Kembalinya Wahyu dan Awal Dakwah Sembunyi-Sembunyi

Daftar Isi ToggleMasa terhentinya wahyuKembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiGenerasi pertama pemeluk IslamKarakteristik wahyu pada masa awal IslamPengangkatan Rasulullah ﷺ sebagai seorang Nabi dan Rasul merupakan peristiwa agung dalam sejarah manusia. Setelah wahyu pertama turun di Gua Hira’ (حراء), yaitu permulaan surah al-’Alaq, wahyu sempat terhenti untuk beberapa waktu sehingga membuat beliau ﷺ risau. Pada artikel ini, kita akan membahas kembalinya wahyu, turunnya surah al-Muddatstsir, dan awal dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi.Masa terhentinya wahyuSetelah Rasulullah ﷺ menerima wahyu yang pertama ketika menyendiri di Gua Hira’, yaitu surah al-’Alaq ayat 1-5, turunnya wahyu sempat terhenti setelahnya. Para ulama berbeda pendapat mengenai durasi wahyu tidak turun. Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, penulis ar-Rahiq al-Makhtum, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama beberapa hari. Adapun Syekh Muhammad al-Khudhari, penulis Nurul Yaqin, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama 40 hari.Hikmah dari terhentinya wahyu selama beberapa waktu disebutkan oleh para ulama adalah agar rasa takut yang dialami Rasulullah ﷺ hilang dan muncul kerinduan dalam diri beliau untuk kembali menerima wahyu.Kembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKetika bayang-bayang kebingungan mulai menghilang, tanda-tanda kebenaran semakin kokoh, dan Rasulullah ﷺ mengetahui dengan keyakinan penuh bahwa beliau telah menjadi Nabi bagi Allah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi, serta bahwa yang datang kepada beliau adalah utusan wahyu yang membawa berita dari langit, maka kerinduan dan penantian beliau terhadap datangnya wahyu menjadi sebab keteguhan dan kesiapan beliau saat wahyu itu kembali datang.Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Beliau ﷺ bersabda,فبينا أنا أمشي سمعت صوتا من السماء، فرفعت بصري قبل السماء، فإذا الملك الذي جاءني بحراء قاعد على كرسي بين السماء والأرض، فجثثت منه حتى هويت إلى الأرض، فجئت أهلي فقلت: زملوني زملوني، فزملوني، فأنزل الله تعالى: يا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ إلى قوله: فَاهْجُرْ، ثم حمي الوحي وتتابع“Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku pun mengangkat pandanganku ke arah langit. Ternyata malaikat yang dahulu datang kepadaku di Gua Hira’ sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Aku pun merasa sangat takut kepadanya hingga jatuh ke tanah. Lalu aku mendatangi keluargaku dan berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Mereka pun menyelimutiku. Allah pun menurunkan,يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۝١ قُمْ فَأَنْذِرْ ۝٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ۝٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ۝٤ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ۝٥“Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala perbuatan dosa (berhala).” (QS. al-Muddatstsir: 1-5)Setelah itu, wahyu menjadi kuat dan turun secara berturut-turut.”Ibnu Katsir rahimahullah menutup pembahasan turunnya kembali wahyu dalam al-Bidayah wan Nihayah dengan berkata,وَقَامَ حِينَئِذٍ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي الرِّسَالَةِ أَتَمَّ الْقِيَامَ، وَشَمَّرَ عَنْ سَاقِ الْعَزْمِ، وَدَعَا إِلَى اللَّهِ الْقَرِيبَ وَالْبَعِيدَ، وَالْأَحْرَارَ وَالْعَبِيدَ، فَآمَنَ بِهِ حِينَئِذٍ كُلُّ لَبِيبٍ نَجِيبٍ سَعِيدٍ، وَاسْتَمَرَّ عَلَى مُخَالَفَتِهِ وَعِصْيَانِهِ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ“Pada saat itulah Rasulullah ﷺ melaksanakan tugas risalah dengan pelaksanaan yang paling sempurna. Beliau menyingsingkan lengan tekadnya, lalu menyeru kepada Allah, baik kepada orang yang dekat maupun yang jauh, orang merdeka maupun budak. Pada saat itu, setiap orang yang berakal, mulia, dan bahagia segera beriman kepada beliau. Sebaliknya, orang yang sombong lagi keras kepala terus berada dalam penentangan dan kedurhakaan kepada beliau.”Kondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiTelah diketahui bahwa Makkah pada saat itu adalah pusat agama bangsa Arab. Di dalamnya terdapat para penjaga Ka’bah dan para pengurus berhala-berhala serta patung-patung yang dianggap suci oleh seluruh bangsa Arab.Melihat realita yang demikian, tentu lebih sulit dan berat untuk bisa mencapai tujuan perbaikan di Makkah dibandingkan jika dakwah dimulai di tempat yang jauh. Perkara ini membutuhkan tekad kuat yang tidak mudah tergoyahkan dengan banyaknya musibah dan bencana. Oleh karena itu, merupakan bagian dari hikmah bahwa dakwah pada permulaannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tujuannya agar penduduk Makkah tidak dikejutkan dengan sesuatu yang langsung membangkitkan kemarahan mereka.Generasi pertama pemeluk IslamMerupakan hal yang wajar bahwa Rasulullah ﷺ menawarkan Islam pertama kali kepada orang-orang terdekat, keluarga, dan sahabat-sahabat dekat beliau. Rasulullah ﷺ juga mengajak orang-orang yang beliau lihat memiliki kebaikan dari kalangan orang-orang yang beliau kenal dan mengenal beliau. Rasulullah ﷺ mendakwahkan Islam kepada orang-orang yang dikenal mencintai Allah, kebenaran, dan kebaikan. Orang-orang tersebut juga mengenal beliau ﷺ sebagai sosok yang jujur dan saleh. Dengan demikian, ada orang-orang yang memenuhi seruan beliau. Mereka dikenal dengan sebutan as-sabiqunal awwalun (السابقون الأولون), yaitu orang-orang terdepan yang pertama masuk Islam.Di antara yang terdahulu masuk Islam adalah istri Rasulullah ﷺ Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid (خديجة بنت خويلد), mantan budak beliau, Zaid bin Haritsah (زيد بن حارثة), sepupu beliau, Ali bin Abi Thalib (علي بن أبي طالب), dan sahabat dekat beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq (أبو بكر الصديق). Ali saat itu masih kecil dan berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ. Mereka itulah orang-orang yang masuk Islam pada hari-hari pertama dakwah.Mengapa Ali bin Abi Thalib bisa berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ? Hal ini dikarenakan Quraisy pernah ditimpa paceklik, sedangkan Abu Thalib adalah orang yang kekurangan harta dan memiliki banyak anak. Melihat kondisi tersebut, Rasulullah ﷺ mengajak al-’Abbas bin Abdul Muththalib (العباس بن عبد المطلب) untuk meringankan beban Abu Thalib dengan membantu mengasuh satu anaknya. Rasulullah ﷺ mengasuh Ali bin Abi Thalib, sedangkan al-’Abbas mengasuh Ja’far bin Abi Thalib (جعفر بن أبي طالب). Dengan demikian, Ali menjadi tanggungan Rasulullah ﷺ seperti anak sendiri sampai datangnya masa kenabian. Ali mengikuti Rasulullah ﷺ dalam semua urusan beliau dan tidak ternodai oleh kotoran jahiliah berupa penyembahan berhala dan mengikuti hawa nafsu.Kemudian Abu Bakar aktif mendakwahkan Islam. Melalui dakwahnya, masuk Islamlah Utsman bin Affan (عثمان بن عفان), az-Zubair bin al-’Awwam (الزبير بن العوام), Abdurrahman bin ‘Auf (عبد الرحمن بن عوف), Sa’ad bin Abi Waqqash (سعد بن أبي وقاص), dan Thalhah bin ‘Ubaidillah (طلحة بن عبيد الله).Di antara orang-orang yang pertama masuk Islam juga adalah Bilal bin Rabah (بلال بن رباح), Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah (أبو عبيدة عامر بن الجراح), Abu Salamah bin Abdul Asad (أبو سلمة بن عبد الأسد), al-Arqam bin Abil Arqam (الأرقم بن أبي الأرقم), Utsman bin Mazh’un (عثمان بن مظعون), Sa’id bin Zaid (سعيد بن زيد) beserta istrinya, Fathimah binti al-Khaththab (فاطمة بنت الخطاب), Khabbab bin al-Aratt (خباب بن الأرت), dan Abdullah bin Mas’ud (عبد الله بن مسعود).Setelah itu orang-orang mulai masuk Islam secara bertahap, baik laki-laki maupun perempuan, sampai berita tentang Islam tersebar di Makkah dan menjadi bahan pembicaraan.Mereka semua masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah ﷺ berkumpul bersama mereka dan membimbing mereka secara tersembunyi karena dakwah masih bersifat perorangan dan rahasia.Karakteristik wahyu pada masa awal IslamWahyu terus turun berturut-turut setelah surah al-Muddatstsir dan semakin kuat. Ayat-ayat dan potongan surah yang turun pada masa itu berupa ayat-ayat pendek dengan penutup-penutup ayat yang indah dan kuat, serta irama tenang dan memikat, sesuai dengan suasana dakwah yang masih lembut dan tersembunyi.Ayat-ayat tersebut memuat dorongan untuk menyucikan jiwa, sekaligus celaan terhadap pengotoran jiwa dengan kotoran-kotoran dunia. Ayat-ayat tersebut juga menggambarkan surga dan neraka seakan-akan keduanya tampak di depan mata, serta membawa kaum mukminin berjalan dalam suasana lain, berbeda dengan suasana masyarakat manusia saat itu.Demikianlah awal dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah. Dakwah dimulai secara tenang dan tersembunyi, dari orang-orang terdekat yang mengenal kejujuran dan kemuliaan akhlak beliau. Dari lingkaran kecil inilah Allah menumbuhkan generasi pertama Islam, generasi yang kelak memikul beban dakwah bersama Rasulullah ﷺ. Kisah dakwah secara rahasia ini belum berakhir.***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.Nūr al-Yaqīn fi Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.al-Bidāyah wa an-Nihāyah, karya Ibnu Katsīr. Artikel terkait:Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi WasallamBagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?

Kembalinya Wahyu dan Awal Dakwah Sembunyi-Sembunyi

Daftar Isi ToggleMasa terhentinya wahyuKembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiGenerasi pertama pemeluk IslamKarakteristik wahyu pada masa awal IslamPengangkatan Rasulullah ﷺ sebagai seorang Nabi dan Rasul merupakan peristiwa agung dalam sejarah manusia. Setelah wahyu pertama turun di Gua Hira’ (حراء), yaitu permulaan surah al-’Alaq, wahyu sempat terhenti untuk beberapa waktu sehingga membuat beliau ﷺ risau. Pada artikel ini, kita akan membahas kembalinya wahyu, turunnya surah al-Muddatstsir, dan awal dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi.Masa terhentinya wahyuSetelah Rasulullah ﷺ menerima wahyu yang pertama ketika menyendiri di Gua Hira’, yaitu surah al-’Alaq ayat 1-5, turunnya wahyu sempat terhenti setelahnya. Para ulama berbeda pendapat mengenai durasi wahyu tidak turun. Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, penulis ar-Rahiq al-Makhtum, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama beberapa hari. Adapun Syekh Muhammad al-Khudhari, penulis Nurul Yaqin, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama 40 hari.Hikmah dari terhentinya wahyu selama beberapa waktu disebutkan oleh para ulama adalah agar rasa takut yang dialami Rasulullah ﷺ hilang dan muncul kerinduan dalam diri beliau untuk kembali menerima wahyu.Kembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKetika bayang-bayang kebingungan mulai menghilang, tanda-tanda kebenaran semakin kokoh, dan Rasulullah ﷺ mengetahui dengan keyakinan penuh bahwa beliau telah menjadi Nabi bagi Allah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi, serta bahwa yang datang kepada beliau adalah utusan wahyu yang membawa berita dari langit, maka kerinduan dan penantian beliau terhadap datangnya wahyu menjadi sebab keteguhan dan kesiapan beliau saat wahyu itu kembali datang.Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Beliau ﷺ bersabda,فبينا أنا أمشي سمعت صوتا من السماء، فرفعت بصري قبل السماء، فإذا الملك الذي جاءني بحراء قاعد على كرسي بين السماء والأرض، فجثثت منه حتى هويت إلى الأرض، فجئت أهلي فقلت: زملوني زملوني، فزملوني، فأنزل الله تعالى: يا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ إلى قوله: فَاهْجُرْ، ثم حمي الوحي وتتابع“Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku pun mengangkat pandanganku ke arah langit. Ternyata malaikat yang dahulu datang kepadaku di Gua Hira’ sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Aku pun merasa sangat takut kepadanya hingga jatuh ke tanah. Lalu aku mendatangi keluargaku dan berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Mereka pun menyelimutiku. Allah pun menurunkan,يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۝١ قُمْ فَأَنْذِرْ ۝٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ۝٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ۝٤ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ۝٥“Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala perbuatan dosa (berhala).” (QS. al-Muddatstsir: 1-5)Setelah itu, wahyu menjadi kuat dan turun secara berturut-turut.”Ibnu Katsir rahimahullah menutup pembahasan turunnya kembali wahyu dalam al-Bidayah wan Nihayah dengan berkata,وَقَامَ حِينَئِذٍ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي الرِّسَالَةِ أَتَمَّ الْقِيَامَ، وَشَمَّرَ عَنْ سَاقِ الْعَزْمِ، وَدَعَا إِلَى اللَّهِ الْقَرِيبَ وَالْبَعِيدَ، وَالْأَحْرَارَ وَالْعَبِيدَ، فَآمَنَ بِهِ حِينَئِذٍ كُلُّ لَبِيبٍ نَجِيبٍ سَعِيدٍ، وَاسْتَمَرَّ عَلَى مُخَالَفَتِهِ وَعِصْيَانِهِ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ“Pada saat itulah Rasulullah ﷺ melaksanakan tugas risalah dengan pelaksanaan yang paling sempurna. Beliau menyingsingkan lengan tekadnya, lalu menyeru kepada Allah, baik kepada orang yang dekat maupun yang jauh, orang merdeka maupun budak. Pada saat itu, setiap orang yang berakal, mulia, dan bahagia segera beriman kepada beliau. Sebaliknya, orang yang sombong lagi keras kepala terus berada dalam penentangan dan kedurhakaan kepada beliau.”Kondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiTelah diketahui bahwa Makkah pada saat itu adalah pusat agama bangsa Arab. Di dalamnya terdapat para penjaga Ka’bah dan para pengurus berhala-berhala serta patung-patung yang dianggap suci oleh seluruh bangsa Arab.Melihat realita yang demikian, tentu lebih sulit dan berat untuk bisa mencapai tujuan perbaikan di Makkah dibandingkan jika dakwah dimulai di tempat yang jauh. Perkara ini membutuhkan tekad kuat yang tidak mudah tergoyahkan dengan banyaknya musibah dan bencana. Oleh karena itu, merupakan bagian dari hikmah bahwa dakwah pada permulaannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tujuannya agar penduduk Makkah tidak dikejutkan dengan sesuatu yang langsung membangkitkan kemarahan mereka.Generasi pertama pemeluk IslamMerupakan hal yang wajar bahwa Rasulullah ﷺ menawarkan Islam pertama kali kepada orang-orang terdekat, keluarga, dan sahabat-sahabat dekat beliau. Rasulullah ﷺ juga mengajak orang-orang yang beliau lihat memiliki kebaikan dari kalangan orang-orang yang beliau kenal dan mengenal beliau. Rasulullah ﷺ mendakwahkan Islam kepada orang-orang yang dikenal mencintai Allah, kebenaran, dan kebaikan. Orang-orang tersebut juga mengenal beliau ﷺ sebagai sosok yang jujur dan saleh. Dengan demikian, ada orang-orang yang memenuhi seruan beliau. Mereka dikenal dengan sebutan as-sabiqunal awwalun (السابقون الأولون), yaitu orang-orang terdepan yang pertama masuk Islam.Di antara yang terdahulu masuk Islam adalah istri Rasulullah ﷺ Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid (خديجة بنت خويلد), mantan budak beliau, Zaid bin Haritsah (زيد بن حارثة), sepupu beliau, Ali bin Abi Thalib (علي بن أبي طالب), dan sahabat dekat beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq (أبو بكر الصديق). Ali saat itu masih kecil dan berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ. Mereka itulah orang-orang yang masuk Islam pada hari-hari pertama dakwah.Mengapa Ali bin Abi Thalib bisa berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ? Hal ini dikarenakan Quraisy pernah ditimpa paceklik, sedangkan Abu Thalib adalah orang yang kekurangan harta dan memiliki banyak anak. Melihat kondisi tersebut, Rasulullah ﷺ mengajak al-’Abbas bin Abdul Muththalib (العباس بن عبد المطلب) untuk meringankan beban Abu Thalib dengan membantu mengasuh satu anaknya. Rasulullah ﷺ mengasuh Ali bin Abi Thalib, sedangkan al-’Abbas mengasuh Ja’far bin Abi Thalib (جعفر بن أبي طالب). Dengan demikian, Ali menjadi tanggungan Rasulullah ﷺ seperti anak sendiri sampai datangnya masa kenabian. Ali mengikuti Rasulullah ﷺ dalam semua urusan beliau dan tidak ternodai oleh kotoran jahiliah berupa penyembahan berhala dan mengikuti hawa nafsu.Kemudian Abu Bakar aktif mendakwahkan Islam. Melalui dakwahnya, masuk Islamlah Utsman bin Affan (عثمان بن عفان), az-Zubair bin al-’Awwam (الزبير بن العوام), Abdurrahman bin ‘Auf (عبد الرحمن بن عوف), Sa’ad bin Abi Waqqash (سعد بن أبي وقاص), dan Thalhah bin ‘Ubaidillah (طلحة بن عبيد الله).Di antara orang-orang yang pertama masuk Islam juga adalah Bilal bin Rabah (بلال بن رباح), Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah (أبو عبيدة عامر بن الجراح), Abu Salamah bin Abdul Asad (أبو سلمة بن عبد الأسد), al-Arqam bin Abil Arqam (الأرقم بن أبي الأرقم), Utsman bin Mazh’un (عثمان بن مظعون), Sa’id bin Zaid (سعيد بن زيد) beserta istrinya, Fathimah binti al-Khaththab (فاطمة بنت الخطاب), Khabbab bin al-Aratt (خباب بن الأرت), dan Abdullah bin Mas’ud (عبد الله بن مسعود).Setelah itu orang-orang mulai masuk Islam secara bertahap, baik laki-laki maupun perempuan, sampai berita tentang Islam tersebar di Makkah dan menjadi bahan pembicaraan.Mereka semua masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah ﷺ berkumpul bersama mereka dan membimbing mereka secara tersembunyi karena dakwah masih bersifat perorangan dan rahasia.Karakteristik wahyu pada masa awal IslamWahyu terus turun berturut-turut setelah surah al-Muddatstsir dan semakin kuat. Ayat-ayat dan potongan surah yang turun pada masa itu berupa ayat-ayat pendek dengan penutup-penutup ayat yang indah dan kuat, serta irama tenang dan memikat, sesuai dengan suasana dakwah yang masih lembut dan tersembunyi.Ayat-ayat tersebut memuat dorongan untuk menyucikan jiwa, sekaligus celaan terhadap pengotoran jiwa dengan kotoran-kotoran dunia. Ayat-ayat tersebut juga menggambarkan surga dan neraka seakan-akan keduanya tampak di depan mata, serta membawa kaum mukminin berjalan dalam suasana lain, berbeda dengan suasana masyarakat manusia saat itu.Demikianlah awal dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah. Dakwah dimulai secara tenang dan tersembunyi, dari orang-orang terdekat yang mengenal kejujuran dan kemuliaan akhlak beliau. Dari lingkaran kecil inilah Allah menumbuhkan generasi pertama Islam, generasi yang kelak memikul beban dakwah bersama Rasulullah ﷺ. Kisah dakwah secara rahasia ini belum berakhir.***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.Nūr al-Yaqīn fi Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.al-Bidāyah wa an-Nihāyah, karya Ibnu Katsīr. Artikel terkait:Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi WasallamBagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?
Daftar Isi ToggleMasa terhentinya wahyuKembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiGenerasi pertama pemeluk IslamKarakteristik wahyu pada masa awal IslamPengangkatan Rasulullah ﷺ sebagai seorang Nabi dan Rasul merupakan peristiwa agung dalam sejarah manusia. Setelah wahyu pertama turun di Gua Hira’ (حراء), yaitu permulaan surah al-’Alaq, wahyu sempat terhenti untuk beberapa waktu sehingga membuat beliau ﷺ risau. Pada artikel ini, kita akan membahas kembalinya wahyu, turunnya surah al-Muddatstsir, dan awal dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi.Masa terhentinya wahyuSetelah Rasulullah ﷺ menerima wahyu yang pertama ketika menyendiri di Gua Hira’, yaitu surah al-’Alaq ayat 1-5, turunnya wahyu sempat terhenti setelahnya. Para ulama berbeda pendapat mengenai durasi wahyu tidak turun. Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, penulis ar-Rahiq al-Makhtum, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama beberapa hari. Adapun Syekh Muhammad al-Khudhari, penulis Nurul Yaqin, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama 40 hari.Hikmah dari terhentinya wahyu selama beberapa waktu disebutkan oleh para ulama adalah agar rasa takut yang dialami Rasulullah ﷺ hilang dan muncul kerinduan dalam diri beliau untuk kembali menerima wahyu.Kembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKetika bayang-bayang kebingungan mulai menghilang, tanda-tanda kebenaran semakin kokoh, dan Rasulullah ﷺ mengetahui dengan keyakinan penuh bahwa beliau telah menjadi Nabi bagi Allah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi, serta bahwa yang datang kepada beliau adalah utusan wahyu yang membawa berita dari langit, maka kerinduan dan penantian beliau terhadap datangnya wahyu menjadi sebab keteguhan dan kesiapan beliau saat wahyu itu kembali datang.Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Beliau ﷺ bersabda,فبينا أنا أمشي سمعت صوتا من السماء، فرفعت بصري قبل السماء، فإذا الملك الذي جاءني بحراء قاعد على كرسي بين السماء والأرض، فجثثت منه حتى هويت إلى الأرض، فجئت أهلي فقلت: زملوني زملوني، فزملوني، فأنزل الله تعالى: يا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ إلى قوله: فَاهْجُرْ، ثم حمي الوحي وتتابع“Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku pun mengangkat pandanganku ke arah langit. Ternyata malaikat yang dahulu datang kepadaku di Gua Hira’ sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Aku pun merasa sangat takut kepadanya hingga jatuh ke tanah. Lalu aku mendatangi keluargaku dan berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Mereka pun menyelimutiku. Allah pun menurunkan,يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۝١ قُمْ فَأَنْذِرْ ۝٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ۝٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ۝٤ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ۝٥“Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala perbuatan dosa (berhala).” (QS. al-Muddatstsir: 1-5)Setelah itu, wahyu menjadi kuat dan turun secara berturut-turut.”Ibnu Katsir rahimahullah menutup pembahasan turunnya kembali wahyu dalam al-Bidayah wan Nihayah dengan berkata,وَقَامَ حِينَئِذٍ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي الرِّسَالَةِ أَتَمَّ الْقِيَامَ، وَشَمَّرَ عَنْ سَاقِ الْعَزْمِ، وَدَعَا إِلَى اللَّهِ الْقَرِيبَ وَالْبَعِيدَ، وَالْأَحْرَارَ وَالْعَبِيدَ، فَآمَنَ بِهِ حِينَئِذٍ كُلُّ لَبِيبٍ نَجِيبٍ سَعِيدٍ، وَاسْتَمَرَّ عَلَى مُخَالَفَتِهِ وَعِصْيَانِهِ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ“Pada saat itulah Rasulullah ﷺ melaksanakan tugas risalah dengan pelaksanaan yang paling sempurna. Beliau menyingsingkan lengan tekadnya, lalu menyeru kepada Allah, baik kepada orang yang dekat maupun yang jauh, orang merdeka maupun budak. Pada saat itu, setiap orang yang berakal, mulia, dan bahagia segera beriman kepada beliau. Sebaliknya, orang yang sombong lagi keras kepala terus berada dalam penentangan dan kedurhakaan kepada beliau.”Kondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiTelah diketahui bahwa Makkah pada saat itu adalah pusat agama bangsa Arab. Di dalamnya terdapat para penjaga Ka’bah dan para pengurus berhala-berhala serta patung-patung yang dianggap suci oleh seluruh bangsa Arab.Melihat realita yang demikian, tentu lebih sulit dan berat untuk bisa mencapai tujuan perbaikan di Makkah dibandingkan jika dakwah dimulai di tempat yang jauh. Perkara ini membutuhkan tekad kuat yang tidak mudah tergoyahkan dengan banyaknya musibah dan bencana. Oleh karena itu, merupakan bagian dari hikmah bahwa dakwah pada permulaannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tujuannya agar penduduk Makkah tidak dikejutkan dengan sesuatu yang langsung membangkitkan kemarahan mereka.Generasi pertama pemeluk IslamMerupakan hal yang wajar bahwa Rasulullah ﷺ menawarkan Islam pertama kali kepada orang-orang terdekat, keluarga, dan sahabat-sahabat dekat beliau. Rasulullah ﷺ juga mengajak orang-orang yang beliau lihat memiliki kebaikan dari kalangan orang-orang yang beliau kenal dan mengenal beliau. Rasulullah ﷺ mendakwahkan Islam kepada orang-orang yang dikenal mencintai Allah, kebenaran, dan kebaikan. Orang-orang tersebut juga mengenal beliau ﷺ sebagai sosok yang jujur dan saleh. Dengan demikian, ada orang-orang yang memenuhi seruan beliau. Mereka dikenal dengan sebutan as-sabiqunal awwalun (السابقون الأولون), yaitu orang-orang terdepan yang pertama masuk Islam.Di antara yang terdahulu masuk Islam adalah istri Rasulullah ﷺ Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid (خديجة بنت خويلد), mantan budak beliau, Zaid bin Haritsah (زيد بن حارثة), sepupu beliau, Ali bin Abi Thalib (علي بن أبي طالب), dan sahabat dekat beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq (أبو بكر الصديق). Ali saat itu masih kecil dan berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ. Mereka itulah orang-orang yang masuk Islam pada hari-hari pertama dakwah.Mengapa Ali bin Abi Thalib bisa berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ? Hal ini dikarenakan Quraisy pernah ditimpa paceklik, sedangkan Abu Thalib adalah orang yang kekurangan harta dan memiliki banyak anak. Melihat kondisi tersebut, Rasulullah ﷺ mengajak al-’Abbas bin Abdul Muththalib (العباس بن عبد المطلب) untuk meringankan beban Abu Thalib dengan membantu mengasuh satu anaknya. Rasulullah ﷺ mengasuh Ali bin Abi Thalib, sedangkan al-’Abbas mengasuh Ja’far bin Abi Thalib (جعفر بن أبي طالب). Dengan demikian, Ali menjadi tanggungan Rasulullah ﷺ seperti anak sendiri sampai datangnya masa kenabian. Ali mengikuti Rasulullah ﷺ dalam semua urusan beliau dan tidak ternodai oleh kotoran jahiliah berupa penyembahan berhala dan mengikuti hawa nafsu.Kemudian Abu Bakar aktif mendakwahkan Islam. Melalui dakwahnya, masuk Islamlah Utsman bin Affan (عثمان بن عفان), az-Zubair bin al-’Awwam (الزبير بن العوام), Abdurrahman bin ‘Auf (عبد الرحمن بن عوف), Sa’ad bin Abi Waqqash (سعد بن أبي وقاص), dan Thalhah bin ‘Ubaidillah (طلحة بن عبيد الله).Di antara orang-orang yang pertama masuk Islam juga adalah Bilal bin Rabah (بلال بن رباح), Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah (أبو عبيدة عامر بن الجراح), Abu Salamah bin Abdul Asad (أبو سلمة بن عبد الأسد), al-Arqam bin Abil Arqam (الأرقم بن أبي الأرقم), Utsman bin Mazh’un (عثمان بن مظعون), Sa’id bin Zaid (سعيد بن زيد) beserta istrinya, Fathimah binti al-Khaththab (فاطمة بنت الخطاب), Khabbab bin al-Aratt (خباب بن الأرت), dan Abdullah bin Mas’ud (عبد الله بن مسعود).Setelah itu orang-orang mulai masuk Islam secara bertahap, baik laki-laki maupun perempuan, sampai berita tentang Islam tersebar di Makkah dan menjadi bahan pembicaraan.Mereka semua masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah ﷺ berkumpul bersama mereka dan membimbing mereka secara tersembunyi karena dakwah masih bersifat perorangan dan rahasia.Karakteristik wahyu pada masa awal IslamWahyu terus turun berturut-turut setelah surah al-Muddatstsir dan semakin kuat. Ayat-ayat dan potongan surah yang turun pada masa itu berupa ayat-ayat pendek dengan penutup-penutup ayat yang indah dan kuat, serta irama tenang dan memikat, sesuai dengan suasana dakwah yang masih lembut dan tersembunyi.Ayat-ayat tersebut memuat dorongan untuk menyucikan jiwa, sekaligus celaan terhadap pengotoran jiwa dengan kotoran-kotoran dunia. Ayat-ayat tersebut juga menggambarkan surga dan neraka seakan-akan keduanya tampak di depan mata, serta membawa kaum mukminin berjalan dalam suasana lain, berbeda dengan suasana masyarakat manusia saat itu.Demikianlah awal dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah. Dakwah dimulai secara tenang dan tersembunyi, dari orang-orang terdekat yang mengenal kejujuran dan kemuliaan akhlak beliau. Dari lingkaran kecil inilah Allah menumbuhkan generasi pertama Islam, generasi yang kelak memikul beban dakwah bersama Rasulullah ﷺ. Kisah dakwah secara rahasia ini belum berakhir.***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.Nūr al-Yaqīn fi Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.al-Bidāyah wa an-Nihāyah, karya Ibnu Katsīr. Artikel terkait:Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi WasallamBagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?


Daftar Isi ToggleMasa terhentinya wahyuKembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiGenerasi pertama pemeluk IslamKarakteristik wahyu pada masa awal IslamPengangkatan Rasulullah ﷺ sebagai seorang Nabi dan Rasul merupakan peristiwa agung dalam sejarah manusia. Setelah wahyu pertama turun di Gua Hira’ (حراء), yaitu permulaan surah al-’Alaq, wahyu sempat terhenti untuk beberapa waktu sehingga membuat beliau ﷺ risau. Pada artikel ini, kita akan membahas kembalinya wahyu, turunnya surah al-Muddatstsir, dan awal dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi.Masa terhentinya wahyuSetelah Rasulullah ﷺ menerima wahyu yang pertama ketika menyendiri di Gua Hira’, yaitu surah al-’Alaq ayat 1-5, turunnya wahyu sempat terhenti setelahnya. Para ulama berbeda pendapat mengenai durasi wahyu tidak turun. Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, penulis ar-Rahiq al-Makhtum, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama beberapa hari. Adapun Syekh Muhammad al-Khudhari, penulis Nurul Yaqin, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama 40 hari.Hikmah dari terhentinya wahyu selama beberapa waktu disebutkan oleh para ulama adalah agar rasa takut yang dialami Rasulullah ﷺ hilang dan muncul kerinduan dalam diri beliau untuk kembali menerima wahyu.Kembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKetika bayang-bayang kebingungan mulai menghilang, tanda-tanda kebenaran semakin kokoh, dan Rasulullah ﷺ mengetahui dengan keyakinan penuh bahwa beliau telah menjadi Nabi bagi Allah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi, serta bahwa yang datang kepada beliau adalah utusan wahyu yang membawa berita dari langit, maka kerinduan dan penantian beliau terhadap datangnya wahyu menjadi sebab keteguhan dan kesiapan beliau saat wahyu itu kembali datang.Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Beliau ﷺ bersabda,فبينا أنا أمشي سمعت صوتا من السماء، فرفعت بصري قبل السماء، فإذا الملك الذي جاءني بحراء قاعد على كرسي بين السماء والأرض، فجثثت منه حتى هويت إلى الأرض، فجئت أهلي فقلت: زملوني زملوني، فزملوني، فأنزل الله تعالى: يا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ إلى قوله: فَاهْجُرْ، ثم حمي الوحي وتتابع“Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku pun mengangkat pandanganku ke arah langit. Ternyata malaikat yang dahulu datang kepadaku di Gua Hira’ sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Aku pun merasa sangat takut kepadanya hingga jatuh ke tanah. Lalu aku mendatangi keluargaku dan berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Mereka pun menyelimutiku. Allah pun menurunkan,يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۝١ قُمْ فَأَنْذِرْ ۝٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ۝٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ۝٤ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ۝٥“Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala perbuatan dosa (berhala).” (QS. al-Muddatstsir: 1-5)Setelah itu, wahyu menjadi kuat dan turun secara berturut-turut.”Ibnu Katsir rahimahullah menutup pembahasan turunnya kembali wahyu dalam al-Bidayah wan Nihayah dengan berkata,وَقَامَ حِينَئِذٍ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي الرِّسَالَةِ أَتَمَّ الْقِيَامَ، وَشَمَّرَ عَنْ سَاقِ الْعَزْمِ، وَدَعَا إِلَى اللَّهِ الْقَرِيبَ وَالْبَعِيدَ، وَالْأَحْرَارَ وَالْعَبِيدَ، فَآمَنَ بِهِ حِينَئِذٍ كُلُّ لَبِيبٍ نَجِيبٍ سَعِيدٍ، وَاسْتَمَرَّ عَلَى مُخَالَفَتِهِ وَعِصْيَانِهِ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ“Pada saat itulah Rasulullah ﷺ melaksanakan tugas risalah dengan pelaksanaan yang paling sempurna. Beliau menyingsingkan lengan tekadnya, lalu menyeru kepada Allah, baik kepada orang yang dekat maupun yang jauh, orang merdeka maupun budak. Pada saat itu, setiap orang yang berakal, mulia, dan bahagia segera beriman kepada beliau. Sebaliknya, orang yang sombong lagi keras kepala terus berada dalam penentangan dan kedurhakaan kepada beliau.”Kondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiTelah diketahui bahwa Makkah pada saat itu adalah pusat agama bangsa Arab. Di dalamnya terdapat para penjaga Ka’bah dan para pengurus berhala-berhala serta patung-patung yang dianggap suci oleh seluruh bangsa Arab.Melihat realita yang demikian, tentu lebih sulit dan berat untuk bisa mencapai tujuan perbaikan di Makkah dibandingkan jika dakwah dimulai di tempat yang jauh. Perkara ini membutuhkan tekad kuat yang tidak mudah tergoyahkan dengan banyaknya musibah dan bencana. Oleh karena itu, merupakan bagian dari hikmah bahwa dakwah pada permulaannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tujuannya agar penduduk Makkah tidak dikejutkan dengan sesuatu yang langsung membangkitkan kemarahan mereka.Generasi pertama pemeluk IslamMerupakan hal yang wajar bahwa Rasulullah ﷺ menawarkan Islam pertama kali kepada orang-orang terdekat, keluarga, dan sahabat-sahabat dekat beliau. Rasulullah ﷺ juga mengajak orang-orang yang beliau lihat memiliki kebaikan dari kalangan orang-orang yang beliau kenal dan mengenal beliau. Rasulullah ﷺ mendakwahkan Islam kepada orang-orang yang dikenal mencintai Allah, kebenaran, dan kebaikan. Orang-orang tersebut juga mengenal beliau ﷺ sebagai sosok yang jujur dan saleh. Dengan demikian, ada orang-orang yang memenuhi seruan beliau. Mereka dikenal dengan sebutan as-sabiqunal awwalun (السابقون الأولون), yaitu orang-orang terdepan yang pertama masuk Islam.Di antara yang terdahulu masuk Islam adalah istri Rasulullah ﷺ Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid (خديجة بنت خويلد), mantan budak beliau, Zaid bin Haritsah (زيد بن حارثة), sepupu beliau, Ali bin Abi Thalib (علي بن أبي طالب), dan sahabat dekat beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq (أبو بكر الصديق). Ali saat itu masih kecil dan berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ. Mereka itulah orang-orang yang masuk Islam pada hari-hari pertama dakwah.Mengapa Ali bin Abi Thalib bisa berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ? Hal ini dikarenakan Quraisy pernah ditimpa paceklik, sedangkan Abu Thalib adalah orang yang kekurangan harta dan memiliki banyak anak. Melihat kondisi tersebut, Rasulullah ﷺ mengajak al-’Abbas bin Abdul Muththalib (العباس بن عبد المطلب) untuk meringankan beban Abu Thalib dengan membantu mengasuh satu anaknya. Rasulullah ﷺ mengasuh Ali bin Abi Thalib, sedangkan al-’Abbas mengasuh Ja’far bin Abi Thalib (جعفر بن أبي طالب). Dengan demikian, Ali menjadi tanggungan Rasulullah ﷺ seperti anak sendiri sampai datangnya masa kenabian. Ali mengikuti Rasulullah ﷺ dalam semua urusan beliau dan tidak ternodai oleh kotoran jahiliah berupa penyembahan berhala dan mengikuti hawa nafsu.Kemudian Abu Bakar aktif mendakwahkan Islam. Melalui dakwahnya, masuk Islamlah Utsman bin Affan (عثمان بن عفان), az-Zubair bin al-’Awwam (الزبير بن العوام), Abdurrahman bin ‘Auf (عبد الرحمن بن عوف), Sa’ad bin Abi Waqqash (سعد بن أبي وقاص), dan Thalhah bin ‘Ubaidillah (طلحة بن عبيد الله).Di antara orang-orang yang pertama masuk Islam juga adalah Bilal bin Rabah (بلال بن رباح), Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah (أبو عبيدة عامر بن الجراح), Abu Salamah bin Abdul Asad (أبو سلمة بن عبد الأسد), al-Arqam bin Abil Arqam (الأرقم بن أبي الأرقم), Utsman bin Mazh’un (عثمان بن مظعون), Sa’id bin Zaid (سعيد بن زيد) beserta istrinya, Fathimah binti al-Khaththab (فاطمة بنت الخطاب), Khabbab bin al-Aratt (خباب بن الأرت), dan Abdullah bin Mas’ud (عبد الله بن مسعود).Setelah itu orang-orang mulai masuk Islam secara bertahap, baik laki-laki maupun perempuan, sampai berita tentang Islam tersebar di Makkah dan menjadi bahan pembicaraan.Mereka semua masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah ﷺ berkumpul bersama mereka dan membimbing mereka secara tersembunyi karena dakwah masih bersifat perorangan dan rahasia.Karakteristik wahyu pada masa awal IslamWahyu terus turun berturut-turut setelah surah al-Muddatstsir dan semakin kuat. Ayat-ayat dan potongan surah yang turun pada masa itu berupa ayat-ayat pendek dengan penutup-penutup ayat yang indah dan kuat, serta irama tenang dan memikat, sesuai dengan suasana dakwah yang masih lembut dan tersembunyi.Ayat-ayat tersebut memuat dorongan untuk menyucikan jiwa, sekaligus celaan terhadap pengotoran jiwa dengan kotoran-kotoran dunia. Ayat-ayat tersebut juga menggambarkan surga dan neraka seakan-akan keduanya tampak di depan mata, serta membawa kaum mukminin berjalan dalam suasana lain, berbeda dengan suasana masyarakat manusia saat itu.Demikianlah awal dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah. Dakwah dimulai secara tenang dan tersembunyi, dari orang-orang terdekat yang mengenal kejujuran dan kemuliaan akhlak beliau. Dari lingkaran kecil inilah Allah menumbuhkan generasi pertama Islam, generasi yang kelak memikul beban dakwah bersama Rasulullah ﷺ. Kisah dakwah secara rahasia ini belum berakhir.***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.Nūr al-Yaqīn fi Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.al-Bidāyah wa an-Nihāyah, karya Ibnu Katsīr. Artikel terkait:Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam<iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; visibility: hidden;" title="&#8220;Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam&#8221; &#8212; Muslim.or.id" src="https://muslim.or.id/43060-turunnya-wahyu-pertama-kepada-rasulullah-shallallahualaihi-wasallam.html/embed#?secret=3enyZJ2V1N#?secret=1kt06RzEI4" data-secret="1kt06RzEI4" width="500" height="282" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>Bagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?<iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; visibility: hidden;" title="&#8220;Bagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?&#8221; &#8212; Muslim.or.id" src="https://muslim.or.id/74827-bagaimanakah-al-quran-turun-kepada-nabi-muhammad.html/embed#?secret=NzgaWaw1Ai#?secret=nPWp5ofVil" data-secret="nPWp5ofVil" width="500" height="282" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>

Hukum Affiliate di Marketplace dengan Komisi yang Tidak Jelas (Majhul)

Daftar Isi ToggleAkad apa yang mendasari affiliate?Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituKesimpulan akad:Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalKesimpulanBisnis affiliate marketing kini menjadi salah satu model penghasilan digital yang paling diminati. Cara kerjanya sederhana: seseorang mempromosikan produk melalui tautan khusus, dan bila ada pembeli yang bertransaksi melalui tautan tersebut, ia mendapat komisi. Namun di balik kemudahannya, muncul pertanyaan serius dari sisi fikih: bagaimana jika besaran komisi tidak jelas, tidak pasti, bahkan terkadang tidak diterima sama sekali meski promosi telah berhasil?Akad apa yang mendasari affiliate?Dalam fikih muamalah, praktik affiliate paling dekat dengan dua akad: ji’ālah dan samsarah.Ji’ālah (الجعالة) adalah akad di mana seseorang menjanjikan imbalan kepada siapa saja yang berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu. Contoh klasiknya adalah: “Siapa yang menemukan barangku yang hilang, ia mendapat sekian dirham.” Dalam konteks affiliate, merchant (pemilik produk) berkata, “Siapa yang berhasil menjualkan produkku, ia mendapat komisi.” Ini adalah bentuk ji’ālah.Samsarah (السمسرة) adalah akad perantara atau makelar — seseorang yang menjadi penghubung antara penjual dan pembeli dan mendapat upah atas jasanya. Affiliate juga memiliki unsur ini.Ibnu Qudamah rahimahullāh dalam Al-Mughni (6: 339) menjelaskan ji’ālah sebagai akad yang sah meski objek pekerjaannya tidak sepenuhnya terukur sebelumnya, karena hasilnyalah yang menjadi penentu upah. Ini memberikan kelenturan dibanding akad ijārah (upah kerja biasa) yang mensyaratkan pekerjaan dan upah harus jelas sejak awal.Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Syariat Islam sangat ketat soal kejelasan dalam akad. Ketidakjelasan yang berpotensi menimbulkan perselisihan disebut gharar (غَرَر) — dan ini terlarang. Rasulullah ﷺ bersabda,نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ“Rasulullah ﷺ melarang jual beli yang mengandung gharar (ketidakpastian).” (HR. Muslim no. 1513)Dalam affiliate, bentuk ketidakjelasan (majhul) yang sering terjadi antara lain: persentase komisi berubah-ubah tanpa pemberitahuan, sistem tracking yang tidak transparan sehingga penjualan tidak terhitung, atau ketentuan komisi yang bergantung pada syarat-syarat tersembunyi dalam kebijakan platform yang rumit dan mudah berubah. Semua ini mengandung unsur gharar yang perlu dikaji lebih dalam.Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Para ulama membedakan gharar menjadi dua: gharar fahish (ketidakjelasan besar yang merusak akad) dan gharar yasir (ketidakjelasan kecil yang dimaafkan). Syekh Wahbah az-Zuhaili rahimahullāh dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (4: 450) menjelaskan bahwa gharar yang diharamkan adalah yang bersifat dominan dalam akad dan berpotensi melahirkan perselisihan. Adapun gharar ringan yang sulit dihindari dalam suatu transaksi adalah dimaafkan.Dalam konteks affiliate: jika persentase komisi sudah jelas sejak awal (misalnya 5% dari harga produk), dan ketidakpastiannya hanya pada apakah ada pembeli atau tidak — maka ini adalah gharar yasir yang wajar dalam ji’ālah dan dimaafkan. Namun jika komisinya sendiri tidak jelas nominalnya, berubah sepihak, atau sistem tracking-nya tidak dapat dipercaya — ini sudah masuk kategori gharar fahish yang bermasalah.Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituIni adalah bagian yang paling menarik untuk dikaji. Sebagian pelaku affiliate menerima saja kondisi ini: “Dapat komisi alhamdulillah, tidak dapat pun tidak apa-apa.” Apakah keridaan ini menyelesaikan masalah syar’i-nya?Dalam fikih, ada kaidah terkenal:الأُمُورُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala perkara tergantung pada tujuan/niatnya.”Namun dalam muamalah, keridaan saja tidak cukup untuk menghalalkan akad yang cacat. Al-Qur’an memang menegaskan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil, kecuali melalui perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 29)Ayat ini memang menyebut taradhin (saling rida) sebagai syarat. Namun, para ulama menegaskan bahwa taradhin adalah syarat perlu, bukan syarat cukup. Keridaan tidak menghalalkan riba, tidak menghalalkan judi, dan tidak serta-merta menghalalkan gharar fahish. Ibnu Taimiyah rahimahullāh dalam Majmu’ al-Fatawa (29: 148) berkata, “Ini adalah perkara yang tidak boleh dilakukan tanpa syarat sekalipun; maka syarat tidak dapat menjadikan sesuatu yang haram menjadi halal.”Akan tetapi, jika kita membaca situasi ini dari sudut akad ji’ālah secara khusus, terdapat kelenturan. Dalam ji’ālah, pihak yang bekerja (amil) boleh saja tidak mendapat upah jika pekerjaannya tidak berhasil — itu sudah menjadi kesepakatan dari awal. Jika seorang affiliator memahami dan menerima bahwa: komisi hanya diperoleh jika penjualan terverifikasi oleh sistem platform, dan ia menerima risiko itu dengan sadar, maka ini lebih mendekati ji’ālah yang sah — asalkan besaran komisi saat berhasil tetap jelas.Kesimpulan akad:Jika komisi sudah jelas persentasenya sejak awal, namun ada risiko tidak terhitung karena faktor teknis → ini adalah ji’ālah dengan gharar yasir yang dimaafkan, dan affiliator yang rida menanggung risiko ini hukumnya dibolehkan.Jika komisi tidak jelas nominalnya, berubah sepihak tanpa pemberitahuan, atau ada penipuan sistemik dalam tracking → ini adalah gharar fahish dan akadnya bermasalah, meski affiliator rida sekalipun.Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalDari seluruh tinjauan di atas, agar praktik affiliate di marketplace menjadi akad yang bersih secara syariat, beberapa hal perlu dipastikan. Pertama, besaran komisi harus jelas sejak awal — baik dalam nominal maupun persentase yang tidak berubah sepihak. Kedua, mekanisme verifikasi penjualan harus transparan dan dapat dipercaya. Ketiga, kebijakan komisi tidak boleh berubah tanpa pemberitahuan yang layak kepada affiliator. Keempat, tidak ada penipuan dalam sistem tracking yang menyebabkan hak affiliator hilang secara sepihak.KesimpulanAffiliate marketing pada dasarnya adalah akad ji’ālah atau samsarah yang dibolehkan dalam Islam. Persoalan muncul ketika komisi bersifat majhul (tidak jelas) secara esensial — bukan sekadar tidak pasti hasilnya, melainkan tidak jelas besarannya. Keridaan affiliator tidak otomatis menyembuhkan cacat akad yang timbul dari gharar fahish. Namun jika komisi jelas, affiliator hanya menanggung risiko wajar bahwa tidak semua promosi berbuah komisi, maka keridaannya itu justru menjadi bagian yang sah dari akad ji’alah. Kuncinya satu: kejelasan sejak awal.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat…Baca juga: Praktek Riba dalam Transaksi Online***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id

Hukum Affiliate di Marketplace dengan Komisi yang Tidak Jelas (Majhul)

Daftar Isi ToggleAkad apa yang mendasari affiliate?Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituKesimpulan akad:Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalKesimpulanBisnis affiliate marketing kini menjadi salah satu model penghasilan digital yang paling diminati. Cara kerjanya sederhana: seseorang mempromosikan produk melalui tautan khusus, dan bila ada pembeli yang bertransaksi melalui tautan tersebut, ia mendapat komisi. Namun di balik kemudahannya, muncul pertanyaan serius dari sisi fikih: bagaimana jika besaran komisi tidak jelas, tidak pasti, bahkan terkadang tidak diterima sama sekali meski promosi telah berhasil?Akad apa yang mendasari affiliate?Dalam fikih muamalah, praktik affiliate paling dekat dengan dua akad: ji’ālah dan samsarah.Ji’ālah (الجعالة) adalah akad di mana seseorang menjanjikan imbalan kepada siapa saja yang berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu. Contoh klasiknya adalah: “Siapa yang menemukan barangku yang hilang, ia mendapat sekian dirham.” Dalam konteks affiliate, merchant (pemilik produk) berkata, “Siapa yang berhasil menjualkan produkku, ia mendapat komisi.” Ini adalah bentuk ji’ālah.Samsarah (السمسرة) adalah akad perantara atau makelar — seseorang yang menjadi penghubung antara penjual dan pembeli dan mendapat upah atas jasanya. Affiliate juga memiliki unsur ini.Ibnu Qudamah rahimahullāh dalam Al-Mughni (6: 339) menjelaskan ji’ālah sebagai akad yang sah meski objek pekerjaannya tidak sepenuhnya terukur sebelumnya, karena hasilnyalah yang menjadi penentu upah. Ini memberikan kelenturan dibanding akad ijārah (upah kerja biasa) yang mensyaratkan pekerjaan dan upah harus jelas sejak awal.Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Syariat Islam sangat ketat soal kejelasan dalam akad. Ketidakjelasan yang berpotensi menimbulkan perselisihan disebut gharar (غَرَر) — dan ini terlarang. Rasulullah ﷺ bersabda,نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ“Rasulullah ﷺ melarang jual beli yang mengandung gharar (ketidakpastian).” (HR. Muslim no. 1513)Dalam affiliate, bentuk ketidakjelasan (majhul) yang sering terjadi antara lain: persentase komisi berubah-ubah tanpa pemberitahuan, sistem tracking yang tidak transparan sehingga penjualan tidak terhitung, atau ketentuan komisi yang bergantung pada syarat-syarat tersembunyi dalam kebijakan platform yang rumit dan mudah berubah. Semua ini mengandung unsur gharar yang perlu dikaji lebih dalam.Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Para ulama membedakan gharar menjadi dua: gharar fahish (ketidakjelasan besar yang merusak akad) dan gharar yasir (ketidakjelasan kecil yang dimaafkan). Syekh Wahbah az-Zuhaili rahimahullāh dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (4: 450) menjelaskan bahwa gharar yang diharamkan adalah yang bersifat dominan dalam akad dan berpotensi melahirkan perselisihan. Adapun gharar ringan yang sulit dihindari dalam suatu transaksi adalah dimaafkan.Dalam konteks affiliate: jika persentase komisi sudah jelas sejak awal (misalnya 5% dari harga produk), dan ketidakpastiannya hanya pada apakah ada pembeli atau tidak — maka ini adalah gharar yasir yang wajar dalam ji’ālah dan dimaafkan. Namun jika komisinya sendiri tidak jelas nominalnya, berubah sepihak, atau sistem tracking-nya tidak dapat dipercaya — ini sudah masuk kategori gharar fahish yang bermasalah.Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituIni adalah bagian yang paling menarik untuk dikaji. Sebagian pelaku affiliate menerima saja kondisi ini: “Dapat komisi alhamdulillah, tidak dapat pun tidak apa-apa.” Apakah keridaan ini menyelesaikan masalah syar’i-nya?Dalam fikih, ada kaidah terkenal:الأُمُورُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala perkara tergantung pada tujuan/niatnya.”Namun dalam muamalah, keridaan saja tidak cukup untuk menghalalkan akad yang cacat. Al-Qur’an memang menegaskan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil, kecuali melalui perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 29)Ayat ini memang menyebut taradhin (saling rida) sebagai syarat. Namun, para ulama menegaskan bahwa taradhin adalah syarat perlu, bukan syarat cukup. Keridaan tidak menghalalkan riba, tidak menghalalkan judi, dan tidak serta-merta menghalalkan gharar fahish. Ibnu Taimiyah rahimahullāh dalam Majmu’ al-Fatawa (29: 148) berkata, “Ini adalah perkara yang tidak boleh dilakukan tanpa syarat sekalipun; maka syarat tidak dapat menjadikan sesuatu yang haram menjadi halal.”Akan tetapi, jika kita membaca situasi ini dari sudut akad ji’ālah secara khusus, terdapat kelenturan. Dalam ji’ālah, pihak yang bekerja (amil) boleh saja tidak mendapat upah jika pekerjaannya tidak berhasil — itu sudah menjadi kesepakatan dari awal. Jika seorang affiliator memahami dan menerima bahwa: komisi hanya diperoleh jika penjualan terverifikasi oleh sistem platform, dan ia menerima risiko itu dengan sadar, maka ini lebih mendekati ji’ālah yang sah — asalkan besaran komisi saat berhasil tetap jelas.Kesimpulan akad:Jika komisi sudah jelas persentasenya sejak awal, namun ada risiko tidak terhitung karena faktor teknis → ini adalah ji’ālah dengan gharar yasir yang dimaafkan, dan affiliator yang rida menanggung risiko ini hukumnya dibolehkan.Jika komisi tidak jelas nominalnya, berubah sepihak tanpa pemberitahuan, atau ada penipuan sistemik dalam tracking → ini adalah gharar fahish dan akadnya bermasalah, meski affiliator rida sekalipun.Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalDari seluruh tinjauan di atas, agar praktik affiliate di marketplace menjadi akad yang bersih secara syariat, beberapa hal perlu dipastikan. Pertama, besaran komisi harus jelas sejak awal — baik dalam nominal maupun persentase yang tidak berubah sepihak. Kedua, mekanisme verifikasi penjualan harus transparan dan dapat dipercaya. Ketiga, kebijakan komisi tidak boleh berubah tanpa pemberitahuan yang layak kepada affiliator. Keempat, tidak ada penipuan dalam sistem tracking yang menyebabkan hak affiliator hilang secara sepihak.KesimpulanAffiliate marketing pada dasarnya adalah akad ji’ālah atau samsarah yang dibolehkan dalam Islam. Persoalan muncul ketika komisi bersifat majhul (tidak jelas) secara esensial — bukan sekadar tidak pasti hasilnya, melainkan tidak jelas besarannya. Keridaan affiliator tidak otomatis menyembuhkan cacat akad yang timbul dari gharar fahish. Namun jika komisi jelas, affiliator hanya menanggung risiko wajar bahwa tidak semua promosi berbuah komisi, maka keridaannya itu justru menjadi bagian yang sah dari akad ji’alah. Kuncinya satu: kejelasan sejak awal.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat…Baca juga: Praktek Riba dalam Transaksi Online***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleAkad apa yang mendasari affiliate?Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituKesimpulan akad:Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalKesimpulanBisnis affiliate marketing kini menjadi salah satu model penghasilan digital yang paling diminati. Cara kerjanya sederhana: seseorang mempromosikan produk melalui tautan khusus, dan bila ada pembeli yang bertransaksi melalui tautan tersebut, ia mendapat komisi. Namun di balik kemudahannya, muncul pertanyaan serius dari sisi fikih: bagaimana jika besaran komisi tidak jelas, tidak pasti, bahkan terkadang tidak diterima sama sekali meski promosi telah berhasil?Akad apa yang mendasari affiliate?Dalam fikih muamalah, praktik affiliate paling dekat dengan dua akad: ji’ālah dan samsarah.Ji’ālah (الجعالة) adalah akad di mana seseorang menjanjikan imbalan kepada siapa saja yang berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu. Contoh klasiknya adalah: “Siapa yang menemukan barangku yang hilang, ia mendapat sekian dirham.” Dalam konteks affiliate, merchant (pemilik produk) berkata, “Siapa yang berhasil menjualkan produkku, ia mendapat komisi.” Ini adalah bentuk ji’ālah.Samsarah (السمسرة) adalah akad perantara atau makelar — seseorang yang menjadi penghubung antara penjual dan pembeli dan mendapat upah atas jasanya. Affiliate juga memiliki unsur ini.Ibnu Qudamah rahimahullāh dalam Al-Mughni (6: 339) menjelaskan ji’ālah sebagai akad yang sah meski objek pekerjaannya tidak sepenuhnya terukur sebelumnya, karena hasilnyalah yang menjadi penentu upah. Ini memberikan kelenturan dibanding akad ijārah (upah kerja biasa) yang mensyaratkan pekerjaan dan upah harus jelas sejak awal.Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Syariat Islam sangat ketat soal kejelasan dalam akad. Ketidakjelasan yang berpotensi menimbulkan perselisihan disebut gharar (غَرَر) — dan ini terlarang. Rasulullah ﷺ bersabda,نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ“Rasulullah ﷺ melarang jual beli yang mengandung gharar (ketidakpastian).” (HR. Muslim no. 1513)Dalam affiliate, bentuk ketidakjelasan (majhul) yang sering terjadi antara lain: persentase komisi berubah-ubah tanpa pemberitahuan, sistem tracking yang tidak transparan sehingga penjualan tidak terhitung, atau ketentuan komisi yang bergantung pada syarat-syarat tersembunyi dalam kebijakan platform yang rumit dan mudah berubah. Semua ini mengandung unsur gharar yang perlu dikaji lebih dalam.Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Para ulama membedakan gharar menjadi dua: gharar fahish (ketidakjelasan besar yang merusak akad) dan gharar yasir (ketidakjelasan kecil yang dimaafkan). Syekh Wahbah az-Zuhaili rahimahullāh dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (4: 450) menjelaskan bahwa gharar yang diharamkan adalah yang bersifat dominan dalam akad dan berpotensi melahirkan perselisihan. Adapun gharar ringan yang sulit dihindari dalam suatu transaksi adalah dimaafkan.Dalam konteks affiliate: jika persentase komisi sudah jelas sejak awal (misalnya 5% dari harga produk), dan ketidakpastiannya hanya pada apakah ada pembeli atau tidak — maka ini adalah gharar yasir yang wajar dalam ji’ālah dan dimaafkan. Namun jika komisinya sendiri tidak jelas nominalnya, berubah sepihak, atau sistem tracking-nya tidak dapat dipercaya — ini sudah masuk kategori gharar fahish yang bermasalah.Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituIni adalah bagian yang paling menarik untuk dikaji. Sebagian pelaku affiliate menerima saja kondisi ini: “Dapat komisi alhamdulillah, tidak dapat pun tidak apa-apa.” Apakah keridaan ini menyelesaikan masalah syar’i-nya?Dalam fikih, ada kaidah terkenal:الأُمُورُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala perkara tergantung pada tujuan/niatnya.”Namun dalam muamalah, keridaan saja tidak cukup untuk menghalalkan akad yang cacat. Al-Qur’an memang menegaskan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil, kecuali melalui perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 29)Ayat ini memang menyebut taradhin (saling rida) sebagai syarat. Namun, para ulama menegaskan bahwa taradhin adalah syarat perlu, bukan syarat cukup. Keridaan tidak menghalalkan riba, tidak menghalalkan judi, dan tidak serta-merta menghalalkan gharar fahish. Ibnu Taimiyah rahimahullāh dalam Majmu’ al-Fatawa (29: 148) berkata, “Ini adalah perkara yang tidak boleh dilakukan tanpa syarat sekalipun; maka syarat tidak dapat menjadikan sesuatu yang haram menjadi halal.”Akan tetapi, jika kita membaca situasi ini dari sudut akad ji’ālah secara khusus, terdapat kelenturan. Dalam ji’ālah, pihak yang bekerja (amil) boleh saja tidak mendapat upah jika pekerjaannya tidak berhasil — itu sudah menjadi kesepakatan dari awal. Jika seorang affiliator memahami dan menerima bahwa: komisi hanya diperoleh jika penjualan terverifikasi oleh sistem platform, dan ia menerima risiko itu dengan sadar, maka ini lebih mendekati ji’ālah yang sah — asalkan besaran komisi saat berhasil tetap jelas.Kesimpulan akad:Jika komisi sudah jelas persentasenya sejak awal, namun ada risiko tidak terhitung karena faktor teknis → ini adalah ji’ālah dengan gharar yasir yang dimaafkan, dan affiliator yang rida menanggung risiko ini hukumnya dibolehkan.Jika komisi tidak jelas nominalnya, berubah sepihak tanpa pemberitahuan, atau ada penipuan sistemik dalam tracking → ini adalah gharar fahish dan akadnya bermasalah, meski affiliator rida sekalipun.Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalDari seluruh tinjauan di atas, agar praktik affiliate di marketplace menjadi akad yang bersih secara syariat, beberapa hal perlu dipastikan. Pertama, besaran komisi harus jelas sejak awal — baik dalam nominal maupun persentase yang tidak berubah sepihak. Kedua, mekanisme verifikasi penjualan harus transparan dan dapat dipercaya. Ketiga, kebijakan komisi tidak boleh berubah tanpa pemberitahuan yang layak kepada affiliator. Keempat, tidak ada penipuan dalam sistem tracking yang menyebabkan hak affiliator hilang secara sepihak.KesimpulanAffiliate marketing pada dasarnya adalah akad ji’ālah atau samsarah yang dibolehkan dalam Islam. Persoalan muncul ketika komisi bersifat majhul (tidak jelas) secara esensial — bukan sekadar tidak pasti hasilnya, melainkan tidak jelas besarannya. Keridaan affiliator tidak otomatis menyembuhkan cacat akad yang timbul dari gharar fahish. Namun jika komisi jelas, affiliator hanya menanggung risiko wajar bahwa tidak semua promosi berbuah komisi, maka keridaannya itu justru menjadi bagian yang sah dari akad ji’alah. Kuncinya satu: kejelasan sejak awal.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat…Baca juga: Praktek Riba dalam Transaksi Online***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleAkad apa yang mendasari affiliate?Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituKesimpulan akad:Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalKesimpulanBisnis affiliate marketing kini menjadi salah satu model penghasilan digital yang paling diminati. Cara kerjanya sederhana: seseorang mempromosikan produk melalui tautan khusus, dan bila ada pembeli yang bertransaksi melalui tautan tersebut, ia mendapat komisi. Namun di balik kemudahannya, muncul pertanyaan serius dari sisi fikih: bagaimana jika besaran komisi tidak jelas, tidak pasti, bahkan terkadang tidak diterima sama sekali meski promosi telah berhasil?Akad apa yang mendasari affiliate?Dalam fikih muamalah, praktik affiliate paling dekat dengan dua akad: ji’ālah dan samsarah.Ji’ālah (الجعالة) adalah akad di mana seseorang menjanjikan imbalan kepada siapa saja yang berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu. Contoh klasiknya adalah: “Siapa yang menemukan barangku yang hilang, ia mendapat sekian dirham.” Dalam konteks affiliate, merchant (pemilik produk) berkata, “Siapa yang berhasil menjualkan produkku, ia mendapat komisi.” Ini adalah bentuk ji’ālah.Samsarah (السمسرة) adalah akad perantara atau makelar — seseorang yang menjadi penghubung antara penjual dan pembeli dan mendapat upah atas jasanya. Affiliate juga memiliki unsur ini.Ibnu Qudamah rahimahullāh dalam Al-Mughni (6: 339) menjelaskan ji’ālah sebagai akad yang sah meski objek pekerjaannya tidak sepenuhnya terukur sebelumnya, karena hasilnyalah yang menjadi penentu upah. Ini memberikan kelenturan dibanding akad ijārah (upah kerja biasa) yang mensyaratkan pekerjaan dan upah harus jelas sejak awal.Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Syariat Islam sangat ketat soal kejelasan dalam akad. Ketidakjelasan yang berpotensi menimbulkan perselisihan disebut gharar (غَرَر) — dan ini terlarang. Rasulullah ﷺ bersabda,نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ“Rasulullah ﷺ melarang jual beli yang mengandung gharar (ketidakpastian).” (HR. Muslim no. 1513)Dalam affiliate, bentuk ketidakjelasan (majhul) yang sering terjadi antara lain: persentase komisi berubah-ubah tanpa pemberitahuan, sistem tracking yang tidak transparan sehingga penjualan tidak terhitung, atau ketentuan komisi yang bergantung pada syarat-syarat tersembunyi dalam kebijakan platform yang rumit dan mudah berubah. Semua ini mengandung unsur gharar yang perlu dikaji lebih dalam.Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Para ulama membedakan gharar menjadi dua: gharar fahish (ketidakjelasan besar yang merusak akad) dan gharar yasir (ketidakjelasan kecil yang dimaafkan). Syekh Wahbah az-Zuhaili rahimahullāh dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (4: 450) menjelaskan bahwa gharar yang diharamkan adalah yang bersifat dominan dalam akad dan berpotensi melahirkan perselisihan. Adapun gharar ringan yang sulit dihindari dalam suatu transaksi adalah dimaafkan.Dalam konteks affiliate: jika persentase komisi sudah jelas sejak awal (misalnya 5% dari harga produk), dan ketidakpastiannya hanya pada apakah ada pembeli atau tidak — maka ini adalah gharar yasir yang wajar dalam ji’ālah dan dimaafkan. Namun jika komisinya sendiri tidak jelas nominalnya, berubah sepihak, atau sistem tracking-nya tidak dapat dipercaya — ini sudah masuk kategori gharar fahish yang bermasalah.Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituIni adalah bagian yang paling menarik untuk dikaji. Sebagian pelaku affiliate menerima saja kondisi ini: “Dapat komisi alhamdulillah, tidak dapat pun tidak apa-apa.” Apakah keridaan ini menyelesaikan masalah syar’i-nya?Dalam fikih, ada kaidah terkenal:الأُمُورُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala perkara tergantung pada tujuan/niatnya.”Namun dalam muamalah, keridaan saja tidak cukup untuk menghalalkan akad yang cacat. Al-Qur’an memang menegaskan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil, kecuali melalui perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 29)Ayat ini memang menyebut taradhin (saling rida) sebagai syarat. Namun, para ulama menegaskan bahwa taradhin adalah syarat perlu, bukan syarat cukup. Keridaan tidak menghalalkan riba, tidak menghalalkan judi, dan tidak serta-merta menghalalkan gharar fahish. Ibnu Taimiyah rahimahullāh dalam Majmu’ al-Fatawa (29: 148) berkata, “Ini adalah perkara yang tidak boleh dilakukan tanpa syarat sekalipun; maka syarat tidak dapat menjadikan sesuatu yang haram menjadi halal.”Akan tetapi, jika kita membaca situasi ini dari sudut akad ji’ālah secara khusus, terdapat kelenturan. Dalam ji’ālah, pihak yang bekerja (amil) boleh saja tidak mendapat upah jika pekerjaannya tidak berhasil — itu sudah menjadi kesepakatan dari awal. Jika seorang affiliator memahami dan menerima bahwa: komisi hanya diperoleh jika penjualan terverifikasi oleh sistem platform, dan ia menerima risiko itu dengan sadar, maka ini lebih mendekati ji’ālah yang sah — asalkan besaran komisi saat berhasil tetap jelas.Kesimpulan akad:Jika komisi sudah jelas persentasenya sejak awal, namun ada risiko tidak terhitung karena faktor teknis → ini adalah ji’ālah dengan gharar yasir yang dimaafkan, dan affiliator yang rida menanggung risiko ini hukumnya dibolehkan.Jika komisi tidak jelas nominalnya, berubah sepihak tanpa pemberitahuan, atau ada penipuan sistemik dalam tracking → ini adalah gharar fahish dan akadnya bermasalah, meski affiliator rida sekalipun.Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalDari seluruh tinjauan di atas, agar praktik affiliate di marketplace menjadi akad yang bersih secara syariat, beberapa hal perlu dipastikan. Pertama, besaran komisi harus jelas sejak awal — baik dalam nominal maupun persentase yang tidak berubah sepihak. Kedua, mekanisme verifikasi penjualan harus transparan dan dapat dipercaya. Ketiga, kebijakan komisi tidak boleh berubah tanpa pemberitahuan yang layak kepada affiliator. Keempat, tidak ada penipuan dalam sistem tracking yang menyebabkan hak affiliator hilang secara sepihak.KesimpulanAffiliate marketing pada dasarnya adalah akad ji’ālah atau samsarah yang dibolehkan dalam Islam. Persoalan muncul ketika komisi bersifat majhul (tidak jelas) secara esensial — bukan sekadar tidak pasti hasilnya, melainkan tidak jelas besarannya. Keridaan affiliator tidak otomatis menyembuhkan cacat akad yang timbul dari gharar fahish. Namun jika komisi jelas, affiliator hanya menanggung risiko wajar bahwa tidak semua promosi berbuah komisi, maka keridaannya itu justru menjadi bagian yang sah dari akad ji’alah. Kuncinya satu: kejelasan sejak awal.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat…Baca juga: Praktek Riba dalam Transaksi Online***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id

Haji Terbaik: Memperbanyak Talbiyah dan Sembelihan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut haji terbaik adalah “al-‘ajj dan ats-tsajj”, yaitu memperbanyak talbiyah dan menyembelih hadyu. Apa makna di balik dua amalan ini? Simak penjelasan lengkapnya agar ibadah haji semakin bermakna dan sesuai sunnah.Dari Shahih al-Jami’ dan Shahih at-Tirmidzi:أَفْضَلُ الْحَجِّ الْعَجُّ وَالثَّجُّ“Sebaik-baik haji adalah al-‘ajj dan ats-tsajj.”Dalam riwayat lain disebutkan:Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Haji apakah yang paling utama?” Beliau menjawab:«الْعَجُّ وَالثَّجُّ»“Haji yang disertai al-‘ajj dan ats-tsajj.”(HR. Tirmidzi, no. 827; Ibnu Majah, no. 2924; Shahih Al-Jaami’, no. 1101; sahih menurut Syaikh Al-Albani)Penjelasan makna hadits:Haji merupakan salah satu rukun Islam yang agung. Ibadah ini diwajibkan bagi setiap Muslim yang mampu menempuh perjalanan ke Baitullah. Di dalam pelaksanaannya terdapat pahala yang sangat besar. Haji dapat menghapus dosa-dosa dan kesalahan, bahkan seorang hamba kembali dalam keadaan bersih seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.Dalam hadits ini, Abu Bakr ash-Shiddiq meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Haji apakah yang paling utama?” Maksudnya, amalan apa yang paling utama dalam ibadah haji setelah terpenuhi seluruh rukun, syarat, dan kewajibannya.Beliau menjawab:Makna “العَجُّ” (al-‘ajj)Al-‘ajj adalah mengeraskan suara dalam bertalbiyah, yaitu mengucapkan:لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan hanyalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”Talbiyah ini menunjukkan jawaban seorang hamba terhadap panggilan Allah. Di dalamnya terdapat pengagungan, kecintaan, ketundukan, dan komitmen untuk terus taat kepada-Nya.Makna “الثَّجُّ” (ats-tsajj)Ats-tsajj adalah menyembelih hewan hadyu dan kurban serta mengalirkan darahnya sebagai bentuk ibadah kepada Allah.Sebagian ulama menjelaskan bahwa ungkapan “al-‘ajj dan ats-tsajj” sebenarnya mencakup seluruh amalan haji. Sebab, ibadah haji dimulai dengan dzikir dan talbiyah, lalu diakhiri dengan penyembelihan hadyu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut awal dan akhir ibadah untuk menunjukkan kemuliaan seluruh rangkaian amal haji di antara keduanya.Karena itu, seluruh amalan haji adalah amalan yang agung dan hendaknya disempurnakan dengan penuh keikhlasan, ketundukan, dan mengikuti tuntunan sunnah.Di zaman sekarang, banyak orang sibuk mengabadikan perjalanan hajinya, tetapi lupa memperbanyak talbiyah dan dzikir. Jangan sampai semangat mendokumentasikan momen lebih besar daripada semangat menghadirkan hati kepada Allah. Haji adalah ibadah penghambaan, bukan sekadar perjalanan spiritual yang dipamerkan di media sosial. Semoga Allah menjadikan haji kaum Muslimin sebagai haji yang mabrur dan penuh keberkahan. —- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, Hari Tarwiyah – 8 Dzulhijjah 1447 H, 25 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdzikir haji hadits haji hadyu haji mabrur ibadah haji keutamaan haji manasik haji qurban sunnah haji talbiyah

Haji Terbaik: Memperbanyak Talbiyah dan Sembelihan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut haji terbaik adalah “al-‘ajj dan ats-tsajj”, yaitu memperbanyak talbiyah dan menyembelih hadyu. Apa makna di balik dua amalan ini? Simak penjelasan lengkapnya agar ibadah haji semakin bermakna dan sesuai sunnah.Dari Shahih al-Jami’ dan Shahih at-Tirmidzi:أَفْضَلُ الْحَجِّ الْعَجُّ وَالثَّجُّ“Sebaik-baik haji adalah al-‘ajj dan ats-tsajj.”Dalam riwayat lain disebutkan:Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Haji apakah yang paling utama?” Beliau menjawab:«الْعَجُّ وَالثَّجُّ»“Haji yang disertai al-‘ajj dan ats-tsajj.”(HR. Tirmidzi, no. 827; Ibnu Majah, no. 2924; Shahih Al-Jaami’, no. 1101; sahih menurut Syaikh Al-Albani)Penjelasan makna hadits:Haji merupakan salah satu rukun Islam yang agung. Ibadah ini diwajibkan bagi setiap Muslim yang mampu menempuh perjalanan ke Baitullah. Di dalam pelaksanaannya terdapat pahala yang sangat besar. Haji dapat menghapus dosa-dosa dan kesalahan, bahkan seorang hamba kembali dalam keadaan bersih seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.Dalam hadits ini, Abu Bakr ash-Shiddiq meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Haji apakah yang paling utama?” Maksudnya, amalan apa yang paling utama dalam ibadah haji setelah terpenuhi seluruh rukun, syarat, dan kewajibannya.Beliau menjawab:Makna “العَجُّ” (al-‘ajj)Al-‘ajj adalah mengeraskan suara dalam bertalbiyah, yaitu mengucapkan:لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan hanyalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”Talbiyah ini menunjukkan jawaban seorang hamba terhadap panggilan Allah. Di dalamnya terdapat pengagungan, kecintaan, ketundukan, dan komitmen untuk terus taat kepada-Nya.Makna “الثَّجُّ” (ats-tsajj)Ats-tsajj adalah menyembelih hewan hadyu dan kurban serta mengalirkan darahnya sebagai bentuk ibadah kepada Allah.Sebagian ulama menjelaskan bahwa ungkapan “al-‘ajj dan ats-tsajj” sebenarnya mencakup seluruh amalan haji. Sebab, ibadah haji dimulai dengan dzikir dan talbiyah, lalu diakhiri dengan penyembelihan hadyu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut awal dan akhir ibadah untuk menunjukkan kemuliaan seluruh rangkaian amal haji di antara keduanya.Karena itu, seluruh amalan haji adalah amalan yang agung dan hendaknya disempurnakan dengan penuh keikhlasan, ketundukan, dan mengikuti tuntunan sunnah.Di zaman sekarang, banyak orang sibuk mengabadikan perjalanan hajinya, tetapi lupa memperbanyak talbiyah dan dzikir. Jangan sampai semangat mendokumentasikan momen lebih besar daripada semangat menghadirkan hati kepada Allah. Haji adalah ibadah penghambaan, bukan sekadar perjalanan spiritual yang dipamerkan di media sosial. Semoga Allah menjadikan haji kaum Muslimin sebagai haji yang mabrur dan penuh keberkahan. —- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, Hari Tarwiyah – 8 Dzulhijjah 1447 H, 25 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdzikir haji hadits haji hadyu haji mabrur ibadah haji keutamaan haji manasik haji qurban sunnah haji talbiyah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut haji terbaik adalah “al-‘ajj dan ats-tsajj”, yaitu memperbanyak talbiyah dan menyembelih hadyu. Apa makna di balik dua amalan ini? Simak penjelasan lengkapnya agar ibadah haji semakin bermakna dan sesuai sunnah.Dari Shahih al-Jami’ dan Shahih at-Tirmidzi:أَفْضَلُ الْحَجِّ الْعَجُّ وَالثَّجُّ“Sebaik-baik haji adalah al-‘ajj dan ats-tsajj.”Dalam riwayat lain disebutkan:Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Haji apakah yang paling utama?” Beliau menjawab:«الْعَجُّ وَالثَّجُّ»“Haji yang disertai al-‘ajj dan ats-tsajj.”(HR. Tirmidzi, no. 827; Ibnu Majah, no. 2924; Shahih Al-Jaami’, no. 1101; sahih menurut Syaikh Al-Albani)Penjelasan makna hadits:Haji merupakan salah satu rukun Islam yang agung. Ibadah ini diwajibkan bagi setiap Muslim yang mampu menempuh perjalanan ke Baitullah. Di dalam pelaksanaannya terdapat pahala yang sangat besar. Haji dapat menghapus dosa-dosa dan kesalahan, bahkan seorang hamba kembali dalam keadaan bersih seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.Dalam hadits ini, Abu Bakr ash-Shiddiq meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Haji apakah yang paling utama?” Maksudnya, amalan apa yang paling utama dalam ibadah haji setelah terpenuhi seluruh rukun, syarat, dan kewajibannya.Beliau menjawab:Makna “العَجُّ” (al-‘ajj)Al-‘ajj adalah mengeraskan suara dalam bertalbiyah, yaitu mengucapkan:لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan hanyalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”Talbiyah ini menunjukkan jawaban seorang hamba terhadap panggilan Allah. Di dalamnya terdapat pengagungan, kecintaan, ketundukan, dan komitmen untuk terus taat kepada-Nya.Makna “الثَّجُّ” (ats-tsajj)Ats-tsajj adalah menyembelih hewan hadyu dan kurban serta mengalirkan darahnya sebagai bentuk ibadah kepada Allah.Sebagian ulama menjelaskan bahwa ungkapan “al-‘ajj dan ats-tsajj” sebenarnya mencakup seluruh amalan haji. Sebab, ibadah haji dimulai dengan dzikir dan talbiyah, lalu diakhiri dengan penyembelihan hadyu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut awal dan akhir ibadah untuk menunjukkan kemuliaan seluruh rangkaian amal haji di antara keduanya.Karena itu, seluruh amalan haji adalah amalan yang agung dan hendaknya disempurnakan dengan penuh keikhlasan, ketundukan, dan mengikuti tuntunan sunnah.Di zaman sekarang, banyak orang sibuk mengabadikan perjalanan hajinya, tetapi lupa memperbanyak talbiyah dan dzikir. Jangan sampai semangat mendokumentasikan momen lebih besar daripada semangat menghadirkan hati kepada Allah. Haji adalah ibadah penghambaan, bukan sekadar perjalanan spiritual yang dipamerkan di media sosial. Semoga Allah menjadikan haji kaum Muslimin sebagai haji yang mabrur dan penuh keberkahan. —- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, Hari Tarwiyah – 8 Dzulhijjah 1447 H, 25 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdzikir haji hadits haji hadyu haji mabrur ibadah haji keutamaan haji manasik haji qurban sunnah haji talbiyah


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut haji terbaik adalah “al-‘ajj dan ats-tsajj”, yaitu memperbanyak talbiyah dan menyembelih hadyu. Apa makna di balik dua amalan ini? Simak penjelasan lengkapnya agar ibadah haji semakin bermakna dan sesuai sunnah.Dari Shahih al-Jami’ dan Shahih at-Tirmidzi:أَفْضَلُ الْحَجِّ الْعَجُّ وَالثَّجُّ“Sebaik-baik haji adalah al-‘ajj dan ats-tsajj.”Dalam riwayat lain disebutkan:Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Haji apakah yang paling utama?” Beliau menjawab:«الْعَجُّ وَالثَّجُّ»“Haji yang disertai al-‘ajj dan ats-tsajj.”(HR. Tirmidzi, no. 827; Ibnu Majah, no. 2924; Shahih Al-Jaami’, no. 1101; sahih menurut Syaikh Al-Albani)Penjelasan makna hadits:Haji merupakan salah satu rukun Islam yang agung. Ibadah ini diwajibkan bagi setiap Muslim yang mampu menempuh perjalanan ke Baitullah. Di dalam pelaksanaannya terdapat pahala yang sangat besar. Haji dapat menghapus dosa-dosa dan kesalahan, bahkan seorang hamba kembali dalam keadaan bersih seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.Dalam hadits ini, Abu Bakr ash-Shiddiq meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Haji apakah yang paling utama?” Maksudnya, amalan apa yang paling utama dalam ibadah haji setelah terpenuhi seluruh rukun, syarat, dan kewajibannya.Beliau menjawab:Makna “العَجُّ” (al-‘ajj)Al-‘ajj adalah mengeraskan suara dalam bertalbiyah, yaitu mengucapkan:لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan hanyalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”Talbiyah ini menunjukkan jawaban seorang hamba terhadap panggilan Allah. Di dalamnya terdapat pengagungan, kecintaan, ketundukan, dan komitmen untuk terus taat kepada-Nya.Makna “الثَّجُّ” (ats-tsajj)Ats-tsajj adalah menyembelih hewan hadyu dan kurban serta mengalirkan darahnya sebagai bentuk ibadah kepada Allah.Sebagian ulama menjelaskan bahwa ungkapan “al-‘ajj dan ats-tsajj” sebenarnya mencakup seluruh amalan haji. Sebab, ibadah haji dimulai dengan dzikir dan talbiyah, lalu diakhiri dengan penyembelihan hadyu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut awal dan akhir ibadah untuk menunjukkan kemuliaan seluruh rangkaian amal haji di antara keduanya.Karena itu, seluruh amalan haji adalah amalan yang agung dan hendaknya disempurnakan dengan penuh keikhlasan, ketundukan, dan mengikuti tuntunan sunnah.Di zaman sekarang, banyak orang sibuk mengabadikan perjalanan hajinya, tetapi lupa memperbanyak talbiyah dan dzikir. Jangan sampai semangat mendokumentasikan momen lebih besar daripada semangat menghadirkan hati kepada Allah. Haji adalah ibadah penghambaan, bukan sekadar perjalanan spiritual yang dipamerkan di media sosial. Semoga Allah menjadikan haji kaum Muslimin sebagai haji yang mabrur dan penuh keberkahan. —- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, Hari Tarwiyah – 8 Dzulhijjah 1447 H, 25 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdzikir haji hadits haji hadyu haji mabrur ibadah haji keutamaan haji manasik haji qurban sunnah haji talbiyah

Teks Khotbah Jumat: Obat Penenang Tatkala Harga Menjulang

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaUjian kehidupan dan permasalahan kerakyatanNaiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangTujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaKhotbah keduaLangkah taktis menghadapi harga naikKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara jemaah rahimakumullah!Bersyukurlah atas nikmat hirupan nafas dan tegukan air, sehingga kita dapat menegakkan tulang punggung kita untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Patutlah kita mensyukuri nikmat itu dengan meniti jalan ketakwaan sehingga kita mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Jalan itu tiadalah dapat kita tempuh kecuali karena Allah ﷻ telah mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasulun Amin. Maka berselawatlah kepadanya, niscaya Allah ﷻ akan balaskan kepada kita sepuluh kali lipat.Ujian kehidupan dan permasalahan kerakyatanRealita hari ini yang tak terelakkan adalah keadaan ekonomi yang kian sulit. Harga bahan pokok meningkat, menggerus pemasukan kaum muslimin. Para jemaah, ketahuilah! Tentu di antara sebab dari kesulitan ini adalah sebagian dosa kita. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an surah As-Syura ayat 30,وَمَاۤ اَصَابَكُمۡ مِّنۡ مُّصِيۡبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِيۡكُمۡ وَيَعۡفُوۡا عَنۡ كَثِيۡرٍؕ“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)Artinya, kesulitan ini hanyalah secuil dampak dari kezaliman diri kita. Masih banyak kezaliman yang Allah ﷻ maafkan dan tak wujudkan dalam bentuk musibah. Andai pun ini tak benar, tentulah keadaan ini merupakan jalan untuk kita naik level keimanan.Naiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang adalah takdir Allah ﷻ; meskipun bisa saja ada sebab-sebab perbuatan masyarakat maupun pemerintah, tetapi hal ini sangatlah kompleks sehingga tidak bisa kita sepenuhnya menyalahkan siapapun. Bahkan hal semacam ini pun pernah terjadi di masa Nabi ﷺ masih memimpin kaum muslimin secara langsung.Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Harga (barang-barang) di zaman Rasulullah ﷺ pernah naik. Orang-orang berkata, “Ya Rasulullah, harga telah naik. Oleh karena itu, tetapkanlah harga bagi kami.”Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّزَّاقُ وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ“Sesungguhnya Allah, Dia-lah al-Musa’ir (Yang menetapkan harga), al-Qaabidh (Yang menyempitkan rezeki), al-Baasith (Yang melapangkan rezeki), ar-Razzaaq (Yang Maha memberi rezeki) dan sesungguhnya aku harap bertemu Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntut aku lantaran menzalimi dalam darah dan harta.” (HR. Ahmad no. 12591, Abu Daud no. 3451, Tirmidzi no. 1314, dan Ibnu Majah no. 2200; dan disahihkan oleh Al-Albani)Nabi ﷺ memberikan kabar bahwa Allah ﷻ ialah yang berhak menentukan harga. Allah ﷻ jugalah Al-Qabidh dan Al-Basith, Yang Maha menyempitkan dan melapangkan rezeki. Namun, beliau ﷺ tidak hanya menyebutkan kabar bahwa Allah ﷻ yang seakan-akan seperti lepas tangan, tetapi beliau juga memberi kabar bahwa Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq, Maha pemberi rezeki, sehingga jangan khawatir dengan keadaan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwasanya pemimpin terbaik sekalipun tak mampu dan tak berhak menetapkan harga komoditas. Sehingga Nabi ﷺ berharap agar tidak ada yang menuntut kezaliman ini kepadanya.Kenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangBagian penting yang patut kita yakini bahwa rezeki kita telah ditentukan oleh Allah. Jatah rezeki yang Allah tetapkan tidak akan bertambah maupun berkurang. Meskipun masyarakat Indonesia diguncang dengan kenaikan harga barang, itu sama sekali tidak akan menggeser jatah rezeki kita.Allah ﷻ berfirman,وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ“Andaikan Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi.”Allah ﷻ Maha mengetahui bahwa jika hamba-Nya diberi rezeki lebih, niscaya mereka akan melampaui batas.وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ“Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 27)Allah ﷻ menetapkan rezeki dengan keadaan ialah Al-Khabir, Yang Maha mengetahui perkara detail, lagi Al-Bashir, melihat kenyataan yang ada. Tentulah Allah Al-Hakim, Yang Maha bijaksana, tidak akan menzalimi hamba-Nya dengan memberikan rezeki kurang dari hak-Nya. Padahal, Allah ﷻ mampu melakukannya.Tujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaSejatinya tidak ada kewajiban untuk Allah ﷻ memberikan rezeki melimpah kepada kita semua. Karena Allah ﷻ adalah Penguasa yang tidak dituntut akan perbuatan-Nya. Namun, Allah ﷻ tetap memberikan kenikmatan dunia kepada hamba-Nya, padahal yang tertuntut adalah sang hamba. Hamba -yakni kita semua- tertuntut suatu perkara, yakni beribadah kepada Allah ﷻ, dan itulah satu-satunya tujuan. Dalam ayat yang masyhur, Allah ﷻ berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ – إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ“Tidaklah kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Tidaklah aku menghendaki rezeki dan pemberian makan dari mereka. Sesungguhnya Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) dan Pemilik Kekuatan Mutlak serta Kekuatan Yang Maha Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)Allah ﷻ tak butuh kepada ibadah kita, tidak pula menuntut untuk kita memberi rezeki dan makanan kepada Allah ﷻ. Malah justru Allah ﷻ yang menjamin rezeki kita, dan tidak ada yang mampu mencegah pemberian Allah ﷻ. Maka, pertanyakan kepada diri kita, “Sudahkah kita maksimal menghamba kepada Allah ﷻ?”بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهLangkah taktis menghadapi harga naikMaka solusinya para hadirin adalah:Pertama: Kuatkan tekad kita beribadah dan jadikan ini fokus utama kita saat ini.Kedua: Bekerjalah sebaik mungkin, karena ikhtiar kita bekerja adalah bagian dari ibadah yang dimaksud. Dan khotbah ini tidak menyuruh anda sekalian untuk menyerah, tetapi justru mengajak anda sekalian bersemangat mengejar rezeki yang sudah ditakdirkan Allah ﷻ.Ketiga: Bersyukurlah bahwa kita punya Allah ﷻ Ar-Razzaq, sehingga pikiran kita bisa fokus kepada pekerjaan, dan tidak tersibukkan dengan takaran rezeki. Kita serahkan seluruhnya kepada Allah ﷻ.Nabi ﷺ bersabda,أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya.فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُOleh karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia.وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَCarilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra no. 9640, disahihkan oleh Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتاللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا – مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا – وَلَا يَرْحَمُنَاربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Teks Khotbah Jumat: Obat Penenang Tatkala Harga Menjulang

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaUjian kehidupan dan permasalahan kerakyatanNaiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangTujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaKhotbah keduaLangkah taktis menghadapi harga naikKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara jemaah rahimakumullah!Bersyukurlah atas nikmat hirupan nafas dan tegukan air, sehingga kita dapat menegakkan tulang punggung kita untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Patutlah kita mensyukuri nikmat itu dengan meniti jalan ketakwaan sehingga kita mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Jalan itu tiadalah dapat kita tempuh kecuali karena Allah ﷻ telah mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasulun Amin. Maka berselawatlah kepadanya, niscaya Allah ﷻ akan balaskan kepada kita sepuluh kali lipat.Ujian kehidupan dan permasalahan kerakyatanRealita hari ini yang tak terelakkan adalah keadaan ekonomi yang kian sulit. Harga bahan pokok meningkat, menggerus pemasukan kaum muslimin. Para jemaah, ketahuilah! Tentu di antara sebab dari kesulitan ini adalah sebagian dosa kita. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an surah As-Syura ayat 30,وَمَاۤ اَصَابَكُمۡ مِّنۡ مُّصِيۡبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِيۡكُمۡ وَيَعۡفُوۡا عَنۡ كَثِيۡرٍؕ“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)Artinya, kesulitan ini hanyalah secuil dampak dari kezaliman diri kita. Masih banyak kezaliman yang Allah ﷻ maafkan dan tak wujudkan dalam bentuk musibah. Andai pun ini tak benar, tentulah keadaan ini merupakan jalan untuk kita naik level keimanan.Naiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang adalah takdir Allah ﷻ; meskipun bisa saja ada sebab-sebab perbuatan masyarakat maupun pemerintah, tetapi hal ini sangatlah kompleks sehingga tidak bisa kita sepenuhnya menyalahkan siapapun. Bahkan hal semacam ini pun pernah terjadi di masa Nabi ﷺ masih memimpin kaum muslimin secara langsung.Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Harga (barang-barang) di zaman Rasulullah ﷺ pernah naik. Orang-orang berkata, “Ya Rasulullah, harga telah naik. Oleh karena itu, tetapkanlah harga bagi kami.”Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّزَّاقُ وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ“Sesungguhnya Allah, Dia-lah al-Musa’ir (Yang menetapkan harga), al-Qaabidh (Yang menyempitkan rezeki), al-Baasith (Yang melapangkan rezeki), ar-Razzaaq (Yang Maha memberi rezeki) dan sesungguhnya aku harap bertemu Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntut aku lantaran menzalimi dalam darah dan harta.” (HR. Ahmad no. 12591, Abu Daud no. 3451, Tirmidzi no. 1314, dan Ibnu Majah no. 2200; dan disahihkan oleh Al-Albani)Nabi ﷺ memberikan kabar bahwa Allah ﷻ ialah yang berhak menentukan harga. Allah ﷻ jugalah Al-Qabidh dan Al-Basith, Yang Maha menyempitkan dan melapangkan rezeki. Namun, beliau ﷺ tidak hanya menyebutkan kabar bahwa Allah ﷻ yang seakan-akan seperti lepas tangan, tetapi beliau juga memberi kabar bahwa Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq, Maha pemberi rezeki, sehingga jangan khawatir dengan keadaan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwasanya pemimpin terbaik sekalipun tak mampu dan tak berhak menetapkan harga komoditas. Sehingga Nabi ﷺ berharap agar tidak ada yang menuntut kezaliman ini kepadanya.Kenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangBagian penting yang patut kita yakini bahwa rezeki kita telah ditentukan oleh Allah. Jatah rezeki yang Allah tetapkan tidak akan bertambah maupun berkurang. Meskipun masyarakat Indonesia diguncang dengan kenaikan harga barang, itu sama sekali tidak akan menggeser jatah rezeki kita.Allah ﷻ berfirman,وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ“Andaikan Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi.”Allah ﷻ Maha mengetahui bahwa jika hamba-Nya diberi rezeki lebih, niscaya mereka akan melampaui batas.وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ“Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 27)Allah ﷻ menetapkan rezeki dengan keadaan ialah Al-Khabir, Yang Maha mengetahui perkara detail, lagi Al-Bashir, melihat kenyataan yang ada. Tentulah Allah Al-Hakim, Yang Maha bijaksana, tidak akan menzalimi hamba-Nya dengan memberikan rezeki kurang dari hak-Nya. Padahal, Allah ﷻ mampu melakukannya.Tujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaSejatinya tidak ada kewajiban untuk Allah ﷻ memberikan rezeki melimpah kepada kita semua. Karena Allah ﷻ adalah Penguasa yang tidak dituntut akan perbuatan-Nya. Namun, Allah ﷻ tetap memberikan kenikmatan dunia kepada hamba-Nya, padahal yang tertuntut adalah sang hamba. Hamba -yakni kita semua- tertuntut suatu perkara, yakni beribadah kepada Allah ﷻ, dan itulah satu-satunya tujuan. Dalam ayat yang masyhur, Allah ﷻ berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ – إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ“Tidaklah kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Tidaklah aku menghendaki rezeki dan pemberian makan dari mereka. Sesungguhnya Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) dan Pemilik Kekuatan Mutlak serta Kekuatan Yang Maha Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)Allah ﷻ tak butuh kepada ibadah kita, tidak pula menuntut untuk kita memberi rezeki dan makanan kepada Allah ﷻ. Malah justru Allah ﷻ yang menjamin rezeki kita, dan tidak ada yang mampu mencegah pemberian Allah ﷻ. Maka, pertanyakan kepada diri kita, “Sudahkah kita maksimal menghamba kepada Allah ﷻ?”بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهLangkah taktis menghadapi harga naikMaka solusinya para hadirin adalah:Pertama: Kuatkan tekad kita beribadah dan jadikan ini fokus utama kita saat ini.Kedua: Bekerjalah sebaik mungkin, karena ikhtiar kita bekerja adalah bagian dari ibadah yang dimaksud. Dan khotbah ini tidak menyuruh anda sekalian untuk menyerah, tetapi justru mengajak anda sekalian bersemangat mengejar rezeki yang sudah ditakdirkan Allah ﷻ.Ketiga: Bersyukurlah bahwa kita punya Allah ﷻ Ar-Razzaq, sehingga pikiran kita bisa fokus kepada pekerjaan, dan tidak tersibukkan dengan takaran rezeki. Kita serahkan seluruhnya kepada Allah ﷻ.Nabi ﷺ bersabda,أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya.فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُOleh karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia.وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَCarilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra no. 9640, disahihkan oleh Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتاللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا – مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا – وَلَا يَرْحَمُنَاربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaUjian kehidupan dan permasalahan kerakyatanNaiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangTujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaKhotbah keduaLangkah taktis menghadapi harga naikKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara jemaah rahimakumullah!Bersyukurlah atas nikmat hirupan nafas dan tegukan air, sehingga kita dapat menegakkan tulang punggung kita untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Patutlah kita mensyukuri nikmat itu dengan meniti jalan ketakwaan sehingga kita mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Jalan itu tiadalah dapat kita tempuh kecuali karena Allah ﷻ telah mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasulun Amin. Maka berselawatlah kepadanya, niscaya Allah ﷻ akan balaskan kepada kita sepuluh kali lipat.Ujian kehidupan dan permasalahan kerakyatanRealita hari ini yang tak terelakkan adalah keadaan ekonomi yang kian sulit. Harga bahan pokok meningkat, menggerus pemasukan kaum muslimin. Para jemaah, ketahuilah! Tentu di antara sebab dari kesulitan ini adalah sebagian dosa kita. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an surah As-Syura ayat 30,وَمَاۤ اَصَابَكُمۡ مِّنۡ مُّصِيۡبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِيۡكُمۡ وَيَعۡفُوۡا عَنۡ كَثِيۡرٍؕ“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)Artinya, kesulitan ini hanyalah secuil dampak dari kezaliman diri kita. Masih banyak kezaliman yang Allah ﷻ maafkan dan tak wujudkan dalam bentuk musibah. Andai pun ini tak benar, tentulah keadaan ini merupakan jalan untuk kita naik level keimanan.Naiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang adalah takdir Allah ﷻ; meskipun bisa saja ada sebab-sebab perbuatan masyarakat maupun pemerintah, tetapi hal ini sangatlah kompleks sehingga tidak bisa kita sepenuhnya menyalahkan siapapun. Bahkan hal semacam ini pun pernah terjadi di masa Nabi ﷺ masih memimpin kaum muslimin secara langsung.Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Harga (barang-barang) di zaman Rasulullah ﷺ pernah naik. Orang-orang berkata, “Ya Rasulullah, harga telah naik. Oleh karena itu, tetapkanlah harga bagi kami.”Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّزَّاقُ وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ“Sesungguhnya Allah, Dia-lah al-Musa’ir (Yang menetapkan harga), al-Qaabidh (Yang menyempitkan rezeki), al-Baasith (Yang melapangkan rezeki), ar-Razzaaq (Yang Maha memberi rezeki) dan sesungguhnya aku harap bertemu Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntut aku lantaran menzalimi dalam darah dan harta.” (HR. Ahmad no. 12591, Abu Daud no. 3451, Tirmidzi no. 1314, dan Ibnu Majah no. 2200; dan disahihkan oleh Al-Albani)Nabi ﷺ memberikan kabar bahwa Allah ﷻ ialah yang berhak menentukan harga. Allah ﷻ jugalah Al-Qabidh dan Al-Basith, Yang Maha menyempitkan dan melapangkan rezeki. Namun, beliau ﷺ tidak hanya menyebutkan kabar bahwa Allah ﷻ yang seakan-akan seperti lepas tangan, tetapi beliau juga memberi kabar bahwa Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq, Maha pemberi rezeki, sehingga jangan khawatir dengan keadaan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwasanya pemimpin terbaik sekalipun tak mampu dan tak berhak menetapkan harga komoditas. Sehingga Nabi ﷺ berharap agar tidak ada yang menuntut kezaliman ini kepadanya.Kenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangBagian penting yang patut kita yakini bahwa rezeki kita telah ditentukan oleh Allah. Jatah rezeki yang Allah tetapkan tidak akan bertambah maupun berkurang. Meskipun masyarakat Indonesia diguncang dengan kenaikan harga barang, itu sama sekali tidak akan menggeser jatah rezeki kita.Allah ﷻ berfirman,وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ“Andaikan Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi.”Allah ﷻ Maha mengetahui bahwa jika hamba-Nya diberi rezeki lebih, niscaya mereka akan melampaui batas.وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ“Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 27)Allah ﷻ menetapkan rezeki dengan keadaan ialah Al-Khabir, Yang Maha mengetahui perkara detail, lagi Al-Bashir, melihat kenyataan yang ada. Tentulah Allah Al-Hakim, Yang Maha bijaksana, tidak akan menzalimi hamba-Nya dengan memberikan rezeki kurang dari hak-Nya. Padahal, Allah ﷻ mampu melakukannya.Tujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaSejatinya tidak ada kewajiban untuk Allah ﷻ memberikan rezeki melimpah kepada kita semua. Karena Allah ﷻ adalah Penguasa yang tidak dituntut akan perbuatan-Nya. Namun, Allah ﷻ tetap memberikan kenikmatan dunia kepada hamba-Nya, padahal yang tertuntut adalah sang hamba. Hamba -yakni kita semua- tertuntut suatu perkara, yakni beribadah kepada Allah ﷻ, dan itulah satu-satunya tujuan. Dalam ayat yang masyhur, Allah ﷻ berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ – إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ“Tidaklah kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Tidaklah aku menghendaki rezeki dan pemberian makan dari mereka. Sesungguhnya Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) dan Pemilik Kekuatan Mutlak serta Kekuatan Yang Maha Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)Allah ﷻ tak butuh kepada ibadah kita, tidak pula menuntut untuk kita memberi rezeki dan makanan kepada Allah ﷻ. Malah justru Allah ﷻ yang menjamin rezeki kita, dan tidak ada yang mampu mencegah pemberian Allah ﷻ. Maka, pertanyakan kepada diri kita, “Sudahkah kita maksimal menghamba kepada Allah ﷻ?”بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهLangkah taktis menghadapi harga naikMaka solusinya para hadirin adalah:Pertama: Kuatkan tekad kita beribadah dan jadikan ini fokus utama kita saat ini.Kedua: Bekerjalah sebaik mungkin, karena ikhtiar kita bekerja adalah bagian dari ibadah yang dimaksud. Dan khotbah ini tidak menyuruh anda sekalian untuk menyerah, tetapi justru mengajak anda sekalian bersemangat mengejar rezeki yang sudah ditakdirkan Allah ﷻ.Ketiga: Bersyukurlah bahwa kita punya Allah ﷻ Ar-Razzaq, sehingga pikiran kita bisa fokus kepada pekerjaan, dan tidak tersibukkan dengan takaran rezeki. Kita serahkan seluruhnya kepada Allah ﷻ.Nabi ﷺ bersabda,أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya.فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُOleh karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia.وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَCarilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra no. 9640, disahihkan oleh Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتاللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا – مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا – وَلَا يَرْحَمُنَاربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaUjian kehidupan dan permasalahan kerakyatanNaiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangTujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaKhotbah keduaLangkah taktis menghadapi harga naikKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara jemaah rahimakumullah!Bersyukurlah atas nikmat hirupan nafas dan tegukan air, sehingga kita dapat menegakkan tulang punggung kita untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Patutlah kita mensyukuri nikmat itu dengan meniti jalan ketakwaan sehingga kita mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Jalan itu tiadalah dapat kita tempuh kecuali karena Allah ﷻ telah mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasulun Amin. Maka berselawatlah kepadanya, niscaya Allah ﷻ akan balaskan kepada kita sepuluh kali lipat.Ujian kehidupan dan permasalahan kerakyatanRealita hari ini yang tak terelakkan adalah keadaan ekonomi yang kian sulit. Harga bahan pokok meningkat, menggerus pemasukan kaum muslimin. Para jemaah, ketahuilah! Tentu di antara sebab dari kesulitan ini adalah sebagian dosa kita. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an surah As-Syura ayat 30,وَمَاۤ اَصَابَكُمۡ مِّنۡ مُّصِيۡبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِيۡكُمۡ وَيَعۡفُوۡا عَنۡ كَثِيۡرٍؕ“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)Artinya, kesulitan ini hanyalah secuil dampak dari kezaliman diri kita. Masih banyak kezaliman yang Allah ﷻ maafkan dan tak wujudkan dalam bentuk musibah. Andai pun ini tak benar, tentulah keadaan ini merupakan jalan untuk kita naik level keimanan.Naiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang adalah takdir Allah ﷻ; meskipun bisa saja ada sebab-sebab perbuatan masyarakat maupun pemerintah, tetapi hal ini sangatlah kompleks sehingga tidak bisa kita sepenuhnya menyalahkan siapapun. Bahkan hal semacam ini pun pernah terjadi di masa Nabi ﷺ masih memimpin kaum muslimin secara langsung.Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Harga (barang-barang) di zaman Rasulullah ﷺ pernah naik. Orang-orang berkata, “Ya Rasulullah, harga telah naik. Oleh karena itu, tetapkanlah harga bagi kami.”Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّزَّاقُ وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ“Sesungguhnya Allah, Dia-lah al-Musa’ir (Yang menetapkan harga), al-Qaabidh (Yang menyempitkan rezeki), al-Baasith (Yang melapangkan rezeki), ar-Razzaaq (Yang Maha memberi rezeki) dan sesungguhnya aku harap bertemu Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntut aku lantaran menzalimi dalam darah dan harta.” (HR. Ahmad no. 12591, Abu Daud no. 3451, Tirmidzi no. 1314, dan Ibnu Majah no. 2200; dan disahihkan oleh Al-Albani)Nabi ﷺ memberikan kabar bahwa Allah ﷻ ialah yang berhak menentukan harga. Allah ﷻ jugalah Al-Qabidh dan Al-Basith, Yang Maha menyempitkan dan melapangkan rezeki. Namun, beliau ﷺ tidak hanya menyebutkan kabar bahwa Allah ﷻ yang seakan-akan seperti lepas tangan, tetapi beliau juga memberi kabar bahwa Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq, Maha pemberi rezeki, sehingga jangan khawatir dengan keadaan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwasanya pemimpin terbaik sekalipun tak mampu dan tak berhak menetapkan harga komoditas. Sehingga Nabi ﷺ berharap agar tidak ada yang menuntut kezaliman ini kepadanya.Kenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangBagian penting yang patut kita yakini bahwa rezeki kita telah ditentukan oleh Allah. Jatah rezeki yang Allah tetapkan tidak akan bertambah maupun berkurang. Meskipun masyarakat Indonesia diguncang dengan kenaikan harga barang, itu sama sekali tidak akan menggeser jatah rezeki kita.Allah ﷻ berfirman,وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ“Andaikan Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi.”Allah ﷻ Maha mengetahui bahwa jika hamba-Nya diberi rezeki lebih, niscaya mereka akan melampaui batas.وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ“Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 27)Allah ﷻ menetapkan rezeki dengan keadaan ialah Al-Khabir, Yang Maha mengetahui perkara detail, lagi Al-Bashir, melihat kenyataan yang ada. Tentulah Allah Al-Hakim, Yang Maha bijaksana, tidak akan menzalimi hamba-Nya dengan memberikan rezeki kurang dari hak-Nya. Padahal, Allah ﷻ mampu melakukannya.Tujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaSejatinya tidak ada kewajiban untuk Allah ﷻ memberikan rezeki melimpah kepada kita semua. Karena Allah ﷻ adalah Penguasa yang tidak dituntut akan perbuatan-Nya. Namun, Allah ﷻ tetap memberikan kenikmatan dunia kepada hamba-Nya, padahal yang tertuntut adalah sang hamba. Hamba -yakni kita semua- tertuntut suatu perkara, yakni beribadah kepada Allah ﷻ, dan itulah satu-satunya tujuan. Dalam ayat yang masyhur, Allah ﷻ berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ – إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ“Tidaklah kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Tidaklah aku menghendaki rezeki dan pemberian makan dari mereka. Sesungguhnya Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) dan Pemilik Kekuatan Mutlak serta Kekuatan Yang Maha Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)Allah ﷻ tak butuh kepada ibadah kita, tidak pula menuntut untuk kita memberi rezeki dan makanan kepada Allah ﷻ. Malah justru Allah ﷻ yang menjamin rezeki kita, dan tidak ada yang mampu mencegah pemberian Allah ﷻ. Maka, pertanyakan kepada diri kita, “Sudahkah kita maksimal menghamba kepada Allah ﷻ?”بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهLangkah taktis menghadapi harga naikMaka solusinya para hadirin adalah:Pertama: Kuatkan tekad kita beribadah dan jadikan ini fokus utama kita saat ini.Kedua: Bekerjalah sebaik mungkin, karena ikhtiar kita bekerja adalah bagian dari ibadah yang dimaksud. Dan khotbah ini tidak menyuruh anda sekalian untuk menyerah, tetapi justru mengajak anda sekalian bersemangat mengejar rezeki yang sudah ditakdirkan Allah ﷻ.Ketiga: Bersyukurlah bahwa kita punya Allah ﷻ Ar-Razzaq, sehingga pikiran kita bisa fokus kepada pekerjaan, dan tidak tersibukkan dengan takaran rezeki. Kita serahkan seluruhnya kepada Allah ﷻ.Nabi ﷺ bersabda,أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya.فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُOleh karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia.وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَCarilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra no. 9640, disahihkan oleh Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتاللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا – مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا – وَلَا يَرْحَمُنَاربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Kepedulian Islam Terhadap Hak-Hak Orang Sakit dan Berkebutuhan Khusus

Oleh: Syaikh Nida Abu Ahmad Agama Islam punya prinsip istimewa dalam memberi perhatian bagi orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus. Prinsip yang dimulai dengan memberi kemudahan bagi mereka dalam beberapa ketentuan syariat. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ “Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak ada halangan bagi orang pincang, tidak ada halangan bagi orang sakit.” (QS. An-Nur: 61). Dan prinsip ini sampai pada pemberian harapan ke dalam jiwa mereka, juga menjaga hak-hak jiwa dan raga mereka. Inilah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, apabila mendengar ada orang yang sakit, beliau segera menjenguknya di rumahnya, meski dengan banyaknya tugas dan kesibukan beliau. Penjengukan beliau ini bukan karena memaksakan diri atau rasa terpaksa, tapi karena kesadaran akan kewajiban beliau terhadap orang sakit tersebut. Bagaimana tidak, sedangkan beliaulah yang menjadikan penjengukan orang sakit adalah salah satu hak orang sakit itu?! Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Hak seorang muslim yang harus ditunaikan muslim lainnya ada lima” Lalu beliau menyebutkan di antaranya: “Menjenguk orang yang sakit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu). Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam —yang merupakan pendidik dan teladan— menghibur orang yang sedang sakit atas kesulitan dan sakitnya. Beliau menampakkan —tanpa sikap yang dibuat-buat— kepedulian, perhatian, dan cinta beliau kepadanya. Hal ini sebagaimana yang dikisahkan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Saad bin Ubadah pernah mengadukan keluhan sakit kepadanya, lalu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhum. Ketika beliau masuk ke rumahnya, ternyata beliau mendapatinya dikelilingi orang-orang dari keluarganya. Beliau lalu bertanya: ‘Apakah ia telah wafat?’ Mereka menjawab: ‘Belum, wahai Rasulullah!’ Kemudian beliau menangis. Ketika orang-orang melihat Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menangis, orang-orang pun ikut menangis. Beliau lalu bersabda: ‘Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya Allah tidak menyiksa karena tetesan air mata atau kesedihan hati, tapi Dia menyiksa karena ini —beliau menunjuk ke arah lisannya— atau merahmati karenanya pula.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga senantiasa mendoakan orang yang sedang sakit, memberinya kabar gembira berupa ganjaran pahala atas sakit yang menimpanya, menghiburnya atas musibahnya, dan membuatnya ridha dengan keadaannya. Ummu Al-Ala’ menceritakan: “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjengukku ketika sakit, lalu beliau bersabda: ‘Bergembiralah wahai Ummu Al-Ala’, karena penyakit seorang muslim akan menjadi sebab Allah menghapus dosa-dosanya, sebagaimana api menghilangkan kotoran emas dan perak.’” (HR. Abu Dawud. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 7851). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memberi kemudahan bagi orang yang sakit dan tidak memberatkannya. Hal ini seperti yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhuma: “Kami pernah pergi bersafar, lalu salah satu dari kami terkena batu hingga melukai kepalanya. Kemudian ia mengalami junub, lalu bertanya kepada para sahabatnya: ‘Apakah menurut kalian aku mendapat keringanan untuk bertayamum (untuk mandi wajib)?’ Mereka menjawab: ‘Kami tidak menganggap engkau mendapat keringanan karena engkau masih mampu memakai air.’ Akhirnya ia mandi dan akhirnya meninggal dunia. Setelah kami sampai kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, beliau diberitahu kejadian tersebut. Beliau lalu bersabda: ‘Mereka telah membunuhnya! Semoga Allah membalas mereka. Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengetahui, karena sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya. Sebenarnya ia cukup untuk bertayamum lalu mengikat atau membalut —perawi ragu kata pastinya— lukanya dengan sehelai kain, kemudian mengusap atasnya, dan mencuci (dengan air) anggota badannya yang lain.’” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 4362). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga memenuhi kebutuhan orang yang sakit, dan berjalan bersamanya hingga dapat menyelesaikan kebutuhannya. Suatu ketika datang kepada beliau seorang wanita yang punya gangguan mental, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku punya suatu keperluan dengan engkau.” Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Wahai ibu fulan, engkau mau kita bicara di gang yang mana, agar aku bisa memenuhi keperluanmu?” Beliau lalu berbicara dengan wanita itu di salah satu gang hingga ia mengungkapkan keperluannya. (HR. Muslim dari riwayat Anas Radhiyallahu ‘anhu). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga menetapkan hak bagi orang sakit dan berkebutuhan khusus untuk berobat, karena kesehatan badan lahir dan batin adalah salah satu tujuan agama Islam. Oleh sebab itu, Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda kepada orang-orang Arab Badui ketika mereka bertanya tentang berobat: تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً إِلَّا الْهَرَمَ “Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya, kecuali penuaan.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Dishahihkan Al-Albani dalam Ghayah al-Maram no. 292). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam juga tidak melarang wanita muslim untuk mengobati laki-laki muslim. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menetapkan Rafidah —seorang wanita dari kabilah Aslam— untuk mengobati Saad bin Muadz Radhiyallahu ‘anhu saat terkena anak panah pada perang Khandaq. Rafidah Radhiyallahu ‘anha mengobati orang-orang yang terluka dan mendedikasikan dirinya secara sukarela untuk melayani siapa saja kaum Muslimin yang terlantar. (Diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan Ibnu Hisyam dalam As-Sirah an-Nabawiyah jilid 2 hlm. 239. Juga dalam Ash-Shahihah no. 1158). Dalam implementasinya, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam memperlakukan Amru bin Al-Jamuh Radhiyallahu ‘anhu dengan perlakuan yang penuh penghormatan, meskipun Amru bin Al-Jamuh adalah seorang penyandang disabilitas, yaitu kakinya mengalami pincang yang parah. Amru bin Al-Jamuh menceritakan bahwa empat anaknya yang pernah mengikuti banyak peperangan bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ingin melarangnya ikut berperang pada perang Uhud. Amru bin Al-Jamuh lalu mendatangi Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata: “Anak-anakku ingin mencegahku dari jalan ini dan pergi bersama engkau. Demi Allah, sungguh aku ingin menapaki surga dengan kaki pincangku ini!” Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda kepada Amru: “Adapun engkau telah diberi uzur oleh Allah, sehingga engkau tidak lagi wajib berjihad.” Lalu bersabda kepada anak-anaknya: “Kalian tidak berhak melarangnya, semoga Allah mengaruniakan kesyahidan.” Akhirnya Amru bin Al-Jamuh pergi bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada perang Uhud, sehingga ia terbunuh. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda tentangnya: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Sungguh di antara kalian ada orang yang jika ia bersumpah atas nama Allah, maka Dia akan memenuhi sumpahnya, di antara mereka adalah Amru bin Al-Jamuh, sungguh aku telah melihatnya menapakkan kaki di surga dengan kaki pincangnya.” (HR. Ibnu Hibban dari riwayat Jabir Radhiyallahu ‘anhu). Demikianlah keadaan orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus dalam Islam dan di bawah naungan peradaban Islam. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/173888/الإسلام-يراعي-حقوق-المرضى-وذوي-الاحتياجات-الخاصة/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 12 times, 2 visit(s) today Post Views: 13 QRIS donasi Yufid

Kepedulian Islam Terhadap Hak-Hak Orang Sakit dan Berkebutuhan Khusus

Oleh: Syaikh Nida Abu Ahmad Agama Islam punya prinsip istimewa dalam memberi perhatian bagi orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus. Prinsip yang dimulai dengan memberi kemudahan bagi mereka dalam beberapa ketentuan syariat. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ “Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak ada halangan bagi orang pincang, tidak ada halangan bagi orang sakit.” (QS. An-Nur: 61). Dan prinsip ini sampai pada pemberian harapan ke dalam jiwa mereka, juga menjaga hak-hak jiwa dan raga mereka. Inilah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, apabila mendengar ada orang yang sakit, beliau segera menjenguknya di rumahnya, meski dengan banyaknya tugas dan kesibukan beliau. Penjengukan beliau ini bukan karena memaksakan diri atau rasa terpaksa, tapi karena kesadaran akan kewajiban beliau terhadap orang sakit tersebut. Bagaimana tidak, sedangkan beliaulah yang menjadikan penjengukan orang sakit adalah salah satu hak orang sakit itu?! Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Hak seorang muslim yang harus ditunaikan muslim lainnya ada lima” Lalu beliau menyebutkan di antaranya: “Menjenguk orang yang sakit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu). Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam —yang merupakan pendidik dan teladan— menghibur orang yang sedang sakit atas kesulitan dan sakitnya. Beliau menampakkan —tanpa sikap yang dibuat-buat— kepedulian, perhatian, dan cinta beliau kepadanya. Hal ini sebagaimana yang dikisahkan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Saad bin Ubadah pernah mengadukan keluhan sakit kepadanya, lalu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhum. Ketika beliau masuk ke rumahnya, ternyata beliau mendapatinya dikelilingi orang-orang dari keluarganya. Beliau lalu bertanya: ‘Apakah ia telah wafat?’ Mereka menjawab: ‘Belum, wahai Rasulullah!’ Kemudian beliau menangis. Ketika orang-orang melihat Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menangis, orang-orang pun ikut menangis. Beliau lalu bersabda: ‘Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya Allah tidak menyiksa karena tetesan air mata atau kesedihan hati, tapi Dia menyiksa karena ini —beliau menunjuk ke arah lisannya— atau merahmati karenanya pula.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga senantiasa mendoakan orang yang sedang sakit, memberinya kabar gembira berupa ganjaran pahala atas sakit yang menimpanya, menghiburnya atas musibahnya, dan membuatnya ridha dengan keadaannya. Ummu Al-Ala’ menceritakan: “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjengukku ketika sakit, lalu beliau bersabda: ‘Bergembiralah wahai Ummu Al-Ala’, karena penyakit seorang muslim akan menjadi sebab Allah menghapus dosa-dosanya, sebagaimana api menghilangkan kotoran emas dan perak.’” (HR. Abu Dawud. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 7851). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memberi kemudahan bagi orang yang sakit dan tidak memberatkannya. Hal ini seperti yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhuma: “Kami pernah pergi bersafar, lalu salah satu dari kami terkena batu hingga melukai kepalanya. Kemudian ia mengalami junub, lalu bertanya kepada para sahabatnya: ‘Apakah menurut kalian aku mendapat keringanan untuk bertayamum (untuk mandi wajib)?’ Mereka menjawab: ‘Kami tidak menganggap engkau mendapat keringanan karena engkau masih mampu memakai air.’ Akhirnya ia mandi dan akhirnya meninggal dunia. Setelah kami sampai kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, beliau diberitahu kejadian tersebut. Beliau lalu bersabda: ‘Mereka telah membunuhnya! Semoga Allah membalas mereka. Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengetahui, karena sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya. Sebenarnya ia cukup untuk bertayamum lalu mengikat atau membalut —perawi ragu kata pastinya— lukanya dengan sehelai kain, kemudian mengusap atasnya, dan mencuci (dengan air) anggota badannya yang lain.’” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 4362). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga memenuhi kebutuhan orang yang sakit, dan berjalan bersamanya hingga dapat menyelesaikan kebutuhannya. Suatu ketika datang kepada beliau seorang wanita yang punya gangguan mental, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku punya suatu keperluan dengan engkau.” Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Wahai ibu fulan, engkau mau kita bicara di gang yang mana, agar aku bisa memenuhi keperluanmu?” Beliau lalu berbicara dengan wanita itu di salah satu gang hingga ia mengungkapkan keperluannya. (HR. Muslim dari riwayat Anas Radhiyallahu ‘anhu). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga menetapkan hak bagi orang sakit dan berkebutuhan khusus untuk berobat, karena kesehatan badan lahir dan batin adalah salah satu tujuan agama Islam. Oleh sebab itu, Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda kepada orang-orang Arab Badui ketika mereka bertanya tentang berobat: تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً إِلَّا الْهَرَمَ “Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya, kecuali penuaan.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Dishahihkan Al-Albani dalam Ghayah al-Maram no. 292). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam juga tidak melarang wanita muslim untuk mengobati laki-laki muslim. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menetapkan Rafidah —seorang wanita dari kabilah Aslam— untuk mengobati Saad bin Muadz Radhiyallahu ‘anhu saat terkena anak panah pada perang Khandaq. Rafidah Radhiyallahu ‘anha mengobati orang-orang yang terluka dan mendedikasikan dirinya secara sukarela untuk melayani siapa saja kaum Muslimin yang terlantar. (Diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan Ibnu Hisyam dalam As-Sirah an-Nabawiyah jilid 2 hlm. 239. Juga dalam Ash-Shahihah no. 1158). Dalam implementasinya, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam memperlakukan Amru bin Al-Jamuh Radhiyallahu ‘anhu dengan perlakuan yang penuh penghormatan, meskipun Amru bin Al-Jamuh adalah seorang penyandang disabilitas, yaitu kakinya mengalami pincang yang parah. Amru bin Al-Jamuh menceritakan bahwa empat anaknya yang pernah mengikuti banyak peperangan bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ingin melarangnya ikut berperang pada perang Uhud. Amru bin Al-Jamuh lalu mendatangi Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata: “Anak-anakku ingin mencegahku dari jalan ini dan pergi bersama engkau. Demi Allah, sungguh aku ingin menapaki surga dengan kaki pincangku ini!” Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda kepada Amru: “Adapun engkau telah diberi uzur oleh Allah, sehingga engkau tidak lagi wajib berjihad.” Lalu bersabda kepada anak-anaknya: “Kalian tidak berhak melarangnya, semoga Allah mengaruniakan kesyahidan.” Akhirnya Amru bin Al-Jamuh pergi bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada perang Uhud, sehingga ia terbunuh. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda tentangnya: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Sungguh di antara kalian ada orang yang jika ia bersumpah atas nama Allah, maka Dia akan memenuhi sumpahnya, di antara mereka adalah Amru bin Al-Jamuh, sungguh aku telah melihatnya menapakkan kaki di surga dengan kaki pincangnya.” (HR. Ibnu Hibban dari riwayat Jabir Radhiyallahu ‘anhu). Demikianlah keadaan orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus dalam Islam dan di bawah naungan peradaban Islam. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/173888/الإسلام-يراعي-حقوق-المرضى-وذوي-الاحتياجات-الخاصة/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 12 times, 2 visit(s) today Post Views: 13 QRIS donasi Yufid
Oleh: Syaikh Nida Abu Ahmad Agama Islam punya prinsip istimewa dalam memberi perhatian bagi orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus. Prinsip yang dimulai dengan memberi kemudahan bagi mereka dalam beberapa ketentuan syariat. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ “Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak ada halangan bagi orang pincang, tidak ada halangan bagi orang sakit.” (QS. An-Nur: 61). Dan prinsip ini sampai pada pemberian harapan ke dalam jiwa mereka, juga menjaga hak-hak jiwa dan raga mereka. Inilah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, apabila mendengar ada orang yang sakit, beliau segera menjenguknya di rumahnya, meski dengan banyaknya tugas dan kesibukan beliau. Penjengukan beliau ini bukan karena memaksakan diri atau rasa terpaksa, tapi karena kesadaran akan kewajiban beliau terhadap orang sakit tersebut. Bagaimana tidak, sedangkan beliaulah yang menjadikan penjengukan orang sakit adalah salah satu hak orang sakit itu?! Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Hak seorang muslim yang harus ditunaikan muslim lainnya ada lima” Lalu beliau menyebutkan di antaranya: “Menjenguk orang yang sakit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu). Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam —yang merupakan pendidik dan teladan— menghibur orang yang sedang sakit atas kesulitan dan sakitnya. Beliau menampakkan —tanpa sikap yang dibuat-buat— kepedulian, perhatian, dan cinta beliau kepadanya. Hal ini sebagaimana yang dikisahkan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Saad bin Ubadah pernah mengadukan keluhan sakit kepadanya, lalu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhum. Ketika beliau masuk ke rumahnya, ternyata beliau mendapatinya dikelilingi orang-orang dari keluarganya. Beliau lalu bertanya: ‘Apakah ia telah wafat?’ Mereka menjawab: ‘Belum, wahai Rasulullah!’ Kemudian beliau menangis. Ketika orang-orang melihat Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menangis, orang-orang pun ikut menangis. Beliau lalu bersabda: ‘Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya Allah tidak menyiksa karena tetesan air mata atau kesedihan hati, tapi Dia menyiksa karena ini —beliau menunjuk ke arah lisannya— atau merahmati karenanya pula.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga senantiasa mendoakan orang yang sedang sakit, memberinya kabar gembira berupa ganjaran pahala atas sakit yang menimpanya, menghiburnya atas musibahnya, dan membuatnya ridha dengan keadaannya. Ummu Al-Ala’ menceritakan: “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjengukku ketika sakit, lalu beliau bersabda: ‘Bergembiralah wahai Ummu Al-Ala’, karena penyakit seorang muslim akan menjadi sebab Allah menghapus dosa-dosanya, sebagaimana api menghilangkan kotoran emas dan perak.’” (HR. Abu Dawud. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 7851). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memberi kemudahan bagi orang yang sakit dan tidak memberatkannya. Hal ini seperti yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhuma: “Kami pernah pergi bersafar, lalu salah satu dari kami terkena batu hingga melukai kepalanya. Kemudian ia mengalami junub, lalu bertanya kepada para sahabatnya: ‘Apakah menurut kalian aku mendapat keringanan untuk bertayamum (untuk mandi wajib)?’ Mereka menjawab: ‘Kami tidak menganggap engkau mendapat keringanan karena engkau masih mampu memakai air.’ Akhirnya ia mandi dan akhirnya meninggal dunia. Setelah kami sampai kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, beliau diberitahu kejadian tersebut. Beliau lalu bersabda: ‘Mereka telah membunuhnya! Semoga Allah membalas mereka. Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengetahui, karena sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya. Sebenarnya ia cukup untuk bertayamum lalu mengikat atau membalut —perawi ragu kata pastinya— lukanya dengan sehelai kain, kemudian mengusap atasnya, dan mencuci (dengan air) anggota badannya yang lain.’” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 4362). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga memenuhi kebutuhan orang yang sakit, dan berjalan bersamanya hingga dapat menyelesaikan kebutuhannya. Suatu ketika datang kepada beliau seorang wanita yang punya gangguan mental, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku punya suatu keperluan dengan engkau.” Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Wahai ibu fulan, engkau mau kita bicara di gang yang mana, agar aku bisa memenuhi keperluanmu?” Beliau lalu berbicara dengan wanita itu di salah satu gang hingga ia mengungkapkan keperluannya. (HR. Muslim dari riwayat Anas Radhiyallahu ‘anhu). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga menetapkan hak bagi orang sakit dan berkebutuhan khusus untuk berobat, karena kesehatan badan lahir dan batin adalah salah satu tujuan agama Islam. Oleh sebab itu, Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda kepada orang-orang Arab Badui ketika mereka bertanya tentang berobat: تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً إِلَّا الْهَرَمَ “Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya, kecuali penuaan.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Dishahihkan Al-Albani dalam Ghayah al-Maram no. 292). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam juga tidak melarang wanita muslim untuk mengobati laki-laki muslim. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menetapkan Rafidah —seorang wanita dari kabilah Aslam— untuk mengobati Saad bin Muadz Radhiyallahu ‘anhu saat terkena anak panah pada perang Khandaq. Rafidah Radhiyallahu ‘anha mengobati orang-orang yang terluka dan mendedikasikan dirinya secara sukarela untuk melayani siapa saja kaum Muslimin yang terlantar. (Diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan Ibnu Hisyam dalam As-Sirah an-Nabawiyah jilid 2 hlm. 239. Juga dalam Ash-Shahihah no. 1158). Dalam implementasinya, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam memperlakukan Amru bin Al-Jamuh Radhiyallahu ‘anhu dengan perlakuan yang penuh penghormatan, meskipun Amru bin Al-Jamuh adalah seorang penyandang disabilitas, yaitu kakinya mengalami pincang yang parah. Amru bin Al-Jamuh menceritakan bahwa empat anaknya yang pernah mengikuti banyak peperangan bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ingin melarangnya ikut berperang pada perang Uhud. Amru bin Al-Jamuh lalu mendatangi Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata: “Anak-anakku ingin mencegahku dari jalan ini dan pergi bersama engkau. Demi Allah, sungguh aku ingin menapaki surga dengan kaki pincangku ini!” Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda kepada Amru: “Adapun engkau telah diberi uzur oleh Allah, sehingga engkau tidak lagi wajib berjihad.” Lalu bersabda kepada anak-anaknya: “Kalian tidak berhak melarangnya, semoga Allah mengaruniakan kesyahidan.” Akhirnya Amru bin Al-Jamuh pergi bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada perang Uhud, sehingga ia terbunuh. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda tentangnya: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Sungguh di antara kalian ada orang yang jika ia bersumpah atas nama Allah, maka Dia akan memenuhi sumpahnya, di antara mereka adalah Amru bin Al-Jamuh, sungguh aku telah melihatnya menapakkan kaki di surga dengan kaki pincangnya.” (HR. Ibnu Hibban dari riwayat Jabir Radhiyallahu ‘anhu). Demikianlah keadaan orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus dalam Islam dan di bawah naungan peradaban Islam. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/173888/الإسلام-يراعي-حقوق-المرضى-وذوي-الاحتياجات-الخاصة/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 12 times, 2 visit(s) today Post Views: 13 QRIS donasi Yufid


Oleh: Syaikh Nida Abu Ahmad Agama Islam punya prinsip istimewa dalam memberi perhatian bagi orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus. Prinsip yang dimulai dengan memberi kemudahan bagi mereka dalam beberapa ketentuan syariat. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ “Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak ada halangan bagi orang pincang, tidak ada halangan bagi orang sakit.” (QS. An-Nur: 61). Dan prinsip ini sampai pada pemberian harapan ke dalam jiwa mereka, juga menjaga hak-hak jiwa dan raga mereka. Inilah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, apabila mendengar ada orang yang sakit, beliau segera menjenguknya di rumahnya, meski dengan banyaknya tugas dan kesibukan beliau. Penjengukan beliau ini bukan karena memaksakan diri atau rasa terpaksa, tapi karena kesadaran akan kewajiban beliau terhadap orang sakit tersebut. Bagaimana tidak, sedangkan beliaulah yang menjadikan penjengukan orang sakit adalah salah satu hak orang sakit itu?! Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Hak seorang muslim yang harus ditunaikan muslim lainnya ada lima” Lalu beliau menyebutkan di antaranya: “Menjenguk orang yang sakit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu). Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam —yang merupakan pendidik dan teladan— menghibur orang yang sedang sakit atas kesulitan dan sakitnya. Beliau menampakkan —tanpa sikap yang dibuat-buat— kepedulian, perhatian, dan cinta beliau kepadanya. Hal ini sebagaimana yang dikisahkan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Saad bin Ubadah pernah mengadukan keluhan sakit kepadanya, lalu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhum. Ketika beliau masuk ke rumahnya, ternyata beliau mendapatinya dikelilingi orang-orang dari keluarganya. Beliau lalu bertanya: ‘Apakah ia telah wafat?’ Mereka menjawab: ‘Belum, wahai Rasulullah!’ Kemudian beliau menangis. Ketika orang-orang melihat Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menangis, orang-orang pun ikut menangis. Beliau lalu bersabda: ‘Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya Allah tidak menyiksa karena tetesan air mata atau kesedihan hati, tapi Dia menyiksa karena ini —beliau menunjuk ke arah lisannya— atau merahmati karenanya pula.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga senantiasa mendoakan orang yang sedang sakit, memberinya kabar gembira berupa ganjaran pahala atas sakit yang menimpanya, menghiburnya atas musibahnya, dan membuatnya ridha dengan keadaannya. Ummu Al-Ala’ menceritakan: “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjengukku ketika sakit, lalu beliau bersabda: ‘Bergembiralah wahai Ummu Al-Ala’, karena penyakit seorang muslim akan menjadi sebab Allah menghapus dosa-dosanya, sebagaimana api menghilangkan kotoran emas dan perak.’” (HR. Abu Dawud. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 7851). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memberi kemudahan bagi orang yang sakit dan tidak memberatkannya. Hal ini seperti yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhuma: “Kami pernah pergi bersafar, lalu salah satu dari kami terkena batu hingga melukai kepalanya. Kemudian ia mengalami junub, lalu bertanya kepada para sahabatnya: ‘Apakah menurut kalian aku mendapat keringanan untuk bertayamum (untuk mandi wajib)?’ Mereka menjawab: ‘Kami tidak menganggap engkau mendapat keringanan karena engkau masih mampu memakai air.’ Akhirnya ia mandi dan akhirnya meninggal dunia. Setelah kami sampai kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, beliau diberitahu kejadian tersebut. Beliau lalu bersabda: ‘Mereka telah membunuhnya! Semoga Allah membalas mereka. Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengetahui, karena sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya. Sebenarnya ia cukup untuk bertayamum lalu mengikat atau membalut —perawi ragu kata pastinya— lukanya dengan sehelai kain, kemudian mengusap atasnya, dan mencuci (dengan air) anggota badannya yang lain.’” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 4362). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga memenuhi kebutuhan orang yang sakit, dan berjalan bersamanya hingga dapat menyelesaikan kebutuhannya. Suatu ketika datang kepada beliau seorang wanita yang punya gangguan mental, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku punya suatu keperluan dengan engkau.” Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Wahai ibu fulan, engkau mau kita bicara di gang yang mana, agar aku bisa memenuhi keperluanmu?” Beliau lalu berbicara dengan wanita itu di salah satu gang hingga ia mengungkapkan keperluannya. (HR. Muslim dari riwayat Anas Radhiyallahu ‘anhu). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga menetapkan hak bagi orang sakit dan berkebutuhan khusus untuk berobat, karena kesehatan badan lahir dan batin adalah salah satu tujuan agama Islam. Oleh sebab itu, Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda kepada orang-orang Arab Badui ketika mereka bertanya tentang berobat: تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً إِلَّا الْهَرَمَ “Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya, kecuali penuaan.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Dishahihkan Al-Albani dalam Ghayah al-Maram no. 292). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam juga tidak melarang wanita muslim untuk mengobati laki-laki muslim. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menetapkan Rafidah —seorang wanita dari kabilah Aslam— untuk mengobati Saad bin Muadz Radhiyallahu ‘anhu saat terkena anak panah pada perang Khandaq. Rafidah Radhiyallahu ‘anha mengobati orang-orang yang terluka dan mendedikasikan dirinya secara sukarela untuk melayani siapa saja kaum Muslimin yang terlantar. (Diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan Ibnu Hisyam dalam As-Sirah an-Nabawiyah jilid 2 hlm. 239. Juga dalam Ash-Shahihah no. 1158). Dalam implementasinya, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam memperlakukan Amru bin Al-Jamuh Radhiyallahu ‘anhu dengan perlakuan yang penuh penghormatan, meskipun Amru bin Al-Jamuh adalah seorang penyandang disabilitas, yaitu kakinya mengalami pincang yang parah. Amru bin Al-Jamuh menceritakan bahwa empat anaknya yang pernah mengikuti banyak peperangan bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ingin melarangnya ikut berperang pada perang Uhud. Amru bin Al-Jamuh lalu mendatangi Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata: “Anak-anakku ingin mencegahku dari jalan ini dan pergi bersama engkau. Demi Allah, sungguh aku ingin menapaki surga dengan kaki pincangku ini!” Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda kepada Amru: “Adapun engkau telah diberi uzur oleh Allah, sehingga engkau tidak lagi wajib berjihad.” Lalu bersabda kepada anak-anaknya: “Kalian tidak berhak melarangnya, semoga Allah mengaruniakan kesyahidan.” Akhirnya Amru bin Al-Jamuh pergi bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada perang Uhud, sehingga ia terbunuh. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda tentangnya: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Sungguh di antara kalian ada orang yang jika ia bersumpah atas nama Allah, maka Dia akan memenuhi sumpahnya, di antara mereka adalah Amru bin Al-Jamuh, sungguh aku telah melihatnya menapakkan kaki di surga dengan kaki pincangnya.” (HR. Ibnu Hibban dari riwayat Jabir Radhiyallahu ‘anhu). Demikianlah keadaan orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus dalam Islam dan di bawah naungan peradaban Islam. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/173888/الإسلام-يراعي-حقوق-المرضى-وذوي-الاحتياجات-الخاصة/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 12 times, 2 visit(s) today Post Views: 13 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Doa Terbaik: Doa Memohon Afiyat

Oleh: Dr. Muhammad Jum’ah al-Halbusi Wahai muslim yang mulia! Tidak diragukan bahwa nikmat afiyat adalah salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terbesar. Dulu Nabi kita Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memohon kepada Tuhannya afiyat, dan mewasiatkan kepada para sahabat beliau yang mulia untuk memohon afiyat. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: اسْأَلُوا اللَّهَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ، فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ اليَقِينِ خَيْرًا مِنَ العَافِيَةِ “Mohonlah kepada Allah ampunan dan afiyat, karena tidak ada seorang pun yang diberi sesuatu yang lebih baik – setelah keyakinan (keimanan) – daripada afiyat.” (HR. At-Tirmidzi no. 3558. Beliau berkata bahwa hadis ini hasan gharib). Bagaimana menurutmu, apakah seorang insan bisa merasa bahagia tanpa afiyat? Apakah ia dapat menikmati harta tanpa afiyat? Apakah ia akan merasa senang dengan kedudukan dan jabatan tanpa afiyat? Demi Allah! Tidak akan ada yang menandingi nikmat afiyat. Afiyat adalah pakaian termewah yang dipakai manusia, makanan terlezat yang ia nikmati, dan tidur ternyenyak yang ia rasakan. Inilah Abbas bin Abdul Muthalib Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan: Aku pernah berkata kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Allah afiyat!” Selang beberapa hari, aku datang kembali dan berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau lalu bersabda kepadaku: “Wahai Abbas! Wahai paman Rasulullah! Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!” (HR. At-Tirmidzi no. 3514. Beliau berkata bahwa hadits ini shahih). Al-Mubarakfuri Rahimahullah berkata tentang makna afiyat: “Ia adalah pertolongan Allah bagi hamba-Nya. Orang yang berdoa memohon afiyat adalah yang memohon pertolongan Tuhannya atas segala hal yang ia niatkan. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengkhususkan anjuran doa ini kepada pamannya, Abbas dan mencukupkan dengan doa afiyat merupakan bentuk penggugah semangat para pendoa untuk senantiasa mengucapkannya dan menjadikannya sebagai salah satu wasilah terbesar untuk mendekat kepada Tuhan mereka dan untuk memohon pertolongan kepada-Nya atas segala yang mereka inginkan. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda kepadanya: ‘Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!’ seakan-akan doa ini dengan redaksi seperti ini menjadi bekal untuk menghindari segala mudharat dan mengundang segala kebaikan.” (Kitab Tuhfah Al-Ahwadzi karya Al-Mubarakfuri jilid 9 hlm. 348). Dan inilah Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: Pernah ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Tuhanmu afiyat dan mu’afat di dunia dan akhirat.” Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari kedua, dan berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Lalu beliau menjawab seperti itu juga. Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari ketiga, dan bertanya seperti sebelumnya, dan beliau juga menjawab dengan jawaban yang sama, lalu beliau menambahkan: “Apabila engkau telah diberi afiyat di dunia dan diberi afiyat di akhirat juga, maka sungguh engkau telah beruntung.” (HR. At-Tirmidzi no. 3512. Beliau berkata: Hadis ini hasan gharib). Ibnu Al-Atsir mengatakan dalam An-Nihayah bahwa perbedaan antara afiyat dan mu’afat adalah afiyat itu engkau selamat dari penyakit-penyakit dan musibah-musibah, ia adalah kesehatan yang merupakan kebalikan dari penyakit. Sedangkan mu’afat adalah Allah menyelamatkanmu dari (keburukan) manusia dan menyelamatkan mereka dari keburukanmu, yakni mencukupkanmu dari mereka dan mencukupkan mereka darimu, serta menghindarkan gangguan mereka darimu dan gangguanmu dari mereka. (Kitab An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar karya Ibnu Atsir jilid 3 hlm. 265). Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh berharap mendapat ujian atau terburu-buru menanggung azab akhirat. Anas Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: “Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjenguk seseorang dari kaum Muslimin yang sudah lemah sekali hingga menjadi seperti anak burung. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau pernah berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah?’ Ia menjawab: ‘Ya. Dulu aku pernah mengucapkan: Ya Allah siksaan yang hendak Engkau timpakan kepadaku di akhirat, segerakanlah siksaan itu bagiku di dunia.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: ‘Subhanallah! Engkau tidak akan mampu menanggungnya. Mengapa engkau tidak mengucapkan: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berdoa kepada Allah untuknya, sehingga Allah menyembuhkannya.” (HR. Muslim no. 2688). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menegurnya karena terburu-buru menanggung azab dan musibah, dan mengabarkan kepadanya bahwa seharusnya ia mengucapkan doa: اللهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”  Hatim Al-Asham Rahimahullah berkata: “Ada empat perkara yang tidak akan diketahui nilainya kecuali oleh empat golongan: Nilai masa muda yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang sudah tua, nilai afiyat yang tidak diketahui kecuali orang yang tertimpa musibah, nilai kesehatan yang tidak diketahui kecuali oleh orang sakit, nilai kehidupan yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang telah mati.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa Al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 39). Bakar bin Abdullah Al-Muzani Rahimahullah berkata: “Barang siapa yang seorang muslim dan badannya sehat, maka sungguh telah terhimpun padanya puncak nikmat dunia dan puncak nikmat akhirat, karena puncak nikmat dunia adalah afiyat dan puncak nikmat akhirat adalah Islam.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 445). Mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ampunan dan afiyat dalam sujud kalian, saat hendak berbuka puasa, dan di waktu antara azan dan iqamah, karena tidak ada seorang pun yang dikaruniai sesuatu —setelah keimanan— yang lebih baik daripada afiyat. Perbanyaklah membaca doa: Ya Allah, kami memohon kepada Engkau ampunan, afiyat, dan mu’afat yang langgeng dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kita semua penjagaan, keselamatan, afiyat dari segala penyakit, dan husnul khatimah. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/153974/الدعاء-بالعافية-من-أفضل-الأدعية/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 43 times, 5 visit(s) today Post Views: 25 QRIS donasi Yufid

Doa Terbaik: Doa Memohon Afiyat

Oleh: Dr. Muhammad Jum’ah al-Halbusi Wahai muslim yang mulia! Tidak diragukan bahwa nikmat afiyat adalah salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terbesar. Dulu Nabi kita Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memohon kepada Tuhannya afiyat, dan mewasiatkan kepada para sahabat beliau yang mulia untuk memohon afiyat. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: اسْأَلُوا اللَّهَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ، فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ اليَقِينِ خَيْرًا مِنَ العَافِيَةِ “Mohonlah kepada Allah ampunan dan afiyat, karena tidak ada seorang pun yang diberi sesuatu yang lebih baik – setelah keyakinan (keimanan) – daripada afiyat.” (HR. At-Tirmidzi no. 3558. Beliau berkata bahwa hadis ini hasan gharib). Bagaimana menurutmu, apakah seorang insan bisa merasa bahagia tanpa afiyat? Apakah ia dapat menikmati harta tanpa afiyat? Apakah ia akan merasa senang dengan kedudukan dan jabatan tanpa afiyat? Demi Allah! Tidak akan ada yang menandingi nikmat afiyat. Afiyat adalah pakaian termewah yang dipakai manusia, makanan terlezat yang ia nikmati, dan tidur ternyenyak yang ia rasakan. Inilah Abbas bin Abdul Muthalib Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan: Aku pernah berkata kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Allah afiyat!” Selang beberapa hari, aku datang kembali dan berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau lalu bersabda kepadaku: “Wahai Abbas! Wahai paman Rasulullah! Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!” (HR. At-Tirmidzi no. 3514. Beliau berkata bahwa hadits ini shahih). Al-Mubarakfuri Rahimahullah berkata tentang makna afiyat: “Ia adalah pertolongan Allah bagi hamba-Nya. Orang yang berdoa memohon afiyat adalah yang memohon pertolongan Tuhannya atas segala hal yang ia niatkan. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengkhususkan anjuran doa ini kepada pamannya, Abbas dan mencukupkan dengan doa afiyat merupakan bentuk penggugah semangat para pendoa untuk senantiasa mengucapkannya dan menjadikannya sebagai salah satu wasilah terbesar untuk mendekat kepada Tuhan mereka dan untuk memohon pertolongan kepada-Nya atas segala yang mereka inginkan. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda kepadanya: ‘Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!’ seakan-akan doa ini dengan redaksi seperti ini menjadi bekal untuk menghindari segala mudharat dan mengundang segala kebaikan.” (Kitab Tuhfah Al-Ahwadzi karya Al-Mubarakfuri jilid 9 hlm. 348). Dan inilah Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: Pernah ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Tuhanmu afiyat dan mu’afat di dunia dan akhirat.” Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari kedua, dan berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Lalu beliau menjawab seperti itu juga. Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari ketiga, dan bertanya seperti sebelumnya, dan beliau juga menjawab dengan jawaban yang sama, lalu beliau menambahkan: “Apabila engkau telah diberi afiyat di dunia dan diberi afiyat di akhirat juga, maka sungguh engkau telah beruntung.” (HR. At-Tirmidzi no. 3512. Beliau berkata: Hadis ini hasan gharib). Ibnu Al-Atsir mengatakan dalam An-Nihayah bahwa perbedaan antara afiyat dan mu’afat adalah afiyat itu engkau selamat dari penyakit-penyakit dan musibah-musibah, ia adalah kesehatan yang merupakan kebalikan dari penyakit. Sedangkan mu’afat adalah Allah menyelamatkanmu dari (keburukan) manusia dan menyelamatkan mereka dari keburukanmu, yakni mencukupkanmu dari mereka dan mencukupkan mereka darimu, serta menghindarkan gangguan mereka darimu dan gangguanmu dari mereka. (Kitab An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar karya Ibnu Atsir jilid 3 hlm. 265). Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh berharap mendapat ujian atau terburu-buru menanggung azab akhirat. Anas Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: “Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjenguk seseorang dari kaum Muslimin yang sudah lemah sekali hingga menjadi seperti anak burung. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau pernah berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah?’ Ia menjawab: ‘Ya. Dulu aku pernah mengucapkan: Ya Allah siksaan yang hendak Engkau timpakan kepadaku di akhirat, segerakanlah siksaan itu bagiku di dunia.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: ‘Subhanallah! Engkau tidak akan mampu menanggungnya. Mengapa engkau tidak mengucapkan: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berdoa kepada Allah untuknya, sehingga Allah menyembuhkannya.” (HR. Muslim no. 2688). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menegurnya karena terburu-buru menanggung azab dan musibah, dan mengabarkan kepadanya bahwa seharusnya ia mengucapkan doa: اللهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”  Hatim Al-Asham Rahimahullah berkata: “Ada empat perkara yang tidak akan diketahui nilainya kecuali oleh empat golongan: Nilai masa muda yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang sudah tua, nilai afiyat yang tidak diketahui kecuali orang yang tertimpa musibah, nilai kesehatan yang tidak diketahui kecuali oleh orang sakit, nilai kehidupan yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang telah mati.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa Al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 39). Bakar bin Abdullah Al-Muzani Rahimahullah berkata: “Barang siapa yang seorang muslim dan badannya sehat, maka sungguh telah terhimpun padanya puncak nikmat dunia dan puncak nikmat akhirat, karena puncak nikmat dunia adalah afiyat dan puncak nikmat akhirat adalah Islam.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 445). Mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ampunan dan afiyat dalam sujud kalian, saat hendak berbuka puasa, dan di waktu antara azan dan iqamah, karena tidak ada seorang pun yang dikaruniai sesuatu —setelah keimanan— yang lebih baik daripada afiyat. Perbanyaklah membaca doa: Ya Allah, kami memohon kepada Engkau ampunan, afiyat, dan mu’afat yang langgeng dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kita semua penjagaan, keselamatan, afiyat dari segala penyakit, dan husnul khatimah. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/153974/الدعاء-بالعافية-من-أفضل-الأدعية/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 43 times, 5 visit(s) today Post Views: 25 QRIS donasi Yufid
Oleh: Dr. Muhammad Jum’ah al-Halbusi Wahai muslim yang mulia! Tidak diragukan bahwa nikmat afiyat adalah salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terbesar. Dulu Nabi kita Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memohon kepada Tuhannya afiyat, dan mewasiatkan kepada para sahabat beliau yang mulia untuk memohon afiyat. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: اسْأَلُوا اللَّهَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ، فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ اليَقِينِ خَيْرًا مِنَ العَافِيَةِ “Mohonlah kepada Allah ampunan dan afiyat, karena tidak ada seorang pun yang diberi sesuatu yang lebih baik – setelah keyakinan (keimanan) – daripada afiyat.” (HR. At-Tirmidzi no. 3558. Beliau berkata bahwa hadis ini hasan gharib). Bagaimana menurutmu, apakah seorang insan bisa merasa bahagia tanpa afiyat? Apakah ia dapat menikmati harta tanpa afiyat? Apakah ia akan merasa senang dengan kedudukan dan jabatan tanpa afiyat? Demi Allah! Tidak akan ada yang menandingi nikmat afiyat. Afiyat adalah pakaian termewah yang dipakai manusia, makanan terlezat yang ia nikmati, dan tidur ternyenyak yang ia rasakan. Inilah Abbas bin Abdul Muthalib Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan: Aku pernah berkata kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Allah afiyat!” Selang beberapa hari, aku datang kembali dan berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau lalu bersabda kepadaku: “Wahai Abbas! Wahai paman Rasulullah! Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!” (HR. At-Tirmidzi no. 3514. Beliau berkata bahwa hadits ini shahih). Al-Mubarakfuri Rahimahullah berkata tentang makna afiyat: “Ia adalah pertolongan Allah bagi hamba-Nya. Orang yang berdoa memohon afiyat adalah yang memohon pertolongan Tuhannya atas segala hal yang ia niatkan. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengkhususkan anjuran doa ini kepada pamannya, Abbas dan mencukupkan dengan doa afiyat merupakan bentuk penggugah semangat para pendoa untuk senantiasa mengucapkannya dan menjadikannya sebagai salah satu wasilah terbesar untuk mendekat kepada Tuhan mereka dan untuk memohon pertolongan kepada-Nya atas segala yang mereka inginkan. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda kepadanya: ‘Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!’ seakan-akan doa ini dengan redaksi seperti ini menjadi bekal untuk menghindari segala mudharat dan mengundang segala kebaikan.” (Kitab Tuhfah Al-Ahwadzi karya Al-Mubarakfuri jilid 9 hlm. 348). Dan inilah Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: Pernah ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Tuhanmu afiyat dan mu’afat di dunia dan akhirat.” Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari kedua, dan berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Lalu beliau menjawab seperti itu juga. Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari ketiga, dan bertanya seperti sebelumnya, dan beliau juga menjawab dengan jawaban yang sama, lalu beliau menambahkan: “Apabila engkau telah diberi afiyat di dunia dan diberi afiyat di akhirat juga, maka sungguh engkau telah beruntung.” (HR. At-Tirmidzi no. 3512. Beliau berkata: Hadis ini hasan gharib). Ibnu Al-Atsir mengatakan dalam An-Nihayah bahwa perbedaan antara afiyat dan mu’afat adalah afiyat itu engkau selamat dari penyakit-penyakit dan musibah-musibah, ia adalah kesehatan yang merupakan kebalikan dari penyakit. Sedangkan mu’afat adalah Allah menyelamatkanmu dari (keburukan) manusia dan menyelamatkan mereka dari keburukanmu, yakni mencukupkanmu dari mereka dan mencukupkan mereka darimu, serta menghindarkan gangguan mereka darimu dan gangguanmu dari mereka. (Kitab An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar karya Ibnu Atsir jilid 3 hlm. 265). Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh berharap mendapat ujian atau terburu-buru menanggung azab akhirat. Anas Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: “Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjenguk seseorang dari kaum Muslimin yang sudah lemah sekali hingga menjadi seperti anak burung. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau pernah berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah?’ Ia menjawab: ‘Ya. Dulu aku pernah mengucapkan: Ya Allah siksaan yang hendak Engkau timpakan kepadaku di akhirat, segerakanlah siksaan itu bagiku di dunia.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: ‘Subhanallah! Engkau tidak akan mampu menanggungnya. Mengapa engkau tidak mengucapkan: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berdoa kepada Allah untuknya, sehingga Allah menyembuhkannya.” (HR. Muslim no. 2688). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menegurnya karena terburu-buru menanggung azab dan musibah, dan mengabarkan kepadanya bahwa seharusnya ia mengucapkan doa: اللهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”  Hatim Al-Asham Rahimahullah berkata: “Ada empat perkara yang tidak akan diketahui nilainya kecuali oleh empat golongan: Nilai masa muda yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang sudah tua, nilai afiyat yang tidak diketahui kecuali orang yang tertimpa musibah, nilai kesehatan yang tidak diketahui kecuali oleh orang sakit, nilai kehidupan yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang telah mati.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa Al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 39). Bakar bin Abdullah Al-Muzani Rahimahullah berkata: “Barang siapa yang seorang muslim dan badannya sehat, maka sungguh telah terhimpun padanya puncak nikmat dunia dan puncak nikmat akhirat, karena puncak nikmat dunia adalah afiyat dan puncak nikmat akhirat adalah Islam.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 445). Mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ampunan dan afiyat dalam sujud kalian, saat hendak berbuka puasa, dan di waktu antara azan dan iqamah, karena tidak ada seorang pun yang dikaruniai sesuatu —setelah keimanan— yang lebih baik daripada afiyat. Perbanyaklah membaca doa: Ya Allah, kami memohon kepada Engkau ampunan, afiyat, dan mu’afat yang langgeng dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kita semua penjagaan, keselamatan, afiyat dari segala penyakit, dan husnul khatimah. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/153974/الدعاء-بالعافية-من-أفضل-الأدعية/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 43 times, 5 visit(s) today Post Views: 25 QRIS donasi Yufid


Oleh: Dr. Muhammad Jum’ah al-Halbusi Wahai muslim yang mulia! Tidak diragukan bahwa nikmat afiyat adalah salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terbesar. Dulu Nabi kita Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memohon kepada Tuhannya afiyat, dan mewasiatkan kepada para sahabat beliau yang mulia untuk memohon afiyat. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: اسْأَلُوا اللَّهَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ، فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ اليَقِينِ خَيْرًا مِنَ العَافِيَةِ “Mohonlah kepada Allah ampunan dan afiyat, karena tidak ada seorang pun yang diberi sesuatu yang lebih baik – setelah keyakinan (keimanan) – daripada afiyat.” (HR. At-Tirmidzi no. 3558. Beliau berkata bahwa hadis ini hasan gharib). Bagaimana menurutmu, apakah seorang insan bisa merasa bahagia tanpa afiyat? Apakah ia dapat menikmati harta tanpa afiyat? Apakah ia akan merasa senang dengan kedudukan dan jabatan tanpa afiyat? Demi Allah! Tidak akan ada yang menandingi nikmat afiyat. Afiyat adalah pakaian termewah yang dipakai manusia, makanan terlezat yang ia nikmati, dan tidur ternyenyak yang ia rasakan. Inilah Abbas bin Abdul Muthalib Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan: Aku pernah berkata kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Allah afiyat!” Selang beberapa hari, aku datang kembali dan berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau lalu bersabda kepadaku: “Wahai Abbas! Wahai paman Rasulullah! Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!” (HR. At-Tirmidzi no. 3514. Beliau berkata bahwa hadits ini shahih). Al-Mubarakfuri Rahimahullah berkata tentang makna afiyat: “Ia adalah pertolongan Allah bagi hamba-Nya. Orang yang berdoa memohon afiyat adalah yang memohon pertolongan Tuhannya atas segala hal yang ia niatkan. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengkhususkan anjuran doa ini kepada pamannya, Abbas dan mencukupkan dengan doa afiyat merupakan bentuk penggugah semangat para pendoa untuk senantiasa mengucapkannya dan menjadikannya sebagai salah satu wasilah terbesar untuk mendekat kepada Tuhan mereka dan untuk memohon pertolongan kepada-Nya atas segala yang mereka inginkan. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda kepadanya: ‘Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!’ seakan-akan doa ini dengan redaksi seperti ini menjadi bekal untuk menghindari segala mudharat dan mengundang segala kebaikan.” (Kitab Tuhfah Al-Ahwadzi karya Al-Mubarakfuri jilid 9 hlm. 348). Dan inilah Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: Pernah ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Tuhanmu afiyat dan mu’afat di dunia dan akhirat.” Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari kedua, dan berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Lalu beliau menjawab seperti itu juga. Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari ketiga, dan bertanya seperti sebelumnya, dan beliau juga menjawab dengan jawaban yang sama, lalu beliau menambahkan: “Apabila engkau telah diberi afiyat di dunia dan diberi afiyat di akhirat juga, maka sungguh engkau telah beruntung.” (HR. At-Tirmidzi no. 3512. Beliau berkata: Hadis ini hasan gharib). Ibnu Al-Atsir mengatakan dalam An-Nihayah bahwa perbedaan antara afiyat dan mu’afat adalah afiyat itu engkau selamat dari penyakit-penyakit dan musibah-musibah, ia adalah kesehatan yang merupakan kebalikan dari penyakit. Sedangkan mu’afat adalah Allah menyelamatkanmu dari (keburukan) manusia dan menyelamatkan mereka dari keburukanmu, yakni mencukupkanmu dari mereka dan mencukupkan mereka darimu, serta menghindarkan gangguan mereka darimu dan gangguanmu dari mereka. (Kitab An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar karya Ibnu Atsir jilid 3 hlm. 265). Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh berharap mendapat ujian atau terburu-buru menanggung azab akhirat. Anas Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: “Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjenguk seseorang dari kaum Muslimin yang sudah lemah sekali hingga menjadi seperti anak burung. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau pernah berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah?’ Ia menjawab: ‘Ya. Dulu aku pernah mengucapkan: Ya Allah siksaan yang hendak Engkau timpakan kepadaku di akhirat, segerakanlah siksaan itu bagiku di dunia.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: ‘Subhanallah! Engkau tidak akan mampu menanggungnya. Mengapa engkau tidak mengucapkan: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berdoa kepada Allah untuknya, sehingga Allah menyembuhkannya.” (HR. Muslim no. 2688). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menegurnya karena terburu-buru menanggung azab dan musibah, dan mengabarkan kepadanya bahwa seharusnya ia mengucapkan doa: اللهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”  Hatim Al-Asham Rahimahullah berkata: “Ada empat perkara yang tidak akan diketahui nilainya kecuali oleh empat golongan: Nilai masa muda yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang sudah tua, nilai afiyat yang tidak diketahui kecuali orang yang tertimpa musibah, nilai kesehatan yang tidak diketahui kecuali oleh orang sakit, nilai kehidupan yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang telah mati.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa Al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 39). Bakar bin Abdullah Al-Muzani Rahimahullah berkata: “Barang siapa yang seorang muslim dan badannya sehat, maka sungguh telah terhimpun padanya puncak nikmat dunia dan puncak nikmat akhirat, karena puncak nikmat dunia adalah afiyat dan puncak nikmat akhirat adalah Islam.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 445). Mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ampunan dan afiyat dalam sujud kalian, saat hendak berbuka puasa, dan di waktu antara azan dan iqamah, karena tidak ada seorang pun yang dikaruniai sesuatu —setelah keimanan— yang lebih baik daripada afiyat. Perbanyaklah membaca doa: Ya Allah, kami memohon kepada Engkau ampunan, afiyat, dan mu’afat yang langgeng dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kita semua penjagaan, keselamatan, afiyat dari segala penyakit, dan husnul khatimah. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/153974/الدعاء-بالعافية-من-أفضل-الأدعية/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 43 times, 5 visit(s) today Post Views: 25 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Sepuluh Wasiat Agung dari Surah Al-An’am (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleWasiat keenam, menjaga harta anak yatimWasiat ketujuh, menyempurnakan takaran atau timbanganWasiat kedelapan, adil dalam setiap perkataan dan keputusanWasiat kesembilan, menunaikan janji dan amanah kepada AllahWasiat kesepuluh, berpegang teguh pada jalan yang lurusWasiat keenam, menjaga harta anak yatimKemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan wasiat yang keenam, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تَقْرَبُوا۟ مَالَ ٱلْيَتِيمِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُۥ ۖ“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.” (QS. Al-An’am: 152)Ayat ini mengajarkan kepada kaum muslimin untuk menjaga dan mengelola harta anak yatim dengan cara yang baik dan aman. Ketika mereka telah dewasa dan mampu mengelolanya, maka hak mereka wajib diserahkan secara utuh tanpa dikurangi sedikit pun, serta dilarang berbuat curang atau memakan harta mereka secara batil.Allah  ‘Azza wa Jalla memperingatkan dengan sangat keras bagi mereka yang memakan harta anak yatim demgan api neraka. Allah  ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلْيَتَٰمَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِى بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10)Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hamba-Nya memakan harta anak yatim secara zalim dan tanpa hak. Allah Ta’ala mengancam pelakunya dengan ancaman yang sangat keras, yaitu seakan-akan mereka sedang memakan api ke dalam perut mereka, dan kelak akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Ayat ini menunjukkan besarnya dosa menzalimi anak yatim serta kewajiban menjaga, melindungi, dan memberikan hak mereka dengan jujur dan amanah.Wasiat ketujuh, menyempurnakan takaran atau timbanganAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ ۖ“Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.” (QS. Al-An’am: 152)Menyempurnakan timbangan dan takaran bukan sekadar masalah jual beli semata, tetapi merupakan bagian dari wujud ketakwaan dan akhlak mulia seorang muslim. Orang yang jujur dalam jual beli sejatinya sedang menjalankan perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan menjaga hak-hak manusia.Di sisi lain, Allah  ‘Azza wa Jalla justru memberikan ancaman keras kepada orang-orang yang curang dalam timbangan dan takaran. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ، الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ، وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Namun apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 1–3)Kecurangan dalam jual beli termasuk dosa dan perbuatan keji karena mengandung kezaliman. Pelaku mengurangi hak orang lain demi keuntungan pribadi. Mungkin nominalnya terlihat kecil; namun di sisi Allah, perkara itu sangatlah besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan umatnya agar menjauhi penipuan dalam masalah ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا“Barang siapa yang menipu, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim)Maka hendaknya seorang muslim selalu bersikap jujur dan amanah dalam setiap transaksi jual beli. Keberkahan harta tidak terletak pada banyaknya keuntungan, tetapi pada kehalalan dan kejujuran dalam mencarinya. Kecurangan mungkin menguntungkan sesaat, namun akan mendatangkan dosa dan hilangnya keberkahan. Oleh karena itu, jagalah hak orang lain dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap muamalah.Wasiat kedelapan, adil dalam setiap perkataan dan keputusanDalam wasiat kedelapan ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan tentang pentingnya menegakkan keadilan dalam setiap ucapan dan keputusan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, sekalipun terhadap kerabat(mu).” (QS. Al-An’am: 152)Ayat ini mengajarkan agar seorang muslim selalu jujur dan adil dalam ucapan maupun keputusan. Islam melarang sikap memihak karena hubungan keluarga, kedekatan, atau kepentingan pribadi. Kebenaran harus tetap ditegakkan, walaupun terhadap orang yang paling dekat dengan kita.Allah ‘Azza wa Jalla juga menegaskan perintah ini dalam firman-Nya di ayat yang lain,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri, ibu bapak, dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa: 135)Ayat ini menunjukkan bahwa keadilan dalam Islam tidak boleh dipengaruhi hawa nafsu atau kepentingan individu. Seorang muslim harus tetap berkata benar dan berdiri di atas kebenaran, meskipun terhadap orang yang dicintainya.Wasiat kesembilan, menunaikan janji dan amanah kepada AllahPada wasiat kesembilan ini, Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk memenuhi janji dan amanah kepada-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَبِعَهْدِ ٱللَّهِ أَوْفُوا۟ ۚ“Dan penuhilah janji Allah.” (QS. Al-An’am: 152)Yang dimaksud janji kepada Allah Ta’ala adalah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Seluruh ibadah dan amanah dalam hidup ini wajib dijaga dan ditunaikan dengan baik. Termasuk di dalamnya menepati sumpah dan nazar, serta tidak meremehkan kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan.Allah Ta’ala juga menegaskan,وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا“Dan penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu pasti akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 34)Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap janji dan amanah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla pada hari kiamat. Oleh sebab itu, seorang muslim harus menjaga komitmennya dalam urusan agama maupun dalam hubungan dengan sesama manusia. Jangan sampai seseorang dikenal mudah mengingkari janji, berkhianat, atau meremehkan amanah, karena sifat tersebut termasuk ciri orang munafik.Wasiat kesepuluh, berpegang teguh pada jalan yang lurusWasiat kesepuluh dan yang terakhir ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)Ayat ini menjadi penutup dari sepuluh wasiat Allah, yang menegaskan bahwa jalan keselamatan hanyalah mengikuti jalan Allah yang lurus, yaitu agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Yang dimaksud dengan jalan yang lurus adalah beragama berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah sesuai pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya rahdhiyallahu ‘anhum. Oleh karena itu, seorang muslim diperintahkan untuk istikamah di atas petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi segala bentuk penyimpangan dalam agama.Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melarang mengikuti jalan-jalan lain yang menyimpang dari kebenaran, seperti melakukan bid‘ah, mengedepankan hawa nafsu, dan menyebarkan syubhat. Sebab kebenaran itu satu, sedangkan jalan kesesatan sangat banyak.Kemudian Allah Ta’ala menutup seluruh wasiat ini dengan firman-Nya,ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)Artinya, seluruh wasiat ini adalah jalan menuju ketakwaan. Siapa saja yang ingin menjadi hamba yang bertakwa, haruslah berusaha meniti jalan Allah yang lurus tersebut, menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan istikamah di atas Sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Jalan yang lurus ini adalah jalan para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Jalan inilah yang setiap hari kita minta kepada Allah  ‘Azza wa Jalla dalam setiap salat kita,اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)Doa ini bukan sekadar bacaan, tetapi permohonan agar Allah Ta’ala senantiasa membimbing hati kita untuk tetap istikamah di atas agama Islam yang hak ini, menjauhkan kita dari segala bentuk kesesatan dan pelakunya, serta mewafatkan kita dalam keadaan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunah.Wallahu a’lam bisshawab.[Selesai]***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id

Sepuluh Wasiat Agung dari Surah Al-An’am (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleWasiat keenam, menjaga harta anak yatimWasiat ketujuh, menyempurnakan takaran atau timbanganWasiat kedelapan, adil dalam setiap perkataan dan keputusanWasiat kesembilan, menunaikan janji dan amanah kepada AllahWasiat kesepuluh, berpegang teguh pada jalan yang lurusWasiat keenam, menjaga harta anak yatimKemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan wasiat yang keenam, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تَقْرَبُوا۟ مَالَ ٱلْيَتِيمِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُۥ ۖ“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.” (QS. Al-An’am: 152)Ayat ini mengajarkan kepada kaum muslimin untuk menjaga dan mengelola harta anak yatim dengan cara yang baik dan aman. Ketika mereka telah dewasa dan mampu mengelolanya, maka hak mereka wajib diserahkan secara utuh tanpa dikurangi sedikit pun, serta dilarang berbuat curang atau memakan harta mereka secara batil.Allah  ‘Azza wa Jalla memperingatkan dengan sangat keras bagi mereka yang memakan harta anak yatim demgan api neraka. Allah  ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلْيَتَٰمَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِى بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10)Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hamba-Nya memakan harta anak yatim secara zalim dan tanpa hak. Allah Ta’ala mengancam pelakunya dengan ancaman yang sangat keras, yaitu seakan-akan mereka sedang memakan api ke dalam perut mereka, dan kelak akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Ayat ini menunjukkan besarnya dosa menzalimi anak yatim serta kewajiban menjaga, melindungi, dan memberikan hak mereka dengan jujur dan amanah.Wasiat ketujuh, menyempurnakan takaran atau timbanganAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ ۖ“Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.” (QS. Al-An’am: 152)Menyempurnakan timbangan dan takaran bukan sekadar masalah jual beli semata, tetapi merupakan bagian dari wujud ketakwaan dan akhlak mulia seorang muslim. Orang yang jujur dalam jual beli sejatinya sedang menjalankan perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan menjaga hak-hak manusia.Di sisi lain, Allah  ‘Azza wa Jalla justru memberikan ancaman keras kepada orang-orang yang curang dalam timbangan dan takaran. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ، الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ، وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Namun apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 1–3)Kecurangan dalam jual beli termasuk dosa dan perbuatan keji karena mengandung kezaliman. Pelaku mengurangi hak orang lain demi keuntungan pribadi. Mungkin nominalnya terlihat kecil; namun di sisi Allah, perkara itu sangatlah besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan umatnya agar menjauhi penipuan dalam masalah ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا“Barang siapa yang menipu, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim)Maka hendaknya seorang muslim selalu bersikap jujur dan amanah dalam setiap transaksi jual beli. Keberkahan harta tidak terletak pada banyaknya keuntungan, tetapi pada kehalalan dan kejujuran dalam mencarinya. Kecurangan mungkin menguntungkan sesaat, namun akan mendatangkan dosa dan hilangnya keberkahan. Oleh karena itu, jagalah hak orang lain dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap muamalah.Wasiat kedelapan, adil dalam setiap perkataan dan keputusanDalam wasiat kedelapan ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan tentang pentingnya menegakkan keadilan dalam setiap ucapan dan keputusan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, sekalipun terhadap kerabat(mu).” (QS. Al-An’am: 152)Ayat ini mengajarkan agar seorang muslim selalu jujur dan adil dalam ucapan maupun keputusan. Islam melarang sikap memihak karena hubungan keluarga, kedekatan, atau kepentingan pribadi. Kebenaran harus tetap ditegakkan, walaupun terhadap orang yang paling dekat dengan kita.Allah ‘Azza wa Jalla juga menegaskan perintah ini dalam firman-Nya di ayat yang lain,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri, ibu bapak, dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa: 135)Ayat ini menunjukkan bahwa keadilan dalam Islam tidak boleh dipengaruhi hawa nafsu atau kepentingan individu. Seorang muslim harus tetap berkata benar dan berdiri di atas kebenaran, meskipun terhadap orang yang dicintainya.Wasiat kesembilan, menunaikan janji dan amanah kepada AllahPada wasiat kesembilan ini, Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk memenuhi janji dan amanah kepada-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَبِعَهْدِ ٱللَّهِ أَوْفُوا۟ ۚ“Dan penuhilah janji Allah.” (QS. Al-An’am: 152)Yang dimaksud janji kepada Allah Ta’ala adalah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Seluruh ibadah dan amanah dalam hidup ini wajib dijaga dan ditunaikan dengan baik. Termasuk di dalamnya menepati sumpah dan nazar, serta tidak meremehkan kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan.Allah Ta’ala juga menegaskan,وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا“Dan penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu pasti akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 34)Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap janji dan amanah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla pada hari kiamat. Oleh sebab itu, seorang muslim harus menjaga komitmennya dalam urusan agama maupun dalam hubungan dengan sesama manusia. Jangan sampai seseorang dikenal mudah mengingkari janji, berkhianat, atau meremehkan amanah, karena sifat tersebut termasuk ciri orang munafik.Wasiat kesepuluh, berpegang teguh pada jalan yang lurusWasiat kesepuluh dan yang terakhir ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)Ayat ini menjadi penutup dari sepuluh wasiat Allah, yang menegaskan bahwa jalan keselamatan hanyalah mengikuti jalan Allah yang lurus, yaitu agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Yang dimaksud dengan jalan yang lurus adalah beragama berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah sesuai pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya rahdhiyallahu ‘anhum. Oleh karena itu, seorang muslim diperintahkan untuk istikamah di atas petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi segala bentuk penyimpangan dalam agama.Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melarang mengikuti jalan-jalan lain yang menyimpang dari kebenaran, seperti melakukan bid‘ah, mengedepankan hawa nafsu, dan menyebarkan syubhat. Sebab kebenaran itu satu, sedangkan jalan kesesatan sangat banyak.Kemudian Allah Ta’ala menutup seluruh wasiat ini dengan firman-Nya,ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)Artinya, seluruh wasiat ini adalah jalan menuju ketakwaan. Siapa saja yang ingin menjadi hamba yang bertakwa, haruslah berusaha meniti jalan Allah yang lurus tersebut, menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan istikamah di atas Sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Jalan yang lurus ini adalah jalan para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Jalan inilah yang setiap hari kita minta kepada Allah  ‘Azza wa Jalla dalam setiap salat kita,اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)Doa ini bukan sekadar bacaan, tetapi permohonan agar Allah Ta’ala senantiasa membimbing hati kita untuk tetap istikamah di atas agama Islam yang hak ini, menjauhkan kita dari segala bentuk kesesatan dan pelakunya, serta mewafatkan kita dalam keadaan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunah.Wallahu a’lam bisshawab.[Selesai]***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleWasiat keenam, menjaga harta anak yatimWasiat ketujuh, menyempurnakan takaran atau timbanganWasiat kedelapan, adil dalam setiap perkataan dan keputusanWasiat kesembilan, menunaikan janji dan amanah kepada AllahWasiat kesepuluh, berpegang teguh pada jalan yang lurusWasiat keenam, menjaga harta anak yatimKemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan wasiat yang keenam, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تَقْرَبُوا۟ مَالَ ٱلْيَتِيمِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُۥ ۖ“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.” (QS. Al-An’am: 152)Ayat ini mengajarkan kepada kaum muslimin untuk menjaga dan mengelola harta anak yatim dengan cara yang baik dan aman. Ketika mereka telah dewasa dan mampu mengelolanya, maka hak mereka wajib diserahkan secara utuh tanpa dikurangi sedikit pun, serta dilarang berbuat curang atau memakan harta mereka secara batil.Allah  ‘Azza wa Jalla memperingatkan dengan sangat keras bagi mereka yang memakan harta anak yatim demgan api neraka. Allah  ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلْيَتَٰمَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِى بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10)Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hamba-Nya memakan harta anak yatim secara zalim dan tanpa hak. Allah Ta’ala mengancam pelakunya dengan ancaman yang sangat keras, yaitu seakan-akan mereka sedang memakan api ke dalam perut mereka, dan kelak akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Ayat ini menunjukkan besarnya dosa menzalimi anak yatim serta kewajiban menjaga, melindungi, dan memberikan hak mereka dengan jujur dan amanah.Wasiat ketujuh, menyempurnakan takaran atau timbanganAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ ۖ“Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.” (QS. Al-An’am: 152)Menyempurnakan timbangan dan takaran bukan sekadar masalah jual beli semata, tetapi merupakan bagian dari wujud ketakwaan dan akhlak mulia seorang muslim. Orang yang jujur dalam jual beli sejatinya sedang menjalankan perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan menjaga hak-hak manusia.Di sisi lain, Allah  ‘Azza wa Jalla justru memberikan ancaman keras kepada orang-orang yang curang dalam timbangan dan takaran. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ، الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ، وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Namun apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 1–3)Kecurangan dalam jual beli termasuk dosa dan perbuatan keji karena mengandung kezaliman. Pelaku mengurangi hak orang lain demi keuntungan pribadi. Mungkin nominalnya terlihat kecil; namun di sisi Allah, perkara itu sangatlah besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan umatnya agar menjauhi penipuan dalam masalah ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا“Barang siapa yang menipu, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim)Maka hendaknya seorang muslim selalu bersikap jujur dan amanah dalam setiap transaksi jual beli. Keberkahan harta tidak terletak pada banyaknya keuntungan, tetapi pada kehalalan dan kejujuran dalam mencarinya. Kecurangan mungkin menguntungkan sesaat, namun akan mendatangkan dosa dan hilangnya keberkahan. Oleh karena itu, jagalah hak orang lain dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap muamalah.Wasiat kedelapan, adil dalam setiap perkataan dan keputusanDalam wasiat kedelapan ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan tentang pentingnya menegakkan keadilan dalam setiap ucapan dan keputusan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, sekalipun terhadap kerabat(mu).” (QS. Al-An’am: 152)Ayat ini mengajarkan agar seorang muslim selalu jujur dan adil dalam ucapan maupun keputusan. Islam melarang sikap memihak karena hubungan keluarga, kedekatan, atau kepentingan pribadi. Kebenaran harus tetap ditegakkan, walaupun terhadap orang yang paling dekat dengan kita.Allah ‘Azza wa Jalla juga menegaskan perintah ini dalam firman-Nya di ayat yang lain,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri, ibu bapak, dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa: 135)Ayat ini menunjukkan bahwa keadilan dalam Islam tidak boleh dipengaruhi hawa nafsu atau kepentingan individu. Seorang muslim harus tetap berkata benar dan berdiri di atas kebenaran, meskipun terhadap orang yang dicintainya.Wasiat kesembilan, menunaikan janji dan amanah kepada AllahPada wasiat kesembilan ini, Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk memenuhi janji dan amanah kepada-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَبِعَهْدِ ٱللَّهِ أَوْفُوا۟ ۚ“Dan penuhilah janji Allah.” (QS. Al-An’am: 152)Yang dimaksud janji kepada Allah Ta’ala adalah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Seluruh ibadah dan amanah dalam hidup ini wajib dijaga dan ditunaikan dengan baik. Termasuk di dalamnya menepati sumpah dan nazar, serta tidak meremehkan kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan.Allah Ta’ala juga menegaskan,وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا“Dan penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu pasti akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 34)Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap janji dan amanah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla pada hari kiamat. Oleh sebab itu, seorang muslim harus menjaga komitmennya dalam urusan agama maupun dalam hubungan dengan sesama manusia. Jangan sampai seseorang dikenal mudah mengingkari janji, berkhianat, atau meremehkan amanah, karena sifat tersebut termasuk ciri orang munafik.Wasiat kesepuluh, berpegang teguh pada jalan yang lurusWasiat kesepuluh dan yang terakhir ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)Ayat ini menjadi penutup dari sepuluh wasiat Allah, yang menegaskan bahwa jalan keselamatan hanyalah mengikuti jalan Allah yang lurus, yaitu agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Yang dimaksud dengan jalan yang lurus adalah beragama berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah sesuai pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya rahdhiyallahu ‘anhum. Oleh karena itu, seorang muslim diperintahkan untuk istikamah di atas petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi segala bentuk penyimpangan dalam agama.Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melarang mengikuti jalan-jalan lain yang menyimpang dari kebenaran, seperti melakukan bid‘ah, mengedepankan hawa nafsu, dan menyebarkan syubhat. Sebab kebenaran itu satu, sedangkan jalan kesesatan sangat banyak.Kemudian Allah Ta’ala menutup seluruh wasiat ini dengan firman-Nya,ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)Artinya, seluruh wasiat ini adalah jalan menuju ketakwaan. Siapa saja yang ingin menjadi hamba yang bertakwa, haruslah berusaha meniti jalan Allah yang lurus tersebut, menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan istikamah di atas Sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Jalan yang lurus ini adalah jalan para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Jalan inilah yang setiap hari kita minta kepada Allah  ‘Azza wa Jalla dalam setiap salat kita,اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)Doa ini bukan sekadar bacaan, tetapi permohonan agar Allah Ta’ala senantiasa membimbing hati kita untuk tetap istikamah di atas agama Islam yang hak ini, menjauhkan kita dari segala bentuk kesesatan dan pelakunya, serta mewafatkan kita dalam keadaan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunah.Wallahu a’lam bisshawab.[Selesai]***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleWasiat keenam, menjaga harta anak yatimWasiat ketujuh, menyempurnakan takaran atau timbanganWasiat kedelapan, adil dalam setiap perkataan dan keputusanWasiat kesembilan, menunaikan janji dan amanah kepada AllahWasiat kesepuluh, berpegang teguh pada jalan yang lurusWasiat keenam, menjaga harta anak yatimKemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan wasiat yang keenam, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تَقْرَبُوا۟ مَالَ ٱلْيَتِيمِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُۥ ۖ“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.” (QS. Al-An’am: 152)Ayat ini mengajarkan kepada kaum muslimin untuk menjaga dan mengelola harta anak yatim dengan cara yang baik dan aman. Ketika mereka telah dewasa dan mampu mengelolanya, maka hak mereka wajib diserahkan secara utuh tanpa dikurangi sedikit pun, serta dilarang berbuat curang atau memakan harta mereka secara batil.Allah  ‘Azza wa Jalla memperingatkan dengan sangat keras bagi mereka yang memakan harta anak yatim demgan api neraka. Allah  ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلْيَتَٰمَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِى بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10)Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hamba-Nya memakan harta anak yatim secara zalim dan tanpa hak. Allah Ta’ala mengancam pelakunya dengan ancaman yang sangat keras, yaitu seakan-akan mereka sedang memakan api ke dalam perut mereka, dan kelak akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Ayat ini menunjukkan besarnya dosa menzalimi anak yatim serta kewajiban menjaga, melindungi, dan memberikan hak mereka dengan jujur dan amanah.Wasiat ketujuh, menyempurnakan takaran atau timbanganAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ ۖ“Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.” (QS. Al-An’am: 152)Menyempurnakan timbangan dan takaran bukan sekadar masalah jual beli semata, tetapi merupakan bagian dari wujud ketakwaan dan akhlak mulia seorang muslim. Orang yang jujur dalam jual beli sejatinya sedang menjalankan perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan menjaga hak-hak manusia.Di sisi lain, Allah  ‘Azza wa Jalla justru memberikan ancaman keras kepada orang-orang yang curang dalam timbangan dan takaran. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ، الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ، وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ“Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Namun apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 1–3)Kecurangan dalam jual beli termasuk dosa dan perbuatan keji karena mengandung kezaliman. Pelaku mengurangi hak orang lain demi keuntungan pribadi. Mungkin nominalnya terlihat kecil; namun di sisi Allah, perkara itu sangatlah besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan umatnya agar menjauhi penipuan dalam masalah ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا“Barang siapa yang menipu, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim)Maka hendaknya seorang muslim selalu bersikap jujur dan amanah dalam setiap transaksi jual beli. Keberkahan harta tidak terletak pada banyaknya keuntungan, tetapi pada kehalalan dan kejujuran dalam mencarinya. Kecurangan mungkin menguntungkan sesaat, namun akan mendatangkan dosa dan hilangnya keberkahan. Oleh karena itu, jagalah hak orang lain dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap muamalah.Wasiat kedelapan, adil dalam setiap perkataan dan keputusanDalam wasiat kedelapan ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan tentang pentingnya menegakkan keadilan dalam setiap ucapan dan keputusan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, sekalipun terhadap kerabat(mu).” (QS. Al-An’am: 152)Ayat ini mengajarkan agar seorang muslim selalu jujur dan adil dalam ucapan maupun keputusan. Islam melarang sikap memihak karena hubungan keluarga, kedekatan, atau kepentingan pribadi. Kebenaran harus tetap ditegakkan, walaupun terhadap orang yang paling dekat dengan kita.Allah ‘Azza wa Jalla juga menegaskan perintah ini dalam firman-Nya di ayat yang lain,يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri, ibu bapak, dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa: 135)Ayat ini menunjukkan bahwa keadilan dalam Islam tidak boleh dipengaruhi hawa nafsu atau kepentingan individu. Seorang muslim harus tetap berkata benar dan berdiri di atas kebenaran, meskipun terhadap orang yang dicintainya.Wasiat kesembilan, menunaikan janji dan amanah kepada AllahPada wasiat kesembilan ini, Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk memenuhi janji dan amanah kepada-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَبِعَهْدِ ٱللَّهِ أَوْفُوا۟ ۚ“Dan penuhilah janji Allah.” (QS. Al-An’am: 152)Yang dimaksud janji kepada Allah Ta’ala adalah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Seluruh ibadah dan amanah dalam hidup ini wajib dijaga dan ditunaikan dengan baik. Termasuk di dalamnya menepati sumpah dan nazar, serta tidak meremehkan kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan.Allah Ta’ala juga menegaskan,وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا“Dan penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu pasti akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 34)Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap janji dan amanah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla pada hari kiamat. Oleh sebab itu, seorang muslim harus menjaga komitmennya dalam urusan agama maupun dalam hubungan dengan sesama manusia. Jangan sampai seseorang dikenal mudah mengingkari janji, berkhianat, atau meremehkan amanah, karena sifat tersebut termasuk ciri orang munafik.Wasiat kesepuluh, berpegang teguh pada jalan yang lurusWasiat kesepuluh dan yang terakhir ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)Ayat ini menjadi penutup dari sepuluh wasiat Allah, yang menegaskan bahwa jalan keselamatan hanyalah mengikuti jalan Allah yang lurus, yaitu agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Yang dimaksud dengan jalan yang lurus adalah beragama berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah sesuai pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya rahdhiyallahu ‘anhum. Oleh karena itu, seorang muslim diperintahkan untuk istikamah di atas petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi segala bentuk penyimpangan dalam agama.Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melarang mengikuti jalan-jalan lain yang menyimpang dari kebenaran, seperti melakukan bid‘ah, mengedepankan hawa nafsu, dan menyebarkan syubhat. Sebab kebenaran itu satu, sedangkan jalan kesesatan sangat banyak.Kemudian Allah Ta’ala menutup seluruh wasiat ini dengan firman-Nya,ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)Artinya, seluruh wasiat ini adalah jalan menuju ketakwaan. Siapa saja yang ingin menjadi hamba yang bertakwa, haruslah berusaha meniti jalan Allah yang lurus tersebut, menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan istikamah di atas Sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Jalan yang lurus ini adalah jalan para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Jalan inilah yang setiap hari kita minta kepada Allah  ‘Azza wa Jalla dalam setiap salat kita,اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)Doa ini bukan sekadar bacaan, tetapi permohonan agar Allah Ta’ala senantiasa membimbing hati kita untuk tetap istikamah di atas agama Islam yang hak ini, menjauhkan kita dari segala bentuk kesesatan dan pelakunya, serta mewafatkan kita dalam keadaan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunah.Wallahu a’lam bisshawab.[Selesai]***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id

Takut Rezeki Habis? Takut Anak Terlantar? Cemas Masa Depan? Dengarkan Ini!

Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut pada masa depan? Kenapa kamu takut? Anda berada dalam pengaturan Allah. Mengapa takut? Rezekimu ada di tangan-Nya. “Tidaklah satu jiwa akan meninggal dunia hingga seluruh rezekinya telah sempurna.” (HR. Al-Bazzar). “Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22). Mengapa kamu takut? Takdirmu ada di tangan-Nya, perlindunganmu ada di tangan-Nya, keselamatanmu ada di tangan-Nya. Tempuhlah sebab-sebabnya! Doa-doa syar’i itu membentengi, dan kamu berada dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Jangan takut! Bukan kamu yang bisa mencegah takdir menimpa dirimu, karena takdir-takdir Allah tetap berlaku. Pesawat-pesawat yang terbang, kereta-kereta yang melintas, kapal-kapal yang membelah laut, dan mobil-mobil yang berlalu-lalang, semuanya berjalan dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah yang menjaga, akan tetapi jagalah (aturan-aturan) Allah, niscaya kamu akan dijaga. Mengapa takut? Mengapa takut akan masa depan anak-anak? Siapa yang mengurusmu dahulu? Siapa yang mencukupimu? Siapa yang memberimu hingga menjadikanmu memiliki keluarga? Setelah dulunya kamu seorang anak kecil yang lemah, yang tidak mampu membersihkan kotoranmu sendiri, lalu ibumu yang merawatmu. Yang mana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang kedua orang tua: “Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 24). Fase yang paling lama dalam ketidakmampuan untuk mengandalkan diri sendiri dalam bertindak adalah fase kehidupan manusia. Hewan-hewan, kuda misalnya, ketika dilahirkan induknya, ia langsung berdiri tegak di sampingnya, lalu tiba-tiba sudah bisa menyusu. Demikian pula dengan seluruh hewan berkaki empat. Penyu-penyu yang keluar dari telurnya langsung berjalan menuju laut. Sungguh telah dikabarkan oleh Allah tentang hal itu: “Dia yang menentukan takdir, lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 3). “Dia yang menciptakan lalu menyempurnakan, dan Dia yang menentukan takdir lalu memberi petunjuk.” (QS Al-A’la: 2–3). Sedangkan manusia, fasenya paling lama. Umur satu tahun belum bisa apa-apa, tidak bisa menyuapi dirinya sendiri, tidak bisa membersihkan dirinya sendiri, dan tidak bisa berpakaian. Umur dua tahun pun sama saja. Umur tiga tahun baru mulai sedikit-sedikit, dan seterusnya sampai…Lalu ia melupakan semua hal ini. Lantas mengapa kamu takut akan masa depan anak-anakmu? Allah yang mengurus mereka. “Apakah artinya aku harus meninggalkan segala hal?” Tidak, tempuhlah sebab-sebabnya dengan apa yang menjamin kehidupan yang layak bagi mereka. Namun, ketahuilah bahwa Allah-lah yang mengurusmu dan mengurus mereka. Akan tetapi, jangan sampai ada di dalam dirimu atau di dalam hatimu rasa takut pada masa depan, seperti: “Bagaimana nanti? Apa yang akan terjadi?” Ridha pada ketetapan Allah. Apa pun yang terjadi, insya Allah itu adalah kebaikan, Allah menuliskan kebaikan. Mobilnya mogok, dia berkata, “Ini yang terbaik.” Terjadi sesuatu pada dirinya, dia berkata, “Allah memilihkan yang terbaik untukku di dalam kejadian ini.” Ini adalah bentuk keterikatan hati, ini adalah tawakal. Ketika seseorang selalu mengaitkan segala sesuatu kepada Allah, dan meyakini bahwa apa yang Allah pilihkan ini, baik maupun buruknya, adalah kebaikan baginya. Bisa jadi Allah menghindarkan darimu musibah besar yang seharusnya menimpamu, lalu yang datang menimpamu hanyalah sesuatu yang ringan. Bisa jadi takdir awal menetapkan ada batu besar yang akan jatuh menimpamu, batu itu tetap jatuh, tapi Allah mengubahnya menjadi debu sehingga yang jatuh menimpamu hanyalah debu. Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh sebab itu, keliru jika seseorang mengucapkan kalimat yang tersebar luas di tengah masyarakat, padahal kalimat ini memiliki catatan kritis dari sisi akidah. Sebagian orang berkata: “Ya Allah, aku tidak meminta kepada-Mu untuk menolak takdir, akan tetapi aku meminta kepada-Mu kelembutan di dalam takdir tersebut.” Ini keliru. Doa ini keliru! Guru kami, Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya—dan saya mendengarnya sendiri dengan telinga saya ketika beliau ditanya tentang hal ini—mereka berkata: “Ini doa yang lumrah dipakai.” Beliau menjawab, “Keliru, keliru!” Justru kita meminta kepada Allah agar memalingkan dari kita keburukan takdir yang telah ditetapkan. Bukankah di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: “Dan palingkanlah dari kami keburukan apa yang telah Engkau takdirkan.” (HR. Ahmad). Kamu berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh karena itu, bagaimana hubungan doa dan takdir? Doa itu naik, lalu berjumpa dengan takdir, kemudian keduanya saling beradu. Terkadang doa yang menang, atau takdir tetap berlaku. Jika takdir tetap berlaku, doa telah terjaga, maka doa itu dijadikan sebagai simpanan dan pahala yang kekal di sisi Allah, sehingga Allah memberinya manfaat lewat doa tersebut. Maka orang yang berdoa itu pasti beruntung, adakalanya Allah mengabulkan doanya di dunia, atau doanya disimpan untuknya pada hari kiamat. Sampai-sampai kelak dia dapati di sisi Allah pada hari kiamat, lalu dia bertanya, “Wahai Tuhanku, apa pahala yang besar ini?” Allah menjawab, “Ini adalah doa-doa yang disimpan untukmu.” Maka saat itu ia berharap andai saja dahulu tidak ada satu pun doanya yang dikabulkan di dunia, dan berharap semua doanya dahulu benar-benar disimpan untuknya. ===== أَنْتَ ليْشْ خَائِفٌ؟ أَنْتَ ليْشْ تَخَافُ؟ ليْشْ تَخَافُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ؟ أَنْتَ خَائِفٌ لِيهْ؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ الله؟ خَائِفٌ ليْشْ؟ رِزْقُكَ بِيَدِهِ وَلَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا (إِنَّهُ لَا تَمُوتُ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا) وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ أَنْتَ خَائِفٌ ليْشْ؟ قَدَرُكَ بِيَدِهِ، حِفْظُكَ بِيَدِهِ، سَلَامَتُكَ بِيَدِهِ، خُذْ بِالْأَسْبَابِ الْأَدْعِيَةُ الشَّرْعِيَّةُ تُحَصِّنُ، وَأَنْتَ فِي تَدْبِيرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ لَا تَخَفْ لَسْتَ أَنْتَ الَّذِي تَمْنَعُ الْأَقْدَارَ عَنْ نَفْسِكَ، فَأَقْدَارُ اللهِ جَارِيَةٌ الطَّائِرَاتُ الطَّائِرَةُ وَالْقِطَارَاتُ الْعَابِرَةُ وَالسُّفُنُ الْمَاخِرَةُ وَالسَّيَّارَاتُ الْعَابِرَةُ كُلُّهَا بِأَمْرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ هُوَ الَّذِي يَحْفَظُ، لَكِنْ أَنْتَ احْفَظِ اللهَ حَتَّى تُحْفَظَ ليْشْ خَائِفٌ؟ ليْشْ خَائِفٌ عَلَى الْأَوْلَادِ؟ مَنِ الَّذِي تَوَلَّاكَ أَنْتَ؟ مَنِ الَّذِي كَفَاكَ؟ مَنِ الَّذِي أَعْطَاكَ فَجَعَلَكَ ذَا عِيَالٍ؟ بَعْدَ أَنْ كُنْتَ طِفْلًا صَغِيرًا عَاجِزًا عَنْ تَنْظِيفِ نَجَاسَةِ نَفْسِكَ تَهْتَمُّ بِكَ أُمُّكَ الَّذِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْوَالِدَيْنِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ فِي عَدَمِ الْقُدْرَةِ عَلَى الْاِعْتِمَادِ فِي الْأَفْعَالِ بِنَفْسِهِ، مَرْحَلَةُ الْإِنْسَانِ الْحَيَوَانَاتُ، الْحِصَانُ تَلِدُهُ أُمُّهُ، يَنْتَفِضُ بِجِوَارِهَا، وَإِذَا بِهِ يَلْقَمُ ثَدْيًا وَكَذَا كُلُّ ذَوَاتِ الْأَرْبَعِ السَّلَاحِفُ مِنْ بَيْضِهَا، تَذْهَبُ إِلَى الْبَحْرِ قَدْ أَخْبَرَ اللهُ عَنْهَا: قَدَّرَ فَهَدَى الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى، وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى الْإِنْسَانُ أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ سَنَةٌ مَا يَقْدِرُ، لَا يُطْعِمُ نَفْسَهُ، وَلَا يُنَظِّفُ نَفْسَهُ، وَلَا يَلْبَسُ بَسْ سَنَتَيْنِ نَفْسُ الشَّيْءِ، ثَلَاثٌ يَبْدَأُ هَا وَهَكَذَا حَتَّى وَيَنْسَى هَذِهِ الْأَشْيَاءَ، ليْشْ خَائِفٌ عَلَى عِيَالِكَ؟ اللهُ يَتَوَلَّاهُمْ يَعْنِي مَعْنَاهُ ذَلِكَ أَتْرُكُ كُلَّ شَيْءٍ؟ لَا، مَارِسْ بِالْأَسْبَابِ بِمَا يَكْفُلُ لَهُمْ حَيَاةً كَرِيمَةً وَلَكِن اعْلَمْ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَتَوَلَّاكَ وَيَتَوَلَّاهُمْ لَكِنْ لَا يَكُونُ فِي نَفْسِكَ أَوْ فِي قَلْبِكَ الْخَوْفُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ، شْ بِيصِير؟ شْ بِيحصَل؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ، حَصَلَ إِنْ شَاءَ اللهُ الْخَيْرُ، يَكْتُبُ الْخَيْرَ تَعَطَّلَتْ سَيَّارَتُهُ قَالَ: خَيْرَةٌ صَارَ لَهُ شَيْءٌ قَالَ: اللهُ يَخْتَارُ لِي فِيهِ الْخَيْرَ، هَذَا تَعَلُّقٌ، هَذَا تَوَكُّلٌ عِنْدَمَا دَائِمًا يَرْبِطُ كُلَّ شَيْءٍ بِاللهِ وَأَنَّ هَذَا الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ شَرٌّ، يُمْكِنُ اللهُ دَفَعَ عَنْكَ شَيْئًا يَحِلُّ عَلَيْكَ فَأَصَابَكَ شَيْءٌ يُمْكِنُ يُقَدَّرُ لَكَ صَخْرَةٌ تَنْزِلُ عَلَيْكَ فَتَنْزِلُ الصَّخْرَةُ لَكِنْ يَجْعَلُهَا اللهُ تُرَابًا فَتَنْزِلُ عَلَيْكَ فَلِذَلِكَ نَدْعُو اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا الشَّرَّ وَلِذَلِكَ خَطَأٌ أَنْ يَقُولَ الْإِنْسَانُ عِبَارَةً مُنْتَشِرَةً عِنْدَ النَّاسِ وَهِيَ عَلَيْهَا مَلْحَظٌ عَقَدِيٌّ فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: اللَّهُمَّ لَا أَسْأَلُكَ رَدَّ الْقَضَاءِ وَلَكِنْ أَسْأَلُكَ اللُّطْفَ فِيهِ هَذَا غَلَطٌ، الدُّعَاءُ هَذَا غَلَطٌ سُئِلَ شَيْخُنَا الشَّيْخُ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ وَسَمِعْتُهُ بِنَفْسِي لَمَّا سُئِلَ هَذَا قَالُوا: هَذَا دُعَاءٌ جَارِيٌّ، قَالَ: غَلَطٌ غَلَطٌ بَلْ نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَى أَلَيْسَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَيْتَ (وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ)؟ تَدْعُو اللهُ يَصْرِفُ عَنَّا شَرَّ مَا وَلِذَلِكَ الدُّعَاءُ وَالْقَضَاءُ فِي إيه؟ يَرْتَفِعُ الدُّعَاءُ وَيُقَابِلُ الْقَضَاءَ فَيَتَصَارَعَانِ أَوْ يَغْلِبُ الدُّعَاءُ أَوْ يَنْفُذُ الْقَضَاءُ، فَإِذَا نَفَذَ الْقَضَاءُ وَحُفِظَ الدُّعَاءُ جُعِلَ لَهُ عِنْدَ اللهِ ذُخْرًا وَبَقَاءً، فَنَفَعَهُ اللهُ بِهِفَصَ احِبُ الدُّعَاءِ مُفْلِحٌ، إِمَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ أَوْ أَنْ يُحْفَظَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَجِدَ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ: رَبِّي أَيْ مَا هَذِهِ؟ قَالَ: دَعَوَاتٌ اُدُّخِرَتْ لَكَ فَيَتَمَنَّى أَنْ لَمْ يُسْتَجَبْ لَهُ فِي الدُّنْيَا شَيْءٌ وَأَنَّهَا كُلَّهَا قَدِ ادُّخَرَتْ لَهُ

Takut Rezeki Habis? Takut Anak Terlantar? Cemas Masa Depan? Dengarkan Ini!

Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut pada masa depan? Kenapa kamu takut? Anda berada dalam pengaturan Allah. Mengapa takut? Rezekimu ada di tangan-Nya. “Tidaklah satu jiwa akan meninggal dunia hingga seluruh rezekinya telah sempurna.” (HR. Al-Bazzar). “Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22). Mengapa kamu takut? Takdirmu ada di tangan-Nya, perlindunganmu ada di tangan-Nya, keselamatanmu ada di tangan-Nya. Tempuhlah sebab-sebabnya! Doa-doa syar’i itu membentengi, dan kamu berada dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Jangan takut! Bukan kamu yang bisa mencegah takdir menimpa dirimu, karena takdir-takdir Allah tetap berlaku. Pesawat-pesawat yang terbang, kereta-kereta yang melintas, kapal-kapal yang membelah laut, dan mobil-mobil yang berlalu-lalang, semuanya berjalan dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah yang menjaga, akan tetapi jagalah (aturan-aturan) Allah, niscaya kamu akan dijaga. Mengapa takut? Mengapa takut akan masa depan anak-anak? Siapa yang mengurusmu dahulu? Siapa yang mencukupimu? Siapa yang memberimu hingga menjadikanmu memiliki keluarga? Setelah dulunya kamu seorang anak kecil yang lemah, yang tidak mampu membersihkan kotoranmu sendiri, lalu ibumu yang merawatmu. Yang mana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang kedua orang tua: “Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 24). Fase yang paling lama dalam ketidakmampuan untuk mengandalkan diri sendiri dalam bertindak adalah fase kehidupan manusia. Hewan-hewan, kuda misalnya, ketika dilahirkan induknya, ia langsung berdiri tegak di sampingnya, lalu tiba-tiba sudah bisa menyusu. Demikian pula dengan seluruh hewan berkaki empat. Penyu-penyu yang keluar dari telurnya langsung berjalan menuju laut. Sungguh telah dikabarkan oleh Allah tentang hal itu: “Dia yang menentukan takdir, lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 3). “Dia yang menciptakan lalu menyempurnakan, dan Dia yang menentukan takdir lalu memberi petunjuk.” (QS Al-A’la: 2–3). Sedangkan manusia, fasenya paling lama. Umur satu tahun belum bisa apa-apa, tidak bisa menyuapi dirinya sendiri, tidak bisa membersihkan dirinya sendiri, dan tidak bisa berpakaian. Umur dua tahun pun sama saja. Umur tiga tahun baru mulai sedikit-sedikit, dan seterusnya sampai…Lalu ia melupakan semua hal ini. Lantas mengapa kamu takut akan masa depan anak-anakmu? Allah yang mengurus mereka. “Apakah artinya aku harus meninggalkan segala hal?” Tidak, tempuhlah sebab-sebabnya dengan apa yang menjamin kehidupan yang layak bagi mereka. Namun, ketahuilah bahwa Allah-lah yang mengurusmu dan mengurus mereka. Akan tetapi, jangan sampai ada di dalam dirimu atau di dalam hatimu rasa takut pada masa depan, seperti: “Bagaimana nanti? Apa yang akan terjadi?” Ridha pada ketetapan Allah. Apa pun yang terjadi, insya Allah itu adalah kebaikan, Allah menuliskan kebaikan. Mobilnya mogok, dia berkata, “Ini yang terbaik.” Terjadi sesuatu pada dirinya, dia berkata, “Allah memilihkan yang terbaik untukku di dalam kejadian ini.” Ini adalah bentuk keterikatan hati, ini adalah tawakal. Ketika seseorang selalu mengaitkan segala sesuatu kepada Allah, dan meyakini bahwa apa yang Allah pilihkan ini, baik maupun buruknya, adalah kebaikan baginya. Bisa jadi Allah menghindarkan darimu musibah besar yang seharusnya menimpamu, lalu yang datang menimpamu hanyalah sesuatu yang ringan. Bisa jadi takdir awal menetapkan ada batu besar yang akan jatuh menimpamu, batu itu tetap jatuh, tapi Allah mengubahnya menjadi debu sehingga yang jatuh menimpamu hanyalah debu. Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh sebab itu, keliru jika seseorang mengucapkan kalimat yang tersebar luas di tengah masyarakat, padahal kalimat ini memiliki catatan kritis dari sisi akidah. Sebagian orang berkata: “Ya Allah, aku tidak meminta kepada-Mu untuk menolak takdir, akan tetapi aku meminta kepada-Mu kelembutan di dalam takdir tersebut.” Ini keliru. Doa ini keliru! Guru kami, Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya—dan saya mendengarnya sendiri dengan telinga saya ketika beliau ditanya tentang hal ini—mereka berkata: “Ini doa yang lumrah dipakai.” Beliau menjawab, “Keliru, keliru!” Justru kita meminta kepada Allah agar memalingkan dari kita keburukan takdir yang telah ditetapkan. Bukankah di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: “Dan palingkanlah dari kami keburukan apa yang telah Engkau takdirkan.” (HR. Ahmad). Kamu berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh karena itu, bagaimana hubungan doa dan takdir? Doa itu naik, lalu berjumpa dengan takdir, kemudian keduanya saling beradu. Terkadang doa yang menang, atau takdir tetap berlaku. Jika takdir tetap berlaku, doa telah terjaga, maka doa itu dijadikan sebagai simpanan dan pahala yang kekal di sisi Allah, sehingga Allah memberinya manfaat lewat doa tersebut. Maka orang yang berdoa itu pasti beruntung, adakalanya Allah mengabulkan doanya di dunia, atau doanya disimpan untuknya pada hari kiamat. Sampai-sampai kelak dia dapati di sisi Allah pada hari kiamat, lalu dia bertanya, “Wahai Tuhanku, apa pahala yang besar ini?” Allah menjawab, “Ini adalah doa-doa yang disimpan untukmu.” Maka saat itu ia berharap andai saja dahulu tidak ada satu pun doanya yang dikabulkan di dunia, dan berharap semua doanya dahulu benar-benar disimpan untuknya. ===== أَنْتَ ليْشْ خَائِفٌ؟ أَنْتَ ليْشْ تَخَافُ؟ ليْشْ تَخَافُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ؟ أَنْتَ خَائِفٌ لِيهْ؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ الله؟ خَائِفٌ ليْشْ؟ رِزْقُكَ بِيَدِهِ وَلَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا (إِنَّهُ لَا تَمُوتُ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا) وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ أَنْتَ خَائِفٌ ليْشْ؟ قَدَرُكَ بِيَدِهِ، حِفْظُكَ بِيَدِهِ، سَلَامَتُكَ بِيَدِهِ، خُذْ بِالْأَسْبَابِ الْأَدْعِيَةُ الشَّرْعِيَّةُ تُحَصِّنُ، وَأَنْتَ فِي تَدْبِيرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ لَا تَخَفْ لَسْتَ أَنْتَ الَّذِي تَمْنَعُ الْأَقْدَارَ عَنْ نَفْسِكَ، فَأَقْدَارُ اللهِ جَارِيَةٌ الطَّائِرَاتُ الطَّائِرَةُ وَالْقِطَارَاتُ الْعَابِرَةُ وَالسُّفُنُ الْمَاخِرَةُ وَالسَّيَّارَاتُ الْعَابِرَةُ كُلُّهَا بِأَمْرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ هُوَ الَّذِي يَحْفَظُ، لَكِنْ أَنْتَ احْفَظِ اللهَ حَتَّى تُحْفَظَ ليْشْ خَائِفٌ؟ ليْشْ خَائِفٌ عَلَى الْأَوْلَادِ؟ مَنِ الَّذِي تَوَلَّاكَ أَنْتَ؟ مَنِ الَّذِي كَفَاكَ؟ مَنِ الَّذِي أَعْطَاكَ فَجَعَلَكَ ذَا عِيَالٍ؟ بَعْدَ أَنْ كُنْتَ طِفْلًا صَغِيرًا عَاجِزًا عَنْ تَنْظِيفِ نَجَاسَةِ نَفْسِكَ تَهْتَمُّ بِكَ أُمُّكَ الَّذِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْوَالِدَيْنِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ فِي عَدَمِ الْقُدْرَةِ عَلَى الْاِعْتِمَادِ فِي الْأَفْعَالِ بِنَفْسِهِ، مَرْحَلَةُ الْإِنْسَانِ الْحَيَوَانَاتُ، الْحِصَانُ تَلِدُهُ أُمُّهُ، يَنْتَفِضُ بِجِوَارِهَا، وَإِذَا بِهِ يَلْقَمُ ثَدْيًا وَكَذَا كُلُّ ذَوَاتِ الْأَرْبَعِ السَّلَاحِفُ مِنْ بَيْضِهَا، تَذْهَبُ إِلَى الْبَحْرِ قَدْ أَخْبَرَ اللهُ عَنْهَا: قَدَّرَ فَهَدَى الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى، وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى الْإِنْسَانُ أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ سَنَةٌ مَا يَقْدِرُ، لَا يُطْعِمُ نَفْسَهُ، وَلَا يُنَظِّفُ نَفْسَهُ، وَلَا يَلْبَسُ بَسْ سَنَتَيْنِ نَفْسُ الشَّيْءِ، ثَلَاثٌ يَبْدَأُ هَا وَهَكَذَا حَتَّى وَيَنْسَى هَذِهِ الْأَشْيَاءَ، ليْشْ خَائِفٌ عَلَى عِيَالِكَ؟ اللهُ يَتَوَلَّاهُمْ يَعْنِي مَعْنَاهُ ذَلِكَ أَتْرُكُ كُلَّ شَيْءٍ؟ لَا، مَارِسْ بِالْأَسْبَابِ بِمَا يَكْفُلُ لَهُمْ حَيَاةً كَرِيمَةً وَلَكِن اعْلَمْ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَتَوَلَّاكَ وَيَتَوَلَّاهُمْ لَكِنْ لَا يَكُونُ فِي نَفْسِكَ أَوْ فِي قَلْبِكَ الْخَوْفُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ، شْ بِيصِير؟ شْ بِيحصَل؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ، حَصَلَ إِنْ شَاءَ اللهُ الْخَيْرُ، يَكْتُبُ الْخَيْرَ تَعَطَّلَتْ سَيَّارَتُهُ قَالَ: خَيْرَةٌ صَارَ لَهُ شَيْءٌ قَالَ: اللهُ يَخْتَارُ لِي فِيهِ الْخَيْرَ، هَذَا تَعَلُّقٌ، هَذَا تَوَكُّلٌ عِنْدَمَا دَائِمًا يَرْبِطُ كُلَّ شَيْءٍ بِاللهِ وَأَنَّ هَذَا الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ شَرٌّ، يُمْكِنُ اللهُ دَفَعَ عَنْكَ شَيْئًا يَحِلُّ عَلَيْكَ فَأَصَابَكَ شَيْءٌ يُمْكِنُ يُقَدَّرُ لَكَ صَخْرَةٌ تَنْزِلُ عَلَيْكَ فَتَنْزِلُ الصَّخْرَةُ لَكِنْ يَجْعَلُهَا اللهُ تُرَابًا فَتَنْزِلُ عَلَيْكَ فَلِذَلِكَ نَدْعُو اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا الشَّرَّ وَلِذَلِكَ خَطَأٌ أَنْ يَقُولَ الْإِنْسَانُ عِبَارَةً مُنْتَشِرَةً عِنْدَ النَّاسِ وَهِيَ عَلَيْهَا مَلْحَظٌ عَقَدِيٌّ فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: اللَّهُمَّ لَا أَسْأَلُكَ رَدَّ الْقَضَاءِ وَلَكِنْ أَسْأَلُكَ اللُّطْفَ فِيهِ هَذَا غَلَطٌ، الدُّعَاءُ هَذَا غَلَطٌ سُئِلَ شَيْخُنَا الشَّيْخُ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ وَسَمِعْتُهُ بِنَفْسِي لَمَّا سُئِلَ هَذَا قَالُوا: هَذَا دُعَاءٌ جَارِيٌّ، قَالَ: غَلَطٌ غَلَطٌ بَلْ نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَى أَلَيْسَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَيْتَ (وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ)؟ تَدْعُو اللهُ يَصْرِفُ عَنَّا شَرَّ مَا وَلِذَلِكَ الدُّعَاءُ وَالْقَضَاءُ فِي إيه؟ يَرْتَفِعُ الدُّعَاءُ وَيُقَابِلُ الْقَضَاءَ فَيَتَصَارَعَانِ أَوْ يَغْلِبُ الدُّعَاءُ أَوْ يَنْفُذُ الْقَضَاءُ، فَإِذَا نَفَذَ الْقَضَاءُ وَحُفِظَ الدُّعَاءُ جُعِلَ لَهُ عِنْدَ اللهِ ذُخْرًا وَبَقَاءً، فَنَفَعَهُ اللهُ بِهِفَصَ احِبُ الدُّعَاءِ مُفْلِحٌ، إِمَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ أَوْ أَنْ يُحْفَظَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَجِدَ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ: رَبِّي أَيْ مَا هَذِهِ؟ قَالَ: دَعَوَاتٌ اُدُّخِرَتْ لَكَ فَيَتَمَنَّى أَنْ لَمْ يُسْتَجَبْ لَهُ فِي الدُّنْيَا شَيْءٌ وَأَنَّهَا كُلَّهَا قَدِ ادُّخَرَتْ لَهُ
Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut pada masa depan? Kenapa kamu takut? Anda berada dalam pengaturan Allah. Mengapa takut? Rezekimu ada di tangan-Nya. “Tidaklah satu jiwa akan meninggal dunia hingga seluruh rezekinya telah sempurna.” (HR. Al-Bazzar). “Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22). Mengapa kamu takut? Takdirmu ada di tangan-Nya, perlindunganmu ada di tangan-Nya, keselamatanmu ada di tangan-Nya. Tempuhlah sebab-sebabnya! Doa-doa syar’i itu membentengi, dan kamu berada dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Jangan takut! Bukan kamu yang bisa mencegah takdir menimpa dirimu, karena takdir-takdir Allah tetap berlaku. Pesawat-pesawat yang terbang, kereta-kereta yang melintas, kapal-kapal yang membelah laut, dan mobil-mobil yang berlalu-lalang, semuanya berjalan dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah yang menjaga, akan tetapi jagalah (aturan-aturan) Allah, niscaya kamu akan dijaga. Mengapa takut? Mengapa takut akan masa depan anak-anak? Siapa yang mengurusmu dahulu? Siapa yang mencukupimu? Siapa yang memberimu hingga menjadikanmu memiliki keluarga? Setelah dulunya kamu seorang anak kecil yang lemah, yang tidak mampu membersihkan kotoranmu sendiri, lalu ibumu yang merawatmu. Yang mana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang kedua orang tua: “Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 24). Fase yang paling lama dalam ketidakmampuan untuk mengandalkan diri sendiri dalam bertindak adalah fase kehidupan manusia. Hewan-hewan, kuda misalnya, ketika dilahirkan induknya, ia langsung berdiri tegak di sampingnya, lalu tiba-tiba sudah bisa menyusu. Demikian pula dengan seluruh hewan berkaki empat. Penyu-penyu yang keluar dari telurnya langsung berjalan menuju laut. Sungguh telah dikabarkan oleh Allah tentang hal itu: “Dia yang menentukan takdir, lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 3). “Dia yang menciptakan lalu menyempurnakan, dan Dia yang menentukan takdir lalu memberi petunjuk.” (QS Al-A’la: 2–3). Sedangkan manusia, fasenya paling lama. Umur satu tahun belum bisa apa-apa, tidak bisa menyuapi dirinya sendiri, tidak bisa membersihkan dirinya sendiri, dan tidak bisa berpakaian. Umur dua tahun pun sama saja. Umur tiga tahun baru mulai sedikit-sedikit, dan seterusnya sampai…Lalu ia melupakan semua hal ini. Lantas mengapa kamu takut akan masa depan anak-anakmu? Allah yang mengurus mereka. “Apakah artinya aku harus meninggalkan segala hal?” Tidak, tempuhlah sebab-sebabnya dengan apa yang menjamin kehidupan yang layak bagi mereka. Namun, ketahuilah bahwa Allah-lah yang mengurusmu dan mengurus mereka. Akan tetapi, jangan sampai ada di dalam dirimu atau di dalam hatimu rasa takut pada masa depan, seperti: “Bagaimana nanti? Apa yang akan terjadi?” Ridha pada ketetapan Allah. Apa pun yang terjadi, insya Allah itu adalah kebaikan, Allah menuliskan kebaikan. Mobilnya mogok, dia berkata, “Ini yang terbaik.” Terjadi sesuatu pada dirinya, dia berkata, “Allah memilihkan yang terbaik untukku di dalam kejadian ini.” Ini adalah bentuk keterikatan hati, ini adalah tawakal. Ketika seseorang selalu mengaitkan segala sesuatu kepada Allah, dan meyakini bahwa apa yang Allah pilihkan ini, baik maupun buruknya, adalah kebaikan baginya. Bisa jadi Allah menghindarkan darimu musibah besar yang seharusnya menimpamu, lalu yang datang menimpamu hanyalah sesuatu yang ringan. Bisa jadi takdir awal menetapkan ada batu besar yang akan jatuh menimpamu, batu itu tetap jatuh, tapi Allah mengubahnya menjadi debu sehingga yang jatuh menimpamu hanyalah debu. Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh sebab itu, keliru jika seseorang mengucapkan kalimat yang tersebar luas di tengah masyarakat, padahal kalimat ini memiliki catatan kritis dari sisi akidah. Sebagian orang berkata: “Ya Allah, aku tidak meminta kepada-Mu untuk menolak takdir, akan tetapi aku meminta kepada-Mu kelembutan di dalam takdir tersebut.” Ini keliru. Doa ini keliru! Guru kami, Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya—dan saya mendengarnya sendiri dengan telinga saya ketika beliau ditanya tentang hal ini—mereka berkata: “Ini doa yang lumrah dipakai.” Beliau menjawab, “Keliru, keliru!” Justru kita meminta kepada Allah agar memalingkan dari kita keburukan takdir yang telah ditetapkan. Bukankah di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: “Dan palingkanlah dari kami keburukan apa yang telah Engkau takdirkan.” (HR. Ahmad). Kamu berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh karena itu, bagaimana hubungan doa dan takdir? Doa itu naik, lalu berjumpa dengan takdir, kemudian keduanya saling beradu. Terkadang doa yang menang, atau takdir tetap berlaku. Jika takdir tetap berlaku, doa telah terjaga, maka doa itu dijadikan sebagai simpanan dan pahala yang kekal di sisi Allah, sehingga Allah memberinya manfaat lewat doa tersebut. Maka orang yang berdoa itu pasti beruntung, adakalanya Allah mengabulkan doanya di dunia, atau doanya disimpan untuknya pada hari kiamat. Sampai-sampai kelak dia dapati di sisi Allah pada hari kiamat, lalu dia bertanya, “Wahai Tuhanku, apa pahala yang besar ini?” Allah menjawab, “Ini adalah doa-doa yang disimpan untukmu.” Maka saat itu ia berharap andai saja dahulu tidak ada satu pun doanya yang dikabulkan di dunia, dan berharap semua doanya dahulu benar-benar disimpan untuknya. ===== أَنْتَ ليْشْ خَائِفٌ؟ أَنْتَ ليْشْ تَخَافُ؟ ليْشْ تَخَافُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ؟ أَنْتَ خَائِفٌ لِيهْ؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ الله؟ خَائِفٌ ليْشْ؟ رِزْقُكَ بِيَدِهِ وَلَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا (إِنَّهُ لَا تَمُوتُ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا) وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ أَنْتَ خَائِفٌ ليْشْ؟ قَدَرُكَ بِيَدِهِ، حِفْظُكَ بِيَدِهِ، سَلَامَتُكَ بِيَدِهِ، خُذْ بِالْأَسْبَابِ الْأَدْعِيَةُ الشَّرْعِيَّةُ تُحَصِّنُ، وَأَنْتَ فِي تَدْبِيرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ لَا تَخَفْ لَسْتَ أَنْتَ الَّذِي تَمْنَعُ الْأَقْدَارَ عَنْ نَفْسِكَ، فَأَقْدَارُ اللهِ جَارِيَةٌ الطَّائِرَاتُ الطَّائِرَةُ وَالْقِطَارَاتُ الْعَابِرَةُ وَالسُّفُنُ الْمَاخِرَةُ وَالسَّيَّارَاتُ الْعَابِرَةُ كُلُّهَا بِأَمْرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ هُوَ الَّذِي يَحْفَظُ، لَكِنْ أَنْتَ احْفَظِ اللهَ حَتَّى تُحْفَظَ ليْشْ خَائِفٌ؟ ليْشْ خَائِفٌ عَلَى الْأَوْلَادِ؟ مَنِ الَّذِي تَوَلَّاكَ أَنْتَ؟ مَنِ الَّذِي كَفَاكَ؟ مَنِ الَّذِي أَعْطَاكَ فَجَعَلَكَ ذَا عِيَالٍ؟ بَعْدَ أَنْ كُنْتَ طِفْلًا صَغِيرًا عَاجِزًا عَنْ تَنْظِيفِ نَجَاسَةِ نَفْسِكَ تَهْتَمُّ بِكَ أُمُّكَ الَّذِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْوَالِدَيْنِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ فِي عَدَمِ الْقُدْرَةِ عَلَى الْاِعْتِمَادِ فِي الْأَفْعَالِ بِنَفْسِهِ، مَرْحَلَةُ الْإِنْسَانِ الْحَيَوَانَاتُ، الْحِصَانُ تَلِدُهُ أُمُّهُ، يَنْتَفِضُ بِجِوَارِهَا، وَإِذَا بِهِ يَلْقَمُ ثَدْيًا وَكَذَا كُلُّ ذَوَاتِ الْأَرْبَعِ السَّلَاحِفُ مِنْ بَيْضِهَا، تَذْهَبُ إِلَى الْبَحْرِ قَدْ أَخْبَرَ اللهُ عَنْهَا: قَدَّرَ فَهَدَى الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى، وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى الْإِنْسَانُ أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ سَنَةٌ مَا يَقْدِرُ، لَا يُطْعِمُ نَفْسَهُ، وَلَا يُنَظِّفُ نَفْسَهُ، وَلَا يَلْبَسُ بَسْ سَنَتَيْنِ نَفْسُ الشَّيْءِ، ثَلَاثٌ يَبْدَأُ هَا وَهَكَذَا حَتَّى وَيَنْسَى هَذِهِ الْأَشْيَاءَ، ليْشْ خَائِفٌ عَلَى عِيَالِكَ؟ اللهُ يَتَوَلَّاهُمْ يَعْنِي مَعْنَاهُ ذَلِكَ أَتْرُكُ كُلَّ شَيْءٍ؟ لَا، مَارِسْ بِالْأَسْبَابِ بِمَا يَكْفُلُ لَهُمْ حَيَاةً كَرِيمَةً وَلَكِن اعْلَمْ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَتَوَلَّاكَ وَيَتَوَلَّاهُمْ لَكِنْ لَا يَكُونُ فِي نَفْسِكَ أَوْ فِي قَلْبِكَ الْخَوْفُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ، شْ بِيصِير؟ شْ بِيحصَل؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ، حَصَلَ إِنْ شَاءَ اللهُ الْخَيْرُ، يَكْتُبُ الْخَيْرَ تَعَطَّلَتْ سَيَّارَتُهُ قَالَ: خَيْرَةٌ صَارَ لَهُ شَيْءٌ قَالَ: اللهُ يَخْتَارُ لِي فِيهِ الْخَيْرَ، هَذَا تَعَلُّقٌ، هَذَا تَوَكُّلٌ عِنْدَمَا دَائِمًا يَرْبِطُ كُلَّ شَيْءٍ بِاللهِ وَأَنَّ هَذَا الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ شَرٌّ، يُمْكِنُ اللهُ دَفَعَ عَنْكَ شَيْئًا يَحِلُّ عَلَيْكَ فَأَصَابَكَ شَيْءٌ يُمْكِنُ يُقَدَّرُ لَكَ صَخْرَةٌ تَنْزِلُ عَلَيْكَ فَتَنْزِلُ الصَّخْرَةُ لَكِنْ يَجْعَلُهَا اللهُ تُرَابًا فَتَنْزِلُ عَلَيْكَ فَلِذَلِكَ نَدْعُو اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا الشَّرَّ وَلِذَلِكَ خَطَأٌ أَنْ يَقُولَ الْإِنْسَانُ عِبَارَةً مُنْتَشِرَةً عِنْدَ النَّاسِ وَهِيَ عَلَيْهَا مَلْحَظٌ عَقَدِيٌّ فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: اللَّهُمَّ لَا أَسْأَلُكَ رَدَّ الْقَضَاءِ وَلَكِنْ أَسْأَلُكَ اللُّطْفَ فِيهِ هَذَا غَلَطٌ، الدُّعَاءُ هَذَا غَلَطٌ سُئِلَ شَيْخُنَا الشَّيْخُ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ وَسَمِعْتُهُ بِنَفْسِي لَمَّا سُئِلَ هَذَا قَالُوا: هَذَا دُعَاءٌ جَارِيٌّ، قَالَ: غَلَطٌ غَلَطٌ بَلْ نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَى أَلَيْسَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَيْتَ (وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ)؟ تَدْعُو اللهُ يَصْرِفُ عَنَّا شَرَّ مَا وَلِذَلِكَ الدُّعَاءُ وَالْقَضَاءُ فِي إيه؟ يَرْتَفِعُ الدُّعَاءُ وَيُقَابِلُ الْقَضَاءَ فَيَتَصَارَعَانِ أَوْ يَغْلِبُ الدُّعَاءُ أَوْ يَنْفُذُ الْقَضَاءُ، فَإِذَا نَفَذَ الْقَضَاءُ وَحُفِظَ الدُّعَاءُ جُعِلَ لَهُ عِنْدَ اللهِ ذُخْرًا وَبَقَاءً، فَنَفَعَهُ اللهُ بِهِفَصَ احِبُ الدُّعَاءِ مُفْلِحٌ، إِمَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ أَوْ أَنْ يُحْفَظَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَجِدَ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ: رَبِّي أَيْ مَا هَذِهِ؟ قَالَ: دَعَوَاتٌ اُدُّخِرَتْ لَكَ فَيَتَمَنَّى أَنْ لَمْ يُسْتَجَبْ لَهُ فِي الدُّنْيَا شَيْءٌ وَأَنَّهَا كُلَّهَا قَدِ ادُّخَرَتْ لَهُ


Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut pada masa depan? Kenapa kamu takut? Anda berada dalam pengaturan Allah. Mengapa takut? Rezekimu ada di tangan-Nya. “Tidaklah satu jiwa akan meninggal dunia hingga seluruh rezekinya telah sempurna.” (HR. Al-Bazzar). “Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22). Mengapa kamu takut? Takdirmu ada di tangan-Nya, perlindunganmu ada di tangan-Nya, keselamatanmu ada di tangan-Nya. Tempuhlah sebab-sebabnya! Doa-doa syar’i itu membentengi, dan kamu berada dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Jangan takut! Bukan kamu yang bisa mencegah takdir menimpa dirimu, karena takdir-takdir Allah tetap berlaku. Pesawat-pesawat yang terbang, kereta-kereta yang melintas, kapal-kapal yang membelah laut, dan mobil-mobil yang berlalu-lalang, semuanya berjalan dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah yang menjaga, akan tetapi jagalah (aturan-aturan) Allah, niscaya kamu akan dijaga. Mengapa takut? Mengapa takut akan masa depan anak-anak? Siapa yang mengurusmu dahulu? Siapa yang mencukupimu? Siapa yang memberimu hingga menjadikanmu memiliki keluarga? Setelah dulunya kamu seorang anak kecil yang lemah, yang tidak mampu membersihkan kotoranmu sendiri, lalu ibumu yang merawatmu. Yang mana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang kedua orang tua: “Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 24). Fase yang paling lama dalam ketidakmampuan untuk mengandalkan diri sendiri dalam bertindak adalah fase kehidupan manusia. Hewan-hewan, kuda misalnya, ketika dilahirkan induknya, ia langsung berdiri tegak di sampingnya, lalu tiba-tiba sudah bisa menyusu. Demikian pula dengan seluruh hewan berkaki empat. Penyu-penyu yang keluar dari telurnya langsung berjalan menuju laut. Sungguh telah dikabarkan oleh Allah tentang hal itu: “Dia yang menentukan takdir, lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 3). “Dia yang menciptakan lalu menyempurnakan, dan Dia yang menentukan takdir lalu memberi petunjuk.” (QS Al-A’la: 2–3). Sedangkan manusia, fasenya paling lama. Umur satu tahun belum bisa apa-apa, tidak bisa menyuapi dirinya sendiri, tidak bisa membersihkan dirinya sendiri, dan tidak bisa berpakaian. Umur dua tahun pun sama saja. Umur tiga tahun baru mulai sedikit-sedikit, dan seterusnya sampai…Lalu ia melupakan semua hal ini. Lantas mengapa kamu takut akan masa depan anak-anakmu? Allah yang mengurus mereka. “Apakah artinya aku harus meninggalkan segala hal?” Tidak, tempuhlah sebab-sebabnya dengan apa yang menjamin kehidupan yang layak bagi mereka. Namun, ketahuilah bahwa Allah-lah yang mengurusmu dan mengurus mereka. Akan tetapi, jangan sampai ada di dalam dirimu atau di dalam hatimu rasa takut pada masa depan, seperti: “Bagaimana nanti? Apa yang akan terjadi?” Ridha pada ketetapan Allah. Apa pun yang terjadi, insya Allah itu adalah kebaikan, Allah menuliskan kebaikan. Mobilnya mogok, dia berkata, “Ini yang terbaik.” Terjadi sesuatu pada dirinya, dia berkata, “Allah memilihkan yang terbaik untukku di dalam kejadian ini.” Ini adalah bentuk keterikatan hati, ini adalah tawakal. Ketika seseorang selalu mengaitkan segala sesuatu kepada Allah, dan meyakini bahwa apa yang Allah pilihkan ini, baik maupun buruknya, adalah kebaikan baginya. Bisa jadi Allah menghindarkan darimu musibah besar yang seharusnya menimpamu, lalu yang datang menimpamu hanyalah sesuatu yang ringan. Bisa jadi takdir awal menetapkan ada batu besar yang akan jatuh menimpamu, batu itu tetap jatuh, tapi Allah mengubahnya menjadi debu sehingga yang jatuh menimpamu hanyalah debu. Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh sebab itu, keliru jika seseorang mengucapkan kalimat yang tersebar luas di tengah masyarakat, padahal kalimat ini memiliki catatan kritis dari sisi akidah. Sebagian orang berkata: “Ya Allah, aku tidak meminta kepada-Mu untuk menolak takdir, akan tetapi aku meminta kepada-Mu kelembutan di dalam takdir tersebut.” Ini keliru. Doa ini keliru! Guru kami, Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya—dan saya mendengarnya sendiri dengan telinga saya ketika beliau ditanya tentang hal ini—mereka berkata: “Ini doa yang lumrah dipakai.” Beliau menjawab, “Keliru, keliru!” Justru kita meminta kepada Allah agar memalingkan dari kita keburukan takdir yang telah ditetapkan. Bukankah di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: “Dan palingkanlah dari kami keburukan apa yang telah Engkau takdirkan.” (HR. Ahmad). Kamu berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh karena itu, bagaimana hubungan doa dan takdir? Doa itu naik, lalu berjumpa dengan takdir, kemudian keduanya saling beradu. Terkadang doa yang menang, atau takdir tetap berlaku. Jika takdir tetap berlaku, doa telah terjaga, maka doa itu dijadikan sebagai simpanan dan pahala yang kekal di sisi Allah, sehingga Allah memberinya manfaat lewat doa tersebut. Maka orang yang berdoa itu pasti beruntung, adakalanya Allah mengabulkan doanya di dunia, atau doanya disimpan untuknya pada hari kiamat. Sampai-sampai kelak dia dapati di sisi Allah pada hari kiamat, lalu dia bertanya, “Wahai Tuhanku, apa pahala yang besar ini?” Allah menjawab, “Ini adalah doa-doa yang disimpan untukmu.” Maka saat itu ia berharap andai saja dahulu tidak ada satu pun doanya yang dikabulkan di dunia, dan berharap semua doanya dahulu benar-benar disimpan untuknya. ===== أَنْتَ ليْشْ خَائِفٌ؟ أَنْتَ ليْشْ تَخَافُ؟ ليْشْ تَخَافُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ؟ أَنْتَ خَائِفٌ لِيهْ؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ الله؟ خَائِفٌ ليْشْ؟ رِزْقُكَ بِيَدِهِ وَلَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا (إِنَّهُ لَا تَمُوتُ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا) وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ أَنْتَ خَائِفٌ ليْشْ؟ قَدَرُكَ بِيَدِهِ، حِفْظُكَ بِيَدِهِ، سَلَامَتُكَ بِيَدِهِ، خُذْ بِالْأَسْبَابِ الْأَدْعِيَةُ الشَّرْعِيَّةُ تُحَصِّنُ، وَأَنْتَ فِي تَدْبِيرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ لَا تَخَفْ لَسْتَ أَنْتَ الَّذِي تَمْنَعُ الْأَقْدَارَ عَنْ نَفْسِكَ، فَأَقْدَارُ اللهِ جَارِيَةٌ الطَّائِرَاتُ الطَّائِرَةُ وَالْقِطَارَاتُ الْعَابِرَةُ وَالسُّفُنُ الْمَاخِرَةُ وَالسَّيَّارَاتُ الْعَابِرَةُ كُلُّهَا بِأَمْرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ هُوَ الَّذِي يَحْفَظُ، لَكِنْ أَنْتَ احْفَظِ اللهَ حَتَّى تُحْفَظَ ليْشْ خَائِفٌ؟ ليْشْ خَائِفٌ عَلَى الْأَوْلَادِ؟ مَنِ الَّذِي تَوَلَّاكَ أَنْتَ؟ مَنِ الَّذِي كَفَاكَ؟ مَنِ الَّذِي أَعْطَاكَ فَجَعَلَكَ ذَا عِيَالٍ؟ بَعْدَ أَنْ كُنْتَ طِفْلًا صَغِيرًا عَاجِزًا عَنْ تَنْظِيفِ نَجَاسَةِ نَفْسِكَ تَهْتَمُّ بِكَ أُمُّكَ الَّذِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْوَالِدَيْنِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ فِي عَدَمِ الْقُدْرَةِ عَلَى الْاِعْتِمَادِ فِي الْأَفْعَالِ بِنَفْسِهِ، مَرْحَلَةُ الْإِنْسَانِ الْحَيَوَانَاتُ، الْحِصَانُ تَلِدُهُ أُمُّهُ، يَنْتَفِضُ بِجِوَارِهَا، وَإِذَا بِهِ يَلْقَمُ ثَدْيًا وَكَذَا كُلُّ ذَوَاتِ الْأَرْبَعِ السَّلَاحِفُ مِنْ بَيْضِهَا، تَذْهَبُ إِلَى الْبَحْرِ قَدْ أَخْبَرَ اللهُ عَنْهَا: قَدَّرَ فَهَدَى الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى، وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى الْإِنْسَانُ أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ سَنَةٌ مَا يَقْدِرُ، لَا يُطْعِمُ نَفْسَهُ، وَلَا يُنَظِّفُ نَفْسَهُ، وَلَا يَلْبَسُ بَسْ سَنَتَيْنِ نَفْسُ الشَّيْءِ، ثَلَاثٌ يَبْدَأُ هَا وَهَكَذَا حَتَّى وَيَنْسَى هَذِهِ الْأَشْيَاءَ، ليْشْ خَائِفٌ عَلَى عِيَالِكَ؟ اللهُ يَتَوَلَّاهُمْ يَعْنِي مَعْنَاهُ ذَلِكَ أَتْرُكُ كُلَّ شَيْءٍ؟ لَا، مَارِسْ بِالْأَسْبَابِ بِمَا يَكْفُلُ لَهُمْ حَيَاةً كَرِيمَةً وَلَكِن اعْلَمْ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَتَوَلَّاكَ وَيَتَوَلَّاهُمْ لَكِنْ لَا يَكُونُ فِي نَفْسِكَ أَوْ فِي قَلْبِكَ الْخَوْفُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ، شْ بِيصِير؟ شْ بِيحصَل؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ، حَصَلَ إِنْ شَاءَ اللهُ الْخَيْرُ، يَكْتُبُ الْخَيْرَ تَعَطَّلَتْ سَيَّارَتُهُ قَالَ: خَيْرَةٌ صَارَ لَهُ شَيْءٌ قَالَ: اللهُ يَخْتَارُ لِي فِيهِ الْخَيْرَ، هَذَا تَعَلُّقٌ، هَذَا تَوَكُّلٌ عِنْدَمَا دَائِمًا يَرْبِطُ كُلَّ شَيْءٍ بِاللهِ وَأَنَّ هَذَا الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ شَرٌّ، يُمْكِنُ اللهُ دَفَعَ عَنْكَ شَيْئًا يَحِلُّ عَلَيْكَ فَأَصَابَكَ شَيْءٌ يُمْكِنُ يُقَدَّرُ لَكَ صَخْرَةٌ تَنْزِلُ عَلَيْكَ فَتَنْزِلُ الصَّخْرَةُ لَكِنْ يَجْعَلُهَا اللهُ تُرَابًا فَتَنْزِلُ عَلَيْكَ فَلِذَلِكَ نَدْعُو اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا الشَّرَّ وَلِذَلِكَ خَطَأٌ أَنْ يَقُولَ الْإِنْسَانُ عِبَارَةً مُنْتَشِرَةً عِنْدَ النَّاسِ وَهِيَ عَلَيْهَا مَلْحَظٌ عَقَدِيٌّ فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: اللَّهُمَّ لَا أَسْأَلُكَ رَدَّ الْقَضَاءِ وَلَكِنْ أَسْأَلُكَ اللُّطْفَ فِيهِ هَذَا غَلَطٌ، الدُّعَاءُ هَذَا غَلَطٌ سُئِلَ شَيْخُنَا الشَّيْخُ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ وَسَمِعْتُهُ بِنَفْسِي لَمَّا سُئِلَ هَذَا قَالُوا: هَذَا دُعَاءٌ جَارِيٌّ، قَالَ: غَلَطٌ غَلَطٌ بَلْ نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَى أَلَيْسَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَيْتَ (وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ)؟ تَدْعُو اللهُ يَصْرِفُ عَنَّا شَرَّ مَا وَلِذَلِكَ الدُّعَاءُ وَالْقَضَاءُ فِي إيه؟ يَرْتَفِعُ الدُّعَاءُ وَيُقَابِلُ الْقَضَاءَ فَيَتَصَارَعَانِ أَوْ يَغْلِبُ الدُّعَاءُ أَوْ يَنْفُذُ الْقَضَاءُ، فَإِذَا نَفَذَ الْقَضَاءُ وَحُفِظَ الدُّعَاءُ جُعِلَ لَهُ عِنْدَ اللهِ ذُخْرًا وَبَقَاءً، فَنَفَعَهُ اللهُ بِهِفَصَ احِبُ الدُّعَاءِ مُفْلِحٌ، إِمَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ أَوْ أَنْ يُحْفَظَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَجِدَ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ: رَبِّي أَيْ مَا هَذِهِ؟ قَالَ: دَعَوَاتٌ اُدُّخِرَتْ لَكَ فَيَتَمَنَّى أَنْ لَمْ يُسْتَجَبْ لَهُ فِي الدُّنْيَا شَيْءٌ وَأَنَّهَا كُلَّهَا قَدِ ادُّخَرَتْ لَهُ

7 Ibadah Hati yang Menjadikan Haji Mabrur

Banyak orang fokus pada gerakan lahiriah saat haji, tetapi lupa bahwa inti haji justru ada pada hati. Padahal, amal haji tidak akan bernilai tanpa keikhlasan, ketakwaan, tawakal, dan pengagungan kepada Allah. Tulisan ini membahas tujuh ibadah hati terpenting dalam haji yang akan mengubah perjalanan haji biasa menjadi haji yang mabrur dan penuh bekas dalam kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Ibadah Hati: Bekal Terbesar Saat Haji 2. Bentuk-Bentuk Ibadah Hati yang Paling Penting dalam Haji 2.1. 1. Mentauhidkan Allah dan Mengikhlaskan Ibadah Hanya untuk-Nya 2.1.1. Hadits Bithaqah: Tauhid yang Tulus Mengalahkan Tumpukan Dosa 2.1.2. Amal Besar Tanpa Ikhlas Tidak Bernilai 2.2. 2. Berserah Diri dan Tunduk kepada Syariat Allah Tabaraka wa Ta’ala 2.3. 3. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala 2.4. 4. Bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla 2.5. 5. Mengagungkan Syiar-Syiar Allah Jalla wa ‘Ala 2.6. 6. Mengingat Akhirat 2.7. 7. Mencintai Kebaikan untuk Kaum Muslimin dan Berbuat Baik kepada Mereka  Ibadah Hati: Bekal Terbesar Saat HajiDi antara ibadah yang paling penting dan paling layak diperbanyak oleh seorang hamba ketika berhaji adalah ibadah-ibadah hati. Hendaknya waktu haji dipenuhi dengan amalan seperti mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, mencintai-Nya, bertawakal kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, mengagungkan-Nya, tunduk kepada-Nya, menampakkan kebutuhan dan kefakiran diri kepada-Nya, bersungguh-sungguh dalam berdoa, meminta, dan memohon kepada-Nya, disertai taubat, kembali kepada Allah, sabar, ridha, tenang, dan amalan hati lainnya.Sesungguhnya inti ajaran Islam berputar pada amalan-amalan hati tersebut.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Barang siapa memperhatikan syariat pada sumber-sumber dan cabang-cabangnya, ia akan mengetahui eratnya hubungan antara amalan anggota badan dengan amalan hati, dan bahwa amalan lahir tidak akan bermanfaat tanpa amalan hati.” (Badai’ Al-Fawaid, 3:330) Bentuk-Bentuk Ibadah Hati yang Paling Penting dalam Haji1. Mentauhidkan Allah dan Mengikhlaskan Ibadah Hanya untuk-NyaKetika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai ibadah haji, beliau berdoa kepada Rabb-nya sambil memohon pertolongan kepada-Nya. Beliau juga menunjukkan sikap zuhud terhadap dunia dan hidup sederhana selama berhaji, baik dalam sedikitnya bekal maupun kendaraan yang beliau gunakan. Semua itu beliau lakukan demi mengharap ridha Allah dan merealisasikan keikhlasan kepada-Nya.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,حَجَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَحْلٍ رَثٍّ، وَقَطِيفَةٍ تُسَاوِي أَرْبَعَةَ دَرَاهِمَ أَوْ لَا تُسَاوِي، ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ حَجَّةً لَا رِيَاءَ فِيهَا وَلَا سُمْعَةَ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhaji di atas pelana yang sudah usang dan dengan kain beludru yang harganya hanya sekitar empat dirham atau bahkan kurang dari itu. Kemudian beliau berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah hajiku ini haji yang tidak ada riya dan tidak pula mencari popularitas di dalamnya.’” (HR. Ibnu Majah, no. 2890; Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)Hal terbaik yang semestinya paling diperhatikan oleh seorang jamaah haji adalah memurnikan tauhid dan ibadah hanya untuk Allah Rabb semesta alam. Dengan tauhid dan keikhlasan itulah amal dan usahanya diterima. Sebaliknya, tanpa keikhlasan, amal akan tertolak dan usahanya menjadi sia-sia.Bahkan, rukun pertama dalam ibadah haji adalah ikhlas dalam berniat untuk Allah. Niat merupakan amalan hati, dan tidak ada satu ibadah pun yang sah tanpa niat tersebut.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan talbiyah sebagai syiar haji yang penuh dengan tauhid, penegasan keikhlasan kepada Allah, dan penolakan terhadap segala bentuk kesyirikan.Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkata, menjelaskan perhatian besar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap tauhid dan keikhlasan dalam ibadah haji,فَأَهَلَّ بِالتَّوْحِيدِ: «لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ»“Maka beliau bertalbiyah dengan tauhid: ‘Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.’” (HR. Muslim. no. 1218)Keikhlasan adalah amalan hati yang paling agung dan paling tinggi kedudukannya dalam definisi iman. Bahkan secara umum, amalan-amalan hati lebih besar dan lebih penting daripada amalan anggota badan.Sesungguhnya seorang jamaah haji yang memurnikan tauhid dan talbiyahnya hanya untuk Allah Rabb semesta alam, berarti ia telah menegakkan salah satu amalan hati yang paling agung dalam musim haji. Ia tidak menyekutukan Allah dengan siapa pun.Sungguh, kedudukan ikhlas dalam ibadah—bahkan dalam seluruh amalan, termasuk perkara mubah—adalah sesuatu yang sangat menakjubkan. Dengan keikhlasan, Allah memberikan pahala besar atas amalan yang sedikit. Sebaliknya, karena riya dan hilangnya keikhlasan, Allah tidak memberikan nilai apa pun pada amalan yang banyak.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Satu jenis amalan yang sama bisa dilakukan seseorang dengan cara yang sempurna keikhlasan dan penghambaan dirinya kepada Allah di dalamnya, sehingga Allah mengampuni dosa-dosa besar karenanya, sebagaimana dalam hadits bithaqah (kartu catatan amal).” (Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah, 6:219) Hadits Bithaqah: Tauhid yang Tulus Mengalahkan Tumpukan DosaHadits bithaqah diriwayatkan oleh Tirmidzi—dan beliau menilainya hasan—juga oleh An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مِدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يُقَالُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ. فَيُقَالُ: أَفَلَكَ عُذْرٌ أَوْ حَسَنَةٌ فِيهَا؟ فَيَقُولُ الرَّجُلُ: لَا. فَيُقَالُ: بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً، وَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ. فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولُ: يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ، وَالْبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ»“Akan dipanggil seorang laki-laki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibentangkan untuknya sembilan puluh sembilan catatan dosa, setiap catatan sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari semua ini? Apakah para malaikat pencatat-Ku menzalimimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, wahai Rabbku.’Lalu dikatakan lagi, ‘Apakah engkau memiliki alasan atau satu kebaikan?’ Maka orang itu pun ketakutan dan berkata, ‘Tidak.’Lalu Allah berfirman, ‘Bahkan, engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan pada hari ini engkau tidak akan dizalimi.’Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu bertuliskan:أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya.’Orang itu berkata, ‘Wahai Rabbku, apa arti kartu ini dibandingkan catatan-catatan dosa itu?’Lalu dikatakan, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan dizalimi.’Maka catatan-catatan dosa itu diletakkan di satu daun timbangan dan kartu tersebut di daun timbangan lainnya. Ternyata catatan-catatan dosa itu menjadi ringan dan kartu tersebut menjadi berat.” (HR. Tirmidzi, no. 2639; Ibnu Majah, no. 4300; Al-Hakim, no. 1937. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)Baca juga: Kartu Laa Ilaha Illallah Mengalahkan Catatan Dosa Sejauh Mata Memandang Amal Besar Tanpa Ikhlas Tidak BernilaiSebaliknya, kita mendapati bahwa melakukan ketaatan tanpa keikhlasan dan tanpa kejujuran kepada Allah tidak memiliki nilai dan pahala sedikit pun. Bahkan pelakunya terancam dengan ancaman yang sangat keras, walaupun amalan tersebut termasuk amalan besar seperti berinfak di jalan kebaikan, berjihad melawan orang kafir, atau menuntut serta mengajarkan ilmu syar’i.Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ…»“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah seorang yang mati syahid…”Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tiga golongan:orang yang berjihad agar disebut pemberani,orang yang belajar dan mengajarkan ilmu agar disebut alim,dan orang yang berinfak agar disebut dermawan.Masing-masing dikatakan kepada mereka:«كَذَبْتَ»“Engkau dusta.”Karena semua itu dilakukan agar dipuji manusia, bukan ikhlas karena Allah. Kemudian mereka diseret di atas wajah mereka dan dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim. no. 1905)Baca juga: Belajar Agama Hanya untuk Mencari DuniaKarena itu, wahai jamaah haji, jangan pergi ke Tanah Suci sementara dalam hatimu masih ada pengagungan kepada batu atau manusia, apalagi sampai berdoa kepada orang mati, thawaf di kuburan, atau meyakini bahwa Allah memiliki sekutu, penolong, atau pembantu.Murnikanlah tauhidmu. Ikutilah sunnah Nabimu. Dengan itu engkau akan selamat, mendapatkan penerimaan amal, dan meraih keberuntungan. 2. Berserah Diri dan Tunduk kepada Syariat Allah Tabaraka wa Ta’alaSeorang jamaah haji menjalankan berbagai amalan dan manasik ibadah dalam haji yang terkadang ia belum memahami hikmah di balik sebagian amalan tersebut. Namun hatinya tetap ridha, khusyuk, dan tenang terhadap apa yang ia lakukan karena semua itu dilakukan dalam rangka mengikuti sunnah. Ia tidak membiarkan keraguan dan bisikan setan merusak hatinya serta menghilangkan pahala amalnya.Betapa kita sangat membutuhkan latihan bagi akal dan jiwa agar tunduk kepada syariat Allah Ta’ala dengan penuh kepasrahan dan ketundukan. Haji merupakan contoh terbaik untuk mewujudkan sikap tersebut. Perpindahan jamaah haji dari satu masy’ar ke masy’ar lainnya, thawaf mengelilingi Ka’bah, mencium Hajar Aswad, melempar jumrah, dan amalan lainnya adalah contoh nyata dari sikap tunduk kepada syariat Allah Ta’ala dan menerima hukum-Nya dengan lapang dada serta hati yang tenteram.Nabi Ibrahim Al-Khalil dan putranya, Ismail ‘alaihimash shalatu wassalam, pernah berdoa,رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu dan jadikanlah di antara keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami tata cara manasik kami, serta terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 128)Mereka berdua berdoa untuk diri mereka dan keturunan mereka agar memiliki sifat Islam yang hakiki, yaitu tunduk dan patuhnya hati kepada Rabb-nya, yang kemudian tercermin pada ketundukan anggota badan.Sungguh indah perkataan Umar Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu tentang Hajar Aswad,«إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ»“Aku benar-benar tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak bisa memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat. Kalaulah aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari, no. 1597)Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dalam ucapan Umar tersebut terdapat sikap berserah diri kepada syariat dalam urusan agama, serta bagusnya mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perkara yang belum diketahui hikmahnya. Ini merupakan kaidah agung dalam mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada apa yang beliau lakukan, walaupun hikmahnya belum diketahui.” (Fath Al-Bari, 3:463)Qiwamus Sunnah Ismail Al-Ashbahani rahimahullah juga berkata, “Termasuk manhaj Ahlus Sunnah adalah bahwa setiap riwayat yang didengar seseorang namun belum dapat dijangkau oleh akalnya, maka wajib baginya untuk menerima, membenarkan, menyerahkan ilmunya kepada Allah, dan ridha terhadapnya. Ia tidak boleh menanggapi sesuatu pun dari perkara tersebut dengan akal dan hawa nafsunya.” (Al-Hujjah fi Bayan Al-Mahajjah, 2:435 dan Afdhal Ayyam Ad-Dunya oleh Jamaz bin ‘Abdurrahman, hlm. 18)Karena itu, siapa yang ingin meraih haji yang mabrur hendaknya menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Rabb-nya, memasrahkan seluruh urusannya kepada-Nya, serta berdoa kepada-Nya dengan penuh harap dan rasa takut. 3. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaIbadah-ibadah disyariatkan untuk menyucikan jiwa, memperbaiki hati, dan mewujudkan ketakwaan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dalam rangkaian ayat-ayat tentang haji terdapat banyak isyarat yang mendorong seorang hamba agar memperbanyak ketaatan ketika melaksanakan manasik, sekaligus mengingatkannya bahwa tujuan utama ibadah adalah meraih ketakwaan kepada Allah dan rasa takut kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى“Haji itu (dilaksanakan pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam bulan-bulan itu, janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Para jamaah haji diperintahkan membawa bekal untuk perjalanan mereka dan tidak bepergian tanpa bekal. Kemudian Allah mengingatkan mereka tentang bekal perjalanan menuju akhirat, yaitu takwa. Sebagaimana seorang musafir tidak akan sampai ke tujuannya tanpa bekal yang mengantarkannya, demikian pula seorang musafir menuju Allah dan negeri akhirat tidak akan sampai kecuali dengan bekal takwa. Maka Allah menggabungkan antara dua bekal tersebut: bekal lahir dan bekal batin.” (Ighatsah Al-Lahfaan, hlm. 58)Baca juga: Menjaga Kesucian Haji: Rafats, Fusuq, dan JidalMewujudkan ketakwaan hati termasuk amalan hati yang sangat penting dalam ibadah haji. Allah Ta’ala berfirman,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,«التَّقْوَى هَاهُنَا، التَّقْوَى هَاهُنَا، التَّقْوَى هَاهُنَا»“Takwa itu di sini, takwa itu di sini, takwa itu di sini,” sambil beliau menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali. (HR. Muslim, no. 2564)Tempat ketakwaan adalah hati. Takwa mencakup seluruh amal kebaikan, kebajikan, dan kesalehan, terlebih ketika kata “takwa” disebut secara mutlak. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah membahas masalah ini dalam awal kitab Al-Iman, ketika menjelaskan makna kata al-birr dan at-taqwa serta istilah-istilah lain dalam Al-Qur’an yang mencakup seluruh amal keimanan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.Mewujudkan ketakwaan juga menjadi sebab diraihnya rahmat Allah. Rahmat tersebut berlaku di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A‘raf: 156)Apabila seorang jamaah haji benar-benar mewujudkan ketakwaan kepada Allah, maka ia akan memperoleh kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13) 4. Bertawakal kepada Allah ‘Azza wa JallaSeorang jamaah haji keluar meninggalkan rumahnya dalam keadaan memikirkan apa yang ia tinggalkan di belakangnya: harta, pekerjaan, keluarga, dan anak-anaknya. Ia pergi meninggalkan mereka, berpamitan tanpa mengetahui apakah ia akan kembali dari safar dan perjalanannya itu, atau justru di sanalah ajal dan akhir hidupnya.Karena itulah tawakal kepada Allah menjadi obat bagi hati yang gelisah dan penenteram bagi jiwa yang bingung. Tawakal termasuk amalan hati yang dibutuhkan setiap waktu, dan semakin ditekankan pada musim haji.Tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla termasuk amalan hati yang paling agung. Hakikat tawakal adalah bersandarnya hati secara sempurna kepada Allah disertai keyakinan penuh kepada-Nya.Dari tawakal lahir banyak bentuk ibadah hati lainnya, seperti rasa takut, harap, cinta, rasa cemas, dan lainnya.Namun tawakal bukan berarti meninggalkan sebab, pasrah kepada kemalasan, atau bersikap tidak mau berusaha. Hakikat tawakal justru adalah menempuh sebab-sebab yang Allah perintahkan untuk diambil, tanpa bersandar kepada sebab tersebut dan tanpa menaruh kepercayaan penuh kepadanya. Yang menjadi sandaran dan tempat bergantung hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla, Dzat yang menciptakan sebab dan akibatnya.Dialah yang menjadikan sebab memiliki pengaruh. Seandainya Allah menghendaki, Dia mampu mencabut pengaruh tersebut sehingga sebab itu tidak lagi menghasilkan apa pun.Karena itu, termasuk tanda lemahnya tawakal kepada Allah adalah terlalu bergantung kepada sebab-sebab duniawi, merasa tenang sepenuhnya kepadanya, serta takut berlebihan ketika sebab itu hilang, seolah-olah sebab tersebut dapat memberi manfaat atau mudarat dengan sendirinya.Akibat sikap seperti ini, seseorang yang terlalu bergantung kepada sebab bisa terjatuh dalam perkara haram atau meninggalkan kewajiban. Bahkan bisa jadi ia mengarahkan rasa takut dan harapnya—yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla—kepada makhluk yang lemah, yang sebenarnya tidak mampu mendatangkan mudarat maupun manfaat untuk dirinya sendiri, apalagi untuk orang lain. 5. Mengagungkan Syiar-Syiar Allah Jalla wa ‘AlaDi antara tujuan dan hikmah terbesar ibadah haji adalah mendidik seorang hamba agar mengagungkan syiar-syiar Allah dan perkara-perkara yang dimuliakan-Nya, menghormatinya, mencintainya, serta merasa takut untuk meremehkan atau melanggarnya.Allah Ta’ala berfirman setelah menyebutkan beberapa hukum tentang haji,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Allah Ta’ala juga berfirman,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (QS. Al-Hajj: 30)Haji merupakan salah satu momen terbesar tampaknya pengagungan kepada Allah. Bahkan pengagungan tersebut termasuk tujuan utama dari ibadah haji. Di antara bentuk pengagungan terhadap syiar Allah adalah bersungguh-sungguh dalam menaati Allah sesuai syariat-Nya dan mengikuti sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.Wukuf di Arafah termasuk syiar Allah. Hewan kurban termasuk syiar Allah. Mencukur rambut ketika tahallul termasuk syiar Allah. Melempar jumrah juga termasuk syiar Allah. Barang siapa mengagungkannya, maka itu merupakan bagian dari ketakwaan hati.Karena itu, mengagungkan seluruh manasik haji termasuk bagian dari ketakwaan hati, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ahli tafsir.Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«لَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِخَيْرٍ مَا عَظَّمُوا هَذِهِ الْحُرْمَةَ حَقَّ تَعْظِيمِهَا، فَإِذَا تَرَكُوهَا وَضَيَّعُوهَا هَلَكُوا»“Umat ini akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengagungkan kehormatan ini dengan pengagungan yang semestinya. Jika mereka meninggalkan dan menyia-nyiakannya, maka mereka akan binasa.” (HR. Ahmad, 4:347; Ibnu Majah, no. 3110; Sanad Hadits ini hasan menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Fath Al-Bari, 3:449)Kita perlu memahami bahwa mengagungkan syiar Allah dilakukan dengan memuliakannya di dalam hati, mencintainya, dan menyempurnakan penghambaan kepada Allah ketika menjalankannya.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Ruh ibadah adalah pengagungan dan kecintaan. Jika salah satunya hilang, maka ibadah itu menjadi rusak.” (Madarij As-Salikin, 1:459)Mengagungkan syiar dan larangan Allah merupakan tanda kuatnya iman dan besarnya kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, meremehkan perintah-perintah Allah menunjukkan lemahnya iman dan kurangnya rasa takut kepada-Nya.Sangat disayangkan, sebagian jamaah haji—semoga Allah memberi mereka hidayah—masih meremehkan sebagian manasik, seperti melempar jumrah, mabit, dan amalan lainnya. Mereka mewakilkannya kepada orang lain tanpa kebutuhan yang mendesak. Bahkan ada yang pulang ke negerinya sebelum mabit dan sebelum melempar jumrah. Ini jelas menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan termasuk bentuk meremehkan syiar-syiar Allah.Haji bukan sekadar perjalanan santai, bukan pula wisata religi semata. Haji adalah ibadah yang agung dan momentum besar untuk memperkuat iman. Karena itu, hendaknya seorang hamba memperbanyak bekal amal saleh selama menjalankannya.Barang siapa merasakan keagungan Allah pada hari-hari mulia ini, ia tidak akan menyia-nyiakan walau satu jam pun darinya.Maka hendaklah orang-orang yang berani melanggar kehormatan Allah bertakwa kepada-Nya. Sesungguhnya dosa menjadi lebih besar ketika dilakukan di tanah haram dan di sekitar rumah Allah. Hendaknya mereka membersihkan jiwa dari dosa-dosa besar dan membersihkan Baitullah dari kotoran maksiat dan amal-amal buruk. 6. Mengingat AkhiratKetika seorang jamaah haji meninggalkan kampung halamannya dan menempuh beratnya perjalanan, hendaknya ia mengingat keluarnya manusia dari dunia ini melalui kematian menuju hari kebangkitan dan berbagai kedahsyatannya.Saat seorang yang berihram mengenakan pakaian ihramnya, hendaknya ia mengingat kain kafannya dan menyadari bahwa suatu saat nanti ia akan bertemu Rabb-nya dengan penampilan yang berbeda dari pakaian penduduk dunia.Baca juga: Dahsyatnya Hari Kiamat: Manusia Dikumpulkan Tanpa Busana dan Tanpa Alas KakiKetika ia berdiri di Arafah, melihat manusia yang berdesakan, suara yang saling meninggi, serta berbagai bahasa yang berbeda-beda, hendaknya ia mengingat padang mahsyar pada hari kiamat dan berkumpulnya seluruh umat manusia di tempat tersebut.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,فَلِلَّهِ ذَاكَ الْمَوْقِفُ الْأَعْظَمُ الَّذِي كَمَوْقِفِ يَوْمِ الْعَرْضِ بَلْ ذَاكَ أَعْظَمُ“Maka sungguh agung peristiwa itu,Seperti peristiwa hari dihadapkan kepada Allah, bahkan lebih agung lagi.”Belum lagi beratnya perjalanan dan kelelahan berpindah dari satu masy’ar ke masy’ar lainnya. Di sana seorang hamba akan teringat sempit dan sulitnya keadaan di padang kiamat, sampai-sampai ada manusia yang tenggelam dalam keringatnya sendiri.Ketika seorang jamaah haji meninggalkan negeri, keluarga, pekerjaan, harta, dan perdagangannya, hendaknya ia mengingat sebuah perjalanan yang tidak ada kepulangan setelahnya, yaitu perjalanan menuju akhirat.Apabila seorang hamba benar-benar mengingat hal tersebut, ia akan berhaji layaknya orang yang sedang berpamitan untuk terakhir kalinya. Ia akan lebih sering mengingat kematian dan kubur, lalu berdoa kepada Rabb-nya dengan sungguh-sungguh memohon ampunan, hingga ia kembali dari hajinya dalam keadaan bersih dari dosa seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya. 7. Mencintai Kebaikan untuk Kaum Muslimin dan Berbuat Baik kepada MerekaBerkumpulnya manusia dan padatnya jamaah haji sering kali menampakkan akhlak asli seseorang, terutama saat menghadapi kesulitan. Karena itu, di antara amalan hati yang sangat penting dalam musim haji adalah memiliki kasih sayang kepada sesama muslim, bersikap lembut kepada jamaah haji, serta mencintai kebaikan untuk mereka.Dalam penjelasan Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang haji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menggambarkan kelembutan dan kasih sayang Nabi kepada manusia. Jabir berkata,«وَقَدْ شَنَقَ لِلْقَصْوَاءِ الزِّمَامَ حَتَّى إِنَّ رَأْسَهَا لَيُصِيبُ مَوْرِكَ رَحْلِهِ وَيَقُولُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى: أَيُّهَا النَّاسُ السَّكِينَةَ السَّكِينَةَ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan tali kendali Al-Qashwa’ (unta beliau) agar tidak berjalan cepat sehingga tidak menyakiti manusia, sampai kepala untanya hampir menyentuh pelana. Sambil memberi isyarat dengan tangan kanannya beliau berkata, ‘Wahai manusia, tenanglah… tenanglah.’” (HR. Muslim, no. 1218)Maksudnya adalah bersikap lembut, tidak tergesa-gesa, memperhatikan orang-orang lemah, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.Allah Ta’ala telah menyiapkan pahala yang sangat besar bagi haji yang mabrur. Di antara makna al-birr (kebaikan) dalam haji adalah berbuat baik kepada manusia.Dalam hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ»“Kebaikan adalah akhlak yang mulia.” (HR. Muslim, no. 2553)Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama menjelaskan bahwa al-birr bisa bermakna menyambung hubungan, kelembutan, kebaikan, pergaulan yang baik, serta ketaatan. Semua itu merupakan inti dari akhlak yang mulia. Dan hal ini sangat dibutuhkan dalam ibadah haji, yaitu memperlakukan manusia dengan baik melalui ucapan maupun perbuatan.”Safar disebut sebagai safar karena perjalanan itu akan menyingkap akhlak asli seseorang.Dalam Musnad Ahmad, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ»“Haji mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.” Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan haji yang mabrur, wahai Rasulullah?”Beliau menjawab,«إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ»“Memberi makan dan menyebarkan salam.”Dalam riwayat lain disebutkan,«وَطِيبُ الْكَلَامِ»“Dan ucapan yang baik.” (HR. Ahmad, no. 3:325; Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 3:479)Sa’id bin Jubair rahimahullah pernah ditanya, “Haji seperti apa yang paling utama?”Beliau menjawab, “Haji orang yang memberi makan dan menjaga lisannya.”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku mendengar bahwa itu termasuk bentuk haji yang mabrur.”Dalam riwayat mursal Khalid bin Ma’dan disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa gunanya seseorang mendatangi Baitullah jika ia tidak memiliki tiga sifat:wara’ yang menghalanginya dari perkara haram,kelembutan (hilm) yang mampu mengendalikan emosinya,dan pergaulan yang baik terhadap teman seperjalanannya.Jika tidak demikian, maka Allah tidak membutuhkan hajinya.”Di antara sifat kebaikan yang paling mencakup dan sangat dibutuhkan oleh jamaah haji adalah wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Jurai Al-Hujaimi—yaitu Jabir bin Sulaim radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا أَنْ تَأْتِيَهُ، وَلَوْ أَنْ تَهَبَ صِلَةَ الْحَبْلِ، وَلَوْ أَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ الْمُسْتَسْقِي، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ الْمُسْلِمَ وَوَجْهُكَ بَسْطٌ إِلَيْهِ، وَلَوْ أَنْ تُؤْنِسَ الْوَحْشَانَ بِنَفْسِكَ، وَلَوْ أَنْ تَهَبَ الشِّسْعَ، وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ، فَإِنَّهُ مِنَ الْمَخِيلَةِ وَلَا يُحِبُّهَا اللَّهُ“Jangan sekali-kali engkau meremehkan sedikit pun perbuatan baik yang bisa engkau lakukan, walaupun hanya memberikan tali pengikat, atau menuangkan air dari timbamu ke wadah orang yang meminta air, atau bertemu saudaramu sesama muslim dengan wajah yang berseri kepadanya, atau menghibur orang yang kesepian dengan kehadiranmu, atau memberikan tali sandal. Dan jauhilah menjulurkan pakaian hingga melewati mata kaki, karena itu termasuk kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan tersebut.” (HR. Ahmad, 3:482. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini sahih)Karena itu, jangan sampai seorang jamaah haji meremehkan satu pun bentuk kebaikan, walaupun hanya menyingkirkan gangguan dari jalan, atau menyapa saudaranya dengan wajah yang berseri-seri.Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya dan paling sabar menghadapi gangguan manusia.Allah telah menyiapkan surga-surga ‘Adn bagi orang-orang yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, dan memaafkan manusia.Sesungguhnya haji adalah perjalanan iman yang sangat mendalam, dipenuhi ibadah-ibadah agung dan kenangan yang mulia. Sebaik-baik jamaah haji adalah yang paling bermanfaat bagi saudara-saudaranya sesama muslim, paling sabar menghadapi gangguan manusia, dan paling bertakwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita kesempatan berhaji ke Baitullah Al-Haram, memudahkan pelaksanaannya bagi kita, serta menerima amal tersebut dari kita semua. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia Referensi: albayan.co.uk —- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 6 Dzulhijjah 1447 H, 23 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagsakhlak muslim haji mabrur ibadah hati ikhlas manasik haji musim haji syiar Allah takwa tauhid tawakal

7 Ibadah Hati yang Menjadikan Haji Mabrur

Banyak orang fokus pada gerakan lahiriah saat haji, tetapi lupa bahwa inti haji justru ada pada hati. Padahal, amal haji tidak akan bernilai tanpa keikhlasan, ketakwaan, tawakal, dan pengagungan kepada Allah. Tulisan ini membahas tujuh ibadah hati terpenting dalam haji yang akan mengubah perjalanan haji biasa menjadi haji yang mabrur dan penuh bekas dalam kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Ibadah Hati: Bekal Terbesar Saat Haji 2. Bentuk-Bentuk Ibadah Hati yang Paling Penting dalam Haji 2.1. 1. Mentauhidkan Allah dan Mengikhlaskan Ibadah Hanya untuk-Nya 2.1.1. Hadits Bithaqah: Tauhid yang Tulus Mengalahkan Tumpukan Dosa 2.1.2. Amal Besar Tanpa Ikhlas Tidak Bernilai 2.2. 2. Berserah Diri dan Tunduk kepada Syariat Allah Tabaraka wa Ta’ala 2.3. 3. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala 2.4. 4. Bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla 2.5. 5. Mengagungkan Syiar-Syiar Allah Jalla wa ‘Ala 2.6. 6. Mengingat Akhirat 2.7. 7. Mencintai Kebaikan untuk Kaum Muslimin dan Berbuat Baik kepada Mereka  Ibadah Hati: Bekal Terbesar Saat HajiDi antara ibadah yang paling penting dan paling layak diperbanyak oleh seorang hamba ketika berhaji adalah ibadah-ibadah hati. Hendaknya waktu haji dipenuhi dengan amalan seperti mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, mencintai-Nya, bertawakal kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, mengagungkan-Nya, tunduk kepada-Nya, menampakkan kebutuhan dan kefakiran diri kepada-Nya, bersungguh-sungguh dalam berdoa, meminta, dan memohon kepada-Nya, disertai taubat, kembali kepada Allah, sabar, ridha, tenang, dan amalan hati lainnya.Sesungguhnya inti ajaran Islam berputar pada amalan-amalan hati tersebut.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Barang siapa memperhatikan syariat pada sumber-sumber dan cabang-cabangnya, ia akan mengetahui eratnya hubungan antara amalan anggota badan dengan amalan hati, dan bahwa amalan lahir tidak akan bermanfaat tanpa amalan hati.” (Badai’ Al-Fawaid, 3:330) Bentuk-Bentuk Ibadah Hati yang Paling Penting dalam Haji1. Mentauhidkan Allah dan Mengikhlaskan Ibadah Hanya untuk-NyaKetika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai ibadah haji, beliau berdoa kepada Rabb-nya sambil memohon pertolongan kepada-Nya. Beliau juga menunjukkan sikap zuhud terhadap dunia dan hidup sederhana selama berhaji, baik dalam sedikitnya bekal maupun kendaraan yang beliau gunakan. Semua itu beliau lakukan demi mengharap ridha Allah dan merealisasikan keikhlasan kepada-Nya.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,حَجَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَحْلٍ رَثٍّ، وَقَطِيفَةٍ تُسَاوِي أَرْبَعَةَ دَرَاهِمَ أَوْ لَا تُسَاوِي، ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ حَجَّةً لَا رِيَاءَ فِيهَا وَلَا سُمْعَةَ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhaji di atas pelana yang sudah usang dan dengan kain beludru yang harganya hanya sekitar empat dirham atau bahkan kurang dari itu. Kemudian beliau berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah hajiku ini haji yang tidak ada riya dan tidak pula mencari popularitas di dalamnya.’” (HR. Ibnu Majah, no. 2890; Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)Hal terbaik yang semestinya paling diperhatikan oleh seorang jamaah haji adalah memurnikan tauhid dan ibadah hanya untuk Allah Rabb semesta alam. Dengan tauhid dan keikhlasan itulah amal dan usahanya diterima. Sebaliknya, tanpa keikhlasan, amal akan tertolak dan usahanya menjadi sia-sia.Bahkan, rukun pertama dalam ibadah haji adalah ikhlas dalam berniat untuk Allah. Niat merupakan amalan hati, dan tidak ada satu ibadah pun yang sah tanpa niat tersebut.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan talbiyah sebagai syiar haji yang penuh dengan tauhid, penegasan keikhlasan kepada Allah, dan penolakan terhadap segala bentuk kesyirikan.Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkata, menjelaskan perhatian besar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap tauhid dan keikhlasan dalam ibadah haji,فَأَهَلَّ بِالتَّوْحِيدِ: «لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ»“Maka beliau bertalbiyah dengan tauhid: ‘Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.’” (HR. Muslim. no. 1218)Keikhlasan adalah amalan hati yang paling agung dan paling tinggi kedudukannya dalam definisi iman. Bahkan secara umum, amalan-amalan hati lebih besar dan lebih penting daripada amalan anggota badan.Sesungguhnya seorang jamaah haji yang memurnikan tauhid dan talbiyahnya hanya untuk Allah Rabb semesta alam, berarti ia telah menegakkan salah satu amalan hati yang paling agung dalam musim haji. Ia tidak menyekutukan Allah dengan siapa pun.Sungguh, kedudukan ikhlas dalam ibadah—bahkan dalam seluruh amalan, termasuk perkara mubah—adalah sesuatu yang sangat menakjubkan. Dengan keikhlasan, Allah memberikan pahala besar atas amalan yang sedikit. Sebaliknya, karena riya dan hilangnya keikhlasan, Allah tidak memberikan nilai apa pun pada amalan yang banyak.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Satu jenis amalan yang sama bisa dilakukan seseorang dengan cara yang sempurna keikhlasan dan penghambaan dirinya kepada Allah di dalamnya, sehingga Allah mengampuni dosa-dosa besar karenanya, sebagaimana dalam hadits bithaqah (kartu catatan amal).” (Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah, 6:219) Hadits Bithaqah: Tauhid yang Tulus Mengalahkan Tumpukan DosaHadits bithaqah diriwayatkan oleh Tirmidzi—dan beliau menilainya hasan—juga oleh An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مِدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يُقَالُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ. فَيُقَالُ: أَفَلَكَ عُذْرٌ أَوْ حَسَنَةٌ فِيهَا؟ فَيَقُولُ الرَّجُلُ: لَا. فَيُقَالُ: بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً، وَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ. فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولُ: يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ، وَالْبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ»“Akan dipanggil seorang laki-laki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibentangkan untuknya sembilan puluh sembilan catatan dosa, setiap catatan sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari semua ini? Apakah para malaikat pencatat-Ku menzalimimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, wahai Rabbku.’Lalu dikatakan lagi, ‘Apakah engkau memiliki alasan atau satu kebaikan?’ Maka orang itu pun ketakutan dan berkata, ‘Tidak.’Lalu Allah berfirman, ‘Bahkan, engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan pada hari ini engkau tidak akan dizalimi.’Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu bertuliskan:أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya.’Orang itu berkata, ‘Wahai Rabbku, apa arti kartu ini dibandingkan catatan-catatan dosa itu?’Lalu dikatakan, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan dizalimi.’Maka catatan-catatan dosa itu diletakkan di satu daun timbangan dan kartu tersebut di daun timbangan lainnya. Ternyata catatan-catatan dosa itu menjadi ringan dan kartu tersebut menjadi berat.” (HR. Tirmidzi, no. 2639; Ibnu Majah, no. 4300; Al-Hakim, no. 1937. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)Baca juga: Kartu Laa Ilaha Illallah Mengalahkan Catatan Dosa Sejauh Mata Memandang Amal Besar Tanpa Ikhlas Tidak BernilaiSebaliknya, kita mendapati bahwa melakukan ketaatan tanpa keikhlasan dan tanpa kejujuran kepada Allah tidak memiliki nilai dan pahala sedikit pun. Bahkan pelakunya terancam dengan ancaman yang sangat keras, walaupun amalan tersebut termasuk amalan besar seperti berinfak di jalan kebaikan, berjihad melawan orang kafir, atau menuntut serta mengajarkan ilmu syar’i.Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ…»“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah seorang yang mati syahid…”Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tiga golongan:orang yang berjihad agar disebut pemberani,orang yang belajar dan mengajarkan ilmu agar disebut alim,dan orang yang berinfak agar disebut dermawan.Masing-masing dikatakan kepada mereka:«كَذَبْتَ»“Engkau dusta.”Karena semua itu dilakukan agar dipuji manusia, bukan ikhlas karena Allah. Kemudian mereka diseret di atas wajah mereka dan dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim. no. 1905)Baca juga: Belajar Agama Hanya untuk Mencari DuniaKarena itu, wahai jamaah haji, jangan pergi ke Tanah Suci sementara dalam hatimu masih ada pengagungan kepada batu atau manusia, apalagi sampai berdoa kepada orang mati, thawaf di kuburan, atau meyakini bahwa Allah memiliki sekutu, penolong, atau pembantu.Murnikanlah tauhidmu. Ikutilah sunnah Nabimu. Dengan itu engkau akan selamat, mendapatkan penerimaan amal, dan meraih keberuntungan. 2. Berserah Diri dan Tunduk kepada Syariat Allah Tabaraka wa Ta’alaSeorang jamaah haji menjalankan berbagai amalan dan manasik ibadah dalam haji yang terkadang ia belum memahami hikmah di balik sebagian amalan tersebut. Namun hatinya tetap ridha, khusyuk, dan tenang terhadap apa yang ia lakukan karena semua itu dilakukan dalam rangka mengikuti sunnah. Ia tidak membiarkan keraguan dan bisikan setan merusak hatinya serta menghilangkan pahala amalnya.Betapa kita sangat membutuhkan latihan bagi akal dan jiwa agar tunduk kepada syariat Allah Ta’ala dengan penuh kepasrahan dan ketundukan. Haji merupakan contoh terbaik untuk mewujudkan sikap tersebut. Perpindahan jamaah haji dari satu masy’ar ke masy’ar lainnya, thawaf mengelilingi Ka’bah, mencium Hajar Aswad, melempar jumrah, dan amalan lainnya adalah contoh nyata dari sikap tunduk kepada syariat Allah Ta’ala dan menerima hukum-Nya dengan lapang dada serta hati yang tenteram.Nabi Ibrahim Al-Khalil dan putranya, Ismail ‘alaihimash shalatu wassalam, pernah berdoa,رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu dan jadikanlah di antara keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami tata cara manasik kami, serta terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 128)Mereka berdua berdoa untuk diri mereka dan keturunan mereka agar memiliki sifat Islam yang hakiki, yaitu tunduk dan patuhnya hati kepada Rabb-nya, yang kemudian tercermin pada ketundukan anggota badan.Sungguh indah perkataan Umar Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu tentang Hajar Aswad,«إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ»“Aku benar-benar tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak bisa memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat. Kalaulah aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari, no. 1597)Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dalam ucapan Umar tersebut terdapat sikap berserah diri kepada syariat dalam urusan agama, serta bagusnya mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perkara yang belum diketahui hikmahnya. Ini merupakan kaidah agung dalam mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada apa yang beliau lakukan, walaupun hikmahnya belum diketahui.” (Fath Al-Bari, 3:463)Qiwamus Sunnah Ismail Al-Ashbahani rahimahullah juga berkata, “Termasuk manhaj Ahlus Sunnah adalah bahwa setiap riwayat yang didengar seseorang namun belum dapat dijangkau oleh akalnya, maka wajib baginya untuk menerima, membenarkan, menyerahkan ilmunya kepada Allah, dan ridha terhadapnya. Ia tidak boleh menanggapi sesuatu pun dari perkara tersebut dengan akal dan hawa nafsunya.” (Al-Hujjah fi Bayan Al-Mahajjah, 2:435 dan Afdhal Ayyam Ad-Dunya oleh Jamaz bin ‘Abdurrahman, hlm. 18)Karena itu, siapa yang ingin meraih haji yang mabrur hendaknya menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Rabb-nya, memasrahkan seluruh urusannya kepada-Nya, serta berdoa kepada-Nya dengan penuh harap dan rasa takut. 3. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaIbadah-ibadah disyariatkan untuk menyucikan jiwa, memperbaiki hati, dan mewujudkan ketakwaan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dalam rangkaian ayat-ayat tentang haji terdapat banyak isyarat yang mendorong seorang hamba agar memperbanyak ketaatan ketika melaksanakan manasik, sekaligus mengingatkannya bahwa tujuan utama ibadah adalah meraih ketakwaan kepada Allah dan rasa takut kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى“Haji itu (dilaksanakan pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam bulan-bulan itu, janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Para jamaah haji diperintahkan membawa bekal untuk perjalanan mereka dan tidak bepergian tanpa bekal. Kemudian Allah mengingatkan mereka tentang bekal perjalanan menuju akhirat, yaitu takwa. Sebagaimana seorang musafir tidak akan sampai ke tujuannya tanpa bekal yang mengantarkannya, demikian pula seorang musafir menuju Allah dan negeri akhirat tidak akan sampai kecuali dengan bekal takwa. Maka Allah menggabungkan antara dua bekal tersebut: bekal lahir dan bekal batin.” (Ighatsah Al-Lahfaan, hlm. 58)Baca juga: Menjaga Kesucian Haji: Rafats, Fusuq, dan JidalMewujudkan ketakwaan hati termasuk amalan hati yang sangat penting dalam ibadah haji. Allah Ta’ala berfirman,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,«التَّقْوَى هَاهُنَا، التَّقْوَى هَاهُنَا، التَّقْوَى هَاهُنَا»“Takwa itu di sini, takwa itu di sini, takwa itu di sini,” sambil beliau menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali. (HR. Muslim, no. 2564)Tempat ketakwaan adalah hati. Takwa mencakup seluruh amal kebaikan, kebajikan, dan kesalehan, terlebih ketika kata “takwa” disebut secara mutlak. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah membahas masalah ini dalam awal kitab Al-Iman, ketika menjelaskan makna kata al-birr dan at-taqwa serta istilah-istilah lain dalam Al-Qur’an yang mencakup seluruh amal keimanan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.Mewujudkan ketakwaan juga menjadi sebab diraihnya rahmat Allah. Rahmat tersebut berlaku di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A‘raf: 156)Apabila seorang jamaah haji benar-benar mewujudkan ketakwaan kepada Allah, maka ia akan memperoleh kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13) 4. Bertawakal kepada Allah ‘Azza wa JallaSeorang jamaah haji keluar meninggalkan rumahnya dalam keadaan memikirkan apa yang ia tinggalkan di belakangnya: harta, pekerjaan, keluarga, dan anak-anaknya. Ia pergi meninggalkan mereka, berpamitan tanpa mengetahui apakah ia akan kembali dari safar dan perjalanannya itu, atau justru di sanalah ajal dan akhir hidupnya.Karena itulah tawakal kepada Allah menjadi obat bagi hati yang gelisah dan penenteram bagi jiwa yang bingung. Tawakal termasuk amalan hati yang dibutuhkan setiap waktu, dan semakin ditekankan pada musim haji.Tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla termasuk amalan hati yang paling agung. Hakikat tawakal adalah bersandarnya hati secara sempurna kepada Allah disertai keyakinan penuh kepada-Nya.Dari tawakal lahir banyak bentuk ibadah hati lainnya, seperti rasa takut, harap, cinta, rasa cemas, dan lainnya.Namun tawakal bukan berarti meninggalkan sebab, pasrah kepada kemalasan, atau bersikap tidak mau berusaha. Hakikat tawakal justru adalah menempuh sebab-sebab yang Allah perintahkan untuk diambil, tanpa bersandar kepada sebab tersebut dan tanpa menaruh kepercayaan penuh kepadanya. Yang menjadi sandaran dan tempat bergantung hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla, Dzat yang menciptakan sebab dan akibatnya.Dialah yang menjadikan sebab memiliki pengaruh. Seandainya Allah menghendaki, Dia mampu mencabut pengaruh tersebut sehingga sebab itu tidak lagi menghasilkan apa pun.Karena itu, termasuk tanda lemahnya tawakal kepada Allah adalah terlalu bergantung kepada sebab-sebab duniawi, merasa tenang sepenuhnya kepadanya, serta takut berlebihan ketika sebab itu hilang, seolah-olah sebab tersebut dapat memberi manfaat atau mudarat dengan sendirinya.Akibat sikap seperti ini, seseorang yang terlalu bergantung kepada sebab bisa terjatuh dalam perkara haram atau meninggalkan kewajiban. Bahkan bisa jadi ia mengarahkan rasa takut dan harapnya—yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla—kepada makhluk yang lemah, yang sebenarnya tidak mampu mendatangkan mudarat maupun manfaat untuk dirinya sendiri, apalagi untuk orang lain. 5. Mengagungkan Syiar-Syiar Allah Jalla wa ‘AlaDi antara tujuan dan hikmah terbesar ibadah haji adalah mendidik seorang hamba agar mengagungkan syiar-syiar Allah dan perkara-perkara yang dimuliakan-Nya, menghormatinya, mencintainya, serta merasa takut untuk meremehkan atau melanggarnya.Allah Ta’ala berfirman setelah menyebutkan beberapa hukum tentang haji,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Allah Ta’ala juga berfirman,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (QS. Al-Hajj: 30)Haji merupakan salah satu momen terbesar tampaknya pengagungan kepada Allah. Bahkan pengagungan tersebut termasuk tujuan utama dari ibadah haji. Di antara bentuk pengagungan terhadap syiar Allah adalah bersungguh-sungguh dalam menaati Allah sesuai syariat-Nya dan mengikuti sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.Wukuf di Arafah termasuk syiar Allah. Hewan kurban termasuk syiar Allah. Mencukur rambut ketika tahallul termasuk syiar Allah. Melempar jumrah juga termasuk syiar Allah. Barang siapa mengagungkannya, maka itu merupakan bagian dari ketakwaan hati.Karena itu, mengagungkan seluruh manasik haji termasuk bagian dari ketakwaan hati, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ahli tafsir.Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«لَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِخَيْرٍ مَا عَظَّمُوا هَذِهِ الْحُرْمَةَ حَقَّ تَعْظِيمِهَا، فَإِذَا تَرَكُوهَا وَضَيَّعُوهَا هَلَكُوا»“Umat ini akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengagungkan kehormatan ini dengan pengagungan yang semestinya. Jika mereka meninggalkan dan menyia-nyiakannya, maka mereka akan binasa.” (HR. Ahmad, 4:347; Ibnu Majah, no. 3110; Sanad Hadits ini hasan menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Fath Al-Bari, 3:449)Kita perlu memahami bahwa mengagungkan syiar Allah dilakukan dengan memuliakannya di dalam hati, mencintainya, dan menyempurnakan penghambaan kepada Allah ketika menjalankannya.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Ruh ibadah adalah pengagungan dan kecintaan. Jika salah satunya hilang, maka ibadah itu menjadi rusak.” (Madarij As-Salikin, 1:459)Mengagungkan syiar dan larangan Allah merupakan tanda kuatnya iman dan besarnya kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, meremehkan perintah-perintah Allah menunjukkan lemahnya iman dan kurangnya rasa takut kepada-Nya.Sangat disayangkan, sebagian jamaah haji—semoga Allah memberi mereka hidayah—masih meremehkan sebagian manasik, seperti melempar jumrah, mabit, dan amalan lainnya. Mereka mewakilkannya kepada orang lain tanpa kebutuhan yang mendesak. Bahkan ada yang pulang ke negerinya sebelum mabit dan sebelum melempar jumrah. Ini jelas menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan termasuk bentuk meremehkan syiar-syiar Allah.Haji bukan sekadar perjalanan santai, bukan pula wisata religi semata. Haji adalah ibadah yang agung dan momentum besar untuk memperkuat iman. Karena itu, hendaknya seorang hamba memperbanyak bekal amal saleh selama menjalankannya.Barang siapa merasakan keagungan Allah pada hari-hari mulia ini, ia tidak akan menyia-nyiakan walau satu jam pun darinya.Maka hendaklah orang-orang yang berani melanggar kehormatan Allah bertakwa kepada-Nya. Sesungguhnya dosa menjadi lebih besar ketika dilakukan di tanah haram dan di sekitar rumah Allah. Hendaknya mereka membersihkan jiwa dari dosa-dosa besar dan membersihkan Baitullah dari kotoran maksiat dan amal-amal buruk. 6. Mengingat AkhiratKetika seorang jamaah haji meninggalkan kampung halamannya dan menempuh beratnya perjalanan, hendaknya ia mengingat keluarnya manusia dari dunia ini melalui kematian menuju hari kebangkitan dan berbagai kedahsyatannya.Saat seorang yang berihram mengenakan pakaian ihramnya, hendaknya ia mengingat kain kafannya dan menyadari bahwa suatu saat nanti ia akan bertemu Rabb-nya dengan penampilan yang berbeda dari pakaian penduduk dunia.Baca juga: Dahsyatnya Hari Kiamat: Manusia Dikumpulkan Tanpa Busana dan Tanpa Alas KakiKetika ia berdiri di Arafah, melihat manusia yang berdesakan, suara yang saling meninggi, serta berbagai bahasa yang berbeda-beda, hendaknya ia mengingat padang mahsyar pada hari kiamat dan berkumpulnya seluruh umat manusia di tempat tersebut.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,فَلِلَّهِ ذَاكَ الْمَوْقِفُ الْأَعْظَمُ الَّذِي كَمَوْقِفِ يَوْمِ الْعَرْضِ بَلْ ذَاكَ أَعْظَمُ“Maka sungguh agung peristiwa itu,Seperti peristiwa hari dihadapkan kepada Allah, bahkan lebih agung lagi.”Belum lagi beratnya perjalanan dan kelelahan berpindah dari satu masy’ar ke masy’ar lainnya. Di sana seorang hamba akan teringat sempit dan sulitnya keadaan di padang kiamat, sampai-sampai ada manusia yang tenggelam dalam keringatnya sendiri.Ketika seorang jamaah haji meninggalkan negeri, keluarga, pekerjaan, harta, dan perdagangannya, hendaknya ia mengingat sebuah perjalanan yang tidak ada kepulangan setelahnya, yaitu perjalanan menuju akhirat.Apabila seorang hamba benar-benar mengingat hal tersebut, ia akan berhaji layaknya orang yang sedang berpamitan untuk terakhir kalinya. Ia akan lebih sering mengingat kematian dan kubur, lalu berdoa kepada Rabb-nya dengan sungguh-sungguh memohon ampunan, hingga ia kembali dari hajinya dalam keadaan bersih dari dosa seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya. 7. Mencintai Kebaikan untuk Kaum Muslimin dan Berbuat Baik kepada MerekaBerkumpulnya manusia dan padatnya jamaah haji sering kali menampakkan akhlak asli seseorang, terutama saat menghadapi kesulitan. Karena itu, di antara amalan hati yang sangat penting dalam musim haji adalah memiliki kasih sayang kepada sesama muslim, bersikap lembut kepada jamaah haji, serta mencintai kebaikan untuk mereka.Dalam penjelasan Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang haji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menggambarkan kelembutan dan kasih sayang Nabi kepada manusia. Jabir berkata,«وَقَدْ شَنَقَ لِلْقَصْوَاءِ الزِّمَامَ حَتَّى إِنَّ رَأْسَهَا لَيُصِيبُ مَوْرِكَ رَحْلِهِ وَيَقُولُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى: أَيُّهَا النَّاسُ السَّكِينَةَ السَّكِينَةَ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan tali kendali Al-Qashwa’ (unta beliau) agar tidak berjalan cepat sehingga tidak menyakiti manusia, sampai kepala untanya hampir menyentuh pelana. Sambil memberi isyarat dengan tangan kanannya beliau berkata, ‘Wahai manusia, tenanglah… tenanglah.’” (HR. Muslim, no. 1218)Maksudnya adalah bersikap lembut, tidak tergesa-gesa, memperhatikan orang-orang lemah, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.Allah Ta’ala telah menyiapkan pahala yang sangat besar bagi haji yang mabrur. Di antara makna al-birr (kebaikan) dalam haji adalah berbuat baik kepada manusia.Dalam hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ»“Kebaikan adalah akhlak yang mulia.” (HR. Muslim, no. 2553)Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama menjelaskan bahwa al-birr bisa bermakna menyambung hubungan, kelembutan, kebaikan, pergaulan yang baik, serta ketaatan. Semua itu merupakan inti dari akhlak yang mulia. Dan hal ini sangat dibutuhkan dalam ibadah haji, yaitu memperlakukan manusia dengan baik melalui ucapan maupun perbuatan.”Safar disebut sebagai safar karena perjalanan itu akan menyingkap akhlak asli seseorang.Dalam Musnad Ahmad, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ»“Haji mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.” Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan haji yang mabrur, wahai Rasulullah?”Beliau menjawab,«إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ»“Memberi makan dan menyebarkan salam.”Dalam riwayat lain disebutkan,«وَطِيبُ الْكَلَامِ»“Dan ucapan yang baik.” (HR. Ahmad, no. 3:325; Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 3:479)Sa’id bin Jubair rahimahullah pernah ditanya, “Haji seperti apa yang paling utama?”Beliau menjawab, “Haji orang yang memberi makan dan menjaga lisannya.”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku mendengar bahwa itu termasuk bentuk haji yang mabrur.”Dalam riwayat mursal Khalid bin Ma’dan disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa gunanya seseorang mendatangi Baitullah jika ia tidak memiliki tiga sifat:wara’ yang menghalanginya dari perkara haram,kelembutan (hilm) yang mampu mengendalikan emosinya,dan pergaulan yang baik terhadap teman seperjalanannya.Jika tidak demikian, maka Allah tidak membutuhkan hajinya.”Di antara sifat kebaikan yang paling mencakup dan sangat dibutuhkan oleh jamaah haji adalah wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Jurai Al-Hujaimi—yaitu Jabir bin Sulaim radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا أَنْ تَأْتِيَهُ، وَلَوْ أَنْ تَهَبَ صِلَةَ الْحَبْلِ، وَلَوْ أَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ الْمُسْتَسْقِي، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ الْمُسْلِمَ وَوَجْهُكَ بَسْطٌ إِلَيْهِ، وَلَوْ أَنْ تُؤْنِسَ الْوَحْشَانَ بِنَفْسِكَ، وَلَوْ أَنْ تَهَبَ الشِّسْعَ، وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ، فَإِنَّهُ مِنَ الْمَخِيلَةِ وَلَا يُحِبُّهَا اللَّهُ“Jangan sekali-kali engkau meremehkan sedikit pun perbuatan baik yang bisa engkau lakukan, walaupun hanya memberikan tali pengikat, atau menuangkan air dari timbamu ke wadah orang yang meminta air, atau bertemu saudaramu sesama muslim dengan wajah yang berseri kepadanya, atau menghibur orang yang kesepian dengan kehadiranmu, atau memberikan tali sandal. Dan jauhilah menjulurkan pakaian hingga melewati mata kaki, karena itu termasuk kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan tersebut.” (HR. Ahmad, 3:482. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini sahih)Karena itu, jangan sampai seorang jamaah haji meremehkan satu pun bentuk kebaikan, walaupun hanya menyingkirkan gangguan dari jalan, atau menyapa saudaranya dengan wajah yang berseri-seri.Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya dan paling sabar menghadapi gangguan manusia.Allah telah menyiapkan surga-surga ‘Adn bagi orang-orang yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, dan memaafkan manusia.Sesungguhnya haji adalah perjalanan iman yang sangat mendalam, dipenuhi ibadah-ibadah agung dan kenangan yang mulia. Sebaik-baik jamaah haji adalah yang paling bermanfaat bagi saudara-saudaranya sesama muslim, paling sabar menghadapi gangguan manusia, dan paling bertakwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita kesempatan berhaji ke Baitullah Al-Haram, memudahkan pelaksanaannya bagi kita, serta menerima amal tersebut dari kita semua. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia Referensi: albayan.co.uk —- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 6 Dzulhijjah 1447 H, 23 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagsakhlak muslim haji mabrur ibadah hati ikhlas manasik haji musim haji syiar Allah takwa tauhid tawakal
Banyak orang fokus pada gerakan lahiriah saat haji, tetapi lupa bahwa inti haji justru ada pada hati. Padahal, amal haji tidak akan bernilai tanpa keikhlasan, ketakwaan, tawakal, dan pengagungan kepada Allah. Tulisan ini membahas tujuh ibadah hati terpenting dalam haji yang akan mengubah perjalanan haji biasa menjadi haji yang mabrur dan penuh bekas dalam kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Ibadah Hati: Bekal Terbesar Saat Haji 2. Bentuk-Bentuk Ibadah Hati yang Paling Penting dalam Haji 2.1. 1. Mentauhidkan Allah dan Mengikhlaskan Ibadah Hanya untuk-Nya 2.1.1. Hadits Bithaqah: Tauhid yang Tulus Mengalahkan Tumpukan Dosa 2.1.2. Amal Besar Tanpa Ikhlas Tidak Bernilai 2.2. 2. Berserah Diri dan Tunduk kepada Syariat Allah Tabaraka wa Ta’ala 2.3. 3. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala 2.4. 4. Bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla 2.5. 5. Mengagungkan Syiar-Syiar Allah Jalla wa ‘Ala 2.6. 6. Mengingat Akhirat 2.7. 7. Mencintai Kebaikan untuk Kaum Muslimin dan Berbuat Baik kepada Mereka  Ibadah Hati: Bekal Terbesar Saat HajiDi antara ibadah yang paling penting dan paling layak diperbanyak oleh seorang hamba ketika berhaji adalah ibadah-ibadah hati. Hendaknya waktu haji dipenuhi dengan amalan seperti mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, mencintai-Nya, bertawakal kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, mengagungkan-Nya, tunduk kepada-Nya, menampakkan kebutuhan dan kefakiran diri kepada-Nya, bersungguh-sungguh dalam berdoa, meminta, dan memohon kepada-Nya, disertai taubat, kembali kepada Allah, sabar, ridha, tenang, dan amalan hati lainnya.Sesungguhnya inti ajaran Islam berputar pada amalan-amalan hati tersebut.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Barang siapa memperhatikan syariat pada sumber-sumber dan cabang-cabangnya, ia akan mengetahui eratnya hubungan antara amalan anggota badan dengan amalan hati, dan bahwa amalan lahir tidak akan bermanfaat tanpa amalan hati.” (Badai’ Al-Fawaid, 3:330) Bentuk-Bentuk Ibadah Hati yang Paling Penting dalam Haji1. Mentauhidkan Allah dan Mengikhlaskan Ibadah Hanya untuk-NyaKetika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai ibadah haji, beliau berdoa kepada Rabb-nya sambil memohon pertolongan kepada-Nya. Beliau juga menunjukkan sikap zuhud terhadap dunia dan hidup sederhana selama berhaji, baik dalam sedikitnya bekal maupun kendaraan yang beliau gunakan. Semua itu beliau lakukan demi mengharap ridha Allah dan merealisasikan keikhlasan kepada-Nya.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,حَجَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَحْلٍ رَثٍّ، وَقَطِيفَةٍ تُسَاوِي أَرْبَعَةَ دَرَاهِمَ أَوْ لَا تُسَاوِي، ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ حَجَّةً لَا رِيَاءَ فِيهَا وَلَا سُمْعَةَ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhaji di atas pelana yang sudah usang dan dengan kain beludru yang harganya hanya sekitar empat dirham atau bahkan kurang dari itu. Kemudian beliau berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah hajiku ini haji yang tidak ada riya dan tidak pula mencari popularitas di dalamnya.’” (HR. Ibnu Majah, no. 2890; Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)Hal terbaik yang semestinya paling diperhatikan oleh seorang jamaah haji adalah memurnikan tauhid dan ibadah hanya untuk Allah Rabb semesta alam. Dengan tauhid dan keikhlasan itulah amal dan usahanya diterima. Sebaliknya, tanpa keikhlasan, amal akan tertolak dan usahanya menjadi sia-sia.Bahkan, rukun pertama dalam ibadah haji adalah ikhlas dalam berniat untuk Allah. Niat merupakan amalan hati, dan tidak ada satu ibadah pun yang sah tanpa niat tersebut.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan talbiyah sebagai syiar haji yang penuh dengan tauhid, penegasan keikhlasan kepada Allah, dan penolakan terhadap segala bentuk kesyirikan.Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkata, menjelaskan perhatian besar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap tauhid dan keikhlasan dalam ibadah haji,فَأَهَلَّ بِالتَّوْحِيدِ: «لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ»“Maka beliau bertalbiyah dengan tauhid: ‘Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.’” (HR. Muslim. no. 1218)Keikhlasan adalah amalan hati yang paling agung dan paling tinggi kedudukannya dalam definisi iman. Bahkan secara umum, amalan-amalan hati lebih besar dan lebih penting daripada amalan anggota badan.Sesungguhnya seorang jamaah haji yang memurnikan tauhid dan talbiyahnya hanya untuk Allah Rabb semesta alam, berarti ia telah menegakkan salah satu amalan hati yang paling agung dalam musim haji. Ia tidak menyekutukan Allah dengan siapa pun.Sungguh, kedudukan ikhlas dalam ibadah—bahkan dalam seluruh amalan, termasuk perkara mubah—adalah sesuatu yang sangat menakjubkan. Dengan keikhlasan, Allah memberikan pahala besar atas amalan yang sedikit. Sebaliknya, karena riya dan hilangnya keikhlasan, Allah tidak memberikan nilai apa pun pada amalan yang banyak.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Satu jenis amalan yang sama bisa dilakukan seseorang dengan cara yang sempurna keikhlasan dan penghambaan dirinya kepada Allah di dalamnya, sehingga Allah mengampuni dosa-dosa besar karenanya, sebagaimana dalam hadits bithaqah (kartu catatan amal).” (Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah, 6:219) Hadits Bithaqah: Tauhid yang Tulus Mengalahkan Tumpukan DosaHadits bithaqah diriwayatkan oleh Tirmidzi—dan beliau menilainya hasan—juga oleh An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مِدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يُقَالُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ. فَيُقَالُ: أَفَلَكَ عُذْرٌ أَوْ حَسَنَةٌ فِيهَا؟ فَيَقُولُ الرَّجُلُ: لَا. فَيُقَالُ: بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً، وَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ. فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولُ: يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ، وَالْبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ»“Akan dipanggil seorang laki-laki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibentangkan untuknya sembilan puluh sembilan catatan dosa, setiap catatan sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari semua ini? Apakah para malaikat pencatat-Ku menzalimimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, wahai Rabbku.’Lalu dikatakan lagi, ‘Apakah engkau memiliki alasan atau satu kebaikan?’ Maka orang itu pun ketakutan dan berkata, ‘Tidak.’Lalu Allah berfirman, ‘Bahkan, engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan pada hari ini engkau tidak akan dizalimi.’Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu bertuliskan:أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya.’Orang itu berkata, ‘Wahai Rabbku, apa arti kartu ini dibandingkan catatan-catatan dosa itu?’Lalu dikatakan, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan dizalimi.’Maka catatan-catatan dosa itu diletakkan di satu daun timbangan dan kartu tersebut di daun timbangan lainnya. Ternyata catatan-catatan dosa itu menjadi ringan dan kartu tersebut menjadi berat.” (HR. Tirmidzi, no. 2639; Ibnu Majah, no. 4300; Al-Hakim, no. 1937. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)Baca juga: Kartu Laa Ilaha Illallah Mengalahkan Catatan Dosa Sejauh Mata Memandang Amal Besar Tanpa Ikhlas Tidak BernilaiSebaliknya, kita mendapati bahwa melakukan ketaatan tanpa keikhlasan dan tanpa kejujuran kepada Allah tidak memiliki nilai dan pahala sedikit pun. Bahkan pelakunya terancam dengan ancaman yang sangat keras, walaupun amalan tersebut termasuk amalan besar seperti berinfak di jalan kebaikan, berjihad melawan orang kafir, atau menuntut serta mengajarkan ilmu syar’i.Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ…»“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah seorang yang mati syahid…”Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tiga golongan:orang yang berjihad agar disebut pemberani,orang yang belajar dan mengajarkan ilmu agar disebut alim,dan orang yang berinfak agar disebut dermawan.Masing-masing dikatakan kepada mereka:«كَذَبْتَ»“Engkau dusta.”Karena semua itu dilakukan agar dipuji manusia, bukan ikhlas karena Allah. Kemudian mereka diseret di atas wajah mereka dan dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim. no. 1905)Baca juga: Belajar Agama Hanya untuk Mencari DuniaKarena itu, wahai jamaah haji, jangan pergi ke Tanah Suci sementara dalam hatimu masih ada pengagungan kepada batu atau manusia, apalagi sampai berdoa kepada orang mati, thawaf di kuburan, atau meyakini bahwa Allah memiliki sekutu, penolong, atau pembantu.Murnikanlah tauhidmu. Ikutilah sunnah Nabimu. Dengan itu engkau akan selamat, mendapatkan penerimaan amal, dan meraih keberuntungan. 2. Berserah Diri dan Tunduk kepada Syariat Allah Tabaraka wa Ta’alaSeorang jamaah haji menjalankan berbagai amalan dan manasik ibadah dalam haji yang terkadang ia belum memahami hikmah di balik sebagian amalan tersebut. Namun hatinya tetap ridha, khusyuk, dan tenang terhadap apa yang ia lakukan karena semua itu dilakukan dalam rangka mengikuti sunnah. Ia tidak membiarkan keraguan dan bisikan setan merusak hatinya serta menghilangkan pahala amalnya.Betapa kita sangat membutuhkan latihan bagi akal dan jiwa agar tunduk kepada syariat Allah Ta’ala dengan penuh kepasrahan dan ketundukan. Haji merupakan contoh terbaik untuk mewujudkan sikap tersebut. Perpindahan jamaah haji dari satu masy’ar ke masy’ar lainnya, thawaf mengelilingi Ka’bah, mencium Hajar Aswad, melempar jumrah, dan amalan lainnya adalah contoh nyata dari sikap tunduk kepada syariat Allah Ta’ala dan menerima hukum-Nya dengan lapang dada serta hati yang tenteram.Nabi Ibrahim Al-Khalil dan putranya, Ismail ‘alaihimash shalatu wassalam, pernah berdoa,رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu dan jadikanlah di antara keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami tata cara manasik kami, serta terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 128)Mereka berdua berdoa untuk diri mereka dan keturunan mereka agar memiliki sifat Islam yang hakiki, yaitu tunduk dan patuhnya hati kepada Rabb-nya, yang kemudian tercermin pada ketundukan anggota badan.Sungguh indah perkataan Umar Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu tentang Hajar Aswad,«إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ»“Aku benar-benar tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak bisa memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat. Kalaulah aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari, no. 1597)Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dalam ucapan Umar tersebut terdapat sikap berserah diri kepada syariat dalam urusan agama, serta bagusnya mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perkara yang belum diketahui hikmahnya. Ini merupakan kaidah agung dalam mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada apa yang beliau lakukan, walaupun hikmahnya belum diketahui.” (Fath Al-Bari, 3:463)Qiwamus Sunnah Ismail Al-Ashbahani rahimahullah juga berkata, “Termasuk manhaj Ahlus Sunnah adalah bahwa setiap riwayat yang didengar seseorang namun belum dapat dijangkau oleh akalnya, maka wajib baginya untuk menerima, membenarkan, menyerahkan ilmunya kepada Allah, dan ridha terhadapnya. Ia tidak boleh menanggapi sesuatu pun dari perkara tersebut dengan akal dan hawa nafsunya.” (Al-Hujjah fi Bayan Al-Mahajjah, 2:435 dan Afdhal Ayyam Ad-Dunya oleh Jamaz bin ‘Abdurrahman, hlm. 18)Karena itu, siapa yang ingin meraih haji yang mabrur hendaknya menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Rabb-nya, memasrahkan seluruh urusannya kepada-Nya, serta berdoa kepada-Nya dengan penuh harap dan rasa takut. 3. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaIbadah-ibadah disyariatkan untuk menyucikan jiwa, memperbaiki hati, dan mewujudkan ketakwaan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dalam rangkaian ayat-ayat tentang haji terdapat banyak isyarat yang mendorong seorang hamba agar memperbanyak ketaatan ketika melaksanakan manasik, sekaligus mengingatkannya bahwa tujuan utama ibadah adalah meraih ketakwaan kepada Allah dan rasa takut kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى“Haji itu (dilaksanakan pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam bulan-bulan itu, janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Para jamaah haji diperintahkan membawa bekal untuk perjalanan mereka dan tidak bepergian tanpa bekal. Kemudian Allah mengingatkan mereka tentang bekal perjalanan menuju akhirat, yaitu takwa. Sebagaimana seorang musafir tidak akan sampai ke tujuannya tanpa bekal yang mengantarkannya, demikian pula seorang musafir menuju Allah dan negeri akhirat tidak akan sampai kecuali dengan bekal takwa. Maka Allah menggabungkan antara dua bekal tersebut: bekal lahir dan bekal batin.” (Ighatsah Al-Lahfaan, hlm. 58)Baca juga: Menjaga Kesucian Haji: Rafats, Fusuq, dan JidalMewujudkan ketakwaan hati termasuk amalan hati yang sangat penting dalam ibadah haji. Allah Ta’ala berfirman,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,«التَّقْوَى هَاهُنَا، التَّقْوَى هَاهُنَا، التَّقْوَى هَاهُنَا»“Takwa itu di sini, takwa itu di sini, takwa itu di sini,” sambil beliau menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali. (HR. Muslim, no. 2564)Tempat ketakwaan adalah hati. Takwa mencakup seluruh amal kebaikan, kebajikan, dan kesalehan, terlebih ketika kata “takwa” disebut secara mutlak. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah membahas masalah ini dalam awal kitab Al-Iman, ketika menjelaskan makna kata al-birr dan at-taqwa serta istilah-istilah lain dalam Al-Qur’an yang mencakup seluruh amal keimanan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.Mewujudkan ketakwaan juga menjadi sebab diraihnya rahmat Allah. Rahmat tersebut berlaku di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A‘raf: 156)Apabila seorang jamaah haji benar-benar mewujudkan ketakwaan kepada Allah, maka ia akan memperoleh kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13) 4. Bertawakal kepada Allah ‘Azza wa JallaSeorang jamaah haji keluar meninggalkan rumahnya dalam keadaan memikirkan apa yang ia tinggalkan di belakangnya: harta, pekerjaan, keluarga, dan anak-anaknya. Ia pergi meninggalkan mereka, berpamitan tanpa mengetahui apakah ia akan kembali dari safar dan perjalanannya itu, atau justru di sanalah ajal dan akhir hidupnya.Karena itulah tawakal kepada Allah menjadi obat bagi hati yang gelisah dan penenteram bagi jiwa yang bingung. Tawakal termasuk amalan hati yang dibutuhkan setiap waktu, dan semakin ditekankan pada musim haji.Tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla termasuk amalan hati yang paling agung. Hakikat tawakal adalah bersandarnya hati secara sempurna kepada Allah disertai keyakinan penuh kepada-Nya.Dari tawakal lahir banyak bentuk ibadah hati lainnya, seperti rasa takut, harap, cinta, rasa cemas, dan lainnya.Namun tawakal bukan berarti meninggalkan sebab, pasrah kepada kemalasan, atau bersikap tidak mau berusaha. Hakikat tawakal justru adalah menempuh sebab-sebab yang Allah perintahkan untuk diambil, tanpa bersandar kepada sebab tersebut dan tanpa menaruh kepercayaan penuh kepadanya. Yang menjadi sandaran dan tempat bergantung hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla, Dzat yang menciptakan sebab dan akibatnya.Dialah yang menjadikan sebab memiliki pengaruh. Seandainya Allah menghendaki, Dia mampu mencabut pengaruh tersebut sehingga sebab itu tidak lagi menghasilkan apa pun.Karena itu, termasuk tanda lemahnya tawakal kepada Allah adalah terlalu bergantung kepada sebab-sebab duniawi, merasa tenang sepenuhnya kepadanya, serta takut berlebihan ketika sebab itu hilang, seolah-olah sebab tersebut dapat memberi manfaat atau mudarat dengan sendirinya.Akibat sikap seperti ini, seseorang yang terlalu bergantung kepada sebab bisa terjatuh dalam perkara haram atau meninggalkan kewajiban. Bahkan bisa jadi ia mengarahkan rasa takut dan harapnya—yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla—kepada makhluk yang lemah, yang sebenarnya tidak mampu mendatangkan mudarat maupun manfaat untuk dirinya sendiri, apalagi untuk orang lain. 5. Mengagungkan Syiar-Syiar Allah Jalla wa ‘AlaDi antara tujuan dan hikmah terbesar ibadah haji adalah mendidik seorang hamba agar mengagungkan syiar-syiar Allah dan perkara-perkara yang dimuliakan-Nya, menghormatinya, mencintainya, serta merasa takut untuk meremehkan atau melanggarnya.Allah Ta’ala berfirman setelah menyebutkan beberapa hukum tentang haji,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Allah Ta’ala juga berfirman,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (QS. Al-Hajj: 30)Haji merupakan salah satu momen terbesar tampaknya pengagungan kepada Allah. Bahkan pengagungan tersebut termasuk tujuan utama dari ibadah haji. Di antara bentuk pengagungan terhadap syiar Allah adalah bersungguh-sungguh dalam menaati Allah sesuai syariat-Nya dan mengikuti sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.Wukuf di Arafah termasuk syiar Allah. Hewan kurban termasuk syiar Allah. Mencukur rambut ketika tahallul termasuk syiar Allah. Melempar jumrah juga termasuk syiar Allah. Barang siapa mengagungkannya, maka itu merupakan bagian dari ketakwaan hati.Karena itu, mengagungkan seluruh manasik haji termasuk bagian dari ketakwaan hati, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ahli tafsir.Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«لَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِخَيْرٍ مَا عَظَّمُوا هَذِهِ الْحُرْمَةَ حَقَّ تَعْظِيمِهَا، فَإِذَا تَرَكُوهَا وَضَيَّعُوهَا هَلَكُوا»“Umat ini akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengagungkan kehormatan ini dengan pengagungan yang semestinya. Jika mereka meninggalkan dan menyia-nyiakannya, maka mereka akan binasa.” (HR. Ahmad, 4:347; Ibnu Majah, no. 3110; Sanad Hadits ini hasan menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Fath Al-Bari, 3:449)Kita perlu memahami bahwa mengagungkan syiar Allah dilakukan dengan memuliakannya di dalam hati, mencintainya, dan menyempurnakan penghambaan kepada Allah ketika menjalankannya.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Ruh ibadah adalah pengagungan dan kecintaan. Jika salah satunya hilang, maka ibadah itu menjadi rusak.” (Madarij As-Salikin, 1:459)Mengagungkan syiar dan larangan Allah merupakan tanda kuatnya iman dan besarnya kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, meremehkan perintah-perintah Allah menunjukkan lemahnya iman dan kurangnya rasa takut kepada-Nya.Sangat disayangkan, sebagian jamaah haji—semoga Allah memberi mereka hidayah—masih meremehkan sebagian manasik, seperti melempar jumrah, mabit, dan amalan lainnya. Mereka mewakilkannya kepada orang lain tanpa kebutuhan yang mendesak. Bahkan ada yang pulang ke negerinya sebelum mabit dan sebelum melempar jumrah. Ini jelas menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan termasuk bentuk meremehkan syiar-syiar Allah.Haji bukan sekadar perjalanan santai, bukan pula wisata religi semata. Haji adalah ibadah yang agung dan momentum besar untuk memperkuat iman. Karena itu, hendaknya seorang hamba memperbanyak bekal amal saleh selama menjalankannya.Barang siapa merasakan keagungan Allah pada hari-hari mulia ini, ia tidak akan menyia-nyiakan walau satu jam pun darinya.Maka hendaklah orang-orang yang berani melanggar kehormatan Allah bertakwa kepada-Nya. Sesungguhnya dosa menjadi lebih besar ketika dilakukan di tanah haram dan di sekitar rumah Allah. Hendaknya mereka membersihkan jiwa dari dosa-dosa besar dan membersihkan Baitullah dari kotoran maksiat dan amal-amal buruk. 6. Mengingat AkhiratKetika seorang jamaah haji meninggalkan kampung halamannya dan menempuh beratnya perjalanan, hendaknya ia mengingat keluarnya manusia dari dunia ini melalui kematian menuju hari kebangkitan dan berbagai kedahsyatannya.Saat seorang yang berihram mengenakan pakaian ihramnya, hendaknya ia mengingat kain kafannya dan menyadari bahwa suatu saat nanti ia akan bertemu Rabb-nya dengan penampilan yang berbeda dari pakaian penduduk dunia.Baca juga: Dahsyatnya Hari Kiamat: Manusia Dikumpulkan Tanpa Busana dan Tanpa Alas KakiKetika ia berdiri di Arafah, melihat manusia yang berdesakan, suara yang saling meninggi, serta berbagai bahasa yang berbeda-beda, hendaknya ia mengingat padang mahsyar pada hari kiamat dan berkumpulnya seluruh umat manusia di tempat tersebut.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,فَلِلَّهِ ذَاكَ الْمَوْقِفُ الْأَعْظَمُ الَّذِي كَمَوْقِفِ يَوْمِ الْعَرْضِ بَلْ ذَاكَ أَعْظَمُ“Maka sungguh agung peristiwa itu,Seperti peristiwa hari dihadapkan kepada Allah, bahkan lebih agung lagi.”Belum lagi beratnya perjalanan dan kelelahan berpindah dari satu masy’ar ke masy’ar lainnya. Di sana seorang hamba akan teringat sempit dan sulitnya keadaan di padang kiamat, sampai-sampai ada manusia yang tenggelam dalam keringatnya sendiri.Ketika seorang jamaah haji meninggalkan negeri, keluarga, pekerjaan, harta, dan perdagangannya, hendaknya ia mengingat sebuah perjalanan yang tidak ada kepulangan setelahnya, yaitu perjalanan menuju akhirat.Apabila seorang hamba benar-benar mengingat hal tersebut, ia akan berhaji layaknya orang yang sedang berpamitan untuk terakhir kalinya. Ia akan lebih sering mengingat kematian dan kubur, lalu berdoa kepada Rabb-nya dengan sungguh-sungguh memohon ampunan, hingga ia kembali dari hajinya dalam keadaan bersih dari dosa seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya. 7. Mencintai Kebaikan untuk Kaum Muslimin dan Berbuat Baik kepada MerekaBerkumpulnya manusia dan padatnya jamaah haji sering kali menampakkan akhlak asli seseorang, terutama saat menghadapi kesulitan. Karena itu, di antara amalan hati yang sangat penting dalam musim haji adalah memiliki kasih sayang kepada sesama muslim, bersikap lembut kepada jamaah haji, serta mencintai kebaikan untuk mereka.Dalam penjelasan Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang haji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menggambarkan kelembutan dan kasih sayang Nabi kepada manusia. Jabir berkata,«وَقَدْ شَنَقَ لِلْقَصْوَاءِ الزِّمَامَ حَتَّى إِنَّ رَأْسَهَا لَيُصِيبُ مَوْرِكَ رَحْلِهِ وَيَقُولُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى: أَيُّهَا النَّاسُ السَّكِينَةَ السَّكِينَةَ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan tali kendali Al-Qashwa’ (unta beliau) agar tidak berjalan cepat sehingga tidak menyakiti manusia, sampai kepala untanya hampir menyentuh pelana. Sambil memberi isyarat dengan tangan kanannya beliau berkata, ‘Wahai manusia, tenanglah… tenanglah.’” (HR. Muslim, no. 1218)Maksudnya adalah bersikap lembut, tidak tergesa-gesa, memperhatikan orang-orang lemah, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.Allah Ta’ala telah menyiapkan pahala yang sangat besar bagi haji yang mabrur. Di antara makna al-birr (kebaikan) dalam haji adalah berbuat baik kepada manusia.Dalam hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ»“Kebaikan adalah akhlak yang mulia.” (HR. Muslim, no. 2553)Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama menjelaskan bahwa al-birr bisa bermakna menyambung hubungan, kelembutan, kebaikan, pergaulan yang baik, serta ketaatan. Semua itu merupakan inti dari akhlak yang mulia. Dan hal ini sangat dibutuhkan dalam ibadah haji, yaitu memperlakukan manusia dengan baik melalui ucapan maupun perbuatan.”Safar disebut sebagai safar karena perjalanan itu akan menyingkap akhlak asli seseorang.Dalam Musnad Ahmad, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ»“Haji mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.” Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan haji yang mabrur, wahai Rasulullah?”Beliau menjawab,«إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ»“Memberi makan dan menyebarkan salam.”Dalam riwayat lain disebutkan,«وَطِيبُ الْكَلَامِ»“Dan ucapan yang baik.” (HR. Ahmad, no. 3:325; Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 3:479)Sa’id bin Jubair rahimahullah pernah ditanya, “Haji seperti apa yang paling utama?”Beliau menjawab, “Haji orang yang memberi makan dan menjaga lisannya.”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku mendengar bahwa itu termasuk bentuk haji yang mabrur.”Dalam riwayat mursal Khalid bin Ma’dan disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa gunanya seseorang mendatangi Baitullah jika ia tidak memiliki tiga sifat:wara’ yang menghalanginya dari perkara haram,kelembutan (hilm) yang mampu mengendalikan emosinya,dan pergaulan yang baik terhadap teman seperjalanannya.Jika tidak demikian, maka Allah tidak membutuhkan hajinya.”Di antara sifat kebaikan yang paling mencakup dan sangat dibutuhkan oleh jamaah haji adalah wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Jurai Al-Hujaimi—yaitu Jabir bin Sulaim radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا أَنْ تَأْتِيَهُ، وَلَوْ أَنْ تَهَبَ صِلَةَ الْحَبْلِ، وَلَوْ أَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ الْمُسْتَسْقِي، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ الْمُسْلِمَ وَوَجْهُكَ بَسْطٌ إِلَيْهِ، وَلَوْ أَنْ تُؤْنِسَ الْوَحْشَانَ بِنَفْسِكَ، وَلَوْ أَنْ تَهَبَ الشِّسْعَ، وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ، فَإِنَّهُ مِنَ الْمَخِيلَةِ وَلَا يُحِبُّهَا اللَّهُ“Jangan sekali-kali engkau meremehkan sedikit pun perbuatan baik yang bisa engkau lakukan, walaupun hanya memberikan tali pengikat, atau menuangkan air dari timbamu ke wadah orang yang meminta air, atau bertemu saudaramu sesama muslim dengan wajah yang berseri kepadanya, atau menghibur orang yang kesepian dengan kehadiranmu, atau memberikan tali sandal. Dan jauhilah menjulurkan pakaian hingga melewati mata kaki, karena itu termasuk kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan tersebut.” (HR. Ahmad, 3:482. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini sahih)Karena itu, jangan sampai seorang jamaah haji meremehkan satu pun bentuk kebaikan, walaupun hanya menyingkirkan gangguan dari jalan, atau menyapa saudaranya dengan wajah yang berseri-seri.Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya dan paling sabar menghadapi gangguan manusia.Allah telah menyiapkan surga-surga ‘Adn bagi orang-orang yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, dan memaafkan manusia.Sesungguhnya haji adalah perjalanan iman yang sangat mendalam, dipenuhi ibadah-ibadah agung dan kenangan yang mulia. Sebaik-baik jamaah haji adalah yang paling bermanfaat bagi saudara-saudaranya sesama muslim, paling sabar menghadapi gangguan manusia, dan paling bertakwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita kesempatan berhaji ke Baitullah Al-Haram, memudahkan pelaksanaannya bagi kita, serta menerima amal tersebut dari kita semua. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia Referensi: albayan.co.uk —- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 6 Dzulhijjah 1447 H, 23 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagsakhlak muslim haji mabrur ibadah hati ikhlas manasik haji musim haji syiar Allah takwa tauhid tawakal


Banyak orang fokus pada gerakan lahiriah saat haji, tetapi lupa bahwa inti haji justru ada pada hati. Padahal, amal haji tidak akan bernilai tanpa keikhlasan, ketakwaan, tawakal, dan pengagungan kepada Allah. Tulisan ini membahas tujuh ibadah hati terpenting dalam haji yang akan mengubah perjalanan haji biasa menjadi haji yang mabrur dan penuh bekas dalam kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Ibadah Hati: Bekal Terbesar Saat Haji 2. Bentuk-Bentuk Ibadah Hati yang Paling Penting dalam Haji 2.1. 1. Mentauhidkan Allah dan Mengikhlaskan Ibadah Hanya untuk-Nya 2.1.1. Hadits Bithaqah: Tauhid yang Tulus Mengalahkan Tumpukan Dosa 2.1.2. Amal Besar Tanpa Ikhlas Tidak Bernilai 2.2. 2. Berserah Diri dan Tunduk kepada Syariat Allah Tabaraka wa Ta’ala 2.3. 3. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala 2.4. 4. Bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla 2.5. 5. Mengagungkan Syiar-Syiar Allah Jalla wa ‘Ala 2.6. 6. Mengingat Akhirat 2.7. 7. Mencintai Kebaikan untuk Kaum Muslimin dan Berbuat Baik kepada Mereka  Ibadah Hati: Bekal Terbesar Saat HajiDi antara ibadah yang paling penting dan paling layak diperbanyak oleh seorang hamba ketika berhaji adalah ibadah-ibadah hati. Hendaknya waktu haji dipenuhi dengan amalan seperti mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, mencintai-Nya, bertawakal kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, mengagungkan-Nya, tunduk kepada-Nya, menampakkan kebutuhan dan kefakiran diri kepada-Nya, bersungguh-sungguh dalam berdoa, meminta, dan memohon kepada-Nya, disertai taubat, kembali kepada Allah, sabar, ridha, tenang, dan amalan hati lainnya.Sesungguhnya inti ajaran Islam berputar pada amalan-amalan hati tersebut.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Barang siapa memperhatikan syariat pada sumber-sumber dan cabang-cabangnya, ia akan mengetahui eratnya hubungan antara amalan anggota badan dengan amalan hati, dan bahwa amalan lahir tidak akan bermanfaat tanpa amalan hati.” (Badai’ Al-Fawaid, 3:330) Bentuk-Bentuk Ibadah Hati yang Paling Penting dalam Haji1. Mentauhidkan Allah dan Mengikhlaskan Ibadah Hanya untuk-NyaKetika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai ibadah haji, beliau berdoa kepada Rabb-nya sambil memohon pertolongan kepada-Nya. Beliau juga menunjukkan sikap zuhud terhadap dunia dan hidup sederhana selama berhaji, baik dalam sedikitnya bekal maupun kendaraan yang beliau gunakan. Semua itu beliau lakukan demi mengharap ridha Allah dan merealisasikan keikhlasan kepada-Nya.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,حَجَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَحْلٍ رَثٍّ، وَقَطِيفَةٍ تُسَاوِي أَرْبَعَةَ دَرَاهِمَ أَوْ لَا تُسَاوِي، ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ حَجَّةً لَا رِيَاءَ فِيهَا وَلَا سُمْعَةَ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhaji di atas pelana yang sudah usang dan dengan kain beludru yang harganya hanya sekitar empat dirham atau bahkan kurang dari itu. Kemudian beliau berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah hajiku ini haji yang tidak ada riya dan tidak pula mencari popularitas di dalamnya.’” (HR. Ibnu Majah, no. 2890; Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)Hal terbaik yang semestinya paling diperhatikan oleh seorang jamaah haji adalah memurnikan tauhid dan ibadah hanya untuk Allah Rabb semesta alam. Dengan tauhid dan keikhlasan itulah amal dan usahanya diterima. Sebaliknya, tanpa keikhlasan, amal akan tertolak dan usahanya menjadi sia-sia.Bahkan, rukun pertama dalam ibadah haji adalah ikhlas dalam berniat untuk Allah. Niat merupakan amalan hati, dan tidak ada satu ibadah pun yang sah tanpa niat tersebut.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan talbiyah sebagai syiar haji yang penuh dengan tauhid, penegasan keikhlasan kepada Allah, dan penolakan terhadap segala bentuk kesyirikan.Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkata, menjelaskan perhatian besar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap tauhid dan keikhlasan dalam ibadah haji,فَأَهَلَّ بِالتَّوْحِيدِ: «لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ»“Maka beliau bertalbiyah dengan tauhid: ‘Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.’” (HR. Muslim. no. 1218)Keikhlasan adalah amalan hati yang paling agung dan paling tinggi kedudukannya dalam definisi iman. Bahkan secara umum, amalan-amalan hati lebih besar dan lebih penting daripada amalan anggota badan.Sesungguhnya seorang jamaah haji yang memurnikan tauhid dan talbiyahnya hanya untuk Allah Rabb semesta alam, berarti ia telah menegakkan salah satu amalan hati yang paling agung dalam musim haji. Ia tidak menyekutukan Allah dengan siapa pun.Sungguh, kedudukan ikhlas dalam ibadah—bahkan dalam seluruh amalan, termasuk perkara mubah—adalah sesuatu yang sangat menakjubkan. Dengan keikhlasan, Allah memberikan pahala besar atas amalan yang sedikit. Sebaliknya, karena riya dan hilangnya keikhlasan, Allah tidak memberikan nilai apa pun pada amalan yang banyak.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Satu jenis amalan yang sama bisa dilakukan seseorang dengan cara yang sempurna keikhlasan dan penghambaan dirinya kepada Allah di dalamnya, sehingga Allah mengampuni dosa-dosa besar karenanya, sebagaimana dalam hadits bithaqah (kartu catatan amal).” (Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah, 6:219) Hadits Bithaqah: Tauhid yang Tulus Mengalahkan Tumpukan DosaHadits bithaqah diriwayatkan oleh Tirmidzi—dan beliau menilainya hasan—juga oleh An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مِدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يُقَالُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ. فَيُقَالُ: أَفَلَكَ عُذْرٌ أَوْ حَسَنَةٌ فِيهَا؟ فَيَقُولُ الرَّجُلُ: لَا. فَيُقَالُ: بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً، وَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ. فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولُ: يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ، وَالْبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ»“Akan dipanggil seorang laki-laki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibentangkan untuknya sembilan puluh sembilan catatan dosa, setiap catatan sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari semua ini? Apakah para malaikat pencatat-Ku menzalimimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, wahai Rabbku.’Lalu dikatakan lagi, ‘Apakah engkau memiliki alasan atau satu kebaikan?’ Maka orang itu pun ketakutan dan berkata, ‘Tidak.’Lalu Allah berfirman, ‘Bahkan, engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan pada hari ini engkau tidak akan dizalimi.’Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu bertuliskan:أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya.’Orang itu berkata, ‘Wahai Rabbku, apa arti kartu ini dibandingkan catatan-catatan dosa itu?’Lalu dikatakan, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan dizalimi.’Maka catatan-catatan dosa itu diletakkan di satu daun timbangan dan kartu tersebut di daun timbangan lainnya. Ternyata catatan-catatan dosa itu menjadi ringan dan kartu tersebut menjadi berat.” (HR. Tirmidzi, no. 2639; Ibnu Majah, no. 4300; Al-Hakim, no. 1937. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)Baca juga: Kartu Laa Ilaha Illallah Mengalahkan Catatan Dosa Sejauh Mata Memandang Amal Besar Tanpa Ikhlas Tidak BernilaiSebaliknya, kita mendapati bahwa melakukan ketaatan tanpa keikhlasan dan tanpa kejujuran kepada Allah tidak memiliki nilai dan pahala sedikit pun. Bahkan pelakunya terancam dengan ancaman yang sangat keras, walaupun amalan tersebut termasuk amalan besar seperti berinfak di jalan kebaikan, berjihad melawan orang kafir, atau menuntut serta mengajarkan ilmu syar’i.Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ…»“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah seorang yang mati syahid…”Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tiga golongan:orang yang berjihad agar disebut pemberani,orang yang belajar dan mengajarkan ilmu agar disebut alim,dan orang yang berinfak agar disebut dermawan.Masing-masing dikatakan kepada mereka:«كَذَبْتَ»“Engkau dusta.”Karena semua itu dilakukan agar dipuji manusia, bukan ikhlas karena Allah. Kemudian mereka diseret di atas wajah mereka dan dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim. no. 1905)Baca juga: Belajar Agama Hanya untuk Mencari DuniaKarena itu, wahai jamaah haji, jangan pergi ke Tanah Suci sementara dalam hatimu masih ada pengagungan kepada batu atau manusia, apalagi sampai berdoa kepada orang mati, thawaf di kuburan, atau meyakini bahwa Allah memiliki sekutu, penolong, atau pembantu.Murnikanlah tauhidmu. Ikutilah sunnah Nabimu. Dengan itu engkau akan selamat, mendapatkan penerimaan amal, dan meraih keberuntungan. 2. Berserah Diri dan Tunduk kepada Syariat Allah Tabaraka wa Ta’alaSeorang jamaah haji menjalankan berbagai amalan dan manasik ibadah dalam haji yang terkadang ia belum memahami hikmah di balik sebagian amalan tersebut. Namun hatinya tetap ridha, khusyuk, dan tenang terhadap apa yang ia lakukan karena semua itu dilakukan dalam rangka mengikuti sunnah. Ia tidak membiarkan keraguan dan bisikan setan merusak hatinya serta menghilangkan pahala amalnya.Betapa kita sangat membutuhkan latihan bagi akal dan jiwa agar tunduk kepada syariat Allah Ta’ala dengan penuh kepasrahan dan ketundukan. Haji merupakan contoh terbaik untuk mewujudkan sikap tersebut. Perpindahan jamaah haji dari satu masy’ar ke masy’ar lainnya, thawaf mengelilingi Ka’bah, mencium Hajar Aswad, melempar jumrah, dan amalan lainnya adalah contoh nyata dari sikap tunduk kepada syariat Allah Ta’ala dan menerima hukum-Nya dengan lapang dada serta hati yang tenteram.Nabi Ibrahim Al-Khalil dan putranya, Ismail ‘alaihimash shalatu wassalam, pernah berdoa,رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu dan jadikanlah di antara keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami tata cara manasik kami, serta terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 128)Mereka berdua berdoa untuk diri mereka dan keturunan mereka agar memiliki sifat Islam yang hakiki, yaitu tunduk dan patuhnya hati kepada Rabb-nya, yang kemudian tercermin pada ketundukan anggota badan.Sungguh indah perkataan Umar Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu tentang Hajar Aswad,«إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ»“Aku benar-benar tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak bisa memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat. Kalaulah aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari, no. 1597)Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dalam ucapan Umar tersebut terdapat sikap berserah diri kepada syariat dalam urusan agama, serta bagusnya mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perkara yang belum diketahui hikmahnya. Ini merupakan kaidah agung dalam mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada apa yang beliau lakukan, walaupun hikmahnya belum diketahui.” (Fath Al-Bari, 3:463)Qiwamus Sunnah Ismail Al-Ashbahani rahimahullah juga berkata, “Termasuk manhaj Ahlus Sunnah adalah bahwa setiap riwayat yang didengar seseorang namun belum dapat dijangkau oleh akalnya, maka wajib baginya untuk menerima, membenarkan, menyerahkan ilmunya kepada Allah, dan ridha terhadapnya. Ia tidak boleh menanggapi sesuatu pun dari perkara tersebut dengan akal dan hawa nafsunya.” (Al-Hujjah fi Bayan Al-Mahajjah, 2:435 dan Afdhal Ayyam Ad-Dunya oleh Jamaz bin ‘Abdurrahman, hlm. 18)Karena itu, siapa yang ingin meraih haji yang mabrur hendaknya menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Rabb-nya, memasrahkan seluruh urusannya kepada-Nya, serta berdoa kepada-Nya dengan penuh harap dan rasa takut. 3. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaIbadah-ibadah disyariatkan untuk menyucikan jiwa, memperbaiki hati, dan mewujudkan ketakwaan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dalam rangkaian ayat-ayat tentang haji terdapat banyak isyarat yang mendorong seorang hamba agar memperbanyak ketaatan ketika melaksanakan manasik, sekaligus mengingatkannya bahwa tujuan utama ibadah adalah meraih ketakwaan kepada Allah dan rasa takut kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى“Haji itu (dilaksanakan pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam bulan-bulan itu, janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Para jamaah haji diperintahkan membawa bekal untuk perjalanan mereka dan tidak bepergian tanpa bekal. Kemudian Allah mengingatkan mereka tentang bekal perjalanan menuju akhirat, yaitu takwa. Sebagaimana seorang musafir tidak akan sampai ke tujuannya tanpa bekal yang mengantarkannya, demikian pula seorang musafir menuju Allah dan negeri akhirat tidak akan sampai kecuali dengan bekal takwa. Maka Allah menggabungkan antara dua bekal tersebut: bekal lahir dan bekal batin.” (Ighatsah Al-Lahfaan, hlm. 58)Baca juga: Menjaga Kesucian Haji: Rafats, Fusuq, dan JidalMewujudkan ketakwaan hati termasuk amalan hati yang sangat penting dalam ibadah haji. Allah Ta’ala berfirman,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,«التَّقْوَى هَاهُنَا، التَّقْوَى هَاهُنَا، التَّقْوَى هَاهُنَا»“Takwa itu di sini, takwa itu di sini, takwa itu di sini,” sambil beliau menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali. (HR. Muslim, no. 2564)Tempat ketakwaan adalah hati. Takwa mencakup seluruh amal kebaikan, kebajikan, dan kesalehan, terlebih ketika kata “takwa” disebut secara mutlak. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah membahas masalah ini dalam awal kitab Al-Iman, ketika menjelaskan makna kata al-birr dan at-taqwa serta istilah-istilah lain dalam Al-Qur’an yang mencakup seluruh amal keimanan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.Mewujudkan ketakwaan juga menjadi sebab diraihnya rahmat Allah. Rahmat tersebut berlaku di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A‘raf: 156)Apabila seorang jamaah haji benar-benar mewujudkan ketakwaan kepada Allah, maka ia akan memperoleh kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13) 4. Bertawakal kepada Allah ‘Azza wa JallaSeorang jamaah haji keluar meninggalkan rumahnya dalam keadaan memikirkan apa yang ia tinggalkan di belakangnya: harta, pekerjaan, keluarga, dan anak-anaknya. Ia pergi meninggalkan mereka, berpamitan tanpa mengetahui apakah ia akan kembali dari safar dan perjalanannya itu, atau justru di sanalah ajal dan akhir hidupnya.Karena itulah tawakal kepada Allah menjadi obat bagi hati yang gelisah dan penenteram bagi jiwa yang bingung. Tawakal termasuk amalan hati yang dibutuhkan setiap waktu, dan semakin ditekankan pada musim haji.Tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla termasuk amalan hati yang paling agung. Hakikat tawakal adalah bersandarnya hati secara sempurna kepada Allah disertai keyakinan penuh kepada-Nya.Dari tawakal lahir banyak bentuk ibadah hati lainnya, seperti rasa takut, harap, cinta, rasa cemas, dan lainnya.Namun tawakal bukan berarti meninggalkan sebab, pasrah kepada kemalasan, atau bersikap tidak mau berusaha. Hakikat tawakal justru adalah menempuh sebab-sebab yang Allah perintahkan untuk diambil, tanpa bersandar kepada sebab tersebut dan tanpa menaruh kepercayaan penuh kepadanya. Yang menjadi sandaran dan tempat bergantung hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla, Dzat yang menciptakan sebab dan akibatnya.Dialah yang menjadikan sebab memiliki pengaruh. Seandainya Allah menghendaki, Dia mampu mencabut pengaruh tersebut sehingga sebab itu tidak lagi menghasilkan apa pun.Karena itu, termasuk tanda lemahnya tawakal kepada Allah adalah terlalu bergantung kepada sebab-sebab duniawi, merasa tenang sepenuhnya kepadanya, serta takut berlebihan ketika sebab itu hilang, seolah-olah sebab tersebut dapat memberi manfaat atau mudarat dengan sendirinya.Akibat sikap seperti ini, seseorang yang terlalu bergantung kepada sebab bisa terjatuh dalam perkara haram atau meninggalkan kewajiban. Bahkan bisa jadi ia mengarahkan rasa takut dan harapnya—yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla—kepada makhluk yang lemah, yang sebenarnya tidak mampu mendatangkan mudarat maupun manfaat untuk dirinya sendiri, apalagi untuk orang lain. 5. Mengagungkan Syiar-Syiar Allah Jalla wa ‘AlaDi antara tujuan dan hikmah terbesar ibadah haji adalah mendidik seorang hamba agar mengagungkan syiar-syiar Allah dan perkara-perkara yang dimuliakan-Nya, menghormatinya, mencintainya, serta merasa takut untuk meremehkan atau melanggarnya.Allah Ta’ala berfirman setelah menyebutkan beberapa hukum tentang haji,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Allah Ta’ala juga berfirman,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (QS. Al-Hajj: 30)Haji merupakan salah satu momen terbesar tampaknya pengagungan kepada Allah. Bahkan pengagungan tersebut termasuk tujuan utama dari ibadah haji. Di antara bentuk pengagungan terhadap syiar Allah adalah bersungguh-sungguh dalam menaati Allah sesuai syariat-Nya dan mengikuti sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.Wukuf di Arafah termasuk syiar Allah. Hewan kurban termasuk syiar Allah. Mencukur rambut ketika tahallul termasuk syiar Allah. Melempar jumrah juga termasuk syiar Allah. Barang siapa mengagungkannya, maka itu merupakan bagian dari ketakwaan hati.Karena itu, mengagungkan seluruh manasik haji termasuk bagian dari ketakwaan hati, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ahli tafsir.Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«لَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِخَيْرٍ مَا عَظَّمُوا هَذِهِ الْحُرْمَةَ حَقَّ تَعْظِيمِهَا، فَإِذَا تَرَكُوهَا وَضَيَّعُوهَا هَلَكُوا»“Umat ini akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengagungkan kehormatan ini dengan pengagungan yang semestinya. Jika mereka meninggalkan dan menyia-nyiakannya, maka mereka akan binasa.” (HR. Ahmad, 4:347; Ibnu Majah, no. 3110; Sanad Hadits ini hasan menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Fath Al-Bari, 3:449)Kita perlu memahami bahwa mengagungkan syiar Allah dilakukan dengan memuliakannya di dalam hati, mencintainya, dan menyempurnakan penghambaan kepada Allah ketika menjalankannya.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Ruh ibadah adalah pengagungan dan kecintaan. Jika salah satunya hilang, maka ibadah itu menjadi rusak.” (Madarij As-Salikin, 1:459)Mengagungkan syiar dan larangan Allah merupakan tanda kuatnya iman dan besarnya kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, meremehkan perintah-perintah Allah menunjukkan lemahnya iman dan kurangnya rasa takut kepada-Nya.Sangat disayangkan, sebagian jamaah haji—semoga Allah memberi mereka hidayah—masih meremehkan sebagian manasik, seperti melempar jumrah, mabit, dan amalan lainnya. Mereka mewakilkannya kepada orang lain tanpa kebutuhan yang mendesak. Bahkan ada yang pulang ke negerinya sebelum mabit dan sebelum melempar jumrah. Ini jelas menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan termasuk bentuk meremehkan syiar-syiar Allah.Haji bukan sekadar perjalanan santai, bukan pula wisata religi semata. Haji adalah ibadah yang agung dan momentum besar untuk memperkuat iman. Karena itu, hendaknya seorang hamba memperbanyak bekal amal saleh selama menjalankannya.Barang siapa merasakan keagungan Allah pada hari-hari mulia ini, ia tidak akan menyia-nyiakan walau satu jam pun darinya.Maka hendaklah orang-orang yang berani melanggar kehormatan Allah bertakwa kepada-Nya. Sesungguhnya dosa menjadi lebih besar ketika dilakukan di tanah haram dan di sekitar rumah Allah. Hendaknya mereka membersihkan jiwa dari dosa-dosa besar dan membersihkan Baitullah dari kotoran maksiat dan amal-amal buruk. 6. Mengingat AkhiratKetika seorang jamaah haji meninggalkan kampung halamannya dan menempuh beratnya perjalanan, hendaknya ia mengingat keluarnya manusia dari dunia ini melalui kematian menuju hari kebangkitan dan berbagai kedahsyatannya.Saat seorang yang berihram mengenakan pakaian ihramnya, hendaknya ia mengingat kain kafannya dan menyadari bahwa suatu saat nanti ia akan bertemu Rabb-nya dengan penampilan yang berbeda dari pakaian penduduk dunia.Baca juga: Dahsyatnya Hari Kiamat: Manusia Dikumpulkan Tanpa Busana dan Tanpa Alas KakiKetika ia berdiri di Arafah, melihat manusia yang berdesakan, suara yang saling meninggi, serta berbagai bahasa yang berbeda-beda, hendaknya ia mengingat padang mahsyar pada hari kiamat dan berkumpulnya seluruh umat manusia di tempat tersebut.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,فَلِلَّهِ ذَاكَ الْمَوْقِفُ الْأَعْظَمُ الَّذِي كَمَوْقِفِ يَوْمِ الْعَرْضِ بَلْ ذَاكَ أَعْظَمُ“Maka sungguh agung peristiwa itu,Seperti peristiwa hari dihadapkan kepada Allah, bahkan lebih agung lagi.”Belum lagi beratnya perjalanan dan kelelahan berpindah dari satu masy’ar ke masy’ar lainnya. Di sana seorang hamba akan teringat sempit dan sulitnya keadaan di padang kiamat, sampai-sampai ada manusia yang tenggelam dalam keringatnya sendiri.Ketika seorang jamaah haji meninggalkan negeri, keluarga, pekerjaan, harta, dan perdagangannya, hendaknya ia mengingat sebuah perjalanan yang tidak ada kepulangan setelahnya, yaitu perjalanan menuju akhirat.Apabila seorang hamba benar-benar mengingat hal tersebut, ia akan berhaji layaknya orang yang sedang berpamitan untuk terakhir kalinya. Ia akan lebih sering mengingat kematian dan kubur, lalu berdoa kepada Rabb-nya dengan sungguh-sungguh memohon ampunan, hingga ia kembali dari hajinya dalam keadaan bersih dari dosa seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya. 7. Mencintai Kebaikan untuk Kaum Muslimin dan Berbuat Baik kepada MerekaBerkumpulnya manusia dan padatnya jamaah haji sering kali menampakkan akhlak asli seseorang, terutama saat menghadapi kesulitan. Karena itu, di antara amalan hati yang sangat penting dalam musim haji adalah memiliki kasih sayang kepada sesama muslim, bersikap lembut kepada jamaah haji, serta mencintai kebaikan untuk mereka.Dalam penjelasan Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang haji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menggambarkan kelembutan dan kasih sayang Nabi kepada manusia. Jabir berkata,«وَقَدْ شَنَقَ لِلْقَصْوَاءِ الزِّمَامَ حَتَّى إِنَّ رَأْسَهَا لَيُصِيبُ مَوْرِكَ رَحْلِهِ وَيَقُولُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى: أَيُّهَا النَّاسُ السَّكِينَةَ السَّكِينَةَ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan tali kendali Al-Qashwa’ (unta beliau) agar tidak berjalan cepat sehingga tidak menyakiti manusia, sampai kepala untanya hampir menyentuh pelana. Sambil memberi isyarat dengan tangan kanannya beliau berkata, ‘Wahai manusia, tenanglah… tenanglah.’” (HR. Muslim, no. 1218)Maksudnya adalah bersikap lembut, tidak tergesa-gesa, memperhatikan orang-orang lemah, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.Allah Ta’ala telah menyiapkan pahala yang sangat besar bagi haji yang mabrur. Di antara makna al-birr (kebaikan) dalam haji adalah berbuat baik kepada manusia.Dalam hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ»“Kebaikan adalah akhlak yang mulia.” (HR. Muslim, no. 2553)Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama menjelaskan bahwa al-birr bisa bermakna menyambung hubungan, kelembutan, kebaikan, pergaulan yang baik, serta ketaatan. Semua itu merupakan inti dari akhlak yang mulia. Dan hal ini sangat dibutuhkan dalam ibadah haji, yaitu memperlakukan manusia dengan baik melalui ucapan maupun perbuatan.”Safar disebut sebagai safar karena perjalanan itu akan menyingkap akhlak asli seseorang.Dalam Musnad Ahmad, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ»“Haji mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.” Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan haji yang mabrur, wahai Rasulullah?”Beliau menjawab,«إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ»“Memberi makan dan menyebarkan salam.”Dalam riwayat lain disebutkan,«وَطِيبُ الْكَلَامِ»“Dan ucapan yang baik.” (HR. Ahmad, no. 3:325; Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 3:479)Sa’id bin Jubair rahimahullah pernah ditanya, “Haji seperti apa yang paling utama?”Beliau menjawab, “Haji orang yang memberi makan dan menjaga lisannya.”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku mendengar bahwa itu termasuk bentuk haji yang mabrur.”Dalam riwayat mursal Khalid bin Ma’dan disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa gunanya seseorang mendatangi Baitullah jika ia tidak memiliki tiga sifat:wara’ yang menghalanginya dari perkara haram,kelembutan (hilm) yang mampu mengendalikan emosinya,dan pergaulan yang baik terhadap teman seperjalanannya.Jika tidak demikian, maka Allah tidak membutuhkan hajinya.”Di antara sifat kebaikan yang paling mencakup dan sangat dibutuhkan oleh jamaah haji adalah wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Jurai Al-Hujaimi—yaitu Jabir bin Sulaim radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا أَنْ تَأْتِيَهُ، وَلَوْ أَنْ تَهَبَ صِلَةَ الْحَبْلِ، وَلَوْ أَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ الْمُسْتَسْقِي، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ الْمُسْلِمَ وَوَجْهُكَ بَسْطٌ إِلَيْهِ، وَلَوْ أَنْ تُؤْنِسَ الْوَحْشَانَ بِنَفْسِكَ، وَلَوْ أَنْ تَهَبَ الشِّسْعَ، وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ، فَإِنَّهُ مِنَ الْمَخِيلَةِ وَلَا يُحِبُّهَا اللَّهُ“Jangan sekali-kali engkau meremehkan sedikit pun perbuatan baik yang bisa engkau lakukan, walaupun hanya memberikan tali pengikat, atau menuangkan air dari timbamu ke wadah orang yang meminta air, atau bertemu saudaramu sesama muslim dengan wajah yang berseri kepadanya, atau menghibur orang yang kesepian dengan kehadiranmu, atau memberikan tali sandal. Dan jauhilah menjulurkan pakaian hingga melewati mata kaki, karena itu termasuk kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan tersebut.” (HR. Ahmad, 3:482. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini sahih)Karena itu, jangan sampai seorang jamaah haji meremehkan satu pun bentuk kebaikan, walaupun hanya menyingkirkan gangguan dari jalan, atau menyapa saudaranya dengan wajah yang berseri-seri.Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya dan paling sabar menghadapi gangguan manusia.Allah telah menyiapkan surga-surga ‘Adn bagi orang-orang yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, dan memaafkan manusia.Sesungguhnya haji adalah perjalanan iman yang sangat mendalam, dipenuhi ibadah-ibadah agung dan kenangan yang mulia. Sebaik-baik jamaah haji adalah yang paling bermanfaat bagi saudara-saudaranya sesama muslim, paling sabar menghadapi gangguan manusia, dan paling bertakwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita kesempatan berhaji ke Baitullah Al-Haram, memudahkan pelaksanaannya bagi kita, serta menerima amal tersebut dari kita semua. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia Referensi: albayan.co.uk —- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 6 Dzulhijjah 1447 H, 23 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagsakhlak muslim haji mabrur ibadah hati ikhlas manasik haji musim haji syiar Allah takwa tauhid tawakal

Bulan-Bulan Haram dan Ladang Amal

Daftar Isi ToggleMakna bulan haramKeutamaan dan ancaman di bulan haramBulan istimewaRelevansi bulan haram di era digitalNabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679, dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu)Berakhirnya bulan Syawal adalah gerbang menuju fase untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan berikutnya. Tentunya, seorang mukmin tidak menjadikan ibadah sebagai musiman, tetapi sebagai napas kehidupan yang terus berlanjut. Di hadapan kita kini terbentang bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, yang memiliki nilai lebih dibanding bulan lainnya.Allah Ta’ala telah menetapkan dalam syariat-Nya adanya empat bulan haram (Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab) yang memiliki kedudukan istimewa. Dalam bulan-bulan ini, kita dituntut untuk lebih menjaga diri dari maksiat dan lebih giat dalam ketaatan dan ketakwaan. Kita pun mestinya menyadari bahwa ini merupakan momentum berikutnya untuk meraih pahala yang berlipat ganda setelah berlalunya bulan suci Ramadan.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 36)Makna bulan haram Istilah “haram” dalam konteks bulan tidak sekadar berarti larangan, tetapi menunjukkan kemuliaan dan kehormatan waktu tersebut. Sama seperti Tanah Haram di Makkah, bulan haram adalah waktu yang diagungkan dalam syariat Islam.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa penyebutan “bulan haram” menunjukkan adanya pengagungan dan pemuliaan khusus, sehingga dosa di dalamnya lebih berat dan amal saleh lebih ditekankan. [1]Apabila kita telusuri sejarah Islam lebih dalam, kita akan mendapati fenomena unik bahwa pada masa jahiliyah, bangsa Arab pun telah mengenal kemuliaan bulan-bulan ini. Mereka menghentikan peperangan sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu yang suci. Para ulama menyebut bahwa praktik penghormatan ini sudah dikenal bahkan sebelum Islam, namun Islam datang untuk menetapkannya secara syar’i dan meluruskannya dari penyimpangan.Bangsa Arab pada masa jahiliyah juga melakukan penyimpangan melalui praktik nasi’, yaitu mengubah-ubah urutan bulan demi kepentingan perang. Allah Ta’ala mengecam praktik ini,إِنَّمَا ٱلنَّسِىٓءُ زِيَادَةٌ فِى ٱلْكُفْرِ ۖ يُضَلُّ بِهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُحِلُّونَهُۥ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُۥ عَامًا لِّيُوَاطِـُٔوا۟ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ فَيُحِلُّوا۟ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ ۚ زُيِّنَ لَهُمْ سُوٓءُ أَعْمَٰلِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) menjadikan mereka memandang indah perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 37)Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimaullah menjelaskan bahwa nasi’ adalah bentuk manipulasi waktu untuk menghalalkan yang diharamkan Allah, dan ini termasuk penyimpangan besar dalam agama. [2] Oleh karenanya, penting untuk kita pahami bahwa bulan haram adalah momentum untuk menahan diri dari segala bentuk kezaliman, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa larangan menzalimi diri pada ayat tersebut mencakup seluruh waktu, namun penekanannya lebih kuat pada bulan haram karena kemuliaannya. [3]Keutamaan dan ancaman di bulan haramAllah memperingatkan secara khusus agar tidak menzalimi diri sendiri di bulan-bulan haram. Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini berlaku sepanjang waktu, namun memiliki penekanan khusus pada bulan haram karena kemuliaannya. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan larangan berbuat zalim secara umum, namun pengkhususan pada bulan haram menunjukkan besarnya kehormatan waktu tersebut, sehingga dosa di dalamnya lebih berat.Meskipun secara jumlah dosa itu tetap satu, namun dari sisi kualitas dan beratnya, dosa tersebut menjadi lebih besar. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa kezaliman pada waktu yang mulia lebih besar dosanya dibanding waktu lainnya, sebagaimana kemuliaan tempat dan waktu berpengaruh pada bobot amal. [4] Ibarat perbedaan antara luka ringan dan luka berat—keduanya sama-sama luka, tetapi dampaknya berbeda.Sebaliknya, ketaatan di bulan haram juga memiliki nilai lebih tinggi. Meskipun tidak terdapat dalil eksplisit yang menyebut pelipatgandaan pahala secara angka khusus untuk bulan haram, namun para ulama menetapkan kaidah bahwa amal saleh di waktu dan tempat yang mulia itu menjadi lebih utama, sebagaimana kaidah:الأعمال الصالحة تتفاضل بحسب شرف الزمان والمكان“(Pahala) amal-amal saleh itu belipat-lipat sesuai dengan kemuliaan waktu dan tempat.”Hal ini diisyaratkan dalam banyak dalil umum tentang keutamaan waktu, di antaranya sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah – Muharam. Sementara salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah)Jadi, ada keutamaan khusus amal di bulan yang dimuliakan. Seorang muslim hendaknya menjadikan bulan-bulan haram sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas ibadah dan meninggalkan kebiasaan buruk. Momentum ini adalah waktu terbaik untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, serta menahan diri dari berbagai bentuk maksiat, baik yang tampak maupun tersembunyi.Bulan istimewa Di antara bulan haram, Muharam memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai Syahrullah (bulan Allah), sebuah penyandaran yang menunjukkan kemuliaan yang agung sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas.Amalan utama di bulan ini adalah puasa. Hadis di atas secara tegas menunjukkan bahwa puasa sunah terbaik setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharam. Lihatlah, betapa besar peluang pahala yang tersedia bagi seorang muslim yang ingin meningkatkan amal ibadahnya.Secara khusus, terdapat puasa Asyura (10 Muharam) yang memiliki keutamaan besar. Dari Abu Qatadah Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)Selain itu, dianjurkan pula untuk berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu Tasu’a (9 Muharam), dalam rangka menyelisihi kaum Yahudi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim, 2: 798)Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa tujuan puasa Tasu’a adalah menyelisihi Ahlul Kitab yang hanya berpuasa pada hari ke-10 saja. [5] Namun demikian, umat Islam juga perlu berhati-hati terhadap hadis-hadis palsu yang beredar tentang keutamaan tertentu di bulan ini. Tidak semua yang populer memiliki dasar yang sahih. Para ulama hadis seperti Ibn al-Jawzi rahimahullah dan Al-Albani rahimahullah telah mengingatkan tentang banyaknya riwayat lemah bahkan palsu terkait keutamaan bulan Muharam, seperti klaim puasa tertentu yang menghapus dosa puluhan tahun tanpa dasar yang valid. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati dalam beramal, memastikan bahwa ibadah yang dilakukan memiliki landasan dalil yang sahih, agar amal tersebut benar-benar diterima di sisi Allah Ta’ala.Relevansi bulan haram di era digitalDewasa ini, bentuk kezaliman tidak selalu berupa fisik. Justru, banyak dosa yang terjadi melalui lisan dan jari—seperti gibah, fitnah, dan penyebaran hoaks di media sosial. Allah Ta’ala telah mengingatkan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)Ayat ini menunjukkan bahwa dosa lisan—yang kini meluas dalam bentuk tulisan digital—tetap termasuk dalam kategori kezaliman yang harus dihindari.Karenanya, pada bulan haram, dosa-dosa ini menjadi lebih berat. Maka, seorang muslim harus lebih waspada dalam menggunakan teknologi dan menjaga etika komunikasi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan peringatan tegas tentang bahaya lisan,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)Saudaraku, mari kita jadikan bulan haram sebagai momentum untuk membersihkan diri dari kebiasaan buruk di dunia maya. Baik dalam bentuk menahan diri dari komentar negatif, tidak menyebarkan berita tanpa tabayyun, maupun dengan memperbanyak konten yang bermanfaat. Allah Ta’ala berfirman,مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tidaklah suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)Jika seseorang mampu menjaga diri di bulan yang mulia ini, maka itu menjadi indikator kuat meningkatnya kualitas iman dalam dirinya. Sebab, keberhasilan seorang muslim bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari kemampuannya meninggalkan maksiat, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.Wallahu a’lam.***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim. Dar Thayyibah, 1999. Jilid 4, hal. 148-149.[2] Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Kairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1964. Jilid 8, hal. 134–136.[3] Ibid.[4] Ibid.[5] Fathul Bari, 4: 245–246

Bulan-Bulan Haram dan Ladang Amal

Daftar Isi ToggleMakna bulan haramKeutamaan dan ancaman di bulan haramBulan istimewaRelevansi bulan haram di era digitalNabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679, dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu)Berakhirnya bulan Syawal adalah gerbang menuju fase untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan berikutnya. Tentunya, seorang mukmin tidak menjadikan ibadah sebagai musiman, tetapi sebagai napas kehidupan yang terus berlanjut. Di hadapan kita kini terbentang bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, yang memiliki nilai lebih dibanding bulan lainnya.Allah Ta’ala telah menetapkan dalam syariat-Nya adanya empat bulan haram (Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab) yang memiliki kedudukan istimewa. Dalam bulan-bulan ini, kita dituntut untuk lebih menjaga diri dari maksiat dan lebih giat dalam ketaatan dan ketakwaan. Kita pun mestinya menyadari bahwa ini merupakan momentum berikutnya untuk meraih pahala yang berlipat ganda setelah berlalunya bulan suci Ramadan.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 36)Makna bulan haram Istilah “haram” dalam konteks bulan tidak sekadar berarti larangan, tetapi menunjukkan kemuliaan dan kehormatan waktu tersebut. Sama seperti Tanah Haram di Makkah, bulan haram adalah waktu yang diagungkan dalam syariat Islam.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa penyebutan “bulan haram” menunjukkan adanya pengagungan dan pemuliaan khusus, sehingga dosa di dalamnya lebih berat dan amal saleh lebih ditekankan. [1]Apabila kita telusuri sejarah Islam lebih dalam, kita akan mendapati fenomena unik bahwa pada masa jahiliyah, bangsa Arab pun telah mengenal kemuliaan bulan-bulan ini. Mereka menghentikan peperangan sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu yang suci. Para ulama menyebut bahwa praktik penghormatan ini sudah dikenal bahkan sebelum Islam, namun Islam datang untuk menetapkannya secara syar’i dan meluruskannya dari penyimpangan.Bangsa Arab pada masa jahiliyah juga melakukan penyimpangan melalui praktik nasi’, yaitu mengubah-ubah urutan bulan demi kepentingan perang. Allah Ta’ala mengecam praktik ini,إِنَّمَا ٱلنَّسِىٓءُ زِيَادَةٌ فِى ٱلْكُفْرِ ۖ يُضَلُّ بِهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُحِلُّونَهُۥ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُۥ عَامًا لِّيُوَاطِـُٔوا۟ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ فَيُحِلُّوا۟ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ ۚ زُيِّنَ لَهُمْ سُوٓءُ أَعْمَٰلِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) menjadikan mereka memandang indah perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 37)Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimaullah menjelaskan bahwa nasi’ adalah bentuk manipulasi waktu untuk menghalalkan yang diharamkan Allah, dan ini termasuk penyimpangan besar dalam agama. [2] Oleh karenanya, penting untuk kita pahami bahwa bulan haram adalah momentum untuk menahan diri dari segala bentuk kezaliman, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa larangan menzalimi diri pada ayat tersebut mencakup seluruh waktu, namun penekanannya lebih kuat pada bulan haram karena kemuliaannya. [3]Keutamaan dan ancaman di bulan haramAllah memperingatkan secara khusus agar tidak menzalimi diri sendiri di bulan-bulan haram. Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini berlaku sepanjang waktu, namun memiliki penekanan khusus pada bulan haram karena kemuliaannya. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan larangan berbuat zalim secara umum, namun pengkhususan pada bulan haram menunjukkan besarnya kehormatan waktu tersebut, sehingga dosa di dalamnya lebih berat.Meskipun secara jumlah dosa itu tetap satu, namun dari sisi kualitas dan beratnya, dosa tersebut menjadi lebih besar. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa kezaliman pada waktu yang mulia lebih besar dosanya dibanding waktu lainnya, sebagaimana kemuliaan tempat dan waktu berpengaruh pada bobot amal. [4] Ibarat perbedaan antara luka ringan dan luka berat—keduanya sama-sama luka, tetapi dampaknya berbeda.Sebaliknya, ketaatan di bulan haram juga memiliki nilai lebih tinggi. Meskipun tidak terdapat dalil eksplisit yang menyebut pelipatgandaan pahala secara angka khusus untuk bulan haram, namun para ulama menetapkan kaidah bahwa amal saleh di waktu dan tempat yang mulia itu menjadi lebih utama, sebagaimana kaidah:الأعمال الصالحة تتفاضل بحسب شرف الزمان والمكان“(Pahala) amal-amal saleh itu belipat-lipat sesuai dengan kemuliaan waktu dan tempat.”Hal ini diisyaratkan dalam banyak dalil umum tentang keutamaan waktu, di antaranya sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah – Muharam. Sementara salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah)Jadi, ada keutamaan khusus amal di bulan yang dimuliakan. Seorang muslim hendaknya menjadikan bulan-bulan haram sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas ibadah dan meninggalkan kebiasaan buruk. Momentum ini adalah waktu terbaik untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, serta menahan diri dari berbagai bentuk maksiat, baik yang tampak maupun tersembunyi.Bulan istimewa Di antara bulan haram, Muharam memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai Syahrullah (bulan Allah), sebuah penyandaran yang menunjukkan kemuliaan yang agung sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas.Amalan utama di bulan ini adalah puasa. Hadis di atas secara tegas menunjukkan bahwa puasa sunah terbaik setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharam. Lihatlah, betapa besar peluang pahala yang tersedia bagi seorang muslim yang ingin meningkatkan amal ibadahnya.Secara khusus, terdapat puasa Asyura (10 Muharam) yang memiliki keutamaan besar. Dari Abu Qatadah Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)Selain itu, dianjurkan pula untuk berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu Tasu’a (9 Muharam), dalam rangka menyelisihi kaum Yahudi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim, 2: 798)Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa tujuan puasa Tasu’a adalah menyelisihi Ahlul Kitab yang hanya berpuasa pada hari ke-10 saja. [5] Namun demikian, umat Islam juga perlu berhati-hati terhadap hadis-hadis palsu yang beredar tentang keutamaan tertentu di bulan ini. Tidak semua yang populer memiliki dasar yang sahih. Para ulama hadis seperti Ibn al-Jawzi rahimahullah dan Al-Albani rahimahullah telah mengingatkan tentang banyaknya riwayat lemah bahkan palsu terkait keutamaan bulan Muharam, seperti klaim puasa tertentu yang menghapus dosa puluhan tahun tanpa dasar yang valid. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati dalam beramal, memastikan bahwa ibadah yang dilakukan memiliki landasan dalil yang sahih, agar amal tersebut benar-benar diterima di sisi Allah Ta’ala.Relevansi bulan haram di era digitalDewasa ini, bentuk kezaliman tidak selalu berupa fisik. Justru, banyak dosa yang terjadi melalui lisan dan jari—seperti gibah, fitnah, dan penyebaran hoaks di media sosial. Allah Ta’ala telah mengingatkan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)Ayat ini menunjukkan bahwa dosa lisan—yang kini meluas dalam bentuk tulisan digital—tetap termasuk dalam kategori kezaliman yang harus dihindari.Karenanya, pada bulan haram, dosa-dosa ini menjadi lebih berat. Maka, seorang muslim harus lebih waspada dalam menggunakan teknologi dan menjaga etika komunikasi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan peringatan tegas tentang bahaya lisan,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)Saudaraku, mari kita jadikan bulan haram sebagai momentum untuk membersihkan diri dari kebiasaan buruk di dunia maya. Baik dalam bentuk menahan diri dari komentar negatif, tidak menyebarkan berita tanpa tabayyun, maupun dengan memperbanyak konten yang bermanfaat. Allah Ta’ala berfirman,مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tidaklah suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)Jika seseorang mampu menjaga diri di bulan yang mulia ini, maka itu menjadi indikator kuat meningkatnya kualitas iman dalam dirinya. Sebab, keberhasilan seorang muslim bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari kemampuannya meninggalkan maksiat, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.Wallahu a’lam.***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim. Dar Thayyibah, 1999. Jilid 4, hal. 148-149.[2] Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Kairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1964. Jilid 8, hal. 134–136.[3] Ibid.[4] Ibid.[5] Fathul Bari, 4: 245–246
Daftar Isi ToggleMakna bulan haramKeutamaan dan ancaman di bulan haramBulan istimewaRelevansi bulan haram di era digitalNabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679, dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu)Berakhirnya bulan Syawal adalah gerbang menuju fase untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan berikutnya. Tentunya, seorang mukmin tidak menjadikan ibadah sebagai musiman, tetapi sebagai napas kehidupan yang terus berlanjut. Di hadapan kita kini terbentang bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, yang memiliki nilai lebih dibanding bulan lainnya.Allah Ta’ala telah menetapkan dalam syariat-Nya adanya empat bulan haram (Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab) yang memiliki kedudukan istimewa. Dalam bulan-bulan ini, kita dituntut untuk lebih menjaga diri dari maksiat dan lebih giat dalam ketaatan dan ketakwaan. Kita pun mestinya menyadari bahwa ini merupakan momentum berikutnya untuk meraih pahala yang berlipat ganda setelah berlalunya bulan suci Ramadan.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 36)Makna bulan haram Istilah “haram” dalam konteks bulan tidak sekadar berarti larangan, tetapi menunjukkan kemuliaan dan kehormatan waktu tersebut. Sama seperti Tanah Haram di Makkah, bulan haram adalah waktu yang diagungkan dalam syariat Islam.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa penyebutan “bulan haram” menunjukkan adanya pengagungan dan pemuliaan khusus, sehingga dosa di dalamnya lebih berat dan amal saleh lebih ditekankan. [1]Apabila kita telusuri sejarah Islam lebih dalam, kita akan mendapati fenomena unik bahwa pada masa jahiliyah, bangsa Arab pun telah mengenal kemuliaan bulan-bulan ini. Mereka menghentikan peperangan sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu yang suci. Para ulama menyebut bahwa praktik penghormatan ini sudah dikenal bahkan sebelum Islam, namun Islam datang untuk menetapkannya secara syar’i dan meluruskannya dari penyimpangan.Bangsa Arab pada masa jahiliyah juga melakukan penyimpangan melalui praktik nasi’, yaitu mengubah-ubah urutan bulan demi kepentingan perang. Allah Ta’ala mengecam praktik ini,إِنَّمَا ٱلنَّسِىٓءُ زِيَادَةٌ فِى ٱلْكُفْرِ ۖ يُضَلُّ بِهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُحِلُّونَهُۥ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُۥ عَامًا لِّيُوَاطِـُٔوا۟ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ فَيُحِلُّوا۟ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ ۚ زُيِّنَ لَهُمْ سُوٓءُ أَعْمَٰلِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) menjadikan mereka memandang indah perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 37)Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimaullah menjelaskan bahwa nasi’ adalah bentuk manipulasi waktu untuk menghalalkan yang diharamkan Allah, dan ini termasuk penyimpangan besar dalam agama. [2] Oleh karenanya, penting untuk kita pahami bahwa bulan haram adalah momentum untuk menahan diri dari segala bentuk kezaliman, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa larangan menzalimi diri pada ayat tersebut mencakup seluruh waktu, namun penekanannya lebih kuat pada bulan haram karena kemuliaannya. [3]Keutamaan dan ancaman di bulan haramAllah memperingatkan secara khusus agar tidak menzalimi diri sendiri di bulan-bulan haram. Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini berlaku sepanjang waktu, namun memiliki penekanan khusus pada bulan haram karena kemuliaannya. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan larangan berbuat zalim secara umum, namun pengkhususan pada bulan haram menunjukkan besarnya kehormatan waktu tersebut, sehingga dosa di dalamnya lebih berat.Meskipun secara jumlah dosa itu tetap satu, namun dari sisi kualitas dan beratnya, dosa tersebut menjadi lebih besar. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa kezaliman pada waktu yang mulia lebih besar dosanya dibanding waktu lainnya, sebagaimana kemuliaan tempat dan waktu berpengaruh pada bobot amal. [4] Ibarat perbedaan antara luka ringan dan luka berat—keduanya sama-sama luka, tetapi dampaknya berbeda.Sebaliknya, ketaatan di bulan haram juga memiliki nilai lebih tinggi. Meskipun tidak terdapat dalil eksplisit yang menyebut pelipatgandaan pahala secara angka khusus untuk bulan haram, namun para ulama menetapkan kaidah bahwa amal saleh di waktu dan tempat yang mulia itu menjadi lebih utama, sebagaimana kaidah:الأعمال الصالحة تتفاضل بحسب شرف الزمان والمكان“(Pahala) amal-amal saleh itu belipat-lipat sesuai dengan kemuliaan waktu dan tempat.”Hal ini diisyaratkan dalam banyak dalil umum tentang keutamaan waktu, di antaranya sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah – Muharam. Sementara salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah)Jadi, ada keutamaan khusus amal di bulan yang dimuliakan. Seorang muslim hendaknya menjadikan bulan-bulan haram sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas ibadah dan meninggalkan kebiasaan buruk. Momentum ini adalah waktu terbaik untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, serta menahan diri dari berbagai bentuk maksiat, baik yang tampak maupun tersembunyi.Bulan istimewa Di antara bulan haram, Muharam memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai Syahrullah (bulan Allah), sebuah penyandaran yang menunjukkan kemuliaan yang agung sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas.Amalan utama di bulan ini adalah puasa. Hadis di atas secara tegas menunjukkan bahwa puasa sunah terbaik setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharam. Lihatlah, betapa besar peluang pahala yang tersedia bagi seorang muslim yang ingin meningkatkan amal ibadahnya.Secara khusus, terdapat puasa Asyura (10 Muharam) yang memiliki keutamaan besar. Dari Abu Qatadah Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)Selain itu, dianjurkan pula untuk berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu Tasu’a (9 Muharam), dalam rangka menyelisihi kaum Yahudi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim, 2: 798)Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa tujuan puasa Tasu’a adalah menyelisihi Ahlul Kitab yang hanya berpuasa pada hari ke-10 saja. [5] Namun demikian, umat Islam juga perlu berhati-hati terhadap hadis-hadis palsu yang beredar tentang keutamaan tertentu di bulan ini. Tidak semua yang populer memiliki dasar yang sahih. Para ulama hadis seperti Ibn al-Jawzi rahimahullah dan Al-Albani rahimahullah telah mengingatkan tentang banyaknya riwayat lemah bahkan palsu terkait keutamaan bulan Muharam, seperti klaim puasa tertentu yang menghapus dosa puluhan tahun tanpa dasar yang valid. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati dalam beramal, memastikan bahwa ibadah yang dilakukan memiliki landasan dalil yang sahih, agar amal tersebut benar-benar diterima di sisi Allah Ta’ala.Relevansi bulan haram di era digitalDewasa ini, bentuk kezaliman tidak selalu berupa fisik. Justru, banyak dosa yang terjadi melalui lisan dan jari—seperti gibah, fitnah, dan penyebaran hoaks di media sosial. Allah Ta’ala telah mengingatkan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)Ayat ini menunjukkan bahwa dosa lisan—yang kini meluas dalam bentuk tulisan digital—tetap termasuk dalam kategori kezaliman yang harus dihindari.Karenanya, pada bulan haram, dosa-dosa ini menjadi lebih berat. Maka, seorang muslim harus lebih waspada dalam menggunakan teknologi dan menjaga etika komunikasi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan peringatan tegas tentang bahaya lisan,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)Saudaraku, mari kita jadikan bulan haram sebagai momentum untuk membersihkan diri dari kebiasaan buruk di dunia maya. Baik dalam bentuk menahan diri dari komentar negatif, tidak menyebarkan berita tanpa tabayyun, maupun dengan memperbanyak konten yang bermanfaat. Allah Ta’ala berfirman,مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tidaklah suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)Jika seseorang mampu menjaga diri di bulan yang mulia ini, maka itu menjadi indikator kuat meningkatnya kualitas iman dalam dirinya. Sebab, keberhasilan seorang muslim bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari kemampuannya meninggalkan maksiat, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.Wallahu a’lam.***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim. Dar Thayyibah, 1999. Jilid 4, hal. 148-149.[2] Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Kairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1964. Jilid 8, hal. 134–136.[3] Ibid.[4] Ibid.[5] Fathul Bari, 4: 245–246


Daftar Isi ToggleMakna bulan haramKeutamaan dan ancaman di bulan haramBulan istimewaRelevansi bulan haram di era digitalNabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679, dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu)Berakhirnya bulan Syawal adalah gerbang menuju fase untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan berikutnya. Tentunya, seorang mukmin tidak menjadikan ibadah sebagai musiman, tetapi sebagai napas kehidupan yang terus berlanjut. Di hadapan kita kini terbentang bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, yang memiliki nilai lebih dibanding bulan lainnya.Allah Ta’ala telah menetapkan dalam syariat-Nya adanya empat bulan haram (Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab) yang memiliki kedudukan istimewa. Dalam bulan-bulan ini, kita dituntut untuk lebih menjaga diri dari maksiat dan lebih giat dalam ketaatan dan ketakwaan. Kita pun mestinya menyadari bahwa ini merupakan momentum berikutnya untuk meraih pahala yang berlipat ganda setelah berlalunya bulan suci Ramadan.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 36)Makna bulan haram Istilah “haram” dalam konteks bulan tidak sekadar berarti larangan, tetapi menunjukkan kemuliaan dan kehormatan waktu tersebut. Sama seperti Tanah Haram di Makkah, bulan haram adalah waktu yang diagungkan dalam syariat Islam.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa penyebutan “bulan haram” menunjukkan adanya pengagungan dan pemuliaan khusus, sehingga dosa di dalamnya lebih berat dan amal saleh lebih ditekankan. [1]Apabila kita telusuri sejarah Islam lebih dalam, kita akan mendapati fenomena unik bahwa pada masa jahiliyah, bangsa Arab pun telah mengenal kemuliaan bulan-bulan ini. Mereka menghentikan peperangan sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu yang suci. Para ulama menyebut bahwa praktik penghormatan ini sudah dikenal bahkan sebelum Islam, namun Islam datang untuk menetapkannya secara syar’i dan meluruskannya dari penyimpangan.Bangsa Arab pada masa jahiliyah juga melakukan penyimpangan melalui praktik nasi’, yaitu mengubah-ubah urutan bulan demi kepentingan perang. Allah Ta’ala mengecam praktik ini,إِنَّمَا ٱلنَّسِىٓءُ زِيَادَةٌ فِى ٱلْكُفْرِ ۖ يُضَلُّ بِهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُحِلُّونَهُۥ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُۥ عَامًا لِّيُوَاطِـُٔوا۟ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ فَيُحِلُّوا۟ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ ۚ زُيِّنَ لَهُمْ سُوٓءُ أَعْمَٰلِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) menjadikan mereka memandang indah perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 37)Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimaullah menjelaskan bahwa nasi’ adalah bentuk manipulasi waktu untuk menghalalkan yang diharamkan Allah, dan ini termasuk penyimpangan besar dalam agama. [2] Oleh karenanya, penting untuk kita pahami bahwa bulan haram adalah momentum untuk menahan diri dari segala bentuk kezaliman, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa larangan menzalimi diri pada ayat tersebut mencakup seluruh waktu, namun penekanannya lebih kuat pada bulan haram karena kemuliaannya. [3]Keutamaan dan ancaman di bulan haramAllah memperingatkan secara khusus agar tidak menzalimi diri sendiri di bulan-bulan haram. Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini berlaku sepanjang waktu, namun memiliki penekanan khusus pada bulan haram karena kemuliaannya. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan larangan berbuat zalim secara umum, namun pengkhususan pada bulan haram menunjukkan besarnya kehormatan waktu tersebut, sehingga dosa di dalamnya lebih berat.Meskipun secara jumlah dosa itu tetap satu, namun dari sisi kualitas dan beratnya, dosa tersebut menjadi lebih besar. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa kezaliman pada waktu yang mulia lebih besar dosanya dibanding waktu lainnya, sebagaimana kemuliaan tempat dan waktu berpengaruh pada bobot amal. [4] Ibarat perbedaan antara luka ringan dan luka berat—keduanya sama-sama luka, tetapi dampaknya berbeda.Sebaliknya, ketaatan di bulan haram juga memiliki nilai lebih tinggi. Meskipun tidak terdapat dalil eksplisit yang menyebut pelipatgandaan pahala secara angka khusus untuk bulan haram, namun para ulama menetapkan kaidah bahwa amal saleh di waktu dan tempat yang mulia itu menjadi lebih utama, sebagaimana kaidah:الأعمال الصالحة تتفاضل بحسب شرف الزمان والمكان“(Pahala) amal-amal saleh itu belipat-lipat sesuai dengan kemuliaan waktu dan tempat.”Hal ini diisyaratkan dalam banyak dalil umum tentang keutamaan waktu, di antaranya sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah – Muharam. Sementara salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah)Jadi, ada keutamaan khusus amal di bulan yang dimuliakan. Seorang muslim hendaknya menjadikan bulan-bulan haram sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas ibadah dan meninggalkan kebiasaan buruk. Momentum ini adalah waktu terbaik untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, serta menahan diri dari berbagai bentuk maksiat, baik yang tampak maupun tersembunyi.Bulan istimewa Di antara bulan haram, Muharam memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai Syahrullah (bulan Allah), sebuah penyandaran yang menunjukkan kemuliaan yang agung sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas.Amalan utama di bulan ini adalah puasa. Hadis di atas secara tegas menunjukkan bahwa puasa sunah terbaik setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharam. Lihatlah, betapa besar peluang pahala yang tersedia bagi seorang muslim yang ingin meningkatkan amal ibadahnya.Secara khusus, terdapat puasa Asyura (10 Muharam) yang memiliki keutamaan besar. Dari Abu Qatadah Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)Selain itu, dianjurkan pula untuk berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu Tasu’a (9 Muharam), dalam rangka menyelisihi kaum Yahudi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim, 2: 798)Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa tujuan puasa Tasu’a adalah menyelisihi Ahlul Kitab yang hanya berpuasa pada hari ke-10 saja. [5] Namun demikian, umat Islam juga perlu berhati-hati terhadap hadis-hadis palsu yang beredar tentang keutamaan tertentu di bulan ini. Tidak semua yang populer memiliki dasar yang sahih. Para ulama hadis seperti Ibn al-Jawzi rahimahullah dan Al-Albani rahimahullah telah mengingatkan tentang banyaknya riwayat lemah bahkan palsu terkait keutamaan bulan Muharam, seperti klaim puasa tertentu yang menghapus dosa puluhan tahun tanpa dasar yang valid. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati dalam beramal, memastikan bahwa ibadah yang dilakukan memiliki landasan dalil yang sahih, agar amal tersebut benar-benar diterima di sisi Allah Ta’ala.Relevansi bulan haram di era digitalDewasa ini, bentuk kezaliman tidak selalu berupa fisik. Justru, banyak dosa yang terjadi melalui lisan dan jari—seperti gibah, fitnah, dan penyebaran hoaks di media sosial. Allah Ta’ala telah mengingatkan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)Ayat ini menunjukkan bahwa dosa lisan—yang kini meluas dalam bentuk tulisan digital—tetap termasuk dalam kategori kezaliman yang harus dihindari.Karenanya, pada bulan haram, dosa-dosa ini menjadi lebih berat. Maka, seorang muslim harus lebih waspada dalam menggunakan teknologi dan menjaga etika komunikasi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan peringatan tegas tentang bahaya lisan,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)Saudaraku, mari kita jadikan bulan haram sebagai momentum untuk membersihkan diri dari kebiasaan buruk di dunia maya. Baik dalam bentuk menahan diri dari komentar negatif, tidak menyebarkan berita tanpa tabayyun, maupun dengan memperbanyak konten yang bermanfaat. Allah Ta’ala berfirman,مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tidaklah suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)Jika seseorang mampu menjaga diri di bulan yang mulia ini, maka itu menjadi indikator kuat meningkatnya kualitas iman dalam dirinya. Sebab, keberhasilan seorang muslim bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari kemampuannya meninggalkan maksiat, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.Wallahu a’lam.***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim. Dar Thayyibah, 1999. Jilid 4, hal. 148-149.[2] Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Kairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1964. Jilid 8, hal. 134–136.[3] Ibid.[4] Ibid.[5] Fathul Bari, 4: 245–246

Setan Si Pemberi Nasihat

Oleh: Dr. Basyuni Nahila Mungkin ada sebagian orang yang heran terhadap setan yang menjadi pemberi nasihat, karena asal kata nasihat mengandung makna-makna ketulusan, kesucian, kejujuran, dan kebaikan. Dan ini menyelisihi tabiat setan dalam kelicikan, permainan, penipuan, dan godaannya. Dari sinilah urgensi artikel ini dalam menyingkap tipu daya setan dan bala tentaranya dalam menipu manusia dan menggiring mereka agar terjerumus ke dalam hal-hal terlarang dan membinasakan, melalui cara menyamar dalam peran-peran licik, menggunakan identitas-identitas palsu, dan menghiasi diri dengan ciri-ciri yang menipu. Kita dapat mencari tahu peran tercela setan ini melalui apa yang tertulis dalam Al-Qur’an Al-Karim tentang aksi pertama setan dalam menggoda bapak manusia, Adam Alaihissalam. Setelah setan mengancam Nabi Adam dan keturunannya dengan godaan dan penyesatan, ia menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan memakai istilah-istilah yang dipakai para pemberi nasihat, demi menjerumuskan Nabi Adam dan istrinya dari kubangan kemaksiatan dan keburukan dosa-dosa.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Inilah momen pertama penggunaan kata nasihat dan turunannya dalam mengawali ucapan atau sebagai penutup dialog, dan ini tidak selalu menjadi tanda kebaikan, ketulusan, dan kebaikan batin, karena pemberi nasihat, rekam jejaknya, isi nasihat dan konteksnya, serta sebab dan tujuannya itulah yang menjadi tolok ukur apakah nasihat itu tulus dan suci, atau justru bersifat setan yang penuh kepura-puraan. Karena berbahayanya nasihat jenis kedua ini dalam mengaburkan kebenaran dan menyesatkan khalayak umum —terlebih lagi di kehidupan zaman modern yang mengalami perkembangan luar biasa dalam media-media sosial dan jenis-jenis media model lama dan baru yang banyak orang berusaha mencapai akal dan hati manusia, terkadang dengan tujuan mengelabuhi dan menghiasi yang buruk dan terkadang untuk mengaburkan dan memalsukan yang baik— maka hadirlah artikel ini untuk meletakkan beberapa kaidah yang dapat membantu membedakan nasihat setan dan mengenali pengaruhnya, bahkan ketika nasihat itu berasal dari manusia, alat, organisasi, komunitas, atau pertemanan. Ucapan yang paling sesuai dalam mencirikan setan yang memberi nasihat juga bala tentaranya adalah apa yang ditulis oleh Ahmad Syauqi dalam menyifati rubah yang suatu hari muncul dengan kostum pemberi nasihat, berpura-pura dengan segala tipu daya dan muslihat hingga mampu mewujudkan tujuan keji dan berhasil mendapat mangsa gemuknya. Di antara yang dikatakan Ahmad Syauqi adalah: بَرَزَ الثَّعْلَبُ يَوْمًا فِي شِعَارِ الْوَاعِظِينَ Suatu hari seekor rubah muncul. Dengan tampilan pakaian para pemberi nasihat. فَمَشَى فِي الْأَرْضِ يَهْذِي وَيَسُبُّ الْمَاكِرِينَ Ia berjalan di muka bumi sambil mengigau. Dan mencela orang-orang yang menipu. وَيَقُولُ الْحَمْدُ لِلْـ هِ إِلَهِ الْعَالَمِينَ Ia berkata: “Segala puji hanya bagi Allah. Tuhan semesta alam. يَا عِبَادَ اللَّهِ تُوبُوا فَهُوَ كَهْفُ التَّائِبِينَ Wahai para hamba Allah, bertaubatlah. Karena Dialah tempat berlindung orang-orang yang bertaubat. Ini juga yang dilakukan oleh Iblis ketika suatu hari muncul dengan tampilan pemberi nasihat dengan tujuan mengelabuhi Adam dan mengeluarkannya dari surga, agar ia menjadi pelaku maksiat dengan berbuat kemaksiatan terbesar dan pertama sepanjang sejarah.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Contoh lainnya juga: godaan yang dimasukkan setan ke dalam hati saudara-saudara Nabi Yusuf Alaihissalam. Mereka menyusun tipu daya mereka dan bertekad untuk membuang saudara mereka, Yusuf ke dalam sumur akibat rasa dengki dari diri mereka. Demi mencapai apa yang mereka inginkan dan mencapai apa yang mereka cita-citakan, mereka menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan mengaku sebagai penjaga yang tulus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mengapa engkau tidak mempercayakan Yusuf kepada kami, padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?’” (QS. Yusuf: 11). Dan yang mengherankan dari dua kisah ini adalah tipu daya setan sebagai pemberi nasihat Adam dan istrinya ini berhasil dan mencapai tujuannya, juga muslihat saudara-saudara Yusuf terhadap Nabi Ya’qub dan Yusuf dapat terlaksana dan mencapai targetnya, meskipun mereka sebagai Nabi-Nabi yang mulia, karena kata ‘penasihat’ dan metode nasihat tidak punya makna lain di dalam kamus para Nabi dan orang-orang saleh selain kehendak kebaikan yang tulus ikhlas, tapi pada hakikatnya terkadang menjadi racun mematikan, keburukan yang mengintai, dan kehancuran yang besar. Nasihat-nasihat setan dan bala tentaranya selalu memiliki ciri khas yang terkadang dapat dikenali dari ucapan manis, dan terkadang melalui silat lidah. Berikut ini kami sebutkan beberapa ciri khas tersebut, agar orang-orang yang punya niat baik dari golongan orang-orang yang baik, tulus, dan jujur selalu waspada dari jeratan muslihatnya dalam berbagai bentuk dan istilahnya: 1. Kedustaan yang terencana Setan pemberi nasihat dan bala tentaranya menyadari sepenuhnya hakikat keburukan dalam diri mereka, sehingga mereka berusaha membersihkan situasi di sekeliling mereka dari racun mereka. Itu mereka lakukan dengan cara mengulang-ulang penggunaan kata penegas yang berlapis, seperti dengan sumpah, dan huruf Nun dan Lam taukid (huruf yang digunakan sebagai penegas dalam bahasa Arab), seperti yang ada dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan saudara-saudara Yusuf:  وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?” (QS. Yusuf: 11). 2. Membangun nasihatnya dengan kata-kata yang menyilaukan Juga dengan istilah-istilah yang menggiurkan, janji-janji yang melenakan, dan tawaran-tawaran yang menggoda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ “Maka ia (setan) menjerumuskan keduanya dengan tipu daya.” (QS. Al-A’raf: 22). Demikian juga dengan saudara-saudara Nabi Yusuf ketika mengemukakan nasihat mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ucapan mereka: أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ “Kirimlah dia (Yusuf) bersama kami besok agar ia bersenang-senang dan bermain, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.” (QS. Yusuf: 12). 3. Tipu daya terencana dan bujukan yang tersusun rapi Nasihat setan dan bala tentaranya tidak mengandung spontanitas dan keluguan, karena mereka menyampaikan nasihat dengan langkah-langkah yang terencana dan peran-peran yang telah tersusun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ “Dan engkau tidak berada bersama mereka ketika mereka merencanakan tipu daya mereka, sedangkan mereka sedang bersekongkol.” (QS. Yusuf: 102). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang setan: قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ “Iblis berkata: ‘Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya.’” (QS. Shad: 82). Ini merupakan makar yang telah disusun siang dan malam, dan direncanakan secara sembunyi-sembunyi dan rahasia. 4. Mereka tidak dikenal sebagai pemberi nasihat kecuali melalui klaim mereka Dan mereka dikenal demikian oleh orang-orang yang lemah imannya, dan dangkal ilmu serta pengalamannya. Sedangkan bagi orang-orang beriman yang tulus keimanannya dan orang-orang yang punya pemahaman yang lurus, maka setan dan bala tentaranya hanyalah tukang tipu daya dan musuh yang hakiki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ “Maka Kami berfirman: ‘Wahai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka jangan sampai ia mengeluarkan kalian berdua dari surga, sehingga engkau menjadi sengsara.’” (QS. Thaha: 117). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang penyifatan Nabi Yusuf terhadap saudara-saudaranya ketika berjumpa dengan mereka: قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ “Ia (Yusuf) berkata: ‘Kalian lebih buruk kedudukannya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian katakan.’” (QS. Yusuf: 77). 5. Terungkapnya hakikat mereka, hancurnya reputasi mereka, dan lenyapnya pengaruh mereka Hal ini sebagaimana yang terjadi pada saudara-saudara Nabi Yusuf yang pada awal cerita mereka menyatakan diri sebagai pemberi nasihat bagi Yusuf, tapi tidak berselang lama semua berubah, kisah ini tidak berakhir hingga mereka mengumumkan bahwa dulu mereka telah berbuat salah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 91). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 97).  Demikian juga yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sampaikan kepada Nabi Adam tentang hakikat nasihat setan kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ “Dan Tuhan mereka menyeru keduanya: ‘Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon itu dan Aku telah mengatakan kepada kalian bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua?’” (QS. Al-A’raf: 22). Tujuan Al-Qur’an Al-Karim memaparkan beberapa contoh nasihat-nasihat setan untuk melindungi umat dari terjerumus menjadi mangsa dalam tipu daya dan rekayasa mereka, atau menjadi korban dari kalimat-kalimat kosong dan ungkapan-ungkapan tipuan yang mengintai orang-orang yang lemah hati, terombang-ambing dalam gelapnya kebodohan dan fitnah godaan, dan mabuk dalam kenikmatan dan syahwat. Tidak ada yang dapat melindungi dari itu semua kecuali dengan kembalinya hati kepada penghayatan ayat-ayat ilahi, kesadaran akal dengan merenungi hikmah-hikmah Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ “Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/122756/الشيطان-الناصح/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 23 times, 1 visit(s) today Post Views: 33 QRIS donasi Yufid

Setan Si Pemberi Nasihat

Oleh: Dr. Basyuni Nahila Mungkin ada sebagian orang yang heran terhadap setan yang menjadi pemberi nasihat, karena asal kata nasihat mengandung makna-makna ketulusan, kesucian, kejujuran, dan kebaikan. Dan ini menyelisihi tabiat setan dalam kelicikan, permainan, penipuan, dan godaannya. Dari sinilah urgensi artikel ini dalam menyingkap tipu daya setan dan bala tentaranya dalam menipu manusia dan menggiring mereka agar terjerumus ke dalam hal-hal terlarang dan membinasakan, melalui cara menyamar dalam peran-peran licik, menggunakan identitas-identitas palsu, dan menghiasi diri dengan ciri-ciri yang menipu. Kita dapat mencari tahu peran tercela setan ini melalui apa yang tertulis dalam Al-Qur’an Al-Karim tentang aksi pertama setan dalam menggoda bapak manusia, Adam Alaihissalam. Setelah setan mengancam Nabi Adam dan keturunannya dengan godaan dan penyesatan, ia menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan memakai istilah-istilah yang dipakai para pemberi nasihat, demi menjerumuskan Nabi Adam dan istrinya dari kubangan kemaksiatan dan keburukan dosa-dosa.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Inilah momen pertama penggunaan kata nasihat dan turunannya dalam mengawali ucapan atau sebagai penutup dialog, dan ini tidak selalu menjadi tanda kebaikan, ketulusan, dan kebaikan batin, karena pemberi nasihat, rekam jejaknya, isi nasihat dan konteksnya, serta sebab dan tujuannya itulah yang menjadi tolok ukur apakah nasihat itu tulus dan suci, atau justru bersifat setan yang penuh kepura-puraan. Karena berbahayanya nasihat jenis kedua ini dalam mengaburkan kebenaran dan menyesatkan khalayak umum —terlebih lagi di kehidupan zaman modern yang mengalami perkembangan luar biasa dalam media-media sosial dan jenis-jenis media model lama dan baru yang banyak orang berusaha mencapai akal dan hati manusia, terkadang dengan tujuan mengelabuhi dan menghiasi yang buruk dan terkadang untuk mengaburkan dan memalsukan yang baik— maka hadirlah artikel ini untuk meletakkan beberapa kaidah yang dapat membantu membedakan nasihat setan dan mengenali pengaruhnya, bahkan ketika nasihat itu berasal dari manusia, alat, organisasi, komunitas, atau pertemanan. Ucapan yang paling sesuai dalam mencirikan setan yang memberi nasihat juga bala tentaranya adalah apa yang ditulis oleh Ahmad Syauqi dalam menyifati rubah yang suatu hari muncul dengan kostum pemberi nasihat, berpura-pura dengan segala tipu daya dan muslihat hingga mampu mewujudkan tujuan keji dan berhasil mendapat mangsa gemuknya. Di antara yang dikatakan Ahmad Syauqi adalah: بَرَزَ الثَّعْلَبُ يَوْمًا فِي شِعَارِ الْوَاعِظِينَ Suatu hari seekor rubah muncul. Dengan tampilan pakaian para pemberi nasihat. فَمَشَى فِي الْأَرْضِ يَهْذِي وَيَسُبُّ الْمَاكِرِينَ Ia berjalan di muka bumi sambil mengigau. Dan mencela orang-orang yang menipu. وَيَقُولُ الْحَمْدُ لِلْـ هِ إِلَهِ الْعَالَمِينَ Ia berkata: “Segala puji hanya bagi Allah. Tuhan semesta alam. يَا عِبَادَ اللَّهِ تُوبُوا فَهُوَ كَهْفُ التَّائِبِينَ Wahai para hamba Allah, bertaubatlah. Karena Dialah tempat berlindung orang-orang yang bertaubat. Ini juga yang dilakukan oleh Iblis ketika suatu hari muncul dengan tampilan pemberi nasihat dengan tujuan mengelabuhi Adam dan mengeluarkannya dari surga, agar ia menjadi pelaku maksiat dengan berbuat kemaksiatan terbesar dan pertama sepanjang sejarah.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Contoh lainnya juga: godaan yang dimasukkan setan ke dalam hati saudara-saudara Nabi Yusuf Alaihissalam. Mereka menyusun tipu daya mereka dan bertekad untuk membuang saudara mereka, Yusuf ke dalam sumur akibat rasa dengki dari diri mereka. Demi mencapai apa yang mereka inginkan dan mencapai apa yang mereka cita-citakan, mereka menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan mengaku sebagai penjaga yang tulus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mengapa engkau tidak mempercayakan Yusuf kepada kami, padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?’” (QS. Yusuf: 11). Dan yang mengherankan dari dua kisah ini adalah tipu daya setan sebagai pemberi nasihat Adam dan istrinya ini berhasil dan mencapai tujuannya, juga muslihat saudara-saudara Yusuf terhadap Nabi Ya’qub dan Yusuf dapat terlaksana dan mencapai targetnya, meskipun mereka sebagai Nabi-Nabi yang mulia, karena kata ‘penasihat’ dan metode nasihat tidak punya makna lain di dalam kamus para Nabi dan orang-orang saleh selain kehendak kebaikan yang tulus ikhlas, tapi pada hakikatnya terkadang menjadi racun mematikan, keburukan yang mengintai, dan kehancuran yang besar. Nasihat-nasihat setan dan bala tentaranya selalu memiliki ciri khas yang terkadang dapat dikenali dari ucapan manis, dan terkadang melalui silat lidah. Berikut ini kami sebutkan beberapa ciri khas tersebut, agar orang-orang yang punya niat baik dari golongan orang-orang yang baik, tulus, dan jujur selalu waspada dari jeratan muslihatnya dalam berbagai bentuk dan istilahnya: 1. Kedustaan yang terencana Setan pemberi nasihat dan bala tentaranya menyadari sepenuhnya hakikat keburukan dalam diri mereka, sehingga mereka berusaha membersihkan situasi di sekeliling mereka dari racun mereka. Itu mereka lakukan dengan cara mengulang-ulang penggunaan kata penegas yang berlapis, seperti dengan sumpah, dan huruf Nun dan Lam taukid (huruf yang digunakan sebagai penegas dalam bahasa Arab), seperti yang ada dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan saudara-saudara Yusuf:  وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?” (QS. Yusuf: 11). 2. Membangun nasihatnya dengan kata-kata yang menyilaukan Juga dengan istilah-istilah yang menggiurkan, janji-janji yang melenakan, dan tawaran-tawaran yang menggoda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ “Maka ia (setan) menjerumuskan keduanya dengan tipu daya.” (QS. Al-A’raf: 22). Demikian juga dengan saudara-saudara Nabi Yusuf ketika mengemukakan nasihat mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ucapan mereka: أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ “Kirimlah dia (Yusuf) bersama kami besok agar ia bersenang-senang dan bermain, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.” (QS. Yusuf: 12). 3. Tipu daya terencana dan bujukan yang tersusun rapi Nasihat setan dan bala tentaranya tidak mengandung spontanitas dan keluguan, karena mereka menyampaikan nasihat dengan langkah-langkah yang terencana dan peran-peran yang telah tersusun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ “Dan engkau tidak berada bersama mereka ketika mereka merencanakan tipu daya mereka, sedangkan mereka sedang bersekongkol.” (QS. Yusuf: 102). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang setan: قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ “Iblis berkata: ‘Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya.’” (QS. Shad: 82). Ini merupakan makar yang telah disusun siang dan malam, dan direncanakan secara sembunyi-sembunyi dan rahasia. 4. Mereka tidak dikenal sebagai pemberi nasihat kecuali melalui klaim mereka Dan mereka dikenal demikian oleh orang-orang yang lemah imannya, dan dangkal ilmu serta pengalamannya. Sedangkan bagi orang-orang beriman yang tulus keimanannya dan orang-orang yang punya pemahaman yang lurus, maka setan dan bala tentaranya hanyalah tukang tipu daya dan musuh yang hakiki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ “Maka Kami berfirman: ‘Wahai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka jangan sampai ia mengeluarkan kalian berdua dari surga, sehingga engkau menjadi sengsara.’” (QS. Thaha: 117). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang penyifatan Nabi Yusuf terhadap saudara-saudaranya ketika berjumpa dengan mereka: قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ “Ia (Yusuf) berkata: ‘Kalian lebih buruk kedudukannya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian katakan.’” (QS. Yusuf: 77). 5. Terungkapnya hakikat mereka, hancurnya reputasi mereka, dan lenyapnya pengaruh mereka Hal ini sebagaimana yang terjadi pada saudara-saudara Nabi Yusuf yang pada awal cerita mereka menyatakan diri sebagai pemberi nasihat bagi Yusuf, tapi tidak berselang lama semua berubah, kisah ini tidak berakhir hingga mereka mengumumkan bahwa dulu mereka telah berbuat salah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 91). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 97).  Demikian juga yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sampaikan kepada Nabi Adam tentang hakikat nasihat setan kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ “Dan Tuhan mereka menyeru keduanya: ‘Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon itu dan Aku telah mengatakan kepada kalian bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua?’” (QS. Al-A’raf: 22). Tujuan Al-Qur’an Al-Karim memaparkan beberapa contoh nasihat-nasihat setan untuk melindungi umat dari terjerumus menjadi mangsa dalam tipu daya dan rekayasa mereka, atau menjadi korban dari kalimat-kalimat kosong dan ungkapan-ungkapan tipuan yang mengintai orang-orang yang lemah hati, terombang-ambing dalam gelapnya kebodohan dan fitnah godaan, dan mabuk dalam kenikmatan dan syahwat. Tidak ada yang dapat melindungi dari itu semua kecuali dengan kembalinya hati kepada penghayatan ayat-ayat ilahi, kesadaran akal dengan merenungi hikmah-hikmah Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ “Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/122756/الشيطان-الناصح/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 23 times, 1 visit(s) today Post Views: 33 QRIS donasi Yufid
Oleh: Dr. Basyuni Nahila Mungkin ada sebagian orang yang heran terhadap setan yang menjadi pemberi nasihat, karena asal kata nasihat mengandung makna-makna ketulusan, kesucian, kejujuran, dan kebaikan. Dan ini menyelisihi tabiat setan dalam kelicikan, permainan, penipuan, dan godaannya. Dari sinilah urgensi artikel ini dalam menyingkap tipu daya setan dan bala tentaranya dalam menipu manusia dan menggiring mereka agar terjerumus ke dalam hal-hal terlarang dan membinasakan, melalui cara menyamar dalam peran-peran licik, menggunakan identitas-identitas palsu, dan menghiasi diri dengan ciri-ciri yang menipu. Kita dapat mencari tahu peran tercela setan ini melalui apa yang tertulis dalam Al-Qur’an Al-Karim tentang aksi pertama setan dalam menggoda bapak manusia, Adam Alaihissalam. Setelah setan mengancam Nabi Adam dan keturunannya dengan godaan dan penyesatan, ia menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan memakai istilah-istilah yang dipakai para pemberi nasihat, demi menjerumuskan Nabi Adam dan istrinya dari kubangan kemaksiatan dan keburukan dosa-dosa.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Inilah momen pertama penggunaan kata nasihat dan turunannya dalam mengawali ucapan atau sebagai penutup dialog, dan ini tidak selalu menjadi tanda kebaikan, ketulusan, dan kebaikan batin, karena pemberi nasihat, rekam jejaknya, isi nasihat dan konteksnya, serta sebab dan tujuannya itulah yang menjadi tolok ukur apakah nasihat itu tulus dan suci, atau justru bersifat setan yang penuh kepura-puraan. Karena berbahayanya nasihat jenis kedua ini dalam mengaburkan kebenaran dan menyesatkan khalayak umum —terlebih lagi di kehidupan zaman modern yang mengalami perkembangan luar biasa dalam media-media sosial dan jenis-jenis media model lama dan baru yang banyak orang berusaha mencapai akal dan hati manusia, terkadang dengan tujuan mengelabuhi dan menghiasi yang buruk dan terkadang untuk mengaburkan dan memalsukan yang baik— maka hadirlah artikel ini untuk meletakkan beberapa kaidah yang dapat membantu membedakan nasihat setan dan mengenali pengaruhnya, bahkan ketika nasihat itu berasal dari manusia, alat, organisasi, komunitas, atau pertemanan. Ucapan yang paling sesuai dalam mencirikan setan yang memberi nasihat juga bala tentaranya adalah apa yang ditulis oleh Ahmad Syauqi dalam menyifati rubah yang suatu hari muncul dengan kostum pemberi nasihat, berpura-pura dengan segala tipu daya dan muslihat hingga mampu mewujudkan tujuan keji dan berhasil mendapat mangsa gemuknya. Di antara yang dikatakan Ahmad Syauqi adalah: بَرَزَ الثَّعْلَبُ يَوْمًا فِي شِعَارِ الْوَاعِظِينَ Suatu hari seekor rubah muncul. Dengan tampilan pakaian para pemberi nasihat. فَمَشَى فِي الْأَرْضِ يَهْذِي وَيَسُبُّ الْمَاكِرِينَ Ia berjalan di muka bumi sambil mengigau. Dan mencela orang-orang yang menipu. وَيَقُولُ الْحَمْدُ لِلْـ هِ إِلَهِ الْعَالَمِينَ Ia berkata: “Segala puji hanya bagi Allah. Tuhan semesta alam. يَا عِبَادَ اللَّهِ تُوبُوا فَهُوَ كَهْفُ التَّائِبِينَ Wahai para hamba Allah, bertaubatlah. Karena Dialah tempat berlindung orang-orang yang bertaubat. Ini juga yang dilakukan oleh Iblis ketika suatu hari muncul dengan tampilan pemberi nasihat dengan tujuan mengelabuhi Adam dan mengeluarkannya dari surga, agar ia menjadi pelaku maksiat dengan berbuat kemaksiatan terbesar dan pertama sepanjang sejarah.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Contoh lainnya juga: godaan yang dimasukkan setan ke dalam hati saudara-saudara Nabi Yusuf Alaihissalam. Mereka menyusun tipu daya mereka dan bertekad untuk membuang saudara mereka, Yusuf ke dalam sumur akibat rasa dengki dari diri mereka. Demi mencapai apa yang mereka inginkan dan mencapai apa yang mereka cita-citakan, mereka menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan mengaku sebagai penjaga yang tulus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mengapa engkau tidak mempercayakan Yusuf kepada kami, padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?’” (QS. Yusuf: 11). Dan yang mengherankan dari dua kisah ini adalah tipu daya setan sebagai pemberi nasihat Adam dan istrinya ini berhasil dan mencapai tujuannya, juga muslihat saudara-saudara Yusuf terhadap Nabi Ya’qub dan Yusuf dapat terlaksana dan mencapai targetnya, meskipun mereka sebagai Nabi-Nabi yang mulia, karena kata ‘penasihat’ dan metode nasihat tidak punya makna lain di dalam kamus para Nabi dan orang-orang saleh selain kehendak kebaikan yang tulus ikhlas, tapi pada hakikatnya terkadang menjadi racun mematikan, keburukan yang mengintai, dan kehancuran yang besar. Nasihat-nasihat setan dan bala tentaranya selalu memiliki ciri khas yang terkadang dapat dikenali dari ucapan manis, dan terkadang melalui silat lidah. Berikut ini kami sebutkan beberapa ciri khas tersebut, agar orang-orang yang punya niat baik dari golongan orang-orang yang baik, tulus, dan jujur selalu waspada dari jeratan muslihatnya dalam berbagai bentuk dan istilahnya: 1. Kedustaan yang terencana Setan pemberi nasihat dan bala tentaranya menyadari sepenuhnya hakikat keburukan dalam diri mereka, sehingga mereka berusaha membersihkan situasi di sekeliling mereka dari racun mereka. Itu mereka lakukan dengan cara mengulang-ulang penggunaan kata penegas yang berlapis, seperti dengan sumpah, dan huruf Nun dan Lam taukid (huruf yang digunakan sebagai penegas dalam bahasa Arab), seperti yang ada dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan saudara-saudara Yusuf:  وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?” (QS. Yusuf: 11). 2. Membangun nasihatnya dengan kata-kata yang menyilaukan Juga dengan istilah-istilah yang menggiurkan, janji-janji yang melenakan, dan tawaran-tawaran yang menggoda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ “Maka ia (setan) menjerumuskan keduanya dengan tipu daya.” (QS. Al-A’raf: 22). Demikian juga dengan saudara-saudara Nabi Yusuf ketika mengemukakan nasihat mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ucapan mereka: أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ “Kirimlah dia (Yusuf) bersama kami besok agar ia bersenang-senang dan bermain, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.” (QS. Yusuf: 12). 3. Tipu daya terencana dan bujukan yang tersusun rapi Nasihat setan dan bala tentaranya tidak mengandung spontanitas dan keluguan, karena mereka menyampaikan nasihat dengan langkah-langkah yang terencana dan peran-peran yang telah tersusun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ “Dan engkau tidak berada bersama mereka ketika mereka merencanakan tipu daya mereka, sedangkan mereka sedang bersekongkol.” (QS. Yusuf: 102). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang setan: قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ “Iblis berkata: ‘Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya.’” (QS. Shad: 82). Ini merupakan makar yang telah disusun siang dan malam, dan direncanakan secara sembunyi-sembunyi dan rahasia. 4. Mereka tidak dikenal sebagai pemberi nasihat kecuali melalui klaim mereka Dan mereka dikenal demikian oleh orang-orang yang lemah imannya, dan dangkal ilmu serta pengalamannya. Sedangkan bagi orang-orang beriman yang tulus keimanannya dan orang-orang yang punya pemahaman yang lurus, maka setan dan bala tentaranya hanyalah tukang tipu daya dan musuh yang hakiki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ “Maka Kami berfirman: ‘Wahai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka jangan sampai ia mengeluarkan kalian berdua dari surga, sehingga engkau menjadi sengsara.’” (QS. Thaha: 117). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang penyifatan Nabi Yusuf terhadap saudara-saudaranya ketika berjumpa dengan mereka: قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ “Ia (Yusuf) berkata: ‘Kalian lebih buruk kedudukannya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian katakan.’” (QS. Yusuf: 77). 5. Terungkapnya hakikat mereka, hancurnya reputasi mereka, dan lenyapnya pengaruh mereka Hal ini sebagaimana yang terjadi pada saudara-saudara Nabi Yusuf yang pada awal cerita mereka menyatakan diri sebagai pemberi nasihat bagi Yusuf, tapi tidak berselang lama semua berubah, kisah ini tidak berakhir hingga mereka mengumumkan bahwa dulu mereka telah berbuat salah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 91). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 97).  Demikian juga yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sampaikan kepada Nabi Adam tentang hakikat nasihat setan kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ “Dan Tuhan mereka menyeru keduanya: ‘Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon itu dan Aku telah mengatakan kepada kalian bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua?’” (QS. Al-A’raf: 22). Tujuan Al-Qur’an Al-Karim memaparkan beberapa contoh nasihat-nasihat setan untuk melindungi umat dari terjerumus menjadi mangsa dalam tipu daya dan rekayasa mereka, atau menjadi korban dari kalimat-kalimat kosong dan ungkapan-ungkapan tipuan yang mengintai orang-orang yang lemah hati, terombang-ambing dalam gelapnya kebodohan dan fitnah godaan, dan mabuk dalam kenikmatan dan syahwat. Tidak ada yang dapat melindungi dari itu semua kecuali dengan kembalinya hati kepada penghayatan ayat-ayat ilahi, kesadaran akal dengan merenungi hikmah-hikmah Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ “Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/122756/الشيطان-الناصح/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 23 times, 1 visit(s) today Post Views: 33 QRIS donasi Yufid


Oleh: Dr. Basyuni Nahila Mungkin ada sebagian orang yang heran terhadap setan yang menjadi pemberi nasihat, karena asal kata nasihat mengandung makna-makna ketulusan, kesucian, kejujuran, dan kebaikan. Dan ini menyelisihi tabiat setan dalam kelicikan, permainan, penipuan, dan godaannya. Dari sinilah urgensi artikel ini dalam menyingkap tipu daya setan dan bala tentaranya dalam menipu manusia dan menggiring mereka agar terjerumus ke dalam hal-hal terlarang dan membinasakan, melalui cara menyamar dalam peran-peran licik, menggunakan identitas-identitas palsu, dan menghiasi diri dengan ciri-ciri yang menipu. Kita dapat mencari tahu peran tercela setan ini melalui apa yang tertulis dalam Al-Qur’an Al-Karim tentang aksi pertama setan dalam menggoda bapak manusia, Adam Alaihissalam. Setelah setan mengancam Nabi Adam dan keturunannya dengan godaan dan penyesatan, ia menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan memakai istilah-istilah yang dipakai para pemberi nasihat, demi menjerumuskan Nabi Adam dan istrinya dari kubangan kemaksiatan dan keburukan dosa-dosa.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Inilah momen pertama penggunaan kata nasihat dan turunannya dalam mengawali ucapan atau sebagai penutup dialog, dan ini tidak selalu menjadi tanda kebaikan, ketulusan, dan kebaikan batin, karena pemberi nasihat, rekam jejaknya, isi nasihat dan konteksnya, serta sebab dan tujuannya itulah yang menjadi tolok ukur apakah nasihat itu tulus dan suci, atau justru bersifat setan yang penuh kepura-puraan. Karena berbahayanya nasihat jenis kedua ini dalam mengaburkan kebenaran dan menyesatkan khalayak umum —terlebih lagi di kehidupan zaman modern yang mengalami perkembangan luar biasa dalam media-media sosial dan jenis-jenis media model lama dan baru yang banyak orang berusaha mencapai akal dan hati manusia, terkadang dengan tujuan mengelabuhi dan menghiasi yang buruk dan terkadang untuk mengaburkan dan memalsukan yang baik— maka hadirlah artikel ini untuk meletakkan beberapa kaidah yang dapat membantu membedakan nasihat setan dan mengenali pengaruhnya, bahkan ketika nasihat itu berasal dari manusia, alat, organisasi, komunitas, atau pertemanan. Ucapan yang paling sesuai dalam mencirikan setan yang memberi nasihat juga bala tentaranya adalah apa yang ditulis oleh Ahmad Syauqi dalam menyifati rubah yang suatu hari muncul dengan kostum pemberi nasihat, berpura-pura dengan segala tipu daya dan muslihat hingga mampu mewujudkan tujuan keji dan berhasil mendapat mangsa gemuknya. Di antara yang dikatakan Ahmad Syauqi adalah: بَرَزَ الثَّعْلَبُ يَوْمًا فِي شِعَارِ الْوَاعِظِينَ Suatu hari seekor rubah muncul. Dengan tampilan pakaian para pemberi nasihat. فَمَشَى فِي الْأَرْضِ يَهْذِي وَيَسُبُّ الْمَاكِرِينَ Ia berjalan di muka bumi sambil mengigau. Dan mencela orang-orang yang menipu. وَيَقُولُ الْحَمْدُ لِلْـ هِ إِلَهِ الْعَالَمِينَ Ia berkata: “Segala puji hanya bagi Allah. Tuhan semesta alam. يَا عِبَادَ اللَّهِ تُوبُوا فَهُوَ كَهْفُ التَّائِبِينَ Wahai para hamba Allah, bertaubatlah. Karena Dialah tempat berlindung orang-orang yang bertaubat. Ini juga yang dilakukan oleh Iblis ketika suatu hari muncul dengan tampilan pemberi nasihat dengan tujuan mengelabuhi Adam dan mengeluarkannya dari surga, agar ia menjadi pelaku maksiat dengan berbuat kemaksiatan terbesar dan pertama sepanjang sejarah.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Contoh lainnya juga: godaan yang dimasukkan setan ke dalam hati saudara-saudara Nabi Yusuf Alaihissalam. Mereka menyusun tipu daya mereka dan bertekad untuk membuang saudara mereka, Yusuf ke dalam sumur akibat rasa dengki dari diri mereka. Demi mencapai apa yang mereka inginkan dan mencapai apa yang mereka cita-citakan, mereka menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan mengaku sebagai penjaga yang tulus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mengapa engkau tidak mempercayakan Yusuf kepada kami, padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?’” (QS. Yusuf: 11). Dan yang mengherankan dari dua kisah ini adalah tipu daya setan sebagai pemberi nasihat Adam dan istrinya ini berhasil dan mencapai tujuannya, juga muslihat saudara-saudara Yusuf terhadap Nabi Ya’qub dan Yusuf dapat terlaksana dan mencapai targetnya, meskipun mereka sebagai Nabi-Nabi yang mulia, karena kata ‘penasihat’ dan metode nasihat tidak punya makna lain di dalam kamus para Nabi dan orang-orang saleh selain kehendak kebaikan yang tulus ikhlas, tapi pada hakikatnya terkadang menjadi racun mematikan, keburukan yang mengintai, dan kehancuran yang besar. Nasihat-nasihat setan dan bala tentaranya selalu memiliki ciri khas yang terkadang dapat dikenali dari ucapan manis, dan terkadang melalui silat lidah. Berikut ini kami sebutkan beberapa ciri khas tersebut, agar orang-orang yang punya niat baik dari golongan orang-orang yang baik, tulus, dan jujur selalu waspada dari jeratan muslihatnya dalam berbagai bentuk dan istilahnya: 1. Kedustaan yang terencana Setan pemberi nasihat dan bala tentaranya menyadari sepenuhnya hakikat keburukan dalam diri mereka, sehingga mereka berusaha membersihkan situasi di sekeliling mereka dari racun mereka. Itu mereka lakukan dengan cara mengulang-ulang penggunaan kata penegas yang berlapis, seperti dengan sumpah, dan huruf Nun dan Lam taukid (huruf yang digunakan sebagai penegas dalam bahasa Arab), seperti yang ada dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan saudara-saudara Yusuf:  وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?” (QS. Yusuf: 11). 2. Membangun nasihatnya dengan kata-kata yang menyilaukan Juga dengan istilah-istilah yang menggiurkan, janji-janji yang melenakan, dan tawaran-tawaran yang menggoda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ “Maka ia (setan) menjerumuskan keduanya dengan tipu daya.” (QS. Al-A’raf: 22). Demikian juga dengan saudara-saudara Nabi Yusuf ketika mengemukakan nasihat mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ucapan mereka: أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ “Kirimlah dia (Yusuf) bersama kami besok agar ia bersenang-senang dan bermain, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.” (QS. Yusuf: 12). 3. Tipu daya terencana dan bujukan yang tersusun rapi Nasihat setan dan bala tentaranya tidak mengandung spontanitas dan keluguan, karena mereka menyampaikan nasihat dengan langkah-langkah yang terencana dan peran-peran yang telah tersusun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ “Dan engkau tidak berada bersama mereka ketika mereka merencanakan tipu daya mereka, sedangkan mereka sedang bersekongkol.” (QS. Yusuf: 102). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang setan: قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ “Iblis berkata: ‘Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya.’” (QS. Shad: 82). Ini merupakan makar yang telah disusun siang dan malam, dan direncanakan secara sembunyi-sembunyi dan rahasia. 4. Mereka tidak dikenal sebagai pemberi nasihat kecuali melalui klaim mereka Dan mereka dikenal demikian oleh orang-orang yang lemah imannya, dan dangkal ilmu serta pengalamannya. Sedangkan bagi orang-orang beriman yang tulus keimanannya dan orang-orang yang punya pemahaman yang lurus, maka setan dan bala tentaranya hanyalah tukang tipu daya dan musuh yang hakiki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ “Maka Kami berfirman: ‘Wahai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka jangan sampai ia mengeluarkan kalian berdua dari surga, sehingga engkau menjadi sengsara.’” (QS. Thaha: 117). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang penyifatan Nabi Yusuf terhadap saudara-saudaranya ketika berjumpa dengan mereka: قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ “Ia (Yusuf) berkata: ‘Kalian lebih buruk kedudukannya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian katakan.’” (QS. Yusuf: 77). 5. Terungkapnya hakikat mereka, hancurnya reputasi mereka, dan lenyapnya pengaruh mereka Hal ini sebagaimana yang terjadi pada saudara-saudara Nabi Yusuf yang pada awal cerita mereka menyatakan diri sebagai pemberi nasihat bagi Yusuf, tapi tidak berselang lama semua berubah, kisah ini tidak berakhir hingga mereka mengumumkan bahwa dulu mereka telah berbuat salah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 91). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 97).  Demikian juga yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sampaikan kepada Nabi Adam tentang hakikat nasihat setan kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ “Dan Tuhan mereka menyeru keduanya: ‘Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon itu dan Aku telah mengatakan kepada kalian bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua?’” (QS. Al-A’raf: 22). Tujuan Al-Qur’an Al-Karim memaparkan beberapa contoh nasihat-nasihat setan untuk melindungi umat dari terjerumus menjadi mangsa dalam tipu daya dan rekayasa mereka, atau menjadi korban dari kalimat-kalimat kosong dan ungkapan-ungkapan tipuan yang mengintai orang-orang yang lemah hati, terombang-ambing dalam gelapnya kebodohan dan fitnah godaan, dan mabuk dalam kenikmatan dan syahwat. Tidak ada yang dapat melindungi dari itu semua kecuali dengan kembalinya hati kepada penghayatan ayat-ayat ilahi, kesadaran akal dengan merenungi hikmah-hikmah Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ “Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/122756/الشيطان-الناصح/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 23 times, 1 visit(s) today Post Views: 33 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Seandainya Hati Kita Masih Sehat…Niscaya Akan Hancur karena Sedih Saat Terhalang dari Allah

Engkau saat ini masih diberi kesempatan. Maka manfaatkanlah waktumu! Tetapkan pada dirimu untuk membaca Al-Qur’an setiap hari. Sediakan waktu untuk dirimu beramal saleh. Bangunlah di akhir malam, meskipun hanya setengah jam sebelum Subuh. Bermunajatlah kepada Rabbmu, berdoalah kepada-Nya. Karena Allah Ta’ala turun ke langit dunia, lalu berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan?” “Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni?” (HR. Bukhari dan Muslim). Siapakah yang tidak mampu bangun setengah jam sebelum Subuh? Ini perkara yang sangat mudah. Kita memohon kepada Allah agar merahmati kita dengan rahmat-Nya. Mungkin kita belum mampu bangun pada sepertiga atau pertengahan malam. Namun, tidak mungkinkah kita bangun setengah jam saja? Untuk berzikir kepada Allah di waktu itu. Kita berwudu, salat semampu yang Allah mudahkan, lalu menutupnya dengan witir. Saya rasa ini perkara yang sangat mudah. Demikian pula, kita jadikan seluruh hidup kita dipenuhi dengan zikir kepada Allah. Karena seorang mukmin, yang cerdas, adalah orang yang menjadikan seluruh hidupnya sebagai zikir kepada Allah. Sebab, dalam segala sesuatu yang ada di hadapan kita, terdapat tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah.Ia adalah salah satu tanda kekuasaan Allah. Apabila kita menyadari bahwa apa yang ada di hadapan kita termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah, maka hal itu akan mengingatkan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kita pun mengingat Allah. Dengan demikian, seseorang akan senantiasa mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, melalui tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta yang ia saksikan. Bahkan melalui apa yang ia saksikan pada dirinya sendiri dan keadaannya yang silih berganti. Sekarang, saya bertanya kepada kalian, apakah hati kalian selalu berada dalam keadaan yang sama? Tidak! Terkadang lalai. Terkadang bertaubat kepada Allah. Terkadang ingat kepada Allah. Terkadang dalam keadaan penuh kehidupan. Terkadang hatimu benar-benar hidup, dan kenikmatannya masih engkau rasakan serta kenang dalam waktu yang panjang. Mungkin engkau teringat saat berdiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla dalam shalat dan sujudmu, meskipun itu telah berlalu tiga puluh tahun atau lebih, sesuai umur seseorang. Sebab momen itu membekas dalam hatinya. Hal-hal seperti inilah yang seharusnya kita manfaatkan. Kita harus memanfaatkannya dan tidak lalai, karena kelalaian adalah kematian. Kelalaian adalah kerasnya dan matinya hati. Ibnul Qayyim berkata, “Demi Allah, seandainya hati ini masih bersih, niscaya ia akan tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan.” Hati tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan. “Namun, hati ini sedang mabuk oleh cinta kepada kehidupan dunia.” ===== أَنْتَ الْآنَ فِي مُهْلَةٍ اِغْتَنِمِ الْوَقْتَ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ حِزْبًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ وَقْتًا لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ قُمْ فِي آخِرِ اللَّيْلِ وَلَوْ نِصْفَ سَاعَةٍ قَبْلَ الْفَجْرِ نَاجِ رَبَّكَ ادْعُهُ فَإِنَّهُ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ مَنِ الَّذِي لَا يَقْدِرُ أَنْ يَقُومَ قَبْلَ الْفَجْرِ بِنِصْفِ سَاعَةٍ أَمْرٌ بَسِيطٌ جِدًّا نَحْنُ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَرْحَمَنَا بِرَحْمَتِهِ لَا نَقُومُ فِي ثُلُثِ اللَّيْلِ وَنِصْفِ اللَّيْلِ لَكِنْ أَفَلَا يُمْكِنُ أَنْ نَقُومَ نِصْفَ سَاعَةٍ فَقَطْ نَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا نَتَوَضَّأُ نُصَلِّي مَا شَاءَ اللَّهُ نُوتِرُ هَذَا أَمْرٌ أَظُنُّهُ بَسِيطًا جِدًّا كَذَلِكَ أَيْضًا نَجْعَلُ حَيَاتَنَا كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الْكَيِّسَ هُوَ الَّذِي يَجْعَلُ حَيَاتَهُ كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ لِأَنَّ فِي كُلِّ شَيْءٍ أَمَامَنَا آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا ذَكَرْنَا هَذَا الشَّيْءَ الَّذِي أَمَامَنَا مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ذَكَرْنَا بِذَلِكَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرْنَا اللَّهَ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ دَائِمًا يَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ الْكَوْنِيَّةِ بَلْ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ نَفْسِهِ وَتَقَلُّبَاتِهِ الْقَلْبُ الْآنَ أَنَا أَسْأَلُكُمْ هَلْ قُلُوبُكُمْ عَلَى وَتِيرَةٍ وَاحِدَةٍ دَائِمًا لَا فِي غَفْلَةٍ أَحْيَانًا فِي إِنَابَةٍ أَحْيَانًا فِي تَذَكُّرٍ أَحْيَانًا فِي حَيَاةٍ بَيِّنَةٍ أَحْيَانًا أَحْيَانًا يَحْيَا قَلْبُكَ حَيَاةً تَتَمَتَّعُ بِهَا مُدَّةً مِنَ الزَّمَنِ تَتَذَكَّرُهَا رُبَّمَا تَتَذَكَّرُ حَالَةً وَقَفْتَ فِيهَا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مُصَلِّيًا سَاجِدًا وَلَوْ قَبْلَ ثَلَاثِينَ سَنَةً أَوْ أَكْثَرَ حَسَبَ عُمُرِ الْإِنْسَانِ لِأَنَّهَا أَثَّرَتْ فِي قَلْبِهِ فَمِثْلُ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا وَأَنْ لَا نَغْفَلَ فَالْغَفْلَةُ مَوْتٌ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَمَوْتٌ لِلْقَلْبِ يَقُولُ وَاللَّهِ لَوْ أَنَّ الْقُلُوبَ سَلِيمَةٌ لَتَقَطَّعَتْ أَسَفًا مِنَ الْحِرْمَانِ حُزْنًا تَتَقَطَّعُ مِنْ حِرْمَانِهَا لَكِنَّهَا سَكْرَى لِحُبِّ حَيَاتِهَا الدُّنْيَا

Seandainya Hati Kita Masih Sehat…Niscaya Akan Hancur karena Sedih Saat Terhalang dari Allah

Engkau saat ini masih diberi kesempatan. Maka manfaatkanlah waktumu! Tetapkan pada dirimu untuk membaca Al-Qur’an setiap hari. Sediakan waktu untuk dirimu beramal saleh. Bangunlah di akhir malam, meskipun hanya setengah jam sebelum Subuh. Bermunajatlah kepada Rabbmu, berdoalah kepada-Nya. Karena Allah Ta’ala turun ke langit dunia, lalu berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan?” “Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni?” (HR. Bukhari dan Muslim). Siapakah yang tidak mampu bangun setengah jam sebelum Subuh? Ini perkara yang sangat mudah. Kita memohon kepada Allah agar merahmati kita dengan rahmat-Nya. Mungkin kita belum mampu bangun pada sepertiga atau pertengahan malam. Namun, tidak mungkinkah kita bangun setengah jam saja? Untuk berzikir kepada Allah di waktu itu. Kita berwudu, salat semampu yang Allah mudahkan, lalu menutupnya dengan witir. Saya rasa ini perkara yang sangat mudah. Demikian pula, kita jadikan seluruh hidup kita dipenuhi dengan zikir kepada Allah. Karena seorang mukmin, yang cerdas, adalah orang yang menjadikan seluruh hidupnya sebagai zikir kepada Allah. Sebab, dalam segala sesuatu yang ada di hadapan kita, terdapat tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah.Ia adalah salah satu tanda kekuasaan Allah. Apabila kita menyadari bahwa apa yang ada di hadapan kita termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah, maka hal itu akan mengingatkan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kita pun mengingat Allah. Dengan demikian, seseorang akan senantiasa mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, melalui tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta yang ia saksikan. Bahkan melalui apa yang ia saksikan pada dirinya sendiri dan keadaannya yang silih berganti. Sekarang, saya bertanya kepada kalian, apakah hati kalian selalu berada dalam keadaan yang sama? Tidak! Terkadang lalai. Terkadang bertaubat kepada Allah. Terkadang ingat kepada Allah. Terkadang dalam keadaan penuh kehidupan. Terkadang hatimu benar-benar hidup, dan kenikmatannya masih engkau rasakan serta kenang dalam waktu yang panjang. Mungkin engkau teringat saat berdiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla dalam shalat dan sujudmu, meskipun itu telah berlalu tiga puluh tahun atau lebih, sesuai umur seseorang. Sebab momen itu membekas dalam hatinya. Hal-hal seperti inilah yang seharusnya kita manfaatkan. Kita harus memanfaatkannya dan tidak lalai, karena kelalaian adalah kematian. Kelalaian adalah kerasnya dan matinya hati. Ibnul Qayyim berkata, “Demi Allah, seandainya hati ini masih bersih, niscaya ia akan tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan.” Hati tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan. “Namun, hati ini sedang mabuk oleh cinta kepada kehidupan dunia.” ===== أَنْتَ الْآنَ فِي مُهْلَةٍ اِغْتَنِمِ الْوَقْتَ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ حِزْبًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ وَقْتًا لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ قُمْ فِي آخِرِ اللَّيْلِ وَلَوْ نِصْفَ سَاعَةٍ قَبْلَ الْفَجْرِ نَاجِ رَبَّكَ ادْعُهُ فَإِنَّهُ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ مَنِ الَّذِي لَا يَقْدِرُ أَنْ يَقُومَ قَبْلَ الْفَجْرِ بِنِصْفِ سَاعَةٍ أَمْرٌ بَسِيطٌ جِدًّا نَحْنُ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَرْحَمَنَا بِرَحْمَتِهِ لَا نَقُومُ فِي ثُلُثِ اللَّيْلِ وَنِصْفِ اللَّيْلِ لَكِنْ أَفَلَا يُمْكِنُ أَنْ نَقُومَ نِصْفَ سَاعَةٍ فَقَطْ نَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا نَتَوَضَّأُ نُصَلِّي مَا شَاءَ اللَّهُ نُوتِرُ هَذَا أَمْرٌ أَظُنُّهُ بَسِيطًا جِدًّا كَذَلِكَ أَيْضًا نَجْعَلُ حَيَاتَنَا كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الْكَيِّسَ هُوَ الَّذِي يَجْعَلُ حَيَاتَهُ كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ لِأَنَّ فِي كُلِّ شَيْءٍ أَمَامَنَا آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا ذَكَرْنَا هَذَا الشَّيْءَ الَّذِي أَمَامَنَا مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ذَكَرْنَا بِذَلِكَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرْنَا اللَّهَ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ دَائِمًا يَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ الْكَوْنِيَّةِ بَلْ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ نَفْسِهِ وَتَقَلُّبَاتِهِ الْقَلْبُ الْآنَ أَنَا أَسْأَلُكُمْ هَلْ قُلُوبُكُمْ عَلَى وَتِيرَةٍ وَاحِدَةٍ دَائِمًا لَا فِي غَفْلَةٍ أَحْيَانًا فِي إِنَابَةٍ أَحْيَانًا فِي تَذَكُّرٍ أَحْيَانًا فِي حَيَاةٍ بَيِّنَةٍ أَحْيَانًا أَحْيَانًا يَحْيَا قَلْبُكَ حَيَاةً تَتَمَتَّعُ بِهَا مُدَّةً مِنَ الزَّمَنِ تَتَذَكَّرُهَا رُبَّمَا تَتَذَكَّرُ حَالَةً وَقَفْتَ فِيهَا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مُصَلِّيًا سَاجِدًا وَلَوْ قَبْلَ ثَلَاثِينَ سَنَةً أَوْ أَكْثَرَ حَسَبَ عُمُرِ الْإِنْسَانِ لِأَنَّهَا أَثَّرَتْ فِي قَلْبِهِ فَمِثْلُ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا وَأَنْ لَا نَغْفَلَ فَالْغَفْلَةُ مَوْتٌ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَمَوْتٌ لِلْقَلْبِ يَقُولُ وَاللَّهِ لَوْ أَنَّ الْقُلُوبَ سَلِيمَةٌ لَتَقَطَّعَتْ أَسَفًا مِنَ الْحِرْمَانِ حُزْنًا تَتَقَطَّعُ مِنْ حِرْمَانِهَا لَكِنَّهَا سَكْرَى لِحُبِّ حَيَاتِهَا الدُّنْيَا
Engkau saat ini masih diberi kesempatan. Maka manfaatkanlah waktumu! Tetapkan pada dirimu untuk membaca Al-Qur’an setiap hari. Sediakan waktu untuk dirimu beramal saleh. Bangunlah di akhir malam, meskipun hanya setengah jam sebelum Subuh. Bermunajatlah kepada Rabbmu, berdoalah kepada-Nya. Karena Allah Ta’ala turun ke langit dunia, lalu berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan?” “Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni?” (HR. Bukhari dan Muslim). Siapakah yang tidak mampu bangun setengah jam sebelum Subuh? Ini perkara yang sangat mudah. Kita memohon kepada Allah agar merahmati kita dengan rahmat-Nya. Mungkin kita belum mampu bangun pada sepertiga atau pertengahan malam. Namun, tidak mungkinkah kita bangun setengah jam saja? Untuk berzikir kepada Allah di waktu itu. Kita berwudu, salat semampu yang Allah mudahkan, lalu menutupnya dengan witir. Saya rasa ini perkara yang sangat mudah. Demikian pula, kita jadikan seluruh hidup kita dipenuhi dengan zikir kepada Allah. Karena seorang mukmin, yang cerdas, adalah orang yang menjadikan seluruh hidupnya sebagai zikir kepada Allah. Sebab, dalam segala sesuatu yang ada di hadapan kita, terdapat tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah.Ia adalah salah satu tanda kekuasaan Allah. Apabila kita menyadari bahwa apa yang ada di hadapan kita termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah, maka hal itu akan mengingatkan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kita pun mengingat Allah. Dengan demikian, seseorang akan senantiasa mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, melalui tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta yang ia saksikan. Bahkan melalui apa yang ia saksikan pada dirinya sendiri dan keadaannya yang silih berganti. Sekarang, saya bertanya kepada kalian, apakah hati kalian selalu berada dalam keadaan yang sama? Tidak! Terkadang lalai. Terkadang bertaubat kepada Allah. Terkadang ingat kepada Allah. Terkadang dalam keadaan penuh kehidupan. Terkadang hatimu benar-benar hidup, dan kenikmatannya masih engkau rasakan serta kenang dalam waktu yang panjang. Mungkin engkau teringat saat berdiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla dalam shalat dan sujudmu, meskipun itu telah berlalu tiga puluh tahun atau lebih, sesuai umur seseorang. Sebab momen itu membekas dalam hatinya. Hal-hal seperti inilah yang seharusnya kita manfaatkan. Kita harus memanfaatkannya dan tidak lalai, karena kelalaian adalah kematian. Kelalaian adalah kerasnya dan matinya hati. Ibnul Qayyim berkata, “Demi Allah, seandainya hati ini masih bersih, niscaya ia akan tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan.” Hati tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan. “Namun, hati ini sedang mabuk oleh cinta kepada kehidupan dunia.” ===== أَنْتَ الْآنَ فِي مُهْلَةٍ اِغْتَنِمِ الْوَقْتَ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ حِزْبًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ وَقْتًا لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ قُمْ فِي آخِرِ اللَّيْلِ وَلَوْ نِصْفَ سَاعَةٍ قَبْلَ الْفَجْرِ نَاجِ رَبَّكَ ادْعُهُ فَإِنَّهُ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ مَنِ الَّذِي لَا يَقْدِرُ أَنْ يَقُومَ قَبْلَ الْفَجْرِ بِنِصْفِ سَاعَةٍ أَمْرٌ بَسِيطٌ جِدًّا نَحْنُ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَرْحَمَنَا بِرَحْمَتِهِ لَا نَقُومُ فِي ثُلُثِ اللَّيْلِ وَنِصْفِ اللَّيْلِ لَكِنْ أَفَلَا يُمْكِنُ أَنْ نَقُومَ نِصْفَ سَاعَةٍ فَقَطْ نَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا نَتَوَضَّأُ نُصَلِّي مَا شَاءَ اللَّهُ نُوتِرُ هَذَا أَمْرٌ أَظُنُّهُ بَسِيطًا جِدًّا كَذَلِكَ أَيْضًا نَجْعَلُ حَيَاتَنَا كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الْكَيِّسَ هُوَ الَّذِي يَجْعَلُ حَيَاتَهُ كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ لِأَنَّ فِي كُلِّ شَيْءٍ أَمَامَنَا آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا ذَكَرْنَا هَذَا الشَّيْءَ الَّذِي أَمَامَنَا مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ذَكَرْنَا بِذَلِكَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرْنَا اللَّهَ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ دَائِمًا يَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ الْكَوْنِيَّةِ بَلْ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ نَفْسِهِ وَتَقَلُّبَاتِهِ الْقَلْبُ الْآنَ أَنَا أَسْأَلُكُمْ هَلْ قُلُوبُكُمْ عَلَى وَتِيرَةٍ وَاحِدَةٍ دَائِمًا لَا فِي غَفْلَةٍ أَحْيَانًا فِي إِنَابَةٍ أَحْيَانًا فِي تَذَكُّرٍ أَحْيَانًا فِي حَيَاةٍ بَيِّنَةٍ أَحْيَانًا أَحْيَانًا يَحْيَا قَلْبُكَ حَيَاةً تَتَمَتَّعُ بِهَا مُدَّةً مِنَ الزَّمَنِ تَتَذَكَّرُهَا رُبَّمَا تَتَذَكَّرُ حَالَةً وَقَفْتَ فِيهَا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مُصَلِّيًا سَاجِدًا وَلَوْ قَبْلَ ثَلَاثِينَ سَنَةً أَوْ أَكْثَرَ حَسَبَ عُمُرِ الْإِنْسَانِ لِأَنَّهَا أَثَّرَتْ فِي قَلْبِهِ فَمِثْلُ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا وَأَنْ لَا نَغْفَلَ فَالْغَفْلَةُ مَوْتٌ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَمَوْتٌ لِلْقَلْبِ يَقُولُ وَاللَّهِ لَوْ أَنَّ الْقُلُوبَ سَلِيمَةٌ لَتَقَطَّعَتْ أَسَفًا مِنَ الْحِرْمَانِ حُزْنًا تَتَقَطَّعُ مِنْ حِرْمَانِهَا لَكِنَّهَا سَكْرَى لِحُبِّ حَيَاتِهَا الدُّنْيَا


Engkau saat ini masih diberi kesempatan. Maka manfaatkanlah waktumu! Tetapkan pada dirimu untuk membaca Al-Qur’an setiap hari. Sediakan waktu untuk dirimu beramal saleh. Bangunlah di akhir malam, meskipun hanya setengah jam sebelum Subuh. Bermunajatlah kepada Rabbmu, berdoalah kepada-Nya. Karena Allah Ta’ala turun ke langit dunia, lalu berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan?” “Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni?” (HR. Bukhari dan Muslim). Siapakah yang tidak mampu bangun setengah jam sebelum Subuh? Ini perkara yang sangat mudah. Kita memohon kepada Allah agar merahmati kita dengan rahmat-Nya. Mungkin kita belum mampu bangun pada sepertiga atau pertengahan malam. Namun, tidak mungkinkah kita bangun setengah jam saja? Untuk berzikir kepada Allah di waktu itu. Kita berwudu, salat semampu yang Allah mudahkan, lalu menutupnya dengan witir. Saya rasa ini perkara yang sangat mudah. Demikian pula, kita jadikan seluruh hidup kita dipenuhi dengan zikir kepada Allah. Karena seorang mukmin, yang cerdas, adalah orang yang menjadikan seluruh hidupnya sebagai zikir kepada Allah. Sebab, dalam segala sesuatu yang ada di hadapan kita, terdapat tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah.Ia adalah salah satu tanda kekuasaan Allah. Apabila kita menyadari bahwa apa yang ada di hadapan kita termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah, maka hal itu akan mengingatkan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kita pun mengingat Allah. Dengan demikian, seseorang akan senantiasa mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, melalui tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta yang ia saksikan. Bahkan melalui apa yang ia saksikan pada dirinya sendiri dan keadaannya yang silih berganti. Sekarang, saya bertanya kepada kalian, apakah hati kalian selalu berada dalam keadaan yang sama? Tidak! Terkadang lalai. Terkadang bertaubat kepada Allah. Terkadang ingat kepada Allah. Terkadang dalam keadaan penuh kehidupan. Terkadang hatimu benar-benar hidup, dan kenikmatannya masih engkau rasakan serta kenang dalam waktu yang panjang. Mungkin engkau teringat saat berdiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla dalam shalat dan sujudmu, meskipun itu telah berlalu tiga puluh tahun atau lebih, sesuai umur seseorang. Sebab momen itu membekas dalam hatinya. Hal-hal seperti inilah yang seharusnya kita manfaatkan. Kita harus memanfaatkannya dan tidak lalai, karena kelalaian adalah kematian. Kelalaian adalah kerasnya dan matinya hati. Ibnul Qayyim berkata, “Demi Allah, seandainya hati ini masih bersih, niscaya ia akan tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan.” Hati tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan. “Namun, hati ini sedang mabuk oleh cinta kepada kehidupan dunia.” ===== أَنْتَ الْآنَ فِي مُهْلَةٍ اِغْتَنِمِ الْوَقْتَ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ حِزْبًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ وَقْتًا لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ قُمْ فِي آخِرِ اللَّيْلِ وَلَوْ نِصْفَ سَاعَةٍ قَبْلَ الْفَجْرِ نَاجِ رَبَّكَ ادْعُهُ فَإِنَّهُ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ مَنِ الَّذِي لَا يَقْدِرُ أَنْ يَقُومَ قَبْلَ الْفَجْرِ بِنِصْفِ سَاعَةٍ أَمْرٌ بَسِيطٌ جِدًّا نَحْنُ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَرْحَمَنَا بِرَحْمَتِهِ لَا نَقُومُ فِي ثُلُثِ اللَّيْلِ وَنِصْفِ اللَّيْلِ لَكِنْ أَفَلَا يُمْكِنُ أَنْ نَقُومَ نِصْفَ سَاعَةٍ فَقَطْ نَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا نَتَوَضَّأُ نُصَلِّي مَا شَاءَ اللَّهُ نُوتِرُ هَذَا أَمْرٌ أَظُنُّهُ بَسِيطًا جِدًّا كَذَلِكَ أَيْضًا نَجْعَلُ حَيَاتَنَا كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الْكَيِّسَ هُوَ الَّذِي يَجْعَلُ حَيَاتَهُ كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ لِأَنَّ فِي كُلِّ شَيْءٍ أَمَامَنَا آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا ذَكَرْنَا هَذَا الشَّيْءَ الَّذِي أَمَامَنَا مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ذَكَرْنَا بِذَلِكَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرْنَا اللَّهَ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ دَائِمًا يَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ الْكَوْنِيَّةِ بَلْ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ نَفْسِهِ وَتَقَلُّبَاتِهِ الْقَلْبُ الْآنَ أَنَا أَسْأَلُكُمْ هَلْ قُلُوبُكُمْ عَلَى وَتِيرَةٍ وَاحِدَةٍ دَائِمًا لَا فِي غَفْلَةٍ أَحْيَانًا فِي إِنَابَةٍ أَحْيَانًا فِي تَذَكُّرٍ أَحْيَانًا فِي حَيَاةٍ بَيِّنَةٍ أَحْيَانًا أَحْيَانًا يَحْيَا قَلْبُكَ حَيَاةً تَتَمَتَّعُ بِهَا مُدَّةً مِنَ الزَّمَنِ تَتَذَكَّرُهَا رُبَّمَا تَتَذَكَّرُ حَالَةً وَقَفْتَ فِيهَا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مُصَلِّيًا سَاجِدًا وَلَوْ قَبْلَ ثَلَاثِينَ سَنَةً أَوْ أَكْثَرَ حَسَبَ عُمُرِ الْإِنْسَانِ لِأَنَّهَا أَثَّرَتْ فِي قَلْبِهِ فَمِثْلُ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا وَأَنْ لَا نَغْفَلَ فَالْغَفْلَةُ مَوْتٌ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَمَوْتٌ لِلْقَلْبِ يَقُولُ وَاللَّهِ لَوْ أَنَّ الْقُلُوبَ سَلِيمَةٌ لَتَقَطَّعَتْ أَسَفًا مِنَ الْحِرْمَانِ حُزْنًا تَتَقَطَّعُ مِنْ حِرْمَانِهَا لَكِنَّهَا سَكْرَى لِحُبِّ حَيَاتِهَا الدُّنْيَا

Kaidah Fikih: Menolak Kerusakan Lebih Didahulukan daripada Meraih Manfaat

Tidak semua manfaat boleh diambil jika di baliknya ada kerusakan yang lebih besar. Syariat Islam datang bukan hanya untuk menghadirkan maslahat, tetapi juga untuk menutup pintu mafsadat yang merusak agama dan kehidupan manusia. Kaidah fikih “menolak kerusakan lebih didahulukan daripada meraih manfaat” menjadi kunci penting untuk memahami banyak hukum Islam di zaman penuh syubhat dan fitnah saat ini.  Daftar Isi tutup 1. Rumusan Kaidah 2. Makna Umum Kaidah 3. Dalil Kaidah: “Menolak Kerusakan Lebih Didahulukan daripada Meraih Kemaslahatan” 4. Contoh Penerapan Kaidah 4.1. 1. Berlebihan dalam Berkumur dan Menghirup Air ke Hidung Saat Puasa 4.2. 2. Larangan Menggunakan Hak Milik yang Membahayakan Tetangga 4.3. 3. Perlindungan Hak Cetak dan Hak Penulisan Buku 5. Penyempurna Kaidah 5.1. Pengecualian dari Kaidah 5.2. Contoh Masalah Pengecualian 5.3. Faedah Penting  Rumusan KaidahKaidah ini digunakan dengan beberapa redaksi:دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ“Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada meraih kemaslahatan.”Juga dengan redaksi:دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ“Menolak kerusakan didahulukan atas mendatangkan kemaslahatan.”Atau:دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ تَحْصِيلِ الْمَصَالِحِ“Menolak kerusakan lebih utama daripada memperoleh kemaslahatan.” Makna Umum KaidahSyariat Islam datang untuk menghadirkan manfaat dan menolak kerusakan.Jika antara maslahat dan mafsadat bertemu atau saling bertentangan, maka yang diperhatikan adalah mana yang lebih besar dan lebih dominan.Jika maslahat dan mafsadat itu sama kuat, maka menolak mafsadat lebih didahulukan daripada meraih maslahat. Artinya, apabila seseorang dihadapkan pada pilihan antara menghindari kerusakan dan mengambil manfaat, maka menghindari kerusakan lebih utama.Namun, kaidah ini berlaku ketika mafsadat dan maslahat setara, atau ketika mafsadatnya lebih besar. Adapun jika maslahatnya jauh lebih besar dan mafsadatnya kecil, maka bisa jadi maslahat tersebut tetap didahulukan.Syarat lain: menolak mafsadat tidak boleh menimbulkan mafsadat lain yang lebih besar. Jika menolak satu kerusakan justru melahirkan kerusakan yang lebih berat, maka penerapan kaidah ini tidak berlaku secara mutlak.Mengapa menolak mafsadat lebih didahulukan? Karena perhatian syariat terhadap larangan lebih kuat daripada perintah. Nabi ﷺ bersabda bahwa larangan harus dijauhi, sedangkan perintah dikerjakan sesuai kemampuan.Kaidah ini merupakan turunan dari kaidah besar:الضَّرَرُ يُزَالُ“Bahaya itu harus dihilangkan.”Sebab, mafsadat pada hakikatnya adalah bentuk bahaya. Maka, ketika mafsadat bertemu dengan maslahat, menolak bahaya lebih didahulukan demi menghilangkan mudarat. Dalil Kaidah: “Menolak Kerusakan Lebih Didahulukan daripada Meraih Kemaslahatan”1. Dalil dari Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.’” (QS. Al-Baqarah: 219)Sisi Pendalilan:  Allah mengharamkan khamar dan judi ketika kerusakannya lebih besar daripada manfaat yang ada pada keduanya.Ibnu Taimiyah berkata: “Seluruh perkara yang diharamkan seperti syirik, khamar, judi, perbuatan keji, dan kezaliman, terkadang memiliki manfaat dan tujuan tertentu bagi pelakunya. Namun, ketika kerusakannya lebih dominan daripada maslahatnya, Allah dan Rasul-Nya melarang hal tersebut.”Allah Ta’ala juga berfirman:يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai Nabi, apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepadamu untuk berbaiat bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka, tidak membuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah baiat mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Mumtahanah: 12)Sisi Pendalilan:  Dalam ayat ini, Allah lebih dahulu menyebut larangan-larangan sebelum menyebut perintah untuk melakukan kebaikan (ma’ruf). Ini menunjukkan bahwa meninggalkan keburukan didahulukan daripada menghiasi diri dengan kebaikan.Karena itu para ulama mengatakan: “Membersihkan diri dari keburukan didahulukan sebelum menghiasi diri dengan keutamaan.”Sebab, menolak kerusakan lebih utama daripada meraih kemaslahatan.2. Dalil dari SunnahDari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda:«فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ»“Jika aku melarang kalian dari sesuatu, maka jauhilah. Dan jika aku memerintahkan kalian suatu perkara, maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari, no. 7288 dan Muslim, no. 1337)Sisi Pendalilan:  Hadits ini menunjukkan bahwa perhatian syariat terhadap meninggalkan larangan lebih kuat daripada perhatian terhadap menjalankan perintah.Karena itu, syariat memberikan keringanan dalam sebagian kewajiban ketika ada kesulitan, seperti:tidak berdiri ketika shalat karena sakit,berbuka saat safar atau sakit,tayamum ketika tidak mampu menggunakan air.Namun, syariat tidak memberikan toleransi untuk melakukan perkara haram, terutama dosa besar, kecuali dalam kondisi darurat yang nyata.Dari Abu Qatadah, Nabi ﷺ bersabda:«إِنِّي لَأَقُومُ فِي الصَّلَاةِ أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي؛ كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ»“Sungguh, aku berdiri dalam shalat dan ingin memanjangkannya. Namun aku mendengar tangisan bayi, lalu aku mempercepat shalatku karena tidak ingin memberatkan ibunya.” (HR. Bukhari, no. 707)Sisi Pendalilan: Nabi ﷺ tidak memanjangkan shalat demi menghindari kesulitan dan mudarat bagi ibu si bayi. Ini menunjukkan bahwa menghindari mafsadat lebih didahulukan. Contoh Penerapan KaidahDi bawah kaidah “menolak kerusakan lebih didahulukan daripada meraih kemaslahatan” terdapat banyak cabang fikih. Di antaranya:1. Berlebihan dalam Berkumur dan Menghirup Air ke Hidung Saat PuasaBersungguh-sungguh dalam berkumur (madhmadah) dan menghirup air ke hidung (istinsyaq) ketika wudhu hukumnya sunnah. Namun, bagi orang yang berpuasa hal itu dimakruhkan.Sebab, ada kemungkinan air masuk ke tenggorokan sehingga merusak puasanya. Maka, menolak kerusakan berupa batalnya puasa lebih didahulukan daripada meraih keutamaan sunnah dalam berlebih-lebihan saat berkumur dan istinsyaq.2. Larangan Menggunakan Hak Milik yang Membahayakan TetanggaSeseorang tidak boleh menggunakan hak miliknya dengan cara yang jelas-jelas merugikan tetangganya.Contohnya:membuka jendela yang langsung menghadap tempat tinggal wanita tetangganya,menjadikan halaman rumah sebagai tempat pembuangan sampah sehingga mengganggu sekitar.Walaupun seseorang memiliki hak atas rumahnya, syariat tetap melarang penggunaan hak yang menimbulkan mudarat bagi orang lain. Ini karena menolak kerusakan lebih diutamakan.3. Perlindungan Hak Cetak dan Hak Penulisan BukuMenjaga hak cetak buku bagi penulis dan penerbit termasuk penerapan kaidah ini pada masa sekarang. Sebab, jika buku-buku syariat dibiarkan dicetak bebas tanpa pengawasan hak penerbitan, akan muncul banyak kerusakan, terutama ketika amanah agama manusia semakin lemah.Di antara kerusakan yang bisa terjadi:buku dicetak tanpa ditashih,ayat dan hadits tidak diperiksa,kesalahan dibiarkan,ada bagian yang dihapus karena ketidaktahuan,bahkan ada tambahan tertentu yang disengaja.Semua ini nyata terjadi pada sebagian penerbit yang tidak amanah.Karena itu, menjaga hak penerbitan dipandang sebagai upaya menolak mafsadat yang lebih besar. Adapun maslahat berupa bebasnya semua orang mencetak dan menyebarkan buku tidak didahulukan jika justru membuka pintu kerusakan terhadap ilmu syar’i. Penyempurna KaidahPengecualian dari KaidahAda beberapa masalah yang dikecualikan dari kaidah: “Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada meraih kemaslahatan.”Pengecualian itu terjadi ketika maslahat yang didapat sangat besar dan dominan, atau ketika mafsadatnya kecil sehingga tenggelam dalam maslahat yang lebih besar. Dalam kondisi seperti ini, maslahat lebih didahulukan.Banyak hukum syariat maupun ketetapan alam berjalan di atas prinsip ini.Contohnya adalah turunnya hujan. Hujan membawa maslahat besar bagi manusia secara umum. Memang terkadang ada sebagian orang yang dirugikan, misalnya atap rumahnya bocor lalu rusak karena hujan. Akan tetapi, kerusakan kecil ini tenggelam dalam maslahat umum yang jauh lebih besar.Demikian pula hukum-hukum syariat, berjalan sebagaimana hukum-hukum alam yang Allah tetapkan. Contoh Masalah Pengecualian1. Tetap Shalat Walau Ada Kekurangan pada Sebagian SyaratnyaShalat pada asalnya harus dilakukan dengan:suci,menutup aurat,menghadap kiblat.Jika salah satu syarat ini tidak bisa dipenuhi karena keadaan darurat atau ketidakmampuan, maka seseorang tetap wajib shalat sesuai kemampuannya.Memang, shalat tanpa syarat yang sempurna mengandung kekurangan dan mafsadat, karena seorang hamba seharusnya bermunajat kepada Allah dalam keadaan paling sempurna.Namun, maslahat melaksanakan shalat lebih besar daripada mafsadat meninggalkan sebagian syarat tersebut ketika benar-benar tidak mampu.Karena itu:orang sakit boleh shalat sesuai kemampuannya,orang yang tidak menemukan penutup aurat tetap shalat,orang yang tidak mengetahui arah kiblat tetap shalat berdasarkan perkiraan terbaiknya.2. Dusta yang Dibolehkan demi Maslahat yang Lebih BesarDusta pada asalnya haram dan merupakan mafsadat. Akan tetapi, jika dusta itu mengandung maslahat yang lebih besar dan kuat, maka dibolehkan.Contohnya:ucapan suami kepada istrinya untuk memperbaiki hubungan dan menyenangkan hati istrinya,dusta dalam rangka mendamaikan dua pihak yang bertikai.Hal ini dibolehkan karena maslahat perbaikan hubungan dan hilangnya permusuhan lebih besar daripada mafsadat dusta tersebut.Baca juga: Bohong yang Dibolehkan Faedah PentingDi atas kaidah ini dibangun prinsip tarjih antara larangan dan kebolehan ketika keduanya bertentangan.Jika suatu perkara berada antara:boleh,atau terlarang,maka sisi larangan lebih didahulukan.Sebab, larangan berkaitan dengan pencegahan mafsadat, sedangkan menolak mafsadat lebih utama.Karena itu para ulama mengatakan: “Jika suatu perkara masih samar antara boleh dan terlarang, maka sikap yang lebih hati-hati adalah meninggalkannya.” —- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 5 Dzulhijjah 1447 H, 21 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdarul mafasid fikih kontemporer fikih muamalah hukum Islam kaedah fikih kaidah fikih maslahat dan mafsadat nasihat islam rumaysho syariat islam ushul fikih

Kaidah Fikih: Menolak Kerusakan Lebih Didahulukan daripada Meraih Manfaat

Tidak semua manfaat boleh diambil jika di baliknya ada kerusakan yang lebih besar. Syariat Islam datang bukan hanya untuk menghadirkan maslahat, tetapi juga untuk menutup pintu mafsadat yang merusak agama dan kehidupan manusia. Kaidah fikih “menolak kerusakan lebih didahulukan daripada meraih manfaat” menjadi kunci penting untuk memahami banyak hukum Islam di zaman penuh syubhat dan fitnah saat ini.  Daftar Isi tutup 1. Rumusan Kaidah 2. Makna Umum Kaidah 3. Dalil Kaidah: “Menolak Kerusakan Lebih Didahulukan daripada Meraih Kemaslahatan” 4. Contoh Penerapan Kaidah 4.1. 1. Berlebihan dalam Berkumur dan Menghirup Air ke Hidung Saat Puasa 4.2. 2. Larangan Menggunakan Hak Milik yang Membahayakan Tetangga 4.3. 3. Perlindungan Hak Cetak dan Hak Penulisan Buku 5. Penyempurna Kaidah 5.1. Pengecualian dari Kaidah 5.2. Contoh Masalah Pengecualian 5.3. Faedah Penting  Rumusan KaidahKaidah ini digunakan dengan beberapa redaksi:دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ“Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada meraih kemaslahatan.”Juga dengan redaksi:دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ“Menolak kerusakan didahulukan atas mendatangkan kemaslahatan.”Atau:دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ تَحْصِيلِ الْمَصَالِحِ“Menolak kerusakan lebih utama daripada memperoleh kemaslahatan.” Makna Umum KaidahSyariat Islam datang untuk menghadirkan manfaat dan menolak kerusakan.Jika antara maslahat dan mafsadat bertemu atau saling bertentangan, maka yang diperhatikan adalah mana yang lebih besar dan lebih dominan.Jika maslahat dan mafsadat itu sama kuat, maka menolak mafsadat lebih didahulukan daripada meraih maslahat. Artinya, apabila seseorang dihadapkan pada pilihan antara menghindari kerusakan dan mengambil manfaat, maka menghindari kerusakan lebih utama.Namun, kaidah ini berlaku ketika mafsadat dan maslahat setara, atau ketika mafsadatnya lebih besar. Adapun jika maslahatnya jauh lebih besar dan mafsadatnya kecil, maka bisa jadi maslahat tersebut tetap didahulukan.Syarat lain: menolak mafsadat tidak boleh menimbulkan mafsadat lain yang lebih besar. Jika menolak satu kerusakan justru melahirkan kerusakan yang lebih berat, maka penerapan kaidah ini tidak berlaku secara mutlak.Mengapa menolak mafsadat lebih didahulukan? Karena perhatian syariat terhadap larangan lebih kuat daripada perintah. Nabi ﷺ bersabda bahwa larangan harus dijauhi, sedangkan perintah dikerjakan sesuai kemampuan.Kaidah ini merupakan turunan dari kaidah besar:الضَّرَرُ يُزَالُ“Bahaya itu harus dihilangkan.”Sebab, mafsadat pada hakikatnya adalah bentuk bahaya. Maka, ketika mafsadat bertemu dengan maslahat, menolak bahaya lebih didahulukan demi menghilangkan mudarat. Dalil Kaidah: “Menolak Kerusakan Lebih Didahulukan daripada Meraih Kemaslahatan”1. Dalil dari Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.’” (QS. Al-Baqarah: 219)Sisi Pendalilan:  Allah mengharamkan khamar dan judi ketika kerusakannya lebih besar daripada manfaat yang ada pada keduanya.Ibnu Taimiyah berkata: “Seluruh perkara yang diharamkan seperti syirik, khamar, judi, perbuatan keji, dan kezaliman, terkadang memiliki manfaat dan tujuan tertentu bagi pelakunya. Namun, ketika kerusakannya lebih dominan daripada maslahatnya, Allah dan Rasul-Nya melarang hal tersebut.”Allah Ta’ala juga berfirman:يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai Nabi, apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepadamu untuk berbaiat bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka, tidak membuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah baiat mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Mumtahanah: 12)Sisi Pendalilan:  Dalam ayat ini, Allah lebih dahulu menyebut larangan-larangan sebelum menyebut perintah untuk melakukan kebaikan (ma’ruf). Ini menunjukkan bahwa meninggalkan keburukan didahulukan daripada menghiasi diri dengan kebaikan.Karena itu para ulama mengatakan: “Membersihkan diri dari keburukan didahulukan sebelum menghiasi diri dengan keutamaan.”Sebab, menolak kerusakan lebih utama daripada meraih kemaslahatan.2. Dalil dari SunnahDari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda:«فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ»“Jika aku melarang kalian dari sesuatu, maka jauhilah. Dan jika aku memerintahkan kalian suatu perkara, maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari, no. 7288 dan Muslim, no. 1337)Sisi Pendalilan:  Hadits ini menunjukkan bahwa perhatian syariat terhadap meninggalkan larangan lebih kuat daripada perhatian terhadap menjalankan perintah.Karena itu, syariat memberikan keringanan dalam sebagian kewajiban ketika ada kesulitan, seperti:tidak berdiri ketika shalat karena sakit,berbuka saat safar atau sakit,tayamum ketika tidak mampu menggunakan air.Namun, syariat tidak memberikan toleransi untuk melakukan perkara haram, terutama dosa besar, kecuali dalam kondisi darurat yang nyata.Dari Abu Qatadah, Nabi ﷺ bersabda:«إِنِّي لَأَقُومُ فِي الصَّلَاةِ أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي؛ كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ»“Sungguh, aku berdiri dalam shalat dan ingin memanjangkannya. Namun aku mendengar tangisan bayi, lalu aku mempercepat shalatku karena tidak ingin memberatkan ibunya.” (HR. Bukhari, no. 707)Sisi Pendalilan: Nabi ﷺ tidak memanjangkan shalat demi menghindari kesulitan dan mudarat bagi ibu si bayi. Ini menunjukkan bahwa menghindari mafsadat lebih didahulukan. Contoh Penerapan KaidahDi bawah kaidah “menolak kerusakan lebih didahulukan daripada meraih kemaslahatan” terdapat banyak cabang fikih. Di antaranya:1. Berlebihan dalam Berkumur dan Menghirup Air ke Hidung Saat PuasaBersungguh-sungguh dalam berkumur (madhmadah) dan menghirup air ke hidung (istinsyaq) ketika wudhu hukumnya sunnah. Namun, bagi orang yang berpuasa hal itu dimakruhkan.Sebab, ada kemungkinan air masuk ke tenggorokan sehingga merusak puasanya. Maka, menolak kerusakan berupa batalnya puasa lebih didahulukan daripada meraih keutamaan sunnah dalam berlebih-lebihan saat berkumur dan istinsyaq.2. Larangan Menggunakan Hak Milik yang Membahayakan TetanggaSeseorang tidak boleh menggunakan hak miliknya dengan cara yang jelas-jelas merugikan tetangganya.Contohnya:membuka jendela yang langsung menghadap tempat tinggal wanita tetangganya,menjadikan halaman rumah sebagai tempat pembuangan sampah sehingga mengganggu sekitar.Walaupun seseorang memiliki hak atas rumahnya, syariat tetap melarang penggunaan hak yang menimbulkan mudarat bagi orang lain. Ini karena menolak kerusakan lebih diutamakan.3. Perlindungan Hak Cetak dan Hak Penulisan BukuMenjaga hak cetak buku bagi penulis dan penerbit termasuk penerapan kaidah ini pada masa sekarang. Sebab, jika buku-buku syariat dibiarkan dicetak bebas tanpa pengawasan hak penerbitan, akan muncul banyak kerusakan, terutama ketika amanah agama manusia semakin lemah.Di antara kerusakan yang bisa terjadi:buku dicetak tanpa ditashih,ayat dan hadits tidak diperiksa,kesalahan dibiarkan,ada bagian yang dihapus karena ketidaktahuan,bahkan ada tambahan tertentu yang disengaja.Semua ini nyata terjadi pada sebagian penerbit yang tidak amanah.Karena itu, menjaga hak penerbitan dipandang sebagai upaya menolak mafsadat yang lebih besar. Adapun maslahat berupa bebasnya semua orang mencetak dan menyebarkan buku tidak didahulukan jika justru membuka pintu kerusakan terhadap ilmu syar’i. Penyempurna KaidahPengecualian dari KaidahAda beberapa masalah yang dikecualikan dari kaidah: “Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada meraih kemaslahatan.”Pengecualian itu terjadi ketika maslahat yang didapat sangat besar dan dominan, atau ketika mafsadatnya kecil sehingga tenggelam dalam maslahat yang lebih besar. Dalam kondisi seperti ini, maslahat lebih didahulukan.Banyak hukum syariat maupun ketetapan alam berjalan di atas prinsip ini.Contohnya adalah turunnya hujan. Hujan membawa maslahat besar bagi manusia secara umum. Memang terkadang ada sebagian orang yang dirugikan, misalnya atap rumahnya bocor lalu rusak karena hujan. Akan tetapi, kerusakan kecil ini tenggelam dalam maslahat umum yang jauh lebih besar.Demikian pula hukum-hukum syariat, berjalan sebagaimana hukum-hukum alam yang Allah tetapkan. Contoh Masalah Pengecualian1. Tetap Shalat Walau Ada Kekurangan pada Sebagian SyaratnyaShalat pada asalnya harus dilakukan dengan:suci,menutup aurat,menghadap kiblat.Jika salah satu syarat ini tidak bisa dipenuhi karena keadaan darurat atau ketidakmampuan, maka seseorang tetap wajib shalat sesuai kemampuannya.Memang, shalat tanpa syarat yang sempurna mengandung kekurangan dan mafsadat, karena seorang hamba seharusnya bermunajat kepada Allah dalam keadaan paling sempurna.Namun, maslahat melaksanakan shalat lebih besar daripada mafsadat meninggalkan sebagian syarat tersebut ketika benar-benar tidak mampu.Karena itu:orang sakit boleh shalat sesuai kemampuannya,orang yang tidak menemukan penutup aurat tetap shalat,orang yang tidak mengetahui arah kiblat tetap shalat berdasarkan perkiraan terbaiknya.2. Dusta yang Dibolehkan demi Maslahat yang Lebih BesarDusta pada asalnya haram dan merupakan mafsadat. Akan tetapi, jika dusta itu mengandung maslahat yang lebih besar dan kuat, maka dibolehkan.Contohnya:ucapan suami kepada istrinya untuk memperbaiki hubungan dan menyenangkan hati istrinya,dusta dalam rangka mendamaikan dua pihak yang bertikai.Hal ini dibolehkan karena maslahat perbaikan hubungan dan hilangnya permusuhan lebih besar daripada mafsadat dusta tersebut.Baca juga: Bohong yang Dibolehkan Faedah PentingDi atas kaidah ini dibangun prinsip tarjih antara larangan dan kebolehan ketika keduanya bertentangan.Jika suatu perkara berada antara:boleh,atau terlarang,maka sisi larangan lebih didahulukan.Sebab, larangan berkaitan dengan pencegahan mafsadat, sedangkan menolak mafsadat lebih utama.Karena itu para ulama mengatakan: “Jika suatu perkara masih samar antara boleh dan terlarang, maka sikap yang lebih hati-hati adalah meninggalkannya.” —- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 5 Dzulhijjah 1447 H, 21 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdarul mafasid fikih kontemporer fikih muamalah hukum Islam kaedah fikih kaidah fikih maslahat dan mafsadat nasihat islam rumaysho syariat islam ushul fikih
Tidak semua manfaat boleh diambil jika di baliknya ada kerusakan yang lebih besar. Syariat Islam datang bukan hanya untuk menghadirkan maslahat, tetapi juga untuk menutup pintu mafsadat yang merusak agama dan kehidupan manusia. Kaidah fikih “menolak kerusakan lebih didahulukan daripada meraih manfaat” menjadi kunci penting untuk memahami banyak hukum Islam di zaman penuh syubhat dan fitnah saat ini.  Daftar Isi tutup 1. Rumusan Kaidah 2. Makna Umum Kaidah 3. Dalil Kaidah: “Menolak Kerusakan Lebih Didahulukan daripada Meraih Kemaslahatan” 4. Contoh Penerapan Kaidah 4.1. 1. Berlebihan dalam Berkumur dan Menghirup Air ke Hidung Saat Puasa 4.2. 2. Larangan Menggunakan Hak Milik yang Membahayakan Tetangga 4.3. 3. Perlindungan Hak Cetak dan Hak Penulisan Buku 5. Penyempurna Kaidah 5.1. Pengecualian dari Kaidah 5.2. Contoh Masalah Pengecualian 5.3. Faedah Penting  Rumusan KaidahKaidah ini digunakan dengan beberapa redaksi:دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ“Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada meraih kemaslahatan.”Juga dengan redaksi:دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ“Menolak kerusakan didahulukan atas mendatangkan kemaslahatan.”Atau:دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ تَحْصِيلِ الْمَصَالِحِ“Menolak kerusakan lebih utama daripada memperoleh kemaslahatan.” Makna Umum KaidahSyariat Islam datang untuk menghadirkan manfaat dan menolak kerusakan.Jika antara maslahat dan mafsadat bertemu atau saling bertentangan, maka yang diperhatikan adalah mana yang lebih besar dan lebih dominan.Jika maslahat dan mafsadat itu sama kuat, maka menolak mafsadat lebih didahulukan daripada meraih maslahat. Artinya, apabila seseorang dihadapkan pada pilihan antara menghindari kerusakan dan mengambil manfaat, maka menghindari kerusakan lebih utama.Namun, kaidah ini berlaku ketika mafsadat dan maslahat setara, atau ketika mafsadatnya lebih besar. Adapun jika maslahatnya jauh lebih besar dan mafsadatnya kecil, maka bisa jadi maslahat tersebut tetap didahulukan.Syarat lain: menolak mafsadat tidak boleh menimbulkan mafsadat lain yang lebih besar. Jika menolak satu kerusakan justru melahirkan kerusakan yang lebih berat, maka penerapan kaidah ini tidak berlaku secara mutlak.Mengapa menolak mafsadat lebih didahulukan? Karena perhatian syariat terhadap larangan lebih kuat daripada perintah. Nabi ﷺ bersabda bahwa larangan harus dijauhi, sedangkan perintah dikerjakan sesuai kemampuan.Kaidah ini merupakan turunan dari kaidah besar:الضَّرَرُ يُزَالُ“Bahaya itu harus dihilangkan.”Sebab, mafsadat pada hakikatnya adalah bentuk bahaya. Maka, ketika mafsadat bertemu dengan maslahat, menolak bahaya lebih didahulukan demi menghilangkan mudarat. Dalil Kaidah: “Menolak Kerusakan Lebih Didahulukan daripada Meraih Kemaslahatan”1. Dalil dari Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.’” (QS. Al-Baqarah: 219)Sisi Pendalilan:  Allah mengharamkan khamar dan judi ketika kerusakannya lebih besar daripada manfaat yang ada pada keduanya.Ibnu Taimiyah berkata: “Seluruh perkara yang diharamkan seperti syirik, khamar, judi, perbuatan keji, dan kezaliman, terkadang memiliki manfaat dan tujuan tertentu bagi pelakunya. Namun, ketika kerusakannya lebih dominan daripada maslahatnya, Allah dan Rasul-Nya melarang hal tersebut.”Allah Ta’ala juga berfirman:يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai Nabi, apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepadamu untuk berbaiat bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka, tidak membuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah baiat mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Mumtahanah: 12)Sisi Pendalilan:  Dalam ayat ini, Allah lebih dahulu menyebut larangan-larangan sebelum menyebut perintah untuk melakukan kebaikan (ma’ruf). Ini menunjukkan bahwa meninggalkan keburukan didahulukan daripada menghiasi diri dengan kebaikan.Karena itu para ulama mengatakan: “Membersihkan diri dari keburukan didahulukan sebelum menghiasi diri dengan keutamaan.”Sebab, menolak kerusakan lebih utama daripada meraih kemaslahatan.2. Dalil dari SunnahDari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda:«فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ»“Jika aku melarang kalian dari sesuatu, maka jauhilah. Dan jika aku memerintahkan kalian suatu perkara, maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari, no. 7288 dan Muslim, no. 1337)Sisi Pendalilan:  Hadits ini menunjukkan bahwa perhatian syariat terhadap meninggalkan larangan lebih kuat daripada perhatian terhadap menjalankan perintah.Karena itu, syariat memberikan keringanan dalam sebagian kewajiban ketika ada kesulitan, seperti:tidak berdiri ketika shalat karena sakit,berbuka saat safar atau sakit,tayamum ketika tidak mampu menggunakan air.Namun, syariat tidak memberikan toleransi untuk melakukan perkara haram, terutama dosa besar, kecuali dalam kondisi darurat yang nyata.Dari Abu Qatadah, Nabi ﷺ bersabda:«إِنِّي لَأَقُومُ فِي الصَّلَاةِ أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي؛ كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ»“Sungguh, aku berdiri dalam shalat dan ingin memanjangkannya. Namun aku mendengar tangisan bayi, lalu aku mempercepat shalatku karena tidak ingin memberatkan ibunya.” (HR. Bukhari, no. 707)Sisi Pendalilan: Nabi ﷺ tidak memanjangkan shalat demi menghindari kesulitan dan mudarat bagi ibu si bayi. Ini menunjukkan bahwa menghindari mafsadat lebih didahulukan. Contoh Penerapan KaidahDi bawah kaidah “menolak kerusakan lebih didahulukan daripada meraih kemaslahatan” terdapat banyak cabang fikih. Di antaranya:1. Berlebihan dalam Berkumur dan Menghirup Air ke Hidung Saat PuasaBersungguh-sungguh dalam berkumur (madhmadah) dan menghirup air ke hidung (istinsyaq) ketika wudhu hukumnya sunnah. Namun, bagi orang yang berpuasa hal itu dimakruhkan.Sebab, ada kemungkinan air masuk ke tenggorokan sehingga merusak puasanya. Maka, menolak kerusakan berupa batalnya puasa lebih didahulukan daripada meraih keutamaan sunnah dalam berlebih-lebihan saat berkumur dan istinsyaq.2. Larangan Menggunakan Hak Milik yang Membahayakan TetanggaSeseorang tidak boleh menggunakan hak miliknya dengan cara yang jelas-jelas merugikan tetangganya.Contohnya:membuka jendela yang langsung menghadap tempat tinggal wanita tetangganya,menjadikan halaman rumah sebagai tempat pembuangan sampah sehingga mengganggu sekitar.Walaupun seseorang memiliki hak atas rumahnya, syariat tetap melarang penggunaan hak yang menimbulkan mudarat bagi orang lain. Ini karena menolak kerusakan lebih diutamakan.3. Perlindungan Hak Cetak dan Hak Penulisan BukuMenjaga hak cetak buku bagi penulis dan penerbit termasuk penerapan kaidah ini pada masa sekarang. Sebab, jika buku-buku syariat dibiarkan dicetak bebas tanpa pengawasan hak penerbitan, akan muncul banyak kerusakan, terutama ketika amanah agama manusia semakin lemah.Di antara kerusakan yang bisa terjadi:buku dicetak tanpa ditashih,ayat dan hadits tidak diperiksa,kesalahan dibiarkan,ada bagian yang dihapus karena ketidaktahuan,bahkan ada tambahan tertentu yang disengaja.Semua ini nyata terjadi pada sebagian penerbit yang tidak amanah.Karena itu, menjaga hak penerbitan dipandang sebagai upaya menolak mafsadat yang lebih besar. Adapun maslahat berupa bebasnya semua orang mencetak dan menyebarkan buku tidak didahulukan jika justru membuka pintu kerusakan terhadap ilmu syar’i. Penyempurna KaidahPengecualian dari KaidahAda beberapa masalah yang dikecualikan dari kaidah: “Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada meraih kemaslahatan.”Pengecualian itu terjadi ketika maslahat yang didapat sangat besar dan dominan, atau ketika mafsadatnya kecil sehingga tenggelam dalam maslahat yang lebih besar. Dalam kondisi seperti ini, maslahat lebih didahulukan.Banyak hukum syariat maupun ketetapan alam berjalan di atas prinsip ini.Contohnya adalah turunnya hujan. Hujan membawa maslahat besar bagi manusia secara umum. Memang terkadang ada sebagian orang yang dirugikan, misalnya atap rumahnya bocor lalu rusak karena hujan. Akan tetapi, kerusakan kecil ini tenggelam dalam maslahat umum yang jauh lebih besar.Demikian pula hukum-hukum syariat, berjalan sebagaimana hukum-hukum alam yang Allah tetapkan. Contoh Masalah Pengecualian1. Tetap Shalat Walau Ada Kekurangan pada Sebagian SyaratnyaShalat pada asalnya harus dilakukan dengan:suci,menutup aurat,menghadap kiblat.Jika salah satu syarat ini tidak bisa dipenuhi karena keadaan darurat atau ketidakmampuan, maka seseorang tetap wajib shalat sesuai kemampuannya.Memang, shalat tanpa syarat yang sempurna mengandung kekurangan dan mafsadat, karena seorang hamba seharusnya bermunajat kepada Allah dalam keadaan paling sempurna.Namun, maslahat melaksanakan shalat lebih besar daripada mafsadat meninggalkan sebagian syarat tersebut ketika benar-benar tidak mampu.Karena itu:orang sakit boleh shalat sesuai kemampuannya,orang yang tidak menemukan penutup aurat tetap shalat,orang yang tidak mengetahui arah kiblat tetap shalat berdasarkan perkiraan terbaiknya.2. Dusta yang Dibolehkan demi Maslahat yang Lebih BesarDusta pada asalnya haram dan merupakan mafsadat. Akan tetapi, jika dusta itu mengandung maslahat yang lebih besar dan kuat, maka dibolehkan.Contohnya:ucapan suami kepada istrinya untuk memperbaiki hubungan dan menyenangkan hati istrinya,dusta dalam rangka mendamaikan dua pihak yang bertikai.Hal ini dibolehkan karena maslahat perbaikan hubungan dan hilangnya permusuhan lebih besar daripada mafsadat dusta tersebut.Baca juga: Bohong yang Dibolehkan Faedah PentingDi atas kaidah ini dibangun prinsip tarjih antara larangan dan kebolehan ketika keduanya bertentangan.Jika suatu perkara berada antara:boleh,atau terlarang,maka sisi larangan lebih didahulukan.Sebab, larangan berkaitan dengan pencegahan mafsadat, sedangkan menolak mafsadat lebih utama.Karena itu para ulama mengatakan: “Jika suatu perkara masih samar antara boleh dan terlarang, maka sikap yang lebih hati-hati adalah meninggalkannya.” —- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 5 Dzulhijjah 1447 H, 21 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdarul mafasid fikih kontemporer fikih muamalah hukum Islam kaedah fikih kaidah fikih maslahat dan mafsadat nasihat islam rumaysho syariat islam ushul fikih


Tidak semua manfaat boleh diambil jika di baliknya ada kerusakan yang lebih besar. Syariat Islam datang bukan hanya untuk menghadirkan maslahat, tetapi juga untuk menutup pintu mafsadat yang merusak agama dan kehidupan manusia. Kaidah fikih “menolak kerusakan lebih didahulukan daripada meraih manfaat” menjadi kunci penting untuk memahami banyak hukum Islam di zaman penuh syubhat dan fitnah saat ini.  Daftar Isi tutup 1. Rumusan Kaidah 2. Makna Umum Kaidah 3. Dalil Kaidah: “Menolak Kerusakan Lebih Didahulukan daripada Meraih Kemaslahatan” 4. Contoh Penerapan Kaidah 4.1. 1. Berlebihan dalam Berkumur dan Menghirup Air ke Hidung Saat Puasa 4.2. 2. Larangan Menggunakan Hak Milik yang Membahayakan Tetangga 4.3. 3. Perlindungan Hak Cetak dan Hak Penulisan Buku 5. Penyempurna Kaidah 5.1. Pengecualian dari Kaidah 5.2. Contoh Masalah Pengecualian 5.3. Faedah Penting  Rumusan KaidahKaidah ini digunakan dengan beberapa redaksi:دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ“Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada meraih kemaslahatan.”Juga dengan redaksi:دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ“Menolak kerusakan didahulukan atas mendatangkan kemaslahatan.”Atau:دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ تَحْصِيلِ الْمَصَالِحِ“Menolak kerusakan lebih utama daripada memperoleh kemaslahatan.” Makna Umum KaidahSyariat Islam datang untuk menghadirkan manfaat dan menolak kerusakan.Jika antara maslahat dan mafsadat bertemu atau saling bertentangan, maka yang diperhatikan adalah mana yang lebih besar dan lebih dominan.Jika maslahat dan mafsadat itu sama kuat, maka menolak mafsadat lebih didahulukan daripada meraih maslahat. Artinya, apabila seseorang dihadapkan pada pilihan antara menghindari kerusakan dan mengambil manfaat, maka menghindari kerusakan lebih utama.Namun, kaidah ini berlaku ketika mafsadat dan maslahat setara, atau ketika mafsadatnya lebih besar. Adapun jika maslahatnya jauh lebih besar dan mafsadatnya kecil, maka bisa jadi maslahat tersebut tetap didahulukan.Syarat lain: menolak mafsadat tidak boleh menimbulkan mafsadat lain yang lebih besar. Jika menolak satu kerusakan justru melahirkan kerusakan yang lebih berat, maka penerapan kaidah ini tidak berlaku secara mutlak.Mengapa menolak mafsadat lebih didahulukan? Karena perhatian syariat terhadap larangan lebih kuat daripada perintah. Nabi ﷺ bersabda bahwa larangan harus dijauhi, sedangkan perintah dikerjakan sesuai kemampuan.Kaidah ini merupakan turunan dari kaidah besar:الضَّرَرُ يُزَالُ“Bahaya itu harus dihilangkan.”Sebab, mafsadat pada hakikatnya adalah bentuk bahaya. Maka, ketika mafsadat bertemu dengan maslahat, menolak bahaya lebih didahulukan demi menghilangkan mudarat. Dalil Kaidah: “Menolak Kerusakan Lebih Didahulukan daripada Meraih Kemaslahatan”1. Dalil dari Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.’” (QS. Al-Baqarah: 219)Sisi Pendalilan:  Allah mengharamkan khamar dan judi ketika kerusakannya lebih besar daripada manfaat yang ada pada keduanya.Ibnu Taimiyah berkata: “Seluruh perkara yang diharamkan seperti syirik, khamar, judi, perbuatan keji, dan kezaliman, terkadang memiliki manfaat dan tujuan tertentu bagi pelakunya. Namun, ketika kerusakannya lebih dominan daripada maslahatnya, Allah dan Rasul-Nya melarang hal tersebut.”Allah Ta’ala juga berfirman:يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai Nabi, apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepadamu untuk berbaiat bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka, tidak membuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah baiat mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Mumtahanah: 12)Sisi Pendalilan:  Dalam ayat ini, Allah lebih dahulu menyebut larangan-larangan sebelum menyebut perintah untuk melakukan kebaikan (ma’ruf). Ini menunjukkan bahwa meninggalkan keburukan didahulukan daripada menghiasi diri dengan kebaikan.Karena itu para ulama mengatakan: “Membersihkan diri dari keburukan didahulukan sebelum menghiasi diri dengan keutamaan.”Sebab, menolak kerusakan lebih utama daripada meraih kemaslahatan.2. Dalil dari SunnahDari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda:«فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ»“Jika aku melarang kalian dari sesuatu, maka jauhilah. Dan jika aku memerintahkan kalian suatu perkara, maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari, no. 7288 dan Muslim, no. 1337)Sisi Pendalilan:  Hadits ini menunjukkan bahwa perhatian syariat terhadap meninggalkan larangan lebih kuat daripada perhatian terhadap menjalankan perintah.Karena itu, syariat memberikan keringanan dalam sebagian kewajiban ketika ada kesulitan, seperti:tidak berdiri ketika shalat karena sakit,berbuka saat safar atau sakit,tayamum ketika tidak mampu menggunakan air.Namun, syariat tidak memberikan toleransi untuk melakukan perkara haram, terutama dosa besar, kecuali dalam kondisi darurat yang nyata.Dari Abu Qatadah, Nabi ﷺ bersabda:«إِنِّي لَأَقُومُ فِي الصَّلَاةِ أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي؛ كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ»“Sungguh, aku berdiri dalam shalat dan ingin memanjangkannya. Namun aku mendengar tangisan bayi, lalu aku mempercepat shalatku karena tidak ingin memberatkan ibunya.” (HR. Bukhari, no. 707)Sisi Pendalilan: Nabi ﷺ tidak memanjangkan shalat demi menghindari kesulitan dan mudarat bagi ibu si bayi. Ini menunjukkan bahwa menghindari mafsadat lebih didahulukan. Contoh Penerapan KaidahDi bawah kaidah “menolak kerusakan lebih didahulukan daripada meraih kemaslahatan” terdapat banyak cabang fikih. Di antaranya:1. Berlebihan dalam Berkumur dan Menghirup Air ke Hidung Saat PuasaBersungguh-sungguh dalam berkumur (madhmadah) dan menghirup air ke hidung (istinsyaq) ketika wudhu hukumnya sunnah. Namun, bagi orang yang berpuasa hal itu dimakruhkan.Sebab, ada kemungkinan air masuk ke tenggorokan sehingga merusak puasanya. Maka, menolak kerusakan berupa batalnya puasa lebih didahulukan daripada meraih keutamaan sunnah dalam berlebih-lebihan saat berkumur dan istinsyaq.2. Larangan Menggunakan Hak Milik yang Membahayakan TetanggaSeseorang tidak boleh menggunakan hak miliknya dengan cara yang jelas-jelas merugikan tetangganya.Contohnya:membuka jendela yang langsung menghadap tempat tinggal wanita tetangganya,menjadikan halaman rumah sebagai tempat pembuangan sampah sehingga mengganggu sekitar.Walaupun seseorang memiliki hak atas rumahnya, syariat tetap melarang penggunaan hak yang menimbulkan mudarat bagi orang lain. Ini karena menolak kerusakan lebih diutamakan.3. Perlindungan Hak Cetak dan Hak Penulisan BukuMenjaga hak cetak buku bagi penulis dan penerbit termasuk penerapan kaidah ini pada masa sekarang. Sebab, jika buku-buku syariat dibiarkan dicetak bebas tanpa pengawasan hak penerbitan, akan muncul banyak kerusakan, terutama ketika amanah agama manusia semakin lemah.Di antara kerusakan yang bisa terjadi:buku dicetak tanpa ditashih,ayat dan hadits tidak diperiksa,kesalahan dibiarkan,ada bagian yang dihapus karena ketidaktahuan,bahkan ada tambahan tertentu yang disengaja.Semua ini nyata terjadi pada sebagian penerbit yang tidak amanah.Karena itu, menjaga hak penerbitan dipandang sebagai upaya menolak mafsadat yang lebih besar. Adapun maslahat berupa bebasnya semua orang mencetak dan menyebarkan buku tidak didahulukan jika justru membuka pintu kerusakan terhadap ilmu syar’i. Penyempurna KaidahPengecualian dari KaidahAda beberapa masalah yang dikecualikan dari kaidah: “Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada meraih kemaslahatan.”Pengecualian itu terjadi ketika maslahat yang didapat sangat besar dan dominan, atau ketika mafsadatnya kecil sehingga tenggelam dalam maslahat yang lebih besar. Dalam kondisi seperti ini, maslahat lebih didahulukan.Banyak hukum syariat maupun ketetapan alam berjalan di atas prinsip ini.Contohnya adalah turunnya hujan. Hujan membawa maslahat besar bagi manusia secara umum. Memang terkadang ada sebagian orang yang dirugikan, misalnya atap rumahnya bocor lalu rusak karena hujan. Akan tetapi, kerusakan kecil ini tenggelam dalam maslahat umum yang jauh lebih besar.Demikian pula hukum-hukum syariat, berjalan sebagaimana hukum-hukum alam yang Allah tetapkan. Contoh Masalah Pengecualian1. Tetap Shalat Walau Ada Kekurangan pada Sebagian SyaratnyaShalat pada asalnya harus dilakukan dengan:suci,menutup aurat,menghadap kiblat.Jika salah satu syarat ini tidak bisa dipenuhi karena keadaan darurat atau ketidakmampuan, maka seseorang tetap wajib shalat sesuai kemampuannya.Memang, shalat tanpa syarat yang sempurna mengandung kekurangan dan mafsadat, karena seorang hamba seharusnya bermunajat kepada Allah dalam keadaan paling sempurna.Namun, maslahat melaksanakan shalat lebih besar daripada mafsadat meninggalkan sebagian syarat tersebut ketika benar-benar tidak mampu.Karena itu:orang sakit boleh shalat sesuai kemampuannya,orang yang tidak menemukan penutup aurat tetap shalat,orang yang tidak mengetahui arah kiblat tetap shalat berdasarkan perkiraan terbaiknya.2. Dusta yang Dibolehkan demi Maslahat yang Lebih BesarDusta pada asalnya haram dan merupakan mafsadat. Akan tetapi, jika dusta itu mengandung maslahat yang lebih besar dan kuat, maka dibolehkan.Contohnya:ucapan suami kepada istrinya untuk memperbaiki hubungan dan menyenangkan hati istrinya,dusta dalam rangka mendamaikan dua pihak yang bertikai.Hal ini dibolehkan karena maslahat perbaikan hubungan dan hilangnya permusuhan lebih besar daripada mafsadat dusta tersebut.Baca juga: Bohong yang Dibolehkan Faedah PentingDi atas kaidah ini dibangun prinsip tarjih antara larangan dan kebolehan ketika keduanya bertentangan.Jika suatu perkara berada antara:boleh,atau terlarang,maka sisi larangan lebih didahulukan.Sebab, larangan berkaitan dengan pencegahan mafsadat, sedangkan menolak mafsadat lebih utama.Karena itu para ulama mengatakan: “Jika suatu perkara masih samar antara boleh dan terlarang, maka sikap yang lebih hati-hati adalah meninggalkannya.” —- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 5 Dzulhijjah 1447 H, 21 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdarul mafasid fikih kontemporer fikih muamalah hukum Islam kaedah fikih kaidah fikih maslahat dan mafsadat nasihat islam rumaysho syariat islam ushul fikih

Semoga Kita Semua Bisa Begini ketika Mendengar Suara Azan Berkumandang – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili

Kita memiliki banyak kelalaian. Sekiranya seseorang, ketika azan berkumandang, ia meninggalkan seluruh kesibukannya, sebagaimana dahulu para salaf melakukannya. Diriwayatkan dari sebagian salaf, bahwa ketika ia mengangkat palunya—ia seorang pandai besi—ketika mengangkat palunya, lalu muazin mengumandangkan azan, “Allahu Akbar,” ia tidak jadi memukulkan palu itu. Ia langsung melemparnya dari tangannya (lalu segera ke Masjid). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu, ketika sedang membantu pekerjaan keluarganya, lalu, apabila azan berkumandang, beliau seakan-akan tidak lagi mengenal mereka. Sekiranya setiap kita, apabila azan berkumandang, segera berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu segera berangkat menuju masjid, melaksanakan salat dua rakaat, kemudian membuka mushaf, berapa ayat yang bisa ia baca? Itu jauh lebih baik baginya daripada sibuk dengan urusan dunia, lalu mendapatkan harta yang melimpah. Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, orang-orang kaya yang sejati adalah Ahlul Qur’an. Orang-orang kaya yang benar-benar sukses, adalah mereka yang disibukkan dengan firman Allah. Mereka sibuk dengan Al-Qur’an. ===== عِنْدَنَا إِهْمَالٌ كَثِيرٌ لَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ تَرَكَ كُلَّ شَيْءٍ كَمَا كَانَ السَّلَفُ يَعْمَلُونَ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ حَدَّادٌ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ فَقَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ مَا يُنْزِلُهَا يَرْمِيهَا مِنْ يَدِهِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا أَذَّنَ كَأَنَّهُ لَا يَعْرِفُهُمْ لَوْ أَنَّ الْوَاحِدَ مِنَّا إِذَا أَذَّنَ تَوَضَّأَ وَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ وَغَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ فَتَحَ الْمُصْحَفَ كَمْ آيَةً سَيَقْرَأُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالدُّنْيَا وَيُحَصِّلَ الْأَمْوَالَ الْعَظِيمَةَ وَاللَّهِ يَا إِخْوَةُ الْأَغْنِيَاءُ حَقًّا هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ الْأَغْنِيَاءُ الْفَائِزُونَ هُمْ الَّذِينَ يَشْتَغِلُونَ بِكَلَامِ اللَّهِ يَشْتَغِلُونَ بِالْقُرْآنِ

Semoga Kita Semua Bisa Begini ketika Mendengar Suara Azan Berkumandang – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili

Kita memiliki banyak kelalaian. Sekiranya seseorang, ketika azan berkumandang, ia meninggalkan seluruh kesibukannya, sebagaimana dahulu para salaf melakukannya. Diriwayatkan dari sebagian salaf, bahwa ketika ia mengangkat palunya—ia seorang pandai besi—ketika mengangkat palunya, lalu muazin mengumandangkan azan, “Allahu Akbar,” ia tidak jadi memukulkan palu itu. Ia langsung melemparnya dari tangannya (lalu segera ke Masjid). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu, ketika sedang membantu pekerjaan keluarganya, lalu, apabila azan berkumandang, beliau seakan-akan tidak lagi mengenal mereka. Sekiranya setiap kita, apabila azan berkumandang, segera berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu segera berangkat menuju masjid, melaksanakan salat dua rakaat, kemudian membuka mushaf, berapa ayat yang bisa ia baca? Itu jauh lebih baik baginya daripada sibuk dengan urusan dunia, lalu mendapatkan harta yang melimpah. Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, orang-orang kaya yang sejati adalah Ahlul Qur’an. Orang-orang kaya yang benar-benar sukses, adalah mereka yang disibukkan dengan firman Allah. Mereka sibuk dengan Al-Qur’an. ===== عِنْدَنَا إِهْمَالٌ كَثِيرٌ لَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ تَرَكَ كُلَّ شَيْءٍ كَمَا كَانَ السَّلَفُ يَعْمَلُونَ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ حَدَّادٌ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ فَقَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ مَا يُنْزِلُهَا يَرْمِيهَا مِنْ يَدِهِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا أَذَّنَ كَأَنَّهُ لَا يَعْرِفُهُمْ لَوْ أَنَّ الْوَاحِدَ مِنَّا إِذَا أَذَّنَ تَوَضَّأَ وَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ وَغَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ فَتَحَ الْمُصْحَفَ كَمْ آيَةً سَيَقْرَأُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالدُّنْيَا وَيُحَصِّلَ الْأَمْوَالَ الْعَظِيمَةَ وَاللَّهِ يَا إِخْوَةُ الْأَغْنِيَاءُ حَقًّا هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ الْأَغْنِيَاءُ الْفَائِزُونَ هُمْ الَّذِينَ يَشْتَغِلُونَ بِكَلَامِ اللَّهِ يَشْتَغِلُونَ بِالْقُرْآنِ
Kita memiliki banyak kelalaian. Sekiranya seseorang, ketika azan berkumandang, ia meninggalkan seluruh kesibukannya, sebagaimana dahulu para salaf melakukannya. Diriwayatkan dari sebagian salaf, bahwa ketika ia mengangkat palunya—ia seorang pandai besi—ketika mengangkat palunya, lalu muazin mengumandangkan azan, “Allahu Akbar,” ia tidak jadi memukulkan palu itu. Ia langsung melemparnya dari tangannya (lalu segera ke Masjid). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu, ketika sedang membantu pekerjaan keluarganya, lalu, apabila azan berkumandang, beliau seakan-akan tidak lagi mengenal mereka. Sekiranya setiap kita, apabila azan berkumandang, segera berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu segera berangkat menuju masjid, melaksanakan salat dua rakaat, kemudian membuka mushaf, berapa ayat yang bisa ia baca? Itu jauh lebih baik baginya daripada sibuk dengan urusan dunia, lalu mendapatkan harta yang melimpah. Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, orang-orang kaya yang sejati adalah Ahlul Qur’an. Orang-orang kaya yang benar-benar sukses, adalah mereka yang disibukkan dengan firman Allah. Mereka sibuk dengan Al-Qur’an. ===== عِنْدَنَا إِهْمَالٌ كَثِيرٌ لَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ تَرَكَ كُلَّ شَيْءٍ كَمَا كَانَ السَّلَفُ يَعْمَلُونَ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ حَدَّادٌ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ فَقَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ مَا يُنْزِلُهَا يَرْمِيهَا مِنْ يَدِهِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا أَذَّنَ كَأَنَّهُ لَا يَعْرِفُهُمْ لَوْ أَنَّ الْوَاحِدَ مِنَّا إِذَا أَذَّنَ تَوَضَّأَ وَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ وَغَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ فَتَحَ الْمُصْحَفَ كَمْ آيَةً سَيَقْرَأُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالدُّنْيَا وَيُحَصِّلَ الْأَمْوَالَ الْعَظِيمَةَ وَاللَّهِ يَا إِخْوَةُ الْأَغْنِيَاءُ حَقًّا هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ الْأَغْنِيَاءُ الْفَائِزُونَ هُمْ الَّذِينَ يَشْتَغِلُونَ بِكَلَامِ اللَّهِ يَشْتَغِلُونَ بِالْقُرْآنِ


Kita memiliki banyak kelalaian. Sekiranya seseorang, ketika azan berkumandang, ia meninggalkan seluruh kesibukannya, sebagaimana dahulu para salaf melakukannya. Diriwayatkan dari sebagian salaf, bahwa ketika ia mengangkat palunya—ia seorang pandai besi—ketika mengangkat palunya, lalu muazin mengumandangkan azan, “Allahu Akbar,” ia tidak jadi memukulkan palu itu. Ia langsung melemparnya dari tangannya (lalu segera ke Masjid). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu, ketika sedang membantu pekerjaan keluarganya, lalu, apabila azan berkumandang, beliau seakan-akan tidak lagi mengenal mereka. Sekiranya setiap kita, apabila azan berkumandang, segera berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu segera berangkat menuju masjid, melaksanakan salat dua rakaat, kemudian membuka mushaf, berapa ayat yang bisa ia baca? Itu jauh lebih baik baginya daripada sibuk dengan urusan dunia, lalu mendapatkan harta yang melimpah. Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, orang-orang kaya yang sejati adalah Ahlul Qur’an. Orang-orang kaya yang benar-benar sukses, adalah mereka yang disibukkan dengan firman Allah. Mereka sibuk dengan Al-Qur’an. ===== عِنْدَنَا إِهْمَالٌ كَثِيرٌ لَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ تَرَكَ كُلَّ شَيْءٍ كَمَا كَانَ السَّلَفُ يَعْمَلُونَ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ حَدَّادٌ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ فَقَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ مَا يُنْزِلُهَا يَرْمِيهَا مِنْ يَدِهِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا أَذَّنَ كَأَنَّهُ لَا يَعْرِفُهُمْ لَوْ أَنَّ الْوَاحِدَ مِنَّا إِذَا أَذَّنَ تَوَضَّأَ وَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ وَغَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ فَتَحَ الْمُصْحَفَ كَمْ آيَةً سَيَقْرَأُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالدُّنْيَا وَيُحَصِّلَ الْأَمْوَالَ الْعَظِيمَةَ وَاللَّهِ يَا إِخْوَةُ الْأَغْنِيَاءُ حَقًّا هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ الْأَغْنِيَاءُ الْفَائِزُونَ هُمْ الَّذِينَ يَشْتَغِلُونَ بِكَلَامِ اللَّهِ يَشْتَغِلُونَ بِالْقُرْآنِ
Prev     Next