Berhala Keempat di Muka Bumi (Bag. 1): Kisah Nabi Ibrahim dan Kaum Babil

Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel “Berhala Ketiga di Muka Bumi”. Pada artikel yang lalu, telah dibahas bagaimana kaum Tsamud mendustakan Nabi Saleh ‘alaihis salam dengan tetap menyembah berhala yang mereka buat. Mereka bahkan membunuh mukjizat unta Nabi Saleh dan juga berencana untuk membunuh beliau ‘alaihis salam. Akhirnya, Allah timpakan azab dari langit dan bumi kepada kaum Tsamud.Kisah berhala yang disembah selanjutnya adalah kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Ketika Nabi Ibrahim diangkat menjadi Nabi, mulailah beliau berdakwah kepada kaumnya di kota Babil (sekarang menjadi salah satu kota bersejarah di Irak). Saat itu, hanya beliau yang menjadi seorang muslim. Oleh karenanya, selain dimusuhi oleh ayahnya sendiri, beliau juga dimusuhi dan diusir oleh kaumnya. Kemudian ketika beliau diusir, beliau pindah dari Babil ke Harran (salah satu kota di negara Turki sekarang).Daftar Isi Dua kaum Nabi IbrahimTauriyah dan tekad Nabi IbrahimNabi Ibrahim dibakar hidup-hidupCicak ikut-ikutan meniup apiBerdebat dengan Raja Namrud tentang TuhanDua kaum Nabi IbrahimNabi Ibrahim ‘alaihis salam mendapati dua kaum yang melakukan kesyirikan dengan model yang berbeda. Kaum Nabi Ibrahim di Babil menyembah patung-patung makhluk bumi, sedangkan di Harran kaumnya menyembah benda-benda langit seperti bintang, bulan dan matahari (Lihat Qashas Al-Anbiya’, 1: 169).Allah Ta’ala mengisahkan dialog Nabi Ibrahim dan kaumnya,وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ، إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ؟“Dan sesungguhnya Kami telah anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun). Dan Kami mengetahui keadaannya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada Bapaknya dan kaumnya, ‘Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?’” (QS. Al-Anbiya’: 51-52)Kemudian kaumnya membalas,قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ “Kami mendapati Bapak-Bapak (nenek moyang) kami menyembahnya.“ (QS. Al-Anbiya’: 53)Dari ayat di atas disebutkan bahwa di antara sebab sulitnya seseorang mendapat hidayah karena erat mengikuti tradisi menyimpang dari nenek moyang. (Lihat Miftah Daarissa’aadah, Ibnul Qoyyim, 1: 98)Nabi Ibrahim ‘alaihis salam lalu dengan tegas berkata,قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ“Sesungguhnya kamu dan Bapak-Bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.“ (QS. Al-Anbiya’: 54)قَالَ بَل رَّبُّكُمْ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ٱلَّذِى فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ“Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya. Dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.“ (QS. Al-Anbiya’: 56)Tauriyah dan tekad Nabi IbrahimSelepas Nabi Ibrahim ‘alaihis salam memperingatkan dan mendakwahkan dengan lisannya, maka beliau bertekad juga untuk melakukan nahi mungkar dengan tangannya. Nabi Ibrahim berkata,وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ“Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian sesudah kalian pergi meninggalkannya.” (QS. Al-Anbiya’: 57)Dan rupanya kaum Ibrahim juga mempunyai acara ibadah tahunan (seperti hari raya) yang dilakukan di luar kota Babil. Ketika itu, Nabi Ibrahim diajak kaumnya untuk ikut. Akan tetapi, beliau tidak ingin pergi dan mengatakan kepada kaumnya bahwa beliau sedang sakit. (Lihat QS. Ash-Shaffat: 89)Sebenarnya beliau tidak sakit! Namun, yang sakit adalah hatinya yang melihat kondisi kaumnya yang menyembah berhala. Inilah tauriyah Nabi Ibrahim yang pertama (semasa hidup ada tiga tauriyah yang beliau ucapkan). Tauriyah adalah perkataan yang maknanya benar dan memang sengaja diucapkan untuk disalahpahami oleh orang-orang yang mendengarkannya. Hukum asalnya tauriyah adalah hal yang tercela, kecuali dalam kondisi yang mendesak.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak pernah sama sekali Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berdusta kecuali hanya tiga kali, dua kali karena membela Allah, yaitu perkataan beliau, ‘Aku sakit.’, dan perkataan beliau, ‘Akan tetapi yang menghancurkan adalah patung yang besar ini.’, dan yang ketiga berkaitan dengan istrinya Sarah.”  (diringkas dari HR. Muslim dalam hadis yang panjang)Kemudian setelah semua kaumnya pergi ke acara tersebut, Nabi Ibrahim keluar dari rumahnya dengan membawa kapak dan beliau hancurkan seluruh patung kaumnya. (Lihat QS. As-Shaffat: 91-93) Nabi Ibrahim mendapati ada satu patung yang paling besar sedangkan yang lainnya lebih kecil. Maka, beliau hancurkan semua patung yang kecil dan menyisakan satu patung yang paling besar. Lalu beliau menggantungkan kapaknya di leher patung yang terbesar tersebut.Allah Ta’ala berfirman,فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ“Maka, Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain, agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.” (QS. Al-Anbiya’: 58)Tatkala kaumnya telah kembali, mereka melihat tuhan-tuhan mereka telah hancur bergelimpangan (Lihat QS. Al-Anbiya’: 59-61). Mereka pun menuduh Nabi Ibrahim yang melakukannya karena beliaulah satu-satunya di negeri tersebut yang berani mencela berhala-berhala mereka. Allah Ta’ala berfirman tentang hal ini,قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَاإِبْرَاهِيمُ، قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ“Mereka bertanya, ‘Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?’ Ibrahim menjawab, ‘Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala-berhala itu, jika mereka dapat berbicara.’” (QS. Al-Anbiya’: 62-63)Baca juga: Kisah Kaum ‘AdNabi Ibrahim dibakar hidup-hidupKarena mereka sudah kalah argumen dan tak bisa membantah (Lihat QS. Al-Anbiya’: 64-67), maka tiada cara lain kecuali dengan menggunakan kekerasan. Mereka ingin Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dibunuh dengan cara dibakar di hadapan banyak orang.قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ“Mereka berkata, ‘Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.’“ (QS. Al-Anbiya’: 68)Ketika kayu bakar sudah terkumpul banyak dan terlihat sangat tinggi (dikumpulkan selama berhari-hari), mereka kemudian menyalakan api dan melemparkan Nabi Ibrahim ke tengah lautan api yang besar dengan menggunakan manjaniiq (alat pelempar semacam ketapel besar). Nabi Ibrahim saat itu berkata,حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الوَكِيلُ“Cukuplah Allah bagiku. Dia adalah sebaik-baik Pelindung.” (HR. Bukhari no. 4564)Kemudian Allah Ta’ala menolong Nabi Ibrahim,قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الأخْسَرِينَ“Kami berfirman (kepada api), ‘Hai api jadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.’ Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (QS. Al-Anbiya’: 69-70)Api yang seharusnya panas dengan karunia Allah menjadi dingin dan menyejukkan. Maka, selamatlah Nabi Ibrahim.Cicak ikut-ikutan meniup apiDalam riwayat Muslim disebutkan bahwa cicak ikut meniup untuk membesarkan api yang membakar Nabi Ibrahim.عَنْ أُمِّ شَرِيكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ” أَمَرَ بِقَتْلِ الوَزَغِ، وَقَالَ: كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَم“Dari Ummu Syariik bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintah untuk membunuh cicak, dan Nabi berkata, ‘Cicak dulu meniup (untuk membesarkan api) Ibrahim ‘alaihis salam.'” (HR. Bukhari)Imam Ahmad rahimahullah juga meriwayatkan dari Saibah ketika ia masuk ke rumah Aisyah, maka ia melihat di rumah Aisyah ada tombak yang diletakkan di tempatnya. Ia pun bertanya, “Wahai ibunda kaum mukminin, apa yang hendak engkau lakukan dengan tombak ini?” Beliau menjawab, “Untuk menombak cicak-cicak, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kepada kami bahwasanya Ibrahim ‘alaihis salam ketika dilemparkan di api, maka tidak ada seekor hewan pun, kecuali berusaha mematikan api. Kecuali cicak, cicak meniupkan untuk memperbesar nyala api. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membunuhnya.” (HR. Ahmad no. 24780)Sebagaimana hadis di atas, kita disunahkan untuk membunuh cicak. Karena selain cicak membantu meniup api, cicak juga merupakan hewan penganggu dan membawa penyakit.عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا»“Dari ‘Amir bin Sa’ad dari ayahnya (Sa’ad bin Abi Waqqash) bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk membunuh cicak dan Nabi menamakannya dengan Fuwaisiq (yang mengganggu dan memberikan kemudaratan).” (HR. Muslim)Berdebat dengan Raja Namrud tentang TuhanPara ulama bersilang pendapat mengenai kapan kisah pertemuan dan perdebatan antara Nabi Ibrahim dan Namrud/Numrud tersebut? Pendapat yang kuat kejadiannya adalah setelah Nabi Ibrahim dibakar, yaitu ketika ia selamat. Ia lalu dibawa untuk bertemu dengan Namrud yang menjadi penguasa negeri saat itu.Raja Namrud adalah salah satu dari dua Raja (termasuk Fir’aun) yang pernah mengaku sebagai Tuhan. Disebutkan oleh sebagian ulama bahwa ada empat orang yang kekuasaannya sangat luas di muka bumi ini. Dua orang tersebut adalah muslim (Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dan Dzulqarnain), dan dua yang lainnya kafir (Namrud dan Bukhtanasshar). (Tafsir Ibnu Katsir, 1: 525).Allah Ta’ala mengisahkan pertemuan Nabi Ibrahim dengan Namrud dalam firman-Nya,“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.’ Lalu, terdiamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 258)Karena kalah debat, akhirnya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam diusir oleh Namrud dari Babil. Kemudian Allah mengirimkan seekor lalat atau nyamuk yang masuk ke dalam hidungnya dan tinggal di dalam kepalanya selama 400 tahun. Selama itu pula kepalanya dipukul dengan palu. Karena jika kepalanya dipukul, maka sakitnya berkurang. Allah menghinakan Namrud hingga kematiannya karena seekor hewan kecil dengan penuh ketersiksaan. (Lihat Tafsir At-Thabari, 14: 204)Ketika Nabi Ibrahim diusir Namrud, maka beliau pergi ke Harran dan bertemu dengan Nabi Luth yang merupakan keponakannya. Nabi Ibrahim pun mendakwahinya dan ia pun beriman.[Bersambung]Baca juga: Berhala Pertama di Muka Bumi***Penulis: Arif Muhammad N.Artikel: Muslim.or.idTags: kaum babilkesyirikannabi ibrahim

Berhala Keempat di Muka Bumi (Bag. 1): Kisah Nabi Ibrahim dan Kaum Babil

Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel “Berhala Ketiga di Muka Bumi”. Pada artikel yang lalu, telah dibahas bagaimana kaum Tsamud mendustakan Nabi Saleh ‘alaihis salam dengan tetap menyembah berhala yang mereka buat. Mereka bahkan membunuh mukjizat unta Nabi Saleh dan juga berencana untuk membunuh beliau ‘alaihis salam. Akhirnya, Allah timpakan azab dari langit dan bumi kepada kaum Tsamud.Kisah berhala yang disembah selanjutnya adalah kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Ketika Nabi Ibrahim diangkat menjadi Nabi, mulailah beliau berdakwah kepada kaumnya di kota Babil (sekarang menjadi salah satu kota bersejarah di Irak). Saat itu, hanya beliau yang menjadi seorang muslim. Oleh karenanya, selain dimusuhi oleh ayahnya sendiri, beliau juga dimusuhi dan diusir oleh kaumnya. Kemudian ketika beliau diusir, beliau pindah dari Babil ke Harran (salah satu kota di negara Turki sekarang).Daftar Isi Dua kaum Nabi IbrahimTauriyah dan tekad Nabi IbrahimNabi Ibrahim dibakar hidup-hidupCicak ikut-ikutan meniup apiBerdebat dengan Raja Namrud tentang TuhanDua kaum Nabi IbrahimNabi Ibrahim ‘alaihis salam mendapati dua kaum yang melakukan kesyirikan dengan model yang berbeda. Kaum Nabi Ibrahim di Babil menyembah patung-patung makhluk bumi, sedangkan di Harran kaumnya menyembah benda-benda langit seperti bintang, bulan dan matahari (Lihat Qashas Al-Anbiya’, 1: 169).Allah Ta’ala mengisahkan dialog Nabi Ibrahim dan kaumnya,وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ، إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ؟“Dan sesungguhnya Kami telah anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun). Dan Kami mengetahui keadaannya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada Bapaknya dan kaumnya, ‘Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?’” (QS. Al-Anbiya’: 51-52)Kemudian kaumnya membalas,قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ “Kami mendapati Bapak-Bapak (nenek moyang) kami menyembahnya.“ (QS. Al-Anbiya’: 53)Dari ayat di atas disebutkan bahwa di antara sebab sulitnya seseorang mendapat hidayah karena erat mengikuti tradisi menyimpang dari nenek moyang. (Lihat Miftah Daarissa’aadah, Ibnul Qoyyim, 1: 98)Nabi Ibrahim ‘alaihis salam lalu dengan tegas berkata,قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ“Sesungguhnya kamu dan Bapak-Bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.“ (QS. Al-Anbiya’: 54)قَالَ بَل رَّبُّكُمْ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ٱلَّذِى فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ“Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya. Dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.“ (QS. Al-Anbiya’: 56)Tauriyah dan tekad Nabi IbrahimSelepas Nabi Ibrahim ‘alaihis salam memperingatkan dan mendakwahkan dengan lisannya, maka beliau bertekad juga untuk melakukan nahi mungkar dengan tangannya. Nabi Ibrahim berkata,وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ“Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian sesudah kalian pergi meninggalkannya.” (QS. Al-Anbiya’: 57)Dan rupanya kaum Ibrahim juga mempunyai acara ibadah tahunan (seperti hari raya) yang dilakukan di luar kota Babil. Ketika itu, Nabi Ibrahim diajak kaumnya untuk ikut. Akan tetapi, beliau tidak ingin pergi dan mengatakan kepada kaumnya bahwa beliau sedang sakit. (Lihat QS. Ash-Shaffat: 89)Sebenarnya beliau tidak sakit! Namun, yang sakit adalah hatinya yang melihat kondisi kaumnya yang menyembah berhala. Inilah tauriyah Nabi Ibrahim yang pertama (semasa hidup ada tiga tauriyah yang beliau ucapkan). Tauriyah adalah perkataan yang maknanya benar dan memang sengaja diucapkan untuk disalahpahami oleh orang-orang yang mendengarkannya. Hukum asalnya tauriyah adalah hal yang tercela, kecuali dalam kondisi yang mendesak.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak pernah sama sekali Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berdusta kecuali hanya tiga kali, dua kali karena membela Allah, yaitu perkataan beliau, ‘Aku sakit.’, dan perkataan beliau, ‘Akan tetapi yang menghancurkan adalah patung yang besar ini.’, dan yang ketiga berkaitan dengan istrinya Sarah.”  (diringkas dari HR. Muslim dalam hadis yang panjang)Kemudian setelah semua kaumnya pergi ke acara tersebut, Nabi Ibrahim keluar dari rumahnya dengan membawa kapak dan beliau hancurkan seluruh patung kaumnya. (Lihat QS. As-Shaffat: 91-93) Nabi Ibrahim mendapati ada satu patung yang paling besar sedangkan yang lainnya lebih kecil. Maka, beliau hancurkan semua patung yang kecil dan menyisakan satu patung yang paling besar. Lalu beliau menggantungkan kapaknya di leher patung yang terbesar tersebut.Allah Ta’ala berfirman,فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ“Maka, Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain, agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.” (QS. Al-Anbiya’: 58)Tatkala kaumnya telah kembali, mereka melihat tuhan-tuhan mereka telah hancur bergelimpangan (Lihat QS. Al-Anbiya’: 59-61). Mereka pun menuduh Nabi Ibrahim yang melakukannya karena beliaulah satu-satunya di negeri tersebut yang berani mencela berhala-berhala mereka. Allah Ta’ala berfirman tentang hal ini,قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَاإِبْرَاهِيمُ، قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ“Mereka bertanya, ‘Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?’ Ibrahim menjawab, ‘Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala-berhala itu, jika mereka dapat berbicara.’” (QS. Al-Anbiya’: 62-63)Baca juga: Kisah Kaum ‘AdNabi Ibrahim dibakar hidup-hidupKarena mereka sudah kalah argumen dan tak bisa membantah (Lihat QS. Al-Anbiya’: 64-67), maka tiada cara lain kecuali dengan menggunakan kekerasan. Mereka ingin Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dibunuh dengan cara dibakar di hadapan banyak orang.قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ“Mereka berkata, ‘Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.’“ (QS. Al-Anbiya’: 68)Ketika kayu bakar sudah terkumpul banyak dan terlihat sangat tinggi (dikumpulkan selama berhari-hari), mereka kemudian menyalakan api dan melemparkan Nabi Ibrahim ke tengah lautan api yang besar dengan menggunakan manjaniiq (alat pelempar semacam ketapel besar). Nabi Ibrahim saat itu berkata,حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الوَكِيلُ“Cukuplah Allah bagiku. Dia adalah sebaik-baik Pelindung.” (HR. Bukhari no. 4564)Kemudian Allah Ta’ala menolong Nabi Ibrahim,قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الأخْسَرِينَ“Kami berfirman (kepada api), ‘Hai api jadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.’ Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (QS. Al-Anbiya’: 69-70)Api yang seharusnya panas dengan karunia Allah menjadi dingin dan menyejukkan. Maka, selamatlah Nabi Ibrahim.Cicak ikut-ikutan meniup apiDalam riwayat Muslim disebutkan bahwa cicak ikut meniup untuk membesarkan api yang membakar Nabi Ibrahim.عَنْ أُمِّ شَرِيكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ” أَمَرَ بِقَتْلِ الوَزَغِ، وَقَالَ: كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَم“Dari Ummu Syariik bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintah untuk membunuh cicak, dan Nabi berkata, ‘Cicak dulu meniup (untuk membesarkan api) Ibrahim ‘alaihis salam.'” (HR. Bukhari)Imam Ahmad rahimahullah juga meriwayatkan dari Saibah ketika ia masuk ke rumah Aisyah, maka ia melihat di rumah Aisyah ada tombak yang diletakkan di tempatnya. Ia pun bertanya, “Wahai ibunda kaum mukminin, apa yang hendak engkau lakukan dengan tombak ini?” Beliau menjawab, “Untuk menombak cicak-cicak, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kepada kami bahwasanya Ibrahim ‘alaihis salam ketika dilemparkan di api, maka tidak ada seekor hewan pun, kecuali berusaha mematikan api. Kecuali cicak, cicak meniupkan untuk memperbesar nyala api. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membunuhnya.” (HR. Ahmad no. 24780)Sebagaimana hadis di atas, kita disunahkan untuk membunuh cicak. Karena selain cicak membantu meniup api, cicak juga merupakan hewan penganggu dan membawa penyakit.عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا»“Dari ‘Amir bin Sa’ad dari ayahnya (Sa’ad bin Abi Waqqash) bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk membunuh cicak dan Nabi menamakannya dengan Fuwaisiq (yang mengganggu dan memberikan kemudaratan).” (HR. Muslim)Berdebat dengan Raja Namrud tentang TuhanPara ulama bersilang pendapat mengenai kapan kisah pertemuan dan perdebatan antara Nabi Ibrahim dan Namrud/Numrud tersebut? Pendapat yang kuat kejadiannya adalah setelah Nabi Ibrahim dibakar, yaitu ketika ia selamat. Ia lalu dibawa untuk bertemu dengan Namrud yang menjadi penguasa negeri saat itu.Raja Namrud adalah salah satu dari dua Raja (termasuk Fir’aun) yang pernah mengaku sebagai Tuhan. Disebutkan oleh sebagian ulama bahwa ada empat orang yang kekuasaannya sangat luas di muka bumi ini. Dua orang tersebut adalah muslim (Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dan Dzulqarnain), dan dua yang lainnya kafir (Namrud dan Bukhtanasshar). (Tafsir Ibnu Katsir, 1: 525).Allah Ta’ala mengisahkan pertemuan Nabi Ibrahim dengan Namrud dalam firman-Nya,“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.’ Lalu, terdiamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 258)Karena kalah debat, akhirnya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam diusir oleh Namrud dari Babil. Kemudian Allah mengirimkan seekor lalat atau nyamuk yang masuk ke dalam hidungnya dan tinggal di dalam kepalanya selama 400 tahun. Selama itu pula kepalanya dipukul dengan palu. Karena jika kepalanya dipukul, maka sakitnya berkurang. Allah menghinakan Namrud hingga kematiannya karena seekor hewan kecil dengan penuh ketersiksaan. (Lihat Tafsir At-Thabari, 14: 204)Ketika Nabi Ibrahim diusir Namrud, maka beliau pergi ke Harran dan bertemu dengan Nabi Luth yang merupakan keponakannya. Nabi Ibrahim pun mendakwahinya dan ia pun beriman.[Bersambung]Baca juga: Berhala Pertama di Muka Bumi***Penulis: Arif Muhammad N.Artikel: Muslim.or.idTags: kaum babilkesyirikannabi ibrahim
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel “Berhala Ketiga di Muka Bumi”. Pada artikel yang lalu, telah dibahas bagaimana kaum Tsamud mendustakan Nabi Saleh ‘alaihis salam dengan tetap menyembah berhala yang mereka buat. Mereka bahkan membunuh mukjizat unta Nabi Saleh dan juga berencana untuk membunuh beliau ‘alaihis salam. Akhirnya, Allah timpakan azab dari langit dan bumi kepada kaum Tsamud.Kisah berhala yang disembah selanjutnya adalah kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Ketika Nabi Ibrahim diangkat menjadi Nabi, mulailah beliau berdakwah kepada kaumnya di kota Babil (sekarang menjadi salah satu kota bersejarah di Irak). Saat itu, hanya beliau yang menjadi seorang muslim. Oleh karenanya, selain dimusuhi oleh ayahnya sendiri, beliau juga dimusuhi dan diusir oleh kaumnya. Kemudian ketika beliau diusir, beliau pindah dari Babil ke Harran (salah satu kota di negara Turki sekarang).Daftar Isi Dua kaum Nabi IbrahimTauriyah dan tekad Nabi IbrahimNabi Ibrahim dibakar hidup-hidupCicak ikut-ikutan meniup apiBerdebat dengan Raja Namrud tentang TuhanDua kaum Nabi IbrahimNabi Ibrahim ‘alaihis salam mendapati dua kaum yang melakukan kesyirikan dengan model yang berbeda. Kaum Nabi Ibrahim di Babil menyembah patung-patung makhluk bumi, sedangkan di Harran kaumnya menyembah benda-benda langit seperti bintang, bulan dan matahari (Lihat Qashas Al-Anbiya’, 1: 169).Allah Ta’ala mengisahkan dialog Nabi Ibrahim dan kaumnya,وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ، إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ؟“Dan sesungguhnya Kami telah anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun). Dan Kami mengetahui keadaannya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada Bapaknya dan kaumnya, ‘Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?’” (QS. Al-Anbiya’: 51-52)Kemudian kaumnya membalas,قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ “Kami mendapati Bapak-Bapak (nenek moyang) kami menyembahnya.“ (QS. Al-Anbiya’: 53)Dari ayat di atas disebutkan bahwa di antara sebab sulitnya seseorang mendapat hidayah karena erat mengikuti tradisi menyimpang dari nenek moyang. (Lihat Miftah Daarissa’aadah, Ibnul Qoyyim, 1: 98)Nabi Ibrahim ‘alaihis salam lalu dengan tegas berkata,قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ“Sesungguhnya kamu dan Bapak-Bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.“ (QS. Al-Anbiya’: 54)قَالَ بَل رَّبُّكُمْ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ٱلَّذِى فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ“Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya. Dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.“ (QS. Al-Anbiya’: 56)Tauriyah dan tekad Nabi IbrahimSelepas Nabi Ibrahim ‘alaihis salam memperingatkan dan mendakwahkan dengan lisannya, maka beliau bertekad juga untuk melakukan nahi mungkar dengan tangannya. Nabi Ibrahim berkata,وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ“Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian sesudah kalian pergi meninggalkannya.” (QS. Al-Anbiya’: 57)Dan rupanya kaum Ibrahim juga mempunyai acara ibadah tahunan (seperti hari raya) yang dilakukan di luar kota Babil. Ketika itu, Nabi Ibrahim diajak kaumnya untuk ikut. Akan tetapi, beliau tidak ingin pergi dan mengatakan kepada kaumnya bahwa beliau sedang sakit. (Lihat QS. Ash-Shaffat: 89)Sebenarnya beliau tidak sakit! Namun, yang sakit adalah hatinya yang melihat kondisi kaumnya yang menyembah berhala. Inilah tauriyah Nabi Ibrahim yang pertama (semasa hidup ada tiga tauriyah yang beliau ucapkan). Tauriyah adalah perkataan yang maknanya benar dan memang sengaja diucapkan untuk disalahpahami oleh orang-orang yang mendengarkannya. Hukum asalnya tauriyah adalah hal yang tercela, kecuali dalam kondisi yang mendesak.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak pernah sama sekali Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berdusta kecuali hanya tiga kali, dua kali karena membela Allah, yaitu perkataan beliau, ‘Aku sakit.’, dan perkataan beliau, ‘Akan tetapi yang menghancurkan adalah patung yang besar ini.’, dan yang ketiga berkaitan dengan istrinya Sarah.”  (diringkas dari HR. Muslim dalam hadis yang panjang)Kemudian setelah semua kaumnya pergi ke acara tersebut, Nabi Ibrahim keluar dari rumahnya dengan membawa kapak dan beliau hancurkan seluruh patung kaumnya. (Lihat QS. As-Shaffat: 91-93) Nabi Ibrahim mendapati ada satu patung yang paling besar sedangkan yang lainnya lebih kecil. Maka, beliau hancurkan semua patung yang kecil dan menyisakan satu patung yang paling besar. Lalu beliau menggantungkan kapaknya di leher patung yang terbesar tersebut.Allah Ta’ala berfirman,فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ“Maka, Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain, agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.” (QS. Al-Anbiya’: 58)Tatkala kaumnya telah kembali, mereka melihat tuhan-tuhan mereka telah hancur bergelimpangan (Lihat QS. Al-Anbiya’: 59-61). Mereka pun menuduh Nabi Ibrahim yang melakukannya karena beliaulah satu-satunya di negeri tersebut yang berani mencela berhala-berhala mereka. Allah Ta’ala berfirman tentang hal ini,قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَاإِبْرَاهِيمُ، قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ“Mereka bertanya, ‘Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?’ Ibrahim menjawab, ‘Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala-berhala itu, jika mereka dapat berbicara.’” (QS. Al-Anbiya’: 62-63)Baca juga: Kisah Kaum ‘AdNabi Ibrahim dibakar hidup-hidupKarena mereka sudah kalah argumen dan tak bisa membantah (Lihat QS. Al-Anbiya’: 64-67), maka tiada cara lain kecuali dengan menggunakan kekerasan. Mereka ingin Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dibunuh dengan cara dibakar di hadapan banyak orang.قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ“Mereka berkata, ‘Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.’“ (QS. Al-Anbiya’: 68)Ketika kayu bakar sudah terkumpul banyak dan terlihat sangat tinggi (dikumpulkan selama berhari-hari), mereka kemudian menyalakan api dan melemparkan Nabi Ibrahim ke tengah lautan api yang besar dengan menggunakan manjaniiq (alat pelempar semacam ketapel besar). Nabi Ibrahim saat itu berkata,حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الوَكِيلُ“Cukuplah Allah bagiku. Dia adalah sebaik-baik Pelindung.” (HR. Bukhari no. 4564)Kemudian Allah Ta’ala menolong Nabi Ibrahim,قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الأخْسَرِينَ“Kami berfirman (kepada api), ‘Hai api jadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.’ Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (QS. Al-Anbiya’: 69-70)Api yang seharusnya panas dengan karunia Allah menjadi dingin dan menyejukkan. Maka, selamatlah Nabi Ibrahim.Cicak ikut-ikutan meniup apiDalam riwayat Muslim disebutkan bahwa cicak ikut meniup untuk membesarkan api yang membakar Nabi Ibrahim.عَنْ أُمِّ شَرِيكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ” أَمَرَ بِقَتْلِ الوَزَغِ، وَقَالَ: كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَم“Dari Ummu Syariik bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintah untuk membunuh cicak, dan Nabi berkata, ‘Cicak dulu meniup (untuk membesarkan api) Ibrahim ‘alaihis salam.'” (HR. Bukhari)Imam Ahmad rahimahullah juga meriwayatkan dari Saibah ketika ia masuk ke rumah Aisyah, maka ia melihat di rumah Aisyah ada tombak yang diletakkan di tempatnya. Ia pun bertanya, “Wahai ibunda kaum mukminin, apa yang hendak engkau lakukan dengan tombak ini?” Beliau menjawab, “Untuk menombak cicak-cicak, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kepada kami bahwasanya Ibrahim ‘alaihis salam ketika dilemparkan di api, maka tidak ada seekor hewan pun, kecuali berusaha mematikan api. Kecuali cicak, cicak meniupkan untuk memperbesar nyala api. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membunuhnya.” (HR. Ahmad no. 24780)Sebagaimana hadis di atas, kita disunahkan untuk membunuh cicak. Karena selain cicak membantu meniup api, cicak juga merupakan hewan penganggu dan membawa penyakit.عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا»“Dari ‘Amir bin Sa’ad dari ayahnya (Sa’ad bin Abi Waqqash) bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk membunuh cicak dan Nabi menamakannya dengan Fuwaisiq (yang mengganggu dan memberikan kemudaratan).” (HR. Muslim)Berdebat dengan Raja Namrud tentang TuhanPara ulama bersilang pendapat mengenai kapan kisah pertemuan dan perdebatan antara Nabi Ibrahim dan Namrud/Numrud tersebut? Pendapat yang kuat kejadiannya adalah setelah Nabi Ibrahim dibakar, yaitu ketika ia selamat. Ia lalu dibawa untuk bertemu dengan Namrud yang menjadi penguasa negeri saat itu.Raja Namrud adalah salah satu dari dua Raja (termasuk Fir’aun) yang pernah mengaku sebagai Tuhan. Disebutkan oleh sebagian ulama bahwa ada empat orang yang kekuasaannya sangat luas di muka bumi ini. Dua orang tersebut adalah muslim (Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dan Dzulqarnain), dan dua yang lainnya kafir (Namrud dan Bukhtanasshar). (Tafsir Ibnu Katsir, 1: 525).Allah Ta’ala mengisahkan pertemuan Nabi Ibrahim dengan Namrud dalam firman-Nya,“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.’ Lalu, terdiamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 258)Karena kalah debat, akhirnya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam diusir oleh Namrud dari Babil. Kemudian Allah mengirimkan seekor lalat atau nyamuk yang masuk ke dalam hidungnya dan tinggal di dalam kepalanya selama 400 tahun. Selama itu pula kepalanya dipukul dengan palu. Karena jika kepalanya dipukul, maka sakitnya berkurang. Allah menghinakan Namrud hingga kematiannya karena seekor hewan kecil dengan penuh ketersiksaan. (Lihat Tafsir At-Thabari, 14: 204)Ketika Nabi Ibrahim diusir Namrud, maka beliau pergi ke Harran dan bertemu dengan Nabi Luth yang merupakan keponakannya. Nabi Ibrahim pun mendakwahinya dan ia pun beriman.[Bersambung]Baca juga: Berhala Pertama di Muka Bumi***Penulis: Arif Muhammad N.Artikel: Muslim.or.idTags: kaum babilkesyirikannabi ibrahim


Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel “Berhala Ketiga di Muka Bumi”. Pada artikel yang lalu, telah dibahas bagaimana kaum Tsamud mendustakan Nabi Saleh ‘alaihis salam dengan tetap menyembah berhala yang mereka buat. Mereka bahkan membunuh mukjizat unta Nabi Saleh dan juga berencana untuk membunuh beliau ‘alaihis salam. Akhirnya, Allah timpakan azab dari langit dan bumi kepada kaum Tsamud.Kisah berhala yang disembah selanjutnya adalah kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Ketika Nabi Ibrahim diangkat menjadi Nabi, mulailah beliau berdakwah kepada kaumnya di kota Babil (sekarang menjadi salah satu kota bersejarah di Irak). Saat itu, hanya beliau yang menjadi seorang muslim. Oleh karenanya, selain dimusuhi oleh ayahnya sendiri, beliau juga dimusuhi dan diusir oleh kaumnya. Kemudian ketika beliau diusir, beliau pindah dari Babil ke Harran (salah satu kota di negara Turki sekarang).Daftar Isi Dua kaum Nabi IbrahimTauriyah dan tekad Nabi IbrahimNabi Ibrahim dibakar hidup-hidupCicak ikut-ikutan meniup apiBerdebat dengan Raja Namrud tentang TuhanDua kaum Nabi IbrahimNabi Ibrahim ‘alaihis salam mendapati dua kaum yang melakukan kesyirikan dengan model yang berbeda. Kaum Nabi Ibrahim di Babil menyembah patung-patung makhluk bumi, sedangkan di Harran kaumnya menyembah benda-benda langit seperti bintang, bulan dan matahari (Lihat Qashas Al-Anbiya’, 1: 169).Allah Ta’ala mengisahkan dialog Nabi Ibrahim dan kaumnya,وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ، إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ؟“Dan sesungguhnya Kami telah anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun). Dan Kami mengetahui keadaannya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada Bapaknya dan kaumnya, ‘Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?’” (QS. Al-Anbiya’: 51-52)Kemudian kaumnya membalas,قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ “Kami mendapati Bapak-Bapak (nenek moyang) kami menyembahnya.“ (QS. Al-Anbiya’: 53)Dari ayat di atas disebutkan bahwa di antara sebab sulitnya seseorang mendapat hidayah karena erat mengikuti tradisi menyimpang dari nenek moyang. (Lihat Miftah Daarissa’aadah, Ibnul Qoyyim, 1: 98)Nabi Ibrahim ‘alaihis salam lalu dengan tegas berkata,قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ“Sesungguhnya kamu dan Bapak-Bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.“ (QS. Al-Anbiya’: 54)قَالَ بَل رَّبُّكُمْ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ٱلَّذِى فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ“Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya. Dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.“ (QS. Al-Anbiya’: 56)Tauriyah dan tekad Nabi IbrahimSelepas Nabi Ibrahim ‘alaihis salam memperingatkan dan mendakwahkan dengan lisannya, maka beliau bertekad juga untuk melakukan nahi mungkar dengan tangannya. Nabi Ibrahim berkata,وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ“Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian sesudah kalian pergi meninggalkannya.” (QS. Al-Anbiya’: 57)Dan rupanya kaum Ibrahim juga mempunyai acara ibadah tahunan (seperti hari raya) yang dilakukan di luar kota Babil. Ketika itu, Nabi Ibrahim diajak kaumnya untuk ikut. Akan tetapi, beliau tidak ingin pergi dan mengatakan kepada kaumnya bahwa beliau sedang sakit. (Lihat QS. Ash-Shaffat: 89)Sebenarnya beliau tidak sakit! Namun, yang sakit adalah hatinya yang melihat kondisi kaumnya yang menyembah berhala. Inilah tauriyah Nabi Ibrahim yang pertama (semasa hidup ada tiga tauriyah yang beliau ucapkan). Tauriyah adalah perkataan yang maknanya benar dan memang sengaja diucapkan untuk disalahpahami oleh orang-orang yang mendengarkannya. Hukum asalnya tauriyah adalah hal yang tercela, kecuali dalam kondisi yang mendesak.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak pernah sama sekali Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berdusta kecuali hanya tiga kali, dua kali karena membela Allah, yaitu perkataan beliau, ‘Aku sakit.’, dan perkataan beliau, ‘Akan tetapi yang menghancurkan adalah patung yang besar ini.’, dan yang ketiga berkaitan dengan istrinya Sarah.”  (diringkas dari HR. Muslim dalam hadis yang panjang)Kemudian setelah semua kaumnya pergi ke acara tersebut, Nabi Ibrahim keluar dari rumahnya dengan membawa kapak dan beliau hancurkan seluruh patung kaumnya. (Lihat QS. As-Shaffat: 91-93) Nabi Ibrahim mendapati ada satu patung yang paling besar sedangkan yang lainnya lebih kecil. Maka, beliau hancurkan semua patung yang kecil dan menyisakan satu patung yang paling besar. Lalu beliau menggantungkan kapaknya di leher patung yang terbesar tersebut.Allah Ta’ala berfirman,فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ“Maka, Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain, agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.” (QS. Al-Anbiya’: 58)Tatkala kaumnya telah kembali, mereka melihat tuhan-tuhan mereka telah hancur bergelimpangan (Lihat QS. Al-Anbiya’: 59-61). Mereka pun menuduh Nabi Ibrahim yang melakukannya karena beliaulah satu-satunya di negeri tersebut yang berani mencela berhala-berhala mereka. Allah Ta’ala berfirman tentang hal ini,قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَاإِبْرَاهِيمُ، قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ“Mereka bertanya, ‘Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?’ Ibrahim menjawab, ‘Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala-berhala itu, jika mereka dapat berbicara.’” (QS. Al-Anbiya’: 62-63)Baca juga: Kisah Kaum ‘AdNabi Ibrahim dibakar hidup-hidupKarena mereka sudah kalah argumen dan tak bisa membantah (Lihat QS. Al-Anbiya’: 64-67), maka tiada cara lain kecuali dengan menggunakan kekerasan. Mereka ingin Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dibunuh dengan cara dibakar di hadapan banyak orang.قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ“Mereka berkata, ‘Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.’“ (QS. Al-Anbiya’: 68)Ketika kayu bakar sudah terkumpul banyak dan terlihat sangat tinggi (dikumpulkan selama berhari-hari), mereka kemudian menyalakan api dan melemparkan Nabi Ibrahim ke tengah lautan api yang besar dengan menggunakan manjaniiq (alat pelempar semacam ketapel besar). Nabi Ibrahim saat itu berkata,حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الوَكِيلُ“Cukuplah Allah bagiku. Dia adalah sebaik-baik Pelindung.” (HR. Bukhari no. 4564)Kemudian Allah Ta’ala menolong Nabi Ibrahim,قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الأخْسَرِينَ“Kami berfirman (kepada api), ‘Hai api jadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.’ Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (QS. Al-Anbiya’: 69-70)Api yang seharusnya panas dengan karunia Allah menjadi dingin dan menyejukkan. Maka, selamatlah Nabi Ibrahim.Cicak ikut-ikutan meniup apiDalam riwayat Muslim disebutkan bahwa cicak ikut meniup untuk membesarkan api yang membakar Nabi Ibrahim.عَنْ أُمِّ شَرِيكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ” أَمَرَ بِقَتْلِ الوَزَغِ، وَقَالَ: كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَم“Dari Ummu Syariik bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintah untuk membunuh cicak, dan Nabi berkata, ‘Cicak dulu meniup (untuk membesarkan api) Ibrahim ‘alaihis salam.'” (HR. Bukhari)Imam Ahmad rahimahullah juga meriwayatkan dari Saibah ketika ia masuk ke rumah Aisyah, maka ia melihat di rumah Aisyah ada tombak yang diletakkan di tempatnya. Ia pun bertanya, “Wahai ibunda kaum mukminin, apa yang hendak engkau lakukan dengan tombak ini?” Beliau menjawab, “Untuk menombak cicak-cicak, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kepada kami bahwasanya Ibrahim ‘alaihis salam ketika dilemparkan di api, maka tidak ada seekor hewan pun, kecuali berusaha mematikan api. Kecuali cicak, cicak meniupkan untuk memperbesar nyala api. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membunuhnya.” (HR. Ahmad no. 24780)Sebagaimana hadis di atas, kita disunahkan untuk membunuh cicak. Karena selain cicak membantu meniup api, cicak juga merupakan hewan penganggu dan membawa penyakit.عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا»“Dari ‘Amir bin Sa’ad dari ayahnya (Sa’ad bin Abi Waqqash) bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk membunuh cicak dan Nabi menamakannya dengan Fuwaisiq (yang mengganggu dan memberikan kemudaratan).” (HR. Muslim)Berdebat dengan Raja Namrud tentang TuhanPara ulama bersilang pendapat mengenai kapan kisah pertemuan dan perdebatan antara Nabi Ibrahim dan Namrud/Numrud tersebut? Pendapat yang kuat kejadiannya adalah setelah Nabi Ibrahim dibakar, yaitu ketika ia selamat. Ia lalu dibawa untuk bertemu dengan Namrud yang menjadi penguasa negeri saat itu.Raja Namrud adalah salah satu dari dua Raja (termasuk Fir’aun) yang pernah mengaku sebagai Tuhan. Disebutkan oleh sebagian ulama bahwa ada empat orang yang kekuasaannya sangat luas di muka bumi ini. Dua orang tersebut adalah muslim (Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dan Dzulqarnain), dan dua yang lainnya kafir (Namrud dan Bukhtanasshar). (Tafsir Ibnu Katsir, 1: 525).Allah Ta’ala mengisahkan pertemuan Nabi Ibrahim dengan Namrud dalam firman-Nya,“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.’ Lalu, terdiamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 258)Karena kalah debat, akhirnya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam diusir oleh Namrud dari Babil. Kemudian Allah mengirimkan seekor lalat atau nyamuk yang masuk ke dalam hidungnya dan tinggal di dalam kepalanya selama 400 tahun. Selama itu pula kepalanya dipukul dengan palu. Karena jika kepalanya dipukul, maka sakitnya berkurang. Allah menghinakan Namrud hingga kematiannya karena seekor hewan kecil dengan penuh ketersiksaan. (Lihat Tafsir At-Thabari, 14: 204)Ketika Nabi Ibrahim diusir Namrud, maka beliau pergi ke Harran dan bertemu dengan Nabi Luth yang merupakan keponakannya. Nabi Ibrahim pun mendakwahinya dan ia pun beriman.[Bersambung]Baca juga: Berhala Pertama di Muka Bumi***Penulis: Arif Muhammad N.Artikel: Muslim.or.idTags: kaum babilkesyirikannabi ibrahim

Penyimpangan terhadap Iman dan Takdir

Daftar Isi Penyimpangan kepercayaan terhadap imanTentang menyikapi rukun iman yang keenamKaidah-kaidah dalam memahami takdirTidak berandai-andaiSemua telah Allah Ta’ala tetapkanMemahami maksud ketetapan Allah Ta’alaApa yang telah ditetapkan Allah tidak akan keliruMaksud dari pemahaman menyimpangPenyimpangan kepercayaan terhadap imanBerbicara mengenai kelompok manusia yang menyimpang dari sudut pandang sikap mereka terhadap suatu kepercayaan, maka secara umum terbagi menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu: ateisme dan agnostik.Pertama, ateisme/ الإلحاد secara istilah adalah pengingkaran terhadap eksistensi Tuhan (Rabb), baik dari sisi nama-nama maupun sifat-sifat Allah[1]. Mereka hanya meyakini hal-hal yang bersifat materiil yang dapat dirasakan oleh pancaindra saja. Adapun hal-hal yang bersifat gaib, mereka mengingkarinya.Kelompok ateis ini benar-benar mengingkari rububiyyah Allah Ta’ala. Mereka tidak meyakini bahwa ada Zat Yang Maha Mengatur segala hal yang terjadi pada alam semesta. Mereka tidak merasa diciptakan. Mereka telah jauh dari fitrahnya sebagai seorang makhluk yang lemah. Padahal Allah Ta’ala berfirman,فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Ar-Rum: 30)Apabila kita perhatikan sejenak, mereka seakan hanyut dengan anggapan dan ketergantungan yang berlebihan terhadap akal dan logika, serta keilmuan duniawi yang mereka miliki. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang memaksakan pemahaman ateisnya hanya untuk menunjukkan eksistensi diri di hadapan manusia. Padahal, mereka justru sebenarnya meyakini keberadaan Allah Ta’ala.Banyak kisah yang menggambarkan betapa nurani seorang ateis membutuhkan pertolongan Allah Yang Maha Esa dalam kondisi-kondisi sulit. Seperti bencana alam tsunami, banjir, erupsi gunung merapi, gempa, dan angin kencang. Tanyakan pada mereka dengan jujur ketika menghadapi bencana itu. Apa yang mereka pikirkan dan kepada siapa mereka hendak meminta pertolongan saat tiada manusia yang mampu menolong karena semuanya sibuk menyelamatkan diri masing-masing?Itu hanyalah gambaran kecil dari kehidupan akhirat kelak, di mana yang hanya dapat membantu kita adalah rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala. Bagaimana pula rahmat dan kasih sayang tersebut dapat diperoleh jika selama hidup di dunia tidak meyakini keberadaan Allah Ta’ala?Kedua, agnostik/اللاأدرية. Yaitu kelompok sofis (orang yang suka menggunakan alasan (argumen) yang muluk-muluk, tetapi menyesatkan) yang dikatakan berhenti pada keberadaan dan pengetahuan tentang segala sesuatu, termasuk Tuhan[2]. Sebagian mereka meyakini eksistensi Tuhan, tapi mereka tidak melaksanakan ritual ibadah apapun yang mendekatkan diri kepada Tuhan.Jika ditelisik lebih dalam, melalui berbagai sumber baik di media sosial ataupun media cetak, kita dapat memperhatikan bagaimana kelompok agnostik ini menjalani kehidupan spiritualnya. Mereka menganggap bahwa akal tidak dapat menembus pengetahuan tentang keberadaan Tuhan. Menurut mereka, ada atau tidak adanya Tuhan adalah sesuatu hal yang tidak dapat diketahui.Sungguh sebuah pemahaman yang memaksakan akal dan sisi keilmiahan yang sebenarnya tidak ilmiah. Padahal, apabila mereka melihat dari sisi mereka sendiri yang kini hidup dan berpijak di atas bumi Allah Ta’ala, berada di bawah langit-Nya, serta dikelilingi alam semesta (yang luasnya hanyalah bagaikan sebuah gelang besi yang dicampakkan di tengah padang pasir), niscaya mereka kembali menggunakan akal dan pikiran sehat mereka untuk merenungi keberadaan Allah Ta’ala, berikut dengan tujuan penciptaan alam semesta tempat mereka berada.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما الكرسيُّ في العرشِ إلا كحلقةٍ من حديدٍ أُلقِيَتْ بين ظهري فلاةٍ من الأرضِ “Kursi itu berada di ‘arsy, tiada lain hanyalah bagaikan sebuah gelang besi yang dicampakkan di tengah padang pasir.” (HR. At-Thabrani, No 5794)[3]Baca juga: Iman dan Takwa: Dua Anugerah Agung dan Upaya MendapatkannyaTentang menyikapi rukun iman yang keenamApabila kita telusuri lebih dalam terhadap rukun iman yang enam, tidak banyak pengingkaran atau perselisihan dalam pemahaman kepada rukun iman kesatu, kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Artinya, iman kepada Allah, kepada malaikat, kepada para rasul, kepada kitab, dan kepada hari kiamat merupakan persoalan yang tidak begitu mendapatkan pertentangan oleh sebagian manusia, meskipun tetap saja ada yang keliru dalam pemahamannya.Namun, apabila berbicara tentang rukun iman yang keenam, yaitu iman kepada takdir, maka terdapat beberapa kelompok manusia yang saling bertentangan dalam pemahaman terhadap takdir. Banyak dalil yang menyebutkan tentang takdir dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan tuntunan kepada kita tentang bagaimana pemahaman yang benar mengenai takdir.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tatkala ditanya oleh Jibril ‘alaihis salam tentang iman, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,أن تؤمِنَ باللهِ، وملائِكَتِه، وكُتُبِه، ورُسُلِه، واليَومِ الآخِرِ، وتُؤمِنَ بالقَدَرِ خَيرِه وشَرِّه“(Iman yaitu) engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir, dan beriman kepada takdir baik maupun (takdir) buruk.” (HR. Muslim no. 8, dari Umar ibn Khattab radhiyallahu ‘anhu)Oleh karenanya, penting pula bagi kita untuk mengenali pemahaman yang menyimpang terhadap pemahaman yang benar tentang takdir. Maka, terdapat dua kelompok besar manusia yang keliru dalam pemahaman mereka terhadap takdir, yaitu: Qadariyyah dan Jabariyyah.Pertama, Qadariyyah. Merupakan kelompok yang mengingkari takdir (ketetapan) Allah dan meyakini bahwa manusia memiliki kekuatan yang menciptakan perbuatan dengan keunikan dan kemandiriannya tanpa Tuhan Yang Maha Esa[4]. Sungguh pemahaman yang sangat keliru. Mereka sangat percaya diri dengan logika berpikir mereka sendiri dan mengingkari keterbatasannya.Padahal, sungguh kemampuan berpikir manusia sangatlah terbatas. Manusia sungguh sangat lemah dalam segala hal. Hanya saja, kesombongan diri terkadang menguasai sehingga tingkah laku keangkuhan memegang peranan besar yang menyebabkannya lupa diri, bahkan ingkar terhadap keberadaan Tuhan yang menciptakannya.Allah Ta’ala berfirman menggambarkan sifat angkuh manusia yang ada pada Qarun,اِذْ قَالَ لَهٗ قَوْمُهٗ لَا تَفْرَحْ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِيْنَ“(Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, ‘Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.’” (QS. Al-Qasas: 76)Kedua, Jabariyyah. Kelompok yang berpandangan bahwa manusia tidak memiliki kemauan, dan tidak memiliki kemampuan untuk mengupayakan kebaikan atau kekuatan. Mereka terpaksa oleh takdir karena tidak memiliki kemampuan untuk memilih dan berusaha untuk takdirnya[5].Dampak dari keyakinan keliru ini adalah keengganan mereka untuk berikhtiar dalam rangka mendapatkan kebaikan dunia maupun akhiratnya. Mereka keliru dalam memahami takdir, memasrahkan segalanya terjadi tanpa berupaya untuk melakukan yang terbaik untuk dirinya. Padahal, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk senantiasa berikhtiar mendapatkan keridaan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’ad: 11)Baca juga: Memahami Macam-macam TakdirKaidah-kaidah dalam memahami takdirTidak berandai-andaiRasulullah shalllallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْئٌ فَلاَ تَقُل:ْ لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ، كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ“…Jika sesuatu menimpamu, maka janganlah mengatakan, ‘Seandainya aku melakukannya, niscaya akan demikian dan demikian.’ Tetapi ucapkanlah, ‘Sudah menjadi ketentuan Allah, dan apa yang dikehendakinya pasti terjadi… .’” (HR. Muslim no. 2664 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)[6]Sikap seorang yang beriman terhadap segala hal yang telah terjadi bukanlah dengan berandai-andai apabila hal tersebut tidak terjadi. Ini menunjukkan dangkalnya keimanan terhadap apa yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Iman kepada takdir adalah iman terhadap kemahabesaran Allah dan bahwasanya Allah Ta’ala melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya dan dengan segala hikmah yang terkandung di dalamnya.Semua telah Allah Ta’ala tetapkanNabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ“Allah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)Dalam hadis lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ“Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, ‘Tulislah!’ Pena berkata, ‘Apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.’” (HR. Tirmidzi no. 2155. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Allah Ta’ala telah menetapkan segala hal yang terjadi pada alam semesta ini. Mulai dari hal yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi. Kita wajib meyakini hal ini dengan haqqul yaqin dengan tanpa mengesampingkan pengetahuan bahwa segala yang telah Allah Ta’ala tetapkan mengandung hikmah yang dapat kita petik untuk kebaikan kehidupan kita di masa yang akan datang. Keyakinan tersebut juga harus disertai dengan ikhtiar yang maksimal untuk meraih keridaan Allah Ta’ala di setiap waktu.Memahami maksud ketetapan Allah Ta’alaAllah Ta’ala berfirman,مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23)“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al Hadid: 22-23)Perhatikanlah! Orang yang mengerti dan memahami bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan segala hal yang terjadi dalam lauh mahfudz, maka akan menjadi hamba Allah yang lebih bijak dalam menghadapi segala problematika kehidupan. Apabila ia ditimpa cobaan, ia tidak larut dalam duka karena pemahamannya tentang takdir Allah. Sedangkan apabila ia mendapatkan nikmat, ia tidak berbangga diri karena pemahaman yang benar tentang rukun iman yang ke-6.Apa yang telah ditetapkan Allah tidak akan keliruNabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ“Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.” (HR. Ahmad 5: 185. Syekh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini qawiy (kuat))Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa segala hal yang telah Allah Ta’ala tetapkan tersebut wajib kita yakini bahwa banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. Oleh karenanya, hadis di atas menggambarkan kemahaadilan Allah Ta’ala terhadap apa yang telah ditetapkan-Nya. Karena segala hal yang menjadi takdir kita (baik berupa kenikmatan maupun ujian/cobaan), tidak akan pernah meleset dari kehidupan kita. Begitu pula sebaliknya. Subhanallah!Maksud dari pemahaman menyimpangSaudaraku, memahami lebih jauh maksud dari penyimpangan-penyimpangan manusia terhadap rukun iman, maka akan kita dapati bahwa sebagian besar mereka justru hanya menginginkan kebebasan dalam menjalani kehidupan di dunia yang fana ini.Kebebasan yang mereka sendiri tetapkan definisinya. Bebas melakukan segala hal, baik secara fisik maupun nonfisik. Padahal, disadari atau tidak, kebebasan tersebut sebenarnya merupakan belenggu dari hawa nafsu mereka sendiri. Mereka berpikir berdasarkan logika dan hawa nafsu, sehingga meskipun mereka menganggap bahwa mereka telah meraih kebebasan dalam berpikir dan bertingkah laku, sesungguhnya merekalah yang terikat dan terbelenggu.Sebaliknya, orang yang beriman dan memahami rukun iman dengan benar sebagaimana pemahaman yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan praktik yang dicontohkan oleh para generasi terbaik, yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhum, maka itulah kebebasan sejati. Bebas menjadi hamba Allah Ta’ala dengan segala ketentuan-ketentuan-Nya yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kebebasan yang membawa seorang hamba menuju keridaan dan jannah-Nya Allah Ta’ala.Wallahua’lamBaca juga: Bagaimana Bermuamalah Dengan Orang-Orang Yang Menyimpang?***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]  Lihat kitab Syarah Qawaidul Saba min Al-Kitab At-Tadmuriyah, karya Syekh Yusuf Al-Ghafish, hal. 13.[2] Lihat kitab Takmilatul Ma’ajim Al-Arabiyah, karya Reinhart Dozy, hal. 188.[3] Lihat kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah, karya Ibnu Katsir, 1: 11.[4] Lihat kitab Majallatu Al-Buhuts Al-Islamiyyah, hal. 235.[5] Lihat kitab Mujmal Ushul Ahli As Sunnah, karya Nashir Al-‘Aql, hal. 21.[6] Lihat kitab Majmu Al-Fatawa, karya Ibnu Taimiyah, 8: 73.Tags: penyimpanganrukun imantakdir

Penyimpangan terhadap Iman dan Takdir

Daftar Isi Penyimpangan kepercayaan terhadap imanTentang menyikapi rukun iman yang keenamKaidah-kaidah dalam memahami takdirTidak berandai-andaiSemua telah Allah Ta’ala tetapkanMemahami maksud ketetapan Allah Ta’alaApa yang telah ditetapkan Allah tidak akan keliruMaksud dari pemahaman menyimpangPenyimpangan kepercayaan terhadap imanBerbicara mengenai kelompok manusia yang menyimpang dari sudut pandang sikap mereka terhadap suatu kepercayaan, maka secara umum terbagi menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu: ateisme dan agnostik.Pertama, ateisme/ الإلحاد secara istilah adalah pengingkaran terhadap eksistensi Tuhan (Rabb), baik dari sisi nama-nama maupun sifat-sifat Allah[1]. Mereka hanya meyakini hal-hal yang bersifat materiil yang dapat dirasakan oleh pancaindra saja. Adapun hal-hal yang bersifat gaib, mereka mengingkarinya.Kelompok ateis ini benar-benar mengingkari rububiyyah Allah Ta’ala. Mereka tidak meyakini bahwa ada Zat Yang Maha Mengatur segala hal yang terjadi pada alam semesta. Mereka tidak merasa diciptakan. Mereka telah jauh dari fitrahnya sebagai seorang makhluk yang lemah. Padahal Allah Ta’ala berfirman,فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Ar-Rum: 30)Apabila kita perhatikan sejenak, mereka seakan hanyut dengan anggapan dan ketergantungan yang berlebihan terhadap akal dan logika, serta keilmuan duniawi yang mereka miliki. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang memaksakan pemahaman ateisnya hanya untuk menunjukkan eksistensi diri di hadapan manusia. Padahal, mereka justru sebenarnya meyakini keberadaan Allah Ta’ala.Banyak kisah yang menggambarkan betapa nurani seorang ateis membutuhkan pertolongan Allah Yang Maha Esa dalam kondisi-kondisi sulit. Seperti bencana alam tsunami, banjir, erupsi gunung merapi, gempa, dan angin kencang. Tanyakan pada mereka dengan jujur ketika menghadapi bencana itu. Apa yang mereka pikirkan dan kepada siapa mereka hendak meminta pertolongan saat tiada manusia yang mampu menolong karena semuanya sibuk menyelamatkan diri masing-masing?Itu hanyalah gambaran kecil dari kehidupan akhirat kelak, di mana yang hanya dapat membantu kita adalah rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala. Bagaimana pula rahmat dan kasih sayang tersebut dapat diperoleh jika selama hidup di dunia tidak meyakini keberadaan Allah Ta’ala?Kedua, agnostik/اللاأدرية. Yaitu kelompok sofis (orang yang suka menggunakan alasan (argumen) yang muluk-muluk, tetapi menyesatkan) yang dikatakan berhenti pada keberadaan dan pengetahuan tentang segala sesuatu, termasuk Tuhan[2]. Sebagian mereka meyakini eksistensi Tuhan, tapi mereka tidak melaksanakan ritual ibadah apapun yang mendekatkan diri kepada Tuhan.Jika ditelisik lebih dalam, melalui berbagai sumber baik di media sosial ataupun media cetak, kita dapat memperhatikan bagaimana kelompok agnostik ini menjalani kehidupan spiritualnya. Mereka menganggap bahwa akal tidak dapat menembus pengetahuan tentang keberadaan Tuhan. Menurut mereka, ada atau tidak adanya Tuhan adalah sesuatu hal yang tidak dapat diketahui.Sungguh sebuah pemahaman yang memaksakan akal dan sisi keilmiahan yang sebenarnya tidak ilmiah. Padahal, apabila mereka melihat dari sisi mereka sendiri yang kini hidup dan berpijak di atas bumi Allah Ta’ala, berada di bawah langit-Nya, serta dikelilingi alam semesta (yang luasnya hanyalah bagaikan sebuah gelang besi yang dicampakkan di tengah padang pasir), niscaya mereka kembali menggunakan akal dan pikiran sehat mereka untuk merenungi keberadaan Allah Ta’ala, berikut dengan tujuan penciptaan alam semesta tempat mereka berada.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما الكرسيُّ في العرشِ إلا كحلقةٍ من حديدٍ أُلقِيَتْ بين ظهري فلاةٍ من الأرضِ “Kursi itu berada di ‘arsy, tiada lain hanyalah bagaikan sebuah gelang besi yang dicampakkan di tengah padang pasir.” (HR. At-Thabrani, No 5794)[3]Baca juga: Iman dan Takwa: Dua Anugerah Agung dan Upaya MendapatkannyaTentang menyikapi rukun iman yang keenamApabila kita telusuri lebih dalam terhadap rukun iman yang enam, tidak banyak pengingkaran atau perselisihan dalam pemahaman kepada rukun iman kesatu, kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Artinya, iman kepada Allah, kepada malaikat, kepada para rasul, kepada kitab, dan kepada hari kiamat merupakan persoalan yang tidak begitu mendapatkan pertentangan oleh sebagian manusia, meskipun tetap saja ada yang keliru dalam pemahamannya.Namun, apabila berbicara tentang rukun iman yang keenam, yaitu iman kepada takdir, maka terdapat beberapa kelompok manusia yang saling bertentangan dalam pemahaman terhadap takdir. Banyak dalil yang menyebutkan tentang takdir dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan tuntunan kepada kita tentang bagaimana pemahaman yang benar mengenai takdir.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tatkala ditanya oleh Jibril ‘alaihis salam tentang iman, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,أن تؤمِنَ باللهِ، وملائِكَتِه، وكُتُبِه، ورُسُلِه، واليَومِ الآخِرِ، وتُؤمِنَ بالقَدَرِ خَيرِه وشَرِّه“(Iman yaitu) engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir, dan beriman kepada takdir baik maupun (takdir) buruk.” (HR. Muslim no. 8, dari Umar ibn Khattab radhiyallahu ‘anhu)Oleh karenanya, penting pula bagi kita untuk mengenali pemahaman yang menyimpang terhadap pemahaman yang benar tentang takdir. Maka, terdapat dua kelompok besar manusia yang keliru dalam pemahaman mereka terhadap takdir, yaitu: Qadariyyah dan Jabariyyah.Pertama, Qadariyyah. Merupakan kelompok yang mengingkari takdir (ketetapan) Allah dan meyakini bahwa manusia memiliki kekuatan yang menciptakan perbuatan dengan keunikan dan kemandiriannya tanpa Tuhan Yang Maha Esa[4]. Sungguh pemahaman yang sangat keliru. Mereka sangat percaya diri dengan logika berpikir mereka sendiri dan mengingkari keterbatasannya.Padahal, sungguh kemampuan berpikir manusia sangatlah terbatas. Manusia sungguh sangat lemah dalam segala hal. Hanya saja, kesombongan diri terkadang menguasai sehingga tingkah laku keangkuhan memegang peranan besar yang menyebabkannya lupa diri, bahkan ingkar terhadap keberadaan Tuhan yang menciptakannya.Allah Ta’ala berfirman menggambarkan sifat angkuh manusia yang ada pada Qarun,اِذْ قَالَ لَهٗ قَوْمُهٗ لَا تَفْرَحْ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِيْنَ“(Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, ‘Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.’” (QS. Al-Qasas: 76)Kedua, Jabariyyah. Kelompok yang berpandangan bahwa manusia tidak memiliki kemauan, dan tidak memiliki kemampuan untuk mengupayakan kebaikan atau kekuatan. Mereka terpaksa oleh takdir karena tidak memiliki kemampuan untuk memilih dan berusaha untuk takdirnya[5].Dampak dari keyakinan keliru ini adalah keengganan mereka untuk berikhtiar dalam rangka mendapatkan kebaikan dunia maupun akhiratnya. Mereka keliru dalam memahami takdir, memasrahkan segalanya terjadi tanpa berupaya untuk melakukan yang terbaik untuk dirinya. Padahal, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk senantiasa berikhtiar mendapatkan keridaan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’ad: 11)Baca juga: Memahami Macam-macam TakdirKaidah-kaidah dalam memahami takdirTidak berandai-andaiRasulullah shalllallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْئٌ فَلاَ تَقُل:ْ لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ، كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ“…Jika sesuatu menimpamu, maka janganlah mengatakan, ‘Seandainya aku melakukannya, niscaya akan demikian dan demikian.’ Tetapi ucapkanlah, ‘Sudah menjadi ketentuan Allah, dan apa yang dikehendakinya pasti terjadi… .’” (HR. Muslim no. 2664 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)[6]Sikap seorang yang beriman terhadap segala hal yang telah terjadi bukanlah dengan berandai-andai apabila hal tersebut tidak terjadi. Ini menunjukkan dangkalnya keimanan terhadap apa yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Iman kepada takdir adalah iman terhadap kemahabesaran Allah dan bahwasanya Allah Ta’ala melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya dan dengan segala hikmah yang terkandung di dalamnya.Semua telah Allah Ta’ala tetapkanNabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ“Allah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)Dalam hadis lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ“Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, ‘Tulislah!’ Pena berkata, ‘Apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.’” (HR. Tirmidzi no. 2155. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Allah Ta’ala telah menetapkan segala hal yang terjadi pada alam semesta ini. Mulai dari hal yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi. Kita wajib meyakini hal ini dengan haqqul yaqin dengan tanpa mengesampingkan pengetahuan bahwa segala yang telah Allah Ta’ala tetapkan mengandung hikmah yang dapat kita petik untuk kebaikan kehidupan kita di masa yang akan datang. Keyakinan tersebut juga harus disertai dengan ikhtiar yang maksimal untuk meraih keridaan Allah Ta’ala di setiap waktu.Memahami maksud ketetapan Allah Ta’alaAllah Ta’ala berfirman,مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23)“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al Hadid: 22-23)Perhatikanlah! Orang yang mengerti dan memahami bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan segala hal yang terjadi dalam lauh mahfudz, maka akan menjadi hamba Allah yang lebih bijak dalam menghadapi segala problematika kehidupan. Apabila ia ditimpa cobaan, ia tidak larut dalam duka karena pemahamannya tentang takdir Allah. Sedangkan apabila ia mendapatkan nikmat, ia tidak berbangga diri karena pemahaman yang benar tentang rukun iman yang ke-6.Apa yang telah ditetapkan Allah tidak akan keliruNabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ“Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.” (HR. Ahmad 5: 185. Syekh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini qawiy (kuat))Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa segala hal yang telah Allah Ta’ala tetapkan tersebut wajib kita yakini bahwa banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. Oleh karenanya, hadis di atas menggambarkan kemahaadilan Allah Ta’ala terhadap apa yang telah ditetapkan-Nya. Karena segala hal yang menjadi takdir kita (baik berupa kenikmatan maupun ujian/cobaan), tidak akan pernah meleset dari kehidupan kita. Begitu pula sebaliknya. Subhanallah!Maksud dari pemahaman menyimpangSaudaraku, memahami lebih jauh maksud dari penyimpangan-penyimpangan manusia terhadap rukun iman, maka akan kita dapati bahwa sebagian besar mereka justru hanya menginginkan kebebasan dalam menjalani kehidupan di dunia yang fana ini.Kebebasan yang mereka sendiri tetapkan definisinya. Bebas melakukan segala hal, baik secara fisik maupun nonfisik. Padahal, disadari atau tidak, kebebasan tersebut sebenarnya merupakan belenggu dari hawa nafsu mereka sendiri. Mereka berpikir berdasarkan logika dan hawa nafsu, sehingga meskipun mereka menganggap bahwa mereka telah meraih kebebasan dalam berpikir dan bertingkah laku, sesungguhnya merekalah yang terikat dan terbelenggu.Sebaliknya, orang yang beriman dan memahami rukun iman dengan benar sebagaimana pemahaman yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan praktik yang dicontohkan oleh para generasi terbaik, yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhum, maka itulah kebebasan sejati. Bebas menjadi hamba Allah Ta’ala dengan segala ketentuan-ketentuan-Nya yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kebebasan yang membawa seorang hamba menuju keridaan dan jannah-Nya Allah Ta’ala.Wallahua’lamBaca juga: Bagaimana Bermuamalah Dengan Orang-Orang Yang Menyimpang?***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]  Lihat kitab Syarah Qawaidul Saba min Al-Kitab At-Tadmuriyah, karya Syekh Yusuf Al-Ghafish, hal. 13.[2] Lihat kitab Takmilatul Ma’ajim Al-Arabiyah, karya Reinhart Dozy, hal. 188.[3] Lihat kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah, karya Ibnu Katsir, 1: 11.[4] Lihat kitab Majallatu Al-Buhuts Al-Islamiyyah, hal. 235.[5] Lihat kitab Mujmal Ushul Ahli As Sunnah, karya Nashir Al-‘Aql, hal. 21.[6] Lihat kitab Majmu Al-Fatawa, karya Ibnu Taimiyah, 8: 73.Tags: penyimpanganrukun imantakdir
Daftar Isi Penyimpangan kepercayaan terhadap imanTentang menyikapi rukun iman yang keenamKaidah-kaidah dalam memahami takdirTidak berandai-andaiSemua telah Allah Ta’ala tetapkanMemahami maksud ketetapan Allah Ta’alaApa yang telah ditetapkan Allah tidak akan keliruMaksud dari pemahaman menyimpangPenyimpangan kepercayaan terhadap imanBerbicara mengenai kelompok manusia yang menyimpang dari sudut pandang sikap mereka terhadap suatu kepercayaan, maka secara umum terbagi menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu: ateisme dan agnostik.Pertama, ateisme/ الإلحاد secara istilah adalah pengingkaran terhadap eksistensi Tuhan (Rabb), baik dari sisi nama-nama maupun sifat-sifat Allah[1]. Mereka hanya meyakini hal-hal yang bersifat materiil yang dapat dirasakan oleh pancaindra saja. Adapun hal-hal yang bersifat gaib, mereka mengingkarinya.Kelompok ateis ini benar-benar mengingkari rububiyyah Allah Ta’ala. Mereka tidak meyakini bahwa ada Zat Yang Maha Mengatur segala hal yang terjadi pada alam semesta. Mereka tidak merasa diciptakan. Mereka telah jauh dari fitrahnya sebagai seorang makhluk yang lemah. Padahal Allah Ta’ala berfirman,فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Ar-Rum: 30)Apabila kita perhatikan sejenak, mereka seakan hanyut dengan anggapan dan ketergantungan yang berlebihan terhadap akal dan logika, serta keilmuan duniawi yang mereka miliki. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang memaksakan pemahaman ateisnya hanya untuk menunjukkan eksistensi diri di hadapan manusia. Padahal, mereka justru sebenarnya meyakini keberadaan Allah Ta’ala.Banyak kisah yang menggambarkan betapa nurani seorang ateis membutuhkan pertolongan Allah Yang Maha Esa dalam kondisi-kondisi sulit. Seperti bencana alam tsunami, banjir, erupsi gunung merapi, gempa, dan angin kencang. Tanyakan pada mereka dengan jujur ketika menghadapi bencana itu. Apa yang mereka pikirkan dan kepada siapa mereka hendak meminta pertolongan saat tiada manusia yang mampu menolong karena semuanya sibuk menyelamatkan diri masing-masing?Itu hanyalah gambaran kecil dari kehidupan akhirat kelak, di mana yang hanya dapat membantu kita adalah rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala. Bagaimana pula rahmat dan kasih sayang tersebut dapat diperoleh jika selama hidup di dunia tidak meyakini keberadaan Allah Ta’ala?Kedua, agnostik/اللاأدرية. Yaitu kelompok sofis (orang yang suka menggunakan alasan (argumen) yang muluk-muluk, tetapi menyesatkan) yang dikatakan berhenti pada keberadaan dan pengetahuan tentang segala sesuatu, termasuk Tuhan[2]. Sebagian mereka meyakini eksistensi Tuhan, tapi mereka tidak melaksanakan ritual ibadah apapun yang mendekatkan diri kepada Tuhan.Jika ditelisik lebih dalam, melalui berbagai sumber baik di media sosial ataupun media cetak, kita dapat memperhatikan bagaimana kelompok agnostik ini menjalani kehidupan spiritualnya. Mereka menganggap bahwa akal tidak dapat menembus pengetahuan tentang keberadaan Tuhan. Menurut mereka, ada atau tidak adanya Tuhan adalah sesuatu hal yang tidak dapat diketahui.Sungguh sebuah pemahaman yang memaksakan akal dan sisi keilmiahan yang sebenarnya tidak ilmiah. Padahal, apabila mereka melihat dari sisi mereka sendiri yang kini hidup dan berpijak di atas bumi Allah Ta’ala, berada di bawah langit-Nya, serta dikelilingi alam semesta (yang luasnya hanyalah bagaikan sebuah gelang besi yang dicampakkan di tengah padang pasir), niscaya mereka kembali menggunakan akal dan pikiran sehat mereka untuk merenungi keberadaan Allah Ta’ala, berikut dengan tujuan penciptaan alam semesta tempat mereka berada.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما الكرسيُّ في العرشِ إلا كحلقةٍ من حديدٍ أُلقِيَتْ بين ظهري فلاةٍ من الأرضِ “Kursi itu berada di ‘arsy, tiada lain hanyalah bagaikan sebuah gelang besi yang dicampakkan di tengah padang pasir.” (HR. At-Thabrani, No 5794)[3]Baca juga: Iman dan Takwa: Dua Anugerah Agung dan Upaya MendapatkannyaTentang menyikapi rukun iman yang keenamApabila kita telusuri lebih dalam terhadap rukun iman yang enam, tidak banyak pengingkaran atau perselisihan dalam pemahaman kepada rukun iman kesatu, kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Artinya, iman kepada Allah, kepada malaikat, kepada para rasul, kepada kitab, dan kepada hari kiamat merupakan persoalan yang tidak begitu mendapatkan pertentangan oleh sebagian manusia, meskipun tetap saja ada yang keliru dalam pemahamannya.Namun, apabila berbicara tentang rukun iman yang keenam, yaitu iman kepada takdir, maka terdapat beberapa kelompok manusia yang saling bertentangan dalam pemahaman terhadap takdir. Banyak dalil yang menyebutkan tentang takdir dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan tuntunan kepada kita tentang bagaimana pemahaman yang benar mengenai takdir.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tatkala ditanya oleh Jibril ‘alaihis salam tentang iman, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,أن تؤمِنَ باللهِ، وملائِكَتِه، وكُتُبِه، ورُسُلِه، واليَومِ الآخِرِ، وتُؤمِنَ بالقَدَرِ خَيرِه وشَرِّه“(Iman yaitu) engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir, dan beriman kepada takdir baik maupun (takdir) buruk.” (HR. Muslim no. 8, dari Umar ibn Khattab radhiyallahu ‘anhu)Oleh karenanya, penting pula bagi kita untuk mengenali pemahaman yang menyimpang terhadap pemahaman yang benar tentang takdir. Maka, terdapat dua kelompok besar manusia yang keliru dalam pemahaman mereka terhadap takdir, yaitu: Qadariyyah dan Jabariyyah.Pertama, Qadariyyah. Merupakan kelompok yang mengingkari takdir (ketetapan) Allah dan meyakini bahwa manusia memiliki kekuatan yang menciptakan perbuatan dengan keunikan dan kemandiriannya tanpa Tuhan Yang Maha Esa[4]. Sungguh pemahaman yang sangat keliru. Mereka sangat percaya diri dengan logika berpikir mereka sendiri dan mengingkari keterbatasannya.Padahal, sungguh kemampuan berpikir manusia sangatlah terbatas. Manusia sungguh sangat lemah dalam segala hal. Hanya saja, kesombongan diri terkadang menguasai sehingga tingkah laku keangkuhan memegang peranan besar yang menyebabkannya lupa diri, bahkan ingkar terhadap keberadaan Tuhan yang menciptakannya.Allah Ta’ala berfirman menggambarkan sifat angkuh manusia yang ada pada Qarun,اِذْ قَالَ لَهٗ قَوْمُهٗ لَا تَفْرَحْ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِيْنَ“(Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, ‘Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.’” (QS. Al-Qasas: 76)Kedua, Jabariyyah. Kelompok yang berpandangan bahwa manusia tidak memiliki kemauan, dan tidak memiliki kemampuan untuk mengupayakan kebaikan atau kekuatan. Mereka terpaksa oleh takdir karena tidak memiliki kemampuan untuk memilih dan berusaha untuk takdirnya[5].Dampak dari keyakinan keliru ini adalah keengganan mereka untuk berikhtiar dalam rangka mendapatkan kebaikan dunia maupun akhiratnya. Mereka keliru dalam memahami takdir, memasrahkan segalanya terjadi tanpa berupaya untuk melakukan yang terbaik untuk dirinya. Padahal, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk senantiasa berikhtiar mendapatkan keridaan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’ad: 11)Baca juga: Memahami Macam-macam TakdirKaidah-kaidah dalam memahami takdirTidak berandai-andaiRasulullah shalllallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْئٌ فَلاَ تَقُل:ْ لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ، كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ“…Jika sesuatu menimpamu, maka janganlah mengatakan, ‘Seandainya aku melakukannya, niscaya akan demikian dan demikian.’ Tetapi ucapkanlah, ‘Sudah menjadi ketentuan Allah, dan apa yang dikehendakinya pasti terjadi… .’” (HR. Muslim no. 2664 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)[6]Sikap seorang yang beriman terhadap segala hal yang telah terjadi bukanlah dengan berandai-andai apabila hal tersebut tidak terjadi. Ini menunjukkan dangkalnya keimanan terhadap apa yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Iman kepada takdir adalah iman terhadap kemahabesaran Allah dan bahwasanya Allah Ta’ala melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya dan dengan segala hikmah yang terkandung di dalamnya.Semua telah Allah Ta’ala tetapkanNabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ“Allah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)Dalam hadis lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ“Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, ‘Tulislah!’ Pena berkata, ‘Apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.’” (HR. Tirmidzi no. 2155. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Allah Ta’ala telah menetapkan segala hal yang terjadi pada alam semesta ini. Mulai dari hal yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi. Kita wajib meyakini hal ini dengan haqqul yaqin dengan tanpa mengesampingkan pengetahuan bahwa segala yang telah Allah Ta’ala tetapkan mengandung hikmah yang dapat kita petik untuk kebaikan kehidupan kita di masa yang akan datang. Keyakinan tersebut juga harus disertai dengan ikhtiar yang maksimal untuk meraih keridaan Allah Ta’ala di setiap waktu.Memahami maksud ketetapan Allah Ta’alaAllah Ta’ala berfirman,مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23)“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al Hadid: 22-23)Perhatikanlah! Orang yang mengerti dan memahami bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan segala hal yang terjadi dalam lauh mahfudz, maka akan menjadi hamba Allah yang lebih bijak dalam menghadapi segala problematika kehidupan. Apabila ia ditimpa cobaan, ia tidak larut dalam duka karena pemahamannya tentang takdir Allah. Sedangkan apabila ia mendapatkan nikmat, ia tidak berbangga diri karena pemahaman yang benar tentang rukun iman yang ke-6.Apa yang telah ditetapkan Allah tidak akan keliruNabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ“Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.” (HR. Ahmad 5: 185. Syekh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini qawiy (kuat))Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa segala hal yang telah Allah Ta’ala tetapkan tersebut wajib kita yakini bahwa banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. Oleh karenanya, hadis di atas menggambarkan kemahaadilan Allah Ta’ala terhadap apa yang telah ditetapkan-Nya. Karena segala hal yang menjadi takdir kita (baik berupa kenikmatan maupun ujian/cobaan), tidak akan pernah meleset dari kehidupan kita. Begitu pula sebaliknya. Subhanallah!Maksud dari pemahaman menyimpangSaudaraku, memahami lebih jauh maksud dari penyimpangan-penyimpangan manusia terhadap rukun iman, maka akan kita dapati bahwa sebagian besar mereka justru hanya menginginkan kebebasan dalam menjalani kehidupan di dunia yang fana ini.Kebebasan yang mereka sendiri tetapkan definisinya. Bebas melakukan segala hal, baik secara fisik maupun nonfisik. Padahal, disadari atau tidak, kebebasan tersebut sebenarnya merupakan belenggu dari hawa nafsu mereka sendiri. Mereka berpikir berdasarkan logika dan hawa nafsu, sehingga meskipun mereka menganggap bahwa mereka telah meraih kebebasan dalam berpikir dan bertingkah laku, sesungguhnya merekalah yang terikat dan terbelenggu.Sebaliknya, orang yang beriman dan memahami rukun iman dengan benar sebagaimana pemahaman yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan praktik yang dicontohkan oleh para generasi terbaik, yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhum, maka itulah kebebasan sejati. Bebas menjadi hamba Allah Ta’ala dengan segala ketentuan-ketentuan-Nya yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kebebasan yang membawa seorang hamba menuju keridaan dan jannah-Nya Allah Ta’ala.Wallahua’lamBaca juga: Bagaimana Bermuamalah Dengan Orang-Orang Yang Menyimpang?***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]  Lihat kitab Syarah Qawaidul Saba min Al-Kitab At-Tadmuriyah, karya Syekh Yusuf Al-Ghafish, hal. 13.[2] Lihat kitab Takmilatul Ma’ajim Al-Arabiyah, karya Reinhart Dozy, hal. 188.[3] Lihat kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah, karya Ibnu Katsir, 1: 11.[4] Lihat kitab Majallatu Al-Buhuts Al-Islamiyyah, hal. 235.[5] Lihat kitab Mujmal Ushul Ahli As Sunnah, karya Nashir Al-‘Aql, hal. 21.[6] Lihat kitab Majmu Al-Fatawa, karya Ibnu Taimiyah, 8: 73.Tags: penyimpanganrukun imantakdir


Daftar Isi Penyimpangan kepercayaan terhadap imanTentang menyikapi rukun iman yang keenamKaidah-kaidah dalam memahami takdirTidak berandai-andaiSemua telah Allah Ta’ala tetapkanMemahami maksud ketetapan Allah Ta’alaApa yang telah ditetapkan Allah tidak akan keliruMaksud dari pemahaman menyimpangPenyimpangan kepercayaan terhadap imanBerbicara mengenai kelompok manusia yang menyimpang dari sudut pandang sikap mereka terhadap suatu kepercayaan, maka secara umum terbagi menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu: ateisme dan agnostik.Pertama, ateisme/ الإلحاد secara istilah adalah pengingkaran terhadap eksistensi Tuhan (Rabb), baik dari sisi nama-nama maupun sifat-sifat Allah[1]. Mereka hanya meyakini hal-hal yang bersifat materiil yang dapat dirasakan oleh pancaindra saja. Adapun hal-hal yang bersifat gaib, mereka mengingkarinya.Kelompok ateis ini benar-benar mengingkari rububiyyah Allah Ta’ala. Mereka tidak meyakini bahwa ada Zat Yang Maha Mengatur segala hal yang terjadi pada alam semesta. Mereka tidak merasa diciptakan. Mereka telah jauh dari fitrahnya sebagai seorang makhluk yang lemah. Padahal Allah Ta’ala berfirman,فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Ar-Rum: 30)Apabila kita perhatikan sejenak, mereka seakan hanyut dengan anggapan dan ketergantungan yang berlebihan terhadap akal dan logika, serta keilmuan duniawi yang mereka miliki. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang memaksakan pemahaman ateisnya hanya untuk menunjukkan eksistensi diri di hadapan manusia. Padahal, mereka justru sebenarnya meyakini keberadaan Allah Ta’ala.Banyak kisah yang menggambarkan betapa nurani seorang ateis membutuhkan pertolongan Allah Yang Maha Esa dalam kondisi-kondisi sulit. Seperti bencana alam tsunami, banjir, erupsi gunung merapi, gempa, dan angin kencang. Tanyakan pada mereka dengan jujur ketika menghadapi bencana itu. Apa yang mereka pikirkan dan kepada siapa mereka hendak meminta pertolongan saat tiada manusia yang mampu menolong karena semuanya sibuk menyelamatkan diri masing-masing?Itu hanyalah gambaran kecil dari kehidupan akhirat kelak, di mana yang hanya dapat membantu kita adalah rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala. Bagaimana pula rahmat dan kasih sayang tersebut dapat diperoleh jika selama hidup di dunia tidak meyakini keberadaan Allah Ta’ala?Kedua, agnostik/اللاأدرية. Yaitu kelompok sofis (orang yang suka menggunakan alasan (argumen) yang muluk-muluk, tetapi menyesatkan) yang dikatakan berhenti pada keberadaan dan pengetahuan tentang segala sesuatu, termasuk Tuhan[2]. Sebagian mereka meyakini eksistensi Tuhan, tapi mereka tidak melaksanakan ritual ibadah apapun yang mendekatkan diri kepada Tuhan.Jika ditelisik lebih dalam, melalui berbagai sumber baik di media sosial ataupun media cetak, kita dapat memperhatikan bagaimana kelompok agnostik ini menjalani kehidupan spiritualnya. Mereka menganggap bahwa akal tidak dapat menembus pengetahuan tentang keberadaan Tuhan. Menurut mereka, ada atau tidak adanya Tuhan adalah sesuatu hal yang tidak dapat diketahui.Sungguh sebuah pemahaman yang memaksakan akal dan sisi keilmiahan yang sebenarnya tidak ilmiah. Padahal, apabila mereka melihat dari sisi mereka sendiri yang kini hidup dan berpijak di atas bumi Allah Ta’ala, berada di bawah langit-Nya, serta dikelilingi alam semesta (yang luasnya hanyalah bagaikan sebuah gelang besi yang dicampakkan di tengah padang pasir), niscaya mereka kembali menggunakan akal dan pikiran sehat mereka untuk merenungi keberadaan Allah Ta’ala, berikut dengan tujuan penciptaan alam semesta tempat mereka berada.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما الكرسيُّ في العرشِ إلا كحلقةٍ من حديدٍ أُلقِيَتْ بين ظهري فلاةٍ من الأرضِ “Kursi itu berada di ‘arsy, tiada lain hanyalah bagaikan sebuah gelang besi yang dicampakkan di tengah padang pasir.” (HR. At-Thabrani, No 5794)[3]Baca juga: Iman dan Takwa: Dua Anugerah Agung dan Upaya MendapatkannyaTentang menyikapi rukun iman yang keenamApabila kita telusuri lebih dalam terhadap rukun iman yang enam, tidak banyak pengingkaran atau perselisihan dalam pemahaman kepada rukun iman kesatu, kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Artinya, iman kepada Allah, kepada malaikat, kepada para rasul, kepada kitab, dan kepada hari kiamat merupakan persoalan yang tidak begitu mendapatkan pertentangan oleh sebagian manusia, meskipun tetap saja ada yang keliru dalam pemahamannya.Namun, apabila berbicara tentang rukun iman yang keenam, yaitu iman kepada takdir, maka terdapat beberapa kelompok manusia yang saling bertentangan dalam pemahaman terhadap takdir. Banyak dalil yang menyebutkan tentang takdir dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan tuntunan kepada kita tentang bagaimana pemahaman yang benar mengenai takdir.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tatkala ditanya oleh Jibril ‘alaihis salam tentang iman, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,أن تؤمِنَ باللهِ، وملائِكَتِه، وكُتُبِه، ورُسُلِه، واليَومِ الآخِرِ، وتُؤمِنَ بالقَدَرِ خَيرِه وشَرِّه“(Iman yaitu) engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir, dan beriman kepada takdir baik maupun (takdir) buruk.” (HR. Muslim no. 8, dari Umar ibn Khattab radhiyallahu ‘anhu)Oleh karenanya, penting pula bagi kita untuk mengenali pemahaman yang menyimpang terhadap pemahaman yang benar tentang takdir. Maka, terdapat dua kelompok besar manusia yang keliru dalam pemahaman mereka terhadap takdir, yaitu: Qadariyyah dan Jabariyyah.Pertama, Qadariyyah. Merupakan kelompok yang mengingkari takdir (ketetapan) Allah dan meyakini bahwa manusia memiliki kekuatan yang menciptakan perbuatan dengan keunikan dan kemandiriannya tanpa Tuhan Yang Maha Esa[4]. Sungguh pemahaman yang sangat keliru. Mereka sangat percaya diri dengan logika berpikir mereka sendiri dan mengingkari keterbatasannya.Padahal, sungguh kemampuan berpikir manusia sangatlah terbatas. Manusia sungguh sangat lemah dalam segala hal. Hanya saja, kesombongan diri terkadang menguasai sehingga tingkah laku keangkuhan memegang peranan besar yang menyebabkannya lupa diri, bahkan ingkar terhadap keberadaan Tuhan yang menciptakannya.Allah Ta’ala berfirman menggambarkan sifat angkuh manusia yang ada pada Qarun,اِذْ قَالَ لَهٗ قَوْمُهٗ لَا تَفْرَحْ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِيْنَ“(Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, ‘Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.’” (QS. Al-Qasas: 76)Kedua, Jabariyyah. Kelompok yang berpandangan bahwa manusia tidak memiliki kemauan, dan tidak memiliki kemampuan untuk mengupayakan kebaikan atau kekuatan. Mereka terpaksa oleh takdir karena tidak memiliki kemampuan untuk memilih dan berusaha untuk takdirnya[5].Dampak dari keyakinan keliru ini adalah keengganan mereka untuk berikhtiar dalam rangka mendapatkan kebaikan dunia maupun akhiratnya. Mereka keliru dalam memahami takdir, memasrahkan segalanya terjadi tanpa berupaya untuk melakukan yang terbaik untuk dirinya. Padahal, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk senantiasa berikhtiar mendapatkan keridaan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’ad: 11)Baca juga: Memahami Macam-macam TakdirKaidah-kaidah dalam memahami takdirTidak berandai-andaiRasulullah shalllallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْئٌ فَلاَ تَقُل:ْ لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ، كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ“…Jika sesuatu menimpamu, maka janganlah mengatakan, ‘Seandainya aku melakukannya, niscaya akan demikian dan demikian.’ Tetapi ucapkanlah, ‘Sudah menjadi ketentuan Allah, dan apa yang dikehendakinya pasti terjadi… .’” (HR. Muslim no. 2664 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)[6]Sikap seorang yang beriman terhadap segala hal yang telah terjadi bukanlah dengan berandai-andai apabila hal tersebut tidak terjadi. Ini menunjukkan dangkalnya keimanan terhadap apa yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Iman kepada takdir adalah iman terhadap kemahabesaran Allah dan bahwasanya Allah Ta’ala melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya dan dengan segala hikmah yang terkandung di dalamnya.Semua telah Allah Ta’ala tetapkanNabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ“Allah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)Dalam hadis lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ“Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, ‘Tulislah!’ Pena berkata, ‘Apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.’” (HR. Tirmidzi no. 2155. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Allah Ta’ala telah menetapkan segala hal yang terjadi pada alam semesta ini. Mulai dari hal yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi. Kita wajib meyakini hal ini dengan haqqul yaqin dengan tanpa mengesampingkan pengetahuan bahwa segala yang telah Allah Ta’ala tetapkan mengandung hikmah yang dapat kita petik untuk kebaikan kehidupan kita di masa yang akan datang. Keyakinan tersebut juga harus disertai dengan ikhtiar yang maksimal untuk meraih keridaan Allah Ta’ala di setiap waktu.Memahami maksud ketetapan Allah Ta’alaAllah Ta’ala berfirman,مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23)“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al Hadid: 22-23)Perhatikanlah! Orang yang mengerti dan memahami bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan segala hal yang terjadi dalam lauh mahfudz, maka akan menjadi hamba Allah yang lebih bijak dalam menghadapi segala problematika kehidupan. Apabila ia ditimpa cobaan, ia tidak larut dalam duka karena pemahamannya tentang takdir Allah. Sedangkan apabila ia mendapatkan nikmat, ia tidak berbangga diri karena pemahaman yang benar tentang rukun iman yang ke-6.Apa yang telah ditetapkan Allah tidak akan keliruNabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ“Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.” (HR. Ahmad 5: 185. Syekh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini qawiy (kuat))Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa segala hal yang telah Allah Ta’ala tetapkan tersebut wajib kita yakini bahwa banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. Oleh karenanya, hadis di atas menggambarkan kemahaadilan Allah Ta’ala terhadap apa yang telah ditetapkan-Nya. Karena segala hal yang menjadi takdir kita (baik berupa kenikmatan maupun ujian/cobaan), tidak akan pernah meleset dari kehidupan kita. Begitu pula sebaliknya. Subhanallah!Maksud dari pemahaman menyimpangSaudaraku, memahami lebih jauh maksud dari penyimpangan-penyimpangan manusia terhadap rukun iman, maka akan kita dapati bahwa sebagian besar mereka justru hanya menginginkan kebebasan dalam menjalani kehidupan di dunia yang fana ini.Kebebasan yang mereka sendiri tetapkan definisinya. Bebas melakukan segala hal, baik secara fisik maupun nonfisik. Padahal, disadari atau tidak, kebebasan tersebut sebenarnya merupakan belenggu dari hawa nafsu mereka sendiri. Mereka berpikir berdasarkan logika dan hawa nafsu, sehingga meskipun mereka menganggap bahwa mereka telah meraih kebebasan dalam berpikir dan bertingkah laku, sesungguhnya merekalah yang terikat dan terbelenggu.Sebaliknya, orang yang beriman dan memahami rukun iman dengan benar sebagaimana pemahaman yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan praktik yang dicontohkan oleh para generasi terbaik, yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhum, maka itulah kebebasan sejati. Bebas menjadi hamba Allah Ta’ala dengan segala ketentuan-ketentuan-Nya yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kebebasan yang membawa seorang hamba menuju keridaan dan jannah-Nya Allah Ta’ala.Wallahua’lamBaca juga: Bagaimana Bermuamalah Dengan Orang-Orang Yang Menyimpang?***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]  Lihat kitab Syarah Qawaidul Saba min Al-Kitab At-Tadmuriyah, karya Syekh Yusuf Al-Ghafish, hal. 13.[2] Lihat kitab Takmilatul Ma’ajim Al-Arabiyah, karya Reinhart Dozy, hal. 188.[3] Lihat kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah, karya Ibnu Katsir, 1: 11.[4] Lihat kitab Majallatu Al-Buhuts Al-Islamiyyah, hal. 235.[5] Lihat kitab Mujmal Ushul Ahli As Sunnah, karya Nashir Al-‘Aql, hal. 21.[6] Lihat kitab Majmu Al-Fatawa, karya Ibnu Taimiyah, 8: 73.Tags: penyimpanganrukun imantakdir

Jin Ifrit adalah Jin yang Buruk lagi Keji

Banyak dalil baik dari Al-Qur’an maupun sunah yang menunjukkan keberadaan makhluk Allah dari kalangan Jin. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Mereka memiliki karakter yang sama sekaligus berbeda dengan manusia. Sama dalam hal Allah memberikan keduanya akal dan kemampuan memilih dan berbeda dalam hal asal penciptaan. Jin diciptakan dari api dan manusia tercipta dari tanah. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla,وَخَلَقَ الْجَاۤنَّ مِنْ مَّارِجٍ مِّنْ نَّارٍۚ“Dia juga telah menciptakan jin dari nyala api tanpa asap.” (QS. Ar-Rahman: 15)Nabi Muhammad ‘alaihissalam bersabda tentang penciptaan manusia, jin, dan malaikat,خلقت الملائكة من نور وخلق الجان من نار وخلق آدم مما وصف لكم“Malaikat diciptakan dari cahaya, sementara jin dari api, dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan ciri-cirinya kepada kalian.” (HR. Muslim no. 5314)Dengan dalil-dalil yang ada, maka setiap muslim harus mempercayai keberadaan jin. Bahkan, tidak ada yang meragukannya, kecuali dari kalangan orang-orang ateis. Yang mana mereka membangun keyakinan mereka hanya dari angan-angan semata. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu mengatakan,كل ما ينفونه من هذا ليس معهم فيه إلا الجهل المحض ، فهم يكذبون بما لم يحيطوا بعلمه ولم يأتهم تأويله مع أن عامه أساطين الفلاسفة كانوا يقرون بهذه الأشياء ، وكذلك أئمة الأطباء كأبقراط وغيره : يقر بالجن ، ويجعل الصرع نوعين : صرعا من الخِلْط ، وصرعا من الجن ” انتهى من “الرد على المنطقيين“Setiap orang yang mengingkari wujud jin tidak ada alasan lain bagi mereka, kecuali kebodohan mereka yang mengakar. Mereka mendustakan sesuatu yang tidak mereka ilmui dan penjelasannya tidak datang kepada mereka. Bahkan, banyak pembesar filsuf mengakui keberadaan jin. Begitu pun para dokter semisal Hippocrates mengakui akan keberadaan jin. Yang mana ia menjadikan penyakit epilepsi ada dua macam: adakalanya disebabkan oleh kerusakan saraf dan ada yang disebabkan oleh gangguan jin.” (Ar-Radd ‘alal Manthiqiyyin, hal. 470)Namun, tentu saja mempercayai dengan berdasar yang dijelaskan dalam Al-Qur’an, as-sunnah, dan penjelasan para ulama berbeda dengan mengarang-ngarang atau mengada-adakan keterangan palsu tentangnya.Jin IfritPenciptaannya yang Allah serupakan dengan manusia (dalam hal diberikannya akal dan pilihan baik atau buruk). Jin juga memiliki nama sebagaimana manusia memiliki nama. Di antara nama-nama jin adalah Ifrit (عفريت) yang memiliki bentuk jamak Afaariit (عفاريت). Ini merupakan jenis jin yang paling buruk.Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu mengatakan,قال ابن عبد البر: الجن على مراتب فالأصل جني، فإن خالط الإنس قيل عامر، ومن تعرض منهم للصبيان قيل أرواح، ومن زاد في الخبث قيل شيطان، فإن زاد على ذلك قيل مارد، فإن زاد على ذلك قيل عفريت، وقال الراغب: العفريت من الجن هو العارم الخبيث، وإذا بولغ فيه قيل عفريت نفريت.“Ibnu Abdil Barr rahimahullahu mengatakan, ‘Jin ada beberapa tingkatan. Bentuk aslinya disebut Jin. Yang tinggal bersama dengan manusia disebut Aamiir. Yang gemar mengganggu anak-anak disebut Arwaah. Yang keji disebut Syaithan. Yang lebih keji lagi disebut Maarid. Dan yang paling buruk disebut Ifrit.’ Ar-Raghib Al-Ashfahani mengatakan, ‘Ifrit adalah golongan jin yang buruk lagi keji. Yang lebih dari itu disebut Ifrit Nafrit.’” (Fathul Baary)Baca juga: Apakah Iblis termasuk Golongan Malaikat ataukah Jin?***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.idTags: jinjin ifritnama jin

Jin Ifrit adalah Jin yang Buruk lagi Keji

Banyak dalil baik dari Al-Qur’an maupun sunah yang menunjukkan keberadaan makhluk Allah dari kalangan Jin. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Mereka memiliki karakter yang sama sekaligus berbeda dengan manusia. Sama dalam hal Allah memberikan keduanya akal dan kemampuan memilih dan berbeda dalam hal asal penciptaan. Jin diciptakan dari api dan manusia tercipta dari tanah. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla,وَخَلَقَ الْجَاۤنَّ مِنْ مَّارِجٍ مِّنْ نَّارٍۚ“Dia juga telah menciptakan jin dari nyala api tanpa asap.” (QS. Ar-Rahman: 15)Nabi Muhammad ‘alaihissalam bersabda tentang penciptaan manusia, jin, dan malaikat,خلقت الملائكة من نور وخلق الجان من نار وخلق آدم مما وصف لكم“Malaikat diciptakan dari cahaya, sementara jin dari api, dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan ciri-cirinya kepada kalian.” (HR. Muslim no. 5314)Dengan dalil-dalil yang ada, maka setiap muslim harus mempercayai keberadaan jin. Bahkan, tidak ada yang meragukannya, kecuali dari kalangan orang-orang ateis. Yang mana mereka membangun keyakinan mereka hanya dari angan-angan semata. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu mengatakan,كل ما ينفونه من هذا ليس معهم فيه إلا الجهل المحض ، فهم يكذبون بما لم يحيطوا بعلمه ولم يأتهم تأويله مع أن عامه أساطين الفلاسفة كانوا يقرون بهذه الأشياء ، وكذلك أئمة الأطباء كأبقراط وغيره : يقر بالجن ، ويجعل الصرع نوعين : صرعا من الخِلْط ، وصرعا من الجن ” انتهى من “الرد على المنطقيين“Setiap orang yang mengingkari wujud jin tidak ada alasan lain bagi mereka, kecuali kebodohan mereka yang mengakar. Mereka mendustakan sesuatu yang tidak mereka ilmui dan penjelasannya tidak datang kepada mereka. Bahkan, banyak pembesar filsuf mengakui keberadaan jin. Begitu pun para dokter semisal Hippocrates mengakui akan keberadaan jin. Yang mana ia menjadikan penyakit epilepsi ada dua macam: adakalanya disebabkan oleh kerusakan saraf dan ada yang disebabkan oleh gangguan jin.” (Ar-Radd ‘alal Manthiqiyyin, hal. 470)Namun, tentu saja mempercayai dengan berdasar yang dijelaskan dalam Al-Qur’an, as-sunnah, dan penjelasan para ulama berbeda dengan mengarang-ngarang atau mengada-adakan keterangan palsu tentangnya.Jin IfritPenciptaannya yang Allah serupakan dengan manusia (dalam hal diberikannya akal dan pilihan baik atau buruk). Jin juga memiliki nama sebagaimana manusia memiliki nama. Di antara nama-nama jin adalah Ifrit (عفريت) yang memiliki bentuk jamak Afaariit (عفاريت). Ini merupakan jenis jin yang paling buruk.Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu mengatakan,قال ابن عبد البر: الجن على مراتب فالأصل جني، فإن خالط الإنس قيل عامر، ومن تعرض منهم للصبيان قيل أرواح، ومن زاد في الخبث قيل شيطان، فإن زاد على ذلك قيل مارد، فإن زاد على ذلك قيل عفريت، وقال الراغب: العفريت من الجن هو العارم الخبيث، وإذا بولغ فيه قيل عفريت نفريت.“Ibnu Abdil Barr rahimahullahu mengatakan, ‘Jin ada beberapa tingkatan. Bentuk aslinya disebut Jin. Yang tinggal bersama dengan manusia disebut Aamiir. Yang gemar mengganggu anak-anak disebut Arwaah. Yang keji disebut Syaithan. Yang lebih keji lagi disebut Maarid. Dan yang paling buruk disebut Ifrit.’ Ar-Raghib Al-Ashfahani mengatakan, ‘Ifrit adalah golongan jin yang buruk lagi keji. Yang lebih dari itu disebut Ifrit Nafrit.’” (Fathul Baary)Baca juga: Apakah Iblis termasuk Golongan Malaikat ataukah Jin?***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.idTags: jinjin ifritnama jin
Banyak dalil baik dari Al-Qur’an maupun sunah yang menunjukkan keberadaan makhluk Allah dari kalangan Jin. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Mereka memiliki karakter yang sama sekaligus berbeda dengan manusia. Sama dalam hal Allah memberikan keduanya akal dan kemampuan memilih dan berbeda dalam hal asal penciptaan. Jin diciptakan dari api dan manusia tercipta dari tanah. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla,وَخَلَقَ الْجَاۤنَّ مِنْ مَّارِجٍ مِّنْ نَّارٍۚ“Dia juga telah menciptakan jin dari nyala api tanpa asap.” (QS. Ar-Rahman: 15)Nabi Muhammad ‘alaihissalam bersabda tentang penciptaan manusia, jin, dan malaikat,خلقت الملائكة من نور وخلق الجان من نار وخلق آدم مما وصف لكم“Malaikat diciptakan dari cahaya, sementara jin dari api, dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan ciri-cirinya kepada kalian.” (HR. Muslim no. 5314)Dengan dalil-dalil yang ada, maka setiap muslim harus mempercayai keberadaan jin. Bahkan, tidak ada yang meragukannya, kecuali dari kalangan orang-orang ateis. Yang mana mereka membangun keyakinan mereka hanya dari angan-angan semata. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu mengatakan,كل ما ينفونه من هذا ليس معهم فيه إلا الجهل المحض ، فهم يكذبون بما لم يحيطوا بعلمه ولم يأتهم تأويله مع أن عامه أساطين الفلاسفة كانوا يقرون بهذه الأشياء ، وكذلك أئمة الأطباء كأبقراط وغيره : يقر بالجن ، ويجعل الصرع نوعين : صرعا من الخِلْط ، وصرعا من الجن ” انتهى من “الرد على المنطقيين“Setiap orang yang mengingkari wujud jin tidak ada alasan lain bagi mereka, kecuali kebodohan mereka yang mengakar. Mereka mendustakan sesuatu yang tidak mereka ilmui dan penjelasannya tidak datang kepada mereka. Bahkan, banyak pembesar filsuf mengakui keberadaan jin. Begitu pun para dokter semisal Hippocrates mengakui akan keberadaan jin. Yang mana ia menjadikan penyakit epilepsi ada dua macam: adakalanya disebabkan oleh kerusakan saraf dan ada yang disebabkan oleh gangguan jin.” (Ar-Radd ‘alal Manthiqiyyin, hal. 470)Namun, tentu saja mempercayai dengan berdasar yang dijelaskan dalam Al-Qur’an, as-sunnah, dan penjelasan para ulama berbeda dengan mengarang-ngarang atau mengada-adakan keterangan palsu tentangnya.Jin IfritPenciptaannya yang Allah serupakan dengan manusia (dalam hal diberikannya akal dan pilihan baik atau buruk). Jin juga memiliki nama sebagaimana manusia memiliki nama. Di antara nama-nama jin adalah Ifrit (عفريت) yang memiliki bentuk jamak Afaariit (عفاريت). Ini merupakan jenis jin yang paling buruk.Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu mengatakan,قال ابن عبد البر: الجن على مراتب فالأصل جني، فإن خالط الإنس قيل عامر، ومن تعرض منهم للصبيان قيل أرواح، ومن زاد في الخبث قيل شيطان، فإن زاد على ذلك قيل مارد، فإن زاد على ذلك قيل عفريت، وقال الراغب: العفريت من الجن هو العارم الخبيث، وإذا بولغ فيه قيل عفريت نفريت.“Ibnu Abdil Barr rahimahullahu mengatakan, ‘Jin ada beberapa tingkatan. Bentuk aslinya disebut Jin. Yang tinggal bersama dengan manusia disebut Aamiir. Yang gemar mengganggu anak-anak disebut Arwaah. Yang keji disebut Syaithan. Yang lebih keji lagi disebut Maarid. Dan yang paling buruk disebut Ifrit.’ Ar-Raghib Al-Ashfahani mengatakan, ‘Ifrit adalah golongan jin yang buruk lagi keji. Yang lebih dari itu disebut Ifrit Nafrit.’” (Fathul Baary)Baca juga: Apakah Iblis termasuk Golongan Malaikat ataukah Jin?***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.idTags: jinjin ifritnama jin


Banyak dalil baik dari Al-Qur’an maupun sunah yang menunjukkan keberadaan makhluk Allah dari kalangan Jin. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Mereka memiliki karakter yang sama sekaligus berbeda dengan manusia. Sama dalam hal Allah memberikan keduanya akal dan kemampuan memilih dan berbeda dalam hal asal penciptaan. Jin diciptakan dari api dan manusia tercipta dari tanah. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla,وَخَلَقَ الْجَاۤنَّ مِنْ مَّارِجٍ مِّنْ نَّارٍۚ“Dia juga telah menciptakan jin dari nyala api tanpa asap.” (QS. Ar-Rahman: 15)Nabi Muhammad ‘alaihissalam bersabda tentang penciptaan manusia, jin, dan malaikat,خلقت الملائكة من نور وخلق الجان من نار وخلق آدم مما وصف لكم“Malaikat diciptakan dari cahaya, sementara jin dari api, dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan ciri-cirinya kepada kalian.” (HR. Muslim no. 5314)Dengan dalil-dalil yang ada, maka setiap muslim harus mempercayai keberadaan jin. Bahkan, tidak ada yang meragukannya, kecuali dari kalangan orang-orang ateis. Yang mana mereka membangun keyakinan mereka hanya dari angan-angan semata. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu mengatakan,كل ما ينفونه من هذا ليس معهم فيه إلا الجهل المحض ، فهم يكذبون بما لم يحيطوا بعلمه ولم يأتهم تأويله مع أن عامه أساطين الفلاسفة كانوا يقرون بهذه الأشياء ، وكذلك أئمة الأطباء كأبقراط وغيره : يقر بالجن ، ويجعل الصرع نوعين : صرعا من الخِلْط ، وصرعا من الجن ” انتهى من “الرد على المنطقيين“Setiap orang yang mengingkari wujud jin tidak ada alasan lain bagi mereka, kecuali kebodohan mereka yang mengakar. Mereka mendustakan sesuatu yang tidak mereka ilmui dan penjelasannya tidak datang kepada mereka. Bahkan, banyak pembesar filsuf mengakui keberadaan jin. Begitu pun para dokter semisal Hippocrates mengakui akan keberadaan jin. Yang mana ia menjadikan penyakit epilepsi ada dua macam: adakalanya disebabkan oleh kerusakan saraf dan ada yang disebabkan oleh gangguan jin.” (Ar-Radd ‘alal Manthiqiyyin, hal. 470)Namun, tentu saja mempercayai dengan berdasar yang dijelaskan dalam Al-Qur’an, as-sunnah, dan penjelasan para ulama berbeda dengan mengarang-ngarang atau mengada-adakan keterangan palsu tentangnya.Jin IfritPenciptaannya yang Allah serupakan dengan manusia (dalam hal diberikannya akal dan pilihan baik atau buruk). Jin juga memiliki nama sebagaimana manusia memiliki nama. Di antara nama-nama jin adalah Ifrit (عفريت) yang memiliki bentuk jamak Afaariit (عفاريت). Ini merupakan jenis jin yang paling buruk.Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu mengatakan,قال ابن عبد البر: الجن على مراتب فالأصل جني، فإن خالط الإنس قيل عامر، ومن تعرض منهم للصبيان قيل أرواح، ومن زاد في الخبث قيل شيطان، فإن زاد على ذلك قيل مارد، فإن زاد على ذلك قيل عفريت، وقال الراغب: العفريت من الجن هو العارم الخبيث، وإذا بولغ فيه قيل عفريت نفريت.“Ibnu Abdil Barr rahimahullahu mengatakan, ‘Jin ada beberapa tingkatan. Bentuk aslinya disebut Jin. Yang tinggal bersama dengan manusia disebut Aamiir. Yang gemar mengganggu anak-anak disebut Arwaah. Yang keji disebut Syaithan. Yang lebih keji lagi disebut Maarid. Dan yang paling buruk disebut Ifrit.’ Ar-Raghib Al-Ashfahani mengatakan, ‘Ifrit adalah golongan jin yang buruk lagi keji. Yang lebih dari itu disebut Ifrit Nafrit.’” (Fathul Baary)Baca juga: Apakah Iblis termasuk Golongan Malaikat ataukah Jin?***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.idTags: jinjin ifritnama jin

Teks Khotbah Jumat: Buah Manis Istigfar

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan menjalankan perintah-Nya ataupun dengan menjauhi larangan-larangan-Nya. Allah Ta’ala telah menjanjikan kepada orang-orang yang bertakwa surga-Nya yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, surga yang semua kenikmatan dunia tidak ada bandingannya dengannya. Allah Ta’ala berfirman,لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَاَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِالْعِبَادِۚ“Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta rida Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran: 15)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Di antara amal ibadah yang paling agung, yang harus dijaga oleh seorang hamba adalah berzikir dan mengingat Allah Ta’ala. Karena zikir akan menumbuhkan rasa cinta dan takut kepada Allah Ta’ala, serta zikir juga menjadikan seorang hamba berkeinginan kuat untuk bisa melihat-Nya dan mendapatkan surga-Nya.Di antara zikir yang harus senantiasa dijaga dan dirutinkan oleh seorang hamba adalah istigfar dan memohon ampunan kepada Allah Ta’ala. Karena istigfar akan mendekatkan seorang hamba kepada surga serta merupakan ciri khas para Nabi ‘alaihimus salam dan orang-orang saleh.Kalimat istigfar adalah kalimat yang diterima Nabi Adam dari Tuhan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,فَتَلَقّٰٓى اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 37)Di surah Al-A’raf, Allah sebutkan lafaz istigfar Nabi Adam dan istrinya,قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Keduanya (Adam dan Hawa) berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.’” (QS. Al-A’raf: 22)Dengan istigfar semisal ini pula, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdoa. Dan begitu pula kaum mukminin pengikut mereka.Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala, istigfar adalah tugas sepanjang kehidupan serta rutinitas seorang mukmin sepanjang harinya. Ia mulai pagi harinya dengan beristigfar dan ia tutup harinya juga dengan istigfar. Saat hendak tidur, ia beristigfar dan saat bangun dari tidur, ia juga beristigfar. Saat bangun dan berdiri dari sebuah majelis, ia beristigfar dan setelah melakukan sebuah kemaksiatan pun, ia tak lupa untuk beristigfar.Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala menyadarkan hamba-hamba-Nya akan pentingnya beristigfar ini. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi,يا عِبَادِي، إنَّكُمْ تُخْطِئُونَ باللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian selalu berbuat salah siang dan malam, sedangkan Aku senantiasa  mengampuni semua perbuatan dosa. Maka, mintalah ampunan kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.” (HR. Muslim no. 2577)Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala juga memotivasi hamba-hamba-Nya yang banyak melakukan dosa untuk senantiasa optimis dan tidak putus asa di dalam mengejar ampunan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Jemaah Jumat yang semoga senantiasa meminta ampun kepada Allah Ta’ala,Allah Ta’ala menyanjung dan memuji hamba-Nya yang kembali kepada-Nya, bertobat kepada-Nya, meninggalkan keburukan-keburukan, dan berjalan kembali kepada-Nya dengan banyak beristigfar dengan sebaik-baik sanjungan dan pujian. Allah Ta’ala jadikan mereka di antara salah satu hamba-Nya yang bertakwa, hamba-Nya yang berhak mendapatkan surga yang luasnya melebih luas langit dan bumi ini. Allah Ta’ala berfirman,وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)Pada dua ayat berikutnya, Allah Ta’ala tegaskan kembali sifat Al-Muttaqiin (orang-orang yang bertakwa). Mereka adalah orang yang paling cepat sadar, bertobat dan kembali kepada Allah saat melakukan kemaksiatan dan perbuatan dosa,وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)Terutamanya, apabila istigfar ini dilakukan di sepertiga malam terakhir, karena Allah Ta’ala berfirman,وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ“Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (QS. Az-Zariyat: 18)Di sepertiga malam terakhir inilah Allah Ta’ala turun ke langit dunia sembari berfirman,مَن يَدْعُونِي فأسْتَجِيبَ له، مَن يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَن يَسْتَغْفِرُنِي فأغْفِرَ له.“Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku beri. Siapa yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 6321)Wallahu a’lam bisshawab.أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.Baca juga: Perbedaan Istighfar Dan TaubatKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala,Istigfar merupakan tanda keimanan dan keteguhan. Tanda kuatnya Islam seseorang dan keyakinannya serta merupakan tanda kedekatan seorang hamba kepada Rabbnya. Istigfar membuahkan hal-hal manis teruntuk siapapun dari kita yang merutinkannya. Siapapun yang Allah inginkan untuknya kebaikan, maka akan Allah jadikan lisannya senantiasa berzikir dan beristigfar. Dengan istigfar inilah, hati seorang hamba menjadi lapang dan tenang, dan dengannya pula lisan seseorang menjadi lembut.Istigfar menjadi sebab utama sampainya ilmu kepada diri kita, memperbanyak kuantitas keilmuan kita, serta menguatkannya. Allah Ta’ala kaitkan antara keberkahan ilmu dengan istigfar dalam firman-Nya,إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا *وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا“Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Dan janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang yang berkhianat, dan mohonkanlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’ : 105-106)Wahai hamba-hamba Allah sekalian,Istigfar yang kita rutinkan akan menguatkan badan, meluaskan rezeki serta memperbanyak harta dan keturunan. Menjadi sebab turunnya hujan, tumbuhnya tanaman, banyaknya buah-buahan, stabilnya ekonomi sebuah masyarakat dan nyamannya kehidupan. Allah Ta’ala berfirman,وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ“Dan (Hud berkata), ‘Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.’” (QS. Hud: 52)Dalam surah Nuh, Allah Ta’ala juga berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ  * يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ * وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًاۗ”Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”” (QS. Nuh: 10-12)Jemaah yang semoga senantiasa dalam rahmat Allah Ta’ala,Istigfar merupakan sebab utama datangnya rahmat Allah kepada kita. Allah Ta’ala berfirman,لَوْلَا تَسْتَغْفِرُوْنَ اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ“Mengapa kamu tidak memohon ampunan kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat?” (QS. An-Naml: 46)Yang terakhir, istigfar merupakan penghalang antara diri kita dan azab Allah Ta’ala. Allah Ta’ala sebutkan hal ini dalam surah Al-Anfal ayat 33,وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ“Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (QS. Al-Anfal: 33)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggal dunia. Tidak ada yang tersisa untuk kita sesuatu yang dapat menghindarkan diri dari hukuman Allah dan azabnya, kecuali dengan tobat dan istigfar, memohon ampunan kepada Allah Ta’ala.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Contohlah dan teladanilah Nabi kita, suri teladan kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau bersabda,واللَّهِ إنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وأَتُوبُ إلَيْهِ في اليَومِ أكْثَرَ مِن سَبْعِينَ مَرَّةً“Demi Allah, sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari no. 6037)Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik dan petunjuk kepada kita semua agar senantiasa beristigfar dan  memohon ampunan kepada-Nya. Semoga Allah Ta’ala jadikan sebagai salah satu hamba-Nya yang sukses meraih ampunan-Nya.Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, tutupilah aib kami, lapangkanlah dada kami dan mudahkanlah seluruh urusan kami.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى“Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku, dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku sendiri. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupun sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan.”فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca juga: Membuka Pintu Rizki dengan Istighfar***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: buah istigfaristigfarkhotbah jumat

Teks Khotbah Jumat: Buah Manis Istigfar

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan menjalankan perintah-Nya ataupun dengan menjauhi larangan-larangan-Nya. Allah Ta’ala telah menjanjikan kepada orang-orang yang bertakwa surga-Nya yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, surga yang semua kenikmatan dunia tidak ada bandingannya dengannya. Allah Ta’ala berfirman,لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَاَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِالْعِبَادِۚ“Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta rida Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran: 15)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Di antara amal ibadah yang paling agung, yang harus dijaga oleh seorang hamba adalah berzikir dan mengingat Allah Ta’ala. Karena zikir akan menumbuhkan rasa cinta dan takut kepada Allah Ta’ala, serta zikir juga menjadikan seorang hamba berkeinginan kuat untuk bisa melihat-Nya dan mendapatkan surga-Nya.Di antara zikir yang harus senantiasa dijaga dan dirutinkan oleh seorang hamba adalah istigfar dan memohon ampunan kepada Allah Ta’ala. Karena istigfar akan mendekatkan seorang hamba kepada surga serta merupakan ciri khas para Nabi ‘alaihimus salam dan orang-orang saleh.Kalimat istigfar adalah kalimat yang diterima Nabi Adam dari Tuhan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,فَتَلَقّٰٓى اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 37)Di surah Al-A’raf, Allah sebutkan lafaz istigfar Nabi Adam dan istrinya,قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Keduanya (Adam dan Hawa) berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.’” (QS. Al-A’raf: 22)Dengan istigfar semisal ini pula, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdoa. Dan begitu pula kaum mukminin pengikut mereka.Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala, istigfar adalah tugas sepanjang kehidupan serta rutinitas seorang mukmin sepanjang harinya. Ia mulai pagi harinya dengan beristigfar dan ia tutup harinya juga dengan istigfar. Saat hendak tidur, ia beristigfar dan saat bangun dari tidur, ia juga beristigfar. Saat bangun dan berdiri dari sebuah majelis, ia beristigfar dan setelah melakukan sebuah kemaksiatan pun, ia tak lupa untuk beristigfar.Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala menyadarkan hamba-hamba-Nya akan pentingnya beristigfar ini. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi,يا عِبَادِي، إنَّكُمْ تُخْطِئُونَ باللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian selalu berbuat salah siang dan malam, sedangkan Aku senantiasa  mengampuni semua perbuatan dosa. Maka, mintalah ampunan kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.” (HR. Muslim no. 2577)Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala juga memotivasi hamba-hamba-Nya yang banyak melakukan dosa untuk senantiasa optimis dan tidak putus asa di dalam mengejar ampunan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Jemaah Jumat yang semoga senantiasa meminta ampun kepada Allah Ta’ala,Allah Ta’ala menyanjung dan memuji hamba-Nya yang kembali kepada-Nya, bertobat kepada-Nya, meninggalkan keburukan-keburukan, dan berjalan kembali kepada-Nya dengan banyak beristigfar dengan sebaik-baik sanjungan dan pujian. Allah Ta’ala jadikan mereka di antara salah satu hamba-Nya yang bertakwa, hamba-Nya yang berhak mendapatkan surga yang luasnya melebih luas langit dan bumi ini. Allah Ta’ala berfirman,وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)Pada dua ayat berikutnya, Allah Ta’ala tegaskan kembali sifat Al-Muttaqiin (orang-orang yang bertakwa). Mereka adalah orang yang paling cepat sadar, bertobat dan kembali kepada Allah saat melakukan kemaksiatan dan perbuatan dosa,وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)Terutamanya, apabila istigfar ini dilakukan di sepertiga malam terakhir, karena Allah Ta’ala berfirman,وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ“Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (QS. Az-Zariyat: 18)Di sepertiga malam terakhir inilah Allah Ta’ala turun ke langit dunia sembari berfirman,مَن يَدْعُونِي فأسْتَجِيبَ له، مَن يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَن يَسْتَغْفِرُنِي فأغْفِرَ له.“Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku beri. Siapa yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 6321)Wallahu a’lam bisshawab.أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.Baca juga: Perbedaan Istighfar Dan TaubatKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala,Istigfar merupakan tanda keimanan dan keteguhan. Tanda kuatnya Islam seseorang dan keyakinannya serta merupakan tanda kedekatan seorang hamba kepada Rabbnya. Istigfar membuahkan hal-hal manis teruntuk siapapun dari kita yang merutinkannya. Siapapun yang Allah inginkan untuknya kebaikan, maka akan Allah jadikan lisannya senantiasa berzikir dan beristigfar. Dengan istigfar inilah, hati seorang hamba menjadi lapang dan tenang, dan dengannya pula lisan seseorang menjadi lembut.Istigfar menjadi sebab utama sampainya ilmu kepada diri kita, memperbanyak kuantitas keilmuan kita, serta menguatkannya. Allah Ta’ala kaitkan antara keberkahan ilmu dengan istigfar dalam firman-Nya,إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا *وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا“Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Dan janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang yang berkhianat, dan mohonkanlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’ : 105-106)Wahai hamba-hamba Allah sekalian,Istigfar yang kita rutinkan akan menguatkan badan, meluaskan rezeki serta memperbanyak harta dan keturunan. Menjadi sebab turunnya hujan, tumbuhnya tanaman, banyaknya buah-buahan, stabilnya ekonomi sebuah masyarakat dan nyamannya kehidupan. Allah Ta’ala berfirman,وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ“Dan (Hud berkata), ‘Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.’” (QS. Hud: 52)Dalam surah Nuh, Allah Ta’ala juga berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ  * يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ * وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًاۗ”Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”” (QS. Nuh: 10-12)Jemaah yang semoga senantiasa dalam rahmat Allah Ta’ala,Istigfar merupakan sebab utama datangnya rahmat Allah kepada kita. Allah Ta’ala berfirman,لَوْلَا تَسْتَغْفِرُوْنَ اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ“Mengapa kamu tidak memohon ampunan kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat?” (QS. An-Naml: 46)Yang terakhir, istigfar merupakan penghalang antara diri kita dan azab Allah Ta’ala. Allah Ta’ala sebutkan hal ini dalam surah Al-Anfal ayat 33,وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ“Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (QS. Al-Anfal: 33)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggal dunia. Tidak ada yang tersisa untuk kita sesuatu yang dapat menghindarkan diri dari hukuman Allah dan azabnya, kecuali dengan tobat dan istigfar, memohon ampunan kepada Allah Ta’ala.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Contohlah dan teladanilah Nabi kita, suri teladan kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau bersabda,واللَّهِ إنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وأَتُوبُ إلَيْهِ في اليَومِ أكْثَرَ مِن سَبْعِينَ مَرَّةً“Demi Allah, sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari no. 6037)Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik dan petunjuk kepada kita semua agar senantiasa beristigfar dan  memohon ampunan kepada-Nya. Semoga Allah Ta’ala jadikan sebagai salah satu hamba-Nya yang sukses meraih ampunan-Nya.Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, tutupilah aib kami, lapangkanlah dada kami dan mudahkanlah seluruh urusan kami.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى“Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku, dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku sendiri. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupun sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan.”فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca juga: Membuka Pintu Rizki dengan Istighfar***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: buah istigfaristigfarkhotbah jumat
Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan menjalankan perintah-Nya ataupun dengan menjauhi larangan-larangan-Nya. Allah Ta’ala telah menjanjikan kepada orang-orang yang bertakwa surga-Nya yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, surga yang semua kenikmatan dunia tidak ada bandingannya dengannya. Allah Ta’ala berfirman,لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَاَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِالْعِبَادِۚ“Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta rida Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran: 15)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Di antara amal ibadah yang paling agung, yang harus dijaga oleh seorang hamba adalah berzikir dan mengingat Allah Ta’ala. Karena zikir akan menumbuhkan rasa cinta dan takut kepada Allah Ta’ala, serta zikir juga menjadikan seorang hamba berkeinginan kuat untuk bisa melihat-Nya dan mendapatkan surga-Nya.Di antara zikir yang harus senantiasa dijaga dan dirutinkan oleh seorang hamba adalah istigfar dan memohon ampunan kepada Allah Ta’ala. Karena istigfar akan mendekatkan seorang hamba kepada surga serta merupakan ciri khas para Nabi ‘alaihimus salam dan orang-orang saleh.Kalimat istigfar adalah kalimat yang diterima Nabi Adam dari Tuhan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,فَتَلَقّٰٓى اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 37)Di surah Al-A’raf, Allah sebutkan lafaz istigfar Nabi Adam dan istrinya,قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Keduanya (Adam dan Hawa) berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.’” (QS. Al-A’raf: 22)Dengan istigfar semisal ini pula, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdoa. Dan begitu pula kaum mukminin pengikut mereka.Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala, istigfar adalah tugas sepanjang kehidupan serta rutinitas seorang mukmin sepanjang harinya. Ia mulai pagi harinya dengan beristigfar dan ia tutup harinya juga dengan istigfar. Saat hendak tidur, ia beristigfar dan saat bangun dari tidur, ia juga beristigfar. Saat bangun dan berdiri dari sebuah majelis, ia beristigfar dan setelah melakukan sebuah kemaksiatan pun, ia tak lupa untuk beristigfar.Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala menyadarkan hamba-hamba-Nya akan pentingnya beristigfar ini. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi,يا عِبَادِي، إنَّكُمْ تُخْطِئُونَ باللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian selalu berbuat salah siang dan malam, sedangkan Aku senantiasa  mengampuni semua perbuatan dosa. Maka, mintalah ampunan kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.” (HR. Muslim no. 2577)Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala juga memotivasi hamba-hamba-Nya yang banyak melakukan dosa untuk senantiasa optimis dan tidak putus asa di dalam mengejar ampunan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Jemaah Jumat yang semoga senantiasa meminta ampun kepada Allah Ta’ala,Allah Ta’ala menyanjung dan memuji hamba-Nya yang kembali kepada-Nya, bertobat kepada-Nya, meninggalkan keburukan-keburukan, dan berjalan kembali kepada-Nya dengan banyak beristigfar dengan sebaik-baik sanjungan dan pujian. Allah Ta’ala jadikan mereka di antara salah satu hamba-Nya yang bertakwa, hamba-Nya yang berhak mendapatkan surga yang luasnya melebih luas langit dan bumi ini. Allah Ta’ala berfirman,وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)Pada dua ayat berikutnya, Allah Ta’ala tegaskan kembali sifat Al-Muttaqiin (orang-orang yang bertakwa). Mereka adalah orang yang paling cepat sadar, bertobat dan kembali kepada Allah saat melakukan kemaksiatan dan perbuatan dosa,وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)Terutamanya, apabila istigfar ini dilakukan di sepertiga malam terakhir, karena Allah Ta’ala berfirman,وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ“Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (QS. Az-Zariyat: 18)Di sepertiga malam terakhir inilah Allah Ta’ala turun ke langit dunia sembari berfirman,مَن يَدْعُونِي فأسْتَجِيبَ له، مَن يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَن يَسْتَغْفِرُنِي فأغْفِرَ له.“Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku beri. Siapa yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 6321)Wallahu a’lam bisshawab.أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.Baca juga: Perbedaan Istighfar Dan TaubatKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala,Istigfar merupakan tanda keimanan dan keteguhan. Tanda kuatnya Islam seseorang dan keyakinannya serta merupakan tanda kedekatan seorang hamba kepada Rabbnya. Istigfar membuahkan hal-hal manis teruntuk siapapun dari kita yang merutinkannya. Siapapun yang Allah inginkan untuknya kebaikan, maka akan Allah jadikan lisannya senantiasa berzikir dan beristigfar. Dengan istigfar inilah, hati seorang hamba menjadi lapang dan tenang, dan dengannya pula lisan seseorang menjadi lembut.Istigfar menjadi sebab utama sampainya ilmu kepada diri kita, memperbanyak kuantitas keilmuan kita, serta menguatkannya. Allah Ta’ala kaitkan antara keberkahan ilmu dengan istigfar dalam firman-Nya,إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا *وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا“Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Dan janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang yang berkhianat, dan mohonkanlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’ : 105-106)Wahai hamba-hamba Allah sekalian,Istigfar yang kita rutinkan akan menguatkan badan, meluaskan rezeki serta memperbanyak harta dan keturunan. Menjadi sebab turunnya hujan, tumbuhnya tanaman, banyaknya buah-buahan, stabilnya ekonomi sebuah masyarakat dan nyamannya kehidupan. Allah Ta’ala berfirman,وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ“Dan (Hud berkata), ‘Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.’” (QS. Hud: 52)Dalam surah Nuh, Allah Ta’ala juga berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ  * يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ * وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًاۗ”Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”” (QS. Nuh: 10-12)Jemaah yang semoga senantiasa dalam rahmat Allah Ta’ala,Istigfar merupakan sebab utama datangnya rahmat Allah kepada kita. Allah Ta’ala berfirman,لَوْلَا تَسْتَغْفِرُوْنَ اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ“Mengapa kamu tidak memohon ampunan kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat?” (QS. An-Naml: 46)Yang terakhir, istigfar merupakan penghalang antara diri kita dan azab Allah Ta’ala. Allah Ta’ala sebutkan hal ini dalam surah Al-Anfal ayat 33,وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ“Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (QS. Al-Anfal: 33)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggal dunia. Tidak ada yang tersisa untuk kita sesuatu yang dapat menghindarkan diri dari hukuman Allah dan azabnya, kecuali dengan tobat dan istigfar, memohon ampunan kepada Allah Ta’ala.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Contohlah dan teladanilah Nabi kita, suri teladan kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau bersabda,واللَّهِ إنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وأَتُوبُ إلَيْهِ في اليَومِ أكْثَرَ مِن سَبْعِينَ مَرَّةً“Demi Allah, sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari no. 6037)Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik dan petunjuk kepada kita semua agar senantiasa beristigfar dan  memohon ampunan kepada-Nya. Semoga Allah Ta’ala jadikan sebagai salah satu hamba-Nya yang sukses meraih ampunan-Nya.Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, tutupilah aib kami, lapangkanlah dada kami dan mudahkanlah seluruh urusan kami.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى“Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku, dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku sendiri. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupun sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan.”فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca juga: Membuka Pintu Rizki dengan Istighfar***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: buah istigfaristigfarkhotbah jumat


Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan menjalankan perintah-Nya ataupun dengan menjauhi larangan-larangan-Nya. Allah Ta’ala telah menjanjikan kepada orang-orang yang bertakwa surga-Nya yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, surga yang semua kenikmatan dunia tidak ada bandingannya dengannya. Allah Ta’ala berfirman,لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَاَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِالْعِبَادِۚ“Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta rida Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran: 15)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Di antara amal ibadah yang paling agung, yang harus dijaga oleh seorang hamba adalah berzikir dan mengingat Allah Ta’ala. Karena zikir akan menumbuhkan rasa cinta dan takut kepada Allah Ta’ala, serta zikir juga menjadikan seorang hamba berkeinginan kuat untuk bisa melihat-Nya dan mendapatkan surga-Nya.Di antara zikir yang harus senantiasa dijaga dan dirutinkan oleh seorang hamba adalah istigfar dan memohon ampunan kepada Allah Ta’ala. Karena istigfar akan mendekatkan seorang hamba kepada surga serta merupakan ciri khas para Nabi ‘alaihimus salam dan orang-orang saleh.Kalimat istigfar adalah kalimat yang diterima Nabi Adam dari Tuhan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,فَتَلَقّٰٓى اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 37)Di surah Al-A’raf, Allah sebutkan lafaz istigfar Nabi Adam dan istrinya,قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Keduanya (Adam dan Hawa) berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.’” (QS. Al-A’raf: 22)Dengan istigfar semisal ini pula, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdoa. Dan begitu pula kaum mukminin pengikut mereka.Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala, istigfar adalah tugas sepanjang kehidupan serta rutinitas seorang mukmin sepanjang harinya. Ia mulai pagi harinya dengan beristigfar dan ia tutup harinya juga dengan istigfar. Saat hendak tidur, ia beristigfar dan saat bangun dari tidur, ia juga beristigfar. Saat bangun dan berdiri dari sebuah majelis, ia beristigfar dan setelah melakukan sebuah kemaksiatan pun, ia tak lupa untuk beristigfar.Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala menyadarkan hamba-hamba-Nya akan pentingnya beristigfar ini. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi,يا عِبَادِي، إنَّكُمْ تُخْطِئُونَ باللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian selalu berbuat salah siang dan malam, sedangkan Aku senantiasa  mengampuni semua perbuatan dosa. Maka, mintalah ampunan kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.” (HR. Muslim no. 2577)Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala juga memotivasi hamba-hamba-Nya yang banyak melakukan dosa untuk senantiasa optimis dan tidak putus asa di dalam mengejar ampunan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Jemaah Jumat yang semoga senantiasa meminta ampun kepada Allah Ta’ala,Allah Ta’ala menyanjung dan memuji hamba-Nya yang kembali kepada-Nya, bertobat kepada-Nya, meninggalkan keburukan-keburukan, dan berjalan kembali kepada-Nya dengan banyak beristigfar dengan sebaik-baik sanjungan dan pujian. Allah Ta’ala jadikan mereka di antara salah satu hamba-Nya yang bertakwa, hamba-Nya yang berhak mendapatkan surga yang luasnya melebih luas langit dan bumi ini. Allah Ta’ala berfirman,وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)Pada dua ayat berikutnya, Allah Ta’ala tegaskan kembali sifat Al-Muttaqiin (orang-orang yang bertakwa). Mereka adalah orang yang paling cepat sadar, bertobat dan kembali kepada Allah saat melakukan kemaksiatan dan perbuatan dosa,وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)Terutamanya, apabila istigfar ini dilakukan di sepertiga malam terakhir, karena Allah Ta’ala berfirman,وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ“Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (QS. Az-Zariyat: 18)Di sepertiga malam terakhir inilah Allah Ta’ala turun ke langit dunia sembari berfirman,مَن يَدْعُونِي فأسْتَجِيبَ له، مَن يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَن يَسْتَغْفِرُنِي فأغْفِرَ له.“Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku beri. Siapa yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 6321)Wallahu a’lam bisshawab.أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.Baca juga: Perbedaan Istighfar Dan TaubatKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala,Istigfar merupakan tanda keimanan dan keteguhan. Tanda kuatnya Islam seseorang dan keyakinannya serta merupakan tanda kedekatan seorang hamba kepada Rabbnya. Istigfar membuahkan hal-hal manis teruntuk siapapun dari kita yang merutinkannya. Siapapun yang Allah inginkan untuknya kebaikan, maka akan Allah jadikan lisannya senantiasa berzikir dan beristigfar. Dengan istigfar inilah, hati seorang hamba menjadi lapang dan tenang, dan dengannya pula lisan seseorang menjadi lembut.Istigfar menjadi sebab utama sampainya ilmu kepada diri kita, memperbanyak kuantitas keilmuan kita, serta menguatkannya. Allah Ta’ala kaitkan antara keberkahan ilmu dengan istigfar dalam firman-Nya,إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا *وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا“Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Dan janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang yang berkhianat, dan mohonkanlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’ : 105-106)Wahai hamba-hamba Allah sekalian,Istigfar yang kita rutinkan akan menguatkan badan, meluaskan rezeki serta memperbanyak harta dan keturunan. Menjadi sebab turunnya hujan, tumbuhnya tanaman, banyaknya buah-buahan, stabilnya ekonomi sebuah masyarakat dan nyamannya kehidupan. Allah Ta’ala berfirman,وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ“Dan (Hud berkata), ‘Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.’” (QS. Hud: 52)Dalam surah Nuh, Allah Ta’ala juga berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ  * يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ * وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًاۗ”Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”” (QS. Nuh: 10-12)Jemaah yang semoga senantiasa dalam rahmat Allah Ta’ala,Istigfar merupakan sebab utama datangnya rahmat Allah kepada kita. Allah Ta’ala berfirman,لَوْلَا تَسْتَغْفِرُوْنَ اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ“Mengapa kamu tidak memohon ampunan kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat?” (QS. An-Naml: 46)Yang terakhir, istigfar merupakan penghalang antara diri kita dan azab Allah Ta’ala. Allah Ta’ala sebutkan hal ini dalam surah Al-Anfal ayat 33,وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ“Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (QS. Al-Anfal: 33)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggal dunia. Tidak ada yang tersisa untuk kita sesuatu yang dapat menghindarkan diri dari hukuman Allah dan azabnya, kecuali dengan tobat dan istigfar, memohon ampunan kepada Allah Ta’ala.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,Contohlah dan teladanilah Nabi kita, suri teladan kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau bersabda,واللَّهِ إنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وأَتُوبُ إلَيْهِ في اليَومِ أكْثَرَ مِن سَبْعِينَ مَرَّةً“Demi Allah, sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari no. 6037)Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik dan petunjuk kepada kita semua agar senantiasa beristigfar dan  memohon ampunan kepada-Nya. Semoga Allah Ta’ala jadikan sebagai salah satu hamba-Nya yang sukses meraih ampunan-Nya.Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, tutupilah aib kami, lapangkanlah dada kami dan mudahkanlah seluruh urusan kami.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى“Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku, dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku sendiri. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupun sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan.”فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca juga: Membuka Pintu Rizki dengan Istighfar***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.idTags: buah istigfaristigfarkhotbah jumat

Safar Wanita Tanpa Mahram Dibolehkan dengan Ketentuan dan Syarat, Benarkah?

Bagaimana hukum safar wanita tanpa mahram? Apakah benar safar tersebut dibolehkan dengan syarat tertentu yang ketat?     Daftar Isi tutup 1. Asalnya, Safar Wanita Tanpa Mahram DIHARAMKAN 2. Keadaan yang Membolehkan Wanita Safar Tanpa Mahram 3. Syarat Wanita Boleh Safar Tanpa Mahram 3.1. Referensi:   Asalnya, Safar Wanita Tanpa Mahram DIHARAMKAN Ingat, hukum asalnya safar wanita begitu pula mukimnya wanita tanpa suami atau tanpa mahram pada jarak lebih dari jarak qashar shalat (84 KM) DIHARAMKAN. Larangan ini ditunjukkan dalam hadits Ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لا تسافر امرأة ثلاثاً إلا ومعها محرم “Hendaklah wanita tidak bersafar selama tiga hari kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari, no. 1087 dan Muslim, no. 1238. Imam Bukhari mengeluarkan hadits ini dalam kitab Shalat, Bab “Jarak yang Dibolehkan Mengqashar Shalat”. Hadits ini disebutkan dalam Shahih Muslim pada Kitab Haji, Bab “Safar Wanita Bersama Mahram pada Haji dan Selainnya”). Begitu pula disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, لا يحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر أن تسافر يوماً وليلة ليس معها ذو محرم “Tidaklah halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir bersafar sehari semalam tanpa disertai mahramnya.” (HR. Bukhari, no. 1088 dan Muslim, no. 1339. Imam Bukhari mengeluarkan hadits ini dalam kitab Shalat, Bab “Jarak yang Dibolehkan Mengqashar Shalat”. Hadits ini disebutkan dalam Shahih Muslim pada Kitab Haji, Bab “Safar Wanita Bersama Mahram pada Haji dan Selainnya”) Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لا تسافر المرأة يومين إلا ومعها زوجها أو ذو محرم “Hendaklah wanita tidak bersafar selama dua hari kecuali bersama suami atau mahramnya.” (HR. Bukhari, no. 1197. Imam Bukhari mengeluarkan hadits ini dalam kitab Shalat, Bab “Masjid Baitul Maqdis”). Baca juga: Rincian Lengkap Mengenai Mahram   Keadaan yang Membolehkan Wanita Safar Tanpa Mahram Namun, para ulama bersepakat bahwa safar wanita tanpa mahram atau tanpa suami DIBOLEHKAN dalam beberapa keadaan: Pergi hijrah dari negeri kafir ke negeri Islam. Khawatir pada keadaan diri wanita. Jika ditahan dan berhasil melarikan diri. Melunasi utang dan mengembalikan barang titipan (wadi’ah). Rujuk dari nusyuz (pembangkangan pada suami). Saat safar wajib menjalani ‘iddah ketika suami meninggal dunia atau talak baa-in. Baca juga: Hukum Wanita Bersafar Tanpa Mahram   Syarat Wanita Boleh Safar Tanpa Mahram Bolehnya safar wanita tanpa mahram atau tanpa suami jika ada alasan yang disyariatkan atau diperbolehkan. Syarat yang membolehkan wanita bersafar tanpa mahram atau tanpa suami adalah: Jalan dipenuhi rasa aman. Selamat dari godaan. Safar wanita ditemani oleh wanita yang tsiqqah (terpercaya).  Mengenakan pakaian syari serta memperhatikan akhlak dan adab islami. Safarnya dengan angkutan umum dan ditemani wanita yang terpercaya. Mukim atau menetap dengan wanita terpercaya yang dikenal dengan ketakwaan dan berakhlak yang lurus. Penjelasan di atas diambil dari Fatwa Majlis Al-Ifta’ nomor 92 mengenai hukum safar tanpa mahram, 28/6/1426 H, 4/8/2005 M. Baca juga: Hukum Wanita Bersafar Tanpa Mahram dalam Keadaan Darurat – Al-Imam Abul Hasan bin Baththol dalam Syarh Al-Bukhari (4:532) berkata: Malik, Al-Auza’i, dan Syafii serta jumhur (mayoritas) ulama berpandangan bahwa safar wanita pada haji yang wajib selama bersama wanita yang memberikan rasa aman walaupun tanpa mahram DIBOLEHKAN. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah berhaji dan saat itu ikut pula para wanita yang merupakan tetangganya. Pendapat yang membolehkan ini adalah perkataan ‘Atho’, Sa’id bin Jubair, Ibnu Sirin, Al-Hasan Al-Bashri. Baca juga: Pergi Haji Tanpa Mahram – Kesimpulan, wanita bersafar sebaiknya ditemani oleh suami atau mahramnya, ITU LEBIH AMAN DAN SELAMAT. Baca juga: Rincian Penjelasan Safinatun Naja Mengenai Jamak dan Qashar Shalat Perbedaan Mukim dan Musafir   Referensi: https://www.aliftaa.jo/Decision.aspx?DecisionId=94 https://www.dar-alifta.org/ar/fatawa/11367/سفر-المراة-لاداء-العمرة-والحج-بدون-محرم#:~:text=يجوز%20للمرأة%20السفر%20من%20دون,الح%D9%90يرة%D9%90%20حتى%20تَطُوفَ%20بالبَيت%D9%90%20في – Disusun selama safar dari Soekarno Hatta ke YIA pada Selasa pagi, 10 Dzulqa’dah 1444 H, 30 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfikih safar mahram panduan safar Safar safar tanpa mahram siapakah mahram

Safar Wanita Tanpa Mahram Dibolehkan dengan Ketentuan dan Syarat, Benarkah?

Bagaimana hukum safar wanita tanpa mahram? Apakah benar safar tersebut dibolehkan dengan syarat tertentu yang ketat?     Daftar Isi tutup 1. Asalnya, Safar Wanita Tanpa Mahram DIHARAMKAN 2. Keadaan yang Membolehkan Wanita Safar Tanpa Mahram 3. Syarat Wanita Boleh Safar Tanpa Mahram 3.1. Referensi:   Asalnya, Safar Wanita Tanpa Mahram DIHARAMKAN Ingat, hukum asalnya safar wanita begitu pula mukimnya wanita tanpa suami atau tanpa mahram pada jarak lebih dari jarak qashar shalat (84 KM) DIHARAMKAN. Larangan ini ditunjukkan dalam hadits Ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لا تسافر امرأة ثلاثاً إلا ومعها محرم “Hendaklah wanita tidak bersafar selama tiga hari kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari, no. 1087 dan Muslim, no. 1238. Imam Bukhari mengeluarkan hadits ini dalam kitab Shalat, Bab “Jarak yang Dibolehkan Mengqashar Shalat”. Hadits ini disebutkan dalam Shahih Muslim pada Kitab Haji, Bab “Safar Wanita Bersama Mahram pada Haji dan Selainnya”). Begitu pula disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, لا يحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر أن تسافر يوماً وليلة ليس معها ذو محرم “Tidaklah halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir bersafar sehari semalam tanpa disertai mahramnya.” (HR. Bukhari, no. 1088 dan Muslim, no. 1339. Imam Bukhari mengeluarkan hadits ini dalam kitab Shalat, Bab “Jarak yang Dibolehkan Mengqashar Shalat”. Hadits ini disebutkan dalam Shahih Muslim pada Kitab Haji, Bab “Safar Wanita Bersama Mahram pada Haji dan Selainnya”) Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لا تسافر المرأة يومين إلا ومعها زوجها أو ذو محرم “Hendaklah wanita tidak bersafar selama dua hari kecuali bersama suami atau mahramnya.” (HR. Bukhari, no. 1197. Imam Bukhari mengeluarkan hadits ini dalam kitab Shalat, Bab “Masjid Baitul Maqdis”). Baca juga: Rincian Lengkap Mengenai Mahram   Keadaan yang Membolehkan Wanita Safar Tanpa Mahram Namun, para ulama bersepakat bahwa safar wanita tanpa mahram atau tanpa suami DIBOLEHKAN dalam beberapa keadaan: Pergi hijrah dari negeri kafir ke negeri Islam. Khawatir pada keadaan diri wanita. Jika ditahan dan berhasil melarikan diri. Melunasi utang dan mengembalikan barang titipan (wadi’ah). Rujuk dari nusyuz (pembangkangan pada suami). Saat safar wajib menjalani ‘iddah ketika suami meninggal dunia atau talak baa-in. Baca juga: Hukum Wanita Bersafar Tanpa Mahram   Syarat Wanita Boleh Safar Tanpa Mahram Bolehnya safar wanita tanpa mahram atau tanpa suami jika ada alasan yang disyariatkan atau diperbolehkan. Syarat yang membolehkan wanita bersafar tanpa mahram atau tanpa suami adalah: Jalan dipenuhi rasa aman. Selamat dari godaan. Safar wanita ditemani oleh wanita yang tsiqqah (terpercaya).  Mengenakan pakaian syari serta memperhatikan akhlak dan adab islami. Safarnya dengan angkutan umum dan ditemani wanita yang terpercaya. Mukim atau menetap dengan wanita terpercaya yang dikenal dengan ketakwaan dan berakhlak yang lurus. Penjelasan di atas diambil dari Fatwa Majlis Al-Ifta’ nomor 92 mengenai hukum safar tanpa mahram, 28/6/1426 H, 4/8/2005 M. Baca juga: Hukum Wanita Bersafar Tanpa Mahram dalam Keadaan Darurat – Al-Imam Abul Hasan bin Baththol dalam Syarh Al-Bukhari (4:532) berkata: Malik, Al-Auza’i, dan Syafii serta jumhur (mayoritas) ulama berpandangan bahwa safar wanita pada haji yang wajib selama bersama wanita yang memberikan rasa aman walaupun tanpa mahram DIBOLEHKAN. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah berhaji dan saat itu ikut pula para wanita yang merupakan tetangganya. Pendapat yang membolehkan ini adalah perkataan ‘Atho’, Sa’id bin Jubair, Ibnu Sirin, Al-Hasan Al-Bashri. Baca juga: Pergi Haji Tanpa Mahram – Kesimpulan, wanita bersafar sebaiknya ditemani oleh suami atau mahramnya, ITU LEBIH AMAN DAN SELAMAT. Baca juga: Rincian Penjelasan Safinatun Naja Mengenai Jamak dan Qashar Shalat Perbedaan Mukim dan Musafir   Referensi: https://www.aliftaa.jo/Decision.aspx?DecisionId=94 https://www.dar-alifta.org/ar/fatawa/11367/سفر-المراة-لاداء-العمرة-والحج-بدون-محرم#:~:text=يجوز%20للمرأة%20السفر%20من%20دون,الح%D9%90يرة%D9%90%20حتى%20تَطُوفَ%20بالبَيت%D9%90%20في – Disusun selama safar dari Soekarno Hatta ke YIA pada Selasa pagi, 10 Dzulqa’dah 1444 H, 30 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfikih safar mahram panduan safar Safar safar tanpa mahram siapakah mahram
Bagaimana hukum safar wanita tanpa mahram? Apakah benar safar tersebut dibolehkan dengan syarat tertentu yang ketat?     Daftar Isi tutup 1. Asalnya, Safar Wanita Tanpa Mahram DIHARAMKAN 2. Keadaan yang Membolehkan Wanita Safar Tanpa Mahram 3. Syarat Wanita Boleh Safar Tanpa Mahram 3.1. Referensi:   Asalnya, Safar Wanita Tanpa Mahram DIHARAMKAN Ingat, hukum asalnya safar wanita begitu pula mukimnya wanita tanpa suami atau tanpa mahram pada jarak lebih dari jarak qashar shalat (84 KM) DIHARAMKAN. Larangan ini ditunjukkan dalam hadits Ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لا تسافر امرأة ثلاثاً إلا ومعها محرم “Hendaklah wanita tidak bersafar selama tiga hari kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari, no. 1087 dan Muslim, no. 1238. Imam Bukhari mengeluarkan hadits ini dalam kitab Shalat, Bab “Jarak yang Dibolehkan Mengqashar Shalat”. Hadits ini disebutkan dalam Shahih Muslim pada Kitab Haji, Bab “Safar Wanita Bersama Mahram pada Haji dan Selainnya”). Begitu pula disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, لا يحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر أن تسافر يوماً وليلة ليس معها ذو محرم “Tidaklah halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir bersafar sehari semalam tanpa disertai mahramnya.” (HR. Bukhari, no. 1088 dan Muslim, no. 1339. Imam Bukhari mengeluarkan hadits ini dalam kitab Shalat, Bab “Jarak yang Dibolehkan Mengqashar Shalat”. Hadits ini disebutkan dalam Shahih Muslim pada Kitab Haji, Bab “Safar Wanita Bersama Mahram pada Haji dan Selainnya”) Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لا تسافر المرأة يومين إلا ومعها زوجها أو ذو محرم “Hendaklah wanita tidak bersafar selama dua hari kecuali bersama suami atau mahramnya.” (HR. Bukhari, no. 1197. Imam Bukhari mengeluarkan hadits ini dalam kitab Shalat, Bab “Masjid Baitul Maqdis”). Baca juga: Rincian Lengkap Mengenai Mahram   Keadaan yang Membolehkan Wanita Safar Tanpa Mahram Namun, para ulama bersepakat bahwa safar wanita tanpa mahram atau tanpa suami DIBOLEHKAN dalam beberapa keadaan: Pergi hijrah dari negeri kafir ke negeri Islam. Khawatir pada keadaan diri wanita. Jika ditahan dan berhasil melarikan diri. Melunasi utang dan mengembalikan barang titipan (wadi’ah). Rujuk dari nusyuz (pembangkangan pada suami). Saat safar wajib menjalani ‘iddah ketika suami meninggal dunia atau talak baa-in. Baca juga: Hukum Wanita Bersafar Tanpa Mahram   Syarat Wanita Boleh Safar Tanpa Mahram Bolehnya safar wanita tanpa mahram atau tanpa suami jika ada alasan yang disyariatkan atau diperbolehkan. Syarat yang membolehkan wanita bersafar tanpa mahram atau tanpa suami adalah: Jalan dipenuhi rasa aman. Selamat dari godaan. Safar wanita ditemani oleh wanita yang tsiqqah (terpercaya).  Mengenakan pakaian syari serta memperhatikan akhlak dan adab islami. Safarnya dengan angkutan umum dan ditemani wanita yang terpercaya. Mukim atau menetap dengan wanita terpercaya yang dikenal dengan ketakwaan dan berakhlak yang lurus. Penjelasan di atas diambil dari Fatwa Majlis Al-Ifta’ nomor 92 mengenai hukum safar tanpa mahram, 28/6/1426 H, 4/8/2005 M. Baca juga: Hukum Wanita Bersafar Tanpa Mahram dalam Keadaan Darurat – Al-Imam Abul Hasan bin Baththol dalam Syarh Al-Bukhari (4:532) berkata: Malik, Al-Auza’i, dan Syafii serta jumhur (mayoritas) ulama berpandangan bahwa safar wanita pada haji yang wajib selama bersama wanita yang memberikan rasa aman walaupun tanpa mahram DIBOLEHKAN. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah berhaji dan saat itu ikut pula para wanita yang merupakan tetangganya. Pendapat yang membolehkan ini adalah perkataan ‘Atho’, Sa’id bin Jubair, Ibnu Sirin, Al-Hasan Al-Bashri. Baca juga: Pergi Haji Tanpa Mahram – Kesimpulan, wanita bersafar sebaiknya ditemani oleh suami atau mahramnya, ITU LEBIH AMAN DAN SELAMAT. Baca juga: Rincian Penjelasan Safinatun Naja Mengenai Jamak dan Qashar Shalat Perbedaan Mukim dan Musafir   Referensi: https://www.aliftaa.jo/Decision.aspx?DecisionId=94 https://www.dar-alifta.org/ar/fatawa/11367/سفر-المراة-لاداء-العمرة-والحج-بدون-محرم#:~:text=يجوز%20للمرأة%20السفر%20من%20دون,الح%D9%90يرة%D9%90%20حتى%20تَطُوفَ%20بالبَيت%D9%90%20في – Disusun selama safar dari Soekarno Hatta ke YIA pada Selasa pagi, 10 Dzulqa’dah 1444 H, 30 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfikih safar mahram panduan safar Safar safar tanpa mahram siapakah mahram


Bagaimana hukum safar wanita tanpa mahram? Apakah benar safar tersebut dibolehkan dengan syarat tertentu yang ketat?     Daftar Isi tutup 1. Asalnya, Safar Wanita Tanpa Mahram DIHARAMKAN 2. Keadaan yang Membolehkan Wanita Safar Tanpa Mahram 3. Syarat Wanita Boleh Safar Tanpa Mahram 3.1. Referensi:   Asalnya, Safar Wanita Tanpa Mahram DIHARAMKAN Ingat, hukum asalnya safar wanita begitu pula mukimnya wanita tanpa suami atau tanpa mahram pada jarak lebih dari jarak qashar shalat (84 KM) DIHARAMKAN. Larangan ini ditunjukkan dalam hadits Ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لا تسافر امرأة ثلاثاً إلا ومعها محرم “Hendaklah wanita tidak bersafar selama tiga hari kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari, no. 1087 dan Muslim, no. 1238. Imam Bukhari mengeluarkan hadits ini dalam kitab Shalat, Bab “Jarak yang Dibolehkan Mengqashar Shalat”. Hadits ini disebutkan dalam Shahih Muslim pada Kitab Haji, Bab “Safar Wanita Bersama Mahram pada Haji dan Selainnya”). Begitu pula disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, لا يحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر أن تسافر يوماً وليلة ليس معها ذو محرم “Tidaklah halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir bersafar sehari semalam tanpa disertai mahramnya.” (HR. Bukhari, no. 1088 dan Muslim, no. 1339. Imam Bukhari mengeluarkan hadits ini dalam kitab Shalat, Bab “Jarak yang Dibolehkan Mengqashar Shalat”. Hadits ini disebutkan dalam Shahih Muslim pada Kitab Haji, Bab “Safar Wanita Bersama Mahram pada Haji dan Selainnya”) Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لا تسافر المرأة يومين إلا ومعها زوجها أو ذو محرم “Hendaklah wanita tidak bersafar selama dua hari kecuali bersama suami atau mahramnya.” (HR. Bukhari, no. 1197. Imam Bukhari mengeluarkan hadits ini dalam kitab Shalat, Bab “Masjid Baitul Maqdis”). Baca juga: Rincian Lengkap Mengenai Mahram   Keadaan yang Membolehkan Wanita Safar Tanpa Mahram Namun, para ulama bersepakat bahwa safar wanita tanpa mahram atau tanpa suami DIBOLEHKAN dalam beberapa keadaan: Pergi hijrah dari negeri kafir ke negeri Islam. Khawatir pada keadaan diri wanita. Jika ditahan dan berhasil melarikan diri. Melunasi utang dan mengembalikan barang titipan (wadi’ah). Rujuk dari nusyuz (pembangkangan pada suami). Saat safar wajib menjalani ‘iddah ketika suami meninggal dunia atau talak baa-in. Baca juga: Hukum Wanita Bersafar Tanpa Mahram   Syarat Wanita Boleh Safar Tanpa Mahram Bolehnya safar wanita tanpa mahram atau tanpa suami jika ada alasan yang disyariatkan atau diperbolehkan. Syarat yang membolehkan wanita bersafar tanpa mahram atau tanpa suami adalah: Jalan dipenuhi rasa aman. Selamat dari godaan. Safar wanita ditemani oleh wanita yang tsiqqah (terpercaya).  Mengenakan pakaian syari serta memperhatikan akhlak dan adab islami. Safarnya dengan angkutan umum dan ditemani wanita yang terpercaya. Mukim atau menetap dengan wanita terpercaya yang dikenal dengan ketakwaan dan berakhlak yang lurus. Penjelasan di atas diambil dari Fatwa Majlis Al-Ifta’ nomor 92 mengenai hukum safar tanpa mahram, 28/6/1426 H, 4/8/2005 M. Baca juga: Hukum Wanita Bersafar Tanpa Mahram dalam Keadaan Darurat – Al-Imam Abul Hasan bin Baththol dalam Syarh Al-Bukhari (4:532) berkata: Malik, Al-Auza’i, dan Syafii serta jumhur (mayoritas) ulama berpandangan bahwa safar wanita pada haji yang wajib selama bersama wanita yang memberikan rasa aman walaupun tanpa mahram DIBOLEHKAN. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah berhaji dan saat itu ikut pula para wanita yang merupakan tetangganya. Pendapat yang membolehkan ini adalah perkataan ‘Atho’, Sa’id bin Jubair, Ibnu Sirin, Al-Hasan Al-Bashri. Baca juga: Pergi Haji Tanpa Mahram – Kesimpulan, wanita bersafar sebaiknya ditemani oleh suami atau mahramnya, ITU LEBIH AMAN DAN SELAMAT. Baca juga: Rincian Penjelasan Safinatun Naja Mengenai Jamak dan Qashar Shalat Perbedaan Mukim dan Musafir   Referensi: https://www.aliftaa.jo/Decision.aspx?DecisionId=94 https://www.dar-alifta.org/ar/fatawa/11367/سفر-المراة-لاداء-العمرة-والحج-بدون-محرم#:~:text=يجوز%20للمرأة%20السفر%20من%20دون,الح%D9%90يرة%D9%90%20حتى%20تَطُوفَ%20بالبَيت%D9%90%20في – Disusun selama safar dari Soekarno Hatta ke YIA pada Selasa pagi, 10 Dzulqa’dah 1444 H, 30 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfikih safar mahram panduan safar Safar safar tanpa mahram siapakah mahram

Mengenal Sidratulmuntaha

Sikap seorang mukmin terhadap berita gaib yang dikabarkan kepadanya adalah mengimani sebagaimana yang tertuang di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Termasuk ketika Allah ‘Azza Wajalla menyebutkan tentang lafaz Sidratulmuntaha di dalam firman-Nya,عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى“(yaitu ketika) di Sidratulmuntaha.” (QS. An-Najm: 14)Ayat ini masih berkaitan dengan rentetan perjalanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dalam isra dan mikraj. Yakni, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melihat Jibril ‘alaihis salam dalam wujud aslinya sebanyak dua kali, ketika pertama kali mendapatkan wahyu dan ketika di Sidratulmuntaha.Secara harfiah, yang dimaksud dengan sidr adalah syajaratun nabiq (شجرة النبق) atau pohon bidara sebagaimana yang dikenal luas oleh bangsa Arab. Dan sidratulmuntaha terletak di langit ketujuh. Yang tidak ada yang mengetahui terhadap apa-apa di baliknya kecuali Allah azza wajalla. Sidratulmuntaha juga disebutkan dalam beberapa hadits shahih yang memberitakan tentang isra mikraj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas,ثم انطلق بي جبريل حتى نأتي سدرة المُنتهى“Kemudian Jibril membersamaiku hingga sampai ke sidratulmuntaha.” (HR. Muslim no. 305)Al-Mawardi rahimahullahu mengemukakan hikmah kenapa Allah memilih jenis pohon ini dibanding pohon lain,لأن السِدرة تختص بثلاثة أوصاف: ظل مديد، وطعم لذيذ، ورائحة ذكية فشابهت الإيمان الذي يجمع قولًا وعملًا ونية؛ فظلها من الإيمان بمنزلة العمل لتجاوزه، وطعمها بمنزلة النية لِكُمُونه، ورائحتها بمنزلة القول لظهوره“Karena sidr memiliki tiga hal spesial: 1) pohonnya rindang, 2) buahnya enak, dan 3) semerbak. Serupa dengan iman yang mengumpulkan antara ucapan, perbuatan, dan niat. Rindangnya pohon ini laksana amal pada iman yang menaungi, buahnya sebagaimana niat, dan semerbaknya seperti ucapan karena yang nampak jelas bagi sekitar.” (Ma’aaniy Al-Qur’an)Daftar Isi Mengapa dinamakan Sidratulmuntaha?Apakah pohon sidr (bidara) di dunia adalah pohon yang diberkahi?!Mengapa dinamakan Sidratulmuntaha?At-Thabari rahhimahullahu menyebutkan dalam kitab tafsirnya,“Para ulama berbeda pendapat tentang kenapa dinamakan sidratulmuntaha dalam 9 pendapat,Pertama: Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Sidratulmuntaha menjadi titik terakhir sesuatu yang jatuh dari atasnya dan puncak dari segala sesuatu di bawahnya.Kedua: Sementara Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan bahwa disebut muntaha karena pengetahuan para Nabi terhenti di titik tersebut dan tersamarkan dari apa-apa yang berada di baliknya.Ketiga: Ad-Dhahhak rahimahullahu berpendapat bahwa disebut dengan muntaha karena amalan terhenti dan tertahan di sana.Keempat: Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa disebut muntaha karena para malaikat dan para Nabi berhenti di sana untuk menghadap Allah.Kelima: Disebutkan pula bahwa disebut Sidratulmuntaha karena roh para syuhada terhenti di sana. Hal ini dikemukakan oleh Ar-Rabi bin Anas rahimahullahu.Keenam: Qatadah berpendapat hal yang serupa dengan Ar Rabi bin Anas dengan menyatakan bahwa karena roh orang beriman terhenti di sana.Ketujuh: Begitu pun dengan Ali bin Thalib berpendapat hal yang mirip.Kedelapan: Ialah pohon yang berada di atas para malaikat pemikul arsy, yang pengetahuan makhluk terhenti padanya.Kesembilan: Disebut demikian karena Zat yang meninggikannya adalah Zat yang teramat mulia.Apakah pohon sidr (bidara) di dunia adalah pohon yang diberkahi?!Tidak ada keutamaan secara khusus yang mengatakan demikian. Akan tetapi, dengan disebutkan bahwa keberadaan pohon di langit ketujuh menyerupai karakteristiknya dan penamaannya cukup menunjukkan sisi keutamaannya. Wallahu a’lam.Baca juga: Mengenal Baitul Makmur: Ka’bah Penduduk Langit***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.idTags: allah di langitlangit ketujuhsidratulmuntaha

Mengenal Sidratulmuntaha

Sikap seorang mukmin terhadap berita gaib yang dikabarkan kepadanya adalah mengimani sebagaimana yang tertuang di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Termasuk ketika Allah ‘Azza Wajalla menyebutkan tentang lafaz Sidratulmuntaha di dalam firman-Nya,عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى“(yaitu ketika) di Sidratulmuntaha.” (QS. An-Najm: 14)Ayat ini masih berkaitan dengan rentetan perjalanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dalam isra dan mikraj. Yakni, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melihat Jibril ‘alaihis salam dalam wujud aslinya sebanyak dua kali, ketika pertama kali mendapatkan wahyu dan ketika di Sidratulmuntaha.Secara harfiah, yang dimaksud dengan sidr adalah syajaratun nabiq (شجرة النبق) atau pohon bidara sebagaimana yang dikenal luas oleh bangsa Arab. Dan sidratulmuntaha terletak di langit ketujuh. Yang tidak ada yang mengetahui terhadap apa-apa di baliknya kecuali Allah azza wajalla. Sidratulmuntaha juga disebutkan dalam beberapa hadits shahih yang memberitakan tentang isra mikraj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas,ثم انطلق بي جبريل حتى نأتي سدرة المُنتهى“Kemudian Jibril membersamaiku hingga sampai ke sidratulmuntaha.” (HR. Muslim no. 305)Al-Mawardi rahimahullahu mengemukakan hikmah kenapa Allah memilih jenis pohon ini dibanding pohon lain,لأن السِدرة تختص بثلاثة أوصاف: ظل مديد، وطعم لذيذ، ورائحة ذكية فشابهت الإيمان الذي يجمع قولًا وعملًا ونية؛ فظلها من الإيمان بمنزلة العمل لتجاوزه، وطعمها بمنزلة النية لِكُمُونه، ورائحتها بمنزلة القول لظهوره“Karena sidr memiliki tiga hal spesial: 1) pohonnya rindang, 2) buahnya enak, dan 3) semerbak. Serupa dengan iman yang mengumpulkan antara ucapan, perbuatan, dan niat. Rindangnya pohon ini laksana amal pada iman yang menaungi, buahnya sebagaimana niat, dan semerbaknya seperti ucapan karena yang nampak jelas bagi sekitar.” (Ma’aaniy Al-Qur’an)Daftar Isi Mengapa dinamakan Sidratulmuntaha?Apakah pohon sidr (bidara) di dunia adalah pohon yang diberkahi?!Mengapa dinamakan Sidratulmuntaha?At-Thabari rahhimahullahu menyebutkan dalam kitab tafsirnya,“Para ulama berbeda pendapat tentang kenapa dinamakan sidratulmuntaha dalam 9 pendapat,Pertama: Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Sidratulmuntaha menjadi titik terakhir sesuatu yang jatuh dari atasnya dan puncak dari segala sesuatu di bawahnya.Kedua: Sementara Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan bahwa disebut muntaha karena pengetahuan para Nabi terhenti di titik tersebut dan tersamarkan dari apa-apa yang berada di baliknya.Ketiga: Ad-Dhahhak rahimahullahu berpendapat bahwa disebut dengan muntaha karena amalan terhenti dan tertahan di sana.Keempat: Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa disebut muntaha karena para malaikat dan para Nabi berhenti di sana untuk menghadap Allah.Kelima: Disebutkan pula bahwa disebut Sidratulmuntaha karena roh para syuhada terhenti di sana. Hal ini dikemukakan oleh Ar-Rabi bin Anas rahimahullahu.Keenam: Qatadah berpendapat hal yang serupa dengan Ar Rabi bin Anas dengan menyatakan bahwa karena roh orang beriman terhenti di sana.Ketujuh: Begitu pun dengan Ali bin Thalib berpendapat hal yang mirip.Kedelapan: Ialah pohon yang berada di atas para malaikat pemikul arsy, yang pengetahuan makhluk terhenti padanya.Kesembilan: Disebut demikian karena Zat yang meninggikannya adalah Zat yang teramat mulia.Apakah pohon sidr (bidara) di dunia adalah pohon yang diberkahi?!Tidak ada keutamaan secara khusus yang mengatakan demikian. Akan tetapi, dengan disebutkan bahwa keberadaan pohon di langit ketujuh menyerupai karakteristiknya dan penamaannya cukup menunjukkan sisi keutamaannya. Wallahu a’lam.Baca juga: Mengenal Baitul Makmur: Ka’bah Penduduk Langit***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.idTags: allah di langitlangit ketujuhsidratulmuntaha
Sikap seorang mukmin terhadap berita gaib yang dikabarkan kepadanya adalah mengimani sebagaimana yang tertuang di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Termasuk ketika Allah ‘Azza Wajalla menyebutkan tentang lafaz Sidratulmuntaha di dalam firman-Nya,عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى“(yaitu ketika) di Sidratulmuntaha.” (QS. An-Najm: 14)Ayat ini masih berkaitan dengan rentetan perjalanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dalam isra dan mikraj. Yakni, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melihat Jibril ‘alaihis salam dalam wujud aslinya sebanyak dua kali, ketika pertama kali mendapatkan wahyu dan ketika di Sidratulmuntaha.Secara harfiah, yang dimaksud dengan sidr adalah syajaratun nabiq (شجرة النبق) atau pohon bidara sebagaimana yang dikenal luas oleh bangsa Arab. Dan sidratulmuntaha terletak di langit ketujuh. Yang tidak ada yang mengetahui terhadap apa-apa di baliknya kecuali Allah azza wajalla. Sidratulmuntaha juga disebutkan dalam beberapa hadits shahih yang memberitakan tentang isra mikraj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas,ثم انطلق بي جبريل حتى نأتي سدرة المُنتهى“Kemudian Jibril membersamaiku hingga sampai ke sidratulmuntaha.” (HR. Muslim no. 305)Al-Mawardi rahimahullahu mengemukakan hikmah kenapa Allah memilih jenis pohon ini dibanding pohon lain,لأن السِدرة تختص بثلاثة أوصاف: ظل مديد، وطعم لذيذ، ورائحة ذكية فشابهت الإيمان الذي يجمع قولًا وعملًا ونية؛ فظلها من الإيمان بمنزلة العمل لتجاوزه، وطعمها بمنزلة النية لِكُمُونه، ورائحتها بمنزلة القول لظهوره“Karena sidr memiliki tiga hal spesial: 1) pohonnya rindang, 2) buahnya enak, dan 3) semerbak. Serupa dengan iman yang mengumpulkan antara ucapan, perbuatan, dan niat. Rindangnya pohon ini laksana amal pada iman yang menaungi, buahnya sebagaimana niat, dan semerbaknya seperti ucapan karena yang nampak jelas bagi sekitar.” (Ma’aaniy Al-Qur’an)Daftar Isi Mengapa dinamakan Sidratulmuntaha?Apakah pohon sidr (bidara) di dunia adalah pohon yang diberkahi?!Mengapa dinamakan Sidratulmuntaha?At-Thabari rahhimahullahu menyebutkan dalam kitab tafsirnya,“Para ulama berbeda pendapat tentang kenapa dinamakan sidratulmuntaha dalam 9 pendapat,Pertama: Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Sidratulmuntaha menjadi titik terakhir sesuatu yang jatuh dari atasnya dan puncak dari segala sesuatu di bawahnya.Kedua: Sementara Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan bahwa disebut muntaha karena pengetahuan para Nabi terhenti di titik tersebut dan tersamarkan dari apa-apa yang berada di baliknya.Ketiga: Ad-Dhahhak rahimahullahu berpendapat bahwa disebut dengan muntaha karena amalan terhenti dan tertahan di sana.Keempat: Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa disebut muntaha karena para malaikat dan para Nabi berhenti di sana untuk menghadap Allah.Kelima: Disebutkan pula bahwa disebut Sidratulmuntaha karena roh para syuhada terhenti di sana. Hal ini dikemukakan oleh Ar-Rabi bin Anas rahimahullahu.Keenam: Qatadah berpendapat hal yang serupa dengan Ar Rabi bin Anas dengan menyatakan bahwa karena roh orang beriman terhenti di sana.Ketujuh: Begitu pun dengan Ali bin Thalib berpendapat hal yang mirip.Kedelapan: Ialah pohon yang berada di atas para malaikat pemikul arsy, yang pengetahuan makhluk terhenti padanya.Kesembilan: Disebut demikian karena Zat yang meninggikannya adalah Zat yang teramat mulia.Apakah pohon sidr (bidara) di dunia adalah pohon yang diberkahi?!Tidak ada keutamaan secara khusus yang mengatakan demikian. Akan tetapi, dengan disebutkan bahwa keberadaan pohon di langit ketujuh menyerupai karakteristiknya dan penamaannya cukup menunjukkan sisi keutamaannya. Wallahu a’lam.Baca juga: Mengenal Baitul Makmur: Ka’bah Penduduk Langit***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.idTags: allah di langitlangit ketujuhsidratulmuntaha


Sikap seorang mukmin terhadap berita gaib yang dikabarkan kepadanya adalah mengimani sebagaimana yang tertuang di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Termasuk ketika Allah ‘Azza Wajalla menyebutkan tentang lafaz Sidratulmuntaha di dalam firman-Nya,عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى“(yaitu ketika) di Sidratulmuntaha.” (QS. An-Najm: 14)Ayat ini masih berkaitan dengan rentetan perjalanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dalam isra dan mikraj. Yakni, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melihat Jibril ‘alaihis salam dalam wujud aslinya sebanyak dua kali, ketika pertama kali mendapatkan wahyu dan ketika di Sidratulmuntaha.Secara harfiah, yang dimaksud dengan sidr adalah syajaratun nabiq (شجرة النبق) atau pohon bidara sebagaimana yang dikenal luas oleh bangsa Arab. Dan sidratulmuntaha terletak di langit ketujuh. Yang tidak ada yang mengetahui terhadap apa-apa di baliknya kecuali Allah azza wajalla. Sidratulmuntaha juga disebutkan dalam beberapa hadits shahih yang memberitakan tentang isra mikraj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas,ثم انطلق بي جبريل حتى نأتي سدرة المُنتهى“Kemudian Jibril membersamaiku hingga sampai ke sidratulmuntaha.” (HR. Muslim no. 305)Al-Mawardi rahimahullahu mengemukakan hikmah kenapa Allah memilih jenis pohon ini dibanding pohon lain,لأن السِدرة تختص بثلاثة أوصاف: ظل مديد، وطعم لذيذ، ورائحة ذكية فشابهت الإيمان الذي يجمع قولًا وعملًا ونية؛ فظلها من الإيمان بمنزلة العمل لتجاوزه، وطعمها بمنزلة النية لِكُمُونه، ورائحتها بمنزلة القول لظهوره“Karena sidr memiliki tiga hal spesial: 1) pohonnya rindang, 2) buahnya enak, dan 3) semerbak. Serupa dengan iman yang mengumpulkan antara ucapan, perbuatan, dan niat. Rindangnya pohon ini laksana amal pada iman yang menaungi, buahnya sebagaimana niat, dan semerbaknya seperti ucapan karena yang nampak jelas bagi sekitar.” (Ma’aaniy Al-Qur’an)Daftar Isi Mengapa dinamakan Sidratulmuntaha?Apakah pohon sidr (bidara) di dunia adalah pohon yang diberkahi?!Mengapa dinamakan Sidratulmuntaha?At-Thabari rahhimahullahu menyebutkan dalam kitab tafsirnya,“Para ulama berbeda pendapat tentang kenapa dinamakan sidratulmuntaha dalam 9 pendapat,Pertama: Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Sidratulmuntaha menjadi titik terakhir sesuatu yang jatuh dari atasnya dan puncak dari segala sesuatu di bawahnya.Kedua: Sementara Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan bahwa disebut muntaha karena pengetahuan para Nabi terhenti di titik tersebut dan tersamarkan dari apa-apa yang berada di baliknya.Ketiga: Ad-Dhahhak rahimahullahu berpendapat bahwa disebut dengan muntaha karena amalan terhenti dan tertahan di sana.Keempat: Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa disebut muntaha karena para malaikat dan para Nabi berhenti di sana untuk menghadap Allah.Kelima: Disebutkan pula bahwa disebut Sidratulmuntaha karena roh para syuhada terhenti di sana. Hal ini dikemukakan oleh Ar-Rabi bin Anas rahimahullahu.Keenam: Qatadah berpendapat hal yang serupa dengan Ar Rabi bin Anas dengan menyatakan bahwa karena roh orang beriman terhenti di sana.Ketujuh: Begitu pun dengan Ali bin Thalib berpendapat hal yang mirip.Kedelapan: Ialah pohon yang berada di atas para malaikat pemikul arsy, yang pengetahuan makhluk terhenti padanya.Kesembilan: Disebut demikian karena Zat yang meninggikannya adalah Zat yang teramat mulia.Apakah pohon sidr (bidara) di dunia adalah pohon yang diberkahi?!Tidak ada keutamaan secara khusus yang mengatakan demikian. Akan tetapi, dengan disebutkan bahwa keberadaan pohon di langit ketujuh menyerupai karakteristiknya dan penamaannya cukup menunjukkan sisi keutamaannya. Wallahu a’lam.Baca juga: Mengenal Baitul Makmur: Ka’bah Penduduk Langit***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.idTags: allah di langitlangit ketujuhsidratulmuntaha

Akidah Tentang Melihat Allah di Akhirat

Pertanyaan: Ustadz, mohon dijelaskan apa itu ru’yatullah (melihat Allah). Jazakumullah khayran sebelumnya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursali, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Di antara pokok akidah Ahlussunnah adalah meyakini bahwa orang-orang yang beriman kelak dapat melihat Allah secara langsung dengan mata kepala mereka sendiri di akhirat. Keyakinan ini disebut juga dengan istilah ru’yatullah. Dalil-dalil Ru’yatullah Iman terhadap Ru’yatullah didasari dalil-dalil Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ para ulama. Allah ta’ala berfirman: وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ “Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat” (QS. Al-Qiyamah: 22-23). Allah ta’ala berfirman: عَلَى اْلأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ “Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang” (QS. Al-Muthaffifin: 35). Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini: أي إلى الله عز وجل في مقابلة من زعم فيهم أنهم ضالون وليسوا بضالين بل هم من أولياء الله المقربين ينظرون إلى ربهم في دار كرامته “Maksudnya memandang kepada Allah ‘azza wa jalla. Sebagai ganjaran karena mereka telah dituduh sesat di dunia, padahal mereka tidak sesat. Bahkan mereka adalah wali-wali Allah yang didekatkan kepada-Nya. Mereka memandang kepada Rabb mereka di Surga” (Tafsir Ibnu Katsir). Allah ta’ala berfirman: لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya” (QS. Yunus : 26). Ziyadah dalam ayat ini artinya melihat Allah di akhirat. Disebutkan dalam Tafsir Ath-Thabari: عن أبي بكر الصديق: (للذين أحسنوا الحسنى وزيادة) ، قال: النظر إلى وجه ربهم “Dari Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu’anhu, tentang ayat [Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya]. Abu Bakar mengatakan: ziyadah adalah melihat wajah Allah.” (Tafsir Ath-Thabari, no. 17610). Tafsiran ini diriwayatkan dari banyak sahabat lainnya seperti Abu Musa Al-Asy’ari, Amir bin Sa’ad, Ubay bin Ka’ab, Ka’ab bin Ujrah, Shuhaib Ar Rumi, dan para sahabat lainnya.  Allah ta’ala berfirman: لَهُم مَّايَشَآءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ “Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami adalah tambahannya” (QS. Qaf: 35). Mazid dalam ayat ini artinya melihat Allah di akhirat. Sebagaimana riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu: عن أنسٍ : { ولدينا مزيد } قال : يتجلَّى لهم كلُّ جمعةٍ “Dari Anas, tentang ayat [dan pada sisi Kami adalah tambahannya], Anas berkata: Maksudnya Allah menampakkan diri-Nya kepada penduduk surga setiap hari Jum’at” (HR. Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, dishahihkan Ibnu Taimiyah dalam Majmu Al-Fatawa no. 6/415). Demikian juga dalil-dalil dari As-Sunnah. Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذْ نَظَرَ إلى القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ قالَ: إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَ تَضَامُّوْنَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اْستَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوْا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَصَلاَةٍ قَبْلَ غُرُوْبِهَا فَافْعَلُوْا “Suatu malam kami sedang duduk-duduk bersama di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil memandang ke arah bulan di malam purnama. Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihatNya. Oleh karena itu, jika kalian mampu, untuk tidak mengabaikan shalat sebelum terbit matahari (Subuh) dan shalat sebelum terbenam matahari (Ashar), maka kerjakanlah” (HR. Bukhari no.7434, Muslim no. 633). Dari Shuhaib bin Sinan radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ : يَقُوْلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : تُرِيْدُوْنَ شَيْئًا أَزِيْدُكُمْ؟ فَيَقُولُوْنَ : أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوْهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ : فَيُكْشَفُ الْحِجَابُ فَمَا أُعْطُوْا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ . “Apabila penghuni surga telah masuk surga, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ”Apakah kalian menginginkan sesuatu yang dapat Aku tambahkan?” Mereka menjawab,”Bukankah Engkau telah menjadikan wajah-wajah kami putih berseri? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?” Nabi bersabda,”Maka disingkapkanlah tabir penutup, sehingga tidaklah mereka dianugerahi sesuatu yang lebih mereka senangi dibandingkan anugerah melihat Rabb mereka Azza wa Jalla” (HR. Muslim, no.181). Dalam riwayat dari Jarir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا “Kalian akan melihat Allah dengan mata kepala langsung” (HR. Al-Bukhari no.7435). Demikian juga dalil dari ijma’ ulama. Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah mengatakan: وأجمع أهل الحق واتَّفق أهل التوحيد والصدق – أن الله تعالى يرى في الآخرة كما جاء في كتابه وصح عن رسوله “Ahlul haq dan ahlut tauhid sepakat bahwa Allah ta’ala bisa dilihat di akhirat sebagaimana terdapat dalam Kitab-Nya dan dalam hadits Rasul-Nya yang shahih” (Aqidah Al-Hafizh Abdul Ghani Al-Maqdisi, 58). Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah juga mengatakan: وقد قال بثبوت الرؤية الصحابة والتابعون، وأئمة الإسلام المعروفون بالإمامة في الدين، وأهل الحديث، وسائر طوائف أهل الكلام المنسوبون إلى السنة والجماعة “Para sahabat dan tabi’in telah menetapkan adanya ar-ru’yah. Demikian juga para imam yang dikenal dalam Islam. Demikian juga ahlul hadits dan semua golongan ahlul kalam yang menisbatkan diri pada sunnah dan jama’ah” (Syarah Ath-Thahawiyah, 153). Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan: قد تظاهرت أدلة الكتاب والسنة وإجماع الصحابة، فمن بعدهم من سلف الأمة – على إثبات رؤية الله تعالى في الآخرة للمؤمنين “Telah jelas dalil-dalil Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ sahabat, serta orang-orang setelah mereka dari kalangan salaf yang menetapkan ru’yatullah di akhirat bagi kaum Mukminin” (Syarah Shahih Muslim, 3/15). Sampai di sini telah jelas bahwa akidah tentang kaum Mukminin akan melihat Allah di akhirat adalah akidah yang benar berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah serta disepakati oleh semua ulama Ahlussunnah tanpa ada khilafiyah. Berbeda dengan keyakinan ahlul bid’ah yang mengingkari hal ini. Orang kafir tidak akan pernah melihat Allah Adapun orang kafir, mereka tidak akan pernah melihat Allah. Allah ta’ala berfirman: كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ “Sama sekali tidak! Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) terhalangi dari Rabb mereka di hari ini” (QS. Al-Muthaffifin: 15). Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: ونزل سجين ثم هم يوم القيامة مع ذلك محجوبون عن رؤية ربهم وخالقهم “Mereka (orang-orang kafir) di hari Kiamat akan masuk neraka Sijjin dan selain itu juga akan terhalangi dari melihat Rabb mereka dan pencipta mereka” (Tafsir Ibnu Katsir). Allah tidak dapat dilihat di dunia Adapun di dunia, baik orang mukmin ataupun orang kafir, tidak akan dan tidak mampu melihat Allah ta’ala dengan mata kepala secara langsung. Andaikan Allah menampakkan diri-Nya kepada gunung-gunung, niscaya gunung-gunung tersebut akan hancur. Jika gunung yang besar dan kuat saja demikian, apalagi manusia? Allah ta’ala sebutkan hal ini dalam firman-Nya: وَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ فَلَمَّآ اَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ “Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (Allah) berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.” (QS. Al-A’raf: 143). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: تَعَلَّمُوا أَنَّهُ لَنْ يَرَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَمُوتَ “Ketahuilah bahwa kalian tidak akan bisa melihat Rabb kalian azza wa jalla sampai kalian mati” (HR. Muslim no.169). Dari Aisyah radhiyallahu’anha, ia berkata: مَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَى اللهِ الفِرْيَةَ “Siapa yang mengklaim bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabb-nya di dunia, maka ia telah membuat kedustaan yang besar tentang Allah” (HR. Bukhari no.3234, Muslim no.177). Dan keyakinan ini juga merupakan kesepakatan ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: كل من ادعى أنه رأى ربه بعينيه قبل الموت فدعواه باطلة باتفاق أهل السنة والجماعة “Siapa saja yang mengklaim telah melihat Allah dengan mata kepalanya secara langsung sebelum mati, maka klaim tersebut batil berdasarkan kesepakatan ulama Ahlussunnah wal Jama’ah” (Majmu’ Al-Fatawa, 3/389). Apakah Rasulullah melihat Allah di dunia? Namun terdapat khilaf di antara ulama Ahlussunnah apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat Allah di dunia. Sebagian ulama berpendapat bahwa beliau pernah melihat Allah secara langsung ketika peristiwa Isra Mi’raj dan ini adalah kekhususan beliau.  Namun pendapat yang rajih, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah dengan hatinya, bukan dengan mata kepala beliau yang mulia. Ibnu Abbas radhiyallahu’ahu mengatakan: رَآهُ بِفُؤَادِهِ مَرَّتَيْنِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah dengan hatinya sebanyak dua kali” (HR. Muslim no. 437). Sehingga riwayat ini tidak bertentangan dengan riwayat dari Aisyah di atas. Karena yang diingkari Aisyah adalah melihat dengan mata kepala secara langsung di dunia. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: وفي رواية عنه – يعني ابن عباس – أطلق الرؤية، وهي محمولة على المقيدة بالفؤاد، ومن روى عنه بالبصر فقد أغرب، فإنه لا يصح في ذلك شيء عن الصحابة رضي الله عنهم “Dalam riwayat dari Ibnu Abbas, beliau memutlakkan ru’yah. Maka ini kita bawa kepada melihat dengan hati. Siapa yang mengatakan Nabi melihat Allah langsung dengan mata kepalanya, maka ini pendapat nyeleneh. Dan tidak ada satu pun riwayat yang shahih tentang itu dari para Sahabat radhiallahu’anhum” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/448). Akidah ahlul bid’ah dalam masalah ini Sekte Jahmiyah, Mu’tazilah dan Rafidhah, mengingkari ru’yatullah secara mutlak. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak mungkin bisa dilihat dengan mata kepala manusia baik di dunia ataupun di akhirat. Akidah mereka ini dibangun di atas keyakinan mereka yang menolak untuk menetapkan sifat-sifat bagi Allah ta’ala. Adapun sekte Sufiyah, Hululiyah, dan Ittihadiyah menetapkan ru’yatullah secara mutlak, termasuk di dunia. Mereka mengatakan bahwa Allah bisa dilihat oleh manusia di dunia. Akidah mereka ini dibangun di atas keyakinan mereka yang menyamakan Allah dengan makhluk dan meyakini bersatunya Allah dengan makhluk.  Inilah akidah-akidah ahlul bid’ah yang ekstrem kanan dan ekstrem kiri, serta sangat jauh dari dalil-dalil Al-Qur’an, As-Sunnah serta kesepakatan para ulama dalam masalah ini.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Lurus Dan Rapatkan Shaf, Pahala Ibu Rumah Tangga, Seperti Apa Surga Itu, Doa Bayi Menangis Malam, Makan Mengecap Dalam Islam, Ramuan Penumbuh Jenggot Visited 232 times, 1 visit(s) today Post Views: 328 QRIS donasi Yufid

Akidah Tentang Melihat Allah di Akhirat

Pertanyaan: Ustadz, mohon dijelaskan apa itu ru’yatullah (melihat Allah). Jazakumullah khayran sebelumnya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursali, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Di antara pokok akidah Ahlussunnah adalah meyakini bahwa orang-orang yang beriman kelak dapat melihat Allah secara langsung dengan mata kepala mereka sendiri di akhirat. Keyakinan ini disebut juga dengan istilah ru’yatullah. Dalil-dalil Ru’yatullah Iman terhadap Ru’yatullah didasari dalil-dalil Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ para ulama. Allah ta’ala berfirman: وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ “Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat” (QS. Al-Qiyamah: 22-23). Allah ta’ala berfirman: عَلَى اْلأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ “Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang” (QS. Al-Muthaffifin: 35). Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini: أي إلى الله عز وجل في مقابلة من زعم فيهم أنهم ضالون وليسوا بضالين بل هم من أولياء الله المقربين ينظرون إلى ربهم في دار كرامته “Maksudnya memandang kepada Allah ‘azza wa jalla. Sebagai ganjaran karena mereka telah dituduh sesat di dunia, padahal mereka tidak sesat. Bahkan mereka adalah wali-wali Allah yang didekatkan kepada-Nya. Mereka memandang kepada Rabb mereka di Surga” (Tafsir Ibnu Katsir). Allah ta’ala berfirman: لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya” (QS. Yunus : 26). Ziyadah dalam ayat ini artinya melihat Allah di akhirat. Disebutkan dalam Tafsir Ath-Thabari: عن أبي بكر الصديق: (للذين أحسنوا الحسنى وزيادة) ، قال: النظر إلى وجه ربهم “Dari Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu’anhu, tentang ayat [Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya]. Abu Bakar mengatakan: ziyadah adalah melihat wajah Allah.” (Tafsir Ath-Thabari, no. 17610). Tafsiran ini diriwayatkan dari banyak sahabat lainnya seperti Abu Musa Al-Asy’ari, Amir bin Sa’ad, Ubay bin Ka’ab, Ka’ab bin Ujrah, Shuhaib Ar Rumi, dan para sahabat lainnya.  Allah ta’ala berfirman: لَهُم مَّايَشَآءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ “Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami adalah tambahannya” (QS. Qaf: 35). Mazid dalam ayat ini artinya melihat Allah di akhirat. Sebagaimana riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu: عن أنسٍ : { ولدينا مزيد } قال : يتجلَّى لهم كلُّ جمعةٍ “Dari Anas, tentang ayat [dan pada sisi Kami adalah tambahannya], Anas berkata: Maksudnya Allah menampakkan diri-Nya kepada penduduk surga setiap hari Jum’at” (HR. Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, dishahihkan Ibnu Taimiyah dalam Majmu Al-Fatawa no. 6/415). Demikian juga dalil-dalil dari As-Sunnah. Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذْ نَظَرَ إلى القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ قالَ: إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَ تَضَامُّوْنَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اْستَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوْا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَصَلاَةٍ قَبْلَ غُرُوْبِهَا فَافْعَلُوْا “Suatu malam kami sedang duduk-duduk bersama di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil memandang ke arah bulan di malam purnama. Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihatNya. Oleh karena itu, jika kalian mampu, untuk tidak mengabaikan shalat sebelum terbit matahari (Subuh) dan shalat sebelum terbenam matahari (Ashar), maka kerjakanlah” (HR. Bukhari no.7434, Muslim no. 633). Dari Shuhaib bin Sinan radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ : يَقُوْلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : تُرِيْدُوْنَ شَيْئًا أَزِيْدُكُمْ؟ فَيَقُولُوْنَ : أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوْهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ : فَيُكْشَفُ الْحِجَابُ فَمَا أُعْطُوْا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ . “Apabila penghuni surga telah masuk surga, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ”Apakah kalian menginginkan sesuatu yang dapat Aku tambahkan?” Mereka menjawab,”Bukankah Engkau telah menjadikan wajah-wajah kami putih berseri? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?” Nabi bersabda,”Maka disingkapkanlah tabir penutup, sehingga tidaklah mereka dianugerahi sesuatu yang lebih mereka senangi dibandingkan anugerah melihat Rabb mereka Azza wa Jalla” (HR. Muslim, no.181). Dalam riwayat dari Jarir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا “Kalian akan melihat Allah dengan mata kepala langsung” (HR. Al-Bukhari no.7435). Demikian juga dalil dari ijma’ ulama. Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah mengatakan: وأجمع أهل الحق واتَّفق أهل التوحيد والصدق – أن الله تعالى يرى في الآخرة كما جاء في كتابه وصح عن رسوله “Ahlul haq dan ahlut tauhid sepakat bahwa Allah ta’ala bisa dilihat di akhirat sebagaimana terdapat dalam Kitab-Nya dan dalam hadits Rasul-Nya yang shahih” (Aqidah Al-Hafizh Abdul Ghani Al-Maqdisi, 58). Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah juga mengatakan: وقد قال بثبوت الرؤية الصحابة والتابعون، وأئمة الإسلام المعروفون بالإمامة في الدين، وأهل الحديث، وسائر طوائف أهل الكلام المنسوبون إلى السنة والجماعة “Para sahabat dan tabi’in telah menetapkan adanya ar-ru’yah. Demikian juga para imam yang dikenal dalam Islam. Demikian juga ahlul hadits dan semua golongan ahlul kalam yang menisbatkan diri pada sunnah dan jama’ah” (Syarah Ath-Thahawiyah, 153). Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan: قد تظاهرت أدلة الكتاب والسنة وإجماع الصحابة، فمن بعدهم من سلف الأمة – على إثبات رؤية الله تعالى في الآخرة للمؤمنين “Telah jelas dalil-dalil Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ sahabat, serta orang-orang setelah mereka dari kalangan salaf yang menetapkan ru’yatullah di akhirat bagi kaum Mukminin” (Syarah Shahih Muslim, 3/15). Sampai di sini telah jelas bahwa akidah tentang kaum Mukminin akan melihat Allah di akhirat adalah akidah yang benar berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah serta disepakati oleh semua ulama Ahlussunnah tanpa ada khilafiyah. Berbeda dengan keyakinan ahlul bid’ah yang mengingkari hal ini. Orang kafir tidak akan pernah melihat Allah Adapun orang kafir, mereka tidak akan pernah melihat Allah. Allah ta’ala berfirman: كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ “Sama sekali tidak! Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) terhalangi dari Rabb mereka di hari ini” (QS. Al-Muthaffifin: 15). Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: ونزل سجين ثم هم يوم القيامة مع ذلك محجوبون عن رؤية ربهم وخالقهم “Mereka (orang-orang kafir) di hari Kiamat akan masuk neraka Sijjin dan selain itu juga akan terhalangi dari melihat Rabb mereka dan pencipta mereka” (Tafsir Ibnu Katsir). Allah tidak dapat dilihat di dunia Adapun di dunia, baik orang mukmin ataupun orang kafir, tidak akan dan tidak mampu melihat Allah ta’ala dengan mata kepala secara langsung. Andaikan Allah menampakkan diri-Nya kepada gunung-gunung, niscaya gunung-gunung tersebut akan hancur. Jika gunung yang besar dan kuat saja demikian, apalagi manusia? Allah ta’ala sebutkan hal ini dalam firman-Nya: وَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ فَلَمَّآ اَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ “Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (Allah) berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.” (QS. Al-A’raf: 143). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: تَعَلَّمُوا أَنَّهُ لَنْ يَرَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَمُوتَ “Ketahuilah bahwa kalian tidak akan bisa melihat Rabb kalian azza wa jalla sampai kalian mati” (HR. Muslim no.169). Dari Aisyah radhiyallahu’anha, ia berkata: مَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَى اللهِ الفِرْيَةَ “Siapa yang mengklaim bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabb-nya di dunia, maka ia telah membuat kedustaan yang besar tentang Allah” (HR. Bukhari no.3234, Muslim no.177). Dan keyakinan ini juga merupakan kesepakatan ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: كل من ادعى أنه رأى ربه بعينيه قبل الموت فدعواه باطلة باتفاق أهل السنة والجماعة “Siapa saja yang mengklaim telah melihat Allah dengan mata kepalanya secara langsung sebelum mati, maka klaim tersebut batil berdasarkan kesepakatan ulama Ahlussunnah wal Jama’ah” (Majmu’ Al-Fatawa, 3/389). Apakah Rasulullah melihat Allah di dunia? Namun terdapat khilaf di antara ulama Ahlussunnah apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat Allah di dunia. Sebagian ulama berpendapat bahwa beliau pernah melihat Allah secara langsung ketika peristiwa Isra Mi’raj dan ini adalah kekhususan beliau.  Namun pendapat yang rajih, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah dengan hatinya, bukan dengan mata kepala beliau yang mulia. Ibnu Abbas radhiyallahu’ahu mengatakan: رَآهُ بِفُؤَادِهِ مَرَّتَيْنِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah dengan hatinya sebanyak dua kali” (HR. Muslim no. 437). Sehingga riwayat ini tidak bertentangan dengan riwayat dari Aisyah di atas. Karena yang diingkari Aisyah adalah melihat dengan mata kepala secara langsung di dunia. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: وفي رواية عنه – يعني ابن عباس – أطلق الرؤية، وهي محمولة على المقيدة بالفؤاد، ومن روى عنه بالبصر فقد أغرب، فإنه لا يصح في ذلك شيء عن الصحابة رضي الله عنهم “Dalam riwayat dari Ibnu Abbas, beliau memutlakkan ru’yah. Maka ini kita bawa kepada melihat dengan hati. Siapa yang mengatakan Nabi melihat Allah langsung dengan mata kepalanya, maka ini pendapat nyeleneh. Dan tidak ada satu pun riwayat yang shahih tentang itu dari para Sahabat radhiallahu’anhum” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/448). Akidah ahlul bid’ah dalam masalah ini Sekte Jahmiyah, Mu’tazilah dan Rafidhah, mengingkari ru’yatullah secara mutlak. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak mungkin bisa dilihat dengan mata kepala manusia baik di dunia ataupun di akhirat. Akidah mereka ini dibangun di atas keyakinan mereka yang menolak untuk menetapkan sifat-sifat bagi Allah ta’ala. Adapun sekte Sufiyah, Hululiyah, dan Ittihadiyah menetapkan ru’yatullah secara mutlak, termasuk di dunia. Mereka mengatakan bahwa Allah bisa dilihat oleh manusia di dunia. Akidah mereka ini dibangun di atas keyakinan mereka yang menyamakan Allah dengan makhluk dan meyakini bersatunya Allah dengan makhluk.  Inilah akidah-akidah ahlul bid’ah yang ekstrem kanan dan ekstrem kiri, serta sangat jauh dari dalil-dalil Al-Qur’an, As-Sunnah serta kesepakatan para ulama dalam masalah ini.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Lurus Dan Rapatkan Shaf, Pahala Ibu Rumah Tangga, Seperti Apa Surga Itu, Doa Bayi Menangis Malam, Makan Mengecap Dalam Islam, Ramuan Penumbuh Jenggot Visited 232 times, 1 visit(s) today Post Views: 328 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Ustadz, mohon dijelaskan apa itu ru’yatullah (melihat Allah). Jazakumullah khayran sebelumnya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursali, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Di antara pokok akidah Ahlussunnah adalah meyakini bahwa orang-orang yang beriman kelak dapat melihat Allah secara langsung dengan mata kepala mereka sendiri di akhirat. Keyakinan ini disebut juga dengan istilah ru’yatullah. Dalil-dalil Ru’yatullah Iman terhadap Ru’yatullah didasari dalil-dalil Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ para ulama. Allah ta’ala berfirman: وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ “Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat” (QS. Al-Qiyamah: 22-23). Allah ta’ala berfirman: عَلَى اْلأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ “Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang” (QS. Al-Muthaffifin: 35). Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini: أي إلى الله عز وجل في مقابلة من زعم فيهم أنهم ضالون وليسوا بضالين بل هم من أولياء الله المقربين ينظرون إلى ربهم في دار كرامته “Maksudnya memandang kepada Allah ‘azza wa jalla. Sebagai ganjaran karena mereka telah dituduh sesat di dunia, padahal mereka tidak sesat. Bahkan mereka adalah wali-wali Allah yang didekatkan kepada-Nya. Mereka memandang kepada Rabb mereka di Surga” (Tafsir Ibnu Katsir). Allah ta’ala berfirman: لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya” (QS. Yunus : 26). Ziyadah dalam ayat ini artinya melihat Allah di akhirat. Disebutkan dalam Tafsir Ath-Thabari: عن أبي بكر الصديق: (للذين أحسنوا الحسنى وزيادة) ، قال: النظر إلى وجه ربهم “Dari Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu’anhu, tentang ayat [Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya]. Abu Bakar mengatakan: ziyadah adalah melihat wajah Allah.” (Tafsir Ath-Thabari, no. 17610). Tafsiran ini diriwayatkan dari banyak sahabat lainnya seperti Abu Musa Al-Asy’ari, Amir bin Sa’ad, Ubay bin Ka’ab, Ka’ab bin Ujrah, Shuhaib Ar Rumi, dan para sahabat lainnya.  Allah ta’ala berfirman: لَهُم مَّايَشَآءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ “Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami adalah tambahannya” (QS. Qaf: 35). Mazid dalam ayat ini artinya melihat Allah di akhirat. Sebagaimana riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu: عن أنسٍ : { ولدينا مزيد } قال : يتجلَّى لهم كلُّ جمعةٍ “Dari Anas, tentang ayat [dan pada sisi Kami adalah tambahannya], Anas berkata: Maksudnya Allah menampakkan diri-Nya kepada penduduk surga setiap hari Jum’at” (HR. Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, dishahihkan Ibnu Taimiyah dalam Majmu Al-Fatawa no. 6/415). Demikian juga dalil-dalil dari As-Sunnah. Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذْ نَظَرَ إلى القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ قالَ: إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَ تَضَامُّوْنَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اْستَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوْا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَصَلاَةٍ قَبْلَ غُرُوْبِهَا فَافْعَلُوْا “Suatu malam kami sedang duduk-duduk bersama di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil memandang ke arah bulan di malam purnama. Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihatNya. Oleh karena itu, jika kalian mampu, untuk tidak mengabaikan shalat sebelum terbit matahari (Subuh) dan shalat sebelum terbenam matahari (Ashar), maka kerjakanlah” (HR. Bukhari no.7434, Muslim no. 633). Dari Shuhaib bin Sinan radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ : يَقُوْلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : تُرِيْدُوْنَ شَيْئًا أَزِيْدُكُمْ؟ فَيَقُولُوْنَ : أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوْهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ : فَيُكْشَفُ الْحِجَابُ فَمَا أُعْطُوْا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ . “Apabila penghuni surga telah masuk surga, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ”Apakah kalian menginginkan sesuatu yang dapat Aku tambahkan?” Mereka menjawab,”Bukankah Engkau telah menjadikan wajah-wajah kami putih berseri? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?” Nabi bersabda,”Maka disingkapkanlah tabir penutup, sehingga tidaklah mereka dianugerahi sesuatu yang lebih mereka senangi dibandingkan anugerah melihat Rabb mereka Azza wa Jalla” (HR. Muslim, no.181). Dalam riwayat dari Jarir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا “Kalian akan melihat Allah dengan mata kepala langsung” (HR. Al-Bukhari no.7435). Demikian juga dalil dari ijma’ ulama. Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah mengatakan: وأجمع أهل الحق واتَّفق أهل التوحيد والصدق – أن الله تعالى يرى في الآخرة كما جاء في كتابه وصح عن رسوله “Ahlul haq dan ahlut tauhid sepakat bahwa Allah ta’ala bisa dilihat di akhirat sebagaimana terdapat dalam Kitab-Nya dan dalam hadits Rasul-Nya yang shahih” (Aqidah Al-Hafizh Abdul Ghani Al-Maqdisi, 58). Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah juga mengatakan: وقد قال بثبوت الرؤية الصحابة والتابعون، وأئمة الإسلام المعروفون بالإمامة في الدين، وأهل الحديث، وسائر طوائف أهل الكلام المنسوبون إلى السنة والجماعة “Para sahabat dan tabi’in telah menetapkan adanya ar-ru’yah. Demikian juga para imam yang dikenal dalam Islam. Demikian juga ahlul hadits dan semua golongan ahlul kalam yang menisbatkan diri pada sunnah dan jama’ah” (Syarah Ath-Thahawiyah, 153). Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan: قد تظاهرت أدلة الكتاب والسنة وإجماع الصحابة، فمن بعدهم من سلف الأمة – على إثبات رؤية الله تعالى في الآخرة للمؤمنين “Telah jelas dalil-dalil Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ sahabat, serta orang-orang setelah mereka dari kalangan salaf yang menetapkan ru’yatullah di akhirat bagi kaum Mukminin” (Syarah Shahih Muslim, 3/15). Sampai di sini telah jelas bahwa akidah tentang kaum Mukminin akan melihat Allah di akhirat adalah akidah yang benar berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah serta disepakati oleh semua ulama Ahlussunnah tanpa ada khilafiyah. Berbeda dengan keyakinan ahlul bid’ah yang mengingkari hal ini. Orang kafir tidak akan pernah melihat Allah Adapun orang kafir, mereka tidak akan pernah melihat Allah. Allah ta’ala berfirman: كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ “Sama sekali tidak! Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) terhalangi dari Rabb mereka di hari ini” (QS. Al-Muthaffifin: 15). Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: ونزل سجين ثم هم يوم القيامة مع ذلك محجوبون عن رؤية ربهم وخالقهم “Mereka (orang-orang kafir) di hari Kiamat akan masuk neraka Sijjin dan selain itu juga akan terhalangi dari melihat Rabb mereka dan pencipta mereka” (Tafsir Ibnu Katsir). Allah tidak dapat dilihat di dunia Adapun di dunia, baik orang mukmin ataupun orang kafir, tidak akan dan tidak mampu melihat Allah ta’ala dengan mata kepala secara langsung. Andaikan Allah menampakkan diri-Nya kepada gunung-gunung, niscaya gunung-gunung tersebut akan hancur. Jika gunung yang besar dan kuat saja demikian, apalagi manusia? Allah ta’ala sebutkan hal ini dalam firman-Nya: وَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ فَلَمَّآ اَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ “Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (Allah) berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.” (QS. Al-A’raf: 143). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: تَعَلَّمُوا أَنَّهُ لَنْ يَرَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَمُوتَ “Ketahuilah bahwa kalian tidak akan bisa melihat Rabb kalian azza wa jalla sampai kalian mati” (HR. Muslim no.169). Dari Aisyah radhiyallahu’anha, ia berkata: مَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَى اللهِ الفِرْيَةَ “Siapa yang mengklaim bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabb-nya di dunia, maka ia telah membuat kedustaan yang besar tentang Allah” (HR. Bukhari no.3234, Muslim no.177). Dan keyakinan ini juga merupakan kesepakatan ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: كل من ادعى أنه رأى ربه بعينيه قبل الموت فدعواه باطلة باتفاق أهل السنة والجماعة “Siapa saja yang mengklaim telah melihat Allah dengan mata kepalanya secara langsung sebelum mati, maka klaim tersebut batil berdasarkan kesepakatan ulama Ahlussunnah wal Jama’ah” (Majmu’ Al-Fatawa, 3/389). Apakah Rasulullah melihat Allah di dunia? Namun terdapat khilaf di antara ulama Ahlussunnah apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat Allah di dunia. Sebagian ulama berpendapat bahwa beliau pernah melihat Allah secara langsung ketika peristiwa Isra Mi’raj dan ini adalah kekhususan beliau.  Namun pendapat yang rajih, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah dengan hatinya, bukan dengan mata kepala beliau yang mulia. Ibnu Abbas radhiyallahu’ahu mengatakan: رَآهُ بِفُؤَادِهِ مَرَّتَيْنِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah dengan hatinya sebanyak dua kali” (HR. Muslim no. 437). Sehingga riwayat ini tidak bertentangan dengan riwayat dari Aisyah di atas. Karena yang diingkari Aisyah adalah melihat dengan mata kepala secara langsung di dunia. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: وفي رواية عنه – يعني ابن عباس – أطلق الرؤية، وهي محمولة على المقيدة بالفؤاد، ومن روى عنه بالبصر فقد أغرب، فإنه لا يصح في ذلك شيء عن الصحابة رضي الله عنهم “Dalam riwayat dari Ibnu Abbas, beliau memutlakkan ru’yah. Maka ini kita bawa kepada melihat dengan hati. Siapa yang mengatakan Nabi melihat Allah langsung dengan mata kepalanya, maka ini pendapat nyeleneh. Dan tidak ada satu pun riwayat yang shahih tentang itu dari para Sahabat radhiallahu’anhum” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/448). Akidah ahlul bid’ah dalam masalah ini Sekte Jahmiyah, Mu’tazilah dan Rafidhah, mengingkari ru’yatullah secara mutlak. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak mungkin bisa dilihat dengan mata kepala manusia baik di dunia ataupun di akhirat. Akidah mereka ini dibangun di atas keyakinan mereka yang menolak untuk menetapkan sifat-sifat bagi Allah ta’ala. Adapun sekte Sufiyah, Hululiyah, dan Ittihadiyah menetapkan ru’yatullah secara mutlak, termasuk di dunia. Mereka mengatakan bahwa Allah bisa dilihat oleh manusia di dunia. Akidah mereka ini dibangun di atas keyakinan mereka yang menyamakan Allah dengan makhluk dan meyakini bersatunya Allah dengan makhluk.  Inilah akidah-akidah ahlul bid’ah yang ekstrem kanan dan ekstrem kiri, serta sangat jauh dari dalil-dalil Al-Qur’an, As-Sunnah serta kesepakatan para ulama dalam masalah ini.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Lurus Dan Rapatkan Shaf, Pahala Ibu Rumah Tangga, Seperti Apa Surga Itu, Doa Bayi Menangis Malam, Makan Mengecap Dalam Islam, Ramuan Penumbuh Jenggot Visited 232 times, 1 visit(s) today Post Views: 328 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan: Ustadz, mohon dijelaskan apa itu ru’yatullah (melihat Allah). Jazakumullah khayran sebelumnya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursali, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Di antara pokok akidah Ahlussunnah adalah meyakini bahwa orang-orang yang beriman kelak dapat melihat Allah secara langsung dengan mata kepala mereka sendiri di akhirat. Keyakinan ini disebut juga dengan istilah ru’yatullah. Dalil-dalil Ru’yatullah Iman terhadap Ru’yatullah didasari dalil-dalil Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ para ulama. Allah ta’ala berfirman: وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ “Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat” (QS. Al-Qiyamah: 22-23). Allah ta’ala berfirman: عَلَى اْلأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ “Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang” (QS. Al-Muthaffifin: 35). Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini: أي إلى الله عز وجل في مقابلة من زعم فيهم أنهم ضالون وليسوا بضالين بل هم من أولياء الله المقربين ينظرون إلى ربهم في دار كرامته “Maksudnya memandang kepada Allah ‘azza wa jalla. Sebagai ganjaran karena mereka telah dituduh sesat di dunia, padahal mereka tidak sesat. Bahkan mereka adalah wali-wali Allah yang didekatkan kepada-Nya. Mereka memandang kepada Rabb mereka di Surga” (Tafsir Ibnu Katsir). Allah ta’ala berfirman: لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya” (QS. Yunus : 26). Ziyadah dalam ayat ini artinya melihat Allah di akhirat. Disebutkan dalam Tafsir Ath-Thabari: عن أبي بكر الصديق: (للذين أحسنوا الحسنى وزيادة) ، قال: النظر إلى وجه ربهم “Dari Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu’anhu, tentang ayat [Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya]. Abu Bakar mengatakan: ziyadah adalah melihat wajah Allah.” (Tafsir Ath-Thabari, no. 17610). Tafsiran ini diriwayatkan dari banyak sahabat lainnya seperti Abu Musa Al-Asy’ari, Amir bin Sa’ad, Ubay bin Ka’ab, Ka’ab bin Ujrah, Shuhaib Ar Rumi, dan para sahabat lainnya.  Allah ta’ala berfirman: لَهُم مَّايَشَآءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ “Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami adalah tambahannya” (QS. Qaf: 35). Mazid dalam ayat ini artinya melihat Allah di akhirat. Sebagaimana riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu: عن أنسٍ : { ولدينا مزيد } قال : يتجلَّى لهم كلُّ جمعةٍ “Dari Anas, tentang ayat [dan pada sisi Kami adalah tambahannya], Anas berkata: Maksudnya Allah menampakkan diri-Nya kepada penduduk surga setiap hari Jum’at” (HR. Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, dishahihkan Ibnu Taimiyah dalam Majmu Al-Fatawa no. 6/415). Demikian juga dalil-dalil dari As-Sunnah. Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذْ نَظَرَ إلى القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ قالَ: إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَ تَضَامُّوْنَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اْستَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوْا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَصَلاَةٍ قَبْلَ غُرُوْبِهَا فَافْعَلُوْا “Suatu malam kami sedang duduk-duduk bersama di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil memandang ke arah bulan di malam purnama. Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihatNya. Oleh karena itu, jika kalian mampu, untuk tidak mengabaikan shalat sebelum terbit matahari (Subuh) dan shalat sebelum terbenam matahari (Ashar), maka kerjakanlah” (HR. Bukhari no.7434, Muslim no. 633). Dari Shuhaib bin Sinan radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ : يَقُوْلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : تُرِيْدُوْنَ شَيْئًا أَزِيْدُكُمْ؟ فَيَقُولُوْنَ : أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوْهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ : فَيُكْشَفُ الْحِجَابُ فَمَا أُعْطُوْا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ . “Apabila penghuni surga telah masuk surga, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ”Apakah kalian menginginkan sesuatu yang dapat Aku tambahkan?” Mereka menjawab,”Bukankah Engkau telah menjadikan wajah-wajah kami putih berseri? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?” Nabi bersabda,”Maka disingkapkanlah tabir penutup, sehingga tidaklah mereka dianugerahi sesuatu yang lebih mereka senangi dibandingkan anugerah melihat Rabb mereka Azza wa Jalla” (HR. Muslim, no.181). Dalam riwayat dari Jarir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا “Kalian akan melihat Allah dengan mata kepala langsung” (HR. Al-Bukhari no.7435). Demikian juga dalil dari ijma’ ulama. Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah mengatakan: وأجمع أهل الحق واتَّفق أهل التوحيد والصدق – أن الله تعالى يرى في الآخرة كما جاء في كتابه وصح عن رسوله “Ahlul haq dan ahlut tauhid sepakat bahwa Allah ta’ala bisa dilihat di akhirat sebagaimana terdapat dalam Kitab-Nya dan dalam hadits Rasul-Nya yang shahih” (Aqidah Al-Hafizh Abdul Ghani Al-Maqdisi, 58). Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah juga mengatakan: وقد قال بثبوت الرؤية الصحابة والتابعون، وأئمة الإسلام المعروفون بالإمامة في الدين، وأهل الحديث، وسائر طوائف أهل الكلام المنسوبون إلى السنة والجماعة “Para sahabat dan tabi’in telah menetapkan adanya ar-ru’yah. Demikian juga para imam yang dikenal dalam Islam. Demikian juga ahlul hadits dan semua golongan ahlul kalam yang menisbatkan diri pada sunnah dan jama’ah” (Syarah Ath-Thahawiyah, 153). Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan: قد تظاهرت أدلة الكتاب والسنة وإجماع الصحابة، فمن بعدهم من سلف الأمة – على إثبات رؤية الله تعالى في الآخرة للمؤمنين “Telah jelas dalil-dalil Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ sahabat, serta orang-orang setelah mereka dari kalangan salaf yang menetapkan ru’yatullah di akhirat bagi kaum Mukminin” (Syarah Shahih Muslim, 3/15). Sampai di sini telah jelas bahwa akidah tentang kaum Mukminin akan melihat Allah di akhirat adalah akidah yang benar berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah serta disepakati oleh semua ulama Ahlussunnah tanpa ada khilafiyah. Berbeda dengan keyakinan ahlul bid’ah yang mengingkari hal ini. Orang kafir tidak akan pernah melihat Allah Adapun orang kafir, mereka tidak akan pernah melihat Allah. Allah ta’ala berfirman: كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ “Sama sekali tidak! Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) terhalangi dari Rabb mereka di hari ini” (QS. Al-Muthaffifin: 15). Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: ونزل سجين ثم هم يوم القيامة مع ذلك محجوبون عن رؤية ربهم وخالقهم “Mereka (orang-orang kafir) di hari Kiamat akan masuk neraka Sijjin dan selain itu juga akan terhalangi dari melihat Rabb mereka dan pencipta mereka” (Tafsir Ibnu Katsir). Allah tidak dapat dilihat di dunia Adapun di dunia, baik orang mukmin ataupun orang kafir, tidak akan dan tidak mampu melihat Allah ta’ala dengan mata kepala secara langsung. Andaikan Allah menampakkan diri-Nya kepada gunung-gunung, niscaya gunung-gunung tersebut akan hancur. Jika gunung yang besar dan kuat saja demikian, apalagi manusia? Allah ta’ala sebutkan hal ini dalam firman-Nya: وَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ فَلَمَّآ اَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ “Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (Allah) berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.” (QS. Al-A’raf: 143). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: تَعَلَّمُوا أَنَّهُ لَنْ يَرَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَمُوتَ “Ketahuilah bahwa kalian tidak akan bisa melihat Rabb kalian azza wa jalla sampai kalian mati” (HR. Muslim no.169). Dari Aisyah radhiyallahu’anha, ia berkata: مَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَى اللهِ الفِرْيَةَ “Siapa yang mengklaim bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabb-nya di dunia, maka ia telah membuat kedustaan yang besar tentang Allah” (HR. Bukhari no.3234, Muslim no.177). Dan keyakinan ini juga merupakan kesepakatan ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: كل من ادعى أنه رأى ربه بعينيه قبل الموت فدعواه باطلة باتفاق أهل السنة والجماعة “Siapa saja yang mengklaim telah melihat Allah dengan mata kepalanya secara langsung sebelum mati, maka klaim tersebut batil berdasarkan kesepakatan ulama Ahlussunnah wal Jama’ah” (Majmu’ Al-Fatawa, 3/389). Apakah Rasulullah melihat Allah di dunia? Namun terdapat khilaf di antara ulama Ahlussunnah apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat Allah di dunia. Sebagian ulama berpendapat bahwa beliau pernah melihat Allah secara langsung ketika peristiwa Isra Mi’raj dan ini adalah kekhususan beliau.  Namun pendapat yang rajih, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah dengan hatinya, bukan dengan mata kepala beliau yang mulia. Ibnu Abbas radhiyallahu’ahu mengatakan: رَآهُ بِفُؤَادِهِ مَرَّتَيْنِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah dengan hatinya sebanyak dua kali” (HR. Muslim no. 437). Sehingga riwayat ini tidak bertentangan dengan riwayat dari Aisyah di atas. Karena yang diingkari Aisyah adalah melihat dengan mata kepala secara langsung di dunia. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: وفي رواية عنه – يعني ابن عباس – أطلق الرؤية، وهي محمولة على المقيدة بالفؤاد، ومن روى عنه بالبصر فقد أغرب، فإنه لا يصح في ذلك شيء عن الصحابة رضي الله عنهم “Dalam riwayat dari Ibnu Abbas, beliau memutlakkan ru’yah. Maka ini kita bawa kepada melihat dengan hati. Siapa yang mengatakan Nabi melihat Allah langsung dengan mata kepalanya, maka ini pendapat nyeleneh. Dan tidak ada satu pun riwayat yang shahih tentang itu dari para Sahabat radhiallahu’anhum” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/448). Akidah ahlul bid’ah dalam masalah ini Sekte Jahmiyah, Mu’tazilah dan Rafidhah, mengingkari ru’yatullah secara mutlak. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak mungkin bisa dilihat dengan mata kepala manusia baik di dunia ataupun di akhirat. Akidah mereka ini dibangun di atas keyakinan mereka yang menolak untuk menetapkan sifat-sifat bagi Allah ta’ala. Adapun sekte Sufiyah, Hululiyah, dan Ittihadiyah menetapkan ru’yatullah secara mutlak, termasuk di dunia. Mereka mengatakan bahwa Allah bisa dilihat oleh manusia di dunia. Akidah mereka ini dibangun di atas keyakinan mereka yang menyamakan Allah dengan makhluk dan meyakini bersatunya Allah dengan makhluk.  Inilah akidah-akidah ahlul bid’ah yang ekstrem kanan dan ekstrem kiri, serta sangat jauh dari dalil-dalil Al-Qur’an, As-Sunnah serta kesepakatan para ulama dalam masalah ini.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Lurus Dan Rapatkan Shaf, Pahala Ibu Rumah Tangga, Seperti Apa Surga Itu, Doa Bayi Menangis Malam, Makan Mengecap Dalam Islam, Ramuan Penumbuh Jenggot Visited 232 times, 1 visit(s) today Post Views: 328 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Hukum Anak Kecil Melaksanakan Ibadah Haji

Bolehkah anak kecil melaksanakan ibadah haji? Jawabannya adalah ada dalam hadits yang dibahas dalam Bulugh Al-Maram berikut ini.     Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan 4. Hadits #714 5. Faedah hadits 6. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ فَضْلِهِ وَبَيَانِ مَنْ فُرِضَ عَلَيْهِ Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan Hadits #714 وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; { أَنَّ اَلنَّبِيَّ ( لَقِيَ رَكْبًا بِالرَّوْحَاءِ فَقَالَ: ” مَنِ اَلْقَوْمُ? ” قَالُوا: اَلْمُسْلِمُونَ. فَقَالُوا: مَنْ أَنْتَ? قَالَ: ” رَسُولُ اَللَّهِ ( ” فَرَفَعَتْ إِلَيْهِ اِمْرَأَةٌ صَبِيًّا. فَقَالَتْ: أَلِهَذَا حَجٌّ? قَالَ: ” نَعَمْ: وَلَكِ أَجْرٌ ” } رَوَاهُ مُسْلِمٌ  . Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertemu dengan suatu kafilah di Rauha’, lalu beliau bertanya, “Siapa rombongan ini?” Mereka berkata, “Siapa engkau?” Beliau menjawab, “Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam.” Kemudian seorang perempuan mengangkat seorang anak kecil seraya bertanya, “Apakah yang ini boleh berhaji?” Beliau bersabda, “Ya boleh, untukmu pahala.” (Diriwayatkan oleh Muslim) [HR. Muslim, no. 1336]   Faedah hadits Pertama: Sahnya haji anak kecil, walaupun belum tamyiz. Syaikh Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily berkata, “Jumhur ulama berpendapat bahwa haji anak kecil itu sah dan diberi pahala. Namun, belum dianggap sebagai hajjatul Islam (haji yang wajib, haji yang merupakan rukun islam), hanya dihukumi sebagai haji tathawwu’ (sunnah).” (Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah.  2:571). Kedua: Apakah haji anak kecil sudah mengganti kewajiban haji dalam Islam? Ada dua pendapat ulama dalam hal ini. Menurut jumhur ulama, haji yang dilakukan anak kecil tidaklah menggantikan haji wajib dalam Islam. Pendapat yang lain mengatakan bahwa sudah menggantikan haji wajib dalam Islam. Pendapat yang terkuat dalam masalah ini adalah perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Siapa saja anak kecil yang berhaji, lalu ketika ia baligh, maka ia tetap memiliki kewajiban berhaji yang lain. Budak mana saja yang berhaji kemudian merdeka, maka ia tetap memiliki kewajiban berhaji yang lain.” Ketiga: Jika seseorang melakukan thawaf dan bersamanya ada anak yang dalam keadaan ihram ikut berthawaf, maka yang berthawaf dan anak yang digendong thawafnya sah. Hukum sa’i sama dengan thawaf. Keempat: Anak kecil yang mengikuti haji berlaku baginya hukum berhaji. Wali yang nantinya mengihramkan anak kecil yang belum tamyiz. Adapun, anak kecil yang sudah tamyiz diizinkan oleh wali untuk ihram. Jika ia berihram tanpa izin wali atau wali berihram darinya, maka tidaklah sah menurut pendapat al-ashah (pendapat terkuat dan terdapat ikhtilaf yang kuat). Adapun cara walinya (ayah, kakek, yang diberi wasiat, atau yang ditunjuk qadhi) untuk mengihramkan anak yang belum tamyiz adalah dengan ucapan: ja’altuhu laka muhriman (aku jadikan baginya ihram untukmu). Kelima: Wanita boleh saja meminta fatwa pada laki-laki bukan mahram asalkan tidak dengan suara lembut yang menimbulkan godaan. Allah Ta’ala berfirman, فَلَا تَخْضَعْنَ بِٱلْقَوْلِ فَيَطْمَعَ ٱلَّذِى فِى قَلْبِهِۦ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32). Baca Juga: Syarat Wajib Haji Harus Mampu, Apa yang Dimaksud Mampu? Hukum Umrah Ternyata Wajib, Inilah Dalil dan Penjelasannya Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:169-172. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:571-572. –   Diselesaikan di Perjalanan Jogja – YIA, 9 Dzulqa’dah 1444 H, 29 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji anak kecil naik haji berhaji bulughul maram bulughul maram haji cara umrah dalil haji fikih haji fikih umrah haji haji itu wajib haji mabrur keutamaan haji keutamaan umrah syarat mampu berhaji

Hukum Anak Kecil Melaksanakan Ibadah Haji

Bolehkah anak kecil melaksanakan ibadah haji? Jawabannya adalah ada dalam hadits yang dibahas dalam Bulugh Al-Maram berikut ini.     Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan 4. Hadits #714 5. Faedah hadits 6. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ فَضْلِهِ وَبَيَانِ مَنْ فُرِضَ عَلَيْهِ Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan Hadits #714 وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; { أَنَّ اَلنَّبِيَّ ( لَقِيَ رَكْبًا بِالرَّوْحَاءِ فَقَالَ: ” مَنِ اَلْقَوْمُ? ” قَالُوا: اَلْمُسْلِمُونَ. فَقَالُوا: مَنْ أَنْتَ? قَالَ: ” رَسُولُ اَللَّهِ ( ” فَرَفَعَتْ إِلَيْهِ اِمْرَأَةٌ صَبِيًّا. فَقَالَتْ: أَلِهَذَا حَجٌّ? قَالَ: ” نَعَمْ: وَلَكِ أَجْرٌ ” } رَوَاهُ مُسْلِمٌ  . Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertemu dengan suatu kafilah di Rauha’, lalu beliau bertanya, “Siapa rombongan ini?” Mereka berkata, “Siapa engkau?” Beliau menjawab, “Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam.” Kemudian seorang perempuan mengangkat seorang anak kecil seraya bertanya, “Apakah yang ini boleh berhaji?” Beliau bersabda, “Ya boleh, untukmu pahala.” (Diriwayatkan oleh Muslim) [HR. Muslim, no. 1336]   Faedah hadits Pertama: Sahnya haji anak kecil, walaupun belum tamyiz. Syaikh Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily berkata, “Jumhur ulama berpendapat bahwa haji anak kecil itu sah dan diberi pahala. Namun, belum dianggap sebagai hajjatul Islam (haji yang wajib, haji yang merupakan rukun islam), hanya dihukumi sebagai haji tathawwu’ (sunnah).” (Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah.  2:571). Kedua: Apakah haji anak kecil sudah mengganti kewajiban haji dalam Islam? Ada dua pendapat ulama dalam hal ini. Menurut jumhur ulama, haji yang dilakukan anak kecil tidaklah menggantikan haji wajib dalam Islam. Pendapat yang lain mengatakan bahwa sudah menggantikan haji wajib dalam Islam. Pendapat yang terkuat dalam masalah ini adalah perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Siapa saja anak kecil yang berhaji, lalu ketika ia baligh, maka ia tetap memiliki kewajiban berhaji yang lain. Budak mana saja yang berhaji kemudian merdeka, maka ia tetap memiliki kewajiban berhaji yang lain.” Ketiga: Jika seseorang melakukan thawaf dan bersamanya ada anak yang dalam keadaan ihram ikut berthawaf, maka yang berthawaf dan anak yang digendong thawafnya sah. Hukum sa’i sama dengan thawaf. Keempat: Anak kecil yang mengikuti haji berlaku baginya hukum berhaji. Wali yang nantinya mengihramkan anak kecil yang belum tamyiz. Adapun, anak kecil yang sudah tamyiz diizinkan oleh wali untuk ihram. Jika ia berihram tanpa izin wali atau wali berihram darinya, maka tidaklah sah menurut pendapat al-ashah (pendapat terkuat dan terdapat ikhtilaf yang kuat). Adapun cara walinya (ayah, kakek, yang diberi wasiat, atau yang ditunjuk qadhi) untuk mengihramkan anak yang belum tamyiz adalah dengan ucapan: ja’altuhu laka muhriman (aku jadikan baginya ihram untukmu). Kelima: Wanita boleh saja meminta fatwa pada laki-laki bukan mahram asalkan tidak dengan suara lembut yang menimbulkan godaan. Allah Ta’ala berfirman, فَلَا تَخْضَعْنَ بِٱلْقَوْلِ فَيَطْمَعَ ٱلَّذِى فِى قَلْبِهِۦ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32). Baca Juga: Syarat Wajib Haji Harus Mampu, Apa yang Dimaksud Mampu? Hukum Umrah Ternyata Wajib, Inilah Dalil dan Penjelasannya Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:169-172. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:571-572. –   Diselesaikan di Perjalanan Jogja – YIA, 9 Dzulqa’dah 1444 H, 29 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji anak kecil naik haji berhaji bulughul maram bulughul maram haji cara umrah dalil haji fikih haji fikih umrah haji haji itu wajib haji mabrur keutamaan haji keutamaan umrah syarat mampu berhaji
Bolehkah anak kecil melaksanakan ibadah haji? Jawabannya adalah ada dalam hadits yang dibahas dalam Bulugh Al-Maram berikut ini.     Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan 4. Hadits #714 5. Faedah hadits 6. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ فَضْلِهِ وَبَيَانِ مَنْ فُرِضَ عَلَيْهِ Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan Hadits #714 وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; { أَنَّ اَلنَّبِيَّ ( لَقِيَ رَكْبًا بِالرَّوْحَاءِ فَقَالَ: ” مَنِ اَلْقَوْمُ? ” قَالُوا: اَلْمُسْلِمُونَ. فَقَالُوا: مَنْ أَنْتَ? قَالَ: ” رَسُولُ اَللَّهِ ( ” فَرَفَعَتْ إِلَيْهِ اِمْرَأَةٌ صَبِيًّا. فَقَالَتْ: أَلِهَذَا حَجٌّ? قَالَ: ” نَعَمْ: وَلَكِ أَجْرٌ ” } رَوَاهُ مُسْلِمٌ  . Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertemu dengan suatu kafilah di Rauha’, lalu beliau bertanya, “Siapa rombongan ini?” Mereka berkata, “Siapa engkau?” Beliau menjawab, “Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam.” Kemudian seorang perempuan mengangkat seorang anak kecil seraya bertanya, “Apakah yang ini boleh berhaji?” Beliau bersabda, “Ya boleh, untukmu pahala.” (Diriwayatkan oleh Muslim) [HR. Muslim, no. 1336]   Faedah hadits Pertama: Sahnya haji anak kecil, walaupun belum tamyiz. Syaikh Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily berkata, “Jumhur ulama berpendapat bahwa haji anak kecil itu sah dan diberi pahala. Namun, belum dianggap sebagai hajjatul Islam (haji yang wajib, haji yang merupakan rukun islam), hanya dihukumi sebagai haji tathawwu’ (sunnah).” (Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah.  2:571). Kedua: Apakah haji anak kecil sudah mengganti kewajiban haji dalam Islam? Ada dua pendapat ulama dalam hal ini. Menurut jumhur ulama, haji yang dilakukan anak kecil tidaklah menggantikan haji wajib dalam Islam. Pendapat yang lain mengatakan bahwa sudah menggantikan haji wajib dalam Islam. Pendapat yang terkuat dalam masalah ini adalah perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Siapa saja anak kecil yang berhaji, lalu ketika ia baligh, maka ia tetap memiliki kewajiban berhaji yang lain. Budak mana saja yang berhaji kemudian merdeka, maka ia tetap memiliki kewajiban berhaji yang lain.” Ketiga: Jika seseorang melakukan thawaf dan bersamanya ada anak yang dalam keadaan ihram ikut berthawaf, maka yang berthawaf dan anak yang digendong thawafnya sah. Hukum sa’i sama dengan thawaf. Keempat: Anak kecil yang mengikuti haji berlaku baginya hukum berhaji. Wali yang nantinya mengihramkan anak kecil yang belum tamyiz. Adapun, anak kecil yang sudah tamyiz diizinkan oleh wali untuk ihram. Jika ia berihram tanpa izin wali atau wali berihram darinya, maka tidaklah sah menurut pendapat al-ashah (pendapat terkuat dan terdapat ikhtilaf yang kuat). Adapun cara walinya (ayah, kakek, yang diberi wasiat, atau yang ditunjuk qadhi) untuk mengihramkan anak yang belum tamyiz adalah dengan ucapan: ja’altuhu laka muhriman (aku jadikan baginya ihram untukmu). Kelima: Wanita boleh saja meminta fatwa pada laki-laki bukan mahram asalkan tidak dengan suara lembut yang menimbulkan godaan. Allah Ta’ala berfirman, فَلَا تَخْضَعْنَ بِٱلْقَوْلِ فَيَطْمَعَ ٱلَّذِى فِى قَلْبِهِۦ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32). Baca Juga: Syarat Wajib Haji Harus Mampu, Apa yang Dimaksud Mampu? Hukum Umrah Ternyata Wajib, Inilah Dalil dan Penjelasannya Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:169-172. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:571-572. –   Diselesaikan di Perjalanan Jogja – YIA, 9 Dzulqa’dah 1444 H, 29 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji anak kecil naik haji berhaji bulughul maram bulughul maram haji cara umrah dalil haji fikih haji fikih umrah haji haji itu wajib haji mabrur keutamaan haji keutamaan umrah syarat mampu berhaji


Bolehkah anak kecil melaksanakan ibadah haji? Jawabannya adalah ada dalam hadits yang dibahas dalam Bulugh Al-Maram berikut ini.     Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan 4. Hadits #714 5. Faedah hadits 6. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ فَضْلِهِ وَبَيَانِ مَنْ فُرِضَ عَلَيْهِ Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan Hadits #714 وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; { أَنَّ اَلنَّبِيَّ ( لَقِيَ رَكْبًا بِالرَّوْحَاءِ فَقَالَ: ” مَنِ اَلْقَوْمُ? ” قَالُوا: اَلْمُسْلِمُونَ. فَقَالُوا: مَنْ أَنْتَ? قَالَ: ” رَسُولُ اَللَّهِ ( ” فَرَفَعَتْ إِلَيْهِ اِمْرَأَةٌ صَبِيًّا. فَقَالَتْ: أَلِهَذَا حَجٌّ? قَالَ: ” نَعَمْ: وَلَكِ أَجْرٌ ” } رَوَاهُ مُسْلِمٌ  . Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertemu dengan suatu kafilah di Rauha’, lalu beliau bertanya, “Siapa rombongan ini?” Mereka berkata, “Siapa engkau?” Beliau menjawab, “Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam.” Kemudian seorang perempuan mengangkat seorang anak kecil seraya bertanya, “Apakah yang ini boleh berhaji?” Beliau bersabda, “Ya boleh, untukmu pahala.” (Diriwayatkan oleh Muslim) [HR. Muslim, no. 1336]   Faedah hadits Pertama: Sahnya haji anak kecil, walaupun belum tamyiz. Syaikh Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily berkata, “Jumhur ulama berpendapat bahwa haji anak kecil itu sah dan diberi pahala. Namun, belum dianggap sebagai hajjatul Islam (haji yang wajib, haji yang merupakan rukun islam), hanya dihukumi sebagai haji tathawwu’ (sunnah).” (Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah.  2:571). Kedua: Apakah haji anak kecil sudah mengganti kewajiban haji dalam Islam? Ada dua pendapat ulama dalam hal ini. Menurut jumhur ulama, haji yang dilakukan anak kecil tidaklah menggantikan haji wajib dalam Islam. Pendapat yang lain mengatakan bahwa sudah menggantikan haji wajib dalam Islam. Pendapat yang terkuat dalam masalah ini adalah perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Siapa saja anak kecil yang berhaji, lalu ketika ia baligh, maka ia tetap memiliki kewajiban berhaji yang lain. Budak mana saja yang berhaji kemudian merdeka, maka ia tetap memiliki kewajiban berhaji yang lain.” Ketiga: Jika seseorang melakukan thawaf dan bersamanya ada anak yang dalam keadaan ihram ikut berthawaf, maka yang berthawaf dan anak yang digendong thawafnya sah. Hukum sa’i sama dengan thawaf. Keempat: Anak kecil yang mengikuti haji berlaku baginya hukum berhaji. Wali yang nantinya mengihramkan anak kecil yang belum tamyiz. Adapun, anak kecil yang sudah tamyiz diizinkan oleh wali untuk ihram. Jika ia berihram tanpa izin wali atau wali berihram darinya, maka tidaklah sah menurut pendapat al-ashah (pendapat terkuat dan terdapat ikhtilaf yang kuat). Adapun cara walinya (ayah, kakek, yang diberi wasiat, atau yang ditunjuk qadhi) untuk mengihramkan anak yang belum tamyiz adalah dengan ucapan: ja’altuhu laka muhriman (aku jadikan baginya ihram untukmu). Kelima: Wanita boleh saja meminta fatwa pada laki-laki bukan mahram asalkan tidak dengan suara lembut yang menimbulkan godaan. Allah Ta’ala berfirman, فَلَا تَخْضَعْنَ بِٱلْقَوْلِ فَيَطْمَعَ ٱلَّذِى فِى قَلْبِهِۦ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32). Baca Juga: Syarat Wajib Haji Harus Mampu, Apa yang Dimaksud Mampu? Hukum Umrah Ternyata Wajib, Inilah Dalil dan Penjelasannya Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:169-172. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:571-572. –   Diselesaikan di Perjalanan Jogja – YIA, 9 Dzulqa’dah 1444 H, 29 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji anak kecil naik haji berhaji bulughul maram bulughul maram haji cara umrah dalil haji fikih haji fikih umrah haji haji itu wajib haji mabrur keutamaan haji keutamaan umrah syarat mampu berhaji

Doa Menghilangkan Pikiran Kotor

Doa merupakan senjata terkuat dan pilihan pertama seorang mukmin dalam menghadapi situasi apa pun. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,من فُتح له منكم باب الدعاء فتحت له أبواب الرحمة، وما سُئل الله شيئاً يُعطى أحب إليه من أن يُسأل العافية، إن الدعاء ينفع مما نزل وما لم ينزل، فعليكم عباد الله بالدعاء“Siapa saja yang dibukakan pintu doa, artinya tengah dibukakan pintu rahmat oleh Allah. Dan tidak ada sesuatu yang dipinta kepada Allah yang lebih Allah cintai melebihi doa akan keselamatan. Sesungguhnya doa itu memberikan dampak positif untuk mereka yang berdoa, atas sesuatu yang terjadi atau belum terjadi. Maka, banyak-banyaklah kalian berdoa, wahai hamba Allah!” (HR. At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Syekh Al-Albani rahimahullahu)Senjata ini pula yang dipakai oleh para nabi ketika kondisi menghimpit mereka. Ketika perang Badr, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama menyaksikan pasukan musuh melampaui pasukan kaum muslimin. Beliau pun menghadap kiblat dan berdoa,اللهم أنجز لي ما وعدتني، اللهم آت ما وعدتني، اللهم إن تهلك هذه العصابة من أهل الإسلام لا تعبد في الأرض“Ya Allah, berikan semua yang telah Engkau janjikan untukku. Ya Allah, datangkan semua yang telah Engkau janjikan untukku. Ya Allah, seandainya Engkau binasakan kaum muslimin ini, tentu tidak ada lagi yang akan menyembah-Mu di muka bumi ini.” (HR. Muslim no. 1763)Beliau terus berdoa demikian sampai pakaian beliau tersingkap dari pundaknya. Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu pun kembali memasangnya sembari mengatakan,كَفَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ؛ فإنَّه سَيُنْجِزُ لكَ ما وَعَدَكَ“Wahai Rasulullah, cukuplah munajatmu dengan Rabbmu. Sesungguhnya Dia akan memberikan apa yang telah dijanjikan untukmu.”Hingga kemudian turunlah firman Allah ‘Azza Wajalla yang memastikan pertolongan untuk Rasul-Nya yang akan datang,اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ“(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia mengabulkan(-nya) bagimu (seraya berfirman), ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut.’” (QS. Al-Anfal: 9)Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya menjadikan doa sebagai pilihan pertamanya tatkala menghadapi segala sesuatu, termasuk ketika seseorang ingin diselamatkan dari pikiran yang kotor. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ“Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53)Tidak ada doa yang secara khusus ditujukan untuk pikiran kotor, namun seseorang diperkenankan berdoa yang tidak jauh dari permohonan dijauhkan dari keburukan, seperti:Pertama: Membaca ta’awudz. Hal ini karena di antara sebab munculnya pikiran kotor adalah adanya gangguan setan. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,فَاِذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ“Apabila engkau hendak membaca Al-Qur’an, mohonlah pelindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS An Nahl: 98)Syekh ‘Abdurrahman As Sa’diy rahimahullahu mengatakan,فالطريق إلى السلامة من شره الالتجاء إلى الله، والاستعاذة به من شره“Kiat agar selamat dari keburukan setan adalah dengan berserah kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari keburukan setan.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 449)Kedua: Memohon perlindungan dari keburukan akhlak dan hawa nafsu. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama sering membaca doa berikut ini,اللهمَّ إنِّي أعوذُ بك من منكراتِ الأخلاقِ و الأعمالِ و الأهواءِ“Ya Allah, lindungilah aku dari keburukan akhlak, perbuatan, dan hawa nafsu.” (HR. At-Tirmidzi no. 3591)Ketiga: Membaca doa,اللَّهُمَّ إِني أعوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِن شَرِّ بصَرِي، وَمِن شَرِّ لسَاني، وَمِن شَرِّ قَلبي، وَمِن شَرِّ منِيِّي“Ya Allah, aku berlindung dari keburukan pendengaranku, penglihatanku, lisanku, hatiku, dan maniku.” (HR. At-Tirmidzi)Atau membaca doa lain yang dimampu oleh seseorang yang dengannya semoga Allah bersihkan hatinya dari bisikan-bisikan kotor atau ajakan berbuat yang dimurkai Allah ‘Azza Wajalla. Aamiin.Baca juga: Bagaimana Seorang Mukmin Mengelola Pikirannya?***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.idTags: berdoamenjaga pikiranpikiran kotor

Doa Menghilangkan Pikiran Kotor

Doa merupakan senjata terkuat dan pilihan pertama seorang mukmin dalam menghadapi situasi apa pun. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,من فُتح له منكم باب الدعاء فتحت له أبواب الرحمة، وما سُئل الله شيئاً يُعطى أحب إليه من أن يُسأل العافية، إن الدعاء ينفع مما نزل وما لم ينزل، فعليكم عباد الله بالدعاء“Siapa saja yang dibukakan pintu doa, artinya tengah dibukakan pintu rahmat oleh Allah. Dan tidak ada sesuatu yang dipinta kepada Allah yang lebih Allah cintai melebihi doa akan keselamatan. Sesungguhnya doa itu memberikan dampak positif untuk mereka yang berdoa, atas sesuatu yang terjadi atau belum terjadi. Maka, banyak-banyaklah kalian berdoa, wahai hamba Allah!” (HR. At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Syekh Al-Albani rahimahullahu)Senjata ini pula yang dipakai oleh para nabi ketika kondisi menghimpit mereka. Ketika perang Badr, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama menyaksikan pasukan musuh melampaui pasukan kaum muslimin. Beliau pun menghadap kiblat dan berdoa,اللهم أنجز لي ما وعدتني، اللهم آت ما وعدتني، اللهم إن تهلك هذه العصابة من أهل الإسلام لا تعبد في الأرض“Ya Allah, berikan semua yang telah Engkau janjikan untukku. Ya Allah, datangkan semua yang telah Engkau janjikan untukku. Ya Allah, seandainya Engkau binasakan kaum muslimin ini, tentu tidak ada lagi yang akan menyembah-Mu di muka bumi ini.” (HR. Muslim no. 1763)Beliau terus berdoa demikian sampai pakaian beliau tersingkap dari pundaknya. Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu pun kembali memasangnya sembari mengatakan,كَفَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ؛ فإنَّه سَيُنْجِزُ لكَ ما وَعَدَكَ“Wahai Rasulullah, cukuplah munajatmu dengan Rabbmu. Sesungguhnya Dia akan memberikan apa yang telah dijanjikan untukmu.”Hingga kemudian turunlah firman Allah ‘Azza Wajalla yang memastikan pertolongan untuk Rasul-Nya yang akan datang,اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ“(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia mengabulkan(-nya) bagimu (seraya berfirman), ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut.’” (QS. Al-Anfal: 9)Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya menjadikan doa sebagai pilihan pertamanya tatkala menghadapi segala sesuatu, termasuk ketika seseorang ingin diselamatkan dari pikiran yang kotor. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ“Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53)Tidak ada doa yang secara khusus ditujukan untuk pikiran kotor, namun seseorang diperkenankan berdoa yang tidak jauh dari permohonan dijauhkan dari keburukan, seperti:Pertama: Membaca ta’awudz. Hal ini karena di antara sebab munculnya pikiran kotor adalah adanya gangguan setan. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,فَاِذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ“Apabila engkau hendak membaca Al-Qur’an, mohonlah pelindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS An Nahl: 98)Syekh ‘Abdurrahman As Sa’diy rahimahullahu mengatakan,فالطريق إلى السلامة من شره الالتجاء إلى الله، والاستعاذة به من شره“Kiat agar selamat dari keburukan setan adalah dengan berserah kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari keburukan setan.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 449)Kedua: Memohon perlindungan dari keburukan akhlak dan hawa nafsu. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama sering membaca doa berikut ini,اللهمَّ إنِّي أعوذُ بك من منكراتِ الأخلاقِ و الأعمالِ و الأهواءِ“Ya Allah, lindungilah aku dari keburukan akhlak, perbuatan, dan hawa nafsu.” (HR. At-Tirmidzi no. 3591)Ketiga: Membaca doa,اللَّهُمَّ إِني أعوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِن شَرِّ بصَرِي، وَمِن شَرِّ لسَاني، وَمِن شَرِّ قَلبي، وَمِن شَرِّ منِيِّي“Ya Allah, aku berlindung dari keburukan pendengaranku, penglihatanku, lisanku, hatiku, dan maniku.” (HR. At-Tirmidzi)Atau membaca doa lain yang dimampu oleh seseorang yang dengannya semoga Allah bersihkan hatinya dari bisikan-bisikan kotor atau ajakan berbuat yang dimurkai Allah ‘Azza Wajalla. Aamiin.Baca juga: Bagaimana Seorang Mukmin Mengelola Pikirannya?***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.idTags: berdoamenjaga pikiranpikiran kotor
Doa merupakan senjata terkuat dan pilihan pertama seorang mukmin dalam menghadapi situasi apa pun. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,من فُتح له منكم باب الدعاء فتحت له أبواب الرحمة، وما سُئل الله شيئاً يُعطى أحب إليه من أن يُسأل العافية، إن الدعاء ينفع مما نزل وما لم ينزل، فعليكم عباد الله بالدعاء“Siapa saja yang dibukakan pintu doa, artinya tengah dibukakan pintu rahmat oleh Allah. Dan tidak ada sesuatu yang dipinta kepada Allah yang lebih Allah cintai melebihi doa akan keselamatan. Sesungguhnya doa itu memberikan dampak positif untuk mereka yang berdoa, atas sesuatu yang terjadi atau belum terjadi. Maka, banyak-banyaklah kalian berdoa, wahai hamba Allah!” (HR. At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Syekh Al-Albani rahimahullahu)Senjata ini pula yang dipakai oleh para nabi ketika kondisi menghimpit mereka. Ketika perang Badr, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama menyaksikan pasukan musuh melampaui pasukan kaum muslimin. Beliau pun menghadap kiblat dan berdoa,اللهم أنجز لي ما وعدتني، اللهم آت ما وعدتني، اللهم إن تهلك هذه العصابة من أهل الإسلام لا تعبد في الأرض“Ya Allah, berikan semua yang telah Engkau janjikan untukku. Ya Allah, datangkan semua yang telah Engkau janjikan untukku. Ya Allah, seandainya Engkau binasakan kaum muslimin ini, tentu tidak ada lagi yang akan menyembah-Mu di muka bumi ini.” (HR. Muslim no. 1763)Beliau terus berdoa demikian sampai pakaian beliau tersingkap dari pundaknya. Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu pun kembali memasangnya sembari mengatakan,كَفَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ؛ فإنَّه سَيُنْجِزُ لكَ ما وَعَدَكَ“Wahai Rasulullah, cukuplah munajatmu dengan Rabbmu. Sesungguhnya Dia akan memberikan apa yang telah dijanjikan untukmu.”Hingga kemudian turunlah firman Allah ‘Azza Wajalla yang memastikan pertolongan untuk Rasul-Nya yang akan datang,اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ“(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia mengabulkan(-nya) bagimu (seraya berfirman), ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut.’” (QS. Al-Anfal: 9)Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya menjadikan doa sebagai pilihan pertamanya tatkala menghadapi segala sesuatu, termasuk ketika seseorang ingin diselamatkan dari pikiran yang kotor. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ“Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53)Tidak ada doa yang secara khusus ditujukan untuk pikiran kotor, namun seseorang diperkenankan berdoa yang tidak jauh dari permohonan dijauhkan dari keburukan, seperti:Pertama: Membaca ta’awudz. Hal ini karena di antara sebab munculnya pikiran kotor adalah adanya gangguan setan. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,فَاِذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ“Apabila engkau hendak membaca Al-Qur’an, mohonlah pelindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS An Nahl: 98)Syekh ‘Abdurrahman As Sa’diy rahimahullahu mengatakan,فالطريق إلى السلامة من شره الالتجاء إلى الله، والاستعاذة به من شره“Kiat agar selamat dari keburukan setan adalah dengan berserah kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari keburukan setan.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 449)Kedua: Memohon perlindungan dari keburukan akhlak dan hawa nafsu. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama sering membaca doa berikut ini,اللهمَّ إنِّي أعوذُ بك من منكراتِ الأخلاقِ و الأعمالِ و الأهواءِ“Ya Allah, lindungilah aku dari keburukan akhlak, perbuatan, dan hawa nafsu.” (HR. At-Tirmidzi no. 3591)Ketiga: Membaca doa,اللَّهُمَّ إِني أعوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِن شَرِّ بصَرِي، وَمِن شَرِّ لسَاني، وَمِن شَرِّ قَلبي، وَمِن شَرِّ منِيِّي“Ya Allah, aku berlindung dari keburukan pendengaranku, penglihatanku, lisanku, hatiku, dan maniku.” (HR. At-Tirmidzi)Atau membaca doa lain yang dimampu oleh seseorang yang dengannya semoga Allah bersihkan hatinya dari bisikan-bisikan kotor atau ajakan berbuat yang dimurkai Allah ‘Azza Wajalla. Aamiin.Baca juga: Bagaimana Seorang Mukmin Mengelola Pikirannya?***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.idTags: berdoamenjaga pikiranpikiran kotor


Doa merupakan senjata terkuat dan pilihan pertama seorang mukmin dalam menghadapi situasi apa pun. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,من فُتح له منكم باب الدعاء فتحت له أبواب الرحمة، وما سُئل الله شيئاً يُعطى أحب إليه من أن يُسأل العافية، إن الدعاء ينفع مما نزل وما لم ينزل، فعليكم عباد الله بالدعاء“Siapa saja yang dibukakan pintu doa, artinya tengah dibukakan pintu rahmat oleh Allah. Dan tidak ada sesuatu yang dipinta kepada Allah yang lebih Allah cintai melebihi doa akan keselamatan. Sesungguhnya doa itu memberikan dampak positif untuk mereka yang berdoa, atas sesuatu yang terjadi atau belum terjadi. Maka, banyak-banyaklah kalian berdoa, wahai hamba Allah!” (HR. At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Syekh Al-Albani rahimahullahu)Senjata ini pula yang dipakai oleh para nabi ketika kondisi menghimpit mereka. Ketika perang Badr, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama menyaksikan pasukan musuh melampaui pasukan kaum muslimin. Beliau pun menghadap kiblat dan berdoa,اللهم أنجز لي ما وعدتني، اللهم آت ما وعدتني، اللهم إن تهلك هذه العصابة من أهل الإسلام لا تعبد في الأرض“Ya Allah, berikan semua yang telah Engkau janjikan untukku. Ya Allah, datangkan semua yang telah Engkau janjikan untukku. Ya Allah, seandainya Engkau binasakan kaum muslimin ini, tentu tidak ada lagi yang akan menyembah-Mu di muka bumi ini.” (HR. Muslim no. 1763)Beliau terus berdoa demikian sampai pakaian beliau tersingkap dari pundaknya. Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu pun kembali memasangnya sembari mengatakan,كَفَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ؛ فإنَّه سَيُنْجِزُ لكَ ما وَعَدَكَ“Wahai Rasulullah, cukuplah munajatmu dengan Rabbmu. Sesungguhnya Dia akan memberikan apa yang telah dijanjikan untukmu.”Hingga kemudian turunlah firman Allah ‘Azza Wajalla yang memastikan pertolongan untuk Rasul-Nya yang akan datang,اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ“(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia mengabulkan(-nya) bagimu (seraya berfirman), ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut.’” (QS. Al-Anfal: 9)Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya menjadikan doa sebagai pilihan pertamanya tatkala menghadapi segala sesuatu, termasuk ketika seseorang ingin diselamatkan dari pikiran yang kotor. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ“Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53)Tidak ada doa yang secara khusus ditujukan untuk pikiran kotor, namun seseorang diperkenankan berdoa yang tidak jauh dari permohonan dijauhkan dari keburukan, seperti:Pertama: Membaca ta’awudz. Hal ini karena di antara sebab munculnya pikiran kotor adalah adanya gangguan setan. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,فَاِذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ“Apabila engkau hendak membaca Al-Qur’an, mohonlah pelindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS An Nahl: 98)Syekh ‘Abdurrahman As Sa’diy rahimahullahu mengatakan,فالطريق إلى السلامة من شره الالتجاء إلى الله، والاستعاذة به من شره“Kiat agar selamat dari keburukan setan adalah dengan berserah kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari keburukan setan.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 449)Kedua: Memohon perlindungan dari keburukan akhlak dan hawa nafsu. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama sering membaca doa berikut ini,اللهمَّ إنِّي أعوذُ بك من منكراتِ الأخلاقِ و الأعمالِ و الأهواءِ“Ya Allah, lindungilah aku dari keburukan akhlak, perbuatan, dan hawa nafsu.” (HR. At-Tirmidzi no. 3591)Ketiga: Membaca doa,اللَّهُمَّ إِني أعوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِن شَرِّ بصَرِي، وَمِن شَرِّ لسَاني، وَمِن شَرِّ قَلبي، وَمِن شَرِّ منِيِّي“Ya Allah, aku berlindung dari keburukan pendengaranku, penglihatanku, lisanku, hatiku, dan maniku.” (HR. At-Tirmidzi)Atau membaca doa lain yang dimampu oleh seseorang yang dengannya semoga Allah bersihkan hatinya dari bisikan-bisikan kotor atau ajakan berbuat yang dimurkai Allah ‘Azza Wajalla. Aamiin.Baca juga: Bagaimana Seorang Mukmin Mengelola Pikirannya?***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.idTags: berdoamenjaga pikiranpikiran kotor

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 199 – DOA SAAT MENDADAK BANGUN TIDUR KETAKUTAN

Tidak setiap tidur, kita bisa nyenyak dan menikmatinya. Kadangkala kita kesulitan untuk tidur. Atau mendadak terbangun dan merasa ketakutan. Ternyata dalam kondisi tidak ideal seperti ini pun, Islam mengajarkan panduan doa yang seyogyanya diucapkan. Yaitu membaca doa berikut:أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ، وَشَرِّ عِبَادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ“A’ûdzu bikalimâtillâhit tâmmâti min ghadhabihi wa ‘iqâbihi, wa syarri ‘ibâdihi, wa min hamazâtisy syayâthîni wa an yahdhurûn”.Dalil LandasanRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,«إِذَا فَزِعَ أَحَدُكُمْ فِي النَّوْمِ فَلْيَقُلْ: “أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ” فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ».“Bila salah seorang dari kalian mendadak terbangun dari tidur ketakutan, hendaklah ia membaca: “A’ûdzu bikalimâtillâhit tâmmâti min ghadhabihi wa ‘iqâbihi, wa syarri ‘ibâdihi, wa min hamazâtisy syayâthîni wa an yahdhurûn” (Aku memohon perlindungan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari kemarahan-Nya dan hukuman-Nya, juga dari kejahatan para makhluk-Nya. Serta aku memohon perlindungan dengannya dari gangguan para setan dan agar mereka tidak mendatangiku)”. Niscaya pemicu ketakutan itu tidak akan mencelakainya”. HR. Tirmidziy (no. 3528) dan beliau mengatakan hadits ini hasan gharib. Adapun al-Albaniy menyatakan hadits ini hasan.Renungan KandunganDoa ini mengajarkan pada kita untuk selalu membangun ketergantungan kepada Allah dalam segala kondisi. Apapun kondisi yang kita alami, biasakanlah untuk senantiasa mengingat Allah, kembali dan bergantung kepada-Nya. Sebab hanya Dialah yang menguasai dan mengendalikan secara mutlak segala sesuatu di alam semesta ini. Bukan para makhluk-Nya yang lemah. Entah itu makhluk yang masih hidup, atau makhluk hidup yang sudah mati, apalagi benda mati. Allah ta’ala mengingatkan,“أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ”Artinya: “Siapakah yang mampu mengabulkan permohonan orang-orang yang sedang kepepet dalam kesulitan? Siapakah yang bisa melepaskan seseorang dari kesulitannya? Siapakah yang menjadikan kalian khalifah di muka bumi ini? (Jika bukan Allah). Pantaskah ada sesembahan selain Allah? Sungguh kalian sangat jarang berfikir”. QS. An-Naml (27): 62.Di dalam doa ini, kita diajarkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dengan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna. Yaitu nama-nama-Nya yang mulia dan ayat-ayat al-Qur’an.Kita memohon perlindungan dari beberapa hal, yaitu:Kemarahan Allah dan hukuman-Nya. Sebab bila Allah marah, maka Dia akan menjatuhkan hukuman bagi orang yang dimarahi-Nya. Cara menghindari itu adalah dengan menjauhi hal-hal yang bisa memicu kemarahan-Nya. Yaitu dosa dan maksiat.Kejahatan makhluk ciptaan-Nya. Karena ada sebagian makhluk Allah yang ditakdirkan berbuat jahat dan keburukan kepada sesama. Seperti setan, dukun, tukang sihir, pencuri, binatang buas dan yang semisal.Gangguan setan. Sebab setan merupakan salah satu musuh terbesar manusia. Sehingga ia selalu berupaya untuk mencelakakan manusia. Target utamanya adalah menjerumuskan sebanyak mungkin manusia ke dalam neraka Jahannam, guna menemaninya di sana. Na’udubillah min dzalik.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjanjikan untuk siapapun yang membaca doa ini saat terbangun mendadak dari tidurnya ketakutan, pasti tidak ada sesuatupun yang bisa mencelakakannya.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Dzulqa’dah 1444 / 29 Mei 2023AGEN KEBAIKANREG:NAMA#JENIS KELAMIN#KOTA = 0812-2291-0404Facebookwww.facebook.com/UstadzAbdullahZaen/Telegramhttps://t.me/ustadzabdullahzaenSoundcloudhttps://soundcloud.com/ustadzabdullahzaenInstagramhttps://www.instagram.com/abdullahzaenofficial/Youtubehttps://www.youtube.com/c/ustadzabdullahzaenma

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 199 – DOA SAAT MENDADAK BANGUN TIDUR KETAKUTAN

Tidak setiap tidur, kita bisa nyenyak dan menikmatinya. Kadangkala kita kesulitan untuk tidur. Atau mendadak terbangun dan merasa ketakutan. Ternyata dalam kondisi tidak ideal seperti ini pun, Islam mengajarkan panduan doa yang seyogyanya diucapkan. Yaitu membaca doa berikut:أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ، وَشَرِّ عِبَادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ“A’ûdzu bikalimâtillâhit tâmmâti min ghadhabihi wa ‘iqâbihi, wa syarri ‘ibâdihi, wa min hamazâtisy syayâthîni wa an yahdhurûn”.Dalil LandasanRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,«إِذَا فَزِعَ أَحَدُكُمْ فِي النَّوْمِ فَلْيَقُلْ: “أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ” فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ».“Bila salah seorang dari kalian mendadak terbangun dari tidur ketakutan, hendaklah ia membaca: “A’ûdzu bikalimâtillâhit tâmmâti min ghadhabihi wa ‘iqâbihi, wa syarri ‘ibâdihi, wa min hamazâtisy syayâthîni wa an yahdhurûn” (Aku memohon perlindungan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari kemarahan-Nya dan hukuman-Nya, juga dari kejahatan para makhluk-Nya. Serta aku memohon perlindungan dengannya dari gangguan para setan dan agar mereka tidak mendatangiku)”. Niscaya pemicu ketakutan itu tidak akan mencelakainya”. HR. Tirmidziy (no. 3528) dan beliau mengatakan hadits ini hasan gharib. Adapun al-Albaniy menyatakan hadits ini hasan.Renungan KandunganDoa ini mengajarkan pada kita untuk selalu membangun ketergantungan kepada Allah dalam segala kondisi. Apapun kondisi yang kita alami, biasakanlah untuk senantiasa mengingat Allah, kembali dan bergantung kepada-Nya. Sebab hanya Dialah yang menguasai dan mengendalikan secara mutlak segala sesuatu di alam semesta ini. Bukan para makhluk-Nya yang lemah. Entah itu makhluk yang masih hidup, atau makhluk hidup yang sudah mati, apalagi benda mati. Allah ta’ala mengingatkan,“أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ”Artinya: “Siapakah yang mampu mengabulkan permohonan orang-orang yang sedang kepepet dalam kesulitan? Siapakah yang bisa melepaskan seseorang dari kesulitannya? Siapakah yang menjadikan kalian khalifah di muka bumi ini? (Jika bukan Allah). Pantaskah ada sesembahan selain Allah? Sungguh kalian sangat jarang berfikir”. QS. An-Naml (27): 62.Di dalam doa ini, kita diajarkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dengan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna. Yaitu nama-nama-Nya yang mulia dan ayat-ayat al-Qur’an.Kita memohon perlindungan dari beberapa hal, yaitu:Kemarahan Allah dan hukuman-Nya. Sebab bila Allah marah, maka Dia akan menjatuhkan hukuman bagi orang yang dimarahi-Nya. Cara menghindari itu adalah dengan menjauhi hal-hal yang bisa memicu kemarahan-Nya. Yaitu dosa dan maksiat.Kejahatan makhluk ciptaan-Nya. Karena ada sebagian makhluk Allah yang ditakdirkan berbuat jahat dan keburukan kepada sesama. Seperti setan, dukun, tukang sihir, pencuri, binatang buas dan yang semisal.Gangguan setan. Sebab setan merupakan salah satu musuh terbesar manusia. Sehingga ia selalu berupaya untuk mencelakakan manusia. Target utamanya adalah menjerumuskan sebanyak mungkin manusia ke dalam neraka Jahannam, guna menemaninya di sana. Na’udubillah min dzalik.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjanjikan untuk siapapun yang membaca doa ini saat terbangun mendadak dari tidurnya ketakutan, pasti tidak ada sesuatupun yang bisa mencelakakannya.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Dzulqa’dah 1444 / 29 Mei 2023AGEN KEBAIKANREG:NAMA#JENIS KELAMIN#KOTA = 0812-2291-0404Facebookwww.facebook.com/UstadzAbdullahZaen/Telegramhttps://t.me/ustadzabdullahzaenSoundcloudhttps://soundcloud.com/ustadzabdullahzaenInstagramhttps://www.instagram.com/abdullahzaenofficial/Youtubehttps://www.youtube.com/c/ustadzabdullahzaenma
Tidak setiap tidur, kita bisa nyenyak dan menikmatinya. Kadangkala kita kesulitan untuk tidur. Atau mendadak terbangun dan merasa ketakutan. Ternyata dalam kondisi tidak ideal seperti ini pun, Islam mengajarkan panduan doa yang seyogyanya diucapkan. Yaitu membaca doa berikut:أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ، وَشَرِّ عِبَادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ“A’ûdzu bikalimâtillâhit tâmmâti min ghadhabihi wa ‘iqâbihi, wa syarri ‘ibâdihi, wa min hamazâtisy syayâthîni wa an yahdhurûn”.Dalil LandasanRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,«إِذَا فَزِعَ أَحَدُكُمْ فِي النَّوْمِ فَلْيَقُلْ: “أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ” فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ».“Bila salah seorang dari kalian mendadak terbangun dari tidur ketakutan, hendaklah ia membaca: “A’ûdzu bikalimâtillâhit tâmmâti min ghadhabihi wa ‘iqâbihi, wa syarri ‘ibâdihi, wa min hamazâtisy syayâthîni wa an yahdhurûn” (Aku memohon perlindungan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari kemarahan-Nya dan hukuman-Nya, juga dari kejahatan para makhluk-Nya. Serta aku memohon perlindungan dengannya dari gangguan para setan dan agar mereka tidak mendatangiku)”. Niscaya pemicu ketakutan itu tidak akan mencelakainya”. HR. Tirmidziy (no. 3528) dan beliau mengatakan hadits ini hasan gharib. Adapun al-Albaniy menyatakan hadits ini hasan.Renungan KandunganDoa ini mengajarkan pada kita untuk selalu membangun ketergantungan kepada Allah dalam segala kondisi. Apapun kondisi yang kita alami, biasakanlah untuk senantiasa mengingat Allah, kembali dan bergantung kepada-Nya. Sebab hanya Dialah yang menguasai dan mengendalikan secara mutlak segala sesuatu di alam semesta ini. Bukan para makhluk-Nya yang lemah. Entah itu makhluk yang masih hidup, atau makhluk hidup yang sudah mati, apalagi benda mati. Allah ta’ala mengingatkan,“أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ”Artinya: “Siapakah yang mampu mengabulkan permohonan orang-orang yang sedang kepepet dalam kesulitan? Siapakah yang bisa melepaskan seseorang dari kesulitannya? Siapakah yang menjadikan kalian khalifah di muka bumi ini? (Jika bukan Allah). Pantaskah ada sesembahan selain Allah? Sungguh kalian sangat jarang berfikir”. QS. An-Naml (27): 62.Di dalam doa ini, kita diajarkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dengan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna. Yaitu nama-nama-Nya yang mulia dan ayat-ayat al-Qur’an.Kita memohon perlindungan dari beberapa hal, yaitu:Kemarahan Allah dan hukuman-Nya. Sebab bila Allah marah, maka Dia akan menjatuhkan hukuman bagi orang yang dimarahi-Nya. Cara menghindari itu adalah dengan menjauhi hal-hal yang bisa memicu kemarahan-Nya. Yaitu dosa dan maksiat.Kejahatan makhluk ciptaan-Nya. Karena ada sebagian makhluk Allah yang ditakdirkan berbuat jahat dan keburukan kepada sesama. Seperti setan, dukun, tukang sihir, pencuri, binatang buas dan yang semisal.Gangguan setan. Sebab setan merupakan salah satu musuh terbesar manusia. Sehingga ia selalu berupaya untuk mencelakakan manusia. Target utamanya adalah menjerumuskan sebanyak mungkin manusia ke dalam neraka Jahannam, guna menemaninya di sana. Na’udubillah min dzalik.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjanjikan untuk siapapun yang membaca doa ini saat terbangun mendadak dari tidurnya ketakutan, pasti tidak ada sesuatupun yang bisa mencelakakannya.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Dzulqa’dah 1444 / 29 Mei 2023AGEN KEBAIKANREG:NAMA#JENIS KELAMIN#KOTA = 0812-2291-0404Facebookwww.facebook.com/UstadzAbdullahZaen/Telegramhttps://t.me/ustadzabdullahzaenSoundcloudhttps://soundcloud.com/ustadzabdullahzaenInstagramhttps://www.instagram.com/abdullahzaenofficial/Youtubehttps://www.youtube.com/c/ustadzabdullahzaenma


Tidak setiap tidur, kita bisa nyenyak dan menikmatinya. Kadangkala kita kesulitan untuk tidur. Atau mendadak terbangun dan merasa ketakutan. Ternyata dalam kondisi tidak ideal seperti ini pun, Islam mengajarkan panduan doa yang seyogyanya diucapkan. Yaitu membaca doa berikut:أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ، وَشَرِّ عِبَادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ“A’ûdzu bikalimâtillâhit tâmmâti min ghadhabihi wa ‘iqâbihi, wa syarri ‘ibâdihi, wa min hamazâtisy syayâthîni wa an yahdhurûn”.Dalil LandasanRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,«إِذَا فَزِعَ أَحَدُكُمْ فِي النَّوْمِ فَلْيَقُلْ: “أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ” فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ».“Bila salah seorang dari kalian mendadak terbangun dari tidur ketakutan, hendaklah ia membaca: “A’ûdzu bikalimâtillâhit tâmmâti min ghadhabihi wa ‘iqâbihi, wa syarri ‘ibâdihi, wa min hamazâtisy syayâthîni wa an yahdhurûn” (Aku memohon perlindungan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari kemarahan-Nya dan hukuman-Nya, juga dari kejahatan para makhluk-Nya. Serta aku memohon perlindungan dengannya dari gangguan para setan dan agar mereka tidak mendatangiku)”. Niscaya pemicu ketakutan itu tidak akan mencelakainya”. HR. Tirmidziy (no. 3528) dan beliau mengatakan hadits ini hasan gharib. Adapun al-Albaniy menyatakan hadits ini hasan.Renungan KandunganDoa ini mengajarkan pada kita untuk selalu membangun ketergantungan kepada Allah dalam segala kondisi. Apapun kondisi yang kita alami, biasakanlah untuk senantiasa mengingat Allah, kembali dan bergantung kepada-Nya. Sebab hanya Dialah yang menguasai dan mengendalikan secara mutlak segala sesuatu di alam semesta ini. Bukan para makhluk-Nya yang lemah. Entah itu makhluk yang masih hidup, atau makhluk hidup yang sudah mati, apalagi benda mati. Allah ta’ala mengingatkan,“أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ”Artinya: “Siapakah yang mampu mengabulkan permohonan orang-orang yang sedang kepepet dalam kesulitan? Siapakah yang bisa melepaskan seseorang dari kesulitannya? Siapakah yang menjadikan kalian khalifah di muka bumi ini? (Jika bukan Allah). Pantaskah ada sesembahan selain Allah? Sungguh kalian sangat jarang berfikir”. QS. An-Naml (27): 62.Di dalam doa ini, kita diajarkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dengan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna. Yaitu nama-nama-Nya yang mulia dan ayat-ayat al-Qur’an.Kita memohon perlindungan dari beberapa hal, yaitu:Kemarahan Allah dan hukuman-Nya. Sebab bila Allah marah, maka Dia akan menjatuhkan hukuman bagi orang yang dimarahi-Nya. Cara menghindari itu adalah dengan menjauhi hal-hal yang bisa memicu kemarahan-Nya. Yaitu dosa dan maksiat.Kejahatan makhluk ciptaan-Nya. Karena ada sebagian makhluk Allah yang ditakdirkan berbuat jahat dan keburukan kepada sesama. Seperti setan, dukun, tukang sihir, pencuri, binatang buas dan yang semisal.Gangguan setan. Sebab setan merupakan salah satu musuh terbesar manusia. Sehingga ia selalu berupaya untuk mencelakakan manusia. Target utamanya adalah menjerumuskan sebanyak mungkin manusia ke dalam neraka Jahannam, guna menemaninya di sana. Na’udubillah min dzalik.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjanjikan untuk siapapun yang membaca doa ini saat terbangun mendadak dari tidurnya ketakutan, pasti tidak ada sesuatupun yang bisa mencelakakannya.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Dzulqa’dah 1444 / 29 Mei 2023AGEN KEBAIKANREG:NAMA#JENIS KELAMIN#KOTA = 0812-2291-0404Facebookwww.facebook.com/UstadzAbdullahZaen/Telegramhttps://t.me/ustadzabdullahzaenSoundcloudhttps://soundcloud.com/ustadzabdullahzaenInstagramhttps://www.instagram.com/abdullahzaenofficial/Youtubehttps://www.youtube.com/c/ustadzabdullahzaenma

Syarat Wajib Haji Harus Mampu, Apa yang Dimaksud Mampu?

Syarat wajib haji adalah istito’ah, punya kemampuan. Apa syarat wajib haji itu mampu? Mampu dari sisi harta sajakah ataukah fisik pula? Silakan lihat pembahasan Bulughul Maram berikut ini.     Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan 4. Hadits #712 5. Hadits #713 5.1. Faedah hadits 5.2. Syarat Istitha’ah (Kemampuan) dalam Haji 5.2.1. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ فَضْلِهِ وَبَيَانِ مَنْ فُرِضَ عَلَيْهِ Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan   Hadits #712 وَعَنْ أَنَسٍ ( قَالَ: { قِيلَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ, مَا اَلسَّبِيلُ? قَالَ: ” اَلزَّادُ وَالرَّاحِلَةُ ” } رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ, وَالرَّاجِحُ إِرْسَالُهُ  . Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah sabil (jalan) itu?’ Beliau bersabda, ‘Bekal dan kendaran.’” (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni. Hadits ini sahih menurut Al-Hakim. Hadits ini mursal menurut pendapat yang kuat). [HR. Ad-Daruquthni, 2:216; Al-Hakim, 1:442. Hadits ini dinyatakan sahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tetapi tidak dikeluarkan oleh keduanya. Imam Adz-Dzahabi mendiamkannya. Namun, Imam Ad-Daruquthni menyatakan bahwa hadits ini memiliki ‘illah atau cacat, dianggap hadits ini mursal dari Al-Hasan].   Hadits #713 وَأَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ أَيْضًا, وَفِي إِسْنَادِهِ ضَعْفٌ Hadits tersebut juga dikeluarkan oleh Tirmidzi dari hadits Ibnu ‘Umar. Dalam sanadnya ada kelemahan. [HR. Tirmidzi, no. 813, Tirmidzi menyatakan bahwa hadits ini hasan. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyatakan bahwa tidak ada hadits sahih dalam hal ini].   Faedah hadits Pertama: Dalam ayat disebutkan bahwa syarat wajib haji adalah adanya kemampuan sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala, وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran: 97). Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan mampu melakukan perjalanan adlaah: (1) sehat badan, (2) bekal uang yang cukup, (3) ada kendaraan tanpa ada bahaya. (Tafsir Ibnu Jarir, 7:38; As-Sunan Al-Kabiir oleh Imam Al-Baihaqi, 4:331. Sanad hadits ini sahih. Lihat Minhah Al-‘Allam, 5:167]. Karena haji itu terkait dengan jarak yang amat jauh. Syarat kemampuan ini mesti ada sebagaimana jika seseorang mau pergi jihad disyaratkan kemampuan. Menurut ulama Syafiiyah, Hanafiyyah, dan Hambali, syarat mampu adalah memiliki kemampuan zaad (bekal) dan roohilah (kendaraan). Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam (5:168), istitho’ah adalah lafaz umum, bukan mujmal yang tidak perlu adanya bayan (penjelasan). Siapa saja yang punya kemampuan dengan harta dan badan, maka ia disebut mampu, masuk dalam lafaz umum ini. Kedua: Hadits ini membicarakan perbekalan hakiki, bukan perbekalan takwa. Perbekalan takwa adalah kelebihan dari nafkah diri dan keluarga, hingga perbekalan kendaraan ketika pergi dan pulang. Sedangkan istitho’ah yang dimaksudkan dalam ayat Al-Qur’an adalah zaad (bekal) dan roohilah (kendaraan). Perincian kemampuan ini disebutkan dalam kitab fikih sebagai berikut.   Syarat Istitha’ah (Kemampuan) dalam Haji Jika seorang laki-laki tidak mendapati ar-raahilah (kendaraan), apakah ia wajib berhaji. Ada rincian: Jika antara ia dan Makkah berjarak dua marhalah (84km) atau lebih, ia tidak wajib berhaji, baik ia mampu berjalan ataukah tidak. Jika antara ia dan Makkah kurang dari dua marhalah (84lm), ia wajib berhaji jika mampu berjalan. Jika tidak mampu berjalan, haji tidaklah wajib untuknya. Wanita barulah wajib berhaji jika ada kendaraan. Jika tidak ada kendaran, haji tidaklah wajib secara mutlak.   Istitha’ah adalah syarat dalam haji. Istitha’ah ada dua macam: Pertama: Istitha’ah bin nafsi (pada diri sendiri), asalkan memenuhi tujuh syarat: Memiliki bekal pergi dan pulang. Memiliki kendaraan yang baik untuk dikendarai. Memiliki air dan makanan untuk hewan di tempat yang biasa dengan harga sepadan. Mampu naik kendaraan tanpa ada kesulitan berat. Mampu melakukan perjalanan. Perjalanan aman; secara perkiraan besar, perjalanannya itu selamat. Adanya suami atau mahram atau wanita yang tsiqqah (yang terpercaya) ketika ada wanita yang ingin berangkat. Catatan: Wanita boleh berhaji sendirian untuk menunaikan kewajiban Islam jika ia yakin dirinya aman.   Kedua: Istitha’ah lil ghair (pada yang lain), yaitu: pada mayat dan pada orang ‘aajiz (tidak mampu, tidak mampu berangkat haji, maka ia mencari pengganti). Kemampuan atas mayat ada tiga keadaan: Ia sudah wajib berhaji di masa hidupnya, ia wajib dihajikan dari harta peninggalannya. Jika ia tidak memiliki harta peninggalan, ahli waris disunnahkan menghajikannya. Dalam hal ini, yang bukan mahram (ajnabi) boleh menghajikan walau tanpa izin. Ia tidak terkena wajib haji pada masa hidupnya, maka kerabat atau yang bukan mahram (ajnabi) disunnahkan menghajikannya, baik ada wasiat ataukah tidak. Ia sudah pernah berhaji untuk dirinya, apakah ia perlu dihajikan lagi dengan status sunnah? Menurut pendapat al-mu’tamad: Ia dihajikan jika memang ada wasiat. Jika tidak ada wasiat, maka tidak perlu menghajikan. Kemampuan atas ‘aajiz, orang yang tidak bisa lagi berhaji, maka ia bisa digantikan oleh yang lain dengan syarat: Dengan izin orang yang ‘aajiz. Orang yang menggantikan itu dipercaya. Yang menggantikan sudah pernah berhaji untuk dirinya sendiri. Lihat bahasan Tahqiq Ar-Raghbaat bi At-Taqsiimaat wa At-Tasyjiiroot li Tholabah Al-Fiqh Asy-Syafii. Syaikh Dr. Labib Najib ‘Abdullah Ghalib. Baca Juga: Hukum Umrah Ternyata Wajib, Inilah Dalil dan Penjelasannya Hukum Anak Kecil Melaksanakan Ibadah Haji Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:166-168. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:569-570. Tahqiq Ar-Raghbaat bi At-Taqsiimaat wa At-Tasyjiiroot li Tholabah Al-Fiqh Asy-Syafii (Qism Al-‘Ibaadaat). Syaikh Dr. Labib Najib ‘Abdullah Ghalib. hlm. 215-216. –   Diselesaikan di Darush Sholihin, 8 Dzulqa’dah 1444 H, 28 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji berhaji bulughul maram bulughul maram haji cara umrah dalil haji fikih haji fikih umrah haji haji itu wajib haji mabrur keutamaan haji keutamaan umrah syarat mampu berhaji

Syarat Wajib Haji Harus Mampu, Apa yang Dimaksud Mampu?

Syarat wajib haji adalah istito’ah, punya kemampuan. Apa syarat wajib haji itu mampu? Mampu dari sisi harta sajakah ataukah fisik pula? Silakan lihat pembahasan Bulughul Maram berikut ini.     Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan 4. Hadits #712 5. Hadits #713 5.1. Faedah hadits 5.2. Syarat Istitha’ah (Kemampuan) dalam Haji 5.2.1. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ فَضْلِهِ وَبَيَانِ مَنْ فُرِضَ عَلَيْهِ Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan   Hadits #712 وَعَنْ أَنَسٍ ( قَالَ: { قِيلَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ, مَا اَلسَّبِيلُ? قَالَ: ” اَلزَّادُ وَالرَّاحِلَةُ ” } رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ, وَالرَّاجِحُ إِرْسَالُهُ  . Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah sabil (jalan) itu?’ Beliau bersabda, ‘Bekal dan kendaran.’” (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni. Hadits ini sahih menurut Al-Hakim. Hadits ini mursal menurut pendapat yang kuat). [HR. Ad-Daruquthni, 2:216; Al-Hakim, 1:442. Hadits ini dinyatakan sahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tetapi tidak dikeluarkan oleh keduanya. Imam Adz-Dzahabi mendiamkannya. Namun, Imam Ad-Daruquthni menyatakan bahwa hadits ini memiliki ‘illah atau cacat, dianggap hadits ini mursal dari Al-Hasan].   Hadits #713 وَأَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ أَيْضًا, وَفِي إِسْنَادِهِ ضَعْفٌ Hadits tersebut juga dikeluarkan oleh Tirmidzi dari hadits Ibnu ‘Umar. Dalam sanadnya ada kelemahan. [HR. Tirmidzi, no. 813, Tirmidzi menyatakan bahwa hadits ini hasan. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyatakan bahwa tidak ada hadits sahih dalam hal ini].   Faedah hadits Pertama: Dalam ayat disebutkan bahwa syarat wajib haji adalah adanya kemampuan sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala, وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran: 97). Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan mampu melakukan perjalanan adlaah: (1) sehat badan, (2) bekal uang yang cukup, (3) ada kendaraan tanpa ada bahaya. (Tafsir Ibnu Jarir, 7:38; As-Sunan Al-Kabiir oleh Imam Al-Baihaqi, 4:331. Sanad hadits ini sahih. Lihat Minhah Al-‘Allam, 5:167]. Karena haji itu terkait dengan jarak yang amat jauh. Syarat kemampuan ini mesti ada sebagaimana jika seseorang mau pergi jihad disyaratkan kemampuan. Menurut ulama Syafiiyah, Hanafiyyah, dan Hambali, syarat mampu adalah memiliki kemampuan zaad (bekal) dan roohilah (kendaraan). Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam (5:168), istitho’ah adalah lafaz umum, bukan mujmal yang tidak perlu adanya bayan (penjelasan). Siapa saja yang punya kemampuan dengan harta dan badan, maka ia disebut mampu, masuk dalam lafaz umum ini. Kedua: Hadits ini membicarakan perbekalan hakiki, bukan perbekalan takwa. Perbekalan takwa adalah kelebihan dari nafkah diri dan keluarga, hingga perbekalan kendaraan ketika pergi dan pulang. Sedangkan istitho’ah yang dimaksudkan dalam ayat Al-Qur’an adalah zaad (bekal) dan roohilah (kendaraan). Perincian kemampuan ini disebutkan dalam kitab fikih sebagai berikut.   Syarat Istitha’ah (Kemampuan) dalam Haji Jika seorang laki-laki tidak mendapati ar-raahilah (kendaraan), apakah ia wajib berhaji. Ada rincian: Jika antara ia dan Makkah berjarak dua marhalah (84km) atau lebih, ia tidak wajib berhaji, baik ia mampu berjalan ataukah tidak. Jika antara ia dan Makkah kurang dari dua marhalah (84lm), ia wajib berhaji jika mampu berjalan. Jika tidak mampu berjalan, haji tidaklah wajib untuknya. Wanita barulah wajib berhaji jika ada kendaraan. Jika tidak ada kendaran, haji tidaklah wajib secara mutlak.   Istitha’ah adalah syarat dalam haji. Istitha’ah ada dua macam: Pertama: Istitha’ah bin nafsi (pada diri sendiri), asalkan memenuhi tujuh syarat: Memiliki bekal pergi dan pulang. Memiliki kendaraan yang baik untuk dikendarai. Memiliki air dan makanan untuk hewan di tempat yang biasa dengan harga sepadan. Mampu naik kendaraan tanpa ada kesulitan berat. Mampu melakukan perjalanan. Perjalanan aman; secara perkiraan besar, perjalanannya itu selamat. Adanya suami atau mahram atau wanita yang tsiqqah (yang terpercaya) ketika ada wanita yang ingin berangkat. Catatan: Wanita boleh berhaji sendirian untuk menunaikan kewajiban Islam jika ia yakin dirinya aman.   Kedua: Istitha’ah lil ghair (pada yang lain), yaitu: pada mayat dan pada orang ‘aajiz (tidak mampu, tidak mampu berangkat haji, maka ia mencari pengganti). Kemampuan atas mayat ada tiga keadaan: Ia sudah wajib berhaji di masa hidupnya, ia wajib dihajikan dari harta peninggalannya. Jika ia tidak memiliki harta peninggalan, ahli waris disunnahkan menghajikannya. Dalam hal ini, yang bukan mahram (ajnabi) boleh menghajikan walau tanpa izin. Ia tidak terkena wajib haji pada masa hidupnya, maka kerabat atau yang bukan mahram (ajnabi) disunnahkan menghajikannya, baik ada wasiat ataukah tidak. Ia sudah pernah berhaji untuk dirinya, apakah ia perlu dihajikan lagi dengan status sunnah? Menurut pendapat al-mu’tamad: Ia dihajikan jika memang ada wasiat. Jika tidak ada wasiat, maka tidak perlu menghajikan. Kemampuan atas ‘aajiz, orang yang tidak bisa lagi berhaji, maka ia bisa digantikan oleh yang lain dengan syarat: Dengan izin orang yang ‘aajiz. Orang yang menggantikan itu dipercaya. Yang menggantikan sudah pernah berhaji untuk dirinya sendiri. Lihat bahasan Tahqiq Ar-Raghbaat bi At-Taqsiimaat wa At-Tasyjiiroot li Tholabah Al-Fiqh Asy-Syafii. Syaikh Dr. Labib Najib ‘Abdullah Ghalib. Baca Juga: Hukum Umrah Ternyata Wajib, Inilah Dalil dan Penjelasannya Hukum Anak Kecil Melaksanakan Ibadah Haji Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:166-168. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:569-570. Tahqiq Ar-Raghbaat bi At-Taqsiimaat wa At-Tasyjiiroot li Tholabah Al-Fiqh Asy-Syafii (Qism Al-‘Ibaadaat). Syaikh Dr. Labib Najib ‘Abdullah Ghalib. hlm. 215-216. –   Diselesaikan di Darush Sholihin, 8 Dzulqa’dah 1444 H, 28 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji berhaji bulughul maram bulughul maram haji cara umrah dalil haji fikih haji fikih umrah haji haji itu wajib haji mabrur keutamaan haji keutamaan umrah syarat mampu berhaji
Syarat wajib haji adalah istito’ah, punya kemampuan. Apa syarat wajib haji itu mampu? Mampu dari sisi harta sajakah ataukah fisik pula? Silakan lihat pembahasan Bulughul Maram berikut ini.     Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan 4. Hadits #712 5. Hadits #713 5.1. Faedah hadits 5.2. Syarat Istitha’ah (Kemampuan) dalam Haji 5.2.1. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ فَضْلِهِ وَبَيَانِ مَنْ فُرِضَ عَلَيْهِ Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan   Hadits #712 وَعَنْ أَنَسٍ ( قَالَ: { قِيلَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ, مَا اَلسَّبِيلُ? قَالَ: ” اَلزَّادُ وَالرَّاحِلَةُ ” } رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ, وَالرَّاجِحُ إِرْسَالُهُ  . Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah sabil (jalan) itu?’ Beliau bersabda, ‘Bekal dan kendaran.’” (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni. Hadits ini sahih menurut Al-Hakim. Hadits ini mursal menurut pendapat yang kuat). [HR. Ad-Daruquthni, 2:216; Al-Hakim, 1:442. Hadits ini dinyatakan sahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tetapi tidak dikeluarkan oleh keduanya. Imam Adz-Dzahabi mendiamkannya. Namun, Imam Ad-Daruquthni menyatakan bahwa hadits ini memiliki ‘illah atau cacat, dianggap hadits ini mursal dari Al-Hasan].   Hadits #713 وَأَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ أَيْضًا, وَفِي إِسْنَادِهِ ضَعْفٌ Hadits tersebut juga dikeluarkan oleh Tirmidzi dari hadits Ibnu ‘Umar. Dalam sanadnya ada kelemahan. [HR. Tirmidzi, no. 813, Tirmidzi menyatakan bahwa hadits ini hasan. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyatakan bahwa tidak ada hadits sahih dalam hal ini].   Faedah hadits Pertama: Dalam ayat disebutkan bahwa syarat wajib haji adalah adanya kemampuan sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala, وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran: 97). Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan mampu melakukan perjalanan adlaah: (1) sehat badan, (2) bekal uang yang cukup, (3) ada kendaraan tanpa ada bahaya. (Tafsir Ibnu Jarir, 7:38; As-Sunan Al-Kabiir oleh Imam Al-Baihaqi, 4:331. Sanad hadits ini sahih. Lihat Minhah Al-‘Allam, 5:167]. Karena haji itu terkait dengan jarak yang amat jauh. Syarat kemampuan ini mesti ada sebagaimana jika seseorang mau pergi jihad disyaratkan kemampuan. Menurut ulama Syafiiyah, Hanafiyyah, dan Hambali, syarat mampu adalah memiliki kemampuan zaad (bekal) dan roohilah (kendaraan). Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam (5:168), istitho’ah adalah lafaz umum, bukan mujmal yang tidak perlu adanya bayan (penjelasan). Siapa saja yang punya kemampuan dengan harta dan badan, maka ia disebut mampu, masuk dalam lafaz umum ini. Kedua: Hadits ini membicarakan perbekalan hakiki, bukan perbekalan takwa. Perbekalan takwa adalah kelebihan dari nafkah diri dan keluarga, hingga perbekalan kendaraan ketika pergi dan pulang. Sedangkan istitho’ah yang dimaksudkan dalam ayat Al-Qur’an adalah zaad (bekal) dan roohilah (kendaraan). Perincian kemampuan ini disebutkan dalam kitab fikih sebagai berikut.   Syarat Istitha’ah (Kemampuan) dalam Haji Jika seorang laki-laki tidak mendapati ar-raahilah (kendaraan), apakah ia wajib berhaji. Ada rincian: Jika antara ia dan Makkah berjarak dua marhalah (84km) atau lebih, ia tidak wajib berhaji, baik ia mampu berjalan ataukah tidak. Jika antara ia dan Makkah kurang dari dua marhalah (84lm), ia wajib berhaji jika mampu berjalan. Jika tidak mampu berjalan, haji tidaklah wajib untuknya. Wanita barulah wajib berhaji jika ada kendaraan. Jika tidak ada kendaran, haji tidaklah wajib secara mutlak.   Istitha’ah adalah syarat dalam haji. Istitha’ah ada dua macam: Pertama: Istitha’ah bin nafsi (pada diri sendiri), asalkan memenuhi tujuh syarat: Memiliki bekal pergi dan pulang. Memiliki kendaraan yang baik untuk dikendarai. Memiliki air dan makanan untuk hewan di tempat yang biasa dengan harga sepadan. Mampu naik kendaraan tanpa ada kesulitan berat. Mampu melakukan perjalanan. Perjalanan aman; secara perkiraan besar, perjalanannya itu selamat. Adanya suami atau mahram atau wanita yang tsiqqah (yang terpercaya) ketika ada wanita yang ingin berangkat. Catatan: Wanita boleh berhaji sendirian untuk menunaikan kewajiban Islam jika ia yakin dirinya aman.   Kedua: Istitha’ah lil ghair (pada yang lain), yaitu: pada mayat dan pada orang ‘aajiz (tidak mampu, tidak mampu berangkat haji, maka ia mencari pengganti). Kemampuan atas mayat ada tiga keadaan: Ia sudah wajib berhaji di masa hidupnya, ia wajib dihajikan dari harta peninggalannya. Jika ia tidak memiliki harta peninggalan, ahli waris disunnahkan menghajikannya. Dalam hal ini, yang bukan mahram (ajnabi) boleh menghajikan walau tanpa izin. Ia tidak terkena wajib haji pada masa hidupnya, maka kerabat atau yang bukan mahram (ajnabi) disunnahkan menghajikannya, baik ada wasiat ataukah tidak. Ia sudah pernah berhaji untuk dirinya, apakah ia perlu dihajikan lagi dengan status sunnah? Menurut pendapat al-mu’tamad: Ia dihajikan jika memang ada wasiat. Jika tidak ada wasiat, maka tidak perlu menghajikan. Kemampuan atas ‘aajiz, orang yang tidak bisa lagi berhaji, maka ia bisa digantikan oleh yang lain dengan syarat: Dengan izin orang yang ‘aajiz. Orang yang menggantikan itu dipercaya. Yang menggantikan sudah pernah berhaji untuk dirinya sendiri. Lihat bahasan Tahqiq Ar-Raghbaat bi At-Taqsiimaat wa At-Tasyjiiroot li Tholabah Al-Fiqh Asy-Syafii. Syaikh Dr. Labib Najib ‘Abdullah Ghalib. Baca Juga: Hukum Umrah Ternyata Wajib, Inilah Dalil dan Penjelasannya Hukum Anak Kecil Melaksanakan Ibadah Haji Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:166-168. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:569-570. Tahqiq Ar-Raghbaat bi At-Taqsiimaat wa At-Tasyjiiroot li Tholabah Al-Fiqh Asy-Syafii (Qism Al-‘Ibaadaat). Syaikh Dr. Labib Najib ‘Abdullah Ghalib. hlm. 215-216. –   Diselesaikan di Darush Sholihin, 8 Dzulqa’dah 1444 H, 28 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji berhaji bulughul maram bulughul maram haji cara umrah dalil haji fikih haji fikih umrah haji haji itu wajib haji mabrur keutamaan haji keutamaan umrah syarat mampu berhaji


Syarat wajib haji adalah istito’ah, punya kemampuan. Apa syarat wajib haji itu mampu? Mampu dari sisi harta sajakah ataukah fisik pula? Silakan lihat pembahasan Bulughul Maram berikut ini.     Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan 4. Hadits #712 5. Hadits #713 5.1. Faedah hadits 5.2. Syarat Istitha’ah (Kemampuan) dalam Haji 5.2.1. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ فَضْلِهِ وَبَيَانِ مَنْ فُرِضَ عَلَيْهِ Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan   Hadits #712 وَعَنْ أَنَسٍ ( قَالَ: { قِيلَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ, مَا اَلسَّبِيلُ? قَالَ: ” اَلزَّادُ وَالرَّاحِلَةُ ” } رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ, وَالرَّاجِحُ إِرْسَالُهُ  . Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah sabil (jalan) itu?’ Beliau bersabda, ‘Bekal dan kendaran.’” (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni. Hadits ini sahih menurut Al-Hakim. Hadits ini mursal menurut pendapat yang kuat). [HR. Ad-Daruquthni, 2:216; Al-Hakim, 1:442. Hadits ini dinyatakan sahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tetapi tidak dikeluarkan oleh keduanya. Imam Adz-Dzahabi mendiamkannya. Namun, Imam Ad-Daruquthni menyatakan bahwa hadits ini memiliki ‘illah atau cacat, dianggap hadits ini mursal dari Al-Hasan].   Hadits #713 وَأَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ أَيْضًا, وَفِي إِسْنَادِهِ ضَعْفٌ Hadits tersebut juga dikeluarkan oleh Tirmidzi dari hadits Ibnu ‘Umar. Dalam sanadnya ada kelemahan. [HR. Tirmidzi, no. 813, Tirmidzi menyatakan bahwa hadits ini hasan. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyatakan bahwa tidak ada hadits sahih dalam hal ini].   Faedah hadits Pertama: Dalam ayat disebutkan bahwa syarat wajib haji adalah adanya kemampuan sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala, وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran: 97). Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan mampu melakukan perjalanan adlaah: (1) sehat badan, (2) bekal uang yang cukup, (3) ada kendaraan tanpa ada bahaya. (Tafsir Ibnu Jarir, 7:38; As-Sunan Al-Kabiir oleh Imam Al-Baihaqi, 4:331. Sanad hadits ini sahih. Lihat Minhah Al-‘Allam, 5:167]. Karena haji itu terkait dengan jarak yang amat jauh. Syarat kemampuan ini mesti ada sebagaimana jika seseorang mau pergi jihad disyaratkan kemampuan. Menurut ulama Syafiiyah, Hanafiyyah, dan Hambali, syarat mampu adalah memiliki kemampuan zaad (bekal) dan roohilah (kendaraan). Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam (5:168), istitho’ah adalah lafaz umum, bukan mujmal yang tidak perlu adanya bayan (penjelasan). Siapa saja yang punya kemampuan dengan harta dan badan, maka ia disebut mampu, masuk dalam lafaz umum ini. Kedua: Hadits ini membicarakan perbekalan hakiki, bukan perbekalan takwa. Perbekalan takwa adalah kelebihan dari nafkah diri dan keluarga, hingga perbekalan kendaraan ketika pergi dan pulang. Sedangkan istitho’ah yang dimaksudkan dalam ayat Al-Qur’an adalah zaad (bekal) dan roohilah (kendaraan). Perincian kemampuan ini disebutkan dalam kitab fikih sebagai berikut.   Syarat Istitha’ah (Kemampuan) dalam Haji Jika seorang laki-laki tidak mendapati ar-raahilah (kendaraan), apakah ia wajib berhaji. Ada rincian: Jika antara ia dan Makkah berjarak dua marhalah (84km) atau lebih, ia tidak wajib berhaji, baik ia mampu berjalan ataukah tidak. Jika antara ia dan Makkah kurang dari dua marhalah (84lm), ia wajib berhaji jika mampu berjalan. Jika tidak mampu berjalan, haji tidaklah wajib untuknya. Wanita barulah wajib berhaji jika ada kendaraan. Jika tidak ada kendaran, haji tidaklah wajib secara mutlak.   Istitha’ah adalah syarat dalam haji. Istitha’ah ada dua macam: Pertama: Istitha’ah bin nafsi (pada diri sendiri), asalkan memenuhi tujuh syarat: Memiliki bekal pergi dan pulang. Memiliki kendaraan yang baik untuk dikendarai. Memiliki air dan makanan untuk hewan di tempat yang biasa dengan harga sepadan. Mampu naik kendaraan tanpa ada kesulitan berat. Mampu melakukan perjalanan. Perjalanan aman; secara perkiraan besar, perjalanannya itu selamat. Adanya suami atau mahram atau wanita yang tsiqqah (yang terpercaya) ketika ada wanita yang ingin berangkat. Catatan: Wanita boleh berhaji sendirian untuk menunaikan kewajiban Islam jika ia yakin dirinya aman.   Kedua: Istitha’ah lil ghair (pada yang lain), yaitu: pada mayat dan pada orang ‘aajiz (tidak mampu, tidak mampu berangkat haji, maka ia mencari pengganti). Kemampuan atas mayat ada tiga keadaan: Ia sudah wajib berhaji di masa hidupnya, ia wajib dihajikan dari harta peninggalannya. Jika ia tidak memiliki harta peninggalan, ahli waris disunnahkan menghajikannya. Dalam hal ini, yang bukan mahram (ajnabi) boleh menghajikan walau tanpa izin. Ia tidak terkena wajib haji pada masa hidupnya, maka kerabat atau yang bukan mahram (ajnabi) disunnahkan menghajikannya, baik ada wasiat ataukah tidak. Ia sudah pernah berhaji untuk dirinya, apakah ia perlu dihajikan lagi dengan status sunnah? Menurut pendapat al-mu’tamad: Ia dihajikan jika memang ada wasiat. Jika tidak ada wasiat, maka tidak perlu menghajikan. Kemampuan atas ‘aajiz, orang yang tidak bisa lagi berhaji, maka ia bisa digantikan oleh yang lain dengan syarat: Dengan izin orang yang ‘aajiz. Orang yang menggantikan itu dipercaya. Yang menggantikan sudah pernah berhaji untuk dirinya sendiri. Lihat bahasan Tahqiq Ar-Raghbaat bi At-Taqsiimaat wa At-Tasyjiiroot li Tholabah Al-Fiqh Asy-Syafii. Syaikh Dr. Labib Najib ‘Abdullah Ghalib. Baca Juga: Hukum Umrah Ternyata Wajib, Inilah Dalil dan Penjelasannya Hukum Anak Kecil Melaksanakan Ibadah Haji Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:166-168. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:569-570. Tahqiq Ar-Raghbaat bi At-Taqsiimaat wa At-Tasyjiiroot li Tholabah Al-Fiqh Asy-Syafii (Qism Al-‘Ibaadaat). Syaikh Dr. Labib Najib ‘Abdullah Ghalib. hlm. 215-216. –   Diselesaikan di Darush Sholihin, 8 Dzulqa’dah 1444 H, 28 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji berhaji bulughul maram bulughul maram haji cara umrah dalil haji fikih haji fikih umrah haji haji itu wajib haji mabrur keutamaan haji keutamaan umrah syarat mampu berhaji

Menjaga Produktifitas Seorang Muslim

Setelah bulan Ramadan, semestinya pola ibadah dan kebaikan yang sudah dilatih dan diterapkan di bulan Ramadan senantiasa diteruskan dan diterapkan bagi kaum muslimin dalam mempertahankan kualitas ibadahnya. Bahkan, bukan menjadi alasan untuk kaum muslimin bermalas malasan atau beralasan untuk bermudah-mudah dalam dalam menjalankan ibadah di luar bulan Ramadan. Justru bulan Ramadan menjadikan kaum muslimin lebih produktif dan lebih maksimal dalam menjalankan ibadah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi salah satu role model dan contoh manusia produktif. Bahkan, tercatat menjadi manusia paling berpengaruh nomor satu di dunia. Sejak kecil telah dijaga dan memberikan kemaslahatan dan kebermanfaatan untuk sekitarnya. Demikian juga dengan para pengikut setia Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang senantiasa mengikuti Rasulullah dan ulama-ulama sesudahnya. Allah ‘Azza Wajalla, sesuai firman-Nya,ٱلَّذِینَ یَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِیَـٰمࣰا وَقُعُودࣰا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَیَتَفَكَّرُونَ فِی خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلࣰا سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.’” (QS. Ali Imran: 191)Sebagaimana ungkapan ulama tabi’in, Hasan Al-Basri rahimahullah berikut ini,“Juallah duniamu untuk akhiratmu, niscaya kamu beruntung di keduanya. Dan janganlah kamu jual akhiratmu untuk duniamu, karena kamu akan merugi di keduanya.”“Dunia itu hanya tiga hari saja: 1) Hari kemarin, sudah pergi dengan segala isinya (tanpa bisa diulang kembali). 2) Hari esok, yang mungkin saja engkau tidak bisa menjumpainya (lantaran ajal menjemputmu). 3) Hari ini, itulah yang menjadi milikmu, maka isilah dengan amalan.”Adapun langkah mudah dalam menjaga keitikamahan dan produktifitas kita dalam menjalankan pola ibadah dan kebaikan, yakni:Daftar Isi Mengikhlaskan niat beribadah hanya untuk Allah ‘Azza Wajalla Bersama dengan teman-teman yang saleh dan semangat dalam menuntut ilmuBersabar dalam ketaatanMengikhlaskan niat beribadah hanya untuk Allah ‘Azza Wajalla Niat menjadi kekuatan yang besar dalam kita menjalani kehidupan sebagai seorang hamba. Niat yang ikhlas menuntun manusia pada jalan kebaikan dan keistikamahan. Seorang yang ikhlas dalam menjalankan hidup dan beribadah akan memahami bahwa amalan dan ibadah yang ia lakukan itu akan diganjar pahala. Lalu dengan itu, semangat ibadahnya dan semangat hidupnya pun akan bangkit. Sebagaimana dalam hadis, disampaikan,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وإنما لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنكحها فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ“Sesungguhnya setiap amal itu (tergantung) pada niatnya. Dan sesungguhnya sesesorang itu hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya (dinilai) karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena harta dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu hanyalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Bersama dengan teman-teman yang saleh dan semangat dalam menuntut ilmuJika kita mau mengenali seseorang, maka kenalilah sahabat terdekatnya. Begitulah kiranya, jika kita menjadikan teman terdekat sebagai gambaran diri adalah teman-teman saleh yang dapat membantu dalam berdiskusi dan meneliti masalah agama. Jika berteman dengannya, semakin dekat kita kepada Allah ‘Azza Wajalla. Carilah kebersamaan bersama mereka selama mereka senantiasa membantu dalam menuntut ilmu baik ilmu syar’i maupun ilmu dunia yang menghantarkan pada kebaikan-kebaikan akhirat.Bersabar dalam ketaatanKesabaran muaranya pada kebaikan. Kesabaranlah yang menghantarkan kembali pada ilmu dan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi shallallahu ’alaihi wasallam,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini.” (QS. Al Kahfi: 28)Maka, salah satu hal yang menguatkan keistikamahan dan produktifitas diri, yakni bersabar dalam menuntut ilmu. Jika seseorang mampu bersabar dalam ketaatan dan kelelahan, lalu senantiasa kembali semangat dalam menuntut ilmu, maka itu menjadi wasilah terbesar bagi seorang manusia dalam menemukan jalan kebaikan dan kebermanfatan baik bagi diri dan orang lain.Baca juga: Nikmat Waktu Luang, untuk Apa?***Penulis: Kiki Dwi Setiabudi S.Sos.Artikel: Muslim.or.id Referensi: Kitabul ‘Ilmi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, cetakan Darul ImanTags: menjaga produktifitasmuslimproduktif

Menjaga Produktifitas Seorang Muslim

Setelah bulan Ramadan, semestinya pola ibadah dan kebaikan yang sudah dilatih dan diterapkan di bulan Ramadan senantiasa diteruskan dan diterapkan bagi kaum muslimin dalam mempertahankan kualitas ibadahnya. Bahkan, bukan menjadi alasan untuk kaum muslimin bermalas malasan atau beralasan untuk bermudah-mudah dalam dalam menjalankan ibadah di luar bulan Ramadan. Justru bulan Ramadan menjadikan kaum muslimin lebih produktif dan lebih maksimal dalam menjalankan ibadah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi salah satu role model dan contoh manusia produktif. Bahkan, tercatat menjadi manusia paling berpengaruh nomor satu di dunia. Sejak kecil telah dijaga dan memberikan kemaslahatan dan kebermanfaatan untuk sekitarnya. Demikian juga dengan para pengikut setia Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang senantiasa mengikuti Rasulullah dan ulama-ulama sesudahnya. Allah ‘Azza Wajalla, sesuai firman-Nya,ٱلَّذِینَ یَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِیَـٰمࣰا وَقُعُودࣰا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَیَتَفَكَّرُونَ فِی خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلࣰا سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.’” (QS. Ali Imran: 191)Sebagaimana ungkapan ulama tabi’in, Hasan Al-Basri rahimahullah berikut ini,“Juallah duniamu untuk akhiratmu, niscaya kamu beruntung di keduanya. Dan janganlah kamu jual akhiratmu untuk duniamu, karena kamu akan merugi di keduanya.”“Dunia itu hanya tiga hari saja: 1) Hari kemarin, sudah pergi dengan segala isinya (tanpa bisa diulang kembali). 2) Hari esok, yang mungkin saja engkau tidak bisa menjumpainya (lantaran ajal menjemputmu). 3) Hari ini, itulah yang menjadi milikmu, maka isilah dengan amalan.”Adapun langkah mudah dalam menjaga keitikamahan dan produktifitas kita dalam menjalankan pola ibadah dan kebaikan, yakni:Daftar Isi Mengikhlaskan niat beribadah hanya untuk Allah ‘Azza Wajalla Bersama dengan teman-teman yang saleh dan semangat dalam menuntut ilmuBersabar dalam ketaatanMengikhlaskan niat beribadah hanya untuk Allah ‘Azza Wajalla Niat menjadi kekuatan yang besar dalam kita menjalani kehidupan sebagai seorang hamba. Niat yang ikhlas menuntun manusia pada jalan kebaikan dan keistikamahan. Seorang yang ikhlas dalam menjalankan hidup dan beribadah akan memahami bahwa amalan dan ibadah yang ia lakukan itu akan diganjar pahala. Lalu dengan itu, semangat ibadahnya dan semangat hidupnya pun akan bangkit. Sebagaimana dalam hadis, disampaikan,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وإنما لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنكحها فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ“Sesungguhnya setiap amal itu (tergantung) pada niatnya. Dan sesungguhnya sesesorang itu hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya (dinilai) karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena harta dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu hanyalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Bersama dengan teman-teman yang saleh dan semangat dalam menuntut ilmuJika kita mau mengenali seseorang, maka kenalilah sahabat terdekatnya. Begitulah kiranya, jika kita menjadikan teman terdekat sebagai gambaran diri adalah teman-teman saleh yang dapat membantu dalam berdiskusi dan meneliti masalah agama. Jika berteman dengannya, semakin dekat kita kepada Allah ‘Azza Wajalla. Carilah kebersamaan bersama mereka selama mereka senantiasa membantu dalam menuntut ilmu baik ilmu syar’i maupun ilmu dunia yang menghantarkan pada kebaikan-kebaikan akhirat.Bersabar dalam ketaatanKesabaran muaranya pada kebaikan. Kesabaranlah yang menghantarkan kembali pada ilmu dan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi shallallahu ’alaihi wasallam,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini.” (QS. Al Kahfi: 28)Maka, salah satu hal yang menguatkan keistikamahan dan produktifitas diri, yakni bersabar dalam menuntut ilmu. Jika seseorang mampu bersabar dalam ketaatan dan kelelahan, lalu senantiasa kembali semangat dalam menuntut ilmu, maka itu menjadi wasilah terbesar bagi seorang manusia dalam menemukan jalan kebaikan dan kebermanfatan baik bagi diri dan orang lain.Baca juga: Nikmat Waktu Luang, untuk Apa?***Penulis: Kiki Dwi Setiabudi S.Sos.Artikel: Muslim.or.id Referensi: Kitabul ‘Ilmi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, cetakan Darul ImanTags: menjaga produktifitasmuslimproduktif
Setelah bulan Ramadan, semestinya pola ibadah dan kebaikan yang sudah dilatih dan diterapkan di bulan Ramadan senantiasa diteruskan dan diterapkan bagi kaum muslimin dalam mempertahankan kualitas ibadahnya. Bahkan, bukan menjadi alasan untuk kaum muslimin bermalas malasan atau beralasan untuk bermudah-mudah dalam dalam menjalankan ibadah di luar bulan Ramadan. Justru bulan Ramadan menjadikan kaum muslimin lebih produktif dan lebih maksimal dalam menjalankan ibadah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi salah satu role model dan contoh manusia produktif. Bahkan, tercatat menjadi manusia paling berpengaruh nomor satu di dunia. Sejak kecil telah dijaga dan memberikan kemaslahatan dan kebermanfaatan untuk sekitarnya. Demikian juga dengan para pengikut setia Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang senantiasa mengikuti Rasulullah dan ulama-ulama sesudahnya. Allah ‘Azza Wajalla, sesuai firman-Nya,ٱلَّذِینَ یَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِیَـٰمࣰا وَقُعُودࣰا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَیَتَفَكَّرُونَ فِی خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلࣰا سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.’” (QS. Ali Imran: 191)Sebagaimana ungkapan ulama tabi’in, Hasan Al-Basri rahimahullah berikut ini,“Juallah duniamu untuk akhiratmu, niscaya kamu beruntung di keduanya. Dan janganlah kamu jual akhiratmu untuk duniamu, karena kamu akan merugi di keduanya.”“Dunia itu hanya tiga hari saja: 1) Hari kemarin, sudah pergi dengan segala isinya (tanpa bisa diulang kembali). 2) Hari esok, yang mungkin saja engkau tidak bisa menjumpainya (lantaran ajal menjemputmu). 3) Hari ini, itulah yang menjadi milikmu, maka isilah dengan amalan.”Adapun langkah mudah dalam menjaga keitikamahan dan produktifitas kita dalam menjalankan pola ibadah dan kebaikan, yakni:Daftar Isi Mengikhlaskan niat beribadah hanya untuk Allah ‘Azza Wajalla Bersama dengan teman-teman yang saleh dan semangat dalam menuntut ilmuBersabar dalam ketaatanMengikhlaskan niat beribadah hanya untuk Allah ‘Azza Wajalla Niat menjadi kekuatan yang besar dalam kita menjalani kehidupan sebagai seorang hamba. Niat yang ikhlas menuntun manusia pada jalan kebaikan dan keistikamahan. Seorang yang ikhlas dalam menjalankan hidup dan beribadah akan memahami bahwa amalan dan ibadah yang ia lakukan itu akan diganjar pahala. Lalu dengan itu, semangat ibadahnya dan semangat hidupnya pun akan bangkit. Sebagaimana dalam hadis, disampaikan,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وإنما لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنكحها فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ“Sesungguhnya setiap amal itu (tergantung) pada niatnya. Dan sesungguhnya sesesorang itu hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya (dinilai) karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena harta dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu hanyalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Bersama dengan teman-teman yang saleh dan semangat dalam menuntut ilmuJika kita mau mengenali seseorang, maka kenalilah sahabat terdekatnya. Begitulah kiranya, jika kita menjadikan teman terdekat sebagai gambaran diri adalah teman-teman saleh yang dapat membantu dalam berdiskusi dan meneliti masalah agama. Jika berteman dengannya, semakin dekat kita kepada Allah ‘Azza Wajalla. Carilah kebersamaan bersama mereka selama mereka senantiasa membantu dalam menuntut ilmu baik ilmu syar’i maupun ilmu dunia yang menghantarkan pada kebaikan-kebaikan akhirat.Bersabar dalam ketaatanKesabaran muaranya pada kebaikan. Kesabaranlah yang menghantarkan kembali pada ilmu dan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi shallallahu ’alaihi wasallam,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini.” (QS. Al Kahfi: 28)Maka, salah satu hal yang menguatkan keistikamahan dan produktifitas diri, yakni bersabar dalam menuntut ilmu. Jika seseorang mampu bersabar dalam ketaatan dan kelelahan, lalu senantiasa kembali semangat dalam menuntut ilmu, maka itu menjadi wasilah terbesar bagi seorang manusia dalam menemukan jalan kebaikan dan kebermanfatan baik bagi diri dan orang lain.Baca juga: Nikmat Waktu Luang, untuk Apa?***Penulis: Kiki Dwi Setiabudi S.Sos.Artikel: Muslim.or.id Referensi: Kitabul ‘Ilmi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, cetakan Darul ImanTags: menjaga produktifitasmuslimproduktif


Setelah bulan Ramadan, semestinya pola ibadah dan kebaikan yang sudah dilatih dan diterapkan di bulan Ramadan senantiasa diteruskan dan diterapkan bagi kaum muslimin dalam mempertahankan kualitas ibadahnya. Bahkan, bukan menjadi alasan untuk kaum muslimin bermalas malasan atau beralasan untuk bermudah-mudah dalam dalam menjalankan ibadah di luar bulan Ramadan. Justru bulan Ramadan menjadikan kaum muslimin lebih produktif dan lebih maksimal dalam menjalankan ibadah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi salah satu role model dan contoh manusia produktif. Bahkan, tercatat menjadi manusia paling berpengaruh nomor satu di dunia. Sejak kecil telah dijaga dan memberikan kemaslahatan dan kebermanfaatan untuk sekitarnya. Demikian juga dengan para pengikut setia Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang senantiasa mengikuti Rasulullah dan ulama-ulama sesudahnya. Allah ‘Azza Wajalla, sesuai firman-Nya,ٱلَّذِینَ یَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِیَـٰمࣰا وَقُعُودࣰا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَیَتَفَكَّرُونَ فِی خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلࣰا سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.’” (QS. Ali Imran: 191)Sebagaimana ungkapan ulama tabi’in, Hasan Al-Basri rahimahullah berikut ini,“Juallah duniamu untuk akhiratmu, niscaya kamu beruntung di keduanya. Dan janganlah kamu jual akhiratmu untuk duniamu, karena kamu akan merugi di keduanya.”“Dunia itu hanya tiga hari saja: 1) Hari kemarin, sudah pergi dengan segala isinya (tanpa bisa diulang kembali). 2) Hari esok, yang mungkin saja engkau tidak bisa menjumpainya (lantaran ajal menjemputmu). 3) Hari ini, itulah yang menjadi milikmu, maka isilah dengan amalan.”Adapun langkah mudah dalam menjaga keitikamahan dan produktifitas kita dalam menjalankan pola ibadah dan kebaikan, yakni:Daftar Isi Mengikhlaskan niat beribadah hanya untuk Allah ‘Azza Wajalla Bersama dengan teman-teman yang saleh dan semangat dalam menuntut ilmuBersabar dalam ketaatanMengikhlaskan niat beribadah hanya untuk Allah ‘Azza Wajalla Niat menjadi kekuatan yang besar dalam kita menjalani kehidupan sebagai seorang hamba. Niat yang ikhlas menuntun manusia pada jalan kebaikan dan keistikamahan. Seorang yang ikhlas dalam menjalankan hidup dan beribadah akan memahami bahwa amalan dan ibadah yang ia lakukan itu akan diganjar pahala. Lalu dengan itu, semangat ibadahnya dan semangat hidupnya pun akan bangkit. Sebagaimana dalam hadis, disampaikan,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وإنما لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنكحها فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ“Sesungguhnya setiap amal itu (tergantung) pada niatnya. Dan sesungguhnya sesesorang itu hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya (dinilai) karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena harta dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu hanyalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Bersama dengan teman-teman yang saleh dan semangat dalam menuntut ilmuJika kita mau mengenali seseorang, maka kenalilah sahabat terdekatnya. Begitulah kiranya, jika kita menjadikan teman terdekat sebagai gambaran diri adalah teman-teman saleh yang dapat membantu dalam berdiskusi dan meneliti masalah agama. Jika berteman dengannya, semakin dekat kita kepada Allah ‘Azza Wajalla. Carilah kebersamaan bersama mereka selama mereka senantiasa membantu dalam menuntut ilmu baik ilmu syar’i maupun ilmu dunia yang menghantarkan pada kebaikan-kebaikan akhirat.Bersabar dalam ketaatanKesabaran muaranya pada kebaikan. Kesabaranlah yang menghantarkan kembali pada ilmu dan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi shallallahu ’alaihi wasallam,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini.” (QS. Al Kahfi: 28)Maka, salah satu hal yang menguatkan keistikamahan dan produktifitas diri, yakni bersabar dalam menuntut ilmu. Jika seseorang mampu bersabar dalam ketaatan dan kelelahan, lalu senantiasa kembali semangat dalam menuntut ilmu, maka itu menjadi wasilah terbesar bagi seorang manusia dalam menemukan jalan kebaikan dan kebermanfatan baik bagi diri dan orang lain.Baca juga: Nikmat Waktu Luang, untuk Apa?***Penulis: Kiki Dwi Setiabudi S.Sos.Artikel: Muslim.or.id Referensi: Kitabul ‘Ilmi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, cetakan Darul ImanTags: menjaga produktifitasmuslimproduktif

Fatwa Ulama: Hakikat Agama Islam

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Fadhilatus syekh, apakah agama Islam itu?Jawaban: Islam menurut makna yang umum adalah beribadah kepada Allah Ta’ala dengan ibadah yang disyariatkan oleh Rasul-Nya, sejak Allah Ta’ala disembah oleh hamba-Nya dengan syariat-Nya sampai datangnya hari kiamat. Oleh karena itu, (Islam dengan makna yang umum ini) mencakup syariat yang dibawa oleh Nuh ‘alaihis salam berupa hidayah dan kebenaran. Demikian pula, mencakup syariat yang dibawa oleh Ibrahim ‘alaihis shalatu wassalam, seorang imam yang hanif, dan juga syariat yang dibawa oleh Nabi Musa dan Isa. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Ta’ala, atau difirmankan oleh Allah Ta’ala dalam ayat yang banyak yang menunjukkan bahwa syariat-syariat sebelumnya itu adalah berserah diri (ber-Islam) kepada Allah Ta’ala.Akan tetapi, Islam menurut makna yang khusus adalah syariat yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini karena syariat yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu menghapus semua agama (syariat) sebelumnya. Jadilah siapa saja yang mengikuti syariat Muhammad itu disebut sebagai muslim, dan siapa saja yang tidak mengikuti syariat Muhammad itu bukan muslim, karena dia tidak berserah diri kepada Allah Ta’ala, namun berserah diri kepada hawa nafsunya. Oleh karena itu, Yahudi adalah kaum muslimin pada jaman Nabi Musa ‘alaihis shalatu wassalam, dan Nasrani adalah kaum muslimin pada jaman Nabi Isa ‘alaihis shalatu wassalam. Akan tetapi, setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, mereka itu mengingkari Nabi Muhammad, sehingga bukan kaum muslimin lagi.Oleh karena itu, tidak boleh bagi siapa pun untuk meyakini bahwa agama Yahudi dan Nasrani yang mereka ikuti (mereka yakini) pada saat ini adalah agama yang benar yang diterima di sisi Allah Ta’ala dan sama dengan agama Islam (yang dibawa oleh Nabi Muhammad). Bahkan, siapa saja yang meyakini hal tersebut, maka dia telah kafir, keluar dari Islam. Karena Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 19)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85)Inilah Islam yang diisyaratkan oleh Allah Ta’ala, yaitu Islam yang Allah Ta’ala berikan nikmat Islam tersebut kepada Nabi Muhammad dan umatnya sebagaimana firman Allah Ta’ala,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam itu menjadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)Ini adalah dalil yang sangat jelas bahwa selain umat ini setelah diutusnya Nabi Muhammad, mereka tidaklah di atas agama Islam. Berdasarkan hal itu, siapa saja memilih agama selain Islam, maka agama tersebut tidak akan diterima, dan tidak akan memberikan manfaat pada hari kiamat kelak. Tidak halal (tidak boleh) bagi kita untuk membuat ungkapan bahwa agama mereka itu agama yang lurus. Oleh karena itu, sungguh keliru dengan kekeliruan yang besar bagi siapa saja yang menyebut kaum Yahudi dan Nasrani sebagai saudara kita, atau mengatakan bahwa agama mereka saat ini masih ada (diakui), berdasarkan penjelasan kami sebelumnya.Jika kita katakan bahwa Islam adalah beribadah kepada Allah Ta’ala sesuai dengan syariat-Nya, maka hal itu mencakup berserah diri kepada Allah Ta’ala baik secara lahir maupun batin. Sehingga mencakup agama seluruhnya, baik akidah, amal perbuatan, maupun ucapan. Adapun jika Islam itu disebut bersamaan dengan iman, maka Islam bermakna amal lahiriah, baik berupa ucapan lisan maupun amal anggota badan. Sedangkan iman bermakna amal batin, baik berupa akidah (keyakinan) maupun amalan hati. Perbedaan ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala, قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ“Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kamu belum beriman, tapi katakanlah, ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.’” (QS. Al-Hujurat: 14)Juga firman Allah Ta’ala berkaitan dengan kisah kaum Luth,فَأَخْرَجْنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِّنَ الْمُسْلِمِينَ“Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman (mukmin) yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang yang berserah diri (muslim).” (QS. Az-Zariyat: 35-36)Maka, dalam ayat tersebut dibedakan antara mukmin dan muslim. Hal ini karena rumah yang ada di kampung tersebut adalah rumah Islam secara lahiriah, karena mencakup istri Nabi Luth yang berkhianat kepadanya dan dia kafir. Adapun yang keluar dari rumah tersebut dan selamat, mereka itulah kaum mukmin yang sebenarnya yang iman itu telah masuk ke dalam hati mereka.Perbedaan iman dan Islam ketika disebutkan bersamaan juga ditunjukkan oleh hadis dari sahabat Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Di dalam hadis tersebut, Jibril ‘alaihis salaam bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Islam dan iman. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ألإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً“Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, dan pergi haji jika mampu.“Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata tentang iman,أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ“Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, dan kamu beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk.”Kesimpulan, ketika Islam disebutkan secara mutlak (tidak ada tambahan keterangan yang lain), maka Islam tersebut mencakup keseluruhan agama, sehingga iman tercakup di dalamnya. Adapun jika disebutkan bersamaan dengan iman, maka Islam dimaknai sebagai amal lahiriah berupa ucapan lisan dan amal anggota badan, dan iman dimaknai sebagai amal batin, berupa keyakinan dalam hati dan amalan hati.Baca juga: Panduan Pelajaran Dasar Agama Islam***@Rumah Kasongan, 1 Dzulqa’dah 1444/ 21 Mei 2023Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul Ibadat, hal. 77-80, pertanyaan no. 48.Tags: agama islamaqidah islamhakikat

Fatwa Ulama: Hakikat Agama Islam

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Fadhilatus syekh, apakah agama Islam itu?Jawaban: Islam menurut makna yang umum adalah beribadah kepada Allah Ta’ala dengan ibadah yang disyariatkan oleh Rasul-Nya, sejak Allah Ta’ala disembah oleh hamba-Nya dengan syariat-Nya sampai datangnya hari kiamat. Oleh karena itu, (Islam dengan makna yang umum ini) mencakup syariat yang dibawa oleh Nuh ‘alaihis salam berupa hidayah dan kebenaran. Demikian pula, mencakup syariat yang dibawa oleh Ibrahim ‘alaihis shalatu wassalam, seorang imam yang hanif, dan juga syariat yang dibawa oleh Nabi Musa dan Isa. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Ta’ala, atau difirmankan oleh Allah Ta’ala dalam ayat yang banyak yang menunjukkan bahwa syariat-syariat sebelumnya itu adalah berserah diri (ber-Islam) kepada Allah Ta’ala.Akan tetapi, Islam menurut makna yang khusus adalah syariat yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini karena syariat yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu menghapus semua agama (syariat) sebelumnya. Jadilah siapa saja yang mengikuti syariat Muhammad itu disebut sebagai muslim, dan siapa saja yang tidak mengikuti syariat Muhammad itu bukan muslim, karena dia tidak berserah diri kepada Allah Ta’ala, namun berserah diri kepada hawa nafsunya. Oleh karena itu, Yahudi adalah kaum muslimin pada jaman Nabi Musa ‘alaihis shalatu wassalam, dan Nasrani adalah kaum muslimin pada jaman Nabi Isa ‘alaihis shalatu wassalam. Akan tetapi, setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, mereka itu mengingkari Nabi Muhammad, sehingga bukan kaum muslimin lagi.Oleh karena itu, tidak boleh bagi siapa pun untuk meyakini bahwa agama Yahudi dan Nasrani yang mereka ikuti (mereka yakini) pada saat ini adalah agama yang benar yang diterima di sisi Allah Ta’ala dan sama dengan agama Islam (yang dibawa oleh Nabi Muhammad). Bahkan, siapa saja yang meyakini hal tersebut, maka dia telah kafir, keluar dari Islam. Karena Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 19)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85)Inilah Islam yang diisyaratkan oleh Allah Ta’ala, yaitu Islam yang Allah Ta’ala berikan nikmat Islam tersebut kepada Nabi Muhammad dan umatnya sebagaimana firman Allah Ta’ala,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam itu menjadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)Ini adalah dalil yang sangat jelas bahwa selain umat ini setelah diutusnya Nabi Muhammad, mereka tidaklah di atas agama Islam. Berdasarkan hal itu, siapa saja memilih agama selain Islam, maka agama tersebut tidak akan diterima, dan tidak akan memberikan manfaat pada hari kiamat kelak. Tidak halal (tidak boleh) bagi kita untuk membuat ungkapan bahwa agama mereka itu agama yang lurus. Oleh karena itu, sungguh keliru dengan kekeliruan yang besar bagi siapa saja yang menyebut kaum Yahudi dan Nasrani sebagai saudara kita, atau mengatakan bahwa agama mereka saat ini masih ada (diakui), berdasarkan penjelasan kami sebelumnya.Jika kita katakan bahwa Islam adalah beribadah kepada Allah Ta’ala sesuai dengan syariat-Nya, maka hal itu mencakup berserah diri kepada Allah Ta’ala baik secara lahir maupun batin. Sehingga mencakup agama seluruhnya, baik akidah, amal perbuatan, maupun ucapan. Adapun jika Islam itu disebut bersamaan dengan iman, maka Islam bermakna amal lahiriah, baik berupa ucapan lisan maupun amal anggota badan. Sedangkan iman bermakna amal batin, baik berupa akidah (keyakinan) maupun amalan hati. Perbedaan ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala, قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ“Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kamu belum beriman, tapi katakanlah, ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.’” (QS. Al-Hujurat: 14)Juga firman Allah Ta’ala berkaitan dengan kisah kaum Luth,فَأَخْرَجْنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِّنَ الْمُسْلِمِينَ“Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman (mukmin) yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang yang berserah diri (muslim).” (QS. Az-Zariyat: 35-36)Maka, dalam ayat tersebut dibedakan antara mukmin dan muslim. Hal ini karena rumah yang ada di kampung tersebut adalah rumah Islam secara lahiriah, karena mencakup istri Nabi Luth yang berkhianat kepadanya dan dia kafir. Adapun yang keluar dari rumah tersebut dan selamat, mereka itulah kaum mukmin yang sebenarnya yang iman itu telah masuk ke dalam hati mereka.Perbedaan iman dan Islam ketika disebutkan bersamaan juga ditunjukkan oleh hadis dari sahabat Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Di dalam hadis tersebut, Jibril ‘alaihis salaam bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Islam dan iman. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ألإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً“Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, dan pergi haji jika mampu.“Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata tentang iman,أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ“Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, dan kamu beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk.”Kesimpulan, ketika Islam disebutkan secara mutlak (tidak ada tambahan keterangan yang lain), maka Islam tersebut mencakup keseluruhan agama, sehingga iman tercakup di dalamnya. Adapun jika disebutkan bersamaan dengan iman, maka Islam dimaknai sebagai amal lahiriah berupa ucapan lisan dan amal anggota badan, dan iman dimaknai sebagai amal batin, berupa keyakinan dalam hati dan amalan hati.Baca juga: Panduan Pelajaran Dasar Agama Islam***@Rumah Kasongan, 1 Dzulqa’dah 1444/ 21 Mei 2023Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul Ibadat, hal. 77-80, pertanyaan no. 48.Tags: agama islamaqidah islamhakikat
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Fadhilatus syekh, apakah agama Islam itu?Jawaban: Islam menurut makna yang umum adalah beribadah kepada Allah Ta’ala dengan ibadah yang disyariatkan oleh Rasul-Nya, sejak Allah Ta’ala disembah oleh hamba-Nya dengan syariat-Nya sampai datangnya hari kiamat. Oleh karena itu, (Islam dengan makna yang umum ini) mencakup syariat yang dibawa oleh Nuh ‘alaihis salam berupa hidayah dan kebenaran. Demikian pula, mencakup syariat yang dibawa oleh Ibrahim ‘alaihis shalatu wassalam, seorang imam yang hanif, dan juga syariat yang dibawa oleh Nabi Musa dan Isa. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Ta’ala, atau difirmankan oleh Allah Ta’ala dalam ayat yang banyak yang menunjukkan bahwa syariat-syariat sebelumnya itu adalah berserah diri (ber-Islam) kepada Allah Ta’ala.Akan tetapi, Islam menurut makna yang khusus adalah syariat yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini karena syariat yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu menghapus semua agama (syariat) sebelumnya. Jadilah siapa saja yang mengikuti syariat Muhammad itu disebut sebagai muslim, dan siapa saja yang tidak mengikuti syariat Muhammad itu bukan muslim, karena dia tidak berserah diri kepada Allah Ta’ala, namun berserah diri kepada hawa nafsunya. Oleh karena itu, Yahudi adalah kaum muslimin pada jaman Nabi Musa ‘alaihis shalatu wassalam, dan Nasrani adalah kaum muslimin pada jaman Nabi Isa ‘alaihis shalatu wassalam. Akan tetapi, setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, mereka itu mengingkari Nabi Muhammad, sehingga bukan kaum muslimin lagi.Oleh karena itu, tidak boleh bagi siapa pun untuk meyakini bahwa agama Yahudi dan Nasrani yang mereka ikuti (mereka yakini) pada saat ini adalah agama yang benar yang diterima di sisi Allah Ta’ala dan sama dengan agama Islam (yang dibawa oleh Nabi Muhammad). Bahkan, siapa saja yang meyakini hal tersebut, maka dia telah kafir, keluar dari Islam. Karena Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 19)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85)Inilah Islam yang diisyaratkan oleh Allah Ta’ala, yaitu Islam yang Allah Ta’ala berikan nikmat Islam tersebut kepada Nabi Muhammad dan umatnya sebagaimana firman Allah Ta’ala,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam itu menjadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)Ini adalah dalil yang sangat jelas bahwa selain umat ini setelah diutusnya Nabi Muhammad, mereka tidaklah di atas agama Islam. Berdasarkan hal itu, siapa saja memilih agama selain Islam, maka agama tersebut tidak akan diterima, dan tidak akan memberikan manfaat pada hari kiamat kelak. Tidak halal (tidak boleh) bagi kita untuk membuat ungkapan bahwa agama mereka itu agama yang lurus. Oleh karena itu, sungguh keliru dengan kekeliruan yang besar bagi siapa saja yang menyebut kaum Yahudi dan Nasrani sebagai saudara kita, atau mengatakan bahwa agama mereka saat ini masih ada (diakui), berdasarkan penjelasan kami sebelumnya.Jika kita katakan bahwa Islam adalah beribadah kepada Allah Ta’ala sesuai dengan syariat-Nya, maka hal itu mencakup berserah diri kepada Allah Ta’ala baik secara lahir maupun batin. Sehingga mencakup agama seluruhnya, baik akidah, amal perbuatan, maupun ucapan. Adapun jika Islam itu disebut bersamaan dengan iman, maka Islam bermakna amal lahiriah, baik berupa ucapan lisan maupun amal anggota badan. Sedangkan iman bermakna amal batin, baik berupa akidah (keyakinan) maupun amalan hati. Perbedaan ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala, قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ“Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kamu belum beriman, tapi katakanlah, ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.’” (QS. Al-Hujurat: 14)Juga firman Allah Ta’ala berkaitan dengan kisah kaum Luth,فَأَخْرَجْنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِّنَ الْمُسْلِمِينَ“Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman (mukmin) yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang yang berserah diri (muslim).” (QS. Az-Zariyat: 35-36)Maka, dalam ayat tersebut dibedakan antara mukmin dan muslim. Hal ini karena rumah yang ada di kampung tersebut adalah rumah Islam secara lahiriah, karena mencakup istri Nabi Luth yang berkhianat kepadanya dan dia kafir. Adapun yang keluar dari rumah tersebut dan selamat, mereka itulah kaum mukmin yang sebenarnya yang iman itu telah masuk ke dalam hati mereka.Perbedaan iman dan Islam ketika disebutkan bersamaan juga ditunjukkan oleh hadis dari sahabat Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Di dalam hadis tersebut, Jibril ‘alaihis salaam bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Islam dan iman. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ألإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً“Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, dan pergi haji jika mampu.“Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata tentang iman,أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ“Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, dan kamu beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk.”Kesimpulan, ketika Islam disebutkan secara mutlak (tidak ada tambahan keterangan yang lain), maka Islam tersebut mencakup keseluruhan agama, sehingga iman tercakup di dalamnya. Adapun jika disebutkan bersamaan dengan iman, maka Islam dimaknai sebagai amal lahiriah berupa ucapan lisan dan amal anggota badan, dan iman dimaknai sebagai amal batin, berupa keyakinan dalam hati dan amalan hati.Baca juga: Panduan Pelajaran Dasar Agama Islam***@Rumah Kasongan, 1 Dzulqa’dah 1444/ 21 Mei 2023Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul Ibadat, hal. 77-80, pertanyaan no. 48.Tags: agama islamaqidah islamhakikat


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Fadhilatus syekh, apakah agama Islam itu?Jawaban: Islam menurut makna yang umum adalah beribadah kepada Allah Ta’ala dengan ibadah yang disyariatkan oleh Rasul-Nya, sejak Allah Ta’ala disembah oleh hamba-Nya dengan syariat-Nya sampai datangnya hari kiamat. Oleh karena itu, (Islam dengan makna yang umum ini) mencakup syariat yang dibawa oleh Nuh ‘alaihis salam berupa hidayah dan kebenaran. Demikian pula, mencakup syariat yang dibawa oleh Ibrahim ‘alaihis shalatu wassalam, seorang imam yang hanif, dan juga syariat yang dibawa oleh Nabi Musa dan Isa. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Ta’ala, atau difirmankan oleh Allah Ta’ala dalam ayat yang banyak yang menunjukkan bahwa syariat-syariat sebelumnya itu adalah berserah diri (ber-Islam) kepada Allah Ta’ala.Akan tetapi, Islam menurut makna yang khusus adalah syariat yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini karena syariat yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu menghapus semua agama (syariat) sebelumnya. Jadilah siapa saja yang mengikuti syariat Muhammad itu disebut sebagai muslim, dan siapa saja yang tidak mengikuti syariat Muhammad itu bukan muslim, karena dia tidak berserah diri kepada Allah Ta’ala, namun berserah diri kepada hawa nafsunya. Oleh karena itu, Yahudi adalah kaum muslimin pada jaman Nabi Musa ‘alaihis shalatu wassalam, dan Nasrani adalah kaum muslimin pada jaman Nabi Isa ‘alaihis shalatu wassalam. Akan tetapi, setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, mereka itu mengingkari Nabi Muhammad, sehingga bukan kaum muslimin lagi.Oleh karena itu, tidak boleh bagi siapa pun untuk meyakini bahwa agama Yahudi dan Nasrani yang mereka ikuti (mereka yakini) pada saat ini adalah agama yang benar yang diterima di sisi Allah Ta’ala dan sama dengan agama Islam (yang dibawa oleh Nabi Muhammad). Bahkan, siapa saja yang meyakini hal tersebut, maka dia telah kafir, keluar dari Islam. Karena Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 19)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85)Inilah Islam yang diisyaratkan oleh Allah Ta’ala, yaitu Islam yang Allah Ta’ala berikan nikmat Islam tersebut kepada Nabi Muhammad dan umatnya sebagaimana firman Allah Ta’ala,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam itu menjadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)Ini adalah dalil yang sangat jelas bahwa selain umat ini setelah diutusnya Nabi Muhammad, mereka tidaklah di atas agama Islam. Berdasarkan hal itu, siapa saja memilih agama selain Islam, maka agama tersebut tidak akan diterima, dan tidak akan memberikan manfaat pada hari kiamat kelak. Tidak halal (tidak boleh) bagi kita untuk membuat ungkapan bahwa agama mereka itu agama yang lurus. Oleh karena itu, sungguh keliru dengan kekeliruan yang besar bagi siapa saja yang menyebut kaum Yahudi dan Nasrani sebagai saudara kita, atau mengatakan bahwa agama mereka saat ini masih ada (diakui), berdasarkan penjelasan kami sebelumnya.Jika kita katakan bahwa Islam adalah beribadah kepada Allah Ta’ala sesuai dengan syariat-Nya, maka hal itu mencakup berserah diri kepada Allah Ta’ala baik secara lahir maupun batin. Sehingga mencakup agama seluruhnya, baik akidah, amal perbuatan, maupun ucapan. Adapun jika Islam itu disebut bersamaan dengan iman, maka Islam bermakna amal lahiriah, baik berupa ucapan lisan maupun amal anggota badan. Sedangkan iman bermakna amal batin, baik berupa akidah (keyakinan) maupun amalan hati. Perbedaan ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala, قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ“Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kamu belum beriman, tapi katakanlah, ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.’” (QS. Al-Hujurat: 14)Juga firman Allah Ta’ala berkaitan dengan kisah kaum Luth,فَأَخْرَجْنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِّنَ الْمُسْلِمِينَ“Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman (mukmin) yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang yang berserah diri (muslim).” (QS. Az-Zariyat: 35-36)Maka, dalam ayat tersebut dibedakan antara mukmin dan muslim. Hal ini karena rumah yang ada di kampung tersebut adalah rumah Islam secara lahiriah, karena mencakup istri Nabi Luth yang berkhianat kepadanya dan dia kafir. Adapun yang keluar dari rumah tersebut dan selamat, mereka itulah kaum mukmin yang sebenarnya yang iman itu telah masuk ke dalam hati mereka.Perbedaan iman dan Islam ketika disebutkan bersamaan juga ditunjukkan oleh hadis dari sahabat Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Di dalam hadis tersebut, Jibril ‘alaihis salaam bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Islam dan iman. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ألإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً“Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, dan pergi haji jika mampu.“Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata tentang iman,أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ“Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, dan kamu beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk.”Kesimpulan, ketika Islam disebutkan secara mutlak (tidak ada tambahan keterangan yang lain), maka Islam tersebut mencakup keseluruhan agama, sehingga iman tercakup di dalamnya. Adapun jika disebutkan bersamaan dengan iman, maka Islam dimaknai sebagai amal lahiriah berupa ucapan lisan dan amal anggota badan, dan iman dimaknai sebagai amal batin, berupa keyakinan dalam hati dan amalan hati.Baca juga: Panduan Pelajaran Dasar Agama Islam***@Rumah Kasongan, 1 Dzulqa’dah 1444/ 21 Mei 2023Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul Ibadat, hal. 77-80, pertanyaan no. 48.Tags: agama islamaqidah islamhakikat

Hukum Umrah Ternyata Wajib, Inilah Dalil dan Penjelasannya

Hukum haji sudah kita ketahui itu wajib, bagian dari rukun Islam. Bagaimana dengan umrah? Pendapat terkuat, hukum umrah ternyata wajib, bukan sunnah.   Perhatikan hadits Bulughul Maram Kitab Haji berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan 4. Hukum Umrah Ternyata Wajib 5. Hadits #709 6. Hadits #710 7. Hadits #711 8. Faedah hadits 8.1. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ فَضْلِهِ وَبَيَانِ مَنْ فُرِضَ عَلَيْهِ Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan Hukum Umrah Ternyata Wajib Hadits #709 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: { قُلْتُ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! عَلَى اَلنِّسَاءِ جِهَادٌ ? قَالَ: ” نَعَمْ, عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لَا قِتَالَ فِيهِ: اَلْحَجُّ, وَالْعُمْرَةُ ” } رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَابْنُ مَاجَهْ وَاللَّفْظُ لَهُ, وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ . وَأَصْلُهُ فِي اَلصَّحِيحِ  . Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kaum wanita itu diwajibkan jihad?” Beliau menjawab, “Ya, mereka diwajibkan jihad tanpa perang di dalamnya, yaitu haji dan umrah.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah dan lafaz ini menurut riwayat beliau. Sanadnya sahih dan asalnya dari Shahih Al-Bukhari dan Muslim) [HR. Ahmad, 42:198; Ibnu Majah, no. 2901. Sanad hadits ini sahih, tetapi lafaz sahih tidaklah menyebutkan ‘umrah].   Hadits #710 وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: { أَتَى اَلنَّبِيَّ ( أَعْرَابِيٌّ. فَقَالَ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! أَخْبِرْنِي عَنْ اَلْعُمْرَةِ, أَوَاجِبَةٌ هِيَ? فَقَالَ: ” لَا. وَأَنْ تَعْتَمِرَ خَيْرٌ لَكَ ” } رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ, وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ. وَأَخْرَجَهُ اِبْنُ عَدِيٍّ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ ضَعِيفٍ  . Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa ada seorang Arab Badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang umrah, apakah ia wajib?” Beliau bersabda, “Tidak, tetapi jika engkau berumrah, itu lebih baik bagimu.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi. Menurut pendapat yang kuat, hadits ini mawquf. Ibnu ‘Adi mengeluarkan hadits dari jalan lain yang lemah). [HR. Ahmad, 22:290 dan Tirmidzi, no. 931. Sanad hadits ini dhaif. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al-Kaamil, 7:43, sanad hadits ini dhaif jiddan].   Hadits #711 عَنْ جَابِرٍ مَرْفُوعًا: { اَلْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ فَرِيضَتَانِ }  . Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ada hadits secara marfu’, “Haji dan umrah itu wajib.” [HR. Ibnu ‘Adi dalam Al-Kaamil, 4:150. Sanad hadits ini dhaif].   Faedah hadits Pertama: Hukum umrah itu wajib. Pendapat ini dianut oleh madzhab Imam Ahmad, madzhab Imam Syafii, dan dipilih oleh Imam Bukhari sebagaimana judul bab dalam kitab shahih beliau “Bab Wajibnya Umrah dan Keutamaannya”. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa umrah itu sunnah, bukan wajib. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 5:165 menyatakan bahwa tidak ada dalil tegas yang menyatakan bahwa umrah itu wajib. Namun, Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyarankan bahwa bagi yang mampu, hendaklah tetap berumrah. Ibnu ‘Abbas sendiri berpendapat bahwa umrah itu wajib. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, وَأَتِمُّوا۟ ٱلْحَجَّ وَٱلْعُمْرَةَ لِلَّهِ “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196). Imam Syafii mengatakan bahwa sanad hadits Ibnu ‘Abbas itu mawshul (bersambung). Juga ada hadits yang menerangkan wajibnya umrah, فحُجَّ عن أبيكَ واعتمِرْ “Hajikan ayahmu dan berumrahlah.” (HR. Abu Daud, 1:420; Tirmidzi, no. 933; An-Nasai, 5:89; Ibnu Majah, no. 2906; Ahmad, 4:10. Hadits ini adalah hadits sahih). Baca juga: Wajibkah Umrah?   Kedua: Ulama yang berpandangan akan wajibnya umrah berpendapat bahwa umrah pada haji tamattu’ itu sah. Umrah pada haji tamattu’ tersebut sudah mencukupi umrah yang wajib.   Semoga semua pembaca Rumaysho.Com dimudahkan untuk berumrah ke tanah suci.   Baca juga: Cara Umrah dalam Tinjauan Madzhab Syafii   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:162-165. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:565-568.   –   Diselesaikan di Darush Sholihin, 5 Dzulqa’dah 1444 H, 24 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji berhaji bulughul maram bulughul maram haji cara umrah dalil haji fikih haji fikih umrah haji haji mabrur keutamaan haji keutamaan umrah

Hukum Umrah Ternyata Wajib, Inilah Dalil dan Penjelasannya

Hukum haji sudah kita ketahui itu wajib, bagian dari rukun Islam. Bagaimana dengan umrah? Pendapat terkuat, hukum umrah ternyata wajib, bukan sunnah.   Perhatikan hadits Bulughul Maram Kitab Haji berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan 4. Hukum Umrah Ternyata Wajib 5. Hadits #709 6. Hadits #710 7. Hadits #711 8. Faedah hadits 8.1. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ فَضْلِهِ وَبَيَانِ مَنْ فُرِضَ عَلَيْهِ Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan Hukum Umrah Ternyata Wajib Hadits #709 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: { قُلْتُ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! عَلَى اَلنِّسَاءِ جِهَادٌ ? قَالَ: ” نَعَمْ, عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لَا قِتَالَ فِيهِ: اَلْحَجُّ, وَالْعُمْرَةُ ” } رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَابْنُ مَاجَهْ وَاللَّفْظُ لَهُ, وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ . وَأَصْلُهُ فِي اَلصَّحِيحِ  . Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kaum wanita itu diwajibkan jihad?” Beliau menjawab, “Ya, mereka diwajibkan jihad tanpa perang di dalamnya, yaitu haji dan umrah.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah dan lafaz ini menurut riwayat beliau. Sanadnya sahih dan asalnya dari Shahih Al-Bukhari dan Muslim) [HR. Ahmad, 42:198; Ibnu Majah, no. 2901. Sanad hadits ini sahih, tetapi lafaz sahih tidaklah menyebutkan ‘umrah].   Hadits #710 وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: { أَتَى اَلنَّبِيَّ ( أَعْرَابِيٌّ. فَقَالَ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! أَخْبِرْنِي عَنْ اَلْعُمْرَةِ, أَوَاجِبَةٌ هِيَ? فَقَالَ: ” لَا. وَأَنْ تَعْتَمِرَ خَيْرٌ لَكَ ” } رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ, وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ. وَأَخْرَجَهُ اِبْنُ عَدِيٍّ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ ضَعِيفٍ  . Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa ada seorang Arab Badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang umrah, apakah ia wajib?” Beliau bersabda, “Tidak, tetapi jika engkau berumrah, itu lebih baik bagimu.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi. Menurut pendapat yang kuat, hadits ini mawquf. Ibnu ‘Adi mengeluarkan hadits dari jalan lain yang lemah). [HR. Ahmad, 22:290 dan Tirmidzi, no. 931. Sanad hadits ini dhaif. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al-Kaamil, 7:43, sanad hadits ini dhaif jiddan].   Hadits #711 عَنْ جَابِرٍ مَرْفُوعًا: { اَلْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ فَرِيضَتَانِ }  . Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ada hadits secara marfu’, “Haji dan umrah itu wajib.” [HR. Ibnu ‘Adi dalam Al-Kaamil, 4:150. Sanad hadits ini dhaif].   Faedah hadits Pertama: Hukum umrah itu wajib. Pendapat ini dianut oleh madzhab Imam Ahmad, madzhab Imam Syafii, dan dipilih oleh Imam Bukhari sebagaimana judul bab dalam kitab shahih beliau “Bab Wajibnya Umrah dan Keutamaannya”. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa umrah itu sunnah, bukan wajib. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 5:165 menyatakan bahwa tidak ada dalil tegas yang menyatakan bahwa umrah itu wajib. Namun, Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyarankan bahwa bagi yang mampu, hendaklah tetap berumrah. Ibnu ‘Abbas sendiri berpendapat bahwa umrah itu wajib. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, وَأَتِمُّوا۟ ٱلْحَجَّ وَٱلْعُمْرَةَ لِلَّهِ “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196). Imam Syafii mengatakan bahwa sanad hadits Ibnu ‘Abbas itu mawshul (bersambung). Juga ada hadits yang menerangkan wajibnya umrah, فحُجَّ عن أبيكَ واعتمِرْ “Hajikan ayahmu dan berumrahlah.” (HR. Abu Daud, 1:420; Tirmidzi, no. 933; An-Nasai, 5:89; Ibnu Majah, no. 2906; Ahmad, 4:10. Hadits ini adalah hadits sahih). Baca juga: Wajibkah Umrah?   Kedua: Ulama yang berpandangan akan wajibnya umrah berpendapat bahwa umrah pada haji tamattu’ itu sah. Umrah pada haji tamattu’ tersebut sudah mencukupi umrah yang wajib.   Semoga semua pembaca Rumaysho.Com dimudahkan untuk berumrah ke tanah suci.   Baca juga: Cara Umrah dalam Tinjauan Madzhab Syafii   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:162-165. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:565-568.   –   Diselesaikan di Darush Sholihin, 5 Dzulqa’dah 1444 H, 24 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji berhaji bulughul maram bulughul maram haji cara umrah dalil haji fikih haji fikih umrah haji haji mabrur keutamaan haji keutamaan umrah
Hukum haji sudah kita ketahui itu wajib, bagian dari rukun Islam. Bagaimana dengan umrah? Pendapat terkuat, hukum umrah ternyata wajib, bukan sunnah.   Perhatikan hadits Bulughul Maram Kitab Haji berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan 4. Hukum Umrah Ternyata Wajib 5. Hadits #709 6. Hadits #710 7. Hadits #711 8. Faedah hadits 8.1. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ فَضْلِهِ وَبَيَانِ مَنْ فُرِضَ عَلَيْهِ Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan Hukum Umrah Ternyata Wajib Hadits #709 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: { قُلْتُ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! عَلَى اَلنِّسَاءِ جِهَادٌ ? قَالَ: ” نَعَمْ, عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لَا قِتَالَ فِيهِ: اَلْحَجُّ, وَالْعُمْرَةُ ” } رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَابْنُ مَاجَهْ وَاللَّفْظُ لَهُ, وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ . وَأَصْلُهُ فِي اَلصَّحِيحِ  . Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kaum wanita itu diwajibkan jihad?” Beliau menjawab, “Ya, mereka diwajibkan jihad tanpa perang di dalamnya, yaitu haji dan umrah.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah dan lafaz ini menurut riwayat beliau. Sanadnya sahih dan asalnya dari Shahih Al-Bukhari dan Muslim) [HR. Ahmad, 42:198; Ibnu Majah, no. 2901. Sanad hadits ini sahih, tetapi lafaz sahih tidaklah menyebutkan ‘umrah].   Hadits #710 وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: { أَتَى اَلنَّبِيَّ ( أَعْرَابِيٌّ. فَقَالَ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! أَخْبِرْنِي عَنْ اَلْعُمْرَةِ, أَوَاجِبَةٌ هِيَ? فَقَالَ: ” لَا. وَأَنْ تَعْتَمِرَ خَيْرٌ لَكَ ” } رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ, وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ. وَأَخْرَجَهُ اِبْنُ عَدِيٍّ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ ضَعِيفٍ  . Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa ada seorang Arab Badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang umrah, apakah ia wajib?” Beliau bersabda, “Tidak, tetapi jika engkau berumrah, itu lebih baik bagimu.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi. Menurut pendapat yang kuat, hadits ini mawquf. Ibnu ‘Adi mengeluarkan hadits dari jalan lain yang lemah). [HR. Ahmad, 22:290 dan Tirmidzi, no. 931. Sanad hadits ini dhaif. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al-Kaamil, 7:43, sanad hadits ini dhaif jiddan].   Hadits #711 عَنْ جَابِرٍ مَرْفُوعًا: { اَلْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ فَرِيضَتَانِ }  . Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ada hadits secara marfu’, “Haji dan umrah itu wajib.” [HR. Ibnu ‘Adi dalam Al-Kaamil, 4:150. Sanad hadits ini dhaif].   Faedah hadits Pertama: Hukum umrah itu wajib. Pendapat ini dianut oleh madzhab Imam Ahmad, madzhab Imam Syafii, dan dipilih oleh Imam Bukhari sebagaimana judul bab dalam kitab shahih beliau “Bab Wajibnya Umrah dan Keutamaannya”. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa umrah itu sunnah, bukan wajib. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 5:165 menyatakan bahwa tidak ada dalil tegas yang menyatakan bahwa umrah itu wajib. Namun, Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyarankan bahwa bagi yang mampu, hendaklah tetap berumrah. Ibnu ‘Abbas sendiri berpendapat bahwa umrah itu wajib. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, وَأَتِمُّوا۟ ٱلْحَجَّ وَٱلْعُمْرَةَ لِلَّهِ “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196). Imam Syafii mengatakan bahwa sanad hadits Ibnu ‘Abbas itu mawshul (bersambung). Juga ada hadits yang menerangkan wajibnya umrah, فحُجَّ عن أبيكَ واعتمِرْ “Hajikan ayahmu dan berumrahlah.” (HR. Abu Daud, 1:420; Tirmidzi, no. 933; An-Nasai, 5:89; Ibnu Majah, no. 2906; Ahmad, 4:10. Hadits ini adalah hadits sahih). Baca juga: Wajibkah Umrah?   Kedua: Ulama yang berpandangan akan wajibnya umrah berpendapat bahwa umrah pada haji tamattu’ itu sah. Umrah pada haji tamattu’ tersebut sudah mencukupi umrah yang wajib.   Semoga semua pembaca Rumaysho.Com dimudahkan untuk berumrah ke tanah suci.   Baca juga: Cara Umrah dalam Tinjauan Madzhab Syafii   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:162-165. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:565-568.   –   Diselesaikan di Darush Sholihin, 5 Dzulqa’dah 1444 H, 24 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji berhaji bulughul maram bulughul maram haji cara umrah dalil haji fikih haji fikih umrah haji haji mabrur keutamaan haji keutamaan umrah


Hukum haji sudah kita ketahui itu wajib, bagian dari rukun Islam. Bagaimana dengan umrah? Pendapat terkuat, hukum umrah ternyata wajib, bukan sunnah.   Perhatikan hadits Bulughul Maram Kitab Haji berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani 2. Kitab Haji 3. Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan 4. Hukum Umrah Ternyata Wajib 5. Hadits #709 6. Hadits #710 7. Hadits #711 8. Faedah hadits 8.1. Referensi:   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani   كِتَابُ اَلْحَجِّ Kitab Haji بَابُ فَضْلِهِ وَبَيَانِ مَنْ فُرِضَ عَلَيْهِ Bab Keutamaan Haji dan Penjelasan Siapa yang Diwajibkan Hukum Umrah Ternyata Wajib Hadits #709 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: { قُلْتُ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! عَلَى اَلنِّسَاءِ جِهَادٌ ? قَالَ: ” نَعَمْ, عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لَا قِتَالَ فِيهِ: اَلْحَجُّ, وَالْعُمْرَةُ ” } رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَابْنُ مَاجَهْ وَاللَّفْظُ لَهُ, وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ . وَأَصْلُهُ فِي اَلصَّحِيحِ  . Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kaum wanita itu diwajibkan jihad?” Beliau menjawab, “Ya, mereka diwajibkan jihad tanpa perang di dalamnya, yaitu haji dan umrah.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah dan lafaz ini menurut riwayat beliau. Sanadnya sahih dan asalnya dari Shahih Al-Bukhari dan Muslim) [HR. Ahmad, 42:198; Ibnu Majah, no. 2901. Sanad hadits ini sahih, tetapi lafaz sahih tidaklah menyebutkan ‘umrah].   Hadits #710 وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: { أَتَى اَلنَّبِيَّ ( أَعْرَابِيٌّ. فَقَالَ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! أَخْبِرْنِي عَنْ اَلْعُمْرَةِ, أَوَاجِبَةٌ هِيَ? فَقَالَ: ” لَا. وَأَنْ تَعْتَمِرَ خَيْرٌ لَكَ ” } رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ, وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ. وَأَخْرَجَهُ اِبْنُ عَدِيٍّ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ ضَعِيفٍ  . Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa ada seorang Arab Badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang umrah, apakah ia wajib?” Beliau bersabda, “Tidak, tetapi jika engkau berumrah, itu lebih baik bagimu.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi. Menurut pendapat yang kuat, hadits ini mawquf. Ibnu ‘Adi mengeluarkan hadits dari jalan lain yang lemah). [HR. Ahmad, 22:290 dan Tirmidzi, no. 931. Sanad hadits ini dhaif. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al-Kaamil, 7:43, sanad hadits ini dhaif jiddan].   Hadits #711 عَنْ جَابِرٍ مَرْفُوعًا: { اَلْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ فَرِيضَتَانِ }  . Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ada hadits secara marfu’, “Haji dan umrah itu wajib.” [HR. Ibnu ‘Adi dalam Al-Kaamil, 4:150. Sanad hadits ini dhaif].   Faedah hadits Pertama: Hukum umrah itu wajib. Pendapat ini dianut oleh madzhab Imam Ahmad, madzhab Imam Syafii, dan dipilih oleh Imam Bukhari sebagaimana judul bab dalam kitab shahih beliau “Bab Wajibnya Umrah dan Keutamaannya”. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa umrah itu sunnah, bukan wajib. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 5:165 menyatakan bahwa tidak ada dalil tegas yang menyatakan bahwa umrah itu wajib. Namun, Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyarankan bahwa bagi yang mampu, hendaklah tetap berumrah. Ibnu ‘Abbas sendiri berpendapat bahwa umrah itu wajib. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, وَأَتِمُّوا۟ ٱلْحَجَّ وَٱلْعُمْرَةَ لِلَّهِ “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196). Imam Syafii mengatakan bahwa sanad hadits Ibnu ‘Abbas itu mawshul (bersambung). Juga ada hadits yang menerangkan wajibnya umrah, فحُجَّ عن أبيكَ واعتمِرْ “Hajikan ayahmu dan berumrahlah.” (HR. Abu Daud, 1:420; Tirmidzi, no. 933; An-Nasai, 5:89; Ibnu Majah, no. 2906; Ahmad, 4:10. Hadits ini adalah hadits sahih). Baca juga: Wajibkah Umrah?   Kedua: Ulama yang berpandangan akan wajibnya umrah berpendapat bahwa umrah pada haji tamattu’ itu sah. Umrah pada haji tamattu’ tersebut sudah mencukupi umrah yang wajib.   Semoga semua pembaca Rumaysho.Com dimudahkan untuk berumrah ke tanah suci.   Baca juga: Cara Umrah dalam Tinjauan Madzhab Syafii   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 5:162-165. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:565-568.   –   Diselesaikan di Darush Sholihin, 5 Dzulqa’dah 1444 H, 24 Mei 2023 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji berhaji bulughul maram bulughul maram haji cara umrah dalil haji fikih haji fikih umrah haji haji mabrur keutamaan haji keutamaan umrah
Prev     Next