Tanggung Jawab Suami dalam Menjaga Rumah Tangga agar Tidak Berujung Perceraian

Ketika Al-Qur’an berbicara tentang nafkah, tempat tinggal, talak, rujuk, dan perlakuan baik dalam rumah tangga, pembicaraan itu banyak diarahkan kepada suami. Ini bukan karena istri tidak memiliki kewajiban, tetapi karena suami diberi amanah yang lebih besar dalam urusan perlindungan, pengelolaan keluarga, dan keberlangsungan akad nikah.Karena itu, kegagalan suami menjalankan amanahnya sering membawa pengaruh besar terhadap retaknya rumah tangga. Suami yang menahan nafkah padahal mampu, membiarkan istri dan anak tanpa kepastian, memperlakukan istri dengan buruk, atau menggunakan talak sebagai ancaman, sedang merusak bagian yang paling mendasar dari bangunan keluarga.Namun, kita juga tidak boleh tergesa-gesa berkata bahwa setiap perceraian pasti bersumber dari suami. Al-Qur’an menyebut nusyuz istri, nusyuz suami, serta persengketaan antara keduanya. Maka, yang benar adalah: suami memikul porsi amanah yang lebih besar; karena itu, kelalaiannya dapat membawa dampak yang sangat besar. Akan tetapi, penilaian terhadap setiap rumah tangga tetap harus adil dan melihat keadaan masing-masing.  Daftar Isi tutup 1. 1. Qiwamah Dikaitkan dengan Nafkah 2. 2. Nafkah Anak Tetap Diletakkan di Atas Ayah 3. 3. Talak dan Rujuk Dibatasi agar Suami Tidak Mempermainkan Istri 4. 4. Suami Diperintahkan Memilih Ma‘ruf, Bukan Sekadar Mempertahankan Status Pernikahan 5. 5. Al-Qur’an Juga Menyebut Nusyuz Suami 6. 6. Istri Memiliki Jalan Keluar, Bukan Dipaksa Bertahan dalam Kezaliman 7. Kesimpulan 8. Referensi  1. Qiwamah Dikaitkan dengan NafkahAllah Ta‘ala berfirman,الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ“Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari hartanya.” (QS. An-Nisā’ [4]: 34)Perhatikan sebab yang disebutkan dalam ayat:وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ“Dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari hartanya.”Ibnu Katsir rahimahullah berkata,الرَّجُلُ قَيِّمٌ عَلَى الْمَرْأَةِ، أَيْ: هُوَ رَئِيسُهَا وَكَبِيرُهَا وَالْحَاكِمُ عَلَيْهَا وَمُؤَدِّبُهَا إِذَا اعْوَجَّتْ.وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ، أَيْ: مِنَ الْمُهُورِ وَالنَّفَقَاتِ وَالْكُلَفِ الَّتِي أَوْجَبَهَا اللَّهُ عَلَيْهِمْ لَهُنَّ فِي كِتَابِهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ ﷺ.“Laki-laki adalah pihak yang mengurus perempuan; ia pemimpinnya, penanggung jawabnya, dan pembimbingnya ketika terjadi penyimpangan. Hal itu karena mereka menafkahkan harta berupa mahar, nafkah, dan berbagai tanggungan yang Allah wajibkan atas mereka bagi para istri dalam Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ.”Maksudnya, qiwamah bukan gelar untuk menuntut pelayanan, melainkan amanah yang tampak melalui tanggung jawab nyata. Suami bukan hanya hadir secara fisik di rumah, tetapi hadir dengan kepedulian, nafkah, perlindungan, keputusan yang bertanggung jawab, dan akhlak yang baik. Tafsir Ibnu Katsir QS. An-Nisā’ 4:34. 2. Nafkah Anak Tetap Diletakkan di Atas AyahAllah Ta‘ala berfirman,وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ“Dan kewajiban ayah menanggung makan dan pakaian mereka dengan cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah [2]: 233)Ayat ini turun dalam pembahasan ibu yang menyusui anak. Allah menyebut ayah dengan ungkapan al-maulūd lahu, yakni pihak yang baginya anak itu dilahirkan. Ini menunjukkan bahwa nafkah keluarga bukan sekadar bantuan sukarela, tetapi kewajiban yang melekat pada suami atau ayah sesuai kemampuannya.Nabi ﷺ bersabda,كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ“Cukuplah seseorang berdosa apabila ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.”Takhrij: HR. Abu Dawud no. 1692, Ahmad no. 6495, dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma; dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadits. Lihat Ad-Durar As-Saniyyah.Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud ialah orang-orang yang nafkahnya wajib ditanggung. Termasuk dalam bentuk penelantaran: tidak berusaha mencari penghasilan karena malas padahal mampu, atau memiliki harta tetapi kikir terhadap keluarga.Hadis ini tidak bermakna suami harus selalu kaya. Kesulitan ekonomi, sakit, kehilangan pekerjaan, dan jatuhnya usaha bisa menimpa siapa saja. Yang tercela ialah lari dari tanggung jawab, tidak terbuka, tidak berusaha, dan membiarkan keluarga menanggung akibat sendirian. 3. Talak dan Rujuk Dibatasi agar Suami Tidak Mempermainkan IstriAllah Ta‘ala berfirman,الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ“Talak itu dua kali. Setelah itu, boleh rujuk dengan cara yang patut atau menceraikan dengan cara yang baik.”(QS. Al-Baqarah [2]: 229)Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini membatasi kebiasaan masa jahiliah: seorang suami dahulu dapat menceraikan lalu merujuk istrinya berulang-ulang selama masa idah, sehingga istri tersiksa dan tidak memperoleh kepastian. Allah kemudian membatasi talak dan memerintahkan dua pilihan saja: mempertahankan dengan cara yang baik atau melepaskan dengan cara yang baik. Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Baqarah 2:229.Begitu pula Allah berfirman,وَلَا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِتَعْتَدُوا“Janganlah kamu rujuk mereka untuk memberi kemudaratan sehingga kamu melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah [2]: 231)Jadi, karena talak dan rujuk pada asalnya berada dalam kewenangan suami, Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan suami agar tidak menjadikan kewenangan itu sebagai alat tekanan, hukuman emosional, atau permainan. 4. Suami Diperintahkan Memilih Ma‘ruf, Bukan Sekadar Mempertahankan Status PernikahanAllah Ta‘ala berfirman,وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ“Pergaulilah mereka dengan cara yang patut.” (QS. An-Nisā’ [4]: 19)Dan Allah berfirman,وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ“Para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah [2]: 228)Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan,وَلَهُنَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ الْحَقِّ مِثْلُ مَا لِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ، فَلْيُؤَدِّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِلَى الْآخَرِ مَا يَجِبُ عَلَيْهِ بِالْمَعْرُوفِ.“Para istri memiliki hak atas para suami sebagaimana para suami memiliki hak atas para istri. Maka hendaklah masing-masing menunaikan kepada pasangannya apa yang wajib ia tunaikan dengan cara yang patut.”Beliau juga menukil perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,إِنِّي لَأُحِبُّ أَنْ أَتَزَيَّنَ لِلْمَرْأَةِ كَمَا أُحِبُّ أَنْ تَتَزَيَّنَ لِي الْمَرْأَةُ.“Aku sungguh suka berhias untuk istriku sebagaimana aku suka ia berhias untukku.”Ini mengajarkan bahwa rumah tangga bukan hanya tentang daftar kewajiban istri kepada suami. Suami juga dituntut menghadirkan kebaikan, perhatian, pemenuhan hak, dan suasana aman bagi istrinya. Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Baqarah 2:228. 5. Al-Qur’an Juga Menyebut Nusyuz SuamiTidak benar bila masalah rumah tangga hanya dipandang dari kemungkinan kesalahan istri. Allah Ta‘ala berfirman,وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنۢ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَالصُّلْحُ خَيْرٌ“Jika seorang perempuan khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya. Perdamaian itu lebih baik.” (QS. An-Nisā’ [4]: 128)Ibnu Katsir menjelaskan bahwa keadaan ini terjadi ketika seorang istri melihat suaminya mulai menjauh, tidak lagi tertarik, atau berpaling darinya. Dalam keadaan tersebut, keduanya boleh membuat perdamaian dengan kerelaan, misalnya istri merelakan sebagian haknya bila ia memang ingin mempertahankan pernikahan. Beliau menegaskan bahwa perdamaian lebih baik daripada perpisahan. Tafsir Ibnu Katsir QS. An-Nisā’ 4:128.Imam Ath-Ṭabari rahimahullah menerangkan makna nusyuz suami:اسْتِعْلَاءً بِنَفْسِهِ عَنْهَا إِلَى غَيْرِهَا، أَثَرَةً عَلَيْهَا، وَارْتِفَاعًا بِهَا عَنْهَا، إِمَّا لِبُغْضَةٍ، وَإِمَّا لِكَرَاهَةٍ مِنْهُ بَعْضَ أَسْبَابِهَا.“Suami meninggikan dirinya atas istrinya dengan lebih memilih yang lain, mengutamakan yang lain atasnya, dan menjauh darinya; bisa karena kebencian atau karena ia tidak menyukai sebagian keadaan istrinya.”Beliau juga menjelaskan bahwa i‘rāḍ berarti suami memalingkan wajah atau mengurangi sebagian manfaat dan perhatian yang dahulu diberikan kepada istrinya. Tafsir Ath-Ṭabari QS. An-Nisā’ 4:128. 6. Istri Memiliki Jalan Keluar, Bukan Dipaksa Bertahan dalam KezalimanAllah Ta‘ala berfirman dalam pembahasan khulu‘,فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ“Jika kamu khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa bagi keduanya tentang pembayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 229)Ayat ini menunjukkan bahwa syariat tidak menjadikan perempuan sebagai pihak yang tidak mempunyai pilihan. Jika kehidupan bersama tidak lagi memungkinkan keduanya menegakkan batas-batas Allah, terdapat jalan khulu‘. Dalam perkara mudarat lain—seperti suami tidak memberi nafkah padahal mampu, melakukan kekerasan, atau menghilang—pembatalan nikah melalui hakim juga dibahas dalam fikih.Di sisi lain, Al-Qur’an memerintahkan mediasi ketika konflik telah menguat:وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا“Jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka utuslah seorang penengah dari keluarga laki-laki dan seorang penengah dari keluarga perempuan.” (QS. An-Nisā’ [4]: 35)Ayat ini memakai ungkapan syiqāq baynihimā—persengketaan antara keduanya. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak membangun cara pandang yang selalu menyalahkan satu pihak. KesimpulanPernyataan yang paling tepat bukanlah, “Perceraian selalu lebih karena suami.” Pernyataan yang lebih ilmiah dan adil ialah:“Al-Qur’an menempatkan suami sebagai pihak yang memikul amanah besar dalam nafkah, perlindungan, perlakuan ma‘ruf, talak, dan rujuk. Karena itu, kelalaian suami dalam amanah tersebut sering menjadi sebab besar rusaknya rumah tangga. Namun, Al-Qur’an juga mengakui adanya kesalahan istri, nusyuz suami, dan konflik yang melibatkan kedua pihak. Maka, setiap kasus harus dinilai secara adil, tanpa menutupi kezaliman suami dan tanpa menggeneralisasi seluruh perceraian sebagai kesalahan satu pihak.”Suami hendaknya takut bukan hanya pada kata “cerai”, tetapi pada pertanyaan yang lebih dalam: Apakah aku telah menjalankan qiwamah sebagai amanah, atau hanya menuntut hak sebagai suami? ReferensiAth-Ṭabari, M. ibn Jarīr. (2001). Jāmi‘ al-bayān ‘an ta’wīl āy al-Qur’ān (A. M. Shākir, Ed.). Mu’assasah Ar-Risālah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura4-aya128.htmlIbnu Katsir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salāmah, Ed.). Dār Ṭayyibah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura4-aya34.htmlIbnu Katsir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salāmah, Ed.). Dār Ṭayyibah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura2-aya228.htmlIbnu Katsir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salāmah, Ed.). Dār Ṭayyibah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura2-aya229.htmlIbnu Katsir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salāmah, Ed.). Dār Ṭayyibah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura4-aya128.htmlAn-Nawawi, Y. ibn S. (n.d.). Al-Majmū‘ sharḥ al-Muhadzdzab. Dār al-Fikr. Penjelasan hadis tersedia di https://dorar.net/hadith/sharh/118619Abu Dawud, S. ibn al-Asy‘ats. (n.d.). Sunan Abī Dāwūd (Hadis no. 1692). https://dorar.net/h/QGU2Uiuk?osoul=1 —- 23 Rabiul Akhir 1448 H, 6 Oktober 2026Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshak istri hak suami keluarga sakinah nafkah nasihat pernikahan perceraian qiwamah rumah tangga suami talak

Tanggung Jawab Suami dalam Menjaga Rumah Tangga agar Tidak Berujung Perceraian

Ketika Al-Qur’an berbicara tentang nafkah, tempat tinggal, talak, rujuk, dan perlakuan baik dalam rumah tangga, pembicaraan itu banyak diarahkan kepada suami. Ini bukan karena istri tidak memiliki kewajiban, tetapi karena suami diberi amanah yang lebih besar dalam urusan perlindungan, pengelolaan keluarga, dan keberlangsungan akad nikah.Karena itu, kegagalan suami menjalankan amanahnya sering membawa pengaruh besar terhadap retaknya rumah tangga. Suami yang menahan nafkah padahal mampu, membiarkan istri dan anak tanpa kepastian, memperlakukan istri dengan buruk, atau menggunakan talak sebagai ancaman, sedang merusak bagian yang paling mendasar dari bangunan keluarga.Namun, kita juga tidak boleh tergesa-gesa berkata bahwa setiap perceraian pasti bersumber dari suami. Al-Qur’an menyebut nusyuz istri, nusyuz suami, serta persengketaan antara keduanya. Maka, yang benar adalah: suami memikul porsi amanah yang lebih besar; karena itu, kelalaiannya dapat membawa dampak yang sangat besar. Akan tetapi, penilaian terhadap setiap rumah tangga tetap harus adil dan melihat keadaan masing-masing.  Daftar Isi tutup 1. 1. Qiwamah Dikaitkan dengan Nafkah 2. 2. Nafkah Anak Tetap Diletakkan di Atas Ayah 3. 3. Talak dan Rujuk Dibatasi agar Suami Tidak Mempermainkan Istri 4. 4. Suami Diperintahkan Memilih Ma‘ruf, Bukan Sekadar Mempertahankan Status Pernikahan 5. 5. Al-Qur’an Juga Menyebut Nusyuz Suami 6. 6. Istri Memiliki Jalan Keluar, Bukan Dipaksa Bertahan dalam Kezaliman 7. Kesimpulan 8. Referensi  1. Qiwamah Dikaitkan dengan NafkahAllah Ta‘ala berfirman,الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ“Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari hartanya.” (QS. An-Nisā’ [4]: 34)Perhatikan sebab yang disebutkan dalam ayat:وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ“Dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari hartanya.”Ibnu Katsir rahimahullah berkata,الرَّجُلُ قَيِّمٌ عَلَى الْمَرْأَةِ، أَيْ: هُوَ رَئِيسُهَا وَكَبِيرُهَا وَالْحَاكِمُ عَلَيْهَا وَمُؤَدِّبُهَا إِذَا اعْوَجَّتْ.وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ، أَيْ: مِنَ الْمُهُورِ وَالنَّفَقَاتِ وَالْكُلَفِ الَّتِي أَوْجَبَهَا اللَّهُ عَلَيْهِمْ لَهُنَّ فِي كِتَابِهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ ﷺ.“Laki-laki adalah pihak yang mengurus perempuan; ia pemimpinnya, penanggung jawabnya, dan pembimbingnya ketika terjadi penyimpangan. Hal itu karena mereka menafkahkan harta berupa mahar, nafkah, dan berbagai tanggungan yang Allah wajibkan atas mereka bagi para istri dalam Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ.”Maksudnya, qiwamah bukan gelar untuk menuntut pelayanan, melainkan amanah yang tampak melalui tanggung jawab nyata. Suami bukan hanya hadir secara fisik di rumah, tetapi hadir dengan kepedulian, nafkah, perlindungan, keputusan yang bertanggung jawab, dan akhlak yang baik. Tafsir Ibnu Katsir QS. An-Nisā’ 4:34. 2. Nafkah Anak Tetap Diletakkan di Atas AyahAllah Ta‘ala berfirman,وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ“Dan kewajiban ayah menanggung makan dan pakaian mereka dengan cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah [2]: 233)Ayat ini turun dalam pembahasan ibu yang menyusui anak. Allah menyebut ayah dengan ungkapan al-maulūd lahu, yakni pihak yang baginya anak itu dilahirkan. Ini menunjukkan bahwa nafkah keluarga bukan sekadar bantuan sukarela, tetapi kewajiban yang melekat pada suami atau ayah sesuai kemampuannya.Nabi ﷺ bersabda,كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ“Cukuplah seseorang berdosa apabila ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.”Takhrij: HR. Abu Dawud no. 1692, Ahmad no. 6495, dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma; dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadits. Lihat Ad-Durar As-Saniyyah.Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud ialah orang-orang yang nafkahnya wajib ditanggung. Termasuk dalam bentuk penelantaran: tidak berusaha mencari penghasilan karena malas padahal mampu, atau memiliki harta tetapi kikir terhadap keluarga.Hadis ini tidak bermakna suami harus selalu kaya. Kesulitan ekonomi, sakit, kehilangan pekerjaan, dan jatuhnya usaha bisa menimpa siapa saja. Yang tercela ialah lari dari tanggung jawab, tidak terbuka, tidak berusaha, dan membiarkan keluarga menanggung akibat sendirian. 3. Talak dan Rujuk Dibatasi agar Suami Tidak Mempermainkan IstriAllah Ta‘ala berfirman,الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ“Talak itu dua kali. Setelah itu, boleh rujuk dengan cara yang patut atau menceraikan dengan cara yang baik.”(QS. Al-Baqarah [2]: 229)Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini membatasi kebiasaan masa jahiliah: seorang suami dahulu dapat menceraikan lalu merujuk istrinya berulang-ulang selama masa idah, sehingga istri tersiksa dan tidak memperoleh kepastian. Allah kemudian membatasi talak dan memerintahkan dua pilihan saja: mempertahankan dengan cara yang baik atau melepaskan dengan cara yang baik. Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Baqarah 2:229.Begitu pula Allah berfirman,وَلَا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِتَعْتَدُوا“Janganlah kamu rujuk mereka untuk memberi kemudaratan sehingga kamu melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah [2]: 231)Jadi, karena talak dan rujuk pada asalnya berada dalam kewenangan suami, Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan suami agar tidak menjadikan kewenangan itu sebagai alat tekanan, hukuman emosional, atau permainan. 4. Suami Diperintahkan Memilih Ma‘ruf, Bukan Sekadar Mempertahankan Status PernikahanAllah Ta‘ala berfirman,وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ“Pergaulilah mereka dengan cara yang patut.” (QS. An-Nisā’ [4]: 19)Dan Allah berfirman,وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ“Para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah [2]: 228)Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan,وَلَهُنَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ الْحَقِّ مِثْلُ مَا لِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ، فَلْيُؤَدِّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِلَى الْآخَرِ مَا يَجِبُ عَلَيْهِ بِالْمَعْرُوفِ.“Para istri memiliki hak atas para suami sebagaimana para suami memiliki hak atas para istri. Maka hendaklah masing-masing menunaikan kepada pasangannya apa yang wajib ia tunaikan dengan cara yang patut.”Beliau juga menukil perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,إِنِّي لَأُحِبُّ أَنْ أَتَزَيَّنَ لِلْمَرْأَةِ كَمَا أُحِبُّ أَنْ تَتَزَيَّنَ لِي الْمَرْأَةُ.“Aku sungguh suka berhias untuk istriku sebagaimana aku suka ia berhias untukku.”Ini mengajarkan bahwa rumah tangga bukan hanya tentang daftar kewajiban istri kepada suami. Suami juga dituntut menghadirkan kebaikan, perhatian, pemenuhan hak, dan suasana aman bagi istrinya. Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Baqarah 2:228. 5. Al-Qur’an Juga Menyebut Nusyuz SuamiTidak benar bila masalah rumah tangga hanya dipandang dari kemungkinan kesalahan istri. Allah Ta‘ala berfirman,وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنۢ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَالصُّلْحُ خَيْرٌ“Jika seorang perempuan khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya. Perdamaian itu lebih baik.” (QS. An-Nisā’ [4]: 128)Ibnu Katsir menjelaskan bahwa keadaan ini terjadi ketika seorang istri melihat suaminya mulai menjauh, tidak lagi tertarik, atau berpaling darinya. Dalam keadaan tersebut, keduanya boleh membuat perdamaian dengan kerelaan, misalnya istri merelakan sebagian haknya bila ia memang ingin mempertahankan pernikahan. Beliau menegaskan bahwa perdamaian lebih baik daripada perpisahan. Tafsir Ibnu Katsir QS. An-Nisā’ 4:128.Imam Ath-Ṭabari rahimahullah menerangkan makna nusyuz suami:اسْتِعْلَاءً بِنَفْسِهِ عَنْهَا إِلَى غَيْرِهَا، أَثَرَةً عَلَيْهَا، وَارْتِفَاعًا بِهَا عَنْهَا، إِمَّا لِبُغْضَةٍ، وَإِمَّا لِكَرَاهَةٍ مِنْهُ بَعْضَ أَسْبَابِهَا.“Suami meninggikan dirinya atas istrinya dengan lebih memilih yang lain, mengutamakan yang lain atasnya, dan menjauh darinya; bisa karena kebencian atau karena ia tidak menyukai sebagian keadaan istrinya.”Beliau juga menjelaskan bahwa i‘rāḍ berarti suami memalingkan wajah atau mengurangi sebagian manfaat dan perhatian yang dahulu diberikan kepada istrinya. Tafsir Ath-Ṭabari QS. An-Nisā’ 4:128. 6. Istri Memiliki Jalan Keluar, Bukan Dipaksa Bertahan dalam KezalimanAllah Ta‘ala berfirman dalam pembahasan khulu‘,فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ“Jika kamu khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa bagi keduanya tentang pembayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 229)Ayat ini menunjukkan bahwa syariat tidak menjadikan perempuan sebagai pihak yang tidak mempunyai pilihan. Jika kehidupan bersama tidak lagi memungkinkan keduanya menegakkan batas-batas Allah, terdapat jalan khulu‘. Dalam perkara mudarat lain—seperti suami tidak memberi nafkah padahal mampu, melakukan kekerasan, atau menghilang—pembatalan nikah melalui hakim juga dibahas dalam fikih.Di sisi lain, Al-Qur’an memerintahkan mediasi ketika konflik telah menguat:وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا“Jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka utuslah seorang penengah dari keluarga laki-laki dan seorang penengah dari keluarga perempuan.” (QS. An-Nisā’ [4]: 35)Ayat ini memakai ungkapan syiqāq baynihimā—persengketaan antara keduanya. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak membangun cara pandang yang selalu menyalahkan satu pihak. KesimpulanPernyataan yang paling tepat bukanlah, “Perceraian selalu lebih karena suami.” Pernyataan yang lebih ilmiah dan adil ialah:“Al-Qur’an menempatkan suami sebagai pihak yang memikul amanah besar dalam nafkah, perlindungan, perlakuan ma‘ruf, talak, dan rujuk. Karena itu, kelalaian suami dalam amanah tersebut sering menjadi sebab besar rusaknya rumah tangga. Namun, Al-Qur’an juga mengakui adanya kesalahan istri, nusyuz suami, dan konflik yang melibatkan kedua pihak. Maka, setiap kasus harus dinilai secara adil, tanpa menutupi kezaliman suami dan tanpa menggeneralisasi seluruh perceraian sebagai kesalahan satu pihak.”Suami hendaknya takut bukan hanya pada kata “cerai”, tetapi pada pertanyaan yang lebih dalam: Apakah aku telah menjalankan qiwamah sebagai amanah, atau hanya menuntut hak sebagai suami? ReferensiAth-Ṭabari, M. ibn Jarīr. (2001). Jāmi‘ al-bayān ‘an ta’wīl āy al-Qur’ān (A. M. Shākir, Ed.). Mu’assasah Ar-Risālah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura4-aya128.htmlIbnu Katsir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salāmah, Ed.). Dār Ṭayyibah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura4-aya34.htmlIbnu Katsir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salāmah, Ed.). Dār Ṭayyibah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura2-aya228.htmlIbnu Katsir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salāmah, Ed.). Dār Ṭayyibah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura2-aya229.htmlIbnu Katsir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salāmah, Ed.). Dār Ṭayyibah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura4-aya128.htmlAn-Nawawi, Y. ibn S. (n.d.). Al-Majmū‘ sharḥ al-Muhadzdzab. Dār al-Fikr. Penjelasan hadis tersedia di https://dorar.net/hadith/sharh/118619Abu Dawud, S. ibn al-Asy‘ats. (n.d.). Sunan Abī Dāwūd (Hadis no. 1692). https://dorar.net/h/QGU2Uiuk?osoul=1 —- 23 Rabiul Akhir 1448 H, 6 Oktober 2026Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshak istri hak suami keluarga sakinah nafkah nasihat pernikahan perceraian qiwamah rumah tangga suami talak
Ketika Al-Qur’an berbicara tentang nafkah, tempat tinggal, talak, rujuk, dan perlakuan baik dalam rumah tangga, pembicaraan itu banyak diarahkan kepada suami. Ini bukan karena istri tidak memiliki kewajiban, tetapi karena suami diberi amanah yang lebih besar dalam urusan perlindungan, pengelolaan keluarga, dan keberlangsungan akad nikah.Karena itu, kegagalan suami menjalankan amanahnya sering membawa pengaruh besar terhadap retaknya rumah tangga. Suami yang menahan nafkah padahal mampu, membiarkan istri dan anak tanpa kepastian, memperlakukan istri dengan buruk, atau menggunakan talak sebagai ancaman, sedang merusak bagian yang paling mendasar dari bangunan keluarga.Namun, kita juga tidak boleh tergesa-gesa berkata bahwa setiap perceraian pasti bersumber dari suami. Al-Qur’an menyebut nusyuz istri, nusyuz suami, serta persengketaan antara keduanya. Maka, yang benar adalah: suami memikul porsi amanah yang lebih besar; karena itu, kelalaiannya dapat membawa dampak yang sangat besar. Akan tetapi, penilaian terhadap setiap rumah tangga tetap harus adil dan melihat keadaan masing-masing.  Daftar Isi tutup 1. 1. Qiwamah Dikaitkan dengan Nafkah 2. 2. Nafkah Anak Tetap Diletakkan di Atas Ayah 3. 3. Talak dan Rujuk Dibatasi agar Suami Tidak Mempermainkan Istri 4. 4. Suami Diperintahkan Memilih Ma‘ruf, Bukan Sekadar Mempertahankan Status Pernikahan 5. 5. Al-Qur’an Juga Menyebut Nusyuz Suami 6. 6. Istri Memiliki Jalan Keluar, Bukan Dipaksa Bertahan dalam Kezaliman 7. Kesimpulan 8. Referensi  1. Qiwamah Dikaitkan dengan NafkahAllah Ta‘ala berfirman,الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ“Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari hartanya.” (QS. An-Nisā’ [4]: 34)Perhatikan sebab yang disebutkan dalam ayat:وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ“Dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari hartanya.”Ibnu Katsir rahimahullah berkata,الرَّجُلُ قَيِّمٌ عَلَى الْمَرْأَةِ، أَيْ: هُوَ رَئِيسُهَا وَكَبِيرُهَا وَالْحَاكِمُ عَلَيْهَا وَمُؤَدِّبُهَا إِذَا اعْوَجَّتْ.وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ، أَيْ: مِنَ الْمُهُورِ وَالنَّفَقَاتِ وَالْكُلَفِ الَّتِي أَوْجَبَهَا اللَّهُ عَلَيْهِمْ لَهُنَّ فِي كِتَابِهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ ﷺ.“Laki-laki adalah pihak yang mengurus perempuan; ia pemimpinnya, penanggung jawabnya, dan pembimbingnya ketika terjadi penyimpangan. Hal itu karena mereka menafkahkan harta berupa mahar, nafkah, dan berbagai tanggungan yang Allah wajibkan atas mereka bagi para istri dalam Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ.”Maksudnya, qiwamah bukan gelar untuk menuntut pelayanan, melainkan amanah yang tampak melalui tanggung jawab nyata. Suami bukan hanya hadir secara fisik di rumah, tetapi hadir dengan kepedulian, nafkah, perlindungan, keputusan yang bertanggung jawab, dan akhlak yang baik. Tafsir Ibnu Katsir QS. An-Nisā’ 4:34. 2. Nafkah Anak Tetap Diletakkan di Atas AyahAllah Ta‘ala berfirman,وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ“Dan kewajiban ayah menanggung makan dan pakaian mereka dengan cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah [2]: 233)Ayat ini turun dalam pembahasan ibu yang menyusui anak. Allah menyebut ayah dengan ungkapan al-maulūd lahu, yakni pihak yang baginya anak itu dilahirkan. Ini menunjukkan bahwa nafkah keluarga bukan sekadar bantuan sukarela, tetapi kewajiban yang melekat pada suami atau ayah sesuai kemampuannya.Nabi ﷺ bersabda,كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ“Cukuplah seseorang berdosa apabila ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.”Takhrij: HR. Abu Dawud no. 1692, Ahmad no. 6495, dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma; dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadits. Lihat Ad-Durar As-Saniyyah.Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud ialah orang-orang yang nafkahnya wajib ditanggung. Termasuk dalam bentuk penelantaran: tidak berusaha mencari penghasilan karena malas padahal mampu, atau memiliki harta tetapi kikir terhadap keluarga.Hadis ini tidak bermakna suami harus selalu kaya. Kesulitan ekonomi, sakit, kehilangan pekerjaan, dan jatuhnya usaha bisa menimpa siapa saja. Yang tercela ialah lari dari tanggung jawab, tidak terbuka, tidak berusaha, dan membiarkan keluarga menanggung akibat sendirian. 3. Talak dan Rujuk Dibatasi agar Suami Tidak Mempermainkan IstriAllah Ta‘ala berfirman,الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ“Talak itu dua kali. Setelah itu, boleh rujuk dengan cara yang patut atau menceraikan dengan cara yang baik.”(QS. Al-Baqarah [2]: 229)Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini membatasi kebiasaan masa jahiliah: seorang suami dahulu dapat menceraikan lalu merujuk istrinya berulang-ulang selama masa idah, sehingga istri tersiksa dan tidak memperoleh kepastian. Allah kemudian membatasi talak dan memerintahkan dua pilihan saja: mempertahankan dengan cara yang baik atau melepaskan dengan cara yang baik. Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Baqarah 2:229.Begitu pula Allah berfirman,وَلَا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِتَعْتَدُوا“Janganlah kamu rujuk mereka untuk memberi kemudaratan sehingga kamu melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah [2]: 231)Jadi, karena talak dan rujuk pada asalnya berada dalam kewenangan suami, Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan suami agar tidak menjadikan kewenangan itu sebagai alat tekanan, hukuman emosional, atau permainan. 4. Suami Diperintahkan Memilih Ma‘ruf, Bukan Sekadar Mempertahankan Status PernikahanAllah Ta‘ala berfirman,وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ“Pergaulilah mereka dengan cara yang patut.” (QS. An-Nisā’ [4]: 19)Dan Allah berfirman,وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ“Para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah [2]: 228)Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan,وَلَهُنَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ الْحَقِّ مِثْلُ مَا لِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ، فَلْيُؤَدِّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِلَى الْآخَرِ مَا يَجِبُ عَلَيْهِ بِالْمَعْرُوفِ.“Para istri memiliki hak atas para suami sebagaimana para suami memiliki hak atas para istri. Maka hendaklah masing-masing menunaikan kepada pasangannya apa yang wajib ia tunaikan dengan cara yang patut.”Beliau juga menukil perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,إِنِّي لَأُحِبُّ أَنْ أَتَزَيَّنَ لِلْمَرْأَةِ كَمَا أُحِبُّ أَنْ تَتَزَيَّنَ لِي الْمَرْأَةُ.“Aku sungguh suka berhias untuk istriku sebagaimana aku suka ia berhias untukku.”Ini mengajarkan bahwa rumah tangga bukan hanya tentang daftar kewajiban istri kepada suami. Suami juga dituntut menghadirkan kebaikan, perhatian, pemenuhan hak, dan suasana aman bagi istrinya. Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Baqarah 2:228. 5. Al-Qur’an Juga Menyebut Nusyuz SuamiTidak benar bila masalah rumah tangga hanya dipandang dari kemungkinan kesalahan istri. Allah Ta‘ala berfirman,وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنۢ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَالصُّلْحُ خَيْرٌ“Jika seorang perempuan khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya. Perdamaian itu lebih baik.” (QS. An-Nisā’ [4]: 128)Ibnu Katsir menjelaskan bahwa keadaan ini terjadi ketika seorang istri melihat suaminya mulai menjauh, tidak lagi tertarik, atau berpaling darinya. Dalam keadaan tersebut, keduanya boleh membuat perdamaian dengan kerelaan, misalnya istri merelakan sebagian haknya bila ia memang ingin mempertahankan pernikahan. Beliau menegaskan bahwa perdamaian lebih baik daripada perpisahan. Tafsir Ibnu Katsir QS. An-Nisā’ 4:128.Imam Ath-Ṭabari rahimahullah menerangkan makna nusyuz suami:اسْتِعْلَاءً بِنَفْسِهِ عَنْهَا إِلَى غَيْرِهَا، أَثَرَةً عَلَيْهَا، وَارْتِفَاعًا بِهَا عَنْهَا، إِمَّا لِبُغْضَةٍ، وَإِمَّا لِكَرَاهَةٍ مِنْهُ بَعْضَ أَسْبَابِهَا.“Suami meninggikan dirinya atas istrinya dengan lebih memilih yang lain, mengutamakan yang lain atasnya, dan menjauh darinya; bisa karena kebencian atau karena ia tidak menyukai sebagian keadaan istrinya.”Beliau juga menjelaskan bahwa i‘rāḍ berarti suami memalingkan wajah atau mengurangi sebagian manfaat dan perhatian yang dahulu diberikan kepada istrinya. Tafsir Ath-Ṭabari QS. An-Nisā’ 4:128. 6. Istri Memiliki Jalan Keluar, Bukan Dipaksa Bertahan dalam KezalimanAllah Ta‘ala berfirman dalam pembahasan khulu‘,فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ“Jika kamu khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa bagi keduanya tentang pembayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 229)Ayat ini menunjukkan bahwa syariat tidak menjadikan perempuan sebagai pihak yang tidak mempunyai pilihan. Jika kehidupan bersama tidak lagi memungkinkan keduanya menegakkan batas-batas Allah, terdapat jalan khulu‘. Dalam perkara mudarat lain—seperti suami tidak memberi nafkah padahal mampu, melakukan kekerasan, atau menghilang—pembatalan nikah melalui hakim juga dibahas dalam fikih.Di sisi lain, Al-Qur’an memerintahkan mediasi ketika konflik telah menguat:وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا“Jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka utuslah seorang penengah dari keluarga laki-laki dan seorang penengah dari keluarga perempuan.” (QS. An-Nisā’ [4]: 35)Ayat ini memakai ungkapan syiqāq baynihimā—persengketaan antara keduanya. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak membangun cara pandang yang selalu menyalahkan satu pihak. KesimpulanPernyataan yang paling tepat bukanlah, “Perceraian selalu lebih karena suami.” Pernyataan yang lebih ilmiah dan adil ialah:“Al-Qur’an menempatkan suami sebagai pihak yang memikul amanah besar dalam nafkah, perlindungan, perlakuan ma‘ruf, talak, dan rujuk. Karena itu, kelalaian suami dalam amanah tersebut sering menjadi sebab besar rusaknya rumah tangga. Namun, Al-Qur’an juga mengakui adanya kesalahan istri, nusyuz suami, dan konflik yang melibatkan kedua pihak. Maka, setiap kasus harus dinilai secara adil, tanpa menutupi kezaliman suami dan tanpa menggeneralisasi seluruh perceraian sebagai kesalahan satu pihak.”Suami hendaknya takut bukan hanya pada kata “cerai”, tetapi pada pertanyaan yang lebih dalam: Apakah aku telah menjalankan qiwamah sebagai amanah, atau hanya menuntut hak sebagai suami? ReferensiAth-Ṭabari, M. ibn Jarīr. (2001). Jāmi‘ al-bayān ‘an ta’wīl āy al-Qur’ān (A. M. Shākir, Ed.). Mu’assasah Ar-Risālah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura4-aya128.htmlIbnu Katsir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salāmah, Ed.). Dār Ṭayyibah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura4-aya34.htmlIbnu Katsir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salāmah, Ed.). Dār Ṭayyibah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura2-aya228.htmlIbnu Katsir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salāmah, Ed.). Dār Ṭayyibah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura2-aya229.htmlIbnu Katsir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salāmah, Ed.). Dār Ṭayyibah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura4-aya128.htmlAn-Nawawi, Y. ibn S. (n.d.). Al-Majmū‘ sharḥ al-Muhadzdzab. Dār al-Fikr. Penjelasan hadis tersedia di https://dorar.net/hadith/sharh/118619Abu Dawud, S. ibn al-Asy‘ats. (n.d.). Sunan Abī Dāwūd (Hadis no. 1692). https://dorar.net/h/QGU2Uiuk?osoul=1 —- 23 Rabiul Akhir 1448 H, 6 Oktober 2026Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshak istri hak suami keluarga sakinah nafkah nasihat pernikahan perceraian qiwamah rumah tangga suami talak


Ketika Al-Qur’an berbicara tentang nafkah, tempat tinggal, talak, rujuk, dan perlakuan baik dalam rumah tangga, pembicaraan itu banyak diarahkan kepada suami. Ini bukan karena istri tidak memiliki kewajiban, tetapi karena suami diberi amanah yang lebih besar dalam urusan perlindungan, pengelolaan keluarga, dan keberlangsungan akad nikah.Karena itu, kegagalan suami menjalankan amanahnya sering membawa pengaruh besar terhadap retaknya rumah tangga. Suami yang menahan nafkah padahal mampu, membiarkan istri dan anak tanpa kepastian, memperlakukan istri dengan buruk, atau menggunakan talak sebagai ancaman, sedang merusak bagian yang paling mendasar dari bangunan keluarga.Namun, kita juga tidak boleh tergesa-gesa berkata bahwa setiap perceraian pasti bersumber dari suami. Al-Qur’an menyebut nusyuz istri, nusyuz suami, serta persengketaan antara keduanya. Maka, yang benar adalah: suami memikul porsi amanah yang lebih besar; karena itu, kelalaiannya dapat membawa dampak yang sangat besar. Akan tetapi, penilaian terhadap setiap rumah tangga tetap harus adil dan melihat keadaan masing-masing.  Daftar Isi tutup 1. 1. Qiwamah Dikaitkan dengan Nafkah 2. 2. Nafkah Anak Tetap Diletakkan di Atas Ayah 3. 3. Talak dan Rujuk Dibatasi agar Suami Tidak Mempermainkan Istri 4. 4. Suami Diperintahkan Memilih Ma‘ruf, Bukan Sekadar Mempertahankan Status Pernikahan 5. 5. Al-Qur’an Juga Menyebut Nusyuz Suami 6. 6. Istri Memiliki Jalan Keluar, Bukan Dipaksa Bertahan dalam Kezaliman 7. Kesimpulan 8. Referensi  1. Qiwamah Dikaitkan dengan NafkahAllah Ta‘ala berfirman,الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ“Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari hartanya.” (QS. An-Nisā’ [4]: 34)Perhatikan sebab yang disebutkan dalam ayat:وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ“Dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari hartanya.”Ibnu Katsir rahimahullah berkata,الرَّجُلُ قَيِّمٌ عَلَى الْمَرْأَةِ، أَيْ: هُوَ رَئِيسُهَا وَكَبِيرُهَا وَالْحَاكِمُ عَلَيْهَا وَمُؤَدِّبُهَا إِذَا اعْوَجَّتْ.وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ، أَيْ: مِنَ الْمُهُورِ وَالنَّفَقَاتِ وَالْكُلَفِ الَّتِي أَوْجَبَهَا اللَّهُ عَلَيْهِمْ لَهُنَّ فِي كِتَابِهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ ﷺ.“Laki-laki adalah pihak yang mengurus perempuan; ia pemimpinnya, penanggung jawabnya, dan pembimbingnya ketika terjadi penyimpangan. Hal itu karena mereka menafkahkan harta berupa mahar, nafkah, dan berbagai tanggungan yang Allah wajibkan atas mereka bagi para istri dalam Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ.”Maksudnya, qiwamah bukan gelar untuk menuntut pelayanan, melainkan amanah yang tampak melalui tanggung jawab nyata. Suami bukan hanya hadir secara fisik di rumah, tetapi hadir dengan kepedulian, nafkah, perlindungan, keputusan yang bertanggung jawab, dan akhlak yang baik. Tafsir Ibnu Katsir QS. An-Nisā’ 4:34. 2. Nafkah Anak Tetap Diletakkan di Atas AyahAllah Ta‘ala berfirman,وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ“Dan kewajiban ayah menanggung makan dan pakaian mereka dengan cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah [2]: 233)Ayat ini turun dalam pembahasan ibu yang menyusui anak. Allah menyebut ayah dengan ungkapan al-maulūd lahu, yakni pihak yang baginya anak itu dilahirkan. Ini menunjukkan bahwa nafkah keluarga bukan sekadar bantuan sukarela, tetapi kewajiban yang melekat pada suami atau ayah sesuai kemampuannya.Nabi ﷺ bersabda,كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ“Cukuplah seseorang berdosa apabila ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.”Takhrij: HR. Abu Dawud no. 1692, Ahmad no. 6495, dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma; dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadits. Lihat Ad-Durar As-Saniyyah.Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud ialah orang-orang yang nafkahnya wajib ditanggung. Termasuk dalam bentuk penelantaran: tidak berusaha mencari penghasilan karena malas padahal mampu, atau memiliki harta tetapi kikir terhadap keluarga.Hadis ini tidak bermakna suami harus selalu kaya. Kesulitan ekonomi, sakit, kehilangan pekerjaan, dan jatuhnya usaha bisa menimpa siapa saja. Yang tercela ialah lari dari tanggung jawab, tidak terbuka, tidak berusaha, dan membiarkan keluarga menanggung akibat sendirian. 3. Talak dan Rujuk Dibatasi agar Suami Tidak Mempermainkan IstriAllah Ta‘ala berfirman,الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ“Talak itu dua kali. Setelah itu, boleh rujuk dengan cara yang patut atau menceraikan dengan cara yang baik.”(QS. Al-Baqarah [2]: 229)Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini membatasi kebiasaan masa jahiliah: seorang suami dahulu dapat menceraikan lalu merujuk istrinya berulang-ulang selama masa idah, sehingga istri tersiksa dan tidak memperoleh kepastian. Allah kemudian membatasi talak dan memerintahkan dua pilihan saja: mempertahankan dengan cara yang baik atau melepaskan dengan cara yang baik. Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Baqarah 2:229.Begitu pula Allah berfirman,وَلَا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِتَعْتَدُوا“Janganlah kamu rujuk mereka untuk memberi kemudaratan sehingga kamu melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah [2]: 231)Jadi, karena talak dan rujuk pada asalnya berada dalam kewenangan suami, Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan suami agar tidak menjadikan kewenangan itu sebagai alat tekanan, hukuman emosional, atau permainan. 4. Suami Diperintahkan Memilih Ma‘ruf, Bukan Sekadar Mempertahankan Status PernikahanAllah Ta‘ala berfirman,وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ“Pergaulilah mereka dengan cara yang patut.” (QS. An-Nisā’ [4]: 19)Dan Allah berfirman,وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ“Para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah [2]: 228)Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan,وَلَهُنَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ الْحَقِّ مِثْلُ مَا لِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ، فَلْيُؤَدِّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِلَى الْآخَرِ مَا يَجِبُ عَلَيْهِ بِالْمَعْرُوفِ.“Para istri memiliki hak atas para suami sebagaimana para suami memiliki hak atas para istri. Maka hendaklah masing-masing menunaikan kepada pasangannya apa yang wajib ia tunaikan dengan cara yang patut.”Beliau juga menukil perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,إِنِّي لَأُحِبُّ أَنْ أَتَزَيَّنَ لِلْمَرْأَةِ كَمَا أُحِبُّ أَنْ تَتَزَيَّنَ لِي الْمَرْأَةُ.“Aku sungguh suka berhias untuk istriku sebagaimana aku suka ia berhias untukku.”Ini mengajarkan bahwa rumah tangga bukan hanya tentang daftar kewajiban istri kepada suami. Suami juga dituntut menghadirkan kebaikan, perhatian, pemenuhan hak, dan suasana aman bagi istrinya. Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Baqarah 2:228. 5. Al-Qur’an Juga Menyebut Nusyuz SuamiTidak benar bila masalah rumah tangga hanya dipandang dari kemungkinan kesalahan istri. Allah Ta‘ala berfirman,وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنۢ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَالصُّلْحُ خَيْرٌ“Jika seorang perempuan khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya. Perdamaian itu lebih baik.” (QS. An-Nisā’ [4]: 128)Ibnu Katsir menjelaskan bahwa keadaan ini terjadi ketika seorang istri melihat suaminya mulai menjauh, tidak lagi tertarik, atau berpaling darinya. Dalam keadaan tersebut, keduanya boleh membuat perdamaian dengan kerelaan, misalnya istri merelakan sebagian haknya bila ia memang ingin mempertahankan pernikahan. Beliau menegaskan bahwa perdamaian lebih baik daripada perpisahan. Tafsir Ibnu Katsir QS. An-Nisā’ 4:128.Imam Ath-Ṭabari rahimahullah menerangkan makna nusyuz suami:اسْتِعْلَاءً بِنَفْسِهِ عَنْهَا إِلَى غَيْرِهَا، أَثَرَةً عَلَيْهَا، وَارْتِفَاعًا بِهَا عَنْهَا، إِمَّا لِبُغْضَةٍ، وَإِمَّا لِكَرَاهَةٍ مِنْهُ بَعْضَ أَسْبَابِهَا.“Suami meninggikan dirinya atas istrinya dengan lebih memilih yang lain, mengutamakan yang lain atasnya, dan menjauh darinya; bisa karena kebencian atau karena ia tidak menyukai sebagian keadaan istrinya.”Beliau juga menjelaskan bahwa i‘rāḍ berarti suami memalingkan wajah atau mengurangi sebagian manfaat dan perhatian yang dahulu diberikan kepada istrinya. Tafsir Ath-Ṭabari QS. An-Nisā’ 4:128. 6. Istri Memiliki Jalan Keluar, Bukan Dipaksa Bertahan dalam KezalimanAllah Ta‘ala berfirman dalam pembahasan khulu‘,فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ“Jika kamu khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa bagi keduanya tentang pembayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 229)Ayat ini menunjukkan bahwa syariat tidak menjadikan perempuan sebagai pihak yang tidak mempunyai pilihan. Jika kehidupan bersama tidak lagi memungkinkan keduanya menegakkan batas-batas Allah, terdapat jalan khulu‘. Dalam perkara mudarat lain—seperti suami tidak memberi nafkah padahal mampu, melakukan kekerasan, atau menghilang—pembatalan nikah melalui hakim juga dibahas dalam fikih.Di sisi lain, Al-Qur’an memerintahkan mediasi ketika konflik telah menguat:وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا“Jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka utuslah seorang penengah dari keluarga laki-laki dan seorang penengah dari keluarga perempuan.” (QS. An-Nisā’ [4]: 35)Ayat ini memakai ungkapan syiqāq baynihimā—persengketaan antara keduanya. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak membangun cara pandang yang selalu menyalahkan satu pihak. KesimpulanPernyataan yang paling tepat bukanlah, “Perceraian selalu lebih karena suami.” Pernyataan yang lebih ilmiah dan adil ialah:“Al-Qur’an menempatkan suami sebagai pihak yang memikul amanah besar dalam nafkah, perlindungan, perlakuan ma‘ruf, talak, dan rujuk. Karena itu, kelalaian suami dalam amanah tersebut sering menjadi sebab besar rusaknya rumah tangga. Namun, Al-Qur’an juga mengakui adanya kesalahan istri, nusyuz suami, dan konflik yang melibatkan kedua pihak. Maka, setiap kasus harus dinilai secara adil, tanpa menutupi kezaliman suami dan tanpa menggeneralisasi seluruh perceraian sebagai kesalahan satu pihak.”Suami hendaknya takut bukan hanya pada kata “cerai”, tetapi pada pertanyaan yang lebih dalam: Apakah aku telah menjalankan qiwamah sebagai amanah, atau hanya menuntut hak sebagai suami? ReferensiAth-Ṭabari, M. ibn Jarīr. (2001). Jāmi‘ al-bayān ‘an ta’wīl āy al-Qur’ān (A. M. Shākir, Ed.). Mu’assasah Ar-Risālah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura4-aya128.htmlIbnu Katsir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salāmah, Ed.). Dār Ṭayyibah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura4-aya34.htmlIbnu Katsir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salāmah, Ed.). Dār Ṭayyibah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura2-aya228.htmlIbnu Katsir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salāmah, Ed.). Dār Ṭayyibah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura2-aya229.htmlIbnu Katsir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salāmah, Ed.). Dār Ṭayyibah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura4-aya128.htmlAn-Nawawi, Y. ibn S. (n.d.). Al-Majmū‘ sharḥ al-Muhadzdzab. Dār al-Fikr. Penjelasan hadis tersedia di https://dorar.net/hadith/sharh/118619Abu Dawud, S. ibn al-Asy‘ats. (n.d.). Sunan Abī Dāwūd (Hadis no. 1692). https://dorar.net/h/QGU2Uiuk?osoul=1 —- 23 Rabiul Akhir 1448 H, 6 Oktober 2026Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshak istri hak suami keluarga sakinah nafkah nasihat pernikahan perceraian qiwamah rumah tangga suami talak

Jauhi Syubhat agar Tak Sesat

Syubhat berbahaya bukan karena kebatilannya terlihat jelas, tetapi justru karena kebatilan itu sering datang memakai pakaian kebenaran. Satu potongan video, satu istilah yang terdengar ilmiah, atau satu pendapat yang dikemas meyakinkan bisa membuat orang yang kurang ilmu mulai meragukan agamanya. Karena itu, mengenali syubhat dan mengetahui cara menjauhinya adalah bagian penting dalam menjaga hati agar tetap berada di atas petunjuk. Apa itu Syubhat?Kata syubhat (الشُّبْهَة) berasal dari makna adanya kemiripan dan kesamaran.Sesuatu disebut syubhat karena kebenaran bercampur atau menyerupai kebatilan sehingga orang yang tidak memiliki ilmu dan bashirah bisa sulit membedakannya.Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan:وَالشُّبْهَةُ: وَارِدٌ يَرِدُ عَلَى الْقَلْبِ، يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ انْكِشَافِ الْحَقِّ لَهُ، فَمَتَى بَاشَرَ الْقَلْبُ حَقِيقَةَ الْعِلْمِ، لَمْ تُؤَثِّرْ تِلْكَ الشُّبْهَةُ فِيهِ، بَلْ يَقْوَى عِلْمُهُ وَيَقِينُهُ بِرَدِّهَا وَمَعْرِفَةِ بُطْلَانِهَا، وَمَتَى لَمْ يُبَاشِرْ حَقِيقَةَ الْعِلْمِ بِالْحَقِّ قَلْبُهُ قَدَحَتْ فِيهِ الشَّكَّ بِأَوَّلِ وَهْلَةٍ، فَإِنْ تَدَارَكَهَا وَإِلَّا تَتَابَعَتْ عَلَى قَلْبِهِ أَمْثَالُهَا، حَتَّى يَصِيرَ شَاكًّا مُرْتَابًا.“Syubhat adalah sesuatu yang datang kepada hati lalu menghalangi hati tersebut dari tersingkapnya kebenaran. Jika hakikat ilmu telah benar-benar menyentuh hati, syubhat itu tidak akan memengaruhinya. Bahkan ilmu dan keyakinannya semakin kuat ketika ia mampu membantah dan mengetahui kebatilannya. Namun, jika hati belum benar-benar mengenal hakikat kebenaran, syubhat pertama yang datang dapat menyalakan keraguan. Jika tidak segera ditangani, syubhat-syubhat lain akan datang berturut-turut sampai seseorang menjadi penuh keraguan dan kebimbangan.” (Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, buku “Lebih Kaya dengan Ilmu”, hlm. 66).Maka, syubhat bukan sekadar “ada pertanyaan”.Bertanya untuk mencari kebenaran adalah baik.Syubhat menjadi berbahaya ketika kekeliruan masuk ke dalam hati sehingga kebenaran terlihat meragukan dan kebatilan justru tampak masuk akal. Syubhat Tidak Selalu Sama dengan Perkara Musytabih dalam Halal dan HaramAda istilah yang harus dibedakan.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ…“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara samar yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Siapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari, no. 52 dan Muslim, no. 1599).Takhrij: Hadis dari An-Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī, no. 52; Muslim dalam Ṣaḥīḥ Muslim, no. 1599; juga diriwayatkan Abu Dawud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, dan Ahmad. Hadis ini sahih.Musytabihāt dalam hadis ini berkaitan dengan perkara hukum yang belum jelas bagi banyak orang.Sedangkan syubhat pemikiran yang sedang kita bahas lebih luas: kerancuan yang masuk kepada cara seseorang memahami akidah, agama, wahyu, nilai, atau kebenaran.Keduanya sama-sama menuntut kehati-hatian, tetapi tidak selalu identik. Apa itu Sesat atau Ḍalālah?Dalam bahasa Al-Qur’an, ḍalāl (الضَّلَال) adalah lawan dari hidayah. Artinya keluar, menyimpang, atau tidak berada di jalan petunjuk yang benar.Allah Ta’ala berfirman,فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ“Tidak ada setelah kebenaran itu kecuali kesesatan.” (QS. Yunus: 32)Allah juga berfirman,وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ“Siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.” (QS. Az-Zumar: 36)Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:مَنْ فَارَقَ الدَّلِيلَ ضَلَّ السَّبِيلَ، وَلَا دَلِيلَ إِلَّا بِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ ﷺ“Siapa yang meninggalkan dalil, ia akan tersesat dari jalan. Tidak ada petunjuk yang sebenarnya kecuali dengan apa yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Ibnul Qayyim, Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, 1:299).Karena itu, kesesatan bukan hanya berarti sengaja membenci kebenaran.Seseorang bisa tersesat karena:tidak mengetahui kebenaran,salah memahami dalil,mengikuti hawa nafsu,mengikuti tokoh tanpa ilmu,terpengaruh syubhat,atau menjadikan sesuatu selain wahyu sebagai hakim tertinggi atas wahyu. Apakah Syubhat Bisa Membuat Orang Sesat?Jawabannya: bisa.Namun, tidak setiap orang yang terkena satu syubhat otomatis divonis sebagai orang sesat, ahli bid’ah, apalagi kafir.Ada perbedaan antara:terkena syubhat,belum mengetahui jawabannya,meyakini kesalahan karena ketidaktahuan,dan sengaja menolak kebenaran setelah jelas hujahnya.Yang perlu diwaspadai adalah prosesnya.Ibnul Qayyim menjelaskan:وَقَوْلُهُ: «يَنْقَدِحُ الشَّكُّ فِي قَلْبِهِ بِأَوَّلِ عَارِضٍ مِنْ شُبْهَةٍ»؛ هَذَا لِضَعْفِ عِلْمِهِ وَقِلَّةِ بَصِيرَتِهِ، إِذَا وَرَدَتْ عَلَى قَلْبِهِ أَدْنَى شُبْهَةٍ قَدَحَتْ فِيهِ الشَّكَّ وَالرَّيْبَ، بِخِلَافِ الرَّاسِخِ فِي الْعِلْمِ، لَوْ وَرَدَتْ عَلَيْهِ مِنَ الشُّبَهِ بِعَدَدِ أَمْوَاجِ الْبَحْرِ مَا أَزَالَتْ يَقِينَهُ، وَلَا قَدَحَتْ فِيهِ شَكًّا؛ لِأَنَّهُ قَدْ رَسَخَ فِي الْعِلْمِ، فَلَا تَسْتَفِزُّهُ الشُّبُهَاتُ، بَلْ إِذَا وَرَدَتْ عَلَيْهِ رَدَّهَا حَرَسُ الْعِلْمِ وَجَيْشُهُ مَغْلُولَةً مَغْلُوبَةً.Maknanya, orang yang lemah ilmunya dapat terguncang hanya oleh satu syubhat kecil. Adapun orang yang mendalam ilmunya, seandainya datang kepadanya syubhat sebanyak gelombang lautan, keyakinannya tidak mudah hilang. Pasukan ilmu yang berada di dalam hatinya akan menolak syubhat tersebut.Gambaran sederhananya:lemah ilmu → syubhat masuk → timbul ragu → syubhat dibiarkan → keraguan bertambah → kebenaran menjadi kabur → seseorang dapat tersesat.Karena itu, ilmu bukan hanya menambah informasi.Ilmu adalah benteng hati. Dua Pasukan yang Menyerang Hati: Syubhat dan SyahwatIbnul Qayyim menjelaskan bahwa hati dapat diserang oleh dua pasukan kebatilan:جَيْشُ شَهَوَاتِ الْغَيِّ، وَجَيْشُ شُبُهَاتِ الْبَاطِلِ“Pasukan syahwat yang menjerumuskan dan pasukan syubhat kebatilan.”Jika hati menerima syahwat, keinginan yang salah akan menguasai perbuatan.Jika hati menerima syubhat, keraguan dan pemikiran yang salah akan menguasai keyakinan dan lisan.Maka penyakit manusia secara umum dapat dilihat dari dua arah:Syubhat merusak cara berpikir.Syahwat merusak cara menginginkan.Orang yang terkena syahwat bisa berkata:“Saya tahu ini salah, tetapi saya masih ingin melakukannya.”Sedangkan orang yang terkena syubhat bisa berkata:“Saya justru yakin ini benar.”Di sinilah syubhat terkadang lebih sulit ditangani.Ia membuat seseorang melakukan kesalahan sambil merasa sedang membela kebenaran. Mengapa Disebut Syubhat? Karena Kebatilan Memakai Baju KebenaranIbnul Qayyim rahimahullah berkata:وَإِنَّمَا سُمِّيَتِ الشُّبْهَةُ شُبْهَةً لِاشْتِبَاهِ الْحَقِّ بِالْبَاطِلِ فِيهَا؛ فَإِنَّهَا تَلْبَسُ ثَوْبَ الْحَقِّ عَلَى جِسْمِ الْبَاطِلِ، وَأَكْثَرُ النَّاسِ أَصْحَابُ حُسْنٍ ظَاهِرٍ، فَيَنْظُرُ النَّاظِرُ فِيمَا أُلْبِسَتْهُ مِنَ اللِّبَاسِ فَيَعْتَقِدُ صِحَّتَهَا، وَأَمَّا صَاحِبُ الْعِلْمِ وَالْيَقِينِ فَإِنَّهُ لَا يَغْتَرُّ بِذَلِكَ، بَلْ يُجَاوِزُ نَظَرَهُ إِلَى بَاطِنِهَا وَمَا تَحْتَ لِبَاسِهَا، فَيَنْكَشِفُ لَهُ حَقِيقَتُهَا.“Syubhat dinamakan syubhat karena bercampurnya kebenaran dan kebatilan di dalamnya. Syubhat mengenakan pakaian kebenaran pada tubuh kebatilan. Kebanyakan manusia melihat apa yang tampak dari luarnya sehingga mengira bahwa syubhat itu benar. Adapun orang yang memiliki ilmu dan keyakinan tidak tertipu dengannya. Ia melihat lebih jauh kepada apa yang ada di balik pakaian tersebut sehingga hakikatnya tersingkap.”Kalimat ini sangat relevan pada zaman media sosial.Syubhat hari ini sering datang dengan kemasan:“riset membuktikan …”“secara logika …”“akal sehat mengatakan …”“atas nama kemanusiaan …”“demi kebebasan …”“demi toleransi …”“semua agama sebenarnya sama …”“yang penting hatinya baik …”“yang penting niatnya baik …”“ustadz terkenal juga mengatakan …”Tidak semua istilah itu salah.Namun, jangan hanya melihat kemasannya.Tanyakan:Apa yang sebenarnya dimaksud?Apa dalilnya?Benarkah kesimpulannya? Syubhat Seperti Uang Palsu yang Berlapis PerakIbnul Qayyim rahimahullah membuat perumpamaan yang sangat menarik:وَمِثَالُ هَذَا: الدِّرْهَمُ الزَّائِفُ؛ فَإِنَّهُ يَغْتَرُّ بِهِ الْجَاهِلُ بِالنَّقْدِ، نَظَرًا إِلَى مَا عَلَيْهِ مِنْ لِبَاسِ الْفِضَّةِ، وَالنَّاقِدُ الْبَصِيرُ يُجَاوِزُ نَظَرَهُ إِلَى مَا وَرَاءَ ذَلِكَ فَيَطَّلِعُ عَلَى زَيْفِهِ.فَاللَّفْظُ الْحَسَنُ الْفَصِيحُ هُوَ لِلشُّبْهَةِ بِمَنْزِلَةِ اللِّبَاسِ مِنَ الْفِضَّةِ عَلَى الدِّرْهَمِ الزَّائِفِ، وَالْمَعْنَى كَالنُّحَاسِ الَّذِي تَحْتَهُ.وَكَمْ قَدْ قَتَلَ هَذَا الِاغْتِرَارُ مِنْ خَلْقٍ لَا يُحْصِيهِمْ إِلَّا اللهُ!وَإِذَا تَأَمَّلَ الْعَاقِلُ الْفَطِنُ هَذَا الْقَدْرَ وَتَدَبَّرَهُ رَأَى أَكْثَرَ النَّاسِ يَقْبَلُ الْمَذْهَبَ وَالْمَقَالَةَ بِلَفْظٍ، وَيَرُدُّهَا بِعَيْنِهَا بِلَفْظٍ آخَرَ!، وَقَدْ رَأَيْتُ أَنَا مِنْ هَذَا فِي كُتُبِ النَّاسِ مَا شَاءَ اللهُ.وَكَمْ قَدْ رُدَّ مِنَ الْحَقِّ بِتَشْنِيعِهِ بِلِبَاسٍ مِنَ اللَّفْظِ قَبِيحٍ!وَفِي مِثْلِ هَذَا قَالَ أَئِمَّةُ السُّنَّةِ ــ مِنْهُمْ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ ــ: «لَا نُزِيلُ عَنِ اللهِ صِفَةً مِنْ صِفَاتِهِ لِأَجْلِ شَنَاعَةٍ شُنِّعَتْ».فَهَؤُلَاءِ الْجَهْمِيَّةُ يُسَمُّونَ إِثْبَاتَ صِفَاتِ الْكَمَالِ لِلَّهِ ــ مِنْ حَيَاتِهِ، وَعِلْمِهِ، وَكَلَامِهِ، وَسَمْعِهِ، وَبَصَرِهِ، وَسَائِرِ مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ ــ تَشْبِيهًا وَتَجْسِيمًا، وَمَنْ أَثْبَتَ ذَلِكَ مُشَبِّهًا؛ فَلَا يَنْفِرُ مِنْ هَذَا الْمَعْنَى الْحَقِّ لِأَجْلِ هَذِهِ التَّسْمِيَةِ الْبَاطِلَةِ إِلَّا الْعُقُولُ الصَّغِيرَةُ الْقَاصِرَةُ، خَفَافِيشُ الْبَصَائِرِ.وَكُلُّ أَهْلِ نِحْلَةٍ وَمَقَالَةٍ يَكْسُونَ نِحْلَتَهُمْ وَمَقَالَتَهُمْ أَحْسَنَ مَا يَقْدِرُونَ عَلَيْهِ مِنَ الْأَلْفَاظِ، وَمَقَالَةَ مُخَالِفِيهِمْ أَقْبَحَ مَا يَقْدِرُونَ عَلَيْهِ مِنَ الْأَلْفَاظِ، وَمَنْ رَزَقَهُ اللهُ بَصِيرَةً فَهُوَ يَكْشِفُ بِهَا حَقِيقَةَ مَا تَحْتَ تِلْكَ الْأَلْفَاظِ مِنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، وَلَا يَغْتَرُّ بِاللَّفْظِ، كَمَا قِيلَ فِي هَذَا الْمَعْنَى:تَقُولُ هَذَا جَنَى النَّحْلِ تَمْدَحُهُ … وَإِنْ تَشَأْ قُلْتَ ذَا قَيْءُ الزَّنَابِيرِمَدْحًا وَذَمًّا وَمَا جَاوَزْتَ وَصْفَهُمَا … وَالْحَقُّ قَدْ يَعْتَرِيهِ سُوءُ تَعْبِيرِIbnul Qayyim mengibaratkan syubhat seperti uang palsu yang bagian luarnya dilapisi perak. Orang yang tidak ahli akan tertipu oleh kilaunya. Adapun ahli uang akan memeriksa apa yang berada di balik lapisan tersebut.Demikian pula sebuah pemikiran.Kalimat yang menarik belum tentu benar.Istilah yang buruk belum tentu menunjukkan isi yang buruk.Istilah yang indah juga belum tentu menunjukkan isi yang benar.Karena itu, jangan menilai gagasan hanya dari labelnya. Macam-Macam SyubhatSyubhat dapat dipetakan berdasarkan bentuk masuknya.1. Syubhat tentang sumber kebenaranMisalnya:“Agama boleh diterima selama sesuai dengan logika manusia.”Padahal akal yang sehat dan wahyu yang sahih tidak mungkin bertentangan secara hakiki.Masalah muncul ketika dugaan manusia dianggap sebagai “akal”, kemudian dijadikan hakim atas wahyu.Prinsip yang aman adalah:akal digunakan untuk memahami wahyu, bukan untuk membatalkan wahyu yang telah sahih.2. Syubhat karena salah memahami dalilDalilnya benar, tetapi cara menggunakannya keliru.Misalnya:satu ayat dipotong tanpa melihat ayat sebelum dan sesudahnya,satu hadis dibaca tanpa penjelasan ulama,hadis dhaif dianggap sahih,dalil umum digunakan pada kasus khusus,perbedaan pendapat dianggap sama dengan kebebasan memilih pendapat sesuka hati.Di zaman media sosial, potongan video 30 detik dapat memberi kesan seolah persoalan agama yang rumit sudah selesai.Padahal tidak.3. Syubhat karena permainan istilahIni termasuk pelajaran besar dari Ibnul Qayyim.Istilah seperti:“kebebasan”,“hak”,“toleransi”,“kesetaraan”,“cinta”,“kemanusiaan”,“moderat”,“inklusif”,“akal sehat”,tidak otomatis benar atau salah.Yang harus diperiksa adalah:Apa definisinya?Apa konsekuensinya?Apakah sesuai syariat?Jangan sampai kita menerima sebuah pemikiran hanya karena namanya indah.4. Syubhat karena mengikuti dugaan dan hawa nafsuAllah Ta’ala berfirman,إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu mereka, padahal sungguh telah datang kepada mereka petunjuk dari Rabb mereka.” (QS. An-Najm: 23)Kadang seseorang tidak mencari:“Apa hukum Allah?”Tetapi ia mencari:“Pendapat mana yang cocok dengan keinginan saya?”Ini berbahaya.Syahwat kemudian mencari syubhat sebagai pengacara pembela.5. Syubhat karena figur“Tokoh besar mengatakan begitu.”“Profesor tersebut mengatakan begitu.”“Ustadz itu punya jutaan pengikut.”“Konten itu sudah ditonton sepuluh juta kali.”Semua itu bukan dalil.Ulama bisa salah.Akademisi bisa salah.Tokoh populer bisa salah.Yang menjadi ukuran adalah dalil dan kebenaran.6. Syubhat karena niat baik“Yang penting niatnya baik.”Padahal niat baik tidak mengubah cara yang haram menjadi halal.Seorang muslim memerlukan dua hal:ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.7. Syubhat scientismMisalnya:“Kalau tidak bisa dibuktikan di laboratorium, berarti tidak ada.”Ini bukan sains, tetapi menjadikan metode empiris sebagai satu-satunya jalan mengetahui seluruh realitas.Padahal banyak realitas tidak dibuktikan dengan eksperimen laboratorium.Apalagi perkara ghaib yang sumber pengetahuannya adalah wahyu.8. Syubhat relativismeMisalnya:“Semua kebenaran tergantung sudut pandang.”Islam mengenal wilayah ijtihad.Islam mengenal khilaf (beda pendapat).Tetapi Islam tidak mengajarkan bahwa semua pendapat selalu sama benarnya.Allah Ta’ala berfirman,الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ“Kebenaran itu datang dari Rabbmu, maka janganlah engkau termasuk orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah: 147) Apa Induk Syubhat yang Paling Berbahaya?Di antara akar terbesar munculnya syubhat adalah berbicara tentang Allah tanpa ilmu.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ“Katakanlah, ‘Rabbku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melampaui batas tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kalian ketahui.’” (QS. Al-A‘raf: 33)Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa berbicara tentang Allah tanpa ilmu mencakup berbicara tanpa ilmu mengenai nama dan sifat-Nya, perbuatan-Nya, agama-Nya, dan syariat-Nya. Penjelasan ini terdapat dalam I‘lām Al-Muwaqqi‘īn. Mengapa begitu berbahaya?Karena berbagai kesesatan bisa bermula dari seseorang yang berkata:“Menurut Islam begini …”padahal Allah tidak pernah mengatakannya.Atau:“Agama sebenarnya mengajarkan begini …”tanpa ilmu.Pada zaman media sosial, siapa pun dapat berbicara.Namun kemampuan membuat konten tidak otomatis sama dengan kemampuan memahami agama. Syubhat Zaman Sekarang Sering Datang Melalui LayarDahulu orang harus mendatangi majelis tertentu atau membaca buku tertentu untuk mendapatkan suatu pemikiran.Sekarang syubhat bisa masuk saat seseorang sedang berbaring memegang telepon genggam.Algoritma tidak bertanya:“Apakah ilmu orang ini cukup?”Algoritma hanya melihat:“Apakah ia akan terus menonton?”Satu video mengantarkan kepada video berikutnya.Satu keraguan mengantarkan kepada keraguan berikutnya.Sampai akhirnya seseorang tidak lagi tahu mana pertanyaan yang benar-benar ingin dijawab dan mana syubhat yang sengaja diproduksi untuk mengguncang keyakinan.Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi, no. 2317 dan Ibnu Majah, no. 3976; dinilai sahih oleh Al-Albani).Takhrij: Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan At-Tirmidzi, no. 2317 dan Ibnu Majah, no. 3976. Dinilai sahih oleh Al-Albani dan sahih dengan syawahid oleh Syu’aib Al-Arnauth.Tidak semua kontroversi wajib kita ikuti.Tidak semua debat wajib kita dengar.Tidak semua syubhat wajib kita masukkan ke kepala. Jangan Jadikan Hati Seperti SponsIni salah satu nasihat paling indah dari Ibnu Taimiyyah kepada Ibnul Qayyim.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:وَقَالَ لِي شَيْخُ الْإِسْلَامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ــ وَقَدْ جَعَلْتُ أُورِدُ عَلَيْهِ إِيرَادًا بَعْدَ إِيرَادٍ ــ: «لَا تَجْعَلْ قَلْبَكَ لِلْإِيرَادَاتِ وَالشُّبُهَاتِ مِثْلَ السِّفِنْجَةِ، فَيَتَشَرَّبَهَا، فَلَا يَنْضَحُ إِلَّا بِهَا، وَلَكِنِ اجْعَلْهُ كَالزُّجَاجَةِ الْمُصْمَتَةِ، تَمُرُّ الشُّبُهَاتُ بِظَاهِرِهَا وَلَا تَسْتَقِرُّ فِيهَا، فَيَرَاهَا بِصَفَائِهِ، وَيَدْفَعُهَا بِصَلَابَتِهِ، وَإِلَّا فَإِذَا أَشْرَبْتَ قَلْبَكَ كُلَّ شُبْهَةٍ تَمُرُّ عَلَيْكَ صَارَ مُقَرًّا لِلشُّبُهَاتِ»أَوْ كَمَا قَالَ؛ فَمَا أَعْلَمُ أَنِّي انْتَفَعْتُ بِوَصِيَّةٍ فِي دَفْعِ الشُّبُهَاتِ كَانْتِفَاعِي بِذَلِكَ.**Ibnul Qayyim menceritakan bahwa ketika ia terus mengajukan berbagai kerancuan kepada gurunya, Ibnu Taimiyyah menasihati:“Jangan jadikan hatimu seperti spons yang menyerap seluruh syubhat hingga yang keluar darinya hanyalah syubhat. Jadikan ia seperti kaca yang padat dan bening. Syubhat melewati permukaannya tetapi tidak menetap di dalamnya. Dengan kejernihannya ia melihat syubhat, dan dengan kekuatannya ia menolaknya.”Ibnul Qayyim kemudian mengatakan bahwa ia hampir tidak pernah mendapatkan nasihat dalam menghadapi syubhat yang lebih bermanfaat daripada nasihat tersebut.Nasihat ini juga dinukil oleh IslamQA dan Islamweb dari Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, 1/139–140. Untuk zaman ini, maknanya sederhana:Jangan jadikan timeline sebagai guru akidah. Bagaimana Menilai Sebuah Gagasan dengan Adil?Ibnul Qayyim memberikan kaidah penting:فَإِذَا أَرَدْتَ الِاطِّلَاعَ عَلَى كُنْهِ الْمَعْنَى: هَلْ هُوَ حَقٌّ أَوْ بَاطِلٌ؟ فَجَرِّدْهُ مِنْ لِبَاسِ الْعِبَارَةِ، وَجَرِّدْ قَلْبَكَ مِنَ النُّفْرَةِ وَالْمَيْلِ، ثُمَّ أَعْطِ النَّظَرَ حَقَّهُ، نَاظِرًا بِعَيْنِ الْإِنْصَافِ، وَلَا تَكُنْ مِمَّنْ يَنْظُرُ فِي مَقَالَةِ أَصْحَابِهِ وَمَنْ يُحْسِنُ ظَنَّهُ بِهِ نَظَرًا تَامًّا بِكُلِّ قَلْبِهِ، ثُمَّ يَنْظُرُ فِي مَقَالَةِ خُصُومِهِ وَمَنْ يُسِيءُ ظَنَّهُ بِهِ كَنَظَرِ الشَّزْرِ وَالْمُلَاحَظَةِ.فَالنَّاظِرُ بِعَيْنِ الْعَدَاوَةِ يَرَى الْمَحَاسِنَ مَسَاوِيَ، وَالنَّاظِرُ بِعَيْنِ الْمَحَبَّةِ عَكْسُهُ، وَمَا سَلِمَ مِنْ هَذَا إِلَّا مَنْ أَرَادَ اللَّهُ كَرَامَتَهُ وَارْتَضَاهُ لِقَبُولِ الْحَقِّ…وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَعْرِفَةِ الْحَقِّ وَقَبُولِهِ، وَرَدِّ الْبَاطِلِ وَعَدَمِ الِاغْتِرَارِ بِهِ.**Jika ingin mengetahui apakah suatu gagasan benar atau batil, lepaskan dahulu kemasan bahasanya. Bersihkan hati dari rasa cinta atau benci yang berlebihan. Kemudian lihatlah dengan adil.Jangan sampai ketika tokoh yang kita sukai berbicara, kita mencari seribu alasan untuk membenarkannya.Namun ketika orang yang tidak kita sukai berbicara, sejak awal kita sudah ingin menyalahkannya.Kebenaran tidak berubah hanya karena siapa yang mengatakannya. Cara Selamat dari Syubhat1. Kuatkan ilmu sebelum sibuk mempelajari syubhatObat terbesar syubhat adalah ilmu.Ibnul Qayyim mengatakan bahwa ketika hakikat ilmu telah memenuhi hati, syubhat tidak mudah memengaruhinya. Bahkan membantah syubhat dapat semakin menguatkan ilmu dan keyakinannya.Maka, sebelum sibuk mempelajari berbagai penyimpangan, pelajari dahulu:tauhid,dasar iman,Al-Qur’an,Sunnah,kaidah memahami dalil,fikih dasar,dan ilmu dari ulama yang dikenal lurus ilmunya.Jangan membangun rumah mulai dari atap.2. Jangan sengaja berburu syubhatAda orang yang merasa harus mengetahui seluruh keraguan agar dianggap berpikiran terbuka.Padahal tidak semua racun harus dicicipi untuk mengetahui bahwa racun itu berbahaya.Islamweb menasihati agar orang yang belum kuat ilmunya tidak sengaja memasuki ruang yang dipenuhi syubhat.3. Kembalikan kepada Al-Qur’an dan SunnahAllah Ta’ala berfirman,فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ“Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. An-Nisa’: 59)Ukuran kebenaran bukan:“viral atau tidak”.Namun:“ada dalilnya atau tidak”.4. Tanyakan kepada ahli ilmuAllah Ta’ala berfirman,فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)Kalau menemukan konten agama yang mengguncang keyakinan:jangan langsung berkomentar,jangan langsung menyebarkan,jangan langsung berdebat.Catat.Cari sumbernya.Tanyakan kepada ahlinya.5. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulanIbnul Qayyim berkata:وَقَوْلُهُ: «بِأَوَّلِ عَارِضٍ مِنْ شُبْهَةٍ»؛ هَذَا دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ عَقْلِهِ وَمَعْرِفَتِهِ، إِذْ تُؤَثِّرُ فِيهِ الْبَدَوَاتُ، وَتَسْتَفِزُّهُ أَوَائِلُ الْأُمُورِ، بِخِلَافِ الثَّابِتِ التَّامِّ الْعَقْلِ، فَإِنَّهُ لَا تَسْتَفِزُّهُ الْبَدَوَاتُ وَلَا تُزْعِجُهُ وَتُقْلِقُهُ؛ فَإِنَّ الْبَاطِلَ لَهُ دَهْشَةٌ وَرَوْعَةٌ فِي أَوَّلِهِ، فَإِذَا ثَبَتَ لَهُ الْقَلْبُ رُدَّ عَلَى عَقِبَيْهِ. وَاللَّهُ يُحِبُّ مِنْ عَبْدِهِ الْحِلْمَ وَالْأَنَاةَ، فَلَا يَعْجَلُ، بَلْ يَثْبُتُ حَتَّى يَعْلَمَ وَيَسْتَيْقِنَ مَا وَرَدَ عَلَيْهِ، وَلَا يَعْجَلُ بِأَمْرٍ مِنْ قَبْلِ اسْتِحْكَامِهِ، فَالْعَجَلَةُ وَالطَّيْشُ مِنَ الشَّيْطَانِ. فَمَنْ ثَبَتَ عِنْدَ صَدْمَةِ الْبَدَوَاتِ اسْتَقْبَلَ أَمْرَهُ بِعِلْمٍ وَحَزْمٍ، وَمَنْ لَمْ يَثْبُتْ لَهَا اسْتَقْبَلَهُ بِعَجَلَةٍ وَطَيْشٍ، وَعَاقِبَتُهُ النَّدَامَةُ، وَعَاقِبَةُ الْأَوَّلِ حَمْدُ أَمْرِهِ، وَلَكِنَّ لِلْأَوَّلِ آفَةً مَتَى قُرِنَتْ بِالْحَزْمِ وَالْعَزْمِ نَجَا مِنْهَا، وَهِيَ الْفَوْتُ، فَإِنَّهُ لَا يُخَافُ مِنَ التَّثَبُّتِ إِلَّا الْفَوْتُ، فَإِذَا اقْتَرَنَ بِهِ الْعَزْمُ وَالْحَزْمُ تَمَّ أَمْرُهُ. وَلِهَذَا فِي الدُّعَاءِ الَّذِي رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ». وَهَاتَانِ الْكَلِمَتَانِ هُمَا جِمَاعُ الْفَلَاحِ، وَمَا أُتِيَ الْعَبْدُ إِلَّا مِنْ تَضْيِيعِهِمَا أَوْ تَضْيِيعِ أَحَدِهِمَا، فَمَا أُتِيَ أَحَدٌ إِلَّا مِنْ بَابِ الْعَجَلَةِ وَالطَّيْشِ وَاسْتِفْزَازِ الْبَدَوَاتِ لَهُ، أَوْ مِنْ بَابِ التَّهَاوُنِ وَالتَّمَاوُتِ وَتَضْيِيعِ الْفُرْصَةِ بَعْدَ مُوَاتَاتِهَا، فَإِذَا حَصَلَ الثَّبَاتُ أَوَّلًا وَالْعَزْمُ ثَانِيًا أَفْلَحَ كُلَّ الْفَلَاحِ، وَاللَّهُ وَلِيُّ التَّوْفِيقِ.Ketika seseorang langsung ragu hanya karena datangnya satu syubhat kecil, itu menunjukkan betapa lemahnya akal dan ilmu orang itu. Ia seperti daun kering yang terhempas angin dari arah manapun.Ia mudah gelisah dan terguncang hanya oleh kejutan kecil di permulaan.Berbeda halnya dengan orang yang berakal matang dan tenang. Ia tidak mudah terguncang oleh badai pertama. Ia kokoh dalam pendirian.Ya, memang kebatilan itu sering tampak mengejutkan dan menciutkan di awal—tapi jika hati tetap tenang, maka kebatilan itu akan roboh dengan sendirinya.Allah menyukai dari hamba-Nya sikap tenang dan penuh pertimbangan. Jangan tergesa-gesa. Jangan langsung menilai sebelum benar-benar yakin.Karena tergesa-gesa dan gegabah adalah dari setan.Siapa yang mampu tenang saat diterpa ujian pertama, ia akan menghadapi masalahnya dengan ilmu dan ketegasan. Namun yang panik dan terburu-buru, akan meresponnya dengan kecerobohan dan nafsu sesaat. Akhirnya? Penyesalan.Sedangkan bagi yang tenang dan teguh? Ujungnya adalah pujian dan keberhasilan.Namun, ada satu ujian dari sikap tenang: yaitu risiko kehilangan momentum. Namun jika ketenangan itu diiringi dengan tekad kuat dan keputusan tegas, maka ia akan aman dan berhasil.Tak heran, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita sebuah doa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ“Ya Allah, aku memohon keteguhan dalam urusan, dan kemauan yang kuat untuk menuju jalan yang benar.”Dua kalimat ini adalah kunci keberhasilan.Tak ada orang gagal kecuali karena mengabaikan keduanya—atau salah satunya.Semua keburukan datang dari dua pintu:Karena terlalu cepat, tergesa-gesa, dan gegabah.Karena terlalu santai, menunda-nunda, dan membiarkan kesempatan berlalu.Jika seseorang memiliki keteguhan hati di awal, lalu kemauan kuat untuk bergerak maju, maka itulah kemenangan sejati.Dan hanya Allah-lah Pemilik taufik. Kebatilan kadang mengejutkan ketika pertama kali didengar.Jangan panik.Jangan langsung mengambil kesimpulan.Tenangkan hati.Cari ilmu.Periksa sumber.Kemudian putuskan berdasarkan ilmu. 6. Bedakan antara pertanyaan dan pemberontakan terhadap wahyuKalimat:“Saya belum memahami hikmah hukum ini.”berbeda dengan:“Kalau saya tidak memahami hikmahnya, berarti hukum Allah salah.”Yang pertama adalah pertanyaan.Yang kedua sudah membawa sebuah premis yang keliru.Tidak mengetahui hikmah bukan berarti hukum Allah tidak memiliki hikmah. 7. Waspadai hawa nafsu yang memakai baju argumentasiTerkadang syubhat datang setelah keinginan.Seseorang sudah ingin melakukan sesuatu, kemudian ia mencari dalil pembenarannya.Contohnya:“Saya ingin transaksi ini. Cari pendapat yang membolehkan.”Seharusnya:“Apa hukum Allah tentang transaksi ini?”Ini perbedaan antara mencari kebenaran dan mencari pembenaran. 8. Jangan menilai agama hanya berdasarkan pengalaman buruk pemeluknyaMisalnya ada suami melakukan kezaliman, kemudian seseorang menyimpulkan:“Berarti konsep kepemimpinan suami dalam Islam bermasalah.”Itu tidak tepat.Kesalahan pelaku tidak otomatis membatalkan ajaran.Bedakan antara:Islam dan kesalahan sebagian kaum muslimin. 9. Perbanyak membaca Al-Qur’anAl-Qur’an bukan hanya bacaan.Ia adalah petunjuk.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Wahai manusia! Sungguh telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian, penyembuh bagi apa yang ada di dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Yunus: 57)Semakin seseorang mengenal kebenaran, semakin mudah ia mengenali yang palsu. 10. Berdoalah meminta keteguhanIbnul Qayyim menukil doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan dan tekad kuat untuk mengikuti petunjuk.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa ini. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i, no. 1304 dan Ahmad, no. 17133 dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu.Ibnul Qayyim mengatakan:وَهَاتَانِ الْكَلِمَتَانِ هُمَا جِمَاعُ الْفَلَاحِ… فَإِذَا حَصَلَ الثَّبَاتُ أَوَّلًا وَالْعَزْمُ ثَانِيًا أَفْلَحَ كُلَّ الْفَلَاحِ، وَاللَّهُ وَلِيُّ التَّوْفِيقِ.“Dua kalimat ini menghimpun sebab keberuntungan. Jika seseorang memiliki keteguhan terlebih dahulu, kemudian tekad yang kuat, ia akan memperoleh keberhasilan. Allah-lah pemberi taufik.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sering berdoa,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”(HR. Tirmidzi, no. 3522 dan Ahmad; hadis sahih).Takhrij: Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Diriwayatkan At-Tirmidzi, no. 3522 dan Ahmad, no. 26519. Syu’aib Al-Arnauth menilainya sahih dengan berbagai penguat. Rumus Praktis Menghadapi Syubhat di Media SosialKetika menemukan satu pernyataan agama yang membuat hati terguncang, jangan buru-buru percaya.Gunakan pertanyaan sederhana berikut:Siapa yang berbicara?Apakah ia memahami bidang tersebut?Apa dalilnya?Bukan hanya kalimatnya menarik.Apakah dalil tersebut sahih?Apakah dalilnya dipahami secara utuh?Apakah ada dalil lain yang perlu digabungkan?Bagaimana para ulama menjelaskan masalah tersebut?Apakah saya menyukai pendapat ini karena benar atau karena sesuai keinginan saya?Pertanyaan terakhir sering menjadi ujian paling berat. Dari Syubhat Menuju KesesatanAlur yang berbahaya bisa seperti ini:Kurang ilmu ↓ Terpapar syubhat ↓ Mulai ragu ↓ Tidak mencari jawaban kepada ahlinya ↓ Terus mengonsumsi syubhat serupa ↓ Kebatilan terlihat masuk akal ↓ Kebenaran terasa asing ↓ Ḍalālah—tersesat dari petunjuk Adapun jalan keselamatan:Al-Qur’an dan Sunnah ↓ Ilmu ↓ Bashirah ↓ Tatsabbut ↓ Mengikuti ulama ↓ Menjauhi syubhat yang tidak diperlukan ↓ Doa dan amal saleh ↓ Tsabāt—keteguhan Nasihat Terakhir: Jangan Jadikan Hati Tempat Sampah SyubhatTidak semua yang muncul di layar harus masuk ke dalam hati. Jangan merasa semakin banyak keraguan yang kita konsumsi berarti semakin luas wawasan kita, karena Ibnul Qayyim justru mengingatkan bahwa menampung semua syubhat dapat membuat hati menjadi tempat tinggal syubhat. Bekali diri dengan ilmu, dekatlah dengan Al-Qur’an dan Sunnah, serta bertanyalah kepada ahli ilmu ketika menemukan perkara yang tidak dipahami. Keselamatan agama jauh lebih berharga daripada memenangkan satu perdebatan di media sosial.Semoga Allah menjaga hati kita dengan doa:يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَأَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.Yā muqallibal-qulūb, tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnattibā‘ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnajtinābah.“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu. Tunjukkan kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkan kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.”Wallahu waliyyut taufiq. ReferensiIbn Qayyim Al-Jawziyyah, M. ibn A. B. (1432 H). Miftāḥ dār al-sa‘ādah wa mansyūr wilāyat al-‘ilm wa al-irādah (A. ibn H. ibn Qā’id, Ed., 1st ed.). Majma‘ Al-Fiqh Al-Islami & Dār ‘Ālam Al-Fawā’id.Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah—Al-Maktabah Al-WaqfiyyahIslam Question & Answer. (n.d.). Kayfa tudfa‘ al-syubuhāt fī bāb al-qadar. IslamQA.IslamQA—Bahaya dan cara menghadapi syubhatIslam Question & Answer. (n.d.). Tasaluth al-syaithān ‘alaihi bi al-syahawāt al-muharramah wa al-syubuhāt al-bāthilah. IslamQA.IslamQA—Nasihat hati seperti kaca, bukan sponsIslamweb. (n.d.). Waṣiyyah qayyimah li dar’i al-syubuhāt wa al-mubtada‘āt. Islamweb.Islamweb—Wasiat menghadapi syubhatTuasikal, M. A. (2009, October 17). Berbicara agama tanpa ilmu lebih bahaya dari dosa kesyirikan. Rumaysho.Com.Rumaysho.Com—Berbicara agama tanpa ilmuTuasikal, M. A. (2022). Lebih dari 100 keutamaan orang berilmu dari kitab Miftah Daar As-Sa‘adah. Rumaysho.Com.Rumaysho.Com—Keutamaan ilmu dari Miftah Daar As-Sa‘adahAl-Durar Al-Saniyyah. (n.d.). Mausū‘ah al-ḥadītsiyyah: Al-ḥalāl bayyin wa al-ḥarām bayyin. Dorar—Hadis halal, haram, dan perkara syubhatAl-Durar Al-Saniyyah. (n.d.). Mausū‘ah al-ḥadītsiyyah: Yā muqallibal-qulūb tsabbit qalbī ‘alā dīnik. Dorar—Hadis doa keteguhan hatiAl-Durar Al-Saniyyah. (n.d.). Mausū‘ah al-ḥadītsiyyah: Allāhumma innī as’aluka al-tsabāta fī al-amr. Dorar—Doa memohon keteguhan dan tekad mengikuti petunjuk —– Senin Pagi, 22 Rabiul Akhir 1448 H, 5 Oktober 2026 di Perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin menuju Kajian Khadijah Community di Masjid RS JIH JogjaPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbahaya syubhat faedah dari Ibnul Qayyim Ibnu Taimiyyah ibnul qayyim ilmu agama istiqamah jauhi syubhat kesesatan lebih kaya dengan ilmu menjaga iman nasihat ibnul qayyim penyakit hati syubhat

Jauhi Syubhat agar Tak Sesat

Syubhat berbahaya bukan karena kebatilannya terlihat jelas, tetapi justru karena kebatilan itu sering datang memakai pakaian kebenaran. Satu potongan video, satu istilah yang terdengar ilmiah, atau satu pendapat yang dikemas meyakinkan bisa membuat orang yang kurang ilmu mulai meragukan agamanya. Karena itu, mengenali syubhat dan mengetahui cara menjauhinya adalah bagian penting dalam menjaga hati agar tetap berada di atas petunjuk. Apa itu Syubhat?Kata syubhat (الشُّبْهَة) berasal dari makna adanya kemiripan dan kesamaran.Sesuatu disebut syubhat karena kebenaran bercampur atau menyerupai kebatilan sehingga orang yang tidak memiliki ilmu dan bashirah bisa sulit membedakannya.Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan:وَالشُّبْهَةُ: وَارِدٌ يَرِدُ عَلَى الْقَلْبِ، يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ انْكِشَافِ الْحَقِّ لَهُ، فَمَتَى بَاشَرَ الْقَلْبُ حَقِيقَةَ الْعِلْمِ، لَمْ تُؤَثِّرْ تِلْكَ الشُّبْهَةُ فِيهِ، بَلْ يَقْوَى عِلْمُهُ وَيَقِينُهُ بِرَدِّهَا وَمَعْرِفَةِ بُطْلَانِهَا، وَمَتَى لَمْ يُبَاشِرْ حَقِيقَةَ الْعِلْمِ بِالْحَقِّ قَلْبُهُ قَدَحَتْ فِيهِ الشَّكَّ بِأَوَّلِ وَهْلَةٍ، فَإِنْ تَدَارَكَهَا وَإِلَّا تَتَابَعَتْ عَلَى قَلْبِهِ أَمْثَالُهَا، حَتَّى يَصِيرَ شَاكًّا مُرْتَابًا.“Syubhat adalah sesuatu yang datang kepada hati lalu menghalangi hati tersebut dari tersingkapnya kebenaran. Jika hakikat ilmu telah benar-benar menyentuh hati, syubhat itu tidak akan memengaruhinya. Bahkan ilmu dan keyakinannya semakin kuat ketika ia mampu membantah dan mengetahui kebatilannya. Namun, jika hati belum benar-benar mengenal hakikat kebenaran, syubhat pertama yang datang dapat menyalakan keraguan. Jika tidak segera ditangani, syubhat-syubhat lain akan datang berturut-turut sampai seseorang menjadi penuh keraguan dan kebimbangan.” (Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, buku “Lebih Kaya dengan Ilmu”, hlm. 66).Maka, syubhat bukan sekadar “ada pertanyaan”.Bertanya untuk mencari kebenaran adalah baik.Syubhat menjadi berbahaya ketika kekeliruan masuk ke dalam hati sehingga kebenaran terlihat meragukan dan kebatilan justru tampak masuk akal. Syubhat Tidak Selalu Sama dengan Perkara Musytabih dalam Halal dan HaramAda istilah yang harus dibedakan.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ…“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara samar yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Siapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari, no. 52 dan Muslim, no. 1599).Takhrij: Hadis dari An-Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī, no. 52; Muslim dalam Ṣaḥīḥ Muslim, no. 1599; juga diriwayatkan Abu Dawud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, dan Ahmad. Hadis ini sahih.Musytabihāt dalam hadis ini berkaitan dengan perkara hukum yang belum jelas bagi banyak orang.Sedangkan syubhat pemikiran yang sedang kita bahas lebih luas: kerancuan yang masuk kepada cara seseorang memahami akidah, agama, wahyu, nilai, atau kebenaran.Keduanya sama-sama menuntut kehati-hatian, tetapi tidak selalu identik. Apa itu Sesat atau Ḍalālah?Dalam bahasa Al-Qur’an, ḍalāl (الضَّلَال) adalah lawan dari hidayah. Artinya keluar, menyimpang, atau tidak berada di jalan petunjuk yang benar.Allah Ta’ala berfirman,فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ“Tidak ada setelah kebenaran itu kecuali kesesatan.” (QS. Yunus: 32)Allah juga berfirman,وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ“Siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.” (QS. Az-Zumar: 36)Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:مَنْ فَارَقَ الدَّلِيلَ ضَلَّ السَّبِيلَ، وَلَا دَلِيلَ إِلَّا بِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ ﷺ“Siapa yang meninggalkan dalil, ia akan tersesat dari jalan. Tidak ada petunjuk yang sebenarnya kecuali dengan apa yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Ibnul Qayyim, Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, 1:299).Karena itu, kesesatan bukan hanya berarti sengaja membenci kebenaran.Seseorang bisa tersesat karena:tidak mengetahui kebenaran,salah memahami dalil,mengikuti hawa nafsu,mengikuti tokoh tanpa ilmu,terpengaruh syubhat,atau menjadikan sesuatu selain wahyu sebagai hakim tertinggi atas wahyu. Apakah Syubhat Bisa Membuat Orang Sesat?Jawabannya: bisa.Namun, tidak setiap orang yang terkena satu syubhat otomatis divonis sebagai orang sesat, ahli bid’ah, apalagi kafir.Ada perbedaan antara:terkena syubhat,belum mengetahui jawabannya,meyakini kesalahan karena ketidaktahuan,dan sengaja menolak kebenaran setelah jelas hujahnya.Yang perlu diwaspadai adalah prosesnya.Ibnul Qayyim menjelaskan:وَقَوْلُهُ: «يَنْقَدِحُ الشَّكُّ فِي قَلْبِهِ بِأَوَّلِ عَارِضٍ مِنْ شُبْهَةٍ»؛ هَذَا لِضَعْفِ عِلْمِهِ وَقِلَّةِ بَصِيرَتِهِ، إِذَا وَرَدَتْ عَلَى قَلْبِهِ أَدْنَى شُبْهَةٍ قَدَحَتْ فِيهِ الشَّكَّ وَالرَّيْبَ، بِخِلَافِ الرَّاسِخِ فِي الْعِلْمِ، لَوْ وَرَدَتْ عَلَيْهِ مِنَ الشُّبَهِ بِعَدَدِ أَمْوَاجِ الْبَحْرِ مَا أَزَالَتْ يَقِينَهُ، وَلَا قَدَحَتْ فِيهِ شَكًّا؛ لِأَنَّهُ قَدْ رَسَخَ فِي الْعِلْمِ، فَلَا تَسْتَفِزُّهُ الشُّبُهَاتُ، بَلْ إِذَا وَرَدَتْ عَلَيْهِ رَدَّهَا حَرَسُ الْعِلْمِ وَجَيْشُهُ مَغْلُولَةً مَغْلُوبَةً.Maknanya, orang yang lemah ilmunya dapat terguncang hanya oleh satu syubhat kecil. Adapun orang yang mendalam ilmunya, seandainya datang kepadanya syubhat sebanyak gelombang lautan, keyakinannya tidak mudah hilang. Pasukan ilmu yang berada di dalam hatinya akan menolak syubhat tersebut.Gambaran sederhananya:lemah ilmu → syubhat masuk → timbul ragu → syubhat dibiarkan → keraguan bertambah → kebenaran menjadi kabur → seseorang dapat tersesat.Karena itu, ilmu bukan hanya menambah informasi.Ilmu adalah benteng hati. Dua Pasukan yang Menyerang Hati: Syubhat dan SyahwatIbnul Qayyim menjelaskan bahwa hati dapat diserang oleh dua pasukan kebatilan:جَيْشُ شَهَوَاتِ الْغَيِّ، وَجَيْشُ شُبُهَاتِ الْبَاطِلِ“Pasukan syahwat yang menjerumuskan dan pasukan syubhat kebatilan.”Jika hati menerima syahwat, keinginan yang salah akan menguasai perbuatan.Jika hati menerima syubhat, keraguan dan pemikiran yang salah akan menguasai keyakinan dan lisan.Maka penyakit manusia secara umum dapat dilihat dari dua arah:Syubhat merusak cara berpikir.Syahwat merusak cara menginginkan.Orang yang terkena syahwat bisa berkata:“Saya tahu ini salah, tetapi saya masih ingin melakukannya.”Sedangkan orang yang terkena syubhat bisa berkata:“Saya justru yakin ini benar.”Di sinilah syubhat terkadang lebih sulit ditangani.Ia membuat seseorang melakukan kesalahan sambil merasa sedang membela kebenaran. Mengapa Disebut Syubhat? Karena Kebatilan Memakai Baju KebenaranIbnul Qayyim rahimahullah berkata:وَإِنَّمَا سُمِّيَتِ الشُّبْهَةُ شُبْهَةً لِاشْتِبَاهِ الْحَقِّ بِالْبَاطِلِ فِيهَا؛ فَإِنَّهَا تَلْبَسُ ثَوْبَ الْحَقِّ عَلَى جِسْمِ الْبَاطِلِ، وَأَكْثَرُ النَّاسِ أَصْحَابُ حُسْنٍ ظَاهِرٍ، فَيَنْظُرُ النَّاظِرُ فِيمَا أُلْبِسَتْهُ مِنَ اللِّبَاسِ فَيَعْتَقِدُ صِحَّتَهَا، وَأَمَّا صَاحِبُ الْعِلْمِ وَالْيَقِينِ فَإِنَّهُ لَا يَغْتَرُّ بِذَلِكَ، بَلْ يُجَاوِزُ نَظَرَهُ إِلَى بَاطِنِهَا وَمَا تَحْتَ لِبَاسِهَا، فَيَنْكَشِفُ لَهُ حَقِيقَتُهَا.“Syubhat dinamakan syubhat karena bercampurnya kebenaran dan kebatilan di dalamnya. Syubhat mengenakan pakaian kebenaran pada tubuh kebatilan. Kebanyakan manusia melihat apa yang tampak dari luarnya sehingga mengira bahwa syubhat itu benar. Adapun orang yang memiliki ilmu dan keyakinan tidak tertipu dengannya. Ia melihat lebih jauh kepada apa yang ada di balik pakaian tersebut sehingga hakikatnya tersingkap.”Kalimat ini sangat relevan pada zaman media sosial.Syubhat hari ini sering datang dengan kemasan:“riset membuktikan …”“secara logika …”“akal sehat mengatakan …”“atas nama kemanusiaan …”“demi kebebasan …”“demi toleransi …”“semua agama sebenarnya sama …”“yang penting hatinya baik …”“yang penting niatnya baik …”“ustadz terkenal juga mengatakan …”Tidak semua istilah itu salah.Namun, jangan hanya melihat kemasannya.Tanyakan:Apa yang sebenarnya dimaksud?Apa dalilnya?Benarkah kesimpulannya? Syubhat Seperti Uang Palsu yang Berlapis PerakIbnul Qayyim rahimahullah membuat perumpamaan yang sangat menarik:وَمِثَالُ هَذَا: الدِّرْهَمُ الزَّائِفُ؛ فَإِنَّهُ يَغْتَرُّ بِهِ الْجَاهِلُ بِالنَّقْدِ، نَظَرًا إِلَى مَا عَلَيْهِ مِنْ لِبَاسِ الْفِضَّةِ، وَالنَّاقِدُ الْبَصِيرُ يُجَاوِزُ نَظَرَهُ إِلَى مَا وَرَاءَ ذَلِكَ فَيَطَّلِعُ عَلَى زَيْفِهِ.فَاللَّفْظُ الْحَسَنُ الْفَصِيحُ هُوَ لِلشُّبْهَةِ بِمَنْزِلَةِ اللِّبَاسِ مِنَ الْفِضَّةِ عَلَى الدِّرْهَمِ الزَّائِفِ، وَالْمَعْنَى كَالنُّحَاسِ الَّذِي تَحْتَهُ.وَكَمْ قَدْ قَتَلَ هَذَا الِاغْتِرَارُ مِنْ خَلْقٍ لَا يُحْصِيهِمْ إِلَّا اللهُ!وَإِذَا تَأَمَّلَ الْعَاقِلُ الْفَطِنُ هَذَا الْقَدْرَ وَتَدَبَّرَهُ رَأَى أَكْثَرَ النَّاسِ يَقْبَلُ الْمَذْهَبَ وَالْمَقَالَةَ بِلَفْظٍ، وَيَرُدُّهَا بِعَيْنِهَا بِلَفْظٍ آخَرَ!، وَقَدْ رَأَيْتُ أَنَا مِنْ هَذَا فِي كُتُبِ النَّاسِ مَا شَاءَ اللهُ.وَكَمْ قَدْ رُدَّ مِنَ الْحَقِّ بِتَشْنِيعِهِ بِلِبَاسٍ مِنَ اللَّفْظِ قَبِيحٍ!وَفِي مِثْلِ هَذَا قَالَ أَئِمَّةُ السُّنَّةِ ــ مِنْهُمْ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ ــ: «لَا نُزِيلُ عَنِ اللهِ صِفَةً مِنْ صِفَاتِهِ لِأَجْلِ شَنَاعَةٍ شُنِّعَتْ».فَهَؤُلَاءِ الْجَهْمِيَّةُ يُسَمُّونَ إِثْبَاتَ صِفَاتِ الْكَمَالِ لِلَّهِ ــ مِنْ حَيَاتِهِ، وَعِلْمِهِ، وَكَلَامِهِ، وَسَمْعِهِ، وَبَصَرِهِ، وَسَائِرِ مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ ــ تَشْبِيهًا وَتَجْسِيمًا، وَمَنْ أَثْبَتَ ذَلِكَ مُشَبِّهًا؛ فَلَا يَنْفِرُ مِنْ هَذَا الْمَعْنَى الْحَقِّ لِأَجْلِ هَذِهِ التَّسْمِيَةِ الْبَاطِلَةِ إِلَّا الْعُقُولُ الصَّغِيرَةُ الْقَاصِرَةُ، خَفَافِيشُ الْبَصَائِرِ.وَكُلُّ أَهْلِ نِحْلَةٍ وَمَقَالَةٍ يَكْسُونَ نِحْلَتَهُمْ وَمَقَالَتَهُمْ أَحْسَنَ مَا يَقْدِرُونَ عَلَيْهِ مِنَ الْأَلْفَاظِ، وَمَقَالَةَ مُخَالِفِيهِمْ أَقْبَحَ مَا يَقْدِرُونَ عَلَيْهِ مِنَ الْأَلْفَاظِ، وَمَنْ رَزَقَهُ اللهُ بَصِيرَةً فَهُوَ يَكْشِفُ بِهَا حَقِيقَةَ مَا تَحْتَ تِلْكَ الْأَلْفَاظِ مِنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، وَلَا يَغْتَرُّ بِاللَّفْظِ، كَمَا قِيلَ فِي هَذَا الْمَعْنَى:تَقُولُ هَذَا جَنَى النَّحْلِ تَمْدَحُهُ … وَإِنْ تَشَأْ قُلْتَ ذَا قَيْءُ الزَّنَابِيرِمَدْحًا وَذَمًّا وَمَا جَاوَزْتَ وَصْفَهُمَا … وَالْحَقُّ قَدْ يَعْتَرِيهِ سُوءُ تَعْبِيرِIbnul Qayyim mengibaratkan syubhat seperti uang palsu yang bagian luarnya dilapisi perak. Orang yang tidak ahli akan tertipu oleh kilaunya. Adapun ahli uang akan memeriksa apa yang berada di balik lapisan tersebut.Demikian pula sebuah pemikiran.Kalimat yang menarik belum tentu benar.Istilah yang buruk belum tentu menunjukkan isi yang buruk.Istilah yang indah juga belum tentu menunjukkan isi yang benar.Karena itu, jangan menilai gagasan hanya dari labelnya. Macam-Macam SyubhatSyubhat dapat dipetakan berdasarkan bentuk masuknya.1. Syubhat tentang sumber kebenaranMisalnya:“Agama boleh diterima selama sesuai dengan logika manusia.”Padahal akal yang sehat dan wahyu yang sahih tidak mungkin bertentangan secara hakiki.Masalah muncul ketika dugaan manusia dianggap sebagai “akal”, kemudian dijadikan hakim atas wahyu.Prinsip yang aman adalah:akal digunakan untuk memahami wahyu, bukan untuk membatalkan wahyu yang telah sahih.2. Syubhat karena salah memahami dalilDalilnya benar, tetapi cara menggunakannya keliru.Misalnya:satu ayat dipotong tanpa melihat ayat sebelum dan sesudahnya,satu hadis dibaca tanpa penjelasan ulama,hadis dhaif dianggap sahih,dalil umum digunakan pada kasus khusus,perbedaan pendapat dianggap sama dengan kebebasan memilih pendapat sesuka hati.Di zaman media sosial, potongan video 30 detik dapat memberi kesan seolah persoalan agama yang rumit sudah selesai.Padahal tidak.3. Syubhat karena permainan istilahIni termasuk pelajaran besar dari Ibnul Qayyim.Istilah seperti:“kebebasan”,“hak”,“toleransi”,“kesetaraan”,“cinta”,“kemanusiaan”,“moderat”,“inklusif”,“akal sehat”,tidak otomatis benar atau salah.Yang harus diperiksa adalah:Apa definisinya?Apa konsekuensinya?Apakah sesuai syariat?Jangan sampai kita menerima sebuah pemikiran hanya karena namanya indah.4. Syubhat karena mengikuti dugaan dan hawa nafsuAllah Ta’ala berfirman,إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu mereka, padahal sungguh telah datang kepada mereka petunjuk dari Rabb mereka.” (QS. An-Najm: 23)Kadang seseorang tidak mencari:“Apa hukum Allah?”Tetapi ia mencari:“Pendapat mana yang cocok dengan keinginan saya?”Ini berbahaya.Syahwat kemudian mencari syubhat sebagai pengacara pembela.5. Syubhat karena figur“Tokoh besar mengatakan begitu.”“Profesor tersebut mengatakan begitu.”“Ustadz itu punya jutaan pengikut.”“Konten itu sudah ditonton sepuluh juta kali.”Semua itu bukan dalil.Ulama bisa salah.Akademisi bisa salah.Tokoh populer bisa salah.Yang menjadi ukuran adalah dalil dan kebenaran.6. Syubhat karena niat baik“Yang penting niatnya baik.”Padahal niat baik tidak mengubah cara yang haram menjadi halal.Seorang muslim memerlukan dua hal:ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.7. Syubhat scientismMisalnya:“Kalau tidak bisa dibuktikan di laboratorium, berarti tidak ada.”Ini bukan sains, tetapi menjadikan metode empiris sebagai satu-satunya jalan mengetahui seluruh realitas.Padahal banyak realitas tidak dibuktikan dengan eksperimen laboratorium.Apalagi perkara ghaib yang sumber pengetahuannya adalah wahyu.8. Syubhat relativismeMisalnya:“Semua kebenaran tergantung sudut pandang.”Islam mengenal wilayah ijtihad.Islam mengenal khilaf (beda pendapat).Tetapi Islam tidak mengajarkan bahwa semua pendapat selalu sama benarnya.Allah Ta’ala berfirman,الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ“Kebenaran itu datang dari Rabbmu, maka janganlah engkau termasuk orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah: 147) Apa Induk Syubhat yang Paling Berbahaya?Di antara akar terbesar munculnya syubhat adalah berbicara tentang Allah tanpa ilmu.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ“Katakanlah, ‘Rabbku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melampaui batas tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kalian ketahui.’” (QS. Al-A‘raf: 33)Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa berbicara tentang Allah tanpa ilmu mencakup berbicara tanpa ilmu mengenai nama dan sifat-Nya, perbuatan-Nya, agama-Nya, dan syariat-Nya. Penjelasan ini terdapat dalam I‘lām Al-Muwaqqi‘īn. Mengapa begitu berbahaya?Karena berbagai kesesatan bisa bermula dari seseorang yang berkata:“Menurut Islam begini …”padahal Allah tidak pernah mengatakannya.Atau:“Agama sebenarnya mengajarkan begini …”tanpa ilmu.Pada zaman media sosial, siapa pun dapat berbicara.Namun kemampuan membuat konten tidak otomatis sama dengan kemampuan memahami agama. Syubhat Zaman Sekarang Sering Datang Melalui LayarDahulu orang harus mendatangi majelis tertentu atau membaca buku tertentu untuk mendapatkan suatu pemikiran.Sekarang syubhat bisa masuk saat seseorang sedang berbaring memegang telepon genggam.Algoritma tidak bertanya:“Apakah ilmu orang ini cukup?”Algoritma hanya melihat:“Apakah ia akan terus menonton?”Satu video mengantarkan kepada video berikutnya.Satu keraguan mengantarkan kepada keraguan berikutnya.Sampai akhirnya seseorang tidak lagi tahu mana pertanyaan yang benar-benar ingin dijawab dan mana syubhat yang sengaja diproduksi untuk mengguncang keyakinan.Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi, no. 2317 dan Ibnu Majah, no. 3976; dinilai sahih oleh Al-Albani).Takhrij: Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan At-Tirmidzi, no. 2317 dan Ibnu Majah, no. 3976. Dinilai sahih oleh Al-Albani dan sahih dengan syawahid oleh Syu’aib Al-Arnauth.Tidak semua kontroversi wajib kita ikuti.Tidak semua debat wajib kita dengar.Tidak semua syubhat wajib kita masukkan ke kepala. Jangan Jadikan Hati Seperti SponsIni salah satu nasihat paling indah dari Ibnu Taimiyyah kepada Ibnul Qayyim.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:وَقَالَ لِي شَيْخُ الْإِسْلَامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ــ وَقَدْ جَعَلْتُ أُورِدُ عَلَيْهِ إِيرَادًا بَعْدَ إِيرَادٍ ــ: «لَا تَجْعَلْ قَلْبَكَ لِلْإِيرَادَاتِ وَالشُّبُهَاتِ مِثْلَ السِّفِنْجَةِ، فَيَتَشَرَّبَهَا، فَلَا يَنْضَحُ إِلَّا بِهَا، وَلَكِنِ اجْعَلْهُ كَالزُّجَاجَةِ الْمُصْمَتَةِ، تَمُرُّ الشُّبُهَاتُ بِظَاهِرِهَا وَلَا تَسْتَقِرُّ فِيهَا، فَيَرَاهَا بِصَفَائِهِ، وَيَدْفَعُهَا بِصَلَابَتِهِ، وَإِلَّا فَإِذَا أَشْرَبْتَ قَلْبَكَ كُلَّ شُبْهَةٍ تَمُرُّ عَلَيْكَ صَارَ مُقَرًّا لِلشُّبُهَاتِ»أَوْ كَمَا قَالَ؛ فَمَا أَعْلَمُ أَنِّي انْتَفَعْتُ بِوَصِيَّةٍ فِي دَفْعِ الشُّبُهَاتِ كَانْتِفَاعِي بِذَلِكَ.**Ibnul Qayyim menceritakan bahwa ketika ia terus mengajukan berbagai kerancuan kepada gurunya, Ibnu Taimiyyah menasihati:“Jangan jadikan hatimu seperti spons yang menyerap seluruh syubhat hingga yang keluar darinya hanyalah syubhat. Jadikan ia seperti kaca yang padat dan bening. Syubhat melewati permukaannya tetapi tidak menetap di dalamnya. Dengan kejernihannya ia melihat syubhat, dan dengan kekuatannya ia menolaknya.”Ibnul Qayyim kemudian mengatakan bahwa ia hampir tidak pernah mendapatkan nasihat dalam menghadapi syubhat yang lebih bermanfaat daripada nasihat tersebut.Nasihat ini juga dinukil oleh IslamQA dan Islamweb dari Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, 1/139–140. Untuk zaman ini, maknanya sederhana:Jangan jadikan timeline sebagai guru akidah. Bagaimana Menilai Sebuah Gagasan dengan Adil?Ibnul Qayyim memberikan kaidah penting:فَإِذَا أَرَدْتَ الِاطِّلَاعَ عَلَى كُنْهِ الْمَعْنَى: هَلْ هُوَ حَقٌّ أَوْ بَاطِلٌ؟ فَجَرِّدْهُ مِنْ لِبَاسِ الْعِبَارَةِ، وَجَرِّدْ قَلْبَكَ مِنَ النُّفْرَةِ وَالْمَيْلِ، ثُمَّ أَعْطِ النَّظَرَ حَقَّهُ، نَاظِرًا بِعَيْنِ الْإِنْصَافِ، وَلَا تَكُنْ مِمَّنْ يَنْظُرُ فِي مَقَالَةِ أَصْحَابِهِ وَمَنْ يُحْسِنُ ظَنَّهُ بِهِ نَظَرًا تَامًّا بِكُلِّ قَلْبِهِ، ثُمَّ يَنْظُرُ فِي مَقَالَةِ خُصُومِهِ وَمَنْ يُسِيءُ ظَنَّهُ بِهِ كَنَظَرِ الشَّزْرِ وَالْمُلَاحَظَةِ.فَالنَّاظِرُ بِعَيْنِ الْعَدَاوَةِ يَرَى الْمَحَاسِنَ مَسَاوِيَ، وَالنَّاظِرُ بِعَيْنِ الْمَحَبَّةِ عَكْسُهُ، وَمَا سَلِمَ مِنْ هَذَا إِلَّا مَنْ أَرَادَ اللَّهُ كَرَامَتَهُ وَارْتَضَاهُ لِقَبُولِ الْحَقِّ…وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَعْرِفَةِ الْحَقِّ وَقَبُولِهِ، وَرَدِّ الْبَاطِلِ وَعَدَمِ الِاغْتِرَارِ بِهِ.**Jika ingin mengetahui apakah suatu gagasan benar atau batil, lepaskan dahulu kemasan bahasanya. Bersihkan hati dari rasa cinta atau benci yang berlebihan. Kemudian lihatlah dengan adil.Jangan sampai ketika tokoh yang kita sukai berbicara, kita mencari seribu alasan untuk membenarkannya.Namun ketika orang yang tidak kita sukai berbicara, sejak awal kita sudah ingin menyalahkannya.Kebenaran tidak berubah hanya karena siapa yang mengatakannya. Cara Selamat dari Syubhat1. Kuatkan ilmu sebelum sibuk mempelajari syubhatObat terbesar syubhat adalah ilmu.Ibnul Qayyim mengatakan bahwa ketika hakikat ilmu telah memenuhi hati, syubhat tidak mudah memengaruhinya. Bahkan membantah syubhat dapat semakin menguatkan ilmu dan keyakinannya.Maka, sebelum sibuk mempelajari berbagai penyimpangan, pelajari dahulu:tauhid,dasar iman,Al-Qur’an,Sunnah,kaidah memahami dalil,fikih dasar,dan ilmu dari ulama yang dikenal lurus ilmunya.Jangan membangun rumah mulai dari atap.2. Jangan sengaja berburu syubhatAda orang yang merasa harus mengetahui seluruh keraguan agar dianggap berpikiran terbuka.Padahal tidak semua racun harus dicicipi untuk mengetahui bahwa racun itu berbahaya.Islamweb menasihati agar orang yang belum kuat ilmunya tidak sengaja memasuki ruang yang dipenuhi syubhat.3. Kembalikan kepada Al-Qur’an dan SunnahAllah Ta’ala berfirman,فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ“Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. An-Nisa’: 59)Ukuran kebenaran bukan:“viral atau tidak”.Namun:“ada dalilnya atau tidak”.4. Tanyakan kepada ahli ilmuAllah Ta’ala berfirman,فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)Kalau menemukan konten agama yang mengguncang keyakinan:jangan langsung berkomentar,jangan langsung menyebarkan,jangan langsung berdebat.Catat.Cari sumbernya.Tanyakan kepada ahlinya.5. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulanIbnul Qayyim berkata:وَقَوْلُهُ: «بِأَوَّلِ عَارِضٍ مِنْ شُبْهَةٍ»؛ هَذَا دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ عَقْلِهِ وَمَعْرِفَتِهِ، إِذْ تُؤَثِّرُ فِيهِ الْبَدَوَاتُ، وَتَسْتَفِزُّهُ أَوَائِلُ الْأُمُورِ، بِخِلَافِ الثَّابِتِ التَّامِّ الْعَقْلِ، فَإِنَّهُ لَا تَسْتَفِزُّهُ الْبَدَوَاتُ وَلَا تُزْعِجُهُ وَتُقْلِقُهُ؛ فَإِنَّ الْبَاطِلَ لَهُ دَهْشَةٌ وَرَوْعَةٌ فِي أَوَّلِهِ، فَإِذَا ثَبَتَ لَهُ الْقَلْبُ رُدَّ عَلَى عَقِبَيْهِ. وَاللَّهُ يُحِبُّ مِنْ عَبْدِهِ الْحِلْمَ وَالْأَنَاةَ، فَلَا يَعْجَلُ، بَلْ يَثْبُتُ حَتَّى يَعْلَمَ وَيَسْتَيْقِنَ مَا وَرَدَ عَلَيْهِ، وَلَا يَعْجَلُ بِأَمْرٍ مِنْ قَبْلِ اسْتِحْكَامِهِ، فَالْعَجَلَةُ وَالطَّيْشُ مِنَ الشَّيْطَانِ. فَمَنْ ثَبَتَ عِنْدَ صَدْمَةِ الْبَدَوَاتِ اسْتَقْبَلَ أَمْرَهُ بِعِلْمٍ وَحَزْمٍ، وَمَنْ لَمْ يَثْبُتْ لَهَا اسْتَقْبَلَهُ بِعَجَلَةٍ وَطَيْشٍ، وَعَاقِبَتُهُ النَّدَامَةُ، وَعَاقِبَةُ الْأَوَّلِ حَمْدُ أَمْرِهِ، وَلَكِنَّ لِلْأَوَّلِ آفَةً مَتَى قُرِنَتْ بِالْحَزْمِ وَالْعَزْمِ نَجَا مِنْهَا، وَهِيَ الْفَوْتُ، فَإِنَّهُ لَا يُخَافُ مِنَ التَّثَبُّتِ إِلَّا الْفَوْتُ، فَإِذَا اقْتَرَنَ بِهِ الْعَزْمُ وَالْحَزْمُ تَمَّ أَمْرُهُ. وَلِهَذَا فِي الدُّعَاءِ الَّذِي رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ». وَهَاتَانِ الْكَلِمَتَانِ هُمَا جِمَاعُ الْفَلَاحِ، وَمَا أُتِيَ الْعَبْدُ إِلَّا مِنْ تَضْيِيعِهِمَا أَوْ تَضْيِيعِ أَحَدِهِمَا، فَمَا أُتِيَ أَحَدٌ إِلَّا مِنْ بَابِ الْعَجَلَةِ وَالطَّيْشِ وَاسْتِفْزَازِ الْبَدَوَاتِ لَهُ، أَوْ مِنْ بَابِ التَّهَاوُنِ وَالتَّمَاوُتِ وَتَضْيِيعِ الْفُرْصَةِ بَعْدَ مُوَاتَاتِهَا، فَإِذَا حَصَلَ الثَّبَاتُ أَوَّلًا وَالْعَزْمُ ثَانِيًا أَفْلَحَ كُلَّ الْفَلَاحِ، وَاللَّهُ وَلِيُّ التَّوْفِيقِ.Ketika seseorang langsung ragu hanya karena datangnya satu syubhat kecil, itu menunjukkan betapa lemahnya akal dan ilmu orang itu. Ia seperti daun kering yang terhempas angin dari arah manapun.Ia mudah gelisah dan terguncang hanya oleh kejutan kecil di permulaan.Berbeda halnya dengan orang yang berakal matang dan tenang. Ia tidak mudah terguncang oleh badai pertama. Ia kokoh dalam pendirian.Ya, memang kebatilan itu sering tampak mengejutkan dan menciutkan di awal—tapi jika hati tetap tenang, maka kebatilan itu akan roboh dengan sendirinya.Allah menyukai dari hamba-Nya sikap tenang dan penuh pertimbangan. Jangan tergesa-gesa. Jangan langsung menilai sebelum benar-benar yakin.Karena tergesa-gesa dan gegabah adalah dari setan.Siapa yang mampu tenang saat diterpa ujian pertama, ia akan menghadapi masalahnya dengan ilmu dan ketegasan. Namun yang panik dan terburu-buru, akan meresponnya dengan kecerobohan dan nafsu sesaat. Akhirnya? Penyesalan.Sedangkan bagi yang tenang dan teguh? Ujungnya adalah pujian dan keberhasilan.Namun, ada satu ujian dari sikap tenang: yaitu risiko kehilangan momentum. Namun jika ketenangan itu diiringi dengan tekad kuat dan keputusan tegas, maka ia akan aman dan berhasil.Tak heran, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita sebuah doa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ“Ya Allah, aku memohon keteguhan dalam urusan, dan kemauan yang kuat untuk menuju jalan yang benar.”Dua kalimat ini adalah kunci keberhasilan.Tak ada orang gagal kecuali karena mengabaikan keduanya—atau salah satunya.Semua keburukan datang dari dua pintu:Karena terlalu cepat, tergesa-gesa, dan gegabah.Karena terlalu santai, menunda-nunda, dan membiarkan kesempatan berlalu.Jika seseorang memiliki keteguhan hati di awal, lalu kemauan kuat untuk bergerak maju, maka itulah kemenangan sejati.Dan hanya Allah-lah Pemilik taufik. Kebatilan kadang mengejutkan ketika pertama kali didengar.Jangan panik.Jangan langsung mengambil kesimpulan.Tenangkan hati.Cari ilmu.Periksa sumber.Kemudian putuskan berdasarkan ilmu. 6. Bedakan antara pertanyaan dan pemberontakan terhadap wahyuKalimat:“Saya belum memahami hikmah hukum ini.”berbeda dengan:“Kalau saya tidak memahami hikmahnya, berarti hukum Allah salah.”Yang pertama adalah pertanyaan.Yang kedua sudah membawa sebuah premis yang keliru.Tidak mengetahui hikmah bukan berarti hukum Allah tidak memiliki hikmah. 7. Waspadai hawa nafsu yang memakai baju argumentasiTerkadang syubhat datang setelah keinginan.Seseorang sudah ingin melakukan sesuatu, kemudian ia mencari dalil pembenarannya.Contohnya:“Saya ingin transaksi ini. Cari pendapat yang membolehkan.”Seharusnya:“Apa hukum Allah tentang transaksi ini?”Ini perbedaan antara mencari kebenaran dan mencari pembenaran. 8. Jangan menilai agama hanya berdasarkan pengalaman buruk pemeluknyaMisalnya ada suami melakukan kezaliman, kemudian seseorang menyimpulkan:“Berarti konsep kepemimpinan suami dalam Islam bermasalah.”Itu tidak tepat.Kesalahan pelaku tidak otomatis membatalkan ajaran.Bedakan antara:Islam dan kesalahan sebagian kaum muslimin. 9. Perbanyak membaca Al-Qur’anAl-Qur’an bukan hanya bacaan.Ia adalah petunjuk.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Wahai manusia! Sungguh telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian, penyembuh bagi apa yang ada di dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Yunus: 57)Semakin seseorang mengenal kebenaran, semakin mudah ia mengenali yang palsu. 10. Berdoalah meminta keteguhanIbnul Qayyim menukil doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan dan tekad kuat untuk mengikuti petunjuk.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa ini. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i, no. 1304 dan Ahmad, no. 17133 dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu.Ibnul Qayyim mengatakan:وَهَاتَانِ الْكَلِمَتَانِ هُمَا جِمَاعُ الْفَلَاحِ… فَإِذَا حَصَلَ الثَّبَاتُ أَوَّلًا وَالْعَزْمُ ثَانِيًا أَفْلَحَ كُلَّ الْفَلَاحِ، وَاللَّهُ وَلِيُّ التَّوْفِيقِ.“Dua kalimat ini menghimpun sebab keberuntungan. Jika seseorang memiliki keteguhan terlebih dahulu, kemudian tekad yang kuat, ia akan memperoleh keberhasilan. Allah-lah pemberi taufik.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sering berdoa,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”(HR. Tirmidzi, no. 3522 dan Ahmad; hadis sahih).Takhrij: Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Diriwayatkan At-Tirmidzi, no. 3522 dan Ahmad, no. 26519. Syu’aib Al-Arnauth menilainya sahih dengan berbagai penguat. Rumus Praktis Menghadapi Syubhat di Media SosialKetika menemukan satu pernyataan agama yang membuat hati terguncang, jangan buru-buru percaya.Gunakan pertanyaan sederhana berikut:Siapa yang berbicara?Apakah ia memahami bidang tersebut?Apa dalilnya?Bukan hanya kalimatnya menarik.Apakah dalil tersebut sahih?Apakah dalilnya dipahami secara utuh?Apakah ada dalil lain yang perlu digabungkan?Bagaimana para ulama menjelaskan masalah tersebut?Apakah saya menyukai pendapat ini karena benar atau karena sesuai keinginan saya?Pertanyaan terakhir sering menjadi ujian paling berat. Dari Syubhat Menuju KesesatanAlur yang berbahaya bisa seperti ini:Kurang ilmu ↓ Terpapar syubhat ↓ Mulai ragu ↓ Tidak mencari jawaban kepada ahlinya ↓ Terus mengonsumsi syubhat serupa ↓ Kebatilan terlihat masuk akal ↓ Kebenaran terasa asing ↓ Ḍalālah—tersesat dari petunjuk Adapun jalan keselamatan:Al-Qur’an dan Sunnah ↓ Ilmu ↓ Bashirah ↓ Tatsabbut ↓ Mengikuti ulama ↓ Menjauhi syubhat yang tidak diperlukan ↓ Doa dan amal saleh ↓ Tsabāt—keteguhan Nasihat Terakhir: Jangan Jadikan Hati Tempat Sampah SyubhatTidak semua yang muncul di layar harus masuk ke dalam hati. Jangan merasa semakin banyak keraguan yang kita konsumsi berarti semakin luas wawasan kita, karena Ibnul Qayyim justru mengingatkan bahwa menampung semua syubhat dapat membuat hati menjadi tempat tinggal syubhat. Bekali diri dengan ilmu, dekatlah dengan Al-Qur’an dan Sunnah, serta bertanyalah kepada ahli ilmu ketika menemukan perkara yang tidak dipahami. Keselamatan agama jauh lebih berharga daripada memenangkan satu perdebatan di media sosial.Semoga Allah menjaga hati kita dengan doa:يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَأَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.Yā muqallibal-qulūb, tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnattibā‘ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnajtinābah.“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu. Tunjukkan kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkan kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.”Wallahu waliyyut taufiq. ReferensiIbn Qayyim Al-Jawziyyah, M. ibn A. B. (1432 H). Miftāḥ dār al-sa‘ādah wa mansyūr wilāyat al-‘ilm wa al-irādah (A. ibn H. ibn Qā’id, Ed., 1st ed.). Majma‘ Al-Fiqh Al-Islami & Dār ‘Ālam Al-Fawā’id.Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah—Al-Maktabah Al-WaqfiyyahIslam Question & Answer. (n.d.). Kayfa tudfa‘ al-syubuhāt fī bāb al-qadar. IslamQA.IslamQA—Bahaya dan cara menghadapi syubhatIslam Question & Answer. (n.d.). Tasaluth al-syaithān ‘alaihi bi al-syahawāt al-muharramah wa al-syubuhāt al-bāthilah. IslamQA.IslamQA—Nasihat hati seperti kaca, bukan sponsIslamweb. (n.d.). Waṣiyyah qayyimah li dar’i al-syubuhāt wa al-mubtada‘āt. Islamweb.Islamweb—Wasiat menghadapi syubhatTuasikal, M. A. (2009, October 17). Berbicara agama tanpa ilmu lebih bahaya dari dosa kesyirikan. Rumaysho.Com.Rumaysho.Com—Berbicara agama tanpa ilmuTuasikal, M. A. (2022). Lebih dari 100 keutamaan orang berilmu dari kitab Miftah Daar As-Sa‘adah. Rumaysho.Com.Rumaysho.Com—Keutamaan ilmu dari Miftah Daar As-Sa‘adahAl-Durar Al-Saniyyah. (n.d.). Mausū‘ah al-ḥadītsiyyah: Al-ḥalāl bayyin wa al-ḥarām bayyin. Dorar—Hadis halal, haram, dan perkara syubhatAl-Durar Al-Saniyyah. (n.d.). Mausū‘ah al-ḥadītsiyyah: Yā muqallibal-qulūb tsabbit qalbī ‘alā dīnik. Dorar—Hadis doa keteguhan hatiAl-Durar Al-Saniyyah. (n.d.). Mausū‘ah al-ḥadītsiyyah: Allāhumma innī as’aluka al-tsabāta fī al-amr. Dorar—Doa memohon keteguhan dan tekad mengikuti petunjuk —– Senin Pagi, 22 Rabiul Akhir 1448 H, 5 Oktober 2026 di Perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin menuju Kajian Khadijah Community di Masjid RS JIH JogjaPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbahaya syubhat faedah dari Ibnul Qayyim Ibnu Taimiyyah ibnul qayyim ilmu agama istiqamah jauhi syubhat kesesatan lebih kaya dengan ilmu menjaga iman nasihat ibnul qayyim penyakit hati syubhat
Syubhat berbahaya bukan karena kebatilannya terlihat jelas, tetapi justru karena kebatilan itu sering datang memakai pakaian kebenaran. Satu potongan video, satu istilah yang terdengar ilmiah, atau satu pendapat yang dikemas meyakinkan bisa membuat orang yang kurang ilmu mulai meragukan agamanya. Karena itu, mengenali syubhat dan mengetahui cara menjauhinya adalah bagian penting dalam menjaga hati agar tetap berada di atas petunjuk. Apa itu Syubhat?Kata syubhat (الشُّبْهَة) berasal dari makna adanya kemiripan dan kesamaran.Sesuatu disebut syubhat karena kebenaran bercampur atau menyerupai kebatilan sehingga orang yang tidak memiliki ilmu dan bashirah bisa sulit membedakannya.Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan:وَالشُّبْهَةُ: وَارِدٌ يَرِدُ عَلَى الْقَلْبِ، يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ انْكِشَافِ الْحَقِّ لَهُ، فَمَتَى بَاشَرَ الْقَلْبُ حَقِيقَةَ الْعِلْمِ، لَمْ تُؤَثِّرْ تِلْكَ الشُّبْهَةُ فِيهِ، بَلْ يَقْوَى عِلْمُهُ وَيَقِينُهُ بِرَدِّهَا وَمَعْرِفَةِ بُطْلَانِهَا، وَمَتَى لَمْ يُبَاشِرْ حَقِيقَةَ الْعِلْمِ بِالْحَقِّ قَلْبُهُ قَدَحَتْ فِيهِ الشَّكَّ بِأَوَّلِ وَهْلَةٍ، فَإِنْ تَدَارَكَهَا وَإِلَّا تَتَابَعَتْ عَلَى قَلْبِهِ أَمْثَالُهَا، حَتَّى يَصِيرَ شَاكًّا مُرْتَابًا.“Syubhat adalah sesuatu yang datang kepada hati lalu menghalangi hati tersebut dari tersingkapnya kebenaran. Jika hakikat ilmu telah benar-benar menyentuh hati, syubhat itu tidak akan memengaruhinya. Bahkan ilmu dan keyakinannya semakin kuat ketika ia mampu membantah dan mengetahui kebatilannya. Namun, jika hati belum benar-benar mengenal hakikat kebenaran, syubhat pertama yang datang dapat menyalakan keraguan. Jika tidak segera ditangani, syubhat-syubhat lain akan datang berturut-turut sampai seseorang menjadi penuh keraguan dan kebimbangan.” (Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, buku “Lebih Kaya dengan Ilmu”, hlm. 66).Maka, syubhat bukan sekadar “ada pertanyaan”.Bertanya untuk mencari kebenaran adalah baik.Syubhat menjadi berbahaya ketika kekeliruan masuk ke dalam hati sehingga kebenaran terlihat meragukan dan kebatilan justru tampak masuk akal. Syubhat Tidak Selalu Sama dengan Perkara Musytabih dalam Halal dan HaramAda istilah yang harus dibedakan.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ…“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara samar yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Siapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari, no. 52 dan Muslim, no. 1599).Takhrij: Hadis dari An-Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī, no. 52; Muslim dalam Ṣaḥīḥ Muslim, no. 1599; juga diriwayatkan Abu Dawud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, dan Ahmad. Hadis ini sahih.Musytabihāt dalam hadis ini berkaitan dengan perkara hukum yang belum jelas bagi banyak orang.Sedangkan syubhat pemikiran yang sedang kita bahas lebih luas: kerancuan yang masuk kepada cara seseorang memahami akidah, agama, wahyu, nilai, atau kebenaran.Keduanya sama-sama menuntut kehati-hatian, tetapi tidak selalu identik. Apa itu Sesat atau Ḍalālah?Dalam bahasa Al-Qur’an, ḍalāl (الضَّلَال) adalah lawan dari hidayah. Artinya keluar, menyimpang, atau tidak berada di jalan petunjuk yang benar.Allah Ta’ala berfirman,فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ“Tidak ada setelah kebenaran itu kecuali kesesatan.” (QS. Yunus: 32)Allah juga berfirman,وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ“Siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.” (QS. Az-Zumar: 36)Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:مَنْ فَارَقَ الدَّلِيلَ ضَلَّ السَّبِيلَ، وَلَا دَلِيلَ إِلَّا بِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ ﷺ“Siapa yang meninggalkan dalil, ia akan tersesat dari jalan. Tidak ada petunjuk yang sebenarnya kecuali dengan apa yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Ibnul Qayyim, Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, 1:299).Karena itu, kesesatan bukan hanya berarti sengaja membenci kebenaran.Seseorang bisa tersesat karena:tidak mengetahui kebenaran,salah memahami dalil,mengikuti hawa nafsu,mengikuti tokoh tanpa ilmu,terpengaruh syubhat,atau menjadikan sesuatu selain wahyu sebagai hakim tertinggi atas wahyu. Apakah Syubhat Bisa Membuat Orang Sesat?Jawabannya: bisa.Namun, tidak setiap orang yang terkena satu syubhat otomatis divonis sebagai orang sesat, ahli bid’ah, apalagi kafir.Ada perbedaan antara:terkena syubhat,belum mengetahui jawabannya,meyakini kesalahan karena ketidaktahuan,dan sengaja menolak kebenaran setelah jelas hujahnya.Yang perlu diwaspadai adalah prosesnya.Ibnul Qayyim menjelaskan:وَقَوْلُهُ: «يَنْقَدِحُ الشَّكُّ فِي قَلْبِهِ بِأَوَّلِ عَارِضٍ مِنْ شُبْهَةٍ»؛ هَذَا لِضَعْفِ عِلْمِهِ وَقِلَّةِ بَصِيرَتِهِ، إِذَا وَرَدَتْ عَلَى قَلْبِهِ أَدْنَى شُبْهَةٍ قَدَحَتْ فِيهِ الشَّكَّ وَالرَّيْبَ، بِخِلَافِ الرَّاسِخِ فِي الْعِلْمِ، لَوْ وَرَدَتْ عَلَيْهِ مِنَ الشُّبَهِ بِعَدَدِ أَمْوَاجِ الْبَحْرِ مَا أَزَالَتْ يَقِينَهُ، وَلَا قَدَحَتْ فِيهِ شَكًّا؛ لِأَنَّهُ قَدْ رَسَخَ فِي الْعِلْمِ، فَلَا تَسْتَفِزُّهُ الشُّبُهَاتُ، بَلْ إِذَا وَرَدَتْ عَلَيْهِ رَدَّهَا حَرَسُ الْعِلْمِ وَجَيْشُهُ مَغْلُولَةً مَغْلُوبَةً.Maknanya, orang yang lemah ilmunya dapat terguncang hanya oleh satu syubhat kecil. Adapun orang yang mendalam ilmunya, seandainya datang kepadanya syubhat sebanyak gelombang lautan, keyakinannya tidak mudah hilang. Pasukan ilmu yang berada di dalam hatinya akan menolak syubhat tersebut.Gambaran sederhananya:lemah ilmu → syubhat masuk → timbul ragu → syubhat dibiarkan → keraguan bertambah → kebenaran menjadi kabur → seseorang dapat tersesat.Karena itu, ilmu bukan hanya menambah informasi.Ilmu adalah benteng hati. Dua Pasukan yang Menyerang Hati: Syubhat dan SyahwatIbnul Qayyim menjelaskan bahwa hati dapat diserang oleh dua pasukan kebatilan:جَيْشُ شَهَوَاتِ الْغَيِّ، وَجَيْشُ شُبُهَاتِ الْبَاطِلِ“Pasukan syahwat yang menjerumuskan dan pasukan syubhat kebatilan.”Jika hati menerima syahwat, keinginan yang salah akan menguasai perbuatan.Jika hati menerima syubhat, keraguan dan pemikiran yang salah akan menguasai keyakinan dan lisan.Maka penyakit manusia secara umum dapat dilihat dari dua arah:Syubhat merusak cara berpikir.Syahwat merusak cara menginginkan.Orang yang terkena syahwat bisa berkata:“Saya tahu ini salah, tetapi saya masih ingin melakukannya.”Sedangkan orang yang terkena syubhat bisa berkata:“Saya justru yakin ini benar.”Di sinilah syubhat terkadang lebih sulit ditangani.Ia membuat seseorang melakukan kesalahan sambil merasa sedang membela kebenaran. Mengapa Disebut Syubhat? Karena Kebatilan Memakai Baju KebenaranIbnul Qayyim rahimahullah berkata:وَإِنَّمَا سُمِّيَتِ الشُّبْهَةُ شُبْهَةً لِاشْتِبَاهِ الْحَقِّ بِالْبَاطِلِ فِيهَا؛ فَإِنَّهَا تَلْبَسُ ثَوْبَ الْحَقِّ عَلَى جِسْمِ الْبَاطِلِ، وَأَكْثَرُ النَّاسِ أَصْحَابُ حُسْنٍ ظَاهِرٍ، فَيَنْظُرُ النَّاظِرُ فِيمَا أُلْبِسَتْهُ مِنَ اللِّبَاسِ فَيَعْتَقِدُ صِحَّتَهَا، وَأَمَّا صَاحِبُ الْعِلْمِ وَالْيَقِينِ فَإِنَّهُ لَا يَغْتَرُّ بِذَلِكَ، بَلْ يُجَاوِزُ نَظَرَهُ إِلَى بَاطِنِهَا وَمَا تَحْتَ لِبَاسِهَا، فَيَنْكَشِفُ لَهُ حَقِيقَتُهَا.“Syubhat dinamakan syubhat karena bercampurnya kebenaran dan kebatilan di dalamnya. Syubhat mengenakan pakaian kebenaran pada tubuh kebatilan. Kebanyakan manusia melihat apa yang tampak dari luarnya sehingga mengira bahwa syubhat itu benar. Adapun orang yang memiliki ilmu dan keyakinan tidak tertipu dengannya. Ia melihat lebih jauh kepada apa yang ada di balik pakaian tersebut sehingga hakikatnya tersingkap.”Kalimat ini sangat relevan pada zaman media sosial.Syubhat hari ini sering datang dengan kemasan:“riset membuktikan …”“secara logika …”“akal sehat mengatakan …”“atas nama kemanusiaan …”“demi kebebasan …”“demi toleransi …”“semua agama sebenarnya sama …”“yang penting hatinya baik …”“yang penting niatnya baik …”“ustadz terkenal juga mengatakan …”Tidak semua istilah itu salah.Namun, jangan hanya melihat kemasannya.Tanyakan:Apa yang sebenarnya dimaksud?Apa dalilnya?Benarkah kesimpulannya? Syubhat Seperti Uang Palsu yang Berlapis PerakIbnul Qayyim rahimahullah membuat perumpamaan yang sangat menarik:وَمِثَالُ هَذَا: الدِّرْهَمُ الزَّائِفُ؛ فَإِنَّهُ يَغْتَرُّ بِهِ الْجَاهِلُ بِالنَّقْدِ، نَظَرًا إِلَى مَا عَلَيْهِ مِنْ لِبَاسِ الْفِضَّةِ، وَالنَّاقِدُ الْبَصِيرُ يُجَاوِزُ نَظَرَهُ إِلَى مَا وَرَاءَ ذَلِكَ فَيَطَّلِعُ عَلَى زَيْفِهِ.فَاللَّفْظُ الْحَسَنُ الْفَصِيحُ هُوَ لِلشُّبْهَةِ بِمَنْزِلَةِ اللِّبَاسِ مِنَ الْفِضَّةِ عَلَى الدِّرْهَمِ الزَّائِفِ، وَالْمَعْنَى كَالنُّحَاسِ الَّذِي تَحْتَهُ.وَكَمْ قَدْ قَتَلَ هَذَا الِاغْتِرَارُ مِنْ خَلْقٍ لَا يُحْصِيهِمْ إِلَّا اللهُ!وَإِذَا تَأَمَّلَ الْعَاقِلُ الْفَطِنُ هَذَا الْقَدْرَ وَتَدَبَّرَهُ رَأَى أَكْثَرَ النَّاسِ يَقْبَلُ الْمَذْهَبَ وَالْمَقَالَةَ بِلَفْظٍ، وَيَرُدُّهَا بِعَيْنِهَا بِلَفْظٍ آخَرَ!، وَقَدْ رَأَيْتُ أَنَا مِنْ هَذَا فِي كُتُبِ النَّاسِ مَا شَاءَ اللهُ.وَكَمْ قَدْ رُدَّ مِنَ الْحَقِّ بِتَشْنِيعِهِ بِلِبَاسٍ مِنَ اللَّفْظِ قَبِيحٍ!وَفِي مِثْلِ هَذَا قَالَ أَئِمَّةُ السُّنَّةِ ــ مِنْهُمْ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ ــ: «لَا نُزِيلُ عَنِ اللهِ صِفَةً مِنْ صِفَاتِهِ لِأَجْلِ شَنَاعَةٍ شُنِّعَتْ».فَهَؤُلَاءِ الْجَهْمِيَّةُ يُسَمُّونَ إِثْبَاتَ صِفَاتِ الْكَمَالِ لِلَّهِ ــ مِنْ حَيَاتِهِ، وَعِلْمِهِ، وَكَلَامِهِ، وَسَمْعِهِ، وَبَصَرِهِ، وَسَائِرِ مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ ــ تَشْبِيهًا وَتَجْسِيمًا، وَمَنْ أَثْبَتَ ذَلِكَ مُشَبِّهًا؛ فَلَا يَنْفِرُ مِنْ هَذَا الْمَعْنَى الْحَقِّ لِأَجْلِ هَذِهِ التَّسْمِيَةِ الْبَاطِلَةِ إِلَّا الْعُقُولُ الصَّغِيرَةُ الْقَاصِرَةُ، خَفَافِيشُ الْبَصَائِرِ.وَكُلُّ أَهْلِ نِحْلَةٍ وَمَقَالَةٍ يَكْسُونَ نِحْلَتَهُمْ وَمَقَالَتَهُمْ أَحْسَنَ مَا يَقْدِرُونَ عَلَيْهِ مِنَ الْأَلْفَاظِ، وَمَقَالَةَ مُخَالِفِيهِمْ أَقْبَحَ مَا يَقْدِرُونَ عَلَيْهِ مِنَ الْأَلْفَاظِ، وَمَنْ رَزَقَهُ اللهُ بَصِيرَةً فَهُوَ يَكْشِفُ بِهَا حَقِيقَةَ مَا تَحْتَ تِلْكَ الْأَلْفَاظِ مِنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، وَلَا يَغْتَرُّ بِاللَّفْظِ، كَمَا قِيلَ فِي هَذَا الْمَعْنَى:تَقُولُ هَذَا جَنَى النَّحْلِ تَمْدَحُهُ … وَإِنْ تَشَأْ قُلْتَ ذَا قَيْءُ الزَّنَابِيرِمَدْحًا وَذَمًّا وَمَا جَاوَزْتَ وَصْفَهُمَا … وَالْحَقُّ قَدْ يَعْتَرِيهِ سُوءُ تَعْبِيرِIbnul Qayyim mengibaratkan syubhat seperti uang palsu yang bagian luarnya dilapisi perak. Orang yang tidak ahli akan tertipu oleh kilaunya. Adapun ahli uang akan memeriksa apa yang berada di balik lapisan tersebut.Demikian pula sebuah pemikiran.Kalimat yang menarik belum tentu benar.Istilah yang buruk belum tentu menunjukkan isi yang buruk.Istilah yang indah juga belum tentu menunjukkan isi yang benar.Karena itu, jangan menilai gagasan hanya dari labelnya. Macam-Macam SyubhatSyubhat dapat dipetakan berdasarkan bentuk masuknya.1. Syubhat tentang sumber kebenaranMisalnya:“Agama boleh diterima selama sesuai dengan logika manusia.”Padahal akal yang sehat dan wahyu yang sahih tidak mungkin bertentangan secara hakiki.Masalah muncul ketika dugaan manusia dianggap sebagai “akal”, kemudian dijadikan hakim atas wahyu.Prinsip yang aman adalah:akal digunakan untuk memahami wahyu, bukan untuk membatalkan wahyu yang telah sahih.2. Syubhat karena salah memahami dalilDalilnya benar, tetapi cara menggunakannya keliru.Misalnya:satu ayat dipotong tanpa melihat ayat sebelum dan sesudahnya,satu hadis dibaca tanpa penjelasan ulama,hadis dhaif dianggap sahih,dalil umum digunakan pada kasus khusus,perbedaan pendapat dianggap sama dengan kebebasan memilih pendapat sesuka hati.Di zaman media sosial, potongan video 30 detik dapat memberi kesan seolah persoalan agama yang rumit sudah selesai.Padahal tidak.3. Syubhat karena permainan istilahIni termasuk pelajaran besar dari Ibnul Qayyim.Istilah seperti:“kebebasan”,“hak”,“toleransi”,“kesetaraan”,“cinta”,“kemanusiaan”,“moderat”,“inklusif”,“akal sehat”,tidak otomatis benar atau salah.Yang harus diperiksa adalah:Apa definisinya?Apa konsekuensinya?Apakah sesuai syariat?Jangan sampai kita menerima sebuah pemikiran hanya karena namanya indah.4. Syubhat karena mengikuti dugaan dan hawa nafsuAllah Ta’ala berfirman,إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu mereka, padahal sungguh telah datang kepada mereka petunjuk dari Rabb mereka.” (QS. An-Najm: 23)Kadang seseorang tidak mencari:“Apa hukum Allah?”Tetapi ia mencari:“Pendapat mana yang cocok dengan keinginan saya?”Ini berbahaya.Syahwat kemudian mencari syubhat sebagai pengacara pembela.5. Syubhat karena figur“Tokoh besar mengatakan begitu.”“Profesor tersebut mengatakan begitu.”“Ustadz itu punya jutaan pengikut.”“Konten itu sudah ditonton sepuluh juta kali.”Semua itu bukan dalil.Ulama bisa salah.Akademisi bisa salah.Tokoh populer bisa salah.Yang menjadi ukuran adalah dalil dan kebenaran.6. Syubhat karena niat baik“Yang penting niatnya baik.”Padahal niat baik tidak mengubah cara yang haram menjadi halal.Seorang muslim memerlukan dua hal:ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.7. Syubhat scientismMisalnya:“Kalau tidak bisa dibuktikan di laboratorium, berarti tidak ada.”Ini bukan sains, tetapi menjadikan metode empiris sebagai satu-satunya jalan mengetahui seluruh realitas.Padahal banyak realitas tidak dibuktikan dengan eksperimen laboratorium.Apalagi perkara ghaib yang sumber pengetahuannya adalah wahyu.8. Syubhat relativismeMisalnya:“Semua kebenaran tergantung sudut pandang.”Islam mengenal wilayah ijtihad.Islam mengenal khilaf (beda pendapat).Tetapi Islam tidak mengajarkan bahwa semua pendapat selalu sama benarnya.Allah Ta’ala berfirman,الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ“Kebenaran itu datang dari Rabbmu, maka janganlah engkau termasuk orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah: 147) Apa Induk Syubhat yang Paling Berbahaya?Di antara akar terbesar munculnya syubhat adalah berbicara tentang Allah tanpa ilmu.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ“Katakanlah, ‘Rabbku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melampaui batas tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kalian ketahui.’” (QS. Al-A‘raf: 33)Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa berbicara tentang Allah tanpa ilmu mencakup berbicara tanpa ilmu mengenai nama dan sifat-Nya, perbuatan-Nya, agama-Nya, dan syariat-Nya. Penjelasan ini terdapat dalam I‘lām Al-Muwaqqi‘īn. Mengapa begitu berbahaya?Karena berbagai kesesatan bisa bermula dari seseorang yang berkata:“Menurut Islam begini …”padahal Allah tidak pernah mengatakannya.Atau:“Agama sebenarnya mengajarkan begini …”tanpa ilmu.Pada zaman media sosial, siapa pun dapat berbicara.Namun kemampuan membuat konten tidak otomatis sama dengan kemampuan memahami agama. Syubhat Zaman Sekarang Sering Datang Melalui LayarDahulu orang harus mendatangi majelis tertentu atau membaca buku tertentu untuk mendapatkan suatu pemikiran.Sekarang syubhat bisa masuk saat seseorang sedang berbaring memegang telepon genggam.Algoritma tidak bertanya:“Apakah ilmu orang ini cukup?”Algoritma hanya melihat:“Apakah ia akan terus menonton?”Satu video mengantarkan kepada video berikutnya.Satu keraguan mengantarkan kepada keraguan berikutnya.Sampai akhirnya seseorang tidak lagi tahu mana pertanyaan yang benar-benar ingin dijawab dan mana syubhat yang sengaja diproduksi untuk mengguncang keyakinan.Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi, no. 2317 dan Ibnu Majah, no. 3976; dinilai sahih oleh Al-Albani).Takhrij: Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan At-Tirmidzi, no. 2317 dan Ibnu Majah, no. 3976. Dinilai sahih oleh Al-Albani dan sahih dengan syawahid oleh Syu’aib Al-Arnauth.Tidak semua kontroversi wajib kita ikuti.Tidak semua debat wajib kita dengar.Tidak semua syubhat wajib kita masukkan ke kepala. Jangan Jadikan Hati Seperti SponsIni salah satu nasihat paling indah dari Ibnu Taimiyyah kepada Ibnul Qayyim.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:وَقَالَ لِي شَيْخُ الْإِسْلَامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ــ وَقَدْ جَعَلْتُ أُورِدُ عَلَيْهِ إِيرَادًا بَعْدَ إِيرَادٍ ــ: «لَا تَجْعَلْ قَلْبَكَ لِلْإِيرَادَاتِ وَالشُّبُهَاتِ مِثْلَ السِّفِنْجَةِ، فَيَتَشَرَّبَهَا، فَلَا يَنْضَحُ إِلَّا بِهَا، وَلَكِنِ اجْعَلْهُ كَالزُّجَاجَةِ الْمُصْمَتَةِ، تَمُرُّ الشُّبُهَاتُ بِظَاهِرِهَا وَلَا تَسْتَقِرُّ فِيهَا، فَيَرَاهَا بِصَفَائِهِ، وَيَدْفَعُهَا بِصَلَابَتِهِ، وَإِلَّا فَإِذَا أَشْرَبْتَ قَلْبَكَ كُلَّ شُبْهَةٍ تَمُرُّ عَلَيْكَ صَارَ مُقَرًّا لِلشُّبُهَاتِ»أَوْ كَمَا قَالَ؛ فَمَا أَعْلَمُ أَنِّي انْتَفَعْتُ بِوَصِيَّةٍ فِي دَفْعِ الشُّبُهَاتِ كَانْتِفَاعِي بِذَلِكَ.**Ibnul Qayyim menceritakan bahwa ketika ia terus mengajukan berbagai kerancuan kepada gurunya, Ibnu Taimiyyah menasihati:“Jangan jadikan hatimu seperti spons yang menyerap seluruh syubhat hingga yang keluar darinya hanyalah syubhat. Jadikan ia seperti kaca yang padat dan bening. Syubhat melewati permukaannya tetapi tidak menetap di dalamnya. Dengan kejernihannya ia melihat syubhat, dan dengan kekuatannya ia menolaknya.”Ibnul Qayyim kemudian mengatakan bahwa ia hampir tidak pernah mendapatkan nasihat dalam menghadapi syubhat yang lebih bermanfaat daripada nasihat tersebut.Nasihat ini juga dinukil oleh IslamQA dan Islamweb dari Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, 1/139–140. Untuk zaman ini, maknanya sederhana:Jangan jadikan timeline sebagai guru akidah. Bagaimana Menilai Sebuah Gagasan dengan Adil?Ibnul Qayyim memberikan kaidah penting:فَإِذَا أَرَدْتَ الِاطِّلَاعَ عَلَى كُنْهِ الْمَعْنَى: هَلْ هُوَ حَقٌّ أَوْ بَاطِلٌ؟ فَجَرِّدْهُ مِنْ لِبَاسِ الْعِبَارَةِ، وَجَرِّدْ قَلْبَكَ مِنَ النُّفْرَةِ وَالْمَيْلِ، ثُمَّ أَعْطِ النَّظَرَ حَقَّهُ، نَاظِرًا بِعَيْنِ الْإِنْصَافِ، وَلَا تَكُنْ مِمَّنْ يَنْظُرُ فِي مَقَالَةِ أَصْحَابِهِ وَمَنْ يُحْسِنُ ظَنَّهُ بِهِ نَظَرًا تَامًّا بِكُلِّ قَلْبِهِ، ثُمَّ يَنْظُرُ فِي مَقَالَةِ خُصُومِهِ وَمَنْ يُسِيءُ ظَنَّهُ بِهِ كَنَظَرِ الشَّزْرِ وَالْمُلَاحَظَةِ.فَالنَّاظِرُ بِعَيْنِ الْعَدَاوَةِ يَرَى الْمَحَاسِنَ مَسَاوِيَ، وَالنَّاظِرُ بِعَيْنِ الْمَحَبَّةِ عَكْسُهُ، وَمَا سَلِمَ مِنْ هَذَا إِلَّا مَنْ أَرَادَ اللَّهُ كَرَامَتَهُ وَارْتَضَاهُ لِقَبُولِ الْحَقِّ…وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَعْرِفَةِ الْحَقِّ وَقَبُولِهِ، وَرَدِّ الْبَاطِلِ وَعَدَمِ الِاغْتِرَارِ بِهِ.**Jika ingin mengetahui apakah suatu gagasan benar atau batil, lepaskan dahulu kemasan bahasanya. Bersihkan hati dari rasa cinta atau benci yang berlebihan. Kemudian lihatlah dengan adil.Jangan sampai ketika tokoh yang kita sukai berbicara, kita mencari seribu alasan untuk membenarkannya.Namun ketika orang yang tidak kita sukai berbicara, sejak awal kita sudah ingin menyalahkannya.Kebenaran tidak berubah hanya karena siapa yang mengatakannya. Cara Selamat dari Syubhat1. Kuatkan ilmu sebelum sibuk mempelajari syubhatObat terbesar syubhat adalah ilmu.Ibnul Qayyim mengatakan bahwa ketika hakikat ilmu telah memenuhi hati, syubhat tidak mudah memengaruhinya. Bahkan membantah syubhat dapat semakin menguatkan ilmu dan keyakinannya.Maka, sebelum sibuk mempelajari berbagai penyimpangan, pelajari dahulu:tauhid,dasar iman,Al-Qur’an,Sunnah,kaidah memahami dalil,fikih dasar,dan ilmu dari ulama yang dikenal lurus ilmunya.Jangan membangun rumah mulai dari atap.2. Jangan sengaja berburu syubhatAda orang yang merasa harus mengetahui seluruh keraguan agar dianggap berpikiran terbuka.Padahal tidak semua racun harus dicicipi untuk mengetahui bahwa racun itu berbahaya.Islamweb menasihati agar orang yang belum kuat ilmunya tidak sengaja memasuki ruang yang dipenuhi syubhat.3. Kembalikan kepada Al-Qur’an dan SunnahAllah Ta’ala berfirman,فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ“Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. An-Nisa’: 59)Ukuran kebenaran bukan:“viral atau tidak”.Namun:“ada dalilnya atau tidak”.4. Tanyakan kepada ahli ilmuAllah Ta’ala berfirman,فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)Kalau menemukan konten agama yang mengguncang keyakinan:jangan langsung berkomentar,jangan langsung menyebarkan,jangan langsung berdebat.Catat.Cari sumbernya.Tanyakan kepada ahlinya.5. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulanIbnul Qayyim berkata:وَقَوْلُهُ: «بِأَوَّلِ عَارِضٍ مِنْ شُبْهَةٍ»؛ هَذَا دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ عَقْلِهِ وَمَعْرِفَتِهِ، إِذْ تُؤَثِّرُ فِيهِ الْبَدَوَاتُ، وَتَسْتَفِزُّهُ أَوَائِلُ الْأُمُورِ، بِخِلَافِ الثَّابِتِ التَّامِّ الْعَقْلِ، فَإِنَّهُ لَا تَسْتَفِزُّهُ الْبَدَوَاتُ وَلَا تُزْعِجُهُ وَتُقْلِقُهُ؛ فَإِنَّ الْبَاطِلَ لَهُ دَهْشَةٌ وَرَوْعَةٌ فِي أَوَّلِهِ، فَإِذَا ثَبَتَ لَهُ الْقَلْبُ رُدَّ عَلَى عَقِبَيْهِ. وَاللَّهُ يُحِبُّ مِنْ عَبْدِهِ الْحِلْمَ وَالْأَنَاةَ، فَلَا يَعْجَلُ، بَلْ يَثْبُتُ حَتَّى يَعْلَمَ وَيَسْتَيْقِنَ مَا وَرَدَ عَلَيْهِ، وَلَا يَعْجَلُ بِأَمْرٍ مِنْ قَبْلِ اسْتِحْكَامِهِ، فَالْعَجَلَةُ وَالطَّيْشُ مِنَ الشَّيْطَانِ. فَمَنْ ثَبَتَ عِنْدَ صَدْمَةِ الْبَدَوَاتِ اسْتَقْبَلَ أَمْرَهُ بِعِلْمٍ وَحَزْمٍ، وَمَنْ لَمْ يَثْبُتْ لَهَا اسْتَقْبَلَهُ بِعَجَلَةٍ وَطَيْشٍ، وَعَاقِبَتُهُ النَّدَامَةُ، وَعَاقِبَةُ الْأَوَّلِ حَمْدُ أَمْرِهِ، وَلَكِنَّ لِلْأَوَّلِ آفَةً مَتَى قُرِنَتْ بِالْحَزْمِ وَالْعَزْمِ نَجَا مِنْهَا، وَهِيَ الْفَوْتُ، فَإِنَّهُ لَا يُخَافُ مِنَ التَّثَبُّتِ إِلَّا الْفَوْتُ، فَإِذَا اقْتَرَنَ بِهِ الْعَزْمُ وَالْحَزْمُ تَمَّ أَمْرُهُ. وَلِهَذَا فِي الدُّعَاءِ الَّذِي رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ». وَهَاتَانِ الْكَلِمَتَانِ هُمَا جِمَاعُ الْفَلَاحِ، وَمَا أُتِيَ الْعَبْدُ إِلَّا مِنْ تَضْيِيعِهِمَا أَوْ تَضْيِيعِ أَحَدِهِمَا، فَمَا أُتِيَ أَحَدٌ إِلَّا مِنْ بَابِ الْعَجَلَةِ وَالطَّيْشِ وَاسْتِفْزَازِ الْبَدَوَاتِ لَهُ، أَوْ مِنْ بَابِ التَّهَاوُنِ وَالتَّمَاوُتِ وَتَضْيِيعِ الْفُرْصَةِ بَعْدَ مُوَاتَاتِهَا، فَإِذَا حَصَلَ الثَّبَاتُ أَوَّلًا وَالْعَزْمُ ثَانِيًا أَفْلَحَ كُلَّ الْفَلَاحِ، وَاللَّهُ وَلِيُّ التَّوْفِيقِ.Ketika seseorang langsung ragu hanya karena datangnya satu syubhat kecil, itu menunjukkan betapa lemahnya akal dan ilmu orang itu. Ia seperti daun kering yang terhempas angin dari arah manapun.Ia mudah gelisah dan terguncang hanya oleh kejutan kecil di permulaan.Berbeda halnya dengan orang yang berakal matang dan tenang. Ia tidak mudah terguncang oleh badai pertama. Ia kokoh dalam pendirian.Ya, memang kebatilan itu sering tampak mengejutkan dan menciutkan di awal—tapi jika hati tetap tenang, maka kebatilan itu akan roboh dengan sendirinya.Allah menyukai dari hamba-Nya sikap tenang dan penuh pertimbangan. Jangan tergesa-gesa. Jangan langsung menilai sebelum benar-benar yakin.Karena tergesa-gesa dan gegabah adalah dari setan.Siapa yang mampu tenang saat diterpa ujian pertama, ia akan menghadapi masalahnya dengan ilmu dan ketegasan. Namun yang panik dan terburu-buru, akan meresponnya dengan kecerobohan dan nafsu sesaat. Akhirnya? Penyesalan.Sedangkan bagi yang tenang dan teguh? Ujungnya adalah pujian dan keberhasilan.Namun, ada satu ujian dari sikap tenang: yaitu risiko kehilangan momentum. Namun jika ketenangan itu diiringi dengan tekad kuat dan keputusan tegas, maka ia akan aman dan berhasil.Tak heran, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita sebuah doa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ“Ya Allah, aku memohon keteguhan dalam urusan, dan kemauan yang kuat untuk menuju jalan yang benar.”Dua kalimat ini adalah kunci keberhasilan.Tak ada orang gagal kecuali karena mengabaikan keduanya—atau salah satunya.Semua keburukan datang dari dua pintu:Karena terlalu cepat, tergesa-gesa, dan gegabah.Karena terlalu santai, menunda-nunda, dan membiarkan kesempatan berlalu.Jika seseorang memiliki keteguhan hati di awal, lalu kemauan kuat untuk bergerak maju, maka itulah kemenangan sejati.Dan hanya Allah-lah Pemilik taufik. Kebatilan kadang mengejutkan ketika pertama kali didengar.Jangan panik.Jangan langsung mengambil kesimpulan.Tenangkan hati.Cari ilmu.Periksa sumber.Kemudian putuskan berdasarkan ilmu. 6. Bedakan antara pertanyaan dan pemberontakan terhadap wahyuKalimat:“Saya belum memahami hikmah hukum ini.”berbeda dengan:“Kalau saya tidak memahami hikmahnya, berarti hukum Allah salah.”Yang pertama adalah pertanyaan.Yang kedua sudah membawa sebuah premis yang keliru.Tidak mengetahui hikmah bukan berarti hukum Allah tidak memiliki hikmah. 7. Waspadai hawa nafsu yang memakai baju argumentasiTerkadang syubhat datang setelah keinginan.Seseorang sudah ingin melakukan sesuatu, kemudian ia mencari dalil pembenarannya.Contohnya:“Saya ingin transaksi ini. Cari pendapat yang membolehkan.”Seharusnya:“Apa hukum Allah tentang transaksi ini?”Ini perbedaan antara mencari kebenaran dan mencari pembenaran. 8. Jangan menilai agama hanya berdasarkan pengalaman buruk pemeluknyaMisalnya ada suami melakukan kezaliman, kemudian seseorang menyimpulkan:“Berarti konsep kepemimpinan suami dalam Islam bermasalah.”Itu tidak tepat.Kesalahan pelaku tidak otomatis membatalkan ajaran.Bedakan antara:Islam dan kesalahan sebagian kaum muslimin. 9. Perbanyak membaca Al-Qur’anAl-Qur’an bukan hanya bacaan.Ia adalah petunjuk.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Wahai manusia! Sungguh telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian, penyembuh bagi apa yang ada di dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Yunus: 57)Semakin seseorang mengenal kebenaran, semakin mudah ia mengenali yang palsu. 10. Berdoalah meminta keteguhanIbnul Qayyim menukil doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan dan tekad kuat untuk mengikuti petunjuk.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa ini. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i, no. 1304 dan Ahmad, no. 17133 dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu.Ibnul Qayyim mengatakan:وَهَاتَانِ الْكَلِمَتَانِ هُمَا جِمَاعُ الْفَلَاحِ… فَإِذَا حَصَلَ الثَّبَاتُ أَوَّلًا وَالْعَزْمُ ثَانِيًا أَفْلَحَ كُلَّ الْفَلَاحِ، وَاللَّهُ وَلِيُّ التَّوْفِيقِ.“Dua kalimat ini menghimpun sebab keberuntungan. Jika seseorang memiliki keteguhan terlebih dahulu, kemudian tekad yang kuat, ia akan memperoleh keberhasilan. Allah-lah pemberi taufik.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sering berdoa,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”(HR. Tirmidzi, no. 3522 dan Ahmad; hadis sahih).Takhrij: Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Diriwayatkan At-Tirmidzi, no. 3522 dan Ahmad, no. 26519. Syu’aib Al-Arnauth menilainya sahih dengan berbagai penguat. Rumus Praktis Menghadapi Syubhat di Media SosialKetika menemukan satu pernyataan agama yang membuat hati terguncang, jangan buru-buru percaya.Gunakan pertanyaan sederhana berikut:Siapa yang berbicara?Apakah ia memahami bidang tersebut?Apa dalilnya?Bukan hanya kalimatnya menarik.Apakah dalil tersebut sahih?Apakah dalilnya dipahami secara utuh?Apakah ada dalil lain yang perlu digabungkan?Bagaimana para ulama menjelaskan masalah tersebut?Apakah saya menyukai pendapat ini karena benar atau karena sesuai keinginan saya?Pertanyaan terakhir sering menjadi ujian paling berat. Dari Syubhat Menuju KesesatanAlur yang berbahaya bisa seperti ini:Kurang ilmu ↓ Terpapar syubhat ↓ Mulai ragu ↓ Tidak mencari jawaban kepada ahlinya ↓ Terus mengonsumsi syubhat serupa ↓ Kebatilan terlihat masuk akal ↓ Kebenaran terasa asing ↓ Ḍalālah—tersesat dari petunjuk Adapun jalan keselamatan:Al-Qur’an dan Sunnah ↓ Ilmu ↓ Bashirah ↓ Tatsabbut ↓ Mengikuti ulama ↓ Menjauhi syubhat yang tidak diperlukan ↓ Doa dan amal saleh ↓ Tsabāt—keteguhan Nasihat Terakhir: Jangan Jadikan Hati Tempat Sampah SyubhatTidak semua yang muncul di layar harus masuk ke dalam hati. Jangan merasa semakin banyak keraguan yang kita konsumsi berarti semakin luas wawasan kita, karena Ibnul Qayyim justru mengingatkan bahwa menampung semua syubhat dapat membuat hati menjadi tempat tinggal syubhat. Bekali diri dengan ilmu, dekatlah dengan Al-Qur’an dan Sunnah, serta bertanyalah kepada ahli ilmu ketika menemukan perkara yang tidak dipahami. Keselamatan agama jauh lebih berharga daripada memenangkan satu perdebatan di media sosial.Semoga Allah menjaga hati kita dengan doa:يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَأَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.Yā muqallibal-qulūb, tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnattibā‘ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnajtinābah.“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu. Tunjukkan kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkan kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.”Wallahu waliyyut taufiq. ReferensiIbn Qayyim Al-Jawziyyah, M. ibn A. B. (1432 H). Miftāḥ dār al-sa‘ādah wa mansyūr wilāyat al-‘ilm wa al-irādah (A. ibn H. ibn Qā’id, Ed., 1st ed.). Majma‘ Al-Fiqh Al-Islami & Dār ‘Ālam Al-Fawā’id.Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah—Al-Maktabah Al-WaqfiyyahIslam Question & Answer. (n.d.). Kayfa tudfa‘ al-syubuhāt fī bāb al-qadar. IslamQA.IslamQA—Bahaya dan cara menghadapi syubhatIslam Question & Answer. (n.d.). Tasaluth al-syaithān ‘alaihi bi al-syahawāt al-muharramah wa al-syubuhāt al-bāthilah. IslamQA.IslamQA—Nasihat hati seperti kaca, bukan sponsIslamweb. (n.d.). Waṣiyyah qayyimah li dar’i al-syubuhāt wa al-mubtada‘āt. Islamweb.Islamweb—Wasiat menghadapi syubhatTuasikal, M. A. (2009, October 17). Berbicara agama tanpa ilmu lebih bahaya dari dosa kesyirikan. Rumaysho.Com.Rumaysho.Com—Berbicara agama tanpa ilmuTuasikal, M. A. (2022). Lebih dari 100 keutamaan orang berilmu dari kitab Miftah Daar As-Sa‘adah. Rumaysho.Com.Rumaysho.Com—Keutamaan ilmu dari Miftah Daar As-Sa‘adahAl-Durar Al-Saniyyah. (n.d.). Mausū‘ah al-ḥadītsiyyah: Al-ḥalāl bayyin wa al-ḥarām bayyin. Dorar—Hadis halal, haram, dan perkara syubhatAl-Durar Al-Saniyyah. (n.d.). Mausū‘ah al-ḥadītsiyyah: Yā muqallibal-qulūb tsabbit qalbī ‘alā dīnik. Dorar—Hadis doa keteguhan hatiAl-Durar Al-Saniyyah. (n.d.). Mausū‘ah al-ḥadītsiyyah: Allāhumma innī as’aluka al-tsabāta fī al-amr. Dorar—Doa memohon keteguhan dan tekad mengikuti petunjuk —– Senin Pagi, 22 Rabiul Akhir 1448 H, 5 Oktober 2026 di Perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin menuju Kajian Khadijah Community di Masjid RS JIH JogjaPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbahaya syubhat faedah dari Ibnul Qayyim Ibnu Taimiyyah ibnul qayyim ilmu agama istiqamah jauhi syubhat kesesatan lebih kaya dengan ilmu menjaga iman nasihat ibnul qayyim penyakit hati syubhat


Syubhat berbahaya bukan karena kebatilannya terlihat jelas, tetapi justru karena kebatilan itu sering datang memakai pakaian kebenaran. Satu potongan video, satu istilah yang terdengar ilmiah, atau satu pendapat yang dikemas meyakinkan bisa membuat orang yang kurang ilmu mulai meragukan agamanya. Karena itu, mengenali syubhat dan mengetahui cara menjauhinya adalah bagian penting dalam menjaga hati agar tetap berada di atas petunjuk. Apa itu Syubhat?Kata syubhat (الشُّبْهَة) berasal dari makna adanya kemiripan dan kesamaran.Sesuatu disebut syubhat karena kebenaran bercampur atau menyerupai kebatilan sehingga orang yang tidak memiliki ilmu dan bashirah bisa sulit membedakannya.Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan:وَالشُّبْهَةُ: وَارِدٌ يَرِدُ عَلَى الْقَلْبِ، يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ انْكِشَافِ الْحَقِّ لَهُ، فَمَتَى بَاشَرَ الْقَلْبُ حَقِيقَةَ الْعِلْمِ، لَمْ تُؤَثِّرْ تِلْكَ الشُّبْهَةُ فِيهِ، بَلْ يَقْوَى عِلْمُهُ وَيَقِينُهُ بِرَدِّهَا وَمَعْرِفَةِ بُطْلَانِهَا، وَمَتَى لَمْ يُبَاشِرْ حَقِيقَةَ الْعِلْمِ بِالْحَقِّ قَلْبُهُ قَدَحَتْ فِيهِ الشَّكَّ بِأَوَّلِ وَهْلَةٍ، فَإِنْ تَدَارَكَهَا وَإِلَّا تَتَابَعَتْ عَلَى قَلْبِهِ أَمْثَالُهَا، حَتَّى يَصِيرَ شَاكًّا مُرْتَابًا.“Syubhat adalah sesuatu yang datang kepada hati lalu menghalangi hati tersebut dari tersingkapnya kebenaran. Jika hakikat ilmu telah benar-benar menyentuh hati, syubhat itu tidak akan memengaruhinya. Bahkan ilmu dan keyakinannya semakin kuat ketika ia mampu membantah dan mengetahui kebatilannya. Namun, jika hati belum benar-benar mengenal hakikat kebenaran, syubhat pertama yang datang dapat menyalakan keraguan. Jika tidak segera ditangani, syubhat-syubhat lain akan datang berturut-turut sampai seseorang menjadi penuh keraguan dan kebimbangan.” (Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, buku “Lebih Kaya dengan Ilmu”, hlm. 66).Maka, syubhat bukan sekadar “ada pertanyaan”.Bertanya untuk mencari kebenaran adalah baik.Syubhat menjadi berbahaya ketika kekeliruan masuk ke dalam hati sehingga kebenaran terlihat meragukan dan kebatilan justru tampak masuk akal. Syubhat Tidak Selalu Sama dengan Perkara Musytabih dalam Halal dan HaramAda istilah yang harus dibedakan.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ…“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara samar yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Siapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari, no. 52 dan Muslim, no. 1599).Takhrij: Hadis dari An-Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī, no. 52; Muslim dalam Ṣaḥīḥ Muslim, no. 1599; juga diriwayatkan Abu Dawud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, dan Ahmad. Hadis ini sahih.Musytabihāt dalam hadis ini berkaitan dengan perkara hukum yang belum jelas bagi banyak orang.Sedangkan syubhat pemikiran yang sedang kita bahas lebih luas: kerancuan yang masuk kepada cara seseorang memahami akidah, agama, wahyu, nilai, atau kebenaran.Keduanya sama-sama menuntut kehati-hatian, tetapi tidak selalu identik. Apa itu Sesat atau Ḍalālah?Dalam bahasa Al-Qur’an, ḍalāl (الضَّلَال) adalah lawan dari hidayah. Artinya keluar, menyimpang, atau tidak berada di jalan petunjuk yang benar.Allah Ta’ala berfirman,فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ“Tidak ada setelah kebenaran itu kecuali kesesatan.” (QS. Yunus: 32)Allah juga berfirman,وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ“Siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.” (QS. Az-Zumar: 36)Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:مَنْ فَارَقَ الدَّلِيلَ ضَلَّ السَّبِيلَ، وَلَا دَلِيلَ إِلَّا بِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ ﷺ“Siapa yang meninggalkan dalil, ia akan tersesat dari jalan. Tidak ada petunjuk yang sebenarnya kecuali dengan apa yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Ibnul Qayyim, Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, 1:299).Karena itu, kesesatan bukan hanya berarti sengaja membenci kebenaran.Seseorang bisa tersesat karena:tidak mengetahui kebenaran,salah memahami dalil,mengikuti hawa nafsu,mengikuti tokoh tanpa ilmu,terpengaruh syubhat,atau menjadikan sesuatu selain wahyu sebagai hakim tertinggi atas wahyu. Apakah Syubhat Bisa Membuat Orang Sesat?Jawabannya: bisa.Namun, tidak setiap orang yang terkena satu syubhat otomatis divonis sebagai orang sesat, ahli bid’ah, apalagi kafir.Ada perbedaan antara:terkena syubhat,belum mengetahui jawabannya,meyakini kesalahan karena ketidaktahuan,dan sengaja menolak kebenaran setelah jelas hujahnya.Yang perlu diwaspadai adalah prosesnya.Ibnul Qayyim menjelaskan:وَقَوْلُهُ: «يَنْقَدِحُ الشَّكُّ فِي قَلْبِهِ بِأَوَّلِ عَارِضٍ مِنْ شُبْهَةٍ»؛ هَذَا لِضَعْفِ عِلْمِهِ وَقِلَّةِ بَصِيرَتِهِ، إِذَا وَرَدَتْ عَلَى قَلْبِهِ أَدْنَى شُبْهَةٍ قَدَحَتْ فِيهِ الشَّكَّ وَالرَّيْبَ، بِخِلَافِ الرَّاسِخِ فِي الْعِلْمِ، لَوْ وَرَدَتْ عَلَيْهِ مِنَ الشُّبَهِ بِعَدَدِ أَمْوَاجِ الْبَحْرِ مَا أَزَالَتْ يَقِينَهُ، وَلَا قَدَحَتْ فِيهِ شَكًّا؛ لِأَنَّهُ قَدْ رَسَخَ فِي الْعِلْمِ، فَلَا تَسْتَفِزُّهُ الشُّبُهَاتُ، بَلْ إِذَا وَرَدَتْ عَلَيْهِ رَدَّهَا حَرَسُ الْعِلْمِ وَجَيْشُهُ مَغْلُولَةً مَغْلُوبَةً.Maknanya, orang yang lemah ilmunya dapat terguncang hanya oleh satu syubhat kecil. Adapun orang yang mendalam ilmunya, seandainya datang kepadanya syubhat sebanyak gelombang lautan, keyakinannya tidak mudah hilang. Pasukan ilmu yang berada di dalam hatinya akan menolak syubhat tersebut.Gambaran sederhananya:lemah ilmu → syubhat masuk → timbul ragu → syubhat dibiarkan → keraguan bertambah → kebenaran menjadi kabur → seseorang dapat tersesat.Karena itu, ilmu bukan hanya menambah informasi.Ilmu adalah benteng hati. Dua Pasukan yang Menyerang Hati: Syubhat dan SyahwatIbnul Qayyim menjelaskan bahwa hati dapat diserang oleh dua pasukan kebatilan:جَيْشُ شَهَوَاتِ الْغَيِّ، وَجَيْشُ شُبُهَاتِ الْبَاطِلِ“Pasukan syahwat yang menjerumuskan dan pasukan syubhat kebatilan.”Jika hati menerima syahwat, keinginan yang salah akan menguasai perbuatan.Jika hati menerima syubhat, keraguan dan pemikiran yang salah akan menguasai keyakinan dan lisan.Maka penyakit manusia secara umum dapat dilihat dari dua arah:Syubhat merusak cara berpikir.Syahwat merusak cara menginginkan.Orang yang terkena syahwat bisa berkata:“Saya tahu ini salah, tetapi saya masih ingin melakukannya.”Sedangkan orang yang terkena syubhat bisa berkata:“Saya justru yakin ini benar.”Di sinilah syubhat terkadang lebih sulit ditangani.Ia membuat seseorang melakukan kesalahan sambil merasa sedang membela kebenaran. Mengapa Disebut Syubhat? Karena Kebatilan Memakai Baju KebenaranIbnul Qayyim rahimahullah berkata:وَإِنَّمَا سُمِّيَتِ الشُّبْهَةُ شُبْهَةً لِاشْتِبَاهِ الْحَقِّ بِالْبَاطِلِ فِيهَا؛ فَإِنَّهَا تَلْبَسُ ثَوْبَ الْحَقِّ عَلَى جِسْمِ الْبَاطِلِ، وَأَكْثَرُ النَّاسِ أَصْحَابُ حُسْنٍ ظَاهِرٍ، فَيَنْظُرُ النَّاظِرُ فِيمَا أُلْبِسَتْهُ مِنَ اللِّبَاسِ فَيَعْتَقِدُ صِحَّتَهَا، وَأَمَّا صَاحِبُ الْعِلْمِ وَالْيَقِينِ فَإِنَّهُ لَا يَغْتَرُّ بِذَلِكَ، بَلْ يُجَاوِزُ نَظَرَهُ إِلَى بَاطِنِهَا وَمَا تَحْتَ لِبَاسِهَا، فَيَنْكَشِفُ لَهُ حَقِيقَتُهَا.“Syubhat dinamakan syubhat karena bercampurnya kebenaran dan kebatilan di dalamnya. Syubhat mengenakan pakaian kebenaran pada tubuh kebatilan. Kebanyakan manusia melihat apa yang tampak dari luarnya sehingga mengira bahwa syubhat itu benar. Adapun orang yang memiliki ilmu dan keyakinan tidak tertipu dengannya. Ia melihat lebih jauh kepada apa yang ada di balik pakaian tersebut sehingga hakikatnya tersingkap.”Kalimat ini sangat relevan pada zaman media sosial.Syubhat hari ini sering datang dengan kemasan:“riset membuktikan …”“secara logika …”“akal sehat mengatakan …”“atas nama kemanusiaan …”“demi kebebasan …”“demi toleransi …”“semua agama sebenarnya sama …”“yang penting hatinya baik …”“yang penting niatnya baik …”“ustadz terkenal juga mengatakan …”Tidak semua istilah itu salah.Namun, jangan hanya melihat kemasannya.Tanyakan:Apa yang sebenarnya dimaksud?Apa dalilnya?Benarkah kesimpulannya? Syubhat Seperti Uang Palsu yang Berlapis PerakIbnul Qayyim rahimahullah membuat perumpamaan yang sangat menarik:وَمِثَالُ هَذَا: الدِّرْهَمُ الزَّائِفُ؛ فَإِنَّهُ يَغْتَرُّ بِهِ الْجَاهِلُ بِالنَّقْدِ، نَظَرًا إِلَى مَا عَلَيْهِ مِنْ لِبَاسِ الْفِضَّةِ، وَالنَّاقِدُ الْبَصِيرُ يُجَاوِزُ نَظَرَهُ إِلَى مَا وَرَاءَ ذَلِكَ فَيَطَّلِعُ عَلَى زَيْفِهِ.فَاللَّفْظُ الْحَسَنُ الْفَصِيحُ هُوَ لِلشُّبْهَةِ بِمَنْزِلَةِ اللِّبَاسِ مِنَ الْفِضَّةِ عَلَى الدِّرْهَمِ الزَّائِفِ، وَالْمَعْنَى كَالنُّحَاسِ الَّذِي تَحْتَهُ.وَكَمْ قَدْ قَتَلَ هَذَا الِاغْتِرَارُ مِنْ خَلْقٍ لَا يُحْصِيهِمْ إِلَّا اللهُ!وَإِذَا تَأَمَّلَ الْعَاقِلُ الْفَطِنُ هَذَا الْقَدْرَ وَتَدَبَّرَهُ رَأَى أَكْثَرَ النَّاسِ يَقْبَلُ الْمَذْهَبَ وَالْمَقَالَةَ بِلَفْظٍ، وَيَرُدُّهَا بِعَيْنِهَا بِلَفْظٍ آخَرَ!، وَقَدْ رَأَيْتُ أَنَا مِنْ هَذَا فِي كُتُبِ النَّاسِ مَا شَاءَ اللهُ.وَكَمْ قَدْ رُدَّ مِنَ الْحَقِّ بِتَشْنِيعِهِ بِلِبَاسٍ مِنَ اللَّفْظِ قَبِيحٍ!وَفِي مِثْلِ هَذَا قَالَ أَئِمَّةُ السُّنَّةِ ــ مِنْهُمْ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ ــ: «لَا نُزِيلُ عَنِ اللهِ صِفَةً مِنْ صِفَاتِهِ لِأَجْلِ شَنَاعَةٍ شُنِّعَتْ».فَهَؤُلَاءِ الْجَهْمِيَّةُ يُسَمُّونَ إِثْبَاتَ صِفَاتِ الْكَمَالِ لِلَّهِ ــ مِنْ حَيَاتِهِ، وَعِلْمِهِ، وَكَلَامِهِ، وَسَمْعِهِ، وَبَصَرِهِ، وَسَائِرِ مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ ــ تَشْبِيهًا وَتَجْسِيمًا، وَمَنْ أَثْبَتَ ذَلِكَ مُشَبِّهًا؛ فَلَا يَنْفِرُ مِنْ هَذَا الْمَعْنَى الْحَقِّ لِأَجْلِ هَذِهِ التَّسْمِيَةِ الْبَاطِلَةِ إِلَّا الْعُقُولُ الصَّغِيرَةُ الْقَاصِرَةُ، خَفَافِيشُ الْبَصَائِرِ.وَكُلُّ أَهْلِ نِحْلَةٍ وَمَقَالَةٍ يَكْسُونَ نِحْلَتَهُمْ وَمَقَالَتَهُمْ أَحْسَنَ مَا يَقْدِرُونَ عَلَيْهِ مِنَ الْأَلْفَاظِ، وَمَقَالَةَ مُخَالِفِيهِمْ أَقْبَحَ مَا يَقْدِرُونَ عَلَيْهِ مِنَ الْأَلْفَاظِ، وَمَنْ رَزَقَهُ اللهُ بَصِيرَةً فَهُوَ يَكْشِفُ بِهَا حَقِيقَةَ مَا تَحْتَ تِلْكَ الْأَلْفَاظِ مِنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، وَلَا يَغْتَرُّ بِاللَّفْظِ، كَمَا قِيلَ فِي هَذَا الْمَعْنَى:تَقُولُ هَذَا جَنَى النَّحْلِ تَمْدَحُهُ … وَإِنْ تَشَأْ قُلْتَ ذَا قَيْءُ الزَّنَابِيرِمَدْحًا وَذَمًّا وَمَا جَاوَزْتَ وَصْفَهُمَا … وَالْحَقُّ قَدْ يَعْتَرِيهِ سُوءُ تَعْبِيرِIbnul Qayyim mengibaratkan syubhat seperti uang palsu yang bagian luarnya dilapisi perak. Orang yang tidak ahli akan tertipu oleh kilaunya. Adapun ahli uang akan memeriksa apa yang berada di balik lapisan tersebut.Demikian pula sebuah pemikiran.Kalimat yang menarik belum tentu benar.Istilah yang buruk belum tentu menunjukkan isi yang buruk.Istilah yang indah juga belum tentu menunjukkan isi yang benar.Karena itu, jangan menilai gagasan hanya dari labelnya. Macam-Macam SyubhatSyubhat dapat dipetakan berdasarkan bentuk masuknya.1. Syubhat tentang sumber kebenaranMisalnya:“Agama boleh diterima selama sesuai dengan logika manusia.”Padahal akal yang sehat dan wahyu yang sahih tidak mungkin bertentangan secara hakiki.Masalah muncul ketika dugaan manusia dianggap sebagai “akal”, kemudian dijadikan hakim atas wahyu.Prinsip yang aman adalah:akal digunakan untuk memahami wahyu, bukan untuk membatalkan wahyu yang telah sahih.2. Syubhat karena salah memahami dalilDalilnya benar, tetapi cara menggunakannya keliru.Misalnya:satu ayat dipotong tanpa melihat ayat sebelum dan sesudahnya,satu hadis dibaca tanpa penjelasan ulama,hadis dhaif dianggap sahih,dalil umum digunakan pada kasus khusus,perbedaan pendapat dianggap sama dengan kebebasan memilih pendapat sesuka hati.Di zaman media sosial, potongan video 30 detik dapat memberi kesan seolah persoalan agama yang rumit sudah selesai.Padahal tidak.3. Syubhat karena permainan istilahIni termasuk pelajaran besar dari Ibnul Qayyim.Istilah seperti:“kebebasan”,“hak”,“toleransi”,“kesetaraan”,“cinta”,“kemanusiaan”,“moderat”,“inklusif”,“akal sehat”,tidak otomatis benar atau salah.Yang harus diperiksa adalah:Apa definisinya?Apa konsekuensinya?Apakah sesuai syariat?Jangan sampai kita menerima sebuah pemikiran hanya karena namanya indah.4. Syubhat karena mengikuti dugaan dan hawa nafsuAllah Ta’ala berfirman,إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu mereka, padahal sungguh telah datang kepada mereka petunjuk dari Rabb mereka.” (QS. An-Najm: 23)Kadang seseorang tidak mencari:“Apa hukum Allah?”Tetapi ia mencari:“Pendapat mana yang cocok dengan keinginan saya?”Ini berbahaya.Syahwat kemudian mencari syubhat sebagai pengacara pembela.5. Syubhat karena figur“Tokoh besar mengatakan begitu.”“Profesor tersebut mengatakan begitu.”“Ustadz itu punya jutaan pengikut.”“Konten itu sudah ditonton sepuluh juta kali.”Semua itu bukan dalil.Ulama bisa salah.Akademisi bisa salah.Tokoh populer bisa salah.Yang menjadi ukuran adalah dalil dan kebenaran.6. Syubhat karena niat baik“Yang penting niatnya baik.”Padahal niat baik tidak mengubah cara yang haram menjadi halal.Seorang muslim memerlukan dua hal:ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.7. Syubhat scientismMisalnya:“Kalau tidak bisa dibuktikan di laboratorium, berarti tidak ada.”Ini bukan sains, tetapi menjadikan metode empiris sebagai satu-satunya jalan mengetahui seluruh realitas.Padahal banyak realitas tidak dibuktikan dengan eksperimen laboratorium.Apalagi perkara ghaib yang sumber pengetahuannya adalah wahyu.8. Syubhat relativismeMisalnya:“Semua kebenaran tergantung sudut pandang.”Islam mengenal wilayah ijtihad.Islam mengenal khilaf (beda pendapat).Tetapi Islam tidak mengajarkan bahwa semua pendapat selalu sama benarnya.Allah Ta’ala berfirman,الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ“Kebenaran itu datang dari Rabbmu, maka janganlah engkau termasuk orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah: 147) Apa Induk Syubhat yang Paling Berbahaya?Di antara akar terbesar munculnya syubhat adalah berbicara tentang Allah tanpa ilmu.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ“Katakanlah, ‘Rabbku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melampaui batas tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kalian ketahui.’” (QS. Al-A‘raf: 33)Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa berbicara tentang Allah tanpa ilmu mencakup berbicara tanpa ilmu mengenai nama dan sifat-Nya, perbuatan-Nya, agama-Nya, dan syariat-Nya. Penjelasan ini terdapat dalam I‘lām Al-Muwaqqi‘īn. Mengapa begitu berbahaya?Karena berbagai kesesatan bisa bermula dari seseorang yang berkata:“Menurut Islam begini …”padahal Allah tidak pernah mengatakannya.Atau:“Agama sebenarnya mengajarkan begini …”tanpa ilmu.Pada zaman media sosial, siapa pun dapat berbicara.Namun kemampuan membuat konten tidak otomatis sama dengan kemampuan memahami agama. Syubhat Zaman Sekarang Sering Datang Melalui LayarDahulu orang harus mendatangi majelis tertentu atau membaca buku tertentu untuk mendapatkan suatu pemikiran.Sekarang syubhat bisa masuk saat seseorang sedang berbaring memegang telepon genggam.Algoritma tidak bertanya:“Apakah ilmu orang ini cukup?”Algoritma hanya melihat:“Apakah ia akan terus menonton?”Satu video mengantarkan kepada video berikutnya.Satu keraguan mengantarkan kepada keraguan berikutnya.Sampai akhirnya seseorang tidak lagi tahu mana pertanyaan yang benar-benar ingin dijawab dan mana syubhat yang sengaja diproduksi untuk mengguncang keyakinan.Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi, no. 2317 dan Ibnu Majah, no. 3976; dinilai sahih oleh Al-Albani).Takhrij: Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan At-Tirmidzi, no. 2317 dan Ibnu Majah, no. 3976. Dinilai sahih oleh Al-Albani dan sahih dengan syawahid oleh Syu’aib Al-Arnauth.Tidak semua kontroversi wajib kita ikuti.Tidak semua debat wajib kita dengar.Tidak semua syubhat wajib kita masukkan ke kepala. Jangan Jadikan Hati Seperti SponsIni salah satu nasihat paling indah dari Ibnu Taimiyyah kepada Ibnul Qayyim.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:وَقَالَ لِي شَيْخُ الْإِسْلَامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ــ وَقَدْ جَعَلْتُ أُورِدُ عَلَيْهِ إِيرَادًا بَعْدَ إِيرَادٍ ــ: «لَا تَجْعَلْ قَلْبَكَ لِلْإِيرَادَاتِ وَالشُّبُهَاتِ مِثْلَ السِّفِنْجَةِ، فَيَتَشَرَّبَهَا، فَلَا يَنْضَحُ إِلَّا بِهَا، وَلَكِنِ اجْعَلْهُ كَالزُّجَاجَةِ الْمُصْمَتَةِ، تَمُرُّ الشُّبُهَاتُ بِظَاهِرِهَا وَلَا تَسْتَقِرُّ فِيهَا، فَيَرَاهَا بِصَفَائِهِ، وَيَدْفَعُهَا بِصَلَابَتِهِ، وَإِلَّا فَإِذَا أَشْرَبْتَ قَلْبَكَ كُلَّ شُبْهَةٍ تَمُرُّ عَلَيْكَ صَارَ مُقَرًّا لِلشُّبُهَاتِ»أَوْ كَمَا قَالَ؛ فَمَا أَعْلَمُ أَنِّي انْتَفَعْتُ بِوَصِيَّةٍ فِي دَفْعِ الشُّبُهَاتِ كَانْتِفَاعِي بِذَلِكَ.**Ibnul Qayyim menceritakan bahwa ketika ia terus mengajukan berbagai kerancuan kepada gurunya, Ibnu Taimiyyah menasihati:“Jangan jadikan hatimu seperti spons yang menyerap seluruh syubhat hingga yang keluar darinya hanyalah syubhat. Jadikan ia seperti kaca yang padat dan bening. Syubhat melewati permukaannya tetapi tidak menetap di dalamnya. Dengan kejernihannya ia melihat syubhat, dan dengan kekuatannya ia menolaknya.”Ibnul Qayyim kemudian mengatakan bahwa ia hampir tidak pernah mendapatkan nasihat dalam menghadapi syubhat yang lebih bermanfaat daripada nasihat tersebut.Nasihat ini juga dinukil oleh IslamQA dan Islamweb dari Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, 1/139–140. Untuk zaman ini, maknanya sederhana:Jangan jadikan timeline sebagai guru akidah. Bagaimana Menilai Sebuah Gagasan dengan Adil?Ibnul Qayyim memberikan kaidah penting:فَإِذَا أَرَدْتَ الِاطِّلَاعَ عَلَى كُنْهِ الْمَعْنَى: هَلْ هُوَ حَقٌّ أَوْ بَاطِلٌ؟ فَجَرِّدْهُ مِنْ لِبَاسِ الْعِبَارَةِ، وَجَرِّدْ قَلْبَكَ مِنَ النُّفْرَةِ وَالْمَيْلِ، ثُمَّ أَعْطِ النَّظَرَ حَقَّهُ، نَاظِرًا بِعَيْنِ الْإِنْصَافِ، وَلَا تَكُنْ مِمَّنْ يَنْظُرُ فِي مَقَالَةِ أَصْحَابِهِ وَمَنْ يُحْسِنُ ظَنَّهُ بِهِ نَظَرًا تَامًّا بِكُلِّ قَلْبِهِ، ثُمَّ يَنْظُرُ فِي مَقَالَةِ خُصُومِهِ وَمَنْ يُسِيءُ ظَنَّهُ بِهِ كَنَظَرِ الشَّزْرِ وَالْمُلَاحَظَةِ.فَالنَّاظِرُ بِعَيْنِ الْعَدَاوَةِ يَرَى الْمَحَاسِنَ مَسَاوِيَ، وَالنَّاظِرُ بِعَيْنِ الْمَحَبَّةِ عَكْسُهُ، وَمَا سَلِمَ مِنْ هَذَا إِلَّا مَنْ أَرَادَ اللَّهُ كَرَامَتَهُ وَارْتَضَاهُ لِقَبُولِ الْحَقِّ…وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَعْرِفَةِ الْحَقِّ وَقَبُولِهِ، وَرَدِّ الْبَاطِلِ وَعَدَمِ الِاغْتِرَارِ بِهِ.**Jika ingin mengetahui apakah suatu gagasan benar atau batil, lepaskan dahulu kemasan bahasanya. Bersihkan hati dari rasa cinta atau benci yang berlebihan. Kemudian lihatlah dengan adil.Jangan sampai ketika tokoh yang kita sukai berbicara, kita mencari seribu alasan untuk membenarkannya.Namun ketika orang yang tidak kita sukai berbicara, sejak awal kita sudah ingin menyalahkannya.Kebenaran tidak berubah hanya karena siapa yang mengatakannya. Cara Selamat dari Syubhat1. Kuatkan ilmu sebelum sibuk mempelajari syubhatObat terbesar syubhat adalah ilmu.Ibnul Qayyim mengatakan bahwa ketika hakikat ilmu telah memenuhi hati, syubhat tidak mudah memengaruhinya. Bahkan membantah syubhat dapat semakin menguatkan ilmu dan keyakinannya.Maka, sebelum sibuk mempelajari berbagai penyimpangan, pelajari dahulu:tauhid,dasar iman,Al-Qur’an,Sunnah,kaidah memahami dalil,fikih dasar,dan ilmu dari ulama yang dikenal lurus ilmunya.Jangan membangun rumah mulai dari atap.2. Jangan sengaja berburu syubhatAda orang yang merasa harus mengetahui seluruh keraguan agar dianggap berpikiran terbuka.Padahal tidak semua racun harus dicicipi untuk mengetahui bahwa racun itu berbahaya.Islamweb menasihati agar orang yang belum kuat ilmunya tidak sengaja memasuki ruang yang dipenuhi syubhat.3. Kembalikan kepada Al-Qur’an dan SunnahAllah Ta’ala berfirman,فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ“Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. An-Nisa’: 59)Ukuran kebenaran bukan:“viral atau tidak”.Namun:“ada dalilnya atau tidak”.4. Tanyakan kepada ahli ilmuAllah Ta’ala berfirman,فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)Kalau menemukan konten agama yang mengguncang keyakinan:jangan langsung berkomentar,jangan langsung menyebarkan,jangan langsung berdebat.Catat.Cari sumbernya.Tanyakan kepada ahlinya.5. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulanIbnul Qayyim berkata:وَقَوْلُهُ: «بِأَوَّلِ عَارِضٍ مِنْ شُبْهَةٍ»؛ هَذَا دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ عَقْلِهِ وَمَعْرِفَتِهِ، إِذْ تُؤَثِّرُ فِيهِ الْبَدَوَاتُ، وَتَسْتَفِزُّهُ أَوَائِلُ الْأُمُورِ، بِخِلَافِ الثَّابِتِ التَّامِّ الْعَقْلِ، فَإِنَّهُ لَا تَسْتَفِزُّهُ الْبَدَوَاتُ وَلَا تُزْعِجُهُ وَتُقْلِقُهُ؛ فَإِنَّ الْبَاطِلَ لَهُ دَهْشَةٌ وَرَوْعَةٌ فِي أَوَّلِهِ، فَإِذَا ثَبَتَ لَهُ الْقَلْبُ رُدَّ عَلَى عَقِبَيْهِ. وَاللَّهُ يُحِبُّ مِنْ عَبْدِهِ الْحِلْمَ وَالْأَنَاةَ، فَلَا يَعْجَلُ، بَلْ يَثْبُتُ حَتَّى يَعْلَمَ وَيَسْتَيْقِنَ مَا وَرَدَ عَلَيْهِ، وَلَا يَعْجَلُ بِأَمْرٍ مِنْ قَبْلِ اسْتِحْكَامِهِ، فَالْعَجَلَةُ وَالطَّيْشُ مِنَ الشَّيْطَانِ. فَمَنْ ثَبَتَ عِنْدَ صَدْمَةِ الْبَدَوَاتِ اسْتَقْبَلَ أَمْرَهُ بِعِلْمٍ وَحَزْمٍ، وَمَنْ لَمْ يَثْبُتْ لَهَا اسْتَقْبَلَهُ بِعَجَلَةٍ وَطَيْشٍ، وَعَاقِبَتُهُ النَّدَامَةُ، وَعَاقِبَةُ الْأَوَّلِ حَمْدُ أَمْرِهِ، وَلَكِنَّ لِلْأَوَّلِ آفَةً مَتَى قُرِنَتْ بِالْحَزْمِ وَالْعَزْمِ نَجَا مِنْهَا، وَهِيَ الْفَوْتُ، فَإِنَّهُ لَا يُخَافُ مِنَ التَّثَبُّتِ إِلَّا الْفَوْتُ، فَإِذَا اقْتَرَنَ بِهِ الْعَزْمُ وَالْحَزْمُ تَمَّ أَمْرُهُ. وَلِهَذَا فِي الدُّعَاءِ الَّذِي رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ». وَهَاتَانِ الْكَلِمَتَانِ هُمَا جِمَاعُ الْفَلَاحِ، وَمَا أُتِيَ الْعَبْدُ إِلَّا مِنْ تَضْيِيعِهِمَا أَوْ تَضْيِيعِ أَحَدِهِمَا، فَمَا أُتِيَ أَحَدٌ إِلَّا مِنْ بَابِ الْعَجَلَةِ وَالطَّيْشِ وَاسْتِفْزَازِ الْبَدَوَاتِ لَهُ، أَوْ مِنْ بَابِ التَّهَاوُنِ وَالتَّمَاوُتِ وَتَضْيِيعِ الْفُرْصَةِ بَعْدَ مُوَاتَاتِهَا، فَإِذَا حَصَلَ الثَّبَاتُ أَوَّلًا وَالْعَزْمُ ثَانِيًا أَفْلَحَ كُلَّ الْفَلَاحِ، وَاللَّهُ وَلِيُّ التَّوْفِيقِ.Ketika seseorang langsung ragu hanya karena datangnya satu syubhat kecil, itu menunjukkan betapa lemahnya akal dan ilmu orang itu. Ia seperti daun kering yang terhempas angin dari arah manapun.Ia mudah gelisah dan terguncang hanya oleh kejutan kecil di permulaan.Berbeda halnya dengan orang yang berakal matang dan tenang. Ia tidak mudah terguncang oleh badai pertama. Ia kokoh dalam pendirian.Ya, memang kebatilan itu sering tampak mengejutkan dan menciutkan di awal—tapi jika hati tetap tenang, maka kebatilan itu akan roboh dengan sendirinya.Allah menyukai dari hamba-Nya sikap tenang dan penuh pertimbangan. Jangan tergesa-gesa. Jangan langsung menilai sebelum benar-benar yakin.Karena tergesa-gesa dan gegabah adalah dari setan.Siapa yang mampu tenang saat diterpa ujian pertama, ia akan menghadapi masalahnya dengan ilmu dan ketegasan. Namun yang panik dan terburu-buru, akan meresponnya dengan kecerobohan dan nafsu sesaat. Akhirnya? Penyesalan.Sedangkan bagi yang tenang dan teguh? Ujungnya adalah pujian dan keberhasilan.Namun, ada satu ujian dari sikap tenang: yaitu risiko kehilangan momentum. Namun jika ketenangan itu diiringi dengan tekad kuat dan keputusan tegas, maka ia akan aman dan berhasil.Tak heran, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita sebuah doa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ“Ya Allah, aku memohon keteguhan dalam urusan, dan kemauan yang kuat untuk menuju jalan yang benar.”Dua kalimat ini adalah kunci keberhasilan.Tak ada orang gagal kecuali karena mengabaikan keduanya—atau salah satunya.Semua keburukan datang dari dua pintu:Karena terlalu cepat, tergesa-gesa, dan gegabah.Karena terlalu santai, menunda-nunda, dan membiarkan kesempatan berlalu.Jika seseorang memiliki keteguhan hati di awal, lalu kemauan kuat untuk bergerak maju, maka itulah kemenangan sejati.Dan hanya Allah-lah Pemilik taufik. Kebatilan kadang mengejutkan ketika pertama kali didengar.Jangan panik.Jangan langsung mengambil kesimpulan.Tenangkan hati.Cari ilmu.Periksa sumber.Kemudian putuskan berdasarkan ilmu. 6. Bedakan antara pertanyaan dan pemberontakan terhadap wahyuKalimat:“Saya belum memahami hikmah hukum ini.”berbeda dengan:“Kalau saya tidak memahami hikmahnya, berarti hukum Allah salah.”Yang pertama adalah pertanyaan.Yang kedua sudah membawa sebuah premis yang keliru.Tidak mengetahui hikmah bukan berarti hukum Allah tidak memiliki hikmah. 7. Waspadai hawa nafsu yang memakai baju argumentasiTerkadang syubhat datang setelah keinginan.Seseorang sudah ingin melakukan sesuatu, kemudian ia mencari dalil pembenarannya.Contohnya:“Saya ingin transaksi ini. Cari pendapat yang membolehkan.”Seharusnya:“Apa hukum Allah tentang transaksi ini?”Ini perbedaan antara mencari kebenaran dan mencari pembenaran. 8. Jangan menilai agama hanya berdasarkan pengalaman buruk pemeluknyaMisalnya ada suami melakukan kezaliman, kemudian seseorang menyimpulkan:“Berarti konsep kepemimpinan suami dalam Islam bermasalah.”Itu tidak tepat.Kesalahan pelaku tidak otomatis membatalkan ajaran.Bedakan antara:Islam dan kesalahan sebagian kaum muslimin. 9. Perbanyak membaca Al-Qur’anAl-Qur’an bukan hanya bacaan.Ia adalah petunjuk.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Wahai manusia! Sungguh telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian, penyembuh bagi apa yang ada di dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Yunus: 57)Semakin seseorang mengenal kebenaran, semakin mudah ia mengenali yang palsu. 10. Berdoalah meminta keteguhanIbnul Qayyim menukil doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan dan tekad kuat untuk mengikuti petunjuk.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa ini. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i, no. 1304 dan Ahmad, no. 17133 dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu.Ibnul Qayyim mengatakan:وَهَاتَانِ الْكَلِمَتَانِ هُمَا جِمَاعُ الْفَلَاحِ… فَإِذَا حَصَلَ الثَّبَاتُ أَوَّلًا وَالْعَزْمُ ثَانِيًا أَفْلَحَ كُلَّ الْفَلَاحِ، وَاللَّهُ وَلِيُّ التَّوْفِيقِ.“Dua kalimat ini menghimpun sebab keberuntungan. Jika seseorang memiliki keteguhan terlebih dahulu, kemudian tekad yang kuat, ia akan memperoleh keberhasilan. Allah-lah pemberi taufik.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sering berdoa,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”(HR. Tirmidzi, no. 3522 dan Ahmad; hadis sahih).Takhrij: Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Diriwayatkan At-Tirmidzi, no. 3522 dan Ahmad, no. 26519. Syu’aib Al-Arnauth menilainya sahih dengan berbagai penguat. Rumus Praktis Menghadapi Syubhat di Media SosialKetika menemukan satu pernyataan agama yang membuat hati terguncang, jangan buru-buru percaya.Gunakan pertanyaan sederhana berikut:Siapa yang berbicara?Apakah ia memahami bidang tersebut?Apa dalilnya?Bukan hanya kalimatnya menarik.Apakah dalil tersebut sahih?Apakah dalilnya dipahami secara utuh?Apakah ada dalil lain yang perlu digabungkan?Bagaimana para ulama menjelaskan masalah tersebut?Apakah saya menyukai pendapat ini karena benar atau karena sesuai keinginan saya?Pertanyaan terakhir sering menjadi ujian paling berat. Dari Syubhat Menuju KesesatanAlur yang berbahaya bisa seperti ini:Kurang ilmu ↓ Terpapar syubhat ↓ Mulai ragu ↓ Tidak mencari jawaban kepada ahlinya ↓ Terus mengonsumsi syubhat serupa ↓ Kebatilan terlihat masuk akal ↓ Kebenaran terasa asing ↓ Ḍalālah—tersesat dari petunjuk Adapun jalan keselamatan:Al-Qur’an dan Sunnah ↓ Ilmu ↓ Bashirah ↓ Tatsabbut ↓ Mengikuti ulama ↓ Menjauhi syubhat yang tidak diperlukan ↓ Doa dan amal saleh ↓ Tsabāt—keteguhan Nasihat Terakhir: Jangan Jadikan Hati Tempat Sampah SyubhatTidak semua yang muncul di layar harus masuk ke dalam hati. Jangan merasa semakin banyak keraguan yang kita konsumsi berarti semakin luas wawasan kita, karena Ibnul Qayyim justru mengingatkan bahwa menampung semua syubhat dapat membuat hati menjadi tempat tinggal syubhat. Bekali diri dengan ilmu, dekatlah dengan Al-Qur’an dan Sunnah, serta bertanyalah kepada ahli ilmu ketika menemukan perkara yang tidak dipahami. Keselamatan agama jauh lebih berharga daripada memenangkan satu perdebatan di media sosial.Semoga Allah menjaga hati kita dengan doa:يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَأَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.Yā muqallibal-qulūb, tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnattibā‘ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnajtinābah.“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu. Tunjukkan kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkan kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.”Wallahu waliyyut taufiq. ReferensiIbn Qayyim Al-Jawziyyah, M. ibn A. B. (1432 H). Miftāḥ dār al-sa‘ādah wa mansyūr wilāyat al-‘ilm wa al-irādah (A. ibn H. ibn Qā’id, Ed., 1st ed.). Majma‘ Al-Fiqh Al-Islami & Dār ‘Ālam Al-Fawā’id.Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah—Al-Maktabah Al-WaqfiyyahIslam Question & Answer. (n.d.). Kayfa tudfa‘ al-syubuhāt fī bāb al-qadar. IslamQA.IslamQA—Bahaya dan cara menghadapi syubhatIslam Question & Answer. (n.d.). Tasaluth al-syaithān ‘alaihi bi al-syahawāt al-muharramah wa al-syubuhāt al-bāthilah. IslamQA.IslamQA—Nasihat hati seperti kaca, bukan sponsIslamweb. (n.d.). Waṣiyyah qayyimah li dar’i al-syubuhāt wa al-mubtada‘āt. Islamweb.Islamweb—Wasiat menghadapi syubhatTuasikal, M. A. (2009, October 17). Berbicara agama tanpa ilmu lebih bahaya dari dosa kesyirikan. Rumaysho.Com.Rumaysho.Com—Berbicara agama tanpa ilmuTuasikal, M. A. (2022). Lebih dari 100 keutamaan orang berilmu dari kitab Miftah Daar As-Sa‘adah. Rumaysho.Com.Rumaysho.Com—Keutamaan ilmu dari Miftah Daar As-Sa‘adahAl-Durar Al-Saniyyah. (n.d.). Mausū‘ah al-ḥadītsiyyah: Al-ḥalāl bayyin wa al-ḥarām bayyin. Dorar—Hadis halal, haram, dan perkara syubhatAl-Durar Al-Saniyyah. (n.d.). Mausū‘ah al-ḥadītsiyyah: Yā muqallibal-qulūb tsabbit qalbī ‘alā dīnik. Dorar—Hadis doa keteguhan hatiAl-Durar Al-Saniyyah. (n.d.). Mausū‘ah al-ḥadītsiyyah: Allāhumma innī as’aluka al-tsabāta fī al-amr. Dorar—Doa memohon keteguhan dan tekad mengikuti petunjuk —– Senin Pagi, 22 Rabiul Akhir 1448 H, 5 Oktober 2026 di Perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin menuju Kajian Khadijah Community di Masjid RS JIH JogjaPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbahaya syubhat faedah dari Ibnul Qayyim Ibnu Taimiyyah ibnul qayyim ilmu agama istiqamah jauhi syubhat kesesatan lebih kaya dengan ilmu menjaga iman nasihat ibnul qayyim penyakit hati syubhat

Iman kepada Para Rasul: Dari Mengagumi Menuju Mengikuti

Daftar Isi TogglePara Rasul adalah manusia pilihan dan hamba AllahCinta yang memiliki buktiJalan tengah dalam memuliakan NabiDari ucapan menuju ketaatanCinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibuktikan dengan menempuh jalan yang beliau tunjukkan.Mengagumi seorang tokoh jauh lebih mudah daripada mengikuti jalannya. Nama dapat dipuji, kisah dapat diceritakan, dan simbol-simbol yang berkaitan dengannya dapat dibela. Akan tetapi, apabila petunjuk tokoh tersebut bertentangan dengan kebiasaan atau keinginan, kekaguman sering berhenti sebelum berubah menjadi ketaatan.Hal serupa dapat terjadi dalam hubungan seorang muslim dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita menyebut nama beliau dengan hormat dan merasa tersentuh ketika mendengar sirah-nya. Akan tetapi, iman kepada para Rasul menuntut lebih dari kekaguman emosional. Ia menuntut pembenaran terhadap risalah mereka dan kesungguhan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Para Rasul adalah manusia pilihan dan hamba AllahAllah mengutus para Rasul sebagai rahmat bagi manusia. Melalui mereka, manusia mengetahui siapa Rabb-nya, bagaimana beribadah, dan jalan apa yang mengantarkan kepada keselamatan. Para Rasul menyampaikan kabar gembira bagi orang yang taat dan peringatan bagi orang yang berpaling. Dakwah mereka bersatu pada pokok yang sama: memurnikan ibadah hanya kepada Allah.وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25)Beriman kepada para Rasul berarti meyakini bahwa risalah mereka benar-benar datang dari Allah dan tidak mendustakan seorang pun di antara mereka. Kita mengimani nama-nama yang disebutkan dalam dalil dan mengimani Rasul yang tidak diketahui namanya secara umum. Kita membenarkan berita sahih tentang mereka serta meyakini bahwa mereka telah menyampaikan amanah. Adapun setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita wajib mengikuti syariat beliau karena beliau adalah Rasul terakhir yang diutus kepada seluruh manusia.Para Rasul memiliki kedudukan yang sangat mulia, tetapi mereka tetap manusia dan hamba Allah. Mereka tidak berhak menerima ibadah. Jalan yang benar adalah memuliakan mereka tanpa meremehkan dan tanpa mengangkat mereka melampaui kedudukan yang Allah berikan.Cinta yang memiliki buktiCinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan perasaan yang tidak memiliki ukuran. Allah menjadikan ittiba‘ —mengikuti petunjuk beliau— sebagai bukti cinta.قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31)Mengikuti Nabi dimulai dari menerima berita sahih yang beliau sampaikan dan mendahulukan petunjuk beliau di atas selera. Dalam ibadah, seorang mukmin bertanya bagaimana beliau beribadah, bukan bagaimana membuat bentuk ibadah yang paling menarik menurut perasaan. Dalam akhlak, ia belajar kejujuran, kesabaran, kelembutan, dan keberanian dari teladan beliau. Dalam muamalah, ia memegang amanah dan menjauhi kezaliman meskipun kebiasaan lingkungan memberi toleransi.Mengikuti Nabi juga bukan usaha menghidupkan bentuk masa lalu tanpa memahami petunjuknya. Sunah beliau membimbing prinsip dan tindakan yang tetap relevan: keadilan ketika memutuskan, kasih sayang kepada yang lemah, ketegasan menjaga batas Allah, musyawarah, menepati perjanjian, serta menempatkan setiap hak pada tempatnya. Seorang muslim tidak perlu memilih antara kesetiaan kepada sunah dan kemampuan menghadapi persoalan baru. Justru dengan fondasi petunjuk beliau, ia dapat menilai hal baru tanpa kehilangan arah.Allah telah menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Baca jua: Cinta Nabi Butuh BuktiJalan tengah dalam memuliakan NabiAda dua kekeliruan yang perlu dihindari. Pertama, mengurangi hak Rasulullah dengan memperlakukan sunah sebagai pilihan tambahan yang boleh diabaikan ketika tidak sesuai dengan zaman atau kebiasaan. Kedua, berlebihan dalam memuliakan beliau hingga memberikan sesuatu yang menjadi hak khusus Allah, seperti menujukan ibadah atau meyakini beliau menguasai perkara gaib secara mandiri.Menyebut beliau sebagai hamba Allah tidak merendahkan kedudukannya. Justru itulah pujian yang Allah berikan kepada beliau. Beliau adalah hamba yang paling sempurna pengabdiannya dan Rasul yang menyampaikan wahyu dengan amanah. Cinta yang benar menggabungkan penghormatan, selawat, pembelaan terhadap sunah, dan ketaatan tanpa sikap berlebihan.Ukuran ini membantu kita membedakan antara membela kehormatan Nabi dan sekadar membela kebiasaan yang dilekatkan kepada beliau. Kehormatan beliau dijaga dengan mempelajari riwayat yang sahih, tidak menyandarkan ucapan palsu kepada beliau, serta menampilkan keindahan ajarannya melalui akhlak. Semakin besar cinta seseorang, seharusnya semakin besar kehati-hatiannya agar tidak berbicara atas nama Nabi tanpa ilmu dan semakin kuat keinginannya untuk meneladani beliau.Para sahabat memahami bahwa penghormatan kepada Rasul diwujudkan dengan menerima perintah dan menjauhi larangan. Mereka tidak memisahkan cinta dari ketaatan. Teladan ini penting bagi kita: banyaknya ucapan pujian tidak dapat menggantikan satu sunah yang sengaja ditolak setelah kebenarannya diketahui.Dari ucapan menuju ketaatanKita tidak perlu menunggu perubahan besar untuk membuktikan cinta. Amalkan satu sunah yang telah diketahui tetapi masih sering diabaikan. Bisa jadi sunah dalam salat, adab berbicara, menunaikan janji, berbuat baik kepada keluarga, atau meninggalkan kebiasaan yang bertentangan dengan petunjuk beliau. Pelajari caranya dari sumber yang terpercaya, lalu amalkan secara konsisten.Kekaguman mudah muncul ketika kisah dibacakan. Ittiba‘ tampak ketika kita harus mengubah kebiasaan. Iman kepada para Rasul mengajak kita bergerak dari sekadar mengagumi Nabi menuju mengikuti jalan beliau—dengan cinta yang benar, penghormatan yang proporsional, dan ketaatan yang nyata.Baca juga: Keutamaan Mengikuti Perintah Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam***Penulis: Mochammad WibisonoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wal Jama‘ah, Mu’assasah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, cet. 1, 1427 H, hal. 345–393 dan 503–511.

Iman kepada Para Rasul: Dari Mengagumi Menuju Mengikuti

Daftar Isi TogglePara Rasul adalah manusia pilihan dan hamba AllahCinta yang memiliki buktiJalan tengah dalam memuliakan NabiDari ucapan menuju ketaatanCinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibuktikan dengan menempuh jalan yang beliau tunjukkan.Mengagumi seorang tokoh jauh lebih mudah daripada mengikuti jalannya. Nama dapat dipuji, kisah dapat diceritakan, dan simbol-simbol yang berkaitan dengannya dapat dibela. Akan tetapi, apabila petunjuk tokoh tersebut bertentangan dengan kebiasaan atau keinginan, kekaguman sering berhenti sebelum berubah menjadi ketaatan.Hal serupa dapat terjadi dalam hubungan seorang muslim dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita menyebut nama beliau dengan hormat dan merasa tersentuh ketika mendengar sirah-nya. Akan tetapi, iman kepada para Rasul menuntut lebih dari kekaguman emosional. Ia menuntut pembenaran terhadap risalah mereka dan kesungguhan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Para Rasul adalah manusia pilihan dan hamba AllahAllah mengutus para Rasul sebagai rahmat bagi manusia. Melalui mereka, manusia mengetahui siapa Rabb-nya, bagaimana beribadah, dan jalan apa yang mengantarkan kepada keselamatan. Para Rasul menyampaikan kabar gembira bagi orang yang taat dan peringatan bagi orang yang berpaling. Dakwah mereka bersatu pada pokok yang sama: memurnikan ibadah hanya kepada Allah.وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25)Beriman kepada para Rasul berarti meyakini bahwa risalah mereka benar-benar datang dari Allah dan tidak mendustakan seorang pun di antara mereka. Kita mengimani nama-nama yang disebutkan dalam dalil dan mengimani Rasul yang tidak diketahui namanya secara umum. Kita membenarkan berita sahih tentang mereka serta meyakini bahwa mereka telah menyampaikan amanah. Adapun setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita wajib mengikuti syariat beliau karena beliau adalah Rasul terakhir yang diutus kepada seluruh manusia.Para Rasul memiliki kedudukan yang sangat mulia, tetapi mereka tetap manusia dan hamba Allah. Mereka tidak berhak menerima ibadah. Jalan yang benar adalah memuliakan mereka tanpa meremehkan dan tanpa mengangkat mereka melampaui kedudukan yang Allah berikan.Cinta yang memiliki buktiCinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan perasaan yang tidak memiliki ukuran. Allah menjadikan ittiba‘ —mengikuti petunjuk beliau— sebagai bukti cinta.قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31)Mengikuti Nabi dimulai dari menerima berita sahih yang beliau sampaikan dan mendahulukan petunjuk beliau di atas selera. Dalam ibadah, seorang mukmin bertanya bagaimana beliau beribadah, bukan bagaimana membuat bentuk ibadah yang paling menarik menurut perasaan. Dalam akhlak, ia belajar kejujuran, kesabaran, kelembutan, dan keberanian dari teladan beliau. Dalam muamalah, ia memegang amanah dan menjauhi kezaliman meskipun kebiasaan lingkungan memberi toleransi.Mengikuti Nabi juga bukan usaha menghidupkan bentuk masa lalu tanpa memahami petunjuknya. Sunah beliau membimbing prinsip dan tindakan yang tetap relevan: keadilan ketika memutuskan, kasih sayang kepada yang lemah, ketegasan menjaga batas Allah, musyawarah, menepati perjanjian, serta menempatkan setiap hak pada tempatnya. Seorang muslim tidak perlu memilih antara kesetiaan kepada sunah dan kemampuan menghadapi persoalan baru. Justru dengan fondasi petunjuk beliau, ia dapat menilai hal baru tanpa kehilangan arah.Allah telah menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Baca jua: Cinta Nabi Butuh BuktiJalan tengah dalam memuliakan NabiAda dua kekeliruan yang perlu dihindari. Pertama, mengurangi hak Rasulullah dengan memperlakukan sunah sebagai pilihan tambahan yang boleh diabaikan ketika tidak sesuai dengan zaman atau kebiasaan. Kedua, berlebihan dalam memuliakan beliau hingga memberikan sesuatu yang menjadi hak khusus Allah, seperti menujukan ibadah atau meyakini beliau menguasai perkara gaib secara mandiri.Menyebut beliau sebagai hamba Allah tidak merendahkan kedudukannya. Justru itulah pujian yang Allah berikan kepada beliau. Beliau adalah hamba yang paling sempurna pengabdiannya dan Rasul yang menyampaikan wahyu dengan amanah. Cinta yang benar menggabungkan penghormatan, selawat, pembelaan terhadap sunah, dan ketaatan tanpa sikap berlebihan.Ukuran ini membantu kita membedakan antara membela kehormatan Nabi dan sekadar membela kebiasaan yang dilekatkan kepada beliau. Kehormatan beliau dijaga dengan mempelajari riwayat yang sahih, tidak menyandarkan ucapan palsu kepada beliau, serta menampilkan keindahan ajarannya melalui akhlak. Semakin besar cinta seseorang, seharusnya semakin besar kehati-hatiannya agar tidak berbicara atas nama Nabi tanpa ilmu dan semakin kuat keinginannya untuk meneladani beliau.Para sahabat memahami bahwa penghormatan kepada Rasul diwujudkan dengan menerima perintah dan menjauhi larangan. Mereka tidak memisahkan cinta dari ketaatan. Teladan ini penting bagi kita: banyaknya ucapan pujian tidak dapat menggantikan satu sunah yang sengaja ditolak setelah kebenarannya diketahui.Dari ucapan menuju ketaatanKita tidak perlu menunggu perubahan besar untuk membuktikan cinta. Amalkan satu sunah yang telah diketahui tetapi masih sering diabaikan. Bisa jadi sunah dalam salat, adab berbicara, menunaikan janji, berbuat baik kepada keluarga, atau meninggalkan kebiasaan yang bertentangan dengan petunjuk beliau. Pelajari caranya dari sumber yang terpercaya, lalu amalkan secara konsisten.Kekaguman mudah muncul ketika kisah dibacakan. Ittiba‘ tampak ketika kita harus mengubah kebiasaan. Iman kepada para Rasul mengajak kita bergerak dari sekadar mengagumi Nabi menuju mengikuti jalan beliau—dengan cinta yang benar, penghormatan yang proporsional, dan ketaatan yang nyata.Baca juga: Keutamaan Mengikuti Perintah Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam***Penulis: Mochammad WibisonoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wal Jama‘ah, Mu’assasah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, cet. 1, 1427 H, hal. 345–393 dan 503–511.
Daftar Isi TogglePara Rasul adalah manusia pilihan dan hamba AllahCinta yang memiliki buktiJalan tengah dalam memuliakan NabiDari ucapan menuju ketaatanCinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibuktikan dengan menempuh jalan yang beliau tunjukkan.Mengagumi seorang tokoh jauh lebih mudah daripada mengikuti jalannya. Nama dapat dipuji, kisah dapat diceritakan, dan simbol-simbol yang berkaitan dengannya dapat dibela. Akan tetapi, apabila petunjuk tokoh tersebut bertentangan dengan kebiasaan atau keinginan, kekaguman sering berhenti sebelum berubah menjadi ketaatan.Hal serupa dapat terjadi dalam hubungan seorang muslim dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita menyebut nama beliau dengan hormat dan merasa tersentuh ketika mendengar sirah-nya. Akan tetapi, iman kepada para Rasul menuntut lebih dari kekaguman emosional. Ia menuntut pembenaran terhadap risalah mereka dan kesungguhan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Para Rasul adalah manusia pilihan dan hamba AllahAllah mengutus para Rasul sebagai rahmat bagi manusia. Melalui mereka, manusia mengetahui siapa Rabb-nya, bagaimana beribadah, dan jalan apa yang mengantarkan kepada keselamatan. Para Rasul menyampaikan kabar gembira bagi orang yang taat dan peringatan bagi orang yang berpaling. Dakwah mereka bersatu pada pokok yang sama: memurnikan ibadah hanya kepada Allah.وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25)Beriman kepada para Rasul berarti meyakini bahwa risalah mereka benar-benar datang dari Allah dan tidak mendustakan seorang pun di antara mereka. Kita mengimani nama-nama yang disebutkan dalam dalil dan mengimani Rasul yang tidak diketahui namanya secara umum. Kita membenarkan berita sahih tentang mereka serta meyakini bahwa mereka telah menyampaikan amanah. Adapun setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita wajib mengikuti syariat beliau karena beliau adalah Rasul terakhir yang diutus kepada seluruh manusia.Para Rasul memiliki kedudukan yang sangat mulia, tetapi mereka tetap manusia dan hamba Allah. Mereka tidak berhak menerima ibadah. Jalan yang benar adalah memuliakan mereka tanpa meremehkan dan tanpa mengangkat mereka melampaui kedudukan yang Allah berikan.Cinta yang memiliki buktiCinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan perasaan yang tidak memiliki ukuran. Allah menjadikan ittiba‘ —mengikuti petunjuk beliau— sebagai bukti cinta.قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31)Mengikuti Nabi dimulai dari menerima berita sahih yang beliau sampaikan dan mendahulukan petunjuk beliau di atas selera. Dalam ibadah, seorang mukmin bertanya bagaimana beliau beribadah, bukan bagaimana membuat bentuk ibadah yang paling menarik menurut perasaan. Dalam akhlak, ia belajar kejujuran, kesabaran, kelembutan, dan keberanian dari teladan beliau. Dalam muamalah, ia memegang amanah dan menjauhi kezaliman meskipun kebiasaan lingkungan memberi toleransi.Mengikuti Nabi juga bukan usaha menghidupkan bentuk masa lalu tanpa memahami petunjuknya. Sunah beliau membimbing prinsip dan tindakan yang tetap relevan: keadilan ketika memutuskan, kasih sayang kepada yang lemah, ketegasan menjaga batas Allah, musyawarah, menepati perjanjian, serta menempatkan setiap hak pada tempatnya. Seorang muslim tidak perlu memilih antara kesetiaan kepada sunah dan kemampuan menghadapi persoalan baru. Justru dengan fondasi petunjuk beliau, ia dapat menilai hal baru tanpa kehilangan arah.Allah telah menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Baca jua: Cinta Nabi Butuh BuktiJalan tengah dalam memuliakan NabiAda dua kekeliruan yang perlu dihindari. Pertama, mengurangi hak Rasulullah dengan memperlakukan sunah sebagai pilihan tambahan yang boleh diabaikan ketika tidak sesuai dengan zaman atau kebiasaan. Kedua, berlebihan dalam memuliakan beliau hingga memberikan sesuatu yang menjadi hak khusus Allah, seperti menujukan ibadah atau meyakini beliau menguasai perkara gaib secara mandiri.Menyebut beliau sebagai hamba Allah tidak merendahkan kedudukannya. Justru itulah pujian yang Allah berikan kepada beliau. Beliau adalah hamba yang paling sempurna pengabdiannya dan Rasul yang menyampaikan wahyu dengan amanah. Cinta yang benar menggabungkan penghormatan, selawat, pembelaan terhadap sunah, dan ketaatan tanpa sikap berlebihan.Ukuran ini membantu kita membedakan antara membela kehormatan Nabi dan sekadar membela kebiasaan yang dilekatkan kepada beliau. Kehormatan beliau dijaga dengan mempelajari riwayat yang sahih, tidak menyandarkan ucapan palsu kepada beliau, serta menampilkan keindahan ajarannya melalui akhlak. Semakin besar cinta seseorang, seharusnya semakin besar kehati-hatiannya agar tidak berbicara atas nama Nabi tanpa ilmu dan semakin kuat keinginannya untuk meneladani beliau.Para sahabat memahami bahwa penghormatan kepada Rasul diwujudkan dengan menerima perintah dan menjauhi larangan. Mereka tidak memisahkan cinta dari ketaatan. Teladan ini penting bagi kita: banyaknya ucapan pujian tidak dapat menggantikan satu sunah yang sengaja ditolak setelah kebenarannya diketahui.Dari ucapan menuju ketaatanKita tidak perlu menunggu perubahan besar untuk membuktikan cinta. Amalkan satu sunah yang telah diketahui tetapi masih sering diabaikan. Bisa jadi sunah dalam salat, adab berbicara, menunaikan janji, berbuat baik kepada keluarga, atau meninggalkan kebiasaan yang bertentangan dengan petunjuk beliau. Pelajari caranya dari sumber yang terpercaya, lalu amalkan secara konsisten.Kekaguman mudah muncul ketika kisah dibacakan. Ittiba‘ tampak ketika kita harus mengubah kebiasaan. Iman kepada para Rasul mengajak kita bergerak dari sekadar mengagumi Nabi menuju mengikuti jalan beliau—dengan cinta yang benar, penghormatan yang proporsional, dan ketaatan yang nyata.Baca juga: Keutamaan Mengikuti Perintah Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam***Penulis: Mochammad WibisonoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wal Jama‘ah, Mu’assasah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, cet. 1, 1427 H, hal. 345–393 dan 503–511.


Daftar Isi TogglePara Rasul adalah manusia pilihan dan hamba AllahCinta yang memiliki buktiJalan tengah dalam memuliakan NabiDari ucapan menuju ketaatanCinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibuktikan dengan menempuh jalan yang beliau tunjukkan.Mengagumi seorang tokoh jauh lebih mudah daripada mengikuti jalannya. Nama dapat dipuji, kisah dapat diceritakan, dan simbol-simbol yang berkaitan dengannya dapat dibela. Akan tetapi, apabila petunjuk tokoh tersebut bertentangan dengan kebiasaan atau keinginan, kekaguman sering berhenti sebelum berubah menjadi ketaatan.Hal serupa dapat terjadi dalam hubungan seorang muslim dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita menyebut nama beliau dengan hormat dan merasa tersentuh ketika mendengar sirah-nya. Akan tetapi, iman kepada para Rasul menuntut lebih dari kekaguman emosional. Ia menuntut pembenaran terhadap risalah mereka dan kesungguhan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Para Rasul adalah manusia pilihan dan hamba AllahAllah mengutus para Rasul sebagai rahmat bagi manusia. Melalui mereka, manusia mengetahui siapa Rabb-nya, bagaimana beribadah, dan jalan apa yang mengantarkan kepada keselamatan. Para Rasul menyampaikan kabar gembira bagi orang yang taat dan peringatan bagi orang yang berpaling. Dakwah mereka bersatu pada pokok yang sama: memurnikan ibadah hanya kepada Allah.وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25)Beriman kepada para Rasul berarti meyakini bahwa risalah mereka benar-benar datang dari Allah dan tidak mendustakan seorang pun di antara mereka. Kita mengimani nama-nama yang disebutkan dalam dalil dan mengimani Rasul yang tidak diketahui namanya secara umum. Kita membenarkan berita sahih tentang mereka serta meyakini bahwa mereka telah menyampaikan amanah. Adapun setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita wajib mengikuti syariat beliau karena beliau adalah Rasul terakhir yang diutus kepada seluruh manusia.Para Rasul memiliki kedudukan yang sangat mulia, tetapi mereka tetap manusia dan hamba Allah. Mereka tidak berhak menerima ibadah. Jalan yang benar adalah memuliakan mereka tanpa meremehkan dan tanpa mengangkat mereka melampaui kedudukan yang Allah berikan.Cinta yang memiliki buktiCinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan perasaan yang tidak memiliki ukuran. Allah menjadikan ittiba‘ —mengikuti petunjuk beliau— sebagai bukti cinta.قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31)Mengikuti Nabi dimulai dari menerima berita sahih yang beliau sampaikan dan mendahulukan petunjuk beliau di atas selera. Dalam ibadah, seorang mukmin bertanya bagaimana beliau beribadah, bukan bagaimana membuat bentuk ibadah yang paling menarik menurut perasaan. Dalam akhlak, ia belajar kejujuran, kesabaran, kelembutan, dan keberanian dari teladan beliau. Dalam muamalah, ia memegang amanah dan menjauhi kezaliman meskipun kebiasaan lingkungan memberi toleransi.Mengikuti Nabi juga bukan usaha menghidupkan bentuk masa lalu tanpa memahami petunjuknya. Sunah beliau membimbing prinsip dan tindakan yang tetap relevan: keadilan ketika memutuskan, kasih sayang kepada yang lemah, ketegasan menjaga batas Allah, musyawarah, menepati perjanjian, serta menempatkan setiap hak pada tempatnya. Seorang muslim tidak perlu memilih antara kesetiaan kepada sunah dan kemampuan menghadapi persoalan baru. Justru dengan fondasi petunjuk beliau, ia dapat menilai hal baru tanpa kehilangan arah.Allah telah menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Baca jua: Cinta Nabi Butuh BuktiJalan tengah dalam memuliakan NabiAda dua kekeliruan yang perlu dihindari. Pertama, mengurangi hak Rasulullah dengan memperlakukan sunah sebagai pilihan tambahan yang boleh diabaikan ketika tidak sesuai dengan zaman atau kebiasaan. Kedua, berlebihan dalam memuliakan beliau hingga memberikan sesuatu yang menjadi hak khusus Allah, seperti menujukan ibadah atau meyakini beliau menguasai perkara gaib secara mandiri.Menyebut beliau sebagai hamba Allah tidak merendahkan kedudukannya. Justru itulah pujian yang Allah berikan kepada beliau. Beliau adalah hamba yang paling sempurna pengabdiannya dan Rasul yang menyampaikan wahyu dengan amanah. Cinta yang benar menggabungkan penghormatan, selawat, pembelaan terhadap sunah, dan ketaatan tanpa sikap berlebihan.Ukuran ini membantu kita membedakan antara membela kehormatan Nabi dan sekadar membela kebiasaan yang dilekatkan kepada beliau. Kehormatan beliau dijaga dengan mempelajari riwayat yang sahih, tidak menyandarkan ucapan palsu kepada beliau, serta menampilkan keindahan ajarannya melalui akhlak. Semakin besar cinta seseorang, seharusnya semakin besar kehati-hatiannya agar tidak berbicara atas nama Nabi tanpa ilmu dan semakin kuat keinginannya untuk meneladani beliau.Para sahabat memahami bahwa penghormatan kepada Rasul diwujudkan dengan menerima perintah dan menjauhi larangan. Mereka tidak memisahkan cinta dari ketaatan. Teladan ini penting bagi kita: banyaknya ucapan pujian tidak dapat menggantikan satu sunah yang sengaja ditolak setelah kebenarannya diketahui.Dari ucapan menuju ketaatanKita tidak perlu menunggu perubahan besar untuk membuktikan cinta. Amalkan satu sunah yang telah diketahui tetapi masih sering diabaikan. Bisa jadi sunah dalam salat, adab berbicara, menunaikan janji, berbuat baik kepada keluarga, atau meninggalkan kebiasaan yang bertentangan dengan petunjuk beliau. Pelajari caranya dari sumber yang terpercaya, lalu amalkan secara konsisten.Kekaguman mudah muncul ketika kisah dibacakan. Ittiba‘ tampak ketika kita harus mengubah kebiasaan. Iman kepada para Rasul mengajak kita bergerak dari sekadar mengagumi Nabi menuju mengikuti jalan beliau—dengan cinta yang benar, penghormatan yang proporsional, dan ketaatan yang nyata.Baca juga: Keutamaan Mengikuti Perintah Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam***Penulis: Mochammad WibisonoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wal Jama‘ah, Mu’assasah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, cet. 1, 1427 H, hal. 345–393 dan 503–511.

SABARLAH BEBERAPA MENIT, MAKA MENIT ITU AKAN BERLALU TANPA DOSA – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili

Apabila engkau sedang sendirian, dan engkau melihat film-film serta perkara-perkara keji ini, maka ingatlah bahwa sekarang Allah sedang melihatmu, dan Allah mengetahui keadaanmu. Maka janganlah engkau berkata, “Aku sedang sendirian.” Namun, ingatkanlah dirimu bahwa Allah melihatmu. Dikisahkan bahwa salah seorang salaf lebih mengistimewakan salah seorang muridnya dibandingkan murid-murid yang lain. Murid-muridnya pun menyampaikan perihal itu kepadanya. Maka ia ingin menjelaskan kepada mereka mengapa ia mengistimewakan murid tersebut. Lalu ia memberikan seekor burung kepada setiap murid, dan berkata, “Sembelihlah burung ini di tempat yang tidak ada siapa pun melihatmu.” Para murid pun pergi berlalu, dan kembali keesokan harinya. Masing-masing telah menyembelih burungnya, kecuali satu murid tersebut. “Wahai Fulan, apa yang kau lakukan?” Murid itu menjawab, “Aku pergi ke sini, ke sini, lalu ke sini…” “Dan engkau, wahai Fulan, mengapa tidak melaksanakan perintahku?” Murid itu menjawab, “Setiap kali aku pergi ke suatu tempat, aku tahu bahwa Allah melihatku. Maka aku tidak menemukan tempat yang tidak dilihat siapa pun.” Ia pun berkata, “Karena inilah aku mencintainya. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13) Maka sepatutnya kita mengingat hal ini: Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa melihat kita. Kemudian, wahai saudaraku, waktu terus berjalan dan berlalu, baik dalam ketaatan maupun kemaksiatan. Demi Allah, waktu tidak pernah berhenti untuk orang yang taat maupun orang yang bermaksiat. Ingatkanlah dirimu: jika engkau bersabar selama beberapa menit ini, menit-menit itu akan berlalu tanpa maksiat. Namun, jika engkau melakukan maksiat ini, menit-menit itu pun akan berlalu dengan maksiat, dan maksiat itu akan meninggalkan kerusakan dalam hatimu, menyempitkan kehidupanmu, serta menyebabkan penderitaan bagimu. Bahkan boleh jadi engkau terhalang dari suatu nikmat karena maksiat tersebut. Maka ingatkanlah dirimu tentang semua ini, lalu ingatlah bahwa mata akan bersaksi atasmu. Sungguh matamu akan bersaksi atasmu tentang apa yang telah dilihatnya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak. Maka bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== فَإِذَا خَلَوْتَ وَأَنْتَ تَنْظُرُ لِهَذِهِ الْأَفْلَامِ وَهَذِهِ الْقَبَائِحِ فَتَذَكَّرْ أَنَّ اللَّهَ الْآنَ يَرَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ بِحَالِكَ فَلَا تَقُلْ خَلَوْتُ وَلَكِنْ ذَكِّرْ نَفْسَكَ أَنَّ اللَّهَ يَرَاكَ ذُكِرَ أَنَّ بَعْضَ السَّلَفِ كَانَ يُمَيِّزُ أَحَدَ طُلَّابِهِ عَنِ الْبَقِيَّةِ فَكَلَّمَهُ الطُّلَّابُ فَأَرَادَ أَنْ يُبَيِّنَ لَهُمْ لِمَ يُمَيِّزُهُ فَقَالَ أَعْطَى كُلَّ وَاحِدٍ طَائِرًا وَقَالَ اذْبَحْهُ حَيْثُ لَا يَرَاكَ أَحَدٌ فَذَهَبَ الطُّلَّابُ وَعَادُوا فِي الْيَوْمِ التَّالِي كُلٌّ مِنْهُمْ قَدْ ذَبَحَ طَائِرَهُ إِلَّا هَذَا الطَّالِبَ يَا فُلَانُ مَاذَا صَنَعْتَ؟ قَالَ: ذَهَبْتُ هُنَا ذَهَبْتُ هُنَا ذَهَبْتُ هُنَا وَأَنْتَ يَا فُلَانُ لِمَ لَمْ تَفْعَلْ أَمْرِي؟ قَالَ: كُلَّمَا ذَهَبْتُ إِلَى مَكَانٍ عَلِمْتُ أَنَّ اللَّهَ يَرَانِي فَلَمْ أَجِدْ مَكَانًا لَا يَرَانِي فِيهِ أَحَدٌ فَقَالَ: مِنْ أَجْلِ هَذَا أُحِبُّهُ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ فَيَنْبَغِي أَنْ نَتَذَكَّرَ هَذَا وَأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَرَانَا ثُمَّ يَا أُخَيَّ الزَّمَنُ يَسِيرُ وَيَذْهَبُ بِالطَّاعَةِ وَالْمَعْصِيَةِ وَاللَّهِ مَا وَقَفَ الزَّمَنُ عِنْدَ طَائِعٍ وَلَا وَقَفَ عِنْدَ عَاصٍ ذَكِّرْ نَفْسَكَ أَنَّكَ لَوْ صَبَرْتَ هَذِهِ الدَّقَائِقَ ذَهَبَتْ بِلَا مَعْصِيَةٍ وَأَنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ هَذِهِ الْمَعْصِيَةَ ذَهَبَتْ بِالْمَعْصِيَةِ وَأَوْرَثَتْكَ فَسَادًا فِي قَلْبِكَ وَضَيَّقَتْ عَلَيْكَ حَيَاتَكَ وَسَبَّبَتْ لَكَ الشَّقَاءَ وَرُبَّمَا حُرِمْتَ النِّعْمَةَ مِنْ أَجْلِ هَذَا فَتُذَكِّرُ نَفْسَكَ بِهَذَا ثُمَّ تَذَكَّرْ أَنَّ الْعَيْنَ سَتَشْهَدُ عَلَيْكَ أَنَّ الْعَيْنَ سَتَشْهَدُ عَلَيْكَ بِمَا رَأَتْ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَاتَّقِ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

SABARLAH BEBERAPA MENIT, MAKA MENIT ITU AKAN BERLALU TANPA DOSA – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili

Apabila engkau sedang sendirian, dan engkau melihat film-film serta perkara-perkara keji ini, maka ingatlah bahwa sekarang Allah sedang melihatmu, dan Allah mengetahui keadaanmu. Maka janganlah engkau berkata, “Aku sedang sendirian.” Namun, ingatkanlah dirimu bahwa Allah melihatmu. Dikisahkan bahwa salah seorang salaf lebih mengistimewakan salah seorang muridnya dibandingkan murid-murid yang lain. Murid-muridnya pun menyampaikan perihal itu kepadanya. Maka ia ingin menjelaskan kepada mereka mengapa ia mengistimewakan murid tersebut. Lalu ia memberikan seekor burung kepada setiap murid, dan berkata, “Sembelihlah burung ini di tempat yang tidak ada siapa pun melihatmu.” Para murid pun pergi berlalu, dan kembali keesokan harinya. Masing-masing telah menyembelih burungnya, kecuali satu murid tersebut. “Wahai Fulan, apa yang kau lakukan?” Murid itu menjawab, “Aku pergi ke sini, ke sini, lalu ke sini…” “Dan engkau, wahai Fulan, mengapa tidak melaksanakan perintahku?” Murid itu menjawab, “Setiap kali aku pergi ke suatu tempat, aku tahu bahwa Allah melihatku. Maka aku tidak menemukan tempat yang tidak dilihat siapa pun.” Ia pun berkata, “Karena inilah aku mencintainya. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13) Maka sepatutnya kita mengingat hal ini: Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa melihat kita. Kemudian, wahai saudaraku, waktu terus berjalan dan berlalu, baik dalam ketaatan maupun kemaksiatan. Demi Allah, waktu tidak pernah berhenti untuk orang yang taat maupun orang yang bermaksiat. Ingatkanlah dirimu: jika engkau bersabar selama beberapa menit ini, menit-menit itu akan berlalu tanpa maksiat. Namun, jika engkau melakukan maksiat ini, menit-menit itu pun akan berlalu dengan maksiat, dan maksiat itu akan meninggalkan kerusakan dalam hatimu, menyempitkan kehidupanmu, serta menyebabkan penderitaan bagimu. Bahkan boleh jadi engkau terhalang dari suatu nikmat karena maksiat tersebut. Maka ingatkanlah dirimu tentang semua ini, lalu ingatlah bahwa mata akan bersaksi atasmu. Sungguh matamu akan bersaksi atasmu tentang apa yang telah dilihatnya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak. Maka bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== فَإِذَا خَلَوْتَ وَأَنْتَ تَنْظُرُ لِهَذِهِ الْأَفْلَامِ وَهَذِهِ الْقَبَائِحِ فَتَذَكَّرْ أَنَّ اللَّهَ الْآنَ يَرَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ بِحَالِكَ فَلَا تَقُلْ خَلَوْتُ وَلَكِنْ ذَكِّرْ نَفْسَكَ أَنَّ اللَّهَ يَرَاكَ ذُكِرَ أَنَّ بَعْضَ السَّلَفِ كَانَ يُمَيِّزُ أَحَدَ طُلَّابِهِ عَنِ الْبَقِيَّةِ فَكَلَّمَهُ الطُّلَّابُ فَأَرَادَ أَنْ يُبَيِّنَ لَهُمْ لِمَ يُمَيِّزُهُ فَقَالَ أَعْطَى كُلَّ وَاحِدٍ طَائِرًا وَقَالَ اذْبَحْهُ حَيْثُ لَا يَرَاكَ أَحَدٌ فَذَهَبَ الطُّلَّابُ وَعَادُوا فِي الْيَوْمِ التَّالِي كُلٌّ مِنْهُمْ قَدْ ذَبَحَ طَائِرَهُ إِلَّا هَذَا الطَّالِبَ يَا فُلَانُ مَاذَا صَنَعْتَ؟ قَالَ: ذَهَبْتُ هُنَا ذَهَبْتُ هُنَا ذَهَبْتُ هُنَا وَأَنْتَ يَا فُلَانُ لِمَ لَمْ تَفْعَلْ أَمْرِي؟ قَالَ: كُلَّمَا ذَهَبْتُ إِلَى مَكَانٍ عَلِمْتُ أَنَّ اللَّهَ يَرَانِي فَلَمْ أَجِدْ مَكَانًا لَا يَرَانِي فِيهِ أَحَدٌ فَقَالَ: مِنْ أَجْلِ هَذَا أُحِبُّهُ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ فَيَنْبَغِي أَنْ نَتَذَكَّرَ هَذَا وَأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَرَانَا ثُمَّ يَا أُخَيَّ الزَّمَنُ يَسِيرُ وَيَذْهَبُ بِالطَّاعَةِ وَالْمَعْصِيَةِ وَاللَّهِ مَا وَقَفَ الزَّمَنُ عِنْدَ طَائِعٍ وَلَا وَقَفَ عِنْدَ عَاصٍ ذَكِّرْ نَفْسَكَ أَنَّكَ لَوْ صَبَرْتَ هَذِهِ الدَّقَائِقَ ذَهَبَتْ بِلَا مَعْصِيَةٍ وَأَنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ هَذِهِ الْمَعْصِيَةَ ذَهَبَتْ بِالْمَعْصِيَةِ وَأَوْرَثَتْكَ فَسَادًا فِي قَلْبِكَ وَضَيَّقَتْ عَلَيْكَ حَيَاتَكَ وَسَبَّبَتْ لَكَ الشَّقَاءَ وَرُبَّمَا حُرِمْتَ النِّعْمَةَ مِنْ أَجْلِ هَذَا فَتُذَكِّرُ نَفْسَكَ بِهَذَا ثُمَّ تَذَكَّرْ أَنَّ الْعَيْنَ سَتَشْهَدُ عَلَيْكَ أَنَّ الْعَيْنَ سَتَشْهَدُ عَلَيْكَ بِمَا رَأَتْ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَاتَّقِ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Apabila engkau sedang sendirian, dan engkau melihat film-film serta perkara-perkara keji ini, maka ingatlah bahwa sekarang Allah sedang melihatmu, dan Allah mengetahui keadaanmu. Maka janganlah engkau berkata, “Aku sedang sendirian.” Namun, ingatkanlah dirimu bahwa Allah melihatmu. Dikisahkan bahwa salah seorang salaf lebih mengistimewakan salah seorang muridnya dibandingkan murid-murid yang lain. Murid-muridnya pun menyampaikan perihal itu kepadanya. Maka ia ingin menjelaskan kepada mereka mengapa ia mengistimewakan murid tersebut. Lalu ia memberikan seekor burung kepada setiap murid, dan berkata, “Sembelihlah burung ini di tempat yang tidak ada siapa pun melihatmu.” Para murid pun pergi berlalu, dan kembali keesokan harinya. Masing-masing telah menyembelih burungnya, kecuali satu murid tersebut. “Wahai Fulan, apa yang kau lakukan?” Murid itu menjawab, “Aku pergi ke sini, ke sini, lalu ke sini…” “Dan engkau, wahai Fulan, mengapa tidak melaksanakan perintahku?” Murid itu menjawab, “Setiap kali aku pergi ke suatu tempat, aku tahu bahwa Allah melihatku. Maka aku tidak menemukan tempat yang tidak dilihat siapa pun.” Ia pun berkata, “Karena inilah aku mencintainya. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13) Maka sepatutnya kita mengingat hal ini: Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa melihat kita. Kemudian, wahai saudaraku, waktu terus berjalan dan berlalu, baik dalam ketaatan maupun kemaksiatan. Demi Allah, waktu tidak pernah berhenti untuk orang yang taat maupun orang yang bermaksiat. Ingatkanlah dirimu: jika engkau bersabar selama beberapa menit ini, menit-menit itu akan berlalu tanpa maksiat. Namun, jika engkau melakukan maksiat ini, menit-menit itu pun akan berlalu dengan maksiat, dan maksiat itu akan meninggalkan kerusakan dalam hatimu, menyempitkan kehidupanmu, serta menyebabkan penderitaan bagimu. Bahkan boleh jadi engkau terhalang dari suatu nikmat karena maksiat tersebut. Maka ingatkanlah dirimu tentang semua ini, lalu ingatlah bahwa mata akan bersaksi atasmu. Sungguh matamu akan bersaksi atasmu tentang apa yang telah dilihatnya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak. Maka bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== فَإِذَا خَلَوْتَ وَأَنْتَ تَنْظُرُ لِهَذِهِ الْأَفْلَامِ وَهَذِهِ الْقَبَائِحِ فَتَذَكَّرْ أَنَّ اللَّهَ الْآنَ يَرَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ بِحَالِكَ فَلَا تَقُلْ خَلَوْتُ وَلَكِنْ ذَكِّرْ نَفْسَكَ أَنَّ اللَّهَ يَرَاكَ ذُكِرَ أَنَّ بَعْضَ السَّلَفِ كَانَ يُمَيِّزُ أَحَدَ طُلَّابِهِ عَنِ الْبَقِيَّةِ فَكَلَّمَهُ الطُّلَّابُ فَأَرَادَ أَنْ يُبَيِّنَ لَهُمْ لِمَ يُمَيِّزُهُ فَقَالَ أَعْطَى كُلَّ وَاحِدٍ طَائِرًا وَقَالَ اذْبَحْهُ حَيْثُ لَا يَرَاكَ أَحَدٌ فَذَهَبَ الطُّلَّابُ وَعَادُوا فِي الْيَوْمِ التَّالِي كُلٌّ مِنْهُمْ قَدْ ذَبَحَ طَائِرَهُ إِلَّا هَذَا الطَّالِبَ يَا فُلَانُ مَاذَا صَنَعْتَ؟ قَالَ: ذَهَبْتُ هُنَا ذَهَبْتُ هُنَا ذَهَبْتُ هُنَا وَأَنْتَ يَا فُلَانُ لِمَ لَمْ تَفْعَلْ أَمْرِي؟ قَالَ: كُلَّمَا ذَهَبْتُ إِلَى مَكَانٍ عَلِمْتُ أَنَّ اللَّهَ يَرَانِي فَلَمْ أَجِدْ مَكَانًا لَا يَرَانِي فِيهِ أَحَدٌ فَقَالَ: مِنْ أَجْلِ هَذَا أُحِبُّهُ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ فَيَنْبَغِي أَنْ نَتَذَكَّرَ هَذَا وَأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَرَانَا ثُمَّ يَا أُخَيَّ الزَّمَنُ يَسِيرُ وَيَذْهَبُ بِالطَّاعَةِ وَالْمَعْصِيَةِ وَاللَّهِ مَا وَقَفَ الزَّمَنُ عِنْدَ طَائِعٍ وَلَا وَقَفَ عِنْدَ عَاصٍ ذَكِّرْ نَفْسَكَ أَنَّكَ لَوْ صَبَرْتَ هَذِهِ الدَّقَائِقَ ذَهَبَتْ بِلَا مَعْصِيَةٍ وَأَنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ هَذِهِ الْمَعْصِيَةَ ذَهَبَتْ بِالْمَعْصِيَةِ وَأَوْرَثَتْكَ فَسَادًا فِي قَلْبِكَ وَضَيَّقَتْ عَلَيْكَ حَيَاتَكَ وَسَبَّبَتْ لَكَ الشَّقَاءَ وَرُبَّمَا حُرِمْتَ النِّعْمَةَ مِنْ أَجْلِ هَذَا فَتُذَكِّرُ نَفْسَكَ بِهَذَا ثُمَّ تَذَكَّرْ أَنَّ الْعَيْنَ سَتَشْهَدُ عَلَيْكَ أَنَّ الْعَيْنَ سَتَشْهَدُ عَلَيْكَ بِمَا رَأَتْ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَاتَّقِ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى


Apabila engkau sedang sendirian, dan engkau melihat film-film serta perkara-perkara keji ini, maka ingatlah bahwa sekarang Allah sedang melihatmu, dan Allah mengetahui keadaanmu. Maka janganlah engkau berkata, “Aku sedang sendirian.” Namun, ingatkanlah dirimu bahwa Allah melihatmu. Dikisahkan bahwa salah seorang salaf lebih mengistimewakan salah seorang muridnya dibandingkan murid-murid yang lain. Murid-muridnya pun menyampaikan perihal itu kepadanya. Maka ia ingin menjelaskan kepada mereka mengapa ia mengistimewakan murid tersebut. Lalu ia memberikan seekor burung kepada setiap murid, dan berkata, “Sembelihlah burung ini di tempat yang tidak ada siapa pun melihatmu.” Para murid pun pergi berlalu, dan kembali keesokan harinya. Masing-masing telah menyembelih burungnya, kecuali satu murid tersebut. “Wahai Fulan, apa yang kau lakukan?” Murid itu menjawab, “Aku pergi ke sini, ke sini, lalu ke sini…” “Dan engkau, wahai Fulan, mengapa tidak melaksanakan perintahku?” Murid itu menjawab, “Setiap kali aku pergi ke suatu tempat, aku tahu bahwa Allah melihatku. Maka aku tidak menemukan tempat yang tidak dilihat siapa pun.” Ia pun berkata, “Karena inilah aku mencintainya. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13) Maka sepatutnya kita mengingat hal ini: Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa melihat kita. Kemudian, wahai saudaraku, waktu terus berjalan dan berlalu, baik dalam ketaatan maupun kemaksiatan. Demi Allah, waktu tidak pernah berhenti untuk orang yang taat maupun orang yang bermaksiat. Ingatkanlah dirimu: jika engkau bersabar selama beberapa menit ini, menit-menit itu akan berlalu tanpa maksiat. Namun, jika engkau melakukan maksiat ini, menit-menit itu pun akan berlalu dengan maksiat, dan maksiat itu akan meninggalkan kerusakan dalam hatimu, menyempitkan kehidupanmu, serta menyebabkan penderitaan bagimu. Bahkan boleh jadi engkau terhalang dari suatu nikmat karena maksiat tersebut. Maka ingatkanlah dirimu tentang semua ini, lalu ingatlah bahwa mata akan bersaksi atasmu. Sungguh matamu akan bersaksi atasmu tentang apa yang telah dilihatnya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak. Maka bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== فَإِذَا خَلَوْتَ وَأَنْتَ تَنْظُرُ لِهَذِهِ الْأَفْلَامِ وَهَذِهِ الْقَبَائِحِ فَتَذَكَّرْ أَنَّ اللَّهَ الْآنَ يَرَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ بِحَالِكَ فَلَا تَقُلْ خَلَوْتُ وَلَكِنْ ذَكِّرْ نَفْسَكَ أَنَّ اللَّهَ يَرَاكَ ذُكِرَ أَنَّ بَعْضَ السَّلَفِ كَانَ يُمَيِّزُ أَحَدَ طُلَّابِهِ عَنِ الْبَقِيَّةِ فَكَلَّمَهُ الطُّلَّابُ فَأَرَادَ أَنْ يُبَيِّنَ لَهُمْ لِمَ يُمَيِّزُهُ فَقَالَ أَعْطَى كُلَّ وَاحِدٍ طَائِرًا وَقَالَ اذْبَحْهُ حَيْثُ لَا يَرَاكَ أَحَدٌ فَذَهَبَ الطُّلَّابُ وَعَادُوا فِي الْيَوْمِ التَّالِي كُلٌّ مِنْهُمْ قَدْ ذَبَحَ طَائِرَهُ إِلَّا هَذَا الطَّالِبَ يَا فُلَانُ مَاذَا صَنَعْتَ؟ قَالَ: ذَهَبْتُ هُنَا ذَهَبْتُ هُنَا ذَهَبْتُ هُنَا وَأَنْتَ يَا فُلَانُ لِمَ لَمْ تَفْعَلْ أَمْرِي؟ قَالَ: كُلَّمَا ذَهَبْتُ إِلَى مَكَانٍ عَلِمْتُ أَنَّ اللَّهَ يَرَانِي فَلَمْ أَجِدْ مَكَانًا لَا يَرَانِي فِيهِ أَحَدٌ فَقَالَ: مِنْ أَجْلِ هَذَا أُحِبُّهُ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ فَيَنْبَغِي أَنْ نَتَذَكَّرَ هَذَا وَأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَرَانَا ثُمَّ يَا أُخَيَّ الزَّمَنُ يَسِيرُ وَيَذْهَبُ بِالطَّاعَةِ وَالْمَعْصِيَةِ وَاللَّهِ مَا وَقَفَ الزَّمَنُ عِنْدَ طَائِعٍ وَلَا وَقَفَ عِنْدَ عَاصٍ ذَكِّرْ نَفْسَكَ أَنَّكَ لَوْ صَبَرْتَ هَذِهِ الدَّقَائِقَ ذَهَبَتْ بِلَا مَعْصِيَةٍ وَأَنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ هَذِهِ الْمَعْصِيَةَ ذَهَبَتْ بِالْمَعْصِيَةِ وَأَوْرَثَتْكَ فَسَادًا فِي قَلْبِكَ وَضَيَّقَتْ عَلَيْكَ حَيَاتَكَ وَسَبَّبَتْ لَكَ الشَّقَاءَ وَرُبَّمَا حُرِمْتَ النِّعْمَةَ مِنْ أَجْلِ هَذَا فَتُذَكِّرُ نَفْسَكَ بِهَذَا ثُمَّ تَذَكَّرْ أَنَّ الْعَيْنَ سَتَشْهَدُ عَلَيْكَ أَنَّ الْعَيْنَ سَتَشْهَدُ عَلَيْكَ بِمَا رَأَتْ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَاتَّقِ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Belajar Mencari Rezeki Ala Para Sahabat Nabi

Daftar Isi ToggleAbu Bakar, seorang saudagar kaya yang menghabiskan hartanya membantu dakwahUmar bin al-Khatthab menjaga kehormatan diri dengan berdagangUtsman, seseorang yang sumber kekayaan hartanya bermanfaat sebagai kekuatan umatAbdurrahman bin Auf, seorang yang memulai perdagangan dari nol di pasarSahabat-sahabat lainnya yang bertebaran berniagaPelajaran-pelajaran dari kisah sahabat yang berniagaPertama, kemandirian itu soal harga diriKedua, harta harus berputar dan bermanfaatKetiga, kaya itu bukan aibKeempat, sedekah juga ada aturannyaKelima, kejujuran tetap nomor satuPenutupKalau kita bayangkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang muncul di kepala kebanyakan orang mungkin sosok yang sepanjang hari duduk di masjid, menangis di sepertiga malam, lalu berangkat jihad. Hal itu tentulah benar dan tidak salah. Namun, kalau cuma sampai di situ bayangan kita dan hanya terbatas di sana, kita kehilangan separuh cerita penting lainnya yang tidak kalah bermakna.Faktanya, mereka juga para pedagang tangguh dan para profesional di bidang-bidang masing-masing. Sebagian besar mereka bukan hanya pedagang kecil-kecilan, melainkan saudagar yang berhasil menguasai pasar dagang, melintasi negara, dan mengelola modal dalam jumlah besar. [1]Allah sendiri memuji karakter mereka di dalam Al-Qur’an,مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Engkau melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya.” (QS. Al-Fath: 29)Perhatikan bagian mencari karunia Allah. Para ulama tidak mengartikan hal tersebut cuma soal doa dan zikir di dalam masjid, tapi mereka mencari karunia Allah di bumi dan dengannya mereka mengharapkan rida Allah.Bahkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu terang-terangan berpendapat bahwa alasan beliau bisa meriwayatkan hadis jauh lebih banyak bukan karena sahabat lain tidak cinta ilmu, melainkan karena mereka sedang sibuk bekerja,إِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمُ الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ وَإِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الْأَنْصَارِ كَانَ يَشْغَلُهُمُ الْعَمَلُ فِي أَمْوَالِهِمْ“Saudara-saudara kami dari kalangan Muhajirin disibukkan oleh transaksi di pasar, dan saudara-saudara kami dari kalangan Anshar disibukkan oleh pengelolaan harta mereka.” [2]Sahabat-sahabat yang lain pagi-pagi sudah berangkat ke pasar. Mereka berjualan, negosiasi, dan mengurus perkebunan. Abu Hurairah yang lebih banyak meluangkan waktu di dekat Nabi akhirnya menjadi sahabat yang paling banyak menghafal hadis.Mari kita lihat bagaimana beberapa figur utama di antara mereka mengelola urusan rezeki ini.Abu Bakar, seorang saudagar kaya yang menghabiskan hartanya membantu dakwahAbu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu pedagang paling sukses di Makkah. Setiap pagi, beliau terbiasa pergi ke pasar untuk berniaga. [3] Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha juga mengisahkan bahwa Abu Bakar pernah berangkat berdagang sampai ke Bushra di masa Rasulullah, Nabi pun tidak melarangnya sama sekali. [4]Yang membedakan Abu Bakar dari pedagang biasa adalah keberaniannya menyerahkan seluruh hasil perniagaannya begitu ada panggilan dakwah. Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menceritakan salah satu momen yang paling membekas dalam hidupnya,أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ نَتَصَدَّقَ فَوَافَقَ ذَلِكَ عِنْدِي مَالًا فَقُلْتُ الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قُلْتُ مِثْلَهُ وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ يَا أَبَا بَكْرٍ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قَالَ أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قُلْتُ وَاللَّهِ لَا أَسْبِقُهُ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا“Rasulullah memerintahkan kami bersedekah. Aku membawa setengah hartaku, lalu beliau bertanya, ‘Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Aku menjawab, ‘Sama banyaknya.’ Kemudian Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah bertanya, ‘Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Ia menjawab, ‘Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.’ Maka aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan pernah bisa mendahuluinya selamanya.’” [5]Jawaban itu lahir dari keyakinan seorang pedagang yang tahu persis bahwa sumber rezeki sesungguhnya adalah Allah, bukan nominal modal yang ia pegang. Beliau bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak ragu melepas semuanya ketika agama membutuhkan.Umar bin al-Khatthab menjaga kehormatan diri dengan berdagangUmar bin al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu juga seorang pedagang yang tekun. [6] Beliau pernah mengakui secara terbuka bahwa kesibukan dagangnya sempat membuatnya tidak hadir di sebagian majelis Nabi,أَلْهَانِي الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ“Aku dilalaikan oleh transaksi di pasar-pasar.” [7]Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fath al-Bari bahwa Umar memakai kata dilalaikan bukan karena perniagaan itu tercela. Masalahnya murni karena aktivitas pasar menyita waktunya untuk duduk lebih lama bersama Nabi. Yang paling penting, motivasi utama Umar berdagang adalah menjaga kehormatan diri (at-ta’affuf ‘an an-nas) agar tidak bergantung pada pemberian orang lain. [8]Orang yang kelak menaklukkan dua imperium raksasa dunia ini tidak pernah merasa gengsi turun ke pasar demi menafkahi keluarganya.Ketika Umar memperoleh sebidang tanah subur bernama Tsamg di Khaibar, tanah yang paling ia cintai, beliau tidak menyimpannya sebagai aset pribadi yang pasif. Beliau meminta petunjuk Rasulullah, dan Nabi bersabda,إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا“Jika engkau mau, tahanlah pokoknya dan sedekahkanlah hasilnya.” [9]Umar kemudian mewakafkan tanah tersebut. Pokok tanahnya tidak boleh dijual, dihibahkan, maupun diwariskan, sementara hasil panennya dialirkan untuk fakir miskin, kerabat, pembebasan budak, pejuang, tamu, dan musafir. Inilah wakaf pertama dalam sejarah Islam, lahir dari pemahaman bahwa aset harus memberi manfaat luas bagi masyarakat.Utsman, seseorang yang sumber kekayaan hartanya bermanfaat sebagai kekuatan umatUtsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu adalah contoh nyata bagaimana modal seorang pengusaha bisa menjadi penyelamat di saat krisis. Beliau sudah menggeluti dunia perniagaan sejak masa Jahiliah dan terus berlanjut setelah memeluk Islam. [10]Salah satu buktinya adalah kisah sumur Rumah. Dahulu, sumur air tawar itu dikuasai seseorang yang menjual airnya dengan harga mahal hingga menyulitkan kaum Muslimin. Utsman membelinya lalu mewakafkannya untuk kepentingan umum. Di akhir hayatnya, Utsman mengingatkan para pemberontak yang mengepung rumahnya,أُذَكِّرُكُمْ بِاللَّهِ هَلْ تَعْلَمُونَ أَنَّ بِئْرَ رُومَةَ لَمْ يَكُنْ يَشْرَبُ مِنْهَا أَحَدٌ إِلَّا بِثَمَنٍ فَابْتَعْتُهَا فَجَعَلْتُهَا لِلْغَنِيِّ وَالْفَقِيرِ وَابْنِ السَّبِيلِ“Aku mengingatkan kalian demi Allah, apakah kalian tahu bahwa sumur Rumah dahulu tidak seorang pun boleh minum darinya kecuali dengan bayaran, lalu aku membelinya dan menjadikannya untuk orang kaya, orang miskin, dan ibnu sabil?” Mereka menjawab, “Ya, demi Allah.” [11]Utsman tidak membeli sumur tersebut untuk memonopoli bisnis air. Beliau membelinya agar akses air bersih terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.Ketika Rasulullah menyerukan persiapan logistik untuk Jaisy al-Usrah (pasukan Tabuk), Utsman datang membawa seribu dinar emas lalu menuangkannya di pangkuan Nabi. Abdurrahman bin Samurah meriwayatkan suasana saat itu,فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يُقَلِّبُهَا فِي حِجْرِهِ وَيَقُولُ مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ مَرَّتَيْنِ“Aku melihat Nabi membolak-balikkan dinar-dinar itu di pangkuan beliau seraya bersabda, ‘Tidak akan membahayakan Utsman apa yang ia lakukan setelah hari ini,’ dua kali.” [12]Abdurrahman bin Auf, seorang yang memulai perdagangan dari nol di pasarKisah tentang etos kerja dan kemandirian ekonomi paling ikonik datang dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu.Saat tiba di Madinah tanpa membawa harta sepeser pun, beliau dipersaudarakan dengan Sa’d bin ar-Rabi’ al-Anshari yang kaya raya. Sa’d menawarkan setengah dari seluruh kekayaannya, namun Abdurrahman menolak tawaran tersebut dengan sangat santun,بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ دُلُّونِي عَلَى السُّوقِ“Semoga Allah memberkahi keluargamu dan hartamu. Tunjukkanlah kepadaku di mana pasar.” [13]Beliau memilih berdagang aqith (susu kering) dan minyak samin di pasar Bani Qainuqa’. Keuntungan demi keuntungan dikumpulkan secara bertahap hingga tak lama kemudian beliau mampu menikah dengan mahar emas seberat biji kurma. [14]Keberkahan usaha Abdurrahman terus membesar. Suatu ketika, kafilah dagangnya pulang dari Syam membawa tujuh ratus unta penuh muatan kebutuhan pokok sampai kota Madinah bergemuruh oleh kedatangannya. Seluruh muatan besar itu kemudian beliau sedekahkan untuk fakir miskin. [15]Ibnu Abi ad-Dunya mencatat bahwa saat Abdurrahman wafat, salah satu dari empat istrinya menerima bagian warisan sebesar delapan puluh ribu dirham. [16] Seluruh skala bisnis besar itu bermula dari prinsip sederhana di hari pertamanya di Madinah, yaitu meminta ditunjukkan jalan menuju pasar.Baca juga: Harta di Tangan Orang yang ShalihSahabat-sahabat lainnya yang bertebaran berniagaKiprah dagang para sahabat tidak berhenti pada nama-nama tadi. Thalhah bin ‘Ubaidillah dan Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma meluaskan jangkauan perniagaan mereka hingga melintasi Laut Romawi. [17]Zaid bin Arqam dan al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma juga aktif berniaga. Saat ditanya mengenai aturan tukar-menukar mata uang, keduanya menjawab dengan santai,كُنَّا تَاجِرَيْنِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ“Kami berdua adalah pedagang di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [18]Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berdagang unta di kawasan Baqi’ dan meminta fatwa kepada Nabi mengenai hukum menukar dinar dengan dirham, yang dijawab bahwa hal tersebut dibolehkan selama mengikuti nilai tukar yang berlaku saat itu. [19]Sementara itu, Az-Zubair bin al-Awwam radhiyallahu ‘anhu memiliki portofolio aset di Madinah, Bashrah, Kufah, Mesir, hingga Iskandariah. Sebelum wafat, beliau berpesan agar utangnya diselesaikan lebih dulu sebelum warisannya dibagikan. Setelah seluruh perhitungan selesai, nilai hartanya mencapai puluhan juta dirham. [20] Besarnya aset duniawi ini sama sekali tidak menghalanginya untuk tetap menjadi salah satu sahabat yang dijamin masuk surga.Pelajaran-pelajaran dari kisah sahabat yang berniagaPertama, kemandirian itu soal harga diriUmar berdagang supaya tidak minta-minta. Abdurrahman bin ‘Auf menolak setengah harta saudaranya dan memilih mulai dari nol di pasar. Mereka mengajarkan bahwa Muslim yang kuat itu tidak hidup dari belas kasihan orang.Kedua, harta harus berputar dan bermanfaatUtsman membeli sumur supaya umat tidak bayar air. Umar wakafkan tanah Khaibar supaya hasilnya mengalir terus. Abdurrahman bin ‘Auf sedekahkan tujuh ratus unta muatan. Mereka tidak biarkan hartanya menganggur.Ketiga, kaya itu bukan aibAz-Zubair tinggalkan puluhan juta dirham dan tetap dijamin surga. Masalahnya bukan di jumlah, tapi di cara dapat dan cara pakainya.Keempat, sedekah juga ada aturannyaRasulullah pernah menegur Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu yang mau sedekahkan seluruh hartanya. Nabi bilang, “Sepertiga, dan sepertiga itu sudah banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim) Islam tidak mau umatnya miskin karena terlalu royal bersedekah. Islam mau umatnya kaya supaya bisa bersedekah lebih besar lagi.Kelima, kejujuran tetap nomor satuAllah berfirman,يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا“Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan beramallah saleh.” (QS. al-Mu’minun: 51)Makan yang halal, kerja yang benar, lalu infakkan yang paling kita cintai. Simpel sebenarnya, tapi butuh seumur hidup untuk benar-benar konsisten.PenutupPara sahabat tidak pernah membenturkan urusan dunia dengan akhirat. Di malam hari, mereka berdiri khusyuk dalam salat, dan di siang hari mereka bergerak aktif menggerakkan roda perniagaan. Mereka adalah sosok-sosok yang hatinya zuhud terhadap dunia, tetapi ikhtiarnya sangat produktif dalam mengelola bumi.Semoga Allah memampukan kita meneladani ketekunan dan keberkahan hidup generasi terbaik ini.Wallahu a’lam bish-shawab.Baca juga: Harta Banyak yang Tidak Berkah Itu Cepat Hilangnya***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Husamuddin ‘Affanah, Fiqh at-Tajir al-Muslim, hal. 27; Ibnu Sa’d, ath-Thabaqat al-Kubra, jilid 3.[2] HR. Bukhari, Kitab al-Buyu’, no. 2048, dari Abu Hurairah.[3] Ibnu Sa’d, ath-Thabaqat al-Kubra, 3: 186.[4] HR. ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir; al-Albani, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, no. 2898.[5] HR. Abu Dawud no. 1678 dan at-Tirmidzi no. 3675, dinyatakan hasan shahih.[6] Ibnu Sa’d, ath-Thabaqat al-Kubra, 3: 267.[7] HR. Bukhari, Kitab al-Buyu’, Bab Ma Ja’a fi Qawlillahi Ta’ala Fa Idza Qudhiyatish Shalah.[8] Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, 4: 378.[9] HR. Bukhari no. 2737 dan Muslim no. 1632, dari Ibnu Umar.[10] Ibnu Sa’d, ath-Thabaqat al-Kubra, 3: 60.[11] HR. at-Tirmidzi no. 3703, dinilai hasan oleh at-Tirmidzi dan disahihkan al-Albani.[12] HR. Ahmad no. 20630 dan at-Tirmidzi no. 3701, hasan gharib.[13] HR. Bukhari no. 2048 dan Ahmad no. 12592, dari Anas bin Malik.[14] HR. Bukhari no. 2049, dari Anas bin Malik.[15] HR. Ahmad no. 24843; Abu Nu’aim, Hilyat al-Auliya’, 1: 98.[16] Ibnu Abi ad-Dunya, Ishlah al-Mal, hal. 51.[17] Ibnu Abi ad-Dunya, Ishlah al-Mal, hal. 76.[18] HR. Bukhari no. 2060, dari Abu al-Minhal.[19] HR. Abu Dawud no. 3354, at-Tirmidzi no. 1242, an-Nasa’i no. 4582, dan Ibnu Majah no. 2267.[20] HR. Bukhari no. 3129, dari Abdullah bin az-Zubair.[21] HR. Bukhari no. 1295 dan Muslim no. 1672, dari Sa’ad bin Abi Waqqash.

Belajar Mencari Rezeki Ala Para Sahabat Nabi

Daftar Isi ToggleAbu Bakar, seorang saudagar kaya yang menghabiskan hartanya membantu dakwahUmar bin al-Khatthab menjaga kehormatan diri dengan berdagangUtsman, seseorang yang sumber kekayaan hartanya bermanfaat sebagai kekuatan umatAbdurrahman bin Auf, seorang yang memulai perdagangan dari nol di pasarSahabat-sahabat lainnya yang bertebaran berniagaPelajaran-pelajaran dari kisah sahabat yang berniagaPertama, kemandirian itu soal harga diriKedua, harta harus berputar dan bermanfaatKetiga, kaya itu bukan aibKeempat, sedekah juga ada aturannyaKelima, kejujuran tetap nomor satuPenutupKalau kita bayangkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang muncul di kepala kebanyakan orang mungkin sosok yang sepanjang hari duduk di masjid, menangis di sepertiga malam, lalu berangkat jihad. Hal itu tentulah benar dan tidak salah. Namun, kalau cuma sampai di situ bayangan kita dan hanya terbatas di sana, kita kehilangan separuh cerita penting lainnya yang tidak kalah bermakna.Faktanya, mereka juga para pedagang tangguh dan para profesional di bidang-bidang masing-masing. Sebagian besar mereka bukan hanya pedagang kecil-kecilan, melainkan saudagar yang berhasil menguasai pasar dagang, melintasi negara, dan mengelola modal dalam jumlah besar. [1]Allah sendiri memuji karakter mereka di dalam Al-Qur’an,مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Engkau melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya.” (QS. Al-Fath: 29)Perhatikan bagian mencari karunia Allah. Para ulama tidak mengartikan hal tersebut cuma soal doa dan zikir di dalam masjid, tapi mereka mencari karunia Allah di bumi dan dengannya mereka mengharapkan rida Allah.Bahkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu terang-terangan berpendapat bahwa alasan beliau bisa meriwayatkan hadis jauh lebih banyak bukan karena sahabat lain tidak cinta ilmu, melainkan karena mereka sedang sibuk bekerja,إِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمُ الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ وَإِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الْأَنْصَارِ كَانَ يَشْغَلُهُمُ الْعَمَلُ فِي أَمْوَالِهِمْ“Saudara-saudara kami dari kalangan Muhajirin disibukkan oleh transaksi di pasar, dan saudara-saudara kami dari kalangan Anshar disibukkan oleh pengelolaan harta mereka.” [2]Sahabat-sahabat yang lain pagi-pagi sudah berangkat ke pasar. Mereka berjualan, negosiasi, dan mengurus perkebunan. Abu Hurairah yang lebih banyak meluangkan waktu di dekat Nabi akhirnya menjadi sahabat yang paling banyak menghafal hadis.Mari kita lihat bagaimana beberapa figur utama di antara mereka mengelola urusan rezeki ini.Abu Bakar, seorang saudagar kaya yang menghabiskan hartanya membantu dakwahAbu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu pedagang paling sukses di Makkah. Setiap pagi, beliau terbiasa pergi ke pasar untuk berniaga. [3] Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha juga mengisahkan bahwa Abu Bakar pernah berangkat berdagang sampai ke Bushra di masa Rasulullah, Nabi pun tidak melarangnya sama sekali. [4]Yang membedakan Abu Bakar dari pedagang biasa adalah keberaniannya menyerahkan seluruh hasil perniagaannya begitu ada panggilan dakwah. Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menceritakan salah satu momen yang paling membekas dalam hidupnya,أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ نَتَصَدَّقَ فَوَافَقَ ذَلِكَ عِنْدِي مَالًا فَقُلْتُ الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قُلْتُ مِثْلَهُ وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ يَا أَبَا بَكْرٍ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قَالَ أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قُلْتُ وَاللَّهِ لَا أَسْبِقُهُ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا“Rasulullah memerintahkan kami bersedekah. Aku membawa setengah hartaku, lalu beliau bertanya, ‘Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Aku menjawab, ‘Sama banyaknya.’ Kemudian Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah bertanya, ‘Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Ia menjawab, ‘Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.’ Maka aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan pernah bisa mendahuluinya selamanya.’” [5]Jawaban itu lahir dari keyakinan seorang pedagang yang tahu persis bahwa sumber rezeki sesungguhnya adalah Allah, bukan nominal modal yang ia pegang. Beliau bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak ragu melepas semuanya ketika agama membutuhkan.Umar bin al-Khatthab menjaga kehormatan diri dengan berdagangUmar bin al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu juga seorang pedagang yang tekun. [6] Beliau pernah mengakui secara terbuka bahwa kesibukan dagangnya sempat membuatnya tidak hadir di sebagian majelis Nabi,أَلْهَانِي الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ“Aku dilalaikan oleh transaksi di pasar-pasar.” [7]Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fath al-Bari bahwa Umar memakai kata dilalaikan bukan karena perniagaan itu tercela. Masalahnya murni karena aktivitas pasar menyita waktunya untuk duduk lebih lama bersama Nabi. Yang paling penting, motivasi utama Umar berdagang adalah menjaga kehormatan diri (at-ta’affuf ‘an an-nas) agar tidak bergantung pada pemberian orang lain. [8]Orang yang kelak menaklukkan dua imperium raksasa dunia ini tidak pernah merasa gengsi turun ke pasar demi menafkahi keluarganya.Ketika Umar memperoleh sebidang tanah subur bernama Tsamg di Khaibar, tanah yang paling ia cintai, beliau tidak menyimpannya sebagai aset pribadi yang pasif. Beliau meminta petunjuk Rasulullah, dan Nabi bersabda,إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا“Jika engkau mau, tahanlah pokoknya dan sedekahkanlah hasilnya.” [9]Umar kemudian mewakafkan tanah tersebut. Pokok tanahnya tidak boleh dijual, dihibahkan, maupun diwariskan, sementara hasil panennya dialirkan untuk fakir miskin, kerabat, pembebasan budak, pejuang, tamu, dan musafir. Inilah wakaf pertama dalam sejarah Islam, lahir dari pemahaman bahwa aset harus memberi manfaat luas bagi masyarakat.Utsman, seseorang yang sumber kekayaan hartanya bermanfaat sebagai kekuatan umatUtsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu adalah contoh nyata bagaimana modal seorang pengusaha bisa menjadi penyelamat di saat krisis. Beliau sudah menggeluti dunia perniagaan sejak masa Jahiliah dan terus berlanjut setelah memeluk Islam. [10]Salah satu buktinya adalah kisah sumur Rumah. Dahulu, sumur air tawar itu dikuasai seseorang yang menjual airnya dengan harga mahal hingga menyulitkan kaum Muslimin. Utsman membelinya lalu mewakafkannya untuk kepentingan umum. Di akhir hayatnya, Utsman mengingatkan para pemberontak yang mengepung rumahnya,أُذَكِّرُكُمْ بِاللَّهِ هَلْ تَعْلَمُونَ أَنَّ بِئْرَ رُومَةَ لَمْ يَكُنْ يَشْرَبُ مِنْهَا أَحَدٌ إِلَّا بِثَمَنٍ فَابْتَعْتُهَا فَجَعَلْتُهَا لِلْغَنِيِّ وَالْفَقِيرِ وَابْنِ السَّبِيلِ“Aku mengingatkan kalian demi Allah, apakah kalian tahu bahwa sumur Rumah dahulu tidak seorang pun boleh minum darinya kecuali dengan bayaran, lalu aku membelinya dan menjadikannya untuk orang kaya, orang miskin, dan ibnu sabil?” Mereka menjawab, “Ya, demi Allah.” [11]Utsman tidak membeli sumur tersebut untuk memonopoli bisnis air. Beliau membelinya agar akses air bersih terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.Ketika Rasulullah menyerukan persiapan logistik untuk Jaisy al-Usrah (pasukan Tabuk), Utsman datang membawa seribu dinar emas lalu menuangkannya di pangkuan Nabi. Abdurrahman bin Samurah meriwayatkan suasana saat itu,فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يُقَلِّبُهَا فِي حِجْرِهِ وَيَقُولُ مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ مَرَّتَيْنِ“Aku melihat Nabi membolak-balikkan dinar-dinar itu di pangkuan beliau seraya bersabda, ‘Tidak akan membahayakan Utsman apa yang ia lakukan setelah hari ini,’ dua kali.” [12]Abdurrahman bin Auf, seorang yang memulai perdagangan dari nol di pasarKisah tentang etos kerja dan kemandirian ekonomi paling ikonik datang dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu.Saat tiba di Madinah tanpa membawa harta sepeser pun, beliau dipersaudarakan dengan Sa’d bin ar-Rabi’ al-Anshari yang kaya raya. Sa’d menawarkan setengah dari seluruh kekayaannya, namun Abdurrahman menolak tawaran tersebut dengan sangat santun,بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ دُلُّونِي عَلَى السُّوقِ“Semoga Allah memberkahi keluargamu dan hartamu. Tunjukkanlah kepadaku di mana pasar.” [13]Beliau memilih berdagang aqith (susu kering) dan minyak samin di pasar Bani Qainuqa’. Keuntungan demi keuntungan dikumpulkan secara bertahap hingga tak lama kemudian beliau mampu menikah dengan mahar emas seberat biji kurma. [14]Keberkahan usaha Abdurrahman terus membesar. Suatu ketika, kafilah dagangnya pulang dari Syam membawa tujuh ratus unta penuh muatan kebutuhan pokok sampai kota Madinah bergemuruh oleh kedatangannya. Seluruh muatan besar itu kemudian beliau sedekahkan untuk fakir miskin. [15]Ibnu Abi ad-Dunya mencatat bahwa saat Abdurrahman wafat, salah satu dari empat istrinya menerima bagian warisan sebesar delapan puluh ribu dirham. [16] Seluruh skala bisnis besar itu bermula dari prinsip sederhana di hari pertamanya di Madinah, yaitu meminta ditunjukkan jalan menuju pasar.Baca juga: Harta di Tangan Orang yang ShalihSahabat-sahabat lainnya yang bertebaran berniagaKiprah dagang para sahabat tidak berhenti pada nama-nama tadi. Thalhah bin ‘Ubaidillah dan Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma meluaskan jangkauan perniagaan mereka hingga melintasi Laut Romawi. [17]Zaid bin Arqam dan al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma juga aktif berniaga. Saat ditanya mengenai aturan tukar-menukar mata uang, keduanya menjawab dengan santai,كُنَّا تَاجِرَيْنِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ“Kami berdua adalah pedagang di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [18]Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berdagang unta di kawasan Baqi’ dan meminta fatwa kepada Nabi mengenai hukum menukar dinar dengan dirham, yang dijawab bahwa hal tersebut dibolehkan selama mengikuti nilai tukar yang berlaku saat itu. [19]Sementara itu, Az-Zubair bin al-Awwam radhiyallahu ‘anhu memiliki portofolio aset di Madinah, Bashrah, Kufah, Mesir, hingga Iskandariah. Sebelum wafat, beliau berpesan agar utangnya diselesaikan lebih dulu sebelum warisannya dibagikan. Setelah seluruh perhitungan selesai, nilai hartanya mencapai puluhan juta dirham. [20] Besarnya aset duniawi ini sama sekali tidak menghalanginya untuk tetap menjadi salah satu sahabat yang dijamin masuk surga.Pelajaran-pelajaran dari kisah sahabat yang berniagaPertama, kemandirian itu soal harga diriUmar berdagang supaya tidak minta-minta. Abdurrahman bin ‘Auf menolak setengah harta saudaranya dan memilih mulai dari nol di pasar. Mereka mengajarkan bahwa Muslim yang kuat itu tidak hidup dari belas kasihan orang.Kedua, harta harus berputar dan bermanfaatUtsman membeli sumur supaya umat tidak bayar air. Umar wakafkan tanah Khaibar supaya hasilnya mengalir terus. Abdurrahman bin ‘Auf sedekahkan tujuh ratus unta muatan. Mereka tidak biarkan hartanya menganggur.Ketiga, kaya itu bukan aibAz-Zubair tinggalkan puluhan juta dirham dan tetap dijamin surga. Masalahnya bukan di jumlah, tapi di cara dapat dan cara pakainya.Keempat, sedekah juga ada aturannyaRasulullah pernah menegur Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu yang mau sedekahkan seluruh hartanya. Nabi bilang, “Sepertiga, dan sepertiga itu sudah banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim) Islam tidak mau umatnya miskin karena terlalu royal bersedekah. Islam mau umatnya kaya supaya bisa bersedekah lebih besar lagi.Kelima, kejujuran tetap nomor satuAllah berfirman,يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا“Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan beramallah saleh.” (QS. al-Mu’minun: 51)Makan yang halal, kerja yang benar, lalu infakkan yang paling kita cintai. Simpel sebenarnya, tapi butuh seumur hidup untuk benar-benar konsisten.PenutupPara sahabat tidak pernah membenturkan urusan dunia dengan akhirat. Di malam hari, mereka berdiri khusyuk dalam salat, dan di siang hari mereka bergerak aktif menggerakkan roda perniagaan. Mereka adalah sosok-sosok yang hatinya zuhud terhadap dunia, tetapi ikhtiarnya sangat produktif dalam mengelola bumi.Semoga Allah memampukan kita meneladani ketekunan dan keberkahan hidup generasi terbaik ini.Wallahu a’lam bish-shawab.Baca juga: Harta Banyak yang Tidak Berkah Itu Cepat Hilangnya***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Husamuddin ‘Affanah, Fiqh at-Tajir al-Muslim, hal. 27; Ibnu Sa’d, ath-Thabaqat al-Kubra, jilid 3.[2] HR. Bukhari, Kitab al-Buyu’, no. 2048, dari Abu Hurairah.[3] Ibnu Sa’d, ath-Thabaqat al-Kubra, 3: 186.[4] HR. ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir; al-Albani, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, no. 2898.[5] HR. Abu Dawud no. 1678 dan at-Tirmidzi no. 3675, dinyatakan hasan shahih.[6] Ibnu Sa’d, ath-Thabaqat al-Kubra, 3: 267.[7] HR. Bukhari, Kitab al-Buyu’, Bab Ma Ja’a fi Qawlillahi Ta’ala Fa Idza Qudhiyatish Shalah.[8] Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, 4: 378.[9] HR. Bukhari no. 2737 dan Muslim no. 1632, dari Ibnu Umar.[10] Ibnu Sa’d, ath-Thabaqat al-Kubra, 3: 60.[11] HR. at-Tirmidzi no. 3703, dinilai hasan oleh at-Tirmidzi dan disahihkan al-Albani.[12] HR. Ahmad no. 20630 dan at-Tirmidzi no. 3701, hasan gharib.[13] HR. Bukhari no. 2048 dan Ahmad no. 12592, dari Anas bin Malik.[14] HR. Bukhari no. 2049, dari Anas bin Malik.[15] HR. Ahmad no. 24843; Abu Nu’aim, Hilyat al-Auliya’, 1: 98.[16] Ibnu Abi ad-Dunya, Ishlah al-Mal, hal. 51.[17] Ibnu Abi ad-Dunya, Ishlah al-Mal, hal. 76.[18] HR. Bukhari no. 2060, dari Abu al-Minhal.[19] HR. Abu Dawud no. 3354, at-Tirmidzi no. 1242, an-Nasa’i no. 4582, dan Ibnu Majah no. 2267.[20] HR. Bukhari no. 3129, dari Abdullah bin az-Zubair.[21] HR. Bukhari no. 1295 dan Muslim no. 1672, dari Sa’ad bin Abi Waqqash.
Daftar Isi ToggleAbu Bakar, seorang saudagar kaya yang menghabiskan hartanya membantu dakwahUmar bin al-Khatthab menjaga kehormatan diri dengan berdagangUtsman, seseorang yang sumber kekayaan hartanya bermanfaat sebagai kekuatan umatAbdurrahman bin Auf, seorang yang memulai perdagangan dari nol di pasarSahabat-sahabat lainnya yang bertebaran berniagaPelajaran-pelajaran dari kisah sahabat yang berniagaPertama, kemandirian itu soal harga diriKedua, harta harus berputar dan bermanfaatKetiga, kaya itu bukan aibKeempat, sedekah juga ada aturannyaKelima, kejujuran tetap nomor satuPenutupKalau kita bayangkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang muncul di kepala kebanyakan orang mungkin sosok yang sepanjang hari duduk di masjid, menangis di sepertiga malam, lalu berangkat jihad. Hal itu tentulah benar dan tidak salah. Namun, kalau cuma sampai di situ bayangan kita dan hanya terbatas di sana, kita kehilangan separuh cerita penting lainnya yang tidak kalah bermakna.Faktanya, mereka juga para pedagang tangguh dan para profesional di bidang-bidang masing-masing. Sebagian besar mereka bukan hanya pedagang kecil-kecilan, melainkan saudagar yang berhasil menguasai pasar dagang, melintasi negara, dan mengelola modal dalam jumlah besar. [1]Allah sendiri memuji karakter mereka di dalam Al-Qur’an,مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Engkau melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya.” (QS. Al-Fath: 29)Perhatikan bagian mencari karunia Allah. Para ulama tidak mengartikan hal tersebut cuma soal doa dan zikir di dalam masjid, tapi mereka mencari karunia Allah di bumi dan dengannya mereka mengharapkan rida Allah.Bahkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu terang-terangan berpendapat bahwa alasan beliau bisa meriwayatkan hadis jauh lebih banyak bukan karena sahabat lain tidak cinta ilmu, melainkan karena mereka sedang sibuk bekerja,إِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمُ الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ وَإِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الْأَنْصَارِ كَانَ يَشْغَلُهُمُ الْعَمَلُ فِي أَمْوَالِهِمْ“Saudara-saudara kami dari kalangan Muhajirin disibukkan oleh transaksi di pasar, dan saudara-saudara kami dari kalangan Anshar disibukkan oleh pengelolaan harta mereka.” [2]Sahabat-sahabat yang lain pagi-pagi sudah berangkat ke pasar. Mereka berjualan, negosiasi, dan mengurus perkebunan. Abu Hurairah yang lebih banyak meluangkan waktu di dekat Nabi akhirnya menjadi sahabat yang paling banyak menghafal hadis.Mari kita lihat bagaimana beberapa figur utama di antara mereka mengelola urusan rezeki ini.Abu Bakar, seorang saudagar kaya yang menghabiskan hartanya membantu dakwahAbu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu pedagang paling sukses di Makkah. Setiap pagi, beliau terbiasa pergi ke pasar untuk berniaga. [3] Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha juga mengisahkan bahwa Abu Bakar pernah berangkat berdagang sampai ke Bushra di masa Rasulullah, Nabi pun tidak melarangnya sama sekali. [4]Yang membedakan Abu Bakar dari pedagang biasa adalah keberaniannya menyerahkan seluruh hasil perniagaannya begitu ada panggilan dakwah. Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menceritakan salah satu momen yang paling membekas dalam hidupnya,أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ نَتَصَدَّقَ فَوَافَقَ ذَلِكَ عِنْدِي مَالًا فَقُلْتُ الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قُلْتُ مِثْلَهُ وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ يَا أَبَا بَكْرٍ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قَالَ أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قُلْتُ وَاللَّهِ لَا أَسْبِقُهُ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا“Rasulullah memerintahkan kami bersedekah. Aku membawa setengah hartaku, lalu beliau bertanya, ‘Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Aku menjawab, ‘Sama banyaknya.’ Kemudian Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah bertanya, ‘Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Ia menjawab, ‘Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.’ Maka aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan pernah bisa mendahuluinya selamanya.’” [5]Jawaban itu lahir dari keyakinan seorang pedagang yang tahu persis bahwa sumber rezeki sesungguhnya adalah Allah, bukan nominal modal yang ia pegang. Beliau bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak ragu melepas semuanya ketika agama membutuhkan.Umar bin al-Khatthab menjaga kehormatan diri dengan berdagangUmar bin al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu juga seorang pedagang yang tekun. [6] Beliau pernah mengakui secara terbuka bahwa kesibukan dagangnya sempat membuatnya tidak hadir di sebagian majelis Nabi,أَلْهَانِي الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ“Aku dilalaikan oleh transaksi di pasar-pasar.” [7]Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fath al-Bari bahwa Umar memakai kata dilalaikan bukan karena perniagaan itu tercela. Masalahnya murni karena aktivitas pasar menyita waktunya untuk duduk lebih lama bersama Nabi. Yang paling penting, motivasi utama Umar berdagang adalah menjaga kehormatan diri (at-ta’affuf ‘an an-nas) agar tidak bergantung pada pemberian orang lain. [8]Orang yang kelak menaklukkan dua imperium raksasa dunia ini tidak pernah merasa gengsi turun ke pasar demi menafkahi keluarganya.Ketika Umar memperoleh sebidang tanah subur bernama Tsamg di Khaibar, tanah yang paling ia cintai, beliau tidak menyimpannya sebagai aset pribadi yang pasif. Beliau meminta petunjuk Rasulullah, dan Nabi bersabda,إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا“Jika engkau mau, tahanlah pokoknya dan sedekahkanlah hasilnya.” [9]Umar kemudian mewakafkan tanah tersebut. Pokok tanahnya tidak boleh dijual, dihibahkan, maupun diwariskan, sementara hasil panennya dialirkan untuk fakir miskin, kerabat, pembebasan budak, pejuang, tamu, dan musafir. Inilah wakaf pertama dalam sejarah Islam, lahir dari pemahaman bahwa aset harus memberi manfaat luas bagi masyarakat.Utsman, seseorang yang sumber kekayaan hartanya bermanfaat sebagai kekuatan umatUtsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu adalah contoh nyata bagaimana modal seorang pengusaha bisa menjadi penyelamat di saat krisis. Beliau sudah menggeluti dunia perniagaan sejak masa Jahiliah dan terus berlanjut setelah memeluk Islam. [10]Salah satu buktinya adalah kisah sumur Rumah. Dahulu, sumur air tawar itu dikuasai seseorang yang menjual airnya dengan harga mahal hingga menyulitkan kaum Muslimin. Utsman membelinya lalu mewakafkannya untuk kepentingan umum. Di akhir hayatnya, Utsman mengingatkan para pemberontak yang mengepung rumahnya,أُذَكِّرُكُمْ بِاللَّهِ هَلْ تَعْلَمُونَ أَنَّ بِئْرَ رُومَةَ لَمْ يَكُنْ يَشْرَبُ مِنْهَا أَحَدٌ إِلَّا بِثَمَنٍ فَابْتَعْتُهَا فَجَعَلْتُهَا لِلْغَنِيِّ وَالْفَقِيرِ وَابْنِ السَّبِيلِ“Aku mengingatkan kalian demi Allah, apakah kalian tahu bahwa sumur Rumah dahulu tidak seorang pun boleh minum darinya kecuali dengan bayaran, lalu aku membelinya dan menjadikannya untuk orang kaya, orang miskin, dan ibnu sabil?” Mereka menjawab, “Ya, demi Allah.” [11]Utsman tidak membeli sumur tersebut untuk memonopoli bisnis air. Beliau membelinya agar akses air bersih terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.Ketika Rasulullah menyerukan persiapan logistik untuk Jaisy al-Usrah (pasukan Tabuk), Utsman datang membawa seribu dinar emas lalu menuangkannya di pangkuan Nabi. Abdurrahman bin Samurah meriwayatkan suasana saat itu,فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يُقَلِّبُهَا فِي حِجْرِهِ وَيَقُولُ مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ مَرَّتَيْنِ“Aku melihat Nabi membolak-balikkan dinar-dinar itu di pangkuan beliau seraya bersabda, ‘Tidak akan membahayakan Utsman apa yang ia lakukan setelah hari ini,’ dua kali.” [12]Abdurrahman bin Auf, seorang yang memulai perdagangan dari nol di pasarKisah tentang etos kerja dan kemandirian ekonomi paling ikonik datang dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu.Saat tiba di Madinah tanpa membawa harta sepeser pun, beliau dipersaudarakan dengan Sa’d bin ar-Rabi’ al-Anshari yang kaya raya. Sa’d menawarkan setengah dari seluruh kekayaannya, namun Abdurrahman menolak tawaran tersebut dengan sangat santun,بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ دُلُّونِي عَلَى السُّوقِ“Semoga Allah memberkahi keluargamu dan hartamu. Tunjukkanlah kepadaku di mana pasar.” [13]Beliau memilih berdagang aqith (susu kering) dan minyak samin di pasar Bani Qainuqa’. Keuntungan demi keuntungan dikumpulkan secara bertahap hingga tak lama kemudian beliau mampu menikah dengan mahar emas seberat biji kurma. [14]Keberkahan usaha Abdurrahman terus membesar. Suatu ketika, kafilah dagangnya pulang dari Syam membawa tujuh ratus unta penuh muatan kebutuhan pokok sampai kota Madinah bergemuruh oleh kedatangannya. Seluruh muatan besar itu kemudian beliau sedekahkan untuk fakir miskin. [15]Ibnu Abi ad-Dunya mencatat bahwa saat Abdurrahman wafat, salah satu dari empat istrinya menerima bagian warisan sebesar delapan puluh ribu dirham. [16] Seluruh skala bisnis besar itu bermula dari prinsip sederhana di hari pertamanya di Madinah, yaitu meminta ditunjukkan jalan menuju pasar.Baca juga: Harta di Tangan Orang yang ShalihSahabat-sahabat lainnya yang bertebaran berniagaKiprah dagang para sahabat tidak berhenti pada nama-nama tadi. Thalhah bin ‘Ubaidillah dan Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma meluaskan jangkauan perniagaan mereka hingga melintasi Laut Romawi. [17]Zaid bin Arqam dan al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma juga aktif berniaga. Saat ditanya mengenai aturan tukar-menukar mata uang, keduanya menjawab dengan santai,كُنَّا تَاجِرَيْنِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ“Kami berdua adalah pedagang di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [18]Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berdagang unta di kawasan Baqi’ dan meminta fatwa kepada Nabi mengenai hukum menukar dinar dengan dirham, yang dijawab bahwa hal tersebut dibolehkan selama mengikuti nilai tukar yang berlaku saat itu. [19]Sementara itu, Az-Zubair bin al-Awwam radhiyallahu ‘anhu memiliki portofolio aset di Madinah, Bashrah, Kufah, Mesir, hingga Iskandariah. Sebelum wafat, beliau berpesan agar utangnya diselesaikan lebih dulu sebelum warisannya dibagikan. Setelah seluruh perhitungan selesai, nilai hartanya mencapai puluhan juta dirham. [20] Besarnya aset duniawi ini sama sekali tidak menghalanginya untuk tetap menjadi salah satu sahabat yang dijamin masuk surga.Pelajaran-pelajaran dari kisah sahabat yang berniagaPertama, kemandirian itu soal harga diriUmar berdagang supaya tidak minta-minta. Abdurrahman bin ‘Auf menolak setengah harta saudaranya dan memilih mulai dari nol di pasar. Mereka mengajarkan bahwa Muslim yang kuat itu tidak hidup dari belas kasihan orang.Kedua, harta harus berputar dan bermanfaatUtsman membeli sumur supaya umat tidak bayar air. Umar wakafkan tanah Khaibar supaya hasilnya mengalir terus. Abdurrahman bin ‘Auf sedekahkan tujuh ratus unta muatan. Mereka tidak biarkan hartanya menganggur.Ketiga, kaya itu bukan aibAz-Zubair tinggalkan puluhan juta dirham dan tetap dijamin surga. Masalahnya bukan di jumlah, tapi di cara dapat dan cara pakainya.Keempat, sedekah juga ada aturannyaRasulullah pernah menegur Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu yang mau sedekahkan seluruh hartanya. Nabi bilang, “Sepertiga, dan sepertiga itu sudah banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim) Islam tidak mau umatnya miskin karena terlalu royal bersedekah. Islam mau umatnya kaya supaya bisa bersedekah lebih besar lagi.Kelima, kejujuran tetap nomor satuAllah berfirman,يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا“Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan beramallah saleh.” (QS. al-Mu’minun: 51)Makan yang halal, kerja yang benar, lalu infakkan yang paling kita cintai. Simpel sebenarnya, tapi butuh seumur hidup untuk benar-benar konsisten.PenutupPara sahabat tidak pernah membenturkan urusan dunia dengan akhirat. Di malam hari, mereka berdiri khusyuk dalam salat, dan di siang hari mereka bergerak aktif menggerakkan roda perniagaan. Mereka adalah sosok-sosok yang hatinya zuhud terhadap dunia, tetapi ikhtiarnya sangat produktif dalam mengelola bumi.Semoga Allah memampukan kita meneladani ketekunan dan keberkahan hidup generasi terbaik ini.Wallahu a’lam bish-shawab.Baca juga: Harta Banyak yang Tidak Berkah Itu Cepat Hilangnya***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Husamuddin ‘Affanah, Fiqh at-Tajir al-Muslim, hal. 27; Ibnu Sa’d, ath-Thabaqat al-Kubra, jilid 3.[2] HR. Bukhari, Kitab al-Buyu’, no. 2048, dari Abu Hurairah.[3] Ibnu Sa’d, ath-Thabaqat al-Kubra, 3: 186.[4] HR. ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir; al-Albani, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, no. 2898.[5] HR. Abu Dawud no. 1678 dan at-Tirmidzi no. 3675, dinyatakan hasan shahih.[6] Ibnu Sa’d, ath-Thabaqat al-Kubra, 3: 267.[7] HR. Bukhari, Kitab al-Buyu’, Bab Ma Ja’a fi Qawlillahi Ta’ala Fa Idza Qudhiyatish Shalah.[8] Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, 4: 378.[9] HR. Bukhari no. 2737 dan Muslim no. 1632, dari Ibnu Umar.[10] Ibnu Sa’d, ath-Thabaqat al-Kubra, 3: 60.[11] HR. at-Tirmidzi no. 3703, dinilai hasan oleh at-Tirmidzi dan disahihkan al-Albani.[12] HR. Ahmad no. 20630 dan at-Tirmidzi no. 3701, hasan gharib.[13] HR. Bukhari no. 2048 dan Ahmad no. 12592, dari Anas bin Malik.[14] HR. Bukhari no. 2049, dari Anas bin Malik.[15] HR. Ahmad no. 24843; Abu Nu’aim, Hilyat al-Auliya’, 1: 98.[16] Ibnu Abi ad-Dunya, Ishlah al-Mal, hal. 51.[17] Ibnu Abi ad-Dunya, Ishlah al-Mal, hal. 76.[18] HR. Bukhari no. 2060, dari Abu al-Minhal.[19] HR. Abu Dawud no. 3354, at-Tirmidzi no. 1242, an-Nasa’i no. 4582, dan Ibnu Majah no. 2267.[20] HR. Bukhari no. 3129, dari Abdullah bin az-Zubair.[21] HR. Bukhari no. 1295 dan Muslim no. 1672, dari Sa’ad bin Abi Waqqash.


Daftar Isi ToggleAbu Bakar, seorang saudagar kaya yang menghabiskan hartanya membantu dakwahUmar bin al-Khatthab menjaga kehormatan diri dengan berdagangUtsman, seseorang yang sumber kekayaan hartanya bermanfaat sebagai kekuatan umatAbdurrahman bin Auf, seorang yang memulai perdagangan dari nol di pasarSahabat-sahabat lainnya yang bertebaran berniagaPelajaran-pelajaran dari kisah sahabat yang berniagaPertama, kemandirian itu soal harga diriKedua, harta harus berputar dan bermanfaatKetiga, kaya itu bukan aibKeempat, sedekah juga ada aturannyaKelima, kejujuran tetap nomor satuPenutupKalau kita bayangkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang muncul di kepala kebanyakan orang mungkin sosok yang sepanjang hari duduk di masjid, menangis di sepertiga malam, lalu berangkat jihad. Hal itu tentulah benar dan tidak salah. Namun, kalau cuma sampai di situ bayangan kita dan hanya terbatas di sana, kita kehilangan separuh cerita penting lainnya yang tidak kalah bermakna.Faktanya, mereka juga para pedagang tangguh dan para profesional di bidang-bidang masing-masing. Sebagian besar mereka bukan hanya pedagang kecil-kecilan, melainkan saudagar yang berhasil menguasai pasar dagang, melintasi negara, dan mengelola modal dalam jumlah besar. [1]Allah sendiri memuji karakter mereka di dalam Al-Qur’an,مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Engkau melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya.” (QS. Al-Fath: 29)Perhatikan bagian mencari karunia Allah. Para ulama tidak mengartikan hal tersebut cuma soal doa dan zikir di dalam masjid, tapi mereka mencari karunia Allah di bumi dan dengannya mereka mengharapkan rida Allah.Bahkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu terang-terangan berpendapat bahwa alasan beliau bisa meriwayatkan hadis jauh lebih banyak bukan karena sahabat lain tidak cinta ilmu, melainkan karena mereka sedang sibuk bekerja,إِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمُ الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ وَإِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الْأَنْصَارِ كَانَ يَشْغَلُهُمُ الْعَمَلُ فِي أَمْوَالِهِمْ“Saudara-saudara kami dari kalangan Muhajirin disibukkan oleh transaksi di pasar, dan saudara-saudara kami dari kalangan Anshar disibukkan oleh pengelolaan harta mereka.” [2]Sahabat-sahabat yang lain pagi-pagi sudah berangkat ke pasar. Mereka berjualan, negosiasi, dan mengurus perkebunan. Abu Hurairah yang lebih banyak meluangkan waktu di dekat Nabi akhirnya menjadi sahabat yang paling banyak menghafal hadis.Mari kita lihat bagaimana beberapa figur utama di antara mereka mengelola urusan rezeki ini.Abu Bakar, seorang saudagar kaya yang menghabiskan hartanya membantu dakwahAbu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu pedagang paling sukses di Makkah. Setiap pagi, beliau terbiasa pergi ke pasar untuk berniaga. [3] Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha juga mengisahkan bahwa Abu Bakar pernah berangkat berdagang sampai ke Bushra di masa Rasulullah, Nabi pun tidak melarangnya sama sekali. [4]Yang membedakan Abu Bakar dari pedagang biasa adalah keberaniannya menyerahkan seluruh hasil perniagaannya begitu ada panggilan dakwah. Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menceritakan salah satu momen yang paling membekas dalam hidupnya,أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ نَتَصَدَّقَ فَوَافَقَ ذَلِكَ عِنْدِي مَالًا فَقُلْتُ الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قُلْتُ مِثْلَهُ وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ يَا أَبَا بَكْرٍ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قَالَ أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قُلْتُ وَاللَّهِ لَا أَسْبِقُهُ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا“Rasulullah memerintahkan kami bersedekah. Aku membawa setengah hartaku, lalu beliau bertanya, ‘Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Aku menjawab, ‘Sama banyaknya.’ Kemudian Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah bertanya, ‘Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Ia menjawab, ‘Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.’ Maka aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan pernah bisa mendahuluinya selamanya.’” [5]Jawaban itu lahir dari keyakinan seorang pedagang yang tahu persis bahwa sumber rezeki sesungguhnya adalah Allah, bukan nominal modal yang ia pegang. Beliau bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak ragu melepas semuanya ketika agama membutuhkan.Umar bin al-Khatthab menjaga kehormatan diri dengan berdagangUmar bin al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu juga seorang pedagang yang tekun. [6] Beliau pernah mengakui secara terbuka bahwa kesibukan dagangnya sempat membuatnya tidak hadir di sebagian majelis Nabi,أَلْهَانِي الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ“Aku dilalaikan oleh transaksi di pasar-pasar.” [7]Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fath al-Bari bahwa Umar memakai kata dilalaikan bukan karena perniagaan itu tercela. Masalahnya murni karena aktivitas pasar menyita waktunya untuk duduk lebih lama bersama Nabi. Yang paling penting, motivasi utama Umar berdagang adalah menjaga kehormatan diri (at-ta’affuf ‘an an-nas) agar tidak bergantung pada pemberian orang lain. [8]Orang yang kelak menaklukkan dua imperium raksasa dunia ini tidak pernah merasa gengsi turun ke pasar demi menafkahi keluarganya.Ketika Umar memperoleh sebidang tanah subur bernama Tsamg di Khaibar, tanah yang paling ia cintai, beliau tidak menyimpannya sebagai aset pribadi yang pasif. Beliau meminta petunjuk Rasulullah, dan Nabi bersabda,إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا“Jika engkau mau, tahanlah pokoknya dan sedekahkanlah hasilnya.” [9]Umar kemudian mewakafkan tanah tersebut. Pokok tanahnya tidak boleh dijual, dihibahkan, maupun diwariskan, sementara hasil panennya dialirkan untuk fakir miskin, kerabat, pembebasan budak, pejuang, tamu, dan musafir. Inilah wakaf pertama dalam sejarah Islam, lahir dari pemahaman bahwa aset harus memberi manfaat luas bagi masyarakat.Utsman, seseorang yang sumber kekayaan hartanya bermanfaat sebagai kekuatan umatUtsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu adalah contoh nyata bagaimana modal seorang pengusaha bisa menjadi penyelamat di saat krisis. Beliau sudah menggeluti dunia perniagaan sejak masa Jahiliah dan terus berlanjut setelah memeluk Islam. [10]Salah satu buktinya adalah kisah sumur Rumah. Dahulu, sumur air tawar itu dikuasai seseorang yang menjual airnya dengan harga mahal hingga menyulitkan kaum Muslimin. Utsman membelinya lalu mewakafkannya untuk kepentingan umum. Di akhir hayatnya, Utsman mengingatkan para pemberontak yang mengepung rumahnya,أُذَكِّرُكُمْ بِاللَّهِ هَلْ تَعْلَمُونَ أَنَّ بِئْرَ رُومَةَ لَمْ يَكُنْ يَشْرَبُ مِنْهَا أَحَدٌ إِلَّا بِثَمَنٍ فَابْتَعْتُهَا فَجَعَلْتُهَا لِلْغَنِيِّ وَالْفَقِيرِ وَابْنِ السَّبِيلِ“Aku mengingatkan kalian demi Allah, apakah kalian tahu bahwa sumur Rumah dahulu tidak seorang pun boleh minum darinya kecuali dengan bayaran, lalu aku membelinya dan menjadikannya untuk orang kaya, orang miskin, dan ibnu sabil?” Mereka menjawab, “Ya, demi Allah.” [11]Utsman tidak membeli sumur tersebut untuk memonopoli bisnis air. Beliau membelinya agar akses air bersih terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.Ketika Rasulullah menyerukan persiapan logistik untuk Jaisy al-Usrah (pasukan Tabuk), Utsman datang membawa seribu dinar emas lalu menuangkannya di pangkuan Nabi. Abdurrahman bin Samurah meriwayatkan suasana saat itu,فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يُقَلِّبُهَا فِي حِجْرِهِ وَيَقُولُ مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ مَرَّتَيْنِ“Aku melihat Nabi membolak-balikkan dinar-dinar itu di pangkuan beliau seraya bersabda, ‘Tidak akan membahayakan Utsman apa yang ia lakukan setelah hari ini,’ dua kali.” [12]Abdurrahman bin Auf, seorang yang memulai perdagangan dari nol di pasarKisah tentang etos kerja dan kemandirian ekonomi paling ikonik datang dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu.Saat tiba di Madinah tanpa membawa harta sepeser pun, beliau dipersaudarakan dengan Sa’d bin ar-Rabi’ al-Anshari yang kaya raya. Sa’d menawarkan setengah dari seluruh kekayaannya, namun Abdurrahman menolak tawaran tersebut dengan sangat santun,بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ دُلُّونِي عَلَى السُّوقِ“Semoga Allah memberkahi keluargamu dan hartamu. Tunjukkanlah kepadaku di mana pasar.” [13]Beliau memilih berdagang aqith (susu kering) dan minyak samin di pasar Bani Qainuqa’. Keuntungan demi keuntungan dikumpulkan secara bertahap hingga tak lama kemudian beliau mampu menikah dengan mahar emas seberat biji kurma. [14]Keberkahan usaha Abdurrahman terus membesar. Suatu ketika, kafilah dagangnya pulang dari Syam membawa tujuh ratus unta penuh muatan kebutuhan pokok sampai kota Madinah bergemuruh oleh kedatangannya. Seluruh muatan besar itu kemudian beliau sedekahkan untuk fakir miskin. [15]Ibnu Abi ad-Dunya mencatat bahwa saat Abdurrahman wafat, salah satu dari empat istrinya menerima bagian warisan sebesar delapan puluh ribu dirham. [16] Seluruh skala bisnis besar itu bermula dari prinsip sederhana di hari pertamanya di Madinah, yaitu meminta ditunjukkan jalan menuju pasar.Baca juga: Harta di Tangan Orang yang ShalihSahabat-sahabat lainnya yang bertebaran berniagaKiprah dagang para sahabat tidak berhenti pada nama-nama tadi. Thalhah bin ‘Ubaidillah dan Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma meluaskan jangkauan perniagaan mereka hingga melintasi Laut Romawi. [17]Zaid bin Arqam dan al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma juga aktif berniaga. Saat ditanya mengenai aturan tukar-menukar mata uang, keduanya menjawab dengan santai,كُنَّا تَاجِرَيْنِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ“Kami berdua adalah pedagang di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [18]Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berdagang unta di kawasan Baqi’ dan meminta fatwa kepada Nabi mengenai hukum menukar dinar dengan dirham, yang dijawab bahwa hal tersebut dibolehkan selama mengikuti nilai tukar yang berlaku saat itu. [19]Sementara itu, Az-Zubair bin al-Awwam radhiyallahu ‘anhu memiliki portofolio aset di Madinah, Bashrah, Kufah, Mesir, hingga Iskandariah. Sebelum wafat, beliau berpesan agar utangnya diselesaikan lebih dulu sebelum warisannya dibagikan. Setelah seluruh perhitungan selesai, nilai hartanya mencapai puluhan juta dirham. [20] Besarnya aset duniawi ini sama sekali tidak menghalanginya untuk tetap menjadi salah satu sahabat yang dijamin masuk surga.Pelajaran-pelajaran dari kisah sahabat yang berniagaPertama, kemandirian itu soal harga diriUmar berdagang supaya tidak minta-minta. Abdurrahman bin ‘Auf menolak setengah harta saudaranya dan memilih mulai dari nol di pasar. Mereka mengajarkan bahwa Muslim yang kuat itu tidak hidup dari belas kasihan orang.Kedua, harta harus berputar dan bermanfaatUtsman membeli sumur supaya umat tidak bayar air. Umar wakafkan tanah Khaibar supaya hasilnya mengalir terus. Abdurrahman bin ‘Auf sedekahkan tujuh ratus unta muatan. Mereka tidak biarkan hartanya menganggur.Ketiga, kaya itu bukan aibAz-Zubair tinggalkan puluhan juta dirham dan tetap dijamin surga. Masalahnya bukan di jumlah, tapi di cara dapat dan cara pakainya.Keempat, sedekah juga ada aturannyaRasulullah pernah menegur Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu yang mau sedekahkan seluruh hartanya. Nabi bilang, “Sepertiga, dan sepertiga itu sudah banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim) Islam tidak mau umatnya miskin karena terlalu royal bersedekah. Islam mau umatnya kaya supaya bisa bersedekah lebih besar lagi.Kelima, kejujuran tetap nomor satuAllah berfirman,يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا“Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan beramallah saleh.” (QS. al-Mu’minun: 51)Makan yang halal, kerja yang benar, lalu infakkan yang paling kita cintai. Simpel sebenarnya, tapi butuh seumur hidup untuk benar-benar konsisten.PenutupPara sahabat tidak pernah membenturkan urusan dunia dengan akhirat. Di malam hari, mereka berdiri khusyuk dalam salat, dan di siang hari mereka bergerak aktif menggerakkan roda perniagaan. Mereka adalah sosok-sosok yang hatinya zuhud terhadap dunia, tetapi ikhtiarnya sangat produktif dalam mengelola bumi.Semoga Allah memampukan kita meneladani ketekunan dan keberkahan hidup generasi terbaik ini.Wallahu a’lam bish-shawab.Baca juga: Harta Banyak yang Tidak Berkah Itu Cepat Hilangnya***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Husamuddin ‘Affanah, Fiqh at-Tajir al-Muslim, hal. 27; Ibnu Sa’d, ath-Thabaqat al-Kubra, jilid 3.[2] HR. Bukhari, Kitab al-Buyu’, no. 2048, dari Abu Hurairah.[3] Ibnu Sa’d, ath-Thabaqat al-Kubra, 3: 186.[4] HR. ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir; al-Albani, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, no. 2898.[5] HR. Abu Dawud no. 1678 dan at-Tirmidzi no. 3675, dinyatakan hasan shahih.[6] Ibnu Sa’d, ath-Thabaqat al-Kubra, 3: 267.[7] HR. Bukhari, Kitab al-Buyu’, Bab Ma Ja’a fi Qawlillahi Ta’ala Fa Idza Qudhiyatish Shalah.[8] Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, 4: 378.[9] HR. Bukhari no. 2737 dan Muslim no. 1632, dari Ibnu Umar.[10] Ibnu Sa’d, ath-Thabaqat al-Kubra, 3: 60.[11] HR. at-Tirmidzi no. 3703, dinilai hasan oleh at-Tirmidzi dan disahihkan al-Albani.[12] HR. Ahmad no. 20630 dan at-Tirmidzi no. 3701, hasan gharib.[13] HR. Bukhari no. 2048 dan Ahmad no. 12592, dari Anas bin Malik.[14] HR. Bukhari no. 2049, dari Anas bin Malik.[15] HR. Ahmad no. 24843; Abu Nu’aim, Hilyat al-Auliya’, 1: 98.[16] Ibnu Abi ad-Dunya, Ishlah al-Mal, hal. 51.[17] Ibnu Abi ad-Dunya, Ishlah al-Mal, hal. 76.[18] HR. Bukhari no. 2060, dari Abu al-Minhal.[19] HR. Abu Dawud no. 3354, at-Tirmidzi no. 1242, an-Nasa’i no. 4582, dan Ibnu Majah no. 2267.[20] HR. Bukhari no. 3129, dari Abdullah bin az-Zubair.[21] HR. Bukhari no. 1295 dan Muslim no. 1672, dari Sa’ad bin Abi Waqqash.

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 7): Pelaku Dosa Besar Tidak Kekal di Neraka

Kelima, pelaku dosa besar dari orang-orang mukmin diazab karena dosanya, tetapi tidak kekal di nerakaDi antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menyikapi pelaku dosa besar, selama dosa tersebut bukan dosa syirik yang menyebabkan seseorang keluar dari Islam, adalah bahwa pelakunya masih dianggap sebagai seorang mukmin, meskipun keimanannya tidak sempurna. Ia tidak dianggap murtad dari agama Islam hanya karena melakukan dosa besar. Namun, Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga tidak menganggap bahwa dosa besar tidak berpengaruh terhadap keimanan seseorang.Dalam masalah ini, Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengambil sikap pertengahan atau tawassuth. Pelaku dosa besar tidak dikafirkan sebagaimana akidah Khawarij, tetapi juga tidak dianggap imannya sempurna sebagaimana akidah Murji’ah. Bagi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, ia masih dianggap memiliki iman, tetapi imannya berkurang karena kemaksiatan yang dilakukannya.Adapun mengenai keadaan pelaku dosa besar di akhirat, maka ia berada di bawah kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak, Dia dapat mengampuni dosa-dosanya dengan karunia dan rahmat-Nya. Namun, jika Allah ‘Azza wa Jalla berkehendak, Dia dapat mengazabnya di neraka disebabkan dosa-dosanya. Akan tetapi, apabila ia meninggal dalam keadaan masih memiliki iman dan tidak melakukan sesuatu yang membatalkan keislamannya, maka ia tidak kekal di dalam neraka. Artinya, ia akan dikeluarkan dari neraka jika dosa-dosanya telah dihapuskan dan dimasukkan ke dalam surga.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, sungguh ia telah berbuat dosa yang sangat besar.” (QS. An-Nisa’: 48)Ayat ini menunjukkan bahwa dosa selain syirik berada di bawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun dosa syirik yang dibawa sampai meninggal tanpa bertobat, maka Allah tidak akan mengampuninya. Sedangkan dosa-dosa selain syirik, termasuk dosa besar, maka pelakunya berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki, Dia akan mengampuninya atau mengazabnya sesuai dengan keadilan-Nya.Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah masih mengharapkan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi pelaku dosa besar yang masih memiliki iman. Mereka tidak terburu-buru mengkafirkan seorang muslim hanya karena ia terjatuh dalam dosa besar. Namun, mereka juga tidak meremehkan dosa tersebut atau menganggap bahwa dosa besar tidak memberikan pengaruh sama sekali terhadap imannya.Hal ini karena iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah bukan sekadar pengakuan di dalam hati saja. Iman itu mencakup keyakinan di dalam hati, ucapan dengan lisan, dan amalan dengan anggota badan. Iman dapat bertambah dengan ketaatan dan dapat berkurang karena kemaksiatan. Semakin banyak seseorang melakukan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka semakin kuat dan sempurna imannya. Sebaliknya, semakin seseorang terjerumus ke dalam kemaksiatan, maka semakin berkurang pula keimanannya.Dengan demikian, pelaku dosa besar masih disebut sebagai seorang mukmin dari sisi pondasi keimanannya, hanya tidak sempurna imannya. Kemaksiatan yang dilakukan tidak serta-merta menghilangkan seluruh keimanannya. Berbeda halnya apabila seseorang melakukan pembatal keislaman atau dosa yang menyebabkan kekufuran, maka hukum terhadapnya juga berbeda.Prinsip ini juga menunjukkan keadilan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menetapkan hukum terhadap seorang muslim. Mereka tidak berlebihan dalam mengkafirkan sesama orang muslim hanya karena dosa yang dilakukan sebagaimana akidah Khawarij. Namun, mereka juga tidak bersikap terlalu longgar dan bermudah-mudahan dengan mengatakan bahwa amal perbuatan sama sekali tidak berpengaruh terhadap iman sebagaimana akidah Murji’ah.Khawarij berpandangan bahwa pelaku dosa besar di bawah dosa syirik telah keluar dari iman dan dianggap telah kafir. Konsekuensinya adalah mereka mudah mengkafirkan kepada seorang muslim yang melakukan dosa besar. Bahkan, dalam sejarahnya, sikap ini menyebabkan mereka menghalalkan darah dan harta orang-orang mukmin yang mereka anggap telah kafir.Adapun Mu’tazilah menganggap pelaku dosa besar sebagai al-manzilah bainal manzilatain, yaitu ‘berada pada kedudukan di antara dua kedudukan’. Menurut mereka, pelaku dosa besar tidak disebut sebagai mukmin dan tidak pula disebut sebagai kafir ketika berada di dunia, tetapi ditempatkan pada posisi di antara keduanya. Namun, di  akhirat, pelaku dosa besar yang meninggal tanpa bertobat dianggap kekal di dalam neraka. Dengan kata lain, sebenarnya akidah Mu’tazilah sama halnya dengan Khawarij, hanya saja mereka tidak mau terus terang saja dalam mengkafirkan pelaku dosa besar.Sementara itu, Murji’ah berada pada sisi yang bermudah-mudahan. Mereka meremehkan pengaruh dosa besar terhadap iman. Mereka berpandangan bahwa maksiat tidak membahayakan iman sebagaimana ketaatan tidak memberikan pengaruh terhadap iman. Bahkan, bagi sebagian mereka, seorang pelaku dosa besar dianggap memiliki iman yang sempurna selama masih memiliki iman di dalam hatinya.Adapun Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka mengambil jalan pertengahan di antara kelompok-kelompok tersebut. Mereka menetapkan bahwa pelaku dosa besar tidak keluar dari Islam hanya karena dosa besarnya, selama dosa tersebut tidak termasuk kekufuran dan kesyirikan. Akan tetapi, mereka juga menetapkan bahwa dosa tersebut bisa mengurangi keimanan dan dapat menjadi sebab seseorang mendapatkan azab Allah Subhanahu wa Ta’ala.Inilah manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah pelaku dosa besar. Mereka menetapkan bahwa pelaku dosa besar dari umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih memiliki pokok keimanan, tetapi imannya berkurang karena kemaksiatan yang dilakukannya. Ia tidak dikafirkan hanya karena dosanya tersebut, namun juga tidak dikatakan memiliki iman yang sempurna.Jika ia meninggal dalam keadaan masih mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla dan selama tidak melakukan kesyirikan yang membatalkan keislamannya, maka keadaannya di akhirat berada di bawah kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Allah dapat mengampuninya dengan rahmat-Nya atau mengazabnya karena keadilan-Nya. Namun, apabila ia diazab oleh Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia tidak akan kekal di dalam neraka dan akan dimasukkan ke dalam surga pada saatnya. Inilah sikap pertengahan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang dibangun di atas dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunah.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 6***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 28–29.

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 7): Pelaku Dosa Besar Tidak Kekal di Neraka

Kelima, pelaku dosa besar dari orang-orang mukmin diazab karena dosanya, tetapi tidak kekal di nerakaDi antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menyikapi pelaku dosa besar, selama dosa tersebut bukan dosa syirik yang menyebabkan seseorang keluar dari Islam, adalah bahwa pelakunya masih dianggap sebagai seorang mukmin, meskipun keimanannya tidak sempurna. Ia tidak dianggap murtad dari agama Islam hanya karena melakukan dosa besar. Namun, Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga tidak menganggap bahwa dosa besar tidak berpengaruh terhadap keimanan seseorang.Dalam masalah ini, Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengambil sikap pertengahan atau tawassuth. Pelaku dosa besar tidak dikafirkan sebagaimana akidah Khawarij, tetapi juga tidak dianggap imannya sempurna sebagaimana akidah Murji’ah. Bagi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, ia masih dianggap memiliki iman, tetapi imannya berkurang karena kemaksiatan yang dilakukannya.Adapun mengenai keadaan pelaku dosa besar di akhirat, maka ia berada di bawah kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak, Dia dapat mengampuni dosa-dosanya dengan karunia dan rahmat-Nya. Namun, jika Allah ‘Azza wa Jalla berkehendak, Dia dapat mengazabnya di neraka disebabkan dosa-dosanya. Akan tetapi, apabila ia meninggal dalam keadaan masih memiliki iman dan tidak melakukan sesuatu yang membatalkan keislamannya, maka ia tidak kekal di dalam neraka. Artinya, ia akan dikeluarkan dari neraka jika dosa-dosanya telah dihapuskan dan dimasukkan ke dalam surga.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, sungguh ia telah berbuat dosa yang sangat besar.” (QS. An-Nisa’: 48)Ayat ini menunjukkan bahwa dosa selain syirik berada di bawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun dosa syirik yang dibawa sampai meninggal tanpa bertobat, maka Allah tidak akan mengampuninya. Sedangkan dosa-dosa selain syirik, termasuk dosa besar, maka pelakunya berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki, Dia akan mengampuninya atau mengazabnya sesuai dengan keadilan-Nya.Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah masih mengharapkan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi pelaku dosa besar yang masih memiliki iman. Mereka tidak terburu-buru mengkafirkan seorang muslim hanya karena ia terjatuh dalam dosa besar. Namun, mereka juga tidak meremehkan dosa tersebut atau menganggap bahwa dosa besar tidak memberikan pengaruh sama sekali terhadap imannya.Hal ini karena iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah bukan sekadar pengakuan di dalam hati saja. Iman itu mencakup keyakinan di dalam hati, ucapan dengan lisan, dan amalan dengan anggota badan. Iman dapat bertambah dengan ketaatan dan dapat berkurang karena kemaksiatan. Semakin banyak seseorang melakukan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka semakin kuat dan sempurna imannya. Sebaliknya, semakin seseorang terjerumus ke dalam kemaksiatan, maka semakin berkurang pula keimanannya.Dengan demikian, pelaku dosa besar masih disebut sebagai seorang mukmin dari sisi pondasi keimanannya, hanya tidak sempurna imannya. Kemaksiatan yang dilakukan tidak serta-merta menghilangkan seluruh keimanannya. Berbeda halnya apabila seseorang melakukan pembatal keislaman atau dosa yang menyebabkan kekufuran, maka hukum terhadapnya juga berbeda.Prinsip ini juga menunjukkan keadilan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menetapkan hukum terhadap seorang muslim. Mereka tidak berlebihan dalam mengkafirkan sesama orang muslim hanya karena dosa yang dilakukan sebagaimana akidah Khawarij. Namun, mereka juga tidak bersikap terlalu longgar dan bermudah-mudahan dengan mengatakan bahwa amal perbuatan sama sekali tidak berpengaruh terhadap iman sebagaimana akidah Murji’ah.Khawarij berpandangan bahwa pelaku dosa besar di bawah dosa syirik telah keluar dari iman dan dianggap telah kafir. Konsekuensinya adalah mereka mudah mengkafirkan kepada seorang muslim yang melakukan dosa besar. Bahkan, dalam sejarahnya, sikap ini menyebabkan mereka menghalalkan darah dan harta orang-orang mukmin yang mereka anggap telah kafir.Adapun Mu’tazilah menganggap pelaku dosa besar sebagai al-manzilah bainal manzilatain, yaitu ‘berada pada kedudukan di antara dua kedudukan’. Menurut mereka, pelaku dosa besar tidak disebut sebagai mukmin dan tidak pula disebut sebagai kafir ketika berada di dunia, tetapi ditempatkan pada posisi di antara keduanya. Namun, di  akhirat, pelaku dosa besar yang meninggal tanpa bertobat dianggap kekal di dalam neraka. Dengan kata lain, sebenarnya akidah Mu’tazilah sama halnya dengan Khawarij, hanya saja mereka tidak mau terus terang saja dalam mengkafirkan pelaku dosa besar.Sementara itu, Murji’ah berada pada sisi yang bermudah-mudahan. Mereka meremehkan pengaruh dosa besar terhadap iman. Mereka berpandangan bahwa maksiat tidak membahayakan iman sebagaimana ketaatan tidak memberikan pengaruh terhadap iman. Bahkan, bagi sebagian mereka, seorang pelaku dosa besar dianggap memiliki iman yang sempurna selama masih memiliki iman di dalam hatinya.Adapun Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka mengambil jalan pertengahan di antara kelompok-kelompok tersebut. Mereka menetapkan bahwa pelaku dosa besar tidak keluar dari Islam hanya karena dosa besarnya, selama dosa tersebut tidak termasuk kekufuran dan kesyirikan. Akan tetapi, mereka juga menetapkan bahwa dosa tersebut bisa mengurangi keimanan dan dapat menjadi sebab seseorang mendapatkan azab Allah Subhanahu wa Ta’ala.Inilah manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah pelaku dosa besar. Mereka menetapkan bahwa pelaku dosa besar dari umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih memiliki pokok keimanan, tetapi imannya berkurang karena kemaksiatan yang dilakukannya. Ia tidak dikafirkan hanya karena dosanya tersebut, namun juga tidak dikatakan memiliki iman yang sempurna.Jika ia meninggal dalam keadaan masih mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla dan selama tidak melakukan kesyirikan yang membatalkan keislamannya, maka keadaannya di akhirat berada di bawah kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Allah dapat mengampuninya dengan rahmat-Nya atau mengazabnya karena keadilan-Nya. Namun, apabila ia diazab oleh Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia tidak akan kekal di dalam neraka dan akan dimasukkan ke dalam surga pada saatnya. Inilah sikap pertengahan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang dibangun di atas dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunah.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 6***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 28–29.
Kelima, pelaku dosa besar dari orang-orang mukmin diazab karena dosanya, tetapi tidak kekal di nerakaDi antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menyikapi pelaku dosa besar, selama dosa tersebut bukan dosa syirik yang menyebabkan seseorang keluar dari Islam, adalah bahwa pelakunya masih dianggap sebagai seorang mukmin, meskipun keimanannya tidak sempurna. Ia tidak dianggap murtad dari agama Islam hanya karena melakukan dosa besar. Namun, Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga tidak menganggap bahwa dosa besar tidak berpengaruh terhadap keimanan seseorang.Dalam masalah ini, Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengambil sikap pertengahan atau tawassuth. Pelaku dosa besar tidak dikafirkan sebagaimana akidah Khawarij, tetapi juga tidak dianggap imannya sempurna sebagaimana akidah Murji’ah. Bagi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, ia masih dianggap memiliki iman, tetapi imannya berkurang karena kemaksiatan yang dilakukannya.Adapun mengenai keadaan pelaku dosa besar di akhirat, maka ia berada di bawah kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak, Dia dapat mengampuni dosa-dosanya dengan karunia dan rahmat-Nya. Namun, jika Allah ‘Azza wa Jalla berkehendak, Dia dapat mengazabnya di neraka disebabkan dosa-dosanya. Akan tetapi, apabila ia meninggal dalam keadaan masih memiliki iman dan tidak melakukan sesuatu yang membatalkan keislamannya, maka ia tidak kekal di dalam neraka. Artinya, ia akan dikeluarkan dari neraka jika dosa-dosanya telah dihapuskan dan dimasukkan ke dalam surga.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, sungguh ia telah berbuat dosa yang sangat besar.” (QS. An-Nisa’: 48)Ayat ini menunjukkan bahwa dosa selain syirik berada di bawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun dosa syirik yang dibawa sampai meninggal tanpa bertobat, maka Allah tidak akan mengampuninya. Sedangkan dosa-dosa selain syirik, termasuk dosa besar, maka pelakunya berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki, Dia akan mengampuninya atau mengazabnya sesuai dengan keadilan-Nya.Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah masih mengharapkan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi pelaku dosa besar yang masih memiliki iman. Mereka tidak terburu-buru mengkafirkan seorang muslim hanya karena ia terjatuh dalam dosa besar. Namun, mereka juga tidak meremehkan dosa tersebut atau menganggap bahwa dosa besar tidak memberikan pengaruh sama sekali terhadap imannya.Hal ini karena iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah bukan sekadar pengakuan di dalam hati saja. Iman itu mencakup keyakinan di dalam hati, ucapan dengan lisan, dan amalan dengan anggota badan. Iman dapat bertambah dengan ketaatan dan dapat berkurang karena kemaksiatan. Semakin banyak seseorang melakukan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka semakin kuat dan sempurna imannya. Sebaliknya, semakin seseorang terjerumus ke dalam kemaksiatan, maka semakin berkurang pula keimanannya.Dengan demikian, pelaku dosa besar masih disebut sebagai seorang mukmin dari sisi pondasi keimanannya, hanya tidak sempurna imannya. Kemaksiatan yang dilakukan tidak serta-merta menghilangkan seluruh keimanannya. Berbeda halnya apabila seseorang melakukan pembatal keislaman atau dosa yang menyebabkan kekufuran, maka hukum terhadapnya juga berbeda.Prinsip ini juga menunjukkan keadilan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menetapkan hukum terhadap seorang muslim. Mereka tidak berlebihan dalam mengkafirkan sesama orang muslim hanya karena dosa yang dilakukan sebagaimana akidah Khawarij. Namun, mereka juga tidak bersikap terlalu longgar dan bermudah-mudahan dengan mengatakan bahwa amal perbuatan sama sekali tidak berpengaruh terhadap iman sebagaimana akidah Murji’ah.Khawarij berpandangan bahwa pelaku dosa besar di bawah dosa syirik telah keluar dari iman dan dianggap telah kafir. Konsekuensinya adalah mereka mudah mengkafirkan kepada seorang muslim yang melakukan dosa besar. Bahkan, dalam sejarahnya, sikap ini menyebabkan mereka menghalalkan darah dan harta orang-orang mukmin yang mereka anggap telah kafir.Adapun Mu’tazilah menganggap pelaku dosa besar sebagai al-manzilah bainal manzilatain, yaitu ‘berada pada kedudukan di antara dua kedudukan’. Menurut mereka, pelaku dosa besar tidak disebut sebagai mukmin dan tidak pula disebut sebagai kafir ketika berada di dunia, tetapi ditempatkan pada posisi di antara keduanya. Namun, di  akhirat, pelaku dosa besar yang meninggal tanpa bertobat dianggap kekal di dalam neraka. Dengan kata lain, sebenarnya akidah Mu’tazilah sama halnya dengan Khawarij, hanya saja mereka tidak mau terus terang saja dalam mengkafirkan pelaku dosa besar.Sementara itu, Murji’ah berada pada sisi yang bermudah-mudahan. Mereka meremehkan pengaruh dosa besar terhadap iman. Mereka berpandangan bahwa maksiat tidak membahayakan iman sebagaimana ketaatan tidak memberikan pengaruh terhadap iman. Bahkan, bagi sebagian mereka, seorang pelaku dosa besar dianggap memiliki iman yang sempurna selama masih memiliki iman di dalam hatinya.Adapun Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka mengambil jalan pertengahan di antara kelompok-kelompok tersebut. Mereka menetapkan bahwa pelaku dosa besar tidak keluar dari Islam hanya karena dosa besarnya, selama dosa tersebut tidak termasuk kekufuran dan kesyirikan. Akan tetapi, mereka juga menetapkan bahwa dosa tersebut bisa mengurangi keimanan dan dapat menjadi sebab seseorang mendapatkan azab Allah Subhanahu wa Ta’ala.Inilah manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah pelaku dosa besar. Mereka menetapkan bahwa pelaku dosa besar dari umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih memiliki pokok keimanan, tetapi imannya berkurang karena kemaksiatan yang dilakukannya. Ia tidak dikafirkan hanya karena dosanya tersebut, namun juga tidak dikatakan memiliki iman yang sempurna.Jika ia meninggal dalam keadaan masih mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla dan selama tidak melakukan kesyirikan yang membatalkan keislamannya, maka keadaannya di akhirat berada di bawah kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Allah dapat mengampuninya dengan rahmat-Nya atau mengazabnya karena keadilan-Nya. Namun, apabila ia diazab oleh Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia tidak akan kekal di dalam neraka dan akan dimasukkan ke dalam surga pada saatnya. Inilah sikap pertengahan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang dibangun di atas dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunah.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 6***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 28–29.


Kelima, pelaku dosa besar dari orang-orang mukmin diazab karena dosanya, tetapi tidak kekal di nerakaDi antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menyikapi pelaku dosa besar, selama dosa tersebut bukan dosa syirik yang menyebabkan seseorang keluar dari Islam, adalah bahwa pelakunya masih dianggap sebagai seorang mukmin, meskipun keimanannya tidak sempurna. Ia tidak dianggap murtad dari agama Islam hanya karena melakukan dosa besar. Namun, Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga tidak menganggap bahwa dosa besar tidak berpengaruh terhadap keimanan seseorang.Dalam masalah ini, Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengambil sikap pertengahan atau tawassuth. Pelaku dosa besar tidak dikafirkan sebagaimana akidah Khawarij, tetapi juga tidak dianggap imannya sempurna sebagaimana akidah Murji’ah. Bagi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, ia masih dianggap memiliki iman, tetapi imannya berkurang karena kemaksiatan yang dilakukannya.Adapun mengenai keadaan pelaku dosa besar di akhirat, maka ia berada di bawah kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak, Dia dapat mengampuni dosa-dosanya dengan karunia dan rahmat-Nya. Namun, jika Allah ‘Azza wa Jalla berkehendak, Dia dapat mengazabnya di neraka disebabkan dosa-dosanya. Akan tetapi, apabila ia meninggal dalam keadaan masih memiliki iman dan tidak melakukan sesuatu yang membatalkan keislamannya, maka ia tidak kekal di dalam neraka. Artinya, ia akan dikeluarkan dari neraka jika dosa-dosanya telah dihapuskan dan dimasukkan ke dalam surga.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, sungguh ia telah berbuat dosa yang sangat besar.” (QS. An-Nisa’: 48)Ayat ini menunjukkan bahwa dosa selain syirik berada di bawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun dosa syirik yang dibawa sampai meninggal tanpa bertobat, maka Allah tidak akan mengampuninya. Sedangkan dosa-dosa selain syirik, termasuk dosa besar, maka pelakunya berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki, Dia akan mengampuninya atau mengazabnya sesuai dengan keadilan-Nya.Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah masih mengharapkan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi pelaku dosa besar yang masih memiliki iman. Mereka tidak terburu-buru mengkafirkan seorang muslim hanya karena ia terjatuh dalam dosa besar. Namun, mereka juga tidak meremehkan dosa tersebut atau menganggap bahwa dosa besar tidak memberikan pengaruh sama sekali terhadap imannya.Hal ini karena iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah bukan sekadar pengakuan di dalam hati saja. Iman itu mencakup keyakinan di dalam hati, ucapan dengan lisan, dan amalan dengan anggota badan. Iman dapat bertambah dengan ketaatan dan dapat berkurang karena kemaksiatan. Semakin banyak seseorang melakukan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka semakin kuat dan sempurna imannya. Sebaliknya, semakin seseorang terjerumus ke dalam kemaksiatan, maka semakin berkurang pula keimanannya.Dengan demikian, pelaku dosa besar masih disebut sebagai seorang mukmin dari sisi pondasi keimanannya, hanya tidak sempurna imannya. Kemaksiatan yang dilakukan tidak serta-merta menghilangkan seluruh keimanannya. Berbeda halnya apabila seseorang melakukan pembatal keislaman atau dosa yang menyebabkan kekufuran, maka hukum terhadapnya juga berbeda.Prinsip ini juga menunjukkan keadilan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menetapkan hukum terhadap seorang muslim. Mereka tidak berlebihan dalam mengkafirkan sesama orang muslim hanya karena dosa yang dilakukan sebagaimana akidah Khawarij. Namun, mereka juga tidak bersikap terlalu longgar dan bermudah-mudahan dengan mengatakan bahwa amal perbuatan sama sekali tidak berpengaruh terhadap iman sebagaimana akidah Murji’ah.Khawarij berpandangan bahwa pelaku dosa besar di bawah dosa syirik telah keluar dari iman dan dianggap telah kafir. Konsekuensinya adalah mereka mudah mengkafirkan kepada seorang muslim yang melakukan dosa besar. Bahkan, dalam sejarahnya, sikap ini menyebabkan mereka menghalalkan darah dan harta orang-orang mukmin yang mereka anggap telah kafir.Adapun Mu’tazilah menganggap pelaku dosa besar sebagai al-manzilah bainal manzilatain, yaitu ‘berada pada kedudukan di antara dua kedudukan’. Menurut mereka, pelaku dosa besar tidak disebut sebagai mukmin dan tidak pula disebut sebagai kafir ketika berada di dunia, tetapi ditempatkan pada posisi di antara keduanya. Namun, di  akhirat, pelaku dosa besar yang meninggal tanpa bertobat dianggap kekal di dalam neraka. Dengan kata lain, sebenarnya akidah Mu’tazilah sama halnya dengan Khawarij, hanya saja mereka tidak mau terus terang saja dalam mengkafirkan pelaku dosa besar.Sementara itu, Murji’ah berada pada sisi yang bermudah-mudahan. Mereka meremehkan pengaruh dosa besar terhadap iman. Mereka berpandangan bahwa maksiat tidak membahayakan iman sebagaimana ketaatan tidak memberikan pengaruh terhadap iman. Bahkan, bagi sebagian mereka, seorang pelaku dosa besar dianggap memiliki iman yang sempurna selama masih memiliki iman di dalam hatinya.Adapun Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka mengambil jalan pertengahan di antara kelompok-kelompok tersebut. Mereka menetapkan bahwa pelaku dosa besar tidak keluar dari Islam hanya karena dosa besarnya, selama dosa tersebut tidak termasuk kekufuran dan kesyirikan. Akan tetapi, mereka juga menetapkan bahwa dosa tersebut bisa mengurangi keimanan dan dapat menjadi sebab seseorang mendapatkan azab Allah Subhanahu wa Ta’ala.Inilah manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah pelaku dosa besar. Mereka menetapkan bahwa pelaku dosa besar dari umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih memiliki pokok keimanan, tetapi imannya berkurang karena kemaksiatan yang dilakukannya. Ia tidak dikafirkan hanya karena dosanya tersebut, namun juga tidak dikatakan memiliki iman yang sempurna.Jika ia meninggal dalam keadaan masih mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla dan selama tidak melakukan kesyirikan yang membatalkan keislamannya, maka keadaannya di akhirat berada di bawah kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Allah dapat mengampuninya dengan rahmat-Nya atau mengazabnya karena keadilan-Nya. Namun, apabila ia diazab oleh Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia tidak akan kekal di dalam neraka dan akan dimasukkan ke dalam surga pada saatnya. Inilah sikap pertengahan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang dibangun di atas dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunah.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 6***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 28–29.

“RAHASIA” MENYUSUL PARA ULAMA TERNYATA SEDERHANA – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Penanya berkata, “Bagaimana aku dapat menyusul para ulama besar, padahal aku mengikuti berbagai program ilmiah, tetapi tidak mampu terus mengikuti mereka?” Mereka meraihnya dengan kesungguhan, kerja keras, dan terus menempuh satu jalan. Dengan itulah mereka meraihnya. Dan engkau pun—insya Allah Ta’ala—akan dapat menyusul mereka. Para ulama bukanlah manusia yang datang dari Planet Mars, bukan pula malaikat yang Allah jadikan menggantikan manusia. Para ulama adalah manusia seperti kita. Maka engkau perlu menyadari bahwa engkau pun mampu. Jika engkau bersungguh-sungguh, tekun, dan menempuh jalan mereka, engkau akan menyusul mereka. Disebutkan dalam riwayat tentang Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah bahwa beliau pernah menasihati dan mengingatkan orang-orang. Lalu seseorang berkata kepadanya, “Wahai Abu Sa’id, sungguh engkau telah menceritakan suatu kaum yang menunggang kuda-kuda hitam legam nan kuat, sedangkan kami menunggang keledai-keledai pincang.” Maksudnya, “Sekarang engkau menceritakan kepada kami tentang para sahabat dan tokoh-tokoh besar dari kalangan tabiin. Mereka dahulu menunggang apa? Apa? Kuda-kuda hitam legam, yakni kuda-kuda yang kuat. Sedangkan kita setelah mereka berjalan dengan keledai-keledai pincang. Sudahlah keledai, pincang pula!” Maka Al-Hasan berkata, “Siapa yang menempuh jalan suatu kaum, niscaya akan menyusul mereka.” Siapa yang menempuh jalan para ulama dan mengikuti petunjuk mereka, akan sampai dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, aku berpesan kepada kalian agar bersungguh-sungguh meniti jalan para ulama, mengikuti mereka, dan mendengarkan nasihat-nasihat mereka. Dan aku memandang ini sebagai kesempatan untuk mengajak kalian mendengarkan sebuah kajian langka yang barangkali hanya sedikit di antara kalian pernah mendengarnya, yaitu kajian berjudul At-Ta’shil Al-‘Ilmi ‘indas Salaf Ash-Shalih (Peletakan Fondasi Keilmuan di Kalangan Salafus Salih), oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan. Kajian ini disampaikan oleh Syaikh pada 25 Zulhijah 1421 H, dan merupakan salah satu kajian terbaik dalam pembahasan ini. Seorang penuntut ilmu seyogianya mendengarkannya beberapa kali agar mendapatkan manfaat yang lebih besar dan memahami makna-makna yang terkandung di dalamnya. Dengan kajian itu, engkau akan mengetahui jalan para ulama, dan mengetahui bahwa selain jalan itu, segala sesuatu yang bermunculan dan dibuat tampak memukau akan sirna dan berlalu. Yang tetap bertahan hanyalah jalan ini, yaitu jalan yang telah mengantarkan banyak orang kepada kebaikan yang besar. ===== يَقُولُ: كَيْفَ أُدْرِكُ الْعُلَمَاءَ الْكِبَارَ مَعَ أَنِّي فِي بَرَامِجَ عِلْمِيَّةٍ لَا أَسْتَطِيعُ الْمُدَاوَمَةَ مَعَهُمْ؟ أَدْرَكُوا بِالْجِدِّ وَالِاجْتِهَادِ وَالسَّيْرِ عَلَى طَرِيقٍ وَاحِدٍ هَذَا يُدْرِكُونَ بِهِ وَتُدْرِكُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى تُدْرِكُ هُمْ لَيْسُوا بَشَرًا جَاءُوا مِنَ الْمِرِّيخِ وَلَا مَلَائِكَةً اسْتَخْلَفَهُمُ اللَّهُ دُونَ النَّاسِ هُمْ بَشَرٌ مِثْلُنَا فَيَنْبَغِي أَنْ تَعْرِفَ أَنَّكَ تَقْدِرُ إِذَا اجْتَهَدْتَ وَاعْتَنَيْتَ وَسِرْتَ بِسَيْرِهِمْ سَتَلْحَقُهُمْ وَفِي أَخْبَارِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ وَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا أَبَا سَعِيدٍ إِنَّكَ ذَكَرْتَ قَوْمًا مَضَوْا عَلَى خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ وَإِنَّنَا عَلَى حُمُرٍ عُرْجٍ يَعْنِي أَنْتَ الْآنَ تَذْكُرُ لَنَا الصَّحَابَةَ وَكِبَارَ التَّابِعِينَ وَهَؤُلَاءِ مَضَوْا عَلَى إِيش؟ عَلَى إِيش؟ عَلَى خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ يَعْنِي قَوِيَّةٍ وَنَحْنُ بَعْدَهُمْ نَمْشِي عَلَى حُمُرٍ عُرْجٍ يَعْنِي حَمِيرٌ وَأَيْضًا تَعْرُجُ فَقَالَ مَنْ سَارَ عَلَى طَرِيقِ الْقَوْمِ أَدْرَكَهُمْ الَّذِي يَسِيرُ عَلَى طَرِيقِ الْعُلَمَاءِ وَيَهْتَدِي بِهَدْيِهِمْ سَيَصِلُ بِإِذْنِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِذَلِكَ أَنَا أُوصِيكُمْ بِالْحِرْصِ بِالسَّيْرِ عَلَى مَسَالِكِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَاتِّبَاعِهِمْ وَالِاسْتِمَاعِ إِلَى نَصَائِحِهِمْ وَأَجِدُهَا فُرْصَةً لِلدَّعْوَةِ إِلَى سَمَاعِ مُحَاضَرَةٍ نَادِرَةٍ رُبَّمَا قَلَّ مَنْ سَمِعَهَا مِنْكُمْ وَهِيَ مُحَاضَرَةٌ بِعُنْوَانِ: التَّأْصِيلُ الْعِلْمِيُّ عِنْدَ السَّلَفِ الصَّالِحِ لِلشَّيْخِ صَالِحِ بْنِ فَوْزَانَ الْفَوْزَانِ وَهَذِهِ الْمُحَاضَرَةُ أَلْقَاهَا الشَّيْخُ يَوْمَ ٢٥/١٢/١٤٢١ هـ وَهِيَ مِنْ أَحْسَنِ الْمُحَاضَرَاتِ فِي هَذَا الْبَابِ وَيَنْبَغِي أَنْ يَسْمَعَهَا الطَّالِبُ عِدَّةَ مَرَّاتٍ لِمَزِيدِ نَفْعِهَا وَإِدْرَاكِ الْمَعَانِي الْمُضَمَّنَةِ فِيهَا وَبِهِ تَعْرِفُ طَرِيقَ الْعُلَمَاءِ وَأَنَّ غَيْرَ ذَلِكَ مِمَّا يَظْهَرُ وَيُبَهْرَجُ أَنَّهُ يَزُولُ وَيَذْهَبُ وَإِنَّمَا يَبْقَى هَذَا الطَّرِيقُ الَّذِي أَوْصَلَ مَنْ أَوْصَلَ مِنَ النَّاسِ إِلَى الْخَيْرِ الْكَثِيرِ

“RAHASIA” MENYUSUL PARA ULAMA TERNYATA SEDERHANA – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Penanya berkata, “Bagaimana aku dapat menyusul para ulama besar, padahal aku mengikuti berbagai program ilmiah, tetapi tidak mampu terus mengikuti mereka?” Mereka meraihnya dengan kesungguhan, kerja keras, dan terus menempuh satu jalan. Dengan itulah mereka meraihnya. Dan engkau pun—insya Allah Ta’ala—akan dapat menyusul mereka. Para ulama bukanlah manusia yang datang dari Planet Mars, bukan pula malaikat yang Allah jadikan menggantikan manusia. Para ulama adalah manusia seperti kita. Maka engkau perlu menyadari bahwa engkau pun mampu. Jika engkau bersungguh-sungguh, tekun, dan menempuh jalan mereka, engkau akan menyusul mereka. Disebutkan dalam riwayat tentang Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah bahwa beliau pernah menasihati dan mengingatkan orang-orang. Lalu seseorang berkata kepadanya, “Wahai Abu Sa’id, sungguh engkau telah menceritakan suatu kaum yang menunggang kuda-kuda hitam legam nan kuat, sedangkan kami menunggang keledai-keledai pincang.” Maksudnya, “Sekarang engkau menceritakan kepada kami tentang para sahabat dan tokoh-tokoh besar dari kalangan tabiin. Mereka dahulu menunggang apa? Apa? Kuda-kuda hitam legam, yakni kuda-kuda yang kuat. Sedangkan kita setelah mereka berjalan dengan keledai-keledai pincang. Sudahlah keledai, pincang pula!” Maka Al-Hasan berkata, “Siapa yang menempuh jalan suatu kaum, niscaya akan menyusul mereka.” Siapa yang menempuh jalan para ulama dan mengikuti petunjuk mereka, akan sampai dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, aku berpesan kepada kalian agar bersungguh-sungguh meniti jalan para ulama, mengikuti mereka, dan mendengarkan nasihat-nasihat mereka. Dan aku memandang ini sebagai kesempatan untuk mengajak kalian mendengarkan sebuah kajian langka yang barangkali hanya sedikit di antara kalian pernah mendengarnya, yaitu kajian berjudul At-Ta’shil Al-‘Ilmi ‘indas Salaf Ash-Shalih (Peletakan Fondasi Keilmuan di Kalangan Salafus Salih), oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan. Kajian ini disampaikan oleh Syaikh pada 25 Zulhijah 1421 H, dan merupakan salah satu kajian terbaik dalam pembahasan ini. Seorang penuntut ilmu seyogianya mendengarkannya beberapa kali agar mendapatkan manfaat yang lebih besar dan memahami makna-makna yang terkandung di dalamnya. Dengan kajian itu, engkau akan mengetahui jalan para ulama, dan mengetahui bahwa selain jalan itu, segala sesuatu yang bermunculan dan dibuat tampak memukau akan sirna dan berlalu. Yang tetap bertahan hanyalah jalan ini, yaitu jalan yang telah mengantarkan banyak orang kepada kebaikan yang besar. ===== يَقُولُ: كَيْفَ أُدْرِكُ الْعُلَمَاءَ الْكِبَارَ مَعَ أَنِّي فِي بَرَامِجَ عِلْمِيَّةٍ لَا أَسْتَطِيعُ الْمُدَاوَمَةَ مَعَهُمْ؟ أَدْرَكُوا بِالْجِدِّ وَالِاجْتِهَادِ وَالسَّيْرِ عَلَى طَرِيقٍ وَاحِدٍ هَذَا يُدْرِكُونَ بِهِ وَتُدْرِكُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى تُدْرِكُ هُمْ لَيْسُوا بَشَرًا جَاءُوا مِنَ الْمِرِّيخِ وَلَا مَلَائِكَةً اسْتَخْلَفَهُمُ اللَّهُ دُونَ النَّاسِ هُمْ بَشَرٌ مِثْلُنَا فَيَنْبَغِي أَنْ تَعْرِفَ أَنَّكَ تَقْدِرُ إِذَا اجْتَهَدْتَ وَاعْتَنَيْتَ وَسِرْتَ بِسَيْرِهِمْ سَتَلْحَقُهُمْ وَفِي أَخْبَارِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ وَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا أَبَا سَعِيدٍ إِنَّكَ ذَكَرْتَ قَوْمًا مَضَوْا عَلَى خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ وَإِنَّنَا عَلَى حُمُرٍ عُرْجٍ يَعْنِي أَنْتَ الْآنَ تَذْكُرُ لَنَا الصَّحَابَةَ وَكِبَارَ التَّابِعِينَ وَهَؤُلَاءِ مَضَوْا عَلَى إِيش؟ عَلَى إِيش؟ عَلَى خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ يَعْنِي قَوِيَّةٍ وَنَحْنُ بَعْدَهُمْ نَمْشِي عَلَى حُمُرٍ عُرْجٍ يَعْنِي حَمِيرٌ وَأَيْضًا تَعْرُجُ فَقَالَ مَنْ سَارَ عَلَى طَرِيقِ الْقَوْمِ أَدْرَكَهُمْ الَّذِي يَسِيرُ عَلَى طَرِيقِ الْعُلَمَاءِ وَيَهْتَدِي بِهَدْيِهِمْ سَيَصِلُ بِإِذْنِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِذَلِكَ أَنَا أُوصِيكُمْ بِالْحِرْصِ بِالسَّيْرِ عَلَى مَسَالِكِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَاتِّبَاعِهِمْ وَالِاسْتِمَاعِ إِلَى نَصَائِحِهِمْ وَأَجِدُهَا فُرْصَةً لِلدَّعْوَةِ إِلَى سَمَاعِ مُحَاضَرَةٍ نَادِرَةٍ رُبَّمَا قَلَّ مَنْ سَمِعَهَا مِنْكُمْ وَهِيَ مُحَاضَرَةٌ بِعُنْوَانِ: التَّأْصِيلُ الْعِلْمِيُّ عِنْدَ السَّلَفِ الصَّالِحِ لِلشَّيْخِ صَالِحِ بْنِ فَوْزَانَ الْفَوْزَانِ وَهَذِهِ الْمُحَاضَرَةُ أَلْقَاهَا الشَّيْخُ يَوْمَ ٢٥/١٢/١٤٢١ هـ وَهِيَ مِنْ أَحْسَنِ الْمُحَاضَرَاتِ فِي هَذَا الْبَابِ وَيَنْبَغِي أَنْ يَسْمَعَهَا الطَّالِبُ عِدَّةَ مَرَّاتٍ لِمَزِيدِ نَفْعِهَا وَإِدْرَاكِ الْمَعَانِي الْمُضَمَّنَةِ فِيهَا وَبِهِ تَعْرِفُ طَرِيقَ الْعُلَمَاءِ وَأَنَّ غَيْرَ ذَلِكَ مِمَّا يَظْهَرُ وَيُبَهْرَجُ أَنَّهُ يَزُولُ وَيَذْهَبُ وَإِنَّمَا يَبْقَى هَذَا الطَّرِيقُ الَّذِي أَوْصَلَ مَنْ أَوْصَلَ مِنَ النَّاسِ إِلَى الْخَيْرِ الْكَثِيرِ
Penanya berkata, “Bagaimana aku dapat menyusul para ulama besar, padahal aku mengikuti berbagai program ilmiah, tetapi tidak mampu terus mengikuti mereka?” Mereka meraihnya dengan kesungguhan, kerja keras, dan terus menempuh satu jalan. Dengan itulah mereka meraihnya. Dan engkau pun—insya Allah Ta’ala—akan dapat menyusul mereka. Para ulama bukanlah manusia yang datang dari Planet Mars, bukan pula malaikat yang Allah jadikan menggantikan manusia. Para ulama adalah manusia seperti kita. Maka engkau perlu menyadari bahwa engkau pun mampu. Jika engkau bersungguh-sungguh, tekun, dan menempuh jalan mereka, engkau akan menyusul mereka. Disebutkan dalam riwayat tentang Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah bahwa beliau pernah menasihati dan mengingatkan orang-orang. Lalu seseorang berkata kepadanya, “Wahai Abu Sa’id, sungguh engkau telah menceritakan suatu kaum yang menunggang kuda-kuda hitam legam nan kuat, sedangkan kami menunggang keledai-keledai pincang.” Maksudnya, “Sekarang engkau menceritakan kepada kami tentang para sahabat dan tokoh-tokoh besar dari kalangan tabiin. Mereka dahulu menunggang apa? Apa? Kuda-kuda hitam legam, yakni kuda-kuda yang kuat. Sedangkan kita setelah mereka berjalan dengan keledai-keledai pincang. Sudahlah keledai, pincang pula!” Maka Al-Hasan berkata, “Siapa yang menempuh jalan suatu kaum, niscaya akan menyusul mereka.” Siapa yang menempuh jalan para ulama dan mengikuti petunjuk mereka, akan sampai dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, aku berpesan kepada kalian agar bersungguh-sungguh meniti jalan para ulama, mengikuti mereka, dan mendengarkan nasihat-nasihat mereka. Dan aku memandang ini sebagai kesempatan untuk mengajak kalian mendengarkan sebuah kajian langka yang barangkali hanya sedikit di antara kalian pernah mendengarnya, yaitu kajian berjudul At-Ta’shil Al-‘Ilmi ‘indas Salaf Ash-Shalih (Peletakan Fondasi Keilmuan di Kalangan Salafus Salih), oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan. Kajian ini disampaikan oleh Syaikh pada 25 Zulhijah 1421 H, dan merupakan salah satu kajian terbaik dalam pembahasan ini. Seorang penuntut ilmu seyogianya mendengarkannya beberapa kali agar mendapatkan manfaat yang lebih besar dan memahami makna-makna yang terkandung di dalamnya. Dengan kajian itu, engkau akan mengetahui jalan para ulama, dan mengetahui bahwa selain jalan itu, segala sesuatu yang bermunculan dan dibuat tampak memukau akan sirna dan berlalu. Yang tetap bertahan hanyalah jalan ini, yaitu jalan yang telah mengantarkan banyak orang kepada kebaikan yang besar. ===== يَقُولُ: كَيْفَ أُدْرِكُ الْعُلَمَاءَ الْكِبَارَ مَعَ أَنِّي فِي بَرَامِجَ عِلْمِيَّةٍ لَا أَسْتَطِيعُ الْمُدَاوَمَةَ مَعَهُمْ؟ أَدْرَكُوا بِالْجِدِّ وَالِاجْتِهَادِ وَالسَّيْرِ عَلَى طَرِيقٍ وَاحِدٍ هَذَا يُدْرِكُونَ بِهِ وَتُدْرِكُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى تُدْرِكُ هُمْ لَيْسُوا بَشَرًا جَاءُوا مِنَ الْمِرِّيخِ وَلَا مَلَائِكَةً اسْتَخْلَفَهُمُ اللَّهُ دُونَ النَّاسِ هُمْ بَشَرٌ مِثْلُنَا فَيَنْبَغِي أَنْ تَعْرِفَ أَنَّكَ تَقْدِرُ إِذَا اجْتَهَدْتَ وَاعْتَنَيْتَ وَسِرْتَ بِسَيْرِهِمْ سَتَلْحَقُهُمْ وَفِي أَخْبَارِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ وَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا أَبَا سَعِيدٍ إِنَّكَ ذَكَرْتَ قَوْمًا مَضَوْا عَلَى خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ وَإِنَّنَا عَلَى حُمُرٍ عُرْجٍ يَعْنِي أَنْتَ الْآنَ تَذْكُرُ لَنَا الصَّحَابَةَ وَكِبَارَ التَّابِعِينَ وَهَؤُلَاءِ مَضَوْا عَلَى إِيش؟ عَلَى إِيش؟ عَلَى خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ يَعْنِي قَوِيَّةٍ وَنَحْنُ بَعْدَهُمْ نَمْشِي عَلَى حُمُرٍ عُرْجٍ يَعْنِي حَمِيرٌ وَأَيْضًا تَعْرُجُ فَقَالَ مَنْ سَارَ عَلَى طَرِيقِ الْقَوْمِ أَدْرَكَهُمْ الَّذِي يَسِيرُ عَلَى طَرِيقِ الْعُلَمَاءِ وَيَهْتَدِي بِهَدْيِهِمْ سَيَصِلُ بِإِذْنِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِذَلِكَ أَنَا أُوصِيكُمْ بِالْحِرْصِ بِالسَّيْرِ عَلَى مَسَالِكِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَاتِّبَاعِهِمْ وَالِاسْتِمَاعِ إِلَى نَصَائِحِهِمْ وَأَجِدُهَا فُرْصَةً لِلدَّعْوَةِ إِلَى سَمَاعِ مُحَاضَرَةٍ نَادِرَةٍ رُبَّمَا قَلَّ مَنْ سَمِعَهَا مِنْكُمْ وَهِيَ مُحَاضَرَةٌ بِعُنْوَانِ: التَّأْصِيلُ الْعِلْمِيُّ عِنْدَ السَّلَفِ الصَّالِحِ لِلشَّيْخِ صَالِحِ بْنِ فَوْزَانَ الْفَوْزَانِ وَهَذِهِ الْمُحَاضَرَةُ أَلْقَاهَا الشَّيْخُ يَوْمَ ٢٥/١٢/١٤٢١ هـ وَهِيَ مِنْ أَحْسَنِ الْمُحَاضَرَاتِ فِي هَذَا الْبَابِ وَيَنْبَغِي أَنْ يَسْمَعَهَا الطَّالِبُ عِدَّةَ مَرَّاتٍ لِمَزِيدِ نَفْعِهَا وَإِدْرَاكِ الْمَعَانِي الْمُضَمَّنَةِ فِيهَا وَبِهِ تَعْرِفُ طَرِيقَ الْعُلَمَاءِ وَأَنَّ غَيْرَ ذَلِكَ مِمَّا يَظْهَرُ وَيُبَهْرَجُ أَنَّهُ يَزُولُ وَيَذْهَبُ وَإِنَّمَا يَبْقَى هَذَا الطَّرِيقُ الَّذِي أَوْصَلَ مَنْ أَوْصَلَ مِنَ النَّاسِ إِلَى الْخَيْرِ الْكَثِيرِ


Penanya berkata, “Bagaimana aku dapat menyusul para ulama besar, padahal aku mengikuti berbagai program ilmiah, tetapi tidak mampu terus mengikuti mereka?” Mereka meraihnya dengan kesungguhan, kerja keras, dan terus menempuh satu jalan. Dengan itulah mereka meraihnya. Dan engkau pun—insya Allah Ta’ala—akan dapat menyusul mereka. Para ulama bukanlah manusia yang datang dari Planet Mars, bukan pula malaikat yang Allah jadikan menggantikan manusia. Para ulama adalah manusia seperti kita. Maka engkau perlu menyadari bahwa engkau pun mampu. Jika engkau bersungguh-sungguh, tekun, dan menempuh jalan mereka, engkau akan menyusul mereka. Disebutkan dalam riwayat tentang Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah bahwa beliau pernah menasihati dan mengingatkan orang-orang. Lalu seseorang berkata kepadanya, “Wahai Abu Sa’id, sungguh engkau telah menceritakan suatu kaum yang menunggang kuda-kuda hitam legam nan kuat, sedangkan kami menunggang keledai-keledai pincang.” Maksudnya, “Sekarang engkau menceritakan kepada kami tentang para sahabat dan tokoh-tokoh besar dari kalangan tabiin. Mereka dahulu menunggang apa? Apa? Kuda-kuda hitam legam, yakni kuda-kuda yang kuat. Sedangkan kita setelah mereka berjalan dengan keledai-keledai pincang. Sudahlah keledai, pincang pula!” Maka Al-Hasan berkata, “Siapa yang menempuh jalan suatu kaum, niscaya akan menyusul mereka.” Siapa yang menempuh jalan para ulama dan mengikuti petunjuk mereka, akan sampai dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, aku berpesan kepada kalian agar bersungguh-sungguh meniti jalan para ulama, mengikuti mereka, dan mendengarkan nasihat-nasihat mereka. Dan aku memandang ini sebagai kesempatan untuk mengajak kalian mendengarkan sebuah kajian langka yang barangkali hanya sedikit di antara kalian pernah mendengarnya, yaitu kajian berjudul At-Ta’shil Al-‘Ilmi ‘indas Salaf Ash-Shalih (Peletakan Fondasi Keilmuan di Kalangan Salafus Salih), oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan. Kajian ini disampaikan oleh Syaikh pada 25 Zulhijah 1421 H, dan merupakan salah satu kajian terbaik dalam pembahasan ini. Seorang penuntut ilmu seyogianya mendengarkannya beberapa kali agar mendapatkan manfaat yang lebih besar dan memahami makna-makna yang terkandung di dalamnya. Dengan kajian itu, engkau akan mengetahui jalan para ulama, dan mengetahui bahwa selain jalan itu, segala sesuatu yang bermunculan dan dibuat tampak memukau akan sirna dan berlalu. Yang tetap bertahan hanyalah jalan ini, yaitu jalan yang telah mengantarkan banyak orang kepada kebaikan yang besar. ===== يَقُولُ: كَيْفَ أُدْرِكُ الْعُلَمَاءَ الْكِبَارَ مَعَ أَنِّي فِي بَرَامِجَ عِلْمِيَّةٍ لَا أَسْتَطِيعُ الْمُدَاوَمَةَ مَعَهُمْ؟ أَدْرَكُوا بِالْجِدِّ وَالِاجْتِهَادِ وَالسَّيْرِ عَلَى طَرِيقٍ وَاحِدٍ هَذَا يُدْرِكُونَ بِهِ وَتُدْرِكُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى تُدْرِكُ هُمْ لَيْسُوا بَشَرًا جَاءُوا مِنَ الْمِرِّيخِ وَلَا مَلَائِكَةً اسْتَخْلَفَهُمُ اللَّهُ دُونَ النَّاسِ هُمْ بَشَرٌ مِثْلُنَا فَيَنْبَغِي أَنْ تَعْرِفَ أَنَّكَ تَقْدِرُ إِذَا اجْتَهَدْتَ وَاعْتَنَيْتَ وَسِرْتَ بِسَيْرِهِمْ سَتَلْحَقُهُمْ وَفِي أَخْبَارِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ وَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا أَبَا سَعِيدٍ إِنَّكَ ذَكَرْتَ قَوْمًا مَضَوْا عَلَى خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ وَإِنَّنَا عَلَى حُمُرٍ عُرْجٍ يَعْنِي أَنْتَ الْآنَ تَذْكُرُ لَنَا الصَّحَابَةَ وَكِبَارَ التَّابِعِينَ وَهَؤُلَاءِ مَضَوْا عَلَى إِيش؟ عَلَى إِيش؟ عَلَى خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ يَعْنِي قَوِيَّةٍ وَنَحْنُ بَعْدَهُمْ نَمْشِي عَلَى حُمُرٍ عُرْجٍ يَعْنِي حَمِيرٌ وَأَيْضًا تَعْرُجُ فَقَالَ مَنْ سَارَ عَلَى طَرِيقِ الْقَوْمِ أَدْرَكَهُمْ الَّذِي يَسِيرُ عَلَى طَرِيقِ الْعُلَمَاءِ وَيَهْتَدِي بِهَدْيِهِمْ سَيَصِلُ بِإِذْنِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِذَلِكَ أَنَا أُوصِيكُمْ بِالْحِرْصِ بِالسَّيْرِ عَلَى مَسَالِكِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَاتِّبَاعِهِمْ وَالِاسْتِمَاعِ إِلَى نَصَائِحِهِمْ وَأَجِدُهَا فُرْصَةً لِلدَّعْوَةِ إِلَى سَمَاعِ مُحَاضَرَةٍ نَادِرَةٍ رُبَّمَا قَلَّ مَنْ سَمِعَهَا مِنْكُمْ وَهِيَ مُحَاضَرَةٌ بِعُنْوَانِ: التَّأْصِيلُ الْعِلْمِيُّ عِنْدَ السَّلَفِ الصَّالِحِ لِلشَّيْخِ صَالِحِ بْنِ فَوْزَانَ الْفَوْزَانِ وَهَذِهِ الْمُحَاضَرَةُ أَلْقَاهَا الشَّيْخُ يَوْمَ ٢٥/١٢/١٤٢١ هـ وَهِيَ مِنْ أَحْسَنِ الْمُحَاضَرَاتِ فِي هَذَا الْبَابِ وَيَنْبَغِي أَنْ يَسْمَعَهَا الطَّالِبُ عِدَّةَ مَرَّاتٍ لِمَزِيدِ نَفْعِهَا وَإِدْرَاكِ الْمَعَانِي الْمُضَمَّنَةِ فِيهَا وَبِهِ تَعْرِفُ طَرِيقَ الْعُلَمَاءِ وَأَنَّ غَيْرَ ذَلِكَ مِمَّا يَظْهَرُ وَيُبَهْرَجُ أَنَّهُ يَزُولُ وَيَذْهَبُ وَإِنَّمَا يَبْقَى هَذَا الطَّرِيقُ الَّذِي أَوْصَلَ مَنْ أَوْصَلَ مِنَ النَّاسِ إِلَى الْخَيْرِ الْكَثِيرِ

Hukum Menahan Buang Air saat Sedang Salat

Pertanyaan: Apakah orang yang menahan kentut, buang air besar, atau buang air kecil saat salat dapat membatalkan salatnya? Sebagai informasi, orang tersebut sebelum salat tidak merasakan itu semua, tapi baru merasakannya saat sudah di dalam salat. Apakah berlaku padanya hadis: “Tidak ada salat bagi orang yang menahan buang air besar atau kecil.” Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Selawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah dan kepada keluarga serta para sahabat beliau, amma ba’du. Disebutkan dalam Sahih Muslim bahwa Nabi ṣallallāhu ’alaihi wa sallam bersabda, لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ طَعَامٍ، وَلَا هُوَ يُدَافِعُ الْأَخْبَثَانِ “Tidak ada salat ketika makanan telah dihidangkan, dan tidak pula ketika seseorang menahan dua hal yang buruk (yaitu menahan buang air kecil dan buang air besar).” (HR. Muslim) Yang dimaksud dengan dua hal yang buruk adalah buang air kecil dan besar, dan masuk dalam cakupan maknanya juga segala hal yang dapat mengganggu fokus dan menafikan kesempurnaan khusyuk, seperti menahan kentut. Mayoritas ulama telah menetapkan—berdasarkan hadis di atas—makruhnya memulai salat bagi orang yang sedang menahan buang air kecil dan besar serta hal-hal yang semisalnya. Namun, jika ia melaksanakan salat dalam keadaan itu, salatnya tetap sah. Para ulama menafsirkan penafian yang ada dalam hadis tersebut sebagai penafian kesempurnaan salat, bukan penafian kesahihan salat, dengan dalil ijmak sahnya salat dari orang yang makanannya telah dihidangkan, asalkan dia menyempurnakan seluruh rukun dan kewajiban dalam salat. Demikian juga orang yang menahan buang air kecil dan besar apabila dia menyempurnakan rukun-rukun dan wajib-wajib salat tersebut. Adapun orang yang baru merasakan ingin buang air kecil atau besar saat sudah masuk ke dalam salat, maka tidak mengapa baginya untuk menahannya; sebagaimana kondisi yang terjadi pada Anda (penanya). Dengan demikian, salat Anda tetap sah, insyaallah, tanpa dimakruhkan; dan kondisi Anda itu tidak termasuk dalam cakupan hadis tersebut. Wallahu A’lam. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/8836/حكم-من-طرأ-عليه-مدافعة-الأخبثين-أثناء-الصلاة PDF Sumber Artikel 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 81 times, 17 visit(s) today Post Views: 6

Hukum Menahan Buang Air saat Sedang Salat

Pertanyaan: Apakah orang yang menahan kentut, buang air besar, atau buang air kecil saat salat dapat membatalkan salatnya? Sebagai informasi, orang tersebut sebelum salat tidak merasakan itu semua, tapi baru merasakannya saat sudah di dalam salat. Apakah berlaku padanya hadis: “Tidak ada salat bagi orang yang menahan buang air besar atau kecil.” Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Selawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah dan kepada keluarga serta para sahabat beliau, amma ba’du. Disebutkan dalam Sahih Muslim bahwa Nabi ṣallallāhu ’alaihi wa sallam bersabda, لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ طَعَامٍ، وَلَا هُوَ يُدَافِعُ الْأَخْبَثَانِ “Tidak ada salat ketika makanan telah dihidangkan, dan tidak pula ketika seseorang menahan dua hal yang buruk (yaitu menahan buang air kecil dan buang air besar).” (HR. Muslim) Yang dimaksud dengan dua hal yang buruk adalah buang air kecil dan besar, dan masuk dalam cakupan maknanya juga segala hal yang dapat mengganggu fokus dan menafikan kesempurnaan khusyuk, seperti menahan kentut. Mayoritas ulama telah menetapkan—berdasarkan hadis di atas—makruhnya memulai salat bagi orang yang sedang menahan buang air kecil dan besar serta hal-hal yang semisalnya. Namun, jika ia melaksanakan salat dalam keadaan itu, salatnya tetap sah. Para ulama menafsirkan penafian yang ada dalam hadis tersebut sebagai penafian kesempurnaan salat, bukan penafian kesahihan salat, dengan dalil ijmak sahnya salat dari orang yang makanannya telah dihidangkan, asalkan dia menyempurnakan seluruh rukun dan kewajiban dalam salat. Demikian juga orang yang menahan buang air kecil dan besar apabila dia menyempurnakan rukun-rukun dan wajib-wajib salat tersebut. Adapun orang yang baru merasakan ingin buang air kecil atau besar saat sudah masuk ke dalam salat, maka tidak mengapa baginya untuk menahannya; sebagaimana kondisi yang terjadi pada Anda (penanya). Dengan demikian, salat Anda tetap sah, insyaallah, tanpa dimakruhkan; dan kondisi Anda itu tidak termasuk dalam cakupan hadis tersebut. Wallahu A’lam. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/8836/حكم-من-طرأ-عليه-مدافعة-الأخبثين-أثناء-الصلاة PDF Sumber Artikel 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 81 times, 17 visit(s) today Post Views: 6
Pertanyaan: Apakah orang yang menahan kentut, buang air besar, atau buang air kecil saat salat dapat membatalkan salatnya? Sebagai informasi, orang tersebut sebelum salat tidak merasakan itu semua, tapi baru merasakannya saat sudah di dalam salat. Apakah berlaku padanya hadis: “Tidak ada salat bagi orang yang menahan buang air besar atau kecil.” Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Selawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah dan kepada keluarga serta para sahabat beliau, amma ba’du. Disebutkan dalam Sahih Muslim bahwa Nabi ṣallallāhu ’alaihi wa sallam bersabda, لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ طَعَامٍ، وَلَا هُوَ يُدَافِعُ الْأَخْبَثَانِ “Tidak ada salat ketika makanan telah dihidangkan, dan tidak pula ketika seseorang menahan dua hal yang buruk (yaitu menahan buang air kecil dan buang air besar).” (HR. Muslim) Yang dimaksud dengan dua hal yang buruk adalah buang air kecil dan besar, dan masuk dalam cakupan maknanya juga segala hal yang dapat mengganggu fokus dan menafikan kesempurnaan khusyuk, seperti menahan kentut. Mayoritas ulama telah menetapkan—berdasarkan hadis di atas—makruhnya memulai salat bagi orang yang sedang menahan buang air kecil dan besar serta hal-hal yang semisalnya. Namun, jika ia melaksanakan salat dalam keadaan itu, salatnya tetap sah. Para ulama menafsirkan penafian yang ada dalam hadis tersebut sebagai penafian kesempurnaan salat, bukan penafian kesahihan salat, dengan dalil ijmak sahnya salat dari orang yang makanannya telah dihidangkan, asalkan dia menyempurnakan seluruh rukun dan kewajiban dalam salat. Demikian juga orang yang menahan buang air kecil dan besar apabila dia menyempurnakan rukun-rukun dan wajib-wajib salat tersebut. Adapun orang yang baru merasakan ingin buang air kecil atau besar saat sudah masuk ke dalam salat, maka tidak mengapa baginya untuk menahannya; sebagaimana kondisi yang terjadi pada Anda (penanya). Dengan demikian, salat Anda tetap sah, insyaallah, tanpa dimakruhkan; dan kondisi Anda itu tidak termasuk dalam cakupan hadis tersebut. Wallahu A’lam. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/8836/حكم-من-طرأ-عليه-مدافعة-الأخبثين-أثناء-الصلاة PDF Sumber Artikel 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 81 times, 17 visit(s) today Post Views: 6


Pertanyaan: Apakah orang yang menahan kentut, buang air besar, atau buang air kecil saat salat dapat membatalkan salatnya? Sebagai informasi, orang tersebut sebelum salat tidak merasakan itu semua, tapi baru merasakannya saat sudah di dalam salat. Apakah berlaku padanya hadis: “Tidak ada salat bagi orang yang menahan buang air besar atau kecil.” Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Selawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah dan kepada keluarga serta para sahabat beliau, amma ba’du. Disebutkan dalam Sahih Muslim bahwa Nabi ṣallallāhu ’alaihi wa sallam bersabda, لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ طَعَامٍ، وَلَا هُوَ يُدَافِعُ الْأَخْبَثَانِ “Tidak ada salat ketika makanan telah dihidangkan, dan tidak pula ketika seseorang menahan dua hal yang buruk (yaitu menahan buang air kecil dan buang air besar).” (HR. Muslim) Yang dimaksud dengan dua hal yang buruk adalah buang air kecil dan besar, dan masuk dalam cakupan maknanya juga segala hal yang dapat mengganggu fokus dan menafikan kesempurnaan khusyuk, seperti menahan kentut. Mayoritas ulama telah menetapkan—berdasarkan hadis di atas—makruhnya memulai salat bagi orang yang sedang menahan buang air kecil dan besar serta hal-hal yang semisalnya. Namun, jika ia melaksanakan salat dalam keadaan itu, salatnya tetap sah. Para ulama menafsirkan penafian yang ada dalam hadis tersebut sebagai penafian kesempurnaan salat, bukan penafian kesahihan salat, dengan dalil ijmak sahnya salat dari orang yang makanannya telah dihidangkan, asalkan dia menyempurnakan seluruh rukun dan kewajiban dalam salat. Demikian juga orang yang menahan buang air kecil dan besar apabila dia menyempurnakan rukun-rukun dan wajib-wajib salat tersebut. Adapun orang yang baru merasakan ingin buang air kecil atau besar saat sudah masuk ke dalam salat, maka tidak mengapa baginya untuk menahannya; sebagaimana kondisi yang terjadi pada Anda (penanya). Dengan demikian, salat Anda tetap sah, insyaallah, tanpa dimakruhkan; dan kondisi Anda itu tidak termasuk dalam cakupan hadis tersebut. Wallahu A’lam. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/8836/حكم-من-طرأ-عليه-مدافعة-الأخبثين-أثناء-الصلاة PDF Sumber Artikel 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 81 times, 17 visit(s) today Post Views: 6

Muslim dan Kebiasaan Membaca

Daftar Isi ToggleKebiasaan yang perlu dibangunMuslim dan prioritas membacaLantas, apa yang Seharusnya Dibaca?Al-Qur’anHadis Nabi ﷺKitab-kitab ulama ahlus sunahBuku-buku bermanfaat di luar kitab keislamanMemulai kebiasaan membacaBismillah. Segala puji bagi Allah Ta’ala, salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah mengajarkan kita -melalui petunjuk Rabb-nya- prinsip-prinsip kehidupan untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Di antara ajaran mulia tersebut adalah anjuran untuk mempunyai kebiasaan ‘membaca’.Saudaraku, Allah mentakdirkan kita hidup di era di mana informasi mengalir deras tanpa henti. Fenomena yang dulu terlihat aneh dan sangat jarang terlihat, tapi kini menjadi kenyataan yang biasa kita saksikan; ponsel yang selalu di genggaman, notifikasi datang silih berganti, video pendek menghibur dalam hitungan detik, dan media sosial menyajikan ribuan konten setiap harinya. Di tengah semua itu, banyak orang mengeluh, “Saya tidak punya waktu untuk membaca.”Padahal, jika dihitung dengan jujur, berapa jam yang kita habiskan setiap hari untuk menggulir layar ponsel? Lima menit di sini, sepuluh menit di sana—lama-kelamaan menjadi berjam-jam. Lalu, mampukah kita menjawab pertanyaan ini:Jika kita memiliki waktu untuk membuka ponsel setiap hari, mengapa kita merasa tidak memiliki waktu untuk membaca? Sebuah pertanyaan tentang makna dari kata “prioritas”, tentang apa yang kita anggap penting dan apa yang kita korbankan. Saudaraku, kita ketahui bahwa wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah perintah untuk membaca. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)Perintah membaca ini merupakan fondasi peradaban karena mambaca adalah jendela dunia bagi setiap insan yang sebelumnya tidak tahu menjadi mengerti. Membaca juga adalah gerbang ilmu, dan ilmu adalah jalan menuju pengenalan kepada Allah Ta’ala (ma’rifatullah). Oleh karenanya, aktivitas membaca, di samping sebagai aktivitas intelektual kita sebagai seorang muslim, dengannya juga bisa jadikan sarana untuk ibadah dalam rangka upaya mendekatkan diri kepada-Nya.Namun, hanya memiliki kebiasaan membaca saja, tentunya tidaklah cukup. Kita juga harus mengetahui apa yang paling layak dibaca dan bagaimana menyusun prioritas bacaan. Sebab, tidak semua bacaan itu setara. Tidak semua buku yang populer layak menjadi prioritas. Dan membaca yang banyak, tanpa arah yang benar, tidak otomatis mendatangkan banyak ilmu yang bermanfaat.Kebiasaan yang perlu dibangunKita membaca berarti kita sedang mencerna informasi tertulis untuk memperoleh makna dan pengetahuan. Secara ilmiah, membaca melatih otak untuk berpikir kritis, memperluas wawasan, dan meningkatkan kemampuan analisis. Membaca secara teratur juga terbukti meningkatkan empati, kemampuan komunikasi, dan daya ingat. Namun, kebiasaan membaca tidak tumbuh dengan sendirinya. Akan tetapi, kebiasaan perlu dilatih, dibangun, dan dijaga.Data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022—yang masih menjadi rujukan terbaru—mencatat skor literasi membaca Indonesia di angka 359, turun dari 371 (2018), dengan peringkat ke-68 dari 81 negara. Hanya 25% siswa yang mencapai literasi dasar. Perlu dibedakan dengan kebiasaan membaca. Data terbaru Perpusnas/BPS (2025) mencatat Indeks Kegemaran Membaca (TGM) di angka 54,80 (kategori sedang), sedangkan Indeks Pembangunan Literasi (IPLM) hanya 40,6 (kategori rendah). Angka UNESCO 0,001% kerap dikutip, tetapi nilainya diperdebatkan dan perlu dicermati.Rata-rata masyarakat hanya membaca 6 buku/tahun dengan durasi 129 jam, dan hanya 20,7% yang membaca setiap hari. Kecepatan baca kita pun masih tertinggal (270 kata/menit vs. rata-rata global 450). Fakta ini menunjukkan budaya baca kita masih perlu digalakkan, terutama di tengah gempuran konten digital instan yang tidak membangun pemahaman mendalam.Apa pun angka yang kita pegang, satu hal yang jelas bahwa budaya membaca di Indonesia masih perlu terus dibangun. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan untuk memilah dan memahami informasi justru belum berkembang seiring berjalannya waktu. Masyarakat lebih banyak mengonsumsi konten pendek, media sosial, dan informasi instan. Hasilnya, kita menjadi konsumen informasi yang pasif, bukan pembelajar yang aktif. Di sinilah peran membaca yang serius dan terarah menjadi penting. Bukan sekadar membaca apa pun yang muncul di linimasa, tetapi membaca dengan kesadaran dan tujuan.Muslim dan prioritas membacaIslam adalah agama yang sangat menghargai ilmu. Janji Allah kepada penuntut ilmu amatlah mulia, yaitu surga yang dimudahkan bagi penuntutnya. Dan ilmu itu diperoleh salah satunya dengan membaca. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)Ilmu itu bertingkat-tingkat. Ada ilmu yang wajib dipelajari, ada yang sunah, dan ada yang mubah. Memahami hal itu, maka tentu jika kita membaca tanpa prioritas yang benar bisa membuat seseorang sibuk dengan hal-hal yang kurang bermanfaat dan cenderung mengabaikan yang lebih penting. Prinsip dasar yang perlu kita pegang adalah bahwa prioritas pertama dalam menuntut ilmu adalah mempelajari Al-Qur’an, kemudian hadis Nabi ﷺ karena hadis merupakan penjelas bagi Al-Qur’an.Perlu pula kita pahami, banyak membaca tidak otomatis berarti banyak ilmu. Seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam membaca buku, tetapi jika yang dibaca adalah hal-hal yang tidak meningkatkan keimanan, tidak memperbaiki akhlak, dan tidak menambah pemahaman tentang agama, maka ia telah kehilangan banyak kesempatan untuk meraih kebaikan yang lebih besar. Oleh karenanya, seorang Muslim perlu menyusun prioritas bacaannya dengan bijak, dimulai dari yang paling utama, secara bertahap, dan sesuai dengan tingkat kemampuan serta bimbingan guru yang terpercaya.Baca juga: Ingin Betah Membaca Al-Qur’an? Tadabur KuncinyaLantas, apa yang Seharusnya Dibaca?Al-Qur’an Tidak ada bacaan yang lebih utama bagi seorang Muslim selain Al-Qur’an. Firman Allah Ta’ala yang diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang mendatangkan pahala berlimpah sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ: {الم} حَرْفٌ، وَلَكِنْ: أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi, dalam Sunan-nya no. 2910, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya, Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, tentang keutamaan dan kedudukan Al-Qur’an,الْقُرْآنُ هُوَ الشِّفَاءُ التَّامُّ مِنْ جَمِيعِ الْأَدْوَاءِ الْقَلْبِيَّةِ وَالْبَدَنِيَّةِ، وَأَدْوَاءِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَا كُلُّ أَحَدٍ يُؤَهَّلُ وَلَا يُوَفَّقُ لِلِاسْتِشْفَاءِ بِهِ“Al-Qur’an adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, serta penyakit dunia dan akhirat. Tidak semua orang diberi kemampuan dan taufik untuk berobat dengannya.”Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan bahwa di antara manusia terdapat empat tingkatan dalam hubungannya dengan Al-Qur’an dan keimanan. Beliau menyebutkan bahwa orang yang diberikan anugerah untuk men-tadabburi (merenungkan) Al-Qur’an tentu lebih utama daripada orang yang diberi anugerah banyak dan cepat dalam membaca Al-Qur’an, padahal tidak disertai perenungan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab yang sama,وَأَنَّ مَنْ أُعْطِيَ التَّدَبُّرَ فِي الْقُرْآنِ أَفْضَلُ مِمَّنْ أُعْطِيَ كَثْرَةَ الْقِرَاءَةِ وَسُرْعَتَهَا بِغَيْرِ تَدَبُّرٍ“Siapa yang diberikan anugerah untuk merenungkan (mentadabburi) Al-Qur’an, maka ia lebih utama daripada orang yang diberi anugerah banyak dan cepat dalam membaca Al-Qur’an tanpa disertai perenungan.”Setiap Muslim hendaknya memiliki waktu khusus setiap hari untuk membaca Al-Qur’an. Bisa setelah Subuh, bisa di malam hari, atau di waktu-waktu lain yang memungkinkan. Yang terpenting adalah konsistensinya, pun dengan niat memperbanyak kuantitas bacaannya juga merupakan hal yang baik untuk dipertahankan.Kita bisa memulainya dengan memperbaiki kemampuan dalam membaca Al-quran, benar makharijul huruf dan tajwidnya. Sembari menghapal ayat-ayat pendek, dan menambah hapalan sedikit demi sedikit. Dalam waktu bersamaan juga secara pelan-pelan juga mempelajari tafsirnya. Dan yang paling penting adalah komitmen -dengan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan – untuk menerapkan setiap perintah-perintah Allah di dalamnya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.Pastikan Anda memiliki Al-Qur’an fisik, juga digital. Letakkan di tempat-tempat yang mudah dijangkau. Bila perlu, miliki lebih dari satu beserta terjemahan. Al-Qur’an digital juga sebaiknya diletakkan di layar utama, dimana saat membuka hp, yang Anda lihat pertama kali adalah app Al-Qur’an dan bertekadlah untuk senantiasa membukanya. Minimal membaca setengah lembar tiap kali membukanya. Gabut saat membuka hp, bukalah app Al-Qur’an terlebih dahulu dari app lainnya.Hadis Nabi ﷺSetelah Al-Qur’an, bacaan yang paling penting adalah hadis Nabi ﷺ. Hadis menjadi penjelas dan penerapan praktis dari ajaran Al-Qur’an. Akan menjadi tidak utuh jika kita memahami Al-Qur’an tapi mengesamping mempelajari hadis dengan benar.Mungkin dulu, sebelum begitu canggihnya teknologi, kita mengeluh betapa rumitnya mengakses kitab-kitab hadis. Tapi, saat ini, hampir semuanya bisa diakses dengan mudah. Bahkan hanya dalam genggaman, semua kitab-kitab hadis bisa kita peroleh. Hanya dengan menyimpan sebuat situs seperti https://shamela.ws/ ribuan referensi hadis kita bisa peroleh.Apabila dibandingkan dengan para salafus saleh terdahulu, betapa sulitnya mereka untuk memperoleh hadis-hadis. Harus melalui perjalanan panjang bahkan berbulan-bulan baru mendapatkan hadis dengan segala halangan dan rintangannya. Sementara kini, cukup dengan tekad untuk mempelajari agama ini dengan benar kemudian berikhtiar dengan mencari informasi sumber-sumber hadis sahih dengan menghadiri majelis-majelis kajian hadis, memiliki kitab-kitab hadis dengan harga terjangkau, hingga mengaksesnya melalui internet.Allah Ta’ala berfirman,وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)Untuk pembaca awam, ada beberapa kitab hadis yang sangat dianjurkan, di antaranya:Riyadhus Shalihin, karya Imam An-Nawawi — kumpulan hadis tentang adab, akhlak, dan ibadah yang sangat cocok untuk pemula.Al-Arba’in An-Nawawiyyah, (40 Hadis Nawawi) — juga karya Imam An-Nawawi, menghimpun hadis-hadis pokok dalam Islam.Umdatul Ahkam karya Abdul Ghani Al-Maqdisi — kumpulan hadis tentang hukum fikih.Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani — kitab hadis hukum yang lebih luas.Untuk tingkat lanjut, Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah rujukan utama setelah Al-Qur’an.Tentu saja, daftar ini bukan berarti seseorang harus langsung membaca semuanya. Pilihlah sesuai tingkat kemampuan dan, yang terpenting, dengan bimbingan guru yang terpercaya. Membaca kitab hadis tanpa pemahaman yang benar dari para ulama bisa menimbulkan kesalahan pemahaman.Kitab-kitab ulama ahlus sunah Setelah Al-Qur’an dan hadis, seorang Muslim perlu membaca kitab-kitab ulama yang menjelaskan keduanya. Prioritaskan kitab-kitab yang membangun fondasi agama: tauhid, akidah, ibadah, fikih, adab dan akhlak, tazkiyatun nafs, tafsir, dan hadis. Berikut adalah rekomendasi kitab secara bertahap:Tingkat pemula:Al-Ushul Ats-Tsalatsah (Tiga Landasan Utama) — Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.Al-Qawa’idul Arba’ (Empat Kaidah) — Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.Al-Adab Al-Mufrad — Imam Al-Bukhari (dengan penjelasan ulama).Riyadhus Shalihin — Imam An-Nawawi.Al-Arba’in An-Nawawiyyah — Imam An-Nawawi.Tingkat menengah:Kitab At-Tauhid — Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.Umdatul Ahkam — Abdul Ghani Al-Maqdisi.Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani.Aqidah Al-Wasithiyyah — Syekhul Islam Ibnu Taimiyah.Taisir Al-Karimir Rahman — Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.Tingkat lebih lanjut:Tafsir Ibnu KatsirShahih Bukhari dan Shahih MuslimZaadul Ma’ad — Ibnul QayyimAd-Da’ wad Dawa’ — Ibnul QayyimMinhajus Sunnah An-Nabawiyyah — Syekhul Islam Ibnu TaimiyahPenting pula untuk dicatat bahwa daftar kitab-kitab di atas bukanlah satu-satunya list yang wajib dibaca. Prioritas dapat berbeda sesuai kebutuhan, tingkat ilmu, kemampuan bahasa Arab, dan bimbingan ustaz/guru. Prinsip belajar secara bertahap (tadarruj) dan mengambil ilmu dari guru yang terpercaya menjadi hal yang harus diutamakan. Hindari membaca secara otodidak kemudian menyimpulkan sendiri terhadap suatu perkara/hukum tertentu.Buku-buku bermanfaat di luar kitab keislamanSetelah fondasi agama terbangun, seorang Muslim juga perlu membaca buku-buku yang memberikan manfaat duniawi dan menunjang kemaslahatan hidup. Misalnya: sejarah, biografi tokoh, ekonomi dan keuangan, sains, kesehatan, parenting, psikologi, komunikasi, kepemimpinan, kebijakan publik, teknologi, dan keterampilan profesional. Namun, tetap terapkan kaidah selektif. Tidak semua buku yang bagus harus dibaca, dan tidak semua buku yang populer layak menjadi prioritas.Tanyakan pada diri sendiri sebelum membaca sebuah buku:Apa manfaat buku ini?Apakah isinya benar?Apakah sesuai dengan kebutuhan saya?Apakah ada bacaan yang lebih prioritas?Apakah waktu saya cukup untuk membacanya?Sehingga dengan pertanyaan-pertanyaan ini, kita dapat menyaring bacaan dan fokus pada yang benar-benar bermanfaat. Terhindar dari berbagai pemikiran-pemikiran yang menyimpang dari akidah dan manhaj yang benar karena kita telah menerapkan skala prioritas dalam menentukan bacaan-bacaan kita.Memulai kebiasaan membacaBagi yang merasa kesulitan memulai kebiasaan membaca, berikut langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan:Mulai dari 10–15 menit sehari. Tidak perlu langsung membaca berjam-jam. Mulailah dengan waktu yang pendek tetapi konsisten.Tentukan waktu tetap setiap hari. Misalnya, 15 menit setelah Subuh atau 15 menit sebelum tidur. Dengan waktu yang tetap, membaca akan menjadi kebiasaan.Jauhkan ponsel saat membaca. Notifikasi dan godaan media sosial adalah musuh utama konsentrasi. Saat membaca, matikan ponsel atau letakkan di ruangan lain.Mulai dari kitab atau buku yang sesuai dengan level. Jangan langsung membaca kitab tingkat lanjut jika belum paham dasarnya. Belajarlah secara bertahap.Budaya membaca tidak perlu dimulai dengan target ambisius “menamatkan 50 buku setahun”. Cukup mulai dengan sederhana, seperti satu mushaf yang dibaca setiap hari, satu kitab yang dipelajari dengan benar, dan beberapa halaman buku bermanfaat yang dibaca secara rutin. Yang dicari bukan sekadar “banyak membaca”, tetapi ilmu yang bermanfaat, pemahaman yang benar, dan amal yang semakin baik. Karena hal yang penting untuk kita pahami dari inti membaca ini adalah bahwa membaca merupakan sarana, bukan tujuan. Tujuan kita adalah mengenal Allah, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat kepada sesama.Mari kita bangun kebiasaan membaca—dengan prioritas yang benar, dengan niat yang lurus, dan dengan komitmen untuk mengamalkan apa yang kita baca. Semoga Allah memudahkan kita semua.Ya Allah, limpahkanlah kepada kami manfaat dari ilmu yang Engkau ajarkan, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat bagi kami, dan tambahkanlah kepada kami ilmu. Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan. (Aamīn)Wallahu a’lam bish-shawab.Baca juga: Bahaya Kebiasaan: Banyak Komentar, Malas Membaca***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Muslim dan Kebiasaan Membaca

Daftar Isi ToggleKebiasaan yang perlu dibangunMuslim dan prioritas membacaLantas, apa yang Seharusnya Dibaca?Al-Qur’anHadis Nabi ﷺKitab-kitab ulama ahlus sunahBuku-buku bermanfaat di luar kitab keislamanMemulai kebiasaan membacaBismillah. Segala puji bagi Allah Ta’ala, salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah mengajarkan kita -melalui petunjuk Rabb-nya- prinsip-prinsip kehidupan untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Di antara ajaran mulia tersebut adalah anjuran untuk mempunyai kebiasaan ‘membaca’.Saudaraku, Allah mentakdirkan kita hidup di era di mana informasi mengalir deras tanpa henti. Fenomena yang dulu terlihat aneh dan sangat jarang terlihat, tapi kini menjadi kenyataan yang biasa kita saksikan; ponsel yang selalu di genggaman, notifikasi datang silih berganti, video pendek menghibur dalam hitungan detik, dan media sosial menyajikan ribuan konten setiap harinya. Di tengah semua itu, banyak orang mengeluh, “Saya tidak punya waktu untuk membaca.”Padahal, jika dihitung dengan jujur, berapa jam yang kita habiskan setiap hari untuk menggulir layar ponsel? Lima menit di sini, sepuluh menit di sana—lama-kelamaan menjadi berjam-jam. Lalu, mampukah kita menjawab pertanyaan ini:Jika kita memiliki waktu untuk membuka ponsel setiap hari, mengapa kita merasa tidak memiliki waktu untuk membaca? Sebuah pertanyaan tentang makna dari kata “prioritas”, tentang apa yang kita anggap penting dan apa yang kita korbankan. Saudaraku, kita ketahui bahwa wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah perintah untuk membaca. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)Perintah membaca ini merupakan fondasi peradaban karena mambaca adalah jendela dunia bagi setiap insan yang sebelumnya tidak tahu menjadi mengerti. Membaca juga adalah gerbang ilmu, dan ilmu adalah jalan menuju pengenalan kepada Allah Ta’ala (ma’rifatullah). Oleh karenanya, aktivitas membaca, di samping sebagai aktivitas intelektual kita sebagai seorang muslim, dengannya juga bisa jadikan sarana untuk ibadah dalam rangka upaya mendekatkan diri kepada-Nya.Namun, hanya memiliki kebiasaan membaca saja, tentunya tidaklah cukup. Kita juga harus mengetahui apa yang paling layak dibaca dan bagaimana menyusun prioritas bacaan. Sebab, tidak semua bacaan itu setara. Tidak semua buku yang populer layak menjadi prioritas. Dan membaca yang banyak, tanpa arah yang benar, tidak otomatis mendatangkan banyak ilmu yang bermanfaat.Kebiasaan yang perlu dibangunKita membaca berarti kita sedang mencerna informasi tertulis untuk memperoleh makna dan pengetahuan. Secara ilmiah, membaca melatih otak untuk berpikir kritis, memperluas wawasan, dan meningkatkan kemampuan analisis. Membaca secara teratur juga terbukti meningkatkan empati, kemampuan komunikasi, dan daya ingat. Namun, kebiasaan membaca tidak tumbuh dengan sendirinya. Akan tetapi, kebiasaan perlu dilatih, dibangun, dan dijaga.Data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022—yang masih menjadi rujukan terbaru—mencatat skor literasi membaca Indonesia di angka 359, turun dari 371 (2018), dengan peringkat ke-68 dari 81 negara. Hanya 25% siswa yang mencapai literasi dasar. Perlu dibedakan dengan kebiasaan membaca. Data terbaru Perpusnas/BPS (2025) mencatat Indeks Kegemaran Membaca (TGM) di angka 54,80 (kategori sedang), sedangkan Indeks Pembangunan Literasi (IPLM) hanya 40,6 (kategori rendah). Angka UNESCO 0,001% kerap dikutip, tetapi nilainya diperdebatkan dan perlu dicermati.Rata-rata masyarakat hanya membaca 6 buku/tahun dengan durasi 129 jam, dan hanya 20,7% yang membaca setiap hari. Kecepatan baca kita pun masih tertinggal (270 kata/menit vs. rata-rata global 450). Fakta ini menunjukkan budaya baca kita masih perlu digalakkan, terutama di tengah gempuran konten digital instan yang tidak membangun pemahaman mendalam.Apa pun angka yang kita pegang, satu hal yang jelas bahwa budaya membaca di Indonesia masih perlu terus dibangun. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan untuk memilah dan memahami informasi justru belum berkembang seiring berjalannya waktu. Masyarakat lebih banyak mengonsumsi konten pendek, media sosial, dan informasi instan. Hasilnya, kita menjadi konsumen informasi yang pasif, bukan pembelajar yang aktif. Di sinilah peran membaca yang serius dan terarah menjadi penting. Bukan sekadar membaca apa pun yang muncul di linimasa, tetapi membaca dengan kesadaran dan tujuan.Muslim dan prioritas membacaIslam adalah agama yang sangat menghargai ilmu. Janji Allah kepada penuntut ilmu amatlah mulia, yaitu surga yang dimudahkan bagi penuntutnya. Dan ilmu itu diperoleh salah satunya dengan membaca. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)Ilmu itu bertingkat-tingkat. Ada ilmu yang wajib dipelajari, ada yang sunah, dan ada yang mubah. Memahami hal itu, maka tentu jika kita membaca tanpa prioritas yang benar bisa membuat seseorang sibuk dengan hal-hal yang kurang bermanfaat dan cenderung mengabaikan yang lebih penting. Prinsip dasar yang perlu kita pegang adalah bahwa prioritas pertama dalam menuntut ilmu adalah mempelajari Al-Qur’an, kemudian hadis Nabi ﷺ karena hadis merupakan penjelas bagi Al-Qur’an.Perlu pula kita pahami, banyak membaca tidak otomatis berarti banyak ilmu. Seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam membaca buku, tetapi jika yang dibaca adalah hal-hal yang tidak meningkatkan keimanan, tidak memperbaiki akhlak, dan tidak menambah pemahaman tentang agama, maka ia telah kehilangan banyak kesempatan untuk meraih kebaikan yang lebih besar. Oleh karenanya, seorang Muslim perlu menyusun prioritas bacaannya dengan bijak, dimulai dari yang paling utama, secara bertahap, dan sesuai dengan tingkat kemampuan serta bimbingan guru yang terpercaya.Baca juga: Ingin Betah Membaca Al-Qur’an? Tadabur KuncinyaLantas, apa yang Seharusnya Dibaca?Al-Qur’an Tidak ada bacaan yang lebih utama bagi seorang Muslim selain Al-Qur’an. Firman Allah Ta’ala yang diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang mendatangkan pahala berlimpah sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ: {الم} حَرْفٌ، وَلَكِنْ: أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi, dalam Sunan-nya no. 2910, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya, Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, tentang keutamaan dan kedudukan Al-Qur’an,الْقُرْآنُ هُوَ الشِّفَاءُ التَّامُّ مِنْ جَمِيعِ الْأَدْوَاءِ الْقَلْبِيَّةِ وَالْبَدَنِيَّةِ، وَأَدْوَاءِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَا كُلُّ أَحَدٍ يُؤَهَّلُ وَلَا يُوَفَّقُ لِلِاسْتِشْفَاءِ بِهِ“Al-Qur’an adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, serta penyakit dunia dan akhirat. Tidak semua orang diberi kemampuan dan taufik untuk berobat dengannya.”Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan bahwa di antara manusia terdapat empat tingkatan dalam hubungannya dengan Al-Qur’an dan keimanan. Beliau menyebutkan bahwa orang yang diberikan anugerah untuk men-tadabburi (merenungkan) Al-Qur’an tentu lebih utama daripada orang yang diberi anugerah banyak dan cepat dalam membaca Al-Qur’an, padahal tidak disertai perenungan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab yang sama,وَأَنَّ مَنْ أُعْطِيَ التَّدَبُّرَ فِي الْقُرْآنِ أَفْضَلُ مِمَّنْ أُعْطِيَ كَثْرَةَ الْقِرَاءَةِ وَسُرْعَتَهَا بِغَيْرِ تَدَبُّرٍ“Siapa yang diberikan anugerah untuk merenungkan (mentadabburi) Al-Qur’an, maka ia lebih utama daripada orang yang diberi anugerah banyak dan cepat dalam membaca Al-Qur’an tanpa disertai perenungan.”Setiap Muslim hendaknya memiliki waktu khusus setiap hari untuk membaca Al-Qur’an. Bisa setelah Subuh, bisa di malam hari, atau di waktu-waktu lain yang memungkinkan. Yang terpenting adalah konsistensinya, pun dengan niat memperbanyak kuantitas bacaannya juga merupakan hal yang baik untuk dipertahankan.Kita bisa memulainya dengan memperbaiki kemampuan dalam membaca Al-quran, benar makharijul huruf dan tajwidnya. Sembari menghapal ayat-ayat pendek, dan menambah hapalan sedikit demi sedikit. Dalam waktu bersamaan juga secara pelan-pelan juga mempelajari tafsirnya. Dan yang paling penting adalah komitmen -dengan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan – untuk menerapkan setiap perintah-perintah Allah di dalamnya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.Pastikan Anda memiliki Al-Qur’an fisik, juga digital. Letakkan di tempat-tempat yang mudah dijangkau. Bila perlu, miliki lebih dari satu beserta terjemahan. Al-Qur’an digital juga sebaiknya diletakkan di layar utama, dimana saat membuka hp, yang Anda lihat pertama kali adalah app Al-Qur’an dan bertekadlah untuk senantiasa membukanya. Minimal membaca setengah lembar tiap kali membukanya. Gabut saat membuka hp, bukalah app Al-Qur’an terlebih dahulu dari app lainnya.Hadis Nabi ﷺSetelah Al-Qur’an, bacaan yang paling penting adalah hadis Nabi ﷺ. Hadis menjadi penjelas dan penerapan praktis dari ajaran Al-Qur’an. Akan menjadi tidak utuh jika kita memahami Al-Qur’an tapi mengesamping mempelajari hadis dengan benar.Mungkin dulu, sebelum begitu canggihnya teknologi, kita mengeluh betapa rumitnya mengakses kitab-kitab hadis. Tapi, saat ini, hampir semuanya bisa diakses dengan mudah. Bahkan hanya dalam genggaman, semua kitab-kitab hadis bisa kita peroleh. Hanya dengan menyimpan sebuat situs seperti https://shamela.ws/ ribuan referensi hadis kita bisa peroleh.Apabila dibandingkan dengan para salafus saleh terdahulu, betapa sulitnya mereka untuk memperoleh hadis-hadis. Harus melalui perjalanan panjang bahkan berbulan-bulan baru mendapatkan hadis dengan segala halangan dan rintangannya. Sementara kini, cukup dengan tekad untuk mempelajari agama ini dengan benar kemudian berikhtiar dengan mencari informasi sumber-sumber hadis sahih dengan menghadiri majelis-majelis kajian hadis, memiliki kitab-kitab hadis dengan harga terjangkau, hingga mengaksesnya melalui internet.Allah Ta’ala berfirman,وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)Untuk pembaca awam, ada beberapa kitab hadis yang sangat dianjurkan, di antaranya:Riyadhus Shalihin, karya Imam An-Nawawi — kumpulan hadis tentang adab, akhlak, dan ibadah yang sangat cocok untuk pemula.Al-Arba’in An-Nawawiyyah, (40 Hadis Nawawi) — juga karya Imam An-Nawawi, menghimpun hadis-hadis pokok dalam Islam.Umdatul Ahkam karya Abdul Ghani Al-Maqdisi — kumpulan hadis tentang hukum fikih.Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani — kitab hadis hukum yang lebih luas.Untuk tingkat lanjut, Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah rujukan utama setelah Al-Qur’an.Tentu saja, daftar ini bukan berarti seseorang harus langsung membaca semuanya. Pilihlah sesuai tingkat kemampuan dan, yang terpenting, dengan bimbingan guru yang terpercaya. Membaca kitab hadis tanpa pemahaman yang benar dari para ulama bisa menimbulkan kesalahan pemahaman.Kitab-kitab ulama ahlus sunah Setelah Al-Qur’an dan hadis, seorang Muslim perlu membaca kitab-kitab ulama yang menjelaskan keduanya. Prioritaskan kitab-kitab yang membangun fondasi agama: tauhid, akidah, ibadah, fikih, adab dan akhlak, tazkiyatun nafs, tafsir, dan hadis. Berikut adalah rekomendasi kitab secara bertahap:Tingkat pemula:Al-Ushul Ats-Tsalatsah (Tiga Landasan Utama) — Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.Al-Qawa’idul Arba’ (Empat Kaidah) — Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.Al-Adab Al-Mufrad — Imam Al-Bukhari (dengan penjelasan ulama).Riyadhus Shalihin — Imam An-Nawawi.Al-Arba’in An-Nawawiyyah — Imam An-Nawawi.Tingkat menengah:Kitab At-Tauhid — Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.Umdatul Ahkam — Abdul Ghani Al-Maqdisi.Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani.Aqidah Al-Wasithiyyah — Syekhul Islam Ibnu Taimiyah.Taisir Al-Karimir Rahman — Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.Tingkat lebih lanjut:Tafsir Ibnu KatsirShahih Bukhari dan Shahih MuslimZaadul Ma’ad — Ibnul QayyimAd-Da’ wad Dawa’ — Ibnul QayyimMinhajus Sunnah An-Nabawiyyah — Syekhul Islam Ibnu TaimiyahPenting pula untuk dicatat bahwa daftar kitab-kitab di atas bukanlah satu-satunya list yang wajib dibaca. Prioritas dapat berbeda sesuai kebutuhan, tingkat ilmu, kemampuan bahasa Arab, dan bimbingan ustaz/guru. Prinsip belajar secara bertahap (tadarruj) dan mengambil ilmu dari guru yang terpercaya menjadi hal yang harus diutamakan. Hindari membaca secara otodidak kemudian menyimpulkan sendiri terhadap suatu perkara/hukum tertentu.Buku-buku bermanfaat di luar kitab keislamanSetelah fondasi agama terbangun, seorang Muslim juga perlu membaca buku-buku yang memberikan manfaat duniawi dan menunjang kemaslahatan hidup. Misalnya: sejarah, biografi tokoh, ekonomi dan keuangan, sains, kesehatan, parenting, psikologi, komunikasi, kepemimpinan, kebijakan publik, teknologi, dan keterampilan profesional. Namun, tetap terapkan kaidah selektif. Tidak semua buku yang bagus harus dibaca, dan tidak semua buku yang populer layak menjadi prioritas.Tanyakan pada diri sendiri sebelum membaca sebuah buku:Apa manfaat buku ini?Apakah isinya benar?Apakah sesuai dengan kebutuhan saya?Apakah ada bacaan yang lebih prioritas?Apakah waktu saya cukup untuk membacanya?Sehingga dengan pertanyaan-pertanyaan ini, kita dapat menyaring bacaan dan fokus pada yang benar-benar bermanfaat. Terhindar dari berbagai pemikiran-pemikiran yang menyimpang dari akidah dan manhaj yang benar karena kita telah menerapkan skala prioritas dalam menentukan bacaan-bacaan kita.Memulai kebiasaan membacaBagi yang merasa kesulitan memulai kebiasaan membaca, berikut langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan:Mulai dari 10–15 menit sehari. Tidak perlu langsung membaca berjam-jam. Mulailah dengan waktu yang pendek tetapi konsisten.Tentukan waktu tetap setiap hari. Misalnya, 15 menit setelah Subuh atau 15 menit sebelum tidur. Dengan waktu yang tetap, membaca akan menjadi kebiasaan.Jauhkan ponsel saat membaca. Notifikasi dan godaan media sosial adalah musuh utama konsentrasi. Saat membaca, matikan ponsel atau letakkan di ruangan lain.Mulai dari kitab atau buku yang sesuai dengan level. Jangan langsung membaca kitab tingkat lanjut jika belum paham dasarnya. Belajarlah secara bertahap.Budaya membaca tidak perlu dimulai dengan target ambisius “menamatkan 50 buku setahun”. Cukup mulai dengan sederhana, seperti satu mushaf yang dibaca setiap hari, satu kitab yang dipelajari dengan benar, dan beberapa halaman buku bermanfaat yang dibaca secara rutin. Yang dicari bukan sekadar “banyak membaca”, tetapi ilmu yang bermanfaat, pemahaman yang benar, dan amal yang semakin baik. Karena hal yang penting untuk kita pahami dari inti membaca ini adalah bahwa membaca merupakan sarana, bukan tujuan. Tujuan kita adalah mengenal Allah, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat kepada sesama.Mari kita bangun kebiasaan membaca—dengan prioritas yang benar, dengan niat yang lurus, dan dengan komitmen untuk mengamalkan apa yang kita baca. Semoga Allah memudahkan kita semua.Ya Allah, limpahkanlah kepada kami manfaat dari ilmu yang Engkau ajarkan, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat bagi kami, dan tambahkanlah kepada kami ilmu. Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan. (Aamīn)Wallahu a’lam bish-shawab.Baca juga: Bahaya Kebiasaan: Banyak Komentar, Malas Membaca***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKebiasaan yang perlu dibangunMuslim dan prioritas membacaLantas, apa yang Seharusnya Dibaca?Al-Qur’anHadis Nabi ﷺKitab-kitab ulama ahlus sunahBuku-buku bermanfaat di luar kitab keislamanMemulai kebiasaan membacaBismillah. Segala puji bagi Allah Ta’ala, salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah mengajarkan kita -melalui petunjuk Rabb-nya- prinsip-prinsip kehidupan untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Di antara ajaran mulia tersebut adalah anjuran untuk mempunyai kebiasaan ‘membaca’.Saudaraku, Allah mentakdirkan kita hidup di era di mana informasi mengalir deras tanpa henti. Fenomena yang dulu terlihat aneh dan sangat jarang terlihat, tapi kini menjadi kenyataan yang biasa kita saksikan; ponsel yang selalu di genggaman, notifikasi datang silih berganti, video pendek menghibur dalam hitungan detik, dan media sosial menyajikan ribuan konten setiap harinya. Di tengah semua itu, banyak orang mengeluh, “Saya tidak punya waktu untuk membaca.”Padahal, jika dihitung dengan jujur, berapa jam yang kita habiskan setiap hari untuk menggulir layar ponsel? Lima menit di sini, sepuluh menit di sana—lama-kelamaan menjadi berjam-jam. Lalu, mampukah kita menjawab pertanyaan ini:Jika kita memiliki waktu untuk membuka ponsel setiap hari, mengapa kita merasa tidak memiliki waktu untuk membaca? Sebuah pertanyaan tentang makna dari kata “prioritas”, tentang apa yang kita anggap penting dan apa yang kita korbankan. Saudaraku, kita ketahui bahwa wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah perintah untuk membaca. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)Perintah membaca ini merupakan fondasi peradaban karena mambaca adalah jendela dunia bagi setiap insan yang sebelumnya tidak tahu menjadi mengerti. Membaca juga adalah gerbang ilmu, dan ilmu adalah jalan menuju pengenalan kepada Allah Ta’ala (ma’rifatullah). Oleh karenanya, aktivitas membaca, di samping sebagai aktivitas intelektual kita sebagai seorang muslim, dengannya juga bisa jadikan sarana untuk ibadah dalam rangka upaya mendekatkan diri kepada-Nya.Namun, hanya memiliki kebiasaan membaca saja, tentunya tidaklah cukup. Kita juga harus mengetahui apa yang paling layak dibaca dan bagaimana menyusun prioritas bacaan. Sebab, tidak semua bacaan itu setara. Tidak semua buku yang populer layak menjadi prioritas. Dan membaca yang banyak, tanpa arah yang benar, tidak otomatis mendatangkan banyak ilmu yang bermanfaat.Kebiasaan yang perlu dibangunKita membaca berarti kita sedang mencerna informasi tertulis untuk memperoleh makna dan pengetahuan. Secara ilmiah, membaca melatih otak untuk berpikir kritis, memperluas wawasan, dan meningkatkan kemampuan analisis. Membaca secara teratur juga terbukti meningkatkan empati, kemampuan komunikasi, dan daya ingat. Namun, kebiasaan membaca tidak tumbuh dengan sendirinya. Akan tetapi, kebiasaan perlu dilatih, dibangun, dan dijaga.Data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022—yang masih menjadi rujukan terbaru—mencatat skor literasi membaca Indonesia di angka 359, turun dari 371 (2018), dengan peringkat ke-68 dari 81 negara. Hanya 25% siswa yang mencapai literasi dasar. Perlu dibedakan dengan kebiasaan membaca. Data terbaru Perpusnas/BPS (2025) mencatat Indeks Kegemaran Membaca (TGM) di angka 54,80 (kategori sedang), sedangkan Indeks Pembangunan Literasi (IPLM) hanya 40,6 (kategori rendah). Angka UNESCO 0,001% kerap dikutip, tetapi nilainya diperdebatkan dan perlu dicermati.Rata-rata masyarakat hanya membaca 6 buku/tahun dengan durasi 129 jam, dan hanya 20,7% yang membaca setiap hari. Kecepatan baca kita pun masih tertinggal (270 kata/menit vs. rata-rata global 450). Fakta ini menunjukkan budaya baca kita masih perlu digalakkan, terutama di tengah gempuran konten digital instan yang tidak membangun pemahaman mendalam.Apa pun angka yang kita pegang, satu hal yang jelas bahwa budaya membaca di Indonesia masih perlu terus dibangun. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan untuk memilah dan memahami informasi justru belum berkembang seiring berjalannya waktu. Masyarakat lebih banyak mengonsumsi konten pendek, media sosial, dan informasi instan. Hasilnya, kita menjadi konsumen informasi yang pasif, bukan pembelajar yang aktif. Di sinilah peran membaca yang serius dan terarah menjadi penting. Bukan sekadar membaca apa pun yang muncul di linimasa, tetapi membaca dengan kesadaran dan tujuan.Muslim dan prioritas membacaIslam adalah agama yang sangat menghargai ilmu. Janji Allah kepada penuntut ilmu amatlah mulia, yaitu surga yang dimudahkan bagi penuntutnya. Dan ilmu itu diperoleh salah satunya dengan membaca. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)Ilmu itu bertingkat-tingkat. Ada ilmu yang wajib dipelajari, ada yang sunah, dan ada yang mubah. Memahami hal itu, maka tentu jika kita membaca tanpa prioritas yang benar bisa membuat seseorang sibuk dengan hal-hal yang kurang bermanfaat dan cenderung mengabaikan yang lebih penting. Prinsip dasar yang perlu kita pegang adalah bahwa prioritas pertama dalam menuntut ilmu adalah mempelajari Al-Qur’an, kemudian hadis Nabi ﷺ karena hadis merupakan penjelas bagi Al-Qur’an.Perlu pula kita pahami, banyak membaca tidak otomatis berarti banyak ilmu. Seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam membaca buku, tetapi jika yang dibaca adalah hal-hal yang tidak meningkatkan keimanan, tidak memperbaiki akhlak, dan tidak menambah pemahaman tentang agama, maka ia telah kehilangan banyak kesempatan untuk meraih kebaikan yang lebih besar. Oleh karenanya, seorang Muslim perlu menyusun prioritas bacaannya dengan bijak, dimulai dari yang paling utama, secara bertahap, dan sesuai dengan tingkat kemampuan serta bimbingan guru yang terpercaya.Baca juga: Ingin Betah Membaca Al-Qur’an? Tadabur KuncinyaLantas, apa yang Seharusnya Dibaca?Al-Qur’an Tidak ada bacaan yang lebih utama bagi seorang Muslim selain Al-Qur’an. Firman Allah Ta’ala yang diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang mendatangkan pahala berlimpah sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ: {الم} حَرْفٌ، وَلَكِنْ: أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi, dalam Sunan-nya no. 2910, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya, Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, tentang keutamaan dan kedudukan Al-Qur’an,الْقُرْآنُ هُوَ الشِّفَاءُ التَّامُّ مِنْ جَمِيعِ الْأَدْوَاءِ الْقَلْبِيَّةِ وَالْبَدَنِيَّةِ، وَأَدْوَاءِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَا كُلُّ أَحَدٍ يُؤَهَّلُ وَلَا يُوَفَّقُ لِلِاسْتِشْفَاءِ بِهِ“Al-Qur’an adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, serta penyakit dunia dan akhirat. Tidak semua orang diberi kemampuan dan taufik untuk berobat dengannya.”Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan bahwa di antara manusia terdapat empat tingkatan dalam hubungannya dengan Al-Qur’an dan keimanan. Beliau menyebutkan bahwa orang yang diberikan anugerah untuk men-tadabburi (merenungkan) Al-Qur’an tentu lebih utama daripada orang yang diberi anugerah banyak dan cepat dalam membaca Al-Qur’an, padahal tidak disertai perenungan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab yang sama,وَأَنَّ مَنْ أُعْطِيَ التَّدَبُّرَ فِي الْقُرْآنِ أَفْضَلُ مِمَّنْ أُعْطِيَ كَثْرَةَ الْقِرَاءَةِ وَسُرْعَتَهَا بِغَيْرِ تَدَبُّرٍ“Siapa yang diberikan anugerah untuk merenungkan (mentadabburi) Al-Qur’an, maka ia lebih utama daripada orang yang diberi anugerah banyak dan cepat dalam membaca Al-Qur’an tanpa disertai perenungan.”Setiap Muslim hendaknya memiliki waktu khusus setiap hari untuk membaca Al-Qur’an. Bisa setelah Subuh, bisa di malam hari, atau di waktu-waktu lain yang memungkinkan. Yang terpenting adalah konsistensinya, pun dengan niat memperbanyak kuantitas bacaannya juga merupakan hal yang baik untuk dipertahankan.Kita bisa memulainya dengan memperbaiki kemampuan dalam membaca Al-quran, benar makharijul huruf dan tajwidnya. Sembari menghapal ayat-ayat pendek, dan menambah hapalan sedikit demi sedikit. Dalam waktu bersamaan juga secara pelan-pelan juga mempelajari tafsirnya. Dan yang paling penting adalah komitmen -dengan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan – untuk menerapkan setiap perintah-perintah Allah di dalamnya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.Pastikan Anda memiliki Al-Qur’an fisik, juga digital. Letakkan di tempat-tempat yang mudah dijangkau. Bila perlu, miliki lebih dari satu beserta terjemahan. Al-Qur’an digital juga sebaiknya diletakkan di layar utama, dimana saat membuka hp, yang Anda lihat pertama kali adalah app Al-Qur’an dan bertekadlah untuk senantiasa membukanya. Minimal membaca setengah lembar tiap kali membukanya. Gabut saat membuka hp, bukalah app Al-Qur’an terlebih dahulu dari app lainnya.Hadis Nabi ﷺSetelah Al-Qur’an, bacaan yang paling penting adalah hadis Nabi ﷺ. Hadis menjadi penjelas dan penerapan praktis dari ajaran Al-Qur’an. Akan menjadi tidak utuh jika kita memahami Al-Qur’an tapi mengesamping mempelajari hadis dengan benar.Mungkin dulu, sebelum begitu canggihnya teknologi, kita mengeluh betapa rumitnya mengakses kitab-kitab hadis. Tapi, saat ini, hampir semuanya bisa diakses dengan mudah. Bahkan hanya dalam genggaman, semua kitab-kitab hadis bisa kita peroleh. Hanya dengan menyimpan sebuat situs seperti https://shamela.ws/ ribuan referensi hadis kita bisa peroleh.Apabila dibandingkan dengan para salafus saleh terdahulu, betapa sulitnya mereka untuk memperoleh hadis-hadis. Harus melalui perjalanan panjang bahkan berbulan-bulan baru mendapatkan hadis dengan segala halangan dan rintangannya. Sementara kini, cukup dengan tekad untuk mempelajari agama ini dengan benar kemudian berikhtiar dengan mencari informasi sumber-sumber hadis sahih dengan menghadiri majelis-majelis kajian hadis, memiliki kitab-kitab hadis dengan harga terjangkau, hingga mengaksesnya melalui internet.Allah Ta’ala berfirman,وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)Untuk pembaca awam, ada beberapa kitab hadis yang sangat dianjurkan, di antaranya:Riyadhus Shalihin, karya Imam An-Nawawi — kumpulan hadis tentang adab, akhlak, dan ibadah yang sangat cocok untuk pemula.Al-Arba’in An-Nawawiyyah, (40 Hadis Nawawi) — juga karya Imam An-Nawawi, menghimpun hadis-hadis pokok dalam Islam.Umdatul Ahkam karya Abdul Ghani Al-Maqdisi — kumpulan hadis tentang hukum fikih.Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani — kitab hadis hukum yang lebih luas.Untuk tingkat lanjut, Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah rujukan utama setelah Al-Qur’an.Tentu saja, daftar ini bukan berarti seseorang harus langsung membaca semuanya. Pilihlah sesuai tingkat kemampuan dan, yang terpenting, dengan bimbingan guru yang terpercaya. Membaca kitab hadis tanpa pemahaman yang benar dari para ulama bisa menimbulkan kesalahan pemahaman.Kitab-kitab ulama ahlus sunah Setelah Al-Qur’an dan hadis, seorang Muslim perlu membaca kitab-kitab ulama yang menjelaskan keduanya. Prioritaskan kitab-kitab yang membangun fondasi agama: tauhid, akidah, ibadah, fikih, adab dan akhlak, tazkiyatun nafs, tafsir, dan hadis. Berikut adalah rekomendasi kitab secara bertahap:Tingkat pemula:Al-Ushul Ats-Tsalatsah (Tiga Landasan Utama) — Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.Al-Qawa’idul Arba’ (Empat Kaidah) — Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.Al-Adab Al-Mufrad — Imam Al-Bukhari (dengan penjelasan ulama).Riyadhus Shalihin — Imam An-Nawawi.Al-Arba’in An-Nawawiyyah — Imam An-Nawawi.Tingkat menengah:Kitab At-Tauhid — Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.Umdatul Ahkam — Abdul Ghani Al-Maqdisi.Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani.Aqidah Al-Wasithiyyah — Syekhul Islam Ibnu Taimiyah.Taisir Al-Karimir Rahman — Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.Tingkat lebih lanjut:Tafsir Ibnu KatsirShahih Bukhari dan Shahih MuslimZaadul Ma’ad — Ibnul QayyimAd-Da’ wad Dawa’ — Ibnul QayyimMinhajus Sunnah An-Nabawiyyah — Syekhul Islam Ibnu TaimiyahPenting pula untuk dicatat bahwa daftar kitab-kitab di atas bukanlah satu-satunya list yang wajib dibaca. Prioritas dapat berbeda sesuai kebutuhan, tingkat ilmu, kemampuan bahasa Arab, dan bimbingan ustaz/guru. Prinsip belajar secara bertahap (tadarruj) dan mengambil ilmu dari guru yang terpercaya menjadi hal yang harus diutamakan. Hindari membaca secara otodidak kemudian menyimpulkan sendiri terhadap suatu perkara/hukum tertentu.Buku-buku bermanfaat di luar kitab keislamanSetelah fondasi agama terbangun, seorang Muslim juga perlu membaca buku-buku yang memberikan manfaat duniawi dan menunjang kemaslahatan hidup. Misalnya: sejarah, biografi tokoh, ekonomi dan keuangan, sains, kesehatan, parenting, psikologi, komunikasi, kepemimpinan, kebijakan publik, teknologi, dan keterampilan profesional. Namun, tetap terapkan kaidah selektif. Tidak semua buku yang bagus harus dibaca, dan tidak semua buku yang populer layak menjadi prioritas.Tanyakan pada diri sendiri sebelum membaca sebuah buku:Apa manfaat buku ini?Apakah isinya benar?Apakah sesuai dengan kebutuhan saya?Apakah ada bacaan yang lebih prioritas?Apakah waktu saya cukup untuk membacanya?Sehingga dengan pertanyaan-pertanyaan ini, kita dapat menyaring bacaan dan fokus pada yang benar-benar bermanfaat. Terhindar dari berbagai pemikiran-pemikiran yang menyimpang dari akidah dan manhaj yang benar karena kita telah menerapkan skala prioritas dalam menentukan bacaan-bacaan kita.Memulai kebiasaan membacaBagi yang merasa kesulitan memulai kebiasaan membaca, berikut langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan:Mulai dari 10–15 menit sehari. Tidak perlu langsung membaca berjam-jam. Mulailah dengan waktu yang pendek tetapi konsisten.Tentukan waktu tetap setiap hari. Misalnya, 15 menit setelah Subuh atau 15 menit sebelum tidur. Dengan waktu yang tetap, membaca akan menjadi kebiasaan.Jauhkan ponsel saat membaca. Notifikasi dan godaan media sosial adalah musuh utama konsentrasi. Saat membaca, matikan ponsel atau letakkan di ruangan lain.Mulai dari kitab atau buku yang sesuai dengan level. Jangan langsung membaca kitab tingkat lanjut jika belum paham dasarnya. Belajarlah secara bertahap.Budaya membaca tidak perlu dimulai dengan target ambisius “menamatkan 50 buku setahun”. Cukup mulai dengan sederhana, seperti satu mushaf yang dibaca setiap hari, satu kitab yang dipelajari dengan benar, dan beberapa halaman buku bermanfaat yang dibaca secara rutin. Yang dicari bukan sekadar “banyak membaca”, tetapi ilmu yang bermanfaat, pemahaman yang benar, dan amal yang semakin baik. Karena hal yang penting untuk kita pahami dari inti membaca ini adalah bahwa membaca merupakan sarana, bukan tujuan. Tujuan kita adalah mengenal Allah, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat kepada sesama.Mari kita bangun kebiasaan membaca—dengan prioritas yang benar, dengan niat yang lurus, dan dengan komitmen untuk mengamalkan apa yang kita baca. Semoga Allah memudahkan kita semua.Ya Allah, limpahkanlah kepada kami manfaat dari ilmu yang Engkau ajarkan, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat bagi kami, dan tambahkanlah kepada kami ilmu. Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan. (Aamīn)Wallahu a’lam bish-shawab.Baca juga: Bahaya Kebiasaan: Banyak Komentar, Malas Membaca***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKebiasaan yang perlu dibangunMuslim dan prioritas membacaLantas, apa yang Seharusnya Dibaca?Al-Qur’anHadis Nabi ﷺKitab-kitab ulama ahlus sunahBuku-buku bermanfaat di luar kitab keislamanMemulai kebiasaan membacaBismillah. Segala puji bagi Allah Ta’ala, salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah mengajarkan kita -melalui petunjuk Rabb-nya- prinsip-prinsip kehidupan untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Di antara ajaran mulia tersebut adalah anjuran untuk mempunyai kebiasaan ‘membaca’.Saudaraku, Allah mentakdirkan kita hidup di era di mana informasi mengalir deras tanpa henti. Fenomena yang dulu terlihat aneh dan sangat jarang terlihat, tapi kini menjadi kenyataan yang biasa kita saksikan; ponsel yang selalu di genggaman, notifikasi datang silih berganti, video pendek menghibur dalam hitungan detik, dan media sosial menyajikan ribuan konten setiap harinya. Di tengah semua itu, banyak orang mengeluh, “Saya tidak punya waktu untuk membaca.”Padahal, jika dihitung dengan jujur, berapa jam yang kita habiskan setiap hari untuk menggulir layar ponsel? Lima menit di sini, sepuluh menit di sana—lama-kelamaan menjadi berjam-jam. Lalu, mampukah kita menjawab pertanyaan ini:Jika kita memiliki waktu untuk membuka ponsel setiap hari, mengapa kita merasa tidak memiliki waktu untuk membaca? Sebuah pertanyaan tentang makna dari kata “prioritas”, tentang apa yang kita anggap penting dan apa yang kita korbankan. Saudaraku, kita ketahui bahwa wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah perintah untuk membaca. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)Perintah membaca ini merupakan fondasi peradaban karena mambaca adalah jendela dunia bagi setiap insan yang sebelumnya tidak tahu menjadi mengerti. Membaca juga adalah gerbang ilmu, dan ilmu adalah jalan menuju pengenalan kepada Allah Ta’ala (ma’rifatullah). Oleh karenanya, aktivitas membaca, di samping sebagai aktivitas intelektual kita sebagai seorang muslim, dengannya juga bisa jadikan sarana untuk ibadah dalam rangka upaya mendekatkan diri kepada-Nya.Namun, hanya memiliki kebiasaan membaca saja, tentunya tidaklah cukup. Kita juga harus mengetahui apa yang paling layak dibaca dan bagaimana menyusun prioritas bacaan. Sebab, tidak semua bacaan itu setara. Tidak semua buku yang populer layak menjadi prioritas. Dan membaca yang banyak, tanpa arah yang benar, tidak otomatis mendatangkan banyak ilmu yang bermanfaat.Kebiasaan yang perlu dibangunKita membaca berarti kita sedang mencerna informasi tertulis untuk memperoleh makna dan pengetahuan. Secara ilmiah, membaca melatih otak untuk berpikir kritis, memperluas wawasan, dan meningkatkan kemampuan analisis. Membaca secara teratur juga terbukti meningkatkan empati, kemampuan komunikasi, dan daya ingat. Namun, kebiasaan membaca tidak tumbuh dengan sendirinya. Akan tetapi, kebiasaan perlu dilatih, dibangun, dan dijaga.Data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022—yang masih menjadi rujukan terbaru—mencatat skor literasi membaca Indonesia di angka 359, turun dari 371 (2018), dengan peringkat ke-68 dari 81 negara. Hanya 25% siswa yang mencapai literasi dasar. Perlu dibedakan dengan kebiasaan membaca. Data terbaru Perpusnas/BPS (2025) mencatat Indeks Kegemaran Membaca (TGM) di angka 54,80 (kategori sedang), sedangkan Indeks Pembangunan Literasi (IPLM) hanya 40,6 (kategori rendah). Angka UNESCO 0,001% kerap dikutip, tetapi nilainya diperdebatkan dan perlu dicermati.Rata-rata masyarakat hanya membaca 6 buku/tahun dengan durasi 129 jam, dan hanya 20,7% yang membaca setiap hari. Kecepatan baca kita pun masih tertinggal (270 kata/menit vs. rata-rata global 450). Fakta ini menunjukkan budaya baca kita masih perlu digalakkan, terutama di tengah gempuran konten digital instan yang tidak membangun pemahaman mendalam.Apa pun angka yang kita pegang, satu hal yang jelas bahwa budaya membaca di Indonesia masih perlu terus dibangun. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan untuk memilah dan memahami informasi justru belum berkembang seiring berjalannya waktu. Masyarakat lebih banyak mengonsumsi konten pendek, media sosial, dan informasi instan. Hasilnya, kita menjadi konsumen informasi yang pasif, bukan pembelajar yang aktif. Di sinilah peran membaca yang serius dan terarah menjadi penting. Bukan sekadar membaca apa pun yang muncul di linimasa, tetapi membaca dengan kesadaran dan tujuan.Muslim dan prioritas membacaIslam adalah agama yang sangat menghargai ilmu. Janji Allah kepada penuntut ilmu amatlah mulia, yaitu surga yang dimudahkan bagi penuntutnya. Dan ilmu itu diperoleh salah satunya dengan membaca. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)Ilmu itu bertingkat-tingkat. Ada ilmu yang wajib dipelajari, ada yang sunah, dan ada yang mubah. Memahami hal itu, maka tentu jika kita membaca tanpa prioritas yang benar bisa membuat seseorang sibuk dengan hal-hal yang kurang bermanfaat dan cenderung mengabaikan yang lebih penting. Prinsip dasar yang perlu kita pegang adalah bahwa prioritas pertama dalam menuntut ilmu adalah mempelajari Al-Qur’an, kemudian hadis Nabi ﷺ karena hadis merupakan penjelas bagi Al-Qur’an.Perlu pula kita pahami, banyak membaca tidak otomatis berarti banyak ilmu. Seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam membaca buku, tetapi jika yang dibaca adalah hal-hal yang tidak meningkatkan keimanan, tidak memperbaiki akhlak, dan tidak menambah pemahaman tentang agama, maka ia telah kehilangan banyak kesempatan untuk meraih kebaikan yang lebih besar. Oleh karenanya, seorang Muslim perlu menyusun prioritas bacaannya dengan bijak, dimulai dari yang paling utama, secara bertahap, dan sesuai dengan tingkat kemampuan serta bimbingan guru yang terpercaya.Baca juga: Ingin Betah Membaca Al-Qur’an? Tadabur KuncinyaLantas, apa yang Seharusnya Dibaca?Al-Qur’an Tidak ada bacaan yang lebih utama bagi seorang Muslim selain Al-Qur’an. Firman Allah Ta’ala yang diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang mendatangkan pahala berlimpah sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ: {الم} حَرْفٌ، وَلَكِنْ: أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi, dalam Sunan-nya no. 2910, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya, Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, tentang keutamaan dan kedudukan Al-Qur’an,الْقُرْآنُ هُوَ الشِّفَاءُ التَّامُّ مِنْ جَمِيعِ الْأَدْوَاءِ الْقَلْبِيَّةِ وَالْبَدَنِيَّةِ، وَأَدْوَاءِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَا كُلُّ أَحَدٍ يُؤَهَّلُ وَلَا يُوَفَّقُ لِلِاسْتِشْفَاءِ بِهِ“Al-Qur’an adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, serta penyakit dunia dan akhirat. Tidak semua orang diberi kemampuan dan taufik untuk berobat dengannya.”Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan bahwa di antara manusia terdapat empat tingkatan dalam hubungannya dengan Al-Qur’an dan keimanan. Beliau menyebutkan bahwa orang yang diberikan anugerah untuk men-tadabburi (merenungkan) Al-Qur’an tentu lebih utama daripada orang yang diberi anugerah banyak dan cepat dalam membaca Al-Qur’an, padahal tidak disertai perenungan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab yang sama,وَأَنَّ مَنْ أُعْطِيَ التَّدَبُّرَ فِي الْقُرْآنِ أَفْضَلُ مِمَّنْ أُعْطِيَ كَثْرَةَ الْقِرَاءَةِ وَسُرْعَتَهَا بِغَيْرِ تَدَبُّرٍ“Siapa yang diberikan anugerah untuk merenungkan (mentadabburi) Al-Qur’an, maka ia lebih utama daripada orang yang diberi anugerah banyak dan cepat dalam membaca Al-Qur’an tanpa disertai perenungan.”Setiap Muslim hendaknya memiliki waktu khusus setiap hari untuk membaca Al-Qur’an. Bisa setelah Subuh, bisa di malam hari, atau di waktu-waktu lain yang memungkinkan. Yang terpenting adalah konsistensinya, pun dengan niat memperbanyak kuantitas bacaannya juga merupakan hal yang baik untuk dipertahankan.Kita bisa memulainya dengan memperbaiki kemampuan dalam membaca Al-quran, benar makharijul huruf dan tajwidnya. Sembari menghapal ayat-ayat pendek, dan menambah hapalan sedikit demi sedikit. Dalam waktu bersamaan juga secara pelan-pelan juga mempelajari tafsirnya. Dan yang paling penting adalah komitmen -dengan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan – untuk menerapkan setiap perintah-perintah Allah di dalamnya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.Pastikan Anda memiliki Al-Qur’an fisik, juga digital. Letakkan di tempat-tempat yang mudah dijangkau. Bila perlu, miliki lebih dari satu beserta terjemahan. Al-Qur’an digital juga sebaiknya diletakkan di layar utama, dimana saat membuka hp, yang Anda lihat pertama kali adalah app Al-Qur’an dan bertekadlah untuk senantiasa membukanya. Minimal membaca setengah lembar tiap kali membukanya. Gabut saat membuka hp, bukalah app Al-Qur’an terlebih dahulu dari app lainnya.Hadis Nabi ﷺSetelah Al-Qur’an, bacaan yang paling penting adalah hadis Nabi ﷺ. Hadis menjadi penjelas dan penerapan praktis dari ajaran Al-Qur’an. Akan menjadi tidak utuh jika kita memahami Al-Qur’an tapi mengesamping mempelajari hadis dengan benar.Mungkin dulu, sebelum begitu canggihnya teknologi, kita mengeluh betapa rumitnya mengakses kitab-kitab hadis. Tapi, saat ini, hampir semuanya bisa diakses dengan mudah. Bahkan hanya dalam genggaman, semua kitab-kitab hadis bisa kita peroleh. Hanya dengan menyimpan sebuat situs seperti https://shamela.ws/ ribuan referensi hadis kita bisa peroleh.Apabila dibandingkan dengan para salafus saleh terdahulu, betapa sulitnya mereka untuk memperoleh hadis-hadis. Harus melalui perjalanan panjang bahkan berbulan-bulan baru mendapatkan hadis dengan segala halangan dan rintangannya. Sementara kini, cukup dengan tekad untuk mempelajari agama ini dengan benar kemudian berikhtiar dengan mencari informasi sumber-sumber hadis sahih dengan menghadiri majelis-majelis kajian hadis, memiliki kitab-kitab hadis dengan harga terjangkau, hingga mengaksesnya melalui internet.Allah Ta’ala berfirman,وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)Untuk pembaca awam, ada beberapa kitab hadis yang sangat dianjurkan, di antaranya:Riyadhus Shalihin, karya Imam An-Nawawi — kumpulan hadis tentang adab, akhlak, dan ibadah yang sangat cocok untuk pemula.Al-Arba’in An-Nawawiyyah, (40 Hadis Nawawi) — juga karya Imam An-Nawawi, menghimpun hadis-hadis pokok dalam Islam.Umdatul Ahkam karya Abdul Ghani Al-Maqdisi — kumpulan hadis tentang hukum fikih.Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani — kitab hadis hukum yang lebih luas.Untuk tingkat lanjut, Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah rujukan utama setelah Al-Qur’an.Tentu saja, daftar ini bukan berarti seseorang harus langsung membaca semuanya. Pilihlah sesuai tingkat kemampuan dan, yang terpenting, dengan bimbingan guru yang terpercaya. Membaca kitab hadis tanpa pemahaman yang benar dari para ulama bisa menimbulkan kesalahan pemahaman.Kitab-kitab ulama ahlus sunah Setelah Al-Qur’an dan hadis, seorang Muslim perlu membaca kitab-kitab ulama yang menjelaskan keduanya. Prioritaskan kitab-kitab yang membangun fondasi agama: tauhid, akidah, ibadah, fikih, adab dan akhlak, tazkiyatun nafs, tafsir, dan hadis. Berikut adalah rekomendasi kitab secara bertahap:Tingkat pemula:Al-Ushul Ats-Tsalatsah (Tiga Landasan Utama) — Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.Al-Qawa’idul Arba’ (Empat Kaidah) — Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.Al-Adab Al-Mufrad — Imam Al-Bukhari (dengan penjelasan ulama).Riyadhus Shalihin — Imam An-Nawawi.Al-Arba’in An-Nawawiyyah — Imam An-Nawawi.Tingkat menengah:Kitab At-Tauhid — Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.Umdatul Ahkam — Abdul Ghani Al-Maqdisi.Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani.Aqidah Al-Wasithiyyah — Syekhul Islam Ibnu Taimiyah.Taisir Al-Karimir Rahman — Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.Tingkat lebih lanjut:Tafsir Ibnu KatsirShahih Bukhari dan Shahih MuslimZaadul Ma’ad — Ibnul QayyimAd-Da’ wad Dawa’ — Ibnul QayyimMinhajus Sunnah An-Nabawiyyah — Syekhul Islam Ibnu TaimiyahPenting pula untuk dicatat bahwa daftar kitab-kitab di atas bukanlah satu-satunya list yang wajib dibaca. Prioritas dapat berbeda sesuai kebutuhan, tingkat ilmu, kemampuan bahasa Arab, dan bimbingan ustaz/guru. Prinsip belajar secara bertahap (tadarruj) dan mengambil ilmu dari guru yang terpercaya menjadi hal yang harus diutamakan. Hindari membaca secara otodidak kemudian menyimpulkan sendiri terhadap suatu perkara/hukum tertentu.Buku-buku bermanfaat di luar kitab keislamanSetelah fondasi agama terbangun, seorang Muslim juga perlu membaca buku-buku yang memberikan manfaat duniawi dan menunjang kemaslahatan hidup. Misalnya: sejarah, biografi tokoh, ekonomi dan keuangan, sains, kesehatan, parenting, psikologi, komunikasi, kepemimpinan, kebijakan publik, teknologi, dan keterampilan profesional. Namun, tetap terapkan kaidah selektif. Tidak semua buku yang bagus harus dibaca, dan tidak semua buku yang populer layak menjadi prioritas.Tanyakan pada diri sendiri sebelum membaca sebuah buku:Apa manfaat buku ini?Apakah isinya benar?Apakah sesuai dengan kebutuhan saya?Apakah ada bacaan yang lebih prioritas?Apakah waktu saya cukup untuk membacanya?Sehingga dengan pertanyaan-pertanyaan ini, kita dapat menyaring bacaan dan fokus pada yang benar-benar bermanfaat. Terhindar dari berbagai pemikiran-pemikiran yang menyimpang dari akidah dan manhaj yang benar karena kita telah menerapkan skala prioritas dalam menentukan bacaan-bacaan kita.Memulai kebiasaan membacaBagi yang merasa kesulitan memulai kebiasaan membaca, berikut langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan:Mulai dari 10–15 menit sehari. Tidak perlu langsung membaca berjam-jam. Mulailah dengan waktu yang pendek tetapi konsisten.Tentukan waktu tetap setiap hari. Misalnya, 15 menit setelah Subuh atau 15 menit sebelum tidur. Dengan waktu yang tetap, membaca akan menjadi kebiasaan.Jauhkan ponsel saat membaca. Notifikasi dan godaan media sosial adalah musuh utama konsentrasi. Saat membaca, matikan ponsel atau letakkan di ruangan lain.Mulai dari kitab atau buku yang sesuai dengan level. Jangan langsung membaca kitab tingkat lanjut jika belum paham dasarnya. Belajarlah secara bertahap.Budaya membaca tidak perlu dimulai dengan target ambisius “menamatkan 50 buku setahun”. Cukup mulai dengan sederhana, seperti satu mushaf yang dibaca setiap hari, satu kitab yang dipelajari dengan benar, dan beberapa halaman buku bermanfaat yang dibaca secara rutin. Yang dicari bukan sekadar “banyak membaca”, tetapi ilmu yang bermanfaat, pemahaman yang benar, dan amal yang semakin baik. Karena hal yang penting untuk kita pahami dari inti membaca ini adalah bahwa membaca merupakan sarana, bukan tujuan. Tujuan kita adalah mengenal Allah, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat kepada sesama.Mari kita bangun kebiasaan membaca—dengan prioritas yang benar, dengan niat yang lurus, dan dengan komitmen untuk mengamalkan apa yang kita baca. Semoga Allah memudahkan kita semua.Ya Allah, limpahkanlah kepada kami manfaat dari ilmu yang Engkau ajarkan, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat bagi kami, dan tambahkanlah kepada kami ilmu. Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan. (Aamīn)Wallahu a’lam bish-shawab.Baca juga: Bahaya Kebiasaan: Banyak Komentar, Malas Membaca***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag. 6): Karakter Pejabat Publik Ideal dan Supremasi Hukum

Daftar Isi ToggleMelakukan supremasi hukumKarakter seorang hakimAdil dan amanah dalam masalah kutipan publikTiga peran dalam tugas kepemimpinanEnam karakter pejabat pengurus rakyatCatatanKepemimpinan itu memiliki banyak aspek dengan kompleksitas tinggi. Salah satu pondasi penting dalam kepemimpinan ialah kuatnya hukum dan kepercayaan pada sosok pemangku kebijakan. Aspek ini menjadi perhatian Thahir bin Al-Husain juga. Menurutnya, peradilan harus mendapatkan perhatian besar karena alasan yang sangat fundamental sekali. Tidak hanya itu, karakter para pemangku jabatan pun perlu diperhatikan dan menjadi panduan dalam menjalankan jabatan tersebut. Apa yang disajikan Thahir dalam wasiatnya ini sangat bisa sekali kita elaborasi untuk mengambil faidah yang lebih banyak.Melakukan supremasi hukumThahir bin Al-Husain melanjutkan wasiatnya,واعلم أن القضاء من الله بالمكان الذى ليس به شيء من الأمور لأنه ميزان الله الذى يعتدل عليه الأحوال في الأرضKetahuilah bahwa peradilan menempati kedudukan yang sangat agung dalam urusan yang ditetapkan Allah, sehingga hampir tidak ada satu pun urusan manusia yang terlepas darinya. Karena ia adalah timbangan Allah yang dengannya keadaan-keadaan di bumi menjadi lurus (adil).Apa dampak positif dari peradilan yang kuat?Dengan menegakkan keadilan di kantor pengadilan dan amal perbuatan, maka:Kondisi rakyat membaik;Jalan menjadi aman karena kriminalitas menurun;Orang yang dizalimi mendapatkan keadilan;Masyarakat memperoleh hak-hak mereka;Penghidupan mereka terjaga.Hak ketaatan pun akan tertunaikan, yakni Allah akan menganugerahkan kepada mereka yang menjalankan ketaatan dalam bentuk:Kesehatan;Keselamatan;Tegaknya agama;Berjalannya sunah dan syariat sebagaimana mestinya.Sebagai timbal balik, melalui jalur-jalur inilah kebenaran dan keadilan dalam peradilan dapat terwujud dan terlaksana.Riset modern menunjukkan bahwa ada korelasi kuat antara kuatnya peradilan dengan kemajuan negara. Merujuk pada hasil riset World Justice Project, negara dengan ketaatan hukum serta kekuatan peradilan tertinggi diisi oleh negara-negara yang secara ekonomi maju dan rakyatnya sejahtera. Sayang sekali, dalam daftar ini justru dipenuhi negara kafir atau non-believers. Sedangkan negara kaum muslimin, banyak memenuhi peringkat bontot.Padahal nasihat semacam ini lahir di rahim kaum muslimin. Bahkan, wasiat Thahir bin Al-Husain ini sejalan dengan firman Allah ﷻ,وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa.” (QS. An-Nur: 55)Seharusnya kaum muslimin yang pertama kali dapat menerapkan wasiat-wasiat ini. Karena Allah ﷻ yang langsung memberikan wejangan ini kepada para hamba-Nya dalam kitab suci kaum muslimin. Semoga kita dapat menjadi umat yang tidak sekadar muslim dalam nama, tetapi juga dalam nilai kehidupan.Karakter seorang hakimPada bagian ini, Thahir memberikan beberapa sifat-sifat yang penting dimiliki hakim, serta para pejabat publik lainnya. Masing-masing sifat ini dapat dijabarkan lebih banyak lagi berdasarkan dalil-dalil yang ada.Seorang hakim hendaknya memiliki sifat serta bersikap sebagai berikut:Tegas dalam menjalankan perintah Allah.Hindarilah mengambil tanpa hak.Tegakkan hukuman had.Kurangi berbuat tergesa-gesa.Jauhi rasa bimbang dan gelisah.Merasa cukuplah dengan sumpah seseorang.Manfaatkan pengalamanmu yang membangun ketajaman dalam mengambil keputusan.Fokuskan perhatian ketika engkau diam, dan harus tepat ketika engkau berbicara.Perlakukan penggugat dengan adil.Berhentilah jika ragu-ragu.Mantapkan dalam pembuktian.Jangan terpengaruh oleh rasa suka atau manis muka yang ditampilkan seseorang dari rakyatmu, atau terpengaruh rasa benci karena ejekan pencemooh.Teguhlah dalam bersikap dengan cara:perlahan-lahan,observasi,analisis mendetail,mereka (menganalisis) situasinyamerenungkanAmbil pelajaran.Rendahkan hati di hadapan Tuhanmu.Kasihilah semua rakyat.Biarkan kebenaran menguasai dirimu.Jangan menumpahkan darah terburu-buru, karena Allah ﷻ menilai penumpahan darah merupakan sesuatu yang sangat serius. Membunuh adalah bentuk pelanggaran atas-Nya di luar hak-Nya.Karakter hakim yang ditunjukkan oleh Thahir tidak hanya berupa karakter profesional selaku hakim, tetapi juga selaku hamba. Karena seorang hakim hanyalah satu peran dari banyaknya peran seorang hamba. Dan karakter hamba yang paling utama adalah rasa takutnya kepada Allah Al-Hakim.Adil dan amanah dalam masalah kutipan publikPada bagian ini, Thahir bin Al-Husain memberikan wasiat tentang pengelolaan kharaj atau kutipan atas tanah yang ditaklukkan oleh penguasa muslim. Hal ini muncul pertama kali di era Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Penerjemah menggunakan istilah pajak tanah, tetapi istilah lain yang kami gunakan adalah kutipan sewa tanah. Secara fikih, kharaj dibebankan kepada rakyat yang memanfaatkan tanah hasil rampasan perang. Kutipan tersebut diambil pemerintah dan digunakan untuk kebutuhan masyarakat. Jika melihat fungsinya, maka bisa disamakan dengan pengelolaan APBN yang umumnya datang dari pajak di masa kini.Thahir bin Al-Hushain beri wasiat,Perhatikan kutipan sewa tanah (kharaj), yang atasnya rakyat tegak bertahan. Dengan pungutan itu, Allah telah memperkuat dan meninggikan Islam, membantu dan melindungi umat Islam, membuat bingung dan kesal musuh-musuh Islam dan kaum muslimin, serta merendahkan dan menghinakan orang-orang kafir yang merupakan rakyat mereka. Maka distribusikan hasil kutipan tersebut kepada mereka yang berhak, lakukan dengan benar, adil, sama, dan umum merata.Jangan sekali-kali menarik kutipan kurang dari kewajibannya karena ia seorang bangsawan, atau dari orang kaya karena kekayaannya, atau dari salah seorang sekretarismu, ataupun dari salah seorang kawan karib dan kelompokmu. Jangan pula mengambil lebih dari yang semestinya. Jangan membebani siapa pun terlampau banyak. Perlakukan semua orang dengan benar. Hal ini lebih mudah diakui diri mereka dan lebih pasti untuk mencapai kepuasan umum.Wasiat Thahir ini mengandung pesan untuk jangan tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Lagi-lagi diingatkan, jangan hanya karena kedudukannya lebih tinggi atau dia orang dekat kita, lantas kita tidak menegakkan hukum dengan semestinya. Begitupula sebaliknya, jangan hanya karena yang kita hadapi ini adalah orang lemah, jadinya kita semena-mena.Adapun pelajaran yang sekiranya bisa kita petik ialah bahwa perlu sangat berhati-hati dalam masalah kutipan publik. Jangan sampai kutipan itu menzalimi rakyat, siapapun itu kelompoknya. Terlepas dari hukum perbuatan tersebut, tetapi prinsip pengelolaan ini penting sekali. Sebagaimana yang diterangkan oleh Nabi ﷺ,إِنَّ رِجَالاً يتخوَّضون فِي مَالِ اَللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ فَلَهُمْ اَلنَّارُ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ“Sesungguhnya beberapa orang mengelola harta Allah tanpa hak, maka bagi mereka neraka pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 3118 dari Khaulah Al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha)Harta Allah ﷻ yang dimaksudkan di sini adalah harta yang dititipkan kepada manusia, baik diri sendiri, apalagi orang banyak. Termasuk pengelolaan harta kolektif terbesar dan paling beresiko adalah harta publik. Maka, ini perlu berhati-hati sekali. Takutlah kita kepada Allah ﷻ atas harta hamba-Nya yang kita urus. Terutama para pejabat pemerintahan yang mengurus harta umat manusia secara luas. Kemaslahatan besar ada di tangan Anda.Tiga peran dalam tugas kepemimpinanKetahuilah, dengan pengangkatanmu sebagai gubernur, engkau dijadikan sebagai bendahara, pemelihara, dan penggembala. Orang-orang yang berada di bawah wilayahmu disebut dengan gembalaan (ra’iyyah–yang merupakan akar kata rakyat). Penamaan itu karena engkau adalah penggembala dan penjaga mereka.Ambillah dari mereka apa yang mereka berikan dengan kerelaan dan kelapangan hati mereka, lalu gunakanlah hal itu untuk menegakkan urusan mereka, memperbaiki keadaan mereka, dan meluruskan penyimpangan mereka.Enam karakter pejabat pengurus rakyatUntuk mengurus rakyat, maka hendaklah dipilih orang-orang yang berkriteria:Memiliki pertimbangan matang (الرأي)Kecakapan mengatur (التدبير)Berpengalaman (التجرِبة)Pengetahuan yang mendalam (الخبرة بالعلم)Mampu bekerja dengan kebijakan politik (العمل بالسياسة)Bersikap iffah yakni menjaga kehormatan diri (العفاف)Orang yang berkualitas tinggi semacam ini hendaknya diberi gaji yang baik, karena itu merupakan hak yang lazim dan wajib engkau tunaikan terkait tugas yang telah engkau percayakan.CatatanDalam penerjemahan karakter ini, kami menggunakan makna yang luas yang dapat merangkum semua terjemahan. Kami himpun dari keterangan yang ada sehingga dapat dimaknai sebagai berikut. Adapun ada makna yang terluput, semoga Allah ﷻ ampuni kelalaian kami tersebut.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 5***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag. 6): Karakter Pejabat Publik Ideal dan Supremasi Hukum

Daftar Isi ToggleMelakukan supremasi hukumKarakter seorang hakimAdil dan amanah dalam masalah kutipan publikTiga peran dalam tugas kepemimpinanEnam karakter pejabat pengurus rakyatCatatanKepemimpinan itu memiliki banyak aspek dengan kompleksitas tinggi. Salah satu pondasi penting dalam kepemimpinan ialah kuatnya hukum dan kepercayaan pada sosok pemangku kebijakan. Aspek ini menjadi perhatian Thahir bin Al-Husain juga. Menurutnya, peradilan harus mendapatkan perhatian besar karena alasan yang sangat fundamental sekali. Tidak hanya itu, karakter para pemangku jabatan pun perlu diperhatikan dan menjadi panduan dalam menjalankan jabatan tersebut. Apa yang disajikan Thahir dalam wasiatnya ini sangat bisa sekali kita elaborasi untuk mengambil faidah yang lebih banyak.Melakukan supremasi hukumThahir bin Al-Husain melanjutkan wasiatnya,واعلم أن القضاء من الله بالمكان الذى ليس به شيء من الأمور لأنه ميزان الله الذى يعتدل عليه الأحوال في الأرضKetahuilah bahwa peradilan menempati kedudukan yang sangat agung dalam urusan yang ditetapkan Allah, sehingga hampir tidak ada satu pun urusan manusia yang terlepas darinya. Karena ia adalah timbangan Allah yang dengannya keadaan-keadaan di bumi menjadi lurus (adil).Apa dampak positif dari peradilan yang kuat?Dengan menegakkan keadilan di kantor pengadilan dan amal perbuatan, maka:Kondisi rakyat membaik;Jalan menjadi aman karena kriminalitas menurun;Orang yang dizalimi mendapatkan keadilan;Masyarakat memperoleh hak-hak mereka;Penghidupan mereka terjaga.Hak ketaatan pun akan tertunaikan, yakni Allah akan menganugerahkan kepada mereka yang menjalankan ketaatan dalam bentuk:Kesehatan;Keselamatan;Tegaknya agama;Berjalannya sunah dan syariat sebagaimana mestinya.Sebagai timbal balik, melalui jalur-jalur inilah kebenaran dan keadilan dalam peradilan dapat terwujud dan terlaksana.Riset modern menunjukkan bahwa ada korelasi kuat antara kuatnya peradilan dengan kemajuan negara. Merujuk pada hasil riset World Justice Project, negara dengan ketaatan hukum serta kekuatan peradilan tertinggi diisi oleh negara-negara yang secara ekonomi maju dan rakyatnya sejahtera. Sayang sekali, dalam daftar ini justru dipenuhi negara kafir atau non-believers. Sedangkan negara kaum muslimin, banyak memenuhi peringkat bontot.Padahal nasihat semacam ini lahir di rahim kaum muslimin. Bahkan, wasiat Thahir bin Al-Husain ini sejalan dengan firman Allah ﷻ,وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa.” (QS. An-Nur: 55)Seharusnya kaum muslimin yang pertama kali dapat menerapkan wasiat-wasiat ini. Karena Allah ﷻ yang langsung memberikan wejangan ini kepada para hamba-Nya dalam kitab suci kaum muslimin. Semoga kita dapat menjadi umat yang tidak sekadar muslim dalam nama, tetapi juga dalam nilai kehidupan.Karakter seorang hakimPada bagian ini, Thahir memberikan beberapa sifat-sifat yang penting dimiliki hakim, serta para pejabat publik lainnya. Masing-masing sifat ini dapat dijabarkan lebih banyak lagi berdasarkan dalil-dalil yang ada.Seorang hakim hendaknya memiliki sifat serta bersikap sebagai berikut:Tegas dalam menjalankan perintah Allah.Hindarilah mengambil tanpa hak.Tegakkan hukuman had.Kurangi berbuat tergesa-gesa.Jauhi rasa bimbang dan gelisah.Merasa cukuplah dengan sumpah seseorang.Manfaatkan pengalamanmu yang membangun ketajaman dalam mengambil keputusan.Fokuskan perhatian ketika engkau diam, dan harus tepat ketika engkau berbicara.Perlakukan penggugat dengan adil.Berhentilah jika ragu-ragu.Mantapkan dalam pembuktian.Jangan terpengaruh oleh rasa suka atau manis muka yang ditampilkan seseorang dari rakyatmu, atau terpengaruh rasa benci karena ejekan pencemooh.Teguhlah dalam bersikap dengan cara:perlahan-lahan,observasi,analisis mendetail,mereka (menganalisis) situasinyamerenungkanAmbil pelajaran.Rendahkan hati di hadapan Tuhanmu.Kasihilah semua rakyat.Biarkan kebenaran menguasai dirimu.Jangan menumpahkan darah terburu-buru, karena Allah ﷻ menilai penumpahan darah merupakan sesuatu yang sangat serius. Membunuh adalah bentuk pelanggaran atas-Nya di luar hak-Nya.Karakter hakim yang ditunjukkan oleh Thahir tidak hanya berupa karakter profesional selaku hakim, tetapi juga selaku hamba. Karena seorang hakim hanyalah satu peran dari banyaknya peran seorang hamba. Dan karakter hamba yang paling utama adalah rasa takutnya kepada Allah Al-Hakim.Adil dan amanah dalam masalah kutipan publikPada bagian ini, Thahir bin Al-Husain memberikan wasiat tentang pengelolaan kharaj atau kutipan atas tanah yang ditaklukkan oleh penguasa muslim. Hal ini muncul pertama kali di era Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Penerjemah menggunakan istilah pajak tanah, tetapi istilah lain yang kami gunakan adalah kutipan sewa tanah. Secara fikih, kharaj dibebankan kepada rakyat yang memanfaatkan tanah hasil rampasan perang. Kutipan tersebut diambil pemerintah dan digunakan untuk kebutuhan masyarakat. Jika melihat fungsinya, maka bisa disamakan dengan pengelolaan APBN yang umumnya datang dari pajak di masa kini.Thahir bin Al-Hushain beri wasiat,Perhatikan kutipan sewa tanah (kharaj), yang atasnya rakyat tegak bertahan. Dengan pungutan itu, Allah telah memperkuat dan meninggikan Islam, membantu dan melindungi umat Islam, membuat bingung dan kesal musuh-musuh Islam dan kaum muslimin, serta merendahkan dan menghinakan orang-orang kafir yang merupakan rakyat mereka. Maka distribusikan hasil kutipan tersebut kepada mereka yang berhak, lakukan dengan benar, adil, sama, dan umum merata.Jangan sekali-kali menarik kutipan kurang dari kewajibannya karena ia seorang bangsawan, atau dari orang kaya karena kekayaannya, atau dari salah seorang sekretarismu, ataupun dari salah seorang kawan karib dan kelompokmu. Jangan pula mengambil lebih dari yang semestinya. Jangan membebani siapa pun terlampau banyak. Perlakukan semua orang dengan benar. Hal ini lebih mudah diakui diri mereka dan lebih pasti untuk mencapai kepuasan umum.Wasiat Thahir ini mengandung pesan untuk jangan tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Lagi-lagi diingatkan, jangan hanya karena kedudukannya lebih tinggi atau dia orang dekat kita, lantas kita tidak menegakkan hukum dengan semestinya. Begitupula sebaliknya, jangan hanya karena yang kita hadapi ini adalah orang lemah, jadinya kita semena-mena.Adapun pelajaran yang sekiranya bisa kita petik ialah bahwa perlu sangat berhati-hati dalam masalah kutipan publik. Jangan sampai kutipan itu menzalimi rakyat, siapapun itu kelompoknya. Terlepas dari hukum perbuatan tersebut, tetapi prinsip pengelolaan ini penting sekali. Sebagaimana yang diterangkan oleh Nabi ﷺ,إِنَّ رِجَالاً يتخوَّضون فِي مَالِ اَللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ فَلَهُمْ اَلنَّارُ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ“Sesungguhnya beberapa orang mengelola harta Allah tanpa hak, maka bagi mereka neraka pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 3118 dari Khaulah Al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha)Harta Allah ﷻ yang dimaksudkan di sini adalah harta yang dititipkan kepada manusia, baik diri sendiri, apalagi orang banyak. Termasuk pengelolaan harta kolektif terbesar dan paling beresiko adalah harta publik. Maka, ini perlu berhati-hati sekali. Takutlah kita kepada Allah ﷻ atas harta hamba-Nya yang kita urus. Terutama para pejabat pemerintahan yang mengurus harta umat manusia secara luas. Kemaslahatan besar ada di tangan Anda.Tiga peran dalam tugas kepemimpinanKetahuilah, dengan pengangkatanmu sebagai gubernur, engkau dijadikan sebagai bendahara, pemelihara, dan penggembala. Orang-orang yang berada di bawah wilayahmu disebut dengan gembalaan (ra’iyyah–yang merupakan akar kata rakyat). Penamaan itu karena engkau adalah penggembala dan penjaga mereka.Ambillah dari mereka apa yang mereka berikan dengan kerelaan dan kelapangan hati mereka, lalu gunakanlah hal itu untuk menegakkan urusan mereka, memperbaiki keadaan mereka, dan meluruskan penyimpangan mereka.Enam karakter pejabat pengurus rakyatUntuk mengurus rakyat, maka hendaklah dipilih orang-orang yang berkriteria:Memiliki pertimbangan matang (الرأي)Kecakapan mengatur (التدبير)Berpengalaman (التجرِبة)Pengetahuan yang mendalam (الخبرة بالعلم)Mampu bekerja dengan kebijakan politik (العمل بالسياسة)Bersikap iffah yakni menjaga kehormatan diri (العفاف)Orang yang berkualitas tinggi semacam ini hendaknya diberi gaji yang baik, karena itu merupakan hak yang lazim dan wajib engkau tunaikan terkait tugas yang telah engkau percayakan.CatatanDalam penerjemahan karakter ini, kami menggunakan makna yang luas yang dapat merangkum semua terjemahan. Kami himpun dari keterangan yang ada sehingga dapat dimaknai sebagai berikut. Adapun ada makna yang terluput, semoga Allah ﷻ ampuni kelalaian kami tersebut.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 5***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleMelakukan supremasi hukumKarakter seorang hakimAdil dan amanah dalam masalah kutipan publikTiga peran dalam tugas kepemimpinanEnam karakter pejabat pengurus rakyatCatatanKepemimpinan itu memiliki banyak aspek dengan kompleksitas tinggi. Salah satu pondasi penting dalam kepemimpinan ialah kuatnya hukum dan kepercayaan pada sosok pemangku kebijakan. Aspek ini menjadi perhatian Thahir bin Al-Husain juga. Menurutnya, peradilan harus mendapatkan perhatian besar karena alasan yang sangat fundamental sekali. Tidak hanya itu, karakter para pemangku jabatan pun perlu diperhatikan dan menjadi panduan dalam menjalankan jabatan tersebut. Apa yang disajikan Thahir dalam wasiatnya ini sangat bisa sekali kita elaborasi untuk mengambil faidah yang lebih banyak.Melakukan supremasi hukumThahir bin Al-Husain melanjutkan wasiatnya,واعلم أن القضاء من الله بالمكان الذى ليس به شيء من الأمور لأنه ميزان الله الذى يعتدل عليه الأحوال في الأرضKetahuilah bahwa peradilan menempati kedudukan yang sangat agung dalam urusan yang ditetapkan Allah, sehingga hampir tidak ada satu pun urusan manusia yang terlepas darinya. Karena ia adalah timbangan Allah yang dengannya keadaan-keadaan di bumi menjadi lurus (adil).Apa dampak positif dari peradilan yang kuat?Dengan menegakkan keadilan di kantor pengadilan dan amal perbuatan, maka:Kondisi rakyat membaik;Jalan menjadi aman karena kriminalitas menurun;Orang yang dizalimi mendapatkan keadilan;Masyarakat memperoleh hak-hak mereka;Penghidupan mereka terjaga.Hak ketaatan pun akan tertunaikan, yakni Allah akan menganugerahkan kepada mereka yang menjalankan ketaatan dalam bentuk:Kesehatan;Keselamatan;Tegaknya agama;Berjalannya sunah dan syariat sebagaimana mestinya.Sebagai timbal balik, melalui jalur-jalur inilah kebenaran dan keadilan dalam peradilan dapat terwujud dan terlaksana.Riset modern menunjukkan bahwa ada korelasi kuat antara kuatnya peradilan dengan kemajuan negara. Merujuk pada hasil riset World Justice Project, negara dengan ketaatan hukum serta kekuatan peradilan tertinggi diisi oleh negara-negara yang secara ekonomi maju dan rakyatnya sejahtera. Sayang sekali, dalam daftar ini justru dipenuhi negara kafir atau non-believers. Sedangkan negara kaum muslimin, banyak memenuhi peringkat bontot.Padahal nasihat semacam ini lahir di rahim kaum muslimin. Bahkan, wasiat Thahir bin Al-Husain ini sejalan dengan firman Allah ﷻ,وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa.” (QS. An-Nur: 55)Seharusnya kaum muslimin yang pertama kali dapat menerapkan wasiat-wasiat ini. Karena Allah ﷻ yang langsung memberikan wejangan ini kepada para hamba-Nya dalam kitab suci kaum muslimin. Semoga kita dapat menjadi umat yang tidak sekadar muslim dalam nama, tetapi juga dalam nilai kehidupan.Karakter seorang hakimPada bagian ini, Thahir memberikan beberapa sifat-sifat yang penting dimiliki hakim, serta para pejabat publik lainnya. Masing-masing sifat ini dapat dijabarkan lebih banyak lagi berdasarkan dalil-dalil yang ada.Seorang hakim hendaknya memiliki sifat serta bersikap sebagai berikut:Tegas dalam menjalankan perintah Allah.Hindarilah mengambil tanpa hak.Tegakkan hukuman had.Kurangi berbuat tergesa-gesa.Jauhi rasa bimbang dan gelisah.Merasa cukuplah dengan sumpah seseorang.Manfaatkan pengalamanmu yang membangun ketajaman dalam mengambil keputusan.Fokuskan perhatian ketika engkau diam, dan harus tepat ketika engkau berbicara.Perlakukan penggugat dengan adil.Berhentilah jika ragu-ragu.Mantapkan dalam pembuktian.Jangan terpengaruh oleh rasa suka atau manis muka yang ditampilkan seseorang dari rakyatmu, atau terpengaruh rasa benci karena ejekan pencemooh.Teguhlah dalam bersikap dengan cara:perlahan-lahan,observasi,analisis mendetail,mereka (menganalisis) situasinyamerenungkanAmbil pelajaran.Rendahkan hati di hadapan Tuhanmu.Kasihilah semua rakyat.Biarkan kebenaran menguasai dirimu.Jangan menumpahkan darah terburu-buru, karena Allah ﷻ menilai penumpahan darah merupakan sesuatu yang sangat serius. Membunuh adalah bentuk pelanggaran atas-Nya di luar hak-Nya.Karakter hakim yang ditunjukkan oleh Thahir tidak hanya berupa karakter profesional selaku hakim, tetapi juga selaku hamba. Karena seorang hakim hanyalah satu peran dari banyaknya peran seorang hamba. Dan karakter hamba yang paling utama adalah rasa takutnya kepada Allah Al-Hakim.Adil dan amanah dalam masalah kutipan publikPada bagian ini, Thahir bin Al-Husain memberikan wasiat tentang pengelolaan kharaj atau kutipan atas tanah yang ditaklukkan oleh penguasa muslim. Hal ini muncul pertama kali di era Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Penerjemah menggunakan istilah pajak tanah, tetapi istilah lain yang kami gunakan adalah kutipan sewa tanah. Secara fikih, kharaj dibebankan kepada rakyat yang memanfaatkan tanah hasil rampasan perang. Kutipan tersebut diambil pemerintah dan digunakan untuk kebutuhan masyarakat. Jika melihat fungsinya, maka bisa disamakan dengan pengelolaan APBN yang umumnya datang dari pajak di masa kini.Thahir bin Al-Hushain beri wasiat,Perhatikan kutipan sewa tanah (kharaj), yang atasnya rakyat tegak bertahan. Dengan pungutan itu, Allah telah memperkuat dan meninggikan Islam, membantu dan melindungi umat Islam, membuat bingung dan kesal musuh-musuh Islam dan kaum muslimin, serta merendahkan dan menghinakan orang-orang kafir yang merupakan rakyat mereka. Maka distribusikan hasil kutipan tersebut kepada mereka yang berhak, lakukan dengan benar, adil, sama, dan umum merata.Jangan sekali-kali menarik kutipan kurang dari kewajibannya karena ia seorang bangsawan, atau dari orang kaya karena kekayaannya, atau dari salah seorang sekretarismu, ataupun dari salah seorang kawan karib dan kelompokmu. Jangan pula mengambil lebih dari yang semestinya. Jangan membebani siapa pun terlampau banyak. Perlakukan semua orang dengan benar. Hal ini lebih mudah diakui diri mereka dan lebih pasti untuk mencapai kepuasan umum.Wasiat Thahir ini mengandung pesan untuk jangan tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Lagi-lagi diingatkan, jangan hanya karena kedudukannya lebih tinggi atau dia orang dekat kita, lantas kita tidak menegakkan hukum dengan semestinya. Begitupula sebaliknya, jangan hanya karena yang kita hadapi ini adalah orang lemah, jadinya kita semena-mena.Adapun pelajaran yang sekiranya bisa kita petik ialah bahwa perlu sangat berhati-hati dalam masalah kutipan publik. Jangan sampai kutipan itu menzalimi rakyat, siapapun itu kelompoknya. Terlepas dari hukum perbuatan tersebut, tetapi prinsip pengelolaan ini penting sekali. Sebagaimana yang diterangkan oleh Nabi ﷺ,إِنَّ رِجَالاً يتخوَّضون فِي مَالِ اَللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ فَلَهُمْ اَلنَّارُ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ“Sesungguhnya beberapa orang mengelola harta Allah tanpa hak, maka bagi mereka neraka pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 3118 dari Khaulah Al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha)Harta Allah ﷻ yang dimaksudkan di sini adalah harta yang dititipkan kepada manusia, baik diri sendiri, apalagi orang banyak. Termasuk pengelolaan harta kolektif terbesar dan paling beresiko adalah harta publik. Maka, ini perlu berhati-hati sekali. Takutlah kita kepada Allah ﷻ atas harta hamba-Nya yang kita urus. Terutama para pejabat pemerintahan yang mengurus harta umat manusia secara luas. Kemaslahatan besar ada di tangan Anda.Tiga peran dalam tugas kepemimpinanKetahuilah, dengan pengangkatanmu sebagai gubernur, engkau dijadikan sebagai bendahara, pemelihara, dan penggembala. Orang-orang yang berada di bawah wilayahmu disebut dengan gembalaan (ra’iyyah–yang merupakan akar kata rakyat). Penamaan itu karena engkau adalah penggembala dan penjaga mereka.Ambillah dari mereka apa yang mereka berikan dengan kerelaan dan kelapangan hati mereka, lalu gunakanlah hal itu untuk menegakkan urusan mereka, memperbaiki keadaan mereka, dan meluruskan penyimpangan mereka.Enam karakter pejabat pengurus rakyatUntuk mengurus rakyat, maka hendaklah dipilih orang-orang yang berkriteria:Memiliki pertimbangan matang (الرأي)Kecakapan mengatur (التدبير)Berpengalaman (التجرِبة)Pengetahuan yang mendalam (الخبرة بالعلم)Mampu bekerja dengan kebijakan politik (العمل بالسياسة)Bersikap iffah yakni menjaga kehormatan diri (العفاف)Orang yang berkualitas tinggi semacam ini hendaknya diberi gaji yang baik, karena itu merupakan hak yang lazim dan wajib engkau tunaikan terkait tugas yang telah engkau percayakan.CatatanDalam penerjemahan karakter ini, kami menggunakan makna yang luas yang dapat merangkum semua terjemahan. Kami himpun dari keterangan yang ada sehingga dapat dimaknai sebagai berikut. Adapun ada makna yang terluput, semoga Allah ﷻ ampuni kelalaian kami tersebut.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 5***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleMelakukan supremasi hukumKarakter seorang hakimAdil dan amanah dalam masalah kutipan publikTiga peran dalam tugas kepemimpinanEnam karakter pejabat pengurus rakyatCatatanKepemimpinan itu memiliki banyak aspek dengan kompleksitas tinggi. Salah satu pondasi penting dalam kepemimpinan ialah kuatnya hukum dan kepercayaan pada sosok pemangku kebijakan. Aspek ini menjadi perhatian Thahir bin Al-Husain juga. Menurutnya, peradilan harus mendapatkan perhatian besar karena alasan yang sangat fundamental sekali. Tidak hanya itu, karakter para pemangku jabatan pun perlu diperhatikan dan menjadi panduan dalam menjalankan jabatan tersebut. Apa yang disajikan Thahir dalam wasiatnya ini sangat bisa sekali kita elaborasi untuk mengambil faidah yang lebih banyak.Melakukan supremasi hukumThahir bin Al-Husain melanjutkan wasiatnya,واعلم أن القضاء من الله بالمكان الذى ليس به شيء من الأمور لأنه ميزان الله الذى يعتدل عليه الأحوال في الأرضKetahuilah bahwa peradilan menempati kedudukan yang sangat agung dalam urusan yang ditetapkan Allah, sehingga hampir tidak ada satu pun urusan manusia yang terlepas darinya. Karena ia adalah timbangan Allah yang dengannya keadaan-keadaan di bumi menjadi lurus (adil).Apa dampak positif dari peradilan yang kuat?Dengan menegakkan keadilan di kantor pengadilan dan amal perbuatan, maka:Kondisi rakyat membaik;Jalan menjadi aman karena kriminalitas menurun;Orang yang dizalimi mendapatkan keadilan;Masyarakat memperoleh hak-hak mereka;Penghidupan mereka terjaga.Hak ketaatan pun akan tertunaikan, yakni Allah akan menganugerahkan kepada mereka yang menjalankan ketaatan dalam bentuk:Kesehatan;Keselamatan;Tegaknya agama;Berjalannya sunah dan syariat sebagaimana mestinya.Sebagai timbal balik, melalui jalur-jalur inilah kebenaran dan keadilan dalam peradilan dapat terwujud dan terlaksana.Riset modern menunjukkan bahwa ada korelasi kuat antara kuatnya peradilan dengan kemajuan negara. Merujuk pada hasil riset World Justice Project, negara dengan ketaatan hukum serta kekuatan peradilan tertinggi diisi oleh negara-negara yang secara ekonomi maju dan rakyatnya sejahtera. Sayang sekali, dalam daftar ini justru dipenuhi negara kafir atau non-believers. Sedangkan negara kaum muslimin, banyak memenuhi peringkat bontot.Padahal nasihat semacam ini lahir di rahim kaum muslimin. Bahkan, wasiat Thahir bin Al-Husain ini sejalan dengan firman Allah ﷻ,وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa.” (QS. An-Nur: 55)Seharusnya kaum muslimin yang pertama kali dapat menerapkan wasiat-wasiat ini. Karena Allah ﷻ yang langsung memberikan wejangan ini kepada para hamba-Nya dalam kitab suci kaum muslimin. Semoga kita dapat menjadi umat yang tidak sekadar muslim dalam nama, tetapi juga dalam nilai kehidupan.Karakter seorang hakimPada bagian ini, Thahir memberikan beberapa sifat-sifat yang penting dimiliki hakim, serta para pejabat publik lainnya. Masing-masing sifat ini dapat dijabarkan lebih banyak lagi berdasarkan dalil-dalil yang ada.Seorang hakim hendaknya memiliki sifat serta bersikap sebagai berikut:Tegas dalam menjalankan perintah Allah.Hindarilah mengambil tanpa hak.Tegakkan hukuman had.Kurangi berbuat tergesa-gesa.Jauhi rasa bimbang dan gelisah.Merasa cukuplah dengan sumpah seseorang.Manfaatkan pengalamanmu yang membangun ketajaman dalam mengambil keputusan.Fokuskan perhatian ketika engkau diam, dan harus tepat ketika engkau berbicara.Perlakukan penggugat dengan adil.Berhentilah jika ragu-ragu.Mantapkan dalam pembuktian.Jangan terpengaruh oleh rasa suka atau manis muka yang ditampilkan seseorang dari rakyatmu, atau terpengaruh rasa benci karena ejekan pencemooh.Teguhlah dalam bersikap dengan cara:perlahan-lahan,observasi,analisis mendetail,mereka (menganalisis) situasinyamerenungkanAmbil pelajaran.Rendahkan hati di hadapan Tuhanmu.Kasihilah semua rakyat.Biarkan kebenaran menguasai dirimu.Jangan menumpahkan darah terburu-buru, karena Allah ﷻ menilai penumpahan darah merupakan sesuatu yang sangat serius. Membunuh adalah bentuk pelanggaran atas-Nya di luar hak-Nya.Karakter hakim yang ditunjukkan oleh Thahir tidak hanya berupa karakter profesional selaku hakim, tetapi juga selaku hamba. Karena seorang hakim hanyalah satu peran dari banyaknya peran seorang hamba. Dan karakter hamba yang paling utama adalah rasa takutnya kepada Allah Al-Hakim.Adil dan amanah dalam masalah kutipan publikPada bagian ini, Thahir bin Al-Husain memberikan wasiat tentang pengelolaan kharaj atau kutipan atas tanah yang ditaklukkan oleh penguasa muslim. Hal ini muncul pertama kali di era Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Penerjemah menggunakan istilah pajak tanah, tetapi istilah lain yang kami gunakan adalah kutipan sewa tanah. Secara fikih, kharaj dibebankan kepada rakyat yang memanfaatkan tanah hasil rampasan perang. Kutipan tersebut diambil pemerintah dan digunakan untuk kebutuhan masyarakat. Jika melihat fungsinya, maka bisa disamakan dengan pengelolaan APBN yang umumnya datang dari pajak di masa kini.Thahir bin Al-Hushain beri wasiat,Perhatikan kutipan sewa tanah (kharaj), yang atasnya rakyat tegak bertahan. Dengan pungutan itu, Allah telah memperkuat dan meninggikan Islam, membantu dan melindungi umat Islam, membuat bingung dan kesal musuh-musuh Islam dan kaum muslimin, serta merendahkan dan menghinakan orang-orang kafir yang merupakan rakyat mereka. Maka distribusikan hasil kutipan tersebut kepada mereka yang berhak, lakukan dengan benar, adil, sama, dan umum merata.Jangan sekali-kali menarik kutipan kurang dari kewajibannya karena ia seorang bangsawan, atau dari orang kaya karena kekayaannya, atau dari salah seorang sekretarismu, ataupun dari salah seorang kawan karib dan kelompokmu. Jangan pula mengambil lebih dari yang semestinya. Jangan membebani siapa pun terlampau banyak. Perlakukan semua orang dengan benar. Hal ini lebih mudah diakui diri mereka dan lebih pasti untuk mencapai kepuasan umum.Wasiat Thahir ini mengandung pesan untuk jangan tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Lagi-lagi diingatkan, jangan hanya karena kedudukannya lebih tinggi atau dia orang dekat kita, lantas kita tidak menegakkan hukum dengan semestinya. Begitupula sebaliknya, jangan hanya karena yang kita hadapi ini adalah orang lemah, jadinya kita semena-mena.Adapun pelajaran yang sekiranya bisa kita petik ialah bahwa perlu sangat berhati-hati dalam masalah kutipan publik. Jangan sampai kutipan itu menzalimi rakyat, siapapun itu kelompoknya. Terlepas dari hukum perbuatan tersebut, tetapi prinsip pengelolaan ini penting sekali. Sebagaimana yang diterangkan oleh Nabi ﷺ,إِنَّ رِجَالاً يتخوَّضون فِي مَالِ اَللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ فَلَهُمْ اَلنَّارُ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ“Sesungguhnya beberapa orang mengelola harta Allah tanpa hak, maka bagi mereka neraka pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 3118 dari Khaulah Al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha)Harta Allah ﷻ yang dimaksudkan di sini adalah harta yang dititipkan kepada manusia, baik diri sendiri, apalagi orang banyak. Termasuk pengelolaan harta kolektif terbesar dan paling beresiko adalah harta publik. Maka, ini perlu berhati-hati sekali. Takutlah kita kepada Allah ﷻ atas harta hamba-Nya yang kita urus. Terutama para pejabat pemerintahan yang mengurus harta umat manusia secara luas. Kemaslahatan besar ada di tangan Anda.Tiga peran dalam tugas kepemimpinanKetahuilah, dengan pengangkatanmu sebagai gubernur, engkau dijadikan sebagai bendahara, pemelihara, dan penggembala. Orang-orang yang berada di bawah wilayahmu disebut dengan gembalaan (ra’iyyah–yang merupakan akar kata rakyat). Penamaan itu karena engkau adalah penggembala dan penjaga mereka.Ambillah dari mereka apa yang mereka berikan dengan kerelaan dan kelapangan hati mereka, lalu gunakanlah hal itu untuk menegakkan urusan mereka, memperbaiki keadaan mereka, dan meluruskan penyimpangan mereka.Enam karakter pejabat pengurus rakyatUntuk mengurus rakyat, maka hendaklah dipilih orang-orang yang berkriteria:Memiliki pertimbangan matang (الرأي)Kecakapan mengatur (التدبير)Berpengalaman (التجرِبة)Pengetahuan yang mendalam (الخبرة بالعلم)Mampu bekerja dengan kebijakan politik (العمل بالسياسة)Bersikap iffah yakni menjaga kehormatan diri (العفاف)Orang yang berkualitas tinggi semacam ini hendaknya diberi gaji yang baik, karena itu merupakan hak yang lazim dan wajib engkau tunaikan terkait tugas yang telah engkau percayakan.CatatanDalam penerjemahan karakter ini, kami menggunakan makna yang luas yang dapat merangkum semua terjemahan. Kami himpun dari keterangan yang ada sehingga dapat dimaknai sebagai berikut. Adapun ada makna yang terluput, semoga Allah ﷻ ampuni kelalaian kami tersebut.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 5***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

JIKA PINTU ILMU DIBUKAKAN UNTUKMU, JANGAN TINGGALKAN – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Oleh karena itu, sungguh, siapa yang Allah ‘Azza wa Jalla tanamkan kecintaan kepada ilmu dalam dirinya, dan Allah beri ia taufik untuk menempuh jalan ilmu, maka sungguh, ia telah dibukakan sebuah pintu yang tertutup bagi banyak orang. Diriwayatkan dalam hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memahamkannya agama.” (HR. Bukhari). Sabda beliau, “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya,” menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mengkhususkan siapa yang Dia kehendaki dengan amal saleh yang Dia kehendaki. Maka, kepada sebagian orang, Allah menanamkan kecintaan untuk berinfak dan bersikap dermawan; berinfak kepada orang-orang fakir dan bersikap dermawan kepada para tamu dan yang lainnya. Kepada sebagian yang lain, Allah menanamkan kecintaan terhadap salat dan qiyamul lail. Dan kepada sebagian yang lain, Allah menanamkan kecintaan terhadap ilmu, serta menjadikan ilmu itu mudah baginya dan mudah mengalir di lisannya. Allah juga memudahkannya dalam memahami ilmu tersebut. Maka karena itu, siapa yang telah dibukakan baginya pintu ini, yaitu pintu ilmu, hendaklah ia banyak memuji Allah ‘Azza wa Jalla, dan bersungguh-sungguh agar tidak terputus dalam menuntut ilmu. Karena, sungguh telah dibukakan baginya sebuah pintu kebaikan yang tertutup bagi banyak orang yang mendambakannya. Namun, sejatinya, siapa yang telah mulai menuntut ilmu, lalu berhenti darinya, sebenarnya ia telah membuat dirinya kehilangan kebaikan yang sangat besar. Dalam sebagian jalur riwayat hadis yang telah disebutkan tadi, terdapat lafaz, “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memahamkannya agama.” (HR. Bukhari). Meskipun ada catatan pada sanad riwayat tersebut, sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar, “Dan siapa yang tidak memahami agama, maka tidak ada kebaikan padanya.” Maka ketika seseorang telah Allah kehendaki kebaikan baginya, kemudian ia malah meninggalkannya setelah itu, maka dalam hal ini kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla, barangkali ini termasuk perkara yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung darinya, yaitu kemunduran setelah kemajuan. ===== وَلِذَلِكَ حَقِيقَةً مَنْ حَبَّبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ الْعِلْمَ وَوَفَّقَهُ لِسُلُوكِ طَرِيقِهِ فَإِنَّ هَذَا فَتْحُ بَابٍ أُغْلِقَ عَلَى كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ فَقَوْلُهُ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَخْتَصُّ مَنْ شَاءَ بِمَا شَاءَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَيُحَبِّبُ لِبَعْضِ النَّاسِ النَّفَقَةَ وَالْكَرَمَ النَّفَقَةَ عَلَى الْفُقَرَاءِ وَالْكَرَمَ لِلضُّيُوفِ وَغَيْرِهِمْ وَيُحَبِّبُ لِبَعْضِ النَّاسِ الصَّلَاةَ وَقِيَامَ اللَّيْلِ وَيُحَبِّبُ لِبَعْضِ النَّاسِ الْعِلْمَ وَيُسَهِّلُهُ عَلَيْهِ وَيُيَسِّرُهُ عَلَى لِسَانِهِ وَيُسَهِّلُ فَهْمَهُ عَلَيْهِ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مَنْ فُتِحَ لَهُ فِي هَذَا الْبَابِ أَعْنِي بَابَ الْعِلْمِ فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ كَثِيرًا وَلْيَحْرِصْ عَلَى عَدَمِ الِانْقِطَاعِ فِيهِ فَإِنَّهُ قَدْ فُتِحَ لَهُ بَابٌ مِنَ الْخَيْرِ أُغْلِقَ عَلَى كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ يَرْغَبُ بِهِ وَلَكِنْ حَقِيقَةً مَنِ ابْتَدَأَ الْعِلْمَ ثُمَّ انْقَطَعَ عَنْهُ بَعْدَ ذَلِكَ فَإِنَّهُ فِي الْحَقِيقَةِ فَوَّتَ عَلَى نَفْسِهِ خَيْرًا عَظِيمًا وَقَدْ جَاءَ فِي بَعْضِ طُرُقِ الْحَدِيثِ الْمُتَقَدِّمِ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَإِنْ كَانَ فِي إِسْنَادِهَا مَقَالٌ كَمَا قَالَ ابْنُ حَجَرٍ وَمَنْ لَمْ يَفْقَهْ فَلَا خَيْرَ فِيهِ فَحِينَمَا يَكُونُ الْمَرْءُ قَدْ أَرَادَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا ثُمَّ تَرَكَهُ بَعْدَ ذَلِكَ فَهَذَا نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ رُبَّمَا يَدْخُلُ مِمَّا اسْتَعَاذَ مِنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْحَوْرِ بَعْدَ الْكَوْرِ

JIKA PINTU ILMU DIBUKAKAN UNTUKMU, JANGAN TINGGALKAN – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Oleh karena itu, sungguh, siapa yang Allah ‘Azza wa Jalla tanamkan kecintaan kepada ilmu dalam dirinya, dan Allah beri ia taufik untuk menempuh jalan ilmu, maka sungguh, ia telah dibukakan sebuah pintu yang tertutup bagi banyak orang. Diriwayatkan dalam hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memahamkannya agama.” (HR. Bukhari). Sabda beliau, “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya,” menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mengkhususkan siapa yang Dia kehendaki dengan amal saleh yang Dia kehendaki. Maka, kepada sebagian orang, Allah menanamkan kecintaan untuk berinfak dan bersikap dermawan; berinfak kepada orang-orang fakir dan bersikap dermawan kepada para tamu dan yang lainnya. Kepada sebagian yang lain, Allah menanamkan kecintaan terhadap salat dan qiyamul lail. Dan kepada sebagian yang lain, Allah menanamkan kecintaan terhadap ilmu, serta menjadikan ilmu itu mudah baginya dan mudah mengalir di lisannya. Allah juga memudahkannya dalam memahami ilmu tersebut. Maka karena itu, siapa yang telah dibukakan baginya pintu ini, yaitu pintu ilmu, hendaklah ia banyak memuji Allah ‘Azza wa Jalla, dan bersungguh-sungguh agar tidak terputus dalam menuntut ilmu. Karena, sungguh telah dibukakan baginya sebuah pintu kebaikan yang tertutup bagi banyak orang yang mendambakannya. Namun, sejatinya, siapa yang telah mulai menuntut ilmu, lalu berhenti darinya, sebenarnya ia telah membuat dirinya kehilangan kebaikan yang sangat besar. Dalam sebagian jalur riwayat hadis yang telah disebutkan tadi, terdapat lafaz, “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memahamkannya agama.” (HR. Bukhari). Meskipun ada catatan pada sanad riwayat tersebut, sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar, “Dan siapa yang tidak memahami agama, maka tidak ada kebaikan padanya.” Maka ketika seseorang telah Allah kehendaki kebaikan baginya, kemudian ia malah meninggalkannya setelah itu, maka dalam hal ini kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla, barangkali ini termasuk perkara yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung darinya, yaitu kemunduran setelah kemajuan. ===== وَلِذَلِكَ حَقِيقَةً مَنْ حَبَّبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ الْعِلْمَ وَوَفَّقَهُ لِسُلُوكِ طَرِيقِهِ فَإِنَّ هَذَا فَتْحُ بَابٍ أُغْلِقَ عَلَى كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ فَقَوْلُهُ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَخْتَصُّ مَنْ شَاءَ بِمَا شَاءَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَيُحَبِّبُ لِبَعْضِ النَّاسِ النَّفَقَةَ وَالْكَرَمَ النَّفَقَةَ عَلَى الْفُقَرَاءِ وَالْكَرَمَ لِلضُّيُوفِ وَغَيْرِهِمْ وَيُحَبِّبُ لِبَعْضِ النَّاسِ الصَّلَاةَ وَقِيَامَ اللَّيْلِ وَيُحَبِّبُ لِبَعْضِ النَّاسِ الْعِلْمَ وَيُسَهِّلُهُ عَلَيْهِ وَيُيَسِّرُهُ عَلَى لِسَانِهِ وَيُسَهِّلُ فَهْمَهُ عَلَيْهِ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مَنْ فُتِحَ لَهُ فِي هَذَا الْبَابِ أَعْنِي بَابَ الْعِلْمِ فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ كَثِيرًا وَلْيَحْرِصْ عَلَى عَدَمِ الِانْقِطَاعِ فِيهِ فَإِنَّهُ قَدْ فُتِحَ لَهُ بَابٌ مِنَ الْخَيْرِ أُغْلِقَ عَلَى كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ يَرْغَبُ بِهِ وَلَكِنْ حَقِيقَةً مَنِ ابْتَدَأَ الْعِلْمَ ثُمَّ انْقَطَعَ عَنْهُ بَعْدَ ذَلِكَ فَإِنَّهُ فِي الْحَقِيقَةِ فَوَّتَ عَلَى نَفْسِهِ خَيْرًا عَظِيمًا وَقَدْ جَاءَ فِي بَعْضِ طُرُقِ الْحَدِيثِ الْمُتَقَدِّمِ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَإِنْ كَانَ فِي إِسْنَادِهَا مَقَالٌ كَمَا قَالَ ابْنُ حَجَرٍ وَمَنْ لَمْ يَفْقَهْ فَلَا خَيْرَ فِيهِ فَحِينَمَا يَكُونُ الْمَرْءُ قَدْ أَرَادَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا ثُمَّ تَرَكَهُ بَعْدَ ذَلِكَ فَهَذَا نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ رُبَّمَا يَدْخُلُ مِمَّا اسْتَعَاذَ مِنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْحَوْرِ بَعْدَ الْكَوْرِ
Oleh karena itu, sungguh, siapa yang Allah ‘Azza wa Jalla tanamkan kecintaan kepada ilmu dalam dirinya, dan Allah beri ia taufik untuk menempuh jalan ilmu, maka sungguh, ia telah dibukakan sebuah pintu yang tertutup bagi banyak orang. Diriwayatkan dalam hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memahamkannya agama.” (HR. Bukhari). Sabda beliau, “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya,” menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mengkhususkan siapa yang Dia kehendaki dengan amal saleh yang Dia kehendaki. Maka, kepada sebagian orang, Allah menanamkan kecintaan untuk berinfak dan bersikap dermawan; berinfak kepada orang-orang fakir dan bersikap dermawan kepada para tamu dan yang lainnya. Kepada sebagian yang lain, Allah menanamkan kecintaan terhadap salat dan qiyamul lail. Dan kepada sebagian yang lain, Allah menanamkan kecintaan terhadap ilmu, serta menjadikan ilmu itu mudah baginya dan mudah mengalir di lisannya. Allah juga memudahkannya dalam memahami ilmu tersebut. Maka karena itu, siapa yang telah dibukakan baginya pintu ini, yaitu pintu ilmu, hendaklah ia banyak memuji Allah ‘Azza wa Jalla, dan bersungguh-sungguh agar tidak terputus dalam menuntut ilmu. Karena, sungguh telah dibukakan baginya sebuah pintu kebaikan yang tertutup bagi banyak orang yang mendambakannya. Namun, sejatinya, siapa yang telah mulai menuntut ilmu, lalu berhenti darinya, sebenarnya ia telah membuat dirinya kehilangan kebaikan yang sangat besar. Dalam sebagian jalur riwayat hadis yang telah disebutkan tadi, terdapat lafaz, “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memahamkannya agama.” (HR. Bukhari). Meskipun ada catatan pada sanad riwayat tersebut, sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar, “Dan siapa yang tidak memahami agama, maka tidak ada kebaikan padanya.” Maka ketika seseorang telah Allah kehendaki kebaikan baginya, kemudian ia malah meninggalkannya setelah itu, maka dalam hal ini kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla, barangkali ini termasuk perkara yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung darinya, yaitu kemunduran setelah kemajuan. ===== وَلِذَلِكَ حَقِيقَةً مَنْ حَبَّبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ الْعِلْمَ وَوَفَّقَهُ لِسُلُوكِ طَرِيقِهِ فَإِنَّ هَذَا فَتْحُ بَابٍ أُغْلِقَ عَلَى كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ فَقَوْلُهُ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَخْتَصُّ مَنْ شَاءَ بِمَا شَاءَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَيُحَبِّبُ لِبَعْضِ النَّاسِ النَّفَقَةَ وَالْكَرَمَ النَّفَقَةَ عَلَى الْفُقَرَاءِ وَالْكَرَمَ لِلضُّيُوفِ وَغَيْرِهِمْ وَيُحَبِّبُ لِبَعْضِ النَّاسِ الصَّلَاةَ وَقِيَامَ اللَّيْلِ وَيُحَبِّبُ لِبَعْضِ النَّاسِ الْعِلْمَ وَيُسَهِّلُهُ عَلَيْهِ وَيُيَسِّرُهُ عَلَى لِسَانِهِ وَيُسَهِّلُ فَهْمَهُ عَلَيْهِ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مَنْ فُتِحَ لَهُ فِي هَذَا الْبَابِ أَعْنِي بَابَ الْعِلْمِ فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ كَثِيرًا وَلْيَحْرِصْ عَلَى عَدَمِ الِانْقِطَاعِ فِيهِ فَإِنَّهُ قَدْ فُتِحَ لَهُ بَابٌ مِنَ الْخَيْرِ أُغْلِقَ عَلَى كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ يَرْغَبُ بِهِ وَلَكِنْ حَقِيقَةً مَنِ ابْتَدَأَ الْعِلْمَ ثُمَّ انْقَطَعَ عَنْهُ بَعْدَ ذَلِكَ فَإِنَّهُ فِي الْحَقِيقَةِ فَوَّتَ عَلَى نَفْسِهِ خَيْرًا عَظِيمًا وَقَدْ جَاءَ فِي بَعْضِ طُرُقِ الْحَدِيثِ الْمُتَقَدِّمِ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَإِنْ كَانَ فِي إِسْنَادِهَا مَقَالٌ كَمَا قَالَ ابْنُ حَجَرٍ وَمَنْ لَمْ يَفْقَهْ فَلَا خَيْرَ فِيهِ فَحِينَمَا يَكُونُ الْمَرْءُ قَدْ أَرَادَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا ثُمَّ تَرَكَهُ بَعْدَ ذَلِكَ فَهَذَا نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ رُبَّمَا يَدْخُلُ مِمَّا اسْتَعَاذَ مِنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْحَوْرِ بَعْدَ الْكَوْرِ


Oleh karena itu, sungguh, siapa yang Allah ‘Azza wa Jalla tanamkan kecintaan kepada ilmu dalam dirinya, dan Allah beri ia taufik untuk menempuh jalan ilmu, maka sungguh, ia telah dibukakan sebuah pintu yang tertutup bagi banyak orang. Diriwayatkan dalam hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memahamkannya agama.” (HR. Bukhari). Sabda beliau, “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya,” menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mengkhususkan siapa yang Dia kehendaki dengan amal saleh yang Dia kehendaki. Maka, kepada sebagian orang, Allah menanamkan kecintaan untuk berinfak dan bersikap dermawan; berinfak kepada orang-orang fakir dan bersikap dermawan kepada para tamu dan yang lainnya. Kepada sebagian yang lain, Allah menanamkan kecintaan terhadap salat dan qiyamul lail. Dan kepada sebagian yang lain, Allah menanamkan kecintaan terhadap ilmu, serta menjadikan ilmu itu mudah baginya dan mudah mengalir di lisannya. Allah juga memudahkannya dalam memahami ilmu tersebut. Maka karena itu, siapa yang telah dibukakan baginya pintu ini, yaitu pintu ilmu, hendaklah ia banyak memuji Allah ‘Azza wa Jalla, dan bersungguh-sungguh agar tidak terputus dalam menuntut ilmu. Karena, sungguh telah dibukakan baginya sebuah pintu kebaikan yang tertutup bagi banyak orang yang mendambakannya. Namun, sejatinya, siapa yang telah mulai menuntut ilmu, lalu berhenti darinya, sebenarnya ia telah membuat dirinya kehilangan kebaikan yang sangat besar. Dalam sebagian jalur riwayat hadis yang telah disebutkan tadi, terdapat lafaz, “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memahamkannya agama.” (HR. Bukhari). Meskipun ada catatan pada sanad riwayat tersebut, sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar, “Dan siapa yang tidak memahami agama, maka tidak ada kebaikan padanya.” Maka ketika seseorang telah Allah kehendaki kebaikan baginya, kemudian ia malah meninggalkannya setelah itu, maka dalam hal ini kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla, barangkali ini termasuk perkara yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung darinya, yaitu kemunduran setelah kemajuan. ===== وَلِذَلِكَ حَقِيقَةً مَنْ حَبَّبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ الْعِلْمَ وَوَفَّقَهُ لِسُلُوكِ طَرِيقِهِ فَإِنَّ هَذَا فَتْحُ بَابٍ أُغْلِقَ عَلَى كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ فَقَوْلُهُ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَخْتَصُّ مَنْ شَاءَ بِمَا شَاءَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَيُحَبِّبُ لِبَعْضِ النَّاسِ النَّفَقَةَ وَالْكَرَمَ النَّفَقَةَ عَلَى الْفُقَرَاءِ وَالْكَرَمَ لِلضُّيُوفِ وَغَيْرِهِمْ وَيُحَبِّبُ لِبَعْضِ النَّاسِ الصَّلَاةَ وَقِيَامَ اللَّيْلِ وَيُحَبِّبُ لِبَعْضِ النَّاسِ الْعِلْمَ وَيُسَهِّلُهُ عَلَيْهِ وَيُيَسِّرُهُ عَلَى لِسَانِهِ وَيُسَهِّلُ فَهْمَهُ عَلَيْهِ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مَنْ فُتِحَ لَهُ فِي هَذَا الْبَابِ أَعْنِي بَابَ الْعِلْمِ فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ كَثِيرًا وَلْيَحْرِصْ عَلَى عَدَمِ الِانْقِطَاعِ فِيهِ فَإِنَّهُ قَدْ فُتِحَ لَهُ بَابٌ مِنَ الْخَيْرِ أُغْلِقَ عَلَى كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ يَرْغَبُ بِهِ وَلَكِنْ حَقِيقَةً مَنِ ابْتَدَأَ الْعِلْمَ ثُمَّ انْقَطَعَ عَنْهُ بَعْدَ ذَلِكَ فَإِنَّهُ فِي الْحَقِيقَةِ فَوَّتَ عَلَى نَفْسِهِ خَيْرًا عَظِيمًا وَقَدْ جَاءَ فِي بَعْضِ طُرُقِ الْحَدِيثِ الْمُتَقَدِّمِ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَإِنْ كَانَ فِي إِسْنَادِهَا مَقَالٌ كَمَا قَالَ ابْنُ حَجَرٍ وَمَنْ لَمْ يَفْقَهْ فَلَا خَيْرَ فِيهِ فَحِينَمَا يَكُونُ الْمَرْءُ قَدْ أَرَادَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا ثُمَّ تَرَكَهُ بَعْدَ ذَلِكَ فَهَذَا نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ رُبَّمَا يَدْخُلُ مِمَّا اسْتَعَاذَ مِنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْحَوْرِ بَعْدَ الْكَوْرِ

Tafsir Surah Al-Mutaffifin (Bag. 4): Balasan atas Buruknya Perilaku Orang Kafir Kepada Kaum Muslimin di Dunia

Pada tafsir sebelumnya, kita telah membaca bagaimana balasan kebaikan yang Allah janjikan bagi jiwa-jiwa yang taat, serta berbuat kebaikan untuk kehidupan bermasyarakat, serta Allah tutup dengan motivasi untuk berlomba mengejar balasan surga tersebut.Pada tafsir potongan surah Al-Mutaffifin ayat 29-36 ini, Allah berbicara kepada kita tentang bagaimana busuknya perilaku kehidupan bersosial orang-orang kafir, dimana mereka menghina dan menertawakan kaum muslimin karena iman yang ada pada hari mereka. Setelah itu, Allah jelaskan balasan setimpal yang akan diterima orang-orang kafir di dunia karena keburukan yang telah mereka lakukan di dunia. Tujuan akhir dari potongan ayat ini adalah memberikan hiburan bagi kaum muslimin, yang pada kehidupan di dunia mendapatkan kesulitan hidup karena direndahkan dan disakiti oleh orang-orang kafir. Nanti di hari kiamat, Allah akan balik roda kehidupan tersebut, dimana kaum muslimin akan mentertawakan orang-orang kafir yang sedang dibakar dan disiksa di neraka.Adapun sebab turunnya ayat ini adalah karena segerombolan pembesar orang musyrik Makkah seperti Abu Jahal, Walid bin Mughirah, atau Al-Ash bi Wail menertawakan orang-orang lemah dari golongan kaum muslimin. Mereka menertawakan kesulitan hidup yang dihadapi orang-orang lemah ini, serta merendahkannya karena merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi karena banyaknya harta dunia yang dimiliki.Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelasakan tentang empat perilaku busuk orang kafir yang mereka timpakan kepada kaum muslimin.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ اَجْرَمُوْا كَانُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يَضْحَكُوْنَۖ“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu selalu menertawakan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 29)Orang-orang berdosa yang Allah bahas dalam ayat ini adalah orang-orang kafir Quraisy dan orang kafir secara umum yang memiliki perilaku busuk menghina dan menertawakan orang-orang yang beriman. Mereka melakukan yang demikian, di antara sebabnya adalah karena merasa kedudukannya lebih tinggi, bisa jadi karena jabatan yang tinggi, harta yang banyak, pengikut yang setia, dan semisalnya.Orang-orang kafir ini, dengan sesembahan mereka yang banyak selain Allah, juga merasa bahwa merekalah yang berada di atas kebenaran, karena mereka telah mempraktekkan agama mereka selama puluhan atau mungkin ratusan tahun lamanya. Sedangkan orang-orang muslim yang membawa cahaya hidayah, malah mereka anggap sebagai orang-orang yang tersesat.Dalam Tafsir Mahasinut Takwil dijelaskan bahwa ketika Allah Ta’ala menganugerahkan umat ini dengan diutusnya Nabi Akhir zaman, yaitu Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, gaung kebenaran yang beliau suarakan pada awal Islam masih begitu sayup dan sepi. Beliau mulanya mendakwahkan secara sembunyi-sembunyi kepada keluarga terdekat, serta orang-orang berhati lembut yang beliau kenal dan punya potensi besar menerima kebenaran. Orang-orang berhati lembut ini kebanyakan adalah dari golongan orang-orang yang lemah, dimana hingar bingar kekayaan harta benda duniawi belum merusak fitrah mereka yang murni. Mereka bisa mengenali hidayah dengan hati mereka, kemudian melepaskan semua kesyirikan yang membebani punggung mereka tanpa ada rasa kesulitan sedikitpun.Berbeda halnya dengan para pembesar, orang-orang kaya dan berkuasa, yang mereka senantiasa ingin mempertahankan jabatan, kebesaran, dan harta dunia mereka, selalu ingin berada dalam status quo, tidak ingin “diusik” ketenangan mereka. Mereka merendahkan dan menghina orang lain untuk semakin menaikkan kedudukan mereka. Semakin keras pengingkaran mereka kepada setiap orang yang mengajak keluar dari kebiasaan lama yang sudah mengakar kuat pada diri mereka, terlebih lagi jika yang menyeru kedudukannya lebih lemah fisiknya, hartanya, serta lebih sedikit jumlahnya.Akan tetapi, kita dapati sebagian orang kaya dan berkedudukan tinggi dapat dengan mudahnya menerima Islam, sebut saja seperti istri Nabi Khadijah, kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq, lalu Ustman bin Affan, beliau-beliau adalah di antara pembesar Quraisy yang dengan mudah menerima Islam. Semuanya karena nikmat hidayah dari Allah, kemudian dikarenakan baiknya interaksi sosial mereka sebelum Islam menyapa mereka, sehingga Allah juga menyayangi mereka dan memudahkan hidayah masuk, serta menyelamatkan mereka.Ibnu Abbas menafsirkan bahwa orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini ketika turunnya ayat, yang merendahkan dan menertawakan kaum muslimin adalah Walid bin Mughirah, Uqbah bin Abi Mu’aith, Al-Ash bin Wail, Al-Ash bin Hisyam, Abu Jahal, dan semisal mereka. Adapun orang-orang lemah kaum muslimin yang mereka tertawakan semisal keluarga Ammar, Khabbab, Shuhaib, serta Bilal radhiyallahu ‘anhum ajmain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا مَرُّوْا بِهِمْ يَتَغَامَزُوْنَۖ“Apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 30)Allah menjelaskan kebusukan perilaku orang-orang kafir yang kedua, yaitu apabila orang-orang muslim melintas melewati tempat berkumpulnya mereka, maka mereka akan saling mengedip-ngedipkan mata dan saling memandang satu sama lain. Ini adalah bentuk penghinaan dan perendahan orang lain.Dalam Tafsir Al-Iklil disebutkan bahwa ayat ini menjadi dalil larangan merendahkan, menertawakan, serta mengedip-ngedipkan mata dengan bentuk menghina kepada kaum muslimin. Allah melarang ini bagi kaum kafir, bukan berarti larangan ini hanya khusus bagi mereka, namun sesama kaum muslimin juga terlarang untuk melakukan ketiga perbuatan buruk ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا انْقَلَبُوْٓا اِلٰٓى اَهْلِهِمُ انْقَلَبُوْا فَكِهِيْنَۖ“Apabila kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira ria (dan sombong).” (QS. Al-Muṭaffifīn: 31)Allah jelaskan kebusukan orang kafir yang lebih jauh lagi, yaitu perendahan mereka kepada kaum muslimin tidak hanya berhenti pada tempat nongkrong dan kongkow mereka saja, akan tetapi bahkan berlanjut ke rumah mereka. Ketika mereka selesai dari majelis batil mereka, lalu pulang ke rumah, akan mereka ceritakan apa yang mereka lakukan tadi kepada keluarga mereka, lalu mereka semua tertawa bersama, menertawakan kaum muslimin. Suatu tertawa yang Allah siapkan neraka Jahanam untuk membakar mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا رَاَوْهُمْ قَالُوْٓا اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ لَضَاۤلُّوْنَۙ , وَمَآ اُرْسِلُوْا عَلَيْهِمْ حٰفِظِيْنَۗ“Apabila melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, “Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat,” padahal mereka (orang-orang yang berdosa itu) tidak diutus sebagai penjaga (orang-orang mukmin).” (QS. Al-Muṭaffifīn: 32-33)Kaum musyrik Quraisy memberikan label kesesatan kepada orang-orang yang beriman, dikarenakan Islam dianggap agama yang menyempal dari agama nenek moyang mereka, berbeda dengan akidah dan keyakinan yang mereka yakini. Kaum muslimin juga dianggap sesat karena meninggalkan banyak kenikmatan dunia yang bisa mereka petik hari ini untuk mengejar pahala di akhirat, sedangkan orang-orang musyrik tidak percaya adanya balasan kebaikan setelah kematian. Serta dianggap sesat karena mengikuti Nabi Muhammad yang dikatakan membawa agama baru yang merusak agama lama mereka.Kemudian Allah membantah klaim mereka atas vonis sesat yang diberikan, yaitu Allah katakan padahal orang-orang musyrik itu tidaklah diutus sebagai pengawas ucapan dan amal yang dilakukan kaum muslimin, lantas mengapa mereka bisa mengatakan kaum muslimin berada dalam kesesatan?Allah meminta setiap person untuk memandang ke dalam urusan diri mereka masing-masing, menjalankan sesuai jalur lurus aturan yang telah Allah gariskan, lalu meluruskan apa yang bengkok dari perbuatan mereka, bukan malah sibuk mencari kesalahan dan vonis pada orang lain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَالْيَوْمَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُوْنَۙ“Pada hari ini (hari kiamat), orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 34)Pada ayat ini, Allah sebutkan tentang bagaimana roda kehidupan akan berputar di dunia dan akhirat. Ketika kaum muslimin di dunia merasakan tekanan berat dikarenakan kezaliman yang dilakukan orang-orang kafir, kaum mukminin banyak yang disiksa dan dibunuh dalam invasi militer yang dilakukan para zionis ke negara-negara muslim, kemudian direndahkan, dihina, serta ditertawakan karena menjaga keimanan yang kokoh dalam hati mereka. Maka saat kemudian nanti di hari kiamat, Allah balik keadaannya.Pada hari kiamat, Allah akan membuat kaum muslimin merasakan kenikmatan besar berupa menertawakan orang-orang kafir yang dahulu menzalimi dan menyakiti mereka. Ketika malaikat menyiksa dan membakar orang-orang kafir sampai hangus tak bersisa, ketika mereka berteriak-teriak dan menangis karena tidak kuat atas siksaan yang diberikan, Allah tambah siksaan fisik tersebut dengan siksaan batin, yaitu ditertawakan orang kaum muslimin. Ditertawakan, dihina, direndahkan, sambil terus dibakar oleh para malaikat. Suatu siksaan fisik dan batin yang sangat mengerikan.And tidak perlu merasa heran dengan nikmat ini, tidak perlu Anda bertanya, “Wah, apa tidak kasihan mereka ditertawakan demikian dalam keadaan disiksa? Apa boleh yang seperti ini?” Anda tidak perlu risau dengan nikmat ini yang Allah berikan kepada kaum mukminin di akhirat. Jika Anda risau, maka tengoklah bagaimana kejinya orang-orang kafir membantai kaum muslimin, bagaimana genosida yang mereka lakukan, bagaimana mereka menghancurkan rumah dan negeri kaum muslimin, bagaimana mereka memperkosa wanita-wanita kaum muslimin yang menjaga dirinya. Tengoklah kebusukan mereka, lalu tengoklah bahwa banyak di antara para penjahat tersebut yang sampai hari ini masih hidup bebas dengan harta rampasan perang yang mereka ambil dari kaum muslimin. Setelah mengingat itu, Anda pasti akan merasa bahwa menertawakan kaum kafir di akhirat adalah bentuk keadilan dari AllahBacalah bagaimana orang-orang Kristen dahulu membantai kaum muslimin yang ada di Granada Andalusia, bacalah genosida dan penghancuran etnis muslim yang terjadi Bosnia tahun 1995, bacalah bagaimana genosida yang dilakukan oleh zionis Israel kepada rakyat Palestina yang masih terjadi sampai hari ini. Begitu kejamnya mereka, bersatu padu menghancurkan Islam. Namun Allah senantiasa menjaga Islam sampai hari kiamat. Dengan melihat kebengisan mereka, kita jadi bisa sangat mengerti tentang nikmat pada ayat ini yaitu, “Pada hari ini (hari kiamat), orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۗ“Mereka (duduk) di atas dipan-dipan (sambil) melepas pandangan.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 35)Kaum muslimin diberikan nikmat berupa dipan-dipan, ranjang serta permadani yang empuk, ditemani istri mereka dan para bidadari yang cantik jelita, semua makanan paling enak dihidangkan. Ketika bersandar pada dipan-dipan ini, Allah berikan kesempatan mereka bisa melihat orang-orang kafir disiksa hingga hancur, lalu ditertawakan.Imam Qurthubi menjelasakan bahwa penguni neraka merasa sangat tersiksa, sehingga mereka mencari-cari cara supaya bisa keluar darinya. Suatu saat pintu neraka dibuka, lalu penghuni neraka melihatnya dan berbondong-bondong untuk menaiki tebing neraka untuk bisa naik sampai pintunya. Mereka menaiki tebing tersebut dengan penuh kesakitan dan kepanasan. Ketika mereka hampir sampai pintu tersebut, serta harapan untuk bisa keluar sudah sangat besar, lalu Allah menutup pintu neraka sehingga hancurlah harapan mereka, sehingga semakin tersiksalah psikis mereka karena harapan palsu ini. Maka orang-orang mukmin penghuni surga diberi “tontonan” pemandangan ini, lalu mereka tertawa atas apa yang terjadi pada orang-orang kafir tersebut dan sama sekali tidak menyimpan rasa iba pada mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ ࣖ“Apakah orang-orang kafir itu telah diberi balasan (hukuman) terhadap apa yang selalu mereka perbuat?” (QS. Al-Muṭaffifīn: 36)Allah menutup surah ini dengan memberikan pertanyaan, akan tetapi bermakna taqrir atau penetapan dan penegasan atas apa yang dikandung oleh makna ayat. Yaitu, apakah orang-orang kafir telah diberikan balasan setimpal atas segala ejekan, perendahan, dan hinaan yang mereka timpakan kepada orang-orang beriman? Jawabnya: Tentu benar! Semoga Allah melindungi kita semua.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 3***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Tafsir Surah Al-Mutaffifin (Bag. 4): Balasan atas Buruknya Perilaku Orang Kafir Kepada Kaum Muslimin di Dunia

Pada tafsir sebelumnya, kita telah membaca bagaimana balasan kebaikan yang Allah janjikan bagi jiwa-jiwa yang taat, serta berbuat kebaikan untuk kehidupan bermasyarakat, serta Allah tutup dengan motivasi untuk berlomba mengejar balasan surga tersebut.Pada tafsir potongan surah Al-Mutaffifin ayat 29-36 ini, Allah berbicara kepada kita tentang bagaimana busuknya perilaku kehidupan bersosial orang-orang kafir, dimana mereka menghina dan menertawakan kaum muslimin karena iman yang ada pada hari mereka. Setelah itu, Allah jelaskan balasan setimpal yang akan diterima orang-orang kafir di dunia karena keburukan yang telah mereka lakukan di dunia. Tujuan akhir dari potongan ayat ini adalah memberikan hiburan bagi kaum muslimin, yang pada kehidupan di dunia mendapatkan kesulitan hidup karena direndahkan dan disakiti oleh orang-orang kafir. Nanti di hari kiamat, Allah akan balik roda kehidupan tersebut, dimana kaum muslimin akan mentertawakan orang-orang kafir yang sedang dibakar dan disiksa di neraka.Adapun sebab turunnya ayat ini adalah karena segerombolan pembesar orang musyrik Makkah seperti Abu Jahal, Walid bin Mughirah, atau Al-Ash bi Wail menertawakan orang-orang lemah dari golongan kaum muslimin. Mereka menertawakan kesulitan hidup yang dihadapi orang-orang lemah ini, serta merendahkannya karena merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi karena banyaknya harta dunia yang dimiliki.Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelasakan tentang empat perilaku busuk orang kafir yang mereka timpakan kepada kaum muslimin.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ اَجْرَمُوْا كَانُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يَضْحَكُوْنَۖ“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu selalu menertawakan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 29)Orang-orang berdosa yang Allah bahas dalam ayat ini adalah orang-orang kafir Quraisy dan orang kafir secara umum yang memiliki perilaku busuk menghina dan menertawakan orang-orang yang beriman. Mereka melakukan yang demikian, di antara sebabnya adalah karena merasa kedudukannya lebih tinggi, bisa jadi karena jabatan yang tinggi, harta yang banyak, pengikut yang setia, dan semisalnya.Orang-orang kafir ini, dengan sesembahan mereka yang banyak selain Allah, juga merasa bahwa merekalah yang berada di atas kebenaran, karena mereka telah mempraktekkan agama mereka selama puluhan atau mungkin ratusan tahun lamanya. Sedangkan orang-orang muslim yang membawa cahaya hidayah, malah mereka anggap sebagai orang-orang yang tersesat.Dalam Tafsir Mahasinut Takwil dijelaskan bahwa ketika Allah Ta’ala menganugerahkan umat ini dengan diutusnya Nabi Akhir zaman, yaitu Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, gaung kebenaran yang beliau suarakan pada awal Islam masih begitu sayup dan sepi. Beliau mulanya mendakwahkan secara sembunyi-sembunyi kepada keluarga terdekat, serta orang-orang berhati lembut yang beliau kenal dan punya potensi besar menerima kebenaran. Orang-orang berhati lembut ini kebanyakan adalah dari golongan orang-orang yang lemah, dimana hingar bingar kekayaan harta benda duniawi belum merusak fitrah mereka yang murni. Mereka bisa mengenali hidayah dengan hati mereka, kemudian melepaskan semua kesyirikan yang membebani punggung mereka tanpa ada rasa kesulitan sedikitpun.Berbeda halnya dengan para pembesar, orang-orang kaya dan berkuasa, yang mereka senantiasa ingin mempertahankan jabatan, kebesaran, dan harta dunia mereka, selalu ingin berada dalam status quo, tidak ingin “diusik” ketenangan mereka. Mereka merendahkan dan menghina orang lain untuk semakin menaikkan kedudukan mereka. Semakin keras pengingkaran mereka kepada setiap orang yang mengajak keluar dari kebiasaan lama yang sudah mengakar kuat pada diri mereka, terlebih lagi jika yang menyeru kedudukannya lebih lemah fisiknya, hartanya, serta lebih sedikit jumlahnya.Akan tetapi, kita dapati sebagian orang kaya dan berkedudukan tinggi dapat dengan mudahnya menerima Islam, sebut saja seperti istri Nabi Khadijah, kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq, lalu Ustman bin Affan, beliau-beliau adalah di antara pembesar Quraisy yang dengan mudah menerima Islam. Semuanya karena nikmat hidayah dari Allah, kemudian dikarenakan baiknya interaksi sosial mereka sebelum Islam menyapa mereka, sehingga Allah juga menyayangi mereka dan memudahkan hidayah masuk, serta menyelamatkan mereka.Ibnu Abbas menafsirkan bahwa orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini ketika turunnya ayat, yang merendahkan dan menertawakan kaum muslimin adalah Walid bin Mughirah, Uqbah bin Abi Mu’aith, Al-Ash bin Wail, Al-Ash bin Hisyam, Abu Jahal, dan semisal mereka. Adapun orang-orang lemah kaum muslimin yang mereka tertawakan semisal keluarga Ammar, Khabbab, Shuhaib, serta Bilal radhiyallahu ‘anhum ajmain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا مَرُّوْا بِهِمْ يَتَغَامَزُوْنَۖ“Apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 30)Allah menjelaskan kebusukan perilaku orang-orang kafir yang kedua, yaitu apabila orang-orang muslim melintas melewati tempat berkumpulnya mereka, maka mereka akan saling mengedip-ngedipkan mata dan saling memandang satu sama lain. Ini adalah bentuk penghinaan dan perendahan orang lain.Dalam Tafsir Al-Iklil disebutkan bahwa ayat ini menjadi dalil larangan merendahkan, menertawakan, serta mengedip-ngedipkan mata dengan bentuk menghina kepada kaum muslimin. Allah melarang ini bagi kaum kafir, bukan berarti larangan ini hanya khusus bagi mereka, namun sesama kaum muslimin juga terlarang untuk melakukan ketiga perbuatan buruk ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا انْقَلَبُوْٓا اِلٰٓى اَهْلِهِمُ انْقَلَبُوْا فَكِهِيْنَۖ“Apabila kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira ria (dan sombong).” (QS. Al-Muṭaffifīn: 31)Allah jelaskan kebusukan orang kafir yang lebih jauh lagi, yaitu perendahan mereka kepada kaum muslimin tidak hanya berhenti pada tempat nongkrong dan kongkow mereka saja, akan tetapi bahkan berlanjut ke rumah mereka. Ketika mereka selesai dari majelis batil mereka, lalu pulang ke rumah, akan mereka ceritakan apa yang mereka lakukan tadi kepada keluarga mereka, lalu mereka semua tertawa bersama, menertawakan kaum muslimin. Suatu tertawa yang Allah siapkan neraka Jahanam untuk membakar mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا رَاَوْهُمْ قَالُوْٓا اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ لَضَاۤلُّوْنَۙ , وَمَآ اُرْسِلُوْا عَلَيْهِمْ حٰفِظِيْنَۗ“Apabila melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, “Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat,” padahal mereka (orang-orang yang berdosa itu) tidak diutus sebagai penjaga (orang-orang mukmin).” (QS. Al-Muṭaffifīn: 32-33)Kaum musyrik Quraisy memberikan label kesesatan kepada orang-orang yang beriman, dikarenakan Islam dianggap agama yang menyempal dari agama nenek moyang mereka, berbeda dengan akidah dan keyakinan yang mereka yakini. Kaum muslimin juga dianggap sesat karena meninggalkan banyak kenikmatan dunia yang bisa mereka petik hari ini untuk mengejar pahala di akhirat, sedangkan orang-orang musyrik tidak percaya adanya balasan kebaikan setelah kematian. Serta dianggap sesat karena mengikuti Nabi Muhammad yang dikatakan membawa agama baru yang merusak agama lama mereka.Kemudian Allah membantah klaim mereka atas vonis sesat yang diberikan, yaitu Allah katakan padahal orang-orang musyrik itu tidaklah diutus sebagai pengawas ucapan dan amal yang dilakukan kaum muslimin, lantas mengapa mereka bisa mengatakan kaum muslimin berada dalam kesesatan?Allah meminta setiap person untuk memandang ke dalam urusan diri mereka masing-masing, menjalankan sesuai jalur lurus aturan yang telah Allah gariskan, lalu meluruskan apa yang bengkok dari perbuatan mereka, bukan malah sibuk mencari kesalahan dan vonis pada orang lain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَالْيَوْمَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُوْنَۙ“Pada hari ini (hari kiamat), orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 34)Pada ayat ini, Allah sebutkan tentang bagaimana roda kehidupan akan berputar di dunia dan akhirat. Ketika kaum muslimin di dunia merasakan tekanan berat dikarenakan kezaliman yang dilakukan orang-orang kafir, kaum mukminin banyak yang disiksa dan dibunuh dalam invasi militer yang dilakukan para zionis ke negara-negara muslim, kemudian direndahkan, dihina, serta ditertawakan karena menjaga keimanan yang kokoh dalam hati mereka. Maka saat kemudian nanti di hari kiamat, Allah balik keadaannya.Pada hari kiamat, Allah akan membuat kaum muslimin merasakan kenikmatan besar berupa menertawakan orang-orang kafir yang dahulu menzalimi dan menyakiti mereka. Ketika malaikat menyiksa dan membakar orang-orang kafir sampai hangus tak bersisa, ketika mereka berteriak-teriak dan menangis karena tidak kuat atas siksaan yang diberikan, Allah tambah siksaan fisik tersebut dengan siksaan batin, yaitu ditertawakan orang kaum muslimin. Ditertawakan, dihina, direndahkan, sambil terus dibakar oleh para malaikat. Suatu siksaan fisik dan batin yang sangat mengerikan.And tidak perlu merasa heran dengan nikmat ini, tidak perlu Anda bertanya, “Wah, apa tidak kasihan mereka ditertawakan demikian dalam keadaan disiksa? Apa boleh yang seperti ini?” Anda tidak perlu risau dengan nikmat ini yang Allah berikan kepada kaum mukminin di akhirat. Jika Anda risau, maka tengoklah bagaimana kejinya orang-orang kafir membantai kaum muslimin, bagaimana genosida yang mereka lakukan, bagaimana mereka menghancurkan rumah dan negeri kaum muslimin, bagaimana mereka memperkosa wanita-wanita kaum muslimin yang menjaga dirinya. Tengoklah kebusukan mereka, lalu tengoklah bahwa banyak di antara para penjahat tersebut yang sampai hari ini masih hidup bebas dengan harta rampasan perang yang mereka ambil dari kaum muslimin. Setelah mengingat itu, Anda pasti akan merasa bahwa menertawakan kaum kafir di akhirat adalah bentuk keadilan dari AllahBacalah bagaimana orang-orang Kristen dahulu membantai kaum muslimin yang ada di Granada Andalusia, bacalah genosida dan penghancuran etnis muslim yang terjadi Bosnia tahun 1995, bacalah bagaimana genosida yang dilakukan oleh zionis Israel kepada rakyat Palestina yang masih terjadi sampai hari ini. Begitu kejamnya mereka, bersatu padu menghancurkan Islam. Namun Allah senantiasa menjaga Islam sampai hari kiamat. Dengan melihat kebengisan mereka, kita jadi bisa sangat mengerti tentang nikmat pada ayat ini yaitu, “Pada hari ini (hari kiamat), orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۗ“Mereka (duduk) di atas dipan-dipan (sambil) melepas pandangan.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 35)Kaum muslimin diberikan nikmat berupa dipan-dipan, ranjang serta permadani yang empuk, ditemani istri mereka dan para bidadari yang cantik jelita, semua makanan paling enak dihidangkan. Ketika bersandar pada dipan-dipan ini, Allah berikan kesempatan mereka bisa melihat orang-orang kafir disiksa hingga hancur, lalu ditertawakan.Imam Qurthubi menjelasakan bahwa penguni neraka merasa sangat tersiksa, sehingga mereka mencari-cari cara supaya bisa keluar darinya. Suatu saat pintu neraka dibuka, lalu penghuni neraka melihatnya dan berbondong-bondong untuk menaiki tebing neraka untuk bisa naik sampai pintunya. Mereka menaiki tebing tersebut dengan penuh kesakitan dan kepanasan. Ketika mereka hampir sampai pintu tersebut, serta harapan untuk bisa keluar sudah sangat besar, lalu Allah menutup pintu neraka sehingga hancurlah harapan mereka, sehingga semakin tersiksalah psikis mereka karena harapan palsu ini. Maka orang-orang mukmin penghuni surga diberi “tontonan” pemandangan ini, lalu mereka tertawa atas apa yang terjadi pada orang-orang kafir tersebut dan sama sekali tidak menyimpan rasa iba pada mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ ࣖ“Apakah orang-orang kafir itu telah diberi balasan (hukuman) terhadap apa yang selalu mereka perbuat?” (QS. Al-Muṭaffifīn: 36)Allah menutup surah ini dengan memberikan pertanyaan, akan tetapi bermakna taqrir atau penetapan dan penegasan atas apa yang dikandung oleh makna ayat. Yaitu, apakah orang-orang kafir telah diberikan balasan setimpal atas segala ejekan, perendahan, dan hinaan yang mereka timpakan kepada orang-orang beriman? Jawabnya: Tentu benar! Semoga Allah melindungi kita semua.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 3***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
Pada tafsir sebelumnya, kita telah membaca bagaimana balasan kebaikan yang Allah janjikan bagi jiwa-jiwa yang taat, serta berbuat kebaikan untuk kehidupan bermasyarakat, serta Allah tutup dengan motivasi untuk berlomba mengejar balasan surga tersebut.Pada tafsir potongan surah Al-Mutaffifin ayat 29-36 ini, Allah berbicara kepada kita tentang bagaimana busuknya perilaku kehidupan bersosial orang-orang kafir, dimana mereka menghina dan menertawakan kaum muslimin karena iman yang ada pada hari mereka. Setelah itu, Allah jelaskan balasan setimpal yang akan diterima orang-orang kafir di dunia karena keburukan yang telah mereka lakukan di dunia. Tujuan akhir dari potongan ayat ini adalah memberikan hiburan bagi kaum muslimin, yang pada kehidupan di dunia mendapatkan kesulitan hidup karena direndahkan dan disakiti oleh orang-orang kafir. Nanti di hari kiamat, Allah akan balik roda kehidupan tersebut, dimana kaum muslimin akan mentertawakan orang-orang kafir yang sedang dibakar dan disiksa di neraka.Adapun sebab turunnya ayat ini adalah karena segerombolan pembesar orang musyrik Makkah seperti Abu Jahal, Walid bin Mughirah, atau Al-Ash bi Wail menertawakan orang-orang lemah dari golongan kaum muslimin. Mereka menertawakan kesulitan hidup yang dihadapi orang-orang lemah ini, serta merendahkannya karena merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi karena banyaknya harta dunia yang dimiliki.Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelasakan tentang empat perilaku busuk orang kafir yang mereka timpakan kepada kaum muslimin.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ اَجْرَمُوْا كَانُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يَضْحَكُوْنَۖ“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu selalu menertawakan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 29)Orang-orang berdosa yang Allah bahas dalam ayat ini adalah orang-orang kafir Quraisy dan orang kafir secara umum yang memiliki perilaku busuk menghina dan menertawakan orang-orang yang beriman. Mereka melakukan yang demikian, di antara sebabnya adalah karena merasa kedudukannya lebih tinggi, bisa jadi karena jabatan yang tinggi, harta yang banyak, pengikut yang setia, dan semisalnya.Orang-orang kafir ini, dengan sesembahan mereka yang banyak selain Allah, juga merasa bahwa merekalah yang berada di atas kebenaran, karena mereka telah mempraktekkan agama mereka selama puluhan atau mungkin ratusan tahun lamanya. Sedangkan orang-orang muslim yang membawa cahaya hidayah, malah mereka anggap sebagai orang-orang yang tersesat.Dalam Tafsir Mahasinut Takwil dijelaskan bahwa ketika Allah Ta’ala menganugerahkan umat ini dengan diutusnya Nabi Akhir zaman, yaitu Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, gaung kebenaran yang beliau suarakan pada awal Islam masih begitu sayup dan sepi. Beliau mulanya mendakwahkan secara sembunyi-sembunyi kepada keluarga terdekat, serta orang-orang berhati lembut yang beliau kenal dan punya potensi besar menerima kebenaran. Orang-orang berhati lembut ini kebanyakan adalah dari golongan orang-orang yang lemah, dimana hingar bingar kekayaan harta benda duniawi belum merusak fitrah mereka yang murni. Mereka bisa mengenali hidayah dengan hati mereka, kemudian melepaskan semua kesyirikan yang membebani punggung mereka tanpa ada rasa kesulitan sedikitpun.Berbeda halnya dengan para pembesar, orang-orang kaya dan berkuasa, yang mereka senantiasa ingin mempertahankan jabatan, kebesaran, dan harta dunia mereka, selalu ingin berada dalam status quo, tidak ingin “diusik” ketenangan mereka. Mereka merendahkan dan menghina orang lain untuk semakin menaikkan kedudukan mereka. Semakin keras pengingkaran mereka kepada setiap orang yang mengajak keluar dari kebiasaan lama yang sudah mengakar kuat pada diri mereka, terlebih lagi jika yang menyeru kedudukannya lebih lemah fisiknya, hartanya, serta lebih sedikit jumlahnya.Akan tetapi, kita dapati sebagian orang kaya dan berkedudukan tinggi dapat dengan mudahnya menerima Islam, sebut saja seperti istri Nabi Khadijah, kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq, lalu Ustman bin Affan, beliau-beliau adalah di antara pembesar Quraisy yang dengan mudah menerima Islam. Semuanya karena nikmat hidayah dari Allah, kemudian dikarenakan baiknya interaksi sosial mereka sebelum Islam menyapa mereka, sehingga Allah juga menyayangi mereka dan memudahkan hidayah masuk, serta menyelamatkan mereka.Ibnu Abbas menafsirkan bahwa orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini ketika turunnya ayat, yang merendahkan dan menertawakan kaum muslimin adalah Walid bin Mughirah, Uqbah bin Abi Mu’aith, Al-Ash bin Wail, Al-Ash bin Hisyam, Abu Jahal, dan semisal mereka. Adapun orang-orang lemah kaum muslimin yang mereka tertawakan semisal keluarga Ammar, Khabbab, Shuhaib, serta Bilal radhiyallahu ‘anhum ajmain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا مَرُّوْا بِهِمْ يَتَغَامَزُوْنَۖ“Apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 30)Allah menjelaskan kebusukan perilaku orang-orang kafir yang kedua, yaitu apabila orang-orang muslim melintas melewati tempat berkumpulnya mereka, maka mereka akan saling mengedip-ngedipkan mata dan saling memandang satu sama lain. Ini adalah bentuk penghinaan dan perendahan orang lain.Dalam Tafsir Al-Iklil disebutkan bahwa ayat ini menjadi dalil larangan merendahkan, menertawakan, serta mengedip-ngedipkan mata dengan bentuk menghina kepada kaum muslimin. Allah melarang ini bagi kaum kafir, bukan berarti larangan ini hanya khusus bagi mereka, namun sesama kaum muslimin juga terlarang untuk melakukan ketiga perbuatan buruk ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا انْقَلَبُوْٓا اِلٰٓى اَهْلِهِمُ انْقَلَبُوْا فَكِهِيْنَۖ“Apabila kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira ria (dan sombong).” (QS. Al-Muṭaffifīn: 31)Allah jelaskan kebusukan orang kafir yang lebih jauh lagi, yaitu perendahan mereka kepada kaum muslimin tidak hanya berhenti pada tempat nongkrong dan kongkow mereka saja, akan tetapi bahkan berlanjut ke rumah mereka. Ketika mereka selesai dari majelis batil mereka, lalu pulang ke rumah, akan mereka ceritakan apa yang mereka lakukan tadi kepada keluarga mereka, lalu mereka semua tertawa bersama, menertawakan kaum muslimin. Suatu tertawa yang Allah siapkan neraka Jahanam untuk membakar mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا رَاَوْهُمْ قَالُوْٓا اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ لَضَاۤلُّوْنَۙ , وَمَآ اُرْسِلُوْا عَلَيْهِمْ حٰفِظِيْنَۗ“Apabila melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, “Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat,” padahal mereka (orang-orang yang berdosa itu) tidak diutus sebagai penjaga (orang-orang mukmin).” (QS. Al-Muṭaffifīn: 32-33)Kaum musyrik Quraisy memberikan label kesesatan kepada orang-orang yang beriman, dikarenakan Islam dianggap agama yang menyempal dari agama nenek moyang mereka, berbeda dengan akidah dan keyakinan yang mereka yakini. Kaum muslimin juga dianggap sesat karena meninggalkan banyak kenikmatan dunia yang bisa mereka petik hari ini untuk mengejar pahala di akhirat, sedangkan orang-orang musyrik tidak percaya adanya balasan kebaikan setelah kematian. Serta dianggap sesat karena mengikuti Nabi Muhammad yang dikatakan membawa agama baru yang merusak agama lama mereka.Kemudian Allah membantah klaim mereka atas vonis sesat yang diberikan, yaitu Allah katakan padahal orang-orang musyrik itu tidaklah diutus sebagai pengawas ucapan dan amal yang dilakukan kaum muslimin, lantas mengapa mereka bisa mengatakan kaum muslimin berada dalam kesesatan?Allah meminta setiap person untuk memandang ke dalam urusan diri mereka masing-masing, menjalankan sesuai jalur lurus aturan yang telah Allah gariskan, lalu meluruskan apa yang bengkok dari perbuatan mereka, bukan malah sibuk mencari kesalahan dan vonis pada orang lain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَالْيَوْمَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُوْنَۙ“Pada hari ini (hari kiamat), orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 34)Pada ayat ini, Allah sebutkan tentang bagaimana roda kehidupan akan berputar di dunia dan akhirat. Ketika kaum muslimin di dunia merasakan tekanan berat dikarenakan kezaliman yang dilakukan orang-orang kafir, kaum mukminin banyak yang disiksa dan dibunuh dalam invasi militer yang dilakukan para zionis ke negara-negara muslim, kemudian direndahkan, dihina, serta ditertawakan karena menjaga keimanan yang kokoh dalam hati mereka. Maka saat kemudian nanti di hari kiamat, Allah balik keadaannya.Pada hari kiamat, Allah akan membuat kaum muslimin merasakan kenikmatan besar berupa menertawakan orang-orang kafir yang dahulu menzalimi dan menyakiti mereka. Ketika malaikat menyiksa dan membakar orang-orang kafir sampai hangus tak bersisa, ketika mereka berteriak-teriak dan menangis karena tidak kuat atas siksaan yang diberikan, Allah tambah siksaan fisik tersebut dengan siksaan batin, yaitu ditertawakan orang kaum muslimin. Ditertawakan, dihina, direndahkan, sambil terus dibakar oleh para malaikat. Suatu siksaan fisik dan batin yang sangat mengerikan.And tidak perlu merasa heran dengan nikmat ini, tidak perlu Anda bertanya, “Wah, apa tidak kasihan mereka ditertawakan demikian dalam keadaan disiksa? Apa boleh yang seperti ini?” Anda tidak perlu risau dengan nikmat ini yang Allah berikan kepada kaum mukminin di akhirat. Jika Anda risau, maka tengoklah bagaimana kejinya orang-orang kafir membantai kaum muslimin, bagaimana genosida yang mereka lakukan, bagaimana mereka menghancurkan rumah dan negeri kaum muslimin, bagaimana mereka memperkosa wanita-wanita kaum muslimin yang menjaga dirinya. Tengoklah kebusukan mereka, lalu tengoklah bahwa banyak di antara para penjahat tersebut yang sampai hari ini masih hidup bebas dengan harta rampasan perang yang mereka ambil dari kaum muslimin. Setelah mengingat itu, Anda pasti akan merasa bahwa menertawakan kaum kafir di akhirat adalah bentuk keadilan dari AllahBacalah bagaimana orang-orang Kristen dahulu membantai kaum muslimin yang ada di Granada Andalusia, bacalah genosida dan penghancuran etnis muslim yang terjadi Bosnia tahun 1995, bacalah bagaimana genosida yang dilakukan oleh zionis Israel kepada rakyat Palestina yang masih terjadi sampai hari ini. Begitu kejamnya mereka, bersatu padu menghancurkan Islam. Namun Allah senantiasa menjaga Islam sampai hari kiamat. Dengan melihat kebengisan mereka, kita jadi bisa sangat mengerti tentang nikmat pada ayat ini yaitu, “Pada hari ini (hari kiamat), orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۗ“Mereka (duduk) di atas dipan-dipan (sambil) melepas pandangan.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 35)Kaum muslimin diberikan nikmat berupa dipan-dipan, ranjang serta permadani yang empuk, ditemani istri mereka dan para bidadari yang cantik jelita, semua makanan paling enak dihidangkan. Ketika bersandar pada dipan-dipan ini, Allah berikan kesempatan mereka bisa melihat orang-orang kafir disiksa hingga hancur, lalu ditertawakan.Imam Qurthubi menjelasakan bahwa penguni neraka merasa sangat tersiksa, sehingga mereka mencari-cari cara supaya bisa keluar darinya. Suatu saat pintu neraka dibuka, lalu penghuni neraka melihatnya dan berbondong-bondong untuk menaiki tebing neraka untuk bisa naik sampai pintunya. Mereka menaiki tebing tersebut dengan penuh kesakitan dan kepanasan. Ketika mereka hampir sampai pintu tersebut, serta harapan untuk bisa keluar sudah sangat besar, lalu Allah menutup pintu neraka sehingga hancurlah harapan mereka, sehingga semakin tersiksalah psikis mereka karena harapan palsu ini. Maka orang-orang mukmin penghuni surga diberi “tontonan” pemandangan ini, lalu mereka tertawa atas apa yang terjadi pada orang-orang kafir tersebut dan sama sekali tidak menyimpan rasa iba pada mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ ࣖ“Apakah orang-orang kafir itu telah diberi balasan (hukuman) terhadap apa yang selalu mereka perbuat?” (QS. Al-Muṭaffifīn: 36)Allah menutup surah ini dengan memberikan pertanyaan, akan tetapi bermakna taqrir atau penetapan dan penegasan atas apa yang dikandung oleh makna ayat. Yaitu, apakah orang-orang kafir telah diberikan balasan setimpal atas segala ejekan, perendahan, dan hinaan yang mereka timpakan kepada orang-orang beriman? Jawabnya: Tentu benar! Semoga Allah melindungi kita semua.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 3***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/


Pada tafsir sebelumnya, kita telah membaca bagaimana balasan kebaikan yang Allah janjikan bagi jiwa-jiwa yang taat, serta berbuat kebaikan untuk kehidupan bermasyarakat, serta Allah tutup dengan motivasi untuk berlomba mengejar balasan surga tersebut.Pada tafsir potongan surah Al-Mutaffifin ayat 29-36 ini, Allah berbicara kepada kita tentang bagaimana busuknya perilaku kehidupan bersosial orang-orang kafir, dimana mereka menghina dan menertawakan kaum muslimin karena iman yang ada pada hari mereka. Setelah itu, Allah jelaskan balasan setimpal yang akan diterima orang-orang kafir di dunia karena keburukan yang telah mereka lakukan di dunia. Tujuan akhir dari potongan ayat ini adalah memberikan hiburan bagi kaum muslimin, yang pada kehidupan di dunia mendapatkan kesulitan hidup karena direndahkan dan disakiti oleh orang-orang kafir. Nanti di hari kiamat, Allah akan balik roda kehidupan tersebut, dimana kaum muslimin akan mentertawakan orang-orang kafir yang sedang dibakar dan disiksa di neraka.Adapun sebab turunnya ayat ini adalah karena segerombolan pembesar orang musyrik Makkah seperti Abu Jahal, Walid bin Mughirah, atau Al-Ash bi Wail menertawakan orang-orang lemah dari golongan kaum muslimin. Mereka menertawakan kesulitan hidup yang dihadapi orang-orang lemah ini, serta merendahkannya karena merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi karena banyaknya harta dunia yang dimiliki.Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelasakan tentang empat perilaku busuk orang kafir yang mereka timpakan kepada kaum muslimin.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ اَجْرَمُوْا كَانُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يَضْحَكُوْنَۖ“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu selalu menertawakan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 29)Orang-orang berdosa yang Allah bahas dalam ayat ini adalah orang-orang kafir Quraisy dan orang kafir secara umum yang memiliki perilaku busuk menghina dan menertawakan orang-orang yang beriman. Mereka melakukan yang demikian, di antara sebabnya adalah karena merasa kedudukannya lebih tinggi, bisa jadi karena jabatan yang tinggi, harta yang banyak, pengikut yang setia, dan semisalnya.Orang-orang kafir ini, dengan sesembahan mereka yang banyak selain Allah, juga merasa bahwa merekalah yang berada di atas kebenaran, karena mereka telah mempraktekkan agama mereka selama puluhan atau mungkin ratusan tahun lamanya. Sedangkan orang-orang muslim yang membawa cahaya hidayah, malah mereka anggap sebagai orang-orang yang tersesat.Dalam Tafsir Mahasinut Takwil dijelaskan bahwa ketika Allah Ta’ala menganugerahkan umat ini dengan diutusnya Nabi Akhir zaman, yaitu Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, gaung kebenaran yang beliau suarakan pada awal Islam masih begitu sayup dan sepi. Beliau mulanya mendakwahkan secara sembunyi-sembunyi kepada keluarga terdekat, serta orang-orang berhati lembut yang beliau kenal dan punya potensi besar menerima kebenaran. Orang-orang berhati lembut ini kebanyakan adalah dari golongan orang-orang yang lemah, dimana hingar bingar kekayaan harta benda duniawi belum merusak fitrah mereka yang murni. Mereka bisa mengenali hidayah dengan hati mereka, kemudian melepaskan semua kesyirikan yang membebani punggung mereka tanpa ada rasa kesulitan sedikitpun.Berbeda halnya dengan para pembesar, orang-orang kaya dan berkuasa, yang mereka senantiasa ingin mempertahankan jabatan, kebesaran, dan harta dunia mereka, selalu ingin berada dalam status quo, tidak ingin “diusik” ketenangan mereka. Mereka merendahkan dan menghina orang lain untuk semakin menaikkan kedudukan mereka. Semakin keras pengingkaran mereka kepada setiap orang yang mengajak keluar dari kebiasaan lama yang sudah mengakar kuat pada diri mereka, terlebih lagi jika yang menyeru kedudukannya lebih lemah fisiknya, hartanya, serta lebih sedikit jumlahnya.Akan tetapi, kita dapati sebagian orang kaya dan berkedudukan tinggi dapat dengan mudahnya menerima Islam, sebut saja seperti istri Nabi Khadijah, kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq, lalu Ustman bin Affan, beliau-beliau adalah di antara pembesar Quraisy yang dengan mudah menerima Islam. Semuanya karena nikmat hidayah dari Allah, kemudian dikarenakan baiknya interaksi sosial mereka sebelum Islam menyapa mereka, sehingga Allah juga menyayangi mereka dan memudahkan hidayah masuk, serta menyelamatkan mereka.Ibnu Abbas menafsirkan bahwa orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini ketika turunnya ayat, yang merendahkan dan menertawakan kaum muslimin adalah Walid bin Mughirah, Uqbah bin Abi Mu’aith, Al-Ash bin Wail, Al-Ash bin Hisyam, Abu Jahal, dan semisal mereka. Adapun orang-orang lemah kaum muslimin yang mereka tertawakan semisal keluarga Ammar, Khabbab, Shuhaib, serta Bilal radhiyallahu ‘anhum ajmain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا مَرُّوْا بِهِمْ يَتَغَامَزُوْنَۖ“Apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 30)Allah menjelaskan kebusukan perilaku orang-orang kafir yang kedua, yaitu apabila orang-orang muslim melintas melewati tempat berkumpulnya mereka, maka mereka akan saling mengedip-ngedipkan mata dan saling memandang satu sama lain. Ini adalah bentuk penghinaan dan perendahan orang lain.Dalam Tafsir Al-Iklil disebutkan bahwa ayat ini menjadi dalil larangan merendahkan, menertawakan, serta mengedip-ngedipkan mata dengan bentuk menghina kepada kaum muslimin. Allah melarang ini bagi kaum kafir, bukan berarti larangan ini hanya khusus bagi mereka, namun sesama kaum muslimin juga terlarang untuk melakukan ketiga perbuatan buruk ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا انْقَلَبُوْٓا اِلٰٓى اَهْلِهِمُ انْقَلَبُوْا فَكِهِيْنَۖ“Apabila kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira ria (dan sombong).” (QS. Al-Muṭaffifīn: 31)Allah jelaskan kebusukan orang kafir yang lebih jauh lagi, yaitu perendahan mereka kepada kaum muslimin tidak hanya berhenti pada tempat nongkrong dan kongkow mereka saja, akan tetapi bahkan berlanjut ke rumah mereka. Ketika mereka selesai dari majelis batil mereka, lalu pulang ke rumah, akan mereka ceritakan apa yang mereka lakukan tadi kepada keluarga mereka, lalu mereka semua tertawa bersama, menertawakan kaum muslimin. Suatu tertawa yang Allah siapkan neraka Jahanam untuk membakar mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاِذَا رَاَوْهُمْ قَالُوْٓا اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ لَضَاۤلُّوْنَۙ , وَمَآ اُرْسِلُوْا عَلَيْهِمْ حٰفِظِيْنَۗ“Apabila melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, “Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat,” padahal mereka (orang-orang yang berdosa itu) tidak diutus sebagai penjaga (orang-orang mukmin).” (QS. Al-Muṭaffifīn: 32-33)Kaum musyrik Quraisy memberikan label kesesatan kepada orang-orang yang beriman, dikarenakan Islam dianggap agama yang menyempal dari agama nenek moyang mereka, berbeda dengan akidah dan keyakinan yang mereka yakini. Kaum muslimin juga dianggap sesat karena meninggalkan banyak kenikmatan dunia yang bisa mereka petik hari ini untuk mengejar pahala di akhirat, sedangkan orang-orang musyrik tidak percaya adanya balasan kebaikan setelah kematian. Serta dianggap sesat karena mengikuti Nabi Muhammad yang dikatakan membawa agama baru yang merusak agama lama mereka.Kemudian Allah membantah klaim mereka atas vonis sesat yang diberikan, yaitu Allah katakan padahal orang-orang musyrik itu tidaklah diutus sebagai pengawas ucapan dan amal yang dilakukan kaum muslimin, lantas mengapa mereka bisa mengatakan kaum muslimin berada dalam kesesatan?Allah meminta setiap person untuk memandang ke dalam urusan diri mereka masing-masing, menjalankan sesuai jalur lurus aturan yang telah Allah gariskan, lalu meluruskan apa yang bengkok dari perbuatan mereka, bukan malah sibuk mencari kesalahan dan vonis pada orang lain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَالْيَوْمَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُوْنَۙ“Pada hari ini (hari kiamat), orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 34)Pada ayat ini, Allah sebutkan tentang bagaimana roda kehidupan akan berputar di dunia dan akhirat. Ketika kaum muslimin di dunia merasakan tekanan berat dikarenakan kezaliman yang dilakukan orang-orang kafir, kaum mukminin banyak yang disiksa dan dibunuh dalam invasi militer yang dilakukan para zionis ke negara-negara muslim, kemudian direndahkan, dihina, serta ditertawakan karena menjaga keimanan yang kokoh dalam hati mereka. Maka saat kemudian nanti di hari kiamat, Allah balik keadaannya.Pada hari kiamat, Allah akan membuat kaum muslimin merasakan kenikmatan besar berupa menertawakan orang-orang kafir yang dahulu menzalimi dan menyakiti mereka. Ketika malaikat menyiksa dan membakar orang-orang kafir sampai hangus tak bersisa, ketika mereka berteriak-teriak dan menangis karena tidak kuat atas siksaan yang diberikan, Allah tambah siksaan fisik tersebut dengan siksaan batin, yaitu ditertawakan orang kaum muslimin. Ditertawakan, dihina, direndahkan, sambil terus dibakar oleh para malaikat. Suatu siksaan fisik dan batin yang sangat mengerikan.And tidak perlu merasa heran dengan nikmat ini, tidak perlu Anda bertanya, “Wah, apa tidak kasihan mereka ditertawakan demikian dalam keadaan disiksa? Apa boleh yang seperti ini?” Anda tidak perlu risau dengan nikmat ini yang Allah berikan kepada kaum mukminin di akhirat. Jika Anda risau, maka tengoklah bagaimana kejinya orang-orang kafir membantai kaum muslimin, bagaimana genosida yang mereka lakukan, bagaimana mereka menghancurkan rumah dan negeri kaum muslimin, bagaimana mereka memperkosa wanita-wanita kaum muslimin yang menjaga dirinya. Tengoklah kebusukan mereka, lalu tengoklah bahwa banyak di antara para penjahat tersebut yang sampai hari ini masih hidup bebas dengan harta rampasan perang yang mereka ambil dari kaum muslimin. Setelah mengingat itu, Anda pasti akan merasa bahwa menertawakan kaum kafir di akhirat adalah bentuk keadilan dari AllahBacalah bagaimana orang-orang Kristen dahulu membantai kaum muslimin yang ada di Granada Andalusia, bacalah genosida dan penghancuran etnis muslim yang terjadi Bosnia tahun 1995, bacalah bagaimana genosida yang dilakukan oleh zionis Israel kepada rakyat Palestina yang masih terjadi sampai hari ini. Begitu kejamnya mereka, bersatu padu menghancurkan Islam. Namun Allah senantiasa menjaga Islam sampai hari kiamat. Dengan melihat kebengisan mereka, kita jadi bisa sangat mengerti tentang nikmat pada ayat ini yaitu, “Pada hari ini (hari kiamat), orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۗ“Mereka (duduk) di atas dipan-dipan (sambil) melepas pandangan.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 35)Kaum muslimin diberikan nikmat berupa dipan-dipan, ranjang serta permadani yang empuk, ditemani istri mereka dan para bidadari yang cantik jelita, semua makanan paling enak dihidangkan. Ketika bersandar pada dipan-dipan ini, Allah berikan kesempatan mereka bisa melihat orang-orang kafir disiksa hingga hancur, lalu ditertawakan.Imam Qurthubi menjelasakan bahwa penguni neraka merasa sangat tersiksa, sehingga mereka mencari-cari cara supaya bisa keluar darinya. Suatu saat pintu neraka dibuka, lalu penghuni neraka melihatnya dan berbondong-bondong untuk menaiki tebing neraka untuk bisa naik sampai pintunya. Mereka menaiki tebing tersebut dengan penuh kesakitan dan kepanasan. Ketika mereka hampir sampai pintu tersebut, serta harapan untuk bisa keluar sudah sangat besar, lalu Allah menutup pintu neraka sehingga hancurlah harapan mereka, sehingga semakin tersiksalah psikis mereka karena harapan palsu ini. Maka orang-orang mukmin penghuni surga diberi “tontonan” pemandangan ini, lalu mereka tertawa atas apa yang terjadi pada orang-orang kafir tersebut dan sama sekali tidak menyimpan rasa iba pada mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ ࣖ“Apakah orang-orang kafir itu telah diberi balasan (hukuman) terhadap apa yang selalu mereka perbuat?” (QS. Al-Muṭaffifīn: 36)Allah menutup surah ini dengan memberikan pertanyaan, akan tetapi bermakna taqrir atau penetapan dan penegasan atas apa yang dikandung oleh makna ayat. Yaitu, apakah orang-orang kafir telah diberikan balasan setimpal atas segala ejekan, perendahan, dan hinaan yang mereka timpakan kepada orang-orang beriman? Jawabnya: Tentu benar! Semoga Allah melindungi kita semua.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 3***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

PERNAHKAH KITA MEMIKIRKAN DIRI KITA 100 TAHUN LAGI? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya, “Seratus tahun lagi, tidak akan tersisa seorang pun di muka bumi dari mereka yang hidup di atasnya sekarang.” (Lihat HR. An-Nasa’i di Sunan Al-Kubra no. 5871 dengan perbedaan lafaz). Beliau ‘alaihish shalatu was salam hendak menarik perhatian agar manusia memikirkan makna-makna semacam ini. Maksudnya, misalnya, sekarang kita berada pada tahun Hijriah ini. Hari ini, misalnya, tanggal 24 Sya’ban 1442 Hijriah. Baiklah, pikirkan: akan seperti apa keadaanmu seratus tahun lagi? Pada tahun 1542 Hijriah, di mana engkau berada? Bagaimana keadaanmu? Pada tahun 1542 Hijriah. Mungkin saja semua orang yang sekarang berada di bumi telah meninggal dunia. Jika hari kiamat belum terjadi, mereka sedang berada di alam barzakh, entah dalam kenikmatan kubur atau azab kubur. Mereka berangan-angan, sekiranya dahulu mereka beramal saleh. Baiklah, pikirkan keadaan seratus tahun yang lalu, yakni tahun 1342 Hijriah. Di manakah orang-orang yang hidup seratus tahun yang lalu? Apakah mereka masih ada sekarang? Apakah masih ada seseorang dari mereka yang hidup pada tahun 1342 Hijriah? Kalaupun ada yang hidup, itu sangat jarang. Kalaupun ada yang hidup, yang umurnya 100 tahun atau lebih, itu sangat jarang, namun mayoritas manusia telah meninggal dunia. Ini menunjukkan betapa singkatnya usia manusia di dunia ini, serta betapa singkat dan rendah nilainya dunia ini. Dunia ini tidak layak mendapatkan segala kepayahan ini, segala keletihan ini, dan segala penderitaan ini. Orang yang berbahagia adalah yang memanfaatkan setiap waktu dalam hidupnya untuk sesuatu yang bermanfaat baginya setelah kematiannya. Orang yang berbahagia adalah yang membekali diri dengan bekal takwa. Jika tidak demikian, sungguh umur manusia di dunia ini singkat. Oleh karena itu, kehidupan manusia yang hakiki hanyalah kehidupan di akhirat. Karena itu, ketika manusia melihat kedahsyatan hari kiamat, apa yang ia katakan? Ia berkata, “Duhai, sekiranya dahulu aku telah beramal untuk kehidupanku ini.” (QS. Al-Fajr: 24). Baiklah, bukankah kehidupannya di dunia itu adalah kehidupan juga? Ia sama sekali tidak menganggapnya sebagai kehidupan, dibandingkan dengan apa yang dilihatnya di negeri akhirat. Maka ia melihat bahwa kehidupan yang hakiki hanyalah kehidupan di negeri akhirat, itulah kehidupan yang kekal. “Duhai, sekiranya dahulu aku telah beramal untuk kehidupanku ini.” “Dan sungguh, negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 64) ===== النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَمَا قَالَ لِأَصْحَابِهِ لَا يَبْقَى عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ أَحَدٌ مِمَّنْ هُوَ عَلَيْهَا الْآنَ بَعْدَ مِئَةِ عَامٍ. أَرَادَ أَنْ يُلْفِتَ النَّظَرَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِكَيْ يُفَكِّرَ الْإِنْسَانُ بِمِثْلِ هَذِهِ الْمَعَانِي. يَعْنِي مَثَلًا نَحْنُ الْآنَ فِي هَذَا الْعَامِ الْهِجْرِيِّ، نَحْنُ الْيَوْمَ مَثَلًا فِي ٢٤ مِنْ شَعْبَانَ ١٤٤٢ لِلْهِجْرَةِ. طَيِّبْ فَكِّرْ مَاذَا تَكُونُ بَعْدَ مِئَةِ سَنَةٍ؟ ١٥٤٢ أَيْنَ أَنْتَ؟ مَا حَالُكَ؟ ١٥٤٢. يَعْنِي رُبَّمَا أَنَّ الْمَوْجُودِينَ عَلَى الْأَرْضِ الْآنَ كُلَّهُمْ قَدْ مَاتُوا. فَإِنْ لَمْ تَقُمِ السَّاعَةُ فَهُمْ فِي الْبَرْزَخِ، إِمَّا فِي نَعِيمِ الْقَبْرِ أَوْ فِي عَذَابِهِ. يَتَمَنَّوْنَ أَنْ لَوْ عَمِلُوا صَالِحًا. طَيِّبْ فَكِّرْ قَبْلَ مِئَةِ سَنَةٍ مِنَ الْآنَ، يَعْنِي ١٣٤٢. أَيْنَ الْمَوْجُودِينَ قَبْلَ مِئَةِ سَنَةٍ؟ هَلْ هُمُ الْآنَ مَوْجُودُونَ الْآنَ؟ هَلْ يُوجَدُ أَحَدٌ مِمَّنْ كَانَ مَوْجُودًا عَامَ ١٣٤٢؟ إِنْ وُجِدَ أَحَدٌ فَهُوَ نَادِرٌ. إِنْ وُجِدَ أَحَدٌ يَعْنِي عُمْرُهُ مِئَةُ سَنَةٍ أَوْ أَكْثَرُ فَهُوَ نَادِرٌ، لَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ قَدْ مَاتُوا. وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى قِصَرِ عُمْرِ الْإِنْسَانِ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا، وَقِصَرِ هَذِهِ الدُّنْيَا وَحَقَارَتِهَا، وَأَنَّهَا لَا تَسْتَحِقُّ مِنَ الْإِنْسَانِ كُلَّ هَذَا الْعَنَاءِ، وَكُلَّ هَذَا النَّصَبِ، وَكُلَّ هَذَا الشَّقَاءِ. وَالسَّعِيدُ مَنِ اغْتَنَمَ سَاعَاتِ عُمْرِهِ فِيمَا يَنْفَعُهُ بَعْدَ مَمَاتِهِ. السَّعِيدُ فِيمَنْ تَزَوَّدَ بِزَادِ التَّقْوَى. وَإِلَّا فَإِنَّ عُمْرَ الْإِنْسَانِ قَصِيرٌ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا. وَلِذَلِكَ حَيَاةُ الْإِنْسَانِ الْحَقِيقِيَّةُ إِنَّمَا هِيَ فِي الْآخِرَةِ. وَلِهَذَا الْإِنْسَانُ عِنْدَمَا يَرَى أَهْوَالَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَاذَا يَقُولُ؟ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي. طَيِّبْ أَلَيْسَتْ حَيَاتُهُ فِي الدُّنْيَا حَيَاةً؟ لَا يَرَاهَا حَيَاةً أَصْلًا، لَا يَرَاهَا شَيْئًا، مُقَارَنَةً بِمَا يَرَاهُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ. فَيَرَى أَنَّ الْحَيَاةَ الْحَقِيقِيَّةَ إِنَّمَا هِيَ الْحَيَاةُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ، هِيَ الْحَيَاةُ الْبَاقِيَةُ. يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي. وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ.

PERNAHKAH KITA MEMIKIRKAN DIRI KITA 100 TAHUN LAGI? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya, “Seratus tahun lagi, tidak akan tersisa seorang pun di muka bumi dari mereka yang hidup di atasnya sekarang.” (Lihat HR. An-Nasa’i di Sunan Al-Kubra no. 5871 dengan perbedaan lafaz). Beliau ‘alaihish shalatu was salam hendak menarik perhatian agar manusia memikirkan makna-makna semacam ini. Maksudnya, misalnya, sekarang kita berada pada tahun Hijriah ini. Hari ini, misalnya, tanggal 24 Sya’ban 1442 Hijriah. Baiklah, pikirkan: akan seperti apa keadaanmu seratus tahun lagi? Pada tahun 1542 Hijriah, di mana engkau berada? Bagaimana keadaanmu? Pada tahun 1542 Hijriah. Mungkin saja semua orang yang sekarang berada di bumi telah meninggal dunia. Jika hari kiamat belum terjadi, mereka sedang berada di alam barzakh, entah dalam kenikmatan kubur atau azab kubur. Mereka berangan-angan, sekiranya dahulu mereka beramal saleh. Baiklah, pikirkan keadaan seratus tahun yang lalu, yakni tahun 1342 Hijriah. Di manakah orang-orang yang hidup seratus tahun yang lalu? Apakah mereka masih ada sekarang? Apakah masih ada seseorang dari mereka yang hidup pada tahun 1342 Hijriah? Kalaupun ada yang hidup, itu sangat jarang. Kalaupun ada yang hidup, yang umurnya 100 tahun atau lebih, itu sangat jarang, namun mayoritas manusia telah meninggal dunia. Ini menunjukkan betapa singkatnya usia manusia di dunia ini, serta betapa singkat dan rendah nilainya dunia ini. Dunia ini tidak layak mendapatkan segala kepayahan ini, segala keletihan ini, dan segala penderitaan ini. Orang yang berbahagia adalah yang memanfaatkan setiap waktu dalam hidupnya untuk sesuatu yang bermanfaat baginya setelah kematiannya. Orang yang berbahagia adalah yang membekali diri dengan bekal takwa. Jika tidak demikian, sungguh umur manusia di dunia ini singkat. Oleh karena itu, kehidupan manusia yang hakiki hanyalah kehidupan di akhirat. Karena itu, ketika manusia melihat kedahsyatan hari kiamat, apa yang ia katakan? Ia berkata, “Duhai, sekiranya dahulu aku telah beramal untuk kehidupanku ini.” (QS. Al-Fajr: 24). Baiklah, bukankah kehidupannya di dunia itu adalah kehidupan juga? Ia sama sekali tidak menganggapnya sebagai kehidupan, dibandingkan dengan apa yang dilihatnya di negeri akhirat. Maka ia melihat bahwa kehidupan yang hakiki hanyalah kehidupan di negeri akhirat, itulah kehidupan yang kekal. “Duhai, sekiranya dahulu aku telah beramal untuk kehidupanku ini.” “Dan sungguh, negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 64) ===== النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَمَا قَالَ لِأَصْحَابِهِ لَا يَبْقَى عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ أَحَدٌ مِمَّنْ هُوَ عَلَيْهَا الْآنَ بَعْدَ مِئَةِ عَامٍ. أَرَادَ أَنْ يُلْفِتَ النَّظَرَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِكَيْ يُفَكِّرَ الْإِنْسَانُ بِمِثْلِ هَذِهِ الْمَعَانِي. يَعْنِي مَثَلًا نَحْنُ الْآنَ فِي هَذَا الْعَامِ الْهِجْرِيِّ، نَحْنُ الْيَوْمَ مَثَلًا فِي ٢٤ مِنْ شَعْبَانَ ١٤٤٢ لِلْهِجْرَةِ. طَيِّبْ فَكِّرْ مَاذَا تَكُونُ بَعْدَ مِئَةِ سَنَةٍ؟ ١٥٤٢ أَيْنَ أَنْتَ؟ مَا حَالُكَ؟ ١٥٤٢. يَعْنِي رُبَّمَا أَنَّ الْمَوْجُودِينَ عَلَى الْأَرْضِ الْآنَ كُلَّهُمْ قَدْ مَاتُوا. فَإِنْ لَمْ تَقُمِ السَّاعَةُ فَهُمْ فِي الْبَرْزَخِ، إِمَّا فِي نَعِيمِ الْقَبْرِ أَوْ فِي عَذَابِهِ. يَتَمَنَّوْنَ أَنْ لَوْ عَمِلُوا صَالِحًا. طَيِّبْ فَكِّرْ قَبْلَ مِئَةِ سَنَةٍ مِنَ الْآنَ، يَعْنِي ١٣٤٢. أَيْنَ الْمَوْجُودِينَ قَبْلَ مِئَةِ سَنَةٍ؟ هَلْ هُمُ الْآنَ مَوْجُودُونَ الْآنَ؟ هَلْ يُوجَدُ أَحَدٌ مِمَّنْ كَانَ مَوْجُودًا عَامَ ١٣٤٢؟ إِنْ وُجِدَ أَحَدٌ فَهُوَ نَادِرٌ. إِنْ وُجِدَ أَحَدٌ يَعْنِي عُمْرُهُ مِئَةُ سَنَةٍ أَوْ أَكْثَرُ فَهُوَ نَادِرٌ، لَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ قَدْ مَاتُوا. وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى قِصَرِ عُمْرِ الْإِنْسَانِ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا، وَقِصَرِ هَذِهِ الدُّنْيَا وَحَقَارَتِهَا، وَأَنَّهَا لَا تَسْتَحِقُّ مِنَ الْإِنْسَانِ كُلَّ هَذَا الْعَنَاءِ، وَكُلَّ هَذَا النَّصَبِ، وَكُلَّ هَذَا الشَّقَاءِ. وَالسَّعِيدُ مَنِ اغْتَنَمَ سَاعَاتِ عُمْرِهِ فِيمَا يَنْفَعُهُ بَعْدَ مَمَاتِهِ. السَّعِيدُ فِيمَنْ تَزَوَّدَ بِزَادِ التَّقْوَى. وَإِلَّا فَإِنَّ عُمْرَ الْإِنْسَانِ قَصِيرٌ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا. وَلِذَلِكَ حَيَاةُ الْإِنْسَانِ الْحَقِيقِيَّةُ إِنَّمَا هِيَ فِي الْآخِرَةِ. وَلِهَذَا الْإِنْسَانُ عِنْدَمَا يَرَى أَهْوَالَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَاذَا يَقُولُ؟ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي. طَيِّبْ أَلَيْسَتْ حَيَاتُهُ فِي الدُّنْيَا حَيَاةً؟ لَا يَرَاهَا حَيَاةً أَصْلًا، لَا يَرَاهَا شَيْئًا، مُقَارَنَةً بِمَا يَرَاهُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ. فَيَرَى أَنَّ الْحَيَاةَ الْحَقِيقِيَّةَ إِنَّمَا هِيَ الْحَيَاةُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ، هِيَ الْحَيَاةُ الْبَاقِيَةُ. يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي. وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ.
Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya, “Seratus tahun lagi, tidak akan tersisa seorang pun di muka bumi dari mereka yang hidup di atasnya sekarang.” (Lihat HR. An-Nasa’i di Sunan Al-Kubra no. 5871 dengan perbedaan lafaz). Beliau ‘alaihish shalatu was salam hendak menarik perhatian agar manusia memikirkan makna-makna semacam ini. Maksudnya, misalnya, sekarang kita berada pada tahun Hijriah ini. Hari ini, misalnya, tanggal 24 Sya’ban 1442 Hijriah. Baiklah, pikirkan: akan seperti apa keadaanmu seratus tahun lagi? Pada tahun 1542 Hijriah, di mana engkau berada? Bagaimana keadaanmu? Pada tahun 1542 Hijriah. Mungkin saja semua orang yang sekarang berada di bumi telah meninggal dunia. Jika hari kiamat belum terjadi, mereka sedang berada di alam barzakh, entah dalam kenikmatan kubur atau azab kubur. Mereka berangan-angan, sekiranya dahulu mereka beramal saleh. Baiklah, pikirkan keadaan seratus tahun yang lalu, yakni tahun 1342 Hijriah. Di manakah orang-orang yang hidup seratus tahun yang lalu? Apakah mereka masih ada sekarang? Apakah masih ada seseorang dari mereka yang hidup pada tahun 1342 Hijriah? Kalaupun ada yang hidup, itu sangat jarang. Kalaupun ada yang hidup, yang umurnya 100 tahun atau lebih, itu sangat jarang, namun mayoritas manusia telah meninggal dunia. Ini menunjukkan betapa singkatnya usia manusia di dunia ini, serta betapa singkat dan rendah nilainya dunia ini. Dunia ini tidak layak mendapatkan segala kepayahan ini, segala keletihan ini, dan segala penderitaan ini. Orang yang berbahagia adalah yang memanfaatkan setiap waktu dalam hidupnya untuk sesuatu yang bermanfaat baginya setelah kematiannya. Orang yang berbahagia adalah yang membekali diri dengan bekal takwa. Jika tidak demikian, sungguh umur manusia di dunia ini singkat. Oleh karena itu, kehidupan manusia yang hakiki hanyalah kehidupan di akhirat. Karena itu, ketika manusia melihat kedahsyatan hari kiamat, apa yang ia katakan? Ia berkata, “Duhai, sekiranya dahulu aku telah beramal untuk kehidupanku ini.” (QS. Al-Fajr: 24). Baiklah, bukankah kehidupannya di dunia itu adalah kehidupan juga? Ia sama sekali tidak menganggapnya sebagai kehidupan, dibandingkan dengan apa yang dilihatnya di negeri akhirat. Maka ia melihat bahwa kehidupan yang hakiki hanyalah kehidupan di negeri akhirat, itulah kehidupan yang kekal. “Duhai, sekiranya dahulu aku telah beramal untuk kehidupanku ini.” “Dan sungguh, negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 64) ===== النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَمَا قَالَ لِأَصْحَابِهِ لَا يَبْقَى عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ أَحَدٌ مِمَّنْ هُوَ عَلَيْهَا الْآنَ بَعْدَ مِئَةِ عَامٍ. أَرَادَ أَنْ يُلْفِتَ النَّظَرَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِكَيْ يُفَكِّرَ الْإِنْسَانُ بِمِثْلِ هَذِهِ الْمَعَانِي. يَعْنِي مَثَلًا نَحْنُ الْآنَ فِي هَذَا الْعَامِ الْهِجْرِيِّ، نَحْنُ الْيَوْمَ مَثَلًا فِي ٢٤ مِنْ شَعْبَانَ ١٤٤٢ لِلْهِجْرَةِ. طَيِّبْ فَكِّرْ مَاذَا تَكُونُ بَعْدَ مِئَةِ سَنَةٍ؟ ١٥٤٢ أَيْنَ أَنْتَ؟ مَا حَالُكَ؟ ١٥٤٢. يَعْنِي رُبَّمَا أَنَّ الْمَوْجُودِينَ عَلَى الْأَرْضِ الْآنَ كُلَّهُمْ قَدْ مَاتُوا. فَإِنْ لَمْ تَقُمِ السَّاعَةُ فَهُمْ فِي الْبَرْزَخِ، إِمَّا فِي نَعِيمِ الْقَبْرِ أَوْ فِي عَذَابِهِ. يَتَمَنَّوْنَ أَنْ لَوْ عَمِلُوا صَالِحًا. طَيِّبْ فَكِّرْ قَبْلَ مِئَةِ سَنَةٍ مِنَ الْآنَ، يَعْنِي ١٣٤٢. أَيْنَ الْمَوْجُودِينَ قَبْلَ مِئَةِ سَنَةٍ؟ هَلْ هُمُ الْآنَ مَوْجُودُونَ الْآنَ؟ هَلْ يُوجَدُ أَحَدٌ مِمَّنْ كَانَ مَوْجُودًا عَامَ ١٣٤٢؟ إِنْ وُجِدَ أَحَدٌ فَهُوَ نَادِرٌ. إِنْ وُجِدَ أَحَدٌ يَعْنِي عُمْرُهُ مِئَةُ سَنَةٍ أَوْ أَكْثَرُ فَهُوَ نَادِرٌ، لَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ قَدْ مَاتُوا. وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى قِصَرِ عُمْرِ الْإِنْسَانِ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا، وَقِصَرِ هَذِهِ الدُّنْيَا وَحَقَارَتِهَا، وَأَنَّهَا لَا تَسْتَحِقُّ مِنَ الْإِنْسَانِ كُلَّ هَذَا الْعَنَاءِ، وَكُلَّ هَذَا النَّصَبِ، وَكُلَّ هَذَا الشَّقَاءِ. وَالسَّعِيدُ مَنِ اغْتَنَمَ سَاعَاتِ عُمْرِهِ فِيمَا يَنْفَعُهُ بَعْدَ مَمَاتِهِ. السَّعِيدُ فِيمَنْ تَزَوَّدَ بِزَادِ التَّقْوَى. وَإِلَّا فَإِنَّ عُمْرَ الْإِنْسَانِ قَصِيرٌ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا. وَلِذَلِكَ حَيَاةُ الْإِنْسَانِ الْحَقِيقِيَّةُ إِنَّمَا هِيَ فِي الْآخِرَةِ. وَلِهَذَا الْإِنْسَانُ عِنْدَمَا يَرَى أَهْوَالَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَاذَا يَقُولُ؟ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي. طَيِّبْ أَلَيْسَتْ حَيَاتُهُ فِي الدُّنْيَا حَيَاةً؟ لَا يَرَاهَا حَيَاةً أَصْلًا، لَا يَرَاهَا شَيْئًا، مُقَارَنَةً بِمَا يَرَاهُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ. فَيَرَى أَنَّ الْحَيَاةَ الْحَقِيقِيَّةَ إِنَّمَا هِيَ الْحَيَاةُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ، هِيَ الْحَيَاةُ الْبَاقِيَةُ. يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي. وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ.


Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya, “Seratus tahun lagi, tidak akan tersisa seorang pun di muka bumi dari mereka yang hidup di atasnya sekarang.” (Lihat HR. An-Nasa’i di Sunan Al-Kubra no. 5871 dengan perbedaan lafaz). Beliau ‘alaihish shalatu was salam hendak menarik perhatian agar manusia memikirkan makna-makna semacam ini. Maksudnya, misalnya, sekarang kita berada pada tahun Hijriah ini. Hari ini, misalnya, tanggal 24 Sya’ban 1442 Hijriah. Baiklah, pikirkan: akan seperti apa keadaanmu seratus tahun lagi? Pada tahun 1542 Hijriah, di mana engkau berada? Bagaimana keadaanmu? Pada tahun 1542 Hijriah. Mungkin saja semua orang yang sekarang berada di bumi telah meninggal dunia. Jika hari kiamat belum terjadi, mereka sedang berada di alam barzakh, entah dalam kenikmatan kubur atau azab kubur. Mereka berangan-angan, sekiranya dahulu mereka beramal saleh. Baiklah, pikirkan keadaan seratus tahun yang lalu, yakni tahun 1342 Hijriah. Di manakah orang-orang yang hidup seratus tahun yang lalu? Apakah mereka masih ada sekarang? Apakah masih ada seseorang dari mereka yang hidup pada tahun 1342 Hijriah? Kalaupun ada yang hidup, itu sangat jarang. Kalaupun ada yang hidup, yang umurnya 100 tahun atau lebih, itu sangat jarang, namun mayoritas manusia telah meninggal dunia. Ini menunjukkan betapa singkatnya usia manusia di dunia ini, serta betapa singkat dan rendah nilainya dunia ini. Dunia ini tidak layak mendapatkan segala kepayahan ini, segala keletihan ini, dan segala penderitaan ini. Orang yang berbahagia adalah yang memanfaatkan setiap waktu dalam hidupnya untuk sesuatu yang bermanfaat baginya setelah kematiannya. Orang yang berbahagia adalah yang membekali diri dengan bekal takwa. Jika tidak demikian, sungguh umur manusia di dunia ini singkat. Oleh karena itu, kehidupan manusia yang hakiki hanyalah kehidupan di akhirat. Karena itu, ketika manusia melihat kedahsyatan hari kiamat, apa yang ia katakan? Ia berkata, “Duhai, sekiranya dahulu aku telah beramal untuk kehidupanku ini.” (QS. Al-Fajr: 24). Baiklah, bukankah kehidupannya di dunia itu adalah kehidupan juga? Ia sama sekali tidak menganggapnya sebagai kehidupan, dibandingkan dengan apa yang dilihatnya di negeri akhirat. Maka ia melihat bahwa kehidupan yang hakiki hanyalah kehidupan di negeri akhirat, itulah kehidupan yang kekal. “Duhai, sekiranya dahulu aku telah beramal untuk kehidupanku ini.” “Dan sungguh, negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 64) ===== النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَمَا قَالَ لِأَصْحَابِهِ لَا يَبْقَى عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ أَحَدٌ مِمَّنْ هُوَ عَلَيْهَا الْآنَ بَعْدَ مِئَةِ عَامٍ. أَرَادَ أَنْ يُلْفِتَ النَّظَرَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِكَيْ يُفَكِّرَ الْإِنْسَانُ بِمِثْلِ هَذِهِ الْمَعَانِي. يَعْنِي مَثَلًا نَحْنُ الْآنَ فِي هَذَا الْعَامِ الْهِجْرِيِّ، نَحْنُ الْيَوْمَ مَثَلًا فِي ٢٤ مِنْ شَعْبَانَ ١٤٤٢ لِلْهِجْرَةِ. طَيِّبْ فَكِّرْ مَاذَا تَكُونُ بَعْدَ مِئَةِ سَنَةٍ؟ ١٥٤٢ أَيْنَ أَنْتَ؟ مَا حَالُكَ؟ ١٥٤٢. يَعْنِي رُبَّمَا أَنَّ الْمَوْجُودِينَ عَلَى الْأَرْضِ الْآنَ كُلَّهُمْ قَدْ مَاتُوا. فَإِنْ لَمْ تَقُمِ السَّاعَةُ فَهُمْ فِي الْبَرْزَخِ، إِمَّا فِي نَعِيمِ الْقَبْرِ أَوْ فِي عَذَابِهِ. يَتَمَنَّوْنَ أَنْ لَوْ عَمِلُوا صَالِحًا. طَيِّبْ فَكِّرْ قَبْلَ مِئَةِ سَنَةٍ مِنَ الْآنَ، يَعْنِي ١٣٤٢. أَيْنَ الْمَوْجُودِينَ قَبْلَ مِئَةِ سَنَةٍ؟ هَلْ هُمُ الْآنَ مَوْجُودُونَ الْآنَ؟ هَلْ يُوجَدُ أَحَدٌ مِمَّنْ كَانَ مَوْجُودًا عَامَ ١٣٤٢؟ إِنْ وُجِدَ أَحَدٌ فَهُوَ نَادِرٌ. إِنْ وُجِدَ أَحَدٌ يَعْنِي عُمْرُهُ مِئَةُ سَنَةٍ أَوْ أَكْثَرُ فَهُوَ نَادِرٌ، لَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ قَدْ مَاتُوا. وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى قِصَرِ عُمْرِ الْإِنْسَانِ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا، وَقِصَرِ هَذِهِ الدُّنْيَا وَحَقَارَتِهَا، وَأَنَّهَا لَا تَسْتَحِقُّ مِنَ الْإِنْسَانِ كُلَّ هَذَا الْعَنَاءِ، وَكُلَّ هَذَا النَّصَبِ، وَكُلَّ هَذَا الشَّقَاءِ. وَالسَّعِيدُ مَنِ اغْتَنَمَ سَاعَاتِ عُمْرِهِ فِيمَا يَنْفَعُهُ بَعْدَ مَمَاتِهِ. السَّعِيدُ فِيمَنْ تَزَوَّدَ بِزَادِ التَّقْوَى. وَإِلَّا فَإِنَّ عُمْرَ الْإِنْسَانِ قَصِيرٌ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا. وَلِذَلِكَ حَيَاةُ الْإِنْسَانِ الْحَقِيقِيَّةُ إِنَّمَا هِيَ فِي الْآخِرَةِ. وَلِهَذَا الْإِنْسَانُ عِنْدَمَا يَرَى أَهْوَالَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَاذَا يَقُولُ؟ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي. طَيِّبْ أَلَيْسَتْ حَيَاتُهُ فِي الدُّنْيَا حَيَاةً؟ لَا يَرَاهَا حَيَاةً أَصْلًا، لَا يَرَاهَا شَيْئًا، مُقَارَنَةً بِمَا يَرَاهُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ. فَيَرَى أَنَّ الْحَيَاةَ الْحَقِيقِيَّةَ إِنَّمَا هِيَ الْحَيَاةُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ، هِيَ الْحَيَاةُ الْبَاقِيَةُ. يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي. وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ.

JIKA ALAM SEMESTA HANYA KEBETULAN, MENGAPA SEMUANYA BEGITU TERATUR?

Poin ketiga puluh sembilan: Hendaknya dikatakan kepada kaum ateis materialis itu, Siapakah yang menciptakan sekian banyak makhluk yang agung ini? Siapakah yang menyempurnakan penciptaannya dengan begitu menakjubkan? Siapakah yang mengatur berbagai pergerakannya yang menakjubkan, yang pikiran tercengang melihat keindahan dan keteraturan sistemnya? Maka kaum ateis akan menjawab, “Semua ini hanyalah hasil kebetulan dan kerja alam yang buta, yang tidak memiliki ilmu, kemampuan, kehendak, maupun sifat-sifat lainnya.” Inilah pernyataan yang mereka ungkapkan secara terang-terangan, mengikuti orang-orang yang membangkang dari kalangan pemuka mereka yang sesat. Maka pada saat itu akan jelas bagimu bahwa akal mereka lebih dekat kepada akal orang-orang gila daripada kepada akal anak-anak kecil yang belum mampu berpikir. Seandainya alam-alam yang sangat ini dibiarkan selama satu jam saja, bahkan sesaat saja, bergantung kepada kebetulan dan kekacauan, niscaya langit dan bumi akan lenyap dan seluruh alam menjadi kacau. “Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi agar tidak lenyap. Dan sungguh, jika keduanya lenyap, tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya setelah Allah. Sungguh, Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 41). Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga selawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du. Pada poin ini, beliau rahimahullah menjelaskan dalil lain di antara berbagai dalil yang membantah perkataan kaum ateis, mengajak mereka memperhatikan ketepatan dan kesempurnaan penciptaan alam ini, dengan presisi yang luar biasa, kesempurnaan yang begitu tinggi, dan keteraturan yang menakjubkan. Mereka diajak untuk memperhatikan ketepatan dan kesempurnaan alam ini, lalu ditanyakan, “Siapakah yang menciptakan ciptaan yang begitu sempurna, menakjubkan, dan agung ini?” Jawaban mereka, yang dibangun di atas akidah mereka yang rusak, adalah bahwa semua ini hanyalah hasil kebetulan dan hasil kerja alam. Ketepatan yang begitu sempurna dan presisi di seluruh alam dengan keteraturannya yang menakjubkan ini, semua itu dianggap sebagai hasil kebetulan dan hasil kerja alam. Padahal mereka sendiri tidak akan menerima jika sesuatu yang nilainya sedikit saja di bawah semua ini dikatakan sebagai hasil kebetulan atau hasil kerja alam. Namun rusaknya akal membuat perkataan mereka, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh rahimahullah, sangat menyerupai perkataan orang-orang gila yang tidak menggunakan akalnya. Sebab bagaimana mungkin pernyataan seperti ini muncul dari akal yang lurus dan pikiran yang sehat? Kesimpulannya, kesempurnaan, presisi yang begitu tinggi, kokohnya penciptaan, dan keteraturan makhluk-makhluk ini dalam perjalanan dan pergerakannya, semuanya merupakan bukti yang jelas bahwa hal itu merupakan ketetapan dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, Subhanahu wa Ta’ala, Yang “memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan.” (Lihat QS. As-Sajdah: 7). Subhanahu wa Ta’ala. “(Begitulah) ciptaan Allah yang menyempurnakan segala sesuatu.” (Lihat QS. An-Naml: 88). Keadaannya sebagaimana yang disebutkan Syaikh rahimahullah Ta’ala: seandainya alam-alam yang agung ini dibiarkan selama satu jam saja, bahkan dibiarkan sesaat saja, kepada kebetulan dan kekacauan yang mereka klaim sebagai sesuatu yang mengadakan alam ini, dan bahwa semua ini merupakan hasil darinya, seandainya alam ini dibiarkan sesaat saja kepada kebetulan atau apa yang mereka klaim sebagai “alam”, niscaya alam ini akan kacau, bagian-bagiannya saling bertabrakan dan berbenturan, dan binasalah seluruh makhluk yang ada di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi agar tidak lenyap. Dan sungguh, jika keduanya lenyap, tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya setelah Allah.” (QS. Fathir: 41). Maka kesempurnaan alam ini, baik dalam penciptaan, penetapan, maupun pengaturannya, serta kesempurnaan dalam mewujudkannya, merupakan salah satu bukti atas keesaan Allah, dan dalil yang menunjukkan adanya Pencipta alam semesta ini dan Yang mengadakannya dengan penciptaan yang menakjubkan, Subhanahu wa Ta’ala. ===== لِخَلْقِ هَذَا الْعَالَمِ بِهَذِهِ الدِّقَّةِ الْمُتَنَاهِيَةِ وَالْإِحْكَامِ الْبَالِغِ وَالِانْتِظَامِ الْعَجِيبِ فَإِنَّ هَؤُلَاءِ يُدْعَوْنَ إِلَى النَّظَرِ فِي هَذَا الْإِحْكَامِ وَالْإِتْقَانِ لِهَذَا الْعَالَمِ وَيُقَالُ: مَنْ خَلَقَ هَذَا الْخَلْقَ الْمُتْقَنَ الْبَدِيعَ الْعَظِيمَ؟ فَجَوَابُهُمُ الْمُنْبَنِي عَلَى عَقِيدَتِهِمُ الْفَاسِدَةِ: أَنَّ هَذَا إِنَّمَا هُوَ أَثَرُ الْمُصَادَفَةِ وَأَثَرُ الطَّبِيعَةِ هَذَا الْإِحْكَامُ الْبَالِغُ الدَّقِيقُ فِي الْعَالَمِ كُلِّهِ بِانْتِظَامِهِ الْعَجِيبِ كُلُّ ذَلِكَ أَثَرُ الْمُصَادَفَةِ وَأَثَرُ الطَّبِيعَةِ مَعَ أَنَّ هَؤُلَاءِ لَا يَقْبَلُونَ دُونَ هَذَا بِقَلِيلٍ أَنْ يُقَالَ إِنَّهُ أَثَرُ الْمُصَادَفَةِ أَوْ أَثَرُ الطَّبِيعَةِ لَكِنَّ فَسَادَ الْعُقُولِ جَعَلَ أَقْوَالَهُمْ مِثْلَمَا قَالَ الشَّيْخُ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ شَبِيهًا تَمَامًا بِأَقْوَالِ الْمَجَانِينِ الَّذِينَ لَا عُقُولَ لَهُمْ وَإِلَّا كَيْفَ يَصِحُّ مِنْ عَقْلٍ مُسْتَقِيمٍ أَوْ مِنْ ذِي لُبٍّ قَوِيمٍ أَنْ يَقُولَ مِثْلَ هَذَا الْقَوْلِ؟ فَالْحَاصِلُ أَنَّ هَذَا الْإِتْقَانَ وَالدِّقَّةَ الْبَالِغَةَ وَالْإِحْكَامَ فِي الْخَلْقِ وَانْتِظَامَ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ فِي سَيْرِهَا وَحَرَكَتِهَا فِيهِ الدَّلَالَةُ الْبَيِّنَةُ عَلَى أَنَّ هَذَا مِنْ تَقْدِيرِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ وَالْأَمْرُ مِثْلُ مَا ذَكَرَ الشَّيْخُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: لَوْ تُرِكَتْ هَذِهِ الْعَوَالِمُ الْعَظِيمَةُ سَاعَةً لَوْ تُرِكَتْ سَاعَةً وَاحِدَةً بَلْ لَحْظَةً وَاحِدَةً لِلْمُصَادَفَةِ وَالْفَوْضَوِيَّةِ الَّتِي يَدَّعُونَهَا هِيَ الْمُوجِدَةُ وَأَنَّ هَذَا أَثَرٌ مِنْ آثَارِهَا لَوْ تُرِكَ هَذَا لَحْظَةً وَاحِدَةً لِهَذِهِ الْمُصَادَفَةِ أَوِ الطَّبِيعَةِ الْمَزْعُومَةِ عِنْدَ هَؤُلَاءِ لَاضْطَرَبَ الْعَالَمُ وَاصْطَدَمَ بَعْضُهُ بِبَعْضٍ وَارْتَطَمَ بَعْضُهُ بِبَعْضٍ وَهَلَكَ كُلُّ مَنْ فِيهِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ فَهَذَا الْإِتْقَانُ فِي الْعَالَمِ خَلْقًا وَتَقْدِيرًا وَتَدْبِيرًا وَالْإِحْكَامُ فِي إِيجَادِهِ هُوَ شَاهِدٌ مِنْ شَوَاهِدِ الْوَحْدَانِيَّةِ وَدَلِيلٌ عَلَى خَالِقِ هَذَا الْكَوْنِ وَمُبْدِعِ هَذَا الْعَالَمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

JIKA ALAM SEMESTA HANYA KEBETULAN, MENGAPA SEMUANYA BEGITU TERATUR?

Poin ketiga puluh sembilan: Hendaknya dikatakan kepada kaum ateis materialis itu, Siapakah yang menciptakan sekian banyak makhluk yang agung ini? Siapakah yang menyempurnakan penciptaannya dengan begitu menakjubkan? Siapakah yang mengatur berbagai pergerakannya yang menakjubkan, yang pikiran tercengang melihat keindahan dan keteraturan sistemnya? Maka kaum ateis akan menjawab, “Semua ini hanyalah hasil kebetulan dan kerja alam yang buta, yang tidak memiliki ilmu, kemampuan, kehendak, maupun sifat-sifat lainnya.” Inilah pernyataan yang mereka ungkapkan secara terang-terangan, mengikuti orang-orang yang membangkang dari kalangan pemuka mereka yang sesat. Maka pada saat itu akan jelas bagimu bahwa akal mereka lebih dekat kepada akal orang-orang gila daripada kepada akal anak-anak kecil yang belum mampu berpikir. Seandainya alam-alam yang sangat ini dibiarkan selama satu jam saja, bahkan sesaat saja, bergantung kepada kebetulan dan kekacauan, niscaya langit dan bumi akan lenyap dan seluruh alam menjadi kacau. “Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi agar tidak lenyap. Dan sungguh, jika keduanya lenyap, tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya setelah Allah. Sungguh, Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 41). Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga selawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du. Pada poin ini, beliau rahimahullah menjelaskan dalil lain di antara berbagai dalil yang membantah perkataan kaum ateis, mengajak mereka memperhatikan ketepatan dan kesempurnaan penciptaan alam ini, dengan presisi yang luar biasa, kesempurnaan yang begitu tinggi, dan keteraturan yang menakjubkan. Mereka diajak untuk memperhatikan ketepatan dan kesempurnaan alam ini, lalu ditanyakan, “Siapakah yang menciptakan ciptaan yang begitu sempurna, menakjubkan, dan agung ini?” Jawaban mereka, yang dibangun di atas akidah mereka yang rusak, adalah bahwa semua ini hanyalah hasil kebetulan dan hasil kerja alam. Ketepatan yang begitu sempurna dan presisi di seluruh alam dengan keteraturannya yang menakjubkan ini, semua itu dianggap sebagai hasil kebetulan dan hasil kerja alam. Padahal mereka sendiri tidak akan menerima jika sesuatu yang nilainya sedikit saja di bawah semua ini dikatakan sebagai hasil kebetulan atau hasil kerja alam. Namun rusaknya akal membuat perkataan mereka, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh rahimahullah, sangat menyerupai perkataan orang-orang gila yang tidak menggunakan akalnya. Sebab bagaimana mungkin pernyataan seperti ini muncul dari akal yang lurus dan pikiran yang sehat? Kesimpulannya, kesempurnaan, presisi yang begitu tinggi, kokohnya penciptaan, dan keteraturan makhluk-makhluk ini dalam perjalanan dan pergerakannya, semuanya merupakan bukti yang jelas bahwa hal itu merupakan ketetapan dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, Subhanahu wa Ta’ala, Yang “memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan.” (Lihat QS. As-Sajdah: 7). Subhanahu wa Ta’ala. “(Begitulah) ciptaan Allah yang menyempurnakan segala sesuatu.” (Lihat QS. An-Naml: 88). Keadaannya sebagaimana yang disebutkan Syaikh rahimahullah Ta’ala: seandainya alam-alam yang agung ini dibiarkan selama satu jam saja, bahkan dibiarkan sesaat saja, kepada kebetulan dan kekacauan yang mereka klaim sebagai sesuatu yang mengadakan alam ini, dan bahwa semua ini merupakan hasil darinya, seandainya alam ini dibiarkan sesaat saja kepada kebetulan atau apa yang mereka klaim sebagai “alam”, niscaya alam ini akan kacau, bagian-bagiannya saling bertabrakan dan berbenturan, dan binasalah seluruh makhluk yang ada di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi agar tidak lenyap. Dan sungguh, jika keduanya lenyap, tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya setelah Allah.” (QS. Fathir: 41). Maka kesempurnaan alam ini, baik dalam penciptaan, penetapan, maupun pengaturannya, serta kesempurnaan dalam mewujudkannya, merupakan salah satu bukti atas keesaan Allah, dan dalil yang menunjukkan adanya Pencipta alam semesta ini dan Yang mengadakannya dengan penciptaan yang menakjubkan, Subhanahu wa Ta’ala. ===== لِخَلْقِ هَذَا الْعَالَمِ بِهَذِهِ الدِّقَّةِ الْمُتَنَاهِيَةِ وَالْإِحْكَامِ الْبَالِغِ وَالِانْتِظَامِ الْعَجِيبِ فَإِنَّ هَؤُلَاءِ يُدْعَوْنَ إِلَى النَّظَرِ فِي هَذَا الْإِحْكَامِ وَالْإِتْقَانِ لِهَذَا الْعَالَمِ وَيُقَالُ: مَنْ خَلَقَ هَذَا الْخَلْقَ الْمُتْقَنَ الْبَدِيعَ الْعَظِيمَ؟ فَجَوَابُهُمُ الْمُنْبَنِي عَلَى عَقِيدَتِهِمُ الْفَاسِدَةِ: أَنَّ هَذَا إِنَّمَا هُوَ أَثَرُ الْمُصَادَفَةِ وَأَثَرُ الطَّبِيعَةِ هَذَا الْإِحْكَامُ الْبَالِغُ الدَّقِيقُ فِي الْعَالَمِ كُلِّهِ بِانْتِظَامِهِ الْعَجِيبِ كُلُّ ذَلِكَ أَثَرُ الْمُصَادَفَةِ وَأَثَرُ الطَّبِيعَةِ مَعَ أَنَّ هَؤُلَاءِ لَا يَقْبَلُونَ دُونَ هَذَا بِقَلِيلٍ أَنْ يُقَالَ إِنَّهُ أَثَرُ الْمُصَادَفَةِ أَوْ أَثَرُ الطَّبِيعَةِ لَكِنَّ فَسَادَ الْعُقُولِ جَعَلَ أَقْوَالَهُمْ مِثْلَمَا قَالَ الشَّيْخُ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ شَبِيهًا تَمَامًا بِأَقْوَالِ الْمَجَانِينِ الَّذِينَ لَا عُقُولَ لَهُمْ وَإِلَّا كَيْفَ يَصِحُّ مِنْ عَقْلٍ مُسْتَقِيمٍ أَوْ مِنْ ذِي لُبٍّ قَوِيمٍ أَنْ يَقُولَ مِثْلَ هَذَا الْقَوْلِ؟ فَالْحَاصِلُ أَنَّ هَذَا الْإِتْقَانَ وَالدِّقَّةَ الْبَالِغَةَ وَالْإِحْكَامَ فِي الْخَلْقِ وَانْتِظَامَ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ فِي سَيْرِهَا وَحَرَكَتِهَا فِيهِ الدَّلَالَةُ الْبَيِّنَةُ عَلَى أَنَّ هَذَا مِنْ تَقْدِيرِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ وَالْأَمْرُ مِثْلُ مَا ذَكَرَ الشَّيْخُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: لَوْ تُرِكَتْ هَذِهِ الْعَوَالِمُ الْعَظِيمَةُ سَاعَةً لَوْ تُرِكَتْ سَاعَةً وَاحِدَةً بَلْ لَحْظَةً وَاحِدَةً لِلْمُصَادَفَةِ وَالْفَوْضَوِيَّةِ الَّتِي يَدَّعُونَهَا هِيَ الْمُوجِدَةُ وَأَنَّ هَذَا أَثَرٌ مِنْ آثَارِهَا لَوْ تُرِكَ هَذَا لَحْظَةً وَاحِدَةً لِهَذِهِ الْمُصَادَفَةِ أَوِ الطَّبِيعَةِ الْمَزْعُومَةِ عِنْدَ هَؤُلَاءِ لَاضْطَرَبَ الْعَالَمُ وَاصْطَدَمَ بَعْضُهُ بِبَعْضٍ وَارْتَطَمَ بَعْضُهُ بِبَعْضٍ وَهَلَكَ كُلُّ مَنْ فِيهِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ فَهَذَا الْإِتْقَانُ فِي الْعَالَمِ خَلْقًا وَتَقْدِيرًا وَتَدْبِيرًا وَالْإِحْكَامُ فِي إِيجَادِهِ هُوَ شَاهِدٌ مِنْ شَوَاهِدِ الْوَحْدَانِيَّةِ وَدَلِيلٌ عَلَى خَالِقِ هَذَا الْكَوْنِ وَمُبْدِعِ هَذَا الْعَالَمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Poin ketiga puluh sembilan: Hendaknya dikatakan kepada kaum ateis materialis itu, Siapakah yang menciptakan sekian banyak makhluk yang agung ini? Siapakah yang menyempurnakan penciptaannya dengan begitu menakjubkan? Siapakah yang mengatur berbagai pergerakannya yang menakjubkan, yang pikiran tercengang melihat keindahan dan keteraturan sistemnya? Maka kaum ateis akan menjawab, “Semua ini hanyalah hasil kebetulan dan kerja alam yang buta, yang tidak memiliki ilmu, kemampuan, kehendak, maupun sifat-sifat lainnya.” Inilah pernyataan yang mereka ungkapkan secara terang-terangan, mengikuti orang-orang yang membangkang dari kalangan pemuka mereka yang sesat. Maka pada saat itu akan jelas bagimu bahwa akal mereka lebih dekat kepada akal orang-orang gila daripada kepada akal anak-anak kecil yang belum mampu berpikir. Seandainya alam-alam yang sangat ini dibiarkan selama satu jam saja, bahkan sesaat saja, bergantung kepada kebetulan dan kekacauan, niscaya langit dan bumi akan lenyap dan seluruh alam menjadi kacau. “Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi agar tidak lenyap. Dan sungguh, jika keduanya lenyap, tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya setelah Allah. Sungguh, Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 41). Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga selawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du. Pada poin ini, beliau rahimahullah menjelaskan dalil lain di antara berbagai dalil yang membantah perkataan kaum ateis, mengajak mereka memperhatikan ketepatan dan kesempurnaan penciptaan alam ini, dengan presisi yang luar biasa, kesempurnaan yang begitu tinggi, dan keteraturan yang menakjubkan. Mereka diajak untuk memperhatikan ketepatan dan kesempurnaan alam ini, lalu ditanyakan, “Siapakah yang menciptakan ciptaan yang begitu sempurna, menakjubkan, dan agung ini?” Jawaban mereka, yang dibangun di atas akidah mereka yang rusak, adalah bahwa semua ini hanyalah hasil kebetulan dan hasil kerja alam. Ketepatan yang begitu sempurna dan presisi di seluruh alam dengan keteraturannya yang menakjubkan ini, semua itu dianggap sebagai hasil kebetulan dan hasil kerja alam. Padahal mereka sendiri tidak akan menerima jika sesuatu yang nilainya sedikit saja di bawah semua ini dikatakan sebagai hasil kebetulan atau hasil kerja alam. Namun rusaknya akal membuat perkataan mereka, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh rahimahullah, sangat menyerupai perkataan orang-orang gila yang tidak menggunakan akalnya. Sebab bagaimana mungkin pernyataan seperti ini muncul dari akal yang lurus dan pikiran yang sehat? Kesimpulannya, kesempurnaan, presisi yang begitu tinggi, kokohnya penciptaan, dan keteraturan makhluk-makhluk ini dalam perjalanan dan pergerakannya, semuanya merupakan bukti yang jelas bahwa hal itu merupakan ketetapan dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, Subhanahu wa Ta’ala, Yang “memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan.” (Lihat QS. As-Sajdah: 7). Subhanahu wa Ta’ala. “(Begitulah) ciptaan Allah yang menyempurnakan segala sesuatu.” (Lihat QS. An-Naml: 88). Keadaannya sebagaimana yang disebutkan Syaikh rahimahullah Ta’ala: seandainya alam-alam yang agung ini dibiarkan selama satu jam saja, bahkan dibiarkan sesaat saja, kepada kebetulan dan kekacauan yang mereka klaim sebagai sesuatu yang mengadakan alam ini, dan bahwa semua ini merupakan hasil darinya, seandainya alam ini dibiarkan sesaat saja kepada kebetulan atau apa yang mereka klaim sebagai “alam”, niscaya alam ini akan kacau, bagian-bagiannya saling bertabrakan dan berbenturan, dan binasalah seluruh makhluk yang ada di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi agar tidak lenyap. Dan sungguh, jika keduanya lenyap, tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya setelah Allah.” (QS. Fathir: 41). Maka kesempurnaan alam ini, baik dalam penciptaan, penetapan, maupun pengaturannya, serta kesempurnaan dalam mewujudkannya, merupakan salah satu bukti atas keesaan Allah, dan dalil yang menunjukkan adanya Pencipta alam semesta ini dan Yang mengadakannya dengan penciptaan yang menakjubkan, Subhanahu wa Ta’ala. ===== لِخَلْقِ هَذَا الْعَالَمِ بِهَذِهِ الدِّقَّةِ الْمُتَنَاهِيَةِ وَالْإِحْكَامِ الْبَالِغِ وَالِانْتِظَامِ الْعَجِيبِ فَإِنَّ هَؤُلَاءِ يُدْعَوْنَ إِلَى النَّظَرِ فِي هَذَا الْإِحْكَامِ وَالْإِتْقَانِ لِهَذَا الْعَالَمِ وَيُقَالُ: مَنْ خَلَقَ هَذَا الْخَلْقَ الْمُتْقَنَ الْبَدِيعَ الْعَظِيمَ؟ فَجَوَابُهُمُ الْمُنْبَنِي عَلَى عَقِيدَتِهِمُ الْفَاسِدَةِ: أَنَّ هَذَا إِنَّمَا هُوَ أَثَرُ الْمُصَادَفَةِ وَأَثَرُ الطَّبِيعَةِ هَذَا الْإِحْكَامُ الْبَالِغُ الدَّقِيقُ فِي الْعَالَمِ كُلِّهِ بِانْتِظَامِهِ الْعَجِيبِ كُلُّ ذَلِكَ أَثَرُ الْمُصَادَفَةِ وَأَثَرُ الطَّبِيعَةِ مَعَ أَنَّ هَؤُلَاءِ لَا يَقْبَلُونَ دُونَ هَذَا بِقَلِيلٍ أَنْ يُقَالَ إِنَّهُ أَثَرُ الْمُصَادَفَةِ أَوْ أَثَرُ الطَّبِيعَةِ لَكِنَّ فَسَادَ الْعُقُولِ جَعَلَ أَقْوَالَهُمْ مِثْلَمَا قَالَ الشَّيْخُ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ شَبِيهًا تَمَامًا بِأَقْوَالِ الْمَجَانِينِ الَّذِينَ لَا عُقُولَ لَهُمْ وَإِلَّا كَيْفَ يَصِحُّ مِنْ عَقْلٍ مُسْتَقِيمٍ أَوْ مِنْ ذِي لُبٍّ قَوِيمٍ أَنْ يَقُولَ مِثْلَ هَذَا الْقَوْلِ؟ فَالْحَاصِلُ أَنَّ هَذَا الْإِتْقَانَ وَالدِّقَّةَ الْبَالِغَةَ وَالْإِحْكَامَ فِي الْخَلْقِ وَانْتِظَامَ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ فِي سَيْرِهَا وَحَرَكَتِهَا فِيهِ الدَّلَالَةُ الْبَيِّنَةُ عَلَى أَنَّ هَذَا مِنْ تَقْدِيرِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ وَالْأَمْرُ مِثْلُ مَا ذَكَرَ الشَّيْخُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: لَوْ تُرِكَتْ هَذِهِ الْعَوَالِمُ الْعَظِيمَةُ سَاعَةً لَوْ تُرِكَتْ سَاعَةً وَاحِدَةً بَلْ لَحْظَةً وَاحِدَةً لِلْمُصَادَفَةِ وَالْفَوْضَوِيَّةِ الَّتِي يَدَّعُونَهَا هِيَ الْمُوجِدَةُ وَأَنَّ هَذَا أَثَرٌ مِنْ آثَارِهَا لَوْ تُرِكَ هَذَا لَحْظَةً وَاحِدَةً لِهَذِهِ الْمُصَادَفَةِ أَوِ الطَّبِيعَةِ الْمَزْعُومَةِ عِنْدَ هَؤُلَاءِ لَاضْطَرَبَ الْعَالَمُ وَاصْطَدَمَ بَعْضُهُ بِبَعْضٍ وَارْتَطَمَ بَعْضُهُ بِبَعْضٍ وَهَلَكَ كُلُّ مَنْ فِيهِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ فَهَذَا الْإِتْقَانُ فِي الْعَالَمِ خَلْقًا وَتَقْدِيرًا وَتَدْبِيرًا وَالْإِحْكَامُ فِي إِيجَادِهِ هُوَ شَاهِدٌ مِنْ شَوَاهِدِ الْوَحْدَانِيَّةِ وَدَلِيلٌ عَلَى خَالِقِ هَذَا الْكَوْنِ وَمُبْدِعِ هَذَا الْعَالَمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى


Poin ketiga puluh sembilan: Hendaknya dikatakan kepada kaum ateis materialis itu, Siapakah yang menciptakan sekian banyak makhluk yang agung ini? Siapakah yang menyempurnakan penciptaannya dengan begitu menakjubkan? Siapakah yang mengatur berbagai pergerakannya yang menakjubkan, yang pikiran tercengang melihat keindahan dan keteraturan sistemnya? Maka kaum ateis akan menjawab, “Semua ini hanyalah hasil kebetulan dan kerja alam yang buta, yang tidak memiliki ilmu, kemampuan, kehendak, maupun sifat-sifat lainnya.” Inilah pernyataan yang mereka ungkapkan secara terang-terangan, mengikuti orang-orang yang membangkang dari kalangan pemuka mereka yang sesat. Maka pada saat itu akan jelas bagimu bahwa akal mereka lebih dekat kepada akal orang-orang gila daripada kepada akal anak-anak kecil yang belum mampu berpikir. Seandainya alam-alam yang sangat ini dibiarkan selama satu jam saja, bahkan sesaat saja, bergantung kepada kebetulan dan kekacauan, niscaya langit dan bumi akan lenyap dan seluruh alam menjadi kacau. “Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi agar tidak lenyap. Dan sungguh, jika keduanya lenyap, tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya setelah Allah. Sungguh, Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 41). Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga selawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du. Pada poin ini, beliau rahimahullah menjelaskan dalil lain di antara berbagai dalil yang membantah perkataan kaum ateis, mengajak mereka memperhatikan ketepatan dan kesempurnaan penciptaan alam ini, dengan presisi yang luar biasa, kesempurnaan yang begitu tinggi, dan keteraturan yang menakjubkan. Mereka diajak untuk memperhatikan ketepatan dan kesempurnaan alam ini, lalu ditanyakan, “Siapakah yang menciptakan ciptaan yang begitu sempurna, menakjubkan, dan agung ini?” Jawaban mereka, yang dibangun di atas akidah mereka yang rusak, adalah bahwa semua ini hanyalah hasil kebetulan dan hasil kerja alam. Ketepatan yang begitu sempurna dan presisi di seluruh alam dengan keteraturannya yang menakjubkan ini, semua itu dianggap sebagai hasil kebetulan dan hasil kerja alam. Padahal mereka sendiri tidak akan menerima jika sesuatu yang nilainya sedikit saja di bawah semua ini dikatakan sebagai hasil kebetulan atau hasil kerja alam. Namun rusaknya akal membuat perkataan mereka, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh rahimahullah, sangat menyerupai perkataan orang-orang gila yang tidak menggunakan akalnya. Sebab bagaimana mungkin pernyataan seperti ini muncul dari akal yang lurus dan pikiran yang sehat? Kesimpulannya, kesempurnaan, presisi yang begitu tinggi, kokohnya penciptaan, dan keteraturan makhluk-makhluk ini dalam perjalanan dan pergerakannya, semuanya merupakan bukti yang jelas bahwa hal itu merupakan ketetapan dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, Subhanahu wa Ta’ala, Yang “memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan.” (Lihat QS. As-Sajdah: 7). Subhanahu wa Ta’ala. “(Begitulah) ciptaan Allah yang menyempurnakan segala sesuatu.” (Lihat QS. An-Naml: 88). Keadaannya sebagaimana yang disebutkan Syaikh rahimahullah Ta’ala: seandainya alam-alam yang agung ini dibiarkan selama satu jam saja, bahkan dibiarkan sesaat saja, kepada kebetulan dan kekacauan yang mereka klaim sebagai sesuatu yang mengadakan alam ini, dan bahwa semua ini merupakan hasil darinya, seandainya alam ini dibiarkan sesaat saja kepada kebetulan atau apa yang mereka klaim sebagai “alam”, niscaya alam ini akan kacau, bagian-bagiannya saling bertabrakan dan berbenturan, dan binasalah seluruh makhluk yang ada di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi agar tidak lenyap. Dan sungguh, jika keduanya lenyap, tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya setelah Allah.” (QS. Fathir: 41). Maka kesempurnaan alam ini, baik dalam penciptaan, penetapan, maupun pengaturannya, serta kesempurnaan dalam mewujudkannya, merupakan salah satu bukti atas keesaan Allah, dan dalil yang menunjukkan adanya Pencipta alam semesta ini dan Yang mengadakannya dengan penciptaan yang menakjubkan, Subhanahu wa Ta’ala. ===== لِخَلْقِ هَذَا الْعَالَمِ بِهَذِهِ الدِّقَّةِ الْمُتَنَاهِيَةِ وَالْإِحْكَامِ الْبَالِغِ وَالِانْتِظَامِ الْعَجِيبِ فَإِنَّ هَؤُلَاءِ يُدْعَوْنَ إِلَى النَّظَرِ فِي هَذَا الْإِحْكَامِ وَالْإِتْقَانِ لِهَذَا الْعَالَمِ وَيُقَالُ: مَنْ خَلَقَ هَذَا الْخَلْقَ الْمُتْقَنَ الْبَدِيعَ الْعَظِيمَ؟ فَجَوَابُهُمُ الْمُنْبَنِي عَلَى عَقِيدَتِهِمُ الْفَاسِدَةِ: أَنَّ هَذَا إِنَّمَا هُوَ أَثَرُ الْمُصَادَفَةِ وَأَثَرُ الطَّبِيعَةِ هَذَا الْإِحْكَامُ الْبَالِغُ الدَّقِيقُ فِي الْعَالَمِ كُلِّهِ بِانْتِظَامِهِ الْعَجِيبِ كُلُّ ذَلِكَ أَثَرُ الْمُصَادَفَةِ وَأَثَرُ الطَّبِيعَةِ مَعَ أَنَّ هَؤُلَاءِ لَا يَقْبَلُونَ دُونَ هَذَا بِقَلِيلٍ أَنْ يُقَالَ إِنَّهُ أَثَرُ الْمُصَادَفَةِ أَوْ أَثَرُ الطَّبِيعَةِ لَكِنَّ فَسَادَ الْعُقُولِ جَعَلَ أَقْوَالَهُمْ مِثْلَمَا قَالَ الشَّيْخُ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ شَبِيهًا تَمَامًا بِأَقْوَالِ الْمَجَانِينِ الَّذِينَ لَا عُقُولَ لَهُمْ وَإِلَّا كَيْفَ يَصِحُّ مِنْ عَقْلٍ مُسْتَقِيمٍ أَوْ مِنْ ذِي لُبٍّ قَوِيمٍ أَنْ يَقُولَ مِثْلَ هَذَا الْقَوْلِ؟ فَالْحَاصِلُ أَنَّ هَذَا الْإِتْقَانَ وَالدِّقَّةَ الْبَالِغَةَ وَالْإِحْكَامَ فِي الْخَلْقِ وَانْتِظَامَ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ فِي سَيْرِهَا وَحَرَكَتِهَا فِيهِ الدَّلَالَةُ الْبَيِّنَةُ عَلَى أَنَّ هَذَا مِنْ تَقْدِيرِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ وَالْأَمْرُ مِثْلُ مَا ذَكَرَ الشَّيْخُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: لَوْ تُرِكَتْ هَذِهِ الْعَوَالِمُ الْعَظِيمَةُ سَاعَةً لَوْ تُرِكَتْ سَاعَةً وَاحِدَةً بَلْ لَحْظَةً وَاحِدَةً لِلْمُصَادَفَةِ وَالْفَوْضَوِيَّةِ الَّتِي يَدَّعُونَهَا هِيَ الْمُوجِدَةُ وَأَنَّ هَذَا أَثَرٌ مِنْ آثَارِهَا لَوْ تُرِكَ هَذَا لَحْظَةً وَاحِدَةً لِهَذِهِ الْمُصَادَفَةِ أَوِ الطَّبِيعَةِ الْمَزْعُومَةِ عِنْدَ هَؤُلَاءِ لَاضْطَرَبَ الْعَالَمُ وَاصْطَدَمَ بَعْضُهُ بِبَعْضٍ وَارْتَطَمَ بَعْضُهُ بِبَعْضٍ وَهَلَكَ كُلُّ مَنْ فِيهِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ فَهَذَا الْإِتْقَانُ فِي الْعَالَمِ خَلْقًا وَتَقْدِيرًا وَتَدْبِيرًا وَالْإِحْكَامُ فِي إِيجَادِهِ هُوَ شَاهِدٌ مِنْ شَوَاهِدِ الْوَحْدَانِيَّةِ وَدَلِيلٌ عَلَى خَالِقِ هَذَا الْكَوْنِ وَمُبْدِعِ هَذَا الْعَالَمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Prev     Next