Posisi Imam dan Makmum dalam Shalat Berjamaah, Termasuk Makmum Perempuan

Bagaimana posisi imam dan makmum dalam shalat berjamaah? Bagaimana kalau ada makmum perempuan?     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #417 3.1. Faedah hadits 3.2. Referensi: Hadits #417 عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: صَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُمْتُ وَيَتِيمٌ خَلْفَهُ، وَأُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat lalu aku dan seorang anak yatim berdiri di belakangnya, sedang Ummu Sulaim berdiri di belakang kami.” (Muttafaqun ‘alaih. Lafaz hadits ini menurut riwayat Al-Bukhari). [HR. Bukhari, no. 727, 870 dan Muslim, no. 658]   Faedah hadits Jika makmum lebih dari satu, posisi seluruh makmum adalah di belakang imam. Inilah pendapat jumhur ulama. Wanita tidaklah berdiri shalat bersama jamaah pria dalam satu shaf. Wanita berdiri di belakang shaf pria walau sendirian. Keadaan wanita ini tidaklah berbeda, baik wanita tersebut adalah istrinya atau mahramnya. Anak kecil yang belum baligh yang berada di dalam shaf dan mengikuti shalat berjamaah tidaklah dikatakan memutus shaf. Shalat anak kecil ini tetap sah. Berjamaah dalam shalat sunnah dibolehkan jika ada maslahat seperti untuk pengajaran. Islam melarang ikhtilath, yaitu campur baur antara pria dan wanita sampai pun dalam ibadah. Syariat Islam memerintahkan wanita shalat sendirian di belakang shaf pria, tanpa bercampur satu shaf dengan shaf pria. Inilah perhatian Islam untuk menjaga umatnya. Hadits ini menunjukkan keberkahan orang saleh. Keberkahannya adalah dengan mengajarkan shahibul bait (tuan rumah) mengenai shalat dengan shalat di rumahnya. Shalat sunnah di siang hari hendaklah dilakukan dengan dua rakaat salam sebagaimana pelaksanaan shalat lail (shalat malam).   Baca juga:  Hukum Ikhtilath di Tempat Umum Jika Makmum Berdiri di Sebelah Kiri Imam Shalat Jamaah Bagi Wanita   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:419-421. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:43-44.       Diselesaikan pada Jumat sore, 26 Rabiul Akhir 1445 H, 10 November 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam cara merapatkan shaf hukum shalat berjamaah keutamaan shalat berjamaah shaf shalat shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid

Posisi Imam dan Makmum dalam Shalat Berjamaah, Termasuk Makmum Perempuan

Bagaimana posisi imam dan makmum dalam shalat berjamaah? Bagaimana kalau ada makmum perempuan?     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #417 3.1. Faedah hadits 3.2. Referensi: Hadits #417 عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: صَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُمْتُ وَيَتِيمٌ خَلْفَهُ، وَأُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat lalu aku dan seorang anak yatim berdiri di belakangnya, sedang Ummu Sulaim berdiri di belakang kami.” (Muttafaqun ‘alaih. Lafaz hadits ini menurut riwayat Al-Bukhari). [HR. Bukhari, no. 727, 870 dan Muslim, no. 658]   Faedah hadits Jika makmum lebih dari satu, posisi seluruh makmum adalah di belakang imam. Inilah pendapat jumhur ulama. Wanita tidaklah berdiri shalat bersama jamaah pria dalam satu shaf. Wanita berdiri di belakang shaf pria walau sendirian. Keadaan wanita ini tidaklah berbeda, baik wanita tersebut adalah istrinya atau mahramnya. Anak kecil yang belum baligh yang berada di dalam shaf dan mengikuti shalat berjamaah tidaklah dikatakan memutus shaf. Shalat anak kecil ini tetap sah. Berjamaah dalam shalat sunnah dibolehkan jika ada maslahat seperti untuk pengajaran. Islam melarang ikhtilath, yaitu campur baur antara pria dan wanita sampai pun dalam ibadah. Syariat Islam memerintahkan wanita shalat sendirian di belakang shaf pria, tanpa bercampur satu shaf dengan shaf pria. Inilah perhatian Islam untuk menjaga umatnya. Hadits ini menunjukkan keberkahan orang saleh. Keberkahannya adalah dengan mengajarkan shahibul bait (tuan rumah) mengenai shalat dengan shalat di rumahnya. Shalat sunnah di siang hari hendaklah dilakukan dengan dua rakaat salam sebagaimana pelaksanaan shalat lail (shalat malam).   Baca juga:  Hukum Ikhtilath di Tempat Umum Jika Makmum Berdiri di Sebelah Kiri Imam Shalat Jamaah Bagi Wanita   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:419-421. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:43-44.       Diselesaikan pada Jumat sore, 26 Rabiul Akhir 1445 H, 10 November 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam cara merapatkan shaf hukum shalat berjamaah keutamaan shalat berjamaah shaf shalat shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid
Bagaimana posisi imam dan makmum dalam shalat berjamaah? Bagaimana kalau ada makmum perempuan?     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #417 3.1. Faedah hadits 3.2. Referensi: Hadits #417 عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: صَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُمْتُ وَيَتِيمٌ خَلْفَهُ، وَأُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat lalu aku dan seorang anak yatim berdiri di belakangnya, sedang Ummu Sulaim berdiri di belakang kami.” (Muttafaqun ‘alaih. Lafaz hadits ini menurut riwayat Al-Bukhari). [HR. Bukhari, no. 727, 870 dan Muslim, no. 658]   Faedah hadits Jika makmum lebih dari satu, posisi seluruh makmum adalah di belakang imam. Inilah pendapat jumhur ulama. Wanita tidaklah berdiri shalat bersama jamaah pria dalam satu shaf. Wanita berdiri di belakang shaf pria walau sendirian. Keadaan wanita ini tidaklah berbeda, baik wanita tersebut adalah istrinya atau mahramnya. Anak kecil yang belum baligh yang berada di dalam shaf dan mengikuti shalat berjamaah tidaklah dikatakan memutus shaf. Shalat anak kecil ini tetap sah. Berjamaah dalam shalat sunnah dibolehkan jika ada maslahat seperti untuk pengajaran. Islam melarang ikhtilath, yaitu campur baur antara pria dan wanita sampai pun dalam ibadah. Syariat Islam memerintahkan wanita shalat sendirian di belakang shaf pria, tanpa bercampur satu shaf dengan shaf pria. Inilah perhatian Islam untuk menjaga umatnya. Hadits ini menunjukkan keberkahan orang saleh. Keberkahannya adalah dengan mengajarkan shahibul bait (tuan rumah) mengenai shalat dengan shalat di rumahnya. Shalat sunnah di siang hari hendaklah dilakukan dengan dua rakaat salam sebagaimana pelaksanaan shalat lail (shalat malam).   Baca juga:  Hukum Ikhtilath di Tempat Umum Jika Makmum Berdiri di Sebelah Kiri Imam Shalat Jamaah Bagi Wanita   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:419-421. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:43-44.       Diselesaikan pada Jumat sore, 26 Rabiul Akhir 1445 H, 10 November 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam cara merapatkan shaf hukum shalat berjamaah keutamaan shalat berjamaah shaf shalat shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid


Bagaimana posisi imam dan makmum dalam shalat berjamaah? Bagaimana kalau ada makmum perempuan?     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #417 3.1. Faedah hadits 3.2. Referensi: Hadits #417 عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: صَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُمْتُ وَيَتِيمٌ خَلْفَهُ، وَأُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat lalu aku dan seorang anak yatim berdiri di belakangnya, sedang Ummu Sulaim berdiri di belakang kami.” (Muttafaqun ‘alaih. Lafaz hadits ini menurut riwayat Al-Bukhari). [HR. Bukhari, no. 727, 870 dan Muslim, no. 658]   Faedah hadits Jika makmum lebih dari satu, posisi seluruh makmum adalah di belakang imam. Inilah pendapat jumhur ulama. Wanita tidaklah berdiri shalat bersama jamaah pria dalam satu shaf. Wanita berdiri di belakang shaf pria walau sendirian. Keadaan wanita ini tidaklah berbeda, baik wanita tersebut adalah istrinya atau mahramnya. Anak kecil yang belum baligh yang berada di dalam shaf dan mengikuti shalat berjamaah tidaklah dikatakan memutus shaf. Shalat anak kecil ini tetap sah. Berjamaah dalam shalat sunnah dibolehkan jika ada maslahat seperti untuk pengajaran. Islam melarang ikhtilath, yaitu campur baur antara pria dan wanita sampai pun dalam ibadah. Syariat Islam memerintahkan wanita shalat sendirian di belakang shaf pria, tanpa bercampur satu shaf dengan shaf pria. Inilah perhatian Islam untuk menjaga umatnya. Hadits ini menunjukkan keberkahan orang saleh. Keberkahannya adalah dengan mengajarkan shahibul bait (tuan rumah) mengenai shalat dengan shalat di rumahnya. Shalat sunnah di siang hari hendaklah dilakukan dengan dua rakaat salam sebagaimana pelaksanaan shalat lail (shalat malam).   Baca juga:  Hukum Ikhtilath di Tempat Umum Jika Makmum Berdiri di Sebelah Kiri Imam Shalat Jamaah Bagi Wanita   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:419-421. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:43-44.       Diselesaikan pada Jumat sore, 26 Rabiul Akhir 1445 H, 10 November 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam cara merapatkan shaf hukum shalat berjamaah keutamaan shalat berjamaah shaf shalat shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid

Hadis: Pahala untuk Seorang Istri yang Bersedekah dari Harta Suami

Daftar Isi Toggle Teks hadisKandungan hadis Teks hadis Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِذَا أَنْفَقَتِ المَرْأَةُ مِنْ طَعَامِ بَيْتِهَا غَيْرَ مُفْسِدَةٍ، كَانَ لَهَا أَجْرُهَا بِمَا أَنْفَقَتْ، وَلِزَوْجِهَا أَجْرُهُ بِمَا كَسَبَ، وَلِلْخَازِنِ مِثْلُ ذَلِكَ، لاَ يَنْقُصُ بَعْضُهُمْ أَجْرَ بَعْضٍ شَيْئًا “Jika seorang wanita bersedekah dari makanan yang ada di rumah (suami)-nya, tanpa menimbulkan mafsadah (kerusakan atau kerugian), maka baginya pahala atas apa yang diinfakkan. Dan suaminya mendapatkan pahala atas apa yang diusahakannya. Demikian juga bagi seorang penjaga harta/bendahara (akan mendapatkan pahala) dengan tidak dikurangi sedikit pun pahala masing-masing dari mereka.” (HR. Bukhari no. 1425 dan Muslim no. 1024) Kandungan hadis Kandungan pertama, hadis di atas merupakan dalil bahwa seorang istri boleh bersedekah dari makanan yang ada di rumah suaminya, meskipun dia tidak meminta izin kepada suami terlebih dahulu. Hal ini karena ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang memberikan penjelasan. Jika izin suami adalah syarat, maka tentu akan dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika itu juga. Inilah yang dipahami oleh para ulama mazhab Hanafiyah dan Syafi’iyyah. Adapun menurut pendapat ulama Hambali, hal itu berlaku untuk harta yang nilainya kecil yang secara adat kebiasaan masyarakat, pasti diizinkan kalau hendak disedekahkan. Misalnya, roti, kelebihan makanan yang dimasak pada hari itu, buah-buahan, atau semisalnya yang menurut budaya masyarakat setempat, sang suami pasti rida dan mengizinkannya. Sehingga seorang istri akan mendapat rida dan izin suami, meskipun tidak meminta izin secara langsung. Sedekah tersebut dipersyaratkan, “tanpa menimbulkan mafsadah (kerusakan atau kerugian)”. Yaitu, sedekah tersebut sifatnya tidak berlebih-lebihan dan boros. Misalnya, mensedekahkan harta milik suami yang secara adat kebiasaan itu tidak biasa disedekahkan tanpa izin dan sepengetahuan suami. Maka, hal ini tidaklah diperbolehkan karena bisa mencegah dan menghalangi sang suami dari menunaikan kewajiban memberi nafkah kepada istri dan kerabat lain yang wajib dia nafkahi. Sehingga dalam hadis tersebut dicontohkan makanan. Karena memang pada umumnya, jika yang disedekahkan adalah makanan, maka sang suami akan rida dan mengizinkan. Berbeda halnya jika yang akan disedekahkan adalah uang atau perhiasan. Jika istri ingin menyedekahkan uang dan perhiasan, maka harus mendapatkan izin yang tegas dari sang suami. Kandungan kedua, zahir hadis tersebut menunjukkan bahwa jika seorang istri menyedekahkan makanan yang ada di rumahnya, maka dia mendapatkan pahala yang sempurna, sebagaimana sang suami juga akan mendapatkan pahala yang sempurna. Karena mereka yang berserikat dalam ketaatan, tentu akan berserikat pula dalam mendapatkan pahala. Seorang suami mendapatkan pahala sesuai dengan amal (pekerjaan) yang diusahakannya, sedangkan sang istri juga mendapatkan pahala sesuai dengan amal sedekahnya. Demikian pula seorang penjaga harta (bendahara). Masing-masing mereka tidaklah saling bersaing satu sama lain, karena pahala dan keutamaan dari Allah sangatlah besar. Akan tetapi, terdapat hadis lain yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِذَا أَنْفَقَتِ المَرْأَةُ مِنْ كَسْبِ زَوْجِهَا، عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ، فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِهِ “Jika seorang istri bersedekah dari harta hasil usaha suaminya tanpa perintah sang suami, maka sang istri mendapatkan separuh pahala.” (HR. Bukhari no. 2066 dan Muslim no. 1026) Hadis ini menunjukkan bahwa sang istri hanya mendapatkan separuh pahala. Sehingga dua hadis ini dikompromikan dengan penjelasan berikut ini: Jika seorang istri menyedekahkan harta suami dengan izin dan sepengetahuan suami, maka dia akan mendapatkan pahala yang sempurna. Hadis yang diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dibawa ke makna tersebut. Akan tetapi, apabila seorang istri menyedekahkan tanpa izin atau tanpa sepengetahuan sang suami, maka sang istri hanya mendapatkan separuh pahala. Bahkan, jika seorang istri mengetahui bahwa sang suami tidak akan mengizinkannya atau bahkan melarang, maka dia tidak boleh bersedekah. Jika tetap bersedekah dalam kondisi seperti itu, dia tidak mendapatkan pahala, dan bahkan mendapatkan dosa. Hal ini karena hal itu sama saja dengan perbuatan menyedekahkan harta yang bukan miliknya tanpa izin sang pemilik harta. Wallahu Ta’ala a’lam. Demikian pembahasan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. Baca juga: Sedekah Apakah yang Paling Utama? *** @Kantor YPIA Pogung, 11 Rabiul akhir 1445/ 26 Oktober 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 481-482). Tags: Sedekah

Hadis: Pahala untuk Seorang Istri yang Bersedekah dari Harta Suami

Daftar Isi Toggle Teks hadisKandungan hadis Teks hadis Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِذَا أَنْفَقَتِ المَرْأَةُ مِنْ طَعَامِ بَيْتِهَا غَيْرَ مُفْسِدَةٍ، كَانَ لَهَا أَجْرُهَا بِمَا أَنْفَقَتْ، وَلِزَوْجِهَا أَجْرُهُ بِمَا كَسَبَ، وَلِلْخَازِنِ مِثْلُ ذَلِكَ، لاَ يَنْقُصُ بَعْضُهُمْ أَجْرَ بَعْضٍ شَيْئًا “Jika seorang wanita bersedekah dari makanan yang ada di rumah (suami)-nya, tanpa menimbulkan mafsadah (kerusakan atau kerugian), maka baginya pahala atas apa yang diinfakkan. Dan suaminya mendapatkan pahala atas apa yang diusahakannya. Demikian juga bagi seorang penjaga harta/bendahara (akan mendapatkan pahala) dengan tidak dikurangi sedikit pun pahala masing-masing dari mereka.” (HR. Bukhari no. 1425 dan Muslim no. 1024) Kandungan hadis Kandungan pertama, hadis di atas merupakan dalil bahwa seorang istri boleh bersedekah dari makanan yang ada di rumah suaminya, meskipun dia tidak meminta izin kepada suami terlebih dahulu. Hal ini karena ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang memberikan penjelasan. Jika izin suami adalah syarat, maka tentu akan dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika itu juga. Inilah yang dipahami oleh para ulama mazhab Hanafiyah dan Syafi’iyyah. Adapun menurut pendapat ulama Hambali, hal itu berlaku untuk harta yang nilainya kecil yang secara adat kebiasaan masyarakat, pasti diizinkan kalau hendak disedekahkan. Misalnya, roti, kelebihan makanan yang dimasak pada hari itu, buah-buahan, atau semisalnya yang menurut budaya masyarakat setempat, sang suami pasti rida dan mengizinkannya. Sehingga seorang istri akan mendapat rida dan izin suami, meskipun tidak meminta izin secara langsung. Sedekah tersebut dipersyaratkan, “tanpa menimbulkan mafsadah (kerusakan atau kerugian)”. Yaitu, sedekah tersebut sifatnya tidak berlebih-lebihan dan boros. Misalnya, mensedekahkan harta milik suami yang secara adat kebiasaan itu tidak biasa disedekahkan tanpa izin dan sepengetahuan suami. Maka, hal ini tidaklah diperbolehkan karena bisa mencegah dan menghalangi sang suami dari menunaikan kewajiban memberi nafkah kepada istri dan kerabat lain yang wajib dia nafkahi. Sehingga dalam hadis tersebut dicontohkan makanan. Karena memang pada umumnya, jika yang disedekahkan adalah makanan, maka sang suami akan rida dan mengizinkan. Berbeda halnya jika yang akan disedekahkan adalah uang atau perhiasan. Jika istri ingin menyedekahkan uang dan perhiasan, maka harus mendapatkan izin yang tegas dari sang suami. Kandungan kedua, zahir hadis tersebut menunjukkan bahwa jika seorang istri menyedekahkan makanan yang ada di rumahnya, maka dia mendapatkan pahala yang sempurna, sebagaimana sang suami juga akan mendapatkan pahala yang sempurna. Karena mereka yang berserikat dalam ketaatan, tentu akan berserikat pula dalam mendapatkan pahala. Seorang suami mendapatkan pahala sesuai dengan amal (pekerjaan) yang diusahakannya, sedangkan sang istri juga mendapatkan pahala sesuai dengan amal sedekahnya. Demikian pula seorang penjaga harta (bendahara). Masing-masing mereka tidaklah saling bersaing satu sama lain, karena pahala dan keutamaan dari Allah sangatlah besar. Akan tetapi, terdapat hadis lain yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِذَا أَنْفَقَتِ المَرْأَةُ مِنْ كَسْبِ زَوْجِهَا، عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ، فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِهِ “Jika seorang istri bersedekah dari harta hasil usaha suaminya tanpa perintah sang suami, maka sang istri mendapatkan separuh pahala.” (HR. Bukhari no. 2066 dan Muslim no. 1026) Hadis ini menunjukkan bahwa sang istri hanya mendapatkan separuh pahala. Sehingga dua hadis ini dikompromikan dengan penjelasan berikut ini: Jika seorang istri menyedekahkan harta suami dengan izin dan sepengetahuan suami, maka dia akan mendapatkan pahala yang sempurna. Hadis yang diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dibawa ke makna tersebut. Akan tetapi, apabila seorang istri menyedekahkan tanpa izin atau tanpa sepengetahuan sang suami, maka sang istri hanya mendapatkan separuh pahala. Bahkan, jika seorang istri mengetahui bahwa sang suami tidak akan mengizinkannya atau bahkan melarang, maka dia tidak boleh bersedekah. Jika tetap bersedekah dalam kondisi seperti itu, dia tidak mendapatkan pahala, dan bahkan mendapatkan dosa. Hal ini karena hal itu sama saja dengan perbuatan menyedekahkan harta yang bukan miliknya tanpa izin sang pemilik harta. Wallahu Ta’ala a’lam. Demikian pembahasan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. Baca juga: Sedekah Apakah yang Paling Utama? *** @Kantor YPIA Pogung, 11 Rabiul akhir 1445/ 26 Oktober 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 481-482). Tags: Sedekah
Daftar Isi Toggle Teks hadisKandungan hadis Teks hadis Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِذَا أَنْفَقَتِ المَرْأَةُ مِنْ طَعَامِ بَيْتِهَا غَيْرَ مُفْسِدَةٍ، كَانَ لَهَا أَجْرُهَا بِمَا أَنْفَقَتْ، وَلِزَوْجِهَا أَجْرُهُ بِمَا كَسَبَ، وَلِلْخَازِنِ مِثْلُ ذَلِكَ، لاَ يَنْقُصُ بَعْضُهُمْ أَجْرَ بَعْضٍ شَيْئًا “Jika seorang wanita bersedekah dari makanan yang ada di rumah (suami)-nya, tanpa menimbulkan mafsadah (kerusakan atau kerugian), maka baginya pahala atas apa yang diinfakkan. Dan suaminya mendapatkan pahala atas apa yang diusahakannya. Demikian juga bagi seorang penjaga harta/bendahara (akan mendapatkan pahala) dengan tidak dikurangi sedikit pun pahala masing-masing dari mereka.” (HR. Bukhari no. 1425 dan Muslim no. 1024) Kandungan hadis Kandungan pertama, hadis di atas merupakan dalil bahwa seorang istri boleh bersedekah dari makanan yang ada di rumah suaminya, meskipun dia tidak meminta izin kepada suami terlebih dahulu. Hal ini karena ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang memberikan penjelasan. Jika izin suami adalah syarat, maka tentu akan dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika itu juga. Inilah yang dipahami oleh para ulama mazhab Hanafiyah dan Syafi’iyyah. Adapun menurut pendapat ulama Hambali, hal itu berlaku untuk harta yang nilainya kecil yang secara adat kebiasaan masyarakat, pasti diizinkan kalau hendak disedekahkan. Misalnya, roti, kelebihan makanan yang dimasak pada hari itu, buah-buahan, atau semisalnya yang menurut budaya masyarakat setempat, sang suami pasti rida dan mengizinkannya. Sehingga seorang istri akan mendapat rida dan izin suami, meskipun tidak meminta izin secara langsung. Sedekah tersebut dipersyaratkan, “tanpa menimbulkan mafsadah (kerusakan atau kerugian)”. Yaitu, sedekah tersebut sifatnya tidak berlebih-lebihan dan boros. Misalnya, mensedekahkan harta milik suami yang secara adat kebiasaan itu tidak biasa disedekahkan tanpa izin dan sepengetahuan suami. Maka, hal ini tidaklah diperbolehkan karena bisa mencegah dan menghalangi sang suami dari menunaikan kewajiban memberi nafkah kepada istri dan kerabat lain yang wajib dia nafkahi. Sehingga dalam hadis tersebut dicontohkan makanan. Karena memang pada umumnya, jika yang disedekahkan adalah makanan, maka sang suami akan rida dan mengizinkan. Berbeda halnya jika yang akan disedekahkan adalah uang atau perhiasan. Jika istri ingin menyedekahkan uang dan perhiasan, maka harus mendapatkan izin yang tegas dari sang suami. Kandungan kedua, zahir hadis tersebut menunjukkan bahwa jika seorang istri menyedekahkan makanan yang ada di rumahnya, maka dia mendapatkan pahala yang sempurna, sebagaimana sang suami juga akan mendapatkan pahala yang sempurna. Karena mereka yang berserikat dalam ketaatan, tentu akan berserikat pula dalam mendapatkan pahala. Seorang suami mendapatkan pahala sesuai dengan amal (pekerjaan) yang diusahakannya, sedangkan sang istri juga mendapatkan pahala sesuai dengan amal sedekahnya. Demikian pula seorang penjaga harta (bendahara). Masing-masing mereka tidaklah saling bersaing satu sama lain, karena pahala dan keutamaan dari Allah sangatlah besar. Akan tetapi, terdapat hadis lain yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِذَا أَنْفَقَتِ المَرْأَةُ مِنْ كَسْبِ زَوْجِهَا، عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ، فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِهِ “Jika seorang istri bersedekah dari harta hasil usaha suaminya tanpa perintah sang suami, maka sang istri mendapatkan separuh pahala.” (HR. Bukhari no. 2066 dan Muslim no. 1026) Hadis ini menunjukkan bahwa sang istri hanya mendapatkan separuh pahala. Sehingga dua hadis ini dikompromikan dengan penjelasan berikut ini: Jika seorang istri menyedekahkan harta suami dengan izin dan sepengetahuan suami, maka dia akan mendapatkan pahala yang sempurna. Hadis yang diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dibawa ke makna tersebut. Akan tetapi, apabila seorang istri menyedekahkan tanpa izin atau tanpa sepengetahuan sang suami, maka sang istri hanya mendapatkan separuh pahala. Bahkan, jika seorang istri mengetahui bahwa sang suami tidak akan mengizinkannya atau bahkan melarang, maka dia tidak boleh bersedekah. Jika tetap bersedekah dalam kondisi seperti itu, dia tidak mendapatkan pahala, dan bahkan mendapatkan dosa. Hal ini karena hal itu sama saja dengan perbuatan menyedekahkan harta yang bukan miliknya tanpa izin sang pemilik harta. Wallahu Ta’ala a’lam. Demikian pembahasan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. Baca juga: Sedekah Apakah yang Paling Utama? *** @Kantor YPIA Pogung, 11 Rabiul akhir 1445/ 26 Oktober 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 481-482). Tags: Sedekah


Daftar Isi Toggle Teks hadisKandungan hadis Teks hadis Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِذَا أَنْفَقَتِ المَرْأَةُ مِنْ طَعَامِ بَيْتِهَا غَيْرَ مُفْسِدَةٍ، كَانَ لَهَا أَجْرُهَا بِمَا أَنْفَقَتْ، وَلِزَوْجِهَا أَجْرُهُ بِمَا كَسَبَ، وَلِلْخَازِنِ مِثْلُ ذَلِكَ، لاَ يَنْقُصُ بَعْضُهُمْ أَجْرَ بَعْضٍ شَيْئًا “Jika seorang wanita bersedekah dari makanan yang ada di rumah (suami)-nya, tanpa menimbulkan mafsadah (kerusakan atau kerugian), maka baginya pahala atas apa yang diinfakkan. Dan suaminya mendapatkan pahala atas apa yang diusahakannya. Demikian juga bagi seorang penjaga harta/bendahara (akan mendapatkan pahala) dengan tidak dikurangi sedikit pun pahala masing-masing dari mereka.” (HR. Bukhari no. 1425 dan Muslim no. 1024) Kandungan hadis Kandungan pertama, hadis di atas merupakan dalil bahwa seorang istri boleh bersedekah dari makanan yang ada di rumah suaminya, meskipun dia tidak meminta izin kepada suami terlebih dahulu. Hal ini karena ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang memberikan penjelasan. Jika izin suami adalah syarat, maka tentu akan dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika itu juga. Inilah yang dipahami oleh para ulama mazhab Hanafiyah dan Syafi’iyyah. Adapun menurut pendapat ulama Hambali, hal itu berlaku untuk harta yang nilainya kecil yang secara adat kebiasaan masyarakat, pasti diizinkan kalau hendak disedekahkan. Misalnya, roti, kelebihan makanan yang dimasak pada hari itu, buah-buahan, atau semisalnya yang menurut budaya masyarakat setempat, sang suami pasti rida dan mengizinkannya. Sehingga seorang istri akan mendapat rida dan izin suami, meskipun tidak meminta izin secara langsung. Sedekah tersebut dipersyaratkan, “tanpa menimbulkan mafsadah (kerusakan atau kerugian)”. Yaitu, sedekah tersebut sifatnya tidak berlebih-lebihan dan boros. Misalnya, mensedekahkan harta milik suami yang secara adat kebiasaan itu tidak biasa disedekahkan tanpa izin dan sepengetahuan suami. Maka, hal ini tidaklah diperbolehkan karena bisa mencegah dan menghalangi sang suami dari menunaikan kewajiban memberi nafkah kepada istri dan kerabat lain yang wajib dia nafkahi. Sehingga dalam hadis tersebut dicontohkan makanan. Karena memang pada umumnya, jika yang disedekahkan adalah makanan, maka sang suami akan rida dan mengizinkan. Berbeda halnya jika yang akan disedekahkan adalah uang atau perhiasan. Jika istri ingin menyedekahkan uang dan perhiasan, maka harus mendapatkan izin yang tegas dari sang suami. Kandungan kedua, zahir hadis tersebut menunjukkan bahwa jika seorang istri menyedekahkan makanan yang ada di rumahnya, maka dia mendapatkan pahala yang sempurna, sebagaimana sang suami juga akan mendapatkan pahala yang sempurna. Karena mereka yang berserikat dalam ketaatan, tentu akan berserikat pula dalam mendapatkan pahala. Seorang suami mendapatkan pahala sesuai dengan amal (pekerjaan) yang diusahakannya, sedangkan sang istri juga mendapatkan pahala sesuai dengan amal sedekahnya. Demikian pula seorang penjaga harta (bendahara). Masing-masing mereka tidaklah saling bersaing satu sama lain, karena pahala dan keutamaan dari Allah sangatlah besar. Akan tetapi, terdapat hadis lain yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِذَا أَنْفَقَتِ المَرْأَةُ مِنْ كَسْبِ زَوْجِهَا، عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ، فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِهِ “Jika seorang istri bersedekah dari harta hasil usaha suaminya tanpa perintah sang suami, maka sang istri mendapatkan separuh pahala.” (HR. Bukhari no. 2066 dan Muslim no. 1026) Hadis ini menunjukkan bahwa sang istri hanya mendapatkan separuh pahala. Sehingga dua hadis ini dikompromikan dengan penjelasan berikut ini: Jika seorang istri menyedekahkan harta suami dengan izin dan sepengetahuan suami, maka dia akan mendapatkan pahala yang sempurna. Hadis yang diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dibawa ke makna tersebut. Akan tetapi, apabila seorang istri menyedekahkan tanpa izin atau tanpa sepengetahuan sang suami, maka sang istri hanya mendapatkan separuh pahala. Bahkan, jika seorang istri mengetahui bahwa sang suami tidak akan mengizinkannya atau bahkan melarang, maka dia tidak boleh bersedekah. Jika tetap bersedekah dalam kondisi seperti itu, dia tidak mendapatkan pahala, dan bahkan mendapatkan dosa. Hal ini karena hal itu sama saja dengan perbuatan menyedekahkan harta yang bukan miliknya tanpa izin sang pemilik harta. Wallahu Ta’ala a’lam. Demikian pembahasan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. Baca juga: Sedekah Apakah yang Paling Utama? *** @Kantor YPIA Pogung, 11 Rabiul akhir 1445/ 26 Oktober 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 481-482). Tags: Sedekah

Matan Taqrib: Penjelasan Singkat dan Jelas Mengenai Shalat Malam, Shalat Dhuha, dan Shalat Tarawih

Berikut ini adalah penjelasan menarik mengenai tiga shalat sunnah muakkad, yaitu shalat malam (shalat lail), shalat Dhuha, dan shalat tarawih. Penjelasan ini diambil dari penjelasan matan taqrib karya Al-Qadhi Abu Syuja’.     Daftar Isi tutup 1. Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib 2. Kitab Shalat 3. Penjelasan: 4. Pertama: Shalat lail 5. Kedua: Shalat Dhuha 6. Ketiga: Shalat tarawih 6.1. Referensi:   Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib Kitab Shalat   Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata, وَالصَّلَوَاتُ المَسْنُوْنَاتُ خَمْسٌ العِيْدَانِ وَالكُسُوْفَانِ وَالِاسْتِسْقَاءُ وَالسُّنَنُ التَّابِعَةُ لِلْفَرَائِضِ سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً رَكْعَتَا الفَجْرِ وَأَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهُ وَأَرْبَعٌ قَبْلَ العَصْرِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ المَغْرِبِ وَثَلاَثٌ بَعْدَ العِشَاءِ يُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ وَثَلاَثُ نَوَافِلَ مُؤَكَّدَاتٍ صَلاَةُ اللَّيْلِ وَصَلاَةُ الضُّحَى وَصَلاَةُ التَّرَاوِيْحِ. Shalat yang disunnahkan berjamaah itu ada lima: shalat Idulfitri dan Iduladha, shalat gerhana matahari dan bulan, dan shalat istisqa’. Shalat sunnah yang mengikuti shalat wajib itu ada 17: dua rakaat shalat sunnah Fajar (qabliyah Shubuh), empat rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, empat rakaat qabliyah Ashar, dua rakaat bakdiyah Maghrib, tiga rakaat bakdiyah Isyak di dalamnya terdapat witir satu rakaat. Shalah sunnah yang muakkad ada tiga: shalat lail, shalat Dhuha, dan shalat tarawih.   Penjelasan:     Pertama: Shalat lail Waktu shalat lail (shalat malam) adalah bakda shalat Isyak sampai azan shalat Shubuh. Shalat lail adalah sebaik-sebaik shalat setelah shalat fardhu dan setelah shalat rawatib. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ : شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ ، وَأفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيضَةِ : صَلاَةُ اللَّيْلِ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim, no. 1163) Hukum shalat lail adalah sunnah muakkad. Jika shalat malam itu luput, terlupa, atau ketiduran sehingga tidak melakukannya, maka shalat lail bisa diqadha’ pada pagi hari. Shalat tersebut dikerjakan dengan tiap dua rakaat salam.  Baca juga: Keutamaan Shalat Malam   Kedua: Shalat Dhuha Shalat ini disebut Dhuha karena awal waktunya adalah ketika matahari meninggi hingga waktu zawal, setelah matahari tergelincir ke barat. Waktu tersebut tepatnya adalah ketika matahari setinggi tombak (1/3 jam atau 20 menit setelah matahari terbit, ada juga yang menyebut 15 menit setelah matahari terbit) dan berakhir sebelum Zhuhur setinggi tombak pula. Waktu Dhuha paling afdal adalah setelah lewat seperempat siang (waktu siang sekitar 16 jam, ¼ x 16 jam = 4 jam, berarti seperempat siang dimulai sekitar jam 8 pagi). Hukum shalat Dhuha adalah sunnah muakkad. Jumlah rakaat shalat Dhuha, minimalnya adalah dua rakaat, sempurnanya adalah delapan rakaat, dan maksimalnya adalah 12 rakaat. Sebagian ulama menyatakan bahwa jumlah rakaat shalat Dhuha tidaklah dibatasi jumlah rakaatnya. Keutamaan shalat Dhuha disebutkan dalam hadits berikut ini. Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى “Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar makruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat.” (HR. Muslim, no.  720) Baca juga: Keutamaan Shalat Dhuha   Ketiga: Shalat tarawih Shalat tarawih adalah shalat yang dilaksanakan pada malam hari dari bulan Ramadhan setelah shalat Isyak dan sebelum shalat witir. Hukum shalat tarawih adalah sunnah. Shalat tarawih boleh dilakukan secara berjamaah atau sendirian. Shalat tarawih merupakan syiar dari menghidupkan bulan Ramadhan. Keutamaan shalat tarawih: (1) menghapuskan dosa, (2) menguatkan iman, (3) meninggikan derajat di surga. Dalam hadits disebutkan mengenai keutamaan shalat tarawih. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 37 dan Muslim, no. 759). Baca juga: Keutamaan Shalat Tarawih   Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matan Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Dar Al-Manar. – Diselesaikan 26 Rabiul Akhir 1445 H, 9 November 2023 di perjalanan Panggang – MPD Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat dhuha cara shalat sunnah hikmah shalat sunnah keutamaan shalat sunnah matan abu syuja matan taqrib matan taqrib shalat shalat dhuha shalat lail shalat malam shalat sunnah shalat sunnah di rumah shalat sunnah fajar shalat sunnah rawatib shalat tahajud shalat tarawih shalat witir

Matan Taqrib: Penjelasan Singkat dan Jelas Mengenai Shalat Malam, Shalat Dhuha, dan Shalat Tarawih

Berikut ini adalah penjelasan menarik mengenai tiga shalat sunnah muakkad, yaitu shalat malam (shalat lail), shalat Dhuha, dan shalat tarawih. Penjelasan ini diambil dari penjelasan matan taqrib karya Al-Qadhi Abu Syuja’.     Daftar Isi tutup 1. Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib 2. Kitab Shalat 3. Penjelasan: 4. Pertama: Shalat lail 5. Kedua: Shalat Dhuha 6. Ketiga: Shalat tarawih 6.1. Referensi:   Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib Kitab Shalat   Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata, وَالصَّلَوَاتُ المَسْنُوْنَاتُ خَمْسٌ العِيْدَانِ وَالكُسُوْفَانِ وَالِاسْتِسْقَاءُ وَالسُّنَنُ التَّابِعَةُ لِلْفَرَائِضِ سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً رَكْعَتَا الفَجْرِ وَأَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهُ وَأَرْبَعٌ قَبْلَ العَصْرِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ المَغْرِبِ وَثَلاَثٌ بَعْدَ العِشَاءِ يُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ وَثَلاَثُ نَوَافِلَ مُؤَكَّدَاتٍ صَلاَةُ اللَّيْلِ وَصَلاَةُ الضُّحَى وَصَلاَةُ التَّرَاوِيْحِ. Shalat yang disunnahkan berjamaah itu ada lima: shalat Idulfitri dan Iduladha, shalat gerhana matahari dan bulan, dan shalat istisqa’. Shalat sunnah yang mengikuti shalat wajib itu ada 17: dua rakaat shalat sunnah Fajar (qabliyah Shubuh), empat rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, empat rakaat qabliyah Ashar, dua rakaat bakdiyah Maghrib, tiga rakaat bakdiyah Isyak di dalamnya terdapat witir satu rakaat. Shalah sunnah yang muakkad ada tiga: shalat lail, shalat Dhuha, dan shalat tarawih.   Penjelasan:     Pertama: Shalat lail Waktu shalat lail (shalat malam) adalah bakda shalat Isyak sampai azan shalat Shubuh. Shalat lail adalah sebaik-sebaik shalat setelah shalat fardhu dan setelah shalat rawatib. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ : شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ ، وَأفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيضَةِ : صَلاَةُ اللَّيْلِ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim, no. 1163) Hukum shalat lail adalah sunnah muakkad. Jika shalat malam itu luput, terlupa, atau ketiduran sehingga tidak melakukannya, maka shalat lail bisa diqadha’ pada pagi hari. Shalat tersebut dikerjakan dengan tiap dua rakaat salam.  Baca juga: Keutamaan Shalat Malam   Kedua: Shalat Dhuha Shalat ini disebut Dhuha karena awal waktunya adalah ketika matahari meninggi hingga waktu zawal, setelah matahari tergelincir ke barat. Waktu tersebut tepatnya adalah ketika matahari setinggi tombak (1/3 jam atau 20 menit setelah matahari terbit, ada juga yang menyebut 15 menit setelah matahari terbit) dan berakhir sebelum Zhuhur setinggi tombak pula. Waktu Dhuha paling afdal adalah setelah lewat seperempat siang (waktu siang sekitar 16 jam, ¼ x 16 jam = 4 jam, berarti seperempat siang dimulai sekitar jam 8 pagi). Hukum shalat Dhuha adalah sunnah muakkad. Jumlah rakaat shalat Dhuha, minimalnya adalah dua rakaat, sempurnanya adalah delapan rakaat, dan maksimalnya adalah 12 rakaat. Sebagian ulama menyatakan bahwa jumlah rakaat shalat Dhuha tidaklah dibatasi jumlah rakaatnya. Keutamaan shalat Dhuha disebutkan dalam hadits berikut ini. Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى “Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar makruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat.” (HR. Muslim, no.  720) Baca juga: Keutamaan Shalat Dhuha   Ketiga: Shalat tarawih Shalat tarawih adalah shalat yang dilaksanakan pada malam hari dari bulan Ramadhan setelah shalat Isyak dan sebelum shalat witir. Hukum shalat tarawih adalah sunnah. Shalat tarawih boleh dilakukan secara berjamaah atau sendirian. Shalat tarawih merupakan syiar dari menghidupkan bulan Ramadhan. Keutamaan shalat tarawih: (1) menghapuskan dosa, (2) menguatkan iman, (3) meninggikan derajat di surga. Dalam hadits disebutkan mengenai keutamaan shalat tarawih. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 37 dan Muslim, no. 759). Baca juga: Keutamaan Shalat Tarawih   Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matan Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Dar Al-Manar. – Diselesaikan 26 Rabiul Akhir 1445 H, 9 November 2023 di perjalanan Panggang – MPD Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat dhuha cara shalat sunnah hikmah shalat sunnah keutamaan shalat sunnah matan abu syuja matan taqrib matan taqrib shalat shalat dhuha shalat lail shalat malam shalat sunnah shalat sunnah di rumah shalat sunnah fajar shalat sunnah rawatib shalat tahajud shalat tarawih shalat witir
Berikut ini adalah penjelasan menarik mengenai tiga shalat sunnah muakkad, yaitu shalat malam (shalat lail), shalat Dhuha, dan shalat tarawih. Penjelasan ini diambil dari penjelasan matan taqrib karya Al-Qadhi Abu Syuja’.     Daftar Isi tutup 1. Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib 2. Kitab Shalat 3. Penjelasan: 4. Pertama: Shalat lail 5. Kedua: Shalat Dhuha 6. Ketiga: Shalat tarawih 6.1. Referensi:   Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib Kitab Shalat   Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata, وَالصَّلَوَاتُ المَسْنُوْنَاتُ خَمْسٌ العِيْدَانِ وَالكُسُوْفَانِ وَالِاسْتِسْقَاءُ وَالسُّنَنُ التَّابِعَةُ لِلْفَرَائِضِ سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً رَكْعَتَا الفَجْرِ وَأَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهُ وَأَرْبَعٌ قَبْلَ العَصْرِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ المَغْرِبِ وَثَلاَثٌ بَعْدَ العِشَاءِ يُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ وَثَلاَثُ نَوَافِلَ مُؤَكَّدَاتٍ صَلاَةُ اللَّيْلِ وَصَلاَةُ الضُّحَى وَصَلاَةُ التَّرَاوِيْحِ. Shalat yang disunnahkan berjamaah itu ada lima: shalat Idulfitri dan Iduladha, shalat gerhana matahari dan bulan, dan shalat istisqa’. Shalat sunnah yang mengikuti shalat wajib itu ada 17: dua rakaat shalat sunnah Fajar (qabliyah Shubuh), empat rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, empat rakaat qabliyah Ashar, dua rakaat bakdiyah Maghrib, tiga rakaat bakdiyah Isyak di dalamnya terdapat witir satu rakaat. Shalah sunnah yang muakkad ada tiga: shalat lail, shalat Dhuha, dan shalat tarawih.   Penjelasan:     Pertama: Shalat lail Waktu shalat lail (shalat malam) adalah bakda shalat Isyak sampai azan shalat Shubuh. Shalat lail adalah sebaik-sebaik shalat setelah shalat fardhu dan setelah shalat rawatib. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ : شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ ، وَأفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيضَةِ : صَلاَةُ اللَّيْلِ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim, no. 1163) Hukum shalat lail adalah sunnah muakkad. Jika shalat malam itu luput, terlupa, atau ketiduran sehingga tidak melakukannya, maka shalat lail bisa diqadha’ pada pagi hari. Shalat tersebut dikerjakan dengan tiap dua rakaat salam.  Baca juga: Keutamaan Shalat Malam   Kedua: Shalat Dhuha Shalat ini disebut Dhuha karena awal waktunya adalah ketika matahari meninggi hingga waktu zawal, setelah matahari tergelincir ke barat. Waktu tersebut tepatnya adalah ketika matahari setinggi tombak (1/3 jam atau 20 menit setelah matahari terbit, ada juga yang menyebut 15 menit setelah matahari terbit) dan berakhir sebelum Zhuhur setinggi tombak pula. Waktu Dhuha paling afdal adalah setelah lewat seperempat siang (waktu siang sekitar 16 jam, ¼ x 16 jam = 4 jam, berarti seperempat siang dimulai sekitar jam 8 pagi). Hukum shalat Dhuha adalah sunnah muakkad. Jumlah rakaat shalat Dhuha, minimalnya adalah dua rakaat, sempurnanya adalah delapan rakaat, dan maksimalnya adalah 12 rakaat. Sebagian ulama menyatakan bahwa jumlah rakaat shalat Dhuha tidaklah dibatasi jumlah rakaatnya. Keutamaan shalat Dhuha disebutkan dalam hadits berikut ini. Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى “Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar makruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat.” (HR. Muslim, no.  720) Baca juga: Keutamaan Shalat Dhuha   Ketiga: Shalat tarawih Shalat tarawih adalah shalat yang dilaksanakan pada malam hari dari bulan Ramadhan setelah shalat Isyak dan sebelum shalat witir. Hukum shalat tarawih adalah sunnah. Shalat tarawih boleh dilakukan secara berjamaah atau sendirian. Shalat tarawih merupakan syiar dari menghidupkan bulan Ramadhan. Keutamaan shalat tarawih: (1) menghapuskan dosa, (2) menguatkan iman, (3) meninggikan derajat di surga. Dalam hadits disebutkan mengenai keutamaan shalat tarawih. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 37 dan Muslim, no. 759). Baca juga: Keutamaan Shalat Tarawih   Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matan Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Dar Al-Manar. – Diselesaikan 26 Rabiul Akhir 1445 H, 9 November 2023 di perjalanan Panggang – MPD Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat dhuha cara shalat sunnah hikmah shalat sunnah keutamaan shalat sunnah matan abu syuja matan taqrib matan taqrib shalat shalat dhuha shalat lail shalat malam shalat sunnah shalat sunnah di rumah shalat sunnah fajar shalat sunnah rawatib shalat tahajud shalat tarawih shalat witir


Berikut ini adalah penjelasan menarik mengenai tiga shalat sunnah muakkad, yaitu shalat malam (shalat lail), shalat Dhuha, dan shalat tarawih. Penjelasan ini diambil dari penjelasan matan taqrib karya Al-Qadhi Abu Syuja’.     Daftar Isi tutup 1. Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib 2. Kitab Shalat 3. Penjelasan: 4. Pertama: Shalat lail 5. Kedua: Shalat Dhuha 6. Ketiga: Shalat tarawih 6.1. Referensi:   Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib Kitab Shalat   Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata, وَالصَّلَوَاتُ المَسْنُوْنَاتُ خَمْسٌ العِيْدَانِ وَالكُسُوْفَانِ وَالِاسْتِسْقَاءُ وَالسُّنَنُ التَّابِعَةُ لِلْفَرَائِضِ سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً رَكْعَتَا الفَجْرِ وَأَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهُ وَأَرْبَعٌ قَبْلَ العَصْرِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ المَغْرِبِ وَثَلاَثٌ بَعْدَ العِشَاءِ يُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ وَثَلاَثُ نَوَافِلَ مُؤَكَّدَاتٍ صَلاَةُ اللَّيْلِ وَصَلاَةُ الضُّحَى وَصَلاَةُ التَّرَاوِيْحِ. Shalat yang disunnahkan berjamaah itu ada lima: shalat Idulfitri dan Iduladha, shalat gerhana matahari dan bulan, dan shalat istisqa’. Shalat sunnah yang mengikuti shalat wajib itu ada 17: dua rakaat shalat sunnah Fajar (qabliyah Shubuh), empat rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, empat rakaat qabliyah Ashar, dua rakaat bakdiyah Maghrib, tiga rakaat bakdiyah Isyak di dalamnya terdapat witir satu rakaat. Shalah sunnah yang muakkad ada tiga: shalat lail, shalat Dhuha, dan shalat tarawih.   Penjelasan:     Pertama: Shalat lail Waktu shalat lail (shalat malam) adalah bakda shalat Isyak sampai azan shalat Shubuh. Shalat lail adalah sebaik-sebaik shalat setelah shalat fardhu dan setelah shalat rawatib. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ : شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ ، وَأفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيضَةِ : صَلاَةُ اللَّيْلِ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim, no. 1163) Hukum shalat lail adalah sunnah muakkad. Jika shalat malam itu luput, terlupa, atau ketiduran sehingga tidak melakukannya, maka shalat lail bisa diqadha’ pada pagi hari. Shalat tersebut dikerjakan dengan tiap dua rakaat salam.  Baca juga: Keutamaan Shalat Malam   Kedua: Shalat Dhuha Shalat ini disebut Dhuha karena awal waktunya adalah ketika matahari meninggi hingga waktu zawal, setelah matahari tergelincir ke barat. Waktu tersebut tepatnya adalah ketika matahari setinggi tombak (1/3 jam atau 20 menit setelah matahari terbit, ada juga yang menyebut 15 menit setelah matahari terbit) dan berakhir sebelum Zhuhur setinggi tombak pula. Waktu Dhuha paling afdal adalah setelah lewat seperempat siang (waktu siang sekitar 16 jam, ¼ x 16 jam = 4 jam, berarti seperempat siang dimulai sekitar jam 8 pagi). Hukum shalat Dhuha adalah sunnah muakkad. Jumlah rakaat shalat Dhuha, minimalnya adalah dua rakaat, sempurnanya adalah delapan rakaat, dan maksimalnya adalah 12 rakaat. Sebagian ulama menyatakan bahwa jumlah rakaat shalat Dhuha tidaklah dibatasi jumlah rakaatnya. Keutamaan shalat Dhuha disebutkan dalam hadits berikut ini. Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى “Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar makruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat.” (HR. Muslim, no.  720) Baca juga: Keutamaan Shalat Dhuha   Ketiga: Shalat tarawih Shalat tarawih adalah shalat yang dilaksanakan pada malam hari dari bulan Ramadhan setelah shalat Isyak dan sebelum shalat witir. Hukum shalat tarawih adalah sunnah. Shalat tarawih boleh dilakukan secara berjamaah atau sendirian. Shalat tarawih merupakan syiar dari menghidupkan bulan Ramadhan. Keutamaan shalat tarawih: (1) menghapuskan dosa, (2) menguatkan iman, (3) meninggikan derajat di surga. Dalam hadits disebutkan mengenai keutamaan shalat tarawih. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 37 dan Muslim, no. 759). Baca juga: Keutamaan Shalat Tarawih   Referensi: Al-Imtaa’ bi Syarh Matan Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Dar Al-Manar. – Diselesaikan 26 Rabiul Akhir 1445 H, 9 November 2023 di perjalanan Panggang – MPD Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat dhuha cara shalat sunnah hikmah shalat sunnah keutamaan shalat sunnah matan abu syuja matan taqrib matan taqrib shalat shalat dhuha shalat lail shalat malam shalat sunnah shalat sunnah di rumah shalat sunnah fajar shalat sunnah rawatib shalat tahajud shalat tarawih shalat witir

Teks Khotbah Jumat: Saat Musibah Menimpa Saudara Kita

Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaKhotbah kedua Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala. Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada para jemaah sekalian, marilah senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena ketakwaan merupakan salah satu kunci di dalam menghadapi ujian dan cobaan. Allah Ta’ala berfirman, لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ “Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu (yaitu dari orang-orang Yahudi dan Nasrani) dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan.” (QS. Ali Imran: 186) Di dalam kitab Tafsir Al-Muyassar, terbitan Kementrian Agama Saudi Arabia disebutkan, “Dan apabila kalian mau bersabar (wahai kaum mukminin), menghadapi itu semua, dan bertakwa kepada Allah dengan konsisten untuk taat kepada-Nya dan menjauhi maksiat-maksiat kepada-Nya, maka sesungguhnya itu termasuk sikap-sikap yang patut dibulatkan tekad untuk dilakukan dan berlomba-lomba di dalamnya.” Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala sekalian. Ujian dan cobaan yang menimpa negeri-negeri kaum muslimin merupakan bukti akan kebenaran firman Allah Ta’ala dan risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Jauh-jauh hari sebelum semua itu terjadi, Allah Ta’ala telah mengabarkan, وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Di dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala juga menyebutkan bahwa ujian dan musibah yang menimpa kaum muslimin, itu adalah kebahagiaan bagi orang-orang yang bisa bersabar, tidak menghujat, dan menerima keputusan serta takdir Allah Ta’ala yang telah dituliskan untuknya. Mengapa? Karena kesabaran merupakan pertanda bahwa dirinya termasuk orang yang benar-benar beriman kepada Allah Ta’ala serta merupakan ciri khas orang yang bertakwa kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ “Dan, orang-orang yang bersabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177) Belum lagi, orang-orang yang mampu bersabar ketika ujian itu datang, maka Allah siapkan pahala yang tidak terbatas kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman, إنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10) Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala. Di dalam setiap ujian dan cobaan yang Allah Ta’ala berikan kepada kita dan saudara-saudara kita, pasti ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik dan kita ambil, di antaranya: Yang pertama, Saat sebuah musibah menimpa, maka itu adalah waktu yang tepat untuk seseorang bertobat, kembali kepada Allah Ta’ala, melakukan amal-amal saleh dan menjauhkan diri dari dosa dan kemaksiatan. Sungguh, tidaklah sebuah musibah itu menimpa, kecuali karena perbuatan dosa. Dan tidaklah ia diangkat, kecuali karena tobat dan kembalinya seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an mengajak diskusi para sahabat yang mendapatkan musibah kekalahan di perang Uhud, أَوَلَمَّآ أَصَٰبَتْكُم مُّصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُم مِّثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنفُسِكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata, ‘Darimana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah, ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.’ Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran: 165) Sudah menjadi kewajiban kita untuk mengintrospeksi diri kita masing-masing. Jangan-jangan ujian dan cobaan yang datang silih berganti kepada kita dan saudara kita ini adalah akibat dari perbuatan dosa dan ulah kita sendiri. Mari bersama-sama bertobat kepada Allah Ta’ala, meminta ampun kepada-Nya serta beramal saleh dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan beramal serta mendoakan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Yang kedua, Allah mampu untuk langsung membinasakan orang-orang kafir tersebut, akan tetapi tidak Allah lakukan. Hal ini Allah takdirkan untuk dijadikan ujian bagi kaum mukminin. Allah Ta’ala berfirman, ذٰلِكَ ۛ وَلَوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلٰكِنْ لِّيَبْلُوَا۟ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍۗ وَالَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَلَنْ يُّضِلَّ اَعْمَالَهُمْ “Demikianlah, dan sekiranya Allah menghendaki niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak menguji kamu satu sama lain. Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak menyia-nyiakan amal mereka.” (QS. Muhammad: 4) Seandainya Allah menghendaki, niscaya Allah akan memenangkan orang-orang beriman dalam menghadapi orang-orang kafir tanpa melalui peperangan. Akan tetapi, Allah hendak menguji kita dengan mensyariatkan jihad sebagai jalan menolong agama-Nya. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kesabaran dan ketakwaan kepada kita dan saudara-saudara kita di Palestina, memberikan juga kemenangan dan keamanan kepada mereka di dalam menjalani kehidupan sehari-hari mereka. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Baca juga: Menghadapi Musibah dan Cobaan dengan Kesabaran Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ. Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Ketahuilah bahwa kaum mukminin itu satu kesatuan. Mereka itu layaknya tubuh yang satu. Jika ada satu anggota tubuh yang merasakan sakit, maka anggota tubuh yang lainnya pun ikut merasakannya juga. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau, مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586) Allah Ta’ala juga berfirman di dalam Al-Qur’an, إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10) Demikian juga firman-Nya di dalam surah At-Taubah ayat yang ke-71, وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah: 71) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda, الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580) Oleh karena itu, wahai saudaraku, mari kita doakan saudara-saudara kita di Palestina, Suriah, Lebanon, dan di tempat-tempat lainnya yang sedang dalam kesempitan dan kesedihan. Semoga Allah Ta’ala mengangkat ujian, rasa sedih, dan kesusahan yang sedang mereka hadapi. Rutinlah dan biasakanlah untuk mendoakan mereka dalam setiap kesempatan yang ada, terutama di waktu-waktu di mana doa di dalamnya mustajab. Jangan pernah berputus asa, bosan, dan sungkan dalam mendoakan mereka. Sungguh manusia yang paling lemah adalah yang paling lemah dan bermalas-malasan di dalam berdoa. Padahal Allah Ta’ala telah mengatakan tentang diri-Nya, أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ “Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” (QS. An-Naml: 62) Betapa banyak musibah, rasa susah, dan kesedihan yang Allah hapus berkat doa-doa yang dipanjatkan. Dan betapa banyak juga doa-doa menjadi penyebab datangnya rahmat dan rezeki dari Allah Ta’ala. Kemudian wahai saudaraku, Jangan lupa untuk membantu saudara-saudara kita semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan mereka. Berikan sumbangan dan bantuan kepada mereka. Penuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Karena Allah Ta’ala berfirman, هَا أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُم “Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu, di antara kamu ada orang yang kikir. Dan barangsiapa kikir, maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allahlah Yang Mahakaya dan kamulah yang membutuhkan (karunia-Nya). Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar), Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu (ini).”  (QS. Muhammad: 38) Semoga Allah Ta’ala memberikan pertolongannya kepada kaum muslimin. Semoga Allah Ta’ala menghancurkan dan memporak-porandakan musuh-musuh Islam yang berusaha menghalangi kaum muslimin dari melakukan ketaatan, merampas hak-hak mereka, dan bahkan membunuh anak-anak mereka. Ya Allah, berilah kami dan saudara-saudara kami kesabaran dan ketakwaan di dalam menghadapi musibah yang sedang kami hadapai ini. Berilah kami jalan keluar dan kemudahan atas setiap permasalahan yang sedang kami hadapi إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Di Balik Musibah yang Menimpa *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: musibah

Teks Khotbah Jumat: Saat Musibah Menimpa Saudara Kita

Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaKhotbah kedua Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala. Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada para jemaah sekalian, marilah senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena ketakwaan merupakan salah satu kunci di dalam menghadapi ujian dan cobaan. Allah Ta’ala berfirman, لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ “Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu (yaitu dari orang-orang Yahudi dan Nasrani) dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan.” (QS. Ali Imran: 186) Di dalam kitab Tafsir Al-Muyassar, terbitan Kementrian Agama Saudi Arabia disebutkan, “Dan apabila kalian mau bersabar (wahai kaum mukminin), menghadapi itu semua, dan bertakwa kepada Allah dengan konsisten untuk taat kepada-Nya dan menjauhi maksiat-maksiat kepada-Nya, maka sesungguhnya itu termasuk sikap-sikap yang patut dibulatkan tekad untuk dilakukan dan berlomba-lomba di dalamnya.” Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala sekalian. Ujian dan cobaan yang menimpa negeri-negeri kaum muslimin merupakan bukti akan kebenaran firman Allah Ta’ala dan risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Jauh-jauh hari sebelum semua itu terjadi, Allah Ta’ala telah mengabarkan, وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Di dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala juga menyebutkan bahwa ujian dan musibah yang menimpa kaum muslimin, itu adalah kebahagiaan bagi orang-orang yang bisa bersabar, tidak menghujat, dan menerima keputusan serta takdir Allah Ta’ala yang telah dituliskan untuknya. Mengapa? Karena kesabaran merupakan pertanda bahwa dirinya termasuk orang yang benar-benar beriman kepada Allah Ta’ala serta merupakan ciri khas orang yang bertakwa kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ “Dan, orang-orang yang bersabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177) Belum lagi, orang-orang yang mampu bersabar ketika ujian itu datang, maka Allah siapkan pahala yang tidak terbatas kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman, إنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10) Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala. Di dalam setiap ujian dan cobaan yang Allah Ta’ala berikan kepada kita dan saudara-saudara kita, pasti ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik dan kita ambil, di antaranya: Yang pertama, Saat sebuah musibah menimpa, maka itu adalah waktu yang tepat untuk seseorang bertobat, kembali kepada Allah Ta’ala, melakukan amal-amal saleh dan menjauhkan diri dari dosa dan kemaksiatan. Sungguh, tidaklah sebuah musibah itu menimpa, kecuali karena perbuatan dosa. Dan tidaklah ia diangkat, kecuali karena tobat dan kembalinya seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an mengajak diskusi para sahabat yang mendapatkan musibah kekalahan di perang Uhud, أَوَلَمَّآ أَصَٰبَتْكُم مُّصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُم مِّثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنفُسِكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata, ‘Darimana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah, ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.’ Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran: 165) Sudah menjadi kewajiban kita untuk mengintrospeksi diri kita masing-masing. Jangan-jangan ujian dan cobaan yang datang silih berganti kepada kita dan saudara kita ini adalah akibat dari perbuatan dosa dan ulah kita sendiri. Mari bersama-sama bertobat kepada Allah Ta’ala, meminta ampun kepada-Nya serta beramal saleh dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan beramal serta mendoakan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Yang kedua, Allah mampu untuk langsung membinasakan orang-orang kafir tersebut, akan tetapi tidak Allah lakukan. Hal ini Allah takdirkan untuk dijadikan ujian bagi kaum mukminin. Allah Ta’ala berfirman, ذٰلِكَ ۛ وَلَوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلٰكِنْ لِّيَبْلُوَا۟ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍۗ وَالَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَلَنْ يُّضِلَّ اَعْمَالَهُمْ “Demikianlah, dan sekiranya Allah menghendaki niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak menguji kamu satu sama lain. Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak menyia-nyiakan amal mereka.” (QS. Muhammad: 4) Seandainya Allah menghendaki, niscaya Allah akan memenangkan orang-orang beriman dalam menghadapi orang-orang kafir tanpa melalui peperangan. Akan tetapi, Allah hendak menguji kita dengan mensyariatkan jihad sebagai jalan menolong agama-Nya. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kesabaran dan ketakwaan kepada kita dan saudara-saudara kita di Palestina, memberikan juga kemenangan dan keamanan kepada mereka di dalam menjalani kehidupan sehari-hari mereka. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Baca juga: Menghadapi Musibah dan Cobaan dengan Kesabaran Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ. Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Ketahuilah bahwa kaum mukminin itu satu kesatuan. Mereka itu layaknya tubuh yang satu. Jika ada satu anggota tubuh yang merasakan sakit, maka anggota tubuh yang lainnya pun ikut merasakannya juga. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau, مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586) Allah Ta’ala juga berfirman di dalam Al-Qur’an, إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10) Demikian juga firman-Nya di dalam surah At-Taubah ayat yang ke-71, وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah: 71) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda, الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580) Oleh karena itu, wahai saudaraku, mari kita doakan saudara-saudara kita di Palestina, Suriah, Lebanon, dan di tempat-tempat lainnya yang sedang dalam kesempitan dan kesedihan. Semoga Allah Ta’ala mengangkat ujian, rasa sedih, dan kesusahan yang sedang mereka hadapi. Rutinlah dan biasakanlah untuk mendoakan mereka dalam setiap kesempatan yang ada, terutama di waktu-waktu di mana doa di dalamnya mustajab. Jangan pernah berputus asa, bosan, dan sungkan dalam mendoakan mereka. Sungguh manusia yang paling lemah adalah yang paling lemah dan bermalas-malasan di dalam berdoa. Padahal Allah Ta’ala telah mengatakan tentang diri-Nya, أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ “Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” (QS. An-Naml: 62) Betapa banyak musibah, rasa susah, dan kesedihan yang Allah hapus berkat doa-doa yang dipanjatkan. Dan betapa banyak juga doa-doa menjadi penyebab datangnya rahmat dan rezeki dari Allah Ta’ala. Kemudian wahai saudaraku, Jangan lupa untuk membantu saudara-saudara kita semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan mereka. Berikan sumbangan dan bantuan kepada mereka. Penuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Karena Allah Ta’ala berfirman, هَا أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُم “Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu, di antara kamu ada orang yang kikir. Dan barangsiapa kikir, maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allahlah Yang Mahakaya dan kamulah yang membutuhkan (karunia-Nya). Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar), Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu (ini).”  (QS. Muhammad: 38) Semoga Allah Ta’ala memberikan pertolongannya kepada kaum muslimin. Semoga Allah Ta’ala menghancurkan dan memporak-porandakan musuh-musuh Islam yang berusaha menghalangi kaum muslimin dari melakukan ketaatan, merampas hak-hak mereka, dan bahkan membunuh anak-anak mereka. Ya Allah, berilah kami dan saudara-saudara kami kesabaran dan ketakwaan di dalam menghadapi musibah yang sedang kami hadapai ini. Berilah kami jalan keluar dan kemudahan atas setiap permasalahan yang sedang kami hadapi إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Di Balik Musibah yang Menimpa *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: musibah
Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaKhotbah kedua Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala. Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada para jemaah sekalian, marilah senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena ketakwaan merupakan salah satu kunci di dalam menghadapi ujian dan cobaan. Allah Ta’ala berfirman, لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ “Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu (yaitu dari orang-orang Yahudi dan Nasrani) dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan.” (QS. Ali Imran: 186) Di dalam kitab Tafsir Al-Muyassar, terbitan Kementrian Agama Saudi Arabia disebutkan, “Dan apabila kalian mau bersabar (wahai kaum mukminin), menghadapi itu semua, dan bertakwa kepada Allah dengan konsisten untuk taat kepada-Nya dan menjauhi maksiat-maksiat kepada-Nya, maka sesungguhnya itu termasuk sikap-sikap yang patut dibulatkan tekad untuk dilakukan dan berlomba-lomba di dalamnya.” Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala sekalian. Ujian dan cobaan yang menimpa negeri-negeri kaum muslimin merupakan bukti akan kebenaran firman Allah Ta’ala dan risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Jauh-jauh hari sebelum semua itu terjadi, Allah Ta’ala telah mengabarkan, وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Di dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala juga menyebutkan bahwa ujian dan musibah yang menimpa kaum muslimin, itu adalah kebahagiaan bagi orang-orang yang bisa bersabar, tidak menghujat, dan menerima keputusan serta takdir Allah Ta’ala yang telah dituliskan untuknya. Mengapa? Karena kesabaran merupakan pertanda bahwa dirinya termasuk orang yang benar-benar beriman kepada Allah Ta’ala serta merupakan ciri khas orang yang bertakwa kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ “Dan, orang-orang yang bersabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177) Belum lagi, orang-orang yang mampu bersabar ketika ujian itu datang, maka Allah siapkan pahala yang tidak terbatas kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman, إنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10) Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala. Di dalam setiap ujian dan cobaan yang Allah Ta’ala berikan kepada kita dan saudara-saudara kita, pasti ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik dan kita ambil, di antaranya: Yang pertama, Saat sebuah musibah menimpa, maka itu adalah waktu yang tepat untuk seseorang bertobat, kembali kepada Allah Ta’ala, melakukan amal-amal saleh dan menjauhkan diri dari dosa dan kemaksiatan. Sungguh, tidaklah sebuah musibah itu menimpa, kecuali karena perbuatan dosa. Dan tidaklah ia diangkat, kecuali karena tobat dan kembalinya seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an mengajak diskusi para sahabat yang mendapatkan musibah kekalahan di perang Uhud, أَوَلَمَّآ أَصَٰبَتْكُم مُّصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُم مِّثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنفُسِكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata, ‘Darimana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah, ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.’ Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran: 165) Sudah menjadi kewajiban kita untuk mengintrospeksi diri kita masing-masing. Jangan-jangan ujian dan cobaan yang datang silih berganti kepada kita dan saudara kita ini adalah akibat dari perbuatan dosa dan ulah kita sendiri. Mari bersama-sama bertobat kepada Allah Ta’ala, meminta ampun kepada-Nya serta beramal saleh dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan beramal serta mendoakan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Yang kedua, Allah mampu untuk langsung membinasakan orang-orang kafir tersebut, akan tetapi tidak Allah lakukan. Hal ini Allah takdirkan untuk dijadikan ujian bagi kaum mukminin. Allah Ta’ala berfirman, ذٰلِكَ ۛ وَلَوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلٰكِنْ لِّيَبْلُوَا۟ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍۗ وَالَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَلَنْ يُّضِلَّ اَعْمَالَهُمْ “Demikianlah, dan sekiranya Allah menghendaki niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak menguji kamu satu sama lain. Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak menyia-nyiakan amal mereka.” (QS. Muhammad: 4) Seandainya Allah menghendaki, niscaya Allah akan memenangkan orang-orang beriman dalam menghadapi orang-orang kafir tanpa melalui peperangan. Akan tetapi, Allah hendak menguji kita dengan mensyariatkan jihad sebagai jalan menolong agama-Nya. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kesabaran dan ketakwaan kepada kita dan saudara-saudara kita di Palestina, memberikan juga kemenangan dan keamanan kepada mereka di dalam menjalani kehidupan sehari-hari mereka. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Baca juga: Menghadapi Musibah dan Cobaan dengan Kesabaran Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ. Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Ketahuilah bahwa kaum mukminin itu satu kesatuan. Mereka itu layaknya tubuh yang satu. Jika ada satu anggota tubuh yang merasakan sakit, maka anggota tubuh yang lainnya pun ikut merasakannya juga. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau, مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586) Allah Ta’ala juga berfirman di dalam Al-Qur’an, إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10) Demikian juga firman-Nya di dalam surah At-Taubah ayat yang ke-71, وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah: 71) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda, الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580) Oleh karena itu, wahai saudaraku, mari kita doakan saudara-saudara kita di Palestina, Suriah, Lebanon, dan di tempat-tempat lainnya yang sedang dalam kesempitan dan kesedihan. Semoga Allah Ta’ala mengangkat ujian, rasa sedih, dan kesusahan yang sedang mereka hadapi. Rutinlah dan biasakanlah untuk mendoakan mereka dalam setiap kesempatan yang ada, terutama di waktu-waktu di mana doa di dalamnya mustajab. Jangan pernah berputus asa, bosan, dan sungkan dalam mendoakan mereka. Sungguh manusia yang paling lemah adalah yang paling lemah dan bermalas-malasan di dalam berdoa. Padahal Allah Ta’ala telah mengatakan tentang diri-Nya, أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ “Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” (QS. An-Naml: 62) Betapa banyak musibah, rasa susah, dan kesedihan yang Allah hapus berkat doa-doa yang dipanjatkan. Dan betapa banyak juga doa-doa menjadi penyebab datangnya rahmat dan rezeki dari Allah Ta’ala. Kemudian wahai saudaraku, Jangan lupa untuk membantu saudara-saudara kita semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan mereka. Berikan sumbangan dan bantuan kepada mereka. Penuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Karena Allah Ta’ala berfirman, هَا أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُم “Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu, di antara kamu ada orang yang kikir. Dan barangsiapa kikir, maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allahlah Yang Mahakaya dan kamulah yang membutuhkan (karunia-Nya). Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar), Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu (ini).”  (QS. Muhammad: 38) Semoga Allah Ta’ala memberikan pertolongannya kepada kaum muslimin. Semoga Allah Ta’ala menghancurkan dan memporak-porandakan musuh-musuh Islam yang berusaha menghalangi kaum muslimin dari melakukan ketaatan, merampas hak-hak mereka, dan bahkan membunuh anak-anak mereka. Ya Allah, berilah kami dan saudara-saudara kami kesabaran dan ketakwaan di dalam menghadapi musibah yang sedang kami hadapai ini. Berilah kami jalan keluar dan kemudahan atas setiap permasalahan yang sedang kami hadapi إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Di Balik Musibah yang Menimpa *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: musibah


Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaKhotbah kedua Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala. Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada para jemaah sekalian, marilah senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena ketakwaan merupakan salah satu kunci di dalam menghadapi ujian dan cobaan. Allah Ta’ala berfirman, لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ “Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu (yaitu dari orang-orang Yahudi dan Nasrani) dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan.” (QS. Ali Imran: 186) Di dalam kitab Tafsir Al-Muyassar, terbitan Kementrian Agama Saudi Arabia disebutkan, “Dan apabila kalian mau bersabar (wahai kaum mukminin), menghadapi itu semua, dan bertakwa kepada Allah dengan konsisten untuk taat kepada-Nya dan menjauhi maksiat-maksiat kepada-Nya, maka sesungguhnya itu termasuk sikap-sikap yang patut dibulatkan tekad untuk dilakukan dan berlomba-lomba di dalamnya.” Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala sekalian. Ujian dan cobaan yang menimpa negeri-negeri kaum muslimin merupakan bukti akan kebenaran firman Allah Ta’ala dan risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Jauh-jauh hari sebelum semua itu terjadi, Allah Ta’ala telah mengabarkan, وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Di dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala juga menyebutkan bahwa ujian dan musibah yang menimpa kaum muslimin, itu adalah kebahagiaan bagi orang-orang yang bisa bersabar, tidak menghujat, dan menerima keputusan serta takdir Allah Ta’ala yang telah dituliskan untuknya. Mengapa? Karena kesabaran merupakan pertanda bahwa dirinya termasuk orang yang benar-benar beriman kepada Allah Ta’ala serta merupakan ciri khas orang yang bertakwa kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ “Dan, orang-orang yang bersabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177) Belum lagi, orang-orang yang mampu bersabar ketika ujian itu datang, maka Allah siapkan pahala yang tidak terbatas kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman, إنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10) Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala. Di dalam setiap ujian dan cobaan yang Allah Ta’ala berikan kepada kita dan saudara-saudara kita, pasti ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik dan kita ambil, di antaranya: Yang pertama, Saat sebuah musibah menimpa, maka itu adalah waktu yang tepat untuk seseorang bertobat, kembali kepada Allah Ta’ala, melakukan amal-amal saleh dan menjauhkan diri dari dosa dan kemaksiatan. Sungguh, tidaklah sebuah musibah itu menimpa, kecuali karena perbuatan dosa. Dan tidaklah ia diangkat, kecuali karena tobat dan kembalinya seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an mengajak diskusi para sahabat yang mendapatkan musibah kekalahan di perang Uhud, أَوَلَمَّآ أَصَٰبَتْكُم مُّصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُم مِّثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنفُسِكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata, ‘Darimana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah, ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.’ Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran: 165) Sudah menjadi kewajiban kita untuk mengintrospeksi diri kita masing-masing. Jangan-jangan ujian dan cobaan yang datang silih berganti kepada kita dan saudara kita ini adalah akibat dari perbuatan dosa dan ulah kita sendiri. Mari bersama-sama bertobat kepada Allah Ta’ala, meminta ampun kepada-Nya serta beramal saleh dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan beramal serta mendoakan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Yang kedua, Allah mampu untuk langsung membinasakan orang-orang kafir tersebut, akan tetapi tidak Allah lakukan. Hal ini Allah takdirkan untuk dijadikan ujian bagi kaum mukminin. Allah Ta’ala berfirman, ذٰلِكَ ۛ وَلَوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلٰكِنْ لِّيَبْلُوَا۟ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍۗ وَالَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَلَنْ يُّضِلَّ اَعْمَالَهُمْ “Demikianlah, dan sekiranya Allah menghendaki niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak menguji kamu satu sama lain. Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak menyia-nyiakan amal mereka.” (QS. Muhammad: 4) Seandainya Allah menghendaki, niscaya Allah akan memenangkan orang-orang beriman dalam menghadapi orang-orang kafir tanpa melalui peperangan. Akan tetapi, Allah hendak menguji kita dengan mensyariatkan jihad sebagai jalan menolong agama-Nya. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kesabaran dan ketakwaan kepada kita dan saudara-saudara kita di Palestina, memberikan juga kemenangan dan keamanan kepada mereka di dalam menjalani kehidupan sehari-hari mereka. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Baca juga: Menghadapi Musibah dan Cobaan dengan Kesabaran Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ. Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Ketahuilah bahwa kaum mukminin itu satu kesatuan. Mereka itu layaknya tubuh yang satu. Jika ada satu anggota tubuh yang merasakan sakit, maka anggota tubuh yang lainnya pun ikut merasakannya juga. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau, مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586) Allah Ta’ala juga berfirman di dalam Al-Qur’an, إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10) Demikian juga firman-Nya di dalam surah At-Taubah ayat yang ke-71, وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah: 71) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda, الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580) Oleh karena itu, wahai saudaraku, mari kita doakan saudara-saudara kita di Palestina, Suriah, Lebanon, dan di tempat-tempat lainnya yang sedang dalam kesempitan dan kesedihan. Semoga Allah Ta’ala mengangkat ujian, rasa sedih, dan kesusahan yang sedang mereka hadapi. Rutinlah dan biasakanlah untuk mendoakan mereka dalam setiap kesempatan yang ada, terutama di waktu-waktu di mana doa di dalamnya mustajab. Jangan pernah berputus asa, bosan, dan sungkan dalam mendoakan mereka. Sungguh manusia yang paling lemah adalah yang paling lemah dan bermalas-malasan di dalam berdoa. Padahal Allah Ta’ala telah mengatakan tentang diri-Nya, أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ “Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” (QS. An-Naml: 62) Betapa banyak musibah, rasa susah, dan kesedihan yang Allah hapus berkat doa-doa yang dipanjatkan. Dan betapa banyak juga doa-doa menjadi penyebab datangnya rahmat dan rezeki dari Allah Ta’ala. Kemudian wahai saudaraku, Jangan lupa untuk membantu saudara-saudara kita semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan mereka. Berikan sumbangan dan bantuan kepada mereka. Penuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Karena Allah Ta’ala berfirman, هَا أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُم “Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu, di antara kamu ada orang yang kikir. Dan barangsiapa kikir, maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allahlah Yang Mahakaya dan kamulah yang membutuhkan (karunia-Nya). Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar), Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu (ini).”  (QS. Muhammad: 38) Semoga Allah Ta’ala memberikan pertolongannya kepada kaum muslimin. Semoga Allah Ta’ala menghancurkan dan memporak-porandakan musuh-musuh Islam yang berusaha menghalangi kaum muslimin dari melakukan ketaatan, merampas hak-hak mereka, dan bahkan membunuh anak-anak mereka. Ya Allah, berilah kami dan saudara-saudara kami kesabaran dan ketakwaan di dalam menghadapi musibah yang sedang kami hadapai ini. Berilah kami jalan keluar dan kemudahan atas setiap permasalahan yang sedang kami hadapi إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Di Balik Musibah yang Menimpa *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: musibah

Keutamaan Surah Al-Fatihah dan Disebut Tujuh Ayat yang Terus Diulangi

Di antara keutamaan surah Al-Fatihah adalah ia disebutkan Al-Qur’an Al-‘Azhim dan as-sab’ul mastani, yaitu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang.   Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) 2. Bab 183. Anjuran Membaca Surah dan Ayat Tertentu 3. Hadits #1009 4. Faedah hadits 4.1. Referensi: Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) بَابُ الحَثِّ عَلَى سُوَرٍ وَآيَاتٍ مَخْصُوْصَةٍ Bab 183. Anjuran Membaca Surah dan Ayat Tertentu Hadits #1009 عَنْ أَبي سَعِيدٍ رَافِعِ بْنِ الْمُعَلَّى – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( أَلاَ أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ في القُرْآن قَبْلَ أنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ ؟ )) فَأخَذَ بِيَدِي ، فَلَمَّا أرَدْنَا أنْ نَخْرُجَ ، قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ ، إنَّكَ قُلْتَ : لأُعَلِّمَنَّكَ أعْظَمَ سُورَةٍ في القُرْآنِ ؟ قَالَ : (( الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ ، هِيَ السَّبْعُ المَثَانِي وَالقُرْآنُ العَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ . Abu Sa’id Rafi’ bin Al-Mu’alla radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ‘Maukah aku ajarkan engkau surah yang paling agung di dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar masjid?’ Lalu beliau memegang tanganku, maka ketika kami hendak keluar, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengatakan, ‘Aku akan mengajarkanmu surah yang paling agung dalam Al-Qur’an?’ Beliau menjawab, ‘ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAAMIIN (segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang dimaksud adalah surah Al-Fatihah), yaitu as-sab’ul matsaani (tujuh ayat yang diulang-ulang), dan Al-Qur’an Al-‘Azhim (Al-Qur’an yang agung) yang telah diberikan kepadaku.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 4647]   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan keutamaan dari surah Al-Fatihah. Sebagian Al-Qur’an memiliki keutamaan dari sebagian lainnya. Hal ini juga ditunjukkan dalam firman Allah, ۞ مَا نَنسَخْ مِنْ ءَايَةٍ أَوْ نُنسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَآ أَوْ مِثْلِهَآ ۗ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ “Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (QS. Al-Baqarah: 106) Nama lain dari surah Al-Fatihah adalah as-sab’ul matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang). Itulah yang dimaksud dengan firman Allah, وَلَقَدْ ءَاتَيْنَٰكَ سَبْعًا مِّنَ ٱلْمَثَانِى وَٱلْقُرْءَانَ ٱلْعَظِيمَ “Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung.” (QS. Al-Hijr: 87) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam kitab tafsirnya, “Yang dimaksud tujuh ini menurut pendapat yang sahih adalah tujuh surah yang terpanjang yaitu surah (1) Al-Baqarah, (2) Ali Imran, (3) An-Nisaa’, (4) Al-Maidah, (5) Al-An’am, (6) Al-A’raf, (7) Al-Anfal, bersama surah At-Taubah. Maksud lain dengan tujuh ini adalah surah Al-Fatihah karena surah ini terdiri dari tujuh ayat. Maka, kata penghubung pada “dan Al-Qur’an yang agung” termasuk kategori pengaitan lafaz yang umum (al-qur’an) pada kata yang lebih khusus, lantaran di dalam “tujuh ayat yang dibaca berulang ulang” terdapat banyak muatan tauhid, pembahasan ilmu ghaib, dan hukum-hukum yang penting, serta pengulangan di dalamnya. Sedangkan menurut pendapat yang mengatakan bahwa surah Al-Fatihah itulah sab’ul matsani, maka maknanya ia berjumlah tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dalam setiap rakaat.” Surah Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semangat mengajarkan manusia kebaikan dan menjelaskan kebaikan tersebut. Beliau juga memotivasi kita untuk beramal saleh.   Baca juga: Keampuhan dan Kemuliaan Surah Al-Fatihah Memahami Bismillah Mengenal Seluk Beluk Surah Al-Fatihah     Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:236. Tafsir As–Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman). Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. – Diselesaikan 26 Rabiul Akhir 1445 H, 9 November 2023 di perjalanan Panggang – MPD Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al fatihah al quran kandungan al fatihah membaca al fatihah membaca Al Quran membaca surah al fatihah membaca surat al fatihah memperbagus bacaan Al Quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail shahibul quran surat al fatihah

Keutamaan Surah Al-Fatihah dan Disebut Tujuh Ayat yang Terus Diulangi

Di antara keutamaan surah Al-Fatihah adalah ia disebutkan Al-Qur’an Al-‘Azhim dan as-sab’ul mastani, yaitu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang.   Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) 2. Bab 183. Anjuran Membaca Surah dan Ayat Tertentu 3. Hadits #1009 4. Faedah hadits 4.1. Referensi: Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) بَابُ الحَثِّ عَلَى سُوَرٍ وَآيَاتٍ مَخْصُوْصَةٍ Bab 183. Anjuran Membaca Surah dan Ayat Tertentu Hadits #1009 عَنْ أَبي سَعِيدٍ رَافِعِ بْنِ الْمُعَلَّى – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( أَلاَ أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ في القُرْآن قَبْلَ أنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ ؟ )) فَأخَذَ بِيَدِي ، فَلَمَّا أرَدْنَا أنْ نَخْرُجَ ، قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ ، إنَّكَ قُلْتَ : لأُعَلِّمَنَّكَ أعْظَمَ سُورَةٍ في القُرْآنِ ؟ قَالَ : (( الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ ، هِيَ السَّبْعُ المَثَانِي وَالقُرْآنُ العَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ . Abu Sa’id Rafi’ bin Al-Mu’alla radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ‘Maukah aku ajarkan engkau surah yang paling agung di dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar masjid?’ Lalu beliau memegang tanganku, maka ketika kami hendak keluar, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengatakan, ‘Aku akan mengajarkanmu surah yang paling agung dalam Al-Qur’an?’ Beliau menjawab, ‘ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAAMIIN (segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang dimaksud adalah surah Al-Fatihah), yaitu as-sab’ul matsaani (tujuh ayat yang diulang-ulang), dan Al-Qur’an Al-‘Azhim (Al-Qur’an yang agung) yang telah diberikan kepadaku.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 4647]   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan keutamaan dari surah Al-Fatihah. Sebagian Al-Qur’an memiliki keutamaan dari sebagian lainnya. Hal ini juga ditunjukkan dalam firman Allah, ۞ مَا نَنسَخْ مِنْ ءَايَةٍ أَوْ نُنسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَآ أَوْ مِثْلِهَآ ۗ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ “Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (QS. Al-Baqarah: 106) Nama lain dari surah Al-Fatihah adalah as-sab’ul matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang). Itulah yang dimaksud dengan firman Allah, وَلَقَدْ ءَاتَيْنَٰكَ سَبْعًا مِّنَ ٱلْمَثَانِى وَٱلْقُرْءَانَ ٱلْعَظِيمَ “Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung.” (QS. Al-Hijr: 87) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam kitab tafsirnya, “Yang dimaksud tujuh ini menurut pendapat yang sahih adalah tujuh surah yang terpanjang yaitu surah (1) Al-Baqarah, (2) Ali Imran, (3) An-Nisaa’, (4) Al-Maidah, (5) Al-An’am, (6) Al-A’raf, (7) Al-Anfal, bersama surah At-Taubah. Maksud lain dengan tujuh ini adalah surah Al-Fatihah karena surah ini terdiri dari tujuh ayat. Maka, kata penghubung pada “dan Al-Qur’an yang agung” termasuk kategori pengaitan lafaz yang umum (al-qur’an) pada kata yang lebih khusus, lantaran di dalam “tujuh ayat yang dibaca berulang ulang” terdapat banyak muatan tauhid, pembahasan ilmu ghaib, dan hukum-hukum yang penting, serta pengulangan di dalamnya. Sedangkan menurut pendapat yang mengatakan bahwa surah Al-Fatihah itulah sab’ul matsani, maka maknanya ia berjumlah tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dalam setiap rakaat.” Surah Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semangat mengajarkan manusia kebaikan dan menjelaskan kebaikan tersebut. Beliau juga memotivasi kita untuk beramal saleh.   Baca juga: Keampuhan dan Kemuliaan Surah Al-Fatihah Memahami Bismillah Mengenal Seluk Beluk Surah Al-Fatihah     Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:236. Tafsir As–Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman). Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. – Diselesaikan 26 Rabiul Akhir 1445 H, 9 November 2023 di perjalanan Panggang – MPD Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al fatihah al quran kandungan al fatihah membaca al fatihah membaca Al Quran membaca surah al fatihah membaca surat al fatihah memperbagus bacaan Al Quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail shahibul quran surat al fatihah
Di antara keutamaan surah Al-Fatihah adalah ia disebutkan Al-Qur’an Al-‘Azhim dan as-sab’ul mastani, yaitu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang.   Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) 2. Bab 183. Anjuran Membaca Surah dan Ayat Tertentu 3. Hadits #1009 4. Faedah hadits 4.1. Referensi: Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) بَابُ الحَثِّ عَلَى سُوَرٍ وَآيَاتٍ مَخْصُوْصَةٍ Bab 183. Anjuran Membaca Surah dan Ayat Tertentu Hadits #1009 عَنْ أَبي سَعِيدٍ رَافِعِ بْنِ الْمُعَلَّى – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( أَلاَ أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ في القُرْآن قَبْلَ أنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ ؟ )) فَأخَذَ بِيَدِي ، فَلَمَّا أرَدْنَا أنْ نَخْرُجَ ، قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ ، إنَّكَ قُلْتَ : لأُعَلِّمَنَّكَ أعْظَمَ سُورَةٍ في القُرْآنِ ؟ قَالَ : (( الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ ، هِيَ السَّبْعُ المَثَانِي وَالقُرْآنُ العَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ . Abu Sa’id Rafi’ bin Al-Mu’alla radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ‘Maukah aku ajarkan engkau surah yang paling agung di dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar masjid?’ Lalu beliau memegang tanganku, maka ketika kami hendak keluar, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengatakan, ‘Aku akan mengajarkanmu surah yang paling agung dalam Al-Qur’an?’ Beliau menjawab, ‘ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAAMIIN (segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang dimaksud adalah surah Al-Fatihah), yaitu as-sab’ul matsaani (tujuh ayat yang diulang-ulang), dan Al-Qur’an Al-‘Azhim (Al-Qur’an yang agung) yang telah diberikan kepadaku.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 4647]   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan keutamaan dari surah Al-Fatihah. Sebagian Al-Qur’an memiliki keutamaan dari sebagian lainnya. Hal ini juga ditunjukkan dalam firman Allah, ۞ مَا نَنسَخْ مِنْ ءَايَةٍ أَوْ نُنسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَآ أَوْ مِثْلِهَآ ۗ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ “Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (QS. Al-Baqarah: 106) Nama lain dari surah Al-Fatihah adalah as-sab’ul matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang). Itulah yang dimaksud dengan firman Allah, وَلَقَدْ ءَاتَيْنَٰكَ سَبْعًا مِّنَ ٱلْمَثَانِى وَٱلْقُرْءَانَ ٱلْعَظِيمَ “Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung.” (QS. Al-Hijr: 87) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam kitab tafsirnya, “Yang dimaksud tujuh ini menurut pendapat yang sahih adalah tujuh surah yang terpanjang yaitu surah (1) Al-Baqarah, (2) Ali Imran, (3) An-Nisaa’, (4) Al-Maidah, (5) Al-An’am, (6) Al-A’raf, (7) Al-Anfal, bersama surah At-Taubah. Maksud lain dengan tujuh ini adalah surah Al-Fatihah karena surah ini terdiri dari tujuh ayat. Maka, kata penghubung pada “dan Al-Qur’an yang agung” termasuk kategori pengaitan lafaz yang umum (al-qur’an) pada kata yang lebih khusus, lantaran di dalam “tujuh ayat yang dibaca berulang ulang” terdapat banyak muatan tauhid, pembahasan ilmu ghaib, dan hukum-hukum yang penting, serta pengulangan di dalamnya. Sedangkan menurut pendapat yang mengatakan bahwa surah Al-Fatihah itulah sab’ul matsani, maka maknanya ia berjumlah tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dalam setiap rakaat.” Surah Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semangat mengajarkan manusia kebaikan dan menjelaskan kebaikan tersebut. Beliau juga memotivasi kita untuk beramal saleh.   Baca juga: Keampuhan dan Kemuliaan Surah Al-Fatihah Memahami Bismillah Mengenal Seluk Beluk Surah Al-Fatihah     Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:236. Tafsir As–Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman). Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. – Diselesaikan 26 Rabiul Akhir 1445 H, 9 November 2023 di perjalanan Panggang – MPD Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al fatihah al quran kandungan al fatihah membaca al fatihah membaca Al Quran membaca surah al fatihah membaca surat al fatihah memperbagus bacaan Al Quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail shahibul quran surat al fatihah


Di antara keutamaan surah Al-Fatihah adalah ia disebutkan Al-Qur’an Al-‘Azhim dan as-sab’ul mastani, yaitu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang.   Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) 2. Bab 183. Anjuran Membaca Surah dan Ayat Tertentu 3. Hadits #1009 4. Faedah hadits 4.1. Referensi: Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan) بَابُ الحَثِّ عَلَى سُوَرٍ وَآيَاتٍ مَخْصُوْصَةٍ Bab 183. Anjuran Membaca Surah dan Ayat Tertentu Hadits #1009 عَنْ أَبي سَعِيدٍ رَافِعِ بْنِ الْمُعَلَّى – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( أَلاَ أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ في القُرْآن قَبْلَ أنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ ؟ )) فَأخَذَ بِيَدِي ، فَلَمَّا أرَدْنَا أنْ نَخْرُجَ ، قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ ، إنَّكَ قُلْتَ : لأُعَلِّمَنَّكَ أعْظَمَ سُورَةٍ في القُرْآنِ ؟ قَالَ : (( الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ ، هِيَ السَّبْعُ المَثَانِي وَالقُرْآنُ العَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ . Abu Sa’id Rafi’ bin Al-Mu’alla radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ‘Maukah aku ajarkan engkau surah yang paling agung di dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar masjid?’ Lalu beliau memegang tanganku, maka ketika kami hendak keluar, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengatakan, ‘Aku akan mengajarkanmu surah yang paling agung dalam Al-Qur’an?’ Beliau menjawab, ‘ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAAMIIN (segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang dimaksud adalah surah Al-Fatihah), yaitu as-sab’ul matsaani (tujuh ayat yang diulang-ulang), dan Al-Qur’an Al-‘Azhim (Al-Qur’an yang agung) yang telah diberikan kepadaku.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 4647]   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan keutamaan dari surah Al-Fatihah. Sebagian Al-Qur’an memiliki keutamaan dari sebagian lainnya. Hal ini juga ditunjukkan dalam firman Allah, ۞ مَا نَنسَخْ مِنْ ءَايَةٍ أَوْ نُنسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَآ أَوْ مِثْلِهَآ ۗ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ “Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (QS. Al-Baqarah: 106) Nama lain dari surah Al-Fatihah adalah as-sab’ul matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang). Itulah yang dimaksud dengan firman Allah, وَلَقَدْ ءَاتَيْنَٰكَ سَبْعًا مِّنَ ٱلْمَثَانِى وَٱلْقُرْءَانَ ٱلْعَظِيمَ “Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung.” (QS. Al-Hijr: 87) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam kitab tafsirnya, “Yang dimaksud tujuh ini menurut pendapat yang sahih adalah tujuh surah yang terpanjang yaitu surah (1) Al-Baqarah, (2) Ali Imran, (3) An-Nisaa’, (4) Al-Maidah, (5) Al-An’am, (6) Al-A’raf, (7) Al-Anfal, bersama surah At-Taubah. Maksud lain dengan tujuh ini adalah surah Al-Fatihah karena surah ini terdiri dari tujuh ayat. Maka, kata penghubung pada “dan Al-Qur’an yang agung” termasuk kategori pengaitan lafaz yang umum (al-qur’an) pada kata yang lebih khusus, lantaran di dalam “tujuh ayat yang dibaca berulang ulang” terdapat banyak muatan tauhid, pembahasan ilmu ghaib, dan hukum-hukum yang penting, serta pengulangan di dalamnya. Sedangkan menurut pendapat yang mengatakan bahwa surah Al-Fatihah itulah sab’ul matsani, maka maknanya ia berjumlah tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dalam setiap rakaat.” Surah Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semangat mengajarkan manusia kebaikan dan menjelaskan kebaikan tersebut. Beliau juga memotivasi kita untuk beramal saleh.   Baca juga: Keampuhan dan Kemuliaan Surah Al-Fatihah Memahami Bismillah Mengenal Seluk Beluk Surah Al-Fatihah     Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:236. Tafsir As–Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman). Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. – Diselesaikan 26 Rabiul Akhir 1445 H, 9 November 2023 di perjalanan Panggang – MPD Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran al fatihah al quran kandungan al fatihah membaca al fatihah membaca Al Quran membaca surah al fatihah membaca surat al fatihah memperbagus bacaan Al Quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail shahibul quran surat al fatihah

Khutbah Jumat: Boikot Produk Pendukung Zionis Israel ataukah Tidak?

Apakah kita boleh ikut-ikutan boikot produk pendukung zionis Israel? Coba simak materi menarik dan berbagai pertimbangan dari sisi dalil dari khutbah Jumat berikut ini. Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua 3. Unduh Naskah Khutbah Jumat “BOIKOT PRODUK PENDUKUNG ZIONIS ISRAEL ATAUKAH TIDAK?”   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ALHAMDULILLAHILLADZI HADANAA LIHAADZA WA MAA KUNNA LINAHTADIYA LAWLAA AN HADAANALLAH. LAQOD JAA-AT RUSULU ROBBINAA BIL HAQQ, WA NUUDUU AN TILKUMUL JANNAH UURITS-TUMUUHAA BIMAA KUNTUM TA’MALUUN. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSULUH. ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALA AALIHI WA ASH-HAABIHI WA MAN TABI’AHUM BI IHSAANIN ILA YAUMID DIIN. فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا FA YAA AYYUHAL HAADHIRUUN, ITTAQULLAHA HAQQO TUQOOTIH. FAQOLALLAHU TA’ALA: YAA AYYUHAN NAASUT TAQUU ROBBAKUMULLADZI KHOLAQOKUM MIN NAFSIW WAAHIDAH, WA KHOLAQO MINHAA ZAWJAHAA WA BATSTSA MINHUMAA RIJAALAN KATSIIRO WA NISAA-A, WAT TAQULLAHALLADZI TASAA-ALUUNA BIHI WAL ARHAAM, INNALLAHA KAANA ‘ALAIKUM ROQIIBAA. اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ ALLOHUMMA ‘ALLIMNAA MAA YANFA’UNAA WANFA’ANAA BIMAA ‘ALLAMTANAA WA ZIDNAA ‘ILMAA, WA ARONAL HAQQO HAQQO WARZUQNAT TIBAA’AH, WA AROONAL BAATHILA BAATHILAA WARZUQNAJ-TINAABAH.   Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang memerintahkan kita untuk terus bertakwa kepada-Nya. Takwa itu berarti menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan. Pada hari Jumat penuh berkah ini, kita diperintahkan bershalawat kepada Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Belakangan ini banyak sekali seruan untuk memboikot berbagai produk pendukung Israel karena begitu gencarnya serangan mereka pada saudara kita di Palestina. Ingatlah saudaraku …. Kita diperintahkan untuk loyal kepada sesama muslim, termasuk dalam urusan muamalat, seperti jual beli. Allah Ta’ala berfirman, لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang itu adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, atau keluarga mereka.” (QS. Al-Mujadilah: 22) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sangat suka jika kaum muslimin itu maju dalam muamalat dan memiliki pasar sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyadari bahwa Yahudi menguasai perdagangan di kota Madinah melalui penguasaan atas pasar Bani Qainuqa’. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeinginan agar Madinah memiliki pasar lain yang bebas dari kekuasaan Yahudi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memasang tenda besar di tempat Baqi’ Ibnuz Zubair. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meresmikan pasar ini dengan mengatakan, هَذَا سُوْقُكُمْ “Ini adalah pasar kalian, kaum muslimin.” Hal ini membuat orang-orang Yahudi marah besar. (Al-Ishthifa’i min Sirah Al-Mushthafa, hlm 230, Baisan li An-Nasyr) Walaupun secara hukum, boleh dan sah-sah saja bermuamalat dengan orang kafir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa bermuamalat dengan orang Yahudi, bahkan ketika beliau meninggal dunia, Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa ketika itu baju besi beliau tergadai di tempat orang Yahudi untuk membeli makanan gandum sebanyak 30 sha’. (Shahih Bukhari, 3:1068) Dari hadits ini, Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, وَفِي الحَدِيْثِ جَوَازُ مُعَامَلَةِ الكُفَّارِ فِيْمَا لَمْ يَتَحَقَّقْ تَحْرِيْمُ عَيْنِ المُتَعَامِلِ فِيْهِ “Dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang bolehnya bermuaamalah dengan orang kafir selama belum terbukti keharamannya.” (Fath Al-Baari, 5:141) Catatan mengenai boikot produk pendukung zionis Israel: Hukum asal boikot produk musuh Islam adalah mubah (dibolehkan). Terkadang hukum boikot bisa menjadi wajib atau sunnah bahkan kadang pula bisa diharamkan tergantung dari maslahat dan mafsadat. Boikot ini dilakukan jika memang kaum muslimin tidak merasa kesulitan mencari pengganti dari produk yang diboikot. Sebaiknya boikot ini diserahkan kepada penguasa karena hal ini menyangkut maslahat orang banyak. Jika semua orang angkat bicara dalam masalah ini, maka akan membuat orang awam bingung. Produk yang diboikot memang betul-betul diyakini hasilnya digunakan untuk menindas kaum muslimin. Jika hanya sangkaan tanpa bukti kuat, maka ini sama saja mengelabui kaum muslimin. Ahsannya, kita memegang prinsip MENGUTAMAKAN PRODUK MUSLIM dengan memperhatikan empat prinsip berikut ini: Dahulukan, cari dan beli produk milik muslim di warung milik muslim. Jika tidak ada warung muslim, beli produk muslim di warung non-muslim. Jika tidak ada produk muslim, beli produk non-muslim di warung muslim. Jika tidak ada produk dan warung muslim, baru belilah produk non-muslim di warung non-muslim. Dengan penjelasan ini, kami berharap kaum muslimin tidak ribut dalam masalah pemboikotan. Bagi yang memilih boikot secara individu silakan. Bagi yang tidak mampu boikot karena berbagai alasan juga silakan. Yang penting doa kita terus dipanjatkan pada saudara-saudara kita di Palestina. Semoga mereka segera merdeka dan selamat dari kezaliman. اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ إِخْوَانَنَا اْلمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ، خُصُوْصًا فيِ غَزَّةَ، وَاحْقِنْ دِمَائَهُمْ. اَللّٰهُمَّ عَلَيْكَ بِالْيَهُوْدِ، الْمَلْعُوْنِيْنَ، وأَنْزِلْ غَضَبَكَ عَلَيْهِمْ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ دِيْنَكَ وكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم Ya Allah, tabahkanlah saudara-saudara mujahidin kami di Palestina, khususnya di Gaza, dan jagalah darah mereka. Ya Allah, hukumlah orang-orang Yahudi yang terkutuk, dan turunkan murka-Mu kepada mereka. Ya Allah, dukunglah agamamu, kitabmu, dan Sunnah Nabi-Mu Muhammad, semoga Engkau memberkahi dan memberi kedamaian kepadanya. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ   — Kamis pagi, 254 Rabiul Akhir 1445 H, 9 November 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   – Unduh Naskah Khutbah Jumat “BOIKOT PRODUK PENDUKUNG ZIONIS ISRAEL ATAUKAH TIDAK?”   Download Tagsboikot jual beli khutbah jumat loyal non muslim loyal pada non muslim non muslim

Khutbah Jumat: Boikot Produk Pendukung Zionis Israel ataukah Tidak?

Apakah kita boleh ikut-ikutan boikot produk pendukung zionis Israel? Coba simak materi menarik dan berbagai pertimbangan dari sisi dalil dari khutbah Jumat berikut ini. Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua 3. Unduh Naskah Khutbah Jumat “BOIKOT PRODUK PENDUKUNG ZIONIS ISRAEL ATAUKAH TIDAK?”   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ALHAMDULILLAHILLADZI HADANAA LIHAADZA WA MAA KUNNA LINAHTADIYA LAWLAA AN HADAANALLAH. LAQOD JAA-AT RUSULU ROBBINAA BIL HAQQ, WA NUUDUU AN TILKUMUL JANNAH UURITS-TUMUUHAA BIMAA KUNTUM TA’MALUUN. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSULUH. ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALA AALIHI WA ASH-HAABIHI WA MAN TABI’AHUM BI IHSAANIN ILA YAUMID DIIN. فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا FA YAA AYYUHAL HAADHIRUUN, ITTAQULLAHA HAQQO TUQOOTIH. FAQOLALLAHU TA’ALA: YAA AYYUHAN NAASUT TAQUU ROBBAKUMULLADZI KHOLAQOKUM MIN NAFSIW WAAHIDAH, WA KHOLAQO MINHAA ZAWJAHAA WA BATSTSA MINHUMAA RIJAALAN KATSIIRO WA NISAA-A, WAT TAQULLAHALLADZI TASAA-ALUUNA BIHI WAL ARHAAM, INNALLAHA KAANA ‘ALAIKUM ROQIIBAA. اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ ALLOHUMMA ‘ALLIMNAA MAA YANFA’UNAA WANFA’ANAA BIMAA ‘ALLAMTANAA WA ZIDNAA ‘ILMAA, WA ARONAL HAQQO HAQQO WARZUQNAT TIBAA’AH, WA AROONAL BAATHILA BAATHILAA WARZUQNAJ-TINAABAH.   Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang memerintahkan kita untuk terus bertakwa kepada-Nya. Takwa itu berarti menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan. Pada hari Jumat penuh berkah ini, kita diperintahkan bershalawat kepada Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Belakangan ini banyak sekali seruan untuk memboikot berbagai produk pendukung Israel karena begitu gencarnya serangan mereka pada saudara kita di Palestina. Ingatlah saudaraku …. Kita diperintahkan untuk loyal kepada sesama muslim, termasuk dalam urusan muamalat, seperti jual beli. Allah Ta’ala berfirman, لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang itu adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, atau keluarga mereka.” (QS. Al-Mujadilah: 22) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sangat suka jika kaum muslimin itu maju dalam muamalat dan memiliki pasar sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyadari bahwa Yahudi menguasai perdagangan di kota Madinah melalui penguasaan atas pasar Bani Qainuqa’. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeinginan agar Madinah memiliki pasar lain yang bebas dari kekuasaan Yahudi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memasang tenda besar di tempat Baqi’ Ibnuz Zubair. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meresmikan pasar ini dengan mengatakan, هَذَا سُوْقُكُمْ “Ini adalah pasar kalian, kaum muslimin.” Hal ini membuat orang-orang Yahudi marah besar. (Al-Ishthifa’i min Sirah Al-Mushthafa, hlm 230, Baisan li An-Nasyr) Walaupun secara hukum, boleh dan sah-sah saja bermuamalat dengan orang kafir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa bermuamalat dengan orang Yahudi, bahkan ketika beliau meninggal dunia, Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa ketika itu baju besi beliau tergadai di tempat orang Yahudi untuk membeli makanan gandum sebanyak 30 sha’. (Shahih Bukhari, 3:1068) Dari hadits ini, Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, وَفِي الحَدِيْثِ جَوَازُ مُعَامَلَةِ الكُفَّارِ فِيْمَا لَمْ يَتَحَقَّقْ تَحْرِيْمُ عَيْنِ المُتَعَامِلِ فِيْهِ “Dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang bolehnya bermuaamalah dengan orang kafir selama belum terbukti keharamannya.” (Fath Al-Baari, 5:141) Catatan mengenai boikot produk pendukung zionis Israel: Hukum asal boikot produk musuh Islam adalah mubah (dibolehkan). Terkadang hukum boikot bisa menjadi wajib atau sunnah bahkan kadang pula bisa diharamkan tergantung dari maslahat dan mafsadat. Boikot ini dilakukan jika memang kaum muslimin tidak merasa kesulitan mencari pengganti dari produk yang diboikot. Sebaiknya boikot ini diserahkan kepada penguasa karena hal ini menyangkut maslahat orang banyak. Jika semua orang angkat bicara dalam masalah ini, maka akan membuat orang awam bingung. Produk yang diboikot memang betul-betul diyakini hasilnya digunakan untuk menindas kaum muslimin. Jika hanya sangkaan tanpa bukti kuat, maka ini sama saja mengelabui kaum muslimin. Ahsannya, kita memegang prinsip MENGUTAMAKAN PRODUK MUSLIM dengan memperhatikan empat prinsip berikut ini: Dahulukan, cari dan beli produk milik muslim di warung milik muslim. Jika tidak ada warung muslim, beli produk muslim di warung non-muslim. Jika tidak ada produk muslim, beli produk non-muslim di warung muslim. Jika tidak ada produk dan warung muslim, baru belilah produk non-muslim di warung non-muslim. Dengan penjelasan ini, kami berharap kaum muslimin tidak ribut dalam masalah pemboikotan. Bagi yang memilih boikot secara individu silakan. Bagi yang tidak mampu boikot karena berbagai alasan juga silakan. Yang penting doa kita terus dipanjatkan pada saudara-saudara kita di Palestina. Semoga mereka segera merdeka dan selamat dari kezaliman. اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ إِخْوَانَنَا اْلمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ، خُصُوْصًا فيِ غَزَّةَ، وَاحْقِنْ دِمَائَهُمْ. اَللّٰهُمَّ عَلَيْكَ بِالْيَهُوْدِ، الْمَلْعُوْنِيْنَ، وأَنْزِلْ غَضَبَكَ عَلَيْهِمْ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ دِيْنَكَ وكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم Ya Allah, tabahkanlah saudara-saudara mujahidin kami di Palestina, khususnya di Gaza, dan jagalah darah mereka. Ya Allah, hukumlah orang-orang Yahudi yang terkutuk, dan turunkan murka-Mu kepada mereka. Ya Allah, dukunglah agamamu, kitabmu, dan Sunnah Nabi-Mu Muhammad, semoga Engkau memberkahi dan memberi kedamaian kepadanya. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ   — Kamis pagi, 254 Rabiul Akhir 1445 H, 9 November 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   – Unduh Naskah Khutbah Jumat “BOIKOT PRODUK PENDUKUNG ZIONIS ISRAEL ATAUKAH TIDAK?”   Download Tagsboikot jual beli khutbah jumat loyal non muslim loyal pada non muslim non muslim
Apakah kita boleh ikut-ikutan boikot produk pendukung zionis Israel? Coba simak materi menarik dan berbagai pertimbangan dari sisi dalil dari khutbah Jumat berikut ini. Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua 3. Unduh Naskah Khutbah Jumat “BOIKOT PRODUK PENDUKUNG ZIONIS ISRAEL ATAUKAH TIDAK?”   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ALHAMDULILLAHILLADZI HADANAA LIHAADZA WA MAA KUNNA LINAHTADIYA LAWLAA AN HADAANALLAH. LAQOD JAA-AT RUSULU ROBBINAA BIL HAQQ, WA NUUDUU AN TILKUMUL JANNAH UURITS-TUMUUHAA BIMAA KUNTUM TA’MALUUN. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSULUH. ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALA AALIHI WA ASH-HAABIHI WA MAN TABI’AHUM BI IHSAANIN ILA YAUMID DIIN. فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا FA YAA AYYUHAL HAADHIRUUN, ITTAQULLAHA HAQQO TUQOOTIH. FAQOLALLAHU TA’ALA: YAA AYYUHAN NAASUT TAQUU ROBBAKUMULLADZI KHOLAQOKUM MIN NAFSIW WAAHIDAH, WA KHOLAQO MINHAA ZAWJAHAA WA BATSTSA MINHUMAA RIJAALAN KATSIIRO WA NISAA-A, WAT TAQULLAHALLADZI TASAA-ALUUNA BIHI WAL ARHAAM, INNALLAHA KAANA ‘ALAIKUM ROQIIBAA. اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ ALLOHUMMA ‘ALLIMNAA MAA YANFA’UNAA WANFA’ANAA BIMAA ‘ALLAMTANAA WA ZIDNAA ‘ILMAA, WA ARONAL HAQQO HAQQO WARZUQNAT TIBAA’AH, WA AROONAL BAATHILA BAATHILAA WARZUQNAJ-TINAABAH.   Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang memerintahkan kita untuk terus bertakwa kepada-Nya. Takwa itu berarti menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan. Pada hari Jumat penuh berkah ini, kita diperintahkan bershalawat kepada Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Belakangan ini banyak sekali seruan untuk memboikot berbagai produk pendukung Israel karena begitu gencarnya serangan mereka pada saudara kita di Palestina. Ingatlah saudaraku …. Kita diperintahkan untuk loyal kepada sesama muslim, termasuk dalam urusan muamalat, seperti jual beli. Allah Ta’ala berfirman, لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang itu adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, atau keluarga mereka.” (QS. Al-Mujadilah: 22) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sangat suka jika kaum muslimin itu maju dalam muamalat dan memiliki pasar sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyadari bahwa Yahudi menguasai perdagangan di kota Madinah melalui penguasaan atas pasar Bani Qainuqa’. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeinginan agar Madinah memiliki pasar lain yang bebas dari kekuasaan Yahudi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memasang tenda besar di tempat Baqi’ Ibnuz Zubair. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meresmikan pasar ini dengan mengatakan, هَذَا سُوْقُكُمْ “Ini adalah pasar kalian, kaum muslimin.” Hal ini membuat orang-orang Yahudi marah besar. (Al-Ishthifa’i min Sirah Al-Mushthafa, hlm 230, Baisan li An-Nasyr) Walaupun secara hukum, boleh dan sah-sah saja bermuamalat dengan orang kafir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa bermuamalat dengan orang Yahudi, bahkan ketika beliau meninggal dunia, Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa ketika itu baju besi beliau tergadai di tempat orang Yahudi untuk membeli makanan gandum sebanyak 30 sha’. (Shahih Bukhari, 3:1068) Dari hadits ini, Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, وَفِي الحَدِيْثِ جَوَازُ مُعَامَلَةِ الكُفَّارِ فِيْمَا لَمْ يَتَحَقَّقْ تَحْرِيْمُ عَيْنِ المُتَعَامِلِ فِيْهِ “Dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang bolehnya bermuaamalah dengan orang kafir selama belum terbukti keharamannya.” (Fath Al-Baari, 5:141) Catatan mengenai boikot produk pendukung zionis Israel: Hukum asal boikot produk musuh Islam adalah mubah (dibolehkan). Terkadang hukum boikot bisa menjadi wajib atau sunnah bahkan kadang pula bisa diharamkan tergantung dari maslahat dan mafsadat. Boikot ini dilakukan jika memang kaum muslimin tidak merasa kesulitan mencari pengganti dari produk yang diboikot. Sebaiknya boikot ini diserahkan kepada penguasa karena hal ini menyangkut maslahat orang banyak. Jika semua orang angkat bicara dalam masalah ini, maka akan membuat orang awam bingung. Produk yang diboikot memang betul-betul diyakini hasilnya digunakan untuk menindas kaum muslimin. Jika hanya sangkaan tanpa bukti kuat, maka ini sama saja mengelabui kaum muslimin. Ahsannya, kita memegang prinsip MENGUTAMAKAN PRODUK MUSLIM dengan memperhatikan empat prinsip berikut ini: Dahulukan, cari dan beli produk milik muslim di warung milik muslim. Jika tidak ada warung muslim, beli produk muslim di warung non-muslim. Jika tidak ada produk muslim, beli produk non-muslim di warung muslim. Jika tidak ada produk dan warung muslim, baru belilah produk non-muslim di warung non-muslim. Dengan penjelasan ini, kami berharap kaum muslimin tidak ribut dalam masalah pemboikotan. Bagi yang memilih boikot secara individu silakan. Bagi yang tidak mampu boikot karena berbagai alasan juga silakan. Yang penting doa kita terus dipanjatkan pada saudara-saudara kita di Palestina. Semoga mereka segera merdeka dan selamat dari kezaliman. اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ إِخْوَانَنَا اْلمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ، خُصُوْصًا فيِ غَزَّةَ، وَاحْقِنْ دِمَائَهُمْ. اَللّٰهُمَّ عَلَيْكَ بِالْيَهُوْدِ، الْمَلْعُوْنِيْنَ، وأَنْزِلْ غَضَبَكَ عَلَيْهِمْ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ دِيْنَكَ وكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم Ya Allah, tabahkanlah saudara-saudara mujahidin kami di Palestina, khususnya di Gaza, dan jagalah darah mereka. Ya Allah, hukumlah orang-orang Yahudi yang terkutuk, dan turunkan murka-Mu kepada mereka. Ya Allah, dukunglah agamamu, kitabmu, dan Sunnah Nabi-Mu Muhammad, semoga Engkau memberkahi dan memberi kedamaian kepadanya. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ   — Kamis pagi, 254 Rabiul Akhir 1445 H, 9 November 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   – Unduh Naskah Khutbah Jumat “BOIKOT PRODUK PENDUKUNG ZIONIS ISRAEL ATAUKAH TIDAK?”   Download Tagsboikot jual beli khutbah jumat loyal non muslim loyal pada non muslim non muslim


Apakah kita boleh ikut-ikutan boikot produk pendukung zionis Israel? Coba simak materi menarik dan berbagai pertimbangan dari sisi dalil dari khutbah Jumat berikut ini. Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua 3. Unduh Naskah Khutbah Jumat “BOIKOT PRODUK PENDUKUNG ZIONIS ISRAEL ATAUKAH TIDAK?”   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ALHAMDULILLAHILLADZI HADANAA LIHAADZA WA MAA KUNNA LINAHTADIYA LAWLAA AN HADAANALLAH. LAQOD JAA-AT RUSULU ROBBINAA BIL HAQQ, WA NUUDUU AN TILKUMUL JANNAH UURITS-TUMUUHAA BIMAA KUNTUM TA’MALUUN. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSULUH. ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALA AALIHI WA ASH-HAABIHI WA MAN TABI’AHUM BI IHSAANIN ILA YAUMID DIIN. فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا FA YAA AYYUHAL HAADHIRUUN, ITTAQULLAHA HAQQO TUQOOTIH. FAQOLALLAHU TA’ALA: YAA AYYUHAN NAASUT TAQUU ROBBAKUMULLADZI KHOLAQOKUM MIN NAFSIW WAAHIDAH, WA KHOLAQO MINHAA ZAWJAHAA WA BATSTSA MINHUMAA RIJAALAN KATSIIRO WA NISAA-A, WAT TAQULLAHALLADZI TASAA-ALUUNA BIHI WAL ARHAAM, INNALLAHA KAANA ‘ALAIKUM ROQIIBAA. اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ ALLOHUMMA ‘ALLIMNAA MAA YANFA’UNAA WANFA’ANAA BIMAA ‘ALLAMTANAA WA ZIDNAA ‘ILMAA, WA ARONAL HAQQO HAQQO WARZUQNAT TIBAA’AH, WA AROONAL BAATHILA BAATHILAA WARZUQNAJ-TINAABAH.   Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang memerintahkan kita untuk terus bertakwa kepada-Nya. Takwa itu berarti menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan. Pada hari Jumat penuh berkah ini, kita diperintahkan bershalawat kepada Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Belakangan ini banyak sekali seruan untuk memboikot berbagai produk pendukung Israel karena begitu gencarnya serangan mereka pada saudara kita di Palestina. Ingatlah saudaraku …. Kita diperintahkan untuk loyal kepada sesama muslim, termasuk dalam urusan muamalat, seperti jual beli. Allah Ta’ala berfirman, لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang itu adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, atau keluarga mereka.” (QS. Al-Mujadilah: 22) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sangat suka jika kaum muslimin itu maju dalam muamalat dan memiliki pasar sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyadari bahwa Yahudi menguasai perdagangan di kota Madinah melalui penguasaan atas pasar Bani Qainuqa’. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeinginan agar Madinah memiliki pasar lain yang bebas dari kekuasaan Yahudi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memasang tenda besar di tempat Baqi’ Ibnuz Zubair. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meresmikan pasar ini dengan mengatakan, هَذَا سُوْقُكُمْ “Ini adalah pasar kalian, kaum muslimin.” Hal ini membuat orang-orang Yahudi marah besar. (Al-Ishthifa’i min Sirah Al-Mushthafa, hlm 230, Baisan li An-Nasyr) Walaupun secara hukum, boleh dan sah-sah saja bermuamalat dengan orang kafir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa bermuamalat dengan orang Yahudi, bahkan ketika beliau meninggal dunia, Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa ketika itu baju besi beliau tergadai di tempat orang Yahudi untuk membeli makanan gandum sebanyak 30 sha’. (Shahih Bukhari, 3:1068) Dari hadits ini, Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, وَفِي الحَدِيْثِ جَوَازُ مُعَامَلَةِ الكُفَّارِ فِيْمَا لَمْ يَتَحَقَّقْ تَحْرِيْمُ عَيْنِ المُتَعَامِلِ فِيْهِ “Dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang bolehnya bermuaamalah dengan orang kafir selama belum terbukti keharamannya.” (Fath Al-Baari, 5:141) Catatan mengenai boikot produk pendukung zionis Israel: Hukum asal boikot produk musuh Islam adalah mubah (dibolehkan). Terkadang hukum boikot bisa menjadi wajib atau sunnah bahkan kadang pula bisa diharamkan tergantung dari maslahat dan mafsadat. Boikot ini dilakukan jika memang kaum muslimin tidak merasa kesulitan mencari pengganti dari produk yang diboikot. Sebaiknya boikot ini diserahkan kepada penguasa karena hal ini menyangkut maslahat orang banyak. Jika semua orang angkat bicara dalam masalah ini, maka akan membuat orang awam bingung. Produk yang diboikot memang betul-betul diyakini hasilnya digunakan untuk menindas kaum muslimin. Jika hanya sangkaan tanpa bukti kuat, maka ini sama saja mengelabui kaum muslimin. Ahsannya, kita memegang prinsip MENGUTAMAKAN PRODUK MUSLIM dengan memperhatikan empat prinsip berikut ini: Dahulukan, cari dan beli produk milik muslim di warung milik muslim. Jika tidak ada warung muslim, beli produk muslim di warung non-muslim. Jika tidak ada produk muslim, beli produk non-muslim di warung muslim. Jika tidak ada produk dan warung muslim, baru belilah produk non-muslim di warung non-muslim. Dengan penjelasan ini, kami berharap kaum muslimin tidak ribut dalam masalah pemboikotan. Bagi yang memilih boikot secara individu silakan. Bagi yang tidak mampu boikot karena berbagai alasan juga silakan. Yang penting doa kita terus dipanjatkan pada saudara-saudara kita di Palestina. Semoga mereka segera merdeka dan selamat dari kezaliman. اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ إِخْوَانَنَا اْلمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ، خُصُوْصًا فيِ غَزَّةَ، وَاحْقِنْ دِمَائَهُمْ. اَللّٰهُمَّ عَلَيْكَ بِالْيَهُوْدِ، الْمَلْعُوْنِيْنَ، وأَنْزِلْ غَضَبَكَ عَلَيْهِمْ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ دِيْنَكَ وكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم Ya Allah, tabahkanlah saudara-saudara mujahidin kami di Palestina, khususnya di Gaza, dan jagalah darah mereka. Ya Allah, hukumlah orang-orang Yahudi yang terkutuk, dan turunkan murka-Mu kepada mereka. Ya Allah, dukunglah agamamu, kitabmu, dan Sunnah Nabi-Mu Muhammad, semoga Engkau memberkahi dan memberi kedamaian kepadanya. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ   — Kamis pagi, 254 Rabiul Akhir 1445 H, 9 November 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   – Unduh Naskah Khutbah Jumat “BOIKOT PRODUK PENDUKUNG ZIONIS ISRAEL ATAUKAH TIDAK?”   Download Tagsboikot jual beli khutbah jumat loyal non muslim loyal pada non muslim non muslim

Khutbah Jumat: Lebih Awal Datang ke Masjid untuk Shalat Jumat

Seringkali kita melihat jamaah shalat Jumat datang terlambat ke masjid. Ada yang baru mempersiapkan diri ketika azan Jumat berkumandang, bahkan tak sedikit yang lebih telat dari itu. Pentingnya kesadaran untuk lebih awal datang ke masjid sebelum shalat Jumat tidak boleh diabaikan.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua 3. Unduh Naskah Khutbah Jumat “LEBIH AWAL DATANG KE MASJID UNTUK SHALAT JUMAT” Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ALHAMDULILLAHILLADZI HADANAA LIHAADZA WA MAA KUNNA LINAHTADIYA LAWLAA AN HADAANALLAH. LAQOD JAA-AT RUSULU ROBBINAA BIL HAQQ, WA NUUDUU AN TILKUMUL JANNAH UURITS-TUMUUHAA BIMAA KUNTUM TA’MALUUN. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSULUH. ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALA AALIHI WA ASH-HAABIHI WA MAN TABI’AHUM BI IHSAANIN ILA YAUMID DIIN. فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا FA YAA AYYUHAL HAADHIRUUN, ITTAQULLAHA HAQQO TUQOOTIH. FAQOLALLAHU TA’ALA: YAA AYYUHAN NAASUT TAQUU ROBBAKUMULLADZI KHOLAQOKUM MIN NAFSIW WAAHIDAH, WA KHOLAQO MINHAA ZAWJAHAA WA BATSTSA MINHUMAA RIJAALAN KATSIIRO WA NISAA-A, WAT TAQULLAHALLADZI TASAA-ALUUNA BIHI WAL ARHAAM, INNALLAHA KAANA ‘ALAIKUM ROQIIBAA. اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ ALLOHUMMA ‘ALLIMNAA MAA YANFA’UNAA WANFA’ANAA BIMAA ‘ALLAMTANAA WA ZIDNAA ‘ILMAA, WA ARONAL HAQQO HAQQO WARZUQNAT TIBAA’AH, WA AROONAL BAATHILA BAATHILAA WARZUQNAJ-TINAABAH. Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang memerintahkan kita untuk terus bertakwa kepada-Nya. Takwa itu berarti menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan. Di antara bentuk takwa adalah bersegera dalam kebaikan. Pada hari Jumat penuh berkah ini, kita diperintahkan bershalawat kepada Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Pada asalnya kita diperintahkan untuk BERSEGERA dalam kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ “Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al Baqarah: 148). وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al Muthoffifin: 26). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memotivasi untuk berlomba dalam kebaikan seperti agar bisa mendapatkan shaf terdepan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا، وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا “Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang pertama dan sejelek-jelek shafnya adalah yang terakhir. Sebaik-baik shaf perempuan adalah yang terakhir dan sejelek-jeleknya adalah yang pertama.” (HR. Muslim, no. 440) Hadits ini menunjukkan bahwa shaf yang terbaik adalah shaf terdepan, lalu shaf berikutnya, lalu berikutnya lagi. Hadits ini menunjukkan motivasi untuk bersegera melakukan shalat berjamaah, keutamaan dekat dengan imam untuk mendengar bacaan imam dan mengikuti gerakan imam. Pelajaran lainnya dari hadits tadi adalah: Shaf terdepan untuk pria itu lebih baik, artinya lebih besar pahalanya dan yang berada di shaf tersebut didoakan oleh para malaikat. Shat terbaik untuk wanita adalah paling belakang karena shaf tersebut jauh dari laki-laki sehingga tidak terjadi ikhtilath (campur baur) dengan shaf pria, hati tidak terganggu dengan lawan jenis dengan melihat atau mendengar suaranya. Jika tempat shalat wanita tidak jadi satu dengan pria, maka shaf terbaik wanita tetap paling depan sebagaimana pembicaraan keutamaan dalam shaf pria, yang paling depan adalah yang paling baik. Baca juga: Pahala Berada di Shaf Pertama Hadits yang lain juga mendorong kita berlomba siapakah yang duluan mengumandangan azan dan mendapatkan shaf pertama. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا “Seandainya setiap orang tahu keutamaan azan dan shaf pertama, kemudian mereka ingin memperebutkannya, tentu mereka akan memperebutkannya dengan berundi.” (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437). Orang yang mendapatkan shaf lebih dahulu, dialah yang lebih berhak. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, لاَ يُقِيمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ ، ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ “Tidak boleh seseorang meminta berdiri orang lain dari majelisnya lalu ia duduk di tempat tersebut.” (HR. Bukhari, no. 6269 dan Muslim, no. 2177). Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Sebagai penutup khutbah ini, kami selaku khatib menasihatkan kepada diri kami pribadi dan para jamaaah sekalian, diharapkan tidak telat mendatangi shalat Jumat, begitu pula shalat lima waktu yang lainnya. Jangan terus membiasakan pas azan Jumat terdengar baru ke masjid dari rumah atau bahkan baru mengambil air wudhu. Bahkan sebagian jamaah punya kebiasaan duduk di luar masjid ketika mendengarkan khutbah, tidak mau masuk masjid. Lebih awal datang ke masjid dan menempati shaf terdepan itulah yang lebih baik. Semoga Allah beri taufik. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ BAROKALLAHU LII WA LAKUM FIL QUR’ANIL ‘AZHIM WA NAFA’ANII WA IYYAKUM BIMAA FIIHI MINAL AYAATI WADZ DZIKRIL HAKIIM, WA TAQOBBAL MINNI WA MINKUM TILAAWATAHU, INNAHU HUWAS SAMII’UL ‘ALIIM. WA ASTAGHFIRULLAHA LII WA LAKUM FASTAGHFIRUUHU, INNAHU HUWAL GHAFURUR ROHIIM.   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ     — Rabu sore, 24 Rabiul Akhir 1445 H, 8 November 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   – Unduh Naskah Khutbah Jumat “LEBIH AWAL DATANG KE MASJID UNTUK SHALAT JUMAT”   Download Tagsberlomba kebaikan khutbah jumat shaf pertama shalat berjamaah

Khutbah Jumat: Lebih Awal Datang ke Masjid untuk Shalat Jumat

Seringkali kita melihat jamaah shalat Jumat datang terlambat ke masjid. Ada yang baru mempersiapkan diri ketika azan Jumat berkumandang, bahkan tak sedikit yang lebih telat dari itu. Pentingnya kesadaran untuk lebih awal datang ke masjid sebelum shalat Jumat tidak boleh diabaikan.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua 3. Unduh Naskah Khutbah Jumat “LEBIH AWAL DATANG KE MASJID UNTUK SHALAT JUMAT” Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ALHAMDULILLAHILLADZI HADANAA LIHAADZA WA MAA KUNNA LINAHTADIYA LAWLAA AN HADAANALLAH. LAQOD JAA-AT RUSULU ROBBINAA BIL HAQQ, WA NUUDUU AN TILKUMUL JANNAH UURITS-TUMUUHAA BIMAA KUNTUM TA’MALUUN. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSULUH. ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALA AALIHI WA ASH-HAABIHI WA MAN TABI’AHUM BI IHSAANIN ILA YAUMID DIIN. فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا FA YAA AYYUHAL HAADHIRUUN, ITTAQULLAHA HAQQO TUQOOTIH. FAQOLALLAHU TA’ALA: YAA AYYUHAN NAASUT TAQUU ROBBAKUMULLADZI KHOLAQOKUM MIN NAFSIW WAAHIDAH, WA KHOLAQO MINHAA ZAWJAHAA WA BATSTSA MINHUMAA RIJAALAN KATSIIRO WA NISAA-A, WAT TAQULLAHALLADZI TASAA-ALUUNA BIHI WAL ARHAAM, INNALLAHA KAANA ‘ALAIKUM ROQIIBAA. اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ ALLOHUMMA ‘ALLIMNAA MAA YANFA’UNAA WANFA’ANAA BIMAA ‘ALLAMTANAA WA ZIDNAA ‘ILMAA, WA ARONAL HAQQO HAQQO WARZUQNAT TIBAA’AH, WA AROONAL BAATHILA BAATHILAA WARZUQNAJ-TINAABAH. Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang memerintahkan kita untuk terus bertakwa kepada-Nya. Takwa itu berarti menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan. Di antara bentuk takwa adalah bersegera dalam kebaikan. Pada hari Jumat penuh berkah ini, kita diperintahkan bershalawat kepada Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Pada asalnya kita diperintahkan untuk BERSEGERA dalam kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ “Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al Baqarah: 148). وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al Muthoffifin: 26). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memotivasi untuk berlomba dalam kebaikan seperti agar bisa mendapatkan shaf terdepan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا، وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا “Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang pertama dan sejelek-jelek shafnya adalah yang terakhir. Sebaik-baik shaf perempuan adalah yang terakhir dan sejelek-jeleknya adalah yang pertama.” (HR. Muslim, no. 440) Hadits ini menunjukkan bahwa shaf yang terbaik adalah shaf terdepan, lalu shaf berikutnya, lalu berikutnya lagi. Hadits ini menunjukkan motivasi untuk bersegera melakukan shalat berjamaah, keutamaan dekat dengan imam untuk mendengar bacaan imam dan mengikuti gerakan imam. Pelajaran lainnya dari hadits tadi adalah: Shaf terdepan untuk pria itu lebih baik, artinya lebih besar pahalanya dan yang berada di shaf tersebut didoakan oleh para malaikat. Shat terbaik untuk wanita adalah paling belakang karena shaf tersebut jauh dari laki-laki sehingga tidak terjadi ikhtilath (campur baur) dengan shaf pria, hati tidak terganggu dengan lawan jenis dengan melihat atau mendengar suaranya. Jika tempat shalat wanita tidak jadi satu dengan pria, maka shaf terbaik wanita tetap paling depan sebagaimana pembicaraan keutamaan dalam shaf pria, yang paling depan adalah yang paling baik. Baca juga: Pahala Berada di Shaf Pertama Hadits yang lain juga mendorong kita berlomba siapakah yang duluan mengumandangan azan dan mendapatkan shaf pertama. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا “Seandainya setiap orang tahu keutamaan azan dan shaf pertama, kemudian mereka ingin memperebutkannya, tentu mereka akan memperebutkannya dengan berundi.” (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437). Orang yang mendapatkan shaf lebih dahulu, dialah yang lebih berhak. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, لاَ يُقِيمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ ، ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ “Tidak boleh seseorang meminta berdiri orang lain dari majelisnya lalu ia duduk di tempat tersebut.” (HR. Bukhari, no. 6269 dan Muslim, no. 2177). Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Sebagai penutup khutbah ini, kami selaku khatib menasihatkan kepada diri kami pribadi dan para jamaaah sekalian, diharapkan tidak telat mendatangi shalat Jumat, begitu pula shalat lima waktu yang lainnya. Jangan terus membiasakan pas azan Jumat terdengar baru ke masjid dari rumah atau bahkan baru mengambil air wudhu. Bahkan sebagian jamaah punya kebiasaan duduk di luar masjid ketika mendengarkan khutbah, tidak mau masuk masjid. Lebih awal datang ke masjid dan menempati shaf terdepan itulah yang lebih baik. Semoga Allah beri taufik. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ BAROKALLAHU LII WA LAKUM FIL QUR’ANIL ‘AZHIM WA NAFA’ANII WA IYYAKUM BIMAA FIIHI MINAL AYAATI WADZ DZIKRIL HAKIIM, WA TAQOBBAL MINNI WA MINKUM TILAAWATAHU, INNAHU HUWAS SAMII’UL ‘ALIIM. WA ASTAGHFIRULLAHA LII WA LAKUM FASTAGHFIRUUHU, INNAHU HUWAL GHAFURUR ROHIIM.   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ     — Rabu sore, 24 Rabiul Akhir 1445 H, 8 November 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   – Unduh Naskah Khutbah Jumat “LEBIH AWAL DATANG KE MASJID UNTUK SHALAT JUMAT”   Download Tagsberlomba kebaikan khutbah jumat shaf pertama shalat berjamaah
Seringkali kita melihat jamaah shalat Jumat datang terlambat ke masjid. Ada yang baru mempersiapkan diri ketika azan Jumat berkumandang, bahkan tak sedikit yang lebih telat dari itu. Pentingnya kesadaran untuk lebih awal datang ke masjid sebelum shalat Jumat tidak boleh diabaikan.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua 3. Unduh Naskah Khutbah Jumat “LEBIH AWAL DATANG KE MASJID UNTUK SHALAT JUMAT” Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ALHAMDULILLAHILLADZI HADANAA LIHAADZA WA MAA KUNNA LINAHTADIYA LAWLAA AN HADAANALLAH. LAQOD JAA-AT RUSULU ROBBINAA BIL HAQQ, WA NUUDUU AN TILKUMUL JANNAH UURITS-TUMUUHAA BIMAA KUNTUM TA’MALUUN. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSULUH. ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALA AALIHI WA ASH-HAABIHI WA MAN TABI’AHUM BI IHSAANIN ILA YAUMID DIIN. فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا FA YAA AYYUHAL HAADHIRUUN, ITTAQULLAHA HAQQO TUQOOTIH. FAQOLALLAHU TA’ALA: YAA AYYUHAN NAASUT TAQUU ROBBAKUMULLADZI KHOLAQOKUM MIN NAFSIW WAAHIDAH, WA KHOLAQO MINHAA ZAWJAHAA WA BATSTSA MINHUMAA RIJAALAN KATSIIRO WA NISAA-A, WAT TAQULLAHALLADZI TASAA-ALUUNA BIHI WAL ARHAAM, INNALLAHA KAANA ‘ALAIKUM ROQIIBAA. اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ ALLOHUMMA ‘ALLIMNAA MAA YANFA’UNAA WANFA’ANAA BIMAA ‘ALLAMTANAA WA ZIDNAA ‘ILMAA, WA ARONAL HAQQO HAQQO WARZUQNAT TIBAA’AH, WA AROONAL BAATHILA BAATHILAA WARZUQNAJ-TINAABAH. Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang memerintahkan kita untuk terus bertakwa kepada-Nya. Takwa itu berarti menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan. Di antara bentuk takwa adalah bersegera dalam kebaikan. Pada hari Jumat penuh berkah ini, kita diperintahkan bershalawat kepada Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Pada asalnya kita diperintahkan untuk BERSEGERA dalam kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ “Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al Baqarah: 148). وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al Muthoffifin: 26). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memotivasi untuk berlomba dalam kebaikan seperti agar bisa mendapatkan shaf terdepan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا، وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا “Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang pertama dan sejelek-jelek shafnya adalah yang terakhir. Sebaik-baik shaf perempuan adalah yang terakhir dan sejelek-jeleknya adalah yang pertama.” (HR. Muslim, no. 440) Hadits ini menunjukkan bahwa shaf yang terbaik adalah shaf terdepan, lalu shaf berikutnya, lalu berikutnya lagi. Hadits ini menunjukkan motivasi untuk bersegera melakukan shalat berjamaah, keutamaan dekat dengan imam untuk mendengar bacaan imam dan mengikuti gerakan imam. Pelajaran lainnya dari hadits tadi adalah: Shaf terdepan untuk pria itu lebih baik, artinya lebih besar pahalanya dan yang berada di shaf tersebut didoakan oleh para malaikat. Shat terbaik untuk wanita adalah paling belakang karena shaf tersebut jauh dari laki-laki sehingga tidak terjadi ikhtilath (campur baur) dengan shaf pria, hati tidak terganggu dengan lawan jenis dengan melihat atau mendengar suaranya. Jika tempat shalat wanita tidak jadi satu dengan pria, maka shaf terbaik wanita tetap paling depan sebagaimana pembicaraan keutamaan dalam shaf pria, yang paling depan adalah yang paling baik. Baca juga: Pahala Berada di Shaf Pertama Hadits yang lain juga mendorong kita berlomba siapakah yang duluan mengumandangan azan dan mendapatkan shaf pertama. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا “Seandainya setiap orang tahu keutamaan azan dan shaf pertama, kemudian mereka ingin memperebutkannya, tentu mereka akan memperebutkannya dengan berundi.” (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437). Orang yang mendapatkan shaf lebih dahulu, dialah yang lebih berhak. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, لاَ يُقِيمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ ، ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ “Tidak boleh seseorang meminta berdiri orang lain dari majelisnya lalu ia duduk di tempat tersebut.” (HR. Bukhari, no. 6269 dan Muslim, no. 2177). Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Sebagai penutup khutbah ini, kami selaku khatib menasihatkan kepada diri kami pribadi dan para jamaaah sekalian, diharapkan tidak telat mendatangi shalat Jumat, begitu pula shalat lima waktu yang lainnya. Jangan terus membiasakan pas azan Jumat terdengar baru ke masjid dari rumah atau bahkan baru mengambil air wudhu. Bahkan sebagian jamaah punya kebiasaan duduk di luar masjid ketika mendengarkan khutbah, tidak mau masuk masjid. Lebih awal datang ke masjid dan menempati shaf terdepan itulah yang lebih baik. Semoga Allah beri taufik. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ BAROKALLAHU LII WA LAKUM FIL QUR’ANIL ‘AZHIM WA NAFA’ANII WA IYYAKUM BIMAA FIIHI MINAL AYAATI WADZ DZIKRIL HAKIIM, WA TAQOBBAL MINNI WA MINKUM TILAAWATAHU, INNAHU HUWAS SAMII’UL ‘ALIIM. WA ASTAGHFIRULLAHA LII WA LAKUM FASTAGHFIRUUHU, INNAHU HUWAL GHAFURUR ROHIIM.   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ     — Rabu sore, 24 Rabiul Akhir 1445 H, 8 November 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   – Unduh Naskah Khutbah Jumat “LEBIH AWAL DATANG KE MASJID UNTUK SHALAT JUMAT”   Download Tagsberlomba kebaikan khutbah jumat shaf pertama shalat berjamaah


Seringkali kita melihat jamaah shalat Jumat datang terlambat ke masjid. Ada yang baru mempersiapkan diri ketika azan Jumat berkumandang, bahkan tak sedikit yang lebih telat dari itu. Pentingnya kesadaran untuk lebih awal datang ke masjid sebelum shalat Jumat tidak boleh diabaikan.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua 3. Unduh Naskah Khutbah Jumat “LEBIH AWAL DATANG KE MASJID UNTUK SHALAT JUMAT” Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ALHAMDULILLAHILLADZI HADANAA LIHAADZA WA MAA KUNNA LINAHTADIYA LAWLAA AN HADAANALLAH. LAQOD JAA-AT RUSULU ROBBINAA BIL HAQQ, WA NUUDUU AN TILKUMUL JANNAH UURITS-TUMUUHAA BIMAA KUNTUM TA’MALUUN. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSULUH. ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALA AALIHI WA ASH-HAABIHI WA MAN TABI’AHUM BI IHSAANIN ILA YAUMID DIIN. فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا FA YAA AYYUHAL HAADHIRUUN, ITTAQULLAHA HAQQO TUQOOTIH. FAQOLALLAHU TA’ALA: YAA AYYUHAN NAASUT TAQUU ROBBAKUMULLADZI KHOLAQOKUM MIN NAFSIW WAAHIDAH, WA KHOLAQO MINHAA ZAWJAHAA WA BATSTSA MINHUMAA RIJAALAN KATSIIRO WA NISAA-A, WAT TAQULLAHALLADZI TASAA-ALUUNA BIHI WAL ARHAAM, INNALLAHA KAANA ‘ALAIKUM ROQIIBAA. اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ ALLOHUMMA ‘ALLIMNAA MAA YANFA’UNAA WANFA’ANAA BIMAA ‘ALLAMTANAA WA ZIDNAA ‘ILMAA, WA ARONAL HAQQO HAQQO WARZUQNAT TIBAA’AH, WA AROONAL BAATHILA BAATHILAA WARZUQNAJ-TINAABAH. Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang memerintahkan kita untuk terus bertakwa kepada-Nya. Takwa itu berarti menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan. Di antara bentuk takwa adalah bersegera dalam kebaikan. Pada hari Jumat penuh berkah ini, kita diperintahkan bershalawat kepada Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Pada asalnya kita diperintahkan untuk BERSEGERA dalam kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ “Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al Baqarah: 148). وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al Muthoffifin: 26). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memotivasi untuk berlomba dalam kebaikan seperti agar bisa mendapatkan shaf terdepan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا، وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا “Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang pertama dan sejelek-jelek shafnya adalah yang terakhir. Sebaik-baik shaf perempuan adalah yang terakhir dan sejelek-jeleknya adalah yang pertama.” (HR. Muslim, no. 440) Hadits ini menunjukkan bahwa shaf yang terbaik adalah shaf terdepan, lalu shaf berikutnya, lalu berikutnya lagi. Hadits ini menunjukkan motivasi untuk bersegera melakukan shalat berjamaah, keutamaan dekat dengan imam untuk mendengar bacaan imam dan mengikuti gerakan imam. Pelajaran lainnya dari hadits tadi adalah: Shaf terdepan untuk pria itu lebih baik, artinya lebih besar pahalanya dan yang berada di shaf tersebut didoakan oleh para malaikat. Shat terbaik untuk wanita adalah paling belakang karena shaf tersebut jauh dari laki-laki sehingga tidak terjadi ikhtilath (campur baur) dengan shaf pria, hati tidak terganggu dengan lawan jenis dengan melihat atau mendengar suaranya. Jika tempat shalat wanita tidak jadi satu dengan pria, maka shaf terbaik wanita tetap paling depan sebagaimana pembicaraan keutamaan dalam shaf pria, yang paling depan adalah yang paling baik. Baca juga: Pahala Berada di Shaf Pertama Hadits yang lain juga mendorong kita berlomba siapakah yang duluan mengumandangan azan dan mendapatkan shaf pertama. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا “Seandainya setiap orang tahu keutamaan azan dan shaf pertama, kemudian mereka ingin memperebutkannya, tentu mereka akan memperebutkannya dengan berundi.” (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437). Orang yang mendapatkan shaf lebih dahulu, dialah yang lebih berhak. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, لاَ يُقِيمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ ، ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ “Tidak boleh seseorang meminta berdiri orang lain dari majelisnya lalu ia duduk di tempat tersebut.” (HR. Bukhari, no. 6269 dan Muslim, no. 2177). Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Sebagai penutup khutbah ini, kami selaku khatib menasihatkan kepada diri kami pribadi dan para jamaaah sekalian, diharapkan tidak telat mendatangi shalat Jumat, begitu pula shalat lima waktu yang lainnya. Jangan terus membiasakan pas azan Jumat terdengar baru ke masjid dari rumah atau bahkan baru mengambil air wudhu. Bahkan sebagian jamaah punya kebiasaan duduk di luar masjid ketika mendengarkan khutbah, tidak mau masuk masjid. Lebih awal datang ke masjid dan menempati shaf terdepan itulah yang lebih baik. Semoga Allah beri taufik. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ BAROKALLAHU LII WA LAKUM FIL QUR’ANIL ‘AZHIM WA NAFA’ANII WA IYYAKUM BIMAA FIIHI MINAL AYAATI WADZ DZIKRIL HAKIIM, WA TAQOBBAL MINNI WA MINKUM TILAAWATAHU, INNAHU HUWAS SAMII’UL ‘ALIIM. WA ASTAGHFIRULLAHA LII WA LAKUM FASTAGHFIRUUHU, INNAHU HUWAL GHAFURUR ROHIIM.   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ     — Rabu sore, 24 Rabiul Akhir 1445 H, 8 November 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   – Unduh Naskah Khutbah Jumat “LEBIH AWAL DATANG KE MASJID UNTUK SHALAT JUMAT”   Download Tagsberlomba kebaikan khutbah jumat shaf pertama shalat berjamaah

Sikap Nabi Muhammad Semasa Hidup terhadap Orang-orang Yahudi

السؤال كيف كان هدي النبي صلى الله عليه وسلم مع اليهود ؟ Pertanyaan: Bagaimana bimbingan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam bermuamalah dengan orang-orang Yahudi? الجواب الحمد لله. فإن أحسن الكلام كلام الله ، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم ، فهو أكمل الخلق وسيد الرسل ، وقد أمرنا بالتمسك بهديه ، فقال : ( عَلَيكُم بِسُنَّتِي ) رواه أبو داود ( 4607 ) وصححه الألباني في ” صحيح أبي داود ” . وقد جاء هديه وسنته بأحسن الأحوال وأقوم الأخلاق ، خاصة في تعامله صلى الله عليه وسلم مع أهل الديانات الأخرى ، ونستطيع أن نجمل هديه صلى الله عليه وسلم في التعامل مع اليهود في المسائل التالية : Jawaban: Alhamdulillah. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Dialah makhluk yang paling sempurna dan pemimpin para rasul. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan kita berpegang teguh dengan petunjuknya dengan bersabda, “Kalian harus berpegang pada Sunahku.” (HR. Abu Dawud (4607) dan dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)  Bimbingan dan Sunah Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam datang dengan ajaran yang terbaik dan akhlak yang paling lurus, terutama dalam muamalah beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dengan orang-orang yang berbeda agama. Kita bisa menyampaikan secara global bahwa bimbingan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam bermuamalah dengan orang-orang Yahudi terangkum dalam poin-poin berikut: 1. اتخاذ الموقع الصحيح من اليهودية وجميع الأديان ، وهذا الموقع يتمثل باعتقاد أحقية دين الإسلام والتوحيد ، وكفر وفساد كل ديانة أخرى ، وتقرير أن الله تعالى لا يقبل يوم القيامة إلا أن يكون العبد مسلما حنيفا لله تعالى ، كما قال سبحانه : ( وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ ) آل عمران/85 . وقد كان هذا التقرير هو المحور الذي تدور عليه صلى الله عليه وسلم دعوته صلى الله عليه وسلم ، ويتخذ المواقف تبعا له ؛ لأنه من ضرورات عقيدة المسلم التي تعرضت في العصور الأخيرة للتحريف والتشويه من دعاة ” توحيد الأديان ” !انظر جواب السؤال رقم ( 21534 ). Mengambil sikap yang benar terhadap agama Yahudi dan semua agama lain. Sikap yang benar ini adalah dengan meyakini bahwa Islam dan agama tauhid ini adalah agama yang benar, bahwa semua agama lain adalah agama kafir dan menyimpang, dan bahwa Allah Subẖānahu wa Taʿālā pada hari kiamat tidak akan menerima agama apa pun kecuali jika seorang hamba beragama Islam yang hanif karena Allah, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya), “Barang siapa mencari agama selain Islam, maka (agama) itu tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85) Keyakinan ini adalah poros dakwah Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang dengannya beliau mengambil berbagai sikap dan tindakan, karena ini adalah salah satu akidah pokok seorang muslim yang akhir-akhir ini telah tergerus oleh penyimpangan dan distorsi yang dilakukan orang-orang yang mengusung paham pluralisme. Lihat jawaban pertanyaan nomor 21534. 2. ولذلك كان صلى الله عليه وسلم يحرص على دعوتهم للإسلام ، ولا يفوت فرصة يمكن أن يبلغهم فيها دين الله تعالى إلا وفعل ، حتى إنه صلى الله عليه وسلم لم يبدأ حربا معهم – بسبب غدرهم وخيانتهم – إلا ويسبقها بدعوتهم وتذكيرهم ، كما قال لعلي بن أبي طالب رضي الله عنه يوم فتح خيبر : ( انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ ) رواه البخاري ( 2942 ) ومسلم ( 2406 ) . Oleh karena itulah beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat ingin mengajak mereka masuk Islam. Tidaklah beliau mendapatkan satu kesempatan pun untuk menyampaikan agama Allah Subẖānahu wa Taʿālā ini kecuali beliau memanfaatkannya. Sampai-sampai beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah memulai perang dengan mereka—yang sebabnya adalah pembelotan dan pengkhianatan mereka sendiri—kecuali mendahuluinya dengan peringatan dan dakwah, seperti yang beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam katakan kepada Ali bin Abi Thalib —Semoga Allah Meridainya— pada hari penaklukan Khaibar, “Lakukanlah dengan tenang hingga engkau sampai di pemukiman mereka, lalu ajaklah mereka untuk menerima Islam dan kabarkan kepada mereka hak-hak Allah yang menjadi kewajiban mereka. Sungguh, seandainya Allah Memberi hidayah kepada seseorang lewat perantaraan dirimu, maka hal itu lebih baik bagimu daripada seekor unta merah.” (HR. Bukhari (2942) dan Muslim (2406)). 3. التأكيد على أن عقد الموالاة إنما هو بين المؤمنين ، وأن البراء واجب من كل كفر مبين ، وجعل صلى الله عليه وسلم مناط الأخوة الإسلام ، فلا يجوز لمسلم أن يوالي أهل أي ملة بالمحبة والمودة ، لذلك تجده صلى الله عليه وسلم يسارع في أول قدومه المدينة في تقرير المفارقة بين الإسلام واليهودية ، فكان في نص الوثيقة ” الدستور ” التي أمر النبي صلى الله عليه سلم بكتابته لتنظيم العلاقات بين سكان المدينة : ” المؤمنون أمة واحدة دون الناس ” رواه القاسم بن سلام في ” الأموال ” ( 517 ) من مراسيل الزهري . Penguatan sikap bahwa janji al-Walāʾ (loyalitas) hanya untuk sesama kaum mukminin saja dan kewajiban untuk al-Barāʾ (berlepas diri) dari setiap kekafiran yang nyata. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menjadikan Islam sebagai asas persaudaraan, sehingga tidak boleh bagi seorang muslim untuk memberikan loyalitasnya kepada penganut agama lain dengan mencintai dan berkasih sayang dengan mereka. Inilah sebabnya Anda dapati beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam di awal kedatangan beliau di kota Madinah bersegera menetapkan batas pembeda antara agama Islam dan Yahudi. Tertuang dalam naskah ‘Piagam (Madinah)’ yang diperintahkan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam agar ditulis untuk mengatur hubungan antar penduduk Madinah, “Kaum mukminin adalah umat yang satu, yang tidak mencakup selain mereka.” (HR. Al-Qasim bin Salam dalam al-Amwāl (517) dari Marāsil az-Zuhrī. يقول الدكتور أكرم العمري : ” الروابط تقتصر على المسلمين ولا تشمل غيرهم من اليهود والحلفاء ، ولا شك أن تمييز الجماعة الدينية كان أمرا مقصودا يستهدف زيادة تماسكها واعتزازها بذاتها ” انتهى . انظر ” السيرة النبوية الصحيحة ” للدكتور أكرم العمري ( 1 / 272 – 291 ) فقد توسع في الحكم على الوثيقة وتحليلها . Dr. Akram al-Umari berkata bahwa ikatan ini terbatas hanya untuk umat Islam dan tidak mencakup orang-orang Yahudi dan sekutunya. Tidak ada keraguan bahwa membedakan kelompok agama itu adalah sesuatu yang disengaja untuk menguatkan pengaruh dan kekuatan umat. Selesai kutipan. Lihat as-Sīrah an-Nabawiyyah aṣh-Ṣhaḥīẖah karya Dr. Akram al-Umari (1/272-291) di mana beliau membahas dan menjabarkan naskah piagam tersebut. 4. ولكنه صلى الله عليه وسلم كان يعترف بحقوق اليهود والنصارى ، ويخطئ من يتوهم أن التبرأ من ديانة اليهود المحرفة يلزم منه ظلمهم ومصادرة حقوقهم ، فقد قبل النبي صلى الله عليه وسلم وجود اليهود في المدينة ، وكتب في دستور المدينة : ” وإن يهود بني عوف أمة مع المؤمنين ” ، وتكفل لهم بجميع أنواع 1الحقوق : Meskipun demikian, beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tetap mengakui hak-hak orang Yahudi dan Nasrani. Maka dari itu, keliru jika ada orang yang salah paham bahwa berlepas diri dari agama Yahudi yang menyimpang berarti menindas mereka dan merampas hak-hak mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menerima kehadiran orang-orang Yahudi di Madinah, dan menulis dalam piagam Madinah bahwa orang-orang Yahudi Bani Auf adalah satu umat yang berdampingan dengan kaum mukminin. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga menjamin berbagai hak mereka: أ. حق الحياة : فلم يقتل يهوديا إلا من خان وغدر . ب. وحق اختيار الدين : حيث أقرهم على ديانتهم ولم يكره أحداً على الإسلام ، عملا بقوله سبحانه وتعالى : ( لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ) البقرة/256 ، وكتب في ميثاق المدينة : ” لليهود دينهم وللمسلمين دينهم مواليهم وأنفسهم ” . ج. حق التملك : فلم يصادر أملاك أحد منهم ، بل أقر النبي صلى الله عليه وسلم المسلمين على تجارتهم معهم . د. حق الحماية والدفاع : فقد جاء في ميثاق المدينة : ” وإن على اليهود نفقتهم ، وعلى المسلمين نفقتهم ، وإن بينهم النصر على من حارب أهل هذه الصحيفة “ Hak hidup, di mana orang Yahudi tidak boleh dibunuh kecuali mereka berkhianat atau membelot, dan hak untuk memilih agamanya, di mana beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengakui agama mereka dan tidak memaksa siapa pun untuk memeluk Islam, dalam rangka mengamalkan firman Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya), “Tidak ada paksaan dalam beragama.” (QS. Al-Baqarah: 256) Tertuang dalam Piagam Madinah, “Orang-orang Yahudi berhak atas agama mereka dan orang-orang Islam berhak atas agama mereka, para Mawali, dan diri mereka sendiri.” Hak atas kepemilikan, di mana tidak ada satu pun dari mereka yang dirampas hartanya, bahkan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengakui jual beli antara kaum Muslim dengan mereka. Hak atas perlindungan dan pembelaan, sebagaimana tertuang dalam Piagam Madinah, “Orang-orang Yahudi bertanggung jawab atas kebutuhan mereka sendiri sebagaimana umat Islam bertanggung jawab atas kebutuhan mereka, sesama mereka harus saling menolong melawan orang yang memerangi pihak-pihak dalam piagam ini.” هـ. حق العدل في المعاملة ورفع الظلم : وذلك مقرر في صحيفة المدينة حيث جاء فيها : ” وأنه من تبعنا من يهود فإن له النصر والأسوة غير مظلومين ولا متناصر عليهم ” ، وقد عدل النبي صلى الله عليه وسلم في الحكم ولو كان ذلك على حساب المسلمين ، فلما قتل أهلُ خيبر عبدَ الله بن سهل رضي الله عنه لم يقض النبي صلى الله عليه وسلم عليهم بالدية ، ولم يعاقبهم على جريمتهم ، لعدم وجود البينة الظاهرة ضدهم ، حتى دفع النبي صلى الله عليه وسلم ديته من أموال المسلمين ، والقصة في البخاري ( 6769 ) ومسلم ( 1669 ) ، ولما اختصم الأشعث بن قيس ورجل من اليهود إلى النبي صلى الله عليه وسلم في أرض باليمن ولم يكن لعبد الله بيِّنة قضى فيها لليهودي بيمينه ، كما في البخاري ( 2525 ) ومسلم ( 138 ) . Hak untuk diperlakukan secara adil dan tidak dizalimi. Hal ini dinyatakan dalam Piagam Madinah, “Orang-orang Yahudi yang mengikuti kami berhak mendapatkan pertolongan dan pembelaan serta tidak boleh dizalimi atau menolong orang yang memerangi mereka.” Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berlaku adil dalam pengambilan keputusan hukum walaupun itu merugikan kaum mukminin. Ketika penduduk Khaibar membunuh Abdullah bin Sahl —Semoga Allah Meridainya—, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak mengambil diyatnya dari mereka dan tidak menghukum mereka atas kejahatan mereka, karena tidak adanya bukti yang kuat untuk menyatakan bahwa mereka bersalah, sampai-sampai Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri yang membayar diyatnya dari uang kaum muslimin. Kisah ini termaktub dalam Shahih Bukhari (6769) dan Muslim (1669). Ketika al-Asyʿats bin Qais dan seorang Yahudi mengangkat perselisihan mereka kepada Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tentang sebuah tanah di negeri Yaman, sementara Abdullah tidak mempunyai bukti, maka beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memenangkan si Yahudi dengan sumpahnya, sebagaimana termaktub dalam Shahih Bukhari (2525) dan Muslim (138). و. بل منحهم النبي صلى الله عليه وسلم حق التحاكم فيما بينهم إلى قوانين دينهم ، ولم يلزمهم بقوانين المسلمين ما دام طرفا القضية من أتباعهم ، إلا إذا ترافعوا إليه صلى الله عليه وسلم ، وطلبوا منه الحكم بينهم ، فكان حينئذ يحاكمهم بشريعة الله ودين المسلمين ، يقول الله سبحانه وتعالى : ( فَإِن جَآؤُوكَ فَاحْكُم بَيْنَهُم أَوْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ وَإِن تُعْرِضْ عَنْهُمْ فَلَن يَضُرُّوكَ شَيْئاً وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُم بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ) المائدة/42 . Lebih dari itu, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memberikan kepada mereka hak untuk menegakkan hukum di tengah mereka dengan hukum agama mereka, dan tidak memaksa mereka menggunakan hukum umat Islam, selama kedua belah pihak yang berselisih adalah orang sesama pemeluk agama mereka, kecuali jika mereka mengangkat perselisihan mereka kepada beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan meminta beliau untuk menjadi hakim di antara mereka, maka saat itulah beliau akan mengadili mereka berdasarkan syariat Allah dan agama Islam. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman (yang artinya), “Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (Muhammad untuk meminta putusan), maka berilah putusan di antara mereka atau berpalinglah dari mereka, dan jika engkau berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan membahayakanmu sedikit pun. Tetapi jika engkau memutuskan (perkara mereka), maka putuskanlah dengan adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.” (QS. Al-Maidah: 42) 5. وقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يحسن معاملة جميع الناس ، ومنهم اليهود ، فقد أمر الله سبحانه بالقسط والبر وحسن الخلق وأداء الأمانة مع اليهود وغيرهم ، حيث قال سبحانه : ( لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ) الممتحنة/8 . ومن بره صلى الله عليه وسلم في معاملة اليهود : 5. Nabi Muhammad Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam adalah orang yang baik muamalahnya kepada semua orang, termasuk orang-orang Yahudi. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Memerintahkan keadilan, kebajikan, perilaku yang baik, akhlak yang mulia, dan menunaikan amanah, baik kepada orang-orang Yahudi maupun selain mereka. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman (yang artinya), “Allah tidak Melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian dalam urusan agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman kalian. Sesungguhnya Allah Mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)  Di antara bentuk kebajikan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam terhadap orang-orang Yahudi adalah: أ. أنه كان يعود مريضهم : روى البخاري ( 1356 ) عن أنس بن مالك رضي الله عنه : ( أَنَّ غُلَامًا مِنَ اليَهُودِ كَانَ يَخدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَمَرِضَ ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ ، فَقَعَدَ عِندَ رَأسِهِ ، فَقَالَ : أََسلِم . فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِندَ رَأسِهِ ، فَقَالَ لَه : أَطِع أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ . فَأَسلَمَ ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ : الحَمدُ لِلَّهِ الذِي أَنقَذَهُ مِنَ النَّارِ ) . ب. وكان صلى الله عليه وسلم يقبل هداياهم : فقد روى البخاري ( 2617 ) ومسلم ( 2190 ) عن أنس بن مالك رضي الله عنه : ( أَنَّ امرَأَةً يَهُودِيَّةً أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مَسمُومَةٍ فَأَكَلَ مِنهَا ) . Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menjenguk mereka yang sakit. Imam Bukhari (1356) meriwayatkan dari Anas bin Malik —Semoga Allah Meridainya— bahwa ada seorang anak laki-laki Yahudi yang dahulu pernah menjadi pelayan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Dia sakit, maka beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam datang menjenguknya, lalu beliau duduk di dekat kepalanya dan berkata, “Masuklah Islam!” Lalu dia memandang ke arah ayahnya, yang juga berada di dekat kepalanya, maka dia berkata kepadanya, “Taatilah Abul Qasim.” Lantas dia pun masuk Islam, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam pergi seraya berkata, “Segala puji bagi Allah Yang telah Menyelamatkannya dari neraka.” Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mau menerima hadiah-hadiah dari mereka. Imam Bukhari (2617) dan Muslim (2190) meriwayatkan dari Anas bin Malik —Semoga Allah Meridainya— bahwa seorang wanita Yahudi datang kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam membawa daging domba yang telah diberi racun, lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memakannya. ج. كما كان صلى الله عليه وسلم يعفو عن مسيئهم : إذ لم ينه عن قتل تلك المرأة التي وضعت السم في الشاة ، ففي تكملة الحديث السابق : ( فَجِيءَ بِهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهَا عَنْ ذَلِكَ فَقَالَتْ : أَرَدْتُ لِأَقْتُلَكَ ، قَالَ : مَا كَانَ اللَّهُ لِيُسَلِّطَكِ عَلَى ذَاكِ – قَالَ : أَوْ قَالَ : عَلَيَّ – قَالَ : قَالُوا : أَلَا نَقْتُلُهَا ؟ قَالَ : لَا ) ، بل وفي حديث أبي هريرة في صحيح البخاري ( 3169 ) أن ذلك كان بعلم من اليهود وأنهم اعترفوا بمحاولة القتل بالسم ، ومع ذلك لم يأمر صلى الله عليه وسلم بالانتقام لنفسه ، لكنه قتلها بعد ذلك لموت الصحابي الذي كان معه صلى الله عليه وسلم وكان أكل من الشاة المسمومة , وهو بشر بن البراء رضي الله عنه . وكذلك لما سحره اليهودي لبيد بن الأعصم ، وعافاه الله من السحر ، لم ينتقم منه ولا أمر بقتله ، بل جاء في ” سنن النسائي ” ( 4080 ) وصححه الألباني عن زيد بن أرقم قال : ( فَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ لِذَلِكَ اليَهُودِيِّ وَلَا رَآهُ فِي وَجهِهِ قَط ) . Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga memaafkan perlakuan buruk mereka, maka beliau melarang membunuh wanita yang menaruh racun di daging domba tersebut. Dalam lanjutan hadis sebelumnya, “Lalu dia (si wanita itu) dihadapkan kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu diinterogasi, lalu dia menjawab, ‘Saya ingin membunuhmu!’ Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menimpali, ‘Allah tidak akan Memberimu kemampuan untuk melakukannya.’ (atau bersabda, ‘… untuk mencelakaiku.’) Mereka (para Sahabat) berkata, ‘Bolehkan kami membunuhnya?’ Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Jangan.’ Bahkan dalam hadis Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya— dalam Shahih Bukhari (3169) disebutkan bahwa upaya meracuni itu sebenarnya dilakukan dengan sepengetahuan orang-orang Yahudi dan mereka mengakuinya bahwa mereka berusaha membunuh beliau dengan racun, tetapi beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak memerintahkan agar melakukan balas dendam. Meskipun pada akhirnya beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam membunuh wanita itu karena meninggalnya salah seorang Sahabat yang ketika itu makan bersama beliau dan ikut memakan daging domba beracun itu. Dia adalah Bisyr bin al-Barāʾ —Semoga Allah Meridainya— Demikian pula ketika seorang Yahudi bernama Labid bin al-Aʿṣham menyihir beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam—tapi Allah Menyembuhkan beliau dari sihirnya—, beliau tidak membalasnya maupun memerintahkan untuk membunuhnya, bahkan disebutkan dalam Sunan an-Nasai (4080), yang dinilai sahih oleh al-Albani, dari Zaid bin Arqam —Semoga Allah Meridainya— yang berkata, “Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah menyebutkan hal itu kepada si Yahudi itu dan aku sama sekali tidak melihat ada sesuatu (ketidaksukaan, pent.) di wajah beliau.” د. وكان صلى الله عليه وسلم يعامل اليهود بالمال ، ويفي لهم معاملتهم : عن ابن عمر رضي الله عنهما قال :( أَعْطَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْبَرَ الْيَهُودَ أَنْ يَعْمَلُوهَا وَيَزْرَعُوهَا وَلَهُمْ شَطْرُ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا ) رواه البخاري ( 2165 ) ومسلم ( 1551 ) . وعن عائشة رضي الله عنها قالت : ( اشْتَرَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَامًا بِنَسِيئَةٍ وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ ) رواه البخاري ( 1990 ) ومسلم ( 1603 ) . Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga melakukan muamalah dengan mereka dalam urusan harta dan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menunaikan hak mereka dalam muamalah. Diriwayatkan dari Ibnu Umar —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memberikan tanah Khaibar kepada orang-orang Yahudi agar mereka mengolah dan bercocok tanam di sana, dan mereka akan mendapatkan setengah dari hasil dari hasil tanah tersebut. (HR. Bukhari (2165) dan Muslim (1551)) Diriwayatkan dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya— yang berkata bahwa Rasulullah membeli makanan dari seorang Yahudi secara tidak kontan dengan menggadaikan baju besinya. (HR. Bukhari (1990) dan Muslim (1603)). هـ. وفي أول قدومه صلى الله عليه وسلم المدينة كان يحب موافقة اليهود في أعمالهم وعاداتهم ليتألف قلوبهم على الإسلام ، ولكنه لما رأى عنادهم وجحودهم ومكابرتهم أمر بمخالفتهم ، ونهى عن التشبه بهم . عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : ( أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَسْدِلُ شَعَرَهُ وَكَانَ الْمُشْرِكُونَ يَفْرُقُونَ رُءُوسَهُمْ فَكَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يَسْدِلُونَ رُءُوسَهُمْ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ مُوَافَقَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ فِيمَا لَمْ يُؤْمَرْ فِيهِ بِشَيْءٍ ثُمَّ فَرَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأْسَهُ ) رواه البخاري ( 3728 ) ومسلم ( 2336 ) . Pada awal kedatangan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam di Madinah, beliau suka mengikuti perbuatan dan kebiasaan orang-orang Yahudi agar hati mereka luluh dengan agama Islam. Hanya saja, setelah beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam melihat pembangkangan, pengingkaran, kesombongan, dan pelanggaran mereka, lantas beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam melarang menyerupai mereka. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dahulunya menyisir rambut beliau ke arah depan (kening) sedangkan orang-orang musyrik menyisir dengan membelah (kanan-kiri) rambut mereka, sementara Ahli Kitab menyisir rambut mereka ke arah depan (kening). Rupanya Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lebih suka mengikuti Ahli Kitab dalam perkara yang tidak ada perintahnya (dalam syariat). Namun di kemudian hari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyisiri dengan membelah (kanan-kiri) rambutnya. (HR. Bukhari (3728) dan Muslim (2336)). و. ولم يكن صلى الله عليه وسلم يترفع عن محاورتهم ، بل كان يتواضع لهم ، ويجيب على أسئلتهم وإن كان مرادهم منها العنت والمجادلة بالباطل . عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رضي الله عنه قَالَ : ( بَيْنَمَا أَنَا أَمْشِي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَرْثٍ وَهُوَ مُتَّكِئٌ عَلَى عَسِيبٍ إِذْ مَرَّ بِنَفَرٍ مِنْ الْيَهُودِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ سَلُوهُ عَنْ الرُّوحِ فَقَالُوا مَا رَابَكُمْ إِلَيْهِ لَا يَسْتَقْبِلُكُمْ بِشَيْءٍ تَكْرَهُونَهُ فَقَالُوا سَلُوهُ فَقَامَ إِلَيْهِ بَعْضُهُمْ فَسَأَلَهُ عَنْ الرُّوحِ قَالَ فَأَسْكَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ شَيْئًا فَعَلِمْتُ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْهِ قَالَ فَقُمْتُ مَكَانِي فَلَمَّا نَزَلَ الْوَحْيُ قَالَ : ( وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ الرُّوحِ قُلْ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا ) رواه البخاري ( 4444 ) ومسلم ( 2794 ) . Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak segan-segan ngobrol dengan mereka, bahkan tetap rendah hati di hadapan mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, meskipun niat mereka adalah ingin menolak dan membantah dengan cara yang batil. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud —Semoga Allah Meridainya— yang mengatakan, “Saat aku berjalan-jalan bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam di salah satu ladang, lalu beliau bersandar ke sebuah batang, tiba-tiba beberapa orang Yahudi lewat, mereka saling berkata satu sama lain, ‘Tanyakan padanya tentang ruh.’ Mereka saling berkata, ‘Apa yang membuat kalian ingin bertanya kepadanya? Dia malah akan menjawabnya dengan jawaban yang tidak kalian sukai.’ Mereka berkata, ‘Bertanyalah padanya!’ Kemudian salah seorang dari mereka menghampiri beliau lalu bertanya tentang ruh pada beliau.'” Abdullah mengisahkan, “Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam diam dan tidak menjawab sepatah kata pun. Dari situ aku tahu bahwa beliau tengah menerima wahyu. Lalu aku berdiri dari tempatku, maka pada saat wahyu telah turun, beliau membaca (yang artinya), ‘Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh, maka katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kalian tidaklah diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit.”’” (QS. Al-Isra’: 85) (HR. Bukhari (4444) dan Muslim (2794)). ز. وكان يدعو لهم بالهداية وصلاح البال : فعَنْ أَبِي مُوسَى رضي الله عنه قَالَ : ( كَانَ الْيَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُونَ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ يَرْحَمُكُمْ اللَّهُ فَيَقُولُ : يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ ) رواه الترمذي ( 2739 ) وقال : حسن صحيح ، وصححه الألباني في ” صحيح الترمذي ” . Beliau tetap mendoakan hidayah dan kebaikan mereka. Diriwayatkan dari Abu Musa —Semoga Allah Meridainya— yang mengatakan bahwa orang-orang Yahudi biasa memaksakan diri bersin-bersin di sisi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam karena berharap bahwa beliau akan berdoa untuk mereka, “Yarẖamukumullāh (artinya: Semoga Allah Merahmati kalian)” tapi ternyata beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mendoakan mereka, “Yahdikumullāhu wa Yuṣhliẖu Bālakum (artinya: Semoga Allah memberi kalian hidayah dan memperbaiki keadaan kalian).” (HR. Tirmidzi (2739) dan dia berkata, “Hadis hasan sahih,” dan juga dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi. 6. وفي المقابل : لم يكن صلى الله عليه وسلم يرضى أن ينتهك اليهود حرمات المسلمين ، ويتمادوا في ذلك ، فكان يعاقب كل من يعتدي على المسلمين ويظلمهم ويتجاوز حدوده في ذلك ، فلما اعتدى بعض يهود بني قينقاع على امرأة مسلمة في السوق واحتالوا لكشف عورتها ، وتوعدوا النبي صلى الله عليه وسلم بالقتال ، وقالوا : ( يا محمد ، لا يغرنك من نفسك أنك قتلت نفرا من قريش كانوا أغمارا لا يعرفون القتال ، إنك لو قاتلتنا لعرفت أنا نحن الناس ) نقله ابن حجر في ” فتح الباري ” وحسَّنه ( 7 / 332 ) فقام النبي صلى الله عليه وسلم إليهم وأجلاهم من المدينة ، وكان ذلك في شوال من السنة الثانية للهجرة . ثم لما عَظُمَ أذى كعب بن الأشرف اليهودي للمسلمين ، وبدأ يخوض في أعراضهم ، ويشبب بنسائهم في شعره ، وارتحل إلى مكة يحرض زعماء قريش على المسلمين أمر النبي صلى الله عليه وسلم بقتله في قصة طويلة حدثت في ربيع الأول من السنة الثالثة للهجرة ، رواها البخاري ( 2375 ) ومسلم ( 1801 ) . 6. Namun di sisi lain, beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah tinggal diam saat orang-orang Yahudi melanggar kehormatan umat Islam dan menzalimi mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menghukum setiap orang yang menganiaya kaum mukminin, menzalimi mereka, atau melanggar batasan-batasan terhadap mereka. Ketika beberapa orang Yahudi dari Bani Qainūqāʿ melecehkan seorang wanita muslimah di pasar dan berusaha menyingkap auratnya, bahkan mereka mengancam akan memerangi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dengan mengatakan, “Wahai Muhammad, janganlah kamu jemawa melihat dirimu karena pernah membunuh sekelompok orang Quraisy, yang hanya orang-orang bodoh yang tidak bisa berperang. Jika kamu melawan kami, niscaya kamu akan tahu bahwa kamilah benar-benar orang (yang hebat, pent.)” Hal itu dikutip oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan beliau nilai hasan (7/332). Lantas Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerangi mereka dan mengusir mereka dari Madinah. Peristiwa itu terjadi di bulan Syawal tahun kedua Hijriah. ثم لما عَظُمَ أذى كعب بن الأشرف اليهودي للمسلمين ، وبدأ يخوض في أعراضهم ، ويشبب بنسائهم في شعره ، وارتحل إلى مكة يحرض زعماء قريش على المسلمين أمر النبي صلى الله عليه وسلم بقتله في قصة طويلة حدثت في ربيع الأول من السنة الثالثة للهجرة ، رواها البخاري ( 2375 ) ومسلم ( 1801 ) . وكذلك لما تكررت محاولات بني النضير لقتل النبي صلى الله عليه وسلم في قصص مشهورة يذكرها أهل المغازي والسير ، ودسوا إلى قريش يحضونهم على غزو المدينة ، ويدلونهم على العورة ، أمر النبي صلى الله عليه وسلم بإجلائهم من المدينة في السنة الرابعة من الهجرة . انظر ” المغازي ” للواقدي ( 1 / 363 – 370 ) و ” سيرة ابن هشام ” ( 3 / 682 ) . Kemudian, ketika kejahatan si Yahudi Ka’ab bin al-Asyraf terhadap umat Islam semakin menjadi-jadi; merusak kehormatan mereka, melecehkan wanita-wanita mereka dalam syair-syairnya, dan pergi ke Makkah untuk menghasut para pemimpin Quraisy untuk melawan umat Islam, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan untuk mengeksekusinya. Peristiwa ini terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun ketiga Hijriah, yang diriwayatkan dalam sebuah kisah panjang dalam Shahih Bukhari (2375) dan Muslim (1801). Demikian pula, ketika Banu Naḏhīr telah berulang kali berupaya membunuh Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam—sebagaimana tersebut dalam kisah-kisah terkenal yang diriwayatkan oleh para pengarang kitab-kitab tentang perang dan biografi—bahkan mereka menyusup ke suku Quraisy untuk menghasut mereka segera menyerang Madinah dan menunjukkan kepada mereka titik lemah kaum muslimin, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan agar mereka diusir dari Madinah pada tahun keempat Hijriah. Lihat al-Maghazi karya al-Waqidi (1/363-370) dan Sirah Ibnu Hisyam (3/682). وأما يهود بني قريظة فقد قتل النبي صلى الله عليه وسلم مقاتلتهم لما غدروا به يوم الأحزاب ، وتحالفوا مع قريش والعرب ضد المسلمين ، وخانوا العهود معهم ، وكان ذلك في العام الهجري الخامس . انظر ” سيرة ابن هشام ” ( 3 / 706 ) . وقد وردت أخبار كثيرة في أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعفو عن كل من أظهر الوفاء بالعهد من اليهود ، ولا يعاقب إلا من شارك في الغدر أو أقر ورضي . انظر ” السيرة النبوية الصحيحة ” أكرم العمري ( 1 / 316 ) ، وقد جاء في ميثاق المدينة : ” لليهود دينهم وللمسلمين دينهم ، مواليهم وأنفسهم ، إلا من ظلم نفسه وأثم ، فإنه لا يوتِغ – أي : يُهلِك – إلا نفسه وأهل بيته ” . Adapun orang-orang Yahudi dari Bani Quraiẓah, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengeksekusi mereka yang ikut berperang ketika membelot saat pecah perang Ahzab. Mereka malah bersekutu dengan kaum Quraisy dan suku-suku Arab melawan kaum muslimin, dan mengkhianati janji mereka. Peristiwa itu terjadi pada tahun kelima Hijriah. Lihat: Sirah Ibnu Hisyam (3/706). Ada banyak hadis yang meriwayatkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengampuni semua orang Yahudi yang menampakkan komitmen mereka terhadap perjanjian mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menghukum mereka kecuali yang ikut, menyetujui, dan meridai pengkhianatan itu. Lihat as-Sīrah an-Nabawiyyah aṣh-Ṣhaḥīẖah karya Dr. Akram al-Umari (1/316). Tertulis dalam Piagam Madinah, “Orang-orang Yahudi berhak atas agama mereka dan orang-orang Islam berhak atas agama mereka, para Mawali, dan diri mereka sendiri, kecuali bagi mereka yang menzalimi dirinya sendiri atau berbuat dosa, maka tidak ada yang mendapat hukuman kecuali dia sendiri dan keluarganya.” وأخيرا لما رأى النبي صلى الله عليه وسلم غدر اليهود وخيانتهم ، أوحى الله إليه أن يُخلِصَ جزيرة العرب لديانة التوحيد ، فلا يبقى فيها غير الدين الذي ارتضاه الله لنفسه . عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم أوصاهم في مرض موته فقال: ( أَخْرِجُوا الْمُشْرِكِينَ مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ ) رواه البخاري ( 2888 ) ومسلم ( 1637 ) . والله أعلم Ketika Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam melihat pengkhianatan dan pembelotan orang-orang Yahudi, akhirnya Allah Mewahyukan kepada beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam agar membersihkan Jazirah Arab untuk agama tauhid saja, sehingga di sana tidak ada lagi agama kecuali agama yang diridai Allah. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas —Semoga Allah Meridainya— bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ketika sakit menjelang wafatnya berwasiat kepada mereka (para Sahabat) dengan bersabda, “Usirlah orang-orang musyrik dari Jazirah Arab!” (HR. Bukhari (2888) dan Muslim (1637). Allah Yang lebih Mengetahui. Sumber:  https://islamqa.info/ar/answers/84308/هدي-النبي-صلى-الله-عليه-وسلم-في-معاملة-اليهود PDF sumber artikel. 🔍 Doa Ketika Dipuji, Jilat Kemaluan Wanita Menurut Islam, Arti Ilmu Hikmah, Ayat Yang Ditakuti Jin, Apakah Kristen Bisa Masuk Surga, Doa Jamak Visited 113 times, 1 visit(s) today Post Views: 365 QRIS donasi Yufid

Sikap Nabi Muhammad Semasa Hidup terhadap Orang-orang Yahudi

السؤال كيف كان هدي النبي صلى الله عليه وسلم مع اليهود ؟ Pertanyaan: Bagaimana bimbingan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam bermuamalah dengan orang-orang Yahudi? الجواب الحمد لله. فإن أحسن الكلام كلام الله ، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم ، فهو أكمل الخلق وسيد الرسل ، وقد أمرنا بالتمسك بهديه ، فقال : ( عَلَيكُم بِسُنَّتِي ) رواه أبو داود ( 4607 ) وصححه الألباني في ” صحيح أبي داود ” . وقد جاء هديه وسنته بأحسن الأحوال وأقوم الأخلاق ، خاصة في تعامله صلى الله عليه وسلم مع أهل الديانات الأخرى ، ونستطيع أن نجمل هديه صلى الله عليه وسلم في التعامل مع اليهود في المسائل التالية : Jawaban: Alhamdulillah. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Dialah makhluk yang paling sempurna dan pemimpin para rasul. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan kita berpegang teguh dengan petunjuknya dengan bersabda, “Kalian harus berpegang pada Sunahku.” (HR. Abu Dawud (4607) dan dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)  Bimbingan dan Sunah Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam datang dengan ajaran yang terbaik dan akhlak yang paling lurus, terutama dalam muamalah beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dengan orang-orang yang berbeda agama. Kita bisa menyampaikan secara global bahwa bimbingan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam bermuamalah dengan orang-orang Yahudi terangkum dalam poin-poin berikut: 1. اتخاذ الموقع الصحيح من اليهودية وجميع الأديان ، وهذا الموقع يتمثل باعتقاد أحقية دين الإسلام والتوحيد ، وكفر وفساد كل ديانة أخرى ، وتقرير أن الله تعالى لا يقبل يوم القيامة إلا أن يكون العبد مسلما حنيفا لله تعالى ، كما قال سبحانه : ( وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ ) آل عمران/85 . وقد كان هذا التقرير هو المحور الذي تدور عليه صلى الله عليه وسلم دعوته صلى الله عليه وسلم ، ويتخذ المواقف تبعا له ؛ لأنه من ضرورات عقيدة المسلم التي تعرضت في العصور الأخيرة للتحريف والتشويه من دعاة ” توحيد الأديان ” !انظر جواب السؤال رقم ( 21534 ). Mengambil sikap yang benar terhadap agama Yahudi dan semua agama lain. Sikap yang benar ini adalah dengan meyakini bahwa Islam dan agama tauhid ini adalah agama yang benar, bahwa semua agama lain adalah agama kafir dan menyimpang, dan bahwa Allah Subẖānahu wa Taʿālā pada hari kiamat tidak akan menerima agama apa pun kecuali jika seorang hamba beragama Islam yang hanif karena Allah, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya), “Barang siapa mencari agama selain Islam, maka (agama) itu tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85) Keyakinan ini adalah poros dakwah Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang dengannya beliau mengambil berbagai sikap dan tindakan, karena ini adalah salah satu akidah pokok seorang muslim yang akhir-akhir ini telah tergerus oleh penyimpangan dan distorsi yang dilakukan orang-orang yang mengusung paham pluralisme. Lihat jawaban pertanyaan nomor 21534. 2. ولذلك كان صلى الله عليه وسلم يحرص على دعوتهم للإسلام ، ولا يفوت فرصة يمكن أن يبلغهم فيها دين الله تعالى إلا وفعل ، حتى إنه صلى الله عليه وسلم لم يبدأ حربا معهم – بسبب غدرهم وخيانتهم – إلا ويسبقها بدعوتهم وتذكيرهم ، كما قال لعلي بن أبي طالب رضي الله عنه يوم فتح خيبر : ( انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ ) رواه البخاري ( 2942 ) ومسلم ( 2406 ) . Oleh karena itulah beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat ingin mengajak mereka masuk Islam. Tidaklah beliau mendapatkan satu kesempatan pun untuk menyampaikan agama Allah Subẖānahu wa Taʿālā ini kecuali beliau memanfaatkannya. Sampai-sampai beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah memulai perang dengan mereka—yang sebabnya adalah pembelotan dan pengkhianatan mereka sendiri—kecuali mendahuluinya dengan peringatan dan dakwah, seperti yang beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam katakan kepada Ali bin Abi Thalib —Semoga Allah Meridainya— pada hari penaklukan Khaibar, “Lakukanlah dengan tenang hingga engkau sampai di pemukiman mereka, lalu ajaklah mereka untuk menerima Islam dan kabarkan kepada mereka hak-hak Allah yang menjadi kewajiban mereka. Sungguh, seandainya Allah Memberi hidayah kepada seseorang lewat perantaraan dirimu, maka hal itu lebih baik bagimu daripada seekor unta merah.” (HR. Bukhari (2942) dan Muslim (2406)). 3. التأكيد على أن عقد الموالاة إنما هو بين المؤمنين ، وأن البراء واجب من كل كفر مبين ، وجعل صلى الله عليه وسلم مناط الأخوة الإسلام ، فلا يجوز لمسلم أن يوالي أهل أي ملة بالمحبة والمودة ، لذلك تجده صلى الله عليه وسلم يسارع في أول قدومه المدينة في تقرير المفارقة بين الإسلام واليهودية ، فكان في نص الوثيقة ” الدستور ” التي أمر النبي صلى الله عليه سلم بكتابته لتنظيم العلاقات بين سكان المدينة : ” المؤمنون أمة واحدة دون الناس ” رواه القاسم بن سلام في ” الأموال ” ( 517 ) من مراسيل الزهري . Penguatan sikap bahwa janji al-Walāʾ (loyalitas) hanya untuk sesama kaum mukminin saja dan kewajiban untuk al-Barāʾ (berlepas diri) dari setiap kekafiran yang nyata. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menjadikan Islam sebagai asas persaudaraan, sehingga tidak boleh bagi seorang muslim untuk memberikan loyalitasnya kepada penganut agama lain dengan mencintai dan berkasih sayang dengan mereka. Inilah sebabnya Anda dapati beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam di awal kedatangan beliau di kota Madinah bersegera menetapkan batas pembeda antara agama Islam dan Yahudi. Tertuang dalam naskah ‘Piagam (Madinah)’ yang diperintahkan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam agar ditulis untuk mengatur hubungan antar penduduk Madinah, “Kaum mukminin adalah umat yang satu, yang tidak mencakup selain mereka.” (HR. Al-Qasim bin Salam dalam al-Amwāl (517) dari Marāsil az-Zuhrī. يقول الدكتور أكرم العمري : ” الروابط تقتصر على المسلمين ولا تشمل غيرهم من اليهود والحلفاء ، ولا شك أن تمييز الجماعة الدينية كان أمرا مقصودا يستهدف زيادة تماسكها واعتزازها بذاتها ” انتهى . انظر ” السيرة النبوية الصحيحة ” للدكتور أكرم العمري ( 1 / 272 – 291 ) فقد توسع في الحكم على الوثيقة وتحليلها . Dr. Akram al-Umari berkata bahwa ikatan ini terbatas hanya untuk umat Islam dan tidak mencakup orang-orang Yahudi dan sekutunya. Tidak ada keraguan bahwa membedakan kelompok agama itu adalah sesuatu yang disengaja untuk menguatkan pengaruh dan kekuatan umat. Selesai kutipan. Lihat as-Sīrah an-Nabawiyyah aṣh-Ṣhaḥīẖah karya Dr. Akram al-Umari (1/272-291) di mana beliau membahas dan menjabarkan naskah piagam tersebut. 4. ولكنه صلى الله عليه وسلم كان يعترف بحقوق اليهود والنصارى ، ويخطئ من يتوهم أن التبرأ من ديانة اليهود المحرفة يلزم منه ظلمهم ومصادرة حقوقهم ، فقد قبل النبي صلى الله عليه وسلم وجود اليهود في المدينة ، وكتب في دستور المدينة : ” وإن يهود بني عوف أمة مع المؤمنين ” ، وتكفل لهم بجميع أنواع 1الحقوق : Meskipun demikian, beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tetap mengakui hak-hak orang Yahudi dan Nasrani. Maka dari itu, keliru jika ada orang yang salah paham bahwa berlepas diri dari agama Yahudi yang menyimpang berarti menindas mereka dan merampas hak-hak mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menerima kehadiran orang-orang Yahudi di Madinah, dan menulis dalam piagam Madinah bahwa orang-orang Yahudi Bani Auf adalah satu umat yang berdampingan dengan kaum mukminin. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga menjamin berbagai hak mereka: أ. حق الحياة : فلم يقتل يهوديا إلا من خان وغدر . ب. وحق اختيار الدين : حيث أقرهم على ديانتهم ولم يكره أحداً على الإسلام ، عملا بقوله سبحانه وتعالى : ( لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ) البقرة/256 ، وكتب في ميثاق المدينة : ” لليهود دينهم وللمسلمين دينهم مواليهم وأنفسهم ” . ج. حق التملك : فلم يصادر أملاك أحد منهم ، بل أقر النبي صلى الله عليه وسلم المسلمين على تجارتهم معهم . د. حق الحماية والدفاع : فقد جاء في ميثاق المدينة : ” وإن على اليهود نفقتهم ، وعلى المسلمين نفقتهم ، وإن بينهم النصر على من حارب أهل هذه الصحيفة “ Hak hidup, di mana orang Yahudi tidak boleh dibunuh kecuali mereka berkhianat atau membelot, dan hak untuk memilih agamanya, di mana beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengakui agama mereka dan tidak memaksa siapa pun untuk memeluk Islam, dalam rangka mengamalkan firman Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya), “Tidak ada paksaan dalam beragama.” (QS. Al-Baqarah: 256) Tertuang dalam Piagam Madinah, “Orang-orang Yahudi berhak atas agama mereka dan orang-orang Islam berhak atas agama mereka, para Mawali, dan diri mereka sendiri.” Hak atas kepemilikan, di mana tidak ada satu pun dari mereka yang dirampas hartanya, bahkan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengakui jual beli antara kaum Muslim dengan mereka. Hak atas perlindungan dan pembelaan, sebagaimana tertuang dalam Piagam Madinah, “Orang-orang Yahudi bertanggung jawab atas kebutuhan mereka sendiri sebagaimana umat Islam bertanggung jawab atas kebutuhan mereka, sesama mereka harus saling menolong melawan orang yang memerangi pihak-pihak dalam piagam ini.” هـ. حق العدل في المعاملة ورفع الظلم : وذلك مقرر في صحيفة المدينة حيث جاء فيها : ” وأنه من تبعنا من يهود فإن له النصر والأسوة غير مظلومين ولا متناصر عليهم ” ، وقد عدل النبي صلى الله عليه وسلم في الحكم ولو كان ذلك على حساب المسلمين ، فلما قتل أهلُ خيبر عبدَ الله بن سهل رضي الله عنه لم يقض النبي صلى الله عليه وسلم عليهم بالدية ، ولم يعاقبهم على جريمتهم ، لعدم وجود البينة الظاهرة ضدهم ، حتى دفع النبي صلى الله عليه وسلم ديته من أموال المسلمين ، والقصة في البخاري ( 6769 ) ومسلم ( 1669 ) ، ولما اختصم الأشعث بن قيس ورجل من اليهود إلى النبي صلى الله عليه وسلم في أرض باليمن ولم يكن لعبد الله بيِّنة قضى فيها لليهودي بيمينه ، كما في البخاري ( 2525 ) ومسلم ( 138 ) . Hak untuk diperlakukan secara adil dan tidak dizalimi. Hal ini dinyatakan dalam Piagam Madinah, “Orang-orang Yahudi yang mengikuti kami berhak mendapatkan pertolongan dan pembelaan serta tidak boleh dizalimi atau menolong orang yang memerangi mereka.” Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berlaku adil dalam pengambilan keputusan hukum walaupun itu merugikan kaum mukminin. Ketika penduduk Khaibar membunuh Abdullah bin Sahl —Semoga Allah Meridainya—, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak mengambil diyatnya dari mereka dan tidak menghukum mereka atas kejahatan mereka, karena tidak adanya bukti yang kuat untuk menyatakan bahwa mereka bersalah, sampai-sampai Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri yang membayar diyatnya dari uang kaum muslimin. Kisah ini termaktub dalam Shahih Bukhari (6769) dan Muslim (1669). Ketika al-Asyʿats bin Qais dan seorang Yahudi mengangkat perselisihan mereka kepada Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tentang sebuah tanah di negeri Yaman, sementara Abdullah tidak mempunyai bukti, maka beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memenangkan si Yahudi dengan sumpahnya, sebagaimana termaktub dalam Shahih Bukhari (2525) dan Muslim (138). و. بل منحهم النبي صلى الله عليه وسلم حق التحاكم فيما بينهم إلى قوانين دينهم ، ولم يلزمهم بقوانين المسلمين ما دام طرفا القضية من أتباعهم ، إلا إذا ترافعوا إليه صلى الله عليه وسلم ، وطلبوا منه الحكم بينهم ، فكان حينئذ يحاكمهم بشريعة الله ودين المسلمين ، يقول الله سبحانه وتعالى : ( فَإِن جَآؤُوكَ فَاحْكُم بَيْنَهُم أَوْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ وَإِن تُعْرِضْ عَنْهُمْ فَلَن يَضُرُّوكَ شَيْئاً وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُم بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ) المائدة/42 . Lebih dari itu, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memberikan kepada mereka hak untuk menegakkan hukum di tengah mereka dengan hukum agama mereka, dan tidak memaksa mereka menggunakan hukum umat Islam, selama kedua belah pihak yang berselisih adalah orang sesama pemeluk agama mereka, kecuali jika mereka mengangkat perselisihan mereka kepada beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan meminta beliau untuk menjadi hakim di antara mereka, maka saat itulah beliau akan mengadili mereka berdasarkan syariat Allah dan agama Islam. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman (yang artinya), “Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (Muhammad untuk meminta putusan), maka berilah putusan di antara mereka atau berpalinglah dari mereka, dan jika engkau berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan membahayakanmu sedikit pun. Tetapi jika engkau memutuskan (perkara mereka), maka putuskanlah dengan adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.” (QS. Al-Maidah: 42) 5. وقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يحسن معاملة جميع الناس ، ومنهم اليهود ، فقد أمر الله سبحانه بالقسط والبر وحسن الخلق وأداء الأمانة مع اليهود وغيرهم ، حيث قال سبحانه : ( لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ) الممتحنة/8 . ومن بره صلى الله عليه وسلم في معاملة اليهود : 5. Nabi Muhammad Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam adalah orang yang baik muamalahnya kepada semua orang, termasuk orang-orang Yahudi. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Memerintahkan keadilan, kebajikan, perilaku yang baik, akhlak yang mulia, dan menunaikan amanah, baik kepada orang-orang Yahudi maupun selain mereka. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman (yang artinya), “Allah tidak Melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian dalam urusan agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman kalian. Sesungguhnya Allah Mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)  Di antara bentuk kebajikan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam terhadap orang-orang Yahudi adalah: أ. أنه كان يعود مريضهم : روى البخاري ( 1356 ) عن أنس بن مالك رضي الله عنه : ( أَنَّ غُلَامًا مِنَ اليَهُودِ كَانَ يَخدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَمَرِضَ ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ ، فَقَعَدَ عِندَ رَأسِهِ ، فَقَالَ : أََسلِم . فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِندَ رَأسِهِ ، فَقَالَ لَه : أَطِع أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ . فَأَسلَمَ ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ : الحَمدُ لِلَّهِ الذِي أَنقَذَهُ مِنَ النَّارِ ) . ب. وكان صلى الله عليه وسلم يقبل هداياهم : فقد روى البخاري ( 2617 ) ومسلم ( 2190 ) عن أنس بن مالك رضي الله عنه : ( أَنَّ امرَأَةً يَهُودِيَّةً أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مَسمُومَةٍ فَأَكَلَ مِنهَا ) . Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menjenguk mereka yang sakit. Imam Bukhari (1356) meriwayatkan dari Anas bin Malik —Semoga Allah Meridainya— bahwa ada seorang anak laki-laki Yahudi yang dahulu pernah menjadi pelayan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Dia sakit, maka beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam datang menjenguknya, lalu beliau duduk di dekat kepalanya dan berkata, “Masuklah Islam!” Lalu dia memandang ke arah ayahnya, yang juga berada di dekat kepalanya, maka dia berkata kepadanya, “Taatilah Abul Qasim.” Lantas dia pun masuk Islam, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam pergi seraya berkata, “Segala puji bagi Allah Yang telah Menyelamatkannya dari neraka.” Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mau menerima hadiah-hadiah dari mereka. Imam Bukhari (2617) dan Muslim (2190) meriwayatkan dari Anas bin Malik —Semoga Allah Meridainya— bahwa seorang wanita Yahudi datang kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam membawa daging domba yang telah diberi racun, lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memakannya. ج. كما كان صلى الله عليه وسلم يعفو عن مسيئهم : إذ لم ينه عن قتل تلك المرأة التي وضعت السم في الشاة ، ففي تكملة الحديث السابق : ( فَجِيءَ بِهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهَا عَنْ ذَلِكَ فَقَالَتْ : أَرَدْتُ لِأَقْتُلَكَ ، قَالَ : مَا كَانَ اللَّهُ لِيُسَلِّطَكِ عَلَى ذَاكِ – قَالَ : أَوْ قَالَ : عَلَيَّ – قَالَ : قَالُوا : أَلَا نَقْتُلُهَا ؟ قَالَ : لَا ) ، بل وفي حديث أبي هريرة في صحيح البخاري ( 3169 ) أن ذلك كان بعلم من اليهود وأنهم اعترفوا بمحاولة القتل بالسم ، ومع ذلك لم يأمر صلى الله عليه وسلم بالانتقام لنفسه ، لكنه قتلها بعد ذلك لموت الصحابي الذي كان معه صلى الله عليه وسلم وكان أكل من الشاة المسمومة , وهو بشر بن البراء رضي الله عنه . وكذلك لما سحره اليهودي لبيد بن الأعصم ، وعافاه الله من السحر ، لم ينتقم منه ولا أمر بقتله ، بل جاء في ” سنن النسائي ” ( 4080 ) وصححه الألباني عن زيد بن أرقم قال : ( فَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ لِذَلِكَ اليَهُودِيِّ وَلَا رَآهُ فِي وَجهِهِ قَط ) . Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga memaafkan perlakuan buruk mereka, maka beliau melarang membunuh wanita yang menaruh racun di daging domba tersebut. Dalam lanjutan hadis sebelumnya, “Lalu dia (si wanita itu) dihadapkan kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu diinterogasi, lalu dia menjawab, ‘Saya ingin membunuhmu!’ Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menimpali, ‘Allah tidak akan Memberimu kemampuan untuk melakukannya.’ (atau bersabda, ‘… untuk mencelakaiku.’) Mereka (para Sahabat) berkata, ‘Bolehkan kami membunuhnya?’ Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Jangan.’ Bahkan dalam hadis Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya— dalam Shahih Bukhari (3169) disebutkan bahwa upaya meracuni itu sebenarnya dilakukan dengan sepengetahuan orang-orang Yahudi dan mereka mengakuinya bahwa mereka berusaha membunuh beliau dengan racun, tetapi beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak memerintahkan agar melakukan balas dendam. Meskipun pada akhirnya beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam membunuh wanita itu karena meninggalnya salah seorang Sahabat yang ketika itu makan bersama beliau dan ikut memakan daging domba beracun itu. Dia adalah Bisyr bin al-Barāʾ —Semoga Allah Meridainya— Demikian pula ketika seorang Yahudi bernama Labid bin al-Aʿṣham menyihir beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam—tapi Allah Menyembuhkan beliau dari sihirnya—, beliau tidak membalasnya maupun memerintahkan untuk membunuhnya, bahkan disebutkan dalam Sunan an-Nasai (4080), yang dinilai sahih oleh al-Albani, dari Zaid bin Arqam —Semoga Allah Meridainya— yang berkata, “Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah menyebutkan hal itu kepada si Yahudi itu dan aku sama sekali tidak melihat ada sesuatu (ketidaksukaan, pent.) di wajah beliau.” د. وكان صلى الله عليه وسلم يعامل اليهود بالمال ، ويفي لهم معاملتهم : عن ابن عمر رضي الله عنهما قال :( أَعْطَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْبَرَ الْيَهُودَ أَنْ يَعْمَلُوهَا وَيَزْرَعُوهَا وَلَهُمْ شَطْرُ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا ) رواه البخاري ( 2165 ) ومسلم ( 1551 ) . وعن عائشة رضي الله عنها قالت : ( اشْتَرَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَامًا بِنَسِيئَةٍ وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ ) رواه البخاري ( 1990 ) ومسلم ( 1603 ) . Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga melakukan muamalah dengan mereka dalam urusan harta dan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menunaikan hak mereka dalam muamalah. Diriwayatkan dari Ibnu Umar —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memberikan tanah Khaibar kepada orang-orang Yahudi agar mereka mengolah dan bercocok tanam di sana, dan mereka akan mendapatkan setengah dari hasil dari hasil tanah tersebut. (HR. Bukhari (2165) dan Muslim (1551)) Diriwayatkan dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya— yang berkata bahwa Rasulullah membeli makanan dari seorang Yahudi secara tidak kontan dengan menggadaikan baju besinya. (HR. Bukhari (1990) dan Muslim (1603)). هـ. وفي أول قدومه صلى الله عليه وسلم المدينة كان يحب موافقة اليهود في أعمالهم وعاداتهم ليتألف قلوبهم على الإسلام ، ولكنه لما رأى عنادهم وجحودهم ومكابرتهم أمر بمخالفتهم ، ونهى عن التشبه بهم . عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : ( أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَسْدِلُ شَعَرَهُ وَكَانَ الْمُشْرِكُونَ يَفْرُقُونَ رُءُوسَهُمْ فَكَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يَسْدِلُونَ رُءُوسَهُمْ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ مُوَافَقَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ فِيمَا لَمْ يُؤْمَرْ فِيهِ بِشَيْءٍ ثُمَّ فَرَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأْسَهُ ) رواه البخاري ( 3728 ) ومسلم ( 2336 ) . Pada awal kedatangan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam di Madinah, beliau suka mengikuti perbuatan dan kebiasaan orang-orang Yahudi agar hati mereka luluh dengan agama Islam. Hanya saja, setelah beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam melihat pembangkangan, pengingkaran, kesombongan, dan pelanggaran mereka, lantas beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam melarang menyerupai mereka. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dahulunya menyisir rambut beliau ke arah depan (kening) sedangkan orang-orang musyrik menyisir dengan membelah (kanan-kiri) rambut mereka, sementara Ahli Kitab menyisir rambut mereka ke arah depan (kening). Rupanya Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lebih suka mengikuti Ahli Kitab dalam perkara yang tidak ada perintahnya (dalam syariat). Namun di kemudian hari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyisiri dengan membelah (kanan-kiri) rambutnya. (HR. Bukhari (3728) dan Muslim (2336)). و. ولم يكن صلى الله عليه وسلم يترفع عن محاورتهم ، بل كان يتواضع لهم ، ويجيب على أسئلتهم وإن كان مرادهم منها العنت والمجادلة بالباطل . عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رضي الله عنه قَالَ : ( بَيْنَمَا أَنَا أَمْشِي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَرْثٍ وَهُوَ مُتَّكِئٌ عَلَى عَسِيبٍ إِذْ مَرَّ بِنَفَرٍ مِنْ الْيَهُودِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ سَلُوهُ عَنْ الرُّوحِ فَقَالُوا مَا رَابَكُمْ إِلَيْهِ لَا يَسْتَقْبِلُكُمْ بِشَيْءٍ تَكْرَهُونَهُ فَقَالُوا سَلُوهُ فَقَامَ إِلَيْهِ بَعْضُهُمْ فَسَأَلَهُ عَنْ الرُّوحِ قَالَ فَأَسْكَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ شَيْئًا فَعَلِمْتُ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْهِ قَالَ فَقُمْتُ مَكَانِي فَلَمَّا نَزَلَ الْوَحْيُ قَالَ : ( وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ الرُّوحِ قُلْ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا ) رواه البخاري ( 4444 ) ومسلم ( 2794 ) . Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak segan-segan ngobrol dengan mereka, bahkan tetap rendah hati di hadapan mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, meskipun niat mereka adalah ingin menolak dan membantah dengan cara yang batil. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud —Semoga Allah Meridainya— yang mengatakan, “Saat aku berjalan-jalan bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam di salah satu ladang, lalu beliau bersandar ke sebuah batang, tiba-tiba beberapa orang Yahudi lewat, mereka saling berkata satu sama lain, ‘Tanyakan padanya tentang ruh.’ Mereka saling berkata, ‘Apa yang membuat kalian ingin bertanya kepadanya? Dia malah akan menjawabnya dengan jawaban yang tidak kalian sukai.’ Mereka berkata, ‘Bertanyalah padanya!’ Kemudian salah seorang dari mereka menghampiri beliau lalu bertanya tentang ruh pada beliau.'” Abdullah mengisahkan, “Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam diam dan tidak menjawab sepatah kata pun. Dari situ aku tahu bahwa beliau tengah menerima wahyu. Lalu aku berdiri dari tempatku, maka pada saat wahyu telah turun, beliau membaca (yang artinya), ‘Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh, maka katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kalian tidaklah diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit.”’” (QS. Al-Isra’: 85) (HR. Bukhari (4444) dan Muslim (2794)). ز. وكان يدعو لهم بالهداية وصلاح البال : فعَنْ أَبِي مُوسَى رضي الله عنه قَالَ : ( كَانَ الْيَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُونَ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ يَرْحَمُكُمْ اللَّهُ فَيَقُولُ : يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ ) رواه الترمذي ( 2739 ) وقال : حسن صحيح ، وصححه الألباني في ” صحيح الترمذي ” . Beliau tetap mendoakan hidayah dan kebaikan mereka. Diriwayatkan dari Abu Musa —Semoga Allah Meridainya— yang mengatakan bahwa orang-orang Yahudi biasa memaksakan diri bersin-bersin di sisi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam karena berharap bahwa beliau akan berdoa untuk mereka, “Yarẖamukumullāh (artinya: Semoga Allah Merahmati kalian)” tapi ternyata beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mendoakan mereka, “Yahdikumullāhu wa Yuṣhliẖu Bālakum (artinya: Semoga Allah memberi kalian hidayah dan memperbaiki keadaan kalian).” (HR. Tirmidzi (2739) dan dia berkata, “Hadis hasan sahih,” dan juga dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi. 6. وفي المقابل : لم يكن صلى الله عليه وسلم يرضى أن ينتهك اليهود حرمات المسلمين ، ويتمادوا في ذلك ، فكان يعاقب كل من يعتدي على المسلمين ويظلمهم ويتجاوز حدوده في ذلك ، فلما اعتدى بعض يهود بني قينقاع على امرأة مسلمة في السوق واحتالوا لكشف عورتها ، وتوعدوا النبي صلى الله عليه وسلم بالقتال ، وقالوا : ( يا محمد ، لا يغرنك من نفسك أنك قتلت نفرا من قريش كانوا أغمارا لا يعرفون القتال ، إنك لو قاتلتنا لعرفت أنا نحن الناس ) نقله ابن حجر في ” فتح الباري ” وحسَّنه ( 7 / 332 ) فقام النبي صلى الله عليه وسلم إليهم وأجلاهم من المدينة ، وكان ذلك في شوال من السنة الثانية للهجرة . ثم لما عَظُمَ أذى كعب بن الأشرف اليهودي للمسلمين ، وبدأ يخوض في أعراضهم ، ويشبب بنسائهم في شعره ، وارتحل إلى مكة يحرض زعماء قريش على المسلمين أمر النبي صلى الله عليه وسلم بقتله في قصة طويلة حدثت في ربيع الأول من السنة الثالثة للهجرة ، رواها البخاري ( 2375 ) ومسلم ( 1801 ) . 6. Namun di sisi lain, beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah tinggal diam saat orang-orang Yahudi melanggar kehormatan umat Islam dan menzalimi mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menghukum setiap orang yang menganiaya kaum mukminin, menzalimi mereka, atau melanggar batasan-batasan terhadap mereka. Ketika beberapa orang Yahudi dari Bani Qainūqāʿ melecehkan seorang wanita muslimah di pasar dan berusaha menyingkap auratnya, bahkan mereka mengancam akan memerangi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dengan mengatakan, “Wahai Muhammad, janganlah kamu jemawa melihat dirimu karena pernah membunuh sekelompok orang Quraisy, yang hanya orang-orang bodoh yang tidak bisa berperang. Jika kamu melawan kami, niscaya kamu akan tahu bahwa kamilah benar-benar orang (yang hebat, pent.)” Hal itu dikutip oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan beliau nilai hasan (7/332). Lantas Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerangi mereka dan mengusir mereka dari Madinah. Peristiwa itu terjadi di bulan Syawal tahun kedua Hijriah. ثم لما عَظُمَ أذى كعب بن الأشرف اليهودي للمسلمين ، وبدأ يخوض في أعراضهم ، ويشبب بنسائهم في شعره ، وارتحل إلى مكة يحرض زعماء قريش على المسلمين أمر النبي صلى الله عليه وسلم بقتله في قصة طويلة حدثت في ربيع الأول من السنة الثالثة للهجرة ، رواها البخاري ( 2375 ) ومسلم ( 1801 ) . وكذلك لما تكررت محاولات بني النضير لقتل النبي صلى الله عليه وسلم في قصص مشهورة يذكرها أهل المغازي والسير ، ودسوا إلى قريش يحضونهم على غزو المدينة ، ويدلونهم على العورة ، أمر النبي صلى الله عليه وسلم بإجلائهم من المدينة في السنة الرابعة من الهجرة . انظر ” المغازي ” للواقدي ( 1 / 363 – 370 ) و ” سيرة ابن هشام ” ( 3 / 682 ) . Kemudian, ketika kejahatan si Yahudi Ka’ab bin al-Asyraf terhadap umat Islam semakin menjadi-jadi; merusak kehormatan mereka, melecehkan wanita-wanita mereka dalam syair-syairnya, dan pergi ke Makkah untuk menghasut para pemimpin Quraisy untuk melawan umat Islam, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan untuk mengeksekusinya. Peristiwa ini terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun ketiga Hijriah, yang diriwayatkan dalam sebuah kisah panjang dalam Shahih Bukhari (2375) dan Muslim (1801). Demikian pula, ketika Banu Naḏhīr telah berulang kali berupaya membunuh Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam—sebagaimana tersebut dalam kisah-kisah terkenal yang diriwayatkan oleh para pengarang kitab-kitab tentang perang dan biografi—bahkan mereka menyusup ke suku Quraisy untuk menghasut mereka segera menyerang Madinah dan menunjukkan kepada mereka titik lemah kaum muslimin, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan agar mereka diusir dari Madinah pada tahun keempat Hijriah. Lihat al-Maghazi karya al-Waqidi (1/363-370) dan Sirah Ibnu Hisyam (3/682). وأما يهود بني قريظة فقد قتل النبي صلى الله عليه وسلم مقاتلتهم لما غدروا به يوم الأحزاب ، وتحالفوا مع قريش والعرب ضد المسلمين ، وخانوا العهود معهم ، وكان ذلك في العام الهجري الخامس . انظر ” سيرة ابن هشام ” ( 3 / 706 ) . وقد وردت أخبار كثيرة في أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعفو عن كل من أظهر الوفاء بالعهد من اليهود ، ولا يعاقب إلا من شارك في الغدر أو أقر ورضي . انظر ” السيرة النبوية الصحيحة ” أكرم العمري ( 1 / 316 ) ، وقد جاء في ميثاق المدينة : ” لليهود دينهم وللمسلمين دينهم ، مواليهم وأنفسهم ، إلا من ظلم نفسه وأثم ، فإنه لا يوتِغ – أي : يُهلِك – إلا نفسه وأهل بيته ” . Adapun orang-orang Yahudi dari Bani Quraiẓah, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengeksekusi mereka yang ikut berperang ketika membelot saat pecah perang Ahzab. Mereka malah bersekutu dengan kaum Quraisy dan suku-suku Arab melawan kaum muslimin, dan mengkhianati janji mereka. Peristiwa itu terjadi pada tahun kelima Hijriah. Lihat: Sirah Ibnu Hisyam (3/706). Ada banyak hadis yang meriwayatkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengampuni semua orang Yahudi yang menampakkan komitmen mereka terhadap perjanjian mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menghukum mereka kecuali yang ikut, menyetujui, dan meridai pengkhianatan itu. Lihat as-Sīrah an-Nabawiyyah aṣh-Ṣhaḥīẖah karya Dr. Akram al-Umari (1/316). Tertulis dalam Piagam Madinah, “Orang-orang Yahudi berhak atas agama mereka dan orang-orang Islam berhak atas agama mereka, para Mawali, dan diri mereka sendiri, kecuali bagi mereka yang menzalimi dirinya sendiri atau berbuat dosa, maka tidak ada yang mendapat hukuman kecuali dia sendiri dan keluarganya.” وأخيرا لما رأى النبي صلى الله عليه وسلم غدر اليهود وخيانتهم ، أوحى الله إليه أن يُخلِصَ جزيرة العرب لديانة التوحيد ، فلا يبقى فيها غير الدين الذي ارتضاه الله لنفسه . عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم أوصاهم في مرض موته فقال: ( أَخْرِجُوا الْمُشْرِكِينَ مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ ) رواه البخاري ( 2888 ) ومسلم ( 1637 ) . والله أعلم Ketika Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam melihat pengkhianatan dan pembelotan orang-orang Yahudi, akhirnya Allah Mewahyukan kepada beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam agar membersihkan Jazirah Arab untuk agama tauhid saja, sehingga di sana tidak ada lagi agama kecuali agama yang diridai Allah. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas —Semoga Allah Meridainya— bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ketika sakit menjelang wafatnya berwasiat kepada mereka (para Sahabat) dengan bersabda, “Usirlah orang-orang musyrik dari Jazirah Arab!” (HR. Bukhari (2888) dan Muslim (1637). Allah Yang lebih Mengetahui. Sumber:  https://islamqa.info/ar/answers/84308/هدي-النبي-صلى-الله-عليه-وسلم-في-معاملة-اليهود PDF sumber artikel. 🔍 Doa Ketika Dipuji, Jilat Kemaluan Wanita Menurut Islam, Arti Ilmu Hikmah, Ayat Yang Ditakuti Jin, Apakah Kristen Bisa Masuk Surga, Doa Jamak Visited 113 times, 1 visit(s) today Post Views: 365 QRIS donasi Yufid
السؤال كيف كان هدي النبي صلى الله عليه وسلم مع اليهود ؟ Pertanyaan: Bagaimana bimbingan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam bermuamalah dengan orang-orang Yahudi? الجواب الحمد لله. فإن أحسن الكلام كلام الله ، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم ، فهو أكمل الخلق وسيد الرسل ، وقد أمرنا بالتمسك بهديه ، فقال : ( عَلَيكُم بِسُنَّتِي ) رواه أبو داود ( 4607 ) وصححه الألباني في ” صحيح أبي داود ” . وقد جاء هديه وسنته بأحسن الأحوال وأقوم الأخلاق ، خاصة في تعامله صلى الله عليه وسلم مع أهل الديانات الأخرى ، ونستطيع أن نجمل هديه صلى الله عليه وسلم في التعامل مع اليهود في المسائل التالية : Jawaban: Alhamdulillah. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Dialah makhluk yang paling sempurna dan pemimpin para rasul. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan kita berpegang teguh dengan petunjuknya dengan bersabda, “Kalian harus berpegang pada Sunahku.” (HR. Abu Dawud (4607) dan dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)  Bimbingan dan Sunah Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam datang dengan ajaran yang terbaik dan akhlak yang paling lurus, terutama dalam muamalah beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dengan orang-orang yang berbeda agama. Kita bisa menyampaikan secara global bahwa bimbingan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam bermuamalah dengan orang-orang Yahudi terangkum dalam poin-poin berikut: 1. اتخاذ الموقع الصحيح من اليهودية وجميع الأديان ، وهذا الموقع يتمثل باعتقاد أحقية دين الإسلام والتوحيد ، وكفر وفساد كل ديانة أخرى ، وتقرير أن الله تعالى لا يقبل يوم القيامة إلا أن يكون العبد مسلما حنيفا لله تعالى ، كما قال سبحانه : ( وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ ) آل عمران/85 . وقد كان هذا التقرير هو المحور الذي تدور عليه صلى الله عليه وسلم دعوته صلى الله عليه وسلم ، ويتخذ المواقف تبعا له ؛ لأنه من ضرورات عقيدة المسلم التي تعرضت في العصور الأخيرة للتحريف والتشويه من دعاة ” توحيد الأديان ” !انظر جواب السؤال رقم ( 21534 ). Mengambil sikap yang benar terhadap agama Yahudi dan semua agama lain. Sikap yang benar ini adalah dengan meyakini bahwa Islam dan agama tauhid ini adalah agama yang benar, bahwa semua agama lain adalah agama kafir dan menyimpang, dan bahwa Allah Subẖānahu wa Taʿālā pada hari kiamat tidak akan menerima agama apa pun kecuali jika seorang hamba beragama Islam yang hanif karena Allah, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya), “Barang siapa mencari agama selain Islam, maka (agama) itu tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85) Keyakinan ini adalah poros dakwah Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang dengannya beliau mengambil berbagai sikap dan tindakan, karena ini adalah salah satu akidah pokok seorang muslim yang akhir-akhir ini telah tergerus oleh penyimpangan dan distorsi yang dilakukan orang-orang yang mengusung paham pluralisme. Lihat jawaban pertanyaan nomor 21534. 2. ولذلك كان صلى الله عليه وسلم يحرص على دعوتهم للإسلام ، ولا يفوت فرصة يمكن أن يبلغهم فيها دين الله تعالى إلا وفعل ، حتى إنه صلى الله عليه وسلم لم يبدأ حربا معهم – بسبب غدرهم وخيانتهم – إلا ويسبقها بدعوتهم وتذكيرهم ، كما قال لعلي بن أبي طالب رضي الله عنه يوم فتح خيبر : ( انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ ) رواه البخاري ( 2942 ) ومسلم ( 2406 ) . Oleh karena itulah beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat ingin mengajak mereka masuk Islam. Tidaklah beliau mendapatkan satu kesempatan pun untuk menyampaikan agama Allah Subẖānahu wa Taʿālā ini kecuali beliau memanfaatkannya. Sampai-sampai beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah memulai perang dengan mereka—yang sebabnya adalah pembelotan dan pengkhianatan mereka sendiri—kecuali mendahuluinya dengan peringatan dan dakwah, seperti yang beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam katakan kepada Ali bin Abi Thalib —Semoga Allah Meridainya— pada hari penaklukan Khaibar, “Lakukanlah dengan tenang hingga engkau sampai di pemukiman mereka, lalu ajaklah mereka untuk menerima Islam dan kabarkan kepada mereka hak-hak Allah yang menjadi kewajiban mereka. Sungguh, seandainya Allah Memberi hidayah kepada seseorang lewat perantaraan dirimu, maka hal itu lebih baik bagimu daripada seekor unta merah.” (HR. Bukhari (2942) dan Muslim (2406)). 3. التأكيد على أن عقد الموالاة إنما هو بين المؤمنين ، وأن البراء واجب من كل كفر مبين ، وجعل صلى الله عليه وسلم مناط الأخوة الإسلام ، فلا يجوز لمسلم أن يوالي أهل أي ملة بالمحبة والمودة ، لذلك تجده صلى الله عليه وسلم يسارع في أول قدومه المدينة في تقرير المفارقة بين الإسلام واليهودية ، فكان في نص الوثيقة ” الدستور ” التي أمر النبي صلى الله عليه سلم بكتابته لتنظيم العلاقات بين سكان المدينة : ” المؤمنون أمة واحدة دون الناس ” رواه القاسم بن سلام في ” الأموال ” ( 517 ) من مراسيل الزهري . Penguatan sikap bahwa janji al-Walāʾ (loyalitas) hanya untuk sesama kaum mukminin saja dan kewajiban untuk al-Barāʾ (berlepas diri) dari setiap kekafiran yang nyata. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menjadikan Islam sebagai asas persaudaraan, sehingga tidak boleh bagi seorang muslim untuk memberikan loyalitasnya kepada penganut agama lain dengan mencintai dan berkasih sayang dengan mereka. Inilah sebabnya Anda dapati beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam di awal kedatangan beliau di kota Madinah bersegera menetapkan batas pembeda antara agama Islam dan Yahudi. Tertuang dalam naskah ‘Piagam (Madinah)’ yang diperintahkan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam agar ditulis untuk mengatur hubungan antar penduduk Madinah, “Kaum mukminin adalah umat yang satu, yang tidak mencakup selain mereka.” (HR. Al-Qasim bin Salam dalam al-Amwāl (517) dari Marāsil az-Zuhrī. يقول الدكتور أكرم العمري : ” الروابط تقتصر على المسلمين ولا تشمل غيرهم من اليهود والحلفاء ، ولا شك أن تمييز الجماعة الدينية كان أمرا مقصودا يستهدف زيادة تماسكها واعتزازها بذاتها ” انتهى . انظر ” السيرة النبوية الصحيحة ” للدكتور أكرم العمري ( 1 / 272 – 291 ) فقد توسع في الحكم على الوثيقة وتحليلها . Dr. Akram al-Umari berkata bahwa ikatan ini terbatas hanya untuk umat Islam dan tidak mencakup orang-orang Yahudi dan sekutunya. Tidak ada keraguan bahwa membedakan kelompok agama itu adalah sesuatu yang disengaja untuk menguatkan pengaruh dan kekuatan umat. Selesai kutipan. Lihat as-Sīrah an-Nabawiyyah aṣh-Ṣhaḥīẖah karya Dr. Akram al-Umari (1/272-291) di mana beliau membahas dan menjabarkan naskah piagam tersebut. 4. ولكنه صلى الله عليه وسلم كان يعترف بحقوق اليهود والنصارى ، ويخطئ من يتوهم أن التبرأ من ديانة اليهود المحرفة يلزم منه ظلمهم ومصادرة حقوقهم ، فقد قبل النبي صلى الله عليه وسلم وجود اليهود في المدينة ، وكتب في دستور المدينة : ” وإن يهود بني عوف أمة مع المؤمنين ” ، وتكفل لهم بجميع أنواع 1الحقوق : Meskipun demikian, beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tetap mengakui hak-hak orang Yahudi dan Nasrani. Maka dari itu, keliru jika ada orang yang salah paham bahwa berlepas diri dari agama Yahudi yang menyimpang berarti menindas mereka dan merampas hak-hak mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menerima kehadiran orang-orang Yahudi di Madinah, dan menulis dalam piagam Madinah bahwa orang-orang Yahudi Bani Auf adalah satu umat yang berdampingan dengan kaum mukminin. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga menjamin berbagai hak mereka: أ. حق الحياة : فلم يقتل يهوديا إلا من خان وغدر . ب. وحق اختيار الدين : حيث أقرهم على ديانتهم ولم يكره أحداً على الإسلام ، عملا بقوله سبحانه وتعالى : ( لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ) البقرة/256 ، وكتب في ميثاق المدينة : ” لليهود دينهم وللمسلمين دينهم مواليهم وأنفسهم ” . ج. حق التملك : فلم يصادر أملاك أحد منهم ، بل أقر النبي صلى الله عليه وسلم المسلمين على تجارتهم معهم . د. حق الحماية والدفاع : فقد جاء في ميثاق المدينة : ” وإن على اليهود نفقتهم ، وعلى المسلمين نفقتهم ، وإن بينهم النصر على من حارب أهل هذه الصحيفة “ Hak hidup, di mana orang Yahudi tidak boleh dibunuh kecuali mereka berkhianat atau membelot, dan hak untuk memilih agamanya, di mana beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengakui agama mereka dan tidak memaksa siapa pun untuk memeluk Islam, dalam rangka mengamalkan firman Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya), “Tidak ada paksaan dalam beragama.” (QS. Al-Baqarah: 256) Tertuang dalam Piagam Madinah, “Orang-orang Yahudi berhak atas agama mereka dan orang-orang Islam berhak atas agama mereka, para Mawali, dan diri mereka sendiri.” Hak atas kepemilikan, di mana tidak ada satu pun dari mereka yang dirampas hartanya, bahkan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengakui jual beli antara kaum Muslim dengan mereka. Hak atas perlindungan dan pembelaan, sebagaimana tertuang dalam Piagam Madinah, “Orang-orang Yahudi bertanggung jawab atas kebutuhan mereka sendiri sebagaimana umat Islam bertanggung jawab atas kebutuhan mereka, sesama mereka harus saling menolong melawan orang yang memerangi pihak-pihak dalam piagam ini.” هـ. حق العدل في المعاملة ورفع الظلم : وذلك مقرر في صحيفة المدينة حيث جاء فيها : ” وأنه من تبعنا من يهود فإن له النصر والأسوة غير مظلومين ولا متناصر عليهم ” ، وقد عدل النبي صلى الله عليه وسلم في الحكم ولو كان ذلك على حساب المسلمين ، فلما قتل أهلُ خيبر عبدَ الله بن سهل رضي الله عنه لم يقض النبي صلى الله عليه وسلم عليهم بالدية ، ولم يعاقبهم على جريمتهم ، لعدم وجود البينة الظاهرة ضدهم ، حتى دفع النبي صلى الله عليه وسلم ديته من أموال المسلمين ، والقصة في البخاري ( 6769 ) ومسلم ( 1669 ) ، ولما اختصم الأشعث بن قيس ورجل من اليهود إلى النبي صلى الله عليه وسلم في أرض باليمن ولم يكن لعبد الله بيِّنة قضى فيها لليهودي بيمينه ، كما في البخاري ( 2525 ) ومسلم ( 138 ) . Hak untuk diperlakukan secara adil dan tidak dizalimi. Hal ini dinyatakan dalam Piagam Madinah, “Orang-orang Yahudi yang mengikuti kami berhak mendapatkan pertolongan dan pembelaan serta tidak boleh dizalimi atau menolong orang yang memerangi mereka.” Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berlaku adil dalam pengambilan keputusan hukum walaupun itu merugikan kaum mukminin. Ketika penduduk Khaibar membunuh Abdullah bin Sahl —Semoga Allah Meridainya—, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak mengambil diyatnya dari mereka dan tidak menghukum mereka atas kejahatan mereka, karena tidak adanya bukti yang kuat untuk menyatakan bahwa mereka bersalah, sampai-sampai Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri yang membayar diyatnya dari uang kaum muslimin. Kisah ini termaktub dalam Shahih Bukhari (6769) dan Muslim (1669). Ketika al-Asyʿats bin Qais dan seorang Yahudi mengangkat perselisihan mereka kepada Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tentang sebuah tanah di negeri Yaman, sementara Abdullah tidak mempunyai bukti, maka beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memenangkan si Yahudi dengan sumpahnya, sebagaimana termaktub dalam Shahih Bukhari (2525) dan Muslim (138). و. بل منحهم النبي صلى الله عليه وسلم حق التحاكم فيما بينهم إلى قوانين دينهم ، ولم يلزمهم بقوانين المسلمين ما دام طرفا القضية من أتباعهم ، إلا إذا ترافعوا إليه صلى الله عليه وسلم ، وطلبوا منه الحكم بينهم ، فكان حينئذ يحاكمهم بشريعة الله ودين المسلمين ، يقول الله سبحانه وتعالى : ( فَإِن جَآؤُوكَ فَاحْكُم بَيْنَهُم أَوْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ وَإِن تُعْرِضْ عَنْهُمْ فَلَن يَضُرُّوكَ شَيْئاً وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُم بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ) المائدة/42 . Lebih dari itu, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memberikan kepada mereka hak untuk menegakkan hukum di tengah mereka dengan hukum agama mereka, dan tidak memaksa mereka menggunakan hukum umat Islam, selama kedua belah pihak yang berselisih adalah orang sesama pemeluk agama mereka, kecuali jika mereka mengangkat perselisihan mereka kepada beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan meminta beliau untuk menjadi hakim di antara mereka, maka saat itulah beliau akan mengadili mereka berdasarkan syariat Allah dan agama Islam. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman (yang artinya), “Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (Muhammad untuk meminta putusan), maka berilah putusan di antara mereka atau berpalinglah dari mereka, dan jika engkau berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan membahayakanmu sedikit pun. Tetapi jika engkau memutuskan (perkara mereka), maka putuskanlah dengan adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.” (QS. Al-Maidah: 42) 5. وقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يحسن معاملة جميع الناس ، ومنهم اليهود ، فقد أمر الله سبحانه بالقسط والبر وحسن الخلق وأداء الأمانة مع اليهود وغيرهم ، حيث قال سبحانه : ( لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ) الممتحنة/8 . ومن بره صلى الله عليه وسلم في معاملة اليهود : 5. Nabi Muhammad Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam adalah orang yang baik muamalahnya kepada semua orang, termasuk orang-orang Yahudi. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Memerintahkan keadilan, kebajikan, perilaku yang baik, akhlak yang mulia, dan menunaikan amanah, baik kepada orang-orang Yahudi maupun selain mereka. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman (yang artinya), “Allah tidak Melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian dalam urusan agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman kalian. Sesungguhnya Allah Mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)  Di antara bentuk kebajikan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam terhadap orang-orang Yahudi adalah: أ. أنه كان يعود مريضهم : روى البخاري ( 1356 ) عن أنس بن مالك رضي الله عنه : ( أَنَّ غُلَامًا مِنَ اليَهُودِ كَانَ يَخدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَمَرِضَ ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ ، فَقَعَدَ عِندَ رَأسِهِ ، فَقَالَ : أََسلِم . فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِندَ رَأسِهِ ، فَقَالَ لَه : أَطِع أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ . فَأَسلَمَ ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ : الحَمدُ لِلَّهِ الذِي أَنقَذَهُ مِنَ النَّارِ ) . ب. وكان صلى الله عليه وسلم يقبل هداياهم : فقد روى البخاري ( 2617 ) ومسلم ( 2190 ) عن أنس بن مالك رضي الله عنه : ( أَنَّ امرَأَةً يَهُودِيَّةً أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مَسمُومَةٍ فَأَكَلَ مِنهَا ) . Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menjenguk mereka yang sakit. Imam Bukhari (1356) meriwayatkan dari Anas bin Malik —Semoga Allah Meridainya— bahwa ada seorang anak laki-laki Yahudi yang dahulu pernah menjadi pelayan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Dia sakit, maka beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam datang menjenguknya, lalu beliau duduk di dekat kepalanya dan berkata, “Masuklah Islam!” Lalu dia memandang ke arah ayahnya, yang juga berada di dekat kepalanya, maka dia berkata kepadanya, “Taatilah Abul Qasim.” Lantas dia pun masuk Islam, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam pergi seraya berkata, “Segala puji bagi Allah Yang telah Menyelamatkannya dari neraka.” Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mau menerima hadiah-hadiah dari mereka. Imam Bukhari (2617) dan Muslim (2190) meriwayatkan dari Anas bin Malik —Semoga Allah Meridainya— bahwa seorang wanita Yahudi datang kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam membawa daging domba yang telah diberi racun, lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memakannya. ج. كما كان صلى الله عليه وسلم يعفو عن مسيئهم : إذ لم ينه عن قتل تلك المرأة التي وضعت السم في الشاة ، ففي تكملة الحديث السابق : ( فَجِيءَ بِهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهَا عَنْ ذَلِكَ فَقَالَتْ : أَرَدْتُ لِأَقْتُلَكَ ، قَالَ : مَا كَانَ اللَّهُ لِيُسَلِّطَكِ عَلَى ذَاكِ – قَالَ : أَوْ قَالَ : عَلَيَّ – قَالَ : قَالُوا : أَلَا نَقْتُلُهَا ؟ قَالَ : لَا ) ، بل وفي حديث أبي هريرة في صحيح البخاري ( 3169 ) أن ذلك كان بعلم من اليهود وأنهم اعترفوا بمحاولة القتل بالسم ، ومع ذلك لم يأمر صلى الله عليه وسلم بالانتقام لنفسه ، لكنه قتلها بعد ذلك لموت الصحابي الذي كان معه صلى الله عليه وسلم وكان أكل من الشاة المسمومة , وهو بشر بن البراء رضي الله عنه . وكذلك لما سحره اليهودي لبيد بن الأعصم ، وعافاه الله من السحر ، لم ينتقم منه ولا أمر بقتله ، بل جاء في ” سنن النسائي ” ( 4080 ) وصححه الألباني عن زيد بن أرقم قال : ( فَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ لِذَلِكَ اليَهُودِيِّ وَلَا رَآهُ فِي وَجهِهِ قَط ) . Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga memaafkan perlakuan buruk mereka, maka beliau melarang membunuh wanita yang menaruh racun di daging domba tersebut. Dalam lanjutan hadis sebelumnya, “Lalu dia (si wanita itu) dihadapkan kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu diinterogasi, lalu dia menjawab, ‘Saya ingin membunuhmu!’ Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menimpali, ‘Allah tidak akan Memberimu kemampuan untuk melakukannya.’ (atau bersabda, ‘… untuk mencelakaiku.’) Mereka (para Sahabat) berkata, ‘Bolehkan kami membunuhnya?’ Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Jangan.’ Bahkan dalam hadis Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya— dalam Shahih Bukhari (3169) disebutkan bahwa upaya meracuni itu sebenarnya dilakukan dengan sepengetahuan orang-orang Yahudi dan mereka mengakuinya bahwa mereka berusaha membunuh beliau dengan racun, tetapi beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak memerintahkan agar melakukan balas dendam. Meskipun pada akhirnya beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam membunuh wanita itu karena meninggalnya salah seorang Sahabat yang ketika itu makan bersama beliau dan ikut memakan daging domba beracun itu. Dia adalah Bisyr bin al-Barāʾ —Semoga Allah Meridainya— Demikian pula ketika seorang Yahudi bernama Labid bin al-Aʿṣham menyihir beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam—tapi Allah Menyembuhkan beliau dari sihirnya—, beliau tidak membalasnya maupun memerintahkan untuk membunuhnya, bahkan disebutkan dalam Sunan an-Nasai (4080), yang dinilai sahih oleh al-Albani, dari Zaid bin Arqam —Semoga Allah Meridainya— yang berkata, “Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah menyebutkan hal itu kepada si Yahudi itu dan aku sama sekali tidak melihat ada sesuatu (ketidaksukaan, pent.) di wajah beliau.” د. وكان صلى الله عليه وسلم يعامل اليهود بالمال ، ويفي لهم معاملتهم : عن ابن عمر رضي الله عنهما قال :( أَعْطَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْبَرَ الْيَهُودَ أَنْ يَعْمَلُوهَا وَيَزْرَعُوهَا وَلَهُمْ شَطْرُ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا ) رواه البخاري ( 2165 ) ومسلم ( 1551 ) . وعن عائشة رضي الله عنها قالت : ( اشْتَرَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَامًا بِنَسِيئَةٍ وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ ) رواه البخاري ( 1990 ) ومسلم ( 1603 ) . Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga melakukan muamalah dengan mereka dalam urusan harta dan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menunaikan hak mereka dalam muamalah. Diriwayatkan dari Ibnu Umar —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memberikan tanah Khaibar kepada orang-orang Yahudi agar mereka mengolah dan bercocok tanam di sana, dan mereka akan mendapatkan setengah dari hasil dari hasil tanah tersebut. (HR. Bukhari (2165) dan Muslim (1551)) Diriwayatkan dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya— yang berkata bahwa Rasulullah membeli makanan dari seorang Yahudi secara tidak kontan dengan menggadaikan baju besinya. (HR. Bukhari (1990) dan Muslim (1603)). هـ. وفي أول قدومه صلى الله عليه وسلم المدينة كان يحب موافقة اليهود في أعمالهم وعاداتهم ليتألف قلوبهم على الإسلام ، ولكنه لما رأى عنادهم وجحودهم ومكابرتهم أمر بمخالفتهم ، ونهى عن التشبه بهم . عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : ( أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَسْدِلُ شَعَرَهُ وَكَانَ الْمُشْرِكُونَ يَفْرُقُونَ رُءُوسَهُمْ فَكَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يَسْدِلُونَ رُءُوسَهُمْ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ مُوَافَقَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ فِيمَا لَمْ يُؤْمَرْ فِيهِ بِشَيْءٍ ثُمَّ فَرَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأْسَهُ ) رواه البخاري ( 3728 ) ومسلم ( 2336 ) . Pada awal kedatangan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam di Madinah, beliau suka mengikuti perbuatan dan kebiasaan orang-orang Yahudi agar hati mereka luluh dengan agama Islam. Hanya saja, setelah beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam melihat pembangkangan, pengingkaran, kesombongan, dan pelanggaran mereka, lantas beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam melarang menyerupai mereka. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dahulunya menyisir rambut beliau ke arah depan (kening) sedangkan orang-orang musyrik menyisir dengan membelah (kanan-kiri) rambut mereka, sementara Ahli Kitab menyisir rambut mereka ke arah depan (kening). Rupanya Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lebih suka mengikuti Ahli Kitab dalam perkara yang tidak ada perintahnya (dalam syariat). Namun di kemudian hari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyisiri dengan membelah (kanan-kiri) rambutnya. (HR. Bukhari (3728) dan Muslim (2336)). و. ولم يكن صلى الله عليه وسلم يترفع عن محاورتهم ، بل كان يتواضع لهم ، ويجيب على أسئلتهم وإن كان مرادهم منها العنت والمجادلة بالباطل . عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رضي الله عنه قَالَ : ( بَيْنَمَا أَنَا أَمْشِي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَرْثٍ وَهُوَ مُتَّكِئٌ عَلَى عَسِيبٍ إِذْ مَرَّ بِنَفَرٍ مِنْ الْيَهُودِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ سَلُوهُ عَنْ الرُّوحِ فَقَالُوا مَا رَابَكُمْ إِلَيْهِ لَا يَسْتَقْبِلُكُمْ بِشَيْءٍ تَكْرَهُونَهُ فَقَالُوا سَلُوهُ فَقَامَ إِلَيْهِ بَعْضُهُمْ فَسَأَلَهُ عَنْ الرُّوحِ قَالَ فَأَسْكَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ شَيْئًا فَعَلِمْتُ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْهِ قَالَ فَقُمْتُ مَكَانِي فَلَمَّا نَزَلَ الْوَحْيُ قَالَ : ( وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ الرُّوحِ قُلْ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا ) رواه البخاري ( 4444 ) ومسلم ( 2794 ) . Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak segan-segan ngobrol dengan mereka, bahkan tetap rendah hati di hadapan mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, meskipun niat mereka adalah ingin menolak dan membantah dengan cara yang batil. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud —Semoga Allah Meridainya— yang mengatakan, “Saat aku berjalan-jalan bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam di salah satu ladang, lalu beliau bersandar ke sebuah batang, tiba-tiba beberapa orang Yahudi lewat, mereka saling berkata satu sama lain, ‘Tanyakan padanya tentang ruh.’ Mereka saling berkata, ‘Apa yang membuat kalian ingin bertanya kepadanya? Dia malah akan menjawabnya dengan jawaban yang tidak kalian sukai.’ Mereka berkata, ‘Bertanyalah padanya!’ Kemudian salah seorang dari mereka menghampiri beliau lalu bertanya tentang ruh pada beliau.'” Abdullah mengisahkan, “Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam diam dan tidak menjawab sepatah kata pun. Dari situ aku tahu bahwa beliau tengah menerima wahyu. Lalu aku berdiri dari tempatku, maka pada saat wahyu telah turun, beliau membaca (yang artinya), ‘Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh, maka katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kalian tidaklah diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit.”’” (QS. Al-Isra’: 85) (HR. Bukhari (4444) dan Muslim (2794)). ز. وكان يدعو لهم بالهداية وصلاح البال : فعَنْ أَبِي مُوسَى رضي الله عنه قَالَ : ( كَانَ الْيَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُونَ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ يَرْحَمُكُمْ اللَّهُ فَيَقُولُ : يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ ) رواه الترمذي ( 2739 ) وقال : حسن صحيح ، وصححه الألباني في ” صحيح الترمذي ” . Beliau tetap mendoakan hidayah dan kebaikan mereka. Diriwayatkan dari Abu Musa —Semoga Allah Meridainya— yang mengatakan bahwa orang-orang Yahudi biasa memaksakan diri bersin-bersin di sisi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam karena berharap bahwa beliau akan berdoa untuk mereka, “Yarẖamukumullāh (artinya: Semoga Allah Merahmati kalian)” tapi ternyata beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mendoakan mereka, “Yahdikumullāhu wa Yuṣhliẖu Bālakum (artinya: Semoga Allah memberi kalian hidayah dan memperbaiki keadaan kalian).” (HR. Tirmidzi (2739) dan dia berkata, “Hadis hasan sahih,” dan juga dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi. 6. وفي المقابل : لم يكن صلى الله عليه وسلم يرضى أن ينتهك اليهود حرمات المسلمين ، ويتمادوا في ذلك ، فكان يعاقب كل من يعتدي على المسلمين ويظلمهم ويتجاوز حدوده في ذلك ، فلما اعتدى بعض يهود بني قينقاع على امرأة مسلمة في السوق واحتالوا لكشف عورتها ، وتوعدوا النبي صلى الله عليه وسلم بالقتال ، وقالوا : ( يا محمد ، لا يغرنك من نفسك أنك قتلت نفرا من قريش كانوا أغمارا لا يعرفون القتال ، إنك لو قاتلتنا لعرفت أنا نحن الناس ) نقله ابن حجر في ” فتح الباري ” وحسَّنه ( 7 / 332 ) فقام النبي صلى الله عليه وسلم إليهم وأجلاهم من المدينة ، وكان ذلك في شوال من السنة الثانية للهجرة . ثم لما عَظُمَ أذى كعب بن الأشرف اليهودي للمسلمين ، وبدأ يخوض في أعراضهم ، ويشبب بنسائهم في شعره ، وارتحل إلى مكة يحرض زعماء قريش على المسلمين أمر النبي صلى الله عليه وسلم بقتله في قصة طويلة حدثت في ربيع الأول من السنة الثالثة للهجرة ، رواها البخاري ( 2375 ) ومسلم ( 1801 ) . 6. Namun di sisi lain, beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah tinggal diam saat orang-orang Yahudi melanggar kehormatan umat Islam dan menzalimi mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menghukum setiap orang yang menganiaya kaum mukminin, menzalimi mereka, atau melanggar batasan-batasan terhadap mereka. Ketika beberapa orang Yahudi dari Bani Qainūqāʿ melecehkan seorang wanita muslimah di pasar dan berusaha menyingkap auratnya, bahkan mereka mengancam akan memerangi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dengan mengatakan, “Wahai Muhammad, janganlah kamu jemawa melihat dirimu karena pernah membunuh sekelompok orang Quraisy, yang hanya orang-orang bodoh yang tidak bisa berperang. Jika kamu melawan kami, niscaya kamu akan tahu bahwa kamilah benar-benar orang (yang hebat, pent.)” Hal itu dikutip oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan beliau nilai hasan (7/332). Lantas Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerangi mereka dan mengusir mereka dari Madinah. Peristiwa itu terjadi di bulan Syawal tahun kedua Hijriah. ثم لما عَظُمَ أذى كعب بن الأشرف اليهودي للمسلمين ، وبدأ يخوض في أعراضهم ، ويشبب بنسائهم في شعره ، وارتحل إلى مكة يحرض زعماء قريش على المسلمين أمر النبي صلى الله عليه وسلم بقتله في قصة طويلة حدثت في ربيع الأول من السنة الثالثة للهجرة ، رواها البخاري ( 2375 ) ومسلم ( 1801 ) . وكذلك لما تكررت محاولات بني النضير لقتل النبي صلى الله عليه وسلم في قصص مشهورة يذكرها أهل المغازي والسير ، ودسوا إلى قريش يحضونهم على غزو المدينة ، ويدلونهم على العورة ، أمر النبي صلى الله عليه وسلم بإجلائهم من المدينة في السنة الرابعة من الهجرة . انظر ” المغازي ” للواقدي ( 1 / 363 – 370 ) و ” سيرة ابن هشام ” ( 3 / 682 ) . Kemudian, ketika kejahatan si Yahudi Ka’ab bin al-Asyraf terhadap umat Islam semakin menjadi-jadi; merusak kehormatan mereka, melecehkan wanita-wanita mereka dalam syair-syairnya, dan pergi ke Makkah untuk menghasut para pemimpin Quraisy untuk melawan umat Islam, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan untuk mengeksekusinya. Peristiwa ini terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun ketiga Hijriah, yang diriwayatkan dalam sebuah kisah panjang dalam Shahih Bukhari (2375) dan Muslim (1801). Demikian pula, ketika Banu Naḏhīr telah berulang kali berupaya membunuh Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam—sebagaimana tersebut dalam kisah-kisah terkenal yang diriwayatkan oleh para pengarang kitab-kitab tentang perang dan biografi—bahkan mereka menyusup ke suku Quraisy untuk menghasut mereka segera menyerang Madinah dan menunjukkan kepada mereka titik lemah kaum muslimin, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan agar mereka diusir dari Madinah pada tahun keempat Hijriah. Lihat al-Maghazi karya al-Waqidi (1/363-370) dan Sirah Ibnu Hisyam (3/682). وأما يهود بني قريظة فقد قتل النبي صلى الله عليه وسلم مقاتلتهم لما غدروا به يوم الأحزاب ، وتحالفوا مع قريش والعرب ضد المسلمين ، وخانوا العهود معهم ، وكان ذلك في العام الهجري الخامس . انظر ” سيرة ابن هشام ” ( 3 / 706 ) . وقد وردت أخبار كثيرة في أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعفو عن كل من أظهر الوفاء بالعهد من اليهود ، ولا يعاقب إلا من شارك في الغدر أو أقر ورضي . انظر ” السيرة النبوية الصحيحة ” أكرم العمري ( 1 / 316 ) ، وقد جاء في ميثاق المدينة : ” لليهود دينهم وللمسلمين دينهم ، مواليهم وأنفسهم ، إلا من ظلم نفسه وأثم ، فإنه لا يوتِغ – أي : يُهلِك – إلا نفسه وأهل بيته ” . Adapun orang-orang Yahudi dari Bani Quraiẓah, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengeksekusi mereka yang ikut berperang ketika membelot saat pecah perang Ahzab. Mereka malah bersekutu dengan kaum Quraisy dan suku-suku Arab melawan kaum muslimin, dan mengkhianati janji mereka. Peristiwa itu terjadi pada tahun kelima Hijriah. Lihat: Sirah Ibnu Hisyam (3/706). Ada banyak hadis yang meriwayatkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengampuni semua orang Yahudi yang menampakkan komitmen mereka terhadap perjanjian mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menghukum mereka kecuali yang ikut, menyetujui, dan meridai pengkhianatan itu. Lihat as-Sīrah an-Nabawiyyah aṣh-Ṣhaḥīẖah karya Dr. Akram al-Umari (1/316). Tertulis dalam Piagam Madinah, “Orang-orang Yahudi berhak atas agama mereka dan orang-orang Islam berhak atas agama mereka, para Mawali, dan diri mereka sendiri, kecuali bagi mereka yang menzalimi dirinya sendiri atau berbuat dosa, maka tidak ada yang mendapat hukuman kecuali dia sendiri dan keluarganya.” وأخيرا لما رأى النبي صلى الله عليه وسلم غدر اليهود وخيانتهم ، أوحى الله إليه أن يُخلِصَ جزيرة العرب لديانة التوحيد ، فلا يبقى فيها غير الدين الذي ارتضاه الله لنفسه . عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم أوصاهم في مرض موته فقال: ( أَخْرِجُوا الْمُشْرِكِينَ مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ ) رواه البخاري ( 2888 ) ومسلم ( 1637 ) . والله أعلم Ketika Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam melihat pengkhianatan dan pembelotan orang-orang Yahudi, akhirnya Allah Mewahyukan kepada beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam agar membersihkan Jazirah Arab untuk agama tauhid saja, sehingga di sana tidak ada lagi agama kecuali agama yang diridai Allah. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas —Semoga Allah Meridainya— bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ketika sakit menjelang wafatnya berwasiat kepada mereka (para Sahabat) dengan bersabda, “Usirlah orang-orang musyrik dari Jazirah Arab!” (HR. Bukhari (2888) dan Muslim (1637). Allah Yang lebih Mengetahui. Sumber:  https://islamqa.info/ar/answers/84308/هدي-النبي-صلى-الله-عليه-وسلم-في-معاملة-اليهود PDF sumber artikel. 🔍 Doa Ketika Dipuji, Jilat Kemaluan Wanita Menurut Islam, Arti Ilmu Hikmah, Ayat Yang Ditakuti Jin, Apakah Kristen Bisa Masuk Surga, Doa Jamak Visited 113 times, 1 visit(s) today Post Views: 365 QRIS donasi Yufid


السؤال كيف كان هدي النبي صلى الله عليه وسلم مع اليهود ؟ Pertanyaan: Bagaimana bimbingan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam bermuamalah dengan orang-orang Yahudi? الجواب الحمد لله. فإن أحسن الكلام كلام الله ، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم ، فهو أكمل الخلق وسيد الرسل ، وقد أمرنا بالتمسك بهديه ، فقال : ( عَلَيكُم بِسُنَّتِي ) رواه أبو داود ( 4607 ) وصححه الألباني في ” صحيح أبي داود ” . وقد جاء هديه وسنته بأحسن الأحوال وأقوم الأخلاق ، خاصة في تعامله صلى الله عليه وسلم مع أهل الديانات الأخرى ، ونستطيع أن نجمل هديه صلى الله عليه وسلم في التعامل مع اليهود في المسائل التالية : Jawaban: Alhamdulillah. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Dialah makhluk yang paling sempurna dan pemimpin para rasul. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan kita berpegang teguh dengan petunjuknya dengan bersabda, “Kalian harus berpegang pada Sunahku.” (HR. Abu Dawud (4607) dan dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)  Bimbingan dan Sunah Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam datang dengan ajaran yang terbaik dan akhlak yang paling lurus, terutama dalam muamalah beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dengan orang-orang yang berbeda agama. Kita bisa menyampaikan secara global bahwa bimbingan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam bermuamalah dengan orang-orang Yahudi terangkum dalam poin-poin berikut: 1. اتخاذ الموقع الصحيح من اليهودية وجميع الأديان ، وهذا الموقع يتمثل باعتقاد أحقية دين الإسلام والتوحيد ، وكفر وفساد كل ديانة أخرى ، وتقرير أن الله تعالى لا يقبل يوم القيامة إلا أن يكون العبد مسلما حنيفا لله تعالى ، كما قال سبحانه : ( وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ ) آل عمران/85 . وقد كان هذا التقرير هو المحور الذي تدور عليه صلى الله عليه وسلم دعوته صلى الله عليه وسلم ، ويتخذ المواقف تبعا له ؛ لأنه من ضرورات عقيدة المسلم التي تعرضت في العصور الأخيرة للتحريف والتشويه من دعاة ” توحيد الأديان ” !انظر جواب السؤال رقم ( 21534 ). Mengambil sikap yang benar terhadap agama Yahudi dan semua agama lain. Sikap yang benar ini adalah dengan meyakini bahwa Islam dan agama tauhid ini adalah agama yang benar, bahwa semua agama lain adalah agama kafir dan menyimpang, dan bahwa Allah Subẖānahu wa Taʿālā pada hari kiamat tidak akan menerima agama apa pun kecuali jika seorang hamba beragama Islam yang hanif karena Allah, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya), “Barang siapa mencari agama selain Islam, maka (agama) itu tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85) Keyakinan ini adalah poros dakwah Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang dengannya beliau mengambil berbagai sikap dan tindakan, karena ini adalah salah satu akidah pokok seorang muslim yang akhir-akhir ini telah tergerus oleh penyimpangan dan distorsi yang dilakukan orang-orang yang mengusung paham pluralisme. Lihat jawaban pertanyaan nomor 21534. 2. ولذلك كان صلى الله عليه وسلم يحرص على دعوتهم للإسلام ، ولا يفوت فرصة يمكن أن يبلغهم فيها دين الله تعالى إلا وفعل ، حتى إنه صلى الله عليه وسلم لم يبدأ حربا معهم – بسبب غدرهم وخيانتهم – إلا ويسبقها بدعوتهم وتذكيرهم ، كما قال لعلي بن أبي طالب رضي الله عنه يوم فتح خيبر : ( انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ ) رواه البخاري ( 2942 ) ومسلم ( 2406 ) . Oleh karena itulah beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat ingin mengajak mereka masuk Islam. Tidaklah beliau mendapatkan satu kesempatan pun untuk menyampaikan agama Allah Subẖānahu wa Taʿālā ini kecuali beliau memanfaatkannya. Sampai-sampai beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah memulai perang dengan mereka—yang sebabnya adalah pembelotan dan pengkhianatan mereka sendiri—kecuali mendahuluinya dengan peringatan dan dakwah, seperti yang beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam katakan kepada Ali bin Abi Thalib —Semoga Allah Meridainya— pada hari penaklukan Khaibar, “Lakukanlah dengan tenang hingga engkau sampai di pemukiman mereka, lalu ajaklah mereka untuk menerima Islam dan kabarkan kepada mereka hak-hak Allah yang menjadi kewajiban mereka. Sungguh, seandainya Allah Memberi hidayah kepada seseorang lewat perantaraan dirimu, maka hal itu lebih baik bagimu daripada seekor unta merah.” (HR. Bukhari (2942) dan Muslim (2406)). 3. التأكيد على أن عقد الموالاة إنما هو بين المؤمنين ، وأن البراء واجب من كل كفر مبين ، وجعل صلى الله عليه وسلم مناط الأخوة الإسلام ، فلا يجوز لمسلم أن يوالي أهل أي ملة بالمحبة والمودة ، لذلك تجده صلى الله عليه وسلم يسارع في أول قدومه المدينة في تقرير المفارقة بين الإسلام واليهودية ، فكان في نص الوثيقة ” الدستور ” التي أمر النبي صلى الله عليه سلم بكتابته لتنظيم العلاقات بين سكان المدينة : ” المؤمنون أمة واحدة دون الناس ” رواه القاسم بن سلام في ” الأموال ” ( 517 ) من مراسيل الزهري . Penguatan sikap bahwa janji al-Walāʾ (loyalitas) hanya untuk sesama kaum mukminin saja dan kewajiban untuk al-Barāʾ (berlepas diri) dari setiap kekafiran yang nyata. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menjadikan Islam sebagai asas persaudaraan, sehingga tidak boleh bagi seorang muslim untuk memberikan loyalitasnya kepada penganut agama lain dengan mencintai dan berkasih sayang dengan mereka. Inilah sebabnya Anda dapati beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam di awal kedatangan beliau di kota Madinah bersegera menetapkan batas pembeda antara agama Islam dan Yahudi. Tertuang dalam naskah ‘Piagam (Madinah)’ yang diperintahkan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam agar ditulis untuk mengatur hubungan antar penduduk Madinah, “Kaum mukminin adalah umat yang satu, yang tidak mencakup selain mereka.” (HR. Al-Qasim bin Salam dalam al-Amwāl (517) dari Marāsil az-Zuhrī. يقول الدكتور أكرم العمري : ” الروابط تقتصر على المسلمين ولا تشمل غيرهم من اليهود والحلفاء ، ولا شك أن تمييز الجماعة الدينية كان أمرا مقصودا يستهدف زيادة تماسكها واعتزازها بذاتها ” انتهى . انظر ” السيرة النبوية الصحيحة ” للدكتور أكرم العمري ( 1 / 272 – 291 ) فقد توسع في الحكم على الوثيقة وتحليلها . Dr. Akram al-Umari berkata bahwa ikatan ini terbatas hanya untuk umat Islam dan tidak mencakup orang-orang Yahudi dan sekutunya. Tidak ada keraguan bahwa membedakan kelompok agama itu adalah sesuatu yang disengaja untuk menguatkan pengaruh dan kekuatan umat. Selesai kutipan. Lihat as-Sīrah an-Nabawiyyah aṣh-Ṣhaḥīẖah karya Dr. Akram al-Umari (1/272-291) di mana beliau membahas dan menjabarkan naskah piagam tersebut. 4. ولكنه صلى الله عليه وسلم كان يعترف بحقوق اليهود والنصارى ، ويخطئ من يتوهم أن التبرأ من ديانة اليهود المحرفة يلزم منه ظلمهم ومصادرة حقوقهم ، فقد قبل النبي صلى الله عليه وسلم وجود اليهود في المدينة ، وكتب في دستور المدينة : ” وإن يهود بني عوف أمة مع المؤمنين ” ، وتكفل لهم بجميع أنواع 1الحقوق : Meskipun demikian, beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tetap mengakui hak-hak orang Yahudi dan Nasrani. Maka dari itu, keliru jika ada orang yang salah paham bahwa berlepas diri dari agama Yahudi yang menyimpang berarti menindas mereka dan merampas hak-hak mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menerima kehadiran orang-orang Yahudi di Madinah, dan menulis dalam piagam Madinah bahwa orang-orang Yahudi Bani Auf adalah satu umat yang berdampingan dengan kaum mukminin. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga menjamin berbagai hak mereka: أ. حق الحياة : فلم يقتل يهوديا إلا من خان وغدر . ب. وحق اختيار الدين : حيث أقرهم على ديانتهم ولم يكره أحداً على الإسلام ، عملا بقوله سبحانه وتعالى : ( لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ) البقرة/256 ، وكتب في ميثاق المدينة : ” لليهود دينهم وللمسلمين دينهم مواليهم وأنفسهم ” . ج. حق التملك : فلم يصادر أملاك أحد منهم ، بل أقر النبي صلى الله عليه وسلم المسلمين على تجارتهم معهم . د. حق الحماية والدفاع : فقد جاء في ميثاق المدينة : ” وإن على اليهود نفقتهم ، وعلى المسلمين نفقتهم ، وإن بينهم النصر على من حارب أهل هذه الصحيفة “ Hak hidup, di mana orang Yahudi tidak boleh dibunuh kecuali mereka berkhianat atau membelot, dan hak untuk memilih agamanya, di mana beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengakui agama mereka dan tidak memaksa siapa pun untuk memeluk Islam, dalam rangka mengamalkan firman Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya), “Tidak ada paksaan dalam beragama.” (QS. Al-Baqarah: 256) Tertuang dalam Piagam Madinah, “Orang-orang Yahudi berhak atas agama mereka dan orang-orang Islam berhak atas agama mereka, para Mawali, dan diri mereka sendiri.” Hak atas kepemilikan, di mana tidak ada satu pun dari mereka yang dirampas hartanya, bahkan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengakui jual beli antara kaum Muslim dengan mereka. Hak atas perlindungan dan pembelaan, sebagaimana tertuang dalam Piagam Madinah, “Orang-orang Yahudi bertanggung jawab atas kebutuhan mereka sendiri sebagaimana umat Islam bertanggung jawab atas kebutuhan mereka, sesama mereka harus saling menolong melawan orang yang memerangi pihak-pihak dalam piagam ini.” هـ. حق العدل في المعاملة ورفع الظلم : وذلك مقرر في صحيفة المدينة حيث جاء فيها : ” وأنه من تبعنا من يهود فإن له النصر والأسوة غير مظلومين ولا متناصر عليهم ” ، وقد عدل النبي صلى الله عليه وسلم في الحكم ولو كان ذلك على حساب المسلمين ، فلما قتل أهلُ خيبر عبدَ الله بن سهل رضي الله عنه لم يقض النبي صلى الله عليه وسلم عليهم بالدية ، ولم يعاقبهم على جريمتهم ، لعدم وجود البينة الظاهرة ضدهم ، حتى دفع النبي صلى الله عليه وسلم ديته من أموال المسلمين ، والقصة في البخاري ( 6769 ) ومسلم ( 1669 ) ، ولما اختصم الأشعث بن قيس ورجل من اليهود إلى النبي صلى الله عليه وسلم في أرض باليمن ولم يكن لعبد الله بيِّنة قضى فيها لليهودي بيمينه ، كما في البخاري ( 2525 ) ومسلم ( 138 ) . Hak untuk diperlakukan secara adil dan tidak dizalimi. Hal ini dinyatakan dalam Piagam Madinah, “Orang-orang Yahudi yang mengikuti kami berhak mendapatkan pertolongan dan pembelaan serta tidak boleh dizalimi atau menolong orang yang memerangi mereka.” Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berlaku adil dalam pengambilan keputusan hukum walaupun itu merugikan kaum mukminin. Ketika penduduk Khaibar membunuh Abdullah bin Sahl —Semoga Allah Meridainya—, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak mengambil diyatnya dari mereka dan tidak menghukum mereka atas kejahatan mereka, karena tidak adanya bukti yang kuat untuk menyatakan bahwa mereka bersalah, sampai-sampai Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri yang membayar diyatnya dari uang kaum muslimin. Kisah ini termaktub dalam Shahih Bukhari (6769) dan Muslim (1669). Ketika al-Asyʿats bin Qais dan seorang Yahudi mengangkat perselisihan mereka kepada Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tentang sebuah tanah di negeri Yaman, sementara Abdullah tidak mempunyai bukti, maka beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memenangkan si Yahudi dengan sumpahnya, sebagaimana termaktub dalam Shahih Bukhari (2525) dan Muslim (138). و. بل منحهم النبي صلى الله عليه وسلم حق التحاكم فيما بينهم إلى قوانين دينهم ، ولم يلزمهم بقوانين المسلمين ما دام طرفا القضية من أتباعهم ، إلا إذا ترافعوا إليه صلى الله عليه وسلم ، وطلبوا منه الحكم بينهم ، فكان حينئذ يحاكمهم بشريعة الله ودين المسلمين ، يقول الله سبحانه وتعالى : ( فَإِن جَآؤُوكَ فَاحْكُم بَيْنَهُم أَوْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ وَإِن تُعْرِضْ عَنْهُمْ فَلَن يَضُرُّوكَ شَيْئاً وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُم بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ) المائدة/42 . Lebih dari itu, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memberikan kepada mereka hak untuk menegakkan hukum di tengah mereka dengan hukum agama mereka, dan tidak memaksa mereka menggunakan hukum umat Islam, selama kedua belah pihak yang berselisih adalah orang sesama pemeluk agama mereka, kecuali jika mereka mengangkat perselisihan mereka kepada beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan meminta beliau untuk menjadi hakim di antara mereka, maka saat itulah beliau akan mengadili mereka berdasarkan syariat Allah dan agama Islam. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman (yang artinya), “Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (Muhammad untuk meminta putusan), maka berilah putusan di antara mereka atau berpalinglah dari mereka, dan jika engkau berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan membahayakanmu sedikit pun. Tetapi jika engkau memutuskan (perkara mereka), maka putuskanlah dengan adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.” (QS. Al-Maidah: 42) 5. وقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يحسن معاملة جميع الناس ، ومنهم اليهود ، فقد أمر الله سبحانه بالقسط والبر وحسن الخلق وأداء الأمانة مع اليهود وغيرهم ، حيث قال سبحانه : ( لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ) الممتحنة/8 . ومن بره صلى الله عليه وسلم في معاملة اليهود : 5. Nabi Muhammad Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam adalah orang yang baik muamalahnya kepada semua orang, termasuk orang-orang Yahudi. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Memerintahkan keadilan, kebajikan, perilaku yang baik, akhlak yang mulia, dan menunaikan amanah, baik kepada orang-orang Yahudi maupun selain mereka. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman (yang artinya), “Allah tidak Melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian dalam urusan agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman kalian. Sesungguhnya Allah Mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)  Di antara bentuk kebajikan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam terhadap orang-orang Yahudi adalah: أ. أنه كان يعود مريضهم : روى البخاري ( 1356 ) عن أنس بن مالك رضي الله عنه : ( أَنَّ غُلَامًا مِنَ اليَهُودِ كَانَ يَخدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَمَرِضَ ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ ، فَقَعَدَ عِندَ رَأسِهِ ، فَقَالَ : أََسلِم . فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِندَ رَأسِهِ ، فَقَالَ لَه : أَطِع أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ . فَأَسلَمَ ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ : الحَمدُ لِلَّهِ الذِي أَنقَذَهُ مِنَ النَّارِ ) . ب. وكان صلى الله عليه وسلم يقبل هداياهم : فقد روى البخاري ( 2617 ) ومسلم ( 2190 ) عن أنس بن مالك رضي الله عنه : ( أَنَّ امرَأَةً يَهُودِيَّةً أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مَسمُومَةٍ فَأَكَلَ مِنهَا ) . Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menjenguk mereka yang sakit. Imam Bukhari (1356) meriwayatkan dari Anas bin Malik —Semoga Allah Meridainya— bahwa ada seorang anak laki-laki Yahudi yang dahulu pernah menjadi pelayan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Dia sakit, maka beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam datang menjenguknya, lalu beliau duduk di dekat kepalanya dan berkata, “Masuklah Islam!” Lalu dia memandang ke arah ayahnya, yang juga berada di dekat kepalanya, maka dia berkata kepadanya, “Taatilah Abul Qasim.” Lantas dia pun masuk Islam, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam pergi seraya berkata, “Segala puji bagi Allah Yang telah Menyelamatkannya dari neraka.” Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mau menerima hadiah-hadiah dari mereka. Imam Bukhari (2617) dan Muslim (2190) meriwayatkan dari Anas bin Malik —Semoga Allah Meridainya— bahwa seorang wanita Yahudi datang kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam membawa daging domba yang telah diberi racun, lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memakannya. ج. كما كان صلى الله عليه وسلم يعفو عن مسيئهم : إذ لم ينه عن قتل تلك المرأة التي وضعت السم في الشاة ، ففي تكملة الحديث السابق : ( فَجِيءَ بِهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهَا عَنْ ذَلِكَ فَقَالَتْ : أَرَدْتُ لِأَقْتُلَكَ ، قَالَ : مَا كَانَ اللَّهُ لِيُسَلِّطَكِ عَلَى ذَاكِ – قَالَ : أَوْ قَالَ : عَلَيَّ – قَالَ : قَالُوا : أَلَا نَقْتُلُهَا ؟ قَالَ : لَا ) ، بل وفي حديث أبي هريرة في صحيح البخاري ( 3169 ) أن ذلك كان بعلم من اليهود وأنهم اعترفوا بمحاولة القتل بالسم ، ومع ذلك لم يأمر صلى الله عليه وسلم بالانتقام لنفسه ، لكنه قتلها بعد ذلك لموت الصحابي الذي كان معه صلى الله عليه وسلم وكان أكل من الشاة المسمومة , وهو بشر بن البراء رضي الله عنه . وكذلك لما سحره اليهودي لبيد بن الأعصم ، وعافاه الله من السحر ، لم ينتقم منه ولا أمر بقتله ، بل جاء في ” سنن النسائي ” ( 4080 ) وصححه الألباني عن زيد بن أرقم قال : ( فَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ لِذَلِكَ اليَهُودِيِّ وَلَا رَآهُ فِي وَجهِهِ قَط ) . Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga memaafkan perlakuan buruk mereka, maka beliau melarang membunuh wanita yang menaruh racun di daging domba tersebut. Dalam lanjutan hadis sebelumnya, “Lalu dia (si wanita itu) dihadapkan kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu diinterogasi, lalu dia menjawab, ‘Saya ingin membunuhmu!’ Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menimpali, ‘Allah tidak akan Memberimu kemampuan untuk melakukannya.’ (atau bersabda, ‘… untuk mencelakaiku.’) Mereka (para Sahabat) berkata, ‘Bolehkan kami membunuhnya?’ Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Jangan.’ Bahkan dalam hadis Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya— dalam Shahih Bukhari (3169) disebutkan bahwa upaya meracuni itu sebenarnya dilakukan dengan sepengetahuan orang-orang Yahudi dan mereka mengakuinya bahwa mereka berusaha membunuh beliau dengan racun, tetapi beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak memerintahkan agar melakukan balas dendam. Meskipun pada akhirnya beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam membunuh wanita itu karena meninggalnya salah seorang Sahabat yang ketika itu makan bersama beliau dan ikut memakan daging domba beracun itu. Dia adalah Bisyr bin al-Barāʾ —Semoga Allah Meridainya— Demikian pula ketika seorang Yahudi bernama Labid bin al-Aʿṣham menyihir beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam—tapi Allah Menyembuhkan beliau dari sihirnya—, beliau tidak membalasnya maupun memerintahkan untuk membunuhnya, bahkan disebutkan dalam Sunan an-Nasai (4080), yang dinilai sahih oleh al-Albani, dari Zaid bin Arqam —Semoga Allah Meridainya— yang berkata, “Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah menyebutkan hal itu kepada si Yahudi itu dan aku sama sekali tidak melihat ada sesuatu (ketidaksukaan, pent.) di wajah beliau.” د. وكان صلى الله عليه وسلم يعامل اليهود بالمال ، ويفي لهم معاملتهم : عن ابن عمر رضي الله عنهما قال :( أَعْطَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْبَرَ الْيَهُودَ أَنْ يَعْمَلُوهَا وَيَزْرَعُوهَا وَلَهُمْ شَطْرُ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا ) رواه البخاري ( 2165 ) ومسلم ( 1551 ) . وعن عائشة رضي الله عنها قالت : ( اشْتَرَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَامًا بِنَسِيئَةٍ وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ ) رواه البخاري ( 1990 ) ومسلم ( 1603 ) . Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga melakukan muamalah dengan mereka dalam urusan harta dan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menunaikan hak mereka dalam muamalah. Diriwayatkan dari Ibnu Umar —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memberikan tanah Khaibar kepada orang-orang Yahudi agar mereka mengolah dan bercocok tanam di sana, dan mereka akan mendapatkan setengah dari hasil dari hasil tanah tersebut. (HR. Bukhari (2165) dan Muslim (1551)) Diriwayatkan dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya— yang berkata bahwa Rasulullah membeli makanan dari seorang Yahudi secara tidak kontan dengan menggadaikan baju besinya. (HR. Bukhari (1990) dan Muslim (1603)). هـ. وفي أول قدومه صلى الله عليه وسلم المدينة كان يحب موافقة اليهود في أعمالهم وعاداتهم ليتألف قلوبهم على الإسلام ، ولكنه لما رأى عنادهم وجحودهم ومكابرتهم أمر بمخالفتهم ، ونهى عن التشبه بهم . عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : ( أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَسْدِلُ شَعَرَهُ وَكَانَ الْمُشْرِكُونَ يَفْرُقُونَ رُءُوسَهُمْ فَكَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يَسْدِلُونَ رُءُوسَهُمْ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ مُوَافَقَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ فِيمَا لَمْ يُؤْمَرْ فِيهِ بِشَيْءٍ ثُمَّ فَرَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأْسَهُ ) رواه البخاري ( 3728 ) ومسلم ( 2336 ) . Pada awal kedatangan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam di Madinah, beliau suka mengikuti perbuatan dan kebiasaan orang-orang Yahudi agar hati mereka luluh dengan agama Islam. Hanya saja, setelah beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam melihat pembangkangan, pengingkaran, kesombongan, dan pelanggaran mereka, lantas beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam melarang menyerupai mereka. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dahulunya menyisir rambut beliau ke arah depan (kening) sedangkan orang-orang musyrik menyisir dengan membelah (kanan-kiri) rambut mereka, sementara Ahli Kitab menyisir rambut mereka ke arah depan (kening). Rupanya Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lebih suka mengikuti Ahli Kitab dalam perkara yang tidak ada perintahnya (dalam syariat). Namun di kemudian hari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyisiri dengan membelah (kanan-kiri) rambutnya. (HR. Bukhari (3728) dan Muslim (2336)). و. ولم يكن صلى الله عليه وسلم يترفع عن محاورتهم ، بل كان يتواضع لهم ، ويجيب على أسئلتهم وإن كان مرادهم منها العنت والمجادلة بالباطل . عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رضي الله عنه قَالَ : ( بَيْنَمَا أَنَا أَمْشِي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَرْثٍ وَهُوَ مُتَّكِئٌ عَلَى عَسِيبٍ إِذْ مَرَّ بِنَفَرٍ مِنْ الْيَهُودِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ سَلُوهُ عَنْ الرُّوحِ فَقَالُوا مَا رَابَكُمْ إِلَيْهِ لَا يَسْتَقْبِلُكُمْ بِشَيْءٍ تَكْرَهُونَهُ فَقَالُوا سَلُوهُ فَقَامَ إِلَيْهِ بَعْضُهُمْ فَسَأَلَهُ عَنْ الرُّوحِ قَالَ فَأَسْكَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ شَيْئًا فَعَلِمْتُ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْهِ قَالَ فَقُمْتُ مَكَانِي فَلَمَّا نَزَلَ الْوَحْيُ قَالَ : ( وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ الرُّوحِ قُلْ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا ) رواه البخاري ( 4444 ) ومسلم ( 2794 ) . Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak segan-segan ngobrol dengan mereka, bahkan tetap rendah hati di hadapan mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, meskipun niat mereka adalah ingin menolak dan membantah dengan cara yang batil. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud —Semoga Allah Meridainya— yang mengatakan, “Saat aku berjalan-jalan bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam di salah satu ladang, lalu beliau bersandar ke sebuah batang, tiba-tiba beberapa orang Yahudi lewat, mereka saling berkata satu sama lain, ‘Tanyakan padanya tentang ruh.’ Mereka saling berkata, ‘Apa yang membuat kalian ingin bertanya kepadanya? Dia malah akan menjawabnya dengan jawaban yang tidak kalian sukai.’ Mereka berkata, ‘Bertanyalah padanya!’ Kemudian salah seorang dari mereka menghampiri beliau lalu bertanya tentang ruh pada beliau.'” Abdullah mengisahkan, “Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam diam dan tidak menjawab sepatah kata pun. Dari situ aku tahu bahwa beliau tengah menerima wahyu. Lalu aku berdiri dari tempatku, maka pada saat wahyu telah turun, beliau membaca (yang artinya), ‘Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh, maka katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kalian tidaklah diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit.”’” (QS. Al-Isra’: 85) (HR. Bukhari (4444) dan Muslim (2794)). ز. وكان يدعو لهم بالهداية وصلاح البال : فعَنْ أَبِي مُوسَى رضي الله عنه قَالَ : ( كَانَ الْيَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُونَ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ يَرْحَمُكُمْ اللَّهُ فَيَقُولُ : يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ ) رواه الترمذي ( 2739 ) وقال : حسن صحيح ، وصححه الألباني في ” صحيح الترمذي ” . Beliau tetap mendoakan hidayah dan kebaikan mereka. Diriwayatkan dari Abu Musa —Semoga Allah Meridainya— yang mengatakan bahwa orang-orang Yahudi biasa memaksakan diri bersin-bersin di sisi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam karena berharap bahwa beliau akan berdoa untuk mereka, “Yarẖamukumullāh (artinya: Semoga Allah Merahmati kalian)” tapi ternyata beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mendoakan mereka, “Yahdikumullāhu wa Yuṣhliẖu Bālakum (artinya: Semoga Allah memberi kalian hidayah dan memperbaiki keadaan kalian).” (HR. Tirmidzi (2739) dan dia berkata, “Hadis hasan sahih,” dan juga dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi. 6. وفي المقابل : لم يكن صلى الله عليه وسلم يرضى أن ينتهك اليهود حرمات المسلمين ، ويتمادوا في ذلك ، فكان يعاقب كل من يعتدي على المسلمين ويظلمهم ويتجاوز حدوده في ذلك ، فلما اعتدى بعض يهود بني قينقاع على امرأة مسلمة في السوق واحتالوا لكشف عورتها ، وتوعدوا النبي صلى الله عليه وسلم بالقتال ، وقالوا : ( يا محمد ، لا يغرنك من نفسك أنك قتلت نفرا من قريش كانوا أغمارا لا يعرفون القتال ، إنك لو قاتلتنا لعرفت أنا نحن الناس ) نقله ابن حجر في ” فتح الباري ” وحسَّنه ( 7 / 332 ) فقام النبي صلى الله عليه وسلم إليهم وأجلاهم من المدينة ، وكان ذلك في شوال من السنة الثانية للهجرة . ثم لما عَظُمَ أذى كعب بن الأشرف اليهودي للمسلمين ، وبدأ يخوض في أعراضهم ، ويشبب بنسائهم في شعره ، وارتحل إلى مكة يحرض زعماء قريش على المسلمين أمر النبي صلى الله عليه وسلم بقتله في قصة طويلة حدثت في ربيع الأول من السنة الثالثة للهجرة ، رواها البخاري ( 2375 ) ومسلم ( 1801 ) . 6. Namun di sisi lain, beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah tinggal diam saat orang-orang Yahudi melanggar kehormatan umat Islam dan menzalimi mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menghukum setiap orang yang menganiaya kaum mukminin, menzalimi mereka, atau melanggar batasan-batasan terhadap mereka. Ketika beberapa orang Yahudi dari Bani Qainūqāʿ melecehkan seorang wanita muslimah di pasar dan berusaha menyingkap auratnya, bahkan mereka mengancam akan memerangi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dengan mengatakan, “Wahai Muhammad, janganlah kamu jemawa melihat dirimu karena pernah membunuh sekelompok orang Quraisy, yang hanya orang-orang bodoh yang tidak bisa berperang. Jika kamu melawan kami, niscaya kamu akan tahu bahwa kamilah benar-benar orang (yang hebat, pent.)” Hal itu dikutip oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan beliau nilai hasan (7/332). Lantas Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerangi mereka dan mengusir mereka dari Madinah. Peristiwa itu terjadi di bulan Syawal tahun kedua Hijriah. ثم لما عَظُمَ أذى كعب بن الأشرف اليهودي للمسلمين ، وبدأ يخوض في أعراضهم ، ويشبب بنسائهم في شعره ، وارتحل إلى مكة يحرض زعماء قريش على المسلمين أمر النبي صلى الله عليه وسلم بقتله في قصة طويلة حدثت في ربيع الأول من السنة الثالثة للهجرة ، رواها البخاري ( 2375 ) ومسلم ( 1801 ) . وكذلك لما تكررت محاولات بني النضير لقتل النبي صلى الله عليه وسلم في قصص مشهورة يذكرها أهل المغازي والسير ، ودسوا إلى قريش يحضونهم على غزو المدينة ، ويدلونهم على العورة ، أمر النبي صلى الله عليه وسلم بإجلائهم من المدينة في السنة الرابعة من الهجرة . انظر ” المغازي ” للواقدي ( 1 / 363 – 370 ) و ” سيرة ابن هشام ” ( 3 / 682 ) . Kemudian, ketika kejahatan si Yahudi Ka’ab bin al-Asyraf terhadap umat Islam semakin menjadi-jadi; merusak kehormatan mereka, melecehkan wanita-wanita mereka dalam syair-syairnya, dan pergi ke Makkah untuk menghasut para pemimpin Quraisy untuk melawan umat Islam, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan untuk mengeksekusinya. Peristiwa ini terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun ketiga Hijriah, yang diriwayatkan dalam sebuah kisah panjang dalam Shahih Bukhari (2375) dan Muslim (1801). Demikian pula, ketika Banu Naḏhīr telah berulang kali berupaya membunuh Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam—sebagaimana tersebut dalam kisah-kisah terkenal yang diriwayatkan oleh para pengarang kitab-kitab tentang perang dan biografi—bahkan mereka menyusup ke suku Quraisy untuk menghasut mereka segera menyerang Madinah dan menunjukkan kepada mereka titik lemah kaum muslimin, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan agar mereka diusir dari Madinah pada tahun keempat Hijriah. Lihat al-Maghazi karya al-Waqidi (1/363-370) dan Sirah Ibnu Hisyam (3/682). وأما يهود بني قريظة فقد قتل النبي صلى الله عليه وسلم مقاتلتهم لما غدروا به يوم الأحزاب ، وتحالفوا مع قريش والعرب ضد المسلمين ، وخانوا العهود معهم ، وكان ذلك في العام الهجري الخامس . انظر ” سيرة ابن هشام ” ( 3 / 706 ) . وقد وردت أخبار كثيرة في أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعفو عن كل من أظهر الوفاء بالعهد من اليهود ، ولا يعاقب إلا من شارك في الغدر أو أقر ورضي . انظر ” السيرة النبوية الصحيحة ” أكرم العمري ( 1 / 316 ) ، وقد جاء في ميثاق المدينة : ” لليهود دينهم وللمسلمين دينهم ، مواليهم وأنفسهم ، إلا من ظلم نفسه وأثم ، فإنه لا يوتِغ – أي : يُهلِك – إلا نفسه وأهل بيته ” . Adapun orang-orang Yahudi dari Bani Quraiẓah, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengeksekusi mereka yang ikut berperang ketika membelot saat pecah perang Ahzab. Mereka malah bersekutu dengan kaum Quraisy dan suku-suku Arab melawan kaum muslimin, dan mengkhianati janji mereka. Peristiwa itu terjadi pada tahun kelima Hijriah. Lihat: Sirah Ibnu Hisyam (3/706). Ada banyak hadis yang meriwayatkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengampuni semua orang Yahudi yang menampakkan komitmen mereka terhadap perjanjian mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menghukum mereka kecuali yang ikut, menyetujui, dan meridai pengkhianatan itu. Lihat as-Sīrah an-Nabawiyyah aṣh-Ṣhaḥīẖah karya Dr. Akram al-Umari (1/316). Tertulis dalam Piagam Madinah, “Orang-orang Yahudi berhak atas agama mereka dan orang-orang Islam berhak atas agama mereka, para Mawali, dan diri mereka sendiri, kecuali bagi mereka yang menzalimi dirinya sendiri atau berbuat dosa, maka tidak ada yang mendapat hukuman kecuali dia sendiri dan keluarganya.” وأخيرا لما رأى النبي صلى الله عليه وسلم غدر اليهود وخيانتهم ، أوحى الله إليه أن يُخلِصَ جزيرة العرب لديانة التوحيد ، فلا يبقى فيها غير الدين الذي ارتضاه الله لنفسه . عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم أوصاهم في مرض موته فقال: ( أَخْرِجُوا الْمُشْرِكِينَ مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ ) رواه البخاري ( 2888 ) ومسلم ( 1637 ) . والله أعلم Ketika Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam melihat pengkhianatan dan pembelotan orang-orang Yahudi, akhirnya Allah Mewahyukan kepada beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam agar membersihkan Jazirah Arab untuk agama tauhid saja, sehingga di sana tidak ada lagi agama kecuali agama yang diridai Allah. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas —Semoga Allah Meridainya— bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ketika sakit menjelang wafatnya berwasiat kepada mereka (para Sahabat) dengan bersabda, “Usirlah orang-orang musyrik dari Jazirah Arab!” (HR. Bukhari (2888) dan Muslim (1637). Allah Yang lebih Mengetahui. Sumber:  https://islamqa.info/ar/answers/84308/هدي-النبي-صلى-الله-عليه-وسلم-في-معاملة-اليهود PDF sumber artikel. 🔍 Doa Ketika Dipuji, Jilat Kemaluan Wanita Menurut Islam, Arti Ilmu Hikmah, Ayat Yang Ditakuti Jin, Apakah Kristen Bisa Masuk Surga, Doa Jamak Visited 113 times, 1 visit(s) today Post Views: 365 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Jika Makmum Berdiri di Sebelah Kiri Imam, Shalat Malam Nabi Bersama Ibnu Abbas

Bagaimana keadaan shaf jika imam dan makmum hanya berdua? Apakah makmum berada di sebelah kiri atau kanan imam? Kita dapat melihat contoh shalat berjamaah dan Ibnu ‘Abbas berikut ini.   Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #416 3.1. Faedah hadits 3.2. Referensi: Hadits #416 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَأخَذَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَأْسِي مِنْ وَرَائِي، فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Suatu malam, aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berdiri di samping kirinya. Lalu beliau memegang kepalaku dari belakang dan memindahkanku ke sebelah kanannya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 726 dan Muslim, no. 763]   Faedah hadits Posisi makmum adalah di sebelah kanan imam. Jika makmum berdiri di sebelah kiri imam, hendaklah ia berpindah ke kanan atau imam memindahkannya ke kanan. Memindahkan makmum seperti ini hanyalah perbuatan yang dianggap sedikit (bukan gerakan yang banyak), sehingga tidak membatalkan shalat. Shalat anak kecil itu sah. Posisinya dalam shalat berjamaah sama seperti jamaah dewasa (baligh). Shalat berjamaah untuk shalat sunnah, selain shalat wajib itu sah. Makmum hendaklah berdiri di belakang imam sedikit, demikian pendapat ulama Syafiiyah. Walaupun ulama lain berpendapat bahwa posisi imam dan makum yang hanya berdua itu sejajar. Pendapat terakhir ini dikemukakan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam. Lihat pendapat ini juga dari Syaikh ‘Abdul Karim Khudair. Niat diubah dari shalat munfarid (sendirian) menjadi shalat berjamaah boleh dilakukan di pertengahan shalat. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma sangat semangat mendalami ilmu agama. Ia menggunakan kesempatan pada malam hari ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di rumah bibinya, Ummul Mukminin Maimunah radhiyallahu ‘anha (ia adalah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekaligus saudara perempuan dari ibunya Ibnu ‘Abbas). Ibnu ‘Abbas bermalam di rumah Maimunah dan semangat melakukan shalat malam bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Abbas mau berjuang untuk begadang malam untuk sekadar mendapatkan ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal ketika itu, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma belum baligh. Ketika ia membantu Nabi dalam menyiapkan wudhu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakannya, “ALLOHUMMA FAQQIHHU FID DIIN WA ‘ALLIMHUT TA’WIIL (artinya: Ya Allah, berilah pemahaman agama padanya dan ajarkanlah ia ilmu tafsir, untuk memahami Al-Qur’an).” (Disebutkan dalam Al-Musnad, 5:159-160)   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:415-418. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:41-42.   Baca juga: Mengejar Shaf Pertama Berlomba-Lomba Mendapatkan Shaf Pertama Yang Lebih Dulu, Itulah yang Lebih Berhak Shaf Shalat Terbaik Bagaimana Hukum Shalat Jamaah bagi Wanita?       Diselesaikan pada Rabu pagi, 24 Rabiul Akhir 1445 H, 8 November 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam cara merapatkan shaf hukum shalat berjamaah keutamaan shalat berjamaah shaf shalat shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid

Jika Makmum Berdiri di Sebelah Kiri Imam, Shalat Malam Nabi Bersama Ibnu Abbas

Bagaimana keadaan shaf jika imam dan makmum hanya berdua? Apakah makmum berada di sebelah kiri atau kanan imam? Kita dapat melihat contoh shalat berjamaah dan Ibnu ‘Abbas berikut ini.   Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #416 3.1. Faedah hadits 3.2. Referensi: Hadits #416 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَأخَذَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَأْسِي مِنْ وَرَائِي، فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Suatu malam, aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berdiri di samping kirinya. Lalu beliau memegang kepalaku dari belakang dan memindahkanku ke sebelah kanannya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 726 dan Muslim, no. 763]   Faedah hadits Posisi makmum adalah di sebelah kanan imam. Jika makmum berdiri di sebelah kiri imam, hendaklah ia berpindah ke kanan atau imam memindahkannya ke kanan. Memindahkan makmum seperti ini hanyalah perbuatan yang dianggap sedikit (bukan gerakan yang banyak), sehingga tidak membatalkan shalat. Shalat anak kecil itu sah. Posisinya dalam shalat berjamaah sama seperti jamaah dewasa (baligh). Shalat berjamaah untuk shalat sunnah, selain shalat wajib itu sah. Makmum hendaklah berdiri di belakang imam sedikit, demikian pendapat ulama Syafiiyah. Walaupun ulama lain berpendapat bahwa posisi imam dan makum yang hanya berdua itu sejajar. Pendapat terakhir ini dikemukakan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam. Lihat pendapat ini juga dari Syaikh ‘Abdul Karim Khudair. Niat diubah dari shalat munfarid (sendirian) menjadi shalat berjamaah boleh dilakukan di pertengahan shalat. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma sangat semangat mendalami ilmu agama. Ia menggunakan kesempatan pada malam hari ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di rumah bibinya, Ummul Mukminin Maimunah radhiyallahu ‘anha (ia adalah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekaligus saudara perempuan dari ibunya Ibnu ‘Abbas). Ibnu ‘Abbas bermalam di rumah Maimunah dan semangat melakukan shalat malam bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Abbas mau berjuang untuk begadang malam untuk sekadar mendapatkan ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal ketika itu, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma belum baligh. Ketika ia membantu Nabi dalam menyiapkan wudhu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakannya, “ALLOHUMMA FAQQIHHU FID DIIN WA ‘ALLIMHUT TA’WIIL (artinya: Ya Allah, berilah pemahaman agama padanya dan ajarkanlah ia ilmu tafsir, untuk memahami Al-Qur’an).” (Disebutkan dalam Al-Musnad, 5:159-160)   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:415-418. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:41-42.   Baca juga: Mengejar Shaf Pertama Berlomba-Lomba Mendapatkan Shaf Pertama Yang Lebih Dulu, Itulah yang Lebih Berhak Shaf Shalat Terbaik Bagaimana Hukum Shalat Jamaah bagi Wanita?       Diselesaikan pada Rabu pagi, 24 Rabiul Akhir 1445 H, 8 November 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam cara merapatkan shaf hukum shalat berjamaah keutamaan shalat berjamaah shaf shalat shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid
Bagaimana keadaan shaf jika imam dan makmum hanya berdua? Apakah makmum berada di sebelah kiri atau kanan imam? Kita dapat melihat contoh shalat berjamaah dan Ibnu ‘Abbas berikut ini.   Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #416 3.1. Faedah hadits 3.2. Referensi: Hadits #416 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَأخَذَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَأْسِي مِنْ وَرَائِي، فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Suatu malam, aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berdiri di samping kirinya. Lalu beliau memegang kepalaku dari belakang dan memindahkanku ke sebelah kanannya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 726 dan Muslim, no. 763]   Faedah hadits Posisi makmum adalah di sebelah kanan imam. Jika makmum berdiri di sebelah kiri imam, hendaklah ia berpindah ke kanan atau imam memindahkannya ke kanan. Memindahkan makmum seperti ini hanyalah perbuatan yang dianggap sedikit (bukan gerakan yang banyak), sehingga tidak membatalkan shalat. Shalat anak kecil itu sah. Posisinya dalam shalat berjamaah sama seperti jamaah dewasa (baligh). Shalat berjamaah untuk shalat sunnah, selain shalat wajib itu sah. Makmum hendaklah berdiri di belakang imam sedikit, demikian pendapat ulama Syafiiyah. Walaupun ulama lain berpendapat bahwa posisi imam dan makum yang hanya berdua itu sejajar. Pendapat terakhir ini dikemukakan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam. Lihat pendapat ini juga dari Syaikh ‘Abdul Karim Khudair. Niat diubah dari shalat munfarid (sendirian) menjadi shalat berjamaah boleh dilakukan di pertengahan shalat. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma sangat semangat mendalami ilmu agama. Ia menggunakan kesempatan pada malam hari ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di rumah bibinya, Ummul Mukminin Maimunah radhiyallahu ‘anha (ia adalah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekaligus saudara perempuan dari ibunya Ibnu ‘Abbas). Ibnu ‘Abbas bermalam di rumah Maimunah dan semangat melakukan shalat malam bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Abbas mau berjuang untuk begadang malam untuk sekadar mendapatkan ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal ketika itu, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma belum baligh. Ketika ia membantu Nabi dalam menyiapkan wudhu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakannya, “ALLOHUMMA FAQQIHHU FID DIIN WA ‘ALLIMHUT TA’WIIL (artinya: Ya Allah, berilah pemahaman agama padanya dan ajarkanlah ia ilmu tafsir, untuk memahami Al-Qur’an).” (Disebutkan dalam Al-Musnad, 5:159-160)   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:415-418. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:41-42.   Baca juga: Mengejar Shaf Pertama Berlomba-Lomba Mendapatkan Shaf Pertama Yang Lebih Dulu, Itulah yang Lebih Berhak Shaf Shalat Terbaik Bagaimana Hukum Shalat Jamaah bagi Wanita?       Diselesaikan pada Rabu pagi, 24 Rabiul Akhir 1445 H, 8 November 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam cara merapatkan shaf hukum shalat berjamaah keutamaan shalat berjamaah shaf shalat shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid


Bagaimana keadaan shaf jika imam dan makmum hanya berdua? Apakah makmum berada di sebelah kiri atau kanan imam? Kita dapat melihat contoh shalat berjamaah dan Ibnu ‘Abbas berikut ini.   Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #416 3.1. Faedah hadits 3.2. Referensi: Hadits #416 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَأخَذَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَأْسِي مِنْ وَرَائِي، فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Suatu malam, aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berdiri di samping kirinya. Lalu beliau memegang kepalaku dari belakang dan memindahkanku ke sebelah kanannya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 726 dan Muslim, no. 763]   Faedah hadits Posisi makmum adalah di sebelah kanan imam. Jika makmum berdiri di sebelah kiri imam, hendaklah ia berpindah ke kanan atau imam memindahkannya ke kanan. Memindahkan makmum seperti ini hanyalah perbuatan yang dianggap sedikit (bukan gerakan yang banyak), sehingga tidak membatalkan shalat. Shalat anak kecil itu sah. Posisinya dalam shalat berjamaah sama seperti jamaah dewasa (baligh). Shalat berjamaah untuk shalat sunnah, selain shalat wajib itu sah. Makmum hendaklah berdiri di belakang imam sedikit, demikian pendapat ulama Syafiiyah. Walaupun ulama lain berpendapat bahwa posisi imam dan makum yang hanya berdua itu sejajar. Pendapat terakhir ini dikemukakan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam. Lihat pendapat ini juga dari Syaikh ‘Abdul Karim Khudair. Niat diubah dari shalat munfarid (sendirian) menjadi shalat berjamaah boleh dilakukan di pertengahan shalat. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma sangat semangat mendalami ilmu agama. Ia menggunakan kesempatan pada malam hari ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di rumah bibinya, Ummul Mukminin Maimunah radhiyallahu ‘anha (ia adalah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekaligus saudara perempuan dari ibunya Ibnu ‘Abbas). Ibnu ‘Abbas bermalam di rumah Maimunah dan semangat melakukan shalat malam bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Abbas mau berjuang untuk begadang malam untuk sekadar mendapatkan ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal ketika itu, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma belum baligh. Ketika ia membantu Nabi dalam menyiapkan wudhu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakannya, “ALLOHUMMA FAQQIHHU FID DIIN WA ‘ALLIMHUT TA’WIIL (artinya: Ya Allah, berilah pemahaman agama padanya dan ajarkanlah ia ilmu tafsir, untuk memahami Al-Qur’an).” (Disebutkan dalam Al-Musnad, 5:159-160)   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:415-418. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:41-42.   Baca juga: Mengejar Shaf Pertama Berlomba-Lomba Mendapatkan Shaf Pertama Yang Lebih Dulu, Itulah yang Lebih Berhak Shaf Shalat Terbaik Bagaimana Hukum Shalat Jamaah bagi Wanita?       Diselesaikan pada Rabu pagi, 24 Rabiul Akhir 1445 H, 8 November 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam cara merapatkan shaf hukum shalat berjamaah keutamaan shalat berjamaah shaf shalat shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid

Hadis: Sedekah Apakah yang Paling Utama?

Daftar Isi Toggle Teks hadisPenjelasan teks hadisKandungan hadis Teks hadis Diriwayatkan dari sahabat Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, اليَدُ العُلْيَا خَيْرٌ مِنَ اليَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ “Tangan yang di atas (yaitu tangan orang yang memberi, pent.) itu lebih baik daripada tangan yang di bawah (yaitu yang diberi, pent.). Mulailah untuk orang-orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sedekah yang paling baik adalah dari orang yang sudah cukup (untuk mencukupi kebutuhan dirinya). Barangsiapa yang berusaha memelihara dirinya, maka Allah akan memeliharanya. Dan barangsiapa yang berusaha mencukupkan dirinya, maka Allah akan mencukupkannya.” (HR. Bukhari no. 1427 dan Muslim no. 1034. Lafaz hadis ini milik Bukhari.) Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أَنَّهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: جُهْدُ الْمُقِلِّ، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ “Ada orang yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling utama?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Sedekahnya orang yang tidak punya, dan dahulukan bersedekah kepada orang yang menjadi tanggunganmu.’” (HR. Ahmad 14: 324, Abu Dawud no. 1677, Ibnu Khuzaimah no. 2444, Ibnu Hibban no. 3335, dan Al-Hakim 1: 414; dengan sanad yang sahih) Penjelasan teks hadis Pada hadis di atas, yang dimaksud dengan, بِمَنْ تَعُولُ “orang-orang yang menjadi tanggunganmu” adalah anggota keluarga yang kita berkewajiban untuk memberikan nafkah kepada mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan, عَنْ ظَهْرِ غِنًى “dari orang yang sudah cukup (untuk kebutuhan dirinya)” adalah harta yang disedekahkan itu tidak dia butuhkan untuk memberi nafkah kepada keluarganya, dia juga tidak membutuhkannya untuk membayar utangnya. “Barangsiapa yang berusaha memelihara dirinya, maka Allah akan memeliharanya”, maksudnya adalah siapa saja yang memelihara dan menjaga kehormatan dirinya (dari perbuatan-perbuatan haram) dan menjauhi perbuatan meminta-minta, maka Allah Ta’ala akan memberikan taufik kepadanya untuk tidak bergantung kepada apa yang dimiliki oleh orang lain dan memudahkan segala urusan dan kebutuhannya. “Dan barangsiapa yang berusaha mencukupkan dirinya, maka Allah akan mencukupkannya”, maksudnya adalah siapa saja yang merasa cukup terhadap apa yang dia miliki, baik sedikit ataupun banyak, tidak bersifat tamak, dan menampakkan bahwa dia sudah berkecukupan, maka Allah Ta’ala akan memberikan rezeki kepadanya sehingga dia tidak merasa butuh kepada orang lain. Bahkan, dia berusaha untuk mencukupi dan membantu kebutuhan dan hajat orang lain. Adapun yang dimaksud dengan lafaz yang terdapat pada hadis kedua, جُهْدُ الْمُقِلِّ “orang yang tidak punya”, adalah orang yang hanya memiliki harta yang sedikit. Hal ini tidaklah bertentangan dengan hadis sebelumnya yang menunjukkan bahwa sedekah yang utama adalah yang berasal dari orang yang sudah cukup untuk kebutuhan dirinya. Karena memang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kondisi kesabaran seseorang ketika sedang berada dalam kesulitan dan juga ketika merasa cukup dengan harta yang dia miliki. Misalnya, seseorang yang memiliki sedikit harta kemudian bersedekah, maka itu lebih utama daripada orang yang bersedekah dalam kondisi memiliki banyak harta. Contoh lain, ketika ada orang yang memiliki banyak harta, lalu bersedekah dengan 1000 dinar, maka hal itu tidak bisa disamakan dengan orang yang bersedekah dengan satu dinar yang itu berasal dari kelebihan harta yang telah dipakai untuk mencukupi kebutuhan dirinya. Oleh karena itu, ketika seseorang sebetulnya membutuhkan harta, namun dia dermawan dan rajin sedekah, maka hal itu menunjukkan bahwa dia sangat menginginkan balasan dan pahala dari Allah Ta’ala. Baca juga: Keutamaan Sedekah Sunah Kandungan hadis Kandungan pertama, hadis-hadis di atas menunjukkan tentang keutamaan sedekah dan motivasi untuk menyedekahkan dan menginfakkan harta. Kandungan kedua, hadis di atas menunjukkan bahwa hendaknya seseorang itu mendahulukan nafkah untuk anggota keluarganya yang memang wajib dia nafkahi, sebelum bersedekah sunah kepada yang lainnya. Hal ini juga ditunjukkan oleh hadis yang lain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالصَّدَقَةِ، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، عِنْدِي دِينَارٌ، فَقَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى نَفْسِكَ، قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى وَلَدِكَ، قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى زَوْجَتِكَ – أَوْ قَالَ: زَوْجِكَ -، قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى خَادِمِكَ، قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: أَنْتَ أَبْصَرُ “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk bersedekah. Kemudian seorang laki-laki berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku memiliki uang satu dinar.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Sedekahkan kepada dirimu.’ Ia berkata, ‘Aku memiliki yang lain.’ Beliau bersabda, ‘Sedekahkan kepada anakmu.’ Ia berkata, ‘Aku memiliki yang lain.’ Beliau bersabda, ‘Sedekahkan kepada istrimu.’ Ia berkata, ‘Aku memiliki yang lain.’ Beliau bersabda, ‘Sedekahkan kepada pembantumu.’ Ia berkata, ‘Aku memiliki yang lain.’ Beliau bersabda, ‘Engkau lebih tahu.’” (HR. Abu Dawud no. 1691, dinilai hasan oleh Al-Albani) Nafkah yang dia berikan kepada keluarga yang memang wajib dia nafkahi tersebut itu senilai dengan sedekah. Orang yang memberi nafkah akan mendapatkan pahala ketika dia meniatkan dari dalam hatinya dengan niat ibadah. Kandungan ketiga, hadis di atas menunjukkan bahwa sedekah yang paling afdal adalah yang berasal dari kelebihan (sisa) harta setelah dia mencukupi kebutuhan dirinya dan orang-orang yang wajib dia nafkahi, kemudian dia berikan kelebihan harta tersebut kepada kerabatnya yang lebih jauh. Allah Ta’ala berfirman, وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, ‘Yang lebih dari keperluan.'” (QS. Al-Baqarah: 219) Yang dimaksud dengan, الْعَفْوَ adalah harta yang lebih dari kebutuhan (keperluan). Sebagaimana dikatakan oleh sejumlah ulama salaf. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1: 373) Kandungan keempat, hadis ini menunjukkan dianjurkannya merasa tidak butuh dengan apa yang dimiliki oleh orang lain, sehingga dia tidak meminta-minta kepada orang lain, baik secara terang-terangan atau dengan isyarat-isyarat. Akan tetapi, dia yakin dan percaya kepada Rabbnya dan bertawakal kepada-Nya. Dan di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah, اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى “ALLOOHUMMA INNII AS-ALUKAL HUDAA WATTUQOO WAL ‘AFAAFA WALGHINAA” (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk (al-huda), ketakwaan, terhindar dari perbuatan yang haram, dan selalu merasa cukup (tidak meminta-minta).” (HR. Muslim no. 2721) Demikian pembahasan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. Baca juga: Umrah atau Sedekah untuk Fakir? *** @Rumah Kasongan, 10 Rabiulakhir 1445/ 25 Oktober 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 476-480). Tags: Sedekah

Hadis: Sedekah Apakah yang Paling Utama?

Daftar Isi Toggle Teks hadisPenjelasan teks hadisKandungan hadis Teks hadis Diriwayatkan dari sahabat Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, اليَدُ العُلْيَا خَيْرٌ مِنَ اليَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ “Tangan yang di atas (yaitu tangan orang yang memberi, pent.) itu lebih baik daripada tangan yang di bawah (yaitu yang diberi, pent.). Mulailah untuk orang-orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sedekah yang paling baik adalah dari orang yang sudah cukup (untuk mencukupi kebutuhan dirinya). Barangsiapa yang berusaha memelihara dirinya, maka Allah akan memeliharanya. Dan barangsiapa yang berusaha mencukupkan dirinya, maka Allah akan mencukupkannya.” (HR. Bukhari no. 1427 dan Muslim no. 1034. Lafaz hadis ini milik Bukhari.) Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أَنَّهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: جُهْدُ الْمُقِلِّ، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ “Ada orang yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling utama?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Sedekahnya orang yang tidak punya, dan dahulukan bersedekah kepada orang yang menjadi tanggunganmu.’” (HR. Ahmad 14: 324, Abu Dawud no. 1677, Ibnu Khuzaimah no. 2444, Ibnu Hibban no. 3335, dan Al-Hakim 1: 414; dengan sanad yang sahih) Penjelasan teks hadis Pada hadis di atas, yang dimaksud dengan, بِمَنْ تَعُولُ “orang-orang yang menjadi tanggunganmu” adalah anggota keluarga yang kita berkewajiban untuk memberikan nafkah kepada mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan, عَنْ ظَهْرِ غِنًى “dari orang yang sudah cukup (untuk kebutuhan dirinya)” adalah harta yang disedekahkan itu tidak dia butuhkan untuk memberi nafkah kepada keluarganya, dia juga tidak membutuhkannya untuk membayar utangnya. “Barangsiapa yang berusaha memelihara dirinya, maka Allah akan memeliharanya”, maksudnya adalah siapa saja yang memelihara dan menjaga kehormatan dirinya (dari perbuatan-perbuatan haram) dan menjauhi perbuatan meminta-minta, maka Allah Ta’ala akan memberikan taufik kepadanya untuk tidak bergantung kepada apa yang dimiliki oleh orang lain dan memudahkan segala urusan dan kebutuhannya. “Dan barangsiapa yang berusaha mencukupkan dirinya, maka Allah akan mencukupkannya”, maksudnya adalah siapa saja yang merasa cukup terhadap apa yang dia miliki, baik sedikit ataupun banyak, tidak bersifat tamak, dan menampakkan bahwa dia sudah berkecukupan, maka Allah Ta’ala akan memberikan rezeki kepadanya sehingga dia tidak merasa butuh kepada orang lain. Bahkan, dia berusaha untuk mencukupi dan membantu kebutuhan dan hajat orang lain. Adapun yang dimaksud dengan lafaz yang terdapat pada hadis kedua, جُهْدُ الْمُقِلِّ “orang yang tidak punya”, adalah orang yang hanya memiliki harta yang sedikit. Hal ini tidaklah bertentangan dengan hadis sebelumnya yang menunjukkan bahwa sedekah yang utama adalah yang berasal dari orang yang sudah cukup untuk kebutuhan dirinya. Karena memang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kondisi kesabaran seseorang ketika sedang berada dalam kesulitan dan juga ketika merasa cukup dengan harta yang dia miliki. Misalnya, seseorang yang memiliki sedikit harta kemudian bersedekah, maka itu lebih utama daripada orang yang bersedekah dalam kondisi memiliki banyak harta. Contoh lain, ketika ada orang yang memiliki banyak harta, lalu bersedekah dengan 1000 dinar, maka hal itu tidak bisa disamakan dengan orang yang bersedekah dengan satu dinar yang itu berasal dari kelebihan harta yang telah dipakai untuk mencukupi kebutuhan dirinya. Oleh karena itu, ketika seseorang sebetulnya membutuhkan harta, namun dia dermawan dan rajin sedekah, maka hal itu menunjukkan bahwa dia sangat menginginkan balasan dan pahala dari Allah Ta’ala. Baca juga: Keutamaan Sedekah Sunah Kandungan hadis Kandungan pertama, hadis-hadis di atas menunjukkan tentang keutamaan sedekah dan motivasi untuk menyedekahkan dan menginfakkan harta. Kandungan kedua, hadis di atas menunjukkan bahwa hendaknya seseorang itu mendahulukan nafkah untuk anggota keluarganya yang memang wajib dia nafkahi, sebelum bersedekah sunah kepada yang lainnya. Hal ini juga ditunjukkan oleh hadis yang lain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالصَّدَقَةِ، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، عِنْدِي دِينَارٌ، فَقَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى نَفْسِكَ، قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى وَلَدِكَ، قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى زَوْجَتِكَ – أَوْ قَالَ: زَوْجِكَ -، قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى خَادِمِكَ، قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: أَنْتَ أَبْصَرُ “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk bersedekah. Kemudian seorang laki-laki berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku memiliki uang satu dinar.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Sedekahkan kepada dirimu.’ Ia berkata, ‘Aku memiliki yang lain.’ Beliau bersabda, ‘Sedekahkan kepada anakmu.’ Ia berkata, ‘Aku memiliki yang lain.’ Beliau bersabda, ‘Sedekahkan kepada istrimu.’ Ia berkata, ‘Aku memiliki yang lain.’ Beliau bersabda, ‘Sedekahkan kepada pembantumu.’ Ia berkata, ‘Aku memiliki yang lain.’ Beliau bersabda, ‘Engkau lebih tahu.’” (HR. Abu Dawud no. 1691, dinilai hasan oleh Al-Albani) Nafkah yang dia berikan kepada keluarga yang memang wajib dia nafkahi tersebut itu senilai dengan sedekah. Orang yang memberi nafkah akan mendapatkan pahala ketika dia meniatkan dari dalam hatinya dengan niat ibadah. Kandungan ketiga, hadis di atas menunjukkan bahwa sedekah yang paling afdal adalah yang berasal dari kelebihan (sisa) harta setelah dia mencukupi kebutuhan dirinya dan orang-orang yang wajib dia nafkahi, kemudian dia berikan kelebihan harta tersebut kepada kerabatnya yang lebih jauh. Allah Ta’ala berfirman, وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, ‘Yang lebih dari keperluan.'” (QS. Al-Baqarah: 219) Yang dimaksud dengan, الْعَفْوَ adalah harta yang lebih dari kebutuhan (keperluan). Sebagaimana dikatakan oleh sejumlah ulama salaf. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1: 373) Kandungan keempat, hadis ini menunjukkan dianjurkannya merasa tidak butuh dengan apa yang dimiliki oleh orang lain, sehingga dia tidak meminta-minta kepada orang lain, baik secara terang-terangan atau dengan isyarat-isyarat. Akan tetapi, dia yakin dan percaya kepada Rabbnya dan bertawakal kepada-Nya. Dan di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah, اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى “ALLOOHUMMA INNII AS-ALUKAL HUDAA WATTUQOO WAL ‘AFAAFA WALGHINAA” (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk (al-huda), ketakwaan, terhindar dari perbuatan yang haram, dan selalu merasa cukup (tidak meminta-minta).” (HR. Muslim no. 2721) Demikian pembahasan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. Baca juga: Umrah atau Sedekah untuk Fakir? *** @Rumah Kasongan, 10 Rabiulakhir 1445/ 25 Oktober 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 476-480). Tags: Sedekah
Daftar Isi Toggle Teks hadisPenjelasan teks hadisKandungan hadis Teks hadis Diriwayatkan dari sahabat Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, اليَدُ العُلْيَا خَيْرٌ مِنَ اليَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ “Tangan yang di atas (yaitu tangan orang yang memberi, pent.) itu lebih baik daripada tangan yang di bawah (yaitu yang diberi, pent.). Mulailah untuk orang-orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sedekah yang paling baik adalah dari orang yang sudah cukup (untuk mencukupi kebutuhan dirinya). Barangsiapa yang berusaha memelihara dirinya, maka Allah akan memeliharanya. Dan barangsiapa yang berusaha mencukupkan dirinya, maka Allah akan mencukupkannya.” (HR. Bukhari no. 1427 dan Muslim no. 1034. Lafaz hadis ini milik Bukhari.) Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أَنَّهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: جُهْدُ الْمُقِلِّ، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ “Ada orang yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling utama?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Sedekahnya orang yang tidak punya, dan dahulukan bersedekah kepada orang yang menjadi tanggunganmu.’” (HR. Ahmad 14: 324, Abu Dawud no. 1677, Ibnu Khuzaimah no. 2444, Ibnu Hibban no. 3335, dan Al-Hakim 1: 414; dengan sanad yang sahih) Penjelasan teks hadis Pada hadis di atas, yang dimaksud dengan, بِمَنْ تَعُولُ “orang-orang yang menjadi tanggunganmu” adalah anggota keluarga yang kita berkewajiban untuk memberikan nafkah kepada mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan, عَنْ ظَهْرِ غِنًى “dari orang yang sudah cukup (untuk kebutuhan dirinya)” adalah harta yang disedekahkan itu tidak dia butuhkan untuk memberi nafkah kepada keluarganya, dia juga tidak membutuhkannya untuk membayar utangnya. “Barangsiapa yang berusaha memelihara dirinya, maka Allah akan memeliharanya”, maksudnya adalah siapa saja yang memelihara dan menjaga kehormatan dirinya (dari perbuatan-perbuatan haram) dan menjauhi perbuatan meminta-minta, maka Allah Ta’ala akan memberikan taufik kepadanya untuk tidak bergantung kepada apa yang dimiliki oleh orang lain dan memudahkan segala urusan dan kebutuhannya. “Dan barangsiapa yang berusaha mencukupkan dirinya, maka Allah akan mencukupkannya”, maksudnya adalah siapa saja yang merasa cukup terhadap apa yang dia miliki, baik sedikit ataupun banyak, tidak bersifat tamak, dan menampakkan bahwa dia sudah berkecukupan, maka Allah Ta’ala akan memberikan rezeki kepadanya sehingga dia tidak merasa butuh kepada orang lain. Bahkan, dia berusaha untuk mencukupi dan membantu kebutuhan dan hajat orang lain. Adapun yang dimaksud dengan lafaz yang terdapat pada hadis kedua, جُهْدُ الْمُقِلِّ “orang yang tidak punya”, adalah orang yang hanya memiliki harta yang sedikit. Hal ini tidaklah bertentangan dengan hadis sebelumnya yang menunjukkan bahwa sedekah yang utama adalah yang berasal dari orang yang sudah cukup untuk kebutuhan dirinya. Karena memang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kondisi kesabaran seseorang ketika sedang berada dalam kesulitan dan juga ketika merasa cukup dengan harta yang dia miliki. Misalnya, seseorang yang memiliki sedikit harta kemudian bersedekah, maka itu lebih utama daripada orang yang bersedekah dalam kondisi memiliki banyak harta. Contoh lain, ketika ada orang yang memiliki banyak harta, lalu bersedekah dengan 1000 dinar, maka hal itu tidak bisa disamakan dengan orang yang bersedekah dengan satu dinar yang itu berasal dari kelebihan harta yang telah dipakai untuk mencukupi kebutuhan dirinya. Oleh karena itu, ketika seseorang sebetulnya membutuhkan harta, namun dia dermawan dan rajin sedekah, maka hal itu menunjukkan bahwa dia sangat menginginkan balasan dan pahala dari Allah Ta’ala. Baca juga: Keutamaan Sedekah Sunah Kandungan hadis Kandungan pertama, hadis-hadis di atas menunjukkan tentang keutamaan sedekah dan motivasi untuk menyedekahkan dan menginfakkan harta. Kandungan kedua, hadis di atas menunjukkan bahwa hendaknya seseorang itu mendahulukan nafkah untuk anggota keluarganya yang memang wajib dia nafkahi, sebelum bersedekah sunah kepada yang lainnya. Hal ini juga ditunjukkan oleh hadis yang lain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالصَّدَقَةِ، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، عِنْدِي دِينَارٌ، فَقَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى نَفْسِكَ، قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى وَلَدِكَ، قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى زَوْجَتِكَ – أَوْ قَالَ: زَوْجِكَ -، قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى خَادِمِكَ، قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: أَنْتَ أَبْصَرُ “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk bersedekah. Kemudian seorang laki-laki berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku memiliki uang satu dinar.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Sedekahkan kepada dirimu.’ Ia berkata, ‘Aku memiliki yang lain.’ Beliau bersabda, ‘Sedekahkan kepada anakmu.’ Ia berkata, ‘Aku memiliki yang lain.’ Beliau bersabda, ‘Sedekahkan kepada istrimu.’ Ia berkata, ‘Aku memiliki yang lain.’ Beliau bersabda, ‘Sedekahkan kepada pembantumu.’ Ia berkata, ‘Aku memiliki yang lain.’ Beliau bersabda, ‘Engkau lebih tahu.’” (HR. Abu Dawud no. 1691, dinilai hasan oleh Al-Albani) Nafkah yang dia berikan kepada keluarga yang memang wajib dia nafkahi tersebut itu senilai dengan sedekah. Orang yang memberi nafkah akan mendapatkan pahala ketika dia meniatkan dari dalam hatinya dengan niat ibadah. Kandungan ketiga, hadis di atas menunjukkan bahwa sedekah yang paling afdal adalah yang berasal dari kelebihan (sisa) harta setelah dia mencukupi kebutuhan dirinya dan orang-orang yang wajib dia nafkahi, kemudian dia berikan kelebihan harta tersebut kepada kerabatnya yang lebih jauh. Allah Ta’ala berfirman, وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, ‘Yang lebih dari keperluan.'” (QS. Al-Baqarah: 219) Yang dimaksud dengan, الْعَفْوَ adalah harta yang lebih dari kebutuhan (keperluan). Sebagaimana dikatakan oleh sejumlah ulama salaf. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1: 373) Kandungan keempat, hadis ini menunjukkan dianjurkannya merasa tidak butuh dengan apa yang dimiliki oleh orang lain, sehingga dia tidak meminta-minta kepada orang lain, baik secara terang-terangan atau dengan isyarat-isyarat. Akan tetapi, dia yakin dan percaya kepada Rabbnya dan bertawakal kepada-Nya. Dan di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah, اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى “ALLOOHUMMA INNII AS-ALUKAL HUDAA WATTUQOO WAL ‘AFAAFA WALGHINAA” (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk (al-huda), ketakwaan, terhindar dari perbuatan yang haram, dan selalu merasa cukup (tidak meminta-minta).” (HR. Muslim no. 2721) Demikian pembahasan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. Baca juga: Umrah atau Sedekah untuk Fakir? *** @Rumah Kasongan, 10 Rabiulakhir 1445/ 25 Oktober 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 476-480). Tags: Sedekah


Daftar Isi Toggle Teks hadisPenjelasan teks hadisKandungan hadis Teks hadis Diriwayatkan dari sahabat Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, اليَدُ العُلْيَا خَيْرٌ مِنَ اليَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ “Tangan yang di atas (yaitu tangan orang yang memberi, pent.) itu lebih baik daripada tangan yang di bawah (yaitu yang diberi, pent.). Mulailah untuk orang-orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sedekah yang paling baik adalah dari orang yang sudah cukup (untuk mencukupi kebutuhan dirinya). Barangsiapa yang berusaha memelihara dirinya, maka Allah akan memeliharanya. Dan barangsiapa yang berusaha mencukupkan dirinya, maka Allah akan mencukupkannya.” (HR. Bukhari no. 1427 dan Muslim no. 1034. Lafaz hadis ini milik Bukhari.) Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أَنَّهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: جُهْدُ الْمُقِلِّ، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ “Ada orang yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling utama?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Sedekahnya orang yang tidak punya, dan dahulukan bersedekah kepada orang yang menjadi tanggunganmu.’” (HR. Ahmad 14: 324, Abu Dawud no. 1677, Ibnu Khuzaimah no. 2444, Ibnu Hibban no. 3335, dan Al-Hakim 1: 414; dengan sanad yang sahih) Penjelasan teks hadis Pada hadis di atas, yang dimaksud dengan, بِمَنْ تَعُولُ “orang-orang yang menjadi tanggunganmu” adalah anggota keluarga yang kita berkewajiban untuk memberikan nafkah kepada mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan, عَنْ ظَهْرِ غِنًى “dari orang yang sudah cukup (untuk kebutuhan dirinya)” adalah harta yang disedekahkan itu tidak dia butuhkan untuk memberi nafkah kepada keluarganya, dia juga tidak membutuhkannya untuk membayar utangnya. “Barangsiapa yang berusaha memelihara dirinya, maka Allah akan memeliharanya”, maksudnya adalah siapa saja yang memelihara dan menjaga kehormatan dirinya (dari perbuatan-perbuatan haram) dan menjauhi perbuatan meminta-minta, maka Allah Ta’ala akan memberikan taufik kepadanya untuk tidak bergantung kepada apa yang dimiliki oleh orang lain dan memudahkan segala urusan dan kebutuhannya. “Dan barangsiapa yang berusaha mencukupkan dirinya, maka Allah akan mencukupkannya”, maksudnya adalah siapa saja yang merasa cukup terhadap apa yang dia miliki, baik sedikit ataupun banyak, tidak bersifat tamak, dan menampakkan bahwa dia sudah berkecukupan, maka Allah Ta’ala akan memberikan rezeki kepadanya sehingga dia tidak merasa butuh kepada orang lain. Bahkan, dia berusaha untuk mencukupi dan membantu kebutuhan dan hajat orang lain. Adapun yang dimaksud dengan lafaz yang terdapat pada hadis kedua, جُهْدُ الْمُقِلِّ “orang yang tidak punya”, adalah orang yang hanya memiliki harta yang sedikit. Hal ini tidaklah bertentangan dengan hadis sebelumnya yang menunjukkan bahwa sedekah yang utama adalah yang berasal dari orang yang sudah cukup untuk kebutuhan dirinya. Karena memang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kondisi kesabaran seseorang ketika sedang berada dalam kesulitan dan juga ketika merasa cukup dengan harta yang dia miliki. Misalnya, seseorang yang memiliki sedikit harta kemudian bersedekah, maka itu lebih utama daripada orang yang bersedekah dalam kondisi memiliki banyak harta. Contoh lain, ketika ada orang yang memiliki banyak harta, lalu bersedekah dengan 1000 dinar, maka hal itu tidak bisa disamakan dengan orang yang bersedekah dengan satu dinar yang itu berasal dari kelebihan harta yang telah dipakai untuk mencukupi kebutuhan dirinya. Oleh karena itu, ketika seseorang sebetulnya membutuhkan harta, namun dia dermawan dan rajin sedekah, maka hal itu menunjukkan bahwa dia sangat menginginkan balasan dan pahala dari Allah Ta’ala. Baca juga: Keutamaan Sedekah Sunah Kandungan hadis Kandungan pertama, hadis-hadis di atas menunjukkan tentang keutamaan sedekah dan motivasi untuk menyedekahkan dan menginfakkan harta. Kandungan kedua, hadis di atas menunjukkan bahwa hendaknya seseorang itu mendahulukan nafkah untuk anggota keluarganya yang memang wajib dia nafkahi, sebelum bersedekah sunah kepada yang lainnya. Hal ini juga ditunjukkan oleh hadis yang lain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالصَّدَقَةِ، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، عِنْدِي دِينَارٌ، فَقَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى نَفْسِكَ، قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى وَلَدِكَ، قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى زَوْجَتِكَ – أَوْ قَالَ: زَوْجِكَ -، قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى خَادِمِكَ، قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: أَنْتَ أَبْصَرُ “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk bersedekah. Kemudian seorang laki-laki berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku memiliki uang satu dinar.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Sedekahkan kepada dirimu.’ Ia berkata, ‘Aku memiliki yang lain.’ Beliau bersabda, ‘Sedekahkan kepada anakmu.’ Ia berkata, ‘Aku memiliki yang lain.’ Beliau bersabda, ‘Sedekahkan kepada istrimu.’ Ia berkata, ‘Aku memiliki yang lain.’ Beliau bersabda, ‘Sedekahkan kepada pembantumu.’ Ia berkata, ‘Aku memiliki yang lain.’ Beliau bersabda, ‘Engkau lebih tahu.’” (HR. Abu Dawud no. 1691, dinilai hasan oleh Al-Albani) Nafkah yang dia berikan kepada keluarga yang memang wajib dia nafkahi tersebut itu senilai dengan sedekah. Orang yang memberi nafkah akan mendapatkan pahala ketika dia meniatkan dari dalam hatinya dengan niat ibadah. Kandungan ketiga, hadis di atas menunjukkan bahwa sedekah yang paling afdal adalah yang berasal dari kelebihan (sisa) harta setelah dia mencukupi kebutuhan dirinya dan orang-orang yang wajib dia nafkahi, kemudian dia berikan kelebihan harta tersebut kepada kerabatnya yang lebih jauh. Allah Ta’ala berfirman, وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, ‘Yang lebih dari keperluan.'” (QS. Al-Baqarah: 219) Yang dimaksud dengan, الْعَفْوَ adalah harta yang lebih dari kebutuhan (keperluan). Sebagaimana dikatakan oleh sejumlah ulama salaf. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1: 373) Kandungan keempat, hadis ini menunjukkan dianjurkannya merasa tidak butuh dengan apa yang dimiliki oleh orang lain, sehingga dia tidak meminta-minta kepada orang lain, baik secara terang-terangan atau dengan isyarat-isyarat. Akan tetapi, dia yakin dan percaya kepada Rabbnya dan bertawakal kepada-Nya. Dan di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah, اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى “ALLOOHUMMA INNII AS-ALUKAL HUDAA WATTUQOO WAL ‘AFAAFA WALGHINAA” (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk (al-huda), ketakwaan, terhindar dari perbuatan yang haram, dan selalu merasa cukup (tidak meminta-minta).” (HR. Muslim no. 2721) Demikian pembahasan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. Baca juga: Umrah atau Sedekah untuk Fakir? *** @Rumah Kasongan, 10 Rabiulakhir 1445/ 25 Oktober 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 476-480). Tags: Sedekah

Hadis: Sedekah yang Paling Utama adalah yang Paling Sesuai dengan Kondisi Penerima Sedekah

Daftar Isi Toggle Teks hadisKandungan hadis Teks hadis Dari Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَيُّمَا مُسْلِمٍ كَسَا مُسْلِمًا ثَوْبًا عَلَى عُرْيٍ، كَسَاهُ اللَّهُ مِنْ خُضْرِ الْجَنَّةِ، وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ أَطْعَمَ مُسْلِمًا عَلَى جُوعٍ، أَطْعَمَهُ اللَّهُ مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ، وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ سَقَى مُسْلِمًا عَلَى ظَمَإٍ، سَقَاهُ اللَّهُ مِنَ الرَّحِيقِ الْمَخْتُومِ “Siapa pun seorang muslim yang memakaikan pakaian kepada muslim yang lainnya karena ia tidak berpakaian, maka Allah akan memakaikan kepadanya pakaian dari pakaian yang hijau di surga. Siapa pun seorang muslim yang memberikan makan kepada muslim lainnya yang dalam keadaan lapar, maka Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan di surga. Dan siapa pun seorang muslim yang memberi minum muslim lainnya yang dalam keadaan haus, maka Allah akan memberinya minum dari ar-rahiq al-makhtum (arak surga).” (HR. Abu Dawud no. 1682. Dinilai dha’if  oleh Al-Albani. Di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Abu Khalid Ad-Dalani, dia ini jujur, namun sering salah dalam meriwayatkan hadis. Lihat pula Tahdzib At-Tahdzib, 12: 89) Kandungan hadis Kandungan pertama, hadis ini mengandung motivasi untuk berhias dengan akhlak yang mulia ini, yaitu senang memberi bantuan kepada orang lain yang membutuhkan dalam rangka mencari ganjaran dan pahala. Hadis ini juga menunjukkan bahwa siapa saja yang beramal dengan suatu amal, maka akan mendapatkan balasan yang semisal pada hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman, جَزَاء مِّن رَّبِّكَ عَطَاء حِسَاباً “Sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.” (QS. An-Naba’: 36) Allah Ta’ala juga berfirman, هَلْ جَزَاء الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ “Bukankah tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60) Siapa saja yang memberi pakaian kepada orang yang tidak memiliki pakaian, maka dia akan diberi pakaian dari pakaian surga yang berwarna hijau. Ini adalah pakaian yang paling bernilai dan berharga. Siapa saja yang memberi makan orang yang kelaparan, maka akan diberi makan dari buah-buahan surga. Dan siapa saja yang memberi minum orang yang kehausan, maka dia akan diberi minum dari ar-rakhiq al-makhtum, yaitu sari khamr di surga. Hadis ini, dan hadis-hadis lain yang semakna dengannya, meskipun sanadnya lemah (dha’if), akan tetapi maknanya benar (sahih). Hal ini karena didukung dengan dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan sedekah. Di antara bentuk sedekah adalah memberi pakaian kepada orang yang tidak memiliki pakaian dan memberi makan kepada orang-orang yang kelaparan tidak memiliki makanan. Demikian pula, hadis ini didukung oleh dalil-dalil yang menunjukkan bahwa balasan (al-jazaa’) itu sejenis (setimpal) dengan amal perbuatan. Surga adalah negeri yang penuh dengan kemuliaan dan nikmat. Surga adalah negeri tempat adanya balasan dan kebaikan. Dan Allah Ta’ala memberikan balasan kepada seorang hamba sesuai dengan amalnya, bahkan lebih banyak dari amalnya sebagai anugerah dan keutamaan untuk hamba-Nya. Kandungan kedua, hadis ini merupakan dalil tentang keutamaan sedekah yang sesuai dengan kebutuhan orang yang menerima sedekah. Misalnya, jika ada orang yang tidak memiliki pakaian, maka kita bersedekah dengan memberi pakaian. Karena dalam kondisi tersebut, dia sangat membutuhkan pakaian untuk menutup auratnya, atau untuk melindungi diri dari cuaca panas dan dingin. Jika ada orang yang kelaparan, maka dia memberi bantuan dalam bentuk makanan. Atau jika ada orang yang membutuhkan air, maka dia memberi bantuan dalam bentuk air minum atau sarana-sarana untuk mendapatkan air, misalnya dengan membangun sumur bor, atau sejenisnya. Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim memperhatikan hal ini. Hendaknya seorang muslim melihat pada setiap masa, manakah yang lebih bermanfaat untuk orang yang akan diberikan sedekah. Jika datang musim dingin, dia pun bersedekah dengan pakaian musim dingin sehingga orang-orang yang membutuhkan tidak kedinginan. Jika sedang musim panas (musim kemarau), dia bersedekah dengan bentuk yang sesuai, misalnya memberi bantuan air bersih ke daerah-daerah yang dilanda kekeringan. Demikian pembahasan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. Baca juga: Keutamaan Sedekah Sunah *** @Kantor Pogung, 10 Rabiul akhir 1445/ 25 Oktober 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 474-475). Tags: Sedekah

Hadis: Sedekah yang Paling Utama adalah yang Paling Sesuai dengan Kondisi Penerima Sedekah

Daftar Isi Toggle Teks hadisKandungan hadis Teks hadis Dari Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَيُّمَا مُسْلِمٍ كَسَا مُسْلِمًا ثَوْبًا عَلَى عُرْيٍ، كَسَاهُ اللَّهُ مِنْ خُضْرِ الْجَنَّةِ، وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ أَطْعَمَ مُسْلِمًا عَلَى جُوعٍ، أَطْعَمَهُ اللَّهُ مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ، وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ سَقَى مُسْلِمًا عَلَى ظَمَإٍ، سَقَاهُ اللَّهُ مِنَ الرَّحِيقِ الْمَخْتُومِ “Siapa pun seorang muslim yang memakaikan pakaian kepada muslim yang lainnya karena ia tidak berpakaian, maka Allah akan memakaikan kepadanya pakaian dari pakaian yang hijau di surga. Siapa pun seorang muslim yang memberikan makan kepada muslim lainnya yang dalam keadaan lapar, maka Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan di surga. Dan siapa pun seorang muslim yang memberi minum muslim lainnya yang dalam keadaan haus, maka Allah akan memberinya minum dari ar-rahiq al-makhtum (arak surga).” (HR. Abu Dawud no. 1682. Dinilai dha’if  oleh Al-Albani. Di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Abu Khalid Ad-Dalani, dia ini jujur, namun sering salah dalam meriwayatkan hadis. Lihat pula Tahdzib At-Tahdzib, 12: 89) Kandungan hadis Kandungan pertama, hadis ini mengandung motivasi untuk berhias dengan akhlak yang mulia ini, yaitu senang memberi bantuan kepada orang lain yang membutuhkan dalam rangka mencari ganjaran dan pahala. Hadis ini juga menunjukkan bahwa siapa saja yang beramal dengan suatu amal, maka akan mendapatkan balasan yang semisal pada hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman, جَزَاء مِّن رَّبِّكَ عَطَاء حِسَاباً “Sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.” (QS. An-Naba’: 36) Allah Ta’ala juga berfirman, هَلْ جَزَاء الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ “Bukankah tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60) Siapa saja yang memberi pakaian kepada orang yang tidak memiliki pakaian, maka dia akan diberi pakaian dari pakaian surga yang berwarna hijau. Ini adalah pakaian yang paling bernilai dan berharga. Siapa saja yang memberi makan orang yang kelaparan, maka akan diberi makan dari buah-buahan surga. Dan siapa saja yang memberi minum orang yang kehausan, maka dia akan diberi minum dari ar-rakhiq al-makhtum, yaitu sari khamr di surga. Hadis ini, dan hadis-hadis lain yang semakna dengannya, meskipun sanadnya lemah (dha’if), akan tetapi maknanya benar (sahih). Hal ini karena didukung dengan dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan sedekah. Di antara bentuk sedekah adalah memberi pakaian kepada orang yang tidak memiliki pakaian dan memberi makan kepada orang-orang yang kelaparan tidak memiliki makanan. Demikian pula, hadis ini didukung oleh dalil-dalil yang menunjukkan bahwa balasan (al-jazaa’) itu sejenis (setimpal) dengan amal perbuatan. Surga adalah negeri yang penuh dengan kemuliaan dan nikmat. Surga adalah negeri tempat adanya balasan dan kebaikan. Dan Allah Ta’ala memberikan balasan kepada seorang hamba sesuai dengan amalnya, bahkan lebih banyak dari amalnya sebagai anugerah dan keutamaan untuk hamba-Nya. Kandungan kedua, hadis ini merupakan dalil tentang keutamaan sedekah yang sesuai dengan kebutuhan orang yang menerima sedekah. Misalnya, jika ada orang yang tidak memiliki pakaian, maka kita bersedekah dengan memberi pakaian. Karena dalam kondisi tersebut, dia sangat membutuhkan pakaian untuk menutup auratnya, atau untuk melindungi diri dari cuaca panas dan dingin. Jika ada orang yang kelaparan, maka dia memberi bantuan dalam bentuk makanan. Atau jika ada orang yang membutuhkan air, maka dia memberi bantuan dalam bentuk air minum atau sarana-sarana untuk mendapatkan air, misalnya dengan membangun sumur bor, atau sejenisnya. Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim memperhatikan hal ini. Hendaknya seorang muslim melihat pada setiap masa, manakah yang lebih bermanfaat untuk orang yang akan diberikan sedekah. Jika datang musim dingin, dia pun bersedekah dengan pakaian musim dingin sehingga orang-orang yang membutuhkan tidak kedinginan. Jika sedang musim panas (musim kemarau), dia bersedekah dengan bentuk yang sesuai, misalnya memberi bantuan air bersih ke daerah-daerah yang dilanda kekeringan. Demikian pembahasan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. Baca juga: Keutamaan Sedekah Sunah *** @Kantor Pogung, 10 Rabiul akhir 1445/ 25 Oktober 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 474-475). Tags: Sedekah
Daftar Isi Toggle Teks hadisKandungan hadis Teks hadis Dari Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَيُّمَا مُسْلِمٍ كَسَا مُسْلِمًا ثَوْبًا عَلَى عُرْيٍ، كَسَاهُ اللَّهُ مِنْ خُضْرِ الْجَنَّةِ، وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ أَطْعَمَ مُسْلِمًا عَلَى جُوعٍ، أَطْعَمَهُ اللَّهُ مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ، وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ سَقَى مُسْلِمًا عَلَى ظَمَإٍ، سَقَاهُ اللَّهُ مِنَ الرَّحِيقِ الْمَخْتُومِ “Siapa pun seorang muslim yang memakaikan pakaian kepada muslim yang lainnya karena ia tidak berpakaian, maka Allah akan memakaikan kepadanya pakaian dari pakaian yang hijau di surga. Siapa pun seorang muslim yang memberikan makan kepada muslim lainnya yang dalam keadaan lapar, maka Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan di surga. Dan siapa pun seorang muslim yang memberi minum muslim lainnya yang dalam keadaan haus, maka Allah akan memberinya minum dari ar-rahiq al-makhtum (arak surga).” (HR. Abu Dawud no. 1682. Dinilai dha’if  oleh Al-Albani. Di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Abu Khalid Ad-Dalani, dia ini jujur, namun sering salah dalam meriwayatkan hadis. Lihat pula Tahdzib At-Tahdzib, 12: 89) Kandungan hadis Kandungan pertama, hadis ini mengandung motivasi untuk berhias dengan akhlak yang mulia ini, yaitu senang memberi bantuan kepada orang lain yang membutuhkan dalam rangka mencari ganjaran dan pahala. Hadis ini juga menunjukkan bahwa siapa saja yang beramal dengan suatu amal, maka akan mendapatkan balasan yang semisal pada hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman, جَزَاء مِّن رَّبِّكَ عَطَاء حِسَاباً “Sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.” (QS. An-Naba’: 36) Allah Ta’ala juga berfirman, هَلْ جَزَاء الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ “Bukankah tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60) Siapa saja yang memberi pakaian kepada orang yang tidak memiliki pakaian, maka dia akan diberi pakaian dari pakaian surga yang berwarna hijau. Ini adalah pakaian yang paling bernilai dan berharga. Siapa saja yang memberi makan orang yang kelaparan, maka akan diberi makan dari buah-buahan surga. Dan siapa saja yang memberi minum orang yang kehausan, maka dia akan diberi minum dari ar-rakhiq al-makhtum, yaitu sari khamr di surga. Hadis ini, dan hadis-hadis lain yang semakna dengannya, meskipun sanadnya lemah (dha’if), akan tetapi maknanya benar (sahih). Hal ini karena didukung dengan dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan sedekah. Di antara bentuk sedekah adalah memberi pakaian kepada orang yang tidak memiliki pakaian dan memberi makan kepada orang-orang yang kelaparan tidak memiliki makanan. Demikian pula, hadis ini didukung oleh dalil-dalil yang menunjukkan bahwa balasan (al-jazaa’) itu sejenis (setimpal) dengan amal perbuatan. Surga adalah negeri yang penuh dengan kemuliaan dan nikmat. Surga adalah negeri tempat adanya balasan dan kebaikan. Dan Allah Ta’ala memberikan balasan kepada seorang hamba sesuai dengan amalnya, bahkan lebih banyak dari amalnya sebagai anugerah dan keutamaan untuk hamba-Nya. Kandungan kedua, hadis ini merupakan dalil tentang keutamaan sedekah yang sesuai dengan kebutuhan orang yang menerima sedekah. Misalnya, jika ada orang yang tidak memiliki pakaian, maka kita bersedekah dengan memberi pakaian. Karena dalam kondisi tersebut, dia sangat membutuhkan pakaian untuk menutup auratnya, atau untuk melindungi diri dari cuaca panas dan dingin. Jika ada orang yang kelaparan, maka dia memberi bantuan dalam bentuk makanan. Atau jika ada orang yang membutuhkan air, maka dia memberi bantuan dalam bentuk air minum atau sarana-sarana untuk mendapatkan air, misalnya dengan membangun sumur bor, atau sejenisnya. Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim memperhatikan hal ini. Hendaknya seorang muslim melihat pada setiap masa, manakah yang lebih bermanfaat untuk orang yang akan diberikan sedekah. Jika datang musim dingin, dia pun bersedekah dengan pakaian musim dingin sehingga orang-orang yang membutuhkan tidak kedinginan. Jika sedang musim panas (musim kemarau), dia bersedekah dengan bentuk yang sesuai, misalnya memberi bantuan air bersih ke daerah-daerah yang dilanda kekeringan. Demikian pembahasan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. Baca juga: Keutamaan Sedekah Sunah *** @Kantor Pogung, 10 Rabiul akhir 1445/ 25 Oktober 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 474-475). Tags: Sedekah


Daftar Isi Toggle Teks hadisKandungan hadis Teks hadis Dari Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَيُّمَا مُسْلِمٍ كَسَا مُسْلِمًا ثَوْبًا عَلَى عُرْيٍ، كَسَاهُ اللَّهُ مِنْ خُضْرِ الْجَنَّةِ، وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ أَطْعَمَ مُسْلِمًا عَلَى جُوعٍ، أَطْعَمَهُ اللَّهُ مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ، وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ سَقَى مُسْلِمًا عَلَى ظَمَإٍ، سَقَاهُ اللَّهُ مِنَ الرَّحِيقِ الْمَخْتُومِ “Siapa pun seorang muslim yang memakaikan pakaian kepada muslim yang lainnya karena ia tidak berpakaian, maka Allah akan memakaikan kepadanya pakaian dari pakaian yang hijau di surga. Siapa pun seorang muslim yang memberikan makan kepada muslim lainnya yang dalam keadaan lapar, maka Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan di surga. Dan siapa pun seorang muslim yang memberi minum muslim lainnya yang dalam keadaan haus, maka Allah akan memberinya minum dari ar-rahiq al-makhtum (arak surga).” (HR. Abu Dawud no. 1682. Dinilai dha’if  oleh Al-Albani. Di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Abu Khalid Ad-Dalani, dia ini jujur, namun sering salah dalam meriwayatkan hadis. Lihat pula Tahdzib At-Tahdzib, 12: 89) Kandungan hadis Kandungan pertama, hadis ini mengandung motivasi untuk berhias dengan akhlak yang mulia ini, yaitu senang memberi bantuan kepada orang lain yang membutuhkan dalam rangka mencari ganjaran dan pahala. Hadis ini juga menunjukkan bahwa siapa saja yang beramal dengan suatu amal, maka akan mendapatkan balasan yang semisal pada hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman, جَزَاء مِّن رَّبِّكَ عَطَاء حِسَاباً “Sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.” (QS. An-Naba’: 36) Allah Ta’ala juga berfirman, هَلْ جَزَاء الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ “Bukankah tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60) Siapa saja yang memberi pakaian kepada orang yang tidak memiliki pakaian, maka dia akan diberi pakaian dari pakaian surga yang berwarna hijau. Ini adalah pakaian yang paling bernilai dan berharga. Siapa saja yang memberi makan orang yang kelaparan, maka akan diberi makan dari buah-buahan surga. Dan siapa saja yang memberi minum orang yang kehausan, maka dia akan diberi minum dari ar-rakhiq al-makhtum, yaitu sari khamr di surga. Hadis ini, dan hadis-hadis lain yang semakna dengannya, meskipun sanadnya lemah (dha’if), akan tetapi maknanya benar (sahih). Hal ini karena didukung dengan dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan sedekah. Di antara bentuk sedekah adalah memberi pakaian kepada orang yang tidak memiliki pakaian dan memberi makan kepada orang-orang yang kelaparan tidak memiliki makanan. Demikian pula, hadis ini didukung oleh dalil-dalil yang menunjukkan bahwa balasan (al-jazaa’) itu sejenis (setimpal) dengan amal perbuatan. Surga adalah negeri yang penuh dengan kemuliaan dan nikmat. Surga adalah negeri tempat adanya balasan dan kebaikan. Dan Allah Ta’ala memberikan balasan kepada seorang hamba sesuai dengan amalnya, bahkan lebih banyak dari amalnya sebagai anugerah dan keutamaan untuk hamba-Nya. Kandungan kedua, hadis ini merupakan dalil tentang keutamaan sedekah yang sesuai dengan kebutuhan orang yang menerima sedekah. Misalnya, jika ada orang yang tidak memiliki pakaian, maka kita bersedekah dengan memberi pakaian. Karena dalam kondisi tersebut, dia sangat membutuhkan pakaian untuk menutup auratnya, atau untuk melindungi diri dari cuaca panas dan dingin. Jika ada orang yang kelaparan, maka dia memberi bantuan dalam bentuk makanan. Atau jika ada orang yang membutuhkan air, maka dia memberi bantuan dalam bentuk air minum atau sarana-sarana untuk mendapatkan air, misalnya dengan membangun sumur bor, atau sejenisnya. Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim memperhatikan hal ini. Hendaknya seorang muslim melihat pada setiap masa, manakah yang lebih bermanfaat untuk orang yang akan diberikan sedekah. Jika datang musim dingin, dia pun bersedekah dengan pakaian musim dingin sehingga orang-orang yang membutuhkan tidak kedinginan. Jika sedang musim panas (musim kemarau), dia bersedekah dengan bentuk yang sesuai, misalnya memberi bantuan air bersih ke daerah-daerah yang dilanda kekeringan. Demikian pembahasan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam. Baca juga: Keutamaan Sedekah Sunah *** @Kantor Pogung, 10 Rabiul akhir 1445/ 25 Oktober 2023 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 474-475). Tags: Sedekah

Tidak Berlebihan dalam Beramal Itu Lebih Utama

Daftar Isi Toggle Nabi melarang berlebih-lebihan dalam ibadahKemudahan dalam ibadah Suatu amal yang dikerjakan secara proposional (mudah dan lapang) itu lebih utama daripada amalan yang dikerjakan dengan cara takalluf (berlebih-lebihan) sehingga membebani diri melampaui batas kemampuan dirinya. Agama Islam adalah agama yang dilandasi dengan prinsip kemudahan. Allah Ta’ala berfirman, لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286) Jika Allah Ta’ala saja tidak membenani seseorang kecuali dengan apa yang hamba-Nya mampu, bagaimana mungkin seseorang ingin mengerjakan sesuatu di luar kemampuannya. Tidak mungkin syariat Islam mengajarkan suatu amalan yang melampaui batas. Allah Ta’ala juga berfirman, يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ “Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menginginkan kesulitan bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 185) Oleh karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada umatnya untuk meniti jalan pertengahan, tidak ifrath (ekstrim/melampaui batas) dan tidak tafrith (meremehkan/meninggalkan). عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَتْ عِنْدِي امْرَأَةٌ، فَدَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «مَنْ هَذِهِ؟» قُلْتُ: فُلَانَةُ، لَا تَنَامُ تَذْكُرُ مِنْ صَلَاتِهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَهْ، عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ، فَوَاللَّهِ لَا يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا» ، قَالَتْ: وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينَ إِلَيْهِ الَّذِي يَدُومُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ Dari Aisyah radiyallahu ‘anha, “Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menemuiku dan di sisiku ada seorang wanita.” Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Siapa wanita ini?” Aisyah menjawab, “Ia adalah wanita yang tidak tidur karena sepanjang malam ia mengerjakan salat.” Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda, “Wajib bagi kalian beramal dengan amal yang kalian mampu. Demi Allah, Allah tidak akan bosan sampai kalian sendiri yang merasa bosan.” (Lihat Shahih Abu Dawud no. 1238, riwayat serupa dalam HR. Bukhari no. 41) Tetaplah beramal dengan amal yang sederhana, sedikit-sedikit tidak masalah yang penting istikamah. Nabi melarang berlebih-lebihan dalam ibadah Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «يَا عَبْدَ اللَّهِ، أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ، وَتَقُومُ اللَّيْلَ؟» ، فَقُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «فَلاَ تَفْعَلْ صُمْ وَأَفْطِرْ، وَقُمْ وَنَمْ، فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِزَوْرِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku, “Wahai ‘Abdullah, apakah benar berita bahwa engkau berpuasa di waktu siang (maksudnya, puasa setiap hari, pent.), lalu salat malam sepanjang malam?” Saya menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah engkau lakukan itu, tetapi berpuasa dan berbukalah! Salat malam dan tidurlah! Karena badanmu memiliki hak yang harus engkau tunaikan, matamu punya hak atasmu, istrimu punya hak atasmu, dan tamumu pun punya hak yang harus engkau tunaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam sabda beliau shalallahu ‘alaihi wasallam yang lain, إن الدين يسر ولن يشاد الدين إلا غلبه فسددوا وقاربوا وأبشروا واستعينوا بالغدوة والروحة وشيء من الدلجة “Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya, kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, bersikap tengahlah (luruslah), sederhanalah (berupaya mendekati amal yang sempurna), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala), serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang, dan sebagian malam.” (HR. Bukhari) Baca juga: Beramal Tanpa Panduan Kemudahan dalam ibadah Salah satu kemudahan beribadah dalam Islam adalah keringanan dalam mengerjakan salat. Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Saya pernah terkena wasir, maka saya bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda, صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ ‘Salatlah dengan berdiri! Jika kamu tidak bisa, maka duduklah. Dan jika tidak bisa, maka salat dengan berbaring.’” (HR. Bukhari) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mencontohkan perihal bolehnya menjamak (menggabungkan) salat ketika ada kebutuhan dan men-qashar (meringkas) salat ketika safar. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, جَمَع النبيُّ صلى الله عليه وسلم بين المغرب والعشاء بِـجَمْع، لِكُلِّ واحدة منهما إقامة، ولم يُسَبِّحْ بينهما، ولا على إثْرِ واحدةٍ مِنْهُمَا “Rasulullah pernah menjamak salat Magrib dan Isya. Setiap salat didahului dengan ikamah. Beliau tidak salat sunah di antara keduanya dan tidak juga di akhir salatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari Ibnu ‘Umar adhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَأَبُو بَكْرٍ بَعْدَهُ وَعُمَرُ بَعْدَ أَبِى بَكْرٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan salat di Mina dua rakaat, begitu pula Abu Bakr setelah itu dan juga ‘Umar setelahnya.” (HR. Muslim) Di antara keringanan salat yang lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkan salat wajib di rumah bagi laki-laki jika turun hujan. Dari Usamah bin Umair radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, رَأَيْتُنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَمَنَ الْحُدَيْبِيَةِ مُطِرْنَا فَلَمْ تَبُلَّ السَّمَاءُ أَسَافِلَ نِعَالِنَا فَنَادَى مُنَادِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ “Dahulu kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada waktu Hudaibiyah dan hujan pun menimpa kami tapi tidak sampai membasahi sandal-sandal kami. Lalu, muazin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumandangkan, ‘Shallu fii rihaalikum (salatlah ditempat tinggal kalian).’“ (HR. Ahmad, 5: 74  dan Abu Dawud no. 1057) Begitu pula dalam ibadah puasa wajib (Ramadan), maka Allah telah memberikan kemudahan bagi orang-orang yang berat melaksanakannya sebagaimana orang sakit, musafir, orang tua renta, ibu hamil, dan menyusui. Allah Ta’ala berfirman, فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُۥ ۚ وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ “Maka, barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 184) Semoga kita terhindar dari sikap berlebihan dalam ibadah dan mendapatkan kemudahan dari Allah Ta’ala untuk istikamah dalam beramal saleh. Baca juga: 8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam Beramal *** Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd. Artikel: Muslim.or.id Tags: amalberamal

Tidak Berlebihan dalam Beramal Itu Lebih Utama

Daftar Isi Toggle Nabi melarang berlebih-lebihan dalam ibadahKemudahan dalam ibadah Suatu amal yang dikerjakan secara proposional (mudah dan lapang) itu lebih utama daripada amalan yang dikerjakan dengan cara takalluf (berlebih-lebihan) sehingga membebani diri melampaui batas kemampuan dirinya. Agama Islam adalah agama yang dilandasi dengan prinsip kemudahan. Allah Ta’ala berfirman, لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286) Jika Allah Ta’ala saja tidak membenani seseorang kecuali dengan apa yang hamba-Nya mampu, bagaimana mungkin seseorang ingin mengerjakan sesuatu di luar kemampuannya. Tidak mungkin syariat Islam mengajarkan suatu amalan yang melampaui batas. Allah Ta’ala juga berfirman, يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ “Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menginginkan kesulitan bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 185) Oleh karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada umatnya untuk meniti jalan pertengahan, tidak ifrath (ekstrim/melampaui batas) dan tidak tafrith (meremehkan/meninggalkan). عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَتْ عِنْدِي امْرَأَةٌ، فَدَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «مَنْ هَذِهِ؟» قُلْتُ: فُلَانَةُ، لَا تَنَامُ تَذْكُرُ مِنْ صَلَاتِهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَهْ، عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ، فَوَاللَّهِ لَا يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا» ، قَالَتْ: وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينَ إِلَيْهِ الَّذِي يَدُومُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ Dari Aisyah radiyallahu ‘anha, “Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menemuiku dan di sisiku ada seorang wanita.” Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Siapa wanita ini?” Aisyah menjawab, “Ia adalah wanita yang tidak tidur karena sepanjang malam ia mengerjakan salat.” Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda, “Wajib bagi kalian beramal dengan amal yang kalian mampu. Demi Allah, Allah tidak akan bosan sampai kalian sendiri yang merasa bosan.” (Lihat Shahih Abu Dawud no. 1238, riwayat serupa dalam HR. Bukhari no. 41) Tetaplah beramal dengan amal yang sederhana, sedikit-sedikit tidak masalah yang penting istikamah. Nabi melarang berlebih-lebihan dalam ibadah Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «يَا عَبْدَ اللَّهِ، أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ، وَتَقُومُ اللَّيْلَ؟» ، فَقُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «فَلاَ تَفْعَلْ صُمْ وَأَفْطِرْ، وَقُمْ وَنَمْ، فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِزَوْرِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku, “Wahai ‘Abdullah, apakah benar berita bahwa engkau berpuasa di waktu siang (maksudnya, puasa setiap hari, pent.), lalu salat malam sepanjang malam?” Saya menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah engkau lakukan itu, tetapi berpuasa dan berbukalah! Salat malam dan tidurlah! Karena badanmu memiliki hak yang harus engkau tunaikan, matamu punya hak atasmu, istrimu punya hak atasmu, dan tamumu pun punya hak yang harus engkau tunaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam sabda beliau shalallahu ‘alaihi wasallam yang lain, إن الدين يسر ولن يشاد الدين إلا غلبه فسددوا وقاربوا وأبشروا واستعينوا بالغدوة والروحة وشيء من الدلجة “Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya, kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, bersikap tengahlah (luruslah), sederhanalah (berupaya mendekati amal yang sempurna), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala), serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang, dan sebagian malam.” (HR. Bukhari) Baca juga: Beramal Tanpa Panduan Kemudahan dalam ibadah Salah satu kemudahan beribadah dalam Islam adalah keringanan dalam mengerjakan salat. Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Saya pernah terkena wasir, maka saya bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda, صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ ‘Salatlah dengan berdiri! Jika kamu tidak bisa, maka duduklah. Dan jika tidak bisa, maka salat dengan berbaring.’” (HR. Bukhari) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mencontohkan perihal bolehnya menjamak (menggabungkan) salat ketika ada kebutuhan dan men-qashar (meringkas) salat ketika safar. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, جَمَع النبيُّ صلى الله عليه وسلم بين المغرب والعشاء بِـجَمْع، لِكُلِّ واحدة منهما إقامة، ولم يُسَبِّحْ بينهما، ولا على إثْرِ واحدةٍ مِنْهُمَا “Rasulullah pernah menjamak salat Magrib dan Isya. Setiap salat didahului dengan ikamah. Beliau tidak salat sunah di antara keduanya dan tidak juga di akhir salatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari Ibnu ‘Umar adhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَأَبُو بَكْرٍ بَعْدَهُ وَعُمَرُ بَعْدَ أَبِى بَكْرٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan salat di Mina dua rakaat, begitu pula Abu Bakr setelah itu dan juga ‘Umar setelahnya.” (HR. Muslim) Di antara keringanan salat yang lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkan salat wajib di rumah bagi laki-laki jika turun hujan. Dari Usamah bin Umair radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, رَأَيْتُنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَمَنَ الْحُدَيْبِيَةِ مُطِرْنَا فَلَمْ تَبُلَّ السَّمَاءُ أَسَافِلَ نِعَالِنَا فَنَادَى مُنَادِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ “Dahulu kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada waktu Hudaibiyah dan hujan pun menimpa kami tapi tidak sampai membasahi sandal-sandal kami. Lalu, muazin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumandangkan, ‘Shallu fii rihaalikum (salatlah ditempat tinggal kalian).’“ (HR. Ahmad, 5: 74  dan Abu Dawud no. 1057) Begitu pula dalam ibadah puasa wajib (Ramadan), maka Allah telah memberikan kemudahan bagi orang-orang yang berat melaksanakannya sebagaimana orang sakit, musafir, orang tua renta, ibu hamil, dan menyusui. Allah Ta’ala berfirman, فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُۥ ۚ وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ “Maka, barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 184) Semoga kita terhindar dari sikap berlebihan dalam ibadah dan mendapatkan kemudahan dari Allah Ta’ala untuk istikamah dalam beramal saleh. Baca juga: 8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam Beramal *** Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd. Artikel: Muslim.or.id Tags: amalberamal
Daftar Isi Toggle Nabi melarang berlebih-lebihan dalam ibadahKemudahan dalam ibadah Suatu amal yang dikerjakan secara proposional (mudah dan lapang) itu lebih utama daripada amalan yang dikerjakan dengan cara takalluf (berlebih-lebihan) sehingga membebani diri melampaui batas kemampuan dirinya. Agama Islam adalah agama yang dilandasi dengan prinsip kemudahan. Allah Ta’ala berfirman, لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286) Jika Allah Ta’ala saja tidak membenani seseorang kecuali dengan apa yang hamba-Nya mampu, bagaimana mungkin seseorang ingin mengerjakan sesuatu di luar kemampuannya. Tidak mungkin syariat Islam mengajarkan suatu amalan yang melampaui batas. Allah Ta’ala juga berfirman, يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ “Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menginginkan kesulitan bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 185) Oleh karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada umatnya untuk meniti jalan pertengahan, tidak ifrath (ekstrim/melampaui batas) dan tidak tafrith (meremehkan/meninggalkan). عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَتْ عِنْدِي امْرَأَةٌ، فَدَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «مَنْ هَذِهِ؟» قُلْتُ: فُلَانَةُ، لَا تَنَامُ تَذْكُرُ مِنْ صَلَاتِهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَهْ، عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ، فَوَاللَّهِ لَا يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا» ، قَالَتْ: وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينَ إِلَيْهِ الَّذِي يَدُومُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ Dari Aisyah radiyallahu ‘anha, “Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menemuiku dan di sisiku ada seorang wanita.” Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Siapa wanita ini?” Aisyah menjawab, “Ia adalah wanita yang tidak tidur karena sepanjang malam ia mengerjakan salat.” Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda, “Wajib bagi kalian beramal dengan amal yang kalian mampu. Demi Allah, Allah tidak akan bosan sampai kalian sendiri yang merasa bosan.” (Lihat Shahih Abu Dawud no. 1238, riwayat serupa dalam HR. Bukhari no. 41) Tetaplah beramal dengan amal yang sederhana, sedikit-sedikit tidak masalah yang penting istikamah. Nabi melarang berlebih-lebihan dalam ibadah Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «يَا عَبْدَ اللَّهِ، أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ، وَتَقُومُ اللَّيْلَ؟» ، فَقُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «فَلاَ تَفْعَلْ صُمْ وَأَفْطِرْ، وَقُمْ وَنَمْ، فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِزَوْرِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku, “Wahai ‘Abdullah, apakah benar berita bahwa engkau berpuasa di waktu siang (maksudnya, puasa setiap hari, pent.), lalu salat malam sepanjang malam?” Saya menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah engkau lakukan itu, tetapi berpuasa dan berbukalah! Salat malam dan tidurlah! Karena badanmu memiliki hak yang harus engkau tunaikan, matamu punya hak atasmu, istrimu punya hak atasmu, dan tamumu pun punya hak yang harus engkau tunaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam sabda beliau shalallahu ‘alaihi wasallam yang lain, إن الدين يسر ولن يشاد الدين إلا غلبه فسددوا وقاربوا وأبشروا واستعينوا بالغدوة والروحة وشيء من الدلجة “Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya, kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, bersikap tengahlah (luruslah), sederhanalah (berupaya mendekati amal yang sempurna), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala), serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang, dan sebagian malam.” (HR. Bukhari) Baca juga: Beramal Tanpa Panduan Kemudahan dalam ibadah Salah satu kemudahan beribadah dalam Islam adalah keringanan dalam mengerjakan salat. Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Saya pernah terkena wasir, maka saya bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda, صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ ‘Salatlah dengan berdiri! Jika kamu tidak bisa, maka duduklah. Dan jika tidak bisa, maka salat dengan berbaring.’” (HR. Bukhari) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mencontohkan perihal bolehnya menjamak (menggabungkan) salat ketika ada kebutuhan dan men-qashar (meringkas) salat ketika safar. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, جَمَع النبيُّ صلى الله عليه وسلم بين المغرب والعشاء بِـجَمْع، لِكُلِّ واحدة منهما إقامة، ولم يُسَبِّحْ بينهما، ولا على إثْرِ واحدةٍ مِنْهُمَا “Rasulullah pernah menjamak salat Magrib dan Isya. Setiap salat didahului dengan ikamah. Beliau tidak salat sunah di antara keduanya dan tidak juga di akhir salatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari Ibnu ‘Umar adhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَأَبُو بَكْرٍ بَعْدَهُ وَعُمَرُ بَعْدَ أَبِى بَكْرٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan salat di Mina dua rakaat, begitu pula Abu Bakr setelah itu dan juga ‘Umar setelahnya.” (HR. Muslim) Di antara keringanan salat yang lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkan salat wajib di rumah bagi laki-laki jika turun hujan. Dari Usamah bin Umair radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, رَأَيْتُنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَمَنَ الْحُدَيْبِيَةِ مُطِرْنَا فَلَمْ تَبُلَّ السَّمَاءُ أَسَافِلَ نِعَالِنَا فَنَادَى مُنَادِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ “Dahulu kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada waktu Hudaibiyah dan hujan pun menimpa kami tapi tidak sampai membasahi sandal-sandal kami. Lalu, muazin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumandangkan, ‘Shallu fii rihaalikum (salatlah ditempat tinggal kalian).’“ (HR. Ahmad, 5: 74  dan Abu Dawud no. 1057) Begitu pula dalam ibadah puasa wajib (Ramadan), maka Allah telah memberikan kemudahan bagi orang-orang yang berat melaksanakannya sebagaimana orang sakit, musafir, orang tua renta, ibu hamil, dan menyusui. Allah Ta’ala berfirman, فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُۥ ۚ وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ “Maka, barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 184) Semoga kita terhindar dari sikap berlebihan dalam ibadah dan mendapatkan kemudahan dari Allah Ta’ala untuk istikamah dalam beramal saleh. Baca juga: 8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam Beramal *** Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd. Artikel: Muslim.or.id Tags: amalberamal


Daftar Isi Toggle Nabi melarang berlebih-lebihan dalam ibadahKemudahan dalam ibadah Suatu amal yang dikerjakan secara proposional (mudah dan lapang) itu lebih utama daripada amalan yang dikerjakan dengan cara takalluf (berlebih-lebihan) sehingga membebani diri melampaui batas kemampuan dirinya. Agama Islam adalah agama yang dilandasi dengan prinsip kemudahan. Allah Ta’ala berfirman, لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286) Jika Allah Ta’ala saja tidak membenani seseorang kecuali dengan apa yang hamba-Nya mampu, bagaimana mungkin seseorang ingin mengerjakan sesuatu di luar kemampuannya. Tidak mungkin syariat Islam mengajarkan suatu amalan yang melampaui batas. Allah Ta’ala juga berfirman, يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ “Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menginginkan kesulitan bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 185) Oleh karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada umatnya untuk meniti jalan pertengahan, tidak ifrath (ekstrim/melampaui batas) dan tidak tafrith (meremehkan/meninggalkan). عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَتْ عِنْدِي امْرَأَةٌ، فَدَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «مَنْ هَذِهِ؟» قُلْتُ: فُلَانَةُ، لَا تَنَامُ تَذْكُرُ مِنْ صَلَاتِهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَهْ، عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ، فَوَاللَّهِ لَا يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا» ، قَالَتْ: وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينَ إِلَيْهِ الَّذِي يَدُومُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ Dari Aisyah radiyallahu ‘anha, “Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menemuiku dan di sisiku ada seorang wanita.” Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Siapa wanita ini?” Aisyah menjawab, “Ia adalah wanita yang tidak tidur karena sepanjang malam ia mengerjakan salat.” Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda, “Wajib bagi kalian beramal dengan amal yang kalian mampu. Demi Allah, Allah tidak akan bosan sampai kalian sendiri yang merasa bosan.” (Lihat Shahih Abu Dawud no. 1238, riwayat serupa dalam HR. Bukhari no. 41) Tetaplah beramal dengan amal yang sederhana, sedikit-sedikit tidak masalah yang penting istikamah. Nabi melarang berlebih-lebihan dalam ibadah Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «يَا عَبْدَ اللَّهِ، أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ، وَتَقُومُ اللَّيْلَ؟» ، فَقُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «فَلاَ تَفْعَلْ صُمْ وَأَفْطِرْ، وَقُمْ وَنَمْ، فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِزَوْرِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku, “Wahai ‘Abdullah, apakah benar berita bahwa engkau berpuasa di waktu siang (maksudnya, puasa setiap hari, pent.), lalu salat malam sepanjang malam?” Saya menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah engkau lakukan itu, tetapi berpuasa dan berbukalah! Salat malam dan tidurlah! Karena badanmu memiliki hak yang harus engkau tunaikan, matamu punya hak atasmu, istrimu punya hak atasmu, dan tamumu pun punya hak yang harus engkau tunaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam sabda beliau shalallahu ‘alaihi wasallam yang lain, إن الدين يسر ولن يشاد الدين إلا غلبه فسددوا وقاربوا وأبشروا واستعينوا بالغدوة والروحة وشيء من الدلجة “Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya, kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, bersikap tengahlah (luruslah), sederhanalah (berupaya mendekati amal yang sempurna), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala), serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang, dan sebagian malam.” (HR. Bukhari) Baca juga: Beramal Tanpa Panduan Kemudahan dalam ibadah Salah satu kemudahan beribadah dalam Islam adalah keringanan dalam mengerjakan salat. Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Saya pernah terkena wasir, maka saya bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda, صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ ‘Salatlah dengan berdiri! Jika kamu tidak bisa, maka duduklah. Dan jika tidak bisa, maka salat dengan berbaring.’” (HR. Bukhari) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mencontohkan perihal bolehnya menjamak (menggabungkan) salat ketika ada kebutuhan dan men-qashar (meringkas) salat ketika safar. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, جَمَع النبيُّ صلى الله عليه وسلم بين المغرب والعشاء بِـجَمْع، لِكُلِّ واحدة منهما إقامة، ولم يُسَبِّحْ بينهما، ولا على إثْرِ واحدةٍ مِنْهُمَا “Rasulullah pernah menjamak salat Magrib dan Isya. Setiap salat didahului dengan ikamah. Beliau tidak salat sunah di antara keduanya dan tidak juga di akhir salatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari Ibnu ‘Umar adhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَأَبُو بَكْرٍ بَعْدَهُ وَعُمَرُ بَعْدَ أَبِى بَكْرٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan salat di Mina dua rakaat, begitu pula Abu Bakr setelah itu dan juga ‘Umar setelahnya.” (HR. Muslim) Di antara keringanan salat yang lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkan salat wajib di rumah bagi laki-laki jika turun hujan. Dari Usamah bin Umair radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, رَأَيْتُنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَمَنَ الْحُدَيْبِيَةِ مُطِرْنَا فَلَمْ تَبُلَّ السَّمَاءُ أَسَافِلَ نِعَالِنَا فَنَادَى مُنَادِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ “Dahulu kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada waktu Hudaibiyah dan hujan pun menimpa kami tapi tidak sampai membasahi sandal-sandal kami. Lalu, muazin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumandangkan, ‘Shallu fii rihaalikum (salatlah ditempat tinggal kalian).’“ (HR. Ahmad, 5: 74  dan Abu Dawud no. 1057) Begitu pula dalam ibadah puasa wajib (Ramadan), maka Allah telah memberikan kemudahan bagi orang-orang yang berat melaksanakannya sebagaimana orang sakit, musafir, orang tua renta, ibu hamil, dan menyusui. Allah Ta’ala berfirman, فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُۥ ۚ وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ “Maka, barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 184) Semoga kita terhindar dari sikap berlebihan dalam ibadah dan mendapatkan kemudahan dari Allah Ta’ala untuk istikamah dalam beramal saleh. Baca juga: 8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam Beramal *** Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd. Artikel: Muslim.or.id Tags: amalberamal

Hukum Pernikahan Beda Agama

Daftar Isi Toggle Pilih yang baik agamanyaMenikahi pasangan beda agamaBagaimana dengan wanita muslimah yang menikahi laki-laki kafir? Pernikahan adalah salah satu sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama yang bisa menjadi salah satu jalan ketenangan bagi seorang hamba. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla, وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ “Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS Ar-Ruum: 21) Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan, بما رتب على الزواج من الأسباب الجالبة للمودة والرحمة. فحصل بالزوجة الاستمتاع واللذة والمنفعة بوجود الأولاد وتربيتهم، والسكون إليها، فلا تجد بين أحد في الغالب مثل ما بين الزوجين من المودة والرحمة “(Allah jadikan pernikahan sebagai ketenangan -pent) karena apa yang tumbuh setelah pernikahan tersebut. Yang dengannya seseorang bisa bersenang-senang satu sama lain termasuk dengan kehadiran anak-anak yang mereka didik dan merasa nyaman dengannya. Dan tidak ada hubungan yang secara umum melahirkan cinta dan kasih sayang kecuali hubungan antara suami dan istri.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 639) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama juga memerintahkan agar para pemuda bersegera menikah jika sudah mampu. Sebagaimana dalam hadis beliau shallallahu ‘alaihi wasallama, يا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فإنَّه أغَضُّ لِلْبَصَرِ وأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، ومَن لَمْ يَسْتَطِعْ فَعليه بالصَّوْمِ فإنَّه له وِجَاءٌ “Wahai sekalian pemuda! Jika kalian sudah mampu, maka menikahlah! Karena dengan menikah akan lebih menjaga pandangan dan kemaluan. Namun, jika tidak mampu, maka berpuasalah. Karena di dalam puasa terdapat penghalang dari keinginan berbuat buruk.” (HR. Bukhari no. 5066) Tentu saja, ketenangan di dalam rumah tangga ini tidaklah diperoleh, kecuali ketika seseorang memulainya dengan ketakwaan kepada Allah. Dan bukan dengan hal-hal yang melanggar perintah Allah ‘Azza Wajalla, seperti berpacaran, berzina, berpegangan tangan dengan lawan jenis, dan lain-lain yang semoga Allah azza wajalla melindungi kita dan anak keturunan kita darinya. Pilih yang baik agamanya Di antara petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika hendak menikah adalah hendaknya kita memilih seseorang yang baik agamanya. Yakni, pasangan yang saleh dan salehah dan bukan pasangan yang fasik (gemar berbuat dosa). Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda, تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها، ولِحَسَبِها، وجَمالِها، ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ “Alasan wanita dipilih untuk dinikahi ada empat, yakni, hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan kualitas agamanya. Maka, pilihlah wanita yang salehah, niscaya kalian akan beruntung.” (HR. Bukhari no. 5090) Karena keberadaan wanita yang salehah akan menjadi pelita bagi kehidupan rumah tangga seorang muslim. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama, الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا المَرْأَةُ الصَّالِحَةُ “Dunia ini seperti perhiasan. Dan perhiasan dunia yang paling indah adalah wanita salehah.” (HR. Muslim no. 1467) Yakni, wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian patuh kepada titah suaminya, menjaga aib keluarganya, mendidik anak-anaknya dengan didikan agama, dan sebagainya. Merekalah yang akan digambarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama sebagai wanita yang berhak masuk surga dari pintu mana saja yang mereka kehendaki. Bahkan, mayoritas ulama dari empat mazhab mempersyaratkan (menjadikan ini sebagai saran pertimbangan utama) kesetaraan calon pasangan dalam masalah kualitas agama. Hal ini dengan beberapa alasan, yaitu: Pertama: Orang yang fasik tertolak persaksian dan juga riwayatnya. Kedua: Orang yang fasik tidak bisa dipercaya, baik terkait harta maupun nyawa. Ketiga: Orang yang fasik berkurang kadar kedudukannya di hadapan Allah, maka tidaklah mereka layak untuk wanita-wanita yang menjaga kehormatan dirinya. Baca juga: Hukum Menghadiri Perayaan Pernikahan di Gedung Pernikahan Menikahi pasangan beda agama Namun, rasa cinta yang bersarang di hati setiap hamba berbeda-beda. Ada juga yang terjatuh ke dalam cinta kepada calon pasangan yang beda agama. Islam juga telah mengatur akan hal ini. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla, اَلْيَوْمَ اُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبٰتُۗ وَطَعَامُ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ حِلٌّ لَّكُمْ ۖوَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ ۖوَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ الْمُؤْمِنٰتِ وَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ اِذَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّ مُحْصِنِيْنَ غَيْرَ مُسٰفِحِيْنَ وَلَا مُتَّخِذِيْٓ اَخْدَانٍۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِالْاِيْمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهٗ ۖوَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ࣖ “Pada hari ini dihalalkan bagimu segala (makanan) yang baik. Makanan (sembelihan) ahlulkitab itu halal bagimu dan makananmu halal (juga) bagi mereka. (Dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi kitab suci sebelum kamu (yautu ahlul kitab, pent.), apabila kamu membayar maskawin mereka untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina, dan tidak untuk menjadikan (mereka) pasangan gelap (gundik). Siapa yang kufur setelah beriman, maka sungguh sia-sia amalnya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Maidah: 5) Tentu saja hal ini dikhususkan pada kondisi seorang laki-laki muslim menikah dengan wanita nonmuslimah dari kalangan ahlulkitab (yaitu, Nasrani dan Yahudi). Adapun wanita nonmuslimah selain dari kalangan ahlulkitab (seperti Majusi), maka Islam tidak membolehkannya. Imam At-Thabari rahimahullahu mengatakan,  ( والمحصنات من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم ) يعني : والحرائر من الذين أعطوا الكتاب وهم اليهود والنصارى الذين دانوا بما في التوراة والإنجيل من قبلكم أيها المؤمنون بمحمد من العرب وسائر الناس أن تنكحوهن أيضاً “(Yang dimaksud dengan wanita-wanita yang diberi kitab suci) adalah wanita dari kalangan Nasrani dan Yahudi. Yang mereka itu dekat dengan ajaran Taurat dan Injil sebelum kalian wahai orang-orang yang beriman. Boleh bagi kalian menikahi mereka.” (Tafsir Ath-Thabari, 6: 104) Namun, tentu saja hal ini perlu dipikirkan lebih matang lagi. Mengingat penjagaan seseorang terhadap agama dirinya seringkali lemah di hadapan wanita yang dicintainya. Maka seseorang perlu benar-benar mempertimbangkan sebelum memutuskan menikahi wanita ahlulkitab. Bagaimana dengan wanita muslimah yang menikahi laki-laki kafir? Adapun masalah ini, maka Islam mengharamkannya dan pernikahan mereka tidak sah. Baik laki-lakinya dari kalangan ahlulkitab maupun yang lain. Dalilnya adalah firman Allah ‘Azza Wajalla, وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ “Janganlah kamu menikahi perempuan musyrik hingga mereka beriman! Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik, meskipun dia menarik hatimu. Jangan pula kamu menikahkan laki-laki musyrik (dengan perempuan yang beriman), hingga mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah: 221) Dan hal yang menyayat hati di zaman sekarang, banyak wanita muslimah yang harus mengorbankan aturan agama dengan mengatasnamakan cinta. Padahal kecintaan yang hakiki adalah ketika kecintaan tadi dapat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza Wajalla. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka kecintaan tersebut justru akan mencelakakannya di akhirat kelak. Semoga Allah Ta’ala menjaga diri kita dan keluarga kita dari cinta yang menghancurkan. Amin. Baca juga: Agungnya Sebuah Ikatan Pernikahan *** Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag. Artikel: Muslim.or.id Tags: nikah beda agama

Hukum Pernikahan Beda Agama

Daftar Isi Toggle Pilih yang baik agamanyaMenikahi pasangan beda agamaBagaimana dengan wanita muslimah yang menikahi laki-laki kafir? Pernikahan adalah salah satu sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama yang bisa menjadi salah satu jalan ketenangan bagi seorang hamba. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla, وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ “Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS Ar-Ruum: 21) Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan, بما رتب على الزواج من الأسباب الجالبة للمودة والرحمة. فحصل بالزوجة الاستمتاع واللذة والمنفعة بوجود الأولاد وتربيتهم، والسكون إليها، فلا تجد بين أحد في الغالب مثل ما بين الزوجين من المودة والرحمة “(Allah jadikan pernikahan sebagai ketenangan -pent) karena apa yang tumbuh setelah pernikahan tersebut. Yang dengannya seseorang bisa bersenang-senang satu sama lain termasuk dengan kehadiran anak-anak yang mereka didik dan merasa nyaman dengannya. Dan tidak ada hubungan yang secara umum melahirkan cinta dan kasih sayang kecuali hubungan antara suami dan istri.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 639) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama juga memerintahkan agar para pemuda bersegera menikah jika sudah mampu. Sebagaimana dalam hadis beliau shallallahu ‘alaihi wasallama, يا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فإنَّه أغَضُّ لِلْبَصَرِ وأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، ومَن لَمْ يَسْتَطِعْ فَعليه بالصَّوْمِ فإنَّه له وِجَاءٌ “Wahai sekalian pemuda! Jika kalian sudah mampu, maka menikahlah! Karena dengan menikah akan lebih menjaga pandangan dan kemaluan. Namun, jika tidak mampu, maka berpuasalah. Karena di dalam puasa terdapat penghalang dari keinginan berbuat buruk.” (HR. Bukhari no. 5066) Tentu saja, ketenangan di dalam rumah tangga ini tidaklah diperoleh, kecuali ketika seseorang memulainya dengan ketakwaan kepada Allah. Dan bukan dengan hal-hal yang melanggar perintah Allah ‘Azza Wajalla, seperti berpacaran, berzina, berpegangan tangan dengan lawan jenis, dan lain-lain yang semoga Allah azza wajalla melindungi kita dan anak keturunan kita darinya. Pilih yang baik agamanya Di antara petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika hendak menikah adalah hendaknya kita memilih seseorang yang baik agamanya. Yakni, pasangan yang saleh dan salehah dan bukan pasangan yang fasik (gemar berbuat dosa). Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda, تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها، ولِحَسَبِها، وجَمالِها، ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ “Alasan wanita dipilih untuk dinikahi ada empat, yakni, hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan kualitas agamanya. Maka, pilihlah wanita yang salehah, niscaya kalian akan beruntung.” (HR. Bukhari no. 5090) Karena keberadaan wanita yang salehah akan menjadi pelita bagi kehidupan rumah tangga seorang muslim. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama, الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا المَرْأَةُ الصَّالِحَةُ “Dunia ini seperti perhiasan. Dan perhiasan dunia yang paling indah adalah wanita salehah.” (HR. Muslim no. 1467) Yakni, wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian patuh kepada titah suaminya, menjaga aib keluarganya, mendidik anak-anaknya dengan didikan agama, dan sebagainya. Merekalah yang akan digambarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama sebagai wanita yang berhak masuk surga dari pintu mana saja yang mereka kehendaki. Bahkan, mayoritas ulama dari empat mazhab mempersyaratkan (menjadikan ini sebagai saran pertimbangan utama) kesetaraan calon pasangan dalam masalah kualitas agama. Hal ini dengan beberapa alasan, yaitu: Pertama: Orang yang fasik tertolak persaksian dan juga riwayatnya. Kedua: Orang yang fasik tidak bisa dipercaya, baik terkait harta maupun nyawa. Ketiga: Orang yang fasik berkurang kadar kedudukannya di hadapan Allah, maka tidaklah mereka layak untuk wanita-wanita yang menjaga kehormatan dirinya. Baca juga: Hukum Menghadiri Perayaan Pernikahan di Gedung Pernikahan Menikahi pasangan beda agama Namun, rasa cinta yang bersarang di hati setiap hamba berbeda-beda. Ada juga yang terjatuh ke dalam cinta kepada calon pasangan yang beda agama. Islam juga telah mengatur akan hal ini. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla, اَلْيَوْمَ اُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبٰتُۗ وَطَعَامُ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ حِلٌّ لَّكُمْ ۖوَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ ۖوَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ الْمُؤْمِنٰتِ وَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ اِذَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّ مُحْصِنِيْنَ غَيْرَ مُسٰفِحِيْنَ وَلَا مُتَّخِذِيْٓ اَخْدَانٍۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِالْاِيْمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهٗ ۖوَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ࣖ “Pada hari ini dihalalkan bagimu segala (makanan) yang baik. Makanan (sembelihan) ahlulkitab itu halal bagimu dan makananmu halal (juga) bagi mereka. (Dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi kitab suci sebelum kamu (yautu ahlul kitab, pent.), apabila kamu membayar maskawin mereka untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina, dan tidak untuk menjadikan (mereka) pasangan gelap (gundik). Siapa yang kufur setelah beriman, maka sungguh sia-sia amalnya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Maidah: 5) Tentu saja hal ini dikhususkan pada kondisi seorang laki-laki muslim menikah dengan wanita nonmuslimah dari kalangan ahlulkitab (yaitu, Nasrani dan Yahudi). Adapun wanita nonmuslimah selain dari kalangan ahlulkitab (seperti Majusi), maka Islam tidak membolehkannya. Imam At-Thabari rahimahullahu mengatakan,  ( والمحصنات من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم ) يعني : والحرائر من الذين أعطوا الكتاب وهم اليهود والنصارى الذين دانوا بما في التوراة والإنجيل من قبلكم أيها المؤمنون بمحمد من العرب وسائر الناس أن تنكحوهن أيضاً “(Yang dimaksud dengan wanita-wanita yang diberi kitab suci) adalah wanita dari kalangan Nasrani dan Yahudi. Yang mereka itu dekat dengan ajaran Taurat dan Injil sebelum kalian wahai orang-orang yang beriman. Boleh bagi kalian menikahi mereka.” (Tafsir Ath-Thabari, 6: 104) Namun, tentu saja hal ini perlu dipikirkan lebih matang lagi. Mengingat penjagaan seseorang terhadap agama dirinya seringkali lemah di hadapan wanita yang dicintainya. Maka seseorang perlu benar-benar mempertimbangkan sebelum memutuskan menikahi wanita ahlulkitab. Bagaimana dengan wanita muslimah yang menikahi laki-laki kafir? Adapun masalah ini, maka Islam mengharamkannya dan pernikahan mereka tidak sah. Baik laki-lakinya dari kalangan ahlulkitab maupun yang lain. Dalilnya adalah firman Allah ‘Azza Wajalla, وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ “Janganlah kamu menikahi perempuan musyrik hingga mereka beriman! Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik, meskipun dia menarik hatimu. Jangan pula kamu menikahkan laki-laki musyrik (dengan perempuan yang beriman), hingga mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah: 221) Dan hal yang menyayat hati di zaman sekarang, banyak wanita muslimah yang harus mengorbankan aturan agama dengan mengatasnamakan cinta. Padahal kecintaan yang hakiki adalah ketika kecintaan tadi dapat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza Wajalla. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka kecintaan tersebut justru akan mencelakakannya di akhirat kelak. Semoga Allah Ta’ala menjaga diri kita dan keluarga kita dari cinta yang menghancurkan. Amin. Baca juga: Agungnya Sebuah Ikatan Pernikahan *** Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag. Artikel: Muslim.or.id Tags: nikah beda agama
Daftar Isi Toggle Pilih yang baik agamanyaMenikahi pasangan beda agamaBagaimana dengan wanita muslimah yang menikahi laki-laki kafir? Pernikahan adalah salah satu sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama yang bisa menjadi salah satu jalan ketenangan bagi seorang hamba. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla, وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ “Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS Ar-Ruum: 21) Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan, بما رتب على الزواج من الأسباب الجالبة للمودة والرحمة. فحصل بالزوجة الاستمتاع واللذة والمنفعة بوجود الأولاد وتربيتهم، والسكون إليها، فلا تجد بين أحد في الغالب مثل ما بين الزوجين من المودة والرحمة “(Allah jadikan pernikahan sebagai ketenangan -pent) karena apa yang tumbuh setelah pernikahan tersebut. Yang dengannya seseorang bisa bersenang-senang satu sama lain termasuk dengan kehadiran anak-anak yang mereka didik dan merasa nyaman dengannya. Dan tidak ada hubungan yang secara umum melahirkan cinta dan kasih sayang kecuali hubungan antara suami dan istri.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 639) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama juga memerintahkan agar para pemuda bersegera menikah jika sudah mampu. Sebagaimana dalam hadis beliau shallallahu ‘alaihi wasallama, يا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فإنَّه أغَضُّ لِلْبَصَرِ وأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، ومَن لَمْ يَسْتَطِعْ فَعليه بالصَّوْمِ فإنَّه له وِجَاءٌ “Wahai sekalian pemuda! Jika kalian sudah mampu, maka menikahlah! Karena dengan menikah akan lebih menjaga pandangan dan kemaluan. Namun, jika tidak mampu, maka berpuasalah. Karena di dalam puasa terdapat penghalang dari keinginan berbuat buruk.” (HR. Bukhari no. 5066) Tentu saja, ketenangan di dalam rumah tangga ini tidaklah diperoleh, kecuali ketika seseorang memulainya dengan ketakwaan kepada Allah. Dan bukan dengan hal-hal yang melanggar perintah Allah ‘Azza Wajalla, seperti berpacaran, berzina, berpegangan tangan dengan lawan jenis, dan lain-lain yang semoga Allah azza wajalla melindungi kita dan anak keturunan kita darinya. Pilih yang baik agamanya Di antara petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika hendak menikah adalah hendaknya kita memilih seseorang yang baik agamanya. Yakni, pasangan yang saleh dan salehah dan bukan pasangan yang fasik (gemar berbuat dosa). Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda, تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها، ولِحَسَبِها، وجَمالِها، ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ “Alasan wanita dipilih untuk dinikahi ada empat, yakni, hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan kualitas agamanya. Maka, pilihlah wanita yang salehah, niscaya kalian akan beruntung.” (HR. Bukhari no. 5090) Karena keberadaan wanita yang salehah akan menjadi pelita bagi kehidupan rumah tangga seorang muslim. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama, الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا المَرْأَةُ الصَّالِحَةُ “Dunia ini seperti perhiasan. Dan perhiasan dunia yang paling indah adalah wanita salehah.” (HR. Muslim no. 1467) Yakni, wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian patuh kepada titah suaminya, menjaga aib keluarganya, mendidik anak-anaknya dengan didikan agama, dan sebagainya. Merekalah yang akan digambarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama sebagai wanita yang berhak masuk surga dari pintu mana saja yang mereka kehendaki. Bahkan, mayoritas ulama dari empat mazhab mempersyaratkan (menjadikan ini sebagai saran pertimbangan utama) kesetaraan calon pasangan dalam masalah kualitas agama. Hal ini dengan beberapa alasan, yaitu: Pertama: Orang yang fasik tertolak persaksian dan juga riwayatnya. Kedua: Orang yang fasik tidak bisa dipercaya, baik terkait harta maupun nyawa. Ketiga: Orang yang fasik berkurang kadar kedudukannya di hadapan Allah, maka tidaklah mereka layak untuk wanita-wanita yang menjaga kehormatan dirinya. Baca juga: Hukum Menghadiri Perayaan Pernikahan di Gedung Pernikahan Menikahi pasangan beda agama Namun, rasa cinta yang bersarang di hati setiap hamba berbeda-beda. Ada juga yang terjatuh ke dalam cinta kepada calon pasangan yang beda agama. Islam juga telah mengatur akan hal ini. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla, اَلْيَوْمَ اُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبٰتُۗ وَطَعَامُ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ حِلٌّ لَّكُمْ ۖوَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ ۖوَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ الْمُؤْمِنٰتِ وَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ اِذَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّ مُحْصِنِيْنَ غَيْرَ مُسٰفِحِيْنَ وَلَا مُتَّخِذِيْٓ اَخْدَانٍۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِالْاِيْمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهٗ ۖوَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ࣖ “Pada hari ini dihalalkan bagimu segala (makanan) yang baik. Makanan (sembelihan) ahlulkitab itu halal bagimu dan makananmu halal (juga) bagi mereka. (Dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi kitab suci sebelum kamu (yautu ahlul kitab, pent.), apabila kamu membayar maskawin mereka untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina, dan tidak untuk menjadikan (mereka) pasangan gelap (gundik). Siapa yang kufur setelah beriman, maka sungguh sia-sia amalnya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Maidah: 5) Tentu saja hal ini dikhususkan pada kondisi seorang laki-laki muslim menikah dengan wanita nonmuslimah dari kalangan ahlulkitab (yaitu, Nasrani dan Yahudi). Adapun wanita nonmuslimah selain dari kalangan ahlulkitab (seperti Majusi), maka Islam tidak membolehkannya. Imam At-Thabari rahimahullahu mengatakan,  ( والمحصنات من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم ) يعني : والحرائر من الذين أعطوا الكتاب وهم اليهود والنصارى الذين دانوا بما في التوراة والإنجيل من قبلكم أيها المؤمنون بمحمد من العرب وسائر الناس أن تنكحوهن أيضاً “(Yang dimaksud dengan wanita-wanita yang diberi kitab suci) adalah wanita dari kalangan Nasrani dan Yahudi. Yang mereka itu dekat dengan ajaran Taurat dan Injil sebelum kalian wahai orang-orang yang beriman. Boleh bagi kalian menikahi mereka.” (Tafsir Ath-Thabari, 6: 104) Namun, tentu saja hal ini perlu dipikirkan lebih matang lagi. Mengingat penjagaan seseorang terhadap agama dirinya seringkali lemah di hadapan wanita yang dicintainya. Maka seseorang perlu benar-benar mempertimbangkan sebelum memutuskan menikahi wanita ahlulkitab. Bagaimana dengan wanita muslimah yang menikahi laki-laki kafir? Adapun masalah ini, maka Islam mengharamkannya dan pernikahan mereka tidak sah. Baik laki-lakinya dari kalangan ahlulkitab maupun yang lain. Dalilnya adalah firman Allah ‘Azza Wajalla, وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ “Janganlah kamu menikahi perempuan musyrik hingga mereka beriman! Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik, meskipun dia menarik hatimu. Jangan pula kamu menikahkan laki-laki musyrik (dengan perempuan yang beriman), hingga mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah: 221) Dan hal yang menyayat hati di zaman sekarang, banyak wanita muslimah yang harus mengorbankan aturan agama dengan mengatasnamakan cinta. Padahal kecintaan yang hakiki adalah ketika kecintaan tadi dapat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza Wajalla. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka kecintaan tersebut justru akan mencelakakannya di akhirat kelak. Semoga Allah Ta’ala menjaga diri kita dan keluarga kita dari cinta yang menghancurkan. Amin. Baca juga: Agungnya Sebuah Ikatan Pernikahan *** Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag. Artikel: Muslim.or.id Tags: nikah beda agama


Daftar Isi Toggle Pilih yang baik agamanyaMenikahi pasangan beda agamaBagaimana dengan wanita muslimah yang menikahi laki-laki kafir? Pernikahan adalah salah satu sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama yang bisa menjadi salah satu jalan ketenangan bagi seorang hamba. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla, وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ “Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS Ar-Ruum: 21) Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan, بما رتب على الزواج من الأسباب الجالبة للمودة والرحمة. فحصل بالزوجة الاستمتاع واللذة والمنفعة بوجود الأولاد وتربيتهم، والسكون إليها، فلا تجد بين أحد في الغالب مثل ما بين الزوجين من المودة والرحمة “(Allah jadikan pernikahan sebagai ketenangan -pent) karena apa yang tumbuh setelah pernikahan tersebut. Yang dengannya seseorang bisa bersenang-senang satu sama lain termasuk dengan kehadiran anak-anak yang mereka didik dan merasa nyaman dengannya. Dan tidak ada hubungan yang secara umum melahirkan cinta dan kasih sayang kecuali hubungan antara suami dan istri.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 639) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama juga memerintahkan agar para pemuda bersegera menikah jika sudah mampu. Sebagaimana dalam hadis beliau shallallahu ‘alaihi wasallama, يا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فإنَّه أغَضُّ لِلْبَصَرِ وأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، ومَن لَمْ يَسْتَطِعْ فَعليه بالصَّوْمِ فإنَّه له وِجَاءٌ “Wahai sekalian pemuda! Jika kalian sudah mampu, maka menikahlah! Karena dengan menikah akan lebih menjaga pandangan dan kemaluan. Namun, jika tidak mampu, maka berpuasalah. Karena di dalam puasa terdapat penghalang dari keinginan berbuat buruk.” (HR. Bukhari no. 5066) Tentu saja, ketenangan di dalam rumah tangga ini tidaklah diperoleh, kecuali ketika seseorang memulainya dengan ketakwaan kepada Allah. Dan bukan dengan hal-hal yang melanggar perintah Allah ‘Azza Wajalla, seperti berpacaran, berzina, berpegangan tangan dengan lawan jenis, dan lain-lain yang semoga Allah azza wajalla melindungi kita dan anak keturunan kita darinya. Pilih yang baik agamanya Di antara petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika hendak menikah adalah hendaknya kita memilih seseorang yang baik agamanya. Yakni, pasangan yang saleh dan salehah dan bukan pasangan yang fasik (gemar berbuat dosa). Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda, تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها، ولِحَسَبِها، وجَمالِها، ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ “Alasan wanita dipilih untuk dinikahi ada empat, yakni, hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan kualitas agamanya. Maka, pilihlah wanita yang salehah, niscaya kalian akan beruntung.” (HR. Bukhari no. 5090) Karena keberadaan wanita yang salehah akan menjadi pelita bagi kehidupan rumah tangga seorang muslim. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama, الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا المَرْأَةُ الصَّالِحَةُ “Dunia ini seperti perhiasan. Dan perhiasan dunia yang paling indah adalah wanita salehah.” (HR. Muslim no. 1467) Yakni, wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian patuh kepada titah suaminya, menjaga aib keluarganya, mendidik anak-anaknya dengan didikan agama, dan sebagainya. Merekalah yang akan digambarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama sebagai wanita yang berhak masuk surga dari pintu mana saja yang mereka kehendaki. Bahkan, mayoritas ulama dari empat mazhab mempersyaratkan (menjadikan ini sebagai saran pertimbangan utama) kesetaraan calon pasangan dalam masalah kualitas agama. Hal ini dengan beberapa alasan, yaitu: Pertama: Orang yang fasik tertolak persaksian dan juga riwayatnya. Kedua: Orang yang fasik tidak bisa dipercaya, baik terkait harta maupun nyawa. Ketiga: Orang yang fasik berkurang kadar kedudukannya di hadapan Allah, maka tidaklah mereka layak untuk wanita-wanita yang menjaga kehormatan dirinya. Baca juga: Hukum Menghadiri Perayaan Pernikahan di Gedung Pernikahan Menikahi pasangan beda agama Namun, rasa cinta yang bersarang di hati setiap hamba berbeda-beda. Ada juga yang terjatuh ke dalam cinta kepada calon pasangan yang beda agama. Islam juga telah mengatur akan hal ini. Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wajalla, اَلْيَوْمَ اُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبٰتُۗ وَطَعَامُ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ حِلٌّ لَّكُمْ ۖوَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ ۖوَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ الْمُؤْمِنٰتِ وَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ اِذَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّ مُحْصِنِيْنَ غَيْرَ مُسٰفِحِيْنَ وَلَا مُتَّخِذِيْٓ اَخْدَانٍۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِالْاِيْمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهٗ ۖوَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ࣖ “Pada hari ini dihalalkan bagimu segala (makanan) yang baik. Makanan (sembelihan) ahlulkitab itu halal bagimu dan makananmu halal (juga) bagi mereka. (Dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi kitab suci sebelum kamu (yautu ahlul kitab, pent.), apabila kamu membayar maskawin mereka untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina, dan tidak untuk menjadikan (mereka) pasangan gelap (gundik). Siapa yang kufur setelah beriman, maka sungguh sia-sia amalnya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Maidah: 5) Tentu saja hal ini dikhususkan pada kondisi seorang laki-laki muslim menikah dengan wanita nonmuslimah dari kalangan ahlulkitab (yaitu, Nasrani dan Yahudi). Adapun wanita nonmuslimah selain dari kalangan ahlulkitab (seperti Majusi), maka Islam tidak membolehkannya. Imam At-Thabari rahimahullahu mengatakan,  ( والمحصنات من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم ) يعني : والحرائر من الذين أعطوا الكتاب وهم اليهود والنصارى الذين دانوا بما في التوراة والإنجيل من قبلكم أيها المؤمنون بمحمد من العرب وسائر الناس أن تنكحوهن أيضاً “(Yang dimaksud dengan wanita-wanita yang diberi kitab suci) adalah wanita dari kalangan Nasrani dan Yahudi. Yang mereka itu dekat dengan ajaran Taurat dan Injil sebelum kalian wahai orang-orang yang beriman. Boleh bagi kalian menikahi mereka.” (Tafsir Ath-Thabari, 6: 104) Namun, tentu saja hal ini perlu dipikirkan lebih matang lagi. Mengingat penjagaan seseorang terhadap agama dirinya seringkali lemah di hadapan wanita yang dicintainya. Maka seseorang perlu benar-benar mempertimbangkan sebelum memutuskan menikahi wanita ahlulkitab. Bagaimana dengan wanita muslimah yang menikahi laki-laki kafir? Adapun masalah ini, maka Islam mengharamkannya dan pernikahan mereka tidak sah. Baik laki-lakinya dari kalangan ahlulkitab maupun yang lain. Dalilnya adalah firman Allah ‘Azza Wajalla, وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ “Janganlah kamu menikahi perempuan musyrik hingga mereka beriman! Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik, meskipun dia menarik hatimu. Jangan pula kamu menikahkan laki-laki musyrik (dengan perempuan yang beriman), hingga mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah: 221) Dan hal yang menyayat hati di zaman sekarang, banyak wanita muslimah yang harus mengorbankan aturan agama dengan mengatasnamakan cinta. Padahal kecintaan yang hakiki adalah ketika kecintaan tadi dapat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza Wajalla. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka kecintaan tersebut justru akan mencelakakannya di akhirat kelak. Semoga Allah Ta’ala menjaga diri kita dan keluarga kita dari cinta yang menghancurkan. Amin. Baca juga: Agungnya Sebuah Ikatan Pernikahan *** Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag. Artikel: Muslim.or.id Tags: nikah beda agama

Masuk Surga dan Neraka karena Hewan

Daftar Isi Toggle Masuk surga karena menolong anjingMasuk neraka karena menyiksa kucing dan membunuh lalat Islam merupakan agama rahmatan lil ‘alamin (kasih sayang untuk seluruh alam). Tidak hanya untuk manusia, tetapi juga untuk makhluk lain termasuk dengan hewan-hewan. Ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah jika berbuat baik kepada hewan mendapatkan pahala?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, فِي كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ “Di setiap yang memiliki jantung yang basah (hewan) terdapat pahala.” (HR. Abu Dawud no. 2550, lihat juga HR. Bukhari no. 2363) Dalam sabda beliau hallallahu ‘alaihi wasallam yang lain, ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ “Kasihanilah siapa yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. At-Tirmidzi no. 1924) Jika hati manusia itu lembut, maka dia akan menyayangi segala sesuatu yang memiliki roh. Dan jika dia menyayangi segala sesuatu yang memiliki roh, maka Allah akan menyayanginya. (Lihat Syarah Riyadhus Shalihin, 2: 555) Dalam suatu riwayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melarang para sahabatnya menjadikan burung sebagai sasaran memanah, لَعَنَ مَنِ اتَّخَذَ شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضًا “Allah melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran.” (HR. Bukhari dan Muslim) Demikian pula, tatkala beliau melihat seekor burung berputar-putar mencari anak-anaknya yang mana sarangnya diambil oleh salah seorang sahabat, مَنْ فَجَعَ هَذِهِ بِوَلَدِهَا رُدُّوا وَلَدَهَا إِلَيْهَا “Siapa gerangan yang telah menyakiti perasaan burung ini karena anaknya? Kembalikanlah kepadanya anak-anaknya.” (HR. Abu Daud no. 2675) Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa dianjurkan untuk berbuat baik kepada hewan. Masuk surga karena menolong anjing Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ مَرَّتْ بِكَلْبٍ عَلَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ قَالَ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ فَنَزَعَتْ خُفَّهَا فَأَوْثَقَتْهُ بِخِمَارِهَا فَنَزَعَتْ لَهُ مِنْ الْمَاءِ فَغُفِرَ لَهَا بِذَلِكَ “Seorang wanita pezina diampuni oleh Allah. Dia melewati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya di sisi sebuah sumur. Anjing ini hampir saja mati kehausan. Si wanita pelacur tersebut lalu melepas sepatunya, dan dengan penutup kepalanya. Lalu dia mengambilkan air untuk anjing tersebut. Dengan sebab perbuatannya ini, dia mendapatkan ampunan dari Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيْقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ، فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيْهَا فَشَرِبَ، ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ، فَقَالَ الرَّجُلُ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبُ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلَ الَّذِي كَانَ قَدْ بَلَغَ مِنِّي، فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلَأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيْهِ، حَتَّى رَقِيَ فَسَقَى الْكَلْبَ، فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ. قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِم أَجْرًا؟ فَقَالَ: فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ “Pada suatu ketika ada seorang lelaki sedang berjalan dan ia merasa sangat kehausan, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, ‘Anjing ini kehausan seperti diriku.’ Maka, dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya. Kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah menolong binatang juga memperoleh pahala?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Menolong setiap makhluk yang bernyawa itu ada pahala (sebagai balasan atas perbuatan baik padanya).” (HR. Bukhari dan Muslim) Dapat kita ketahui dari hadis di atas bahwa orang yang mati membawa dosa besar tanpa membawa dosa syirik, maka ia tidak kekal di neraka untuk diazab (dibersihkan dosanya). Allah dapat memberikan rahmat-Nya dengan memasukkannya ke dalam surga setelah bersih dosanya. Bahkan, ada pelaku maksiat yang mati dalam keadaan belum bertobat (tanpa membawa dosa syirik). Jika Allah berkendak, ia bisa langsung Allah masukkan ke dalam surga. Maka, perkaranya adalah bergantung pada kehendak Allah. (Lihat Ushulus Sunnah, no. 26) Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Allah kehendaki.” (QS. An Nisa: 4) Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan hewan yang ditolong adalah hewan yang tidak mengganggu dan tidak diperintahkan untuk dibunuh. Baca juga: Boleh Membunuh Hewan Yang Mengganggu Atau Membahayakan Masuk neraka karena menyiksa kucing dan membunuh lalat Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, عُذِّبت امرأة في هِرَّة سَجَنَتْها حتى ماتت، فدخلت فيها النار، لا هي أطعمتها ولا سَقتها، إذ حبستها، ولا هي تَركتْها تأكل مِن خَشَاشِ الأرض “Ada seorang wanita diazab karena seekor kucing yang dia kurung hingga mati kelaparan, lalu dengan sebab itu dia masuk neraka. Dia tidak memberinya makan dan minum ketika mengurungnya, dan dia juga tidak melepaskannya supaya ia bisa memakan serangga tanah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis tersebut memberikan dorongan untuk memberikan kasih sayang kepada setiap makhluk, tercakup di dalamnya orang beriman dan orang kafir, serta binatang yang dimilikinya maupun binatang yang bukan miliknya.” (Lihat Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad, 1: 490) Dikisahkan juga bahwa ada seorang laki-laki yang masuk neraka disebabkan karena membunuh lalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻓِﻲْ ﺫُﺑَﺎﺏٍ , ﻭَﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻓِﻲْ ﺫُﺑَﺎﺏٍ، ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ : ﻭَﻛَﻴْﻒَ ﺫَﻟِﻚَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻣَﺮَّ ﺭَﺟُﻼَﻥِ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻮْﻡٍ ﻟَﻬُﻢْ ﺻَﻨَﻢٌ ﻻَ ﻳَﺠُﻮْﺯُﻩُ ﺃَﺣَﺪٌ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻘَﺮِّﺏَ ﻟَﻪُ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻓَﻘَﺎﻟُﻮْﺍ ﻷَﺣَﺪِﻫِﻤَﺎ : ﻗَﺮِّﺏْ، ﻗَﺎﻝَ : ﻟَﻴْﺲَ ﻋِﻨْﺪِﻱْ ﺷَﻲْﺀٌ ﺃُﻗَﺮِّﺏُ، ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﻟَﻪُ : ﻗَﺮِّﺏْ ﻭَﻟَﻮْ ﺫُﺑَﺎﺑًﺎ، ﻓَﻘَﺮَّﺏَ ﺫُﺑَﺎﺑًﺎ ﻓَﺨَﻠُّﻮْﺍ ﺳَﺒِﻴْﻠَﻪُ ﻓَﺪَﺧَﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ، ﻭَﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﻟِﻶﺧَﺮِ : ﻗَﺮِّﺏْ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻣَﺎ ﻛُﻨْﺖُ ﻷُﻗَﺮِّﺏَ ﻷﺣَﺪٍ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺩُﻭْﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓَﻀَﺮَﺑُﻮْﺍ ﻋُﻨُﻘَﻪُ ﻓَﺪَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ “Ada seseorang yang masuk surga karena seekor lalat dan ada yang masuk neraka karena seekor lalat pula.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ada dua orang berjalan melewati sebuah kaum yang memiliki berhala. Tidak boleh seorang pun melewatinya, kecuali dengan mempersembahkan sesuatu untuknya terlebih dahulu. Maka, mereka berkata kepada salah satu di antara kedua orang tadi, ‘Persembahkanlah sesuatu untuknya!’ Ia menjawab, ‘Saya tidak mempunyai apapun yang akan saya persembahkan.’ Mereka berkata lagi, ‘Persembahkan untuknya walaupun seekor lalat!’ Maka, ia pun mempersembahkan untuknya seekor lalat. Maka, mereka membiarkan ia untuk meneruskan perjalanannya, dan ia pun masuk ke dalam neraka. Kemudian mereka berkata lagi kepada seseorang yang lain, ‘Persembahkalah untuknya sesuatu!’ Ia menjawab, ‘Aku tidak akan mempersembahkan sesuatu apapun untuk selain Allah.’ Maka mereka pun memenggal lehernya, dan ia pun masuk ke dalam surga.” (HR. Ahmad dalam Az-Zuhud, hal. 15) Dari hadis di atas terdapat peringatan keras agar tidak terjerumus dalam kesyirikan. (Lihat Fathul Majid, hal. 200). Hendaknya seseorang belajar agama agar mengenal macam-macam kesyirikan dan terhindar dari bahaya perbuatan syirik. Semoga kita dapat mengamalkan ajaran yang diperintahkan oleh syariat Islam tersebut, yaitu syariat yang penuh rahmat, syariat yang penuh dengan kebaikan dan kelembutan bagi segenap makhluk. Baca juga: Mengenal Hewan-Hewan Yang Diharamkan Syari’at *** Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd. Artikel: Muslim.or.id Tags: berbuat baik kepada hewanmasuk neraka karena hewanmasuk surga karena hewan

Masuk Surga dan Neraka karena Hewan

Daftar Isi Toggle Masuk surga karena menolong anjingMasuk neraka karena menyiksa kucing dan membunuh lalat Islam merupakan agama rahmatan lil ‘alamin (kasih sayang untuk seluruh alam). Tidak hanya untuk manusia, tetapi juga untuk makhluk lain termasuk dengan hewan-hewan. Ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah jika berbuat baik kepada hewan mendapatkan pahala?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, فِي كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ “Di setiap yang memiliki jantung yang basah (hewan) terdapat pahala.” (HR. Abu Dawud no. 2550, lihat juga HR. Bukhari no. 2363) Dalam sabda beliau hallallahu ‘alaihi wasallam yang lain, ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ “Kasihanilah siapa yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. At-Tirmidzi no. 1924) Jika hati manusia itu lembut, maka dia akan menyayangi segala sesuatu yang memiliki roh. Dan jika dia menyayangi segala sesuatu yang memiliki roh, maka Allah akan menyayanginya. (Lihat Syarah Riyadhus Shalihin, 2: 555) Dalam suatu riwayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melarang para sahabatnya menjadikan burung sebagai sasaran memanah, لَعَنَ مَنِ اتَّخَذَ شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضًا “Allah melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran.” (HR. Bukhari dan Muslim) Demikian pula, tatkala beliau melihat seekor burung berputar-putar mencari anak-anaknya yang mana sarangnya diambil oleh salah seorang sahabat, مَنْ فَجَعَ هَذِهِ بِوَلَدِهَا رُدُّوا وَلَدَهَا إِلَيْهَا “Siapa gerangan yang telah menyakiti perasaan burung ini karena anaknya? Kembalikanlah kepadanya anak-anaknya.” (HR. Abu Daud no. 2675) Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa dianjurkan untuk berbuat baik kepada hewan. Masuk surga karena menolong anjing Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ مَرَّتْ بِكَلْبٍ عَلَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ قَالَ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ فَنَزَعَتْ خُفَّهَا فَأَوْثَقَتْهُ بِخِمَارِهَا فَنَزَعَتْ لَهُ مِنْ الْمَاءِ فَغُفِرَ لَهَا بِذَلِكَ “Seorang wanita pezina diampuni oleh Allah. Dia melewati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya di sisi sebuah sumur. Anjing ini hampir saja mati kehausan. Si wanita pelacur tersebut lalu melepas sepatunya, dan dengan penutup kepalanya. Lalu dia mengambilkan air untuk anjing tersebut. Dengan sebab perbuatannya ini, dia mendapatkan ampunan dari Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيْقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ، فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيْهَا فَشَرِبَ، ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ، فَقَالَ الرَّجُلُ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبُ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلَ الَّذِي كَانَ قَدْ بَلَغَ مِنِّي، فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلَأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيْهِ، حَتَّى رَقِيَ فَسَقَى الْكَلْبَ، فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ. قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِم أَجْرًا؟ فَقَالَ: فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ “Pada suatu ketika ada seorang lelaki sedang berjalan dan ia merasa sangat kehausan, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, ‘Anjing ini kehausan seperti diriku.’ Maka, dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya. Kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah menolong binatang juga memperoleh pahala?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Menolong setiap makhluk yang bernyawa itu ada pahala (sebagai balasan atas perbuatan baik padanya).” (HR. Bukhari dan Muslim) Dapat kita ketahui dari hadis di atas bahwa orang yang mati membawa dosa besar tanpa membawa dosa syirik, maka ia tidak kekal di neraka untuk diazab (dibersihkan dosanya). Allah dapat memberikan rahmat-Nya dengan memasukkannya ke dalam surga setelah bersih dosanya. Bahkan, ada pelaku maksiat yang mati dalam keadaan belum bertobat (tanpa membawa dosa syirik). Jika Allah berkendak, ia bisa langsung Allah masukkan ke dalam surga. Maka, perkaranya adalah bergantung pada kehendak Allah. (Lihat Ushulus Sunnah, no. 26) Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Allah kehendaki.” (QS. An Nisa: 4) Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan hewan yang ditolong adalah hewan yang tidak mengganggu dan tidak diperintahkan untuk dibunuh. Baca juga: Boleh Membunuh Hewan Yang Mengganggu Atau Membahayakan Masuk neraka karena menyiksa kucing dan membunuh lalat Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, عُذِّبت امرأة في هِرَّة سَجَنَتْها حتى ماتت، فدخلت فيها النار، لا هي أطعمتها ولا سَقتها، إذ حبستها، ولا هي تَركتْها تأكل مِن خَشَاشِ الأرض “Ada seorang wanita diazab karena seekor kucing yang dia kurung hingga mati kelaparan, lalu dengan sebab itu dia masuk neraka. Dia tidak memberinya makan dan minum ketika mengurungnya, dan dia juga tidak melepaskannya supaya ia bisa memakan serangga tanah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis tersebut memberikan dorongan untuk memberikan kasih sayang kepada setiap makhluk, tercakup di dalamnya orang beriman dan orang kafir, serta binatang yang dimilikinya maupun binatang yang bukan miliknya.” (Lihat Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad, 1: 490) Dikisahkan juga bahwa ada seorang laki-laki yang masuk neraka disebabkan karena membunuh lalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻓِﻲْ ﺫُﺑَﺎﺏٍ , ﻭَﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻓِﻲْ ﺫُﺑَﺎﺏٍ، ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ : ﻭَﻛَﻴْﻒَ ﺫَﻟِﻚَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻣَﺮَّ ﺭَﺟُﻼَﻥِ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻮْﻡٍ ﻟَﻬُﻢْ ﺻَﻨَﻢٌ ﻻَ ﻳَﺠُﻮْﺯُﻩُ ﺃَﺣَﺪٌ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻘَﺮِّﺏَ ﻟَﻪُ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻓَﻘَﺎﻟُﻮْﺍ ﻷَﺣَﺪِﻫِﻤَﺎ : ﻗَﺮِّﺏْ، ﻗَﺎﻝَ : ﻟَﻴْﺲَ ﻋِﻨْﺪِﻱْ ﺷَﻲْﺀٌ ﺃُﻗَﺮِّﺏُ، ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﻟَﻪُ : ﻗَﺮِّﺏْ ﻭَﻟَﻮْ ﺫُﺑَﺎﺑًﺎ، ﻓَﻘَﺮَّﺏَ ﺫُﺑَﺎﺑًﺎ ﻓَﺨَﻠُّﻮْﺍ ﺳَﺒِﻴْﻠَﻪُ ﻓَﺪَﺧَﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ، ﻭَﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﻟِﻶﺧَﺮِ : ﻗَﺮِّﺏْ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻣَﺎ ﻛُﻨْﺖُ ﻷُﻗَﺮِّﺏَ ﻷﺣَﺪٍ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺩُﻭْﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓَﻀَﺮَﺑُﻮْﺍ ﻋُﻨُﻘَﻪُ ﻓَﺪَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ “Ada seseorang yang masuk surga karena seekor lalat dan ada yang masuk neraka karena seekor lalat pula.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ada dua orang berjalan melewati sebuah kaum yang memiliki berhala. Tidak boleh seorang pun melewatinya, kecuali dengan mempersembahkan sesuatu untuknya terlebih dahulu. Maka, mereka berkata kepada salah satu di antara kedua orang tadi, ‘Persembahkanlah sesuatu untuknya!’ Ia menjawab, ‘Saya tidak mempunyai apapun yang akan saya persembahkan.’ Mereka berkata lagi, ‘Persembahkan untuknya walaupun seekor lalat!’ Maka, ia pun mempersembahkan untuknya seekor lalat. Maka, mereka membiarkan ia untuk meneruskan perjalanannya, dan ia pun masuk ke dalam neraka. Kemudian mereka berkata lagi kepada seseorang yang lain, ‘Persembahkalah untuknya sesuatu!’ Ia menjawab, ‘Aku tidak akan mempersembahkan sesuatu apapun untuk selain Allah.’ Maka mereka pun memenggal lehernya, dan ia pun masuk ke dalam surga.” (HR. Ahmad dalam Az-Zuhud, hal. 15) Dari hadis di atas terdapat peringatan keras agar tidak terjerumus dalam kesyirikan. (Lihat Fathul Majid, hal. 200). Hendaknya seseorang belajar agama agar mengenal macam-macam kesyirikan dan terhindar dari bahaya perbuatan syirik. Semoga kita dapat mengamalkan ajaran yang diperintahkan oleh syariat Islam tersebut, yaitu syariat yang penuh rahmat, syariat yang penuh dengan kebaikan dan kelembutan bagi segenap makhluk. Baca juga: Mengenal Hewan-Hewan Yang Diharamkan Syari’at *** Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd. Artikel: Muslim.or.id Tags: berbuat baik kepada hewanmasuk neraka karena hewanmasuk surga karena hewan
Daftar Isi Toggle Masuk surga karena menolong anjingMasuk neraka karena menyiksa kucing dan membunuh lalat Islam merupakan agama rahmatan lil ‘alamin (kasih sayang untuk seluruh alam). Tidak hanya untuk manusia, tetapi juga untuk makhluk lain termasuk dengan hewan-hewan. Ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah jika berbuat baik kepada hewan mendapatkan pahala?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, فِي كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ “Di setiap yang memiliki jantung yang basah (hewan) terdapat pahala.” (HR. Abu Dawud no. 2550, lihat juga HR. Bukhari no. 2363) Dalam sabda beliau hallallahu ‘alaihi wasallam yang lain, ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ “Kasihanilah siapa yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. At-Tirmidzi no. 1924) Jika hati manusia itu lembut, maka dia akan menyayangi segala sesuatu yang memiliki roh. Dan jika dia menyayangi segala sesuatu yang memiliki roh, maka Allah akan menyayanginya. (Lihat Syarah Riyadhus Shalihin, 2: 555) Dalam suatu riwayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melarang para sahabatnya menjadikan burung sebagai sasaran memanah, لَعَنَ مَنِ اتَّخَذَ شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضًا “Allah melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran.” (HR. Bukhari dan Muslim) Demikian pula, tatkala beliau melihat seekor burung berputar-putar mencari anak-anaknya yang mana sarangnya diambil oleh salah seorang sahabat, مَنْ فَجَعَ هَذِهِ بِوَلَدِهَا رُدُّوا وَلَدَهَا إِلَيْهَا “Siapa gerangan yang telah menyakiti perasaan burung ini karena anaknya? Kembalikanlah kepadanya anak-anaknya.” (HR. Abu Daud no. 2675) Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa dianjurkan untuk berbuat baik kepada hewan. Masuk surga karena menolong anjing Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ مَرَّتْ بِكَلْبٍ عَلَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ قَالَ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ فَنَزَعَتْ خُفَّهَا فَأَوْثَقَتْهُ بِخِمَارِهَا فَنَزَعَتْ لَهُ مِنْ الْمَاءِ فَغُفِرَ لَهَا بِذَلِكَ “Seorang wanita pezina diampuni oleh Allah. Dia melewati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya di sisi sebuah sumur. Anjing ini hampir saja mati kehausan. Si wanita pelacur tersebut lalu melepas sepatunya, dan dengan penutup kepalanya. Lalu dia mengambilkan air untuk anjing tersebut. Dengan sebab perbuatannya ini, dia mendapatkan ampunan dari Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيْقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ، فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيْهَا فَشَرِبَ، ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ، فَقَالَ الرَّجُلُ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبُ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلَ الَّذِي كَانَ قَدْ بَلَغَ مِنِّي، فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلَأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيْهِ، حَتَّى رَقِيَ فَسَقَى الْكَلْبَ، فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ. قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِم أَجْرًا؟ فَقَالَ: فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ “Pada suatu ketika ada seorang lelaki sedang berjalan dan ia merasa sangat kehausan, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, ‘Anjing ini kehausan seperti diriku.’ Maka, dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya. Kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah menolong binatang juga memperoleh pahala?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Menolong setiap makhluk yang bernyawa itu ada pahala (sebagai balasan atas perbuatan baik padanya).” (HR. Bukhari dan Muslim) Dapat kita ketahui dari hadis di atas bahwa orang yang mati membawa dosa besar tanpa membawa dosa syirik, maka ia tidak kekal di neraka untuk diazab (dibersihkan dosanya). Allah dapat memberikan rahmat-Nya dengan memasukkannya ke dalam surga setelah bersih dosanya. Bahkan, ada pelaku maksiat yang mati dalam keadaan belum bertobat (tanpa membawa dosa syirik). Jika Allah berkendak, ia bisa langsung Allah masukkan ke dalam surga. Maka, perkaranya adalah bergantung pada kehendak Allah. (Lihat Ushulus Sunnah, no. 26) Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Allah kehendaki.” (QS. An Nisa: 4) Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan hewan yang ditolong adalah hewan yang tidak mengganggu dan tidak diperintahkan untuk dibunuh. Baca juga: Boleh Membunuh Hewan Yang Mengganggu Atau Membahayakan Masuk neraka karena menyiksa kucing dan membunuh lalat Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, عُذِّبت امرأة في هِرَّة سَجَنَتْها حتى ماتت، فدخلت فيها النار، لا هي أطعمتها ولا سَقتها، إذ حبستها، ولا هي تَركتْها تأكل مِن خَشَاشِ الأرض “Ada seorang wanita diazab karena seekor kucing yang dia kurung hingga mati kelaparan, lalu dengan sebab itu dia masuk neraka. Dia tidak memberinya makan dan minum ketika mengurungnya, dan dia juga tidak melepaskannya supaya ia bisa memakan serangga tanah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis tersebut memberikan dorongan untuk memberikan kasih sayang kepada setiap makhluk, tercakup di dalamnya orang beriman dan orang kafir, serta binatang yang dimilikinya maupun binatang yang bukan miliknya.” (Lihat Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad, 1: 490) Dikisahkan juga bahwa ada seorang laki-laki yang masuk neraka disebabkan karena membunuh lalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻓِﻲْ ﺫُﺑَﺎﺏٍ , ﻭَﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻓِﻲْ ﺫُﺑَﺎﺏٍ، ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ : ﻭَﻛَﻴْﻒَ ﺫَﻟِﻚَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻣَﺮَّ ﺭَﺟُﻼَﻥِ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻮْﻡٍ ﻟَﻬُﻢْ ﺻَﻨَﻢٌ ﻻَ ﻳَﺠُﻮْﺯُﻩُ ﺃَﺣَﺪٌ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻘَﺮِّﺏَ ﻟَﻪُ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻓَﻘَﺎﻟُﻮْﺍ ﻷَﺣَﺪِﻫِﻤَﺎ : ﻗَﺮِّﺏْ، ﻗَﺎﻝَ : ﻟَﻴْﺲَ ﻋِﻨْﺪِﻱْ ﺷَﻲْﺀٌ ﺃُﻗَﺮِّﺏُ، ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﻟَﻪُ : ﻗَﺮِّﺏْ ﻭَﻟَﻮْ ﺫُﺑَﺎﺑًﺎ، ﻓَﻘَﺮَّﺏَ ﺫُﺑَﺎﺑًﺎ ﻓَﺨَﻠُّﻮْﺍ ﺳَﺒِﻴْﻠَﻪُ ﻓَﺪَﺧَﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ، ﻭَﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﻟِﻶﺧَﺮِ : ﻗَﺮِّﺏْ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻣَﺎ ﻛُﻨْﺖُ ﻷُﻗَﺮِّﺏَ ﻷﺣَﺪٍ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺩُﻭْﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓَﻀَﺮَﺑُﻮْﺍ ﻋُﻨُﻘَﻪُ ﻓَﺪَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ “Ada seseorang yang masuk surga karena seekor lalat dan ada yang masuk neraka karena seekor lalat pula.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ada dua orang berjalan melewati sebuah kaum yang memiliki berhala. Tidak boleh seorang pun melewatinya, kecuali dengan mempersembahkan sesuatu untuknya terlebih dahulu. Maka, mereka berkata kepada salah satu di antara kedua orang tadi, ‘Persembahkanlah sesuatu untuknya!’ Ia menjawab, ‘Saya tidak mempunyai apapun yang akan saya persembahkan.’ Mereka berkata lagi, ‘Persembahkan untuknya walaupun seekor lalat!’ Maka, ia pun mempersembahkan untuknya seekor lalat. Maka, mereka membiarkan ia untuk meneruskan perjalanannya, dan ia pun masuk ke dalam neraka. Kemudian mereka berkata lagi kepada seseorang yang lain, ‘Persembahkalah untuknya sesuatu!’ Ia menjawab, ‘Aku tidak akan mempersembahkan sesuatu apapun untuk selain Allah.’ Maka mereka pun memenggal lehernya, dan ia pun masuk ke dalam surga.” (HR. Ahmad dalam Az-Zuhud, hal. 15) Dari hadis di atas terdapat peringatan keras agar tidak terjerumus dalam kesyirikan. (Lihat Fathul Majid, hal. 200). Hendaknya seseorang belajar agama agar mengenal macam-macam kesyirikan dan terhindar dari bahaya perbuatan syirik. Semoga kita dapat mengamalkan ajaran yang diperintahkan oleh syariat Islam tersebut, yaitu syariat yang penuh rahmat, syariat yang penuh dengan kebaikan dan kelembutan bagi segenap makhluk. Baca juga: Mengenal Hewan-Hewan Yang Diharamkan Syari’at *** Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd. Artikel: Muslim.or.id Tags: berbuat baik kepada hewanmasuk neraka karena hewanmasuk surga karena hewan


Daftar Isi Toggle Masuk surga karena menolong anjingMasuk neraka karena menyiksa kucing dan membunuh lalat Islam merupakan agama rahmatan lil ‘alamin (kasih sayang untuk seluruh alam). Tidak hanya untuk manusia, tetapi juga untuk makhluk lain termasuk dengan hewan-hewan. Ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah jika berbuat baik kepada hewan mendapatkan pahala?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, فِي كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ “Di setiap yang memiliki jantung yang basah (hewan) terdapat pahala.” (HR. Abu Dawud no. 2550, lihat juga HR. Bukhari no. 2363) Dalam sabda beliau hallallahu ‘alaihi wasallam yang lain, ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ “Kasihanilah siapa yang ada di bumi ini, niscaya kalian akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. At-Tirmidzi no. 1924) Jika hati manusia itu lembut, maka dia akan menyayangi segala sesuatu yang memiliki roh. Dan jika dia menyayangi segala sesuatu yang memiliki roh, maka Allah akan menyayanginya. (Lihat Syarah Riyadhus Shalihin, 2: 555) Dalam suatu riwayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melarang para sahabatnya menjadikan burung sebagai sasaran memanah, لَعَنَ مَنِ اتَّخَذَ شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضًا “Allah melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran.” (HR. Bukhari dan Muslim) Demikian pula, tatkala beliau melihat seekor burung berputar-putar mencari anak-anaknya yang mana sarangnya diambil oleh salah seorang sahabat, مَنْ فَجَعَ هَذِهِ بِوَلَدِهَا رُدُّوا وَلَدَهَا إِلَيْهَا “Siapa gerangan yang telah menyakiti perasaan burung ini karena anaknya? Kembalikanlah kepadanya anak-anaknya.” (HR. Abu Daud no. 2675) Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa dianjurkan untuk berbuat baik kepada hewan. Masuk surga karena menolong anjing Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ مَرَّتْ بِكَلْبٍ عَلَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ قَالَ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ فَنَزَعَتْ خُفَّهَا فَأَوْثَقَتْهُ بِخِمَارِهَا فَنَزَعَتْ لَهُ مِنْ الْمَاءِ فَغُفِرَ لَهَا بِذَلِكَ “Seorang wanita pezina diampuni oleh Allah. Dia melewati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya di sisi sebuah sumur. Anjing ini hampir saja mati kehausan. Si wanita pelacur tersebut lalu melepas sepatunya, dan dengan penutup kepalanya. Lalu dia mengambilkan air untuk anjing tersebut. Dengan sebab perbuatannya ini, dia mendapatkan ampunan dari Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيْقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ، فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيْهَا فَشَرِبَ، ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ، فَقَالَ الرَّجُلُ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبُ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلَ الَّذِي كَانَ قَدْ بَلَغَ مِنِّي، فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلَأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيْهِ، حَتَّى رَقِيَ فَسَقَى الْكَلْبَ، فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ. قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِم أَجْرًا؟ فَقَالَ: فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ “Pada suatu ketika ada seorang lelaki sedang berjalan dan ia merasa sangat kehausan, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, ‘Anjing ini kehausan seperti diriku.’ Maka, dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya. Kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah menolong binatang juga memperoleh pahala?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Menolong setiap makhluk yang bernyawa itu ada pahala (sebagai balasan atas perbuatan baik padanya).” (HR. Bukhari dan Muslim) Dapat kita ketahui dari hadis di atas bahwa orang yang mati membawa dosa besar tanpa membawa dosa syirik, maka ia tidak kekal di neraka untuk diazab (dibersihkan dosanya). Allah dapat memberikan rahmat-Nya dengan memasukkannya ke dalam surga setelah bersih dosanya. Bahkan, ada pelaku maksiat yang mati dalam keadaan belum bertobat (tanpa membawa dosa syirik). Jika Allah berkendak, ia bisa langsung Allah masukkan ke dalam surga. Maka, perkaranya adalah bergantung pada kehendak Allah. (Lihat Ushulus Sunnah, no. 26) Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Allah kehendaki.” (QS. An Nisa: 4) Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan hewan yang ditolong adalah hewan yang tidak mengganggu dan tidak diperintahkan untuk dibunuh. Baca juga: Boleh Membunuh Hewan Yang Mengganggu Atau Membahayakan Masuk neraka karena menyiksa kucing dan membunuh lalat Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, عُذِّبت امرأة في هِرَّة سَجَنَتْها حتى ماتت، فدخلت فيها النار، لا هي أطعمتها ولا سَقتها، إذ حبستها، ولا هي تَركتْها تأكل مِن خَشَاشِ الأرض “Ada seorang wanita diazab karena seekor kucing yang dia kurung hingga mati kelaparan, lalu dengan sebab itu dia masuk neraka. Dia tidak memberinya makan dan minum ketika mengurungnya, dan dia juga tidak melepaskannya supaya ia bisa memakan serangga tanah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis tersebut memberikan dorongan untuk memberikan kasih sayang kepada setiap makhluk, tercakup di dalamnya orang beriman dan orang kafir, serta binatang yang dimilikinya maupun binatang yang bukan miliknya.” (Lihat Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad, 1: 490) Dikisahkan juga bahwa ada seorang laki-laki yang masuk neraka disebabkan karena membunuh lalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻓِﻲْ ﺫُﺑَﺎﺏٍ , ﻭَﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻓِﻲْ ﺫُﺑَﺎﺏٍ، ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ : ﻭَﻛَﻴْﻒَ ﺫَﻟِﻚَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻣَﺮَّ ﺭَﺟُﻼَﻥِ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻮْﻡٍ ﻟَﻬُﻢْ ﺻَﻨَﻢٌ ﻻَ ﻳَﺠُﻮْﺯُﻩُ ﺃَﺣَﺪٌ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻘَﺮِّﺏَ ﻟَﻪُ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻓَﻘَﺎﻟُﻮْﺍ ﻷَﺣَﺪِﻫِﻤَﺎ : ﻗَﺮِّﺏْ، ﻗَﺎﻝَ : ﻟَﻴْﺲَ ﻋِﻨْﺪِﻱْ ﺷَﻲْﺀٌ ﺃُﻗَﺮِّﺏُ، ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﻟَﻪُ : ﻗَﺮِّﺏْ ﻭَﻟَﻮْ ﺫُﺑَﺎﺑًﺎ، ﻓَﻘَﺮَّﺏَ ﺫُﺑَﺎﺑًﺎ ﻓَﺨَﻠُّﻮْﺍ ﺳَﺒِﻴْﻠَﻪُ ﻓَﺪَﺧَﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ، ﻭَﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﻟِﻶﺧَﺮِ : ﻗَﺮِّﺏْ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻣَﺎ ﻛُﻨْﺖُ ﻷُﻗَﺮِّﺏَ ﻷﺣَﺪٍ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺩُﻭْﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓَﻀَﺮَﺑُﻮْﺍ ﻋُﻨُﻘَﻪُ ﻓَﺪَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ “Ada seseorang yang masuk surga karena seekor lalat dan ada yang masuk neraka karena seekor lalat pula.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ada dua orang berjalan melewati sebuah kaum yang memiliki berhala. Tidak boleh seorang pun melewatinya, kecuali dengan mempersembahkan sesuatu untuknya terlebih dahulu. Maka, mereka berkata kepada salah satu di antara kedua orang tadi, ‘Persembahkanlah sesuatu untuknya!’ Ia menjawab, ‘Saya tidak mempunyai apapun yang akan saya persembahkan.’ Mereka berkata lagi, ‘Persembahkan untuknya walaupun seekor lalat!’ Maka, ia pun mempersembahkan untuknya seekor lalat. Maka, mereka membiarkan ia untuk meneruskan perjalanannya, dan ia pun masuk ke dalam neraka. Kemudian mereka berkata lagi kepada seseorang yang lain, ‘Persembahkalah untuknya sesuatu!’ Ia menjawab, ‘Aku tidak akan mempersembahkan sesuatu apapun untuk selain Allah.’ Maka mereka pun memenggal lehernya, dan ia pun masuk ke dalam surga.” (HR. Ahmad dalam Az-Zuhud, hal. 15) Dari hadis di atas terdapat peringatan keras agar tidak terjerumus dalam kesyirikan. (Lihat Fathul Majid, hal. 200). Hendaknya seseorang belajar agama agar mengenal macam-macam kesyirikan dan terhindar dari bahaya perbuatan syirik. Semoga kita dapat mengamalkan ajaran yang diperintahkan oleh syariat Islam tersebut, yaitu syariat yang penuh rahmat, syariat yang penuh dengan kebaikan dan kelembutan bagi segenap makhluk. Baca juga: Mengenal Hewan-Hewan Yang Diharamkan Syari’at *** Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd. Artikel: Muslim.or.id Tags: berbuat baik kepada hewanmasuk neraka karena hewanmasuk surga karena hewan
Prev     Next