guna menampakkan keindahan Islam.Bahkan, justru ahli tauhid terdorong untuk mendakwahi pelaku kesyirikan dengan bijak dan kasih sayang. Karena tuntutan tauhid adalah tidak rida jika Allah disamakan/ dipersekutukan dengan makhluk (syirik). Sehingga ahli tauhid (muslim dan muslimah) itu jika melihat kesyirikan di masyarakatnya, maka hatinya akan tergerak untuk mendakwahi pelakunya dengan bijaksana, kelembutan, serta kasih sayang, tidak menggunakan cara-cara radikal yang bertentangan dengan sikap dakwah bilhikmah, demi menggapai rida Allah dan menghindari murka Allah.Perlu diketahui, syahadat laailaha illallah itu mengandung makna meyakini, mengucapkan, dan mengabarkan kalimat tauhid, dan ini mengisyaratkan dakwah tauhid, karena mengabarkan tauhid akan sempurna dengan mengajak orang lain bertauhid dan meninggalkan syirik.Hubungan antara takut syirik dan dakwah tauhidBahwa bentuk kesempurnaan rasa takut terhadap kesyirikan adalah berdakwah mengajak manusia untuk bertauhid. Dan dengan mengingatkan diri dan orang lain akan bahaya syirik sebagai bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri dan orang lain agar tidak terjatuh ke dalam dosa terbesar (syirik). Dan agar tidak terkena azab akibat meninggalkan dakwah tauhid dan meninggalkan pengingkaran terhadap syirik.Baca Juga: Fatwa: Apakah Pelaku Syirik Kecil Kekal di Neraka? Hukum berdakwah Ulama rahimahumullah berselisih pendapat tentang hukum berdakwah. Sebagian ulama ada yang berpendapat hukumnya fardhu ‘ain, namun sebagian ulama yang lainnya menyatakan fardhu kifayah. Pendapat yang terkuat, sebagaimana dinyatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,الدعوة إلى الله تجب على كل مسلم ، لكنها فرض على الكفاية ، وإنما يجب على الرجل المعين من ذلك ما يقدر عليه إذا لم يقم به غيره“Dakwah mengajak manusia kepada Allah hukumnya wajib bagi setiap muslim. Akan tetapi, jenis wajibnya adalah fardhu kifayah. Sedangkan bagi orang tertentu menjadi fardhu (‘ain) sesuai dengan kemampuannya, jika tidak ada seorang pun yang berdakwah (di tempat itu).” (Majmu’ul Fatawa, 15: 166) [1]Dengan demikian, hukum dakwah ilallah, mengajak manusia kepada Allah (termasuk dakwah tauhid dan ajaran syari’at Islam yang lainnya) adalah fardhu kifayah. Namun, bisa menjadi fardhu ‘ain dalam kondisi tertentu, misalnya: (1) tidak ada seorang pun yang berdakwah tauhid atau mengingkari kesyirikan di tempat itu; atau (2) sudah ada orang yang berdakwah di tempat tersebut, namun belum mampu memenuhi kewajiban dakwah di tempat tersebut karena sedikitnya da’i dan luasnya wilayah yang didakwahi. Jadi, jika telah ada sekolompok kaum muslimin yang melaksanakan kewajiban dakwah, maka bagi kaum muslimin lainnya hukumnya menjadi sunah.An-Nawawi rahimahullah juga menjelaskan dalam kitab beliau [2] Syarah Shahih Muslim bahwa hukum amar makruf dan nahi mungkar adalah fardhu kifayah. Apabila semua kaum muslimin meninggalkannya, berdosalah orang yang mampu menunaikannya tanpa uzur dan tanpa takut.Dan terkadang hukum mengingkari kemungkaran itu menjadi fardhu ‘ain bagi orang tertentu, misalnya pada kondisi tidak ada yang mengetahui kemungkaran tersebut kecuali dia saja, atau tidak ada yang bisa menghilangkan kemungkaran tersebut kecuali dia saja, atau seperti orang yang melihat istri, anak, atau pembantunya melakukan kemungkaran sedangkan dia mampu untuk mengingkarinya.Baca Juga: Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu mendakwahkan tauhidPertama: Firman Allah dalam surah Yusuf ayat 108قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, (yaitu) berdakwah mengajak (manusia) kepada Allah dengan ilmu syar’i, Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.'”Ciri khas jalan hidup yang ditempuh Imam ahli tauhid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikutinya (para ahli tauhid, dan tokoh utamanya yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhum) adalah berdakwah di atas ilmu syar’i. Dan mengajak manusia kepada Allah itu termasuk dakwah tauhid dan berdakwah mengajarkan ajaran syari’at Islam yang lainnya.Dan dalam ayat ini, Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyatakan bahwa ciri khas jalan hidupnya adalah berdakwah mengajak manusia kepada Allah di atas ilmu syar’i. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah mengajak manusia kepada Allah di atas ilmu syar’i itu hukumnya wajib. Maka, tidak ada satu pun orang yang mengaku mencintai Allah dan mencintai tauhid serta mengaku sebagai pengikut Imam ahli tauhid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan baik, kecuali ia mencintai tauhid tersebar di muka bumi, mencintai negerinya bertauhid, dan mencintai saudaranya bertauhid. Sebagaimana ia benci jika melihat fenomena kesyirikan, sehingga terdorong untuk mendakwahinya.Kedua: Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim)Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke Yaman,إنك تأتي قوماً من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله ـ وفي رواية: إلى أن يوحدوا الله ـ فإن هم أطاعوك لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك: فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق دعوة المظلوم، فإنه ليس بينها وبين الله حجاب“Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat laailaaha illallah. Dalam riwayat yang lain disebutkan ‘Supaya mereka mentauhidkan Allah.’ Jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang yang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari mengambil harta terbaik mereka, dan takutlah kamu dari doanya orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya dengan Allah.”[3] (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis ini, terdapat semangat yang ditunjukkan oleh Imam ahli tauhid, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam mendakwahi masyarakat. Sampai pun masyarakat yang berbeda akidah di negeri seberang (Yaman) dengan mengutus da’i-nya (Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu). Masyarakat Yaman ketika itu berpotensi menentang dakwah, karena mereka adalah ahli kitab. Berarti mereka memiliki ilmu, yang memungkinkan mendebat da’i, sehingga tergambar beratnya mendakwahi mereka. Dengan kondisi dakwah seperti itu pun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bersemangat memerintahkan Mu’adz radhiyallahu ‘anhu mendakwahi mereka dengan tauhid sebagai materi pertama kalinya.Ketiga: Hadis Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu saat mengutusnya dalam peperangan sebagai panglima perang,انفذ على رسلك حتى تنزل بساحتهم، ثم ادعهم إلى الإسلام وأخبرهم بما يجب عليهم من حق الله تعالى فيه، فوالله لأن يهدي الله بك رجلاً واحداً، خير لك من حمر النعم“Melangkahlah engkau ke depan dengan tenang hingga engkau sampai di tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam, dan sampaikanlah kepada mereka akan hak-hak Allah dalam Islam yang wajib atas mereka. Demi Allah, sungguh Allah memberi hidayah (Islam) kepada seseorang dengan sebab kamu, itu lebih baik dari unta-unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada panglima perang yang beliau utus, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu agar berdakwah mengajak kepada Islam sebelum perang dan hal ini menunjukkan wajibnya berdakwah mengajak kepada Islam.Berdakwah mengajak kepada Islam, berarti berdakwah kepada tauhid, karena paling agung dari rukun-rukunnya adalah syahadatain (dan syahadat pertama adalah tauhid), padahal perintah berdakwah tauhid itu di saat akan berperang, tentunya ini suatu keadaan yang berat. Ini menunjukkan kegigihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperjuangkan ajaran terpenting dari agama Islam, yaitu tauhid, agar tersebar di muka bumi, agar seluruh manusia menyembah Allah semata.Baca Juga: Makna Syirik dan Larangan Berbuat SyirikKeempat: Hadis-hadis lainnyaBahkan, dalam hadis lainnya, ketika tauhid telah kokoh di dada kaum muslimin dan bendera Islam telah berkibar tinggi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar kabar bahwa di Yaman ada sebuah patung yang disembah yang bernama Dzul Khalashah. Beliau pun menjadi gundah gulana.Beliau kemudian mengutus Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu ke Yaman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya,ألا تريحني من ذي الخلصة؟“Tidakkah engkau ingin membuatku tenang dari Dzul Khalashah?” (HR. Bukhari no. 4355-4357 dan Muslim no. 136-137, dan yang lainnya)KesimpulanSosok ahli tauhid adalah sosok yang mencintai Allah dan tauhid, serta membenci syirik dan musyrikin karena kesyirikannya. Oleh karena itu, ahli tauhid itu takut terhadap kesyirikan dan semangat mendakwahkan tauhid, mengajak manusia meninggalkan syirik, sebagai wujud kasih sayang kepada manusia lillahi ta’ala.Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Contoh Syirik Akbar dalam Tauhid RububiyyahNasihat Bagi yang Terjerumus dalam Kesyirikan***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://islamqa.info/ar/177381[2] https://islamqa.info/ar/answers/304654[3] Terjemah Kitab Tauhid, Pustaka Syabab, dengan sedikit perubahan, demikian pula terjemah hadis setelahnya.🔍 Rukun Shalat, Durhaka Kepada Ibu, Ayat Qudsi, Kehidupan Di Surga Menurut Al Quran, Wirid Pagi Dan PetangTags: Aqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddakwahdakwah sunnahdakwah tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyiriktakut syirikTauhid


Baca pembahasan sebelumnya Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan Tauhid (Bag. 2)Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Ahli tauhid itu semangat mendakwahkan tauhid 2. Hubungan antara takut syirik dan dakwah tauhid 3. Hukum berdakwah 4. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu mendakwahkan tauhid 4.1. Pertama: Firman Allah dalam surah Yusuf ayat 108 4.2. Kedua: Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim) 4.3. Ketiga: Hadis Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim) 4.4. Keempat: Hadis-hadis lainnya 5. Kesimpulan Ahli tauhid itu semangat mendakwahkan tauhidProfil ahli tauhid yang sempurna adalah sosok hamba Allah yang mencintai Allah, ajaran-Nya (tauhid), kemudian mencintai ahli tauhid, serta mencintai untuk mempelajari tauhid, mengamalkannya, dan mendakwahkannya.Sebaliknya, ahli tauhid membenci sesembahan selain Allah (yang ia rida untuk disembah), musuh-musuh Allah, syirik, membenci musyrik (pelaku syirik) karena kesyirikannya, dan membenci musuh ahli tauhid (musuh kaum muslimin) karena permusuhan mereka terhadap ahli tauhid. Namun, kebencian ahli tauhid terhadap syirik dan musyrik itu dengan tetap tidak boleh menzaliminya dan tetap berlaku adil dan baik kepadanya. Hal ini selama mereka tidak memerangi kaum muslimin, guna menampakkan keindahan Islam.Bahkan, justru ahli tauhid terdorong untuk mendakwahi pelaku kesyirikan dengan bijak dan kasih sayang. Karena tuntutan tauhid adalah tidak rida jika Allah disamakan/ dipersekutukan dengan makhluk (syirik). Sehingga ahli tauhid (muslim dan muslimah) itu jika melihat kesyirikan di masyarakatnya, maka hatinya akan tergerak untuk mendakwahi pelakunya dengan bijaksana, kelembutan, serta kasih sayang, tidak menggunakan cara-cara radikal yang bertentangan dengan sikap dakwah bilhikmah, demi menggapai rida Allah dan menghindari murka Allah.Perlu diketahui, syahadat laailaha illallah itu mengandung makna meyakini, mengucapkan, dan mengabarkan kalimat tauhid, dan ini mengisyaratkan dakwah tauhid, karena mengabarkan tauhid akan sempurna dengan mengajak orang lain bertauhid dan meninggalkan syirik.Hubungan antara takut syirik dan dakwah tauhidBahwa bentuk kesempurnaan rasa takut terhadap kesyirikan adalah berdakwah mengajak manusia untuk bertauhid. Dan dengan mengingatkan diri dan orang lain akan bahaya syirik sebagai bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri dan orang lain agar tidak terjatuh ke dalam dosa terbesar (syirik). Dan agar tidak terkena azab akibat meninggalkan dakwah tauhid dan meninggalkan pengingkaran terhadap syirik.Baca Juga: Fatwa: Apakah Pelaku Syirik Kecil Kekal di Neraka? Hukum berdakwah Ulama rahimahumullah berselisih pendapat tentang hukum berdakwah. Sebagian ulama ada yang berpendapat hukumnya fardhu ‘ain, namun sebagian ulama yang lainnya menyatakan fardhu kifayah. Pendapat yang terkuat, sebagaimana dinyatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,الدعوة إلى الله تجب على كل مسلم ، لكنها فرض على الكفاية ، وإنما يجب على الرجل المعين من ذلك ما يقدر عليه إذا لم يقم به غيره“Dakwah mengajak manusia kepada Allah hukumnya wajib bagi setiap muslim. Akan tetapi, jenis wajibnya adalah fardhu kifayah. Sedangkan bagi orang tertentu menjadi fardhu (‘ain) sesuai dengan kemampuannya, jika tidak ada seorang pun yang berdakwah (di tempat itu).” (Majmu’ul Fatawa, 15: 166) [1]Dengan demikian, hukum dakwah ilallah, mengajak manusia kepada Allah (termasuk dakwah tauhid dan ajaran syari’at Islam yang lainnya) adalah fardhu kifayah. Namun, bisa menjadi fardhu ‘ain dalam kondisi tertentu, misalnya: (1) tidak ada seorang pun yang berdakwah tauhid atau mengingkari kesyirikan di tempat itu; atau (2) sudah ada orang yang berdakwah di tempat tersebut, namun belum mampu memenuhi kewajiban dakwah di tempat tersebut karena sedikitnya da’i dan luasnya wilayah yang didakwahi. Jadi, jika telah ada sekolompok kaum muslimin yang melaksanakan kewajiban dakwah, maka bagi kaum muslimin lainnya hukumnya menjadi sunah.An-Nawawi rahimahullah juga menjelaskan dalam kitab beliau [2] Syarah Shahih Muslim bahwa hukum amar makruf dan nahi mungkar adalah fardhu kifayah. Apabila semua kaum muslimin meninggalkannya, berdosalah orang yang mampu menunaikannya tanpa uzur dan tanpa takut.Dan terkadang hukum mengingkari kemungkaran itu menjadi fardhu ‘ain bagi orang tertentu, misalnya pada kondisi tidak ada yang mengetahui kemungkaran tersebut kecuali dia saja, atau tidak ada yang bisa menghilangkan kemungkaran tersebut kecuali dia saja, atau seperti orang yang melihat istri, anak, atau pembantunya melakukan kemungkaran sedangkan dia mampu untuk mengingkarinya.Baca Juga: Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ahli tauhid itu mendakwahkan tauhidPertama: Firman Allah dalam surah Yusuf ayat 108قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, (yaitu) berdakwah mengajak (manusia) kepada Allah dengan ilmu syar’i, Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.'”Ciri khas jalan hidup yang ditempuh Imam ahli tauhid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikutinya (para ahli tauhid, dan tokoh utamanya yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhum) adalah berdakwah di atas ilmu syar’i. Dan mengajak manusia kepada Allah itu termasuk dakwah tauhid dan berdakwah mengajarkan ajaran syari’at Islam yang lainnya.Dan dalam ayat ini, Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyatakan bahwa ciri khas jalan hidupnya adalah berdakwah mengajak manusia kepada Allah di atas ilmu syar’i. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah mengajak manusia kepada Allah di atas ilmu syar’i itu hukumnya wajib. Maka, tidak ada satu pun orang yang mengaku mencintai Allah dan mencintai tauhid serta mengaku sebagai pengikut Imam ahli tauhid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan baik, kecuali ia mencintai tauhid tersebar di muka bumi, mencintai negerinya bertauhid, dan mencintai saudaranya bertauhid. Sebagaimana ia benci jika melihat fenomena kesyirikan, sehingga terdorong untuk mendakwahinya.Kedua: Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim)Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke Yaman,إنك تأتي قوماً من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله ـ وفي رواية: إلى أن يوحدوا الله ـ فإن هم أطاعوك لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك: فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق دعوة المظلوم، فإنه ليس بينها وبين الله حجاب“Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat laailaaha illallah. Dalam riwayat yang lain disebutkan ‘Supaya mereka mentauhidkan Allah.’ Jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang yang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari mengambil harta terbaik mereka, dan takutlah kamu dari doanya orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya dengan Allah.”[3] (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis ini, terdapat semangat yang ditunjukkan oleh Imam ahli tauhid, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam mendakwahi masyarakat. Sampai pun masyarakat yang berbeda akidah di negeri seberang (Yaman) dengan mengutus da’i-nya (Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu). Masyarakat Yaman ketika itu berpotensi menentang dakwah, karena mereka adalah ahli kitab. Berarti mereka memiliki ilmu, yang memungkinkan mendebat da’i, sehingga tergambar beratnya mendakwahi mereka. Dengan kondisi dakwah seperti itu pun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bersemangat memerintahkan Mu’adz radhiyallahu ‘anhu mendakwahi mereka dengan tauhid sebagai materi pertama kalinya.Ketiga: Hadis Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari dan Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu saat mengutusnya dalam peperangan sebagai panglima perang,انفذ على رسلك حتى تنزل بساحتهم، ثم ادعهم إلى الإسلام وأخبرهم بما يجب عليهم من حق الله تعالى فيه، فوالله لأن يهدي الله بك رجلاً واحداً، خير لك من حمر النعم“Melangkahlah engkau ke depan dengan tenang hingga engkau sampai di tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam, dan sampaikanlah kepada mereka akan hak-hak Allah dalam Islam yang wajib atas mereka. Demi Allah, sungguh Allah memberi hidayah (Islam) kepada seseorang dengan sebab kamu, itu lebih baik dari unta-unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada panglima perang yang beliau utus, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu agar berdakwah mengajak kepada Islam sebelum perang dan hal ini menunjukkan wajibnya berdakwah mengajak kepada Islam.Berdakwah mengajak kepada Islam, berarti berdakwah kepada tauhid, karena paling agung dari rukun-rukunnya adalah syahadatain (dan syahadat pertama adalah tauhid), padahal perintah berdakwah tauhid itu di saat akan berperang, tentunya ini suatu keadaan yang berat. Ini menunjukkan kegigihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperjuangkan ajaran terpenting dari agama Islam, yaitu tauhid, agar tersebar di muka bumi, agar seluruh manusia menyembah Allah semata.Baca Juga: Makna Syirik dan Larangan Berbuat SyirikKeempat: Hadis-hadis lainnyaBahkan, dalam hadis lainnya, ketika tauhid telah kokoh di dada kaum muslimin dan bendera Islam telah berkibar tinggi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar kabar bahwa di Yaman ada sebuah patung yang disembah yang bernama Dzul Khalashah. Beliau pun menjadi gundah gulana.Beliau kemudian mengutus Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu ke Yaman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya,ألا تريحني من ذي الخلصة؟“Tidakkah engkau ingin membuatku tenang dari Dzul Khalashah?” (HR. Bukhari no. 4355-4357 dan Muslim no. 136-137, dan yang lainnya)KesimpulanSosok ahli tauhid adalah sosok yang mencintai Allah dan tauhid, serta membenci syirik dan musyrikin karena kesyirikannya. Oleh karena itu, ahli tauhid itu takut terhadap kesyirikan dan semangat mendakwahkan tauhid, mengajak manusia meninggalkan syirik, sebagai wujud kasih sayang kepada manusia lillahi ta’ala.Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Contoh Syirik Akbar dalam Tauhid RububiyyahNasihat Bagi yang Terjerumus dalam Kesyirikan***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://islamqa.info/ar/177381[2] https://islamqa.info/ar/answers/304654[3] Terjemah Kitab Tauhid, Pustaka Syabab, dengan sedikit perubahan, demikian pula terjemah hadis setelahnya.🔍 Rukun Shalat, Durhaka Kepada Ibu, Ayat Qudsi, Kehidupan Di Surga Menurut Al Quran, Wirid Pagi Dan PetangTags: Aqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddakwahdakwah sunnahdakwah tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyiriktakut syirikTauhid

Apakah Aku Benar-Benar Bahagia?

Sebagian manusia menyangka bahwa kebahagiaan letaknya pada harta dan kekayaan. Sebagian mereka juga menyangka bahwa kebahagiaan terletak pada kedudukan dan pangkat. Seluruh manusia pasti ingin meraih kebahagiaan. Sayangnya, banyak yang akhirnya merugi karena meyakini sebuah kebahagiaan bukan pada hakikat aslinya. Sehingga kehidupan dan kesibukan dunianya mempengaruhi agamanya, serta hawa nafsunya memalingkannya dari kehidupan akhiratnya. Dan pada akhirnya, tidak ada yang ia dapatkan dan ia peroleh, kecuali kesedihan dan penyesalan. Sebuah ironi dari kebahagiaan semu yang mereka yakini.Kebahagiaan yang dicari seluruh manusia ini, sesungguhnya tak dapat diraih, kecuali dengan ketakwaan kepada Allah Ta’ala, dengan menaati-Nya serta menaati Rasul-Nya, dengan menjauhkan diri dari kemaksiatan dan kejelekan. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ * يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,الإيمان بالله ورسوله هو جماع السعادة وأصلها“Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan sumber dan asal muasal kebahagiaan.” (Fatawa Syekhul Islam, 30: 193)Kehidupan dunia dan seluruh kenikmatan yang ada di dalamnya tidaklah mendatangkan kebahagiaan, kecuali jika disertai dengan ketakwaan. Dan ketakwaan kita kepada Allah hanya akan terwujud bila kita beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, serta diiringi dengan ketaatan dan ketundukan penuh di dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan syariat.Baca Juga: Solusi Hidup Bahagia Daftar Isi sembunyikan 1. Jalan kebahagiaan 2. Mereka yang terhalang dari kebahagiaan 3. Apakah aku sudah bahagia? Jalan kebahagiaanTidak ada cara lain untuk berbahagia, kecuali dengan menaati Allah Ta’ala. Siapa yang memperbanyak amal saleh dan menghindarkan diri dari dosa, maka hidupnya akan dipenuhi dengan kebahagiaan dan akan semakin dekat dengan Rabb-Nya. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsir-nya mengatakan, “Kehidupan yang baik tercakup di dalamnya segala macam jenis ketentraman dan kenyamanan dengan segala macam rupa dan bentuknya.” Kebahagiaan ini semakin membanggakan jikalau seorang hamba benar-benar mengesakan Allah Ta’ala, menggantungkan hatinya hanya kepada-Nya serta memasrahkan seluruh urusannya kepada-Nya. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,التوحيد يفتح للعبد باب الخير والسرور واللذة ، والفرح والابتهاج“Tauhid (mengesakan Allah) akan membukakan kebaikan, kebahagiaan, kenikmatan, keceriaan, dan sorak gembira bagi seorang hamba.” (Zaadul Ma’ad, 4: 202)Sejatinya kebahagiaan ini akan benar-benar melekat pada diri seorang hamba jika ia berbuat baik kepada sesama makhluk dan konsisten di dalam menjalankan ketaatan. Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,“Kebahagiaan dalam berinteraksi dengan manusia adalah dengan berbuat baik kepada mereka karena Allah. Sehingga engkau mengharapkan ganjaran dari Allah di dalam perbuatan baikmu kepada mereka, bukan mengharapkan (rida) mereka di dalam ketaatanmu ini kepada Allah. Engkau takut kepada Allah jika tidak bisa berbuat baik kepada mereka, bukan engkau takut berbuat kebaikan kepada Allah karena mereka. Engkau mengayomi mereka dengan baik karena mengharap balasan Allah Ta’ala, bukan demi balasan dan pujian mereka. Engkau tidak menzalimi mereka karena rasa takutmu kepada Allah dan bukan karena ketakutanmu terhadap mereka.” (Fatawa Syekhul Islam, 1: 51)Siapa yang bisa merasakan manisnya keimanan, maka tentu ia juga akan merasakan manisnya kebahagiaan. Ia akan hidup dengan dada yang lapang, hati yang tenang, dan tubuh yang tenteram. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,وسمعت شيخ الإسلام ابن تيمية يقول: إن في الدنيا جنة من لم يدخلها لا يدخل جنة الآخرة، وقال لي مرة ما يصنع أعدائي بي إن جنتي وبستاني في صدري إن رحلت فهي معي لا تفارقني“Aku pernah mendengar Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, ‘Sesungguhnya di dunia ini ada surga yang jika seseorang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk ke dalam surga akhirat.’ Beliau suatu ketika juga mengatakan, ‘Apa yang bisa diperbuat oleh musuh-musuhku?! Sesungguhnya surgaku dan tamanku ada di dalam dadaku. Jika aku pergi, maka surga itu akan tetap bersamaku, tak akan pernah berpisah denganku”. (Al-Waabil As-Shayyib, hal. 20)Baca Juga: Celaka atau Bahagia?Mereka yang terhalang dari kebahagiaanKerugian dan penderitaan bagi siapapun yang mengikuti hawa nafsunya. Dengan terjatuhnya seseorang ke dalam jurang kemaksiatan dan kejelekan yang secara sekilas terkesan membahagiakan di dunia ini, namun faktanya penuh dengan perkara haram dan melalaikan, pastilah akan mendatangkan kemudaratan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)Syekhul Islam rahimahullah mengatakan, “Keburukan di muka bumi yang menimpa khusus seorang hamba, sebabnya adalah menyelisihi Rasulullah atau kebodohan terhadap risalah yang dibawanya. Adapun kebahagiaan seorang hamba di dunia dan di akhirat, maka itu karena mengikuti risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Fatawa Syekhul Islam, 19: 93)Jalan keluar terakhir dari kesengsaraan menuju kebahagiaan adalah dengan bertobat dan kembali kepada Allah Ta’ala. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,ويغلق باب الشرور بالتوبة والإستغفار“Pintu-pintu keburukan ditutup dengan tobat dan istigfar (memohon ampunan kepada Allah).” (Zaadul Ma’ad, 4: 203)Ketuklah pintu tobat dan tutuplah pintu kemaksiatan, agar engkau bisa merasakan manisnya kebahagiaan hakiki. Sesungguhnya sehatnya hati ini ada di dalam meninggalkan dosa-dosa, karena dosa bagi hati itu laksana racun. Jika tidak menghancurkannya, setidaknya akan melemahkannya. Barangsiapa yang beralih dari rendahnya kemaksiatan menuju mulianya ketaatan, maka akan Allah sukseskan dirinya walaupun tidak harus dengan harta, Allah akan berikan pada dirinya kehangatan, walaupun tanpa adanya seorang sahabat.Apakah aku sudah bahagia?Sesungguhnya indikator kebahagiaan hakiki seseorang terletak pada tiga hal. Jika ketiga hal tersebut terkumpul pada dirinya, maka insyaAllah dia termasuk orang-orang yang berbahagia. Ketiga hal tersebut adalah:Pertama: Bersyukur atas segala kenikmatan.Kedua: Bersabar atas segala macam cobaan.Ketiga: Senantiasa beristigfar, meminta ampun setiap kali melakukan kemaksiatan.Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,إذا أُنعم عليه شكر، وإذا ابتُلِيَ صبر، وإذا أذنب استغفر. فإن هذه الأمور الثلاثة هي عنوان سعادة العبد، وعلامة فلاحه في دُنياه وأُخراه، ولا ينفكُّ عبدٌ عنها أبدًا.“Jika diberi kenikmatan, ia bersyukur. Jika diberi ujian, ia bersabar. Dan jika berbuat dosa, ia beristighfar. Maka, sesungguhnya ketiga hal ini merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba, dan tanda kesuksesannya di kehidupan dunia dan akhirat. Kesemuanya itu (nikmat, ujian, dan dosa) tak akan pernah terlepas pada diri seorang hamba.” (Al-Waabil As-Sayyib, hal. 6)Ibnul Qayyim rahimahullah juga mengatakan,“Tanda kebahagiaan seorang hamba adalah adalah meletakkan kebaikan-kebaikan yang telah ia lakukan di punggung belakangnya (melupakan dan tidak mengungkit-ungkitnya) serta meletakkan keburukan-keburukan yang telah ia lakukan di depan matanya (senantiasa mengingat dan memohon ampunan atas keburukan tersebut), dan tanda kerugian serta kesedihan adalah menjadikan kebaikan-kebaikan di depan matanya (senantiasa mengungkitnya) serta menjadikan keburukan-keburukan di belakang punggungnya (melupakan dan tidak bertobat darinya)”. (Miftahu Daari As-Sa’adah, 2: 310)Orang yang berbahagia adalah orang yang senantiasa bertakwa kepada Penciptanya, senantiasa berlemah lembut dan berbuat baik kepada manusia lainnya, dan mensyukuri semua kenikmatan dengan memanfaatkannya di dalam ketaatan. Orang yang berbahagia adalah mereka yang menghadapi ujian dengan penuh kesabaran dan pengharapan pahala dari Allah Ta’ala, lapang dada, serta merasa yakin bahwa Allah akan menyucikan dirinya dan meninggikan derajatnya karena ujian yang ia hadapi tersebut. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.'” (QS. Az-Zumar: 10)Wallahu a’lam bisshowaab.Baca Juga:Mengapa Aku Tidak Bahagia?Tanda-Tanda Kebahagiaan yang Sejati***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian dari kitab Khutuwaat Ila As-Sa’adah karya Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim hafidzohullah.🔍 Hukum Memakai Cadar, Dalil Memuliakan Tamu, Contoh Perilaku Nifaq, Renungan Ulang Tahun Islami, Rumus Pembagian WarisanTags: adabAkhlakamalan hatibahagiahati bahagiahidup bahagianasihatnasihat islamsyukur

Apakah Aku Benar-Benar Bahagia?

Sebagian manusia menyangka bahwa kebahagiaan letaknya pada harta dan kekayaan. Sebagian mereka juga menyangka bahwa kebahagiaan terletak pada kedudukan dan pangkat. Seluruh manusia pasti ingin meraih kebahagiaan. Sayangnya, banyak yang akhirnya merugi karena meyakini sebuah kebahagiaan bukan pada hakikat aslinya. Sehingga kehidupan dan kesibukan dunianya mempengaruhi agamanya, serta hawa nafsunya memalingkannya dari kehidupan akhiratnya. Dan pada akhirnya, tidak ada yang ia dapatkan dan ia peroleh, kecuali kesedihan dan penyesalan. Sebuah ironi dari kebahagiaan semu yang mereka yakini.Kebahagiaan yang dicari seluruh manusia ini, sesungguhnya tak dapat diraih, kecuali dengan ketakwaan kepada Allah Ta’ala, dengan menaati-Nya serta menaati Rasul-Nya, dengan menjauhkan diri dari kemaksiatan dan kejelekan. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ * يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,الإيمان بالله ورسوله هو جماع السعادة وأصلها“Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan sumber dan asal muasal kebahagiaan.” (Fatawa Syekhul Islam, 30: 193)Kehidupan dunia dan seluruh kenikmatan yang ada di dalamnya tidaklah mendatangkan kebahagiaan, kecuali jika disertai dengan ketakwaan. Dan ketakwaan kita kepada Allah hanya akan terwujud bila kita beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, serta diiringi dengan ketaatan dan ketundukan penuh di dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan syariat.Baca Juga: Solusi Hidup Bahagia Daftar Isi sembunyikan 1. Jalan kebahagiaan 2. Mereka yang terhalang dari kebahagiaan 3. Apakah aku sudah bahagia? Jalan kebahagiaanTidak ada cara lain untuk berbahagia, kecuali dengan menaati Allah Ta’ala. Siapa yang memperbanyak amal saleh dan menghindarkan diri dari dosa, maka hidupnya akan dipenuhi dengan kebahagiaan dan akan semakin dekat dengan Rabb-Nya. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsir-nya mengatakan, “Kehidupan yang baik tercakup di dalamnya segala macam jenis ketentraman dan kenyamanan dengan segala macam rupa dan bentuknya.” Kebahagiaan ini semakin membanggakan jikalau seorang hamba benar-benar mengesakan Allah Ta’ala, menggantungkan hatinya hanya kepada-Nya serta memasrahkan seluruh urusannya kepada-Nya. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,التوحيد يفتح للعبد باب الخير والسرور واللذة ، والفرح والابتهاج“Tauhid (mengesakan Allah) akan membukakan kebaikan, kebahagiaan, kenikmatan, keceriaan, dan sorak gembira bagi seorang hamba.” (Zaadul Ma’ad, 4: 202)Sejatinya kebahagiaan ini akan benar-benar melekat pada diri seorang hamba jika ia berbuat baik kepada sesama makhluk dan konsisten di dalam menjalankan ketaatan. Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,“Kebahagiaan dalam berinteraksi dengan manusia adalah dengan berbuat baik kepada mereka karena Allah. Sehingga engkau mengharapkan ganjaran dari Allah di dalam perbuatan baikmu kepada mereka, bukan mengharapkan (rida) mereka di dalam ketaatanmu ini kepada Allah. Engkau takut kepada Allah jika tidak bisa berbuat baik kepada mereka, bukan engkau takut berbuat kebaikan kepada Allah karena mereka. Engkau mengayomi mereka dengan baik karena mengharap balasan Allah Ta’ala, bukan demi balasan dan pujian mereka. Engkau tidak menzalimi mereka karena rasa takutmu kepada Allah dan bukan karena ketakutanmu terhadap mereka.” (Fatawa Syekhul Islam, 1: 51)Siapa yang bisa merasakan manisnya keimanan, maka tentu ia juga akan merasakan manisnya kebahagiaan. Ia akan hidup dengan dada yang lapang, hati yang tenang, dan tubuh yang tenteram. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,وسمعت شيخ الإسلام ابن تيمية يقول: إن في الدنيا جنة من لم يدخلها لا يدخل جنة الآخرة، وقال لي مرة ما يصنع أعدائي بي إن جنتي وبستاني في صدري إن رحلت فهي معي لا تفارقني“Aku pernah mendengar Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, ‘Sesungguhnya di dunia ini ada surga yang jika seseorang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk ke dalam surga akhirat.’ Beliau suatu ketika juga mengatakan, ‘Apa yang bisa diperbuat oleh musuh-musuhku?! Sesungguhnya surgaku dan tamanku ada di dalam dadaku. Jika aku pergi, maka surga itu akan tetap bersamaku, tak akan pernah berpisah denganku”. (Al-Waabil As-Shayyib, hal. 20)Baca Juga: Celaka atau Bahagia?Mereka yang terhalang dari kebahagiaanKerugian dan penderitaan bagi siapapun yang mengikuti hawa nafsunya. Dengan terjatuhnya seseorang ke dalam jurang kemaksiatan dan kejelekan yang secara sekilas terkesan membahagiakan di dunia ini, namun faktanya penuh dengan perkara haram dan melalaikan, pastilah akan mendatangkan kemudaratan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)Syekhul Islam rahimahullah mengatakan, “Keburukan di muka bumi yang menimpa khusus seorang hamba, sebabnya adalah menyelisihi Rasulullah atau kebodohan terhadap risalah yang dibawanya. Adapun kebahagiaan seorang hamba di dunia dan di akhirat, maka itu karena mengikuti risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Fatawa Syekhul Islam, 19: 93)Jalan keluar terakhir dari kesengsaraan menuju kebahagiaan adalah dengan bertobat dan kembali kepada Allah Ta’ala. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,ويغلق باب الشرور بالتوبة والإستغفار“Pintu-pintu keburukan ditutup dengan tobat dan istigfar (memohon ampunan kepada Allah).” (Zaadul Ma’ad, 4: 203)Ketuklah pintu tobat dan tutuplah pintu kemaksiatan, agar engkau bisa merasakan manisnya kebahagiaan hakiki. Sesungguhnya sehatnya hati ini ada di dalam meninggalkan dosa-dosa, karena dosa bagi hati itu laksana racun. Jika tidak menghancurkannya, setidaknya akan melemahkannya. Barangsiapa yang beralih dari rendahnya kemaksiatan menuju mulianya ketaatan, maka akan Allah sukseskan dirinya walaupun tidak harus dengan harta, Allah akan berikan pada dirinya kehangatan, walaupun tanpa adanya seorang sahabat.Apakah aku sudah bahagia?Sesungguhnya indikator kebahagiaan hakiki seseorang terletak pada tiga hal. Jika ketiga hal tersebut terkumpul pada dirinya, maka insyaAllah dia termasuk orang-orang yang berbahagia. Ketiga hal tersebut adalah:Pertama: Bersyukur atas segala kenikmatan.Kedua: Bersabar atas segala macam cobaan.Ketiga: Senantiasa beristigfar, meminta ampun setiap kali melakukan kemaksiatan.Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,إذا أُنعم عليه شكر، وإذا ابتُلِيَ صبر، وإذا أذنب استغفر. فإن هذه الأمور الثلاثة هي عنوان سعادة العبد، وعلامة فلاحه في دُنياه وأُخراه، ولا ينفكُّ عبدٌ عنها أبدًا.“Jika diberi kenikmatan, ia bersyukur. Jika diberi ujian, ia bersabar. Dan jika berbuat dosa, ia beristighfar. Maka, sesungguhnya ketiga hal ini merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba, dan tanda kesuksesannya di kehidupan dunia dan akhirat. Kesemuanya itu (nikmat, ujian, dan dosa) tak akan pernah terlepas pada diri seorang hamba.” (Al-Waabil As-Sayyib, hal. 6)Ibnul Qayyim rahimahullah juga mengatakan,“Tanda kebahagiaan seorang hamba adalah adalah meletakkan kebaikan-kebaikan yang telah ia lakukan di punggung belakangnya (melupakan dan tidak mengungkit-ungkitnya) serta meletakkan keburukan-keburukan yang telah ia lakukan di depan matanya (senantiasa mengingat dan memohon ampunan atas keburukan tersebut), dan tanda kerugian serta kesedihan adalah menjadikan kebaikan-kebaikan di depan matanya (senantiasa mengungkitnya) serta menjadikan keburukan-keburukan di belakang punggungnya (melupakan dan tidak bertobat darinya)”. (Miftahu Daari As-Sa’adah, 2: 310)Orang yang berbahagia adalah orang yang senantiasa bertakwa kepada Penciptanya, senantiasa berlemah lembut dan berbuat baik kepada manusia lainnya, dan mensyukuri semua kenikmatan dengan memanfaatkannya di dalam ketaatan. Orang yang berbahagia adalah mereka yang menghadapi ujian dengan penuh kesabaran dan pengharapan pahala dari Allah Ta’ala, lapang dada, serta merasa yakin bahwa Allah akan menyucikan dirinya dan meninggikan derajatnya karena ujian yang ia hadapi tersebut. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.'” (QS. Az-Zumar: 10)Wallahu a’lam bisshowaab.Baca Juga:Mengapa Aku Tidak Bahagia?Tanda-Tanda Kebahagiaan yang Sejati***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian dari kitab Khutuwaat Ila As-Sa’adah karya Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim hafidzohullah.🔍 Hukum Memakai Cadar, Dalil Memuliakan Tamu, Contoh Perilaku Nifaq, Renungan Ulang Tahun Islami, Rumus Pembagian WarisanTags: adabAkhlakamalan hatibahagiahati bahagiahidup bahagianasihatnasihat islamsyukur
Sebagian manusia menyangka bahwa kebahagiaan letaknya pada harta dan kekayaan. Sebagian mereka juga menyangka bahwa kebahagiaan terletak pada kedudukan dan pangkat. Seluruh manusia pasti ingin meraih kebahagiaan. Sayangnya, banyak yang akhirnya merugi karena meyakini sebuah kebahagiaan bukan pada hakikat aslinya. Sehingga kehidupan dan kesibukan dunianya mempengaruhi agamanya, serta hawa nafsunya memalingkannya dari kehidupan akhiratnya. Dan pada akhirnya, tidak ada yang ia dapatkan dan ia peroleh, kecuali kesedihan dan penyesalan. Sebuah ironi dari kebahagiaan semu yang mereka yakini.Kebahagiaan yang dicari seluruh manusia ini, sesungguhnya tak dapat diraih, kecuali dengan ketakwaan kepada Allah Ta’ala, dengan menaati-Nya serta menaati Rasul-Nya, dengan menjauhkan diri dari kemaksiatan dan kejelekan. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ * يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,الإيمان بالله ورسوله هو جماع السعادة وأصلها“Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan sumber dan asal muasal kebahagiaan.” (Fatawa Syekhul Islam, 30: 193)Kehidupan dunia dan seluruh kenikmatan yang ada di dalamnya tidaklah mendatangkan kebahagiaan, kecuali jika disertai dengan ketakwaan. Dan ketakwaan kita kepada Allah hanya akan terwujud bila kita beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, serta diiringi dengan ketaatan dan ketundukan penuh di dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan syariat.Baca Juga: Solusi Hidup Bahagia Daftar Isi sembunyikan 1. Jalan kebahagiaan 2. Mereka yang terhalang dari kebahagiaan 3. Apakah aku sudah bahagia? Jalan kebahagiaanTidak ada cara lain untuk berbahagia, kecuali dengan menaati Allah Ta’ala. Siapa yang memperbanyak amal saleh dan menghindarkan diri dari dosa, maka hidupnya akan dipenuhi dengan kebahagiaan dan akan semakin dekat dengan Rabb-Nya. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsir-nya mengatakan, “Kehidupan yang baik tercakup di dalamnya segala macam jenis ketentraman dan kenyamanan dengan segala macam rupa dan bentuknya.” Kebahagiaan ini semakin membanggakan jikalau seorang hamba benar-benar mengesakan Allah Ta’ala, menggantungkan hatinya hanya kepada-Nya serta memasrahkan seluruh urusannya kepada-Nya. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,التوحيد يفتح للعبد باب الخير والسرور واللذة ، والفرح والابتهاج“Tauhid (mengesakan Allah) akan membukakan kebaikan, kebahagiaan, kenikmatan, keceriaan, dan sorak gembira bagi seorang hamba.” (Zaadul Ma’ad, 4: 202)Sejatinya kebahagiaan ini akan benar-benar melekat pada diri seorang hamba jika ia berbuat baik kepada sesama makhluk dan konsisten di dalam menjalankan ketaatan. Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,“Kebahagiaan dalam berinteraksi dengan manusia adalah dengan berbuat baik kepada mereka karena Allah. Sehingga engkau mengharapkan ganjaran dari Allah di dalam perbuatan baikmu kepada mereka, bukan mengharapkan (rida) mereka di dalam ketaatanmu ini kepada Allah. Engkau takut kepada Allah jika tidak bisa berbuat baik kepada mereka, bukan engkau takut berbuat kebaikan kepada Allah karena mereka. Engkau mengayomi mereka dengan baik karena mengharap balasan Allah Ta’ala, bukan demi balasan dan pujian mereka. Engkau tidak menzalimi mereka karena rasa takutmu kepada Allah dan bukan karena ketakutanmu terhadap mereka.” (Fatawa Syekhul Islam, 1: 51)Siapa yang bisa merasakan manisnya keimanan, maka tentu ia juga akan merasakan manisnya kebahagiaan. Ia akan hidup dengan dada yang lapang, hati yang tenang, dan tubuh yang tenteram. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,وسمعت شيخ الإسلام ابن تيمية يقول: إن في الدنيا جنة من لم يدخلها لا يدخل جنة الآخرة، وقال لي مرة ما يصنع أعدائي بي إن جنتي وبستاني في صدري إن رحلت فهي معي لا تفارقني“Aku pernah mendengar Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, ‘Sesungguhnya di dunia ini ada surga yang jika seseorang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk ke dalam surga akhirat.’ Beliau suatu ketika juga mengatakan, ‘Apa yang bisa diperbuat oleh musuh-musuhku?! Sesungguhnya surgaku dan tamanku ada di dalam dadaku. Jika aku pergi, maka surga itu akan tetap bersamaku, tak akan pernah berpisah denganku”. (Al-Waabil As-Shayyib, hal. 20)Baca Juga: Celaka atau Bahagia?Mereka yang terhalang dari kebahagiaanKerugian dan penderitaan bagi siapapun yang mengikuti hawa nafsunya. Dengan terjatuhnya seseorang ke dalam jurang kemaksiatan dan kejelekan yang secara sekilas terkesan membahagiakan di dunia ini, namun faktanya penuh dengan perkara haram dan melalaikan, pastilah akan mendatangkan kemudaratan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)Syekhul Islam rahimahullah mengatakan, “Keburukan di muka bumi yang menimpa khusus seorang hamba, sebabnya adalah menyelisihi Rasulullah atau kebodohan terhadap risalah yang dibawanya. Adapun kebahagiaan seorang hamba di dunia dan di akhirat, maka itu karena mengikuti risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Fatawa Syekhul Islam, 19: 93)Jalan keluar terakhir dari kesengsaraan menuju kebahagiaan adalah dengan bertobat dan kembali kepada Allah Ta’ala. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,ويغلق باب الشرور بالتوبة والإستغفار“Pintu-pintu keburukan ditutup dengan tobat dan istigfar (memohon ampunan kepada Allah).” (Zaadul Ma’ad, 4: 203)Ketuklah pintu tobat dan tutuplah pintu kemaksiatan, agar engkau bisa merasakan manisnya kebahagiaan hakiki. Sesungguhnya sehatnya hati ini ada di dalam meninggalkan dosa-dosa, karena dosa bagi hati itu laksana racun. Jika tidak menghancurkannya, setidaknya akan melemahkannya. Barangsiapa yang beralih dari rendahnya kemaksiatan menuju mulianya ketaatan, maka akan Allah sukseskan dirinya walaupun tidak harus dengan harta, Allah akan berikan pada dirinya kehangatan, walaupun tanpa adanya seorang sahabat.Apakah aku sudah bahagia?Sesungguhnya indikator kebahagiaan hakiki seseorang terletak pada tiga hal. Jika ketiga hal tersebut terkumpul pada dirinya, maka insyaAllah dia termasuk orang-orang yang berbahagia. Ketiga hal tersebut adalah:Pertama: Bersyukur atas segala kenikmatan.Kedua: Bersabar atas segala macam cobaan.Ketiga: Senantiasa beristigfar, meminta ampun setiap kali melakukan kemaksiatan.Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,إذا أُنعم عليه شكر، وإذا ابتُلِيَ صبر، وإذا أذنب استغفر. فإن هذه الأمور الثلاثة هي عنوان سعادة العبد، وعلامة فلاحه في دُنياه وأُخراه، ولا ينفكُّ عبدٌ عنها أبدًا.“Jika diberi kenikmatan, ia bersyukur. Jika diberi ujian, ia bersabar. Dan jika berbuat dosa, ia beristighfar. Maka, sesungguhnya ketiga hal ini merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba, dan tanda kesuksesannya di kehidupan dunia dan akhirat. Kesemuanya itu (nikmat, ujian, dan dosa) tak akan pernah terlepas pada diri seorang hamba.” (Al-Waabil As-Sayyib, hal. 6)Ibnul Qayyim rahimahullah juga mengatakan,“Tanda kebahagiaan seorang hamba adalah adalah meletakkan kebaikan-kebaikan yang telah ia lakukan di punggung belakangnya (melupakan dan tidak mengungkit-ungkitnya) serta meletakkan keburukan-keburukan yang telah ia lakukan di depan matanya (senantiasa mengingat dan memohon ampunan atas keburukan tersebut), dan tanda kerugian serta kesedihan adalah menjadikan kebaikan-kebaikan di depan matanya (senantiasa mengungkitnya) serta menjadikan keburukan-keburukan di belakang punggungnya (melupakan dan tidak bertobat darinya)”. (Miftahu Daari As-Sa’adah, 2: 310)Orang yang berbahagia adalah orang yang senantiasa bertakwa kepada Penciptanya, senantiasa berlemah lembut dan berbuat baik kepada manusia lainnya, dan mensyukuri semua kenikmatan dengan memanfaatkannya di dalam ketaatan. Orang yang berbahagia adalah mereka yang menghadapi ujian dengan penuh kesabaran dan pengharapan pahala dari Allah Ta’ala, lapang dada, serta merasa yakin bahwa Allah akan menyucikan dirinya dan meninggikan derajatnya karena ujian yang ia hadapi tersebut. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.'” (QS. Az-Zumar: 10)Wallahu a’lam bisshowaab.Baca Juga:Mengapa Aku Tidak Bahagia?Tanda-Tanda Kebahagiaan yang Sejati***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian dari kitab Khutuwaat Ila As-Sa’adah karya Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim hafidzohullah.🔍 Hukum Memakai Cadar, Dalil Memuliakan Tamu, Contoh Perilaku Nifaq, Renungan Ulang Tahun Islami, Rumus Pembagian WarisanTags: adabAkhlakamalan hatibahagiahati bahagiahidup bahagianasihatnasihat islamsyukur


Sebagian manusia menyangka bahwa kebahagiaan letaknya pada harta dan kekayaan. Sebagian mereka juga menyangka bahwa kebahagiaan terletak pada kedudukan dan pangkat. Seluruh manusia pasti ingin meraih kebahagiaan. Sayangnya, banyak yang akhirnya merugi karena meyakini sebuah kebahagiaan bukan pada hakikat aslinya. Sehingga kehidupan dan kesibukan dunianya mempengaruhi agamanya, serta hawa nafsunya memalingkannya dari kehidupan akhiratnya. Dan pada akhirnya, tidak ada yang ia dapatkan dan ia peroleh, kecuali kesedihan dan penyesalan. Sebuah ironi dari kebahagiaan semu yang mereka yakini.Kebahagiaan yang dicari seluruh manusia ini, sesungguhnya tak dapat diraih, kecuali dengan ketakwaan kepada Allah Ta’ala, dengan menaati-Nya serta menaati Rasul-Nya, dengan menjauhkan diri dari kemaksiatan dan kejelekan. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ * يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,الإيمان بالله ورسوله هو جماع السعادة وأصلها“Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan sumber dan asal muasal kebahagiaan.” (Fatawa Syekhul Islam, 30: 193)Kehidupan dunia dan seluruh kenikmatan yang ada di dalamnya tidaklah mendatangkan kebahagiaan, kecuali jika disertai dengan ketakwaan. Dan ketakwaan kita kepada Allah hanya akan terwujud bila kita beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, serta diiringi dengan ketaatan dan ketundukan penuh di dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan syariat.Baca Juga: Solusi Hidup Bahagia Daftar Isi sembunyikan 1. Jalan kebahagiaan 2. Mereka yang terhalang dari kebahagiaan 3. Apakah aku sudah bahagia? Jalan kebahagiaanTidak ada cara lain untuk berbahagia, kecuali dengan menaati Allah Ta’ala. Siapa yang memperbanyak amal saleh dan menghindarkan diri dari dosa, maka hidupnya akan dipenuhi dengan kebahagiaan dan akan semakin dekat dengan Rabb-Nya. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsir-nya mengatakan, “Kehidupan yang baik tercakup di dalamnya segala macam jenis ketentraman dan kenyamanan dengan segala macam rupa dan bentuknya.” Kebahagiaan ini semakin membanggakan jikalau seorang hamba benar-benar mengesakan Allah Ta’ala, menggantungkan hatinya hanya kepada-Nya serta memasrahkan seluruh urusannya kepada-Nya. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,التوحيد يفتح للعبد باب الخير والسرور واللذة ، والفرح والابتهاج“Tauhid (mengesakan Allah) akan membukakan kebaikan, kebahagiaan, kenikmatan, keceriaan, dan sorak gembira bagi seorang hamba.” (Zaadul Ma’ad, 4: 202)Sejatinya kebahagiaan ini akan benar-benar melekat pada diri seorang hamba jika ia berbuat baik kepada sesama makhluk dan konsisten di dalam menjalankan ketaatan. Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,“Kebahagiaan dalam berinteraksi dengan manusia adalah dengan berbuat baik kepada mereka karena Allah. Sehingga engkau mengharapkan ganjaran dari Allah di dalam perbuatan baikmu kepada mereka, bukan mengharapkan (rida) mereka di dalam ketaatanmu ini kepada Allah. Engkau takut kepada Allah jika tidak bisa berbuat baik kepada mereka, bukan engkau takut berbuat kebaikan kepada Allah karena mereka. Engkau mengayomi mereka dengan baik karena mengharap balasan Allah Ta’ala, bukan demi balasan dan pujian mereka. Engkau tidak menzalimi mereka karena rasa takutmu kepada Allah dan bukan karena ketakutanmu terhadap mereka.” (Fatawa Syekhul Islam, 1: 51)Siapa yang bisa merasakan manisnya keimanan, maka tentu ia juga akan merasakan manisnya kebahagiaan. Ia akan hidup dengan dada yang lapang, hati yang tenang, dan tubuh yang tenteram. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,وسمعت شيخ الإسلام ابن تيمية يقول: إن في الدنيا جنة من لم يدخلها لا يدخل جنة الآخرة، وقال لي مرة ما يصنع أعدائي بي إن جنتي وبستاني في صدري إن رحلت فهي معي لا تفارقني“Aku pernah mendengar Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, ‘Sesungguhnya di dunia ini ada surga yang jika seseorang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk ke dalam surga akhirat.’ Beliau suatu ketika juga mengatakan, ‘Apa yang bisa diperbuat oleh musuh-musuhku?! Sesungguhnya surgaku dan tamanku ada di dalam dadaku. Jika aku pergi, maka surga itu akan tetap bersamaku, tak akan pernah berpisah denganku”. (Al-Waabil As-Shayyib, hal. 20)Baca Juga: Celaka atau Bahagia?Mereka yang terhalang dari kebahagiaanKerugian dan penderitaan bagi siapapun yang mengikuti hawa nafsunya. Dengan terjatuhnya seseorang ke dalam jurang kemaksiatan dan kejelekan yang secara sekilas terkesan membahagiakan di dunia ini, namun faktanya penuh dengan perkara haram dan melalaikan, pastilah akan mendatangkan kemudaratan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)Syekhul Islam rahimahullah mengatakan, “Keburukan di muka bumi yang menimpa khusus seorang hamba, sebabnya adalah menyelisihi Rasulullah atau kebodohan terhadap risalah yang dibawanya. Adapun kebahagiaan seorang hamba di dunia dan di akhirat, maka itu karena mengikuti risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Fatawa Syekhul Islam, 19: 93)Jalan keluar terakhir dari kesengsaraan menuju kebahagiaan adalah dengan bertobat dan kembali kepada Allah Ta’ala. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,ويغلق باب الشرور بالتوبة والإستغفار“Pintu-pintu keburukan ditutup dengan tobat dan istigfar (memohon ampunan kepada Allah).” (Zaadul Ma’ad, 4: 203)Ketuklah pintu tobat dan tutuplah pintu kemaksiatan, agar engkau bisa merasakan manisnya kebahagiaan hakiki. Sesungguhnya sehatnya hati ini ada di dalam meninggalkan dosa-dosa, karena dosa bagi hati itu laksana racun. Jika tidak menghancurkannya, setidaknya akan melemahkannya. Barangsiapa yang beralih dari rendahnya kemaksiatan menuju mulianya ketaatan, maka akan Allah sukseskan dirinya walaupun tidak harus dengan harta, Allah akan berikan pada dirinya kehangatan, walaupun tanpa adanya seorang sahabat.Apakah aku sudah bahagia?Sesungguhnya indikator kebahagiaan hakiki seseorang terletak pada tiga hal. Jika ketiga hal tersebut terkumpul pada dirinya, maka insyaAllah dia termasuk orang-orang yang berbahagia. Ketiga hal tersebut adalah:Pertama: Bersyukur atas segala kenikmatan.Kedua: Bersabar atas segala macam cobaan.Ketiga: Senantiasa beristigfar, meminta ampun setiap kali melakukan kemaksiatan.Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,إذا أُنعم عليه شكر، وإذا ابتُلِيَ صبر، وإذا أذنب استغفر. فإن هذه الأمور الثلاثة هي عنوان سعادة العبد، وعلامة فلاحه في دُنياه وأُخراه، ولا ينفكُّ عبدٌ عنها أبدًا.“Jika diberi kenikmatan, ia bersyukur. Jika diberi ujian, ia bersabar. Dan jika berbuat dosa, ia beristighfar. Maka, sesungguhnya ketiga hal ini merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba, dan tanda kesuksesannya di kehidupan dunia dan akhirat. Kesemuanya itu (nikmat, ujian, dan dosa) tak akan pernah terlepas pada diri seorang hamba.” (Al-Waabil As-Sayyib, hal. 6)Ibnul Qayyim rahimahullah juga mengatakan,“Tanda kebahagiaan seorang hamba adalah adalah meletakkan kebaikan-kebaikan yang telah ia lakukan di punggung belakangnya (melupakan dan tidak mengungkit-ungkitnya) serta meletakkan keburukan-keburukan yang telah ia lakukan di depan matanya (senantiasa mengingat dan memohon ampunan atas keburukan tersebut), dan tanda kerugian serta kesedihan adalah menjadikan kebaikan-kebaikan di depan matanya (senantiasa mengungkitnya) serta menjadikan keburukan-keburukan di belakang punggungnya (melupakan dan tidak bertobat darinya)”. (Miftahu Daari As-Sa’adah, 2: 310)Orang yang berbahagia adalah orang yang senantiasa bertakwa kepada Penciptanya, senantiasa berlemah lembut dan berbuat baik kepada manusia lainnya, dan mensyukuri semua kenikmatan dengan memanfaatkannya di dalam ketaatan. Orang yang berbahagia adalah mereka yang menghadapi ujian dengan penuh kesabaran dan pengharapan pahala dari Allah Ta’ala, lapang dada, serta merasa yakin bahwa Allah akan menyucikan dirinya dan meninggikan derajatnya karena ujian yang ia hadapi tersebut. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.'” (QS. Az-Zumar: 10)Wallahu a’lam bisshowaab.Baca Juga:Mengapa Aku Tidak Bahagia?Tanda-Tanda Kebahagiaan yang Sejati***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian dari kitab Khutuwaat Ila As-Sa’adah karya Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim hafidzohullah.🔍 Hukum Memakai Cadar, Dalil Memuliakan Tamu, Contoh Perilaku Nifaq, Renungan Ulang Tahun Islami, Rumus Pembagian WarisanTags: adabAkhlakamalan hatibahagiahati bahagiahidup bahagianasihatnasihat islamsyukur

Kapan Keburukan Dicatat Pahala? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Jika ada seseorang yang bertekad melakukan keburukan (dosa),kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah,maka ditulis baginya satu kebaikan. Jika ia bertekad melakukan keburukan, seperti ingin mencuri, ingin berzina,ingin meminum minuman keras, ingin durhaka kepada kedua orang tuanya,atau berniat tidak puasa wajib. Intinya ia bertekad melakukan keburukan. Namun, kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah, maka ditetapkan baginya satu kebaikan. ==== إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ يُرِيْدُ أَنْ يَسْرِقَ يَزْنِي يَشْرَبَ الخَمْرَ يَعُقَّ وَالِدَيْهِ يَتْرُكَ صِيَامًا هَمَّ بِسَيِّئَةٍ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ حَسَنَةٌ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Kapan Keburukan Dicatat Pahala? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Jika ada seseorang yang bertekad melakukan keburukan (dosa),kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah,maka ditulis baginya satu kebaikan. Jika ia bertekad melakukan keburukan, seperti ingin mencuri, ingin berzina,ingin meminum minuman keras, ingin durhaka kepada kedua orang tuanya,atau berniat tidak puasa wajib. Intinya ia bertekad melakukan keburukan. Namun, kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah, maka ditetapkan baginya satu kebaikan. ==== إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ يُرِيْدُ أَنْ يَسْرِقَ يَزْنِي يَشْرَبَ الخَمْرَ يَعُقَّ وَالِدَيْهِ يَتْرُكَ صِيَامًا هَمَّ بِسَيِّئَةٍ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ حَسَنَةٌ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Jika ada seseorang yang bertekad melakukan keburukan (dosa),kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah,maka ditulis baginya satu kebaikan. Jika ia bertekad melakukan keburukan, seperti ingin mencuri, ingin berzina,ingin meminum minuman keras, ingin durhaka kepada kedua orang tuanya,atau berniat tidak puasa wajib. Intinya ia bertekad melakukan keburukan. Namun, kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah, maka ditetapkan baginya satu kebaikan. ==== إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ يُرِيْدُ أَنْ يَسْرِقَ يَزْنِي يَشْرَبَ الخَمْرَ يَعُقَّ وَالِدَيْهِ يَتْرُكَ صِيَامًا هَمَّ بِسَيِّئَةٍ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ حَسَنَةٌ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Jika ada seseorang yang bertekad melakukan keburukan (dosa),kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah,maka ditulis baginya satu kebaikan. Jika ia bertekad melakukan keburukan, seperti ingin mencuri, ingin berzina,ingin meminum minuman keras, ingin durhaka kepada kedua orang tuanya,atau berniat tidak puasa wajib. Intinya ia bertekad melakukan keburukan. Namun, kemudian ia tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah, maka ditetapkan baginya satu kebaikan. ==== إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ إِذَا هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ يُرِيْدُ أَنْ يَسْرِقَ يَزْنِي يَشْرَبَ الخَمْرَ يَعُقَّ وَالِدَيْهِ يَتْرُكَ صِيَامًا هَمَّ بِسَيِّئَةٍ ثُمَّ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ كُتِبَتْ حَسَنَةٌ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Syaikh Bin Baz Menjelaskan Beberapa Ayat dan Hadis tentang Ketinggian Allah

علوه سبحانه وتعالى من عبدالعزيز بن عبدالله بن باز إلى حضرة الأخ المكرم د/ م أح سلمه الله. سلام عليكم ورحمة الله وبركاته، وبعد: فأشير إلى كتابكم الذي جاء فيه: نرجو من فضيلتكم توضيح معاني الآيات الكريمة التالية: بسم الله الرحمن الرحيم وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] والآية: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] والآية وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] والآية مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة: 7] Dari Abdul ʿAziz bin Abdullah bin Baz kepada saudaraku yang mulia (dengan inisial) dr. MA. Semoga Allah memberinya keselamatan. Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  Kemudian, aku merujuk pada tulisan Anda, di mana Anda berkata: [Mulai kutipan pertanyaan]  “Wahai Syeikh yang mulia, kami ingin Anda menjelaskan makna ayat-ayat berikut: Bismillāhirraḥmānirraḥīm,  وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ   “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Kemudian,  وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ  “Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. al-Baqarah: 255) Kemudian,  وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ  “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Dan juga ayat: مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allahlah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) وحديث الجارية الذي رواه مسلم حينما سألها رسول الله ﷺ وقال: أين الله؟ فقالت: في السماء، وقال لها: من أنا؟ قالت رسول الله قال الرسول ﷺ: أعتقها فإنها مؤمنة نرجو توضيح معاني هذه الآيات الكريمة، وتوضيح معنى حديث رسول الله ﷺ للجارية؟ Begitu juga hadis Jāriyah (budak wanita) yang diriwayatkan Imam Muslim ketika Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.” Kami berharap penjelasan makna ayat-ayat yang mulia ini dan hadis dari Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam tersebut.” [Selesai kutipan pertanyaan] *** [Mulai jawaban Syaikh Bin Baz] وأفيدك بأن المعنى العام للآيات الكريمات والحديث النبوي الشريف هو الدلالة على عظمة الله سبحانه وتعالى وعلوه على خلقه وألوهيته لجميع الخلائق كلها، وإحاطة علمه وشموله لكل شيء كبيراً كان أو صغيراً سرًا أو علناً، وبيان قدرته على كل شيء، ونفي العجز عنه سبحانه وتعالى Aku jelaskan bahwa makna ayat-ayat yang agung dan hadis yang mulia ini secara umum adalah menunjukkan keagungan Allah Subḥānahu wa Ta’āla, ketinggian-Nya di atas makhluk-Nya, dan uluhiyah-Nya atas semua makhluk, dan pengetahuan-Nya sempurna dan menyeluruh terhadap segala hal, baik yang besar atau yang kecil, yang nampak maupun yang tersembunyi. Ini juga menunjukkan kemampuan-Nya atas segala sesuatu dan meniadakan kelemahan dari-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. وأما المعنى الخاص لها فقوله تعالى: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ [البقرة:255] ففيها الدلالة على عظمة الكرسي وسعته، كما يدل ذلك على عظمة خالقه سبحانه وكمال قدرته، وقوله: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] أي لا يثقله ولا يكرثه حفظ السموات والأرض ومن فيهما ومن بينهما، بل ذلك سهل عليه يسير لديه، وهو القائم على كل نفس بما كسبت، الرقيب على جميع الأشياء فلا يعزب عنه شيء ولا يغيب عنه شيء، والأشياء كلها حقيرة بين يديه متواضعة ذليلة صغيرة بالنسبة إليه سبحانه، محتاجة وفقيرة إليه، وهو الغني الحميد الفعال لما يريد الذي لا يسأل عما يفعل وهم يسألون، وهو القاهر لكل شيء الحسيب على كل شيء الرقيب العلي العظيم لا إله غيره ولا رب سواه، وقوله سبحانه: وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] فيها الدلالة على أن المدعو الله في السماوات وفي الأرض، ويعبده ويوحده ويقر له بالإلهية من في السماوات ومن في الأرض، ويسمونه الله ويدعونه رغباً ورهباً إلا من كفر من الجن والإنس، وفيها الدلالة على سعة علم الله سبحانه واطلاعه على عباده وإحاطته بما يعملونه سواء كان سراً أو جهراً، فالسر والجهر عنده سواء سبحانه وتعالى، فهو يحصي على العباد جميع أعمالهم خيرها وشرها Adapun makna secara khusus dari firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ – البقرة : 255 “Kursi Allah meliputi langit dan bumi,…” (QS. al-Baqarah: 255) menunjukkan besar dan luasnya kursi-Nya, sebagaimana juga menunjukkan keagungan penciptanya Subḥānahu wa Ta’āla, dan kesempurnaan kemampuan-Nya.  Kemudian, firman-Nya: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ – البقرة : 255 “Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar,” (QS. al-Baqarah: 255) maksudnya bahwa pemeliharaan keduanya beserta apa yang ada di antara keduanya tidak memberatkan atau menyulitkan-Nya. Semua itu ringan dan mudah bagi-Nya. Dia-lah yang mengurusi semua yang bernyawa dan apa yang dilakukan dan melihat segala sesuatu, tidak ada yang terluput dan tersembunyi dari-Nya. Semua hal kecil di hadapan-Nya, rendah, hina, kecil, fakir, dan butuh terhadap-Nya. Dialah yang Mahakaya, Maha Terpuji, yang bisa melakukan apa pun yang Dia kehendaki, yang tidak ditanya atas apa yang Dia lakukan, akan tetapi makhluk-Nya yang akan ditanya. Dia yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan Maha Menghitung segala sesuatu, Maha Mengawasi, Mahatinggi, dan Mahaagung, yang tidak ada sesembahan selain Dia, dan tidak ada yang mengatur alam selain Dia.  Adapun firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla, وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ – الأنعام : 3 “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Dalam ayat ini terdapat bukti bahwa Allah adalah sesembahan, baik di langit dan bumi, diibadahi, diesakan, dan diakui ketuhanan-Nya oleh semua penduduk langit dan bumi. Mereka menyebut-Nya Allah dan berdoa kepada-Nya dengan rasa harap dan takut, kecuali orang yang kafir dari kalangan jin dan manusia. Dalam ayat ini juga ada bukti keluasan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla dan pengawasan-Nya terhadap semua hamba-hamba-Nya dan pengetahuan-Nya tentang semua yang mereka kerjakan baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Sesuatu yang tersembunyi atau yang nampak sama saja bagi-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. Dia yang akan melakukan penghitungan semua amalan mereka yang baik dan yang buruk. وقوله سبحانه: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] معناها: أنه سبحانه هو إله من في السماء وإله من في الأرض يعبده أهلهما وكلهم خاضعون له أذلاء بين يديه إلا من غلبت عليه الشقاوة فكفر بالله ولم يؤمن به، وهو الحكيم في شرعه وقدره العليم بجميع أعمال عباده سبحانه Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ – الزخرف : 84 “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Maknanya, bahwa Dia Subḥānahu wa Ta’āla adalah Tuhan yang disembah di langit dan di bumi, penghuni keduanya seluruhnya menyembah-Nya dengan penuh ketundukan dan penghinaan diri di hadapan-Nya, kecuali mereka yang celaka dengan kufur terhadap Allah dan tidak beriman kepada-Nya. Dialah yang Mahabijaksana dalam syariat dan kekuatan-Nya dan Mahatahu semua perbuatan hamba-hamba Allah Subḥānahu wa Ta’āla. وقوله سبحانه وتعالى: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة:7] Adapun firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ – المجادلة : 7 “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allah-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) معناها: أنه مطلع سبحانه على جميع عباده أينما كانوا يسمع كلامهم وسرهم ونجواهم، ويعلم أعمالهم، ورسله من الملائكة الكرام والكاتبين الحفظة أيضا مع ذلك يكتبون ما يتناجون به مع علم الله به وسمعه كله.والمراد بالمعية المذكورة في هذه الآية عند أهل السنة والجماعة: معية علمه سبحانه وتعالى، فهو معهم بعلمه محيط بهم، وبصره نافذ فيهم، فهو سبحانه وتعالى مطلع على خلقه لا يغيب عنه من أمورهم شيء مع أنه سبحانه فوق جميع الخلق قد استوى على عرشه استواء يليق بجلاله وعظمته، لا يشابه خلقه في شيء من صفاته، كما قال عز وجل: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [الشورى:11] ثم ينبئهم يوم القيامة بجميع الأعمال التي عملوها في الدنيا؛ لأنه سبحانه بكل شيء عليم، وبكل شيء محيط، عالم الغيب لا يعزب عن علمه مثقال ذرة في السماوات ولا في الأرض ولا أصغر من ذلك ولا أكبر إلا في كتاب مبين Artinya bahwa Allah melihat semua hamba-Nya, di mana pun mereka berada, dan Allah mendengar perkataan mereka yang lirih dan bisikan-bisikan mereka, mengetahui perbuatan mereka, dan utusan-Nya dari kalangan malaikat yang mulia, malaikat pencatat amal dan malaikat penjaga semuanya mencatat bisikan-bisikan mereka, meskipun demikian, Allah tahu dan mendengar perkataan mereka semua.  Adapun maksud kebersamaan Allah di sini menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kebersamaan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla. Dia bersama mereka dengan ilmu-Nya dan pengetahuan-Nya serta pandangan-Nya yang selalu mengawasi mereka, melihat semua makhluk-Nya, sehingga tidak ada satu pun urusan mereka terluput dari-Nya, meskipun Dia berada tinggi di atas semua makhluk-Nya dan bersemayam di atas arsy-Nya dengan cara bersemayam yang sesuai dengan kemulian dan keagungan-Nya. Sifat-sifat Allah tidak ada yang serupa sedikit pun dengan apa pun dari makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ – الشورى : 11  “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) Kemudian, pada hari kiamat, Dia akan mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya semua amalan mereka yang telah mereka perbuat di dunia, karena Dia Subḥānahu wa Ta’āla Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu dan Maha Mengilmui segala hal. Dia Mahatahu yang gaib dan tidak ada yang terluput dari-Nya semua perbuatan mereka, walaupun sekecil zarah yang terlempar di langit atau di bumi, ataupun yang lebih kecil dari itu, ataupun yang lebih besar, semuanya tertulis dalam sebuah kitab yang jelas. أما حديث الجارية التي أراد سيدها إعتاقها كفارة لما حصل منه من ضربها فقال لها النبي ﷺ: أين الله؟ قالت: في السماء. قال: من أنا؟ قالت: رسول الله قال: أعتقها فإنها مؤمنة. فإن فيه الدلالة على علو الله على خلقه، وأن الاعتراف بذلك وبرسالته ﷺ دليل على الإيمان. هذا هو المعنى الموجز لما سألت عنه، والواجب على المسلم أن يسلك في هذه الآيات وما في معناها من الأحاديث الصحيحة الدالة على أسماء الله وصفاته مسلك أهل السنة والجماعة وهو الإيمان بها، واعتقاد صحة ما دلت عليه وإثباته له سبحانه على الوجه اللائق به من غير تحريف ولا تعطيل ولا تكييف ولا تمثيل، وهذا هو المسلك الصحيح الذي سلكه السلف الصالح واتفقوا عليه، كما يجب على المسلم الذي يريد السلامة لنفسه تجنيبها الوقوع فيما يغضب الله والعدول عن طريق أهل الضلال الذين يؤولون صفات الله أو ينفونها عنه سبحانه وتعالى عما يقول الظالمون والجاهلون علواً كبيرًا.ونرفق لك نسخة من (العقيدة الواسطية) لشيخ الإسلام ابن تيمية وشرحها للشيخ محمد خليل الهراس؛ لأن فيها بحثاً موسعاً في الموضوع الذي سألت عنه. ونسأل الله أن يرزق الجميع العلم النافع والعمل به، وأن يوفق الجميع لما يرضيه إنه سميع مجيب Adapun hadis Jāriyah yang ingin dimerdekakan oleh tuannya sebagai penebus kesalahannya yang telah memukulnya dan Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.”  Dalam hadis ini terdapat bukti ketinggian Allah di atas semua makhluk-Nya, dan pengakuan hal itu dan kenabian Muhammad sallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah tanda keimanan. Inilah makna secara ringkas sebagaimana Anda tanyakan. Seorang muslim harus memahami ayat-ayat ini dan hadis-hadis sahih yang semakna dengannya yang menunjukkan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya sesuai pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu dengan mengimaninya, meyakini kebenaran makna yang dikandungnya, menetapkannya untuk-Nya sebagaimana yang layak bagi-Nya tanpa mengubahnya (taḥrīf), meniadakannya (ta’ṭīl), menjelaskan caranya (takyīf), ataupun menyamakannya dengan sesuatu (tamṯīl). Inilah metode yang tepat yang ditempuh ulama salaf dan mereka bersepakat di atasnya.  Seorang muslim yang menginginkan keselamatan atas dirinya dan dijauhkan dari kemurkaan Allah dan jalan orang-orang yang sesat yang menakwil sifat-sifat Allah atau meniadakannya dari Allah, Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari apa yang diucapkan orang-orang yang zalim lagi bodoh dengan ucapan mereka yang penuh kesombongan.  Kemudian, kami sarankan untuk Anda matan kitab al-ʿAqīdah al-Wāsṭiyyah karya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan kitab penjelasannya karya syeikh Muhammad H̱alīl Harrās, karena di dalamnya terdapat penjelasan yang mendetail tentang pembahasan yang Anda tanyakan. Kita memohon kepada Allah semoga kita semua diberikan ilmu yang bermanfaat dan mengamalkannya dan diberikan taufik kepada apa yang membuat-Nya rida. Sesungguhnya dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته[1]. مجموع فتاوى ومقالات متنوعة للشيخ ابن باز (1/135). Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  [Syaikh Bin Baz] Sumber: Majmūʿ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwiʿah liš Šeiẖ Ibn Bāz (1/135) https://binbaz.org.sa/fatwas/17/علوه-سبحانه-وتعالى PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Ustadz Online, Dalil Perceraian, Suami Kerja Jauh Dari Istri, Ciri Wanita Ldii, Hari Valentine Menurut Islam, Setelah Masuk Neraka Bisa Masuk Surga Visited 136 times, 4 visit(s) today Post Views: 327 QRIS donasi Yufid

Syaikh Bin Baz Menjelaskan Beberapa Ayat dan Hadis tentang Ketinggian Allah

علوه سبحانه وتعالى من عبدالعزيز بن عبدالله بن باز إلى حضرة الأخ المكرم د/ م أح سلمه الله. سلام عليكم ورحمة الله وبركاته، وبعد: فأشير إلى كتابكم الذي جاء فيه: نرجو من فضيلتكم توضيح معاني الآيات الكريمة التالية: بسم الله الرحمن الرحيم وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] والآية: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] والآية وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] والآية مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة: 7] Dari Abdul ʿAziz bin Abdullah bin Baz kepada saudaraku yang mulia (dengan inisial) dr. MA. Semoga Allah memberinya keselamatan. Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  Kemudian, aku merujuk pada tulisan Anda, di mana Anda berkata: [Mulai kutipan pertanyaan]  “Wahai Syeikh yang mulia, kami ingin Anda menjelaskan makna ayat-ayat berikut: Bismillāhirraḥmānirraḥīm,  وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ   “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Kemudian,  وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ  “Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. al-Baqarah: 255) Kemudian,  وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ  “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Dan juga ayat: مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allahlah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) وحديث الجارية الذي رواه مسلم حينما سألها رسول الله ﷺ وقال: أين الله؟ فقالت: في السماء، وقال لها: من أنا؟ قالت رسول الله قال الرسول ﷺ: أعتقها فإنها مؤمنة نرجو توضيح معاني هذه الآيات الكريمة، وتوضيح معنى حديث رسول الله ﷺ للجارية؟ Begitu juga hadis Jāriyah (budak wanita) yang diriwayatkan Imam Muslim ketika Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.” Kami berharap penjelasan makna ayat-ayat yang mulia ini dan hadis dari Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam tersebut.” [Selesai kutipan pertanyaan] *** [Mulai jawaban Syaikh Bin Baz] وأفيدك بأن المعنى العام للآيات الكريمات والحديث النبوي الشريف هو الدلالة على عظمة الله سبحانه وتعالى وعلوه على خلقه وألوهيته لجميع الخلائق كلها، وإحاطة علمه وشموله لكل شيء كبيراً كان أو صغيراً سرًا أو علناً، وبيان قدرته على كل شيء، ونفي العجز عنه سبحانه وتعالى Aku jelaskan bahwa makna ayat-ayat yang agung dan hadis yang mulia ini secara umum adalah menunjukkan keagungan Allah Subḥānahu wa Ta’āla, ketinggian-Nya di atas makhluk-Nya, dan uluhiyah-Nya atas semua makhluk, dan pengetahuan-Nya sempurna dan menyeluruh terhadap segala hal, baik yang besar atau yang kecil, yang nampak maupun yang tersembunyi. Ini juga menunjukkan kemampuan-Nya atas segala sesuatu dan meniadakan kelemahan dari-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. وأما المعنى الخاص لها فقوله تعالى: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ [البقرة:255] ففيها الدلالة على عظمة الكرسي وسعته، كما يدل ذلك على عظمة خالقه سبحانه وكمال قدرته، وقوله: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] أي لا يثقله ولا يكرثه حفظ السموات والأرض ومن فيهما ومن بينهما، بل ذلك سهل عليه يسير لديه، وهو القائم على كل نفس بما كسبت، الرقيب على جميع الأشياء فلا يعزب عنه شيء ولا يغيب عنه شيء، والأشياء كلها حقيرة بين يديه متواضعة ذليلة صغيرة بالنسبة إليه سبحانه، محتاجة وفقيرة إليه، وهو الغني الحميد الفعال لما يريد الذي لا يسأل عما يفعل وهم يسألون، وهو القاهر لكل شيء الحسيب على كل شيء الرقيب العلي العظيم لا إله غيره ولا رب سواه، وقوله سبحانه: وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] فيها الدلالة على أن المدعو الله في السماوات وفي الأرض، ويعبده ويوحده ويقر له بالإلهية من في السماوات ومن في الأرض، ويسمونه الله ويدعونه رغباً ورهباً إلا من كفر من الجن والإنس، وفيها الدلالة على سعة علم الله سبحانه واطلاعه على عباده وإحاطته بما يعملونه سواء كان سراً أو جهراً، فالسر والجهر عنده سواء سبحانه وتعالى، فهو يحصي على العباد جميع أعمالهم خيرها وشرها Adapun makna secara khusus dari firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ – البقرة : 255 “Kursi Allah meliputi langit dan bumi,…” (QS. al-Baqarah: 255) menunjukkan besar dan luasnya kursi-Nya, sebagaimana juga menunjukkan keagungan penciptanya Subḥānahu wa Ta’āla, dan kesempurnaan kemampuan-Nya.  Kemudian, firman-Nya: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ – البقرة : 255 “Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar,” (QS. al-Baqarah: 255) maksudnya bahwa pemeliharaan keduanya beserta apa yang ada di antara keduanya tidak memberatkan atau menyulitkan-Nya. Semua itu ringan dan mudah bagi-Nya. Dia-lah yang mengurusi semua yang bernyawa dan apa yang dilakukan dan melihat segala sesuatu, tidak ada yang terluput dan tersembunyi dari-Nya. Semua hal kecil di hadapan-Nya, rendah, hina, kecil, fakir, dan butuh terhadap-Nya. Dialah yang Mahakaya, Maha Terpuji, yang bisa melakukan apa pun yang Dia kehendaki, yang tidak ditanya atas apa yang Dia lakukan, akan tetapi makhluk-Nya yang akan ditanya. Dia yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan Maha Menghitung segala sesuatu, Maha Mengawasi, Mahatinggi, dan Mahaagung, yang tidak ada sesembahan selain Dia, dan tidak ada yang mengatur alam selain Dia.  Adapun firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla, وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ – الأنعام : 3 “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Dalam ayat ini terdapat bukti bahwa Allah adalah sesembahan, baik di langit dan bumi, diibadahi, diesakan, dan diakui ketuhanan-Nya oleh semua penduduk langit dan bumi. Mereka menyebut-Nya Allah dan berdoa kepada-Nya dengan rasa harap dan takut, kecuali orang yang kafir dari kalangan jin dan manusia. Dalam ayat ini juga ada bukti keluasan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla dan pengawasan-Nya terhadap semua hamba-hamba-Nya dan pengetahuan-Nya tentang semua yang mereka kerjakan baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Sesuatu yang tersembunyi atau yang nampak sama saja bagi-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. Dia yang akan melakukan penghitungan semua amalan mereka yang baik dan yang buruk. وقوله سبحانه: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] معناها: أنه سبحانه هو إله من في السماء وإله من في الأرض يعبده أهلهما وكلهم خاضعون له أذلاء بين يديه إلا من غلبت عليه الشقاوة فكفر بالله ولم يؤمن به، وهو الحكيم في شرعه وقدره العليم بجميع أعمال عباده سبحانه Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ – الزخرف : 84 “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Maknanya, bahwa Dia Subḥānahu wa Ta’āla adalah Tuhan yang disembah di langit dan di bumi, penghuni keduanya seluruhnya menyembah-Nya dengan penuh ketundukan dan penghinaan diri di hadapan-Nya, kecuali mereka yang celaka dengan kufur terhadap Allah dan tidak beriman kepada-Nya. Dialah yang Mahabijaksana dalam syariat dan kekuatan-Nya dan Mahatahu semua perbuatan hamba-hamba Allah Subḥānahu wa Ta’āla. وقوله سبحانه وتعالى: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة:7] Adapun firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ – المجادلة : 7 “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allah-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) معناها: أنه مطلع سبحانه على جميع عباده أينما كانوا يسمع كلامهم وسرهم ونجواهم، ويعلم أعمالهم، ورسله من الملائكة الكرام والكاتبين الحفظة أيضا مع ذلك يكتبون ما يتناجون به مع علم الله به وسمعه كله.والمراد بالمعية المذكورة في هذه الآية عند أهل السنة والجماعة: معية علمه سبحانه وتعالى، فهو معهم بعلمه محيط بهم، وبصره نافذ فيهم، فهو سبحانه وتعالى مطلع على خلقه لا يغيب عنه من أمورهم شيء مع أنه سبحانه فوق جميع الخلق قد استوى على عرشه استواء يليق بجلاله وعظمته، لا يشابه خلقه في شيء من صفاته، كما قال عز وجل: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [الشورى:11] ثم ينبئهم يوم القيامة بجميع الأعمال التي عملوها في الدنيا؛ لأنه سبحانه بكل شيء عليم، وبكل شيء محيط، عالم الغيب لا يعزب عن علمه مثقال ذرة في السماوات ولا في الأرض ولا أصغر من ذلك ولا أكبر إلا في كتاب مبين Artinya bahwa Allah melihat semua hamba-Nya, di mana pun mereka berada, dan Allah mendengar perkataan mereka yang lirih dan bisikan-bisikan mereka, mengetahui perbuatan mereka, dan utusan-Nya dari kalangan malaikat yang mulia, malaikat pencatat amal dan malaikat penjaga semuanya mencatat bisikan-bisikan mereka, meskipun demikian, Allah tahu dan mendengar perkataan mereka semua.  Adapun maksud kebersamaan Allah di sini menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kebersamaan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla. Dia bersama mereka dengan ilmu-Nya dan pengetahuan-Nya serta pandangan-Nya yang selalu mengawasi mereka, melihat semua makhluk-Nya, sehingga tidak ada satu pun urusan mereka terluput dari-Nya, meskipun Dia berada tinggi di atas semua makhluk-Nya dan bersemayam di atas arsy-Nya dengan cara bersemayam yang sesuai dengan kemulian dan keagungan-Nya. Sifat-sifat Allah tidak ada yang serupa sedikit pun dengan apa pun dari makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ – الشورى : 11  “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) Kemudian, pada hari kiamat, Dia akan mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya semua amalan mereka yang telah mereka perbuat di dunia, karena Dia Subḥānahu wa Ta’āla Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu dan Maha Mengilmui segala hal. Dia Mahatahu yang gaib dan tidak ada yang terluput dari-Nya semua perbuatan mereka, walaupun sekecil zarah yang terlempar di langit atau di bumi, ataupun yang lebih kecil dari itu, ataupun yang lebih besar, semuanya tertulis dalam sebuah kitab yang jelas. أما حديث الجارية التي أراد سيدها إعتاقها كفارة لما حصل منه من ضربها فقال لها النبي ﷺ: أين الله؟ قالت: في السماء. قال: من أنا؟ قالت: رسول الله قال: أعتقها فإنها مؤمنة. فإن فيه الدلالة على علو الله على خلقه، وأن الاعتراف بذلك وبرسالته ﷺ دليل على الإيمان. هذا هو المعنى الموجز لما سألت عنه، والواجب على المسلم أن يسلك في هذه الآيات وما في معناها من الأحاديث الصحيحة الدالة على أسماء الله وصفاته مسلك أهل السنة والجماعة وهو الإيمان بها، واعتقاد صحة ما دلت عليه وإثباته له سبحانه على الوجه اللائق به من غير تحريف ولا تعطيل ولا تكييف ولا تمثيل، وهذا هو المسلك الصحيح الذي سلكه السلف الصالح واتفقوا عليه، كما يجب على المسلم الذي يريد السلامة لنفسه تجنيبها الوقوع فيما يغضب الله والعدول عن طريق أهل الضلال الذين يؤولون صفات الله أو ينفونها عنه سبحانه وتعالى عما يقول الظالمون والجاهلون علواً كبيرًا.ونرفق لك نسخة من (العقيدة الواسطية) لشيخ الإسلام ابن تيمية وشرحها للشيخ محمد خليل الهراس؛ لأن فيها بحثاً موسعاً في الموضوع الذي سألت عنه. ونسأل الله أن يرزق الجميع العلم النافع والعمل به، وأن يوفق الجميع لما يرضيه إنه سميع مجيب Adapun hadis Jāriyah yang ingin dimerdekakan oleh tuannya sebagai penebus kesalahannya yang telah memukulnya dan Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.”  Dalam hadis ini terdapat bukti ketinggian Allah di atas semua makhluk-Nya, dan pengakuan hal itu dan kenabian Muhammad sallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah tanda keimanan. Inilah makna secara ringkas sebagaimana Anda tanyakan. Seorang muslim harus memahami ayat-ayat ini dan hadis-hadis sahih yang semakna dengannya yang menunjukkan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya sesuai pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu dengan mengimaninya, meyakini kebenaran makna yang dikandungnya, menetapkannya untuk-Nya sebagaimana yang layak bagi-Nya tanpa mengubahnya (taḥrīf), meniadakannya (ta’ṭīl), menjelaskan caranya (takyīf), ataupun menyamakannya dengan sesuatu (tamṯīl). Inilah metode yang tepat yang ditempuh ulama salaf dan mereka bersepakat di atasnya.  Seorang muslim yang menginginkan keselamatan atas dirinya dan dijauhkan dari kemurkaan Allah dan jalan orang-orang yang sesat yang menakwil sifat-sifat Allah atau meniadakannya dari Allah, Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari apa yang diucapkan orang-orang yang zalim lagi bodoh dengan ucapan mereka yang penuh kesombongan.  Kemudian, kami sarankan untuk Anda matan kitab al-ʿAqīdah al-Wāsṭiyyah karya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan kitab penjelasannya karya syeikh Muhammad H̱alīl Harrās, karena di dalamnya terdapat penjelasan yang mendetail tentang pembahasan yang Anda tanyakan. Kita memohon kepada Allah semoga kita semua diberikan ilmu yang bermanfaat dan mengamalkannya dan diberikan taufik kepada apa yang membuat-Nya rida. Sesungguhnya dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته[1]. مجموع فتاوى ومقالات متنوعة للشيخ ابن باز (1/135). Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  [Syaikh Bin Baz] Sumber: Majmūʿ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwiʿah liš Šeiẖ Ibn Bāz (1/135) https://binbaz.org.sa/fatwas/17/علوه-سبحانه-وتعالى PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Ustadz Online, Dalil Perceraian, Suami Kerja Jauh Dari Istri, Ciri Wanita Ldii, Hari Valentine Menurut Islam, Setelah Masuk Neraka Bisa Masuk Surga Visited 136 times, 4 visit(s) today Post Views: 327 QRIS donasi Yufid
علوه سبحانه وتعالى من عبدالعزيز بن عبدالله بن باز إلى حضرة الأخ المكرم د/ م أح سلمه الله. سلام عليكم ورحمة الله وبركاته، وبعد: فأشير إلى كتابكم الذي جاء فيه: نرجو من فضيلتكم توضيح معاني الآيات الكريمة التالية: بسم الله الرحمن الرحيم وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] والآية: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] والآية وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] والآية مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة: 7] Dari Abdul ʿAziz bin Abdullah bin Baz kepada saudaraku yang mulia (dengan inisial) dr. MA. Semoga Allah memberinya keselamatan. Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  Kemudian, aku merujuk pada tulisan Anda, di mana Anda berkata: [Mulai kutipan pertanyaan]  “Wahai Syeikh yang mulia, kami ingin Anda menjelaskan makna ayat-ayat berikut: Bismillāhirraḥmānirraḥīm,  وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ   “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Kemudian,  وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ  “Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. al-Baqarah: 255) Kemudian,  وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ  “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Dan juga ayat: مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allahlah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) وحديث الجارية الذي رواه مسلم حينما سألها رسول الله ﷺ وقال: أين الله؟ فقالت: في السماء، وقال لها: من أنا؟ قالت رسول الله قال الرسول ﷺ: أعتقها فإنها مؤمنة نرجو توضيح معاني هذه الآيات الكريمة، وتوضيح معنى حديث رسول الله ﷺ للجارية؟ Begitu juga hadis Jāriyah (budak wanita) yang diriwayatkan Imam Muslim ketika Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.” Kami berharap penjelasan makna ayat-ayat yang mulia ini dan hadis dari Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam tersebut.” [Selesai kutipan pertanyaan] *** [Mulai jawaban Syaikh Bin Baz] وأفيدك بأن المعنى العام للآيات الكريمات والحديث النبوي الشريف هو الدلالة على عظمة الله سبحانه وتعالى وعلوه على خلقه وألوهيته لجميع الخلائق كلها، وإحاطة علمه وشموله لكل شيء كبيراً كان أو صغيراً سرًا أو علناً، وبيان قدرته على كل شيء، ونفي العجز عنه سبحانه وتعالى Aku jelaskan bahwa makna ayat-ayat yang agung dan hadis yang mulia ini secara umum adalah menunjukkan keagungan Allah Subḥānahu wa Ta’āla, ketinggian-Nya di atas makhluk-Nya, dan uluhiyah-Nya atas semua makhluk, dan pengetahuan-Nya sempurna dan menyeluruh terhadap segala hal, baik yang besar atau yang kecil, yang nampak maupun yang tersembunyi. Ini juga menunjukkan kemampuan-Nya atas segala sesuatu dan meniadakan kelemahan dari-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. وأما المعنى الخاص لها فقوله تعالى: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ [البقرة:255] ففيها الدلالة على عظمة الكرسي وسعته، كما يدل ذلك على عظمة خالقه سبحانه وكمال قدرته، وقوله: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] أي لا يثقله ولا يكرثه حفظ السموات والأرض ومن فيهما ومن بينهما، بل ذلك سهل عليه يسير لديه، وهو القائم على كل نفس بما كسبت، الرقيب على جميع الأشياء فلا يعزب عنه شيء ولا يغيب عنه شيء، والأشياء كلها حقيرة بين يديه متواضعة ذليلة صغيرة بالنسبة إليه سبحانه، محتاجة وفقيرة إليه، وهو الغني الحميد الفعال لما يريد الذي لا يسأل عما يفعل وهم يسألون، وهو القاهر لكل شيء الحسيب على كل شيء الرقيب العلي العظيم لا إله غيره ولا رب سواه، وقوله سبحانه: وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] فيها الدلالة على أن المدعو الله في السماوات وفي الأرض، ويعبده ويوحده ويقر له بالإلهية من في السماوات ومن في الأرض، ويسمونه الله ويدعونه رغباً ورهباً إلا من كفر من الجن والإنس، وفيها الدلالة على سعة علم الله سبحانه واطلاعه على عباده وإحاطته بما يعملونه سواء كان سراً أو جهراً، فالسر والجهر عنده سواء سبحانه وتعالى، فهو يحصي على العباد جميع أعمالهم خيرها وشرها Adapun makna secara khusus dari firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ – البقرة : 255 “Kursi Allah meliputi langit dan bumi,…” (QS. al-Baqarah: 255) menunjukkan besar dan luasnya kursi-Nya, sebagaimana juga menunjukkan keagungan penciptanya Subḥānahu wa Ta’āla, dan kesempurnaan kemampuan-Nya.  Kemudian, firman-Nya: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ – البقرة : 255 “Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar,” (QS. al-Baqarah: 255) maksudnya bahwa pemeliharaan keduanya beserta apa yang ada di antara keduanya tidak memberatkan atau menyulitkan-Nya. Semua itu ringan dan mudah bagi-Nya. Dia-lah yang mengurusi semua yang bernyawa dan apa yang dilakukan dan melihat segala sesuatu, tidak ada yang terluput dan tersembunyi dari-Nya. Semua hal kecil di hadapan-Nya, rendah, hina, kecil, fakir, dan butuh terhadap-Nya. Dialah yang Mahakaya, Maha Terpuji, yang bisa melakukan apa pun yang Dia kehendaki, yang tidak ditanya atas apa yang Dia lakukan, akan tetapi makhluk-Nya yang akan ditanya. Dia yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan Maha Menghitung segala sesuatu, Maha Mengawasi, Mahatinggi, dan Mahaagung, yang tidak ada sesembahan selain Dia, dan tidak ada yang mengatur alam selain Dia.  Adapun firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla, وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ – الأنعام : 3 “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Dalam ayat ini terdapat bukti bahwa Allah adalah sesembahan, baik di langit dan bumi, diibadahi, diesakan, dan diakui ketuhanan-Nya oleh semua penduduk langit dan bumi. Mereka menyebut-Nya Allah dan berdoa kepada-Nya dengan rasa harap dan takut, kecuali orang yang kafir dari kalangan jin dan manusia. Dalam ayat ini juga ada bukti keluasan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla dan pengawasan-Nya terhadap semua hamba-hamba-Nya dan pengetahuan-Nya tentang semua yang mereka kerjakan baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Sesuatu yang tersembunyi atau yang nampak sama saja bagi-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. Dia yang akan melakukan penghitungan semua amalan mereka yang baik dan yang buruk. وقوله سبحانه: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] معناها: أنه سبحانه هو إله من في السماء وإله من في الأرض يعبده أهلهما وكلهم خاضعون له أذلاء بين يديه إلا من غلبت عليه الشقاوة فكفر بالله ولم يؤمن به، وهو الحكيم في شرعه وقدره العليم بجميع أعمال عباده سبحانه Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ – الزخرف : 84 “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Maknanya, bahwa Dia Subḥānahu wa Ta’āla adalah Tuhan yang disembah di langit dan di bumi, penghuni keduanya seluruhnya menyembah-Nya dengan penuh ketundukan dan penghinaan diri di hadapan-Nya, kecuali mereka yang celaka dengan kufur terhadap Allah dan tidak beriman kepada-Nya. Dialah yang Mahabijaksana dalam syariat dan kekuatan-Nya dan Mahatahu semua perbuatan hamba-hamba Allah Subḥānahu wa Ta’āla. وقوله سبحانه وتعالى: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة:7] Adapun firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ – المجادلة : 7 “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allah-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) معناها: أنه مطلع سبحانه على جميع عباده أينما كانوا يسمع كلامهم وسرهم ونجواهم، ويعلم أعمالهم، ورسله من الملائكة الكرام والكاتبين الحفظة أيضا مع ذلك يكتبون ما يتناجون به مع علم الله به وسمعه كله.والمراد بالمعية المذكورة في هذه الآية عند أهل السنة والجماعة: معية علمه سبحانه وتعالى، فهو معهم بعلمه محيط بهم، وبصره نافذ فيهم، فهو سبحانه وتعالى مطلع على خلقه لا يغيب عنه من أمورهم شيء مع أنه سبحانه فوق جميع الخلق قد استوى على عرشه استواء يليق بجلاله وعظمته، لا يشابه خلقه في شيء من صفاته، كما قال عز وجل: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [الشورى:11] ثم ينبئهم يوم القيامة بجميع الأعمال التي عملوها في الدنيا؛ لأنه سبحانه بكل شيء عليم، وبكل شيء محيط، عالم الغيب لا يعزب عن علمه مثقال ذرة في السماوات ولا في الأرض ولا أصغر من ذلك ولا أكبر إلا في كتاب مبين Artinya bahwa Allah melihat semua hamba-Nya, di mana pun mereka berada, dan Allah mendengar perkataan mereka yang lirih dan bisikan-bisikan mereka, mengetahui perbuatan mereka, dan utusan-Nya dari kalangan malaikat yang mulia, malaikat pencatat amal dan malaikat penjaga semuanya mencatat bisikan-bisikan mereka, meskipun demikian, Allah tahu dan mendengar perkataan mereka semua.  Adapun maksud kebersamaan Allah di sini menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kebersamaan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla. Dia bersama mereka dengan ilmu-Nya dan pengetahuan-Nya serta pandangan-Nya yang selalu mengawasi mereka, melihat semua makhluk-Nya, sehingga tidak ada satu pun urusan mereka terluput dari-Nya, meskipun Dia berada tinggi di atas semua makhluk-Nya dan bersemayam di atas arsy-Nya dengan cara bersemayam yang sesuai dengan kemulian dan keagungan-Nya. Sifat-sifat Allah tidak ada yang serupa sedikit pun dengan apa pun dari makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ – الشورى : 11  “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) Kemudian, pada hari kiamat, Dia akan mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya semua amalan mereka yang telah mereka perbuat di dunia, karena Dia Subḥānahu wa Ta’āla Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu dan Maha Mengilmui segala hal. Dia Mahatahu yang gaib dan tidak ada yang terluput dari-Nya semua perbuatan mereka, walaupun sekecil zarah yang terlempar di langit atau di bumi, ataupun yang lebih kecil dari itu, ataupun yang lebih besar, semuanya tertulis dalam sebuah kitab yang jelas. أما حديث الجارية التي أراد سيدها إعتاقها كفارة لما حصل منه من ضربها فقال لها النبي ﷺ: أين الله؟ قالت: في السماء. قال: من أنا؟ قالت: رسول الله قال: أعتقها فإنها مؤمنة. فإن فيه الدلالة على علو الله على خلقه، وأن الاعتراف بذلك وبرسالته ﷺ دليل على الإيمان. هذا هو المعنى الموجز لما سألت عنه، والواجب على المسلم أن يسلك في هذه الآيات وما في معناها من الأحاديث الصحيحة الدالة على أسماء الله وصفاته مسلك أهل السنة والجماعة وهو الإيمان بها، واعتقاد صحة ما دلت عليه وإثباته له سبحانه على الوجه اللائق به من غير تحريف ولا تعطيل ولا تكييف ولا تمثيل، وهذا هو المسلك الصحيح الذي سلكه السلف الصالح واتفقوا عليه، كما يجب على المسلم الذي يريد السلامة لنفسه تجنيبها الوقوع فيما يغضب الله والعدول عن طريق أهل الضلال الذين يؤولون صفات الله أو ينفونها عنه سبحانه وتعالى عما يقول الظالمون والجاهلون علواً كبيرًا.ونرفق لك نسخة من (العقيدة الواسطية) لشيخ الإسلام ابن تيمية وشرحها للشيخ محمد خليل الهراس؛ لأن فيها بحثاً موسعاً في الموضوع الذي سألت عنه. ونسأل الله أن يرزق الجميع العلم النافع والعمل به، وأن يوفق الجميع لما يرضيه إنه سميع مجيب Adapun hadis Jāriyah yang ingin dimerdekakan oleh tuannya sebagai penebus kesalahannya yang telah memukulnya dan Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.”  Dalam hadis ini terdapat bukti ketinggian Allah di atas semua makhluk-Nya, dan pengakuan hal itu dan kenabian Muhammad sallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah tanda keimanan. Inilah makna secara ringkas sebagaimana Anda tanyakan. Seorang muslim harus memahami ayat-ayat ini dan hadis-hadis sahih yang semakna dengannya yang menunjukkan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya sesuai pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu dengan mengimaninya, meyakini kebenaran makna yang dikandungnya, menetapkannya untuk-Nya sebagaimana yang layak bagi-Nya tanpa mengubahnya (taḥrīf), meniadakannya (ta’ṭīl), menjelaskan caranya (takyīf), ataupun menyamakannya dengan sesuatu (tamṯīl). Inilah metode yang tepat yang ditempuh ulama salaf dan mereka bersepakat di atasnya.  Seorang muslim yang menginginkan keselamatan atas dirinya dan dijauhkan dari kemurkaan Allah dan jalan orang-orang yang sesat yang menakwil sifat-sifat Allah atau meniadakannya dari Allah, Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari apa yang diucapkan orang-orang yang zalim lagi bodoh dengan ucapan mereka yang penuh kesombongan.  Kemudian, kami sarankan untuk Anda matan kitab al-ʿAqīdah al-Wāsṭiyyah karya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan kitab penjelasannya karya syeikh Muhammad H̱alīl Harrās, karena di dalamnya terdapat penjelasan yang mendetail tentang pembahasan yang Anda tanyakan. Kita memohon kepada Allah semoga kita semua diberikan ilmu yang bermanfaat dan mengamalkannya dan diberikan taufik kepada apa yang membuat-Nya rida. Sesungguhnya dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته[1]. مجموع فتاوى ومقالات متنوعة للشيخ ابن باز (1/135). Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  [Syaikh Bin Baz] Sumber: Majmūʿ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwiʿah liš Šeiẖ Ibn Bāz (1/135) https://binbaz.org.sa/fatwas/17/علوه-سبحانه-وتعالى PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Ustadz Online, Dalil Perceraian, Suami Kerja Jauh Dari Istri, Ciri Wanita Ldii, Hari Valentine Menurut Islam, Setelah Masuk Neraka Bisa Masuk Surga Visited 136 times, 4 visit(s) today Post Views: 327 QRIS donasi Yufid


علوه سبحانه وتعالى من عبدالعزيز بن عبدالله بن باز إلى حضرة الأخ المكرم د/ م أح سلمه الله. سلام عليكم ورحمة الله وبركاته، وبعد: فأشير إلى كتابكم الذي جاء فيه: نرجو من فضيلتكم توضيح معاني الآيات الكريمة التالية: بسم الله الرحمن الرحيم وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] والآية: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] والآية وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] والآية مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة: 7] Dari Abdul ʿAziz bin Abdullah bin Baz kepada saudaraku yang mulia (dengan inisial) dr. MA. Semoga Allah memberinya keselamatan. Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  Kemudian, aku merujuk pada tulisan Anda, di mana Anda berkata: [Mulai kutipan pertanyaan]  “Wahai Syeikh yang mulia, kami ingin Anda menjelaskan makna ayat-ayat berikut: Bismillāhirraḥmānirraḥīm,  وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ   “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Kemudian,  وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ  “Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. al-Baqarah: 255) Kemudian,  وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ  “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Dan juga ayat: مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allahlah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) وحديث الجارية الذي رواه مسلم حينما سألها رسول الله ﷺ وقال: أين الله؟ فقالت: في السماء، وقال لها: من أنا؟ قالت رسول الله قال الرسول ﷺ: أعتقها فإنها مؤمنة نرجو توضيح معاني هذه الآيات الكريمة، وتوضيح معنى حديث رسول الله ﷺ للجارية؟ Begitu juga hadis Jāriyah (budak wanita) yang diriwayatkan Imam Muslim ketika Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.” Kami berharap penjelasan makna ayat-ayat yang mulia ini dan hadis dari Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam tersebut.” [Selesai kutipan pertanyaan] *** [Mulai jawaban Syaikh Bin Baz] وأفيدك بأن المعنى العام للآيات الكريمات والحديث النبوي الشريف هو الدلالة على عظمة الله سبحانه وتعالى وعلوه على خلقه وألوهيته لجميع الخلائق كلها، وإحاطة علمه وشموله لكل شيء كبيراً كان أو صغيراً سرًا أو علناً، وبيان قدرته على كل شيء، ونفي العجز عنه سبحانه وتعالى Aku jelaskan bahwa makna ayat-ayat yang agung dan hadis yang mulia ini secara umum adalah menunjukkan keagungan Allah Subḥānahu wa Ta’āla, ketinggian-Nya di atas makhluk-Nya, dan uluhiyah-Nya atas semua makhluk, dan pengetahuan-Nya sempurna dan menyeluruh terhadap segala hal, baik yang besar atau yang kecil, yang nampak maupun yang tersembunyi. Ini juga menunjukkan kemampuan-Nya atas segala sesuatu dan meniadakan kelemahan dari-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. وأما المعنى الخاص لها فقوله تعالى: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ [البقرة:255] ففيها الدلالة على عظمة الكرسي وسعته، كما يدل ذلك على عظمة خالقه سبحانه وكمال قدرته، وقوله: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ [البقرة:255] أي لا يثقله ولا يكرثه حفظ السموات والأرض ومن فيهما ومن بينهما، بل ذلك سهل عليه يسير لديه، وهو القائم على كل نفس بما كسبت، الرقيب على جميع الأشياء فلا يعزب عنه شيء ولا يغيب عنه شيء، والأشياء كلها حقيرة بين يديه متواضعة ذليلة صغيرة بالنسبة إليه سبحانه، محتاجة وفقيرة إليه، وهو الغني الحميد الفعال لما يريد الذي لا يسأل عما يفعل وهم يسألون، وهو القاهر لكل شيء الحسيب على كل شيء الرقيب العلي العظيم لا إله غيره ولا رب سواه، وقوله سبحانه: وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ [الأنعام:3] فيها الدلالة على أن المدعو الله في السماوات وفي الأرض، ويعبده ويوحده ويقر له بالإلهية من في السماوات ومن في الأرض، ويسمونه الله ويدعونه رغباً ورهباً إلا من كفر من الجن والإنس، وفيها الدلالة على سعة علم الله سبحانه واطلاعه على عباده وإحاطته بما يعملونه سواء كان سراً أو جهراً، فالسر والجهر عنده سواء سبحانه وتعالى، فهو يحصي على العباد جميع أعمالهم خيرها وشرها Adapun makna secara khusus dari firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ – البقرة : 255 “Kursi Allah meliputi langit dan bumi,…” (QS. al-Baqarah: 255) menunjukkan besar dan luasnya kursi-Nya, sebagaimana juga menunjukkan keagungan penciptanya Subḥānahu wa Ta’āla, dan kesempurnaan kemampuan-Nya.  Kemudian, firman-Nya: وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ – البقرة : 255 “Dan Allah tidak merasa berat dalam memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar,” (QS. al-Baqarah: 255) maksudnya bahwa pemeliharaan keduanya beserta apa yang ada di antara keduanya tidak memberatkan atau menyulitkan-Nya. Semua itu ringan dan mudah bagi-Nya. Dia-lah yang mengurusi semua yang bernyawa dan apa yang dilakukan dan melihat segala sesuatu, tidak ada yang terluput dan tersembunyi dari-Nya. Semua hal kecil di hadapan-Nya, rendah, hina, kecil, fakir, dan butuh terhadap-Nya. Dialah yang Mahakaya, Maha Terpuji, yang bisa melakukan apa pun yang Dia kehendaki, yang tidak ditanya atas apa yang Dia lakukan, akan tetapi makhluk-Nya yang akan ditanya. Dia yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan Maha Menghitung segala sesuatu, Maha Mengawasi, Mahatinggi, dan Mahaagung, yang tidak ada sesembahan selain Dia, dan tidak ada yang mengatur alam selain Dia.  Adapun firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla, وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ – الأنعام : 3 “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. al-An’am: 3) Dalam ayat ini terdapat bukti bahwa Allah adalah sesembahan, baik di langit dan bumi, diibadahi, diesakan, dan diakui ketuhanan-Nya oleh semua penduduk langit dan bumi. Mereka menyebut-Nya Allah dan berdoa kepada-Nya dengan rasa harap dan takut, kecuali orang yang kafir dari kalangan jin dan manusia. Dalam ayat ini juga ada bukti keluasan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla dan pengawasan-Nya terhadap semua hamba-hamba-Nya dan pengetahuan-Nya tentang semua yang mereka kerjakan baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Sesuatu yang tersembunyi atau yang nampak sama saja bagi-Nya Subḥānahu wa Ta’āla. Dia yang akan melakukan penghitungan semua amalan mereka yang baik dan yang buruk. وقوله سبحانه: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ [الزخرف:84] معناها: أنه سبحانه هو إله من في السماء وإله من في الأرض يعبده أهلهما وكلهم خاضعون له أذلاء بين يديه إلا من غلبت عليه الشقاوة فكفر بالله ولم يؤمن به، وهو الحكيم في شرعه وقدره العليم بجميع أعمال عباده سبحانه Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla: وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ – الزخرف : 84 “Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 84) Maknanya, bahwa Dia Subḥānahu wa Ta’āla adalah Tuhan yang disembah di langit dan di bumi, penghuni keduanya seluruhnya menyembah-Nya dengan penuh ketundukan dan penghinaan diri di hadapan-Nya, kecuali mereka yang celaka dengan kufur terhadap Allah dan tidak beriman kepada-Nya. Dialah yang Mahabijaksana dalam syariat dan kekuatan-Nya dan Mahatahu semua perbuatan hamba-hamba Allah Subḥānahu wa Ta’āla. وقوله سبحانه وتعالى: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [المجادلة:7] Adapun firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ – المجادلة : 7 “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allah-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 7) معناها: أنه مطلع سبحانه على جميع عباده أينما كانوا يسمع كلامهم وسرهم ونجواهم، ويعلم أعمالهم، ورسله من الملائكة الكرام والكاتبين الحفظة أيضا مع ذلك يكتبون ما يتناجون به مع علم الله به وسمعه كله.والمراد بالمعية المذكورة في هذه الآية عند أهل السنة والجماعة: معية علمه سبحانه وتعالى، فهو معهم بعلمه محيط بهم، وبصره نافذ فيهم، فهو سبحانه وتعالى مطلع على خلقه لا يغيب عنه من أمورهم شيء مع أنه سبحانه فوق جميع الخلق قد استوى على عرشه استواء يليق بجلاله وعظمته، لا يشابه خلقه في شيء من صفاته، كما قال عز وجل: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [الشورى:11] ثم ينبئهم يوم القيامة بجميع الأعمال التي عملوها في الدنيا؛ لأنه سبحانه بكل شيء عليم، وبكل شيء محيط، عالم الغيب لا يعزب عن علمه مثقال ذرة في السماوات ولا في الأرض ولا أصغر من ذلك ولا أكبر إلا في كتاب مبين Artinya bahwa Allah melihat semua hamba-Nya, di mana pun mereka berada, dan Allah mendengar perkataan mereka yang lirih dan bisikan-bisikan mereka, mengetahui perbuatan mereka, dan utusan-Nya dari kalangan malaikat yang mulia, malaikat pencatat amal dan malaikat penjaga semuanya mencatat bisikan-bisikan mereka, meskipun demikian, Allah tahu dan mendengar perkataan mereka semua.  Adapun maksud kebersamaan Allah di sini menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kebersamaan ilmu Allah Subḥānahu wa Ta’āla. Dia bersama mereka dengan ilmu-Nya dan pengetahuan-Nya serta pandangan-Nya yang selalu mengawasi mereka, melihat semua makhluk-Nya, sehingga tidak ada satu pun urusan mereka terluput dari-Nya, meskipun Dia berada tinggi di atas semua makhluk-Nya dan bersemayam di atas arsy-Nya dengan cara bersemayam yang sesuai dengan kemulian dan keagungan-Nya. Sifat-sifat Allah tidak ada yang serupa sedikit pun dengan apa pun dari makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ – الشورى : 11  “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) Kemudian, pada hari kiamat, Dia akan mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya semua amalan mereka yang telah mereka perbuat di dunia, karena Dia Subḥānahu wa Ta’āla Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu dan Maha Mengilmui segala hal. Dia Mahatahu yang gaib dan tidak ada yang terluput dari-Nya semua perbuatan mereka, walaupun sekecil zarah yang terlempar di langit atau di bumi, ataupun yang lebih kecil dari itu, ataupun yang lebih besar, semuanya tertulis dalam sebuah kitab yang jelas. أما حديث الجارية التي أراد سيدها إعتاقها كفارة لما حصل منه من ضربها فقال لها النبي ﷺ: أين الله؟ قالت: في السماء. قال: من أنا؟ قالت: رسول الله قال: أعتقها فإنها مؤمنة. فإن فيه الدلالة على علو الله على خلقه، وأن الاعتراف بذلك وبرسالته ﷺ دليل على الإيمان. هذا هو المعنى الموجز لما سألت عنه، والواجب على المسلم أن يسلك في هذه الآيات وما في معناها من الأحاديث الصحيحة الدالة على أسماء الله وصفاته مسلك أهل السنة والجماعة وهو الإيمان بها، واعتقاد صحة ما دلت عليه وإثباته له سبحانه على الوجه اللائق به من غير تحريف ولا تعطيل ولا تكييف ولا تمثيل، وهذا هو المسلك الصحيح الذي سلكه السلف الصالح واتفقوا عليه، كما يجب على المسلم الذي يريد السلامة لنفسه تجنيبها الوقوع فيما يغضب الله والعدول عن طريق أهل الضلال الذين يؤولون صفات الله أو ينفونها عنه سبحانه وتعالى عما يقول الظالمون والجاهلون علواً كبيرًا.ونرفق لك نسخة من (العقيدة الواسطية) لشيخ الإسلام ابن تيمية وشرحها للشيخ محمد خليل الهراس؛ لأن فيها بحثاً موسعاً في الموضوع الذي سألت عنه. ونسأل الله أن يرزق الجميع العلم النافع والعمل به، وأن يوفق الجميع لما يرضيه إنه سميع مجيب Adapun hadis Jāriyah yang ingin dimerdekakan oleh tuannya sebagai penebus kesalahannya yang telah memukulnya dan Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa aku?” Dia jawab, “Utusan Allah.” Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bebaskan dia, karena dia seorang mukminah.”  Dalam hadis ini terdapat bukti ketinggian Allah di atas semua makhluk-Nya, dan pengakuan hal itu dan kenabian Muhammad sallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah tanda keimanan. Inilah makna secara ringkas sebagaimana Anda tanyakan. Seorang muslim harus memahami ayat-ayat ini dan hadis-hadis sahih yang semakna dengannya yang menunjukkan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya sesuai pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu dengan mengimaninya, meyakini kebenaran makna yang dikandungnya, menetapkannya untuk-Nya sebagaimana yang layak bagi-Nya tanpa mengubahnya (taḥrīf), meniadakannya (ta’ṭīl), menjelaskan caranya (takyīf), ataupun menyamakannya dengan sesuatu (tamṯīl). Inilah metode yang tepat yang ditempuh ulama salaf dan mereka bersepakat di atasnya.  Seorang muslim yang menginginkan keselamatan atas dirinya dan dijauhkan dari kemurkaan Allah dan jalan orang-orang yang sesat yang menakwil sifat-sifat Allah atau meniadakannya dari Allah, Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari apa yang diucapkan orang-orang yang zalim lagi bodoh dengan ucapan mereka yang penuh kesombongan.  Kemudian, kami sarankan untuk Anda matan kitab al-ʿAqīdah al-Wāsṭiyyah karya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan kitab penjelasannya karya syeikh Muhammad H̱alīl Harrās, karena di dalamnya terdapat penjelasan yang mendetail tentang pembahasan yang Anda tanyakan. Kita memohon kepada Allah semoga kita semua diberikan ilmu yang bermanfaat dan mengamalkannya dan diberikan taufik kepada apa yang membuat-Nya rida. Sesungguhnya dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته[1]. مجموع فتاوى ومقالات متنوعة للشيخ ابن باز (1/135). Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.  [Syaikh Bin Baz] Sumber: Majmūʿ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwiʿah liš Šeiẖ Ibn Bāz (1/135) https://binbaz.org.sa/fatwas/17/علوه-سبحانه-وتعالى PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tanya Ustadz Online, Dalil Perceraian, Suami Kerja Jauh Dari Istri, Ciri Wanita Ldii, Hari Valentine Menurut Islam, Setelah Masuk Neraka Bisa Masuk Surga Visited 136 times, 4 visit(s) today Post Views: 327 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Bolehkah Menggunakan Jimat dari Al-Quran?

حكم التميمة من القرآن س: ما حكم التميمة من القرآن ومن غيره؟ Pertanyaan: Apa Hukum Menggunakan Jimat dari al-Quran atau semisalnya? ج: أما التميمة من غير القرآن كالعظام والطلاسم والودع وشعر الذئب وما أشبه ذلك فهذه منكرة محرمة بالنص، لا يجوز تعليقها على الطفل ولا على غير الطفل؛ لقوله ﷺ: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له، وفي رواية: من تعلق تميمة فقد أشرك Jawaban: Jika tamīmah (semacam jimat yang dilingkarkan di anggota badan) menggunakan selain al-Quran, seperti tulang, mantera, kerang, bulu serigala, dan yang semisalnya, semua ini adalah perbuatan mungkar dan terlarang secara tegas dalam nash syariat. Tidak boleh dikalungkan pada anak atau selainnya, berdasarkan sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له “Barang siapa yang menggantungkan tamīmah, semoga Allah tidak menyelesaikan urusannya, dan barang siapa yang menggantungkan wada’ah, semoga Allah tidak akan memberikan ketenangan kepadanya.” (HR. Ahmad) Dalam riwayat lain disebutkan: من تعلق تميمة فقد أشرك “Barang siapa yang menggantungkan tamimah, berarti telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad) أما إذا كانت من القرآن أو من دعوات معروفة طيبة، فهذه اختلف فيها العلماء، فقال بعضهم: يجوز تعليقها، ويروى هذا عن جماعة من السلف جعلوها كالقراءة على المريض Adapun jimat dari al-Quran atau dari doa-doa yang jelas baiknya, hal ini diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian berkata bahwa hal itu ini boleh. Pendapat ini diriwayatkan dari sebagian ulama salaf dan menghukuminya seperti membacakan al-Quran untuk orang yang sakit. والقول الثاني: أنها لا تجوز وهذا هو المعروف عن عبدالله بن مسعود وحذيفة رضي الله عنهما وجماعة من السلف والخلف قالوا: لا يجوز تعليقها ولو كانت من القرآن سدًا للذريعة وحسمًا لمادة الشرك وعملًا بالعموم؛ لأن الأحاديث المانعة من التمائم أحاديث عامة، لم تستثن شيئًا. والواجب: الأخذ بالعموم فلا يجوز شيء من التمائم أصلًا؛ لأن ذلك يفضي إلى تعليق غيرها والتباس الأمر Pendapat kedua menyatakan bahwa ini tidak boleh. Pendapat ini diketahui berasal dari Abdullah bin Mas’ud dan Huzaifah raḍiyallāhu ‘anhum dan sebagian ulama klasik dan kontemporer. Mereka berkata bahwa menggunakan tamīmah tidak boleh, walaupun dengan al-Quran, untuk mengamalkan keumuman dalil dan membentengi dan mencegah munculnya bentuk-bentuk kesyirikan. Karena hadis-hadis yang melarang tamīmah adalah hadis yang umum yang tidak mengecualikan sesuatu pun. Menerapkan keumuman hadis adalah keharusan sehingga tidak boleh menggantungkan tamīmah dalam bentuk apa pun, karena hal tersebut bisa menimbulkan kerancuan di tengah masyarakat dan mendorong mereka untuk menggunakan jimat lain. فوجب منع الجميع، وهذا هو الصواب لظهور دليله Jadi, semua harus dilarang dan inilah yang tepat karena jelasnya dalilnya.  فلو أجزنا التميمة من القرآن ومن الدعوات الطيبة لانفتح الباب وصار كل واحد يعلق ما شاء، فإذا أنكر عليه، قال: هذا من القرآن، أو هذه من الدعوات الطيبة، فينفتح الباب، ويتسع الخرق وتلبس التمائم كلها Jika kita membolehkan tamīmah dari al-Quran atau dari doa-doa yang baik, pasti akan terbuka pintu syirik dan setiap orang akan menggantungkan apa yang dia mau. Jika kemudian diingkari, dia akan berkata bahwa itu menggunakan al-Quran atau doa-doa yang baik. Dengan demikian, pintu kesyirikan akan terbuka dan lubangnya semakin besar hingga semua jenis jimat akhirnya digunakan. وهناك علة ثالثة وهي: أنها قد يدخل بها الخلاء ومواضع القذر، ومعلوم أن كلام الله ينزه عن ذلك، ولا يليق أن يدخل به الخلاء[1] مجموع فتاوى العلامة ابن باز  (1/ 51) Alasan ketiga, tamīmah seperti ini kadang dibawa masuk ke toilet atau tempat yang kotor, padahal sudah jelas bahwa firman Allah harus suci dari hal-hal demikian dan tidak pantas dibawa masuk ke toilet. [Syaikh Bin Baz] Sumber:  https://binbaz.org.sa/fatwas/8/حكم-التميمة-من-القران PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Merokok Dalam Islam, Cara Mencintai Rasulullah, Hukum Perempuan Haid Masuk Masjid, Menikah Tanpa Wali, Jawaban Salam Untuk Non Muslim, Berapa Hari Puasa Bulan Rajab Visited 119 times, 1 visit(s) today Post Views: 283 QRIS donasi Yufid

Bolehkah Menggunakan Jimat dari Al-Quran?

حكم التميمة من القرآن س: ما حكم التميمة من القرآن ومن غيره؟ Pertanyaan: Apa Hukum Menggunakan Jimat dari al-Quran atau semisalnya? ج: أما التميمة من غير القرآن كالعظام والطلاسم والودع وشعر الذئب وما أشبه ذلك فهذه منكرة محرمة بالنص، لا يجوز تعليقها على الطفل ولا على غير الطفل؛ لقوله ﷺ: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له، وفي رواية: من تعلق تميمة فقد أشرك Jawaban: Jika tamīmah (semacam jimat yang dilingkarkan di anggota badan) menggunakan selain al-Quran, seperti tulang, mantera, kerang, bulu serigala, dan yang semisalnya, semua ini adalah perbuatan mungkar dan terlarang secara tegas dalam nash syariat. Tidak boleh dikalungkan pada anak atau selainnya, berdasarkan sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له “Barang siapa yang menggantungkan tamīmah, semoga Allah tidak menyelesaikan urusannya, dan barang siapa yang menggantungkan wada’ah, semoga Allah tidak akan memberikan ketenangan kepadanya.” (HR. Ahmad) Dalam riwayat lain disebutkan: من تعلق تميمة فقد أشرك “Barang siapa yang menggantungkan tamimah, berarti telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad) أما إذا كانت من القرآن أو من دعوات معروفة طيبة، فهذه اختلف فيها العلماء، فقال بعضهم: يجوز تعليقها، ويروى هذا عن جماعة من السلف جعلوها كالقراءة على المريض Adapun jimat dari al-Quran atau dari doa-doa yang jelas baiknya, hal ini diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian berkata bahwa hal itu ini boleh. Pendapat ini diriwayatkan dari sebagian ulama salaf dan menghukuminya seperti membacakan al-Quran untuk orang yang sakit. والقول الثاني: أنها لا تجوز وهذا هو المعروف عن عبدالله بن مسعود وحذيفة رضي الله عنهما وجماعة من السلف والخلف قالوا: لا يجوز تعليقها ولو كانت من القرآن سدًا للذريعة وحسمًا لمادة الشرك وعملًا بالعموم؛ لأن الأحاديث المانعة من التمائم أحاديث عامة، لم تستثن شيئًا. والواجب: الأخذ بالعموم فلا يجوز شيء من التمائم أصلًا؛ لأن ذلك يفضي إلى تعليق غيرها والتباس الأمر Pendapat kedua menyatakan bahwa ini tidak boleh. Pendapat ini diketahui berasal dari Abdullah bin Mas’ud dan Huzaifah raḍiyallāhu ‘anhum dan sebagian ulama klasik dan kontemporer. Mereka berkata bahwa menggunakan tamīmah tidak boleh, walaupun dengan al-Quran, untuk mengamalkan keumuman dalil dan membentengi dan mencegah munculnya bentuk-bentuk kesyirikan. Karena hadis-hadis yang melarang tamīmah adalah hadis yang umum yang tidak mengecualikan sesuatu pun. Menerapkan keumuman hadis adalah keharusan sehingga tidak boleh menggantungkan tamīmah dalam bentuk apa pun, karena hal tersebut bisa menimbulkan kerancuan di tengah masyarakat dan mendorong mereka untuk menggunakan jimat lain. فوجب منع الجميع، وهذا هو الصواب لظهور دليله Jadi, semua harus dilarang dan inilah yang tepat karena jelasnya dalilnya.  فلو أجزنا التميمة من القرآن ومن الدعوات الطيبة لانفتح الباب وصار كل واحد يعلق ما شاء، فإذا أنكر عليه، قال: هذا من القرآن، أو هذه من الدعوات الطيبة، فينفتح الباب، ويتسع الخرق وتلبس التمائم كلها Jika kita membolehkan tamīmah dari al-Quran atau dari doa-doa yang baik, pasti akan terbuka pintu syirik dan setiap orang akan menggantungkan apa yang dia mau. Jika kemudian diingkari, dia akan berkata bahwa itu menggunakan al-Quran atau doa-doa yang baik. Dengan demikian, pintu kesyirikan akan terbuka dan lubangnya semakin besar hingga semua jenis jimat akhirnya digunakan. وهناك علة ثالثة وهي: أنها قد يدخل بها الخلاء ومواضع القذر، ومعلوم أن كلام الله ينزه عن ذلك، ولا يليق أن يدخل به الخلاء[1] مجموع فتاوى العلامة ابن باز  (1/ 51) Alasan ketiga, tamīmah seperti ini kadang dibawa masuk ke toilet atau tempat yang kotor, padahal sudah jelas bahwa firman Allah harus suci dari hal-hal demikian dan tidak pantas dibawa masuk ke toilet. [Syaikh Bin Baz] Sumber:  https://binbaz.org.sa/fatwas/8/حكم-التميمة-من-القران PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Merokok Dalam Islam, Cara Mencintai Rasulullah, Hukum Perempuan Haid Masuk Masjid, Menikah Tanpa Wali, Jawaban Salam Untuk Non Muslim, Berapa Hari Puasa Bulan Rajab Visited 119 times, 1 visit(s) today Post Views: 283 QRIS donasi Yufid
حكم التميمة من القرآن س: ما حكم التميمة من القرآن ومن غيره؟ Pertanyaan: Apa Hukum Menggunakan Jimat dari al-Quran atau semisalnya? ج: أما التميمة من غير القرآن كالعظام والطلاسم والودع وشعر الذئب وما أشبه ذلك فهذه منكرة محرمة بالنص، لا يجوز تعليقها على الطفل ولا على غير الطفل؛ لقوله ﷺ: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له، وفي رواية: من تعلق تميمة فقد أشرك Jawaban: Jika tamīmah (semacam jimat yang dilingkarkan di anggota badan) menggunakan selain al-Quran, seperti tulang, mantera, kerang, bulu serigala, dan yang semisalnya, semua ini adalah perbuatan mungkar dan terlarang secara tegas dalam nash syariat. Tidak boleh dikalungkan pada anak atau selainnya, berdasarkan sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له “Barang siapa yang menggantungkan tamīmah, semoga Allah tidak menyelesaikan urusannya, dan barang siapa yang menggantungkan wada’ah, semoga Allah tidak akan memberikan ketenangan kepadanya.” (HR. Ahmad) Dalam riwayat lain disebutkan: من تعلق تميمة فقد أشرك “Barang siapa yang menggantungkan tamimah, berarti telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad) أما إذا كانت من القرآن أو من دعوات معروفة طيبة، فهذه اختلف فيها العلماء، فقال بعضهم: يجوز تعليقها، ويروى هذا عن جماعة من السلف جعلوها كالقراءة على المريض Adapun jimat dari al-Quran atau dari doa-doa yang jelas baiknya, hal ini diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian berkata bahwa hal itu ini boleh. Pendapat ini diriwayatkan dari sebagian ulama salaf dan menghukuminya seperti membacakan al-Quran untuk orang yang sakit. والقول الثاني: أنها لا تجوز وهذا هو المعروف عن عبدالله بن مسعود وحذيفة رضي الله عنهما وجماعة من السلف والخلف قالوا: لا يجوز تعليقها ولو كانت من القرآن سدًا للذريعة وحسمًا لمادة الشرك وعملًا بالعموم؛ لأن الأحاديث المانعة من التمائم أحاديث عامة، لم تستثن شيئًا. والواجب: الأخذ بالعموم فلا يجوز شيء من التمائم أصلًا؛ لأن ذلك يفضي إلى تعليق غيرها والتباس الأمر Pendapat kedua menyatakan bahwa ini tidak boleh. Pendapat ini diketahui berasal dari Abdullah bin Mas’ud dan Huzaifah raḍiyallāhu ‘anhum dan sebagian ulama klasik dan kontemporer. Mereka berkata bahwa menggunakan tamīmah tidak boleh, walaupun dengan al-Quran, untuk mengamalkan keumuman dalil dan membentengi dan mencegah munculnya bentuk-bentuk kesyirikan. Karena hadis-hadis yang melarang tamīmah adalah hadis yang umum yang tidak mengecualikan sesuatu pun. Menerapkan keumuman hadis adalah keharusan sehingga tidak boleh menggantungkan tamīmah dalam bentuk apa pun, karena hal tersebut bisa menimbulkan kerancuan di tengah masyarakat dan mendorong mereka untuk menggunakan jimat lain. فوجب منع الجميع، وهذا هو الصواب لظهور دليله Jadi, semua harus dilarang dan inilah yang tepat karena jelasnya dalilnya.  فلو أجزنا التميمة من القرآن ومن الدعوات الطيبة لانفتح الباب وصار كل واحد يعلق ما شاء، فإذا أنكر عليه، قال: هذا من القرآن، أو هذه من الدعوات الطيبة، فينفتح الباب، ويتسع الخرق وتلبس التمائم كلها Jika kita membolehkan tamīmah dari al-Quran atau dari doa-doa yang baik, pasti akan terbuka pintu syirik dan setiap orang akan menggantungkan apa yang dia mau. Jika kemudian diingkari, dia akan berkata bahwa itu menggunakan al-Quran atau doa-doa yang baik. Dengan demikian, pintu kesyirikan akan terbuka dan lubangnya semakin besar hingga semua jenis jimat akhirnya digunakan. وهناك علة ثالثة وهي: أنها قد يدخل بها الخلاء ومواضع القذر، ومعلوم أن كلام الله ينزه عن ذلك، ولا يليق أن يدخل به الخلاء[1] مجموع فتاوى العلامة ابن باز  (1/ 51) Alasan ketiga, tamīmah seperti ini kadang dibawa masuk ke toilet atau tempat yang kotor, padahal sudah jelas bahwa firman Allah harus suci dari hal-hal demikian dan tidak pantas dibawa masuk ke toilet. [Syaikh Bin Baz] Sumber:  https://binbaz.org.sa/fatwas/8/حكم-التميمة-من-القران PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Merokok Dalam Islam, Cara Mencintai Rasulullah, Hukum Perempuan Haid Masuk Masjid, Menikah Tanpa Wali, Jawaban Salam Untuk Non Muslim, Berapa Hari Puasa Bulan Rajab Visited 119 times, 1 visit(s) today Post Views: 283 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1365421672&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> حكم التميمة من القرآن س: ما حكم التميمة من القرآن ومن غيره؟ Pertanyaan: Apa Hukum Menggunakan Jimat dari al-Quran atau semisalnya? ج: أما التميمة من غير القرآن كالعظام والطلاسم والودع وشعر الذئب وما أشبه ذلك فهذه منكرة محرمة بالنص، لا يجوز تعليقها على الطفل ولا على غير الطفل؛ لقوله ﷺ: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له، وفي رواية: من تعلق تميمة فقد أشرك Jawaban: Jika tamīmah (semacam jimat yang dilingkarkan di anggota badan) menggunakan selain al-Quran, seperti tulang, mantera, kerang, bulu serigala, dan yang semisalnya, semua ini adalah perbuatan mungkar dan terlarang secara tegas dalam nash syariat. Tidak boleh dikalungkan pada anak atau selainnya, berdasarkan sabda Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam: من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له “Barang siapa yang menggantungkan tamīmah, semoga Allah tidak menyelesaikan urusannya, dan barang siapa yang menggantungkan wada’ah, semoga Allah tidak akan memberikan ketenangan kepadanya.” (HR. Ahmad) Dalam riwayat lain disebutkan: من تعلق تميمة فقد أشرك “Barang siapa yang menggantungkan tamimah, berarti telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad) أما إذا كانت من القرآن أو من دعوات معروفة طيبة، فهذه اختلف فيها العلماء، فقال بعضهم: يجوز تعليقها، ويروى هذا عن جماعة من السلف جعلوها كالقراءة على المريض Adapun jimat dari al-Quran atau dari doa-doa yang jelas baiknya, hal ini diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian berkata bahwa hal itu ini boleh. Pendapat ini diriwayatkan dari sebagian ulama salaf dan menghukuminya seperti membacakan al-Quran untuk orang yang sakit. والقول الثاني: أنها لا تجوز وهذا هو المعروف عن عبدالله بن مسعود وحذيفة رضي الله عنهما وجماعة من السلف والخلف قالوا: لا يجوز تعليقها ولو كانت من القرآن سدًا للذريعة وحسمًا لمادة الشرك وعملًا بالعموم؛ لأن الأحاديث المانعة من التمائم أحاديث عامة، لم تستثن شيئًا. والواجب: الأخذ بالعموم فلا يجوز شيء من التمائم أصلًا؛ لأن ذلك يفضي إلى تعليق غيرها والتباس الأمر Pendapat kedua menyatakan bahwa ini tidak boleh. Pendapat ini diketahui berasal dari Abdullah bin Mas’ud dan Huzaifah raḍiyallāhu ‘anhum dan sebagian ulama klasik dan kontemporer. Mereka berkata bahwa menggunakan tamīmah tidak boleh, walaupun dengan al-Quran, untuk mengamalkan keumuman dalil dan membentengi dan mencegah munculnya bentuk-bentuk kesyirikan. Karena hadis-hadis yang melarang tamīmah adalah hadis yang umum yang tidak mengecualikan sesuatu pun. Menerapkan keumuman hadis adalah keharusan sehingga tidak boleh menggantungkan tamīmah dalam bentuk apa pun, karena hal tersebut bisa menimbulkan kerancuan di tengah masyarakat dan mendorong mereka untuk menggunakan jimat lain. فوجب منع الجميع، وهذا هو الصواب لظهور دليله Jadi, semua harus dilarang dan inilah yang tepat karena jelasnya dalilnya.  فلو أجزنا التميمة من القرآن ومن الدعوات الطيبة لانفتح الباب وصار كل واحد يعلق ما شاء، فإذا أنكر عليه، قال: هذا من القرآن، أو هذه من الدعوات الطيبة، فينفتح الباب، ويتسع الخرق وتلبس التمائم كلها Jika kita membolehkan tamīmah dari al-Quran atau dari doa-doa yang baik, pasti akan terbuka pintu syirik dan setiap orang akan menggantungkan apa yang dia mau. Jika kemudian diingkari, dia akan berkata bahwa itu menggunakan al-Quran atau doa-doa yang baik. Dengan demikian, pintu kesyirikan akan terbuka dan lubangnya semakin besar hingga semua jenis jimat akhirnya digunakan. وهناك علة ثالثة وهي: أنها قد يدخل بها الخلاء ومواضع القذر، ومعلوم أن كلام الله ينزه عن ذلك، ولا يليق أن يدخل به الخلاء[1] مجموع فتاوى العلامة ابن باز  (1/ 51) Alasan ketiga, tamīmah seperti ini kadang dibawa masuk ke toilet atau tempat yang kotor, padahal sudah jelas bahwa firman Allah harus suci dari hal-hal demikian dan tidak pantas dibawa masuk ke toilet. [Syaikh Bin Baz] Sumber:  https://binbaz.org.sa/fatwas/8/حكم-التميمة-من-القران PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Merokok Dalam Islam, Cara Mencintai Rasulullah, Hukum Perempuan Haid Masuk Masjid, Menikah Tanpa Wali, Jawaban Salam Untuk Non Muslim, Berapa Hari Puasa Bulan Rajab Visited 119 times, 1 visit(s) today Post Views: 283 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Bahaya Mendahului Allah dan Rasul – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Hadirin yang mulia, di antara hal yang paling berbahaya adalah mendahului Allah dan Rasul-Nya. Yaitu dengan mengucapkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah,atau mengamalkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Perhatikanlah hal ini baik-baik, dalam ayat pertama dari surat al-Hujurat.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya,dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Makna firman Allah, “Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya …”yakni janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Ini adalah kesimpulan dari pendapat para ahli tafsir tentang makna ayat ini, sebagaimana yang disebutkan Ibnu al-Qayyim rahimahullahu Ta’ala. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu dalam perkara akidah dan iman hingga Allah mengatakannya,dan janganlah kalian melakukan sesuatu dalam perkara ibadah dan amal hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Oleh sebab itu, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dalam celaannya terhadap orang-orang setelah kepergian para Nabi,yakni para penerus yang buruk yang ada setelah kepergian para Nabi. Nabi menyifati mereka dengan pelanggaran ini. Beliau bersabda, “Lalu setelah mereka ada para penerusyang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.” Mereka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.Oleh sebab itu, seorang muslim harus mampu menguasai diri sepenuhnya,dalam setiap perkataan dan perbuatannya, setiap ilmu dan amalnya, dan setiap keyakinan dan ibadahnya. Ia mengendalikan dirinya dengan kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan sunah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 101) ==== مَعَاشِرَ الْكِرَامِ كَانَ مِنْ أَخْطَرِ الْأُمُورِ التَّقَدُّمُ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ بِأَنْ يَقُولَ مَا لَمْ يَأْتِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ أَوْ يَعْمَلَ تَدَيُّنًا وَتَقَرُّبًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا لَمْ يَأْتِ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَتَأَمَّلْ فِي هَذَا الْآيَةَ الْأُولَى مِنْ سُورَةِ الْحُجُرَاتِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ وَمَعْنَى قَوْلِهِ لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ أَيْ لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ هَذَا حَاصِلُ كَلَامِ الْمُفَسِّرِيْنَ فِي مَعْنَى الْآيَةِ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ لَا تَقُولُوا أَيْ فِي بَابِ الْعَقِيدَةِ وَالْإِيمَانِ حَتَّى يَقُولَ أَيْ اللهُ لَا تَفْعَلُوا أَيْ فِي بَابِ الْعِبَادَةِ وَالْعَمَلِ حَتَّى يَأْمُرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ وَلِهَذَا فِي ذَمِّ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلْخُلُوفِ خُلُوفِ الشَّرِّ الَّذِينَ يَأْتُونَ مِنْ بَعْدِ الْأَنْبِيَاءِ وَصَفَهُمْ بِهَذِهِ الْمُخَالَفَةِ قَالَ ثُمَّ إِنَّهُ يَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ وَلِهَذَا يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ ضَابِطًا نَفْسَهُ تَمَامًا فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ فِي عِلْمِهِ وَعَمَلِهِ فِي عَقِيدَتِهِ وَعِبَادَتِهِ ضَابِطًا نَفْسَهُ بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bahaya Mendahului Allah dan Rasul – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Hadirin yang mulia, di antara hal yang paling berbahaya adalah mendahului Allah dan Rasul-Nya. Yaitu dengan mengucapkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah,atau mengamalkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Perhatikanlah hal ini baik-baik, dalam ayat pertama dari surat al-Hujurat.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya,dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Makna firman Allah, “Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya …”yakni janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Ini adalah kesimpulan dari pendapat para ahli tafsir tentang makna ayat ini, sebagaimana yang disebutkan Ibnu al-Qayyim rahimahullahu Ta’ala. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu dalam perkara akidah dan iman hingga Allah mengatakannya,dan janganlah kalian melakukan sesuatu dalam perkara ibadah dan amal hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Oleh sebab itu, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dalam celaannya terhadap orang-orang setelah kepergian para Nabi,yakni para penerus yang buruk yang ada setelah kepergian para Nabi. Nabi menyifati mereka dengan pelanggaran ini. Beliau bersabda, “Lalu setelah mereka ada para penerusyang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.” Mereka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.Oleh sebab itu, seorang muslim harus mampu menguasai diri sepenuhnya,dalam setiap perkataan dan perbuatannya, setiap ilmu dan amalnya, dan setiap keyakinan dan ibadahnya. Ia mengendalikan dirinya dengan kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan sunah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 101) ==== مَعَاشِرَ الْكِرَامِ كَانَ مِنْ أَخْطَرِ الْأُمُورِ التَّقَدُّمُ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ بِأَنْ يَقُولَ مَا لَمْ يَأْتِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ أَوْ يَعْمَلَ تَدَيُّنًا وَتَقَرُّبًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا لَمْ يَأْتِ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَتَأَمَّلْ فِي هَذَا الْآيَةَ الْأُولَى مِنْ سُورَةِ الْحُجُرَاتِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ وَمَعْنَى قَوْلِهِ لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ أَيْ لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ هَذَا حَاصِلُ كَلَامِ الْمُفَسِّرِيْنَ فِي مَعْنَى الْآيَةِ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ لَا تَقُولُوا أَيْ فِي بَابِ الْعَقِيدَةِ وَالْإِيمَانِ حَتَّى يَقُولَ أَيْ اللهُ لَا تَفْعَلُوا أَيْ فِي بَابِ الْعِبَادَةِ وَالْعَمَلِ حَتَّى يَأْمُرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ وَلِهَذَا فِي ذَمِّ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلْخُلُوفِ خُلُوفِ الشَّرِّ الَّذِينَ يَأْتُونَ مِنْ بَعْدِ الْأَنْبِيَاءِ وَصَفَهُمْ بِهَذِهِ الْمُخَالَفَةِ قَالَ ثُمَّ إِنَّهُ يَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ وَلِهَذَا يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ ضَابِطًا نَفْسَهُ تَمَامًا فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ فِي عِلْمِهِ وَعَمَلِهِ فِي عَقِيدَتِهِ وَعِبَادَتِهِ ضَابِطًا نَفْسَهُ بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Hadirin yang mulia, di antara hal yang paling berbahaya adalah mendahului Allah dan Rasul-Nya. Yaitu dengan mengucapkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah,atau mengamalkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Perhatikanlah hal ini baik-baik, dalam ayat pertama dari surat al-Hujurat.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya,dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Makna firman Allah, “Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya …”yakni janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Ini adalah kesimpulan dari pendapat para ahli tafsir tentang makna ayat ini, sebagaimana yang disebutkan Ibnu al-Qayyim rahimahullahu Ta’ala. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu dalam perkara akidah dan iman hingga Allah mengatakannya,dan janganlah kalian melakukan sesuatu dalam perkara ibadah dan amal hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Oleh sebab itu, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dalam celaannya terhadap orang-orang setelah kepergian para Nabi,yakni para penerus yang buruk yang ada setelah kepergian para Nabi. Nabi menyifati mereka dengan pelanggaran ini. Beliau bersabda, “Lalu setelah mereka ada para penerusyang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.” Mereka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.Oleh sebab itu, seorang muslim harus mampu menguasai diri sepenuhnya,dalam setiap perkataan dan perbuatannya, setiap ilmu dan amalnya, dan setiap keyakinan dan ibadahnya. Ia mengendalikan dirinya dengan kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan sunah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 101) ==== مَعَاشِرَ الْكِرَامِ كَانَ مِنْ أَخْطَرِ الْأُمُورِ التَّقَدُّمُ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ بِأَنْ يَقُولَ مَا لَمْ يَأْتِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ أَوْ يَعْمَلَ تَدَيُّنًا وَتَقَرُّبًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا لَمْ يَأْتِ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَتَأَمَّلْ فِي هَذَا الْآيَةَ الْأُولَى مِنْ سُورَةِ الْحُجُرَاتِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ وَمَعْنَى قَوْلِهِ لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ أَيْ لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ هَذَا حَاصِلُ كَلَامِ الْمُفَسِّرِيْنَ فِي مَعْنَى الْآيَةِ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ لَا تَقُولُوا أَيْ فِي بَابِ الْعَقِيدَةِ وَالْإِيمَانِ حَتَّى يَقُولَ أَيْ اللهُ لَا تَفْعَلُوا أَيْ فِي بَابِ الْعِبَادَةِ وَالْعَمَلِ حَتَّى يَأْمُرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ وَلِهَذَا فِي ذَمِّ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلْخُلُوفِ خُلُوفِ الشَّرِّ الَّذِينَ يَأْتُونَ مِنْ بَعْدِ الْأَنْبِيَاءِ وَصَفَهُمْ بِهَذِهِ الْمُخَالَفَةِ قَالَ ثُمَّ إِنَّهُ يَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ وَلِهَذَا يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ ضَابِطًا نَفْسَهُ تَمَامًا فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ فِي عِلْمِهِ وَعَمَلِهِ فِي عَقِيدَتِهِ وَعِبَادَتِهِ ضَابِطًا نَفْسَهُ بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Hadirin yang mulia, di antara hal yang paling berbahaya adalah mendahului Allah dan Rasul-Nya. Yaitu dengan mengucapkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah,atau mengamalkan apa yang tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunah, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Perhatikanlah hal ini baik-baik, dalam ayat pertama dari surat al-Hujurat.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya,dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Makna firman Allah, “Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya …”yakni janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Ini adalah kesimpulan dari pendapat para ahli tafsir tentang makna ayat ini, sebagaimana yang disebutkan Ibnu al-Qayyim rahimahullahu Ta’ala. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu dalam perkara akidah dan iman hingga Allah mengatakannya,dan janganlah kalian melakukan sesuatu dalam perkara ibadah dan amal hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkannya. Janganlah kalian mengatakan sesuatu hingga Allah mengatakannya, dan jangan melakukan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Oleh sebab itu, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dalam celaannya terhadap orang-orang setelah kepergian para Nabi,yakni para penerus yang buruk yang ada setelah kepergian para Nabi. Nabi menyifati mereka dengan pelanggaran ini. Beliau bersabda, “Lalu setelah mereka ada para penerusyang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.” Mereka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.Oleh sebab itu, seorang muslim harus mampu menguasai diri sepenuhnya,dalam setiap perkataan dan perbuatannya, setiap ilmu dan amalnya, dan setiap keyakinan dan ibadahnya. Ia mengendalikan dirinya dengan kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan sunah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 101) ==== مَعَاشِرَ الْكِرَامِ كَانَ مِنْ أَخْطَرِ الْأُمُورِ التَّقَدُّمُ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ بِأَنْ يَقُولَ مَا لَمْ يَأْتِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ أَوْ يَعْمَلَ تَدَيُّنًا وَتَقَرُّبًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا لَمْ يَأْتِ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَتَأَمَّلْ فِي هَذَا الْآيَةَ الْأُولَى مِنْ سُورَةِ الْحُجُرَاتِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ وَمَعْنَى قَوْلِهِ لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ أَيْ لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ هَذَا حَاصِلُ كَلَامِ الْمُفَسِّرِيْنَ فِي مَعْنَى الْآيَةِ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ لَا تَقُولُوا أَيْ فِي بَابِ الْعَقِيدَةِ وَالْإِيمَانِ حَتَّى يَقُولَ أَيْ اللهُ لَا تَفْعَلُوا أَيْ فِي بَابِ الْعِبَادَةِ وَالْعَمَلِ حَتَّى يَأْمُرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا تَقُولُوا حَتَّى يَقُولَ وَلَا تَفْعَلُوا حَتَّى يَأْمُرَ وَلِهَذَا فِي ذَمِّ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلْخُلُوفِ خُلُوفِ الشَّرِّ الَّذِينَ يَأْتُونَ مِنْ بَعْدِ الْأَنْبِيَاءِ وَصَفَهُمْ بِهَذِهِ الْمُخَالَفَةِ قَالَ ثُمَّ إِنَّهُ يَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ وَلِهَذَا يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ ضَابِطًا نَفْسَهُ تَمَامًا فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ فِي عِلْمِهِ وَعَمَلِهِ فِي عَقِيدَتِهِ وَعِبَادَتِهِ ضَابِطًا نَفْسَهُ بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Baca al-Waqiah Tiap Malam Takkan Miskin? – Syaikh Abdul Karim al-Khudhair #NasehatUlama

Bagaimana tingkat kesahihan hadis, “Barang siapa yang membaca surat al-Waqiah tiap malam tidak akan tertimpa kemiskinan”?Hadis ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lainnya, akan tetapi hadisnya dhaif. Hadis ini dhaif (lemah).Utsman bin Affan, Khalifah ketiga,pernah menjenguk Ibnu Mas’ud saat sakit di akhir hayatnya.Lalu Utsman menawarkan kepadanya, “Maukah kami memberimu pemberian ini?”Ibnu Mas’ud menjawab bahwa ia tidak menginginkannya. Utsman pun bertanya tentang apa yang ia keluhkan? Ibnu Mas’ud menjawab, “Aku mengeluhkan dosa-dosaku.”“Lalu apa yang kamu inginkan?” Ia menjawab, “Aku menginginkan rahmat Rabbku.”Ibnu Mas’ud mengeluhkan dosa-dosanya dan menginginkan rahmat Rabbnya.Utsman bertanya, “Maukah kami memberimu?” Dalam beberapa riwayat, Ibnu Mas’ud menjawab, “Kamu tidak memberiku semasa hidup, lalu mau memberiku setelah aku mati?”Utsman berkata, “Bisa untuk putri-putrimu setelah wafatmu.”Ibnu Mas’ud menjawab, “Aku telah mewasiatkan putri-putriku untuk membaca surah al-Waqiah,dan sungguh siapa yang membaca surat al-Waqiah setiap malam tidak akan tertimpa kemiskinan.” Namun hadis ini dhaif (lemah).Apakah dapat dikatakan bahwa antara Utsman dan Ibnu Mas’ud ada perselisihan,karena Utsman tidak memberinya pemberian semasa hidupnya?Ibnu Mas’ud pada usia lebih dari 70 tahun,sedangkan Utsman bin Affan telah menjadi Khalifah kaum Muslimin. Utsman pernah menawarkannya, “Maukah kami menikahkanmu dengan perawan yang mengembalikan masa mudamu yang telah lewat?”Ibnu Mas’ud orang miskin, sedangkan Utsman seorang Khalifah. Khalifah Utsman bertanya kepadanya, “Maukah kami menikahkanmu dengan perawan yang mengembalikan masa mudamu yang telah lewat?”Jadi, tidak ada perselisihan di antara mereka. Lalu Ibnu Mas’ud berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Wahai para pemuda, siapa yang mampu maka menikahlah! …’”Beliau tidak bersabda, “Wahai para orang tua, siapa yang mampu maka menikahlah!”Tapi beliau bersabda, “Wahai para pemuda, …” Karena menikahkan wanita muda dengan lelaki tua mengandung kezaliman,kecuali jika wanita itu rela, dan lelaki tua itu memiliki hal yang dapat menutupi kekurangannya,dan ia masih memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menikah,maka banyak contohnya dalam hal ini. Namun kebanyakannya, lelaki tua akan berakhir pada menzalimi wanita muda itu.Kesimpulannya, hadis tentang membaca surah al-Waqiah ini dhaif menurut para ulama. ==== مَا صِحَّةُ حَدِيثِ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ كُلَّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ هَذَا مَرْوِيٌّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ الْخَلِيفَةُ الْمَعْرُوفُ الرَّاشِدُ الثَّالِثُ زَارَ ابْنَ مَسْعُودٍ فِي مَرَضِ مَوْتِهِ فَقَالَ لَهُ أَلَا نُعْطِيْكَ مِنْ هَذَا الْعَطَاءِ؟ فَقَالَ إِنَّهُ لَا يُرِيدُهُ وَسَأَلَهُ عَمَّا يَشْتَكِي قَالَ أَشْتَكِي ذُنُوبِي وَمَاذَا تَشْتَهِي؟ قَال أَشْتَهِي رَحْمَةَ رَبِّي يَشْتَكِي ذُنُوبَهُ وَيَشْتَهِي رَحْمَةَ رَبِّهِ فَقَالَ أَلَا نُعْطِيكَ؟ فَقَالَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ مَنَعْتَنِي فِي الْحَيَاةِ وَتُعْطِينِي بَعْدَ الْمَمَاتِ؟ قَالَ يَكُونُ لِبَنَاتِكَ مِنْ بَعْدِكَ قَال بَنَاتِي أَوْصَيْتُهُنَّ بِقِرَاءَةِ سُورَةِ الْوَاقِعَةِ فَإِنَّ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ لَكِنَّ الْخَبَرَ ضَعِيفٌ الْخَبَرُ ضَعِيفٌ هَلْ يُقَالُ إِنَّ بَيْنَ عُثْمَانَ وَبَيْنَ ابْنِ مَسْعُودٍ خِلَافٌ؟ بِحَيْثُ مَنَعَهُ الْعَطَاءَ فِي دُنْيَاهُ؟ ابْنُ مَسْعُودٍ فَوْقَ السَّبْعِينَ مِنَ الْعُمْرِ وَعُثْمَان بْنُ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ خَلِيفَةُ الْمُسْلِمِينَ يَقُولُ أَلَا نُزَوِّجُكَ بِكْرًا تُعِيْدُ لَكَ مَا مَضَى مِنْ شَبَابِكَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَقِيرٌ وَهَذَا الْخَلِيفَةُ يَقُولُ لَهُ الْخَلِيفَةُ أَلَا نُزَوِّجُكَ بِكْرًا تُعِيْدُ لَكَ مَا مَضَى مِنْ شَبَابِكَ؟ يَعْنِي مَا بَيْنَهُمْ خِلَافٌ فَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَا قَالَ يَا مَعْشَرَ الشُّيُوخِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ يَقُولُ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ لِأَنَّ فِي تَزْوِيجِ الصَّغِيرَةِ لِلْكَبِيرِ ظُلْمًا أَمَّا إِلَّا إِذَا رَضِيَتْ وَكَانَ فِي هَذَا الْكَبِيرِ مَا يَجْبُرُ هَذَا النَّقْصَ وَفِيْهِ قُوَّةٌ وَقُدْرَةٌ عَلَى الْبَاءَةِ فَالْأَمْثِلَةُ كَثِيرَةٌ مِنْ هَذَا النَّوْعِ لَكِنْ فِي الْغَالِبِ أَنَّ الشَّيْخَ مَآلُهُ إِلَى ظُلْمِ هَذِهِ الصَّغِيرَةِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Baca al-Waqiah Tiap Malam Takkan Miskin? – Syaikh Abdul Karim al-Khudhair #NasehatUlama

Bagaimana tingkat kesahihan hadis, “Barang siapa yang membaca surat al-Waqiah tiap malam tidak akan tertimpa kemiskinan”?Hadis ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lainnya, akan tetapi hadisnya dhaif. Hadis ini dhaif (lemah).Utsman bin Affan, Khalifah ketiga,pernah menjenguk Ibnu Mas’ud saat sakit di akhir hayatnya.Lalu Utsman menawarkan kepadanya, “Maukah kami memberimu pemberian ini?”Ibnu Mas’ud menjawab bahwa ia tidak menginginkannya. Utsman pun bertanya tentang apa yang ia keluhkan? Ibnu Mas’ud menjawab, “Aku mengeluhkan dosa-dosaku.”“Lalu apa yang kamu inginkan?” Ia menjawab, “Aku menginginkan rahmat Rabbku.”Ibnu Mas’ud mengeluhkan dosa-dosanya dan menginginkan rahmat Rabbnya.Utsman bertanya, “Maukah kami memberimu?” Dalam beberapa riwayat, Ibnu Mas’ud menjawab, “Kamu tidak memberiku semasa hidup, lalu mau memberiku setelah aku mati?”Utsman berkata, “Bisa untuk putri-putrimu setelah wafatmu.”Ibnu Mas’ud menjawab, “Aku telah mewasiatkan putri-putriku untuk membaca surah al-Waqiah,dan sungguh siapa yang membaca surat al-Waqiah setiap malam tidak akan tertimpa kemiskinan.” Namun hadis ini dhaif (lemah).Apakah dapat dikatakan bahwa antara Utsman dan Ibnu Mas’ud ada perselisihan,karena Utsman tidak memberinya pemberian semasa hidupnya?Ibnu Mas’ud pada usia lebih dari 70 tahun,sedangkan Utsman bin Affan telah menjadi Khalifah kaum Muslimin. Utsman pernah menawarkannya, “Maukah kami menikahkanmu dengan perawan yang mengembalikan masa mudamu yang telah lewat?”Ibnu Mas’ud orang miskin, sedangkan Utsman seorang Khalifah. Khalifah Utsman bertanya kepadanya, “Maukah kami menikahkanmu dengan perawan yang mengembalikan masa mudamu yang telah lewat?”Jadi, tidak ada perselisihan di antara mereka. Lalu Ibnu Mas’ud berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Wahai para pemuda, siapa yang mampu maka menikahlah! …’”Beliau tidak bersabda, “Wahai para orang tua, siapa yang mampu maka menikahlah!”Tapi beliau bersabda, “Wahai para pemuda, …” Karena menikahkan wanita muda dengan lelaki tua mengandung kezaliman,kecuali jika wanita itu rela, dan lelaki tua itu memiliki hal yang dapat menutupi kekurangannya,dan ia masih memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menikah,maka banyak contohnya dalam hal ini. Namun kebanyakannya, lelaki tua akan berakhir pada menzalimi wanita muda itu.Kesimpulannya, hadis tentang membaca surah al-Waqiah ini dhaif menurut para ulama. ==== مَا صِحَّةُ حَدِيثِ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ كُلَّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ هَذَا مَرْوِيٌّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ الْخَلِيفَةُ الْمَعْرُوفُ الرَّاشِدُ الثَّالِثُ زَارَ ابْنَ مَسْعُودٍ فِي مَرَضِ مَوْتِهِ فَقَالَ لَهُ أَلَا نُعْطِيْكَ مِنْ هَذَا الْعَطَاءِ؟ فَقَالَ إِنَّهُ لَا يُرِيدُهُ وَسَأَلَهُ عَمَّا يَشْتَكِي قَالَ أَشْتَكِي ذُنُوبِي وَمَاذَا تَشْتَهِي؟ قَال أَشْتَهِي رَحْمَةَ رَبِّي يَشْتَكِي ذُنُوبَهُ وَيَشْتَهِي رَحْمَةَ رَبِّهِ فَقَالَ أَلَا نُعْطِيكَ؟ فَقَالَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ مَنَعْتَنِي فِي الْحَيَاةِ وَتُعْطِينِي بَعْدَ الْمَمَاتِ؟ قَالَ يَكُونُ لِبَنَاتِكَ مِنْ بَعْدِكَ قَال بَنَاتِي أَوْصَيْتُهُنَّ بِقِرَاءَةِ سُورَةِ الْوَاقِعَةِ فَإِنَّ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ لَكِنَّ الْخَبَرَ ضَعِيفٌ الْخَبَرُ ضَعِيفٌ هَلْ يُقَالُ إِنَّ بَيْنَ عُثْمَانَ وَبَيْنَ ابْنِ مَسْعُودٍ خِلَافٌ؟ بِحَيْثُ مَنَعَهُ الْعَطَاءَ فِي دُنْيَاهُ؟ ابْنُ مَسْعُودٍ فَوْقَ السَّبْعِينَ مِنَ الْعُمْرِ وَعُثْمَان بْنُ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ خَلِيفَةُ الْمُسْلِمِينَ يَقُولُ أَلَا نُزَوِّجُكَ بِكْرًا تُعِيْدُ لَكَ مَا مَضَى مِنْ شَبَابِكَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَقِيرٌ وَهَذَا الْخَلِيفَةُ يَقُولُ لَهُ الْخَلِيفَةُ أَلَا نُزَوِّجُكَ بِكْرًا تُعِيْدُ لَكَ مَا مَضَى مِنْ شَبَابِكَ؟ يَعْنِي مَا بَيْنَهُمْ خِلَافٌ فَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَا قَالَ يَا مَعْشَرَ الشُّيُوخِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ يَقُولُ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ لِأَنَّ فِي تَزْوِيجِ الصَّغِيرَةِ لِلْكَبِيرِ ظُلْمًا أَمَّا إِلَّا إِذَا رَضِيَتْ وَكَانَ فِي هَذَا الْكَبِيرِ مَا يَجْبُرُ هَذَا النَّقْصَ وَفِيْهِ قُوَّةٌ وَقُدْرَةٌ عَلَى الْبَاءَةِ فَالْأَمْثِلَةُ كَثِيرَةٌ مِنْ هَذَا النَّوْعِ لَكِنْ فِي الْغَالِبِ أَنَّ الشَّيْخَ مَآلُهُ إِلَى ظُلْمِ هَذِهِ الصَّغِيرَةِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Bagaimana tingkat kesahihan hadis, “Barang siapa yang membaca surat al-Waqiah tiap malam tidak akan tertimpa kemiskinan”?Hadis ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lainnya, akan tetapi hadisnya dhaif. Hadis ini dhaif (lemah).Utsman bin Affan, Khalifah ketiga,pernah menjenguk Ibnu Mas’ud saat sakit di akhir hayatnya.Lalu Utsman menawarkan kepadanya, “Maukah kami memberimu pemberian ini?”Ibnu Mas’ud menjawab bahwa ia tidak menginginkannya. Utsman pun bertanya tentang apa yang ia keluhkan? Ibnu Mas’ud menjawab, “Aku mengeluhkan dosa-dosaku.”“Lalu apa yang kamu inginkan?” Ia menjawab, “Aku menginginkan rahmat Rabbku.”Ibnu Mas’ud mengeluhkan dosa-dosanya dan menginginkan rahmat Rabbnya.Utsman bertanya, “Maukah kami memberimu?” Dalam beberapa riwayat, Ibnu Mas’ud menjawab, “Kamu tidak memberiku semasa hidup, lalu mau memberiku setelah aku mati?”Utsman berkata, “Bisa untuk putri-putrimu setelah wafatmu.”Ibnu Mas’ud menjawab, “Aku telah mewasiatkan putri-putriku untuk membaca surah al-Waqiah,dan sungguh siapa yang membaca surat al-Waqiah setiap malam tidak akan tertimpa kemiskinan.” Namun hadis ini dhaif (lemah).Apakah dapat dikatakan bahwa antara Utsman dan Ibnu Mas’ud ada perselisihan,karena Utsman tidak memberinya pemberian semasa hidupnya?Ibnu Mas’ud pada usia lebih dari 70 tahun,sedangkan Utsman bin Affan telah menjadi Khalifah kaum Muslimin. Utsman pernah menawarkannya, “Maukah kami menikahkanmu dengan perawan yang mengembalikan masa mudamu yang telah lewat?”Ibnu Mas’ud orang miskin, sedangkan Utsman seorang Khalifah. Khalifah Utsman bertanya kepadanya, “Maukah kami menikahkanmu dengan perawan yang mengembalikan masa mudamu yang telah lewat?”Jadi, tidak ada perselisihan di antara mereka. Lalu Ibnu Mas’ud berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Wahai para pemuda, siapa yang mampu maka menikahlah! …’”Beliau tidak bersabda, “Wahai para orang tua, siapa yang mampu maka menikahlah!”Tapi beliau bersabda, “Wahai para pemuda, …” Karena menikahkan wanita muda dengan lelaki tua mengandung kezaliman,kecuali jika wanita itu rela, dan lelaki tua itu memiliki hal yang dapat menutupi kekurangannya,dan ia masih memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menikah,maka banyak contohnya dalam hal ini. Namun kebanyakannya, lelaki tua akan berakhir pada menzalimi wanita muda itu.Kesimpulannya, hadis tentang membaca surah al-Waqiah ini dhaif menurut para ulama. ==== مَا صِحَّةُ حَدِيثِ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ كُلَّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ هَذَا مَرْوِيٌّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ الْخَلِيفَةُ الْمَعْرُوفُ الرَّاشِدُ الثَّالِثُ زَارَ ابْنَ مَسْعُودٍ فِي مَرَضِ مَوْتِهِ فَقَالَ لَهُ أَلَا نُعْطِيْكَ مِنْ هَذَا الْعَطَاءِ؟ فَقَالَ إِنَّهُ لَا يُرِيدُهُ وَسَأَلَهُ عَمَّا يَشْتَكِي قَالَ أَشْتَكِي ذُنُوبِي وَمَاذَا تَشْتَهِي؟ قَال أَشْتَهِي رَحْمَةَ رَبِّي يَشْتَكِي ذُنُوبَهُ وَيَشْتَهِي رَحْمَةَ رَبِّهِ فَقَالَ أَلَا نُعْطِيكَ؟ فَقَالَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ مَنَعْتَنِي فِي الْحَيَاةِ وَتُعْطِينِي بَعْدَ الْمَمَاتِ؟ قَالَ يَكُونُ لِبَنَاتِكَ مِنْ بَعْدِكَ قَال بَنَاتِي أَوْصَيْتُهُنَّ بِقِرَاءَةِ سُورَةِ الْوَاقِعَةِ فَإِنَّ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ لَكِنَّ الْخَبَرَ ضَعِيفٌ الْخَبَرُ ضَعِيفٌ هَلْ يُقَالُ إِنَّ بَيْنَ عُثْمَانَ وَبَيْنَ ابْنِ مَسْعُودٍ خِلَافٌ؟ بِحَيْثُ مَنَعَهُ الْعَطَاءَ فِي دُنْيَاهُ؟ ابْنُ مَسْعُودٍ فَوْقَ السَّبْعِينَ مِنَ الْعُمْرِ وَعُثْمَان بْنُ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ خَلِيفَةُ الْمُسْلِمِينَ يَقُولُ أَلَا نُزَوِّجُكَ بِكْرًا تُعِيْدُ لَكَ مَا مَضَى مِنْ شَبَابِكَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَقِيرٌ وَهَذَا الْخَلِيفَةُ يَقُولُ لَهُ الْخَلِيفَةُ أَلَا نُزَوِّجُكَ بِكْرًا تُعِيْدُ لَكَ مَا مَضَى مِنْ شَبَابِكَ؟ يَعْنِي مَا بَيْنَهُمْ خِلَافٌ فَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَا قَالَ يَا مَعْشَرَ الشُّيُوخِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ يَقُولُ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ لِأَنَّ فِي تَزْوِيجِ الصَّغِيرَةِ لِلْكَبِيرِ ظُلْمًا أَمَّا إِلَّا إِذَا رَضِيَتْ وَكَانَ فِي هَذَا الْكَبِيرِ مَا يَجْبُرُ هَذَا النَّقْصَ وَفِيْهِ قُوَّةٌ وَقُدْرَةٌ عَلَى الْبَاءَةِ فَالْأَمْثِلَةُ كَثِيرَةٌ مِنْ هَذَا النَّوْعِ لَكِنْ فِي الْغَالِبِ أَنَّ الشَّيْخَ مَآلُهُ إِلَى ظُلْمِ هَذِهِ الصَّغِيرَةِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Bagaimana tingkat kesahihan hadis, “Barang siapa yang membaca surat al-Waqiah tiap malam tidak akan tertimpa kemiskinan”?Hadis ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lainnya, akan tetapi hadisnya dhaif. Hadis ini dhaif (lemah).Utsman bin Affan, Khalifah ketiga,pernah menjenguk Ibnu Mas’ud saat sakit di akhir hayatnya.Lalu Utsman menawarkan kepadanya, “Maukah kami memberimu pemberian ini?”Ibnu Mas’ud menjawab bahwa ia tidak menginginkannya. Utsman pun bertanya tentang apa yang ia keluhkan? Ibnu Mas’ud menjawab, “Aku mengeluhkan dosa-dosaku.”“Lalu apa yang kamu inginkan?” Ia menjawab, “Aku menginginkan rahmat Rabbku.”Ibnu Mas’ud mengeluhkan dosa-dosanya dan menginginkan rahmat Rabbnya.Utsman bertanya, “Maukah kami memberimu?” Dalam beberapa riwayat, Ibnu Mas’ud menjawab, “Kamu tidak memberiku semasa hidup, lalu mau memberiku setelah aku mati?”Utsman berkata, “Bisa untuk putri-putrimu setelah wafatmu.”Ibnu Mas’ud menjawab, “Aku telah mewasiatkan putri-putriku untuk membaca surah al-Waqiah,dan sungguh siapa yang membaca surat al-Waqiah setiap malam tidak akan tertimpa kemiskinan.” Namun hadis ini dhaif (lemah).Apakah dapat dikatakan bahwa antara Utsman dan Ibnu Mas’ud ada perselisihan,karena Utsman tidak memberinya pemberian semasa hidupnya?Ibnu Mas’ud pada usia lebih dari 70 tahun,sedangkan Utsman bin Affan telah menjadi Khalifah kaum Muslimin. Utsman pernah menawarkannya, “Maukah kami menikahkanmu dengan perawan yang mengembalikan masa mudamu yang telah lewat?”Ibnu Mas’ud orang miskin, sedangkan Utsman seorang Khalifah. Khalifah Utsman bertanya kepadanya, “Maukah kami menikahkanmu dengan perawan yang mengembalikan masa mudamu yang telah lewat?”Jadi, tidak ada perselisihan di antara mereka. Lalu Ibnu Mas’ud berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Wahai para pemuda, siapa yang mampu maka menikahlah! …’”Beliau tidak bersabda, “Wahai para orang tua, siapa yang mampu maka menikahlah!”Tapi beliau bersabda, “Wahai para pemuda, …” Karena menikahkan wanita muda dengan lelaki tua mengandung kezaliman,kecuali jika wanita itu rela, dan lelaki tua itu memiliki hal yang dapat menutupi kekurangannya,dan ia masih memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menikah,maka banyak contohnya dalam hal ini. Namun kebanyakannya, lelaki tua akan berakhir pada menzalimi wanita muda itu.Kesimpulannya, hadis tentang membaca surah al-Waqiah ini dhaif menurut para ulama. ==== مَا صِحَّةُ حَدِيثِ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ كُلَّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ هَذَا مَرْوِيٌّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ الْخَلِيفَةُ الْمَعْرُوفُ الرَّاشِدُ الثَّالِثُ زَارَ ابْنَ مَسْعُودٍ فِي مَرَضِ مَوْتِهِ فَقَالَ لَهُ أَلَا نُعْطِيْكَ مِنْ هَذَا الْعَطَاءِ؟ فَقَالَ إِنَّهُ لَا يُرِيدُهُ وَسَأَلَهُ عَمَّا يَشْتَكِي قَالَ أَشْتَكِي ذُنُوبِي وَمَاذَا تَشْتَهِي؟ قَال أَشْتَهِي رَحْمَةَ رَبِّي يَشْتَكِي ذُنُوبَهُ وَيَشْتَهِي رَحْمَةَ رَبِّهِ فَقَالَ أَلَا نُعْطِيكَ؟ فَقَالَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ مَنَعْتَنِي فِي الْحَيَاةِ وَتُعْطِينِي بَعْدَ الْمَمَاتِ؟ قَالَ يَكُونُ لِبَنَاتِكَ مِنْ بَعْدِكَ قَال بَنَاتِي أَوْصَيْتُهُنَّ بِقِرَاءَةِ سُورَةِ الْوَاقِعَةِ فَإِنَّ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ لَكِنَّ الْخَبَرَ ضَعِيفٌ الْخَبَرُ ضَعِيفٌ هَلْ يُقَالُ إِنَّ بَيْنَ عُثْمَانَ وَبَيْنَ ابْنِ مَسْعُودٍ خِلَافٌ؟ بِحَيْثُ مَنَعَهُ الْعَطَاءَ فِي دُنْيَاهُ؟ ابْنُ مَسْعُودٍ فَوْقَ السَّبْعِينَ مِنَ الْعُمْرِ وَعُثْمَان بْنُ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ خَلِيفَةُ الْمُسْلِمِينَ يَقُولُ أَلَا نُزَوِّجُكَ بِكْرًا تُعِيْدُ لَكَ مَا مَضَى مِنْ شَبَابِكَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَقِيرٌ وَهَذَا الْخَلِيفَةُ يَقُولُ لَهُ الْخَلِيفَةُ أَلَا نُزَوِّجُكَ بِكْرًا تُعِيْدُ لَكَ مَا مَضَى مِنْ شَبَابِكَ؟ يَعْنِي مَا بَيْنَهُمْ خِلَافٌ فَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَا قَالَ يَا مَعْشَرَ الشُّيُوخِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ يَقُولُ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ لِأَنَّ فِي تَزْوِيجِ الصَّغِيرَةِ لِلْكَبِيرِ ظُلْمًا أَمَّا إِلَّا إِذَا رَضِيَتْ وَكَانَ فِي هَذَا الْكَبِيرِ مَا يَجْبُرُ هَذَا النَّقْصَ وَفِيْهِ قُوَّةٌ وَقُدْرَةٌ عَلَى الْبَاءَةِ فَالْأَمْثِلَةُ كَثِيرَةٌ مِنْ هَذَا النَّوْعِ لَكِنْ فِي الْغَالِبِ أَنَّ الشَّيْخَ مَآلُهُ إِلَى ظُلْمِ هَذِهِ الصَّغِيرَةِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Jalan Menuju Cinta Allah – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Allah berfirman: “… Ketika seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Kudengan melakukan amalan-amalan sunah, hingga Aku mencintainya, …” (HR. Bukhari) Jadi, jalan menuju cinta Allah adalah dengan Anda bersungguh-sungguhmelakukan ibadah-ibadah sunah, setelah menyempurnakan yang wajib.“… Ketika seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Kudengan melakukan amalan-amalan sunah, hingga Aku mencintainya, …” Ini menunjukkan kepada kita, bahwa bersungguh-sungguhdalam ibadah sunah adalah salah satu tanda cinta seorang hamba kepada Tuhannya,karena balasan akan serupa dengan perbuatannya. Allah berfirman, “… hingga Aku mencintainya, …”karena seorang hamba yang mencintai Tuhannya,ia bersungguh-sungguh meraih rida-Nya dan melakukan ibadah sunah,dia melawan nafsunya untuk melakukan sesuatu yang tidak Allah wajibkan baginya. Ini menunjukkan betapa besar cintanya kepada Tuhannya,karena salah satu tabiat manusia adalah menyibukkan diri dengan sesuatu yang dicintainya,dan menghabiskan waktunya untuk melakukan apa yang disukainya. Jadi, jika Anda dapati diri Anda bersemangat dalam melakukan ibadah-ibadah sunah,ini adalah tanda keselamatan hati Anda,dan cinta Anda kepada Allah, itulah mengapa Dia berfirman: “… hingga Aku mencintainya, …”Inilah balasannya. Inilah kenapa, orang yang menginginkan cinta Allah Ta’ālā,hendaknya dia mengerjakan ibadah sunah dan bersemangat melakukannya.“Sebaik-baik salat setelah salat wajib adalah Salat Malam.” (HR. Muslim) Ini adalah salah satu amal ibadah yang paling agung yang akan mengantarkan seorang hamba pada kecintaan Allah,karena sesuatu yang paling didambakan orang yang mencintaadalah menyendiri dengan yang dia cintai, dan menikmati khalwat bersamanya dan berbicara dengannya,dan Salat Malam adalah kebahagiaan orang yang sedang mencintai-Nyadan surga bagi orang yang merindukan-Nya,karena Allah Ta’ālā turun ke langit dunia, ketika sepertiga malam yang terakhir tersisa,dan berfirman, “Adakah orang yang berdoa untuk Aku kabulkan baginya?Adakah orang yang meminta untuk Aku berikan padanya?Adakah yang memohon ampun untuk aku ampuni dia?” (HR. Ibnu Abi Syaibah) Anda salat ketika tidak ada seorang pun yang melihat Anda,dan menyendiri dengan Zat yang Anda cintai,ketika Allah dekat dengan Anda. Anda bermunajat kepada-Nya dalam salat Anda,dan memperpanjang sujud Anda di hadapan-Nya.“Sedekat-dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud.” (HR. Muslim) Betapa banyak dalam salat ini terkandung nilai-nilai keimanan,kedekatan dan cinta kepada Allah, serta kerinduan untuk berjumpa dengan-Nya. ===== قَالَ: وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ فَطَرِيقُ مَحَبَّةِ اللهِ هُوَ أَنْ تُجَاهِدَ نَفْسَكَ عَلَى نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ بَعْدَ إِتْقَانِ الْمَفْرُوضَاتِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ مُجَاهَدَةَ النَّفْسِ عَلَى النَّوَافِلِ هَذَا مِنْ عَلَامَاتِ مَحَبَّةِ الْعَبْدِ رَبِّهِ لِأَنَّ الْجَزَاءَ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ قَالَ: حتَّى أُحِبَّهُ لِأَنَّ الْعَبْدَ أَحَبَّ رَبَّهُ فَجَاهَدَ نَفْسَهُ عَلَى مَرْضَاتِهِ وَعَلَى نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ عَلَى أُمُورٍ مَا فَرَضَهَا اللهُ عَلَيْهِ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى شِدَّةِ مَحَبَّتِهِ لِلهِ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ مِنْ طَبْعِهِ أَنَّهُ يَنْشَغِلُ بِمَا يُحِبُّ وَيَقْضِي وَقْتَهُ فِيمَا يُحِبُّ فَإِذَا وَجَدْتَ مِنْ نَفْسِكَ إِقْبَالًا عَلَى النَّوَافِلِ فَهَذَا مِنْ عَلَامَاتِ سَلَمَةِ قَلْبِكُمْ وَمَحَبَّتِكَ لِلهِ وَلِهَذَا قَالَ: حَتَّى أُحِبَّهُ هَذَا جَزَاؤُهُ وَلِهَذَا مَنْ أَرَادَ مَحَبَّةَ اللهِ تَعَالَى فَعَلَيْهِ بِالنَّوَافِلِ يُقْبِلُ عَلَى النَّوَافِلِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ وَهَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي تُوْصِلُ الْعَبْدَ إِلَى مَحَبَّةِ اللهِ لِأَنَّ أَحَبَّ شَيْءٍ عِنْدَ الْمُحِبِّ أَنْ يَخْلُو بِمَحْبُوبِهِ وَيَتَلَذَّذُ بِمُنَاجَاتِهِ وَالْخَلْوَةِ بِهِ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ هِيَ أُنْسُ الْمُحِبِّينَ وَجَنَّةُ الْمُشْتَاقِّيْنَ لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ وَيَقُوْلُ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأُسْتُجِيبَ لَهُ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ تَقُومُ مَا يَرَاهُ أَحَدٌ تَخْلُو بِمَحْبُوبِكَ وَاللهُ قَرِيبٌ مِنْكَ وَتُنَاجِيهِ فِي صَلَاتِكَ وَتُطِيلُ سُجُودَكَ بَيْنَ يَدَيْهِ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِن رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَكَمْ فِي هَذِهِ الصَّلَاةِ مِنْ مَعَانِي الْإِيمَانِ وَالْقُرْبِ مِنَ اللهِ وَمَحَبَّةِ اللهِ وَالشَّوْقِ لِلِقَائِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Jalan Menuju Cinta Allah – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Allah berfirman: “… Ketika seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Kudengan melakukan amalan-amalan sunah, hingga Aku mencintainya, …” (HR. Bukhari) Jadi, jalan menuju cinta Allah adalah dengan Anda bersungguh-sungguhmelakukan ibadah-ibadah sunah, setelah menyempurnakan yang wajib.“… Ketika seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Kudengan melakukan amalan-amalan sunah, hingga Aku mencintainya, …” Ini menunjukkan kepada kita, bahwa bersungguh-sungguhdalam ibadah sunah adalah salah satu tanda cinta seorang hamba kepada Tuhannya,karena balasan akan serupa dengan perbuatannya. Allah berfirman, “… hingga Aku mencintainya, …”karena seorang hamba yang mencintai Tuhannya,ia bersungguh-sungguh meraih rida-Nya dan melakukan ibadah sunah,dia melawan nafsunya untuk melakukan sesuatu yang tidak Allah wajibkan baginya. Ini menunjukkan betapa besar cintanya kepada Tuhannya,karena salah satu tabiat manusia adalah menyibukkan diri dengan sesuatu yang dicintainya,dan menghabiskan waktunya untuk melakukan apa yang disukainya. Jadi, jika Anda dapati diri Anda bersemangat dalam melakukan ibadah-ibadah sunah,ini adalah tanda keselamatan hati Anda,dan cinta Anda kepada Allah, itulah mengapa Dia berfirman: “… hingga Aku mencintainya, …”Inilah balasannya. Inilah kenapa, orang yang menginginkan cinta Allah Ta’ālā,hendaknya dia mengerjakan ibadah sunah dan bersemangat melakukannya.“Sebaik-baik salat setelah salat wajib adalah Salat Malam.” (HR. Muslim) Ini adalah salah satu amal ibadah yang paling agung yang akan mengantarkan seorang hamba pada kecintaan Allah,karena sesuatu yang paling didambakan orang yang mencintaadalah menyendiri dengan yang dia cintai, dan menikmati khalwat bersamanya dan berbicara dengannya,dan Salat Malam adalah kebahagiaan orang yang sedang mencintai-Nyadan surga bagi orang yang merindukan-Nya,karena Allah Ta’ālā turun ke langit dunia, ketika sepertiga malam yang terakhir tersisa,dan berfirman, “Adakah orang yang berdoa untuk Aku kabulkan baginya?Adakah orang yang meminta untuk Aku berikan padanya?Adakah yang memohon ampun untuk aku ampuni dia?” (HR. Ibnu Abi Syaibah) Anda salat ketika tidak ada seorang pun yang melihat Anda,dan menyendiri dengan Zat yang Anda cintai,ketika Allah dekat dengan Anda. Anda bermunajat kepada-Nya dalam salat Anda,dan memperpanjang sujud Anda di hadapan-Nya.“Sedekat-dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud.” (HR. Muslim) Betapa banyak dalam salat ini terkandung nilai-nilai keimanan,kedekatan dan cinta kepada Allah, serta kerinduan untuk berjumpa dengan-Nya. ===== قَالَ: وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ فَطَرِيقُ مَحَبَّةِ اللهِ هُوَ أَنْ تُجَاهِدَ نَفْسَكَ عَلَى نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ بَعْدَ إِتْقَانِ الْمَفْرُوضَاتِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ مُجَاهَدَةَ النَّفْسِ عَلَى النَّوَافِلِ هَذَا مِنْ عَلَامَاتِ مَحَبَّةِ الْعَبْدِ رَبِّهِ لِأَنَّ الْجَزَاءَ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ قَالَ: حتَّى أُحِبَّهُ لِأَنَّ الْعَبْدَ أَحَبَّ رَبَّهُ فَجَاهَدَ نَفْسَهُ عَلَى مَرْضَاتِهِ وَعَلَى نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ عَلَى أُمُورٍ مَا فَرَضَهَا اللهُ عَلَيْهِ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى شِدَّةِ مَحَبَّتِهِ لِلهِ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ مِنْ طَبْعِهِ أَنَّهُ يَنْشَغِلُ بِمَا يُحِبُّ وَيَقْضِي وَقْتَهُ فِيمَا يُحِبُّ فَإِذَا وَجَدْتَ مِنْ نَفْسِكَ إِقْبَالًا عَلَى النَّوَافِلِ فَهَذَا مِنْ عَلَامَاتِ سَلَمَةِ قَلْبِكُمْ وَمَحَبَّتِكَ لِلهِ وَلِهَذَا قَالَ: حَتَّى أُحِبَّهُ هَذَا جَزَاؤُهُ وَلِهَذَا مَنْ أَرَادَ مَحَبَّةَ اللهِ تَعَالَى فَعَلَيْهِ بِالنَّوَافِلِ يُقْبِلُ عَلَى النَّوَافِلِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ وَهَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي تُوْصِلُ الْعَبْدَ إِلَى مَحَبَّةِ اللهِ لِأَنَّ أَحَبَّ شَيْءٍ عِنْدَ الْمُحِبِّ أَنْ يَخْلُو بِمَحْبُوبِهِ وَيَتَلَذَّذُ بِمُنَاجَاتِهِ وَالْخَلْوَةِ بِهِ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ هِيَ أُنْسُ الْمُحِبِّينَ وَجَنَّةُ الْمُشْتَاقِّيْنَ لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ وَيَقُوْلُ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأُسْتُجِيبَ لَهُ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ تَقُومُ مَا يَرَاهُ أَحَدٌ تَخْلُو بِمَحْبُوبِكَ وَاللهُ قَرِيبٌ مِنْكَ وَتُنَاجِيهِ فِي صَلَاتِكَ وَتُطِيلُ سُجُودَكَ بَيْنَ يَدَيْهِ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِن رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَكَمْ فِي هَذِهِ الصَّلَاةِ مِنْ مَعَانِي الْإِيمَانِ وَالْقُرْبِ مِنَ اللهِ وَمَحَبَّةِ اللهِ وَالشَّوْقِ لِلِقَائِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Allah berfirman: “… Ketika seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Kudengan melakukan amalan-amalan sunah, hingga Aku mencintainya, …” (HR. Bukhari) Jadi, jalan menuju cinta Allah adalah dengan Anda bersungguh-sungguhmelakukan ibadah-ibadah sunah, setelah menyempurnakan yang wajib.“… Ketika seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Kudengan melakukan amalan-amalan sunah, hingga Aku mencintainya, …” Ini menunjukkan kepada kita, bahwa bersungguh-sungguhdalam ibadah sunah adalah salah satu tanda cinta seorang hamba kepada Tuhannya,karena balasan akan serupa dengan perbuatannya. Allah berfirman, “… hingga Aku mencintainya, …”karena seorang hamba yang mencintai Tuhannya,ia bersungguh-sungguh meraih rida-Nya dan melakukan ibadah sunah,dia melawan nafsunya untuk melakukan sesuatu yang tidak Allah wajibkan baginya. Ini menunjukkan betapa besar cintanya kepada Tuhannya,karena salah satu tabiat manusia adalah menyibukkan diri dengan sesuatu yang dicintainya,dan menghabiskan waktunya untuk melakukan apa yang disukainya. Jadi, jika Anda dapati diri Anda bersemangat dalam melakukan ibadah-ibadah sunah,ini adalah tanda keselamatan hati Anda,dan cinta Anda kepada Allah, itulah mengapa Dia berfirman: “… hingga Aku mencintainya, …”Inilah balasannya. Inilah kenapa, orang yang menginginkan cinta Allah Ta’ālā,hendaknya dia mengerjakan ibadah sunah dan bersemangat melakukannya.“Sebaik-baik salat setelah salat wajib adalah Salat Malam.” (HR. Muslim) Ini adalah salah satu amal ibadah yang paling agung yang akan mengantarkan seorang hamba pada kecintaan Allah,karena sesuatu yang paling didambakan orang yang mencintaadalah menyendiri dengan yang dia cintai, dan menikmati khalwat bersamanya dan berbicara dengannya,dan Salat Malam adalah kebahagiaan orang yang sedang mencintai-Nyadan surga bagi orang yang merindukan-Nya,karena Allah Ta’ālā turun ke langit dunia, ketika sepertiga malam yang terakhir tersisa,dan berfirman, “Adakah orang yang berdoa untuk Aku kabulkan baginya?Adakah orang yang meminta untuk Aku berikan padanya?Adakah yang memohon ampun untuk aku ampuni dia?” (HR. Ibnu Abi Syaibah) Anda salat ketika tidak ada seorang pun yang melihat Anda,dan menyendiri dengan Zat yang Anda cintai,ketika Allah dekat dengan Anda. Anda bermunajat kepada-Nya dalam salat Anda,dan memperpanjang sujud Anda di hadapan-Nya.“Sedekat-dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud.” (HR. Muslim) Betapa banyak dalam salat ini terkandung nilai-nilai keimanan,kedekatan dan cinta kepada Allah, serta kerinduan untuk berjumpa dengan-Nya. ===== قَالَ: وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ فَطَرِيقُ مَحَبَّةِ اللهِ هُوَ أَنْ تُجَاهِدَ نَفْسَكَ عَلَى نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ بَعْدَ إِتْقَانِ الْمَفْرُوضَاتِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ مُجَاهَدَةَ النَّفْسِ عَلَى النَّوَافِلِ هَذَا مِنْ عَلَامَاتِ مَحَبَّةِ الْعَبْدِ رَبِّهِ لِأَنَّ الْجَزَاءَ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ قَالَ: حتَّى أُحِبَّهُ لِأَنَّ الْعَبْدَ أَحَبَّ رَبَّهُ فَجَاهَدَ نَفْسَهُ عَلَى مَرْضَاتِهِ وَعَلَى نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ عَلَى أُمُورٍ مَا فَرَضَهَا اللهُ عَلَيْهِ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى شِدَّةِ مَحَبَّتِهِ لِلهِ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ مِنْ طَبْعِهِ أَنَّهُ يَنْشَغِلُ بِمَا يُحِبُّ وَيَقْضِي وَقْتَهُ فِيمَا يُحِبُّ فَإِذَا وَجَدْتَ مِنْ نَفْسِكَ إِقْبَالًا عَلَى النَّوَافِلِ فَهَذَا مِنْ عَلَامَاتِ سَلَمَةِ قَلْبِكُمْ وَمَحَبَّتِكَ لِلهِ وَلِهَذَا قَالَ: حَتَّى أُحِبَّهُ هَذَا جَزَاؤُهُ وَلِهَذَا مَنْ أَرَادَ مَحَبَّةَ اللهِ تَعَالَى فَعَلَيْهِ بِالنَّوَافِلِ يُقْبِلُ عَلَى النَّوَافِلِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ وَهَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي تُوْصِلُ الْعَبْدَ إِلَى مَحَبَّةِ اللهِ لِأَنَّ أَحَبَّ شَيْءٍ عِنْدَ الْمُحِبِّ أَنْ يَخْلُو بِمَحْبُوبِهِ وَيَتَلَذَّذُ بِمُنَاجَاتِهِ وَالْخَلْوَةِ بِهِ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ هِيَ أُنْسُ الْمُحِبِّينَ وَجَنَّةُ الْمُشْتَاقِّيْنَ لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ وَيَقُوْلُ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأُسْتُجِيبَ لَهُ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ تَقُومُ مَا يَرَاهُ أَحَدٌ تَخْلُو بِمَحْبُوبِكَ وَاللهُ قَرِيبٌ مِنْكَ وَتُنَاجِيهِ فِي صَلَاتِكَ وَتُطِيلُ سُجُودَكَ بَيْنَ يَدَيْهِ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِن رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَكَمْ فِي هَذِهِ الصَّلَاةِ مِنْ مَعَانِي الْإِيمَانِ وَالْقُرْبِ مِنَ اللهِ وَمَحَبَّةِ اللهِ وَالشَّوْقِ لِلِقَائِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Allah berfirman: “… Ketika seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Kudengan melakukan amalan-amalan sunah, hingga Aku mencintainya, …” (HR. Bukhari) Jadi, jalan menuju cinta Allah adalah dengan Anda bersungguh-sungguhmelakukan ibadah-ibadah sunah, setelah menyempurnakan yang wajib.“… Ketika seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Kudengan melakukan amalan-amalan sunah, hingga Aku mencintainya, …” Ini menunjukkan kepada kita, bahwa bersungguh-sungguhdalam ibadah sunah adalah salah satu tanda cinta seorang hamba kepada Tuhannya,karena balasan akan serupa dengan perbuatannya. Allah berfirman, “… hingga Aku mencintainya, …”karena seorang hamba yang mencintai Tuhannya,ia bersungguh-sungguh meraih rida-Nya dan melakukan ibadah sunah,dia melawan nafsunya untuk melakukan sesuatu yang tidak Allah wajibkan baginya. Ini menunjukkan betapa besar cintanya kepada Tuhannya,karena salah satu tabiat manusia adalah menyibukkan diri dengan sesuatu yang dicintainya,dan menghabiskan waktunya untuk melakukan apa yang disukainya. Jadi, jika Anda dapati diri Anda bersemangat dalam melakukan ibadah-ibadah sunah,ini adalah tanda keselamatan hati Anda,dan cinta Anda kepada Allah, itulah mengapa Dia berfirman: “… hingga Aku mencintainya, …”Inilah balasannya. Inilah kenapa, orang yang menginginkan cinta Allah Ta’ālā,hendaknya dia mengerjakan ibadah sunah dan bersemangat melakukannya.“Sebaik-baik salat setelah salat wajib adalah Salat Malam.” (HR. Muslim) Ini adalah salah satu amal ibadah yang paling agung yang akan mengantarkan seorang hamba pada kecintaan Allah,karena sesuatu yang paling didambakan orang yang mencintaadalah menyendiri dengan yang dia cintai, dan menikmati khalwat bersamanya dan berbicara dengannya,dan Salat Malam adalah kebahagiaan orang yang sedang mencintai-Nyadan surga bagi orang yang merindukan-Nya,karena Allah Ta’ālā turun ke langit dunia, ketika sepertiga malam yang terakhir tersisa,dan berfirman, “Adakah orang yang berdoa untuk Aku kabulkan baginya?Adakah orang yang meminta untuk Aku berikan padanya?Adakah yang memohon ampun untuk aku ampuni dia?” (HR. Ibnu Abi Syaibah) Anda salat ketika tidak ada seorang pun yang melihat Anda,dan menyendiri dengan Zat yang Anda cintai,ketika Allah dekat dengan Anda. Anda bermunajat kepada-Nya dalam salat Anda,dan memperpanjang sujud Anda di hadapan-Nya.“Sedekat-dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud.” (HR. Muslim) Betapa banyak dalam salat ini terkandung nilai-nilai keimanan,kedekatan dan cinta kepada Allah, serta kerinduan untuk berjumpa dengan-Nya. ===== قَالَ: وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ فَطَرِيقُ مَحَبَّةِ اللهِ هُوَ أَنْ تُجَاهِدَ نَفْسَكَ عَلَى نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ بَعْدَ إِتْقَانِ الْمَفْرُوضَاتِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ مُجَاهَدَةَ النَّفْسِ عَلَى النَّوَافِلِ هَذَا مِنْ عَلَامَاتِ مَحَبَّةِ الْعَبْدِ رَبِّهِ لِأَنَّ الْجَزَاءَ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ قَالَ: حتَّى أُحِبَّهُ لِأَنَّ الْعَبْدَ أَحَبَّ رَبَّهُ فَجَاهَدَ نَفْسَهُ عَلَى مَرْضَاتِهِ وَعَلَى نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ عَلَى أُمُورٍ مَا فَرَضَهَا اللهُ عَلَيْهِ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى شِدَّةِ مَحَبَّتِهِ لِلهِ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ مِنْ طَبْعِهِ أَنَّهُ يَنْشَغِلُ بِمَا يُحِبُّ وَيَقْضِي وَقْتَهُ فِيمَا يُحِبُّ فَإِذَا وَجَدْتَ مِنْ نَفْسِكَ إِقْبَالًا عَلَى النَّوَافِلِ فَهَذَا مِنْ عَلَامَاتِ سَلَمَةِ قَلْبِكُمْ وَمَحَبَّتِكَ لِلهِ وَلِهَذَا قَالَ: حَتَّى أُحِبَّهُ هَذَا جَزَاؤُهُ وَلِهَذَا مَنْ أَرَادَ مَحَبَّةَ اللهِ تَعَالَى فَعَلَيْهِ بِالنَّوَافِلِ يُقْبِلُ عَلَى النَّوَافِلِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ وَهَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي تُوْصِلُ الْعَبْدَ إِلَى مَحَبَّةِ اللهِ لِأَنَّ أَحَبَّ شَيْءٍ عِنْدَ الْمُحِبِّ أَنْ يَخْلُو بِمَحْبُوبِهِ وَيَتَلَذَّذُ بِمُنَاجَاتِهِ وَالْخَلْوَةِ بِهِ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ هِيَ أُنْسُ الْمُحِبِّينَ وَجَنَّةُ الْمُشْتَاقِّيْنَ لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ وَيَقُوْلُ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأُسْتُجِيبَ لَهُ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ تَقُومُ مَا يَرَاهُ أَحَدٌ تَخْلُو بِمَحْبُوبِكَ وَاللهُ قَرِيبٌ مِنْكَ وَتُنَاجِيهِ فِي صَلَاتِكَ وَتُطِيلُ سُجُودَكَ بَيْنَ يَدَيْهِ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِن رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَكَمْ فِي هَذِهِ الصَّلَاةِ مِنْ مَعَانِي الْإِيمَانِ وَالْقُرْبِ مِنَ اللهِ وَمَحَبَّةِ اللهِ وَالشَّوْقِ لِلِقَائِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Apakah Jin atau Setan Bisa Terbakar dengan Dibacakan Al-Qur’an?

Pertanyaan: Apakah benar bahwa jika seseorang kesurupan jin, lalu dibacakan Al-Qur’an kepadanya, lalu jin di dalam tubuhnya akan mati terbakar? Bukankah di surat Al Jin disebutkan bahwa jin bisa mendengar Al-Qur’an. Andaikan jin itu terbakar, bagaimana mengetahui dengan pasti bahwa jin tersebut mati terbakar? Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Benar bahwa di dalam surat al-Jin disebutkan bahwa para jin mendengarkan al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman: قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan al-Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan.” (QS. al-Jin: 1) Maka tidak benar jika dikatakan bahwa jin secara mutlak akan terbakar jika mendengarkan al-Qur’an. Karena buktinya jin yang disebutkan dalam ayat ini tidak terbakar. Dan kita juga meyakini bahwa jin itu bisa mati sebagaimana manusia bisa mati. Dalam hadits dari Abdullah bin Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: أعوذُ بِعزَّتِكَ الَّذي لا إلهَ إلَّا أنتّ [ أنْ تُضِلَّنِي ، أنتَ الحيُّ ] ، الَّذي لا يَموتُ ، و الجِنُّ و الإنْسُ يَموتُونَ “Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu ya Allah yang tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, dari kesesatan. Engkau Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Sedangkan jin dan manusia akan mati.” (HR. Bukhari no.7383, Muslim no.2717) Namun, tentang mengobati kesurupan jin dengan dibacakan al-Qur’an kemudian diklaim bahwa jinnya terbakar karena bacaan al-Qur’an tersebut, ini adalah kesimpulan atau pendapat sebagian ulama. Contohnya dalam kitab I’anatut Thalibin disebutkan: فائدة من الشنواني: ومما جرب لحرق الجن أن يؤذن في أذن المصروع سبعا، ويقرأ الفاتحة سبعا، والمعوذتين، وآية الكرسي، والسماء والطارق، وآخر سورة الحشر “Ada faedah dari asy-Syanwani, ia berkata: berdasarkan pengalaman, cara membakar jin adalah dengan membacakan adzan di telinga orang yang kesurupan sebanyak 7x. Lalu dibacakan surat al-Fatihah 7x, mu’awwidzatain (an-Nas dan al-Falaq), ayat Kursi, surat ath-Thariq, dan akhir surat al-Hasyr.” Namun perkara terbakarnya jin ini adalah perkara ghaib, yang pada dasarnya semua perkara ghaib hanya bisa diketahui oleh dalil. Andaikan ada jin yang mengatakan ia terbakar atau temannya terbakar pun, ini kabar yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Syaikh al-Albani pernah ditanya, “apakah terdapat di dalam hadits-hadits yang shahih bahwa al-Qur’an bisa membakar jin? Demikian juga jin yang merasuki manusia jika ia diperintahkan untuk keluar dan ia tidak mau keluar, apakah boleh membakarnya dengan membacakan al-Qur’an?”. Beliau menjawab: لا أعلم شيئًا من هذا في السنة أن تلاوة القرآن تحرق الجنِّيَّ المتلبِّس بإنسان ، لكن الذي نعلمه أن القرآن الكريم كما قال رب العالمين : (( فيه شفاء للناس )) ، وهو (( شفاء لما في الصدور )) ، وقد جاء في بعض الأحاديث في ” مسند الإمام أحمد ” وفي غيره أنَّ النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – مرَّ بامرأة وعندها – أو ولها – ولدٌ مصابٌ باللَّمم – أي : بالجنون – ، فقرأ عليه النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – بعض الآيات القرآنية فكأنما نشط من عقال ، وسافر النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – وتابع طريقه ، ثم لما رجع ومرَّ بالمرأة فسألها عن ولدها ؟ قالت : والحمد لله لا يزال كما تركته بعد أن شُفِيَ “Saya tidak mengetahui sama sekali dari hadits-hadits Nabi bahwa membacakan al-Qur’an bisa membakar jin yang merasuki seorang manusia. Namun yang kami ketahui adalah bahwa al-Qur’anul Karim adalah sebagaimana firmannya Rabb semesta alam (yang artinya): “Di dalam al-Qur’an ada penyembuh bagi manusia” (QS. an-Nahl: 69). Dan juga (yang artinya): “Al-Qur’an adalah penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada” (QS. Yunus: 57). Dan terdapat dalam sebagian hadits di Musnad Ahmad dan yang lainnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati wanita yang anaknya terkena penyakit lamam (gila). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat al-Qur’an, lalu serta merta anak tersebut langsung sembuh dan berakal kembali. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan safarnya dan mengikuti jalur perjalanannya. Kemudian ketika beliau kembali dan melewati rumah wanita tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kembali tentang anaknya? Wanita tadi menjawab: Alhamdulillah anakku tetap sehat sebagaimana kondisinya ketika terakhir bertemu denganmu”. فهذا ثابت في السنة أن القرآن يفيد في إخراج الجنِّي المتلبِّس بالإنسان ، وهذا حديث شاهد على ذلك ، ثم إن بعض الأئمة الصادقين في اتباعهم لسنة النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – كانوا يستنُّون به في محاولتهم لإخراج الجنِّ المتلبِّس بالإنسان ، وعلى رأس هؤلاء شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمه الله – ؛ فقد كان معروفًا في زمانه بأنه إذا قرأ على المصروع شيئًا من آيات الله – تبارك وتعالى – قام في الحال وكأنما لم يمسَّه الشيطان ، فقراءة القرآن تُفيد إلى هذا المجال ، أما أنُّو القرآن يحرق الجنِّي فهذا شيء ما سمعت به ولا عرفته ، ولا أظنُّه أنه يمكن أن يصح “Inilah yang ada dalam hadits-hadits. Yaitu bahwasanya al-Qur’an bisa bermanfaat untuk mengeluarkan jin yang merasuki seorang manusia. Hadits di atas adalah dalil atas hal ini. Kemudian para ulama yang jujur dalam mengikuti sunnah Nabi pun mereka mengikuti cara Nabi ini dalam upaya mengeluarkan jin yang merasuki manusia. Di antara pemimpin para ulama tersebut adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau dikenal di zamannya, bahwa jika ada orang kesurupan lalu dibacakan ayat al-Qur’an oleh beliau maka orang yang kesurupan tadi langsung sembuh seketika seperti tidak pernah kesurupan sama sekali. Maka membacakan ayat al-Qur’an itu bisa memberi manfaat dalam hal ini. Adapun meniatkan membaca al-Qur’an untuk membakar jin, ini perkara yang belum pernah aku dengar (dari hadits) dan belum aku ketahui (dalilnya). Dan aku menyangka ini perkara yang tidak benar adanya.” (Fatawa Jiddah, no. 16) Oleh karena itu, mengenai terbakarnya jin karena bacaan al-Qur’an, sikap yang terbaik adalah tawaqquf, tidak meyakininya dan juga tidak menafikannya. Karena ini adalah perkara ghaib yang Allah tutup dari pandangan mata dan akal kita. Kecuali ada dalil yang menyebutkannya.  Namun mengenai mengobati orang yang kesurupan dengan membacakan al-Qur’an kepadanya, ini perkara yang shahih dan bisa bermanfaat untuk menyembuhkannya. Hal ini berdasarkan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Nafsu Wanita Dalam Islam, Cincin Khitbah, Hukum Menyusu Pada Istri, Hukum Shalat Jama, Posisi Imam, Kubah Masjid Nabawi Madinah Visited 609 times, 1 visit(s) today Post Views: 463 QRIS donasi Yufid

Apakah Jin atau Setan Bisa Terbakar dengan Dibacakan Al-Qur’an?

Pertanyaan: Apakah benar bahwa jika seseorang kesurupan jin, lalu dibacakan Al-Qur’an kepadanya, lalu jin di dalam tubuhnya akan mati terbakar? Bukankah di surat Al Jin disebutkan bahwa jin bisa mendengar Al-Qur’an. Andaikan jin itu terbakar, bagaimana mengetahui dengan pasti bahwa jin tersebut mati terbakar? Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Benar bahwa di dalam surat al-Jin disebutkan bahwa para jin mendengarkan al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman: قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan al-Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan.” (QS. al-Jin: 1) Maka tidak benar jika dikatakan bahwa jin secara mutlak akan terbakar jika mendengarkan al-Qur’an. Karena buktinya jin yang disebutkan dalam ayat ini tidak terbakar. Dan kita juga meyakini bahwa jin itu bisa mati sebagaimana manusia bisa mati. Dalam hadits dari Abdullah bin Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: أعوذُ بِعزَّتِكَ الَّذي لا إلهَ إلَّا أنتّ [ أنْ تُضِلَّنِي ، أنتَ الحيُّ ] ، الَّذي لا يَموتُ ، و الجِنُّ و الإنْسُ يَموتُونَ “Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu ya Allah yang tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, dari kesesatan. Engkau Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Sedangkan jin dan manusia akan mati.” (HR. Bukhari no.7383, Muslim no.2717) Namun, tentang mengobati kesurupan jin dengan dibacakan al-Qur’an kemudian diklaim bahwa jinnya terbakar karena bacaan al-Qur’an tersebut, ini adalah kesimpulan atau pendapat sebagian ulama. Contohnya dalam kitab I’anatut Thalibin disebutkan: فائدة من الشنواني: ومما جرب لحرق الجن أن يؤذن في أذن المصروع سبعا، ويقرأ الفاتحة سبعا، والمعوذتين، وآية الكرسي، والسماء والطارق، وآخر سورة الحشر “Ada faedah dari asy-Syanwani, ia berkata: berdasarkan pengalaman, cara membakar jin adalah dengan membacakan adzan di telinga orang yang kesurupan sebanyak 7x. Lalu dibacakan surat al-Fatihah 7x, mu’awwidzatain (an-Nas dan al-Falaq), ayat Kursi, surat ath-Thariq, dan akhir surat al-Hasyr.” Namun perkara terbakarnya jin ini adalah perkara ghaib, yang pada dasarnya semua perkara ghaib hanya bisa diketahui oleh dalil. Andaikan ada jin yang mengatakan ia terbakar atau temannya terbakar pun, ini kabar yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Syaikh al-Albani pernah ditanya, “apakah terdapat di dalam hadits-hadits yang shahih bahwa al-Qur’an bisa membakar jin? Demikian juga jin yang merasuki manusia jika ia diperintahkan untuk keluar dan ia tidak mau keluar, apakah boleh membakarnya dengan membacakan al-Qur’an?”. Beliau menjawab: لا أعلم شيئًا من هذا في السنة أن تلاوة القرآن تحرق الجنِّيَّ المتلبِّس بإنسان ، لكن الذي نعلمه أن القرآن الكريم كما قال رب العالمين : (( فيه شفاء للناس )) ، وهو (( شفاء لما في الصدور )) ، وقد جاء في بعض الأحاديث في ” مسند الإمام أحمد ” وفي غيره أنَّ النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – مرَّ بامرأة وعندها – أو ولها – ولدٌ مصابٌ باللَّمم – أي : بالجنون – ، فقرأ عليه النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – بعض الآيات القرآنية فكأنما نشط من عقال ، وسافر النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – وتابع طريقه ، ثم لما رجع ومرَّ بالمرأة فسألها عن ولدها ؟ قالت : والحمد لله لا يزال كما تركته بعد أن شُفِيَ “Saya tidak mengetahui sama sekali dari hadits-hadits Nabi bahwa membacakan al-Qur’an bisa membakar jin yang merasuki seorang manusia. Namun yang kami ketahui adalah bahwa al-Qur’anul Karim adalah sebagaimana firmannya Rabb semesta alam (yang artinya): “Di dalam al-Qur’an ada penyembuh bagi manusia” (QS. an-Nahl: 69). Dan juga (yang artinya): “Al-Qur’an adalah penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada” (QS. Yunus: 57). Dan terdapat dalam sebagian hadits di Musnad Ahmad dan yang lainnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati wanita yang anaknya terkena penyakit lamam (gila). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat al-Qur’an, lalu serta merta anak tersebut langsung sembuh dan berakal kembali. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan safarnya dan mengikuti jalur perjalanannya. Kemudian ketika beliau kembali dan melewati rumah wanita tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kembali tentang anaknya? Wanita tadi menjawab: Alhamdulillah anakku tetap sehat sebagaimana kondisinya ketika terakhir bertemu denganmu”. فهذا ثابت في السنة أن القرآن يفيد في إخراج الجنِّي المتلبِّس بالإنسان ، وهذا حديث شاهد على ذلك ، ثم إن بعض الأئمة الصادقين في اتباعهم لسنة النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – كانوا يستنُّون به في محاولتهم لإخراج الجنِّ المتلبِّس بالإنسان ، وعلى رأس هؤلاء شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمه الله – ؛ فقد كان معروفًا في زمانه بأنه إذا قرأ على المصروع شيئًا من آيات الله – تبارك وتعالى – قام في الحال وكأنما لم يمسَّه الشيطان ، فقراءة القرآن تُفيد إلى هذا المجال ، أما أنُّو القرآن يحرق الجنِّي فهذا شيء ما سمعت به ولا عرفته ، ولا أظنُّه أنه يمكن أن يصح “Inilah yang ada dalam hadits-hadits. Yaitu bahwasanya al-Qur’an bisa bermanfaat untuk mengeluarkan jin yang merasuki seorang manusia. Hadits di atas adalah dalil atas hal ini. Kemudian para ulama yang jujur dalam mengikuti sunnah Nabi pun mereka mengikuti cara Nabi ini dalam upaya mengeluarkan jin yang merasuki manusia. Di antara pemimpin para ulama tersebut adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau dikenal di zamannya, bahwa jika ada orang kesurupan lalu dibacakan ayat al-Qur’an oleh beliau maka orang yang kesurupan tadi langsung sembuh seketika seperti tidak pernah kesurupan sama sekali. Maka membacakan ayat al-Qur’an itu bisa memberi manfaat dalam hal ini. Adapun meniatkan membaca al-Qur’an untuk membakar jin, ini perkara yang belum pernah aku dengar (dari hadits) dan belum aku ketahui (dalilnya). Dan aku menyangka ini perkara yang tidak benar adanya.” (Fatawa Jiddah, no. 16) Oleh karena itu, mengenai terbakarnya jin karena bacaan al-Qur’an, sikap yang terbaik adalah tawaqquf, tidak meyakininya dan juga tidak menafikannya. Karena ini adalah perkara ghaib yang Allah tutup dari pandangan mata dan akal kita. Kecuali ada dalil yang menyebutkannya.  Namun mengenai mengobati orang yang kesurupan dengan membacakan al-Qur’an kepadanya, ini perkara yang shahih dan bisa bermanfaat untuk menyembuhkannya. Hal ini berdasarkan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Nafsu Wanita Dalam Islam, Cincin Khitbah, Hukum Menyusu Pada Istri, Hukum Shalat Jama, Posisi Imam, Kubah Masjid Nabawi Madinah Visited 609 times, 1 visit(s) today Post Views: 463 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Apakah benar bahwa jika seseorang kesurupan jin, lalu dibacakan Al-Qur’an kepadanya, lalu jin di dalam tubuhnya akan mati terbakar? Bukankah di surat Al Jin disebutkan bahwa jin bisa mendengar Al-Qur’an. Andaikan jin itu terbakar, bagaimana mengetahui dengan pasti bahwa jin tersebut mati terbakar? Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Benar bahwa di dalam surat al-Jin disebutkan bahwa para jin mendengarkan al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman: قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan al-Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan.” (QS. al-Jin: 1) Maka tidak benar jika dikatakan bahwa jin secara mutlak akan terbakar jika mendengarkan al-Qur’an. Karena buktinya jin yang disebutkan dalam ayat ini tidak terbakar. Dan kita juga meyakini bahwa jin itu bisa mati sebagaimana manusia bisa mati. Dalam hadits dari Abdullah bin Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: أعوذُ بِعزَّتِكَ الَّذي لا إلهَ إلَّا أنتّ [ أنْ تُضِلَّنِي ، أنتَ الحيُّ ] ، الَّذي لا يَموتُ ، و الجِنُّ و الإنْسُ يَموتُونَ “Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu ya Allah yang tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, dari kesesatan. Engkau Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Sedangkan jin dan manusia akan mati.” (HR. Bukhari no.7383, Muslim no.2717) Namun, tentang mengobati kesurupan jin dengan dibacakan al-Qur’an kemudian diklaim bahwa jinnya terbakar karena bacaan al-Qur’an tersebut, ini adalah kesimpulan atau pendapat sebagian ulama. Contohnya dalam kitab I’anatut Thalibin disebutkan: فائدة من الشنواني: ومما جرب لحرق الجن أن يؤذن في أذن المصروع سبعا، ويقرأ الفاتحة سبعا، والمعوذتين، وآية الكرسي، والسماء والطارق، وآخر سورة الحشر “Ada faedah dari asy-Syanwani, ia berkata: berdasarkan pengalaman, cara membakar jin adalah dengan membacakan adzan di telinga orang yang kesurupan sebanyak 7x. Lalu dibacakan surat al-Fatihah 7x, mu’awwidzatain (an-Nas dan al-Falaq), ayat Kursi, surat ath-Thariq, dan akhir surat al-Hasyr.” Namun perkara terbakarnya jin ini adalah perkara ghaib, yang pada dasarnya semua perkara ghaib hanya bisa diketahui oleh dalil. Andaikan ada jin yang mengatakan ia terbakar atau temannya terbakar pun, ini kabar yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Syaikh al-Albani pernah ditanya, “apakah terdapat di dalam hadits-hadits yang shahih bahwa al-Qur’an bisa membakar jin? Demikian juga jin yang merasuki manusia jika ia diperintahkan untuk keluar dan ia tidak mau keluar, apakah boleh membakarnya dengan membacakan al-Qur’an?”. Beliau menjawab: لا أعلم شيئًا من هذا في السنة أن تلاوة القرآن تحرق الجنِّيَّ المتلبِّس بإنسان ، لكن الذي نعلمه أن القرآن الكريم كما قال رب العالمين : (( فيه شفاء للناس )) ، وهو (( شفاء لما في الصدور )) ، وقد جاء في بعض الأحاديث في ” مسند الإمام أحمد ” وفي غيره أنَّ النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – مرَّ بامرأة وعندها – أو ولها – ولدٌ مصابٌ باللَّمم – أي : بالجنون – ، فقرأ عليه النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – بعض الآيات القرآنية فكأنما نشط من عقال ، وسافر النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – وتابع طريقه ، ثم لما رجع ومرَّ بالمرأة فسألها عن ولدها ؟ قالت : والحمد لله لا يزال كما تركته بعد أن شُفِيَ “Saya tidak mengetahui sama sekali dari hadits-hadits Nabi bahwa membacakan al-Qur’an bisa membakar jin yang merasuki seorang manusia. Namun yang kami ketahui adalah bahwa al-Qur’anul Karim adalah sebagaimana firmannya Rabb semesta alam (yang artinya): “Di dalam al-Qur’an ada penyembuh bagi manusia” (QS. an-Nahl: 69). Dan juga (yang artinya): “Al-Qur’an adalah penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada” (QS. Yunus: 57). Dan terdapat dalam sebagian hadits di Musnad Ahmad dan yang lainnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati wanita yang anaknya terkena penyakit lamam (gila). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat al-Qur’an, lalu serta merta anak tersebut langsung sembuh dan berakal kembali. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan safarnya dan mengikuti jalur perjalanannya. Kemudian ketika beliau kembali dan melewati rumah wanita tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kembali tentang anaknya? Wanita tadi menjawab: Alhamdulillah anakku tetap sehat sebagaimana kondisinya ketika terakhir bertemu denganmu”. فهذا ثابت في السنة أن القرآن يفيد في إخراج الجنِّي المتلبِّس بالإنسان ، وهذا حديث شاهد على ذلك ، ثم إن بعض الأئمة الصادقين في اتباعهم لسنة النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – كانوا يستنُّون به في محاولتهم لإخراج الجنِّ المتلبِّس بالإنسان ، وعلى رأس هؤلاء شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمه الله – ؛ فقد كان معروفًا في زمانه بأنه إذا قرأ على المصروع شيئًا من آيات الله – تبارك وتعالى – قام في الحال وكأنما لم يمسَّه الشيطان ، فقراءة القرآن تُفيد إلى هذا المجال ، أما أنُّو القرآن يحرق الجنِّي فهذا شيء ما سمعت به ولا عرفته ، ولا أظنُّه أنه يمكن أن يصح “Inilah yang ada dalam hadits-hadits. Yaitu bahwasanya al-Qur’an bisa bermanfaat untuk mengeluarkan jin yang merasuki seorang manusia. Hadits di atas adalah dalil atas hal ini. Kemudian para ulama yang jujur dalam mengikuti sunnah Nabi pun mereka mengikuti cara Nabi ini dalam upaya mengeluarkan jin yang merasuki manusia. Di antara pemimpin para ulama tersebut adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau dikenal di zamannya, bahwa jika ada orang kesurupan lalu dibacakan ayat al-Qur’an oleh beliau maka orang yang kesurupan tadi langsung sembuh seketika seperti tidak pernah kesurupan sama sekali. Maka membacakan ayat al-Qur’an itu bisa memberi manfaat dalam hal ini. Adapun meniatkan membaca al-Qur’an untuk membakar jin, ini perkara yang belum pernah aku dengar (dari hadits) dan belum aku ketahui (dalilnya). Dan aku menyangka ini perkara yang tidak benar adanya.” (Fatawa Jiddah, no. 16) Oleh karena itu, mengenai terbakarnya jin karena bacaan al-Qur’an, sikap yang terbaik adalah tawaqquf, tidak meyakininya dan juga tidak menafikannya. Karena ini adalah perkara ghaib yang Allah tutup dari pandangan mata dan akal kita. Kecuali ada dalil yang menyebutkannya.  Namun mengenai mengobati orang yang kesurupan dengan membacakan al-Qur’an kepadanya, ini perkara yang shahih dan bisa bermanfaat untuk menyembuhkannya. Hal ini berdasarkan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Nafsu Wanita Dalam Islam, Cincin Khitbah, Hukum Menyusu Pada Istri, Hukum Shalat Jama, Posisi Imam, Kubah Masjid Nabawi Madinah Visited 609 times, 1 visit(s) today Post Views: 463 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1365421561&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Apakah benar bahwa jika seseorang kesurupan jin, lalu dibacakan Al-Qur’an kepadanya, lalu jin di dalam tubuhnya akan mati terbakar? Bukankah di surat Al Jin disebutkan bahwa jin bisa mendengar Al-Qur’an. Andaikan jin itu terbakar, bagaimana mengetahui dengan pasti bahwa jin tersebut mati terbakar? Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Benar bahwa di dalam surat al-Jin disebutkan bahwa para jin mendengarkan al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman: قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan al-Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan.” (QS. al-Jin: 1) Maka tidak benar jika dikatakan bahwa jin secara mutlak akan terbakar jika mendengarkan al-Qur’an. Karena buktinya jin yang disebutkan dalam ayat ini tidak terbakar. Dan kita juga meyakini bahwa jin itu bisa mati sebagaimana manusia bisa mati. Dalam hadits dari Abdullah bin Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: أعوذُ بِعزَّتِكَ الَّذي لا إلهَ إلَّا أنتّ [ أنْ تُضِلَّنِي ، أنتَ الحيُّ ] ، الَّذي لا يَموتُ ، و الجِنُّ و الإنْسُ يَموتُونَ “Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu ya Allah yang tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, dari kesesatan. Engkau Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Sedangkan jin dan manusia akan mati.” (HR. Bukhari no.7383, Muslim no.2717) Namun, tentang mengobati kesurupan jin dengan dibacakan al-Qur’an kemudian diklaim bahwa jinnya terbakar karena bacaan al-Qur’an tersebut, ini adalah kesimpulan atau pendapat sebagian ulama. Contohnya dalam kitab I’anatut Thalibin disebutkan: فائدة من الشنواني: ومما جرب لحرق الجن أن يؤذن في أذن المصروع سبعا، ويقرأ الفاتحة سبعا، والمعوذتين، وآية الكرسي، والسماء والطارق، وآخر سورة الحشر “Ada faedah dari asy-Syanwani, ia berkata: berdasarkan pengalaman, cara membakar jin adalah dengan membacakan adzan di telinga orang yang kesurupan sebanyak 7x. Lalu dibacakan surat al-Fatihah 7x, mu’awwidzatain (an-Nas dan al-Falaq), ayat Kursi, surat ath-Thariq, dan akhir surat al-Hasyr.” Namun perkara terbakarnya jin ini adalah perkara ghaib, yang pada dasarnya semua perkara ghaib hanya bisa diketahui oleh dalil. Andaikan ada jin yang mengatakan ia terbakar atau temannya terbakar pun, ini kabar yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Syaikh al-Albani pernah ditanya, “apakah terdapat di dalam hadits-hadits yang shahih bahwa al-Qur’an bisa membakar jin? Demikian juga jin yang merasuki manusia jika ia diperintahkan untuk keluar dan ia tidak mau keluar, apakah boleh membakarnya dengan membacakan al-Qur’an?”. Beliau menjawab: لا أعلم شيئًا من هذا في السنة أن تلاوة القرآن تحرق الجنِّيَّ المتلبِّس بإنسان ، لكن الذي نعلمه أن القرآن الكريم كما قال رب العالمين : (( فيه شفاء للناس )) ، وهو (( شفاء لما في الصدور )) ، وقد جاء في بعض الأحاديث في ” مسند الإمام أحمد ” وفي غيره أنَّ النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – مرَّ بامرأة وعندها – أو ولها – ولدٌ مصابٌ باللَّمم – أي : بالجنون – ، فقرأ عليه النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – بعض الآيات القرآنية فكأنما نشط من عقال ، وسافر النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – وتابع طريقه ، ثم لما رجع ومرَّ بالمرأة فسألها عن ولدها ؟ قالت : والحمد لله لا يزال كما تركته بعد أن شُفِيَ “Saya tidak mengetahui sama sekali dari hadits-hadits Nabi bahwa membacakan al-Qur’an bisa membakar jin yang merasuki seorang manusia. Namun yang kami ketahui adalah bahwa al-Qur’anul Karim adalah sebagaimana firmannya Rabb semesta alam (yang artinya): “Di dalam al-Qur’an ada penyembuh bagi manusia” (QS. an-Nahl: 69). Dan juga (yang artinya): “Al-Qur’an adalah penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada” (QS. Yunus: 57). Dan terdapat dalam sebagian hadits di Musnad Ahmad dan yang lainnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati wanita yang anaknya terkena penyakit lamam (gila). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat al-Qur’an, lalu serta merta anak tersebut langsung sembuh dan berakal kembali. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan safarnya dan mengikuti jalur perjalanannya. Kemudian ketika beliau kembali dan melewati rumah wanita tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kembali tentang anaknya? Wanita tadi menjawab: Alhamdulillah anakku tetap sehat sebagaimana kondisinya ketika terakhir bertemu denganmu”. فهذا ثابت في السنة أن القرآن يفيد في إخراج الجنِّي المتلبِّس بالإنسان ، وهذا حديث شاهد على ذلك ، ثم إن بعض الأئمة الصادقين في اتباعهم لسنة النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – كانوا يستنُّون به في محاولتهم لإخراج الجنِّ المتلبِّس بالإنسان ، وعلى رأس هؤلاء شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمه الله – ؛ فقد كان معروفًا في زمانه بأنه إذا قرأ على المصروع شيئًا من آيات الله – تبارك وتعالى – قام في الحال وكأنما لم يمسَّه الشيطان ، فقراءة القرآن تُفيد إلى هذا المجال ، أما أنُّو القرآن يحرق الجنِّي فهذا شيء ما سمعت به ولا عرفته ، ولا أظنُّه أنه يمكن أن يصح “Inilah yang ada dalam hadits-hadits. Yaitu bahwasanya al-Qur’an bisa bermanfaat untuk mengeluarkan jin yang merasuki seorang manusia. Hadits di atas adalah dalil atas hal ini. Kemudian para ulama yang jujur dalam mengikuti sunnah Nabi pun mereka mengikuti cara Nabi ini dalam upaya mengeluarkan jin yang merasuki manusia. Di antara pemimpin para ulama tersebut adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau dikenal di zamannya, bahwa jika ada orang kesurupan lalu dibacakan ayat al-Qur’an oleh beliau maka orang yang kesurupan tadi langsung sembuh seketika seperti tidak pernah kesurupan sama sekali. Maka membacakan ayat al-Qur’an itu bisa memberi manfaat dalam hal ini. Adapun meniatkan membaca al-Qur’an untuk membakar jin, ini perkara yang belum pernah aku dengar (dari hadits) dan belum aku ketahui (dalilnya). Dan aku menyangka ini perkara yang tidak benar adanya.” (Fatawa Jiddah, no. 16) Oleh karena itu, mengenai terbakarnya jin karena bacaan al-Qur’an, sikap yang terbaik adalah tawaqquf, tidak meyakininya dan juga tidak menafikannya. Karena ini adalah perkara ghaib yang Allah tutup dari pandangan mata dan akal kita. Kecuali ada dalil yang menyebutkannya.  Namun mengenai mengobati orang yang kesurupan dengan membacakan al-Qur’an kepadanya, ini perkara yang shahih dan bisa bermanfaat untuk menyembuhkannya. Hal ini berdasarkan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Nafsu Wanita Dalam Islam, Cincin Khitbah, Hukum Menyusu Pada Istri, Hukum Shalat Jama, Posisi Imam, Kubah Masjid Nabawi Madinah Visited 609 times, 1 visit(s) today Post Views: 463 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Arti al-Matsalul A’la di Surah Ar-Rum Ayat ke-28

Pertanyaan: قوله سبحانه : ( وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْض ِ) هل المثل يعني الشبيه ؟ Firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla:  وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “Dan bagi-Nya sifat yang tinggi di langit dan di bumi.” (QS. ar-Rum: 28) Apakah ‘al-maṯal’ di sini berarti yang semisal? Jawaban: الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد : فمعنى (المثل الأعلى): أي الوصف الأعلى من كل الوجوه ، فهو سبحانه الموصوف بالكمال المطلق من كل الوجوه ، كما قال سبحانه : ( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ) ( الشورى : 11) وقال سبحانه : قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1 ) اللَّه الصَّمَدُ(2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) ( الإخلاص ) والله ولي التوفيق Segala puji hanya bagi Allah. Semoga salawat dan salam-Nya senantiasa terlimpah untuk Rasulullah.  Kemudian, bahwa makna al-Maṯal al-Aʿlā (الْمَثَلُ الْأَعْلَى) adalah sifat yang tinggi dari semua sisinya. Jadi Allah Subḥānahu wa Ta’āla disifati dengan kesempurnaan mutlak dari semua sisi, sebagaimana dalam firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ – الشورى : 11  “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) Juga firman-Nya: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ  “Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.’” (QS. al-Ikhlas: 1 – 4) Hanya Allah yang memiliki taufik. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/22871/معنى-قوله-تعالى-وله-المثل-الاعلى https://islamqa.info/ar/downloads/answers/22871 PDF Sumber Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Aqiqah Setelah Dewasa Konsultasi Islam, Perbedaan Ruh Dan Nyawa, Cara Memuaskan Isteri, Doa Anak Saleh, Wanita Nafsu, Al Quran Diturunkan Visited 32 times, 1 visit(s) today Post Views: 336 QRIS donasi Yufid

Arti al-Matsalul A’la di Surah Ar-Rum Ayat ke-28

Pertanyaan: قوله سبحانه : ( وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْض ِ) هل المثل يعني الشبيه ؟ Firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla:  وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “Dan bagi-Nya sifat yang tinggi di langit dan di bumi.” (QS. ar-Rum: 28) Apakah ‘al-maṯal’ di sini berarti yang semisal? Jawaban: الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد : فمعنى (المثل الأعلى): أي الوصف الأعلى من كل الوجوه ، فهو سبحانه الموصوف بالكمال المطلق من كل الوجوه ، كما قال سبحانه : ( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ) ( الشورى : 11) وقال سبحانه : قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1 ) اللَّه الصَّمَدُ(2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) ( الإخلاص ) والله ولي التوفيق Segala puji hanya bagi Allah. Semoga salawat dan salam-Nya senantiasa terlimpah untuk Rasulullah.  Kemudian, bahwa makna al-Maṯal al-Aʿlā (الْمَثَلُ الْأَعْلَى) adalah sifat yang tinggi dari semua sisinya. Jadi Allah Subḥānahu wa Ta’āla disifati dengan kesempurnaan mutlak dari semua sisi, sebagaimana dalam firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ – الشورى : 11  “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) Juga firman-Nya: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ  “Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.’” (QS. al-Ikhlas: 1 – 4) Hanya Allah yang memiliki taufik. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/22871/معنى-قوله-تعالى-وله-المثل-الاعلى https://islamqa.info/ar/downloads/answers/22871 PDF Sumber Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Aqiqah Setelah Dewasa Konsultasi Islam, Perbedaan Ruh Dan Nyawa, Cara Memuaskan Isteri, Doa Anak Saleh, Wanita Nafsu, Al Quran Diturunkan Visited 32 times, 1 visit(s) today Post Views: 336 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: قوله سبحانه : ( وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْض ِ) هل المثل يعني الشبيه ؟ Firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla:  وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “Dan bagi-Nya sifat yang tinggi di langit dan di bumi.” (QS. ar-Rum: 28) Apakah ‘al-maṯal’ di sini berarti yang semisal? Jawaban: الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد : فمعنى (المثل الأعلى): أي الوصف الأعلى من كل الوجوه ، فهو سبحانه الموصوف بالكمال المطلق من كل الوجوه ، كما قال سبحانه : ( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ) ( الشورى : 11) وقال سبحانه : قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1 ) اللَّه الصَّمَدُ(2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) ( الإخلاص ) والله ولي التوفيق Segala puji hanya bagi Allah. Semoga salawat dan salam-Nya senantiasa terlimpah untuk Rasulullah.  Kemudian, bahwa makna al-Maṯal al-Aʿlā (الْمَثَلُ الْأَعْلَى) adalah sifat yang tinggi dari semua sisinya. Jadi Allah Subḥānahu wa Ta’āla disifati dengan kesempurnaan mutlak dari semua sisi, sebagaimana dalam firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ – الشورى : 11  “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) Juga firman-Nya: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ  “Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.’” (QS. al-Ikhlas: 1 – 4) Hanya Allah yang memiliki taufik. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/22871/معنى-قوله-تعالى-وله-المثل-الاعلى https://islamqa.info/ar/downloads/answers/22871 PDF Sumber Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Aqiqah Setelah Dewasa Konsultasi Islam, Perbedaan Ruh Dan Nyawa, Cara Memuaskan Isteri, Doa Anak Saleh, Wanita Nafsu, Al Quran Diturunkan Visited 32 times, 1 visit(s) today Post Views: 336 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1383261085&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: قوله سبحانه : ( وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْض ِ) هل المثل يعني الشبيه ؟ Firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla:  وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “Dan bagi-Nya sifat yang tinggi di langit dan di bumi.” (QS. ar-Rum: 28) Apakah ‘al-maṯal’ di sini berarti yang semisal? Jawaban: الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد : فمعنى (المثل الأعلى): أي الوصف الأعلى من كل الوجوه ، فهو سبحانه الموصوف بالكمال المطلق من كل الوجوه ، كما قال سبحانه : ( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ) ( الشورى : 11) وقال سبحانه : قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1 ) اللَّه الصَّمَدُ(2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) ( الإخلاص ) والله ولي التوفيق Segala puji hanya bagi Allah. Semoga salawat dan salam-Nya senantiasa terlimpah untuk Rasulullah.  Kemudian, bahwa makna al-Maṯal al-Aʿlā (الْمَثَلُ الْأَعْلَى) adalah sifat yang tinggi dari semua sisinya. Jadi Allah Subḥānahu wa Ta’āla disifati dengan kesempurnaan mutlak dari semua sisi, sebagaimana dalam firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ – الشورى : 11  “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) Juga firman-Nya: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ  “Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.’” (QS. al-Ikhlas: 1 – 4) Hanya Allah yang memiliki taufik. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/22871/معنى-قوله-تعالى-وله-المثل-الاعلى https://islamqa.info/ar/downloads/answers/22871 PDF Sumber Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Aqiqah Setelah Dewasa Konsultasi Islam, Perbedaan Ruh Dan Nyawa, Cara Memuaskan Isteri, Doa Anak Saleh, Wanita Nafsu, Al Quran Diturunkan Visited 32 times, 1 visit(s) today Post Views: 336 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Fatwa Ulama: Ketika Meninggalkan Rukun Salat

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Apakah hukum meninggalkan rukun salat?Jawaban:Jika meninggalkan rukun salat secara sengaja, maka salatnya batal. Salat menjadi batal karena semata-mata meninggalkan rukun salat (dengan sengaja, pent.). Adapun jika meninggalkan rukun salat karena lupa, maka dia harus kembali ke posisi rukun salat yang terlupa tersebut. Misalnya, seseorang lupa ruku’, kemudian dia (langsung) sujud ketika selesai membaca bacaan salat (ketika berdiri). Dia baru ingat ketika sujud kalau dia belum ruku’, maka wajib baginya untuk berdiri (lagi), kemudian ruku’, kemudian menyempurnakan salatnya. Wajib baginya untuk kembali ke rukun salat yang dia tinggalkan tersebut (karena lupa, pent.), selama dia belum sampai ke rukun yang dia lupa tersebut pada rakaat kedua (rakaat berikutnya). Adapun jika sudah sampai ke rukun yang terlupa tersebut pada rakaat kedua (misalnya baru ingat kalau di rakaat pertama belum ruku’,  pent.), maka rakaat kedua tersebut statusnya adalah sebagai pengganti rakaat sebelumnya yang dia meninggalkan rukun salat (karena lupa, pent.).(Contoh), seandainya dia (lupa) tidak ruku’, lalu bersujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua, kemudian ingat kalau belum ruku’, maka wajib baginya untuk berdiri dan ruku’. Kemudian dia meneruskan salat dan menyempurnakannya. Adapun ketika dia tidak ingat kalau tidak ruku’ kecuali setelah dia ruku’ pada rakaat berikutnya, maka rakat kedua (rakaat berikutnya) tersebut statusnya adalah menggantikan rakaat sebelumnya yang dia lupa tidak ruku’.Demikian pula, jika seseorang lupa belum sujud kedua, kemudian dia langsung berdiri setelah sujud pertama. Ketika dia membaca (surat), dia ingat kalau dia belum sujud kedua dan juga belum duduk di antara dua sujud, maka wajib baginya untuk kembali lagi untuk duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kedua, dan menyempurnakan salatnya. Bahkan, seandainya dia tidak ingat kalau dia lupa belum sujud kedua dan belum duduk di antara dua sujud kecuali setelah ruku’ (di rakaat berikutnya), maka wajib baginya untuk turun, duduk di antara dua sujud,  dan sujud, lalu meneruskan salatnya. Adapun kalau dia tidak ingat belum sujud kedua di rakaat pertama kecuali setelah dia sampai pada duduk di antara dua sujud di rakaat kedua, maka rakaat kedua tersebut statusnya adalah sebagai pengganti rakaat pertama, sehingga dia dianggap baru mendapatkan satu rakaat.Dan pada semua kondisi lupa mengerjakan rukun salat, atau dalam semua kondisi yang kami sebutkan di atas sebagai contoh, wajib baginya untuk sujud sahwi, karena adanya “tambahan” dalam salat dengan perbuatan tersebut. Sehingga sujud sahwi dilakukan setelah salam. Hal ini karena jika sujud sahwi dilakukan karena adanya tambahan, maka tempatnya adalah setelah salam sebagaimana ditunjukkan oleh sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Baca Juga:Memperbanyak Shalat Sunnah sebelum Datangnya Khatib Jum’atJeda (Pemisah) antara Shalat Wajib dengan Shalat Sunnah***@Rumah Kasongan, 30 Muharram 1444/ 28 Agustus 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul ‘Ibadaat, hal. 182-183, pertanyaan no. 97.🔍 Birrul Walidain, Ketika Sakit Dalam Islam, Doa Qunut Witir Berjamaah, Ruqyah Sendiri Sesuai Sunnah, Ceramah Singkat Tentang Wanita SholehahTags: fatwaFatwa Ulamafikihfikih shalatpanduan shalatrukun shalatShalatshalat berjamaahshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat

Fatwa Ulama: Ketika Meninggalkan Rukun Salat

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Apakah hukum meninggalkan rukun salat?Jawaban:Jika meninggalkan rukun salat secara sengaja, maka salatnya batal. Salat menjadi batal karena semata-mata meninggalkan rukun salat (dengan sengaja, pent.). Adapun jika meninggalkan rukun salat karena lupa, maka dia harus kembali ke posisi rukun salat yang terlupa tersebut. Misalnya, seseorang lupa ruku’, kemudian dia (langsung) sujud ketika selesai membaca bacaan salat (ketika berdiri). Dia baru ingat ketika sujud kalau dia belum ruku’, maka wajib baginya untuk berdiri (lagi), kemudian ruku’, kemudian menyempurnakan salatnya. Wajib baginya untuk kembali ke rukun salat yang dia tinggalkan tersebut (karena lupa, pent.), selama dia belum sampai ke rukun yang dia lupa tersebut pada rakaat kedua (rakaat berikutnya). Adapun jika sudah sampai ke rukun yang terlupa tersebut pada rakaat kedua (misalnya baru ingat kalau di rakaat pertama belum ruku’,  pent.), maka rakaat kedua tersebut statusnya adalah sebagai pengganti rakaat sebelumnya yang dia meninggalkan rukun salat (karena lupa, pent.).(Contoh), seandainya dia (lupa) tidak ruku’, lalu bersujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua, kemudian ingat kalau belum ruku’, maka wajib baginya untuk berdiri dan ruku’. Kemudian dia meneruskan salat dan menyempurnakannya. Adapun ketika dia tidak ingat kalau tidak ruku’ kecuali setelah dia ruku’ pada rakaat berikutnya, maka rakat kedua (rakaat berikutnya) tersebut statusnya adalah menggantikan rakaat sebelumnya yang dia lupa tidak ruku’.Demikian pula, jika seseorang lupa belum sujud kedua, kemudian dia langsung berdiri setelah sujud pertama. Ketika dia membaca (surat), dia ingat kalau dia belum sujud kedua dan juga belum duduk di antara dua sujud, maka wajib baginya untuk kembali lagi untuk duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kedua, dan menyempurnakan salatnya. Bahkan, seandainya dia tidak ingat kalau dia lupa belum sujud kedua dan belum duduk di antara dua sujud kecuali setelah ruku’ (di rakaat berikutnya), maka wajib baginya untuk turun, duduk di antara dua sujud,  dan sujud, lalu meneruskan salatnya. Adapun kalau dia tidak ingat belum sujud kedua di rakaat pertama kecuali setelah dia sampai pada duduk di antara dua sujud di rakaat kedua, maka rakaat kedua tersebut statusnya adalah sebagai pengganti rakaat pertama, sehingga dia dianggap baru mendapatkan satu rakaat.Dan pada semua kondisi lupa mengerjakan rukun salat, atau dalam semua kondisi yang kami sebutkan di atas sebagai contoh, wajib baginya untuk sujud sahwi, karena adanya “tambahan” dalam salat dengan perbuatan tersebut. Sehingga sujud sahwi dilakukan setelah salam. Hal ini karena jika sujud sahwi dilakukan karena adanya tambahan, maka tempatnya adalah setelah salam sebagaimana ditunjukkan oleh sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Baca Juga:Memperbanyak Shalat Sunnah sebelum Datangnya Khatib Jum’atJeda (Pemisah) antara Shalat Wajib dengan Shalat Sunnah***@Rumah Kasongan, 30 Muharram 1444/ 28 Agustus 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul ‘Ibadaat, hal. 182-183, pertanyaan no. 97.🔍 Birrul Walidain, Ketika Sakit Dalam Islam, Doa Qunut Witir Berjamaah, Ruqyah Sendiri Sesuai Sunnah, Ceramah Singkat Tentang Wanita SholehahTags: fatwaFatwa Ulamafikihfikih shalatpanduan shalatrukun shalatShalatshalat berjamaahshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Apakah hukum meninggalkan rukun salat?Jawaban:Jika meninggalkan rukun salat secara sengaja, maka salatnya batal. Salat menjadi batal karena semata-mata meninggalkan rukun salat (dengan sengaja, pent.). Adapun jika meninggalkan rukun salat karena lupa, maka dia harus kembali ke posisi rukun salat yang terlupa tersebut. Misalnya, seseorang lupa ruku’, kemudian dia (langsung) sujud ketika selesai membaca bacaan salat (ketika berdiri). Dia baru ingat ketika sujud kalau dia belum ruku’, maka wajib baginya untuk berdiri (lagi), kemudian ruku’, kemudian menyempurnakan salatnya. Wajib baginya untuk kembali ke rukun salat yang dia tinggalkan tersebut (karena lupa, pent.), selama dia belum sampai ke rukun yang dia lupa tersebut pada rakaat kedua (rakaat berikutnya). Adapun jika sudah sampai ke rukun yang terlupa tersebut pada rakaat kedua (misalnya baru ingat kalau di rakaat pertama belum ruku’,  pent.), maka rakaat kedua tersebut statusnya adalah sebagai pengganti rakaat sebelumnya yang dia meninggalkan rukun salat (karena lupa, pent.).(Contoh), seandainya dia (lupa) tidak ruku’, lalu bersujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua, kemudian ingat kalau belum ruku’, maka wajib baginya untuk berdiri dan ruku’. Kemudian dia meneruskan salat dan menyempurnakannya. Adapun ketika dia tidak ingat kalau tidak ruku’ kecuali setelah dia ruku’ pada rakaat berikutnya, maka rakat kedua (rakaat berikutnya) tersebut statusnya adalah menggantikan rakaat sebelumnya yang dia lupa tidak ruku’.Demikian pula, jika seseorang lupa belum sujud kedua, kemudian dia langsung berdiri setelah sujud pertama. Ketika dia membaca (surat), dia ingat kalau dia belum sujud kedua dan juga belum duduk di antara dua sujud, maka wajib baginya untuk kembali lagi untuk duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kedua, dan menyempurnakan salatnya. Bahkan, seandainya dia tidak ingat kalau dia lupa belum sujud kedua dan belum duduk di antara dua sujud kecuali setelah ruku’ (di rakaat berikutnya), maka wajib baginya untuk turun, duduk di antara dua sujud,  dan sujud, lalu meneruskan salatnya. Adapun kalau dia tidak ingat belum sujud kedua di rakaat pertama kecuali setelah dia sampai pada duduk di antara dua sujud di rakaat kedua, maka rakaat kedua tersebut statusnya adalah sebagai pengganti rakaat pertama, sehingga dia dianggap baru mendapatkan satu rakaat.Dan pada semua kondisi lupa mengerjakan rukun salat, atau dalam semua kondisi yang kami sebutkan di atas sebagai contoh, wajib baginya untuk sujud sahwi, karena adanya “tambahan” dalam salat dengan perbuatan tersebut. Sehingga sujud sahwi dilakukan setelah salam. Hal ini karena jika sujud sahwi dilakukan karena adanya tambahan, maka tempatnya adalah setelah salam sebagaimana ditunjukkan oleh sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Baca Juga:Memperbanyak Shalat Sunnah sebelum Datangnya Khatib Jum’atJeda (Pemisah) antara Shalat Wajib dengan Shalat Sunnah***@Rumah Kasongan, 30 Muharram 1444/ 28 Agustus 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul ‘Ibadaat, hal. 182-183, pertanyaan no. 97.🔍 Birrul Walidain, Ketika Sakit Dalam Islam, Doa Qunut Witir Berjamaah, Ruqyah Sendiri Sesuai Sunnah, Ceramah Singkat Tentang Wanita SholehahTags: fatwaFatwa Ulamafikihfikih shalatpanduan shalatrukun shalatShalatshalat berjamaahshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Apakah hukum meninggalkan rukun salat?Jawaban:Jika meninggalkan rukun salat secara sengaja, maka salatnya batal. Salat menjadi batal karena semata-mata meninggalkan rukun salat (dengan sengaja, pent.). Adapun jika meninggalkan rukun salat karena lupa, maka dia harus kembali ke posisi rukun salat yang terlupa tersebut. Misalnya, seseorang lupa ruku’, kemudian dia (langsung) sujud ketika selesai membaca bacaan salat (ketika berdiri). Dia baru ingat ketika sujud kalau dia belum ruku’, maka wajib baginya untuk berdiri (lagi), kemudian ruku’, kemudian menyempurnakan salatnya. Wajib baginya untuk kembali ke rukun salat yang dia tinggalkan tersebut (karena lupa, pent.), selama dia belum sampai ke rukun yang dia lupa tersebut pada rakaat kedua (rakaat berikutnya). Adapun jika sudah sampai ke rukun yang terlupa tersebut pada rakaat kedua (misalnya baru ingat kalau di rakaat pertama belum ruku’,  pent.), maka rakaat kedua tersebut statusnya adalah sebagai pengganti rakaat sebelumnya yang dia meninggalkan rukun salat (karena lupa, pent.).(Contoh), seandainya dia (lupa) tidak ruku’, lalu bersujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua, kemudian ingat kalau belum ruku’, maka wajib baginya untuk berdiri dan ruku’. Kemudian dia meneruskan salat dan menyempurnakannya. Adapun ketika dia tidak ingat kalau tidak ruku’ kecuali setelah dia ruku’ pada rakaat berikutnya, maka rakat kedua (rakaat berikutnya) tersebut statusnya adalah menggantikan rakaat sebelumnya yang dia lupa tidak ruku’.Demikian pula, jika seseorang lupa belum sujud kedua, kemudian dia langsung berdiri setelah sujud pertama. Ketika dia membaca (surat), dia ingat kalau dia belum sujud kedua dan juga belum duduk di antara dua sujud, maka wajib baginya untuk kembali lagi untuk duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kedua, dan menyempurnakan salatnya. Bahkan, seandainya dia tidak ingat kalau dia lupa belum sujud kedua dan belum duduk di antara dua sujud kecuali setelah ruku’ (di rakaat berikutnya), maka wajib baginya untuk turun, duduk di antara dua sujud,  dan sujud, lalu meneruskan salatnya. Adapun kalau dia tidak ingat belum sujud kedua di rakaat pertama kecuali setelah dia sampai pada duduk di antara dua sujud di rakaat kedua, maka rakaat kedua tersebut statusnya adalah sebagai pengganti rakaat pertama, sehingga dia dianggap baru mendapatkan satu rakaat.Dan pada semua kondisi lupa mengerjakan rukun salat, atau dalam semua kondisi yang kami sebutkan di atas sebagai contoh, wajib baginya untuk sujud sahwi, karena adanya “tambahan” dalam salat dengan perbuatan tersebut. Sehingga sujud sahwi dilakukan setelah salam. Hal ini karena jika sujud sahwi dilakukan karena adanya tambahan, maka tempatnya adalah setelah salam sebagaimana ditunjukkan oleh sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Baca Juga:Memperbanyak Shalat Sunnah sebelum Datangnya Khatib Jum’atJeda (Pemisah) antara Shalat Wajib dengan Shalat Sunnah***@Rumah Kasongan, 30 Muharram 1444/ 28 Agustus 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul ‘Ibadaat, hal. 182-183, pertanyaan no. 97.🔍 Birrul Walidain, Ketika Sakit Dalam Islam, Doa Qunut Witir Berjamaah, Ruqyah Sendiri Sesuai Sunnah, Ceramah Singkat Tentang Wanita SholehahTags: fatwaFatwa Ulamafikihfikih shalatpanduan shalatrukun shalatShalatshalat berjamaahshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat

Cara Shalat Berjamaah di Rumah dengan Keluarga – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Ia bertanya: “Terkadang aku shalat dengan ayahku di rumah,agar ayahku dapat meraih pahala shalat berjamaah. Apakah yang aku lakukan ini benar?”Ya, yang kamu lakukan benar. Tapi jangan juga melewatkan shalat jamaah (di masjid)Jangan lewatkan shalat berjamaah (di masjid). Kamu dapat mendirikan shalat dengan ayahmu sebelum iqamah, dan meniatkannya sebagai shalat sunah bagimu.Jadi, kamu shalat dengan ayahmu terlebih dahulu sebagai shalat sunah, lalu kamu dapat pergi untuk shalat berjamaah di masjid. Bisa juga kamu katakan kepada ayahmu, “Tunggu saya sebentar.” Lalu kamu pergi shalat berjamaah di masjid, kemudian kamu pulang untuk shalat dengan ayahmu sebagai shalat sunah. Jadi, jangan selalu atau sering melewatkan shalat berjamaahdengan tidak pergi ke masjid. Jangan seperti itu!Tapi shalatlah bersama ayahmu, lalu pergilah ke masjid. Lakukan keduanya.Semoga Allah Tabaraka wa Ta’ala memberkahimu dan memberkahi baktimu kepada ayahmu. ==== يَقُولُ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ أُصَلِّي مَعَ وَالِدِيْ فِي الْبَيْتِ لِيَنَالَ وَالِدِي أَجْرَ الْجَمَاعَةِ فَهَلْ فِعْلِيْ صَحِيحٌ؟ نَعَمْ صَحِيحٌ فِعْلُكَ وَلَكِنْ لَا تُفَوِّتْ صَلَاةَ الْجَمَاعَةِ لَا تُفَوِّتْ صَلَاةَ الْجَمَاعَةِ فَإِمَّا أَنْ تُصَلِّي مَعَ وَالِدِكَ قَبْلَ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ وَتَنْوِي أَنَّهَا نَافِلَةٌ لَكَ فَتُصَلِّي مَعَهُ نَافِلَةً ثُمَّ تَذْهَبُ وَتُصَلِّي مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَوْ تَقُولُ لِوَالِدِكَ اِنْتَظِرْنِي فَتَذْهَبُ تُصَلِّي مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ ثُمَّ تَأْتِي وَتُصَلِّي مَعَ وَالِدِكَ نَافِلَةً لَا تُفَوِّتْ الصَّلَاةَ دَائِمًا أَوْ غَالِبًا لَا تَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا صَلِّ مَعَ وَالِدِكَ وَاذْهَبْ إِلَى الْمَسْجِدِ اِفْعَلِ الْأَمْرَيْنِ وَعَسَى اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُبَارِكَ فِيكَ وَفِي بِرِّكَ لِوَالِدِكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Cara Shalat Berjamaah di Rumah dengan Keluarga – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Ia bertanya: “Terkadang aku shalat dengan ayahku di rumah,agar ayahku dapat meraih pahala shalat berjamaah. Apakah yang aku lakukan ini benar?”Ya, yang kamu lakukan benar. Tapi jangan juga melewatkan shalat jamaah (di masjid)Jangan lewatkan shalat berjamaah (di masjid). Kamu dapat mendirikan shalat dengan ayahmu sebelum iqamah, dan meniatkannya sebagai shalat sunah bagimu.Jadi, kamu shalat dengan ayahmu terlebih dahulu sebagai shalat sunah, lalu kamu dapat pergi untuk shalat berjamaah di masjid. Bisa juga kamu katakan kepada ayahmu, “Tunggu saya sebentar.” Lalu kamu pergi shalat berjamaah di masjid, kemudian kamu pulang untuk shalat dengan ayahmu sebagai shalat sunah. Jadi, jangan selalu atau sering melewatkan shalat berjamaahdengan tidak pergi ke masjid. Jangan seperti itu!Tapi shalatlah bersama ayahmu, lalu pergilah ke masjid. Lakukan keduanya.Semoga Allah Tabaraka wa Ta’ala memberkahimu dan memberkahi baktimu kepada ayahmu. ==== يَقُولُ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ أُصَلِّي مَعَ وَالِدِيْ فِي الْبَيْتِ لِيَنَالَ وَالِدِي أَجْرَ الْجَمَاعَةِ فَهَلْ فِعْلِيْ صَحِيحٌ؟ نَعَمْ صَحِيحٌ فِعْلُكَ وَلَكِنْ لَا تُفَوِّتْ صَلَاةَ الْجَمَاعَةِ لَا تُفَوِّتْ صَلَاةَ الْجَمَاعَةِ فَإِمَّا أَنْ تُصَلِّي مَعَ وَالِدِكَ قَبْلَ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ وَتَنْوِي أَنَّهَا نَافِلَةٌ لَكَ فَتُصَلِّي مَعَهُ نَافِلَةً ثُمَّ تَذْهَبُ وَتُصَلِّي مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَوْ تَقُولُ لِوَالِدِكَ اِنْتَظِرْنِي فَتَذْهَبُ تُصَلِّي مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ ثُمَّ تَأْتِي وَتُصَلِّي مَعَ وَالِدِكَ نَافِلَةً لَا تُفَوِّتْ الصَّلَاةَ دَائِمًا أَوْ غَالِبًا لَا تَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا صَلِّ مَعَ وَالِدِكَ وَاذْهَبْ إِلَى الْمَسْجِدِ اِفْعَلِ الْأَمْرَيْنِ وَعَسَى اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُبَارِكَ فِيكَ وَفِي بِرِّكَ لِوَالِدِكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Ia bertanya: “Terkadang aku shalat dengan ayahku di rumah,agar ayahku dapat meraih pahala shalat berjamaah. Apakah yang aku lakukan ini benar?”Ya, yang kamu lakukan benar. Tapi jangan juga melewatkan shalat jamaah (di masjid)Jangan lewatkan shalat berjamaah (di masjid). Kamu dapat mendirikan shalat dengan ayahmu sebelum iqamah, dan meniatkannya sebagai shalat sunah bagimu.Jadi, kamu shalat dengan ayahmu terlebih dahulu sebagai shalat sunah, lalu kamu dapat pergi untuk shalat berjamaah di masjid. Bisa juga kamu katakan kepada ayahmu, “Tunggu saya sebentar.” Lalu kamu pergi shalat berjamaah di masjid, kemudian kamu pulang untuk shalat dengan ayahmu sebagai shalat sunah. Jadi, jangan selalu atau sering melewatkan shalat berjamaahdengan tidak pergi ke masjid. Jangan seperti itu!Tapi shalatlah bersama ayahmu, lalu pergilah ke masjid. Lakukan keduanya.Semoga Allah Tabaraka wa Ta’ala memberkahimu dan memberkahi baktimu kepada ayahmu. ==== يَقُولُ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ أُصَلِّي مَعَ وَالِدِيْ فِي الْبَيْتِ لِيَنَالَ وَالِدِي أَجْرَ الْجَمَاعَةِ فَهَلْ فِعْلِيْ صَحِيحٌ؟ نَعَمْ صَحِيحٌ فِعْلُكَ وَلَكِنْ لَا تُفَوِّتْ صَلَاةَ الْجَمَاعَةِ لَا تُفَوِّتْ صَلَاةَ الْجَمَاعَةِ فَإِمَّا أَنْ تُصَلِّي مَعَ وَالِدِكَ قَبْلَ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ وَتَنْوِي أَنَّهَا نَافِلَةٌ لَكَ فَتُصَلِّي مَعَهُ نَافِلَةً ثُمَّ تَذْهَبُ وَتُصَلِّي مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَوْ تَقُولُ لِوَالِدِكَ اِنْتَظِرْنِي فَتَذْهَبُ تُصَلِّي مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ ثُمَّ تَأْتِي وَتُصَلِّي مَعَ وَالِدِكَ نَافِلَةً لَا تُفَوِّتْ الصَّلَاةَ دَائِمًا أَوْ غَالِبًا لَا تَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا صَلِّ مَعَ وَالِدِكَ وَاذْهَبْ إِلَى الْمَسْجِدِ اِفْعَلِ الْأَمْرَيْنِ وَعَسَى اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُبَارِكَ فِيكَ وَفِي بِرِّكَ لِوَالِدِكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Ia bertanya: “Terkadang aku shalat dengan ayahku di rumah,agar ayahku dapat meraih pahala shalat berjamaah. Apakah yang aku lakukan ini benar?”Ya, yang kamu lakukan benar. Tapi jangan juga melewatkan shalat jamaah (di masjid)Jangan lewatkan shalat berjamaah (di masjid). Kamu dapat mendirikan shalat dengan ayahmu sebelum iqamah, dan meniatkannya sebagai shalat sunah bagimu.Jadi, kamu shalat dengan ayahmu terlebih dahulu sebagai shalat sunah, lalu kamu dapat pergi untuk shalat berjamaah di masjid. Bisa juga kamu katakan kepada ayahmu, “Tunggu saya sebentar.” Lalu kamu pergi shalat berjamaah di masjid, kemudian kamu pulang untuk shalat dengan ayahmu sebagai shalat sunah. Jadi, jangan selalu atau sering melewatkan shalat berjamaahdengan tidak pergi ke masjid. Jangan seperti itu!Tapi shalatlah bersama ayahmu, lalu pergilah ke masjid. Lakukan keduanya.Semoga Allah Tabaraka wa Ta’ala memberkahimu dan memberkahi baktimu kepada ayahmu. ==== يَقُولُ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ أُصَلِّي مَعَ وَالِدِيْ فِي الْبَيْتِ لِيَنَالَ وَالِدِي أَجْرَ الْجَمَاعَةِ فَهَلْ فِعْلِيْ صَحِيحٌ؟ نَعَمْ صَحِيحٌ فِعْلُكَ وَلَكِنْ لَا تُفَوِّتْ صَلَاةَ الْجَمَاعَةِ لَا تُفَوِّتْ صَلَاةَ الْجَمَاعَةِ فَإِمَّا أَنْ تُصَلِّي مَعَ وَالِدِكَ قَبْلَ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ وَتَنْوِي أَنَّهَا نَافِلَةٌ لَكَ فَتُصَلِّي مَعَهُ نَافِلَةً ثُمَّ تَذْهَبُ وَتُصَلِّي مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَوْ تَقُولُ لِوَالِدِكَ اِنْتَظِرْنِي فَتَذْهَبُ تُصَلِّي مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ ثُمَّ تَأْتِي وَتُصَلِّي مَعَ وَالِدِكَ نَافِلَةً لَا تُفَوِّتْ الصَّلَاةَ دَائِمًا أَوْ غَالِبًا لَا تَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا صَلِّ مَعَ وَالِدِكَ وَاذْهَبْ إِلَى الْمَسْجِدِ اِفْعَلِ الْأَمْرَيْنِ وَعَسَى اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُبَارِكَ فِيكَ وَفِي بِرِّكَ لِوَالِدِكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Prev     Next