Ahlus Shuffah adalah para sahabat fakir dari kalangan Muhajirin yang tinggal di serambi belakang Masjid Nabawi, hidup sederhana, namun mulia di sisi Allah. Al-Qur’an memuji mereka sebagai orang-orang yang menjaga kehormatan diri, tidak suka meminta-minta, dan layak menjadi sasaran infak kaum muslimin. Dari kisah mereka, kita belajar makna ukhuwah, keteguhan menuntut ilmu, serta adab memberi: memilih yang terbaik, bukan sisa yang buruk. Daftar Isi tutup 1. Makna Shuffah 2. Sanjungan pada Ahlus Shuffah dalam Al-Qur’an 3. Jumlah Ahlus Shuffah 4. Sejarah Awal Berdirinya Ṣhuffah 5. Di Manakah Letak Ahlus Shuffah di Masjid Nabawi? 6. Makanan Ahlus Shuffah 7. Pakaian Ahlus Shuffah 8. Tangisan Ahlus Shuffah Saat Turunnya Al-Qur’an 9. Perhatian Nabi ﷺ kepada Ahlus Shuffah 10. Perhatian Para Sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum kepada Ahlus Shuffah 11. Semangat Ahlus Shuffah dalam Menuntut Ilmu 12. Menjaga Kehormatan Diri Ahlus Shuffah dari Meminta-minta 13. Beberapa Nama Ahlus Shuffah 14. Kesimpulan 14.1. Pelajaran berharga di dalam kisah Ahlus Shuffah Makna ShuffahShuffah adalah sebuah tempat di bagian belakang Masjid Nabawi, yang diberi naungan, dan disiapkan sebagai tempat tinggal bagi para pendatang (orang-orang asing) yang tidak memiliki tempat tinggal dan tidak memiliki keluarga. (Lihat: Fath al-Bari karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani, jilid 6, hlm. 595).Ash-Shuffah—dengan shadd berharakat ḍammah dan fā’ bertasydid—adalah sebuah tempat berteduh yang berada di bagian belakang Masjid Nabi ﷺ. Tempat ini menjadi hunian bagi orang-orang miskin dan para pendatang (gharīb). Kepada tempat inilah dinisbatkan nama Ahlus Ṣuffah, menurut pendapat yang paling masyhur di kalangan para ulama.Adapun para sahabat dari kalangan Muhājirīn, mereka biasanya tinggal di rumah orang-orang yang telah mereka kenal di Madinah. Sementara itu, siapa saja yang tidak memiliki kenalan sebelumnya dari kalangan Anṣār, maka ia tinggal di Masjid Nabawi. Di antara mereka ada yang datang dengan tujuan mempelajari syariat dan mendalami agama, lalu kembali ke kaumnya untuk mengajarkan ilmu tersebut. Mereka inilah gambaran ideal dari firman Allah Ta‘ala:۞ وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)Diriwayatkan dari Ṭalḥah al-Baṣhri rahimahullah berkata: “Siapa saja yang datang ke Madinah dan ia memiliki seorang ‘arīf (penanggung jawab atau orang yang dikenalnya), maka ia tinggal bersama ‘arīf-nya. Adapun siapa yang tidak memiliki ‘arīf, maka ia tinggal di Shuffah. Aku termasuk orang yang tinggal di Shuffah. Aku tinggal bersama dua orang lainnya. Setiap hari, kami mendapatkan jatah satu mudd kurma dari Rasulullah ﷺ …” Sanjungan pada Ahlus Shuffah dalam Al-Qur’anAllah Ta’ala telah memuji mereka di dalam Kitab-Nya yang mulia. Allah Ta’ala berfirman:لِلْفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحْصِرُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِى ٱلْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ ٱلْجَاهِلُ أَغْنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَٰهُمْ لَا يَسْـَٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.” (QS. Al-Baqarah: 273)As-Sudi, Mujāhid, dan ulama lainnya berkata: yang dimaksud dengan orang-orang fakir dalam ayat ini adalah fakir miskin dari kalangan kaum Muhājirīn, baik dari Quraisy maupun selain mereka. Kaum fakir dari kalangan Muhājirīn disebutkan secara khusus karena pada masa itu tidak ada fakir miskin selain mereka, dan merekalah yang dikenal sebagai Ahlus Shuffah.Hal itu karena mereka datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan miskin. Mereka tidak memiliki keluarga dan tidak mempunyai harta. Maka dibangunlah untuk mereka sebuah ṣuffah di Masjid Rasulullah ﷺ. Sejak itulah mereka disebut dengan Ahlus Ṣuffah.Diriwayatkan dari Ibnu Ka‘b al-Quraẓī rahimahullah, ketika menafsirkan firman Allah Ta‘ālā pada ayat di atas, beliau berkata: “Mereka adalah para penghuni Shuffah. Mereka tidak memiliki rumah di Madinah dan tidak pula mempunyai keluarga atau kabilah. Maka Allah mendorong kaum muslimin untuk bersedekah kepada mereka.”Sebagian ulama juga menjadikan firman Allah berikut sebagai dalil tentang Ahlus Shuffah:لِلْفُقَرَآءِ ٱلْمُهَٰجِرِينَ ٱلَّذِينَ أُخْرِجُوا۟ مِن دِيَٰرِهِمْ وَأَمْوَٰلِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًا وَيَنصُرُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8)Ahlus Shuffah inilah yang dibantu oleh kaum Anshar sebagaimana yang disebutkan dalam lanjutan ayat,وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلْإِيمَٰنَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِى صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ أُوتُوا۟ وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9) Jumlah Ahlus ShuffahAhlus Shuffah adalah orang-orang fakir dari kalangan kaum Muhajirin. Jumlah mereka sekitar empat ratus orang. Hal itu karena mereka datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan miskin, tidak memiliki keluarga dan tidak pula harta. Maka dibangunlah untuk mereka sebuah shuffah di bagian belakang Masjid Rasulullah ﷺ, lalu mereka pun dikenal dengan sebutan Ahlus Shuffah. (Lihat: Tafsir al-Qurthubi, jilid 3, hlm. 340).Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:“Tidaklah seluruh Ahlus Shuffah berkumpul pada satu waktu. Di antara mereka ada yang kemudian menikah atau pindah ke tempat lain yang Allah mudahkan baginya. Lalu datang orang-orang yang lain silih berganti. Maka terkadang jumlah mereka sedikit, dan terkadang banyak. Kadang mereka berjumlah sepuluh orang atau kurang, kadang dua puluh atau tiga puluh orang atau lebih, kadang enam puluh atau tujuh puluh orang. Adapun jumlah keseluruhan orang yang pernah tinggal di shuffah—meskipun mereka datang dan pergi secara bergantian—maka disebutkan bahwa mereka sekitar empat ratus orang dari kalangan para sahabat. Bahkan ada pula yang mengatakan jumlah mereka lebih dari itu.” (Lihat: Majmu‘ al-Fatawa, jilid 11, hlm. 41).Ibnu Taimiyyah rahimahullah di halaman lainnya di Majmu’ Al-Fatawa (jilid 11, hlm. 81):“Adapun jumlah Ahlus Suffah, maka Abu ‘Abdurrahman as-Sulami telah menghimpun sejarah mereka. Jumlah mereka sekitar enam ratus atau tujuh ratus orang, atau mendekati itu. Namun mereka tidak pernah berkumpul pada satu waktu yang sama. Di sisi utara masjid terdapat sebuah suffah (serambi) yang menjadi tempat bernaungnya kaum fakir dari kalangan Muhajirin. Siapa saja di antara mereka yang telah menikah, atau bepergian, atau keluar untuk berjihad, maka ia pun meninggalkan suffah tersebut. Pada satu waktu tertentu, jumlah orang yang tinggal di sana bisa mencapai tujuh puluh orang, atau kurang dari itu, atau lebih.” Sejarah Awal Berdirinya ṢhuffahSetelah kaum muslimin berhijrah dari Makkah ke Madinah, muncul persoalan besar terkait kehidupan para muhajirin. Mereka meninggalkan rumah, harta, dan seluruh perbekalan di Makkah demi menyelamatkan agama mereka dari kezaliman kaum musyrikin. Tidak sedikit dari kaum muhajirin yang ketika tiba di Madinah belum mampu langsung bekerja dan mencukupi kebutuhan hidupnya.Hal ini disebabkan karena perekonomian Madinah pada waktu itu didominasi oleh sektor pertanian, sementara mayoritas penduduk Makkah terbiasa dengan dunia perdagangan. Para muhajirin tidak memiliki pengalaman bercocok tanam, tidak mempunyai lahan pertanian di Madinah, dan juga tidak membawa modal, karena seluruh harta mereka telah ditinggalkan di Makkah. Meskipun kaum Anshar telah mengerahkan kemampuan mereka untuk membantu para muhajirin, tetap saja ada sebagian muhajirin yang masih membutuhkan tempat tinggal.Arus kedatangan kaum muhajirin ke Madinah pun terus berlanjut, terutama pada masa sebelum Perang Khandaq. Banyak di antara mereka yang menetap di Madinah. Selain itu, berbagai rombongan tamu dan utusan juga sering berdatangan ke Madinah. Sebagian dari mereka tidak memiliki hubungan atau kenalan dengan penduduk setempat, sehingga para pendatang asing ini membutuhkan tempat tinggal, baik untuk menetap maupun selama masa kunjungan mereka.Dalam kondisi seperti inilah, Nabi ﷺ memikirkan solusi untuk menyediakan tempat tinggal bagi kaum fakir yang menetap maupun para pendatang yang singgah. Kesempatan itu datang ketika arah kiblat dipindahkan dari Baitul Maqdis menuju Ka‘bah, yaitu setelah enam belas bulan sejak hijrah Nabi ﷺ ke Madinah. Dinding bekas arah kiblat yang lama pun berada di bagian belakang Masjid Nabawi.Maka Nabi ﷺ memerintahkan agar bagian tersebut dimanfaatkan. Tempat itu kemudian diberi naungan atau atap, lalu dinamakan Shuffah atau Zhullah. Shuffah ini tidak memiliki dinding penutup di sisi-sisinya, sehingga bersifat terbuka. Tempat inilah yang kemudian menjadi hunian bagi kaum fakir dari kalangan muhajirin dan para pendatang yang membutuhkan tempat tinggal. (Lihat: As-Sirah an-Nabawiyyah ash-Shahihah, jilid 1, hlm. 257). Di Manakah Letak Ahlus Shuffah di Masjid Nabawi?Para sejarawan generasi awal sepakat dalam menentukan letak Shuffah, tetapi para sejarawan belakangan dan peneliti kontemporer berbeda pendapat dalam hal tersebut. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa Dakkatul Aghawāt—yang terletak di sebelah kanan orang yang masuk melalui Pintu Jibril—dibangun di lokasi Ṣuffah. Sementara yang lain berpendapat sebaliknya.Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Ketika kiblat dipindahkan dari Baitul Maqdis ke Ka‘bah yang mulia, Nabi ﷺ memerintahkan agar dibuat sebuah atap di dinding sebelah utara. Tempat inilah yang kemudian dikenal dengan nama Shuffah.” Ini adalah tempat Ahlus Shuffah Al-Ḥāfiẓh adz-Dzahabī (wafat 748 H) menjelaskan bahwa kiblat sebelum dipindahkan berada di arah utara masjid. Ketika kiblat dipindahkan, maka dinding bekas kiblat pertama itulah yang kemudian menjadi tempat Ahlus Shuffah.Ibnu Ḥajar al-‘Asqalānī (wafat 852 H) juga berkata: “Shuffah adalah sebuah tempat di bagian belakang Masjid Nabawi yang diberi naungan, yang dipersiapkan sebagai tempat tinggal bagi para pendatang dan orang-orang asing yang tidak memiliki tempat tinggal dan tidak mempunyai keluarga.”Keterangan-keterangan ini menunjukkan bahwa tempat yang dikenal dengan nama Shuffah pada masa Nabi ﷺ terletak di sisi utara masjid. Dengan kata lain, letaknya berada di sebelah barat Dakkatul Aghawāt yang ada sekarang. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa Shuffah dibuat setelah pemindahan kiblat, dan diketahui bahwa pemindahan kiblat terjadi pada tahun kedua hijriah. Pada saat itu Nabi ﷺ memerintahkan agar dibuat atap pada dinding utara, yang kemudian menjadi bagian belakang masjid.Ini berarti bahwa Shuffah berada pada dinding utara Masjid Nabawi sebelum perluasan pertama masjid. Diketahui pula bahwa Nabi ﷺ memperluas Masjid Nabawi pada tahun ketujuh hijriah. Dengan demikian, posisi dinding utara tersebut sejajar dengan tempat shalat menghadap Baitul Maqdis, yaitu tiang kelima di sisi utara dari tiang ‘Āisyah radhiyallāhu ‘anhā.Pada peta yang disebutkan di atas, ditunjukkan secara jelas posisi dinding utara Masjid Nabawi sebelum perluasan yang dilakukan Nabi ﷺ, dan di sanalah tampak lokasi tempat dibuatnya Shuffah.Adapun dakkah yang ada sekarang, yang terletak di sebelah kanan orang yang masuk melalui Pintu Jibril dan di sebelah kiri orang yang masuk melalui Pintu An-Nisā’, yang dikenal dengan sebutan “Dakkatul Aghawāt”, maka bukanlah lokasi Shuffah yang disebutkan dalam hadis-hadis Nabi ﷺ. Sebab, tempat tersebut pada masa Nabi ﷺ berada di luar masjid, tepatnya di sisi timur Masjid Nabawi. Pada waktu itu belum ada dinding masjid di lokasi tersebut yang dijadikan tempat pembuatan Shuffah. Dakkah Al-Aghawaat, ini bukan tempat Ahlus ShuffahMakanan Ahlus Shuffah(1) Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Al-Barā’ bin ‘Āzib radhiyallāhu ‘anhu tentang firman Allah Ta’ala:وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ“Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya.” (QS. Al-Baqarah: 267)Al-Barā’ berkata: “Ayat ini turun berkaitan dengan kami, kaum Anshar. Kami adalah pemilik kebun kurma. Seseorang dari kami datang membawa hasil kebunnya sesuai dengan banyak atau sedikitnya hasil yang ia miliki. Ada yang datang membawa satu tandan kurma, ada pula yang membawa dua tandan, lalu menggantungkannya di masjid. Sementara itu, Ahlus Shuffah tidak memiliki makanan. Maka bila salah seorang dari mereka lapar, ia mendatangi tandan kurma tersebut, memukulnya dengan tongkat, lalu berjatuhanlah kurma muda (busr) dan kurma masak, kemudian ia memakannya.” (Hadits ini shahih; dinyatakan shahih oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2987).(2) Talhah bin ‘Amr berkata:“Apabila seseorang datang kepada Nabi ﷺ, dan ia memiliki kenalan atau penanggung (di Madinah), maka ia akan tinggal bersamanya. Namun jika ia tidak memiliki penanggung, maka ia tinggal bersama Ahlus Shuffah. Aku termasuk orang yang tinggal di Shuffah. Aku pernah tinggal bersama seorang laki-laki. Kami biasa mendapatkan jatah dari Rasulullah ﷺ setiap hari berupa satu mud kurma untuk dua orang.” (Diriwayatkan dalam Hilyat al-Awliya’ karya Abu Nu‘aim al-Ashbahani, jilid 1, hlm. 339). Pakaian Ahlus ShuffahDiriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: “Sungguh aku pernah melihat tujuh puluh orang dari kalangan Ahlus Shuffah. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengenakan ridā’. Pakaian mereka hanyalah izār atau kisā’ yang diikatkan di leher-leher mereka. Di antara pakaian itu ada yang panjangnya hanya sampai pertengahan betis, dan ada pula yang sampai ke kedua mata kaki. Maka salah seorang dari mereka menggenggam pakaiannya dengan tangannya, karena khawatir auratnya terlihat.” (HR. Shahih al-Bukhari, no. 442).Keterangan istilah:Ridā’ (رداء): pakaian yang hanya menutupi bagian atas tubuh.Izār (إزار): pakaian yang menutupi bagian bawah tubuh, dari pusar hingga ke betis atau mata kaki.Kisā’ (كساء): sehelai kain yang digunakan dengan cara dililitkan pada tubuh.“Maka ia mengumpulkannya”: maksudnya, seseorang menggenggam kain kisā’ atau izār tersebut dengan tangannya agar kedua ujungnya tidak terlepas atau terbuka.“Karena khawatir auratnya terlihat”: yakni agar auratnya tidak tampak oleh orang lain, baik ketika dilihat oleh orang lain maupun saat ia sedang melaksanakan shalat. (Lihat penjelasan dalam Mirqat al-Mafatih karya Ali al-Harawi, jilid 8, hlm. 3281). Tangisan Ahlus Shuffah Saat Turunnya Al-Qur’anDiriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Ketika turun firman Allah Ta‘ālā:﴿ أَفَمِنْ هَذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ ﴾“Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?” (QS. An-Najm: 59–60), para sahabat Ahlus Shuffah pun menangis hingga air mata mereka mengalir di pipi-pipi mereka. Ketika Rasulullah ﷺ mendengar isak tangis mereka, beliau pun menangis bersama mereka. Maka kami pun ikut menangis karena tangisan beliau. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda:لَا يَلِجُ النَّارَ مَنْ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ، وَلَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مُصِرٌّ عَلَى مَعْصِيَةٍ، وَلَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَجَاءَ اللَّهُ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ.‘Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah. Dan tidak akan masuk surga orang yang terus-menerus melakukan maksiat. Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu Dia mengampuni mereka.’” (Diriwayatkan dalam Syu‘ab al-Iman karya Al-Baihaqi, jilid 2, hlm. 233, hadits no. 777). Perhatian Nabi ﷺ kepada Ahlus Shuffah(1) Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Mujahid bin Jabr, bahwa Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu pernah berkata:“Demi Allah yang tidak ada sesembahan selain Dia, sungguh aku pernah menempelkan perutku ke tanah karena lapar, dan sungguh aku pernah mengikatkan batu di perutku karena lapar. Pada suatu hari aku duduk di jalan yang biasa mereka lewati. Lalu Abu Bakr ash-Shiddiq lewat, aku bertanya kepadanya tentang satu ayat dari Kitab Allah—aku tidak bertanya kecuali agar beliau mengenyangkanku—namun beliau berlalu dan tidak melakukannya. Kemudian Umar bin al-Khattab lewat, aku pun bertanya kepadanya tentang satu ayat dari Kitab Allah—aku tidak bertanya kecuali agar beliau mengenyangkanku—namun beliau berlalu dan tidak melakukannya.Kemudian Abu al-Qāsim ﷺ lewat. Beliau tersenyum ketika melihatku, dan mengetahui apa yang ada di hatiku dan yang tampak di wajahku. Lalu beliau bersabda, ‘Wahai Abu Hir,’ aku menjawab, ‘Labbaik, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Ikutlah,’ lalu beliau berjalan dan aku mengikutinya. Beliau masuk ke rumah, lalu meminta izin dan aku pun diizinkan masuk.Di sana beliau mendapati semangkuk susu. Beliau bertanya, ‘Dari mana susu ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini dihadiahkan oleh fulan atau fulanah.’ Beliau bersabda, ‘Wahai Abu Hir.’ Aku menjawab, ‘Labbaik, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Pergilah ke Ahlus Shuffah dan panggillah mereka ke sini.’Ahlus Shuffah adalah tamu-tamu Islam. Mereka tidak memiliki keluarga, harta, dan tidak bergantung pada siapa pun. Apabila beliau mendapatkan sedekah, beliau mengirimkannya kepada mereka dan tidak mengambil sedikit pun darinya. Jika beliau mendapatkan hadiah, beliau mengirimkannya kepada mereka, mengambil sebagian, dan menyertakan mereka di dalamnya.Aku merasa berat dengan perintah itu dan berkata dalam hatiku, ‘Apa artinya susu ini untuk Ahlus Shuffah? Bukankah aku lebih berhak mendapatkan seteguk darinya agar aku kuat?’ Namun tidak ada jalan keluar dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Maka aku pun mendatangi mereka dan memanggil mereka. Mereka pun datang, meminta izin, lalu diizinkan masuk dan duduk di rumah itu.Beliau bersabda, ‘Wahai Abu Hir.’ Aku menjawab, ‘Labbaik, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Ambil dan berikan kepada mereka.’ Aku pun mengambil bejana itu dan memberikannya kepada seseorang; ia minum hingga puas lalu mengembalikannya kepadaku. Aku memberikannya kepada yang lain; ia minum hingga puas lalu mengembalikannya kepadaku. Demikian seterusnya hingga semua orang telah kenyang.Kemudian aku sampai kepada Nabi ﷺ, sementara semua orang telah puas. Beliau mengambil bejana itu dan meletakkannya di tangannya, memandangku sambil tersenyum, lalu bersabda, ‘Wahai Abu Hir.’ Aku menjawab, ‘Labbaik, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Tinggal aku dan engkau.’ Aku berkata, ‘Benar, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Duduklah dan minumlah.’ Aku pun duduk dan minum. Beliau bersabda lagi, ‘Minumlah.’ Aku minum. Beliau terus berkata, ‘Minumlah,’ hingga aku berkata, ‘Tidak, demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku sudah tidak menemukan jalan lagi.’Beliau bersabda, ‘Perlihatkan kepadaku,’ lalu aku memberikan bejana itu kepada beliau. Beliau memuji Allah, menyebut nama-Nya, dan meminum sisanya.” (HR. Shahih al-Bukhari, no. 6452).(2) Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim bin al-Hajjaj dari Abdurrahman bin Abi Bakr radhiyallāhu ‘anhumā, bahwa:“Para Ahlus Shuffah adalah orang-orang fakir. Nabi ﷺ pernah bersabda, ‘Barang siapa memiliki makanan untuk dua orang, hendaklah ia membawa orang ketiga. Dan barang siapa memiliki makanan untuk empat orang, hendaklah ia membawa orang kelima atau keenam,’ atau sebagaimana beliau bersabda. Abu Bakr membawa tiga orang, Nabi ﷺ membawa sepuluh orang, dan Abu Bakr membawa tiga orang.” (HR. Al-Bukhari no. 3581; Shahih Muslim no. 2057).(3) Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dari Ali bin Abi Talib radhiyallāhu ‘anhu, bahwa:“Ketika Rasulullah ﷺ menikahkan Ali dengan Fatimah az-Zahra, beliau membekali mereka dengan sebuah alas tidur, sebuah bantal dari kulit yang isinya serat, dua batu penggiling, sebuah kantong air, dan dua kendi. Pada suatu hari Ali berkata kepada Fatimah, ‘Demi Allah, aku telah mengangkut air hingga dadaku terasa sakit.’ Ia berkata, ‘Allah telah memberikan kepada ayahmu harta rampasan, maka pergilah dan mintalah seorang pembantu.’Fatimah pun berkata, ‘Demi Allah, aku telah menggiling hingga tanganku melepuh.’ Ia pun mendatangi Nabi ﷺ, lalu beliau bertanya, ‘Apa keperluanmu, wahai putriku?’ Ia menjawab, ‘Aku datang untuk memberi salam kepadamu,’ dan ia merasa malu untuk meminta, lalu kembali.Ali bertanya, ‘Apa yang engkau lakukan?’ Ia menjawab, ‘Aku malu untuk meminta.’ Maka kami berdua mendatangi beliau. Ali berkata, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah aku telah mengangkut air hingga dadaku terasa sakit.’ Dan Fatimah berkata, ‘Aku telah menggiling hingga tanganku melepuh. Allah telah memberimu harta rampasan dan kelapangan, maka berilah kami seorang pembantu.’Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Demi Allah, aku tidak akan memberikan kepada kalian berdua sementara aku membiarkan Ahlus Shuffah dalam keadaan perut mereka terlipat karena lapar. Aku tidak mendapatkan sesuatu untuk menafkahi mereka. Namun aku akan menjual harta rampasan itu dan membelanjakan hasilnya untuk mereka.’” (Hadits hasan; Musnad Ahmad, jilid 2, hlm. 202, no. 838).Baca juga: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Mengganti Permintaan Pembantu dengan Dzikir Sebelum Tidur(4) Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Watsilah bin al-Asqa’ radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Datanglah bulan Ramadan sementara kami berada di kalangan Ahlus Shuffah. Kami pun berpuasa. Ketika waktu berbuka tiba, biasanya setiap orang dari kami didatangi oleh seorang dari kalangan ahli baiat, lalu membawanya ke rumahnya dan memberinya makan malam. Namun pada suatu malam tidak seorang pun mendatangi kami, dan kami pun berpuasa hingga pagi. Malam berikutnya pun berlalu dan tidak seorang pun mendatangi kami.Maka kami mendatangi Rasulullah ﷺ dan menceritakan apa yang kami alami. Beliau pun mengutus seseorang kepada setiap istrinya dan bertanya apakah mereka memiliki sesuatu. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali mengirim jawaban dengan bersumpah bahwa di rumahnya tidak ada sesuatu pun yang dapat dimakan oleh makhluk bernyawa.Lalu Rasulullah ﷺ bersabda agar kami berkumpul. Beliau berdoa, ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu karunia dan rahmat-Mu. Sesungguhnya karunia dan rahmat itu berada di tangan-Mu, tidak ada seorang pun yang memilikinya selain Engkau.’Tidak lama kemudian, seseorang meminta izin masuk. Ternyata ia membawa seekor kambing panggang dan beberapa roti. Rasulullah ﷺ memerintahkan agar makanan itu diletakkan di hadapan kami. Kami pun makan hingga kenyang. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Kami telah memohon kepada Allah karunia dan rahmat-Nya. Ini adalah karunia-Nya, dan Dia telah menyimpan rahmat-Nya untuk kami di sisi-Nya.’” (Lihat: Dala’il an-Nubuwwah, jilid 6, hlm. 129). Perhatian Para Sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum kepada Ahlus ShuffahPara sahabat radhiyallāhu ‘anhum sangat memperhatikan urusan saudara-saudara mereka dari kalangan Ahlus Shuffah. Salah satu bentuk perhatian itu adalah upaya Muhammad bin Maslamah radhiyallāhu ‘anhu yang memikirkan cara untuk menata bantuan dan pelayanan kepada mereka secara berkesinambungan agar membuahkan hasil yang terbaik.Beliau mengemukakan gagasannya dalam hal ini kepada Nabi pembawa rahmat ﷺ, lalu Nabi ﷺ menyetujuinya. Berikut penjelasan rinci tentang hal tersebut:Para ahli sejarah meriwayatkan bahwa Muhammad bin Maslamah melihat adanya tamu-tamu yang singgah di Masjid bersama Rasulullah ﷺ. Lalu ia berkata,“Tidakkah sebaiknya para tamu ini kita sebarkan untuk tinggal di rumah-rumah kaum Anshar, dan kita tetapkan bagimu dari setiap kebun satu qanwan (tandan kurma), agar dapat diberikan kepada orang-orang dari berbagai kabilah yang datang kepadamu?”Rasulullah ﷺ menjawab, “Ya, itu baik.”Ketika Muhammad bin Maslamah kemudian mendapatkan harta, ia datang membawa sebuah tandan kurma, lalu meletakkannya di masjid di antara dua tiang. Setelah itu, orang-orang pun mulai melakukan hal yang sama.Mu‘ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu ditugasi untuk mengurusnya. Ia memasang seutas tali di antara dua tiang, lalu menggantungkan tandan-tandan kurma pada tali tersebut. Ia mengumpulkan sekitar dua puluh tandan atau lebih, lalu menggoyangkannya sehingga sebagian kurma berjatuhan. Para penghuni Shuffah pun memakannya hingga kenyang, lalu mereka pergi dan digantikan oleh kelompok lain. Perlakuan yang sama dilakukan untuk mereka. Jika malam tiba, hal yang sama kembali dilakukan untuk mereka.Dari al-Barā’ radhiyallāhu ‘anhu diriwayatkan, ia berkata:“Kami adalah para pemilik kebun kurma. Seseorang di antara kami datang membawa hasil kebunnya sesuai dengan banyak atau sedikitnya. Ada yang datang membawa satu tandan kurma lalu menggantungkannya di masjid. Sementara itu, Ahlus Shuffah tidak memiliki makanan. Maka apabila salah seorang dari mereka lapar, ia datang dan memukul tandan itu dengan tongkatnya sehingga jatuhlah kurma muda atau kurma masak, lalu ia memakannya.Namun ada pula orang-orang yang tidak menginginkan kebaikan. Mereka datang membawa tandan kurma yang buruk, berupa kurma kering yang jelek (ḥasyaf) dan kurma rusak (shīṣ). Bahkan ada yang membawa tandan yang sudah patah lalu menggantungkannya.Maka turunlah firman Allah Ta‘ālā:﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ﴾“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 267)Al-Barā’ melanjutkan, “Setelah ayat ini turun, maka setiap orang di antara kami datang membawa hasil terbaik yang ia miliki.”Baca juga: Jadilah Pelopor Kebaikan! Semangat Ahlus Shuffah dalam Menuntut IlmuDiriwayatkan oleh Abu Daud dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Aku pernah mengajarkan membaca dan menulis serta Al-Qur’an kepada beberapa orang dari Ahlus Shuffah. Lalu salah seorang dari mereka menghadiahkanku sebuah busur panah. Aku berkata (dalam hati), ‘Ini bukanlah harta, dan aku bisa menggunakannya untuk memanah di jalan Allah ‘azza wa jalla.’ Namun aku ingin mendatangi Rasulullah ﷺ untuk menanyakannya. Maka aku pun mendatangi beliau dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, ada seseorang yang menghadiahkanku sebuah busur panah dari kalangan orang yang aku ajari membaca dan menulis serta Al-Qur’an. Itu bukanlah harta, dan aku bisa menggunakannya di jalan Allah.’Beliau bersabda, ‘Jika engkau suka dikalungi kalung dari api neraka, maka terimalah hadiah itu.’” (Hadits ini shahih; dinyatakan shahih oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Abi Daud, no. 2915).Hadits ini menunjukkan betapa ikhlasnya proses belajar-mengajar di kalangan Ahlus Shuffah, dan betapa besar kehati-hatian para sahabat agar amal pengajaran Al-Qur’an tidak ternodai oleh tujuan duniawi.Baca juga: Upah Mengajarkan Al-Qur’an, Halalkah?Diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Seorang lelaki dari Ahlus Shuffah memanggil Rasulullah ﷺ ketika beliau telah selesai dari shalat. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, negeri kami adalah negeri yang banyak terdapat dhibab (biawak/gurun kadal), bagaimana pendapatmu tentang hewan itu?’Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Telah sampai kepadaku kabar bahwa hewan itu berasal dari suatu umat yang diazab dengan diubah bentuknya.’ Namun beliau tidak memerintahkannya (untuk dimakan) dan tidak pula melarangnya.” (Hadits ini shahih; dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 2622).Keterangan istilah:Adh-dhibaab (الضِّبَاب) adalah bentuk jamak dari adh-dhab (الضَّبّ), yaitu sejenis hewan melata yang hidup di padang pasir.Di antara ulama besar dari kalangan Ahlus Shuffah adalah Abu Hurairah ad-Dausi, sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah ﷺ. Termasuk pula Abdullah bin Mas‘ud, yang secara langsung mendengar tujuh puluh surah dari lisan Nabi ﷺ, dan beliau adalah pembawa serta pengamal fikih Umar bin al-Khattab radhiyallāhu ‘anhu. Selain mereka, termasuk pula dari kalangan ulama Ahlus Shuffah adalah Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu. Menjaga Kehormatan Diri Ahlus Shuffah dari Meminta-mintaImam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:“Tidak ada seorang pun di kalangan para sahabat—baik dari Ahlus Shuffah maupun selain mereka—yang menjadikan meminta-minta kepada manusia sebagai kebiasaan, apalagi bersikeras dalam meminta dengan cara mengemis dan menadahkan tangan, baik dengan membawa keranjang atau selainnya, sebagai pekerjaan dan mata pencaharian; sehingga ia tidak mencari rezeki kecuali dengan cara itu.” (Lihat: Majmu‘ al-Fatawa, jilid 11, hlm. 46).Keterangan ini menunjukkan kemuliaan akhlak Ahlus Shuffah. Meski hidup dalam keterbatasan dan kefakiran, mereka tetap menjaga kehormatan diri, tidak menjadikan meminta-minta sebagai jalan hidup, dan tetap berusaha serta bertawakal kepada Allah Ta‘ala.Baca juga: Menjaga ‘Iffah Beberapa Nama Ahlus ShuffahDi antara para sahabat yang disebutkan termasuk Ahlus Shuffah adalah:Salman al-Farisi (Abu ‘Abdillah)Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah‘Ammar bin Yasir (Abu al-Yaqzhan)Abdullah bin Mas‘ud al-HudzaliAl-Miqdad bin ‘Amr (dikenal pula sebagai al-Miqdad bin al-Aswad al-Kindi)Khabbab bin al-ArattBilal bin RabahShuhaib bin SinanZaid bin al-Khattab, saudara Umar bin al-KhattabAbu Kabsyah, maula Rasulullah ﷺAbu Martsad Kinnah bin Hushain al-‘AdawiShafwan bin Baidha’Abu ‘Abs bin JabrSalim maula Abi HudzaifahMisthah bin Utsatsah‘Ukasyah bin Mihshan al-AsadiMas‘ud bin ar-Rabi‘ al-Qari‘Umair bin ‘Auf‘Uwaim bin Sa‘idahAbu Lubabah bin ‘Abdul MundzirSalim bin ‘Umair bin Tsabit, termasuk para sahabat al-bakkā’īn (yang banyak menangis); tentang mereka turun firman Allah Ta‘ālā:﴿ وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ ﴾“sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan.” (QS. At-Taubah: 92)Ka‘b bin ‘Amr (Abu al-Basyar)Khubaib bin YisafAbdullah bin UnaisAbu Dzarr al-Ghifari (Jundub bin Junadah)‘Utbah bin Mas‘ud al-HudzaliAbdullah bin ‘Umar radhiyallāhu ‘anhumā—termasuk yang sering tinggal dan bermalam bersama mereka di masjidHudzaifah bin al-Yaman—juga termasuk yang bermalam bersama merekaAbu ad-Darda’ (‘Uwaimir bin ‘Amir)Abdullah bin Zaid al-JuhaniAl-Hajjaj bin ‘Amr al-AslamiAbu Hurairah ad-DausiTsauban, maula Rasulullah ﷺMu‘adz bin al-Harits al-QariAs-Sa’ib bin KhalladTsabit bin Wadi‘ah(Lihat: Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, jilid 3, hlm. 18). KesimpulanDari Ahlus Shuffah kita belajar satu pelajaran mahal: miskin harta bukan masalah, selama iman tetap hidup dan kita terus meninggalkan karya—karya ilmu, amal, dan manfaat untuk umat.Yang justru mengkhawatirkan adalah ketika seseorang miskin harta sekaligus miskin mental: mudah mengeluh, malas bergerak, lalu berlalu tanpa jejak kebaikan.Maka, jika Allah menakdirkan kita hidup sederhana, jadikan itu alasan untuk semakin produktif dalam ketaatan—agar kelak yang tersisa bukan keluhan, tetapi warisan amal yang Allah terima. Pelajaran berharga di dalam kisah Ahlus Shuffah Kemuliaan tidak selalu identik dengan kelapangan harta; Ahlus Shuffah miskin, tetapi dipuji langsung oleh Allah dalam Al-Qur’an.Menjaga kehormatan diri (ta‘affuf) adalah mahkota orang beriman: mereka tidak menjadikan meminta-minta sebagai jalan hidup.Masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi pusat tarbiyah dan pembinaan umat, sampai menjadi “rumah” bagi yang tidak punya rumah.Ilmu adalah jalan kemuliaan; di antara penghuni Shuffah ada yang datang untuk belajar agama lalu pulang menjadi pengajar bagi kaumnya.Ukhuwah sejati tampak saat saudara kita kekurangan, dan para sahabat memberi perhatian nyata, bukan sekadar simpati.Kebaikan yang ditata dan diorganisasi akan lebih terasa manfaatnya, sebagaimana gagasan Muhammad bin Maslamah dan pengelolaan Mu‘adz bin Jabal.Adab berinfak itu memilih yang baik, bukan menyingkirkan yang jelek; ayat tentang larangan memberi yang “khabīts” menegur mentalitas asal memberi.Nabi ﷺ mendahulukan kebutuhan umat dibanding kenyamanan keluarganya, bahkan menahan sesuatu untuk keluarga demi menolong Ahlus Shuffah.Kefakiran bukan alasan untuk malas atau mengemis, karena para sahabat tetap menjaga ‘iffah dan tidak menjadikan meminta sebagai profesi.Kisah Ahlus Shuffah menegur hati kita: sudahkah kita peduli pada yang lemah, menuntut ilmu dengan ikhlas, dan memberi dengan yang terbaik? Jika kita belum mampu kaya harta, pastikan kita kaya iman, kaya amal, dan kaya kontribusi. Jadikan masjid, majelis ilmu, dan ruang-ruang kebaikan sebagai tempat tumbuhnya karya terbaik kita. Mulailah dari langkah kecil: menjaga ‘iffah, menuntut ilmu dengan ikhlas, membantu saudara yang kekurangan, dan memilih memberi dari yang terbaik. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang meski sederhana dalam dunia, namun besar nilainya di sisi-Nya. Referensi:alukah.net mengenai ahlus shuffah‘Abdul Ghani, M. I. (2003). Buyūt aṣ-Ṣaḥābah ḥawla al-Masjid an-Nabawī ash-Sharīf (Cet. ke-5). Maṭābi‘ ar-Rāshid.— Digarap saat Umrah bersama Unity Tour, lalu diselesaikan di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Januari 2026, 12 Rajab 1447 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsahlus shuffah cerita sahabat nabi jumlah sahabat nabi kota madinah masjid nabawi sahabat nabi
Ahlus Shuffah adalah para sahabat fakir dari kalangan Muhajirin yang tinggal di serambi belakang Masjid Nabawi, hidup sederhana, namun mulia di sisi Allah. Al-Qur’an memuji mereka sebagai orang-orang yang menjaga kehormatan diri, tidak suka meminta-minta, dan layak menjadi sasaran infak kaum muslimin. Dari kisah mereka, kita belajar makna ukhuwah, keteguhan menuntut ilmu, serta adab memberi: memilih yang terbaik, bukan sisa yang buruk. Daftar Isi tutup 1. Makna Shuffah 2. Sanjungan pada Ahlus Shuffah dalam Al-Qur’an 3. Jumlah Ahlus Shuffah 4. Sejarah Awal Berdirinya Ṣhuffah 5. Di Manakah Letak Ahlus Shuffah di Masjid Nabawi? 6. Makanan Ahlus Shuffah 7. Pakaian Ahlus Shuffah 8. Tangisan Ahlus Shuffah Saat Turunnya Al-Qur’an 9. Perhatian Nabi ﷺ kepada Ahlus Shuffah 10. Perhatian Para Sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum kepada Ahlus Shuffah 11. Semangat Ahlus Shuffah dalam Menuntut Ilmu 12. Menjaga Kehormatan Diri Ahlus Shuffah dari Meminta-minta 13. Beberapa Nama Ahlus Shuffah 14. Kesimpulan 14.1. Pelajaran berharga di dalam kisah Ahlus Shuffah Makna ShuffahShuffah adalah sebuah tempat di bagian belakang Masjid Nabawi, yang diberi naungan, dan disiapkan sebagai tempat tinggal bagi para pendatang (orang-orang asing) yang tidak memiliki tempat tinggal dan tidak memiliki keluarga. (Lihat: Fath al-Bari karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani, jilid 6, hlm. 595).Ash-Shuffah—dengan shadd berharakat ḍammah dan fā’ bertasydid—adalah sebuah tempat berteduh yang berada di bagian belakang Masjid Nabi ﷺ. Tempat ini menjadi hunian bagi orang-orang miskin dan para pendatang (gharīb). Kepada tempat inilah dinisbatkan nama Ahlus Ṣuffah, menurut pendapat yang paling masyhur di kalangan para ulama.Adapun para sahabat dari kalangan Muhājirīn, mereka biasanya tinggal di rumah orang-orang yang telah mereka kenal di Madinah. Sementara itu, siapa saja yang tidak memiliki kenalan sebelumnya dari kalangan Anṣār, maka ia tinggal di Masjid Nabawi. Di antara mereka ada yang datang dengan tujuan mempelajari syariat dan mendalami agama, lalu kembali ke kaumnya untuk mengajarkan ilmu tersebut. Mereka inilah gambaran ideal dari firman Allah Ta‘ala:۞ وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)Diriwayatkan dari Ṭalḥah al-Baṣhri rahimahullah berkata: “Siapa saja yang datang ke Madinah dan ia memiliki seorang ‘arīf (penanggung jawab atau orang yang dikenalnya), maka ia tinggal bersama ‘arīf-nya. Adapun siapa yang tidak memiliki ‘arīf, maka ia tinggal di Shuffah. Aku termasuk orang yang tinggal di Shuffah. Aku tinggal bersama dua orang lainnya. Setiap hari, kami mendapatkan jatah satu mudd kurma dari Rasulullah ﷺ …” Sanjungan pada Ahlus Shuffah dalam Al-Qur’anAllah Ta’ala telah memuji mereka di dalam Kitab-Nya yang mulia. Allah Ta’ala berfirman:لِلْفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحْصِرُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِى ٱلْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ ٱلْجَاهِلُ أَغْنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَٰهُمْ لَا يَسْـَٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.” (QS. Al-Baqarah: 273)As-Sudi, Mujāhid, dan ulama lainnya berkata: yang dimaksud dengan orang-orang fakir dalam ayat ini adalah fakir miskin dari kalangan kaum Muhājirīn, baik dari Quraisy maupun selain mereka. Kaum fakir dari kalangan Muhājirīn disebutkan secara khusus karena pada masa itu tidak ada fakir miskin selain mereka, dan merekalah yang dikenal sebagai Ahlus Shuffah.Hal itu karena mereka datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan miskin. Mereka tidak memiliki keluarga dan tidak mempunyai harta. Maka dibangunlah untuk mereka sebuah ṣuffah di Masjid Rasulullah ﷺ. Sejak itulah mereka disebut dengan Ahlus Ṣuffah.Diriwayatkan dari Ibnu Ka‘b al-Quraẓī rahimahullah, ketika menafsirkan firman Allah Ta‘ālā pada ayat di atas, beliau berkata: “Mereka adalah para penghuni Shuffah. Mereka tidak memiliki rumah di Madinah dan tidak pula mempunyai keluarga atau kabilah. Maka Allah mendorong kaum muslimin untuk bersedekah kepada mereka.”Sebagian ulama juga menjadikan firman Allah berikut sebagai dalil tentang Ahlus Shuffah:لِلْفُقَرَآءِ ٱلْمُهَٰجِرِينَ ٱلَّذِينَ أُخْرِجُوا۟ مِن دِيَٰرِهِمْ وَأَمْوَٰلِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًا وَيَنصُرُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8)Ahlus Shuffah inilah yang dibantu oleh kaum Anshar sebagaimana yang disebutkan dalam lanjutan ayat,وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلْإِيمَٰنَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِى صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ أُوتُوا۟ وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9) Jumlah Ahlus ShuffahAhlus Shuffah adalah orang-orang fakir dari kalangan kaum Muhajirin. Jumlah mereka sekitar empat ratus orang. Hal itu karena mereka datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan miskin, tidak memiliki keluarga dan tidak pula harta. Maka dibangunlah untuk mereka sebuah shuffah di bagian belakang Masjid Rasulullah ﷺ, lalu mereka pun dikenal dengan sebutan Ahlus Shuffah. (Lihat: Tafsir al-Qurthubi, jilid 3, hlm. 340).Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:“Tidaklah seluruh Ahlus Shuffah berkumpul pada satu waktu. Di antara mereka ada yang kemudian menikah atau pindah ke tempat lain yang Allah mudahkan baginya. Lalu datang orang-orang yang lain silih berganti. Maka terkadang jumlah mereka sedikit, dan terkadang banyak. Kadang mereka berjumlah sepuluh orang atau kurang, kadang dua puluh atau tiga puluh orang atau lebih, kadang enam puluh atau tujuh puluh orang. Adapun jumlah keseluruhan orang yang pernah tinggal di shuffah—meskipun mereka datang dan pergi secara bergantian—maka disebutkan bahwa mereka sekitar empat ratus orang dari kalangan para sahabat. Bahkan ada pula yang mengatakan jumlah mereka lebih dari itu.” (Lihat: Majmu‘ al-Fatawa, jilid 11, hlm. 41).Ibnu Taimiyyah rahimahullah di halaman lainnya di Majmu’ Al-Fatawa (jilid 11, hlm. 81):“Adapun jumlah Ahlus Suffah, maka Abu ‘Abdurrahman as-Sulami telah menghimpun sejarah mereka. Jumlah mereka sekitar enam ratus atau tujuh ratus orang, atau mendekati itu. Namun mereka tidak pernah berkumpul pada satu waktu yang sama. Di sisi utara masjid terdapat sebuah suffah (serambi) yang menjadi tempat bernaungnya kaum fakir dari kalangan Muhajirin. Siapa saja di antara mereka yang telah menikah, atau bepergian, atau keluar untuk berjihad, maka ia pun meninggalkan suffah tersebut. Pada satu waktu tertentu, jumlah orang yang tinggal di sana bisa mencapai tujuh puluh orang, atau kurang dari itu, atau lebih.” Sejarah Awal Berdirinya ṢhuffahSetelah kaum muslimin berhijrah dari Makkah ke Madinah, muncul persoalan besar terkait kehidupan para muhajirin. Mereka meninggalkan rumah, harta, dan seluruh perbekalan di Makkah demi menyelamatkan agama mereka dari kezaliman kaum musyrikin. Tidak sedikit dari kaum muhajirin yang ketika tiba di Madinah belum mampu langsung bekerja dan mencukupi kebutuhan hidupnya.Hal ini disebabkan karena perekonomian Madinah pada waktu itu didominasi oleh sektor pertanian, sementara mayoritas penduduk Makkah terbiasa dengan dunia perdagangan. Para muhajirin tidak memiliki pengalaman bercocok tanam, tidak mempunyai lahan pertanian di Madinah, dan juga tidak membawa modal, karena seluruh harta mereka telah ditinggalkan di Makkah. Meskipun kaum Anshar telah mengerahkan kemampuan mereka untuk membantu para muhajirin, tetap saja ada sebagian muhajirin yang masih membutuhkan tempat tinggal.Arus kedatangan kaum muhajirin ke Madinah pun terus berlanjut, terutama pada masa sebelum Perang Khandaq. Banyak di antara mereka yang menetap di Madinah. Selain itu, berbagai rombongan tamu dan utusan juga sering berdatangan ke Madinah. Sebagian dari mereka tidak memiliki hubungan atau kenalan dengan penduduk setempat, sehingga para pendatang asing ini membutuhkan tempat tinggal, baik untuk menetap maupun selama masa kunjungan mereka.Dalam kondisi seperti inilah, Nabi ﷺ memikirkan solusi untuk menyediakan tempat tinggal bagi kaum fakir yang menetap maupun para pendatang yang singgah. Kesempatan itu datang ketika arah kiblat dipindahkan dari Baitul Maqdis menuju Ka‘bah, yaitu setelah enam belas bulan sejak hijrah Nabi ﷺ ke Madinah. Dinding bekas arah kiblat yang lama pun berada di bagian belakang Masjid Nabawi.Maka Nabi ﷺ memerintahkan agar bagian tersebut dimanfaatkan. Tempat itu kemudian diberi naungan atau atap, lalu dinamakan Shuffah atau Zhullah. Shuffah ini tidak memiliki dinding penutup di sisi-sisinya, sehingga bersifat terbuka. Tempat inilah yang kemudian menjadi hunian bagi kaum fakir dari kalangan muhajirin dan para pendatang yang membutuhkan tempat tinggal. (Lihat: As-Sirah an-Nabawiyyah ash-Shahihah, jilid 1, hlm. 257). Di Manakah Letak Ahlus Shuffah di Masjid Nabawi?Para sejarawan generasi awal sepakat dalam menentukan letak Shuffah, tetapi para sejarawan belakangan dan peneliti kontemporer berbeda pendapat dalam hal tersebut. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa Dakkatul Aghawāt—yang terletak di sebelah kanan orang yang masuk melalui Pintu Jibril—dibangun di lokasi Ṣuffah. Sementara yang lain berpendapat sebaliknya.Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Ketika kiblat dipindahkan dari Baitul Maqdis ke Ka‘bah yang mulia, Nabi ﷺ memerintahkan agar dibuat sebuah atap di dinding sebelah utara. Tempat inilah yang kemudian dikenal dengan nama Shuffah.” Ini adalah tempat Ahlus Shuffah Al-Ḥāfiẓh adz-Dzahabī (wafat 748 H) menjelaskan bahwa kiblat sebelum dipindahkan berada di arah utara masjid. Ketika kiblat dipindahkan, maka dinding bekas kiblat pertama itulah yang kemudian menjadi tempat Ahlus Shuffah.Ibnu Ḥajar al-‘Asqalānī (wafat 852 H) juga berkata: “Shuffah adalah sebuah tempat di bagian belakang Masjid Nabawi yang diberi naungan, yang dipersiapkan sebagai tempat tinggal bagi para pendatang dan orang-orang asing yang tidak memiliki tempat tinggal dan tidak mempunyai keluarga.”Keterangan-keterangan ini menunjukkan bahwa tempat yang dikenal dengan nama Shuffah pada masa Nabi ﷺ terletak di sisi utara masjid. Dengan kata lain, letaknya berada di sebelah barat Dakkatul Aghawāt yang ada sekarang. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa Shuffah dibuat setelah pemindahan kiblat, dan diketahui bahwa pemindahan kiblat terjadi pada tahun kedua hijriah. Pada saat itu Nabi ﷺ memerintahkan agar dibuat atap pada dinding utara, yang kemudian menjadi bagian belakang masjid.Ini berarti bahwa Shuffah berada pada dinding utara Masjid Nabawi sebelum perluasan pertama masjid. Diketahui pula bahwa Nabi ﷺ memperluas Masjid Nabawi pada tahun ketujuh hijriah. Dengan demikian, posisi dinding utara tersebut sejajar dengan tempat shalat menghadap Baitul Maqdis, yaitu tiang kelima di sisi utara dari tiang ‘Āisyah radhiyallāhu ‘anhā.Pada peta yang disebutkan di atas, ditunjukkan secara jelas posisi dinding utara Masjid Nabawi sebelum perluasan yang dilakukan Nabi ﷺ, dan di sanalah tampak lokasi tempat dibuatnya Shuffah.Adapun dakkah yang ada sekarang, yang terletak di sebelah kanan orang yang masuk melalui Pintu Jibril dan di sebelah kiri orang yang masuk melalui Pintu An-Nisā’, yang dikenal dengan sebutan “Dakkatul Aghawāt”, maka bukanlah lokasi Shuffah yang disebutkan dalam hadis-hadis Nabi ﷺ. Sebab, tempat tersebut pada masa Nabi ﷺ berada di luar masjid, tepatnya di sisi timur Masjid Nabawi. Pada waktu itu belum ada dinding masjid di lokasi tersebut yang dijadikan tempat pembuatan Shuffah. Dakkah Al-Aghawaat, ini bukan tempat Ahlus ShuffahMakanan Ahlus Shuffah(1) Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Al-Barā’ bin ‘Āzib radhiyallāhu ‘anhu tentang firman Allah Ta’ala:وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ“Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya.” (QS. Al-Baqarah: 267)Al-Barā’ berkata: “Ayat ini turun berkaitan dengan kami, kaum Anshar. Kami adalah pemilik kebun kurma. Seseorang dari kami datang membawa hasil kebunnya sesuai dengan banyak atau sedikitnya hasil yang ia miliki. Ada yang datang membawa satu tandan kurma, ada pula yang membawa dua tandan, lalu menggantungkannya di masjid. Sementara itu, Ahlus Shuffah tidak memiliki makanan. Maka bila salah seorang dari mereka lapar, ia mendatangi tandan kurma tersebut, memukulnya dengan tongkat, lalu berjatuhanlah kurma muda (busr) dan kurma masak, kemudian ia memakannya.” (Hadits ini shahih; dinyatakan shahih oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2987).(2) Talhah bin ‘Amr berkata:“Apabila seseorang datang kepada Nabi ﷺ, dan ia memiliki kenalan atau penanggung (di Madinah), maka ia akan tinggal bersamanya. Namun jika ia tidak memiliki penanggung, maka ia tinggal bersama Ahlus Shuffah. Aku termasuk orang yang tinggal di Shuffah. Aku pernah tinggal bersama seorang laki-laki. Kami biasa mendapatkan jatah dari Rasulullah ﷺ setiap hari berupa satu mud kurma untuk dua orang.” (Diriwayatkan dalam Hilyat al-Awliya’ karya Abu Nu‘aim al-Ashbahani, jilid 1, hlm. 339). Pakaian Ahlus ShuffahDiriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: “Sungguh aku pernah melihat tujuh puluh orang dari kalangan Ahlus Shuffah. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengenakan ridā’. Pakaian mereka hanyalah izār atau kisā’ yang diikatkan di leher-leher mereka. Di antara pakaian itu ada yang panjangnya hanya sampai pertengahan betis, dan ada pula yang sampai ke kedua mata kaki. Maka salah seorang dari mereka menggenggam pakaiannya dengan tangannya, karena khawatir auratnya terlihat.” (HR. Shahih al-Bukhari, no. 442).Keterangan istilah:Ridā’ (رداء): pakaian yang hanya menutupi bagian atas tubuh.Izār (إزار): pakaian yang menutupi bagian bawah tubuh, dari pusar hingga ke betis atau mata kaki.Kisā’ (كساء): sehelai kain yang digunakan dengan cara dililitkan pada tubuh.“Maka ia mengumpulkannya”: maksudnya, seseorang menggenggam kain kisā’ atau izār tersebut dengan tangannya agar kedua ujungnya tidak terlepas atau terbuka.“Karena khawatir auratnya terlihat”: yakni agar auratnya tidak tampak oleh orang lain, baik ketika dilihat oleh orang lain maupun saat ia sedang melaksanakan shalat. (Lihat penjelasan dalam Mirqat al-Mafatih karya Ali al-Harawi, jilid 8, hlm. 3281). Tangisan Ahlus Shuffah Saat Turunnya Al-Qur’anDiriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Ketika turun firman Allah Ta‘ālā:﴿ أَفَمِنْ هَذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ ﴾“Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?” (QS. An-Najm: 59–60), para sahabat Ahlus Shuffah pun menangis hingga air mata mereka mengalir di pipi-pipi mereka. Ketika Rasulullah ﷺ mendengar isak tangis mereka, beliau pun menangis bersama mereka. Maka kami pun ikut menangis karena tangisan beliau. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda:لَا يَلِجُ النَّارَ مَنْ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ، وَلَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مُصِرٌّ عَلَى مَعْصِيَةٍ، وَلَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَجَاءَ اللَّهُ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ.‘Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah. Dan tidak akan masuk surga orang yang terus-menerus melakukan maksiat. Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu Dia mengampuni mereka.’” (Diriwayatkan dalam Syu‘ab al-Iman karya Al-Baihaqi, jilid 2, hlm. 233, hadits no. 777). Perhatian Nabi ﷺ kepada Ahlus Shuffah(1) Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Mujahid bin Jabr, bahwa Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu pernah berkata:“Demi Allah yang tidak ada sesembahan selain Dia, sungguh aku pernah menempelkan perutku ke tanah karena lapar, dan sungguh aku pernah mengikatkan batu di perutku karena lapar. Pada suatu hari aku duduk di jalan yang biasa mereka lewati. Lalu Abu Bakr ash-Shiddiq lewat, aku bertanya kepadanya tentang satu ayat dari Kitab Allah—aku tidak bertanya kecuali agar beliau mengenyangkanku—namun beliau berlalu dan tidak melakukannya. Kemudian Umar bin al-Khattab lewat, aku pun bertanya kepadanya tentang satu ayat dari Kitab Allah—aku tidak bertanya kecuali agar beliau mengenyangkanku—namun beliau berlalu dan tidak melakukannya.Kemudian Abu al-Qāsim ﷺ lewat. Beliau tersenyum ketika melihatku, dan mengetahui apa yang ada di hatiku dan yang tampak di wajahku. Lalu beliau bersabda, ‘Wahai Abu Hir,’ aku menjawab, ‘Labbaik, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Ikutlah,’ lalu beliau berjalan dan aku mengikutinya. Beliau masuk ke rumah, lalu meminta izin dan aku pun diizinkan masuk.Di sana beliau mendapati semangkuk susu. Beliau bertanya, ‘Dari mana susu ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini dihadiahkan oleh fulan atau fulanah.’ Beliau bersabda, ‘Wahai Abu Hir.’ Aku menjawab, ‘Labbaik, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Pergilah ke Ahlus Shuffah dan panggillah mereka ke sini.’Ahlus Shuffah adalah tamu-tamu Islam. Mereka tidak memiliki keluarga, harta, dan tidak bergantung pada siapa pun. Apabila beliau mendapatkan sedekah, beliau mengirimkannya kepada mereka dan tidak mengambil sedikit pun darinya. Jika beliau mendapatkan hadiah, beliau mengirimkannya kepada mereka, mengambil sebagian, dan menyertakan mereka di dalamnya.Aku merasa berat dengan perintah itu dan berkata dalam hatiku, ‘Apa artinya susu ini untuk Ahlus Shuffah? Bukankah aku lebih berhak mendapatkan seteguk darinya agar aku kuat?’ Namun tidak ada jalan keluar dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Maka aku pun mendatangi mereka dan memanggil mereka. Mereka pun datang, meminta izin, lalu diizinkan masuk dan duduk di rumah itu.Beliau bersabda, ‘Wahai Abu Hir.’ Aku menjawab, ‘Labbaik, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Ambil dan berikan kepada mereka.’ Aku pun mengambil bejana itu dan memberikannya kepada seseorang; ia minum hingga puas lalu mengembalikannya kepadaku. Aku memberikannya kepada yang lain; ia minum hingga puas lalu mengembalikannya kepadaku. Demikian seterusnya hingga semua orang telah kenyang.Kemudian aku sampai kepada Nabi ﷺ, sementara semua orang telah puas. Beliau mengambil bejana itu dan meletakkannya di tangannya, memandangku sambil tersenyum, lalu bersabda, ‘Wahai Abu Hir.’ Aku menjawab, ‘Labbaik, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Tinggal aku dan engkau.’ Aku berkata, ‘Benar, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Duduklah dan minumlah.’ Aku pun duduk dan minum. Beliau bersabda lagi, ‘Minumlah.’ Aku minum. Beliau terus berkata, ‘Minumlah,’ hingga aku berkata, ‘Tidak, demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku sudah tidak menemukan jalan lagi.’Beliau bersabda, ‘Perlihatkan kepadaku,’ lalu aku memberikan bejana itu kepada beliau. Beliau memuji Allah, menyebut nama-Nya, dan meminum sisanya.” (HR. Shahih al-Bukhari, no. 6452).(2) Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim bin al-Hajjaj dari Abdurrahman bin Abi Bakr radhiyallāhu ‘anhumā, bahwa:“Para Ahlus Shuffah adalah orang-orang fakir. Nabi ﷺ pernah bersabda, ‘Barang siapa memiliki makanan untuk dua orang, hendaklah ia membawa orang ketiga. Dan barang siapa memiliki makanan untuk empat orang, hendaklah ia membawa orang kelima atau keenam,’ atau sebagaimana beliau bersabda. Abu Bakr membawa tiga orang, Nabi ﷺ membawa sepuluh orang, dan Abu Bakr membawa tiga orang.” (HR. Al-Bukhari no. 3581; Shahih Muslim no. 2057).(3) Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dari Ali bin Abi Talib radhiyallāhu ‘anhu, bahwa:“Ketika Rasulullah ﷺ menikahkan Ali dengan Fatimah az-Zahra, beliau membekali mereka dengan sebuah alas tidur, sebuah bantal dari kulit yang isinya serat, dua batu penggiling, sebuah kantong air, dan dua kendi. Pada suatu hari Ali berkata kepada Fatimah, ‘Demi Allah, aku telah mengangkut air hingga dadaku terasa sakit.’ Ia berkata, ‘Allah telah memberikan kepada ayahmu harta rampasan, maka pergilah dan mintalah seorang pembantu.’Fatimah pun berkata, ‘Demi Allah, aku telah menggiling hingga tanganku melepuh.’ Ia pun mendatangi Nabi ﷺ, lalu beliau bertanya, ‘Apa keperluanmu, wahai putriku?’ Ia menjawab, ‘Aku datang untuk memberi salam kepadamu,’ dan ia merasa malu untuk meminta, lalu kembali.Ali bertanya, ‘Apa yang engkau lakukan?’ Ia menjawab, ‘Aku malu untuk meminta.’ Maka kami berdua mendatangi beliau. Ali berkata, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah aku telah mengangkut air hingga dadaku terasa sakit.’ Dan Fatimah berkata, ‘Aku telah menggiling hingga tanganku melepuh. Allah telah memberimu harta rampasan dan kelapangan, maka berilah kami seorang pembantu.’Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Demi Allah, aku tidak akan memberikan kepada kalian berdua sementara aku membiarkan Ahlus Shuffah dalam keadaan perut mereka terlipat karena lapar. Aku tidak mendapatkan sesuatu untuk menafkahi mereka. Namun aku akan menjual harta rampasan itu dan membelanjakan hasilnya untuk mereka.’” (Hadits hasan; Musnad Ahmad, jilid 2, hlm. 202, no. 838).Baca juga: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Mengganti Permintaan Pembantu dengan Dzikir Sebelum Tidur(4) Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Watsilah bin al-Asqa’ radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Datanglah bulan Ramadan sementara kami berada di kalangan Ahlus Shuffah. Kami pun berpuasa. Ketika waktu berbuka tiba, biasanya setiap orang dari kami didatangi oleh seorang dari kalangan ahli baiat, lalu membawanya ke rumahnya dan memberinya makan malam. Namun pada suatu malam tidak seorang pun mendatangi kami, dan kami pun berpuasa hingga pagi. Malam berikutnya pun berlalu dan tidak seorang pun mendatangi kami.Maka kami mendatangi Rasulullah ﷺ dan menceritakan apa yang kami alami. Beliau pun mengutus seseorang kepada setiap istrinya dan bertanya apakah mereka memiliki sesuatu. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali mengirim jawaban dengan bersumpah bahwa di rumahnya tidak ada sesuatu pun yang dapat dimakan oleh makhluk bernyawa.Lalu Rasulullah ﷺ bersabda agar kami berkumpul. Beliau berdoa, ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu karunia dan rahmat-Mu. Sesungguhnya karunia dan rahmat itu berada di tangan-Mu, tidak ada seorang pun yang memilikinya selain Engkau.’Tidak lama kemudian, seseorang meminta izin masuk. Ternyata ia membawa seekor kambing panggang dan beberapa roti. Rasulullah ﷺ memerintahkan agar makanan itu diletakkan di hadapan kami. Kami pun makan hingga kenyang. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Kami telah memohon kepada Allah karunia dan rahmat-Nya. Ini adalah karunia-Nya, dan Dia telah menyimpan rahmat-Nya untuk kami di sisi-Nya.’” (Lihat: Dala’il an-Nubuwwah, jilid 6, hlm. 129). Perhatian Para Sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum kepada Ahlus ShuffahPara sahabat radhiyallāhu ‘anhum sangat memperhatikan urusan saudara-saudara mereka dari kalangan Ahlus Shuffah. Salah satu bentuk perhatian itu adalah upaya Muhammad bin Maslamah radhiyallāhu ‘anhu yang memikirkan cara untuk menata bantuan dan pelayanan kepada mereka secara berkesinambungan agar membuahkan hasil yang terbaik.Beliau mengemukakan gagasannya dalam hal ini kepada Nabi pembawa rahmat ﷺ, lalu Nabi ﷺ menyetujuinya. Berikut penjelasan rinci tentang hal tersebut:Para ahli sejarah meriwayatkan bahwa Muhammad bin Maslamah melihat adanya tamu-tamu yang singgah di Masjid bersama Rasulullah ﷺ. Lalu ia berkata,“Tidakkah sebaiknya para tamu ini kita sebarkan untuk tinggal di rumah-rumah kaum Anshar, dan kita tetapkan bagimu dari setiap kebun satu qanwan (tandan kurma), agar dapat diberikan kepada orang-orang dari berbagai kabilah yang datang kepadamu?”Rasulullah ﷺ menjawab, “Ya, itu baik.”Ketika Muhammad bin Maslamah kemudian mendapatkan harta, ia datang membawa sebuah tandan kurma, lalu meletakkannya di masjid di antara dua tiang. Setelah itu, orang-orang pun mulai melakukan hal yang sama.Mu‘ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu ditugasi untuk mengurusnya. Ia memasang seutas tali di antara dua tiang, lalu menggantungkan tandan-tandan kurma pada tali tersebut. Ia mengumpulkan sekitar dua puluh tandan atau lebih, lalu menggoyangkannya sehingga sebagian kurma berjatuhan. Para penghuni Shuffah pun memakannya hingga kenyang, lalu mereka pergi dan digantikan oleh kelompok lain. Perlakuan yang sama dilakukan untuk mereka. Jika malam tiba, hal yang sama kembali dilakukan untuk mereka.Dari al-Barā’ radhiyallāhu ‘anhu diriwayatkan, ia berkata:“Kami adalah para pemilik kebun kurma. Seseorang di antara kami datang membawa hasil kebunnya sesuai dengan banyak atau sedikitnya. Ada yang datang membawa satu tandan kurma lalu menggantungkannya di masjid. Sementara itu, Ahlus Shuffah tidak memiliki makanan. Maka apabila salah seorang dari mereka lapar, ia datang dan memukul tandan itu dengan tongkatnya sehingga jatuhlah kurma muda atau kurma masak, lalu ia memakannya.Namun ada pula orang-orang yang tidak menginginkan kebaikan. Mereka datang membawa tandan kurma yang buruk, berupa kurma kering yang jelek (ḥasyaf) dan kurma rusak (shīṣ). Bahkan ada yang membawa tandan yang sudah patah lalu menggantungkannya.Maka turunlah firman Allah Ta‘ālā:﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ﴾“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 267)Al-Barā’ melanjutkan, “Setelah ayat ini turun, maka setiap orang di antara kami datang membawa hasil terbaik yang ia miliki.”Baca juga: Jadilah Pelopor Kebaikan! Semangat Ahlus Shuffah dalam Menuntut IlmuDiriwayatkan oleh Abu Daud dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Aku pernah mengajarkan membaca dan menulis serta Al-Qur’an kepada beberapa orang dari Ahlus Shuffah. Lalu salah seorang dari mereka menghadiahkanku sebuah busur panah. Aku berkata (dalam hati), ‘Ini bukanlah harta, dan aku bisa menggunakannya untuk memanah di jalan Allah ‘azza wa jalla.’ Namun aku ingin mendatangi Rasulullah ﷺ untuk menanyakannya. Maka aku pun mendatangi beliau dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, ada seseorang yang menghadiahkanku sebuah busur panah dari kalangan orang yang aku ajari membaca dan menulis serta Al-Qur’an. Itu bukanlah harta, dan aku bisa menggunakannya di jalan Allah.’Beliau bersabda, ‘Jika engkau suka dikalungi kalung dari api neraka, maka terimalah hadiah itu.’” (Hadits ini shahih; dinyatakan shahih oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Abi Daud, no. 2915).Hadits ini menunjukkan betapa ikhlasnya proses belajar-mengajar di kalangan Ahlus Shuffah, dan betapa besar kehati-hatian para sahabat agar amal pengajaran Al-Qur’an tidak ternodai oleh tujuan duniawi.Baca juga: Upah Mengajarkan Al-Qur’an, Halalkah?Diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:“Seorang lelaki dari Ahlus Shuffah memanggil Rasulullah ﷺ ketika beliau telah selesai dari shalat. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, negeri kami adalah negeri yang banyak terdapat dhibab (biawak/gurun kadal), bagaimana pendapatmu tentang hewan itu?’Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Telah sampai kepadaku kabar bahwa hewan itu berasal dari suatu umat yang diazab dengan diubah bentuknya.’ Namun beliau tidak memerintahkannya (untuk dimakan) dan tidak pula melarangnya.” (Hadits ini shahih; dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 2622).Keterangan istilah:Adh-dhibaab (الضِّبَاب) adalah bentuk jamak dari adh-dhab (الضَّبّ), yaitu sejenis hewan melata yang hidup di padang pasir.Di antara ulama besar dari kalangan Ahlus Shuffah adalah Abu Hurairah ad-Dausi, sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah ﷺ. Termasuk pula Abdullah bin Mas‘ud, yang secara langsung mendengar tujuh puluh surah dari lisan Nabi ﷺ, dan beliau adalah pembawa serta pengamal fikih Umar bin al-Khattab radhiyallāhu ‘anhu. Selain mereka, termasuk pula dari kalangan ulama Ahlus Shuffah adalah Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu. Menjaga Kehormatan Diri Ahlus Shuffah dari Meminta-mintaImam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:“Tidak ada seorang pun di kalangan para sahabat—baik dari Ahlus Shuffah maupun selain mereka—yang menjadikan meminta-minta kepada manusia sebagai kebiasaan, apalagi bersikeras dalam meminta dengan cara mengemis dan menadahkan tangan, baik dengan membawa keranjang atau selainnya, sebagai pekerjaan dan mata pencaharian; sehingga ia tidak mencari rezeki kecuali dengan cara itu.” (Lihat: Majmu‘ al-Fatawa, jilid 11, hlm. 46).Keterangan ini menunjukkan kemuliaan akhlak Ahlus Shuffah. Meski hidup dalam keterbatasan dan kefakiran, mereka tetap menjaga kehormatan diri, tidak menjadikan meminta-minta sebagai jalan hidup, dan tetap berusaha serta bertawakal kepada Allah Ta‘ala.Baca juga: Menjaga ‘Iffah Beberapa Nama Ahlus ShuffahDi antara para sahabat yang disebutkan termasuk Ahlus Shuffah adalah:Salman al-Farisi (Abu ‘Abdillah)Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah‘Ammar bin Yasir (Abu al-Yaqzhan)Abdullah bin Mas‘ud al-HudzaliAl-Miqdad bin ‘Amr (dikenal pula sebagai al-Miqdad bin al-Aswad al-Kindi)Khabbab bin al-ArattBilal bin RabahShuhaib bin SinanZaid bin al-Khattab, saudara Umar bin al-KhattabAbu Kabsyah, maula Rasulullah ﷺAbu Martsad Kinnah bin Hushain al-‘AdawiShafwan bin Baidha’Abu ‘Abs bin JabrSalim maula Abi HudzaifahMisthah bin Utsatsah‘Ukasyah bin Mihshan al-AsadiMas‘ud bin ar-Rabi‘ al-Qari‘Umair bin ‘Auf‘Uwaim bin Sa‘idahAbu Lubabah bin ‘Abdul MundzirSalim bin ‘Umair bin Tsabit, termasuk para sahabat al-bakkā’īn (yang banyak menangis); tentang mereka turun firman Allah Ta‘ālā:﴿ وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ ﴾“sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan.” (QS. At-Taubah: 92)Ka‘b bin ‘Amr (Abu al-Basyar)Khubaib bin YisafAbdullah bin UnaisAbu Dzarr al-Ghifari (Jundub bin Junadah)‘Utbah bin Mas‘ud al-HudzaliAbdullah bin ‘Umar radhiyallāhu ‘anhumā—termasuk yang sering tinggal dan bermalam bersama mereka di masjidHudzaifah bin al-Yaman—juga termasuk yang bermalam bersama merekaAbu ad-Darda’ (‘Uwaimir bin ‘Amir)Abdullah bin Zaid al-JuhaniAl-Hajjaj bin ‘Amr al-AslamiAbu Hurairah ad-DausiTsauban, maula Rasulullah ﷺMu‘adz bin al-Harits al-QariAs-Sa’ib bin KhalladTsabit bin Wadi‘ah(Lihat: Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, jilid 3, hlm. 18). KesimpulanDari Ahlus Shuffah kita belajar satu pelajaran mahal: miskin harta bukan masalah, selama iman tetap hidup dan kita terus meninggalkan karya—karya ilmu, amal, dan manfaat untuk umat.Yang justru mengkhawatirkan adalah ketika seseorang miskin harta sekaligus miskin mental: mudah mengeluh, malas bergerak, lalu berlalu tanpa jejak kebaikan.Maka, jika Allah menakdirkan kita hidup sederhana, jadikan itu alasan untuk semakin produktif dalam ketaatan—agar kelak yang tersisa bukan keluhan, tetapi warisan amal yang Allah terima. Pelajaran berharga di dalam kisah Ahlus Shuffah Kemuliaan tidak selalu identik dengan kelapangan harta; Ahlus Shuffah miskin, tetapi dipuji langsung oleh Allah dalam Al-Qur’an.Menjaga kehormatan diri (ta‘affuf) adalah mahkota orang beriman: mereka tidak menjadikan meminta-minta sebagai jalan hidup.Masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi pusat tarbiyah dan pembinaan umat, sampai menjadi “rumah” bagi yang tidak punya rumah.Ilmu adalah jalan kemuliaan; di antara penghuni Shuffah ada yang datang untuk belajar agama lalu pulang menjadi pengajar bagi kaumnya.Ukhuwah sejati tampak saat saudara kita kekurangan, dan para sahabat memberi perhatian nyata, bukan sekadar simpati.Kebaikan yang ditata dan diorganisasi akan lebih terasa manfaatnya, sebagaimana gagasan Muhammad bin Maslamah dan pengelolaan Mu‘adz bin Jabal.Adab berinfak itu memilih yang baik, bukan menyingkirkan yang jelek; ayat tentang larangan memberi yang “khabīts” menegur mentalitas asal memberi.Nabi ﷺ mendahulukan kebutuhan umat dibanding kenyamanan keluarganya, bahkan menahan sesuatu untuk keluarga demi menolong Ahlus Shuffah.Kefakiran bukan alasan untuk malas atau mengemis, karena para sahabat tetap menjaga ‘iffah dan tidak menjadikan meminta sebagai profesi.Kisah Ahlus Shuffah menegur hati kita: sudahkah kita peduli pada yang lemah, menuntut ilmu dengan ikhlas, dan memberi dengan yang terbaik? Jika kita belum mampu kaya harta, pastikan kita kaya iman, kaya amal, dan kaya kontribusi. Jadikan masjid, majelis ilmu, dan ruang-ruang kebaikan sebagai tempat tumbuhnya karya terbaik kita. Mulailah dari langkah kecil: menjaga ‘iffah, menuntut ilmu dengan ikhlas, membantu saudara yang kekurangan, dan memilih memberi dari yang terbaik. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang meski sederhana dalam dunia, namun besar nilainya di sisi-Nya. Referensi:alukah.net mengenai ahlus shuffah‘Abdul Ghani, M. I. (2003). Buyūt aṣ-Ṣaḥābah ḥawla al-Masjid an-Nabawī ash-Sharīf (Cet. ke-5). Maṭābi‘ ar-Rāshid.— Digarap saat Umrah bersama Unity Tour, lalu diselesaikan di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Januari 2026, 12 Rajab 1447 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsahlus shuffah cerita sahabat nabi jumlah sahabat nabi kota madinah masjid nabawi sahabat nabi