Belum Bayar Puasa tapi Sudah Masuk Ramadan Berikutnya, Bagaimana Solusinya?

Daftar Isi Toggle Seseorang yang menunda qada (bayar utang puasa) sampai datang Ramadan berikutnya ada dua kondisi:Pertama: Memiliki uzurKedua: Tidak memiliki uzur Pada asalnya, mengqada dan membayar puasa harus dilakukan sebelum datang bulan Ramadan berikutnya. Bagi siapa yang menundanya tanpa adanya alasan syar’i hingga datang Ramadan berikutnya sedang ia tetap belum melunasinya, maka ia mendapatkan dosa. Sebagaimana hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha yang berbunyi, كانَ يَكونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِن رَمَضَانَ، فَما أسْتَطِيعُ أنْ أقْضِيَ إلَّا في شَعْبَانَ. “Dulu, saya pernah memiliki utang puasa Ramadan. Namun, saya tidak mampu melunasinya, kecuali di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146) Dahulu kala, Aisyah radhiyallahu ‘anha karena kesibukan beliau melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak mampu untuk membayar utang puasanya, kecuali di bulan Sya’ban. Tatkala bulan Sya’ban tersebut datang, barulah Aisyah memiliki kesempatan untuk membayar utang puasanya tersebut. Karena di bulan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyak puasa juga, sehingga Aisyah dapat berpuasa dan membayar utang puasanya tanpa menghalangi kewajibannya sebagai istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aisyah radhiyallahu anha berkata, فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh, selain pada bulan Ramadan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156) Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalany rahimahullah mengomentari hadis ini, وَيُؤْخَذ مِنْ حِرْصهَا عَلَى ذَلِكَ فِي شَعْبَان أَنَّهُ لا يَجُوز تَأْخِير الْقَضَاء حَتَّى يَدْخُلَ رَمَضَان آخَرُ “Dan diambil sebuah pelajaran dari semangat ‘Aisyah radhiyallalhu ‘anha untuk membayar utang puasanya di dalam bulan Sya’ban, yaitu bahwasanya tidak boleh mengakhirkan qada (membayar utang puasa) sampai datang Ramadan yang lain.” (Fathul Bari, 4: 191) Hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa utang puasa harus dibayar selambat-lambatnya di bulan Sya’ban (bulan ke-8, sedangkan bulan ke-9 adalah Ramadan). Dan bagi siapa pun yang belum menyelesaikan utang puasanya hingga Ramadan setelahnya datang dan ia tidak memiliki uzur atau alasan yang diperbolehkan oleh syariat, maka ia akan mendapatkan dosa atas kelalaiannya tersebut. Seseorang yang menunda qada (bayar utang puasa) sampai datang Ramadan berikutnya ada dua kondisi: Pertama: Memiliki uzur Seperti seseorang yang sakit dan sakitnya tersebut berlanjut sampai datang Ramadan berikutnya atau seorang wanita yang melahirkan, lalu masih dalam kondisi menyusui ketika datang Ramadan berikutnya. Pada kondisi seperti ini, mereka tidaklah berdosa karena penundaan qada yang mereka lakukan, karena kesemuanya memiliki uzur. Tidak ada kewajiban bagi mereka, kecuali membayar utang puasanya tersebut. Syekh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang seorang wanita yang melahirkan di hari pertama bulan Ramadan tahun lalu, kemudian datang Ramadan tahun ini sedangkan ia masih dalam kondisi menyusui, bagaimanakah kondisi puasanya? Wanita tersebut belum sempat membayar utang puasanya pada tahun lalu, hingga datang Ramadan berikutnya dan ia masih belum mampu untuk berpuasa dan membayar utang puasanya. Maka, Syekh Binbaz rahimahullah menjawab, Tidak ada salahnya ia berbuka jika menyusui akan membahayakan dirinya ketika diiringi dengan puasa. Boleh bagi ibu yang sedang menyusui, perempuan dalam kondisi hamil, atau seseorang yang sedang sakit untuk tidak berpuasa sampai ia mampu berpuasa. Maka, apabila datang Ramadan berikutnya, namun ia masih dalam kondisi menyusui dan tidak mampu berpuasa, maka dia boleh berbuka (tidak puasa) pada bulan Ramadan tersebut. Barulah ia membayar utang puasanya tersebut ketika dirinya telah mampu untuk berpuasa, baik karena ia telah menyapih bayinya atau karena dirinya sudah kuat untuk melaksanakan puasa, meskipun dalam kondisi menyusui atau sebab-sebab lainnya yang menjadikannya mampu untuk berpuasa. Intinya, selama dia merasa sulit berpuasa karena menyusui, hamil, atau karena suatu penyakit, maka dia membatalkan puasanya dan tidak ada kafarat baginya. Karena dia tidak putus asa untuk berpuasa, melainkan berharap mampu untuk melakukannya. Maka, ketika Allah memudahkannya untuk kembali berpuasa, dia bisa membayar utang-utang puasanya tersebut, baik dilakukan secara beruntun ataupun secara terpisah-pisah, keduanya diperbolehkan. Dan ia tidak perlu membayar kafarat/tebusan karena kondisinya tersebut. (Fatawa Nur Ala Ad-Darbi) Baca juga: Lebih dari Sekedar Puasa yang Sia-Sia Kedua: Tidak memiliki uzur Contohnya adalah seseorang yang memiliki kesempatan dan dimungkinkan untuk membayar utang puasanya, akan tetapi ia tidak melakukannya sampai datang Ramadan berikutnya. Orang ini berdosa karena perbuatannya tersebut. Para ulama juga sepakat bahwa orang tersebut tetap wajib untuk membayar utang puasanya, meskipun telah datang Ramadan berikutnya. Utang tersebut haruslah ia bayar setelah Ramadan. Pada keadaan yang kedua ini, ulama berbeda pendapat apakah selain membayar utang puasanya tersebut ia juga diwajibkan untuk memberi makan satu orang miskin per hari yang ia tinggalkan? Imam Malik, As-Syafi’i, dan Ahmad berpendapat bahwa orang tersebut juga diwajibkan untuk memberi makan. Mereka berdalil bahwa hal ini telah datang contohnya dari beberapa sahabat seperti Abu Hurairah dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Adapun Imam Abu Hanifah, maka ia berpendapat bahwa orang tersebut tidak wajib untuk memberi makan di samping kewajibannya untuk mengganti puasanya. Beliau berdalil bahwa Allah Ta’ala tidaklah menyuruh seseorang yang tidak berpuasa di bulan Ramadan, kecuali mengganti dan membayar puasanya saja. Allah sama sekali tidak menyebutkan perihal memberi makan. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa/qada puasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185) Pendapat kedua inilah yang dipilih oleh Imam Bukhari rahimahullah. Beliau berkata dalam kitab Shahih-nya, قَالَ إِبْرَاهِيمُ -يعني: النخعي-: إِذَا فَرَّطَ حَتَّى جَاءَ رَمَضَانُ آخَرُ يَصُومُهُمَا وَلَمْ يَرَ عَلَيْهِ طَعَامًا، وَيُذْكَرُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مُرْسَلا وَابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ يُطْعِمُ. ثم قال البخاري: وَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهُ الإِطْعَامَ، إِنَّمَا قَالَ: فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ “Ibrahim, yaitu An-Nakh’i berkata, ‘Jika ia meremehkan sampai datang Ramadan yang lain (setelahnya), maka ia berpuasa pada keduanya. Dan ia tidak berpendapat ada kewajiban memberi makan atasnya. Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah secara mursal dan juga Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhum bahwa ia (juga) harus memberi makan.'” Kemudian Al-Bukhari berkata, “Allah tidak menyebutkan membayar fidyah, tetapi hanya berfirman, ‘maka (wajiblah baginya berpuasa/qada puasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.’” (Shahih Al-Bukhari, 3: 35) Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyebutkan, “Dan adapun perkataan para sahabat, sesungguhnya di dalam pengambilannya sebagai hujah, perlu menjadi perhatian jika menyelisihi zahir ayat Al-Qur’an. Dan di sini pewajiban memberi makan menyelisihi zahir Al-Qur’an, karena Allah Ta’ala tidaklah mewajibkan, kecuali menggantinya di beberapa hari yang lain dan Allah tidak mewajibkan lebih daripada itu. Maka, berdasarkan hal ini, kita tidak mewajibkan kepada hamba-hamba Allah dengan sesuatu yang tidak diharuskan oleh Allah Ta’ala atas mereka, kecuali dengan dalil yang melepaskan kita dari tanggung jawab. Apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum mungkin bisa kita bawa dalam ranah anjuran dan bukan dalam ranah kewajiban. Maka, yang benar dalam permasalahan ini, bahwa tidak wajib baginya, kecuali membayar utang puasa. Akan tetapi, ia berdosa atas pengakhirannya.” (Asy-Syarh Al-Mumti’, 6: 451) Dari sini, dapat kita simpulkan bahwa seseorang yang belum membayar utang puasanya hingga datang Ramadan berikutnya, maka tidak ada kewajiban bagi dirinya, kecuali hanya berpuasa menggantikan hari-hari yang ditinggalkannya saja. Adapun jika ia berhati-hati dan memberi makan orang miskin di samping membayar utang puasanya, maka ini adalah hal yang baik. Selain tentunya ia harus bertobat kepada Allah Ta’ala dan bertekad kuat untuk tidak mengulang kembali, karena jelas perbuatan yang telah dilakukannya tersebut merupakan perbuatan dosa yang seorang muslim wajib bertobat kepada Allah dan memohon ampunan karena perbuatannya tersebut. Wallahu A’lam bisshawab. Baca juga: Puasa, tetapi Tetap Bermaksiat *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: hutang puasa ramadan

Belum Bayar Puasa tapi Sudah Masuk Ramadan Berikutnya, Bagaimana Solusinya?

Daftar Isi Toggle Seseorang yang menunda qada (bayar utang puasa) sampai datang Ramadan berikutnya ada dua kondisi:Pertama: Memiliki uzurKedua: Tidak memiliki uzur Pada asalnya, mengqada dan membayar puasa harus dilakukan sebelum datang bulan Ramadan berikutnya. Bagi siapa yang menundanya tanpa adanya alasan syar’i hingga datang Ramadan berikutnya sedang ia tetap belum melunasinya, maka ia mendapatkan dosa. Sebagaimana hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha yang berbunyi, كانَ يَكونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِن رَمَضَانَ، فَما أسْتَطِيعُ أنْ أقْضِيَ إلَّا في شَعْبَانَ. “Dulu, saya pernah memiliki utang puasa Ramadan. Namun, saya tidak mampu melunasinya, kecuali di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146) Dahulu kala, Aisyah radhiyallahu ‘anha karena kesibukan beliau melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak mampu untuk membayar utang puasanya, kecuali di bulan Sya’ban. Tatkala bulan Sya’ban tersebut datang, barulah Aisyah memiliki kesempatan untuk membayar utang puasanya tersebut. Karena di bulan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyak puasa juga, sehingga Aisyah dapat berpuasa dan membayar utang puasanya tanpa menghalangi kewajibannya sebagai istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aisyah radhiyallahu anha berkata, فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh, selain pada bulan Ramadan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156) Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalany rahimahullah mengomentari hadis ini, وَيُؤْخَذ مِنْ حِرْصهَا عَلَى ذَلِكَ فِي شَعْبَان أَنَّهُ لا يَجُوز تَأْخِير الْقَضَاء حَتَّى يَدْخُلَ رَمَضَان آخَرُ “Dan diambil sebuah pelajaran dari semangat ‘Aisyah radhiyallalhu ‘anha untuk membayar utang puasanya di dalam bulan Sya’ban, yaitu bahwasanya tidak boleh mengakhirkan qada (membayar utang puasa) sampai datang Ramadan yang lain.” (Fathul Bari, 4: 191) Hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa utang puasa harus dibayar selambat-lambatnya di bulan Sya’ban (bulan ke-8, sedangkan bulan ke-9 adalah Ramadan). Dan bagi siapa pun yang belum menyelesaikan utang puasanya hingga Ramadan setelahnya datang dan ia tidak memiliki uzur atau alasan yang diperbolehkan oleh syariat, maka ia akan mendapatkan dosa atas kelalaiannya tersebut. Seseorang yang menunda qada (bayar utang puasa) sampai datang Ramadan berikutnya ada dua kondisi: Pertama: Memiliki uzur Seperti seseorang yang sakit dan sakitnya tersebut berlanjut sampai datang Ramadan berikutnya atau seorang wanita yang melahirkan, lalu masih dalam kondisi menyusui ketika datang Ramadan berikutnya. Pada kondisi seperti ini, mereka tidaklah berdosa karena penundaan qada yang mereka lakukan, karena kesemuanya memiliki uzur. Tidak ada kewajiban bagi mereka, kecuali membayar utang puasanya tersebut. Syekh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang seorang wanita yang melahirkan di hari pertama bulan Ramadan tahun lalu, kemudian datang Ramadan tahun ini sedangkan ia masih dalam kondisi menyusui, bagaimanakah kondisi puasanya? Wanita tersebut belum sempat membayar utang puasanya pada tahun lalu, hingga datang Ramadan berikutnya dan ia masih belum mampu untuk berpuasa dan membayar utang puasanya. Maka, Syekh Binbaz rahimahullah menjawab, Tidak ada salahnya ia berbuka jika menyusui akan membahayakan dirinya ketika diiringi dengan puasa. Boleh bagi ibu yang sedang menyusui, perempuan dalam kondisi hamil, atau seseorang yang sedang sakit untuk tidak berpuasa sampai ia mampu berpuasa. Maka, apabila datang Ramadan berikutnya, namun ia masih dalam kondisi menyusui dan tidak mampu berpuasa, maka dia boleh berbuka (tidak puasa) pada bulan Ramadan tersebut. Barulah ia membayar utang puasanya tersebut ketika dirinya telah mampu untuk berpuasa, baik karena ia telah menyapih bayinya atau karena dirinya sudah kuat untuk melaksanakan puasa, meskipun dalam kondisi menyusui atau sebab-sebab lainnya yang menjadikannya mampu untuk berpuasa. Intinya, selama dia merasa sulit berpuasa karena menyusui, hamil, atau karena suatu penyakit, maka dia membatalkan puasanya dan tidak ada kafarat baginya. Karena dia tidak putus asa untuk berpuasa, melainkan berharap mampu untuk melakukannya. Maka, ketika Allah memudahkannya untuk kembali berpuasa, dia bisa membayar utang-utang puasanya tersebut, baik dilakukan secara beruntun ataupun secara terpisah-pisah, keduanya diperbolehkan. Dan ia tidak perlu membayar kafarat/tebusan karena kondisinya tersebut. (Fatawa Nur Ala Ad-Darbi) Baca juga: Lebih dari Sekedar Puasa yang Sia-Sia Kedua: Tidak memiliki uzur Contohnya adalah seseorang yang memiliki kesempatan dan dimungkinkan untuk membayar utang puasanya, akan tetapi ia tidak melakukannya sampai datang Ramadan berikutnya. Orang ini berdosa karena perbuatannya tersebut. Para ulama juga sepakat bahwa orang tersebut tetap wajib untuk membayar utang puasanya, meskipun telah datang Ramadan berikutnya. Utang tersebut haruslah ia bayar setelah Ramadan. Pada keadaan yang kedua ini, ulama berbeda pendapat apakah selain membayar utang puasanya tersebut ia juga diwajibkan untuk memberi makan satu orang miskin per hari yang ia tinggalkan? Imam Malik, As-Syafi’i, dan Ahmad berpendapat bahwa orang tersebut juga diwajibkan untuk memberi makan. Mereka berdalil bahwa hal ini telah datang contohnya dari beberapa sahabat seperti Abu Hurairah dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Adapun Imam Abu Hanifah, maka ia berpendapat bahwa orang tersebut tidak wajib untuk memberi makan di samping kewajibannya untuk mengganti puasanya. Beliau berdalil bahwa Allah Ta’ala tidaklah menyuruh seseorang yang tidak berpuasa di bulan Ramadan, kecuali mengganti dan membayar puasanya saja. Allah sama sekali tidak menyebutkan perihal memberi makan. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa/qada puasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185) Pendapat kedua inilah yang dipilih oleh Imam Bukhari rahimahullah. Beliau berkata dalam kitab Shahih-nya, قَالَ إِبْرَاهِيمُ -يعني: النخعي-: إِذَا فَرَّطَ حَتَّى جَاءَ رَمَضَانُ آخَرُ يَصُومُهُمَا وَلَمْ يَرَ عَلَيْهِ طَعَامًا، وَيُذْكَرُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مُرْسَلا وَابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ يُطْعِمُ. ثم قال البخاري: وَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهُ الإِطْعَامَ، إِنَّمَا قَالَ: فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ “Ibrahim, yaitu An-Nakh’i berkata, ‘Jika ia meremehkan sampai datang Ramadan yang lain (setelahnya), maka ia berpuasa pada keduanya. Dan ia tidak berpendapat ada kewajiban memberi makan atasnya. Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah secara mursal dan juga Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhum bahwa ia (juga) harus memberi makan.'” Kemudian Al-Bukhari berkata, “Allah tidak menyebutkan membayar fidyah, tetapi hanya berfirman, ‘maka (wajiblah baginya berpuasa/qada puasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.’” (Shahih Al-Bukhari, 3: 35) Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyebutkan, “Dan adapun perkataan para sahabat, sesungguhnya di dalam pengambilannya sebagai hujah, perlu menjadi perhatian jika menyelisihi zahir ayat Al-Qur’an. Dan di sini pewajiban memberi makan menyelisihi zahir Al-Qur’an, karena Allah Ta’ala tidaklah mewajibkan, kecuali menggantinya di beberapa hari yang lain dan Allah tidak mewajibkan lebih daripada itu. Maka, berdasarkan hal ini, kita tidak mewajibkan kepada hamba-hamba Allah dengan sesuatu yang tidak diharuskan oleh Allah Ta’ala atas mereka, kecuali dengan dalil yang melepaskan kita dari tanggung jawab. Apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum mungkin bisa kita bawa dalam ranah anjuran dan bukan dalam ranah kewajiban. Maka, yang benar dalam permasalahan ini, bahwa tidak wajib baginya, kecuali membayar utang puasa. Akan tetapi, ia berdosa atas pengakhirannya.” (Asy-Syarh Al-Mumti’, 6: 451) Dari sini, dapat kita simpulkan bahwa seseorang yang belum membayar utang puasanya hingga datang Ramadan berikutnya, maka tidak ada kewajiban bagi dirinya, kecuali hanya berpuasa menggantikan hari-hari yang ditinggalkannya saja. Adapun jika ia berhati-hati dan memberi makan orang miskin di samping membayar utang puasanya, maka ini adalah hal yang baik. Selain tentunya ia harus bertobat kepada Allah Ta’ala dan bertekad kuat untuk tidak mengulang kembali, karena jelas perbuatan yang telah dilakukannya tersebut merupakan perbuatan dosa yang seorang muslim wajib bertobat kepada Allah dan memohon ampunan karena perbuatannya tersebut. Wallahu A’lam bisshawab. Baca juga: Puasa, tetapi Tetap Bermaksiat *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: hutang puasa ramadan
Daftar Isi Toggle Seseorang yang menunda qada (bayar utang puasa) sampai datang Ramadan berikutnya ada dua kondisi:Pertama: Memiliki uzurKedua: Tidak memiliki uzur Pada asalnya, mengqada dan membayar puasa harus dilakukan sebelum datang bulan Ramadan berikutnya. Bagi siapa yang menundanya tanpa adanya alasan syar’i hingga datang Ramadan berikutnya sedang ia tetap belum melunasinya, maka ia mendapatkan dosa. Sebagaimana hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha yang berbunyi, كانَ يَكونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِن رَمَضَانَ، فَما أسْتَطِيعُ أنْ أقْضِيَ إلَّا في شَعْبَانَ. “Dulu, saya pernah memiliki utang puasa Ramadan. Namun, saya tidak mampu melunasinya, kecuali di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146) Dahulu kala, Aisyah radhiyallahu ‘anha karena kesibukan beliau melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak mampu untuk membayar utang puasanya, kecuali di bulan Sya’ban. Tatkala bulan Sya’ban tersebut datang, barulah Aisyah memiliki kesempatan untuk membayar utang puasanya tersebut. Karena di bulan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyak puasa juga, sehingga Aisyah dapat berpuasa dan membayar utang puasanya tanpa menghalangi kewajibannya sebagai istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aisyah radhiyallahu anha berkata, فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh, selain pada bulan Ramadan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156) Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalany rahimahullah mengomentari hadis ini, وَيُؤْخَذ مِنْ حِرْصهَا عَلَى ذَلِكَ فِي شَعْبَان أَنَّهُ لا يَجُوز تَأْخِير الْقَضَاء حَتَّى يَدْخُلَ رَمَضَان آخَرُ “Dan diambil sebuah pelajaran dari semangat ‘Aisyah radhiyallalhu ‘anha untuk membayar utang puasanya di dalam bulan Sya’ban, yaitu bahwasanya tidak boleh mengakhirkan qada (membayar utang puasa) sampai datang Ramadan yang lain.” (Fathul Bari, 4: 191) Hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa utang puasa harus dibayar selambat-lambatnya di bulan Sya’ban (bulan ke-8, sedangkan bulan ke-9 adalah Ramadan). Dan bagi siapa pun yang belum menyelesaikan utang puasanya hingga Ramadan setelahnya datang dan ia tidak memiliki uzur atau alasan yang diperbolehkan oleh syariat, maka ia akan mendapatkan dosa atas kelalaiannya tersebut. Seseorang yang menunda qada (bayar utang puasa) sampai datang Ramadan berikutnya ada dua kondisi: Pertama: Memiliki uzur Seperti seseorang yang sakit dan sakitnya tersebut berlanjut sampai datang Ramadan berikutnya atau seorang wanita yang melahirkan, lalu masih dalam kondisi menyusui ketika datang Ramadan berikutnya. Pada kondisi seperti ini, mereka tidaklah berdosa karena penundaan qada yang mereka lakukan, karena kesemuanya memiliki uzur. Tidak ada kewajiban bagi mereka, kecuali membayar utang puasanya tersebut. Syekh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang seorang wanita yang melahirkan di hari pertama bulan Ramadan tahun lalu, kemudian datang Ramadan tahun ini sedangkan ia masih dalam kondisi menyusui, bagaimanakah kondisi puasanya? Wanita tersebut belum sempat membayar utang puasanya pada tahun lalu, hingga datang Ramadan berikutnya dan ia masih belum mampu untuk berpuasa dan membayar utang puasanya. Maka, Syekh Binbaz rahimahullah menjawab, Tidak ada salahnya ia berbuka jika menyusui akan membahayakan dirinya ketika diiringi dengan puasa. Boleh bagi ibu yang sedang menyusui, perempuan dalam kondisi hamil, atau seseorang yang sedang sakit untuk tidak berpuasa sampai ia mampu berpuasa. Maka, apabila datang Ramadan berikutnya, namun ia masih dalam kondisi menyusui dan tidak mampu berpuasa, maka dia boleh berbuka (tidak puasa) pada bulan Ramadan tersebut. Barulah ia membayar utang puasanya tersebut ketika dirinya telah mampu untuk berpuasa, baik karena ia telah menyapih bayinya atau karena dirinya sudah kuat untuk melaksanakan puasa, meskipun dalam kondisi menyusui atau sebab-sebab lainnya yang menjadikannya mampu untuk berpuasa. Intinya, selama dia merasa sulit berpuasa karena menyusui, hamil, atau karena suatu penyakit, maka dia membatalkan puasanya dan tidak ada kafarat baginya. Karena dia tidak putus asa untuk berpuasa, melainkan berharap mampu untuk melakukannya. Maka, ketika Allah memudahkannya untuk kembali berpuasa, dia bisa membayar utang-utang puasanya tersebut, baik dilakukan secara beruntun ataupun secara terpisah-pisah, keduanya diperbolehkan. Dan ia tidak perlu membayar kafarat/tebusan karena kondisinya tersebut. (Fatawa Nur Ala Ad-Darbi) Baca juga: Lebih dari Sekedar Puasa yang Sia-Sia Kedua: Tidak memiliki uzur Contohnya adalah seseorang yang memiliki kesempatan dan dimungkinkan untuk membayar utang puasanya, akan tetapi ia tidak melakukannya sampai datang Ramadan berikutnya. Orang ini berdosa karena perbuatannya tersebut. Para ulama juga sepakat bahwa orang tersebut tetap wajib untuk membayar utang puasanya, meskipun telah datang Ramadan berikutnya. Utang tersebut haruslah ia bayar setelah Ramadan. Pada keadaan yang kedua ini, ulama berbeda pendapat apakah selain membayar utang puasanya tersebut ia juga diwajibkan untuk memberi makan satu orang miskin per hari yang ia tinggalkan? Imam Malik, As-Syafi’i, dan Ahmad berpendapat bahwa orang tersebut juga diwajibkan untuk memberi makan. Mereka berdalil bahwa hal ini telah datang contohnya dari beberapa sahabat seperti Abu Hurairah dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Adapun Imam Abu Hanifah, maka ia berpendapat bahwa orang tersebut tidak wajib untuk memberi makan di samping kewajibannya untuk mengganti puasanya. Beliau berdalil bahwa Allah Ta’ala tidaklah menyuruh seseorang yang tidak berpuasa di bulan Ramadan, kecuali mengganti dan membayar puasanya saja. Allah sama sekali tidak menyebutkan perihal memberi makan. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa/qada puasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185) Pendapat kedua inilah yang dipilih oleh Imam Bukhari rahimahullah. Beliau berkata dalam kitab Shahih-nya, قَالَ إِبْرَاهِيمُ -يعني: النخعي-: إِذَا فَرَّطَ حَتَّى جَاءَ رَمَضَانُ آخَرُ يَصُومُهُمَا وَلَمْ يَرَ عَلَيْهِ طَعَامًا، وَيُذْكَرُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مُرْسَلا وَابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ يُطْعِمُ. ثم قال البخاري: وَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهُ الإِطْعَامَ، إِنَّمَا قَالَ: فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ “Ibrahim, yaitu An-Nakh’i berkata, ‘Jika ia meremehkan sampai datang Ramadan yang lain (setelahnya), maka ia berpuasa pada keduanya. Dan ia tidak berpendapat ada kewajiban memberi makan atasnya. Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah secara mursal dan juga Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhum bahwa ia (juga) harus memberi makan.'” Kemudian Al-Bukhari berkata, “Allah tidak menyebutkan membayar fidyah, tetapi hanya berfirman, ‘maka (wajiblah baginya berpuasa/qada puasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.’” (Shahih Al-Bukhari, 3: 35) Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyebutkan, “Dan adapun perkataan para sahabat, sesungguhnya di dalam pengambilannya sebagai hujah, perlu menjadi perhatian jika menyelisihi zahir ayat Al-Qur’an. Dan di sini pewajiban memberi makan menyelisihi zahir Al-Qur’an, karena Allah Ta’ala tidaklah mewajibkan, kecuali menggantinya di beberapa hari yang lain dan Allah tidak mewajibkan lebih daripada itu. Maka, berdasarkan hal ini, kita tidak mewajibkan kepada hamba-hamba Allah dengan sesuatu yang tidak diharuskan oleh Allah Ta’ala atas mereka, kecuali dengan dalil yang melepaskan kita dari tanggung jawab. Apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum mungkin bisa kita bawa dalam ranah anjuran dan bukan dalam ranah kewajiban. Maka, yang benar dalam permasalahan ini, bahwa tidak wajib baginya, kecuali membayar utang puasa. Akan tetapi, ia berdosa atas pengakhirannya.” (Asy-Syarh Al-Mumti’, 6: 451) Dari sini, dapat kita simpulkan bahwa seseorang yang belum membayar utang puasanya hingga datang Ramadan berikutnya, maka tidak ada kewajiban bagi dirinya, kecuali hanya berpuasa menggantikan hari-hari yang ditinggalkannya saja. Adapun jika ia berhati-hati dan memberi makan orang miskin di samping membayar utang puasanya, maka ini adalah hal yang baik. Selain tentunya ia harus bertobat kepada Allah Ta’ala dan bertekad kuat untuk tidak mengulang kembali, karena jelas perbuatan yang telah dilakukannya tersebut merupakan perbuatan dosa yang seorang muslim wajib bertobat kepada Allah dan memohon ampunan karena perbuatannya tersebut. Wallahu A’lam bisshawab. Baca juga: Puasa, tetapi Tetap Bermaksiat *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: hutang puasa ramadan


Daftar Isi Toggle Seseorang yang menunda qada (bayar utang puasa) sampai datang Ramadan berikutnya ada dua kondisi:Pertama: Memiliki uzurKedua: Tidak memiliki uzur Pada asalnya, mengqada dan membayar puasa harus dilakukan sebelum datang bulan Ramadan berikutnya. Bagi siapa yang menundanya tanpa adanya alasan syar’i hingga datang Ramadan berikutnya sedang ia tetap belum melunasinya, maka ia mendapatkan dosa. Sebagaimana hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha yang berbunyi, كانَ يَكونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِن رَمَضَانَ، فَما أسْتَطِيعُ أنْ أقْضِيَ إلَّا في شَعْبَانَ. “Dulu, saya pernah memiliki utang puasa Ramadan. Namun, saya tidak mampu melunasinya, kecuali di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146) Dahulu kala, Aisyah radhiyallahu ‘anha karena kesibukan beliau melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak mampu untuk membayar utang puasanya, kecuali di bulan Sya’ban. Tatkala bulan Sya’ban tersebut datang, barulah Aisyah memiliki kesempatan untuk membayar utang puasanya tersebut. Karena di bulan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyak puasa juga, sehingga Aisyah dapat berpuasa dan membayar utang puasanya tanpa menghalangi kewajibannya sebagai istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aisyah radhiyallahu anha berkata, فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh, selain pada bulan Ramadan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156) Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalany rahimahullah mengomentari hadis ini, وَيُؤْخَذ مِنْ حِرْصهَا عَلَى ذَلِكَ فِي شَعْبَان أَنَّهُ لا يَجُوز تَأْخِير الْقَضَاء حَتَّى يَدْخُلَ رَمَضَان آخَرُ “Dan diambil sebuah pelajaran dari semangat ‘Aisyah radhiyallalhu ‘anha untuk membayar utang puasanya di dalam bulan Sya’ban, yaitu bahwasanya tidak boleh mengakhirkan qada (membayar utang puasa) sampai datang Ramadan yang lain.” (Fathul Bari, 4: 191) Hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa utang puasa harus dibayar selambat-lambatnya di bulan Sya’ban (bulan ke-8, sedangkan bulan ke-9 adalah Ramadan). Dan bagi siapa pun yang belum menyelesaikan utang puasanya hingga Ramadan setelahnya datang dan ia tidak memiliki uzur atau alasan yang diperbolehkan oleh syariat, maka ia akan mendapatkan dosa atas kelalaiannya tersebut. Seseorang yang menunda qada (bayar utang puasa) sampai datang Ramadan berikutnya ada dua kondisi: Pertama: Memiliki uzur Seperti seseorang yang sakit dan sakitnya tersebut berlanjut sampai datang Ramadan berikutnya atau seorang wanita yang melahirkan, lalu masih dalam kondisi menyusui ketika datang Ramadan berikutnya. Pada kondisi seperti ini, mereka tidaklah berdosa karena penundaan qada yang mereka lakukan, karena kesemuanya memiliki uzur. Tidak ada kewajiban bagi mereka, kecuali membayar utang puasanya tersebut. Syekh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang seorang wanita yang melahirkan di hari pertama bulan Ramadan tahun lalu, kemudian datang Ramadan tahun ini sedangkan ia masih dalam kondisi menyusui, bagaimanakah kondisi puasanya? Wanita tersebut belum sempat membayar utang puasanya pada tahun lalu, hingga datang Ramadan berikutnya dan ia masih belum mampu untuk berpuasa dan membayar utang puasanya. Maka, Syekh Binbaz rahimahullah menjawab, Tidak ada salahnya ia berbuka jika menyusui akan membahayakan dirinya ketika diiringi dengan puasa. Boleh bagi ibu yang sedang menyusui, perempuan dalam kondisi hamil, atau seseorang yang sedang sakit untuk tidak berpuasa sampai ia mampu berpuasa. Maka, apabila datang Ramadan berikutnya, namun ia masih dalam kondisi menyusui dan tidak mampu berpuasa, maka dia boleh berbuka (tidak puasa) pada bulan Ramadan tersebut. Barulah ia membayar utang puasanya tersebut ketika dirinya telah mampu untuk berpuasa, baik karena ia telah menyapih bayinya atau karena dirinya sudah kuat untuk melaksanakan puasa, meskipun dalam kondisi menyusui atau sebab-sebab lainnya yang menjadikannya mampu untuk berpuasa. Intinya, selama dia merasa sulit berpuasa karena menyusui, hamil, atau karena suatu penyakit, maka dia membatalkan puasanya dan tidak ada kafarat baginya. Karena dia tidak putus asa untuk berpuasa, melainkan berharap mampu untuk melakukannya. Maka, ketika Allah memudahkannya untuk kembali berpuasa, dia bisa membayar utang-utang puasanya tersebut, baik dilakukan secara beruntun ataupun secara terpisah-pisah, keduanya diperbolehkan. Dan ia tidak perlu membayar kafarat/tebusan karena kondisinya tersebut. (Fatawa Nur Ala Ad-Darbi) Baca juga: Lebih dari Sekedar Puasa yang Sia-Sia Kedua: Tidak memiliki uzur Contohnya adalah seseorang yang memiliki kesempatan dan dimungkinkan untuk membayar utang puasanya, akan tetapi ia tidak melakukannya sampai datang Ramadan berikutnya. Orang ini berdosa karena perbuatannya tersebut. Para ulama juga sepakat bahwa orang tersebut tetap wajib untuk membayar utang puasanya, meskipun telah datang Ramadan berikutnya. Utang tersebut haruslah ia bayar setelah Ramadan. Pada keadaan yang kedua ini, ulama berbeda pendapat apakah selain membayar utang puasanya tersebut ia juga diwajibkan untuk memberi makan satu orang miskin per hari yang ia tinggalkan? Imam Malik, As-Syafi’i, dan Ahmad berpendapat bahwa orang tersebut juga diwajibkan untuk memberi makan. Mereka berdalil bahwa hal ini telah datang contohnya dari beberapa sahabat seperti Abu Hurairah dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Adapun Imam Abu Hanifah, maka ia berpendapat bahwa orang tersebut tidak wajib untuk memberi makan di samping kewajibannya untuk mengganti puasanya. Beliau berdalil bahwa Allah Ta’ala tidaklah menyuruh seseorang yang tidak berpuasa di bulan Ramadan, kecuali mengganti dan membayar puasanya saja. Allah sama sekali tidak menyebutkan perihal memberi makan. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa/qada puasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185) Pendapat kedua inilah yang dipilih oleh Imam Bukhari rahimahullah. Beliau berkata dalam kitab Shahih-nya, قَالَ إِبْرَاهِيمُ -يعني: النخعي-: إِذَا فَرَّطَ حَتَّى جَاءَ رَمَضَانُ آخَرُ يَصُومُهُمَا وَلَمْ يَرَ عَلَيْهِ طَعَامًا، وَيُذْكَرُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مُرْسَلا وَابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ يُطْعِمُ. ثم قال البخاري: وَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهُ الإِطْعَامَ، إِنَّمَا قَالَ: فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ “Ibrahim, yaitu An-Nakh’i berkata, ‘Jika ia meremehkan sampai datang Ramadan yang lain (setelahnya), maka ia berpuasa pada keduanya. Dan ia tidak berpendapat ada kewajiban memberi makan atasnya. Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah secara mursal dan juga Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhum bahwa ia (juga) harus memberi makan.'” Kemudian Al-Bukhari berkata, “Allah tidak menyebutkan membayar fidyah, tetapi hanya berfirman, ‘maka (wajiblah baginya berpuasa/qada puasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.’” (Shahih Al-Bukhari, 3: 35) Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyebutkan, “Dan adapun perkataan para sahabat, sesungguhnya di dalam pengambilannya sebagai hujah, perlu menjadi perhatian jika menyelisihi zahir ayat Al-Qur’an. Dan di sini pewajiban memberi makan menyelisihi zahir Al-Qur’an, karena Allah Ta’ala tidaklah mewajibkan, kecuali menggantinya di beberapa hari yang lain dan Allah tidak mewajibkan lebih daripada itu. Maka, berdasarkan hal ini, kita tidak mewajibkan kepada hamba-hamba Allah dengan sesuatu yang tidak diharuskan oleh Allah Ta’ala atas mereka, kecuali dengan dalil yang melepaskan kita dari tanggung jawab. Apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum mungkin bisa kita bawa dalam ranah anjuran dan bukan dalam ranah kewajiban. Maka, yang benar dalam permasalahan ini, bahwa tidak wajib baginya, kecuali membayar utang puasa. Akan tetapi, ia berdosa atas pengakhirannya.” (Asy-Syarh Al-Mumti’, 6: 451) Dari sini, dapat kita simpulkan bahwa seseorang yang belum membayar utang puasanya hingga datang Ramadan berikutnya, maka tidak ada kewajiban bagi dirinya, kecuali hanya berpuasa menggantikan hari-hari yang ditinggalkannya saja. Adapun jika ia berhati-hati dan memberi makan orang miskin di samping membayar utang puasanya, maka ini adalah hal yang baik. Selain tentunya ia harus bertobat kepada Allah Ta’ala dan bertekad kuat untuk tidak mengulang kembali, karena jelas perbuatan yang telah dilakukannya tersebut merupakan perbuatan dosa yang seorang muslim wajib bertobat kepada Allah dan memohon ampunan karena perbuatannya tersebut. Wallahu A’lam bisshawab. Baca juga: Puasa, tetapi Tetap Bermaksiat *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: hutang puasa ramadan

Menjauhi Gibah, Menjaga Aib Sesama

Daftar Isi Toggle GibahAkibat gibahRenungan bagi ahli gibahAgar terhindar dari gibah Apakah topik yang Anda diskusikan saat bertemu dan berbicara dengan teman lama yang jarang berjumpa dalam waktu yang lama? Kadangkala, membicarakan tentang seseorang menjadi topik yang dianggap mengasyikkan bagi sebagian kita. Sayangnya, pembicaraan tersebut lebih banyak menyentuh masalah aib yang dirasa enak untuk diceritakan. Semakin buruk aib tersebut, semakin mengasyikkan pula untuk terus dibahas. Padahal, bisa jadi itu merupakan rahasia yang harus dijaga dan tidak untuk diceritakan. Mulut dan lidah merupakan bagian anugerah yang agung dari Allah Ta’ala. Betapa banyak hamba-hamba Allah yang diuji dengan masalah kesehatan pada dua organ tubuh tersebut. Mereka tidak dapat berbicara dengan lancar. Bahkan, ada pula yang diberi ujian berupa tidak memiliki pita suara sehingga komunikasinya dengan orang sekitarnya hanya bisa dengan bahasa isyarat. Lantas, tidakkah kita bersyukur dengan dua nikmat organ tubuh mulut dan lidah ini? أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ¤ وَلِسَانًا وَشَفَتَيۡنِ “Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir?” (QS. Al-Balad: 8-9) Tentu, cara terbaik dalam mewujudkan rasa syukur tersebut adalah dengan mengakui bahwa nikmat tersebut merupakan anugerah dari Allah Ta’ala, memuji Allah atas nikmat tersebut, serta memohon kepada Allah agar mendapatkan rida dengan memanfaatkan nikmat-nikmat tersebut dalam ketaatan[1]. Karenanya, bukankah menggunakan nikmat tersebut selain untuk ketaatan adalah bentuk dari kufur nikmat? Wal’iyadzubillah. Ingat, bahwa selain wujud syukur, menjaga lisan dari mengumbar aib orang lain juga merupakan bentuk dari rasa persaudaraan kita khususnya sesama muslim. Tidak menceritakan aibnya, artinya kita telah menjaga kehormatannya. Maka, dengan demikian, Allah Ta’ala pun akan menjaga kehormatan kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَن نفَّسَ عن مُؤْمنٍ كُرْبَةً مِن كُرَبِ الدُّنيا؛ نفَّسَ اللهُ عَنه كُرْبَةً مِن كُرَبِ يَوْمِ القِيامَةِ، ومَن ستَرَ مُسْلمًا ستَرَه اللهُ في الدُّنيا والآخِرَةِ، ومَن يسَّرَ على مُعْسِرٍ يسَّرَ اللهُ عليه في الدُّنيا والآخِرَةِ، واللهُ في عَوْنِ العَبْدِ ما كان العَبْدُ في عَوْنِ أَخيه “Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seseorang, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Barangsiapa memudahkan orang yang susah, Allah akan mudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699, At-Tirmidzi no. 2945, Ibnu Majah no. 225, Abu Dawud no. 1455, Ahmad no. 7427 dan ini adalah redaksi beliau) Gibah Istilah “gibah” kini telah populer di tengah-tengah masyarakat. Gibah identik dengan gosip atau gunjing. Dua kata ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki makna yang sama, yaitu: membicarakan (menceritakan) hal-hal negatif tentang orang lain. Dalam bahasa syariat, gibah dimaknai dengan menyebut-nyebut atau menceritakan orang lain mengenai perkara dirinya yang tidak ia sukai (jika ia mendengarnya). Allah Ta’ala menciptakan kita sebagai manusia yang memiliki panca indera dan perasaan yang tidak jauh berbeda. Hal-hal yang menurut kita menyakitkan, bagi orang lain juga bisa jadi menyakitkan. Kaitannya dengan hal-hal negatif atau aib diri yang kadangkala menjadi topik mengasyikkan untuk dibahas, seharusnya benar-benar menjadi renungan kita bersama. Secara manusiawi saja, kita tidak suka jika aib, kekurangan, dan hal-hal negatif yang ada pada diri kita dibahas dan menjadi bahan tertawaan orang lain. Lalu, bagaimana pula kita sanggup melakukan hal tersebut kepada orang lain? Apalagi, syariat cukup tegas melarang kita untuk melakukannya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَتَدْرُونَ ما الغِيبَةُ؟ قالوا: اللَّهُ ورَسولُهُ أعْلَمُ، قالَ: ذِكْرُكَ أخاكَ بما يَكْرَهُ قيلَ أفَرَأَيْتَ إنْ كانَ في أخِي ما أقُولُ؟ قالَ: إنْ كانَ فيه ما تَقُولُ، فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وإنْ لَمْ يَكُنْ فيه فقَدْ بَهَتَّهُ. “Tahukah kalian apa itu gibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika sesuai kenyataan, berarti Engkau telah menggibahnya. Jika tidak sesuai, berarti Engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589) Akibat gibah Saudaraku, renungkanlah! Adakah aib yang menurutmu hanya engkau dan Allah saja yang tahu? Dosa yang kau tak ingin orang lain mengetahuinya. Aib yang apabila terbuka, maka tak ada lagi yang menghormati dan menghargaimu. Bahkan, orang-orang terdekatmu sendiri. Aib yang selalu engkau jaga dengan melakukan berbagai perbuatan baik dan amalan saleh untuk menutupnya. Bayangkan! Bagaimana jika Allah membuka semuanya? Relakah engkau? Jika suatu waktu, Allah Ta’ala mengizinkan salah seorang dari hamba-hamba-Nya mengetahui aib tersebut, kemudian semua orang tahu siapa dirimu sesungguhnya dengan kehinaan dosa-dosamu? Muhammad bin Wasi’ rahimahullah mengatakan, “Kalau seandainya dosa ini memiliki bau, niscaya tidak ada seorang pun yang mau duduk denganku.” (Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala‘, 6: 120) Terbukanya aib yang selalu dijaga itu bisa saja terjadi. Dalam agama mulia ini, ada kaidah, الجزاء من جنس العمل “Balasan, selaras dengan amal perbuatan.” Dalam konteks gibah, balasan dari perbuatan mengibahi adalah digibahi. Balasan perbuatan membuka aib dan menceritakan dosa-dosa orang lain tanpa alasan yang syar’i, maka aib dan dosanya pun akan dibuka. Wal’iyadzubillah. Baca juga: Allah Maha Menutupi Aib Hamba-Nya Renungan bagi ahli gibah Terang saja, tidak ada yang bersedia disebut sebagai ahli gibah. Tetapi, terkadang banyak manusia yang sebenarnya tahu larangan dari perbuatan gibah, tetap saja melakukannya tanpa khawatir akan akibat dari perbuatan tersebut. Terus saja ia melakukannya dengan berbagai pembenaran, seperti untuk menghibur diri, mencairkan suasana, atau berbagai alasan lainnya. Tanpa sadar, dengan perbuatan tersebut sebenarnya ia bisa saja menjadi bagian dari ahli gibah. Namun, termasuk atau tidaknya kita dalam golongan orang-orang ahli gibah ini, hanya kita yang mampu menilainya. Renungkan saja, dalam sehari ini, sudah berapa orang yang kita ceritakan perkara dirinya yang ia tidak sukai? Sudah berapa aib yang kita bongkar baik dengan sadar atau tidak? Padahal, setiap ucapan yang keluar dari lisan akan tercatat dengan tanpa cacat oleh malaikat Raqib ‘Atid. Allah Ta’ala berfirman, مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, kecuali di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18) Kita mungkin khawatir berbuat kesalahan ketika tahu bahwa gerak-gerik kita diawasi oleh CCTV. Namun, kita pun sebenarnya tahu bahwa pergerakan dan tingkah laku kita pun diawasi oleh malaikat dengan pengawasan yang jauh lebih canggih. Sayangnya, iman yang lemah terkadang mendorong kita untuk melakukan dosa seperti gibah tanpa khawatir bahwa dosa-dosa kita tercatat dan terekam dengan rapi. Agar terhindar dari gibah Menyadari bahwa diri ini lemah dan senantiasa membutuhkan petunjuk dan pertolongan Allah Ta’ala, maka sepantasnyalah kita selalu menyibukkan diri bermuhasabah. Daripada menceritakan aib orang lain, alangkah lebih mulianya jika kita mengintrospeksi diri. Meng-upgrade kualitas keislaman, keimanan, dan keihsanan kita. Mudah-mudahan dengannya kita terhindar dari perbuatan gibah yang dilarang oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Oleh karenanya, berikut beberapa hal yang kiranya menjadi pertimbangan ikhtiar kita agar terhindar dari dosa gibah: Pertama: Niatkan setiap hari untuk tidak membicarakan aib sesama karena menginginkan keridaan Allah Ta’ala. Kedua: Berdoa dan bermohonlah pertolongan kepada Allah Ta’ala agar diberikan petunjuk dan hidayah agar terjaga dari perbuatan gibah. Ketiga: Ikhtiarlah dengan menjauhi lingkungan yang berpotensi memicu kita untuk melakukan perbuatan gibah. Kemudian, bergaullah dengan orang-orang saleh yang bersedia untuk saling mengingatkan kepada Allah. Keempat: Sibukkanlah diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Tuliskanlah aktivitas bermanfaat setiap hari di waktu pagi sebagai pedoman rutinitas yang akan dikerjakan pada hari itu. Kelima: Apabila ada kolega yang mengajak untuk membicarakan aib orang lain, ajaklah ia untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala. Lebih baik tidak enak kepada Allah daripada tidak enak kepada manusia. Keenam: Sadarilah bahwa setiap saat, setan selalu mencoba untuk menggoda kita agar melakukan maksiat termasuk gibah. Mohonlah pertolongan Allah agar dijauhkan dari godaan setan. Wallahu a’lam. Baca juga: Membuka Aib Saudara *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Ibnul Qayyim dalam ‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin, hlm. 187. Tags: menjaga aib

Menjauhi Gibah, Menjaga Aib Sesama

Daftar Isi Toggle GibahAkibat gibahRenungan bagi ahli gibahAgar terhindar dari gibah Apakah topik yang Anda diskusikan saat bertemu dan berbicara dengan teman lama yang jarang berjumpa dalam waktu yang lama? Kadangkala, membicarakan tentang seseorang menjadi topik yang dianggap mengasyikkan bagi sebagian kita. Sayangnya, pembicaraan tersebut lebih banyak menyentuh masalah aib yang dirasa enak untuk diceritakan. Semakin buruk aib tersebut, semakin mengasyikkan pula untuk terus dibahas. Padahal, bisa jadi itu merupakan rahasia yang harus dijaga dan tidak untuk diceritakan. Mulut dan lidah merupakan bagian anugerah yang agung dari Allah Ta’ala. Betapa banyak hamba-hamba Allah yang diuji dengan masalah kesehatan pada dua organ tubuh tersebut. Mereka tidak dapat berbicara dengan lancar. Bahkan, ada pula yang diberi ujian berupa tidak memiliki pita suara sehingga komunikasinya dengan orang sekitarnya hanya bisa dengan bahasa isyarat. Lantas, tidakkah kita bersyukur dengan dua nikmat organ tubuh mulut dan lidah ini? أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ¤ وَلِسَانًا وَشَفَتَيۡنِ “Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir?” (QS. Al-Balad: 8-9) Tentu, cara terbaik dalam mewujudkan rasa syukur tersebut adalah dengan mengakui bahwa nikmat tersebut merupakan anugerah dari Allah Ta’ala, memuji Allah atas nikmat tersebut, serta memohon kepada Allah agar mendapatkan rida dengan memanfaatkan nikmat-nikmat tersebut dalam ketaatan[1]. Karenanya, bukankah menggunakan nikmat tersebut selain untuk ketaatan adalah bentuk dari kufur nikmat? Wal’iyadzubillah. Ingat, bahwa selain wujud syukur, menjaga lisan dari mengumbar aib orang lain juga merupakan bentuk dari rasa persaudaraan kita khususnya sesama muslim. Tidak menceritakan aibnya, artinya kita telah menjaga kehormatannya. Maka, dengan demikian, Allah Ta’ala pun akan menjaga kehormatan kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَن نفَّسَ عن مُؤْمنٍ كُرْبَةً مِن كُرَبِ الدُّنيا؛ نفَّسَ اللهُ عَنه كُرْبَةً مِن كُرَبِ يَوْمِ القِيامَةِ، ومَن ستَرَ مُسْلمًا ستَرَه اللهُ في الدُّنيا والآخِرَةِ، ومَن يسَّرَ على مُعْسِرٍ يسَّرَ اللهُ عليه في الدُّنيا والآخِرَةِ، واللهُ في عَوْنِ العَبْدِ ما كان العَبْدُ في عَوْنِ أَخيه “Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seseorang, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Barangsiapa memudahkan orang yang susah, Allah akan mudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699, At-Tirmidzi no. 2945, Ibnu Majah no. 225, Abu Dawud no. 1455, Ahmad no. 7427 dan ini adalah redaksi beliau) Gibah Istilah “gibah” kini telah populer di tengah-tengah masyarakat. Gibah identik dengan gosip atau gunjing. Dua kata ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki makna yang sama, yaitu: membicarakan (menceritakan) hal-hal negatif tentang orang lain. Dalam bahasa syariat, gibah dimaknai dengan menyebut-nyebut atau menceritakan orang lain mengenai perkara dirinya yang tidak ia sukai (jika ia mendengarnya). Allah Ta’ala menciptakan kita sebagai manusia yang memiliki panca indera dan perasaan yang tidak jauh berbeda. Hal-hal yang menurut kita menyakitkan, bagi orang lain juga bisa jadi menyakitkan. Kaitannya dengan hal-hal negatif atau aib diri yang kadangkala menjadi topik mengasyikkan untuk dibahas, seharusnya benar-benar menjadi renungan kita bersama. Secara manusiawi saja, kita tidak suka jika aib, kekurangan, dan hal-hal negatif yang ada pada diri kita dibahas dan menjadi bahan tertawaan orang lain. Lalu, bagaimana pula kita sanggup melakukan hal tersebut kepada orang lain? Apalagi, syariat cukup tegas melarang kita untuk melakukannya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَتَدْرُونَ ما الغِيبَةُ؟ قالوا: اللَّهُ ورَسولُهُ أعْلَمُ، قالَ: ذِكْرُكَ أخاكَ بما يَكْرَهُ قيلَ أفَرَأَيْتَ إنْ كانَ في أخِي ما أقُولُ؟ قالَ: إنْ كانَ فيه ما تَقُولُ، فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وإنْ لَمْ يَكُنْ فيه فقَدْ بَهَتَّهُ. “Tahukah kalian apa itu gibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika sesuai kenyataan, berarti Engkau telah menggibahnya. Jika tidak sesuai, berarti Engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589) Akibat gibah Saudaraku, renungkanlah! Adakah aib yang menurutmu hanya engkau dan Allah saja yang tahu? Dosa yang kau tak ingin orang lain mengetahuinya. Aib yang apabila terbuka, maka tak ada lagi yang menghormati dan menghargaimu. Bahkan, orang-orang terdekatmu sendiri. Aib yang selalu engkau jaga dengan melakukan berbagai perbuatan baik dan amalan saleh untuk menutupnya. Bayangkan! Bagaimana jika Allah membuka semuanya? Relakah engkau? Jika suatu waktu, Allah Ta’ala mengizinkan salah seorang dari hamba-hamba-Nya mengetahui aib tersebut, kemudian semua orang tahu siapa dirimu sesungguhnya dengan kehinaan dosa-dosamu? Muhammad bin Wasi’ rahimahullah mengatakan, “Kalau seandainya dosa ini memiliki bau, niscaya tidak ada seorang pun yang mau duduk denganku.” (Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala‘, 6: 120) Terbukanya aib yang selalu dijaga itu bisa saja terjadi. Dalam agama mulia ini, ada kaidah, الجزاء من جنس العمل “Balasan, selaras dengan amal perbuatan.” Dalam konteks gibah, balasan dari perbuatan mengibahi adalah digibahi. Balasan perbuatan membuka aib dan menceritakan dosa-dosa orang lain tanpa alasan yang syar’i, maka aib dan dosanya pun akan dibuka. Wal’iyadzubillah. Baca juga: Allah Maha Menutupi Aib Hamba-Nya Renungan bagi ahli gibah Terang saja, tidak ada yang bersedia disebut sebagai ahli gibah. Tetapi, terkadang banyak manusia yang sebenarnya tahu larangan dari perbuatan gibah, tetap saja melakukannya tanpa khawatir akan akibat dari perbuatan tersebut. Terus saja ia melakukannya dengan berbagai pembenaran, seperti untuk menghibur diri, mencairkan suasana, atau berbagai alasan lainnya. Tanpa sadar, dengan perbuatan tersebut sebenarnya ia bisa saja menjadi bagian dari ahli gibah. Namun, termasuk atau tidaknya kita dalam golongan orang-orang ahli gibah ini, hanya kita yang mampu menilainya. Renungkan saja, dalam sehari ini, sudah berapa orang yang kita ceritakan perkara dirinya yang ia tidak sukai? Sudah berapa aib yang kita bongkar baik dengan sadar atau tidak? Padahal, setiap ucapan yang keluar dari lisan akan tercatat dengan tanpa cacat oleh malaikat Raqib ‘Atid. Allah Ta’ala berfirman, مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, kecuali di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18) Kita mungkin khawatir berbuat kesalahan ketika tahu bahwa gerak-gerik kita diawasi oleh CCTV. Namun, kita pun sebenarnya tahu bahwa pergerakan dan tingkah laku kita pun diawasi oleh malaikat dengan pengawasan yang jauh lebih canggih. Sayangnya, iman yang lemah terkadang mendorong kita untuk melakukan dosa seperti gibah tanpa khawatir bahwa dosa-dosa kita tercatat dan terekam dengan rapi. Agar terhindar dari gibah Menyadari bahwa diri ini lemah dan senantiasa membutuhkan petunjuk dan pertolongan Allah Ta’ala, maka sepantasnyalah kita selalu menyibukkan diri bermuhasabah. Daripada menceritakan aib orang lain, alangkah lebih mulianya jika kita mengintrospeksi diri. Meng-upgrade kualitas keislaman, keimanan, dan keihsanan kita. Mudah-mudahan dengannya kita terhindar dari perbuatan gibah yang dilarang oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Oleh karenanya, berikut beberapa hal yang kiranya menjadi pertimbangan ikhtiar kita agar terhindar dari dosa gibah: Pertama: Niatkan setiap hari untuk tidak membicarakan aib sesama karena menginginkan keridaan Allah Ta’ala. Kedua: Berdoa dan bermohonlah pertolongan kepada Allah Ta’ala agar diberikan petunjuk dan hidayah agar terjaga dari perbuatan gibah. Ketiga: Ikhtiarlah dengan menjauhi lingkungan yang berpotensi memicu kita untuk melakukan perbuatan gibah. Kemudian, bergaullah dengan orang-orang saleh yang bersedia untuk saling mengingatkan kepada Allah. Keempat: Sibukkanlah diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Tuliskanlah aktivitas bermanfaat setiap hari di waktu pagi sebagai pedoman rutinitas yang akan dikerjakan pada hari itu. Kelima: Apabila ada kolega yang mengajak untuk membicarakan aib orang lain, ajaklah ia untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala. Lebih baik tidak enak kepada Allah daripada tidak enak kepada manusia. Keenam: Sadarilah bahwa setiap saat, setan selalu mencoba untuk menggoda kita agar melakukan maksiat termasuk gibah. Mohonlah pertolongan Allah agar dijauhkan dari godaan setan. Wallahu a’lam. Baca juga: Membuka Aib Saudara *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Ibnul Qayyim dalam ‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin, hlm. 187. Tags: menjaga aib
Daftar Isi Toggle GibahAkibat gibahRenungan bagi ahli gibahAgar terhindar dari gibah Apakah topik yang Anda diskusikan saat bertemu dan berbicara dengan teman lama yang jarang berjumpa dalam waktu yang lama? Kadangkala, membicarakan tentang seseorang menjadi topik yang dianggap mengasyikkan bagi sebagian kita. Sayangnya, pembicaraan tersebut lebih banyak menyentuh masalah aib yang dirasa enak untuk diceritakan. Semakin buruk aib tersebut, semakin mengasyikkan pula untuk terus dibahas. Padahal, bisa jadi itu merupakan rahasia yang harus dijaga dan tidak untuk diceritakan. Mulut dan lidah merupakan bagian anugerah yang agung dari Allah Ta’ala. Betapa banyak hamba-hamba Allah yang diuji dengan masalah kesehatan pada dua organ tubuh tersebut. Mereka tidak dapat berbicara dengan lancar. Bahkan, ada pula yang diberi ujian berupa tidak memiliki pita suara sehingga komunikasinya dengan orang sekitarnya hanya bisa dengan bahasa isyarat. Lantas, tidakkah kita bersyukur dengan dua nikmat organ tubuh mulut dan lidah ini? أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ¤ وَلِسَانًا وَشَفَتَيۡنِ “Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir?” (QS. Al-Balad: 8-9) Tentu, cara terbaik dalam mewujudkan rasa syukur tersebut adalah dengan mengakui bahwa nikmat tersebut merupakan anugerah dari Allah Ta’ala, memuji Allah atas nikmat tersebut, serta memohon kepada Allah agar mendapatkan rida dengan memanfaatkan nikmat-nikmat tersebut dalam ketaatan[1]. Karenanya, bukankah menggunakan nikmat tersebut selain untuk ketaatan adalah bentuk dari kufur nikmat? Wal’iyadzubillah. Ingat, bahwa selain wujud syukur, menjaga lisan dari mengumbar aib orang lain juga merupakan bentuk dari rasa persaudaraan kita khususnya sesama muslim. Tidak menceritakan aibnya, artinya kita telah menjaga kehormatannya. Maka, dengan demikian, Allah Ta’ala pun akan menjaga kehormatan kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَن نفَّسَ عن مُؤْمنٍ كُرْبَةً مِن كُرَبِ الدُّنيا؛ نفَّسَ اللهُ عَنه كُرْبَةً مِن كُرَبِ يَوْمِ القِيامَةِ، ومَن ستَرَ مُسْلمًا ستَرَه اللهُ في الدُّنيا والآخِرَةِ، ومَن يسَّرَ على مُعْسِرٍ يسَّرَ اللهُ عليه في الدُّنيا والآخِرَةِ، واللهُ في عَوْنِ العَبْدِ ما كان العَبْدُ في عَوْنِ أَخيه “Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seseorang, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Barangsiapa memudahkan orang yang susah, Allah akan mudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699, At-Tirmidzi no. 2945, Ibnu Majah no. 225, Abu Dawud no. 1455, Ahmad no. 7427 dan ini adalah redaksi beliau) Gibah Istilah “gibah” kini telah populer di tengah-tengah masyarakat. Gibah identik dengan gosip atau gunjing. Dua kata ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki makna yang sama, yaitu: membicarakan (menceritakan) hal-hal negatif tentang orang lain. Dalam bahasa syariat, gibah dimaknai dengan menyebut-nyebut atau menceritakan orang lain mengenai perkara dirinya yang tidak ia sukai (jika ia mendengarnya). Allah Ta’ala menciptakan kita sebagai manusia yang memiliki panca indera dan perasaan yang tidak jauh berbeda. Hal-hal yang menurut kita menyakitkan, bagi orang lain juga bisa jadi menyakitkan. Kaitannya dengan hal-hal negatif atau aib diri yang kadangkala menjadi topik mengasyikkan untuk dibahas, seharusnya benar-benar menjadi renungan kita bersama. Secara manusiawi saja, kita tidak suka jika aib, kekurangan, dan hal-hal negatif yang ada pada diri kita dibahas dan menjadi bahan tertawaan orang lain. Lalu, bagaimana pula kita sanggup melakukan hal tersebut kepada orang lain? Apalagi, syariat cukup tegas melarang kita untuk melakukannya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَتَدْرُونَ ما الغِيبَةُ؟ قالوا: اللَّهُ ورَسولُهُ أعْلَمُ، قالَ: ذِكْرُكَ أخاكَ بما يَكْرَهُ قيلَ أفَرَأَيْتَ إنْ كانَ في أخِي ما أقُولُ؟ قالَ: إنْ كانَ فيه ما تَقُولُ، فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وإنْ لَمْ يَكُنْ فيه فقَدْ بَهَتَّهُ. “Tahukah kalian apa itu gibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika sesuai kenyataan, berarti Engkau telah menggibahnya. Jika tidak sesuai, berarti Engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589) Akibat gibah Saudaraku, renungkanlah! Adakah aib yang menurutmu hanya engkau dan Allah saja yang tahu? Dosa yang kau tak ingin orang lain mengetahuinya. Aib yang apabila terbuka, maka tak ada lagi yang menghormati dan menghargaimu. Bahkan, orang-orang terdekatmu sendiri. Aib yang selalu engkau jaga dengan melakukan berbagai perbuatan baik dan amalan saleh untuk menutupnya. Bayangkan! Bagaimana jika Allah membuka semuanya? Relakah engkau? Jika suatu waktu, Allah Ta’ala mengizinkan salah seorang dari hamba-hamba-Nya mengetahui aib tersebut, kemudian semua orang tahu siapa dirimu sesungguhnya dengan kehinaan dosa-dosamu? Muhammad bin Wasi’ rahimahullah mengatakan, “Kalau seandainya dosa ini memiliki bau, niscaya tidak ada seorang pun yang mau duduk denganku.” (Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala‘, 6: 120) Terbukanya aib yang selalu dijaga itu bisa saja terjadi. Dalam agama mulia ini, ada kaidah, الجزاء من جنس العمل “Balasan, selaras dengan amal perbuatan.” Dalam konteks gibah, balasan dari perbuatan mengibahi adalah digibahi. Balasan perbuatan membuka aib dan menceritakan dosa-dosa orang lain tanpa alasan yang syar’i, maka aib dan dosanya pun akan dibuka. Wal’iyadzubillah. Baca juga: Allah Maha Menutupi Aib Hamba-Nya Renungan bagi ahli gibah Terang saja, tidak ada yang bersedia disebut sebagai ahli gibah. Tetapi, terkadang banyak manusia yang sebenarnya tahu larangan dari perbuatan gibah, tetap saja melakukannya tanpa khawatir akan akibat dari perbuatan tersebut. Terus saja ia melakukannya dengan berbagai pembenaran, seperti untuk menghibur diri, mencairkan suasana, atau berbagai alasan lainnya. Tanpa sadar, dengan perbuatan tersebut sebenarnya ia bisa saja menjadi bagian dari ahli gibah. Namun, termasuk atau tidaknya kita dalam golongan orang-orang ahli gibah ini, hanya kita yang mampu menilainya. Renungkan saja, dalam sehari ini, sudah berapa orang yang kita ceritakan perkara dirinya yang ia tidak sukai? Sudah berapa aib yang kita bongkar baik dengan sadar atau tidak? Padahal, setiap ucapan yang keluar dari lisan akan tercatat dengan tanpa cacat oleh malaikat Raqib ‘Atid. Allah Ta’ala berfirman, مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, kecuali di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18) Kita mungkin khawatir berbuat kesalahan ketika tahu bahwa gerak-gerik kita diawasi oleh CCTV. Namun, kita pun sebenarnya tahu bahwa pergerakan dan tingkah laku kita pun diawasi oleh malaikat dengan pengawasan yang jauh lebih canggih. Sayangnya, iman yang lemah terkadang mendorong kita untuk melakukan dosa seperti gibah tanpa khawatir bahwa dosa-dosa kita tercatat dan terekam dengan rapi. Agar terhindar dari gibah Menyadari bahwa diri ini lemah dan senantiasa membutuhkan petunjuk dan pertolongan Allah Ta’ala, maka sepantasnyalah kita selalu menyibukkan diri bermuhasabah. Daripada menceritakan aib orang lain, alangkah lebih mulianya jika kita mengintrospeksi diri. Meng-upgrade kualitas keislaman, keimanan, dan keihsanan kita. Mudah-mudahan dengannya kita terhindar dari perbuatan gibah yang dilarang oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Oleh karenanya, berikut beberapa hal yang kiranya menjadi pertimbangan ikhtiar kita agar terhindar dari dosa gibah: Pertama: Niatkan setiap hari untuk tidak membicarakan aib sesama karena menginginkan keridaan Allah Ta’ala. Kedua: Berdoa dan bermohonlah pertolongan kepada Allah Ta’ala agar diberikan petunjuk dan hidayah agar terjaga dari perbuatan gibah. Ketiga: Ikhtiarlah dengan menjauhi lingkungan yang berpotensi memicu kita untuk melakukan perbuatan gibah. Kemudian, bergaullah dengan orang-orang saleh yang bersedia untuk saling mengingatkan kepada Allah. Keempat: Sibukkanlah diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Tuliskanlah aktivitas bermanfaat setiap hari di waktu pagi sebagai pedoman rutinitas yang akan dikerjakan pada hari itu. Kelima: Apabila ada kolega yang mengajak untuk membicarakan aib orang lain, ajaklah ia untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala. Lebih baik tidak enak kepada Allah daripada tidak enak kepada manusia. Keenam: Sadarilah bahwa setiap saat, setan selalu mencoba untuk menggoda kita agar melakukan maksiat termasuk gibah. Mohonlah pertolongan Allah agar dijauhkan dari godaan setan. Wallahu a’lam. Baca juga: Membuka Aib Saudara *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Ibnul Qayyim dalam ‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin, hlm. 187. Tags: menjaga aib


Daftar Isi Toggle GibahAkibat gibahRenungan bagi ahli gibahAgar terhindar dari gibah Apakah topik yang Anda diskusikan saat bertemu dan berbicara dengan teman lama yang jarang berjumpa dalam waktu yang lama? Kadangkala, membicarakan tentang seseorang menjadi topik yang dianggap mengasyikkan bagi sebagian kita. Sayangnya, pembicaraan tersebut lebih banyak menyentuh masalah aib yang dirasa enak untuk diceritakan. Semakin buruk aib tersebut, semakin mengasyikkan pula untuk terus dibahas. Padahal, bisa jadi itu merupakan rahasia yang harus dijaga dan tidak untuk diceritakan. Mulut dan lidah merupakan bagian anugerah yang agung dari Allah Ta’ala. Betapa banyak hamba-hamba Allah yang diuji dengan masalah kesehatan pada dua organ tubuh tersebut. Mereka tidak dapat berbicara dengan lancar. Bahkan, ada pula yang diberi ujian berupa tidak memiliki pita suara sehingga komunikasinya dengan orang sekitarnya hanya bisa dengan bahasa isyarat. Lantas, tidakkah kita bersyukur dengan dua nikmat organ tubuh mulut dan lidah ini? أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ¤ وَلِسَانًا وَشَفَتَيۡنِ “Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir?” (QS. Al-Balad: 8-9) Tentu, cara terbaik dalam mewujudkan rasa syukur tersebut adalah dengan mengakui bahwa nikmat tersebut merupakan anugerah dari Allah Ta’ala, memuji Allah atas nikmat tersebut, serta memohon kepada Allah agar mendapatkan rida dengan memanfaatkan nikmat-nikmat tersebut dalam ketaatan[1]. Karenanya, bukankah menggunakan nikmat tersebut selain untuk ketaatan adalah bentuk dari kufur nikmat? Wal’iyadzubillah. Ingat, bahwa selain wujud syukur, menjaga lisan dari mengumbar aib orang lain juga merupakan bentuk dari rasa persaudaraan kita khususnya sesama muslim. Tidak menceritakan aibnya, artinya kita telah menjaga kehormatannya. Maka, dengan demikian, Allah Ta’ala pun akan menjaga kehormatan kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَن نفَّسَ عن مُؤْمنٍ كُرْبَةً مِن كُرَبِ الدُّنيا؛ نفَّسَ اللهُ عَنه كُرْبَةً مِن كُرَبِ يَوْمِ القِيامَةِ، ومَن ستَرَ مُسْلمًا ستَرَه اللهُ في الدُّنيا والآخِرَةِ، ومَن يسَّرَ على مُعْسِرٍ يسَّرَ اللهُ عليه في الدُّنيا والآخِرَةِ، واللهُ في عَوْنِ العَبْدِ ما كان العَبْدُ في عَوْنِ أَخيه “Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seseorang, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Barangsiapa memudahkan orang yang susah, Allah akan mudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699, At-Tirmidzi no. 2945, Ibnu Majah no. 225, Abu Dawud no. 1455, Ahmad no. 7427 dan ini adalah redaksi beliau) Gibah Istilah “gibah” kini telah populer di tengah-tengah masyarakat. Gibah identik dengan gosip atau gunjing. Dua kata ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki makna yang sama, yaitu: membicarakan (menceritakan) hal-hal negatif tentang orang lain. Dalam bahasa syariat, gibah dimaknai dengan menyebut-nyebut atau menceritakan orang lain mengenai perkara dirinya yang tidak ia sukai (jika ia mendengarnya). Allah Ta’ala menciptakan kita sebagai manusia yang memiliki panca indera dan perasaan yang tidak jauh berbeda. Hal-hal yang menurut kita menyakitkan, bagi orang lain juga bisa jadi menyakitkan. Kaitannya dengan hal-hal negatif atau aib diri yang kadangkala menjadi topik mengasyikkan untuk dibahas, seharusnya benar-benar menjadi renungan kita bersama. Secara manusiawi saja, kita tidak suka jika aib, kekurangan, dan hal-hal negatif yang ada pada diri kita dibahas dan menjadi bahan tertawaan orang lain. Lalu, bagaimana pula kita sanggup melakukan hal tersebut kepada orang lain? Apalagi, syariat cukup tegas melarang kita untuk melakukannya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَتَدْرُونَ ما الغِيبَةُ؟ قالوا: اللَّهُ ورَسولُهُ أعْلَمُ، قالَ: ذِكْرُكَ أخاكَ بما يَكْرَهُ قيلَ أفَرَأَيْتَ إنْ كانَ في أخِي ما أقُولُ؟ قالَ: إنْ كانَ فيه ما تَقُولُ، فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وإنْ لَمْ يَكُنْ فيه فقَدْ بَهَتَّهُ. “Tahukah kalian apa itu gibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika sesuai kenyataan, berarti Engkau telah menggibahnya. Jika tidak sesuai, berarti Engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589) Akibat gibah Saudaraku, renungkanlah! Adakah aib yang menurutmu hanya engkau dan Allah saja yang tahu? Dosa yang kau tak ingin orang lain mengetahuinya. Aib yang apabila terbuka, maka tak ada lagi yang menghormati dan menghargaimu. Bahkan, orang-orang terdekatmu sendiri. Aib yang selalu engkau jaga dengan melakukan berbagai perbuatan baik dan amalan saleh untuk menutupnya. Bayangkan! Bagaimana jika Allah membuka semuanya? Relakah engkau? Jika suatu waktu, Allah Ta’ala mengizinkan salah seorang dari hamba-hamba-Nya mengetahui aib tersebut, kemudian semua orang tahu siapa dirimu sesungguhnya dengan kehinaan dosa-dosamu? Muhammad bin Wasi’ rahimahullah mengatakan, “Kalau seandainya dosa ini memiliki bau, niscaya tidak ada seorang pun yang mau duduk denganku.” (Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala‘, 6: 120) Terbukanya aib yang selalu dijaga itu bisa saja terjadi. Dalam agama mulia ini, ada kaidah, الجزاء من جنس العمل “Balasan, selaras dengan amal perbuatan.” Dalam konteks gibah, balasan dari perbuatan mengibahi adalah digibahi. Balasan perbuatan membuka aib dan menceritakan dosa-dosa orang lain tanpa alasan yang syar’i, maka aib dan dosanya pun akan dibuka. Wal’iyadzubillah. Baca juga: Allah Maha Menutupi Aib Hamba-Nya Renungan bagi ahli gibah Terang saja, tidak ada yang bersedia disebut sebagai ahli gibah. Tetapi, terkadang banyak manusia yang sebenarnya tahu larangan dari perbuatan gibah, tetap saja melakukannya tanpa khawatir akan akibat dari perbuatan tersebut. Terus saja ia melakukannya dengan berbagai pembenaran, seperti untuk menghibur diri, mencairkan suasana, atau berbagai alasan lainnya. Tanpa sadar, dengan perbuatan tersebut sebenarnya ia bisa saja menjadi bagian dari ahli gibah. Namun, termasuk atau tidaknya kita dalam golongan orang-orang ahli gibah ini, hanya kita yang mampu menilainya. Renungkan saja, dalam sehari ini, sudah berapa orang yang kita ceritakan perkara dirinya yang ia tidak sukai? Sudah berapa aib yang kita bongkar baik dengan sadar atau tidak? Padahal, setiap ucapan yang keluar dari lisan akan tercatat dengan tanpa cacat oleh malaikat Raqib ‘Atid. Allah Ta’ala berfirman, مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, kecuali di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18) Kita mungkin khawatir berbuat kesalahan ketika tahu bahwa gerak-gerik kita diawasi oleh CCTV. Namun, kita pun sebenarnya tahu bahwa pergerakan dan tingkah laku kita pun diawasi oleh malaikat dengan pengawasan yang jauh lebih canggih. Sayangnya, iman yang lemah terkadang mendorong kita untuk melakukan dosa seperti gibah tanpa khawatir bahwa dosa-dosa kita tercatat dan terekam dengan rapi. Agar terhindar dari gibah Menyadari bahwa diri ini lemah dan senantiasa membutuhkan petunjuk dan pertolongan Allah Ta’ala, maka sepantasnyalah kita selalu menyibukkan diri bermuhasabah. Daripada menceritakan aib orang lain, alangkah lebih mulianya jika kita mengintrospeksi diri. Meng-upgrade kualitas keislaman, keimanan, dan keihsanan kita. Mudah-mudahan dengannya kita terhindar dari perbuatan gibah yang dilarang oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Oleh karenanya, berikut beberapa hal yang kiranya menjadi pertimbangan ikhtiar kita agar terhindar dari dosa gibah: Pertama: Niatkan setiap hari untuk tidak membicarakan aib sesama karena menginginkan keridaan Allah Ta’ala. Kedua: Berdoa dan bermohonlah pertolongan kepada Allah Ta’ala agar diberikan petunjuk dan hidayah agar terjaga dari perbuatan gibah. Ketiga: Ikhtiarlah dengan menjauhi lingkungan yang berpotensi memicu kita untuk melakukan perbuatan gibah. Kemudian, bergaullah dengan orang-orang saleh yang bersedia untuk saling mengingatkan kepada Allah. Keempat: Sibukkanlah diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Tuliskanlah aktivitas bermanfaat setiap hari di waktu pagi sebagai pedoman rutinitas yang akan dikerjakan pada hari itu. Kelima: Apabila ada kolega yang mengajak untuk membicarakan aib orang lain, ajaklah ia untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala. Lebih baik tidak enak kepada Allah daripada tidak enak kepada manusia. Keenam: Sadarilah bahwa setiap saat, setan selalu mencoba untuk menggoda kita agar melakukan maksiat termasuk gibah. Mohonlah pertolongan Allah agar dijauhkan dari godaan setan. Wallahu a’lam. Baca juga: Membuka Aib Saudara *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Ibnul Qayyim dalam ‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin, hlm. 187. Tags: menjaga aib

Apakah Surga dan Neraka Sudah Ada Penghuninya?

Pertanyaan: Apakah surga dan neraka sudah ada penghuninya sekarang? Jawaban: Alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ash-shalatu wassalamu ‘ala alihi wa shahbihi. Amma ba’du. Pertama perlu dipahami bahwa di antara akidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah meyakini adanya surga dan bahwa surga telah Allah ciptakan. Allah ‘azza wa jalla berfirman, وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Surga yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran: 133). Dalam ayat yang lain disebutkan, أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ “Surga telah disediakan untuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya” (QS. An-Najm: 13-15). Imam Qurthubi rahimahullah menjelaskan saat menafsirkan ayat ini, وعامة العلماء على أن الجنة مخلوقة موجودة، لقوله (( أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ)). وهو نص في حديث الإسراء وغيره في الصحيحين و غيرهما “Seluruh ulama meyakini bahwa surga telah tercipta dan telah ada sekarang. Berdasarkan firman Allah ta’ala, (yang artinya) “telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa“. Dan ini ditegaskan dalam hadis yang menceritakan tentang Isra’ Mi’raj yang terdapat dalam Shahihain maupun kitab hadis lainnya” (Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, 5/316). Allah ta’ala juga berfirman tentang surga, ketika menceritakan peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ  “Dan sesungguhnya Muhammad melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) sekali lagi. Di sisi Sidratul Muntaha. Di sisi Sidrotul Muntaha ada surga, tempat tinggal orang-orang mukmin” (QS. An-Najm: 13-15). Dan kita juga mengetahui bahwa kakek moyang kita yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam dan istrinya dahulu tinggal di surga. Berarti surga telah ada. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: احْتَجَّ آدَمُ وَمُوسَى عليهما السَّلَامُ عِنْدَ رَبِّهِمَا، فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى، قالَ مُوسَى: أَنْتَ آدَمُ الذي خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيكَ مِن رُوحِهِ، وَأَسْجَدَ لكَ مَلَائِكَتَهُ، وَأَسْكَنَكَ في جَنَّتِهِ، ثُمَّ أَهْبَطْتَ النَّاسَ بِخَطِيئَتِكَ إلى الأرْضِ “Nabi Adam dan Nabi Musa ‘alaihimassalam pernah berdebat di sisi Allah, ketika itu Nabi Adam berhasil mengalahkan argumen Nabi Musa. Nabi Musa berkata: “Wahai Adam, engkaulah orang yang Allah ciptakan langsung dengan Tangan-Nya, dan Allah meniupkan ruh-Nya kepadamu, dan memerintahkan para Malaikat untuk bersujud kepadamu, dan Allah juga telah memberimu kesempatan untuk tinggal di surga-Nya, kemudian engkau karena dosamu menurunkan seluruh manusia (anak keturunanmu) ke bumi.’” (HR. Muslim no. 2652) Dalil-dalil ini serta dalil yang lainnya menunjukkan secara pasti bahwa surga telah ada dan telah Allah ciptakan. Dengan demikian konsekuensinya surga telah ada penghuninya berupa kenikmatan-kenikmatan surga. Seperti bidadari surga, sungai-sungai, rumah-rumah, pohon-pohon, buah-buahan, minuman berupa susu, khamr, madu, pakaian sutera, perhiasan, dan kenikmatan lainnya. Dan semua ini sudah siap dinikmati bahkan sudah pernah dinikmati oleh kakek moyang kita yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam dan istri beliau. Allah ta’ala berfirman: فِيْهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍغَيْرِ ءَاسِنٍ وَ أَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَ أَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِّلشَّارِبِيْنَ وَ أَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ “Di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring. Dan di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan.” (QS. Muhammad : 15). Allah ta’ala berfirman: وَحُورٌ عِينٌ . كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ “Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah, laksana mutiara yang tersimpan baik” (QS. Al-Waqi’ah 22 – 23). Sebagaimana firman Allah: كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ “Demikian juga kami nikahkan mereka dengan para bidadari surga” (QS. Ad-Dukhan: 54) Allah ta’ala berfirman: وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ لَا مَقْطُوعَةٍ وَلَا مَمْنُوعَةٍ “Dan di surga terdapat buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya.” (QS. Al-Waqiah: 32-33), Allah ta’ala berfirman, يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ “Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera.” (QS. Al-Hajj: 23). Adapun penghuni surga berupa manusia, maka sekarang belum ada sama sekali. Mereka akan masuk surga kelak di hari Kiamat. Semoga kita termasuk di antaranya.  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menjelaskan: أما الآن ما هو إلا الحياة البرزخية فدخول الجنة والنار مؤقت بالحساب حتى البعث يوم القيامة كلهم لكن أرواحهم لها نعيم خاص كما قال عليه السلام: ( أرواح الشهداء في حواصل طيور خضر تعلق من ثمر الجنة ) . وكذلك أرواح المؤمنين في بطون طيور خضر تعلق من ثمر الجنة فهذا نعيم روحي ؛ أما النعيم البدني والروحي معا وكذلك الجحيم فذلك لا يكون إلا بعد البعث والنشور . “Adapun sekarang, bagi manusia yang sudah meninggal tidak ada kehidupan kecuali di alam barzakh. Surga dan neraka ditentukan oleh hisab dan hisab itu terjadi di hari Kiamat. Semua manusia demikian termasuk para Nabi. Namun arwah-arwah mereka mendapatkan nikmat khusus sebagaimana disebutkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wasallam: “Arwahnya para syuhada ada di tembolok-tembolok burung hijau yang bertengger di pohon-pohon surga” (HR. At-Tirmidzi no.1641). Demikian juga arwah orang-orang yang beriman, mereka ada di tembolok burung hijau yang bertengger di pohon surga. Ini adakah nikmat yang dirasakan oleh ruh mereka. Adapun nikmat yang dirasakan oleh ruh dan badan, demikian juga azab, ini akan dirasakan setelah hari kebangkitan.  فإن الجنة ليس فيها أحد من البشر الآن وسيدخلها المؤمنون، وأول من يدخلها هو نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، فهو أول من يقرع بابها، وأول من يؤذن له بالدخول بعد ما ينشق عنه قبره ويخرج من الأرض، فقد روى الترمذي وغيره أنه صلى الله عليه وسلم قال: أنا أول من يدخل الجنة يوم القيامة “Maka di surga sekarang tidak ada manusia seorang pun. Dan surga akan dimasuki pertama kali oleh orang-orang yang beriman. Dan orang pertama yang akan memasukinya adalah Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. Beliau yang pertama kali akan mengetuk pintu surga. Dan beliau yang pertama kali diizinkan masuk ke surga setelah kuburan beliau terbelah dan beliau dibangkitkan dari kuburnya di hari Kiamat. Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi dan lainnya, bahwa beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Aku adalah orang yang pertama kali akan masuk ke surga di hari Kiamat” (HR. Ahmad no.12469)”  (Silsilah Huda wan Nur, no.28). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik.  Washallallahu ’ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi wa sallam. Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  *** URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected] Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini: إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ Artinya:  “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12) Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah? 🔍 Konsultasisyariah.com, Perempuan Mandi Bersama Laki Laki, Ibadah Menurut Bahasa, Puasa Senin Kamis Tidak Sahur, Doa Agar Dimudahkan Melahirkan Normal, Film Omar Umar Bin Khattab Visited 1,395 times, 3 visit(s) today Post Views: 712 QRIS donasi Yufid

Apakah Surga dan Neraka Sudah Ada Penghuninya?

Pertanyaan: Apakah surga dan neraka sudah ada penghuninya sekarang? Jawaban: Alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ash-shalatu wassalamu ‘ala alihi wa shahbihi. Amma ba’du. Pertama perlu dipahami bahwa di antara akidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah meyakini adanya surga dan bahwa surga telah Allah ciptakan. Allah ‘azza wa jalla berfirman, وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Surga yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran: 133). Dalam ayat yang lain disebutkan, أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ “Surga telah disediakan untuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya” (QS. An-Najm: 13-15). Imam Qurthubi rahimahullah menjelaskan saat menafsirkan ayat ini, وعامة العلماء على أن الجنة مخلوقة موجودة، لقوله (( أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ)). وهو نص في حديث الإسراء وغيره في الصحيحين و غيرهما “Seluruh ulama meyakini bahwa surga telah tercipta dan telah ada sekarang. Berdasarkan firman Allah ta’ala, (yang artinya) “telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa“. Dan ini ditegaskan dalam hadis yang menceritakan tentang Isra’ Mi’raj yang terdapat dalam Shahihain maupun kitab hadis lainnya” (Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, 5/316). Allah ta’ala juga berfirman tentang surga, ketika menceritakan peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ  “Dan sesungguhnya Muhammad melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) sekali lagi. Di sisi Sidratul Muntaha. Di sisi Sidrotul Muntaha ada surga, tempat tinggal orang-orang mukmin” (QS. An-Najm: 13-15). Dan kita juga mengetahui bahwa kakek moyang kita yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam dan istrinya dahulu tinggal di surga. Berarti surga telah ada. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: احْتَجَّ آدَمُ وَمُوسَى عليهما السَّلَامُ عِنْدَ رَبِّهِمَا، فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى، قالَ مُوسَى: أَنْتَ آدَمُ الذي خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيكَ مِن رُوحِهِ، وَأَسْجَدَ لكَ مَلَائِكَتَهُ، وَأَسْكَنَكَ في جَنَّتِهِ، ثُمَّ أَهْبَطْتَ النَّاسَ بِخَطِيئَتِكَ إلى الأرْضِ “Nabi Adam dan Nabi Musa ‘alaihimassalam pernah berdebat di sisi Allah, ketika itu Nabi Adam berhasil mengalahkan argumen Nabi Musa. Nabi Musa berkata: “Wahai Adam, engkaulah orang yang Allah ciptakan langsung dengan Tangan-Nya, dan Allah meniupkan ruh-Nya kepadamu, dan memerintahkan para Malaikat untuk bersujud kepadamu, dan Allah juga telah memberimu kesempatan untuk tinggal di surga-Nya, kemudian engkau karena dosamu menurunkan seluruh manusia (anak keturunanmu) ke bumi.’” (HR. Muslim no. 2652) Dalil-dalil ini serta dalil yang lainnya menunjukkan secara pasti bahwa surga telah ada dan telah Allah ciptakan. Dengan demikian konsekuensinya surga telah ada penghuninya berupa kenikmatan-kenikmatan surga. Seperti bidadari surga, sungai-sungai, rumah-rumah, pohon-pohon, buah-buahan, minuman berupa susu, khamr, madu, pakaian sutera, perhiasan, dan kenikmatan lainnya. Dan semua ini sudah siap dinikmati bahkan sudah pernah dinikmati oleh kakek moyang kita yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam dan istri beliau. Allah ta’ala berfirman: فِيْهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍغَيْرِ ءَاسِنٍ وَ أَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَ أَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِّلشَّارِبِيْنَ وَ أَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ “Di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring. Dan di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan.” (QS. Muhammad : 15). Allah ta’ala berfirman: وَحُورٌ عِينٌ . كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ “Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah, laksana mutiara yang tersimpan baik” (QS. Al-Waqi’ah 22 – 23). Sebagaimana firman Allah: كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ “Demikian juga kami nikahkan mereka dengan para bidadari surga” (QS. Ad-Dukhan: 54) Allah ta’ala berfirman: وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ لَا مَقْطُوعَةٍ وَلَا مَمْنُوعَةٍ “Dan di surga terdapat buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya.” (QS. Al-Waqiah: 32-33), Allah ta’ala berfirman, يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ “Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera.” (QS. Al-Hajj: 23). Adapun penghuni surga berupa manusia, maka sekarang belum ada sama sekali. Mereka akan masuk surga kelak di hari Kiamat. Semoga kita termasuk di antaranya.  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menjelaskan: أما الآن ما هو إلا الحياة البرزخية فدخول الجنة والنار مؤقت بالحساب حتى البعث يوم القيامة كلهم لكن أرواحهم لها نعيم خاص كما قال عليه السلام: ( أرواح الشهداء في حواصل طيور خضر تعلق من ثمر الجنة ) . وكذلك أرواح المؤمنين في بطون طيور خضر تعلق من ثمر الجنة فهذا نعيم روحي ؛ أما النعيم البدني والروحي معا وكذلك الجحيم فذلك لا يكون إلا بعد البعث والنشور . “Adapun sekarang, bagi manusia yang sudah meninggal tidak ada kehidupan kecuali di alam barzakh. Surga dan neraka ditentukan oleh hisab dan hisab itu terjadi di hari Kiamat. Semua manusia demikian termasuk para Nabi. Namun arwah-arwah mereka mendapatkan nikmat khusus sebagaimana disebutkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wasallam: “Arwahnya para syuhada ada di tembolok-tembolok burung hijau yang bertengger di pohon-pohon surga” (HR. At-Tirmidzi no.1641). Demikian juga arwah orang-orang yang beriman, mereka ada di tembolok burung hijau yang bertengger di pohon surga. Ini adakah nikmat yang dirasakan oleh ruh mereka. Adapun nikmat yang dirasakan oleh ruh dan badan, demikian juga azab, ini akan dirasakan setelah hari kebangkitan.  فإن الجنة ليس فيها أحد من البشر الآن وسيدخلها المؤمنون، وأول من يدخلها هو نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، فهو أول من يقرع بابها، وأول من يؤذن له بالدخول بعد ما ينشق عنه قبره ويخرج من الأرض، فقد روى الترمذي وغيره أنه صلى الله عليه وسلم قال: أنا أول من يدخل الجنة يوم القيامة “Maka di surga sekarang tidak ada manusia seorang pun. Dan surga akan dimasuki pertama kali oleh orang-orang yang beriman. Dan orang pertama yang akan memasukinya adalah Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. Beliau yang pertama kali akan mengetuk pintu surga. Dan beliau yang pertama kali diizinkan masuk ke surga setelah kuburan beliau terbelah dan beliau dibangkitkan dari kuburnya di hari Kiamat. Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi dan lainnya, bahwa beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Aku adalah orang yang pertama kali akan masuk ke surga di hari Kiamat” (HR. Ahmad no.12469)”  (Silsilah Huda wan Nur, no.28). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik.  Washallallahu ’ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi wa sallam. Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  *** URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected] Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini: إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ Artinya:  “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12) Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah? 🔍 Konsultasisyariah.com, Perempuan Mandi Bersama Laki Laki, Ibadah Menurut Bahasa, Puasa Senin Kamis Tidak Sahur, Doa Agar Dimudahkan Melahirkan Normal, Film Omar Umar Bin Khattab Visited 1,395 times, 3 visit(s) today Post Views: 712 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Apakah surga dan neraka sudah ada penghuninya sekarang? Jawaban: Alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ash-shalatu wassalamu ‘ala alihi wa shahbihi. Amma ba’du. Pertama perlu dipahami bahwa di antara akidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah meyakini adanya surga dan bahwa surga telah Allah ciptakan. Allah ‘azza wa jalla berfirman, وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Surga yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran: 133). Dalam ayat yang lain disebutkan, أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ “Surga telah disediakan untuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya” (QS. An-Najm: 13-15). Imam Qurthubi rahimahullah menjelaskan saat menafsirkan ayat ini, وعامة العلماء على أن الجنة مخلوقة موجودة، لقوله (( أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ)). وهو نص في حديث الإسراء وغيره في الصحيحين و غيرهما “Seluruh ulama meyakini bahwa surga telah tercipta dan telah ada sekarang. Berdasarkan firman Allah ta’ala, (yang artinya) “telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa“. Dan ini ditegaskan dalam hadis yang menceritakan tentang Isra’ Mi’raj yang terdapat dalam Shahihain maupun kitab hadis lainnya” (Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, 5/316). Allah ta’ala juga berfirman tentang surga, ketika menceritakan peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ  “Dan sesungguhnya Muhammad melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) sekali lagi. Di sisi Sidratul Muntaha. Di sisi Sidrotul Muntaha ada surga, tempat tinggal orang-orang mukmin” (QS. An-Najm: 13-15). Dan kita juga mengetahui bahwa kakek moyang kita yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam dan istrinya dahulu tinggal di surga. Berarti surga telah ada. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: احْتَجَّ آدَمُ وَمُوسَى عليهما السَّلَامُ عِنْدَ رَبِّهِمَا، فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى، قالَ مُوسَى: أَنْتَ آدَمُ الذي خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيكَ مِن رُوحِهِ، وَأَسْجَدَ لكَ مَلَائِكَتَهُ، وَأَسْكَنَكَ في جَنَّتِهِ، ثُمَّ أَهْبَطْتَ النَّاسَ بِخَطِيئَتِكَ إلى الأرْضِ “Nabi Adam dan Nabi Musa ‘alaihimassalam pernah berdebat di sisi Allah, ketika itu Nabi Adam berhasil mengalahkan argumen Nabi Musa. Nabi Musa berkata: “Wahai Adam, engkaulah orang yang Allah ciptakan langsung dengan Tangan-Nya, dan Allah meniupkan ruh-Nya kepadamu, dan memerintahkan para Malaikat untuk bersujud kepadamu, dan Allah juga telah memberimu kesempatan untuk tinggal di surga-Nya, kemudian engkau karena dosamu menurunkan seluruh manusia (anak keturunanmu) ke bumi.’” (HR. Muslim no. 2652) Dalil-dalil ini serta dalil yang lainnya menunjukkan secara pasti bahwa surga telah ada dan telah Allah ciptakan. Dengan demikian konsekuensinya surga telah ada penghuninya berupa kenikmatan-kenikmatan surga. Seperti bidadari surga, sungai-sungai, rumah-rumah, pohon-pohon, buah-buahan, minuman berupa susu, khamr, madu, pakaian sutera, perhiasan, dan kenikmatan lainnya. Dan semua ini sudah siap dinikmati bahkan sudah pernah dinikmati oleh kakek moyang kita yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam dan istri beliau. Allah ta’ala berfirman: فِيْهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍغَيْرِ ءَاسِنٍ وَ أَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَ أَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِّلشَّارِبِيْنَ وَ أَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ “Di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring. Dan di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan.” (QS. Muhammad : 15). Allah ta’ala berfirman: وَحُورٌ عِينٌ . كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ “Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah, laksana mutiara yang tersimpan baik” (QS. Al-Waqi’ah 22 – 23). Sebagaimana firman Allah: كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ “Demikian juga kami nikahkan mereka dengan para bidadari surga” (QS. Ad-Dukhan: 54) Allah ta’ala berfirman: وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ لَا مَقْطُوعَةٍ وَلَا مَمْنُوعَةٍ “Dan di surga terdapat buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya.” (QS. Al-Waqiah: 32-33), Allah ta’ala berfirman, يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ “Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera.” (QS. Al-Hajj: 23). Adapun penghuni surga berupa manusia, maka sekarang belum ada sama sekali. Mereka akan masuk surga kelak di hari Kiamat. Semoga kita termasuk di antaranya.  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menjelaskan: أما الآن ما هو إلا الحياة البرزخية فدخول الجنة والنار مؤقت بالحساب حتى البعث يوم القيامة كلهم لكن أرواحهم لها نعيم خاص كما قال عليه السلام: ( أرواح الشهداء في حواصل طيور خضر تعلق من ثمر الجنة ) . وكذلك أرواح المؤمنين في بطون طيور خضر تعلق من ثمر الجنة فهذا نعيم روحي ؛ أما النعيم البدني والروحي معا وكذلك الجحيم فذلك لا يكون إلا بعد البعث والنشور . “Adapun sekarang, bagi manusia yang sudah meninggal tidak ada kehidupan kecuali di alam barzakh. Surga dan neraka ditentukan oleh hisab dan hisab itu terjadi di hari Kiamat. Semua manusia demikian termasuk para Nabi. Namun arwah-arwah mereka mendapatkan nikmat khusus sebagaimana disebutkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wasallam: “Arwahnya para syuhada ada di tembolok-tembolok burung hijau yang bertengger di pohon-pohon surga” (HR. At-Tirmidzi no.1641). Demikian juga arwah orang-orang yang beriman, mereka ada di tembolok burung hijau yang bertengger di pohon surga. Ini adakah nikmat yang dirasakan oleh ruh mereka. Adapun nikmat yang dirasakan oleh ruh dan badan, demikian juga azab, ini akan dirasakan setelah hari kebangkitan.  فإن الجنة ليس فيها أحد من البشر الآن وسيدخلها المؤمنون، وأول من يدخلها هو نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، فهو أول من يقرع بابها، وأول من يؤذن له بالدخول بعد ما ينشق عنه قبره ويخرج من الأرض، فقد روى الترمذي وغيره أنه صلى الله عليه وسلم قال: أنا أول من يدخل الجنة يوم القيامة “Maka di surga sekarang tidak ada manusia seorang pun. Dan surga akan dimasuki pertama kali oleh orang-orang yang beriman. Dan orang pertama yang akan memasukinya adalah Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. Beliau yang pertama kali akan mengetuk pintu surga. Dan beliau yang pertama kali diizinkan masuk ke surga setelah kuburan beliau terbelah dan beliau dibangkitkan dari kuburnya di hari Kiamat. Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi dan lainnya, bahwa beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Aku adalah orang yang pertama kali akan masuk ke surga di hari Kiamat” (HR. Ahmad no.12469)”  (Silsilah Huda wan Nur, no.28). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik.  Washallallahu ’ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi wa sallam. Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  *** URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected] Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini: إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ Artinya:  “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12) Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah? 🔍 Konsultasisyariah.com, Perempuan Mandi Bersama Laki Laki, Ibadah Menurut Bahasa, Puasa Senin Kamis Tidak Sahur, Doa Agar Dimudahkan Melahirkan Normal, Film Omar Umar Bin Khattab Visited 1,395 times, 3 visit(s) today Post Views: 712 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan: Apakah surga dan neraka sudah ada penghuninya sekarang? Jawaban: Alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ash-shalatu wassalamu ‘ala alihi wa shahbihi. Amma ba’du. Pertama perlu dipahami bahwa di antara akidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah meyakini adanya surga dan bahwa surga telah Allah ciptakan. Allah ‘azza wa jalla berfirman, وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Surga yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran: 133). Dalam ayat yang lain disebutkan, أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ “Surga telah disediakan untuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya” (QS. An-Najm: 13-15). Imam Qurthubi rahimahullah menjelaskan saat menafsirkan ayat ini, وعامة العلماء على أن الجنة مخلوقة موجودة، لقوله (( أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ)). وهو نص في حديث الإسراء وغيره في الصحيحين و غيرهما “Seluruh ulama meyakini bahwa surga telah tercipta dan telah ada sekarang. Berdasarkan firman Allah ta’ala, (yang artinya) “telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa“. Dan ini ditegaskan dalam hadis yang menceritakan tentang Isra’ Mi’raj yang terdapat dalam Shahihain maupun kitab hadis lainnya” (Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, 5/316). Allah ta’ala juga berfirman tentang surga, ketika menceritakan peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ  “Dan sesungguhnya Muhammad melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) sekali lagi. Di sisi Sidratul Muntaha. Di sisi Sidrotul Muntaha ada surga, tempat tinggal orang-orang mukmin” (QS. An-Najm: 13-15). Dan kita juga mengetahui bahwa kakek moyang kita yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam dan istrinya dahulu tinggal di surga. Berarti surga telah ada. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: احْتَجَّ آدَمُ وَمُوسَى عليهما السَّلَامُ عِنْدَ رَبِّهِمَا، فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى، قالَ مُوسَى: أَنْتَ آدَمُ الذي خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيكَ مِن رُوحِهِ، وَأَسْجَدَ لكَ مَلَائِكَتَهُ، وَأَسْكَنَكَ في جَنَّتِهِ، ثُمَّ أَهْبَطْتَ النَّاسَ بِخَطِيئَتِكَ إلى الأرْضِ “Nabi Adam dan Nabi Musa ‘alaihimassalam pernah berdebat di sisi Allah, ketika itu Nabi Adam berhasil mengalahkan argumen Nabi Musa. Nabi Musa berkata: “Wahai Adam, engkaulah orang yang Allah ciptakan langsung dengan Tangan-Nya, dan Allah meniupkan ruh-Nya kepadamu, dan memerintahkan para Malaikat untuk bersujud kepadamu, dan Allah juga telah memberimu kesempatan untuk tinggal di surga-Nya, kemudian engkau karena dosamu menurunkan seluruh manusia (anak keturunanmu) ke bumi.’” (HR. Muslim no. 2652) Dalil-dalil ini serta dalil yang lainnya menunjukkan secara pasti bahwa surga telah ada dan telah Allah ciptakan. Dengan demikian konsekuensinya surga telah ada penghuninya berupa kenikmatan-kenikmatan surga. Seperti bidadari surga, sungai-sungai, rumah-rumah, pohon-pohon, buah-buahan, minuman berupa susu, khamr, madu, pakaian sutera, perhiasan, dan kenikmatan lainnya. Dan semua ini sudah siap dinikmati bahkan sudah pernah dinikmati oleh kakek moyang kita yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam dan istri beliau. Allah ta’ala berfirman: فِيْهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍغَيْرِ ءَاسِنٍ وَ أَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَ أَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِّلشَّارِبِيْنَ وَ أَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ “Di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring. Dan di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan.” (QS. Muhammad : 15). Allah ta’ala berfirman: وَحُورٌ عِينٌ . كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ “Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah, laksana mutiara yang tersimpan baik” (QS. Al-Waqi’ah 22 – 23). Sebagaimana firman Allah: كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ “Demikian juga kami nikahkan mereka dengan para bidadari surga” (QS. Ad-Dukhan: 54) Allah ta’ala berfirman: وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ لَا مَقْطُوعَةٍ وَلَا مَمْنُوعَةٍ “Dan di surga terdapat buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya.” (QS. Al-Waqiah: 32-33), Allah ta’ala berfirman, يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ “Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera.” (QS. Al-Hajj: 23). Adapun penghuni surga berupa manusia, maka sekarang belum ada sama sekali. Mereka akan masuk surga kelak di hari Kiamat. Semoga kita termasuk di antaranya.  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menjelaskan: أما الآن ما هو إلا الحياة البرزخية فدخول الجنة والنار مؤقت بالحساب حتى البعث يوم القيامة كلهم لكن أرواحهم لها نعيم خاص كما قال عليه السلام: ( أرواح الشهداء في حواصل طيور خضر تعلق من ثمر الجنة ) . وكذلك أرواح المؤمنين في بطون طيور خضر تعلق من ثمر الجنة فهذا نعيم روحي ؛ أما النعيم البدني والروحي معا وكذلك الجحيم فذلك لا يكون إلا بعد البعث والنشور . “Adapun sekarang, bagi manusia yang sudah meninggal tidak ada kehidupan kecuali di alam barzakh. Surga dan neraka ditentukan oleh hisab dan hisab itu terjadi di hari Kiamat. Semua manusia demikian termasuk para Nabi. Namun arwah-arwah mereka mendapatkan nikmat khusus sebagaimana disebutkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wasallam: “Arwahnya para syuhada ada di tembolok-tembolok burung hijau yang bertengger di pohon-pohon surga” (HR. At-Tirmidzi no.1641). Demikian juga arwah orang-orang yang beriman, mereka ada di tembolok burung hijau yang bertengger di pohon surga. Ini adakah nikmat yang dirasakan oleh ruh mereka. Adapun nikmat yang dirasakan oleh ruh dan badan, demikian juga azab, ini akan dirasakan setelah hari kebangkitan.  فإن الجنة ليس فيها أحد من البشر الآن وسيدخلها المؤمنون، وأول من يدخلها هو نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، فهو أول من يقرع بابها، وأول من يؤذن له بالدخول بعد ما ينشق عنه قبره ويخرج من الأرض، فقد روى الترمذي وغيره أنه صلى الله عليه وسلم قال: أنا أول من يدخل الجنة يوم القيامة “Maka di surga sekarang tidak ada manusia seorang pun. Dan surga akan dimasuki pertama kali oleh orang-orang yang beriman. Dan orang pertama yang akan memasukinya adalah Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. Beliau yang pertama kali akan mengetuk pintu surga. Dan beliau yang pertama kali diizinkan masuk ke surga setelah kuburan beliau terbelah dan beliau dibangkitkan dari kuburnya di hari Kiamat. Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi dan lainnya, bahwa beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Aku adalah orang yang pertama kali akan masuk ke surga di hari Kiamat” (HR. Ahmad no.12469)”  (Silsilah Huda wan Nur, no.28). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik.  Washallallahu ’ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi wa sallam. Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  *** URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected] Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini: إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ Artinya:  “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12) Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah? 🔍 Konsultasisyariah.com, Perempuan Mandi Bersama Laki Laki, Ibadah Menurut Bahasa, Puasa Senin Kamis Tidak Sahur, Doa Agar Dimudahkan Melahirkan Normal, Film Omar Umar Bin Khattab Visited 1,395 times, 3 visit(s) today Post Views: 712 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Menyambut Ramadhan Dengan Tekad Dan Ilmu

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MATidak semua orang mendapatkan kesempatan umur untuk bersua dengan Ramadhan. Juga tidak semua orang yang berjumpa dengan bulan mulia ini, menghargai karunia tersebut. Maka agar tidak menjadi manusia yang menyia-nyiakan nikmat agung itu; sekurang-kurangnya ada dua hal prinsipiil yang perlu diwujudkan untuk menyambut kedatangan Ramadhan. Yaitu: tekad dan ilmu.Hal Pertama: Tekad untuk TaatDikisahkan dalam kitab Manâqib Imam Ahmad, bahwa suatu hari Abdullah; putra Imam Ahmad bin Hambal meminta nasehat kepada ayahnya. Maka Imam Ahmad rahimahullah pun menjawab, “Anakku, hendaklah engkau selalu berniat untuk melakukan kebaikan. Sebab engkau akan senantiasa dalam kebaikan, selama engkau berniat melakukan kebaikan”.Sebab siapapun yang telah berniat untuk melakukan kebaikan, lalu tidak jadi melakukannya—karena ada halangan—niscaya ia tetap akan mendapatkan pahala. Dalam hadits sahih dijelaskan,“مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ”“Barang siapa telah bertekad untuk melakukan kebaikan, namun ia tidak jadi melakukannya; niscaya Allah akan menuliskan untuknya pahala sempurna. Jika ia bertekad melakukan kebaikan, lalu ia melakukannya; maka Allah akan menuliskan baginya sepuluh pahala hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan berlipat-lipat lebih banyak lagi”. HR. Bukhari (no. 6491) dan Muslim (no. 206).Maka salah satu modal utama menghadapi bulan suci Ramadhan, adalah berniat untuk melakukan kebaikan di dalamnya. Yakni bertekad bulat untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dimulai dari perintah Allah yang berlevel wajib dan larangan-Nya yang berlevel haram. Lalu dilengkapi dengan yang sunnah dan meninggalkan yang makruh.Contohnya: bertekad untuk menjalankan perintah shalat fardhu tepat waktu secara berjamaah di masjid, terutama bagi kaum pria. Bertekad untuk menjaga puasa dari perbuatan yang bisa mengotorinya. Yakni dosa dan maksiat, serta hal-hal tidak bermanfaat. Seperti menghabiskan waktu untuk bermain gadget, nonton TV dan lainnya.Hal Kedua: Ilmu AgamaSekedar bersemangat dan memiliki tekad untuk melakukan kebaikan, belum cukup. Namun harus diiringi dengan ilmu tentang kebaikan yang akan dikerjakannya tersebut. Sebab jika tidak, sangat mungkin ia melakukan sesuatu yang dikiranya kebaikan, ternyata adalah keburukan, atau sebaliknya. Karena itulah belajar ilmu agama hukumnya wajib bagi setiap orang Islam.“طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ”.“Mencari ilmu hukumnya wajib atas setiap muslim”. HR. Ibnu Majah (no. 224), dan dinyatakan hasan oleh al-Mizziy serta as-Suyuthiy. Sedangkan al-Albâniy menilai hadits ini sahih.Maka pelajarilah detil amalan-amalan Ramadhan yang disyariatkan dalam Islam. Semisal shalat, puasa, membaca al-Qur’an, zakat, sedekah, i’tikaf dan lain-lain, sebelum datangnya tamu agung ini. Semoga Allah menerima amal salih kita semua. Amien…Terinspirasi dari ceramah singkat Syaikh Prof. Dr. Abdussalam asy-Syuwai’ir yang berjudul Ahwâl as-Salaf fî Istiqbâl Syahr Ramadhan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 30 Sya’ban 1445 / 11 Maret 2024AGEN KEBAIKANREG:NAMA#JENIS KELAMIN#KOTA = 0812-2291-0404Facebookwww.facebook.com/UstadzAbdullahZaen/Telegramhttps://t.me/ustadzabdullahzaenSoundcloudhttps://soundcloud.com/ustadzabdullahzaenInstagramhttps://www.instagram.com/abdullahzaenofficial/Youtubehttps://www.youtube.com/c/ustadzabdullahzaenma

Menyambut Ramadhan Dengan Tekad Dan Ilmu

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MATidak semua orang mendapatkan kesempatan umur untuk bersua dengan Ramadhan. Juga tidak semua orang yang berjumpa dengan bulan mulia ini, menghargai karunia tersebut. Maka agar tidak menjadi manusia yang menyia-nyiakan nikmat agung itu; sekurang-kurangnya ada dua hal prinsipiil yang perlu diwujudkan untuk menyambut kedatangan Ramadhan. Yaitu: tekad dan ilmu.Hal Pertama: Tekad untuk TaatDikisahkan dalam kitab Manâqib Imam Ahmad, bahwa suatu hari Abdullah; putra Imam Ahmad bin Hambal meminta nasehat kepada ayahnya. Maka Imam Ahmad rahimahullah pun menjawab, “Anakku, hendaklah engkau selalu berniat untuk melakukan kebaikan. Sebab engkau akan senantiasa dalam kebaikan, selama engkau berniat melakukan kebaikan”.Sebab siapapun yang telah berniat untuk melakukan kebaikan, lalu tidak jadi melakukannya—karena ada halangan—niscaya ia tetap akan mendapatkan pahala. Dalam hadits sahih dijelaskan,“مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ”“Barang siapa telah bertekad untuk melakukan kebaikan, namun ia tidak jadi melakukannya; niscaya Allah akan menuliskan untuknya pahala sempurna. Jika ia bertekad melakukan kebaikan, lalu ia melakukannya; maka Allah akan menuliskan baginya sepuluh pahala hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan berlipat-lipat lebih banyak lagi”. HR. Bukhari (no. 6491) dan Muslim (no. 206).Maka salah satu modal utama menghadapi bulan suci Ramadhan, adalah berniat untuk melakukan kebaikan di dalamnya. Yakni bertekad bulat untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dimulai dari perintah Allah yang berlevel wajib dan larangan-Nya yang berlevel haram. Lalu dilengkapi dengan yang sunnah dan meninggalkan yang makruh.Contohnya: bertekad untuk menjalankan perintah shalat fardhu tepat waktu secara berjamaah di masjid, terutama bagi kaum pria. Bertekad untuk menjaga puasa dari perbuatan yang bisa mengotorinya. Yakni dosa dan maksiat, serta hal-hal tidak bermanfaat. Seperti menghabiskan waktu untuk bermain gadget, nonton TV dan lainnya.Hal Kedua: Ilmu AgamaSekedar bersemangat dan memiliki tekad untuk melakukan kebaikan, belum cukup. Namun harus diiringi dengan ilmu tentang kebaikan yang akan dikerjakannya tersebut. Sebab jika tidak, sangat mungkin ia melakukan sesuatu yang dikiranya kebaikan, ternyata adalah keburukan, atau sebaliknya. Karena itulah belajar ilmu agama hukumnya wajib bagi setiap orang Islam.“طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ”.“Mencari ilmu hukumnya wajib atas setiap muslim”. HR. Ibnu Majah (no. 224), dan dinyatakan hasan oleh al-Mizziy serta as-Suyuthiy. Sedangkan al-Albâniy menilai hadits ini sahih.Maka pelajarilah detil amalan-amalan Ramadhan yang disyariatkan dalam Islam. Semisal shalat, puasa, membaca al-Qur’an, zakat, sedekah, i’tikaf dan lain-lain, sebelum datangnya tamu agung ini. Semoga Allah menerima amal salih kita semua. Amien…Terinspirasi dari ceramah singkat Syaikh Prof. Dr. Abdussalam asy-Syuwai’ir yang berjudul Ahwâl as-Salaf fî Istiqbâl Syahr Ramadhan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 30 Sya’ban 1445 / 11 Maret 2024AGEN KEBAIKANREG:NAMA#JENIS KELAMIN#KOTA = 0812-2291-0404Facebookwww.facebook.com/UstadzAbdullahZaen/Telegramhttps://t.me/ustadzabdullahzaenSoundcloudhttps://soundcloud.com/ustadzabdullahzaenInstagramhttps://www.instagram.com/abdullahzaenofficial/Youtubehttps://www.youtube.com/c/ustadzabdullahzaenma
Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MATidak semua orang mendapatkan kesempatan umur untuk bersua dengan Ramadhan. Juga tidak semua orang yang berjumpa dengan bulan mulia ini, menghargai karunia tersebut. Maka agar tidak menjadi manusia yang menyia-nyiakan nikmat agung itu; sekurang-kurangnya ada dua hal prinsipiil yang perlu diwujudkan untuk menyambut kedatangan Ramadhan. Yaitu: tekad dan ilmu.Hal Pertama: Tekad untuk TaatDikisahkan dalam kitab Manâqib Imam Ahmad, bahwa suatu hari Abdullah; putra Imam Ahmad bin Hambal meminta nasehat kepada ayahnya. Maka Imam Ahmad rahimahullah pun menjawab, “Anakku, hendaklah engkau selalu berniat untuk melakukan kebaikan. Sebab engkau akan senantiasa dalam kebaikan, selama engkau berniat melakukan kebaikan”.Sebab siapapun yang telah berniat untuk melakukan kebaikan, lalu tidak jadi melakukannya—karena ada halangan—niscaya ia tetap akan mendapatkan pahala. Dalam hadits sahih dijelaskan,“مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ”“Barang siapa telah bertekad untuk melakukan kebaikan, namun ia tidak jadi melakukannya; niscaya Allah akan menuliskan untuknya pahala sempurna. Jika ia bertekad melakukan kebaikan, lalu ia melakukannya; maka Allah akan menuliskan baginya sepuluh pahala hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan berlipat-lipat lebih banyak lagi”. HR. Bukhari (no. 6491) dan Muslim (no. 206).Maka salah satu modal utama menghadapi bulan suci Ramadhan, adalah berniat untuk melakukan kebaikan di dalamnya. Yakni bertekad bulat untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dimulai dari perintah Allah yang berlevel wajib dan larangan-Nya yang berlevel haram. Lalu dilengkapi dengan yang sunnah dan meninggalkan yang makruh.Contohnya: bertekad untuk menjalankan perintah shalat fardhu tepat waktu secara berjamaah di masjid, terutama bagi kaum pria. Bertekad untuk menjaga puasa dari perbuatan yang bisa mengotorinya. Yakni dosa dan maksiat, serta hal-hal tidak bermanfaat. Seperti menghabiskan waktu untuk bermain gadget, nonton TV dan lainnya.Hal Kedua: Ilmu AgamaSekedar bersemangat dan memiliki tekad untuk melakukan kebaikan, belum cukup. Namun harus diiringi dengan ilmu tentang kebaikan yang akan dikerjakannya tersebut. Sebab jika tidak, sangat mungkin ia melakukan sesuatu yang dikiranya kebaikan, ternyata adalah keburukan, atau sebaliknya. Karena itulah belajar ilmu agama hukumnya wajib bagi setiap orang Islam.“طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ”.“Mencari ilmu hukumnya wajib atas setiap muslim”. HR. Ibnu Majah (no. 224), dan dinyatakan hasan oleh al-Mizziy serta as-Suyuthiy. Sedangkan al-Albâniy menilai hadits ini sahih.Maka pelajarilah detil amalan-amalan Ramadhan yang disyariatkan dalam Islam. Semisal shalat, puasa, membaca al-Qur’an, zakat, sedekah, i’tikaf dan lain-lain, sebelum datangnya tamu agung ini. Semoga Allah menerima amal salih kita semua. Amien…Terinspirasi dari ceramah singkat Syaikh Prof. Dr. Abdussalam asy-Syuwai’ir yang berjudul Ahwâl as-Salaf fî Istiqbâl Syahr Ramadhan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 30 Sya’ban 1445 / 11 Maret 2024AGEN KEBAIKANREG:NAMA#JENIS KELAMIN#KOTA = 0812-2291-0404Facebookwww.facebook.com/UstadzAbdullahZaen/Telegramhttps://t.me/ustadzabdullahzaenSoundcloudhttps://soundcloud.com/ustadzabdullahzaenInstagramhttps://www.instagram.com/abdullahzaenofficial/Youtubehttps://www.youtube.com/c/ustadzabdullahzaenma


Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MATidak semua orang mendapatkan kesempatan umur untuk bersua dengan Ramadhan. Juga tidak semua orang yang berjumpa dengan bulan mulia ini, menghargai karunia tersebut. Maka agar tidak menjadi manusia yang menyia-nyiakan nikmat agung itu; sekurang-kurangnya ada dua hal prinsipiil yang perlu diwujudkan untuk menyambut kedatangan Ramadhan. Yaitu: tekad dan ilmu.Hal Pertama: Tekad untuk TaatDikisahkan dalam kitab Manâqib Imam Ahmad, bahwa suatu hari Abdullah; putra Imam Ahmad bin Hambal meminta nasehat kepada ayahnya. Maka Imam Ahmad rahimahullah pun menjawab, “Anakku, hendaklah engkau selalu berniat untuk melakukan kebaikan. Sebab engkau akan senantiasa dalam kebaikan, selama engkau berniat melakukan kebaikan”.Sebab siapapun yang telah berniat untuk melakukan kebaikan, lalu tidak jadi melakukannya—karena ada halangan—niscaya ia tetap akan mendapatkan pahala. Dalam hadits sahih dijelaskan,“مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ”“Barang siapa telah bertekad untuk melakukan kebaikan, namun ia tidak jadi melakukannya; niscaya Allah akan menuliskan untuknya pahala sempurna. Jika ia bertekad melakukan kebaikan, lalu ia melakukannya; maka Allah akan menuliskan baginya sepuluh pahala hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan berlipat-lipat lebih banyak lagi”. HR. Bukhari (no. 6491) dan Muslim (no. 206).Maka salah satu modal utama menghadapi bulan suci Ramadhan, adalah berniat untuk melakukan kebaikan di dalamnya. Yakni bertekad bulat untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dimulai dari perintah Allah yang berlevel wajib dan larangan-Nya yang berlevel haram. Lalu dilengkapi dengan yang sunnah dan meninggalkan yang makruh.Contohnya: bertekad untuk menjalankan perintah shalat fardhu tepat waktu secara berjamaah di masjid, terutama bagi kaum pria. Bertekad untuk menjaga puasa dari perbuatan yang bisa mengotorinya. Yakni dosa dan maksiat, serta hal-hal tidak bermanfaat. Seperti menghabiskan waktu untuk bermain gadget, nonton TV dan lainnya.Hal Kedua: Ilmu AgamaSekedar bersemangat dan memiliki tekad untuk melakukan kebaikan, belum cukup. Namun harus diiringi dengan ilmu tentang kebaikan yang akan dikerjakannya tersebut. Sebab jika tidak, sangat mungkin ia melakukan sesuatu yang dikiranya kebaikan, ternyata adalah keburukan, atau sebaliknya. Karena itulah belajar ilmu agama hukumnya wajib bagi setiap orang Islam.“طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ”.“Mencari ilmu hukumnya wajib atas setiap muslim”. HR. Ibnu Majah (no. 224), dan dinyatakan hasan oleh al-Mizziy serta as-Suyuthiy. Sedangkan al-Albâniy menilai hadits ini sahih.Maka pelajarilah detil amalan-amalan Ramadhan yang disyariatkan dalam Islam. Semisal shalat, puasa, membaca al-Qur’an, zakat, sedekah, i’tikaf dan lain-lain, sebelum datangnya tamu agung ini. Semoga Allah menerima amal salih kita semua. Amien…Terinspirasi dari ceramah singkat Syaikh Prof. Dr. Abdussalam asy-Syuwai’ir yang berjudul Ahwâl as-Salaf fî Istiqbâl Syahr Ramadhan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 30 Sya’ban 1445 / 11 Maret 2024AGEN KEBAIKANREG:NAMA#JENIS KELAMIN#KOTA = 0812-2291-0404Facebookwww.facebook.com/UstadzAbdullahZaen/Telegramhttps://t.me/ustadzabdullahzaenSoundcloudhttps://soundcloud.com/ustadzabdullahzaenInstagramhttps://www.instagram.com/abdullahzaenofficial/Youtubehttps://www.youtube.com/c/ustadzabdullahzaenma

Anjuran Berjalan Kaki untuk Bertafakur

Daftar Isi Toggle Kewajiban tafakurBerjalan kaki memudahkan untuk bertafakur Tafakur merupakan salah satu ibadah hati yang sangat ditekankan untuk diamalkan dalam Islam. Tafakur secara bahasa berarti merenungkan dan mengamati sesuatu. Secara istilah bermakna mengarahkan hatinya untuk mengamati dan merenungkan tanda-tanda atau bukti-bukti atas kekuasaan Allah Ta’ala. (Lihat At-Tafakur, Syekh Munajjid, hal. 7) Tafakur adalah ibadah yang tidak mengenal tempat dan waktu. Apapun kondisinya dan kapanpun waktunya, ibadah tafakur ini bisa diamalkan. Allah Ta’ala memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak mau bertafakur dalam firman-Nya, وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ (105) وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلا وَهُمْ مُشْرِكُونَ “Betapa banyak sekali tanda-tanda kebesaran Allah di muka bumi, yang mereka menjumpainya, akan tetapi mereka berpaling (tidak mau bertafakur). Dan kebanyakan dari mereka itu tidaklah beriman kepada Allah, kecuali mereka berbuat kesyirikan.” (QS. Yusuf: 105-106) Kewajiban tafakur Banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa tafakur adalah wajib, baik tafakur dengan merenungi ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an atau tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (43) بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنزلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نزلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (44) “Tidaklah kami mengutus sebelummu, melainkan seorang laki-laki yang kami wahyukan kepada mereka. Maka, bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui. Dengan keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab yang mereka bawa. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl: 43-44) Maka, ayat di atas menunjukkan bahwa salah satu tujuan diturunkan Al-Qur’an adalah agar manusia mau bertafakur terhadap ayat-ayat di dalamnya. Allah Ta’ala juga menyanjung orang-orang yang bertafakur dalam firman-Nya, إِنَّ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهارِ لَآياتٍ لِأُولِي الْأَلْبابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنا مَا خَلَقْتَ هَذَا باطِلاً سُبْحانَكَ فَقِنا عَذابَ النَّارِ “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.'” (QS. Ali Imran: 190-191) Dari ayat di atas, maka buah dari orang yang beramal tafakur ini, ia akan lebih terdorong untuk bersyukur dan memuji Allah. Mereka juga menjadi lebih mudah untuk beramal saleh. Berjalan kaki memudahkan untuk bertafakur Di antara kondisi yang memudahkan seseorang untuk bertafakur adalah dengan berjalan kaki. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَآ أَوْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ “Maka, apakah mereka itu tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami (berpikir) atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?” (QS. Al-Hajj: 46) Allah Ta’ala juga befirman, أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَيَنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۗ وَلَدَارُ ٱلْءَاخِرَةِ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ “Maka, tidakkah mereka berjalan di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka, tidakkah kamu memikirkannya?” (QS. Yusuf: 109) Begitu pula yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, di mana beliau seringkali berjalan kaki. Oleh karenanya, banyak hadis terkait adab-adab berjalan kali sesuai sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan, وَلَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَحْسَنَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّ الشَّمْسَ تَجْرِي فِي وَجْهِهِ، وَمَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَسْرَعَ فِي مِشْيَتِهِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّمَا الْأَرْضُ تُطْوَى لَهُ إِنَّا لَنُجْهِدُ أَنْفُسَنَا وَإِنَّهُ لَغَيْرُ مُكْتَرِثٍ “Tidak pernah aku melihat orang yang lebih tampan, selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seakan-akan matahari bersinar di wajahnya. Dan aku tidak pernah melihat orang yang lebih cepat dalam berjalan, selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seakan-akan bumi dilipat bagi beliau, bahkan kami harus bersungguh-sungguh (jika berjalan bersama beliau) dan beliau bukan orang yang cuek.” (HR. At-Tirmidzi dalam Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah, no. 118) Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَشَى، مَشَى مَشْيًا مُجْتَمِعًا يُعْرَفُ أَنَّهُ لَيْسَ بِمَشْيِ عَاجِزٍ وَلا كَسْلانَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika berjalan, beliau berjalan dengan enerjik, sehingga sangat terlihat bahwa beliau bukan orang yang lemah dan juga bukan orang yang malas.” (HR. Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 2140) Bahkan, ada beberapa ibadah yang dituntunkan dengan berjalan kaki, seperti halnya tawaf dan sa’i. Demikian pula, dalam menempuh ibadah dengan berjalan kaki, maka Allah akan berikan ganjaran yang besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ “Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu amal yang dapat menghapus kesalahan (dosa) dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab, ”Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, ”(Yaitu) menyempurnakan wudu dalam kondisi sulit, memperbanyak langkah menuju masjid, menunggu salat setelah mendirikan salat. Itulah ar-ribath (kebaikan yang banyak).” (HR. Muslim no. 251) Dari riwayat-riwayat di atas menjadikan motivasi bagi kita untuk memperbanyak berjalan kaki sembari merenungkan ciptaan dan kekuasaan Allah. Mari jadikan setiap langkah kita sebagai pahala dengan memperbanyak tafakur dan zikir kepada-Nya, karena kelak bumi juga akan menjadi saksi atas perbuatan yang kita lakukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ayat, يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا “Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (QS. Al-Zalzalah : 4) Rasul lalu bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian tahu apa yang diceritakan oleh bumi?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ أَخْبَارَهَا أَنْ تَشْهَدَ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ بِمَا عَمِلَ عَلَى ظَهْرِهَا أَنْ تَقُولَ عَمِلَ كَذَا وَكَذَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا قَالَ فَهَذِهِ أَخْبَارُهَا “Sesungguhnya yang diberitakan oleh bumi adalah bumi menjadi saksi terhadap semua perbuatan manusia, baik laki-laki maupun perempuan yang telah mereka perbuat di muka bumi. Bumi itu akan berkata, ‘Manusia telah berbuat begini dan begitu, pada hari ini dan hari itu.’ Inilah yang diberitakan oleh bumi.” (HR. Tirmidzi no. 2429) Semoga kita dimudahkan untuk senantiasa bertafakur dan mengambil hikmah dari setiap langkah perjalanan yang kita tempuh. Baca juga: Cara Berjalan Ala Rasulullah *** Penulis: Arif Muhammad N. Artikel: Muslim.or id   Referensi: A’malul Qulub, Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah Tags: tafakur

Anjuran Berjalan Kaki untuk Bertafakur

Daftar Isi Toggle Kewajiban tafakurBerjalan kaki memudahkan untuk bertafakur Tafakur merupakan salah satu ibadah hati yang sangat ditekankan untuk diamalkan dalam Islam. Tafakur secara bahasa berarti merenungkan dan mengamati sesuatu. Secara istilah bermakna mengarahkan hatinya untuk mengamati dan merenungkan tanda-tanda atau bukti-bukti atas kekuasaan Allah Ta’ala. (Lihat At-Tafakur, Syekh Munajjid, hal. 7) Tafakur adalah ibadah yang tidak mengenal tempat dan waktu. Apapun kondisinya dan kapanpun waktunya, ibadah tafakur ini bisa diamalkan. Allah Ta’ala memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak mau bertafakur dalam firman-Nya, وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ (105) وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلا وَهُمْ مُشْرِكُونَ “Betapa banyak sekali tanda-tanda kebesaran Allah di muka bumi, yang mereka menjumpainya, akan tetapi mereka berpaling (tidak mau bertafakur). Dan kebanyakan dari mereka itu tidaklah beriman kepada Allah, kecuali mereka berbuat kesyirikan.” (QS. Yusuf: 105-106) Kewajiban tafakur Banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa tafakur adalah wajib, baik tafakur dengan merenungi ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an atau tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (43) بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنزلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نزلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (44) “Tidaklah kami mengutus sebelummu, melainkan seorang laki-laki yang kami wahyukan kepada mereka. Maka, bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui. Dengan keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab yang mereka bawa. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl: 43-44) Maka, ayat di atas menunjukkan bahwa salah satu tujuan diturunkan Al-Qur’an adalah agar manusia mau bertafakur terhadap ayat-ayat di dalamnya. Allah Ta’ala juga menyanjung orang-orang yang bertafakur dalam firman-Nya, إِنَّ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهارِ لَآياتٍ لِأُولِي الْأَلْبابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنا مَا خَلَقْتَ هَذَا باطِلاً سُبْحانَكَ فَقِنا عَذابَ النَّارِ “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.'” (QS. Ali Imran: 190-191) Dari ayat di atas, maka buah dari orang yang beramal tafakur ini, ia akan lebih terdorong untuk bersyukur dan memuji Allah. Mereka juga menjadi lebih mudah untuk beramal saleh. Berjalan kaki memudahkan untuk bertafakur Di antara kondisi yang memudahkan seseorang untuk bertafakur adalah dengan berjalan kaki. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَآ أَوْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ “Maka, apakah mereka itu tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami (berpikir) atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?” (QS. Al-Hajj: 46) Allah Ta’ala juga befirman, أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَيَنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۗ وَلَدَارُ ٱلْءَاخِرَةِ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ “Maka, tidakkah mereka berjalan di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka, tidakkah kamu memikirkannya?” (QS. Yusuf: 109) Begitu pula yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, di mana beliau seringkali berjalan kaki. Oleh karenanya, banyak hadis terkait adab-adab berjalan kali sesuai sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan, وَلَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَحْسَنَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّ الشَّمْسَ تَجْرِي فِي وَجْهِهِ، وَمَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَسْرَعَ فِي مِشْيَتِهِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّمَا الْأَرْضُ تُطْوَى لَهُ إِنَّا لَنُجْهِدُ أَنْفُسَنَا وَإِنَّهُ لَغَيْرُ مُكْتَرِثٍ “Tidak pernah aku melihat orang yang lebih tampan, selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seakan-akan matahari bersinar di wajahnya. Dan aku tidak pernah melihat orang yang lebih cepat dalam berjalan, selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seakan-akan bumi dilipat bagi beliau, bahkan kami harus bersungguh-sungguh (jika berjalan bersama beliau) dan beliau bukan orang yang cuek.” (HR. At-Tirmidzi dalam Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah, no. 118) Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَشَى، مَشَى مَشْيًا مُجْتَمِعًا يُعْرَفُ أَنَّهُ لَيْسَ بِمَشْيِ عَاجِزٍ وَلا كَسْلانَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika berjalan, beliau berjalan dengan enerjik, sehingga sangat terlihat bahwa beliau bukan orang yang lemah dan juga bukan orang yang malas.” (HR. Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 2140) Bahkan, ada beberapa ibadah yang dituntunkan dengan berjalan kaki, seperti halnya tawaf dan sa’i. Demikian pula, dalam menempuh ibadah dengan berjalan kaki, maka Allah akan berikan ganjaran yang besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ “Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu amal yang dapat menghapus kesalahan (dosa) dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab, ”Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, ”(Yaitu) menyempurnakan wudu dalam kondisi sulit, memperbanyak langkah menuju masjid, menunggu salat setelah mendirikan salat. Itulah ar-ribath (kebaikan yang banyak).” (HR. Muslim no. 251) Dari riwayat-riwayat di atas menjadikan motivasi bagi kita untuk memperbanyak berjalan kaki sembari merenungkan ciptaan dan kekuasaan Allah. Mari jadikan setiap langkah kita sebagai pahala dengan memperbanyak tafakur dan zikir kepada-Nya, karena kelak bumi juga akan menjadi saksi atas perbuatan yang kita lakukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ayat, يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا “Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (QS. Al-Zalzalah : 4) Rasul lalu bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian tahu apa yang diceritakan oleh bumi?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ أَخْبَارَهَا أَنْ تَشْهَدَ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ بِمَا عَمِلَ عَلَى ظَهْرِهَا أَنْ تَقُولَ عَمِلَ كَذَا وَكَذَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا قَالَ فَهَذِهِ أَخْبَارُهَا “Sesungguhnya yang diberitakan oleh bumi adalah bumi menjadi saksi terhadap semua perbuatan manusia, baik laki-laki maupun perempuan yang telah mereka perbuat di muka bumi. Bumi itu akan berkata, ‘Manusia telah berbuat begini dan begitu, pada hari ini dan hari itu.’ Inilah yang diberitakan oleh bumi.” (HR. Tirmidzi no. 2429) Semoga kita dimudahkan untuk senantiasa bertafakur dan mengambil hikmah dari setiap langkah perjalanan yang kita tempuh. Baca juga: Cara Berjalan Ala Rasulullah *** Penulis: Arif Muhammad N. Artikel: Muslim.or id   Referensi: A’malul Qulub, Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah Tags: tafakur
Daftar Isi Toggle Kewajiban tafakurBerjalan kaki memudahkan untuk bertafakur Tafakur merupakan salah satu ibadah hati yang sangat ditekankan untuk diamalkan dalam Islam. Tafakur secara bahasa berarti merenungkan dan mengamati sesuatu. Secara istilah bermakna mengarahkan hatinya untuk mengamati dan merenungkan tanda-tanda atau bukti-bukti atas kekuasaan Allah Ta’ala. (Lihat At-Tafakur, Syekh Munajjid, hal. 7) Tafakur adalah ibadah yang tidak mengenal tempat dan waktu. Apapun kondisinya dan kapanpun waktunya, ibadah tafakur ini bisa diamalkan. Allah Ta’ala memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak mau bertafakur dalam firman-Nya, وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ (105) وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلا وَهُمْ مُشْرِكُونَ “Betapa banyak sekali tanda-tanda kebesaran Allah di muka bumi, yang mereka menjumpainya, akan tetapi mereka berpaling (tidak mau bertafakur). Dan kebanyakan dari mereka itu tidaklah beriman kepada Allah, kecuali mereka berbuat kesyirikan.” (QS. Yusuf: 105-106) Kewajiban tafakur Banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa tafakur adalah wajib, baik tafakur dengan merenungi ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an atau tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (43) بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنزلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نزلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (44) “Tidaklah kami mengutus sebelummu, melainkan seorang laki-laki yang kami wahyukan kepada mereka. Maka, bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui. Dengan keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab yang mereka bawa. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl: 43-44) Maka, ayat di atas menunjukkan bahwa salah satu tujuan diturunkan Al-Qur’an adalah agar manusia mau bertafakur terhadap ayat-ayat di dalamnya. Allah Ta’ala juga menyanjung orang-orang yang bertafakur dalam firman-Nya, إِنَّ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهارِ لَآياتٍ لِأُولِي الْأَلْبابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنا مَا خَلَقْتَ هَذَا باطِلاً سُبْحانَكَ فَقِنا عَذابَ النَّارِ “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.'” (QS. Ali Imran: 190-191) Dari ayat di atas, maka buah dari orang yang beramal tafakur ini, ia akan lebih terdorong untuk bersyukur dan memuji Allah. Mereka juga menjadi lebih mudah untuk beramal saleh. Berjalan kaki memudahkan untuk bertafakur Di antara kondisi yang memudahkan seseorang untuk bertafakur adalah dengan berjalan kaki. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَآ أَوْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ “Maka, apakah mereka itu tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami (berpikir) atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?” (QS. Al-Hajj: 46) Allah Ta’ala juga befirman, أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَيَنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۗ وَلَدَارُ ٱلْءَاخِرَةِ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ “Maka, tidakkah mereka berjalan di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka, tidakkah kamu memikirkannya?” (QS. Yusuf: 109) Begitu pula yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, di mana beliau seringkali berjalan kaki. Oleh karenanya, banyak hadis terkait adab-adab berjalan kali sesuai sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan, وَلَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَحْسَنَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّ الشَّمْسَ تَجْرِي فِي وَجْهِهِ، وَمَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَسْرَعَ فِي مِشْيَتِهِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّمَا الْأَرْضُ تُطْوَى لَهُ إِنَّا لَنُجْهِدُ أَنْفُسَنَا وَإِنَّهُ لَغَيْرُ مُكْتَرِثٍ “Tidak pernah aku melihat orang yang lebih tampan, selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seakan-akan matahari bersinar di wajahnya. Dan aku tidak pernah melihat orang yang lebih cepat dalam berjalan, selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seakan-akan bumi dilipat bagi beliau, bahkan kami harus bersungguh-sungguh (jika berjalan bersama beliau) dan beliau bukan orang yang cuek.” (HR. At-Tirmidzi dalam Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah, no. 118) Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَشَى، مَشَى مَشْيًا مُجْتَمِعًا يُعْرَفُ أَنَّهُ لَيْسَ بِمَشْيِ عَاجِزٍ وَلا كَسْلانَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika berjalan, beliau berjalan dengan enerjik, sehingga sangat terlihat bahwa beliau bukan orang yang lemah dan juga bukan orang yang malas.” (HR. Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 2140) Bahkan, ada beberapa ibadah yang dituntunkan dengan berjalan kaki, seperti halnya tawaf dan sa’i. Demikian pula, dalam menempuh ibadah dengan berjalan kaki, maka Allah akan berikan ganjaran yang besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ “Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu amal yang dapat menghapus kesalahan (dosa) dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab, ”Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, ”(Yaitu) menyempurnakan wudu dalam kondisi sulit, memperbanyak langkah menuju masjid, menunggu salat setelah mendirikan salat. Itulah ar-ribath (kebaikan yang banyak).” (HR. Muslim no. 251) Dari riwayat-riwayat di atas menjadikan motivasi bagi kita untuk memperbanyak berjalan kaki sembari merenungkan ciptaan dan kekuasaan Allah. Mari jadikan setiap langkah kita sebagai pahala dengan memperbanyak tafakur dan zikir kepada-Nya, karena kelak bumi juga akan menjadi saksi atas perbuatan yang kita lakukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ayat, يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا “Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (QS. Al-Zalzalah : 4) Rasul lalu bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian tahu apa yang diceritakan oleh bumi?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ أَخْبَارَهَا أَنْ تَشْهَدَ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ بِمَا عَمِلَ عَلَى ظَهْرِهَا أَنْ تَقُولَ عَمِلَ كَذَا وَكَذَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا قَالَ فَهَذِهِ أَخْبَارُهَا “Sesungguhnya yang diberitakan oleh bumi adalah bumi menjadi saksi terhadap semua perbuatan manusia, baik laki-laki maupun perempuan yang telah mereka perbuat di muka bumi. Bumi itu akan berkata, ‘Manusia telah berbuat begini dan begitu, pada hari ini dan hari itu.’ Inilah yang diberitakan oleh bumi.” (HR. Tirmidzi no. 2429) Semoga kita dimudahkan untuk senantiasa bertafakur dan mengambil hikmah dari setiap langkah perjalanan yang kita tempuh. Baca juga: Cara Berjalan Ala Rasulullah *** Penulis: Arif Muhammad N. Artikel: Muslim.or id   Referensi: A’malul Qulub, Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah Tags: tafakur


Daftar Isi Toggle Kewajiban tafakurBerjalan kaki memudahkan untuk bertafakur Tafakur merupakan salah satu ibadah hati yang sangat ditekankan untuk diamalkan dalam Islam. Tafakur secara bahasa berarti merenungkan dan mengamati sesuatu. Secara istilah bermakna mengarahkan hatinya untuk mengamati dan merenungkan tanda-tanda atau bukti-bukti atas kekuasaan Allah Ta’ala. (Lihat At-Tafakur, Syekh Munajjid, hal. 7) Tafakur adalah ibadah yang tidak mengenal tempat dan waktu. Apapun kondisinya dan kapanpun waktunya, ibadah tafakur ini bisa diamalkan. Allah Ta’ala memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak mau bertafakur dalam firman-Nya, وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ (105) وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلا وَهُمْ مُشْرِكُونَ “Betapa banyak sekali tanda-tanda kebesaran Allah di muka bumi, yang mereka menjumpainya, akan tetapi mereka berpaling (tidak mau bertafakur). Dan kebanyakan dari mereka itu tidaklah beriman kepada Allah, kecuali mereka berbuat kesyirikan.” (QS. Yusuf: 105-106) Kewajiban tafakur Banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa tafakur adalah wajib, baik tafakur dengan merenungi ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an atau tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (43) بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنزلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نزلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (44) “Tidaklah kami mengutus sebelummu, melainkan seorang laki-laki yang kami wahyukan kepada mereka. Maka, bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui. Dengan keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab yang mereka bawa. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl: 43-44) Maka, ayat di atas menunjukkan bahwa salah satu tujuan diturunkan Al-Qur’an adalah agar manusia mau bertafakur terhadap ayat-ayat di dalamnya. Allah Ta’ala juga menyanjung orang-orang yang bertafakur dalam firman-Nya, إِنَّ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهارِ لَآياتٍ لِأُولِي الْأَلْبابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنا مَا خَلَقْتَ هَذَا باطِلاً سُبْحانَكَ فَقِنا عَذابَ النَّارِ “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.'” (QS. Ali Imran: 190-191) Dari ayat di atas, maka buah dari orang yang beramal tafakur ini, ia akan lebih terdorong untuk bersyukur dan memuji Allah. Mereka juga menjadi lebih mudah untuk beramal saleh. Berjalan kaki memudahkan untuk bertafakur Di antara kondisi yang memudahkan seseorang untuk bertafakur adalah dengan berjalan kaki. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَآ أَوْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ “Maka, apakah mereka itu tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami (berpikir) atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?” (QS. Al-Hajj: 46) Allah Ta’ala juga befirman, أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَيَنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۗ وَلَدَارُ ٱلْءَاخِرَةِ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ “Maka, tidakkah mereka berjalan di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka, tidakkah kamu memikirkannya?” (QS. Yusuf: 109) Begitu pula yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, di mana beliau seringkali berjalan kaki. Oleh karenanya, banyak hadis terkait adab-adab berjalan kali sesuai sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan, وَلَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَحْسَنَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّ الشَّمْسَ تَجْرِي فِي وَجْهِهِ، وَمَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَسْرَعَ فِي مِشْيَتِهِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّمَا الْأَرْضُ تُطْوَى لَهُ إِنَّا لَنُجْهِدُ أَنْفُسَنَا وَإِنَّهُ لَغَيْرُ مُكْتَرِثٍ “Tidak pernah aku melihat orang yang lebih tampan, selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seakan-akan matahari bersinar di wajahnya. Dan aku tidak pernah melihat orang yang lebih cepat dalam berjalan, selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seakan-akan bumi dilipat bagi beliau, bahkan kami harus bersungguh-sungguh (jika berjalan bersama beliau) dan beliau bukan orang yang cuek.” (HR. At-Tirmidzi dalam Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah, no. 118) Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَشَى، مَشَى مَشْيًا مُجْتَمِعًا يُعْرَفُ أَنَّهُ لَيْسَ بِمَشْيِ عَاجِزٍ وَلا كَسْلانَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika berjalan, beliau berjalan dengan enerjik, sehingga sangat terlihat bahwa beliau bukan orang yang lemah dan juga bukan orang yang malas.” (HR. Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 2140) Bahkan, ada beberapa ibadah yang dituntunkan dengan berjalan kaki, seperti halnya tawaf dan sa’i. Demikian pula, dalam menempuh ibadah dengan berjalan kaki, maka Allah akan berikan ganjaran yang besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ “Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu amal yang dapat menghapus kesalahan (dosa) dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab, ”Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, ”(Yaitu) menyempurnakan wudu dalam kondisi sulit, memperbanyak langkah menuju masjid, menunggu salat setelah mendirikan salat. Itulah ar-ribath (kebaikan yang banyak).” (HR. Muslim no. 251) Dari riwayat-riwayat di atas menjadikan motivasi bagi kita untuk memperbanyak berjalan kaki sembari merenungkan ciptaan dan kekuasaan Allah. Mari jadikan setiap langkah kita sebagai pahala dengan memperbanyak tafakur dan zikir kepada-Nya, karena kelak bumi juga akan menjadi saksi atas perbuatan yang kita lakukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ayat, يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا “Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (QS. Al-Zalzalah : 4) Rasul lalu bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian tahu apa yang diceritakan oleh bumi?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ أَخْبَارَهَا أَنْ تَشْهَدَ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ بِمَا عَمِلَ عَلَى ظَهْرِهَا أَنْ تَقُولَ عَمِلَ كَذَا وَكَذَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا قَالَ فَهَذِهِ أَخْبَارُهَا “Sesungguhnya yang diberitakan oleh bumi adalah bumi menjadi saksi terhadap semua perbuatan manusia, baik laki-laki maupun perempuan yang telah mereka perbuat di muka bumi. Bumi itu akan berkata, ‘Manusia telah berbuat begini dan begitu, pada hari ini dan hari itu.’ Inilah yang diberitakan oleh bumi.” (HR. Tirmidzi no. 2429) Semoga kita dimudahkan untuk senantiasa bertafakur dan mengambil hikmah dari setiap langkah perjalanan yang kita tempuh. Baca juga: Cara Berjalan Ala Rasulullah *** Penulis: Arif Muhammad N. Artikel: Muslim.or id   Referensi: A’malul Qulub, Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah Tags: tafakur

Renungan Ayat #31: Ayat-Ayat Ini Menunjukkan Masuk Surga itu Karena Amal

Dua ayat ini sering kita temukan dalam Al-Qur’an dan ada hadits yang seolah-olah bertentangan dengannya. Benarkah kita masuk surga karena amal kita?   Daftar Isi tutup 1. Dalil pertama 2. Dalil kedua 3. Penjelasan dua macam dalil di atas 4. Kesimpulan Dalil pertama Dalam ayat disebutkan, كُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ هَنِيٓـًٔۢا بِمَآ أَسْلَفْتُمْ فِى ٱلْأَيَّامِ ٱلْخَالِيَةِ Arab-Latin: Kulụ wasyrabụ hanī`am bimā aslaftum fil-ayyāmil-khāliyah “(kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.” (QS. Al-Haqqah: 24) Dalam ayat lainnya disebutkan, كُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ هَنِيٓـًٔۢا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ Arab-Latin: Kulụ wasyrabụ hanī`am bimā kuntum ta’malụn “(Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan“.” (QS. Al-Mursalat: 42)   Dalil kedua Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ » . قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ “Amal seseorang tidak akan memasukkannya ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari, no. 5673 dan Muslim, no. 2816)   Penjelasan dua macam dalil di atas Menurut Syaikh Asy-Syinqithi rahimahullah dalam tafsirnya, ini adalah dalil tegas bahwa amal manusia di dunia adalah sebab ia mendapatkan nikmat surga di akhirat. Namun, dalam hadits disebutkan bahwa salah seorang di antara kalian tidak akan masuk surga dengan amalnya. Dua macam dalil ini tidaklah saling bertentangan. Masuk surga itu dengan KARUNIA ALLAH. Setelah memasuki surga, akan mendapati nikmat surga yang diwariskan dan mendapatkan derajat di surga. Seseorang di surga akan bersenang-senang KARENA SEBAB AMAL. Masuk surga itu karena KARUNIA ALLAH. Namun, ketika sudah masuk surga, penduduknya akan berbeda dalam tingkatan TERGANTUNG AMALNYA. (Diambil dari Aplikasi Tadabbur wa ‘Amal) Baca juga: Karunia Allah dengan Amalan yang Dibalas Berlipat   Penjelasan lainnya dari Imam Nawawi rahimahullah. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ayat-ayat Al-Qur’an yang ada menunjukkan bahwa amalan bisa memasukkan orang dalam surga. Maka tidak bertentangan dengan hadits-hadits yang ada. Bahkan makna ayat adalah masuk surga itu disebabkan karena amalan. Namun, di situ ada taufik dari Allah untuk beramal. Ada hidayah untuk ikhlas pula dalam beramal. Maka diterimanya amal memang karena rahmat dan karunia Allah. Karenanya, amalan semata tidak memasukkan seseorang ke dalam surga. Itulah yang dimaksudkan dalam hadits. Kesimpulannya, bisa saja kita katakan bahwa sebab masuk surga adalah karena ada amalan. Amalan itu ada karena rahmat Allah. Wallahu a’lam.” (Syarh Shahih Muslim, 14:145) Baca juga: Masuk Surga Bukan dengan Amalan, Benarkah?   Kesimpulan Orang beriman kelak masuk surga itu karena karunia Allah dan tingkatan di surga itu tergantung amal. Orang beriman kelak masuk surga karena taufik dari Allah untuk beramal. Masuk surga itu karena adanya amalan. Namun, amalan itu ada karena rahmat Allah. Semoga menjadi renungan yang bermanfaat.   –   Selesai ditulis pada Malam 2 Ramadhan 1445 H, 12 Maret 2024 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan surga masuk surga renungan ayat renungan quran

Renungan Ayat #31: Ayat-Ayat Ini Menunjukkan Masuk Surga itu Karena Amal

Dua ayat ini sering kita temukan dalam Al-Qur’an dan ada hadits yang seolah-olah bertentangan dengannya. Benarkah kita masuk surga karena amal kita?   Daftar Isi tutup 1. Dalil pertama 2. Dalil kedua 3. Penjelasan dua macam dalil di atas 4. Kesimpulan Dalil pertama Dalam ayat disebutkan, كُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ هَنِيٓـًٔۢا بِمَآ أَسْلَفْتُمْ فِى ٱلْأَيَّامِ ٱلْخَالِيَةِ Arab-Latin: Kulụ wasyrabụ hanī`am bimā aslaftum fil-ayyāmil-khāliyah “(kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.” (QS. Al-Haqqah: 24) Dalam ayat lainnya disebutkan, كُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ هَنِيٓـًٔۢا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ Arab-Latin: Kulụ wasyrabụ hanī`am bimā kuntum ta’malụn “(Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan“.” (QS. Al-Mursalat: 42)   Dalil kedua Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ » . قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ “Amal seseorang tidak akan memasukkannya ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari, no. 5673 dan Muslim, no. 2816)   Penjelasan dua macam dalil di atas Menurut Syaikh Asy-Syinqithi rahimahullah dalam tafsirnya, ini adalah dalil tegas bahwa amal manusia di dunia adalah sebab ia mendapatkan nikmat surga di akhirat. Namun, dalam hadits disebutkan bahwa salah seorang di antara kalian tidak akan masuk surga dengan amalnya. Dua macam dalil ini tidaklah saling bertentangan. Masuk surga itu dengan KARUNIA ALLAH. Setelah memasuki surga, akan mendapati nikmat surga yang diwariskan dan mendapatkan derajat di surga. Seseorang di surga akan bersenang-senang KARENA SEBAB AMAL. Masuk surga itu karena KARUNIA ALLAH. Namun, ketika sudah masuk surga, penduduknya akan berbeda dalam tingkatan TERGANTUNG AMALNYA. (Diambil dari Aplikasi Tadabbur wa ‘Amal) Baca juga: Karunia Allah dengan Amalan yang Dibalas Berlipat   Penjelasan lainnya dari Imam Nawawi rahimahullah. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ayat-ayat Al-Qur’an yang ada menunjukkan bahwa amalan bisa memasukkan orang dalam surga. Maka tidak bertentangan dengan hadits-hadits yang ada. Bahkan makna ayat adalah masuk surga itu disebabkan karena amalan. Namun, di situ ada taufik dari Allah untuk beramal. Ada hidayah untuk ikhlas pula dalam beramal. Maka diterimanya amal memang karena rahmat dan karunia Allah. Karenanya, amalan semata tidak memasukkan seseorang ke dalam surga. Itulah yang dimaksudkan dalam hadits. Kesimpulannya, bisa saja kita katakan bahwa sebab masuk surga adalah karena ada amalan. Amalan itu ada karena rahmat Allah. Wallahu a’lam.” (Syarh Shahih Muslim, 14:145) Baca juga: Masuk Surga Bukan dengan Amalan, Benarkah?   Kesimpulan Orang beriman kelak masuk surga itu karena karunia Allah dan tingkatan di surga itu tergantung amal. Orang beriman kelak masuk surga karena taufik dari Allah untuk beramal. Masuk surga itu karena adanya amalan. Namun, amalan itu ada karena rahmat Allah. Semoga menjadi renungan yang bermanfaat.   –   Selesai ditulis pada Malam 2 Ramadhan 1445 H, 12 Maret 2024 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan surga masuk surga renungan ayat renungan quran
Dua ayat ini sering kita temukan dalam Al-Qur’an dan ada hadits yang seolah-olah bertentangan dengannya. Benarkah kita masuk surga karena amal kita?   Daftar Isi tutup 1. Dalil pertama 2. Dalil kedua 3. Penjelasan dua macam dalil di atas 4. Kesimpulan Dalil pertama Dalam ayat disebutkan, كُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ هَنِيٓـًٔۢا بِمَآ أَسْلَفْتُمْ فِى ٱلْأَيَّامِ ٱلْخَالِيَةِ Arab-Latin: Kulụ wasyrabụ hanī`am bimā aslaftum fil-ayyāmil-khāliyah “(kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.” (QS. Al-Haqqah: 24) Dalam ayat lainnya disebutkan, كُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ هَنِيٓـًٔۢا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ Arab-Latin: Kulụ wasyrabụ hanī`am bimā kuntum ta’malụn “(Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan“.” (QS. Al-Mursalat: 42)   Dalil kedua Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ » . قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ “Amal seseorang tidak akan memasukkannya ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari, no. 5673 dan Muslim, no. 2816)   Penjelasan dua macam dalil di atas Menurut Syaikh Asy-Syinqithi rahimahullah dalam tafsirnya, ini adalah dalil tegas bahwa amal manusia di dunia adalah sebab ia mendapatkan nikmat surga di akhirat. Namun, dalam hadits disebutkan bahwa salah seorang di antara kalian tidak akan masuk surga dengan amalnya. Dua macam dalil ini tidaklah saling bertentangan. Masuk surga itu dengan KARUNIA ALLAH. Setelah memasuki surga, akan mendapati nikmat surga yang diwariskan dan mendapatkan derajat di surga. Seseorang di surga akan bersenang-senang KARENA SEBAB AMAL. Masuk surga itu karena KARUNIA ALLAH. Namun, ketika sudah masuk surga, penduduknya akan berbeda dalam tingkatan TERGANTUNG AMALNYA. (Diambil dari Aplikasi Tadabbur wa ‘Amal) Baca juga: Karunia Allah dengan Amalan yang Dibalas Berlipat   Penjelasan lainnya dari Imam Nawawi rahimahullah. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ayat-ayat Al-Qur’an yang ada menunjukkan bahwa amalan bisa memasukkan orang dalam surga. Maka tidak bertentangan dengan hadits-hadits yang ada. Bahkan makna ayat adalah masuk surga itu disebabkan karena amalan. Namun, di situ ada taufik dari Allah untuk beramal. Ada hidayah untuk ikhlas pula dalam beramal. Maka diterimanya amal memang karena rahmat dan karunia Allah. Karenanya, amalan semata tidak memasukkan seseorang ke dalam surga. Itulah yang dimaksudkan dalam hadits. Kesimpulannya, bisa saja kita katakan bahwa sebab masuk surga adalah karena ada amalan. Amalan itu ada karena rahmat Allah. Wallahu a’lam.” (Syarh Shahih Muslim, 14:145) Baca juga: Masuk Surga Bukan dengan Amalan, Benarkah?   Kesimpulan Orang beriman kelak masuk surga itu karena karunia Allah dan tingkatan di surga itu tergantung amal. Orang beriman kelak masuk surga karena taufik dari Allah untuk beramal. Masuk surga itu karena adanya amalan. Namun, amalan itu ada karena rahmat Allah. Semoga menjadi renungan yang bermanfaat.   –   Selesai ditulis pada Malam 2 Ramadhan 1445 H, 12 Maret 2024 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan surga masuk surga renungan ayat renungan quran


Dua ayat ini sering kita temukan dalam Al-Qur’an dan ada hadits yang seolah-olah bertentangan dengannya. Benarkah kita masuk surga karena amal kita?   Daftar Isi tutup 1. Dalil pertama 2. Dalil kedua 3. Penjelasan dua macam dalil di atas 4. Kesimpulan Dalil pertama Dalam ayat disebutkan, كُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ هَنِيٓـًٔۢا بِمَآ أَسْلَفْتُمْ فِى ٱلْأَيَّامِ ٱلْخَالِيَةِ Arab-Latin: Kulụ wasyrabụ hanī`am bimā aslaftum fil-ayyāmil-khāliyah “(kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.” (QS. Al-Haqqah: 24) Dalam ayat lainnya disebutkan, كُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ هَنِيٓـًٔۢا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ Arab-Latin: Kulụ wasyrabụ hanī`am bimā kuntum ta’malụn “(Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan“.” (QS. Al-Mursalat: 42)   Dalil kedua Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ » . قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ “Amal seseorang tidak akan memasukkannya ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari, no. 5673 dan Muslim, no. 2816)   Penjelasan dua macam dalil di atas Menurut Syaikh Asy-Syinqithi rahimahullah dalam tafsirnya, ini adalah dalil tegas bahwa amal manusia di dunia adalah sebab ia mendapatkan nikmat surga di akhirat. Namun, dalam hadits disebutkan bahwa salah seorang di antara kalian tidak akan masuk surga dengan amalnya. Dua macam dalil ini tidaklah saling bertentangan. Masuk surga itu dengan KARUNIA ALLAH. Setelah memasuki surga, akan mendapati nikmat surga yang diwariskan dan mendapatkan derajat di surga. Seseorang di surga akan bersenang-senang KARENA SEBAB AMAL. Masuk surga itu karena KARUNIA ALLAH. Namun, ketika sudah masuk surga, penduduknya akan berbeda dalam tingkatan TERGANTUNG AMALNYA. (Diambil dari Aplikasi Tadabbur wa ‘Amal) Baca juga: Karunia Allah dengan Amalan yang Dibalas Berlipat   Penjelasan lainnya dari Imam Nawawi rahimahullah. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ayat-ayat Al-Qur’an yang ada menunjukkan bahwa amalan bisa memasukkan orang dalam surga. Maka tidak bertentangan dengan hadits-hadits yang ada. Bahkan makna ayat adalah masuk surga itu disebabkan karena amalan. Namun, di situ ada taufik dari Allah untuk beramal. Ada hidayah untuk ikhlas pula dalam beramal. Maka diterimanya amal memang karena rahmat dan karunia Allah. Karenanya, amalan semata tidak memasukkan seseorang ke dalam surga. Itulah yang dimaksudkan dalam hadits. Kesimpulannya, bisa saja kita katakan bahwa sebab masuk surga adalah karena ada amalan. Amalan itu ada karena rahmat Allah. Wallahu a’lam.” (Syarh Shahih Muslim, 14:145) Baca juga: Masuk Surga Bukan dengan Amalan, Benarkah?   Kesimpulan Orang beriman kelak masuk surga itu karena karunia Allah dan tingkatan di surga itu tergantung amal. Orang beriman kelak masuk surga karena taufik dari Allah untuk beramal. Masuk surga itu karena adanya amalan. Namun, amalan itu ada karena rahmat Allah. Semoga menjadi renungan yang bermanfaat.   –   Selesai ditulis pada Malam 2 Ramadhan 1445 H, 12 Maret 2024 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan surga masuk surga renungan ayat renungan quran

“Beragama Itu yang Biasa-Biasa Saja”

Daftar Isi Toggle Kemungkinan maksud “beragama secara biasa”Syarat agar seseorang bisa menggunakan kalimat semacam iniPertama: Orang yang mengucapkan harus benar-benar memastikan ajakannya adalah benar-benar bagian dari syariatKedua: Orang yang mengucapkan tidak mengajak kepada hal yang menyelisihi syariat dengan klaim beragama secara biasaSebab kemunculan ucapan semacam iniKesimpulan Salah satu ucapan yang sering terdengar ketika sedang membahas topik agama adalah “beragama itu biasa saja”, “beragama yang normal saja”, “beragama sesuai tabiat manusia”, dan lain sebagainya. Seringkali, ucapan seperti ini terlontar untuk menjustifikasi atau menganggap benar suatu perbuatan, atau mencela suatu perilaku dan menjelaskan letak kekeliruannya. Untuk itu, mari kita bedah ucapan ini dan kita tinjau ulang konsep beragama secara biasa ini. Apa maksud dari konsep beragama secara biasa? Meski ucapan seperti ini sering terdengar, tetapi hampir tidak pernah bisa kita dapati ada yang dapat menjelaskan maksudnya. Sehingga, atas dasar apa sesuatu itu disebut sebagai perilaku beragama biasa? Atau suatu perilaku keluar dari standar beragama biasa? Terlebih, jika ucapan tersebut menjadi suatu patokan atau kaidah menilai suatu perbuatan. Sehingga, ucapan itu bukan sekadar kata-kata atau istilah, tetapi berubah menjadi standar yang digunakan masyarakat untuk menghakimi suatu hal. Orang-orang pun dapat menolak, menerima, menyukai, dan memperbolehkan sesuatu berdasarkan sifat “biasa”, “normal”, dan “sesuai tabiat manusia”. Maka, sebelum kita menjadikan ucapan semacam itu sebagai sebuah dalil pembenaran, mari berpikir sejenak, “Dasar apa yang dipakai untuk menilai sesuatu itu biasa, normal, sesuai tabiat manusia?” Sayangnya, pertanyaan demikian tidak pernah terlintas di benak “mereka” yang biasa menggunakannya. Padahal, ucapan semacam itu sering digunakan untuk menganggap benar suatu opini atau perilaku dan menolak perintah agama. Hal seperti ini merupakan suatu bentuk ketidakilmiahan dalam bersikap. Alih-alih menelusuri ucapan-ucapan semacam itu, lalu ia analisis dan kembalikan kepada kaidah dan usul syariat, malah ucapan itulah yang menjadi kaidah untuk menghakimi kaidah dan usul syariat. Kemungkinan maksud “beragama secara biasa” Jika dikatakan pola beragama tertentu adalah biasa atau normal, bisa jadi maknanya beragama yang pertengahan, tidak berlebihan dan tidak menambah-nambah hukum syariat. Normal, biasa, dan sesuai fitrah manusia. Maknanya, ia sesuai dengan dalil-dalil syariat, tidak terpengaruh faktor-faktor baru yang melenceng dari agama. Sehingga, maksud pengucap adalah membedakan antara beragama yang terpengaruh dengan faktor tertentu dan beragama yang sesungguhnya, yaitu yang sesuai syariat dan bebas dari pengaruh eksternal. Yang demikian, berarti maksud pengucap adalah kembali ke beragama yang sesuai syariat. Berdasarkan maksud tersebut, maka beragama secara biasa dan normal hakikatnya adalah beragama mengikuti syariat dan tidak menyelisihi hukum syariat. Jika maksudnya demikian, maka itu adalah maksud yang sangat bagus. Sebab, berisi penekanan terhadap kaidah manhaj yang sangat penting, yaitu kembali kepada dalil-dalil di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ. Hanya saja, ada suatu keganjilan dalam penamaan istilah beragama secara biasa, normal, dan sesuai tabiat manusia. Sebab, penamaan tersebut memiliki ambiguitas dan kerancuan makna. Sehingga, hal yang perlu diperhatikan betul di sini adalah penekanan bahwasanya wajib bagi yang menggunakan istilah seperti ini agar menjadikan kritik yang ia tujukan kepada suatu pemikiran atau suatu pendapat yang dibangun di atas status pemikiran atau pendapat itu, apakah menyelisihi syariat atau tidak; dan juga ia harus memiliki niat yang tulus untuk mengajak manusia kembali ke syariat agama Islam. Syarat agar seseorang bisa menggunakan kalimat semacam ini Agar seseorang tepat dalam menggunakan istilah semacam ini, maka harus memperhatikan dua hal ini: Pertama: Orang yang mengucapkan harus benar-benar memastikan ajakannya adalah benar-benar bagian dari syariat Sehingga, ia tidak memberikan ilusi seolah ia mengajak kepada syariat, padahal bukan dari syariat. Sehingga, ia memasukkan unsur-unsur adat, budaya, atau konstruksi sosial ke dalam agama, dengan sangkaan hal-hal tersebut bagian dari agama. Namun, hal ini bukan berarti adat atau kebiasaan disingkirkan secara mutlak. Akan tetapi, tidak dibenarkan seseorang mengangkatnya ke level hukum syariat, lalu ia ajak orang lain melakukan adat itu, karena menganggapnya bagian dari hukum syariat Islam. Kedua: Orang yang mengucapkan tidak mengajak kepada hal yang menyelisihi syariat dengan klaim beragama secara biasa Jika ajakan beragama secara biasa menyelisihi syariat atau menolak sesuatu yang diperintahkan syariat, maka tidak boleh mengklaim beragama secara biasa dengan maksud beragama mengikuti syariat. Karena, hakikatnya ia mengajak orang lain melakukan sesuatu yang menyelisihi syariat. Contoh: Beberapa orang menolak atau menganggap enteng kewajiban mengenakan hijab, menjaga salat lima waktu di masjid, dan menjaga amalan-amalan sunah dengan klaim hal-hal itu terlalu fanatik dan berlebihan. Sebab, bagi dia “beragama itu yang biasa-biasa saja.” Jika seperti itu, maka klaim beragama yang biasa hakikatnya adalah bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Dengan memahami dua hal di atas, kita akan memahami celah kekeliruan dari ucapan-ucapan semacam itu. Sebab, bagi pengucapnya, memenuhi hal-hal yang wajib dan menjauhi hal-hal yang haram adalah tanda-tanda beragama yang fanatik, berlebihan, atau ekstrim. Kemudian, apabila kita dakwahi si empunya ucapan, dia mengelak, “Jadi orang jangan baper, santai aja ngomongin urusan begini.” Baca juga: Jangan Menjadi Penuntut Ilmu yang Angkuh dan Sombong Sebab kemunculan ucapan semacam ini Pola pikir semacam ini muncul ketika beragama secara biasa ala mereka didasari hal-hal yang biasa mereka lakukan atau perilaku-perilaku yang tersebar di masyarakat. Maka, apabila seseorang terbiasa bertransaksi ribawi, menganggap enteng menutup aurat, terlalu “toleran” dalam masalah menundukkan pandangan, bermudah-mudahan dalam berinteraksi dengan lawan jenis, mendengarkan musik, maka standar normal bagi dia tidaklah patut dinormalisasi. Kita harus tetap menganggap hal-hal tersebut sebagai hal yang serius. Sebab, hukum Allah tidak mengalami pembaruan. Tidak pula menghalalkan yang haram hanya karena alasan sudah menjadi budaya yang tersebar. Demikianlah, Allah Ta’ala sudah memperingatkan, وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” (QS. Al-An‘ām: 116) Sehingga, menganggap suatu pola beragama tertentu sebagai berlebihan karena menyelisihi kebiasaan masyarakat adalah anggapan yang keliru. Sebab, Allah sendirilah yang telah memberi tahu bahwa mayoritas manusia di muka bumi tidak berada di atas kebenaran. Imam Malik rahimahullah juga pernah berkata ketika menjelaskan standar kebenaran, mana yang harusnya menjadi patokan, كُلُّ أَحَدٍ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُرَدُّ إِلا صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ ﷺ “Setiap orang ucapannya dapat diterima atau ditolak, kecuali pemilik kubur ini (yaitu Rasulullah).” [1] Di dalam Ensiklopedia Akidah (Al-Mawsū‘ah Al-‘Aqā’idiyyah) dorar.net, juga dijelaskan bahwa salah satu kaidah dalam mengetahui kebenaran adalah الحقُّ ما وافق الدَّليلَ من غيرِ التفاتٍ إلى كثرةِ المُقبِلينَ، أو قِلَّة المعرِضينَ؛ فالحَقُّ لا يوزَن بالرِّجالِ، وإنَّما يوزَن الرِّجالُ بالحَقِّ، ومجرَّدُ نُفورِ النَّافِرينَ، أو محبَّةُ الموافِقينَ لا يدُلُّ على صِحَّةِ قَولٍ أو فسادِه. “Kebenaran dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan dalil, bukan banyaknya orang yang menerima atau sedikitnya orang yang menolak. Sebab, kebenaran tidak ditimbang berdasarkan opini seseorang. Akan tetapi, opini seseorang yang perlu ditimbang dengan kebenaran. Ketiadaan orang yang menerima kebenaran atau cintanya orang-orang “munafik” terhadap suatu hal, tidak membuat suatu ucapan menjadi benar atau salah.” [2] Kesimpulan Jangan sampai kita menjadikan hawa nafsu kita sebagai pijakan dalam menilai suatu perbuatan. Sehingga, sesuatu yang memang bagian dari ajaran Islam disebut fanatik atau berlebihan. Apalagi, jika ucapan tersebut terlontar ketika melihat teman atau saudaranya mulai berhijrah memperbaiki dirinya dengan menjalankan syariat Islam dan mempelajari agama dengan serius. Kepada orang-orang demikian, kami katakan sebagaimana yang Allah firmankan, أَفَنَجْعَلُ ٱلْمُسْلِمِينَ كَٱلْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ أَمْ لَكُمْ كِتَـٰبٌۭ فِيهِ تَدْرُسُونَ إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ “Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang (menjalankan syariat) Islam itu seperti orang-orang berdosa? Ada apa dengan kalian? Bagaimana kalian membuat keputusan? Atau apakah kalian mempunyai kitab yang kalian baca? Sehingga kalian bisa memiliki apa pun yang kalian pilih?” (QS. Al-Qalam: 35-38) Sehingga, sikap yang tepat manakala melihat seseorang yang rajin beribadah dan menuntut ilmu adalah: Pertama: Berusaha menjadi sepertinya Kedua: Apabila tidak mampu, maka berdoa agar menjadi sepertinya Ketiga: Apabila masih tidak mampu, maka paling tidak jangan nyinyir atau merendahkannya dengan berucap, “Beragama yang biasa-biasa saja to.” Sebab, kalau sudah berani mengucapkan perkataan seperti itu, maka bisa dipastikan, si empunya ucapan tidak mempunyai penghormatan terhadap ajaran Islam atau kurang ilmu, tetapi tidak berusaha mencerdaskan diri, sehingga menjadi angkuh dengan sedikit ilmu yang ia miliki. Maka, jadilah orang yang rendah hati seperti yang dikatakan Imam Syafi‘i rahimahullah, أحب الصالحين ولست منهم لَعَلّي أَن أَنالَ بِهِم شَفاعَه “Aku mencintai orang-orang saleh, meskipun aku bukan bagian dari mereka. Semoga dengan membersamai mereka, aku mendapat syafaat.” [3] Baca juga: Kesombongan Menghalangi Hidayah *** Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diintisarikan dari kitab Zukhruf Al-Qaul pada Bab 30 dengan judul Al-Tadayyun Al-Ṭabī‘i dengan beberapa tambahan.   Catatan kaki: [1] As-Sakhāwi. 1985. Al-Maqāṣid Al-Hasanah fī Bayāni Kaṣīrin min Al-Ahādīṣ Al-Musytahirah ’alā Al-Alsinah. Beirut: Dār Al-Kitāb Al-‘Arabi. Hlm. 513 [2] https://dorar.net/aqeeda/149/المبحث-الخامس-من-قواعد-الرد-على-المخالفين-الحق-لا-يعرف-بالرجال،-فإذا-عرف-الحق-عرف-أهله [3] https://www.aldiwan.net/poem24674.html Tags: cara beragama

“Beragama Itu yang Biasa-Biasa Saja”

Daftar Isi Toggle Kemungkinan maksud “beragama secara biasa”Syarat agar seseorang bisa menggunakan kalimat semacam iniPertama: Orang yang mengucapkan harus benar-benar memastikan ajakannya adalah benar-benar bagian dari syariatKedua: Orang yang mengucapkan tidak mengajak kepada hal yang menyelisihi syariat dengan klaim beragama secara biasaSebab kemunculan ucapan semacam iniKesimpulan Salah satu ucapan yang sering terdengar ketika sedang membahas topik agama adalah “beragama itu biasa saja”, “beragama yang normal saja”, “beragama sesuai tabiat manusia”, dan lain sebagainya. Seringkali, ucapan seperti ini terlontar untuk menjustifikasi atau menganggap benar suatu perbuatan, atau mencela suatu perilaku dan menjelaskan letak kekeliruannya. Untuk itu, mari kita bedah ucapan ini dan kita tinjau ulang konsep beragama secara biasa ini. Apa maksud dari konsep beragama secara biasa? Meski ucapan seperti ini sering terdengar, tetapi hampir tidak pernah bisa kita dapati ada yang dapat menjelaskan maksudnya. Sehingga, atas dasar apa sesuatu itu disebut sebagai perilaku beragama biasa? Atau suatu perilaku keluar dari standar beragama biasa? Terlebih, jika ucapan tersebut menjadi suatu patokan atau kaidah menilai suatu perbuatan. Sehingga, ucapan itu bukan sekadar kata-kata atau istilah, tetapi berubah menjadi standar yang digunakan masyarakat untuk menghakimi suatu hal. Orang-orang pun dapat menolak, menerima, menyukai, dan memperbolehkan sesuatu berdasarkan sifat “biasa”, “normal”, dan “sesuai tabiat manusia”. Maka, sebelum kita menjadikan ucapan semacam itu sebagai sebuah dalil pembenaran, mari berpikir sejenak, “Dasar apa yang dipakai untuk menilai sesuatu itu biasa, normal, sesuai tabiat manusia?” Sayangnya, pertanyaan demikian tidak pernah terlintas di benak “mereka” yang biasa menggunakannya. Padahal, ucapan semacam itu sering digunakan untuk menganggap benar suatu opini atau perilaku dan menolak perintah agama. Hal seperti ini merupakan suatu bentuk ketidakilmiahan dalam bersikap. Alih-alih menelusuri ucapan-ucapan semacam itu, lalu ia analisis dan kembalikan kepada kaidah dan usul syariat, malah ucapan itulah yang menjadi kaidah untuk menghakimi kaidah dan usul syariat. Kemungkinan maksud “beragama secara biasa” Jika dikatakan pola beragama tertentu adalah biasa atau normal, bisa jadi maknanya beragama yang pertengahan, tidak berlebihan dan tidak menambah-nambah hukum syariat. Normal, biasa, dan sesuai fitrah manusia. Maknanya, ia sesuai dengan dalil-dalil syariat, tidak terpengaruh faktor-faktor baru yang melenceng dari agama. Sehingga, maksud pengucap adalah membedakan antara beragama yang terpengaruh dengan faktor tertentu dan beragama yang sesungguhnya, yaitu yang sesuai syariat dan bebas dari pengaruh eksternal. Yang demikian, berarti maksud pengucap adalah kembali ke beragama yang sesuai syariat. Berdasarkan maksud tersebut, maka beragama secara biasa dan normal hakikatnya adalah beragama mengikuti syariat dan tidak menyelisihi hukum syariat. Jika maksudnya demikian, maka itu adalah maksud yang sangat bagus. Sebab, berisi penekanan terhadap kaidah manhaj yang sangat penting, yaitu kembali kepada dalil-dalil di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ. Hanya saja, ada suatu keganjilan dalam penamaan istilah beragama secara biasa, normal, dan sesuai tabiat manusia. Sebab, penamaan tersebut memiliki ambiguitas dan kerancuan makna. Sehingga, hal yang perlu diperhatikan betul di sini adalah penekanan bahwasanya wajib bagi yang menggunakan istilah seperti ini agar menjadikan kritik yang ia tujukan kepada suatu pemikiran atau suatu pendapat yang dibangun di atas status pemikiran atau pendapat itu, apakah menyelisihi syariat atau tidak; dan juga ia harus memiliki niat yang tulus untuk mengajak manusia kembali ke syariat agama Islam. Syarat agar seseorang bisa menggunakan kalimat semacam ini Agar seseorang tepat dalam menggunakan istilah semacam ini, maka harus memperhatikan dua hal ini: Pertama: Orang yang mengucapkan harus benar-benar memastikan ajakannya adalah benar-benar bagian dari syariat Sehingga, ia tidak memberikan ilusi seolah ia mengajak kepada syariat, padahal bukan dari syariat. Sehingga, ia memasukkan unsur-unsur adat, budaya, atau konstruksi sosial ke dalam agama, dengan sangkaan hal-hal tersebut bagian dari agama. Namun, hal ini bukan berarti adat atau kebiasaan disingkirkan secara mutlak. Akan tetapi, tidak dibenarkan seseorang mengangkatnya ke level hukum syariat, lalu ia ajak orang lain melakukan adat itu, karena menganggapnya bagian dari hukum syariat Islam. Kedua: Orang yang mengucapkan tidak mengajak kepada hal yang menyelisihi syariat dengan klaim beragama secara biasa Jika ajakan beragama secara biasa menyelisihi syariat atau menolak sesuatu yang diperintahkan syariat, maka tidak boleh mengklaim beragama secara biasa dengan maksud beragama mengikuti syariat. Karena, hakikatnya ia mengajak orang lain melakukan sesuatu yang menyelisihi syariat. Contoh: Beberapa orang menolak atau menganggap enteng kewajiban mengenakan hijab, menjaga salat lima waktu di masjid, dan menjaga amalan-amalan sunah dengan klaim hal-hal itu terlalu fanatik dan berlebihan. Sebab, bagi dia “beragama itu yang biasa-biasa saja.” Jika seperti itu, maka klaim beragama yang biasa hakikatnya adalah bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Dengan memahami dua hal di atas, kita akan memahami celah kekeliruan dari ucapan-ucapan semacam itu. Sebab, bagi pengucapnya, memenuhi hal-hal yang wajib dan menjauhi hal-hal yang haram adalah tanda-tanda beragama yang fanatik, berlebihan, atau ekstrim. Kemudian, apabila kita dakwahi si empunya ucapan, dia mengelak, “Jadi orang jangan baper, santai aja ngomongin urusan begini.” Baca juga: Jangan Menjadi Penuntut Ilmu yang Angkuh dan Sombong Sebab kemunculan ucapan semacam ini Pola pikir semacam ini muncul ketika beragama secara biasa ala mereka didasari hal-hal yang biasa mereka lakukan atau perilaku-perilaku yang tersebar di masyarakat. Maka, apabila seseorang terbiasa bertransaksi ribawi, menganggap enteng menutup aurat, terlalu “toleran” dalam masalah menundukkan pandangan, bermudah-mudahan dalam berinteraksi dengan lawan jenis, mendengarkan musik, maka standar normal bagi dia tidaklah patut dinormalisasi. Kita harus tetap menganggap hal-hal tersebut sebagai hal yang serius. Sebab, hukum Allah tidak mengalami pembaruan. Tidak pula menghalalkan yang haram hanya karena alasan sudah menjadi budaya yang tersebar. Demikianlah, Allah Ta’ala sudah memperingatkan, وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” (QS. Al-An‘ām: 116) Sehingga, menganggap suatu pola beragama tertentu sebagai berlebihan karena menyelisihi kebiasaan masyarakat adalah anggapan yang keliru. Sebab, Allah sendirilah yang telah memberi tahu bahwa mayoritas manusia di muka bumi tidak berada di atas kebenaran. Imam Malik rahimahullah juga pernah berkata ketika menjelaskan standar kebenaran, mana yang harusnya menjadi patokan, كُلُّ أَحَدٍ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُرَدُّ إِلا صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ ﷺ “Setiap orang ucapannya dapat diterima atau ditolak, kecuali pemilik kubur ini (yaitu Rasulullah).” [1] Di dalam Ensiklopedia Akidah (Al-Mawsū‘ah Al-‘Aqā’idiyyah) dorar.net, juga dijelaskan bahwa salah satu kaidah dalam mengetahui kebenaran adalah الحقُّ ما وافق الدَّليلَ من غيرِ التفاتٍ إلى كثرةِ المُقبِلينَ، أو قِلَّة المعرِضينَ؛ فالحَقُّ لا يوزَن بالرِّجالِ، وإنَّما يوزَن الرِّجالُ بالحَقِّ، ومجرَّدُ نُفورِ النَّافِرينَ، أو محبَّةُ الموافِقينَ لا يدُلُّ على صِحَّةِ قَولٍ أو فسادِه. “Kebenaran dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan dalil, bukan banyaknya orang yang menerima atau sedikitnya orang yang menolak. Sebab, kebenaran tidak ditimbang berdasarkan opini seseorang. Akan tetapi, opini seseorang yang perlu ditimbang dengan kebenaran. Ketiadaan orang yang menerima kebenaran atau cintanya orang-orang “munafik” terhadap suatu hal, tidak membuat suatu ucapan menjadi benar atau salah.” [2] Kesimpulan Jangan sampai kita menjadikan hawa nafsu kita sebagai pijakan dalam menilai suatu perbuatan. Sehingga, sesuatu yang memang bagian dari ajaran Islam disebut fanatik atau berlebihan. Apalagi, jika ucapan tersebut terlontar ketika melihat teman atau saudaranya mulai berhijrah memperbaiki dirinya dengan menjalankan syariat Islam dan mempelajari agama dengan serius. Kepada orang-orang demikian, kami katakan sebagaimana yang Allah firmankan, أَفَنَجْعَلُ ٱلْمُسْلِمِينَ كَٱلْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ أَمْ لَكُمْ كِتَـٰبٌۭ فِيهِ تَدْرُسُونَ إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ “Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang (menjalankan syariat) Islam itu seperti orang-orang berdosa? Ada apa dengan kalian? Bagaimana kalian membuat keputusan? Atau apakah kalian mempunyai kitab yang kalian baca? Sehingga kalian bisa memiliki apa pun yang kalian pilih?” (QS. Al-Qalam: 35-38) Sehingga, sikap yang tepat manakala melihat seseorang yang rajin beribadah dan menuntut ilmu adalah: Pertama: Berusaha menjadi sepertinya Kedua: Apabila tidak mampu, maka berdoa agar menjadi sepertinya Ketiga: Apabila masih tidak mampu, maka paling tidak jangan nyinyir atau merendahkannya dengan berucap, “Beragama yang biasa-biasa saja to.” Sebab, kalau sudah berani mengucapkan perkataan seperti itu, maka bisa dipastikan, si empunya ucapan tidak mempunyai penghormatan terhadap ajaran Islam atau kurang ilmu, tetapi tidak berusaha mencerdaskan diri, sehingga menjadi angkuh dengan sedikit ilmu yang ia miliki. Maka, jadilah orang yang rendah hati seperti yang dikatakan Imam Syafi‘i rahimahullah, أحب الصالحين ولست منهم لَعَلّي أَن أَنالَ بِهِم شَفاعَه “Aku mencintai orang-orang saleh, meskipun aku bukan bagian dari mereka. Semoga dengan membersamai mereka, aku mendapat syafaat.” [3] Baca juga: Kesombongan Menghalangi Hidayah *** Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diintisarikan dari kitab Zukhruf Al-Qaul pada Bab 30 dengan judul Al-Tadayyun Al-Ṭabī‘i dengan beberapa tambahan.   Catatan kaki: [1] As-Sakhāwi. 1985. Al-Maqāṣid Al-Hasanah fī Bayāni Kaṣīrin min Al-Ahādīṣ Al-Musytahirah ’alā Al-Alsinah. Beirut: Dār Al-Kitāb Al-‘Arabi. Hlm. 513 [2] https://dorar.net/aqeeda/149/المبحث-الخامس-من-قواعد-الرد-على-المخالفين-الحق-لا-يعرف-بالرجال،-فإذا-عرف-الحق-عرف-أهله [3] https://www.aldiwan.net/poem24674.html Tags: cara beragama
Daftar Isi Toggle Kemungkinan maksud “beragama secara biasa”Syarat agar seseorang bisa menggunakan kalimat semacam iniPertama: Orang yang mengucapkan harus benar-benar memastikan ajakannya adalah benar-benar bagian dari syariatKedua: Orang yang mengucapkan tidak mengajak kepada hal yang menyelisihi syariat dengan klaim beragama secara biasaSebab kemunculan ucapan semacam iniKesimpulan Salah satu ucapan yang sering terdengar ketika sedang membahas topik agama adalah “beragama itu biasa saja”, “beragama yang normal saja”, “beragama sesuai tabiat manusia”, dan lain sebagainya. Seringkali, ucapan seperti ini terlontar untuk menjustifikasi atau menganggap benar suatu perbuatan, atau mencela suatu perilaku dan menjelaskan letak kekeliruannya. Untuk itu, mari kita bedah ucapan ini dan kita tinjau ulang konsep beragama secara biasa ini. Apa maksud dari konsep beragama secara biasa? Meski ucapan seperti ini sering terdengar, tetapi hampir tidak pernah bisa kita dapati ada yang dapat menjelaskan maksudnya. Sehingga, atas dasar apa sesuatu itu disebut sebagai perilaku beragama biasa? Atau suatu perilaku keluar dari standar beragama biasa? Terlebih, jika ucapan tersebut menjadi suatu patokan atau kaidah menilai suatu perbuatan. Sehingga, ucapan itu bukan sekadar kata-kata atau istilah, tetapi berubah menjadi standar yang digunakan masyarakat untuk menghakimi suatu hal. Orang-orang pun dapat menolak, menerima, menyukai, dan memperbolehkan sesuatu berdasarkan sifat “biasa”, “normal”, dan “sesuai tabiat manusia”. Maka, sebelum kita menjadikan ucapan semacam itu sebagai sebuah dalil pembenaran, mari berpikir sejenak, “Dasar apa yang dipakai untuk menilai sesuatu itu biasa, normal, sesuai tabiat manusia?” Sayangnya, pertanyaan demikian tidak pernah terlintas di benak “mereka” yang biasa menggunakannya. Padahal, ucapan semacam itu sering digunakan untuk menganggap benar suatu opini atau perilaku dan menolak perintah agama. Hal seperti ini merupakan suatu bentuk ketidakilmiahan dalam bersikap. Alih-alih menelusuri ucapan-ucapan semacam itu, lalu ia analisis dan kembalikan kepada kaidah dan usul syariat, malah ucapan itulah yang menjadi kaidah untuk menghakimi kaidah dan usul syariat. Kemungkinan maksud “beragama secara biasa” Jika dikatakan pola beragama tertentu adalah biasa atau normal, bisa jadi maknanya beragama yang pertengahan, tidak berlebihan dan tidak menambah-nambah hukum syariat. Normal, biasa, dan sesuai fitrah manusia. Maknanya, ia sesuai dengan dalil-dalil syariat, tidak terpengaruh faktor-faktor baru yang melenceng dari agama. Sehingga, maksud pengucap adalah membedakan antara beragama yang terpengaruh dengan faktor tertentu dan beragama yang sesungguhnya, yaitu yang sesuai syariat dan bebas dari pengaruh eksternal. Yang demikian, berarti maksud pengucap adalah kembali ke beragama yang sesuai syariat. Berdasarkan maksud tersebut, maka beragama secara biasa dan normal hakikatnya adalah beragama mengikuti syariat dan tidak menyelisihi hukum syariat. Jika maksudnya demikian, maka itu adalah maksud yang sangat bagus. Sebab, berisi penekanan terhadap kaidah manhaj yang sangat penting, yaitu kembali kepada dalil-dalil di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ. Hanya saja, ada suatu keganjilan dalam penamaan istilah beragama secara biasa, normal, dan sesuai tabiat manusia. Sebab, penamaan tersebut memiliki ambiguitas dan kerancuan makna. Sehingga, hal yang perlu diperhatikan betul di sini adalah penekanan bahwasanya wajib bagi yang menggunakan istilah seperti ini agar menjadikan kritik yang ia tujukan kepada suatu pemikiran atau suatu pendapat yang dibangun di atas status pemikiran atau pendapat itu, apakah menyelisihi syariat atau tidak; dan juga ia harus memiliki niat yang tulus untuk mengajak manusia kembali ke syariat agama Islam. Syarat agar seseorang bisa menggunakan kalimat semacam ini Agar seseorang tepat dalam menggunakan istilah semacam ini, maka harus memperhatikan dua hal ini: Pertama: Orang yang mengucapkan harus benar-benar memastikan ajakannya adalah benar-benar bagian dari syariat Sehingga, ia tidak memberikan ilusi seolah ia mengajak kepada syariat, padahal bukan dari syariat. Sehingga, ia memasukkan unsur-unsur adat, budaya, atau konstruksi sosial ke dalam agama, dengan sangkaan hal-hal tersebut bagian dari agama. Namun, hal ini bukan berarti adat atau kebiasaan disingkirkan secara mutlak. Akan tetapi, tidak dibenarkan seseorang mengangkatnya ke level hukum syariat, lalu ia ajak orang lain melakukan adat itu, karena menganggapnya bagian dari hukum syariat Islam. Kedua: Orang yang mengucapkan tidak mengajak kepada hal yang menyelisihi syariat dengan klaim beragama secara biasa Jika ajakan beragama secara biasa menyelisihi syariat atau menolak sesuatu yang diperintahkan syariat, maka tidak boleh mengklaim beragama secara biasa dengan maksud beragama mengikuti syariat. Karena, hakikatnya ia mengajak orang lain melakukan sesuatu yang menyelisihi syariat. Contoh: Beberapa orang menolak atau menganggap enteng kewajiban mengenakan hijab, menjaga salat lima waktu di masjid, dan menjaga amalan-amalan sunah dengan klaim hal-hal itu terlalu fanatik dan berlebihan. Sebab, bagi dia “beragama itu yang biasa-biasa saja.” Jika seperti itu, maka klaim beragama yang biasa hakikatnya adalah bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Dengan memahami dua hal di atas, kita akan memahami celah kekeliruan dari ucapan-ucapan semacam itu. Sebab, bagi pengucapnya, memenuhi hal-hal yang wajib dan menjauhi hal-hal yang haram adalah tanda-tanda beragama yang fanatik, berlebihan, atau ekstrim. Kemudian, apabila kita dakwahi si empunya ucapan, dia mengelak, “Jadi orang jangan baper, santai aja ngomongin urusan begini.” Baca juga: Jangan Menjadi Penuntut Ilmu yang Angkuh dan Sombong Sebab kemunculan ucapan semacam ini Pola pikir semacam ini muncul ketika beragama secara biasa ala mereka didasari hal-hal yang biasa mereka lakukan atau perilaku-perilaku yang tersebar di masyarakat. Maka, apabila seseorang terbiasa bertransaksi ribawi, menganggap enteng menutup aurat, terlalu “toleran” dalam masalah menundukkan pandangan, bermudah-mudahan dalam berinteraksi dengan lawan jenis, mendengarkan musik, maka standar normal bagi dia tidaklah patut dinormalisasi. Kita harus tetap menganggap hal-hal tersebut sebagai hal yang serius. Sebab, hukum Allah tidak mengalami pembaruan. Tidak pula menghalalkan yang haram hanya karena alasan sudah menjadi budaya yang tersebar. Demikianlah, Allah Ta’ala sudah memperingatkan, وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” (QS. Al-An‘ām: 116) Sehingga, menganggap suatu pola beragama tertentu sebagai berlebihan karena menyelisihi kebiasaan masyarakat adalah anggapan yang keliru. Sebab, Allah sendirilah yang telah memberi tahu bahwa mayoritas manusia di muka bumi tidak berada di atas kebenaran. Imam Malik rahimahullah juga pernah berkata ketika menjelaskan standar kebenaran, mana yang harusnya menjadi patokan, كُلُّ أَحَدٍ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُرَدُّ إِلا صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ ﷺ “Setiap orang ucapannya dapat diterima atau ditolak, kecuali pemilik kubur ini (yaitu Rasulullah).” [1] Di dalam Ensiklopedia Akidah (Al-Mawsū‘ah Al-‘Aqā’idiyyah) dorar.net, juga dijelaskan bahwa salah satu kaidah dalam mengetahui kebenaran adalah الحقُّ ما وافق الدَّليلَ من غيرِ التفاتٍ إلى كثرةِ المُقبِلينَ، أو قِلَّة المعرِضينَ؛ فالحَقُّ لا يوزَن بالرِّجالِ، وإنَّما يوزَن الرِّجالُ بالحَقِّ، ومجرَّدُ نُفورِ النَّافِرينَ، أو محبَّةُ الموافِقينَ لا يدُلُّ على صِحَّةِ قَولٍ أو فسادِه. “Kebenaran dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan dalil, bukan banyaknya orang yang menerima atau sedikitnya orang yang menolak. Sebab, kebenaran tidak ditimbang berdasarkan opini seseorang. Akan tetapi, opini seseorang yang perlu ditimbang dengan kebenaran. Ketiadaan orang yang menerima kebenaran atau cintanya orang-orang “munafik” terhadap suatu hal, tidak membuat suatu ucapan menjadi benar atau salah.” [2] Kesimpulan Jangan sampai kita menjadikan hawa nafsu kita sebagai pijakan dalam menilai suatu perbuatan. Sehingga, sesuatu yang memang bagian dari ajaran Islam disebut fanatik atau berlebihan. Apalagi, jika ucapan tersebut terlontar ketika melihat teman atau saudaranya mulai berhijrah memperbaiki dirinya dengan menjalankan syariat Islam dan mempelajari agama dengan serius. Kepada orang-orang demikian, kami katakan sebagaimana yang Allah firmankan, أَفَنَجْعَلُ ٱلْمُسْلِمِينَ كَٱلْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ أَمْ لَكُمْ كِتَـٰبٌۭ فِيهِ تَدْرُسُونَ إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ “Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang (menjalankan syariat) Islam itu seperti orang-orang berdosa? Ada apa dengan kalian? Bagaimana kalian membuat keputusan? Atau apakah kalian mempunyai kitab yang kalian baca? Sehingga kalian bisa memiliki apa pun yang kalian pilih?” (QS. Al-Qalam: 35-38) Sehingga, sikap yang tepat manakala melihat seseorang yang rajin beribadah dan menuntut ilmu adalah: Pertama: Berusaha menjadi sepertinya Kedua: Apabila tidak mampu, maka berdoa agar menjadi sepertinya Ketiga: Apabila masih tidak mampu, maka paling tidak jangan nyinyir atau merendahkannya dengan berucap, “Beragama yang biasa-biasa saja to.” Sebab, kalau sudah berani mengucapkan perkataan seperti itu, maka bisa dipastikan, si empunya ucapan tidak mempunyai penghormatan terhadap ajaran Islam atau kurang ilmu, tetapi tidak berusaha mencerdaskan diri, sehingga menjadi angkuh dengan sedikit ilmu yang ia miliki. Maka, jadilah orang yang rendah hati seperti yang dikatakan Imam Syafi‘i rahimahullah, أحب الصالحين ولست منهم لَعَلّي أَن أَنالَ بِهِم شَفاعَه “Aku mencintai orang-orang saleh, meskipun aku bukan bagian dari mereka. Semoga dengan membersamai mereka, aku mendapat syafaat.” [3] Baca juga: Kesombongan Menghalangi Hidayah *** Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diintisarikan dari kitab Zukhruf Al-Qaul pada Bab 30 dengan judul Al-Tadayyun Al-Ṭabī‘i dengan beberapa tambahan.   Catatan kaki: [1] As-Sakhāwi. 1985. Al-Maqāṣid Al-Hasanah fī Bayāni Kaṣīrin min Al-Ahādīṣ Al-Musytahirah ’alā Al-Alsinah. Beirut: Dār Al-Kitāb Al-‘Arabi. Hlm. 513 [2] https://dorar.net/aqeeda/149/المبحث-الخامس-من-قواعد-الرد-على-المخالفين-الحق-لا-يعرف-بالرجال،-فإذا-عرف-الحق-عرف-أهله [3] https://www.aldiwan.net/poem24674.html Tags: cara beragama


Daftar Isi Toggle Kemungkinan maksud “beragama secara biasa”Syarat agar seseorang bisa menggunakan kalimat semacam iniPertama: Orang yang mengucapkan harus benar-benar memastikan ajakannya adalah benar-benar bagian dari syariatKedua: Orang yang mengucapkan tidak mengajak kepada hal yang menyelisihi syariat dengan klaim beragama secara biasaSebab kemunculan ucapan semacam iniKesimpulan Salah satu ucapan yang sering terdengar ketika sedang membahas topik agama adalah “beragama itu biasa saja”, “beragama yang normal saja”, “beragama sesuai tabiat manusia”, dan lain sebagainya. Seringkali, ucapan seperti ini terlontar untuk menjustifikasi atau menganggap benar suatu perbuatan, atau mencela suatu perilaku dan menjelaskan letak kekeliruannya. Untuk itu, mari kita bedah ucapan ini dan kita tinjau ulang konsep beragama secara biasa ini. Apa maksud dari konsep beragama secara biasa? Meski ucapan seperti ini sering terdengar, tetapi hampir tidak pernah bisa kita dapati ada yang dapat menjelaskan maksudnya. Sehingga, atas dasar apa sesuatu itu disebut sebagai perilaku beragama biasa? Atau suatu perilaku keluar dari standar beragama biasa? Terlebih, jika ucapan tersebut menjadi suatu patokan atau kaidah menilai suatu perbuatan. Sehingga, ucapan itu bukan sekadar kata-kata atau istilah, tetapi berubah menjadi standar yang digunakan masyarakat untuk menghakimi suatu hal. Orang-orang pun dapat menolak, menerima, menyukai, dan memperbolehkan sesuatu berdasarkan sifat “biasa”, “normal”, dan “sesuai tabiat manusia”. Maka, sebelum kita menjadikan ucapan semacam itu sebagai sebuah dalil pembenaran, mari berpikir sejenak, “Dasar apa yang dipakai untuk menilai sesuatu itu biasa, normal, sesuai tabiat manusia?” Sayangnya, pertanyaan demikian tidak pernah terlintas di benak “mereka” yang biasa menggunakannya. Padahal, ucapan semacam itu sering digunakan untuk menganggap benar suatu opini atau perilaku dan menolak perintah agama. Hal seperti ini merupakan suatu bentuk ketidakilmiahan dalam bersikap. Alih-alih menelusuri ucapan-ucapan semacam itu, lalu ia analisis dan kembalikan kepada kaidah dan usul syariat, malah ucapan itulah yang menjadi kaidah untuk menghakimi kaidah dan usul syariat. Kemungkinan maksud “beragama secara biasa” Jika dikatakan pola beragama tertentu adalah biasa atau normal, bisa jadi maknanya beragama yang pertengahan, tidak berlebihan dan tidak menambah-nambah hukum syariat. Normal, biasa, dan sesuai fitrah manusia. Maknanya, ia sesuai dengan dalil-dalil syariat, tidak terpengaruh faktor-faktor baru yang melenceng dari agama. Sehingga, maksud pengucap adalah membedakan antara beragama yang terpengaruh dengan faktor tertentu dan beragama yang sesungguhnya, yaitu yang sesuai syariat dan bebas dari pengaruh eksternal. Yang demikian, berarti maksud pengucap adalah kembali ke beragama yang sesuai syariat. Berdasarkan maksud tersebut, maka beragama secara biasa dan normal hakikatnya adalah beragama mengikuti syariat dan tidak menyelisihi hukum syariat. Jika maksudnya demikian, maka itu adalah maksud yang sangat bagus. Sebab, berisi penekanan terhadap kaidah manhaj yang sangat penting, yaitu kembali kepada dalil-dalil di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ. Hanya saja, ada suatu keganjilan dalam penamaan istilah beragama secara biasa, normal, dan sesuai tabiat manusia. Sebab, penamaan tersebut memiliki ambiguitas dan kerancuan makna. Sehingga, hal yang perlu diperhatikan betul di sini adalah penekanan bahwasanya wajib bagi yang menggunakan istilah seperti ini agar menjadikan kritik yang ia tujukan kepada suatu pemikiran atau suatu pendapat yang dibangun di atas status pemikiran atau pendapat itu, apakah menyelisihi syariat atau tidak; dan juga ia harus memiliki niat yang tulus untuk mengajak manusia kembali ke syariat agama Islam. Syarat agar seseorang bisa menggunakan kalimat semacam ini Agar seseorang tepat dalam menggunakan istilah semacam ini, maka harus memperhatikan dua hal ini: Pertama: Orang yang mengucapkan harus benar-benar memastikan ajakannya adalah benar-benar bagian dari syariat Sehingga, ia tidak memberikan ilusi seolah ia mengajak kepada syariat, padahal bukan dari syariat. Sehingga, ia memasukkan unsur-unsur adat, budaya, atau konstruksi sosial ke dalam agama, dengan sangkaan hal-hal tersebut bagian dari agama. Namun, hal ini bukan berarti adat atau kebiasaan disingkirkan secara mutlak. Akan tetapi, tidak dibenarkan seseorang mengangkatnya ke level hukum syariat, lalu ia ajak orang lain melakukan adat itu, karena menganggapnya bagian dari hukum syariat Islam. Kedua: Orang yang mengucapkan tidak mengajak kepada hal yang menyelisihi syariat dengan klaim beragama secara biasa Jika ajakan beragama secara biasa menyelisihi syariat atau menolak sesuatu yang diperintahkan syariat, maka tidak boleh mengklaim beragama secara biasa dengan maksud beragama mengikuti syariat. Karena, hakikatnya ia mengajak orang lain melakukan sesuatu yang menyelisihi syariat. Contoh: Beberapa orang menolak atau menganggap enteng kewajiban mengenakan hijab, menjaga salat lima waktu di masjid, dan menjaga amalan-amalan sunah dengan klaim hal-hal itu terlalu fanatik dan berlebihan. Sebab, bagi dia “beragama itu yang biasa-biasa saja.” Jika seperti itu, maka klaim beragama yang biasa hakikatnya adalah bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Dengan memahami dua hal di atas, kita akan memahami celah kekeliruan dari ucapan-ucapan semacam itu. Sebab, bagi pengucapnya, memenuhi hal-hal yang wajib dan menjauhi hal-hal yang haram adalah tanda-tanda beragama yang fanatik, berlebihan, atau ekstrim. Kemudian, apabila kita dakwahi si empunya ucapan, dia mengelak, “Jadi orang jangan baper, santai aja ngomongin urusan begini.” Baca juga: Jangan Menjadi Penuntut Ilmu yang Angkuh dan Sombong Sebab kemunculan ucapan semacam ini Pola pikir semacam ini muncul ketika beragama secara biasa ala mereka didasari hal-hal yang biasa mereka lakukan atau perilaku-perilaku yang tersebar di masyarakat. Maka, apabila seseorang terbiasa bertransaksi ribawi, menganggap enteng menutup aurat, terlalu “toleran” dalam masalah menundukkan pandangan, bermudah-mudahan dalam berinteraksi dengan lawan jenis, mendengarkan musik, maka standar normal bagi dia tidaklah patut dinormalisasi. Kita harus tetap menganggap hal-hal tersebut sebagai hal yang serius. Sebab, hukum Allah tidak mengalami pembaruan. Tidak pula menghalalkan yang haram hanya karena alasan sudah menjadi budaya yang tersebar. Demikianlah, Allah Ta’ala sudah memperingatkan, وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” (QS. Al-An‘ām: 116) Sehingga, menganggap suatu pola beragama tertentu sebagai berlebihan karena menyelisihi kebiasaan masyarakat adalah anggapan yang keliru. Sebab, Allah sendirilah yang telah memberi tahu bahwa mayoritas manusia di muka bumi tidak berada di atas kebenaran. Imam Malik rahimahullah juga pernah berkata ketika menjelaskan standar kebenaran, mana yang harusnya menjadi patokan, كُلُّ أَحَدٍ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُرَدُّ إِلا صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ ﷺ “Setiap orang ucapannya dapat diterima atau ditolak, kecuali pemilik kubur ini (yaitu Rasulullah).” [1] Di dalam Ensiklopedia Akidah (Al-Mawsū‘ah Al-‘Aqā’idiyyah) dorar.net, juga dijelaskan bahwa salah satu kaidah dalam mengetahui kebenaran adalah الحقُّ ما وافق الدَّليلَ من غيرِ التفاتٍ إلى كثرةِ المُقبِلينَ، أو قِلَّة المعرِضينَ؛ فالحَقُّ لا يوزَن بالرِّجالِ، وإنَّما يوزَن الرِّجالُ بالحَقِّ، ومجرَّدُ نُفورِ النَّافِرينَ، أو محبَّةُ الموافِقينَ لا يدُلُّ على صِحَّةِ قَولٍ أو فسادِه. “Kebenaran dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan dalil, bukan banyaknya orang yang menerima atau sedikitnya orang yang menolak. Sebab, kebenaran tidak ditimbang berdasarkan opini seseorang. Akan tetapi, opini seseorang yang perlu ditimbang dengan kebenaran. Ketiadaan orang yang menerima kebenaran atau cintanya orang-orang “munafik” terhadap suatu hal, tidak membuat suatu ucapan menjadi benar atau salah.” [2] Kesimpulan Jangan sampai kita menjadikan hawa nafsu kita sebagai pijakan dalam menilai suatu perbuatan. Sehingga, sesuatu yang memang bagian dari ajaran Islam disebut fanatik atau berlebihan. Apalagi, jika ucapan tersebut terlontar ketika melihat teman atau saudaranya mulai berhijrah memperbaiki dirinya dengan menjalankan syariat Islam dan mempelajari agama dengan serius. Kepada orang-orang demikian, kami katakan sebagaimana yang Allah firmankan, أَفَنَجْعَلُ ٱلْمُسْلِمِينَ كَٱلْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ أَمْ لَكُمْ كِتَـٰبٌۭ فِيهِ تَدْرُسُونَ إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ “Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang (menjalankan syariat) Islam itu seperti orang-orang berdosa? Ada apa dengan kalian? Bagaimana kalian membuat keputusan? Atau apakah kalian mempunyai kitab yang kalian baca? Sehingga kalian bisa memiliki apa pun yang kalian pilih?” (QS. Al-Qalam: 35-38) Sehingga, sikap yang tepat manakala melihat seseorang yang rajin beribadah dan menuntut ilmu adalah: Pertama: Berusaha menjadi sepertinya Kedua: Apabila tidak mampu, maka berdoa agar menjadi sepertinya Ketiga: Apabila masih tidak mampu, maka paling tidak jangan nyinyir atau merendahkannya dengan berucap, “Beragama yang biasa-biasa saja to.” Sebab, kalau sudah berani mengucapkan perkataan seperti itu, maka bisa dipastikan, si empunya ucapan tidak mempunyai penghormatan terhadap ajaran Islam atau kurang ilmu, tetapi tidak berusaha mencerdaskan diri, sehingga menjadi angkuh dengan sedikit ilmu yang ia miliki. Maka, jadilah orang yang rendah hati seperti yang dikatakan Imam Syafi‘i rahimahullah, أحب الصالحين ولست منهم لَعَلّي أَن أَنالَ بِهِم شَفاعَه “Aku mencintai orang-orang saleh, meskipun aku bukan bagian dari mereka. Semoga dengan membersamai mereka, aku mendapat syafaat.” [3] Baca juga: Kesombongan Menghalangi Hidayah *** Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diintisarikan dari kitab Zukhruf Al-Qaul pada Bab 30 dengan judul Al-Tadayyun Al-Ṭabī‘i dengan beberapa tambahan.   Catatan kaki: [1] As-Sakhāwi. 1985. Al-Maqāṣid Al-Hasanah fī Bayāni Kaṣīrin min Al-Ahādīṣ Al-Musytahirah ’alā Al-Alsinah. Beirut: Dār Al-Kitāb Al-‘Arabi. Hlm. 513 [2] https://dorar.net/aqeeda/149/المبحث-الخامس-من-قواعد-الرد-على-المخالفين-الحق-لا-يعرف-بالرجال،-فإذا-عرف-الحق-عرف-أهله [3] https://www.aldiwan.net/poem24674.html Tags: cara beragama

Menyambut Ramadan, Bulan Penuh Kebaikan

Daftar Isi Toggle Satu dua hari menjelang RamadanMenentukan masuknya bulan Ramadan dengan melihat hilalApabila hilal tidak tampak karena tertutup awan atau semacamnyaTidak boleh puasa pada hari yang diragukanBerpuasa dan berhari raya bersama pemerintah Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila telah masuk Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka Jahanam dikunci, dan setan-setan dirantai.” (Muttafaq ‘alaih) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Telah datang kepada kalian Ramadan, suatu bulan yang penuh dengan berkah. Allah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa di bulan itu. Pada bulan itu, pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Pada bulan itu, setan-setan yang bandel pun dibelenggu. Pada bulan itu, Allah memiliki suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya, maka sungguh dia telah terhalang dari kebaikan.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i. Hadis dinyatakan jayyid oleh Syekh Al-Albani dalam Al-Misykat.) Satu dua hari menjelang Ramadan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian mendahului Ramadan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali bagi orang yang sedang menjalani puasa tertentu, maka silahkan dia melakukan puasa pada saat itu.” (Muttafaq ‘alaih) Hadis ini menunjukkan tidak bolehnya melakukan puasa satu hari atau dua hari sebelum Ramadan dengan alasan untuk kehati-hatian. Dibolehkan puasa pada hari-hari itu hanya bagi orang yang punya kebiasaan puasa sunah (misal, senin-kamis atau puasa Daud) kemudian bertepatan dengan hari itu atau bagi orang yang punya utang puasa Ramadan atau punya nazar puasa. (lihat Al-Fiqh Al-Muyassar, hal. 166) Syekh Abdullah Al-Bassam rahimahullah menjelaskan bahwa larangan dalam hadis ini secara lahiriah mengandung makna pengharaman. Meskipun demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa hukumnya adalah makruh. Salah satu hikmah larangan ini adalah larangan sikap tanaththu’/berlebih-lebihan dalam beragama dan larangan dari melampaui batas-batas ketentuan yang telah diwajibkan oleh Allah Ta’ala. Adapun bagi orang yang memiliki utang puasa Ramadan atau puasa nazar, maka pada saat itu berpuasa bukan lagi keringanan baginya, akan tetapi menjadi sebuah kewajiban. Oleh sebab itu, dia wajib untuk berpuasa, karena menunaikan kewajiban lebih diutamakan daripada meninggalkan sesuatu yang makruh. (lihat Taudhih Al-Ahkam, 3:442, cet. Maktabah Al-Aidi) Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa hadis ini mengandung bantahan bagi orang yang berpendapat bolehnya mendahulukan puasa sebelum ru’yah semacam kaum Rafidhah/Syi’ah. Selain itu, ia juga mengandung bantahan bagi orang yang membolehkan puasa sunah muthlaq (puasa sunah tanpa sebab tertentu) pada hari-hari tersebut. (lihat Fath Al-Bari, 4: 151, cet. Dar Al-Hadits) Menentukan masuknya bulan Ramadan dengan melihat hilal Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila kalian melihatnya (hilal Ramadan), maka berpuasalah. Dan apabila kalian melihatnya (hilal Syawal), maka berharirayalah. Apabila ia tertutup mendung atas kalian, maka kira-kirakanlah.” (Muttafaq ‘alaih) Al-Maziri rahimahullah berkata, “Mayoritas fuqaha’/ahli fikih menafsirkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ‘maka kira-kirakanlah’ dengan maksud menyempurnakan bilangan menjadi tiga puluh hari sebagaimana ditafsirkan dalam hadis yang lain. Mereka mengatakan, ‘Tidak boleh dimaknakan bahwa yang dimaksud adalah dengan menggunakan hisab/perhitungan para ahli perbintangan. Karena seandainya umat manusia dibebani dengan cara itu, niscaya akan menyulitkan bagi mereka. Sebab, tidak ada yang mengetahuinya, kecuali beberapa gelintir orang saja. Padahal, syariat itu diperkenalkan kepada umat manusia hanya melalui hal-hal yang bisa dimengerti oleh kebanyakan orang di antara mereka, wallahu a’lam.” (lihat Syarh Muslim, 4: 415) Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Mereka (jumhur ulama) mengatakan, ‘Maksud sabda beliau ‘kira-kirakanlah’ artinya perhatikanlah pada awal bulan dan hitung bulan itu sempurna menjadi tiga puluh hari. Penafsiran ini diperkuat oleh riwayat-riwayat lain yang secara tegas menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah sebagaimana keterangan dalam sabda beliau, “maka, sempurnakanlah bilangannya menjadi tiga puluh hari” atau riwayat lain yang serupa. Dan cara paling tepat dalam menafsirkan suatu hadis adalah dengan melihat kepada hadis pula.” (lihat Fath Al-Bari, 4: 142) Baca juga: Menyoal Metode Hisab Apabila hilal tidak tampak karena tertutup awan atau semacamnya Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berpuasalah ketika sudah melihatnya (hilal Ramadan) dan berharirayalah ketika sudah melihatnya (hilal Syawal). Apabila ia terhalang dari pandangan kalian karena asap/awan, sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh.” (Muttafaq ‘alaih) Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Berdasarkan hadis-hadis ini, jelaslah bahwasanya tidak boleh dilakukan puasa Ramadan sebelum tampaknya hilal. Apabila hilal belum terlihat, maka bulan Sya’ban disempurnakan menjadi tiga puluh hari. Dan tidak boleh dilakukan puasa pada tanggal tiga puluhnya, sama saja apakah malamnya langit cerah ataupun mendung. Hal ini berdasarkan ucapan ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ’anhu, ‘Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan, maka sesungguhnya dia telah durhaka kepada Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam.’ (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i. Bukhari juga menyebutkannya secara mu’allaq/tanpa sanad).” (lihat Majalis Syahri Ramadhan, hal. 17 cet. Dar Al-‘Aqidah) Tidak boleh puasa pada hari yang diragukan Dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata, “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan (yaitu, tanggal 30 Sya’ban saat malam harinya tertutup mendung, pent), maka dia telah durhaka kepada Abul Qasim (Nabi) shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadis hasan sahih.”) Imam Tirmidzi rahimahullah berkata, “Inilah yang diamalkan oleh kebanyakan para ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para tabiin sesudah mereka. Pendapat ini pula yang dipegang oleh Sufyan Ats-Tsauri, Malik bin Anas, Abdullah bin Al-Mubarak, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq. Mereka membenci apabila seseorang berpuasa pada hari yang diragukan….” (lihat Sunan At-Tirmidzi, hal. 172) Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadis ini merupakan dalil yang menunjukkan diharamkannya berpuasa pada hari yang diragukan, karena seorang sahabat tidak mungkin mengucapkan hal itu semata-mata berdasarkan hasil pemikirannya. Oleh sebab itu, hadis ini dihukumi marfu’ (sebagaimana sabda nabi).” (lihat Fath Al-Bari, 4: 141) Berpuasa dan berhari raya bersama pemerintah Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Puasa adalah hari di saat kalian bersama-sama puasa, sedangkan hari raya adalah di saat kalian berhari raya, dan Iduladha adalah hari tatkala kalian menyembelih kurban.” (HR. Tirmidzi disahihkan oleh Syekh Al-Albani) Imam Tirmidzi mengatakan, “Sebagian ulama menafsirkan bahwa maksud hadis ini adalah bahwasanya puasa dan hari raya itu mengikuti jama’ah (pemerintah) dan kebanyakan orang.” (lihat Sunan At-Tirmidzi, hal. 174) Dari Al-‘Aizar, dia menceritakan, “Aku datang kepada Ibrahim pada hari yang diragukan. Maka, dia berkata, ‘Barangkali kamu sedang puasa. Jangan puasa, kecuali bersama jama’ah (masyarakat dan pemerintah, pent).’” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf no.9585) Dari Ja’far bin Sulaiman, dari Habib bin Asy-Syahid, bahwa Muhammad bin Sirin berkata, “Sungguh, aku berbuka sehari di bulan Ramadan dalam keadaan tidak sengaja lebih aku sukai daripada aku harus berpuasa pada hari yang diragukan pada bulan Sya’ban.” Ja’far mengatakan, Asma’ bin ‘Ubaid mengabarkan kepadaku. Dia berkata, “Kami datang kepada Muhammad bin Sirin pada hari yang diragukan. Kami pun berkata, ‘Apa yang harus kami lakukan?’ Maka, beliau berkata kepada pembantunya, ‘Pergilah, coba lihat apakah amir (penguasa) berpuasa atau tidak?'” Dia berkata, “Pada saat itu, yang menjadi amir adalah Adi bin Arthah. Kemudian dia kembali dan melapor, ‘Aku menjumpai beliau tidak berpuasa.’ Asma’ berkata, ‘Muhammad (Ibnu Sirin) meminta makanannya dihidangkan, lalu dia pun makan dan kami ikut makan bersamanya.’” (HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf) Semoga bermanfaat. Baca juga: Puasa dan Berhari Raya Bersama Pemerintah *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: menyambut ramadan

Menyambut Ramadan, Bulan Penuh Kebaikan

Daftar Isi Toggle Satu dua hari menjelang RamadanMenentukan masuknya bulan Ramadan dengan melihat hilalApabila hilal tidak tampak karena tertutup awan atau semacamnyaTidak boleh puasa pada hari yang diragukanBerpuasa dan berhari raya bersama pemerintah Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila telah masuk Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka Jahanam dikunci, dan setan-setan dirantai.” (Muttafaq ‘alaih) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Telah datang kepada kalian Ramadan, suatu bulan yang penuh dengan berkah. Allah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa di bulan itu. Pada bulan itu, pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Pada bulan itu, setan-setan yang bandel pun dibelenggu. Pada bulan itu, Allah memiliki suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya, maka sungguh dia telah terhalang dari kebaikan.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i. Hadis dinyatakan jayyid oleh Syekh Al-Albani dalam Al-Misykat.) Satu dua hari menjelang Ramadan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian mendahului Ramadan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali bagi orang yang sedang menjalani puasa tertentu, maka silahkan dia melakukan puasa pada saat itu.” (Muttafaq ‘alaih) Hadis ini menunjukkan tidak bolehnya melakukan puasa satu hari atau dua hari sebelum Ramadan dengan alasan untuk kehati-hatian. Dibolehkan puasa pada hari-hari itu hanya bagi orang yang punya kebiasaan puasa sunah (misal, senin-kamis atau puasa Daud) kemudian bertepatan dengan hari itu atau bagi orang yang punya utang puasa Ramadan atau punya nazar puasa. (lihat Al-Fiqh Al-Muyassar, hal. 166) Syekh Abdullah Al-Bassam rahimahullah menjelaskan bahwa larangan dalam hadis ini secara lahiriah mengandung makna pengharaman. Meskipun demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa hukumnya adalah makruh. Salah satu hikmah larangan ini adalah larangan sikap tanaththu’/berlebih-lebihan dalam beragama dan larangan dari melampaui batas-batas ketentuan yang telah diwajibkan oleh Allah Ta’ala. Adapun bagi orang yang memiliki utang puasa Ramadan atau puasa nazar, maka pada saat itu berpuasa bukan lagi keringanan baginya, akan tetapi menjadi sebuah kewajiban. Oleh sebab itu, dia wajib untuk berpuasa, karena menunaikan kewajiban lebih diutamakan daripada meninggalkan sesuatu yang makruh. (lihat Taudhih Al-Ahkam, 3:442, cet. Maktabah Al-Aidi) Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa hadis ini mengandung bantahan bagi orang yang berpendapat bolehnya mendahulukan puasa sebelum ru’yah semacam kaum Rafidhah/Syi’ah. Selain itu, ia juga mengandung bantahan bagi orang yang membolehkan puasa sunah muthlaq (puasa sunah tanpa sebab tertentu) pada hari-hari tersebut. (lihat Fath Al-Bari, 4: 151, cet. Dar Al-Hadits) Menentukan masuknya bulan Ramadan dengan melihat hilal Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila kalian melihatnya (hilal Ramadan), maka berpuasalah. Dan apabila kalian melihatnya (hilal Syawal), maka berharirayalah. Apabila ia tertutup mendung atas kalian, maka kira-kirakanlah.” (Muttafaq ‘alaih) Al-Maziri rahimahullah berkata, “Mayoritas fuqaha’/ahli fikih menafsirkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ‘maka kira-kirakanlah’ dengan maksud menyempurnakan bilangan menjadi tiga puluh hari sebagaimana ditafsirkan dalam hadis yang lain. Mereka mengatakan, ‘Tidak boleh dimaknakan bahwa yang dimaksud adalah dengan menggunakan hisab/perhitungan para ahli perbintangan. Karena seandainya umat manusia dibebani dengan cara itu, niscaya akan menyulitkan bagi mereka. Sebab, tidak ada yang mengetahuinya, kecuali beberapa gelintir orang saja. Padahal, syariat itu diperkenalkan kepada umat manusia hanya melalui hal-hal yang bisa dimengerti oleh kebanyakan orang di antara mereka, wallahu a’lam.” (lihat Syarh Muslim, 4: 415) Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Mereka (jumhur ulama) mengatakan, ‘Maksud sabda beliau ‘kira-kirakanlah’ artinya perhatikanlah pada awal bulan dan hitung bulan itu sempurna menjadi tiga puluh hari. Penafsiran ini diperkuat oleh riwayat-riwayat lain yang secara tegas menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah sebagaimana keterangan dalam sabda beliau, “maka, sempurnakanlah bilangannya menjadi tiga puluh hari” atau riwayat lain yang serupa. Dan cara paling tepat dalam menafsirkan suatu hadis adalah dengan melihat kepada hadis pula.” (lihat Fath Al-Bari, 4: 142) Baca juga: Menyoal Metode Hisab Apabila hilal tidak tampak karena tertutup awan atau semacamnya Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berpuasalah ketika sudah melihatnya (hilal Ramadan) dan berharirayalah ketika sudah melihatnya (hilal Syawal). Apabila ia terhalang dari pandangan kalian karena asap/awan, sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh.” (Muttafaq ‘alaih) Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Berdasarkan hadis-hadis ini, jelaslah bahwasanya tidak boleh dilakukan puasa Ramadan sebelum tampaknya hilal. Apabila hilal belum terlihat, maka bulan Sya’ban disempurnakan menjadi tiga puluh hari. Dan tidak boleh dilakukan puasa pada tanggal tiga puluhnya, sama saja apakah malamnya langit cerah ataupun mendung. Hal ini berdasarkan ucapan ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ’anhu, ‘Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan, maka sesungguhnya dia telah durhaka kepada Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam.’ (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i. Bukhari juga menyebutkannya secara mu’allaq/tanpa sanad).” (lihat Majalis Syahri Ramadhan, hal. 17 cet. Dar Al-‘Aqidah) Tidak boleh puasa pada hari yang diragukan Dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata, “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan (yaitu, tanggal 30 Sya’ban saat malam harinya tertutup mendung, pent), maka dia telah durhaka kepada Abul Qasim (Nabi) shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadis hasan sahih.”) Imam Tirmidzi rahimahullah berkata, “Inilah yang diamalkan oleh kebanyakan para ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para tabiin sesudah mereka. Pendapat ini pula yang dipegang oleh Sufyan Ats-Tsauri, Malik bin Anas, Abdullah bin Al-Mubarak, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq. Mereka membenci apabila seseorang berpuasa pada hari yang diragukan….” (lihat Sunan At-Tirmidzi, hal. 172) Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadis ini merupakan dalil yang menunjukkan diharamkannya berpuasa pada hari yang diragukan, karena seorang sahabat tidak mungkin mengucapkan hal itu semata-mata berdasarkan hasil pemikirannya. Oleh sebab itu, hadis ini dihukumi marfu’ (sebagaimana sabda nabi).” (lihat Fath Al-Bari, 4: 141) Berpuasa dan berhari raya bersama pemerintah Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Puasa adalah hari di saat kalian bersama-sama puasa, sedangkan hari raya adalah di saat kalian berhari raya, dan Iduladha adalah hari tatkala kalian menyembelih kurban.” (HR. Tirmidzi disahihkan oleh Syekh Al-Albani) Imam Tirmidzi mengatakan, “Sebagian ulama menafsirkan bahwa maksud hadis ini adalah bahwasanya puasa dan hari raya itu mengikuti jama’ah (pemerintah) dan kebanyakan orang.” (lihat Sunan At-Tirmidzi, hal. 174) Dari Al-‘Aizar, dia menceritakan, “Aku datang kepada Ibrahim pada hari yang diragukan. Maka, dia berkata, ‘Barangkali kamu sedang puasa. Jangan puasa, kecuali bersama jama’ah (masyarakat dan pemerintah, pent).’” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf no.9585) Dari Ja’far bin Sulaiman, dari Habib bin Asy-Syahid, bahwa Muhammad bin Sirin berkata, “Sungguh, aku berbuka sehari di bulan Ramadan dalam keadaan tidak sengaja lebih aku sukai daripada aku harus berpuasa pada hari yang diragukan pada bulan Sya’ban.” Ja’far mengatakan, Asma’ bin ‘Ubaid mengabarkan kepadaku. Dia berkata, “Kami datang kepada Muhammad bin Sirin pada hari yang diragukan. Kami pun berkata, ‘Apa yang harus kami lakukan?’ Maka, beliau berkata kepada pembantunya, ‘Pergilah, coba lihat apakah amir (penguasa) berpuasa atau tidak?'” Dia berkata, “Pada saat itu, yang menjadi amir adalah Adi bin Arthah. Kemudian dia kembali dan melapor, ‘Aku menjumpai beliau tidak berpuasa.’ Asma’ berkata, ‘Muhammad (Ibnu Sirin) meminta makanannya dihidangkan, lalu dia pun makan dan kami ikut makan bersamanya.’” (HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf) Semoga bermanfaat. Baca juga: Puasa dan Berhari Raya Bersama Pemerintah *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: menyambut ramadan
Daftar Isi Toggle Satu dua hari menjelang RamadanMenentukan masuknya bulan Ramadan dengan melihat hilalApabila hilal tidak tampak karena tertutup awan atau semacamnyaTidak boleh puasa pada hari yang diragukanBerpuasa dan berhari raya bersama pemerintah Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila telah masuk Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka Jahanam dikunci, dan setan-setan dirantai.” (Muttafaq ‘alaih) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Telah datang kepada kalian Ramadan, suatu bulan yang penuh dengan berkah. Allah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa di bulan itu. Pada bulan itu, pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Pada bulan itu, setan-setan yang bandel pun dibelenggu. Pada bulan itu, Allah memiliki suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya, maka sungguh dia telah terhalang dari kebaikan.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i. Hadis dinyatakan jayyid oleh Syekh Al-Albani dalam Al-Misykat.) Satu dua hari menjelang Ramadan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian mendahului Ramadan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali bagi orang yang sedang menjalani puasa tertentu, maka silahkan dia melakukan puasa pada saat itu.” (Muttafaq ‘alaih) Hadis ini menunjukkan tidak bolehnya melakukan puasa satu hari atau dua hari sebelum Ramadan dengan alasan untuk kehati-hatian. Dibolehkan puasa pada hari-hari itu hanya bagi orang yang punya kebiasaan puasa sunah (misal, senin-kamis atau puasa Daud) kemudian bertepatan dengan hari itu atau bagi orang yang punya utang puasa Ramadan atau punya nazar puasa. (lihat Al-Fiqh Al-Muyassar, hal. 166) Syekh Abdullah Al-Bassam rahimahullah menjelaskan bahwa larangan dalam hadis ini secara lahiriah mengandung makna pengharaman. Meskipun demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa hukumnya adalah makruh. Salah satu hikmah larangan ini adalah larangan sikap tanaththu’/berlebih-lebihan dalam beragama dan larangan dari melampaui batas-batas ketentuan yang telah diwajibkan oleh Allah Ta’ala. Adapun bagi orang yang memiliki utang puasa Ramadan atau puasa nazar, maka pada saat itu berpuasa bukan lagi keringanan baginya, akan tetapi menjadi sebuah kewajiban. Oleh sebab itu, dia wajib untuk berpuasa, karena menunaikan kewajiban lebih diutamakan daripada meninggalkan sesuatu yang makruh. (lihat Taudhih Al-Ahkam, 3:442, cet. Maktabah Al-Aidi) Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa hadis ini mengandung bantahan bagi orang yang berpendapat bolehnya mendahulukan puasa sebelum ru’yah semacam kaum Rafidhah/Syi’ah. Selain itu, ia juga mengandung bantahan bagi orang yang membolehkan puasa sunah muthlaq (puasa sunah tanpa sebab tertentu) pada hari-hari tersebut. (lihat Fath Al-Bari, 4: 151, cet. Dar Al-Hadits) Menentukan masuknya bulan Ramadan dengan melihat hilal Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila kalian melihatnya (hilal Ramadan), maka berpuasalah. Dan apabila kalian melihatnya (hilal Syawal), maka berharirayalah. Apabila ia tertutup mendung atas kalian, maka kira-kirakanlah.” (Muttafaq ‘alaih) Al-Maziri rahimahullah berkata, “Mayoritas fuqaha’/ahli fikih menafsirkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ‘maka kira-kirakanlah’ dengan maksud menyempurnakan bilangan menjadi tiga puluh hari sebagaimana ditafsirkan dalam hadis yang lain. Mereka mengatakan, ‘Tidak boleh dimaknakan bahwa yang dimaksud adalah dengan menggunakan hisab/perhitungan para ahli perbintangan. Karena seandainya umat manusia dibebani dengan cara itu, niscaya akan menyulitkan bagi mereka. Sebab, tidak ada yang mengetahuinya, kecuali beberapa gelintir orang saja. Padahal, syariat itu diperkenalkan kepada umat manusia hanya melalui hal-hal yang bisa dimengerti oleh kebanyakan orang di antara mereka, wallahu a’lam.” (lihat Syarh Muslim, 4: 415) Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Mereka (jumhur ulama) mengatakan, ‘Maksud sabda beliau ‘kira-kirakanlah’ artinya perhatikanlah pada awal bulan dan hitung bulan itu sempurna menjadi tiga puluh hari. Penafsiran ini diperkuat oleh riwayat-riwayat lain yang secara tegas menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah sebagaimana keterangan dalam sabda beliau, “maka, sempurnakanlah bilangannya menjadi tiga puluh hari” atau riwayat lain yang serupa. Dan cara paling tepat dalam menafsirkan suatu hadis adalah dengan melihat kepada hadis pula.” (lihat Fath Al-Bari, 4: 142) Baca juga: Menyoal Metode Hisab Apabila hilal tidak tampak karena tertutup awan atau semacamnya Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berpuasalah ketika sudah melihatnya (hilal Ramadan) dan berharirayalah ketika sudah melihatnya (hilal Syawal). Apabila ia terhalang dari pandangan kalian karena asap/awan, sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh.” (Muttafaq ‘alaih) Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Berdasarkan hadis-hadis ini, jelaslah bahwasanya tidak boleh dilakukan puasa Ramadan sebelum tampaknya hilal. Apabila hilal belum terlihat, maka bulan Sya’ban disempurnakan menjadi tiga puluh hari. Dan tidak boleh dilakukan puasa pada tanggal tiga puluhnya, sama saja apakah malamnya langit cerah ataupun mendung. Hal ini berdasarkan ucapan ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ’anhu, ‘Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan, maka sesungguhnya dia telah durhaka kepada Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam.’ (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i. Bukhari juga menyebutkannya secara mu’allaq/tanpa sanad).” (lihat Majalis Syahri Ramadhan, hal. 17 cet. Dar Al-‘Aqidah) Tidak boleh puasa pada hari yang diragukan Dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata, “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan (yaitu, tanggal 30 Sya’ban saat malam harinya tertutup mendung, pent), maka dia telah durhaka kepada Abul Qasim (Nabi) shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadis hasan sahih.”) Imam Tirmidzi rahimahullah berkata, “Inilah yang diamalkan oleh kebanyakan para ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para tabiin sesudah mereka. Pendapat ini pula yang dipegang oleh Sufyan Ats-Tsauri, Malik bin Anas, Abdullah bin Al-Mubarak, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq. Mereka membenci apabila seseorang berpuasa pada hari yang diragukan….” (lihat Sunan At-Tirmidzi, hal. 172) Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadis ini merupakan dalil yang menunjukkan diharamkannya berpuasa pada hari yang diragukan, karena seorang sahabat tidak mungkin mengucapkan hal itu semata-mata berdasarkan hasil pemikirannya. Oleh sebab itu, hadis ini dihukumi marfu’ (sebagaimana sabda nabi).” (lihat Fath Al-Bari, 4: 141) Berpuasa dan berhari raya bersama pemerintah Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Puasa adalah hari di saat kalian bersama-sama puasa, sedangkan hari raya adalah di saat kalian berhari raya, dan Iduladha adalah hari tatkala kalian menyembelih kurban.” (HR. Tirmidzi disahihkan oleh Syekh Al-Albani) Imam Tirmidzi mengatakan, “Sebagian ulama menafsirkan bahwa maksud hadis ini adalah bahwasanya puasa dan hari raya itu mengikuti jama’ah (pemerintah) dan kebanyakan orang.” (lihat Sunan At-Tirmidzi, hal. 174) Dari Al-‘Aizar, dia menceritakan, “Aku datang kepada Ibrahim pada hari yang diragukan. Maka, dia berkata, ‘Barangkali kamu sedang puasa. Jangan puasa, kecuali bersama jama’ah (masyarakat dan pemerintah, pent).’” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf no.9585) Dari Ja’far bin Sulaiman, dari Habib bin Asy-Syahid, bahwa Muhammad bin Sirin berkata, “Sungguh, aku berbuka sehari di bulan Ramadan dalam keadaan tidak sengaja lebih aku sukai daripada aku harus berpuasa pada hari yang diragukan pada bulan Sya’ban.” Ja’far mengatakan, Asma’ bin ‘Ubaid mengabarkan kepadaku. Dia berkata, “Kami datang kepada Muhammad bin Sirin pada hari yang diragukan. Kami pun berkata, ‘Apa yang harus kami lakukan?’ Maka, beliau berkata kepada pembantunya, ‘Pergilah, coba lihat apakah amir (penguasa) berpuasa atau tidak?'” Dia berkata, “Pada saat itu, yang menjadi amir adalah Adi bin Arthah. Kemudian dia kembali dan melapor, ‘Aku menjumpai beliau tidak berpuasa.’ Asma’ berkata, ‘Muhammad (Ibnu Sirin) meminta makanannya dihidangkan, lalu dia pun makan dan kami ikut makan bersamanya.’” (HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf) Semoga bermanfaat. Baca juga: Puasa dan Berhari Raya Bersama Pemerintah *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: menyambut ramadan


Daftar Isi Toggle Satu dua hari menjelang RamadanMenentukan masuknya bulan Ramadan dengan melihat hilalApabila hilal tidak tampak karena tertutup awan atau semacamnyaTidak boleh puasa pada hari yang diragukanBerpuasa dan berhari raya bersama pemerintah Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila telah masuk Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka Jahanam dikunci, dan setan-setan dirantai.” (Muttafaq ‘alaih) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Telah datang kepada kalian Ramadan, suatu bulan yang penuh dengan berkah. Allah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa di bulan itu. Pada bulan itu, pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Pada bulan itu, setan-setan yang bandel pun dibelenggu. Pada bulan itu, Allah memiliki suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya, maka sungguh dia telah terhalang dari kebaikan.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i. Hadis dinyatakan jayyid oleh Syekh Al-Albani dalam Al-Misykat.) Satu dua hari menjelang Ramadan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian mendahului Ramadan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali bagi orang yang sedang menjalani puasa tertentu, maka silahkan dia melakukan puasa pada saat itu.” (Muttafaq ‘alaih) Hadis ini menunjukkan tidak bolehnya melakukan puasa satu hari atau dua hari sebelum Ramadan dengan alasan untuk kehati-hatian. Dibolehkan puasa pada hari-hari itu hanya bagi orang yang punya kebiasaan puasa sunah (misal, senin-kamis atau puasa Daud) kemudian bertepatan dengan hari itu atau bagi orang yang punya utang puasa Ramadan atau punya nazar puasa. (lihat Al-Fiqh Al-Muyassar, hal. 166) Syekh Abdullah Al-Bassam rahimahullah menjelaskan bahwa larangan dalam hadis ini secara lahiriah mengandung makna pengharaman. Meskipun demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa hukumnya adalah makruh. Salah satu hikmah larangan ini adalah larangan sikap tanaththu’/berlebih-lebihan dalam beragama dan larangan dari melampaui batas-batas ketentuan yang telah diwajibkan oleh Allah Ta’ala. Adapun bagi orang yang memiliki utang puasa Ramadan atau puasa nazar, maka pada saat itu berpuasa bukan lagi keringanan baginya, akan tetapi menjadi sebuah kewajiban. Oleh sebab itu, dia wajib untuk berpuasa, karena menunaikan kewajiban lebih diutamakan daripada meninggalkan sesuatu yang makruh. (lihat Taudhih Al-Ahkam, 3:442, cet. Maktabah Al-Aidi) Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa hadis ini mengandung bantahan bagi orang yang berpendapat bolehnya mendahulukan puasa sebelum ru’yah semacam kaum Rafidhah/Syi’ah. Selain itu, ia juga mengandung bantahan bagi orang yang membolehkan puasa sunah muthlaq (puasa sunah tanpa sebab tertentu) pada hari-hari tersebut. (lihat Fath Al-Bari, 4: 151, cet. Dar Al-Hadits) Menentukan masuknya bulan Ramadan dengan melihat hilal Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila kalian melihatnya (hilal Ramadan), maka berpuasalah. Dan apabila kalian melihatnya (hilal Syawal), maka berharirayalah. Apabila ia tertutup mendung atas kalian, maka kira-kirakanlah.” (Muttafaq ‘alaih) Al-Maziri rahimahullah berkata, “Mayoritas fuqaha’/ahli fikih menafsirkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ‘maka kira-kirakanlah’ dengan maksud menyempurnakan bilangan menjadi tiga puluh hari sebagaimana ditafsirkan dalam hadis yang lain. Mereka mengatakan, ‘Tidak boleh dimaknakan bahwa yang dimaksud adalah dengan menggunakan hisab/perhitungan para ahli perbintangan. Karena seandainya umat manusia dibebani dengan cara itu, niscaya akan menyulitkan bagi mereka. Sebab, tidak ada yang mengetahuinya, kecuali beberapa gelintir orang saja. Padahal, syariat itu diperkenalkan kepada umat manusia hanya melalui hal-hal yang bisa dimengerti oleh kebanyakan orang di antara mereka, wallahu a’lam.” (lihat Syarh Muslim, 4: 415) Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Mereka (jumhur ulama) mengatakan, ‘Maksud sabda beliau ‘kira-kirakanlah’ artinya perhatikanlah pada awal bulan dan hitung bulan itu sempurna menjadi tiga puluh hari. Penafsiran ini diperkuat oleh riwayat-riwayat lain yang secara tegas menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah sebagaimana keterangan dalam sabda beliau, “maka, sempurnakanlah bilangannya menjadi tiga puluh hari” atau riwayat lain yang serupa. Dan cara paling tepat dalam menafsirkan suatu hadis adalah dengan melihat kepada hadis pula.” (lihat Fath Al-Bari, 4: 142) Baca juga: Menyoal Metode Hisab Apabila hilal tidak tampak karena tertutup awan atau semacamnya Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berpuasalah ketika sudah melihatnya (hilal Ramadan) dan berharirayalah ketika sudah melihatnya (hilal Syawal). Apabila ia terhalang dari pandangan kalian karena asap/awan, sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh.” (Muttafaq ‘alaih) Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Berdasarkan hadis-hadis ini, jelaslah bahwasanya tidak boleh dilakukan puasa Ramadan sebelum tampaknya hilal. Apabila hilal belum terlihat, maka bulan Sya’ban disempurnakan menjadi tiga puluh hari. Dan tidak boleh dilakukan puasa pada tanggal tiga puluhnya, sama saja apakah malamnya langit cerah ataupun mendung. Hal ini berdasarkan ucapan ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ’anhu, ‘Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan, maka sesungguhnya dia telah durhaka kepada Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam.’ (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i. Bukhari juga menyebutkannya secara mu’allaq/tanpa sanad).” (lihat Majalis Syahri Ramadhan, hal. 17 cet. Dar Al-‘Aqidah) Tidak boleh puasa pada hari yang diragukan Dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata, “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan (yaitu, tanggal 30 Sya’ban saat malam harinya tertutup mendung, pent), maka dia telah durhaka kepada Abul Qasim (Nabi) shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadis hasan sahih.”) Imam Tirmidzi rahimahullah berkata, “Inilah yang diamalkan oleh kebanyakan para ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para tabiin sesudah mereka. Pendapat ini pula yang dipegang oleh Sufyan Ats-Tsauri, Malik bin Anas, Abdullah bin Al-Mubarak, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq. Mereka membenci apabila seseorang berpuasa pada hari yang diragukan….” (lihat Sunan At-Tirmidzi, hal. 172) Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadis ini merupakan dalil yang menunjukkan diharamkannya berpuasa pada hari yang diragukan, karena seorang sahabat tidak mungkin mengucapkan hal itu semata-mata berdasarkan hasil pemikirannya. Oleh sebab itu, hadis ini dihukumi marfu’ (sebagaimana sabda nabi).” (lihat Fath Al-Bari, 4: 141) Berpuasa dan berhari raya bersama pemerintah Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Puasa adalah hari di saat kalian bersama-sama puasa, sedangkan hari raya adalah di saat kalian berhari raya, dan Iduladha adalah hari tatkala kalian menyembelih kurban.” (HR. Tirmidzi disahihkan oleh Syekh Al-Albani) Imam Tirmidzi mengatakan, “Sebagian ulama menafsirkan bahwa maksud hadis ini adalah bahwasanya puasa dan hari raya itu mengikuti jama’ah (pemerintah) dan kebanyakan orang.” (lihat Sunan At-Tirmidzi, hal. 174) Dari Al-‘Aizar, dia menceritakan, “Aku datang kepada Ibrahim pada hari yang diragukan. Maka, dia berkata, ‘Barangkali kamu sedang puasa. Jangan puasa, kecuali bersama jama’ah (masyarakat dan pemerintah, pent).’” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf no.9585) Dari Ja’far bin Sulaiman, dari Habib bin Asy-Syahid, bahwa Muhammad bin Sirin berkata, “Sungguh, aku berbuka sehari di bulan Ramadan dalam keadaan tidak sengaja lebih aku sukai daripada aku harus berpuasa pada hari yang diragukan pada bulan Sya’ban.” Ja’far mengatakan, Asma’ bin ‘Ubaid mengabarkan kepadaku. Dia berkata, “Kami datang kepada Muhammad bin Sirin pada hari yang diragukan. Kami pun berkata, ‘Apa yang harus kami lakukan?’ Maka, beliau berkata kepada pembantunya, ‘Pergilah, coba lihat apakah amir (penguasa) berpuasa atau tidak?'” Dia berkata, “Pada saat itu, yang menjadi amir adalah Adi bin Arthah. Kemudian dia kembali dan melapor, ‘Aku menjumpai beliau tidak berpuasa.’ Asma’ berkata, ‘Muhammad (Ibnu Sirin) meminta makanannya dihidangkan, lalu dia pun makan dan kami ikut makan bersamanya.’” (HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf) Semoga bermanfaat. Baca juga: Puasa dan Berhari Raya Bersama Pemerintah *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: menyambut ramadan

Teks Khotbah Jumat: 5 Bukti Kecintaan kepada Nabi Muhammad

Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaKhotbah kedua Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala. Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada para jemaah sekalian, marilah senantiasa menjaga kualitas ketakwaan kita dan keluarga kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan senantiasa menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, ataupun dengan meninggalkan perkara-perkara yang dapat mengantarkan kita ke dalam api neraka. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6) Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, sungguh kita diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk mencintai Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi siapa pun yang ada di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman mengancam siapa pun yang menjadikan selain Nabi Muhammad sebagai sesuatu yang paling dicintainya, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, kesemuanya itu lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.” Ancaman keras ini menunjukkan kepada kita bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi kecintaan kita kepada makhluk lainnya hukumnya adalah wajib. Di ayat yang lain, Allah Ta’ala juga menegaskan bahwa mencintai Nabi juga harus didahulukan dan diutamakan dari mencintai diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman, النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ahzab: 6) Hanya saja, wahai jemaah yang semoga senantiasa mendapatkan rahmat Allah Ta’ala, Di dalam mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kita tidak boleh asal-asalan dan serampangan. Agama kita adalah agama yang berdiri di atas dalil dan petunjuk Allah serta Rasul-Nya. Bahkan, di dalam hal mencintai sekalipun, semuanya sudah ada petunjuk dan dalil yang mengaturnya. Seorang muslim dituntut untuk berpedoman dengan dalil dan petunjuk tersebut di dalam mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Berikut ini wahai jemaah sekalian, lima bukti kuat yang apabila terdapat di dalam diri seorang muslim, maka dia layak untuk dikatakan mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sebenar-benarnya. Yang pertama adalah senantiasa mengikuti ajaran beliau dan menghidupkan sunah-sunah yang telah beliau ajarkan. Mencintai Nabi yang benar memiliki konskuensi ketaatan penuh kepada perintah dan wahyu yang telah diturunkan kepada beliau, begitu pula kesadaran penuh dari diri kita untuk meninggalkan apa-apa yang beliau larang. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’” (QS. Ali Imran: 31) Tidaklah mungkin seorang mukmin mengaku-ngaku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun masih banyak sekali perintah agama yang tidak ia kerjakan, masih banyak sekali larangan syariat yang ia lakukan dan ia langgar, dan dirinya sama sekali tidak berhias dengan adab-adab yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, Memperbanyak penyebutan beliau. Yaitu, dengan memperbanyak selawat serta salam kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56) Mereka yang tidak berselawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala nama beliau disebut, oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dicap sebagai orang yang pelit. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ “Orang yang bakhil dan pelit itu adalah orang yang jika namaku disebut di dekatnya, namun dia tidak berselawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi no. 3546, Ahmad no. 1736, dan An-Nasa’i no. 8100) Di antara bentuk banyak menyebut beliau yang lain adalah dengan menyebutkan keutamaan-keutamaan yang beliau miliki, menceritakan juga sifat dan akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga, kaum muslimin menjadi semangat di dalam berusaha untuk meniru beliau serta menjalankan sunah-sunah yang telah beliau ajarkan. Ketiga, Mencintai orang-orang yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara akidah ahli sunah wal jamaah adalah mencintai ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, menyayangi mereka, dan menjaga wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mereka di mana beliau bersabda, أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي “Aku ingatkan kepada kalian semua agar berpedoman kepada hukum Allah dalam memperlakukan keluargaku.” (Beliau ucapkan sebanyak tiga kali).” (HR. Muslim no. 2408) Hal ini juga telah dipraktikkan oleh para sahabat dahulu kala. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَرَابَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَابَتِي “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih aku sukai untuk aku sambung (silaturahmi) daripada kerabatku sendiri.” (HR. Bukhari no. 3711 dan Muslim no. 1759) Hanya saja yang perlu kita garis bawahi, wahai saudaraku, bahwa kemuliaan nasab tidaklah identik dengan kemuliaan seseorang di sisi Allah Ta’ala dan bahwasanya tidak ada yang dapat meninggikan kedudukan seorang hamba di sisi Allah, kecuali ketakwaannya. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُم “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13) Di dalam sebuah hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُه “Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tingginya garis keturunan tidak bisa mempercepat amalnya.” (HR. Muslim no. 2699) Oleh karena itu, kemuliaan nasab keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ahlu bait-nya juga berkaitan erat dengan kesalehan dan amal ibadah mereka. Siapa saja dari ahlu bait yang menjaga amalnya dan kesalehannya, mereka itulah yang pantas mendapatkan kemuliaan. Dan siapa saja yang mengaku-ngaku atau berbangga diri dengan nasabnya tersebut, namun tidak dibarengi kesalehan dan amal ibadahnya, maka nasabnya tersebut tidaklah bernilai apa-apa. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Baca juga: Inilah Gambaran Cinta Nabi Dahulu dan Sekarang Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Bukti keempat dari kejujuran cinta seorang muslim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah besarnya harapan untuk melihat beliau dan kerinduan untuk berjumpa dengannya. Bahkan, hal itu akan ia lakukan, meskipun harus dengan pengorbanan harta dan keluarga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا: نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ “Di antara umatku yang sangat mencintaiku adalah orang-orang sepeninggalku. Salah seorang di antara mereka ingin melihatku dengan (mengorbankan) keluarganya dan hartanya.” (HR. Muslim no. 2832) Yang kelima dan terakhir, wahai saudaraku, adalah menghindarkan diri dari perkara yang diada-adakan dalam agama dan segala macam bentuk ke-bid’ah-an. Sebagian orang mengira bahwa dirinya boleh menggambarkan dan mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan segala cara yang ia inginkan, tanpa perlu memperhatikan sama sekali petunjuk dan kaidah-kaidah syariat yang berlaku. Mereka turuti kemauan hawa nafsu mereka dengan dalih kecintaan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal, Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun.” (QS. Al-Qasas: 50) Mereka membuat ritual-ritual dan perayaan-perayaan yang sejatinya tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum sepeninggal beliau. Sebagian dari mereka berlebih-lebihan di dalam memuji sampai pada tahapan menyamakan kedudukan beliau dengan Tuhan. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita agar tidak jatuh ke dalam ke-bid’ah-an. Beliau bersabda, إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ “Waspadalah terhadap perkara-perkara baru (dalam ibadah). Sesungguhnya setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607, Ahmad no. 17145, dan At-Tirmidzi no. 2676) Ketahuilah, wahai saudaraku, pengakuan cinta saja tidaklah cukup. Yang terpenting yang harus kita jaga adalah keselarasan amal ibadah dan gerak-gerik kita dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang benar-benar mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, menjadikan kita salah satu umatnya yang mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. Ya Allah, kumpulkanlah kami dan pertemukanlah kami dengan kekasih-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di surga-Mu yang penuh dengan kenikmatan dan kerinduan. إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Jika Anda Mencintai Allah, Ikuti Tuntunan Rasulullah *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: cinta nabicinta rasul

Teks Khotbah Jumat: 5 Bukti Kecintaan kepada Nabi Muhammad

Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaKhotbah kedua Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala. Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada para jemaah sekalian, marilah senantiasa menjaga kualitas ketakwaan kita dan keluarga kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan senantiasa menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, ataupun dengan meninggalkan perkara-perkara yang dapat mengantarkan kita ke dalam api neraka. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6) Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, sungguh kita diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk mencintai Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi siapa pun yang ada di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman mengancam siapa pun yang menjadikan selain Nabi Muhammad sebagai sesuatu yang paling dicintainya, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, kesemuanya itu lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.” Ancaman keras ini menunjukkan kepada kita bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi kecintaan kita kepada makhluk lainnya hukumnya adalah wajib. Di ayat yang lain, Allah Ta’ala juga menegaskan bahwa mencintai Nabi juga harus didahulukan dan diutamakan dari mencintai diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman, النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ahzab: 6) Hanya saja, wahai jemaah yang semoga senantiasa mendapatkan rahmat Allah Ta’ala, Di dalam mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kita tidak boleh asal-asalan dan serampangan. Agama kita adalah agama yang berdiri di atas dalil dan petunjuk Allah serta Rasul-Nya. Bahkan, di dalam hal mencintai sekalipun, semuanya sudah ada petunjuk dan dalil yang mengaturnya. Seorang muslim dituntut untuk berpedoman dengan dalil dan petunjuk tersebut di dalam mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Berikut ini wahai jemaah sekalian, lima bukti kuat yang apabila terdapat di dalam diri seorang muslim, maka dia layak untuk dikatakan mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sebenar-benarnya. Yang pertama adalah senantiasa mengikuti ajaran beliau dan menghidupkan sunah-sunah yang telah beliau ajarkan. Mencintai Nabi yang benar memiliki konskuensi ketaatan penuh kepada perintah dan wahyu yang telah diturunkan kepada beliau, begitu pula kesadaran penuh dari diri kita untuk meninggalkan apa-apa yang beliau larang. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’” (QS. Ali Imran: 31) Tidaklah mungkin seorang mukmin mengaku-ngaku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun masih banyak sekali perintah agama yang tidak ia kerjakan, masih banyak sekali larangan syariat yang ia lakukan dan ia langgar, dan dirinya sama sekali tidak berhias dengan adab-adab yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, Memperbanyak penyebutan beliau. Yaitu, dengan memperbanyak selawat serta salam kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56) Mereka yang tidak berselawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala nama beliau disebut, oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dicap sebagai orang yang pelit. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ “Orang yang bakhil dan pelit itu adalah orang yang jika namaku disebut di dekatnya, namun dia tidak berselawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi no. 3546, Ahmad no. 1736, dan An-Nasa’i no. 8100) Di antara bentuk banyak menyebut beliau yang lain adalah dengan menyebutkan keutamaan-keutamaan yang beliau miliki, menceritakan juga sifat dan akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga, kaum muslimin menjadi semangat di dalam berusaha untuk meniru beliau serta menjalankan sunah-sunah yang telah beliau ajarkan. Ketiga, Mencintai orang-orang yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara akidah ahli sunah wal jamaah adalah mencintai ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, menyayangi mereka, dan menjaga wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mereka di mana beliau bersabda, أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي “Aku ingatkan kepada kalian semua agar berpedoman kepada hukum Allah dalam memperlakukan keluargaku.” (Beliau ucapkan sebanyak tiga kali).” (HR. Muslim no. 2408) Hal ini juga telah dipraktikkan oleh para sahabat dahulu kala. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَرَابَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَابَتِي “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih aku sukai untuk aku sambung (silaturahmi) daripada kerabatku sendiri.” (HR. Bukhari no. 3711 dan Muslim no. 1759) Hanya saja yang perlu kita garis bawahi, wahai saudaraku, bahwa kemuliaan nasab tidaklah identik dengan kemuliaan seseorang di sisi Allah Ta’ala dan bahwasanya tidak ada yang dapat meninggikan kedudukan seorang hamba di sisi Allah, kecuali ketakwaannya. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُم “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13) Di dalam sebuah hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُه “Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tingginya garis keturunan tidak bisa mempercepat amalnya.” (HR. Muslim no. 2699) Oleh karena itu, kemuliaan nasab keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ahlu bait-nya juga berkaitan erat dengan kesalehan dan amal ibadah mereka. Siapa saja dari ahlu bait yang menjaga amalnya dan kesalehannya, mereka itulah yang pantas mendapatkan kemuliaan. Dan siapa saja yang mengaku-ngaku atau berbangga diri dengan nasabnya tersebut, namun tidak dibarengi kesalehan dan amal ibadahnya, maka nasabnya tersebut tidaklah bernilai apa-apa. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Baca juga: Inilah Gambaran Cinta Nabi Dahulu dan Sekarang Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Bukti keempat dari kejujuran cinta seorang muslim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah besarnya harapan untuk melihat beliau dan kerinduan untuk berjumpa dengannya. Bahkan, hal itu akan ia lakukan, meskipun harus dengan pengorbanan harta dan keluarga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا: نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ “Di antara umatku yang sangat mencintaiku adalah orang-orang sepeninggalku. Salah seorang di antara mereka ingin melihatku dengan (mengorbankan) keluarganya dan hartanya.” (HR. Muslim no. 2832) Yang kelima dan terakhir, wahai saudaraku, adalah menghindarkan diri dari perkara yang diada-adakan dalam agama dan segala macam bentuk ke-bid’ah-an. Sebagian orang mengira bahwa dirinya boleh menggambarkan dan mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan segala cara yang ia inginkan, tanpa perlu memperhatikan sama sekali petunjuk dan kaidah-kaidah syariat yang berlaku. Mereka turuti kemauan hawa nafsu mereka dengan dalih kecintaan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal, Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun.” (QS. Al-Qasas: 50) Mereka membuat ritual-ritual dan perayaan-perayaan yang sejatinya tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum sepeninggal beliau. Sebagian dari mereka berlebih-lebihan di dalam memuji sampai pada tahapan menyamakan kedudukan beliau dengan Tuhan. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita agar tidak jatuh ke dalam ke-bid’ah-an. Beliau bersabda, إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ “Waspadalah terhadap perkara-perkara baru (dalam ibadah). Sesungguhnya setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607, Ahmad no. 17145, dan At-Tirmidzi no. 2676) Ketahuilah, wahai saudaraku, pengakuan cinta saja tidaklah cukup. Yang terpenting yang harus kita jaga adalah keselarasan amal ibadah dan gerak-gerik kita dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang benar-benar mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, menjadikan kita salah satu umatnya yang mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. Ya Allah, kumpulkanlah kami dan pertemukanlah kami dengan kekasih-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di surga-Mu yang penuh dengan kenikmatan dan kerinduan. إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Jika Anda Mencintai Allah, Ikuti Tuntunan Rasulullah *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: cinta nabicinta rasul
Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaKhotbah kedua Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala. Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada para jemaah sekalian, marilah senantiasa menjaga kualitas ketakwaan kita dan keluarga kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan senantiasa menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, ataupun dengan meninggalkan perkara-perkara yang dapat mengantarkan kita ke dalam api neraka. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6) Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, sungguh kita diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk mencintai Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi siapa pun yang ada di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman mengancam siapa pun yang menjadikan selain Nabi Muhammad sebagai sesuatu yang paling dicintainya, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, kesemuanya itu lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.” Ancaman keras ini menunjukkan kepada kita bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi kecintaan kita kepada makhluk lainnya hukumnya adalah wajib. Di ayat yang lain, Allah Ta’ala juga menegaskan bahwa mencintai Nabi juga harus didahulukan dan diutamakan dari mencintai diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman, النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ahzab: 6) Hanya saja, wahai jemaah yang semoga senantiasa mendapatkan rahmat Allah Ta’ala, Di dalam mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kita tidak boleh asal-asalan dan serampangan. Agama kita adalah agama yang berdiri di atas dalil dan petunjuk Allah serta Rasul-Nya. Bahkan, di dalam hal mencintai sekalipun, semuanya sudah ada petunjuk dan dalil yang mengaturnya. Seorang muslim dituntut untuk berpedoman dengan dalil dan petunjuk tersebut di dalam mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Berikut ini wahai jemaah sekalian, lima bukti kuat yang apabila terdapat di dalam diri seorang muslim, maka dia layak untuk dikatakan mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sebenar-benarnya. Yang pertama adalah senantiasa mengikuti ajaran beliau dan menghidupkan sunah-sunah yang telah beliau ajarkan. Mencintai Nabi yang benar memiliki konskuensi ketaatan penuh kepada perintah dan wahyu yang telah diturunkan kepada beliau, begitu pula kesadaran penuh dari diri kita untuk meninggalkan apa-apa yang beliau larang. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’” (QS. Ali Imran: 31) Tidaklah mungkin seorang mukmin mengaku-ngaku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun masih banyak sekali perintah agama yang tidak ia kerjakan, masih banyak sekali larangan syariat yang ia lakukan dan ia langgar, dan dirinya sama sekali tidak berhias dengan adab-adab yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, Memperbanyak penyebutan beliau. Yaitu, dengan memperbanyak selawat serta salam kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56) Mereka yang tidak berselawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala nama beliau disebut, oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dicap sebagai orang yang pelit. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ “Orang yang bakhil dan pelit itu adalah orang yang jika namaku disebut di dekatnya, namun dia tidak berselawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi no. 3546, Ahmad no. 1736, dan An-Nasa’i no. 8100) Di antara bentuk banyak menyebut beliau yang lain adalah dengan menyebutkan keutamaan-keutamaan yang beliau miliki, menceritakan juga sifat dan akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga, kaum muslimin menjadi semangat di dalam berusaha untuk meniru beliau serta menjalankan sunah-sunah yang telah beliau ajarkan. Ketiga, Mencintai orang-orang yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara akidah ahli sunah wal jamaah adalah mencintai ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, menyayangi mereka, dan menjaga wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mereka di mana beliau bersabda, أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي “Aku ingatkan kepada kalian semua agar berpedoman kepada hukum Allah dalam memperlakukan keluargaku.” (Beliau ucapkan sebanyak tiga kali).” (HR. Muslim no. 2408) Hal ini juga telah dipraktikkan oleh para sahabat dahulu kala. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَرَابَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَابَتِي “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih aku sukai untuk aku sambung (silaturahmi) daripada kerabatku sendiri.” (HR. Bukhari no. 3711 dan Muslim no. 1759) Hanya saja yang perlu kita garis bawahi, wahai saudaraku, bahwa kemuliaan nasab tidaklah identik dengan kemuliaan seseorang di sisi Allah Ta’ala dan bahwasanya tidak ada yang dapat meninggikan kedudukan seorang hamba di sisi Allah, kecuali ketakwaannya. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُم “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13) Di dalam sebuah hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُه “Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tingginya garis keturunan tidak bisa mempercepat amalnya.” (HR. Muslim no. 2699) Oleh karena itu, kemuliaan nasab keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ahlu bait-nya juga berkaitan erat dengan kesalehan dan amal ibadah mereka. Siapa saja dari ahlu bait yang menjaga amalnya dan kesalehannya, mereka itulah yang pantas mendapatkan kemuliaan. Dan siapa saja yang mengaku-ngaku atau berbangga diri dengan nasabnya tersebut, namun tidak dibarengi kesalehan dan amal ibadahnya, maka nasabnya tersebut tidaklah bernilai apa-apa. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Baca juga: Inilah Gambaran Cinta Nabi Dahulu dan Sekarang Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Bukti keempat dari kejujuran cinta seorang muslim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah besarnya harapan untuk melihat beliau dan kerinduan untuk berjumpa dengannya. Bahkan, hal itu akan ia lakukan, meskipun harus dengan pengorbanan harta dan keluarga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا: نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ “Di antara umatku yang sangat mencintaiku adalah orang-orang sepeninggalku. Salah seorang di antara mereka ingin melihatku dengan (mengorbankan) keluarganya dan hartanya.” (HR. Muslim no. 2832) Yang kelima dan terakhir, wahai saudaraku, adalah menghindarkan diri dari perkara yang diada-adakan dalam agama dan segala macam bentuk ke-bid’ah-an. Sebagian orang mengira bahwa dirinya boleh menggambarkan dan mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan segala cara yang ia inginkan, tanpa perlu memperhatikan sama sekali petunjuk dan kaidah-kaidah syariat yang berlaku. Mereka turuti kemauan hawa nafsu mereka dengan dalih kecintaan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal, Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun.” (QS. Al-Qasas: 50) Mereka membuat ritual-ritual dan perayaan-perayaan yang sejatinya tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum sepeninggal beliau. Sebagian dari mereka berlebih-lebihan di dalam memuji sampai pada tahapan menyamakan kedudukan beliau dengan Tuhan. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita agar tidak jatuh ke dalam ke-bid’ah-an. Beliau bersabda, إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ “Waspadalah terhadap perkara-perkara baru (dalam ibadah). Sesungguhnya setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607, Ahmad no. 17145, dan At-Tirmidzi no. 2676) Ketahuilah, wahai saudaraku, pengakuan cinta saja tidaklah cukup. Yang terpenting yang harus kita jaga adalah keselarasan amal ibadah dan gerak-gerik kita dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang benar-benar mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, menjadikan kita salah satu umatnya yang mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. Ya Allah, kumpulkanlah kami dan pertemukanlah kami dengan kekasih-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di surga-Mu yang penuh dengan kenikmatan dan kerinduan. إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Jika Anda Mencintai Allah, Ikuti Tuntunan Rasulullah *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: cinta nabicinta rasul


Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaKhotbah kedua Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala. Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada para jemaah sekalian, marilah senantiasa menjaga kualitas ketakwaan kita dan keluarga kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan senantiasa menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, ataupun dengan meninggalkan perkara-perkara yang dapat mengantarkan kita ke dalam api neraka. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6) Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, sungguh kita diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk mencintai Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi siapa pun yang ada di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman mengancam siapa pun yang menjadikan selain Nabi Muhammad sebagai sesuatu yang paling dicintainya, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, kesemuanya itu lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.” Ancaman keras ini menunjukkan kepada kita bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi kecintaan kita kepada makhluk lainnya hukumnya adalah wajib. Di ayat yang lain, Allah Ta’ala juga menegaskan bahwa mencintai Nabi juga harus didahulukan dan diutamakan dari mencintai diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman, النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ahzab: 6) Hanya saja, wahai jemaah yang semoga senantiasa mendapatkan rahmat Allah Ta’ala, Di dalam mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kita tidak boleh asal-asalan dan serampangan. Agama kita adalah agama yang berdiri di atas dalil dan petunjuk Allah serta Rasul-Nya. Bahkan, di dalam hal mencintai sekalipun, semuanya sudah ada petunjuk dan dalil yang mengaturnya. Seorang muslim dituntut untuk berpedoman dengan dalil dan petunjuk tersebut di dalam mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Berikut ini wahai jemaah sekalian, lima bukti kuat yang apabila terdapat di dalam diri seorang muslim, maka dia layak untuk dikatakan mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sebenar-benarnya. Yang pertama adalah senantiasa mengikuti ajaran beliau dan menghidupkan sunah-sunah yang telah beliau ajarkan. Mencintai Nabi yang benar memiliki konskuensi ketaatan penuh kepada perintah dan wahyu yang telah diturunkan kepada beliau, begitu pula kesadaran penuh dari diri kita untuk meninggalkan apa-apa yang beliau larang. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’” (QS. Ali Imran: 31) Tidaklah mungkin seorang mukmin mengaku-ngaku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun masih banyak sekali perintah agama yang tidak ia kerjakan, masih banyak sekali larangan syariat yang ia lakukan dan ia langgar, dan dirinya sama sekali tidak berhias dengan adab-adab yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, Memperbanyak penyebutan beliau. Yaitu, dengan memperbanyak selawat serta salam kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56) Mereka yang tidak berselawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala nama beliau disebut, oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dicap sebagai orang yang pelit. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ “Orang yang bakhil dan pelit itu adalah orang yang jika namaku disebut di dekatnya, namun dia tidak berselawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi no. 3546, Ahmad no. 1736, dan An-Nasa’i no. 8100) Di antara bentuk banyak menyebut beliau yang lain adalah dengan menyebutkan keutamaan-keutamaan yang beliau miliki, menceritakan juga sifat dan akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga, kaum muslimin menjadi semangat di dalam berusaha untuk meniru beliau serta menjalankan sunah-sunah yang telah beliau ajarkan. Ketiga, Mencintai orang-orang yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara akidah ahli sunah wal jamaah adalah mencintai ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, menyayangi mereka, dan menjaga wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mereka di mana beliau bersabda, أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي “Aku ingatkan kepada kalian semua agar berpedoman kepada hukum Allah dalam memperlakukan keluargaku.” (Beliau ucapkan sebanyak tiga kali).” (HR. Muslim no. 2408) Hal ini juga telah dipraktikkan oleh para sahabat dahulu kala. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَرَابَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَابَتِي “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih aku sukai untuk aku sambung (silaturahmi) daripada kerabatku sendiri.” (HR. Bukhari no. 3711 dan Muslim no. 1759) Hanya saja yang perlu kita garis bawahi, wahai saudaraku, bahwa kemuliaan nasab tidaklah identik dengan kemuliaan seseorang di sisi Allah Ta’ala dan bahwasanya tidak ada yang dapat meninggikan kedudukan seorang hamba di sisi Allah, kecuali ketakwaannya. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُم “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13) Di dalam sebuah hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُه “Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tingginya garis keturunan tidak bisa mempercepat amalnya.” (HR. Muslim no. 2699) Oleh karena itu, kemuliaan nasab keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ahlu bait-nya juga berkaitan erat dengan kesalehan dan amal ibadah mereka. Siapa saja dari ahlu bait yang menjaga amalnya dan kesalehannya, mereka itulah yang pantas mendapatkan kemuliaan. Dan siapa saja yang mengaku-ngaku atau berbangga diri dengan nasabnya tersebut, namun tidak dibarengi kesalehan dan amal ibadahnya, maka nasabnya tersebut tidaklah bernilai apa-apa. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Baca juga: Inilah Gambaran Cinta Nabi Dahulu dan Sekarang Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Bukti keempat dari kejujuran cinta seorang muslim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah besarnya harapan untuk melihat beliau dan kerinduan untuk berjumpa dengannya. Bahkan, hal itu akan ia lakukan, meskipun harus dengan pengorbanan harta dan keluarga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا: نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ “Di antara umatku yang sangat mencintaiku adalah orang-orang sepeninggalku. Salah seorang di antara mereka ingin melihatku dengan (mengorbankan) keluarganya dan hartanya.” (HR. Muslim no. 2832) Yang kelima dan terakhir, wahai saudaraku, adalah menghindarkan diri dari perkara yang diada-adakan dalam agama dan segala macam bentuk ke-bid’ah-an. Sebagian orang mengira bahwa dirinya boleh menggambarkan dan mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan segala cara yang ia inginkan, tanpa perlu memperhatikan sama sekali petunjuk dan kaidah-kaidah syariat yang berlaku. Mereka turuti kemauan hawa nafsu mereka dengan dalih kecintaan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal, Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun.” (QS. Al-Qasas: 50) Mereka membuat ritual-ritual dan perayaan-perayaan yang sejatinya tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum sepeninggal beliau. Sebagian dari mereka berlebih-lebihan di dalam memuji sampai pada tahapan menyamakan kedudukan beliau dengan Tuhan. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita agar tidak jatuh ke dalam ke-bid’ah-an. Beliau bersabda, إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ “Waspadalah terhadap perkara-perkara baru (dalam ibadah). Sesungguhnya setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607, Ahmad no. 17145, dan At-Tirmidzi no. 2676) Ketahuilah, wahai saudaraku, pengakuan cinta saja tidaklah cukup. Yang terpenting yang harus kita jaga adalah keselarasan amal ibadah dan gerak-gerik kita dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang benar-benar mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, menjadikan kita salah satu umatnya yang mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. Ya Allah, kumpulkanlah kami dan pertemukanlah kami dengan kekasih-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di surga-Mu yang penuh dengan kenikmatan dan kerinduan. إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Jika Anda Mencintai Allah, Ikuti Tuntunan Rasulullah *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: cinta nabicinta rasul

Teks Khotbah Jumat: Ramadan Sudah Dekat, Apakah Anda Sudah Siap Menyambutnya?

Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaDua golongan yang saling bertolak belakangBulan Ramadan adalah bulan perlombaan kebaikan, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjadi pemenangnya dan bermental juara?Inilah kiat menyambut bulan Ramadan!Kiat sebelum masuk RamadanKiat ketika berada di bulan RamadanKiat setelah bulan RamadanKhotbah kedua Khotbah pertama إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى عَبْدِكَ ورَسُوْلِكَ محمَّد وعلى آله وصحبه أجمعين عباد الله اتقوا الله تعالى ، فقد قال الله تبارك وتعالى: {يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ} Mari kita bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menghindari larangan-larangan-Nya, karena Allah Ta’ala berfirman, يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah anda kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan. Dan janganlah sekali-kali kalian meninggal, kecuali dalam keadaan beragama Islam.” Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Ramadan Syahrul Mubarok. Bulan suci Ramadan adalah bulan yang diberkahi. Tamu agung itu akan tiba, sudahkan kita siap menyambutnya? Akankah bulan Ramadan yang akan datang ini menjadi Ramadan terakhir kita? Bukankah banyak saudara-saudara kita seiman yang sekarang telah tiada dan tidak bisa lagi menjumpai bulan suci Ramadan, padahal mereka tahun kemarin masih merasakan indahnya bulan Ramadan? Dua golongan yang saling bertolak belakang Dalam hadis, ada dua golongan yang kontradiktif. Di antara dua golongan tersebut, termasuk ke dalam golongan manakah kita pada bulan-bulan Ramadan yang telah berlalu? Golongan pertama, digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan dengan mengimani wajibnya puasa di bulan tersebut dan mengharap pahalanya, niscaya Allah akan ampuni dosanya yang telah lalu.” Sedangkan golongan kedua, digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Dan berapa banyak orang yang salat, namun hanya mendapatkan begadang saja.” (HR. Imam Ahmad, sahih) Termasuk golongan manakah kita pada bulan-bulan Ramadan sebelumnya? Dan akan termasuk golongan manakah kita pada Ramadan yang akan datang ini? Bulan Ramadan adalah bulan perlombaan kebaikan, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjadi pemenangnya dan bermental juara? Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Bulan Ramadan, selain merupakan bulan ampunan, bulan kesabaran, juga merupakan bulan perlombaan kebaikan. Karena dalam Al-Qur’an, hakikatnya Allah menamai aktifitas mengamalkan kebaikan itu dengan “perlombaan”. Sedangkan pada bulan Ramadan, terdapat berbagai macam amal kebaikan yang bisa kita lakukan, seperti puasa Ramadan, salat tarawih, membaca Al-Qur’an, memberi makan buka puasa, beribadah saat lailatulqadar, dan lain-lain. InsyaAllah, kita semua akan berlomba mencari ampunan Allah dan surga-Nya pada bulan suci Ramadan, karena Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hadid ayat 21, سَابِقُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ “Berlomba-lombalah kalian untuk mendapatkan ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Layaknya seseorang mengikuti sebuah perlombaan, maka butuh persiapan dan kiat-kiat untuk menjadi juara di bulan Ramadan. Bukankah seseorang jika ingin menjadi juara, maka dia jauh-jauh hari mempersiapkan dengan berlatih berkali-kali? Inilah kiat menyambut bulan Ramadan! Secara garis besar, kiat untuk memenangkan perlombaan kebaikan di bulan Ramadan ada tiga macam: Pertama: Kiat sebelum masuk Ramadan, Kedua: Kiat ketika di bulan Ramadan, dan Ketiga: Kiat pasca bulan Ramadan. Kiat sebelum masuk Ramadan Pertama: Memasang tekad kuat dengan keikhlasan hati untuk bisa melakukan seluruh perintah Allah dan menghindari perkara yang dilarang oleh-Nya. Dan tidaklah kita berpuasa dan beribadah lainnya di bulan Ramadan, kecuali demi mencari rida Allah dan pahala Allah. Ini dilakukan agar terpenuhi syarat pertama diterimanya sebuah amal ibadah seseorang, yaitu ikhlas. Kedua: Mempersiapkan diri dengan mempelajari fikih Ramadan, bagaimana dulu tata cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beribadah puasa, salat tarawih, dan ibadah-ibadah lain. Ini dilakukan agar terpenuhi syarat kedua diterimanya sebuah amal ibadah seseorang (yaitu, mutaba’atur rasul shallallahu ‘alaihis wasallam). Ketiga: Bertobat dari segala dosa, karena dosa itu menghalangi seseorang dari mendapatkan taufik Allah. Terutama bertobat dari syirik besar, karena syirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam dan mengugurkan seluruh amal ibadah pelakunya. Keempat: Mempersiapkan diri kita dengan meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah semata dengan semakin rajin salatnya (wajib maupun sunah), rajin membaca Al-Qur’an, dan lain-lain. Hal ini agar saat tiba Ramadan, kita sudah siap beribadah kepada Allah semata dengan terbaik. Kiat ketika berada di bulan Ramadan Pertama: Melaksanakan seluruh ibadah pada bulan Ramadan dengan ikhlas dan mutaba’ah agar diterima amal ibadah yang dilakukan dan terus memonitor keduanya selama melakukan peribadatan tersebut. Kedua: Menghindari hal-hal yang merusak ibadah kita di bulan Ramadan, seperti: menghindari riya’, sum’ah, ujub, menyombongkan prestasi amal saleh, pembatal-pembatal puasa, dan menghindari seluruh maksiat dan dosa, terutama kesyirikan. Ketiga: Memprioritaskan amalan wajib, seperti: bertauhid, menghindari syirik, salat lima waktu, bertekad kuat berpuasa Ramadan sebulan penuh, zakat mal bagi yang wajib melaksanakannya, dan lain-lain. Keempat: Bersabar memenuhi syarat-syarat, adab-adab, sunah-sunah, wajib-wajib, dan rukun-rukun dari amal ibadah yang sedang kita lakukan. Kiat setelah bulan Ramadan Pertama: Bersyukur kepada Allah dan memuji Allah. Kedua: Memperbanyak istigfar kepada Allah atas dosa yang kita lakukan di bulan Ramadan. Ketiga: Bersabar menahan diri dari segala hal yang dapat merusak amal ibadah yang berhasil kita lakukan selama Ramadan, seperti riya’, sum’ah, ujub, menyombongkan amalan, dan mengungkit-ungkit kebaikan, serta menghindari syirik besar, karena syirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam dan menggugurkan seluruh amal ibadah pelakunya. أقول هذا القول وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم Baca juga: Tidak Bersemangat Menyambut Ramadan Khotbah kedua الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، إقرارا به وتوحيدا ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما مزيدا ، أما بعد : أيها المؤمنون عباد الله : اتقوا الله تعالى ؛ فإن تقوى الله جل وعلا خير الزاد ، فقد قال الله تبارك وتعالى: {وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ} Allah Ta’ala berfirman, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” Hikmah berpuasa dalam ayat ini adalah agar kita bertakwa. Oleh karena itu, berpuasa yang sempurna itu bukan sekadar menahan dari lapar dan dahaga. Bahkan, puasa yang sempurna itu bukan hanya menghindarkan diri dari segala pembatal-pembatal puasa saja. Tidak! Berpuasa yang sempurna itu bukan sekedar puasanya perut saja, namun puasa yang sempurna itu adalah berpuasanya hati dan seluruh anggota tubuh dari segala hal yang tidak dicintai Allah. Berpuasa yang sempurna itu selain menahan diri dari seluruh pembatal-pembatal puasa, juga menahan diri dari syirik dan seluruh kemaksiatan, bahkan menahan diri dari perkara yang makruh. Dengan puasa sempurna inilah, diraih ketakwaan yang sempurna! Marilah kita merendahkan diri kita, berdoa kepada Allah semata. ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ  و الصلاة و السلام على رسول الله، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ   رَبَّنَا هَب لنا مِن أزواجنا وذُرياتنا قُرَّةَ أعيُنٍ واجعلنا للمُتقينَ إمَامًا اللهم إنا نسألك الجنة، وما قرب إليها من قول أو عمل، ونعوذ بك من النار وما قرب إليها من قول أو عمل. اللهم إنا نسألك حبّك، وحب من يحبّك، وحب كل عملٍ يقربني إلى حبّك اللَّهُمَ حَبَّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله محمد و آخر دعوانا أن الحمد لله ربّ العالمين Baca juga: Cara Salafus Shalih Menyambut Ramadan *** Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Tags: ramadan

Teks Khotbah Jumat: Ramadan Sudah Dekat, Apakah Anda Sudah Siap Menyambutnya?

Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaDua golongan yang saling bertolak belakangBulan Ramadan adalah bulan perlombaan kebaikan, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjadi pemenangnya dan bermental juara?Inilah kiat menyambut bulan Ramadan!Kiat sebelum masuk RamadanKiat ketika berada di bulan RamadanKiat setelah bulan RamadanKhotbah kedua Khotbah pertama إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى عَبْدِكَ ورَسُوْلِكَ محمَّد وعلى آله وصحبه أجمعين عباد الله اتقوا الله تعالى ، فقد قال الله تبارك وتعالى: {يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ} Mari kita bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menghindari larangan-larangan-Nya, karena Allah Ta’ala berfirman, يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah anda kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan. Dan janganlah sekali-kali kalian meninggal, kecuali dalam keadaan beragama Islam.” Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Ramadan Syahrul Mubarok. Bulan suci Ramadan adalah bulan yang diberkahi. Tamu agung itu akan tiba, sudahkan kita siap menyambutnya? Akankah bulan Ramadan yang akan datang ini menjadi Ramadan terakhir kita? Bukankah banyak saudara-saudara kita seiman yang sekarang telah tiada dan tidak bisa lagi menjumpai bulan suci Ramadan, padahal mereka tahun kemarin masih merasakan indahnya bulan Ramadan? Dua golongan yang saling bertolak belakang Dalam hadis, ada dua golongan yang kontradiktif. Di antara dua golongan tersebut, termasuk ke dalam golongan manakah kita pada bulan-bulan Ramadan yang telah berlalu? Golongan pertama, digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan dengan mengimani wajibnya puasa di bulan tersebut dan mengharap pahalanya, niscaya Allah akan ampuni dosanya yang telah lalu.” Sedangkan golongan kedua, digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Dan berapa banyak orang yang salat, namun hanya mendapatkan begadang saja.” (HR. Imam Ahmad, sahih) Termasuk golongan manakah kita pada bulan-bulan Ramadan sebelumnya? Dan akan termasuk golongan manakah kita pada Ramadan yang akan datang ini? Bulan Ramadan adalah bulan perlombaan kebaikan, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjadi pemenangnya dan bermental juara? Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Bulan Ramadan, selain merupakan bulan ampunan, bulan kesabaran, juga merupakan bulan perlombaan kebaikan. Karena dalam Al-Qur’an, hakikatnya Allah menamai aktifitas mengamalkan kebaikan itu dengan “perlombaan”. Sedangkan pada bulan Ramadan, terdapat berbagai macam amal kebaikan yang bisa kita lakukan, seperti puasa Ramadan, salat tarawih, membaca Al-Qur’an, memberi makan buka puasa, beribadah saat lailatulqadar, dan lain-lain. InsyaAllah, kita semua akan berlomba mencari ampunan Allah dan surga-Nya pada bulan suci Ramadan, karena Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hadid ayat 21, سَابِقُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ “Berlomba-lombalah kalian untuk mendapatkan ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Layaknya seseorang mengikuti sebuah perlombaan, maka butuh persiapan dan kiat-kiat untuk menjadi juara di bulan Ramadan. Bukankah seseorang jika ingin menjadi juara, maka dia jauh-jauh hari mempersiapkan dengan berlatih berkali-kali? Inilah kiat menyambut bulan Ramadan! Secara garis besar, kiat untuk memenangkan perlombaan kebaikan di bulan Ramadan ada tiga macam: Pertama: Kiat sebelum masuk Ramadan, Kedua: Kiat ketika di bulan Ramadan, dan Ketiga: Kiat pasca bulan Ramadan. Kiat sebelum masuk Ramadan Pertama: Memasang tekad kuat dengan keikhlasan hati untuk bisa melakukan seluruh perintah Allah dan menghindari perkara yang dilarang oleh-Nya. Dan tidaklah kita berpuasa dan beribadah lainnya di bulan Ramadan, kecuali demi mencari rida Allah dan pahala Allah. Ini dilakukan agar terpenuhi syarat pertama diterimanya sebuah amal ibadah seseorang, yaitu ikhlas. Kedua: Mempersiapkan diri dengan mempelajari fikih Ramadan, bagaimana dulu tata cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beribadah puasa, salat tarawih, dan ibadah-ibadah lain. Ini dilakukan agar terpenuhi syarat kedua diterimanya sebuah amal ibadah seseorang (yaitu, mutaba’atur rasul shallallahu ‘alaihis wasallam). Ketiga: Bertobat dari segala dosa, karena dosa itu menghalangi seseorang dari mendapatkan taufik Allah. Terutama bertobat dari syirik besar, karena syirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam dan mengugurkan seluruh amal ibadah pelakunya. Keempat: Mempersiapkan diri kita dengan meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah semata dengan semakin rajin salatnya (wajib maupun sunah), rajin membaca Al-Qur’an, dan lain-lain. Hal ini agar saat tiba Ramadan, kita sudah siap beribadah kepada Allah semata dengan terbaik. Kiat ketika berada di bulan Ramadan Pertama: Melaksanakan seluruh ibadah pada bulan Ramadan dengan ikhlas dan mutaba’ah agar diterima amal ibadah yang dilakukan dan terus memonitor keduanya selama melakukan peribadatan tersebut. Kedua: Menghindari hal-hal yang merusak ibadah kita di bulan Ramadan, seperti: menghindari riya’, sum’ah, ujub, menyombongkan prestasi amal saleh, pembatal-pembatal puasa, dan menghindari seluruh maksiat dan dosa, terutama kesyirikan. Ketiga: Memprioritaskan amalan wajib, seperti: bertauhid, menghindari syirik, salat lima waktu, bertekad kuat berpuasa Ramadan sebulan penuh, zakat mal bagi yang wajib melaksanakannya, dan lain-lain. Keempat: Bersabar memenuhi syarat-syarat, adab-adab, sunah-sunah, wajib-wajib, dan rukun-rukun dari amal ibadah yang sedang kita lakukan. Kiat setelah bulan Ramadan Pertama: Bersyukur kepada Allah dan memuji Allah. Kedua: Memperbanyak istigfar kepada Allah atas dosa yang kita lakukan di bulan Ramadan. Ketiga: Bersabar menahan diri dari segala hal yang dapat merusak amal ibadah yang berhasil kita lakukan selama Ramadan, seperti riya’, sum’ah, ujub, menyombongkan amalan, dan mengungkit-ungkit kebaikan, serta menghindari syirik besar, karena syirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam dan menggugurkan seluruh amal ibadah pelakunya. أقول هذا القول وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم Baca juga: Tidak Bersemangat Menyambut Ramadan Khotbah kedua الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، إقرارا به وتوحيدا ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما مزيدا ، أما بعد : أيها المؤمنون عباد الله : اتقوا الله تعالى ؛ فإن تقوى الله جل وعلا خير الزاد ، فقد قال الله تبارك وتعالى: {وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ} Allah Ta’ala berfirman, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” Hikmah berpuasa dalam ayat ini adalah agar kita bertakwa. Oleh karena itu, berpuasa yang sempurna itu bukan sekadar menahan dari lapar dan dahaga. Bahkan, puasa yang sempurna itu bukan hanya menghindarkan diri dari segala pembatal-pembatal puasa saja. Tidak! Berpuasa yang sempurna itu bukan sekedar puasanya perut saja, namun puasa yang sempurna itu adalah berpuasanya hati dan seluruh anggota tubuh dari segala hal yang tidak dicintai Allah. Berpuasa yang sempurna itu selain menahan diri dari seluruh pembatal-pembatal puasa, juga menahan diri dari syirik dan seluruh kemaksiatan, bahkan menahan diri dari perkara yang makruh. Dengan puasa sempurna inilah, diraih ketakwaan yang sempurna! Marilah kita merendahkan diri kita, berdoa kepada Allah semata. ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ  و الصلاة و السلام على رسول الله، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ   رَبَّنَا هَب لنا مِن أزواجنا وذُرياتنا قُرَّةَ أعيُنٍ واجعلنا للمُتقينَ إمَامًا اللهم إنا نسألك الجنة، وما قرب إليها من قول أو عمل، ونعوذ بك من النار وما قرب إليها من قول أو عمل. اللهم إنا نسألك حبّك، وحب من يحبّك، وحب كل عملٍ يقربني إلى حبّك اللَّهُمَ حَبَّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله محمد و آخر دعوانا أن الحمد لله ربّ العالمين Baca juga: Cara Salafus Shalih Menyambut Ramadan *** Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Tags: ramadan
Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaDua golongan yang saling bertolak belakangBulan Ramadan adalah bulan perlombaan kebaikan, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjadi pemenangnya dan bermental juara?Inilah kiat menyambut bulan Ramadan!Kiat sebelum masuk RamadanKiat ketika berada di bulan RamadanKiat setelah bulan RamadanKhotbah kedua Khotbah pertama إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى عَبْدِكَ ورَسُوْلِكَ محمَّد وعلى آله وصحبه أجمعين عباد الله اتقوا الله تعالى ، فقد قال الله تبارك وتعالى: {يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ} Mari kita bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menghindari larangan-larangan-Nya, karena Allah Ta’ala berfirman, يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah anda kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan. Dan janganlah sekali-kali kalian meninggal, kecuali dalam keadaan beragama Islam.” Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Ramadan Syahrul Mubarok. Bulan suci Ramadan adalah bulan yang diberkahi. Tamu agung itu akan tiba, sudahkan kita siap menyambutnya? Akankah bulan Ramadan yang akan datang ini menjadi Ramadan terakhir kita? Bukankah banyak saudara-saudara kita seiman yang sekarang telah tiada dan tidak bisa lagi menjumpai bulan suci Ramadan, padahal mereka tahun kemarin masih merasakan indahnya bulan Ramadan? Dua golongan yang saling bertolak belakang Dalam hadis, ada dua golongan yang kontradiktif. Di antara dua golongan tersebut, termasuk ke dalam golongan manakah kita pada bulan-bulan Ramadan yang telah berlalu? Golongan pertama, digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan dengan mengimani wajibnya puasa di bulan tersebut dan mengharap pahalanya, niscaya Allah akan ampuni dosanya yang telah lalu.” Sedangkan golongan kedua, digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Dan berapa banyak orang yang salat, namun hanya mendapatkan begadang saja.” (HR. Imam Ahmad, sahih) Termasuk golongan manakah kita pada bulan-bulan Ramadan sebelumnya? Dan akan termasuk golongan manakah kita pada Ramadan yang akan datang ini? Bulan Ramadan adalah bulan perlombaan kebaikan, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjadi pemenangnya dan bermental juara? Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Bulan Ramadan, selain merupakan bulan ampunan, bulan kesabaran, juga merupakan bulan perlombaan kebaikan. Karena dalam Al-Qur’an, hakikatnya Allah menamai aktifitas mengamalkan kebaikan itu dengan “perlombaan”. Sedangkan pada bulan Ramadan, terdapat berbagai macam amal kebaikan yang bisa kita lakukan, seperti puasa Ramadan, salat tarawih, membaca Al-Qur’an, memberi makan buka puasa, beribadah saat lailatulqadar, dan lain-lain. InsyaAllah, kita semua akan berlomba mencari ampunan Allah dan surga-Nya pada bulan suci Ramadan, karena Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hadid ayat 21, سَابِقُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ “Berlomba-lombalah kalian untuk mendapatkan ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Layaknya seseorang mengikuti sebuah perlombaan, maka butuh persiapan dan kiat-kiat untuk menjadi juara di bulan Ramadan. Bukankah seseorang jika ingin menjadi juara, maka dia jauh-jauh hari mempersiapkan dengan berlatih berkali-kali? Inilah kiat menyambut bulan Ramadan! Secara garis besar, kiat untuk memenangkan perlombaan kebaikan di bulan Ramadan ada tiga macam: Pertama: Kiat sebelum masuk Ramadan, Kedua: Kiat ketika di bulan Ramadan, dan Ketiga: Kiat pasca bulan Ramadan. Kiat sebelum masuk Ramadan Pertama: Memasang tekad kuat dengan keikhlasan hati untuk bisa melakukan seluruh perintah Allah dan menghindari perkara yang dilarang oleh-Nya. Dan tidaklah kita berpuasa dan beribadah lainnya di bulan Ramadan, kecuali demi mencari rida Allah dan pahala Allah. Ini dilakukan agar terpenuhi syarat pertama diterimanya sebuah amal ibadah seseorang, yaitu ikhlas. Kedua: Mempersiapkan diri dengan mempelajari fikih Ramadan, bagaimana dulu tata cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beribadah puasa, salat tarawih, dan ibadah-ibadah lain. Ini dilakukan agar terpenuhi syarat kedua diterimanya sebuah amal ibadah seseorang (yaitu, mutaba’atur rasul shallallahu ‘alaihis wasallam). Ketiga: Bertobat dari segala dosa, karena dosa itu menghalangi seseorang dari mendapatkan taufik Allah. Terutama bertobat dari syirik besar, karena syirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam dan mengugurkan seluruh amal ibadah pelakunya. Keempat: Mempersiapkan diri kita dengan meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah semata dengan semakin rajin salatnya (wajib maupun sunah), rajin membaca Al-Qur’an, dan lain-lain. Hal ini agar saat tiba Ramadan, kita sudah siap beribadah kepada Allah semata dengan terbaik. Kiat ketika berada di bulan Ramadan Pertama: Melaksanakan seluruh ibadah pada bulan Ramadan dengan ikhlas dan mutaba’ah agar diterima amal ibadah yang dilakukan dan terus memonitor keduanya selama melakukan peribadatan tersebut. Kedua: Menghindari hal-hal yang merusak ibadah kita di bulan Ramadan, seperti: menghindari riya’, sum’ah, ujub, menyombongkan prestasi amal saleh, pembatal-pembatal puasa, dan menghindari seluruh maksiat dan dosa, terutama kesyirikan. Ketiga: Memprioritaskan amalan wajib, seperti: bertauhid, menghindari syirik, salat lima waktu, bertekad kuat berpuasa Ramadan sebulan penuh, zakat mal bagi yang wajib melaksanakannya, dan lain-lain. Keempat: Bersabar memenuhi syarat-syarat, adab-adab, sunah-sunah, wajib-wajib, dan rukun-rukun dari amal ibadah yang sedang kita lakukan. Kiat setelah bulan Ramadan Pertama: Bersyukur kepada Allah dan memuji Allah. Kedua: Memperbanyak istigfar kepada Allah atas dosa yang kita lakukan di bulan Ramadan. Ketiga: Bersabar menahan diri dari segala hal yang dapat merusak amal ibadah yang berhasil kita lakukan selama Ramadan, seperti riya’, sum’ah, ujub, menyombongkan amalan, dan mengungkit-ungkit kebaikan, serta menghindari syirik besar, karena syirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam dan menggugurkan seluruh amal ibadah pelakunya. أقول هذا القول وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم Baca juga: Tidak Bersemangat Menyambut Ramadan Khotbah kedua الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، إقرارا به وتوحيدا ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما مزيدا ، أما بعد : أيها المؤمنون عباد الله : اتقوا الله تعالى ؛ فإن تقوى الله جل وعلا خير الزاد ، فقد قال الله تبارك وتعالى: {وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ} Allah Ta’ala berfirman, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” Hikmah berpuasa dalam ayat ini adalah agar kita bertakwa. Oleh karena itu, berpuasa yang sempurna itu bukan sekadar menahan dari lapar dan dahaga. Bahkan, puasa yang sempurna itu bukan hanya menghindarkan diri dari segala pembatal-pembatal puasa saja. Tidak! Berpuasa yang sempurna itu bukan sekedar puasanya perut saja, namun puasa yang sempurna itu adalah berpuasanya hati dan seluruh anggota tubuh dari segala hal yang tidak dicintai Allah. Berpuasa yang sempurna itu selain menahan diri dari seluruh pembatal-pembatal puasa, juga menahan diri dari syirik dan seluruh kemaksiatan, bahkan menahan diri dari perkara yang makruh. Dengan puasa sempurna inilah, diraih ketakwaan yang sempurna! Marilah kita merendahkan diri kita, berdoa kepada Allah semata. ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ  و الصلاة و السلام على رسول الله، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ   رَبَّنَا هَب لنا مِن أزواجنا وذُرياتنا قُرَّةَ أعيُنٍ واجعلنا للمُتقينَ إمَامًا اللهم إنا نسألك الجنة، وما قرب إليها من قول أو عمل، ونعوذ بك من النار وما قرب إليها من قول أو عمل. اللهم إنا نسألك حبّك، وحب من يحبّك، وحب كل عملٍ يقربني إلى حبّك اللَّهُمَ حَبَّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله محمد و آخر دعوانا أن الحمد لله ربّ العالمين Baca juga: Cara Salafus Shalih Menyambut Ramadan *** Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Tags: ramadan


Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaDua golongan yang saling bertolak belakangBulan Ramadan adalah bulan perlombaan kebaikan, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjadi pemenangnya dan bermental juara?Inilah kiat menyambut bulan Ramadan!Kiat sebelum masuk RamadanKiat ketika berada di bulan RamadanKiat setelah bulan RamadanKhotbah kedua Khotbah pertama إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى عَبْدِكَ ورَسُوْلِكَ محمَّد وعلى آله وصحبه أجمعين عباد الله اتقوا الله تعالى ، فقد قال الله تبارك وتعالى: {يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ} Mari kita bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menghindari larangan-larangan-Nya, karena Allah Ta’ala berfirman, يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah anda kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan. Dan janganlah sekali-kali kalian meninggal, kecuali dalam keadaan beragama Islam.” Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Ramadan Syahrul Mubarok. Bulan suci Ramadan adalah bulan yang diberkahi. Tamu agung itu akan tiba, sudahkan kita siap menyambutnya? Akankah bulan Ramadan yang akan datang ini menjadi Ramadan terakhir kita? Bukankah banyak saudara-saudara kita seiman yang sekarang telah tiada dan tidak bisa lagi menjumpai bulan suci Ramadan, padahal mereka tahun kemarin masih merasakan indahnya bulan Ramadan? Dua golongan yang saling bertolak belakang Dalam hadis, ada dua golongan yang kontradiktif. Di antara dua golongan tersebut, termasuk ke dalam golongan manakah kita pada bulan-bulan Ramadan yang telah berlalu? Golongan pertama, digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan dengan mengimani wajibnya puasa di bulan tersebut dan mengharap pahalanya, niscaya Allah akan ampuni dosanya yang telah lalu.” Sedangkan golongan kedua, digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Dan berapa banyak orang yang salat, namun hanya mendapatkan begadang saja.” (HR. Imam Ahmad, sahih) Termasuk golongan manakah kita pada bulan-bulan Ramadan sebelumnya? Dan akan termasuk golongan manakah kita pada Ramadan yang akan datang ini? Bulan Ramadan adalah bulan perlombaan kebaikan, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjadi pemenangnya dan bermental juara? Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Bulan Ramadan, selain merupakan bulan ampunan, bulan kesabaran, juga merupakan bulan perlombaan kebaikan. Karena dalam Al-Qur’an, hakikatnya Allah menamai aktifitas mengamalkan kebaikan itu dengan “perlombaan”. Sedangkan pada bulan Ramadan, terdapat berbagai macam amal kebaikan yang bisa kita lakukan, seperti puasa Ramadan, salat tarawih, membaca Al-Qur’an, memberi makan buka puasa, beribadah saat lailatulqadar, dan lain-lain. InsyaAllah, kita semua akan berlomba mencari ampunan Allah dan surga-Nya pada bulan suci Ramadan, karena Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hadid ayat 21, سَابِقُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ “Berlomba-lombalah kalian untuk mendapatkan ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Layaknya seseorang mengikuti sebuah perlombaan, maka butuh persiapan dan kiat-kiat untuk menjadi juara di bulan Ramadan. Bukankah seseorang jika ingin menjadi juara, maka dia jauh-jauh hari mempersiapkan dengan berlatih berkali-kali? Inilah kiat menyambut bulan Ramadan! Secara garis besar, kiat untuk memenangkan perlombaan kebaikan di bulan Ramadan ada tiga macam: Pertama: Kiat sebelum masuk Ramadan, Kedua: Kiat ketika di bulan Ramadan, dan Ketiga: Kiat pasca bulan Ramadan. Kiat sebelum masuk Ramadan Pertama: Memasang tekad kuat dengan keikhlasan hati untuk bisa melakukan seluruh perintah Allah dan menghindari perkara yang dilarang oleh-Nya. Dan tidaklah kita berpuasa dan beribadah lainnya di bulan Ramadan, kecuali demi mencari rida Allah dan pahala Allah. Ini dilakukan agar terpenuhi syarat pertama diterimanya sebuah amal ibadah seseorang, yaitu ikhlas. Kedua: Mempersiapkan diri dengan mempelajari fikih Ramadan, bagaimana dulu tata cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beribadah puasa, salat tarawih, dan ibadah-ibadah lain. Ini dilakukan agar terpenuhi syarat kedua diterimanya sebuah amal ibadah seseorang (yaitu, mutaba’atur rasul shallallahu ‘alaihis wasallam). Ketiga: Bertobat dari segala dosa, karena dosa itu menghalangi seseorang dari mendapatkan taufik Allah. Terutama bertobat dari syirik besar, karena syirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam dan mengugurkan seluruh amal ibadah pelakunya. Keempat: Mempersiapkan diri kita dengan meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah semata dengan semakin rajin salatnya (wajib maupun sunah), rajin membaca Al-Qur’an, dan lain-lain. Hal ini agar saat tiba Ramadan, kita sudah siap beribadah kepada Allah semata dengan terbaik. Kiat ketika berada di bulan Ramadan Pertama: Melaksanakan seluruh ibadah pada bulan Ramadan dengan ikhlas dan mutaba’ah agar diterima amal ibadah yang dilakukan dan terus memonitor keduanya selama melakukan peribadatan tersebut. Kedua: Menghindari hal-hal yang merusak ibadah kita di bulan Ramadan, seperti: menghindari riya’, sum’ah, ujub, menyombongkan prestasi amal saleh, pembatal-pembatal puasa, dan menghindari seluruh maksiat dan dosa, terutama kesyirikan. Ketiga: Memprioritaskan amalan wajib, seperti: bertauhid, menghindari syirik, salat lima waktu, bertekad kuat berpuasa Ramadan sebulan penuh, zakat mal bagi yang wajib melaksanakannya, dan lain-lain. Keempat: Bersabar memenuhi syarat-syarat, adab-adab, sunah-sunah, wajib-wajib, dan rukun-rukun dari amal ibadah yang sedang kita lakukan. Kiat setelah bulan Ramadan Pertama: Bersyukur kepada Allah dan memuji Allah. Kedua: Memperbanyak istigfar kepada Allah atas dosa yang kita lakukan di bulan Ramadan. Ketiga: Bersabar menahan diri dari segala hal yang dapat merusak amal ibadah yang berhasil kita lakukan selama Ramadan, seperti riya’, sum’ah, ujub, menyombongkan amalan, dan mengungkit-ungkit kebaikan, serta menghindari syirik besar, karena syirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam dan menggugurkan seluruh amal ibadah pelakunya. أقول هذا القول وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم Baca juga: Tidak Bersemangat Menyambut Ramadan Khotbah kedua الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، إقرارا به وتوحيدا ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما مزيدا ، أما بعد : أيها المؤمنون عباد الله : اتقوا الله تعالى ؛ فإن تقوى الله جل وعلا خير الزاد ، فقد قال الله تبارك وتعالى: {وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ} Allah Ta’ala berfirman, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” Hikmah berpuasa dalam ayat ini adalah agar kita bertakwa. Oleh karena itu, berpuasa yang sempurna itu bukan sekadar menahan dari lapar dan dahaga. Bahkan, puasa yang sempurna itu bukan hanya menghindarkan diri dari segala pembatal-pembatal puasa saja. Tidak! Berpuasa yang sempurna itu bukan sekedar puasanya perut saja, namun puasa yang sempurna itu adalah berpuasanya hati dan seluruh anggota tubuh dari segala hal yang tidak dicintai Allah. Berpuasa yang sempurna itu selain menahan diri dari seluruh pembatal-pembatal puasa, juga menahan diri dari syirik dan seluruh kemaksiatan, bahkan menahan diri dari perkara yang makruh. Dengan puasa sempurna inilah, diraih ketakwaan yang sempurna! Marilah kita merendahkan diri kita, berdoa kepada Allah semata. ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ  و الصلاة و السلام على رسول الله، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ   رَبَّنَا هَب لنا مِن أزواجنا وذُرياتنا قُرَّةَ أعيُنٍ واجعلنا للمُتقينَ إمَامًا اللهم إنا نسألك الجنة، وما قرب إليها من قول أو عمل، ونعوذ بك من النار وما قرب إليها من قول أو عمل. اللهم إنا نسألك حبّك، وحب من يحبّك، وحب كل عملٍ يقربني إلى حبّك اللَّهُمَ حَبَّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله محمد و آخر دعوانا أن الحمد لله ربّ العالمين Baca juga: Cara Salafus Shalih Menyambut Ramadan *** Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Tags: ramadan

Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 6)

Daftar Isi Toggle Faedah 15. Seruan pertamaFaedah 16. Mengenal dasar IslamApa yang dimaksud tauhid?Apa yang dimaksud kekhususan-kekhususan Allah itu?Apa yang dimaksud rububiyah?Apa yang dimaksud uluhiyah?Apa yang dimaksud asma’ wa shifat?Jadi, tauhid ada tiga macam?Mengapa tauhid uluhiyah yang paling utama?Bagaimana dengan tauhid rububiyah?Apakah tauhid uluhiyah ditentang oleh manusia?Apa yang dimaksud dengan thaghut?Mengapa manusia tidak boleh berbuat syirik?Apa pengertian syirik?Apa yang dimaksud dengan ibadah?Apa syarat diterimanya ibadah?Mengapa ibadah harus ikhlas?Mengapa ibadah harus sesuai tuntunan?Apa yang dimaksud dengan iman? Faedah 15. Seruan pertama Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa tauhid adalah seruan pertama para rasul, fase pertama yang harus ditempuh dan maqam/kedudukan awal yang harus dijalani oleh setiap penempuh jalan menuju Allah ‘Azza Wajalla.” (Lihat Syarh Aqidah Thahawiyah, hal. 77) Allah berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu seorang rasul pun, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar, selain Aku. Maka, sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25) Allah berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Dan sungguh telah Kami utus pada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah berfirman, وَلَقَدۡ أُوحِیَ إِلَیۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكَ لَىِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَیَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, ‘Jika kamu berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65) Ayat tersebut mengandung pelajaran bahwa dalam ajaran semua nabi telah ditetapkan bahwa syirik menghapuskan semua amalan. Sebagaimana dalam ayat lain dalam surah Al-An’am, Allah menyatakan bahwa seandainya mereka (para nabi dan orang saleh terdahulu) berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amal yang telah mereka kerjakan. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 729) Dakwah kepada akidah Islam merupakan pembuka dakwah para rasul semuanya. Mereka tidaklah mengawali dakwah dengan sesuatu apapun sebelum hal itu. Setiap rasul mengatakan kepada kaumnya pada awal-awal dakwahnya, ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۖ “Sembahlah Allah, tidak ada bagi kalian sesembahan, selain Dia.” (QS. Hud : 50) Inilah yang diserukan oleh Nuh, Hud, Salih, Syu’aib, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad, dan seluruh rasul ‘alaihimus salam. (Lihat Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad, hal. 19) Kebahagiaan di dunia sangat tergantung dengan ilmu tentang akidah. Kebutuhan hamba kepadanya di atas seluruh kebutuhan. Keterdesakan dirinya terhadapnya di atas semua perkara mendesak. Maka, tidak ada kenyamanan, ketenangan, dan kebahagiaan, kecuali dengan hamba itu mengenal Rabbnya dalam hal uluhiyah, rububiyah, dan sifat-sifat-Nya. Sebagaimana seorang manusia membutuhkan makanan dan minuman, maka dia pun membutuhkan ilmu akidah ini. Bahkan, kebutuhan dirinya untuk mengenal Rabbnya jauh lebih besar. (Lihat Ithaf Dzawil ‘Uqul Rasyidah, hal. 7) Hal ini menunjukkan kepada kita betapa pentingnya seorang muslim mengenal akidah Islam dari sumber-sumbernya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan mengikuti pemahaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Inilah pondasi kehidupan dan asas kebahagiaan hamba. Baca juga: Dampak Lenyapnya Tauhid Faedah 16. Mengenal dasar Islam Apa yang dimaksud tauhid? Jawab: Tauhid adalah mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-kekhususan-Nya. Apa yang dimaksud kekhususan-kekhususan Allah itu? Jawab: Kekhususan Allah bisa dibagi menjadi tiga bagian pokok; yaitu rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Apa yang dimaksud rububiyah? Jawab: Rububiyah adalah hal-hal yang berkaitan dengan penciptaan, pengaturan, dan penguasaan alam semesta. Allah adalah Rabbul ‘alamin, artinya pencipta, pengatur, dan penguasa alam semesta. Apa yang dimaksud uluhiyah? Jawab: Uluhiyah adalah hal-hal yang berkaitan dengan sifat ketuhanan atau peribadatan. Allah adalah iIlahin nas, artinya tuhan/sesembahan manusia. Oleh sebab itu, ibadah hanya boleh ditujukan kepada-Nya semata. Apa yang dimaksud asma’ wa shifat? Jawab: Asma’ wa shifat artinya nama-nama dan sifat-sifat Allah. Allah memiliki nama-nama yang Mahaindah dan sifat-sifat yang Mahamulia. Nama-nama Allah itu biasa dikenal dengan istilah asma’ul husna. Jadi, tauhid ada tiga macam? Jawab: Benar, tauhid terbagi tiga; tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Di antara ketiga hal itu, yang paling utama adalah tauhid uluhiyah. Mengapa tauhid uluhiyah yang paling utama? Jawab: Karena tauhid uluhiyah inilah yang terkandung dalam kalimat laa ilaha illallah. Tauhid uluhiyah ini pula yang menjadi tujuan diciptakannya jin dan manusia. Tauhid uluhiyah pula yang menjadi misi utama dakwah para rasul dan muatan pokok kitab-kitab suci. Bagaimana dengan tauhid rububiyah? Jawab: Tauhid rububiyah adalah suatu perkara yang secara fitrah telah diakui oleh manusia dan dibenarkan oleh akal sehat mereka. Oleh sebab itu, hampir tidak didapati seorang pun manusia yang mengingkari tauhid ini, kecuali karena sombong. Selain itu, tauhid rububiyah belum bisa memasukkan manusia ke dalam Islam. Apakah tauhid uluhiyah ditentang oleh manusia? Jawab: Secara fitrah, sesungguhnya akal sehat dan nurani manusia menuntut untuk menghamba kepada Allah saja. Akan tetapi, setan menjerumuskan mereka ke dalam berbagai penyimpangan, dan yang terbesar adalah kesyirikan kepada Allah. Oleh sebab itu, para rasul mendapatkan penentangan dari kaumnya. Karena para rasul itu mengajak mereka kepada tauhid uluhiyah. Allah Ta’ala berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Apa yang dimaksud dengan thaghut? Jawab: Thaghut, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Malik rahimahullah, adalah segala sesembahan selain Allah. Di antara bentuk sesembahan itu (sebagaimana dikatakan oleh ‘Umar radhiyallahu’anhu) adalah setan. Jabir bin Abdillah radhiyallahu ’anhu juga menjelaskan bahwa salah satu bentuk thaghut adalah dukun-dukun. Mengapa manusia tidak boleh berbuat syirik? Jawab: Syirik adalah dosa besar yang paling besar. Syirik menyebabkan pelakunya (bila meninggal dan tidak bertobat) kekal di dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka.” (QS.  Al-Ma’idah: 72) Apa pengertian syirik? Jawab: Syirik adalah mempersekutukan selain Allah dengan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-Nya. Misalnya syirik dalam hal ibadah, yaitu dengan menyembelih untuk dipersembahkan kepada selain Allah; jin dan lain sebagainya. Allah Ta’ala berfirman, وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisa’: 36) Apa yang dimaksud dengan ibadah? Jawab: Ibadah adalah perendahan diri dan ketundukan kepada Allah dengan dilandasi kecintaan dan pengagungan kepada-Nya. Ibadah meliputi segala sesuatu yang dicintai dan diridai Allah, berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Ibadah harus dimurnikan untuk Allah. Apa syarat diterimanya ibadah? Jawab: Ibadah akan diterima di sisi Allah, apabila dilandasi dengan keimanan, keikhlasan, dan sesuai dengan tuntunan. Selain itu, ibadah itu juga tidak terbatalkan oleh adanya pembatal pahala atau penghapus amalan. Mengapa ibadah harus ikhlas? Jawab: Allah Ta’ala berfirman, وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ “Tidaklah mereka diperintahkan, melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan ikhlas memurnikan agama (amal) untuk-Nya…” (QS. Al-Bayyinah: 5) Ibadah yang tidak ikhlas akan sia-sia. Allah Ta’ala berfirman, وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا “Dan kami hadapkan segala apa yang mereka amalkan, kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23) Mengapa ibadah harus sesuai tuntunan? Jawab: Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَن عَمِلَ عملًا ليس عليه أمرُنا فهو رَدٌّ “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia pasti tertolak.” (HR. Muslim). Amalan yang tidak sesuai tuntunan tertolak. Apa yang dimaksud dengan iman? Jawab: Iman adalah pembenaran di dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota badan. Iman bisa bertambah dengan ketaatan dan bisa berkurang/cacat karena kemaksiatan. Iman inilah yang menjadi syarat untuk bisa masuk surga. Kembali ke bagian 5: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 5) Lanjut ke bagian 7: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 7) *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: faedahtauhid

Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 6)

Daftar Isi Toggle Faedah 15. Seruan pertamaFaedah 16. Mengenal dasar IslamApa yang dimaksud tauhid?Apa yang dimaksud kekhususan-kekhususan Allah itu?Apa yang dimaksud rububiyah?Apa yang dimaksud uluhiyah?Apa yang dimaksud asma’ wa shifat?Jadi, tauhid ada tiga macam?Mengapa tauhid uluhiyah yang paling utama?Bagaimana dengan tauhid rububiyah?Apakah tauhid uluhiyah ditentang oleh manusia?Apa yang dimaksud dengan thaghut?Mengapa manusia tidak boleh berbuat syirik?Apa pengertian syirik?Apa yang dimaksud dengan ibadah?Apa syarat diterimanya ibadah?Mengapa ibadah harus ikhlas?Mengapa ibadah harus sesuai tuntunan?Apa yang dimaksud dengan iman? Faedah 15. Seruan pertama Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa tauhid adalah seruan pertama para rasul, fase pertama yang harus ditempuh dan maqam/kedudukan awal yang harus dijalani oleh setiap penempuh jalan menuju Allah ‘Azza Wajalla.” (Lihat Syarh Aqidah Thahawiyah, hal. 77) Allah berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu seorang rasul pun, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar, selain Aku. Maka, sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25) Allah berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Dan sungguh telah Kami utus pada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah berfirman, وَلَقَدۡ أُوحِیَ إِلَیۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكَ لَىِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَیَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, ‘Jika kamu berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65) Ayat tersebut mengandung pelajaran bahwa dalam ajaran semua nabi telah ditetapkan bahwa syirik menghapuskan semua amalan. Sebagaimana dalam ayat lain dalam surah Al-An’am, Allah menyatakan bahwa seandainya mereka (para nabi dan orang saleh terdahulu) berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amal yang telah mereka kerjakan. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 729) Dakwah kepada akidah Islam merupakan pembuka dakwah para rasul semuanya. Mereka tidaklah mengawali dakwah dengan sesuatu apapun sebelum hal itu. Setiap rasul mengatakan kepada kaumnya pada awal-awal dakwahnya, ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۖ “Sembahlah Allah, tidak ada bagi kalian sesembahan, selain Dia.” (QS. Hud : 50) Inilah yang diserukan oleh Nuh, Hud, Salih, Syu’aib, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad, dan seluruh rasul ‘alaihimus salam. (Lihat Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad, hal. 19) Kebahagiaan di dunia sangat tergantung dengan ilmu tentang akidah. Kebutuhan hamba kepadanya di atas seluruh kebutuhan. Keterdesakan dirinya terhadapnya di atas semua perkara mendesak. Maka, tidak ada kenyamanan, ketenangan, dan kebahagiaan, kecuali dengan hamba itu mengenal Rabbnya dalam hal uluhiyah, rububiyah, dan sifat-sifat-Nya. Sebagaimana seorang manusia membutuhkan makanan dan minuman, maka dia pun membutuhkan ilmu akidah ini. Bahkan, kebutuhan dirinya untuk mengenal Rabbnya jauh lebih besar. (Lihat Ithaf Dzawil ‘Uqul Rasyidah, hal. 7) Hal ini menunjukkan kepada kita betapa pentingnya seorang muslim mengenal akidah Islam dari sumber-sumbernya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan mengikuti pemahaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Inilah pondasi kehidupan dan asas kebahagiaan hamba. Baca juga: Dampak Lenyapnya Tauhid Faedah 16. Mengenal dasar Islam Apa yang dimaksud tauhid? Jawab: Tauhid adalah mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-kekhususan-Nya. Apa yang dimaksud kekhususan-kekhususan Allah itu? Jawab: Kekhususan Allah bisa dibagi menjadi tiga bagian pokok; yaitu rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Apa yang dimaksud rububiyah? Jawab: Rububiyah adalah hal-hal yang berkaitan dengan penciptaan, pengaturan, dan penguasaan alam semesta. Allah adalah Rabbul ‘alamin, artinya pencipta, pengatur, dan penguasa alam semesta. Apa yang dimaksud uluhiyah? Jawab: Uluhiyah adalah hal-hal yang berkaitan dengan sifat ketuhanan atau peribadatan. Allah adalah iIlahin nas, artinya tuhan/sesembahan manusia. Oleh sebab itu, ibadah hanya boleh ditujukan kepada-Nya semata. Apa yang dimaksud asma’ wa shifat? Jawab: Asma’ wa shifat artinya nama-nama dan sifat-sifat Allah. Allah memiliki nama-nama yang Mahaindah dan sifat-sifat yang Mahamulia. Nama-nama Allah itu biasa dikenal dengan istilah asma’ul husna. Jadi, tauhid ada tiga macam? Jawab: Benar, tauhid terbagi tiga; tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Di antara ketiga hal itu, yang paling utama adalah tauhid uluhiyah. Mengapa tauhid uluhiyah yang paling utama? Jawab: Karena tauhid uluhiyah inilah yang terkandung dalam kalimat laa ilaha illallah. Tauhid uluhiyah ini pula yang menjadi tujuan diciptakannya jin dan manusia. Tauhid uluhiyah pula yang menjadi misi utama dakwah para rasul dan muatan pokok kitab-kitab suci. Bagaimana dengan tauhid rububiyah? Jawab: Tauhid rububiyah adalah suatu perkara yang secara fitrah telah diakui oleh manusia dan dibenarkan oleh akal sehat mereka. Oleh sebab itu, hampir tidak didapati seorang pun manusia yang mengingkari tauhid ini, kecuali karena sombong. Selain itu, tauhid rububiyah belum bisa memasukkan manusia ke dalam Islam. Apakah tauhid uluhiyah ditentang oleh manusia? Jawab: Secara fitrah, sesungguhnya akal sehat dan nurani manusia menuntut untuk menghamba kepada Allah saja. Akan tetapi, setan menjerumuskan mereka ke dalam berbagai penyimpangan, dan yang terbesar adalah kesyirikan kepada Allah. Oleh sebab itu, para rasul mendapatkan penentangan dari kaumnya. Karena para rasul itu mengajak mereka kepada tauhid uluhiyah. Allah Ta’ala berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Apa yang dimaksud dengan thaghut? Jawab: Thaghut, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Malik rahimahullah, adalah segala sesembahan selain Allah. Di antara bentuk sesembahan itu (sebagaimana dikatakan oleh ‘Umar radhiyallahu’anhu) adalah setan. Jabir bin Abdillah radhiyallahu ’anhu juga menjelaskan bahwa salah satu bentuk thaghut adalah dukun-dukun. Mengapa manusia tidak boleh berbuat syirik? Jawab: Syirik adalah dosa besar yang paling besar. Syirik menyebabkan pelakunya (bila meninggal dan tidak bertobat) kekal di dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka.” (QS.  Al-Ma’idah: 72) Apa pengertian syirik? Jawab: Syirik adalah mempersekutukan selain Allah dengan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-Nya. Misalnya syirik dalam hal ibadah, yaitu dengan menyembelih untuk dipersembahkan kepada selain Allah; jin dan lain sebagainya. Allah Ta’ala berfirman, وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisa’: 36) Apa yang dimaksud dengan ibadah? Jawab: Ibadah adalah perendahan diri dan ketundukan kepada Allah dengan dilandasi kecintaan dan pengagungan kepada-Nya. Ibadah meliputi segala sesuatu yang dicintai dan diridai Allah, berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Ibadah harus dimurnikan untuk Allah. Apa syarat diterimanya ibadah? Jawab: Ibadah akan diterima di sisi Allah, apabila dilandasi dengan keimanan, keikhlasan, dan sesuai dengan tuntunan. Selain itu, ibadah itu juga tidak terbatalkan oleh adanya pembatal pahala atau penghapus amalan. Mengapa ibadah harus ikhlas? Jawab: Allah Ta’ala berfirman, وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ “Tidaklah mereka diperintahkan, melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan ikhlas memurnikan agama (amal) untuk-Nya…” (QS. Al-Bayyinah: 5) Ibadah yang tidak ikhlas akan sia-sia. Allah Ta’ala berfirman, وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا “Dan kami hadapkan segala apa yang mereka amalkan, kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23) Mengapa ibadah harus sesuai tuntunan? Jawab: Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَن عَمِلَ عملًا ليس عليه أمرُنا فهو رَدٌّ “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia pasti tertolak.” (HR. Muslim). Amalan yang tidak sesuai tuntunan tertolak. Apa yang dimaksud dengan iman? Jawab: Iman adalah pembenaran di dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota badan. Iman bisa bertambah dengan ketaatan dan bisa berkurang/cacat karena kemaksiatan. Iman inilah yang menjadi syarat untuk bisa masuk surga. Kembali ke bagian 5: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 5) Lanjut ke bagian 7: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 7) *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: faedahtauhid
Daftar Isi Toggle Faedah 15. Seruan pertamaFaedah 16. Mengenal dasar IslamApa yang dimaksud tauhid?Apa yang dimaksud kekhususan-kekhususan Allah itu?Apa yang dimaksud rububiyah?Apa yang dimaksud uluhiyah?Apa yang dimaksud asma’ wa shifat?Jadi, tauhid ada tiga macam?Mengapa tauhid uluhiyah yang paling utama?Bagaimana dengan tauhid rububiyah?Apakah tauhid uluhiyah ditentang oleh manusia?Apa yang dimaksud dengan thaghut?Mengapa manusia tidak boleh berbuat syirik?Apa pengertian syirik?Apa yang dimaksud dengan ibadah?Apa syarat diterimanya ibadah?Mengapa ibadah harus ikhlas?Mengapa ibadah harus sesuai tuntunan?Apa yang dimaksud dengan iman? Faedah 15. Seruan pertama Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa tauhid adalah seruan pertama para rasul, fase pertama yang harus ditempuh dan maqam/kedudukan awal yang harus dijalani oleh setiap penempuh jalan menuju Allah ‘Azza Wajalla.” (Lihat Syarh Aqidah Thahawiyah, hal. 77) Allah berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu seorang rasul pun, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar, selain Aku. Maka, sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25) Allah berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Dan sungguh telah Kami utus pada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah berfirman, وَلَقَدۡ أُوحِیَ إِلَیۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكَ لَىِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَیَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, ‘Jika kamu berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65) Ayat tersebut mengandung pelajaran bahwa dalam ajaran semua nabi telah ditetapkan bahwa syirik menghapuskan semua amalan. Sebagaimana dalam ayat lain dalam surah Al-An’am, Allah menyatakan bahwa seandainya mereka (para nabi dan orang saleh terdahulu) berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amal yang telah mereka kerjakan. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 729) Dakwah kepada akidah Islam merupakan pembuka dakwah para rasul semuanya. Mereka tidaklah mengawali dakwah dengan sesuatu apapun sebelum hal itu. Setiap rasul mengatakan kepada kaumnya pada awal-awal dakwahnya, ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۖ “Sembahlah Allah, tidak ada bagi kalian sesembahan, selain Dia.” (QS. Hud : 50) Inilah yang diserukan oleh Nuh, Hud, Salih, Syu’aib, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad, dan seluruh rasul ‘alaihimus salam. (Lihat Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad, hal. 19) Kebahagiaan di dunia sangat tergantung dengan ilmu tentang akidah. Kebutuhan hamba kepadanya di atas seluruh kebutuhan. Keterdesakan dirinya terhadapnya di atas semua perkara mendesak. Maka, tidak ada kenyamanan, ketenangan, dan kebahagiaan, kecuali dengan hamba itu mengenal Rabbnya dalam hal uluhiyah, rububiyah, dan sifat-sifat-Nya. Sebagaimana seorang manusia membutuhkan makanan dan minuman, maka dia pun membutuhkan ilmu akidah ini. Bahkan, kebutuhan dirinya untuk mengenal Rabbnya jauh lebih besar. (Lihat Ithaf Dzawil ‘Uqul Rasyidah, hal. 7) Hal ini menunjukkan kepada kita betapa pentingnya seorang muslim mengenal akidah Islam dari sumber-sumbernya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan mengikuti pemahaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Inilah pondasi kehidupan dan asas kebahagiaan hamba. Baca juga: Dampak Lenyapnya Tauhid Faedah 16. Mengenal dasar Islam Apa yang dimaksud tauhid? Jawab: Tauhid adalah mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-kekhususan-Nya. Apa yang dimaksud kekhususan-kekhususan Allah itu? Jawab: Kekhususan Allah bisa dibagi menjadi tiga bagian pokok; yaitu rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Apa yang dimaksud rububiyah? Jawab: Rububiyah adalah hal-hal yang berkaitan dengan penciptaan, pengaturan, dan penguasaan alam semesta. Allah adalah Rabbul ‘alamin, artinya pencipta, pengatur, dan penguasa alam semesta. Apa yang dimaksud uluhiyah? Jawab: Uluhiyah adalah hal-hal yang berkaitan dengan sifat ketuhanan atau peribadatan. Allah adalah iIlahin nas, artinya tuhan/sesembahan manusia. Oleh sebab itu, ibadah hanya boleh ditujukan kepada-Nya semata. Apa yang dimaksud asma’ wa shifat? Jawab: Asma’ wa shifat artinya nama-nama dan sifat-sifat Allah. Allah memiliki nama-nama yang Mahaindah dan sifat-sifat yang Mahamulia. Nama-nama Allah itu biasa dikenal dengan istilah asma’ul husna. Jadi, tauhid ada tiga macam? Jawab: Benar, tauhid terbagi tiga; tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Di antara ketiga hal itu, yang paling utama adalah tauhid uluhiyah. Mengapa tauhid uluhiyah yang paling utama? Jawab: Karena tauhid uluhiyah inilah yang terkandung dalam kalimat laa ilaha illallah. Tauhid uluhiyah ini pula yang menjadi tujuan diciptakannya jin dan manusia. Tauhid uluhiyah pula yang menjadi misi utama dakwah para rasul dan muatan pokok kitab-kitab suci. Bagaimana dengan tauhid rububiyah? Jawab: Tauhid rububiyah adalah suatu perkara yang secara fitrah telah diakui oleh manusia dan dibenarkan oleh akal sehat mereka. Oleh sebab itu, hampir tidak didapati seorang pun manusia yang mengingkari tauhid ini, kecuali karena sombong. Selain itu, tauhid rububiyah belum bisa memasukkan manusia ke dalam Islam. Apakah tauhid uluhiyah ditentang oleh manusia? Jawab: Secara fitrah, sesungguhnya akal sehat dan nurani manusia menuntut untuk menghamba kepada Allah saja. Akan tetapi, setan menjerumuskan mereka ke dalam berbagai penyimpangan, dan yang terbesar adalah kesyirikan kepada Allah. Oleh sebab itu, para rasul mendapatkan penentangan dari kaumnya. Karena para rasul itu mengajak mereka kepada tauhid uluhiyah. Allah Ta’ala berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Apa yang dimaksud dengan thaghut? Jawab: Thaghut, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Malik rahimahullah, adalah segala sesembahan selain Allah. Di antara bentuk sesembahan itu (sebagaimana dikatakan oleh ‘Umar radhiyallahu’anhu) adalah setan. Jabir bin Abdillah radhiyallahu ’anhu juga menjelaskan bahwa salah satu bentuk thaghut adalah dukun-dukun. Mengapa manusia tidak boleh berbuat syirik? Jawab: Syirik adalah dosa besar yang paling besar. Syirik menyebabkan pelakunya (bila meninggal dan tidak bertobat) kekal di dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka.” (QS.  Al-Ma’idah: 72) Apa pengertian syirik? Jawab: Syirik adalah mempersekutukan selain Allah dengan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-Nya. Misalnya syirik dalam hal ibadah, yaitu dengan menyembelih untuk dipersembahkan kepada selain Allah; jin dan lain sebagainya. Allah Ta’ala berfirman, وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisa’: 36) Apa yang dimaksud dengan ibadah? Jawab: Ibadah adalah perendahan diri dan ketundukan kepada Allah dengan dilandasi kecintaan dan pengagungan kepada-Nya. Ibadah meliputi segala sesuatu yang dicintai dan diridai Allah, berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Ibadah harus dimurnikan untuk Allah. Apa syarat diterimanya ibadah? Jawab: Ibadah akan diterima di sisi Allah, apabila dilandasi dengan keimanan, keikhlasan, dan sesuai dengan tuntunan. Selain itu, ibadah itu juga tidak terbatalkan oleh adanya pembatal pahala atau penghapus amalan. Mengapa ibadah harus ikhlas? Jawab: Allah Ta’ala berfirman, وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ “Tidaklah mereka diperintahkan, melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan ikhlas memurnikan agama (amal) untuk-Nya…” (QS. Al-Bayyinah: 5) Ibadah yang tidak ikhlas akan sia-sia. Allah Ta’ala berfirman, وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا “Dan kami hadapkan segala apa yang mereka amalkan, kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23) Mengapa ibadah harus sesuai tuntunan? Jawab: Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَن عَمِلَ عملًا ليس عليه أمرُنا فهو رَدٌّ “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia pasti tertolak.” (HR. Muslim). Amalan yang tidak sesuai tuntunan tertolak. Apa yang dimaksud dengan iman? Jawab: Iman adalah pembenaran di dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota badan. Iman bisa bertambah dengan ketaatan dan bisa berkurang/cacat karena kemaksiatan. Iman inilah yang menjadi syarat untuk bisa masuk surga. Kembali ke bagian 5: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 5) Lanjut ke bagian 7: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 7) *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: faedahtauhid


Daftar Isi Toggle Faedah 15. Seruan pertamaFaedah 16. Mengenal dasar IslamApa yang dimaksud tauhid?Apa yang dimaksud kekhususan-kekhususan Allah itu?Apa yang dimaksud rububiyah?Apa yang dimaksud uluhiyah?Apa yang dimaksud asma’ wa shifat?Jadi, tauhid ada tiga macam?Mengapa tauhid uluhiyah yang paling utama?Bagaimana dengan tauhid rububiyah?Apakah tauhid uluhiyah ditentang oleh manusia?Apa yang dimaksud dengan thaghut?Mengapa manusia tidak boleh berbuat syirik?Apa pengertian syirik?Apa yang dimaksud dengan ibadah?Apa syarat diterimanya ibadah?Mengapa ibadah harus ikhlas?Mengapa ibadah harus sesuai tuntunan?Apa yang dimaksud dengan iman? Faedah 15. Seruan pertama Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa tauhid adalah seruan pertama para rasul, fase pertama yang harus ditempuh dan maqam/kedudukan awal yang harus dijalani oleh setiap penempuh jalan menuju Allah ‘Azza Wajalla.” (Lihat Syarh Aqidah Thahawiyah, hal. 77) Allah berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu seorang rasul pun, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar, selain Aku. Maka, sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25) Allah berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Dan sungguh telah Kami utus pada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah berfirman, وَلَقَدۡ أُوحِیَ إِلَیۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكَ لَىِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَیَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, ‘Jika kamu berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65) Ayat tersebut mengandung pelajaran bahwa dalam ajaran semua nabi telah ditetapkan bahwa syirik menghapuskan semua amalan. Sebagaimana dalam ayat lain dalam surah Al-An’am, Allah menyatakan bahwa seandainya mereka (para nabi dan orang saleh terdahulu) berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amal yang telah mereka kerjakan. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 729) Dakwah kepada akidah Islam merupakan pembuka dakwah para rasul semuanya. Mereka tidaklah mengawali dakwah dengan sesuatu apapun sebelum hal itu. Setiap rasul mengatakan kepada kaumnya pada awal-awal dakwahnya, ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۖ “Sembahlah Allah, tidak ada bagi kalian sesembahan, selain Dia.” (QS. Hud : 50) Inilah yang diserukan oleh Nuh, Hud, Salih, Syu’aib, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad, dan seluruh rasul ‘alaihimus salam. (Lihat Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad, hal. 19) Kebahagiaan di dunia sangat tergantung dengan ilmu tentang akidah. Kebutuhan hamba kepadanya di atas seluruh kebutuhan. Keterdesakan dirinya terhadapnya di atas semua perkara mendesak. Maka, tidak ada kenyamanan, ketenangan, dan kebahagiaan, kecuali dengan hamba itu mengenal Rabbnya dalam hal uluhiyah, rububiyah, dan sifat-sifat-Nya. Sebagaimana seorang manusia membutuhkan makanan dan minuman, maka dia pun membutuhkan ilmu akidah ini. Bahkan, kebutuhan dirinya untuk mengenal Rabbnya jauh lebih besar. (Lihat Ithaf Dzawil ‘Uqul Rasyidah, hal. 7) Hal ini menunjukkan kepada kita betapa pentingnya seorang muslim mengenal akidah Islam dari sumber-sumbernya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan mengikuti pemahaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Inilah pondasi kehidupan dan asas kebahagiaan hamba. Baca juga: Dampak Lenyapnya Tauhid Faedah 16. Mengenal dasar Islam Apa yang dimaksud tauhid? Jawab: Tauhid adalah mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-kekhususan-Nya. Apa yang dimaksud kekhususan-kekhususan Allah itu? Jawab: Kekhususan Allah bisa dibagi menjadi tiga bagian pokok; yaitu rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Apa yang dimaksud rububiyah? Jawab: Rububiyah adalah hal-hal yang berkaitan dengan penciptaan, pengaturan, dan penguasaan alam semesta. Allah adalah Rabbul ‘alamin, artinya pencipta, pengatur, dan penguasa alam semesta. Apa yang dimaksud uluhiyah? Jawab: Uluhiyah adalah hal-hal yang berkaitan dengan sifat ketuhanan atau peribadatan. Allah adalah iIlahin nas, artinya tuhan/sesembahan manusia. Oleh sebab itu, ibadah hanya boleh ditujukan kepada-Nya semata. Apa yang dimaksud asma’ wa shifat? Jawab: Asma’ wa shifat artinya nama-nama dan sifat-sifat Allah. Allah memiliki nama-nama yang Mahaindah dan sifat-sifat yang Mahamulia. Nama-nama Allah itu biasa dikenal dengan istilah asma’ul husna. Jadi, tauhid ada tiga macam? Jawab: Benar, tauhid terbagi tiga; tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Di antara ketiga hal itu, yang paling utama adalah tauhid uluhiyah. Mengapa tauhid uluhiyah yang paling utama? Jawab: Karena tauhid uluhiyah inilah yang terkandung dalam kalimat laa ilaha illallah. Tauhid uluhiyah ini pula yang menjadi tujuan diciptakannya jin dan manusia. Tauhid uluhiyah pula yang menjadi misi utama dakwah para rasul dan muatan pokok kitab-kitab suci. Bagaimana dengan tauhid rububiyah? Jawab: Tauhid rububiyah adalah suatu perkara yang secara fitrah telah diakui oleh manusia dan dibenarkan oleh akal sehat mereka. Oleh sebab itu, hampir tidak didapati seorang pun manusia yang mengingkari tauhid ini, kecuali karena sombong. Selain itu, tauhid rububiyah belum bisa memasukkan manusia ke dalam Islam. Apakah tauhid uluhiyah ditentang oleh manusia? Jawab: Secara fitrah, sesungguhnya akal sehat dan nurani manusia menuntut untuk menghamba kepada Allah saja. Akan tetapi, setan menjerumuskan mereka ke dalam berbagai penyimpangan, dan yang terbesar adalah kesyirikan kepada Allah. Oleh sebab itu, para rasul mendapatkan penentangan dari kaumnya. Karena para rasul itu mengajak mereka kepada tauhid uluhiyah. Allah Ta’ala berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Apa yang dimaksud dengan thaghut? Jawab: Thaghut, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Malik rahimahullah, adalah segala sesembahan selain Allah. Di antara bentuk sesembahan itu (sebagaimana dikatakan oleh ‘Umar radhiyallahu’anhu) adalah setan. Jabir bin Abdillah radhiyallahu ’anhu juga menjelaskan bahwa salah satu bentuk thaghut adalah dukun-dukun. Mengapa manusia tidak boleh berbuat syirik? Jawab: Syirik adalah dosa besar yang paling besar. Syirik menyebabkan pelakunya (bila meninggal dan tidak bertobat) kekal di dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka.” (QS.  Al-Ma’idah: 72) Apa pengertian syirik? Jawab: Syirik adalah mempersekutukan selain Allah dengan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-Nya. Misalnya syirik dalam hal ibadah, yaitu dengan menyembelih untuk dipersembahkan kepada selain Allah; jin dan lain sebagainya. Allah Ta’ala berfirman, وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisa’: 36) Apa yang dimaksud dengan ibadah? Jawab: Ibadah adalah perendahan diri dan ketundukan kepada Allah dengan dilandasi kecintaan dan pengagungan kepada-Nya. Ibadah meliputi segala sesuatu yang dicintai dan diridai Allah, berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Ibadah harus dimurnikan untuk Allah. Apa syarat diterimanya ibadah? Jawab: Ibadah akan diterima di sisi Allah, apabila dilandasi dengan keimanan, keikhlasan, dan sesuai dengan tuntunan. Selain itu, ibadah itu juga tidak terbatalkan oleh adanya pembatal pahala atau penghapus amalan. Mengapa ibadah harus ikhlas? Jawab: Allah Ta’ala berfirman, وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ “Tidaklah mereka diperintahkan, melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan ikhlas memurnikan agama (amal) untuk-Nya…” (QS. Al-Bayyinah: 5) Ibadah yang tidak ikhlas akan sia-sia. Allah Ta’ala berfirman, وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا “Dan kami hadapkan segala apa yang mereka amalkan, kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23) Mengapa ibadah harus sesuai tuntunan? Jawab: Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَن عَمِلَ عملًا ليس عليه أمرُنا فهو رَدٌّ “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia pasti tertolak.” (HR. Muslim). Amalan yang tidak sesuai tuntunan tertolak. Apa yang dimaksud dengan iman? Jawab: Iman adalah pembenaran di dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota badan. Iman bisa bertambah dengan ketaatan dan bisa berkurang/cacat karena kemaksiatan. Iman inilah yang menjadi syarat untuk bisa masuk surga. Kembali ke bagian 5: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 5) Lanjut ke bagian 7: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 7) *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: faedahtauhid

Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 7)

Daftar Isi Toggle Faedah 17. Membaca sejarah munculnya syirikFaidah 18. Pengikut ajaran Nabi Ibrahim Faedah 17. Membaca sejarah munculnya syirik Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan dalam kitabnya I’anatul Mustafid bahwa tauhid merupakan asal keadaan umat manusia. Adapun syirik merupakan perkara yang baru dan menodainya. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, “Adalah jarak antara Adam dan Nuh selama 10 kurun/abad. Mereka semua berada di atas tauhid.” Syirik yang pertama kali muncul adalah di tengah kaum Nuh ‘alaihis salam ketika mereka bersikap berlebih-lebihan/ghuluw terhadap orang-orang saleh dan membuat gambar atau patung untuk mengenangnya. Sampai pada akhirnya, mereka pun menyembah patung dan gambar itu. Maka, Allah pun mengutus Nabi Nuh ‘alaihis salam untuk melarang perbuatan syirik dan memerintahkan ibadah untuk Allah semata. Begitu pula, para rasul datang sesudahnya dengan membawa misi yang sama. (lihat I’anatul Mustafid, 1: 5) Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya tentang makna firman Allah, كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةࣰ وَ ٰ⁠حِدَةࣰ “Adalah manusia itu dahulu umat yang satu…” (QS. Al-Baqarah: 213). Beliau menafsirkan, yaitu di atas agama yang satu/sama. (lihat Ma’alim At-Tanzil, hlm. 118) Ibnu Katsir rahimahullah juga memberikan penafsiran serupa, dengan membawakan riwayat dari Ibnu Jarir dengan sanadnya dari Ibnu Abbas. Beliau berkata, “Adalah jarak antara Nuh dengan Adam sepuluh kurun. Mereka semua berada di atas syariat kebenaran, lalu mereka pun berselisih. Allah pun mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 1: 327, cet. At-Taufiqiyah) Penafsiran serupa, yang menjelaskan bahwa syirik pertama kali di muka bumi ini terjadi di tengah kaum Nabi Nuh, juga diriwayatkan dari para ulama salaf yang lain semacam Qatadah dan Ikrimah. Ikrimah berkata, “Adalah jarak antara Adam dan Nuh sepuluh kurun. Mereka semua berada di atas Islam.” (lihat dalam kitab Asy-Syirk fil Qadim wal Hadits, 1: 209) Demikian pula, penafsiran yang disampaikan oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah bahwa dahulu umat manusia sejak zaman Nabi Adam merupakan umat yang satu, yaitu berada di atas tauhid dan di atas agama yang sama, yaitu Islam. (lihat Al-Qaul Al-Mufid, 1: 235, cet. Maktabah Al-’Ilmu, lihat pula Ahkam minal Qur’an Al-Karim, 2: 84,87) Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan dalam Kitab Tauhid-nya bahwa sebab kekafiran anak Adam dan faktor yang menyebabkan mereka meninggalkan agama mereka (yaitu tauhid) adalah karena bersikap berlebih-lebihan terhadap orang-orang saleh. Hal ini menunjukkan bahwa syirik yang pertama kali muncul di muka bumi ini adalah gara-gara syubhat kecintaan kepada orang-orang saleh. (lihat Ibthal At-Tandid, hlm. 112) Sikap berlebih-lebihan kepada orang saleh ini timbul akibat pencampuran kebenaran dengan kebatilan. Yang dimaksud kebenaran di sini adalah kecintaan kepada orang saleh. Dan yang dimaksud kebatilan adalah perbuatan mengada-ada (bid’ah) yang dicetuskan oleh sebagian ahli ilmu atau ahli agama dengan niat baik mereka kemudian disalahpahami oleh generasi sesudahnya. Pelajaran yang bisa diambil darinya adalah ‘barangsiapa yang ingin memperkuat agamanya dengan suatu perbuatan bid’ah, maka bahayanya justru lebih banyak daripada manfaatnya’. (lihat keterangan Syekh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah dalam Al-Qaul Al-Mufid, 1: 235) Demikianlah, akar kesyirikan yang tumbuh berkembang di masa lalu, bahkan juga menjalar di tengah ahlul kitab. Ummul mu’minin, ‘Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan bahwa suatu hari, Ummu Salamah radhyiallahu ’anha mengisahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika itu beliau sedang sakit mendekati wafatnya, tentang sebuah gereja yang dilihatnya di negeri Habasyah beserta gambar/lukisan-lukisan yang ada di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Orang-orang itu, apabila ada orang saleh atau hamba yang saleh meninggal di antara mereka, mereka membuat bangunan masjid/tempat ibadah di atas kuburnya. Dan mereka pun membuat gambar-gambar semacam itu. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Semoga Allah melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka telah menjadikan kubur-kubur nabi mereka sebagai masjid/tempat ibadah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari sinilah, dapat kita ketahui bahwa penghambaan kepada Allah semata atau tauhid adalah asal keadaan umat manusia sejak manusia pertama, yaitu Nabi Adam ‘alahis salam. Setelah terjadinya syirik di tengah kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam, maka Allah pun mengutus beliau dan kemudian diikuti dengan diutusnya para rasul setelahnya dengan menyerukan dakwah tauhid kepada manusia. Agar mereka kembali kepada jalan yang lurus, yaitu tauhid. Allah berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah juga berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu, Muhammad, seorang rasul pun, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada ilah/sesembahan, yang benar, selain Aku, maka sembahlah Aku saja.’” (QS. Al-Anbiya’: 25) Allah berfirman pula, وَلَقَدۡ أُوحِیَ إِلَیۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكَ لَىِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَیَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ “Dan sungguh telah Kami wahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, ‘Jika kamu berbuat syirik, pasti akan lenyap seluruh amalmu, dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65) Pada masa jahiliyah, sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, kesyirikan merajalela di tengah manusia dalam bentuk peribadatan kepada pohon, batu, kuburan, bintang-bintang, berhala, jin, orang saleh, malaikat, dan sebagainya. Mereka membuat patung-patungnya dan mereka puja-puja. Mereka pun iktikaf di sekitarnya dengan mengharap keberkahan darinya. Pada saat itulah, Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah dan melarang syirik. (lihat Al-Mufid ‘ala Kitab At-Tauhid, hlm. 7) Allah berfirman, قُلۡ إِنَّمَاۤ أَنَا۠ بَشَرࣱ مِّثۡلُكُمۡ یُوحَىٰۤ إِلَیَّ أَنَّمَاۤ إِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهࣱ وَ ٰ⁠حِدࣱۖ فَمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ لِقَاۤءَ رَبِّهِۦ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَلَا یُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini adalah manusia seperti kalian yang diberikan wahyu kepadaku, bahwa sesembahan kalian, yang benar, hanyalah satu sesembahan Yang Maha Esa. Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. Al-Kahfi: 110) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Allah untuk seluruh manusia, bukan bangsa Arab saja. Allah berfirman, قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً “Katakanlah, ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah kepada kalian semuanya.’” (QS. Al-A’raf: 158) Dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا كَاۤفَّةࣰ لِّلنَّاسِ “Dan tidaklah Kami utus engkau, Muhammad, kecuali untuk seluruh manusia.” (QS. Saba’: 28) Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dakwah tauhid dan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah petunjuk Allah bagi seluruh manusia dan penutup semua nabi dan rasul. Inilah prinsip mendasar yang digerogoti oleh orang-orang yang menyerukan adanya dialog antara agama di masa kini. Karena mereka, umat-umat yang lain, menolak ditutupnya risalah dengan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka tidak setuju dengan ke-universal-an dan keumuman risalah yang beliau bawa. (lihat At-Taudhihat Al-Kasyifat ‘ala Kasyfi Asy-Syubuhat karya Syekh Muhammad Al-Habdan hafizhahullah, hlm. 62) Islam mengajak manusia menghamba kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Dan inilah kunci keselamatan umat manusia. Maka, sungguh aneh apabila manusia menolak ajakan menuju negeri kebahagiaan dan justru mengelu-elukan syirik dan pemberhalaan! Faidah 18. Pengikut ajaran Nabi Ibrahim Allah berfirman, ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Kemudian Kami wahyukan kepadamu, ‘Hendaklah kamu mengikuti millah/ajaran Ibrahim yang hanif, dan sama sekali dia bukan termasuk golongan orang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123) Di dalam ayat yang agung ini, Allah memerintahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti millah/ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, yaitu ajaran tauhid dan keikhlasan beribadah kepada Allah semata serta meninggalkan sesembahan selain-Nya. Ajaran Nabi Ibrahim tidak lain adalah agama Islam yang dibawa oleh setiap nabi dan rasul. Setiap rasul mengajak umatnya untuk beribadah kepada Allah dan menjauhi thaghut/sesembahan selain Allah. Allah berfirman, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah menyebut ajaran Nabi Ibrahim sebagai ajaran yang hanif. Para ulama juga menyebut ajaran tauhid ini dengan istilah Al-Hanifiyyah. Inilah hakikat dari millah/ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan juga para rasul yang lain. Yang demikian itu karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah seorang yang hanif, yaitu yang ikhlas beribadah kepada Allah. Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, والحنيف هو: المقبل على الله المعرض عما سواه، هذا هو الحنيف: المقبل على الله بقلبه وأعماله ونياته ومقاصده كلها لله، المعرِض عما سواه “Orang yang hanif adalah orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dan berpaling dari segala sesembahan selain-Nya. Inilah hakikat orang yang hanif. Yang menghadapkan diri kepada Allah dengan hati, amal, niat, dan kehendaknya itu seluruhnya dipersembahkan kepada Allah, dan dia berpaling dari selain-Nya.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’ oleh Syekh Shalih Al-Fauzan) Allah berfirman, مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Bukanlah Ibrahim itu orang yang beragama Yahudi atau Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif lagi muslim, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67) Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas dan tegas membantah klaim Yahudi dan Nasrani yang mengaku sebagai pengikut ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Bahkan, tidaklah berada di atas ajaran dan agama yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim, di antara umat akhir zaman ini, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya yang setia. Sehingga, pengakuan kaum Yahudi atau Nasrani bahwa mereka berada di atas agama Nabi Ibrahim adalah dusta belaka! Silahkan baca keterangan Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah di dalam tafsirnya (Tafsir Surah Ali Imran ayat 67). Demikian sedikit kumpulan catatan. Semoga berfaedah. Kembali ke bagian 6: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 6) Lanjut ke bagian 8: Bersambung *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: faedahtauhid

Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 7)

Daftar Isi Toggle Faedah 17. Membaca sejarah munculnya syirikFaidah 18. Pengikut ajaran Nabi Ibrahim Faedah 17. Membaca sejarah munculnya syirik Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan dalam kitabnya I’anatul Mustafid bahwa tauhid merupakan asal keadaan umat manusia. Adapun syirik merupakan perkara yang baru dan menodainya. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, “Adalah jarak antara Adam dan Nuh selama 10 kurun/abad. Mereka semua berada di atas tauhid.” Syirik yang pertama kali muncul adalah di tengah kaum Nuh ‘alaihis salam ketika mereka bersikap berlebih-lebihan/ghuluw terhadap orang-orang saleh dan membuat gambar atau patung untuk mengenangnya. Sampai pada akhirnya, mereka pun menyembah patung dan gambar itu. Maka, Allah pun mengutus Nabi Nuh ‘alaihis salam untuk melarang perbuatan syirik dan memerintahkan ibadah untuk Allah semata. Begitu pula, para rasul datang sesudahnya dengan membawa misi yang sama. (lihat I’anatul Mustafid, 1: 5) Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya tentang makna firman Allah, كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةࣰ وَ ٰ⁠حِدَةࣰ “Adalah manusia itu dahulu umat yang satu…” (QS. Al-Baqarah: 213). Beliau menafsirkan, yaitu di atas agama yang satu/sama. (lihat Ma’alim At-Tanzil, hlm. 118) Ibnu Katsir rahimahullah juga memberikan penafsiran serupa, dengan membawakan riwayat dari Ibnu Jarir dengan sanadnya dari Ibnu Abbas. Beliau berkata, “Adalah jarak antara Nuh dengan Adam sepuluh kurun. Mereka semua berada di atas syariat kebenaran, lalu mereka pun berselisih. Allah pun mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 1: 327, cet. At-Taufiqiyah) Penafsiran serupa, yang menjelaskan bahwa syirik pertama kali di muka bumi ini terjadi di tengah kaum Nabi Nuh, juga diriwayatkan dari para ulama salaf yang lain semacam Qatadah dan Ikrimah. Ikrimah berkata, “Adalah jarak antara Adam dan Nuh sepuluh kurun. Mereka semua berada di atas Islam.” (lihat dalam kitab Asy-Syirk fil Qadim wal Hadits, 1: 209) Demikian pula, penafsiran yang disampaikan oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah bahwa dahulu umat manusia sejak zaman Nabi Adam merupakan umat yang satu, yaitu berada di atas tauhid dan di atas agama yang sama, yaitu Islam. (lihat Al-Qaul Al-Mufid, 1: 235, cet. Maktabah Al-’Ilmu, lihat pula Ahkam minal Qur’an Al-Karim, 2: 84,87) Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan dalam Kitab Tauhid-nya bahwa sebab kekafiran anak Adam dan faktor yang menyebabkan mereka meninggalkan agama mereka (yaitu tauhid) adalah karena bersikap berlebih-lebihan terhadap orang-orang saleh. Hal ini menunjukkan bahwa syirik yang pertama kali muncul di muka bumi ini adalah gara-gara syubhat kecintaan kepada orang-orang saleh. (lihat Ibthal At-Tandid, hlm. 112) Sikap berlebih-lebihan kepada orang saleh ini timbul akibat pencampuran kebenaran dengan kebatilan. Yang dimaksud kebenaran di sini adalah kecintaan kepada orang saleh. Dan yang dimaksud kebatilan adalah perbuatan mengada-ada (bid’ah) yang dicetuskan oleh sebagian ahli ilmu atau ahli agama dengan niat baik mereka kemudian disalahpahami oleh generasi sesudahnya. Pelajaran yang bisa diambil darinya adalah ‘barangsiapa yang ingin memperkuat agamanya dengan suatu perbuatan bid’ah, maka bahayanya justru lebih banyak daripada manfaatnya’. (lihat keterangan Syekh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah dalam Al-Qaul Al-Mufid, 1: 235) Demikianlah, akar kesyirikan yang tumbuh berkembang di masa lalu, bahkan juga menjalar di tengah ahlul kitab. Ummul mu’minin, ‘Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan bahwa suatu hari, Ummu Salamah radhyiallahu ’anha mengisahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika itu beliau sedang sakit mendekati wafatnya, tentang sebuah gereja yang dilihatnya di negeri Habasyah beserta gambar/lukisan-lukisan yang ada di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Orang-orang itu, apabila ada orang saleh atau hamba yang saleh meninggal di antara mereka, mereka membuat bangunan masjid/tempat ibadah di atas kuburnya. Dan mereka pun membuat gambar-gambar semacam itu. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Semoga Allah melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka telah menjadikan kubur-kubur nabi mereka sebagai masjid/tempat ibadah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari sinilah, dapat kita ketahui bahwa penghambaan kepada Allah semata atau tauhid adalah asal keadaan umat manusia sejak manusia pertama, yaitu Nabi Adam ‘alahis salam. Setelah terjadinya syirik di tengah kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam, maka Allah pun mengutus beliau dan kemudian diikuti dengan diutusnya para rasul setelahnya dengan menyerukan dakwah tauhid kepada manusia. Agar mereka kembali kepada jalan yang lurus, yaitu tauhid. Allah berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah juga berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu, Muhammad, seorang rasul pun, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada ilah/sesembahan, yang benar, selain Aku, maka sembahlah Aku saja.’” (QS. Al-Anbiya’: 25) Allah berfirman pula, وَلَقَدۡ أُوحِیَ إِلَیۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكَ لَىِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَیَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ “Dan sungguh telah Kami wahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, ‘Jika kamu berbuat syirik, pasti akan lenyap seluruh amalmu, dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65) Pada masa jahiliyah, sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, kesyirikan merajalela di tengah manusia dalam bentuk peribadatan kepada pohon, batu, kuburan, bintang-bintang, berhala, jin, orang saleh, malaikat, dan sebagainya. Mereka membuat patung-patungnya dan mereka puja-puja. Mereka pun iktikaf di sekitarnya dengan mengharap keberkahan darinya. Pada saat itulah, Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah dan melarang syirik. (lihat Al-Mufid ‘ala Kitab At-Tauhid, hlm. 7) Allah berfirman, قُلۡ إِنَّمَاۤ أَنَا۠ بَشَرࣱ مِّثۡلُكُمۡ یُوحَىٰۤ إِلَیَّ أَنَّمَاۤ إِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهࣱ وَ ٰ⁠حِدࣱۖ فَمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ لِقَاۤءَ رَبِّهِۦ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَلَا یُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini adalah manusia seperti kalian yang diberikan wahyu kepadaku, bahwa sesembahan kalian, yang benar, hanyalah satu sesembahan Yang Maha Esa. Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. Al-Kahfi: 110) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Allah untuk seluruh manusia, bukan bangsa Arab saja. Allah berfirman, قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً “Katakanlah, ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah kepada kalian semuanya.’” (QS. Al-A’raf: 158) Dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا كَاۤفَّةࣰ لِّلنَّاسِ “Dan tidaklah Kami utus engkau, Muhammad, kecuali untuk seluruh manusia.” (QS. Saba’: 28) Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dakwah tauhid dan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah petunjuk Allah bagi seluruh manusia dan penutup semua nabi dan rasul. Inilah prinsip mendasar yang digerogoti oleh orang-orang yang menyerukan adanya dialog antara agama di masa kini. Karena mereka, umat-umat yang lain, menolak ditutupnya risalah dengan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka tidak setuju dengan ke-universal-an dan keumuman risalah yang beliau bawa. (lihat At-Taudhihat Al-Kasyifat ‘ala Kasyfi Asy-Syubuhat karya Syekh Muhammad Al-Habdan hafizhahullah, hlm. 62) Islam mengajak manusia menghamba kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Dan inilah kunci keselamatan umat manusia. Maka, sungguh aneh apabila manusia menolak ajakan menuju negeri kebahagiaan dan justru mengelu-elukan syirik dan pemberhalaan! Faidah 18. Pengikut ajaran Nabi Ibrahim Allah berfirman, ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Kemudian Kami wahyukan kepadamu, ‘Hendaklah kamu mengikuti millah/ajaran Ibrahim yang hanif, dan sama sekali dia bukan termasuk golongan orang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123) Di dalam ayat yang agung ini, Allah memerintahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti millah/ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, yaitu ajaran tauhid dan keikhlasan beribadah kepada Allah semata serta meninggalkan sesembahan selain-Nya. Ajaran Nabi Ibrahim tidak lain adalah agama Islam yang dibawa oleh setiap nabi dan rasul. Setiap rasul mengajak umatnya untuk beribadah kepada Allah dan menjauhi thaghut/sesembahan selain Allah. Allah berfirman, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah menyebut ajaran Nabi Ibrahim sebagai ajaran yang hanif. Para ulama juga menyebut ajaran tauhid ini dengan istilah Al-Hanifiyyah. Inilah hakikat dari millah/ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan juga para rasul yang lain. Yang demikian itu karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah seorang yang hanif, yaitu yang ikhlas beribadah kepada Allah. Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, والحنيف هو: المقبل على الله المعرض عما سواه، هذا هو الحنيف: المقبل على الله بقلبه وأعماله ونياته ومقاصده كلها لله، المعرِض عما سواه “Orang yang hanif adalah orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dan berpaling dari segala sesembahan selain-Nya. Inilah hakikat orang yang hanif. Yang menghadapkan diri kepada Allah dengan hati, amal, niat, dan kehendaknya itu seluruhnya dipersembahkan kepada Allah, dan dia berpaling dari selain-Nya.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’ oleh Syekh Shalih Al-Fauzan) Allah berfirman, مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Bukanlah Ibrahim itu orang yang beragama Yahudi atau Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif lagi muslim, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67) Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas dan tegas membantah klaim Yahudi dan Nasrani yang mengaku sebagai pengikut ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Bahkan, tidaklah berada di atas ajaran dan agama yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim, di antara umat akhir zaman ini, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya yang setia. Sehingga, pengakuan kaum Yahudi atau Nasrani bahwa mereka berada di atas agama Nabi Ibrahim adalah dusta belaka! Silahkan baca keterangan Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah di dalam tafsirnya (Tafsir Surah Ali Imran ayat 67). Demikian sedikit kumpulan catatan. Semoga berfaedah. Kembali ke bagian 6: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 6) Lanjut ke bagian 8: Bersambung *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: faedahtauhid
Daftar Isi Toggle Faedah 17. Membaca sejarah munculnya syirikFaidah 18. Pengikut ajaran Nabi Ibrahim Faedah 17. Membaca sejarah munculnya syirik Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan dalam kitabnya I’anatul Mustafid bahwa tauhid merupakan asal keadaan umat manusia. Adapun syirik merupakan perkara yang baru dan menodainya. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, “Adalah jarak antara Adam dan Nuh selama 10 kurun/abad. Mereka semua berada di atas tauhid.” Syirik yang pertama kali muncul adalah di tengah kaum Nuh ‘alaihis salam ketika mereka bersikap berlebih-lebihan/ghuluw terhadap orang-orang saleh dan membuat gambar atau patung untuk mengenangnya. Sampai pada akhirnya, mereka pun menyembah patung dan gambar itu. Maka, Allah pun mengutus Nabi Nuh ‘alaihis salam untuk melarang perbuatan syirik dan memerintahkan ibadah untuk Allah semata. Begitu pula, para rasul datang sesudahnya dengan membawa misi yang sama. (lihat I’anatul Mustafid, 1: 5) Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya tentang makna firman Allah, كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةࣰ وَ ٰ⁠حِدَةࣰ “Adalah manusia itu dahulu umat yang satu…” (QS. Al-Baqarah: 213). Beliau menafsirkan, yaitu di atas agama yang satu/sama. (lihat Ma’alim At-Tanzil, hlm. 118) Ibnu Katsir rahimahullah juga memberikan penafsiran serupa, dengan membawakan riwayat dari Ibnu Jarir dengan sanadnya dari Ibnu Abbas. Beliau berkata, “Adalah jarak antara Nuh dengan Adam sepuluh kurun. Mereka semua berada di atas syariat kebenaran, lalu mereka pun berselisih. Allah pun mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 1: 327, cet. At-Taufiqiyah) Penafsiran serupa, yang menjelaskan bahwa syirik pertama kali di muka bumi ini terjadi di tengah kaum Nabi Nuh, juga diriwayatkan dari para ulama salaf yang lain semacam Qatadah dan Ikrimah. Ikrimah berkata, “Adalah jarak antara Adam dan Nuh sepuluh kurun. Mereka semua berada di atas Islam.” (lihat dalam kitab Asy-Syirk fil Qadim wal Hadits, 1: 209) Demikian pula, penafsiran yang disampaikan oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah bahwa dahulu umat manusia sejak zaman Nabi Adam merupakan umat yang satu, yaitu berada di atas tauhid dan di atas agama yang sama, yaitu Islam. (lihat Al-Qaul Al-Mufid, 1: 235, cet. Maktabah Al-’Ilmu, lihat pula Ahkam minal Qur’an Al-Karim, 2: 84,87) Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan dalam Kitab Tauhid-nya bahwa sebab kekafiran anak Adam dan faktor yang menyebabkan mereka meninggalkan agama mereka (yaitu tauhid) adalah karena bersikap berlebih-lebihan terhadap orang-orang saleh. Hal ini menunjukkan bahwa syirik yang pertama kali muncul di muka bumi ini adalah gara-gara syubhat kecintaan kepada orang-orang saleh. (lihat Ibthal At-Tandid, hlm. 112) Sikap berlebih-lebihan kepada orang saleh ini timbul akibat pencampuran kebenaran dengan kebatilan. Yang dimaksud kebenaran di sini adalah kecintaan kepada orang saleh. Dan yang dimaksud kebatilan adalah perbuatan mengada-ada (bid’ah) yang dicetuskan oleh sebagian ahli ilmu atau ahli agama dengan niat baik mereka kemudian disalahpahami oleh generasi sesudahnya. Pelajaran yang bisa diambil darinya adalah ‘barangsiapa yang ingin memperkuat agamanya dengan suatu perbuatan bid’ah, maka bahayanya justru lebih banyak daripada manfaatnya’. (lihat keterangan Syekh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah dalam Al-Qaul Al-Mufid, 1: 235) Demikianlah, akar kesyirikan yang tumbuh berkembang di masa lalu, bahkan juga menjalar di tengah ahlul kitab. Ummul mu’minin, ‘Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan bahwa suatu hari, Ummu Salamah radhyiallahu ’anha mengisahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika itu beliau sedang sakit mendekati wafatnya, tentang sebuah gereja yang dilihatnya di negeri Habasyah beserta gambar/lukisan-lukisan yang ada di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Orang-orang itu, apabila ada orang saleh atau hamba yang saleh meninggal di antara mereka, mereka membuat bangunan masjid/tempat ibadah di atas kuburnya. Dan mereka pun membuat gambar-gambar semacam itu. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Semoga Allah melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka telah menjadikan kubur-kubur nabi mereka sebagai masjid/tempat ibadah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari sinilah, dapat kita ketahui bahwa penghambaan kepada Allah semata atau tauhid adalah asal keadaan umat manusia sejak manusia pertama, yaitu Nabi Adam ‘alahis salam. Setelah terjadinya syirik di tengah kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam, maka Allah pun mengutus beliau dan kemudian diikuti dengan diutusnya para rasul setelahnya dengan menyerukan dakwah tauhid kepada manusia. Agar mereka kembali kepada jalan yang lurus, yaitu tauhid. Allah berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah juga berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu, Muhammad, seorang rasul pun, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada ilah/sesembahan, yang benar, selain Aku, maka sembahlah Aku saja.’” (QS. Al-Anbiya’: 25) Allah berfirman pula, وَلَقَدۡ أُوحِیَ إِلَیۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكَ لَىِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَیَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ “Dan sungguh telah Kami wahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, ‘Jika kamu berbuat syirik, pasti akan lenyap seluruh amalmu, dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65) Pada masa jahiliyah, sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, kesyirikan merajalela di tengah manusia dalam bentuk peribadatan kepada pohon, batu, kuburan, bintang-bintang, berhala, jin, orang saleh, malaikat, dan sebagainya. Mereka membuat patung-patungnya dan mereka puja-puja. Mereka pun iktikaf di sekitarnya dengan mengharap keberkahan darinya. Pada saat itulah, Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah dan melarang syirik. (lihat Al-Mufid ‘ala Kitab At-Tauhid, hlm. 7) Allah berfirman, قُلۡ إِنَّمَاۤ أَنَا۠ بَشَرࣱ مِّثۡلُكُمۡ یُوحَىٰۤ إِلَیَّ أَنَّمَاۤ إِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهࣱ وَ ٰ⁠حِدࣱۖ فَمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ لِقَاۤءَ رَبِّهِۦ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَلَا یُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini adalah manusia seperti kalian yang diberikan wahyu kepadaku, bahwa sesembahan kalian, yang benar, hanyalah satu sesembahan Yang Maha Esa. Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. Al-Kahfi: 110) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Allah untuk seluruh manusia, bukan bangsa Arab saja. Allah berfirman, قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً “Katakanlah, ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah kepada kalian semuanya.’” (QS. Al-A’raf: 158) Dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا كَاۤفَّةࣰ لِّلنَّاسِ “Dan tidaklah Kami utus engkau, Muhammad, kecuali untuk seluruh manusia.” (QS. Saba’: 28) Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dakwah tauhid dan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah petunjuk Allah bagi seluruh manusia dan penutup semua nabi dan rasul. Inilah prinsip mendasar yang digerogoti oleh orang-orang yang menyerukan adanya dialog antara agama di masa kini. Karena mereka, umat-umat yang lain, menolak ditutupnya risalah dengan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka tidak setuju dengan ke-universal-an dan keumuman risalah yang beliau bawa. (lihat At-Taudhihat Al-Kasyifat ‘ala Kasyfi Asy-Syubuhat karya Syekh Muhammad Al-Habdan hafizhahullah, hlm. 62) Islam mengajak manusia menghamba kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Dan inilah kunci keselamatan umat manusia. Maka, sungguh aneh apabila manusia menolak ajakan menuju negeri kebahagiaan dan justru mengelu-elukan syirik dan pemberhalaan! Faidah 18. Pengikut ajaran Nabi Ibrahim Allah berfirman, ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Kemudian Kami wahyukan kepadamu, ‘Hendaklah kamu mengikuti millah/ajaran Ibrahim yang hanif, dan sama sekali dia bukan termasuk golongan orang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123) Di dalam ayat yang agung ini, Allah memerintahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti millah/ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, yaitu ajaran tauhid dan keikhlasan beribadah kepada Allah semata serta meninggalkan sesembahan selain-Nya. Ajaran Nabi Ibrahim tidak lain adalah agama Islam yang dibawa oleh setiap nabi dan rasul. Setiap rasul mengajak umatnya untuk beribadah kepada Allah dan menjauhi thaghut/sesembahan selain Allah. Allah berfirman, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah menyebut ajaran Nabi Ibrahim sebagai ajaran yang hanif. Para ulama juga menyebut ajaran tauhid ini dengan istilah Al-Hanifiyyah. Inilah hakikat dari millah/ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan juga para rasul yang lain. Yang demikian itu karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah seorang yang hanif, yaitu yang ikhlas beribadah kepada Allah. Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, والحنيف هو: المقبل على الله المعرض عما سواه، هذا هو الحنيف: المقبل على الله بقلبه وأعماله ونياته ومقاصده كلها لله، المعرِض عما سواه “Orang yang hanif adalah orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dan berpaling dari segala sesembahan selain-Nya. Inilah hakikat orang yang hanif. Yang menghadapkan diri kepada Allah dengan hati, amal, niat, dan kehendaknya itu seluruhnya dipersembahkan kepada Allah, dan dia berpaling dari selain-Nya.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’ oleh Syekh Shalih Al-Fauzan) Allah berfirman, مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Bukanlah Ibrahim itu orang yang beragama Yahudi atau Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif lagi muslim, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67) Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas dan tegas membantah klaim Yahudi dan Nasrani yang mengaku sebagai pengikut ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Bahkan, tidaklah berada di atas ajaran dan agama yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim, di antara umat akhir zaman ini, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya yang setia. Sehingga, pengakuan kaum Yahudi atau Nasrani bahwa mereka berada di atas agama Nabi Ibrahim adalah dusta belaka! Silahkan baca keterangan Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah di dalam tafsirnya (Tafsir Surah Ali Imran ayat 67). Demikian sedikit kumpulan catatan. Semoga berfaedah. Kembali ke bagian 6: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 6) Lanjut ke bagian 8: Bersambung *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: faedahtauhid


Daftar Isi Toggle Faedah 17. Membaca sejarah munculnya syirikFaidah 18. Pengikut ajaran Nabi Ibrahim Faedah 17. Membaca sejarah munculnya syirik Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan dalam kitabnya I’anatul Mustafid bahwa tauhid merupakan asal keadaan umat manusia. Adapun syirik merupakan perkara yang baru dan menodainya. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, “Adalah jarak antara Adam dan Nuh selama 10 kurun/abad. Mereka semua berada di atas tauhid.” Syirik yang pertama kali muncul adalah di tengah kaum Nuh ‘alaihis salam ketika mereka bersikap berlebih-lebihan/ghuluw terhadap orang-orang saleh dan membuat gambar atau patung untuk mengenangnya. Sampai pada akhirnya, mereka pun menyembah patung dan gambar itu. Maka, Allah pun mengutus Nabi Nuh ‘alaihis salam untuk melarang perbuatan syirik dan memerintahkan ibadah untuk Allah semata. Begitu pula, para rasul datang sesudahnya dengan membawa misi yang sama. (lihat I’anatul Mustafid, 1: 5) Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya tentang makna firman Allah, كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةࣰ وَ ٰ⁠حِدَةࣰ “Adalah manusia itu dahulu umat yang satu…” (QS. Al-Baqarah: 213). Beliau menafsirkan, yaitu di atas agama yang satu/sama. (lihat Ma’alim At-Tanzil, hlm. 118) Ibnu Katsir rahimahullah juga memberikan penafsiran serupa, dengan membawakan riwayat dari Ibnu Jarir dengan sanadnya dari Ibnu Abbas. Beliau berkata, “Adalah jarak antara Nuh dengan Adam sepuluh kurun. Mereka semua berada di atas syariat kebenaran, lalu mereka pun berselisih. Allah pun mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 1: 327, cet. At-Taufiqiyah) Penafsiran serupa, yang menjelaskan bahwa syirik pertama kali di muka bumi ini terjadi di tengah kaum Nabi Nuh, juga diriwayatkan dari para ulama salaf yang lain semacam Qatadah dan Ikrimah. Ikrimah berkata, “Adalah jarak antara Adam dan Nuh sepuluh kurun. Mereka semua berada di atas Islam.” (lihat dalam kitab Asy-Syirk fil Qadim wal Hadits, 1: 209) Demikian pula, penafsiran yang disampaikan oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah bahwa dahulu umat manusia sejak zaman Nabi Adam merupakan umat yang satu, yaitu berada di atas tauhid dan di atas agama yang sama, yaitu Islam. (lihat Al-Qaul Al-Mufid, 1: 235, cet. Maktabah Al-’Ilmu, lihat pula Ahkam minal Qur’an Al-Karim, 2: 84,87) Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan dalam Kitab Tauhid-nya bahwa sebab kekafiran anak Adam dan faktor yang menyebabkan mereka meninggalkan agama mereka (yaitu tauhid) adalah karena bersikap berlebih-lebihan terhadap orang-orang saleh. Hal ini menunjukkan bahwa syirik yang pertama kali muncul di muka bumi ini adalah gara-gara syubhat kecintaan kepada orang-orang saleh. (lihat Ibthal At-Tandid, hlm. 112) Sikap berlebih-lebihan kepada orang saleh ini timbul akibat pencampuran kebenaran dengan kebatilan. Yang dimaksud kebenaran di sini adalah kecintaan kepada orang saleh. Dan yang dimaksud kebatilan adalah perbuatan mengada-ada (bid’ah) yang dicetuskan oleh sebagian ahli ilmu atau ahli agama dengan niat baik mereka kemudian disalahpahami oleh generasi sesudahnya. Pelajaran yang bisa diambil darinya adalah ‘barangsiapa yang ingin memperkuat agamanya dengan suatu perbuatan bid’ah, maka bahayanya justru lebih banyak daripada manfaatnya’. (lihat keterangan Syekh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah dalam Al-Qaul Al-Mufid, 1: 235) Demikianlah, akar kesyirikan yang tumbuh berkembang di masa lalu, bahkan juga menjalar di tengah ahlul kitab. Ummul mu’minin, ‘Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan bahwa suatu hari, Ummu Salamah radhyiallahu ’anha mengisahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika itu beliau sedang sakit mendekati wafatnya, tentang sebuah gereja yang dilihatnya di negeri Habasyah beserta gambar/lukisan-lukisan yang ada di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Orang-orang itu, apabila ada orang saleh atau hamba yang saleh meninggal di antara mereka, mereka membuat bangunan masjid/tempat ibadah di atas kuburnya. Dan mereka pun membuat gambar-gambar semacam itu. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Semoga Allah melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka telah menjadikan kubur-kubur nabi mereka sebagai masjid/tempat ibadah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari sinilah, dapat kita ketahui bahwa penghambaan kepada Allah semata atau tauhid adalah asal keadaan umat manusia sejak manusia pertama, yaitu Nabi Adam ‘alahis salam. Setelah terjadinya syirik di tengah kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam, maka Allah pun mengutus beliau dan kemudian diikuti dengan diutusnya para rasul setelahnya dengan menyerukan dakwah tauhid kepada manusia. Agar mereka kembali kepada jalan yang lurus, yaitu tauhid. Allah berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah juga berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu, Muhammad, seorang rasul pun, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada ilah/sesembahan, yang benar, selain Aku, maka sembahlah Aku saja.’” (QS. Al-Anbiya’: 25) Allah berfirman pula, وَلَقَدۡ أُوحِیَ إِلَیۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكَ لَىِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَیَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ “Dan sungguh telah Kami wahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, ‘Jika kamu berbuat syirik, pasti akan lenyap seluruh amalmu, dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65) Pada masa jahiliyah, sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, kesyirikan merajalela di tengah manusia dalam bentuk peribadatan kepada pohon, batu, kuburan, bintang-bintang, berhala, jin, orang saleh, malaikat, dan sebagainya. Mereka membuat patung-patungnya dan mereka puja-puja. Mereka pun iktikaf di sekitarnya dengan mengharap keberkahan darinya. Pada saat itulah, Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah dan melarang syirik. (lihat Al-Mufid ‘ala Kitab At-Tauhid, hlm. 7) Allah berfirman, قُلۡ إِنَّمَاۤ أَنَا۠ بَشَرࣱ مِّثۡلُكُمۡ یُوحَىٰۤ إِلَیَّ أَنَّمَاۤ إِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهࣱ وَ ٰ⁠حِدࣱۖ فَمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ لِقَاۤءَ رَبِّهِۦ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَلَا یُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini adalah manusia seperti kalian yang diberikan wahyu kepadaku, bahwa sesembahan kalian, yang benar, hanyalah satu sesembahan Yang Maha Esa. Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. Al-Kahfi: 110) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Allah untuk seluruh manusia, bukan bangsa Arab saja. Allah berfirman, قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً “Katakanlah, ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah kepada kalian semuanya.’” (QS. Al-A’raf: 158) Dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا كَاۤفَّةࣰ لِّلنَّاسِ “Dan tidaklah Kami utus engkau, Muhammad, kecuali untuk seluruh manusia.” (QS. Saba’: 28) Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dakwah tauhid dan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah petunjuk Allah bagi seluruh manusia dan penutup semua nabi dan rasul. Inilah prinsip mendasar yang digerogoti oleh orang-orang yang menyerukan adanya dialog antara agama di masa kini. Karena mereka, umat-umat yang lain, menolak ditutupnya risalah dengan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka tidak setuju dengan ke-universal-an dan keumuman risalah yang beliau bawa. (lihat At-Taudhihat Al-Kasyifat ‘ala Kasyfi Asy-Syubuhat karya Syekh Muhammad Al-Habdan hafizhahullah, hlm. 62) Islam mengajak manusia menghamba kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Dan inilah kunci keselamatan umat manusia. Maka, sungguh aneh apabila manusia menolak ajakan menuju negeri kebahagiaan dan justru mengelu-elukan syirik dan pemberhalaan! Faidah 18. Pengikut ajaran Nabi Ibrahim Allah berfirman, ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Kemudian Kami wahyukan kepadamu, ‘Hendaklah kamu mengikuti millah/ajaran Ibrahim yang hanif, dan sama sekali dia bukan termasuk golongan orang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123) Di dalam ayat yang agung ini, Allah memerintahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti millah/ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, yaitu ajaran tauhid dan keikhlasan beribadah kepada Allah semata serta meninggalkan sesembahan selain-Nya. Ajaran Nabi Ibrahim tidak lain adalah agama Islam yang dibawa oleh setiap nabi dan rasul. Setiap rasul mengajak umatnya untuk beribadah kepada Allah dan menjauhi thaghut/sesembahan selain Allah. Allah berfirman, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah menyebut ajaran Nabi Ibrahim sebagai ajaran yang hanif. Para ulama juga menyebut ajaran tauhid ini dengan istilah Al-Hanifiyyah. Inilah hakikat dari millah/ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan juga para rasul yang lain. Yang demikian itu karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah seorang yang hanif, yaitu yang ikhlas beribadah kepada Allah. Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, والحنيف هو: المقبل على الله المعرض عما سواه، هذا هو الحنيف: المقبل على الله بقلبه وأعماله ونياته ومقاصده كلها لله، المعرِض عما سواه “Orang yang hanif adalah orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dan berpaling dari segala sesembahan selain-Nya. Inilah hakikat orang yang hanif. Yang menghadapkan diri kepada Allah dengan hati, amal, niat, dan kehendaknya itu seluruhnya dipersembahkan kepada Allah, dan dia berpaling dari selain-Nya.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’ oleh Syekh Shalih Al-Fauzan) Allah berfirman, مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Bukanlah Ibrahim itu orang yang beragama Yahudi atau Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif lagi muslim, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67) Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas dan tegas membantah klaim Yahudi dan Nasrani yang mengaku sebagai pengikut ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Bahkan, tidaklah berada di atas ajaran dan agama yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim, di antara umat akhir zaman ini, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya yang setia. Sehingga, pengakuan kaum Yahudi atau Nasrani bahwa mereka berada di atas agama Nabi Ibrahim adalah dusta belaka! Silahkan baca keterangan Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah di dalam tafsirnya (Tafsir Surah Ali Imran ayat 67). Demikian sedikit kumpulan catatan. Semoga berfaedah. Kembali ke bagian 6: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 6) Lanjut ke bagian 8: Bersambung *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: faedahtauhid

Perhiasan Paling Indah bagi Wanita Muslimah – Syaikh Abdurrazzaq Al Abbad #NasehatUlama

Allah Berfirman (yang artinya), “Salah seorang dari keduanya mendatanginya Musa) sambil berjalan dengan malu-malu, lalu berkata, ‘Sesungguhnya ayahku …'” (QS. Al-Qasas: 25) Di sini konteksnya mencakup malu dalam perkataan dan perbuatan. Dia datang berjalan dengan malu-malu. Demikian juga, dengan malu-malu berkata. Jadi, dia malu dalam ucapan dan perbuatannya. Pada cara berjalannya ada rasa malu, dan pada cara bicaranya juga ada rasa malu, karena terkadang ucapan bisa menghilangkan rasa malu, sebagaimana tindakan terkadang juga bisa menghilangkan rasa malu. Adapun ini, dia datang dengan rasa malu dalam tindakan, cara berjalannya, serta dalam perkataan, ucapan, dan obrolannya dengan Musa. Malu adalah perhiasan seorang wanita. Inilah perhiasan dan keelokan seorang wanita. Seorang wanita, jika dicabut darinya rasa malu, hilanglah keelokan dirinya. Keelokan dirinya ada pada rasa malunya. Semakin besar rasa malunya, maka itu akan semakin mendorongnya menuju kebaikan yang agung dan keutamaan yang mulia, serta menghalanginya dari keburukan dan kehinaan besar. Wanita akan selalu dalam kebaikan selama dia masih bersifat dan berhias dengan rasa malunya. ==== قَالَ: “فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ. “إِنَّ أَبِي وَهَذَا يَتَنَاوَلُ…”” هَذَا السِّيَاقُ يَتَنَاوَلُ الْحَيَاءَ قَوْلًا وَفِعْلًا فَجَاۤءَتْ تَمْشِيْ عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ أَيْضًا عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ قَالَتْ فَكَانَ الْحَيَاءُ فِي قَوْلِهَا وَفِعْلِهَا فِي مِشْيَتِهَا فِيهَا حَيَاءٌ وَقَولِهَا أَيْضًا فِيهِ حَيَاءٌ لِأَنَّ أَحْيَانًا الْقَوْلُ يَكُونُ مُنَافِيًا لِلْحَيَاءِ وَأَحْيَانًا يَكُونُ الْفِعْلُ مُنَافِيًا لِلْحَيَاءِ وَهَذِهِ فَجَاۤءَتْ عَلَى حَيَاءٍ فِي فِعْلِهَا مَشْيِهَا وَأَيْضًا قَوْلِهَا وَكَلَامِهَاوَمُخَاطَبَتِهَا لَهُ وَالْحَيَاءُ هُوَ زِيْنَةُ الْمَرْأَةِ وَجَمَالُهَا الْمَرْأَةُ إِذَا نُزِعَتْ أَوْ نُزِعَ مِنْهَا الْحَيَاءُ ذَهَبَ الْجَمَالُ جَمَالُهَا فِي حَيَاءِهَا وَحَيَاءُهَا كُلَّمَا قَوِيَ فِيهَا دَفَعَهَا إِلَى خَيْرَاتٍ عَظِيمَةٍ وَفَضَائِلَ كَرِيمَةٍ وَحَالَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الشُّرُورِ وَالرَّذَائِلِ الْعَظِيمَةِ وَلَا تَزَالُ الْمَرْأَةُ بِخَيْرٍ مَا دَامَتْ مُتَّصِفَةً بِالْحَيَاءِ مُتَحَلِّيَةً بِهِ

Perhiasan Paling Indah bagi Wanita Muslimah – Syaikh Abdurrazzaq Al Abbad #NasehatUlama

Allah Berfirman (yang artinya), “Salah seorang dari keduanya mendatanginya Musa) sambil berjalan dengan malu-malu, lalu berkata, ‘Sesungguhnya ayahku …'” (QS. Al-Qasas: 25) Di sini konteksnya mencakup malu dalam perkataan dan perbuatan. Dia datang berjalan dengan malu-malu. Demikian juga, dengan malu-malu berkata. Jadi, dia malu dalam ucapan dan perbuatannya. Pada cara berjalannya ada rasa malu, dan pada cara bicaranya juga ada rasa malu, karena terkadang ucapan bisa menghilangkan rasa malu, sebagaimana tindakan terkadang juga bisa menghilangkan rasa malu. Adapun ini, dia datang dengan rasa malu dalam tindakan, cara berjalannya, serta dalam perkataan, ucapan, dan obrolannya dengan Musa. Malu adalah perhiasan seorang wanita. Inilah perhiasan dan keelokan seorang wanita. Seorang wanita, jika dicabut darinya rasa malu, hilanglah keelokan dirinya. Keelokan dirinya ada pada rasa malunya. Semakin besar rasa malunya, maka itu akan semakin mendorongnya menuju kebaikan yang agung dan keutamaan yang mulia, serta menghalanginya dari keburukan dan kehinaan besar. Wanita akan selalu dalam kebaikan selama dia masih bersifat dan berhias dengan rasa malunya. ==== قَالَ: “فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ. “إِنَّ أَبِي وَهَذَا يَتَنَاوَلُ…”” هَذَا السِّيَاقُ يَتَنَاوَلُ الْحَيَاءَ قَوْلًا وَفِعْلًا فَجَاۤءَتْ تَمْشِيْ عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ أَيْضًا عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ قَالَتْ فَكَانَ الْحَيَاءُ فِي قَوْلِهَا وَفِعْلِهَا فِي مِشْيَتِهَا فِيهَا حَيَاءٌ وَقَولِهَا أَيْضًا فِيهِ حَيَاءٌ لِأَنَّ أَحْيَانًا الْقَوْلُ يَكُونُ مُنَافِيًا لِلْحَيَاءِ وَأَحْيَانًا يَكُونُ الْفِعْلُ مُنَافِيًا لِلْحَيَاءِ وَهَذِهِ فَجَاۤءَتْ عَلَى حَيَاءٍ فِي فِعْلِهَا مَشْيِهَا وَأَيْضًا قَوْلِهَا وَكَلَامِهَاوَمُخَاطَبَتِهَا لَهُ وَالْحَيَاءُ هُوَ زِيْنَةُ الْمَرْأَةِ وَجَمَالُهَا الْمَرْأَةُ إِذَا نُزِعَتْ أَوْ نُزِعَ مِنْهَا الْحَيَاءُ ذَهَبَ الْجَمَالُ جَمَالُهَا فِي حَيَاءِهَا وَحَيَاءُهَا كُلَّمَا قَوِيَ فِيهَا دَفَعَهَا إِلَى خَيْرَاتٍ عَظِيمَةٍ وَفَضَائِلَ كَرِيمَةٍ وَحَالَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الشُّرُورِ وَالرَّذَائِلِ الْعَظِيمَةِ وَلَا تَزَالُ الْمَرْأَةُ بِخَيْرٍ مَا دَامَتْ مُتَّصِفَةً بِالْحَيَاءِ مُتَحَلِّيَةً بِهِ
Allah Berfirman (yang artinya), “Salah seorang dari keduanya mendatanginya Musa) sambil berjalan dengan malu-malu, lalu berkata, ‘Sesungguhnya ayahku …'” (QS. Al-Qasas: 25) Di sini konteksnya mencakup malu dalam perkataan dan perbuatan. Dia datang berjalan dengan malu-malu. Demikian juga, dengan malu-malu berkata. Jadi, dia malu dalam ucapan dan perbuatannya. Pada cara berjalannya ada rasa malu, dan pada cara bicaranya juga ada rasa malu, karena terkadang ucapan bisa menghilangkan rasa malu, sebagaimana tindakan terkadang juga bisa menghilangkan rasa malu. Adapun ini, dia datang dengan rasa malu dalam tindakan, cara berjalannya, serta dalam perkataan, ucapan, dan obrolannya dengan Musa. Malu adalah perhiasan seorang wanita. Inilah perhiasan dan keelokan seorang wanita. Seorang wanita, jika dicabut darinya rasa malu, hilanglah keelokan dirinya. Keelokan dirinya ada pada rasa malunya. Semakin besar rasa malunya, maka itu akan semakin mendorongnya menuju kebaikan yang agung dan keutamaan yang mulia, serta menghalanginya dari keburukan dan kehinaan besar. Wanita akan selalu dalam kebaikan selama dia masih bersifat dan berhias dengan rasa malunya. ==== قَالَ: “فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ. “إِنَّ أَبِي وَهَذَا يَتَنَاوَلُ…”” هَذَا السِّيَاقُ يَتَنَاوَلُ الْحَيَاءَ قَوْلًا وَفِعْلًا فَجَاۤءَتْ تَمْشِيْ عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ أَيْضًا عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ قَالَتْ فَكَانَ الْحَيَاءُ فِي قَوْلِهَا وَفِعْلِهَا فِي مِشْيَتِهَا فِيهَا حَيَاءٌ وَقَولِهَا أَيْضًا فِيهِ حَيَاءٌ لِأَنَّ أَحْيَانًا الْقَوْلُ يَكُونُ مُنَافِيًا لِلْحَيَاءِ وَأَحْيَانًا يَكُونُ الْفِعْلُ مُنَافِيًا لِلْحَيَاءِ وَهَذِهِ فَجَاۤءَتْ عَلَى حَيَاءٍ فِي فِعْلِهَا مَشْيِهَا وَأَيْضًا قَوْلِهَا وَكَلَامِهَاوَمُخَاطَبَتِهَا لَهُ وَالْحَيَاءُ هُوَ زِيْنَةُ الْمَرْأَةِ وَجَمَالُهَا الْمَرْأَةُ إِذَا نُزِعَتْ أَوْ نُزِعَ مِنْهَا الْحَيَاءُ ذَهَبَ الْجَمَالُ جَمَالُهَا فِي حَيَاءِهَا وَحَيَاءُهَا كُلَّمَا قَوِيَ فِيهَا دَفَعَهَا إِلَى خَيْرَاتٍ عَظِيمَةٍ وَفَضَائِلَ كَرِيمَةٍ وَحَالَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الشُّرُورِ وَالرَّذَائِلِ الْعَظِيمَةِ وَلَا تَزَالُ الْمَرْأَةُ بِخَيْرٍ مَا دَامَتْ مُتَّصِفَةً بِالْحَيَاءِ مُتَحَلِّيَةً بِهِ


Allah Berfirman (yang artinya), “Salah seorang dari keduanya mendatanginya Musa) sambil berjalan dengan malu-malu, lalu berkata, ‘Sesungguhnya ayahku …'” (QS. Al-Qasas: 25) Di sini konteksnya mencakup malu dalam perkataan dan perbuatan. Dia datang berjalan dengan malu-malu. Demikian juga, dengan malu-malu berkata. Jadi, dia malu dalam ucapan dan perbuatannya. Pada cara berjalannya ada rasa malu, dan pada cara bicaranya juga ada rasa malu, karena terkadang ucapan bisa menghilangkan rasa malu, sebagaimana tindakan terkadang juga bisa menghilangkan rasa malu. Adapun ini, dia datang dengan rasa malu dalam tindakan, cara berjalannya, serta dalam perkataan, ucapan, dan obrolannya dengan Musa. Malu adalah perhiasan seorang wanita. Inilah perhiasan dan keelokan seorang wanita. Seorang wanita, jika dicabut darinya rasa malu, hilanglah keelokan dirinya. Keelokan dirinya ada pada rasa malunya. Semakin besar rasa malunya, maka itu akan semakin mendorongnya menuju kebaikan yang agung dan keutamaan yang mulia, serta menghalanginya dari keburukan dan kehinaan besar. Wanita akan selalu dalam kebaikan selama dia masih bersifat dan berhias dengan rasa malunya. ==== قَالَ: “فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ. “إِنَّ أَبِي وَهَذَا يَتَنَاوَلُ…”” هَذَا السِّيَاقُ يَتَنَاوَلُ الْحَيَاءَ قَوْلًا وَفِعْلًا فَجَاۤءَتْ تَمْشِيْ عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ أَيْضًا عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ قَالَتْ فَكَانَ الْحَيَاءُ فِي قَوْلِهَا وَفِعْلِهَا فِي مِشْيَتِهَا فِيهَا حَيَاءٌ وَقَولِهَا أَيْضًا فِيهِ حَيَاءٌ لِأَنَّ أَحْيَانًا الْقَوْلُ يَكُونُ مُنَافِيًا لِلْحَيَاءِ وَأَحْيَانًا يَكُونُ الْفِعْلُ مُنَافِيًا لِلْحَيَاءِ وَهَذِهِ فَجَاۤءَتْ عَلَى حَيَاءٍ فِي فِعْلِهَا مَشْيِهَا وَأَيْضًا قَوْلِهَا وَكَلَامِهَاوَمُخَاطَبَتِهَا لَهُ وَالْحَيَاءُ هُوَ زِيْنَةُ الْمَرْأَةِ وَجَمَالُهَا الْمَرْأَةُ إِذَا نُزِعَتْ أَوْ نُزِعَ مِنْهَا الْحَيَاءُ ذَهَبَ الْجَمَالُ جَمَالُهَا فِي حَيَاءِهَا وَحَيَاءُهَا كُلَّمَا قَوِيَ فِيهَا دَفَعَهَا إِلَى خَيْرَاتٍ عَظِيمَةٍ وَفَضَائِلَ كَرِيمَةٍ وَحَالَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الشُّرُورِ وَالرَّذَائِلِ الْعَظِيمَةِ وَلَا تَزَالُ الْمَرْأَةُ بِخَيْرٍ مَا دَامَتْ مُتَّصِفَةً بِالْحَيَاءِ مُتَحَلِّيَةً بِهِ

Nikmat Dekat dengan Ahli Ilmu

Daftar Isi Toggle Dekat dengan ahli ilmu dapat menghidupkan roh, dengan ilmu dan cahaya petunjukAhli ilmu tidak akan mencelakakan orang-orang di sekitarnyaAhli ilmu merupakan pewaris para nabi ‘alaihimus salam Dekat dengan ahli ilmu memudahkan seseorang untuk bertanya perihal agama Menuntut ilmu merupakan kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya. Namun, tidak semua hamba Allah memperoleh kenikmatan ini. Tidak semua dapat merasakan nikmatnya memahami agama Islam ini, memahami tentang hakikat iman yang sesungguhnya. Sungguh! Ini merupakan anugerah dan nikmat terbesar. Allah Ta’ala berfirman, أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدۡرَهُ ۥ لِلۡإِسۡلَـٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ۬ مِّن رَّبِّهِۦ‌ۚ “Maka, apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (itu sama dengan orang yang membatu hatinya)?” (QS. Az-Zumar: 22) Dengan ilmu, Allah Ta’ala mengangkat derajat seseorang. Allah Ta’ala berfirman, يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬ “…, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11) Karena begitu nikmatnya memperoleh ilmu, maka dekat dengan ahli ilmu akan menyempurnakan kenikmatan tersebut. Bagaimana tidak, dengan perantara ahli ilmu, setelah izin dari Allah, kita mengetahui suatu hal yang tidak kita ketahui sebelumnya. Hal yang masih samar bagi kita, menjadi jelas dan terang benderang tanpa ada kesamaran sedikit pun. Ini merupakan nikmat di antara nikmat-nikmat yang sering kita lupakan. Dekat dengan ahli ilmu dapat menghidupkan roh, dengan ilmu dan cahaya petunjuk Tentunya, tatkala seseorang dekat dengan ahli ilmu, akan membuatnya dekat kepada ilmu. Ia akan mendapatkan jasadnya terisi dengan roh yang penuh akan ilmu dan cahaya. Allah Ta’ala mensifati Al-Qur’an yang merupakan pokok dari ilmu sebagai roh dan cahaya petunjuk, وَكَذَٲلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحً۬ا مِّنۡ أَمۡرِنَا‌ۚ مَا كُنتَ تَدۡرِى مَا ٱلۡكِتَـٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَـٰنُ وَلَـٰكِن جَعَلۡنَـٰهُ نُورً۬ا نَّہۡدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) roh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy-Syura: 52) Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah (wafat th.1376 H) berkata ketika menafsirkan ayat di atas, وَهُوَ هَذَا القُرْآنُ الكَرِيْمُ، سَمَّاهُ رُوْحًا، لِأَنَّ الرُّوْحَ يحْيا بِهِ الجَسَدُ، وَالقُرْآنُ تَحْيَا بِهِ القُلُوْبُ وَالأَرْوَاحُ، وَتَحْيَا بِهِ مَصَالِحُ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، لمِاَ فِيْهِ مِنَ الخَيرِ الكَثِيْرِ وَالعِلْمِ الغَزِيْرِ “Demikianlah yang dimaksud dengan roh adalah Al-Qur’an Al-Karim. Allah Ta’ala menamakan Al-Qur’an dengan Roh. Karena dengan roh, jasad dapat hidup; sedangkan dengan Al-Qur’an, hati-hati dan roh pun juga hidup. Sehingga dengan itulah kemaslahatan dunia dan agama dapat terealisasikan. Mengingat di dalam Al-Qur’an terdapat kebaikan yang banyak dan ilmu yang melimpah.” (Lihat Taisir Karimirrahman fi Tafsiril Kalamil Mannan, hal. 726, Cet. Mu’assasah Ar-Risalah) Oleh karena itu, dekat dengan ahli ilmu merupakan sumber dari roh dan cahaya petunjuk. Sebaliknya, jika tidak dekat dengan ahli ilmu dan juga ilmu, maka ini merupakan awal dari sebuah petaka. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat th. 204 H), bahkan mengatakan, وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ  ……  ‌فَكَبِّرْ ‌عَلَيْهِ ‌أَرْبَعًا ‌لِوَفَاتِهِ “Siapa yang terluput dari ilmu di masa mudanya. Maka, takbirkan ia sebanyak empat kali atas wafatnya.” (Lihat Diwan Asy-Syafi’i, hal. 59) Seseorang yang jauh dari ilmu dan ahli ilmu, sejatinya mereka adalah mayat yang berjalan. Karena tidak ada roh berupa ilmu pada jasad-jasad mereka. Demikianlah, yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Ahli ilmu tidak akan mencelakakan orang-orang di sekitarnya Bahkan, makhluk-makhluk Allah Ta’ala yang lain merasakan manfaat dengan adanya ahli ilmu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang ahli ilmu, إِنَّ العَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ ‌حَتَّى ‌الحِيْتَانُ فِي المَاءِ “Sesungguhnya makhluk-makhluk Allah di langit dan di bumi benar-benar akan memohonkan ampun kepada ahli ilmu, sampai ikan-ikan yang berada di dalam air.” (HR. Abu Daud no. 3641 dan At-Tirmidzi no. 2682) Sebab dari istigfar ini adalah karena seorang yang berilmu mengajarkan kepada manusia ilmu. Termasuk untuk memperhatikan dan menjaga hewan-hewan, mengenalkan kepada manusia perkara yang halal dan yang haram, dan juga mengajarkan kepada manusia bagaimana cara untuk memperoleh hewan tersebut, menggunakan hewan tersebut untuk berkendara, bahkan sampai tata cara menyembelih dengan cara terbaik. Dengan ini, ahli ilmu berhak untuk memperoleh istigfar dari makhluk tersebut. [Demikianlah yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah (wafat th. 751 H) di dalam kitabnya Miftah Daris Sa’adah, 1: 175] Dalam hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mensifati ahli ilmu, ‌هُمُ ‌الْقَوْمُ ‌لَا ‌يَشْقَى ‌بِهِمْ جَلِيسُهُمْ “Mereka adalah suatu kaum yang tidak akan mencelakakan teman duduk mereka.” (HR. Muslim no. 2689) Tentunya, berbanding terbalik jika kita dekat dengan bukan dari ahli ilmu. Seringkali kekecewaan, kecemasan, dan kesedihan yang kita dapatkan dari mereka. Bahkan, sulit rasanya untuk memperoleh kepercayaan dan ketenangan pada mereka. Sehingga fitrah pada diri manusia pun dapat menilai. Begitu nikmatnya dekat dengan ahli ilmu. Baca juga: Antara Ilmu yang Diamalkan dan yang Tidak Diamalkan Ahli ilmu merupakan pewaris para nabi ‘alaihimus salam Hal ini sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebutkan dalam hadisnya. Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُورِّثُوا دِيْنَاراً وَلَا دِرْهَماً، ‌إِنَّمَا ‌وَرَّثُوا ‌العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍ وَافِرٍ “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh! Para nabi tidaklah mewariskan dinar dan juga dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambilnya, maka ia telah memperoleh perbendaharaan yang berharga.” (Lihat Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:138, Cet. Maktabah Al-Ma’arif) Karena ahli ilmu pewaris para nabi, maka dekat dengan mereka membuat kita setidaknya sedikit merasakan nikmatnya mendapatkan warisan para nabi ‘alaihimus salam, yang tentunya warisan ini lebih berharga daripada warisan yang ada di dunia ini. Dekat dengan ahli ilmu memudahkan seseorang untuk bertanya perihal agama Allah Ta’ala berfirman, فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّڪۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ “Maka, tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al Anbiya : 7) Ini di antara nikmat dekat dengan ahli ilmu. Kita bisa bertanya kepadanya tentang perihal agama yang tidak diketahui. Sehingga sirnalah kebodohan dalam diri seseorang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‌أَلَا ‌سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ “Tidakkah mereka ingin bertanya tatkala mereka tidak mengetahui, karena sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya.” [1] (Lihat Sunan Abu Daud no. 336) Inilah di antara nikmat dekat dengan ahli ilmu. Sehingga ini yang harus disyukuri dan jangan dilupakan jasa-jasa mereka. Terdapat sebuah perkataan yang menarik yang dikatakan oleh Syu’bah, كُنْتُ إِذَا سَمِعْتُ مِنَ الرَّجُلِ الحَدِيْثَ كُنْتُ لَهُ عَبْداً مَا حَيِيَ “Tatkala aku mendengar satu hadis dari seseorang (ahli ilmu), aku siap untuk menjadi budak selama dia hidup.” (Lihat Tadzkiratus Saami’, hal. 190, Cet. Maktabah Ibnu Abbas) Terakhir, tentunya dekat dengan ahli ilmu adalah untuk diambil ilmunya dan diambil manfaat serta faedah-faedah dari mereka. Bukan tujuan dekat dengan ahli ilmu adalah untuk meningkatkan status sosial, jabatan, bahkan berbangga dengan menunjukkan kepada manusia bahwa ia dekat dengan ahli ilmu. Cukuplah membuat kita bangga dengan faedah dan ilmu yang bisa diperoleh dari mereka. Tidak lupa doa untuk mereka tentunya. Khawatirnya berbangga dengan hal tersebut justru membuat kita ghurur (tertipu) dengan itu semua. Sehingga yang menyelimuti kita justru adalah penyakit ujub, riya‘, dan sum’ah. Bangga dengan dikatakan “fulan adalah murid ustaz fulan”, tanpa ada sedikit pun ilmu yang terpatri pada dirinya. ‘Iyaadzan Billah. Masih banyak lagi nikmat dengan ahli ilmu, selain dari hal yang disebutkan di atas. Semoga hal di atas dapat menjadi motivasi bagi mereka yang belum mendekat kepada ahli ilmu, dan menjadi pengingat untuk bersyukur bagi mereka yang dekat dengan ahli ilmu. Wabillahit Taufiq. Baca juga: Ilmu Bekal Hidup Bahagia  *** Depok, 27 Rajab 1445 H / 8 Februari 2024 Penulis: Zia Abdurrofi Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Hadis ini menceritakan tatkala ada seorang sahabat yang salah dalam berfatwa. Tatkala ia ditanya oleh sahabat yang lainnya, di mana sahabat ini mimpi basah sehingga membuatnya junub, kebetulan ia sedang terluka di bagian kepala, “Apakah ada rukhshah bagiku untuk bertayamum?” Jawabnya, “Tidak, kami tidak mendapati rukhshah untukmu”. Sehingga sahabat ini pun meninggal. Sampailah kabar tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Nabi bersabda sebagaimana hadis di atas. Tags: ahli ilmu

Nikmat Dekat dengan Ahli Ilmu

Daftar Isi Toggle Dekat dengan ahli ilmu dapat menghidupkan roh, dengan ilmu dan cahaya petunjukAhli ilmu tidak akan mencelakakan orang-orang di sekitarnyaAhli ilmu merupakan pewaris para nabi ‘alaihimus salam Dekat dengan ahli ilmu memudahkan seseorang untuk bertanya perihal agama Menuntut ilmu merupakan kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya. Namun, tidak semua hamba Allah memperoleh kenikmatan ini. Tidak semua dapat merasakan nikmatnya memahami agama Islam ini, memahami tentang hakikat iman yang sesungguhnya. Sungguh! Ini merupakan anugerah dan nikmat terbesar. Allah Ta’ala berfirman, أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدۡرَهُ ۥ لِلۡإِسۡلَـٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ۬ مِّن رَّبِّهِۦ‌ۚ “Maka, apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (itu sama dengan orang yang membatu hatinya)?” (QS. Az-Zumar: 22) Dengan ilmu, Allah Ta’ala mengangkat derajat seseorang. Allah Ta’ala berfirman, يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬ “…, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11) Karena begitu nikmatnya memperoleh ilmu, maka dekat dengan ahli ilmu akan menyempurnakan kenikmatan tersebut. Bagaimana tidak, dengan perantara ahli ilmu, setelah izin dari Allah, kita mengetahui suatu hal yang tidak kita ketahui sebelumnya. Hal yang masih samar bagi kita, menjadi jelas dan terang benderang tanpa ada kesamaran sedikit pun. Ini merupakan nikmat di antara nikmat-nikmat yang sering kita lupakan. Dekat dengan ahli ilmu dapat menghidupkan roh, dengan ilmu dan cahaya petunjuk Tentunya, tatkala seseorang dekat dengan ahli ilmu, akan membuatnya dekat kepada ilmu. Ia akan mendapatkan jasadnya terisi dengan roh yang penuh akan ilmu dan cahaya. Allah Ta’ala mensifati Al-Qur’an yang merupakan pokok dari ilmu sebagai roh dan cahaya petunjuk, وَكَذَٲلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحً۬ا مِّنۡ أَمۡرِنَا‌ۚ مَا كُنتَ تَدۡرِى مَا ٱلۡكِتَـٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَـٰنُ وَلَـٰكِن جَعَلۡنَـٰهُ نُورً۬ا نَّہۡدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) roh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy-Syura: 52) Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah (wafat th.1376 H) berkata ketika menafsirkan ayat di atas, وَهُوَ هَذَا القُرْآنُ الكَرِيْمُ، سَمَّاهُ رُوْحًا، لِأَنَّ الرُّوْحَ يحْيا بِهِ الجَسَدُ، وَالقُرْآنُ تَحْيَا بِهِ القُلُوْبُ وَالأَرْوَاحُ، وَتَحْيَا بِهِ مَصَالِحُ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، لمِاَ فِيْهِ مِنَ الخَيرِ الكَثِيْرِ وَالعِلْمِ الغَزِيْرِ “Demikianlah yang dimaksud dengan roh adalah Al-Qur’an Al-Karim. Allah Ta’ala menamakan Al-Qur’an dengan Roh. Karena dengan roh, jasad dapat hidup; sedangkan dengan Al-Qur’an, hati-hati dan roh pun juga hidup. Sehingga dengan itulah kemaslahatan dunia dan agama dapat terealisasikan. Mengingat di dalam Al-Qur’an terdapat kebaikan yang banyak dan ilmu yang melimpah.” (Lihat Taisir Karimirrahman fi Tafsiril Kalamil Mannan, hal. 726, Cet. Mu’assasah Ar-Risalah) Oleh karena itu, dekat dengan ahli ilmu merupakan sumber dari roh dan cahaya petunjuk. Sebaliknya, jika tidak dekat dengan ahli ilmu dan juga ilmu, maka ini merupakan awal dari sebuah petaka. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat th. 204 H), bahkan mengatakan, وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ  ……  ‌فَكَبِّرْ ‌عَلَيْهِ ‌أَرْبَعًا ‌لِوَفَاتِهِ “Siapa yang terluput dari ilmu di masa mudanya. Maka, takbirkan ia sebanyak empat kali atas wafatnya.” (Lihat Diwan Asy-Syafi’i, hal. 59) Seseorang yang jauh dari ilmu dan ahli ilmu, sejatinya mereka adalah mayat yang berjalan. Karena tidak ada roh berupa ilmu pada jasad-jasad mereka. Demikianlah, yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Ahli ilmu tidak akan mencelakakan orang-orang di sekitarnya Bahkan, makhluk-makhluk Allah Ta’ala yang lain merasakan manfaat dengan adanya ahli ilmu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang ahli ilmu, إِنَّ العَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ ‌حَتَّى ‌الحِيْتَانُ فِي المَاءِ “Sesungguhnya makhluk-makhluk Allah di langit dan di bumi benar-benar akan memohonkan ampun kepada ahli ilmu, sampai ikan-ikan yang berada di dalam air.” (HR. Abu Daud no. 3641 dan At-Tirmidzi no. 2682) Sebab dari istigfar ini adalah karena seorang yang berilmu mengajarkan kepada manusia ilmu. Termasuk untuk memperhatikan dan menjaga hewan-hewan, mengenalkan kepada manusia perkara yang halal dan yang haram, dan juga mengajarkan kepada manusia bagaimana cara untuk memperoleh hewan tersebut, menggunakan hewan tersebut untuk berkendara, bahkan sampai tata cara menyembelih dengan cara terbaik. Dengan ini, ahli ilmu berhak untuk memperoleh istigfar dari makhluk tersebut. [Demikianlah yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah (wafat th. 751 H) di dalam kitabnya Miftah Daris Sa’adah, 1: 175] Dalam hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mensifati ahli ilmu, ‌هُمُ ‌الْقَوْمُ ‌لَا ‌يَشْقَى ‌بِهِمْ جَلِيسُهُمْ “Mereka adalah suatu kaum yang tidak akan mencelakakan teman duduk mereka.” (HR. Muslim no. 2689) Tentunya, berbanding terbalik jika kita dekat dengan bukan dari ahli ilmu. Seringkali kekecewaan, kecemasan, dan kesedihan yang kita dapatkan dari mereka. Bahkan, sulit rasanya untuk memperoleh kepercayaan dan ketenangan pada mereka. Sehingga fitrah pada diri manusia pun dapat menilai. Begitu nikmatnya dekat dengan ahli ilmu. Baca juga: Antara Ilmu yang Diamalkan dan yang Tidak Diamalkan Ahli ilmu merupakan pewaris para nabi ‘alaihimus salam Hal ini sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebutkan dalam hadisnya. Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُورِّثُوا دِيْنَاراً وَلَا دِرْهَماً، ‌إِنَّمَا ‌وَرَّثُوا ‌العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍ وَافِرٍ “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh! Para nabi tidaklah mewariskan dinar dan juga dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambilnya, maka ia telah memperoleh perbendaharaan yang berharga.” (Lihat Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:138, Cet. Maktabah Al-Ma’arif) Karena ahli ilmu pewaris para nabi, maka dekat dengan mereka membuat kita setidaknya sedikit merasakan nikmatnya mendapatkan warisan para nabi ‘alaihimus salam, yang tentunya warisan ini lebih berharga daripada warisan yang ada di dunia ini. Dekat dengan ahli ilmu memudahkan seseorang untuk bertanya perihal agama Allah Ta’ala berfirman, فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّڪۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ “Maka, tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al Anbiya : 7) Ini di antara nikmat dekat dengan ahli ilmu. Kita bisa bertanya kepadanya tentang perihal agama yang tidak diketahui. Sehingga sirnalah kebodohan dalam diri seseorang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‌أَلَا ‌سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ “Tidakkah mereka ingin bertanya tatkala mereka tidak mengetahui, karena sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya.” [1] (Lihat Sunan Abu Daud no. 336) Inilah di antara nikmat dekat dengan ahli ilmu. Sehingga ini yang harus disyukuri dan jangan dilupakan jasa-jasa mereka. Terdapat sebuah perkataan yang menarik yang dikatakan oleh Syu’bah, كُنْتُ إِذَا سَمِعْتُ مِنَ الرَّجُلِ الحَدِيْثَ كُنْتُ لَهُ عَبْداً مَا حَيِيَ “Tatkala aku mendengar satu hadis dari seseorang (ahli ilmu), aku siap untuk menjadi budak selama dia hidup.” (Lihat Tadzkiratus Saami’, hal. 190, Cet. Maktabah Ibnu Abbas) Terakhir, tentunya dekat dengan ahli ilmu adalah untuk diambil ilmunya dan diambil manfaat serta faedah-faedah dari mereka. Bukan tujuan dekat dengan ahli ilmu adalah untuk meningkatkan status sosial, jabatan, bahkan berbangga dengan menunjukkan kepada manusia bahwa ia dekat dengan ahli ilmu. Cukuplah membuat kita bangga dengan faedah dan ilmu yang bisa diperoleh dari mereka. Tidak lupa doa untuk mereka tentunya. Khawatirnya berbangga dengan hal tersebut justru membuat kita ghurur (tertipu) dengan itu semua. Sehingga yang menyelimuti kita justru adalah penyakit ujub, riya‘, dan sum’ah. Bangga dengan dikatakan “fulan adalah murid ustaz fulan”, tanpa ada sedikit pun ilmu yang terpatri pada dirinya. ‘Iyaadzan Billah. Masih banyak lagi nikmat dengan ahli ilmu, selain dari hal yang disebutkan di atas. Semoga hal di atas dapat menjadi motivasi bagi mereka yang belum mendekat kepada ahli ilmu, dan menjadi pengingat untuk bersyukur bagi mereka yang dekat dengan ahli ilmu. Wabillahit Taufiq. Baca juga: Ilmu Bekal Hidup Bahagia  *** Depok, 27 Rajab 1445 H / 8 Februari 2024 Penulis: Zia Abdurrofi Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Hadis ini menceritakan tatkala ada seorang sahabat yang salah dalam berfatwa. Tatkala ia ditanya oleh sahabat yang lainnya, di mana sahabat ini mimpi basah sehingga membuatnya junub, kebetulan ia sedang terluka di bagian kepala, “Apakah ada rukhshah bagiku untuk bertayamum?” Jawabnya, “Tidak, kami tidak mendapati rukhshah untukmu”. Sehingga sahabat ini pun meninggal. Sampailah kabar tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Nabi bersabda sebagaimana hadis di atas. Tags: ahli ilmu
Daftar Isi Toggle Dekat dengan ahli ilmu dapat menghidupkan roh, dengan ilmu dan cahaya petunjukAhli ilmu tidak akan mencelakakan orang-orang di sekitarnyaAhli ilmu merupakan pewaris para nabi ‘alaihimus salam Dekat dengan ahli ilmu memudahkan seseorang untuk bertanya perihal agama Menuntut ilmu merupakan kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya. Namun, tidak semua hamba Allah memperoleh kenikmatan ini. Tidak semua dapat merasakan nikmatnya memahami agama Islam ini, memahami tentang hakikat iman yang sesungguhnya. Sungguh! Ini merupakan anugerah dan nikmat terbesar. Allah Ta’ala berfirman, أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدۡرَهُ ۥ لِلۡإِسۡلَـٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ۬ مِّن رَّبِّهِۦ‌ۚ “Maka, apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (itu sama dengan orang yang membatu hatinya)?” (QS. Az-Zumar: 22) Dengan ilmu, Allah Ta’ala mengangkat derajat seseorang. Allah Ta’ala berfirman, يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬ “…, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11) Karena begitu nikmatnya memperoleh ilmu, maka dekat dengan ahli ilmu akan menyempurnakan kenikmatan tersebut. Bagaimana tidak, dengan perantara ahli ilmu, setelah izin dari Allah, kita mengetahui suatu hal yang tidak kita ketahui sebelumnya. Hal yang masih samar bagi kita, menjadi jelas dan terang benderang tanpa ada kesamaran sedikit pun. Ini merupakan nikmat di antara nikmat-nikmat yang sering kita lupakan. Dekat dengan ahli ilmu dapat menghidupkan roh, dengan ilmu dan cahaya petunjuk Tentunya, tatkala seseorang dekat dengan ahli ilmu, akan membuatnya dekat kepada ilmu. Ia akan mendapatkan jasadnya terisi dengan roh yang penuh akan ilmu dan cahaya. Allah Ta’ala mensifati Al-Qur’an yang merupakan pokok dari ilmu sebagai roh dan cahaya petunjuk, وَكَذَٲلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحً۬ا مِّنۡ أَمۡرِنَا‌ۚ مَا كُنتَ تَدۡرِى مَا ٱلۡكِتَـٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَـٰنُ وَلَـٰكِن جَعَلۡنَـٰهُ نُورً۬ا نَّہۡدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) roh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy-Syura: 52) Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah (wafat th.1376 H) berkata ketika menafsirkan ayat di atas, وَهُوَ هَذَا القُرْآنُ الكَرِيْمُ، سَمَّاهُ رُوْحًا، لِأَنَّ الرُّوْحَ يحْيا بِهِ الجَسَدُ، وَالقُرْآنُ تَحْيَا بِهِ القُلُوْبُ وَالأَرْوَاحُ، وَتَحْيَا بِهِ مَصَالِحُ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، لمِاَ فِيْهِ مِنَ الخَيرِ الكَثِيْرِ وَالعِلْمِ الغَزِيْرِ “Demikianlah yang dimaksud dengan roh adalah Al-Qur’an Al-Karim. Allah Ta’ala menamakan Al-Qur’an dengan Roh. Karena dengan roh, jasad dapat hidup; sedangkan dengan Al-Qur’an, hati-hati dan roh pun juga hidup. Sehingga dengan itulah kemaslahatan dunia dan agama dapat terealisasikan. Mengingat di dalam Al-Qur’an terdapat kebaikan yang banyak dan ilmu yang melimpah.” (Lihat Taisir Karimirrahman fi Tafsiril Kalamil Mannan, hal. 726, Cet. Mu’assasah Ar-Risalah) Oleh karena itu, dekat dengan ahli ilmu merupakan sumber dari roh dan cahaya petunjuk. Sebaliknya, jika tidak dekat dengan ahli ilmu dan juga ilmu, maka ini merupakan awal dari sebuah petaka. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat th. 204 H), bahkan mengatakan, وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ  ……  ‌فَكَبِّرْ ‌عَلَيْهِ ‌أَرْبَعًا ‌لِوَفَاتِهِ “Siapa yang terluput dari ilmu di masa mudanya. Maka, takbirkan ia sebanyak empat kali atas wafatnya.” (Lihat Diwan Asy-Syafi’i, hal. 59) Seseorang yang jauh dari ilmu dan ahli ilmu, sejatinya mereka adalah mayat yang berjalan. Karena tidak ada roh berupa ilmu pada jasad-jasad mereka. Demikianlah, yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Ahli ilmu tidak akan mencelakakan orang-orang di sekitarnya Bahkan, makhluk-makhluk Allah Ta’ala yang lain merasakan manfaat dengan adanya ahli ilmu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang ahli ilmu, إِنَّ العَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ ‌حَتَّى ‌الحِيْتَانُ فِي المَاءِ “Sesungguhnya makhluk-makhluk Allah di langit dan di bumi benar-benar akan memohonkan ampun kepada ahli ilmu, sampai ikan-ikan yang berada di dalam air.” (HR. Abu Daud no. 3641 dan At-Tirmidzi no. 2682) Sebab dari istigfar ini adalah karena seorang yang berilmu mengajarkan kepada manusia ilmu. Termasuk untuk memperhatikan dan menjaga hewan-hewan, mengenalkan kepada manusia perkara yang halal dan yang haram, dan juga mengajarkan kepada manusia bagaimana cara untuk memperoleh hewan tersebut, menggunakan hewan tersebut untuk berkendara, bahkan sampai tata cara menyembelih dengan cara terbaik. Dengan ini, ahli ilmu berhak untuk memperoleh istigfar dari makhluk tersebut. [Demikianlah yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah (wafat th. 751 H) di dalam kitabnya Miftah Daris Sa’adah, 1: 175] Dalam hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mensifati ahli ilmu, ‌هُمُ ‌الْقَوْمُ ‌لَا ‌يَشْقَى ‌بِهِمْ جَلِيسُهُمْ “Mereka adalah suatu kaum yang tidak akan mencelakakan teman duduk mereka.” (HR. Muslim no. 2689) Tentunya, berbanding terbalik jika kita dekat dengan bukan dari ahli ilmu. Seringkali kekecewaan, kecemasan, dan kesedihan yang kita dapatkan dari mereka. Bahkan, sulit rasanya untuk memperoleh kepercayaan dan ketenangan pada mereka. Sehingga fitrah pada diri manusia pun dapat menilai. Begitu nikmatnya dekat dengan ahli ilmu. Baca juga: Antara Ilmu yang Diamalkan dan yang Tidak Diamalkan Ahli ilmu merupakan pewaris para nabi ‘alaihimus salam Hal ini sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebutkan dalam hadisnya. Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُورِّثُوا دِيْنَاراً وَلَا دِرْهَماً، ‌إِنَّمَا ‌وَرَّثُوا ‌العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍ وَافِرٍ “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh! Para nabi tidaklah mewariskan dinar dan juga dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambilnya, maka ia telah memperoleh perbendaharaan yang berharga.” (Lihat Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:138, Cet. Maktabah Al-Ma’arif) Karena ahli ilmu pewaris para nabi, maka dekat dengan mereka membuat kita setidaknya sedikit merasakan nikmatnya mendapatkan warisan para nabi ‘alaihimus salam, yang tentunya warisan ini lebih berharga daripada warisan yang ada di dunia ini. Dekat dengan ahli ilmu memudahkan seseorang untuk bertanya perihal agama Allah Ta’ala berfirman, فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّڪۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ “Maka, tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al Anbiya : 7) Ini di antara nikmat dekat dengan ahli ilmu. Kita bisa bertanya kepadanya tentang perihal agama yang tidak diketahui. Sehingga sirnalah kebodohan dalam diri seseorang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‌أَلَا ‌سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ “Tidakkah mereka ingin bertanya tatkala mereka tidak mengetahui, karena sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya.” [1] (Lihat Sunan Abu Daud no. 336) Inilah di antara nikmat dekat dengan ahli ilmu. Sehingga ini yang harus disyukuri dan jangan dilupakan jasa-jasa mereka. Terdapat sebuah perkataan yang menarik yang dikatakan oleh Syu’bah, كُنْتُ إِذَا سَمِعْتُ مِنَ الرَّجُلِ الحَدِيْثَ كُنْتُ لَهُ عَبْداً مَا حَيِيَ “Tatkala aku mendengar satu hadis dari seseorang (ahli ilmu), aku siap untuk menjadi budak selama dia hidup.” (Lihat Tadzkiratus Saami’, hal. 190, Cet. Maktabah Ibnu Abbas) Terakhir, tentunya dekat dengan ahli ilmu adalah untuk diambil ilmunya dan diambil manfaat serta faedah-faedah dari mereka. Bukan tujuan dekat dengan ahli ilmu adalah untuk meningkatkan status sosial, jabatan, bahkan berbangga dengan menunjukkan kepada manusia bahwa ia dekat dengan ahli ilmu. Cukuplah membuat kita bangga dengan faedah dan ilmu yang bisa diperoleh dari mereka. Tidak lupa doa untuk mereka tentunya. Khawatirnya berbangga dengan hal tersebut justru membuat kita ghurur (tertipu) dengan itu semua. Sehingga yang menyelimuti kita justru adalah penyakit ujub, riya‘, dan sum’ah. Bangga dengan dikatakan “fulan adalah murid ustaz fulan”, tanpa ada sedikit pun ilmu yang terpatri pada dirinya. ‘Iyaadzan Billah. Masih banyak lagi nikmat dengan ahli ilmu, selain dari hal yang disebutkan di atas. Semoga hal di atas dapat menjadi motivasi bagi mereka yang belum mendekat kepada ahli ilmu, dan menjadi pengingat untuk bersyukur bagi mereka yang dekat dengan ahli ilmu. Wabillahit Taufiq. Baca juga: Ilmu Bekal Hidup Bahagia  *** Depok, 27 Rajab 1445 H / 8 Februari 2024 Penulis: Zia Abdurrofi Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Hadis ini menceritakan tatkala ada seorang sahabat yang salah dalam berfatwa. Tatkala ia ditanya oleh sahabat yang lainnya, di mana sahabat ini mimpi basah sehingga membuatnya junub, kebetulan ia sedang terluka di bagian kepala, “Apakah ada rukhshah bagiku untuk bertayamum?” Jawabnya, “Tidak, kami tidak mendapati rukhshah untukmu”. Sehingga sahabat ini pun meninggal. Sampailah kabar tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Nabi bersabda sebagaimana hadis di atas. Tags: ahli ilmu


Daftar Isi Toggle Dekat dengan ahli ilmu dapat menghidupkan roh, dengan ilmu dan cahaya petunjukAhli ilmu tidak akan mencelakakan orang-orang di sekitarnyaAhli ilmu merupakan pewaris para nabi ‘alaihimus salam Dekat dengan ahli ilmu memudahkan seseorang untuk bertanya perihal agama Menuntut ilmu merupakan kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya. Namun, tidak semua hamba Allah memperoleh kenikmatan ini. Tidak semua dapat merasakan nikmatnya memahami agama Islam ini, memahami tentang hakikat iman yang sesungguhnya. Sungguh! Ini merupakan anugerah dan nikmat terbesar. Allah Ta’ala berfirman, أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدۡرَهُ ۥ لِلۡإِسۡلَـٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ۬ مِّن رَّبِّهِۦ‌ۚ “Maka, apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (itu sama dengan orang yang membatu hatinya)?” (QS. Az-Zumar: 22) Dengan ilmu, Allah Ta’ala mengangkat derajat seseorang. Allah Ta’ala berfirman, يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬ “…, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11) Karena begitu nikmatnya memperoleh ilmu, maka dekat dengan ahli ilmu akan menyempurnakan kenikmatan tersebut. Bagaimana tidak, dengan perantara ahli ilmu, setelah izin dari Allah, kita mengetahui suatu hal yang tidak kita ketahui sebelumnya. Hal yang masih samar bagi kita, menjadi jelas dan terang benderang tanpa ada kesamaran sedikit pun. Ini merupakan nikmat di antara nikmat-nikmat yang sering kita lupakan. Dekat dengan ahli ilmu dapat menghidupkan roh, dengan ilmu dan cahaya petunjuk Tentunya, tatkala seseorang dekat dengan ahli ilmu, akan membuatnya dekat kepada ilmu. Ia akan mendapatkan jasadnya terisi dengan roh yang penuh akan ilmu dan cahaya. Allah Ta’ala mensifati Al-Qur’an yang merupakan pokok dari ilmu sebagai roh dan cahaya petunjuk, وَكَذَٲلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحً۬ا مِّنۡ أَمۡرِنَا‌ۚ مَا كُنتَ تَدۡرِى مَا ٱلۡكِتَـٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَـٰنُ وَلَـٰكِن جَعَلۡنَـٰهُ نُورً۬ا نَّہۡدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) roh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy-Syura: 52) Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah (wafat th.1376 H) berkata ketika menafsirkan ayat di atas, وَهُوَ هَذَا القُرْآنُ الكَرِيْمُ، سَمَّاهُ رُوْحًا، لِأَنَّ الرُّوْحَ يحْيا بِهِ الجَسَدُ، وَالقُرْآنُ تَحْيَا بِهِ القُلُوْبُ وَالأَرْوَاحُ، وَتَحْيَا بِهِ مَصَالِحُ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، لمِاَ فِيْهِ مِنَ الخَيرِ الكَثِيْرِ وَالعِلْمِ الغَزِيْرِ “Demikianlah yang dimaksud dengan roh adalah Al-Qur’an Al-Karim. Allah Ta’ala menamakan Al-Qur’an dengan Roh. Karena dengan roh, jasad dapat hidup; sedangkan dengan Al-Qur’an, hati-hati dan roh pun juga hidup. Sehingga dengan itulah kemaslahatan dunia dan agama dapat terealisasikan. Mengingat di dalam Al-Qur’an terdapat kebaikan yang banyak dan ilmu yang melimpah.” (Lihat Taisir Karimirrahman fi Tafsiril Kalamil Mannan, hal. 726, Cet. Mu’assasah Ar-Risalah) Oleh karena itu, dekat dengan ahli ilmu merupakan sumber dari roh dan cahaya petunjuk. Sebaliknya, jika tidak dekat dengan ahli ilmu dan juga ilmu, maka ini merupakan awal dari sebuah petaka. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat th. 204 H), bahkan mengatakan, وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ  ……  ‌فَكَبِّرْ ‌عَلَيْهِ ‌أَرْبَعًا ‌لِوَفَاتِهِ “Siapa yang terluput dari ilmu di masa mudanya. Maka, takbirkan ia sebanyak empat kali atas wafatnya.” (Lihat Diwan Asy-Syafi’i, hal. 59) Seseorang yang jauh dari ilmu dan ahli ilmu, sejatinya mereka adalah mayat yang berjalan. Karena tidak ada roh berupa ilmu pada jasad-jasad mereka. Demikianlah, yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Ahli ilmu tidak akan mencelakakan orang-orang di sekitarnya Bahkan, makhluk-makhluk Allah Ta’ala yang lain merasakan manfaat dengan adanya ahli ilmu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang ahli ilmu, إِنَّ العَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ ‌حَتَّى ‌الحِيْتَانُ فِي المَاءِ “Sesungguhnya makhluk-makhluk Allah di langit dan di bumi benar-benar akan memohonkan ampun kepada ahli ilmu, sampai ikan-ikan yang berada di dalam air.” (HR. Abu Daud no. 3641 dan At-Tirmidzi no. 2682) Sebab dari istigfar ini adalah karena seorang yang berilmu mengajarkan kepada manusia ilmu. Termasuk untuk memperhatikan dan menjaga hewan-hewan, mengenalkan kepada manusia perkara yang halal dan yang haram, dan juga mengajarkan kepada manusia bagaimana cara untuk memperoleh hewan tersebut, menggunakan hewan tersebut untuk berkendara, bahkan sampai tata cara menyembelih dengan cara terbaik. Dengan ini, ahli ilmu berhak untuk memperoleh istigfar dari makhluk tersebut. [Demikianlah yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah (wafat th. 751 H) di dalam kitabnya Miftah Daris Sa’adah, 1: 175] Dalam hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mensifati ahli ilmu, ‌هُمُ ‌الْقَوْمُ ‌لَا ‌يَشْقَى ‌بِهِمْ جَلِيسُهُمْ “Mereka adalah suatu kaum yang tidak akan mencelakakan teman duduk mereka.” (HR. Muslim no. 2689) Tentunya, berbanding terbalik jika kita dekat dengan bukan dari ahli ilmu. Seringkali kekecewaan, kecemasan, dan kesedihan yang kita dapatkan dari mereka. Bahkan, sulit rasanya untuk memperoleh kepercayaan dan ketenangan pada mereka. Sehingga fitrah pada diri manusia pun dapat menilai. Begitu nikmatnya dekat dengan ahli ilmu. Baca juga: Antara Ilmu yang Diamalkan dan yang Tidak Diamalkan Ahli ilmu merupakan pewaris para nabi ‘alaihimus salam Hal ini sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebutkan dalam hadisnya. Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُورِّثُوا دِيْنَاراً وَلَا دِرْهَماً، ‌إِنَّمَا ‌وَرَّثُوا ‌العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍ وَافِرٍ “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh! Para nabi tidaklah mewariskan dinar dan juga dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambilnya, maka ia telah memperoleh perbendaharaan yang berharga.” (Lihat Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:138, Cet. Maktabah Al-Ma’arif) Karena ahli ilmu pewaris para nabi, maka dekat dengan mereka membuat kita setidaknya sedikit merasakan nikmatnya mendapatkan warisan para nabi ‘alaihimus salam, yang tentunya warisan ini lebih berharga daripada warisan yang ada di dunia ini. Dekat dengan ahli ilmu memudahkan seseorang untuk bertanya perihal agama Allah Ta’ala berfirman, فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّڪۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ “Maka, tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al Anbiya : 7) Ini di antara nikmat dekat dengan ahli ilmu. Kita bisa bertanya kepadanya tentang perihal agama yang tidak diketahui. Sehingga sirnalah kebodohan dalam diri seseorang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‌أَلَا ‌سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ “Tidakkah mereka ingin bertanya tatkala mereka tidak mengetahui, karena sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya.” [1] (Lihat Sunan Abu Daud no. 336) Inilah di antara nikmat dekat dengan ahli ilmu. Sehingga ini yang harus disyukuri dan jangan dilupakan jasa-jasa mereka. Terdapat sebuah perkataan yang menarik yang dikatakan oleh Syu’bah, كُنْتُ إِذَا سَمِعْتُ مِنَ الرَّجُلِ الحَدِيْثَ كُنْتُ لَهُ عَبْداً مَا حَيِيَ “Tatkala aku mendengar satu hadis dari seseorang (ahli ilmu), aku siap untuk menjadi budak selama dia hidup.” (Lihat Tadzkiratus Saami’, hal. 190, Cet. Maktabah Ibnu Abbas) Terakhir, tentunya dekat dengan ahli ilmu adalah untuk diambil ilmunya dan diambil manfaat serta faedah-faedah dari mereka. Bukan tujuan dekat dengan ahli ilmu adalah untuk meningkatkan status sosial, jabatan, bahkan berbangga dengan menunjukkan kepada manusia bahwa ia dekat dengan ahli ilmu. Cukuplah membuat kita bangga dengan faedah dan ilmu yang bisa diperoleh dari mereka. Tidak lupa doa untuk mereka tentunya. Khawatirnya berbangga dengan hal tersebut justru membuat kita ghurur (tertipu) dengan itu semua. Sehingga yang menyelimuti kita justru adalah penyakit ujub, riya‘, dan sum’ah. Bangga dengan dikatakan “fulan adalah murid ustaz fulan”, tanpa ada sedikit pun ilmu yang terpatri pada dirinya. ‘Iyaadzan Billah. Masih banyak lagi nikmat dengan ahli ilmu, selain dari hal yang disebutkan di atas. Semoga hal di atas dapat menjadi motivasi bagi mereka yang belum mendekat kepada ahli ilmu, dan menjadi pengingat untuk bersyukur bagi mereka yang dekat dengan ahli ilmu. Wabillahit Taufiq. Baca juga: Ilmu Bekal Hidup Bahagia  *** Depok, 27 Rajab 1445 H / 8 Februari 2024 Penulis: Zia Abdurrofi Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Hadis ini menceritakan tatkala ada seorang sahabat yang salah dalam berfatwa. Tatkala ia ditanya oleh sahabat yang lainnya, di mana sahabat ini mimpi basah sehingga membuatnya junub, kebetulan ia sedang terluka di bagian kepala, “Apakah ada rukhshah bagiku untuk bertayamum?” Jawabnya, “Tidak, kami tidak mendapati rukhshah untukmu”. Sehingga sahabat ini pun meninggal. Sampailah kabar tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Nabi bersabda sebagaimana hadis di atas. Tags: ahli ilmu
Prev     Next