Aku Hijrah Istiqamah di Jalan Allah #yufidtv #nasehatulama

Para ulama berkata, “Istiqamah tidak dapat dilakukan kecuali oleh orang-orang besar.” Tidak semua orang mampu beristiqamah, karena orang yang beristiqamah maknanya ia harus meninggalkan banyak hal yang dulu ia lakukan. Bisa kita contohkan, ia mudah melakukan hal-hal yang makruh, hal-hal mubah biasa ia kerjakan. Terkadang ia juga melakukan hal-hal yang mencederai nama baiknya. Sedangkan apabila seseorang beristiqamah dengan benar, maka itu susah bagi hawa nafsunya; hawa nafsu tidak mampu, yang diinginkan nafsu adalah main-main dan santai-santai. إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوْءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي “Sungguh nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (Yusuf: 53) Jadi, seseorang itu dapat beristiqamah dengan sepenuhnya, itu hal yang sulit. Tidak ada yang bisa melakukannya, kecuali (orang yang berjiwa besar). Seperti yang dikatakan penyair, “Jika jiwa itu besar, maka badan akan lelah untuk memenuhi tujuannya.” ==== وَقَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ الِاسْتِقَامَةُ لَا يُطِيْقُهَا إِلَّا الْأَكَابِرُ مُو كُلُّ أَحَدٍ يَسْتَطِيعُ الِاسْتِقَامَةَ لِأَنَّ كَوْنَ الْإِنْسَانِ يَسْتَقِيمُ مَعْنَى هَذَا أَنَّهُ سَيَتْرُكُ كَثِيرًا مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي كَانَ يَتَعَاطَاهَا خَلِّنَا نَقُولُ يَعْنِي تَسَاهُلٌ فِي الْمَكْرُوهَاتِ الْمُسْتَحَبَّاتُ يَأْتِيْهَا خَوَارِمُ الْمُرُوءَةِ قَدْ تَقَعُ مِنْهُ فَالْإِنْسَانُ إذَا اسْتَقَامَ اسْتِقَامَةً صَحِيحِةً فَهَذَا صَعْبٌ عَلَى النَّفْسِ النَّفْسُ مَا تُطِيْقُ نَفْسُكَ بِتَلْعَبُ كَذَا تَسْتَأْنِسُ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوْءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي فَقَضِيَّة ُأَنَّ الْإِنْسَانَ يَسْتَقِيمُ اسْتِقَامَةً تَامَّةً نَحْنُ نَقُولُ هَذَا صَعْبٌ وَلَا يَسْتَطِيعُ ذَلِكَ إِلَّا كَمَا قَالَ الشَّاعِرُ وَإِذَا كَانَتِ النُّفُوسُ كِبَارًا تَعِبَتْ فِي مُرَادِهَا الْأَجْسَامُ

Aku Hijrah Istiqamah di Jalan Allah #yufidtv #nasehatulama

Para ulama berkata, “Istiqamah tidak dapat dilakukan kecuali oleh orang-orang besar.” Tidak semua orang mampu beristiqamah, karena orang yang beristiqamah maknanya ia harus meninggalkan banyak hal yang dulu ia lakukan. Bisa kita contohkan, ia mudah melakukan hal-hal yang makruh, hal-hal mubah biasa ia kerjakan. Terkadang ia juga melakukan hal-hal yang mencederai nama baiknya. Sedangkan apabila seseorang beristiqamah dengan benar, maka itu susah bagi hawa nafsunya; hawa nafsu tidak mampu, yang diinginkan nafsu adalah main-main dan santai-santai. إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوْءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي “Sungguh nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (Yusuf: 53) Jadi, seseorang itu dapat beristiqamah dengan sepenuhnya, itu hal yang sulit. Tidak ada yang bisa melakukannya, kecuali (orang yang berjiwa besar). Seperti yang dikatakan penyair, “Jika jiwa itu besar, maka badan akan lelah untuk memenuhi tujuannya.” ==== وَقَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ الِاسْتِقَامَةُ لَا يُطِيْقُهَا إِلَّا الْأَكَابِرُ مُو كُلُّ أَحَدٍ يَسْتَطِيعُ الِاسْتِقَامَةَ لِأَنَّ كَوْنَ الْإِنْسَانِ يَسْتَقِيمُ مَعْنَى هَذَا أَنَّهُ سَيَتْرُكُ كَثِيرًا مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي كَانَ يَتَعَاطَاهَا خَلِّنَا نَقُولُ يَعْنِي تَسَاهُلٌ فِي الْمَكْرُوهَاتِ الْمُسْتَحَبَّاتُ يَأْتِيْهَا خَوَارِمُ الْمُرُوءَةِ قَدْ تَقَعُ مِنْهُ فَالْإِنْسَانُ إذَا اسْتَقَامَ اسْتِقَامَةً صَحِيحِةً فَهَذَا صَعْبٌ عَلَى النَّفْسِ النَّفْسُ مَا تُطِيْقُ نَفْسُكَ بِتَلْعَبُ كَذَا تَسْتَأْنِسُ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوْءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي فَقَضِيَّة ُأَنَّ الْإِنْسَانَ يَسْتَقِيمُ اسْتِقَامَةً تَامَّةً نَحْنُ نَقُولُ هَذَا صَعْبٌ وَلَا يَسْتَطِيعُ ذَلِكَ إِلَّا كَمَا قَالَ الشَّاعِرُ وَإِذَا كَانَتِ النُّفُوسُ كِبَارًا تَعِبَتْ فِي مُرَادِهَا الْأَجْسَامُ
Para ulama berkata, “Istiqamah tidak dapat dilakukan kecuali oleh orang-orang besar.” Tidak semua orang mampu beristiqamah, karena orang yang beristiqamah maknanya ia harus meninggalkan banyak hal yang dulu ia lakukan. Bisa kita contohkan, ia mudah melakukan hal-hal yang makruh, hal-hal mubah biasa ia kerjakan. Terkadang ia juga melakukan hal-hal yang mencederai nama baiknya. Sedangkan apabila seseorang beristiqamah dengan benar, maka itu susah bagi hawa nafsunya; hawa nafsu tidak mampu, yang diinginkan nafsu adalah main-main dan santai-santai. إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوْءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي “Sungguh nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (Yusuf: 53) Jadi, seseorang itu dapat beristiqamah dengan sepenuhnya, itu hal yang sulit. Tidak ada yang bisa melakukannya, kecuali (orang yang berjiwa besar). Seperti yang dikatakan penyair, “Jika jiwa itu besar, maka badan akan lelah untuk memenuhi tujuannya.” ==== وَقَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ الِاسْتِقَامَةُ لَا يُطِيْقُهَا إِلَّا الْأَكَابِرُ مُو كُلُّ أَحَدٍ يَسْتَطِيعُ الِاسْتِقَامَةَ لِأَنَّ كَوْنَ الْإِنْسَانِ يَسْتَقِيمُ مَعْنَى هَذَا أَنَّهُ سَيَتْرُكُ كَثِيرًا مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي كَانَ يَتَعَاطَاهَا خَلِّنَا نَقُولُ يَعْنِي تَسَاهُلٌ فِي الْمَكْرُوهَاتِ الْمُسْتَحَبَّاتُ يَأْتِيْهَا خَوَارِمُ الْمُرُوءَةِ قَدْ تَقَعُ مِنْهُ فَالْإِنْسَانُ إذَا اسْتَقَامَ اسْتِقَامَةً صَحِيحِةً فَهَذَا صَعْبٌ عَلَى النَّفْسِ النَّفْسُ مَا تُطِيْقُ نَفْسُكَ بِتَلْعَبُ كَذَا تَسْتَأْنِسُ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوْءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي فَقَضِيَّة ُأَنَّ الْإِنْسَانَ يَسْتَقِيمُ اسْتِقَامَةً تَامَّةً نَحْنُ نَقُولُ هَذَا صَعْبٌ وَلَا يَسْتَطِيعُ ذَلِكَ إِلَّا كَمَا قَالَ الشَّاعِرُ وَإِذَا كَانَتِ النُّفُوسُ كِبَارًا تَعِبَتْ فِي مُرَادِهَا الْأَجْسَامُ


Para ulama berkata, “Istiqamah tidak dapat dilakukan kecuali oleh orang-orang besar.” Tidak semua orang mampu beristiqamah, karena orang yang beristiqamah maknanya ia harus meninggalkan banyak hal yang dulu ia lakukan. Bisa kita contohkan, ia mudah melakukan hal-hal yang makruh, hal-hal mubah biasa ia kerjakan. Terkadang ia juga melakukan hal-hal yang mencederai nama baiknya. Sedangkan apabila seseorang beristiqamah dengan benar, maka itu susah bagi hawa nafsunya; hawa nafsu tidak mampu, yang diinginkan nafsu adalah main-main dan santai-santai. إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوْءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي “Sungguh nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (Yusuf: 53) Jadi, seseorang itu dapat beristiqamah dengan sepenuhnya, itu hal yang sulit. Tidak ada yang bisa melakukannya, kecuali (orang yang berjiwa besar). Seperti yang dikatakan penyair, “Jika jiwa itu besar, maka badan akan lelah untuk memenuhi tujuannya.” ==== وَقَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ الِاسْتِقَامَةُ لَا يُطِيْقُهَا إِلَّا الْأَكَابِرُ مُو كُلُّ أَحَدٍ يَسْتَطِيعُ الِاسْتِقَامَةَ لِأَنَّ كَوْنَ الْإِنْسَانِ يَسْتَقِيمُ مَعْنَى هَذَا أَنَّهُ سَيَتْرُكُ كَثِيرًا مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي كَانَ يَتَعَاطَاهَا خَلِّنَا نَقُولُ يَعْنِي تَسَاهُلٌ فِي الْمَكْرُوهَاتِ الْمُسْتَحَبَّاتُ يَأْتِيْهَا خَوَارِمُ الْمُرُوءَةِ قَدْ تَقَعُ مِنْهُ فَالْإِنْسَانُ إذَا اسْتَقَامَ اسْتِقَامَةً صَحِيحِةً فَهَذَا صَعْبٌ عَلَى النَّفْسِ النَّفْسُ مَا تُطِيْقُ نَفْسُكَ بِتَلْعَبُ كَذَا تَسْتَأْنِسُ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوْءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي فَقَضِيَّة ُأَنَّ الْإِنْسَانَ يَسْتَقِيمُ اسْتِقَامَةً تَامَّةً نَحْنُ نَقُولُ هَذَا صَعْبٌ وَلَا يَسْتَطِيعُ ذَلِكَ إِلَّا كَمَا قَالَ الشَّاعِرُ وَإِذَا كَانَتِ النُّفُوسُ كِبَارًا تَعِبَتْ فِي مُرَادِهَا الْأَجْسَامُ

Tanda Hati yang Bersih dan Sehat

Hati yang sehat dan suci, cintanya adalah kepada Allah, takutnya adalah kepada Allah, tawakalnya adalah kepada Allah.Harapan dan kembalinya, seluruhnya adalah kepada Allah ʿAzza wa Jalla. Saudara-saudara, ketika kita salat, apa yang kita katakan? ALLAAHU AKBAR“Allah Maha Besar.” Allah lebih besar daripada segala sesuatu, sehingga cinta dalam hatinya kepada-Nya, serta rasa takut dan harap kepada-Nya harus menjadi yang paling besar. Allah Maha Besar! ==== قَلْبٌ سَلِيمٌ قَلْبٌ صَافٍ مَحَبَّتُهُ لِلهِ خَوفُهُ مِنَ اللهِ تَوَكُّلُهُ عَلَى اللهِ رَغْبَتُهُ إِنَابَتُهُ كُلُّهَا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا صَلَّيْنَا يَا إِخْوَتَاهَ مَاذَا نَقُولُ؟ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَمَحَبَّتُهُ فِي الْقُلُوبِ وَخَوْفُهُ وَرَجَاءُهُ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ أَكْبَرَ اللهُ أَكْبَرُ

Tanda Hati yang Bersih dan Sehat

Hati yang sehat dan suci, cintanya adalah kepada Allah, takutnya adalah kepada Allah, tawakalnya adalah kepada Allah.Harapan dan kembalinya, seluruhnya adalah kepada Allah ʿAzza wa Jalla. Saudara-saudara, ketika kita salat, apa yang kita katakan? ALLAAHU AKBAR“Allah Maha Besar.” Allah lebih besar daripada segala sesuatu, sehingga cinta dalam hatinya kepada-Nya, serta rasa takut dan harap kepada-Nya harus menjadi yang paling besar. Allah Maha Besar! ==== قَلْبٌ سَلِيمٌ قَلْبٌ صَافٍ مَحَبَّتُهُ لِلهِ خَوفُهُ مِنَ اللهِ تَوَكُّلُهُ عَلَى اللهِ رَغْبَتُهُ إِنَابَتُهُ كُلُّهَا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا صَلَّيْنَا يَا إِخْوَتَاهَ مَاذَا نَقُولُ؟ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَمَحَبَّتُهُ فِي الْقُلُوبِ وَخَوْفُهُ وَرَجَاءُهُ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ أَكْبَرَ اللهُ أَكْبَرُ
Hati yang sehat dan suci, cintanya adalah kepada Allah, takutnya adalah kepada Allah, tawakalnya adalah kepada Allah.Harapan dan kembalinya, seluruhnya adalah kepada Allah ʿAzza wa Jalla. Saudara-saudara, ketika kita salat, apa yang kita katakan? ALLAAHU AKBAR“Allah Maha Besar.” Allah lebih besar daripada segala sesuatu, sehingga cinta dalam hatinya kepada-Nya, serta rasa takut dan harap kepada-Nya harus menjadi yang paling besar. Allah Maha Besar! ==== قَلْبٌ سَلِيمٌ قَلْبٌ صَافٍ مَحَبَّتُهُ لِلهِ خَوفُهُ مِنَ اللهِ تَوَكُّلُهُ عَلَى اللهِ رَغْبَتُهُ إِنَابَتُهُ كُلُّهَا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا صَلَّيْنَا يَا إِخْوَتَاهَ مَاذَا نَقُولُ؟ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَمَحَبَّتُهُ فِي الْقُلُوبِ وَخَوْفُهُ وَرَجَاءُهُ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ أَكْبَرَ اللهُ أَكْبَرُ


Hati yang sehat dan suci, cintanya adalah kepada Allah, takutnya adalah kepada Allah, tawakalnya adalah kepada Allah.Harapan dan kembalinya, seluruhnya adalah kepada Allah ʿAzza wa Jalla. Saudara-saudara, ketika kita salat, apa yang kita katakan? ALLAAHU AKBAR“Allah Maha Besar.” Allah lebih besar daripada segala sesuatu, sehingga cinta dalam hatinya kepada-Nya, serta rasa takut dan harap kepada-Nya harus menjadi yang paling besar. Allah Maha Besar! ==== قَلْبٌ سَلِيمٌ قَلْبٌ صَافٍ مَحَبَّتُهُ لِلهِ خَوفُهُ مِنَ اللهِ تَوَكُّلُهُ عَلَى اللهِ رَغْبَتُهُ إِنَابَتُهُ كُلُّهَا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا صَلَّيْنَا يَا إِخْوَتَاهَ مَاذَا نَقُولُ؟ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَمَحَبَّتُهُ فِي الْقُلُوبِ وَخَوْفُهُ وَرَجَاءُهُ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ أَكْبَرَ اللهُ أَكْبَرُ

Teks Khotbah Jumat: Cara Tepat Mendidik Anak di Zaman Fitnah

Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaKhotbah kedua Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala. Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada para jemaah sekalian, marilah senantiasa menjaga kualitas ketakwaan kita dan keluarga kita kepada Allah Ta’ala. Jagalah diri kita dan keluarga kita dari panasnya api neraka. Sebagaimana hal ini Allah Ta’ala perintahkan dalam firman-Nya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6) Keluarga di dalam Islam memiliki kedudukan yang amat krusial dan penting. Darinyalah masyarakat Islam terbentuk, dan darinya pula sebuah generasi emas akan terwujud. Islam sangat perhatian terhadap keluarga. Sebelum sebuah keluarga itu terbentuk, Islam telah memberikan bimbingan dan arahan tentang langkah yang seharusnya diambil oleh laki-laki sehingga dirinya insyaAllah sukses membangun bahtera rumah tangganya. Yaitu, dengan memilih istri yang salehah bagi dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, فاظفَرْ بذات الدين تَرِبَتْ يداك “Maka, pilihlah (wanita) karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.”  (HR. Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466) Bukan hanya dari sisi calon suami saja, demikian pula halnya dengan para wali calon istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan nasihat kepada para wali perempuan untuk menerima lamaran dari laki-laki yang saleh dan baik agamanya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إذا جاءَكم من ترضَونَ دينَهُ وخلُقَهُ فأنكِحوهُ إلَّا تفعَلوا تكُن فتنةٌ في الأرضِ وفسادٌ “Jika seseorang datang melamar (anak perempuan dan kerabat) kalian, sedangkan kalian rida pada agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tidak kalian lakukan, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan.” Ketika mendengar hal tersebut para sahabat pun bertanya, “Wahai Rasulullah, meskipun mereka tidak kaya?” Beliau bersabda, “Jika seseorang datang melamar (anak perempuan) kalian, kalian rida pada agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia.” Beliau mengatakannya tiga kali. (HR. Tirmidzi no. 1085 dan Al-Baihaqi no. 13863) Salah satu langkah terpenting di dalam membangun keluarga yang harmonis dan sarat akan kesalehan dan kebaikan adalah kepedulian dan pengawasan penuh dalam mendidik anak-anak kita. Sedari mereka masih kecil, para orang tua sudah dituntut untuk membimbing ibadah mereka dan budi pekerti mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مُروا أولادَكم بالصلاةِ وهم أبناءُ سبعِ سنينَ واضربوهُم عليها وهمْ أبناءُ عشرٍ وفرِّقوا بينهُم في المضاجعِ “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun. Dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun, maka pukullah dia apabila tidak melaksanakannya. Dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya.” (HR. Abu Dawud no. 495) Kepedulian terhadap pendidikan dan perkembangan anak bukan hanya pada perkara makan, pakaian, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya saja seperti yang banyak dilakukan oleh masyarakat kita di zaman sekarang. Lebih jauh dari itu, orang tua dan para wali bertanggung jawab penuh juga terhadap akhlak dan agama anak-anaknya. Dan ini bukanlah tugas ibu semata, di dalam mendidik anak-anak. Seorang ayah juga dituntut untuk ikut andil dan ambil bagian di dalamnya. Di manakah letak keteladanan jika seorang ayah tidak mampu dan tidak mau ikut andil di dalam mendidik anak-anaknya?! Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala, Perkara terpenting yang harus kita ajarkan dan kita tanamkan kepada anak-anak kita adalah keyakinan perihal kebesaran Allah Ta’ala, merasa diawasi oleh-Nya, bergantung kepada-Nya dalam segala hal, dan takut kepada-Nya baik di dalam keramaian maupun saat sendirian. Kenapa? Karena anak-anak kita hidup di zaman di mana kemaksiatan sangat mudah dijangkau, peluang untuk bermaksiat amatlah besar, pintu-pintu kemaksiatan tersebut bahkan ada dalam setiap genggaman kita. Tanpa perlu bersusah payah keluar rumah, atau bahkan keluar kamar, seorang anak sangat dimungkinkan untuk melakukan kemaksiatan dan melakukan hal-hal yang Allah haramkan. Di dalam menghadapi hal tersebut, ketakwaan dan merasa diawasi Allah Ta’ala adalah perkara terpenting yang harus dimiliki oleh setiap anak. Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, perkara kedua yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita adalah tentang esensi menjaga salat dan larangan dari menyia-nyiakannya. Karena kesuksesan dan keberhasilan seorang hamba baik di dunia ini maupun di akhirat nanti tidaklah terwujud, kecuali dengannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suatu ketika menyebutkan tentang perkara salat, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, من حافَظَ عليها كانت لَه نورًا وبُرهانًا ونجاةً إلى يومِ القيامةِ ومن لَم يُحافِظ عليها لم يَكن لَه نورٌ ولا برهانٌ ولا نجاةٌ وَكانَ يومَ القيامةِ معَ فرعونَ وَهامانَ وأبَيِّ بنِ خلفٍ “Siapa yang menjaga salat, maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan sampai hari kiamat. Dan siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan. Nantinya di hari kiamat, ia akan dikumpulkan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad no. 6576, Ibnu Hibban no. 1467, dan At-Thabrani, 14: 127 no. 14746) Sangat disayangkan, kita hidup bersama generasi yang banyak sekali di antara mereka menyia-nyiakan perkara salat. Bahkan, tidak jarang sebagian dari mereka meninggalkan salat dalam pengawasan dan pengetahuan orang tuanya. Padahal di dalam hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan secara jelas, العَهدُ الذي بَينَنا وبَينَهُم الصلاةُ، فمن تَرَكَها فَقَد كَفَرَ “Batas antara kita dan mereka (orang-orang kafir) adalah salat. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka telah kafir.”  (HR. Tirmidzi no. 2621 dan An-Nasa’i no. 463) Di dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala juga sudah mengabarkan akan adanya sebagian dari generasi kaum muslimin yang menyia-nyiakan salat, dan di ayat itu juga Allah sebutkan balasan dan hukumannya bagi mereka. Ia berfirman, فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا “Maka, datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya. Maka, mereka kelak akan menemui kesesatan dan keburukan, kecuali orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh.” (QS. Maryam: 59-60) Sebagian ahli tafsir tatkala menjelaskan kata “al-ghayya” di dalam ayat tersebut menyebutkan bahwa maknanya adalah nama salah satu sungai di neraka Jahanam yang penuh keburukan dan kepedihan. Naudzubillahi min dzalik. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga diri kita dan keluarga kita dari panasnya azab neraka Jahanam. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Baca juga: Jangan Lupakan Doa dan Tawakal Dalam Mendidik Anak Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ. Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Di antara pendidikan yang harus kita tanamkan terutama kepada anak-anak perempuan kita adalah rasa malu. Rasa malu adalah perhiasan hakiki bagi wanita muslimah. Dengannya martabat seorang muslim terjaga, dan dengannya pula aib serta kekurangan-kekurangan yang ia miliki akan tertutup. Di dalam hadis disebutkan, الْحَياءُ خَيْرٌ كُلُّهُ. “Malu itu semuanya baik.” (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37) Malu yang dimaksudkan di sini adalah rasa malu yang membuat diri kita terhindar dari melakukan kemaksiatan dan dosa. Rasa malu yang membuat seseorang menahan diri untuk tidak melakukan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala, baik itu di tempat keramaian maupun di tempat yang sepi. Wahai jemaah sekalian, ada anggapan salah terkait sifat malu ini yang tersebar di masyarakat kita, yaitu anggapan bahwa sifat malu tidak pantas untuk laki-laki, sifat malu hanya khusus untuk perempuan saja. Tentu saja anggapan ini keliru dan salah. Karena seseorang yang malu jika dilihat oleh manusia lainnya tatkala berbuat kemaksiatan, maka tentu saja seharusnya ia lebih malu kepada Rabbnya. Dan siapa saja yang malu kepada Rabbnya, maka rasa malunya tersebut akan mencegahnya dari melalaikan kewajiban ibadahnya dan dari melakukan kemaksiatan. Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, bagi kita sebagai orang tua, ada tiga hal penting yang harus kita lakukan agar pendidikan kita kepada anak-anak kita sukses mencapai tujuannya. Pertama: Jadilah teladan yang baik untuk anak-anak kita. Keteladan memiliki andil besar di dalam mewujudkan keberhasilan pendidikan anak-anak kita. Saat orang tua bisa menjadi teladan dan contoh yang baik untuk anak-anaknya, maka itu memudahkan anak-anak untuk memahami pengajaran dan pendidikan yang hendak disampaikan orang tuanya. Sebaliknya, saat orang tua tidak bisa menjadi teladan yang baik untuk anak-anaknya, maka sang anak akan mencoba mencari sosok lainnya yang akan ia jadikan teladan. Tidak mengherankan bila kemudian mereka mencontoh artis-artis di TV dan selebgram-selebgram yang bertebaran di dunia maya. Keteladanan di dalam mendidik banyak sekali Allah tekankan di dalam Al-Qur’an. Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk meneladani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan nabi-nabi lainnya. Allah Ta’ala berfirman, أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ “Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am: 90) Kedua: Selalu mengawasi anak-anak kita. Saudaraku, jangan sampai anak-anak kita menjadi korban para pemuja syubhat dan syahwat. Kita hidup di zaman di mana pemikiran-pemikiran sesat dan menyimpang merajarela. Setiap individu bebas menyampaikan opininya. Sebuah keterbukaan yang membuat syubhat dan syahwat mengepung anak-anak kita. Pergaulan bebas yang tidak terkontrol, keberanian wanita yang mengaku muslimah untuk melepas hijabnya, berdalih dengan kebebasan individu. Podcast-podcast yang dipenuhi dengan orang-orang yang tidak beres dan bahkan tayangan-tayangan anak kecil yang terkadang diselipi oleh adegan-adegan yang tidak selayaknya dipertontonkan. Agar terhindar dari semua hal yang kita sebutkan, hal itu membutuhkan pengawasan orang tua kepada anaknya, meskipun mereka sudah besar. Jangan sampai anak-anak perempuan kita pergi keluar sendirian untuk bekerja di tempat yang masih campur baur antara laki-laki dan perempuan. Jangan sungkan juga untuk memberikan batasan waktu bermain atau keluar rumah bagi anak laki-laki kita. Karena tanpa adanya pengawasan orang tua, maka ini akan membuka pintu-pintu setan untuk mengganggu dan menyesatkan kita dan anak-anak kita. Ketiga: Jangan lupa untuk mendoakan kebaikan bagi anak-anak kita. Doa orang tua adalah doa yang mustajab. Manfaatkanlah hal ini untuk mendoakan kebaikan untuk anak-anak kita. Sebaliknya, jangan sampai mendoakan keburukan untuk anak-anak kita meskipun mereka sedang nakal sekalipun. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Abu Dawud no. 1536. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan) Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita, keluarga kita, dan anak-anak kita dari siksa api neraka, menjaga mereka dari bahaya fitnah syahwat dan syubhat. Ya Allah, jadikanlah kami orang tua yang baik untuk anak-anak kami. Jadikanlah kami orang tua yang bisa memberikan contoh yang baik untuk anak-anak kami. Jadikanlah kami orang tua yang senantiasa mendoakan kebaikan untuk anak-anak kami, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang mendoakan anak-anaknya, رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40) رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35) إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Sunnah Banyak Anak dan Kewajiban Mendidik Mereka *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: mendidik anak

Teks Khotbah Jumat: Cara Tepat Mendidik Anak di Zaman Fitnah

Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaKhotbah kedua Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala. Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada para jemaah sekalian, marilah senantiasa menjaga kualitas ketakwaan kita dan keluarga kita kepada Allah Ta’ala. Jagalah diri kita dan keluarga kita dari panasnya api neraka. Sebagaimana hal ini Allah Ta’ala perintahkan dalam firman-Nya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6) Keluarga di dalam Islam memiliki kedudukan yang amat krusial dan penting. Darinyalah masyarakat Islam terbentuk, dan darinya pula sebuah generasi emas akan terwujud. Islam sangat perhatian terhadap keluarga. Sebelum sebuah keluarga itu terbentuk, Islam telah memberikan bimbingan dan arahan tentang langkah yang seharusnya diambil oleh laki-laki sehingga dirinya insyaAllah sukses membangun bahtera rumah tangganya. Yaitu, dengan memilih istri yang salehah bagi dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, فاظفَرْ بذات الدين تَرِبَتْ يداك “Maka, pilihlah (wanita) karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.”  (HR. Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466) Bukan hanya dari sisi calon suami saja, demikian pula halnya dengan para wali calon istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan nasihat kepada para wali perempuan untuk menerima lamaran dari laki-laki yang saleh dan baik agamanya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إذا جاءَكم من ترضَونَ دينَهُ وخلُقَهُ فأنكِحوهُ إلَّا تفعَلوا تكُن فتنةٌ في الأرضِ وفسادٌ “Jika seseorang datang melamar (anak perempuan dan kerabat) kalian, sedangkan kalian rida pada agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tidak kalian lakukan, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan.” Ketika mendengar hal tersebut para sahabat pun bertanya, “Wahai Rasulullah, meskipun mereka tidak kaya?” Beliau bersabda, “Jika seseorang datang melamar (anak perempuan) kalian, kalian rida pada agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia.” Beliau mengatakannya tiga kali. (HR. Tirmidzi no. 1085 dan Al-Baihaqi no. 13863) Salah satu langkah terpenting di dalam membangun keluarga yang harmonis dan sarat akan kesalehan dan kebaikan adalah kepedulian dan pengawasan penuh dalam mendidik anak-anak kita. Sedari mereka masih kecil, para orang tua sudah dituntut untuk membimbing ibadah mereka dan budi pekerti mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مُروا أولادَكم بالصلاةِ وهم أبناءُ سبعِ سنينَ واضربوهُم عليها وهمْ أبناءُ عشرٍ وفرِّقوا بينهُم في المضاجعِ “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun. Dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun, maka pukullah dia apabila tidak melaksanakannya. Dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya.” (HR. Abu Dawud no. 495) Kepedulian terhadap pendidikan dan perkembangan anak bukan hanya pada perkara makan, pakaian, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya saja seperti yang banyak dilakukan oleh masyarakat kita di zaman sekarang. Lebih jauh dari itu, orang tua dan para wali bertanggung jawab penuh juga terhadap akhlak dan agama anak-anaknya. Dan ini bukanlah tugas ibu semata, di dalam mendidik anak-anak. Seorang ayah juga dituntut untuk ikut andil dan ambil bagian di dalamnya. Di manakah letak keteladanan jika seorang ayah tidak mampu dan tidak mau ikut andil di dalam mendidik anak-anaknya?! Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala, Perkara terpenting yang harus kita ajarkan dan kita tanamkan kepada anak-anak kita adalah keyakinan perihal kebesaran Allah Ta’ala, merasa diawasi oleh-Nya, bergantung kepada-Nya dalam segala hal, dan takut kepada-Nya baik di dalam keramaian maupun saat sendirian. Kenapa? Karena anak-anak kita hidup di zaman di mana kemaksiatan sangat mudah dijangkau, peluang untuk bermaksiat amatlah besar, pintu-pintu kemaksiatan tersebut bahkan ada dalam setiap genggaman kita. Tanpa perlu bersusah payah keluar rumah, atau bahkan keluar kamar, seorang anak sangat dimungkinkan untuk melakukan kemaksiatan dan melakukan hal-hal yang Allah haramkan. Di dalam menghadapi hal tersebut, ketakwaan dan merasa diawasi Allah Ta’ala adalah perkara terpenting yang harus dimiliki oleh setiap anak. Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, perkara kedua yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita adalah tentang esensi menjaga salat dan larangan dari menyia-nyiakannya. Karena kesuksesan dan keberhasilan seorang hamba baik di dunia ini maupun di akhirat nanti tidaklah terwujud, kecuali dengannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suatu ketika menyebutkan tentang perkara salat, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, من حافَظَ عليها كانت لَه نورًا وبُرهانًا ونجاةً إلى يومِ القيامةِ ومن لَم يُحافِظ عليها لم يَكن لَه نورٌ ولا برهانٌ ولا نجاةٌ وَكانَ يومَ القيامةِ معَ فرعونَ وَهامانَ وأبَيِّ بنِ خلفٍ “Siapa yang menjaga salat, maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan sampai hari kiamat. Dan siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan. Nantinya di hari kiamat, ia akan dikumpulkan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad no. 6576, Ibnu Hibban no. 1467, dan At-Thabrani, 14: 127 no. 14746) Sangat disayangkan, kita hidup bersama generasi yang banyak sekali di antara mereka menyia-nyiakan perkara salat. Bahkan, tidak jarang sebagian dari mereka meninggalkan salat dalam pengawasan dan pengetahuan orang tuanya. Padahal di dalam hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan secara jelas, العَهدُ الذي بَينَنا وبَينَهُم الصلاةُ، فمن تَرَكَها فَقَد كَفَرَ “Batas antara kita dan mereka (orang-orang kafir) adalah salat. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka telah kafir.”  (HR. Tirmidzi no. 2621 dan An-Nasa’i no. 463) Di dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala juga sudah mengabarkan akan adanya sebagian dari generasi kaum muslimin yang menyia-nyiakan salat, dan di ayat itu juga Allah sebutkan balasan dan hukumannya bagi mereka. Ia berfirman, فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا “Maka, datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya. Maka, mereka kelak akan menemui kesesatan dan keburukan, kecuali orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh.” (QS. Maryam: 59-60) Sebagian ahli tafsir tatkala menjelaskan kata “al-ghayya” di dalam ayat tersebut menyebutkan bahwa maknanya adalah nama salah satu sungai di neraka Jahanam yang penuh keburukan dan kepedihan. Naudzubillahi min dzalik. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga diri kita dan keluarga kita dari panasnya azab neraka Jahanam. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Baca juga: Jangan Lupakan Doa dan Tawakal Dalam Mendidik Anak Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ. Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Di antara pendidikan yang harus kita tanamkan terutama kepada anak-anak perempuan kita adalah rasa malu. Rasa malu adalah perhiasan hakiki bagi wanita muslimah. Dengannya martabat seorang muslim terjaga, dan dengannya pula aib serta kekurangan-kekurangan yang ia miliki akan tertutup. Di dalam hadis disebutkan, الْحَياءُ خَيْرٌ كُلُّهُ. “Malu itu semuanya baik.” (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37) Malu yang dimaksudkan di sini adalah rasa malu yang membuat diri kita terhindar dari melakukan kemaksiatan dan dosa. Rasa malu yang membuat seseorang menahan diri untuk tidak melakukan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala, baik itu di tempat keramaian maupun di tempat yang sepi. Wahai jemaah sekalian, ada anggapan salah terkait sifat malu ini yang tersebar di masyarakat kita, yaitu anggapan bahwa sifat malu tidak pantas untuk laki-laki, sifat malu hanya khusus untuk perempuan saja. Tentu saja anggapan ini keliru dan salah. Karena seseorang yang malu jika dilihat oleh manusia lainnya tatkala berbuat kemaksiatan, maka tentu saja seharusnya ia lebih malu kepada Rabbnya. Dan siapa saja yang malu kepada Rabbnya, maka rasa malunya tersebut akan mencegahnya dari melalaikan kewajiban ibadahnya dan dari melakukan kemaksiatan. Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, bagi kita sebagai orang tua, ada tiga hal penting yang harus kita lakukan agar pendidikan kita kepada anak-anak kita sukses mencapai tujuannya. Pertama: Jadilah teladan yang baik untuk anak-anak kita. Keteladan memiliki andil besar di dalam mewujudkan keberhasilan pendidikan anak-anak kita. Saat orang tua bisa menjadi teladan dan contoh yang baik untuk anak-anaknya, maka itu memudahkan anak-anak untuk memahami pengajaran dan pendidikan yang hendak disampaikan orang tuanya. Sebaliknya, saat orang tua tidak bisa menjadi teladan yang baik untuk anak-anaknya, maka sang anak akan mencoba mencari sosok lainnya yang akan ia jadikan teladan. Tidak mengherankan bila kemudian mereka mencontoh artis-artis di TV dan selebgram-selebgram yang bertebaran di dunia maya. Keteladanan di dalam mendidik banyak sekali Allah tekankan di dalam Al-Qur’an. Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk meneladani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan nabi-nabi lainnya. Allah Ta’ala berfirman, أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ “Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am: 90) Kedua: Selalu mengawasi anak-anak kita. Saudaraku, jangan sampai anak-anak kita menjadi korban para pemuja syubhat dan syahwat. Kita hidup di zaman di mana pemikiran-pemikiran sesat dan menyimpang merajarela. Setiap individu bebas menyampaikan opininya. Sebuah keterbukaan yang membuat syubhat dan syahwat mengepung anak-anak kita. Pergaulan bebas yang tidak terkontrol, keberanian wanita yang mengaku muslimah untuk melepas hijabnya, berdalih dengan kebebasan individu. Podcast-podcast yang dipenuhi dengan orang-orang yang tidak beres dan bahkan tayangan-tayangan anak kecil yang terkadang diselipi oleh adegan-adegan yang tidak selayaknya dipertontonkan. Agar terhindar dari semua hal yang kita sebutkan, hal itu membutuhkan pengawasan orang tua kepada anaknya, meskipun mereka sudah besar. Jangan sampai anak-anak perempuan kita pergi keluar sendirian untuk bekerja di tempat yang masih campur baur antara laki-laki dan perempuan. Jangan sungkan juga untuk memberikan batasan waktu bermain atau keluar rumah bagi anak laki-laki kita. Karena tanpa adanya pengawasan orang tua, maka ini akan membuka pintu-pintu setan untuk mengganggu dan menyesatkan kita dan anak-anak kita. Ketiga: Jangan lupa untuk mendoakan kebaikan bagi anak-anak kita. Doa orang tua adalah doa yang mustajab. Manfaatkanlah hal ini untuk mendoakan kebaikan untuk anak-anak kita. Sebaliknya, jangan sampai mendoakan keburukan untuk anak-anak kita meskipun mereka sedang nakal sekalipun. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Abu Dawud no. 1536. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan) Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita, keluarga kita, dan anak-anak kita dari siksa api neraka, menjaga mereka dari bahaya fitnah syahwat dan syubhat. Ya Allah, jadikanlah kami orang tua yang baik untuk anak-anak kami. Jadikanlah kami orang tua yang bisa memberikan contoh yang baik untuk anak-anak kami. Jadikanlah kami orang tua yang senantiasa mendoakan kebaikan untuk anak-anak kami, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang mendoakan anak-anaknya, رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40) رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35) إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Sunnah Banyak Anak dan Kewajiban Mendidik Mereka *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: mendidik anak
Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaKhotbah kedua Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala. Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada para jemaah sekalian, marilah senantiasa menjaga kualitas ketakwaan kita dan keluarga kita kepada Allah Ta’ala. Jagalah diri kita dan keluarga kita dari panasnya api neraka. Sebagaimana hal ini Allah Ta’ala perintahkan dalam firman-Nya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6) Keluarga di dalam Islam memiliki kedudukan yang amat krusial dan penting. Darinyalah masyarakat Islam terbentuk, dan darinya pula sebuah generasi emas akan terwujud. Islam sangat perhatian terhadap keluarga. Sebelum sebuah keluarga itu terbentuk, Islam telah memberikan bimbingan dan arahan tentang langkah yang seharusnya diambil oleh laki-laki sehingga dirinya insyaAllah sukses membangun bahtera rumah tangganya. Yaitu, dengan memilih istri yang salehah bagi dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, فاظفَرْ بذات الدين تَرِبَتْ يداك “Maka, pilihlah (wanita) karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.”  (HR. Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466) Bukan hanya dari sisi calon suami saja, demikian pula halnya dengan para wali calon istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan nasihat kepada para wali perempuan untuk menerima lamaran dari laki-laki yang saleh dan baik agamanya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إذا جاءَكم من ترضَونَ دينَهُ وخلُقَهُ فأنكِحوهُ إلَّا تفعَلوا تكُن فتنةٌ في الأرضِ وفسادٌ “Jika seseorang datang melamar (anak perempuan dan kerabat) kalian, sedangkan kalian rida pada agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tidak kalian lakukan, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan.” Ketika mendengar hal tersebut para sahabat pun bertanya, “Wahai Rasulullah, meskipun mereka tidak kaya?” Beliau bersabda, “Jika seseorang datang melamar (anak perempuan) kalian, kalian rida pada agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia.” Beliau mengatakannya tiga kali. (HR. Tirmidzi no. 1085 dan Al-Baihaqi no. 13863) Salah satu langkah terpenting di dalam membangun keluarga yang harmonis dan sarat akan kesalehan dan kebaikan adalah kepedulian dan pengawasan penuh dalam mendidik anak-anak kita. Sedari mereka masih kecil, para orang tua sudah dituntut untuk membimbing ibadah mereka dan budi pekerti mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مُروا أولادَكم بالصلاةِ وهم أبناءُ سبعِ سنينَ واضربوهُم عليها وهمْ أبناءُ عشرٍ وفرِّقوا بينهُم في المضاجعِ “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun. Dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun, maka pukullah dia apabila tidak melaksanakannya. Dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya.” (HR. Abu Dawud no. 495) Kepedulian terhadap pendidikan dan perkembangan anak bukan hanya pada perkara makan, pakaian, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya saja seperti yang banyak dilakukan oleh masyarakat kita di zaman sekarang. Lebih jauh dari itu, orang tua dan para wali bertanggung jawab penuh juga terhadap akhlak dan agama anak-anaknya. Dan ini bukanlah tugas ibu semata, di dalam mendidik anak-anak. Seorang ayah juga dituntut untuk ikut andil dan ambil bagian di dalamnya. Di manakah letak keteladanan jika seorang ayah tidak mampu dan tidak mau ikut andil di dalam mendidik anak-anaknya?! Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala, Perkara terpenting yang harus kita ajarkan dan kita tanamkan kepada anak-anak kita adalah keyakinan perihal kebesaran Allah Ta’ala, merasa diawasi oleh-Nya, bergantung kepada-Nya dalam segala hal, dan takut kepada-Nya baik di dalam keramaian maupun saat sendirian. Kenapa? Karena anak-anak kita hidup di zaman di mana kemaksiatan sangat mudah dijangkau, peluang untuk bermaksiat amatlah besar, pintu-pintu kemaksiatan tersebut bahkan ada dalam setiap genggaman kita. Tanpa perlu bersusah payah keluar rumah, atau bahkan keluar kamar, seorang anak sangat dimungkinkan untuk melakukan kemaksiatan dan melakukan hal-hal yang Allah haramkan. Di dalam menghadapi hal tersebut, ketakwaan dan merasa diawasi Allah Ta’ala adalah perkara terpenting yang harus dimiliki oleh setiap anak. Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, perkara kedua yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita adalah tentang esensi menjaga salat dan larangan dari menyia-nyiakannya. Karena kesuksesan dan keberhasilan seorang hamba baik di dunia ini maupun di akhirat nanti tidaklah terwujud, kecuali dengannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suatu ketika menyebutkan tentang perkara salat, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, من حافَظَ عليها كانت لَه نورًا وبُرهانًا ونجاةً إلى يومِ القيامةِ ومن لَم يُحافِظ عليها لم يَكن لَه نورٌ ولا برهانٌ ولا نجاةٌ وَكانَ يومَ القيامةِ معَ فرعونَ وَهامانَ وأبَيِّ بنِ خلفٍ “Siapa yang menjaga salat, maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan sampai hari kiamat. Dan siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan. Nantinya di hari kiamat, ia akan dikumpulkan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad no. 6576, Ibnu Hibban no. 1467, dan At-Thabrani, 14: 127 no. 14746) Sangat disayangkan, kita hidup bersama generasi yang banyak sekali di antara mereka menyia-nyiakan perkara salat. Bahkan, tidak jarang sebagian dari mereka meninggalkan salat dalam pengawasan dan pengetahuan orang tuanya. Padahal di dalam hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan secara jelas, العَهدُ الذي بَينَنا وبَينَهُم الصلاةُ، فمن تَرَكَها فَقَد كَفَرَ “Batas antara kita dan mereka (orang-orang kafir) adalah salat. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka telah kafir.”  (HR. Tirmidzi no. 2621 dan An-Nasa’i no. 463) Di dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala juga sudah mengabarkan akan adanya sebagian dari generasi kaum muslimin yang menyia-nyiakan salat, dan di ayat itu juga Allah sebutkan balasan dan hukumannya bagi mereka. Ia berfirman, فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا “Maka, datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya. Maka, mereka kelak akan menemui kesesatan dan keburukan, kecuali orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh.” (QS. Maryam: 59-60) Sebagian ahli tafsir tatkala menjelaskan kata “al-ghayya” di dalam ayat tersebut menyebutkan bahwa maknanya adalah nama salah satu sungai di neraka Jahanam yang penuh keburukan dan kepedihan. Naudzubillahi min dzalik. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga diri kita dan keluarga kita dari panasnya azab neraka Jahanam. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Baca juga: Jangan Lupakan Doa dan Tawakal Dalam Mendidik Anak Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ. Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Di antara pendidikan yang harus kita tanamkan terutama kepada anak-anak perempuan kita adalah rasa malu. Rasa malu adalah perhiasan hakiki bagi wanita muslimah. Dengannya martabat seorang muslim terjaga, dan dengannya pula aib serta kekurangan-kekurangan yang ia miliki akan tertutup. Di dalam hadis disebutkan, الْحَياءُ خَيْرٌ كُلُّهُ. “Malu itu semuanya baik.” (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37) Malu yang dimaksudkan di sini adalah rasa malu yang membuat diri kita terhindar dari melakukan kemaksiatan dan dosa. Rasa malu yang membuat seseorang menahan diri untuk tidak melakukan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala, baik itu di tempat keramaian maupun di tempat yang sepi. Wahai jemaah sekalian, ada anggapan salah terkait sifat malu ini yang tersebar di masyarakat kita, yaitu anggapan bahwa sifat malu tidak pantas untuk laki-laki, sifat malu hanya khusus untuk perempuan saja. Tentu saja anggapan ini keliru dan salah. Karena seseorang yang malu jika dilihat oleh manusia lainnya tatkala berbuat kemaksiatan, maka tentu saja seharusnya ia lebih malu kepada Rabbnya. Dan siapa saja yang malu kepada Rabbnya, maka rasa malunya tersebut akan mencegahnya dari melalaikan kewajiban ibadahnya dan dari melakukan kemaksiatan. Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, bagi kita sebagai orang tua, ada tiga hal penting yang harus kita lakukan agar pendidikan kita kepada anak-anak kita sukses mencapai tujuannya. Pertama: Jadilah teladan yang baik untuk anak-anak kita. Keteladan memiliki andil besar di dalam mewujudkan keberhasilan pendidikan anak-anak kita. Saat orang tua bisa menjadi teladan dan contoh yang baik untuk anak-anaknya, maka itu memudahkan anak-anak untuk memahami pengajaran dan pendidikan yang hendak disampaikan orang tuanya. Sebaliknya, saat orang tua tidak bisa menjadi teladan yang baik untuk anak-anaknya, maka sang anak akan mencoba mencari sosok lainnya yang akan ia jadikan teladan. Tidak mengherankan bila kemudian mereka mencontoh artis-artis di TV dan selebgram-selebgram yang bertebaran di dunia maya. Keteladanan di dalam mendidik banyak sekali Allah tekankan di dalam Al-Qur’an. Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk meneladani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan nabi-nabi lainnya. Allah Ta’ala berfirman, أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ “Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am: 90) Kedua: Selalu mengawasi anak-anak kita. Saudaraku, jangan sampai anak-anak kita menjadi korban para pemuja syubhat dan syahwat. Kita hidup di zaman di mana pemikiran-pemikiran sesat dan menyimpang merajarela. Setiap individu bebas menyampaikan opininya. Sebuah keterbukaan yang membuat syubhat dan syahwat mengepung anak-anak kita. Pergaulan bebas yang tidak terkontrol, keberanian wanita yang mengaku muslimah untuk melepas hijabnya, berdalih dengan kebebasan individu. Podcast-podcast yang dipenuhi dengan orang-orang yang tidak beres dan bahkan tayangan-tayangan anak kecil yang terkadang diselipi oleh adegan-adegan yang tidak selayaknya dipertontonkan. Agar terhindar dari semua hal yang kita sebutkan, hal itu membutuhkan pengawasan orang tua kepada anaknya, meskipun mereka sudah besar. Jangan sampai anak-anak perempuan kita pergi keluar sendirian untuk bekerja di tempat yang masih campur baur antara laki-laki dan perempuan. Jangan sungkan juga untuk memberikan batasan waktu bermain atau keluar rumah bagi anak laki-laki kita. Karena tanpa adanya pengawasan orang tua, maka ini akan membuka pintu-pintu setan untuk mengganggu dan menyesatkan kita dan anak-anak kita. Ketiga: Jangan lupa untuk mendoakan kebaikan bagi anak-anak kita. Doa orang tua adalah doa yang mustajab. Manfaatkanlah hal ini untuk mendoakan kebaikan untuk anak-anak kita. Sebaliknya, jangan sampai mendoakan keburukan untuk anak-anak kita meskipun mereka sedang nakal sekalipun. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Abu Dawud no. 1536. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan) Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita, keluarga kita, dan anak-anak kita dari siksa api neraka, menjaga mereka dari bahaya fitnah syahwat dan syubhat. Ya Allah, jadikanlah kami orang tua yang baik untuk anak-anak kami. Jadikanlah kami orang tua yang bisa memberikan contoh yang baik untuk anak-anak kami. Jadikanlah kami orang tua yang senantiasa mendoakan kebaikan untuk anak-anak kami, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang mendoakan anak-anaknya, رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40) رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35) إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Sunnah Banyak Anak dan Kewajiban Mendidik Mereka *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: mendidik anak


Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaKhotbah kedua Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala. Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada para jemaah sekalian, marilah senantiasa menjaga kualitas ketakwaan kita dan keluarga kita kepada Allah Ta’ala. Jagalah diri kita dan keluarga kita dari panasnya api neraka. Sebagaimana hal ini Allah Ta’ala perintahkan dalam firman-Nya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6) Keluarga di dalam Islam memiliki kedudukan yang amat krusial dan penting. Darinyalah masyarakat Islam terbentuk, dan darinya pula sebuah generasi emas akan terwujud. Islam sangat perhatian terhadap keluarga. Sebelum sebuah keluarga itu terbentuk, Islam telah memberikan bimbingan dan arahan tentang langkah yang seharusnya diambil oleh laki-laki sehingga dirinya insyaAllah sukses membangun bahtera rumah tangganya. Yaitu, dengan memilih istri yang salehah bagi dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, فاظفَرْ بذات الدين تَرِبَتْ يداك “Maka, pilihlah (wanita) karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.”  (HR. Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466) Bukan hanya dari sisi calon suami saja, demikian pula halnya dengan para wali calon istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan nasihat kepada para wali perempuan untuk menerima lamaran dari laki-laki yang saleh dan baik agamanya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إذا جاءَكم من ترضَونَ دينَهُ وخلُقَهُ فأنكِحوهُ إلَّا تفعَلوا تكُن فتنةٌ في الأرضِ وفسادٌ “Jika seseorang datang melamar (anak perempuan dan kerabat) kalian, sedangkan kalian rida pada agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tidak kalian lakukan, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan.” Ketika mendengar hal tersebut para sahabat pun bertanya, “Wahai Rasulullah, meskipun mereka tidak kaya?” Beliau bersabda, “Jika seseorang datang melamar (anak perempuan) kalian, kalian rida pada agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia.” Beliau mengatakannya tiga kali. (HR. Tirmidzi no. 1085 dan Al-Baihaqi no. 13863) Salah satu langkah terpenting di dalam membangun keluarga yang harmonis dan sarat akan kesalehan dan kebaikan adalah kepedulian dan pengawasan penuh dalam mendidik anak-anak kita. Sedari mereka masih kecil, para orang tua sudah dituntut untuk membimbing ibadah mereka dan budi pekerti mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مُروا أولادَكم بالصلاةِ وهم أبناءُ سبعِ سنينَ واضربوهُم عليها وهمْ أبناءُ عشرٍ وفرِّقوا بينهُم في المضاجعِ “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun. Dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun, maka pukullah dia apabila tidak melaksanakannya. Dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya.” (HR. Abu Dawud no. 495) Kepedulian terhadap pendidikan dan perkembangan anak bukan hanya pada perkara makan, pakaian, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya saja seperti yang banyak dilakukan oleh masyarakat kita di zaman sekarang. Lebih jauh dari itu, orang tua dan para wali bertanggung jawab penuh juga terhadap akhlak dan agama anak-anaknya. Dan ini bukanlah tugas ibu semata, di dalam mendidik anak-anak. Seorang ayah juga dituntut untuk ikut andil dan ambil bagian di dalamnya. Di manakah letak keteladanan jika seorang ayah tidak mampu dan tidak mau ikut andil di dalam mendidik anak-anaknya?! Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala, Perkara terpenting yang harus kita ajarkan dan kita tanamkan kepada anak-anak kita adalah keyakinan perihal kebesaran Allah Ta’ala, merasa diawasi oleh-Nya, bergantung kepada-Nya dalam segala hal, dan takut kepada-Nya baik di dalam keramaian maupun saat sendirian. Kenapa? Karena anak-anak kita hidup di zaman di mana kemaksiatan sangat mudah dijangkau, peluang untuk bermaksiat amatlah besar, pintu-pintu kemaksiatan tersebut bahkan ada dalam setiap genggaman kita. Tanpa perlu bersusah payah keluar rumah, atau bahkan keluar kamar, seorang anak sangat dimungkinkan untuk melakukan kemaksiatan dan melakukan hal-hal yang Allah haramkan. Di dalam menghadapi hal tersebut, ketakwaan dan merasa diawasi Allah Ta’ala adalah perkara terpenting yang harus dimiliki oleh setiap anak. Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, perkara kedua yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita adalah tentang esensi menjaga salat dan larangan dari menyia-nyiakannya. Karena kesuksesan dan keberhasilan seorang hamba baik di dunia ini maupun di akhirat nanti tidaklah terwujud, kecuali dengannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suatu ketika menyebutkan tentang perkara salat, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, من حافَظَ عليها كانت لَه نورًا وبُرهانًا ونجاةً إلى يومِ القيامةِ ومن لَم يُحافِظ عليها لم يَكن لَه نورٌ ولا برهانٌ ولا نجاةٌ وَكانَ يومَ القيامةِ معَ فرعونَ وَهامانَ وأبَيِّ بنِ خلفٍ “Siapa yang menjaga salat, maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan sampai hari kiamat. Dan siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan. Nantinya di hari kiamat, ia akan dikumpulkan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad no. 6576, Ibnu Hibban no. 1467, dan At-Thabrani, 14: 127 no. 14746) Sangat disayangkan, kita hidup bersama generasi yang banyak sekali di antara mereka menyia-nyiakan perkara salat. Bahkan, tidak jarang sebagian dari mereka meninggalkan salat dalam pengawasan dan pengetahuan orang tuanya. Padahal di dalam hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan secara jelas, العَهدُ الذي بَينَنا وبَينَهُم الصلاةُ، فمن تَرَكَها فَقَد كَفَرَ “Batas antara kita dan mereka (orang-orang kafir) adalah salat. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka telah kafir.”  (HR. Tirmidzi no. 2621 dan An-Nasa’i no. 463) Di dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala juga sudah mengabarkan akan adanya sebagian dari generasi kaum muslimin yang menyia-nyiakan salat, dan di ayat itu juga Allah sebutkan balasan dan hukumannya bagi mereka. Ia berfirman, فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا “Maka, datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya. Maka, mereka kelak akan menemui kesesatan dan keburukan, kecuali orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh.” (QS. Maryam: 59-60) Sebagian ahli tafsir tatkala menjelaskan kata “al-ghayya” di dalam ayat tersebut menyebutkan bahwa maknanya adalah nama salah satu sungai di neraka Jahanam yang penuh keburukan dan kepedihan. Naudzubillahi min dzalik. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga diri kita dan keluarga kita dari panasnya azab neraka Jahanam. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Baca juga: Jangan Lupakan Doa dan Tawakal Dalam Mendidik Anak Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ. Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Di antara pendidikan yang harus kita tanamkan terutama kepada anak-anak perempuan kita adalah rasa malu. Rasa malu adalah perhiasan hakiki bagi wanita muslimah. Dengannya martabat seorang muslim terjaga, dan dengannya pula aib serta kekurangan-kekurangan yang ia miliki akan tertutup. Di dalam hadis disebutkan, الْحَياءُ خَيْرٌ كُلُّهُ. “Malu itu semuanya baik.” (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37) Malu yang dimaksudkan di sini adalah rasa malu yang membuat diri kita terhindar dari melakukan kemaksiatan dan dosa. Rasa malu yang membuat seseorang menahan diri untuk tidak melakukan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala, baik itu di tempat keramaian maupun di tempat yang sepi. Wahai jemaah sekalian, ada anggapan salah terkait sifat malu ini yang tersebar di masyarakat kita, yaitu anggapan bahwa sifat malu tidak pantas untuk laki-laki, sifat malu hanya khusus untuk perempuan saja. Tentu saja anggapan ini keliru dan salah. Karena seseorang yang malu jika dilihat oleh manusia lainnya tatkala berbuat kemaksiatan, maka tentu saja seharusnya ia lebih malu kepada Rabbnya. Dan siapa saja yang malu kepada Rabbnya, maka rasa malunya tersebut akan mencegahnya dari melalaikan kewajiban ibadahnya dan dari melakukan kemaksiatan. Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, bagi kita sebagai orang tua, ada tiga hal penting yang harus kita lakukan agar pendidikan kita kepada anak-anak kita sukses mencapai tujuannya. Pertama: Jadilah teladan yang baik untuk anak-anak kita. Keteladan memiliki andil besar di dalam mewujudkan keberhasilan pendidikan anak-anak kita. Saat orang tua bisa menjadi teladan dan contoh yang baik untuk anak-anaknya, maka itu memudahkan anak-anak untuk memahami pengajaran dan pendidikan yang hendak disampaikan orang tuanya. Sebaliknya, saat orang tua tidak bisa menjadi teladan yang baik untuk anak-anaknya, maka sang anak akan mencoba mencari sosok lainnya yang akan ia jadikan teladan. Tidak mengherankan bila kemudian mereka mencontoh artis-artis di TV dan selebgram-selebgram yang bertebaran di dunia maya. Keteladanan di dalam mendidik banyak sekali Allah tekankan di dalam Al-Qur’an. Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk meneladani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan nabi-nabi lainnya. Allah Ta’ala berfirman, أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ “Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am: 90) Kedua: Selalu mengawasi anak-anak kita. Saudaraku, jangan sampai anak-anak kita menjadi korban para pemuja syubhat dan syahwat. Kita hidup di zaman di mana pemikiran-pemikiran sesat dan menyimpang merajarela. Setiap individu bebas menyampaikan opininya. Sebuah keterbukaan yang membuat syubhat dan syahwat mengepung anak-anak kita. Pergaulan bebas yang tidak terkontrol, keberanian wanita yang mengaku muslimah untuk melepas hijabnya, berdalih dengan kebebasan individu. Podcast-podcast yang dipenuhi dengan orang-orang yang tidak beres dan bahkan tayangan-tayangan anak kecil yang terkadang diselipi oleh adegan-adegan yang tidak selayaknya dipertontonkan. Agar terhindar dari semua hal yang kita sebutkan, hal itu membutuhkan pengawasan orang tua kepada anaknya, meskipun mereka sudah besar. Jangan sampai anak-anak perempuan kita pergi keluar sendirian untuk bekerja di tempat yang masih campur baur antara laki-laki dan perempuan. Jangan sungkan juga untuk memberikan batasan waktu bermain atau keluar rumah bagi anak laki-laki kita. Karena tanpa adanya pengawasan orang tua, maka ini akan membuka pintu-pintu setan untuk mengganggu dan menyesatkan kita dan anak-anak kita. Ketiga: Jangan lupa untuk mendoakan kebaikan bagi anak-anak kita. Doa orang tua adalah doa yang mustajab. Manfaatkanlah hal ini untuk mendoakan kebaikan untuk anak-anak kita. Sebaliknya, jangan sampai mendoakan keburukan untuk anak-anak kita meskipun mereka sedang nakal sekalipun. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Abu Dawud no. 1536. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan) Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita, keluarga kita, dan anak-anak kita dari siksa api neraka, menjaga mereka dari bahaya fitnah syahwat dan syubhat. Ya Allah, jadikanlah kami orang tua yang baik untuk anak-anak kami. Jadikanlah kami orang tua yang bisa memberikan contoh yang baik untuk anak-anak kami. Jadikanlah kami orang tua yang senantiasa mendoakan kebaikan untuk anak-anak kami, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang mendoakan anak-anaknya, رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40) رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35) إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Sunnah Banyak Anak dan Kewajiban Mendidik Mereka *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: mendidik anak

Apa Amalan Agar Rezeki Lancar?

Siapa yang menciptakan kita? Bukankah Allah? Siapa yang menghidupkan dan mematikan kita? Siapa yang memberi kita rezeki? Siapa yang membuat kita tertawa dan menangis, dan yang membuat kita kaya, miskin, dan berkecukupan? Bukankah Allah Subẖānahu wa Taʿālā? Maka dari itu, kita wajib menyembah-Nya dan tidak boleh kita mempersembahkan ibadah kepada selain Allah, karena itu adalah syirik, yang merupakan dosa terbesar di sisi Allah ʿAzza wa Jalla, karena Allah itu Maha Kaya. Jika seseorang mempersekutukan-Nya dalam perkara yang menjadi hak-Nya, maka amat besar murka-Nya kepada orang ini. Allah ʿAzza wa Jalla Berfirman dalam Hadis Qudsi: “Aku adalah Zat Yang paling tidak butuh sekutu, maka barang siapa yang melakukan suatu amal yang mempersekutukan-Ku dengan selain-Ku dalam amalan itu, maka Aku Tinggalkan dia dengan yang dia jadikan sekutu itu.” (HR. Abu Dawud) ==== مَنْ خَلَقَنَا؟ أَلَيْسَ هُوَ اللهُ؟ مَنْ أَحْيَانَا ؟ مَنْ يُمِيتُنَا؟ مَنْ يَرْزُقُنَا؟ مَنِ الَّذِي يُضْحِكُنَا وَيُبْكِينَا وَيُغْنِينَا وَيُفْقِرُنَا وَيُقْنِينَا؟ أَلَيْسَ هُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى؟ إِذَنْ وَاجِبٌ أَنْ نَعْبُدَهُ وَلَا يَجُوزُ أَنْ نَتَوَجَّهَ بِالْعِبَادَةِ لِغَيرِهِ فَإِنَّ هَذَا هُوَ الشِّرْكُ الَّذِي هُوَ أَعْظَمُ الذُّنُوبِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِأَنَّ اللهَ هُوَ الْغَنِيُّ فَإِذَا شَارَكَهُ أَحَدٌ فِيمَا يَسْتَحِقُّهُ اِشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى هَذَا الْإِنْسَانِ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ فَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِيَ غَيْرِِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ

Apa Amalan Agar Rezeki Lancar?

Siapa yang menciptakan kita? Bukankah Allah? Siapa yang menghidupkan dan mematikan kita? Siapa yang memberi kita rezeki? Siapa yang membuat kita tertawa dan menangis, dan yang membuat kita kaya, miskin, dan berkecukupan? Bukankah Allah Subẖānahu wa Taʿālā? Maka dari itu, kita wajib menyembah-Nya dan tidak boleh kita mempersembahkan ibadah kepada selain Allah, karena itu adalah syirik, yang merupakan dosa terbesar di sisi Allah ʿAzza wa Jalla, karena Allah itu Maha Kaya. Jika seseorang mempersekutukan-Nya dalam perkara yang menjadi hak-Nya, maka amat besar murka-Nya kepada orang ini. Allah ʿAzza wa Jalla Berfirman dalam Hadis Qudsi: “Aku adalah Zat Yang paling tidak butuh sekutu, maka barang siapa yang melakukan suatu amal yang mempersekutukan-Ku dengan selain-Ku dalam amalan itu, maka Aku Tinggalkan dia dengan yang dia jadikan sekutu itu.” (HR. Abu Dawud) ==== مَنْ خَلَقَنَا؟ أَلَيْسَ هُوَ اللهُ؟ مَنْ أَحْيَانَا ؟ مَنْ يُمِيتُنَا؟ مَنْ يَرْزُقُنَا؟ مَنِ الَّذِي يُضْحِكُنَا وَيُبْكِينَا وَيُغْنِينَا وَيُفْقِرُنَا وَيُقْنِينَا؟ أَلَيْسَ هُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى؟ إِذَنْ وَاجِبٌ أَنْ نَعْبُدَهُ وَلَا يَجُوزُ أَنْ نَتَوَجَّهَ بِالْعِبَادَةِ لِغَيرِهِ فَإِنَّ هَذَا هُوَ الشِّرْكُ الَّذِي هُوَ أَعْظَمُ الذُّنُوبِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِأَنَّ اللهَ هُوَ الْغَنِيُّ فَإِذَا شَارَكَهُ أَحَدٌ فِيمَا يَسْتَحِقُّهُ اِشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى هَذَا الْإِنْسَانِ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ فَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِيَ غَيْرِِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ
Siapa yang menciptakan kita? Bukankah Allah? Siapa yang menghidupkan dan mematikan kita? Siapa yang memberi kita rezeki? Siapa yang membuat kita tertawa dan menangis, dan yang membuat kita kaya, miskin, dan berkecukupan? Bukankah Allah Subẖānahu wa Taʿālā? Maka dari itu, kita wajib menyembah-Nya dan tidak boleh kita mempersembahkan ibadah kepada selain Allah, karena itu adalah syirik, yang merupakan dosa terbesar di sisi Allah ʿAzza wa Jalla, karena Allah itu Maha Kaya. Jika seseorang mempersekutukan-Nya dalam perkara yang menjadi hak-Nya, maka amat besar murka-Nya kepada orang ini. Allah ʿAzza wa Jalla Berfirman dalam Hadis Qudsi: “Aku adalah Zat Yang paling tidak butuh sekutu, maka barang siapa yang melakukan suatu amal yang mempersekutukan-Ku dengan selain-Ku dalam amalan itu, maka Aku Tinggalkan dia dengan yang dia jadikan sekutu itu.” (HR. Abu Dawud) ==== مَنْ خَلَقَنَا؟ أَلَيْسَ هُوَ اللهُ؟ مَنْ أَحْيَانَا ؟ مَنْ يُمِيتُنَا؟ مَنْ يَرْزُقُنَا؟ مَنِ الَّذِي يُضْحِكُنَا وَيُبْكِينَا وَيُغْنِينَا وَيُفْقِرُنَا وَيُقْنِينَا؟ أَلَيْسَ هُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى؟ إِذَنْ وَاجِبٌ أَنْ نَعْبُدَهُ وَلَا يَجُوزُ أَنْ نَتَوَجَّهَ بِالْعِبَادَةِ لِغَيرِهِ فَإِنَّ هَذَا هُوَ الشِّرْكُ الَّذِي هُوَ أَعْظَمُ الذُّنُوبِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِأَنَّ اللهَ هُوَ الْغَنِيُّ فَإِذَا شَارَكَهُ أَحَدٌ فِيمَا يَسْتَحِقُّهُ اِشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى هَذَا الْإِنْسَانِ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ فَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِيَ غَيْرِِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ


Siapa yang menciptakan kita? Bukankah Allah? Siapa yang menghidupkan dan mematikan kita? Siapa yang memberi kita rezeki? Siapa yang membuat kita tertawa dan menangis, dan yang membuat kita kaya, miskin, dan berkecukupan? Bukankah Allah Subẖānahu wa Taʿālā? Maka dari itu, kita wajib menyembah-Nya dan tidak boleh kita mempersembahkan ibadah kepada selain Allah, karena itu adalah syirik, yang merupakan dosa terbesar di sisi Allah ʿAzza wa Jalla, karena Allah itu Maha Kaya. Jika seseorang mempersekutukan-Nya dalam perkara yang menjadi hak-Nya, maka amat besar murka-Nya kepada orang ini. Allah ʿAzza wa Jalla Berfirman dalam Hadis Qudsi: “Aku adalah Zat Yang paling tidak butuh sekutu, maka barang siapa yang melakukan suatu amal yang mempersekutukan-Ku dengan selain-Ku dalam amalan itu, maka Aku Tinggalkan dia dengan yang dia jadikan sekutu itu.” (HR. Abu Dawud) ==== مَنْ خَلَقَنَا؟ أَلَيْسَ هُوَ اللهُ؟ مَنْ أَحْيَانَا ؟ مَنْ يُمِيتُنَا؟ مَنْ يَرْزُقُنَا؟ مَنِ الَّذِي يُضْحِكُنَا وَيُبْكِينَا وَيُغْنِينَا وَيُفْقِرُنَا وَيُقْنِينَا؟ أَلَيْسَ هُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى؟ إِذَنْ وَاجِبٌ أَنْ نَعْبُدَهُ وَلَا يَجُوزُ أَنْ نَتَوَجَّهَ بِالْعِبَادَةِ لِغَيرِهِ فَإِنَّ هَذَا هُوَ الشِّرْكُ الَّذِي هُوَ أَعْظَمُ الذُّنُوبِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِأَنَّ اللهَ هُوَ الْغَنِيُّ فَإِذَا شَارَكَهُ أَحَدٌ فِيمَا يَسْتَحِقُّهُ اِشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى هَذَا الْإِنْسَانِ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ فَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِيَ غَيْرِِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ

Sabar itu Indah

Kesabaran hanyalah kesempitan sementara yang ujungnya apa? Ujungnya adalah kelapangan sepenuhnya. Sungguh satu celupan di surga membuat orang paling sengsara di dunia lupa kesengsaraan dan kesulitan yang ia alami dulu. Maka bersabarlah wahai orang-orang beriman! Bersabarlah! Bersabarlah! Bersabarlah! Bersabarlah atas dunia ini dan kesulitannya, serta segala masalahnya, rasa sakitnya, dan penyakitnya. Karena demi Allah, setelah itu pasti ada jalan keluar. Setelahnya pasti ada jalan keluar yang besar. ==== لَكِنَّهَا ضِيْقٌ يَسِيْرٌ يَعْقُبُهُ مَاذَا؟ تَعْقُبُهُ السَّعَةُ الْمُطْلَقَةُ وَلَغَمَسَةٌ فِي الْجَنَّةِ تُنْسِي أَشْقَى أَهْلِ الدُّنْيَا مَا مَرَّ عَلَيْهِ فِي دُنْيَاهُ مِنْ عَظِيمِ الشَّقَاءِ وَالْأَهْوَالِ فَاصْبِرُوا يَا أَهْلَ الْإِيمَانِ الصَّبْرَ الصَّبْرَ الصَّبْرَ الصَّبْرَ عَلَى هَذِهِ الدُّنْيَا وَضَنْكِهَا وَهُمُومِهَا وَآلَامِهَا وَأَمْرَاضِهَا فَإِنَّهُ يَعْقُبُ ذَلِكَ وَاللَّهِ فَرَجٌ عَظِيْمٌ يَعْقُبُ فَرَجٌ عَظِيْمٌ

Sabar itu Indah

Kesabaran hanyalah kesempitan sementara yang ujungnya apa? Ujungnya adalah kelapangan sepenuhnya. Sungguh satu celupan di surga membuat orang paling sengsara di dunia lupa kesengsaraan dan kesulitan yang ia alami dulu. Maka bersabarlah wahai orang-orang beriman! Bersabarlah! Bersabarlah! Bersabarlah! Bersabarlah atas dunia ini dan kesulitannya, serta segala masalahnya, rasa sakitnya, dan penyakitnya. Karena demi Allah, setelah itu pasti ada jalan keluar. Setelahnya pasti ada jalan keluar yang besar. ==== لَكِنَّهَا ضِيْقٌ يَسِيْرٌ يَعْقُبُهُ مَاذَا؟ تَعْقُبُهُ السَّعَةُ الْمُطْلَقَةُ وَلَغَمَسَةٌ فِي الْجَنَّةِ تُنْسِي أَشْقَى أَهْلِ الدُّنْيَا مَا مَرَّ عَلَيْهِ فِي دُنْيَاهُ مِنْ عَظِيمِ الشَّقَاءِ وَالْأَهْوَالِ فَاصْبِرُوا يَا أَهْلَ الْإِيمَانِ الصَّبْرَ الصَّبْرَ الصَّبْرَ الصَّبْرَ عَلَى هَذِهِ الدُّنْيَا وَضَنْكِهَا وَهُمُومِهَا وَآلَامِهَا وَأَمْرَاضِهَا فَإِنَّهُ يَعْقُبُ ذَلِكَ وَاللَّهِ فَرَجٌ عَظِيْمٌ يَعْقُبُ فَرَجٌ عَظِيْمٌ
Kesabaran hanyalah kesempitan sementara yang ujungnya apa? Ujungnya adalah kelapangan sepenuhnya. Sungguh satu celupan di surga membuat orang paling sengsara di dunia lupa kesengsaraan dan kesulitan yang ia alami dulu. Maka bersabarlah wahai orang-orang beriman! Bersabarlah! Bersabarlah! Bersabarlah! Bersabarlah atas dunia ini dan kesulitannya, serta segala masalahnya, rasa sakitnya, dan penyakitnya. Karena demi Allah, setelah itu pasti ada jalan keluar. Setelahnya pasti ada jalan keluar yang besar. ==== لَكِنَّهَا ضِيْقٌ يَسِيْرٌ يَعْقُبُهُ مَاذَا؟ تَعْقُبُهُ السَّعَةُ الْمُطْلَقَةُ وَلَغَمَسَةٌ فِي الْجَنَّةِ تُنْسِي أَشْقَى أَهْلِ الدُّنْيَا مَا مَرَّ عَلَيْهِ فِي دُنْيَاهُ مِنْ عَظِيمِ الشَّقَاءِ وَالْأَهْوَالِ فَاصْبِرُوا يَا أَهْلَ الْإِيمَانِ الصَّبْرَ الصَّبْرَ الصَّبْرَ الصَّبْرَ عَلَى هَذِهِ الدُّنْيَا وَضَنْكِهَا وَهُمُومِهَا وَآلَامِهَا وَأَمْرَاضِهَا فَإِنَّهُ يَعْقُبُ ذَلِكَ وَاللَّهِ فَرَجٌ عَظِيْمٌ يَعْقُبُ فَرَجٌ عَظِيْمٌ


Kesabaran hanyalah kesempitan sementara yang ujungnya apa? Ujungnya adalah kelapangan sepenuhnya. Sungguh satu celupan di surga membuat orang paling sengsara di dunia lupa kesengsaraan dan kesulitan yang ia alami dulu. Maka bersabarlah wahai orang-orang beriman! Bersabarlah! Bersabarlah! Bersabarlah! Bersabarlah atas dunia ini dan kesulitannya, serta segala masalahnya, rasa sakitnya, dan penyakitnya. Karena demi Allah, setelah itu pasti ada jalan keluar. Setelahnya pasti ada jalan keluar yang besar. ==== لَكِنَّهَا ضِيْقٌ يَسِيْرٌ يَعْقُبُهُ مَاذَا؟ تَعْقُبُهُ السَّعَةُ الْمُطْلَقَةُ وَلَغَمَسَةٌ فِي الْجَنَّةِ تُنْسِي أَشْقَى أَهْلِ الدُّنْيَا مَا مَرَّ عَلَيْهِ فِي دُنْيَاهُ مِنْ عَظِيمِ الشَّقَاءِ وَالْأَهْوَالِ فَاصْبِرُوا يَا أَهْلَ الْإِيمَانِ الصَّبْرَ الصَّبْرَ الصَّبْرَ الصَّبْرَ عَلَى هَذِهِ الدُّنْيَا وَضَنْكِهَا وَهُمُومِهَا وَآلَامِهَا وَأَمْرَاضِهَا فَإِنَّهُ يَعْقُبُ ذَلِكَ وَاللَّهِ فَرَجٌ عَظِيْمٌ يَعْقُبُ فَرَجٌ عَظِيْمٌ

Ikut Berperan dalam Dakwah

Daftar Isi Toggle Dakwah adalah suatu amalan yang sangat utamaJagalah lisanmu! Bismillah. Dakwah adalah suatu amalan yang sangat utama Tidak diragukan bahwa dakwah merupakan suatu amalan yang sangat utama. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ “Dan siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang menyeru menuju Allah dan dia beramal saleh, dan dia pun berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk dari kaum muslimin.’” (QS. Fushshilat: 33) Para ulama menjelaskan bahwa dakwah itu membutuhkan ilmu. Karena berdakwah tanpa ilmu berarti beramal dengan kebodohan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/hujjah yang nyata.’” (QS. Yusuf: 108) Pada masa ini, dengan berkembangnya teknologi informasi dan media sosial, hal itu telah membuka pintu bagi siapa pun untuk menyebarkan ucapan dan ajakan. Tidak terkecuali dalam urusan dakwah. Sayangnya, banyak orang tidak menyadari kapasitas dirinya. Akhirnya, mereka berbicara sesuatu yang bukan keahlian dan di luar wewenangnya. Allah Ta’ala berfirman, وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً “Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak punya ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36) Inilah di antara fenomena yang melanda masyarakat masa kini. Ketika ‘semua orang’ berbicara tanpa mengenal adab dan etika. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata-kata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa keimanan akan menjaga seorang muslim dari keburukan lisannya. Di antara keburukan lisan itu adalah berbicara dalam urusan agama tanpa ilmu dan tanpa adab. Allah Ta’ala berfirman, وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ “.. Dan kalian berbicara dengan mengatasnamakan Allah apa-apa yang kalian tidak ketahui ilmunya.” (QS. Al-A’raf: 33) Di dalam Al-Qur’an, Allah juga mengaitkan perintah takwa dengan perintah untuk berucap dengan ucapan yang lurus. Bahkan, ketika memerintahkan Musa dan Harun untuk berdakwah kepada Fir’aun, maka Allah juga menyuruh mereka berdua untuk berbicara dengan ucapan yang lembut kepadanya. Baca juga: Tantangan Dakwah Kampus Jagalah lisanmu! Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, beliau berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tahukah kalian apa yang paling banyak menjerumuskan orang ke dalam neraka?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau mengatakan, “Yaitu, dua buah lubang: kemaluan dan mulut. Dan apakah yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga? Ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang mulia.” (HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Takhrij At-Targhib. Lihat Shahih Al-Adab Al-Mufrad, hal. 123) Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang diam, maka dia akan selamat.” (HR. Ahmad no. 6481. Sanadnya disahihkan Syekh Abdullah bin Yusuf Al-Judai’ dalam Ar-Risalah Al-Mughniyah fi As-Sukut wa Luzum Al-Buyut, hal. 21-22; Bab Najatul Insan bi Ash-Shamti wa Hifzhi Al-Lisan) Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu, beliau berkata, “Wahai Rasulullah! Apakah kami akan dihukum akibat segala yang kami ucapkan?” Beliau pun menjawab, “Ibumu telah kehilangan engkau wahai Mu’adz bin Jabal! Bukankah yang menjerumuskan umat manusia tersungkur ke dalam Jahannam di atas hidungnya tidak lain adalah karena buah kejahatan lisan mereka?!” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 20: 127-128; disahihkan sanadnya oleh Syekh Abdullah bin Yusuf Al-Judai’ dalam Ar-Risalah Al-Mughniyah, hal. 27) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menjaga apa yang ada di antara kedua jenggotnya dan apa yang ada di antara kedua kakinya, maka dia akan masuk surga.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 22) Di dalam Al-Adzkar, Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah, semestinya bagi setiap mukallaf (orang yang telah terkena beban syariat) untuk menjaga lisannya dari segala ucapan, kecuali ucapan-ucapan yang tampak jelas kemaslahatannya. Apabila ternyata setara antara kemaslahatan berbicara atau tidak berbicara, maka yang dianjurkan adalah menahan diri darinya. Sebab bisa jadi ucapan-ucapan yang pada dasarnya mubah menyeret kepada ucapan yang haram atau makruh. Bahkan, hal semacam ini banyak terjadi dan lebih dominan dalam kebiasaan (sebagian orang). Padahal, keselamatan diri (dari bahaya lisan) adalah sebuah perkara yang tidak bisa dinilai dengan sesuatu apapun.” (Lihat Al-Fitnah wa Atsaruha Al-Mudammirah, hal. 302) Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Tidaklah memahami agamanya, orang yang tidak pandai menjaga lisannya.” (Lihat Aina Nahnu min Ha’ula’i, 2: 84) Thawus rahimahullah berkata, “Lisanku adalah binatang buas. Apabila aku melepaskannya dengan bebas, niscaya ia akan memakan diriku.” (Lihat Aina Nahnu min Ha’ula’i, 2: 90) Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata, “Demi Allah yang tiada sesembahan yang benar selain-Nya. Tidak ada di muka bumi ini sesuatu yang lebih butuh dipenjara dalam waktu yang lama selain daripada lisan.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 26) Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma berkata, “Sesuatu yang paling layak untuk terus dibersihkan oleh seorang hamba adalah lisannya.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 27) Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berpesan, “Jauhilah oleh kalian kebiasaan terlalu banyak berbicara.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 28) Dari Ibnu Abi Zakaria rahimahullah, beliau mengatakan, “Aku belajar untuk diam setahun lamanya.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 39) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Cukuplah dianggap berdosa jika seseorang senantiasa menceritakan segala sesuatu yang didengarnya.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 45) Baca juga: Metode Dakwah untuk Orang Awam *** Penulis: Ari Wahyudi, S,Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: berperan dalam dakwah

Ikut Berperan dalam Dakwah

Daftar Isi Toggle Dakwah adalah suatu amalan yang sangat utamaJagalah lisanmu! Bismillah. Dakwah adalah suatu amalan yang sangat utama Tidak diragukan bahwa dakwah merupakan suatu amalan yang sangat utama. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ “Dan siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang menyeru menuju Allah dan dia beramal saleh, dan dia pun berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk dari kaum muslimin.’” (QS. Fushshilat: 33) Para ulama menjelaskan bahwa dakwah itu membutuhkan ilmu. Karena berdakwah tanpa ilmu berarti beramal dengan kebodohan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/hujjah yang nyata.’” (QS. Yusuf: 108) Pada masa ini, dengan berkembangnya teknologi informasi dan media sosial, hal itu telah membuka pintu bagi siapa pun untuk menyebarkan ucapan dan ajakan. Tidak terkecuali dalam urusan dakwah. Sayangnya, banyak orang tidak menyadari kapasitas dirinya. Akhirnya, mereka berbicara sesuatu yang bukan keahlian dan di luar wewenangnya. Allah Ta’ala berfirman, وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً “Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak punya ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36) Inilah di antara fenomena yang melanda masyarakat masa kini. Ketika ‘semua orang’ berbicara tanpa mengenal adab dan etika. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata-kata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa keimanan akan menjaga seorang muslim dari keburukan lisannya. Di antara keburukan lisan itu adalah berbicara dalam urusan agama tanpa ilmu dan tanpa adab. Allah Ta’ala berfirman, وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ “.. Dan kalian berbicara dengan mengatasnamakan Allah apa-apa yang kalian tidak ketahui ilmunya.” (QS. Al-A’raf: 33) Di dalam Al-Qur’an, Allah juga mengaitkan perintah takwa dengan perintah untuk berucap dengan ucapan yang lurus. Bahkan, ketika memerintahkan Musa dan Harun untuk berdakwah kepada Fir’aun, maka Allah juga menyuruh mereka berdua untuk berbicara dengan ucapan yang lembut kepadanya. Baca juga: Tantangan Dakwah Kampus Jagalah lisanmu! Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, beliau berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tahukah kalian apa yang paling banyak menjerumuskan orang ke dalam neraka?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau mengatakan, “Yaitu, dua buah lubang: kemaluan dan mulut. Dan apakah yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga? Ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang mulia.” (HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Takhrij At-Targhib. Lihat Shahih Al-Adab Al-Mufrad, hal. 123) Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang diam, maka dia akan selamat.” (HR. Ahmad no. 6481. Sanadnya disahihkan Syekh Abdullah bin Yusuf Al-Judai’ dalam Ar-Risalah Al-Mughniyah fi As-Sukut wa Luzum Al-Buyut, hal. 21-22; Bab Najatul Insan bi Ash-Shamti wa Hifzhi Al-Lisan) Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu, beliau berkata, “Wahai Rasulullah! Apakah kami akan dihukum akibat segala yang kami ucapkan?” Beliau pun menjawab, “Ibumu telah kehilangan engkau wahai Mu’adz bin Jabal! Bukankah yang menjerumuskan umat manusia tersungkur ke dalam Jahannam di atas hidungnya tidak lain adalah karena buah kejahatan lisan mereka?!” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 20: 127-128; disahihkan sanadnya oleh Syekh Abdullah bin Yusuf Al-Judai’ dalam Ar-Risalah Al-Mughniyah, hal. 27) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menjaga apa yang ada di antara kedua jenggotnya dan apa yang ada di antara kedua kakinya, maka dia akan masuk surga.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 22) Di dalam Al-Adzkar, Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah, semestinya bagi setiap mukallaf (orang yang telah terkena beban syariat) untuk menjaga lisannya dari segala ucapan, kecuali ucapan-ucapan yang tampak jelas kemaslahatannya. Apabila ternyata setara antara kemaslahatan berbicara atau tidak berbicara, maka yang dianjurkan adalah menahan diri darinya. Sebab bisa jadi ucapan-ucapan yang pada dasarnya mubah menyeret kepada ucapan yang haram atau makruh. Bahkan, hal semacam ini banyak terjadi dan lebih dominan dalam kebiasaan (sebagian orang). Padahal, keselamatan diri (dari bahaya lisan) adalah sebuah perkara yang tidak bisa dinilai dengan sesuatu apapun.” (Lihat Al-Fitnah wa Atsaruha Al-Mudammirah, hal. 302) Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Tidaklah memahami agamanya, orang yang tidak pandai menjaga lisannya.” (Lihat Aina Nahnu min Ha’ula’i, 2: 84) Thawus rahimahullah berkata, “Lisanku adalah binatang buas. Apabila aku melepaskannya dengan bebas, niscaya ia akan memakan diriku.” (Lihat Aina Nahnu min Ha’ula’i, 2: 90) Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata, “Demi Allah yang tiada sesembahan yang benar selain-Nya. Tidak ada di muka bumi ini sesuatu yang lebih butuh dipenjara dalam waktu yang lama selain daripada lisan.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 26) Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma berkata, “Sesuatu yang paling layak untuk terus dibersihkan oleh seorang hamba adalah lisannya.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 27) Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berpesan, “Jauhilah oleh kalian kebiasaan terlalu banyak berbicara.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 28) Dari Ibnu Abi Zakaria rahimahullah, beliau mengatakan, “Aku belajar untuk diam setahun lamanya.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 39) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Cukuplah dianggap berdosa jika seseorang senantiasa menceritakan segala sesuatu yang didengarnya.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 45) Baca juga: Metode Dakwah untuk Orang Awam *** Penulis: Ari Wahyudi, S,Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: berperan dalam dakwah
Daftar Isi Toggle Dakwah adalah suatu amalan yang sangat utamaJagalah lisanmu! Bismillah. Dakwah adalah suatu amalan yang sangat utama Tidak diragukan bahwa dakwah merupakan suatu amalan yang sangat utama. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ “Dan siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang menyeru menuju Allah dan dia beramal saleh, dan dia pun berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk dari kaum muslimin.’” (QS. Fushshilat: 33) Para ulama menjelaskan bahwa dakwah itu membutuhkan ilmu. Karena berdakwah tanpa ilmu berarti beramal dengan kebodohan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/hujjah yang nyata.’” (QS. Yusuf: 108) Pada masa ini, dengan berkembangnya teknologi informasi dan media sosial, hal itu telah membuka pintu bagi siapa pun untuk menyebarkan ucapan dan ajakan. Tidak terkecuali dalam urusan dakwah. Sayangnya, banyak orang tidak menyadari kapasitas dirinya. Akhirnya, mereka berbicara sesuatu yang bukan keahlian dan di luar wewenangnya. Allah Ta’ala berfirman, وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً “Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak punya ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36) Inilah di antara fenomena yang melanda masyarakat masa kini. Ketika ‘semua orang’ berbicara tanpa mengenal adab dan etika. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata-kata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa keimanan akan menjaga seorang muslim dari keburukan lisannya. Di antara keburukan lisan itu adalah berbicara dalam urusan agama tanpa ilmu dan tanpa adab. Allah Ta’ala berfirman, وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ “.. Dan kalian berbicara dengan mengatasnamakan Allah apa-apa yang kalian tidak ketahui ilmunya.” (QS. Al-A’raf: 33) Di dalam Al-Qur’an, Allah juga mengaitkan perintah takwa dengan perintah untuk berucap dengan ucapan yang lurus. Bahkan, ketika memerintahkan Musa dan Harun untuk berdakwah kepada Fir’aun, maka Allah juga menyuruh mereka berdua untuk berbicara dengan ucapan yang lembut kepadanya. Baca juga: Tantangan Dakwah Kampus Jagalah lisanmu! Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, beliau berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tahukah kalian apa yang paling banyak menjerumuskan orang ke dalam neraka?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau mengatakan, “Yaitu, dua buah lubang: kemaluan dan mulut. Dan apakah yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga? Ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang mulia.” (HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Takhrij At-Targhib. Lihat Shahih Al-Adab Al-Mufrad, hal. 123) Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang diam, maka dia akan selamat.” (HR. Ahmad no. 6481. Sanadnya disahihkan Syekh Abdullah bin Yusuf Al-Judai’ dalam Ar-Risalah Al-Mughniyah fi As-Sukut wa Luzum Al-Buyut, hal. 21-22; Bab Najatul Insan bi Ash-Shamti wa Hifzhi Al-Lisan) Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu, beliau berkata, “Wahai Rasulullah! Apakah kami akan dihukum akibat segala yang kami ucapkan?” Beliau pun menjawab, “Ibumu telah kehilangan engkau wahai Mu’adz bin Jabal! Bukankah yang menjerumuskan umat manusia tersungkur ke dalam Jahannam di atas hidungnya tidak lain adalah karena buah kejahatan lisan mereka?!” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 20: 127-128; disahihkan sanadnya oleh Syekh Abdullah bin Yusuf Al-Judai’ dalam Ar-Risalah Al-Mughniyah, hal. 27) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menjaga apa yang ada di antara kedua jenggotnya dan apa yang ada di antara kedua kakinya, maka dia akan masuk surga.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 22) Di dalam Al-Adzkar, Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah, semestinya bagi setiap mukallaf (orang yang telah terkena beban syariat) untuk menjaga lisannya dari segala ucapan, kecuali ucapan-ucapan yang tampak jelas kemaslahatannya. Apabila ternyata setara antara kemaslahatan berbicara atau tidak berbicara, maka yang dianjurkan adalah menahan diri darinya. Sebab bisa jadi ucapan-ucapan yang pada dasarnya mubah menyeret kepada ucapan yang haram atau makruh. Bahkan, hal semacam ini banyak terjadi dan lebih dominan dalam kebiasaan (sebagian orang). Padahal, keselamatan diri (dari bahaya lisan) adalah sebuah perkara yang tidak bisa dinilai dengan sesuatu apapun.” (Lihat Al-Fitnah wa Atsaruha Al-Mudammirah, hal. 302) Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Tidaklah memahami agamanya, orang yang tidak pandai menjaga lisannya.” (Lihat Aina Nahnu min Ha’ula’i, 2: 84) Thawus rahimahullah berkata, “Lisanku adalah binatang buas. Apabila aku melepaskannya dengan bebas, niscaya ia akan memakan diriku.” (Lihat Aina Nahnu min Ha’ula’i, 2: 90) Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata, “Demi Allah yang tiada sesembahan yang benar selain-Nya. Tidak ada di muka bumi ini sesuatu yang lebih butuh dipenjara dalam waktu yang lama selain daripada lisan.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 26) Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma berkata, “Sesuatu yang paling layak untuk terus dibersihkan oleh seorang hamba adalah lisannya.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 27) Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berpesan, “Jauhilah oleh kalian kebiasaan terlalu banyak berbicara.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 28) Dari Ibnu Abi Zakaria rahimahullah, beliau mengatakan, “Aku belajar untuk diam setahun lamanya.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 39) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Cukuplah dianggap berdosa jika seseorang senantiasa menceritakan segala sesuatu yang didengarnya.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 45) Baca juga: Metode Dakwah untuk Orang Awam *** Penulis: Ari Wahyudi, S,Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: berperan dalam dakwah


Daftar Isi Toggle Dakwah adalah suatu amalan yang sangat utamaJagalah lisanmu! Bismillah. Dakwah adalah suatu amalan yang sangat utama Tidak diragukan bahwa dakwah merupakan suatu amalan yang sangat utama. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ “Dan siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang menyeru menuju Allah dan dia beramal saleh, dan dia pun berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk dari kaum muslimin.’” (QS. Fushshilat: 33) Para ulama menjelaskan bahwa dakwah itu membutuhkan ilmu. Karena berdakwah tanpa ilmu berarti beramal dengan kebodohan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/hujjah yang nyata.’” (QS. Yusuf: 108) Pada masa ini, dengan berkembangnya teknologi informasi dan media sosial, hal itu telah membuka pintu bagi siapa pun untuk menyebarkan ucapan dan ajakan. Tidak terkecuali dalam urusan dakwah. Sayangnya, banyak orang tidak menyadari kapasitas dirinya. Akhirnya, mereka berbicara sesuatu yang bukan keahlian dan di luar wewenangnya. Allah Ta’ala berfirman, وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً “Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak punya ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36) Inilah di antara fenomena yang melanda masyarakat masa kini. Ketika ‘semua orang’ berbicara tanpa mengenal adab dan etika. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata-kata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa keimanan akan menjaga seorang muslim dari keburukan lisannya. Di antara keburukan lisan itu adalah berbicara dalam urusan agama tanpa ilmu dan tanpa adab. Allah Ta’ala berfirman, وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ “.. Dan kalian berbicara dengan mengatasnamakan Allah apa-apa yang kalian tidak ketahui ilmunya.” (QS. Al-A’raf: 33) Di dalam Al-Qur’an, Allah juga mengaitkan perintah takwa dengan perintah untuk berucap dengan ucapan yang lurus. Bahkan, ketika memerintahkan Musa dan Harun untuk berdakwah kepada Fir’aun, maka Allah juga menyuruh mereka berdua untuk berbicara dengan ucapan yang lembut kepadanya. Baca juga: Tantangan Dakwah Kampus Jagalah lisanmu! Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, beliau berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tahukah kalian apa yang paling banyak menjerumuskan orang ke dalam neraka?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau mengatakan, “Yaitu, dua buah lubang: kemaluan dan mulut. Dan apakah yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga? Ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang mulia.” (HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Takhrij At-Targhib. Lihat Shahih Al-Adab Al-Mufrad, hal. 123) Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang diam, maka dia akan selamat.” (HR. Ahmad no. 6481. Sanadnya disahihkan Syekh Abdullah bin Yusuf Al-Judai’ dalam Ar-Risalah Al-Mughniyah fi As-Sukut wa Luzum Al-Buyut, hal. 21-22; Bab Najatul Insan bi Ash-Shamti wa Hifzhi Al-Lisan) Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu, beliau berkata, “Wahai Rasulullah! Apakah kami akan dihukum akibat segala yang kami ucapkan?” Beliau pun menjawab, “Ibumu telah kehilangan engkau wahai Mu’adz bin Jabal! Bukankah yang menjerumuskan umat manusia tersungkur ke dalam Jahannam di atas hidungnya tidak lain adalah karena buah kejahatan lisan mereka?!” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 20: 127-128; disahihkan sanadnya oleh Syekh Abdullah bin Yusuf Al-Judai’ dalam Ar-Risalah Al-Mughniyah, hal. 27) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menjaga apa yang ada di antara kedua jenggotnya dan apa yang ada di antara kedua kakinya, maka dia akan masuk surga.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 22) Di dalam Al-Adzkar, Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah, semestinya bagi setiap mukallaf (orang yang telah terkena beban syariat) untuk menjaga lisannya dari segala ucapan, kecuali ucapan-ucapan yang tampak jelas kemaslahatannya. Apabila ternyata setara antara kemaslahatan berbicara atau tidak berbicara, maka yang dianjurkan adalah menahan diri darinya. Sebab bisa jadi ucapan-ucapan yang pada dasarnya mubah menyeret kepada ucapan yang haram atau makruh. Bahkan, hal semacam ini banyak terjadi dan lebih dominan dalam kebiasaan (sebagian orang). Padahal, keselamatan diri (dari bahaya lisan) adalah sebuah perkara yang tidak bisa dinilai dengan sesuatu apapun.” (Lihat Al-Fitnah wa Atsaruha Al-Mudammirah, hal. 302) Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Tidaklah memahami agamanya, orang yang tidak pandai menjaga lisannya.” (Lihat Aina Nahnu min Ha’ula’i, 2: 84) Thawus rahimahullah berkata, “Lisanku adalah binatang buas. Apabila aku melepaskannya dengan bebas, niscaya ia akan memakan diriku.” (Lihat Aina Nahnu min Ha’ula’i, 2: 90) Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata, “Demi Allah yang tiada sesembahan yang benar selain-Nya. Tidak ada di muka bumi ini sesuatu yang lebih butuh dipenjara dalam waktu yang lama selain daripada lisan.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 26) Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma berkata, “Sesuatu yang paling layak untuk terus dibersihkan oleh seorang hamba adalah lisannya.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 27) Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berpesan, “Jauhilah oleh kalian kebiasaan terlalu banyak berbicara.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 28) Dari Ibnu Abi Zakaria rahimahullah, beliau mengatakan, “Aku belajar untuk diam setahun lamanya.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 39) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Cukuplah dianggap berdosa jika seseorang senantiasa menceritakan segala sesuatu yang didengarnya.” (Lihat Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 45) Baca juga: Metode Dakwah untuk Orang Awam *** Penulis: Ari Wahyudi, S,Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: berperan dalam dakwah

Muhasabah: Apakah Kita Pantas Disebut Aktivis Dakwah?

Kita hanyalah makhluk yang teramat dan acapkali khilaf serta salah. Oleh karena itu, dengan segala kekurangan yang ada, seharusnya tidak menjadikan kita besar kepala seraya membusungkan dada atas setiap ikhtiar perjuangan dakwah kita. Dengan segala kekurangan kita pula, tidak menjadikan kita memiliki seribu alasan untuk tidak memberikan segala yang terbaik bagi perjuangan dakwah ini. Hanya kepada Tuhan yang Maha Esalah segala perkara dikembalikan. Hal inilah yang semestinya menjadi sebuah kesadaran yang perlu ditanamkan bagi segenap aktivis dakwah. Kesadaran ini menuai pertanyaan, “Apa pantas kita disebut sebagai aktivis dakwah?” Maka, kita pikirkan kembali dengan berhenti sejenak untuk muhasabah dan memikirkan apa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam diri. Hal ini dilakukan agar kita kembali meluruskan tujuan dan niat kita untuk menguatkan gerak langkah yang benar sebagai aktivis dakwah yang terarah atas capaiannya. Kesadaran ini sangat penting bagi aktivis dakwah atas kehadirannya di ruang lingkup kehidupan, baik lingkungan akademik, lingkungan kerja, maupun lingkungan masyarakat. Hal ini dilakukan agar jangan sampai aktivis dakwah setelah melewati masa dinamika di dalam aktivitas kehidupan kesehariannya, tidak memperoleh kebermanfaatan dari dakwah itu sendiri. Oleh karena itu, penting bagi seorang aktivis dakwah sunah pada khususnya, yang berikhtiar mengamalkan sunah-sunah Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam untuk merenungi kembali urgensi, “Apa pantas disebut sebagai aktivis dakwah?” Sudah menjadi fitrah manusia bahwa niat dalam diri pasti mudah berubah-ubah. Maka, sudah menjadi kewajiban bagi setiap aktivis kebaikan “muhasabah diri” dan senantiasa meluruskan niat dalam mengisi aktivitas diri, baik dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan kerja. Dinamika dan regenerasi dalam masyarakat, apalagi di dalam negara Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Dinamisnya suasana dalam pergantian struktural adalah keharusan. Dalam kondisi kritis ini, bisa menjadi sebuah peluang untuk bagaimana kita ambil menjadi salah satu langkah dan motif kebaikan dakwah sunah bagi setiap aktivis penggiat dakwah. Sehingga, keistikamahan dan kolaborasi dakwah sunah semakin masif dan menjadi satu hal penting yang perlu dicari dan diterapkan dalam kehidupan keseharian. Apabila setiap aktivis dakwah sebagian ataupun keseluruhan menanamkan hati yang istikamah, maka aktivitas dakwah ini pada satu kondisi akan menemui satu kondisi saling menguatkan dan mengingatkan untuk saling mengisi kekosongan dalam setiap ruang hampa problematika dakwah dan ibadah dalam masyarakat, untuk saling bekerja sama dan berkolaborasi dalam kebaikan dan perjuangan agar dakwah sunah semakin nyaman dan mudah diikuti oleh masyarakat awam pada umumnya. Maka, yang harus dicari, dikejar, dan diperbaiki dengan sabar dan sadar oleh setiap aktivis dakwah sunah bahwa dirinya berada di dalam langkah gerak aktivitas dakwah masyarakat yang majemuk yang perlu mengenalkan dakwah sunah dengan perilaku akhlaqul karimah dan mampu memberi contoh dengan sikap yang santun. Sebab, bagi aktivis dakwah tidak cukup apabila hanya mengandalkan ilmu agama dan pengetahuan saja. Karena aktivis  dakwah sunah itu adalah simbol akhlak dalam bermuamalah di lingkungan sekitar, yang menjadi wasilah (perantara) dalam tegaknya tauhid di kalangan masyarakat umum dengan berbagai ujian dan langkah yang tidak selalu mulus. Seperti dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla, اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً ۗيَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ ”Allahlah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha mengetahui, Mahakuasa.” (QS. Ar-Rum: 54) Hal wajib lainnya yang mesti dilakukan oleh aktivis dakwah dalam lingkungan masyarakat ialah dengan menjadikan kehidupan bermasyarakat sebagai sebuah wadah untuk tempat berlatih menjadi orang yang peka terhadap lingkungan sekitar dan peka terhadap permasalahan yang ada di kehidupan kita baik dalam lingkup keluarga, bertetangga, dan sebagai warga negara, untuk mampu menumbuhkan kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Sudah semestinya aktivis dakwah sunah menjadikan teladan dan wasilah dalam lingkungan masyarakat dan lingkungan kerjanya sebagai pintu gerbang untuk menanamkan prinsip-prinsip pribadi yang memiliki pengetahuan agama yang syar’i, sesuai sunah dan Qur’an. Oleh karena itu, output-nya adalah wise dalam bersikap dan outcome–nya adalah kebijaksanaan dalam bermuamalah. Selain itu, hal mutlak yang mesti dilakukan oleh aktivis dakwah sunah ialah mengasah diri untuk memiliki budi pekerti yang tinggi. Budi pekerti yang tinggi akan terwujud dengan akhlaqul karimah yang baik dan benar sesuai tuntunan sunah, respect terhadap orang lain, sifat yang lembut, dan sikap tegas dalam bertindak. Dengan demikian, sudah seharusnya pola dan corak pemikiran yang terbangun dalam aktivis dakwah masyarakat ialah sebuah keseimbangan dan kebersamaan dalam memperoleh kesepemahaman yang menjadi wadah untuk menjawab apa yang dicari dan dibutuhkan bagi masyarakat sesuai tuntunan sunah. Semoga Allah ‘Azza Wajalla menjaga hidayah dan keistikamahan kita, mengaruniakan keberkahan dan keikhlasan dalam setiap amal yang kita perbuat. Dan jangan lupa untuk senantiasa berdoa dan meminta perlindungan pada Allah agar kita terhindar dari fitnah dan syubhat akhir zaman yang marak hadir di sekitar lingkungan, terutama maksiat yang diumbar dan dosa-dosa yang ditampakkan. Semoga kita dimudahkan dan dimampukan dalam menjaga niat diri, ikhlas menjadi insan yang semakin bertakwa dan mengimani setiap syariat dan sunah Nabi. Hasbunallahu wani’mal-wakil, ni’mal-maula wani’man-nashir. Allahu’alam bish-shawab. Baca juga: Merasa Punya Jasa dalam Dakwah *** Penulis: Kiki Dwi Setiabudi, S.Sos. Artikel: Muslim.or.id Tags: aktivis dakwah

Muhasabah: Apakah Kita Pantas Disebut Aktivis Dakwah?

Kita hanyalah makhluk yang teramat dan acapkali khilaf serta salah. Oleh karena itu, dengan segala kekurangan yang ada, seharusnya tidak menjadikan kita besar kepala seraya membusungkan dada atas setiap ikhtiar perjuangan dakwah kita. Dengan segala kekurangan kita pula, tidak menjadikan kita memiliki seribu alasan untuk tidak memberikan segala yang terbaik bagi perjuangan dakwah ini. Hanya kepada Tuhan yang Maha Esalah segala perkara dikembalikan. Hal inilah yang semestinya menjadi sebuah kesadaran yang perlu ditanamkan bagi segenap aktivis dakwah. Kesadaran ini menuai pertanyaan, “Apa pantas kita disebut sebagai aktivis dakwah?” Maka, kita pikirkan kembali dengan berhenti sejenak untuk muhasabah dan memikirkan apa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam diri. Hal ini dilakukan agar kita kembali meluruskan tujuan dan niat kita untuk menguatkan gerak langkah yang benar sebagai aktivis dakwah yang terarah atas capaiannya. Kesadaran ini sangat penting bagi aktivis dakwah atas kehadirannya di ruang lingkup kehidupan, baik lingkungan akademik, lingkungan kerja, maupun lingkungan masyarakat. Hal ini dilakukan agar jangan sampai aktivis dakwah setelah melewati masa dinamika di dalam aktivitas kehidupan kesehariannya, tidak memperoleh kebermanfaatan dari dakwah itu sendiri. Oleh karena itu, penting bagi seorang aktivis dakwah sunah pada khususnya, yang berikhtiar mengamalkan sunah-sunah Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam untuk merenungi kembali urgensi, “Apa pantas disebut sebagai aktivis dakwah?” Sudah menjadi fitrah manusia bahwa niat dalam diri pasti mudah berubah-ubah. Maka, sudah menjadi kewajiban bagi setiap aktivis kebaikan “muhasabah diri” dan senantiasa meluruskan niat dalam mengisi aktivitas diri, baik dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan kerja. Dinamika dan regenerasi dalam masyarakat, apalagi di dalam negara Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Dinamisnya suasana dalam pergantian struktural adalah keharusan. Dalam kondisi kritis ini, bisa menjadi sebuah peluang untuk bagaimana kita ambil menjadi salah satu langkah dan motif kebaikan dakwah sunah bagi setiap aktivis penggiat dakwah. Sehingga, keistikamahan dan kolaborasi dakwah sunah semakin masif dan menjadi satu hal penting yang perlu dicari dan diterapkan dalam kehidupan keseharian. Apabila setiap aktivis dakwah sebagian ataupun keseluruhan menanamkan hati yang istikamah, maka aktivitas dakwah ini pada satu kondisi akan menemui satu kondisi saling menguatkan dan mengingatkan untuk saling mengisi kekosongan dalam setiap ruang hampa problematika dakwah dan ibadah dalam masyarakat, untuk saling bekerja sama dan berkolaborasi dalam kebaikan dan perjuangan agar dakwah sunah semakin nyaman dan mudah diikuti oleh masyarakat awam pada umumnya. Maka, yang harus dicari, dikejar, dan diperbaiki dengan sabar dan sadar oleh setiap aktivis dakwah sunah bahwa dirinya berada di dalam langkah gerak aktivitas dakwah masyarakat yang majemuk yang perlu mengenalkan dakwah sunah dengan perilaku akhlaqul karimah dan mampu memberi contoh dengan sikap yang santun. Sebab, bagi aktivis dakwah tidak cukup apabila hanya mengandalkan ilmu agama dan pengetahuan saja. Karena aktivis  dakwah sunah itu adalah simbol akhlak dalam bermuamalah di lingkungan sekitar, yang menjadi wasilah (perantara) dalam tegaknya tauhid di kalangan masyarakat umum dengan berbagai ujian dan langkah yang tidak selalu mulus. Seperti dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla, اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً ۗيَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ ”Allahlah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha mengetahui, Mahakuasa.” (QS. Ar-Rum: 54) Hal wajib lainnya yang mesti dilakukan oleh aktivis dakwah dalam lingkungan masyarakat ialah dengan menjadikan kehidupan bermasyarakat sebagai sebuah wadah untuk tempat berlatih menjadi orang yang peka terhadap lingkungan sekitar dan peka terhadap permasalahan yang ada di kehidupan kita baik dalam lingkup keluarga, bertetangga, dan sebagai warga negara, untuk mampu menumbuhkan kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Sudah semestinya aktivis dakwah sunah menjadikan teladan dan wasilah dalam lingkungan masyarakat dan lingkungan kerjanya sebagai pintu gerbang untuk menanamkan prinsip-prinsip pribadi yang memiliki pengetahuan agama yang syar’i, sesuai sunah dan Qur’an. Oleh karena itu, output-nya adalah wise dalam bersikap dan outcome–nya adalah kebijaksanaan dalam bermuamalah. Selain itu, hal mutlak yang mesti dilakukan oleh aktivis dakwah sunah ialah mengasah diri untuk memiliki budi pekerti yang tinggi. Budi pekerti yang tinggi akan terwujud dengan akhlaqul karimah yang baik dan benar sesuai tuntunan sunah, respect terhadap orang lain, sifat yang lembut, dan sikap tegas dalam bertindak. Dengan demikian, sudah seharusnya pola dan corak pemikiran yang terbangun dalam aktivis dakwah masyarakat ialah sebuah keseimbangan dan kebersamaan dalam memperoleh kesepemahaman yang menjadi wadah untuk menjawab apa yang dicari dan dibutuhkan bagi masyarakat sesuai tuntunan sunah. Semoga Allah ‘Azza Wajalla menjaga hidayah dan keistikamahan kita, mengaruniakan keberkahan dan keikhlasan dalam setiap amal yang kita perbuat. Dan jangan lupa untuk senantiasa berdoa dan meminta perlindungan pada Allah agar kita terhindar dari fitnah dan syubhat akhir zaman yang marak hadir di sekitar lingkungan, terutama maksiat yang diumbar dan dosa-dosa yang ditampakkan. Semoga kita dimudahkan dan dimampukan dalam menjaga niat diri, ikhlas menjadi insan yang semakin bertakwa dan mengimani setiap syariat dan sunah Nabi. Hasbunallahu wani’mal-wakil, ni’mal-maula wani’man-nashir. Allahu’alam bish-shawab. Baca juga: Merasa Punya Jasa dalam Dakwah *** Penulis: Kiki Dwi Setiabudi, S.Sos. Artikel: Muslim.or.id Tags: aktivis dakwah
Kita hanyalah makhluk yang teramat dan acapkali khilaf serta salah. Oleh karena itu, dengan segala kekurangan yang ada, seharusnya tidak menjadikan kita besar kepala seraya membusungkan dada atas setiap ikhtiar perjuangan dakwah kita. Dengan segala kekurangan kita pula, tidak menjadikan kita memiliki seribu alasan untuk tidak memberikan segala yang terbaik bagi perjuangan dakwah ini. Hanya kepada Tuhan yang Maha Esalah segala perkara dikembalikan. Hal inilah yang semestinya menjadi sebuah kesadaran yang perlu ditanamkan bagi segenap aktivis dakwah. Kesadaran ini menuai pertanyaan, “Apa pantas kita disebut sebagai aktivis dakwah?” Maka, kita pikirkan kembali dengan berhenti sejenak untuk muhasabah dan memikirkan apa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam diri. Hal ini dilakukan agar kita kembali meluruskan tujuan dan niat kita untuk menguatkan gerak langkah yang benar sebagai aktivis dakwah yang terarah atas capaiannya. Kesadaran ini sangat penting bagi aktivis dakwah atas kehadirannya di ruang lingkup kehidupan, baik lingkungan akademik, lingkungan kerja, maupun lingkungan masyarakat. Hal ini dilakukan agar jangan sampai aktivis dakwah setelah melewati masa dinamika di dalam aktivitas kehidupan kesehariannya, tidak memperoleh kebermanfaatan dari dakwah itu sendiri. Oleh karena itu, penting bagi seorang aktivis dakwah sunah pada khususnya, yang berikhtiar mengamalkan sunah-sunah Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam untuk merenungi kembali urgensi, “Apa pantas disebut sebagai aktivis dakwah?” Sudah menjadi fitrah manusia bahwa niat dalam diri pasti mudah berubah-ubah. Maka, sudah menjadi kewajiban bagi setiap aktivis kebaikan “muhasabah diri” dan senantiasa meluruskan niat dalam mengisi aktivitas diri, baik dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan kerja. Dinamika dan regenerasi dalam masyarakat, apalagi di dalam negara Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Dinamisnya suasana dalam pergantian struktural adalah keharusan. Dalam kondisi kritis ini, bisa menjadi sebuah peluang untuk bagaimana kita ambil menjadi salah satu langkah dan motif kebaikan dakwah sunah bagi setiap aktivis penggiat dakwah. Sehingga, keistikamahan dan kolaborasi dakwah sunah semakin masif dan menjadi satu hal penting yang perlu dicari dan diterapkan dalam kehidupan keseharian. Apabila setiap aktivis dakwah sebagian ataupun keseluruhan menanamkan hati yang istikamah, maka aktivitas dakwah ini pada satu kondisi akan menemui satu kondisi saling menguatkan dan mengingatkan untuk saling mengisi kekosongan dalam setiap ruang hampa problematika dakwah dan ibadah dalam masyarakat, untuk saling bekerja sama dan berkolaborasi dalam kebaikan dan perjuangan agar dakwah sunah semakin nyaman dan mudah diikuti oleh masyarakat awam pada umumnya. Maka, yang harus dicari, dikejar, dan diperbaiki dengan sabar dan sadar oleh setiap aktivis dakwah sunah bahwa dirinya berada di dalam langkah gerak aktivitas dakwah masyarakat yang majemuk yang perlu mengenalkan dakwah sunah dengan perilaku akhlaqul karimah dan mampu memberi contoh dengan sikap yang santun. Sebab, bagi aktivis dakwah tidak cukup apabila hanya mengandalkan ilmu agama dan pengetahuan saja. Karena aktivis  dakwah sunah itu adalah simbol akhlak dalam bermuamalah di lingkungan sekitar, yang menjadi wasilah (perantara) dalam tegaknya tauhid di kalangan masyarakat umum dengan berbagai ujian dan langkah yang tidak selalu mulus. Seperti dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla, اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً ۗيَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ ”Allahlah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha mengetahui, Mahakuasa.” (QS. Ar-Rum: 54) Hal wajib lainnya yang mesti dilakukan oleh aktivis dakwah dalam lingkungan masyarakat ialah dengan menjadikan kehidupan bermasyarakat sebagai sebuah wadah untuk tempat berlatih menjadi orang yang peka terhadap lingkungan sekitar dan peka terhadap permasalahan yang ada di kehidupan kita baik dalam lingkup keluarga, bertetangga, dan sebagai warga negara, untuk mampu menumbuhkan kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Sudah semestinya aktivis dakwah sunah menjadikan teladan dan wasilah dalam lingkungan masyarakat dan lingkungan kerjanya sebagai pintu gerbang untuk menanamkan prinsip-prinsip pribadi yang memiliki pengetahuan agama yang syar’i, sesuai sunah dan Qur’an. Oleh karena itu, output-nya adalah wise dalam bersikap dan outcome–nya adalah kebijaksanaan dalam bermuamalah. Selain itu, hal mutlak yang mesti dilakukan oleh aktivis dakwah sunah ialah mengasah diri untuk memiliki budi pekerti yang tinggi. Budi pekerti yang tinggi akan terwujud dengan akhlaqul karimah yang baik dan benar sesuai tuntunan sunah, respect terhadap orang lain, sifat yang lembut, dan sikap tegas dalam bertindak. Dengan demikian, sudah seharusnya pola dan corak pemikiran yang terbangun dalam aktivis dakwah masyarakat ialah sebuah keseimbangan dan kebersamaan dalam memperoleh kesepemahaman yang menjadi wadah untuk menjawab apa yang dicari dan dibutuhkan bagi masyarakat sesuai tuntunan sunah. Semoga Allah ‘Azza Wajalla menjaga hidayah dan keistikamahan kita, mengaruniakan keberkahan dan keikhlasan dalam setiap amal yang kita perbuat. Dan jangan lupa untuk senantiasa berdoa dan meminta perlindungan pada Allah agar kita terhindar dari fitnah dan syubhat akhir zaman yang marak hadir di sekitar lingkungan, terutama maksiat yang diumbar dan dosa-dosa yang ditampakkan. Semoga kita dimudahkan dan dimampukan dalam menjaga niat diri, ikhlas menjadi insan yang semakin bertakwa dan mengimani setiap syariat dan sunah Nabi. Hasbunallahu wani’mal-wakil, ni’mal-maula wani’man-nashir. Allahu’alam bish-shawab. Baca juga: Merasa Punya Jasa dalam Dakwah *** Penulis: Kiki Dwi Setiabudi, S.Sos. Artikel: Muslim.or.id Tags: aktivis dakwah


Kita hanyalah makhluk yang teramat dan acapkali khilaf serta salah. Oleh karena itu, dengan segala kekurangan yang ada, seharusnya tidak menjadikan kita besar kepala seraya membusungkan dada atas setiap ikhtiar perjuangan dakwah kita. Dengan segala kekurangan kita pula, tidak menjadikan kita memiliki seribu alasan untuk tidak memberikan segala yang terbaik bagi perjuangan dakwah ini. Hanya kepada Tuhan yang Maha Esalah segala perkara dikembalikan. Hal inilah yang semestinya menjadi sebuah kesadaran yang perlu ditanamkan bagi segenap aktivis dakwah. Kesadaran ini menuai pertanyaan, “Apa pantas kita disebut sebagai aktivis dakwah?” Maka, kita pikirkan kembali dengan berhenti sejenak untuk muhasabah dan memikirkan apa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam diri. Hal ini dilakukan agar kita kembali meluruskan tujuan dan niat kita untuk menguatkan gerak langkah yang benar sebagai aktivis dakwah yang terarah atas capaiannya. Kesadaran ini sangat penting bagi aktivis dakwah atas kehadirannya di ruang lingkup kehidupan, baik lingkungan akademik, lingkungan kerja, maupun lingkungan masyarakat. Hal ini dilakukan agar jangan sampai aktivis dakwah setelah melewati masa dinamika di dalam aktivitas kehidupan kesehariannya, tidak memperoleh kebermanfaatan dari dakwah itu sendiri. Oleh karena itu, penting bagi seorang aktivis dakwah sunah pada khususnya, yang berikhtiar mengamalkan sunah-sunah Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam untuk merenungi kembali urgensi, “Apa pantas disebut sebagai aktivis dakwah?” Sudah menjadi fitrah manusia bahwa niat dalam diri pasti mudah berubah-ubah. Maka, sudah menjadi kewajiban bagi setiap aktivis kebaikan “muhasabah diri” dan senantiasa meluruskan niat dalam mengisi aktivitas diri, baik dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan kerja. Dinamika dan regenerasi dalam masyarakat, apalagi di dalam negara Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Dinamisnya suasana dalam pergantian struktural adalah keharusan. Dalam kondisi kritis ini, bisa menjadi sebuah peluang untuk bagaimana kita ambil menjadi salah satu langkah dan motif kebaikan dakwah sunah bagi setiap aktivis penggiat dakwah. Sehingga, keistikamahan dan kolaborasi dakwah sunah semakin masif dan menjadi satu hal penting yang perlu dicari dan diterapkan dalam kehidupan keseharian. Apabila setiap aktivis dakwah sebagian ataupun keseluruhan menanamkan hati yang istikamah, maka aktivitas dakwah ini pada satu kondisi akan menemui satu kondisi saling menguatkan dan mengingatkan untuk saling mengisi kekosongan dalam setiap ruang hampa problematika dakwah dan ibadah dalam masyarakat, untuk saling bekerja sama dan berkolaborasi dalam kebaikan dan perjuangan agar dakwah sunah semakin nyaman dan mudah diikuti oleh masyarakat awam pada umumnya. Maka, yang harus dicari, dikejar, dan diperbaiki dengan sabar dan sadar oleh setiap aktivis dakwah sunah bahwa dirinya berada di dalam langkah gerak aktivitas dakwah masyarakat yang majemuk yang perlu mengenalkan dakwah sunah dengan perilaku akhlaqul karimah dan mampu memberi contoh dengan sikap yang santun. Sebab, bagi aktivis dakwah tidak cukup apabila hanya mengandalkan ilmu agama dan pengetahuan saja. Karena aktivis  dakwah sunah itu adalah simbol akhlak dalam bermuamalah di lingkungan sekitar, yang menjadi wasilah (perantara) dalam tegaknya tauhid di kalangan masyarakat umum dengan berbagai ujian dan langkah yang tidak selalu mulus. Seperti dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla, اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً ۗيَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ ”Allahlah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha mengetahui, Mahakuasa.” (QS. Ar-Rum: 54) Hal wajib lainnya yang mesti dilakukan oleh aktivis dakwah dalam lingkungan masyarakat ialah dengan menjadikan kehidupan bermasyarakat sebagai sebuah wadah untuk tempat berlatih menjadi orang yang peka terhadap lingkungan sekitar dan peka terhadap permasalahan yang ada di kehidupan kita baik dalam lingkup keluarga, bertetangga, dan sebagai warga negara, untuk mampu menumbuhkan kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Sudah semestinya aktivis dakwah sunah menjadikan teladan dan wasilah dalam lingkungan masyarakat dan lingkungan kerjanya sebagai pintu gerbang untuk menanamkan prinsip-prinsip pribadi yang memiliki pengetahuan agama yang syar’i, sesuai sunah dan Qur’an. Oleh karena itu, output-nya adalah wise dalam bersikap dan outcome–nya adalah kebijaksanaan dalam bermuamalah. Selain itu, hal mutlak yang mesti dilakukan oleh aktivis dakwah sunah ialah mengasah diri untuk memiliki budi pekerti yang tinggi. Budi pekerti yang tinggi akan terwujud dengan akhlaqul karimah yang baik dan benar sesuai tuntunan sunah, respect terhadap orang lain, sifat yang lembut, dan sikap tegas dalam bertindak. Dengan demikian, sudah seharusnya pola dan corak pemikiran yang terbangun dalam aktivis dakwah masyarakat ialah sebuah keseimbangan dan kebersamaan dalam memperoleh kesepemahaman yang menjadi wadah untuk menjawab apa yang dicari dan dibutuhkan bagi masyarakat sesuai tuntunan sunah. Semoga Allah ‘Azza Wajalla menjaga hidayah dan keistikamahan kita, mengaruniakan keberkahan dan keikhlasan dalam setiap amal yang kita perbuat. Dan jangan lupa untuk senantiasa berdoa dan meminta perlindungan pada Allah agar kita terhindar dari fitnah dan syubhat akhir zaman yang marak hadir di sekitar lingkungan, terutama maksiat yang diumbar dan dosa-dosa yang ditampakkan. Semoga kita dimudahkan dan dimampukan dalam menjaga niat diri, ikhlas menjadi insan yang semakin bertakwa dan mengimani setiap syariat dan sunah Nabi. Hasbunallahu wani’mal-wakil, ni’mal-maula wani’man-nashir. Allahu’alam bish-shawab. Baca juga: Merasa Punya Jasa dalam Dakwah *** Penulis: Kiki Dwi Setiabudi, S.Sos. Artikel: Muslim.or.id Tags: aktivis dakwah

Kapan Disebut Mendapati Shalat Berjamaah, Hukum Seputar Makmum Masbuk

Kapan seseorang disebut mendapati shalat berjamaah? Apakah mendapati rukuk ataukah sekadar mendapati shalatnya imam? Berikut pula diterangkan seputar hukum makmum masbuk.     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #422 3.1. Faedah hadits 3.2. Pengertian qadha‘ 3.3. Referensi: Hadits #422 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا سَمِعْتُم الإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلاَةِ، وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ وَالْوَقَارُ، وَلاَ تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا،وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda, “Apabila engkau telah mendengar iqamah, maka berjalanlah menuju shalat dengan tenang dan sabar, dan jangan terburu-buru. Apa yang engkau dapatkan (bersama imam), kerjakanlah, dan apa yang tertinggal darimu, sempurnakanlah.” (Muttafaqun ‘alaih. Lafaz hadits ini menurut riwayat Al-Bukhari). [HR. Bukhari, no. 636 dan Muslim, no. 602]   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan adab ketika menghadiri shalat berjamaah di masjid. Hendaklah orang yang shalat berjamaah menghadirinya dengan tenang dan sabar, tanpa tergesa-gesa. Apa yang didapati dari imam, hendaklah lakukan bersama imam. Apa yang luput dari imam, hendaklah menyempurnakannya. Menyempurnakan ini disebut dalam hadits dengan fa-atimmu, dalam riwayat lain disebut dengan faqdhuu, yang maknanya sama, yaitu menyempurnakan. Pengertian qadha‘ Asal makna qadha’ adalah menyempurnakan sebagaimana disebutkan dalam dua ayat berikut ini. فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.” (QS. Al-Baqarah: 200) فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10) Adapun makna qadha’ adalah mengerjakan sesuatu yang luput atau telah lewat, itu adalah istilah para fuqaha’. Lihat Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, 3:430. Baca juga: Seputar Qadha’ Shalat   Faedah mendatangi shalat dalam keadaan tenang adalah: (1) akan lebih mudah meraih thumakninah, tidak tergesa-gesa, dan mudah menggapai khusyuk dan tadabur, (2) orang yang berangkat ke masjid sudah berada dalam shalat, (3) banyak langkah ke masjid karena setiap langkah akan ditinggikan derajat. Jika telah iqamah, maka jangan tergesa-gesa menuju masjid. Hal ini berlaku juga untuk keadaan lainnya seperti sebelum dan sesudah iqamah. Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat berjamaah bagi makmum yang mendapati imam. Dikatakan sudah mendapatkan keutamaan shalat berjamaah dengan mendapatkan satu bagian di dalam shalat walaupun kurang dari satu rakaat. Tetap sah mengikuti imam di keadaan apa pun yang didapati oleh makmum. Karena dalam hadits disebutkan, “Apa saja yang kalian dapati dalam shalat, sempurnakanlah.” Jika makmum masbuk mendapati imam, maka itulah awal shalat bagi makmum masbuk. Apa yang ia tambahkan setelah imam salam adalah akhir rakaat baginya. Jika seseorang mendapati shalat Maghrib atau Isyak dua rakaat, maka shalat yang tersisa dibaca sirr (lirih). Karena yang ia qadha’ atau yang ia sempurnakan adalah akhir shalat baginya. Jika mendapati satu rakaat shalat jahriyyah, maka rakaat kedua setelah itu tetap jahr (suara keras, selama tidak mengganggu sekitar), sedangkan rakaat yang tersisa adalah dengan sirr (lirih). Jika mendapati satu rakaat lalu imam salam, sedangkan makmum melanjutkan rakaat kedua, maka tetap membaca surah Al-Fatihah dan surah lainnya setelah itu. Sedangkan dua rakaat terakhir, hanya membaca surah Al-Fatihah saja. Jika seseorang mendapati imam hanya satu rakaat dari shalat yang tiga atau empat rakaat (masuk pada rakaat ketiga atau keempat), maka tasyahud awal dikerjakaan pada rakaat kedua yang makmum lakukan. Makmum yang mendapati imam dalam shalat jenazah, maka itu awal shalat baginya, lalu yang ia sempurnakan adalah bagian akhir baginya.   Lihat bahasan: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 3:429-434 dan Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah, 2:49-50.   Baca juga:  16 Adab Pergi ke Masjid Tidak Perlu Terburu-Buru Menuju Masjid Sifat Shalat Nabi, Berangkat ke Masjid Amalan Ketika Datang Panggilan Shalat Berjamaah Pergi dan Pulang dari Masjid akan Mendapatkan Ganjaran   Referensi: Fauzan, A. B. S. A. Minhah Al-’Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, Juz III. Cet. III. Qahirah: Dar Ibn al-Jauzy, 2011. Zuhaily, M. M. A. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah, Juz II. Cet. I. Damaskus: Dar Al-Bayan, 2022.   – Diselesaikan pada Malam Kamis, 2 Jumadal Ula 1445 H, 15 November 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam cara merapatkan shaf hukum shalat berjamaah keutamaan shalat berjamaah makmum masbuk masbuk shaf shalat shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid

Kapan Disebut Mendapati Shalat Berjamaah, Hukum Seputar Makmum Masbuk

Kapan seseorang disebut mendapati shalat berjamaah? Apakah mendapati rukuk ataukah sekadar mendapati shalatnya imam? Berikut pula diterangkan seputar hukum makmum masbuk.     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #422 3.1. Faedah hadits 3.2. Pengertian qadha‘ 3.3. Referensi: Hadits #422 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا سَمِعْتُم الإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلاَةِ، وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ وَالْوَقَارُ، وَلاَ تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا،وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda, “Apabila engkau telah mendengar iqamah, maka berjalanlah menuju shalat dengan tenang dan sabar, dan jangan terburu-buru. Apa yang engkau dapatkan (bersama imam), kerjakanlah, dan apa yang tertinggal darimu, sempurnakanlah.” (Muttafaqun ‘alaih. Lafaz hadits ini menurut riwayat Al-Bukhari). [HR. Bukhari, no. 636 dan Muslim, no. 602]   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan adab ketika menghadiri shalat berjamaah di masjid. Hendaklah orang yang shalat berjamaah menghadirinya dengan tenang dan sabar, tanpa tergesa-gesa. Apa yang didapati dari imam, hendaklah lakukan bersama imam. Apa yang luput dari imam, hendaklah menyempurnakannya. Menyempurnakan ini disebut dalam hadits dengan fa-atimmu, dalam riwayat lain disebut dengan faqdhuu, yang maknanya sama, yaitu menyempurnakan. Pengertian qadha‘ Asal makna qadha’ adalah menyempurnakan sebagaimana disebutkan dalam dua ayat berikut ini. فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.” (QS. Al-Baqarah: 200) فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10) Adapun makna qadha’ adalah mengerjakan sesuatu yang luput atau telah lewat, itu adalah istilah para fuqaha’. Lihat Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, 3:430. Baca juga: Seputar Qadha’ Shalat   Faedah mendatangi shalat dalam keadaan tenang adalah: (1) akan lebih mudah meraih thumakninah, tidak tergesa-gesa, dan mudah menggapai khusyuk dan tadabur, (2) orang yang berangkat ke masjid sudah berada dalam shalat, (3) banyak langkah ke masjid karena setiap langkah akan ditinggikan derajat. Jika telah iqamah, maka jangan tergesa-gesa menuju masjid. Hal ini berlaku juga untuk keadaan lainnya seperti sebelum dan sesudah iqamah. Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat berjamaah bagi makmum yang mendapati imam. Dikatakan sudah mendapatkan keutamaan shalat berjamaah dengan mendapatkan satu bagian di dalam shalat walaupun kurang dari satu rakaat. Tetap sah mengikuti imam di keadaan apa pun yang didapati oleh makmum. Karena dalam hadits disebutkan, “Apa saja yang kalian dapati dalam shalat, sempurnakanlah.” Jika makmum masbuk mendapati imam, maka itulah awal shalat bagi makmum masbuk. Apa yang ia tambahkan setelah imam salam adalah akhir rakaat baginya. Jika seseorang mendapati shalat Maghrib atau Isyak dua rakaat, maka shalat yang tersisa dibaca sirr (lirih). Karena yang ia qadha’ atau yang ia sempurnakan adalah akhir shalat baginya. Jika mendapati satu rakaat shalat jahriyyah, maka rakaat kedua setelah itu tetap jahr (suara keras, selama tidak mengganggu sekitar), sedangkan rakaat yang tersisa adalah dengan sirr (lirih). Jika mendapati satu rakaat lalu imam salam, sedangkan makmum melanjutkan rakaat kedua, maka tetap membaca surah Al-Fatihah dan surah lainnya setelah itu. Sedangkan dua rakaat terakhir, hanya membaca surah Al-Fatihah saja. Jika seseorang mendapati imam hanya satu rakaat dari shalat yang tiga atau empat rakaat (masuk pada rakaat ketiga atau keempat), maka tasyahud awal dikerjakaan pada rakaat kedua yang makmum lakukan. Makmum yang mendapati imam dalam shalat jenazah, maka itu awal shalat baginya, lalu yang ia sempurnakan adalah bagian akhir baginya.   Lihat bahasan: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 3:429-434 dan Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah, 2:49-50.   Baca juga:  16 Adab Pergi ke Masjid Tidak Perlu Terburu-Buru Menuju Masjid Sifat Shalat Nabi, Berangkat ke Masjid Amalan Ketika Datang Panggilan Shalat Berjamaah Pergi dan Pulang dari Masjid akan Mendapatkan Ganjaran   Referensi: Fauzan, A. B. S. A. Minhah Al-’Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, Juz III. Cet. III. Qahirah: Dar Ibn al-Jauzy, 2011. Zuhaily, M. M. A. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah, Juz II. Cet. I. Damaskus: Dar Al-Bayan, 2022.   – Diselesaikan pada Malam Kamis, 2 Jumadal Ula 1445 H, 15 November 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam cara merapatkan shaf hukum shalat berjamaah keutamaan shalat berjamaah makmum masbuk masbuk shaf shalat shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid
Kapan seseorang disebut mendapati shalat berjamaah? Apakah mendapati rukuk ataukah sekadar mendapati shalatnya imam? Berikut pula diterangkan seputar hukum makmum masbuk.     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #422 3.1. Faedah hadits 3.2. Pengertian qadha‘ 3.3. Referensi: Hadits #422 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا سَمِعْتُم الإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلاَةِ، وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ وَالْوَقَارُ، وَلاَ تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا،وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda, “Apabila engkau telah mendengar iqamah, maka berjalanlah menuju shalat dengan tenang dan sabar, dan jangan terburu-buru. Apa yang engkau dapatkan (bersama imam), kerjakanlah, dan apa yang tertinggal darimu, sempurnakanlah.” (Muttafaqun ‘alaih. Lafaz hadits ini menurut riwayat Al-Bukhari). [HR. Bukhari, no. 636 dan Muslim, no. 602]   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan adab ketika menghadiri shalat berjamaah di masjid. Hendaklah orang yang shalat berjamaah menghadirinya dengan tenang dan sabar, tanpa tergesa-gesa. Apa yang didapati dari imam, hendaklah lakukan bersama imam. Apa yang luput dari imam, hendaklah menyempurnakannya. Menyempurnakan ini disebut dalam hadits dengan fa-atimmu, dalam riwayat lain disebut dengan faqdhuu, yang maknanya sama, yaitu menyempurnakan. Pengertian qadha‘ Asal makna qadha’ adalah menyempurnakan sebagaimana disebutkan dalam dua ayat berikut ini. فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.” (QS. Al-Baqarah: 200) فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10) Adapun makna qadha’ adalah mengerjakan sesuatu yang luput atau telah lewat, itu adalah istilah para fuqaha’. Lihat Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, 3:430. Baca juga: Seputar Qadha’ Shalat   Faedah mendatangi shalat dalam keadaan tenang adalah: (1) akan lebih mudah meraih thumakninah, tidak tergesa-gesa, dan mudah menggapai khusyuk dan tadabur, (2) orang yang berangkat ke masjid sudah berada dalam shalat, (3) banyak langkah ke masjid karena setiap langkah akan ditinggikan derajat. Jika telah iqamah, maka jangan tergesa-gesa menuju masjid. Hal ini berlaku juga untuk keadaan lainnya seperti sebelum dan sesudah iqamah. Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat berjamaah bagi makmum yang mendapati imam. Dikatakan sudah mendapatkan keutamaan shalat berjamaah dengan mendapatkan satu bagian di dalam shalat walaupun kurang dari satu rakaat. Tetap sah mengikuti imam di keadaan apa pun yang didapati oleh makmum. Karena dalam hadits disebutkan, “Apa saja yang kalian dapati dalam shalat, sempurnakanlah.” Jika makmum masbuk mendapati imam, maka itulah awal shalat bagi makmum masbuk. Apa yang ia tambahkan setelah imam salam adalah akhir rakaat baginya. Jika seseorang mendapati shalat Maghrib atau Isyak dua rakaat, maka shalat yang tersisa dibaca sirr (lirih). Karena yang ia qadha’ atau yang ia sempurnakan adalah akhir shalat baginya. Jika mendapati satu rakaat shalat jahriyyah, maka rakaat kedua setelah itu tetap jahr (suara keras, selama tidak mengganggu sekitar), sedangkan rakaat yang tersisa adalah dengan sirr (lirih). Jika mendapati satu rakaat lalu imam salam, sedangkan makmum melanjutkan rakaat kedua, maka tetap membaca surah Al-Fatihah dan surah lainnya setelah itu. Sedangkan dua rakaat terakhir, hanya membaca surah Al-Fatihah saja. Jika seseorang mendapati imam hanya satu rakaat dari shalat yang tiga atau empat rakaat (masuk pada rakaat ketiga atau keempat), maka tasyahud awal dikerjakaan pada rakaat kedua yang makmum lakukan. Makmum yang mendapati imam dalam shalat jenazah, maka itu awal shalat baginya, lalu yang ia sempurnakan adalah bagian akhir baginya.   Lihat bahasan: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 3:429-434 dan Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah, 2:49-50.   Baca juga:  16 Adab Pergi ke Masjid Tidak Perlu Terburu-Buru Menuju Masjid Sifat Shalat Nabi, Berangkat ke Masjid Amalan Ketika Datang Panggilan Shalat Berjamaah Pergi dan Pulang dari Masjid akan Mendapatkan Ganjaran   Referensi: Fauzan, A. B. S. A. Minhah Al-’Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, Juz III. Cet. III. Qahirah: Dar Ibn al-Jauzy, 2011. Zuhaily, M. M. A. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah, Juz II. Cet. I. Damaskus: Dar Al-Bayan, 2022.   – Diselesaikan pada Malam Kamis, 2 Jumadal Ula 1445 H, 15 November 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam cara merapatkan shaf hukum shalat berjamaah keutamaan shalat berjamaah makmum masbuk masbuk shaf shalat shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid


Kapan seseorang disebut mendapati shalat berjamaah? Apakah mendapati rukuk ataukah sekadar mendapati shalatnya imam? Berikut pula diterangkan seputar hukum makmum masbuk.     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #422 3.1. Faedah hadits 3.2. Pengertian qadha‘ 3.3. Referensi: Hadits #422 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا سَمِعْتُم الإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلاَةِ، وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ وَالْوَقَارُ، وَلاَ تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا،وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda, “Apabila engkau telah mendengar iqamah, maka berjalanlah menuju shalat dengan tenang dan sabar, dan jangan terburu-buru. Apa yang engkau dapatkan (bersama imam), kerjakanlah, dan apa yang tertinggal darimu, sempurnakanlah.” (Muttafaqun ‘alaih. Lafaz hadits ini menurut riwayat Al-Bukhari). [HR. Bukhari, no. 636 dan Muslim, no. 602]   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan adab ketika menghadiri shalat berjamaah di masjid. Hendaklah orang yang shalat berjamaah menghadirinya dengan tenang dan sabar, tanpa tergesa-gesa. Apa yang didapati dari imam, hendaklah lakukan bersama imam. Apa yang luput dari imam, hendaklah menyempurnakannya. Menyempurnakan ini disebut dalam hadits dengan fa-atimmu, dalam riwayat lain disebut dengan faqdhuu, yang maknanya sama, yaitu menyempurnakan. Pengertian qadha‘ Asal makna qadha’ adalah menyempurnakan sebagaimana disebutkan dalam dua ayat berikut ini. فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.” (QS. Al-Baqarah: 200) فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10) Adapun makna qadha’ adalah mengerjakan sesuatu yang luput atau telah lewat, itu adalah istilah para fuqaha’. Lihat Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, 3:430. Baca juga: Seputar Qadha’ Shalat   Faedah mendatangi shalat dalam keadaan tenang adalah: (1) akan lebih mudah meraih thumakninah, tidak tergesa-gesa, dan mudah menggapai khusyuk dan tadabur, (2) orang yang berangkat ke masjid sudah berada dalam shalat, (3) banyak langkah ke masjid karena setiap langkah akan ditinggikan derajat. Jika telah iqamah, maka jangan tergesa-gesa menuju masjid. Hal ini berlaku juga untuk keadaan lainnya seperti sebelum dan sesudah iqamah. Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat berjamaah bagi makmum yang mendapati imam. Dikatakan sudah mendapatkan keutamaan shalat berjamaah dengan mendapatkan satu bagian di dalam shalat walaupun kurang dari satu rakaat. Tetap sah mengikuti imam di keadaan apa pun yang didapati oleh makmum. Karena dalam hadits disebutkan, “Apa saja yang kalian dapati dalam shalat, sempurnakanlah.” Jika makmum masbuk mendapati imam, maka itulah awal shalat bagi makmum masbuk. Apa yang ia tambahkan setelah imam salam adalah akhir rakaat baginya. Jika seseorang mendapati shalat Maghrib atau Isyak dua rakaat, maka shalat yang tersisa dibaca sirr (lirih). Karena yang ia qadha’ atau yang ia sempurnakan adalah akhir shalat baginya. Jika mendapati satu rakaat shalat jahriyyah, maka rakaat kedua setelah itu tetap jahr (suara keras, selama tidak mengganggu sekitar), sedangkan rakaat yang tersisa adalah dengan sirr (lirih). Jika mendapati satu rakaat lalu imam salam, sedangkan makmum melanjutkan rakaat kedua, maka tetap membaca surah Al-Fatihah dan surah lainnya setelah itu. Sedangkan dua rakaat terakhir, hanya membaca surah Al-Fatihah saja. Jika seseorang mendapati imam hanya satu rakaat dari shalat yang tiga atau empat rakaat (masuk pada rakaat ketiga atau keempat), maka tasyahud awal dikerjakaan pada rakaat kedua yang makmum lakukan. Makmum yang mendapati imam dalam shalat jenazah, maka itu awal shalat baginya, lalu yang ia sempurnakan adalah bagian akhir baginya.   Lihat bahasan: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 3:429-434 dan Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah, 2:49-50.   Baca juga:  16 Adab Pergi ke Masjid Tidak Perlu Terburu-Buru Menuju Masjid Sifat Shalat Nabi, Berangkat ke Masjid Amalan Ketika Datang Panggilan Shalat Berjamaah Pergi dan Pulang dari Masjid akan Mendapatkan Ganjaran   Referensi: Fauzan, A. B. S. A. Minhah Al-’Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, Juz III. Cet. III. Qahirah: Dar Ibn al-Jauzy, 2011. Zuhaily, M. M. A. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah, Juz II. Cet. I. Damaskus: Dar Al-Bayan, 2022.   – Diselesaikan pada Malam Kamis, 2 Jumadal Ula 1445 H, 15 November 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam cara merapatkan shaf hukum shalat berjamaah keutamaan shalat berjamaah makmum masbuk masbuk shaf shalat shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid

Anda akan Tenang setelah Tahu Ini

Alangkah indahnya ucapan al-Fuḏhail bin ʿIyāḏh —Semoga Allah Merahmatinya— “Barang siapa mengenal manusia, maka dia bisa beristirahat.”Yakni beristirahat dari keresahan bergantung pada mereka, menyembah mereka, dan berlagak baik demi mereka. Ia akan beristirahat dari semua beban ini, karena mengetahui bahwa manusia tidak bisa mendatangkan manfaat atau mudarat (kerugian).Mereka memuji atau mencela, tetap saja mereka tidak akan mampu mempercepat atau menunda. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,”Ketahuilah bahwa seandainya umat manusia berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, maka mereka tidak akan mampu memberi manfaat, kecuali manfaat yang telah Allah Takdirkan untukmu. Pun seandainya mereka berkumpul untuk memberimu suatu mudarat (kerugian), maka mereka tidak akan mampu memberi mudarat (kerugian) kecuali mudarat (kerugian) yang telah Allah Takdirkan untukmu.Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi) ==== وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَ الْفُضَيلُ بْنُ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللهُ مَنْ عَرَفَ النَّاسَ اسْتَرَاحَ مَنْ عَرَفَ النَّاسَ اسْتَرَاحَ أَيْ اِسْتَرَاحَ مِنْ هَمِّ التَّعَلُّقِ بِهِمْ وَالتَّعَبُّدِ لَهُمْ وَالتَّزَيُّنِ مِنْ أَجْلِهِمْ اِسْتَرَاحَ مِنْ هَذَا العِبْئِ كُلِّهِ لِأَنَّهُ يَعْلَمُ أَنَّ النَّاسَ لَا يَنْفَعُونَ وَلَا يَضُرُّونَ مَدَحُوا أَوْ ذَمُّوا فَلَنْ يُقَدِّمُوا وَلَنْ يُأَخِّرُوا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنفَعُوكَ بِشَيءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلّا بِشَيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ لَكَ ولَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ – رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

Anda akan Tenang setelah Tahu Ini

Alangkah indahnya ucapan al-Fuḏhail bin ʿIyāḏh —Semoga Allah Merahmatinya— “Barang siapa mengenal manusia, maka dia bisa beristirahat.”Yakni beristirahat dari keresahan bergantung pada mereka, menyembah mereka, dan berlagak baik demi mereka. Ia akan beristirahat dari semua beban ini, karena mengetahui bahwa manusia tidak bisa mendatangkan manfaat atau mudarat (kerugian).Mereka memuji atau mencela, tetap saja mereka tidak akan mampu mempercepat atau menunda. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,”Ketahuilah bahwa seandainya umat manusia berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, maka mereka tidak akan mampu memberi manfaat, kecuali manfaat yang telah Allah Takdirkan untukmu. Pun seandainya mereka berkumpul untuk memberimu suatu mudarat (kerugian), maka mereka tidak akan mampu memberi mudarat (kerugian) kecuali mudarat (kerugian) yang telah Allah Takdirkan untukmu.Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi) ==== وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَ الْفُضَيلُ بْنُ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللهُ مَنْ عَرَفَ النَّاسَ اسْتَرَاحَ مَنْ عَرَفَ النَّاسَ اسْتَرَاحَ أَيْ اِسْتَرَاحَ مِنْ هَمِّ التَّعَلُّقِ بِهِمْ وَالتَّعَبُّدِ لَهُمْ وَالتَّزَيُّنِ مِنْ أَجْلِهِمْ اِسْتَرَاحَ مِنْ هَذَا العِبْئِ كُلِّهِ لِأَنَّهُ يَعْلَمُ أَنَّ النَّاسَ لَا يَنْفَعُونَ وَلَا يَضُرُّونَ مَدَحُوا أَوْ ذَمُّوا فَلَنْ يُقَدِّمُوا وَلَنْ يُأَخِّرُوا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنفَعُوكَ بِشَيءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلّا بِشَيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ لَكَ ولَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ – رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ
Alangkah indahnya ucapan al-Fuḏhail bin ʿIyāḏh —Semoga Allah Merahmatinya— “Barang siapa mengenal manusia, maka dia bisa beristirahat.”Yakni beristirahat dari keresahan bergantung pada mereka, menyembah mereka, dan berlagak baik demi mereka. Ia akan beristirahat dari semua beban ini, karena mengetahui bahwa manusia tidak bisa mendatangkan manfaat atau mudarat (kerugian).Mereka memuji atau mencela, tetap saja mereka tidak akan mampu mempercepat atau menunda. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,”Ketahuilah bahwa seandainya umat manusia berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, maka mereka tidak akan mampu memberi manfaat, kecuali manfaat yang telah Allah Takdirkan untukmu. Pun seandainya mereka berkumpul untuk memberimu suatu mudarat (kerugian), maka mereka tidak akan mampu memberi mudarat (kerugian) kecuali mudarat (kerugian) yang telah Allah Takdirkan untukmu.Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi) ==== وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَ الْفُضَيلُ بْنُ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللهُ مَنْ عَرَفَ النَّاسَ اسْتَرَاحَ مَنْ عَرَفَ النَّاسَ اسْتَرَاحَ أَيْ اِسْتَرَاحَ مِنْ هَمِّ التَّعَلُّقِ بِهِمْ وَالتَّعَبُّدِ لَهُمْ وَالتَّزَيُّنِ مِنْ أَجْلِهِمْ اِسْتَرَاحَ مِنْ هَذَا العِبْئِ كُلِّهِ لِأَنَّهُ يَعْلَمُ أَنَّ النَّاسَ لَا يَنْفَعُونَ وَلَا يَضُرُّونَ مَدَحُوا أَوْ ذَمُّوا فَلَنْ يُقَدِّمُوا وَلَنْ يُأَخِّرُوا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنفَعُوكَ بِشَيءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلّا بِشَيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ لَكَ ولَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ – رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ


Alangkah indahnya ucapan al-Fuḏhail bin ʿIyāḏh —Semoga Allah Merahmatinya— “Barang siapa mengenal manusia, maka dia bisa beristirahat.”Yakni beristirahat dari keresahan bergantung pada mereka, menyembah mereka, dan berlagak baik demi mereka. Ia akan beristirahat dari semua beban ini, karena mengetahui bahwa manusia tidak bisa mendatangkan manfaat atau mudarat (kerugian).Mereka memuji atau mencela, tetap saja mereka tidak akan mampu mempercepat atau menunda. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,”Ketahuilah bahwa seandainya umat manusia berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, maka mereka tidak akan mampu memberi manfaat, kecuali manfaat yang telah Allah Takdirkan untukmu. Pun seandainya mereka berkumpul untuk memberimu suatu mudarat (kerugian), maka mereka tidak akan mampu memberi mudarat (kerugian) kecuali mudarat (kerugian) yang telah Allah Takdirkan untukmu.Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi) ==== وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَ الْفُضَيلُ بْنُ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللهُ مَنْ عَرَفَ النَّاسَ اسْتَرَاحَ مَنْ عَرَفَ النَّاسَ اسْتَرَاحَ أَيْ اِسْتَرَاحَ مِنْ هَمِّ التَّعَلُّقِ بِهِمْ وَالتَّعَبُّدِ لَهُمْ وَالتَّزَيُّنِ مِنْ أَجْلِهِمْ اِسْتَرَاحَ مِنْ هَذَا العِبْئِ كُلِّهِ لِأَنَّهُ يَعْلَمُ أَنَّ النَّاسَ لَا يَنْفَعُونَ وَلَا يَضُرُّونَ مَدَحُوا أَوْ ذَمُّوا فَلَنْ يُقَدِّمُوا وَلَنْ يُأَخِّرُوا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنفَعُوكَ بِشَيءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلّا بِشَيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ لَكَ ولَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ – رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

Doa yang Sering Dibaca Nabi #DoaSapuJagat

Ini salah satu doa yang paling utama dan paling agung.Bahkan disebutkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim bahwa doa yang paling sering dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah doa ini: ROBBANAA AATINAA FID DUN YAA HASANAH Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia WA FIL AAKHIROTI HASANAH, WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR dan kebaikan di akhirat, serta lindungi kami dari azab neraka. Pernah dikatakan kepada Anas bin Malik, “Doakanlah kami!” Lalu Anas mengangkat kedua tangannya, berdoa: ROBBANAA AATINAA FID DUN YAA HASANAH WA FIL AAKHIROTI HASANAH, WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR Lalu dikatakan kepadanya, “Tambah lagi!” Beliau berkata, “Tidak perlu ada lagi zikir dan doa setelah doa ini.” Ini doa yang agung, kamu mengucapkan: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia.” Kamu tidak berkata, “Berikan kepadaku seluruh dunia…” tidak pula, “Berikan kepadaku kesempurnaan dunia…” Tidak pula, “Berikan kepadaku dunia sepenuhnya…” Namun kamu katakan: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia…” Kata (حَسَنَةً) (hasanah) di sini bentuknya nakirah dalam kalimat positif, yang menunjukkan makna mutlak, sehingga kebaikan untuk Zaid yang bermanfaat baginya di dunia berbeda dengan kebaikan untuk Amru yang bermanfaat baginya. ==== هَذَا الدُّعَاءُ مِنْ أَفْضَلِ الْأَدْعِيَةِ وَأَجَلُّ الْأَدْعِيَةِ حَتَّى قِيلَ حَتَّى جَاءَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا الدُّعَاءَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ قِيلَ لِأَنَسٍ ادْعُ لَنَا فَرَفَعَ أَنَسٌ يَدَيْهِ قَالَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ فَقِيلَ لَهُ زِدْنَا قَالَ لَيْسَ بَعْدَ هَذَا الذِّكْرِ وَهَذَا الدُّعَاءِ زِيَادَةٌ هَذَا الدُّعَاءُ عَظِيمٌ تَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً مَا قُلْتَ أَعْطِنِي كُلَّ الدُّنْيَا مَا قُلْتَ أَعْطِنِي كَمَالَهَا مَا قُلْتَ أَعْطِنِي تَمَامَهَا وَإِنَّمَا قُلْتَ رَبِّ أَعْطِنِي فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَهَذِه نَكِرَةٌ فِي سِيَاقِ إِثْبَاتٍ مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهَا مُطْلَقَةٌ فَالْحَسَنَةُ لِزَيْدٍ الَّتِي تَنْفَعُهُ فِي الدُّنْيَا تَخْتَلِفُ عَنِ الْحَسَنَةِ لِعَمْرٍو الَّتِي تَنْفَعُهُ

Doa yang Sering Dibaca Nabi #DoaSapuJagat

Ini salah satu doa yang paling utama dan paling agung.Bahkan disebutkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim bahwa doa yang paling sering dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah doa ini: ROBBANAA AATINAA FID DUN YAA HASANAH Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia WA FIL AAKHIROTI HASANAH, WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR dan kebaikan di akhirat, serta lindungi kami dari azab neraka. Pernah dikatakan kepada Anas bin Malik, “Doakanlah kami!” Lalu Anas mengangkat kedua tangannya, berdoa: ROBBANAA AATINAA FID DUN YAA HASANAH WA FIL AAKHIROTI HASANAH, WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR Lalu dikatakan kepadanya, “Tambah lagi!” Beliau berkata, “Tidak perlu ada lagi zikir dan doa setelah doa ini.” Ini doa yang agung, kamu mengucapkan: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia.” Kamu tidak berkata, “Berikan kepadaku seluruh dunia…” tidak pula, “Berikan kepadaku kesempurnaan dunia…” Tidak pula, “Berikan kepadaku dunia sepenuhnya…” Namun kamu katakan: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia…” Kata (حَسَنَةً) (hasanah) di sini bentuknya nakirah dalam kalimat positif, yang menunjukkan makna mutlak, sehingga kebaikan untuk Zaid yang bermanfaat baginya di dunia berbeda dengan kebaikan untuk Amru yang bermanfaat baginya. ==== هَذَا الدُّعَاءُ مِنْ أَفْضَلِ الْأَدْعِيَةِ وَأَجَلُّ الْأَدْعِيَةِ حَتَّى قِيلَ حَتَّى جَاءَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا الدُّعَاءَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ قِيلَ لِأَنَسٍ ادْعُ لَنَا فَرَفَعَ أَنَسٌ يَدَيْهِ قَالَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ فَقِيلَ لَهُ زِدْنَا قَالَ لَيْسَ بَعْدَ هَذَا الذِّكْرِ وَهَذَا الدُّعَاءِ زِيَادَةٌ هَذَا الدُّعَاءُ عَظِيمٌ تَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً مَا قُلْتَ أَعْطِنِي كُلَّ الدُّنْيَا مَا قُلْتَ أَعْطِنِي كَمَالَهَا مَا قُلْتَ أَعْطِنِي تَمَامَهَا وَإِنَّمَا قُلْتَ رَبِّ أَعْطِنِي فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَهَذِه نَكِرَةٌ فِي سِيَاقِ إِثْبَاتٍ مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهَا مُطْلَقَةٌ فَالْحَسَنَةُ لِزَيْدٍ الَّتِي تَنْفَعُهُ فِي الدُّنْيَا تَخْتَلِفُ عَنِ الْحَسَنَةِ لِعَمْرٍو الَّتِي تَنْفَعُهُ
Ini salah satu doa yang paling utama dan paling agung.Bahkan disebutkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim bahwa doa yang paling sering dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah doa ini: ROBBANAA AATINAA FID DUN YAA HASANAH Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia WA FIL AAKHIROTI HASANAH, WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR dan kebaikan di akhirat, serta lindungi kami dari azab neraka. Pernah dikatakan kepada Anas bin Malik, “Doakanlah kami!” Lalu Anas mengangkat kedua tangannya, berdoa: ROBBANAA AATINAA FID DUN YAA HASANAH WA FIL AAKHIROTI HASANAH, WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR Lalu dikatakan kepadanya, “Tambah lagi!” Beliau berkata, “Tidak perlu ada lagi zikir dan doa setelah doa ini.” Ini doa yang agung, kamu mengucapkan: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia.” Kamu tidak berkata, “Berikan kepadaku seluruh dunia…” tidak pula, “Berikan kepadaku kesempurnaan dunia…” Tidak pula, “Berikan kepadaku dunia sepenuhnya…” Namun kamu katakan: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia…” Kata (حَسَنَةً) (hasanah) di sini bentuknya nakirah dalam kalimat positif, yang menunjukkan makna mutlak, sehingga kebaikan untuk Zaid yang bermanfaat baginya di dunia berbeda dengan kebaikan untuk Amru yang bermanfaat baginya. ==== هَذَا الدُّعَاءُ مِنْ أَفْضَلِ الْأَدْعِيَةِ وَأَجَلُّ الْأَدْعِيَةِ حَتَّى قِيلَ حَتَّى جَاءَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا الدُّعَاءَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ قِيلَ لِأَنَسٍ ادْعُ لَنَا فَرَفَعَ أَنَسٌ يَدَيْهِ قَالَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ فَقِيلَ لَهُ زِدْنَا قَالَ لَيْسَ بَعْدَ هَذَا الذِّكْرِ وَهَذَا الدُّعَاءِ زِيَادَةٌ هَذَا الدُّعَاءُ عَظِيمٌ تَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً مَا قُلْتَ أَعْطِنِي كُلَّ الدُّنْيَا مَا قُلْتَ أَعْطِنِي كَمَالَهَا مَا قُلْتَ أَعْطِنِي تَمَامَهَا وَإِنَّمَا قُلْتَ رَبِّ أَعْطِنِي فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَهَذِه نَكِرَةٌ فِي سِيَاقِ إِثْبَاتٍ مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهَا مُطْلَقَةٌ فَالْحَسَنَةُ لِزَيْدٍ الَّتِي تَنْفَعُهُ فِي الدُّنْيَا تَخْتَلِفُ عَنِ الْحَسَنَةِ لِعَمْرٍو الَّتِي تَنْفَعُهُ


Ini salah satu doa yang paling utama dan paling agung.Bahkan disebutkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim bahwa doa yang paling sering dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah doa ini: ROBBANAA AATINAA FID DUN YAA HASANAH Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia WA FIL AAKHIROTI HASANAH, WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR dan kebaikan di akhirat, serta lindungi kami dari azab neraka. Pernah dikatakan kepada Anas bin Malik, “Doakanlah kami!” Lalu Anas mengangkat kedua tangannya, berdoa: ROBBANAA AATINAA FID DUN YAA HASANAH WA FIL AAKHIROTI HASANAH, WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR Lalu dikatakan kepadanya, “Tambah lagi!” Beliau berkata, “Tidak perlu ada lagi zikir dan doa setelah doa ini.” Ini doa yang agung, kamu mengucapkan: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia.” Kamu tidak berkata, “Berikan kepadaku seluruh dunia…” tidak pula, “Berikan kepadaku kesempurnaan dunia…” Tidak pula, “Berikan kepadaku dunia sepenuhnya…” Namun kamu katakan: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia…” Kata (حَسَنَةً) (hasanah) di sini bentuknya nakirah dalam kalimat positif, yang menunjukkan makna mutlak, sehingga kebaikan untuk Zaid yang bermanfaat baginya di dunia berbeda dengan kebaikan untuk Amru yang bermanfaat baginya. ==== هَذَا الدُّعَاءُ مِنْ أَفْضَلِ الْأَدْعِيَةِ وَأَجَلُّ الْأَدْعِيَةِ حَتَّى قِيلَ حَتَّى جَاءَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا الدُّعَاءَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ قِيلَ لِأَنَسٍ ادْعُ لَنَا فَرَفَعَ أَنَسٌ يَدَيْهِ قَالَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ فَقِيلَ لَهُ زِدْنَا قَالَ لَيْسَ بَعْدَ هَذَا الذِّكْرِ وَهَذَا الدُّعَاءِ زِيَادَةٌ هَذَا الدُّعَاءُ عَظِيمٌ تَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً مَا قُلْتَ أَعْطِنِي كُلَّ الدُّنْيَا مَا قُلْتَ أَعْطِنِي كَمَالَهَا مَا قُلْتَ أَعْطِنِي تَمَامَهَا وَإِنَّمَا قُلْتَ رَبِّ أَعْطِنِي فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَهَذِه نَكِرَةٌ فِي سِيَاقِ إِثْبَاتٍ مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهَا مُطْلَقَةٌ فَالْحَسَنَةُ لِزَيْدٍ الَّتِي تَنْفَعُهُ فِي الدُّنْيَا تَخْتَلِفُ عَنِ الْحَسَنَةِ لِعَمْرٍو الَّتِي تَنْفَعُهُ

Ghadul Bashar: Rasakan manisnya iman

Berusahalah sepenuhnya untuk menundukkan pandangan! Ini salah satu perkara terpenting. Menundukkan pandangan termasuk ibadah paling agung yang mendatangkan manisnya iman dalam hati. Telah kalian ketahui hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari riwayat al-Hakim dan Ahmad dengan sanad yang dapat diterima, bahwa Nabi bersabda, “Barang siapa yang menundukkan pandangannya sedangkan ia mampu mengumbarnya, karena mengharap pahala di sisi Allah, maka Allah memberikan manisnya iman dalam hatinya.” Tundukkan pandanganmu selalu! Karena itu termasuk ibadah yang paling agung, yang dicintai oleh Allah Jalla wa ‘Ala, dan setelah itu Allah akan memberikan balasan yang segera, yaitu ia akan mendapatkan manisnya iman dalam hatinya. ==== احْرِصْ حِرْصًا تَامًّا عَلَى غَضِّ الْبَصَرِ هَذَا مِنْ أَهَمِّ الْأُمُورِ وَغَضُّ الْبَصَرِ مِنْ أَعْظَمِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي تُوقِعُ فِي الْقَلْبِ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَتَعْرِفُوْنَ حَدِيْثَ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عِنْدَ الْحَاكِمِ وَأَحْمَدَ بِإِسْنَادٍ لَا بَأْسَ بِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ غَضَّ بَصَرَهُ وَهُوَ قَادِرٌ ابْتِغَاءَ مَا عِنْدَ اللهِ أَعْقَبَ اللهُ فِي قَلْبِهِ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ عَلَيْكَ دَائِمًا بِغَضِّ الْبَصَرِ فَإِنَّ هَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي يُحِبُّهَا اللهُ جَلَّ وَعَلَا وَيُعْقِبُ عَلَيْهَا إِثَابَةً عَاجِلَةً وَهُوَ أَنْ يَجِدَ فِي قَلْبِهِ لَذَّةَ الْإِيمَانِ

Ghadul Bashar: Rasakan manisnya iman

Berusahalah sepenuhnya untuk menundukkan pandangan! Ini salah satu perkara terpenting. Menundukkan pandangan termasuk ibadah paling agung yang mendatangkan manisnya iman dalam hati. Telah kalian ketahui hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari riwayat al-Hakim dan Ahmad dengan sanad yang dapat diterima, bahwa Nabi bersabda, “Barang siapa yang menundukkan pandangannya sedangkan ia mampu mengumbarnya, karena mengharap pahala di sisi Allah, maka Allah memberikan manisnya iman dalam hatinya.” Tundukkan pandanganmu selalu! Karena itu termasuk ibadah yang paling agung, yang dicintai oleh Allah Jalla wa ‘Ala, dan setelah itu Allah akan memberikan balasan yang segera, yaitu ia akan mendapatkan manisnya iman dalam hatinya. ==== احْرِصْ حِرْصًا تَامًّا عَلَى غَضِّ الْبَصَرِ هَذَا مِنْ أَهَمِّ الْأُمُورِ وَغَضُّ الْبَصَرِ مِنْ أَعْظَمِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي تُوقِعُ فِي الْقَلْبِ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَتَعْرِفُوْنَ حَدِيْثَ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عِنْدَ الْحَاكِمِ وَأَحْمَدَ بِإِسْنَادٍ لَا بَأْسَ بِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ غَضَّ بَصَرَهُ وَهُوَ قَادِرٌ ابْتِغَاءَ مَا عِنْدَ اللهِ أَعْقَبَ اللهُ فِي قَلْبِهِ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ عَلَيْكَ دَائِمًا بِغَضِّ الْبَصَرِ فَإِنَّ هَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي يُحِبُّهَا اللهُ جَلَّ وَعَلَا وَيُعْقِبُ عَلَيْهَا إِثَابَةً عَاجِلَةً وَهُوَ أَنْ يَجِدَ فِي قَلْبِهِ لَذَّةَ الْإِيمَانِ
Berusahalah sepenuhnya untuk menundukkan pandangan! Ini salah satu perkara terpenting. Menundukkan pandangan termasuk ibadah paling agung yang mendatangkan manisnya iman dalam hati. Telah kalian ketahui hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari riwayat al-Hakim dan Ahmad dengan sanad yang dapat diterima, bahwa Nabi bersabda, “Barang siapa yang menundukkan pandangannya sedangkan ia mampu mengumbarnya, karena mengharap pahala di sisi Allah, maka Allah memberikan manisnya iman dalam hatinya.” Tundukkan pandanganmu selalu! Karena itu termasuk ibadah yang paling agung, yang dicintai oleh Allah Jalla wa ‘Ala, dan setelah itu Allah akan memberikan balasan yang segera, yaitu ia akan mendapatkan manisnya iman dalam hatinya. ==== احْرِصْ حِرْصًا تَامًّا عَلَى غَضِّ الْبَصَرِ هَذَا مِنْ أَهَمِّ الْأُمُورِ وَغَضُّ الْبَصَرِ مِنْ أَعْظَمِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي تُوقِعُ فِي الْقَلْبِ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَتَعْرِفُوْنَ حَدِيْثَ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عِنْدَ الْحَاكِمِ وَأَحْمَدَ بِإِسْنَادٍ لَا بَأْسَ بِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ غَضَّ بَصَرَهُ وَهُوَ قَادِرٌ ابْتِغَاءَ مَا عِنْدَ اللهِ أَعْقَبَ اللهُ فِي قَلْبِهِ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ عَلَيْكَ دَائِمًا بِغَضِّ الْبَصَرِ فَإِنَّ هَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي يُحِبُّهَا اللهُ جَلَّ وَعَلَا وَيُعْقِبُ عَلَيْهَا إِثَابَةً عَاجِلَةً وَهُوَ أَنْ يَجِدَ فِي قَلْبِهِ لَذَّةَ الْإِيمَانِ


Berusahalah sepenuhnya untuk menundukkan pandangan! Ini salah satu perkara terpenting. Menundukkan pandangan termasuk ibadah paling agung yang mendatangkan manisnya iman dalam hati. Telah kalian ketahui hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari riwayat al-Hakim dan Ahmad dengan sanad yang dapat diterima, bahwa Nabi bersabda, “Barang siapa yang menundukkan pandangannya sedangkan ia mampu mengumbarnya, karena mengharap pahala di sisi Allah, maka Allah memberikan manisnya iman dalam hatinya.” Tundukkan pandanganmu selalu! Karena itu termasuk ibadah yang paling agung, yang dicintai oleh Allah Jalla wa ‘Ala, dan setelah itu Allah akan memberikan balasan yang segera, yaitu ia akan mendapatkan manisnya iman dalam hatinya. ==== احْرِصْ حِرْصًا تَامًّا عَلَى غَضِّ الْبَصَرِ هَذَا مِنْ أَهَمِّ الْأُمُورِ وَغَضُّ الْبَصَرِ مِنْ أَعْظَمِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي تُوقِعُ فِي الْقَلْبِ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَتَعْرِفُوْنَ حَدِيْثَ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عِنْدَ الْحَاكِمِ وَأَحْمَدَ بِإِسْنَادٍ لَا بَأْسَ بِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ غَضَّ بَصَرَهُ وَهُوَ قَادِرٌ ابْتِغَاءَ مَا عِنْدَ اللهِ أَعْقَبَ اللهُ فِي قَلْبِهِ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ عَلَيْكَ دَائِمًا بِغَضِّ الْبَصَرِ فَإِنَّ هَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي يُحِبُّهَا اللهُ جَلَّ وَعَلَا وَيُعْقِبُ عَلَيْهَا إِثَابَةً عَاجِلَةً وَهُوَ أَنْ يَجِدَ فِي قَلْبِهِ لَذَّةَ الْإِيمَانِ

Tanyakan pada Dirimu!

Tanyakan pada dirimu: “Jika aku meninggal dunia, apa jejak peninggalan yang aku tinggalkan?” “Apa peninggalan baik yang aku tinggalkan?” “Amalan apa yang pahalanya tetap mengalir kepadaku setelah aku mati?” Tanyakan kepada dirimu! Bersemangatlah untuk memiliki amalan-amalan baik dan peninggalan-peninggalan yang manfaatnya tetap mengalir kepadamu setelah kamu mati, agar pahala kebaikan tetap tercurah kepadamu saat kamu sudah di dalam kubur. ==== اطْرَحْ عَلَى نَفْسِكَ هَذَا السُّؤَالَ إِذَا مِتُّ فَمَا هِيَ الْآثَارُ الَّتِي خَلَّفْتُهَا؟ مَا هِيَ الْآثَارُ الْحَسَنَةُ الَّتِي خَلَّفْتُهَا؟ وَمَا هِيَ الْأَعْمَالُ الَّتِي يَجْرِي لِي ثَوَابُهَا بَعْدَ مَمَاتِي؟ اطْرَحْ عَلَى نَفْسِكَ هَذَا السُّؤَالَ احْرِصْ عَلَى أَنْ يَكُونَ لَكَ أَعْمَالٌ حَسَنَةٌ وَآثَارٌ يَجْرِي نَفْعُهَا لَكَ بَعْدَ مَمَاتِكَ حَتَّى تَدُرَّ عَلَيْكَ حَسَنَاتٌ وَأَنْتَ فِي قَبْرِكَ

Tanyakan pada Dirimu!

Tanyakan pada dirimu: “Jika aku meninggal dunia, apa jejak peninggalan yang aku tinggalkan?” “Apa peninggalan baik yang aku tinggalkan?” “Amalan apa yang pahalanya tetap mengalir kepadaku setelah aku mati?” Tanyakan kepada dirimu! Bersemangatlah untuk memiliki amalan-amalan baik dan peninggalan-peninggalan yang manfaatnya tetap mengalir kepadamu setelah kamu mati, agar pahala kebaikan tetap tercurah kepadamu saat kamu sudah di dalam kubur. ==== اطْرَحْ عَلَى نَفْسِكَ هَذَا السُّؤَالَ إِذَا مِتُّ فَمَا هِيَ الْآثَارُ الَّتِي خَلَّفْتُهَا؟ مَا هِيَ الْآثَارُ الْحَسَنَةُ الَّتِي خَلَّفْتُهَا؟ وَمَا هِيَ الْأَعْمَالُ الَّتِي يَجْرِي لِي ثَوَابُهَا بَعْدَ مَمَاتِي؟ اطْرَحْ عَلَى نَفْسِكَ هَذَا السُّؤَالَ احْرِصْ عَلَى أَنْ يَكُونَ لَكَ أَعْمَالٌ حَسَنَةٌ وَآثَارٌ يَجْرِي نَفْعُهَا لَكَ بَعْدَ مَمَاتِكَ حَتَّى تَدُرَّ عَلَيْكَ حَسَنَاتٌ وَأَنْتَ فِي قَبْرِكَ
Tanyakan pada dirimu: “Jika aku meninggal dunia, apa jejak peninggalan yang aku tinggalkan?” “Apa peninggalan baik yang aku tinggalkan?” “Amalan apa yang pahalanya tetap mengalir kepadaku setelah aku mati?” Tanyakan kepada dirimu! Bersemangatlah untuk memiliki amalan-amalan baik dan peninggalan-peninggalan yang manfaatnya tetap mengalir kepadamu setelah kamu mati, agar pahala kebaikan tetap tercurah kepadamu saat kamu sudah di dalam kubur. ==== اطْرَحْ عَلَى نَفْسِكَ هَذَا السُّؤَالَ إِذَا مِتُّ فَمَا هِيَ الْآثَارُ الَّتِي خَلَّفْتُهَا؟ مَا هِيَ الْآثَارُ الْحَسَنَةُ الَّتِي خَلَّفْتُهَا؟ وَمَا هِيَ الْأَعْمَالُ الَّتِي يَجْرِي لِي ثَوَابُهَا بَعْدَ مَمَاتِي؟ اطْرَحْ عَلَى نَفْسِكَ هَذَا السُّؤَالَ احْرِصْ عَلَى أَنْ يَكُونَ لَكَ أَعْمَالٌ حَسَنَةٌ وَآثَارٌ يَجْرِي نَفْعُهَا لَكَ بَعْدَ مَمَاتِكَ حَتَّى تَدُرَّ عَلَيْكَ حَسَنَاتٌ وَأَنْتَ فِي قَبْرِكَ


Tanyakan pada dirimu: “Jika aku meninggal dunia, apa jejak peninggalan yang aku tinggalkan?” “Apa peninggalan baik yang aku tinggalkan?” “Amalan apa yang pahalanya tetap mengalir kepadaku setelah aku mati?” Tanyakan kepada dirimu! Bersemangatlah untuk memiliki amalan-amalan baik dan peninggalan-peninggalan yang manfaatnya tetap mengalir kepadamu setelah kamu mati, agar pahala kebaikan tetap tercurah kepadamu saat kamu sudah di dalam kubur. ==== اطْرَحْ عَلَى نَفْسِكَ هَذَا السُّؤَالَ إِذَا مِتُّ فَمَا هِيَ الْآثَارُ الَّتِي خَلَّفْتُهَا؟ مَا هِيَ الْآثَارُ الْحَسَنَةُ الَّتِي خَلَّفْتُهَا؟ وَمَا هِيَ الْأَعْمَالُ الَّتِي يَجْرِي لِي ثَوَابُهَا بَعْدَ مَمَاتِي؟ اطْرَحْ عَلَى نَفْسِكَ هَذَا السُّؤَالَ احْرِصْ عَلَى أَنْ يَكُونَ لَكَ أَعْمَالٌ حَسَنَةٌ وَآثَارٌ يَجْرِي نَفْعُهَا لَكَ بَعْدَ مَمَاتِكَ حَتَّى تَدُرَّ عَلَيْكَ حَسَنَاتٌ وَأَنْتَ فِي قَبْرِكَ

Ayo Bantu Dakwah Yufid dengan Belanja Produk Yufid Store (Diskon s.d. 40%)

Sobat Yufid, Anda tahu YufidStore.com ya? YufidStore.com adalah salah satu unit usaha tim Yufid. YufidStore.com awalnya diberi modal oleh seorang donatur dan pembimbing tim Yufid. YufidStore.com dibentuk untuk membiayai operasional dakwah di Yufid. Nah, sekarang YufidStore.com sedang cuci gudang. Ada banyak produk YufidStore.com yang diskon sampai dengan 40% Klik link ini untuk melihat apa saja produk-produknya: https://yufidstore.com/collections/cuci-gudang Tujuan cuci gudang ini adalah untuk menambah biaya operasional dakwah Yufid. SELURUH HASIL PENJUALAN YUFIDSTORE.COM UNTUK BIKIN VIDEO DAKWAH: YUFID TV, YUFID EDU, YUFID KIDS, DAN SELURUH OPERASIONAL DAKWAH TIM YUFID  *** Selain dari penjualan YufidStore.com, Yufid mendapatkan biaya operasional dakwah dari donasi Anda. Bagi Anda yang ingin donasi, silakan. Donasi ini sifatnya urunan, Anda dapat berpartisipasi sesuai dengan kemampuan Anda. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected]

Ayo Bantu Dakwah Yufid dengan Belanja Produk Yufid Store (Diskon s.d. 40%)

Sobat Yufid, Anda tahu YufidStore.com ya? YufidStore.com adalah salah satu unit usaha tim Yufid. YufidStore.com awalnya diberi modal oleh seorang donatur dan pembimbing tim Yufid. YufidStore.com dibentuk untuk membiayai operasional dakwah di Yufid. Nah, sekarang YufidStore.com sedang cuci gudang. Ada banyak produk YufidStore.com yang diskon sampai dengan 40% Klik link ini untuk melihat apa saja produk-produknya: https://yufidstore.com/collections/cuci-gudang Tujuan cuci gudang ini adalah untuk menambah biaya operasional dakwah Yufid. SELURUH HASIL PENJUALAN YUFIDSTORE.COM UNTUK BIKIN VIDEO DAKWAH: YUFID TV, YUFID EDU, YUFID KIDS, DAN SELURUH OPERASIONAL DAKWAH TIM YUFID  *** Selain dari penjualan YufidStore.com, Yufid mendapatkan biaya operasional dakwah dari donasi Anda. Bagi Anda yang ingin donasi, silakan. Donasi ini sifatnya urunan, Anda dapat berpartisipasi sesuai dengan kemampuan Anda. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected]
Sobat Yufid, Anda tahu YufidStore.com ya? YufidStore.com adalah salah satu unit usaha tim Yufid. YufidStore.com awalnya diberi modal oleh seorang donatur dan pembimbing tim Yufid. YufidStore.com dibentuk untuk membiayai operasional dakwah di Yufid. Nah, sekarang YufidStore.com sedang cuci gudang. Ada banyak produk YufidStore.com yang diskon sampai dengan 40% Klik link ini untuk melihat apa saja produk-produknya: https://yufidstore.com/collections/cuci-gudang Tujuan cuci gudang ini adalah untuk menambah biaya operasional dakwah Yufid. SELURUH HASIL PENJUALAN YUFIDSTORE.COM UNTUK BIKIN VIDEO DAKWAH: YUFID TV, YUFID EDU, YUFID KIDS, DAN SELURUH OPERASIONAL DAKWAH TIM YUFID  *** Selain dari penjualan YufidStore.com, Yufid mendapatkan biaya operasional dakwah dari donasi Anda. Bagi Anda yang ingin donasi, silakan. Donasi ini sifatnya urunan, Anda dapat berpartisipasi sesuai dengan kemampuan Anda. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected]


Sobat Yufid, Anda tahu YufidStore.com ya? YufidStore.com adalah salah satu unit usaha tim Yufid. YufidStore.com awalnya diberi modal oleh seorang donatur dan pembimbing tim Yufid. YufidStore.com dibentuk untuk membiayai operasional dakwah di Yufid. Nah, sekarang YufidStore.com sedang cuci gudang. Ada banyak produk YufidStore.com yang diskon sampai dengan 40% Klik link ini untuk melihat apa saja produk-produknya: https://yufidstore.com/collections/cuci-gudang Tujuan cuci gudang ini adalah untuk menambah biaya operasional dakwah Yufid. SELURUH HASIL PENJUALAN YUFIDSTORE.COM UNTUK BIKIN VIDEO DAKWAH: YUFID TV, YUFID EDU, YUFID KIDS, DAN SELURUH OPERASIONAL DAKWAH TIM YUFID  *** Selain dari penjualan YufidStore.com, Yufid mendapatkan biaya operasional dakwah dari donasi Anda. Bagi Anda yang ingin donasi, silakan. Donasi ini sifatnya urunan, Anda dapat berpartisipasi sesuai dengan kemampuan Anda. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected]

Jika Kau M4t1 Apa Angan-Anganmu?

Ada seorang ulama salaf yang ingin menasihati pelaku maksiat, lalu beliau membawanya ke kuburan. Ulama itu berkata, “Lihatlah! Seandainya kamu berada di posisi mereka, apa yang kamu inginkan?” Pelaku maksiat itu menjawab, “Aku ingin dikembalikan oleh Allah ke dunia agar aku dapat beramal tidak seperti perbuatan maksiatku sekarang.” Ulama itu berkata, “Kamu itu sekarang di posisi yang mereka inginkan, maka beramallah! Sebelum semuanya berubah menjadi sekedar angan-angan.” ==== أَحَدُ السَّلَفِ أَرَادَ أَنْ يَعِظَ أَحَدَ الْعُصَاةِ وَأَخَذَهُ إِلَى الْقُبُورِ وَقَالَ اُنْظُرْ لَوْ كُنْتَ مَكَانَ هَؤُلاَءِ مَاذَا تَتَمَنَّى؟ قَالَ أَتَمَنَّى أَنْ يُعِيْدَنِي اللهُ إِلَى الدُّنْيَا لِأَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِي أَنَا أَعْمَلُهُ الْآنَ قَالَ أَنْتَ الْآن فِيْمَا تَتَمَنَّاهُ اعْمَلْ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ الْأَمْرَ مُجَرَّدُ مَاذَا؟ أُمْنِيَةٍ

Jika Kau M4t1 Apa Angan-Anganmu?

Ada seorang ulama salaf yang ingin menasihati pelaku maksiat, lalu beliau membawanya ke kuburan. Ulama itu berkata, “Lihatlah! Seandainya kamu berada di posisi mereka, apa yang kamu inginkan?” Pelaku maksiat itu menjawab, “Aku ingin dikembalikan oleh Allah ke dunia agar aku dapat beramal tidak seperti perbuatan maksiatku sekarang.” Ulama itu berkata, “Kamu itu sekarang di posisi yang mereka inginkan, maka beramallah! Sebelum semuanya berubah menjadi sekedar angan-angan.” ==== أَحَدُ السَّلَفِ أَرَادَ أَنْ يَعِظَ أَحَدَ الْعُصَاةِ وَأَخَذَهُ إِلَى الْقُبُورِ وَقَالَ اُنْظُرْ لَوْ كُنْتَ مَكَانَ هَؤُلاَءِ مَاذَا تَتَمَنَّى؟ قَالَ أَتَمَنَّى أَنْ يُعِيْدَنِي اللهُ إِلَى الدُّنْيَا لِأَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِي أَنَا أَعْمَلُهُ الْآنَ قَالَ أَنْتَ الْآن فِيْمَا تَتَمَنَّاهُ اعْمَلْ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ الْأَمْرَ مُجَرَّدُ مَاذَا؟ أُمْنِيَةٍ
Ada seorang ulama salaf yang ingin menasihati pelaku maksiat, lalu beliau membawanya ke kuburan. Ulama itu berkata, “Lihatlah! Seandainya kamu berada di posisi mereka, apa yang kamu inginkan?” Pelaku maksiat itu menjawab, “Aku ingin dikembalikan oleh Allah ke dunia agar aku dapat beramal tidak seperti perbuatan maksiatku sekarang.” Ulama itu berkata, “Kamu itu sekarang di posisi yang mereka inginkan, maka beramallah! Sebelum semuanya berubah menjadi sekedar angan-angan.” ==== أَحَدُ السَّلَفِ أَرَادَ أَنْ يَعِظَ أَحَدَ الْعُصَاةِ وَأَخَذَهُ إِلَى الْقُبُورِ وَقَالَ اُنْظُرْ لَوْ كُنْتَ مَكَانَ هَؤُلاَءِ مَاذَا تَتَمَنَّى؟ قَالَ أَتَمَنَّى أَنْ يُعِيْدَنِي اللهُ إِلَى الدُّنْيَا لِأَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِي أَنَا أَعْمَلُهُ الْآنَ قَالَ أَنْتَ الْآن فِيْمَا تَتَمَنَّاهُ اعْمَلْ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ الْأَمْرَ مُجَرَّدُ مَاذَا؟ أُمْنِيَةٍ


Ada seorang ulama salaf yang ingin menasihati pelaku maksiat, lalu beliau membawanya ke kuburan. Ulama itu berkata, “Lihatlah! Seandainya kamu berada di posisi mereka, apa yang kamu inginkan?” Pelaku maksiat itu menjawab, “Aku ingin dikembalikan oleh Allah ke dunia agar aku dapat beramal tidak seperti perbuatan maksiatku sekarang.” Ulama itu berkata, “Kamu itu sekarang di posisi yang mereka inginkan, maka beramallah! Sebelum semuanya berubah menjadi sekedar angan-angan.” ==== أَحَدُ السَّلَفِ أَرَادَ أَنْ يَعِظَ أَحَدَ الْعُصَاةِ وَأَخَذَهُ إِلَى الْقُبُورِ وَقَالَ اُنْظُرْ لَوْ كُنْتَ مَكَانَ هَؤُلاَءِ مَاذَا تَتَمَنَّى؟ قَالَ أَتَمَنَّى أَنْ يُعِيْدَنِي اللهُ إِلَى الدُّنْيَا لِأَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِي أَنَا أَعْمَلُهُ الْآنَ قَالَ أَنْتَ الْآن فِيْمَا تَتَمَنَّاهُ اعْمَلْ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ الْأَمْرَ مُجَرَّدُ مَاذَا؟ أُمْنِيَةٍ
Prev     Next