Overthinking tentang Hari Tua: Bagaimana Islam Mengatasinya?

Semakin bertambah usia, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul dalam benak seseorang. “Bagaimana jika nanti aku sakit?”, “Siapa yang akan merawatku?”, atau “Apakah aku masih bisa beribadah dengan baik?” Jika pertanyaan-pertanyaan itu terus menguasai hati hingga menghilangkan ketenangan, berarti seseorang telah terjebak dalam overthinking tentang masa tua. Islam tidak mengajarkan kita hidup dalam bayang-bayang ketakutan, tetapi mempersiapkan masa depan dengan keyakinan kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Beberapa Kekhawatiran yang Paling Sering Muncul tentang Masa Tua 1.1. 1. Takut Kehilangan Kesehatan 1.2. 2. Takut Kehilangan Kemandirian 1.3. 3. Takut Kekurangan Harta 1.4. 4. Takut Kesepian 2. Mengapa Banyak Orang Overthinking tentang Masa Tua? 3. Islam Tidak Melarang Memikirkan Masa Tua 4. Bahaya Overthinking tentang Masa Tua 5. Jangan Bertanya “Kapan Aku Tua?”, Tetapi “Apa Bekalku?” 6. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul Jauzi 7. Doa Agar Tidak Overthinking dengan Masa Tua  Baca juga: Overthinking dalam Islam: Kapan Berpikir Menjadi Masalah? Beberapa Kekhawatiran yang Paling Sering Muncul tentang Masa TuaBerbagai penelitian dalam bidang psikologi dan kesehatan lansia menunjukkan bahwa ketika seseorang mulai memikirkan masa tua, kekhawatirannya umumnya berputar pada beberapa hal berikut.1. Takut Kehilangan KesehatanInilah kekhawatiran yang paling banyak dirasakan.Seseorang mulai membayangkan dirinya terserang penyakit kronis, sulit berjalan, tidak mampu lagi beraktivitas, atau mengalami penurunan daya ingat. Bahkan, sebagian orang yang masih sehat sudah merasa cemas terhadap penyakit yang belum tentu akan menimpanya.Islam mengajarkan agar seorang muslim menjaga kesehatan sebagai nikmat Allah, tetapi tidak tenggelam dalam ketakutan terhadap sesuatu yang masih berada dalam ketentuan-Nya. 2. Takut Kehilangan KemandirianBanyak orang sebenarnya bukan takut sakit, melainkan takut bergantung kepada orang lain.Mereka khawatir suatu saat tidak mampu mengurus dirinya sendiri, harus dibantu ketika makan, berjalan, atau menjalankan aktivitas sehari-hari. Perasaan menjadi beban bagi keluarga sering kali lebih menakutkan daripada penyakit itu sendiri.Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan doa agar tidak dikembalikan kepada أَرْذَلِ الْعُمُرِ, yaitu usia yang sangat lemah sehingga kemampuan fisik dan akal mengalami penurunan. 3. Takut Kekurangan HartaSetelah tidak lagi produktif bekerja, sebagian orang mulai bertanya,“Apakah tabunganku cukup?”“Bagaimana jika biaya berobat sangat mahal?”“Bagaimana jika aku hidup lebih lama daripada kemampuan finansialku?”Kekhawatiran seperti ini dapat mendorong seseorang menjadi terlalu pelit, sulit bersedekah, bahkan kehilangan tawakal kepada Allah. 4. Takut KesepianManusia diciptakan sebagai makhluk sosial.Karena itu, tidak sedikit orang yang membayangkan masa tua sebagai masa yang sunyi. Mereka khawatir pasangan meninggal lebih dahulu, anak-anak tinggal berjauhan, atau tidak lagi memiliki teman berbagi cerita.Padahal, seorang mukmin yang hatinya dekat dengan Allah tidak pernah benar-benar sendirian. Ia selalu ditemani dengan zikir, doa, Al-Qur’an, dan amal saleh. Mengapa Banyak Orang Overthinking tentang Masa Tua?Tidak sedikit orang yang belum memasuki usia lanjut, tetapi pikirannya sudah dipenuhi berbagai kekhawatiran tentang masa tua. Ketika usia bertambah, bayangan tentang hari-hari yang akan datang mulai bermunculan. Ada yang membayangkan dirinya akan jatuh sakit, ada yang khawatir tidak lagi produktif, ada pula yang takut menjadi beban bagi keluarga.Berbagai pertanyaan pun memenuhi benaknya.“Bagaimana nanti ketika pensiun dan tidak lagi memiliki penghasilan?”“Kalau suatu saat aku sakit, siapa yang akan merawatku?”“Bagaimana jika pasangan meninggal lebih dahulu sehingga aku harus hidup sendirian?”“Bagaimana jika anak-anak sibuk dengan keluarganya masing-masing dan tidak lagi memperhatikanku?”“Bagaimana jika tabunganku habis sebelum ajal datang?”“Bagaimana jika aku mengalami pikun dan tidak mampu lagi mengurus diri sendiri?”“Bagaimana jika di usia tua aku tidak lagi memiliki teman dan harus menjalani hari-hari seorang diri?”Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sesungguhnya merupakan sesuatu yang manusiawi. Islam tidak melarang seseorang memikirkan masa depan atau mempersiapkan hari tua. Bahkan seorang muslim dianjurkan bekerja, menjaga kesehatan, mengelola harta dengan baik, mendidik anak-anak, serta memperbanyak amal saleh sebagai bekal menghadapi masa depan.Namun, masalah muncul ketika kekhawatiran tersebut terus berputar di dalam pikiran hingga menguasai hati. Seseorang akhirnya lebih sibuk membayangkan berbagai kemungkinan buruk daripada menjalani hari ini dengan penuh syukur dan ketaatan. Ia merasa cemas terhadap sesuatu yang bahkan belum tentu akan terjadi.Di sinilah overthinking mulai menggerogoti ketenangan hati.Padahal, salah satu cara setan melemahkan manusia adalah dengan memenuhi hatinya dengan rasa takut terhadap masa depan, terutama ketakutan terhadap kemiskinan. Allah Ta’ala berfirman,ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan kepadamu ampunan dan karunia-Nya. Allah Mahaluas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.“(QS. Al-Baqarah: 268)Ayat ini menunjukkan bahwa rasa takut terhadap masa depan dapat menjadi pintu masuk bagi setan untuk melemahkan keyakinan seorang hamba kepada Rabbnya. Setan terus membisikkan bahwa masa depan akan penuh kesulitan, harta akan habis, kesehatan akan hilang, dan kehidupan akan semakin berat. Sebaliknya, Allah menguatkan hati orang-orang beriman dengan janji ampunan, pertolongan, dan karunia-Nya.Dalam Tafsir Ibnu Katsir mengenai ayat ini disebutkan: Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ لِلشَّيْطَانِ لَمَّةً بِابْنِ آدَمَ، وَلِلْمَلَكِ لَمَّةً، فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِيعَادٌ بِالشَّرِّ وَتَكْذِيبٌ بِالْحَقِّ، وَأَمَّا لَمَّةُ الْمَلَكِ فَإِيعَادٌ بِالْخَيْرِ وَتَصْدِيقٌ بِالْحَقِّ، فَمَنْ وَجَدَ ذَلِكَ فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مِنَ اللَّهِ، فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ الْأُخْرَى فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ.“Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada hati anak Adam, demikian pula malaikat memiliki bisikan. Bisikan setan adalah menjanjikan keburukan dan membuat seseorang mendustakan kebenaran. Adapun bisikan malaikat adalah menjanjikan kebaikan dan mendorong untuk membenarkan kebenaran. Barang siapa merasakan bisikan yang baik itu, hendaklah ia mengetahui bahwa itu berasal dari Allah, lalu hendaklah ia memuji Allah. Sebaliknya, barang siapa merasakan bisikan yang lain, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari setan.”Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman Allah,﴿الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾ [البقرة: ٢٦٨]“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji. Sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 268).Tentu saja, tidak setiap kekhawatiran berasal dari setan. Rasa takut terhadap masa depan adalah fitrah manusia. Akan tetapi, ketika rasa takut itu membuat seseorang kehilangan ketenangan, berburuk sangka kepada Allah, enggan beramal, bahkan selalu dihantui berbagai kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi, maka rasa takut tersebut telah berubah menjadi overthinking yang melemahkan tawakal.Seorang mukmin diperintahkan untuk mempersiapkan masa depan dengan ikhtiar yang benar, tetapi hatinya tetap bersandar kepada Allah. Ia merencanakan kehidupan hari esok, namun tidak membiarkan pikirannya dikuasai oleh bayangan-bayangan buruk yang belum tentu menjadi kenyataan. Inilah keseimbangan yang diajarkan Islam: berikhtiar tanpa kehilangan tawakal, dan berpikir tanpa terjerumus dalam overthinking. Islam Tidak Melarang Memikirkan Masa TuaSebagian orang mengira bahwa memikirkan masa tua berarti kurang bertawakal kepada Allah. Anggapan ini tidak tepat. Islam tidak pernah melarang seorang muslim mempersiapkan masa depannya. Bahkan, syariat justru mendorong seorang hamba untuk berikhtiar dan mempersiapkan bekal sebelum datang hari-hari yang membutuhkan persiapan tersebut.Perbedaannya terletak pada sikap hati. Islam mengajarkan persiapan, bukan kepanikan. Islam mendorong seorang muslim berpikir jauh ke depan, tetapi tidak membiarkan pikirannya terus-menerus dipenuhi kecemasan yang melemahkan semangat hidup dan ibadah.Persiapan menghadapi masa tua dapat dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya adalah memperbanyak amal saleh sebagai bekal menghadap Allah, menjaga kesehatan agar tetap kuat beribadah, bekerja dan mengelola harta dengan baik, memperbanyak doa memohon keberkahan usia, serta mendidik anak-anak menjadi pribadi yang saleh sehingga kelak menjadi penyejuk hati dan terus mendoakan kedua orang tuanya.Doa yang bisa kita amalkan,اللَّهُمَّ أَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي، وَاغْفِرْ لِيAllāhumma aṭil ḥayātī ‘alā ṭā’atik, wa aḥsin ‘amalī, waghfir lī.“Ya Allah, panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.”Doa ini bersumber dari hadits dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah dari ayahnya (Abu Bakrah) bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ »“Wahai Rasulullah, manusia seperti apa yang dikatakan baik?” Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya dan baik amalnya.” “Lalu manusia seperti apa yang dikatakan jelek?”, tanya laki-laki tadi. Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya namun jelek amalnya.” (HR. Tirmidzi, no. 2330. Beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadits ini shahih lighairihi). Yang dimaksud dengan “baik amalnya” adalah apabila amalan tersebut dilakukan dengan ikhlas dan ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Bahaya Overthinking tentang Masa TuaOverthinking tentang masa tua tidak membuat seseorang lebih siap menghadapinya. Sebaliknya, hal itu justru menguras energi, menghilangkan ketenangan, dan membuat seseorang sulit menikmati nikmat yang Allah berikan hari ini.Orang yang terus-menerus dikuasai overthinking biasanya akan mengalami beberapa dampak berikut.Sulit menikmati usia yang sedang dijalani. Pikirannya terus melayang kepada masa depan hingga lupa mensyukuri nikmat hari ini.Selalu dihantui rasa cemas. Setiap kemungkinan buruk dibayangkan seolah-olah pasti akan terjadi.Kurang bersyukur atas karunia Allah. Fokusnya lebih tertuju pada apa yang mungkin hilang daripada nikmat yang masih dimiliki.Semangat beribadah mulai melemah. Waktu dan pikirannya habis untuk mencemaskan masa depan, bukan memperbanyak bekal menuju akhirat.Mudah berputus asa. Ia merasa masa depannya suram sebelum benar-benar mengalaminya.Padahal, tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah ia benar-benar akan sampai pada usia tua. Bisa jadi seseorang begitu sibuk mengkhawatirkan masa tuanya, padahal ajal menjemput lebih dahulu. Karena itu, seorang mukmin hendaknya lebih banyak mempersiapkan amal saleh daripada menghabiskan waktu untuk mencemaskan sesuatu yang masih berada dalam ilmu Allah. Jangan Bertanya “Kapan Aku Tua?”, Tetapi “Apa Bekalku?”Salah satu penyebab overthinking tentang masa tua adalah karena seseorang terlalu sibuk memikirkan kapan berbagai hal buruk akan terjadi. Ia terus bertanya, “Kapan aku sakit?”, “Kapan aku menjadi lemah?”, atau “Kapan ajal akan menjemputku?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak akan memberikan ketenangan, karena tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan semua itu akan terjadi.Islam mengajarkan cara pandang yang berbeda. Yang terpenting bukanlah mengetahui kapan kematian datang, tetapi bagaimana keadaan kita ketika kematian itu datang. Karena itu, seorang muslim tidak diperintahkan untuk sibuk menebak sisa umurnya, melainkan mempersiapkan bekal terbaik sebelum ajal tiba.Rasulullah ﷺ bahkan menganjurkan umatnya untuk sering mengingat kematian. Tujuannya bukan agar hidup dipenuhi rasa takut dan kecemasan, melainkan agar seseorang semakin semangat bertobat, memperbanyak amal saleh, dan tidak terlena oleh kehidupan dunia. Mengingat kematian yang benar akan mendorong seseorang menjadi lebih baik, bukan membuatnya putus asa atau kehilangan semangat hidup.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan” (HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani). Yang dimaksud adalah kematian. Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,وَلِهَذَا نَقُولُ: أَنْتَ لَا تَسْأَلُ مَتَى تَمُوتُ، وَلَا أَيْنَ تَمُوتُ؛ لِأَنَّ هَذَا أَمْرٌ لَا يَحْتَاجُ إِلَى سُؤَالٍ، أَمْرٌ مَفْرُوغٌ مِنْهُ، وَلَابُدَّ أَنْ يَكُونَ، وَمَهْمَا طَالَتْ بِكَ الدُّنْيَا، فَكَأَنَّمَا بَقِيتَ يَوْمًا وَاحِدًا، بَلْ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا﴾ [النَّازِعَاتِ: ٤٦]. وَلَكِنِ السُّؤَالُ الَّذِي يَجِبُ أَنْ يَرِدَ عَلَى النَّفْسِ، وَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ لَدَيْكَ جَوَابٌ عَلَيْهِ هُوَ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ؟! وَلَسْتُ أُرِيدُ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ، هَلْ أَنْتَ غَنِيٌّ أَوْ فَقِيرٌ، أَوْ قَوِيٌّ أَوْ ضَعِيفٌ، أَوْ ذُو عِيَالٍ أَوْ عَقِيمٌ، بَلْ عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ فِي الْعَمَلِ؟ فَإِذَا كُنْتَ تُسَائِلُ نَفْسَكَ هَذَا السُّؤَالَ، فَلَابُدَّ أَنْ تَسْتَعِدَّ؛ لِأَنَّكَ لَا تَدْرِي مَتَى يَفْجَؤُكَ الْمَوْتُ، كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ خَرَجَ يَقُودُ سَيَّارَتَهُ، وَرَجَعَ بِهِ مَحْمُولًا عَلَى الْأَكْتَافِ، وَكَمْ مِنْ إِنْسَانٍ خَرَجَ مِنْ أَهْلِهِ يَقُولُ: هَيِّئُوا لِي طَعَامَ الْغَدَاءِ أَوِ الْعَشَاءِ، وَلَكِنْ لَمْ يَأْكُلْهُ، وَكَمْ مِنْ إِنْسَانٍ لَبِسَ قَمِيصَهُ وَزَرَّ أَزِرَّتَهُ، وَلَمْ يَفُكَّهَا إِلَّا الْغَاسِلُ يُغَسِّلُهُ. هَذَا أَمْرٌ مُشَاهَدٌ بِحَوَادِثِ الْبَغْتَةِ، فَانْظُرِ الْآنَ وَفَكِّرْ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ؟ وَلِهَذَا يَنْبَغِي لَكَ أَنْ تُكْثِرَ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ مَا اسْتَطَعْتَ، فَإِنَّ الِاسْتِغْفَارَ فِيهِ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا.“Karena itu, kami mengatakan: Janganlah engkau bertanya, ‘Kapan aku akan mati?’ atau ‘Di mana aku akan mati?’ Sebab, hal itu tidak perlu dipertanyakan. Semua itu telah Allah tetapkan dan pasti akan terjadi. Seandainya pun umurmu sangat panjang, pada akhirnya kehidupan dunia akan terasa seolah-olah hanya berlangsung sehari saja. Bahkan Allah berfirman,‘Pada hari mereka melihat hari Kiamat itu, mereka merasa seakan-akan hanya tinggal di dunia pada waktu sore atau pagi hari saja.’ (QS. An-Nazi’at: 46)Namun, pertanyaan yang seharusnya selalu engkau ajukan kepada dirimu adalah: ‘Dalam keadaan bagaimana aku akan mati?’ Bukan apakah saat itu engkau kaya atau miskin, kuat atau lemah, memiliki banyak anak atau tidak. Akan tetapi, dalam keadaan bagaimana amalmu ketika kematian datang?Jika engkau terus menanyakan hal itu kepada dirimu, tentu engkau akan mempersiapkan diri. Sebab, tidak ada yang tahu kapan kematian datang secara tiba-tiba. Betapa banyak orang yang keluar mengendarai mobilnya, tetapi pulang dalam keadaan dipikul di atas bahu. Betapa banyak orang yang berpamitan kepada keluarganya sambil berkata, ‘Siapkan makan siang atau makan malam untukku,’ tetapi ternyata ia tidak sempat memakannya. Betapa banyak orang yang mengenakan bajunya dan mengancingkannya, namun tidak ada yang membuka kancing itu selain orang yang memandikannya setelah ia meninggal dunia. Peristiwa seperti ini sering kita saksikan dalam kehidupan. Karena itu, renungkanlah, dalam keadaan bagaimana engkau ingin menemui kematian.Oleh sebab itu, perbanyaklah istigfar semampumu. Sebab, dengan istigfar Allah memberikan jalan keluar dari setiap kegelisahan dan memberikan kelapangan dari setiap kesempitan.” (Liqā’ al-Bāb al-Maftūḥ, pertemuan ke-17).Inilah yang membedakan seorang mukmin dengan orang yang dikuasai overthinking. Orang yang overthinking menghabiskan waktunya untuk mencemaskan masa depan yang belum tentu terjadi. Adapun seorang mukmin menggunakan waktunya untuk memperbaiki amal hari ini, karena ia sadar bahwa kapan pun kematian datang, bekal terbaik yang dapat dibawa hanyalah iman dan amal saleh. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul JauziImam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata dalam kitab Shaid Al-Khathir:اَلْعَاقِلُ مَنْ فَهِمَ مَقَادِيرَ الزَّمَانِ؛ فَإِنَّهُ فِيمَا قَبْلَ الْبُلُوغِ صَبِيٌّ، لَيْسَ عَلَى عُمُرِهِ عِيَارٌ. فَإِذَا بَلَغَ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ زَمَانُ الْمُجَاهَدَةِ لِلْهَوَى، وَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ. فَإِذَا رُزِقَ الْأَوْلَادَ، فَهُوَ زَمَانُ الْكَسْبِ لِلْمَعَاشِ. فَإِذَا بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ، انْتَهَى تَمَامُهُ، وَقَضَى مَنَاسِكَ الْأَجَلِ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا الِانْحِدَارُ إِلَى الْوَطَنِ. كَأَنَّ الْفَتَى يَرْقَى مِنَ الْعُمْرِ سُلَّمًا … إِلَى أَنْ يُجَاوِزَ الْأَرْبَعِينَ وَيَنْحَطَّ فَيَنْبَغِي لَهُ عِنْدَ تَمَامِ الْأَرْبَعِينَ أَنْ يَجْعَلَ جُلَّ هِمَّتِهِ التَّزَوُّدَ لِلْآخِرَةِ، وَيَكُونَ كُلُّ تَلَمُّحِهِ لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ، وَيَأْخُذَ فِي الِاسْتِعْدَادِ لِلرَّحِيلِ، وَإِنْ كَانَ الْخِطَابُ بِهَذَا لِابْنِ عِشْرِينَ، إِلَّا أَنَّ رَجَاءَ التَّدَارُكِ فِي حَقِّ الصَّغِيرِ، لَا فِي حَقِّ الْكَبِيرِ. فَإِذَا بَلَغَ السِّتِّينَ؛ فَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ فِي الْأَجَلِ، وَجَازَ مِنَ الزَّمَنِ، فَلْيُقْبِلْ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى جَمْعِ زَادِهِ، وَتَهْيِئَةِ آلَاتِ السَّفَرِ، وَلْيَعْتَقِدْ أَنَّ كُلَّ يَوْمٍ يَحْيَا فِيهِ غَنِيمَةٌ، مَا هِيَ فِي الْحِسَابِ، خُصُوصًا إِذَا قَوِيَ عَلَيْهِ الضَّعْفُ وَزَادَ. وَكُلَّمَا عَلَتْ سِنُّهُ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَزِيدَ اجْتِهَادُهُ. فَإِذَا دَخَلَ فِي عَشْرِ الثَّمَانِينَ، لَيْسَ إِلَّا الْوَدَاعُ، وَمَا بَقِيَ مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا أَسَفٌ عَلَى تَفْرِيطٍ، أَوْ تَعَبُّدٌ عَلَى ضَعْفٍ. نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقَظَةً تَامَّةً، تَصْرِفُ عَنَّا رُقَادَ الْغَفَلَاتِ، وَعَمَلًا صَالِحًا نَأْمَنُ مَعَهُ مِنَ النَّدَمِ يَوْمَ الِانْتِقَالِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ.“Orang yang berakal adalah orang yang memahami tahapan-tahapan usianya. Sebelum balig, seseorang masih anak-anak sehingga usianya belum menjadi ukuran yang berarti.Ketika telah baligh, ia harus menyadari bahwa inilah masa untuk melawan hawa nafsu dan menuntut ilmu.Setelah Allah menganugerahinya anak-anak, maka itulah masa untuk bekerja dan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup.Apabila telah mencapai usia empat puluh tahun, berarti masa kesempurnaannya telah berlalu. Ia telah menempuh sebagian besar perjalanan hidupnya, dan setelah itu tinggal menuruni perjalanan menuju kampung akhirat.Seakan-akan seseorang menaiki tangga demi tangga sepanjang usianya, hingga ketika melewati usia empat puluh tahun, ia mulai menuruni tangga tersebut.Karena itu, ketika genap berusia empat puluh tahun, hendaknya sebagian besar perhatian dan cita-citanya diarahkan untuk memperbanyak bekal menuju akhirat. Pandangannya hendaknya lebih banyak tertuju kepada kehidupan yang akan dihadapinya nanti, lalu mulai bersiap-siap untuk perjalanan menuju akhirat. Nasihat ini sebenarnya juga berlaku bagi orang yang berusia dua puluh tahun. Hanya saja, kesempatan untuk memperbaiki diri masih lebih luas bagi orang yang muda dibandingkan orang yang sudah tua.Apabila seseorang telah mencapai usia enam puluh tahun, berarti Allah telah memberikan kesempatan yang panjang kepadanya. Hendaklah ia benar-benar memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengumpulkan bekal akhirat dan mempersiapkan perjalanan menuju kehidupan setelah mati. Hendaknya ia meyakini bahwa setiap hari tambahan umur yang masih Allah berikan adalah keuntungan besar yang tidak ternilai, terlebih ketika kelemahan fisik semakin terasa.Semakin bertambah usianya, hendaknya semakin besar pula kesungguhannya dalam beribadah.Apabila seseorang telah memasuki usia delapan puluh tahun, maka yang tersisa hanyalah menanti perpisahan dengan dunia. Sisa usianya biasanya hanya diisi oleh penyesalan atas kelalaian yang telah lalu atau beribadah dalam keadaan fisik yang telah lemah.Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menganugerahkan kepada kita hati yang selalu terjaga sehingga terhindar dari kelalaian, serta amal saleh yang membuat kita selamat dari penyesalan ketika tiba saat meninggalkan dunia. Hanya Allah-lah yang memberikan taufik.” Doa Agar Tidak Overthinking dengan Masa TuaDoa #05 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa Berlindung dari Kemalasan Beribadah, Masa Tua yang Jelek, dan Syahwat Duniaاللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL JUBNI, WA A’UUDZU BIKA AN ARUDDA ILAA ARDZALIL ‘UMUR, WA A’UUDZU BIKA MIN FITNATID DUN-YAA, WA A’UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL QOBRI. Artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari sifat lemah dalam melakukan ibadah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari keadaan tua yang jelek, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari godaan syahwat dunia (sehingga lalai dari kewajiban, pen.), dan aku meminta perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur. (HR. Bukhari, no. 2822) Doa #08 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa agar Diperbagus Setiap Urusanاللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُوْرِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِALLOOHUMMA AHSIN ‘AAQIBATANAA FIL UMUURI KULLIHAA, WA AJIRNAA MIN KHIZYID DUN-YAA WA ‘ADZAAِBIL AAKHIROH.Artinya: Ya Allah, baguskanlah setiap akhir urusan kami, dan selamatkanlah dari kebinasaan di dunia dan dari siksa akhirat. (HR. Ahmad, 4:181, dari Busr bin Arthah Al-Qurasyi) Doa #13 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa Meminta Panjang Umur dan Bagusnya Amalاللَّهُمَّ أَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي، وَاغْفِرْ لِيAllāhumma aṭil ḥayātī ‘alā ṭā’atik, wa aḥsin ‘amalī, waghfir lī.“Ya Allah, panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.”  —– Selasa, 21 Juli 2027Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh doa nabi hari tua husnul khatimah kematian masa tua overthinking persiapan akhirat psikologi Islam tawakal

Overthinking tentang Hari Tua: Bagaimana Islam Mengatasinya?

Semakin bertambah usia, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul dalam benak seseorang. “Bagaimana jika nanti aku sakit?”, “Siapa yang akan merawatku?”, atau “Apakah aku masih bisa beribadah dengan baik?” Jika pertanyaan-pertanyaan itu terus menguasai hati hingga menghilangkan ketenangan, berarti seseorang telah terjebak dalam overthinking tentang masa tua. Islam tidak mengajarkan kita hidup dalam bayang-bayang ketakutan, tetapi mempersiapkan masa depan dengan keyakinan kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Beberapa Kekhawatiran yang Paling Sering Muncul tentang Masa Tua 1.1. 1. Takut Kehilangan Kesehatan 1.2. 2. Takut Kehilangan Kemandirian 1.3. 3. Takut Kekurangan Harta 1.4. 4. Takut Kesepian 2. Mengapa Banyak Orang Overthinking tentang Masa Tua? 3. Islam Tidak Melarang Memikirkan Masa Tua 4. Bahaya Overthinking tentang Masa Tua 5. Jangan Bertanya “Kapan Aku Tua?”, Tetapi “Apa Bekalku?” 6. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul Jauzi 7. Doa Agar Tidak Overthinking dengan Masa Tua  Baca juga: Overthinking dalam Islam: Kapan Berpikir Menjadi Masalah? Beberapa Kekhawatiran yang Paling Sering Muncul tentang Masa TuaBerbagai penelitian dalam bidang psikologi dan kesehatan lansia menunjukkan bahwa ketika seseorang mulai memikirkan masa tua, kekhawatirannya umumnya berputar pada beberapa hal berikut.1. Takut Kehilangan KesehatanInilah kekhawatiran yang paling banyak dirasakan.Seseorang mulai membayangkan dirinya terserang penyakit kronis, sulit berjalan, tidak mampu lagi beraktivitas, atau mengalami penurunan daya ingat. Bahkan, sebagian orang yang masih sehat sudah merasa cemas terhadap penyakit yang belum tentu akan menimpanya.Islam mengajarkan agar seorang muslim menjaga kesehatan sebagai nikmat Allah, tetapi tidak tenggelam dalam ketakutan terhadap sesuatu yang masih berada dalam ketentuan-Nya. 2. Takut Kehilangan KemandirianBanyak orang sebenarnya bukan takut sakit, melainkan takut bergantung kepada orang lain.Mereka khawatir suatu saat tidak mampu mengurus dirinya sendiri, harus dibantu ketika makan, berjalan, atau menjalankan aktivitas sehari-hari. Perasaan menjadi beban bagi keluarga sering kali lebih menakutkan daripada penyakit itu sendiri.Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan doa agar tidak dikembalikan kepada أَرْذَلِ الْعُمُرِ, yaitu usia yang sangat lemah sehingga kemampuan fisik dan akal mengalami penurunan. 3. Takut Kekurangan HartaSetelah tidak lagi produktif bekerja, sebagian orang mulai bertanya,“Apakah tabunganku cukup?”“Bagaimana jika biaya berobat sangat mahal?”“Bagaimana jika aku hidup lebih lama daripada kemampuan finansialku?”Kekhawatiran seperti ini dapat mendorong seseorang menjadi terlalu pelit, sulit bersedekah, bahkan kehilangan tawakal kepada Allah. 4. Takut KesepianManusia diciptakan sebagai makhluk sosial.Karena itu, tidak sedikit orang yang membayangkan masa tua sebagai masa yang sunyi. Mereka khawatir pasangan meninggal lebih dahulu, anak-anak tinggal berjauhan, atau tidak lagi memiliki teman berbagi cerita.Padahal, seorang mukmin yang hatinya dekat dengan Allah tidak pernah benar-benar sendirian. Ia selalu ditemani dengan zikir, doa, Al-Qur’an, dan amal saleh. Mengapa Banyak Orang Overthinking tentang Masa Tua?Tidak sedikit orang yang belum memasuki usia lanjut, tetapi pikirannya sudah dipenuhi berbagai kekhawatiran tentang masa tua. Ketika usia bertambah, bayangan tentang hari-hari yang akan datang mulai bermunculan. Ada yang membayangkan dirinya akan jatuh sakit, ada yang khawatir tidak lagi produktif, ada pula yang takut menjadi beban bagi keluarga.Berbagai pertanyaan pun memenuhi benaknya.“Bagaimana nanti ketika pensiun dan tidak lagi memiliki penghasilan?”“Kalau suatu saat aku sakit, siapa yang akan merawatku?”“Bagaimana jika pasangan meninggal lebih dahulu sehingga aku harus hidup sendirian?”“Bagaimana jika anak-anak sibuk dengan keluarganya masing-masing dan tidak lagi memperhatikanku?”“Bagaimana jika tabunganku habis sebelum ajal datang?”“Bagaimana jika aku mengalami pikun dan tidak mampu lagi mengurus diri sendiri?”“Bagaimana jika di usia tua aku tidak lagi memiliki teman dan harus menjalani hari-hari seorang diri?”Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sesungguhnya merupakan sesuatu yang manusiawi. Islam tidak melarang seseorang memikirkan masa depan atau mempersiapkan hari tua. Bahkan seorang muslim dianjurkan bekerja, menjaga kesehatan, mengelola harta dengan baik, mendidik anak-anak, serta memperbanyak amal saleh sebagai bekal menghadapi masa depan.Namun, masalah muncul ketika kekhawatiran tersebut terus berputar di dalam pikiran hingga menguasai hati. Seseorang akhirnya lebih sibuk membayangkan berbagai kemungkinan buruk daripada menjalani hari ini dengan penuh syukur dan ketaatan. Ia merasa cemas terhadap sesuatu yang bahkan belum tentu akan terjadi.Di sinilah overthinking mulai menggerogoti ketenangan hati.Padahal, salah satu cara setan melemahkan manusia adalah dengan memenuhi hatinya dengan rasa takut terhadap masa depan, terutama ketakutan terhadap kemiskinan. Allah Ta’ala berfirman,ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan kepadamu ampunan dan karunia-Nya. Allah Mahaluas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.“(QS. Al-Baqarah: 268)Ayat ini menunjukkan bahwa rasa takut terhadap masa depan dapat menjadi pintu masuk bagi setan untuk melemahkan keyakinan seorang hamba kepada Rabbnya. Setan terus membisikkan bahwa masa depan akan penuh kesulitan, harta akan habis, kesehatan akan hilang, dan kehidupan akan semakin berat. Sebaliknya, Allah menguatkan hati orang-orang beriman dengan janji ampunan, pertolongan, dan karunia-Nya.Dalam Tafsir Ibnu Katsir mengenai ayat ini disebutkan: Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ لِلشَّيْطَانِ لَمَّةً بِابْنِ آدَمَ، وَلِلْمَلَكِ لَمَّةً، فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِيعَادٌ بِالشَّرِّ وَتَكْذِيبٌ بِالْحَقِّ، وَأَمَّا لَمَّةُ الْمَلَكِ فَإِيعَادٌ بِالْخَيْرِ وَتَصْدِيقٌ بِالْحَقِّ، فَمَنْ وَجَدَ ذَلِكَ فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مِنَ اللَّهِ، فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ الْأُخْرَى فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ.“Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada hati anak Adam, demikian pula malaikat memiliki bisikan. Bisikan setan adalah menjanjikan keburukan dan membuat seseorang mendustakan kebenaran. Adapun bisikan malaikat adalah menjanjikan kebaikan dan mendorong untuk membenarkan kebenaran. Barang siapa merasakan bisikan yang baik itu, hendaklah ia mengetahui bahwa itu berasal dari Allah, lalu hendaklah ia memuji Allah. Sebaliknya, barang siapa merasakan bisikan yang lain, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari setan.”Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman Allah,﴿الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾ [البقرة: ٢٦٨]“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji. Sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 268).Tentu saja, tidak setiap kekhawatiran berasal dari setan. Rasa takut terhadap masa depan adalah fitrah manusia. Akan tetapi, ketika rasa takut itu membuat seseorang kehilangan ketenangan, berburuk sangka kepada Allah, enggan beramal, bahkan selalu dihantui berbagai kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi, maka rasa takut tersebut telah berubah menjadi overthinking yang melemahkan tawakal.Seorang mukmin diperintahkan untuk mempersiapkan masa depan dengan ikhtiar yang benar, tetapi hatinya tetap bersandar kepada Allah. Ia merencanakan kehidupan hari esok, namun tidak membiarkan pikirannya dikuasai oleh bayangan-bayangan buruk yang belum tentu menjadi kenyataan. Inilah keseimbangan yang diajarkan Islam: berikhtiar tanpa kehilangan tawakal, dan berpikir tanpa terjerumus dalam overthinking. Islam Tidak Melarang Memikirkan Masa TuaSebagian orang mengira bahwa memikirkan masa tua berarti kurang bertawakal kepada Allah. Anggapan ini tidak tepat. Islam tidak pernah melarang seorang muslim mempersiapkan masa depannya. Bahkan, syariat justru mendorong seorang hamba untuk berikhtiar dan mempersiapkan bekal sebelum datang hari-hari yang membutuhkan persiapan tersebut.Perbedaannya terletak pada sikap hati. Islam mengajarkan persiapan, bukan kepanikan. Islam mendorong seorang muslim berpikir jauh ke depan, tetapi tidak membiarkan pikirannya terus-menerus dipenuhi kecemasan yang melemahkan semangat hidup dan ibadah.Persiapan menghadapi masa tua dapat dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya adalah memperbanyak amal saleh sebagai bekal menghadap Allah, menjaga kesehatan agar tetap kuat beribadah, bekerja dan mengelola harta dengan baik, memperbanyak doa memohon keberkahan usia, serta mendidik anak-anak menjadi pribadi yang saleh sehingga kelak menjadi penyejuk hati dan terus mendoakan kedua orang tuanya.Doa yang bisa kita amalkan,اللَّهُمَّ أَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي، وَاغْفِرْ لِيAllāhumma aṭil ḥayātī ‘alā ṭā’atik, wa aḥsin ‘amalī, waghfir lī.“Ya Allah, panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.”Doa ini bersumber dari hadits dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah dari ayahnya (Abu Bakrah) bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ »“Wahai Rasulullah, manusia seperti apa yang dikatakan baik?” Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya dan baik amalnya.” “Lalu manusia seperti apa yang dikatakan jelek?”, tanya laki-laki tadi. Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya namun jelek amalnya.” (HR. Tirmidzi, no. 2330. Beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadits ini shahih lighairihi). Yang dimaksud dengan “baik amalnya” adalah apabila amalan tersebut dilakukan dengan ikhlas dan ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Bahaya Overthinking tentang Masa TuaOverthinking tentang masa tua tidak membuat seseorang lebih siap menghadapinya. Sebaliknya, hal itu justru menguras energi, menghilangkan ketenangan, dan membuat seseorang sulit menikmati nikmat yang Allah berikan hari ini.Orang yang terus-menerus dikuasai overthinking biasanya akan mengalami beberapa dampak berikut.Sulit menikmati usia yang sedang dijalani. Pikirannya terus melayang kepada masa depan hingga lupa mensyukuri nikmat hari ini.Selalu dihantui rasa cemas. Setiap kemungkinan buruk dibayangkan seolah-olah pasti akan terjadi.Kurang bersyukur atas karunia Allah. Fokusnya lebih tertuju pada apa yang mungkin hilang daripada nikmat yang masih dimiliki.Semangat beribadah mulai melemah. Waktu dan pikirannya habis untuk mencemaskan masa depan, bukan memperbanyak bekal menuju akhirat.Mudah berputus asa. Ia merasa masa depannya suram sebelum benar-benar mengalaminya.Padahal, tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah ia benar-benar akan sampai pada usia tua. Bisa jadi seseorang begitu sibuk mengkhawatirkan masa tuanya, padahal ajal menjemput lebih dahulu. Karena itu, seorang mukmin hendaknya lebih banyak mempersiapkan amal saleh daripada menghabiskan waktu untuk mencemaskan sesuatu yang masih berada dalam ilmu Allah. Jangan Bertanya “Kapan Aku Tua?”, Tetapi “Apa Bekalku?”Salah satu penyebab overthinking tentang masa tua adalah karena seseorang terlalu sibuk memikirkan kapan berbagai hal buruk akan terjadi. Ia terus bertanya, “Kapan aku sakit?”, “Kapan aku menjadi lemah?”, atau “Kapan ajal akan menjemputku?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak akan memberikan ketenangan, karena tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan semua itu akan terjadi.Islam mengajarkan cara pandang yang berbeda. Yang terpenting bukanlah mengetahui kapan kematian datang, tetapi bagaimana keadaan kita ketika kematian itu datang. Karena itu, seorang muslim tidak diperintahkan untuk sibuk menebak sisa umurnya, melainkan mempersiapkan bekal terbaik sebelum ajal tiba.Rasulullah ﷺ bahkan menganjurkan umatnya untuk sering mengingat kematian. Tujuannya bukan agar hidup dipenuhi rasa takut dan kecemasan, melainkan agar seseorang semakin semangat bertobat, memperbanyak amal saleh, dan tidak terlena oleh kehidupan dunia. Mengingat kematian yang benar akan mendorong seseorang menjadi lebih baik, bukan membuatnya putus asa atau kehilangan semangat hidup.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan” (HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani). Yang dimaksud adalah kematian. Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,وَلِهَذَا نَقُولُ: أَنْتَ لَا تَسْأَلُ مَتَى تَمُوتُ، وَلَا أَيْنَ تَمُوتُ؛ لِأَنَّ هَذَا أَمْرٌ لَا يَحْتَاجُ إِلَى سُؤَالٍ، أَمْرٌ مَفْرُوغٌ مِنْهُ، وَلَابُدَّ أَنْ يَكُونَ، وَمَهْمَا طَالَتْ بِكَ الدُّنْيَا، فَكَأَنَّمَا بَقِيتَ يَوْمًا وَاحِدًا، بَلْ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا﴾ [النَّازِعَاتِ: ٤٦]. وَلَكِنِ السُّؤَالُ الَّذِي يَجِبُ أَنْ يَرِدَ عَلَى النَّفْسِ، وَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ لَدَيْكَ جَوَابٌ عَلَيْهِ هُوَ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ؟! وَلَسْتُ أُرِيدُ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ، هَلْ أَنْتَ غَنِيٌّ أَوْ فَقِيرٌ، أَوْ قَوِيٌّ أَوْ ضَعِيفٌ، أَوْ ذُو عِيَالٍ أَوْ عَقِيمٌ، بَلْ عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ فِي الْعَمَلِ؟ فَإِذَا كُنْتَ تُسَائِلُ نَفْسَكَ هَذَا السُّؤَالَ، فَلَابُدَّ أَنْ تَسْتَعِدَّ؛ لِأَنَّكَ لَا تَدْرِي مَتَى يَفْجَؤُكَ الْمَوْتُ، كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ خَرَجَ يَقُودُ سَيَّارَتَهُ، وَرَجَعَ بِهِ مَحْمُولًا عَلَى الْأَكْتَافِ، وَكَمْ مِنْ إِنْسَانٍ خَرَجَ مِنْ أَهْلِهِ يَقُولُ: هَيِّئُوا لِي طَعَامَ الْغَدَاءِ أَوِ الْعَشَاءِ، وَلَكِنْ لَمْ يَأْكُلْهُ، وَكَمْ مِنْ إِنْسَانٍ لَبِسَ قَمِيصَهُ وَزَرَّ أَزِرَّتَهُ، وَلَمْ يَفُكَّهَا إِلَّا الْغَاسِلُ يُغَسِّلُهُ. هَذَا أَمْرٌ مُشَاهَدٌ بِحَوَادِثِ الْبَغْتَةِ، فَانْظُرِ الْآنَ وَفَكِّرْ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ؟ وَلِهَذَا يَنْبَغِي لَكَ أَنْ تُكْثِرَ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ مَا اسْتَطَعْتَ، فَإِنَّ الِاسْتِغْفَارَ فِيهِ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا.“Karena itu, kami mengatakan: Janganlah engkau bertanya, ‘Kapan aku akan mati?’ atau ‘Di mana aku akan mati?’ Sebab, hal itu tidak perlu dipertanyakan. Semua itu telah Allah tetapkan dan pasti akan terjadi. Seandainya pun umurmu sangat panjang, pada akhirnya kehidupan dunia akan terasa seolah-olah hanya berlangsung sehari saja. Bahkan Allah berfirman,‘Pada hari mereka melihat hari Kiamat itu, mereka merasa seakan-akan hanya tinggal di dunia pada waktu sore atau pagi hari saja.’ (QS. An-Nazi’at: 46)Namun, pertanyaan yang seharusnya selalu engkau ajukan kepada dirimu adalah: ‘Dalam keadaan bagaimana aku akan mati?’ Bukan apakah saat itu engkau kaya atau miskin, kuat atau lemah, memiliki banyak anak atau tidak. Akan tetapi, dalam keadaan bagaimana amalmu ketika kematian datang?Jika engkau terus menanyakan hal itu kepada dirimu, tentu engkau akan mempersiapkan diri. Sebab, tidak ada yang tahu kapan kematian datang secara tiba-tiba. Betapa banyak orang yang keluar mengendarai mobilnya, tetapi pulang dalam keadaan dipikul di atas bahu. Betapa banyak orang yang berpamitan kepada keluarganya sambil berkata, ‘Siapkan makan siang atau makan malam untukku,’ tetapi ternyata ia tidak sempat memakannya. Betapa banyak orang yang mengenakan bajunya dan mengancingkannya, namun tidak ada yang membuka kancing itu selain orang yang memandikannya setelah ia meninggal dunia. Peristiwa seperti ini sering kita saksikan dalam kehidupan. Karena itu, renungkanlah, dalam keadaan bagaimana engkau ingin menemui kematian.Oleh sebab itu, perbanyaklah istigfar semampumu. Sebab, dengan istigfar Allah memberikan jalan keluar dari setiap kegelisahan dan memberikan kelapangan dari setiap kesempitan.” (Liqā’ al-Bāb al-Maftūḥ, pertemuan ke-17).Inilah yang membedakan seorang mukmin dengan orang yang dikuasai overthinking. Orang yang overthinking menghabiskan waktunya untuk mencemaskan masa depan yang belum tentu terjadi. Adapun seorang mukmin menggunakan waktunya untuk memperbaiki amal hari ini, karena ia sadar bahwa kapan pun kematian datang, bekal terbaik yang dapat dibawa hanyalah iman dan amal saleh. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul JauziImam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata dalam kitab Shaid Al-Khathir:اَلْعَاقِلُ مَنْ فَهِمَ مَقَادِيرَ الزَّمَانِ؛ فَإِنَّهُ فِيمَا قَبْلَ الْبُلُوغِ صَبِيٌّ، لَيْسَ عَلَى عُمُرِهِ عِيَارٌ. فَإِذَا بَلَغَ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ زَمَانُ الْمُجَاهَدَةِ لِلْهَوَى، وَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ. فَإِذَا رُزِقَ الْأَوْلَادَ، فَهُوَ زَمَانُ الْكَسْبِ لِلْمَعَاشِ. فَإِذَا بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ، انْتَهَى تَمَامُهُ، وَقَضَى مَنَاسِكَ الْأَجَلِ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا الِانْحِدَارُ إِلَى الْوَطَنِ. كَأَنَّ الْفَتَى يَرْقَى مِنَ الْعُمْرِ سُلَّمًا … إِلَى أَنْ يُجَاوِزَ الْأَرْبَعِينَ وَيَنْحَطَّ فَيَنْبَغِي لَهُ عِنْدَ تَمَامِ الْأَرْبَعِينَ أَنْ يَجْعَلَ جُلَّ هِمَّتِهِ التَّزَوُّدَ لِلْآخِرَةِ، وَيَكُونَ كُلُّ تَلَمُّحِهِ لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ، وَيَأْخُذَ فِي الِاسْتِعْدَادِ لِلرَّحِيلِ، وَإِنْ كَانَ الْخِطَابُ بِهَذَا لِابْنِ عِشْرِينَ، إِلَّا أَنَّ رَجَاءَ التَّدَارُكِ فِي حَقِّ الصَّغِيرِ، لَا فِي حَقِّ الْكَبِيرِ. فَإِذَا بَلَغَ السِّتِّينَ؛ فَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ فِي الْأَجَلِ، وَجَازَ مِنَ الزَّمَنِ، فَلْيُقْبِلْ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى جَمْعِ زَادِهِ، وَتَهْيِئَةِ آلَاتِ السَّفَرِ، وَلْيَعْتَقِدْ أَنَّ كُلَّ يَوْمٍ يَحْيَا فِيهِ غَنِيمَةٌ، مَا هِيَ فِي الْحِسَابِ، خُصُوصًا إِذَا قَوِيَ عَلَيْهِ الضَّعْفُ وَزَادَ. وَكُلَّمَا عَلَتْ سِنُّهُ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَزِيدَ اجْتِهَادُهُ. فَإِذَا دَخَلَ فِي عَشْرِ الثَّمَانِينَ، لَيْسَ إِلَّا الْوَدَاعُ، وَمَا بَقِيَ مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا أَسَفٌ عَلَى تَفْرِيطٍ، أَوْ تَعَبُّدٌ عَلَى ضَعْفٍ. نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقَظَةً تَامَّةً، تَصْرِفُ عَنَّا رُقَادَ الْغَفَلَاتِ، وَعَمَلًا صَالِحًا نَأْمَنُ مَعَهُ مِنَ النَّدَمِ يَوْمَ الِانْتِقَالِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ.“Orang yang berakal adalah orang yang memahami tahapan-tahapan usianya. Sebelum balig, seseorang masih anak-anak sehingga usianya belum menjadi ukuran yang berarti.Ketika telah baligh, ia harus menyadari bahwa inilah masa untuk melawan hawa nafsu dan menuntut ilmu.Setelah Allah menganugerahinya anak-anak, maka itulah masa untuk bekerja dan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup.Apabila telah mencapai usia empat puluh tahun, berarti masa kesempurnaannya telah berlalu. Ia telah menempuh sebagian besar perjalanan hidupnya, dan setelah itu tinggal menuruni perjalanan menuju kampung akhirat.Seakan-akan seseorang menaiki tangga demi tangga sepanjang usianya, hingga ketika melewati usia empat puluh tahun, ia mulai menuruni tangga tersebut.Karena itu, ketika genap berusia empat puluh tahun, hendaknya sebagian besar perhatian dan cita-citanya diarahkan untuk memperbanyak bekal menuju akhirat. Pandangannya hendaknya lebih banyak tertuju kepada kehidupan yang akan dihadapinya nanti, lalu mulai bersiap-siap untuk perjalanan menuju akhirat. Nasihat ini sebenarnya juga berlaku bagi orang yang berusia dua puluh tahun. Hanya saja, kesempatan untuk memperbaiki diri masih lebih luas bagi orang yang muda dibandingkan orang yang sudah tua.Apabila seseorang telah mencapai usia enam puluh tahun, berarti Allah telah memberikan kesempatan yang panjang kepadanya. Hendaklah ia benar-benar memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengumpulkan bekal akhirat dan mempersiapkan perjalanan menuju kehidupan setelah mati. Hendaknya ia meyakini bahwa setiap hari tambahan umur yang masih Allah berikan adalah keuntungan besar yang tidak ternilai, terlebih ketika kelemahan fisik semakin terasa.Semakin bertambah usianya, hendaknya semakin besar pula kesungguhannya dalam beribadah.Apabila seseorang telah memasuki usia delapan puluh tahun, maka yang tersisa hanyalah menanti perpisahan dengan dunia. Sisa usianya biasanya hanya diisi oleh penyesalan atas kelalaian yang telah lalu atau beribadah dalam keadaan fisik yang telah lemah.Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menganugerahkan kepada kita hati yang selalu terjaga sehingga terhindar dari kelalaian, serta amal saleh yang membuat kita selamat dari penyesalan ketika tiba saat meninggalkan dunia. Hanya Allah-lah yang memberikan taufik.” Doa Agar Tidak Overthinking dengan Masa TuaDoa #05 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa Berlindung dari Kemalasan Beribadah, Masa Tua yang Jelek, dan Syahwat Duniaاللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL JUBNI, WA A’UUDZU BIKA AN ARUDDA ILAA ARDZALIL ‘UMUR, WA A’UUDZU BIKA MIN FITNATID DUN-YAA, WA A’UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL QOBRI. Artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari sifat lemah dalam melakukan ibadah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari keadaan tua yang jelek, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari godaan syahwat dunia (sehingga lalai dari kewajiban, pen.), dan aku meminta perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur. (HR. Bukhari, no. 2822) Doa #08 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa agar Diperbagus Setiap Urusanاللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُوْرِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِALLOOHUMMA AHSIN ‘AAQIBATANAA FIL UMUURI KULLIHAA, WA AJIRNAA MIN KHIZYID DUN-YAA WA ‘ADZAAِBIL AAKHIROH.Artinya: Ya Allah, baguskanlah setiap akhir urusan kami, dan selamatkanlah dari kebinasaan di dunia dan dari siksa akhirat. (HR. Ahmad, 4:181, dari Busr bin Arthah Al-Qurasyi) Doa #13 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa Meminta Panjang Umur dan Bagusnya Amalاللَّهُمَّ أَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي، وَاغْفِرْ لِيAllāhumma aṭil ḥayātī ‘alā ṭā’atik, wa aḥsin ‘amalī, waghfir lī.“Ya Allah, panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.”  —– Selasa, 21 Juli 2027Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh doa nabi hari tua husnul khatimah kematian masa tua overthinking persiapan akhirat psikologi Islam tawakal
Semakin bertambah usia, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul dalam benak seseorang. “Bagaimana jika nanti aku sakit?”, “Siapa yang akan merawatku?”, atau “Apakah aku masih bisa beribadah dengan baik?” Jika pertanyaan-pertanyaan itu terus menguasai hati hingga menghilangkan ketenangan, berarti seseorang telah terjebak dalam overthinking tentang masa tua. Islam tidak mengajarkan kita hidup dalam bayang-bayang ketakutan, tetapi mempersiapkan masa depan dengan keyakinan kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Beberapa Kekhawatiran yang Paling Sering Muncul tentang Masa Tua 1.1. 1. Takut Kehilangan Kesehatan 1.2. 2. Takut Kehilangan Kemandirian 1.3. 3. Takut Kekurangan Harta 1.4. 4. Takut Kesepian 2. Mengapa Banyak Orang Overthinking tentang Masa Tua? 3. Islam Tidak Melarang Memikirkan Masa Tua 4. Bahaya Overthinking tentang Masa Tua 5. Jangan Bertanya “Kapan Aku Tua?”, Tetapi “Apa Bekalku?” 6. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul Jauzi 7. Doa Agar Tidak Overthinking dengan Masa Tua  Baca juga: Overthinking dalam Islam: Kapan Berpikir Menjadi Masalah? Beberapa Kekhawatiran yang Paling Sering Muncul tentang Masa TuaBerbagai penelitian dalam bidang psikologi dan kesehatan lansia menunjukkan bahwa ketika seseorang mulai memikirkan masa tua, kekhawatirannya umumnya berputar pada beberapa hal berikut.1. Takut Kehilangan KesehatanInilah kekhawatiran yang paling banyak dirasakan.Seseorang mulai membayangkan dirinya terserang penyakit kronis, sulit berjalan, tidak mampu lagi beraktivitas, atau mengalami penurunan daya ingat. Bahkan, sebagian orang yang masih sehat sudah merasa cemas terhadap penyakit yang belum tentu akan menimpanya.Islam mengajarkan agar seorang muslim menjaga kesehatan sebagai nikmat Allah, tetapi tidak tenggelam dalam ketakutan terhadap sesuatu yang masih berada dalam ketentuan-Nya. 2. Takut Kehilangan KemandirianBanyak orang sebenarnya bukan takut sakit, melainkan takut bergantung kepada orang lain.Mereka khawatir suatu saat tidak mampu mengurus dirinya sendiri, harus dibantu ketika makan, berjalan, atau menjalankan aktivitas sehari-hari. Perasaan menjadi beban bagi keluarga sering kali lebih menakutkan daripada penyakit itu sendiri.Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan doa agar tidak dikembalikan kepada أَرْذَلِ الْعُمُرِ, yaitu usia yang sangat lemah sehingga kemampuan fisik dan akal mengalami penurunan. 3. Takut Kekurangan HartaSetelah tidak lagi produktif bekerja, sebagian orang mulai bertanya,“Apakah tabunganku cukup?”“Bagaimana jika biaya berobat sangat mahal?”“Bagaimana jika aku hidup lebih lama daripada kemampuan finansialku?”Kekhawatiran seperti ini dapat mendorong seseorang menjadi terlalu pelit, sulit bersedekah, bahkan kehilangan tawakal kepada Allah. 4. Takut KesepianManusia diciptakan sebagai makhluk sosial.Karena itu, tidak sedikit orang yang membayangkan masa tua sebagai masa yang sunyi. Mereka khawatir pasangan meninggal lebih dahulu, anak-anak tinggal berjauhan, atau tidak lagi memiliki teman berbagi cerita.Padahal, seorang mukmin yang hatinya dekat dengan Allah tidak pernah benar-benar sendirian. Ia selalu ditemani dengan zikir, doa, Al-Qur’an, dan amal saleh. Mengapa Banyak Orang Overthinking tentang Masa Tua?Tidak sedikit orang yang belum memasuki usia lanjut, tetapi pikirannya sudah dipenuhi berbagai kekhawatiran tentang masa tua. Ketika usia bertambah, bayangan tentang hari-hari yang akan datang mulai bermunculan. Ada yang membayangkan dirinya akan jatuh sakit, ada yang khawatir tidak lagi produktif, ada pula yang takut menjadi beban bagi keluarga.Berbagai pertanyaan pun memenuhi benaknya.“Bagaimana nanti ketika pensiun dan tidak lagi memiliki penghasilan?”“Kalau suatu saat aku sakit, siapa yang akan merawatku?”“Bagaimana jika pasangan meninggal lebih dahulu sehingga aku harus hidup sendirian?”“Bagaimana jika anak-anak sibuk dengan keluarganya masing-masing dan tidak lagi memperhatikanku?”“Bagaimana jika tabunganku habis sebelum ajal datang?”“Bagaimana jika aku mengalami pikun dan tidak mampu lagi mengurus diri sendiri?”“Bagaimana jika di usia tua aku tidak lagi memiliki teman dan harus menjalani hari-hari seorang diri?”Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sesungguhnya merupakan sesuatu yang manusiawi. Islam tidak melarang seseorang memikirkan masa depan atau mempersiapkan hari tua. Bahkan seorang muslim dianjurkan bekerja, menjaga kesehatan, mengelola harta dengan baik, mendidik anak-anak, serta memperbanyak amal saleh sebagai bekal menghadapi masa depan.Namun, masalah muncul ketika kekhawatiran tersebut terus berputar di dalam pikiran hingga menguasai hati. Seseorang akhirnya lebih sibuk membayangkan berbagai kemungkinan buruk daripada menjalani hari ini dengan penuh syukur dan ketaatan. Ia merasa cemas terhadap sesuatu yang bahkan belum tentu akan terjadi.Di sinilah overthinking mulai menggerogoti ketenangan hati.Padahal, salah satu cara setan melemahkan manusia adalah dengan memenuhi hatinya dengan rasa takut terhadap masa depan, terutama ketakutan terhadap kemiskinan. Allah Ta’ala berfirman,ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan kepadamu ampunan dan karunia-Nya. Allah Mahaluas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.“(QS. Al-Baqarah: 268)Ayat ini menunjukkan bahwa rasa takut terhadap masa depan dapat menjadi pintu masuk bagi setan untuk melemahkan keyakinan seorang hamba kepada Rabbnya. Setan terus membisikkan bahwa masa depan akan penuh kesulitan, harta akan habis, kesehatan akan hilang, dan kehidupan akan semakin berat. Sebaliknya, Allah menguatkan hati orang-orang beriman dengan janji ampunan, pertolongan, dan karunia-Nya.Dalam Tafsir Ibnu Katsir mengenai ayat ini disebutkan: Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ لِلشَّيْطَانِ لَمَّةً بِابْنِ آدَمَ، وَلِلْمَلَكِ لَمَّةً، فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِيعَادٌ بِالشَّرِّ وَتَكْذِيبٌ بِالْحَقِّ، وَأَمَّا لَمَّةُ الْمَلَكِ فَإِيعَادٌ بِالْخَيْرِ وَتَصْدِيقٌ بِالْحَقِّ، فَمَنْ وَجَدَ ذَلِكَ فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مِنَ اللَّهِ، فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ الْأُخْرَى فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ.“Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada hati anak Adam, demikian pula malaikat memiliki bisikan. Bisikan setan adalah menjanjikan keburukan dan membuat seseorang mendustakan kebenaran. Adapun bisikan malaikat adalah menjanjikan kebaikan dan mendorong untuk membenarkan kebenaran. Barang siapa merasakan bisikan yang baik itu, hendaklah ia mengetahui bahwa itu berasal dari Allah, lalu hendaklah ia memuji Allah. Sebaliknya, barang siapa merasakan bisikan yang lain, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari setan.”Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman Allah,﴿الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾ [البقرة: ٢٦٨]“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji. Sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 268).Tentu saja, tidak setiap kekhawatiran berasal dari setan. Rasa takut terhadap masa depan adalah fitrah manusia. Akan tetapi, ketika rasa takut itu membuat seseorang kehilangan ketenangan, berburuk sangka kepada Allah, enggan beramal, bahkan selalu dihantui berbagai kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi, maka rasa takut tersebut telah berubah menjadi overthinking yang melemahkan tawakal.Seorang mukmin diperintahkan untuk mempersiapkan masa depan dengan ikhtiar yang benar, tetapi hatinya tetap bersandar kepada Allah. Ia merencanakan kehidupan hari esok, namun tidak membiarkan pikirannya dikuasai oleh bayangan-bayangan buruk yang belum tentu menjadi kenyataan. Inilah keseimbangan yang diajarkan Islam: berikhtiar tanpa kehilangan tawakal, dan berpikir tanpa terjerumus dalam overthinking. Islam Tidak Melarang Memikirkan Masa TuaSebagian orang mengira bahwa memikirkan masa tua berarti kurang bertawakal kepada Allah. Anggapan ini tidak tepat. Islam tidak pernah melarang seorang muslim mempersiapkan masa depannya. Bahkan, syariat justru mendorong seorang hamba untuk berikhtiar dan mempersiapkan bekal sebelum datang hari-hari yang membutuhkan persiapan tersebut.Perbedaannya terletak pada sikap hati. Islam mengajarkan persiapan, bukan kepanikan. Islam mendorong seorang muslim berpikir jauh ke depan, tetapi tidak membiarkan pikirannya terus-menerus dipenuhi kecemasan yang melemahkan semangat hidup dan ibadah.Persiapan menghadapi masa tua dapat dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya adalah memperbanyak amal saleh sebagai bekal menghadap Allah, menjaga kesehatan agar tetap kuat beribadah, bekerja dan mengelola harta dengan baik, memperbanyak doa memohon keberkahan usia, serta mendidik anak-anak menjadi pribadi yang saleh sehingga kelak menjadi penyejuk hati dan terus mendoakan kedua orang tuanya.Doa yang bisa kita amalkan,اللَّهُمَّ أَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي، وَاغْفِرْ لِيAllāhumma aṭil ḥayātī ‘alā ṭā’atik, wa aḥsin ‘amalī, waghfir lī.“Ya Allah, panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.”Doa ini bersumber dari hadits dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah dari ayahnya (Abu Bakrah) bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ »“Wahai Rasulullah, manusia seperti apa yang dikatakan baik?” Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya dan baik amalnya.” “Lalu manusia seperti apa yang dikatakan jelek?”, tanya laki-laki tadi. Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya namun jelek amalnya.” (HR. Tirmidzi, no. 2330. Beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadits ini shahih lighairihi). Yang dimaksud dengan “baik amalnya” adalah apabila amalan tersebut dilakukan dengan ikhlas dan ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Bahaya Overthinking tentang Masa TuaOverthinking tentang masa tua tidak membuat seseorang lebih siap menghadapinya. Sebaliknya, hal itu justru menguras energi, menghilangkan ketenangan, dan membuat seseorang sulit menikmati nikmat yang Allah berikan hari ini.Orang yang terus-menerus dikuasai overthinking biasanya akan mengalami beberapa dampak berikut.Sulit menikmati usia yang sedang dijalani. Pikirannya terus melayang kepada masa depan hingga lupa mensyukuri nikmat hari ini.Selalu dihantui rasa cemas. Setiap kemungkinan buruk dibayangkan seolah-olah pasti akan terjadi.Kurang bersyukur atas karunia Allah. Fokusnya lebih tertuju pada apa yang mungkin hilang daripada nikmat yang masih dimiliki.Semangat beribadah mulai melemah. Waktu dan pikirannya habis untuk mencemaskan masa depan, bukan memperbanyak bekal menuju akhirat.Mudah berputus asa. Ia merasa masa depannya suram sebelum benar-benar mengalaminya.Padahal, tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah ia benar-benar akan sampai pada usia tua. Bisa jadi seseorang begitu sibuk mengkhawatirkan masa tuanya, padahal ajal menjemput lebih dahulu. Karena itu, seorang mukmin hendaknya lebih banyak mempersiapkan amal saleh daripada menghabiskan waktu untuk mencemaskan sesuatu yang masih berada dalam ilmu Allah. Jangan Bertanya “Kapan Aku Tua?”, Tetapi “Apa Bekalku?”Salah satu penyebab overthinking tentang masa tua adalah karena seseorang terlalu sibuk memikirkan kapan berbagai hal buruk akan terjadi. Ia terus bertanya, “Kapan aku sakit?”, “Kapan aku menjadi lemah?”, atau “Kapan ajal akan menjemputku?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak akan memberikan ketenangan, karena tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan semua itu akan terjadi.Islam mengajarkan cara pandang yang berbeda. Yang terpenting bukanlah mengetahui kapan kematian datang, tetapi bagaimana keadaan kita ketika kematian itu datang. Karena itu, seorang muslim tidak diperintahkan untuk sibuk menebak sisa umurnya, melainkan mempersiapkan bekal terbaik sebelum ajal tiba.Rasulullah ﷺ bahkan menganjurkan umatnya untuk sering mengingat kematian. Tujuannya bukan agar hidup dipenuhi rasa takut dan kecemasan, melainkan agar seseorang semakin semangat bertobat, memperbanyak amal saleh, dan tidak terlena oleh kehidupan dunia. Mengingat kematian yang benar akan mendorong seseorang menjadi lebih baik, bukan membuatnya putus asa atau kehilangan semangat hidup.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan” (HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani). Yang dimaksud adalah kematian. Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,وَلِهَذَا نَقُولُ: أَنْتَ لَا تَسْأَلُ مَتَى تَمُوتُ، وَلَا أَيْنَ تَمُوتُ؛ لِأَنَّ هَذَا أَمْرٌ لَا يَحْتَاجُ إِلَى سُؤَالٍ، أَمْرٌ مَفْرُوغٌ مِنْهُ، وَلَابُدَّ أَنْ يَكُونَ، وَمَهْمَا طَالَتْ بِكَ الدُّنْيَا، فَكَأَنَّمَا بَقِيتَ يَوْمًا وَاحِدًا، بَلْ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا﴾ [النَّازِعَاتِ: ٤٦]. وَلَكِنِ السُّؤَالُ الَّذِي يَجِبُ أَنْ يَرِدَ عَلَى النَّفْسِ، وَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ لَدَيْكَ جَوَابٌ عَلَيْهِ هُوَ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ؟! وَلَسْتُ أُرِيدُ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ، هَلْ أَنْتَ غَنِيٌّ أَوْ فَقِيرٌ، أَوْ قَوِيٌّ أَوْ ضَعِيفٌ، أَوْ ذُو عِيَالٍ أَوْ عَقِيمٌ، بَلْ عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ فِي الْعَمَلِ؟ فَإِذَا كُنْتَ تُسَائِلُ نَفْسَكَ هَذَا السُّؤَالَ، فَلَابُدَّ أَنْ تَسْتَعِدَّ؛ لِأَنَّكَ لَا تَدْرِي مَتَى يَفْجَؤُكَ الْمَوْتُ، كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ خَرَجَ يَقُودُ سَيَّارَتَهُ، وَرَجَعَ بِهِ مَحْمُولًا عَلَى الْأَكْتَافِ، وَكَمْ مِنْ إِنْسَانٍ خَرَجَ مِنْ أَهْلِهِ يَقُولُ: هَيِّئُوا لِي طَعَامَ الْغَدَاءِ أَوِ الْعَشَاءِ، وَلَكِنْ لَمْ يَأْكُلْهُ، وَكَمْ مِنْ إِنْسَانٍ لَبِسَ قَمِيصَهُ وَزَرَّ أَزِرَّتَهُ، وَلَمْ يَفُكَّهَا إِلَّا الْغَاسِلُ يُغَسِّلُهُ. هَذَا أَمْرٌ مُشَاهَدٌ بِحَوَادِثِ الْبَغْتَةِ، فَانْظُرِ الْآنَ وَفَكِّرْ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ؟ وَلِهَذَا يَنْبَغِي لَكَ أَنْ تُكْثِرَ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ مَا اسْتَطَعْتَ، فَإِنَّ الِاسْتِغْفَارَ فِيهِ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا.“Karena itu, kami mengatakan: Janganlah engkau bertanya, ‘Kapan aku akan mati?’ atau ‘Di mana aku akan mati?’ Sebab, hal itu tidak perlu dipertanyakan. Semua itu telah Allah tetapkan dan pasti akan terjadi. Seandainya pun umurmu sangat panjang, pada akhirnya kehidupan dunia akan terasa seolah-olah hanya berlangsung sehari saja. Bahkan Allah berfirman,‘Pada hari mereka melihat hari Kiamat itu, mereka merasa seakan-akan hanya tinggal di dunia pada waktu sore atau pagi hari saja.’ (QS. An-Nazi’at: 46)Namun, pertanyaan yang seharusnya selalu engkau ajukan kepada dirimu adalah: ‘Dalam keadaan bagaimana aku akan mati?’ Bukan apakah saat itu engkau kaya atau miskin, kuat atau lemah, memiliki banyak anak atau tidak. Akan tetapi, dalam keadaan bagaimana amalmu ketika kematian datang?Jika engkau terus menanyakan hal itu kepada dirimu, tentu engkau akan mempersiapkan diri. Sebab, tidak ada yang tahu kapan kematian datang secara tiba-tiba. Betapa banyak orang yang keluar mengendarai mobilnya, tetapi pulang dalam keadaan dipikul di atas bahu. Betapa banyak orang yang berpamitan kepada keluarganya sambil berkata, ‘Siapkan makan siang atau makan malam untukku,’ tetapi ternyata ia tidak sempat memakannya. Betapa banyak orang yang mengenakan bajunya dan mengancingkannya, namun tidak ada yang membuka kancing itu selain orang yang memandikannya setelah ia meninggal dunia. Peristiwa seperti ini sering kita saksikan dalam kehidupan. Karena itu, renungkanlah, dalam keadaan bagaimana engkau ingin menemui kematian.Oleh sebab itu, perbanyaklah istigfar semampumu. Sebab, dengan istigfar Allah memberikan jalan keluar dari setiap kegelisahan dan memberikan kelapangan dari setiap kesempitan.” (Liqā’ al-Bāb al-Maftūḥ, pertemuan ke-17).Inilah yang membedakan seorang mukmin dengan orang yang dikuasai overthinking. Orang yang overthinking menghabiskan waktunya untuk mencemaskan masa depan yang belum tentu terjadi. Adapun seorang mukmin menggunakan waktunya untuk memperbaiki amal hari ini, karena ia sadar bahwa kapan pun kematian datang, bekal terbaik yang dapat dibawa hanyalah iman dan amal saleh. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul JauziImam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata dalam kitab Shaid Al-Khathir:اَلْعَاقِلُ مَنْ فَهِمَ مَقَادِيرَ الزَّمَانِ؛ فَإِنَّهُ فِيمَا قَبْلَ الْبُلُوغِ صَبِيٌّ، لَيْسَ عَلَى عُمُرِهِ عِيَارٌ. فَإِذَا بَلَغَ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ زَمَانُ الْمُجَاهَدَةِ لِلْهَوَى، وَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ. فَإِذَا رُزِقَ الْأَوْلَادَ، فَهُوَ زَمَانُ الْكَسْبِ لِلْمَعَاشِ. فَإِذَا بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ، انْتَهَى تَمَامُهُ، وَقَضَى مَنَاسِكَ الْأَجَلِ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا الِانْحِدَارُ إِلَى الْوَطَنِ. كَأَنَّ الْفَتَى يَرْقَى مِنَ الْعُمْرِ سُلَّمًا … إِلَى أَنْ يُجَاوِزَ الْأَرْبَعِينَ وَيَنْحَطَّ فَيَنْبَغِي لَهُ عِنْدَ تَمَامِ الْأَرْبَعِينَ أَنْ يَجْعَلَ جُلَّ هِمَّتِهِ التَّزَوُّدَ لِلْآخِرَةِ، وَيَكُونَ كُلُّ تَلَمُّحِهِ لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ، وَيَأْخُذَ فِي الِاسْتِعْدَادِ لِلرَّحِيلِ، وَإِنْ كَانَ الْخِطَابُ بِهَذَا لِابْنِ عِشْرِينَ، إِلَّا أَنَّ رَجَاءَ التَّدَارُكِ فِي حَقِّ الصَّغِيرِ، لَا فِي حَقِّ الْكَبِيرِ. فَإِذَا بَلَغَ السِّتِّينَ؛ فَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ فِي الْأَجَلِ، وَجَازَ مِنَ الزَّمَنِ، فَلْيُقْبِلْ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى جَمْعِ زَادِهِ، وَتَهْيِئَةِ آلَاتِ السَّفَرِ، وَلْيَعْتَقِدْ أَنَّ كُلَّ يَوْمٍ يَحْيَا فِيهِ غَنِيمَةٌ، مَا هِيَ فِي الْحِسَابِ، خُصُوصًا إِذَا قَوِيَ عَلَيْهِ الضَّعْفُ وَزَادَ. وَكُلَّمَا عَلَتْ سِنُّهُ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَزِيدَ اجْتِهَادُهُ. فَإِذَا دَخَلَ فِي عَشْرِ الثَّمَانِينَ، لَيْسَ إِلَّا الْوَدَاعُ، وَمَا بَقِيَ مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا أَسَفٌ عَلَى تَفْرِيطٍ، أَوْ تَعَبُّدٌ عَلَى ضَعْفٍ. نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقَظَةً تَامَّةً، تَصْرِفُ عَنَّا رُقَادَ الْغَفَلَاتِ، وَعَمَلًا صَالِحًا نَأْمَنُ مَعَهُ مِنَ النَّدَمِ يَوْمَ الِانْتِقَالِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ.“Orang yang berakal adalah orang yang memahami tahapan-tahapan usianya. Sebelum balig, seseorang masih anak-anak sehingga usianya belum menjadi ukuran yang berarti.Ketika telah baligh, ia harus menyadari bahwa inilah masa untuk melawan hawa nafsu dan menuntut ilmu.Setelah Allah menganugerahinya anak-anak, maka itulah masa untuk bekerja dan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup.Apabila telah mencapai usia empat puluh tahun, berarti masa kesempurnaannya telah berlalu. Ia telah menempuh sebagian besar perjalanan hidupnya, dan setelah itu tinggal menuruni perjalanan menuju kampung akhirat.Seakan-akan seseorang menaiki tangga demi tangga sepanjang usianya, hingga ketika melewati usia empat puluh tahun, ia mulai menuruni tangga tersebut.Karena itu, ketika genap berusia empat puluh tahun, hendaknya sebagian besar perhatian dan cita-citanya diarahkan untuk memperbanyak bekal menuju akhirat. Pandangannya hendaknya lebih banyak tertuju kepada kehidupan yang akan dihadapinya nanti, lalu mulai bersiap-siap untuk perjalanan menuju akhirat. Nasihat ini sebenarnya juga berlaku bagi orang yang berusia dua puluh tahun. Hanya saja, kesempatan untuk memperbaiki diri masih lebih luas bagi orang yang muda dibandingkan orang yang sudah tua.Apabila seseorang telah mencapai usia enam puluh tahun, berarti Allah telah memberikan kesempatan yang panjang kepadanya. Hendaklah ia benar-benar memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengumpulkan bekal akhirat dan mempersiapkan perjalanan menuju kehidupan setelah mati. Hendaknya ia meyakini bahwa setiap hari tambahan umur yang masih Allah berikan adalah keuntungan besar yang tidak ternilai, terlebih ketika kelemahan fisik semakin terasa.Semakin bertambah usianya, hendaknya semakin besar pula kesungguhannya dalam beribadah.Apabila seseorang telah memasuki usia delapan puluh tahun, maka yang tersisa hanyalah menanti perpisahan dengan dunia. Sisa usianya biasanya hanya diisi oleh penyesalan atas kelalaian yang telah lalu atau beribadah dalam keadaan fisik yang telah lemah.Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menganugerahkan kepada kita hati yang selalu terjaga sehingga terhindar dari kelalaian, serta amal saleh yang membuat kita selamat dari penyesalan ketika tiba saat meninggalkan dunia. Hanya Allah-lah yang memberikan taufik.” Doa Agar Tidak Overthinking dengan Masa TuaDoa #05 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa Berlindung dari Kemalasan Beribadah, Masa Tua yang Jelek, dan Syahwat Duniaاللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL JUBNI, WA A’UUDZU BIKA AN ARUDDA ILAA ARDZALIL ‘UMUR, WA A’UUDZU BIKA MIN FITNATID DUN-YAA, WA A’UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL QOBRI. Artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari sifat lemah dalam melakukan ibadah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari keadaan tua yang jelek, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari godaan syahwat dunia (sehingga lalai dari kewajiban, pen.), dan aku meminta perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur. (HR. Bukhari, no. 2822) Doa #08 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa agar Diperbagus Setiap Urusanاللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُوْرِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِALLOOHUMMA AHSIN ‘AAQIBATANAA FIL UMUURI KULLIHAA, WA AJIRNAA MIN KHIZYID DUN-YAA WA ‘ADZAAِBIL AAKHIROH.Artinya: Ya Allah, baguskanlah setiap akhir urusan kami, dan selamatkanlah dari kebinasaan di dunia dan dari siksa akhirat. (HR. Ahmad, 4:181, dari Busr bin Arthah Al-Qurasyi) Doa #13 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa Meminta Panjang Umur dan Bagusnya Amalاللَّهُمَّ أَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي، وَاغْفِرْ لِيAllāhumma aṭil ḥayātī ‘alā ṭā’atik, wa aḥsin ‘amalī, waghfir lī.“Ya Allah, panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.”  —– Selasa, 21 Juli 2027Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh doa nabi hari tua husnul khatimah kematian masa tua overthinking persiapan akhirat psikologi Islam tawakal


Semakin bertambah usia, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul dalam benak seseorang. “Bagaimana jika nanti aku sakit?”, “Siapa yang akan merawatku?”, atau “Apakah aku masih bisa beribadah dengan baik?” Jika pertanyaan-pertanyaan itu terus menguasai hati hingga menghilangkan ketenangan, berarti seseorang telah terjebak dalam overthinking tentang masa tua. Islam tidak mengajarkan kita hidup dalam bayang-bayang ketakutan, tetapi mempersiapkan masa depan dengan keyakinan kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Beberapa Kekhawatiran yang Paling Sering Muncul tentang Masa Tua 1.1. 1. Takut Kehilangan Kesehatan 1.2. 2. Takut Kehilangan Kemandirian 1.3. 3. Takut Kekurangan Harta 1.4. 4. Takut Kesepian 2. Mengapa Banyak Orang Overthinking tentang Masa Tua? 3. Islam Tidak Melarang Memikirkan Masa Tua 4. Bahaya Overthinking tentang Masa Tua 5. Jangan Bertanya “Kapan Aku Tua?”, Tetapi “Apa Bekalku?” 6. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul Jauzi 7. Doa Agar Tidak Overthinking dengan Masa Tua  Baca juga: Overthinking dalam Islam: Kapan Berpikir Menjadi Masalah? Beberapa Kekhawatiran yang Paling Sering Muncul tentang Masa TuaBerbagai penelitian dalam bidang psikologi dan kesehatan lansia menunjukkan bahwa ketika seseorang mulai memikirkan masa tua, kekhawatirannya umumnya berputar pada beberapa hal berikut.1. Takut Kehilangan KesehatanInilah kekhawatiran yang paling banyak dirasakan.Seseorang mulai membayangkan dirinya terserang penyakit kronis, sulit berjalan, tidak mampu lagi beraktivitas, atau mengalami penurunan daya ingat. Bahkan, sebagian orang yang masih sehat sudah merasa cemas terhadap penyakit yang belum tentu akan menimpanya.Islam mengajarkan agar seorang muslim menjaga kesehatan sebagai nikmat Allah, tetapi tidak tenggelam dalam ketakutan terhadap sesuatu yang masih berada dalam ketentuan-Nya. 2. Takut Kehilangan KemandirianBanyak orang sebenarnya bukan takut sakit, melainkan takut bergantung kepada orang lain.Mereka khawatir suatu saat tidak mampu mengurus dirinya sendiri, harus dibantu ketika makan, berjalan, atau menjalankan aktivitas sehari-hari. Perasaan menjadi beban bagi keluarga sering kali lebih menakutkan daripada penyakit itu sendiri.Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan doa agar tidak dikembalikan kepada أَرْذَلِ الْعُمُرِ, yaitu usia yang sangat lemah sehingga kemampuan fisik dan akal mengalami penurunan. 3. Takut Kekurangan HartaSetelah tidak lagi produktif bekerja, sebagian orang mulai bertanya,“Apakah tabunganku cukup?”“Bagaimana jika biaya berobat sangat mahal?”“Bagaimana jika aku hidup lebih lama daripada kemampuan finansialku?”Kekhawatiran seperti ini dapat mendorong seseorang menjadi terlalu pelit, sulit bersedekah, bahkan kehilangan tawakal kepada Allah. 4. Takut KesepianManusia diciptakan sebagai makhluk sosial.Karena itu, tidak sedikit orang yang membayangkan masa tua sebagai masa yang sunyi. Mereka khawatir pasangan meninggal lebih dahulu, anak-anak tinggal berjauhan, atau tidak lagi memiliki teman berbagi cerita.Padahal, seorang mukmin yang hatinya dekat dengan Allah tidak pernah benar-benar sendirian. Ia selalu ditemani dengan zikir, doa, Al-Qur’an, dan amal saleh. Mengapa Banyak Orang Overthinking tentang Masa Tua?Tidak sedikit orang yang belum memasuki usia lanjut, tetapi pikirannya sudah dipenuhi berbagai kekhawatiran tentang masa tua. Ketika usia bertambah, bayangan tentang hari-hari yang akan datang mulai bermunculan. Ada yang membayangkan dirinya akan jatuh sakit, ada yang khawatir tidak lagi produktif, ada pula yang takut menjadi beban bagi keluarga.Berbagai pertanyaan pun memenuhi benaknya.“Bagaimana nanti ketika pensiun dan tidak lagi memiliki penghasilan?”“Kalau suatu saat aku sakit, siapa yang akan merawatku?”“Bagaimana jika pasangan meninggal lebih dahulu sehingga aku harus hidup sendirian?”“Bagaimana jika anak-anak sibuk dengan keluarganya masing-masing dan tidak lagi memperhatikanku?”“Bagaimana jika tabunganku habis sebelum ajal datang?”“Bagaimana jika aku mengalami pikun dan tidak mampu lagi mengurus diri sendiri?”“Bagaimana jika di usia tua aku tidak lagi memiliki teman dan harus menjalani hari-hari seorang diri?”Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sesungguhnya merupakan sesuatu yang manusiawi. Islam tidak melarang seseorang memikirkan masa depan atau mempersiapkan hari tua. Bahkan seorang muslim dianjurkan bekerja, menjaga kesehatan, mengelola harta dengan baik, mendidik anak-anak, serta memperbanyak amal saleh sebagai bekal menghadapi masa depan.Namun, masalah muncul ketika kekhawatiran tersebut terus berputar di dalam pikiran hingga menguasai hati. Seseorang akhirnya lebih sibuk membayangkan berbagai kemungkinan buruk daripada menjalani hari ini dengan penuh syukur dan ketaatan. Ia merasa cemas terhadap sesuatu yang bahkan belum tentu akan terjadi.Di sinilah overthinking mulai menggerogoti ketenangan hati.Padahal, salah satu cara setan melemahkan manusia adalah dengan memenuhi hatinya dengan rasa takut terhadap masa depan, terutama ketakutan terhadap kemiskinan. Allah Ta’ala berfirman,ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan kepadamu ampunan dan karunia-Nya. Allah Mahaluas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.“(QS. Al-Baqarah: 268)Ayat ini menunjukkan bahwa rasa takut terhadap masa depan dapat menjadi pintu masuk bagi setan untuk melemahkan keyakinan seorang hamba kepada Rabbnya. Setan terus membisikkan bahwa masa depan akan penuh kesulitan, harta akan habis, kesehatan akan hilang, dan kehidupan akan semakin berat. Sebaliknya, Allah menguatkan hati orang-orang beriman dengan janji ampunan, pertolongan, dan karunia-Nya.Dalam Tafsir Ibnu Katsir mengenai ayat ini disebutkan: Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ لِلشَّيْطَانِ لَمَّةً بِابْنِ آدَمَ، وَلِلْمَلَكِ لَمَّةً، فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِيعَادٌ بِالشَّرِّ وَتَكْذِيبٌ بِالْحَقِّ، وَأَمَّا لَمَّةُ الْمَلَكِ فَإِيعَادٌ بِالْخَيْرِ وَتَصْدِيقٌ بِالْحَقِّ، فَمَنْ وَجَدَ ذَلِكَ فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مِنَ اللَّهِ، فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ الْأُخْرَى فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ.“Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada hati anak Adam, demikian pula malaikat memiliki bisikan. Bisikan setan adalah menjanjikan keburukan dan membuat seseorang mendustakan kebenaran. Adapun bisikan malaikat adalah menjanjikan kebaikan dan mendorong untuk membenarkan kebenaran. Barang siapa merasakan bisikan yang baik itu, hendaklah ia mengetahui bahwa itu berasal dari Allah, lalu hendaklah ia memuji Allah. Sebaliknya, barang siapa merasakan bisikan yang lain, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari setan.”Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman Allah,﴿الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾ [البقرة: ٢٦٨]“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji. Sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 268).Tentu saja, tidak setiap kekhawatiran berasal dari setan. Rasa takut terhadap masa depan adalah fitrah manusia. Akan tetapi, ketika rasa takut itu membuat seseorang kehilangan ketenangan, berburuk sangka kepada Allah, enggan beramal, bahkan selalu dihantui berbagai kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi, maka rasa takut tersebut telah berubah menjadi overthinking yang melemahkan tawakal.Seorang mukmin diperintahkan untuk mempersiapkan masa depan dengan ikhtiar yang benar, tetapi hatinya tetap bersandar kepada Allah. Ia merencanakan kehidupan hari esok, namun tidak membiarkan pikirannya dikuasai oleh bayangan-bayangan buruk yang belum tentu menjadi kenyataan. Inilah keseimbangan yang diajarkan Islam: berikhtiar tanpa kehilangan tawakal, dan berpikir tanpa terjerumus dalam overthinking. Islam Tidak Melarang Memikirkan Masa TuaSebagian orang mengira bahwa memikirkan masa tua berarti kurang bertawakal kepada Allah. Anggapan ini tidak tepat. Islam tidak pernah melarang seorang muslim mempersiapkan masa depannya. Bahkan, syariat justru mendorong seorang hamba untuk berikhtiar dan mempersiapkan bekal sebelum datang hari-hari yang membutuhkan persiapan tersebut.Perbedaannya terletak pada sikap hati. Islam mengajarkan persiapan, bukan kepanikan. Islam mendorong seorang muslim berpikir jauh ke depan, tetapi tidak membiarkan pikirannya terus-menerus dipenuhi kecemasan yang melemahkan semangat hidup dan ibadah.Persiapan menghadapi masa tua dapat dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya adalah memperbanyak amal saleh sebagai bekal menghadap Allah, menjaga kesehatan agar tetap kuat beribadah, bekerja dan mengelola harta dengan baik, memperbanyak doa memohon keberkahan usia, serta mendidik anak-anak menjadi pribadi yang saleh sehingga kelak menjadi penyejuk hati dan terus mendoakan kedua orang tuanya.Doa yang bisa kita amalkan,اللَّهُمَّ أَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي، وَاغْفِرْ لِيAllāhumma aṭil ḥayātī ‘alā ṭā’atik, wa aḥsin ‘amalī, waghfir lī.“Ya Allah, panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.”Doa ini bersumber dari hadits dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah dari ayahnya (Abu Bakrah) bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ »“Wahai Rasulullah, manusia seperti apa yang dikatakan baik?” Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya dan baik amalnya.” “Lalu manusia seperti apa yang dikatakan jelek?”, tanya laki-laki tadi. Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya namun jelek amalnya.” (HR. Tirmidzi, no. 2330. Beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadits ini shahih lighairihi). Yang dimaksud dengan “baik amalnya” adalah apabila amalan tersebut dilakukan dengan ikhlas dan ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Bahaya Overthinking tentang Masa TuaOverthinking tentang masa tua tidak membuat seseorang lebih siap menghadapinya. Sebaliknya, hal itu justru menguras energi, menghilangkan ketenangan, dan membuat seseorang sulit menikmati nikmat yang Allah berikan hari ini.Orang yang terus-menerus dikuasai overthinking biasanya akan mengalami beberapa dampak berikut.Sulit menikmati usia yang sedang dijalani. Pikirannya terus melayang kepada masa depan hingga lupa mensyukuri nikmat hari ini.Selalu dihantui rasa cemas. Setiap kemungkinan buruk dibayangkan seolah-olah pasti akan terjadi.Kurang bersyukur atas karunia Allah. Fokusnya lebih tertuju pada apa yang mungkin hilang daripada nikmat yang masih dimiliki.Semangat beribadah mulai melemah. Waktu dan pikirannya habis untuk mencemaskan masa depan, bukan memperbanyak bekal menuju akhirat.Mudah berputus asa. Ia merasa masa depannya suram sebelum benar-benar mengalaminya.Padahal, tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah ia benar-benar akan sampai pada usia tua. Bisa jadi seseorang begitu sibuk mengkhawatirkan masa tuanya, padahal ajal menjemput lebih dahulu. Karena itu, seorang mukmin hendaknya lebih banyak mempersiapkan amal saleh daripada menghabiskan waktu untuk mencemaskan sesuatu yang masih berada dalam ilmu Allah. Jangan Bertanya “Kapan Aku Tua?”, Tetapi “Apa Bekalku?”Salah satu penyebab overthinking tentang masa tua adalah karena seseorang terlalu sibuk memikirkan kapan berbagai hal buruk akan terjadi. Ia terus bertanya, “Kapan aku sakit?”, “Kapan aku menjadi lemah?”, atau “Kapan ajal akan menjemputku?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak akan memberikan ketenangan, karena tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan semua itu akan terjadi.Islam mengajarkan cara pandang yang berbeda. Yang terpenting bukanlah mengetahui kapan kematian datang, tetapi bagaimana keadaan kita ketika kematian itu datang. Karena itu, seorang muslim tidak diperintahkan untuk sibuk menebak sisa umurnya, melainkan mempersiapkan bekal terbaik sebelum ajal tiba.Rasulullah ﷺ bahkan menganjurkan umatnya untuk sering mengingat kematian. Tujuannya bukan agar hidup dipenuhi rasa takut dan kecemasan, melainkan agar seseorang semakin semangat bertobat, memperbanyak amal saleh, dan tidak terlena oleh kehidupan dunia. Mengingat kematian yang benar akan mendorong seseorang menjadi lebih baik, bukan membuatnya putus asa atau kehilangan semangat hidup.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan” (HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani). Yang dimaksud adalah kematian. Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,وَلِهَذَا نَقُولُ: أَنْتَ لَا تَسْأَلُ مَتَى تَمُوتُ، وَلَا أَيْنَ تَمُوتُ؛ لِأَنَّ هَذَا أَمْرٌ لَا يَحْتَاجُ إِلَى سُؤَالٍ، أَمْرٌ مَفْرُوغٌ مِنْهُ، وَلَابُدَّ أَنْ يَكُونَ، وَمَهْمَا طَالَتْ بِكَ الدُّنْيَا، فَكَأَنَّمَا بَقِيتَ يَوْمًا وَاحِدًا، بَلْ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا﴾ [النَّازِعَاتِ: ٤٦]. وَلَكِنِ السُّؤَالُ الَّذِي يَجِبُ أَنْ يَرِدَ عَلَى النَّفْسِ، وَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ لَدَيْكَ جَوَابٌ عَلَيْهِ هُوَ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ؟! وَلَسْتُ أُرِيدُ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ، هَلْ أَنْتَ غَنِيٌّ أَوْ فَقِيرٌ، أَوْ قَوِيٌّ أَوْ ضَعِيفٌ، أَوْ ذُو عِيَالٍ أَوْ عَقِيمٌ، بَلْ عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ فِي الْعَمَلِ؟ فَإِذَا كُنْتَ تُسَائِلُ نَفْسَكَ هَذَا السُّؤَالَ، فَلَابُدَّ أَنْ تَسْتَعِدَّ؛ لِأَنَّكَ لَا تَدْرِي مَتَى يَفْجَؤُكَ الْمَوْتُ، كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ خَرَجَ يَقُودُ سَيَّارَتَهُ، وَرَجَعَ بِهِ مَحْمُولًا عَلَى الْأَكْتَافِ، وَكَمْ مِنْ إِنْسَانٍ خَرَجَ مِنْ أَهْلِهِ يَقُولُ: هَيِّئُوا لِي طَعَامَ الْغَدَاءِ أَوِ الْعَشَاءِ، وَلَكِنْ لَمْ يَأْكُلْهُ، وَكَمْ مِنْ إِنْسَانٍ لَبِسَ قَمِيصَهُ وَزَرَّ أَزِرَّتَهُ، وَلَمْ يَفُكَّهَا إِلَّا الْغَاسِلُ يُغَسِّلُهُ. هَذَا أَمْرٌ مُشَاهَدٌ بِحَوَادِثِ الْبَغْتَةِ، فَانْظُرِ الْآنَ وَفَكِّرْ: عَلَى أَيِّ حَالٍ تَمُوتُ؟ وَلِهَذَا يَنْبَغِي لَكَ أَنْ تُكْثِرَ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ مَا اسْتَطَعْتَ، فَإِنَّ الِاسْتِغْفَارَ فِيهِ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا.“Karena itu, kami mengatakan: Janganlah engkau bertanya, ‘Kapan aku akan mati?’ atau ‘Di mana aku akan mati?’ Sebab, hal itu tidak perlu dipertanyakan. Semua itu telah Allah tetapkan dan pasti akan terjadi. Seandainya pun umurmu sangat panjang, pada akhirnya kehidupan dunia akan terasa seolah-olah hanya berlangsung sehari saja. Bahkan Allah berfirman,‘Pada hari mereka melihat hari Kiamat itu, mereka merasa seakan-akan hanya tinggal di dunia pada waktu sore atau pagi hari saja.’ (QS. An-Nazi’at: 46)Namun, pertanyaan yang seharusnya selalu engkau ajukan kepada dirimu adalah: ‘Dalam keadaan bagaimana aku akan mati?’ Bukan apakah saat itu engkau kaya atau miskin, kuat atau lemah, memiliki banyak anak atau tidak. Akan tetapi, dalam keadaan bagaimana amalmu ketika kematian datang?Jika engkau terus menanyakan hal itu kepada dirimu, tentu engkau akan mempersiapkan diri. Sebab, tidak ada yang tahu kapan kematian datang secara tiba-tiba. Betapa banyak orang yang keluar mengendarai mobilnya, tetapi pulang dalam keadaan dipikul di atas bahu. Betapa banyak orang yang berpamitan kepada keluarganya sambil berkata, ‘Siapkan makan siang atau makan malam untukku,’ tetapi ternyata ia tidak sempat memakannya. Betapa banyak orang yang mengenakan bajunya dan mengancingkannya, namun tidak ada yang membuka kancing itu selain orang yang memandikannya setelah ia meninggal dunia. Peristiwa seperti ini sering kita saksikan dalam kehidupan. Karena itu, renungkanlah, dalam keadaan bagaimana engkau ingin menemui kematian.Oleh sebab itu, perbanyaklah istigfar semampumu. Sebab, dengan istigfar Allah memberikan jalan keluar dari setiap kegelisahan dan memberikan kelapangan dari setiap kesempitan.” (Liqā’ al-Bāb al-Maftūḥ, pertemuan ke-17).Inilah yang membedakan seorang mukmin dengan orang yang dikuasai overthinking. Orang yang overthinking menghabiskan waktunya untuk mencemaskan masa depan yang belum tentu terjadi. Adapun seorang mukmin menggunakan waktunya untuk memperbaiki amal hari ini, karena ia sadar bahwa kapan pun kematian datang, bekal terbaik yang dapat dibawa hanyalah iman dan amal saleh. Renungan Tahapan Usia Manusia dari Ibnul JauziImam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata dalam kitab Shaid Al-Khathir:اَلْعَاقِلُ مَنْ فَهِمَ مَقَادِيرَ الزَّمَانِ؛ فَإِنَّهُ فِيمَا قَبْلَ الْبُلُوغِ صَبِيٌّ، لَيْسَ عَلَى عُمُرِهِ عِيَارٌ. فَإِذَا بَلَغَ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ زَمَانُ الْمُجَاهَدَةِ لِلْهَوَى، وَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ. فَإِذَا رُزِقَ الْأَوْلَادَ، فَهُوَ زَمَانُ الْكَسْبِ لِلْمَعَاشِ. فَإِذَا بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ، انْتَهَى تَمَامُهُ، وَقَضَى مَنَاسِكَ الْأَجَلِ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا الِانْحِدَارُ إِلَى الْوَطَنِ. كَأَنَّ الْفَتَى يَرْقَى مِنَ الْعُمْرِ سُلَّمًا … إِلَى أَنْ يُجَاوِزَ الْأَرْبَعِينَ وَيَنْحَطَّ فَيَنْبَغِي لَهُ عِنْدَ تَمَامِ الْأَرْبَعِينَ أَنْ يَجْعَلَ جُلَّ هِمَّتِهِ التَّزَوُّدَ لِلْآخِرَةِ، وَيَكُونَ كُلُّ تَلَمُّحِهِ لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ، وَيَأْخُذَ فِي الِاسْتِعْدَادِ لِلرَّحِيلِ، وَإِنْ كَانَ الْخِطَابُ بِهَذَا لِابْنِ عِشْرِينَ، إِلَّا أَنَّ رَجَاءَ التَّدَارُكِ فِي حَقِّ الصَّغِيرِ، لَا فِي حَقِّ الْكَبِيرِ. فَإِذَا بَلَغَ السِّتِّينَ؛ فَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ فِي الْأَجَلِ، وَجَازَ مِنَ الزَّمَنِ، فَلْيُقْبِلْ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى جَمْعِ زَادِهِ، وَتَهْيِئَةِ آلَاتِ السَّفَرِ، وَلْيَعْتَقِدْ أَنَّ كُلَّ يَوْمٍ يَحْيَا فِيهِ غَنِيمَةٌ، مَا هِيَ فِي الْحِسَابِ، خُصُوصًا إِذَا قَوِيَ عَلَيْهِ الضَّعْفُ وَزَادَ. وَكُلَّمَا عَلَتْ سِنُّهُ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَزِيدَ اجْتِهَادُهُ. فَإِذَا دَخَلَ فِي عَشْرِ الثَّمَانِينَ، لَيْسَ إِلَّا الْوَدَاعُ، وَمَا بَقِيَ مِنَ الْعُمْرِ إِلَّا أَسَفٌ عَلَى تَفْرِيطٍ، أَوْ تَعَبُّدٌ عَلَى ضَعْفٍ. نَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقَظَةً تَامَّةً، تَصْرِفُ عَنَّا رُقَادَ الْغَفَلَاتِ، وَعَمَلًا صَالِحًا نَأْمَنُ مَعَهُ مِنَ النَّدَمِ يَوْمَ الِانْتِقَالِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ.“Orang yang berakal adalah orang yang memahami tahapan-tahapan usianya. Sebelum balig, seseorang masih anak-anak sehingga usianya belum menjadi ukuran yang berarti.Ketika telah baligh, ia harus menyadari bahwa inilah masa untuk melawan hawa nafsu dan menuntut ilmu.Setelah Allah menganugerahinya anak-anak, maka itulah masa untuk bekerja dan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup.Apabila telah mencapai usia empat puluh tahun, berarti masa kesempurnaannya telah berlalu. Ia telah menempuh sebagian besar perjalanan hidupnya, dan setelah itu tinggal menuruni perjalanan menuju kampung akhirat.Seakan-akan seseorang menaiki tangga demi tangga sepanjang usianya, hingga ketika melewati usia empat puluh tahun, ia mulai menuruni tangga tersebut.Karena itu, ketika genap berusia empat puluh tahun, hendaknya sebagian besar perhatian dan cita-citanya diarahkan untuk memperbanyak bekal menuju akhirat. Pandangannya hendaknya lebih banyak tertuju kepada kehidupan yang akan dihadapinya nanti, lalu mulai bersiap-siap untuk perjalanan menuju akhirat. Nasihat ini sebenarnya juga berlaku bagi orang yang berusia dua puluh tahun. Hanya saja, kesempatan untuk memperbaiki diri masih lebih luas bagi orang yang muda dibandingkan orang yang sudah tua.Apabila seseorang telah mencapai usia enam puluh tahun, berarti Allah telah memberikan kesempatan yang panjang kepadanya. Hendaklah ia benar-benar memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengumpulkan bekal akhirat dan mempersiapkan perjalanan menuju kehidupan setelah mati. Hendaknya ia meyakini bahwa setiap hari tambahan umur yang masih Allah berikan adalah keuntungan besar yang tidak ternilai, terlebih ketika kelemahan fisik semakin terasa.Semakin bertambah usianya, hendaknya semakin besar pula kesungguhannya dalam beribadah.Apabila seseorang telah memasuki usia delapan puluh tahun, maka yang tersisa hanyalah menanti perpisahan dengan dunia. Sisa usianya biasanya hanya diisi oleh penyesalan atas kelalaian yang telah lalu atau beribadah dalam keadaan fisik yang telah lemah.Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menganugerahkan kepada kita hati yang selalu terjaga sehingga terhindar dari kelalaian, serta amal saleh yang membuat kita selamat dari penyesalan ketika tiba saat meninggalkan dunia. Hanya Allah-lah yang memberikan taufik.” Doa Agar Tidak Overthinking dengan Masa TuaDoa #05 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa Berlindung dari Kemalasan Beribadah, Masa Tua yang Jelek, dan Syahwat Duniaاللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL JUBNI, WA A’UUDZU BIKA AN ARUDDA ILAA ARDZALIL ‘UMUR, WA A’UUDZU BIKA MIN FITNATID DUN-YAA, WA A’UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL QOBRI. Artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari sifat lemah dalam melakukan ibadah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari keadaan tua yang jelek, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari godaan syahwat dunia (sehingga lalai dari kewajiban, pen.), dan aku meminta perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur. (HR. Bukhari, no. 2822) Doa #08 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa agar Diperbagus Setiap Urusanاللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُوْرِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِALLOOHUMMA AHSIN ‘AAQIBATANAA FIL UMUURI KULLIHAA, WA AJIRNAA MIN KHIZYID DUN-YAA WA ‘ADZAAِBIL AAKHIROH.Artinya: Ya Allah, baguskanlah setiap akhir urusan kami, dan selamatkanlah dari kebinasaan di dunia dan dari siksa akhirat. (HR. Ahmad, 4:181, dari Busr bin Arthah Al-Qurasyi) Doa #13 dari Buku 50 Doa Mengatasi Problem HidupDoa Meminta Panjang Umur dan Bagusnya Amalاللَّهُمَّ أَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي، وَاغْفِرْ لِيAllāhumma aṭil ḥayātī ‘alā ṭā’atik, wa aḥsin ‘amalī, waghfir lī.“Ya Allah, panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosa-dosaku.”  —– Selasa, 21 Juli 2027Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh doa nabi hari tua husnul khatimah kematian masa tua overthinking persiapan akhirat psikologi Islam tawakal

Mengapa Nabi Muhammad ﷺ Wafat Lebih Dahulu? Ini Rahmat Allah bagi Umat Islam

Mengapa Allah mewafatkan Nabi Muhammad ﷺ sebelum seluruh umatnya? Bukankah kehadiran beliau menjadi rahmat terbesar bagi kaum muslimin? Ternyata, di balik wafatnya Rasulullah ﷺ terdapat hikmah besar yang menunjukkan kasih sayang Allah kepada umat ini, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits sahih.  Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Bab Ar-Raja’ (Berharap) 2. Hadits 28/439 3. Kosa Kata Hadits 4. Faedah Hadits  Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Bab Ar-Raja’ (Berharap)Hadits 28/439 وَعَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ«إِذَا أَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى رَحْمَةَ أُمَّةٍ، قَبَضَ نَبِيَّهَا قَبْلَهَا، فَجَعَلَهُ لَهَا فَرَطًا وَسَلَفًا بَيْنَ يَدَيْهَا، وَإِذَا أَرَادَ هَلَكَةَ أُمَّةٍ، عَذَّبَهَا وَنَبِيُّهَا حَيٌّ، فَأَهْلَكَهَا وَهُوَ حَيٌّ يَنْظُرُ، فَأَقَرَّ عَيْنَهُ بِهَلَاكِهَا حِينَ كَذَّبُوهُ وَعَصَوْا أَمْرَهُ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Apabila Allah Ta’ala menghendaki rahmat bagi suatu umat, Dia mewafatkan nabi mereka lebih dahulu. Dengan demikian, nabi itu menjadi pendahulu dan orang yang lebih dahulu menyongsong mereka. Namun, apabila Allah menghendaki kebinasaan suatu umat, Dia mengazab mereka ketika nabi mereka masih hidup. Lalu Allah membinasakan mereka sementara nabi mereka menyaksikannya, sehingga Allah menyejukkan pandangannya dengan kebinasaan mereka sebagai balasan karena mereka telah mendustakan dan mendurhakai perintahnya.”(HR. Muslim, no. 2288) Kosa Kata Haditsفَرَطًا (farathan): orang yang mendahului dan lebih dahulu sampai.بَيْنَ يَدَيْهَا (baina yadaihā): di hadapan mereka.فَأَقَرَّ عَيْنَهُ (fa aqarrā ‘ainahu): Allah memberikan kegembiraan kepadanya dengan menyaksikan kebinasaan mereka sebagai balasan atas pendustaan dan kedurhakaan mereka. Faedah Hadits1. Umat Nabi Muhammad ﷺ adalah umat yang dirahmati Allah.Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada umat ini adalah Dia mewafatkan Nabi Muhammad ﷺ lebih dahulu sebelum umatnya. Karena itu, umat ini adalah umat yang mendapatkan rahmat. Kita memohon kepada Allah agar menjadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai pendahulu yang menanti kita di telaga (Al-Haudh) pada hari kiamat.2. Para nabi sangat memperhatikan umat mereka.Para nabi memiliki perhatian yang besar terhadap kaumnya. Mereka bersungguh-sungguh menjaga, membimbing, dan berusaha memperbaiki keadaan umatnya agar selamat di dunia dan akhirat.3. Azab bagi orang-orang kafir merupakan kemenangan bagi para nabi dan para pengikutnya.Ketika orang-orang kafir terus-menerus mendustakan para rasul dan membangkang terhadap perintah Allah, lalu Allah membinasakan mereka, maka hal itu menjadi bentuk pertolongan Allah kepada para nabi dan pengikut mereka. Dengan demikian, tampaklah kemenangan kebenaran atas kebatilan. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. —– Senin, 20 Juli 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah islam hadis Muslim hari kiamat kajian hadis kisah para nabi nabi muhammad Rahmat Allah riyadhus sholihin riyadhus sholihin berharap sunnah nabi telaga Al-Haudh umat Islam

Mengapa Nabi Muhammad ﷺ Wafat Lebih Dahulu? Ini Rahmat Allah bagi Umat Islam

Mengapa Allah mewafatkan Nabi Muhammad ﷺ sebelum seluruh umatnya? Bukankah kehadiran beliau menjadi rahmat terbesar bagi kaum muslimin? Ternyata, di balik wafatnya Rasulullah ﷺ terdapat hikmah besar yang menunjukkan kasih sayang Allah kepada umat ini, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits sahih.  Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Bab Ar-Raja’ (Berharap) 2. Hadits 28/439 3. Kosa Kata Hadits 4. Faedah Hadits  Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Bab Ar-Raja’ (Berharap)Hadits 28/439 وَعَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ«إِذَا أَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى رَحْمَةَ أُمَّةٍ، قَبَضَ نَبِيَّهَا قَبْلَهَا، فَجَعَلَهُ لَهَا فَرَطًا وَسَلَفًا بَيْنَ يَدَيْهَا، وَإِذَا أَرَادَ هَلَكَةَ أُمَّةٍ، عَذَّبَهَا وَنَبِيُّهَا حَيٌّ، فَأَهْلَكَهَا وَهُوَ حَيٌّ يَنْظُرُ، فَأَقَرَّ عَيْنَهُ بِهَلَاكِهَا حِينَ كَذَّبُوهُ وَعَصَوْا أَمْرَهُ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Apabila Allah Ta’ala menghendaki rahmat bagi suatu umat, Dia mewafatkan nabi mereka lebih dahulu. Dengan demikian, nabi itu menjadi pendahulu dan orang yang lebih dahulu menyongsong mereka. Namun, apabila Allah menghendaki kebinasaan suatu umat, Dia mengazab mereka ketika nabi mereka masih hidup. Lalu Allah membinasakan mereka sementara nabi mereka menyaksikannya, sehingga Allah menyejukkan pandangannya dengan kebinasaan mereka sebagai balasan karena mereka telah mendustakan dan mendurhakai perintahnya.”(HR. Muslim, no. 2288) Kosa Kata Haditsفَرَطًا (farathan): orang yang mendahului dan lebih dahulu sampai.بَيْنَ يَدَيْهَا (baina yadaihā): di hadapan mereka.فَأَقَرَّ عَيْنَهُ (fa aqarrā ‘ainahu): Allah memberikan kegembiraan kepadanya dengan menyaksikan kebinasaan mereka sebagai balasan atas pendustaan dan kedurhakaan mereka. Faedah Hadits1. Umat Nabi Muhammad ﷺ adalah umat yang dirahmati Allah.Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada umat ini adalah Dia mewafatkan Nabi Muhammad ﷺ lebih dahulu sebelum umatnya. Karena itu, umat ini adalah umat yang mendapatkan rahmat. Kita memohon kepada Allah agar menjadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai pendahulu yang menanti kita di telaga (Al-Haudh) pada hari kiamat.2. Para nabi sangat memperhatikan umat mereka.Para nabi memiliki perhatian yang besar terhadap kaumnya. Mereka bersungguh-sungguh menjaga, membimbing, dan berusaha memperbaiki keadaan umatnya agar selamat di dunia dan akhirat.3. Azab bagi orang-orang kafir merupakan kemenangan bagi para nabi dan para pengikutnya.Ketika orang-orang kafir terus-menerus mendustakan para rasul dan membangkang terhadap perintah Allah, lalu Allah membinasakan mereka, maka hal itu menjadi bentuk pertolongan Allah kepada para nabi dan pengikut mereka. Dengan demikian, tampaklah kemenangan kebenaran atas kebatilan. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. —– Senin, 20 Juli 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah islam hadis Muslim hari kiamat kajian hadis kisah para nabi nabi muhammad Rahmat Allah riyadhus sholihin riyadhus sholihin berharap sunnah nabi telaga Al-Haudh umat Islam
Mengapa Allah mewafatkan Nabi Muhammad ﷺ sebelum seluruh umatnya? Bukankah kehadiran beliau menjadi rahmat terbesar bagi kaum muslimin? Ternyata, di balik wafatnya Rasulullah ﷺ terdapat hikmah besar yang menunjukkan kasih sayang Allah kepada umat ini, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits sahih.  Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Bab Ar-Raja’ (Berharap) 2. Hadits 28/439 3. Kosa Kata Hadits 4. Faedah Hadits  Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Bab Ar-Raja’ (Berharap)Hadits 28/439 وَعَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ«إِذَا أَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى رَحْمَةَ أُمَّةٍ، قَبَضَ نَبِيَّهَا قَبْلَهَا، فَجَعَلَهُ لَهَا فَرَطًا وَسَلَفًا بَيْنَ يَدَيْهَا، وَإِذَا أَرَادَ هَلَكَةَ أُمَّةٍ، عَذَّبَهَا وَنَبِيُّهَا حَيٌّ، فَأَهْلَكَهَا وَهُوَ حَيٌّ يَنْظُرُ، فَأَقَرَّ عَيْنَهُ بِهَلَاكِهَا حِينَ كَذَّبُوهُ وَعَصَوْا أَمْرَهُ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Apabila Allah Ta’ala menghendaki rahmat bagi suatu umat, Dia mewafatkan nabi mereka lebih dahulu. Dengan demikian, nabi itu menjadi pendahulu dan orang yang lebih dahulu menyongsong mereka. Namun, apabila Allah menghendaki kebinasaan suatu umat, Dia mengazab mereka ketika nabi mereka masih hidup. Lalu Allah membinasakan mereka sementara nabi mereka menyaksikannya, sehingga Allah menyejukkan pandangannya dengan kebinasaan mereka sebagai balasan karena mereka telah mendustakan dan mendurhakai perintahnya.”(HR. Muslim, no. 2288) Kosa Kata Haditsفَرَطًا (farathan): orang yang mendahului dan lebih dahulu sampai.بَيْنَ يَدَيْهَا (baina yadaihā): di hadapan mereka.فَأَقَرَّ عَيْنَهُ (fa aqarrā ‘ainahu): Allah memberikan kegembiraan kepadanya dengan menyaksikan kebinasaan mereka sebagai balasan atas pendustaan dan kedurhakaan mereka. Faedah Hadits1. Umat Nabi Muhammad ﷺ adalah umat yang dirahmati Allah.Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada umat ini adalah Dia mewafatkan Nabi Muhammad ﷺ lebih dahulu sebelum umatnya. Karena itu, umat ini adalah umat yang mendapatkan rahmat. Kita memohon kepada Allah agar menjadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai pendahulu yang menanti kita di telaga (Al-Haudh) pada hari kiamat.2. Para nabi sangat memperhatikan umat mereka.Para nabi memiliki perhatian yang besar terhadap kaumnya. Mereka bersungguh-sungguh menjaga, membimbing, dan berusaha memperbaiki keadaan umatnya agar selamat di dunia dan akhirat.3. Azab bagi orang-orang kafir merupakan kemenangan bagi para nabi dan para pengikutnya.Ketika orang-orang kafir terus-menerus mendustakan para rasul dan membangkang terhadap perintah Allah, lalu Allah membinasakan mereka, maka hal itu menjadi bentuk pertolongan Allah kepada para nabi dan pengikut mereka. Dengan demikian, tampaklah kemenangan kebenaran atas kebatilan. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. —– Senin, 20 Juli 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah islam hadis Muslim hari kiamat kajian hadis kisah para nabi nabi muhammad Rahmat Allah riyadhus sholihin riyadhus sholihin berharap sunnah nabi telaga Al-Haudh umat Islam


Mengapa Allah mewafatkan Nabi Muhammad ﷺ sebelum seluruh umatnya? Bukankah kehadiran beliau menjadi rahmat terbesar bagi kaum muslimin? Ternyata, di balik wafatnya Rasulullah ﷺ terdapat hikmah besar yang menunjukkan kasih sayang Allah kepada umat ini, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits sahih.  Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Bab Ar-Raja’ (Berharap) 2. Hadits 28/439 3. Kosa Kata Hadits 4. Faedah Hadits  Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Bab Ar-Raja’ (Berharap)Hadits 28/439 وَعَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ«إِذَا أَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى رَحْمَةَ أُمَّةٍ، قَبَضَ نَبِيَّهَا قَبْلَهَا، فَجَعَلَهُ لَهَا فَرَطًا وَسَلَفًا بَيْنَ يَدَيْهَا، وَإِذَا أَرَادَ هَلَكَةَ أُمَّةٍ، عَذَّبَهَا وَنَبِيُّهَا حَيٌّ، فَأَهْلَكَهَا وَهُوَ حَيٌّ يَنْظُرُ، فَأَقَرَّ عَيْنَهُ بِهَلَاكِهَا حِينَ كَذَّبُوهُ وَعَصَوْا أَمْرَهُ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Apabila Allah Ta’ala menghendaki rahmat bagi suatu umat, Dia mewafatkan nabi mereka lebih dahulu. Dengan demikian, nabi itu menjadi pendahulu dan orang yang lebih dahulu menyongsong mereka. Namun, apabila Allah menghendaki kebinasaan suatu umat, Dia mengazab mereka ketika nabi mereka masih hidup. Lalu Allah membinasakan mereka sementara nabi mereka menyaksikannya, sehingga Allah menyejukkan pandangannya dengan kebinasaan mereka sebagai balasan karena mereka telah mendustakan dan mendurhakai perintahnya.”(HR. Muslim, no. 2288) Kosa Kata Haditsفَرَطًا (farathan): orang yang mendahului dan lebih dahulu sampai.بَيْنَ يَدَيْهَا (baina yadaihā): di hadapan mereka.فَأَقَرَّ عَيْنَهُ (fa aqarrā ‘ainahu): Allah memberikan kegembiraan kepadanya dengan menyaksikan kebinasaan mereka sebagai balasan atas pendustaan dan kedurhakaan mereka. Faedah Hadits1. Umat Nabi Muhammad ﷺ adalah umat yang dirahmati Allah.Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada umat ini adalah Dia mewafatkan Nabi Muhammad ﷺ lebih dahulu sebelum umatnya. Karena itu, umat ini adalah umat yang mendapatkan rahmat. Kita memohon kepada Allah agar menjadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai pendahulu yang menanti kita di telaga (Al-Haudh) pada hari kiamat.2. Para nabi sangat memperhatikan umat mereka.Para nabi memiliki perhatian yang besar terhadap kaumnya. Mereka bersungguh-sungguh menjaga, membimbing, dan berusaha memperbaiki keadaan umatnya agar selamat di dunia dan akhirat.3. Azab bagi orang-orang kafir merupakan kemenangan bagi para nabi dan para pengikutnya.Ketika orang-orang kafir terus-menerus mendustakan para rasul dan membangkang terhadap perintah Allah, lalu Allah membinasakan mereka, maka hal itu menjadi bentuk pertolongan Allah kepada para nabi dan pengikut mereka. Dengan demikian, tampaklah kemenangan kebenaran atas kebatilan. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. —– Senin, 20 Juli 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah islam hadis Muslim hari kiamat kajian hadis kisah para nabi nabi muhammad Rahmat Allah riyadhus sholihin riyadhus sholihin berharap sunnah nabi telaga Al-Haudh umat Islam

Menggunakan ‘Privilege’ untuk Ketaatan (Bag. 1)

Daftar Isi TogglePrivilege bukan jaminan kemuliaanHarta sebagai privilegeIlmu dan pendidikan sebagai privilegePrivilege kedudukan dan jabatan adalah amanah yang beratDalam kehidupan ini, tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Ada yang lahir dalam keluarga terpandang, ada yang tumbuh dalam kesederhanaan. Ada yang memiliki akses pendidikan tinggi, ada yang harus berjuang sejak kecil. Ada yang memiliki relasi luas, jabatan strategis, pengaruh sosial, dan kemudahan ekonomi.Di zaman sekarang, istilah yang sering digunakan adalah privilege, yaitu keistimewaan atau kemudahan yang dimiliki seseorang karena latar belakang keluarga, ekonomi, pendidikan, relasi, atau kedudukan sosial.Namun dalam pandangan Islam, privilege bukan sekadar keberuntungan. Ia adalah ujian. Ia adalah amanah. Ia adalah sesuatu yang kelak akan dipertanyakan secara rinci di hadapan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ“Dialah yang menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi dan meninggikan sebagian kalian atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk menguji kalian terhadap apa yang Dia berikan kepada kalian.” (QS. Al-An‘am: 165)Perbedaan derajat bukan semata-mata kelebihan. Hakikatnya itu semua adalah ujian. Allah Azza wa Jalla berfirman,ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ“Kemudian pada hari itu kalian pasti akan ditanya tentang segala nikmat.” (QS. At-Takatsur: 8)Privilege bukan jaminan kemuliaanSering kali seseorang merasa bangga dengan keistimewaannya. Jabatan, harta, pendidikan tinggi, jaringan luas, atau akses terhadap kekuasaan membuatnya merasa lebih unggul. Kemuliaan sejati tetap ditentukan oleh ketakwaan,`إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Bukan yang paling kaya. Bukan yang paling terkenal. Bukan yang paling berpengaruh. Kemuliaan di sisi Allah bukan ditentukan oleh privilege, tetapi oleh bagaimana privilege itu digunakan.Harta sebagai privilegeHarta adalah salah satu privilege terbesar dalam kehidupan. Bahkan bagi sebagian orang, privilege terbesar adalah apabila memiliki harta yang melimpah. Padahal harta adalah salah satu fitnah bagi umat Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن لكل أُمَّة فتنة، وفِتنة أُمَّتي: المال“Setiap umat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ahmad)Harta bukan hanya nikmat. Ia adalah pertanyaan yang kelak harus dijawab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا تزولُ قدَما عبدٍ يومَ القيامةِ حتَّى يسألَ عن عمرِهِ فيما أفناهُ ، وعن عِلمِهِ فيمَ فعلَ ، وعن مالِهِ من أينَ اكتسبَهُ وفيمَ أنفقَهُ ، وعن جسمِهِ فيمَ أبلاهُ“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan; serta tentang tubuhnya, untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)Ingatlah bahwa segala kenikmatan, terutama harta, itu murni dari Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا“Dia telah memberikan kepada kalian dari segala yang kalian minta. Jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)Jika seseorang memiliki kelapangan harta, maka ia memiliki peluang besar untuk bersedekah, membangun masjid, membantu pendidikan, menolong fakir miskin, dan membiayai dakwah. Dan justru Allah akan melipatgandakan harta yang digunakan di jalan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah itu seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)Privilege harta bisa menjadi jalan menuju surga jika digunakan untuk sedekah, membantu dakwah, dan menolong yang lemah. Tetapi ia bisa menjadi sebab kebinasaan jika melahirkan kesombongan dan cinta dunia berlebihan. Allah mengingatkan dalam firman-Nya,وَلَا يَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ هُوَ خَيْرًا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا۟ بِهِۦ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 180)Ilmu dan pendidikan sebagai privilegeDi era modern, pendidikan adalah privilege besar. Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas. Dan orang yang mendapatkan privilege ini seharusnya bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Allah Azza wa Jalla berfirman,قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ“Katakanlah: apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)Allah Azza wa Jalla juga berfirman,يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)Namun, ilmu bukan untuk kebanggaan pribadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,من تعلَّم علمًا مما يبتغى به وجهَ اللهِ تعالى ، لا يتعلَّمُه إلا ليُصيبَ به عرضًا من الدنيا لم يجِدْ عَرْفَ الجنةِ يومَ القيامةِ . يعني ريحَها“Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya dituntut untuk mencari wajah Allah (karena Allah), tetapi ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan kepentingan dunia, maka ia tidak akan mencium aroma surga pada hari kiamat.” Yang dimaksud dengan ‘araf al-jannah adalah bau harum surga. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)Privilege ilmu seharusnya melahirkan kepedulian, bukan kesombongan. Ia harus menjadikan seseorang lebih rendah hati, lebih sabar dalam mengajar, lebih lembut dalam menasihati, dan lebih tulus dalam melayani umat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,المؤمن يألف ويؤلف ولا خير فيمن لا يألف ولا يؤلف وخير الناس أنفعهم للناس“Seorang mukmin itu mudah bergaul dan disenangi (mampu menjalin kedekatan dengan orang lain). Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bisa bergaul dan tidak disukai. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ath-Thabrani)Dan ini berlaku dalam segala bidang ilmu, bukan hanya ilmu agama. Ilmu kedokteran seharusnya melahirkan empati kepada pasien, bukan sekadar prestise profesi. Ilmu hukum seharusnya menegakkan keadilan, bukan menjadi alat permainan kepentingan. Ilmu ekonomi seharusnya menghadirkan kesejahteraan, bukan memperlebar kesenjangan. Ilmu pendidikan seharusnya mencerdaskan dan membentuk akhlak, bukan hanya menghasilkan angka-angka nilai. Ilmu teknologi seharusnya memudahkan kehidupan manusia, bukan memperbanyak kerusakan atau penyebaran keburukan.Dalam setiap disiplin, ilmu adalah cahaya. Namun cahaya itu bisa menjadi penerang atau justru menjadi api kesombongan, tergantung niat dan cara menggunakannya. Orang yang berilmu tetapi tidak peduli pada manusia, sesungguhnya belum memahami hakikat ilmunya.Karena itu, siapa pun yang diberi kelebihan dalam ilmu hendaknya terus bertanya pada dirinya:Sudahkah ilmuku memudahkan orang lain?Sudahkah ia menyelesaikan masalah, meringankan beban, atau membuka jalan kebaikan?Ataukah ia hanya menjadi kebanggaan pribadi, pajangan gelar, dan sumber pujian?Privilege kedudukan dan jabatan adalah amanah yang beratSalah satu privilege terbesar adalah kedudukan dan jabatan. Baik sebagai pejabat, pemimpin, tokoh masyarakat, pengusaha berpengaruh, ataupun figur publik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَيهِ فِيهَا“Sesungguhnya itu adalah amanah; dan pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban yang ada di dalamnya.” (HR. Muslim)Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sayangnya, banyak orang mengejar posisi dan jabatan karena melihat kehormatan dan fasilitasnya. Padahal di balik itu ada tanggung jawab yang sangat berat. Kekuasaan bisa menjadi jalan menuju surga bagi orang yang adil, amanah, dan takut kepada Allah. Namun ia juga bisa menjadi sebab kehancuran bagi orang yang zalim, sombong, dan menyalahgunakannya.Jabatan bukan tentang dilayani, tetapi tentang melayani. Bukan tentang dihormati, tetapi tentang memikul beban. Bukan tentang memperkaya diri, tetapi tentang memperluas manfaat.Oleh karena itu, siapa pun yang diberi privilege kekuasaan, hendaknya selalu bertanya: apakah kedudukan ini mendekatkanku kepada Allah, atau justru menjauhkan? Apakah ia menjadi jalan keadilan, atau sarana kepentingan pribadi?Jika seseorang memiliki privilege berupa jabatan, ia memiliki kesempatan besar untuk menegakkan keadilan dan mencegah kezaliman. Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ“Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan kebaikan.” (QS. An-Nahl: 90)Ingatlah balasan bagi pemimpin yang adil dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ“Tujuh golongan yang akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (yang pertama) pemimpin yang adil …” (HR. Bukhari dan Muslim)[Bersambung]***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Menggunakan ‘Privilege’ untuk Ketaatan (Bag. 1)

Daftar Isi TogglePrivilege bukan jaminan kemuliaanHarta sebagai privilegeIlmu dan pendidikan sebagai privilegePrivilege kedudukan dan jabatan adalah amanah yang beratDalam kehidupan ini, tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Ada yang lahir dalam keluarga terpandang, ada yang tumbuh dalam kesederhanaan. Ada yang memiliki akses pendidikan tinggi, ada yang harus berjuang sejak kecil. Ada yang memiliki relasi luas, jabatan strategis, pengaruh sosial, dan kemudahan ekonomi.Di zaman sekarang, istilah yang sering digunakan adalah privilege, yaitu keistimewaan atau kemudahan yang dimiliki seseorang karena latar belakang keluarga, ekonomi, pendidikan, relasi, atau kedudukan sosial.Namun dalam pandangan Islam, privilege bukan sekadar keberuntungan. Ia adalah ujian. Ia adalah amanah. Ia adalah sesuatu yang kelak akan dipertanyakan secara rinci di hadapan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ“Dialah yang menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi dan meninggikan sebagian kalian atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk menguji kalian terhadap apa yang Dia berikan kepada kalian.” (QS. Al-An‘am: 165)Perbedaan derajat bukan semata-mata kelebihan. Hakikatnya itu semua adalah ujian. Allah Azza wa Jalla berfirman,ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ“Kemudian pada hari itu kalian pasti akan ditanya tentang segala nikmat.” (QS. At-Takatsur: 8)Privilege bukan jaminan kemuliaanSering kali seseorang merasa bangga dengan keistimewaannya. Jabatan, harta, pendidikan tinggi, jaringan luas, atau akses terhadap kekuasaan membuatnya merasa lebih unggul. Kemuliaan sejati tetap ditentukan oleh ketakwaan,`إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Bukan yang paling kaya. Bukan yang paling terkenal. Bukan yang paling berpengaruh. Kemuliaan di sisi Allah bukan ditentukan oleh privilege, tetapi oleh bagaimana privilege itu digunakan.Harta sebagai privilegeHarta adalah salah satu privilege terbesar dalam kehidupan. Bahkan bagi sebagian orang, privilege terbesar adalah apabila memiliki harta yang melimpah. Padahal harta adalah salah satu fitnah bagi umat Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن لكل أُمَّة فتنة، وفِتنة أُمَّتي: المال“Setiap umat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ahmad)Harta bukan hanya nikmat. Ia adalah pertanyaan yang kelak harus dijawab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا تزولُ قدَما عبدٍ يومَ القيامةِ حتَّى يسألَ عن عمرِهِ فيما أفناهُ ، وعن عِلمِهِ فيمَ فعلَ ، وعن مالِهِ من أينَ اكتسبَهُ وفيمَ أنفقَهُ ، وعن جسمِهِ فيمَ أبلاهُ“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan; serta tentang tubuhnya, untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)Ingatlah bahwa segala kenikmatan, terutama harta, itu murni dari Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا“Dia telah memberikan kepada kalian dari segala yang kalian minta. Jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)Jika seseorang memiliki kelapangan harta, maka ia memiliki peluang besar untuk bersedekah, membangun masjid, membantu pendidikan, menolong fakir miskin, dan membiayai dakwah. Dan justru Allah akan melipatgandakan harta yang digunakan di jalan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah itu seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)Privilege harta bisa menjadi jalan menuju surga jika digunakan untuk sedekah, membantu dakwah, dan menolong yang lemah. Tetapi ia bisa menjadi sebab kebinasaan jika melahirkan kesombongan dan cinta dunia berlebihan. Allah mengingatkan dalam firman-Nya,وَلَا يَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ هُوَ خَيْرًا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا۟ بِهِۦ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 180)Ilmu dan pendidikan sebagai privilegeDi era modern, pendidikan adalah privilege besar. Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas. Dan orang yang mendapatkan privilege ini seharusnya bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Allah Azza wa Jalla berfirman,قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ“Katakanlah: apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)Allah Azza wa Jalla juga berfirman,يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)Namun, ilmu bukan untuk kebanggaan pribadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,من تعلَّم علمًا مما يبتغى به وجهَ اللهِ تعالى ، لا يتعلَّمُه إلا ليُصيبَ به عرضًا من الدنيا لم يجِدْ عَرْفَ الجنةِ يومَ القيامةِ . يعني ريحَها“Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya dituntut untuk mencari wajah Allah (karena Allah), tetapi ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan kepentingan dunia, maka ia tidak akan mencium aroma surga pada hari kiamat.” Yang dimaksud dengan ‘araf al-jannah adalah bau harum surga. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)Privilege ilmu seharusnya melahirkan kepedulian, bukan kesombongan. Ia harus menjadikan seseorang lebih rendah hati, lebih sabar dalam mengajar, lebih lembut dalam menasihati, dan lebih tulus dalam melayani umat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,المؤمن يألف ويؤلف ولا خير فيمن لا يألف ولا يؤلف وخير الناس أنفعهم للناس“Seorang mukmin itu mudah bergaul dan disenangi (mampu menjalin kedekatan dengan orang lain). Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bisa bergaul dan tidak disukai. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ath-Thabrani)Dan ini berlaku dalam segala bidang ilmu, bukan hanya ilmu agama. Ilmu kedokteran seharusnya melahirkan empati kepada pasien, bukan sekadar prestise profesi. Ilmu hukum seharusnya menegakkan keadilan, bukan menjadi alat permainan kepentingan. Ilmu ekonomi seharusnya menghadirkan kesejahteraan, bukan memperlebar kesenjangan. Ilmu pendidikan seharusnya mencerdaskan dan membentuk akhlak, bukan hanya menghasilkan angka-angka nilai. Ilmu teknologi seharusnya memudahkan kehidupan manusia, bukan memperbanyak kerusakan atau penyebaran keburukan.Dalam setiap disiplin, ilmu adalah cahaya. Namun cahaya itu bisa menjadi penerang atau justru menjadi api kesombongan, tergantung niat dan cara menggunakannya. Orang yang berilmu tetapi tidak peduli pada manusia, sesungguhnya belum memahami hakikat ilmunya.Karena itu, siapa pun yang diberi kelebihan dalam ilmu hendaknya terus bertanya pada dirinya:Sudahkah ilmuku memudahkan orang lain?Sudahkah ia menyelesaikan masalah, meringankan beban, atau membuka jalan kebaikan?Ataukah ia hanya menjadi kebanggaan pribadi, pajangan gelar, dan sumber pujian?Privilege kedudukan dan jabatan adalah amanah yang beratSalah satu privilege terbesar adalah kedudukan dan jabatan. Baik sebagai pejabat, pemimpin, tokoh masyarakat, pengusaha berpengaruh, ataupun figur publik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَيهِ فِيهَا“Sesungguhnya itu adalah amanah; dan pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban yang ada di dalamnya.” (HR. Muslim)Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sayangnya, banyak orang mengejar posisi dan jabatan karena melihat kehormatan dan fasilitasnya. Padahal di balik itu ada tanggung jawab yang sangat berat. Kekuasaan bisa menjadi jalan menuju surga bagi orang yang adil, amanah, dan takut kepada Allah. Namun ia juga bisa menjadi sebab kehancuran bagi orang yang zalim, sombong, dan menyalahgunakannya.Jabatan bukan tentang dilayani, tetapi tentang melayani. Bukan tentang dihormati, tetapi tentang memikul beban. Bukan tentang memperkaya diri, tetapi tentang memperluas manfaat.Oleh karena itu, siapa pun yang diberi privilege kekuasaan, hendaknya selalu bertanya: apakah kedudukan ini mendekatkanku kepada Allah, atau justru menjauhkan? Apakah ia menjadi jalan keadilan, atau sarana kepentingan pribadi?Jika seseorang memiliki privilege berupa jabatan, ia memiliki kesempatan besar untuk menegakkan keadilan dan mencegah kezaliman. Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ“Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan kebaikan.” (QS. An-Nahl: 90)Ingatlah balasan bagi pemimpin yang adil dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ“Tujuh golongan yang akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (yang pertama) pemimpin yang adil …” (HR. Bukhari dan Muslim)[Bersambung]***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi TogglePrivilege bukan jaminan kemuliaanHarta sebagai privilegeIlmu dan pendidikan sebagai privilegePrivilege kedudukan dan jabatan adalah amanah yang beratDalam kehidupan ini, tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Ada yang lahir dalam keluarga terpandang, ada yang tumbuh dalam kesederhanaan. Ada yang memiliki akses pendidikan tinggi, ada yang harus berjuang sejak kecil. Ada yang memiliki relasi luas, jabatan strategis, pengaruh sosial, dan kemudahan ekonomi.Di zaman sekarang, istilah yang sering digunakan adalah privilege, yaitu keistimewaan atau kemudahan yang dimiliki seseorang karena latar belakang keluarga, ekonomi, pendidikan, relasi, atau kedudukan sosial.Namun dalam pandangan Islam, privilege bukan sekadar keberuntungan. Ia adalah ujian. Ia adalah amanah. Ia adalah sesuatu yang kelak akan dipertanyakan secara rinci di hadapan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ“Dialah yang menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi dan meninggikan sebagian kalian atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk menguji kalian terhadap apa yang Dia berikan kepada kalian.” (QS. Al-An‘am: 165)Perbedaan derajat bukan semata-mata kelebihan. Hakikatnya itu semua adalah ujian. Allah Azza wa Jalla berfirman,ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ“Kemudian pada hari itu kalian pasti akan ditanya tentang segala nikmat.” (QS. At-Takatsur: 8)Privilege bukan jaminan kemuliaanSering kali seseorang merasa bangga dengan keistimewaannya. Jabatan, harta, pendidikan tinggi, jaringan luas, atau akses terhadap kekuasaan membuatnya merasa lebih unggul. Kemuliaan sejati tetap ditentukan oleh ketakwaan,`إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Bukan yang paling kaya. Bukan yang paling terkenal. Bukan yang paling berpengaruh. Kemuliaan di sisi Allah bukan ditentukan oleh privilege, tetapi oleh bagaimana privilege itu digunakan.Harta sebagai privilegeHarta adalah salah satu privilege terbesar dalam kehidupan. Bahkan bagi sebagian orang, privilege terbesar adalah apabila memiliki harta yang melimpah. Padahal harta adalah salah satu fitnah bagi umat Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن لكل أُمَّة فتنة، وفِتنة أُمَّتي: المال“Setiap umat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ahmad)Harta bukan hanya nikmat. Ia adalah pertanyaan yang kelak harus dijawab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا تزولُ قدَما عبدٍ يومَ القيامةِ حتَّى يسألَ عن عمرِهِ فيما أفناهُ ، وعن عِلمِهِ فيمَ فعلَ ، وعن مالِهِ من أينَ اكتسبَهُ وفيمَ أنفقَهُ ، وعن جسمِهِ فيمَ أبلاهُ“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan; serta tentang tubuhnya, untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)Ingatlah bahwa segala kenikmatan, terutama harta, itu murni dari Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا“Dia telah memberikan kepada kalian dari segala yang kalian minta. Jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)Jika seseorang memiliki kelapangan harta, maka ia memiliki peluang besar untuk bersedekah, membangun masjid, membantu pendidikan, menolong fakir miskin, dan membiayai dakwah. Dan justru Allah akan melipatgandakan harta yang digunakan di jalan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah itu seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)Privilege harta bisa menjadi jalan menuju surga jika digunakan untuk sedekah, membantu dakwah, dan menolong yang lemah. Tetapi ia bisa menjadi sebab kebinasaan jika melahirkan kesombongan dan cinta dunia berlebihan. Allah mengingatkan dalam firman-Nya,وَلَا يَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ هُوَ خَيْرًا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا۟ بِهِۦ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 180)Ilmu dan pendidikan sebagai privilegeDi era modern, pendidikan adalah privilege besar. Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas. Dan orang yang mendapatkan privilege ini seharusnya bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Allah Azza wa Jalla berfirman,قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ“Katakanlah: apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)Allah Azza wa Jalla juga berfirman,يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)Namun, ilmu bukan untuk kebanggaan pribadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,من تعلَّم علمًا مما يبتغى به وجهَ اللهِ تعالى ، لا يتعلَّمُه إلا ليُصيبَ به عرضًا من الدنيا لم يجِدْ عَرْفَ الجنةِ يومَ القيامةِ . يعني ريحَها“Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya dituntut untuk mencari wajah Allah (karena Allah), tetapi ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan kepentingan dunia, maka ia tidak akan mencium aroma surga pada hari kiamat.” Yang dimaksud dengan ‘araf al-jannah adalah bau harum surga. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)Privilege ilmu seharusnya melahirkan kepedulian, bukan kesombongan. Ia harus menjadikan seseorang lebih rendah hati, lebih sabar dalam mengajar, lebih lembut dalam menasihati, dan lebih tulus dalam melayani umat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,المؤمن يألف ويؤلف ولا خير فيمن لا يألف ولا يؤلف وخير الناس أنفعهم للناس“Seorang mukmin itu mudah bergaul dan disenangi (mampu menjalin kedekatan dengan orang lain). Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bisa bergaul dan tidak disukai. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ath-Thabrani)Dan ini berlaku dalam segala bidang ilmu, bukan hanya ilmu agama. Ilmu kedokteran seharusnya melahirkan empati kepada pasien, bukan sekadar prestise profesi. Ilmu hukum seharusnya menegakkan keadilan, bukan menjadi alat permainan kepentingan. Ilmu ekonomi seharusnya menghadirkan kesejahteraan, bukan memperlebar kesenjangan. Ilmu pendidikan seharusnya mencerdaskan dan membentuk akhlak, bukan hanya menghasilkan angka-angka nilai. Ilmu teknologi seharusnya memudahkan kehidupan manusia, bukan memperbanyak kerusakan atau penyebaran keburukan.Dalam setiap disiplin, ilmu adalah cahaya. Namun cahaya itu bisa menjadi penerang atau justru menjadi api kesombongan, tergantung niat dan cara menggunakannya. Orang yang berilmu tetapi tidak peduli pada manusia, sesungguhnya belum memahami hakikat ilmunya.Karena itu, siapa pun yang diberi kelebihan dalam ilmu hendaknya terus bertanya pada dirinya:Sudahkah ilmuku memudahkan orang lain?Sudahkah ia menyelesaikan masalah, meringankan beban, atau membuka jalan kebaikan?Ataukah ia hanya menjadi kebanggaan pribadi, pajangan gelar, dan sumber pujian?Privilege kedudukan dan jabatan adalah amanah yang beratSalah satu privilege terbesar adalah kedudukan dan jabatan. Baik sebagai pejabat, pemimpin, tokoh masyarakat, pengusaha berpengaruh, ataupun figur publik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَيهِ فِيهَا“Sesungguhnya itu adalah amanah; dan pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban yang ada di dalamnya.” (HR. Muslim)Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sayangnya, banyak orang mengejar posisi dan jabatan karena melihat kehormatan dan fasilitasnya. Padahal di balik itu ada tanggung jawab yang sangat berat. Kekuasaan bisa menjadi jalan menuju surga bagi orang yang adil, amanah, dan takut kepada Allah. Namun ia juga bisa menjadi sebab kehancuran bagi orang yang zalim, sombong, dan menyalahgunakannya.Jabatan bukan tentang dilayani, tetapi tentang melayani. Bukan tentang dihormati, tetapi tentang memikul beban. Bukan tentang memperkaya diri, tetapi tentang memperluas manfaat.Oleh karena itu, siapa pun yang diberi privilege kekuasaan, hendaknya selalu bertanya: apakah kedudukan ini mendekatkanku kepada Allah, atau justru menjauhkan? Apakah ia menjadi jalan keadilan, atau sarana kepentingan pribadi?Jika seseorang memiliki privilege berupa jabatan, ia memiliki kesempatan besar untuk menegakkan keadilan dan mencegah kezaliman. Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ“Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan kebaikan.” (QS. An-Nahl: 90)Ingatlah balasan bagi pemimpin yang adil dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ“Tujuh golongan yang akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (yang pertama) pemimpin yang adil …” (HR. Bukhari dan Muslim)[Bersambung]***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi TogglePrivilege bukan jaminan kemuliaanHarta sebagai privilegeIlmu dan pendidikan sebagai privilegePrivilege kedudukan dan jabatan adalah amanah yang beratDalam kehidupan ini, tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Ada yang lahir dalam keluarga terpandang, ada yang tumbuh dalam kesederhanaan. Ada yang memiliki akses pendidikan tinggi, ada yang harus berjuang sejak kecil. Ada yang memiliki relasi luas, jabatan strategis, pengaruh sosial, dan kemudahan ekonomi.Di zaman sekarang, istilah yang sering digunakan adalah privilege, yaitu keistimewaan atau kemudahan yang dimiliki seseorang karena latar belakang keluarga, ekonomi, pendidikan, relasi, atau kedudukan sosial.Namun dalam pandangan Islam, privilege bukan sekadar keberuntungan. Ia adalah ujian. Ia adalah amanah. Ia adalah sesuatu yang kelak akan dipertanyakan secara rinci di hadapan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ“Dialah yang menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi dan meninggikan sebagian kalian atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk menguji kalian terhadap apa yang Dia berikan kepada kalian.” (QS. Al-An‘am: 165)Perbedaan derajat bukan semata-mata kelebihan. Hakikatnya itu semua adalah ujian. Allah Azza wa Jalla berfirman,ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ“Kemudian pada hari itu kalian pasti akan ditanya tentang segala nikmat.” (QS. At-Takatsur: 8)Privilege bukan jaminan kemuliaanSering kali seseorang merasa bangga dengan keistimewaannya. Jabatan, harta, pendidikan tinggi, jaringan luas, atau akses terhadap kekuasaan membuatnya merasa lebih unggul. Kemuliaan sejati tetap ditentukan oleh ketakwaan,`إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Bukan yang paling kaya. Bukan yang paling terkenal. Bukan yang paling berpengaruh. Kemuliaan di sisi Allah bukan ditentukan oleh privilege, tetapi oleh bagaimana privilege itu digunakan.Harta sebagai privilegeHarta adalah salah satu privilege terbesar dalam kehidupan. Bahkan bagi sebagian orang, privilege terbesar adalah apabila memiliki harta yang melimpah. Padahal harta adalah salah satu fitnah bagi umat Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن لكل أُمَّة فتنة، وفِتنة أُمَّتي: المال“Setiap umat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ahmad)Harta bukan hanya nikmat. Ia adalah pertanyaan yang kelak harus dijawab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا تزولُ قدَما عبدٍ يومَ القيامةِ حتَّى يسألَ عن عمرِهِ فيما أفناهُ ، وعن عِلمِهِ فيمَ فعلَ ، وعن مالِهِ من أينَ اكتسبَهُ وفيمَ أنفقَهُ ، وعن جسمِهِ فيمَ أبلاهُ“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan; serta tentang tubuhnya, untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)Ingatlah bahwa segala kenikmatan, terutama harta, itu murni dari Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا“Dia telah memberikan kepada kalian dari segala yang kalian minta. Jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)Jika seseorang memiliki kelapangan harta, maka ia memiliki peluang besar untuk bersedekah, membangun masjid, membantu pendidikan, menolong fakir miskin, dan membiayai dakwah. Dan justru Allah akan melipatgandakan harta yang digunakan di jalan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah itu seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)Privilege harta bisa menjadi jalan menuju surga jika digunakan untuk sedekah, membantu dakwah, dan menolong yang lemah. Tetapi ia bisa menjadi sebab kebinasaan jika melahirkan kesombongan dan cinta dunia berlebihan. Allah mengingatkan dalam firman-Nya,وَلَا يَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ هُوَ خَيْرًا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا۟ بِهِۦ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 180)Ilmu dan pendidikan sebagai privilegeDi era modern, pendidikan adalah privilege besar. Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas. Dan orang yang mendapatkan privilege ini seharusnya bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Allah Azza wa Jalla berfirman,قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ“Katakanlah: apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)Allah Azza wa Jalla juga berfirman,يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)Namun, ilmu bukan untuk kebanggaan pribadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,من تعلَّم علمًا مما يبتغى به وجهَ اللهِ تعالى ، لا يتعلَّمُه إلا ليُصيبَ به عرضًا من الدنيا لم يجِدْ عَرْفَ الجنةِ يومَ القيامةِ . يعني ريحَها“Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya dituntut untuk mencari wajah Allah (karena Allah), tetapi ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan kepentingan dunia, maka ia tidak akan mencium aroma surga pada hari kiamat.” Yang dimaksud dengan ‘araf al-jannah adalah bau harum surga. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)Privilege ilmu seharusnya melahirkan kepedulian, bukan kesombongan. Ia harus menjadikan seseorang lebih rendah hati, lebih sabar dalam mengajar, lebih lembut dalam menasihati, dan lebih tulus dalam melayani umat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,المؤمن يألف ويؤلف ولا خير فيمن لا يألف ولا يؤلف وخير الناس أنفعهم للناس“Seorang mukmin itu mudah bergaul dan disenangi (mampu menjalin kedekatan dengan orang lain). Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bisa bergaul dan tidak disukai. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ath-Thabrani)Dan ini berlaku dalam segala bidang ilmu, bukan hanya ilmu agama. Ilmu kedokteran seharusnya melahirkan empati kepada pasien, bukan sekadar prestise profesi. Ilmu hukum seharusnya menegakkan keadilan, bukan menjadi alat permainan kepentingan. Ilmu ekonomi seharusnya menghadirkan kesejahteraan, bukan memperlebar kesenjangan. Ilmu pendidikan seharusnya mencerdaskan dan membentuk akhlak, bukan hanya menghasilkan angka-angka nilai. Ilmu teknologi seharusnya memudahkan kehidupan manusia, bukan memperbanyak kerusakan atau penyebaran keburukan.Dalam setiap disiplin, ilmu adalah cahaya. Namun cahaya itu bisa menjadi penerang atau justru menjadi api kesombongan, tergantung niat dan cara menggunakannya. Orang yang berilmu tetapi tidak peduli pada manusia, sesungguhnya belum memahami hakikat ilmunya.Karena itu, siapa pun yang diberi kelebihan dalam ilmu hendaknya terus bertanya pada dirinya:Sudahkah ilmuku memudahkan orang lain?Sudahkah ia menyelesaikan masalah, meringankan beban, atau membuka jalan kebaikan?Ataukah ia hanya menjadi kebanggaan pribadi, pajangan gelar, dan sumber pujian?Privilege kedudukan dan jabatan adalah amanah yang beratSalah satu privilege terbesar adalah kedudukan dan jabatan. Baik sebagai pejabat, pemimpin, tokoh masyarakat, pengusaha berpengaruh, ataupun figur publik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَيهِ فِيهَا“Sesungguhnya itu adalah amanah; dan pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban yang ada di dalamnya.” (HR. Muslim)Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sayangnya, banyak orang mengejar posisi dan jabatan karena melihat kehormatan dan fasilitasnya. Padahal di balik itu ada tanggung jawab yang sangat berat. Kekuasaan bisa menjadi jalan menuju surga bagi orang yang adil, amanah, dan takut kepada Allah. Namun ia juga bisa menjadi sebab kehancuran bagi orang yang zalim, sombong, dan menyalahgunakannya.Jabatan bukan tentang dilayani, tetapi tentang melayani. Bukan tentang dihormati, tetapi tentang memikul beban. Bukan tentang memperkaya diri, tetapi tentang memperluas manfaat.Oleh karena itu, siapa pun yang diberi privilege kekuasaan, hendaknya selalu bertanya: apakah kedudukan ini mendekatkanku kepada Allah, atau justru menjauhkan? Apakah ia menjadi jalan keadilan, atau sarana kepentingan pribadi?Jika seseorang memiliki privilege berupa jabatan, ia memiliki kesempatan besar untuk menegakkan keadilan dan mencegah kezaliman. Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ“Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan kebaikan.” (QS. An-Nahl: 90)Ingatlah balasan bagi pemimpin yang adil dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ“Tujuh golongan yang akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (yang pertama) pemimpin yang adil …” (HR. Bukhari dan Muslim)[Bersambung]***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Tafsir Surah Abasa (Bag. 2): Al-Qur’an adalah Nasihat bagi Jiwa Manusia

Pada penggalan ayat sebelumnya, Allah bercerita tentang Nabi yang bermuka masam ketika konsentrasi beliau dalam mendakwahi pembesar Quraisy “diganggu” oleh Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Maka dalam penggalan ayat berikutnya, Allah memulai dengan kalimat “Kalla” yang bermakna “Jangan melakukan hal seperti itu lagi”, menjadi pelajaran bagi kita semua untuk memperhatikan para orang-orang lemah dan jangan berpaling dengan silaunya harta dunia milik orang-orang kaya dan tamak menginginkan bagian tersebut dari mereka.Al-Qur’an memberikan pelajaran atas hal tersebut, bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, mempelajarinya, kemudian mengamalkannya. Akan tetapi, Al-Qur’an juga akan menuntut kita di hari kiamat jika kita menelantarkannya. Maka hal ini adalah kandungan yang akan kita tadabburi bersama dalam lanjutan tafsir ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ۚ“Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya (ajaran Allah) itu merupakan peringatan.” (QS. Abasa: 11)Allah menjelaskan kepada Nabi, wahai Rasulullah, janganlah engkau melakukan kembali seperti apa yang terjadi pada Ibnu Ummi Maktum.Perkara yang dijelaskan oleh Nabi adalah Al-Qur’an, surat yang terkandung dan ayat yang terangkai indah semuanya adalah nasihat serta peringatan bagi seluruh makhluk. Peganglah dengan kuat semua ayatnya serta amalkan, maka niscaya hal itu akan cukup menjadi peringatan agar tidak terjurumus ke dalam gelapnya kesyirikan dan kekufuran.Dalam ayat ini, terkandung pengagungan terhadap kedudukan Al-Qur’an, baik orang-orang kafir itu mau menerima hidayahnya atau tidak mau, maka Al-Qur’an tetaplah mulia dan penuh dengan hidayah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗ ۘ“Siapa yang menghendaki tentulah akan memperhatikannya.” (QS. Abasa: 12)Al-Qur’an adalah pemberi peringatan yang sangat jelas. Setiap orang yang dijelaskan kandungannya pasti akan mampu untuk memahami dan menyadari hidayah di dalamnya. Siapa saja yang berniat memperhatikan dengan baik, maka Allah akan berikan jalan untuk memahaminya.Ayat ini menjadi bantahan bagi mereka yang mengatakan, “Kalau memang Al-Qur’an itu hidayah, mengapa masih banyak orang yang tersesat?” Maka jawabannya, kesalahan bukan ada pada Al-Qur’an, akan tetapi kesalahannya terletak pada mereka yang tidak mau menggunakan akalnya untuk merenungi Al-Qur’an. Mereka hanya menggunakan akalnya untuk meraup keuntungan duniawi dan hidup enak di dunia saja, namun tidak mau merenungi kehidupan akhirat, tidak mau merenungi dan menelaah bahwa ada kitab suci terakhir yang bernama Al-Qur’an.Kesalahan juga ada pada mereka yang sudah merenungi dan mempelajari Al-Qur’an, akan tetapi hatinya menolak hidayah karena kesombongan. Sebagaimana kisah Fir’aun yang hatinya mengetahui bahwa yang disampaikan Nabi Musa adalah kebenaran, namun tubuh dan lisannya menolak karena kesombongan yang ada pada hatinya. Kesombongannya mengalahkan hidayah yang telah Allah berikan, maka Allah campakkan dia dalam kesesatan yang semakin gelap.Kemudian Allah melanjutkan penjelasan tentang keagungan Al-Qur’an.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍۙ , مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ ۢ ۙ , بِاَيْدِيْ سَفَرَةٍۙ , كِرَامٍۢ بَرَرَةٍۗ“Di dalam suhuf yang dimuliakan (di sisi Allah), yang ditinggikan (kedudukannya) lagi disucikan, di tangan para utusan (malaikat) yang mulia lagi berbudi.” (QS. Abasa: 13-16)Al-Qur’an adalah untaian hidayah, suatu kitab berisi ilmu serta hikmah, yang terjaga dengan sempurna pada lembaran-lembaran yang dimuliakan oleh Allah.Allah meninggikan derajat Al-Qur’an dan orang-orang yang berinteraksi dengan baik dengannya. Allah menyucikannya dari semua kesalahan, baik teks maupun makna yang terkandung padanya, tidak ada satu pun kesalahan ada padanya yang dapat mengotorinya.Allah menjaga Al-Qur’an dari dikotori oleh setan dalam bentuk manusia dan jin. Ketika Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah selama berangsur-angsur, Allah perketat penjagaan pada tiap pintu dan lapis langit, agar setan jin tidak bisa menguping atau mengganggu turunnya wahyu yang agung ini.Ketika Al-Qur’an sudah lengkap, Allah juga menjaga kitab suci ini dari tangan-tangan kotor orang kafir yang ingin menambah dan mengurangi isinya, menggantinya, bahkan membuat tandingannya. Allah hinakan semua orang yang berniat buruk kepadanya.Allah juga memuliakan para malaikat yang membawanya dari langit sampai ke hati Rasulullah. Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullah menjelaskan bahwa kata “safarah” dalam ayat tersebut adalah malaikat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,قُتِلَ الْاِنْسَانُ مَآ اَكْفَرَهٗۗ“Celakalah manusia! Alangkah kufur dia!” (QS. Abasa: 17)Kalimat ini adalah bentuk kalimat yang biasa dipakai orang Arab untuk menunjukkan perasaan “kaget” dan heran. Kita diajak berpikir, kok bisa-bisanya ada manusia yang kafir berpaling dari iman.Allah telah tunjukkan berbagai bukti kekuasaannya lewat indahnya alam semesta kepada manusia, seharusnya mereka berpikir bahwa “pastilah ada yang menciptakan semua ini”. Kemudian Allah juga telah mengutus Rasul untuk menjelaskan kebenaran. Allah juga mengabadikan Al-Qur’an sampai menjelang hari kiamat sehingga mereka bisa belajar dan mencari petunjuk. Lebih jauh, Allah juga senantiasa mengadakan para dai di setiap zaman untuk mendakwahkan isi Al-Qur’an, mengajak manusia memahami bahwa alam semesta ini ada penciptanya, dan penciptanya adalah Allah, serta mengajak untuk menyembahnya dengan ikhlas.Lantas, dengan semua sarana dan jalan hidayah ini, sangat mengherankan bagaimana bisa sebagian orang tetap berada dalam kekafiran menentang dan tidak percaya kepada Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مِنْ اَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهٗۗ , مِنْ نُّطْفَةٍۗ خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗۗ“Dari apakah Dia menciptakannya? Dia menciptakannya dari setetes mani, lalu menentukan (takdir)-nya.” (QS. Abasa: 18-19)Allah mencela orang-orang kafir, yang menentang setelah dijelaskan hidayah menuju kebenaran. Celaan ini sangatlah dalam, “Orang-orang kafir itu, mereka diciptakan oleh Allah dari air yang hina lagi rendah, kemudian setelah bisa berpikir malah dengan beraninya menentang Allah.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗۙ“Kemudian, jalannya Dia mudahkan.” (QS. Abasa: 20)Terdapat dua tafsir untuk ayat ini, sebagian mufasir menjelaskan bahwa ayat ini bermakna Allah memudahkan mereka keluar dari perut ibunya, dengan berbagai mekanisme biologis yang menakjubkan, yang tidak mungkin dapat ditiru oleh manusia. Allah berikan kemudahan mereka keluar, lalu setelah keluar dari perut ibunya dengan selamat dan dapat berpikir ketika dewasa, mereka kufur kepada Allah.Tafsir lain menyebutkan bahwa makna ayat ini adalah Allah berikan dua jalan kepada mereka, jalan menuju kebaikan dan jalan keburukan, kemudian mereka memilih jalan mana yang akan mereka tempuh. Allah memberikan pilihan kepada mereka, sehingga mereka akan dibalas dengan pahala atau dosa atas pilihan apa yang mereka ambil.Semua manusia telah Allah memberikan berbagai kejadian dalam hidupnya yang menjadi jalan hidayah baginya, akan ada saat dimana hatinya terketuk oleh cahaya hidayah. Kemudian tugas selanjutnya adalah apakah dia mau menjemput hidayah tersebut atau malah abai tidak peduli dengan ketukan hidayah tersebut.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ , ثُمَّ اِذَا شَاۤءَ اَنْشَرَهٗۗ“Kemudian, Dia mematikannya lalu menguburkannya. Kemudian, jika menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.” (QS. Abasa: 21-22)Setelah manusia hidup di dunia, menghabiskan jatah umur dan rezeki mereka, maka pasti mereka akan merasakan kematian. Manusia dikuburkan dalam tanah sebagai bentuk penghormatan kepada mereka, di antaranya agar tubuh mereka tidak dimakan oleh binatang buas. Adapun bentuk pemulasaraan jenazah dengan bentuk lain seperti dibakar (kremasi), diawetkan dalam bentuk mumi, dan semisalnya adalah bentuk penghinaan dan keburukan kepada jenazah.Setelah dikuburkan, Allah akan membangkitkan mereka pada waktunya, di hari kiamat, hari yang pasti terjadi, namun tidak ada satupun makhluk yang mengetahui kapan terjadinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ اَمَرَهٗۗ“Sekali-kali jangan (begitu)! Dia (manusia) itu belum melaksanakan apa yang Dia (Allah) perintahkan kepadanya.” (QS. Abasa: 23)Ayat ini menjadi teguran dan peringatan bagi kita manusia, seberapapun kita telah menjalankan ketaatan pasti terdapat kekurangan padanya. Sebagian manusia menjerumuskan dirinya dalam kekafiran, sebagian lainnya berkubang pada dosa-dosa besar, sebagian lainnya banyak melakukan dosa kecil, sebagian lainnya masih belum maksimal dalam taat kepada Allah sang Pencipta. Menimbang berbagai kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita, serta berbagai syariat yang ditetapkan kepada kita, pasti ada kekurangan dalam ketaatan kita kepadanya.Ketika kita telah berbuat suatu kesalahan atau kurang dalam ketaatan, segeralah kembali kepada Allah. Jangan sampai kita menyeret diri kita ke dalam maksiat yang lebih besar. Setan menggelincirkan manusia sejengkal demi sejengkal, sedikit demi sedikit, tidak langsung seketika, godaannya sangat halus namun pasti. Awalnya dari meremehkan ketaatan yang bersifat sunah, lalu mulai menggoda dengan melakukan dosa kecil, lalu dari dosa kecil naik ke dosa besar, dari dosa besar naik menjadi kemusyrikan dan kekufuran.Maka, ketika kita merasa salah arah, kemudian Allah tegur kita dengan teguran yang lembut dan halus, segeralah kembali, Allah pasti memaafkan kita selama kita tulus bertobat. Kembalilah, sebelum semakin jauh.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Tafsir Surah Abasa (Bag. 2): Al-Qur’an adalah Nasihat bagi Jiwa Manusia

Pada penggalan ayat sebelumnya, Allah bercerita tentang Nabi yang bermuka masam ketika konsentrasi beliau dalam mendakwahi pembesar Quraisy “diganggu” oleh Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Maka dalam penggalan ayat berikutnya, Allah memulai dengan kalimat “Kalla” yang bermakna “Jangan melakukan hal seperti itu lagi”, menjadi pelajaran bagi kita semua untuk memperhatikan para orang-orang lemah dan jangan berpaling dengan silaunya harta dunia milik orang-orang kaya dan tamak menginginkan bagian tersebut dari mereka.Al-Qur’an memberikan pelajaran atas hal tersebut, bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, mempelajarinya, kemudian mengamalkannya. Akan tetapi, Al-Qur’an juga akan menuntut kita di hari kiamat jika kita menelantarkannya. Maka hal ini adalah kandungan yang akan kita tadabburi bersama dalam lanjutan tafsir ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ۚ“Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya (ajaran Allah) itu merupakan peringatan.” (QS. Abasa: 11)Allah menjelaskan kepada Nabi, wahai Rasulullah, janganlah engkau melakukan kembali seperti apa yang terjadi pada Ibnu Ummi Maktum.Perkara yang dijelaskan oleh Nabi adalah Al-Qur’an, surat yang terkandung dan ayat yang terangkai indah semuanya adalah nasihat serta peringatan bagi seluruh makhluk. Peganglah dengan kuat semua ayatnya serta amalkan, maka niscaya hal itu akan cukup menjadi peringatan agar tidak terjurumus ke dalam gelapnya kesyirikan dan kekufuran.Dalam ayat ini, terkandung pengagungan terhadap kedudukan Al-Qur’an, baik orang-orang kafir itu mau menerima hidayahnya atau tidak mau, maka Al-Qur’an tetaplah mulia dan penuh dengan hidayah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗ ۘ“Siapa yang menghendaki tentulah akan memperhatikannya.” (QS. Abasa: 12)Al-Qur’an adalah pemberi peringatan yang sangat jelas. Setiap orang yang dijelaskan kandungannya pasti akan mampu untuk memahami dan menyadari hidayah di dalamnya. Siapa saja yang berniat memperhatikan dengan baik, maka Allah akan berikan jalan untuk memahaminya.Ayat ini menjadi bantahan bagi mereka yang mengatakan, “Kalau memang Al-Qur’an itu hidayah, mengapa masih banyak orang yang tersesat?” Maka jawabannya, kesalahan bukan ada pada Al-Qur’an, akan tetapi kesalahannya terletak pada mereka yang tidak mau menggunakan akalnya untuk merenungi Al-Qur’an. Mereka hanya menggunakan akalnya untuk meraup keuntungan duniawi dan hidup enak di dunia saja, namun tidak mau merenungi kehidupan akhirat, tidak mau merenungi dan menelaah bahwa ada kitab suci terakhir yang bernama Al-Qur’an.Kesalahan juga ada pada mereka yang sudah merenungi dan mempelajari Al-Qur’an, akan tetapi hatinya menolak hidayah karena kesombongan. Sebagaimana kisah Fir’aun yang hatinya mengetahui bahwa yang disampaikan Nabi Musa adalah kebenaran, namun tubuh dan lisannya menolak karena kesombongan yang ada pada hatinya. Kesombongannya mengalahkan hidayah yang telah Allah berikan, maka Allah campakkan dia dalam kesesatan yang semakin gelap.Kemudian Allah melanjutkan penjelasan tentang keagungan Al-Qur’an.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍۙ , مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ ۢ ۙ , بِاَيْدِيْ سَفَرَةٍۙ , كِرَامٍۢ بَرَرَةٍۗ“Di dalam suhuf yang dimuliakan (di sisi Allah), yang ditinggikan (kedudukannya) lagi disucikan, di tangan para utusan (malaikat) yang mulia lagi berbudi.” (QS. Abasa: 13-16)Al-Qur’an adalah untaian hidayah, suatu kitab berisi ilmu serta hikmah, yang terjaga dengan sempurna pada lembaran-lembaran yang dimuliakan oleh Allah.Allah meninggikan derajat Al-Qur’an dan orang-orang yang berinteraksi dengan baik dengannya. Allah menyucikannya dari semua kesalahan, baik teks maupun makna yang terkandung padanya, tidak ada satu pun kesalahan ada padanya yang dapat mengotorinya.Allah menjaga Al-Qur’an dari dikotori oleh setan dalam bentuk manusia dan jin. Ketika Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah selama berangsur-angsur, Allah perketat penjagaan pada tiap pintu dan lapis langit, agar setan jin tidak bisa menguping atau mengganggu turunnya wahyu yang agung ini.Ketika Al-Qur’an sudah lengkap, Allah juga menjaga kitab suci ini dari tangan-tangan kotor orang kafir yang ingin menambah dan mengurangi isinya, menggantinya, bahkan membuat tandingannya. Allah hinakan semua orang yang berniat buruk kepadanya.Allah juga memuliakan para malaikat yang membawanya dari langit sampai ke hati Rasulullah. Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullah menjelaskan bahwa kata “safarah” dalam ayat tersebut adalah malaikat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,قُتِلَ الْاِنْسَانُ مَآ اَكْفَرَهٗۗ“Celakalah manusia! Alangkah kufur dia!” (QS. Abasa: 17)Kalimat ini adalah bentuk kalimat yang biasa dipakai orang Arab untuk menunjukkan perasaan “kaget” dan heran. Kita diajak berpikir, kok bisa-bisanya ada manusia yang kafir berpaling dari iman.Allah telah tunjukkan berbagai bukti kekuasaannya lewat indahnya alam semesta kepada manusia, seharusnya mereka berpikir bahwa “pastilah ada yang menciptakan semua ini”. Kemudian Allah juga telah mengutus Rasul untuk menjelaskan kebenaran. Allah juga mengabadikan Al-Qur’an sampai menjelang hari kiamat sehingga mereka bisa belajar dan mencari petunjuk. Lebih jauh, Allah juga senantiasa mengadakan para dai di setiap zaman untuk mendakwahkan isi Al-Qur’an, mengajak manusia memahami bahwa alam semesta ini ada penciptanya, dan penciptanya adalah Allah, serta mengajak untuk menyembahnya dengan ikhlas.Lantas, dengan semua sarana dan jalan hidayah ini, sangat mengherankan bagaimana bisa sebagian orang tetap berada dalam kekafiran menentang dan tidak percaya kepada Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مِنْ اَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهٗۗ , مِنْ نُّطْفَةٍۗ خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗۗ“Dari apakah Dia menciptakannya? Dia menciptakannya dari setetes mani, lalu menentukan (takdir)-nya.” (QS. Abasa: 18-19)Allah mencela orang-orang kafir, yang menentang setelah dijelaskan hidayah menuju kebenaran. Celaan ini sangatlah dalam, “Orang-orang kafir itu, mereka diciptakan oleh Allah dari air yang hina lagi rendah, kemudian setelah bisa berpikir malah dengan beraninya menentang Allah.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗۙ“Kemudian, jalannya Dia mudahkan.” (QS. Abasa: 20)Terdapat dua tafsir untuk ayat ini, sebagian mufasir menjelaskan bahwa ayat ini bermakna Allah memudahkan mereka keluar dari perut ibunya, dengan berbagai mekanisme biologis yang menakjubkan, yang tidak mungkin dapat ditiru oleh manusia. Allah berikan kemudahan mereka keluar, lalu setelah keluar dari perut ibunya dengan selamat dan dapat berpikir ketika dewasa, mereka kufur kepada Allah.Tafsir lain menyebutkan bahwa makna ayat ini adalah Allah berikan dua jalan kepada mereka, jalan menuju kebaikan dan jalan keburukan, kemudian mereka memilih jalan mana yang akan mereka tempuh. Allah memberikan pilihan kepada mereka, sehingga mereka akan dibalas dengan pahala atau dosa atas pilihan apa yang mereka ambil.Semua manusia telah Allah memberikan berbagai kejadian dalam hidupnya yang menjadi jalan hidayah baginya, akan ada saat dimana hatinya terketuk oleh cahaya hidayah. Kemudian tugas selanjutnya adalah apakah dia mau menjemput hidayah tersebut atau malah abai tidak peduli dengan ketukan hidayah tersebut.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ , ثُمَّ اِذَا شَاۤءَ اَنْشَرَهٗۗ“Kemudian, Dia mematikannya lalu menguburkannya. Kemudian, jika menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.” (QS. Abasa: 21-22)Setelah manusia hidup di dunia, menghabiskan jatah umur dan rezeki mereka, maka pasti mereka akan merasakan kematian. Manusia dikuburkan dalam tanah sebagai bentuk penghormatan kepada mereka, di antaranya agar tubuh mereka tidak dimakan oleh binatang buas. Adapun bentuk pemulasaraan jenazah dengan bentuk lain seperti dibakar (kremasi), diawetkan dalam bentuk mumi, dan semisalnya adalah bentuk penghinaan dan keburukan kepada jenazah.Setelah dikuburkan, Allah akan membangkitkan mereka pada waktunya, di hari kiamat, hari yang pasti terjadi, namun tidak ada satupun makhluk yang mengetahui kapan terjadinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ اَمَرَهٗۗ“Sekali-kali jangan (begitu)! Dia (manusia) itu belum melaksanakan apa yang Dia (Allah) perintahkan kepadanya.” (QS. Abasa: 23)Ayat ini menjadi teguran dan peringatan bagi kita manusia, seberapapun kita telah menjalankan ketaatan pasti terdapat kekurangan padanya. Sebagian manusia menjerumuskan dirinya dalam kekafiran, sebagian lainnya berkubang pada dosa-dosa besar, sebagian lainnya banyak melakukan dosa kecil, sebagian lainnya masih belum maksimal dalam taat kepada Allah sang Pencipta. Menimbang berbagai kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita, serta berbagai syariat yang ditetapkan kepada kita, pasti ada kekurangan dalam ketaatan kita kepadanya.Ketika kita telah berbuat suatu kesalahan atau kurang dalam ketaatan, segeralah kembali kepada Allah. Jangan sampai kita menyeret diri kita ke dalam maksiat yang lebih besar. Setan menggelincirkan manusia sejengkal demi sejengkal, sedikit demi sedikit, tidak langsung seketika, godaannya sangat halus namun pasti. Awalnya dari meremehkan ketaatan yang bersifat sunah, lalu mulai menggoda dengan melakukan dosa kecil, lalu dari dosa kecil naik ke dosa besar, dari dosa besar naik menjadi kemusyrikan dan kekufuran.Maka, ketika kita merasa salah arah, kemudian Allah tegur kita dengan teguran yang lembut dan halus, segeralah kembali, Allah pasti memaafkan kita selama kita tulus bertobat. Kembalilah, sebelum semakin jauh.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
Pada penggalan ayat sebelumnya, Allah bercerita tentang Nabi yang bermuka masam ketika konsentrasi beliau dalam mendakwahi pembesar Quraisy “diganggu” oleh Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Maka dalam penggalan ayat berikutnya, Allah memulai dengan kalimat “Kalla” yang bermakna “Jangan melakukan hal seperti itu lagi”, menjadi pelajaran bagi kita semua untuk memperhatikan para orang-orang lemah dan jangan berpaling dengan silaunya harta dunia milik orang-orang kaya dan tamak menginginkan bagian tersebut dari mereka.Al-Qur’an memberikan pelajaran atas hal tersebut, bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, mempelajarinya, kemudian mengamalkannya. Akan tetapi, Al-Qur’an juga akan menuntut kita di hari kiamat jika kita menelantarkannya. Maka hal ini adalah kandungan yang akan kita tadabburi bersama dalam lanjutan tafsir ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ۚ“Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya (ajaran Allah) itu merupakan peringatan.” (QS. Abasa: 11)Allah menjelaskan kepada Nabi, wahai Rasulullah, janganlah engkau melakukan kembali seperti apa yang terjadi pada Ibnu Ummi Maktum.Perkara yang dijelaskan oleh Nabi adalah Al-Qur’an, surat yang terkandung dan ayat yang terangkai indah semuanya adalah nasihat serta peringatan bagi seluruh makhluk. Peganglah dengan kuat semua ayatnya serta amalkan, maka niscaya hal itu akan cukup menjadi peringatan agar tidak terjurumus ke dalam gelapnya kesyirikan dan kekufuran.Dalam ayat ini, terkandung pengagungan terhadap kedudukan Al-Qur’an, baik orang-orang kafir itu mau menerima hidayahnya atau tidak mau, maka Al-Qur’an tetaplah mulia dan penuh dengan hidayah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗ ۘ“Siapa yang menghendaki tentulah akan memperhatikannya.” (QS. Abasa: 12)Al-Qur’an adalah pemberi peringatan yang sangat jelas. Setiap orang yang dijelaskan kandungannya pasti akan mampu untuk memahami dan menyadari hidayah di dalamnya. Siapa saja yang berniat memperhatikan dengan baik, maka Allah akan berikan jalan untuk memahaminya.Ayat ini menjadi bantahan bagi mereka yang mengatakan, “Kalau memang Al-Qur’an itu hidayah, mengapa masih banyak orang yang tersesat?” Maka jawabannya, kesalahan bukan ada pada Al-Qur’an, akan tetapi kesalahannya terletak pada mereka yang tidak mau menggunakan akalnya untuk merenungi Al-Qur’an. Mereka hanya menggunakan akalnya untuk meraup keuntungan duniawi dan hidup enak di dunia saja, namun tidak mau merenungi kehidupan akhirat, tidak mau merenungi dan menelaah bahwa ada kitab suci terakhir yang bernama Al-Qur’an.Kesalahan juga ada pada mereka yang sudah merenungi dan mempelajari Al-Qur’an, akan tetapi hatinya menolak hidayah karena kesombongan. Sebagaimana kisah Fir’aun yang hatinya mengetahui bahwa yang disampaikan Nabi Musa adalah kebenaran, namun tubuh dan lisannya menolak karena kesombongan yang ada pada hatinya. Kesombongannya mengalahkan hidayah yang telah Allah berikan, maka Allah campakkan dia dalam kesesatan yang semakin gelap.Kemudian Allah melanjutkan penjelasan tentang keagungan Al-Qur’an.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍۙ , مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ ۢ ۙ , بِاَيْدِيْ سَفَرَةٍۙ , كِرَامٍۢ بَرَرَةٍۗ“Di dalam suhuf yang dimuliakan (di sisi Allah), yang ditinggikan (kedudukannya) lagi disucikan, di tangan para utusan (malaikat) yang mulia lagi berbudi.” (QS. Abasa: 13-16)Al-Qur’an adalah untaian hidayah, suatu kitab berisi ilmu serta hikmah, yang terjaga dengan sempurna pada lembaran-lembaran yang dimuliakan oleh Allah.Allah meninggikan derajat Al-Qur’an dan orang-orang yang berinteraksi dengan baik dengannya. Allah menyucikannya dari semua kesalahan, baik teks maupun makna yang terkandung padanya, tidak ada satu pun kesalahan ada padanya yang dapat mengotorinya.Allah menjaga Al-Qur’an dari dikotori oleh setan dalam bentuk manusia dan jin. Ketika Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah selama berangsur-angsur, Allah perketat penjagaan pada tiap pintu dan lapis langit, agar setan jin tidak bisa menguping atau mengganggu turunnya wahyu yang agung ini.Ketika Al-Qur’an sudah lengkap, Allah juga menjaga kitab suci ini dari tangan-tangan kotor orang kafir yang ingin menambah dan mengurangi isinya, menggantinya, bahkan membuat tandingannya. Allah hinakan semua orang yang berniat buruk kepadanya.Allah juga memuliakan para malaikat yang membawanya dari langit sampai ke hati Rasulullah. Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullah menjelaskan bahwa kata “safarah” dalam ayat tersebut adalah malaikat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,قُتِلَ الْاِنْسَانُ مَآ اَكْفَرَهٗۗ“Celakalah manusia! Alangkah kufur dia!” (QS. Abasa: 17)Kalimat ini adalah bentuk kalimat yang biasa dipakai orang Arab untuk menunjukkan perasaan “kaget” dan heran. Kita diajak berpikir, kok bisa-bisanya ada manusia yang kafir berpaling dari iman.Allah telah tunjukkan berbagai bukti kekuasaannya lewat indahnya alam semesta kepada manusia, seharusnya mereka berpikir bahwa “pastilah ada yang menciptakan semua ini”. Kemudian Allah juga telah mengutus Rasul untuk menjelaskan kebenaran. Allah juga mengabadikan Al-Qur’an sampai menjelang hari kiamat sehingga mereka bisa belajar dan mencari petunjuk. Lebih jauh, Allah juga senantiasa mengadakan para dai di setiap zaman untuk mendakwahkan isi Al-Qur’an, mengajak manusia memahami bahwa alam semesta ini ada penciptanya, dan penciptanya adalah Allah, serta mengajak untuk menyembahnya dengan ikhlas.Lantas, dengan semua sarana dan jalan hidayah ini, sangat mengherankan bagaimana bisa sebagian orang tetap berada dalam kekafiran menentang dan tidak percaya kepada Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مِنْ اَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهٗۗ , مِنْ نُّطْفَةٍۗ خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗۗ“Dari apakah Dia menciptakannya? Dia menciptakannya dari setetes mani, lalu menentukan (takdir)-nya.” (QS. Abasa: 18-19)Allah mencela orang-orang kafir, yang menentang setelah dijelaskan hidayah menuju kebenaran. Celaan ini sangatlah dalam, “Orang-orang kafir itu, mereka diciptakan oleh Allah dari air yang hina lagi rendah, kemudian setelah bisa berpikir malah dengan beraninya menentang Allah.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗۙ“Kemudian, jalannya Dia mudahkan.” (QS. Abasa: 20)Terdapat dua tafsir untuk ayat ini, sebagian mufasir menjelaskan bahwa ayat ini bermakna Allah memudahkan mereka keluar dari perut ibunya, dengan berbagai mekanisme biologis yang menakjubkan, yang tidak mungkin dapat ditiru oleh manusia. Allah berikan kemudahan mereka keluar, lalu setelah keluar dari perut ibunya dengan selamat dan dapat berpikir ketika dewasa, mereka kufur kepada Allah.Tafsir lain menyebutkan bahwa makna ayat ini adalah Allah berikan dua jalan kepada mereka, jalan menuju kebaikan dan jalan keburukan, kemudian mereka memilih jalan mana yang akan mereka tempuh. Allah memberikan pilihan kepada mereka, sehingga mereka akan dibalas dengan pahala atau dosa atas pilihan apa yang mereka ambil.Semua manusia telah Allah memberikan berbagai kejadian dalam hidupnya yang menjadi jalan hidayah baginya, akan ada saat dimana hatinya terketuk oleh cahaya hidayah. Kemudian tugas selanjutnya adalah apakah dia mau menjemput hidayah tersebut atau malah abai tidak peduli dengan ketukan hidayah tersebut.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ , ثُمَّ اِذَا شَاۤءَ اَنْشَرَهٗۗ“Kemudian, Dia mematikannya lalu menguburkannya. Kemudian, jika menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.” (QS. Abasa: 21-22)Setelah manusia hidup di dunia, menghabiskan jatah umur dan rezeki mereka, maka pasti mereka akan merasakan kematian. Manusia dikuburkan dalam tanah sebagai bentuk penghormatan kepada mereka, di antaranya agar tubuh mereka tidak dimakan oleh binatang buas. Adapun bentuk pemulasaraan jenazah dengan bentuk lain seperti dibakar (kremasi), diawetkan dalam bentuk mumi, dan semisalnya adalah bentuk penghinaan dan keburukan kepada jenazah.Setelah dikuburkan, Allah akan membangkitkan mereka pada waktunya, di hari kiamat, hari yang pasti terjadi, namun tidak ada satupun makhluk yang mengetahui kapan terjadinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ اَمَرَهٗۗ“Sekali-kali jangan (begitu)! Dia (manusia) itu belum melaksanakan apa yang Dia (Allah) perintahkan kepadanya.” (QS. Abasa: 23)Ayat ini menjadi teguran dan peringatan bagi kita manusia, seberapapun kita telah menjalankan ketaatan pasti terdapat kekurangan padanya. Sebagian manusia menjerumuskan dirinya dalam kekafiran, sebagian lainnya berkubang pada dosa-dosa besar, sebagian lainnya banyak melakukan dosa kecil, sebagian lainnya masih belum maksimal dalam taat kepada Allah sang Pencipta. Menimbang berbagai kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita, serta berbagai syariat yang ditetapkan kepada kita, pasti ada kekurangan dalam ketaatan kita kepadanya.Ketika kita telah berbuat suatu kesalahan atau kurang dalam ketaatan, segeralah kembali kepada Allah. Jangan sampai kita menyeret diri kita ke dalam maksiat yang lebih besar. Setan menggelincirkan manusia sejengkal demi sejengkal, sedikit demi sedikit, tidak langsung seketika, godaannya sangat halus namun pasti. Awalnya dari meremehkan ketaatan yang bersifat sunah, lalu mulai menggoda dengan melakukan dosa kecil, lalu dari dosa kecil naik ke dosa besar, dari dosa besar naik menjadi kemusyrikan dan kekufuran.Maka, ketika kita merasa salah arah, kemudian Allah tegur kita dengan teguran yang lembut dan halus, segeralah kembali, Allah pasti memaafkan kita selama kita tulus bertobat. Kembalilah, sebelum semakin jauh.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/


Pada penggalan ayat sebelumnya, Allah bercerita tentang Nabi yang bermuka masam ketika konsentrasi beliau dalam mendakwahi pembesar Quraisy “diganggu” oleh Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Maka dalam penggalan ayat berikutnya, Allah memulai dengan kalimat “Kalla” yang bermakna “Jangan melakukan hal seperti itu lagi”, menjadi pelajaran bagi kita semua untuk memperhatikan para orang-orang lemah dan jangan berpaling dengan silaunya harta dunia milik orang-orang kaya dan tamak menginginkan bagian tersebut dari mereka.Al-Qur’an memberikan pelajaran atas hal tersebut, bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, mempelajarinya, kemudian mengamalkannya. Akan tetapi, Al-Qur’an juga akan menuntut kita di hari kiamat jika kita menelantarkannya. Maka hal ini adalah kandungan yang akan kita tadabburi bersama dalam lanjutan tafsir ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ۚ“Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya (ajaran Allah) itu merupakan peringatan.” (QS. Abasa: 11)Allah menjelaskan kepada Nabi, wahai Rasulullah, janganlah engkau melakukan kembali seperti apa yang terjadi pada Ibnu Ummi Maktum.Perkara yang dijelaskan oleh Nabi adalah Al-Qur’an, surat yang terkandung dan ayat yang terangkai indah semuanya adalah nasihat serta peringatan bagi seluruh makhluk. Peganglah dengan kuat semua ayatnya serta amalkan, maka niscaya hal itu akan cukup menjadi peringatan agar tidak terjurumus ke dalam gelapnya kesyirikan dan kekufuran.Dalam ayat ini, terkandung pengagungan terhadap kedudukan Al-Qur’an, baik orang-orang kafir itu mau menerima hidayahnya atau tidak mau, maka Al-Qur’an tetaplah mulia dan penuh dengan hidayah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗ ۘ“Siapa yang menghendaki tentulah akan memperhatikannya.” (QS. Abasa: 12)Al-Qur’an adalah pemberi peringatan yang sangat jelas. Setiap orang yang dijelaskan kandungannya pasti akan mampu untuk memahami dan menyadari hidayah di dalamnya. Siapa saja yang berniat memperhatikan dengan baik, maka Allah akan berikan jalan untuk memahaminya.Ayat ini menjadi bantahan bagi mereka yang mengatakan, “Kalau memang Al-Qur’an itu hidayah, mengapa masih banyak orang yang tersesat?” Maka jawabannya, kesalahan bukan ada pada Al-Qur’an, akan tetapi kesalahannya terletak pada mereka yang tidak mau menggunakan akalnya untuk merenungi Al-Qur’an. Mereka hanya menggunakan akalnya untuk meraup keuntungan duniawi dan hidup enak di dunia saja, namun tidak mau merenungi kehidupan akhirat, tidak mau merenungi dan menelaah bahwa ada kitab suci terakhir yang bernama Al-Qur’an.Kesalahan juga ada pada mereka yang sudah merenungi dan mempelajari Al-Qur’an, akan tetapi hatinya menolak hidayah karena kesombongan. Sebagaimana kisah Fir’aun yang hatinya mengetahui bahwa yang disampaikan Nabi Musa adalah kebenaran, namun tubuh dan lisannya menolak karena kesombongan yang ada pada hatinya. Kesombongannya mengalahkan hidayah yang telah Allah berikan, maka Allah campakkan dia dalam kesesatan yang semakin gelap.Kemudian Allah melanjutkan penjelasan tentang keagungan Al-Qur’an.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍۙ , مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ ۢ ۙ , بِاَيْدِيْ سَفَرَةٍۙ , كِرَامٍۢ بَرَرَةٍۗ“Di dalam suhuf yang dimuliakan (di sisi Allah), yang ditinggikan (kedudukannya) lagi disucikan, di tangan para utusan (malaikat) yang mulia lagi berbudi.” (QS. Abasa: 13-16)Al-Qur’an adalah untaian hidayah, suatu kitab berisi ilmu serta hikmah, yang terjaga dengan sempurna pada lembaran-lembaran yang dimuliakan oleh Allah.Allah meninggikan derajat Al-Qur’an dan orang-orang yang berinteraksi dengan baik dengannya. Allah menyucikannya dari semua kesalahan, baik teks maupun makna yang terkandung padanya, tidak ada satu pun kesalahan ada padanya yang dapat mengotorinya.Allah menjaga Al-Qur’an dari dikotori oleh setan dalam bentuk manusia dan jin. Ketika Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah selama berangsur-angsur, Allah perketat penjagaan pada tiap pintu dan lapis langit, agar setan jin tidak bisa menguping atau mengganggu turunnya wahyu yang agung ini.Ketika Al-Qur’an sudah lengkap, Allah juga menjaga kitab suci ini dari tangan-tangan kotor orang kafir yang ingin menambah dan mengurangi isinya, menggantinya, bahkan membuat tandingannya. Allah hinakan semua orang yang berniat buruk kepadanya.Allah juga memuliakan para malaikat yang membawanya dari langit sampai ke hati Rasulullah. Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullah menjelaskan bahwa kata “safarah” dalam ayat tersebut adalah malaikat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,قُتِلَ الْاِنْسَانُ مَآ اَكْفَرَهٗۗ“Celakalah manusia! Alangkah kufur dia!” (QS. Abasa: 17)Kalimat ini adalah bentuk kalimat yang biasa dipakai orang Arab untuk menunjukkan perasaan “kaget” dan heran. Kita diajak berpikir, kok bisa-bisanya ada manusia yang kafir berpaling dari iman.Allah telah tunjukkan berbagai bukti kekuasaannya lewat indahnya alam semesta kepada manusia, seharusnya mereka berpikir bahwa “pastilah ada yang menciptakan semua ini”. Kemudian Allah juga telah mengutus Rasul untuk menjelaskan kebenaran. Allah juga mengabadikan Al-Qur’an sampai menjelang hari kiamat sehingga mereka bisa belajar dan mencari petunjuk. Lebih jauh, Allah juga senantiasa mengadakan para dai di setiap zaman untuk mendakwahkan isi Al-Qur’an, mengajak manusia memahami bahwa alam semesta ini ada penciptanya, dan penciptanya adalah Allah, serta mengajak untuk menyembahnya dengan ikhlas.Lantas, dengan semua sarana dan jalan hidayah ini, sangat mengherankan bagaimana bisa sebagian orang tetap berada dalam kekafiran menentang dan tidak percaya kepada Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مِنْ اَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهٗۗ , مِنْ نُّطْفَةٍۗ خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗۗ“Dari apakah Dia menciptakannya? Dia menciptakannya dari setetes mani, lalu menentukan (takdir)-nya.” (QS. Abasa: 18-19)Allah mencela orang-orang kafir, yang menentang setelah dijelaskan hidayah menuju kebenaran. Celaan ini sangatlah dalam, “Orang-orang kafir itu, mereka diciptakan oleh Allah dari air yang hina lagi rendah, kemudian setelah bisa berpikir malah dengan beraninya menentang Allah.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗۙ“Kemudian, jalannya Dia mudahkan.” (QS. Abasa: 20)Terdapat dua tafsir untuk ayat ini, sebagian mufasir menjelaskan bahwa ayat ini bermakna Allah memudahkan mereka keluar dari perut ibunya, dengan berbagai mekanisme biologis yang menakjubkan, yang tidak mungkin dapat ditiru oleh manusia. Allah berikan kemudahan mereka keluar, lalu setelah keluar dari perut ibunya dengan selamat dan dapat berpikir ketika dewasa, mereka kufur kepada Allah.Tafsir lain menyebutkan bahwa makna ayat ini adalah Allah berikan dua jalan kepada mereka, jalan menuju kebaikan dan jalan keburukan, kemudian mereka memilih jalan mana yang akan mereka tempuh. Allah memberikan pilihan kepada mereka, sehingga mereka akan dibalas dengan pahala atau dosa atas pilihan apa yang mereka ambil.Semua manusia telah Allah memberikan berbagai kejadian dalam hidupnya yang menjadi jalan hidayah baginya, akan ada saat dimana hatinya terketuk oleh cahaya hidayah. Kemudian tugas selanjutnya adalah apakah dia mau menjemput hidayah tersebut atau malah abai tidak peduli dengan ketukan hidayah tersebut.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ , ثُمَّ اِذَا شَاۤءَ اَنْشَرَهٗۗ“Kemudian, Dia mematikannya lalu menguburkannya. Kemudian, jika menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.” (QS. Abasa: 21-22)Setelah manusia hidup di dunia, menghabiskan jatah umur dan rezeki mereka, maka pasti mereka akan merasakan kematian. Manusia dikuburkan dalam tanah sebagai bentuk penghormatan kepada mereka, di antaranya agar tubuh mereka tidak dimakan oleh binatang buas. Adapun bentuk pemulasaraan jenazah dengan bentuk lain seperti dibakar (kremasi), diawetkan dalam bentuk mumi, dan semisalnya adalah bentuk penghinaan dan keburukan kepada jenazah.Setelah dikuburkan, Allah akan membangkitkan mereka pada waktunya, di hari kiamat, hari yang pasti terjadi, namun tidak ada satupun makhluk yang mengetahui kapan terjadinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ اَمَرَهٗۗ“Sekali-kali jangan (begitu)! Dia (manusia) itu belum melaksanakan apa yang Dia (Allah) perintahkan kepadanya.” (QS. Abasa: 23)Ayat ini menjadi teguran dan peringatan bagi kita manusia, seberapapun kita telah menjalankan ketaatan pasti terdapat kekurangan padanya. Sebagian manusia menjerumuskan dirinya dalam kekafiran, sebagian lainnya berkubang pada dosa-dosa besar, sebagian lainnya banyak melakukan dosa kecil, sebagian lainnya masih belum maksimal dalam taat kepada Allah sang Pencipta. Menimbang berbagai kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita, serta berbagai syariat yang ditetapkan kepada kita, pasti ada kekurangan dalam ketaatan kita kepadanya.Ketika kita telah berbuat suatu kesalahan atau kurang dalam ketaatan, segeralah kembali kepada Allah. Jangan sampai kita menyeret diri kita ke dalam maksiat yang lebih besar. Setan menggelincirkan manusia sejengkal demi sejengkal, sedikit demi sedikit, tidak langsung seketika, godaannya sangat halus namun pasti. Awalnya dari meremehkan ketaatan yang bersifat sunah, lalu mulai menggoda dengan melakukan dosa kecil, lalu dari dosa kecil naik ke dosa besar, dari dosa besar naik menjadi kemusyrikan dan kekufuran.Maka, ketika kita merasa salah arah, kemudian Allah tegur kita dengan teguran yang lembut dan halus, segeralah kembali, Allah pasti memaafkan kita selama kita tulus bertobat. Kembalilah, sebelum semakin jauh.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Tafsir Surah Abasa (Bag. 1): Teguran Lembut Kepada Rasulullah

Surah Abasa adalah surah Makiyah, di dalamnya terdapat berbagai kabar berkenaan dengan akidah dan risalah Nabi. Pada surah ini juga, Allah menceritakan tentang bukti kebesaran dan tauhid rububiyah berupa penciptaan manusia, tumbuhan, pepohonan, serta berbagai makanan. Kemudian surah ini ditutup dengan kengerian yang terjadi di hari kiamat.Sebab turunnya awal surah ini adalah pada suatu hari, Rasulullah sedang mendakwahi sebagian pembesar suku Quraisy agar masuk Islam. Nabi berharap bahwa dengan masuk Islamnya mereka, maka pengikutnya juga akan masuk Islam. Ibnu Juzay berpendapat bahwa pada saat itu, yang Nabi dakwahi adalah Walid bin Mughiroh, atau Utbah bin Rabiah, atau Ummayah bin Khalaf. (At-Tashil li Ulumit Tanzil, 2: 452)Pada saat beliau berdakwah tersebut, datanglah sahabat bernama Abdullah bin Ummi Maktum yang buta dan tidak mengetahui apa yang sedang Nabi kerjakan. Dia mengatakan, “Wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku ilmu yang telah Allah ajarkan kepada engkau.” Perkataan ini diulang oleh Abdullah bin Ummi Maktum dalam keadaan beliau tidak tahu apa yang Nabi sedang kerjakan, sehingga Nabi merasa kurang berkenan, bermuka masam, serta berpaling darinya. Kemudian turunlah awal surah Abasa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ“Dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang tunanetra (Abdullah bin Ummi Maktum) telah datang kepadanya.” (QS. Abasa: 1-2)Nabi bermuka masam, yaitu “cemberut” serta berpaling dari Abdulah bin Ummi Maktum karena merasa kurang nyaman. Hal ini karena Abdullah bin Ummi Maktum datang meminta nasihat berkaitan urusan Islam, padahal Nabi sedang sibuk mendakwahi pembesar Quraisy.Allah menggunakan bentuk orang ketiga yaitu “dia” ketika mengisyaratkan pada Nabi, sebagai bentuk teguran yang sangat lembut dan halus untuk Nabi. Dalam bahasa Arab, perubahan kata ganti orang kedua (“kamu”) menuju kata ganti orang ketiga (“dia”) disebut dengan iltifat, yang salah satu tujuannya adalah melembutkan kalimat.Pendapat yang menyebutkan bahwa teguran ini adalah teguran yang lembut adalah pendapat yang dikemukakan oleh banyak ulama, di antaranya Ibnu Athiyah dan Ibnu Juzay. Akan tetapi, ada pendapat bersebrangan yang disampaikan oleh Zamakhsyari, bahwa pengingkaran dalam bentuk kata ganti orang ketiga menunjukkan adanya pengingkaran yang lebih keras atas suatu kesalahan. (At-Tashil li Ulumit Tanzil, 2: 452)Setelah Nabi mendapatkan teguran karena Abdullah bin Ummi Maktum ini, Nabi tidak lantas menjadi antipati dan acuh terhadapnya. Namun sebaliknya, Nabi menunjukkan rasa terimakasih yang besar kepadanya, serta mengatakan ketika dia datang. “Marhaban, selamat datang orang yang dengannya Allah menegurku dengan lembut.” Setelah itu, Nabi menggelar selendang beliau untuknya.Nabi juga memberikan kemuliaan bagi Ibnu Ummi Maktum dengan memberikan tugas agung kepada beliau, yaitu menjadi muazin salat Subuh di masjid Nabawi. Lebih jauh lagi, Nabi juga meminta Abdullah bin Ummi Maktum untuk menjadi pengganti Nabi ketika beliau sedang berjihad sebanyak dua kali, salah satunya ketika perang dengan Bani Nazhir pada tahun 4 Hijriah.Ini adalah suatu contoh teladan patriotik, sikap kesatria, dan lapangnya hati Nabi dalam menerima teguran dari Allah. Suatu sikap yang saat ini sudah mulai hilang, karena kita jumpai seseorang, apalagi yang “berada di atas”, sangat antipati dalam menerima kritik dan masukan, bahkan melakukan persekusi untuk menjatuhkan kedudukan lawan mereka.Penyebutan kata “buta” untuk menyebut Ibnu Ummi Maktum juga memiliki rahasia keindahan bahasa Al-Qur’an, yaitu adanya isyarat untuk memberikan uzur kepada beliau karena tidak mengetahui apa yang sedang Nabi kerjakan karena butanya. Karena seandainya Ibnu Ummi Maktum tidak buta, pasti tidak akan menyela pembicaraan Nabi. (Adhwaul Bayan fi Idhahil Qur’an bil Qur’an, 8: 430)Ayat ini juga menjadi dalil bolehnya penyebutan “buta” atau ciri khusus lain yang dimiliki oleh seseorang, dengan syarat memang ada manfaat dari penyebutan tersebut. Hal ini lumrah digunakan oleh ahli hadis ketika menyebutkan rawi hadis dengan ciri mereka seperti Sulaiman Al-A’masy yang rabun penglihatannya atau Abdurrahman Al-A’raj yang pincang kakinya. (Adhwaul Bayan fi Idhahil Qur’an bil Qur’an, 8: 431)Pada masa itu, penggunaan sifat fisik (seperti pincang, buta, atau rabun) sebagai julukan merupakan hal yang sangat umum digunakan oleh para ulama hadis untuk membedakan identitas seorang perawi agar tidak tertukar dengan orang lain yang memiliki nama serupa. Julukan ini murni berfungsi sebagai identifikasi pengenal, bukan untuk menghina atau merendahkan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ , اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ“Tahukah engkau (Nabi Muhammad) boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran sehingga pengajaran itu bermanfaat baginya?” (QS. Abasa: 3-4)Allah melanjutkan teguran kepada Nabi, wahai Rasulullah, siapakah yang membuatmu tahu serta memberitahumu, barangkali Abdullah bin Ummi Maktum yang engkau bermuka masam di hadapannya, akan menyucikan diri dari dosa-dosanya melalui ilmu yang ia terima darimu.Dalam ayat ini, Allah mengingatkan bahwa orang buta yang datang dengan tulus tersebut justru jauh lebih siap menerima kebenaran dan menyucikan jiwanya ketimbang para pembesar Quraisy yang sombong. Menunjukkan bahwa kemuliaan sesungguhnya didapatkan dari sucinya jiwa dengan ilmu dan amal, bukan dengan kekayaan yang melalaikan.Pada ayat ini, Allah melakukan iltifat kembali, mengembalikan kata ganti orang ketiga menjadi kata ganti orang kedua dengan menyebut Nabi secara langsung, dengan tujuan agar Nabi memberikan perhatian penuh kepada Ibnu Ummi Maktum.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ , فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ , وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy), engkau (Nabi Muhammad) memberi perhatian kepadanya. Padahal, tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman).” (QS. Abasa: 5-7)Allah melanjutkan tegurannya kepada Rasulullah. Orang-orang musyrik Quraisy yang merasa tidak memerlukan Allah dan iman, karena mereka telah merasa kaya dan cukup dengan kekayaan harta benda, engkau menghadapkan dirimu pada mereka, mendengarkan perkataan, serta memberi perhatian kepada mereka, supaya dirimu dapat menyampaikan dakwah kepada mereka.Padahal engkau, wahai Rasulullah, hanyalah diperintahkan untuk menyampaikan risalah, adapun hasil akhir apakah diterima atau tidak, maka itu semua ada di tangan Allah, dan bukan di tanganmu. Maka tidak ada dosa bagimu, jika engkau telah berdakwah dengan sekuat tenaga dan penuh hikmah, akan tetapi mereka tetap tidak mau beriman.Di samping itu, ayat ini juga dalil tentang perhatian Nabi terhadap seluruh umat dan keinginan kuat beliau agar semua orang masuk Islam, bahkan termasuk orang yang berpaling dan merasa tidak butuh, sebagai bentuk kasih sayang yang ada pada diri Nabi untuk menyelamatkan mereka di dunia dan di akhirat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ, وَهُوَ يَخْشٰىۙ , فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ“Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan dia takut (kepada Allah), malah engkau (Nabi Muhammad) abaikan.” (QS. Abasa: 8–10)Ayat ini masih sambungan teguran dan pengajaran dari Allah kepada Nabi, yaitu adapun orang yang datang kepadamu dengan bergegas demi meraih petunjuk, mendambakan bimbingan menuju kebaikan, serta mengharapkan nasihat-nasihat Islam, sementara hatinya dipenuhi rasa takut kepada Allah, justru engkau berpaling dan mengabaikannya (pada kasus Ibnu Ummi Maktum).Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah agar tidak mengkhususkan dakwah kepada orang tertentu saja. Sebaliknya, beliau wajib menyamakan kedudukan manusia dalam penyampaian dakwah kepada mereka, baik antara orang terpandang atau orang yang lemah, yang kaya atau yang miskin, baik kepada pembesar manusia atau orang biasa, lelaki atau perempuan, hingga anak-anak dan orang dewasa.Sebagian ulama, seperti As-Suyuthi, menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dorongan kuat untuk menyambut kaum yang kekurangan dengan penuh kehangatan dan memberikan perhatian tulus kepada mereka di majelis ilmu dan pada kehidupan sehari-hari. Bahkan diriwayatkan bahwa kedudukan orang-orang yang kekurangan dalam majelis Sufyan Ats-Tsauri seperti kedudukan para pemimpin yang berhak dihormati.[Bersambung]***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Tafsir Surah Abasa (Bag. 1): Teguran Lembut Kepada Rasulullah

Surah Abasa adalah surah Makiyah, di dalamnya terdapat berbagai kabar berkenaan dengan akidah dan risalah Nabi. Pada surah ini juga, Allah menceritakan tentang bukti kebesaran dan tauhid rububiyah berupa penciptaan manusia, tumbuhan, pepohonan, serta berbagai makanan. Kemudian surah ini ditutup dengan kengerian yang terjadi di hari kiamat.Sebab turunnya awal surah ini adalah pada suatu hari, Rasulullah sedang mendakwahi sebagian pembesar suku Quraisy agar masuk Islam. Nabi berharap bahwa dengan masuk Islamnya mereka, maka pengikutnya juga akan masuk Islam. Ibnu Juzay berpendapat bahwa pada saat itu, yang Nabi dakwahi adalah Walid bin Mughiroh, atau Utbah bin Rabiah, atau Ummayah bin Khalaf. (At-Tashil li Ulumit Tanzil, 2: 452)Pada saat beliau berdakwah tersebut, datanglah sahabat bernama Abdullah bin Ummi Maktum yang buta dan tidak mengetahui apa yang sedang Nabi kerjakan. Dia mengatakan, “Wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku ilmu yang telah Allah ajarkan kepada engkau.” Perkataan ini diulang oleh Abdullah bin Ummi Maktum dalam keadaan beliau tidak tahu apa yang Nabi sedang kerjakan, sehingga Nabi merasa kurang berkenan, bermuka masam, serta berpaling darinya. Kemudian turunlah awal surah Abasa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ“Dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang tunanetra (Abdullah bin Ummi Maktum) telah datang kepadanya.” (QS. Abasa: 1-2)Nabi bermuka masam, yaitu “cemberut” serta berpaling dari Abdulah bin Ummi Maktum karena merasa kurang nyaman. Hal ini karena Abdullah bin Ummi Maktum datang meminta nasihat berkaitan urusan Islam, padahal Nabi sedang sibuk mendakwahi pembesar Quraisy.Allah menggunakan bentuk orang ketiga yaitu “dia” ketika mengisyaratkan pada Nabi, sebagai bentuk teguran yang sangat lembut dan halus untuk Nabi. Dalam bahasa Arab, perubahan kata ganti orang kedua (“kamu”) menuju kata ganti orang ketiga (“dia”) disebut dengan iltifat, yang salah satu tujuannya adalah melembutkan kalimat.Pendapat yang menyebutkan bahwa teguran ini adalah teguran yang lembut adalah pendapat yang dikemukakan oleh banyak ulama, di antaranya Ibnu Athiyah dan Ibnu Juzay. Akan tetapi, ada pendapat bersebrangan yang disampaikan oleh Zamakhsyari, bahwa pengingkaran dalam bentuk kata ganti orang ketiga menunjukkan adanya pengingkaran yang lebih keras atas suatu kesalahan. (At-Tashil li Ulumit Tanzil, 2: 452)Setelah Nabi mendapatkan teguran karena Abdullah bin Ummi Maktum ini, Nabi tidak lantas menjadi antipati dan acuh terhadapnya. Namun sebaliknya, Nabi menunjukkan rasa terimakasih yang besar kepadanya, serta mengatakan ketika dia datang. “Marhaban, selamat datang orang yang dengannya Allah menegurku dengan lembut.” Setelah itu, Nabi menggelar selendang beliau untuknya.Nabi juga memberikan kemuliaan bagi Ibnu Ummi Maktum dengan memberikan tugas agung kepada beliau, yaitu menjadi muazin salat Subuh di masjid Nabawi. Lebih jauh lagi, Nabi juga meminta Abdullah bin Ummi Maktum untuk menjadi pengganti Nabi ketika beliau sedang berjihad sebanyak dua kali, salah satunya ketika perang dengan Bani Nazhir pada tahun 4 Hijriah.Ini adalah suatu contoh teladan patriotik, sikap kesatria, dan lapangnya hati Nabi dalam menerima teguran dari Allah. Suatu sikap yang saat ini sudah mulai hilang, karena kita jumpai seseorang, apalagi yang “berada di atas”, sangat antipati dalam menerima kritik dan masukan, bahkan melakukan persekusi untuk menjatuhkan kedudukan lawan mereka.Penyebutan kata “buta” untuk menyebut Ibnu Ummi Maktum juga memiliki rahasia keindahan bahasa Al-Qur’an, yaitu adanya isyarat untuk memberikan uzur kepada beliau karena tidak mengetahui apa yang sedang Nabi kerjakan karena butanya. Karena seandainya Ibnu Ummi Maktum tidak buta, pasti tidak akan menyela pembicaraan Nabi. (Adhwaul Bayan fi Idhahil Qur’an bil Qur’an, 8: 430)Ayat ini juga menjadi dalil bolehnya penyebutan “buta” atau ciri khusus lain yang dimiliki oleh seseorang, dengan syarat memang ada manfaat dari penyebutan tersebut. Hal ini lumrah digunakan oleh ahli hadis ketika menyebutkan rawi hadis dengan ciri mereka seperti Sulaiman Al-A’masy yang rabun penglihatannya atau Abdurrahman Al-A’raj yang pincang kakinya. (Adhwaul Bayan fi Idhahil Qur’an bil Qur’an, 8: 431)Pada masa itu, penggunaan sifat fisik (seperti pincang, buta, atau rabun) sebagai julukan merupakan hal yang sangat umum digunakan oleh para ulama hadis untuk membedakan identitas seorang perawi agar tidak tertukar dengan orang lain yang memiliki nama serupa. Julukan ini murni berfungsi sebagai identifikasi pengenal, bukan untuk menghina atau merendahkan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ , اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ“Tahukah engkau (Nabi Muhammad) boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran sehingga pengajaran itu bermanfaat baginya?” (QS. Abasa: 3-4)Allah melanjutkan teguran kepada Nabi, wahai Rasulullah, siapakah yang membuatmu tahu serta memberitahumu, barangkali Abdullah bin Ummi Maktum yang engkau bermuka masam di hadapannya, akan menyucikan diri dari dosa-dosanya melalui ilmu yang ia terima darimu.Dalam ayat ini, Allah mengingatkan bahwa orang buta yang datang dengan tulus tersebut justru jauh lebih siap menerima kebenaran dan menyucikan jiwanya ketimbang para pembesar Quraisy yang sombong. Menunjukkan bahwa kemuliaan sesungguhnya didapatkan dari sucinya jiwa dengan ilmu dan amal, bukan dengan kekayaan yang melalaikan.Pada ayat ini, Allah melakukan iltifat kembali, mengembalikan kata ganti orang ketiga menjadi kata ganti orang kedua dengan menyebut Nabi secara langsung, dengan tujuan agar Nabi memberikan perhatian penuh kepada Ibnu Ummi Maktum.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ , فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ , وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy), engkau (Nabi Muhammad) memberi perhatian kepadanya. Padahal, tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman).” (QS. Abasa: 5-7)Allah melanjutkan tegurannya kepada Rasulullah. Orang-orang musyrik Quraisy yang merasa tidak memerlukan Allah dan iman, karena mereka telah merasa kaya dan cukup dengan kekayaan harta benda, engkau menghadapkan dirimu pada mereka, mendengarkan perkataan, serta memberi perhatian kepada mereka, supaya dirimu dapat menyampaikan dakwah kepada mereka.Padahal engkau, wahai Rasulullah, hanyalah diperintahkan untuk menyampaikan risalah, adapun hasil akhir apakah diterima atau tidak, maka itu semua ada di tangan Allah, dan bukan di tanganmu. Maka tidak ada dosa bagimu, jika engkau telah berdakwah dengan sekuat tenaga dan penuh hikmah, akan tetapi mereka tetap tidak mau beriman.Di samping itu, ayat ini juga dalil tentang perhatian Nabi terhadap seluruh umat dan keinginan kuat beliau agar semua orang masuk Islam, bahkan termasuk orang yang berpaling dan merasa tidak butuh, sebagai bentuk kasih sayang yang ada pada diri Nabi untuk menyelamatkan mereka di dunia dan di akhirat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ, وَهُوَ يَخْشٰىۙ , فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ“Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan dia takut (kepada Allah), malah engkau (Nabi Muhammad) abaikan.” (QS. Abasa: 8–10)Ayat ini masih sambungan teguran dan pengajaran dari Allah kepada Nabi, yaitu adapun orang yang datang kepadamu dengan bergegas demi meraih petunjuk, mendambakan bimbingan menuju kebaikan, serta mengharapkan nasihat-nasihat Islam, sementara hatinya dipenuhi rasa takut kepada Allah, justru engkau berpaling dan mengabaikannya (pada kasus Ibnu Ummi Maktum).Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah agar tidak mengkhususkan dakwah kepada orang tertentu saja. Sebaliknya, beliau wajib menyamakan kedudukan manusia dalam penyampaian dakwah kepada mereka, baik antara orang terpandang atau orang yang lemah, yang kaya atau yang miskin, baik kepada pembesar manusia atau orang biasa, lelaki atau perempuan, hingga anak-anak dan orang dewasa.Sebagian ulama, seperti As-Suyuthi, menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dorongan kuat untuk menyambut kaum yang kekurangan dengan penuh kehangatan dan memberikan perhatian tulus kepada mereka di majelis ilmu dan pada kehidupan sehari-hari. Bahkan diriwayatkan bahwa kedudukan orang-orang yang kekurangan dalam majelis Sufyan Ats-Tsauri seperti kedudukan para pemimpin yang berhak dihormati.[Bersambung]***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
Surah Abasa adalah surah Makiyah, di dalamnya terdapat berbagai kabar berkenaan dengan akidah dan risalah Nabi. Pada surah ini juga, Allah menceritakan tentang bukti kebesaran dan tauhid rububiyah berupa penciptaan manusia, tumbuhan, pepohonan, serta berbagai makanan. Kemudian surah ini ditutup dengan kengerian yang terjadi di hari kiamat.Sebab turunnya awal surah ini adalah pada suatu hari, Rasulullah sedang mendakwahi sebagian pembesar suku Quraisy agar masuk Islam. Nabi berharap bahwa dengan masuk Islamnya mereka, maka pengikutnya juga akan masuk Islam. Ibnu Juzay berpendapat bahwa pada saat itu, yang Nabi dakwahi adalah Walid bin Mughiroh, atau Utbah bin Rabiah, atau Ummayah bin Khalaf. (At-Tashil li Ulumit Tanzil, 2: 452)Pada saat beliau berdakwah tersebut, datanglah sahabat bernama Abdullah bin Ummi Maktum yang buta dan tidak mengetahui apa yang sedang Nabi kerjakan. Dia mengatakan, “Wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku ilmu yang telah Allah ajarkan kepada engkau.” Perkataan ini diulang oleh Abdullah bin Ummi Maktum dalam keadaan beliau tidak tahu apa yang Nabi sedang kerjakan, sehingga Nabi merasa kurang berkenan, bermuka masam, serta berpaling darinya. Kemudian turunlah awal surah Abasa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ“Dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang tunanetra (Abdullah bin Ummi Maktum) telah datang kepadanya.” (QS. Abasa: 1-2)Nabi bermuka masam, yaitu “cemberut” serta berpaling dari Abdulah bin Ummi Maktum karena merasa kurang nyaman. Hal ini karena Abdullah bin Ummi Maktum datang meminta nasihat berkaitan urusan Islam, padahal Nabi sedang sibuk mendakwahi pembesar Quraisy.Allah menggunakan bentuk orang ketiga yaitu “dia” ketika mengisyaratkan pada Nabi, sebagai bentuk teguran yang sangat lembut dan halus untuk Nabi. Dalam bahasa Arab, perubahan kata ganti orang kedua (“kamu”) menuju kata ganti orang ketiga (“dia”) disebut dengan iltifat, yang salah satu tujuannya adalah melembutkan kalimat.Pendapat yang menyebutkan bahwa teguran ini adalah teguran yang lembut adalah pendapat yang dikemukakan oleh banyak ulama, di antaranya Ibnu Athiyah dan Ibnu Juzay. Akan tetapi, ada pendapat bersebrangan yang disampaikan oleh Zamakhsyari, bahwa pengingkaran dalam bentuk kata ganti orang ketiga menunjukkan adanya pengingkaran yang lebih keras atas suatu kesalahan. (At-Tashil li Ulumit Tanzil, 2: 452)Setelah Nabi mendapatkan teguran karena Abdullah bin Ummi Maktum ini, Nabi tidak lantas menjadi antipati dan acuh terhadapnya. Namun sebaliknya, Nabi menunjukkan rasa terimakasih yang besar kepadanya, serta mengatakan ketika dia datang. “Marhaban, selamat datang orang yang dengannya Allah menegurku dengan lembut.” Setelah itu, Nabi menggelar selendang beliau untuknya.Nabi juga memberikan kemuliaan bagi Ibnu Ummi Maktum dengan memberikan tugas agung kepada beliau, yaitu menjadi muazin salat Subuh di masjid Nabawi. Lebih jauh lagi, Nabi juga meminta Abdullah bin Ummi Maktum untuk menjadi pengganti Nabi ketika beliau sedang berjihad sebanyak dua kali, salah satunya ketika perang dengan Bani Nazhir pada tahun 4 Hijriah.Ini adalah suatu contoh teladan patriotik, sikap kesatria, dan lapangnya hati Nabi dalam menerima teguran dari Allah. Suatu sikap yang saat ini sudah mulai hilang, karena kita jumpai seseorang, apalagi yang “berada di atas”, sangat antipati dalam menerima kritik dan masukan, bahkan melakukan persekusi untuk menjatuhkan kedudukan lawan mereka.Penyebutan kata “buta” untuk menyebut Ibnu Ummi Maktum juga memiliki rahasia keindahan bahasa Al-Qur’an, yaitu adanya isyarat untuk memberikan uzur kepada beliau karena tidak mengetahui apa yang sedang Nabi kerjakan karena butanya. Karena seandainya Ibnu Ummi Maktum tidak buta, pasti tidak akan menyela pembicaraan Nabi. (Adhwaul Bayan fi Idhahil Qur’an bil Qur’an, 8: 430)Ayat ini juga menjadi dalil bolehnya penyebutan “buta” atau ciri khusus lain yang dimiliki oleh seseorang, dengan syarat memang ada manfaat dari penyebutan tersebut. Hal ini lumrah digunakan oleh ahli hadis ketika menyebutkan rawi hadis dengan ciri mereka seperti Sulaiman Al-A’masy yang rabun penglihatannya atau Abdurrahman Al-A’raj yang pincang kakinya. (Adhwaul Bayan fi Idhahil Qur’an bil Qur’an, 8: 431)Pada masa itu, penggunaan sifat fisik (seperti pincang, buta, atau rabun) sebagai julukan merupakan hal yang sangat umum digunakan oleh para ulama hadis untuk membedakan identitas seorang perawi agar tidak tertukar dengan orang lain yang memiliki nama serupa. Julukan ini murni berfungsi sebagai identifikasi pengenal, bukan untuk menghina atau merendahkan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ , اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ“Tahukah engkau (Nabi Muhammad) boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran sehingga pengajaran itu bermanfaat baginya?” (QS. Abasa: 3-4)Allah melanjutkan teguran kepada Nabi, wahai Rasulullah, siapakah yang membuatmu tahu serta memberitahumu, barangkali Abdullah bin Ummi Maktum yang engkau bermuka masam di hadapannya, akan menyucikan diri dari dosa-dosanya melalui ilmu yang ia terima darimu.Dalam ayat ini, Allah mengingatkan bahwa orang buta yang datang dengan tulus tersebut justru jauh lebih siap menerima kebenaran dan menyucikan jiwanya ketimbang para pembesar Quraisy yang sombong. Menunjukkan bahwa kemuliaan sesungguhnya didapatkan dari sucinya jiwa dengan ilmu dan amal, bukan dengan kekayaan yang melalaikan.Pada ayat ini, Allah melakukan iltifat kembali, mengembalikan kata ganti orang ketiga menjadi kata ganti orang kedua dengan menyebut Nabi secara langsung, dengan tujuan agar Nabi memberikan perhatian penuh kepada Ibnu Ummi Maktum.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ , فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ , وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy), engkau (Nabi Muhammad) memberi perhatian kepadanya. Padahal, tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman).” (QS. Abasa: 5-7)Allah melanjutkan tegurannya kepada Rasulullah. Orang-orang musyrik Quraisy yang merasa tidak memerlukan Allah dan iman, karena mereka telah merasa kaya dan cukup dengan kekayaan harta benda, engkau menghadapkan dirimu pada mereka, mendengarkan perkataan, serta memberi perhatian kepada mereka, supaya dirimu dapat menyampaikan dakwah kepada mereka.Padahal engkau, wahai Rasulullah, hanyalah diperintahkan untuk menyampaikan risalah, adapun hasil akhir apakah diterima atau tidak, maka itu semua ada di tangan Allah, dan bukan di tanganmu. Maka tidak ada dosa bagimu, jika engkau telah berdakwah dengan sekuat tenaga dan penuh hikmah, akan tetapi mereka tetap tidak mau beriman.Di samping itu, ayat ini juga dalil tentang perhatian Nabi terhadap seluruh umat dan keinginan kuat beliau agar semua orang masuk Islam, bahkan termasuk orang yang berpaling dan merasa tidak butuh, sebagai bentuk kasih sayang yang ada pada diri Nabi untuk menyelamatkan mereka di dunia dan di akhirat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ, وَهُوَ يَخْشٰىۙ , فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ“Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan dia takut (kepada Allah), malah engkau (Nabi Muhammad) abaikan.” (QS. Abasa: 8–10)Ayat ini masih sambungan teguran dan pengajaran dari Allah kepada Nabi, yaitu adapun orang yang datang kepadamu dengan bergegas demi meraih petunjuk, mendambakan bimbingan menuju kebaikan, serta mengharapkan nasihat-nasihat Islam, sementara hatinya dipenuhi rasa takut kepada Allah, justru engkau berpaling dan mengabaikannya (pada kasus Ibnu Ummi Maktum).Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah agar tidak mengkhususkan dakwah kepada orang tertentu saja. Sebaliknya, beliau wajib menyamakan kedudukan manusia dalam penyampaian dakwah kepada mereka, baik antara orang terpandang atau orang yang lemah, yang kaya atau yang miskin, baik kepada pembesar manusia atau orang biasa, lelaki atau perempuan, hingga anak-anak dan orang dewasa.Sebagian ulama, seperti As-Suyuthi, menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dorongan kuat untuk menyambut kaum yang kekurangan dengan penuh kehangatan dan memberikan perhatian tulus kepada mereka di majelis ilmu dan pada kehidupan sehari-hari. Bahkan diriwayatkan bahwa kedudukan orang-orang yang kekurangan dalam majelis Sufyan Ats-Tsauri seperti kedudukan para pemimpin yang berhak dihormati.[Bersambung]***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/


Surah Abasa adalah surah Makiyah, di dalamnya terdapat berbagai kabar berkenaan dengan akidah dan risalah Nabi. Pada surah ini juga, Allah menceritakan tentang bukti kebesaran dan tauhid rububiyah berupa penciptaan manusia, tumbuhan, pepohonan, serta berbagai makanan. Kemudian surah ini ditutup dengan kengerian yang terjadi di hari kiamat.Sebab turunnya awal surah ini adalah pada suatu hari, Rasulullah sedang mendakwahi sebagian pembesar suku Quraisy agar masuk Islam. Nabi berharap bahwa dengan masuk Islamnya mereka, maka pengikutnya juga akan masuk Islam. Ibnu Juzay berpendapat bahwa pada saat itu, yang Nabi dakwahi adalah Walid bin Mughiroh, atau Utbah bin Rabiah, atau Ummayah bin Khalaf. (At-Tashil li Ulumit Tanzil, 2: 452)Pada saat beliau berdakwah tersebut, datanglah sahabat bernama Abdullah bin Ummi Maktum yang buta dan tidak mengetahui apa yang sedang Nabi kerjakan. Dia mengatakan, “Wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku ilmu yang telah Allah ajarkan kepada engkau.” Perkataan ini diulang oleh Abdullah bin Ummi Maktum dalam keadaan beliau tidak tahu apa yang Nabi sedang kerjakan, sehingga Nabi merasa kurang berkenan, bermuka masam, serta berpaling darinya. Kemudian turunlah awal surah Abasa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ“Dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang tunanetra (Abdullah bin Ummi Maktum) telah datang kepadanya.” (QS. Abasa: 1-2)Nabi bermuka masam, yaitu “cemberut” serta berpaling dari Abdulah bin Ummi Maktum karena merasa kurang nyaman. Hal ini karena Abdullah bin Ummi Maktum datang meminta nasihat berkaitan urusan Islam, padahal Nabi sedang sibuk mendakwahi pembesar Quraisy.Allah menggunakan bentuk orang ketiga yaitu “dia” ketika mengisyaratkan pada Nabi, sebagai bentuk teguran yang sangat lembut dan halus untuk Nabi. Dalam bahasa Arab, perubahan kata ganti orang kedua (“kamu”) menuju kata ganti orang ketiga (“dia”) disebut dengan iltifat, yang salah satu tujuannya adalah melembutkan kalimat.Pendapat yang menyebutkan bahwa teguran ini adalah teguran yang lembut adalah pendapat yang dikemukakan oleh banyak ulama, di antaranya Ibnu Athiyah dan Ibnu Juzay. Akan tetapi, ada pendapat bersebrangan yang disampaikan oleh Zamakhsyari, bahwa pengingkaran dalam bentuk kata ganti orang ketiga menunjukkan adanya pengingkaran yang lebih keras atas suatu kesalahan. (At-Tashil li Ulumit Tanzil, 2: 452)Setelah Nabi mendapatkan teguran karena Abdullah bin Ummi Maktum ini, Nabi tidak lantas menjadi antipati dan acuh terhadapnya. Namun sebaliknya, Nabi menunjukkan rasa terimakasih yang besar kepadanya, serta mengatakan ketika dia datang. “Marhaban, selamat datang orang yang dengannya Allah menegurku dengan lembut.” Setelah itu, Nabi menggelar selendang beliau untuknya.Nabi juga memberikan kemuliaan bagi Ibnu Ummi Maktum dengan memberikan tugas agung kepada beliau, yaitu menjadi muazin salat Subuh di masjid Nabawi. Lebih jauh lagi, Nabi juga meminta Abdullah bin Ummi Maktum untuk menjadi pengganti Nabi ketika beliau sedang berjihad sebanyak dua kali, salah satunya ketika perang dengan Bani Nazhir pada tahun 4 Hijriah.Ini adalah suatu contoh teladan patriotik, sikap kesatria, dan lapangnya hati Nabi dalam menerima teguran dari Allah. Suatu sikap yang saat ini sudah mulai hilang, karena kita jumpai seseorang, apalagi yang “berada di atas”, sangat antipati dalam menerima kritik dan masukan, bahkan melakukan persekusi untuk menjatuhkan kedudukan lawan mereka.Penyebutan kata “buta” untuk menyebut Ibnu Ummi Maktum juga memiliki rahasia keindahan bahasa Al-Qur’an, yaitu adanya isyarat untuk memberikan uzur kepada beliau karena tidak mengetahui apa yang sedang Nabi kerjakan karena butanya. Karena seandainya Ibnu Ummi Maktum tidak buta, pasti tidak akan menyela pembicaraan Nabi. (Adhwaul Bayan fi Idhahil Qur’an bil Qur’an, 8: 430)Ayat ini juga menjadi dalil bolehnya penyebutan “buta” atau ciri khusus lain yang dimiliki oleh seseorang, dengan syarat memang ada manfaat dari penyebutan tersebut. Hal ini lumrah digunakan oleh ahli hadis ketika menyebutkan rawi hadis dengan ciri mereka seperti Sulaiman Al-A’masy yang rabun penglihatannya atau Abdurrahman Al-A’raj yang pincang kakinya. (Adhwaul Bayan fi Idhahil Qur’an bil Qur’an, 8: 431)Pada masa itu, penggunaan sifat fisik (seperti pincang, buta, atau rabun) sebagai julukan merupakan hal yang sangat umum digunakan oleh para ulama hadis untuk membedakan identitas seorang perawi agar tidak tertukar dengan orang lain yang memiliki nama serupa. Julukan ini murni berfungsi sebagai identifikasi pengenal, bukan untuk menghina atau merendahkan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ , اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ“Tahukah engkau (Nabi Muhammad) boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran sehingga pengajaran itu bermanfaat baginya?” (QS. Abasa: 3-4)Allah melanjutkan teguran kepada Nabi, wahai Rasulullah, siapakah yang membuatmu tahu serta memberitahumu, barangkali Abdullah bin Ummi Maktum yang engkau bermuka masam di hadapannya, akan menyucikan diri dari dosa-dosanya melalui ilmu yang ia terima darimu.Dalam ayat ini, Allah mengingatkan bahwa orang buta yang datang dengan tulus tersebut justru jauh lebih siap menerima kebenaran dan menyucikan jiwanya ketimbang para pembesar Quraisy yang sombong. Menunjukkan bahwa kemuliaan sesungguhnya didapatkan dari sucinya jiwa dengan ilmu dan amal, bukan dengan kekayaan yang melalaikan.Pada ayat ini, Allah melakukan iltifat kembali, mengembalikan kata ganti orang ketiga menjadi kata ganti orang kedua dengan menyebut Nabi secara langsung, dengan tujuan agar Nabi memberikan perhatian penuh kepada Ibnu Ummi Maktum.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ , فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ , وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy), engkau (Nabi Muhammad) memberi perhatian kepadanya. Padahal, tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman).” (QS. Abasa: 5-7)Allah melanjutkan tegurannya kepada Rasulullah. Orang-orang musyrik Quraisy yang merasa tidak memerlukan Allah dan iman, karena mereka telah merasa kaya dan cukup dengan kekayaan harta benda, engkau menghadapkan dirimu pada mereka, mendengarkan perkataan, serta memberi perhatian kepada mereka, supaya dirimu dapat menyampaikan dakwah kepada mereka.Padahal engkau, wahai Rasulullah, hanyalah diperintahkan untuk menyampaikan risalah, adapun hasil akhir apakah diterima atau tidak, maka itu semua ada di tangan Allah, dan bukan di tanganmu. Maka tidak ada dosa bagimu, jika engkau telah berdakwah dengan sekuat tenaga dan penuh hikmah, akan tetapi mereka tetap tidak mau beriman.Di samping itu, ayat ini juga dalil tentang perhatian Nabi terhadap seluruh umat dan keinginan kuat beliau agar semua orang masuk Islam, bahkan termasuk orang yang berpaling dan merasa tidak butuh, sebagai bentuk kasih sayang yang ada pada diri Nabi untuk menyelamatkan mereka di dunia dan di akhirat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ, وَهُوَ يَخْشٰىۙ , فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ“Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan dia takut (kepada Allah), malah engkau (Nabi Muhammad) abaikan.” (QS. Abasa: 8–10)Ayat ini masih sambungan teguran dan pengajaran dari Allah kepada Nabi, yaitu adapun orang yang datang kepadamu dengan bergegas demi meraih petunjuk, mendambakan bimbingan menuju kebaikan, serta mengharapkan nasihat-nasihat Islam, sementara hatinya dipenuhi rasa takut kepada Allah, justru engkau berpaling dan mengabaikannya (pada kasus Ibnu Ummi Maktum).Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah agar tidak mengkhususkan dakwah kepada orang tertentu saja. Sebaliknya, beliau wajib menyamakan kedudukan manusia dalam penyampaian dakwah kepada mereka, baik antara orang terpandang atau orang yang lemah, yang kaya atau yang miskin, baik kepada pembesar manusia atau orang biasa, lelaki atau perempuan, hingga anak-anak dan orang dewasa.Sebagian ulama, seperti As-Suyuthi, menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dorongan kuat untuk menyambut kaum yang kekurangan dengan penuh kehangatan dan memberikan perhatian tulus kepada mereka di majelis ilmu dan pada kehidupan sehari-hari. Bahkan diriwayatkan bahwa kedudukan orang-orang yang kekurangan dalam majelis Sufyan Ats-Tsauri seperti kedudukan para pemimpin yang berhak dihormati.[Bersambung]***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Jujur yang Menyelamatkan: Pelajaran Besar dari Tobat Ka’ab bin Malik

Kejujuran terkadang terasa mahal karena membuat seseorang harus menanggung konsekuensi yang berat. Namun, kisah Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu membuktikan bahwa kejujuran adalah jalan menuju ampunan Allah dan kemuliaan di sisi-Nya. Dari kisah ini, kita belajar bahwa sesulit apa pun keadaan, berkata benar selalu berakhir dengan kebaikan  Daftar Isi tutup 1. 4973. Bab: Hadits Tobat Ka’ab bin Malik dan Dua Sahabatnya 2. Pelajaran Penting  Dalam Shahih Muslim disebutkan:4973. Bab: Hadits Tobat Ka’ab bin Malik dan Dua Sahabatnya2769. Telah menceritakan kepadaku Abu Ath-Thahir Ahmad bin ‘Amr bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin Sarh, maula Bani Umayyah. Ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Yunus, dari Ibnu Syihab, ia berkata:Kemudian Rasulullah ﷺ berangkat dalam Perang Tabuk. Beliau hendak menghadapi bangsa Romawi dan orang-orang Nasrani Arab yang berada di wilayah Syam.Ibnu Syihab berkata: Telah mengabarkan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’ab bin Malik, bahwa ‘Abdullah bin Ka’ab—yang ketika Ka’ab telah buta menjadi penuntunnya dari kalangan anak-anaknya—berkata:“Aku mendengar Ka’ab bin Malik menceritakan kisahnya ketika ia tidak ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk.”Ka’ab bin Malik berkata:“Aku tidak pernah tertinggal dari Rasulullah ﷺ dalam satu peperangan pun yang beliau ikuti, kecuali pada Perang Tabuk. Hanya saja, aku juga pernah tidak ikut dalam Perang Badar, namun ketika itu Rasulullah ﷺ tidak mencela seorang pun yang tidak ikut. Sebab, Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin saat itu sebenarnya hanya keluar untuk menghadang kafilah dagang Quraisy, hingga akhirnya Allah mempertemukan mereka dengan musuh tanpa ada perjanjian sebelumnya.Sungguh, aku juga pernah menghadiri malam Baiat Aqabah, ketika kami saling berjanji setia di atas Islam. Aku tidak ingin menukarnya dengan keikutsertaanku dalam Perang Badar, meskipun Perang Badar lebih dikenal oleh manusia daripada Baiat Aqabah.Kisahku ketika tidak ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk adalah bahwa saat itu aku tidak pernah berada dalam keadaan yang lebih kuat dan lebih lapang daripada ketika aku tidak ikut dalam peperangan tersebut. Demi Allah, sebelumnya aku tidak pernah memiliki dua ekor tunggangan sekaligus, hingga pada saat perang itu aku berhasil memilikinya.Rasulullah ﷺ berangkat dalam peperangan tersebut pada musim yang sangat panas. Beliau harus menempuh perjalanan yang sangat jauh melintasi padang pasir yang luas dan menghadapi musuh dalam jumlah besar. Karena itu, beliau menjelaskan secara terbuka kepada kaum muslimin tentang urusan mereka agar mereka benar-benar mempersiapkan perlengkapan perang. Beliau juga memberitahukan tujuan yang hendak dituju.Jumlah kaum muslimin yang berangkat bersama Rasulullah ﷺ sangat banyak. Mereka belum tercatat dalam suatu daftar yang dapat menghimpun nama-nama mereka.”Ka’ab berkata:“Karena itu, seseorang yang ingin tidak ikut berangkat mengira bahwa ketidakhadirannya akan luput dari perhatian, selama tidak turun wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla mengenai dirinya.Rasulullah ﷺ berangkat dalam peperangan itu ketika buah-buahan sedang masak dan pepohonan memberikan keteduhan yang menyejukkan. Sementara itu, hatiku justru lebih condong kepada kenikmatan tersebut.Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin pun mulai bersiap untuk berangkat. Aku juga setiap pagi keluar dengan niat hendak mempersiapkan diri bersama mereka. Namun, setiap kali pulang, aku belum juga menyelesaikan apa pun. Aku terus berkata dalam hati, ‘Aku mampu melakukannya kapan saja jika aku menghendaki.’Keadaan itu terus berlarut-larut hingga kaum muslimin benar-benar telah siap berangkat. Pada suatu pagi Rasulullah ﷺ berangkat bersama kaum muslimin, sedangkan aku belum menyiapkan sedikit pun perlengkapanku.Kemudian aku kembali keluar pada pagi berikutnya, lalu pulang lagi tanpa menyelesaikan apa pun. Keadaan itu terus berlangsung hingga pasukan berangkat semakin jauh meninggalkanku. Aku sempat berniat untuk segera menyusul mereka. Ah, seandainya saja aku benar-benar melakukannya! Namun, ternyata aku tidak diberi kemampuan untuk melaksanakannya.Sejak Rasulullah ﷺ berangkat, setiap kali aku keluar dan melihat orang-orang di Madinah, hatiku semakin sedih. Sebab, aku tidak melihat ada orang yang senasib denganku selain seseorang yang dicurigai sebagai orang munafik, atau orang-orang lemah yang memang telah diberi uzur oleh Allah.Rasulullah ﷺ sendiri tidak pernah menyinggung namaku hingga beliau tiba di Tabuk. Ketika beliau sedang duduk bersama para sahabat di Tabuk, beliau bertanya, “Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?”Seorang laki-laki dari Bani Salimah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia tertahan oleh dua pakaiannya dan sibuk mengagumi dirinya sendiri.”Mendengar itu, Mu’adz bin Jabal berkata, “Alangkah buruknya ucapanmu itu! Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui tentang dirinya selain kebaikan.”Maka Rasulullah ﷺ pun terdiam.Ketika beliau masih dalam keadaan demikian, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang berpakaian serba putih datang dari kejauhan, bayangannya tampak bergoyang di tengah fatamorgana. Rasulullah ﷺ bersabda, “Semoga dia adalah Abu Khaitsamah.”Ternyata benar, orang itu adalah Abu Khaitsamah Al-Anshari, yaitu sahabat yang dahulu bersedekah dengan satu sha’ kurma ketika orang-orang munafik mencelanya.Ka’ab bin Malik melanjutkan kisahnya,“Ketika sampai kepadaku kabar bahwa Rasulullah ﷺ telah meninggalkan Tabuk untuk kembali ke Madinah, aku mulai diliputi kegelisahan. Aku pun sibuk memikirkan berbagai alasan dusta. Aku berkata dalam hati, ‘Dengan alasan apa aku dapat menyelamatkan diri dari kemurkaan beliau besok?’ Aku bahkan meminta pertimbangan kepada setiap orang yang dianggap bijaksana dari keluargaku.Namun, ketika dikabarkan kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ telah semakin dekat tiba di Madinah, lenyaplah semua pikiran dusta itu dari benakku. Aku benar-benar yakin bahwa aku tidak akan pernah bisa selamat dengan kebohongan apa pun. Karena itu, aku memutuskan untuk berkata jujur.Keesokan paginya Rasulullah ﷺ tiba di Madinah. Setiap kali pulang dari perjalanan, beliau selalu memulai dengan mendatangi masjid, lalu mengerjakan shalat dua rakaat, kemudian duduk menemui orang-orang.Setelah beliau melakukan hal itu, datanglah orang-orang yang tidak ikut berperang. Mereka menyampaikan berbagai alasan dan bersumpah kepada beliau. Jumlah mereka sekitar delapan puluh orang lebih. Rasulullah ﷺ menerima alasan yang mereka tampakkan, membaiat mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, dan menyerahkan urusan hati mereka kepada Allah.Kemudian tibalah giliranku.Ketika aku mengucapkan salam kepada beliau, beliau tersenyum, namun senyum orang yang sedang marah. Lalu beliau bersabda, “Kemarilah.”Aku pun mendekat hingga duduk di hadapan beliau.Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu tidak ikut? Bukankah engkau telah membeli kendaraanmu?”Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, demi Allah, seandainya aku sekarang duduk di hadapan selain engkau, yaitu salah seorang pembesar dunia, niscaya aku yakin bisa keluar dari kemarahannya dengan berbagai alasan. Aku memang dikaruniai kemampuan berdebat.وَلَكِنِّي وَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُ لَئِنْ حَدَّثْتُكَ الْيَوْمَ حَدِيثَ كَذِبٍ تَرْضَىٰ بِهِ عَنِّي، لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يُسْخِطَكَ عَلَيَّ. وَلَئِنْ حَدَّثْتُكَ حَدِيثَ صِدْقٍ تَجِدُ عَلَيَّ فِيهِ، إِنِّي لَأَرْجُو فِيهِ عُقْبَى اللَّهِ. وَاللَّهِ مَا كَانَ لِي مِنْ عُذْرٍ، وَاللَّهِ مَا كُنْتُ قَطُّ أَقْوَىٰ وَلَا أَيْسَرَ مِنِّي حِينَ تَخَلَّفْتُ عَنْكَ.Namun, demi Allah, aku benar-benar mengetahui bahwa jika hari ini aku menyampaikan kepadamu alasan dusta hingga engkau ridha kepadaku, tidak lama kemudian Allah pasti akan membuatmu murka kepadaku.Sebaliknya, jika aku mengatakan yang sebenarnya, meskipun engkau akan marah kepadaku karenanya, aku tetap berharap akibat yang baik dari Allah.Demi Allah, aku sama sekali tidak memiliki uzur. Demi Allah, aku tidak pernah berada dalam keadaan lebih kuat dan lebih lapang daripada ketika aku tidak ikut bersamamu.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Adapun orang ini, ia telah berkata jujur. Berdirilah sekarang hingga Allah memberikan keputusan tentang dirimu.”Aku pun berdiri.Lalu beberapa orang dari Bani Salimah segera mengejarku. Mereka berkata, “Demi Allah, kami tidak pernah mengetahui engkau melakukan dosa sebelumnya seperti ini. Sungguh, mengapa engkau tidak mampu mengemukakan alasan kepada Rasulullah ﷺ sebagaimana alasan yang disampaikan oleh orang-orang lain yang tidak ikut berangkat? Bukankah dosamu sudah cukup dihapus dengan permohonan ampun Rasulullah ﷺ untukmu?”Ka’ab berkata, “Demi Allah, mereka terus-menerus mencelaku hingga aku hampir saja kembali menemui Rasulullah ﷺ untuk mendustakan diriku sendiri.”Kemudian aku bertanya kepada mereka, “Apakah ada orang lain yang mengalami hal yang sama denganku?”Mereka menjawab, “Ya, ada dua orang yang juga mengatakan hal yang sama seperti yang engkau katakan. Kepada keduanya pun disampaikan ucapan yang sama seperti yang disampaikan kepadamu.”Aku bertanya, “Siapa mereka?”Mereka menjawab, “Murarah bin Ar-Rabi’ Al-‘Amiri dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifi.”Ka’ab berkata, “Mereka menyebutkan kepadaku dua orang saleh yang pernah ikut dalam Perang Badar. Pada keduanya terdapat teladan bagiku. Karena itu, setelah mereka menyebutkan kedua nama tersebut, aku pun tetap melanjutkan langkahku.”Ka’ab melanjutkan, “Rasulullah ﷺ kemudian melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga, berbeda dengan orang-orang lain yang juga tidak ikut berangkat.Sejak saat itu, orang-orang menjauhi kami. Sikap mereka terhadap kami berubah. Hingga akhirnya bumi terasa asing bagiku. Seolah-olah bumi ini bukan lagi bumi yang selama ini kukenal.Keadaan itu berlangsung selama lima puluh malam.Adapun kedua sahabatku, mereka hanya berdiam diri di rumah masing-masing sambil terus menangis.Sedangkan aku adalah yang paling muda dan paling kuat di antara kami bertiga. Karena itu, aku tetap keluar rumah. Aku menghadiri shalat berjamaah bersama kaum muslimin, berkeliling di pasar, namun tidak seorang pun berbicara kepadaku.Aku juga mendatangi Rasulullah ﷺ. Aku mengucapkan salam kepada beliau ketika beliau sedang duduk di majelisnya setelah shalat. Dalam hati aku bertanya-tanya, ‘Apakah beliau menggerakkan kedua bibirnya untuk menjawab salamku atau tidak?’Kemudian aku shalat di dekat beliau sambil diam-diam mencuri pandang ke arah beliau. Jika aku sedang khusyuk menghadap shalat, beliau memandangku. Namun, ketika aku menoleh ke arah beliau, beliau segera memalingkan wajah dariku.Keadaan dijauhi oleh kaum muslimin itu berlangsung begitu lama hingga terasa sangat berat bagiku.Suatu hari aku berjalan menuju kebun milik Abu Qatadah, sepupuku sekaligus orang yang paling kucintai. Aku memanjat tembok kebunnya, lalu mengucapkan salam kepadanya.Demi Allah, ia sama sekali tidak menjawab salamku.Aku pun berkata, “Wahai Abu Qatadah, demi Allah aku bertanya kepadamu, apakah engkau mengetahui bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?”Namun, ia tetap diam.Aku mengulanginya untuk kedua kalinya, tetapi ia tetap diam.Aku mengulanginya lagi untuk ketiga kalinya.Lalu Abu Qatadah menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”Mendengar jawaban itu, kedua mataku pun bercucuran air mata. Aku segera berbalik dan memanjat kembali tembok kebun tersebut untuk keluar.Ketika aku sedang berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba ada seorang pedagang Nabath dari penduduk Syam yang datang membawa bahan makanan untuk dijual di Madinah. Ia bertanya, “Siapa yang bisa menunjukkan kepadaku Ka’ab bin Malik?”Orang-orang pun menunjuk ke arahku. Ia lalu mendatangiku dan menyerahkan sepucuk surat dari Raja Ghassan. Karena aku bisa membaca dan menulis, aku pun membacanya.Isinya sebagai berikut: “Amma ba’du. Telah sampai kepada kami berita bahwa sahabatmu telah menjauhimu. Allah tidak menjadikanmu berada dalam kehinaan dan keterlantaran. Karena itu, bergabunglah bersama kami. Kami akan memuliakanmu.”Ka’ab berkata, “Setelah membacanya, aku berkata dalam hati, ‘Ini pun termasuk ujian yang lain.’ Maka aku segera menuju tungku api, lalu membakar surat itu hingga habis.”Setelah empat puluh hari berlalu dari lima puluh hari masa boikot itu, sementara wahyu belum juga turun, tiba-tiba datang utusan Rasulullah ﷺ kepadaku.Ia berkata, “Rasulullah ﷺ memerintahkanmu agar menjauhi istrimu.”Aku bertanya, “Apakah aku harus menceraikannya atau bagaimana yang harus kulakukan?”Ia menjawab, “Bukan. Engkau hanya diperintahkan menjauhinya. Jangan mendekatinya.”Perintah yang sama juga disampaikan kepada kedua sahabatku.Aku pun berkata kepada istriku, “Pulanglah ke rumah keluargamu. Tinggallah bersama mereka sampai Allah memberikan keputusan dalam urusan ini.”Kemudian istri Hilal bin Umayyah datang menemui Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah adalah seorang laki-laki tua yang sudah lemah dan tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Ia tidak memiliki seorang pembantu. Apakah engkau keberatan jika aku tetap melayaninya?”Beliau menjawab, “Tidak. Namun, jangan sampai ia mendekatimu.”Wanita itu berkata, “Demi Allah, ia sudah tidak memiliki keinginan sedikit pun terhadap hal itu. Demi Allah, sejak peristiwa yang menimpanya hingga hari ini, ia tidak henti-hentinya menangis.”Sebagian keluargaku kemudian berkata kepadaku, “Mengapa engkau tidak meminta izin kepada Rasulullah ﷺ mengenai istrimu? Bukankah beliau telah mengizinkan istri Hilal bin Umayyah untuk tetap melayaninya?”Aku menjawab, “Aku tidak akan meminta izin kepada Rasulullah ﷺ mengenai istriku. Aku tidak tahu apa yang akan beliau katakan jika aku memintanya. Lagi pula, aku masih seorang yang muda.”Keadaan itu terus berlangsung selama sepuluh malam lagi, hingga genaplah lima puluh malam sejak kami dilarang berbicara dengan siapa pun.Ka’ab melanjutkan, “Pada pagi hari yang kelima puluh, setelah aku menunaikan shalat Shubuh di atas atap salah satu rumah kami, aku duduk dalam keadaan sebagaimana yang Allah gambarkan tentang kami: jiwaku terasa begitu sempit dan bumi yang luas ini terasa menyempit bagiku.Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang dari atas Bukit Sal’ yang berteriak sekeras-kerasnya,’Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!’Aku langsung tersungkur bersujud. Saat itu aku mengetahui bahwa pertolongan Allah akhirnya telah datang.Rasulullah ﷺ mengumumkan kepada orang-orang bahwa Allah telah menerima tobat kami setelah beliau selesai mengerjakan shalat Subuh.Maka orang-orang segera berangkat untuk menyampaikan kabar gembira kepada kami.Beberapa orang bergegas menuju kedua sahabatku. Sementara itu, ada seseorang yang menunggang kuda menuju tempatku. Ada pula seorang dari kabilah Aslam yang berlari mendahului semuanya hingga naik ke atas bukit. Ternyata suara teriakannya lebih cepat sampai kepadaku daripada penunggang kuda itu.Ketika orang yang suaranya kudengar tadi tiba di hadapanku untuk menyampaikan kabar gembira itu, aku langsung melepaskan kedua pakaianku lalu kuberikan kepadanya sebagai hadiah atas kabar gembira tersebut.Demi Allah, saat itu aku tidak memiliki pakaian selain dua helai itu.Aku kemudian meminjam dua helai pakaian, memakainya, lalu segera berangkat menemui Rasulullah ﷺ.Di sepanjang jalan, orang-orang datang berbondong-bondong menyambutku. Mereka mengucapkan selamat atas diterimanya tobatku seraya berkata,“Selamat! Semoga engkau berbahagia atas diterimanya tobatmu oleh Allah.”Hingga akhirnya aku memasuki masjid. Saat itu Rasulullah ﷺ sedang duduk di dalam masjid, dikelilingi oleh para sahabat.Tiba-tiba Thalhah bin ‘Ubaidillah berdiri dan berlari kecil menghampiriku. Ia menyalamiku dan mengucapkan selamat kepadaku.Ka’ab berkata, “Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kalangan Muhajirin yang berdiri menyambutku selain Thalhah. Aku tidak pernah melupakan kebaikan Thalhah itu.”Ka’ab melanjutkan, “Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ, wajah beliau bersinar karena kegembiraan. Beliau bersabda,‘Bergembiralah! Hari ini adalah hari terbaik yang pernah engkau alami sejak ibumu melahirkanmu.’Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kabar ini berasal darimu atau dari Allah?’Beliau menjawab, ‘Bukan dariku, tetapi dari Allah.’Apabila Rasulullah ﷺ merasa gembira, wajah beliau akan bersinar terang, seakan-akan wajah beliau adalah belahan rembulan. Kami semua mengenali keadaan itu.”Setelah aku duduk di hadapan beliau, aku berkata,“Wahai Rasulullah, sebagai bagian dari tobatku, aku ingin menyedekahkan seluruh hartaku kepada Allah dan Rasul-Nya.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Sisakanlah sebagian hartamu. Itu lebih baik bagimu.”Aku berkata, “Kalau begitu, aku akan mempertahankan bagian hartaku yang berada di Khaibar.”Kemudian aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkanku karena kejujuranku. Sebagai bagian dari tobatku pula, aku berjanji tidak akan pernah lagi mengucapkan sesuatu selain kebenaran selama aku masih hidup.”Ka’ab berkata, “Demi Allah, sejak aku mengucapkan janji itu kepada Rasulullah ﷺ hingga hari ini, aku tidak mengetahui ada seorang muslim pun yang diuji Allah dalam menjaga kejujuran lalu diberi taufik yang lebih baik daripada yang Allah berikan kepadaku.Demi Allah, sejak hari aku mengucapkan janji itu kepada Rasulullah ﷺ hingga hari ini, aku tidak pernah sengaja berdusta sedikit pun. Aku berharap Allah tetap menjagaku pada sisa umurku.”Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ ۝ وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ…“Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Anshar yang mengikuti beliau pada masa-masa sulit, setelah hati sebagian dari mereka hampir berpaling. Kemudian Allah menerima tobat mereka. Sungguh, Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. Demikian pula terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobatnya), hingga ketika bumi yang luas terasa sempit bagi mereka dan jiwa mereka pun terasa sesak…”Hingga firman-Nya:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 117–119)Ka’ab berkata,“Demi Allah, setelah Allah memberiku hidayah kepada Islam, tidak ada nikmat yang lebih besar bagiku daripada nikmat dapat berkata jujur kepada Rasulullah ﷺ, sehingga aku tidak berdusta kepada beliau. Sebab, jika aku berdusta, tentu aku akan binasa sebagaimana binasanya orang-orang yang berdusta.Sesungguhnya Allah telah mengucapkan celaan yang sangat keras kepada orang-orang yang berdusta ketika menurunkan wahyu. Allah berfirman:سَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ إِذَا انْقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا عَنْهُمْ ۖ فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ ۖ إِنَّهُمْ رِجْسٌ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ۝ يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ ۖ فَإِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَىٰ عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ“Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah ketika kamu kembali kepada mereka, agar kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka. Sesungguhnya mereka itu najis, dan tempat tinggal mereka adalah Jahanam sebagai balasan atas apa yang selalu mereka kerjakan. Mereka bersumpah kepadamu agar kamu rela kepada mereka. Sekalipun kamu rela kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak akan pernah rela kepada kaum yang fasik.” (QS. At-Taubah: 95–96)Ka’ab berkata, “Kami bertiga ditangguhkan urusan kami, berbeda dengan orang-orang yang sebelumnya diterima alasannya oleh Rasulullah ﷺ ketika mereka bersumpah kepada beliau. Beliau menerima alasan yang mereka tampakkan, membaiat mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, sedangkan Rasulullah ﷺ menunda keputusan mengenai kami hingga Allah sendiri menetapkan hukumnya.Karena itulah Allah Ta’ala berfirman:وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا“Dan (Allah juga menerima tobat) terhadap tiga orang yang ditangguhkan itu.”Yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah bahwa kami tertinggal dari peperangan. Akan tetapi, yang dimaksud adalah bahwa Rasulullah ﷺ menangguhkan keputusan tentang kami dan menunda penyelesaian urusan kami, berbeda dengan orang-orang yang datang bersumpah dan menyampaikan alasan kepada beliau, lalu beliau menerima alasan mereka.”Hadis ini juga diriwayatkan kepadaku oleh Muhammad bin Rafi’. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hujain bin Al-Mutsanna. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dengan sanad yang sama seperti riwayat Yunus dari Az-Zuhri, dengan lafaz yang semakna.Hadis ini juga diriwayatkan kepadaku oleh ‘Abd bin Humaid. Ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Muslim—keponakan Az-Zuhri—dari pamannya, Muhammad bin Muslim Az-Zuhri. Ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’ab bin Malik, bahwa ‘Ubaidullah bin Ka’ab bin Malik—yang menjadi penuntun Ka’ab ketika beliau telah buta—berkata:“Aku mendengar Ka’ab bin Malik menceritakan kisahnya ketika ia tidak ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk.”Kemudian ia membawakan hadis tersebut secara lengkap.Dalam riwayat ini terdapat tambahan yang tidak disebutkan oleh Yunus, yaitu:“Rasulullah ﷺ hampir tidak pernah berangkat dalam suatu peperangan melainkan beliau menyamarkan tujuan sebenarnya dengan menyebutkan arah yang lain. Namun, pada Perang Tabuk ini beliau tidak melakukannya.” Sementara itu, dalam riwayat keponakan Az-Zuhri ini tidak disebutkan kisah Abu Khaitsamah yang menyusul Rasulullah ﷺ.Hadis ini juga diriwayatkan kepadaku oleh Salamah bin Syabib. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin A’yun. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ma’qil bin ‘Ubaidillah, dari Az-Zuhri. Ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’ab bin Malik, dari pamannya, ‘Ubaidullah bin Ka’ab—yang menjadi penuntun Ka’ab ketika penglihatannya hilang. Ia adalah orang yang paling berilmu di tengah kaumnya dan paling banyak menghafal hadis-hadis para sahabat Rasulullah ﷺ.Ia berkata:“Aku mendengar ayahku, Ka’ab bin Malik—salah seorang dari tiga orang yang diterima tobatnya oleh Allah—menceritakan bahwa ia tidak pernah tertinggal dari Rasulullah ﷺ dalam satu peperangan pun yang beliau ikuti, kecuali pada dua peperangan.”Kemudian ia membawakan hadis tersebut secara lengkap.Dalam riwayat ini disebutkan pula:“Rasulullah ﷺ berangkat dengan pasukan yang jumlahnya sangat banyak, lebih dari sepuluh ribu orang. Saat itu belum ada daftar administrasi yang menghimpun nama-nama mereka.” Pelajaran PentingKejujuran adalah jalan keselamatan, meskipun harus melewati ujian yang berat.Jangan menunda ketaatan, karena penundaan dapat berujung pada penyesalan.Orang beriman akan gelisah ketika berbuat dosa, bukan merasa tenang dengannya.Terimalah konsekuensi dari kesalahan sebagai bagian dari tobat yang tulus.Ujian sering datang bertubi-tubi, termasuk godaan untuk meninggalkan kebenaran.Pertolongan Allah datang setelah kesabaran dan keteguhan, bukan selalu seketika.Sahabat yang baik akan membela kehormatan saudaranya, bukan ikut menjatuhkannya.Hukuman yang mendidik dapat menjadi sarana memperbaiki diri, bukan sekadar balasan.Jangan mencari keselamatan dengan kebohongan, karena kebohongan hanya menunda hukuman.Nikmat terbesar setelah hidayah Islam adalah istiqamah dalam kejujuran.Allah menerima tobat hamba yang benar-benar jujur dan menyesal.Orang jujur akan mendapat kemuliaan di sisi Allah, meskipun sempat direndahkan di hadapan manusia.Lingkungan yang saleh membantu seseorang bertahan dalam ujian.Kejujuran lebih berharga daripada menjaga citra diri di hadapan manusia.Jadilah bersama orang-orang yang jujur, sebagaimana perintah Allah dalam QS. At-Taubah: 119. —- Selesai ditulis di perjalanan Jogja menuju Pondok Pesantren Darush Sholihin, 17 Juli 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam cara taubat hadis Muslim Ka'ab bin Malik kejujuran kisah sahabat perang tabuk rumaysho sahabat nabi Tafsir At-Taubah taubat tobat

Jujur yang Menyelamatkan: Pelajaran Besar dari Tobat Ka’ab bin Malik

Kejujuran terkadang terasa mahal karena membuat seseorang harus menanggung konsekuensi yang berat. Namun, kisah Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu membuktikan bahwa kejujuran adalah jalan menuju ampunan Allah dan kemuliaan di sisi-Nya. Dari kisah ini, kita belajar bahwa sesulit apa pun keadaan, berkata benar selalu berakhir dengan kebaikan  Daftar Isi tutup 1. 4973. Bab: Hadits Tobat Ka’ab bin Malik dan Dua Sahabatnya 2. Pelajaran Penting  Dalam Shahih Muslim disebutkan:4973. Bab: Hadits Tobat Ka’ab bin Malik dan Dua Sahabatnya2769. Telah menceritakan kepadaku Abu Ath-Thahir Ahmad bin ‘Amr bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin Sarh, maula Bani Umayyah. Ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Yunus, dari Ibnu Syihab, ia berkata:Kemudian Rasulullah ﷺ berangkat dalam Perang Tabuk. Beliau hendak menghadapi bangsa Romawi dan orang-orang Nasrani Arab yang berada di wilayah Syam.Ibnu Syihab berkata: Telah mengabarkan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’ab bin Malik, bahwa ‘Abdullah bin Ka’ab—yang ketika Ka’ab telah buta menjadi penuntunnya dari kalangan anak-anaknya—berkata:“Aku mendengar Ka’ab bin Malik menceritakan kisahnya ketika ia tidak ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk.”Ka’ab bin Malik berkata:“Aku tidak pernah tertinggal dari Rasulullah ﷺ dalam satu peperangan pun yang beliau ikuti, kecuali pada Perang Tabuk. Hanya saja, aku juga pernah tidak ikut dalam Perang Badar, namun ketika itu Rasulullah ﷺ tidak mencela seorang pun yang tidak ikut. Sebab, Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin saat itu sebenarnya hanya keluar untuk menghadang kafilah dagang Quraisy, hingga akhirnya Allah mempertemukan mereka dengan musuh tanpa ada perjanjian sebelumnya.Sungguh, aku juga pernah menghadiri malam Baiat Aqabah, ketika kami saling berjanji setia di atas Islam. Aku tidak ingin menukarnya dengan keikutsertaanku dalam Perang Badar, meskipun Perang Badar lebih dikenal oleh manusia daripada Baiat Aqabah.Kisahku ketika tidak ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk adalah bahwa saat itu aku tidak pernah berada dalam keadaan yang lebih kuat dan lebih lapang daripada ketika aku tidak ikut dalam peperangan tersebut. Demi Allah, sebelumnya aku tidak pernah memiliki dua ekor tunggangan sekaligus, hingga pada saat perang itu aku berhasil memilikinya.Rasulullah ﷺ berangkat dalam peperangan tersebut pada musim yang sangat panas. Beliau harus menempuh perjalanan yang sangat jauh melintasi padang pasir yang luas dan menghadapi musuh dalam jumlah besar. Karena itu, beliau menjelaskan secara terbuka kepada kaum muslimin tentang urusan mereka agar mereka benar-benar mempersiapkan perlengkapan perang. Beliau juga memberitahukan tujuan yang hendak dituju.Jumlah kaum muslimin yang berangkat bersama Rasulullah ﷺ sangat banyak. Mereka belum tercatat dalam suatu daftar yang dapat menghimpun nama-nama mereka.”Ka’ab berkata:“Karena itu, seseorang yang ingin tidak ikut berangkat mengira bahwa ketidakhadirannya akan luput dari perhatian, selama tidak turun wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla mengenai dirinya.Rasulullah ﷺ berangkat dalam peperangan itu ketika buah-buahan sedang masak dan pepohonan memberikan keteduhan yang menyejukkan. Sementara itu, hatiku justru lebih condong kepada kenikmatan tersebut.Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin pun mulai bersiap untuk berangkat. Aku juga setiap pagi keluar dengan niat hendak mempersiapkan diri bersama mereka. Namun, setiap kali pulang, aku belum juga menyelesaikan apa pun. Aku terus berkata dalam hati, ‘Aku mampu melakukannya kapan saja jika aku menghendaki.’Keadaan itu terus berlarut-larut hingga kaum muslimin benar-benar telah siap berangkat. Pada suatu pagi Rasulullah ﷺ berangkat bersama kaum muslimin, sedangkan aku belum menyiapkan sedikit pun perlengkapanku.Kemudian aku kembali keluar pada pagi berikutnya, lalu pulang lagi tanpa menyelesaikan apa pun. Keadaan itu terus berlangsung hingga pasukan berangkat semakin jauh meninggalkanku. Aku sempat berniat untuk segera menyusul mereka. Ah, seandainya saja aku benar-benar melakukannya! Namun, ternyata aku tidak diberi kemampuan untuk melaksanakannya.Sejak Rasulullah ﷺ berangkat, setiap kali aku keluar dan melihat orang-orang di Madinah, hatiku semakin sedih. Sebab, aku tidak melihat ada orang yang senasib denganku selain seseorang yang dicurigai sebagai orang munafik, atau orang-orang lemah yang memang telah diberi uzur oleh Allah.Rasulullah ﷺ sendiri tidak pernah menyinggung namaku hingga beliau tiba di Tabuk. Ketika beliau sedang duduk bersama para sahabat di Tabuk, beliau bertanya, “Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?”Seorang laki-laki dari Bani Salimah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia tertahan oleh dua pakaiannya dan sibuk mengagumi dirinya sendiri.”Mendengar itu, Mu’adz bin Jabal berkata, “Alangkah buruknya ucapanmu itu! Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui tentang dirinya selain kebaikan.”Maka Rasulullah ﷺ pun terdiam.Ketika beliau masih dalam keadaan demikian, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang berpakaian serba putih datang dari kejauhan, bayangannya tampak bergoyang di tengah fatamorgana. Rasulullah ﷺ bersabda, “Semoga dia adalah Abu Khaitsamah.”Ternyata benar, orang itu adalah Abu Khaitsamah Al-Anshari, yaitu sahabat yang dahulu bersedekah dengan satu sha’ kurma ketika orang-orang munafik mencelanya.Ka’ab bin Malik melanjutkan kisahnya,“Ketika sampai kepadaku kabar bahwa Rasulullah ﷺ telah meninggalkan Tabuk untuk kembali ke Madinah, aku mulai diliputi kegelisahan. Aku pun sibuk memikirkan berbagai alasan dusta. Aku berkata dalam hati, ‘Dengan alasan apa aku dapat menyelamatkan diri dari kemurkaan beliau besok?’ Aku bahkan meminta pertimbangan kepada setiap orang yang dianggap bijaksana dari keluargaku.Namun, ketika dikabarkan kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ telah semakin dekat tiba di Madinah, lenyaplah semua pikiran dusta itu dari benakku. Aku benar-benar yakin bahwa aku tidak akan pernah bisa selamat dengan kebohongan apa pun. Karena itu, aku memutuskan untuk berkata jujur.Keesokan paginya Rasulullah ﷺ tiba di Madinah. Setiap kali pulang dari perjalanan, beliau selalu memulai dengan mendatangi masjid, lalu mengerjakan shalat dua rakaat, kemudian duduk menemui orang-orang.Setelah beliau melakukan hal itu, datanglah orang-orang yang tidak ikut berperang. Mereka menyampaikan berbagai alasan dan bersumpah kepada beliau. Jumlah mereka sekitar delapan puluh orang lebih. Rasulullah ﷺ menerima alasan yang mereka tampakkan, membaiat mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, dan menyerahkan urusan hati mereka kepada Allah.Kemudian tibalah giliranku.Ketika aku mengucapkan salam kepada beliau, beliau tersenyum, namun senyum orang yang sedang marah. Lalu beliau bersabda, “Kemarilah.”Aku pun mendekat hingga duduk di hadapan beliau.Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu tidak ikut? Bukankah engkau telah membeli kendaraanmu?”Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, demi Allah, seandainya aku sekarang duduk di hadapan selain engkau, yaitu salah seorang pembesar dunia, niscaya aku yakin bisa keluar dari kemarahannya dengan berbagai alasan. Aku memang dikaruniai kemampuan berdebat.وَلَكِنِّي وَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُ لَئِنْ حَدَّثْتُكَ الْيَوْمَ حَدِيثَ كَذِبٍ تَرْضَىٰ بِهِ عَنِّي، لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يُسْخِطَكَ عَلَيَّ. وَلَئِنْ حَدَّثْتُكَ حَدِيثَ صِدْقٍ تَجِدُ عَلَيَّ فِيهِ، إِنِّي لَأَرْجُو فِيهِ عُقْبَى اللَّهِ. وَاللَّهِ مَا كَانَ لِي مِنْ عُذْرٍ، وَاللَّهِ مَا كُنْتُ قَطُّ أَقْوَىٰ وَلَا أَيْسَرَ مِنِّي حِينَ تَخَلَّفْتُ عَنْكَ.Namun, demi Allah, aku benar-benar mengetahui bahwa jika hari ini aku menyampaikan kepadamu alasan dusta hingga engkau ridha kepadaku, tidak lama kemudian Allah pasti akan membuatmu murka kepadaku.Sebaliknya, jika aku mengatakan yang sebenarnya, meskipun engkau akan marah kepadaku karenanya, aku tetap berharap akibat yang baik dari Allah.Demi Allah, aku sama sekali tidak memiliki uzur. Demi Allah, aku tidak pernah berada dalam keadaan lebih kuat dan lebih lapang daripada ketika aku tidak ikut bersamamu.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Adapun orang ini, ia telah berkata jujur. Berdirilah sekarang hingga Allah memberikan keputusan tentang dirimu.”Aku pun berdiri.Lalu beberapa orang dari Bani Salimah segera mengejarku. Mereka berkata, “Demi Allah, kami tidak pernah mengetahui engkau melakukan dosa sebelumnya seperti ini. Sungguh, mengapa engkau tidak mampu mengemukakan alasan kepada Rasulullah ﷺ sebagaimana alasan yang disampaikan oleh orang-orang lain yang tidak ikut berangkat? Bukankah dosamu sudah cukup dihapus dengan permohonan ampun Rasulullah ﷺ untukmu?”Ka’ab berkata, “Demi Allah, mereka terus-menerus mencelaku hingga aku hampir saja kembali menemui Rasulullah ﷺ untuk mendustakan diriku sendiri.”Kemudian aku bertanya kepada mereka, “Apakah ada orang lain yang mengalami hal yang sama denganku?”Mereka menjawab, “Ya, ada dua orang yang juga mengatakan hal yang sama seperti yang engkau katakan. Kepada keduanya pun disampaikan ucapan yang sama seperti yang disampaikan kepadamu.”Aku bertanya, “Siapa mereka?”Mereka menjawab, “Murarah bin Ar-Rabi’ Al-‘Amiri dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifi.”Ka’ab berkata, “Mereka menyebutkan kepadaku dua orang saleh yang pernah ikut dalam Perang Badar. Pada keduanya terdapat teladan bagiku. Karena itu, setelah mereka menyebutkan kedua nama tersebut, aku pun tetap melanjutkan langkahku.”Ka’ab melanjutkan, “Rasulullah ﷺ kemudian melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga, berbeda dengan orang-orang lain yang juga tidak ikut berangkat.Sejak saat itu, orang-orang menjauhi kami. Sikap mereka terhadap kami berubah. Hingga akhirnya bumi terasa asing bagiku. Seolah-olah bumi ini bukan lagi bumi yang selama ini kukenal.Keadaan itu berlangsung selama lima puluh malam.Adapun kedua sahabatku, mereka hanya berdiam diri di rumah masing-masing sambil terus menangis.Sedangkan aku adalah yang paling muda dan paling kuat di antara kami bertiga. Karena itu, aku tetap keluar rumah. Aku menghadiri shalat berjamaah bersama kaum muslimin, berkeliling di pasar, namun tidak seorang pun berbicara kepadaku.Aku juga mendatangi Rasulullah ﷺ. Aku mengucapkan salam kepada beliau ketika beliau sedang duduk di majelisnya setelah shalat. Dalam hati aku bertanya-tanya, ‘Apakah beliau menggerakkan kedua bibirnya untuk menjawab salamku atau tidak?’Kemudian aku shalat di dekat beliau sambil diam-diam mencuri pandang ke arah beliau. Jika aku sedang khusyuk menghadap shalat, beliau memandangku. Namun, ketika aku menoleh ke arah beliau, beliau segera memalingkan wajah dariku.Keadaan dijauhi oleh kaum muslimin itu berlangsung begitu lama hingga terasa sangat berat bagiku.Suatu hari aku berjalan menuju kebun milik Abu Qatadah, sepupuku sekaligus orang yang paling kucintai. Aku memanjat tembok kebunnya, lalu mengucapkan salam kepadanya.Demi Allah, ia sama sekali tidak menjawab salamku.Aku pun berkata, “Wahai Abu Qatadah, demi Allah aku bertanya kepadamu, apakah engkau mengetahui bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?”Namun, ia tetap diam.Aku mengulanginya untuk kedua kalinya, tetapi ia tetap diam.Aku mengulanginya lagi untuk ketiga kalinya.Lalu Abu Qatadah menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”Mendengar jawaban itu, kedua mataku pun bercucuran air mata. Aku segera berbalik dan memanjat kembali tembok kebun tersebut untuk keluar.Ketika aku sedang berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba ada seorang pedagang Nabath dari penduduk Syam yang datang membawa bahan makanan untuk dijual di Madinah. Ia bertanya, “Siapa yang bisa menunjukkan kepadaku Ka’ab bin Malik?”Orang-orang pun menunjuk ke arahku. Ia lalu mendatangiku dan menyerahkan sepucuk surat dari Raja Ghassan. Karena aku bisa membaca dan menulis, aku pun membacanya.Isinya sebagai berikut: “Amma ba’du. Telah sampai kepada kami berita bahwa sahabatmu telah menjauhimu. Allah tidak menjadikanmu berada dalam kehinaan dan keterlantaran. Karena itu, bergabunglah bersama kami. Kami akan memuliakanmu.”Ka’ab berkata, “Setelah membacanya, aku berkata dalam hati, ‘Ini pun termasuk ujian yang lain.’ Maka aku segera menuju tungku api, lalu membakar surat itu hingga habis.”Setelah empat puluh hari berlalu dari lima puluh hari masa boikot itu, sementara wahyu belum juga turun, tiba-tiba datang utusan Rasulullah ﷺ kepadaku.Ia berkata, “Rasulullah ﷺ memerintahkanmu agar menjauhi istrimu.”Aku bertanya, “Apakah aku harus menceraikannya atau bagaimana yang harus kulakukan?”Ia menjawab, “Bukan. Engkau hanya diperintahkan menjauhinya. Jangan mendekatinya.”Perintah yang sama juga disampaikan kepada kedua sahabatku.Aku pun berkata kepada istriku, “Pulanglah ke rumah keluargamu. Tinggallah bersama mereka sampai Allah memberikan keputusan dalam urusan ini.”Kemudian istri Hilal bin Umayyah datang menemui Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah adalah seorang laki-laki tua yang sudah lemah dan tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Ia tidak memiliki seorang pembantu. Apakah engkau keberatan jika aku tetap melayaninya?”Beliau menjawab, “Tidak. Namun, jangan sampai ia mendekatimu.”Wanita itu berkata, “Demi Allah, ia sudah tidak memiliki keinginan sedikit pun terhadap hal itu. Demi Allah, sejak peristiwa yang menimpanya hingga hari ini, ia tidak henti-hentinya menangis.”Sebagian keluargaku kemudian berkata kepadaku, “Mengapa engkau tidak meminta izin kepada Rasulullah ﷺ mengenai istrimu? Bukankah beliau telah mengizinkan istri Hilal bin Umayyah untuk tetap melayaninya?”Aku menjawab, “Aku tidak akan meminta izin kepada Rasulullah ﷺ mengenai istriku. Aku tidak tahu apa yang akan beliau katakan jika aku memintanya. Lagi pula, aku masih seorang yang muda.”Keadaan itu terus berlangsung selama sepuluh malam lagi, hingga genaplah lima puluh malam sejak kami dilarang berbicara dengan siapa pun.Ka’ab melanjutkan, “Pada pagi hari yang kelima puluh, setelah aku menunaikan shalat Shubuh di atas atap salah satu rumah kami, aku duduk dalam keadaan sebagaimana yang Allah gambarkan tentang kami: jiwaku terasa begitu sempit dan bumi yang luas ini terasa menyempit bagiku.Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang dari atas Bukit Sal’ yang berteriak sekeras-kerasnya,’Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!’Aku langsung tersungkur bersujud. Saat itu aku mengetahui bahwa pertolongan Allah akhirnya telah datang.Rasulullah ﷺ mengumumkan kepada orang-orang bahwa Allah telah menerima tobat kami setelah beliau selesai mengerjakan shalat Subuh.Maka orang-orang segera berangkat untuk menyampaikan kabar gembira kepada kami.Beberapa orang bergegas menuju kedua sahabatku. Sementara itu, ada seseorang yang menunggang kuda menuju tempatku. Ada pula seorang dari kabilah Aslam yang berlari mendahului semuanya hingga naik ke atas bukit. Ternyata suara teriakannya lebih cepat sampai kepadaku daripada penunggang kuda itu.Ketika orang yang suaranya kudengar tadi tiba di hadapanku untuk menyampaikan kabar gembira itu, aku langsung melepaskan kedua pakaianku lalu kuberikan kepadanya sebagai hadiah atas kabar gembira tersebut.Demi Allah, saat itu aku tidak memiliki pakaian selain dua helai itu.Aku kemudian meminjam dua helai pakaian, memakainya, lalu segera berangkat menemui Rasulullah ﷺ.Di sepanjang jalan, orang-orang datang berbondong-bondong menyambutku. Mereka mengucapkan selamat atas diterimanya tobatku seraya berkata,“Selamat! Semoga engkau berbahagia atas diterimanya tobatmu oleh Allah.”Hingga akhirnya aku memasuki masjid. Saat itu Rasulullah ﷺ sedang duduk di dalam masjid, dikelilingi oleh para sahabat.Tiba-tiba Thalhah bin ‘Ubaidillah berdiri dan berlari kecil menghampiriku. Ia menyalamiku dan mengucapkan selamat kepadaku.Ka’ab berkata, “Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kalangan Muhajirin yang berdiri menyambutku selain Thalhah. Aku tidak pernah melupakan kebaikan Thalhah itu.”Ka’ab melanjutkan, “Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ, wajah beliau bersinar karena kegembiraan. Beliau bersabda,‘Bergembiralah! Hari ini adalah hari terbaik yang pernah engkau alami sejak ibumu melahirkanmu.’Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kabar ini berasal darimu atau dari Allah?’Beliau menjawab, ‘Bukan dariku, tetapi dari Allah.’Apabila Rasulullah ﷺ merasa gembira, wajah beliau akan bersinar terang, seakan-akan wajah beliau adalah belahan rembulan. Kami semua mengenali keadaan itu.”Setelah aku duduk di hadapan beliau, aku berkata,“Wahai Rasulullah, sebagai bagian dari tobatku, aku ingin menyedekahkan seluruh hartaku kepada Allah dan Rasul-Nya.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Sisakanlah sebagian hartamu. Itu lebih baik bagimu.”Aku berkata, “Kalau begitu, aku akan mempertahankan bagian hartaku yang berada di Khaibar.”Kemudian aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkanku karena kejujuranku. Sebagai bagian dari tobatku pula, aku berjanji tidak akan pernah lagi mengucapkan sesuatu selain kebenaran selama aku masih hidup.”Ka’ab berkata, “Demi Allah, sejak aku mengucapkan janji itu kepada Rasulullah ﷺ hingga hari ini, aku tidak mengetahui ada seorang muslim pun yang diuji Allah dalam menjaga kejujuran lalu diberi taufik yang lebih baik daripada yang Allah berikan kepadaku.Demi Allah, sejak hari aku mengucapkan janji itu kepada Rasulullah ﷺ hingga hari ini, aku tidak pernah sengaja berdusta sedikit pun. Aku berharap Allah tetap menjagaku pada sisa umurku.”Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ ۝ وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ…“Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Anshar yang mengikuti beliau pada masa-masa sulit, setelah hati sebagian dari mereka hampir berpaling. Kemudian Allah menerima tobat mereka. Sungguh, Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. Demikian pula terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobatnya), hingga ketika bumi yang luas terasa sempit bagi mereka dan jiwa mereka pun terasa sesak…”Hingga firman-Nya:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 117–119)Ka’ab berkata,“Demi Allah, setelah Allah memberiku hidayah kepada Islam, tidak ada nikmat yang lebih besar bagiku daripada nikmat dapat berkata jujur kepada Rasulullah ﷺ, sehingga aku tidak berdusta kepada beliau. Sebab, jika aku berdusta, tentu aku akan binasa sebagaimana binasanya orang-orang yang berdusta.Sesungguhnya Allah telah mengucapkan celaan yang sangat keras kepada orang-orang yang berdusta ketika menurunkan wahyu. Allah berfirman:سَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ إِذَا انْقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا عَنْهُمْ ۖ فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ ۖ إِنَّهُمْ رِجْسٌ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ۝ يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ ۖ فَإِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَىٰ عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ“Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah ketika kamu kembali kepada mereka, agar kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka. Sesungguhnya mereka itu najis, dan tempat tinggal mereka adalah Jahanam sebagai balasan atas apa yang selalu mereka kerjakan. Mereka bersumpah kepadamu agar kamu rela kepada mereka. Sekalipun kamu rela kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak akan pernah rela kepada kaum yang fasik.” (QS. At-Taubah: 95–96)Ka’ab berkata, “Kami bertiga ditangguhkan urusan kami, berbeda dengan orang-orang yang sebelumnya diterima alasannya oleh Rasulullah ﷺ ketika mereka bersumpah kepada beliau. Beliau menerima alasan yang mereka tampakkan, membaiat mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, sedangkan Rasulullah ﷺ menunda keputusan mengenai kami hingga Allah sendiri menetapkan hukumnya.Karena itulah Allah Ta’ala berfirman:وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا“Dan (Allah juga menerima tobat) terhadap tiga orang yang ditangguhkan itu.”Yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah bahwa kami tertinggal dari peperangan. Akan tetapi, yang dimaksud adalah bahwa Rasulullah ﷺ menangguhkan keputusan tentang kami dan menunda penyelesaian urusan kami, berbeda dengan orang-orang yang datang bersumpah dan menyampaikan alasan kepada beliau, lalu beliau menerima alasan mereka.”Hadis ini juga diriwayatkan kepadaku oleh Muhammad bin Rafi’. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hujain bin Al-Mutsanna. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dengan sanad yang sama seperti riwayat Yunus dari Az-Zuhri, dengan lafaz yang semakna.Hadis ini juga diriwayatkan kepadaku oleh ‘Abd bin Humaid. Ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Muslim—keponakan Az-Zuhri—dari pamannya, Muhammad bin Muslim Az-Zuhri. Ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’ab bin Malik, bahwa ‘Ubaidullah bin Ka’ab bin Malik—yang menjadi penuntun Ka’ab ketika beliau telah buta—berkata:“Aku mendengar Ka’ab bin Malik menceritakan kisahnya ketika ia tidak ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk.”Kemudian ia membawakan hadis tersebut secara lengkap.Dalam riwayat ini terdapat tambahan yang tidak disebutkan oleh Yunus, yaitu:“Rasulullah ﷺ hampir tidak pernah berangkat dalam suatu peperangan melainkan beliau menyamarkan tujuan sebenarnya dengan menyebutkan arah yang lain. Namun, pada Perang Tabuk ini beliau tidak melakukannya.” Sementara itu, dalam riwayat keponakan Az-Zuhri ini tidak disebutkan kisah Abu Khaitsamah yang menyusul Rasulullah ﷺ.Hadis ini juga diriwayatkan kepadaku oleh Salamah bin Syabib. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin A’yun. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ma’qil bin ‘Ubaidillah, dari Az-Zuhri. Ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’ab bin Malik, dari pamannya, ‘Ubaidullah bin Ka’ab—yang menjadi penuntun Ka’ab ketika penglihatannya hilang. Ia adalah orang yang paling berilmu di tengah kaumnya dan paling banyak menghafal hadis-hadis para sahabat Rasulullah ﷺ.Ia berkata:“Aku mendengar ayahku, Ka’ab bin Malik—salah seorang dari tiga orang yang diterima tobatnya oleh Allah—menceritakan bahwa ia tidak pernah tertinggal dari Rasulullah ﷺ dalam satu peperangan pun yang beliau ikuti, kecuali pada dua peperangan.”Kemudian ia membawakan hadis tersebut secara lengkap.Dalam riwayat ini disebutkan pula:“Rasulullah ﷺ berangkat dengan pasukan yang jumlahnya sangat banyak, lebih dari sepuluh ribu orang. Saat itu belum ada daftar administrasi yang menghimpun nama-nama mereka.” Pelajaran PentingKejujuran adalah jalan keselamatan, meskipun harus melewati ujian yang berat.Jangan menunda ketaatan, karena penundaan dapat berujung pada penyesalan.Orang beriman akan gelisah ketika berbuat dosa, bukan merasa tenang dengannya.Terimalah konsekuensi dari kesalahan sebagai bagian dari tobat yang tulus.Ujian sering datang bertubi-tubi, termasuk godaan untuk meninggalkan kebenaran.Pertolongan Allah datang setelah kesabaran dan keteguhan, bukan selalu seketika.Sahabat yang baik akan membela kehormatan saudaranya, bukan ikut menjatuhkannya.Hukuman yang mendidik dapat menjadi sarana memperbaiki diri, bukan sekadar balasan.Jangan mencari keselamatan dengan kebohongan, karena kebohongan hanya menunda hukuman.Nikmat terbesar setelah hidayah Islam adalah istiqamah dalam kejujuran.Allah menerima tobat hamba yang benar-benar jujur dan menyesal.Orang jujur akan mendapat kemuliaan di sisi Allah, meskipun sempat direndahkan di hadapan manusia.Lingkungan yang saleh membantu seseorang bertahan dalam ujian.Kejujuran lebih berharga daripada menjaga citra diri di hadapan manusia.Jadilah bersama orang-orang yang jujur, sebagaimana perintah Allah dalam QS. At-Taubah: 119. —- Selesai ditulis di perjalanan Jogja menuju Pondok Pesantren Darush Sholihin, 17 Juli 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam cara taubat hadis Muslim Ka'ab bin Malik kejujuran kisah sahabat perang tabuk rumaysho sahabat nabi Tafsir At-Taubah taubat tobat
Kejujuran terkadang terasa mahal karena membuat seseorang harus menanggung konsekuensi yang berat. Namun, kisah Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu membuktikan bahwa kejujuran adalah jalan menuju ampunan Allah dan kemuliaan di sisi-Nya. Dari kisah ini, kita belajar bahwa sesulit apa pun keadaan, berkata benar selalu berakhir dengan kebaikan  Daftar Isi tutup 1. 4973. Bab: Hadits Tobat Ka’ab bin Malik dan Dua Sahabatnya 2. Pelajaran Penting  Dalam Shahih Muslim disebutkan:4973. Bab: Hadits Tobat Ka’ab bin Malik dan Dua Sahabatnya2769. Telah menceritakan kepadaku Abu Ath-Thahir Ahmad bin ‘Amr bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin Sarh, maula Bani Umayyah. Ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Yunus, dari Ibnu Syihab, ia berkata:Kemudian Rasulullah ﷺ berangkat dalam Perang Tabuk. Beliau hendak menghadapi bangsa Romawi dan orang-orang Nasrani Arab yang berada di wilayah Syam.Ibnu Syihab berkata: Telah mengabarkan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’ab bin Malik, bahwa ‘Abdullah bin Ka’ab—yang ketika Ka’ab telah buta menjadi penuntunnya dari kalangan anak-anaknya—berkata:“Aku mendengar Ka’ab bin Malik menceritakan kisahnya ketika ia tidak ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk.”Ka’ab bin Malik berkata:“Aku tidak pernah tertinggal dari Rasulullah ﷺ dalam satu peperangan pun yang beliau ikuti, kecuali pada Perang Tabuk. Hanya saja, aku juga pernah tidak ikut dalam Perang Badar, namun ketika itu Rasulullah ﷺ tidak mencela seorang pun yang tidak ikut. Sebab, Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin saat itu sebenarnya hanya keluar untuk menghadang kafilah dagang Quraisy, hingga akhirnya Allah mempertemukan mereka dengan musuh tanpa ada perjanjian sebelumnya.Sungguh, aku juga pernah menghadiri malam Baiat Aqabah, ketika kami saling berjanji setia di atas Islam. Aku tidak ingin menukarnya dengan keikutsertaanku dalam Perang Badar, meskipun Perang Badar lebih dikenal oleh manusia daripada Baiat Aqabah.Kisahku ketika tidak ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk adalah bahwa saat itu aku tidak pernah berada dalam keadaan yang lebih kuat dan lebih lapang daripada ketika aku tidak ikut dalam peperangan tersebut. Demi Allah, sebelumnya aku tidak pernah memiliki dua ekor tunggangan sekaligus, hingga pada saat perang itu aku berhasil memilikinya.Rasulullah ﷺ berangkat dalam peperangan tersebut pada musim yang sangat panas. Beliau harus menempuh perjalanan yang sangat jauh melintasi padang pasir yang luas dan menghadapi musuh dalam jumlah besar. Karena itu, beliau menjelaskan secara terbuka kepada kaum muslimin tentang urusan mereka agar mereka benar-benar mempersiapkan perlengkapan perang. Beliau juga memberitahukan tujuan yang hendak dituju.Jumlah kaum muslimin yang berangkat bersama Rasulullah ﷺ sangat banyak. Mereka belum tercatat dalam suatu daftar yang dapat menghimpun nama-nama mereka.”Ka’ab berkata:“Karena itu, seseorang yang ingin tidak ikut berangkat mengira bahwa ketidakhadirannya akan luput dari perhatian, selama tidak turun wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla mengenai dirinya.Rasulullah ﷺ berangkat dalam peperangan itu ketika buah-buahan sedang masak dan pepohonan memberikan keteduhan yang menyejukkan. Sementara itu, hatiku justru lebih condong kepada kenikmatan tersebut.Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin pun mulai bersiap untuk berangkat. Aku juga setiap pagi keluar dengan niat hendak mempersiapkan diri bersama mereka. Namun, setiap kali pulang, aku belum juga menyelesaikan apa pun. Aku terus berkata dalam hati, ‘Aku mampu melakukannya kapan saja jika aku menghendaki.’Keadaan itu terus berlarut-larut hingga kaum muslimin benar-benar telah siap berangkat. Pada suatu pagi Rasulullah ﷺ berangkat bersama kaum muslimin, sedangkan aku belum menyiapkan sedikit pun perlengkapanku.Kemudian aku kembali keluar pada pagi berikutnya, lalu pulang lagi tanpa menyelesaikan apa pun. Keadaan itu terus berlangsung hingga pasukan berangkat semakin jauh meninggalkanku. Aku sempat berniat untuk segera menyusul mereka. Ah, seandainya saja aku benar-benar melakukannya! Namun, ternyata aku tidak diberi kemampuan untuk melaksanakannya.Sejak Rasulullah ﷺ berangkat, setiap kali aku keluar dan melihat orang-orang di Madinah, hatiku semakin sedih. Sebab, aku tidak melihat ada orang yang senasib denganku selain seseorang yang dicurigai sebagai orang munafik, atau orang-orang lemah yang memang telah diberi uzur oleh Allah.Rasulullah ﷺ sendiri tidak pernah menyinggung namaku hingga beliau tiba di Tabuk. Ketika beliau sedang duduk bersama para sahabat di Tabuk, beliau bertanya, “Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?”Seorang laki-laki dari Bani Salimah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia tertahan oleh dua pakaiannya dan sibuk mengagumi dirinya sendiri.”Mendengar itu, Mu’adz bin Jabal berkata, “Alangkah buruknya ucapanmu itu! Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui tentang dirinya selain kebaikan.”Maka Rasulullah ﷺ pun terdiam.Ketika beliau masih dalam keadaan demikian, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang berpakaian serba putih datang dari kejauhan, bayangannya tampak bergoyang di tengah fatamorgana. Rasulullah ﷺ bersabda, “Semoga dia adalah Abu Khaitsamah.”Ternyata benar, orang itu adalah Abu Khaitsamah Al-Anshari, yaitu sahabat yang dahulu bersedekah dengan satu sha’ kurma ketika orang-orang munafik mencelanya.Ka’ab bin Malik melanjutkan kisahnya,“Ketika sampai kepadaku kabar bahwa Rasulullah ﷺ telah meninggalkan Tabuk untuk kembali ke Madinah, aku mulai diliputi kegelisahan. Aku pun sibuk memikirkan berbagai alasan dusta. Aku berkata dalam hati, ‘Dengan alasan apa aku dapat menyelamatkan diri dari kemurkaan beliau besok?’ Aku bahkan meminta pertimbangan kepada setiap orang yang dianggap bijaksana dari keluargaku.Namun, ketika dikabarkan kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ telah semakin dekat tiba di Madinah, lenyaplah semua pikiran dusta itu dari benakku. Aku benar-benar yakin bahwa aku tidak akan pernah bisa selamat dengan kebohongan apa pun. Karena itu, aku memutuskan untuk berkata jujur.Keesokan paginya Rasulullah ﷺ tiba di Madinah. Setiap kali pulang dari perjalanan, beliau selalu memulai dengan mendatangi masjid, lalu mengerjakan shalat dua rakaat, kemudian duduk menemui orang-orang.Setelah beliau melakukan hal itu, datanglah orang-orang yang tidak ikut berperang. Mereka menyampaikan berbagai alasan dan bersumpah kepada beliau. Jumlah mereka sekitar delapan puluh orang lebih. Rasulullah ﷺ menerima alasan yang mereka tampakkan, membaiat mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, dan menyerahkan urusan hati mereka kepada Allah.Kemudian tibalah giliranku.Ketika aku mengucapkan salam kepada beliau, beliau tersenyum, namun senyum orang yang sedang marah. Lalu beliau bersabda, “Kemarilah.”Aku pun mendekat hingga duduk di hadapan beliau.Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu tidak ikut? Bukankah engkau telah membeli kendaraanmu?”Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, demi Allah, seandainya aku sekarang duduk di hadapan selain engkau, yaitu salah seorang pembesar dunia, niscaya aku yakin bisa keluar dari kemarahannya dengan berbagai alasan. Aku memang dikaruniai kemampuan berdebat.وَلَكِنِّي وَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُ لَئِنْ حَدَّثْتُكَ الْيَوْمَ حَدِيثَ كَذِبٍ تَرْضَىٰ بِهِ عَنِّي، لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يُسْخِطَكَ عَلَيَّ. وَلَئِنْ حَدَّثْتُكَ حَدِيثَ صِدْقٍ تَجِدُ عَلَيَّ فِيهِ، إِنِّي لَأَرْجُو فِيهِ عُقْبَى اللَّهِ. وَاللَّهِ مَا كَانَ لِي مِنْ عُذْرٍ، وَاللَّهِ مَا كُنْتُ قَطُّ أَقْوَىٰ وَلَا أَيْسَرَ مِنِّي حِينَ تَخَلَّفْتُ عَنْكَ.Namun, demi Allah, aku benar-benar mengetahui bahwa jika hari ini aku menyampaikan kepadamu alasan dusta hingga engkau ridha kepadaku, tidak lama kemudian Allah pasti akan membuatmu murka kepadaku.Sebaliknya, jika aku mengatakan yang sebenarnya, meskipun engkau akan marah kepadaku karenanya, aku tetap berharap akibat yang baik dari Allah.Demi Allah, aku sama sekali tidak memiliki uzur. Demi Allah, aku tidak pernah berada dalam keadaan lebih kuat dan lebih lapang daripada ketika aku tidak ikut bersamamu.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Adapun orang ini, ia telah berkata jujur. Berdirilah sekarang hingga Allah memberikan keputusan tentang dirimu.”Aku pun berdiri.Lalu beberapa orang dari Bani Salimah segera mengejarku. Mereka berkata, “Demi Allah, kami tidak pernah mengetahui engkau melakukan dosa sebelumnya seperti ini. Sungguh, mengapa engkau tidak mampu mengemukakan alasan kepada Rasulullah ﷺ sebagaimana alasan yang disampaikan oleh orang-orang lain yang tidak ikut berangkat? Bukankah dosamu sudah cukup dihapus dengan permohonan ampun Rasulullah ﷺ untukmu?”Ka’ab berkata, “Demi Allah, mereka terus-menerus mencelaku hingga aku hampir saja kembali menemui Rasulullah ﷺ untuk mendustakan diriku sendiri.”Kemudian aku bertanya kepada mereka, “Apakah ada orang lain yang mengalami hal yang sama denganku?”Mereka menjawab, “Ya, ada dua orang yang juga mengatakan hal yang sama seperti yang engkau katakan. Kepada keduanya pun disampaikan ucapan yang sama seperti yang disampaikan kepadamu.”Aku bertanya, “Siapa mereka?”Mereka menjawab, “Murarah bin Ar-Rabi’ Al-‘Amiri dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifi.”Ka’ab berkata, “Mereka menyebutkan kepadaku dua orang saleh yang pernah ikut dalam Perang Badar. Pada keduanya terdapat teladan bagiku. Karena itu, setelah mereka menyebutkan kedua nama tersebut, aku pun tetap melanjutkan langkahku.”Ka’ab melanjutkan, “Rasulullah ﷺ kemudian melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga, berbeda dengan orang-orang lain yang juga tidak ikut berangkat.Sejak saat itu, orang-orang menjauhi kami. Sikap mereka terhadap kami berubah. Hingga akhirnya bumi terasa asing bagiku. Seolah-olah bumi ini bukan lagi bumi yang selama ini kukenal.Keadaan itu berlangsung selama lima puluh malam.Adapun kedua sahabatku, mereka hanya berdiam diri di rumah masing-masing sambil terus menangis.Sedangkan aku adalah yang paling muda dan paling kuat di antara kami bertiga. Karena itu, aku tetap keluar rumah. Aku menghadiri shalat berjamaah bersama kaum muslimin, berkeliling di pasar, namun tidak seorang pun berbicara kepadaku.Aku juga mendatangi Rasulullah ﷺ. Aku mengucapkan salam kepada beliau ketika beliau sedang duduk di majelisnya setelah shalat. Dalam hati aku bertanya-tanya, ‘Apakah beliau menggerakkan kedua bibirnya untuk menjawab salamku atau tidak?’Kemudian aku shalat di dekat beliau sambil diam-diam mencuri pandang ke arah beliau. Jika aku sedang khusyuk menghadap shalat, beliau memandangku. Namun, ketika aku menoleh ke arah beliau, beliau segera memalingkan wajah dariku.Keadaan dijauhi oleh kaum muslimin itu berlangsung begitu lama hingga terasa sangat berat bagiku.Suatu hari aku berjalan menuju kebun milik Abu Qatadah, sepupuku sekaligus orang yang paling kucintai. Aku memanjat tembok kebunnya, lalu mengucapkan salam kepadanya.Demi Allah, ia sama sekali tidak menjawab salamku.Aku pun berkata, “Wahai Abu Qatadah, demi Allah aku bertanya kepadamu, apakah engkau mengetahui bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?”Namun, ia tetap diam.Aku mengulanginya untuk kedua kalinya, tetapi ia tetap diam.Aku mengulanginya lagi untuk ketiga kalinya.Lalu Abu Qatadah menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”Mendengar jawaban itu, kedua mataku pun bercucuran air mata. Aku segera berbalik dan memanjat kembali tembok kebun tersebut untuk keluar.Ketika aku sedang berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba ada seorang pedagang Nabath dari penduduk Syam yang datang membawa bahan makanan untuk dijual di Madinah. Ia bertanya, “Siapa yang bisa menunjukkan kepadaku Ka’ab bin Malik?”Orang-orang pun menunjuk ke arahku. Ia lalu mendatangiku dan menyerahkan sepucuk surat dari Raja Ghassan. Karena aku bisa membaca dan menulis, aku pun membacanya.Isinya sebagai berikut: “Amma ba’du. Telah sampai kepada kami berita bahwa sahabatmu telah menjauhimu. Allah tidak menjadikanmu berada dalam kehinaan dan keterlantaran. Karena itu, bergabunglah bersama kami. Kami akan memuliakanmu.”Ka’ab berkata, “Setelah membacanya, aku berkata dalam hati, ‘Ini pun termasuk ujian yang lain.’ Maka aku segera menuju tungku api, lalu membakar surat itu hingga habis.”Setelah empat puluh hari berlalu dari lima puluh hari masa boikot itu, sementara wahyu belum juga turun, tiba-tiba datang utusan Rasulullah ﷺ kepadaku.Ia berkata, “Rasulullah ﷺ memerintahkanmu agar menjauhi istrimu.”Aku bertanya, “Apakah aku harus menceraikannya atau bagaimana yang harus kulakukan?”Ia menjawab, “Bukan. Engkau hanya diperintahkan menjauhinya. Jangan mendekatinya.”Perintah yang sama juga disampaikan kepada kedua sahabatku.Aku pun berkata kepada istriku, “Pulanglah ke rumah keluargamu. Tinggallah bersama mereka sampai Allah memberikan keputusan dalam urusan ini.”Kemudian istri Hilal bin Umayyah datang menemui Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah adalah seorang laki-laki tua yang sudah lemah dan tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Ia tidak memiliki seorang pembantu. Apakah engkau keberatan jika aku tetap melayaninya?”Beliau menjawab, “Tidak. Namun, jangan sampai ia mendekatimu.”Wanita itu berkata, “Demi Allah, ia sudah tidak memiliki keinginan sedikit pun terhadap hal itu. Demi Allah, sejak peristiwa yang menimpanya hingga hari ini, ia tidak henti-hentinya menangis.”Sebagian keluargaku kemudian berkata kepadaku, “Mengapa engkau tidak meminta izin kepada Rasulullah ﷺ mengenai istrimu? Bukankah beliau telah mengizinkan istri Hilal bin Umayyah untuk tetap melayaninya?”Aku menjawab, “Aku tidak akan meminta izin kepada Rasulullah ﷺ mengenai istriku. Aku tidak tahu apa yang akan beliau katakan jika aku memintanya. Lagi pula, aku masih seorang yang muda.”Keadaan itu terus berlangsung selama sepuluh malam lagi, hingga genaplah lima puluh malam sejak kami dilarang berbicara dengan siapa pun.Ka’ab melanjutkan, “Pada pagi hari yang kelima puluh, setelah aku menunaikan shalat Shubuh di atas atap salah satu rumah kami, aku duduk dalam keadaan sebagaimana yang Allah gambarkan tentang kami: jiwaku terasa begitu sempit dan bumi yang luas ini terasa menyempit bagiku.Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang dari atas Bukit Sal’ yang berteriak sekeras-kerasnya,’Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!’Aku langsung tersungkur bersujud. Saat itu aku mengetahui bahwa pertolongan Allah akhirnya telah datang.Rasulullah ﷺ mengumumkan kepada orang-orang bahwa Allah telah menerima tobat kami setelah beliau selesai mengerjakan shalat Subuh.Maka orang-orang segera berangkat untuk menyampaikan kabar gembira kepada kami.Beberapa orang bergegas menuju kedua sahabatku. Sementara itu, ada seseorang yang menunggang kuda menuju tempatku. Ada pula seorang dari kabilah Aslam yang berlari mendahului semuanya hingga naik ke atas bukit. Ternyata suara teriakannya lebih cepat sampai kepadaku daripada penunggang kuda itu.Ketika orang yang suaranya kudengar tadi tiba di hadapanku untuk menyampaikan kabar gembira itu, aku langsung melepaskan kedua pakaianku lalu kuberikan kepadanya sebagai hadiah atas kabar gembira tersebut.Demi Allah, saat itu aku tidak memiliki pakaian selain dua helai itu.Aku kemudian meminjam dua helai pakaian, memakainya, lalu segera berangkat menemui Rasulullah ﷺ.Di sepanjang jalan, orang-orang datang berbondong-bondong menyambutku. Mereka mengucapkan selamat atas diterimanya tobatku seraya berkata,“Selamat! Semoga engkau berbahagia atas diterimanya tobatmu oleh Allah.”Hingga akhirnya aku memasuki masjid. Saat itu Rasulullah ﷺ sedang duduk di dalam masjid, dikelilingi oleh para sahabat.Tiba-tiba Thalhah bin ‘Ubaidillah berdiri dan berlari kecil menghampiriku. Ia menyalamiku dan mengucapkan selamat kepadaku.Ka’ab berkata, “Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kalangan Muhajirin yang berdiri menyambutku selain Thalhah. Aku tidak pernah melupakan kebaikan Thalhah itu.”Ka’ab melanjutkan, “Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ, wajah beliau bersinar karena kegembiraan. Beliau bersabda,‘Bergembiralah! Hari ini adalah hari terbaik yang pernah engkau alami sejak ibumu melahirkanmu.’Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kabar ini berasal darimu atau dari Allah?’Beliau menjawab, ‘Bukan dariku, tetapi dari Allah.’Apabila Rasulullah ﷺ merasa gembira, wajah beliau akan bersinar terang, seakan-akan wajah beliau adalah belahan rembulan. Kami semua mengenali keadaan itu.”Setelah aku duduk di hadapan beliau, aku berkata,“Wahai Rasulullah, sebagai bagian dari tobatku, aku ingin menyedekahkan seluruh hartaku kepada Allah dan Rasul-Nya.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Sisakanlah sebagian hartamu. Itu lebih baik bagimu.”Aku berkata, “Kalau begitu, aku akan mempertahankan bagian hartaku yang berada di Khaibar.”Kemudian aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkanku karena kejujuranku. Sebagai bagian dari tobatku pula, aku berjanji tidak akan pernah lagi mengucapkan sesuatu selain kebenaran selama aku masih hidup.”Ka’ab berkata, “Demi Allah, sejak aku mengucapkan janji itu kepada Rasulullah ﷺ hingga hari ini, aku tidak mengetahui ada seorang muslim pun yang diuji Allah dalam menjaga kejujuran lalu diberi taufik yang lebih baik daripada yang Allah berikan kepadaku.Demi Allah, sejak hari aku mengucapkan janji itu kepada Rasulullah ﷺ hingga hari ini, aku tidak pernah sengaja berdusta sedikit pun. Aku berharap Allah tetap menjagaku pada sisa umurku.”Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ ۝ وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ…“Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Anshar yang mengikuti beliau pada masa-masa sulit, setelah hati sebagian dari mereka hampir berpaling. Kemudian Allah menerima tobat mereka. Sungguh, Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. Demikian pula terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobatnya), hingga ketika bumi yang luas terasa sempit bagi mereka dan jiwa mereka pun terasa sesak…”Hingga firman-Nya:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 117–119)Ka’ab berkata,“Demi Allah, setelah Allah memberiku hidayah kepada Islam, tidak ada nikmat yang lebih besar bagiku daripada nikmat dapat berkata jujur kepada Rasulullah ﷺ, sehingga aku tidak berdusta kepada beliau. Sebab, jika aku berdusta, tentu aku akan binasa sebagaimana binasanya orang-orang yang berdusta.Sesungguhnya Allah telah mengucapkan celaan yang sangat keras kepada orang-orang yang berdusta ketika menurunkan wahyu. Allah berfirman:سَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ إِذَا انْقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا عَنْهُمْ ۖ فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ ۖ إِنَّهُمْ رِجْسٌ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ۝ يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ ۖ فَإِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَىٰ عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ“Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah ketika kamu kembali kepada mereka, agar kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka. Sesungguhnya mereka itu najis, dan tempat tinggal mereka adalah Jahanam sebagai balasan atas apa yang selalu mereka kerjakan. Mereka bersumpah kepadamu agar kamu rela kepada mereka. Sekalipun kamu rela kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak akan pernah rela kepada kaum yang fasik.” (QS. At-Taubah: 95–96)Ka’ab berkata, “Kami bertiga ditangguhkan urusan kami, berbeda dengan orang-orang yang sebelumnya diterima alasannya oleh Rasulullah ﷺ ketika mereka bersumpah kepada beliau. Beliau menerima alasan yang mereka tampakkan, membaiat mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, sedangkan Rasulullah ﷺ menunda keputusan mengenai kami hingga Allah sendiri menetapkan hukumnya.Karena itulah Allah Ta’ala berfirman:وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا“Dan (Allah juga menerima tobat) terhadap tiga orang yang ditangguhkan itu.”Yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah bahwa kami tertinggal dari peperangan. Akan tetapi, yang dimaksud adalah bahwa Rasulullah ﷺ menangguhkan keputusan tentang kami dan menunda penyelesaian urusan kami, berbeda dengan orang-orang yang datang bersumpah dan menyampaikan alasan kepada beliau, lalu beliau menerima alasan mereka.”Hadis ini juga diriwayatkan kepadaku oleh Muhammad bin Rafi’. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hujain bin Al-Mutsanna. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dengan sanad yang sama seperti riwayat Yunus dari Az-Zuhri, dengan lafaz yang semakna.Hadis ini juga diriwayatkan kepadaku oleh ‘Abd bin Humaid. Ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Muslim—keponakan Az-Zuhri—dari pamannya, Muhammad bin Muslim Az-Zuhri. Ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’ab bin Malik, bahwa ‘Ubaidullah bin Ka’ab bin Malik—yang menjadi penuntun Ka’ab ketika beliau telah buta—berkata:“Aku mendengar Ka’ab bin Malik menceritakan kisahnya ketika ia tidak ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk.”Kemudian ia membawakan hadis tersebut secara lengkap.Dalam riwayat ini terdapat tambahan yang tidak disebutkan oleh Yunus, yaitu:“Rasulullah ﷺ hampir tidak pernah berangkat dalam suatu peperangan melainkan beliau menyamarkan tujuan sebenarnya dengan menyebutkan arah yang lain. Namun, pada Perang Tabuk ini beliau tidak melakukannya.” Sementara itu, dalam riwayat keponakan Az-Zuhri ini tidak disebutkan kisah Abu Khaitsamah yang menyusul Rasulullah ﷺ.Hadis ini juga diriwayatkan kepadaku oleh Salamah bin Syabib. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin A’yun. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ma’qil bin ‘Ubaidillah, dari Az-Zuhri. Ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’ab bin Malik, dari pamannya, ‘Ubaidullah bin Ka’ab—yang menjadi penuntun Ka’ab ketika penglihatannya hilang. Ia adalah orang yang paling berilmu di tengah kaumnya dan paling banyak menghafal hadis-hadis para sahabat Rasulullah ﷺ.Ia berkata:“Aku mendengar ayahku, Ka’ab bin Malik—salah seorang dari tiga orang yang diterima tobatnya oleh Allah—menceritakan bahwa ia tidak pernah tertinggal dari Rasulullah ﷺ dalam satu peperangan pun yang beliau ikuti, kecuali pada dua peperangan.”Kemudian ia membawakan hadis tersebut secara lengkap.Dalam riwayat ini disebutkan pula:“Rasulullah ﷺ berangkat dengan pasukan yang jumlahnya sangat banyak, lebih dari sepuluh ribu orang. Saat itu belum ada daftar administrasi yang menghimpun nama-nama mereka.” Pelajaran PentingKejujuran adalah jalan keselamatan, meskipun harus melewati ujian yang berat.Jangan menunda ketaatan, karena penundaan dapat berujung pada penyesalan.Orang beriman akan gelisah ketika berbuat dosa, bukan merasa tenang dengannya.Terimalah konsekuensi dari kesalahan sebagai bagian dari tobat yang tulus.Ujian sering datang bertubi-tubi, termasuk godaan untuk meninggalkan kebenaran.Pertolongan Allah datang setelah kesabaran dan keteguhan, bukan selalu seketika.Sahabat yang baik akan membela kehormatan saudaranya, bukan ikut menjatuhkannya.Hukuman yang mendidik dapat menjadi sarana memperbaiki diri, bukan sekadar balasan.Jangan mencari keselamatan dengan kebohongan, karena kebohongan hanya menunda hukuman.Nikmat terbesar setelah hidayah Islam adalah istiqamah dalam kejujuran.Allah menerima tobat hamba yang benar-benar jujur dan menyesal.Orang jujur akan mendapat kemuliaan di sisi Allah, meskipun sempat direndahkan di hadapan manusia.Lingkungan yang saleh membantu seseorang bertahan dalam ujian.Kejujuran lebih berharga daripada menjaga citra diri di hadapan manusia.Jadilah bersama orang-orang yang jujur, sebagaimana perintah Allah dalam QS. At-Taubah: 119. —- Selesai ditulis di perjalanan Jogja menuju Pondok Pesantren Darush Sholihin, 17 Juli 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam cara taubat hadis Muslim Ka'ab bin Malik kejujuran kisah sahabat perang tabuk rumaysho sahabat nabi Tafsir At-Taubah taubat tobat


Kejujuran terkadang terasa mahal karena membuat seseorang harus menanggung konsekuensi yang berat. Namun, kisah Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu membuktikan bahwa kejujuran adalah jalan menuju ampunan Allah dan kemuliaan di sisi-Nya. Dari kisah ini, kita belajar bahwa sesulit apa pun keadaan, berkata benar selalu berakhir dengan kebaikan  Daftar Isi tutup 1. 4973. Bab: Hadits Tobat Ka’ab bin Malik dan Dua Sahabatnya 2. Pelajaran Penting  Dalam Shahih Muslim disebutkan:4973. Bab: Hadits Tobat Ka’ab bin Malik dan Dua Sahabatnya2769. Telah menceritakan kepadaku Abu Ath-Thahir Ahmad bin ‘Amr bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin Sarh, maula Bani Umayyah. Ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Yunus, dari Ibnu Syihab, ia berkata:Kemudian Rasulullah ﷺ berangkat dalam Perang Tabuk. Beliau hendak menghadapi bangsa Romawi dan orang-orang Nasrani Arab yang berada di wilayah Syam.Ibnu Syihab berkata: Telah mengabarkan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’ab bin Malik, bahwa ‘Abdullah bin Ka’ab—yang ketika Ka’ab telah buta menjadi penuntunnya dari kalangan anak-anaknya—berkata:“Aku mendengar Ka’ab bin Malik menceritakan kisahnya ketika ia tidak ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk.”Ka’ab bin Malik berkata:“Aku tidak pernah tertinggal dari Rasulullah ﷺ dalam satu peperangan pun yang beliau ikuti, kecuali pada Perang Tabuk. Hanya saja, aku juga pernah tidak ikut dalam Perang Badar, namun ketika itu Rasulullah ﷺ tidak mencela seorang pun yang tidak ikut. Sebab, Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin saat itu sebenarnya hanya keluar untuk menghadang kafilah dagang Quraisy, hingga akhirnya Allah mempertemukan mereka dengan musuh tanpa ada perjanjian sebelumnya.Sungguh, aku juga pernah menghadiri malam Baiat Aqabah, ketika kami saling berjanji setia di atas Islam. Aku tidak ingin menukarnya dengan keikutsertaanku dalam Perang Badar, meskipun Perang Badar lebih dikenal oleh manusia daripada Baiat Aqabah.Kisahku ketika tidak ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk adalah bahwa saat itu aku tidak pernah berada dalam keadaan yang lebih kuat dan lebih lapang daripada ketika aku tidak ikut dalam peperangan tersebut. Demi Allah, sebelumnya aku tidak pernah memiliki dua ekor tunggangan sekaligus, hingga pada saat perang itu aku berhasil memilikinya.Rasulullah ﷺ berangkat dalam peperangan tersebut pada musim yang sangat panas. Beliau harus menempuh perjalanan yang sangat jauh melintasi padang pasir yang luas dan menghadapi musuh dalam jumlah besar. Karena itu, beliau menjelaskan secara terbuka kepada kaum muslimin tentang urusan mereka agar mereka benar-benar mempersiapkan perlengkapan perang. Beliau juga memberitahukan tujuan yang hendak dituju.Jumlah kaum muslimin yang berangkat bersama Rasulullah ﷺ sangat banyak. Mereka belum tercatat dalam suatu daftar yang dapat menghimpun nama-nama mereka.”Ka’ab berkata:“Karena itu, seseorang yang ingin tidak ikut berangkat mengira bahwa ketidakhadirannya akan luput dari perhatian, selama tidak turun wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla mengenai dirinya.Rasulullah ﷺ berangkat dalam peperangan itu ketika buah-buahan sedang masak dan pepohonan memberikan keteduhan yang menyejukkan. Sementara itu, hatiku justru lebih condong kepada kenikmatan tersebut.Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin pun mulai bersiap untuk berangkat. Aku juga setiap pagi keluar dengan niat hendak mempersiapkan diri bersama mereka. Namun, setiap kali pulang, aku belum juga menyelesaikan apa pun. Aku terus berkata dalam hati, ‘Aku mampu melakukannya kapan saja jika aku menghendaki.’Keadaan itu terus berlarut-larut hingga kaum muslimin benar-benar telah siap berangkat. Pada suatu pagi Rasulullah ﷺ berangkat bersama kaum muslimin, sedangkan aku belum menyiapkan sedikit pun perlengkapanku.Kemudian aku kembali keluar pada pagi berikutnya, lalu pulang lagi tanpa menyelesaikan apa pun. Keadaan itu terus berlangsung hingga pasukan berangkat semakin jauh meninggalkanku. Aku sempat berniat untuk segera menyusul mereka. Ah, seandainya saja aku benar-benar melakukannya! Namun, ternyata aku tidak diberi kemampuan untuk melaksanakannya.Sejak Rasulullah ﷺ berangkat, setiap kali aku keluar dan melihat orang-orang di Madinah, hatiku semakin sedih. Sebab, aku tidak melihat ada orang yang senasib denganku selain seseorang yang dicurigai sebagai orang munafik, atau orang-orang lemah yang memang telah diberi uzur oleh Allah.Rasulullah ﷺ sendiri tidak pernah menyinggung namaku hingga beliau tiba di Tabuk. Ketika beliau sedang duduk bersama para sahabat di Tabuk, beliau bertanya, “Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?”Seorang laki-laki dari Bani Salimah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia tertahan oleh dua pakaiannya dan sibuk mengagumi dirinya sendiri.”Mendengar itu, Mu’adz bin Jabal berkata, “Alangkah buruknya ucapanmu itu! Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui tentang dirinya selain kebaikan.”Maka Rasulullah ﷺ pun terdiam.Ketika beliau masih dalam keadaan demikian, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang berpakaian serba putih datang dari kejauhan, bayangannya tampak bergoyang di tengah fatamorgana. Rasulullah ﷺ bersabda, “Semoga dia adalah Abu Khaitsamah.”Ternyata benar, orang itu adalah Abu Khaitsamah Al-Anshari, yaitu sahabat yang dahulu bersedekah dengan satu sha’ kurma ketika orang-orang munafik mencelanya.Ka’ab bin Malik melanjutkan kisahnya,“Ketika sampai kepadaku kabar bahwa Rasulullah ﷺ telah meninggalkan Tabuk untuk kembali ke Madinah, aku mulai diliputi kegelisahan. Aku pun sibuk memikirkan berbagai alasan dusta. Aku berkata dalam hati, ‘Dengan alasan apa aku dapat menyelamatkan diri dari kemurkaan beliau besok?’ Aku bahkan meminta pertimbangan kepada setiap orang yang dianggap bijaksana dari keluargaku.Namun, ketika dikabarkan kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ telah semakin dekat tiba di Madinah, lenyaplah semua pikiran dusta itu dari benakku. Aku benar-benar yakin bahwa aku tidak akan pernah bisa selamat dengan kebohongan apa pun. Karena itu, aku memutuskan untuk berkata jujur.Keesokan paginya Rasulullah ﷺ tiba di Madinah. Setiap kali pulang dari perjalanan, beliau selalu memulai dengan mendatangi masjid, lalu mengerjakan shalat dua rakaat, kemudian duduk menemui orang-orang.Setelah beliau melakukan hal itu, datanglah orang-orang yang tidak ikut berperang. Mereka menyampaikan berbagai alasan dan bersumpah kepada beliau. Jumlah mereka sekitar delapan puluh orang lebih. Rasulullah ﷺ menerima alasan yang mereka tampakkan, membaiat mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, dan menyerahkan urusan hati mereka kepada Allah.Kemudian tibalah giliranku.Ketika aku mengucapkan salam kepada beliau, beliau tersenyum, namun senyum orang yang sedang marah. Lalu beliau bersabda, “Kemarilah.”Aku pun mendekat hingga duduk di hadapan beliau.Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu tidak ikut? Bukankah engkau telah membeli kendaraanmu?”Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, demi Allah, seandainya aku sekarang duduk di hadapan selain engkau, yaitu salah seorang pembesar dunia, niscaya aku yakin bisa keluar dari kemarahannya dengan berbagai alasan. Aku memang dikaruniai kemampuan berdebat.وَلَكِنِّي وَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُ لَئِنْ حَدَّثْتُكَ الْيَوْمَ حَدِيثَ كَذِبٍ تَرْضَىٰ بِهِ عَنِّي، لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يُسْخِطَكَ عَلَيَّ. وَلَئِنْ حَدَّثْتُكَ حَدِيثَ صِدْقٍ تَجِدُ عَلَيَّ فِيهِ، إِنِّي لَأَرْجُو فِيهِ عُقْبَى اللَّهِ. وَاللَّهِ مَا كَانَ لِي مِنْ عُذْرٍ، وَاللَّهِ مَا كُنْتُ قَطُّ أَقْوَىٰ وَلَا أَيْسَرَ مِنِّي حِينَ تَخَلَّفْتُ عَنْكَ.Namun, demi Allah, aku benar-benar mengetahui bahwa jika hari ini aku menyampaikan kepadamu alasan dusta hingga engkau ridha kepadaku, tidak lama kemudian Allah pasti akan membuatmu murka kepadaku.Sebaliknya, jika aku mengatakan yang sebenarnya, meskipun engkau akan marah kepadaku karenanya, aku tetap berharap akibat yang baik dari Allah.Demi Allah, aku sama sekali tidak memiliki uzur. Demi Allah, aku tidak pernah berada dalam keadaan lebih kuat dan lebih lapang daripada ketika aku tidak ikut bersamamu.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Adapun orang ini, ia telah berkata jujur. Berdirilah sekarang hingga Allah memberikan keputusan tentang dirimu.”Aku pun berdiri.Lalu beberapa orang dari Bani Salimah segera mengejarku. Mereka berkata, “Demi Allah, kami tidak pernah mengetahui engkau melakukan dosa sebelumnya seperti ini. Sungguh, mengapa engkau tidak mampu mengemukakan alasan kepada Rasulullah ﷺ sebagaimana alasan yang disampaikan oleh orang-orang lain yang tidak ikut berangkat? Bukankah dosamu sudah cukup dihapus dengan permohonan ampun Rasulullah ﷺ untukmu?”Ka’ab berkata, “Demi Allah, mereka terus-menerus mencelaku hingga aku hampir saja kembali menemui Rasulullah ﷺ untuk mendustakan diriku sendiri.”Kemudian aku bertanya kepada mereka, “Apakah ada orang lain yang mengalami hal yang sama denganku?”Mereka menjawab, “Ya, ada dua orang yang juga mengatakan hal yang sama seperti yang engkau katakan. Kepada keduanya pun disampaikan ucapan yang sama seperti yang disampaikan kepadamu.”Aku bertanya, “Siapa mereka?”Mereka menjawab, “Murarah bin Ar-Rabi’ Al-‘Amiri dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifi.”Ka’ab berkata, “Mereka menyebutkan kepadaku dua orang saleh yang pernah ikut dalam Perang Badar. Pada keduanya terdapat teladan bagiku. Karena itu, setelah mereka menyebutkan kedua nama tersebut, aku pun tetap melanjutkan langkahku.”Ka’ab melanjutkan, “Rasulullah ﷺ kemudian melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga, berbeda dengan orang-orang lain yang juga tidak ikut berangkat.Sejak saat itu, orang-orang menjauhi kami. Sikap mereka terhadap kami berubah. Hingga akhirnya bumi terasa asing bagiku. Seolah-olah bumi ini bukan lagi bumi yang selama ini kukenal.Keadaan itu berlangsung selama lima puluh malam.Adapun kedua sahabatku, mereka hanya berdiam diri di rumah masing-masing sambil terus menangis.Sedangkan aku adalah yang paling muda dan paling kuat di antara kami bertiga. Karena itu, aku tetap keluar rumah. Aku menghadiri shalat berjamaah bersama kaum muslimin, berkeliling di pasar, namun tidak seorang pun berbicara kepadaku.Aku juga mendatangi Rasulullah ﷺ. Aku mengucapkan salam kepada beliau ketika beliau sedang duduk di majelisnya setelah shalat. Dalam hati aku bertanya-tanya, ‘Apakah beliau menggerakkan kedua bibirnya untuk menjawab salamku atau tidak?’Kemudian aku shalat di dekat beliau sambil diam-diam mencuri pandang ke arah beliau. Jika aku sedang khusyuk menghadap shalat, beliau memandangku. Namun, ketika aku menoleh ke arah beliau, beliau segera memalingkan wajah dariku.Keadaan dijauhi oleh kaum muslimin itu berlangsung begitu lama hingga terasa sangat berat bagiku.Suatu hari aku berjalan menuju kebun milik Abu Qatadah, sepupuku sekaligus orang yang paling kucintai. Aku memanjat tembok kebunnya, lalu mengucapkan salam kepadanya.Demi Allah, ia sama sekali tidak menjawab salamku.Aku pun berkata, “Wahai Abu Qatadah, demi Allah aku bertanya kepadamu, apakah engkau mengetahui bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?”Namun, ia tetap diam.Aku mengulanginya untuk kedua kalinya, tetapi ia tetap diam.Aku mengulanginya lagi untuk ketiga kalinya.Lalu Abu Qatadah menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”Mendengar jawaban itu, kedua mataku pun bercucuran air mata. Aku segera berbalik dan memanjat kembali tembok kebun tersebut untuk keluar.Ketika aku sedang berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba ada seorang pedagang Nabath dari penduduk Syam yang datang membawa bahan makanan untuk dijual di Madinah. Ia bertanya, “Siapa yang bisa menunjukkan kepadaku Ka’ab bin Malik?”Orang-orang pun menunjuk ke arahku. Ia lalu mendatangiku dan menyerahkan sepucuk surat dari Raja Ghassan. Karena aku bisa membaca dan menulis, aku pun membacanya.Isinya sebagai berikut: “Amma ba’du. Telah sampai kepada kami berita bahwa sahabatmu telah menjauhimu. Allah tidak menjadikanmu berada dalam kehinaan dan keterlantaran. Karena itu, bergabunglah bersama kami. Kami akan memuliakanmu.”Ka’ab berkata, “Setelah membacanya, aku berkata dalam hati, ‘Ini pun termasuk ujian yang lain.’ Maka aku segera menuju tungku api, lalu membakar surat itu hingga habis.”Setelah empat puluh hari berlalu dari lima puluh hari masa boikot itu, sementara wahyu belum juga turun, tiba-tiba datang utusan Rasulullah ﷺ kepadaku.Ia berkata, “Rasulullah ﷺ memerintahkanmu agar menjauhi istrimu.”Aku bertanya, “Apakah aku harus menceraikannya atau bagaimana yang harus kulakukan?”Ia menjawab, “Bukan. Engkau hanya diperintahkan menjauhinya. Jangan mendekatinya.”Perintah yang sama juga disampaikan kepada kedua sahabatku.Aku pun berkata kepada istriku, “Pulanglah ke rumah keluargamu. Tinggallah bersama mereka sampai Allah memberikan keputusan dalam urusan ini.”Kemudian istri Hilal bin Umayyah datang menemui Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah adalah seorang laki-laki tua yang sudah lemah dan tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Ia tidak memiliki seorang pembantu. Apakah engkau keberatan jika aku tetap melayaninya?”Beliau menjawab, “Tidak. Namun, jangan sampai ia mendekatimu.”Wanita itu berkata, “Demi Allah, ia sudah tidak memiliki keinginan sedikit pun terhadap hal itu. Demi Allah, sejak peristiwa yang menimpanya hingga hari ini, ia tidak henti-hentinya menangis.”Sebagian keluargaku kemudian berkata kepadaku, “Mengapa engkau tidak meminta izin kepada Rasulullah ﷺ mengenai istrimu? Bukankah beliau telah mengizinkan istri Hilal bin Umayyah untuk tetap melayaninya?”Aku menjawab, “Aku tidak akan meminta izin kepada Rasulullah ﷺ mengenai istriku. Aku tidak tahu apa yang akan beliau katakan jika aku memintanya. Lagi pula, aku masih seorang yang muda.”Keadaan itu terus berlangsung selama sepuluh malam lagi, hingga genaplah lima puluh malam sejak kami dilarang berbicara dengan siapa pun.Ka’ab melanjutkan, “Pada pagi hari yang kelima puluh, setelah aku menunaikan shalat Shubuh di atas atap salah satu rumah kami, aku duduk dalam keadaan sebagaimana yang Allah gambarkan tentang kami: jiwaku terasa begitu sempit dan bumi yang luas ini terasa menyempit bagiku.Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang dari atas Bukit Sal’ yang berteriak sekeras-kerasnya,’Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!’Aku langsung tersungkur bersujud. Saat itu aku mengetahui bahwa pertolongan Allah akhirnya telah datang.Rasulullah ﷺ mengumumkan kepada orang-orang bahwa Allah telah menerima tobat kami setelah beliau selesai mengerjakan shalat Subuh.Maka orang-orang segera berangkat untuk menyampaikan kabar gembira kepada kami.Beberapa orang bergegas menuju kedua sahabatku. Sementara itu, ada seseorang yang menunggang kuda menuju tempatku. Ada pula seorang dari kabilah Aslam yang berlari mendahului semuanya hingga naik ke atas bukit. Ternyata suara teriakannya lebih cepat sampai kepadaku daripada penunggang kuda itu.Ketika orang yang suaranya kudengar tadi tiba di hadapanku untuk menyampaikan kabar gembira itu, aku langsung melepaskan kedua pakaianku lalu kuberikan kepadanya sebagai hadiah atas kabar gembira tersebut.Demi Allah, saat itu aku tidak memiliki pakaian selain dua helai itu.Aku kemudian meminjam dua helai pakaian, memakainya, lalu segera berangkat menemui Rasulullah ﷺ.Di sepanjang jalan, orang-orang datang berbondong-bondong menyambutku. Mereka mengucapkan selamat atas diterimanya tobatku seraya berkata,“Selamat! Semoga engkau berbahagia atas diterimanya tobatmu oleh Allah.”Hingga akhirnya aku memasuki masjid. Saat itu Rasulullah ﷺ sedang duduk di dalam masjid, dikelilingi oleh para sahabat.Tiba-tiba Thalhah bin ‘Ubaidillah berdiri dan berlari kecil menghampiriku. Ia menyalamiku dan mengucapkan selamat kepadaku.Ka’ab berkata, “Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kalangan Muhajirin yang berdiri menyambutku selain Thalhah. Aku tidak pernah melupakan kebaikan Thalhah itu.”Ka’ab melanjutkan, “Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ, wajah beliau bersinar karena kegembiraan. Beliau bersabda,‘Bergembiralah! Hari ini adalah hari terbaik yang pernah engkau alami sejak ibumu melahirkanmu.’Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kabar ini berasal darimu atau dari Allah?’Beliau menjawab, ‘Bukan dariku, tetapi dari Allah.’Apabila Rasulullah ﷺ merasa gembira, wajah beliau akan bersinar terang, seakan-akan wajah beliau adalah belahan rembulan. Kami semua mengenali keadaan itu.”Setelah aku duduk di hadapan beliau, aku berkata,“Wahai Rasulullah, sebagai bagian dari tobatku, aku ingin menyedekahkan seluruh hartaku kepada Allah dan Rasul-Nya.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Sisakanlah sebagian hartamu. Itu lebih baik bagimu.”Aku berkata, “Kalau begitu, aku akan mempertahankan bagian hartaku yang berada di Khaibar.”Kemudian aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkanku karena kejujuranku. Sebagai bagian dari tobatku pula, aku berjanji tidak akan pernah lagi mengucapkan sesuatu selain kebenaran selama aku masih hidup.”Ka’ab berkata, “Demi Allah, sejak aku mengucapkan janji itu kepada Rasulullah ﷺ hingga hari ini, aku tidak mengetahui ada seorang muslim pun yang diuji Allah dalam menjaga kejujuran lalu diberi taufik yang lebih baik daripada yang Allah berikan kepadaku.Demi Allah, sejak hari aku mengucapkan janji itu kepada Rasulullah ﷺ hingga hari ini, aku tidak pernah sengaja berdusta sedikit pun. Aku berharap Allah tetap menjagaku pada sisa umurku.”Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ ۝ وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ…“Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Anshar yang mengikuti beliau pada masa-masa sulit, setelah hati sebagian dari mereka hampir berpaling. Kemudian Allah menerima tobat mereka. Sungguh, Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. Demikian pula terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobatnya), hingga ketika bumi yang luas terasa sempit bagi mereka dan jiwa mereka pun terasa sesak…”Hingga firman-Nya:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 117–119)Ka’ab berkata,“Demi Allah, setelah Allah memberiku hidayah kepada Islam, tidak ada nikmat yang lebih besar bagiku daripada nikmat dapat berkata jujur kepada Rasulullah ﷺ, sehingga aku tidak berdusta kepada beliau. Sebab, jika aku berdusta, tentu aku akan binasa sebagaimana binasanya orang-orang yang berdusta.Sesungguhnya Allah telah mengucapkan celaan yang sangat keras kepada orang-orang yang berdusta ketika menurunkan wahyu. Allah berfirman:سَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ إِذَا انْقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا عَنْهُمْ ۖ فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ ۖ إِنَّهُمْ رِجْسٌ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ۝ يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ ۖ فَإِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَىٰ عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ“Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah ketika kamu kembali kepada mereka, agar kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka. Sesungguhnya mereka itu najis, dan tempat tinggal mereka adalah Jahanam sebagai balasan atas apa yang selalu mereka kerjakan. Mereka bersumpah kepadamu agar kamu rela kepada mereka. Sekalipun kamu rela kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak akan pernah rela kepada kaum yang fasik.” (QS. At-Taubah: 95–96)Ka’ab berkata, “Kami bertiga ditangguhkan urusan kami, berbeda dengan orang-orang yang sebelumnya diterima alasannya oleh Rasulullah ﷺ ketika mereka bersumpah kepada beliau. Beliau menerima alasan yang mereka tampakkan, membaiat mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, sedangkan Rasulullah ﷺ menunda keputusan mengenai kami hingga Allah sendiri menetapkan hukumnya.Karena itulah Allah Ta’ala berfirman:وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا“Dan (Allah juga menerima tobat) terhadap tiga orang yang ditangguhkan itu.”Yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah bahwa kami tertinggal dari peperangan. Akan tetapi, yang dimaksud adalah bahwa Rasulullah ﷺ menangguhkan keputusan tentang kami dan menunda penyelesaian urusan kami, berbeda dengan orang-orang yang datang bersumpah dan menyampaikan alasan kepada beliau, lalu beliau menerima alasan mereka.”Hadis ini juga diriwayatkan kepadaku oleh Muhammad bin Rafi’. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hujain bin Al-Mutsanna. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dengan sanad yang sama seperti riwayat Yunus dari Az-Zuhri, dengan lafaz yang semakna.Hadis ini juga diriwayatkan kepadaku oleh ‘Abd bin Humaid. Ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Muslim—keponakan Az-Zuhri—dari pamannya, Muhammad bin Muslim Az-Zuhri. Ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’ab bin Malik, bahwa ‘Ubaidullah bin Ka’ab bin Malik—yang menjadi penuntun Ka’ab ketika beliau telah buta—berkata:“Aku mendengar Ka’ab bin Malik menceritakan kisahnya ketika ia tidak ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk.”Kemudian ia membawakan hadis tersebut secara lengkap.Dalam riwayat ini terdapat tambahan yang tidak disebutkan oleh Yunus, yaitu:“Rasulullah ﷺ hampir tidak pernah berangkat dalam suatu peperangan melainkan beliau menyamarkan tujuan sebenarnya dengan menyebutkan arah yang lain. Namun, pada Perang Tabuk ini beliau tidak melakukannya.” Sementara itu, dalam riwayat keponakan Az-Zuhri ini tidak disebutkan kisah Abu Khaitsamah yang menyusul Rasulullah ﷺ.Hadis ini juga diriwayatkan kepadaku oleh Salamah bin Syabib. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin A’yun. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ma’qil bin ‘Ubaidillah, dari Az-Zuhri. Ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’ab bin Malik, dari pamannya, ‘Ubaidullah bin Ka’ab—yang menjadi penuntun Ka’ab ketika penglihatannya hilang. Ia adalah orang yang paling berilmu di tengah kaumnya dan paling banyak menghafal hadis-hadis para sahabat Rasulullah ﷺ.Ia berkata:“Aku mendengar ayahku, Ka’ab bin Malik—salah seorang dari tiga orang yang diterima tobatnya oleh Allah—menceritakan bahwa ia tidak pernah tertinggal dari Rasulullah ﷺ dalam satu peperangan pun yang beliau ikuti, kecuali pada dua peperangan.”Kemudian ia membawakan hadis tersebut secara lengkap.Dalam riwayat ini disebutkan pula:“Rasulullah ﷺ berangkat dengan pasukan yang jumlahnya sangat banyak, lebih dari sepuluh ribu orang. Saat itu belum ada daftar administrasi yang menghimpun nama-nama mereka.” Pelajaran PentingKejujuran adalah jalan keselamatan, meskipun harus melewati ujian yang berat.Jangan menunda ketaatan, karena penundaan dapat berujung pada penyesalan.Orang beriman akan gelisah ketika berbuat dosa, bukan merasa tenang dengannya.Terimalah konsekuensi dari kesalahan sebagai bagian dari tobat yang tulus.Ujian sering datang bertubi-tubi, termasuk godaan untuk meninggalkan kebenaran.Pertolongan Allah datang setelah kesabaran dan keteguhan, bukan selalu seketika.Sahabat yang baik akan membela kehormatan saudaranya, bukan ikut menjatuhkannya.Hukuman yang mendidik dapat menjadi sarana memperbaiki diri, bukan sekadar balasan.Jangan mencari keselamatan dengan kebohongan, karena kebohongan hanya menunda hukuman.Nikmat terbesar setelah hidayah Islam adalah istiqamah dalam kejujuran.Allah menerima tobat hamba yang benar-benar jujur dan menyesal.Orang jujur akan mendapat kemuliaan di sisi Allah, meskipun sempat direndahkan di hadapan manusia.Lingkungan yang saleh membantu seseorang bertahan dalam ujian.Kejujuran lebih berharga daripada menjaga citra diri di hadapan manusia.Jadilah bersama orang-orang yang jujur, sebagaimana perintah Allah dalam QS. At-Taubah: 119. —- Selesai ditulis di perjalanan Jogja menuju Pondok Pesantren Darush Sholihin, 17 Juli 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam cara taubat hadis Muslim Ka'ab bin Malik kejujuran kisah sahabat perang tabuk rumaysho sahabat nabi Tafsir At-Taubah taubat tobat

Saat Takut Tersesat, Panjatkan Doa Ini

Kesesatan bukan hanya mengancam orang yang jauh dari agama, tetapi juga bisa menimpa siapa saja jika Allah tidak menjaganya. Karena itulah Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah doa yang penuh dengan penghambaan sebelum memohon agar tidak dibiarkan tersesat. Dari doa ini kita belajar bahwa menjaga hidayah jauh lebih penting daripada sekadar mengejar berbagai urusan dunia.  Daftar Isi tutup 1. Doa Berlindung dari Kesesatan dan Tawakal Penuh kepada Allah 2. Penjelasan Maksud Doa 3. Penjelasan Isi Doa 4. Kenapa Bisa Sesat?  Doa Berlindung dari Kesesatan dan Tawakal Penuh kepada Allahاللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَALLOOHUMMA LAKA ASLAMTU WA BIKA AAMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU, WA ILAIKA ANABTU, WA BIKA KHOOSHOMTU. ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BI ‘IZZATIKA LAA ILAAHA ILLAA ANTA AN TUDHILLANII. ANTAL HAYYU ALLADZII LAA YAMUUTU, WAL JINNU WAL INSU YAMUUTUN.Artinya: Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku kembali kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu dari segala hal yang bisa menyesatkanku–tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau–. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati. (HR. Muslim, no. 2717, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma). Penjelasan Maksud DoaSabda Nabi ﷺ, “لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ” (Hanya kepada-Mu aku berserah diri dan hanya kepada-Mu aku beriman), maksudnya adalah: aku tunduk dan patuh kepada-Mu, serta menerima seluruh ketetapan dan perintah-Mu. Di antaranya adalah pengakuanku dengan dua kalimat syahadat. Aku juga membenarkan keberadaan-Mu dan seluruh sifat-sifat kesempurnaan yang layak bagi-Mu. Pada kalimat ini terdapat isyarat adanya perbedaan antara iman dan Islam. Didahulukannya frasa “لَكَ” (hanya kepada-Mu) menunjukkan makna pengkhususan, yaitu bahwa aku hanya tunduk dan berserah diri kepada-Mu, bukan kepada selain-Mu.“وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ” (Hanya kepada-Mu aku bertawakal), maksudnya: aku menyerahkan seluruh urusanku kepada-Mu.“وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ” (Hanya kepada-Mu aku kembali), maksudnya: aku menghadap kepada-Mu dengan ibadah dan ketaatan, serta berpaling dari segala sesuatu selain-Mu.“وَبِكَ خَاصَمْتُ” (Dengan pertolongan-Mu aku menghadapi musuh-musuhku), maksudnya: dengan pertolongan-Mu aku berhujah, membela agama-Mu, dan memerangi musuh-musuh-Mu dengan hujah, penjelasan, pedang, dan tombak.“اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu), maksudnya Nabi ﷺ memohon perlindungan dengan sifat kemuliaan Allah. Kemuliaan (al-‘izzah) merupakan salah satu sifat Allah Ta’ala yang agung dan berasal dari nama-Nya Al-‘Aziz (Yang Mahaperkasa). Kemuliaan ini mengandung tiga makna: kemuliaan karena kekuatan dan kekuasaan, kemuliaan karena tidak dapat dikalahkan, serta kemuliaan karena keperkasaan dan kemenangan. Allah Tabaraka wa Ta’ala memiliki kemuliaan yang sempurna dalam ketiga makna tersebut. KataMakna khususKandungan tarbiyahلَكَ أَسْلَمْتُ(Aslamtu)Aku tunduk dan berserah diri sepenuhnya kepada-Mu. (Islam Web)Islam lahiriah; kepatuhan kepada seluruh syariat; ikhlas hanya untuk Allah.وَبِكَ آمَنْتُ(Amantu)Aku membenarkan-Mu dan beriman kepada-Mu. (Islam Web)Iman batin kepada Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, janji dan ancaman-Nya.وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ(Tawakkaltu)Aku menyerahkan seluruh urusanku kepada-Mu. (Islam Web)Ketergantungan penuh kepada Allah setelah melakukan sebab-sebab yang dibenarkan.وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ(Anabtu)Aku kembali kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu. (Islam Web)Taubat terus-menerus, kembali dari maksiat menuju ketaatan, dari lalai menuju dzikir.وَبِكَ خَاصَمْتُ(Khashamtu)Dengan pertolongan-Mu aku berhujah dan menghadapi musuh-musuh-Mu. (Islam Web)Membela agama dengan ilmu, hujah, dakwah, dan bila diperlukan dengan kekuatan yang dibenarkan syariat. Penjelasan Isi DoaNabi ﷺ mengawali doa ini dengan menyebutkan beberapa bentuk ibadah yang paling agung dan kedudukan penghambaan yang paling tinggi kepada Allah Ta’ala. Hal itu menjadi wasilah yang sangat besar sebelum beliau memanjatkan permohonannya. Beliau mengkhususkan seluruh bentuk penghambaan kepada Allah, baik amalan hati maupun anggota badan. Beliau memulainya dengan pengakuan yang sempurna berupa Islam, iman, tawakal, kembali kepada Allah dalam seluruh urusan dunia dan agama, serta membela agama-Nya dan berjihad untuk menegakkannya dengan hujah maupun kekuatan. Semua itu didahulukan sebelum memohon kepada Allah agar doa lebih layak untuk dikabulkan. Sebab, wasilah didahulukan sebelum tujuan yang hendak dicapai.Sabda Nabi ﷺ, “اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu), menunjukkan bahwa beliau memohon perlindungan dengan salah satu sifat Allah yang agung, yaitu kemuliaan-Nya yang sempurna. Barang siapa menginginkan kemuliaan, hendaklah ia memintanya kepada Allah Ta’ala. Allah Azza wa Jalla berfirman:مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka milik Allah-lah seluruh kemuliaan.”Kemuliaan tidak akan diperoleh kecuali dengan beriman kepada Allah, tunduk kepada-Nya, dan bertawakal kepada-Nya dalam seluruh urusan. Allah Ta’ala berfirman:﴿وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ﴾“Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Akan tetapi, orang-orang munafik tidak mengetahuinya.”Beliau juga menggandengkan permohonan perlindungan itu dengan ucapan “لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ” (Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau), yaitu untuk semakin menegaskan penghambaan hanya kepada Allah dan sebagai bentuk pengharapan agar doa lebih mudah dikabulkan.Kemudian beliau berdoa, “أَنْ تُضِلَّنِي” (agar Engkau tidak membiarkanku tersesat), maksudnya agar Allah tidak membiarkannya tergelincir dan tersesat setelah memperoleh petunjuk. Tidak diragukan lagi bahwa didahulukannya berbagai bentuk pendekatan kepada Allah melalui amal saleh, penegasan tauhid kepada Rabb langit dan bumi, serta bertawasul dengan kesempurnaan sifat-sifat-Nya ketika memohon perlindungan dari kesesatan, menunjukkan betapa penting dan besarnya permintaan ini. Allah Ta’ala berfirman:﴿وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ﴾“Barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.”Allah Azza wa Jalla juga berfirman:﴿مَنْ يَشَإِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ﴾“Barang siapa yang Allah kehendaki, Dia akan membiarkannya sesat. Dan barang siapa yang Dia kehendaki, Dia akan menempatkannya di atas jalan yang lurus.”Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa petunjuk dan kesesatan sepenuhnya berada di tangan Allah Ta’ala, Rabb semesta alam.Karena itu, seorang hamba hendaknya senantiasa memohon kepada Allah agar dilindungi dari kesesatan dan agar terus diberi petunjuk hingga bertemu dengan-Nya pada hari kiamat.Dalam doa ini juga terdapat dalil bolehnya memohon perlindungan dengan salah satu sifat Allah Ta’ala yang agung.Sabda beliau ﷺ, “أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ” (Engkaulah Dzat Yang Mahahidup yang tidak akan pernah mati, sedangkan jin dan manusia akan mati), merupakan penegasan bahwa hanya Allah yang memiliki kehidupan yang sempurna. Maksudnya, Engkaulah Dzat Yang Mahahidup, yang memiliki kehidupan yang sempurna, yang tidak pernah tersentuh sedikit pun kekurangan, dipenuhi seluruh kesempurnaan, dan mengandung seluruh sifat-sifat zat yang sempurna. Kehidupan Allah tidak pernah disertai rasa kantuk ataupun tidur, tidak akan lenyap dan tidak akan berakhir. Adapun seluruh makhluk pasti akan mati dan berakhir. Allah Ta’ala berfirman:﴿وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ﴾“Dan bertawakallah kepada Dzat Yang Mahahidup, yang tidak akan pernah mati.”Allah Ta’ala juga berfirman:﴿كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ﴾“Segala sesuatu akan binasa, kecuali Allah.”Doa yang penuh berkah ini sejak awal, pertengahan, hingga akhirnya menghimpun dua bentuk tawasul yang sangat agung kepada Allah Ta’ala, yaitu bertawasul dengan amal saleh, seperti ucapan:اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ“Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, dan hanya kepada-Mu aku bertawakal.”Serta bertawasul dengan nama-nama Allah yang indah dan sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi, seperti ucapan:أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ“Engkaulah Dzat Yang Mahahidup yang tidak akan pernah mati.”Semua itu menunjukkan betapa pentingnya memohon perlindungan dari kesesatan. Sebab, kesesatan akan menyeret seseorang kepada kebinasaan, merusak agama, dunia, dan akhiratnya. Sebaliknya, apabila Allah melindungi seorang hamba dari kesesatan, ia akan selamat dari segala sesuatu yang ditakuti dan memperoleh segala sesuatu yang diharapkannya. Kenapa Bisa Sesat?Allah tidak menyesatkan seseorang secara sewenang-wenang.Penyebab seseorang diberi hidayah antara lain:berusaha mencari kebenaran;mengamalkan ilmu;bersungguh-sungguh menaati Allah.Sedangkan penyebab seseorang disesatkan:berpaling dari petunjuk;enggan mengamalkan ilmu;terus-menerus memilih maksiat;menolak kebenaran setelah mengetahuinya. Referensi: kalemtayeb.com —- Selesai ditulis di perjalanan Jogja menuju Pondok Pesantren Darush Sholihin, 17 Juli 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdoa agar tidak sesat doa harian doa nabi Dzikir hidayah inabah istiqamah kumpulan doa rumaysho perlindungan Allah tauhid tawakal

Saat Takut Tersesat, Panjatkan Doa Ini

Kesesatan bukan hanya mengancam orang yang jauh dari agama, tetapi juga bisa menimpa siapa saja jika Allah tidak menjaganya. Karena itulah Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah doa yang penuh dengan penghambaan sebelum memohon agar tidak dibiarkan tersesat. Dari doa ini kita belajar bahwa menjaga hidayah jauh lebih penting daripada sekadar mengejar berbagai urusan dunia.  Daftar Isi tutup 1. Doa Berlindung dari Kesesatan dan Tawakal Penuh kepada Allah 2. Penjelasan Maksud Doa 3. Penjelasan Isi Doa 4. Kenapa Bisa Sesat?  Doa Berlindung dari Kesesatan dan Tawakal Penuh kepada Allahاللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَALLOOHUMMA LAKA ASLAMTU WA BIKA AAMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU, WA ILAIKA ANABTU, WA BIKA KHOOSHOMTU. ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BI ‘IZZATIKA LAA ILAAHA ILLAA ANTA AN TUDHILLANII. ANTAL HAYYU ALLADZII LAA YAMUUTU, WAL JINNU WAL INSU YAMUUTUN.Artinya: Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku kembali kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu dari segala hal yang bisa menyesatkanku–tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau–. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati. (HR. Muslim, no. 2717, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma). Penjelasan Maksud DoaSabda Nabi ﷺ, “لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ” (Hanya kepada-Mu aku berserah diri dan hanya kepada-Mu aku beriman), maksudnya adalah: aku tunduk dan patuh kepada-Mu, serta menerima seluruh ketetapan dan perintah-Mu. Di antaranya adalah pengakuanku dengan dua kalimat syahadat. Aku juga membenarkan keberadaan-Mu dan seluruh sifat-sifat kesempurnaan yang layak bagi-Mu. Pada kalimat ini terdapat isyarat adanya perbedaan antara iman dan Islam. Didahulukannya frasa “لَكَ” (hanya kepada-Mu) menunjukkan makna pengkhususan, yaitu bahwa aku hanya tunduk dan berserah diri kepada-Mu, bukan kepada selain-Mu.“وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ” (Hanya kepada-Mu aku bertawakal), maksudnya: aku menyerahkan seluruh urusanku kepada-Mu.“وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ” (Hanya kepada-Mu aku kembali), maksudnya: aku menghadap kepada-Mu dengan ibadah dan ketaatan, serta berpaling dari segala sesuatu selain-Mu.“وَبِكَ خَاصَمْتُ” (Dengan pertolongan-Mu aku menghadapi musuh-musuhku), maksudnya: dengan pertolongan-Mu aku berhujah, membela agama-Mu, dan memerangi musuh-musuh-Mu dengan hujah, penjelasan, pedang, dan tombak.“اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu), maksudnya Nabi ﷺ memohon perlindungan dengan sifat kemuliaan Allah. Kemuliaan (al-‘izzah) merupakan salah satu sifat Allah Ta’ala yang agung dan berasal dari nama-Nya Al-‘Aziz (Yang Mahaperkasa). Kemuliaan ini mengandung tiga makna: kemuliaan karena kekuatan dan kekuasaan, kemuliaan karena tidak dapat dikalahkan, serta kemuliaan karena keperkasaan dan kemenangan. Allah Tabaraka wa Ta’ala memiliki kemuliaan yang sempurna dalam ketiga makna tersebut. KataMakna khususKandungan tarbiyahلَكَ أَسْلَمْتُ(Aslamtu)Aku tunduk dan berserah diri sepenuhnya kepada-Mu. (Islam Web)Islam lahiriah; kepatuhan kepada seluruh syariat; ikhlas hanya untuk Allah.وَبِكَ آمَنْتُ(Amantu)Aku membenarkan-Mu dan beriman kepada-Mu. (Islam Web)Iman batin kepada Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, janji dan ancaman-Nya.وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ(Tawakkaltu)Aku menyerahkan seluruh urusanku kepada-Mu. (Islam Web)Ketergantungan penuh kepada Allah setelah melakukan sebab-sebab yang dibenarkan.وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ(Anabtu)Aku kembali kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu. (Islam Web)Taubat terus-menerus, kembali dari maksiat menuju ketaatan, dari lalai menuju dzikir.وَبِكَ خَاصَمْتُ(Khashamtu)Dengan pertolongan-Mu aku berhujah dan menghadapi musuh-musuh-Mu. (Islam Web)Membela agama dengan ilmu, hujah, dakwah, dan bila diperlukan dengan kekuatan yang dibenarkan syariat. Penjelasan Isi DoaNabi ﷺ mengawali doa ini dengan menyebutkan beberapa bentuk ibadah yang paling agung dan kedudukan penghambaan yang paling tinggi kepada Allah Ta’ala. Hal itu menjadi wasilah yang sangat besar sebelum beliau memanjatkan permohonannya. Beliau mengkhususkan seluruh bentuk penghambaan kepada Allah, baik amalan hati maupun anggota badan. Beliau memulainya dengan pengakuan yang sempurna berupa Islam, iman, tawakal, kembali kepada Allah dalam seluruh urusan dunia dan agama, serta membela agama-Nya dan berjihad untuk menegakkannya dengan hujah maupun kekuatan. Semua itu didahulukan sebelum memohon kepada Allah agar doa lebih layak untuk dikabulkan. Sebab, wasilah didahulukan sebelum tujuan yang hendak dicapai.Sabda Nabi ﷺ, “اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu), menunjukkan bahwa beliau memohon perlindungan dengan salah satu sifat Allah yang agung, yaitu kemuliaan-Nya yang sempurna. Barang siapa menginginkan kemuliaan, hendaklah ia memintanya kepada Allah Ta’ala. Allah Azza wa Jalla berfirman:مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka milik Allah-lah seluruh kemuliaan.”Kemuliaan tidak akan diperoleh kecuali dengan beriman kepada Allah, tunduk kepada-Nya, dan bertawakal kepada-Nya dalam seluruh urusan. Allah Ta’ala berfirman:﴿وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ﴾“Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Akan tetapi, orang-orang munafik tidak mengetahuinya.”Beliau juga menggandengkan permohonan perlindungan itu dengan ucapan “لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ” (Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau), yaitu untuk semakin menegaskan penghambaan hanya kepada Allah dan sebagai bentuk pengharapan agar doa lebih mudah dikabulkan.Kemudian beliau berdoa, “أَنْ تُضِلَّنِي” (agar Engkau tidak membiarkanku tersesat), maksudnya agar Allah tidak membiarkannya tergelincir dan tersesat setelah memperoleh petunjuk. Tidak diragukan lagi bahwa didahulukannya berbagai bentuk pendekatan kepada Allah melalui amal saleh, penegasan tauhid kepada Rabb langit dan bumi, serta bertawasul dengan kesempurnaan sifat-sifat-Nya ketika memohon perlindungan dari kesesatan, menunjukkan betapa penting dan besarnya permintaan ini. Allah Ta’ala berfirman:﴿وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ﴾“Barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.”Allah Azza wa Jalla juga berfirman:﴿مَنْ يَشَإِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ﴾“Barang siapa yang Allah kehendaki, Dia akan membiarkannya sesat. Dan barang siapa yang Dia kehendaki, Dia akan menempatkannya di atas jalan yang lurus.”Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa petunjuk dan kesesatan sepenuhnya berada di tangan Allah Ta’ala, Rabb semesta alam.Karena itu, seorang hamba hendaknya senantiasa memohon kepada Allah agar dilindungi dari kesesatan dan agar terus diberi petunjuk hingga bertemu dengan-Nya pada hari kiamat.Dalam doa ini juga terdapat dalil bolehnya memohon perlindungan dengan salah satu sifat Allah Ta’ala yang agung.Sabda beliau ﷺ, “أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ” (Engkaulah Dzat Yang Mahahidup yang tidak akan pernah mati, sedangkan jin dan manusia akan mati), merupakan penegasan bahwa hanya Allah yang memiliki kehidupan yang sempurna. Maksudnya, Engkaulah Dzat Yang Mahahidup, yang memiliki kehidupan yang sempurna, yang tidak pernah tersentuh sedikit pun kekurangan, dipenuhi seluruh kesempurnaan, dan mengandung seluruh sifat-sifat zat yang sempurna. Kehidupan Allah tidak pernah disertai rasa kantuk ataupun tidur, tidak akan lenyap dan tidak akan berakhir. Adapun seluruh makhluk pasti akan mati dan berakhir. Allah Ta’ala berfirman:﴿وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ﴾“Dan bertawakallah kepada Dzat Yang Mahahidup, yang tidak akan pernah mati.”Allah Ta’ala juga berfirman:﴿كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ﴾“Segala sesuatu akan binasa, kecuali Allah.”Doa yang penuh berkah ini sejak awal, pertengahan, hingga akhirnya menghimpun dua bentuk tawasul yang sangat agung kepada Allah Ta’ala, yaitu bertawasul dengan amal saleh, seperti ucapan:اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ“Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, dan hanya kepada-Mu aku bertawakal.”Serta bertawasul dengan nama-nama Allah yang indah dan sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi, seperti ucapan:أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ“Engkaulah Dzat Yang Mahahidup yang tidak akan pernah mati.”Semua itu menunjukkan betapa pentingnya memohon perlindungan dari kesesatan. Sebab, kesesatan akan menyeret seseorang kepada kebinasaan, merusak agama, dunia, dan akhiratnya. Sebaliknya, apabila Allah melindungi seorang hamba dari kesesatan, ia akan selamat dari segala sesuatu yang ditakuti dan memperoleh segala sesuatu yang diharapkannya. Kenapa Bisa Sesat?Allah tidak menyesatkan seseorang secara sewenang-wenang.Penyebab seseorang diberi hidayah antara lain:berusaha mencari kebenaran;mengamalkan ilmu;bersungguh-sungguh menaati Allah.Sedangkan penyebab seseorang disesatkan:berpaling dari petunjuk;enggan mengamalkan ilmu;terus-menerus memilih maksiat;menolak kebenaran setelah mengetahuinya. Referensi: kalemtayeb.com —- Selesai ditulis di perjalanan Jogja menuju Pondok Pesantren Darush Sholihin, 17 Juli 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdoa agar tidak sesat doa harian doa nabi Dzikir hidayah inabah istiqamah kumpulan doa rumaysho perlindungan Allah tauhid tawakal
Kesesatan bukan hanya mengancam orang yang jauh dari agama, tetapi juga bisa menimpa siapa saja jika Allah tidak menjaganya. Karena itulah Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah doa yang penuh dengan penghambaan sebelum memohon agar tidak dibiarkan tersesat. Dari doa ini kita belajar bahwa menjaga hidayah jauh lebih penting daripada sekadar mengejar berbagai urusan dunia.  Daftar Isi tutup 1. Doa Berlindung dari Kesesatan dan Tawakal Penuh kepada Allah 2. Penjelasan Maksud Doa 3. Penjelasan Isi Doa 4. Kenapa Bisa Sesat?  Doa Berlindung dari Kesesatan dan Tawakal Penuh kepada Allahاللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَALLOOHUMMA LAKA ASLAMTU WA BIKA AAMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU, WA ILAIKA ANABTU, WA BIKA KHOOSHOMTU. ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BI ‘IZZATIKA LAA ILAAHA ILLAA ANTA AN TUDHILLANII. ANTAL HAYYU ALLADZII LAA YAMUUTU, WAL JINNU WAL INSU YAMUUTUN.Artinya: Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku kembali kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu dari segala hal yang bisa menyesatkanku–tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau–. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati. (HR. Muslim, no. 2717, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma). Penjelasan Maksud DoaSabda Nabi ﷺ, “لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ” (Hanya kepada-Mu aku berserah diri dan hanya kepada-Mu aku beriman), maksudnya adalah: aku tunduk dan patuh kepada-Mu, serta menerima seluruh ketetapan dan perintah-Mu. Di antaranya adalah pengakuanku dengan dua kalimat syahadat. Aku juga membenarkan keberadaan-Mu dan seluruh sifat-sifat kesempurnaan yang layak bagi-Mu. Pada kalimat ini terdapat isyarat adanya perbedaan antara iman dan Islam. Didahulukannya frasa “لَكَ” (hanya kepada-Mu) menunjukkan makna pengkhususan, yaitu bahwa aku hanya tunduk dan berserah diri kepada-Mu, bukan kepada selain-Mu.“وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ” (Hanya kepada-Mu aku bertawakal), maksudnya: aku menyerahkan seluruh urusanku kepada-Mu.“وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ” (Hanya kepada-Mu aku kembali), maksudnya: aku menghadap kepada-Mu dengan ibadah dan ketaatan, serta berpaling dari segala sesuatu selain-Mu.“وَبِكَ خَاصَمْتُ” (Dengan pertolongan-Mu aku menghadapi musuh-musuhku), maksudnya: dengan pertolongan-Mu aku berhujah, membela agama-Mu, dan memerangi musuh-musuh-Mu dengan hujah, penjelasan, pedang, dan tombak.“اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu), maksudnya Nabi ﷺ memohon perlindungan dengan sifat kemuliaan Allah. Kemuliaan (al-‘izzah) merupakan salah satu sifat Allah Ta’ala yang agung dan berasal dari nama-Nya Al-‘Aziz (Yang Mahaperkasa). Kemuliaan ini mengandung tiga makna: kemuliaan karena kekuatan dan kekuasaan, kemuliaan karena tidak dapat dikalahkan, serta kemuliaan karena keperkasaan dan kemenangan. Allah Tabaraka wa Ta’ala memiliki kemuliaan yang sempurna dalam ketiga makna tersebut. KataMakna khususKandungan tarbiyahلَكَ أَسْلَمْتُ(Aslamtu)Aku tunduk dan berserah diri sepenuhnya kepada-Mu. (Islam Web)Islam lahiriah; kepatuhan kepada seluruh syariat; ikhlas hanya untuk Allah.وَبِكَ آمَنْتُ(Amantu)Aku membenarkan-Mu dan beriman kepada-Mu. (Islam Web)Iman batin kepada Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, janji dan ancaman-Nya.وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ(Tawakkaltu)Aku menyerahkan seluruh urusanku kepada-Mu. (Islam Web)Ketergantungan penuh kepada Allah setelah melakukan sebab-sebab yang dibenarkan.وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ(Anabtu)Aku kembali kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu. (Islam Web)Taubat terus-menerus, kembali dari maksiat menuju ketaatan, dari lalai menuju dzikir.وَبِكَ خَاصَمْتُ(Khashamtu)Dengan pertolongan-Mu aku berhujah dan menghadapi musuh-musuh-Mu. (Islam Web)Membela agama dengan ilmu, hujah, dakwah, dan bila diperlukan dengan kekuatan yang dibenarkan syariat. Penjelasan Isi DoaNabi ﷺ mengawali doa ini dengan menyebutkan beberapa bentuk ibadah yang paling agung dan kedudukan penghambaan yang paling tinggi kepada Allah Ta’ala. Hal itu menjadi wasilah yang sangat besar sebelum beliau memanjatkan permohonannya. Beliau mengkhususkan seluruh bentuk penghambaan kepada Allah, baik amalan hati maupun anggota badan. Beliau memulainya dengan pengakuan yang sempurna berupa Islam, iman, tawakal, kembali kepada Allah dalam seluruh urusan dunia dan agama, serta membela agama-Nya dan berjihad untuk menegakkannya dengan hujah maupun kekuatan. Semua itu didahulukan sebelum memohon kepada Allah agar doa lebih layak untuk dikabulkan. Sebab, wasilah didahulukan sebelum tujuan yang hendak dicapai.Sabda Nabi ﷺ, “اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu), menunjukkan bahwa beliau memohon perlindungan dengan salah satu sifat Allah yang agung, yaitu kemuliaan-Nya yang sempurna. Barang siapa menginginkan kemuliaan, hendaklah ia memintanya kepada Allah Ta’ala. Allah Azza wa Jalla berfirman:مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka milik Allah-lah seluruh kemuliaan.”Kemuliaan tidak akan diperoleh kecuali dengan beriman kepada Allah, tunduk kepada-Nya, dan bertawakal kepada-Nya dalam seluruh urusan. Allah Ta’ala berfirman:﴿وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ﴾“Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Akan tetapi, orang-orang munafik tidak mengetahuinya.”Beliau juga menggandengkan permohonan perlindungan itu dengan ucapan “لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ” (Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau), yaitu untuk semakin menegaskan penghambaan hanya kepada Allah dan sebagai bentuk pengharapan agar doa lebih mudah dikabulkan.Kemudian beliau berdoa, “أَنْ تُضِلَّنِي” (agar Engkau tidak membiarkanku tersesat), maksudnya agar Allah tidak membiarkannya tergelincir dan tersesat setelah memperoleh petunjuk. Tidak diragukan lagi bahwa didahulukannya berbagai bentuk pendekatan kepada Allah melalui amal saleh, penegasan tauhid kepada Rabb langit dan bumi, serta bertawasul dengan kesempurnaan sifat-sifat-Nya ketika memohon perlindungan dari kesesatan, menunjukkan betapa penting dan besarnya permintaan ini. Allah Ta’ala berfirman:﴿وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ﴾“Barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.”Allah Azza wa Jalla juga berfirman:﴿مَنْ يَشَإِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ﴾“Barang siapa yang Allah kehendaki, Dia akan membiarkannya sesat. Dan barang siapa yang Dia kehendaki, Dia akan menempatkannya di atas jalan yang lurus.”Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa petunjuk dan kesesatan sepenuhnya berada di tangan Allah Ta’ala, Rabb semesta alam.Karena itu, seorang hamba hendaknya senantiasa memohon kepada Allah agar dilindungi dari kesesatan dan agar terus diberi petunjuk hingga bertemu dengan-Nya pada hari kiamat.Dalam doa ini juga terdapat dalil bolehnya memohon perlindungan dengan salah satu sifat Allah Ta’ala yang agung.Sabda beliau ﷺ, “أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ” (Engkaulah Dzat Yang Mahahidup yang tidak akan pernah mati, sedangkan jin dan manusia akan mati), merupakan penegasan bahwa hanya Allah yang memiliki kehidupan yang sempurna. Maksudnya, Engkaulah Dzat Yang Mahahidup, yang memiliki kehidupan yang sempurna, yang tidak pernah tersentuh sedikit pun kekurangan, dipenuhi seluruh kesempurnaan, dan mengandung seluruh sifat-sifat zat yang sempurna. Kehidupan Allah tidak pernah disertai rasa kantuk ataupun tidur, tidak akan lenyap dan tidak akan berakhir. Adapun seluruh makhluk pasti akan mati dan berakhir. Allah Ta’ala berfirman:﴿وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ﴾“Dan bertawakallah kepada Dzat Yang Mahahidup, yang tidak akan pernah mati.”Allah Ta’ala juga berfirman:﴿كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ﴾“Segala sesuatu akan binasa, kecuali Allah.”Doa yang penuh berkah ini sejak awal, pertengahan, hingga akhirnya menghimpun dua bentuk tawasul yang sangat agung kepada Allah Ta’ala, yaitu bertawasul dengan amal saleh, seperti ucapan:اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ“Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, dan hanya kepada-Mu aku bertawakal.”Serta bertawasul dengan nama-nama Allah yang indah dan sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi, seperti ucapan:أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ“Engkaulah Dzat Yang Mahahidup yang tidak akan pernah mati.”Semua itu menunjukkan betapa pentingnya memohon perlindungan dari kesesatan. Sebab, kesesatan akan menyeret seseorang kepada kebinasaan, merusak agama, dunia, dan akhiratnya. Sebaliknya, apabila Allah melindungi seorang hamba dari kesesatan, ia akan selamat dari segala sesuatu yang ditakuti dan memperoleh segala sesuatu yang diharapkannya. Kenapa Bisa Sesat?Allah tidak menyesatkan seseorang secara sewenang-wenang.Penyebab seseorang diberi hidayah antara lain:berusaha mencari kebenaran;mengamalkan ilmu;bersungguh-sungguh menaati Allah.Sedangkan penyebab seseorang disesatkan:berpaling dari petunjuk;enggan mengamalkan ilmu;terus-menerus memilih maksiat;menolak kebenaran setelah mengetahuinya. Referensi: kalemtayeb.com —- Selesai ditulis di perjalanan Jogja menuju Pondok Pesantren Darush Sholihin, 17 Juli 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdoa agar tidak sesat doa harian doa nabi Dzikir hidayah inabah istiqamah kumpulan doa rumaysho perlindungan Allah tauhid tawakal


Kesesatan bukan hanya mengancam orang yang jauh dari agama, tetapi juga bisa menimpa siapa saja jika Allah tidak menjaganya. Karena itulah Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah doa yang penuh dengan penghambaan sebelum memohon agar tidak dibiarkan tersesat. Dari doa ini kita belajar bahwa menjaga hidayah jauh lebih penting daripada sekadar mengejar berbagai urusan dunia.  Daftar Isi tutup 1. Doa Berlindung dari Kesesatan dan Tawakal Penuh kepada Allah 2. Penjelasan Maksud Doa 3. Penjelasan Isi Doa 4. Kenapa Bisa Sesat?  Doa Berlindung dari Kesesatan dan Tawakal Penuh kepada Allahاللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَALLOOHUMMA LAKA ASLAMTU WA BIKA AAMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU, WA ILAIKA ANABTU, WA BIKA KHOOSHOMTU. ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BI ‘IZZATIKA LAA ILAAHA ILLAA ANTA AN TUDHILLANII. ANTAL HAYYU ALLADZII LAA YAMUUTU, WAL JINNU WAL INSU YAMUUTUN.Artinya: Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku kembali kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu dari segala hal yang bisa menyesatkanku–tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau–. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati. (HR. Muslim, no. 2717, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma). Penjelasan Maksud DoaSabda Nabi ﷺ, “لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ” (Hanya kepada-Mu aku berserah diri dan hanya kepada-Mu aku beriman), maksudnya adalah: aku tunduk dan patuh kepada-Mu, serta menerima seluruh ketetapan dan perintah-Mu. Di antaranya adalah pengakuanku dengan dua kalimat syahadat. Aku juga membenarkan keberadaan-Mu dan seluruh sifat-sifat kesempurnaan yang layak bagi-Mu. Pada kalimat ini terdapat isyarat adanya perbedaan antara iman dan Islam. Didahulukannya frasa “لَكَ” (hanya kepada-Mu) menunjukkan makna pengkhususan, yaitu bahwa aku hanya tunduk dan berserah diri kepada-Mu, bukan kepada selain-Mu.“وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ” (Hanya kepada-Mu aku bertawakal), maksudnya: aku menyerahkan seluruh urusanku kepada-Mu.“وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ” (Hanya kepada-Mu aku kembali), maksudnya: aku menghadap kepada-Mu dengan ibadah dan ketaatan, serta berpaling dari segala sesuatu selain-Mu.“وَبِكَ خَاصَمْتُ” (Dengan pertolongan-Mu aku menghadapi musuh-musuhku), maksudnya: dengan pertolongan-Mu aku berhujah, membela agama-Mu, dan memerangi musuh-musuh-Mu dengan hujah, penjelasan, pedang, dan tombak.“اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu), maksudnya Nabi ﷺ memohon perlindungan dengan sifat kemuliaan Allah. Kemuliaan (al-‘izzah) merupakan salah satu sifat Allah Ta’ala yang agung dan berasal dari nama-Nya Al-‘Aziz (Yang Mahaperkasa). Kemuliaan ini mengandung tiga makna: kemuliaan karena kekuatan dan kekuasaan, kemuliaan karena tidak dapat dikalahkan, serta kemuliaan karena keperkasaan dan kemenangan. Allah Tabaraka wa Ta’ala memiliki kemuliaan yang sempurna dalam ketiga makna tersebut. KataMakna khususKandungan tarbiyahلَكَ أَسْلَمْتُ(Aslamtu)Aku tunduk dan berserah diri sepenuhnya kepada-Mu. (Islam Web)Islam lahiriah; kepatuhan kepada seluruh syariat; ikhlas hanya untuk Allah.وَبِكَ آمَنْتُ(Amantu)Aku membenarkan-Mu dan beriman kepada-Mu. (Islam Web)Iman batin kepada Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, janji dan ancaman-Nya.وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ(Tawakkaltu)Aku menyerahkan seluruh urusanku kepada-Mu. (Islam Web)Ketergantungan penuh kepada Allah setelah melakukan sebab-sebab yang dibenarkan.وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ(Anabtu)Aku kembali kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu. (Islam Web)Taubat terus-menerus, kembali dari maksiat menuju ketaatan, dari lalai menuju dzikir.وَبِكَ خَاصَمْتُ(Khashamtu)Dengan pertolongan-Mu aku berhujah dan menghadapi musuh-musuh-Mu. (Islam Web)Membela agama dengan ilmu, hujah, dakwah, dan bila diperlukan dengan kekuatan yang dibenarkan syariat. Penjelasan Isi DoaNabi ﷺ mengawali doa ini dengan menyebutkan beberapa bentuk ibadah yang paling agung dan kedudukan penghambaan yang paling tinggi kepada Allah Ta’ala. Hal itu menjadi wasilah yang sangat besar sebelum beliau memanjatkan permohonannya. Beliau mengkhususkan seluruh bentuk penghambaan kepada Allah, baik amalan hati maupun anggota badan. Beliau memulainya dengan pengakuan yang sempurna berupa Islam, iman, tawakal, kembali kepada Allah dalam seluruh urusan dunia dan agama, serta membela agama-Nya dan berjihad untuk menegakkannya dengan hujah maupun kekuatan. Semua itu didahulukan sebelum memohon kepada Allah agar doa lebih layak untuk dikabulkan. Sebab, wasilah didahulukan sebelum tujuan yang hendak dicapai.Sabda Nabi ﷺ, “اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu), menunjukkan bahwa beliau memohon perlindungan dengan salah satu sifat Allah yang agung, yaitu kemuliaan-Nya yang sempurna. Barang siapa menginginkan kemuliaan, hendaklah ia memintanya kepada Allah Ta’ala. Allah Azza wa Jalla berfirman:مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka milik Allah-lah seluruh kemuliaan.”Kemuliaan tidak akan diperoleh kecuali dengan beriman kepada Allah, tunduk kepada-Nya, dan bertawakal kepada-Nya dalam seluruh urusan. Allah Ta’ala berfirman:﴿وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ﴾“Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Akan tetapi, orang-orang munafik tidak mengetahuinya.”Beliau juga menggandengkan permohonan perlindungan itu dengan ucapan “لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ” (Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau), yaitu untuk semakin menegaskan penghambaan hanya kepada Allah dan sebagai bentuk pengharapan agar doa lebih mudah dikabulkan.Kemudian beliau berdoa, “أَنْ تُضِلَّنِي” (agar Engkau tidak membiarkanku tersesat), maksudnya agar Allah tidak membiarkannya tergelincir dan tersesat setelah memperoleh petunjuk. Tidak diragukan lagi bahwa didahulukannya berbagai bentuk pendekatan kepada Allah melalui amal saleh, penegasan tauhid kepada Rabb langit dan bumi, serta bertawasul dengan kesempurnaan sifat-sifat-Nya ketika memohon perlindungan dari kesesatan, menunjukkan betapa penting dan besarnya permintaan ini. Allah Ta’ala berfirman:﴿وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ﴾“Barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.”Allah Azza wa Jalla juga berfirman:﴿مَنْ يَشَإِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ﴾“Barang siapa yang Allah kehendaki, Dia akan membiarkannya sesat. Dan barang siapa yang Dia kehendaki, Dia akan menempatkannya di atas jalan yang lurus.”Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa petunjuk dan kesesatan sepenuhnya berada di tangan Allah Ta’ala, Rabb semesta alam.Karena itu, seorang hamba hendaknya senantiasa memohon kepada Allah agar dilindungi dari kesesatan dan agar terus diberi petunjuk hingga bertemu dengan-Nya pada hari kiamat.Dalam doa ini juga terdapat dalil bolehnya memohon perlindungan dengan salah satu sifat Allah Ta’ala yang agung.Sabda beliau ﷺ, “أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ” (Engkaulah Dzat Yang Mahahidup yang tidak akan pernah mati, sedangkan jin dan manusia akan mati), merupakan penegasan bahwa hanya Allah yang memiliki kehidupan yang sempurna. Maksudnya, Engkaulah Dzat Yang Mahahidup, yang memiliki kehidupan yang sempurna, yang tidak pernah tersentuh sedikit pun kekurangan, dipenuhi seluruh kesempurnaan, dan mengandung seluruh sifat-sifat zat yang sempurna. Kehidupan Allah tidak pernah disertai rasa kantuk ataupun tidur, tidak akan lenyap dan tidak akan berakhir. Adapun seluruh makhluk pasti akan mati dan berakhir. Allah Ta’ala berfirman:﴿وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ﴾“Dan bertawakallah kepada Dzat Yang Mahahidup, yang tidak akan pernah mati.”Allah Ta’ala juga berfirman:﴿كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ﴾“Segala sesuatu akan binasa, kecuali Allah.”Doa yang penuh berkah ini sejak awal, pertengahan, hingga akhirnya menghimpun dua bentuk tawasul yang sangat agung kepada Allah Ta’ala, yaitu bertawasul dengan amal saleh, seperti ucapan:اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ“Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, dan hanya kepada-Mu aku bertawakal.”Serta bertawasul dengan nama-nama Allah yang indah dan sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi, seperti ucapan:أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ“Engkaulah Dzat Yang Mahahidup yang tidak akan pernah mati.”Semua itu menunjukkan betapa pentingnya memohon perlindungan dari kesesatan. Sebab, kesesatan akan menyeret seseorang kepada kebinasaan, merusak agama, dunia, dan akhiratnya. Sebaliknya, apabila Allah melindungi seorang hamba dari kesesatan, ia akan selamat dari segala sesuatu yang ditakuti dan memperoleh segala sesuatu yang diharapkannya. Kenapa Bisa Sesat?Allah tidak menyesatkan seseorang secara sewenang-wenang.Penyebab seseorang diberi hidayah antara lain:berusaha mencari kebenaran;mengamalkan ilmu;bersungguh-sungguh menaati Allah.Sedangkan penyebab seseorang disesatkan:berpaling dari petunjuk;enggan mengamalkan ilmu;terus-menerus memilih maksiat;menolak kebenaran setelah mengetahuinya. Referensi: kalemtayeb.com —- Selesai ditulis di perjalanan Jogja menuju Pondok Pesantren Darush Sholihin, 17 Juli 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdoa agar tidak sesat doa harian doa nabi Dzikir hidayah inabah istiqamah kumpulan doa rumaysho perlindungan Allah tauhid tawakal

Anak dan Harta Akan Pulang, Amalmu yang Tinggal – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Wahai saudara-saudaraku, sudah seharusnya kita meninggikan cita-cita kita. Demi Allah, sungguh yang dapat menghibur kita di dalam kubur adalah amal saleh. Amal saleh akan memberi kabar gembira kepada pelakunya dan menghibur mereka, bersama kenikmatan kubur yang mereka rasakan. Adapun amal buruk, maka sebaliknya. Kita berlindung kepada Allah. Maka sudah seharusnya semangat kita untuk memperbanyak amal saleh, lebih besar daripada semangat kita untuk memperbanyak anak dan harta. Anak-anak akan mengiringi kita sampai ke kubur. Lalu setelah kita dikuburkan, mereka pun pulang. Tidak lama berselang beberapa hari setelah itu, mereka sudah melupakan kita. Harta benda yang kita kumpulkan, juga mengiringi kita sampai ke kubur. Kemudian harta itu kembali, lalu dinikmati oleh orang lain. Padahal bisa jadi kita akan ditanya tentangnya dengan pertanyaan yang berujung hukuman. Dan yang pasti, kita benar-benar akan ditanya tentang harta kita. Lalu apa yang tersisa? Yang tersisa adalah amal. Amal itulah yang masuk bersama kita ke dalam kubur. Baik amal saleh maupun amal buruk. Maka sudah seharusnya, wahai kita bersemangat memperbanyak amal saleh,saudara-saudaraku, dan berupaya melepaskan diri dari dosa-dosa, selama kita masih berada di masa kesempatan. Demi Allah, sungguh para penghuni kubur, salah seorang dari mereka benar-benar berangan-angan bisa kembali ke dunia, hanya untuk bersujud kepada Allah satu kali saja. Wahai saudara-saudaraku, kita harus meninggikan cita-cita kita, dan kita harus memanfaatkan sisa umur kita, karena sebaik-baik kalian adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Dan seburuk-buruk kalian adalah orang yang panjang umurnya, tetapi buruk amalnya. Kita berlindung kepada Allah. ===== يَنْبَغِي أَنْ نَرْفَعَ مِنْ هِمَمِنَا يَا إِخْوَةُ وَاللهِ إِنَّ الَّذِي يُؤْنِسُنَا فِي قُبُورِنَا هُوَ الْعَمَلُ الصَّالِحُ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ وَيُؤْنِسُهُمْ مَعَ مَا هُمْ فِيهِ مِنْ نَعِيمِ الْقَبْرِ وَالْعَكْسُ بِالْعَكْسِ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ فَيَنْبَغِي عَلَيْنَا أَنْ يَكُونَ حِرْصُنَا عَلَى تَكْثِيرِ الصَّالِحَاتِ أَعْظَمَ مِنْ حِرْصِنَا عَلَى تَكْثِيرِ الْأَوْلَادِ وَالْأَمْوَالِ الْأَوْلَادُ يَذْهَبُونَ وَرَاءَنَا إِلَى الْقَبْرِ ثُمَّ إِذَا دُفِنَّا رَجَعُوا وَمَا هِيَ إِلَّا أَيَّامٌ وَيَنْسَونَ وَالْأَمْوَالُ نُجَمِّعُهَا وَتَذْهَبُ وَرَاءَنَا إِلَى الْقَبْرِ ثُمَّ تَرْجِعُ يَتَنَعَّمُ بِهَا غَيْرُنَا وَقَدْ نُسْأَلُ عَنْهَا سُؤَالَ الْمُؤَاخَذَةِ وَإِلَّا فَنَحْنُ مَسْؤُولُونَ يَقِينًا عَنْ أَمْوَالِنَا مَا الَّذِي يَبْقَى؟ يَبْقَى الْعَمَلُ يَدْخُلُ مَعَنَا قُبُورَنَا صَالِحًا كَانَ أَوْ سَيِّئًا فَيَنْبَغِي يَا إِخْوَةُ يَنْبَغِي أَنْ نَحْرِصَ عَلَى تَكْثِيرِ الصَّالِحَاتِ وَعَلَى التَّخَلُّصِ مِنَ السَّيِّئَاتِ وَنَحْنُ الْيَوْمَ فِي زَمَنِ الْمُهْلَةِ وَاللهِ إِنَّ أَصْحَابَ الْقُبُورِ يَتَمَنَّى الْوَاحِدُ مِنْهُمْ لَوْ يَرْجِعُ إِلَى الدُّنْيَا لِيَسْجُدَ لِلهِ سَجْدَةً يَنْبَغِي أَنْ نَرْفَعَ هِمَمَنَا يَا إِخْوَةُ وَأَنْ نَغْتَنِمَ مَا بَقِيَ مِنْ أَعْمَارِنَا فَخَيْرُكُمْ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ وَشَرُّكُمْ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ

Anak dan Harta Akan Pulang, Amalmu yang Tinggal – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Wahai saudara-saudaraku, sudah seharusnya kita meninggikan cita-cita kita. Demi Allah, sungguh yang dapat menghibur kita di dalam kubur adalah amal saleh. Amal saleh akan memberi kabar gembira kepada pelakunya dan menghibur mereka, bersama kenikmatan kubur yang mereka rasakan. Adapun amal buruk, maka sebaliknya. Kita berlindung kepada Allah. Maka sudah seharusnya semangat kita untuk memperbanyak amal saleh, lebih besar daripada semangat kita untuk memperbanyak anak dan harta. Anak-anak akan mengiringi kita sampai ke kubur. Lalu setelah kita dikuburkan, mereka pun pulang. Tidak lama berselang beberapa hari setelah itu, mereka sudah melupakan kita. Harta benda yang kita kumpulkan, juga mengiringi kita sampai ke kubur. Kemudian harta itu kembali, lalu dinikmati oleh orang lain. Padahal bisa jadi kita akan ditanya tentangnya dengan pertanyaan yang berujung hukuman. Dan yang pasti, kita benar-benar akan ditanya tentang harta kita. Lalu apa yang tersisa? Yang tersisa adalah amal. Amal itulah yang masuk bersama kita ke dalam kubur. Baik amal saleh maupun amal buruk. Maka sudah seharusnya, wahai kita bersemangat memperbanyak amal saleh,saudara-saudaraku, dan berupaya melepaskan diri dari dosa-dosa, selama kita masih berada di masa kesempatan. Demi Allah, sungguh para penghuni kubur, salah seorang dari mereka benar-benar berangan-angan bisa kembali ke dunia, hanya untuk bersujud kepada Allah satu kali saja. Wahai saudara-saudaraku, kita harus meninggikan cita-cita kita, dan kita harus memanfaatkan sisa umur kita, karena sebaik-baik kalian adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Dan seburuk-buruk kalian adalah orang yang panjang umurnya, tetapi buruk amalnya. Kita berlindung kepada Allah. ===== يَنْبَغِي أَنْ نَرْفَعَ مِنْ هِمَمِنَا يَا إِخْوَةُ وَاللهِ إِنَّ الَّذِي يُؤْنِسُنَا فِي قُبُورِنَا هُوَ الْعَمَلُ الصَّالِحُ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ وَيُؤْنِسُهُمْ مَعَ مَا هُمْ فِيهِ مِنْ نَعِيمِ الْقَبْرِ وَالْعَكْسُ بِالْعَكْسِ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ فَيَنْبَغِي عَلَيْنَا أَنْ يَكُونَ حِرْصُنَا عَلَى تَكْثِيرِ الصَّالِحَاتِ أَعْظَمَ مِنْ حِرْصِنَا عَلَى تَكْثِيرِ الْأَوْلَادِ وَالْأَمْوَالِ الْأَوْلَادُ يَذْهَبُونَ وَرَاءَنَا إِلَى الْقَبْرِ ثُمَّ إِذَا دُفِنَّا رَجَعُوا وَمَا هِيَ إِلَّا أَيَّامٌ وَيَنْسَونَ وَالْأَمْوَالُ نُجَمِّعُهَا وَتَذْهَبُ وَرَاءَنَا إِلَى الْقَبْرِ ثُمَّ تَرْجِعُ يَتَنَعَّمُ بِهَا غَيْرُنَا وَقَدْ نُسْأَلُ عَنْهَا سُؤَالَ الْمُؤَاخَذَةِ وَإِلَّا فَنَحْنُ مَسْؤُولُونَ يَقِينًا عَنْ أَمْوَالِنَا مَا الَّذِي يَبْقَى؟ يَبْقَى الْعَمَلُ يَدْخُلُ مَعَنَا قُبُورَنَا صَالِحًا كَانَ أَوْ سَيِّئًا فَيَنْبَغِي يَا إِخْوَةُ يَنْبَغِي أَنْ نَحْرِصَ عَلَى تَكْثِيرِ الصَّالِحَاتِ وَعَلَى التَّخَلُّصِ مِنَ السَّيِّئَاتِ وَنَحْنُ الْيَوْمَ فِي زَمَنِ الْمُهْلَةِ وَاللهِ إِنَّ أَصْحَابَ الْقُبُورِ يَتَمَنَّى الْوَاحِدُ مِنْهُمْ لَوْ يَرْجِعُ إِلَى الدُّنْيَا لِيَسْجُدَ لِلهِ سَجْدَةً يَنْبَغِي أَنْ نَرْفَعَ هِمَمَنَا يَا إِخْوَةُ وَأَنْ نَغْتَنِمَ مَا بَقِيَ مِنْ أَعْمَارِنَا فَخَيْرُكُمْ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ وَشَرُّكُمْ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ
Wahai saudara-saudaraku, sudah seharusnya kita meninggikan cita-cita kita. Demi Allah, sungguh yang dapat menghibur kita di dalam kubur adalah amal saleh. Amal saleh akan memberi kabar gembira kepada pelakunya dan menghibur mereka, bersama kenikmatan kubur yang mereka rasakan. Adapun amal buruk, maka sebaliknya. Kita berlindung kepada Allah. Maka sudah seharusnya semangat kita untuk memperbanyak amal saleh, lebih besar daripada semangat kita untuk memperbanyak anak dan harta. Anak-anak akan mengiringi kita sampai ke kubur. Lalu setelah kita dikuburkan, mereka pun pulang. Tidak lama berselang beberapa hari setelah itu, mereka sudah melupakan kita. Harta benda yang kita kumpulkan, juga mengiringi kita sampai ke kubur. Kemudian harta itu kembali, lalu dinikmati oleh orang lain. Padahal bisa jadi kita akan ditanya tentangnya dengan pertanyaan yang berujung hukuman. Dan yang pasti, kita benar-benar akan ditanya tentang harta kita. Lalu apa yang tersisa? Yang tersisa adalah amal. Amal itulah yang masuk bersama kita ke dalam kubur. Baik amal saleh maupun amal buruk. Maka sudah seharusnya, wahai kita bersemangat memperbanyak amal saleh,saudara-saudaraku, dan berupaya melepaskan diri dari dosa-dosa, selama kita masih berada di masa kesempatan. Demi Allah, sungguh para penghuni kubur, salah seorang dari mereka benar-benar berangan-angan bisa kembali ke dunia, hanya untuk bersujud kepada Allah satu kali saja. Wahai saudara-saudaraku, kita harus meninggikan cita-cita kita, dan kita harus memanfaatkan sisa umur kita, karena sebaik-baik kalian adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Dan seburuk-buruk kalian adalah orang yang panjang umurnya, tetapi buruk amalnya. Kita berlindung kepada Allah. ===== يَنْبَغِي أَنْ نَرْفَعَ مِنْ هِمَمِنَا يَا إِخْوَةُ وَاللهِ إِنَّ الَّذِي يُؤْنِسُنَا فِي قُبُورِنَا هُوَ الْعَمَلُ الصَّالِحُ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ وَيُؤْنِسُهُمْ مَعَ مَا هُمْ فِيهِ مِنْ نَعِيمِ الْقَبْرِ وَالْعَكْسُ بِالْعَكْسِ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ فَيَنْبَغِي عَلَيْنَا أَنْ يَكُونَ حِرْصُنَا عَلَى تَكْثِيرِ الصَّالِحَاتِ أَعْظَمَ مِنْ حِرْصِنَا عَلَى تَكْثِيرِ الْأَوْلَادِ وَالْأَمْوَالِ الْأَوْلَادُ يَذْهَبُونَ وَرَاءَنَا إِلَى الْقَبْرِ ثُمَّ إِذَا دُفِنَّا رَجَعُوا وَمَا هِيَ إِلَّا أَيَّامٌ وَيَنْسَونَ وَالْأَمْوَالُ نُجَمِّعُهَا وَتَذْهَبُ وَرَاءَنَا إِلَى الْقَبْرِ ثُمَّ تَرْجِعُ يَتَنَعَّمُ بِهَا غَيْرُنَا وَقَدْ نُسْأَلُ عَنْهَا سُؤَالَ الْمُؤَاخَذَةِ وَإِلَّا فَنَحْنُ مَسْؤُولُونَ يَقِينًا عَنْ أَمْوَالِنَا مَا الَّذِي يَبْقَى؟ يَبْقَى الْعَمَلُ يَدْخُلُ مَعَنَا قُبُورَنَا صَالِحًا كَانَ أَوْ سَيِّئًا فَيَنْبَغِي يَا إِخْوَةُ يَنْبَغِي أَنْ نَحْرِصَ عَلَى تَكْثِيرِ الصَّالِحَاتِ وَعَلَى التَّخَلُّصِ مِنَ السَّيِّئَاتِ وَنَحْنُ الْيَوْمَ فِي زَمَنِ الْمُهْلَةِ وَاللهِ إِنَّ أَصْحَابَ الْقُبُورِ يَتَمَنَّى الْوَاحِدُ مِنْهُمْ لَوْ يَرْجِعُ إِلَى الدُّنْيَا لِيَسْجُدَ لِلهِ سَجْدَةً يَنْبَغِي أَنْ نَرْفَعَ هِمَمَنَا يَا إِخْوَةُ وَأَنْ نَغْتَنِمَ مَا بَقِيَ مِنْ أَعْمَارِنَا فَخَيْرُكُمْ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ وَشَرُّكُمْ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ


Wahai saudara-saudaraku, sudah seharusnya kita meninggikan cita-cita kita. Demi Allah, sungguh yang dapat menghibur kita di dalam kubur adalah amal saleh. Amal saleh akan memberi kabar gembira kepada pelakunya dan menghibur mereka, bersama kenikmatan kubur yang mereka rasakan. Adapun amal buruk, maka sebaliknya. Kita berlindung kepada Allah. Maka sudah seharusnya semangat kita untuk memperbanyak amal saleh, lebih besar daripada semangat kita untuk memperbanyak anak dan harta. Anak-anak akan mengiringi kita sampai ke kubur. Lalu setelah kita dikuburkan, mereka pun pulang. Tidak lama berselang beberapa hari setelah itu, mereka sudah melupakan kita. Harta benda yang kita kumpulkan, juga mengiringi kita sampai ke kubur. Kemudian harta itu kembali, lalu dinikmati oleh orang lain. Padahal bisa jadi kita akan ditanya tentangnya dengan pertanyaan yang berujung hukuman. Dan yang pasti, kita benar-benar akan ditanya tentang harta kita. Lalu apa yang tersisa? Yang tersisa adalah amal. Amal itulah yang masuk bersama kita ke dalam kubur. Baik amal saleh maupun amal buruk. Maka sudah seharusnya, wahai kita bersemangat memperbanyak amal saleh,saudara-saudaraku, dan berupaya melepaskan diri dari dosa-dosa, selama kita masih berada di masa kesempatan. Demi Allah, sungguh para penghuni kubur, salah seorang dari mereka benar-benar berangan-angan bisa kembali ke dunia, hanya untuk bersujud kepada Allah satu kali saja. Wahai saudara-saudaraku, kita harus meninggikan cita-cita kita, dan kita harus memanfaatkan sisa umur kita, karena sebaik-baik kalian adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Dan seburuk-buruk kalian adalah orang yang panjang umurnya, tetapi buruk amalnya. Kita berlindung kepada Allah. ===== يَنْبَغِي أَنْ نَرْفَعَ مِنْ هِمَمِنَا يَا إِخْوَةُ وَاللهِ إِنَّ الَّذِي يُؤْنِسُنَا فِي قُبُورِنَا هُوَ الْعَمَلُ الصَّالِحُ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ وَيُؤْنِسُهُمْ مَعَ مَا هُمْ فِيهِ مِنْ نَعِيمِ الْقَبْرِ وَالْعَكْسُ بِالْعَكْسِ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ فَيَنْبَغِي عَلَيْنَا أَنْ يَكُونَ حِرْصُنَا عَلَى تَكْثِيرِ الصَّالِحَاتِ أَعْظَمَ مِنْ حِرْصِنَا عَلَى تَكْثِيرِ الْأَوْلَادِ وَالْأَمْوَالِ الْأَوْلَادُ يَذْهَبُونَ وَرَاءَنَا إِلَى الْقَبْرِ ثُمَّ إِذَا دُفِنَّا رَجَعُوا وَمَا هِيَ إِلَّا أَيَّامٌ وَيَنْسَونَ وَالْأَمْوَالُ نُجَمِّعُهَا وَتَذْهَبُ وَرَاءَنَا إِلَى الْقَبْرِ ثُمَّ تَرْجِعُ يَتَنَعَّمُ بِهَا غَيْرُنَا وَقَدْ نُسْأَلُ عَنْهَا سُؤَالَ الْمُؤَاخَذَةِ وَإِلَّا فَنَحْنُ مَسْؤُولُونَ يَقِينًا عَنْ أَمْوَالِنَا مَا الَّذِي يَبْقَى؟ يَبْقَى الْعَمَلُ يَدْخُلُ مَعَنَا قُبُورَنَا صَالِحًا كَانَ أَوْ سَيِّئًا فَيَنْبَغِي يَا إِخْوَةُ يَنْبَغِي أَنْ نَحْرِصَ عَلَى تَكْثِيرِ الصَّالِحَاتِ وَعَلَى التَّخَلُّصِ مِنَ السَّيِّئَاتِ وَنَحْنُ الْيَوْمَ فِي زَمَنِ الْمُهْلَةِ وَاللهِ إِنَّ أَصْحَابَ الْقُبُورِ يَتَمَنَّى الْوَاحِدُ مِنْهُمْ لَوْ يَرْجِعُ إِلَى الدُّنْيَا لِيَسْجُدَ لِلهِ سَجْدَةً يَنْبَغِي أَنْ نَرْفَعَ هِمَمَنَا يَا إِخْوَةُ وَأَنْ نَغْتَنِمَ مَا بَقِيَ مِنْ أَعْمَارِنَا فَخَيْرُكُمْ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ وَشَرُّكُمْ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ

Fikih Akikah (Bag. 4): Masalah-Masalah yang Berkaitan dengan Akikah

Daftar Isi ToggleHukum akikah untuk janin yang mengalami keguguranApakah dianjurkan akikah bagi bayi yang meninggal setelah lahir?Bagaimana hukum penggabungan kurban Iduladha dan kurban akikah pada satu hewan?Pendapat pertamaPendapat keduaHukum melaksanakan akikah untuk dua anak atau lebih pada hari yang samaHukum hewan akikah untuk lebih dari satu anakApakah akikah lebih utama daripada bersedekah dengan uang seharga akikah?Apakah penerima daging akikah diwajibkan untuk mengetahui bahwa daging tersebut diniatkan untuk akikah?Hukum akikah untuk janin yang mengalami keguguranJika keguguran terjadi sebelum usia kehamilan 4 bulan, maka akikah tidak perlu dilakukan karena ruh belum ditiupkan ke dalam janin. Namun, jika keguguran terjadi pada usia 4 bulan, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai hal tersebut. Fatwa Lajnah Daimah dan Syekh Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa akikah dianjurkan untuk dilakukan.Para ulama dari Lajnah Daimah ditanya, “Istri saya mengalami keguguran janin berusia empat bulan sebelum meninggal. Ia mengambil janin tersebut dan menguburkannya tanpa melaksanakan salat jenazah. Mohon nasihat, apakah ada hal yang wajib saya lakukan?”Mereka menjawab, “Pendapat yang tepat, janin tersebut seharusnya dimandikan, dikafani, dan disalati karena sudah mencapai usia kehamilan 4 bulan. Hal ini berdasarkan makna umum dari apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, السقط يصلى عليه“Kandungan yang gugur diwajibkan (untuk dilaksanakan) salat jenazah.”Namun, untuk kewajiban yang sudah terlewatkan, kalian tidak memiliki kewajiban. [1]Oleh karena itu, akikah dianjurkan karena keumuman dalil-dalil yang mendukungnya. Jika tidak pantas mengundang orang untuk makan akikah karena kematian, cukuplah memberikan sebagian sebagai sedekah, memakannya, dan sebagian lainnya sebagai hadiah. [2]Apakah dianjurkan akikah bagi bayi yang meninggal setelah lahir?An-Nawawi rahimahullah berkata, “Jika bayi yang baru lahir meninggal sebelum hari ketujuh, akikah dianjurkan menurut mazhab kami. Namun, Al-Hasan Al-Basri dan Malik mengatakan, ‘Tidak dianjurkan.’” [3]Beliau juga mengatakan, “Jika bayi baru lahir meninggal setelah hari ketujuh dan setelah waktu penyembelihan akikah, terdapat dua pendapat; dan pendapat yang lebih sahih yaitu dianjurkan untuk melaksanakan akikah untuknya.” [4]Bagaimana hukum penggabungan kurban Iduladha dan kurban akikah pada satu hewan?Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini:Pendapat pertamaKurban Iduladha sudah cukup untuk akikah. Ini adalah pandangan Al-Hasan Al-Basri, Muhammad Ibnu Sirin, dan Qatadah, serta merupakan pendapat mazhab Hanafi. Ini juga merupakan salah satu dari dua riwayat Imam Ahmad. [5] Mereka menyamakan masalah ini dengan masalah menggabungkan salat Jumat dan salat Id, di mana yang melaksanakan salah satunya sudah cukup. Keduanya memiliki rakaat, khotbah, dan bacaan yang sama, sehingga perbuatan tersebut dianggap satu; begitu pula kurban dan akikah dianggap satu.Pendapat keduaUdhiyah tidak dapat digabungkan dengan akikah. Ini adalah pendapat mazhab Maliki, mazhab Syafi’i, dan riwayat lain dari Imam Ahmad. Mereka berkata bahwa udhiyah dan akikah adalah kurban dengan alasan yang berbeda, sehingga tidak bisa saling menggantikan, sama seperti dam tamattu’ (denda karena haji tamattu’) dan dam fidyah (denda karena melakukan pelanggaran selama haji atau umrah) yang tidak bisa saling menggantikan. Mereka juga berkata bahwa tujuan udhiyah dan akikah adalah penumpahan darah untuk setiap ibadah tersebut. Karena keduanya melibatkan penumpahan darah, keduanya tidak dapat saling menggantikan. Namun, tampaknya satu kurban sudah cukup untuk akikah dan udhiyah. Pendapat ini diambil oleh Syekh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah. [6]Hukum melaksanakan akikah untuk dua anak atau lebih pada hari yang samaTidak ada larangan untuk melaksanakan akikah bagi saudara kandung yang bukan kembar pada hari yang sama atau pada hari yang berbeda. Namun, lebih baik dan sesuai dengan sunah adalah menyembelih akikah pada hari ketujuh, sesuai dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam. [7]Hukum hewan akikah untuk lebih dari satu anakMazhab Hambali melarang satu hewan akikah untuk lebih dari satu anak. Menurut mereka, seekor sapi atau unta hanya cukup untuk satu anak. Ibnu Muflih rahimahullah berkata, “Pendapat mazhab kami adalah bahwa akikah dengan sistem patungan (untuk lebih dari satu anak, pent.) tidak sah kecuali seekor unta atau sapi utuh.” [8]Ini adalah pendapat yang benar karena tidak ada riwayat tentang bolehnya patungan dalam akikah, berbeda dengan kurban. Selain itu, akikah berfungsi sebagai tebusan bagi bayi yang dilahirkan, sehingga harus ada kesetaraan, yaitu satu jiwa ditebus dengan satu jiwa. Maka, tidak sah dalam akikah kecuali seekor sapi utuh, seekor unta utuh, atau seekor kambing utuh.Apakah akikah lebih utama daripada bersedekah dengan uang seharga akikah? Menyembelih akikah lebih utama daripada bersedekah dengan nilai yang sama. Bahkan, sedekah tidak dapat menggantikan akikah dan tidak dianggap mencukupi darinya, karena tujuan utama akikah adalah mendekatkan diri kepada Allah melalui kurban.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, ”Kurban pada tempat yang disyariatkan lebih utama daripada bersedekah dengan nilainya meskipun lebih banyak, seperti pada hadyu dan kurban udhiyah. Karena penyembelihan dan penumpahan darah itu sendiri merupakan tujuan ibadah. Ia merupakan ibadah yang disandingkan dengan salat, sebagaimana firman Allah,فصل لربك وانحر“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” [QS. Al-Kautsar: 2]; dan juga firman-Nya,قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين“Sesungguhnya salatku, kurbanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” [QS. Al-An’am: 162]Maka, dalam setiap syariat ada salat dan kurban yang tidak dapat digantikan oleh yang lain. Oleh karena itu, seandainya seseorang bersedekah untuk mengganti dam tamattu’ dan qiran dengan berkali-kali lipat nilainya, itu tetap tidak menggantikannya. Demikian pula kurban udhiyah.” [9]Apakah penerima daging akikah diwajibkan untuk mengetahui bahwa daging tersebut diniatkan untuk akikah?Bukan merupakan syarat sahnya akikah untuk memberitahu kepada orang-orang yang memakan daging akikah. Orang-orang yang diundang untuk jamuan akikah tidak diwajibkan untuk mengetahui bahwa daging tersebut berasal dari akikah. Hal ini diperbolehkan dan akikah tersebut sah, meskipun lebih baik jika mereka mengetahui daging tersebut agar mereka dapat berdoa untuk kebaikan bayi yang baru lahir [10].Wallahu Ta’ala a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 3***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan kaki:[1] Fatawa Lajnah Daimah (8: 406).[2] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 43739.[3] Al-Majmu’ (8: 432).[4] Al-Majmu’ (8: 412).[5] Musannaf Ibn Abi Syaibah (5: 534).[6] Lihat islamqa.info, dalam jawaban atas pertanyaan no. 106630, 82161.[7] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2455) dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani rahimahullah dalam “Shahih Sunan Abi Dawud”.[8] Al-Mubdi’ fi Syarh Al-Muqni’ (3: 277).[9] Tuhfat Al-Mawdud bi-Ahkam Al-Mawlud, hal. 164. Lihat juga islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 34974.[10] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 147029.

Fikih Akikah (Bag. 4): Masalah-Masalah yang Berkaitan dengan Akikah

Daftar Isi ToggleHukum akikah untuk janin yang mengalami keguguranApakah dianjurkan akikah bagi bayi yang meninggal setelah lahir?Bagaimana hukum penggabungan kurban Iduladha dan kurban akikah pada satu hewan?Pendapat pertamaPendapat keduaHukum melaksanakan akikah untuk dua anak atau lebih pada hari yang samaHukum hewan akikah untuk lebih dari satu anakApakah akikah lebih utama daripada bersedekah dengan uang seharga akikah?Apakah penerima daging akikah diwajibkan untuk mengetahui bahwa daging tersebut diniatkan untuk akikah?Hukum akikah untuk janin yang mengalami keguguranJika keguguran terjadi sebelum usia kehamilan 4 bulan, maka akikah tidak perlu dilakukan karena ruh belum ditiupkan ke dalam janin. Namun, jika keguguran terjadi pada usia 4 bulan, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai hal tersebut. Fatwa Lajnah Daimah dan Syekh Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa akikah dianjurkan untuk dilakukan.Para ulama dari Lajnah Daimah ditanya, “Istri saya mengalami keguguran janin berusia empat bulan sebelum meninggal. Ia mengambil janin tersebut dan menguburkannya tanpa melaksanakan salat jenazah. Mohon nasihat, apakah ada hal yang wajib saya lakukan?”Mereka menjawab, “Pendapat yang tepat, janin tersebut seharusnya dimandikan, dikafani, dan disalati karena sudah mencapai usia kehamilan 4 bulan. Hal ini berdasarkan makna umum dari apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, السقط يصلى عليه“Kandungan yang gugur diwajibkan (untuk dilaksanakan) salat jenazah.”Namun, untuk kewajiban yang sudah terlewatkan, kalian tidak memiliki kewajiban. [1]Oleh karena itu, akikah dianjurkan karena keumuman dalil-dalil yang mendukungnya. Jika tidak pantas mengundang orang untuk makan akikah karena kematian, cukuplah memberikan sebagian sebagai sedekah, memakannya, dan sebagian lainnya sebagai hadiah. [2]Apakah dianjurkan akikah bagi bayi yang meninggal setelah lahir?An-Nawawi rahimahullah berkata, “Jika bayi yang baru lahir meninggal sebelum hari ketujuh, akikah dianjurkan menurut mazhab kami. Namun, Al-Hasan Al-Basri dan Malik mengatakan, ‘Tidak dianjurkan.’” [3]Beliau juga mengatakan, “Jika bayi baru lahir meninggal setelah hari ketujuh dan setelah waktu penyembelihan akikah, terdapat dua pendapat; dan pendapat yang lebih sahih yaitu dianjurkan untuk melaksanakan akikah untuknya.” [4]Bagaimana hukum penggabungan kurban Iduladha dan kurban akikah pada satu hewan?Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini:Pendapat pertamaKurban Iduladha sudah cukup untuk akikah. Ini adalah pandangan Al-Hasan Al-Basri, Muhammad Ibnu Sirin, dan Qatadah, serta merupakan pendapat mazhab Hanafi. Ini juga merupakan salah satu dari dua riwayat Imam Ahmad. [5] Mereka menyamakan masalah ini dengan masalah menggabungkan salat Jumat dan salat Id, di mana yang melaksanakan salah satunya sudah cukup. Keduanya memiliki rakaat, khotbah, dan bacaan yang sama, sehingga perbuatan tersebut dianggap satu; begitu pula kurban dan akikah dianggap satu.Pendapat keduaUdhiyah tidak dapat digabungkan dengan akikah. Ini adalah pendapat mazhab Maliki, mazhab Syafi’i, dan riwayat lain dari Imam Ahmad. Mereka berkata bahwa udhiyah dan akikah adalah kurban dengan alasan yang berbeda, sehingga tidak bisa saling menggantikan, sama seperti dam tamattu’ (denda karena haji tamattu’) dan dam fidyah (denda karena melakukan pelanggaran selama haji atau umrah) yang tidak bisa saling menggantikan. Mereka juga berkata bahwa tujuan udhiyah dan akikah adalah penumpahan darah untuk setiap ibadah tersebut. Karena keduanya melibatkan penumpahan darah, keduanya tidak dapat saling menggantikan. Namun, tampaknya satu kurban sudah cukup untuk akikah dan udhiyah. Pendapat ini diambil oleh Syekh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah. [6]Hukum melaksanakan akikah untuk dua anak atau lebih pada hari yang samaTidak ada larangan untuk melaksanakan akikah bagi saudara kandung yang bukan kembar pada hari yang sama atau pada hari yang berbeda. Namun, lebih baik dan sesuai dengan sunah adalah menyembelih akikah pada hari ketujuh, sesuai dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam. [7]Hukum hewan akikah untuk lebih dari satu anakMazhab Hambali melarang satu hewan akikah untuk lebih dari satu anak. Menurut mereka, seekor sapi atau unta hanya cukup untuk satu anak. Ibnu Muflih rahimahullah berkata, “Pendapat mazhab kami adalah bahwa akikah dengan sistem patungan (untuk lebih dari satu anak, pent.) tidak sah kecuali seekor unta atau sapi utuh.” [8]Ini adalah pendapat yang benar karena tidak ada riwayat tentang bolehnya patungan dalam akikah, berbeda dengan kurban. Selain itu, akikah berfungsi sebagai tebusan bagi bayi yang dilahirkan, sehingga harus ada kesetaraan, yaitu satu jiwa ditebus dengan satu jiwa. Maka, tidak sah dalam akikah kecuali seekor sapi utuh, seekor unta utuh, atau seekor kambing utuh.Apakah akikah lebih utama daripada bersedekah dengan uang seharga akikah? Menyembelih akikah lebih utama daripada bersedekah dengan nilai yang sama. Bahkan, sedekah tidak dapat menggantikan akikah dan tidak dianggap mencukupi darinya, karena tujuan utama akikah adalah mendekatkan diri kepada Allah melalui kurban.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, ”Kurban pada tempat yang disyariatkan lebih utama daripada bersedekah dengan nilainya meskipun lebih banyak, seperti pada hadyu dan kurban udhiyah. Karena penyembelihan dan penumpahan darah itu sendiri merupakan tujuan ibadah. Ia merupakan ibadah yang disandingkan dengan salat, sebagaimana firman Allah,فصل لربك وانحر“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” [QS. Al-Kautsar: 2]; dan juga firman-Nya,قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين“Sesungguhnya salatku, kurbanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” [QS. Al-An’am: 162]Maka, dalam setiap syariat ada salat dan kurban yang tidak dapat digantikan oleh yang lain. Oleh karena itu, seandainya seseorang bersedekah untuk mengganti dam tamattu’ dan qiran dengan berkali-kali lipat nilainya, itu tetap tidak menggantikannya. Demikian pula kurban udhiyah.” [9]Apakah penerima daging akikah diwajibkan untuk mengetahui bahwa daging tersebut diniatkan untuk akikah?Bukan merupakan syarat sahnya akikah untuk memberitahu kepada orang-orang yang memakan daging akikah. Orang-orang yang diundang untuk jamuan akikah tidak diwajibkan untuk mengetahui bahwa daging tersebut berasal dari akikah. Hal ini diperbolehkan dan akikah tersebut sah, meskipun lebih baik jika mereka mengetahui daging tersebut agar mereka dapat berdoa untuk kebaikan bayi yang baru lahir [10].Wallahu Ta’ala a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 3***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan kaki:[1] Fatawa Lajnah Daimah (8: 406).[2] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 43739.[3] Al-Majmu’ (8: 432).[4] Al-Majmu’ (8: 412).[5] Musannaf Ibn Abi Syaibah (5: 534).[6] Lihat islamqa.info, dalam jawaban atas pertanyaan no. 106630, 82161.[7] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2455) dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani rahimahullah dalam “Shahih Sunan Abi Dawud”.[8] Al-Mubdi’ fi Syarh Al-Muqni’ (3: 277).[9] Tuhfat Al-Mawdud bi-Ahkam Al-Mawlud, hal. 164. Lihat juga islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 34974.[10] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 147029.
Daftar Isi ToggleHukum akikah untuk janin yang mengalami keguguranApakah dianjurkan akikah bagi bayi yang meninggal setelah lahir?Bagaimana hukum penggabungan kurban Iduladha dan kurban akikah pada satu hewan?Pendapat pertamaPendapat keduaHukum melaksanakan akikah untuk dua anak atau lebih pada hari yang samaHukum hewan akikah untuk lebih dari satu anakApakah akikah lebih utama daripada bersedekah dengan uang seharga akikah?Apakah penerima daging akikah diwajibkan untuk mengetahui bahwa daging tersebut diniatkan untuk akikah?Hukum akikah untuk janin yang mengalami keguguranJika keguguran terjadi sebelum usia kehamilan 4 bulan, maka akikah tidak perlu dilakukan karena ruh belum ditiupkan ke dalam janin. Namun, jika keguguran terjadi pada usia 4 bulan, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai hal tersebut. Fatwa Lajnah Daimah dan Syekh Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa akikah dianjurkan untuk dilakukan.Para ulama dari Lajnah Daimah ditanya, “Istri saya mengalami keguguran janin berusia empat bulan sebelum meninggal. Ia mengambil janin tersebut dan menguburkannya tanpa melaksanakan salat jenazah. Mohon nasihat, apakah ada hal yang wajib saya lakukan?”Mereka menjawab, “Pendapat yang tepat, janin tersebut seharusnya dimandikan, dikafani, dan disalati karena sudah mencapai usia kehamilan 4 bulan. Hal ini berdasarkan makna umum dari apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, السقط يصلى عليه“Kandungan yang gugur diwajibkan (untuk dilaksanakan) salat jenazah.”Namun, untuk kewajiban yang sudah terlewatkan, kalian tidak memiliki kewajiban. [1]Oleh karena itu, akikah dianjurkan karena keumuman dalil-dalil yang mendukungnya. Jika tidak pantas mengundang orang untuk makan akikah karena kematian, cukuplah memberikan sebagian sebagai sedekah, memakannya, dan sebagian lainnya sebagai hadiah. [2]Apakah dianjurkan akikah bagi bayi yang meninggal setelah lahir?An-Nawawi rahimahullah berkata, “Jika bayi yang baru lahir meninggal sebelum hari ketujuh, akikah dianjurkan menurut mazhab kami. Namun, Al-Hasan Al-Basri dan Malik mengatakan, ‘Tidak dianjurkan.’” [3]Beliau juga mengatakan, “Jika bayi baru lahir meninggal setelah hari ketujuh dan setelah waktu penyembelihan akikah, terdapat dua pendapat; dan pendapat yang lebih sahih yaitu dianjurkan untuk melaksanakan akikah untuknya.” [4]Bagaimana hukum penggabungan kurban Iduladha dan kurban akikah pada satu hewan?Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini:Pendapat pertamaKurban Iduladha sudah cukup untuk akikah. Ini adalah pandangan Al-Hasan Al-Basri, Muhammad Ibnu Sirin, dan Qatadah, serta merupakan pendapat mazhab Hanafi. Ini juga merupakan salah satu dari dua riwayat Imam Ahmad. [5] Mereka menyamakan masalah ini dengan masalah menggabungkan salat Jumat dan salat Id, di mana yang melaksanakan salah satunya sudah cukup. Keduanya memiliki rakaat, khotbah, dan bacaan yang sama, sehingga perbuatan tersebut dianggap satu; begitu pula kurban dan akikah dianggap satu.Pendapat keduaUdhiyah tidak dapat digabungkan dengan akikah. Ini adalah pendapat mazhab Maliki, mazhab Syafi’i, dan riwayat lain dari Imam Ahmad. Mereka berkata bahwa udhiyah dan akikah adalah kurban dengan alasan yang berbeda, sehingga tidak bisa saling menggantikan, sama seperti dam tamattu’ (denda karena haji tamattu’) dan dam fidyah (denda karena melakukan pelanggaran selama haji atau umrah) yang tidak bisa saling menggantikan. Mereka juga berkata bahwa tujuan udhiyah dan akikah adalah penumpahan darah untuk setiap ibadah tersebut. Karena keduanya melibatkan penumpahan darah, keduanya tidak dapat saling menggantikan. Namun, tampaknya satu kurban sudah cukup untuk akikah dan udhiyah. Pendapat ini diambil oleh Syekh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah. [6]Hukum melaksanakan akikah untuk dua anak atau lebih pada hari yang samaTidak ada larangan untuk melaksanakan akikah bagi saudara kandung yang bukan kembar pada hari yang sama atau pada hari yang berbeda. Namun, lebih baik dan sesuai dengan sunah adalah menyembelih akikah pada hari ketujuh, sesuai dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam. [7]Hukum hewan akikah untuk lebih dari satu anakMazhab Hambali melarang satu hewan akikah untuk lebih dari satu anak. Menurut mereka, seekor sapi atau unta hanya cukup untuk satu anak. Ibnu Muflih rahimahullah berkata, “Pendapat mazhab kami adalah bahwa akikah dengan sistem patungan (untuk lebih dari satu anak, pent.) tidak sah kecuali seekor unta atau sapi utuh.” [8]Ini adalah pendapat yang benar karena tidak ada riwayat tentang bolehnya patungan dalam akikah, berbeda dengan kurban. Selain itu, akikah berfungsi sebagai tebusan bagi bayi yang dilahirkan, sehingga harus ada kesetaraan, yaitu satu jiwa ditebus dengan satu jiwa. Maka, tidak sah dalam akikah kecuali seekor sapi utuh, seekor unta utuh, atau seekor kambing utuh.Apakah akikah lebih utama daripada bersedekah dengan uang seharga akikah? Menyembelih akikah lebih utama daripada bersedekah dengan nilai yang sama. Bahkan, sedekah tidak dapat menggantikan akikah dan tidak dianggap mencukupi darinya, karena tujuan utama akikah adalah mendekatkan diri kepada Allah melalui kurban.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, ”Kurban pada tempat yang disyariatkan lebih utama daripada bersedekah dengan nilainya meskipun lebih banyak, seperti pada hadyu dan kurban udhiyah. Karena penyembelihan dan penumpahan darah itu sendiri merupakan tujuan ibadah. Ia merupakan ibadah yang disandingkan dengan salat, sebagaimana firman Allah,فصل لربك وانحر“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” [QS. Al-Kautsar: 2]; dan juga firman-Nya,قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين“Sesungguhnya salatku, kurbanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” [QS. Al-An’am: 162]Maka, dalam setiap syariat ada salat dan kurban yang tidak dapat digantikan oleh yang lain. Oleh karena itu, seandainya seseorang bersedekah untuk mengganti dam tamattu’ dan qiran dengan berkali-kali lipat nilainya, itu tetap tidak menggantikannya. Demikian pula kurban udhiyah.” [9]Apakah penerima daging akikah diwajibkan untuk mengetahui bahwa daging tersebut diniatkan untuk akikah?Bukan merupakan syarat sahnya akikah untuk memberitahu kepada orang-orang yang memakan daging akikah. Orang-orang yang diundang untuk jamuan akikah tidak diwajibkan untuk mengetahui bahwa daging tersebut berasal dari akikah. Hal ini diperbolehkan dan akikah tersebut sah, meskipun lebih baik jika mereka mengetahui daging tersebut agar mereka dapat berdoa untuk kebaikan bayi yang baru lahir [10].Wallahu Ta’ala a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 3***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan kaki:[1] Fatawa Lajnah Daimah (8: 406).[2] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 43739.[3] Al-Majmu’ (8: 432).[4] Al-Majmu’ (8: 412).[5] Musannaf Ibn Abi Syaibah (5: 534).[6] Lihat islamqa.info, dalam jawaban atas pertanyaan no. 106630, 82161.[7] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2455) dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani rahimahullah dalam “Shahih Sunan Abi Dawud”.[8] Al-Mubdi’ fi Syarh Al-Muqni’ (3: 277).[9] Tuhfat Al-Mawdud bi-Ahkam Al-Mawlud, hal. 164. Lihat juga islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 34974.[10] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 147029.


Daftar Isi ToggleHukum akikah untuk janin yang mengalami keguguranApakah dianjurkan akikah bagi bayi yang meninggal setelah lahir?Bagaimana hukum penggabungan kurban Iduladha dan kurban akikah pada satu hewan?Pendapat pertamaPendapat keduaHukum melaksanakan akikah untuk dua anak atau lebih pada hari yang samaHukum hewan akikah untuk lebih dari satu anakApakah akikah lebih utama daripada bersedekah dengan uang seharga akikah?Apakah penerima daging akikah diwajibkan untuk mengetahui bahwa daging tersebut diniatkan untuk akikah?Hukum akikah untuk janin yang mengalami keguguranJika keguguran terjadi sebelum usia kehamilan 4 bulan, maka akikah tidak perlu dilakukan karena ruh belum ditiupkan ke dalam janin. Namun, jika keguguran terjadi pada usia 4 bulan, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai hal tersebut. Fatwa Lajnah Daimah dan Syekh Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa akikah dianjurkan untuk dilakukan.Para ulama dari Lajnah Daimah ditanya, “Istri saya mengalami keguguran janin berusia empat bulan sebelum meninggal. Ia mengambil janin tersebut dan menguburkannya tanpa melaksanakan salat jenazah. Mohon nasihat, apakah ada hal yang wajib saya lakukan?”Mereka menjawab, “Pendapat yang tepat, janin tersebut seharusnya dimandikan, dikafani, dan disalati karena sudah mencapai usia kehamilan 4 bulan. Hal ini berdasarkan makna umum dari apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, السقط يصلى عليه“Kandungan yang gugur diwajibkan (untuk dilaksanakan) salat jenazah.”Namun, untuk kewajiban yang sudah terlewatkan, kalian tidak memiliki kewajiban. [1]Oleh karena itu, akikah dianjurkan karena keumuman dalil-dalil yang mendukungnya. Jika tidak pantas mengundang orang untuk makan akikah karena kematian, cukuplah memberikan sebagian sebagai sedekah, memakannya, dan sebagian lainnya sebagai hadiah. [2]Apakah dianjurkan akikah bagi bayi yang meninggal setelah lahir?An-Nawawi rahimahullah berkata, “Jika bayi yang baru lahir meninggal sebelum hari ketujuh, akikah dianjurkan menurut mazhab kami. Namun, Al-Hasan Al-Basri dan Malik mengatakan, ‘Tidak dianjurkan.’” [3]Beliau juga mengatakan, “Jika bayi baru lahir meninggal setelah hari ketujuh dan setelah waktu penyembelihan akikah, terdapat dua pendapat; dan pendapat yang lebih sahih yaitu dianjurkan untuk melaksanakan akikah untuknya.” [4]Bagaimana hukum penggabungan kurban Iduladha dan kurban akikah pada satu hewan?Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini:Pendapat pertamaKurban Iduladha sudah cukup untuk akikah. Ini adalah pandangan Al-Hasan Al-Basri, Muhammad Ibnu Sirin, dan Qatadah, serta merupakan pendapat mazhab Hanafi. Ini juga merupakan salah satu dari dua riwayat Imam Ahmad. [5] Mereka menyamakan masalah ini dengan masalah menggabungkan salat Jumat dan salat Id, di mana yang melaksanakan salah satunya sudah cukup. Keduanya memiliki rakaat, khotbah, dan bacaan yang sama, sehingga perbuatan tersebut dianggap satu; begitu pula kurban dan akikah dianggap satu.Pendapat keduaUdhiyah tidak dapat digabungkan dengan akikah. Ini adalah pendapat mazhab Maliki, mazhab Syafi’i, dan riwayat lain dari Imam Ahmad. Mereka berkata bahwa udhiyah dan akikah adalah kurban dengan alasan yang berbeda, sehingga tidak bisa saling menggantikan, sama seperti dam tamattu’ (denda karena haji tamattu’) dan dam fidyah (denda karena melakukan pelanggaran selama haji atau umrah) yang tidak bisa saling menggantikan. Mereka juga berkata bahwa tujuan udhiyah dan akikah adalah penumpahan darah untuk setiap ibadah tersebut. Karena keduanya melibatkan penumpahan darah, keduanya tidak dapat saling menggantikan. Namun, tampaknya satu kurban sudah cukup untuk akikah dan udhiyah. Pendapat ini diambil oleh Syekh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah. [6]Hukum melaksanakan akikah untuk dua anak atau lebih pada hari yang samaTidak ada larangan untuk melaksanakan akikah bagi saudara kandung yang bukan kembar pada hari yang sama atau pada hari yang berbeda. Namun, lebih baik dan sesuai dengan sunah adalah menyembelih akikah pada hari ketujuh, sesuai dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam. [7]Hukum hewan akikah untuk lebih dari satu anakMazhab Hambali melarang satu hewan akikah untuk lebih dari satu anak. Menurut mereka, seekor sapi atau unta hanya cukup untuk satu anak. Ibnu Muflih rahimahullah berkata, “Pendapat mazhab kami adalah bahwa akikah dengan sistem patungan (untuk lebih dari satu anak, pent.) tidak sah kecuali seekor unta atau sapi utuh.” [8]Ini adalah pendapat yang benar karena tidak ada riwayat tentang bolehnya patungan dalam akikah, berbeda dengan kurban. Selain itu, akikah berfungsi sebagai tebusan bagi bayi yang dilahirkan, sehingga harus ada kesetaraan, yaitu satu jiwa ditebus dengan satu jiwa. Maka, tidak sah dalam akikah kecuali seekor sapi utuh, seekor unta utuh, atau seekor kambing utuh.Apakah akikah lebih utama daripada bersedekah dengan uang seharga akikah? Menyembelih akikah lebih utama daripada bersedekah dengan nilai yang sama. Bahkan, sedekah tidak dapat menggantikan akikah dan tidak dianggap mencukupi darinya, karena tujuan utama akikah adalah mendekatkan diri kepada Allah melalui kurban.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, ”Kurban pada tempat yang disyariatkan lebih utama daripada bersedekah dengan nilainya meskipun lebih banyak, seperti pada hadyu dan kurban udhiyah. Karena penyembelihan dan penumpahan darah itu sendiri merupakan tujuan ibadah. Ia merupakan ibadah yang disandingkan dengan salat, sebagaimana firman Allah,فصل لربك وانحر“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” [QS. Al-Kautsar: 2]; dan juga firman-Nya,قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين“Sesungguhnya salatku, kurbanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” [QS. Al-An’am: 162]Maka, dalam setiap syariat ada salat dan kurban yang tidak dapat digantikan oleh yang lain. Oleh karena itu, seandainya seseorang bersedekah untuk mengganti dam tamattu’ dan qiran dengan berkali-kali lipat nilainya, itu tetap tidak menggantikannya. Demikian pula kurban udhiyah.” [9]Apakah penerima daging akikah diwajibkan untuk mengetahui bahwa daging tersebut diniatkan untuk akikah?Bukan merupakan syarat sahnya akikah untuk memberitahu kepada orang-orang yang memakan daging akikah. Orang-orang yang diundang untuk jamuan akikah tidak diwajibkan untuk mengetahui bahwa daging tersebut berasal dari akikah. Hal ini diperbolehkan dan akikah tersebut sah, meskipun lebih baik jika mereka mengetahui daging tersebut agar mereka dapat berdoa untuk kebaikan bayi yang baru lahir [10].Wallahu Ta’ala a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 3***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan kaki:[1] Fatawa Lajnah Daimah (8: 406).[2] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 43739.[3] Al-Majmu’ (8: 432).[4] Al-Majmu’ (8: 412).[5] Musannaf Ibn Abi Syaibah (5: 534).[6] Lihat islamqa.info, dalam jawaban atas pertanyaan no. 106630, 82161.[7] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2455) dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani rahimahullah dalam “Shahih Sunan Abi Dawud”.[8] Al-Mubdi’ fi Syarh Al-Muqni’ (3: 277).[9] Tuhfat Al-Mawdud bi-Ahkam Al-Mawlud, hal. 164. Lihat juga islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 34974.[10] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 147029.

Shalat Istisqa’: Adab Meminta Hujan kepada Allah

Saat hujan tak kunjung turun, manusia sering sibuk membicarakan cuaca, tetapi lupa memperbaiki dosa. Islam mengajarkan bahwa meminta hujan bukan hanya dengan menengadahkan tangan, tetapi juga dengan taubat, sedekah, istigfar, dan meninggalkan kezaliman. Shalat istisqa’ mengajarkan bahwa rahmat dari langit turun kepada hamba yang merendah di hadapan Allah. Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata,فَصْلٌ وَصَلَاةُ الِاسْتِسْقَاءِ مَسْنُونَةٌ، فَيَأْمُرُهُمُ الْإِمَامُ بِالتَّوْبَةِ، وَالصَّدَقَةِ، وَالْخُرُوجِ مِنَ الْمَظَالِمِ، وَمُصَالَحَةِ الْأَعْدَاءِ، وَصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، ثُمَّ يَخْرُجُ بِهِمْ فِي الْيَوْمِ الرَّابِعِ فِي ثِيَابِ بِذْلَةٍ، وَاسْتِكَانَةٍ، وَتَضَرُّعٍ، وَيُصَلِّي بِهِمْ رَكْعَتَيْنِ كَصَلَاةِ الْعِيدَيْنِ، ثُمَّ يَخْطُبُ بَعْدَهُمَا، وَيُحَوِّلُ رِدَاءَهُ، وَيُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ وَالِاسْتِغْفَارِ، وَيَدْعُو بِدُعَاءِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا سُقْيَا رَحْمَةٍ، وَلَا تَجْعَلْهَا سُقْيَا عَذَابٍ، وَلَا مَحْقٍ، وَلَا بَلَاءٍ، وَلَا هَدْمٍ، وَلَا غَرَقٍ. اللَّهُمَّ عَلَى الظِّرَابِ، وَالْآكَامِ، وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ، وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ. اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا. اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا، هَنِيئًا مَرِيئًا، مَرِيعًا، سَحًّا، عَامًّا، غَدَقًا، طَبَقًا، مُجَلِّلًا، دَائِمًا إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ. اللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلَادِ مِنَ الْجَهْدِ، وَالْجُوعِ، وَالضَّنْكِ، مَا لَا نَشْكُو إِلَّا إِلَيْكَ. اللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ، وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ، وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ، وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا لَا يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ، إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا، فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا. وَيَغْتَسِلُ فِي الْوَادِي إِذَا سَالَ، وَيُسَبِّحُ لِلرَّعْدِ وَالْبَرْقِ.Pasal: Shalat istisqa’ (minta hujan) hukumnya sunnah. Imam memerintahkan kaum muslimin untuk bertobat, bersedekah, keluar dari berbagai kezaliman, berdamai dengan pihak-pihak yang bermusuhan, dan berpuasa selama tiga hari. Setelah itu, imam keluar bersama mereka pada hari keempat dengan pakaian sederhana, dalam keadaan merendahkan diri dan penuh ketundukan kepada Allah.Imam lalu mengerjakan shalat bersama mereka dua rakaat seperti shalat Id. Setelah itu, imam berkhutbah setelah dua rakaat tersebut, membalik selendangnya, memperbanyak doa dan istigfar, serta berdoa dengan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:“Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai hujan rahmat. Jangan Engkau jadikan ia sebagai hujan azab, kehancuran, bencana, kerusakan bangunan, dan banjir yang menenggelamkan.Ya Allah, turunkanlah hujan di atas bukit-bukit kecil, dataran-dataran tinggi, tempat tumbuhnya pepohonan, dan lembah-lembah.Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan hujan yang membahayakan kami.Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, bermanfaat, menyenangkan, membawa kebaikan, menyuburkan, deras, merata, melimpah, menutupi seluruh wilayah, menyelimuti, dan terus-menerus hingga hari kiamat.Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan, dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.Ya Allah, sesungguhnya para hamba dan negeri-negeri ini sedang mengalami kesulitan, kelaparan, dan kesempitan hidup yang tidak kami adukan kecuali kepada-Mu.Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman untuk kami. Lancarkanlah air susu hewan ternak kami. Turunkanlah kepada kami keberkahan dari langit. Tumbuhkanlah untuk kami keberkahan dari bumi. Singkapkanlah dari kami bencana yang tidak dapat disingkapkan oleh siapa pun selain Engkau.Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun. Maka turunkanlah hujan dari langit kepada kami dengan lebat.”Disunnahkan mandi di lembah apabila airnya telah mengalir, dan bertasbih ketika ada guruh dan kilat.PenjelasanPasal tentang hukum-hukum shalat istisqa’, yaitu memohon hujan kepada Allah Ta’ala.Shalat istisqa’ itu disunnahkan bagi orang yang mukim maupun musafir ketika ada kebutuhan, seperti terputusnya hujan, keringnya mata air, dan semisalnya. Shalat istisqa’ boleh diulang untuk kedua kalinya, bahkan lebih dari itu, jika mereka belum diberi hujan, sampai Allah menurunkan hujan kepada mereka.Imam atau yang semisalnya memerintahkan mereka untuk bertobat. Mereka wajib menaati perintah imam tersebut, sebagaimana difatwakan oleh Imam An-Nawawi. Bertobat dari dosa itu wajib, baik imam memerintahkannya maupun tidak.Imam juga memerintahkan mereka untuk bersedekah, keluar dari berbagai kezaliman terhadap sesama hamba, berdamai dengan pihak-pihak yang bermusuhan, dan berpuasa selama tiga hari sebelum waktu keluar untuk shalat istisqa’. Dengan begitu, hari keluarnya mereka adalah hari keempat.Kemudian imam keluar bersama mereka pada hari keempat dalam keadaan berpuasa, tanpa memakai wewangian dan tanpa berhias. Mereka keluar dengan mengenakan tsiyab bidzlah, yaitu pakaian sederhana yang biasa dipakai untuk bekerja. Mereka keluar dalam keadaan istikanah, maksudnya khusyuk, dan tadharru’, maksudnya tunduk dan merendahkan diri. Anak-anak, orang-orang tua, para wanita lansia, dan hewan-hewan ternak juga ikut dibawa keluar bersama mereka.Imam atau wakilnya mengerjakan shalat bersama mereka dua rakaat seperti shalat Id, dalam tata caranya, yaitu dimulai dengan pembukaan shalat, membaca ta‘awudz, bertakbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali pada rakaat kedua, sambil mengangkat kedua tangan.Kemudian imam disunnahkan berkhutbah dua khutbah seperti dua khutbah Id dalam rukun-rukun dan selainnya. Namun, dalam dua khutbah istisqa’, imam membaca istigfar kepada Allah Ta’ala sebagai ganti takbir yang dibaca pada awal dua khutbah Id. Ia membuka khutbah pertama dengan istigfar sebanyak sembilan kali, dan khutbah kedua sebanyak tujuh kali. Lafal istigfarnya adalah:أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِASTAGHFIRULLAAHAL ‘AZHIIMALLADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIH.“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung, yang tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya. Aku bertobat kepada-Nya.”Dua khutbah tersebut dilakukan setelah dua rakaat shalat.Khatib membalik selendangnya, yaitu menjadikan bagian kanannya berada di kiri dan bagian atasnya berada di bawah. Jamaah juga membalik selendang mereka sebagaimana khatib membalik selendangnya.Khatib memperbanyak doa, baik dengan suara pelan maupun keras. Ketika khatib berdoa pelan, jamaah juga berdoa pelan. Ketika khatib mengeraskan doa, jamaah mengaminkan doanya.Khatib juga memperbanyak istigfar dan membaca firman Allah Ta’ala:اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.” (QS. Nuh: 10–11)Dalam sebagian naskah matan terdapat tambahan, yaitu:“Imam berdoa dengan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:‘Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai hujan rahmat. Jangan Engkau jadikan ia sebagai hujan azab, kehancuran, bencana, kerusakan bangunan, dan banjir yang menenggelamkan.Ya Allah, turunkanlah hujan di atas bukit-bukit kecil, dataran-dataran tinggi, tempat tumbuhnya pepohonan, dan lembah-lembah.Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan hujan yang membahayakan kami.Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, bermanfaat, membawa kebaikan, menyuburkan, deras, merata, melimpah, menutupi seluruh wilayah, menyelimuti, dan terus-menerus hingga hari kiamat.Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan, dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.Ya Allah, sesungguhnya para hamba dan negeri-negeri ini sedang mengalami kesulitan, kelaparan, dan kesempitan hidup yang tidak kami adukan kecuali kepada-Mu.Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman untuk kami. Lancarkanlah air susu hewan ternak kami. Turunkanlah kepada kami keberkahan dari langit. Tumbuhkanlah untuk kami keberkahan dari bumi. Singkapkanlah dari kami bencana yang tidak dapat disingkapkan oleh siapa pun selain Engkau.Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun. Maka turunkanlah hujan dari langit kepada kami dengan lebat.’Disunnahkan mandi di lembah apabila airnya telah mengalir, dan bertasbih ketika ada guruh dan kilat.”Selesailah tambahan tersebut. Karena tambahan ini panjang, maka ia tidak sesuai dengan keadaan matan yang bersifat ringkas. Wallahu a‘lam. Referensi:Al-Ghazzī, M. ibn Q. ibn M. (2005). Fatḥ al-qarīb al-mujīb fī sharḥ alfāẓ al-taqrīb: Al-qawl al-mukhtār fī sharḥ Ghāyat al-ikhtiṣār (B. ʿA. al-Jābī, Ed.; 1st ed.). Al-Jaffān wa al-Jābī; Dār Ibn Ḥazm.Al-Aṣfahānī, A. ibn al-Ḥ. ibn A. Abū Shujāʿ. (n.d.). Matn Abī Shujāʿ al-musammā al-Ghāyah wa al-Taqrīb. ʿĀlam al-Kutub.—– Kamis, 22 Muharram 1448 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshujan matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat minta hujan shalat istisqa shalat minta hujan

Shalat Istisqa’: Adab Meminta Hujan kepada Allah

Saat hujan tak kunjung turun, manusia sering sibuk membicarakan cuaca, tetapi lupa memperbaiki dosa. Islam mengajarkan bahwa meminta hujan bukan hanya dengan menengadahkan tangan, tetapi juga dengan taubat, sedekah, istigfar, dan meninggalkan kezaliman. Shalat istisqa’ mengajarkan bahwa rahmat dari langit turun kepada hamba yang merendah di hadapan Allah. Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata,فَصْلٌ وَصَلَاةُ الِاسْتِسْقَاءِ مَسْنُونَةٌ، فَيَأْمُرُهُمُ الْإِمَامُ بِالتَّوْبَةِ، وَالصَّدَقَةِ، وَالْخُرُوجِ مِنَ الْمَظَالِمِ، وَمُصَالَحَةِ الْأَعْدَاءِ، وَصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، ثُمَّ يَخْرُجُ بِهِمْ فِي الْيَوْمِ الرَّابِعِ فِي ثِيَابِ بِذْلَةٍ، وَاسْتِكَانَةٍ، وَتَضَرُّعٍ، وَيُصَلِّي بِهِمْ رَكْعَتَيْنِ كَصَلَاةِ الْعِيدَيْنِ، ثُمَّ يَخْطُبُ بَعْدَهُمَا، وَيُحَوِّلُ رِدَاءَهُ، وَيُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ وَالِاسْتِغْفَارِ، وَيَدْعُو بِدُعَاءِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا سُقْيَا رَحْمَةٍ، وَلَا تَجْعَلْهَا سُقْيَا عَذَابٍ، وَلَا مَحْقٍ، وَلَا بَلَاءٍ، وَلَا هَدْمٍ، وَلَا غَرَقٍ. اللَّهُمَّ عَلَى الظِّرَابِ، وَالْآكَامِ، وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ، وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ. اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا. اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا، هَنِيئًا مَرِيئًا، مَرِيعًا، سَحًّا، عَامًّا، غَدَقًا، طَبَقًا، مُجَلِّلًا، دَائِمًا إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ. اللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلَادِ مِنَ الْجَهْدِ، وَالْجُوعِ، وَالضَّنْكِ، مَا لَا نَشْكُو إِلَّا إِلَيْكَ. اللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ، وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ، وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ، وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا لَا يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ، إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا، فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا. وَيَغْتَسِلُ فِي الْوَادِي إِذَا سَالَ، وَيُسَبِّحُ لِلرَّعْدِ وَالْبَرْقِ.Pasal: Shalat istisqa’ (minta hujan) hukumnya sunnah. Imam memerintahkan kaum muslimin untuk bertobat, bersedekah, keluar dari berbagai kezaliman, berdamai dengan pihak-pihak yang bermusuhan, dan berpuasa selama tiga hari. Setelah itu, imam keluar bersama mereka pada hari keempat dengan pakaian sederhana, dalam keadaan merendahkan diri dan penuh ketundukan kepada Allah.Imam lalu mengerjakan shalat bersama mereka dua rakaat seperti shalat Id. Setelah itu, imam berkhutbah setelah dua rakaat tersebut, membalik selendangnya, memperbanyak doa dan istigfar, serta berdoa dengan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:“Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai hujan rahmat. Jangan Engkau jadikan ia sebagai hujan azab, kehancuran, bencana, kerusakan bangunan, dan banjir yang menenggelamkan.Ya Allah, turunkanlah hujan di atas bukit-bukit kecil, dataran-dataran tinggi, tempat tumbuhnya pepohonan, dan lembah-lembah.Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan hujan yang membahayakan kami.Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, bermanfaat, menyenangkan, membawa kebaikan, menyuburkan, deras, merata, melimpah, menutupi seluruh wilayah, menyelimuti, dan terus-menerus hingga hari kiamat.Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan, dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.Ya Allah, sesungguhnya para hamba dan negeri-negeri ini sedang mengalami kesulitan, kelaparan, dan kesempitan hidup yang tidak kami adukan kecuali kepada-Mu.Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman untuk kami. Lancarkanlah air susu hewan ternak kami. Turunkanlah kepada kami keberkahan dari langit. Tumbuhkanlah untuk kami keberkahan dari bumi. Singkapkanlah dari kami bencana yang tidak dapat disingkapkan oleh siapa pun selain Engkau.Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun. Maka turunkanlah hujan dari langit kepada kami dengan lebat.”Disunnahkan mandi di lembah apabila airnya telah mengalir, dan bertasbih ketika ada guruh dan kilat.PenjelasanPasal tentang hukum-hukum shalat istisqa’, yaitu memohon hujan kepada Allah Ta’ala.Shalat istisqa’ itu disunnahkan bagi orang yang mukim maupun musafir ketika ada kebutuhan, seperti terputusnya hujan, keringnya mata air, dan semisalnya. Shalat istisqa’ boleh diulang untuk kedua kalinya, bahkan lebih dari itu, jika mereka belum diberi hujan, sampai Allah menurunkan hujan kepada mereka.Imam atau yang semisalnya memerintahkan mereka untuk bertobat. Mereka wajib menaati perintah imam tersebut, sebagaimana difatwakan oleh Imam An-Nawawi. Bertobat dari dosa itu wajib, baik imam memerintahkannya maupun tidak.Imam juga memerintahkan mereka untuk bersedekah, keluar dari berbagai kezaliman terhadap sesama hamba, berdamai dengan pihak-pihak yang bermusuhan, dan berpuasa selama tiga hari sebelum waktu keluar untuk shalat istisqa’. Dengan begitu, hari keluarnya mereka adalah hari keempat.Kemudian imam keluar bersama mereka pada hari keempat dalam keadaan berpuasa, tanpa memakai wewangian dan tanpa berhias. Mereka keluar dengan mengenakan tsiyab bidzlah, yaitu pakaian sederhana yang biasa dipakai untuk bekerja. Mereka keluar dalam keadaan istikanah, maksudnya khusyuk, dan tadharru’, maksudnya tunduk dan merendahkan diri. Anak-anak, orang-orang tua, para wanita lansia, dan hewan-hewan ternak juga ikut dibawa keluar bersama mereka.Imam atau wakilnya mengerjakan shalat bersama mereka dua rakaat seperti shalat Id, dalam tata caranya, yaitu dimulai dengan pembukaan shalat, membaca ta‘awudz, bertakbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali pada rakaat kedua, sambil mengangkat kedua tangan.Kemudian imam disunnahkan berkhutbah dua khutbah seperti dua khutbah Id dalam rukun-rukun dan selainnya. Namun, dalam dua khutbah istisqa’, imam membaca istigfar kepada Allah Ta’ala sebagai ganti takbir yang dibaca pada awal dua khutbah Id. Ia membuka khutbah pertama dengan istigfar sebanyak sembilan kali, dan khutbah kedua sebanyak tujuh kali. Lafal istigfarnya adalah:أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِASTAGHFIRULLAAHAL ‘AZHIIMALLADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIH.“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung, yang tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya. Aku bertobat kepada-Nya.”Dua khutbah tersebut dilakukan setelah dua rakaat shalat.Khatib membalik selendangnya, yaitu menjadikan bagian kanannya berada di kiri dan bagian atasnya berada di bawah. Jamaah juga membalik selendang mereka sebagaimana khatib membalik selendangnya.Khatib memperbanyak doa, baik dengan suara pelan maupun keras. Ketika khatib berdoa pelan, jamaah juga berdoa pelan. Ketika khatib mengeraskan doa, jamaah mengaminkan doanya.Khatib juga memperbanyak istigfar dan membaca firman Allah Ta’ala:اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.” (QS. Nuh: 10–11)Dalam sebagian naskah matan terdapat tambahan, yaitu:“Imam berdoa dengan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:‘Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai hujan rahmat. Jangan Engkau jadikan ia sebagai hujan azab, kehancuran, bencana, kerusakan bangunan, dan banjir yang menenggelamkan.Ya Allah, turunkanlah hujan di atas bukit-bukit kecil, dataran-dataran tinggi, tempat tumbuhnya pepohonan, dan lembah-lembah.Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan hujan yang membahayakan kami.Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, bermanfaat, membawa kebaikan, menyuburkan, deras, merata, melimpah, menutupi seluruh wilayah, menyelimuti, dan terus-menerus hingga hari kiamat.Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan, dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.Ya Allah, sesungguhnya para hamba dan negeri-negeri ini sedang mengalami kesulitan, kelaparan, dan kesempitan hidup yang tidak kami adukan kecuali kepada-Mu.Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman untuk kami. Lancarkanlah air susu hewan ternak kami. Turunkanlah kepada kami keberkahan dari langit. Tumbuhkanlah untuk kami keberkahan dari bumi. Singkapkanlah dari kami bencana yang tidak dapat disingkapkan oleh siapa pun selain Engkau.Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun. Maka turunkanlah hujan dari langit kepada kami dengan lebat.’Disunnahkan mandi di lembah apabila airnya telah mengalir, dan bertasbih ketika ada guruh dan kilat.”Selesailah tambahan tersebut. Karena tambahan ini panjang, maka ia tidak sesuai dengan keadaan matan yang bersifat ringkas. Wallahu a‘lam. Referensi:Al-Ghazzī, M. ibn Q. ibn M. (2005). Fatḥ al-qarīb al-mujīb fī sharḥ alfāẓ al-taqrīb: Al-qawl al-mukhtār fī sharḥ Ghāyat al-ikhtiṣār (B. ʿA. al-Jābī, Ed.; 1st ed.). Al-Jaffān wa al-Jābī; Dār Ibn Ḥazm.Al-Aṣfahānī, A. ibn al-Ḥ. ibn A. Abū Shujāʿ. (n.d.). Matn Abī Shujāʿ al-musammā al-Ghāyah wa al-Taqrīb. ʿĀlam al-Kutub.—– Kamis, 22 Muharram 1448 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshujan matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat minta hujan shalat istisqa shalat minta hujan
Saat hujan tak kunjung turun, manusia sering sibuk membicarakan cuaca, tetapi lupa memperbaiki dosa. Islam mengajarkan bahwa meminta hujan bukan hanya dengan menengadahkan tangan, tetapi juga dengan taubat, sedekah, istigfar, dan meninggalkan kezaliman. Shalat istisqa’ mengajarkan bahwa rahmat dari langit turun kepada hamba yang merendah di hadapan Allah. Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata,فَصْلٌ وَصَلَاةُ الِاسْتِسْقَاءِ مَسْنُونَةٌ، فَيَأْمُرُهُمُ الْإِمَامُ بِالتَّوْبَةِ، وَالصَّدَقَةِ، وَالْخُرُوجِ مِنَ الْمَظَالِمِ، وَمُصَالَحَةِ الْأَعْدَاءِ، وَصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، ثُمَّ يَخْرُجُ بِهِمْ فِي الْيَوْمِ الرَّابِعِ فِي ثِيَابِ بِذْلَةٍ، وَاسْتِكَانَةٍ، وَتَضَرُّعٍ، وَيُصَلِّي بِهِمْ رَكْعَتَيْنِ كَصَلَاةِ الْعِيدَيْنِ، ثُمَّ يَخْطُبُ بَعْدَهُمَا، وَيُحَوِّلُ رِدَاءَهُ، وَيُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ وَالِاسْتِغْفَارِ، وَيَدْعُو بِدُعَاءِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا سُقْيَا رَحْمَةٍ، وَلَا تَجْعَلْهَا سُقْيَا عَذَابٍ، وَلَا مَحْقٍ، وَلَا بَلَاءٍ، وَلَا هَدْمٍ، وَلَا غَرَقٍ. اللَّهُمَّ عَلَى الظِّرَابِ، وَالْآكَامِ، وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ، وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ. اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا. اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا، هَنِيئًا مَرِيئًا، مَرِيعًا، سَحًّا، عَامًّا، غَدَقًا، طَبَقًا، مُجَلِّلًا، دَائِمًا إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ. اللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلَادِ مِنَ الْجَهْدِ، وَالْجُوعِ، وَالضَّنْكِ، مَا لَا نَشْكُو إِلَّا إِلَيْكَ. اللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ، وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ، وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ، وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا لَا يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ، إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا، فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا. وَيَغْتَسِلُ فِي الْوَادِي إِذَا سَالَ، وَيُسَبِّحُ لِلرَّعْدِ وَالْبَرْقِ.Pasal: Shalat istisqa’ (minta hujan) hukumnya sunnah. Imam memerintahkan kaum muslimin untuk bertobat, bersedekah, keluar dari berbagai kezaliman, berdamai dengan pihak-pihak yang bermusuhan, dan berpuasa selama tiga hari. Setelah itu, imam keluar bersama mereka pada hari keempat dengan pakaian sederhana, dalam keadaan merendahkan diri dan penuh ketundukan kepada Allah.Imam lalu mengerjakan shalat bersama mereka dua rakaat seperti shalat Id. Setelah itu, imam berkhutbah setelah dua rakaat tersebut, membalik selendangnya, memperbanyak doa dan istigfar, serta berdoa dengan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:“Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai hujan rahmat. Jangan Engkau jadikan ia sebagai hujan azab, kehancuran, bencana, kerusakan bangunan, dan banjir yang menenggelamkan.Ya Allah, turunkanlah hujan di atas bukit-bukit kecil, dataran-dataran tinggi, tempat tumbuhnya pepohonan, dan lembah-lembah.Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan hujan yang membahayakan kami.Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, bermanfaat, menyenangkan, membawa kebaikan, menyuburkan, deras, merata, melimpah, menutupi seluruh wilayah, menyelimuti, dan terus-menerus hingga hari kiamat.Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan, dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.Ya Allah, sesungguhnya para hamba dan negeri-negeri ini sedang mengalami kesulitan, kelaparan, dan kesempitan hidup yang tidak kami adukan kecuali kepada-Mu.Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman untuk kami. Lancarkanlah air susu hewan ternak kami. Turunkanlah kepada kami keberkahan dari langit. Tumbuhkanlah untuk kami keberkahan dari bumi. Singkapkanlah dari kami bencana yang tidak dapat disingkapkan oleh siapa pun selain Engkau.Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun. Maka turunkanlah hujan dari langit kepada kami dengan lebat.”Disunnahkan mandi di lembah apabila airnya telah mengalir, dan bertasbih ketika ada guruh dan kilat.PenjelasanPasal tentang hukum-hukum shalat istisqa’, yaitu memohon hujan kepada Allah Ta’ala.Shalat istisqa’ itu disunnahkan bagi orang yang mukim maupun musafir ketika ada kebutuhan, seperti terputusnya hujan, keringnya mata air, dan semisalnya. Shalat istisqa’ boleh diulang untuk kedua kalinya, bahkan lebih dari itu, jika mereka belum diberi hujan, sampai Allah menurunkan hujan kepada mereka.Imam atau yang semisalnya memerintahkan mereka untuk bertobat. Mereka wajib menaati perintah imam tersebut, sebagaimana difatwakan oleh Imam An-Nawawi. Bertobat dari dosa itu wajib, baik imam memerintahkannya maupun tidak.Imam juga memerintahkan mereka untuk bersedekah, keluar dari berbagai kezaliman terhadap sesama hamba, berdamai dengan pihak-pihak yang bermusuhan, dan berpuasa selama tiga hari sebelum waktu keluar untuk shalat istisqa’. Dengan begitu, hari keluarnya mereka adalah hari keempat.Kemudian imam keluar bersama mereka pada hari keempat dalam keadaan berpuasa, tanpa memakai wewangian dan tanpa berhias. Mereka keluar dengan mengenakan tsiyab bidzlah, yaitu pakaian sederhana yang biasa dipakai untuk bekerja. Mereka keluar dalam keadaan istikanah, maksudnya khusyuk, dan tadharru’, maksudnya tunduk dan merendahkan diri. Anak-anak, orang-orang tua, para wanita lansia, dan hewan-hewan ternak juga ikut dibawa keluar bersama mereka.Imam atau wakilnya mengerjakan shalat bersama mereka dua rakaat seperti shalat Id, dalam tata caranya, yaitu dimulai dengan pembukaan shalat, membaca ta‘awudz, bertakbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali pada rakaat kedua, sambil mengangkat kedua tangan.Kemudian imam disunnahkan berkhutbah dua khutbah seperti dua khutbah Id dalam rukun-rukun dan selainnya. Namun, dalam dua khutbah istisqa’, imam membaca istigfar kepada Allah Ta’ala sebagai ganti takbir yang dibaca pada awal dua khutbah Id. Ia membuka khutbah pertama dengan istigfar sebanyak sembilan kali, dan khutbah kedua sebanyak tujuh kali. Lafal istigfarnya adalah:أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِASTAGHFIRULLAAHAL ‘AZHIIMALLADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIH.“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung, yang tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya. Aku bertobat kepada-Nya.”Dua khutbah tersebut dilakukan setelah dua rakaat shalat.Khatib membalik selendangnya, yaitu menjadikan bagian kanannya berada di kiri dan bagian atasnya berada di bawah. Jamaah juga membalik selendang mereka sebagaimana khatib membalik selendangnya.Khatib memperbanyak doa, baik dengan suara pelan maupun keras. Ketika khatib berdoa pelan, jamaah juga berdoa pelan. Ketika khatib mengeraskan doa, jamaah mengaminkan doanya.Khatib juga memperbanyak istigfar dan membaca firman Allah Ta’ala:اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.” (QS. Nuh: 10–11)Dalam sebagian naskah matan terdapat tambahan, yaitu:“Imam berdoa dengan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:‘Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai hujan rahmat. Jangan Engkau jadikan ia sebagai hujan azab, kehancuran, bencana, kerusakan bangunan, dan banjir yang menenggelamkan.Ya Allah, turunkanlah hujan di atas bukit-bukit kecil, dataran-dataran tinggi, tempat tumbuhnya pepohonan, dan lembah-lembah.Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan hujan yang membahayakan kami.Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, bermanfaat, membawa kebaikan, menyuburkan, deras, merata, melimpah, menutupi seluruh wilayah, menyelimuti, dan terus-menerus hingga hari kiamat.Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan, dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.Ya Allah, sesungguhnya para hamba dan negeri-negeri ini sedang mengalami kesulitan, kelaparan, dan kesempitan hidup yang tidak kami adukan kecuali kepada-Mu.Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman untuk kami. Lancarkanlah air susu hewan ternak kami. Turunkanlah kepada kami keberkahan dari langit. Tumbuhkanlah untuk kami keberkahan dari bumi. Singkapkanlah dari kami bencana yang tidak dapat disingkapkan oleh siapa pun selain Engkau.Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun. Maka turunkanlah hujan dari langit kepada kami dengan lebat.’Disunnahkan mandi di lembah apabila airnya telah mengalir, dan bertasbih ketika ada guruh dan kilat.”Selesailah tambahan tersebut. Karena tambahan ini panjang, maka ia tidak sesuai dengan keadaan matan yang bersifat ringkas. Wallahu a‘lam. Referensi:Al-Ghazzī, M. ibn Q. ibn M. (2005). Fatḥ al-qarīb al-mujīb fī sharḥ alfāẓ al-taqrīb: Al-qawl al-mukhtār fī sharḥ Ghāyat al-ikhtiṣār (B. ʿA. al-Jābī, Ed.; 1st ed.). Al-Jaffān wa al-Jābī; Dār Ibn Ḥazm.Al-Aṣfahānī, A. ibn al-Ḥ. ibn A. Abū Shujāʿ. (n.d.). Matn Abī Shujāʿ al-musammā al-Ghāyah wa al-Taqrīb. ʿĀlam al-Kutub.—– Kamis, 22 Muharram 1448 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshujan matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat minta hujan shalat istisqa shalat minta hujan


Saat hujan tak kunjung turun, manusia sering sibuk membicarakan cuaca, tetapi lupa memperbaiki dosa. Islam mengajarkan bahwa meminta hujan bukan hanya dengan menengadahkan tangan, tetapi juga dengan taubat, sedekah, istigfar, dan meninggalkan kezaliman. Shalat istisqa’ mengajarkan bahwa rahmat dari langit turun kepada hamba yang merendah di hadapan Allah. Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata,فَصْلٌ وَصَلَاةُ الِاسْتِسْقَاءِ مَسْنُونَةٌ، فَيَأْمُرُهُمُ الْإِمَامُ بِالتَّوْبَةِ، وَالصَّدَقَةِ، وَالْخُرُوجِ مِنَ الْمَظَالِمِ، وَمُصَالَحَةِ الْأَعْدَاءِ، وَصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، ثُمَّ يَخْرُجُ بِهِمْ فِي الْيَوْمِ الرَّابِعِ فِي ثِيَابِ بِذْلَةٍ، وَاسْتِكَانَةٍ، وَتَضَرُّعٍ، وَيُصَلِّي بِهِمْ رَكْعَتَيْنِ كَصَلَاةِ الْعِيدَيْنِ، ثُمَّ يَخْطُبُ بَعْدَهُمَا، وَيُحَوِّلُ رِدَاءَهُ، وَيُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ وَالِاسْتِغْفَارِ، وَيَدْعُو بِدُعَاءِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا سُقْيَا رَحْمَةٍ، وَلَا تَجْعَلْهَا سُقْيَا عَذَابٍ، وَلَا مَحْقٍ، وَلَا بَلَاءٍ، وَلَا هَدْمٍ، وَلَا غَرَقٍ. اللَّهُمَّ عَلَى الظِّرَابِ، وَالْآكَامِ، وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ، وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ. اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا. اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا، هَنِيئًا مَرِيئًا، مَرِيعًا، سَحًّا، عَامًّا، غَدَقًا، طَبَقًا، مُجَلِّلًا، دَائِمًا إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ. اللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلَادِ مِنَ الْجَهْدِ، وَالْجُوعِ، وَالضَّنْكِ، مَا لَا نَشْكُو إِلَّا إِلَيْكَ. اللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ، وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ، وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ، وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا لَا يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ، إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا، فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا. وَيَغْتَسِلُ فِي الْوَادِي إِذَا سَالَ، وَيُسَبِّحُ لِلرَّعْدِ وَالْبَرْقِ.Pasal: Shalat istisqa’ (minta hujan) hukumnya sunnah. Imam memerintahkan kaum muslimin untuk bertobat, bersedekah, keluar dari berbagai kezaliman, berdamai dengan pihak-pihak yang bermusuhan, dan berpuasa selama tiga hari. Setelah itu, imam keluar bersama mereka pada hari keempat dengan pakaian sederhana, dalam keadaan merendahkan diri dan penuh ketundukan kepada Allah.Imam lalu mengerjakan shalat bersama mereka dua rakaat seperti shalat Id. Setelah itu, imam berkhutbah setelah dua rakaat tersebut, membalik selendangnya, memperbanyak doa dan istigfar, serta berdoa dengan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:“Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai hujan rahmat. Jangan Engkau jadikan ia sebagai hujan azab, kehancuran, bencana, kerusakan bangunan, dan banjir yang menenggelamkan.Ya Allah, turunkanlah hujan di atas bukit-bukit kecil, dataran-dataran tinggi, tempat tumbuhnya pepohonan, dan lembah-lembah.Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan hujan yang membahayakan kami.Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, bermanfaat, menyenangkan, membawa kebaikan, menyuburkan, deras, merata, melimpah, menutupi seluruh wilayah, menyelimuti, dan terus-menerus hingga hari kiamat.Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan, dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.Ya Allah, sesungguhnya para hamba dan negeri-negeri ini sedang mengalami kesulitan, kelaparan, dan kesempitan hidup yang tidak kami adukan kecuali kepada-Mu.Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman untuk kami. Lancarkanlah air susu hewan ternak kami. Turunkanlah kepada kami keberkahan dari langit. Tumbuhkanlah untuk kami keberkahan dari bumi. Singkapkanlah dari kami bencana yang tidak dapat disingkapkan oleh siapa pun selain Engkau.Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun. Maka turunkanlah hujan dari langit kepada kami dengan lebat.”Disunnahkan mandi di lembah apabila airnya telah mengalir, dan bertasbih ketika ada guruh dan kilat.PenjelasanPasal tentang hukum-hukum shalat istisqa’, yaitu memohon hujan kepada Allah Ta’ala.Shalat istisqa’ itu disunnahkan bagi orang yang mukim maupun musafir ketika ada kebutuhan, seperti terputusnya hujan, keringnya mata air, dan semisalnya. Shalat istisqa’ boleh diulang untuk kedua kalinya, bahkan lebih dari itu, jika mereka belum diberi hujan, sampai Allah menurunkan hujan kepada mereka.Imam atau yang semisalnya memerintahkan mereka untuk bertobat. Mereka wajib menaati perintah imam tersebut, sebagaimana difatwakan oleh Imam An-Nawawi. Bertobat dari dosa itu wajib, baik imam memerintahkannya maupun tidak.Imam juga memerintahkan mereka untuk bersedekah, keluar dari berbagai kezaliman terhadap sesama hamba, berdamai dengan pihak-pihak yang bermusuhan, dan berpuasa selama tiga hari sebelum waktu keluar untuk shalat istisqa’. Dengan begitu, hari keluarnya mereka adalah hari keempat.Kemudian imam keluar bersama mereka pada hari keempat dalam keadaan berpuasa, tanpa memakai wewangian dan tanpa berhias. Mereka keluar dengan mengenakan tsiyab bidzlah, yaitu pakaian sederhana yang biasa dipakai untuk bekerja. Mereka keluar dalam keadaan istikanah, maksudnya khusyuk, dan tadharru’, maksudnya tunduk dan merendahkan diri. Anak-anak, orang-orang tua, para wanita lansia, dan hewan-hewan ternak juga ikut dibawa keluar bersama mereka.Imam atau wakilnya mengerjakan shalat bersama mereka dua rakaat seperti shalat Id, dalam tata caranya, yaitu dimulai dengan pembukaan shalat, membaca ta‘awudz, bertakbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali pada rakaat kedua, sambil mengangkat kedua tangan.Kemudian imam disunnahkan berkhutbah dua khutbah seperti dua khutbah Id dalam rukun-rukun dan selainnya. Namun, dalam dua khutbah istisqa’, imam membaca istigfar kepada Allah Ta’ala sebagai ganti takbir yang dibaca pada awal dua khutbah Id. Ia membuka khutbah pertama dengan istigfar sebanyak sembilan kali, dan khutbah kedua sebanyak tujuh kali. Lafal istigfarnya adalah:أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِASTAGHFIRULLAAHAL ‘AZHIIMALLADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIH.“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung, yang tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya. Aku bertobat kepada-Nya.”Dua khutbah tersebut dilakukan setelah dua rakaat shalat.Khatib membalik selendangnya, yaitu menjadikan bagian kanannya berada di kiri dan bagian atasnya berada di bawah. Jamaah juga membalik selendang mereka sebagaimana khatib membalik selendangnya.Khatib memperbanyak doa, baik dengan suara pelan maupun keras. Ketika khatib berdoa pelan, jamaah juga berdoa pelan. Ketika khatib mengeraskan doa, jamaah mengaminkan doanya.Khatib juga memperbanyak istigfar dan membaca firman Allah Ta’ala:اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.” (QS. Nuh: 10–11)Dalam sebagian naskah matan terdapat tambahan, yaitu:“Imam berdoa dengan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:‘Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai hujan rahmat. Jangan Engkau jadikan ia sebagai hujan azab, kehancuran, bencana, kerusakan bangunan, dan banjir yang menenggelamkan.Ya Allah, turunkanlah hujan di atas bukit-bukit kecil, dataran-dataran tinggi, tempat tumbuhnya pepohonan, dan lembah-lembah.Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan hujan yang membahayakan kami.Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, bermanfaat, membawa kebaikan, menyuburkan, deras, merata, melimpah, menutupi seluruh wilayah, menyelimuti, dan terus-menerus hingga hari kiamat.Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan, dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.Ya Allah, sesungguhnya para hamba dan negeri-negeri ini sedang mengalami kesulitan, kelaparan, dan kesempitan hidup yang tidak kami adukan kecuali kepada-Mu.Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman untuk kami. Lancarkanlah air susu hewan ternak kami. Turunkanlah kepada kami keberkahan dari langit. Tumbuhkanlah untuk kami keberkahan dari bumi. Singkapkanlah dari kami bencana yang tidak dapat disingkapkan oleh siapa pun selain Engkau.Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun. Maka turunkanlah hujan dari langit kepada kami dengan lebat.’Disunnahkan mandi di lembah apabila airnya telah mengalir, dan bertasbih ketika ada guruh dan kilat.”Selesailah tambahan tersebut. Karena tambahan ini panjang, maka ia tidak sesuai dengan keadaan matan yang bersifat ringkas. Wallahu a‘lam. Referensi:Al-Ghazzī, M. ibn Q. ibn M. (2005). Fatḥ al-qarīb al-mujīb fī sharḥ alfāẓ al-taqrīb: Al-qawl al-mukhtār fī sharḥ Ghāyat al-ikhtiṣār (B. ʿA. al-Jābī, Ed.; 1st ed.). Al-Jaffān wa al-Jābī; Dār Ibn Ḥazm.Al-Aṣfahānī, A. ibn al-Ḥ. ibn A. Abū Shujāʿ. (n.d.). Matn Abī Shujāʿ al-musammā al-Ghāyah wa al-Taqrīb. ʿĀlam al-Kutub.—– Kamis, 22 Muharram 1448 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshujan matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat minta hujan shalat istisqa shalat minta hujan

Keutamaan Azan dan Jawabannya: Amalan Ringan Berpahala Besar

Banyak orang menganggap azan hanya sebagai rutinitas harian, padahal di dalamnya tersimpan pahala yang luar biasa besar. Bahkan, Nabi ﷺ menggambarkan bahwa manusia akan berebut azan jika benar-benar mengetahui keutamaannya. Tulisan ini akan membuka mata kita bahwa amalan ringan ini bisa menjadi jalan meraih kemuliaan besar di sisi Allah.  Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 186: Keutamaan Azan 2. Kalau Tahu Pahalanya, Orang Akan Rebutan Azan dan Shaf Pertama 3. Hadits 1/1033 3.1. Faedah Hadits 4. Keutamaan Muazin: Leher Paling Panjang di Hari Kiamat 5. Hadits 2/1034 5.1. Faedah Hadits 6. Keutamaan Azan dan Anjuran Mengeraskan Suara 7. Hadits 3/1035 7.1. Kosakata Hadits 7.2. Faedah Hadits 8. Keutamaan Azan dan Gangguan Setan dalam Shalat 9. Hadits 4/1036 9.1. Faedah Hadits 10. Rahasia Besar Setelah Azan: Amalan Ringan Pembuka Syafaat Nabi 11. Hadits 5/1037 12. Hadits 6/1038 13. Hadits 7/1039 14. Hadits 8/1040 14.1. Faedah Hadits 15. Hadits 9/1041 15.1. Faedah Hadits  Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 186: Keutamaan AzanKalau Tahu Pahalanya, Orang Akan Rebutan Azan dan Shaf PertamaHadits 1/1033عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ ما في النِّدَاءِ والصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاسْتَهَمُوا عَلَيْهِ، ولَوْ يَعْلَمُونَ ما في التَّهْجِيرِ لاسْتبَقُوا إلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ ما في العَتَمَةِ والصُّبْحِ لأَتَوهُمَا وَلَو حَبْواً». متفق عليهDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat dalam azan dan shaf pertama, lalu mereka tidak mendapatkan jalan untuk meraihnya selain dengan undian, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya. Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam bersegera datang ke salat, niscaya mereka akan berlomba-lomba menuju kepadanya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat Isya dan shalat Subuh, niscaya mereka akan mendatangi keduanya walaupun harus dengan merangkak.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, 2:96 dan Muslim, no. 437)Keterangan lafaz:الاِسْتِهَامُ: melakukan undian.التَّهْجِيرُ: datang lebih awal untuk salat.Kosakata hadits:النِّدَاء: azan.العَتَمَة: shalat Isya. Faedah HaditsKeutamaan azan dan shaf pertama.Azan memiliki keutamaan yang sangat besar. Azan termasuk amalan terbaik karena manfaatnya bersifat umum: mengagungkan Allah Ta‘ala dengan tauhid dan mengajak manusia kepada ibadah yang paling agung.Azan lebih utama daripada menjadi imam. Para ulama menjelaskan bahwa azan mengandung tauhid kepada Allah Ta‘ala dan persaksian bahwa Rasulullah adalah utusan-Nya. Ini menunjukkan besarnya kedudukan dakwah kepada tauhid dan ajakan untuk mengikuti sunnah.Hadits ini mendorong kaum mukminin agar berlomba-lomba dalam amal saleh dan berbagai bentuk ketaatan. Seorang mukmin hendaknya memanfaatkan setiap kesempatan berbuat baik, di antaranya dengan segera menyambut panggilan azan.Manusia banyak yang belum memahami hakikat ibadah dan besarnya pahala yang terkandung di dalamnya.Bolehnya melakukan undian dalam perkara-perkara yang memiliki keutamaan (untuk menentukan siapa yang lebih berhak).Kewajiban ibadah tidak gugur dari seorang hamba selama ia masih mampu melaksanakannya. Keutamaan Muazin: Leher Paling Panjang di Hari KiamatHadits 2/1034عَنْ معاويةَ رضي الله عنه قَالَ: سمعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يقولُ: «المؤذِّنُون أطوَلُ النَّاسِ أعناقاً يومَ القيامةِ». رواه مسلم.Dari Mu‘awiyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Para muazin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari Kiamat.” (HR. Muslim, no. 387) Faedah HaditsKeutamaan azan dan besarnya pahala seorang muazin yang ikhlas dan mengharap pahala dari Allah Ta‘ala.Para muazin akan menjadi orang yang paling panjang lehernya pada hari hisab. Mereka dikenal dengan tanda itu sebagai bentuk penampakan keutamaan dan kemuliaan mereka.Balasan itu sesuai dengan jenis amalnya. Kepala para muazin ditinggikan pada hari Kiamat karena dahulu mereka meninggikan tauhid Allah Ta‘ala di muka bumi. Keutamaan Azan dan Anjuran Mengeraskan SuaraHadits 3/1035 وعَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَبْدِ الرَّحْمن بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ، أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الخُدْرِيَّ رضي الله عنه قَالَ لَهُ: «إنِّي أَرَاكَ تُحبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ، فَإذَا كُنْتَ في غَنَمِكَ ــ أَوْ بَادِيَتِكَ ــ فَأَذَّنْتَ للصَّلاةِ، فَارْفَعْ صَوْتَكَ بالنِّدَاءِ، فَإنَّهُ لاَ يَسْمَعُ مَدَىٰ صَوْتِ المُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلا إنْسٌ وَلا شَيْءٌ، إلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» قال أبو سعيدٍ: سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ الله. رواه البخاري.Dari ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman bin Abi Sha‘sha‘ah, bahwa Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya,“Aku melihat engkau menyukai kambing dan kehidupan di pedalaman. Jika engkau sedang berada di tengah kambingmu—atau di pedalamanmu—lalu engkau mengumandangkan azan untuk shalat, maka keraskanlah suaramu ketika menyeru. Sebab, tidaklah jin, manusia, dan segala sesuatu mendengar sejauh jangkauan suara muazin, melainkan semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.”Abu Sa‘id berkata, “Aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ.” (HR. Bukhari, 2:87-88) Kosakata HaditsMadā shautil mu’adzdzin artinya sejauh jangkauan suara muazin. Faedah HaditsAzan ketika masuk waktu shalat berlaku untuk orang yang shalat sendirian maupun shalat berjemaah.Siapa saja dari kalangan jin, manusia, atau benda mati yang mendengar suara muazin, semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.Disunnahkan bagi muazin untuk mengeraskan suaranya ketika azan, agar semakin banyak yang menjadi saksi baginya pada hari kiamat.Dianjurkan bagi kaum muslimin untuk memilih muazin yang memiliki suara lantang.Mencintai kambing dan kehidupan di pedalaman termasuk amalan salaf saleh, terutama ketika terjadi fitnah.Para sahabat Rasulullah ﷺ sangat bersemangat mengajarkan sunnah kepada manusia. Di dalam sunnah terdapat kebaikan, keselamatan, dan penjagaan. Keutamaan Azan dan Gangguan Setan dalam ShalatHadits 4/1036ــ عَنْ أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إذَا نُودِيَ بالصَّلاةِ أدبَرَ الشَّيطانُ، لَهُ ضُراطٌ حَتَّىٰ لا يَسْمَعَ التَّأذينَ، فإذا قُضيَ النِّداءُ أقبَلَ، حَتَّىٰ إذَا ثُوِّبَ للصَّلاة أدْبَرَ، حَتَّىٰ إذَا قُضيَ التَّثويبُ أقْبَلَ، حَتَّىٰ يخْطرَ بينَ المَرْء ونفسه، يقولُ: اذْكُرْ كَذا، واذْكُرْ كذا، لما لَمْ يَكُنْ يَذْكُرْ من قبلُ، حَتَّىٰ يظَلَّ الرَّجُل مَا يَدْري كَمْ صَلَّىٰ». متفق عليه.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila azan dikumandangkan untuk shalat, setan akan lari membelakangi sambil mengeluarkan kentut, agar ia tidak mendengar azan. Ketika azan selesai, ia kembali datang. Kemudian ketika iqamah dikumandangkan untuk shalat, ia kembali lari. Ketika iqamah selesai, ia kembali datang hingga membisikkan godaan antara seseorang dan dirinya. Ia berkata, ‘Ingatlah ini, ingatlah itu,’ tentang sesuatu yang sebelumnya tidak ia ingat, sampai seseorang tidak mengetahui lagi berapa rakaat shalat yang telah ia kerjakan.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, 2:84-85, dan Muslim) Faedah HaditsShalat berjemaah tidak boleh dikumpulkan dengan cara apa pun selain azan.Setan merasa terganggu ketika mendengar azan, sehingga ia lari darinya, padahal ia tidak lari dari selain azan.Pertarungan antara orang beriman dan setan adalah pertarungan yang terus berlangsung dan tidak pernah berhenti.Pertarungan antara orang beriman dan pasukan setan pada dasarnya adalah pertarungan akidah. Setan sangat bersemangat merusak akidah hamba agar mereka tersesat dari jalan yang benar.Suara kebenaran, apabila terdengar lantang, membuat kebatilan tidak mampu bertahan ketika mendengarnya.Perang antara orang beriman dan setan merupakan peperangan yang terus berlanjut hingga hari Kiamat.Setan menggunakan berbagai cara dan jalan untuk menggoda anak Adam. Ia mengetahui hal-hal yang dapat menyibukkan mereka dari ibadah. Rahasia Besar Setelah Azan: Amalan Ringan Pembuka Syafaat NabiHadits 5/1037 وَعَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَمْرِو بْنِ العَاصِ رضي الله عنهما أنه سَمعَ رسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «إذا سَمِعْتُمُ المُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإنَّهُ مَنْ صلَّىٰ عَلَيَّ صلاةً صَلَّىٰ اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإنَّهَا مَنْزِلَةٌ في الجَنَّةِ لا تَنْبَغِي إلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِيَ الوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ». رواه مسلم.Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah kepadaku, karena siapa saja yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah agar memberikan wasilah untukku. Sesungguhnya wasilah itu adalah satu kedudukan di surga yang tidak layak diberikan kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Aku berharap akulah hamba tersebut. Siapa yang memohonkan wasilah untukku, maka ia berhak mendapatkan syafaatku.” (HR. Muslim) Hadits 6/1038 عَنْ أبي سعيد الخُدْريّ رضي الله عنه أنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إذَا سمعْتُمُ النِّداءَ فقُولُوا كَمَا يقولُ المُؤذِّنُ». متفق عليه.Dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muazin.” (Muttafaqun ‘alaih) Hadits 7/1039 وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللّهم رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّداً الوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَاماً مَحْمُوداً الَّذِي وَعَدْتَه، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتي يَوْمَ الْقِيَامَةِ». رواه البخاري.Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang ketika mendengar azan mengucapkan,اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُALLAAHUMMA RABBA HAADZIHID DA‘WATIT TAAMMAH, WASH-SHALAATIL QAA’IMAH, AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WAL FADHIILAH, WAB‘ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANILLADZII WA‘ADTAH.‘Artinya: Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, serta bangkitkanlah beliau pada kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan,’ maka ia berhak mendapatkan syafaatku pada hari Kiamat.” (HR. Bukhari) Hadits 8/1040وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبي وَقَّاصٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَع المُؤَذِّنَ: أَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ وحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بالله ربّاً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً، وَبالإسْلامِ دِيناً، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ». رواه مسلم.Dari Sa‘d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa yang ketika mendengar muazin mengucapkan,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًاASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAH, WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHUU WA RASUULUH, RADHIITU BILLAAHI RABBAA, WA BIMUHAMMADIN RASUULAA, WA BIL-ISLAAMI DIINAA.‘Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku rida Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai rasul, dan Islam sebagai agama,’ maka dosanya diampuni.” (HR. Muslim) Faedah Hadits1. Hadits-hadits ini memuat sejumlah sunnah yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan adab-adab syariat yang berkaitan dengan azan, yaitu:2. Menjawab azan, dengan mengulangi apa yang diucapkan oleh muazin, kecuali ketika muazin mengucapkan, “Hayya ‘alash shalaah” dan “Hayya ‘alal falaah.” Ketika itu, kita mengucapkan kalimat memohon pertolongan:لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِLAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH.“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”Maksudnya, kami bertekad untuk memenuhi panggilan ini dengan memohon pertolongan kepada-Mu, wahai Rabb.3. Dianjurkan bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah azan selesai secara langsung.4. Memohonkan wasilah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu derajat tertinggi di surga. Juga mendoakan beliau agar Allah membangkitkan beliau pada kedudukan yang terpuji, yang seluruh makhluk memuji beliau karenanya. Itulah kedudukan syafaat pada hari Kiamat.5. Menjaga sunnah-sunnah ini menjadi sebab diampuninya dosa dan sebab untuk meraih syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits 9/1041عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ». رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ.Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Doa yang dipanjatkan antara azan dan iqamah tidak akan ditolak.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan.”) Faedah HaditsHendaknya memanfaatkan waktu-waktu yang utama untuk berdoa.Hadits ini juga menjelaskan adab dalam berdoa, yaitu seorang hamba hendaknya memulai doanya dengan memuji Allah, kemudian berselawat dan mengucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ. Cara seperti ini lebih besar harapannya untuk dikabulkan. Perhatikanlah, syariat menganjurkan orang yang mendengar azan agar menjawab lafaz azan. Ini merupakan salah satu bentuk pujian kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Setelah itu ia berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohon kepada Allah agar memberikan wasilah kepada beliau. Dengan demikian, doa yang dipanjatkannya setelah azan menjadi lebih dekat kepada pengabulan. Catatan PentingKarena azan merupakan salah satu zikir kepada Allah Ta’ala yang diajarkan dalam sunnah Nabi ﷺ, para ulama dari seluruh mazhab fikih memberikan perhatian besar terhadap ketepatan lafaz-lafaznya. Mereka sepakat bahwa azan berakhir ketika muazin mengucapkan kalimat terakhir:لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُAdapun amalan yang disebutkan dalam hadis-hadis sebelumnya, seperti berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohon wasilah untuk beliau, semuanya termasuk sunnah yang dilakukan setelah azan, bukan bagian dari lafaz azan itu sendiri.Karena itu, tidak boleh mengeraskan bacaan shalawat dan doa wasilah sehingga masyarakat mengira keduanya merupakan bagian dari azan. Petunjuk Nabi ﷺ yang dipraktikkan pada masa beliau adalah: setelah muazin selesai mengumandangkan azan, muazin dan orang-orang yang mendengarnya berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohonkan wasilah bagi beliau secara lirih (pelan).Siapa saja yang melakukan selain tuntunan tersebut berarti telah menyelisihi sunnah Nabi ﷺ dan keluar dari pendapat para imam mazhab. Oleh karena itu, hendaknya para muazin berhati-hati agar tidak menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ, serta berusaha teguh berpegang pada sunnah, karena di dalam sunnahlah terdapat seluruh kebaikan dan keberkahan. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. Ini adalah materi kajian rutin di Masjid Pogung Dalangan Yogyakarta pada setiap Malam Jumat bakda Maghrib – Isyak, bisa saksikan di Youtube Rumaysho TV. —– Kamis, 16 Juli 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsazan doa setelah azan jawab azan keutamaan azan muazin pahala shalat riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail shalat berjamaah sunnah azan syafaat nabi waktu mustajab

Keutamaan Azan dan Jawabannya: Amalan Ringan Berpahala Besar

Banyak orang menganggap azan hanya sebagai rutinitas harian, padahal di dalamnya tersimpan pahala yang luar biasa besar. Bahkan, Nabi ﷺ menggambarkan bahwa manusia akan berebut azan jika benar-benar mengetahui keutamaannya. Tulisan ini akan membuka mata kita bahwa amalan ringan ini bisa menjadi jalan meraih kemuliaan besar di sisi Allah.  Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 186: Keutamaan Azan 2. Kalau Tahu Pahalanya, Orang Akan Rebutan Azan dan Shaf Pertama 3. Hadits 1/1033 3.1. Faedah Hadits 4. Keutamaan Muazin: Leher Paling Panjang di Hari Kiamat 5. Hadits 2/1034 5.1. Faedah Hadits 6. Keutamaan Azan dan Anjuran Mengeraskan Suara 7. Hadits 3/1035 7.1. Kosakata Hadits 7.2. Faedah Hadits 8. Keutamaan Azan dan Gangguan Setan dalam Shalat 9. Hadits 4/1036 9.1. Faedah Hadits 10. Rahasia Besar Setelah Azan: Amalan Ringan Pembuka Syafaat Nabi 11. Hadits 5/1037 12. Hadits 6/1038 13. Hadits 7/1039 14. Hadits 8/1040 14.1. Faedah Hadits 15. Hadits 9/1041 15.1. Faedah Hadits  Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 186: Keutamaan AzanKalau Tahu Pahalanya, Orang Akan Rebutan Azan dan Shaf PertamaHadits 1/1033عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ ما في النِّدَاءِ والصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاسْتَهَمُوا عَلَيْهِ، ولَوْ يَعْلَمُونَ ما في التَّهْجِيرِ لاسْتبَقُوا إلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ ما في العَتَمَةِ والصُّبْحِ لأَتَوهُمَا وَلَو حَبْواً». متفق عليهDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat dalam azan dan shaf pertama, lalu mereka tidak mendapatkan jalan untuk meraihnya selain dengan undian, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya. Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam bersegera datang ke salat, niscaya mereka akan berlomba-lomba menuju kepadanya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat Isya dan shalat Subuh, niscaya mereka akan mendatangi keduanya walaupun harus dengan merangkak.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, 2:96 dan Muslim, no. 437)Keterangan lafaz:الاِسْتِهَامُ: melakukan undian.التَّهْجِيرُ: datang lebih awal untuk salat.Kosakata hadits:النِّدَاء: azan.العَتَمَة: shalat Isya. Faedah HaditsKeutamaan azan dan shaf pertama.Azan memiliki keutamaan yang sangat besar. Azan termasuk amalan terbaik karena manfaatnya bersifat umum: mengagungkan Allah Ta‘ala dengan tauhid dan mengajak manusia kepada ibadah yang paling agung.Azan lebih utama daripada menjadi imam. Para ulama menjelaskan bahwa azan mengandung tauhid kepada Allah Ta‘ala dan persaksian bahwa Rasulullah adalah utusan-Nya. Ini menunjukkan besarnya kedudukan dakwah kepada tauhid dan ajakan untuk mengikuti sunnah.Hadits ini mendorong kaum mukminin agar berlomba-lomba dalam amal saleh dan berbagai bentuk ketaatan. Seorang mukmin hendaknya memanfaatkan setiap kesempatan berbuat baik, di antaranya dengan segera menyambut panggilan azan.Manusia banyak yang belum memahami hakikat ibadah dan besarnya pahala yang terkandung di dalamnya.Bolehnya melakukan undian dalam perkara-perkara yang memiliki keutamaan (untuk menentukan siapa yang lebih berhak).Kewajiban ibadah tidak gugur dari seorang hamba selama ia masih mampu melaksanakannya. Keutamaan Muazin: Leher Paling Panjang di Hari KiamatHadits 2/1034عَنْ معاويةَ رضي الله عنه قَالَ: سمعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يقولُ: «المؤذِّنُون أطوَلُ النَّاسِ أعناقاً يومَ القيامةِ». رواه مسلم.Dari Mu‘awiyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Para muazin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari Kiamat.” (HR. Muslim, no. 387) Faedah HaditsKeutamaan azan dan besarnya pahala seorang muazin yang ikhlas dan mengharap pahala dari Allah Ta‘ala.Para muazin akan menjadi orang yang paling panjang lehernya pada hari hisab. Mereka dikenal dengan tanda itu sebagai bentuk penampakan keutamaan dan kemuliaan mereka.Balasan itu sesuai dengan jenis amalnya. Kepala para muazin ditinggikan pada hari Kiamat karena dahulu mereka meninggikan tauhid Allah Ta‘ala di muka bumi. Keutamaan Azan dan Anjuran Mengeraskan SuaraHadits 3/1035 وعَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَبْدِ الرَّحْمن بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ، أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الخُدْرِيَّ رضي الله عنه قَالَ لَهُ: «إنِّي أَرَاكَ تُحبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ، فَإذَا كُنْتَ في غَنَمِكَ ــ أَوْ بَادِيَتِكَ ــ فَأَذَّنْتَ للصَّلاةِ، فَارْفَعْ صَوْتَكَ بالنِّدَاءِ، فَإنَّهُ لاَ يَسْمَعُ مَدَىٰ صَوْتِ المُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلا إنْسٌ وَلا شَيْءٌ، إلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» قال أبو سعيدٍ: سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ الله. رواه البخاري.Dari ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman bin Abi Sha‘sha‘ah, bahwa Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya,“Aku melihat engkau menyukai kambing dan kehidupan di pedalaman. Jika engkau sedang berada di tengah kambingmu—atau di pedalamanmu—lalu engkau mengumandangkan azan untuk shalat, maka keraskanlah suaramu ketika menyeru. Sebab, tidaklah jin, manusia, dan segala sesuatu mendengar sejauh jangkauan suara muazin, melainkan semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.”Abu Sa‘id berkata, “Aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ.” (HR. Bukhari, 2:87-88) Kosakata HaditsMadā shautil mu’adzdzin artinya sejauh jangkauan suara muazin. Faedah HaditsAzan ketika masuk waktu shalat berlaku untuk orang yang shalat sendirian maupun shalat berjemaah.Siapa saja dari kalangan jin, manusia, atau benda mati yang mendengar suara muazin, semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.Disunnahkan bagi muazin untuk mengeraskan suaranya ketika azan, agar semakin banyak yang menjadi saksi baginya pada hari kiamat.Dianjurkan bagi kaum muslimin untuk memilih muazin yang memiliki suara lantang.Mencintai kambing dan kehidupan di pedalaman termasuk amalan salaf saleh, terutama ketika terjadi fitnah.Para sahabat Rasulullah ﷺ sangat bersemangat mengajarkan sunnah kepada manusia. Di dalam sunnah terdapat kebaikan, keselamatan, dan penjagaan. Keutamaan Azan dan Gangguan Setan dalam ShalatHadits 4/1036ــ عَنْ أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إذَا نُودِيَ بالصَّلاةِ أدبَرَ الشَّيطانُ، لَهُ ضُراطٌ حَتَّىٰ لا يَسْمَعَ التَّأذينَ، فإذا قُضيَ النِّداءُ أقبَلَ، حَتَّىٰ إذَا ثُوِّبَ للصَّلاة أدْبَرَ، حَتَّىٰ إذَا قُضيَ التَّثويبُ أقْبَلَ، حَتَّىٰ يخْطرَ بينَ المَرْء ونفسه، يقولُ: اذْكُرْ كَذا، واذْكُرْ كذا، لما لَمْ يَكُنْ يَذْكُرْ من قبلُ، حَتَّىٰ يظَلَّ الرَّجُل مَا يَدْري كَمْ صَلَّىٰ». متفق عليه.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila azan dikumandangkan untuk shalat, setan akan lari membelakangi sambil mengeluarkan kentut, agar ia tidak mendengar azan. Ketika azan selesai, ia kembali datang. Kemudian ketika iqamah dikumandangkan untuk shalat, ia kembali lari. Ketika iqamah selesai, ia kembali datang hingga membisikkan godaan antara seseorang dan dirinya. Ia berkata, ‘Ingatlah ini, ingatlah itu,’ tentang sesuatu yang sebelumnya tidak ia ingat, sampai seseorang tidak mengetahui lagi berapa rakaat shalat yang telah ia kerjakan.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, 2:84-85, dan Muslim) Faedah HaditsShalat berjemaah tidak boleh dikumpulkan dengan cara apa pun selain azan.Setan merasa terganggu ketika mendengar azan, sehingga ia lari darinya, padahal ia tidak lari dari selain azan.Pertarungan antara orang beriman dan setan adalah pertarungan yang terus berlangsung dan tidak pernah berhenti.Pertarungan antara orang beriman dan pasukan setan pada dasarnya adalah pertarungan akidah. Setan sangat bersemangat merusak akidah hamba agar mereka tersesat dari jalan yang benar.Suara kebenaran, apabila terdengar lantang, membuat kebatilan tidak mampu bertahan ketika mendengarnya.Perang antara orang beriman dan setan merupakan peperangan yang terus berlanjut hingga hari Kiamat.Setan menggunakan berbagai cara dan jalan untuk menggoda anak Adam. Ia mengetahui hal-hal yang dapat menyibukkan mereka dari ibadah. Rahasia Besar Setelah Azan: Amalan Ringan Pembuka Syafaat NabiHadits 5/1037 وَعَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَمْرِو بْنِ العَاصِ رضي الله عنهما أنه سَمعَ رسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «إذا سَمِعْتُمُ المُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإنَّهُ مَنْ صلَّىٰ عَلَيَّ صلاةً صَلَّىٰ اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإنَّهَا مَنْزِلَةٌ في الجَنَّةِ لا تَنْبَغِي إلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِيَ الوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ». رواه مسلم.Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah kepadaku, karena siapa saja yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah agar memberikan wasilah untukku. Sesungguhnya wasilah itu adalah satu kedudukan di surga yang tidak layak diberikan kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Aku berharap akulah hamba tersebut. Siapa yang memohonkan wasilah untukku, maka ia berhak mendapatkan syafaatku.” (HR. Muslim) Hadits 6/1038 عَنْ أبي سعيد الخُدْريّ رضي الله عنه أنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إذَا سمعْتُمُ النِّداءَ فقُولُوا كَمَا يقولُ المُؤذِّنُ». متفق عليه.Dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muazin.” (Muttafaqun ‘alaih) Hadits 7/1039 وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللّهم رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّداً الوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَاماً مَحْمُوداً الَّذِي وَعَدْتَه، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتي يَوْمَ الْقِيَامَةِ». رواه البخاري.Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang ketika mendengar azan mengucapkan,اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُALLAAHUMMA RABBA HAADZIHID DA‘WATIT TAAMMAH, WASH-SHALAATIL QAA’IMAH, AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WAL FADHIILAH, WAB‘ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANILLADZII WA‘ADTAH.‘Artinya: Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, serta bangkitkanlah beliau pada kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan,’ maka ia berhak mendapatkan syafaatku pada hari Kiamat.” (HR. Bukhari) Hadits 8/1040وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبي وَقَّاصٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَع المُؤَذِّنَ: أَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ وحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بالله ربّاً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً، وَبالإسْلامِ دِيناً، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ». رواه مسلم.Dari Sa‘d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa yang ketika mendengar muazin mengucapkan,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًاASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAH, WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHUU WA RASUULUH, RADHIITU BILLAAHI RABBAA, WA BIMUHAMMADIN RASUULAA, WA BIL-ISLAAMI DIINAA.‘Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku rida Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai rasul, dan Islam sebagai agama,’ maka dosanya diampuni.” (HR. Muslim) Faedah Hadits1. Hadits-hadits ini memuat sejumlah sunnah yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan adab-adab syariat yang berkaitan dengan azan, yaitu:2. Menjawab azan, dengan mengulangi apa yang diucapkan oleh muazin, kecuali ketika muazin mengucapkan, “Hayya ‘alash shalaah” dan “Hayya ‘alal falaah.” Ketika itu, kita mengucapkan kalimat memohon pertolongan:لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِLAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH.“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”Maksudnya, kami bertekad untuk memenuhi panggilan ini dengan memohon pertolongan kepada-Mu, wahai Rabb.3. Dianjurkan bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah azan selesai secara langsung.4. Memohonkan wasilah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu derajat tertinggi di surga. Juga mendoakan beliau agar Allah membangkitkan beliau pada kedudukan yang terpuji, yang seluruh makhluk memuji beliau karenanya. Itulah kedudukan syafaat pada hari Kiamat.5. Menjaga sunnah-sunnah ini menjadi sebab diampuninya dosa dan sebab untuk meraih syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits 9/1041عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ». رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ.Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Doa yang dipanjatkan antara azan dan iqamah tidak akan ditolak.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan.”) Faedah HaditsHendaknya memanfaatkan waktu-waktu yang utama untuk berdoa.Hadits ini juga menjelaskan adab dalam berdoa, yaitu seorang hamba hendaknya memulai doanya dengan memuji Allah, kemudian berselawat dan mengucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ. Cara seperti ini lebih besar harapannya untuk dikabulkan. Perhatikanlah, syariat menganjurkan orang yang mendengar azan agar menjawab lafaz azan. Ini merupakan salah satu bentuk pujian kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Setelah itu ia berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohon kepada Allah agar memberikan wasilah kepada beliau. Dengan demikian, doa yang dipanjatkannya setelah azan menjadi lebih dekat kepada pengabulan. Catatan PentingKarena azan merupakan salah satu zikir kepada Allah Ta’ala yang diajarkan dalam sunnah Nabi ﷺ, para ulama dari seluruh mazhab fikih memberikan perhatian besar terhadap ketepatan lafaz-lafaznya. Mereka sepakat bahwa azan berakhir ketika muazin mengucapkan kalimat terakhir:لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُAdapun amalan yang disebutkan dalam hadis-hadis sebelumnya, seperti berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohon wasilah untuk beliau, semuanya termasuk sunnah yang dilakukan setelah azan, bukan bagian dari lafaz azan itu sendiri.Karena itu, tidak boleh mengeraskan bacaan shalawat dan doa wasilah sehingga masyarakat mengira keduanya merupakan bagian dari azan. Petunjuk Nabi ﷺ yang dipraktikkan pada masa beliau adalah: setelah muazin selesai mengumandangkan azan, muazin dan orang-orang yang mendengarnya berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohonkan wasilah bagi beliau secara lirih (pelan).Siapa saja yang melakukan selain tuntunan tersebut berarti telah menyelisihi sunnah Nabi ﷺ dan keluar dari pendapat para imam mazhab. Oleh karena itu, hendaknya para muazin berhati-hati agar tidak menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ, serta berusaha teguh berpegang pada sunnah, karena di dalam sunnahlah terdapat seluruh kebaikan dan keberkahan. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. Ini adalah materi kajian rutin di Masjid Pogung Dalangan Yogyakarta pada setiap Malam Jumat bakda Maghrib – Isyak, bisa saksikan di Youtube Rumaysho TV. —– Kamis, 16 Juli 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsazan doa setelah azan jawab azan keutamaan azan muazin pahala shalat riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail shalat berjamaah sunnah azan syafaat nabi waktu mustajab
Banyak orang menganggap azan hanya sebagai rutinitas harian, padahal di dalamnya tersimpan pahala yang luar biasa besar. Bahkan, Nabi ﷺ menggambarkan bahwa manusia akan berebut azan jika benar-benar mengetahui keutamaannya. Tulisan ini akan membuka mata kita bahwa amalan ringan ini bisa menjadi jalan meraih kemuliaan besar di sisi Allah.  Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 186: Keutamaan Azan 2. Kalau Tahu Pahalanya, Orang Akan Rebutan Azan dan Shaf Pertama 3. Hadits 1/1033 3.1. Faedah Hadits 4. Keutamaan Muazin: Leher Paling Panjang di Hari Kiamat 5. Hadits 2/1034 5.1. Faedah Hadits 6. Keutamaan Azan dan Anjuran Mengeraskan Suara 7. Hadits 3/1035 7.1. Kosakata Hadits 7.2. Faedah Hadits 8. Keutamaan Azan dan Gangguan Setan dalam Shalat 9. Hadits 4/1036 9.1. Faedah Hadits 10. Rahasia Besar Setelah Azan: Amalan Ringan Pembuka Syafaat Nabi 11. Hadits 5/1037 12. Hadits 6/1038 13. Hadits 7/1039 14. Hadits 8/1040 14.1. Faedah Hadits 15. Hadits 9/1041 15.1. Faedah Hadits  Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 186: Keutamaan AzanKalau Tahu Pahalanya, Orang Akan Rebutan Azan dan Shaf PertamaHadits 1/1033عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ ما في النِّدَاءِ والصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاسْتَهَمُوا عَلَيْهِ، ولَوْ يَعْلَمُونَ ما في التَّهْجِيرِ لاسْتبَقُوا إلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ ما في العَتَمَةِ والصُّبْحِ لأَتَوهُمَا وَلَو حَبْواً». متفق عليهDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat dalam azan dan shaf pertama, lalu mereka tidak mendapatkan jalan untuk meraihnya selain dengan undian, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya. Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam bersegera datang ke salat, niscaya mereka akan berlomba-lomba menuju kepadanya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat Isya dan shalat Subuh, niscaya mereka akan mendatangi keduanya walaupun harus dengan merangkak.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, 2:96 dan Muslim, no. 437)Keterangan lafaz:الاِسْتِهَامُ: melakukan undian.التَّهْجِيرُ: datang lebih awal untuk salat.Kosakata hadits:النِّدَاء: azan.العَتَمَة: shalat Isya. Faedah HaditsKeutamaan azan dan shaf pertama.Azan memiliki keutamaan yang sangat besar. Azan termasuk amalan terbaik karena manfaatnya bersifat umum: mengagungkan Allah Ta‘ala dengan tauhid dan mengajak manusia kepada ibadah yang paling agung.Azan lebih utama daripada menjadi imam. Para ulama menjelaskan bahwa azan mengandung tauhid kepada Allah Ta‘ala dan persaksian bahwa Rasulullah adalah utusan-Nya. Ini menunjukkan besarnya kedudukan dakwah kepada tauhid dan ajakan untuk mengikuti sunnah.Hadits ini mendorong kaum mukminin agar berlomba-lomba dalam amal saleh dan berbagai bentuk ketaatan. Seorang mukmin hendaknya memanfaatkan setiap kesempatan berbuat baik, di antaranya dengan segera menyambut panggilan azan.Manusia banyak yang belum memahami hakikat ibadah dan besarnya pahala yang terkandung di dalamnya.Bolehnya melakukan undian dalam perkara-perkara yang memiliki keutamaan (untuk menentukan siapa yang lebih berhak).Kewajiban ibadah tidak gugur dari seorang hamba selama ia masih mampu melaksanakannya. Keutamaan Muazin: Leher Paling Panjang di Hari KiamatHadits 2/1034عَنْ معاويةَ رضي الله عنه قَالَ: سمعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يقولُ: «المؤذِّنُون أطوَلُ النَّاسِ أعناقاً يومَ القيامةِ». رواه مسلم.Dari Mu‘awiyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Para muazin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari Kiamat.” (HR. Muslim, no. 387) Faedah HaditsKeutamaan azan dan besarnya pahala seorang muazin yang ikhlas dan mengharap pahala dari Allah Ta‘ala.Para muazin akan menjadi orang yang paling panjang lehernya pada hari hisab. Mereka dikenal dengan tanda itu sebagai bentuk penampakan keutamaan dan kemuliaan mereka.Balasan itu sesuai dengan jenis amalnya. Kepala para muazin ditinggikan pada hari Kiamat karena dahulu mereka meninggikan tauhid Allah Ta‘ala di muka bumi. Keutamaan Azan dan Anjuran Mengeraskan SuaraHadits 3/1035 وعَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَبْدِ الرَّحْمن بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ، أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الخُدْرِيَّ رضي الله عنه قَالَ لَهُ: «إنِّي أَرَاكَ تُحبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ، فَإذَا كُنْتَ في غَنَمِكَ ــ أَوْ بَادِيَتِكَ ــ فَأَذَّنْتَ للصَّلاةِ، فَارْفَعْ صَوْتَكَ بالنِّدَاءِ، فَإنَّهُ لاَ يَسْمَعُ مَدَىٰ صَوْتِ المُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلا إنْسٌ وَلا شَيْءٌ، إلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» قال أبو سعيدٍ: سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ الله. رواه البخاري.Dari ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman bin Abi Sha‘sha‘ah, bahwa Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya,“Aku melihat engkau menyukai kambing dan kehidupan di pedalaman. Jika engkau sedang berada di tengah kambingmu—atau di pedalamanmu—lalu engkau mengumandangkan azan untuk shalat, maka keraskanlah suaramu ketika menyeru. Sebab, tidaklah jin, manusia, dan segala sesuatu mendengar sejauh jangkauan suara muazin, melainkan semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.”Abu Sa‘id berkata, “Aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ.” (HR. Bukhari, 2:87-88) Kosakata HaditsMadā shautil mu’adzdzin artinya sejauh jangkauan suara muazin. Faedah HaditsAzan ketika masuk waktu shalat berlaku untuk orang yang shalat sendirian maupun shalat berjemaah.Siapa saja dari kalangan jin, manusia, atau benda mati yang mendengar suara muazin, semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.Disunnahkan bagi muazin untuk mengeraskan suaranya ketika azan, agar semakin banyak yang menjadi saksi baginya pada hari kiamat.Dianjurkan bagi kaum muslimin untuk memilih muazin yang memiliki suara lantang.Mencintai kambing dan kehidupan di pedalaman termasuk amalan salaf saleh, terutama ketika terjadi fitnah.Para sahabat Rasulullah ﷺ sangat bersemangat mengajarkan sunnah kepada manusia. Di dalam sunnah terdapat kebaikan, keselamatan, dan penjagaan. Keutamaan Azan dan Gangguan Setan dalam ShalatHadits 4/1036ــ عَنْ أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إذَا نُودِيَ بالصَّلاةِ أدبَرَ الشَّيطانُ، لَهُ ضُراطٌ حَتَّىٰ لا يَسْمَعَ التَّأذينَ، فإذا قُضيَ النِّداءُ أقبَلَ، حَتَّىٰ إذَا ثُوِّبَ للصَّلاة أدْبَرَ، حَتَّىٰ إذَا قُضيَ التَّثويبُ أقْبَلَ، حَتَّىٰ يخْطرَ بينَ المَرْء ونفسه، يقولُ: اذْكُرْ كَذا، واذْكُرْ كذا، لما لَمْ يَكُنْ يَذْكُرْ من قبلُ، حَتَّىٰ يظَلَّ الرَّجُل مَا يَدْري كَمْ صَلَّىٰ». متفق عليه.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila azan dikumandangkan untuk shalat, setan akan lari membelakangi sambil mengeluarkan kentut, agar ia tidak mendengar azan. Ketika azan selesai, ia kembali datang. Kemudian ketika iqamah dikumandangkan untuk shalat, ia kembali lari. Ketika iqamah selesai, ia kembali datang hingga membisikkan godaan antara seseorang dan dirinya. Ia berkata, ‘Ingatlah ini, ingatlah itu,’ tentang sesuatu yang sebelumnya tidak ia ingat, sampai seseorang tidak mengetahui lagi berapa rakaat shalat yang telah ia kerjakan.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, 2:84-85, dan Muslim) Faedah HaditsShalat berjemaah tidak boleh dikumpulkan dengan cara apa pun selain azan.Setan merasa terganggu ketika mendengar azan, sehingga ia lari darinya, padahal ia tidak lari dari selain azan.Pertarungan antara orang beriman dan setan adalah pertarungan yang terus berlangsung dan tidak pernah berhenti.Pertarungan antara orang beriman dan pasukan setan pada dasarnya adalah pertarungan akidah. Setan sangat bersemangat merusak akidah hamba agar mereka tersesat dari jalan yang benar.Suara kebenaran, apabila terdengar lantang, membuat kebatilan tidak mampu bertahan ketika mendengarnya.Perang antara orang beriman dan setan merupakan peperangan yang terus berlanjut hingga hari Kiamat.Setan menggunakan berbagai cara dan jalan untuk menggoda anak Adam. Ia mengetahui hal-hal yang dapat menyibukkan mereka dari ibadah. Rahasia Besar Setelah Azan: Amalan Ringan Pembuka Syafaat NabiHadits 5/1037 وَعَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَمْرِو بْنِ العَاصِ رضي الله عنهما أنه سَمعَ رسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «إذا سَمِعْتُمُ المُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإنَّهُ مَنْ صلَّىٰ عَلَيَّ صلاةً صَلَّىٰ اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإنَّهَا مَنْزِلَةٌ في الجَنَّةِ لا تَنْبَغِي إلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِيَ الوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ». رواه مسلم.Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah kepadaku, karena siapa saja yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah agar memberikan wasilah untukku. Sesungguhnya wasilah itu adalah satu kedudukan di surga yang tidak layak diberikan kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Aku berharap akulah hamba tersebut. Siapa yang memohonkan wasilah untukku, maka ia berhak mendapatkan syafaatku.” (HR. Muslim) Hadits 6/1038 عَنْ أبي سعيد الخُدْريّ رضي الله عنه أنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إذَا سمعْتُمُ النِّداءَ فقُولُوا كَمَا يقولُ المُؤذِّنُ». متفق عليه.Dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muazin.” (Muttafaqun ‘alaih) Hadits 7/1039 وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللّهم رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّداً الوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَاماً مَحْمُوداً الَّذِي وَعَدْتَه، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتي يَوْمَ الْقِيَامَةِ». رواه البخاري.Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang ketika mendengar azan mengucapkan,اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُALLAAHUMMA RABBA HAADZIHID DA‘WATIT TAAMMAH, WASH-SHALAATIL QAA’IMAH, AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WAL FADHIILAH, WAB‘ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANILLADZII WA‘ADTAH.‘Artinya: Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, serta bangkitkanlah beliau pada kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan,’ maka ia berhak mendapatkan syafaatku pada hari Kiamat.” (HR. Bukhari) Hadits 8/1040وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبي وَقَّاصٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَع المُؤَذِّنَ: أَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ وحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بالله ربّاً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً، وَبالإسْلامِ دِيناً، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ». رواه مسلم.Dari Sa‘d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa yang ketika mendengar muazin mengucapkan,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًاASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAH, WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHUU WA RASUULUH, RADHIITU BILLAAHI RABBAA, WA BIMUHAMMADIN RASUULAA, WA BIL-ISLAAMI DIINAA.‘Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku rida Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai rasul, dan Islam sebagai agama,’ maka dosanya diampuni.” (HR. Muslim) Faedah Hadits1. Hadits-hadits ini memuat sejumlah sunnah yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan adab-adab syariat yang berkaitan dengan azan, yaitu:2. Menjawab azan, dengan mengulangi apa yang diucapkan oleh muazin, kecuali ketika muazin mengucapkan, “Hayya ‘alash shalaah” dan “Hayya ‘alal falaah.” Ketika itu, kita mengucapkan kalimat memohon pertolongan:لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِLAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH.“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”Maksudnya, kami bertekad untuk memenuhi panggilan ini dengan memohon pertolongan kepada-Mu, wahai Rabb.3. Dianjurkan bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah azan selesai secara langsung.4. Memohonkan wasilah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu derajat tertinggi di surga. Juga mendoakan beliau agar Allah membangkitkan beliau pada kedudukan yang terpuji, yang seluruh makhluk memuji beliau karenanya. Itulah kedudukan syafaat pada hari Kiamat.5. Menjaga sunnah-sunnah ini menjadi sebab diampuninya dosa dan sebab untuk meraih syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits 9/1041عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ». رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ.Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Doa yang dipanjatkan antara azan dan iqamah tidak akan ditolak.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan.”) Faedah HaditsHendaknya memanfaatkan waktu-waktu yang utama untuk berdoa.Hadits ini juga menjelaskan adab dalam berdoa, yaitu seorang hamba hendaknya memulai doanya dengan memuji Allah, kemudian berselawat dan mengucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ. Cara seperti ini lebih besar harapannya untuk dikabulkan. Perhatikanlah, syariat menganjurkan orang yang mendengar azan agar menjawab lafaz azan. Ini merupakan salah satu bentuk pujian kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Setelah itu ia berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohon kepada Allah agar memberikan wasilah kepada beliau. Dengan demikian, doa yang dipanjatkannya setelah azan menjadi lebih dekat kepada pengabulan. Catatan PentingKarena azan merupakan salah satu zikir kepada Allah Ta’ala yang diajarkan dalam sunnah Nabi ﷺ, para ulama dari seluruh mazhab fikih memberikan perhatian besar terhadap ketepatan lafaz-lafaznya. Mereka sepakat bahwa azan berakhir ketika muazin mengucapkan kalimat terakhir:لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُAdapun amalan yang disebutkan dalam hadis-hadis sebelumnya, seperti berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohon wasilah untuk beliau, semuanya termasuk sunnah yang dilakukan setelah azan, bukan bagian dari lafaz azan itu sendiri.Karena itu, tidak boleh mengeraskan bacaan shalawat dan doa wasilah sehingga masyarakat mengira keduanya merupakan bagian dari azan. Petunjuk Nabi ﷺ yang dipraktikkan pada masa beliau adalah: setelah muazin selesai mengumandangkan azan, muazin dan orang-orang yang mendengarnya berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohonkan wasilah bagi beliau secara lirih (pelan).Siapa saja yang melakukan selain tuntunan tersebut berarti telah menyelisihi sunnah Nabi ﷺ dan keluar dari pendapat para imam mazhab. Oleh karena itu, hendaknya para muazin berhati-hati agar tidak menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ, serta berusaha teguh berpegang pada sunnah, karena di dalam sunnahlah terdapat seluruh kebaikan dan keberkahan. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. Ini adalah materi kajian rutin di Masjid Pogung Dalangan Yogyakarta pada setiap Malam Jumat bakda Maghrib – Isyak, bisa saksikan di Youtube Rumaysho TV. —– Kamis, 16 Juli 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsazan doa setelah azan jawab azan keutamaan azan muazin pahala shalat riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail shalat berjamaah sunnah azan syafaat nabi waktu mustajab


Banyak orang menganggap azan hanya sebagai rutinitas harian, padahal di dalamnya tersimpan pahala yang luar biasa besar. Bahkan, Nabi ﷺ menggambarkan bahwa manusia akan berebut azan jika benar-benar mengetahui keutamaannya. Tulisan ini akan membuka mata kita bahwa amalan ringan ini bisa menjadi jalan meraih kemuliaan besar di sisi Allah.  Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 186: Keutamaan Azan 2. Kalau Tahu Pahalanya, Orang Akan Rebutan Azan dan Shaf Pertama 3. Hadits 1/1033 3.1. Faedah Hadits 4. Keutamaan Muazin: Leher Paling Panjang di Hari Kiamat 5. Hadits 2/1034 5.1. Faedah Hadits 6. Keutamaan Azan dan Anjuran Mengeraskan Suara 7. Hadits 3/1035 7.1. Kosakata Hadits 7.2. Faedah Hadits 8. Keutamaan Azan dan Gangguan Setan dalam Shalat 9. Hadits 4/1036 9.1. Faedah Hadits 10. Rahasia Besar Setelah Azan: Amalan Ringan Pembuka Syafaat Nabi 11. Hadits 5/1037 12. Hadits 6/1038 13. Hadits 7/1039 14. Hadits 8/1040 14.1. Faedah Hadits 15. Hadits 9/1041 15.1. Faedah Hadits  Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 186: Keutamaan AzanKalau Tahu Pahalanya, Orang Akan Rebutan Azan dan Shaf PertamaHadits 1/1033عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ ما في النِّدَاءِ والصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاسْتَهَمُوا عَلَيْهِ، ولَوْ يَعْلَمُونَ ما في التَّهْجِيرِ لاسْتبَقُوا إلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ ما في العَتَمَةِ والصُّبْحِ لأَتَوهُمَا وَلَو حَبْواً». متفق عليهDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat dalam azan dan shaf pertama, lalu mereka tidak mendapatkan jalan untuk meraihnya selain dengan undian, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya. Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam bersegera datang ke salat, niscaya mereka akan berlomba-lomba menuju kepadanya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat Isya dan shalat Subuh, niscaya mereka akan mendatangi keduanya walaupun harus dengan merangkak.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, 2:96 dan Muslim, no. 437)Keterangan lafaz:الاِسْتِهَامُ: melakukan undian.التَّهْجِيرُ: datang lebih awal untuk salat.Kosakata hadits:النِّدَاء: azan.العَتَمَة: shalat Isya. Faedah HaditsKeutamaan azan dan shaf pertama.Azan memiliki keutamaan yang sangat besar. Azan termasuk amalan terbaik karena manfaatnya bersifat umum: mengagungkan Allah Ta‘ala dengan tauhid dan mengajak manusia kepada ibadah yang paling agung.Azan lebih utama daripada menjadi imam. Para ulama menjelaskan bahwa azan mengandung tauhid kepada Allah Ta‘ala dan persaksian bahwa Rasulullah adalah utusan-Nya. Ini menunjukkan besarnya kedudukan dakwah kepada tauhid dan ajakan untuk mengikuti sunnah.Hadits ini mendorong kaum mukminin agar berlomba-lomba dalam amal saleh dan berbagai bentuk ketaatan. Seorang mukmin hendaknya memanfaatkan setiap kesempatan berbuat baik, di antaranya dengan segera menyambut panggilan azan.Manusia banyak yang belum memahami hakikat ibadah dan besarnya pahala yang terkandung di dalamnya.Bolehnya melakukan undian dalam perkara-perkara yang memiliki keutamaan (untuk menentukan siapa yang lebih berhak).Kewajiban ibadah tidak gugur dari seorang hamba selama ia masih mampu melaksanakannya. Keutamaan Muazin: Leher Paling Panjang di Hari KiamatHadits 2/1034عَنْ معاويةَ رضي الله عنه قَالَ: سمعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يقولُ: «المؤذِّنُون أطوَلُ النَّاسِ أعناقاً يومَ القيامةِ». رواه مسلم.Dari Mu‘awiyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Para muazin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari Kiamat.” (HR. Muslim, no. 387) Faedah HaditsKeutamaan azan dan besarnya pahala seorang muazin yang ikhlas dan mengharap pahala dari Allah Ta‘ala.Para muazin akan menjadi orang yang paling panjang lehernya pada hari hisab. Mereka dikenal dengan tanda itu sebagai bentuk penampakan keutamaan dan kemuliaan mereka.Balasan itu sesuai dengan jenis amalnya. Kepala para muazin ditinggikan pada hari Kiamat karena dahulu mereka meninggikan tauhid Allah Ta‘ala di muka bumi. Keutamaan Azan dan Anjuran Mengeraskan SuaraHadits 3/1035 وعَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَبْدِ الرَّحْمن بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ، أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الخُدْرِيَّ رضي الله عنه قَالَ لَهُ: «إنِّي أَرَاكَ تُحبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ، فَإذَا كُنْتَ في غَنَمِكَ ــ أَوْ بَادِيَتِكَ ــ فَأَذَّنْتَ للصَّلاةِ، فَارْفَعْ صَوْتَكَ بالنِّدَاءِ، فَإنَّهُ لاَ يَسْمَعُ مَدَىٰ صَوْتِ المُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلا إنْسٌ وَلا شَيْءٌ، إلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» قال أبو سعيدٍ: سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ الله. رواه البخاري.Dari ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman bin Abi Sha‘sha‘ah, bahwa Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya,“Aku melihat engkau menyukai kambing dan kehidupan di pedalaman. Jika engkau sedang berada di tengah kambingmu—atau di pedalamanmu—lalu engkau mengumandangkan azan untuk shalat, maka keraskanlah suaramu ketika menyeru. Sebab, tidaklah jin, manusia, dan segala sesuatu mendengar sejauh jangkauan suara muazin, melainkan semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.”Abu Sa‘id berkata, “Aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ.” (HR. Bukhari, 2:87-88) Kosakata HaditsMadā shautil mu’adzdzin artinya sejauh jangkauan suara muazin. Faedah HaditsAzan ketika masuk waktu shalat berlaku untuk orang yang shalat sendirian maupun shalat berjemaah.Siapa saja dari kalangan jin, manusia, atau benda mati yang mendengar suara muazin, semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.Disunnahkan bagi muazin untuk mengeraskan suaranya ketika azan, agar semakin banyak yang menjadi saksi baginya pada hari kiamat.Dianjurkan bagi kaum muslimin untuk memilih muazin yang memiliki suara lantang.Mencintai kambing dan kehidupan di pedalaman termasuk amalan salaf saleh, terutama ketika terjadi fitnah.Para sahabat Rasulullah ﷺ sangat bersemangat mengajarkan sunnah kepada manusia. Di dalam sunnah terdapat kebaikan, keselamatan, dan penjagaan. Keutamaan Azan dan Gangguan Setan dalam ShalatHadits 4/1036ــ عَنْ أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إذَا نُودِيَ بالصَّلاةِ أدبَرَ الشَّيطانُ، لَهُ ضُراطٌ حَتَّىٰ لا يَسْمَعَ التَّأذينَ، فإذا قُضيَ النِّداءُ أقبَلَ، حَتَّىٰ إذَا ثُوِّبَ للصَّلاة أدْبَرَ، حَتَّىٰ إذَا قُضيَ التَّثويبُ أقْبَلَ، حَتَّىٰ يخْطرَ بينَ المَرْء ونفسه، يقولُ: اذْكُرْ كَذا، واذْكُرْ كذا، لما لَمْ يَكُنْ يَذْكُرْ من قبلُ، حَتَّىٰ يظَلَّ الرَّجُل مَا يَدْري كَمْ صَلَّىٰ». متفق عليه.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila azan dikumandangkan untuk shalat, setan akan lari membelakangi sambil mengeluarkan kentut, agar ia tidak mendengar azan. Ketika azan selesai, ia kembali datang. Kemudian ketika iqamah dikumandangkan untuk shalat, ia kembali lari. Ketika iqamah selesai, ia kembali datang hingga membisikkan godaan antara seseorang dan dirinya. Ia berkata, ‘Ingatlah ini, ingatlah itu,’ tentang sesuatu yang sebelumnya tidak ia ingat, sampai seseorang tidak mengetahui lagi berapa rakaat shalat yang telah ia kerjakan.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, 2:84-85, dan Muslim) Faedah HaditsShalat berjemaah tidak boleh dikumpulkan dengan cara apa pun selain azan.Setan merasa terganggu ketika mendengar azan, sehingga ia lari darinya, padahal ia tidak lari dari selain azan.Pertarungan antara orang beriman dan setan adalah pertarungan yang terus berlangsung dan tidak pernah berhenti.Pertarungan antara orang beriman dan pasukan setan pada dasarnya adalah pertarungan akidah. Setan sangat bersemangat merusak akidah hamba agar mereka tersesat dari jalan yang benar.Suara kebenaran, apabila terdengar lantang, membuat kebatilan tidak mampu bertahan ketika mendengarnya.Perang antara orang beriman dan setan merupakan peperangan yang terus berlanjut hingga hari Kiamat.Setan menggunakan berbagai cara dan jalan untuk menggoda anak Adam. Ia mengetahui hal-hal yang dapat menyibukkan mereka dari ibadah. Rahasia Besar Setelah Azan: Amalan Ringan Pembuka Syafaat NabiHadits 5/1037 وَعَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَمْرِو بْنِ العَاصِ رضي الله عنهما أنه سَمعَ رسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «إذا سَمِعْتُمُ المُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإنَّهُ مَنْ صلَّىٰ عَلَيَّ صلاةً صَلَّىٰ اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإنَّهَا مَنْزِلَةٌ في الجَنَّةِ لا تَنْبَغِي إلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِيَ الوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ». رواه مسلم.Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah kepadaku, karena siapa saja yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah agar memberikan wasilah untukku. Sesungguhnya wasilah itu adalah satu kedudukan di surga yang tidak layak diberikan kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Aku berharap akulah hamba tersebut. Siapa yang memohonkan wasilah untukku, maka ia berhak mendapatkan syafaatku.” (HR. Muslim) Hadits 6/1038 عَنْ أبي سعيد الخُدْريّ رضي الله عنه أنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إذَا سمعْتُمُ النِّداءَ فقُولُوا كَمَا يقولُ المُؤذِّنُ». متفق عليه.Dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muazin.” (Muttafaqun ‘alaih) Hadits 7/1039 وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللّهم رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّداً الوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَاماً مَحْمُوداً الَّذِي وَعَدْتَه، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتي يَوْمَ الْقِيَامَةِ». رواه البخاري.Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang ketika mendengar azan mengucapkan,اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُALLAAHUMMA RABBA HAADZIHID DA‘WATIT TAAMMAH, WASH-SHALAATIL QAA’IMAH, AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WAL FADHIILAH, WAB‘ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANILLADZII WA‘ADTAH.‘Artinya: Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, serta bangkitkanlah beliau pada kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan,’ maka ia berhak mendapatkan syafaatku pada hari Kiamat.” (HR. Bukhari) Hadits 8/1040وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبي وَقَّاصٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَع المُؤَذِّنَ: أَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ وحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بالله ربّاً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً، وَبالإسْلامِ دِيناً، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ». رواه مسلم.Dari Sa‘d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa yang ketika mendengar muazin mengucapkan,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًاASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAH, WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHUU WA RASUULUH, RADHIITU BILLAAHI RABBAA, WA BIMUHAMMADIN RASUULAA, WA BIL-ISLAAMI DIINAA.‘Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku rida Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai rasul, dan Islam sebagai agama,’ maka dosanya diampuni.” (HR. Muslim) Faedah Hadits1. Hadits-hadits ini memuat sejumlah sunnah yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan adab-adab syariat yang berkaitan dengan azan, yaitu:2. Menjawab azan, dengan mengulangi apa yang diucapkan oleh muazin, kecuali ketika muazin mengucapkan, “Hayya ‘alash shalaah” dan “Hayya ‘alal falaah.” Ketika itu, kita mengucapkan kalimat memohon pertolongan:لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِLAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH.“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”Maksudnya, kami bertekad untuk memenuhi panggilan ini dengan memohon pertolongan kepada-Mu, wahai Rabb.3. Dianjurkan bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah azan selesai secara langsung.4. Memohonkan wasilah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu derajat tertinggi di surga. Juga mendoakan beliau agar Allah membangkitkan beliau pada kedudukan yang terpuji, yang seluruh makhluk memuji beliau karenanya. Itulah kedudukan syafaat pada hari Kiamat.5. Menjaga sunnah-sunnah ini menjadi sebab diampuninya dosa dan sebab untuk meraih syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits 9/1041عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ». رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ.Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Doa yang dipanjatkan antara azan dan iqamah tidak akan ditolak.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan.”) Faedah HaditsHendaknya memanfaatkan waktu-waktu yang utama untuk berdoa.Hadits ini juga menjelaskan adab dalam berdoa, yaitu seorang hamba hendaknya memulai doanya dengan memuji Allah, kemudian berselawat dan mengucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ. Cara seperti ini lebih besar harapannya untuk dikabulkan. Perhatikanlah, syariat menganjurkan orang yang mendengar azan agar menjawab lafaz azan. Ini merupakan salah satu bentuk pujian kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Setelah itu ia berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohon kepada Allah agar memberikan wasilah kepada beliau. Dengan demikian, doa yang dipanjatkannya setelah azan menjadi lebih dekat kepada pengabulan. Catatan PentingKarena azan merupakan salah satu zikir kepada Allah Ta’ala yang diajarkan dalam sunnah Nabi ﷺ, para ulama dari seluruh mazhab fikih memberikan perhatian besar terhadap ketepatan lafaz-lafaznya. Mereka sepakat bahwa azan berakhir ketika muazin mengucapkan kalimat terakhir:لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُAdapun amalan yang disebutkan dalam hadis-hadis sebelumnya, seperti berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohon wasilah untuk beliau, semuanya termasuk sunnah yang dilakukan setelah azan, bukan bagian dari lafaz azan itu sendiri.Karena itu, tidak boleh mengeraskan bacaan shalawat dan doa wasilah sehingga masyarakat mengira keduanya merupakan bagian dari azan. Petunjuk Nabi ﷺ yang dipraktikkan pada masa beliau adalah: setelah muazin selesai mengumandangkan azan, muazin dan orang-orang yang mendengarnya berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohonkan wasilah bagi beliau secara lirih (pelan).Siapa saja yang melakukan selain tuntunan tersebut berarti telah menyelisihi sunnah Nabi ﷺ dan keluar dari pendapat para imam mazhab. Oleh karena itu, hendaknya para muazin berhati-hati agar tidak menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ, serta berusaha teguh berpegang pada sunnah, karena di dalam sunnahlah terdapat seluruh kebaikan dan keberkahan. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. Ini adalah materi kajian rutin di Masjid Pogung Dalangan Yogyakarta pada setiap Malam Jumat bakda Maghrib – Isyak, bisa saksikan di Youtube Rumaysho TV. —– Kamis, 16 Juli 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsazan doa setelah azan jawab azan keutamaan azan muazin pahala shalat riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail shalat berjamaah sunnah azan syafaat nabi waktu mustajab

Solusi Beli Emas Secara Online agar Transaksinya Tetap Syar’i – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Ummu Abdullah bertanya tentang membeli emas dari toko online, dan beberapa hal lainnya. Saat membeli emas dengan uang kertas, disyaratkan adanya serah terima pada saat akad. Serah terima itu bisa berupa serah terima fisik secara langsung. Dan ini bentuk serah terima yang paling sempurna, yaitu pembayaran dilakukan saat barang diterima. Jadi solusinya, saudari ini bisa meminta emasnya dikirim, lalu menyampaikan, “Insya Allah, pembayaran dilakukan saat barang diterima.” Ketika kurir datang, terjadilah ijab dan kabul dalam jual beli. Kurir menyerahkan emas, dan pembeli membayarkan uangnya. Sehingga terjadilah serah terima secara bersamaan. Inilah cara yang paling sempurna. Namun ada cara lain yang juga diperbolehkan. Adapun yang saudari penanya sebutkan, berupa menaruh uang titipan di pihak penjual, jika ini bisa dilakukan, maka ini juga bisa menjadi solusi. Namun, ia menyebutkan bahwa uang tersebut mungkin tidak bisa ditarik kembali, maka cara yang lebih baik adalah dengan sistem perwakilan, yaitu ia menunjuk seseorang di toko emas atau di toko tersebut sebagai wakilnya, untuk menerima emas atas namanya. Saat ia membayar uangnya, wakil tersebut menerima emasnya. Emas diserahkan kepada wakil. Ketika wakil telah menerimanya, seakan-akan ia sendiri yang telah menerima emas tersebut. Setelah itu, wakil menyerahkannya kepada jasa pengiriman, lalu mereka mengantarkannya kepada pembeli. Sistem perwakilan ini dapat menyelesaikan masalah sepenuhnya. Karena itu, saya pernah melihat sebagian toko menerapkan cara yang bagus. Saya melihat mereka menyediakan formulir perwakilan. Pemilik toko menyampaikannya kepada pelanggan. Formulir itu, isinya semisal, “Saya, pelanggan bernama Fulan, menunjuk Fulan dari toko tersebut untuk menerima emas sebagai wakil saya.” Jadi, pemilik toko bisa menyediakan formulir wakalah. Saya pernah melihat ini di sebagian toko emas. Dengan cara itu, maksud syar’i dari transaksi tersebut tercapai. Dan dengan itu pula, serah terima dalam waktu yang sama benar-benar terwujud. Jadi, cara perwakilan menyelesaikan masalah ini dengan lebih baik daripada cara yang disebutkan saudari penanya, yaitu dengan menitipkan uang sebagai amanah, karena metode amanah bisa saja dikelilingi beberapa masalah, sebagaimana yang disampaikan saudari penanya. Sedangkan sistem perwakilan dapat menyelesaikan masalah ini sepenuhnya. ===== أُمُّ عَبْدِ اللَّهِ تَسْأَلُ عَنْ شِرَاءِ الذَّهَبِ مِنَ الْمَتَاجِرِ الْإِلِكْتِرُونِيَّةِ وَسَأَلَتْ عَنْ أُمُورٍ أُخْرَى عِنْدَ شِرَاءِ الذَّهَبِ بِالْأَوْرَاقِ النَّقْدِيَّةِ يُشْتَرَطُ التَّقَابُضُ وَالتَّقَابُضُ إِمَّا أَنْ يَكُونَ تَقَابُضًا حِسِّيًّا وَهَذَا أَكْمَلُ صُوَرِ التَّقَابُضِ وَذَلِكَ بِأَنْ يَكُونَ الدَّفْعُ عِنْدَ الِاسْتِلَامِ فَتَطْلُبُ الْأُخْتُ الْكَرِيمَةُ الذَّهَبَ وَتَقُولُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ الدَّفْعُ يَكُونُ عِنْدَ الِاسْتِلَامِ وَإِذَا أَتَى مَنْدُوبُ التَّوْصِيلِ يَحْصُلُ الْإِيجَابُ وَالْقَبُولُ وَيُسَلِّمُ الذَّهَبَ وَهِيَ تُسَلِّمُ النَّقْدَ فَيَحْصُلُ التَّقَابُضُ هَذَا أَكْمَلُ الصُّوَرِ لَكِنْ أَيْضًا هُنَاكَ صُوَرٌ أُخْرَى تَجُوزُ مَا ذَكَرَتْهُ مِنْ وَضْعِ أَمَانَةٍ عِنْدَ الْبَائِعِ يَعْنِي هَذِهِ لَوْ تَحَقَّقَتْ لَكَانَ أَيْضًا فِيهَا حَلُّ الْإِشْكَالِ لَكِنْ هِيَ ذَكَرَتْ أَنَّ هَذَا الْمَبْلَغَ قَدْ لَا يُمْكِنُ اسْتِرْدَادُهُ خَيْرٌ مِنْهُ التَّوْكِيلُ بِأَنْ تُوَكِّلَ أَحَدًا فِي مَحَلِّ الذَّهَبِ أَوْ فِي الْمَتْجَرِ بِأَنْ يَقْبِضَ نِيَابَةً عَنْهَا وَكَالَةً عَنْهَا فَهُوَ يَقْبِضُ وَهِيَ تَدْفَعُ عِنْدَمَا تَدْفَعُ الْمَبْلَغَ الذَّهَبُ يُسَلَّمُ لِلْوَكِيلِ فَإِذَا اسْتَلَمَ الْوَكِيلُ فَكَأَنَّهَا هِيَ اسْتَلَمَتْ مِنَ الْوَكِيلِ بَعْدَ ذَلِكَ يُسَلِّمُهُ لِشَرِكَةِ التَّوْصِيلِ وَيُوصِلُونَهُ لَهَا فَالتَّوْكِيلُ يَحُلُّ الْإِشْكَالَ تَمَامًا وَلِذَلِكَ أَنَا رَأَيْتُ فِي بَعْضِ الْمَتَاجِرِ طَرِيقَةً جَمِيلَةً رَأَيْتُ أَنَّهُمْ يَضَعُونَ نَمُوذَجَ تَوْكِيلٍ يَقُولُ صَاحِبُ الْمَتْجَرِ لِلْعَمِيلِ نَعَمْ مِنَ الْعَمِيلِ: كفُلَانٍ وَكَّلْتُ فُلَانًا مِنَ الْمَتْجَرِ الْفُلَانِيِّ بِقَبْضِ الذَّهَبِ نِيَابَةً أَوْ وَكَالَةً عَنِّي فَيُمْكِنُ أَنَّ صَاحِبَ الْمَتْجَرِ يَضَعُ نَمُوذَجَ وَكَالَةٍ وَهَذَا قَدْ رَأَيْتُهُ فِي بَعْضِ الْمَتَاجِرِ وَهُوَ بِذَلِكَ يُحَقِّقُ الْمَقْصُودَ الشَّرْعِيَّ وَيَتَحَقَّقُ بِهِ التَّقَابُضُ هَذَا يَعْنِي الْوَكَالَةُ تَحُلُّ الْإِشْكَالِيَّةَ بِشَكْلٍ أَفْضَلَ مِنَ الطَّرِيقَةِ الَّتِي ذَكَرَتْهَا أُخْتِي الْكَرِيمَةُ مِنَ الْأَمَانَةِ لِأَنَّ الْأَمَانَةَ قَدْ يَكْتَنِفُهَا بَعْضُ الْإِشْكَالاتِ مِثْلَ مَا أَشَارَتْ إِلَيْهَا الْأُخْتُ الْكَرِيمَةُ الْوَكَالَةُ تَحُلُّ الْإِشْكَالِيَّةَ تَمَامًا

Solusi Beli Emas Secara Online agar Transaksinya Tetap Syar’i – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Ummu Abdullah bertanya tentang membeli emas dari toko online, dan beberapa hal lainnya. Saat membeli emas dengan uang kertas, disyaratkan adanya serah terima pada saat akad. Serah terima itu bisa berupa serah terima fisik secara langsung. Dan ini bentuk serah terima yang paling sempurna, yaitu pembayaran dilakukan saat barang diterima. Jadi solusinya, saudari ini bisa meminta emasnya dikirim, lalu menyampaikan, “Insya Allah, pembayaran dilakukan saat barang diterima.” Ketika kurir datang, terjadilah ijab dan kabul dalam jual beli. Kurir menyerahkan emas, dan pembeli membayarkan uangnya. Sehingga terjadilah serah terima secara bersamaan. Inilah cara yang paling sempurna. Namun ada cara lain yang juga diperbolehkan. Adapun yang saudari penanya sebutkan, berupa menaruh uang titipan di pihak penjual, jika ini bisa dilakukan, maka ini juga bisa menjadi solusi. Namun, ia menyebutkan bahwa uang tersebut mungkin tidak bisa ditarik kembali, maka cara yang lebih baik adalah dengan sistem perwakilan, yaitu ia menunjuk seseorang di toko emas atau di toko tersebut sebagai wakilnya, untuk menerima emas atas namanya. Saat ia membayar uangnya, wakil tersebut menerima emasnya. Emas diserahkan kepada wakil. Ketika wakil telah menerimanya, seakan-akan ia sendiri yang telah menerima emas tersebut. Setelah itu, wakil menyerahkannya kepada jasa pengiriman, lalu mereka mengantarkannya kepada pembeli. Sistem perwakilan ini dapat menyelesaikan masalah sepenuhnya. Karena itu, saya pernah melihat sebagian toko menerapkan cara yang bagus. Saya melihat mereka menyediakan formulir perwakilan. Pemilik toko menyampaikannya kepada pelanggan. Formulir itu, isinya semisal, “Saya, pelanggan bernama Fulan, menunjuk Fulan dari toko tersebut untuk menerima emas sebagai wakil saya.” Jadi, pemilik toko bisa menyediakan formulir wakalah. Saya pernah melihat ini di sebagian toko emas. Dengan cara itu, maksud syar’i dari transaksi tersebut tercapai. Dan dengan itu pula, serah terima dalam waktu yang sama benar-benar terwujud. Jadi, cara perwakilan menyelesaikan masalah ini dengan lebih baik daripada cara yang disebutkan saudari penanya, yaitu dengan menitipkan uang sebagai amanah, karena metode amanah bisa saja dikelilingi beberapa masalah, sebagaimana yang disampaikan saudari penanya. Sedangkan sistem perwakilan dapat menyelesaikan masalah ini sepenuhnya. ===== أُمُّ عَبْدِ اللَّهِ تَسْأَلُ عَنْ شِرَاءِ الذَّهَبِ مِنَ الْمَتَاجِرِ الْإِلِكْتِرُونِيَّةِ وَسَأَلَتْ عَنْ أُمُورٍ أُخْرَى عِنْدَ شِرَاءِ الذَّهَبِ بِالْأَوْرَاقِ النَّقْدِيَّةِ يُشْتَرَطُ التَّقَابُضُ وَالتَّقَابُضُ إِمَّا أَنْ يَكُونَ تَقَابُضًا حِسِّيًّا وَهَذَا أَكْمَلُ صُوَرِ التَّقَابُضِ وَذَلِكَ بِأَنْ يَكُونَ الدَّفْعُ عِنْدَ الِاسْتِلَامِ فَتَطْلُبُ الْأُخْتُ الْكَرِيمَةُ الذَّهَبَ وَتَقُولُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ الدَّفْعُ يَكُونُ عِنْدَ الِاسْتِلَامِ وَإِذَا أَتَى مَنْدُوبُ التَّوْصِيلِ يَحْصُلُ الْإِيجَابُ وَالْقَبُولُ وَيُسَلِّمُ الذَّهَبَ وَهِيَ تُسَلِّمُ النَّقْدَ فَيَحْصُلُ التَّقَابُضُ هَذَا أَكْمَلُ الصُّوَرِ لَكِنْ أَيْضًا هُنَاكَ صُوَرٌ أُخْرَى تَجُوزُ مَا ذَكَرَتْهُ مِنْ وَضْعِ أَمَانَةٍ عِنْدَ الْبَائِعِ يَعْنِي هَذِهِ لَوْ تَحَقَّقَتْ لَكَانَ أَيْضًا فِيهَا حَلُّ الْإِشْكَالِ لَكِنْ هِيَ ذَكَرَتْ أَنَّ هَذَا الْمَبْلَغَ قَدْ لَا يُمْكِنُ اسْتِرْدَادُهُ خَيْرٌ مِنْهُ التَّوْكِيلُ بِأَنْ تُوَكِّلَ أَحَدًا فِي مَحَلِّ الذَّهَبِ أَوْ فِي الْمَتْجَرِ بِأَنْ يَقْبِضَ نِيَابَةً عَنْهَا وَكَالَةً عَنْهَا فَهُوَ يَقْبِضُ وَهِيَ تَدْفَعُ عِنْدَمَا تَدْفَعُ الْمَبْلَغَ الذَّهَبُ يُسَلَّمُ لِلْوَكِيلِ فَإِذَا اسْتَلَمَ الْوَكِيلُ فَكَأَنَّهَا هِيَ اسْتَلَمَتْ مِنَ الْوَكِيلِ بَعْدَ ذَلِكَ يُسَلِّمُهُ لِشَرِكَةِ التَّوْصِيلِ وَيُوصِلُونَهُ لَهَا فَالتَّوْكِيلُ يَحُلُّ الْإِشْكَالَ تَمَامًا وَلِذَلِكَ أَنَا رَأَيْتُ فِي بَعْضِ الْمَتَاجِرِ طَرِيقَةً جَمِيلَةً رَأَيْتُ أَنَّهُمْ يَضَعُونَ نَمُوذَجَ تَوْكِيلٍ يَقُولُ صَاحِبُ الْمَتْجَرِ لِلْعَمِيلِ نَعَمْ مِنَ الْعَمِيلِ: كفُلَانٍ وَكَّلْتُ فُلَانًا مِنَ الْمَتْجَرِ الْفُلَانِيِّ بِقَبْضِ الذَّهَبِ نِيَابَةً أَوْ وَكَالَةً عَنِّي فَيُمْكِنُ أَنَّ صَاحِبَ الْمَتْجَرِ يَضَعُ نَمُوذَجَ وَكَالَةٍ وَهَذَا قَدْ رَأَيْتُهُ فِي بَعْضِ الْمَتَاجِرِ وَهُوَ بِذَلِكَ يُحَقِّقُ الْمَقْصُودَ الشَّرْعِيَّ وَيَتَحَقَّقُ بِهِ التَّقَابُضُ هَذَا يَعْنِي الْوَكَالَةُ تَحُلُّ الْإِشْكَالِيَّةَ بِشَكْلٍ أَفْضَلَ مِنَ الطَّرِيقَةِ الَّتِي ذَكَرَتْهَا أُخْتِي الْكَرِيمَةُ مِنَ الْأَمَانَةِ لِأَنَّ الْأَمَانَةَ قَدْ يَكْتَنِفُهَا بَعْضُ الْإِشْكَالاتِ مِثْلَ مَا أَشَارَتْ إِلَيْهَا الْأُخْتُ الْكَرِيمَةُ الْوَكَالَةُ تَحُلُّ الْإِشْكَالِيَّةَ تَمَامًا
Ummu Abdullah bertanya tentang membeli emas dari toko online, dan beberapa hal lainnya. Saat membeli emas dengan uang kertas, disyaratkan adanya serah terima pada saat akad. Serah terima itu bisa berupa serah terima fisik secara langsung. Dan ini bentuk serah terima yang paling sempurna, yaitu pembayaran dilakukan saat barang diterima. Jadi solusinya, saudari ini bisa meminta emasnya dikirim, lalu menyampaikan, “Insya Allah, pembayaran dilakukan saat barang diterima.” Ketika kurir datang, terjadilah ijab dan kabul dalam jual beli. Kurir menyerahkan emas, dan pembeli membayarkan uangnya. Sehingga terjadilah serah terima secara bersamaan. Inilah cara yang paling sempurna. Namun ada cara lain yang juga diperbolehkan. Adapun yang saudari penanya sebutkan, berupa menaruh uang titipan di pihak penjual, jika ini bisa dilakukan, maka ini juga bisa menjadi solusi. Namun, ia menyebutkan bahwa uang tersebut mungkin tidak bisa ditarik kembali, maka cara yang lebih baik adalah dengan sistem perwakilan, yaitu ia menunjuk seseorang di toko emas atau di toko tersebut sebagai wakilnya, untuk menerima emas atas namanya. Saat ia membayar uangnya, wakil tersebut menerima emasnya. Emas diserahkan kepada wakil. Ketika wakil telah menerimanya, seakan-akan ia sendiri yang telah menerima emas tersebut. Setelah itu, wakil menyerahkannya kepada jasa pengiriman, lalu mereka mengantarkannya kepada pembeli. Sistem perwakilan ini dapat menyelesaikan masalah sepenuhnya. Karena itu, saya pernah melihat sebagian toko menerapkan cara yang bagus. Saya melihat mereka menyediakan formulir perwakilan. Pemilik toko menyampaikannya kepada pelanggan. Formulir itu, isinya semisal, “Saya, pelanggan bernama Fulan, menunjuk Fulan dari toko tersebut untuk menerima emas sebagai wakil saya.” Jadi, pemilik toko bisa menyediakan formulir wakalah. Saya pernah melihat ini di sebagian toko emas. Dengan cara itu, maksud syar’i dari transaksi tersebut tercapai. Dan dengan itu pula, serah terima dalam waktu yang sama benar-benar terwujud. Jadi, cara perwakilan menyelesaikan masalah ini dengan lebih baik daripada cara yang disebutkan saudari penanya, yaitu dengan menitipkan uang sebagai amanah, karena metode amanah bisa saja dikelilingi beberapa masalah, sebagaimana yang disampaikan saudari penanya. Sedangkan sistem perwakilan dapat menyelesaikan masalah ini sepenuhnya. ===== أُمُّ عَبْدِ اللَّهِ تَسْأَلُ عَنْ شِرَاءِ الذَّهَبِ مِنَ الْمَتَاجِرِ الْإِلِكْتِرُونِيَّةِ وَسَأَلَتْ عَنْ أُمُورٍ أُخْرَى عِنْدَ شِرَاءِ الذَّهَبِ بِالْأَوْرَاقِ النَّقْدِيَّةِ يُشْتَرَطُ التَّقَابُضُ وَالتَّقَابُضُ إِمَّا أَنْ يَكُونَ تَقَابُضًا حِسِّيًّا وَهَذَا أَكْمَلُ صُوَرِ التَّقَابُضِ وَذَلِكَ بِأَنْ يَكُونَ الدَّفْعُ عِنْدَ الِاسْتِلَامِ فَتَطْلُبُ الْأُخْتُ الْكَرِيمَةُ الذَّهَبَ وَتَقُولُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ الدَّفْعُ يَكُونُ عِنْدَ الِاسْتِلَامِ وَإِذَا أَتَى مَنْدُوبُ التَّوْصِيلِ يَحْصُلُ الْإِيجَابُ وَالْقَبُولُ وَيُسَلِّمُ الذَّهَبَ وَهِيَ تُسَلِّمُ النَّقْدَ فَيَحْصُلُ التَّقَابُضُ هَذَا أَكْمَلُ الصُّوَرِ لَكِنْ أَيْضًا هُنَاكَ صُوَرٌ أُخْرَى تَجُوزُ مَا ذَكَرَتْهُ مِنْ وَضْعِ أَمَانَةٍ عِنْدَ الْبَائِعِ يَعْنِي هَذِهِ لَوْ تَحَقَّقَتْ لَكَانَ أَيْضًا فِيهَا حَلُّ الْإِشْكَالِ لَكِنْ هِيَ ذَكَرَتْ أَنَّ هَذَا الْمَبْلَغَ قَدْ لَا يُمْكِنُ اسْتِرْدَادُهُ خَيْرٌ مِنْهُ التَّوْكِيلُ بِأَنْ تُوَكِّلَ أَحَدًا فِي مَحَلِّ الذَّهَبِ أَوْ فِي الْمَتْجَرِ بِأَنْ يَقْبِضَ نِيَابَةً عَنْهَا وَكَالَةً عَنْهَا فَهُوَ يَقْبِضُ وَهِيَ تَدْفَعُ عِنْدَمَا تَدْفَعُ الْمَبْلَغَ الذَّهَبُ يُسَلَّمُ لِلْوَكِيلِ فَإِذَا اسْتَلَمَ الْوَكِيلُ فَكَأَنَّهَا هِيَ اسْتَلَمَتْ مِنَ الْوَكِيلِ بَعْدَ ذَلِكَ يُسَلِّمُهُ لِشَرِكَةِ التَّوْصِيلِ وَيُوصِلُونَهُ لَهَا فَالتَّوْكِيلُ يَحُلُّ الْإِشْكَالَ تَمَامًا وَلِذَلِكَ أَنَا رَأَيْتُ فِي بَعْضِ الْمَتَاجِرِ طَرِيقَةً جَمِيلَةً رَأَيْتُ أَنَّهُمْ يَضَعُونَ نَمُوذَجَ تَوْكِيلٍ يَقُولُ صَاحِبُ الْمَتْجَرِ لِلْعَمِيلِ نَعَمْ مِنَ الْعَمِيلِ: كفُلَانٍ وَكَّلْتُ فُلَانًا مِنَ الْمَتْجَرِ الْفُلَانِيِّ بِقَبْضِ الذَّهَبِ نِيَابَةً أَوْ وَكَالَةً عَنِّي فَيُمْكِنُ أَنَّ صَاحِبَ الْمَتْجَرِ يَضَعُ نَمُوذَجَ وَكَالَةٍ وَهَذَا قَدْ رَأَيْتُهُ فِي بَعْضِ الْمَتَاجِرِ وَهُوَ بِذَلِكَ يُحَقِّقُ الْمَقْصُودَ الشَّرْعِيَّ وَيَتَحَقَّقُ بِهِ التَّقَابُضُ هَذَا يَعْنِي الْوَكَالَةُ تَحُلُّ الْإِشْكَالِيَّةَ بِشَكْلٍ أَفْضَلَ مِنَ الطَّرِيقَةِ الَّتِي ذَكَرَتْهَا أُخْتِي الْكَرِيمَةُ مِنَ الْأَمَانَةِ لِأَنَّ الْأَمَانَةَ قَدْ يَكْتَنِفُهَا بَعْضُ الْإِشْكَالاتِ مِثْلَ مَا أَشَارَتْ إِلَيْهَا الْأُخْتُ الْكَرِيمَةُ الْوَكَالَةُ تَحُلُّ الْإِشْكَالِيَّةَ تَمَامًا


Ummu Abdullah bertanya tentang membeli emas dari toko online, dan beberapa hal lainnya. Saat membeli emas dengan uang kertas, disyaratkan adanya serah terima pada saat akad. Serah terima itu bisa berupa serah terima fisik secara langsung. Dan ini bentuk serah terima yang paling sempurna, yaitu pembayaran dilakukan saat barang diterima. Jadi solusinya, saudari ini bisa meminta emasnya dikirim, lalu menyampaikan, “Insya Allah, pembayaran dilakukan saat barang diterima.” Ketika kurir datang, terjadilah ijab dan kabul dalam jual beli. Kurir menyerahkan emas, dan pembeli membayarkan uangnya. Sehingga terjadilah serah terima secara bersamaan. Inilah cara yang paling sempurna. Namun ada cara lain yang juga diperbolehkan. Adapun yang saudari penanya sebutkan, berupa menaruh uang titipan di pihak penjual, jika ini bisa dilakukan, maka ini juga bisa menjadi solusi. Namun, ia menyebutkan bahwa uang tersebut mungkin tidak bisa ditarik kembali, maka cara yang lebih baik adalah dengan sistem perwakilan, yaitu ia menunjuk seseorang di toko emas atau di toko tersebut sebagai wakilnya, untuk menerima emas atas namanya. Saat ia membayar uangnya, wakil tersebut menerima emasnya. Emas diserahkan kepada wakil. Ketika wakil telah menerimanya, seakan-akan ia sendiri yang telah menerima emas tersebut. Setelah itu, wakil menyerahkannya kepada jasa pengiriman, lalu mereka mengantarkannya kepada pembeli. Sistem perwakilan ini dapat menyelesaikan masalah sepenuhnya. Karena itu, saya pernah melihat sebagian toko menerapkan cara yang bagus. Saya melihat mereka menyediakan formulir perwakilan. Pemilik toko menyampaikannya kepada pelanggan. Formulir itu, isinya semisal, “Saya, pelanggan bernama Fulan, menunjuk Fulan dari toko tersebut untuk menerima emas sebagai wakil saya.” Jadi, pemilik toko bisa menyediakan formulir wakalah. Saya pernah melihat ini di sebagian toko emas. Dengan cara itu, maksud syar’i dari transaksi tersebut tercapai. Dan dengan itu pula, serah terima dalam waktu yang sama benar-benar terwujud. Jadi, cara perwakilan menyelesaikan masalah ini dengan lebih baik daripada cara yang disebutkan saudari penanya, yaitu dengan menitipkan uang sebagai amanah, karena metode amanah bisa saja dikelilingi beberapa masalah, sebagaimana yang disampaikan saudari penanya. Sedangkan sistem perwakilan dapat menyelesaikan masalah ini sepenuhnya. ===== أُمُّ عَبْدِ اللَّهِ تَسْأَلُ عَنْ شِرَاءِ الذَّهَبِ مِنَ الْمَتَاجِرِ الْإِلِكْتِرُونِيَّةِ وَسَأَلَتْ عَنْ أُمُورٍ أُخْرَى عِنْدَ شِرَاءِ الذَّهَبِ بِالْأَوْرَاقِ النَّقْدِيَّةِ يُشْتَرَطُ التَّقَابُضُ وَالتَّقَابُضُ إِمَّا أَنْ يَكُونَ تَقَابُضًا حِسِّيًّا وَهَذَا أَكْمَلُ صُوَرِ التَّقَابُضِ وَذَلِكَ بِأَنْ يَكُونَ الدَّفْعُ عِنْدَ الِاسْتِلَامِ فَتَطْلُبُ الْأُخْتُ الْكَرِيمَةُ الذَّهَبَ وَتَقُولُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ الدَّفْعُ يَكُونُ عِنْدَ الِاسْتِلَامِ وَإِذَا أَتَى مَنْدُوبُ التَّوْصِيلِ يَحْصُلُ الْإِيجَابُ وَالْقَبُولُ وَيُسَلِّمُ الذَّهَبَ وَهِيَ تُسَلِّمُ النَّقْدَ فَيَحْصُلُ التَّقَابُضُ هَذَا أَكْمَلُ الصُّوَرِ لَكِنْ أَيْضًا هُنَاكَ صُوَرٌ أُخْرَى تَجُوزُ مَا ذَكَرَتْهُ مِنْ وَضْعِ أَمَانَةٍ عِنْدَ الْبَائِعِ يَعْنِي هَذِهِ لَوْ تَحَقَّقَتْ لَكَانَ أَيْضًا فِيهَا حَلُّ الْإِشْكَالِ لَكِنْ هِيَ ذَكَرَتْ أَنَّ هَذَا الْمَبْلَغَ قَدْ لَا يُمْكِنُ اسْتِرْدَادُهُ خَيْرٌ مِنْهُ التَّوْكِيلُ بِأَنْ تُوَكِّلَ أَحَدًا فِي مَحَلِّ الذَّهَبِ أَوْ فِي الْمَتْجَرِ بِأَنْ يَقْبِضَ نِيَابَةً عَنْهَا وَكَالَةً عَنْهَا فَهُوَ يَقْبِضُ وَهِيَ تَدْفَعُ عِنْدَمَا تَدْفَعُ الْمَبْلَغَ الذَّهَبُ يُسَلَّمُ لِلْوَكِيلِ فَإِذَا اسْتَلَمَ الْوَكِيلُ فَكَأَنَّهَا هِيَ اسْتَلَمَتْ مِنَ الْوَكِيلِ بَعْدَ ذَلِكَ يُسَلِّمُهُ لِشَرِكَةِ التَّوْصِيلِ وَيُوصِلُونَهُ لَهَا فَالتَّوْكِيلُ يَحُلُّ الْإِشْكَالَ تَمَامًا وَلِذَلِكَ أَنَا رَأَيْتُ فِي بَعْضِ الْمَتَاجِرِ طَرِيقَةً جَمِيلَةً رَأَيْتُ أَنَّهُمْ يَضَعُونَ نَمُوذَجَ تَوْكِيلٍ يَقُولُ صَاحِبُ الْمَتْجَرِ لِلْعَمِيلِ نَعَمْ مِنَ الْعَمِيلِ: كفُلَانٍ وَكَّلْتُ فُلَانًا مِنَ الْمَتْجَرِ الْفُلَانِيِّ بِقَبْضِ الذَّهَبِ نِيَابَةً أَوْ وَكَالَةً عَنِّي فَيُمْكِنُ أَنَّ صَاحِبَ الْمَتْجَرِ يَضَعُ نَمُوذَجَ وَكَالَةٍ وَهَذَا قَدْ رَأَيْتُهُ فِي بَعْضِ الْمَتَاجِرِ وَهُوَ بِذَلِكَ يُحَقِّقُ الْمَقْصُودَ الشَّرْعِيَّ وَيَتَحَقَّقُ بِهِ التَّقَابُضُ هَذَا يَعْنِي الْوَكَالَةُ تَحُلُّ الْإِشْكَالِيَّةَ بِشَكْلٍ أَفْضَلَ مِنَ الطَّرِيقَةِ الَّتِي ذَكَرَتْهَا أُخْتِي الْكَرِيمَةُ مِنَ الْأَمَانَةِ لِأَنَّ الْأَمَانَةَ قَدْ يَكْتَنِفُهَا بَعْضُ الْإِشْكَالاتِ مِثْلَ مَا أَشَارَتْ إِلَيْهَا الْأُخْتُ الْكَرِيمَةُ الْوَكَالَةُ تَحُلُّ الْإِشْكَالِيَّةَ تَمَامًا

Fikih Akikah (Bag. 3): Karakteristik, Syarat-Syarat Hewan Akikah, dan Pembagian

Daftar Isi ToggleKarakteristik hewan akikahApakah diharuskan dengan jenis tertentu, semisal jantan atau betina?Apakah diperbolehkan menggunakan hewan selain domba untuk akikah?Syarat-syarat hewan akikahApakah diwajibkan menyebutkan nama pemilik akikah ketika menyembelih?Pembagian daging akikahKarakteristik hewan akikahSunahnya adalah menyembelih 2 ekor domba untuk bayi laki-laki dan 1 ekor domba untuk bayi perempuan. Hal ini berdasarkan riwayat Umm Kurz yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ وَعَنْ الْأُنْثَى وَاحِدَةٌ“Dua ekor domba untuk anak laki-laki dan satu ekor domba untuk anak perempuan.” [1]Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan perbedaan jumlah hewan antara untuk laki-laki dan perempuan dengan mengatakan, “Ini merupakan prinsip hukum Islam karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membedakan antara laki-laki dan perempuan, menjadikan setengah dari laki-laki dalam hal warisan, diyat (kompensasi atas pembunuhan), kesaksian, pembebasan budak, dan akikah; sebagaimana dalam hadis Umamah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أيما امرئ مسلم أعتق مسلماً كان فكاكه من النار، يجزئ كل عضو منه عضواً منه، وأيما امرئ مسلم أعتق امرأتين مسلمتين كانتا فكاكه من النار، يجزئ كل عضو منهما عضوًا منه“Barang siapa memerdekakan seorang Muslim (budak), maka dibebaskan dari api neraka, setiap anggota tubuh budak tersebut menggantikan setiap anggota tubuhnya. Dan barang siapa seorang Muslim memerdekakan dua orang perempuan Muslim, maka dibebaskan dari api neraka, setiap anggota tubuh dari keduanya menggantikan setiap anggota tubuhnya [diriwayatkan oleh At-tirmidzi].” [2]Diperbolehkan melakukan akikah untuk anak laki-laki dengan 1 ekor domba. Dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengurbankan seekor domba jantan untuk Hasan dan Husain. [3]Apakah diharuskan dengan jenis tertentu, semisal jantan atau betina?Akikah tidak diwajibkan untuk jenis tertentu: jantan dan betina sama-sama diperbolehkan, begitu pula domba atau kambing. Hal ini berdasarkan perkataan umum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ، وَعَنْ الْأُنْثَى وَاحِدَةٌ، وَلَا يَضُرُّكُمْ ذُكْرَانًا كُنَّ، أَمْ إِنَاثًا“Dua ekor domba untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan dan tidak masalah apakah domba itu jantan atau betina.” [4]Apakah diperbolehkan menggunakan hewan selain domba untuk akikah?Pada dasarnya, sunah akikah adalah menyembelih 2 ekor domba untuk anak laki-laki dan 1 ekor domba untuk anak perempuan. Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah unta dan sapi boleh digunakan untuk akikah. Pendapat jumhur ulama membolehkan penggunaan hewan tersebut. Sementara itu, sebagian ulama melarangnya karena hadis hanya menyebutkan domba. [5] Domba sebagai hewan akikah lebih baik karena lebih ittiba’ (mengikuti) sunah daripada unta, sapi, atau anak sapi.Adapun hewan selain ternak di atas, seperti burung dan sejenisnya, tidak diperbolehkan untuk akikah. Al-Hafiz Ibn Abd al-Barr rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa hanya delapan jenis hewan yang diperbolehkan untuk akikah, kecuali beberapa pendapat yang berbeda yang pendapatnya tidak dianggap sah.” [6] Delapan jenis hewan tersebut adalah: unta jantan, unta betina, sapi jantan, sapi betina, domba jantan, domba betina, kambing jantan, dan kambing betina. [7]Syarat-syarat hewan akikahSyarat hewan akikah sama seperti syarat pada hewan kurban udhiyah (hari raya Iduladha), yaitu hewan tersebut terbebas dari cacat dan umurnya cukup. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Cacat yang dihindari pada hewan kurban udhiyah harus dihindari pada hewan akikah. Singkatnya, hukum akikah sama dengan hukum udhiyah berkaitan dengan umurnya; dan cacat yang dilarang pada hewan kurban udhiyah juga dilarang pada hewan akikah. Oleh karena itu, domba yang berumur kurang dari satu tahun tidak dapat diterima. Kambing berusia minimum satu tahun, tidak buta, tidak terdapat pincang yang jelas, tidak sakit yang terlihat jelas, tidak kurus, dan tidak kehilangan lebih dari setengah telinga atau tanduknya.” [8] Umur syarat hewan akikah yaitu lima tahun untuk unta, dua tahun untuk sapi, dan enam bulan untuk domba. [9]Apakah diwajibkan menyebutkan nama pemilik akikah ketika menyembelih?Tidak diwajibkan menyebutkan nama pemilik akikah agar sah. Yang penting, pemiliknya bermaksud menjadikan itu sebagai akikah dan tidak diwajibkan bagi penyembelih dan tukang jagal untuk mengetahui bahwa itu adalah akikah. [9]Pembagian daging akikahTidak ada ketentuan terkait pembagian daging akikah karena tujuan utamanya adalah berkurban itu sendiri. Oleh karena itu, penekanannya adalah pada tindakannya dan anjuran pelaksanaannya sebagaimana terlihat pada hadis Abu Dawud. [10]Ibnu Sirin rahimahullah berkata, “Jadikan (perlakukan) daging akikah sesuai keinginanmu.” [11]Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “(Imam) Ahmad ditanya tentang hal ini, lalu dia meriwayatkan pernyataan Ibnu Sirin yang menunjukkan bahwa ia menganut pandangan ini. Ketika ditanya apakah seseorang harus memakan semuanya, dia menjawab, ‘Aku tidak mengatakan bahwa seseorang harus memakan semuanya dan tidak memberikan sebagian pun untuk sedekah.” [12]Syekh Al-Albani rahimahullah berkata, “Jika ia mau, ia boleh memakan semuanya, atau ia boleh membagikan semuanya kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan, atau ia boleh memakan sebagian dan membagikan sebagiannya.” [13]Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Ia boleh mengumpulkan kerabat dan teman-temannya untuk makan daging akikah. Tidak ada salahnya memasaknya dan membagikannya, baik yang sudah dimasak maupun yang masih mentah. Masalah ini fleksibel.” [14]Diperbolehkan juga membagikan daging akikah di kampung halaman anak atau di tempat lain. [15] Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2 LANJUT KE BAGIAN 4***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1516) dan An-Nasa’i (no. 4217). Disahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil (4: 391).[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1547).[3] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2841).[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1516) dan disahihkan oleh Al-Albani rahimahullah dalam “Shahih Sunan At-Tirmidzi.” Lihat juga: islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 202306.[5] Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (30: 279).[6] Al-Istidzkar (5: 321). Lihat juga: islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 104399.[7] Lihat: islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 104399.[8] Al-Mughni (7: 366).[9] Lihat: islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 202306.[10] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2838) dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam “Shahih Abi Dawud”.[11] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Shaybah (8: 53).[12] Al-Mughni (9: 366).[13] www.ahlalhdeeth.com[14] Asy-Syarh Al-Mumti’ (25: 206).[15] Fatawa Nur Ala Ad-Darb (5: 228).

Fikih Akikah (Bag. 3): Karakteristik, Syarat-Syarat Hewan Akikah, dan Pembagian

Daftar Isi ToggleKarakteristik hewan akikahApakah diharuskan dengan jenis tertentu, semisal jantan atau betina?Apakah diperbolehkan menggunakan hewan selain domba untuk akikah?Syarat-syarat hewan akikahApakah diwajibkan menyebutkan nama pemilik akikah ketika menyembelih?Pembagian daging akikahKarakteristik hewan akikahSunahnya adalah menyembelih 2 ekor domba untuk bayi laki-laki dan 1 ekor domba untuk bayi perempuan. Hal ini berdasarkan riwayat Umm Kurz yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ وَعَنْ الْأُنْثَى وَاحِدَةٌ“Dua ekor domba untuk anak laki-laki dan satu ekor domba untuk anak perempuan.” [1]Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan perbedaan jumlah hewan antara untuk laki-laki dan perempuan dengan mengatakan, “Ini merupakan prinsip hukum Islam karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membedakan antara laki-laki dan perempuan, menjadikan setengah dari laki-laki dalam hal warisan, diyat (kompensasi atas pembunuhan), kesaksian, pembebasan budak, dan akikah; sebagaimana dalam hadis Umamah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أيما امرئ مسلم أعتق مسلماً كان فكاكه من النار، يجزئ كل عضو منه عضواً منه، وأيما امرئ مسلم أعتق امرأتين مسلمتين كانتا فكاكه من النار، يجزئ كل عضو منهما عضوًا منه“Barang siapa memerdekakan seorang Muslim (budak), maka dibebaskan dari api neraka, setiap anggota tubuh budak tersebut menggantikan setiap anggota tubuhnya. Dan barang siapa seorang Muslim memerdekakan dua orang perempuan Muslim, maka dibebaskan dari api neraka, setiap anggota tubuh dari keduanya menggantikan setiap anggota tubuhnya [diriwayatkan oleh At-tirmidzi].” [2]Diperbolehkan melakukan akikah untuk anak laki-laki dengan 1 ekor domba. Dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengurbankan seekor domba jantan untuk Hasan dan Husain. [3]Apakah diharuskan dengan jenis tertentu, semisal jantan atau betina?Akikah tidak diwajibkan untuk jenis tertentu: jantan dan betina sama-sama diperbolehkan, begitu pula domba atau kambing. Hal ini berdasarkan perkataan umum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ، وَعَنْ الْأُنْثَى وَاحِدَةٌ، وَلَا يَضُرُّكُمْ ذُكْرَانًا كُنَّ، أَمْ إِنَاثًا“Dua ekor domba untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan dan tidak masalah apakah domba itu jantan atau betina.” [4]Apakah diperbolehkan menggunakan hewan selain domba untuk akikah?Pada dasarnya, sunah akikah adalah menyembelih 2 ekor domba untuk anak laki-laki dan 1 ekor domba untuk anak perempuan. Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah unta dan sapi boleh digunakan untuk akikah. Pendapat jumhur ulama membolehkan penggunaan hewan tersebut. Sementara itu, sebagian ulama melarangnya karena hadis hanya menyebutkan domba. [5] Domba sebagai hewan akikah lebih baik karena lebih ittiba’ (mengikuti) sunah daripada unta, sapi, atau anak sapi.Adapun hewan selain ternak di atas, seperti burung dan sejenisnya, tidak diperbolehkan untuk akikah. Al-Hafiz Ibn Abd al-Barr rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa hanya delapan jenis hewan yang diperbolehkan untuk akikah, kecuali beberapa pendapat yang berbeda yang pendapatnya tidak dianggap sah.” [6] Delapan jenis hewan tersebut adalah: unta jantan, unta betina, sapi jantan, sapi betina, domba jantan, domba betina, kambing jantan, dan kambing betina. [7]Syarat-syarat hewan akikahSyarat hewan akikah sama seperti syarat pada hewan kurban udhiyah (hari raya Iduladha), yaitu hewan tersebut terbebas dari cacat dan umurnya cukup. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Cacat yang dihindari pada hewan kurban udhiyah harus dihindari pada hewan akikah. Singkatnya, hukum akikah sama dengan hukum udhiyah berkaitan dengan umurnya; dan cacat yang dilarang pada hewan kurban udhiyah juga dilarang pada hewan akikah. Oleh karena itu, domba yang berumur kurang dari satu tahun tidak dapat diterima. Kambing berusia minimum satu tahun, tidak buta, tidak terdapat pincang yang jelas, tidak sakit yang terlihat jelas, tidak kurus, dan tidak kehilangan lebih dari setengah telinga atau tanduknya.” [8] Umur syarat hewan akikah yaitu lima tahun untuk unta, dua tahun untuk sapi, dan enam bulan untuk domba. [9]Apakah diwajibkan menyebutkan nama pemilik akikah ketika menyembelih?Tidak diwajibkan menyebutkan nama pemilik akikah agar sah. Yang penting, pemiliknya bermaksud menjadikan itu sebagai akikah dan tidak diwajibkan bagi penyembelih dan tukang jagal untuk mengetahui bahwa itu adalah akikah. [9]Pembagian daging akikahTidak ada ketentuan terkait pembagian daging akikah karena tujuan utamanya adalah berkurban itu sendiri. Oleh karena itu, penekanannya adalah pada tindakannya dan anjuran pelaksanaannya sebagaimana terlihat pada hadis Abu Dawud. [10]Ibnu Sirin rahimahullah berkata, “Jadikan (perlakukan) daging akikah sesuai keinginanmu.” [11]Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “(Imam) Ahmad ditanya tentang hal ini, lalu dia meriwayatkan pernyataan Ibnu Sirin yang menunjukkan bahwa ia menganut pandangan ini. Ketika ditanya apakah seseorang harus memakan semuanya, dia menjawab, ‘Aku tidak mengatakan bahwa seseorang harus memakan semuanya dan tidak memberikan sebagian pun untuk sedekah.” [12]Syekh Al-Albani rahimahullah berkata, “Jika ia mau, ia boleh memakan semuanya, atau ia boleh membagikan semuanya kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan, atau ia boleh memakan sebagian dan membagikan sebagiannya.” [13]Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Ia boleh mengumpulkan kerabat dan teman-temannya untuk makan daging akikah. Tidak ada salahnya memasaknya dan membagikannya, baik yang sudah dimasak maupun yang masih mentah. Masalah ini fleksibel.” [14]Diperbolehkan juga membagikan daging akikah di kampung halaman anak atau di tempat lain. [15] Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2 LANJUT KE BAGIAN 4***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1516) dan An-Nasa’i (no. 4217). Disahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil (4: 391).[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1547).[3] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2841).[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1516) dan disahihkan oleh Al-Albani rahimahullah dalam “Shahih Sunan At-Tirmidzi.” Lihat juga: islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 202306.[5] Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (30: 279).[6] Al-Istidzkar (5: 321). Lihat juga: islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 104399.[7] Lihat: islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 104399.[8] Al-Mughni (7: 366).[9] Lihat: islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 202306.[10] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2838) dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam “Shahih Abi Dawud”.[11] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Shaybah (8: 53).[12] Al-Mughni (9: 366).[13] www.ahlalhdeeth.com[14] Asy-Syarh Al-Mumti’ (25: 206).[15] Fatawa Nur Ala Ad-Darb (5: 228).
Daftar Isi ToggleKarakteristik hewan akikahApakah diharuskan dengan jenis tertentu, semisal jantan atau betina?Apakah diperbolehkan menggunakan hewan selain domba untuk akikah?Syarat-syarat hewan akikahApakah diwajibkan menyebutkan nama pemilik akikah ketika menyembelih?Pembagian daging akikahKarakteristik hewan akikahSunahnya adalah menyembelih 2 ekor domba untuk bayi laki-laki dan 1 ekor domba untuk bayi perempuan. Hal ini berdasarkan riwayat Umm Kurz yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ وَعَنْ الْأُنْثَى وَاحِدَةٌ“Dua ekor domba untuk anak laki-laki dan satu ekor domba untuk anak perempuan.” [1]Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan perbedaan jumlah hewan antara untuk laki-laki dan perempuan dengan mengatakan, “Ini merupakan prinsip hukum Islam karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membedakan antara laki-laki dan perempuan, menjadikan setengah dari laki-laki dalam hal warisan, diyat (kompensasi atas pembunuhan), kesaksian, pembebasan budak, dan akikah; sebagaimana dalam hadis Umamah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أيما امرئ مسلم أعتق مسلماً كان فكاكه من النار، يجزئ كل عضو منه عضواً منه، وأيما امرئ مسلم أعتق امرأتين مسلمتين كانتا فكاكه من النار، يجزئ كل عضو منهما عضوًا منه“Barang siapa memerdekakan seorang Muslim (budak), maka dibebaskan dari api neraka, setiap anggota tubuh budak tersebut menggantikan setiap anggota tubuhnya. Dan barang siapa seorang Muslim memerdekakan dua orang perempuan Muslim, maka dibebaskan dari api neraka, setiap anggota tubuh dari keduanya menggantikan setiap anggota tubuhnya [diriwayatkan oleh At-tirmidzi].” [2]Diperbolehkan melakukan akikah untuk anak laki-laki dengan 1 ekor domba. Dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengurbankan seekor domba jantan untuk Hasan dan Husain. [3]Apakah diharuskan dengan jenis tertentu, semisal jantan atau betina?Akikah tidak diwajibkan untuk jenis tertentu: jantan dan betina sama-sama diperbolehkan, begitu pula domba atau kambing. Hal ini berdasarkan perkataan umum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ، وَعَنْ الْأُنْثَى وَاحِدَةٌ، وَلَا يَضُرُّكُمْ ذُكْرَانًا كُنَّ، أَمْ إِنَاثًا“Dua ekor domba untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan dan tidak masalah apakah domba itu jantan atau betina.” [4]Apakah diperbolehkan menggunakan hewan selain domba untuk akikah?Pada dasarnya, sunah akikah adalah menyembelih 2 ekor domba untuk anak laki-laki dan 1 ekor domba untuk anak perempuan. Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah unta dan sapi boleh digunakan untuk akikah. Pendapat jumhur ulama membolehkan penggunaan hewan tersebut. Sementara itu, sebagian ulama melarangnya karena hadis hanya menyebutkan domba. [5] Domba sebagai hewan akikah lebih baik karena lebih ittiba’ (mengikuti) sunah daripada unta, sapi, atau anak sapi.Adapun hewan selain ternak di atas, seperti burung dan sejenisnya, tidak diperbolehkan untuk akikah. Al-Hafiz Ibn Abd al-Barr rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa hanya delapan jenis hewan yang diperbolehkan untuk akikah, kecuali beberapa pendapat yang berbeda yang pendapatnya tidak dianggap sah.” [6] Delapan jenis hewan tersebut adalah: unta jantan, unta betina, sapi jantan, sapi betina, domba jantan, domba betina, kambing jantan, dan kambing betina. [7]Syarat-syarat hewan akikahSyarat hewan akikah sama seperti syarat pada hewan kurban udhiyah (hari raya Iduladha), yaitu hewan tersebut terbebas dari cacat dan umurnya cukup. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Cacat yang dihindari pada hewan kurban udhiyah harus dihindari pada hewan akikah. Singkatnya, hukum akikah sama dengan hukum udhiyah berkaitan dengan umurnya; dan cacat yang dilarang pada hewan kurban udhiyah juga dilarang pada hewan akikah. Oleh karena itu, domba yang berumur kurang dari satu tahun tidak dapat diterima. Kambing berusia minimum satu tahun, tidak buta, tidak terdapat pincang yang jelas, tidak sakit yang terlihat jelas, tidak kurus, dan tidak kehilangan lebih dari setengah telinga atau tanduknya.” [8] Umur syarat hewan akikah yaitu lima tahun untuk unta, dua tahun untuk sapi, dan enam bulan untuk domba. [9]Apakah diwajibkan menyebutkan nama pemilik akikah ketika menyembelih?Tidak diwajibkan menyebutkan nama pemilik akikah agar sah. Yang penting, pemiliknya bermaksud menjadikan itu sebagai akikah dan tidak diwajibkan bagi penyembelih dan tukang jagal untuk mengetahui bahwa itu adalah akikah. [9]Pembagian daging akikahTidak ada ketentuan terkait pembagian daging akikah karena tujuan utamanya adalah berkurban itu sendiri. Oleh karena itu, penekanannya adalah pada tindakannya dan anjuran pelaksanaannya sebagaimana terlihat pada hadis Abu Dawud. [10]Ibnu Sirin rahimahullah berkata, “Jadikan (perlakukan) daging akikah sesuai keinginanmu.” [11]Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “(Imam) Ahmad ditanya tentang hal ini, lalu dia meriwayatkan pernyataan Ibnu Sirin yang menunjukkan bahwa ia menganut pandangan ini. Ketika ditanya apakah seseorang harus memakan semuanya, dia menjawab, ‘Aku tidak mengatakan bahwa seseorang harus memakan semuanya dan tidak memberikan sebagian pun untuk sedekah.” [12]Syekh Al-Albani rahimahullah berkata, “Jika ia mau, ia boleh memakan semuanya, atau ia boleh membagikan semuanya kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan, atau ia boleh memakan sebagian dan membagikan sebagiannya.” [13]Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Ia boleh mengumpulkan kerabat dan teman-temannya untuk makan daging akikah. Tidak ada salahnya memasaknya dan membagikannya, baik yang sudah dimasak maupun yang masih mentah. Masalah ini fleksibel.” [14]Diperbolehkan juga membagikan daging akikah di kampung halaman anak atau di tempat lain. [15] Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2 LANJUT KE BAGIAN 4***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1516) dan An-Nasa’i (no. 4217). Disahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil (4: 391).[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1547).[3] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2841).[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1516) dan disahihkan oleh Al-Albani rahimahullah dalam “Shahih Sunan At-Tirmidzi.” Lihat juga: islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 202306.[5] Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (30: 279).[6] Al-Istidzkar (5: 321). Lihat juga: islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 104399.[7] Lihat: islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 104399.[8] Al-Mughni (7: 366).[9] Lihat: islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 202306.[10] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2838) dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam “Shahih Abi Dawud”.[11] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Shaybah (8: 53).[12] Al-Mughni (9: 366).[13] www.ahlalhdeeth.com[14] Asy-Syarh Al-Mumti’ (25: 206).[15] Fatawa Nur Ala Ad-Darb (5: 228).


Daftar Isi ToggleKarakteristik hewan akikahApakah diharuskan dengan jenis tertentu, semisal jantan atau betina?Apakah diperbolehkan menggunakan hewan selain domba untuk akikah?Syarat-syarat hewan akikahApakah diwajibkan menyebutkan nama pemilik akikah ketika menyembelih?Pembagian daging akikahKarakteristik hewan akikahSunahnya adalah menyembelih 2 ekor domba untuk bayi laki-laki dan 1 ekor domba untuk bayi perempuan. Hal ini berdasarkan riwayat Umm Kurz yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ وَعَنْ الْأُنْثَى وَاحِدَةٌ“Dua ekor domba untuk anak laki-laki dan satu ekor domba untuk anak perempuan.” [1]Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan perbedaan jumlah hewan antara untuk laki-laki dan perempuan dengan mengatakan, “Ini merupakan prinsip hukum Islam karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membedakan antara laki-laki dan perempuan, menjadikan setengah dari laki-laki dalam hal warisan, diyat (kompensasi atas pembunuhan), kesaksian, pembebasan budak, dan akikah; sebagaimana dalam hadis Umamah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أيما امرئ مسلم أعتق مسلماً كان فكاكه من النار، يجزئ كل عضو منه عضواً منه، وأيما امرئ مسلم أعتق امرأتين مسلمتين كانتا فكاكه من النار، يجزئ كل عضو منهما عضوًا منه“Barang siapa memerdekakan seorang Muslim (budak), maka dibebaskan dari api neraka, setiap anggota tubuh budak tersebut menggantikan setiap anggota tubuhnya. Dan barang siapa seorang Muslim memerdekakan dua orang perempuan Muslim, maka dibebaskan dari api neraka, setiap anggota tubuh dari keduanya menggantikan setiap anggota tubuhnya [diriwayatkan oleh At-tirmidzi].” [2]Diperbolehkan melakukan akikah untuk anak laki-laki dengan 1 ekor domba. Dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengurbankan seekor domba jantan untuk Hasan dan Husain. [3]Apakah diharuskan dengan jenis tertentu, semisal jantan atau betina?Akikah tidak diwajibkan untuk jenis tertentu: jantan dan betina sama-sama diperbolehkan, begitu pula domba atau kambing. Hal ini berdasarkan perkataan umum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ، وَعَنْ الْأُنْثَى وَاحِدَةٌ، وَلَا يَضُرُّكُمْ ذُكْرَانًا كُنَّ، أَمْ إِنَاثًا“Dua ekor domba untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan dan tidak masalah apakah domba itu jantan atau betina.” [4]Apakah diperbolehkan menggunakan hewan selain domba untuk akikah?Pada dasarnya, sunah akikah adalah menyembelih 2 ekor domba untuk anak laki-laki dan 1 ekor domba untuk anak perempuan. Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah unta dan sapi boleh digunakan untuk akikah. Pendapat jumhur ulama membolehkan penggunaan hewan tersebut. Sementara itu, sebagian ulama melarangnya karena hadis hanya menyebutkan domba. [5] Domba sebagai hewan akikah lebih baik karena lebih ittiba’ (mengikuti) sunah daripada unta, sapi, atau anak sapi.Adapun hewan selain ternak di atas, seperti burung dan sejenisnya, tidak diperbolehkan untuk akikah. Al-Hafiz Ibn Abd al-Barr rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa hanya delapan jenis hewan yang diperbolehkan untuk akikah, kecuali beberapa pendapat yang berbeda yang pendapatnya tidak dianggap sah.” [6] Delapan jenis hewan tersebut adalah: unta jantan, unta betina, sapi jantan, sapi betina, domba jantan, domba betina, kambing jantan, dan kambing betina. [7]Syarat-syarat hewan akikahSyarat hewan akikah sama seperti syarat pada hewan kurban udhiyah (hari raya Iduladha), yaitu hewan tersebut terbebas dari cacat dan umurnya cukup. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Cacat yang dihindari pada hewan kurban udhiyah harus dihindari pada hewan akikah. Singkatnya, hukum akikah sama dengan hukum udhiyah berkaitan dengan umurnya; dan cacat yang dilarang pada hewan kurban udhiyah juga dilarang pada hewan akikah. Oleh karena itu, domba yang berumur kurang dari satu tahun tidak dapat diterima. Kambing berusia minimum satu tahun, tidak buta, tidak terdapat pincang yang jelas, tidak sakit yang terlihat jelas, tidak kurus, dan tidak kehilangan lebih dari setengah telinga atau tanduknya.” [8] Umur syarat hewan akikah yaitu lima tahun untuk unta, dua tahun untuk sapi, dan enam bulan untuk domba. [9]Apakah diwajibkan menyebutkan nama pemilik akikah ketika menyembelih?Tidak diwajibkan menyebutkan nama pemilik akikah agar sah. Yang penting, pemiliknya bermaksud menjadikan itu sebagai akikah dan tidak diwajibkan bagi penyembelih dan tukang jagal untuk mengetahui bahwa itu adalah akikah. [9]Pembagian daging akikahTidak ada ketentuan terkait pembagian daging akikah karena tujuan utamanya adalah berkurban itu sendiri. Oleh karena itu, penekanannya adalah pada tindakannya dan anjuran pelaksanaannya sebagaimana terlihat pada hadis Abu Dawud. [10]Ibnu Sirin rahimahullah berkata, “Jadikan (perlakukan) daging akikah sesuai keinginanmu.” [11]Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “(Imam) Ahmad ditanya tentang hal ini, lalu dia meriwayatkan pernyataan Ibnu Sirin yang menunjukkan bahwa ia menganut pandangan ini. Ketika ditanya apakah seseorang harus memakan semuanya, dia menjawab, ‘Aku tidak mengatakan bahwa seseorang harus memakan semuanya dan tidak memberikan sebagian pun untuk sedekah.” [12]Syekh Al-Albani rahimahullah berkata, “Jika ia mau, ia boleh memakan semuanya, atau ia boleh membagikan semuanya kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan, atau ia boleh memakan sebagian dan membagikan sebagiannya.” [13]Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Ia boleh mengumpulkan kerabat dan teman-temannya untuk makan daging akikah. Tidak ada salahnya memasaknya dan membagikannya, baik yang sudah dimasak maupun yang masih mentah. Masalah ini fleksibel.” [14]Diperbolehkan juga membagikan daging akikah di kampung halaman anak atau di tempat lain. [15] Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2 LANJUT KE BAGIAN 4***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1516) dan An-Nasa’i (no. 4217). Disahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil (4: 391).[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1547).[3] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2841).[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1516) dan disahihkan oleh Al-Albani rahimahullah dalam “Shahih Sunan At-Tirmidzi.” Lihat juga: islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 202306.[5] Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (30: 279).[6] Al-Istidzkar (5: 321). Lihat juga: islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 104399.[7] Lihat: islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 104399.[8] Al-Mughni (7: 366).[9] Lihat: islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 202306.[10] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2838) dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam “Shahih Abi Dawud”.[11] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Shaybah (8: 53).[12] Al-Mughni (9: 366).[13] www.ahlalhdeeth.com[14] Asy-Syarh Al-Mumti’ (25: 206).[15] Fatawa Nur Ala Ad-Darb (5: 228).

Masih Ada Waktu untuk Berbuat Dosa, Belum Tentu Ada Waktu untuk Bertobat (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleSetiap manusia pasti pernah terjatuh dalam dosaManusia terbaik dan paling mulia saja selalu beristigfar kepada-NyaBahaya menunda tobatPertama, kematian yang datang tanpa peringatanKedua, hati yang menjadi keras karena dosaKetiga, hilangnya kepekaan terhadap dosaKeempat, tidak selalu ada kesempatan bertobatLuasnya rahmat Allah bagi orang yang bertobatSalah satu bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah dibukanya pintu tobat selama masih hidup di dunia. Tidak ada manusia yang terbebas dari dosa dan kesalahan. Setiap anak Adam pasti pernah tergelincir dalam dosa dan maksiat, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Oleh karena itu, Islam mengajarkan agar seorang mukmin senantiasa kembali kepada Allah dengan memperbanyak istigfar dan tobat.Namun, di antara perangkap terbesar setan adalah menanamkan angan-angan panjang dalam hati manusia. Setan membuat seseorang merasa masih memiliki waktu yang panjang sehingga ia menunda tobat dari hari ke hari. Bisikan seperti, “Nanti saja tobatnya ketika sudah tua”, “Masih ada waktu untuk memperbaiki diri”, atau “Aku akan bertobat setelah urusanku selesai”, merupakan tipu daya yang telah menyesatkan banyak manusia.Padahal, tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan menjemputnya. Berapa banyak orang yang merencanakan masa depan, tetapi kematian datang lebih dahulu sebelum ia sempat memperbaiki hubungannya dengan Allah. Karena itulah, para ulama salaf sangat menekankan pentingnya segera bertobat dan tidak menunda-nundanya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Dan bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung” (QS. An-Nur: 31).Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,فليس لأحدٍ أن يظنَّ استغناءَه عن التوبةِ إلى اللهِ والاستغفارِ من الذنوبِ، بل كلُّ أحدٍ محتاجٌ إلى ذلك دائمًا“Tidak ada seorang pun yang dapat merasa cukup tanpa tobat kepada Allah dan istigfar dari dosa-dosanya. Sebab, setiap hamba senantiasa membutuhkan tobat kepada-Nya dan memohon ampunan-Nya setiap waktu.” (Majmu‘ Al-Fatawa, 11: 255)Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman untuk bertobat kepada-Nya karena tidak ada seorang pun yang terbebas dari kekurangan dan kesalahan. Bahkan orang yang banyak beribadah sekalipun tetap memerlukan tobat untuk menutupi kekurangan dalam amalnya.Setiap manusia pasti pernah terjatuh dalam dosaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertobat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499; dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani)Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukanlah karena ia tidak pernah berbuat salah sama sekali, melainkan karena ia segera kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla setelah melakukan kesalahan tersebut. Sebaliknya, orang yang terus-menerus menunda tobat berada dalam bahaya besar. Dosa yang dibiarkan akan semakin mengakar dalam hati hingga menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan.Manusia terbaik dan paling mulia saja selalu beristigfar kepada-NyaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling mulia dan telah mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atas dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang. Namun demikian, beliau tetap memperbanyak istigfar dan tobat.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً“Demi Allah, sungguh aku beristigfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Al-Bukhari no. 6307)Dalam riwayat yang lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai manusia. Beristigfarlah kepada Allah karena aku selalu beristigfar (bertobat) kepada-Nya dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702)Para ulama menjelaskan bahwa istigfar yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan karena beliau melakukan dosa sebagaimana manusia biasa, melainkan sebagai bentuk kesempurnaan penghambaan, rasa syukur, dan ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim berkata,وَاسْتِغْفَارُهُ صلى الله عليه وسلم لإِظْهَار الْعُبُودِيَّةِ وَالِافْتِقَارِ وَمُلَازَمَةِ الْخُشُوعِ وَشُكْرًا لِمَا أَوْلَاهُ“Istigfarnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilakukan untuk menampakkan penghambaan diri, menunjukkan kebutuhannya kepada Allah, senantiasa menjaga kekhusyukan, dan sebagai bentuk syukur atas berbagai nikmat yang Allah karuniakan kepadanya.”Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang maksum saja selalu memperbanyak tobat dan istigfar setiap hari, maka manusia biasa yang penuh kekurangan tentu lebih membutuhkan tobat dan istigfar.Bahaya menunda tobatPertama, kematian yang datang tanpa peringatanYang menjadi sebab utama seseorang tidak boleh menunda tobat adalah karena Allah rahasiakan waktu kematiannya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ“Tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana ia akan mati.” (QS. Luqman: 34)Banyak orang ingin bertobat pada masa tuanya. Namun, siapa yang menjamin bahwa seseorang akan mencapai usia tersebut? Kuburan dipenuhi oleh orang tua, orang dewasa, bahkan anak-anak yang masih kecil tidak pernah menyangka bahwa hidup mereka akan berakhir secepat itu.Hal ini menjadi peringatan yang sangat nyata bagi para pendosa dan pelaku maksiat untuk segera bertobat sebelum ajal menjemput.Kedua, hati yang menjadi keras karena dosaMaksiat dan dosa yang dilakukan terus-menerus akan mengeraskan hati. Setiap dosa akan meninggalkan noda hitam pada hati manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ“Ketika seorang hamba melakukan dosa, akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Ketika dia meninggalkannya, memohon ampun, dan bertobat darinya, hatinya akan dibersihkan.” (HR. At-Tirmidzi no. 3334; dihasankan Al-Albani)Apabila dosa terus dilakukan tanpa bertobat, titik-titik tersebut akan menutupi hati sehingga seseorang menjadi keras hatinya, semakin sulit menerima nasihat dan pertunjuk.Ketiga, hilangnya kepekaan terhadap dosaSalah satu hukuman yang Allah Ta’ala timpakan bagi pelaku dosa dan maksiat adalah hilangnya rasa bersalah. Awalnya, seseorang merasa berdosa ketika bermaksiat; namun setelah berulang kali melakukannya, ia menjadi terbiasa dan menganggap dosa sebagai hal biasa. Ini sangat berbahaya karena menunjukkan semakin jauhnya ia dari Allah ‘Azza wa Jalla.Keempat, tidak selalu ada kesempatan bertobatMemang pintu tobat terbuka lebar bagi para pelaku dosa dan maksiat, tetapi tidak akan terbuka selamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi no. 3537; hasan)Luasnya rahmat Allah bagi orang yang bertobatMeskipun dosa seorang hamba sangatlah banyak, namun rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala jauh lebih luas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertobat, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertobat.” (HR. Muslim no. 2759)Hadis ini menunjukkan besarnya kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya serta dorongan agar mereka tidak berputus asa dari rahmat-Nya.Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala bergembira dengan tobat seorang hamba melebihi kegembiraan seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di tengah padang pasir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةٌ عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ“Sungguh Allah lebih bergembira dengan tobat hamba-Nya ketika ia bertobat kepada-Nya daripada salah seorang di antara kalian yang berada di padang pasir bersama untanya yang membawa makanan dan minumannya, lalu unta itu lepas darinya. Ia pun putus asa mendapatkannya. Kemudian ia berbaring di bawah naungan pohon dalam keadaan putus asa. Tiba-tiba, untanya berdiri di dekatnya. Maka ia memegang tali kekangnya dan berkata karena sangat gembira, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia keliru karena sangat gembira.” (HR. Muslim no. 2747)[Bersambung]***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id

Masih Ada Waktu untuk Berbuat Dosa, Belum Tentu Ada Waktu untuk Bertobat (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleSetiap manusia pasti pernah terjatuh dalam dosaManusia terbaik dan paling mulia saja selalu beristigfar kepada-NyaBahaya menunda tobatPertama, kematian yang datang tanpa peringatanKedua, hati yang menjadi keras karena dosaKetiga, hilangnya kepekaan terhadap dosaKeempat, tidak selalu ada kesempatan bertobatLuasnya rahmat Allah bagi orang yang bertobatSalah satu bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah dibukanya pintu tobat selama masih hidup di dunia. Tidak ada manusia yang terbebas dari dosa dan kesalahan. Setiap anak Adam pasti pernah tergelincir dalam dosa dan maksiat, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Oleh karena itu, Islam mengajarkan agar seorang mukmin senantiasa kembali kepada Allah dengan memperbanyak istigfar dan tobat.Namun, di antara perangkap terbesar setan adalah menanamkan angan-angan panjang dalam hati manusia. Setan membuat seseorang merasa masih memiliki waktu yang panjang sehingga ia menunda tobat dari hari ke hari. Bisikan seperti, “Nanti saja tobatnya ketika sudah tua”, “Masih ada waktu untuk memperbaiki diri”, atau “Aku akan bertobat setelah urusanku selesai”, merupakan tipu daya yang telah menyesatkan banyak manusia.Padahal, tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan menjemputnya. Berapa banyak orang yang merencanakan masa depan, tetapi kematian datang lebih dahulu sebelum ia sempat memperbaiki hubungannya dengan Allah. Karena itulah, para ulama salaf sangat menekankan pentingnya segera bertobat dan tidak menunda-nundanya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Dan bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung” (QS. An-Nur: 31).Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,فليس لأحدٍ أن يظنَّ استغناءَه عن التوبةِ إلى اللهِ والاستغفارِ من الذنوبِ، بل كلُّ أحدٍ محتاجٌ إلى ذلك دائمًا“Tidak ada seorang pun yang dapat merasa cukup tanpa tobat kepada Allah dan istigfar dari dosa-dosanya. Sebab, setiap hamba senantiasa membutuhkan tobat kepada-Nya dan memohon ampunan-Nya setiap waktu.” (Majmu‘ Al-Fatawa, 11: 255)Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman untuk bertobat kepada-Nya karena tidak ada seorang pun yang terbebas dari kekurangan dan kesalahan. Bahkan orang yang banyak beribadah sekalipun tetap memerlukan tobat untuk menutupi kekurangan dalam amalnya.Setiap manusia pasti pernah terjatuh dalam dosaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertobat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499; dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani)Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukanlah karena ia tidak pernah berbuat salah sama sekali, melainkan karena ia segera kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla setelah melakukan kesalahan tersebut. Sebaliknya, orang yang terus-menerus menunda tobat berada dalam bahaya besar. Dosa yang dibiarkan akan semakin mengakar dalam hati hingga menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan.Manusia terbaik dan paling mulia saja selalu beristigfar kepada-NyaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling mulia dan telah mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atas dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang. Namun demikian, beliau tetap memperbanyak istigfar dan tobat.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً“Demi Allah, sungguh aku beristigfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Al-Bukhari no. 6307)Dalam riwayat yang lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai manusia. Beristigfarlah kepada Allah karena aku selalu beristigfar (bertobat) kepada-Nya dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702)Para ulama menjelaskan bahwa istigfar yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan karena beliau melakukan dosa sebagaimana manusia biasa, melainkan sebagai bentuk kesempurnaan penghambaan, rasa syukur, dan ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim berkata,وَاسْتِغْفَارُهُ صلى الله عليه وسلم لإِظْهَار الْعُبُودِيَّةِ وَالِافْتِقَارِ وَمُلَازَمَةِ الْخُشُوعِ وَشُكْرًا لِمَا أَوْلَاهُ“Istigfarnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilakukan untuk menampakkan penghambaan diri, menunjukkan kebutuhannya kepada Allah, senantiasa menjaga kekhusyukan, dan sebagai bentuk syukur atas berbagai nikmat yang Allah karuniakan kepadanya.”Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang maksum saja selalu memperbanyak tobat dan istigfar setiap hari, maka manusia biasa yang penuh kekurangan tentu lebih membutuhkan tobat dan istigfar.Bahaya menunda tobatPertama, kematian yang datang tanpa peringatanYang menjadi sebab utama seseorang tidak boleh menunda tobat adalah karena Allah rahasiakan waktu kematiannya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ“Tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana ia akan mati.” (QS. Luqman: 34)Banyak orang ingin bertobat pada masa tuanya. Namun, siapa yang menjamin bahwa seseorang akan mencapai usia tersebut? Kuburan dipenuhi oleh orang tua, orang dewasa, bahkan anak-anak yang masih kecil tidak pernah menyangka bahwa hidup mereka akan berakhir secepat itu.Hal ini menjadi peringatan yang sangat nyata bagi para pendosa dan pelaku maksiat untuk segera bertobat sebelum ajal menjemput.Kedua, hati yang menjadi keras karena dosaMaksiat dan dosa yang dilakukan terus-menerus akan mengeraskan hati. Setiap dosa akan meninggalkan noda hitam pada hati manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ“Ketika seorang hamba melakukan dosa, akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Ketika dia meninggalkannya, memohon ampun, dan bertobat darinya, hatinya akan dibersihkan.” (HR. At-Tirmidzi no. 3334; dihasankan Al-Albani)Apabila dosa terus dilakukan tanpa bertobat, titik-titik tersebut akan menutupi hati sehingga seseorang menjadi keras hatinya, semakin sulit menerima nasihat dan pertunjuk.Ketiga, hilangnya kepekaan terhadap dosaSalah satu hukuman yang Allah Ta’ala timpakan bagi pelaku dosa dan maksiat adalah hilangnya rasa bersalah. Awalnya, seseorang merasa berdosa ketika bermaksiat; namun setelah berulang kali melakukannya, ia menjadi terbiasa dan menganggap dosa sebagai hal biasa. Ini sangat berbahaya karena menunjukkan semakin jauhnya ia dari Allah ‘Azza wa Jalla.Keempat, tidak selalu ada kesempatan bertobatMemang pintu tobat terbuka lebar bagi para pelaku dosa dan maksiat, tetapi tidak akan terbuka selamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi no. 3537; hasan)Luasnya rahmat Allah bagi orang yang bertobatMeskipun dosa seorang hamba sangatlah banyak, namun rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala jauh lebih luas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertobat, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertobat.” (HR. Muslim no. 2759)Hadis ini menunjukkan besarnya kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya serta dorongan agar mereka tidak berputus asa dari rahmat-Nya.Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala bergembira dengan tobat seorang hamba melebihi kegembiraan seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di tengah padang pasir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةٌ عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ“Sungguh Allah lebih bergembira dengan tobat hamba-Nya ketika ia bertobat kepada-Nya daripada salah seorang di antara kalian yang berada di padang pasir bersama untanya yang membawa makanan dan minumannya, lalu unta itu lepas darinya. Ia pun putus asa mendapatkannya. Kemudian ia berbaring di bawah naungan pohon dalam keadaan putus asa. Tiba-tiba, untanya berdiri di dekatnya. Maka ia memegang tali kekangnya dan berkata karena sangat gembira, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia keliru karena sangat gembira.” (HR. Muslim no. 2747)[Bersambung]***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleSetiap manusia pasti pernah terjatuh dalam dosaManusia terbaik dan paling mulia saja selalu beristigfar kepada-NyaBahaya menunda tobatPertama, kematian yang datang tanpa peringatanKedua, hati yang menjadi keras karena dosaKetiga, hilangnya kepekaan terhadap dosaKeempat, tidak selalu ada kesempatan bertobatLuasnya rahmat Allah bagi orang yang bertobatSalah satu bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah dibukanya pintu tobat selama masih hidup di dunia. Tidak ada manusia yang terbebas dari dosa dan kesalahan. Setiap anak Adam pasti pernah tergelincir dalam dosa dan maksiat, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Oleh karena itu, Islam mengajarkan agar seorang mukmin senantiasa kembali kepada Allah dengan memperbanyak istigfar dan tobat.Namun, di antara perangkap terbesar setan adalah menanamkan angan-angan panjang dalam hati manusia. Setan membuat seseorang merasa masih memiliki waktu yang panjang sehingga ia menunda tobat dari hari ke hari. Bisikan seperti, “Nanti saja tobatnya ketika sudah tua”, “Masih ada waktu untuk memperbaiki diri”, atau “Aku akan bertobat setelah urusanku selesai”, merupakan tipu daya yang telah menyesatkan banyak manusia.Padahal, tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan menjemputnya. Berapa banyak orang yang merencanakan masa depan, tetapi kematian datang lebih dahulu sebelum ia sempat memperbaiki hubungannya dengan Allah. Karena itulah, para ulama salaf sangat menekankan pentingnya segera bertobat dan tidak menunda-nundanya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Dan bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung” (QS. An-Nur: 31).Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,فليس لأحدٍ أن يظنَّ استغناءَه عن التوبةِ إلى اللهِ والاستغفارِ من الذنوبِ، بل كلُّ أحدٍ محتاجٌ إلى ذلك دائمًا“Tidak ada seorang pun yang dapat merasa cukup tanpa tobat kepada Allah dan istigfar dari dosa-dosanya. Sebab, setiap hamba senantiasa membutuhkan tobat kepada-Nya dan memohon ampunan-Nya setiap waktu.” (Majmu‘ Al-Fatawa, 11: 255)Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman untuk bertobat kepada-Nya karena tidak ada seorang pun yang terbebas dari kekurangan dan kesalahan. Bahkan orang yang banyak beribadah sekalipun tetap memerlukan tobat untuk menutupi kekurangan dalam amalnya.Setiap manusia pasti pernah terjatuh dalam dosaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertobat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499; dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani)Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukanlah karena ia tidak pernah berbuat salah sama sekali, melainkan karena ia segera kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla setelah melakukan kesalahan tersebut. Sebaliknya, orang yang terus-menerus menunda tobat berada dalam bahaya besar. Dosa yang dibiarkan akan semakin mengakar dalam hati hingga menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan.Manusia terbaik dan paling mulia saja selalu beristigfar kepada-NyaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling mulia dan telah mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atas dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang. Namun demikian, beliau tetap memperbanyak istigfar dan tobat.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً“Demi Allah, sungguh aku beristigfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Al-Bukhari no. 6307)Dalam riwayat yang lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai manusia. Beristigfarlah kepada Allah karena aku selalu beristigfar (bertobat) kepada-Nya dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702)Para ulama menjelaskan bahwa istigfar yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan karena beliau melakukan dosa sebagaimana manusia biasa, melainkan sebagai bentuk kesempurnaan penghambaan, rasa syukur, dan ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim berkata,وَاسْتِغْفَارُهُ صلى الله عليه وسلم لإِظْهَار الْعُبُودِيَّةِ وَالِافْتِقَارِ وَمُلَازَمَةِ الْخُشُوعِ وَشُكْرًا لِمَا أَوْلَاهُ“Istigfarnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilakukan untuk menampakkan penghambaan diri, menunjukkan kebutuhannya kepada Allah, senantiasa menjaga kekhusyukan, dan sebagai bentuk syukur atas berbagai nikmat yang Allah karuniakan kepadanya.”Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang maksum saja selalu memperbanyak tobat dan istigfar setiap hari, maka manusia biasa yang penuh kekurangan tentu lebih membutuhkan tobat dan istigfar.Bahaya menunda tobatPertama, kematian yang datang tanpa peringatanYang menjadi sebab utama seseorang tidak boleh menunda tobat adalah karena Allah rahasiakan waktu kematiannya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ“Tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana ia akan mati.” (QS. Luqman: 34)Banyak orang ingin bertobat pada masa tuanya. Namun, siapa yang menjamin bahwa seseorang akan mencapai usia tersebut? Kuburan dipenuhi oleh orang tua, orang dewasa, bahkan anak-anak yang masih kecil tidak pernah menyangka bahwa hidup mereka akan berakhir secepat itu.Hal ini menjadi peringatan yang sangat nyata bagi para pendosa dan pelaku maksiat untuk segera bertobat sebelum ajal menjemput.Kedua, hati yang menjadi keras karena dosaMaksiat dan dosa yang dilakukan terus-menerus akan mengeraskan hati. Setiap dosa akan meninggalkan noda hitam pada hati manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ“Ketika seorang hamba melakukan dosa, akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Ketika dia meninggalkannya, memohon ampun, dan bertobat darinya, hatinya akan dibersihkan.” (HR. At-Tirmidzi no. 3334; dihasankan Al-Albani)Apabila dosa terus dilakukan tanpa bertobat, titik-titik tersebut akan menutupi hati sehingga seseorang menjadi keras hatinya, semakin sulit menerima nasihat dan pertunjuk.Ketiga, hilangnya kepekaan terhadap dosaSalah satu hukuman yang Allah Ta’ala timpakan bagi pelaku dosa dan maksiat adalah hilangnya rasa bersalah. Awalnya, seseorang merasa berdosa ketika bermaksiat; namun setelah berulang kali melakukannya, ia menjadi terbiasa dan menganggap dosa sebagai hal biasa. Ini sangat berbahaya karena menunjukkan semakin jauhnya ia dari Allah ‘Azza wa Jalla.Keempat, tidak selalu ada kesempatan bertobatMemang pintu tobat terbuka lebar bagi para pelaku dosa dan maksiat, tetapi tidak akan terbuka selamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi no. 3537; hasan)Luasnya rahmat Allah bagi orang yang bertobatMeskipun dosa seorang hamba sangatlah banyak, namun rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala jauh lebih luas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertobat, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertobat.” (HR. Muslim no. 2759)Hadis ini menunjukkan besarnya kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya serta dorongan agar mereka tidak berputus asa dari rahmat-Nya.Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala bergembira dengan tobat seorang hamba melebihi kegembiraan seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di tengah padang pasir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةٌ عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ“Sungguh Allah lebih bergembira dengan tobat hamba-Nya ketika ia bertobat kepada-Nya daripada salah seorang di antara kalian yang berada di padang pasir bersama untanya yang membawa makanan dan minumannya, lalu unta itu lepas darinya. Ia pun putus asa mendapatkannya. Kemudian ia berbaring di bawah naungan pohon dalam keadaan putus asa. Tiba-tiba, untanya berdiri di dekatnya. Maka ia memegang tali kekangnya dan berkata karena sangat gembira, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia keliru karena sangat gembira.” (HR. Muslim no. 2747)[Bersambung]***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleSetiap manusia pasti pernah terjatuh dalam dosaManusia terbaik dan paling mulia saja selalu beristigfar kepada-NyaBahaya menunda tobatPertama, kematian yang datang tanpa peringatanKedua, hati yang menjadi keras karena dosaKetiga, hilangnya kepekaan terhadap dosaKeempat, tidak selalu ada kesempatan bertobatLuasnya rahmat Allah bagi orang yang bertobatSalah satu bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah dibukanya pintu tobat selama masih hidup di dunia. Tidak ada manusia yang terbebas dari dosa dan kesalahan. Setiap anak Adam pasti pernah tergelincir dalam dosa dan maksiat, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Oleh karena itu, Islam mengajarkan agar seorang mukmin senantiasa kembali kepada Allah dengan memperbanyak istigfar dan tobat.Namun, di antara perangkap terbesar setan adalah menanamkan angan-angan panjang dalam hati manusia. Setan membuat seseorang merasa masih memiliki waktu yang panjang sehingga ia menunda tobat dari hari ke hari. Bisikan seperti, “Nanti saja tobatnya ketika sudah tua”, “Masih ada waktu untuk memperbaiki diri”, atau “Aku akan bertobat setelah urusanku selesai”, merupakan tipu daya yang telah menyesatkan banyak manusia.Padahal, tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan menjemputnya. Berapa banyak orang yang merencanakan masa depan, tetapi kematian datang lebih dahulu sebelum ia sempat memperbaiki hubungannya dengan Allah. Karena itulah, para ulama salaf sangat menekankan pentingnya segera bertobat dan tidak menunda-nundanya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Dan bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung” (QS. An-Nur: 31).Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,فليس لأحدٍ أن يظنَّ استغناءَه عن التوبةِ إلى اللهِ والاستغفارِ من الذنوبِ، بل كلُّ أحدٍ محتاجٌ إلى ذلك دائمًا“Tidak ada seorang pun yang dapat merasa cukup tanpa tobat kepada Allah dan istigfar dari dosa-dosanya. Sebab, setiap hamba senantiasa membutuhkan tobat kepada-Nya dan memohon ampunan-Nya setiap waktu.” (Majmu‘ Al-Fatawa, 11: 255)Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman untuk bertobat kepada-Nya karena tidak ada seorang pun yang terbebas dari kekurangan dan kesalahan. Bahkan orang yang banyak beribadah sekalipun tetap memerlukan tobat untuk menutupi kekurangan dalam amalnya.Setiap manusia pasti pernah terjatuh dalam dosaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertobat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499; dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani)Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukanlah karena ia tidak pernah berbuat salah sama sekali, melainkan karena ia segera kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla setelah melakukan kesalahan tersebut. Sebaliknya, orang yang terus-menerus menunda tobat berada dalam bahaya besar. Dosa yang dibiarkan akan semakin mengakar dalam hati hingga menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan.Manusia terbaik dan paling mulia saja selalu beristigfar kepada-NyaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling mulia dan telah mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atas dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang. Namun demikian, beliau tetap memperbanyak istigfar dan tobat.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً“Demi Allah, sungguh aku beristigfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Al-Bukhari no. 6307)Dalam riwayat yang lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai manusia. Beristigfarlah kepada Allah karena aku selalu beristigfar (bertobat) kepada-Nya dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702)Para ulama menjelaskan bahwa istigfar yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan karena beliau melakukan dosa sebagaimana manusia biasa, melainkan sebagai bentuk kesempurnaan penghambaan, rasa syukur, dan ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim berkata,وَاسْتِغْفَارُهُ صلى الله عليه وسلم لإِظْهَار الْعُبُودِيَّةِ وَالِافْتِقَارِ وَمُلَازَمَةِ الْخُشُوعِ وَشُكْرًا لِمَا أَوْلَاهُ“Istigfarnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilakukan untuk menampakkan penghambaan diri, menunjukkan kebutuhannya kepada Allah, senantiasa menjaga kekhusyukan, dan sebagai bentuk syukur atas berbagai nikmat yang Allah karuniakan kepadanya.”Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang maksum saja selalu memperbanyak tobat dan istigfar setiap hari, maka manusia biasa yang penuh kekurangan tentu lebih membutuhkan tobat dan istigfar.Bahaya menunda tobatPertama, kematian yang datang tanpa peringatanYang menjadi sebab utama seseorang tidak boleh menunda tobat adalah karena Allah rahasiakan waktu kematiannya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ“Tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana ia akan mati.” (QS. Luqman: 34)Banyak orang ingin bertobat pada masa tuanya. Namun, siapa yang menjamin bahwa seseorang akan mencapai usia tersebut? Kuburan dipenuhi oleh orang tua, orang dewasa, bahkan anak-anak yang masih kecil tidak pernah menyangka bahwa hidup mereka akan berakhir secepat itu.Hal ini menjadi peringatan yang sangat nyata bagi para pendosa dan pelaku maksiat untuk segera bertobat sebelum ajal menjemput.Kedua, hati yang menjadi keras karena dosaMaksiat dan dosa yang dilakukan terus-menerus akan mengeraskan hati. Setiap dosa akan meninggalkan noda hitam pada hati manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ“Ketika seorang hamba melakukan dosa, akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Ketika dia meninggalkannya, memohon ampun, dan bertobat darinya, hatinya akan dibersihkan.” (HR. At-Tirmidzi no. 3334; dihasankan Al-Albani)Apabila dosa terus dilakukan tanpa bertobat, titik-titik tersebut akan menutupi hati sehingga seseorang menjadi keras hatinya, semakin sulit menerima nasihat dan pertunjuk.Ketiga, hilangnya kepekaan terhadap dosaSalah satu hukuman yang Allah Ta’ala timpakan bagi pelaku dosa dan maksiat adalah hilangnya rasa bersalah. Awalnya, seseorang merasa berdosa ketika bermaksiat; namun setelah berulang kali melakukannya, ia menjadi terbiasa dan menganggap dosa sebagai hal biasa. Ini sangat berbahaya karena menunjukkan semakin jauhnya ia dari Allah ‘Azza wa Jalla.Keempat, tidak selalu ada kesempatan bertobatMemang pintu tobat terbuka lebar bagi para pelaku dosa dan maksiat, tetapi tidak akan terbuka selamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi no. 3537; hasan)Luasnya rahmat Allah bagi orang yang bertobatMeskipun dosa seorang hamba sangatlah banyak, namun rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala jauh lebih luas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertobat, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertobat.” (HR. Muslim no. 2759)Hadis ini menunjukkan besarnya kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya serta dorongan agar mereka tidak berputus asa dari rahmat-Nya.Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala bergembira dengan tobat seorang hamba melebihi kegembiraan seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di tengah padang pasir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةٌ عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ“Sungguh Allah lebih bergembira dengan tobat hamba-Nya ketika ia bertobat kepada-Nya daripada salah seorang di antara kalian yang berada di padang pasir bersama untanya yang membawa makanan dan minumannya, lalu unta itu lepas darinya. Ia pun putus asa mendapatkannya. Kemudian ia berbaring di bawah naungan pohon dalam keadaan putus asa. Tiba-tiba, untanya berdiri di dekatnya. Maka ia memegang tali kekangnya dan berkata karena sangat gembira, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia keliru karena sangat gembira.” (HR. Muslim no. 2747)[Bersambung]***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id
Prev     Next