Hari kiamat adalah hari ketika iman dan amal tampak nyata, bahkan dalam bentuk cahaya yang menerangi jalan seorang hamba. Orang-orang beriman mendapatkan cahaya sesuai kadar iman, takwa, dan amal mereka, sedangkan orang-orang munafik kehilangan cahaya itu pada saat yang paling genting. Dari ayat-ayat Surah Al-Hadid dan At-Tahrim ini (juz 27 dan 28), kita belajar pentingnya menjaga keikhlasan, menjauhi syahwat, meninggalkan keraguan, dan tidak tertipu oleh angan-angan kosong. Daftar Isi tutup 1. Cahaya Orang Beriman di Hari Kiamat 2. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat) 3. Cahaya itu Murni Karunia Allah 4. Saat Orang Munafik Kehilangan Cahaya 5. Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang Beriman 5.1. Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamat 6. Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman! Cahaya Orang Beriman di Hari KiamatAllah Ta‘ālā berfirman:يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Ḥadīd: 12)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala mengabarkan tentang orang-orang beriman yang gemar bersedekah, bahwa pada hari kiamat cahaya mereka berjalan di hadapan mereka di padang mahsyar, sesuai dengan kadar amal mereka. Sebagaimana disebutkan oleh Abdullah bin Mas‘ud tentang firman-Nya,يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ، قَالَ: عَلَىٰ قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ يَمُرُّونَ عَلَى الصِّرَاطِ، مِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الْجَبَلِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ النَّخْلَةِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الرَّجُلِ الْقَائِمِ، وَأَدْنَاهُمْ نُورًا مَنْ نُورُهُ فِي إِبْهَامِهِ يَتَّقِدُ مَرَّةً وَيَطْفَأُ مَرَّةً.“Cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, ia berkata: mereka melintasi shirath sesuai dengan amal mereka. Ada yang cahayanya seperti gunung, ada yang seperti pohon kurma, ada yang seperti seorang laki-laki yang berdiri, dan yang paling sedikit cahayanya adalah yang cahayanya berada di ibu jari kakinya, kadang menyala dan kadang padam. (HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir)Qatadah berkata: disebutkan kepada kami bahwa Nabi ﷺ bersabda,مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَىٰ عَدَنَ أَبْيَنَ وَصَنْعَاءَ فَدُونَ ذَلِكَ، حَتَّىٰ إِنَّ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مَوْضِعَ قَدَمَيْهِ.“Di antara orang-orang beriman ada yang cahayanya menerangi dari Madinah hingga ‘Adn Abyan dan Shan‘a, dan ada pula yang kurang dari itu, hingga di antara mereka ada yang cahayanya hanya menerangi tempat kedua telapak kakinya.”Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Husain, dari Mujahid, dari Junadah bin Umayyah, ia berkata: sesungguhnya kalian telah dicatat di sisi Allah dengan nama-nama kalian, tanda-tanda kalian, perhiasan kalian, rahasia kalian, dan majelis kalian. Maka ketika hari kiamat tiba, dikatakan: “Wahai fulan, ini adalah cahayamu.” Dan kepada yang lain dikatakan: “Wahai fulan, tidak ada cahaya bagimu.” Lalu ia membaca ayat, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka.”Adh-Dhahhak berkata: setiap orang akan diberi cahaya pada hari kiamat. Ketika mereka sampai di atas shirath, padamlah cahaya orang-orang munafik. Ketika orang-orang beriman melihat hal itu, mereka merasa takut jika cahaya mereka juga padam sebagaimana padamnya cahaya orang-orang munafik. Maka mereka berkata:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.”Al-Hasan berkata tentang firman-Nya, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, maksudnya adalah di atas shirath.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Abu Darda’ dan Abu Dzar mengabarkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Aku adalah orang pertama yang diizinkan bersujud pada hari kiamat dan orang pertama yang diizinkan mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، كَيْفَ تَعْرِفُ أُمَّتَكَ مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ مَا بَيْنَ نُوحٍ إِلَىٰ أُمَّتِكَ؟Seseorang bertanya: “Wahai Nabi Allah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat dari zaman Nuh hingga umatmu?”قَالَ: «أَعْرِفُهُمْ، مُحَجَّلُونَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ، وَلَا يَكُونُ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَذُرِّيَّتِهِمْ».Beliau menjawab: “Aku mengenali mereka dengan wajah yang bercahaya karena bekas wudhu, yang tidak dimiliki oleh umat lain. Aku mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Aku mengenali mereka dari tanda-tanda di wajah mereka, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang bersinar di hadapan mereka dan pada anak keturunan mereka.”Firman-Nya, “dan di sebelah kanan mereka”, Adh-Dhahhak berkata: yaitu catatan amal mereka berada di tangan kanan mereka, sebagaimana firman Allah, “Barang siapa yang diberikan kitabnya di tangan kanannya.”Firman-Nya, “(dikatakan kepada mereka): ‘Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai’”, maksudnya dikatakan kepada mereka: pada hari ini kalian mendapat kabar gembira berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.“Mereka kekal di dalamnya”, yaitu mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya.“Itulah kemenangan yang besar.”Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala menjelaskan tentang keutamaan iman dan kebahagiaan para pemiliknya pada hari kiamat: “(Yaitu) pada hari ketika engkau melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, cahaya mereka bersinar di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka.”Artinya, ketika hari kiamat terjadi, matahari digulung, bulan menjadi gelap, dan manusia berada dalam kegelapan, serta shirath dibentangkan di atas neraka Jahannam, maka pada saat itulah engkau melihat orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, cahaya mereka berjalan di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Mereka berjalan dengan cahaya dan catatan amal mereka di tangan kanan, dalam keadaan yang sangat dahsyat dan sulit itu, masing-masing sesuai dengan kadar imannya.Pada saat itu, mereka diberi kabar gembira yang paling agung. Dikatakan kepada mereka:“Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian, yaitu surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kalian kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”Sungguh, betapa indah kabar gembira ini di dalam hati mereka, dan betapa nikmat bagi jiwa mereka, karena mereka mendapatkan semua yang diinginkan dan dicintai, serta selamat dari segala keburukan dan hal yang ditakuti. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat)Allah Ta‘ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ḥadīd: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Ayat ini kemungkinan merupakan seruan kepada Ahli Kitab yang telah beriman kepada Musa dan Isa ‘alaihimas salam, agar mereka mengamalkan konsekuensi dari iman mereka, yaitu dengan bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan maksiat, serta beriman kepada Rasul-Nya, Muhammad ﷺ. Jika mereka melakukan hal itu, maka Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yaitu dua bagian pahala: satu pahala atas iman mereka kepada para nabi terdahulu, dan satu pahala atas iman mereka kepada Muhammad ﷺ.Kemungkinan lain, ayat ini bersifat umum mencakup Ahli Kitab dan selain mereka, dan inilah yang lebih tampak. Allah memerintahkan mereka untuk beriman dan bertakwa, yang mencakup seluruh ajaran agama, baik lahir maupun batin, pokok maupun cabangnya. Jika mereka melaksanakan perintah yang agung ini, Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yang hakikat dan besarnya hanya diketahui oleh Allah Ta‘ala. Bisa bermakna pahala atas iman dan pahala atas takwa, atau pahala atas melaksanakan perintah dan pahala atas menjauhi larangan, atau makna dua itu menunjukkan pemberian yang berulang-ulang.“Dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu Allah memberi kalian ilmu, petunjuk, dan cahaya yang kalian gunakan untuk berjalan di tengah kegelapan kebodohan, serta Dia mengampuni dosa-dosa kalian.“Dan Allah memiliki karunia yang besar,” sehingga pahala ini tidaklah dianggap besar bagi Zat Yang memiliki karunia yang agung, yang karunia-Nya meliputi seluruh penduduk langit dan bumi. Tidak ada satu makhluk pun yang lepas dari karunia-Nya walau sekejap mata, bahkan lebih kecil dari itu.Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Telah disebutkan dalam riwayat An-Nasa’i dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau memahami ayat ini tentang orang-orang beriman dari kalangan Ahli Kitab, dan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, sebagaimana disebutkan dalam ayat di surah Al-Qashash, dan sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Sya‘bi, dari Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy‘ari, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:ثَلَاثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَآمَنَ بِي فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَدَّى حَقَّ اللَّهِ وَحَقَّ مَوَالِيهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ أَدَّبَ أَمَتَهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ“Tiga golongan yang mendapatkan pahala dua kali: seorang dari Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepadaku, maka ia mendapat dua pahala; seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya, maka ia mendapat dua pahala; dan seorang yang mendidik budak wanitanya dengan baik, lalu memerdekakannya dan menikahinya, maka ia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pendapat ini juga disepakati oleh Adh-Dhahhak, ‘Utbah bin Abi Hakim, dan selain keduanya, serta dipilih oleh Ibnu Jarir.Sa‘id bin Jubair berkata: ketika Ahli Kitab membanggakan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, maka Allah menurunkan ayat ini untuk umat ini:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya, menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan, dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Maksudnya, dua bagian tersebut adalah dua kali lipat. Allah juga menambahkan bagi mereka, “dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu petunjuk yang dengannya seseorang dapat melihat jalan di tengah kebutaan dan kebodohan, serta mengampuni kalian. Allah melebihkan mereka dengan cahaya dan ampunan. Riwayat ini juga dibawakan oleh Ibnu Jarir.Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta‘ala:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian pembeda (antara yang benar dan yang batil), menghapus kesalahan-kesalahan kalian, dan mengampuni kalian. Dan Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)Sa‘id bin ‘Abdul ‘Aziz berkata: Umar bin Al-Khaththab pernah bertanya kepada seorang alim dari kalangan Yahudi: “Berapa kali lipat paling besar pahala kebaikan yang diberikan kepada kalian?” Ia menjawab: “Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi tiga ratus lima puluh kebaikan.” Maka Umar memuji Allah karena Dia telah memberikan kepada kita dua bagian (pahala). Kemudian Sa‘id menyebutkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ“Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya.”Sa‘id berkata: dua bagian itu pada hari Jumat seperti itu juga. Riwayat ini dibawakan oleh Ibnu Jarir.Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَثَلُكُمْ وَمَثَلُ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَعْمَلَ عُمَّالًا فَقَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ الْيَهُودُ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَىٰ صَلَاةِ الْعَصْرِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ النَّصَارَى، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَىٰ غُرُوبِ الشَّمْسِ عَلَىٰ قِيرَاطَيْنِ قِيرَاطَيْنِ؟ أَلَا فَأَنْتُمُ الَّذِينَ عَمِلْتُمْ، فَغَضِبَتِ النَّصَارَى وَالْيَهُودُ، وَقَالُوا: نَحْنُ أَكْثَرُ عَمَلًا وَأَقَلُّ عَطَاءً، قَالَ: هَلْ ظَلَمْتُكُمْ مِنْ أَجْرِكُمْ شَيْئًا؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: فَإِنَّمَا هُوَ فَضْلِي أُؤْتِيهِ مَنْ أَشَاءُ“Perumpamaan kalian dengan Yahudi dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang mempekerjakan para pekerja. Ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Shubuh hingga tengah hari dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Yahudi bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari tengah hari hingga Ashar dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Nasrani bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Ashar hingga terbenam matahari dengan upah dua qirath dua qirath?’ Maka kalianlah yang bekerja. Lalu orang-orang Nasrani dan Yahudi marah dan berkata: ‘Kami bekerja lebih banyak, tetapi mendapatkan upah lebih sedikit.’ Ia berkata: ‘Apakah aku mengurangi sedikit pun dari upah kalian?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Ia berkata: ‘Itu adalah karunia-Ku, Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki.’”Ahmad berkata: hadits ini juga diriwayatkan kepada kami oleh Mu’ammal, dari Sufyan, dari ‘Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, semisal hadits Nafi‘ darinya.Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari, dari Sulaiman bin Harb, dari Hammad, dari Ayyub, dari Nafi‘ dengan sanad tersebut, dan juga dari Qutaibah, dari Al-Laits, dari Nafi‘ dengan lafaz yang semisal.Al-Bukhari juga berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-‘Ala’, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:مَثَلُ الْمُسْلِمِينَ وَالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَأْجَرَ قَوْمًا يَعْمَلُونَ لَهُ عَمَلًا يَوْمًا إِلَى اللَّيْلِ عَلَىٰ أَجْرٍ مَعْلُومٍ، فَعَمِلُوا إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ فَقَالُوا: لَا حَاجَةَ لَنَا فِي أَجْرِكَ الَّذِي شَرَطْتَ لَنَا، وَمَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، فَقَالَ لَهُمْ: لَا تَفْعَلُوا، أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ وَخُذُوا أَجْرَكُمْ كَامِلًا، فَأَبَوْا وَتَرَكُوا، وَاسْتَأْجَرَ آخَرِينَ بَعْدَهُمْ فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِكُمْ وَلَكُمُ الَّذِي شَرَطْتُ لَهُمْ مِنَ الْأَجْرِ، فَعَمِلُوا، حَتَّىٰ إِذَا كَانَ حِينَ صَلَوْا الْعَصْرَ قَالُوا: مَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، وَلَكَ الْأَجْرُ الَّذِي جَعَلْتَ لَنَا فِيهِ، فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ؛ فَإِنَّ مَا بَقِيَ مِنَ النَّهَارِ شَيْءٌ يَسِيرٌ، فَأَبَوْا، فَاسْتَأْجَرَ قَوْمًا أَنْ يَعْمَلُوا لَهُ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، فَعَمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِهِ حَتَّىٰ غَابَتِ الشَّمْسُ، فَاسْتَكْمَلُوا أَجْرَ الْفَرِيقَيْنِ كِلَيْهِمَا، فَذَلِكَ مَثَلُهُمْ وَمَثَلُ مَا قَبِلُوا مِنْ هَذَا النُّورِ“Perumpamaan kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang menyewa suatu kaum untuk bekerja sehari penuh sampai malam dengan upah tertentu. Mereka bekerja sampai tengah hari, lalu berkata: ‘Kami tidak butuh upah yang engkau janjikan, dan apa yang kami kerjakan sia-sia.’ Ia berkata: ‘Jangan lakukan itu, selesaikan sisa pekerjaan kalian dan ambil upah kalian secara penuh.’ Namun mereka menolak dan pergi. Lalu ia menyewa orang lain setelah mereka dan berkata: ‘Selesaikan sisa hari kalian dan kalian akan mendapatkan upah seperti yang aku janjikan kepada mereka.’ Mereka bekerja, hingga ketika waktu Ashar, mereka berkata: ‘Apa yang kami kerjakan sia-sia, dan upah itu untukmu.’ Ia berkata: ‘Selesaikan sisa pekerjaan kalian, karena yang tersisa dari hari itu hanya sedikit.’ Namun mereka menolak. Lalu ia menyewa suatu kaum untuk menyelesaikan sisa hari itu, maka mereka bekerja hingga matahari terbenam, dan mereka mendapatkan upah kedua kelompok sebelumnya secara penuh. Itulah perumpamaan mereka dan perumpamaan apa yang mereka terima dari cahaya ini.”Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari. Cahaya itu Murni Karunia AllahAllah Ta‘ālā berfirman,﴿نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.” (QS. At-Taḥrīm: 8)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’”Mujahid, Adh-Dhahhak, Al-Hasan Al-Bashri, dan selain mereka berkata: ucapan ini diucapkan oleh orang-orang beriman ketika mereka melihat pada hari kiamat cahaya orang-orang munafik telah padam.Muhammad bin Nashr Al-Marwazi berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi‘ah, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Habib, dari ‘Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, bahwa ia mendengar Abu Dzar dan Abu Darda’ berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ فِي السُّجُودِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ بِرَفْعِ رَأْسِهِ، فَأَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيَّ فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ يَمِينِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ شِمَالِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ“Akulah orang pertama yang diizinkan untuk sujud pada hari kiamat, dan orang pertama yang diizinkan untuk mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke hadapanku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kananku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kiriku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”Seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat?” Beliau menjawab:غُرٌّ مُحَجَّلُونَ مِنْ آثَارِ الطُّهُورِ، وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ مِنَ الْأُمَمِ كَذَلِكَ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ أَنَّهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ“Mereka memiliki wajah dan anggota tubuh yang bercahaya karena bekas wudhu, dan tidak ada umat lain yang memiliki hal itu selain mereka. Aku juga mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal mereka dengan tangan kanan, aku mengenali mereka dari tanda di wajah mereka akibat sujud, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang berjalan di hadapan mereka.”Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ishaq Ath-Thalqani, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, dari Yahya bin Hassan, dari seorang laki-laki dari Bani Kinanah, ia berkata: aku shalat di belakang Rasulullah ﷺ pada tahun penaklukan Makkah, lalu aku mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ لَا تُخْزِنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ya Allah, janganlah Engkau hinakan aku pada hari kiamat.” Saat Orang Munafik Kehilangan CahayaAllah Ta‘ālā berfirman,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al-Ḥadīd: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Ketika orang-orang munafik melihat cahaya orang-orang beriman yang mereka gunakan untuk berjalan, sementara cahaya mereka sendiri telah padam dan mereka berada dalam kegelapan dalam keadaan bingung, mereka berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.”Maksudnya, berilah kami kesempatan agar kami mendapatkan cahaya yang bisa kami gunakan untuk berjalan, sehingga kami selamat dari azab.Maka dikatakan kepada mereka:ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Maksudnya, jika hal itu mungkin dilakukan. Padahal kenyataannya hal itu tidak mungkin, bahkan termasuk sesuatu yang mustahil.Lalu dipisahkan antara orang-orang beriman dan orang-orang munafik dengan sebuah dinding:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Yaitu sebuah dinding yang kokoh dan benteng yang kuat. Bagian dalam yang menghadap orang-orang beriman berisi rahmat, sedangkan bagian luar yang menghadap orang-orang munafik berisi azab. Lalu orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’”Ini adalah pemberitahuan dari Allah tentang apa yang terjadi pada hari kiamat di padang mahsyar berupa berbagai kengerian yang mengguncangkan, gempa yang dahsyat, dan peristiwa-peristiwa yang menakutkan. Pada hari itu, tidak ada yang selamat kecuali orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengamalkan apa yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah menceritakan kepada kami Shafwan bin ‘Amr, telah menceritakan kepadaku Sulaim bin ‘Amir, ia berkata: kami keluar mengiringi jenazah di pintu Damaskus bersama Abu Umamah Al-Bahili. Setelah beliau menyalati jenazah dan mereka mulai menguburkannya, Abu Umamah berkata:“Wahai manusia, kalian sekarang berada di suatu tempat yang di dalamnya kalian membagi-bagi kebaikan dan keburukan. Kalian hampir akan berpindah darinya menuju tempat lain, yaitu ini”—sambil menunjuk ke kubur—“rumah kesendirian, rumah kegelapan, rumah ulat, dan rumah kesempitan, kecuali yang dilapangkan oleh Allah. Kemudian kalian akan berpindah darinya menuju berbagai tempat pada hari kiamat. Pada sebagian tempat itu, manusia akan diliputi oleh suatu perkara dari Allah, sehingga ada wajah yang menjadi putih dan ada wajah yang menjadi hitam.Kemudian kalian berpindah lagi ke tempat lain, lalu manusia diliputi oleh kegelapan yang sangat. Setelah itu, cahaya dibagikan. Orang beriman diberi cahaya, sedangkan orang kafir dan munafik tidak diberi apa pun. Inilah perumpamaan yang Allah sebutkan dalam Kitab-Nya:أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ“Atau seperti kegelapan di lautan yang dalam, yang diliputi ombak di atasnya ombak (pula), di atasnya lagi awan; kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir dia tidak dapat melihatnya. Barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidak ada baginya cahaya.” (QS. An-Nur: 40)Maka orang kafir dan munafik tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang beriman, sebagaimana orang buta tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang yang melihat. Lalu orang-orang munafik berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.” Lalu dikatakan kepada mereka: “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Itulah tipu daya Allah terhadap orang-orang munafik, sebagaimana firman-Nya:يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ“Mereka menipu Allah, dan Allah membalas tipu daya mereka.” (QS. An-Nisa: 142)Maka mereka kembali ke tempat pembagian cahaya, tetapi mereka tidak mendapatkan apa pun. Lalu mereka kembali kepada orang-orang beriman, namun telah dipisahkan antara mereka dengan sebuah dinding yang memiliki pintu:بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Sulaim bin ‘Amir berkata: orang munafik terus tertipu hingga cahaya dibagikan, lalu Allah membedakan antara orang beriman dan orang munafik.Ada lagi tambahan dari Ibnu Katsir sebagai berikut.Abu Al-Qasim Ath-Thabrani berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Alwiyah Al-Qaththan, telah menceritakan kepada kami Isma‘il bin ‘Isa Al-‘Aththar, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Bisyir Abu Hudzaifah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَدْعُو النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِهِمْ سِتْرًا مِنْهُ عَلَىٰ عِبَادِهِ، وَأَمَّا عِنْدَ الصِّرَاطِ فَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي كُلَّ مُؤْمِنٍ نُورًا، وَكُلَّ مُنَافِقٍ نُورًا، فَإِذَا اسْتَوَوْا عَلَى الصِّرَاطِ سَلَبَ اللَّهُ نُورَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ، فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ: ﴿انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ﴾، وَقَالَ الْمُؤْمِنُونَ: ﴿رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا﴾، فَلَا يُذْكَرُ عِنْدَ ذَلِكَ أَحَدٌ أَحَدًا“Sesungguhnya Allah memanggil manusia pada hari kiamat dengan nama-nama mereka sebagai bentuk penutupan (aib) dari-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Adapun di dekat shirath, Allah memberikan kepada setiap orang beriman cahaya, dan kepada setiap orang munafik juga cahaya. Ketika mereka telah berada di atas shirath, Allah mencabut cahaya orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. Maka orang-orang munafik berkata: ‘Tunggulah kami agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’ Dan orang-orang beriman berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.’ Maka pada saat itu, tidak ada seorang pun yang mengingat orang lain.”Firman-Nya:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Al-Hasan dan Qatadah berkata: dinding itu adalah pemisah antara surga dan neraka.‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: itulah yang disebut oleh Allah Ta‘ala dalam firman-Nya:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ“Dan di antara keduanya ada batas.” (QS. Al-A‘raf: 46)Demikian pula diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah dan selainnya, dan inilah pendapat yang benar.Baca juga: Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang BerimanAllah Ta‘ālā berfirman,يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (QS. Al-Ḥadīd: 14)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini sebagai berikut.“Mereka memanggil mereka, ‘Bukankah kami dahulu bersama kalian?’” maksudnya, orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman: bukankah kami dahulu bersama kalian di dunia, menghadiri shalat Jumat bersama kalian, shalat berjamaah bersama kalian, wukuf di Arafah bersama kalian, ikut dalam peperangan bersama kalian, dan menjalankan berbagai kewajiban bersama kalian?“Mereka menjawab, ‘Benar,’” yaitu orang-orang beriman menjawab: benar, kalian dahulu bersama kami.“Namun kalian mencelakakan diri kalian sendiri, menunggu-nunggu, ragu-ragu, dan kalian ditipu oleh angan-angan kosong.” Sebagian ulama salaf berkata: maksudnya kalian mencelakakan diri dengan kenikmatan, maksiat, dan syahwat.“Dan kalian menunggu-nunggu,” maksudnya kalian menunda tobat dari waktu ke waktu.Qatadah berkata: “Dan kalian menunggu-nunggu” yaitu terhadap kebenaran dan para pengikutnya. “Dan kalian ragu-ragu,” yaitu terhadap kebangkitan setelah kematian. “Dan kalian ditipu oleh angan-angan,” yaitu kalian berkata: Allah akan mengampuni kami. Ada juga yang mengatakan: kalian tertipu oleh dunia.“Hingga datang ketetapan Allah,” maksudnya kalian terus dalam keadaan itu hingga datang kematian.“Dan setan telah menipu kalian tentang Allah,” maksudnya setan.Qatadah berkata: mereka terus berada dalam tipuan setan, hingga akhirnya Allah melemparkan mereka ke dalam neraka.Makna ucapan orang-orang beriman kepada orang-orang munafik ini adalah: kalian dahulu bersama kami secara lahiriah, tetapi tanpa niat dan tanpa hati. Kalian berada dalam kebingungan dan keraguan, kalian hanya berbuat untuk dilihat manusia, dan kalian tidak mengingat Allah kecuali sedikit.Mujahid berkata: orang-orang munafik dahulu hidup bersama orang-orang beriman, mereka menikah dengan mereka, bergaul, dan hidup bersama mereka. Namun mereka mati dalam keadaan terpisah. Pada hari kiamat, mereka semua diberi cahaya, tetapi cahaya orang-orang munafik dipadamkan ketika sampai di dekat dinding, lalu dipisahkan antara mereka.Ucapan orang-orang beriman ini tidak bertentangan dengan firman Allah yang mengabarkan tentang mereka:كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ عَنِ الْمُجْرِمِينَ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ“Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan. Mereka berada di dalam surga, saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa: ‘Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam (neraka) Saqar?’ Mereka menjawab: ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, serta kami membicarakan yang batil bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.’” (QS. Al-Muddatstsir: 38–47)Ucapan itu keluar dari orang-orang beriman sebagai bentuk celaan dan teguran keras kepada mereka. Kemudian Allah Ta‘ala berfirman:فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ“Maka tidak berguna bagi mereka syafaat para pemberi syafaat.” (QS. Al-Muddatstsir: 48) Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamatBerdasarkan Al-Hadid ayat 14, sebab tercabutnya cahaya pada hari kiamat dapat diringkas menjadi empat hal:1. Mencelakakan diri dengan maksiat dan syahwat(فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ)2. Menunda tobat dan menunggu-nunggu kebenaran(وَتَرَبَّصْتُمْ)3. Ragu terhadap iman dan hari akhir(وَارْتَبْتُمْ)4. Tertipu oleh angan-angan dan tipuan setan(وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ … وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ) Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!Di zaman sekarang, seseorang bisa tampak dekat dengan agama secara lahiriah, tetapi yang paling menentukan tetaplah keadaan hati di sisi Allah. Banyak orang rajin hadir dalam majelis ilmu, aktif dalam amal, dan terlihat baik di hadapan manusia, namun yang menyelamatkan adalah iman yang jujur dan hati yang bersih. Karena itu, jangan hanya sibuk memperbaiki penampilan ibadah, tetapi perbaikilah juga niat, tobat, keyakinan, dan rasa takut kepada Allah. Semoga Allah menjaga cahaya iman kita, meneguhkan kita di atas kebenaran, dan tidak menjadikan kita termasuk orang yang kehilangan cahaya pada hari kiamat.اللَّهُمَّ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَىٰ طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِينَAllāhumma atmim lanā nūranā, waghfir lanā, wa tsabbit qulūbanā ‘alā ṭā‘atika, waj‘alnā min ‘ibādikal-mukhliṣīn.“Ya Allah, sempurnakanlah cahaya kami, ampunilah kami, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscahaya iman hari akhir hari kiamat iman dan amal munafik nasihat akhirat orang munafik renungan ayat renungan quran rumaysho shirath tafsir Al-Hadid tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran takwa tazkiyatun nafs
Hari kiamat adalah hari ketika iman dan amal tampak nyata, bahkan dalam bentuk cahaya yang menerangi jalan seorang hamba. Orang-orang beriman mendapatkan cahaya sesuai kadar iman, takwa, dan amal mereka, sedangkan orang-orang munafik kehilangan cahaya itu pada saat yang paling genting. Dari ayat-ayat Surah Al-Hadid dan At-Tahrim ini (juz 27 dan 28), kita belajar pentingnya menjaga keikhlasan, menjauhi syahwat, meninggalkan keraguan, dan tidak tertipu oleh angan-angan kosong. Daftar Isi tutup 1. Cahaya Orang Beriman di Hari Kiamat 2. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat) 3. Cahaya itu Murni Karunia Allah 4. Saat Orang Munafik Kehilangan Cahaya 5. Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang Beriman 5.1. Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamat 6. Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman! Cahaya Orang Beriman di Hari KiamatAllah Ta‘ālā berfirman:يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Ḥadīd: 12)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala mengabarkan tentang orang-orang beriman yang gemar bersedekah, bahwa pada hari kiamat cahaya mereka berjalan di hadapan mereka di padang mahsyar, sesuai dengan kadar amal mereka. Sebagaimana disebutkan oleh Abdullah bin Mas‘ud tentang firman-Nya,يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ، قَالَ: عَلَىٰ قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ يَمُرُّونَ عَلَى الصِّرَاطِ، مِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الْجَبَلِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ النَّخْلَةِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الرَّجُلِ الْقَائِمِ، وَأَدْنَاهُمْ نُورًا مَنْ نُورُهُ فِي إِبْهَامِهِ يَتَّقِدُ مَرَّةً وَيَطْفَأُ مَرَّةً.“Cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, ia berkata: mereka melintasi shirath sesuai dengan amal mereka. Ada yang cahayanya seperti gunung, ada yang seperti pohon kurma, ada yang seperti seorang laki-laki yang berdiri, dan yang paling sedikit cahayanya adalah yang cahayanya berada di ibu jari kakinya, kadang menyala dan kadang padam. (HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir)Qatadah berkata: disebutkan kepada kami bahwa Nabi ﷺ bersabda,مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَىٰ عَدَنَ أَبْيَنَ وَصَنْعَاءَ فَدُونَ ذَلِكَ، حَتَّىٰ إِنَّ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مَوْضِعَ قَدَمَيْهِ.“Di antara orang-orang beriman ada yang cahayanya menerangi dari Madinah hingga ‘Adn Abyan dan Shan‘a, dan ada pula yang kurang dari itu, hingga di antara mereka ada yang cahayanya hanya menerangi tempat kedua telapak kakinya.”Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Husain, dari Mujahid, dari Junadah bin Umayyah, ia berkata: sesungguhnya kalian telah dicatat di sisi Allah dengan nama-nama kalian, tanda-tanda kalian, perhiasan kalian, rahasia kalian, dan majelis kalian. Maka ketika hari kiamat tiba, dikatakan: “Wahai fulan, ini adalah cahayamu.” Dan kepada yang lain dikatakan: “Wahai fulan, tidak ada cahaya bagimu.” Lalu ia membaca ayat, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka.”Adh-Dhahhak berkata: setiap orang akan diberi cahaya pada hari kiamat. Ketika mereka sampai di atas shirath, padamlah cahaya orang-orang munafik. Ketika orang-orang beriman melihat hal itu, mereka merasa takut jika cahaya mereka juga padam sebagaimana padamnya cahaya orang-orang munafik. Maka mereka berkata:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.”Al-Hasan berkata tentang firman-Nya, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, maksudnya adalah di atas shirath.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Abu Darda’ dan Abu Dzar mengabarkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Aku adalah orang pertama yang diizinkan bersujud pada hari kiamat dan orang pertama yang diizinkan mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، كَيْفَ تَعْرِفُ أُمَّتَكَ مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ مَا بَيْنَ نُوحٍ إِلَىٰ أُمَّتِكَ؟Seseorang bertanya: “Wahai Nabi Allah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat dari zaman Nuh hingga umatmu?”قَالَ: «أَعْرِفُهُمْ، مُحَجَّلُونَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ، وَلَا يَكُونُ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَذُرِّيَّتِهِمْ».Beliau menjawab: “Aku mengenali mereka dengan wajah yang bercahaya karena bekas wudhu, yang tidak dimiliki oleh umat lain. Aku mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Aku mengenali mereka dari tanda-tanda di wajah mereka, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang bersinar di hadapan mereka dan pada anak keturunan mereka.”Firman-Nya, “dan di sebelah kanan mereka”, Adh-Dhahhak berkata: yaitu catatan amal mereka berada di tangan kanan mereka, sebagaimana firman Allah, “Barang siapa yang diberikan kitabnya di tangan kanannya.”Firman-Nya, “(dikatakan kepada mereka): ‘Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai’”, maksudnya dikatakan kepada mereka: pada hari ini kalian mendapat kabar gembira berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.“Mereka kekal di dalamnya”, yaitu mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya.“Itulah kemenangan yang besar.”Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala menjelaskan tentang keutamaan iman dan kebahagiaan para pemiliknya pada hari kiamat: “(Yaitu) pada hari ketika engkau melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, cahaya mereka bersinar di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka.”Artinya, ketika hari kiamat terjadi, matahari digulung, bulan menjadi gelap, dan manusia berada dalam kegelapan, serta shirath dibentangkan di atas neraka Jahannam, maka pada saat itulah engkau melihat orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, cahaya mereka berjalan di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Mereka berjalan dengan cahaya dan catatan amal mereka di tangan kanan, dalam keadaan yang sangat dahsyat dan sulit itu, masing-masing sesuai dengan kadar imannya.Pada saat itu, mereka diberi kabar gembira yang paling agung. Dikatakan kepada mereka:“Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian, yaitu surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kalian kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”Sungguh, betapa indah kabar gembira ini di dalam hati mereka, dan betapa nikmat bagi jiwa mereka, karena mereka mendapatkan semua yang diinginkan dan dicintai, serta selamat dari segala keburukan dan hal yang ditakuti. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat)Allah Ta‘ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ḥadīd: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Ayat ini kemungkinan merupakan seruan kepada Ahli Kitab yang telah beriman kepada Musa dan Isa ‘alaihimas salam, agar mereka mengamalkan konsekuensi dari iman mereka, yaitu dengan bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan maksiat, serta beriman kepada Rasul-Nya, Muhammad ﷺ. Jika mereka melakukan hal itu, maka Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yaitu dua bagian pahala: satu pahala atas iman mereka kepada para nabi terdahulu, dan satu pahala atas iman mereka kepada Muhammad ﷺ.Kemungkinan lain, ayat ini bersifat umum mencakup Ahli Kitab dan selain mereka, dan inilah yang lebih tampak. Allah memerintahkan mereka untuk beriman dan bertakwa, yang mencakup seluruh ajaran agama, baik lahir maupun batin, pokok maupun cabangnya. Jika mereka melaksanakan perintah yang agung ini, Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yang hakikat dan besarnya hanya diketahui oleh Allah Ta‘ala. Bisa bermakna pahala atas iman dan pahala atas takwa, atau pahala atas melaksanakan perintah dan pahala atas menjauhi larangan, atau makna dua itu menunjukkan pemberian yang berulang-ulang.“Dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu Allah memberi kalian ilmu, petunjuk, dan cahaya yang kalian gunakan untuk berjalan di tengah kegelapan kebodohan, serta Dia mengampuni dosa-dosa kalian.“Dan Allah memiliki karunia yang besar,” sehingga pahala ini tidaklah dianggap besar bagi Zat Yang memiliki karunia yang agung, yang karunia-Nya meliputi seluruh penduduk langit dan bumi. Tidak ada satu makhluk pun yang lepas dari karunia-Nya walau sekejap mata, bahkan lebih kecil dari itu.Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Telah disebutkan dalam riwayat An-Nasa’i dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau memahami ayat ini tentang orang-orang beriman dari kalangan Ahli Kitab, dan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, sebagaimana disebutkan dalam ayat di surah Al-Qashash, dan sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Sya‘bi, dari Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy‘ari, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:ثَلَاثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَآمَنَ بِي فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَدَّى حَقَّ اللَّهِ وَحَقَّ مَوَالِيهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ أَدَّبَ أَمَتَهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ“Tiga golongan yang mendapatkan pahala dua kali: seorang dari Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepadaku, maka ia mendapat dua pahala; seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya, maka ia mendapat dua pahala; dan seorang yang mendidik budak wanitanya dengan baik, lalu memerdekakannya dan menikahinya, maka ia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pendapat ini juga disepakati oleh Adh-Dhahhak, ‘Utbah bin Abi Hakim, dan selain keduanya, serta dipilih oleh Ibnu Jarir.Sa‘id bin Jubair berkata: ketika Ahli Kitab membanggakan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, maka Allah menurunkan ayat ini untuk umat ini:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya, menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan, dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Maksudnya, dua bagian tersebut adalah dua kali lipat. Allah juga menambahkan bagi mereka, “dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu petunjuk yang dengannya seseorang dapat melihat jalan di tengah kebutaan dan kebodohan, serta mengampuni kalian. Allah melebihkan mereka dengan cahaya dan ampunan. Riwayat ini juga dibawakan oleh Ibnu Jarir.Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta‘ala:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian pembeda (antara yang benar dan yang batil), menghapus kesalahan-kesalahan kalian, dan mengampuni kalian. Dan Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)Sa‘id bin ‘Abdul ‘Aziz berkata: Umar bin Al-Khaththab pernah bertanya kepada seorang alim dari kalangan Yahudi: “Berapa kali lipat paling besar pahala kebaikan yang diberikan kepada kalian?” Ia menjawab: “Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi tiga ratus lima puluh kebaikan.” Maka Umar memuji Allah karena Dia telah memberikan kepada kita dua bagian (pahala). Kemudian Sa‘id menyebutkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ“Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya.”Sa‘id berkata: dua bagian itu pada hari Jumat seperti itu juga. Riwayat ini dibawakan oleh Ibnu Jarir.Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَثَلُكُمْ وَمَثَلُ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَعْمَلَ عُمَّالًا فَقَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ الْيَهُودُ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَىٰ صَلَاةِ الْعَصْرِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ النَّصَارَى، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَىٰ غُرُوبِ الشَّمْسِ عَلَىٰ قِيرَاطَيْنِ قِيرَاطَيْنِ؟ أَلَا فَأَنْتُمُ الَّذِينَ عَمِلْتُمْ، فَغَضِبَتِ النَّصَارَى وَالْيَهُودُ، وَقَالُوا: نَحْنُ أَكْثَرُ عَمَلًا وَأَقَلُّ عَطَاءً، قَالَ: هَلْ ظَلَمْتُكُمْ مِنْ أَجْرِكُمْ شَيْئًا؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: فَإِنَّمَا هُوَ فَضْلِي أُؤْتِيهِ مَنْ أَشَاءُ“Perumpamaan kalian dengan Yahudi dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang mempekerjakan para pekerja. Ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Shubuh hingga tengah hari dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Yahudi bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari tengah hari hingga Ashar dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Nasrani bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Ashar hingga terbenam matahari dengan upah dua qirath dua qirath?’ Maka kalianlah yang bekerja. Lalu orang-orang Nasrani dan Yahudi marah dan berkata: ‘Kami bekerja lebih banyak, tetapi mendapatkan upah lebih sedikit.’ Ia berkata: ‘Apakah aku mengurangi sedikit pun dari upah kalian?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Ia berkata: ‘Itu adalah karunia-Ku, Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki.’”Ahmad berkata: hadits ini juga diriwayatkan kepada kami oleh Mu’ammal, dari Sufyan, dari ‘Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, semisal hadits Nafi‘ darinya.Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari, dari Sulaiman bin Harb, dari Hammad, dari Ayyub, dari Nafi‘ dengan sanad tersebut, dan juga dari Qutaibah, dari Al-Laits, dari Nafi‘ dengan lafaz yang semisal.Al-Bukhari juga berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-‘Ala’, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:مَثَلُ الْمُسْلِمِينَ وَالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَأْجَرَ قَوْمًا يَعْمَلُونَ لَهُ عَمَلًا يَوْمًا إِلَى اللَّيْلِ عَلَىٰ أَجْرٍ مَعْلُومٍ، فَعَمِلُوا إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ فَقَالُوا: لَا حَاجَةَ لَنَا فِي أَجْرِكَ الَّذِي شَرَطْتَ لَنَا، وَمَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، فَقَالَ لَهُمْ: لَا تَفْعَلُوا، أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ وَخُذُوا أَجْرَكُمْ كَامِلًا، فَأَبَوْا وَتَرَكُوا، وَاسْتَأْجَرَ آخَرِينَ بَعْدَهُمْ فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِكُمْ وَلَكُمُ الَّذِي شَرَطْتُ لَهُمْ مِنَ الْأَجْرِ، فَعَمِلُوا، حَتَّىٰ إِذَا كَانَ حِينَ صَلَوْا الْعَصْرَ قَالُوا: مَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، وَلَكَ الْأَجْرُ الَّذِي جَعَلْتَ لَنَا فِيهِ، فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ؛ فَإِنَّ مَا بَقِيَ مِنَ النَّهَارِ شَيْءٌ يَسِيرٌ، فَأَبَوْا، فَاسْتَأْجَرَ قَوْمًا أَنْ يَعْمَلُوا لَهُ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، فَعَمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِهِ حَتَّىٰ غَابَتِ الشَّمْسُ، فَاسْتَكْمَلُوا أَجْرَ الْفَرِيقَيْنِ كِلَيْهِمَا، فَذَلِكَ مَثَلُهُمْ وَمَثَلُ مَا قَبِلُوا مِنْ هَذَا النُّورِ“Perumpamaan kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang menyewa suatu kaum untuk bekerja sehari penuh sampai malam dengan upah tertentu. Mereka bekerja sampai tengah hari, lalu berkata: ‘Kami tidak butuh upah yang engkau janjikan, dan apa yang kami kerjakan sia-sia.’ Ia berkata: ‘Jangan lakukan itu, selesaikan sisa pekerjaan kalian dan ambil upah kalian secara penuh.’ Namun mereka menolak dan pergi. Lalu ia menyewa orang lain setelah mereka dan berkata: ‘Selesaikan sisa hari kalian dan kalian akan mendapatkan upah seperti yang aku janjikan kepada mereka.’ Mereka bekerja, hingga ketika waktu Ashar, mereka berkata: ‘Apa yang kami kerjakan sia-sia, dan upah itu untukmu.’ Ia berkata: ‘Selesaikan sisa pekerjaan kalian, karena yang tersisa dari hari itu hanya sedikit.’ Namun mereka menolak. Lalu ia menyewa suatu kaum untuk menyelesaikan sisa hari itu, maka mereka bekerja hingga matahari terbenam, dan mereka mendapatkan upah kedua kelompok sebelumnya secara penuh. Itulah perumpamaan mereka dan perumpamaan apa yang mereka terima dari cahaya ini.”Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari. Cahaya itu Murni Karunia AllahAllah Ta‘ālā berfirman,﴿نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.” (QS. At-Taḥrīm: 8)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’”Mujahid, Adh-Dhahhak, Al-Hasan Al-Bashri, dan selain mereka berkata: ucapan ini diucapkan oleh orang-orang beriman ketika mereka melihat pada hari kiamat cahaya orang-orang munafik telah padam.Muhammad bin Nashr Al-Marwazi berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi‘ah, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Habib, dari ‘Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, bahwa ia mendengar Abu Dzar dan Abu Darda’ berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ فِي السُّجُودِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ بِرَفْعِ رَأْسِهِ، فَأَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيَّ فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ يَمِينِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ شِمَالِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ“Akulah orang pertama yang diizinkan untuk sujud pada hari kiamat, dan orang pertama yang diizinkan untuk mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke hadapanku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kananku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kiriku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”Seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat?” Beliau menjawab:غُرٌّ مُحَجَّلُونَ مِنْ آثَارِ الطُّهُورِ، وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ مِنَ الْأُمَمِ كَذَلِكَ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ أَنَّهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ“Mereka memiliki wajah dan anggota tubuh yang bercahaya karena bekas wudhu, dan tidak ada umat lain yang memiliki hal itu selain mereka. Aku juga mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal mereka dengan tangan kanan, aku mengenali mereka dari tanda di wajah mereka akibat sujud, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang berjalan di hadapan mereka.”Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ishaq Ath-Thalqani, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, dari Yahya bin Hassan, dari seorang laki-laki dari Bani Kinanah, ia berkata: aku shalat di belakang Rasulullah ﷺ pada tahun penaklukan Makkah, lalu aku mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ لَا تُخْزِنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ya Allah, janganlah Engkau hinakan aku pada hari kiamat.” Saat Orang Munafik Kehilangan CahayaAllah Ta‘ālā berfirman,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al-Ḥadīd: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Ketika orang-orang munafik melihat cahaya orang-orang beriman yang mereka gunakan untuk berjalan, sementara cahaya mereka sendiri telah padam dan mereka berada dalam kegelapan dalam keadaan bingung, mereka berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.”Maksudnya, berilah kami kesempatan agar kami mendapatkan cahaya yang bisa kami gunakan untuk berjalan, sehingga kami selamat dari azab.Maka dikatakan kepada mereka:ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Maksudnya, jika hal itu mungkin dilakukan. Padahal kenyataannya hal itu tidak mungkin, bahkan termasuk sesuatu yang mustahil.Lalu dipisahkan antara orang-orang beriman dan orang-orang munafik dengan sebuah dinding:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Yaitu sebuah dinding yang kokoh dan benteng yang kuat. Bagian dalam yang menghadap orang-orang beriman berisi rahmat, sedangkan bagian luar yang menghadap orang-orang munafik berisi azab. Lalu orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’”Ini adalah pemberitahuan dari Allah tentang apa yang terjadi pada hari kiamat di padang mahsyar berupa berbagai kengerian yang mengguncangkan, gempa yang dahsyat, dan peristiwa-peristiwa yang menakutkan. Pada hari itu, tidak ada yang selamat kecuali orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengamalkan apa yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah menceritakan kepada kami Shafwan bin ‘Amr, telah menceritakan kepadaku Sulaim bin ‘Amir, ia berkata: kami keluar mengiringi jenazah di pintu Damaskus bersama Abu Umamah Al-Bahili. Setelah beliau menyalati jenazah dan mereka mulai menguburkannya, Abu Umamah berkata:“Wahai manusia, kalian sekarang berada di suatu tempat yang di dalamnya kalian membagi-bagi kebaikan dan keburukan. Kalian hampir akan berpindah darinya menuju tempat lain, yaitu ini”—sambil menunjuk ke kubur—“rumah kesendirian, rumah kegelapan, rumah ulat, dan rumah kesempitan, kecuali yang dilapangkan oleh Allah. Kemudian kalian akan berpindah darinya menuju berbagai tempat pada hari kiamat. Pada sebagian tempat itu, manusia akan diliputi oleh suatu perkara dari Allah, sehingga ada wajah yang menjadi putih dan ada wajah yang menjadi hitam.Kemudian kalian berpindah lagi ke tempat lain, lalu manusia diliputi oleh kegelapan yang sangat. Setelah itu, cahaya dibagikan. Orang beriman diberi cahaya, sedangkan orang kafir dan munafik tidak diberi apa pun. Inilah perumpamaan yang Allah sebutkan dalam Kitab-Nya:أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ“Atau seperti kegelapan di lautan yang dalam, yang diliputi ombak di atasnya ombak (pula), di atasnya lagi awan; kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir dia tidak dapat melihatnya. Barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidak ada baginya cahaya.” (QS. An-Nur: 40)Maka orang kafir dan munafik tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang beriman, sebagaimana orang buta tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang yang melihat. Lalu orang-orang munafik berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.” Lalu dikatakan kepada mereka: “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Itulah tipu daya Allah terhadap orang-orang munafik, sebagaimana firman-Nya:يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ“Mereka menipu Allah, dan Allah membalas tipu daya mereka.” (QS. An-Nisa: 142)Maka mereka kembali ke tempat pembagian cahaya, tetapi mereka tidak mendapatkan apa pun. Lalu mereka kembali kepada orang-orang beriman, namun telah dipisahkan antara mereka dengan sebuah dinding yang memiliki pintu:بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Sulaim bin ‘Amir berkata: orang munafik terus tertipu hingga cahaya dibagikan, lalu Allah membedakan antara orang beriman dan orang munafik.Ada lagi tambahan dari Ibnu Katsir sebagai berikut.Abu Al-Qasim Ath-Thabrani berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Alwiyah Al-Qaththan, telah menceritakan kepada kami Isma‘il bin ‘Isa Al-‘Aththar, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Bisyir Abu Hudzaifah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَدْعُو النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِهِمْ سِتْرًا مِنْهُ عَلَىٰ عِبَادِهِ، وَأَمَّا عِنْدَ الصِّرَاطِ فَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي كُلَّ مُؤْمِنٍ نُورًا، وَكُلَّ مُنَافِقٍ نُورًا، فَإِذَا اسْتَوَوْا عَلَى الصِّرَاطِ سَلَبَ اللَّهُ نُورَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ، فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ: ﴿انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ﴾، وَقَالَ الْمُؤْمِنُونَ: ﴿رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا﴾، فَلَا يُذْكَرُ عِنْدَ ذَلِكَ أَحَدٌ أَحَدًا“Sesungguhnya Allah memanggil manusia pada hari kiamat dengan nama-nama mereka sebagai bentuk penutupan (aib) dari-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Adapun di dekat shirath, Allah memberikan kepada setiap orang beriman cahaya, dan kepada setiap orang munafik juga cahaya. Ketika mereka telah berada di atas shirath, Allah mencabut cahaya orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. Maka orang-orang munafik berkata: ‘Tunggulah kami agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’ Dan orang-orang beriman berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.’ Maka pada saat itu, tidak ada seorang pun yang mengingat orang lain.”Firman-Nya:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Al-Hasan dan Qatadah berkata: dinding itu adalah pemisah antara surga dan neraka.‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: itulah yang disebut oleh Allah Ta‘ala dalam firman-Nya:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ“Dan di antara keduanya ada batas.” (QS. Al-A‘raf: 46)Demikian pula diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah dan selainnya, dan inilah pendapat yang benar.Baca juga: Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang BerimanAllah Ta‘ālā berfirman,يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (QS. Al-Ḥadīd: 14)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini sebagai berikut.“Mereka memanggil mereka, ‘Bukankah kami dahulu bersama kalian?’” maksudnya, orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman: bukankah kami dahulu bersama kalian di dunia, menghadiri shalat Jumat bersama kalian, shalat berjamaah bersama kalian, wukuf di Arafah bersama kalian, ikut dalam peperangan bersama kalian, dan menjalankan berbagai kewajiban bersama kalian?“Mereka menjawab, ‘Benar,’” yaitu orang-orang beriman menjawab: benar, kalian dahulu bersama kami.“Namun kalian mencelakakan diri kalian sendiri, menunggu-nunggu, ragu-ragu, dan kalian ditipu oleh angan-angan kosong.” Sebagian ulama salaf berkata: maksudnya kalian mencelakakan diri dengan kenikmatan, maksiat, dan syahwat.“Dan kalian menunggu-nunggu,” maksudnya kalian menunda tobat dari waktu ke waktu.Qatadah berkata: “Dan kalian menunggu-nunggu” yaitu terhadap kebenaran dan para pengikutnya. “Dan kalian ragu-ragu,” yaitu terhadap kebangkitan setelah kematian. “Dan kalian ditipu oleh angan-angan,” yaitu kalian berkata: Allah akan mengampuni kami. Ada juga yang mengatakan: kalian tertipu oleh dunia.“Hingga datang ketetapan Allah,” maksudnya kalian terus dalam keadaan itu hingga datang kematian.“Dan setan telah menipu kalian tentang Allah,” maksudnya setan.Qatadah berkata: mereka terus berada dalam tipuan setan, hingga akhirnya Allah melemparkan mereka ke dalam neraka.Makna ucapan orang-orang beriman kepada orang-orang munafik ini adalah: kalian dahulu bersama kami secara lahiriah, tetapi tanpa niat dan tanpa hati. Kalian berada dalam kebingungan dan keraguan, kalian hanya berbuat untuk dilihat manusia, dan kalian tidak mengingat Allah kecuali sedikit.Mujahid berkata: orang-orang munafik dahulu hidup bersama orang-orang beriman, mereka menikah dengan mereka, bergaul, dan hidup bersama mereka. Namun mereka mati dalam keadaan terpisah. Pada hari kiamat, mereka semua diberi cahaya, tetapi cahaya orang-orang munafik dipadamkan ketika sampai di dekat dinding, lalu dipisahkan antara mereka.Ucapan orang-orang beriman ini tidak bertentangan dengan firman Allah yang mengabarkan tentang mereka:كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ عَنِ الْمُجْرِمِينَ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ“Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan. Mereka berada di dalam surga, saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa: ‘Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam (neraka) Saqar?’ Mereka menjawab: ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, serta kami membicarakan yang batil bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.’” (QS. Al-Muddatstsir: 38–47)Ucapan itu keluar dari orang-orang beriman sebagai bentuk celaan dan teguran keras kepada mereka. Kemudian Allah Ta‘ala berfirman:فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ“Maka tidak berguna bagi mereka syafaat para pemberi syafaat.” (QS. Al-Muddatstsir: 48) Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamatBerdasarkan Al-Hadid ayat 14, sebab tercabutnya cahaya pada hari kiamat dapat diringkas menjadi empat hal:1. Mencelakakan diri dengan maksiat dan syahwat(فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ)2. Menunda tobat dan menunggu-nunggu kebenaran(وَتَرَبَّصْتُمْ)3. Ragu terhadap iman dan hari akhir(وَارْتَبْتُمْ)4. Tertipu oleh angan-angan dan tipuan setan(وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ … وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ) Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!Di zaman sekarang, seseorang bisa tampak dekat dengan agama secara lahiriah, tetapi yang paling menentukan tetaplah keadaan hati di sisi Allah. Banyak orang rajin hadir dalam majelis ilmu, aktif dalam amal, dan terlihat baik di hadapan manusia, namun yang menyelamatkan adalah iman yang jujur dan hati yang bersih. Karena itu, jangan hanya sibuk memperbaiki penampilan ibadah, tetapi perbaikilah juga niat, tobat, keyakinan, dan rasa takut kepada Allah. Semoga Allah menjaga cahaya iman kita, meneguhkan kita di atas kebenaran, dan tidak menjadikan kita termasuk orang yang kehilangan cahaya pada hari kiamat.اللَّهُمَّ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَىٰ طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِينَAllāhumma atmim lanā nūranā, waghfir lanā, wa tsabbit qulūbanā ‘alā ṭā‘atika, waj‘alnā min ‘ibādikal-mukhliṣīn.“Ya Allah, sempurnakanlah cahaya kami, ampunilah kami, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscahaya iman hari akhir hari kiamat iman dan amal munafik nasihat akhirat orang munafik renungan ayat renungan quran rumaysho shirath tafsir Al-Hadid tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran takwa tazkiyatun nafs