Jadilah Hamba Terbaik pada Hari Kiamat

Oleh: Husain Ahmad Abdul Qadir Bismillah. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga dan para sahabat seluruhnya. Amma ba’du: Hari kiamat merupakan hari yang penuh dengan huru-hara, hari ketika setiap orang berusaha untuk berlari menyelamatkan diri, karena apa yang ia temui pada hari itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَقُولُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ * كَلَّا لَا وَزَرَ * إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ “Pada hari itu manusia berkata: ‘Ke mana tempat lari?’ Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Tuhanmu pada hari itu tempat kembali.” (QS. Al-Qiyamah: 10-12). Berkaitan dengan tafsir ayat yang mulia ini, Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Yakni apabila manusia telah melihat huru-hara dan kengerian hari kiamat, ia ingin untuk lari dari itu semua sambil berkata: ‘Ke mana tempat lari?’ Yakni, apakah ada tempat untuk berlindung dan menghindar?’ Sedangkan makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ‘Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung’ Yakni tidak ada keselamatan darinya, hanya kepada Allahlah tempat kembali.” (Tafsir Ibnu Katsir). Kengerian itu mengharuskan kita untuk menyiapkan diri dengan sebaik-baik bekal, yaitu amal saleh. Sedangkan amalan yang paling mudah dan paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah berzikir kepada-Nya. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam telah mengabarkan kepada kita dalam As-Sunnah dengan kabar-kabar gembira yang agung, yang berupa amalan-amalan yang apabila seorang hamba mengamalkannya, ia akan termasuk hamba terbaik pada hari kiamat. Amalan-amalan ini adalah sekumpulan zikir-zikir syar’i yang akan dijelaskan sebagai berikut: Pertama: Mengucapkan kalimat “Subhanallahi wa bihamdihi” seratus kali Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu Ta’ala bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، مِائَةَ مَرَّةٍ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ “Barang siapa yang mengucapkan pada waktu pagi dan petang: ‘Subhanallahi wa bihamdihi’ sebanyak seratus kali, maka tidak ada seorang pun pada hari kiamat yang datang dengan amalan yang lebih baik darinya, kecuali orang yang mengucapkan sejumlah itu atau lebih banyak.” (HR. Muslim no. 2692). Suatu bentuk keagungan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Santun lagi Mulia bahwa orang yang mengucapkan zikir ini seratus kali juga akan meraih seratus pohon kurma di surga. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ “Barang siapa mengucapkan: ‘Subhanallahi wa biḥamdihi’, maka akan ditanamkan untuknya satu pohon kurma di surga.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1539). Kedua: Mengucapkan “Subhanallahil ‘azhim wa bihamdihi” seratus kali Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu Ta’ala bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ، مِائَةَ مَرَّةٍ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ “Barang siapa yang mengucapkan pada waktu pagi dan petang: ‘Subhanallahil ‘azhim wa bihamdihi’ sebanyak seratus kali, maka tidak ada seorang pun pada hari kiamat yang datang dengan amalan yang lebih baik darinya, kecuali orang yang mengucapkan sejumlah itu atau lebih banyak.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 653). Suatu bentuk keagungan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Santun lagi Mulia bahwa orang yang mengucapkan zikir ini seratus kali juga akan meraih seratus pohon kurma di surga. Keutamaan ini telah dijelaskan kepada kita oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu Ta’ala ‘anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ “Barang siapa mengucapkan: ‘Subhanallahil ‘azhim wa biḥamdihi’, maka akan ditanamkan untuknya satu pohon kurma di surga.” (HR. At-Tirmidzi no. 3465). Ketiga: Mengucapkan “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir” Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu Ta’ala bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِي، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ “Barang siapa mengucapkan: ‘Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya seperti memerdekakan sepuluh budak, dituliskan baginya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan, dan menjadi pelindung baginya dari setan pada hari itu hingga sore. Tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih baik darinya, kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak dari itu.” (HR. Al-Bukhari no. 3293). Dalam hadis yang mulia ini terdapat zikir yang agung, balasan yang mulia, dan keutamaan yang melimpah. Betapa mudah amalan ini seandainya kita konsisten mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain, sehingga kita menjadi golongan hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala terbaik pada hari kiamat, dan agar kita dapat memetik buahnya berupa memerdekakan budak, penambahan kebaikan, penghapusan keburukan, dan perlindungan dari kejelekan setan. Keempat: Banyak mengucapkan “Alhamdulillah” Diriwayatkan dari Imran bin Al-Hushain Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ أَفْضَلَ عِبَادِ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْحَمَّادُونَ “Sesungguhnya sebaik-baik hamba Allah pada hari kiamat adalah orang-orang yang banyak bertahmid (mengucapkan Alhamdulillah).” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami no. 1571). Tidak diragukan bahwa bertahmid merupakan salah satu amalan yang paling agung dan mulia. Hal pertama yang didapatkan setiap hamba di dunia ini adalah karunia dan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga pujian kepada-Nya merupakan tanda baiknya penghambaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Agung.  Orang yang mencermati hal-hal berharga yang tersimpan dalam sunah Nabi pasti akan mendapati banyaknya pahala yang dapat diraih dari bertahmid. Setiap kali seorang Muslim mengucapkan kalimat: “Subhanallahi wal hamdu lillah, wa laa ilaaha illallahu wallahu Akbar” ia akan meraih pahala sedekah, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Dzar Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُونَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian sesuatu untuk bersedekah? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah.” (HR. Muslim no. 1006). Setiap kali seorang muslim mengucapkan: “Subhanallahi wal hamdu lillah, wa laa ilaaha illallahu wallahu Akbar” akan ditanamkan baginya satu pohon di surga. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى غِرَاسٍ هُوَ خَيْرٌ مِنْ هَذَا؟ تَقُولُ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ؛ يُغْرَسُ لَكَ بِكُلِّ كَلِمَةٍ مِنْهَا شَجَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ “Maukah aku tunjukkan kepadamu suatu tanaman (amal) yang lebih baik dari ini? Engkau mengucapkan: ‘Subhanallahi wal hamdu lillah, wa laa ilaaha illallahu wallahu Akbar’ maka akan ditanamkan bagimu dengan setiap kalimat itu satu pohon di surga.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1549). Di antara bentuk agungnya keutamaan tahlil dan tasbih disebutkan dalam wasiat Nabi Nuh Alaihissalam, sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu Ta’ala ‘anhuma bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ نُوحًا لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ قَالَ لِابْنِهِ: إِنِّي قَاصٌّ عَلَيْكَ الْوَصِيَّةَ: آمُرُكَ بِاثْنَتَيْنِ، وَأَنْهَاكَ عَنْ اثْنَتَيْنِ؛ آمُرُكَ بِـ (لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ)؛ فَإِنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَالْأَرَضِينَ السَّبْعَ لَوْ وُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ، وَوُضِعَتْ “لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ” فِي كِفَّةٍ، رَجَحَتْ بِهِنَّ “لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ”، وَلَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَالْأَرَضِينَ السَّبْعَ كُنَّ حَلْقَةً مُبْهَمَةً، قَصَمَتْهُنَّ “لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ”، وَ”سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ”؛ فَإِنَّهَا صَلَاةُ كُلِّ شَيْءٍ، وَبِهَا يُرْزَقُ الْخَلْقُ “Sesungguhnya Nabi Allah Nuh ketika akan wafat berkata kepada anaknya: Aku akan menyampaikan kepadamu suatu wasiat: aku perintahkan kepadamu dua perkara dan aku larang kamu dari dua perkara. Aku perintahkan kamu dengan (ucapan) ‘Laa ilaha illallah’, karena seandainya tujuh langit dan tujuh bumi diletakkan pada satu timbangan, dan ‘Laa ilaha illallah’ diletakkan pada timbangan yang lain, niscaya ‘Laa ilaha illallah’ lebih berat dari semuanya. Dan seandainya tujuh langit dan tujuh bumi itu seperti sebuah cincin yang tertutup, niscaya ‘Laa ilaha illallah’ akan mematahkannya. Dan (ucapkanlah) ‘Subhanallah wa bihamdihi’, karena ia adalah shalatnya seluruh makhluk, dan dengannya makhluk diberi rezeki.” (Dishahihkan Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 134). Dalam hadis yang mulia ini terdapat penjelasan mulianya zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kemuliaan ucapan “Laa ilaha illallah”, karena ucapan ini adalah syiar agama Islam dan para pemeluknya. Ia juga kunci bagi nikmat-nikmat surga yang agung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala siapkan bagi para hamba-Nya yang bertauhid. Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam juga menjelaskan bahwa ucapan “Subhanallah wa bihamdihi” merupakan kunci rezeki. Barang siapa yang menginginkan rezeki yang melimpah, keberkahan dalam agama, aib yang ditutupi, kesehatan, keturunan, afiyat, ampunan, dan keridhaan, hendaklah ia memperbanyak ucapan “Subhanallah wa bihamdihi”. Zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah salah satu tanda kemuliaan seorang hamba yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Di antara faedah zikir adalah menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutnya, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan: ‘Karena itu, ingatlah Aku, niscaya Aku ingat (pula) kalian. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari-Ku.’ (QS. Al-Baqarah: 152). Seandainya tidak ada keutamaan zikir kecuali ini, niscaya ini sudah cukup menjadi keutamaan dan kemuliaan.” Saudaraku yang mulia! Kita harus berusaha konsisten mengucapkan zikir-zikir ini, mewasiatkannya kepada kaum Muslimin, mengajarkannya kepada keluarga, anak-anak, tetangga, dan teman, dan menyebarkannya di media-media sosial. Lalu berbahagialah dengan kebaikan, rezeki, ketenteraman, dan kebahagiaan, wahai orang yang berkontribusi dalam menyampaikan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Agung, dan menjelaskan sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa berzikir, dan menunaikan puja dan puji syukur.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam kita haturkan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, dan kepada keluarga, para sahabat, dan setiap orang yang mengikuti jejak beliau dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/126132/كن-من-أفضل-العباد-يوم-القيامة/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Tambal Gigi, Anak Yatim Artinya, Arti Walimatul Aqiqah, Bacaan Sebelum Dzikir, Hukum Baca Quran Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 1 QRIS donasi Yufid

Jadilah Hamba Terbaik pada Hari Kiamat

Oleh: Husain Ahmad Abdul Qadir Bismillah. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga dan para sahabat seluruhnya. Amma ba’du: Hari kiamat merupakan hari yang penuh dengan huru-hara, hari ketika setiap orang berusaha untuk berlari menyelamatkan diri, karena apa yang ia temui pada hari itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَقُولُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ * كَلَّا لَا وَزَرَ * إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ “Pada hari itu manusia berkata: ‘Ke mana tempat lari?’ Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Tuhanmu pada hari itu tempat kembali.” (QS. Al-Qiyamah: 10-12). Berkaitan dengan tafsir ayat yang mulia ini, Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Yakni apabila manusia telah melihat huru-hara dan kengerian hari kiamat, ia ingin untuk lari dari itu semua sambil berkata: ‘Ke mana tempat lari?’ Yakni, apakah ada tempat untuk berlindung dan menghindar?’ Sedangkan makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ‘Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung’ Yakni tidak ada keselamatan darinya, hanya kepada Allahlah tempat kembali.” (Tafsir Ibnu Katsir). Kengerian itu mengharuskan kita untuk menyiapkan diri dengan sebaik-baik bekal, yaitu amal saleh. Sedangkan amalan yang paling mudah dan paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah berzikir kepada-Nya. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam telah mengabarkan kepada kita dalam As-Sunnah dengan kabar-kabar gembira yang agung, yang berupa amalan-amalan yang apabila seorang hamba mengamalkannya, ia akan termasuk hamba terbaik pada hari kiamat. Amalan-amalan ini adalah sekumpulan zikir-zikir syar’i yang akan dijelaskan sebagai berikut: Pertama: Mengucapkan kalimat “Subhanallahi wa bihamdihi” seratus kali Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu Ta’ala bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، مِائَةَ مَرَّةٍ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ “Barang siapa yang mengucapkan pada waktu pagi dan petang: ‘Subhanallahi wa bihamdihi’ sebanyak seratus kali, maka tidak ada seorang pun pada hari kiamat yang datang dengan amalan yang lebih baik darinya, kecuali orang yang mengucapkan sejumlah itu atau lebih banyak.” (HR. Muslim no. 2692). Suatu bentuk keagungan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Santun lagi Mulia bahwa orang yang mengucapkan zikir ini seratus kali juga akan meraih seratus pohon kurma di surga. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ “Barang siapa mengucapkan: ‘Subhanallahi wa biḥamdihi’, maka akan ditanamkan untuknya satu pohon kurma di surga.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1539). Kedua: Mengucapkan “Subhanallahil ‘azhim wa bihamdihi” seratus kali Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu Ta’ala bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ، مِائَةَ مَرَّةٍ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ “Barang siapa yang mengucapkan pada waktu pagi dan petang: ‘Subhanallahil ‘azhim wa bihamdihi’ sebanyak seratus kali, maka tidak ada seorang pun pada hari kiamat yang datang dengan amalan yang lebih baik darinya, kecuali orang yang mengucapkan sejumlah itu atau lebih banyak.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 653). Suatu bentuk keagungan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Santun lagi Mulia bahwa orang yang mengucapkan zikir ini seratus kali juga akan meraih seratus pohon kurma di surga. Keutamaan ini telah dijelaskan kepada kita oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu Ta’ala ‘anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ “Barang siapa mengucapkan: ‘Subhanallahil ‘azhim wa biḥamdihi’, maka akan ditanamkan untuknya satu pohon kurma di surga.” (HR. At-Tirmidzi no. 3465). Ketiga: Mengucapkan “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir” Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu Ta’ala bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِي، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ “Barang siapa mengucapkan: ‘Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya seperti memerdekakan sepuluh budak, dituliskan baginya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan, dan menjadi pelindung baginya dari setan pada hari itu hingga sore. Tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih baik darinya, kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak dari itu.” (HR. Al-Bukhari no. 3293). Dalam hadis yang mulia ini terdapat zikir yang agung, balasan yang mulia, dan keutamaan yang melimpah. Betapa mudah amalan ini seandainya kita konsisten mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain, sehingga kita menjadi golongan hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala terbaik pada hari kiamat, dan agar kita dapat memetik buahnya berupa memerdekakan budak, penambahan kebaikan, penghapusan keburukan, dan perlindungan dari kejelekan setan. Keempat: Banyak mengucapkan “Alhamdulillah” Diriwayatkan dari Imran bin Al-Hushain Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ أَفْضَلَ عِبَادِ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْحَمَّادُونَ “Sesungguhnya sebaik-baik hamba Allah pada hari kiamat adalah orang-orang yang banyak bertahmid (mengucapkan Alhamdulillah).” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami no. 1571). Tidak diragukan bahwa bertahmid merupakan salah satu amalan yang paling agung dan mulia. Hal pertama yang didapatkan setiap hamba di dunia ini adalah karunia dan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga pujian kepada-Nya merupakan tanda baiknya penghambaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Agung.  Orang yang mencermati hal-hal berharga yang tersimpan dalam sunah Nabi pasti akan mendapati banyaknya pahala yang dapat diraih dari bertahmid. Setiap kali seorang Muslim mengucapkan kalimat: “Subhanallahi wal hamdu lillah, wa laa ilaaha illallahu wallahu Akbar” ia akan meraih pahala sedekah, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Dzar Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُونَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian sesuatu untuk bersedekah? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah.” (HR. Muslim no. 1006). Setiap kali seorang muslim mengucapkan: “Subhanallahi wal hamdu lillah, wa laa ilaaha illallahu wallahu Akbar” akan ditanamkan baginya satu pohon di surga. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى غِرَاسٍ هُوَ خَيْرٌ مِنْ هَذَا؟ تَقُولُ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ؛ يُغْرَسُ لَكَ بِكُلِّ كَلِمَةٍ مِنْهَا شَجَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ “Maukah aku tunjukkan kepadamu suatu tanaman (amal) yang lebih baik dari ini? Engkau mengucapkan: ‘Subhanallahi wal hamdu lillah, wa laa ilaaha illallahu wallahu Akbar’ maka akan ditanamkan bagimu dengan setiap kalimat itu satu pohon di surga.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1549). Di antara bentuk agungnya keutamaan tahlil dan tasbih disebutkan dalam wasiat Nabi Nuh Alaihissalam, sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu Ta’ala ‘anhuma bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ نُوحًا لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ قَالَ لِابْنِهِ: إِنِّي قَاصٌّ عَلَيْكَ الْوَصِيَّةَ: آمُرُكَ بِاثْنَتَيْنِ، وَأَنْهَاكَ عَنْ اثْنَتَيْنِ؛ آمُرُكَ بِـ (لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ)؛ فَإِنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَالْأَرَضِينَ السَّبْعَ لَوْ وُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ، وَوُضِعَتْ “لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ” فِي كِفَّةٍ، رَجَحَتْ بِهِنَّ “لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ”، وَلَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَالْأَرَضِينَ السَّبْعَ كُنَّ حَلْقَةً مُبْهَمَةً، قَصَمَتْهُنَّ “لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ”، وَ”سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ”؛ فَإِنَّهَا صَلَاةُ كُلِّ شَيْءٍ، وَبِهَا يُرْزَقُ الْخَلْقُ “Sesungguhnya Nabi Allah Nuh ketika akan wafat berkata kepada anaknya: Aku akan menyampaikan kepadamu suatu wasiat: aku perintahkan kepadamu dua perkara dan aku larang kamu dari dua perkara. Aku perintahkan kamu dengan (ucapan) ‘Laa ilaha illallah’, karena seandainya tujuh langit dan tujuh bumi diletakkan pada satu timbangan, dan ‘Laa ilaha illallah’ diletakkan pada timbangan yang lain, niscaya ‘Laa ilaha illallah’ lebih berat dari semuanya. Dan seandainya tujuh langit dan tujuh bumi itu seperti sebuah cincin yang tertutup, niscaya ‘Laa ilaha illallah’ akan mematahkannya. Dan (ucapkanlah) ‘Subhanallah wa bihamdihi’, karena ia adalah shalatnya seluruh makhluk, dan dengannya makhluk diberi rezeki.” (Dishahihkan Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 134). Dalam hadis yang mulia ini terdapat penjelasan mulianya zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kemuliaan ucapan “Laa ilaha illallah”, karena ucapan ini adalah syiar agama Islam dan para pemeluknya. Ia juga kunci bagi nikmat-nikmat surga yang agung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala siapkan bagi para hamba-Nya yang bertauhid. Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam juga menjelaskan bahwa ucapan “Subhanallah wa bihamdihi” merupakan kunci rezeki. Barang siapa yang menginginkan rezeki yang melimpah, keberkahan dalam agama, aib yang ditutupi, kesehatan, keturunan, afiyat, ampunan, dan keridhaan, hendaklah ia memperbanyak ucapan “Subhanallah wa bihamdihi”. Zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah salah satu tanda kemuliaan seorang hamba yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Di antara faedah zikir adalah menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutnya, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan: ‘Karena itu, ingatlah Aku, niscaya Aku ingat (pula) kalian. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari-Ku.’ (QS. Al-Baqarah: 152). Seandainya tidak ada keutamaan zikir kecuali ini, niscaya ini sudah cukup menjadi keutamaan dan kemuliaan.” Saudaraku yang mulia! Kita harus berusaha konsisten mengucapkan zikir-zikir ini, mewasiatkannya kepada kaum Muslimin, mengajarkannya kepada keluarga, anak-anak, tetangga, dan teman, dan menyebarkannya di media-media sosial. Lalu berbahagialah dengan kebaikan, rezeki, ketenteraman, dan kebahagiaan, wahai orang yang berkontribusi dalam menyampaikan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Agung, dan menjelaskan sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa berzikir, dan menunaikan puja dan puji syukur.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam kita haturkan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, dan kepada keluarga, para sahabat, dan setiap orang yang mengikuti jejak beliau dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/126132/كن-من-أفضل-العباد-يوم-القيامة/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Tambal Gigi, Anak Yatim Artinya, Arti Walimatul Aqiqah, Bacaan Sebelum Dzikir, Hukum Baca Quran Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 1 QRIS donasi Yufid
Oleh: Husain Ahmad Abdul Qadir Bismillah. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga dan para sahabat seluruhnya. Amma ba’du: Hari kiamat merupakan hari yang penuh dengan huru-hara, hari ketika setiap orang berusaha untuk berlari menyelamatkan diri, karena apa yang ia temui pada hari itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَقُولُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ * كَلَّا لَا وَزَرَ * إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ “Pada hari itu manusia berkata: ‘Ke mana tempat lari?’ Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Tuhanmu pada hari itu tempat kembali.” (QS. Al-Qiyamah: 10-12). Berkaitan dengan tafsir ayat yang mulia ini, Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Yakni apabila manusia telah melihat huru-hara dan kengerian hari kiamat, ia ingin untuk lari dari itu semua sambil berkata: ‘Ke mana tempat lari?’ Yakni, apakah ada tempat untuk berlindung dan menghindar?’ Sedangkan makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ‘Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung’ Yakni tidak ada keselamatan darinya, hanya kepada Allahlah tempat kembali.” (Tafsir Ibnu Katsir). Kengerian itu mengharuskan kita untuk menyiapkan diri dengan sebaik-baik bekal, yaitu amal saleh. Sedangkan amalan yang paling mudah dan paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah berzikir kepada-Nya. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam telah mengabarkan kepada kita dalam As-Sunnah dengan kabar-kabar gembira yang agung, yang berupa amalan-amalan yang apabila seorang hamba mengamalkannya, ia akan termasuk hamba terbaik pada hari kiamat. Amalan-amalan ini adalah sekumpulan zikir-zikir syar’i yang akan dijelaskan sebagai berikut: Pertama: Mengucapkan kalimat “Subhanallahi wa bihamdihi” seratus kali Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu Ta’ala bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، مِائَةَ مَرَّةٍ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ “Barang siapa yang mengucapkan pada waktu pagi dan petang: ‘Subhanallahi wa bihamdihi’ sebanyak seratus kali, maka tidak ada seorang pun pada hari kiamat yang datang dengan amalan yang lebih baik darinya, kecuali orang yang mengucapkan sejumlah itu atau lebih banyak.” (HR. Muslim no. 2692). Suatu bentuk keagungan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Santun lagi Mulia bahwa orang yang mengucapkan zikir ini seratus kali juga akan meraih seratus pohon kurma di surga. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ “Barang siapa mengucapkan: ‘Subhanallahi wa biḥamdihi’, maka akan ditanamkan untuknya satu pohon kurma di surga.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1539). Kedua: Mengucapkan “Subhanallahil ‘azhim wa bihamdihi” seratus kali Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu Ta’ala bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ، مِائَةَ مَرَّةٍ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ “Barang siapa yang mengucapkan pada waktu pagi dan petang: ‘Subhanallahil ‘azhim wa bihamdihi’ sebanyak seratus kali, maka tidak ada seorang pun pada hari kiamat yang datang dengan amalan yang lebih baik darinya, kecuali orang yang mengucapkan sejumlah itu atau lebih banyak.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 653). Suatu bentuk keagungan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Santun lagi Mulia bahwa orang yang mengucapkan zikir ini seratus kali juga akan meraih seratus pohon kurma di surga. Keutamaan ini telah dijelaskan kepada kita oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu Ta’ala ‘anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ “Barang siapa mengucapkan: ‘Subhanallahil ‘azhim wa biḥamdihi’, maka akan ditanamkan untuknya satu pohon kurma di surga.” (HR. At-Tirmidzi no. 3465). Ketiga: Mengucapkan “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir” Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu Ta’ala bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِي، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ “Barang siapa mengucapkan: ‘Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya seperti memerdekakan sepuluh budak, dituliskan baginya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan, dan menjadi pelindung baginya dari setan pada hari itu hingga sore. Tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih baik darinya, kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak dari itu.” (HR. Al-Bukhari no. 3293). Dalam hadis yang mulia ini terdapat zikir yang agung, balasan yang mulia, dan keutamaan yang melimpah. Betapa mudah amalan ini seandainya kita konsisten mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain, sehingga kita menjadi golongan hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala terbaik pada hari kiamat, dan agar kita dapat memetik buahnya berupa memerdekakan budak, penambahan kebaikan, penghapusan keburukan, dan perlindungan dari kejelekan setan. Keempat: Banyak mengucapkan “Alhamdulillah” Diriwayatkan dari Imran bin Al-Hushain Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ أَفْضَلَ عِبَادِ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْحَمَّادُونَ “Sesungguhnya sebaik-baik hamba Allah pada hari kiamat adalah orang-orang yang banyak bertahmid (mengucapkan Alhamdulillah).” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami no. 1571). Tidak diragukan bahwa bertahmid merupakan salah satu amalan yang paling agung dan mulia. Hal pertama yang didapatkan setiap hamba di dunia ini adalah karunia dan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga pujian kepada-Nya merupakan tanda baiknya penghambaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Agung.  Orang yang mencermati hal-hal berharga yang tersimpan dalam sunah Nabi pasti akan mendapati banyaknya pahala yang dapat diraih dari bertahmid. Setiap kali seorang Muslim mengucapkan kalimat: “Subhanallahi wal hamdu lillah, wa laa ilaaha illallahu wallahu Akbar” ia akan meraih pahala sedekah, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Dzar Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُونَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian sesuatu untuk bersedekah? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah.” (HR. Muslim no. 1006). Setiap kali seorang muslim mengucapkan: “Subhanallahi wal hamdu lillah, wa laa ilaaha illallahu wallahu Akbar” akan ditanamkan baginya satu pohon di surga. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى غِرَاسٍ هُوَ خَيْرٌ مِنْ هَذَا؟ تَقُولُ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ؛ يُغْرَسُ لَكَ بِكُلِّ كَلِمَةٍ مِنْهَا شَجَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ “Maukah aku tunjukkan kepadamu suatu tanaman (amal) yang lebih baik dari ini? Engkau mengucapkan: ‘Subhanallahi wal hamdu lillah, wa laa ilaaha illallahu wallahu Akbar’ maka akan ditanamkan bagimu dengan setiap kalimat itu satu pohon di surga.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1549). Di antara bentuk agungnya keutamaan tahlil dan tasbih disebutkan dalam wasiat Nabi Nuh Alaihissalam, sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu Ta’ala ‘anhuma bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ نُوحًا لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ قَالَ لِابْنِهِ: إِنِّي قَاصٌّ عَلَيْكَ الْوَصِيَّةَ: آمُرُكَ بِاثْنَتَيْنِ، وَأَنْهَاكَ عَنْ اثْنَتَيْنِ؛ آمُرُكَ بِـ (لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ)؛ فَإِنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَالْأَرَضِينَ السَّبْعَ لَوْ وُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ، وَوُضِعَتْ “لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ” فِي كِفَّةٍ، رَجَحَتْ بِهِنَّ “لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ”، وَلَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَالْأَرَضِينَ السَّبْعَ كُنَّ حَلْقَةً مُبْهَمَةً، قَصَمَتْهُنَّ “لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ”، وَ”سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ”؛ فَإِنَّهَا صَلَاةُ كُلِّ شَيْءٍ، وَبِهَا يُرْزَقُ الْخَلْقُ “Sesungguhnya Nabi Allah Nuh ketika akan wafat berkata kepada anaknya: Aku akan menyampaikan kepadamu suatu wasiat: aku perintahkan kepadamu dua perkara dan aku larang kamu dari dua perkara. Aku perintahkan kamu dengan (ucapan) ‘Laa ilaha illallah’, karena seandainya tujuh langit dan tujuh bumi diletakkan pada satu timbangan, dan ‘Laa ilaha illallah’ diletakkan pada timbangan yang lain, niscaya ‘Laa ilaha illallah’ lebih berat dari semuanya. Dan seandainya tujuh langit dan tujuh bumi itu seperti sebuah cincin yang tertutup, niscaya ‘Laa ilaha illallah’ akan mematahkannya. Dan (ucapkanlah) ‘Subhanallah wa bihamdihi’, karena ia adalah shalatnya seluruh makhluk, dan dengannya makhluk diberi rezeki.” (Dishahihkan Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 134). Dalam hadis yang mulia ini terdapat penjelasan mulianya zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kemuliaan ucapan “Laa ilaha illallah”, karena ucapan ini adalah syiar agama Islam dan para pemeluknya. Ia juga kunci bagi nikmat-nikmat surga yang agung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala siapkan bagi para hamba-Nya yang bertauhid. Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam juga menjelaskan bahwa ucapan “Subhanallah wa bihamdihi” merupakan kunci rezeki. Barang siapa yang menginginkan rezeki yang melimpah, keberkahan dalam agama, aib yang ditutupi, kesehatan, keturunan, afiyat, ampunan, dan keridhaan, hendaklah ia memperbanyak ucapan “Subhanallah wa bihamdihi”. Zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah salah satu tanda kemuliaan seorang hamba yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Di antara faedah zikir adalah menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutnya, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan: ‘Karena itu, ingatlah Aku, niscaya Aku ingat (pula) kalian. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari-Ku.’ (QS. Al-Baqarah: 152). Seandainya tidak ada keutamaan zikir kecuali ini, niscaya ini sudah cukup menjadi keutamaan dan kemuliaan.” Saudaraku yang mulia! Kita harus berusaha konsisten mengucapkan zikir-zikir ini, mewasiatkannya kepada kaum Muslimin, mengajarkannya kepada keluarga, anak-anak, tetangga, dan teman, dan menyebarkannya di media-media sosial. Lalu berbahagialah dengan kebaikan, rezeki, ketenteraman, dan kebahagiaan, wahai orang yang berkontribusi dalam menyampaikan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Agung, dan menjelaskan sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa berzikir, dan menunaikan puja dan puji syukur.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam kita haturkan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, dan kepada keluarga, para sahabat, dan setiap orang yang mengikuti jejak beliau dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/126132/كن-من-أفضل-العباد-يوم-القيامة/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Tambal Gigi, Anak Yatim Artinya, Arti Walimatul Aqiqah, Bacaan Sebelum Dzikir, Hukum Baca Quran Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 1 QRIS donasi Yufid


Oleh: Husain Ahmad Abdul Qadir Bismillah. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga dan para sahabat seluruhnya. Amma ba’du: Hari kiamat merupakan hari yang penuh dengan huru-hara, hari ketika setiap orang berusaha untuk berlari menyelamatkan diri, karena apa yang ia temui pada hari itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَقُولُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ * كَلَّا لَا وَزَرَ * إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ “Pada hari itu manusia berkata: ‘Ke mana tempat lari?’ Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Tuhanmu pada hari itu tempat kembali.” (QS. Al-Qiyamah: 10-12). Berkaitan dengan tafsir ayat yang mulia ini, Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Yakni apabila manusia telah melihat huru-hara dan kengerian hari kiamat, ia ingin untuk lari dari itu semua sambil berkata: ‘Ke mana tempat lari?’ Yakni, apakah ada tempat untuk berlindung dan menghindar?’ Sedangkan makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ‘Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung’ Yakni tidak ada keselamatan darinya, hanya kepada Allahlah tempat kembali.” (Tafsir Ibnu Katsir). Kengerian itu mengharuskan kita untuk menyiapkan diri dengan sebaik-baik bekal, yaitu amal saleh. Sedangkan amalan yang paling mudah dan paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah berzikir kepada-Nya. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam telah mengabarkan kepada kita dalam As-Sunnah dengan kabar-kabar gembira yang agung, yang berupa amalan-amalan yang apabila seorang hamba mengamalkannya, ia akan termasuk hamba terbaik pada hari kiamat. Amalan-amalan ini adalah sekumpulan zikir-zikir syar’i yang akan dijelaskan sebagai berikut: Pertama: Mengucapkan kalimat “Subhanallahi wa bihamdihi” seratus kali Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu Ta’ala bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، مِائَةَ مَرَّةٍ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ “Barang siapa yang mengucapkan pada waktu pagi dan petang: ‘Subhanallahi wa bihamdihi’ sebanyak seratus kali, maka tidak ada seorang pun pada hari kiamat yang datang dengan amalan yang lebih baik darinya, kecuali orang yang mengucapkan sejumlah itu atau lebih banyak.” (HR. Muslim no. 2692). Suatu bentuk keagungan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Santun lagi Mulia bahwa orang yang mengucapkan zikir ini seratus kali juga akan meraih seratus pohon kurma di surga. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ “Barang siapa mengucapkan: ‘Subhanallahi wa biḥamdihi’, maka akan ditanamkan untuknya satu pohon kurma di surga.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1539). Kedua: Mengucapkan “Subhanallahil ‘azhim wa bihamdihi” seratus kali Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu Ta’ala bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ، مِائَةَ مَرَّةٍ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ “Barang siapa yang mengucapkan pada waktu pagi dan petang: ‘Subhanallahil ‘azhim wa bihamdihi’ sebanyak seratus kali, maka tidak ada seorang pun pada hari kiamat yang datang dengan amalan yang lebih baik darinya, kecuali orang yang mengucapkan sejumlah itu atau lebih banyak.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 653). Suatu bentuk keagungan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Santun lagi Mulia bahwa orang yang mengucapkan zikir ini seratus kali juga akan meraih seratus pohon kurma di surga. Keutamaan ini telah dijelaskan kepada kita oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu Ta’ala ‘anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ “Barang siapa mengucapkan: ‘Subhanallahil ‘azhim wa biḥamdihi’, maka akan ditanamkan untuknya satu pohon kurma di surga.” (HR. At-Tirmidzi no. 3465). Ketiga: Mengucapkan “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir” Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu Ta’ala bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِي، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ “Barang siapa mengucapkan: ‘Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya seperti memerdekakan sepuluh budak, dituliskan baginya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan, dan menjadi pelindung baginya dari setan pada hari itu hingga sore. Tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih baik darinya, kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak dari itu.” (HR. Al-Bukhari no. 3293). Dalam hadis yang mulia ini terdapat zikir yang agung, balasan yang mulia, dan keutamaan yang melimpah. Betapa mudah amalan ini seandainya kita konsisten mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain, sehingga kita menjadi golongan hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala terbaik pada hari kiamat, dan agar kita dapat memetik buahnya berupa memerdekakan budak, penambahan kebaikan, penghapusan keburukan, dan perlindungan dari kejelekan setan. Keempat: Banyak mengucapkan “Alhamdulillah” Diriwayatkan dari Imran bin Al-Hushain Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ أَفْضَلَ عِبَادِ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْحَمَّادُونَ “Sesungguhnya sebaik-baik hamba Allah pada hari kiamat adalah orang-orang yang banyak bertahmid (mengucapkan Alhamdulillah).” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami no. 1571). Tidak diragukan bahwa bertahmid merupakan salah satu amalan yang paling agung dan mulia. Hal pertama yang didapatkan setiap hamba di dunia ini adalah karunia dan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga pujian kepada-Nya merupakan tanda baiknya penghambaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Agung.  Orang yang mencermati hal-hal berharga yang tersimpan dalam sunah Nabi pasti akan mendapati banyaknya pahala yang dapat diraih dari bertahmid. Setiap kali seorang Muslim mengucapkan kalimat: “Subhanallahi wal hamdu lillah, wa laa ilaaha illallahu wallahu Akbar” ia akan meraih pahala sedekah, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Dzar Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُونَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian sesuatu untuk bersedekah? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah.” (HR. Muslim no. 1006). Setiap kali seorang muslim mengucapkan: “Subhanallahi wal hamdu lillah, wa laa ilaaha illallahu wallahu Akbar” akan ditanamkan baginya satu pohon di surga. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى غِرَاسٍ هُوَ خَيْرٌ مِنْ هَذَا؟ تَقُولُ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ؛ يُغْرَسُ لَكَ بِكُلِّ كَلِمَةٍ مِنْهَا شَجَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ “Maukah aku tunjukkan kepadamu suatu tanaman (amal) yang lebih baik dari ini? Engkau mengucapkan: ‘Subhanallahi wal hamdu lillah, wa laa ilaaha illallahu wallahu Akbar’ maka akan ditanamkan bagimu dengan setiap kalimat itu satu pohon di surga.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1549). Di antara bentuk agungnya keutamaan tahlil dan tasbih disebutkan dalam wasiat Nabi Nuh Alaihissalam, sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu Ta’ala ‘anhuma bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ نُوحًا لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ قَالَ لِابْنِهِ: إِنِّي قَاصٌّ عَلَيْكَ الْوَصِيَّةَ: آمُرُكَ بِاثْنَتَيْنِ، وَأَنْهَاكَ عَنْ اثْنَتَيْنِ؛ آمُرُكَ بِـ (لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ)؛ فَإِنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَالْأَرَضِينَ السَّبْعَ لَوْ وُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ، وَوُضِعَتْ “لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ” فِي كِفَّةٍ، رَجَحَتْ بِهِنَّ “لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ”، وَلَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَالْأَرَضِينَ السَّبْعَ كُنَّ حَلْقَةً مُبْهَمَةً، قَصَمَتْهُنَّ “لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ”، وَ”سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ”؛ فَإِنَّهَا صَلَاةُ كُلِّ شَيْءٍ، وَبِهَا يُرْزَقُ الْخَلْقُ “Sesungguhnya Nabi Allah Nuh ketika akan wafat berkata kepada anaknya: Aku akan menyampaikan kepadamu suatu wasiat: aku perintahkan kepadamu dua perkara dan aku larang kamu dari dua perkara. Aku perintahkan kamu dengan (ucapan) ‘Laa ilaha illallah’, karena seandainya tujuh langit dan tujuh bumi diletakkan pada satu timbangan, dan ‘Laa ilaha illallah’ diletakkan pada timbangan yang lain, niscaya ‘Laa ilaha illallah’ lebih berat dari semuanya. Dan seandainya tujuh langit dan tujuh bumi itu seperti sebuah cincin yang tertutup, niscaya ‘Laa ilaha illallah’ akan mematahkannya. Dan (ucapkanlah) ‘Subhanallah wa bihamdihi’, karena ia adalah shalatnya seluruh makhluk, dan dengannya makhluk diberi rezeki.” (Dishahihkan Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 134). Dalam hadis yang mulia ini terdapat penjelasan mulianya zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kemuliaan ucapan “Laa ilaha illallah”, karena ucapan ini adalah syiar agama Islam dan para pemeluknya. Ia juga kunci bagi nikmat-nikmat surga yang agung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala siapkan bagi para hamba-Nya yang bertauhid. Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam juga menjelaskan bahwa ucapan “Subhanallah wa bihamdihi” merupakan kunci rezeki. Barang siapa yang menginginkan rezeki yang melimpah, keberkahan dalam agama, aib yang ditutupi, kesehatan, keturunan, afiyat, ampunan, dan keridhaan, hendaklah ia memperbanyak ucapan “Subhanallah wa bihamdihi”. Zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah salah satu tanda kemuliaan seorang hamba yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Di antara faedah zikir adalah menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutnya, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan: ‘Karena itu, ingatlah Aku, niscaya Aku ingat (pula) kalian. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari-Ku.’ (QS. Al-Baqarah: 152). Seandainya tidak ada keutamaan zikir kecuali ini, niscaya ini sudah cukup menjadi keutamaan dan kemuliaan.” Saudaraku yang mulia! Kita harus berusaha konsisten mengucapkan zikir-zikir ini, mewasiatkannya kepada kaum Muslimin, mengajarkannya kepada keluarga, anak-anak, tetangga, dan teman, dan menyebarkannya di media-media sosial. Lalu berbahagialah dengan kebaikan, rezeki, ketenteraman, dan kebahagiaan, wahai orang yang berkontribusi dalam menyampaikan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Agung, dan menjelaskan sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa berzikir, dan menunaikan puja dan puji syukur.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam kita haturkan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, dan kepada keluarga, para sahabat, dan setiap orang yang mengikuti jejak beliau dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/126132/كن-من-أفضل-العباد-يوم-القيامة/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Tambal Gigi, Anak Yatim Artinya, Arti Walimatul Aqiqah, Bacaan Sebelum Dzikir, Hukum Baca Quran Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 1 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Syawal adalah Indikator Diterimanya Amalan Ramadan

Daftar Isi ToggleWaspada berniat jahat di bulan SyawalBeramal keburukan setelah musim kebaikan adalah tanda amal kita tidak diterimaPara Salaf menjadikan Syawal sebagai momentum bersyukurKeadaan kita di bulan Syawal adalah indikator hasil pekerjaan kita di bulan Ramadan. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,أن معاوَدَةَ الصِّيام بعدَ صِيام رمضانَ علامةٌ على قَبُولِ صَوْمِ رمضانَ“Melanjutkan puasa setelah Ramadan (dengan puasa Syawal–pen) adalah tanda diterimanya puasa Ramadan kita.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)Hal ini berdasarkan kaidah besar yang disebutkan oleh para ulama,ثوابُ الحسنةِ الحسنةُ بَعْدَها“Ganjaran kebaikan adalah kebaikan setelahnya.”Ibnu Katsir mengutip kaidah ini dari keterangan para salaf atas sebuah firman Allah ﷻ,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ“Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 7)Konteks ayat ini adalah bagi mereka yang beramal saleh, bersedekah dan semisalnya, maka Allah ﷻ akan mudahkan ia untuk mengerjakan kebaikan setelahnya. Dari sinilah sebagian salaf radhiyallahu ‘anhum mengatakan,فإنَّ الله تعالى إذا تقبَّل عَمَلَ عَبْدٍ وفَّقَه لعمل صالحٍ بعدَه، كما قال بعضُهم: ثوابُ الحسنةِ الحسنةُ بَعْدَها“Karena sesungguhnya apabila Allah ﷻ menerima amalan seorang hamba, maka Allah ﷻ akan memberikan taufik untuk beramal saleh setelahnya. Sebagaimana dikatakan sebagian ulama salaf, “Ganjaran dari sebuah kebaikan adalah kebaikan setelahnya.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)Hal ini juga sesuai dengan tafsir Ibnu Katsir atas QS. Al-Lail: 7 di atas,أَنَّ اللَّهَ، عَزَّ وَجَلَّ، يُجازي مَنْ قَصَدَ الْخَيْرَ بِالتَّوْفِيقِ لَهُ“Bahwasanya Allah ﷻ membalas orang yang berniat untuk mengerjakan kebaikan dengan memberinya kekuatan untuk mengerjakannya.”Berniat kebaikan saja pasca Ramadan akan Allah ﷻ ganjar dengan taufik untuk mengerjakannya. Maka, kunci dari menjaga kesuksesan amalan Ramadan adalah senantiasa memasang niat dan berusaha kuat untuk melanjutkannya dengan amalan kebaikan lain. Andai pun Allah ﷻ tidak menakdirkan kebaikan itu terjadi, semoga Allah ﷻ sudah mengganjarnya dengan kebaikan, sebagaimana dalam sebuah hadis,فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً“Barangsiapa yang berniat melakukan kebaikan, lalu tidak mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna.” (HR. Bukhari no. 6491 dan Muslim no. 131)Ganjaran sempurna itu didapatkan bagi orang yang baru berniat, sedangkan mereka yang mampu mewujudkannya, akan Allah ﷻ balas minimal sepuluh kali bahkan sampai tujuh ratus kali.Dan tidak hanya dimudahkan untuk berbuat baik setelahnya, tetapi juga dimudahkan untuk mendapatkan hasil kebaikan setelahnya.Bukankah Allah ﷻ berfirman,هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ“Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60)Dan kata para ahli tafsir, di antaranya dinukil dari Zaid bin Aslam, maksud dari ganjaran kebaikan di dunia adalah kebaikan yang amat hebat di akhirat, yaitu surganya Allah ﷻ.Baca juga: Keadaan Manusia Sesudah RamadhanWaspada berniat jahat di bulan SyawalIbnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat,فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى“Maka kelak kami akan menyiapkan segera jalan yang penuh kesulitan.” (QS. Al-Lail: 10)Beliau membawakan peringatan,وَمَنْ قَصَدَ الشَّرَّ بِالْخِذْلَانِ. وَكُلُّ ذَلِكَ بِقَدَرٍ مُقدّر“Dan barangsiapa yang berniat akan melakukan keburukan, Allah akan menghinakannya; dan semuanya itu berdasarkan takdir yang telah ditetapkan.”Bahkan pengembaliannya sampai level terburuk, seakan-akan tiada sisa dari amalan membaca Al-Qurannya, bahkan tak mengenal sama sekali. Sebagaimana firman Allah ﷻ,وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (QS. Al-An’am: 110)Beramal keburukan setelah musim kebaikan adalah tanda amal kita tidak diterimaAmalan ikutan dari sebuah kebaikan tidak hanya berupa kebaikan selanjutnya. Bisa saja amalan kebaikan melahirkan amalan keburukan selanjutnya. Waspadalah! Keburukan yang kita lakukan pasca berbuat kebaikan adalah tanda amal baik itu tidak diterima.كما أن مَن عَمِلَ حسنةً، ثم أتبَعَها بسيئةٍ، كان ذلك علامَةَ رَدِّ الحسَنَةِ وعَدَمَ قبولها“Sebagaimana orang yang beramal kebaikan, kemudian setelahnya ia lanjutkan dengan keburukan, sungguh itu menjadi tanda ditolaknya kebaikan tersebut.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)Para Salaf menjadikan Syawal sebagai momentum bersyukurAllah ﷻ menjadikan puasa Ramadan sebagai jalan agar dosa-dosa kita yang telah lalu dapat diampuni-Nya. Dan ini adalah nikmat yang besar dan patut kita syukuri. Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan kebiasaan para salaf berpuasa Syawal sebagai bentuk syukur,فيكون معاوَدَةُ الصِّيامِ بعدَ الفِطْر شُكرًا لهذه النِّعمةِ“Maka mereka menjadikan meneruskan puasa setelah Ramadan sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah ﷻ ini.فلا نِعْمَةَ أعظمُ مِن مغفرة الذنوبِSungguh tiada nikmat yang lebih besar dari ampunan Allah ﷻ atas dosa-dosa kita.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)Bahkan Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa beramal sebagai bentuk syukur atas amalan sebelumnya juga harus disyukuri. Artinya, setiap amal kesyukuran butuh kepada rasa syukur selanjutnya. Pola ini tiada hentinya di dalam kehidupan seorang mukmin. Sehingga wajarlah jika Allah ﷻ katakan kita tidak akan pernah mampu mensyukuri segala nikmat Allah ﷻ yang diberikan-Nya kepada kita semua.Hal ini tidak hanya merupakan keteladanan dari orang saleh setelah Nabi ﷺ. Namun, Nabi ﷺ sendiri pun melakukan hal serupa.كان النبي – صلى الله عليه وسلم – يقوِمُ حتَّى تتورَّمَ قَدَمَاهُ، فيقالُ له: أتفعَلُ هذا وقد غَفَرَ الله لك ما تقدَّم من ذنبك وما تأخَّر؟ فيقول: أفلا أكونُ عبدًا شكورًا؟“Suatu ketika, Nabi ﷺ berdiri salat malam sampai bengkak kedua kakinya. Kemudian dikatakan kepada baginda Nabi ﷺ, “Mengapa engkau melakukan sebegitunya, sementara Allah ﷻ sudah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?” Lalu Nabi ﷺ bersabda, “Tidakkah aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?” (HR. Bukhari no. 1130)Maka, hendaknya menjadi renungan bagi kita di penghujung Syawal ini, bagaimana keadaan diri kita? Sudahkah kita mendapatkan indikator positif bahwa amal Ramadan diterima? Ataukah kita masih dalam bayang-bayang rapor merah dengan keadaan Syawal yang dipenuhi kelalaian dan kemaksiatan?Baca juga: Menjaga Keistikamahan Pasca Ramadan***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id ReferensiLathaiful Maarif, karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dengan pen-tahqiq Syekh Yasin Muhammad As-Sawas cet. Dar Ibnu Katsir.Tafsir Ibnu Katsir yang dinukil dari tafsir.app

Syawal adalah Indikator Diterimanya Amalan Ramadan

Daftar Isi ToggleWaspada berniat jahat di bulan SyawalBeramal keburukan setelah musim kebaikan adalah tanda amal kita tidak diterimaPara Salaf menjadikan Syawal sebagai momentum bersyukurKeadaan kita di bulan Syawal adalah indikator hasil pekerjaan kita di bulan Ramadan. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,أن معاوَدَةَ الصِّيام بعدَ صِيام رمضانَ علامةٌ على قَبُولِ صَوْمِ رمضانَ“Melanjutkan puasa setelah Ramadan (dengan puasa Syawal–pen) adalah tanda diterimanya puasa Ramadan kita.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)Hal ini berdasarkan kaidah besar yang disebutkan oleh para ulama,ثوابُ الحسنةِ الحسنةُ بَعْدَها“Ganjaran kebaikan adalah kebaikan setelahnya.”Ibnu Katsir mengutip kaidah ini dari keterangan para salaf atas sebuah firman Allah ﷻ,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ“Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 7)Konteks ayat ini adalah bagi mereka yang beramal saleh, bersedekah dan semisalnya, maka Allah ﷻ akan mudahkan ia untuk mengerjakan kebaikan setelahnya. Dari sinilah sebagian salaf radhiyallahu ‘anhum mengatakan,فإنَّ الله تعالى إذا تقبَّل عَمَلَ عَبْدٍ وفَّقَه لعمل صالحٍ بعدَه، كما قال بعضُهم: ثوابُ الحسنةِ الحسنةُ بَعْدَها“Karena sesungguhnya apabila Allah ﷻ menerima amalan seorang hamba, maka Allah ﷻ akan memberikan taufik untuk beramal saleh setelahnya. Sebagaimana dikatakan sebagian ulama salaf, “Ganjaran dari sebuah kebaikan adalah kebaikan setelahnya.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)Hal ini juga sesuai dengan tafsir Ibnu Katsir atas QS. Al-Lail: 7 di atas,أَنَّ اللَّهَ، عَزَّ وَجَلَّ، يُجازي مَنْ قَصَدَ الْخَيْرَ بِالتَّوْفِيقِ لَهُ“Bahwasanya Allah ﷻ membalas orang yang berniat untuk mengerjakan kebaikan dengan memberinya kekuatan untuk mengerjakannya.”Berniat kebaikan saja pasca Ramadan akan Allah ﷻ ganjar dengan taufik untuk mengerjakannya. Maka, kunci dari menjaga kesuksesan amalan Ramadan adalah senantiasa memasang niat dan berusaha kuat untuk melanjutkannya dengan amalan kebaikan lain. Andai pun Allah ﷻ tidak menakdirkan kebaikan itu terjadi, semoga Allah ﷻ sudah mengganjarnya dengan kebaikan, sebagaimana dalam sebuah hadis,فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً“Barangsiapa yang berniat melakukan kebaikan, lalu tidak mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna.” (HR. Bukhari no. 6491 dan Muslim no. 131)Ganjaran sempurna itu didapatkan bagi orang yang baru berniat, sedangkan mereka yang mampu mewujudkannya, akan Allah ﷻ balas minimal sepuluh kali bahkan sampai tujuh ratus kali.Dan tidak hanya dimudahkan untuk berbuat baik setelahnya, tetapi juga dimudahkan untuk mendapatkan hasil kebaikan setelahnya.Bukankah Allah ﷻ berfirman,هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ“Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60)Dan kata para ahli tafsir, di antaranya dinukil dari Zaid bin Aslam, maksud dari ganjaran kebaikan di dunia adalah kebaikan yang amat hebat di akhirat, yaitu surganya Allah ﷻ.Baca juga: Keadaan Manusia Sesudah RamadhanWaspada berniat jahat di bulan SyawalIbnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat,فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى“Maka kelak kami akan menyiapkan segera jalan yang penuh kesulitan.” (QS. Al-Lail: 10)Beliau membawakan peringatan,وَمَنْ قَصَدَ الشَّرَّ بِالْخِذْلَانِ. وَكُلُّ ذَلِكَ بِقَدَرٍ مُقدّر“Dan barangsiapa yang berniat akan melakukan keburukan, Allah akan menghinakannya; dan semuanya itu berdasarkan takdir yang telah ditetapkan.”Bahkan pengembaliannya sampai level terburuk, seakan-akan tiada sisa dari amalan membaca Al-Qurannya, bahkan tak mengenal sama sekali. Sebagaimana firman Allah ﷻ,وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (QS. Al-An’am: 110)Beramal keburukan setelah musim kebaikan adalah tanda amal kita tidak diterimaAmalan ikutan dari sebuah kebaikan tidak hanya berupa kebaikan selanjutnya. Bisa saja amalan kebaikan melahirkan amalan keburukan selanjutnya. Waspadalah! Keburukan yang kita lakukan pasca berbuat kebaikan adalah tanda amal baik itu tidak diterima.كما أن مَن عَمِلَ حسنةً، ثم أتبَعَها بسيئةٍ، كان ذلك علامَةَ رَدِّ الحسَنَةِ وعَدَمَ قبولها“Sebagaimana orang yang beramal kebaikan, kemudian setelahnya ia lanjutkan dengan keburukan, sungguh itu menjadi tanda ditolaknya kebaikan tersebut.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)Para Salaf menjadikan Syawal sebagai momentum bersyukurAllah ﷻ menjadikan puasa Ramadan sebagai jalan agar dosa-dosa kita yang telah lalu dapat diampuni-Nya. Dan ini adalah nikmat yang besar dan patut kita syukuri. Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan kebiasaan para salaf berpuasa Syawal sebagai bentuk syukur,فيكون معاوَدَةُ الصِّيامِ بعدَ الفِطْر شُكرًا لهذه النِّعمةِ“Maka mereka menjadikan meneruskan puasa setelah Ramadan sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah ﷻ ini.فلا نِعْمَةَ أعظمُ مِن مغفرة الذنوبِSungguh tiada nikmat yang lebih besar dari ampunan Allah ﷻ atas dosa-dosa kita.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)Bahkan Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa beramal sebagai bentuk syukur atas amalan sebelumnya juga harus disyukuri. Artinya, setiap amal kesyukuran butuh kepada rasa syukur selanjutnya. Pola ini tiada hentinya di dalam kehidupan seorang mukmin. Sehingga wajarlah jika Allah ﷻ katakan kita tidak akan pernah mampu mensyukuri segala nikmat Allah ﷻ yang diberikan-Nya kepada kita semua.Hal ini tidak hanya merupakan keteladanan dari orang saleh setelah Nabi ﷺ. Namun, Nabi ﷺ sendiri pun melakukan hal serupa.كان النبي – صلى الله عليه وسلم – يقوِمُ حتَّى تتورَّمَ قَدَمَاهُ، فيقالُ له: أتفعَلُ هذا وقد غَفَرَ الله لك ما تقدَّم من ذنبك وما تأخَّر؟ فيقول: أفلا أكونُ عبدًا شكورًا؟“Suatu ketika, Nabi ﷺ berdiri salat malam sampai bengkak kedua kakinya. Kemudian dikatakan kepada baginda Nabi ﷺ, “Mengapa engkau melakukan sebegitunya, sementara Allah ﷻ sudah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?” Lalu Nabi ﷺ bersabda, “Tidakkah aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?” (HR. Bukhari no. 1130)Maka, hendaknya menjadi renungan bagi kita di penghujung Syawal ini, bagaimana keadaan diri kita? Sudahkah kita mendapatkan indikator positif bahwa amal Ramadan diterima? Ataukah kita masih dalam bayang-bayang rapor merah dengan keadaan Syawal yang dipenuhi kelalaian dan kemaksiatan?Baca juga: Menjaga Keistikamahan Pasca Ramadan***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id ReferensiLathaiful Maarif, karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dengan pen-tahqiq Syekh Yasin Muhammad As-Sawas cet. Dar Ibnu Katsir.Tafsir Ibnu Katsir yang dinukil dari tafsir.app
Daftar Isi ToggleWaspada berniat jahat di bulan SyawalBeramal keburukan setelah musim kebaikan adalah tanda amal kita tidak diterimaPara Salaf menjadikan Syawal sebagai momentum bersyukurKeadaan kita di bulan Syawal adalah indikator hasil pekerjaan kita di bulan Ramadan. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,أن معاوَدَةَ الصِّيام بعدَ صِيام رمضانَ علامةٌ على قَبُولِ صَوْمِ رمضانَ“Melanjutkan puasa setelah Ramadan (dengan puasa Syawal–pen) adalah tanda diterimanya puasa Ramadan kita.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)Hal ini berdasarkan kaidah besar yang disebutkan oleh para ulama,ثوابُ الحسنةِ الحسنةُ بَعْدَها“Ganjaran kebaikan adalah kebaikan setelahnya.”Ibnu Katsir mengutip kaidah ini dari keterangan para salaf atas sebuah firman Allah ﷻ,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ“Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 7)Konteks ayat ini adalah bagi mereka yang beramal saleh, bersedekah dan semisalnya, maka Allah ﷻ akan mudahkan ia untuk mengerjakan kebaikan setelahnya. Dari sinilah sebagian salaf radhiyallahu ‘anhum mengatakan,فإنَّ الله تعالى إذا تقبَّل عَمَلَ عَبْدٍ وفَّقَه لعمل صالحٍ بعدَه، كما قال بعضُهم: ثوابُ الحسنةِ الحسنةُ بَعْدَها“Karena sesungguhnya apabila Allah ﷻ menerima amalan seorang hamba, maka Allah ﷻ akan memberikan taufik untuk beramal saleh setelahnya. Sebagaimana dikatakan sebagian ulama salaf, “Ganjaran dari sebuah kebaikan adalah kebaikan setelahnya.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)Hal ini juga sesuai dengan tafsir Ibnu Katsir atas QS. Al-Lail: 7 di atas,أَنَّ اللَّهَ، عَزَّ وَجَلَّ، يُجازي مَنْ قَصَدَ الْخَيْرَ بِالتَّوْفِيقِ لَهُ“Bahwasanya Allah ﷻ membalas orang yang berniat untuk mengerjakan kebaikan dengan memberinya kekuatan untuk mengerjakannya.”Berniat kebaikan saja pasca Ramadan akan Allah ﷻ ganjar dengan taufik untuk mengerjakannya. Maka, kunci dari menjaga kesuksesan amalan Ramadan adalah senantiasa memasang niat dan berusaha kuat untuk melanjutkannya dengan amalan kebaikan lain. Andai pun Allah ﷻ tidak menakdirkan kebaikan itu terjadi, semoga Allah ﷻ sudah mengganjarnya dengan kebaikan, sebagaimana dalam sebuah hadis,فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً“Barangsiapa yang berniat melakukan kebaikan, lalu tidak mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna.” (HR. Bukhari no. 6491 dan Muslim no. 131)Ganjaran sempurna itu didapatkan bagi orang yang baru berniat, sedangkan mereka yang mampu mewujudkannya, akan Allah ﷻ balas minimal sepuluh kali bahkan sampai tujuh ratus kali.Dan tidak hanya dimudahkan untuk berbuat baik setelahnya, tetapi juga dimudahkan untuk mendapatkan hasil kebaikan setelahnya.Bukankah Allah ﷻ berfirman,هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ“Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60)Dan kata para ahli tafsir, di antaranya dinukil dari Zaid bin Aslam, maksud dari ganjaran kebaikan di dunia adalah kebaikan yang amat hebat di akhirat, yaitu surganya Allah ﷻ.Baca juga: Keadaan Manusia Sesudah RamadhanWaspada berniat jahat di bulan SyawalIbnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat,فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى“Maka kelak kami akan menyiapkan segera jalan yang penuh kesulitan.” (QS. Al-Lail: 10)Beliau membawakan peringatan,وَمَنْ قَصَدَ الشَّرَّ بِالْخِذْلَانِ. وَكُلُّ ذَلِكَ بِقَدَرٍ مُقدّر“Dan barangsiapa yang berniat akan melakukan keburukan, Allah akan menghinakannya; dan semuanya itu berdasarkan takdir yang telah ditetapkan.”Bahkan pengembaliannya sampai level terburuk, seakan-akan tiada sisa dari amalan membaca Al-Qurannya, bahkan tak mengenal sama sekali. Sebagaimana firman Allah ﷻ,وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (QS. Al-An’am: 110)Beramal keburukan setelah musim kebaikan adalah tanda amal kita tidak diterimaAmalan ikutan dari sebuah kebaikan tidak hanya berupa kebaikan selanjutnya. Bisa saja amalan kebaikan melahirkan amalan keburukan selanjutnya. Waspadalah! Keburukan yang kita lakukan pasca berbuat kebaikan adalah tanda amal baik itu tidak diterima.كما أن مَن عَمِلَ حسنةً، ثم أتبَعَها بسيئةٍ، كان ذلك علامَةَ رَدِّ الحسَنَةِ وعَدَمَ قبولها“Sebagaimana orang yang beramal kebaikan, kemudian setelahnya ia lanjutkan dengan keburukan, sungguh itu menjadi tanda ditolaknya kebaikan tersebut.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)Para Salaf menjadikan Syawal sebagai momentum bersyukurAllah ﷻ menjadikan puasa Ramadan sebagai jalan agar dosa-dosa kita yang telah lalu dapat diampuni-Nya. Dan ini adalah nikmat yang besar dan patut kita syukuri. Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan kebiasaan para salaf berpuasa Syawal sebagai bentuk syukur,فيكون معاوَدَةُ الصِّيامِ بعدَ الفِطْر شُكرًا لهذه النِّعمةِ“Maka mereka menjadikan meneruskan puasa setelah Ramadan sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah ﷻ ini.فلا نِعْمَةَ أعظمُ مِن مغفرة الذنوبِSungguh tiada nikmat yang lebih besar dari ampunan Allah ﷻ atas dosa-dosa kita.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)Bahkan Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa beramal sebagai bentuk syukur atas amalan sebelumnya juga harus disyukuri. Artinya, setiap amal kesyukuran butuh kepada rasa syukur selanjutnya. Pola ini tiada hentinya di dalam kehidupan seorang mukmin. Sehingga wajarlah jika Allah ﷻ katakan kita tidak akan pernah mampu mensyukuri segala nikmat Allah ﷻ yang diberikan-Nya kepada kita semua.Hal ini tidak hanya merupakan keteladanan dari orang saleh setelah Nabi ﷺ. Namun, Nabi ﷺ sendiri pun melakukan hal serupa.كان النبي – صلى الله عليه وسلم – يقوِمُ حتَّى تتورَّمَ قَدَمَاهُ، فيقالُ له: أتفعَلُ هذا وقد غَفَرَ الله لك ما تقدَّم من ذنبك وما تأخَّر؟ فيقول: أفلا أكونُ عبدًا شكورًا؟“Suatu ketika, Nabi ﷺ berdiri salat malam sampai bengkak kedua kakinya. Kemudian dikatakan kepada baginda Nabi ﷺ, “Mengapa engkau melakukan sebegitunya, sementara Allah ﷻ sudah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?” Lalu Nabi ﷺ bersabda, “Tidakkah aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?” (HR. Bukhari no. 1130)Maka, hendaknya menjadi renungan bagi kita di penghujung Syawal ini, bagaimana keadaan diri kita? Sudahkah kita mendapatkan indikator positif bahwa amal Ramadan diterima? Ataukah kita masih dalam bayang-bayang rapor merah dengan keadaan Syawal yang dipenuhi kelalaian dan kemaksiatan?Baca juga: Menjaga Keistikamahan Pasca Ramadan***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id ReferensiLathaiful Maarif, karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dengan pen-tahqiq Syekh Yasin Muhammad As-Sawas cet. Dar Ibnu Katsir.Tafsir Ibnu Katsir yang dinukil dari tafsir.app


Daftar Isi ToggleWaspada berniat jahat di bulan SyawalBeramal keburukan setelah musim kebaikan adalah tanda amal kita tidak diterimaPara Salaf menjadikan Syawal sebagai momentum bersyukurKeadaan kita di bulan Syawal adalah indikator hasil pekerjaan kita di bulan Ramadan. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,أن معاوَدَةَ الصِّيام بعدَ صِيام رمضانَ علامةٌ على قَبُولِ صَوْمِ رمضانَ“Melanjutkan puasa setelah Ramadan (dengan puasa Syawal–pen) adalah tanda diterimanya puasa Ramadan kita.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)Hal ini berdasarkan kaidah besar yang disebutkan oleh para ulama,ثوابُ الحسنةِ الحسنةُ بَعْدَها“Ganjaran kebaikan adalah kebaikan setelahnya.”Ibnu Katsir mengutip kaidah ini dari keterangan para salaf atas sebuah firman Allah ﷻ,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ“Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 7)Konteks ayat ini adalah bagi mereka yang beramal saleh, bersedekah dan semisalnya, maka Allah ﷻ akan mudahkan ia untuk mengerjakan kebaikan setelahnya. Dari sinilah sebagian salaf radhiyallahu ‘anhum mengatakan,فإنَّ الله تعالى إذا تقبَّل عَمَلَ عَبْدٍ وفَّقَه لعمل صالحٍ بعدَه، كما قال بعضُهم: ثوابُ الحسنةِ الحسنةُ بَعْدَها“Karena sesungguhnya apabila Allah ﷻ menerima amalan seorang hamba, maka Allah ﷻ akan memberikan taufik untuk beramal saleh setelahnya. Sebagaimana dikatakan sebagian ulama salaf, “Ganjaran dari sebuah kebaikan adalah kebaikan setelahnya.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)Hal ini juga sesuai dengan tafsir Ibnu Katsir atas QS. Al-Lail: 7 di atas,أَنَّ اللَّهَ، عَزَّ وَجَلَّ، يُجازي مَنْ قَصَدَ الْخَيْرَ بِالتَّوْفِيقِ لَهُ“Bahwasanya Allah ﷻ membalas orang yang berniat untuk mengerjakan kebaikan dengan memberinya kekuatan untuk mengerjakannya.”Berniat kebaikan saja pasca Ramadan akan Allah ﷻ ganjar dengan taufik untuk mengerjakannya. Maka, kunci dari menjaga kesuksesan amalan Ramadan adalah senantiasa memasang niat dan berusaha kuat untuk melanjutkannya dengan amalan kebaikan lain. Andai pun Allah ﷻ tidak menakdirkan kebaikan itu terjadi, semoga Allah ﷻ sudah mengganjarnya dengan kebaikan, sebagaimana dalam sebuah hadis,فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً“Barangsiapa yang berniat melakukan kebaikan, lalu tidak mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna.” (HR. Bukhari no. 6491 dan Muslim no. 131)Ganjaran sempurna itu didapatkan bagi orang yang baru berniat, sedangkan mereka yang mampu mewujudkannya, akan Allah ﷻ balas minimal sepuluh kali bahkan sampai tujuh ratus kali.Dan tidak hanya dimudahkan untuk berbuat baik setelahnya, tetapi juga dimudahkan untuk mendapatkan hasil kebaikan setelahnya.Bukankah Allah ﷻ berfirman,هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ“Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60)Dan kata para ahli tafsir, di antaranya dinukil dari Zaid bin Aslam, maksud dari ganjaran kebaikan di dunia adalah kebaikan yang amat hebat di akhirat, yaitu surganya Allah ﷻ.Baca juga: Keadaan Manusia Sesudah RamadhanWaspada berniat jahat di bulan SyawalIbnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat,فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى“Maka kelak kami akan menyiapkan segera jalan yang penuh kesulitan.” (QS. Al-Lail: 10)Beliau membawakan peringatan,وَمَنْ قَصَدَ الشَّرَّ بِالْخِذْلَانِ. وَكُلُّ ذَلِكَ بِقَدَرٍ مُقدّر“Dan barangsiapa yang berniat akan melakukan keburukan, Allah akan menghinakannya; dan semuanya itu berdasarkan takdir yang telah ditetapkan.”Bahkan pengembaliannya sampai level terburuk, seakan-akan tiada sisa dari amalan membaca Al-Qurannya, bahkan tak mengenal sama sekali. Sebagaimana firman Allah ﷻ,وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (QS. Al-An’am: 110)Beramal keburukan setelah musim kebaikan adalah tanda amal kita tidak diterimaAmalan ikutan dari sebuah kebaikan tidak hanya berupa kebaikan selanjutnya. Bisa saja amalan kebaikan melahirkan amalan keburukan selanjutnya. Waspadalah! Keburukan yang kita lakukan pasca berbuat kebaikan adalah tanda amal baik itu tidak diterima.كما أن مَن عَمِلَ حسنةً، ثم أتبَعَها بسيئةٍ، كان ذلك علامَةَ رَدِّ الحسَنَةِ وعَدَمَ قبولها“Sebagaimana orang yang beramal kebaikan, kemudian setelahnya ia lanjutkan dengan keburukan, sungguh itu menjadi tanda ditolaknya kebaikan tersebut.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)Para Salaf menjadikan Syawal sebagai momentum bersyukurAllah ﷻ menjadikan puasa Ramadan sebagai jalan agar dosa-dosa kita yang telah lalu dapat diampuni-Nya. Dan ini adalah nikmat yang besar dan patut kita syukuri. Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan kebiasaan para salaf berpuasa Syawal sebagai bentuk syukur,فيكون معاوَدَةُ الصِّيامِ بعدَ الفِطْر شُكرًا لهذه النِّعمةِ“Maka mereka menjadikan meneruskan puasa setelah Ramadan sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah ﷻ ini.فلا نِعْمَةَ أعظمُ مِن مغفرة الذنوبِSungguh tiada nikmat yang lebih besar dari ampunan Allah ﷻ atas dosa-dosa kita.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)Bahkan Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa beramal sebagai bentuk syukur atas amalan sebelumnya juga harus disyukuri. Artinya, setiap amal kesyukuran butuh kepada rasa syukur selanjutnya. Pola ini tiada hentinya di dalam kehidupan seorang mukmin. Sehingga wajarlah jika Allah ﷻ katakan kita tidak akan pernah mampu mensyukuri segala nikmat Allah ﷻ yang diberikan-Nya kepada kita semua.Hal ini tidak hanya merupakan keteladanan dari orang saleh setelah Nabi ﷺ. Namun, Nabi ﷺ sendiri pun melakukan hal serupa.كان النبي – صلى الله عليه وسلم – يقوِمُ حتَّى تتورَّمَ قَدَمَاهُ، فيقالُ له: أتفعَلُ هذا وقد غَفَرَ الله لك ما تقدَّم من ذنبك وما تأخَّر؟ فيقول: أفلا أكونُ عبدًا شكورًا؟“Suatu ketika, Nabi ﷺ berdiri salat malam sampai bengkak kedua kakinya. Kemudian dikatakan kepada baginda Nabi ﷺ, “Mengapa engkau melakukan sebegitunya, sementara Allah ﷻ sudah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?” Lalu Nabi ﷺ bersabda, “Tidakkah aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?” (HR. Bukhari no. 1130)Maka, hendaknya menjadi renungan bagi kita di penghujung Syawal ini, bagaimana keadaan diri kita? Sudahkah kita mendapatkan indikator positif bahwa amal Ramadan diterima? Ataukah kita masih dalam bayang-bayang rapor merah dengan keadaan Syawal yang dipenuhi kelalaian dan kemaksiatan?Baca juga: Menjaga Keistikamahan Pasca Ramadan***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id ReferensiLathaiful Maarif, karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dengan pen-tahqiq Syekh Yasin Muhammad As-Sawas cet. Dar Ibnu Katsir.Tafsir Ibnu Katsir yang dinukil dari tafsir.app

Rahasia Tersembunyi di Balik Kecerdasan Ibnu Taimiyah yang Jarang Diketahui

Ibnu Taimiyah rahimahullah tidak menikah. Barangkali Allah Ta’ala menghendaki kebaikan yang besar bagi umat ini melalui jalan tersebut.Sekiranya beliau berkeluarga, mungkin beliau akan disibukkan dengan urusan rumah tangga dan sejenisnya. Namun, beliau sepenuhnya mencurahkan hidup untuk ilmu dan dakwah di jalan Allah Azza wa Jalla. Beliau tidak menikah, dan yang mengurus keperluan beliau adalah saudara laki-lakinya. Saat berada di hadapan Ibnu Taimiyah, saudaranya itu bersikap sangat tenang dan penuh adab, seakan-akan ada burung bertengger di atas kepalanya. Saudaranya segan kepadanya, sebagaimana bersikap segan kepada seorang penguasa. “Kami merasa heran terhadap hal itu, lalu kami berkata, ‘Biasanya, keluarga dekat tidak bersikap segan layaknya kepada orang asing. Bahkan, mereka biasanya lebih leluasa dan akrab dengannya dibandingkan dengan orang asing. Namun, kami melihatmu bersama sang Syaikh (Ibnu Taimiyah) seperti seorang murid yang sangat berlebihan dalam menjaga rasa segan dan penghormatan kepadanya.’” Lalu saudaranya menjawab, “Aku melihat darinya sesuatu yang tidak tampak bagi orang lain. Itulah yang mendorongku untuk bersikap kepadanya sebagaimana yang kalian lihat.” Sebagaimana ungkapan, “Orang yang paling sedikit mengambil manfaat seorang ulama adalah keluarganya sendiri.” Maksudnya, sering kali keluarga tidak menghormati seorang ulama sebagaimana orang lain menghormatinya. Namun kaidah ini dilanggar oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah. Saudaranya sangat menghormatinya, penuh rasa segan kepadanya sebagaimana bersikap segan kepada penguasa. Ia duduk di hadapannya dengan begitu tenang dan penuh adab, seakan-akan ada burung bertengger di atas kepalanya. Mereka pun merasa heran terhadapnya. Mereka berkata, “Beliau itu saudaramu. Biasanya, orang-orang terdekat tidak bersikap segan kepadanya, bahkan bersikap akrab dan leluasa dengannya, dan semisal itu.” Ia menjawab, “Sesungguhnya aku melihat sesuatu yang tidak kalian lihat. Aku melihat dari lelaki ini perkara-perkara yang membuatku bersikap kepadanya sebagaimana yang kalian saksikan. Aku melihat keajaiban dalam kepribadian dan perjalanan hidupnya, yang menghadirkan kewibawaan besar pada dirinya.” Inilah salah satu sisi kemuliaan Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Abu Hafsh Al-Bazzar juga mengisahkan dalam buku ini (Al-A’lam Al-‘Aliyah fi Manaqib Ibn Taimiyah), tepatnya pada poin ke-448, sebuah kejadian luar biasa yang terjadi pada masa kecil beliau. Al-Bazzar bercerita, “Seseorang yang tepercaya mengisahkan kepadaku, dari guru yang mengajarkan Al-Qur’an kepada Ibnu Taimiyah.” Guru tersebut bercerita, “Ayahnya—yaitu Abu Ahmad bin ‘Abdussalam—berkata kepadaku saat Ibnu Taimiyah masih kecil: ‘Aku ingin Anda menasihatinya, agar ia tidak berhenti dan terus konsisten menghafal Al-Qur’an. Untuk itu, aku akan menitipkan kepada Anda uang sebesar 40 dirham setiap bulannya.’ Ayahnya berpesan, ‘Berikan uang itu kepadanya karena ia masih kecil (agar ia senang). Katakan padanya: Kamu akan mendapat uang saku yang sama setiap bulan.’” Namun Ibnu Taimiyah rahimahullah menolak, beliau benar-benar enggan menerimanya. Beliau berkata, “Sesungguhnya aku telah berjanji kepada Allah Ta’ala untuk tidak mengambil upah sepeser pun dari Al-Qur’an.” Maka Ibnu Taimiyah pun tidak mengambil uang tersebut. “Lalu aku menyadari,” kata sang guru, “sikap seperti ini tidak mungkin muncul dari seorang anak kecil, kecuali karena adanya perhatian khusus dari Allah kepadanya.” Allahu Akbar! Aku katakan, “Gurunya benar. Karena perhatian Allah itulah yang mengantarkannya kepada segala kebaikan yang ia capai.” Ini terjadi saat beliau masih sangat belia. Ayahnya menitipkan pemberian kepada guru Al-Qur’an beliau. Ayahnya berpesan kepada sang guru, “Aku titipkan 40 dirham setiap bulan, yang penting ia terus istiqamah menghafal Al-Qur’an.” Namun, Ibnu Taimiyah justru menolak. Lihatlah jawabannya, apa yang ia katakan? Beliau menjawab, “Aku telah berjanji kepada Allah untuk tidak mengambil upah dari Al-Qur’an.” Padahal, beliau masih sangat kecil kala itu. Orang-orang pun takjub terhadapnya. Bagaimana mungkin sikap seperti ini muncul dari seorang anak kecil? Mereka berkata, “Ini menunjukkan besarnya perhatian dari Allah terhadap sosok tokoh ini semenjak awal pertumbuhannya.” Demikianlah para imam. Sejak kecil, sudah tampak kelembutan dan perhatian dari Allah terhadap mereka. Jika kita menilik biografi para imam besar seperti Imam Ahmad dan Al-Imam Asy-Syafi’i, serta banyak imam lainnya, kita akan mendapati kelembutan dan penjagaan Allah terhadap mereka begitu nyata sejak mereka kecil. Sebagaimana dikatakan, mereka tidak memiliki masa muda yang sia-sia. Mereka tumbuh dalam ketaatan kepada Allah. Sikap dan jawaban seperti itu tidaklah mungkin muncul kecuali dari seorang yang telah dewasa. Padahal beliau masih kecil. Masih memerlukan harta. Meski begitu, beliau tetap menolak imbalan itu, tidak mau mengambil dirham-dirham tersebut. Subhanallah! Orang-orang pun terkagum-kagum terhadapnya. Mereka pun berkata: “Sikap seperti ini tidak mungkin muncul dari seorang anak kecil, kecuali karena adanya perhatian, kelembutan, dan pilihan dari Allah terhadapnya.” Allah memilih para imam dan ulama, menyeleksi mereka, sejak mereka kecil. Jejak-jejak kelembutan dan penjagaan Allah begitu jelas terlihat dalam perjalanan hidup mereka. Al-Bazzar juga menceritakan kisah lain dalam buku yang sama. Al-Bazzar bertutur, “Sesungguhnya syaikh—yakni Ibnu Taimiyah—pada masa kecilnya, apabila hendak pergi ke tempat belajar Al-Qur’an (kuttab), ada seorang Yahudi—yang rumahnya berada di jalan yang ia lewati—sering menghampirinya dan mengajukan berbagai pertanyaan kepadanya, karena orang Yahudi tersebut melihat kecerdasan dan ketajaman pikirannya. Ibnu Taimiyah pun menjawabnya dengan cepat, spontan, dan cerdas, hingga membuat orang Yahudi itu takjub. Dan subhanallah, melalui wasilah jawaban-jawaban itu, orang Yahudi tersebut akhirnya memeluk Islam, dan baik keislamannya.” Seorang anak kecil mampu meyakinkan orang Yahudi tersebut bahwa Islam adalah agama yang benar. Orang Yahudi tersebut akhirnya masuk Islam, dan baik keislamannya. Beliau ketika itu hanyalah seorang anak kecil. Ini menunjukkan besarnya perhatian dan kelembutan Allah terhadap imam ini sejak beliau kecil. Semoga Allah Ta’ala merahmati beliau, dan membalasnya dengan sebaik-baik balasan atas jasanya bagi Islam dan kaum Muslimin. ===== ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَلَعَلَّ اللهَ تَعَالَى أَرَادَ خَيْرًا بِهَذِهِ الْأُمَّةِ يَعْنِي لَوْ تَزَوَّجَ رُبَّمَا اشْتَغَلَ بِأُسْرَتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَكِنَّهُ تَفَرَّغَ لِلْعِلْمِ وَالدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهُوَ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَكَانَ الْقَائِمُ عَلَيْهِ أَخُوهُ وَكَانَ يَجْلِسُ بِحَضْرَتِهِ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ وَكَانَ يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ سُلْطَانًا وَكُنَّا نَعْجَبُ مِنْهُ فِي ذَلِكَ وَنَقُولُ: مِنَ الْعُرْفِ وَالْعَادَةِ أَنَّ أَهْلَ الرَّجُلِ لَا يَحْتَشِمُونَ كَالْأَجَانِبِ بَلْ يَكُونُ انْبِسَاطُهُمْ مَعَهُ فَضْلًا عَنِ الْأَجْنَبِيِّ وَنَحْنُ نَرَاكَ مَعَ الشَّيْخِ كَتِلْمِيذٍ مُبَالِغٍ فِي احْتِشَامِهِ وَاحْتِرَامِهِ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مِنْهُ أَشْيَاءَ لَا يَرَاهَا غَيْرِي أَوْجَبَتْ عَلَيَّ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ: أَزْهَدُ النَّاسِ فِي الْعَالِمِ أَهْلُهُ فَيَعْنِي أَهْلَ الْعَالِمِ لَا يَحْتَرِمُونَ كَمَا يَحْتَرِمُ الْعَالِمَ غَيْرُهُمْ لَكِن هَذِهِ الْقَاعِدَةُ خَرَقَهَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ أَخُوهُ كَانَ يَحْتَرِمُهُ احْتِرَامًا شَدِيدًا يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ السُّلْطَانَ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ فَكَانُوا يَتَعَجَّبُونَ مِنْهُ يَعْنِي يَقُولُونَ هُوَ أَخُوكَ الْعَادَةُ أَنَّ يَعْنِي أَهْلَ الْإِنْسَانِ لَا يَحْتَشِمُونَهُ وَيَتَبَسَّطُونَ مَعَهُ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ أَرَى مِنْ هَذَا الرَّجُلِ أَشْيَاءَ أَوْجَبَتْ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ أَرَى عَجَائِبَ فِي شَخْصِيَّتِهِ وَفِي سِيرَتِهِ أَعْطَتْهُ هَذِهِ الْمَهَابَةَ الْعَظِيمَةَ فَهَذَا مِنْ مَنَاقِبِ هَذَا الْإِمَامِ رَحِمَهُ اللهُ أَيْضًا مِمَّا ذَكَرَهُ أَبُو حَفْصٍ الْبَزَّارُ فِي هَذَا الْكِتَابِ الْفَائِدَةُ رَقْمُ ٤٤٨ ذَكَرَ عَجَبًا يَعْنِي مِنْ حَالِهِ وَقْتَ طُفُولَتِهِ قَالَ حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ يَقُولُ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ عَنْ شَيْخِهِ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ يَعْنِي عَنْ شَيْخِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ قَالَ قَالَ لِي أَبُوهُ… هُوَ عَبْدُ السَّلَامِ هُوَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ قَالَ لِي أَبُوهُ وَهُوَ صَبِيٌّ يَعْنِي الشَّيْخُ أُحِبُّ أَنْ تُوصِيَهُ بِأَلَّا يَنْقَطِعَ يَعْنِي يَسْتَمِرُّ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ وَأَدْفَعُ إِلَيْكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا وَقَالَ أَعْطِهِ إِيَّاهَا فَإِنَّهُ صَغِيرٌ وَقُلْ لَهُ: لَكَ فِي كُلِّ شَهْرٍ مِثْلَهَا فَامْتَنَعَ يَعْنِي ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ امْتَنَعَ مِنْ قَبُولِهَا وَقَالَ: إِنِّي عَاهَدْتُ اللهَ تَعَالَى عَلَى أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَلَمْ يَأْخُذْهَا فَرَأَيْتُ أَنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا لِلهِ فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ اللهُ أَكْبَرُ قُلْتُ: وَصَدَقَ شَيْخُهُ فَإِنَّ عِنَايَةَ اللهِ هِيَ الَّتِي أَوْصَلَتْهُ إِلَى مَا وَصَلَ مِنْ كُلِّ خَيْرٍ يَعْنِي هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ أَبُوهُ أَعْطَى مُعَلِّمَ الْقُرْآنِ وَقَالَ لَهُ: سَأُعْطِيكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا أَهَمُّ شَيْءٍ أَنَّهُ يَسْتَمِرُّ فَرَفَضَ أَنْ يَقْبَلَهَا وَانْظُرْ إِلَى الْجَوَابِ مَاذَا قَالَ؟ قَالَ: عَاهَدْتُ اللهَ أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَهُوَ فِي تِلْكَ السِّنِّ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ كَيْفَ يَقَعُ هَذَا مِنْ صَبِيٍّ فَقَالُوا هَذَا يَدُلُّ عَلَى عِنَايَةِ اللهِ تَعَالَى الْعَظِيمَةِ بِهَذَا الرَّجُلِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ فَيَعْنِي هَؤُلَاءِ الْأَئِمَّةُ يَعْنِي يُرَى لُطْفُ اللهِ وَعِنَايَتُهُ بِهِمْ مِنْ حِينِ نَشْأَتِهِمْ فَعِنْدَمَا نَرَى مَثَلًا فِي سِيَرِ الْأَئِمَّةِ كَالْإِمَامِ أَحْمَدَ وَالْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ وَكَثِيرٍ مِنَ الْأَئِمَّةِ نَجِدُ الْعِنَايَةَ وَاللُّطْفَ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِهَؤُلَاءِ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ لَيْسَ لَهُمْ صَبْوَةٌ نَشَأُوا فِي طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَمِثْلُ هَذَا يَعْنِي التَّصَرُّفُ وَهَذَا الْجَوَابُ يَعْنِي لَا يَكُونُ إِلَّا مِنْ إِنْسَانٍ كَبِيرٍ يَعْنِي هَذَا صَبِيٌّ وَمُحْتَاجٌ وَمَعَ ذَلِكَ لَمْ يَقْبَلْ هَذَا الْمَبْلَغَ لَمْ يَقْبَلْ أَنْ يَأْخُذَ هَذِهِ الدَّرَاهِمَ سُبْحَانَ اللهِ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ وَقَالُوا إِنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا جَعَلَ اللهُ تَعَالَى فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ وَاللُّطْفِ وَالِاخْتِيَارِ فَاللهُ تَعَالَى يَخْتَارُ أَئِمَّةً وَعُلَمَاءَ يَصْطَفِيهِمْ وَيَجْتَبِيهِمْ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ وَصِغَرِهِمْ وَيُرَى آثَارُ اللُّطْفِ وَالْعِنَايَةِ عَلَى سِيَرِهِمْ أَيْضًا ذَكَرَ الْبَزَّارُ فِي الْكِتَابِ نَفْسِهِ قِصَّةً أُخْرَى قَالَ إِنَّ الشَّيْخَ حَالَ صِبَاهُ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَذْهَبَ إِلَى الْكَتَاتِيبِ يَعْتَرِضُهُ يَهُودِيٌّ كَانَ مَنْزِلُهُ بطَرِيقِهِ وَيَسْأَلُهُ عَنْ مَسَائِلَ لِمَا رَأَى فِيهِ مِنَ الذَّكَاءِ وَالْفِطْنَةِ فَكَانَ يُجِيبُهُ سَرِيعًا بِسُرْعَةِ بَدِيهَةٍ وَذَكَاءٍ حَتَّى تَعَجَّبَ مِنْهُ وَسُبْحَانَ اللهِ يَعْنِي مِنْ هَذِهِ الْأَجْوِبَةِ أَسْلَمَ هَذَا الْيَهُودِيُّ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ اِسْتَطَاعَ هَذَا الصَّبِيُّ أَنْ يُقْنِعَ هَذَا الْيَهُودِيَّ بِـأَنَّ الْإِسْلَامَ هُوَ الدِّينُ الْحَقُّ فَأَسْلَمَ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ فَهُوَ هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى الْعِنَايَةِ الْعَظِيمَةِ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللُّطْفِ بِهَذَا الْإِمَامِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ وَمُنْذُ صِغَرِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَجَزَاهُ عَنِ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ خَيْرَ الْجَزَاءِ

Rahasia Tersembunyi di Balik Kecerdasan Ibnu Taimiyah yang Jarang Diketahui

Ibnu Taimiyah rahimahullah tidak menikah. Barangkali Allah Ta’ala menghendaki kebaikan yang besar bagi umat ini melalui jalan tersebut.Sekiranya beliau berkeluarga, mungkin beliau akan disibukkan dengan urusan rumah tangga dan sejenisnya. Namun, beliau sepenuhnya mencurahkan hidup untuk ilmu dan dakwah di jalan Allah Azza wa Jalla. Beliau tidak menikah, dan yang mengurus keperluan beliau adalah saudara laki-lakinya. Saat berada di hadapan Ibnu Taimiyah, saudaranya itu bersikap sangat tenang dan penuh adab, seakan-akan ada burung bertengger di atas kepalanya. Saudaranya segan kepadanya, sebagaimana bersikap segan kepada seorang penguasa. “Kami merasa heran terhadap hal itu, lalu kami berkata, ‘Biasanya, keluarga dekat tidak bersikap segan layaknya kepada orang asing. Bahkan, mereka biasanya lebih leluasa dan akrab dengannya dibandingkan dengan orang asing. Namun, kami melihatmu bersama sang Syaikh (Ibnu Taimiyah) seperti seorang murid yang sangat berlebihan dalam menjaga rasa segan dan penghormatan kepadanya.’” Lalu saudaranya menjawab, “Aku melihat darinya sesuatu yang tidak tampak bagi orang lain. Itulah yang mendorongku untuk bersikap kepadanya sebagaimana yang kalian lihat.” Sebagaimana ungkapan, “Orang yang paling sedikit mengambil manfaat seorang ulama adalah keluarganya sendiri.” Maksudnya, sering kali keluarga tidak menghormati seorang ulama sebagaimana orang lain menghormatinya. Namun kaidah ini dilanggar oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah. Saudaranya sangat menghormatinya, penuh rasa segan kepadanya sebagaimana bersikap segan kepada penguasa. Ia duduk di hadapannya dengan begitu tenang dan penuh adab, seakan-akan ada burung bertengger di atas kepalanya. Mereka pun merasa heran terhadapnya. Mereka berkata, “Beliau itu saudaramu. Biasanya, orang-orang terdekat tidak bersikap segan kepadanya, bahkan bersikap akrab dan leluasa dengannya, dan semisal itu.” Ia menjawab, “Sesungguhnya aku melihat sesuatu yang tidak kalian lihat. Aku melihat dari lelaki ini perkara-perkara yang membuatku bersikap kepadanya sebagaimana yang kalian saksikan. Aku melihat keajaiban dalam kepribadian dan perjalanan hidupnya, yang menghadirkan kewibawaan besar pada dirinya.” Inilah salah satu sisi kemuliaan Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Abu Hafsh Al-Bazzar juga mengisahkan dalam buku ini (Al-A’lam Al-‘Aliyah fi Manaqib Ibn Taimiyah), tepatnya pada poin ke-448, sebuah kejadian luar biasa yang terjadi pada masa kecil beliau. Al-Bazzar bercerita, “Seseorang yang tepercaya mengisahkan kepadaku, dari guru yang mengajarkan Al-Qur’an kepada Ibnu Taimiyah.” Guru tersebut bercerita, “Ayahnya—yaitu Abu Ahmad bin ‘Abdussalam—berkata kepadaku saat Ibnu Taimiyah masih kecil: ‘Aku ingin Anda menasihatinya, agar ia tidak berhenti dan terus konsisten menghafal Al-Qur’an. Untuk itu, aku akan menitipkan kepada Anda uang sebesar 40 dirham setiap bulannya.’ Ayahnya berpesan, ‘Berikan uang itu kepadanya karena ia masih kecil (agar ia senang). Katakan padanya: Kamu akan mendapat uang saku yang sama setiap bulan.’” Namun Ibnu Taimiyah rahimahullah menolak, beliau benar-benar enggan menerimanya. Beliau berkata, “Sesungguhnya aku telah berjanji kepada Allah Ta’ala untuk tidak mengambil upah sepeser pun dari Al-Qur’an.” Maka Ibnu Taimiyah pun tidak mengambil uang tersebut. “Lalu aku menyadari,” kata sang guru, “sikap seperti ini tidak mungkin muncul dari seorang anak kecil, kecuali karena adanya perhatian khusus dari Allah kepadanya.” Allahu Akbar! Aku katakan, “Gurunya benar. Karena perhatian Allah itulah yang mengantarkannya kepada segala kebaikan yang ia capai.” Ini terjadi saat beliau masih sangat belia. Ayahnya menitipkan pemberian kepada guru Al-Qur’an beliau. Ayahnya berpesan kepada sang guru, “Aku titipkan 40 dirham setiap bulan, yang penting ia terus istiqamah menghafal Al-Qur’an.” Namun, Ibnu Taimiyah justru menolak. Lihatlah jawabannya, apa yang ia katakan? Beliau menjawab, “Aku telah berjanji kepada Allah untuk tidak mengambil upah dari Al-Qur’an.” Padahal, beliau masih sangat kecil kala itu. Orang-orang pun takjub terhadapnya. Bagaimana mungkin sikap seperti ini muncul dari seorang anak kecil? Mereka berkata, “Ini menunjukkan besarnya perhatian dari Allah terhadap sosok tokoh ini semenjak awal pertumbuhannya.” Demikianlah para imam. Sejak kecil, sudah tampak kelembutan dan perhatian dari Allah terhadap mereka. Jika kita menilik biografi para imam besar seperti Imam Ahmad dan Al-Imam Asy-Syafi’i, serta banyak imam lainnya, kita akan mendapati kelembutan dan penjagaan Allah terhadap mereka begitu nyata sejak mereka kecil. Sebagaimana dikatakan, mereka tidak memiliki masa muda yang sia-sia. Mereka tumbuh dalam ketaatan kepada Allah. Sikap dan jawaban seperti itu tidaklah mungkin muncul kecuali dari seorang yang telah dewasa. Padahal beliau masih kecil. Masih memerlukan harta. Meski begitu, beliau tetap menolak imbalan itu, tidak mau mengambil dirham-dirham tersebut. Subhanallah! Orang-orang pun terkagum-kagum terhadapnya. Mereka pun berkata: “Sikap seperti ini tidak mungkin muncul dari seorang anak kecil, kecuali karena adanya perhatian, kelembutan, dan pilihan dari Allah terhadapnya.” Allah memilih para imam dan ulama, menyeleksi mereka, sejak mereka kecil. Jejak-jejak kelembutan dan penjagaan Allah begitu jelas terlihat dalam perjalanan hidup mereka. Al-Bazzar juga menceritakan kisah lain dalam buku yang sama. Al-Bazzar bertutur, “Sesungguhnya syaikh—yakni Ibnu Taimiyah—pada masa kecilnya, apabila hendak pergi ke tempat belajar Al-Qur’an (kuttab), ada seorang Yahudi—yang rumahnya berada di jalan yang ia lewati—sering menghampirinya dan mengajukan berbagai pertanyaan kepadanya, karena orang Yahudi tersebut melihat kecerdasan dan ketajaman pikirannya. Ibnu Taimiyah pun menjawabnya dengan cepat, spontan, dan cerdas, hingga membuat orang Yahudi itu takjub. Dan subhanallah, melalui wasilah jawaban-jawaban itu, orang Yahudi tersebut akhirnya memeluk Islam, dan baik keislamannya.” Seorang anak kecil mampu meyakinkan orang Yahudi tersebut bahwa Islam adalah agama yang benar. Orang Yahudi tersebut akhirnya masuk Islam, dan baik keislamannya. Beliau ketika itu hanyalah seorang anak kecil. Ini menunjukkan besarnya perhatian dan kelembutan Allah terhadap imam ini sejak beliau kecil. Semoga Allah Ta’ala merahmati beliau, dan membalasnya dengan sebaik-baik balasan atas jasanya bagi Islam dan kaum Muslimin. ===== ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَلَعَلَّ اللهَ تَعَالَى أَرَادَ خَيْرًا بِهَذِهِ الْأُمَّةِ يَعْنِي لَوْ تَزَوَّجَ رُبَّمَا اشْتَغَلَ بِأُسْرَتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَكِنَّهُ تَفَرَّغَ لِلْعِلْمِ وَالدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهُوَ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَكَانَ الْقَائِمُ عَلَيْهِ أَخُوهُ وَكَانَ يَجْلِسُ بِحَضْرَتِهِ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ وَكَانَ يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ سُلْطَانًا وَكُنَّا نَعْجَبُ مِنْهُ فِي ذَلِكَ وَنَقُولُ: مِنَ الْعُرْفِ وَالْعَادَةِ أَنَّ أَهْلَ الرَّجُلِ لَا يَحْتَشِمُونَ كَالْأَجَانِبِ بَلْ يَكُونُ انْبِسَاطُهُمْ مَعَهُ فَضْلًا عَنِ الْأَجْنَبِيِّ وَنَحْنُ نَرَاكَ مَعَ الشَّيْخِ كَتِلْمِيذٍ مُبَالِغٍ فِي احْتِشَامِهِ وَاحْتِرَامِهِ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مِنْهُ أَشْيَاءَ لَا يَرَاهَا غَيْرِي أَوْجَبَتْ عَلَيَّ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ: أَزْهَدُ النَّاسِ فِي الْعَالِمِ أَهْلُهُ فَيَعْنِي أَهْلَ الْعَالِمِ لَا يَحْتَرِمُونَ كَمَا يَحْتَرِمُ الْعَالِمَ غَيْرُهُمْ لَكِن هَذِهِ الْقَاعِدَةُ خَرَقَهَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ أَخُوهُ كَانَ يَحْتَرِمُهُ احْتِرَامًا شَدِيدًا يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ السُّلْطَانَ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ فَكَانُوا يَتَعَجَّبُونَ مِنْهُ يَعْنِي يَقُولُونَ هُوَ أَخُوكَ الْعَادَةُ أَنَّ يَعْنِي أَهْلَ الْإِنْسَانِ لَا يَحْتَشِمُونَهُ وَيَتَبَسَّطُونَ مَعَهُ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ أَرَى مِنْ هَذَا الرَّجُلِ أَشْيَاءَ أَوْجَبَتْ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ أَرَى عَجَائِبَ فِي شَخْصِيَّتِهِ وَفِي سِيرَتِهِ أَعْطَتْهُ هَذِهِ الْمَهَابَةَ الْعَظِيمَةَ فَهَذَا مِنْ مَنَاقِبِ هَذَا الْإِمَامِ رَحِمَهُ اللهُ أَيْضًا مِمَّا ذَكَرَهُ أَبُو حَفْصٍ الْبَزَّارُ فِي هَذَا الْكِتَابِ الْفَائِدَةُ رَقْمُ ٤٤٨ ذَكَرَ عَجَبًا يَعْنِي مِنْ حَالِهِ وَقْتَ طُفُولَتِهِ قَالَ حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ يَقُولُ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ عَنْ شَيْخِهِ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ يَعْنِي عَنْ شَيْخِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ قَالَ قَالَ لِي أَبُوهُ… هُوَ عَبْدُ السَّلَامِ هُوَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ قَالَ لِي أَبُوهُ وَهُوَ صَبِيٌّ يَعْنِي الشَّيْخُ أُحِبُّ أَنْ تُوصِيَهُ بِأَلَّا يَنْقَطِعَ يَعْنِي يَسْتَمِرُّ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ وَأَدْفَعُ إِلَيْكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا وَقَالَ أَعْطِهِ إِيَّاهَا فَإِنَّهُ صَغِيرٌ وَقُلْ لَهُ: لَكَ فِي كُلِّ شَهْرٍ مِثْلَهَا فَامْتَنَعَ يَعْنِي ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ امْتَنَعَ مِنْ قَبُولِهَا وَقَالَ: إِنِّي عَاهَدْتُ اللهَ تَعَالَى عَلَى أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَلَمْ يَأْخُذْهَا فَرَأَيْتُ أَنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا لِلهِ فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ اللهُ أَكْبَرُ قُلْتُ: وَصَدَقَ شَيْخُهُ فَإِنَّ عِنَايَةَ اللهِ هِيَ الَّتِي أَوْصَلَتْهُ إِلَى مَا وَصَلَ مِنْ كُلِّ خَيْرٍ يَعْنِي هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ أَبُوهُ أَعْطَى مُعَلِّمَ الْقُرْآنِ وَقَالَ لَهُ: سَأُعْطِيكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا أَهَمُّ شَيْءٍ أَنَّهُ يَسْتَمِرُّ فَرَفَضَ أَنْ يَقْبَلَهَا وَانْظُرْ إِلَى الْجَوَابِ مَاذَا قَالَ؟ قَالَ: عَاهَدْتُ اللهَ أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَهُوَ فِي تِلْكَ السِّنِّ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ كَيْفَ يَقَعُ هَذَا مِنْ صَبِيٍّ فَقَالُوا هَذَا يَدُلُّ عَلَى عِنَايَةِ اللهِ تَعَالَى الْعَظِيمَةِ بِهَذَا الرَّجُلِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ فَيَعْنِي هَؤُلَاءِ الْأَئِمَّةُ يَعْنِي يُرَى لُطْفُ اللهِ وَعِنَايَتُهُ بِهِمْ مِنْ حِينِ نَشْأَتِهِمْ فَعِنْدَمَا نَرَى مَثَلًا فِي سِيَرِ الْأَئِمَّةِ كَالْإِمَامِ أَحْمَدَ وَالْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ وَكَثِيرٍ مِنَ الْأَئِمَّةِ نَجِدُ الْعِنَايَةَ وَاللُّطْفَ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِهَؤُلَاءِ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ لَيْسَ لَهُمْ صَبْوَةٌ نَشَأُوا فِي طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَمِثْلُ هَذَا يَعْنِي التَّصَرُّفُ وَهَذَا الْجَوَابُ يَعْنِي لَا يَكُونُ إِلَّا مِنْ إِنْسَانٍ كَبِيرٍ يَعْنِي هَذَا صَبِيٌّ وَمُحْتَاجٌ وَمَعَ ذَلِكَ لَمْ يَقْبَلْ هَذَا الْمَبْلَغَ لَمْ يَقْبَلْ أَنْ يَأْخُذَ هَذِهِ الدَّرَاهِمَ سُبْحَانَ اللهِ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ وَقَالُوا إِنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا جَعَلَ اللهُ تَعَالَى فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ وَاللُّطْفِ وَالِاخْتِيَارِ فَاللهُ تَعَالَى يَخْتَارُ أَئِمَّةً وَعُلَمَاءَ يَصْطَفِيهِمْ وَيَجْتَبِيهِمْ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ وَصِغَرِهِمْ وَيُرَى آثَارُ اللُّطْفِ وَالْعِنَايَةِ عَلَى سِيَرِهِمْ أَيْضًا ذَكَرَ الْبَزَّارُ فِي الْكِتَابِ نَفْسِهِ قِصَّةً أُخْرَى قَالَ إِنَّ الشَّيْخَ حَالَ صِبَاهُ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَذْهَبَ إِلَى الْكَتَاتِيبِ يَعْتَرِضُهُ يَهُودِيٌّ كَانَ مَنْزِلُهُ بطَرِيقِهِ وَيَسْأَلُهُ عَنْ مَسَائِلَ لِمَا رَأَى فِيهِ مِنَ الذَّكَاءِ وَالْفِطْنَةِ فَكَانَ يُجِيبُهُ سَرِيعًا بِسُرْعَةِ بَدِيهَةٍ وَذَكَاءٍ حَتَّى تَعَجَّبَ مِنْهُ وَسُبْحَانَ اللهِ يَعْنِي مِنْ هَذِهِ الْأَجْوِبَةِ أَسْلَمَ هَذَا الْيَهُودِيُّ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ اِسْتَطَاعَ هَذَا الصَّبِيُّ أَنْ يُقْنِعَ هَذَا الْيَهُودِيَّ بِـأَنَّ الْإِسْلَامَ هُوَ الدِّينُ الْحَقُّ فَأَسْلَمَ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ فَهُوَ هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى الْعِنَايَةِ الْعَظِيمَةِ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللُّطْفِ بِهَذَا الْإِمَامِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ وَمُنْذُ صِغَرِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَجَزَاهُ عَنِ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ خَيْرَ الْجَزَاءِ
Ibnu Taimiyah rahimahullah tidak menikah. Barangkali Allah Ta’ala menghendaki kebaikan yang besar bagi umat ini melalui jalan tersebut.Sekiranya beliau berkeluarga, mungkin beliau akan disibukkan dengan urusan rumah tangga dan sejenisnya. Namun, beliau sepenuhnya mencurahkan hidup untuk ilmu dan dakwah di jalan Allah Azza wa Jalla. Beliau tidak menikah, dan yang mengurus keperluan beliau adalah saudara laki-lakinya. Saat berada di hadapan Ibnu Taimiyah, saudaranya itu bersikap sangat tenang dan penuh adab, seakan-akan ada burung bertengger di atas kepalanya. Saudaranya segan kepadanya, sebagaimana bersikap segan kepada seorang penguasa. “Kami merasa heran terhadap hal itu, lalu kami berkata, ‘Biasanya, keluarga dekat tidak bersikap segan layaknya kepada orang asing. Bahkan, mereka biasanya lebih leluasa dan akrab dengannya dibandingkan dengan orang asing. Namun, kami melihatmu bersama sang Syaikh (Ibnu Taimiyah) seperti seorang murid yang sangat berlebihan dalam menjaga rasa segan dan penghormatan kepadanya.’” Lalu saudaranya menjawab, “Aku melihat darinya sesuatu yang tidak tampak bagi orang lain. Itulah yang mendorongku untuk bersikap kepadanya sebagaimana yang kalian lihat.” Sebagaimana ungkapan, “Orang yang paling sedikit mengambil manfaat seorang ulama adalah keluarganya sendiri.” Maksudnya, sering kali keluarga tidak menghormati seorang ulama sebagaimana orang lain menghormatinya. Namun kaidah ini dilanggar oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah. Saudaranya sangat menghormatinya, penuh rasa segan kepadanya sebagaimana bersikap segan kepada penguasa. Ia duduk di hadapannya dengan begitu tenang dan penuh adab, seakan-akan ada burung bertengger di atas kepalanya. Mereka pun merasa heran terhadapnya. Mereka berkata, “Beliau itu saudaramu. Biasanya, orang-orang terdekat tidak bersikap segan kepadanya, bahkan bersikap akrab dan leluasa dengannya, dan semisal itu.” Ia menjawab, “Sesungguhnya aku melihat sesuatu yang tidak kalian lihat. Aku melihat dari lelaki ini perkara-perkara yang membuatku bersikap kepadanya sebagaimana yang kalian saksikan. Aku melihat keajaiban dalam kepribadian dan perjalanan hidupnya, yang menghadirkan kewibawaan besar pada dirinya.” Inilah salah satu sisi kemuliaan Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Abu Hafsh Al-Bazzar juga mengisahkan dalam buku ini (Al-A’lam Al-‘Aliyah fi Manaqib Ibn Taimiyah), tepatnya pada poin ke-448, sebuah kejadian luar biasa yang terjadi pada masa kecil beliau. Al-Bazzar bercerita, “Seseorang yang tepercaya mengisahkan kepadaku, dari guru yang mengajarkan Al-Qur’an kepada Ibnu Taimiyah.” Guru tersebut bercerita, “Ayahnya—yaitu Abu Ahmad bin ‘Abdussalam—berkata kepadaku saat Ibnu Taimiyah masih kecil: ‘Aku ingin Anda menasihatinya, agar ia tidak berhenti dan terus konsisten menghafal Al-Qur’an. Untuk itu, aku akan menitipkan kepada Anda uang sebesar 40 dirham setiap bulannya.’ Ayahnya berpesan, ‘Berikan uang itu kepadanya karena ia masih kecil (agar ia senang). Katakan padanya: Kamu akan mendapat uang saku yang sama setiap bulan.’” Namun Ibnu Taimiyah rahimahullah menolak, beliau benar-benar enggan menerimanya. Beliau berkata, “Sesungguhnya aku telah berjanji kepada Allah Ta’ala untuk tidak mengambil upah sepeser pun dari Al-Qur’an.” Maka Ibnu Taimiyah pun tidak mengambil uang tersebut. “Lalu aku menyadari,” kata sang guru, “sikap seperti ini tidak mungkin muncul dari seorang anak kecil, kecuali karena adanya perhatian khusus dari Allah kepadanya.” Allahu Akbar! Aku katakan, “Gurunya benar. Karena perhatian Allah itulah yang mengantarkannya kepada segala kebaikan yang ia capai.” Ini terjadi saat beliau masih sangat belia. Ayahnya menitipkan pemberian kepada guru Al-Qur’an beliau. Ayahnya berpesan kepada sang guru, “Aku titipkan 40 dirham setiap bulan, yang penting ia terus istiqamah menghafal Al-Qur’an.” Namun, Ibnu Taimiyah justru menolak. Lihatlah jawabannya, apa yang ia katakan? Beliau menjawab, “Aku telah berjanji kepada Allah untuk tidak mengambil upah dari Al-Qur’an.” Padahal, beliau masih sangat kecil kala itu. Orang-orang pun takjub terhadapnya. Bagaimana mungkin sikap seperti ini muncul dari seorang anak kecil? Mereka berkata, “Ini menunjukkan besarnya perhatian dari Allah terhadap sosok tokoh ini semenjak awal pertumbuhannya.” Demikianlah para imam. Sejak kecil, sudah tampak kelembutan dan perhatian dari Allah terhadap mereka. Jika kita menilik biografi para imam besar seperti Imam Ahmad dan Al-Imam Asy-Syafi’i, serta banyak imam lainnya, kita akan mendapati kelembutan dan penjagaan Allah terhadap mereka begitu nyata sejak mereka kecil. Sebagaimana dikatakan, mereka tidak memiliki masa muda yang sia-sia. Mereka tumbuh dalam ketaatan kepada Allah. Sikap dan jawaban seperti itu tidaklah mungkin muncul kecuali dari seorang yang telah dewasa. Padahal beliau masih kecil. Masih memerlukan harta. Meski begitu, beliau tetap menolak imbalan itu, tidak mau mengambil dirham-dirham tersebut. Subhanallah! Orang-orang pun terkagum-kagum terhadapnya. Mereka pun berkata: “Sikap seperti ini tidak mungkin muncul dari seorang anak kecil, kecuali karena adanya perhatian, kelembutan, dan pilihan dari Allah terhadapnya.” Allah memilih para imam dan ulama, menyeleksi mereka, sejak mereka kecil. Jejak-jejak kelembutan dan penjagaan Allah begitu jelas terlihat dalam perjalanan hidup mereka. Al-Bazzar juga menceritakan kisah lain dalam buku yang sama. Al-Bazzar bertutur, “Sesungguhnya syaikh—yakni Ibnu Taimiyah—pada masa kecilnya, apabila hendak pergi ke tempat belajar Al-Qur’an (kuttab), ada seorang Yahudi—yang rumahnya berada di jalan yang ia lewati—sering menghampirinya dan mengajukan berbagai pertanyaan kepadanya, karena orang Yahudi tersebut melihat kecerdasan dan ketajaman pikirannya. Ibnu Taimiyah pun menjawabnya dengan cepat, spontan, dan cerdas, hingga membuat orang Yahudi itu takjub. Dan subhanallah, melalui wasilah jawaban-jawaban itu, orang Yahudi tersebut akhirnya memeluk Islam, dan baik keislamannya.” Seorang anak kecil mampu meyakinkan orang Yahudi tersebut bahwa Islam adalah agama yang benar. Orang Yahudi tersebut akhirnya masuk Islam, dan baik keislamannya. Beliau ketika itu hanyalah seorang anak kecil. Ini menunjukkan besarnya perhatian dan kelembutan Allah terhadap imam ini sejak beliau kecil. Semoga Allah Ta’ala merahmati beliau, dan membalasnya dengan sebaik-baik balasan atas jasanya bagi Islam dan kaum Muslimin. ===== ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَلَعَلَّ اللهَ تَعَالَى أَرَادَ خَيْرًا بِهَذِهِ الْأُمَّةِ يَعْنِي لَوْ تَزَوَّجَ رُبَّمَا اشْتَغَلَ بِأُسْرَتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَكِنَّهُ تَفَرَّغَ لِلْعِلْمِ وَالدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهُوَ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَكَانَ الْقَائِمُ عَلَيْهِ أَخُوهُ وَكَانَ يَجْلِسُ بِحَضْرَتِهِ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ وَكَانَ يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ سُلْطَانًا وَكُنَّا نَعْجَبُ مِنْهُ فِي ذَلِكَ وَنَقُولُ: مِنَ الْعُرْفِ وَالْعَادَةِ أَنَّ أَهْلَ الرَّجُلِ لَا يَحْتَشِمُونَ كَالْأَجَانِبِ بَلْ يَكُونُ انْبِسَاطُهُمْ مَعَهُ فَضْلًا عَنِ الْأَجْنَبِيِّ وَنَحْنُ نَرَاكَ مَعَ الشَّيْخِ كَتِلْمِيذٍ مُبَالِغٍ فِي احْتِشَامِهِ وَاحْتِرَامِهِ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مِنْهُ أَشْيَاءَ لَا يَرَاهَا غَيْرِي أَوْجَبَتْ عَلَيَّ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ: أَزْهَدُ النَّاسِ فِي الْعَالِمِ أَهْلُهُ فَيَعْنِي أَهْلَ الْعَالِمِ لَا يَحْتَرِمُونَ كَمَا يَحْتَرِمُ الْعَالِمَ غَيْرُهُمْ لَكِن هَذِهِ الْقَاعِدَةُ خَرَقَهَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ أَخُوهُ كَانَ يَحْتَرِمُهُ احْتِرَامًا شَدِيدًا يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ السُّلْطَانَ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ فَكَانُوا يَتَعَجَّبُونَ مِنْهُ يَعْنِي يَقُولُونَ هُوَ أَخُوكَ الْعَادَةُ أَنَّ يَعْنِي أَهْلَ الْإِنْسَانِ لَا يَحْتَشِمُونَهُ وَيَتَبَسَّطُونَ مَعَهُ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ أَرَى مِنْ هَذَا الرَّجُلِ أَشْيَاءَ أَوْجَبَتْ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ أَرَى عَجَائِبَ فِي شَخْصِيَّتِهِ وَفِي سِيرَتِهِ أَعْطَتْهُ هَذِهِ الْمَهَابَةَ الْعَظِيمَةَ فَهَذَا مِنْ مَنَاقِبِ هَذَا الْإِمَامِ رَحِمَهُ اللهُ أَيْضًا مِمَّا ذَكَرَهُ أَبُو حَفْصٍ الْبَزَّارُ فِي هَذَا الْكِتَابِ الْفَائِدَةُ رَقْمُ ٤٤٨ ذَكَرَ عَجَبًا يَعْنِي مِنْ حَالِهِ وَقْتَ طُفُولَتِهِ قَالَ حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ يَقُولُ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ عَنْ شَيْخِهِ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ يَعْنِي عَنْ شَيْخِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ قَالَ قَالَ لِي أَبُوهُ… هُوَ عَبْدُ السَّلَامِ هُوَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ قَالَ لِي أَبُوهُ وَهُوَ صَبِيٌّ يَعْنِي الشَّيْخُ أُحِبُّ أَنْ تُوصِيَهُ بِأَلَّا يَنْقَطِعَ يَعْنِي يَسْتَمِرُّ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ وَأَدْفَعُ إِلَيْكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا وَقَالَ أَعْطِهِ إِيَّاهَا فَإِنَّهُ صَغِيرٌ وَقُلْ لَهُ: لَكَ فِي كُلِّ شَهْرٍ مِثْلَهَا فَامْتَنَعَ يَعْنِي ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ امْتَنَعَ مِنْ قَبُولِهَا وَقَالَ: إِنِّي عَاهَدْتُ اللهَ تَعَالَى عَلَى أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَلَمْ يَأْخُذْهَا فَرَأَيْتُ أَنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا لِلهِ فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ اللهُ أَكْبَرُ قُلْتُ: وَصَدَقَ شَيْخُهُ فَإِنَّ عِنَايَةَ اللهِ هِيَ الَّتِي أَوْصَلَتْهُ إِلَى مَا وَصَلَ مِنْ كُلِّ خَيْرٍ يَعْنِي هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ أَبُوهُ أَعْطَى مُعَلِّمَ الْقُرْآنِ وَقَالَ لَهُ: سَأُعْطِيكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا أَهَمُّ شَيْءٍ أَنَّهُ يَسْتَمِرُّ فَرَفَضَ أَنْ يَقْبَلَهَا وَانْظُرْ إِلَى الْجَوَابِ مَاذَا قَالَ؟ قَالَ: عَاهَدْتُ اللهَ أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَهُوَ فِي تِلْكَ السِّنِّ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ كَيْفَ يَقَعُ هَذَا مِنْ صَبِيٍّ فَقَالُوا هَذَا يَدُلُّ عَلَى عِنَايَةِ اللهِ تَعَالَى الْعَظِيمَةِ بِهَذَا الرَّجُلِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ فَيَعْنِي هَؤُلَاءِ الْأَئِمَّةُ يَعْنِي يُرَى لُطْفُ اللهِ وَعِنَايَتُهُ بِهِمْ مِنْ حِينِ نَشْأَتِهِمْ فَعِنْدَمَا نَرَى مَثَلًا فِي سِيَرِ الْأَئِمَّةِ كَالْإِمَامِ أَحْمَدَ وَالْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ وَكَثِيرٍ مِنَ الْأَئِمَّةِ نَجِدُ الْعِنَايَةَ وَاللُّطْفَ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِهَؤُلَاءِ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ لَيْسَ لَهُمْ صَبْوَةٌ نَشَأُوا فِي طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَمِثْلُ هَذَا يَعْنِي التَّصَرُّفُ وَهَذَا الْجَوَابُ يَعْنِي لَا يَكُونُ إِلَّا مِنْ إِنْسَانٍ كَبِيرٍ يَعْنِي هَذَا صَبِيٌّ وَمُحْتَاجٌ وَمَعَ ذَلِكَ لَمْ يَقْبَلْ هَذَا الْمَبْلَغَ لَمْ يَقْبَلْ أَنْ يَأْخُذَ هَذِهِ الدَّرَاهِمَ سُبْحَانَ اللهِ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ وَقَالُوا إِنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا جَعَلَ اللهُ تَعَالَى فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ وَاللُّطْفِ وَالِاخْتِيَارِ فَاللهُ تَعَالَى يَخْتَارُ أَئِمَّةً وَعُلَمَاءَ يَصْطَفِيهِمْ وَيَجْتَبِيهِمْ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ وَصِغَرِهِمْ وَيُرَى آثَارُ اللُّطْفِ وَالْعِنَايَةِ عَلَى سِيَرِهِمْ أَيْضًا ذَكَرَ الْبَزَّارُ فِي الْكِتَابِ نَفْسِهِ قِصَّةً أُخْرَى قَالَ إِنَّ الشَّيْخَ حَالَ صِبَاهُ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَذْهَبَ إِلَى الْكَتَاتِيبِ يَعْتَرِضُهُ يَهُودِيٌّ كَانَ مَنْزِلُهُ بطَرِيقِهِ وَيَسْأَلُهُ عَنْ مَسَائِلَ لِمَا رَأَى فِيهِ مِنَ الذَّكَاءِ وَالْفِطْنَةِ فَكَانَ يُجِيبُهُ سَرِيعًا بِسُرْعَةِ بَدِيهَةٍ وَذَكَاءٍ حَتَّى تَعَجَّبَ مِنْهُ وَسُبْحَانَ اللهِ يَعْنِي مِنْ هَذِهِ الْأَجْوِبَةِ أَسْلَمَ هَذَا الْيَهُودِيُّ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ اِسْتَطَاعَ هَذَا الصَّبِيُّ أَنْ يُقْنِعَ هَذَا الْيَهُودِيَّ بِـأَنَّ الْإِسْلَامَ هُوَ الدِّينُ الْحَقُّ فَأَسْلَمَ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ فَهُوَ هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى الْعِنَايَةِ الْعَظِيمَةِ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللُّطْفِ بِهَذَا الْإِمَامِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ وَمُنْذُ صِغَرِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَجَزَاهُ عَنِ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ خَيْرَ الْجَزَاءِ


Ibnu Taimiyah rahimahullah tidak menikah. Barangkali Allah Ta’ala menghendaki kebaikan yang besar bagi umat ini melalui jalan tersebut.Sekiranya beliau berkeluarga, mungkin beliau akan disibukkan dengan urusan rumah tangga dan sejenisnya. Namun, beliau sepenuhnya mencurahkan hidup untuk ilmu dan dakwah di jalan Allah Azza wa Jalla. Beliau tidak menikah, dan yang mengurus keperluan beliau adalah saudara laki-lakinya. Saat berada di hadapan Ibnu Taimiyah, saudaranya itu bersikap sangat tenang dan penuh adab, seakan-akan ada burung bertengger di atas kepalanya. Saudaranya segan kepadanya, sebagaimana bersikap segan kepada seorang penguasa. “Kami merasa heran terhadap hal itu, lalu kami berkata, ‘Biasanya, keluarga dekat tidak bersikap segan layaknya kepada orang asing. Bahkan, mereka biasanya lebih leluasa dan akrab dengannya dibandingkan dengan orang asing. Namun, kami melihatmu bersama sang Syaikh (Ibnu Taimiyah) seperti seorang murid yang sangat berlebihan dalam menjaga rasa segan dan penghormatan kepadanya.’” Lalu saudaranya menjawab, “Aku melihat darinya sesuatu yang tidak tampak bagi orang lain. Itulah yang mendorongku untuk bersikap kepadanya sebagaimana yang kalian lihat.” Sebagaimana ungkapan, “Orang yang paling sedikit mengambil manfaat seorang ulama adalah keluarganya sendiri.” Maksudnya, sering kali keluarga tidak menghormati seorang ulama sebagaimana orang lain menghormatinya. Namun kaidah ini dilanggar oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah. Saudaranya sangat menghormatinya, penuh rasa segan kepadanya sebagaimana bersikap segan kepada penguasa. Ia duduk di hadapannya dengan begitu tenang dan penuh adab, seakan-akan ada burung bertengger di atas kepalanya. Mereka pun merasa heran terhadapnya. Mereka berkata, “Beliau itu saudaramu. Biasanya, orang-orang terdekat tidak bersikap segan kepadanya, bahkan bersikap akrab dan leluasa dengannya, dan semisal itu.” Ia menjawab, “Sesungguhnya aku melihat sesuatu yang tidak kalian lihat. Aku melihat dari lelaki ini perkara-perkara yang membuatku bersikap kepadanya sebagaimana yang kalian saksikan. Aku melihat keajaiban dalam kepribadian dan perjalanan hidupnya, yang menghadirkan kewibawaan besar pada dirinya.” Inilah salah satu sisi kemuliaan Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Abu Hafsh Al-Bazzar juga mengisahkan dalam buku ini (Al-A’lam Al-‘Aliyah fi Manaqib Ibn Taimiyah), tepatnya pada poin ke-448, sebuah kejadian luar biasa yang terjadi pada masa kecil beliau. Al-Bazzar bercerita, “Seseorang yang tepercaya mengisahkan kepadaku, dari guru yang mengajarkan Al-Qur’an kepada Ibnu Taimiyah.” Guru tersebut bercerita, “Ayahnya—yaitu Abu Ahmad bin ‘Abdussalam—berkata kepadaku saat Ibnu Taimiyah masih kecil: ‘Aku ingin Anda menasihatinya, agar ia tidak berhenti dan terus konsisten menghafal Al-Qur’an. Untuk itu, aku akan menitipkan kepada Anda uang sebesar 40 dirham setiap bulannya.’ Ayahnya berpesan, ‘Berikan uang itu kepadanya karena ia masih kecil (agar ia senang). Katakan padanya: Kamu akan mendapat uang saku yang sama setiap bulan.’” Namun Ibnu Taimiyah rahimahullah menolak, beliau benar-benar enggan menerimanya. Beliau berkata, “Sesungguhnya aku telah berjanji kepada Allah Ta’ala untuk tidak mengambil upah sepeser pun dari Al-Qur’an.” Maka Ibnu Taimiyah pun tidak mengambil uang tersebut. “Lalu aku menyadari,” kata sang guru, “sikap seperti ini tidak mungkin muncul dari seorang anak kecil, kecuali karena adanya perhatian khusus dari Allah kepadanya.” Allahu Akbar! Aku katakan, “Gurunya benar. Karena perhatian Allah itulah yang mengantarkannya kepada segala kebaikan yang ia capai.” Ini terjadi saat beliau masih sangat belia. Ayahnya menitipkan pemberian kepada guru Al-Qur’an beliau. Ayahnya berpesan kepada sang guru, “Aku titipkan 40 dirham setiap bulan, yang penting ia terus istiqamah menghafal Al-Qur’an.” Namun, Ibnu Taimiyah justru menolak. Lihatlah jawabannya, apa yang ia katakan? Beliau menjawab, “Aku telah berjanji kepada Allah untuk tidak mengambil upah dari Al-Qur’an.” Padahal, beliau masih sangat kecil kala itu. Orang-orang pun takjub terhadapnya. Bagaimana mungkin sikap seperti ini muncul dari seorang anak kecil? Mereka berkata, “Ini menunjukkan besarnya perhatian dari Allah terhadap sosok tokoh ini semenjak awal pertumbuhannya.” Demikianlah para imam. Sejak kecil, sudah tampak kelembutan dan perhatian dari Allah terhadap mereka. Jika kita menilik biografi para imam besar seperti Imam Ahmad dan Al-Imam Asy-Syafi’i, serta banyak imam lainnya, kita akan mendapati kelembutan dan penjagaan Allah terhadap mereka begitu nyata sejak mereka kecil. Sebagaimana dikatakan, mereka tidak memiliki masa muda yang sia-sia. Mereka tumbuh dalam ketaatan kepada Allah. Sikap dan jawaban seperti itu tidaklah mungkin muncul kecuali dari seorang yang telah dewasa. Padahal beliau masih kecil. Masih memerlukan harta. Meski begitu, beliau tetap menolak imbalan itu, tidak mau mengambil dirham-dirham tersebut. Subhanallah! Orang-orang pun terkagum-kagum terhadapnya. Mereka pun berkata: “Sikap seperti ini tidak mungkin muncul dari seorang anak kecil, kecuali karena adanya perhatian, kelembutan, dan pilihan dari Allah terhadapnya.” Allah memilih para imam dan ulama, menyeleksi mereka, sejak mereka kecil. Jejak-jejak kelembutan dan penjagaan Allah begitu jelas terlihat dalam perjalanan hidup mereka. Al-Bazzar juga menceritakan kisah lain dalam buku yang sama. Al-Bazzar bertutur, “Sesungguhnya syaikh—yakni Ibnu Taimiyah—pada masa kecilnya, apabila hendak pergi ke tempat belajar Al-Qur’an (kuttab), ada seorang Yahudi—yang rumahnya berada di jalan yang ia lewati—sering menghampirinya dan mengajukan berbagai pertanyaan kepadanya, karena orang Yahudi tersebut melihat kecerdasan dan ketajaman pikirannya. Ibnu Taimiyah pun menjawabnya dengan cepat, spontan, dan cerdas, hingga membuat orang Yahudi itu takjub. Dan subhanallah, melalui wasilah jawaban-jawaban itu, orang Yahudi tersebut akhirnya memeluk Islam, dan baik keislamannya.” Seorang anak kecil mampu meyakinkan orang Yahudi tersebut bahwa Islam adalah agama yang benar. Orang Yahudi tersebut akhirnya masuk Islam, dan baik keislamannya. Beliau ketika itu hanyalah seorang anak kecil. Ini menunjukkan besarnya perhatian dan kelembutan Allah terhadap imam ini sejak beliau kecil. Semoga Allah Ta’ala merahmati beliau, dan membalasnya dengan sebaik-baik balasan atas jasanya bagi Islam dan kaum Muslimin. ===== ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَلَعَلَّ اللهَ تَعَالَى أَرَادَ خَيْرًا بِهَذِهِ الْأُمَّةِ يَعْنِي لَوْ تَزَوَّجَ رُبَّمَا اشْتَغَلَ بِأُسْرَتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَكِنَّهُ تَفَرَّغَ لِلْعِلْمِ وَالدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهُوَ لَمْ يَتَزَوَّجْ وَكَانَ الْقَائِمُ عَلَيْهِ أَخُوهُ وَكَانَ يَجْلِسُ بِحَضْرَتِهِ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ وَكَانَ يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ سُلْطَانًا وَكُنَّا نَعْجَبُ مِنْهُ فِي ذَلِكَ وَنَقُولُ: مِنَ الْعُرْفِ وَالْعَادَةِ أَنَّ أَهْلَ الرَّجُلِ لَا يَحْتَشِمُونَ كَالْأَجَانِبِ بَلْ يَكُونُ انْبِسَاطُهُمْ مَعَهُ فَضْلًا عَنِ الْأَجْنَبِيِّ وَنَحْنُ نَرَاكَ مَعَ الشَّيْخِ كَتِلْمِيذٍ مُبَالِغٍ فِي احْتِشَامِهِ وَاحْتِرَامِهِ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مِنْهُ أَشْيَاءَ لَا يَرَاهَا غَيْرِي أَوْجَبَتْ عَلَيَّ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ: أَزْهَدُ النَّاسِ فِي الْعَالِمِ أَهْلُهُ فَيَعْنِي أَهْلَ الْعَالِمِ لَا يَحْتَرِمُونَ كَمَا يَحْتَرِمُ الْعَالِمَ غَيْرُهُمْ لَكِن هَذِهِ الْقَاعِدَةُ خَرَقَهَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ أَخُوهُ كَانَ يَحْتَرِمُهُ احْتِرَامًا شَدِيدًا يَهَابُهُ كَمَا يَهَابُ السُّلْطَانَ كَأَنَّ عَلَى رَأْسِهِ الطَّيْرُ فَكَانُوا يَتَعَجَّبُونَ مِنْهُ يَعْنِي يَقُولُونَ هُوَ أَخُوكَ الْعَادَةُ أَنَّ يَعْنِي أَهْلَ الْإِنْسَانِ لَا يَحْتَشِمُونَهُ وَيَتَبَسَّطُونَ مَعَهُ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَيَقُولُ: إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ أَرَى مِنْ هَذَا الرَّجُلِ أَشْيَاءَ أَوْجَبَتْ أَنْ أَكُونَ مَعَهُ كَمَا تَرَوْنَ أَرَى عَجَائِبَ فِي شَخْصِيَّتِهِ وَفِي سِيرَتِهِ أَعْطَتْهُ هَذِهِ الْمَهَابَةَ الْعَظِيمَةَ فَهَذَا مِنْ مَنَاقِبِ هَذَا الْإِمَامِ رَحِمَهُ اللهُ أَيْضًا مِمَّا ذَكَرَهُ أَبُو حَفْصٍ الْبَزَّارُ فِي هَذَا الْكِتَابِ الْفَائِدَةُ رَقْمُ ٤٤٨ ذَكَرَ عَجَبًا يَعْنِي مِنْ حَالِهِ وَقْتَ طُفُولَتِهِ قَالَ حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ يَقُولُ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ عَنْ شَيْخِهِ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ يَعْنِي عَنْ شَيْخِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الَّذِي عَلَّمَهُ الْقُرْآنَ قَالَ قَالَ لِي أَبُوهُ… هُوَ عَبْدُ السَّلَامِ هُوَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ قَالَ لِي أَبُوهُ وَهُوَ صَبِيٌّ يَعْنِي الشَّيْخُ أُحِبُّ أَنْ تُوصِيَهُ بِأَلَّا يَنْقَطِعَ يَعْنِي يَسْتَمِرُّ فِي حِفْظِ الْقُرْآنِ وَأَدْفَعُ إِلَيْكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا وَقَالَ أَعْطِهِ إِيَّاهَا فَإِنَّهُ صَغِيرٌ وَقُلْ لَهُ: لَكَ فِي كُلِّ شَهْرٍ مِثْلَهَا فَامْتَنَعَ يَعْنِي ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ امْتَنَعَ مِنْ قَبُولِهَا وَقَالَ: إِنِّي عَاهَدْتُ اللهَ تَعَالَى عَلَى أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَلَمْ يَأْخُذْهَا فَرَأَيْتُ أَنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا لِلهِ فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ اللهُ أَكْبَرُ قُلْتُ: وَصَدَقَ شَيْخُهُ فَإِنَّ عِنَايَةَ اللهِ هِيَ الَّتِي أَوْصَلَتْهُ إِلَى مَا وَصَلَ مِنْ كُلِّ خَيْرٍ يَعْنِي هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ أَبُوهُ أَعْطَى مُعَلِّمَ الْقُرْآنِ وَقَالَ لَهُ: سَأُعْطِيكَ كُلَّ شَهْرٍ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا أَهَمُّ شَيْءٍ أَنَّهُ يَسْتَمِرُّ فَرَفَضَ أَنْ يَقْبَلَهَا وَانْظُرْ إِلَى الْجَوَابِ مَاذَا قَالَ؟ قَالَ: عَاهَدْتُ اللهَ أَلَّا آخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا وَهُوَ فِي تِلْكَ السِّنِّ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ كَيْفَ يَقَعُ هَذَا مِنْ صَبِيٍّ فَقَالُوا هَذَا يَدُلُّ عَلَى عِنَايَةِ اللهِ تَعَالَى الْعَظِيمَةِ بِهَذَا الرَّجُلِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ فَيَعْنِي هَؤُلَاءِ الْأَئِمَّةُ يَعْنِي يُرَى لُطْفُ اللهِ وَعِنَايَتُهُ بِهِمْ مِنْ حِينِ نَشْأَتِهِمْ فَعِنْدَمَا نَرَى مَثَلًا فِي سِيَرِ الْأَئِمَّةِ كَالْإِمَامِ أَحْمَدَ وَالْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ وَكَثِيرٍ مِنَ الْأَئِمَّةِ نَجِدُ الْعِنَايَةَ وَاللُّطْفَ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِهَؤُلَاءِ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ يَعْنِي كَمَا يُقَالُ لَيْسَ لَهُمْ صَبْوَةٌ نَشَأُوا فِي طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَمِثْلُ هَذَا يَعْنِي التَّصَرُّفُ وَهَذَا الْجَوَابُ يَعْنِي لَا يَكُونُ إِلَّا مِنْ إِنْسَانٍ كَبِيرٍ يَعْنِي هَذَا صَبِيٌّ وَمُحْتَاجٌ وَمَعَ ذَلِكَ لَمْ يَقْبَلْ هَذَا الْمَبْلَغَ لَمْ يَقْبَلْ أَنْ يَأْخُذَ هَذِهِ الدَّرَاهِمَ سُبْحَانَ اللهِ فَتَعَجَّبُوا مِنْهُ وَقَالُوا إِنَّ هَذَا لَا يَقَعُ مِنْ صَبِيٍّ إِلَّا لِمَا جَعَلَ اللهُ تَعَالَى فِيهِ مِنَ الْعِنَايَةِ وَاللُّطْفِ وَالِاخْتِيَارِ فَاللهُ تَعَالَى يَخْتَارُ أَئِمَّةً وَعُلَمَاءَ يَصْطَفِيهِمْ وَيَجْتَبِيهِمْ مُنْذُ نَشْأَتِهِمْ وَصِغَرِهِمْ وَيُرَى آثَارُ اللُّطْفِ وَالْعِنَايَةِ عَلَى سِيَرِهِمْ أَيْضًا ذَكَرَ الْبَزَّارُ فِي الْكِتَابِ نَفْسِهِ قِصَّةً أُخْرَى قَالَ إِنَّ الشَّيْخَ حَالَ صِبَاهُ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَذْهَبَ إِلَى الْكَتَاتِيبِ يَعْتَرِضُهُ يَهُودِيٌّ كَانَ مَنْزِلُهُ بطَرِيقِهِ وَيَسْأَلُهُ عَنْ مَسَائِلَ لِمَا رَأَى فِيهِ مِنَ الذَّكَاءِ وَالْفِطْنَةِ فَكَانَ يُجِيبُهُ سَرِيعًا بِسُرْعَةِ بَدِيهَةٍ وَذَكَاءٍ حَتَّى تَعَجَّبَ مِنْهُ وَسُبْحَانَ اللهِ يَعْنِي مِنْ هَذِهِ الْأَجْوِبَةِ أَسْلَمَ هَذَا الْيَهُودِيُّ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ اِسْتَطَاعَ هَذَا الصَّبِيُّ أَنْ يُقْنِعَ هَذَا الْيَهُودِيَّ بِـأَنَّ الْإِسْلَامَ هُوَ الدِّينُ الْحَقُّ فَأَسْلَمَ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ فَهُوَ هَذَا وَهُوَ صَبِيٌّ وَهُوَ صَبِيٌّ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى الْعِنَايَةِ الْعَظِيمَةِ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللُّطْفِ بِهَذَا الْإِمَامِ مُنْذُ نَشْأَتِهِ وَمُنْذُ صِغَرِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَجَزَاهُ عَنِ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ خَيْرَ الْجَزَاءِ

Sungguh Tuhanmu Maha Luas Ampunan-Nya

Oleh: Abu Hatim Said al-Qadhi Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Luas ampunan-Nya, Dia mengampuni para hamba-Nya atas segala dosa dan sebesar apa pun dosanya apabila mereka memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Beritahukanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hijr: 49). قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53). Perhatikan seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya: “Wahai hamba-hamba-Ku” suatu seruan lembut dan penuh kasih sayang. Kemudian Dia berfirman: “yang melampaui batas terhadap diri mereka” ini untuk menunjukkan kepadamu bahwa sebanyak apa pun dosa-dosa seorang hamba, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap akan mengampuninya. Kemudian Allah menegaskannya dengan firman-Nya: “Janganlah kalian berputus asa” dan juga dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa semuanya.” Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70). Dan kata “كَانَ” dalam ayat ini bukan kata yang menunjukkan makna masa lampau saja, tetapi di masa lampau dan seterusnya. Dia selalu dan terus menjadi Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ “Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya.” (QS. An-Najm: 32). Ampunan-Nya mampu meliputi seluruh hamba-Nya apabila mereka bertaubat, dan dapat mencakup seluruh dosa sebesar apa pun itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَمَا يَذْكُرُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ هُوَ أَهْلُ التَّقْوَى وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ “Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran kecuali jika Allah menghendaki. Dialah yang berhak ditakuti (ditaati) dan berhak memberi ampunan.” (QS. Al-Muddassir: 56). الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “Setan menjanjikan kalian kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan kalian ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268). Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan sesuatu kepadamu, maka yakinlah bahwa janji-Nya pasti benar dan Dia tidak akan mengingkari janji. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ “Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar memiliki ampunan bagi manusia atas kezaliman mereka, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksa-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 6). Meskipun dosa-dosa mereka banyak, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap mengampuni dosa-dosa mereka dan menghapus keburukan-keburukan mereka apabila mereka memohon ampun dan insaf. Seorang ulama mengatakan bahwa nama Allah Al-Ghafur (Maha Pengampun) dan semua turunan katanya dan sifat ampunan-Nya disebutkan sebanyak lebih dari seratus lima puluh kali dalam Al-Qur’an. Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَأَزِيدُ، وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَجَزَاؤُهُ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا أَوْ أَغْفِرُ، وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا، وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا، وَمَنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً، وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَقِيتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Barang siapa datang dengan satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya dan Aku tambah lagi. Dan barang siapa datang dengan satu keburukan, maka balasannya satu keburukan yang semisalnya atau Aku ampuni. Barang siapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Barang siapa mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Barang siapa datang kepada-Ku berjalan, Aku datang kepadanya berlari. Dan barang siapa menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi, tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. Muslim no. 2687). Bayangkanlah seandainya engkau berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan membawa dosa-dosa sepenuh, seberat, seluas, dan seukuran bumi. Hanya saja engkau tidak boleh menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar Dia mengampuni dosa-dosamu seluruhnya jika memang engkau menghendaki ampunan-Nya. يَا رَبِّ إِنْ عَظُمَتْ ذُنُوبِي كَثْرَةً فَلَقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ عَفْوَكَ أَعْظَمُ Wahai Tuhanku, apabila dosa-dosaku begitu besar dan banyak, Sungguh aku tahu ampunan-Mu jauh lebih besar. إِنْ كَانَ لَا يَرْجُوكَ إِلَّا مُحْسِنٌ فَمَنِ الَّذِي يَدْعُو وَيَرْجُو الْمُجْرِمُ Jika tidak ada yang berharap kepada-Mu kecuali orang baik, Lalu kepada siapa pelaku dosa akan berdoa dan berharap? أَدْعُوكَ رَبِّ كَمَا أَمَرْتَ تَضَرُّعًا فَإِذَا رَدَدْتَ يَدِي فَمَنْ ذَا يَرْحَمُ Wahai Tuhanku, aku berdoa kepada Engkau penuh ketundukan seperti yang Engkau perintahkan, Maka jika Engkau menolak tanganku, siapa lagi yang akan mengasihi? مَا لِي إِلَيْكَ وَسِيلَةٌ إِلَّا الرَّجَا وَجَمِيلُ عَفْوِكَ ثُمَّ أَنِّي مُسْلِمٌ Tidak ada perantara bagiku menuju Engkau kecuali rasa harap, Juga keindahan ampunan-Mu serta aku sebagai seorang Muslim. Seorang hamba tidak boleh mengucapkan: “Ampunilah aku jika Engkau menghendaki.” Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ، اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ، لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ، فَإِنَّهُ لَا مُكْرِهَ لَهُ “Janganlah salah seorang di antara kalian berkata: ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau; Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau mau.’ Hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam memohon, karena tidak ada yang dapat memaksa-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 6339 dan Muslim no. 2679). Allah Ta’ala mendorong Nabi-Nya untuk beristighfar Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan Nabi-Nya Shalallahu Alaihi Wassalam untuk beristighfar yang Dia sampaikan dalam lebih dari satu ayat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا “Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 106). فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ “Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampun untuk dosamu, serta bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” (QS. Ghafir: 55). فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan mohonlah ampun untuk dosamu serta untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19). Seorang ulama mengatakan: “Pujian (kepada Allah) yang paling mendalam adalah dengan engkau mengatakan: La ilaha illallah, dan doa yang paling mendalam adalah dengan engkau mengatakan: Astaghfirullah.” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 1-3). Saya bertanya kepada engkau, wahai saudaraku! Menurutmu apa dosa yang telah dilakukan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam sehingga beliau memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Dan jikalau Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam telah melakukan dosa, bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengampuni dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang? Sesungguhnya ini merupakan risalah bagimu agar memperbanyak istigfar, meskipun engkau tidak mengetahui dosa apa yang telah engkau perbuat. Perintah Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya agar segera beristighfar Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ “Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian.” (QS. Ali Imran: 133). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ “Berlomba-lombalah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian.” (QS. Al-Hadid: 21).  Perhatikanlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya sekedar memerintahkan untuk beristigfar, tetapi mengajak untuk bersegera dan bergegas beristigfar, maka bersegera dan bergegaslah, wahai Muslim! Jangan menunda dan menangguhkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ “Dan Allah mengajak (manusia) menuju surga dan ampunan dengan izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 221). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzzammil: 20). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa. Maka tetaplah kalian di jalan yang lurus menuju-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan celakalah bagi orang-orang musyrik.” (QS. Fussilat: 6). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 74). Perhatikanlah dengan seksama firman Tuhanmu ini, lalu katakanlah: “Kami mendengar dan kami akan menaati.” Hendaklah hati dan lisanmu senantiasa beristigfar memohon ampun kepada Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jangan pernah bosan atau putus harapan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru para hamba-Nya: “Apakah ada orang yang memohon ampun?” Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِذَا مَضَى شَطْرُ اللَّيْلِ – أَوْ ثُلُثَاهُ – يَنْزِلُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: هَلْ مِنْ سَائِلٍ يُعْطَى؟ هَلْ مِنْ دَاعٍ يُسْتَجَابُ لَهُ؟ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ يُغْفَرُ لَهُ؟ حَتَّى يَنْفَجِرَ الصُّبْحُ “Apabila telah berlalu separuh malam – atau dua pertiganya – maka Allah Tabaraka wa Ta’ala akan turun ke langit dunia, lalu berfirman: ‘Adakah orang yang meminta untuk Kuberi? Adakah orang yang berdoa untuk Kukabulkan? Adakah orang yang memohon ampun untuk Kuampuni?’ dan terus seperti itu hingga waktu fajar.” (HR. Muslim no. 758). Maha Suci Engkau, wahai Tuhanku! Betapa agung, mulia, dan pengasihnya Engkau! Maha Kaya terhadap makhluk-Nya, Maha Esa dalam kerajaan-Nya, tidak mendatangkan mudharat bagi-Nya kekafiran orang-orang yang ingkar, tidak mendatangkan manfaat bagi-Nya keimanan orang-orang yang bersyukur. Namun, meskipun begitu Dia menyeru para hamba-Nya setiap malam: Apakah ada yang memohon ampun? Apakah ada yang bertaubat? Dia membuka bagi mereka keluasan rahmat-Nya, mengajak mereka untuk bertaubat dan memohon ampun. وَلَمَّا قَسَا قَلْبِي وَضَاقَتْ مَذَاهِبِي جَعَلْتُ الرَّجَا مِنِّي لِعَفْوِكَ سُلَّمًا Ketika hatiku telah keras dan usaha-usahaku seakan tak berarti lagi, Aku jadikan harapanku kepada ampunan-Mu sebagai tangga. تَعَاظَمَنِي ذَنْبِي فَلَمَّا قَرَنْتُهُ بِعَفْوِكَ رَبِّي كَانَ عَفْوُكَ أَعْظَمَا Dosaku terasa begitu besar bagiku, tetapi ketika aku bandingka, Dengan ampunan-Mu, wahai Tuhanku, ternyata ampunan-Mu jauh lebih besar. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/125313/إن-ربك-واسع-المغفرة/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Tambal Gigi, Anak Yatim Artinya, Arti Walimatul Aqiqah, Bacaan Sebelum Dzikir, Hukum Baca Quran Visited 14 times, 4 visit(s) today Post Views: 10 QRIS donasi Yufid

Sungguh Tuhanmu Maha Luas Ampunan-Nya

Oleh: Abu Hatim Said al-Qadhi Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Luas ampunan-Nya, Dia mengampuni para hamba-Nya atas segala dosa dan sebesar apa pun dosanya apabila mereka memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Beritahukanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hijr: 49). قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53). Perhatikan seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya: “Wahai hamba-hamba-Ku” suatu seruan lembut dan penuh kasih sayang. Kemudian Dia berfirman: “yang melampaui batas terhadap diri mereka” ini untuk menunjukkan kepadamu bahwa sebanyak apa pun dosa-dosa seorang hamba, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap akan mengampuninya. Kemudian Allah menegaskannya dengan firman-Nya: “Janganlah kalian berputus asa” dan juga dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa semuanya.” Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70). Dan kata “كَانَ” dalam ayat ini bukan kata yang menunjukkan makna masa lampau saja, tetapi di masa lampau dan seterusnya. Dia selalu dan terus menjadi Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ “Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya.” (QS. An-Najm: 32). Ampunan-Nya mampu meliputi seluruh hamba-Nya apabila mereka bertaubat, dan dapat mencakup seluruh dosa sebesar apa pun itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَمَا يَذْكُرُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ هُوَ أَهْلُ التَّقْوَى وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ “Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran kecuali jika Allah menghendaki. Dialah yang berhak ditakuti (ditaati) dan berhak memberi ampunan.” (QS. Al-Muddassir: 56). الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “Setan menjanjikan kalian kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan kalian ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268). Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan sesuatu kepadamu, maka yakinlah bahwa janji-Nya pasti benar dan Dia tidak akan mengingkari janji. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ “Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar memiliki ampunan bagi manusia atas kezaliman mereka, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksa-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 6). Meskipun dosa-dosa mereka banyak, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap mengampuni dosa-dosa mereka dan menghapus keburukan-keburukan mereka apabila mereka memohon ampun dan insaf. Seorang ulama mengatakan bahwa nama Allah Al-Ghafur (Maha Pengampun) dan semua turunan katanya dan sifat ampunan-Nya disebutkan sebanyak lebih dari seratus lima puluh kali dalam Al-Qur’an. Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَأَزِيدُ، وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَجَزَاؤُهُ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا أَوْ أَغْفِرُ، وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا، وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا، وَمَنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً، وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَقِيتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Barang siapa datang dengan satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya dan Aku tambah lagi. Dan barang siapa datang dengan satu keburukan, maka balasannya satu keburukan yang semisalnya atau Aku ampuni. Barang siapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Barang siapa mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Barang siapa datang kepada-Ku berjalan, Aku datang kepadanya berlari. Dan barang siapa menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi, tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. Muslim no. 2687). Bayangkanlah seandainya engkau berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan membawa dosa-dosa sepenuh, seberat, seluas, dan seukuran bumi. Hanya saja engkau tidak boleh menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar Dia mengampuni dosa-dosamu seluruhnya jika memang engkau menghendaki ampunan-Nya. يَا رَبِّ إِنْ عَظُمَتْ ذُنُوبِي كَثْرَةً فَلَقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ عَفْوَكَ أَعْظَمُ Wahai Tuhanku, apabila dosa-dosaku begitu besar dan banyak, Sungguh aku tahu ampunan-Mu jauh lebih besar. إِنْ كَانَ لَا يَرْجُوكَ إِلَّا مُحْسِنٌ فَمَنِ الَّذِي يَدْعُو وَيَرْجُو الْمُجْرِمُ Jika tidak ada yang berharap kepada-Mu kecuali orang baik, Lalu kepada siapa pelaku dosa akan berdoa dan berharap? أَدْعُوكَ رَبِّ كَمَا أَمَرْتَ تَضَرُّعًا فَإِذَا رَدَدْتَ يَدِي فَمَنْ ذَا يَرْحَمُ Wahai Tuhanku, aku berdoa kepada Engkau penuh ketundukan seperti yang Engkau perintahkan, Maka jika Engkau menolak tanganku, siapa lagi yang akan mengasihi? مَا لِي إِلَيْكَ وَسِيلَةٌ إِلَّا الرَّجَا وَجَمِيلُ عَفْوِكَ ثُمَّ أَنِّي مُسْلِمٌ Tidak ada perantara bagiku menuju Engkau kecuali rasa harap, Juga keindahan ampunan-Mu serta aku sebagai seorang Muslim. Seorang hamba tidak boleh mengucapkan: “Ampunilah aku jika Engkau menghendaki.” Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ، اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ، لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ، فَإِنَّهُ لَا مُكْرِهَ لَهُ “Janganlah salah seorang di antara kalian berkata: ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau; Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau mau.’ Hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam memohon, karena tidak ada yang dapat memaksa-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 6339 dan Muslim no. 2679). Allah Ta’ala mendorong Nabi-Nya untuk beristighfar Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan Nabi-Nya Shalallahu Alaihi Wassalam untuk beristighfar yang Dia sampaikan dalam lebih dari satu ayat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا “Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 106). فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ “Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampun untuk dosamu, serta bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” (QS. Ghafir: 55). فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan mohonlah ampun untuk dosamu serta untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19). Seorang ulama mengatakan: “Pujian (kepada Allah) yang paling mendalam adalah dengan engkau mengatakan: La ilaha illallah, dan doa yang paling mendalam adalah dengan engkau mengatakan: Astaghfirullah.” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 1-3). Saya bertanya kepada engkau, wahai saudaraku! Menurutmu apa dosa yang telah dilakukan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam sehingga beliau memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Dan jikalau Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam telah melakukan dosa, bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengampuni dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang? Sesungguhnya ini merupakan risalah bagimu agar memperbanyak istigfar, meskipun engkau tidak mengetahui dosa apa yang telah engkau perbuat. Perintah Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya agar segera beristighfar Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ “Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian.” (QS. Ali Imran: 133). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ “Berlomba-lombalah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian.” (QS. Al-Hadid: 21).  Perhatikanlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya sekedar memerintahkan untuk beristigfar, tetapi mengajak untuk bersegera dan bergegas beristigfar, maka bersegera dan bergegaslah, wahai Muslim! Jangan menunda dan menangguhkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ “Dan Allah mengajak (manusia) menuju surga dan ampunan dengan izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 221). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzzammil: 20). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa. Maka tetaplah kalian di jalan yang lurus menuju-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan celakalah bagi orang-orang musyrik.” (QS. Fussilat: 6). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 74). Perhatikanlah dengan seksama firman Tuhanmu ini, lalu katakanlah: “Kami mendengar dan kami akan menaati.” Hendaklah hati dan lisanmu senantiasa beristigfar memohon ampun kepada Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jangan pernah bosan atau putus harapan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru para hamba-Nya: “Apakah ada orang yang memohon ampun?” Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِذَا مَضَى شَطْرُ اللَّيْلِ – أَوْ ثُلُثَاهُ – يَنْزِلُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: هَلْ مِنْ سَائِلٍ يُعْطَى؟ هَلْ مِنْ دَاعٍ يُسْتَجَابُ لَهُ؟ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ يُغْفَرُ لَهُ؟ حَتَّى يَنْفَجِرَ الصُّبْحُ “Apabila telah berlalu separuh malam – atau dua pertiganya – maka Allah Tabaraka wa Ta’ala akan turun ke langit dunia, lalu berfirman: ‘Adakah orang yang meminta untuk Kuberi? Adakah orang yang berdoa untuk Kukabulkan? Adakah orang yang memohon ampun untuk Kuampuni?’ dan terus seperti itu hingga waktu fajar.” (HR. Muslim no. 758). Maha Suci Engkau, wahai Tuhanku! Betapa agung, mulia, dan pengasihnya Engkau! Maha Kaya terhadap makhluk-Nya, Maha Esa dalam kerajaan-Nya, tidak mendatangkan mudharat bagi-Nya kekafiran orang-orang yang ingkar, tidak mendatangkan manfaat bagi-Nya keimanan orang-orang yang bersyukur. Namun, meskipun begitu Dia menyeru para hamba-Nya setiap malam: Apakah ada yang memohon ampun? Apakah ada yang bertaubat? Dia membuka bagi mereka keluasan rahmat-Nya, mengajak mereka untuk bertaubat dan memohon ampun. وَلَمَّا قَسَا قَلْبِي وَضَاقَتْ مَذَاهِبِي جَعَلْتُ الرَّجَا مِنِّي لِعَفْوِكَ سُلَّمًا Ketika hatiku telah keras dan usaha-usahaku seakan tak berarti lagi, Aku jadikan harapanku kepada ampunan-Mu sebagai tangga. تَعَاظَمَنِي ذَنْبِي فَلَمَّا قَرَنْتُهُ بِعَفْوِكَ رَبِّي كَانَ عَفْوُكَ أَعْظَمَا Dosaku terasa begitu besar bagiku, tetapi ketika aku bandingka, Dengan ampunan-Mu, wahai Tuhanku, ternyata ampunan-Mu jauh lebih besar. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/125313/إن-ربك-واسع-المغفرة/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Tambal Gigi, Anak Yatim Artinya, Arti Walimatul Aqiqah, Bacaan Sebelum Dzikir, Hukum Baca Quran Visited 14 times, 4 visit(s) today Post Views: 10 QRIS donasi Yufid
Oleh: Abu Hatim Said al-Qadhi Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Luas ampunan-Nya, Dia mengampuni para hamba-Nya atas segala dosa dan sebesar apa pun dosanya apabila mereka memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Beritahukanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hijr: 49). قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53). Perhatikan seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya: “Wahai hamba-hamba-Ku” suatu seruan lembut dan penuh kasih sayang. Kemudian Dia berfirman: “yang melampaui batas terhadap diri mereka” ini untuk menunjukkan kepadamu bahwa sebanyak apa pun dosa-dosa seorang hamba, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap akan mengampuninya. Kemudian Allah menegaskannya dengan firman-Nya: “Janganlah kalian berputus asa” dan juga dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa semuanya.” Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70). Dan kata “كَانَ” dalam ayat ini bukan kata yang menunjukkan makna masa lampau saja, tetapi di masa lampau dan seterusnya. Dia selalu dan terus menjadi Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ “Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya.” (QS. An-Najm: 32). Ampunan-Nya mampu meliputi seluruh hamba-Nya apabila mereka bertaubat, dan dapat mencakup seluruh dosa sebesar apa pun itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَمَا يَذْكُرُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ هُوَ أَهْلُ التَّقْوَى وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ “Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran kecuali jika Allah menghendaki. Dialah yang berhak ditakuti (ditaati) dan berhak memberi ampunan.” (QS. Al-Muddassir: 56). الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “Setan menjanjikan kalian kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan kalian ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268). Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan sesuatu kepadamu, maka yakinlah bahwa janji-Nya pasti benar dan Dia tidak akan mengingkari janji. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ “Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar memiliki ampunan bagi manusia atas kezaliman mereka, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksa-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 6). Meskipun dosa-dosa mereka banyak, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap mengampuni dosa-dosa mereka dan menghapus keburukan-keburukan mereka apabila mereka memohon ampun dan insaf. Seorang ulama mengatakan bahwa nama Allah Al-Ghafur (Maha Pengampun) dan semua turunan katanya dan sifat ampunan-Nya disebutkan sebanyak lebih dari seratus lima puluh kali dalam Al-Qur’an. Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَأَزِيدُ، وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَجَزَاؤُهُ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا أَوْ أَغْفِرُ، وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا، وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا، وَمَنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً، وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَقِيتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Barang siapa datang dengan satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya dan Aku tambah lagi. Dan barang siapa datang dengan satu keburukan, maka balasannya satu keburukan yang semisalnya atau Aku ampuni. Barang siapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Barang siapa mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Barang siapa datang kepada-Ku berjalan, Aku datang kepadanya berlari. Dan barang siapa menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi, tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. Muslim no. 2687). Bayangkanlah seandainya engkau berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan membawa dosa-dosa sepenuh, seberat, seluas, dan seukuran bumi. Hanya saja engkau tidak boleh menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar Dia mengampuni dosa-dosamu seluruhnya jika memang engkau menghendaki ampunan-Nya. يَا رَبِّ إِنْ عَظُمَتْ ذُنُوبِي كَثْرَةً فَلَقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ عَفْوَكَ أَعْظَمُ Wahai Tuhanku, apabila dosa-dosaku begitu besar dan banyak, Sungguh aku tahu ampunan-Mu jauh lebih besar. إِنْ كَانَ لَا يَرْجُوكَ إِلَّا مُحْسِنٌ فَمَنِ الَّذِي يَدْعُو وَيَرْجُو الْمُجْرِمُ Jika tidak ada yang berharap kepada-Mu kecuali orang baik, Lalu kepada siapa pelaku dosa akan berdoa dan berharap? أَدْعُوكَ رَبِّ كَمَا أَمَرْتَ تَضَرُّعًا فَإِذَا رَدَدْتَ يَدِي فَمَنْ ذَا يَرْحَمُ Wahai Tuhanku, aku berdoa kepada Engkau penuh ketundukan seperti yang Engkau perintahkan, Maka jika Engkau menolak tanganku, siapa lagi yang akan mengasihi? مَا لِي إِلَيْكَ وَسِيلَةٌ إِلَّا الرَّجَا وَجَمِيلُ عَفْوِكَ ثُمَّ أَنِّي مُسْلِمٌ Tidak ada perantara bagiku menuju Engkau kecuali rasa harap, Juga keindahan ampunan-Mu serta aku sebagai seorang Muslim. Seorang hamba tidak boleh mengucapkan: “Ampunilah aku jika Engkau menghendaki.” Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ، اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ، لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ، فَإِنَّهُ لَا مُكْرِهَ لَهُ “Janganlah salah seorang di antara kalian berkata: ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau; Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau mau.’ Hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam memohon, karena tidak ada yang dapat memaksa-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 6339 dan Muslim no. 2679). Allah Ta’ala mendorong Nabi-Nya untuk beristighfar Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan Nabi-Nya Shalallahu Alaihi Wassalam untuk beristighfar yang Dia sampaikan dalam lebih dari satu ayat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا “Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 106). فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ “Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampun untuk dosamu, serta bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” (QS. Ghafir: 55). فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan mohonlah ampun untuk dosamu serta untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19). Seorang ulama mengatakan: “Pujian (kepada Allah) yang paling mendalam adalah dengan engkau mengatakan: La ilaha illallah, dan doa yang paling mendalam adalah dengan engkau mengatakan: Astaghfirullah.” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 1-3). Saya bertanya kepada engkau, wahai saudaraku! Menurutmu apa dosa yang telah dilakukan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam sehingga beliau memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Dan jikalau Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam telah melakukan dosa, bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengampuni dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang? Sesungguhnya ini merupakan risalah bagimu agar memperbanyak istigfar, meskipun engkau tidak mengetahui dosa apa yang telah engkau perbuat. Perintah Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya agar segera beristighfar Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ “Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian.” (QS. Ali Imran: 133). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ “Berlomba-lombalah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian.” (QS. Al-Hadid: 21).  Perhatikanlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya sekedar memerintahkan untuk beristigfar, tetapi mengajak untuk bersegera dan bergegas beristigfar, maka bersegera dan bergegaslah, wahai Muslim! Jangan menunda dan menangguhkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ “Dan Allah mengajak (manusia) menuju surga dan ampunan dengan izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 221). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzzammil: 20). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa. Maka tetaplah kalian di jalan yang lurus menuju-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan celakalah bagi orang-orang musyrik.” (QS. Fussilat: 6). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 74). Perhatikanlah dengan seksama firman Tuhanmu ini, lalu katakanlah: “Kami mendengar dan kami akan menaati.” Hendaklah hati dan lisanmu senantiasa beristigfar memohon ampun kepada Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jangan pernah bosan atau putus harapan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru para hamba-Nya: “Apakah ada orang yang memohon ampun?” Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِذَا مَضَى شَطْرُ اللَّيْلِ – أَوْ ثُلُثَاهُ – يَنْزِلُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: هَلْ مِنْ سَائِلٍ يُعْطَى؟ هَلْ مِنْ دَاعٍ يُسْتَجَابُ لَهُ؟ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ يُغْفَرُ لَهُ؟ حَتَّى يَنْفَجِرَ الصُّبْحُ “Apabila telah berlalu separuh malam – atau dua pertiganya – maka Allah Tabaraka wa Ta’ala akan turun ke langit dunia, lalu berfirman: ‘Adakah orang yang meminta untuk Kuberi? Adakah orang yang berdoa untuk Kukabulkan? Adakah orang yang memohon ampun untuk Kuampuni?’ dan terus seperti itu hingga waktu fajar.” (HR. Muslim no. 758). Maha Suci Engkau, wahai Tuhanku! Betapa agung, mulia, dan pengasihnya Engkau! Maha Kaya terhadap makhluk-Nya, Maha Esa dalam kerajaan-Nya, tidak mendatangkan mudharat bagi-Nya kekafiran orang-orang yang ingkar, tidak mendatangkan manfaat bagi-Nya keimanan orang-orang yang bersyukur. Namun, meskipun begitu Dia menyeru para hamba-Nya setiap malam: Apakah ada yang memohon ampun? Apakah ada yang bertaubat? Dia membuka bagi mereka keluasan rahmat-Nya, mengajak mereka untuk bertaubat dan memohon ampun. وَلَمَّا قَسَا قَلْبِي وَضَاقَتْ مَذَاهِبِي جَعَلْتُ الرَّجَا مِنِّي لِعَفْوِكَ سُلَّمًا Ketika hatiku telah keras dan usaha-usahaku seakan tak berarti lagi, Aku jadikan harapanku kepada ampunan-Mu sebagai tangga. تَعَاظَمَنِي ذَنْبِي فَلَمَّا قَرَنْتُهُ بِعَفْوِكَ رَبِّي كَانَ عَفْوُكَ أَعْظَمَا Dosaku terasa begitu besar bagiku, tetapi ketika aku bandingka, Dengan ampunan-Mu, wahai Tuhanku, ternyata ampunan-Mu jauh lebih besar. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/125313/إن-ربك-واسع-المغفرة/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Tambal Gigi, Anak Yatim Artinya, Arti Walimatul Aqiqah, Bacaan Sebelum Dzikir, Hukum Baca Quran Visited 14 times, 4 visit(s) today Post Views: 10 QRIS donasi Yufid


Oleh: Abu Hatim Said al-Qadhi Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Luas ampunan-Nya, Dia mengampuni para hamba-Nya atas segala dosa dan sebesar apa pun dosanya apabila mereka memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Beritahukanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hijr: 49). قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53). Perhatikan seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya: “Wahai hamba-hamba-Ku” suatu seruan lembut dan penuh kasih sayang. Kemudian Dia berfirman: “yang melampaui batas terhadap diri mereka” ini untuk menunjukkan kepadamu bahwa sebanyak apa pun dosa-dosa seorang hamba, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap akan mengampuninya. Kemudian Allah menegaskannya dengan firman-Nya: “Janganlah kalian berputus asa” dan juga dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa semuanya.” Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70). Dan kata “كَانَ” dalam ayat ini bukan kata yang menunjukkan makna masa lampau saja, tetapi di masa lampau dan seterusnya. Dia selalu dan terus menjadi Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ “Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya.” (QS. An-Najm: 32). Ampunan-Nya mampu meliputi seluruh hamba-Nya apabila mereka bertaubat, dan dapat mencakup seluruh dosa sebesar apa pun itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَمَا يَذْكُرُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ هُوَ أَهْلُ التَّقْوَى وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ “Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran kecuali jika Allah menghendaki. Dialah yang berhak ditakuti (ditaati) dan berhak memberi ampunan.” (QS. Al-Muddassir: 56). الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “Setan menjanjikan kalian kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan kalian ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268). Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan sesuatu kepadamu, maka yakinlah bahwa janji-Nya pasti benar dan Dia tidak akan mengingkari janji. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ “Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar memiliki ampunan bagi manusia atas kezaliman mereka, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksa-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 6). Meskipun dosa-dosa mereka banyak, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap mengampuni dosa-dosa mereka dan menghapus keburukan-keburukan mereka apabila mereka memohon ampun dan insaf. Seorang ulama mengatakan bahwa nama Allah Al-Ghafur (Maha Pengampun) dan semua turunan katanya dan sifat ampunan-Nya disebutkan sebanyak lebih dari seratus lima puluh kali dalam Al-Qur’an. Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَأَزِيدُ، وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَجَزَاؤُهُ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا أَوْ أَغْفِرُ، وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا، وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا، وَمَنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً، وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَقِيتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Barang siapa datang dengan satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya dan Aku tambah lagi. Dan barang siapa datang dengan satu keburukan, maka balasannya satu keburukan yang semisalnya atau Aku ampuni. Barang siapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Barang siapa mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Barang siapa datang kepada-Ku berjalan, Aku datang kepadanya berlari. Dan barang siapa menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi, tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. Muslim no. 2687). Bayangkanlah seandainya engkau berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan membawa dosa-dosa sepenuh, seberat, seluas, dan seukuran bumi. Hanya saja engkau tidak boleh menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar Dia mengampuni dosa-dosamu seluruhnya jika memang engkau menghendaki ampunan-Nya. يَا رَبِّ إِنْ عَظُمَتْ ذُنُوبِي كَثْرَةً فَلَقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ عَفْوَكَ أَعْظَمُ Wahai Tuhanku, apabila dosa-dosaku begitu besar dan banyak, Sungguh aku tahu ampunan-Mu jauh lebih besar. إِنْ كَانَ لَا يَرْجُوكَ إِلَّا مُحْسِنٌ فَمَنِ الَّذِي يَدْعُو وَيَرْجُو الْمُجْرِمُ Jika tidak ada yang berharap kepada-Mu kecuali orang baik, Lalu kepada siapa pelaku dosa akan berdoa dan berharap? أَدْعُوكَ رَبِّ كَمَا أَمَرْتَ تَضَرُّعًا فَإِذَا رَدَدْتَ يَدِي فَمَنْ ذَا يَرْحَمُ Wahai Tuhanku, aku berdoa kepada Engkau penuh ketundukan seperti yang Engkau perintahkan, Maka jika Engkau menolak tanganku, siapa lagi yang akan mengasihi? مَا لِي إِلَيْكَ وَسِيلَةٌ إِلَّا الرَّجَا وَجَمِيلُ عَفْوِكَ ثُمَّ أَنِّي مُسْلِمٌ Tidak ada perantara bagiku menuju Engkau kecuali rasa harap, Juga keindahan ampunan-Mu serta aku sebagai seorang Muslim. Seorang hamba tidak boleh mengucapkan: “Ampunilah aku jika Engkau menghendaki.” Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ، اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ، لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ، فَإِنَّهُ لَا مُكْرِهَ لَهُ “Janganlah salah seorang di antara kalian berkata: ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau; Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau mau.’ Hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam memohon, karena tidak ada yang dapat memaksa-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 6339 dan Muslim no. 2679). Allah Ta’ala mendorong Nabi-Nya untuk beristighfar Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan Nabi-Nya Shalallahu Alaihi Wassalam untuk beristighfar yang Dia sampaikan dalam lebih dari satu ayat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا “Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 106). فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ “Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampun untuk dosamu, serta bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” (QS. Ghafir: 55). فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan mohonlah ampun untuk dosamu serta untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19). Seorang ulama mengatakan: “Pujian (kepada Allah) yang paling mendalam adalah dengan engkau mengatakan: La ilaha illallah, dan doa yang paling mendalam adalah dengan engkau mengatakan: Astaghfirullah.” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 1-3). Saya bertanya kepada engkau, wahai saudaraku! Menurutmu apa dosa yang telah dilakukan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam sehingga beliau memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Dan jikalau Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam telah melakukan dosa, bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengampuni dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang? Sesungguhnya ini merupakan risalah bagimu agar memperbanyak istigfar, meskipun engkau tidak mengetahui dosa apa yang telah engkau perbuat. Perintah Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya agar segera beristighfar Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ “Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian.” (QS. Ali Imran: 133). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ “Berlomba-lombalah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian.” (QS. Al-Hadid: 21).  Perhatikanlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya sekedar memerintahkan untuk beristigfar, tetapi mengajak untuk bersegera dan bergegas beristigfar, maka bersegera dan bergegaslah, wahai Muslim! Jangan menunda dan menangguhkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ “Dan Allah mengajak (manusia) menuju surga dan ampunan dengan izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 221). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzzammil: 20). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa. Maka tetaplah kalian di jalan yang lurus menuju-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan celakalah bagi orang-orang musyrik.” (QS. Fussilat: 6). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 74). Perhatikanlah dengan seksama firman Tuhanmu ini, lalu katakanlah: “Kami mendengar dan kami akan menaati.” Hendaklah hati dan lisanmu senantiasa beristigfar memohon ampun kepada Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jangan pernah bosan atau putus harapan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru para hamba-Nya: “Apakah ada orang yang memohon ampun?” Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِذَا مَضَى شَطْرُ اللَّيْلِ – أَوْ ثُلُثَاهُ – يَنْزِلُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: هَلْ مِنْ سَائِلٍ يُعْطَى؟ هَلْ مِنْ دَاعٍ يُسْتَجَابُ لَهُ؟ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ يُغْفَرُ لَهُ؟ حَتَّى يَنْفَجِرَ الصُّبْحُ “Apabila telah berlalu separuh malam – atau dua pertiganya – maka Allah Tabaraka wa Ta’ala akan turun ke langit dunia, lalu berfirman: ‘Adakah orang yang meminta untuk Kuberi? Adakah orang yang berdoa untuk Kukabulkan? Adakah orang yang memohon ampun untuk Kuampuni?’ dan terus seperti itu hingga waktu fajar.” (HR. Muslim no. 758). Maha Suci Engkau, wahai Tuhanku! Betapa agung, mulia, dan pengasihnya Engkau! Maha Kaya terhadap makhluk-Nya, Maha Esa dalam kerajaan-Nya, tidak mendatangkan mudharat bagi-Nya kekafiran orang-orang yang ingkar, tidak mendatangkan manfaat bagi-Nya keimanan orang-orang yang bersyukur. Namun, meskipun begitu Dia menyeru para hamba-Nya setiap malam: Apakah ada yang memohon ampun? Apakah ada yang bertaubat? Dia membuka bagi mereka keluasan rahmat-Nya, mengajak mereka untuk bertaubat dan memohon ampun. وَلَمَّا قَسَا قَلْبِي وَضَاقَتْ مَذَاهِبِي جَعَلْتُ الرَّجَا مِنِّي لِعَفْوِكَ سُلَّمًا Ketika hatiku telah keras dan usaha-usahaku seakan tak berarti lagi, Aku jadikan harapanku kepada ampunan-Mu sebagai tangga. تَعَاظَمَنِي ذَنْبِي فَلَمَّا قَرَنْتُهُ بِعَفْوِكَ رَبِّي كَانَ عَفْوُكَ أَعْظَمَا Dosaku terasa begitu besar bagiku, tetapi ketika aku bandingka, Dengan ampunan-Mu, wahai Tuhanku, ternyata ampunan-Mu jauh lebih besar. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/125313/إن-ربك-واسع-المغفرة/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Tambal Gigi, Anak Yatim Artinya, Arti Walimatul Aqiqah, Bacaan Sebelum Dzikir, Hukum Baca Quran Visited 14 times, 4 visit(s) today Post Views: 10 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Fikih Riba (Bag. 11): Memahami ‘Illat dalam Riba (2)

Daftar Isi ToggleMengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar menukar uang?Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan?Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer, lalu mengambil fisik uangnya nanti?Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang?SolusiSebelumnya, telah dijelaskan terkait ‘illat riba pada emas dan perak. Pendapat yang terkuat adalah pendapat dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah serta murid beliau, Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, bahwa ‘illat dalam emas dan perak adalah muthlaqu ats-tsamaniyyah (sebagai nilai dan alat tukar secara mutlak).Dari standar ‘illat ini, maka segala yang digunakan sebagai alat tukar secara mutlak, masuk dalam kategori harta atau komoditas ribawi, sebagaimana emas dan perak. Hal ini di antara hal yang sangat penting untuk diketahui.Berangkat dari pembahasan ‘illat riba pada cemas dan perak, dapat diketahui dengan jelas beberapa pertanyaan yang sering terlontarkan.Mengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar-menukar uang?Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan?Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer lalu mengambil fisik uangnya nanti?Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang?Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.Jawaban secara umum dari keempat pertanyaan di atas adalah disebabkan ‘illat pada uang adalah ‘illat pada emas dan perak. Mudahnya, standar hukum yang ada pada uang menyesuaikan standar hukum yang ada pada emas dan perak. Sehingga segala yang berlaku pada emas dan perak, berlaku pula pada uang. Apa saja yang berlaku pada emas dan perak ketika ditukar?Harus tunai, tidak boleh ada penundaan;Harus sama takaran, tidak boleh ada lebih;Jika berbeda jenis, maka boleh berbeda takaran;Tidak boleh ada tambahan “tersembunyi”.Keempat poin di atas, belaku pada segala jenis uang. Sehingga dengan berlandaskan keempat poin di atas, dapat terjawabkan keempat pertanyaan di atas.Mengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar menukar uang? Sebagaimana pada emas dan perak, ketika emas ditukar dengan emas, tidak boleh ada lebih; ketika perak ditukar dengan perak pun tidak boleh ada lebih dan harus setara. Sebagaimana dalam hadis ‘Ubadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ، وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا بِوَزْنٍ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ كَيْلًا بِكَيْلٍ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ كَيْلًا بِكَيْلٍ“Emas dengan emas harus sama dalam timbangan, perak dengan perak harus sama dalam timbangan, gandum dengan gandum harus sama dalam takaran, sya’ir dengan sya’ir harus sama dalam takaran.” (HR. Al-Baihaqi dan disahihkan Syekh Al-Albani rahimahullah)Dalam hadis lain, dari Abu Sa’id Al-Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بالذَّهَبِ، والفِضَّةُ بالفِضَّةِ، والبُرُّ بالبُرِّ، والشَّعيرُ بالشَّعيرِ، والتَّمرُ بالتَّمرِ، والمِلْحُ بالمِلْحِ: مِثْلًا بمِثْلٍ، يَدًا بيَدٍ، فمَن زاد أوِ ازداد فقد أَرْبى؛ الآخِذُ والمُعْطِي فيه سواءٌ“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus serupa (nominal dan takaran), harus dibayarkan secara kontan, barang siapa yang menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba, yang mengambil dan memberi sama saja.” (HR. Muslim no. 1584)Hal serupa juga berlaku pada uang, ketika uang ditukar dengan uang, maka tidak boleh ada lebih dan harus sama nominalnya. Apa sebabnya? Sebabnya karena ‘illat pada uang sama seperti ‘illat pada emas dan perak. Yaitu, sebagai nilai dan alat tukar.Mirisnya, praktek-praktek seperti ini masih sering terjadi dan banyak yang menggandrungi di tengah-tengah masyarakat. Ketika lebaran tiba, uang-uang pecahan kecil begitu dicari; terlihat di pinggir jalan orang-orang yang menawarkan jasa penukaran uang dengan adanya syarat, yaitu harus ada lebih.Menguntungkan dan menggiurkan memang. Disinyalir ketika lebaran tiba, jasa penukaran uang di pinggir jalan meraup keuntungan yang sangat fantastis. Pertransaksi, terdapat biaya tambahan yang harus dibayarkan sebesar 10%. Seumpama, ada yang ingin menukar satu juta rupiah, maka ia harus membayar satu juta seratus ribu rupiah; jika lima juta, ia harus membayar sebesar lima juta lima ratus ribu rupiah. Bagaimana jika sepuluh juta? Dua puluh juta? Dan seterusnya. Bisa dibayangkan kelipatan yang diperoleh dari hasil transaksi riba.Kendati di sisi lain ada yang tidak mengambil keuntungan sebanyak itu. Misalnya, seperti penukaran satu juta rupiah kemudian diberikan uang pecahan sebesar sembilan ratus lima puluh ribu rupiah. Lima puluh ribu dianggap sebagai biaya jasa atau admin. Ketahuilah, segala tukar menukar uang yang terdapat “tambahan”, maka berlaku padanya hukum riba. Dan inilah yang dinamakan dengan riba fadhl.Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan? Tidak diperbolehkan menukar uang secara tidak kontan. Sebagaimana telah jelas dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau mensyaratkan pada transaksi komoditas ribawi ketika sama jenisnya,يَدًا بيَدٍ“Tangan bertemu dengan tangan (harus dibayarkan secara kontan).” Lalu, bagaimana jika tidak kontan? Maka masuk pada riba nasi’ah. Hendaknya hal ini jangan dianggap remeh, “Kan teman”, “Kan masih sesama saudara.” Riba tetaplah riba. Dan ini yang dinamakan dengan riba nasi’ah.Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer, lalu mengambil fisik uangnya nanti? Jawaban pertanyaan ini, sama dengan pertanyaan kedua. Tidak boleh menukar uang dengan cara transfer yang kemudian nanti diambil fisiknya. Tentu para pembaca sudah bisa menjawab, mengapa tidak diperbolehkan? Karena ada tenggang waktu dalam penyerahan dan ini merupakan riba nasi’ah.Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang? Mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang, tak ubahnya seperti “pengelabuan riba”. Dinamakan jasa atau biaya admin, namun sejatinya hal ini tetap biaya tambahan dalam tukar menukar. Jangan sampai tertipu dengan “penamaan” yang diberikan.Hakikat dari transaksinya adalah transaksi ribawi, diganti penamaan agar terlihat lebih halal dan samar-samar antara riba atau tidaknya. Sehingga jawabannya, tidak diperbolehkan adanya jasa atau biaya admin.Kecuali, jika kita memang menyuruh seseorang untuk pergi menukarkan uang. Kita sampaikan kepadanya, “Tolong tukarkan uang, ini ada dua puluh ribu untukmu.” Inilah yang dinamakan dengan jasa.Akan tetapi, jika bentuknya adalah biaya tambahan dari penukaran uang yang bersifat persenan; yang dampaknya, semakin besar nominal penukaran, maka semakin besar keuntungan yang diperoleh, maka ini bukanlah biaya admin atau jasa, namun justru inilah riba yang sesungguhnya.SolusiJika memang Anda butuh untuk menukar uang dengan uang, maka berikut solusinya:Pastikan tidak ada biaya tambahan;Penukaran harus dilakukan secara tunai;Lakukan penukaran pada lembaga atau instansi resmi seperti bank, koperasi, dan sebagainya. Tetap dengan berpegang pada kedua poin di atas.Pembahasan ini di antara manfaat dari memahami tentang ‘illat dalam riba. Sehingga terjauhkanlah segala keharaman yang terdapat pada transaksi tukar-menukar ataupun transaksi-transaksi lainnya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 10***Depok, 23 Syawal 1447/ 11 April 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id

Fikih Riba (Bag. 11): Memahami ‘Illat dalam Riba (2)

Daftar Isi ToggleMengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar menukar uang?Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan?Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer, lalu mengambil fisik uangnya nanti?Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang?SolusiSebelumnya, telah dijelaskan terkait ‘illat riba pada emas dan perak. Pendapat yang terkuat adalah pendapat dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah serta murid beliau, Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, bahwa ‘illat dalam emas dan perak adalah muthlaqu ats-tsamaniyyah (sebagai nilai dan alat tukar secara mutlak).Dari standar ‘illat ini, maka segala yang digunakan sebagai alat tukar secara mutlak, masuk dalam kategori harta atau komoditas ribawi, sebagaimana emas dan perak. Hal ini di antara hal yang sangat penting untuk diketahui.Berangkat dari pembahasan ‘illat riba pada cemas dan perak, dapat diketahui dengan jelas beberapa pertanyaan yang sering terlontarkan.Mengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar-menukar uang?Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan?Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer lalu mengambil fisik uangnya nanti?Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang?Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.Jawaban secara umum dari keempat pertanyaan di atas adalah disebabkan ‘illat pada uang adalah ‘illat pada emas dan perak. Mudahnya, standar hukum yang ada pada uang menyesuaikan standar hukum yang ada pada emas dan perak. Sehingga segala yang berlaku pada emas dan perak, berlaku pula pada uang. Apa saja yang berlaku pada emas dan perak ketika ditukar?Harus tunai, tidak boleh ada penundaan;Harus sama takaran, tidak boleh ada lebih;Jika berbeda jenis, maka boleh berbeda takaran;Tidak boleh ada tambahan “tersembunyi”.Keempat poin di atas, belaku pada segala jenis uang. Sehingga dengan berlandaskan keempat poin di atas, dapat terjawabkan keempat pertanyaan di atas.Mengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar menukar uang? Sebagaimana pada emas dan perak, ketika emas ditukar dengan emas, tidak boleh ada lebih; ketika perak ditukar dengan perak pun tidak boleh ada lebih dan harus setara. Sebagaimana dalam hadis ‘Ubadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ، وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا بِوَزْنٍ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ كَيْلًا بِكَيْلٍ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ كَيْلًا بِكَيْلٍ“Emas dengan emas harus sama dalam timbangan, perak dengan perak harus sama dalam timbangan, gandum dengan gandum harus sama dalam takaran, sya’ir dengan sya’ir harus sama dalam takaran.” (HR. Al-Baihaqi dan disahihkan Syekh Al-Albani rahimahullah)Dalam hadis lain, dari Abu Sa’id Al-Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بالذَّهَبِ، والفِضَّةُ بالفِضَّةِ، والبُرُّ بالبُرِّ، والشَّعيرُ بالشَّعيرِ، والتَّمرُ بالتَّمرِ، والمِلْحُ بالمِلْحِ: مِثْلًا بمِثْلٍ، يَدًا بيَدٍ، فمَن زاد أوِ ازداد فقد أَرْبى؛ الآخِذُ والمُعْطِي فيه سواءٌ“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus serupa (nominal dan takaran), harus dibayarkan secara kontan, barang siapa yang menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba, yang mengambil dan memberi sama saja.” (HR. Muslim no. 1584)Hal serupa juga berlaku pada uang, ketika uang ditukar dengan uang, maka tidak boleh ada lebih dan harus sama nominalnya. Apa sebabnya? Sebabnya karena ‘illat pada uang sama seperti ‘illat pada emas dan perak. Yaitu, sebagai nilai dan alat tukar.Mirisnya, praktek-praktek seperti ini masih sering terjadi dan banyak yang menggandrungi di tengah-tengah masyarakat. Ketika lebaran tiba, uang-uang pecahan kecil begitu dicari; terlihat di pinggir jalan orang-orang yang menawarkan jasa penukaran uang dengan adanya syarat, yaitu harus ada lebih.Menguntungkan dan menggiurkan memang. Disinyalir ketika lebaran tiba, jasa penukaran uang di pinggir jalan meraup keuntungan yang sangat fantastis. Pertransaksi, terdapat biaya tambahan yang harus dibayarkan sebesar 10%. Seumpama, ada yang ingin menukar satu juta rupiah, maka ia harus membayar satu juta seratus ribu rupiah; jika lima juta, ia harus membayar sebesar lima juta lima ratus ribu rupiah. Bagaimana jika sepuluh juta? Dua puluh juta? Dan seterusnya. Bisa dibayangkan kelipatan yang diperoleh dari hasil transaksi riba.Kendati di sisi lain ada yang tidak mengambil keuntungan sebanyak itu. Misalnya, seperti penukaran satu juta rupiah kemudian diberikan uang pecahan sebesar sembilan ratus lima puluh ribu rupiah. Lima puluh ribu dianggap sebagai biaya jasa atau admin. Ketahuilah, segala tukar menukar uang yang terdapat “tambahan”, maka berlaku padanya hukum riba. Dan inilah yang dinamakan dengan riba fadhl.Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan? Tidak diperbolehkan menukar uang secara tidak kontan. Sebagaimana telah jelas dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau mensyaratkan pada transaksi komoditas ribawi ketika sama jenisnya,يَدًا بيَدٍ“Tangan bertemu dengan tangan (harus dibayarkan secara kontan).” Lalu, bagaimana jika tidak kontan? Maka masuk pada riba nasi’ah. Hendaknya hal ini jangan dianggap remeh, “Kan teman”, “Kan masih sesama saudara.” Riba tetaplah riba. Dan ini yang dinamakan dengan riba nasi’ah.Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer, lalu mengambil fisik uangnya nanti? Jawaban pertanyaan ini, sama dengan pertanyaan kedua. Tidak boleh menukar uang dengan cara transfer yang kemudian nanti diambil fisiknya. Tentu para pembaca sudah bisa menjawab, mengapa tidak diperbolehkan? Karena ada tenggang waktu dalam penyerahan dan ini merupakan riba nasi’ah.Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang? Mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang, tak ubahnya seperti “pengelabuan riba”. Dinamakan jasa atau biaya admin, namun sejatinya hal ini tetap biaya tambahan dalam tukar menukar. Jangan sampai tertipu dengan “penamaan” yang diberikan.Hakikat dari transaksinya adalah transaksi ribawi, diganti penamaan agar terlihat lebih halal dan samar-samar antara riba atau tidaknya. Sehingga jawabannya, tidak diperbolehkan adanya jasa atau biaya admin.Kecuali, jika kita memang menyuruh seseorang untuk pergi menukarkan uang. Kita sampaikan kepadanya, “Tolong tukarkan uang, ini ada dua puluh ribu untukmu.” Inilah yang dinamakan dengan jasa.Akan tetapi, jika bentuknya adalah biaya tambahan dari penukaran uang yang bersifat persenan; yang dampaknya, semakin besar nominal penukaran, maka semakin besar keuntungan yang diperoleh, maka ini bukanlah biaya admin atau jasa, namun justru inilah riba yang sesungguhnya.SolusiJika memang Anda butuh untuk menukar uang dengan uang, maka berikut solusinya:Pastikan tidak ada biaya tambahan;Penukaran harus dilakukan secara tunai;Lakukan penukaran pada lembaga atau instansi resmi seperti bank, koperasi, dan sebagainya. Tetap dengan berpegang pada kedua poin di atas.Pembahasan ini di antara manfaat dari memahami tentang ‘illat dalam riba. Sehingga terjauhkanlah segala keharaman yang terdapat pada transaksi tukar-menukar ataupun transaksi-transaksi lainnya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 10***Depok, 23 Syawal 1447/ 11 April 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleMengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar menukar uang?Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan?Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer, lalu mengambil fisik uangnya nanti?Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang?SolusiSebelumnya, telah dijelaskan terkait ‘illat riba pada emas dan perak. Pendapat yang terkuat adalah pendapat dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah serta murid beliau, Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, bahwa ‘illat dalam emas dan perak adalah muthlaqu ats-tsamaniyyah (sebagai nilai dan alat tukar secara mutlak).Dari standar ‘illat ini, maka segala yang digunakan sebagai alat tukar secara mutlak, masuk dalam kategori harta atau komoditas ribawi, sebagaimana emas dan perak. Hal ini di antara hal yang sangat penting untuk diketahui.Berangkat dari pembahasan ‘illat riba pada cemas dan perak, dapat diketahui dengan jelas beberapa pertanyaan yang sering terlontarkan.Mengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar-menukar uang?Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan?Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer lalu mengambil fisik uangnya nanti?Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang?Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.Jawaban secara umum dari keempat pertanyaan di atas adalah disebabkan ‘illat pada uang adalah ‘illat pada emas dan perak. Mudahnya, standar hukum yang ada pada uang menyesuaikan standar hukum yang ada pada emas dan perak. Sehingga segala yang berlaku pada emas dan perak, berlaku pula pada uang. Apa saja yang berlaku pada emas dan perak ketika ditukar?Harus tunai, tidak boleh ada penundaan;Harus sama takaran, tidak boleh ada lebih;Jika berbeda jenis, maka boleh berbeda takaran;Tidak boleh ada tambahan “tersembunyi”.Keempat poin di atas, belaku pada segala jenis uang. Sehingga dengan berlandaskan keempat poin di atas, dapat terjawabkan keempat pertanyaan di atas.Mengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar menukar uang? Sebagaimana pada emas dan perak, ketika emas ditukar dengan emas, tidak boleh ada lebih; ketika perak ditukar dengan perak pun tidak boleh ada lebih dan harus setara. Sebagaimana dalam hadis ‘Ubadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ، وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا بِوَزْنٍ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ كَيْلًا بِكَيْلٍ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ كَيْلًا بِكَيْلٍ“Emas dengan emas harus sama dalam timbangan, perak dengan perak harus sama dalam timbangan, gandum dengan gandum harus sama dalam takaran, sya’ir dengan sya’ir harus sama dalam takaran.” (HR. Al-Baihaqi dan disahihkan Syekh Al-Albani rahimahullah)Dalam hadis lain, dari Abu Sa’id Al-Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بالذَّهَبِ، والفِضَّةُ بالفِضَّةِ، والبُرُّ بالبُرِّ، والشَّعيرُ بالشَّعيرِ، والتَّمرُ بالتَّمرِ، والمِلْحُ بالمِلْحِ: مِثْلًا بمِثْلٍ، يَدًا بيَدٍ، فمَن زاد أوِ ازداد فقد أَرْبى؛ الآخِذُ والمُعْطِي فيه سواءٌ“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus serupa (nominal dan takaran), harus dibayarkan secara kontan, barang siapa yang menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba, yang mengambil dan memberi sama saja.” (HR. Muslim no. 1584)Hal serupa juga berlaku pada uang, ketika uang ditukar dengan uang, maka tidak boleh ada lebih dan harus sama nominalnya. Apa sebabnya? Sebabnya karena ‘illat pada uang sama seperti ‘illat pada emas dan perak. Yaitu, sebagai nilai dan alat tukar.Mirisnya, praktek-praktek seperti ini masih sering terjadi dan banyak yang menggandrungi di tengah-tengah masyarakat. Ketika lebaran tiba, uang-uang pecahan kecil begitu dicari; terlihat di pinggir jalan orang-orang yang menawarkan jasa penukaran uang dengan adanya syarat, yaitu harus ada lebih.Menguntungkan dan menggiurkan memang. Disinyalir ketika lebaran tiba, jasa penukaran uang di pinggir jalan meraup keuntungan yang sangat fantastis. Pertransaksi, terdapat biaya tambahan yang harus dibayarkan sebesar 10%. Seumpama, ada yang ingin menukar satu juta rupiah, maka ia harus membayar satu juta seratus ribu rupiah; jika lima juta, ia harus membayar sebesar lima juta lima ratus ribu rupiah. Bagaimana jika sepuluh juta? Dua puluh juta? Dan seterusnya. Bisa dibayangkan kelipatan yang diperoleh dari hasil transaksi riba.Kendati di sisi lain ada yang tidak mengambil keuntungan sebanyak itu. Misalnya, seperti penukaran satu juta rupiah kemudian diberikan uang pecahan sebesar sembilan ratus lima puluh ribu rupiah. Lima puluh ribu dianggap sebagai biaya jasa atau admin. Ketahuilah, segala tukar menukar uang yang terdapat “tambahan”, maka berlaku padanya hukum riba. Dan inilah yang dinamakan dengan riba fadhl.Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan? Tidak diperbolehkan menukar uang secara tidak kontan. Sebagaimana telah jelas dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau mensyaratkan pada transaksi komoditas ribawi ketika sama jenisnya,يَدًا بيَدٍ“Tangan bertemu dengan tangan (harus dibayarkan secara kontan).” Lalu, bagaimana jika tidak kontan? Maka masuk pada riba nasi’ah. Hendaknya hal ini jangan dianggap remeh, “Kan teman”, “Kan masih sesama saudara.” Riba tetaplah riba. Dan ini yang dinamakan dengan riba nasi’ah.Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer, lalu mengambil fisik uangnya nanti? Jawaban pertanyaan ini, sama dengan pertanyaan kedua. Tidak boleh menukar uang dengan cara transfer yang kemudian nanti diambil fisiknya. Tentu para pembaca sudah bisa menjawab, mengapa tidak diperbolehkan? Karena ada tenggang waktu dalam penyerahan dan ini merupakan riba nasi’ah.Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang? Mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang, tak ubahnya seperti “pengelabuan riba”. Dinamakan jasa atau biaya admin, namun sejatinya hal ini tetap biaya tambahan dalam tukar menukar. Jangan sampai tertipu dengan “penamaan” yang diberikan.Hakikat dari transaksinya adalah transaksi ribawi, diganti penamaan agar terlihat lebih halal dan samar-samar antara riba atau tidaknya. Sehingga jawabannya, tidak diperbolehkan adanya jasa atau biaya admin.Kecuali, jika kita memang menyuruh seseorang untuk pergi menukarkan uang. Kita sampaikan kepadanya, “Tolong tukarkan uang, ini ada dua puluh ribu untukmu.” Inilah yang dinamakan dengan jasa.Akan tetapi, jika bentuknya adalah biaya tambahan dari penukaran uang yang bersifat persenan; yang dampaknya, semakin besar nominal penukaran, maka semakin besar keuntungan yang diperoleh, maka ini bukanlah biaya admin atau jasa, namun justru inilah riba yang sesungguhnya.SolusiJika memang Anda butuh untuk menukar uang dengan uang, maka berikut solusinya:Pastikan tidak ada biaya tambahan;Penukaran harus dilakukan secara tunai;Lakukan penukaran pada lembaga atau instansi resmi seperti bank, koperasi, dan sebagainya. Tetap dengan berpegang pada kedua poin di atas.Pembahasan ini di antara manfaat dari memahami tentang ‘illat dalam riba. Sehingga terjauhkanlah segala keharaman yang terdapat pada transaksi tukar-menukar ataupun transaksi-transaksi lainnya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 10***Depok, 23 Syawal 1447/ 11 April 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleMengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar menukar uang?Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan?Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer, lalu mengambil fisik uangnya nanti?Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang?SolusiSebelumnya, telah dijelaskan terkait ‘illat riba pada emas dan perak. Pendapat yang terkuat adalah pendapat dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah serta murid beliau, Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, bahwa ‘illat dalam emas dan perak adalah muthlaqu ats-tsamaniyyah (sebagai nilai dan alat tukar secara mutlak).Dari standar ‘illat ini, maka segala yang digunakan sebagai alat tukar secara mutlak, masuk dalam kategori harta atau komoditas ribawi, sebagaimana emas dan perak. Hal ini di antara hal yang sangat penting untuk diketahui.Berangkat dari pembahasan ‘illat riba pada cemas dan perak, dapat diketahui dengan jelas beberapa pertanyaan yang sering terlontarkan.Mengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar-menukar uang?Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan?Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer lalu mengambil fisik uangnya nanti?Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang?Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.Jawaban secara umum dari keempat pertanyaan di atas adalah disebabkan ‘illat pada uang adalah ‘illat pada emas dan perak. Mudahnya, standar hukum yang ada pada uang menyesuaikan standar hukum yang ada pada emas dan perak. Sehingga segala yang berlaku pada emas dan perak, berlaku pula pada uang. Apa saja yang berlaku pada emas dan perak ketika ditukar?Harus tunai, tidak boleh ada penundaan;Harus sama takaran, tidak boleh ada lebih;Jika berbeda jenis, maka boleh berbeda takaran;Tidak boleh ada tambahan “tersembunyi”.Keempat poin di atas, belaku pada segala jenis uang. Sehingga dengan berlandaskan keempat poin di atas, dapat terjawabkan keempat pertanyaan di atas.Mengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar menukar uang? Sebagaimana pada emas dan perak, ketika emas ditukar dengan emas, tidak boleh ada lebih; ketika perak ditukar dengan perak pun tidak boleh ada lebih dan harus setara. Sebagaimana dalam hadis ‘Ubadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ، وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا بِوَزْنٍ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ كَيْلًا بِكَيْلٍ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ كَيْلًا بِكَيْلٍ“Emas dengan emas harus sama dalam timbangan, perak dengan perak harus sama dalam timbangan, gandum dengan gandum harus sama dalam takaran, sya’ir dengan sya’ir harus sama dalam takaran.” (HR. Al-Baihaqi dan disahihkan Syekh Al-Albani rahimahullah)Dalam hadis lain, dari Abu Sa’id Al-Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بالذَّهَبِ، والفِضَّةُ بالفِضَّةِ، والبُرُّ بالبُرِّ، والشَّعيرُ بالشَّعيرِ، والتَّمرُ بالتَّمرِ، والمِلْحُ بالمِلْحِ: مِثْلًا بمِثْلٍ، يَدًا بيَدٍ، فمَن زاد أوِ ازداد فقد أَرْبى؛ الآخِذُ والمُعْطِي فيه سواءٌ“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus serupa (nominal dan takaran), harus dibayarkan secara kontan, barang siapa yang menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba, yang mengambil dan memberi sama saja.” (HR. Muslim no. 1584)Hal serupa juga berlaku pada uang, ketika uang ditukar dengan uang, maka tidak boleh ada lebih dan harus sama nominalnya. Apa sebabnya? Sebabnya karena ‘illat pada uang sama seperti ‘illat pada emas dan perak. Yaitu, sebagai nilai dan alat tukar.Mirisnya, praktek-praktek seperti ini masih sering terjadi dan banyak yang menggandrungi di tengah-tengah masyarakat. Ketika lebaran tiba, uang-uang pecahan kecil begitu dicari; terlihat di pinggir jalan orang-orang yang menawarkan jasa penukaran uang dengan adanya syarat, yaitu harus ada lebih.Menguntungkan dan menggiurkan memang. Disinyalir ketika lebaran tiba, jasa penukaran uang di pinggir jalan meraup keuntungan yang sangat fantastis. Pertransaksi, terdapat biaya tambahan yang harus dibayarkan sebesar 10%. Seumpama, ada yang ingin menukar satu juta rupiah, maka ia harus membayar satu juta seratus ribu rupiah; jika lima juta, ia harus membayar sebesar lima juta lima ratus ribu rupiah. Bagaimana jika sepuluh juta? Dua puluh juta? Dan seterusnya. Bisa dibayangkan kelipatan yang diperoleh dari hasil transaksi riba.Kendati di sisi lain ada yang tidak mengambil keuntungan sebanyak itu. Misalnya, seperti penukaran satu juta rupiah kemudian diberikan uang pecahan sebesar sembilan ratus lima puluh ribu rupiah. Lima puluh ribu dianggap sebagai biaya jasa atau admin. Ketahuilah, segala tukar menukar uang yang terdapat “tambahan”, maka berlaku padanya hukum riba. Dan inilah yang dinamakan dengan riba fadhl.Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan? Tidak diperbolehkan menukar uang secara tidak kontan. Sebagaimana telah jelas dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau mensyaratkan pada transaksi komoditas ribawi ketika sama jenisnya,يَدًا بيَدٍ“Tangan bertemu dengan tangan (harus dibayarkan secara kontan).” Lalu, bagaimana jika tidak kontan? Maka masuk pada riba nasi’ah. Hendaknya hal ini jangan dianggap remeh, “Kan teman”, “Kan masih sesama saudara.” Riba tetaplah riba. Dan ini yang dinamakan dengan riba nasi’ah.Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer, lalu mengambil fisik uangnya nanti? Jawaban pertanyaan ini, sama dengan pertanyaan kedua. Tidak boleh menukar uang dengan cara transfer yang kemudian nanti diambil fisiknya. Tentu para pembaca sudah bisa menjawab, mengapa tidak diperbolehkan? Karena ada tenggang waktu dalam penyerahan dan ini merupakan riba nasi’ah.Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang? Mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang, tak ubahnya seperti “pengelabuan riba”. Dinamakan jasa atau biaya admin, namun sejatinya hal ini tetap biaya tambahan dalam tukar menukar. Jangan sampai tertipu dengan “penamaan” yang diberikan.Hakikat dari transaksinya adalah transaksi ribawi, diganti penamaan agar terlihat lebih halal dan samar-samar antara riba atau tidaknya. Sehingga jawabannya, tidak diperbolehkan adanya jasa atau biaya admin.Kecuali, jika kita memang menyuruh seseorang untuk pergi menukarkan uang. Kita sampaikan kepadanya, “Tolong tukarkan uang, ini ada dua puluh ribu untukmu.” Inilah yang dinamakan dengan jasa.Akan tetapi, jika bentuknya adalah biaya tambahan dari penukaran uang yang bersifat persenan; yang dampaknya, semakin besar nominal penukaran, maka semakin besar keuntungan yang diperoleh, maka ini bukanlah biaya admin atau jasa, namun justru inilah riba yang sesungguhnya.SolusiJika memang Anda butuh untuk menukar uang dengan uang, maka berikut solusinya:Pastikan tidak ada biaya tambahan;Penukaran harus dilakukan secara tunai;Lakukan penukaran pada lembaga atau instansi resmi seperti bank, koperasi, dan sebagainya. Tetap dengan berpegang pada kedua poin di atas.Pembahasan ini di antara manfaat dari memahami tentang ‘illat dalam riba. Sehingga terjauhkanlah segala keharaman yang terdapat pada transaksi tukar-menukar ataupun transaksi-transaksi lainnya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 10***Depok, 23 Syawal 1447/ 11 April 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id

Sumpah Suami Tak Menyentuh Istri? Hati-Hati, Bisa Berujung Talak!

Tidak semua masalah rumah tangga berujung pada perceraian—namun ada kondisi yang bisa menyeret ke sana tanpa disadari. Salah satunya adalah ketika suami bersumpah tidak menggauli istrinya. Islam mengatur hal ini dengan sangat rinci agar tidak ada pihak yang dizalimi. Artikel ini akan membahas hukum ila’ dan bagaimana syariat memberikan solusi yang adil bagi suami dan istri.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan dari Fathul Qarib 2. Hikmah Besar di Balik Hukum Ila’ 3. Penutup  Al-Qadhi Abu Syuja’ dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib berkata:وَإِذَا حَلَفَ أَنْ لَا يَطَأَ زَوْجَتَهُ مُطْلَقًا، أَوْ مُدَّةً تَزِيدُ عَلَىٰ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ، فَهُوَ مُولٍ، وَيُؤَجَّلُ لَهُ إِنْ سَأَلَتْ ذٰلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ، ثُمَّ يُخَيَّرُ بَيْنَ الْفَيْئَةِ وَالتَّكْفِيرِ أَوِ الطَّلَاقِ، فَإِنِ امْتَنَعَ طَلَّقَ عَلَيْهِ الْحَاكِمُ. Jika seorang suami bersumpah untuk tidak menggauli istrinya secara mutlak, atau dalam jangka waktu yang lebih dari empat bulan, maka ia dianggap sebagai pelaku ila’.Suami tersebut diberi masa tenggang selama empat bulan, apabila istrinya menuntut hal itu.Setelah masa tersebut berlalu, suami diberi pilihan antara:kembali menggauli istrinya (fai’ah) sekaligus membayar kafarat sumpah, ataumenceraikannya.Jika suami menolak melakukan keduanya, maka hakim akan menjatuhkan talak atasnya. Penjelasan dari Fathul QaribPasal ini menjelaskan hukum-hukum ila’. Secara bahasa, ila’ adalah bentuk masdar dari kata آلَى يُولِي إِيلَاءً, yaitu ketika seseorang bersumpah.Adapun secara istilah syariat, ila’ adalah sumpah seorang suami—yang sah menjatuhkan talak—untuk tidak menggauli istrinya pada kemaluannya, baik secara mutlak maupun dalam jangka waktu lebih dari empat bulan.Makna ini diambil dari perkataan penulis: “Jika seorang suami bersumpah untuk tidak menggauli istrinya,” baik secara mutlak maupun dalam waktu tertentu yang melebihi empat bulan, maka ia disebut sebagai mūlī (orang yang melakukan ila’) terhadap istrinya.Hal ini berlaku, baik ia bersumpah dengan nama Allah Ta’ala, dengan salah satu sifat-Nya, atau ia menggantungkan hubungan suami-istri dengan talak atau pembebasan budak. Misalnya ia berkata:“Jika aku menggaulimu, maka engkau tertalak,” atau “budakku merdeka.”Jika ia benar-benar menggauli istrinya, maka talak itu jatuh dan budaknya menjadi merdeka.Demikian pula jika ia berkata:“Jika aku menggaulimu, maka aku wajib melakukan salat, puasa, haji, atau memerdekakan budak,”maka ia juga dianggap sebagai orang yang melakukan ila’.Orang yang melakukan ila’ wajib diberi tenggang waktu, baik ia seorang merdeka maupun budak, selama istrinya mampu untuk digauli. Tenggang waktu tersebut adalah empat bulan, jika istri menuntut hal itu.Awal perhitungan empat bulan ini:Bagi istri yang masih dalam pernikahan biasa, dimulai sejak sumpah ila’.Bagi istri yang sedang dalam masa rujuk, dimulai sejak rujuk terjadi.Setelah masa empat bulan tersebut berakhir, suami diberi pilihan antara:Kembali (al-fai’ah), yaitu dengan menggauli istrinya (cukup dengan masuknya hasyafah atau yang sepadan pada kemaluannya), dan jika sumpahnya dengan nama Allah, maka ia wajib membayar kafarat sumpah.Atau menceraikan istrinya yang menjadi objek sumpah tersebut.Jika suami menolak untuk kembali maupun menceraikan, maka hakim akan menjatuhkan talak satu (talak raj‘i) atasnya. Jika suami menjatuhkan lebih dari satu talak, maka yang sah hanya satu.Adapun jika ia hanya menolak untuk kembali (tidak mau menggauli), maka hakim akan memerintahkannya untuk menceraikan istrinya. Hikmah Besar di Balik Hukum Ila’Hukum ila’ mengandung banyak pelajaran penting:Menjaga hak istri agar tidak terabaikanMelarang suami menggantung hubungan tanpa kejelasanMenunjukkan bahwa sumpah tidak boleh digunakan untuk menzalimiMemberi batas tegas dalam konflik rumah tangga PenutupDalam kehidupan rumah tangga saat ini, konflik seringkali diselesaikan dengan emosi, bahkan sampai keluar sumpah yang tidak dipikirkan dampaknya. Padahal, satu kalimat bisa membawa konsekuensi hukum yang serius dalam syariat. Suami hendaknya berhati-hati dalam berbicara, karena ucapan bisa menjadi sebab dosa atau bahkan perpisahan. Bangun komunikasi yang baik, karena Islam tidak mengajarkan hubungan yang digantung tanpa kepastian. —- Saat transit di Soekarno Hatta, 13 Dzulqa’dah 1447 H, 30 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih pernikahan fiqih keluarga hak istri hukum ila hukum talak ila konflik rumah tangga matan taqrib matan taqrib kitab nikah sumpah suami syariat islam talak dalam Islam

Sumpah Suami Tak Menyentuh Istri? Hati-Hati, Bisa Berujung Talak!

Tidak semua masalah rumah tangga berujung pada perceraian—namun ada kondisi yang bisa menyeret ke sana tanpa disadari. Salah satunya adalah ketika suami bersumpah tidak menggauli istrinya. Islam mengatur hal ini dengan sangat rinci agar tidak ada pihak yang dizalimi. Artikel ini akan membahas hukum ila’ dan bagaimana syariat memberikan solusi yang adil bagi suami dan istri.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan dari Fathul Qarib 2. Hikmah Besar di Balik Hukum Ila’ 3. Penutup  Al-Qadhi Abu Syuja’ dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib berkata:وَإِذَا حَلَفَ أَنْ لَا يَطَأَ زَوْجَتَهُ مُطْلَقًا، أَوْ مُدَّةً تَزِيدُ عَلَىٰ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ، فَهُوَ مُولٍ، وَيُؤَجَّلُ لَهُ إِنْ سَأَلَتْ ذٰلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ، ثُمَّ يُخَيَّرُ بَيْنَ الْفَيْئَةِ وَالتَّكْفِيرِ أَوِ الطَّلَاقِ، فَإِنِ امْتَنَعَ طَلَّقَ عَلَيْهِ الْحَاكِمُ. Jika seorang suami bersumpah untuk tidak menggauli istrinya secara mutlak, atau dalam jangka waktu yang lebih dari empat bulan, maka ia dianggap sebagai pelaku ila’.Suami tersebut diberi masa tenggang selama empat bulan, apabila istrinya menuntut hal itu.Setelah masa tersebut berlalu, suami diberi pilihan antara:kembali menggauli istrinya (fai’ah) sekaligus membayar kafarat sumpah, ataumenceraikannya.Jika suami menolak melakukan keduanya, maka hakim akan menjatuhkan talak atasnya. Penjelasan dari Fathul QaribPasal ini menjelaskan hukum-hukum ila’. Secara bahasa, ila’ adalah bentuk masdar dari kata آلَى يُولِي إِيلَاءً, yaitu ketika seseorang bersumpah.Adapun secara istilah syariat, ila’ adalah sumpah seorang suami—yang sah menjatuhkan talak—untuk tidak menggauli istrinya pada kemaluannya, baik secara mutlak maupun dalam jangka waktu lebih dari empat bulan.Makna ini diambil dari perkataan penulis: “Jika seorang suami bersumpah untuk tidak menggauli istrinya,” baik secara mutlak maupun dalam waktu tertentu yang melebihi empat bulan, maka ia disebut sebagai mūlī (orang yang melakukan ila’) terhadap istrinya.Hal ini berlaku, baik ia bersumpah dengan nama Allah Ta’ala, dengan salah satu sifat-Nya, atau ia menggantungkan hubungan suami-istri dengan talak atau pembebasan budak. Misalnya ia berkata:“Jika aku menggaulimu, maka engkau tertalak,” atau “budakku merdeka.”Jika ia benar-benar menggauli istrinya, maka talak itu jatuh dan budaknya menjadi merdeka.Demikian pula jika ia berkata:“Jika aku menggaulimu, maka aku wajib melakukan salat, puasa, haji, atau memerdekakan budak,”maka ia juga dianggap sebagai orang yang melakukan ila’.Orang yang melakukan ila’ wajib diberi tenggang waktu, baik ia seorang merdeka maupun budak, selama istrinya mampu untuk digauli. Tenggang waktu tersebut adalah empat bulan, jika istri menuntut hal itu.Awal perhitungan empat bulan ini:Bagi istri yang masih dalam pernikahan biasa, dimulai sejak sumpah ila’.Bagi istri yang sedang dalam masa rujuk, dimulai sejak rujuk terjadi.Setelah masa empat bulan tersebut berakhir, suami diberi pilihan antara:Kembali (al-fai’ah), yaitu dengan menggauli istrinya (cukup dengan masuknya hasyafah atau yang sepadan pada kemaluannya), dan jika sumpahnya dengan nama Allah, maka ia wajib membayar kafarat sumpah.Atau menceraikan istrinya yang menjadi objek sumpah tersebut.Jika suami menolak untuk kembali maupun menceraikan, maka hakim akan menjatuhkan talak satu (talak raj‘i) atasnya. Jika suami menjatuhkan lebih dari satu talak, maka yang sah hanya satu.Adapun jika ia hanya menolak untuk kembali (tidak mau menggauli), maka hakim akan memerintahkannya untuk menceraikan istrinya. Hikmah Besar di Balik Hukum Ila’Hukum ila’ mengandung banyak pelajaran penting:Menjaga hak istri agar tidak terabaikanMelarang suami menggantung hubungan tanpa kejelasanMenunjukkan bahwa sumpah tidak boleh digunakan untuk menzalimiMemberi batas tegas dalam konflik rumah tangga PenutupDalam kehidupan rumah tangga saat ini, konflik seringkali diselesaikan dengan emosi, bahkan sampai keluar sumpah yang tidak dipikirkan dampaknya. Padahal, satu kalimat bisa membawa konsekuensi hukum yang serius dalam syariat. Suami hendaknya berhati-hati dalam berbicara, karena ucapan bisa menjadi sebab dosa atau bahkan perpisahan. Bangun komunikasi yang baik, karena Islam tidak mengajarkan hubungan yang digantung tanpa kepastian. —- Saat transit di Soekarno Hatta, 13 Dzulqa’dah 1447 H, 30 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih pernikahan fiqih keluarga hak istri hukum ila hukum talak ila konflik rumah tangga matan taqrib matan taqrib kitab nikah sumpah suami syariat islam talak dalam Islam
Tidak semua masalah rumah tangga berujung pada perceraian—namun ada kondisi yang bisa menyeret ke sana tanpa disadari. Salah satunya adalah ketika suami bersumpah tidak menggauli istrinya. Islam mengatur hal ini dengan sangat rinci agar tidak ada pihak yang dizalimi. Artikel ini akan membahas hukum ila’ dan bagaimana syariat memberikan solusi yang adil bagi suami dan istri.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan dari Fathul Qarib 2. Hikmah Besar di Balik Hukum Ila’ 3. Penutup  Al-Qadhi Abu Syuja’ dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib berkata:وَإِذَا حَلَفَ أَنْ لَا يَطَأَ زَوْجَتَهُ مُطْلَقًا، أَوْ مُدَّةً تَزِيدُ عَلَىٰ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ، فَهُوَ مُولٍ، وَيُؤَجَّلُ لَهُ إِنْ سَأَلَتْ ذٰلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ، ثُمَّ يُخَيَّرُ بَيْنَ الْفَيْئَةِ وَالتَّكْفِيرِ أَوِ الطَّلَاقِ، فَإِنِ امْتَنَعَ طَلَّقَ عَلَيْهِ الْحَاكِمُ. Jika seorang suami bersumpah untuk tidak menggauli istrinya secara mutlak, atau dalam jangka waktu yang lebih dari empat bulan, maka ia dianggap sebagai pelaku ila’.Suami tersebut diberi masa tenggang selama empat bulan, apabila istrinya menuntut hal itu.Setelah masa tersebut berlalu, suami diberi pilihan antara:kembali menggauli istrinya (fai’ah) sekaligus membayar kafarat sumpah, ataumenceraikannya.Jika suami menolak melakukan keduanya, maka hakim akan menjatuhkan talak atasnya. Penjelasan dari Fathul QaribPasal ini menjelaskan hukum-hukum ila’. Secara bahasa, ila’ adalah bentuk masdar dari kata آلَى يُولِي إِيلَاءً, yaitu ketika seseorang bersumpah.Adapun secara istilah syariat, ila’ adalah sumpah seorang suami—yang sah menjatuhkan talak—untuk tidak menggauli istrinya pada kemaluannya, baik secara mutlak maupun dalam jangka waktu lebih dari empat bulan.Makna ini diambil dari perkataan penulis: “Jika seorang suami bersumpah untuk tidak menggauli istrinya,” baik secara mutlak maupun dalam waktu tertentu yang melebihi empat bulan, maka ia disebut sebagai mūlī (orang yang melakukan ila’) terhadap istrinya.Hal ini berlaku, baik ia bersumpah dengan nama Allah Ta’ala, dengan salah satu sifat-Nya, atau ia menggantungkan hubungan suami-istri dengan talak atau pembebasan budak. Misalnya ia berkata:“Jika aku menggaulimu, maka engkau tertalak,” atau “budakku merdeka.”Jika ia benar-benar menggauli istrinya, maka talak itu jatuh dan budaknya menjadi merdeka.Demikian pula jika ia berkata:“Jika aku menggaulimu, maka aku wajib melakukan salat, puasa, haji, atau memerdekakan budak,”maka ia juga dianggap sebagai orang yang melakukan ila’.Orang yang melakukan ila’ wajib diberi tenggang waktu, baik ia seorang merdeka maupun budak, selama istrinya mampu untuk digauli. Tenggang waktu tersebut adalah empat bulan, jika istri menuntut hal itu.Awal perhitungan empat bulan ini:Bagi istri yang masih dalam pernikahan biasa, dimulai sejak sumpah ila’.Bagi istri yang sedang dalam masa rujuk, dimulai sejak rujuk terjadi.Setelah masa empat bulan tersebut berakhir, suami diberi pilihan antara:Kembali (al-fai’ah), yaitu dengan menggauli istrinya (cukup dengan masuknya hasyafah atau yang sepadan pada kemaluannya), dan jika sumpahnya dengan nama Allah, maka ia wajib membayar kafarat sumpah.Atau menceraikan istrinya yang menjadi objek sumpah tersebut.Jika suami menolak untuk kembali maupun menceraikan, maka hakim akan menjatuhkan talak satu (talak raj‘i) atasnya. Jika suami menjatuhkan lebih dari satu talak, maka yang sah hanya satu.Adapun jika ia hanya menolak untuk kembali (tidak mau menggauli), maka hakim akan memerintahkannya untuk menceraikan istrinya. Hikmah Besar di Balik Hukum Ila’Hukum ila’ mengandung banyak pelajaran penting:Menjaga hak istri agar tidak terabaikanMelarang suami menggantung hubungan tanpa kejelasanMenunjukkan bahwa sumpah tidak boleh digunakan untuk menzalimiMemberi batas tegas dalam konflik rumah tangga PenutupDalam kehidupan rumah tangga saat ini, konflik seringkali diselesaikan dengan emosi, bahkan sampai keluar sumpah yang tidak dipikirkan dampaknya. Padahal, satu kalimat bisa membawa konsekuensi hukum yang serius dalam syariat. Suami hendaknya berhati-hati dalam berbicara, karena ucapan bisa menjadi sebab dosa atau bahkan perpisahan. Bangun komunikasi yang baik, karena Islam tidak mengajarkan hubungan yang digantung tanpa kepastian. —- Saat transit di Soekarno Hatta, 13 Dzulqa’dah 1447 H, 30 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih pernikahan fiqih keluarga hak istri hukum ila hukum talak ila konflik rumah tangga matan taqrib matan taqrib kitab nikah sumpah suami syariat islam talak dalam Islam


Tidak semua masalah rumah tangga berujung pada perceraian—namun ada kondisi yang bisa menyeret ke sana tanpa disadari. Salah satunya adalah ketika suami bersumpah tidak menggauli istrinya. Islam mengatur hal ini dengan sangat rinci agar tidak ada pihak yang dizalimi. Artikel ini akan membahas hukum ila’ dan bagaimana syariat memberikan solusi yang adil bagi suami dan istri.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan dari Fathul Qarib 2. Hikmah Besar di Balik Hukum Ila’ 3. Penutup  Al-Qadhi Abu Syuja’ dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib berkata:وَإِذَا حَلَفَ أَنْ لَا يَطَأَ زَوْجَتَهُ مُطْلَقًا، أَوْ مُدَّةً تَزِيدُ عَلَىٰ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ، فَهُوَ مُولٍ، وَيُؤَجَّلُ لَهُ إِنْ سَأَلَتْ ذٰلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ، ثُمَّ يُخَيَّرُ بَيْنَ الْفَيْئَةِ وَالتَّكْفِيرِ أَوِ الطَّلَاقِ، فَإِنِ امْتَنَعَ طَلَّقَ عَلَيْهِ الْحَاكِمُ. Jika seorang suami bersumpah untuk tidak menggauli istrinya secara mutlak, atau dalam jangka waktu yang lebih dari empat bulan, maka ia dianggap sebagai pelaku ila’.Suami tersebut diberi masa tenggang selama empat bulan, apabila istrinya menuntut hal itu.Setelah masa tersebut berlalu, suami diberi pilihan antara:kembali menggauli istrinya (fai’ah) sekaligus membayar kafarat sumpah, ataumenceraikannya.Jika suami menolak melakukan keduanya, maka hakim akan menjatuhkan talak atasnya. Penjelasan dari Fathul QaribPasal ini menjelaskan hukum-hukum ila’. Secara bahasa, ila’ adalah bentuk masdar dari kata آلَى يُولِي إِيلَاءً, yaitu ketika seseorang bersumpah.Adapun secara istilah syariat, ila’ adalah sumpah seorang suami—yang sah menjatuhkan talak—untuk tidak menggauli istrinya pada kemaluannya, baik secara mutlak maupun dalam jangka waktu lebih dari empat bulan.Makna ini diambil dari perkataan penulis: “Jika seorang suami bersumpah untuk tidak menggauli istrinya,” baik secara mutlak maupun dalam waktu tertentu yang melebihi empat bulan, maka ia disebut sebagai mūlī (orang yang melakukan ila’) terhadap istrinya.Hal ini berlaku, baik ia bersumpah dengan nama Allah Ta’ala, dengan salah satu sifat-Nya, atau ia menggantungkan hubungan suami-istri dengan talak atau pembebasan budak. Misalnya ia berkata:“Jika aku menggaulimu, maka engkau tertalak,” atau “budakku merdeka.”Jika ia benar-benar menggauli istrinya, maka talak itu jatuh dan budaknya menjadi merdeka.Demikian pula jika ia berkata:“Jika aku menggaulimu, maka aku wajib melakukan salat, puasa, haji, atau memerdekakan budak,”maka ia juga dianggap sebagai orang yang melakukan ila’.Orang yang melakukan ila’ wajib diberi tenggang waktu, baik ia seorang merdeka maupun budak, selama istrinya mampu untuk digauli. Tenggang waktu tersebut adalah empat bulan, jika istri menuntut hal itu.Awal perhitungan empat bulan ini:Bagi istri yang masih dalam pernikahan biasa, dimulai sejak sumpah ila’.Bagi istri yang sedang dalam masa rujuk, dimulai sejak rujuk terjadi.Setelah masa empat bulan tersebut berakhir, suami diberi pilihan antara:Kembali (al-fai’ah), yaitu dengan menggauli istrinya (cukup dengan masuknya hasyafah atau yang sepadan pada kemaluannya), dan jika sumpahnya dengan nama Allah, maka ia wajib membayar kafarat sumpah.Atau menceraikan istrinya yang menjadi objek sumpah tersebut.Jika suami menolak untuk kembali maupun menceraikan, maka hakim akan menjatuhkan talak satu (talak raj‘i) atasnya. Jika suami menjatuhkan lebih dari satu talak, maka yang sah hanya satu.Adapun jika ia hanya menolak untuk kembali (tidak mau menggauli), maka hakim akan memerintahkannya untuk menceraikan istrinya. Hikmah Besar di Balik Hukum Ila’Hukum ila’ mengandung banyak pelajaran penting:Menjaga hak istri agar tidak terabaikanMelarang suami menggantung hubungan tanpa kejelasanMenunjukkan bahwa sumpah tidak boleh digunakan untuk menzalimiMemberi batas tegas dalam konflik rumah tangga PenutupDalam kehidupan rumah tangga saat ini, konflik seringkali diselesaikan dengan emosi, bahkan sampai keluar sumpah yang tidak dipikirkan dampaknya. Padahal, satu kalimat bisa membawa konsekuensi hukum yang serius dalam syariat. Suami hendaknya berhati-hati dalam berbicara, karena ucapan bisa menjadi sebab dosa atau bahkan perpisahan. Bangun komunikasi yang baik, karena Islam tidak mengajarkan hubungan yang digantung tanpa kepastian. —- Saat transit di Soekarno Hatta, 13 Dzulqa’dah 1447 H, 30 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih pernikahan fiqih keluarga hak istri hukum ila hukum talak ila konflik rumah tangga matan taqrib matan taqrib kitab nikah sumpah suami syariat islam talak dalam Islam

Petugas Merobek Dokumennya, Berdoa Hingga Jasad Petugas Itu Hancur: Berdosakah?

Penanya bercerita: Seorang oknum pegawai pemerintah telah menzalimi saya. Ia merobek dokumen-dokumen saya yang baru saja saya serahkan padanya. Saat itu, saya merasa sakit hati telah dizalimi. Karena itu, saya berdoa agar Allah menghancurkan tubuhnya, sebagaimana ia merobek-robek dokumen saya. Dua atau tiga tahun kemudian, ia meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Tubuhnya hancur hingga jenazahnya tidak bisa lagi dimandikan atau dikafani dengan normal. Mereka terpaksa membungkusnya dalam kantong plastik khusus. Apakah saya berdosa atau menanggung beban atas doa yang pernah saya ucapkan itu? Mengenai balasan, bahkan saat seseorang mendoakan orang yang menzaliminya, tidaklah boleh melampaui batas kadar kezaliman yang ia terima. Di sinilah banyak orang melakukan kesalahan. Ada orang yang dizalimi pada perkara tertentu, pada perkara menyangkut urusan duniawi, lalu ia mendoakan orang tersebut agar Allah memasukkannya ke neraka, kekal selama-lamanya. Ini kezaliman! Atau ia mendoakannya dengan balasan yang lebih besar daripada kesalahan yang dilakukan orang itu. “Dan jika kalian membalas, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126). Dalam Surah Asy-Syura, Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40). Dari ayat ini, para ulama menyimpulkan adanya tiga tingkatan sikap pada perkara ini: Pertama, membalas keburukan dengan hal yang serupa. Ini adalah sikap yang adil, sebagaimana firman-Nya: “Balaslah dengan balasan yang setimpal.” (QS. An-Nahl: 126). Kedua, memaafkan. Ini adalah sikap yang paling sempurna, sebagaimana firman-Nya: “Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya di sisi Allah.” (QS. Asy-Syura: 40). Dan tingkatan ketiga adalah berbuat zalim (melampaui batas dalam membalas), karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Maka dalam kasus seperti ini, muncul sebuah pertanyaan: Jika ada seorang petugas merobek dokumen milik seseorang, apakah tindakan merobek kertas itu pantas dibalas secara syariat dengan hukuman fisik dengan dirobek-robek tubuh pelakunya? Apakah pantas dihukum begitu? Tentu saja ia tak pantas dihukum begitu, hanya gara-gara merobek kertas. Tentu saja tindakan merobek dokumen itu pantas diberi sanksi yang setimpal, tapi semua sepakat bahwa pelakunya tidak pantas dihukum dengan dihancurkan tubuhnya. Oleh karena itu, tidaklah benar mendoakan keburukan seperti itu kepadanya. Bisa jadi musibah yang menimpa orang tersebut memang sudah ajalnya dan tidak ada kaitannya dengan doa orang yang merasa dizalimi tadi. Bisa jadi pula, ia didoakan dengan sesuatu yang tidak seharusnya ia terima. “Dan manusia tergesa-gesa mendoakan keburukan, sebagaimana ia mendoakan kebaikan.” (QS. Al-Isra: 11). Sikap terburu-buru dalam berdoa ini perlu kita waspadai. Ada sebuah kisah berharga yang saya temukan dalam biografi ‘Aun bin ‘Abdullah dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala’. Ini adalah pelajaran penting yang saya harap kita semua bisa mencatatnya, baik dalam ingatan maupun tulisan. Disebutkan bahwa ketika beliau sangat marah kepada seseorang, beliau akan mengucapkan: “Baarokallaahu fiik” (semoga Allah memberkahimu). Saat kemarahannya memuncak, beliau justru berkata: “Baarokallaahu fiik” (semoga Allah memberkahimu). Pernah saya ceritakan ini dalam sebuah majelis, lalu ada yang bertanya: “Jika saat marah saja beliau mendoakan keberkahan, lantas doa apa yang beliau ucapkan saat sedang senang?” Jika saat marah saja beliau berkata: “Baarokallaahu fiik”, lantas doa apa yang beliau ucapkan saat sedang senang?” Intinya, kita janganlah tergesa-gesa mendoakan keburukan. Kejadian tadi adalah salah satu contoh sikap terburu-buru melontarkan doa buruk. ===== يَقُولُ: ظَلَمَنِي أَحَدُ الْمُوَظَّفِينَ فِي الْبَلَدِيَّةِ وَمَزَّقَ أَوْرَاقِي وَقَدْ كُنْتُ أَعْطَيْتُهَا لَهُفَاعْتَرَانِي شُعُورٌ بِالظُّلْمِ فَدَعَوْتُ اللهَ عَلَيْهِ أَنْ يُمَزِّقَهُ كَمَا مَزَّقَ أَوْرَاقِي فَمَاتَ بَعْدَ سَنَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثٍ بِحَادِثٍ مُرُورِيٍّ مُزِّقَتْ فِيهِ جُثَّتُهُ بِحَيْثُ لَمْ يُسْتَطَعْ عَلَى أَنْ يُغَسَّلَ أَوْ يُكَفَّنَ بَلْ وَضَعُوهُ فِي كِيسٍ بِلَاسْتِيكِيٍّ وَخُصِّصَ لِذَلِكَ هَلْ عَلَيَّ إِثْمٌ أَوْ هَلْ عَلَيَّ شَيْءٌ فِيمَا دَعَوْتُ عَلَيْهِ؟ الْعُقُوبَةُ حَتَّى فِي دُعَاءِ الشَّخْصِ عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ لَا يُتَجَاوَزُ فِيهَا حَدَّ الْمَظْلَمَةِ وَهَذَا يُخْطِئُ فِيهِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يُظْلَمُ فِي قَضِيَّةٍ مَا مُعَيَّنَةٍ وَفِي مَصْلَحَةٍ مِنْ مَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ ٌفَيَدْعُو عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ بِأَنْ يَجْعَلَهُ اللهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ مُخَلَّدًا فِيهَا ظُلْم أَوْ يَدْعُو عَلَيْهِ بِأَشْيَاءَ هِيَ أَعْظَمُ مِنَ الذَّنْبِ اللهُ يَقُولُ: وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّابِرِينَ وَفِي سُورَةِ الشُّورَى قَالَ جَلَّ وَعَلَا: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ أَخَذَ الْعُلَمَاءُ مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ أَنَّ الْمَرَاتِبَ ثَلَاثَةٌ الْمَرَاتِبُ فِي هَذَا الْبَابِ ثَلَاثَةٌ الْأُولَى جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَهَذَا عَدْلٌ وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ الْمَرْتَبَةُ الثَّانِيَةُ: الْعَفْوُ وَهَذَا أَكْمَلُ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَالْمَرْتَبَةُ الثَّالِثَةُ: الظُّلْمُ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ فَفِي مِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ يَأْتِي سُؤَالٌ الْآنَ إِذَا مَزَّقَ الْمُوَظَّفُ وَرَقَةَ الْإِنْسَانِ هَلْ تَمْزِيقُ الْوَرَقَةِ يَسْتَحِقُّ بِهِ عُقُوبَةً شَرْعِيَّةً أَنْ يُؤْتَى بِهِ وَيُمَزَّقَ بَدَنُهُ؟ هَلْ يَسْتَحِقُّ؟ هُوَ لَا يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ لِتَمْزِيقِ الْوَرَقَةِ نَعَمْ هُنَاكَ عُقُوبَاتٌ أُخْرَى يَكُونُ مُسْتَحِقًّا لَهَا لَكِنْ اِتِّفَاقًا لَيْسَ مُسْتَحِقًّا أَنْ يُمَزَّقَ بَدَنُهُ إِذًا لَا يَصِحُّ أَنْ يُدْعَى عَلَيْهِ بِذَلِكَ وَقَدْ يَكُونُ هَذَا الْأَمْرُ مَنِيَّةَ ذَلِكَ الرَّجُلِ وَلَا عَلَاقَةَ لَهَا بِدَعْوَةِ هَذَا الدَّاعِي أَوْ يَكُونُ دَعَا عَلَيْهِ بِأَمْرٍ لَا يَسْتَحِقُّهُ لَا يَسْتَحِقُّ أَنْ يُدْعَى عَلَيْهِ فِي مِثْلِ ذَلِكَ بِمِثْلِ هَذَا الدُّعَاءِ وَيَدْعُو الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَأَيْنَ التَّسَرُّعُ فِي مِثْلِ هَذَا الـدُّعَاءِ مِمَّا وَقَفْتُ عَلَيْهِ فِي تَرْجَمَةِ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ فِي سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ وَهِيَ فَائِدَةٌ ثَمِينَةٌ أَدْعُو الْجَمِيعَ إِلَى تَقْيِيدِهَا إِمَّا فِي الذِّهْنِ أَوْ كِتَابَةً قَالُوا فِي… ذَكَرُوا فِي تَرْجَمَتِهِ: كَانَ إِذَا اشْتَدَّ غَضَبُهُ مِنْ شَخْصٍ قَالَ: بَارَكَ اللهُ فِيكَ كَانَ إِذَا اشْتَدَّ غَضَبُهُ مِنْ شَخْصٍ قَالَ: بَارَكَ اللهُ فِيكَ مَرَّةً رَوَيْتُهَا فِي أَحَدِ الْمَجَالِسِ قَالَ: هَذَا وَهُوَ مُرْتَاحٌ مَا هُوَ غَضْبَانُ بِمَاذَا يَدْعُو؟ إِذَا كَانَ فِي شِدَّةِ الْغَضَبِ: “بَارَكَ اللهُ فِيكَ”، فَكَيْفَ وَهُوَ مُرْتَاحٌ؟ فَالْحَاصِلُ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَتَسَرَّعَ وَهَذَا مِثَالٌ يَعْنِي مِنَ الِاسْتِعْجَالِ فِي فِي الدُّعَاءِ

Petugas Merobek Dokumennya, Berdoa Hingga Jasad Petugas Itu Hancur: Berdosakah?

Penanya bercerita: Seorang oknum pegawai pemerintah telah menzalimi saya. Ia merobek dokumen-dokumen saya yang baru saja saya serahkan padanya. Saat itu, saya merasa sakit hati telah dizalimi. Karena itu, saya berdoa agar Allah menghancurkan tubuhnya, sebagaimana ia merobek-robek dokumen saya. Dua atau tiga tahun kemudian, ia meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Tubuhnya hancur hingga jenazahnya tidak bisa lagi dimandikan atau dikafani dengan normal. Mereka terpaksa membungkusnya dalam kantong plastik khusus. Apakah saya berdosa atau menanggung beban atas doa yang pernah saya ucapkan itu? Mengenai balasan, bahkan saat seseorang mendoakan orang yang menzaliminya, tidaklah boleh melampaui batas kadar kezaliman yang ia terima. Di sinilah banyak orang melakukan kesalahan. Ada orang yang dizalimi pada perkara tertentu, pada perkara menyangkut urusan duniawi, lalu ia mendoakan orang tersebut agar Allah memasukkannya ke neraka, kekal selama-lamanya. Ini kezaliman! Atau ia mendoakannya dengan balasan yang lebih besar daripada kesalahan yang dilakukan orang itu. “Dan jika kalian membalas, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126). Dalam Surah Asy-Syura, Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40). Dari ayat ini, para ulama menyimpulkan adanya tiga tingkatan sikap pada perkara ini: Pertama, membalas keburukan dengan hal yang serupa. Ini adalah sikap yang adil, sebagaimana firman-Nya: “Balaslah dengan balasan yang setimpal.” (QS. An-Nahl: 126). Kedua, memaafkan. Ini adalah sikap yang paling sempurna, sebagaimana firman-Nya: “Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya di sisi Allah.” (QS. Asy-Syura: 40). Dan tingkatan ketiga adalah berbuat zalim (melampaui batas dalam membalas), karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Maka dalam kasus seperti ini, muncul sebuah pertanyaan: Jika ada seorang petugas merobek dokumen milik seseorang, apakah tindakan merobek kertas itu pantas dibalas secara syariat dengan hukuman fisik dengan dirobek-robek tubuh pelakunya? Apakah pantas dihukum begitu? Tentu saja ia tak pantas dihukum begitu, hanya gara-gara merobek kertas. Tentu saja tindakan merobek dokumen itu pantas diberi sanksi yang setimpal, tapi semua sepakat bahwa pelakunya tidak pantas dihukum dengan dihancurkan tubuhnya. Oleh karena itu, tidaklah benar mendoakan keburukan seperti itu kepadanya. Bisa jadi musibah yang menimpa orang tersebut memang sudah ajalnya dan tidak ada kaitannya dengan doa orang yang merasa dizalimi tadi. Bisa jadi pula, ia didoakan dengan sesuatu yang tidak seharusnya ia terima. “Dan manusia tergesa-gesa mendoakan keburukan, sebagaimana ia mendoakan kebaikan.” (QS. Al-Isra: 11). Sikap terburu-buru dalam berdoa ini perlu kita waspadai. Ada sebuah kisah berharga yang saya temukan dalam biografi ‘Aun bin ‘Abdullah dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala’. Ini adalah pelajaran penting yang saya harap kita semua bisa mencatatnya, baik dalam ingatan maupun tulisan. Disebutkan bahwa ketika beliau sangat marah kepada seseorang, beliau akan mengucapkan: “Baarokallaahu fiik” (semoga Allah memberkahimu). Saat kemarahannya memuncak, beliau justru berkata: “Baarokallaahu fiik” (semoga Allah memberkahimu). Pernah saya ceritakan ini dalam sebuah majelis, lalu ada yang bertanya: “Jika saat marah saja beliau mendoakan keberkahan, lantas doa apa yang beliau ucapkan saat sedang senang?” Jika saat marah saja beliau berkata: “Baarokallaahu fiik”, lantas doa apa yang beliau ucapkan saat sedang senang?” Intinya, kita janganlah tergesa-gesa mendoakan keburukan. Kejadian tadi adalah salah satu contoh sikap terburu-buru melontarkan doa buruk. ===== يَقُولُ: ظَلَمَنِي أَحَدُ الْمُوَظَّفِينَ فِي الْبَلَدِيَّةِ وَمَزَّقَ أَوْرَاقِي وَقَدْ كُنْتُ أَعْطَيْتُهَا لَهُفَاعْتَرَانِي شُعُورٌ بِالظُّلْمِ فَدَعَوْتُ اللهَ عَلَيْهِ أَنْ يُمَزِّقَهُ كَمَا مَزَّقَ أَوْرَاقِي فَمَاتَ بَعْدَ سَنَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثٍ بِحَادِثٍ مُرُورِيٍّ مُزِّقَتْ فِيهِ جُثَّتُهُ بِحَيْثُ لَمْ يُسْتَطَعْ عَلَى أَنْ يُغَسَّلَ أَوْ يُكَفَّنَ بَلْ وَضَعُوهُ فِي كِيسٍ بِلَاسْتِيكِيٍّ وَخُصِّصَ لِذَلِكَ هَلْ عَلَيَّ إِثْمٌ أَوْ هَلْ عَلَيَّ شَيْءٌ فِيمَا دَعَوْتُ عَلَيْهِ؟ الْعُقُوبَةُ حَتَّى فِي دُعَاءِ الشَّخْصِ عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ لَا يُتَجَاوَزُ فِيهَا حَدَّ الْمَظْلَمَةِ وَهَذَا يُخْطِئُ فِيهِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يُظْلَمُ فِي قَضِيَّةٍ مَا مُعَيَّنَةٍ وَفِي مَصْلَحَةٍ مِنْ مَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ ٌفَيَدْعُو عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ بِأَنْ يَجْعَلَهُ اللهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ مُخَلَّدًا فِيهَا ظُلْم أَوْ يَدْعُو عَلَيْهِ بِأَشْيَاءَ هِيَ أَعْظَمُ مِنَ الذَّنْبِ اللهُ يَقُولُ: وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّابِرِينَ وَفِي سُورَةِ الشُّورَى قَالَ جَلَّ وَعَلَا: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ أَخَذَ الْعُلَمَاءُ مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ أَنَّ الْمَرَاتِبَ ثَلَاثَةٌ الْمَرَاتِبُ فِي هَذَا الْبَابِ ثَلَاثَةٌ الْأُولَى جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَهَذَا عَدْلٌ وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ الْمَرْتَبَةُ الثَّانِيَةُ: الْعَفْوُ وَهَذَا أَكْمَلُ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَالْمَرْتَبَةُ الثَّالِثَةُ: الظُّلْمُ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ فَفِي مِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ يَأْتِي سُؤَالٌ الْآنَ إِذَا مَزَّقَ الْمُوَظَّفُ وَرَقَةَ الْإِنْسَانِ هَلْ تَمْزِيقُ الْوَرَقَةِ يَسْتَحِقُّ بِهِ عُقُوبَةً شَرْعِيَّةً أَنْ يُؤْتَى بِهِ وَيُمَزَّقَ بَدَنُهُ؟ هَلْ يَسْتَحِقُّ؟ هُوَ لَا يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ لِتَمْزِيقِ الْوَرَقَةِ نَعَمْ هُنَاكَ عُقُوبَاتٌ أُخْرَى يَكُونُ مُسْتَحِقًّا لَهَا لَكِنْ اِتِّفَاقًا لَيْسَ مُسْتَحِقًّا أَنْ يُمَزَّقَ بَدَنُهُ إِذًا لَا يَصِحُّ أَنْ يُدْعَى عَلَيْهِ بِذَلِكَ وَقَدْ يَكُونُ هَذَا الْأَمْرُ مَنِيَّةَ ذَلِكَ الرَّجُلِ وَلَا عَلَاقَةَ لَهَا بِدَعْوَةِ هَذَا الدَّاعِي أَوْ يَكُونُ دَعَا عَلَيْهِ بِأَمْرٍ لَا يَسْتَحِقُّهُ لَا يَسْتَحِقُّ أَنْ يُدْعَى عَلَيْهِ فِي مِثْلِ ذَلِكَ بِمِثْلِ هَذَا الدُّعَاءِ وَيَدْعُو الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَأَيْنَ التَّسَرُّعُ فِي مِثْلِ هَذَا الـدُّعَاءِ مِمَّا وَقَفْتُ عَلَيْهِ فِي تَرْجَمَةِ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ فِي سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ وَهِيَ فَائِدَةٌ ثَمِينَةٌ أَدْعُو الْجَمِيعَ إِلَى تَقْيِيدِهَا إِمَّا فِي الذِّهْنِ أَوْ كِتَابَةً قَالُوا فِي… ذَكَرُوا فِي تَرْجَمَتِهِ: كَانَ إِذَا اشْتَدَّ غَضَبُهُ مِنْ شَخْصٍ قَالَ: بَارَكَ اللهُ فِيكَ كَانَ إِذَا اشْتَدَّ غَضَبُهُ مِنْ شَخْصٍ قَالَ: بَارَكَ اللهُ فِيكَ مَرَّةً رَوَيْتُهَا فِي أَحَدِ الْمَجَالِسِ قَالَ: هَذَا وَهُوَ مُرْتَاحٌ مَا هُوَ غَضْبَانُ بِمَاذَا يَدْعُو؟ إِذَا كَانَ فِي شِدَّةِ الْغَضَبِ: “بَارَكَ اللهُ فِيكَ”، فَكَيْفَ وَهُوَ مُرْتَاحٌ؟ فَالْحَاصِلُ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَتَسَرَّعَ وَهَذَا مِثَالٌ يَعْنِي مِنَ الِاسْتِعْجَالِ فِي فِي الدُّعَاءِ
Penanya bercerita: Seorang oknum pegawai pemerintah telah menzalimi saya. Ia merobek dokumen-dokumen saya yang baru saja saya serahkan padanya. Saat itu, saya merasa sakit hati telah dizalimi. Karena itu, saya berdoa agar Allah menghancurkan tubuhnya, sebagaimana ia merobek-robek dokumen saya. Dua atau tiga tahun kemudian, ia meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Tubuhnya hancur hingga jenazahnya tidak bisa lagi dimandikan atau dikafani dengan normal. Mereka terpaksa membungkusnya dalam kantong plastik khusus. Apakah saya berdosa atau menanggung beban atas doa yang pernah saya ucapkan itu? Mengenai balasan, bahkan saat seseorang mendoakan orang yang menzaliminya, tidaklah boleh melampaui batas kadar kezaliman yang ia terima. Di sinilah banyak orang melakukan kesalahan. Ada orang yang dizalimi pada perkara tertentu, pada perkara menyangkut urusan duniawi, lalu ia mendoakan orang tersebut agar Allah memasukkannya ke neraka, kekal selama-lamanya. Ini kezaliman! Atau ia mendoakannya dengan balasan yang lebih besar daripada kesalahan yang dilakukan orang itu. “Dan jika kalian membalas, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126). Dalam Surah Asy-Syura, Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40). Dari ayat ini, para ulama menyimpulkan adanya tiga tingkatan sikap pada perkara ini: Pertama, membalas keburukan dengan hal yang serupa. Ini adalah sikap yang adil, sebagaimana firman-Nya: “Balaslah dengan balasan yang setimpal.” (QS. An-Nahl: 126). Kedua, memaafkan. Ini adalah sikap yang paling sempurna, sebagaimana firman-Nya: “Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya di sisi Allah.” (QS. Asy-Syura: 40). Dan tingkatan ketiga adalah berbuat zalim (melampaui batas dalam membalas), karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Maka dalam kasus seperti ini, muncul sebuah pertanyaan: Jika ada seorang petugas merobek dokumen milik seseorang, apakah tindakan merobek kertas itu pantas dibalas secara syariat dengan hukuman fisik dengan dirobek-robek tubuh pelakunya? Apakah pantas dihukum begitu? Tentu saja ia tak pantas dihukum begitu, hanya gara-gara merobek kertas. Tentu saja tindakan merobek dokumen itu pantas diberi sanksi yang setimpal, tapi semua sepakat bahwa pelakunya tidak pantas dihukum dengan dihancurkan tubuhnya. Oleh karena itu, tidaklah benar mendoakan keburukan seperti itu kepadanya. Bisa jadi musibah yang menimpa orang tersebut memang sudah ajalnya dan tidak ada kaitannya dengan doa orang yang merasa dizalimi tadi. Bisa jadi pula, ia didoakan dengan sesuatu yang tidak seharusnya ia terima. “Dan manusia tergesa-gesa mendoakan keburukan, sebagaimana ia mendoakan kebaikan.” (QS. Al-Isra: 11). Sikap terburu-buru dalam berdoa ini perlu kita waspadai. Ada sebuah kisah berharga yang saya temukan dalam biografi ‘Aun bin ‘Abdullah dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala’. Ini adalah pelajaran penting yang saya harap kita semua bisa mencatatnya, baik dalam ingatan maupun tulisan. Disebutkan bahwa ketika beliau sangat marah kepada seseorang, beliau akan mengucapkan: “Baarokallaahu fiik” (semoga Allah memberkahimu). Saat kemarahannya memuncak, beliau justru berkata: “Baarokallaahu fiik” (semoga Allah memberkahimu). Pernah saya ceritakan ini dalam sebuah majelis, lalu ada yang bertanya: “Jika saat marah saja beliau mendoakan keberkahan, lantas doa apa yang beliau ucapkan saat sedang senang?” Jika saat marah saja beliau berkata: “Baarokallaahu fiik”, lantas doa apa yang beliau ucapkan saat sedang senang?” Intinya, kita janganlah tergesa-gesa mendoakan keburukan. Kejadian tadi adalah salah satu contoh sikap terburu-buru melontarkan doa buruk. ===== يَقُولُ: ظَلَمَنِي أَحَدُ الْمُوَظَّفِينَ فِي الْبَلَدِيَّةِ وَمَزَّقَ أَوْرَاقِي وَقَدْ كُنْتُ أَعْطَيْتُهَا لَهُفَاعْتَرَانِي شُعُورٌ بِالظُّلْمِ فَدَعَوْتُ اللهَ عَلَيْهِ أَنْ يُمَزِّقَهُ كَمَا مَزَّقَ أَوْرَاقِي فَمَاتَ بَعْدَ سَنَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثٍ بِحَادِثٍ مُرُورِيٍّ مُزِّقَتْ فِيهِ جُثَّتُهُ بِحَيْثُ لَمْ يُسْتَطَعْ عَلَى أَنْ يُغَسَّلَ أَوْ يُكَفَّنَ بَلْ وَضَعُوهُ فِي كِيسٍ بِلَاسْتِيكِيٍّ وَخُصِّصَ لِذَلِكَ هَلْ عَلَيَّ إِثْمٌ أَوْ هَلْ عَلَيَّ شَيْءٌ فِيمَا دَعَوْتُ عَلَيْهِ؟ الْعُقُوبَةُ حَتَّى فِي دُعَاءِ الشَّخْصِ عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ لَا يُتَجَاوَزُ فِيهَا حَدَّ الْمَظْلَمَةِ وَهَذَا يُخْطِئُ فِيهِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يُظْلَمُ فِي قَضِيَّةٍ مَا مُعَيَّنَةٍ وَفِي مَصْلَحَةٍ مِنْ مَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ ٌفَيَدْعُو عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ بِأَنْ يَجْعَلَهُ اللهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ مُخَلَّدًا فِيهَا ظُلْم أَوْ يَدْعُو عَلَيْهِ بِأَشْيَاءَ هِيَ أَعْظَمُ مِنَ الذَّنْبِ اللهُ يَقُولُ: وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّابِرِينَ وَفِي سُورَةِ الشُّورَى قَالَ جَلَّ وَعَلَا: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ أَخَذَ الْعُلَمَاءُ مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ أَنَّ الْمَرَاتِبَ ثَلَاثَةٌ الْمَرَاتِبُ فِي هَذَا الْبَابِ ثَلَاثَةٌ الْأُولَى جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَهَذَا عَدْلٌ وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ الْمَرْتَبَةُ الثَّانِيَةُ: الْعَفْوُ وَهَذَا أَكْمَلُ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَالْمَرْتَبَةُ الثَّالِثَةُ: الظُّلْمُ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ فَفِي مِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ يَأْتِي سُؤَالٌ الْآنَ إِذَا مَزَّقَ الْمُوَظَّفُ وَرَقَةَ الْإِنْسَانِ هَلْ تَمْزِيقُ الْوَرَقَةِ يَسْتَحِقُّ بِهِ عُقُوبَةً شَرْعِيَّةً أَنْ يُؤْتَى بِهِ وَيُمَزَّقَ بَدَنُهُ؟ هَلْ يَسْتَحِقُّ؟ هُوَ لَا يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ لِتَمْزِيقِ الْوَرَقَةِ نَعَمْ هُنَاكَ عُقُوبَاتٌ أُخْرَى يَكُونُ مُسْتَحِقًّا لَهَا لَكِنْ اِتِّفَاقًا لَيْسَ مُسْتَحِقًّا أَنْ يُمَزَّقَ بَدَنُهُ إِذًا لَا يَصِحُّ أَنْ يُدْعَى عَلَيْهِ بِذَلِكَ وَقَدْ يَكُونُ هَذَا الْأَمْرُ مَنِيَّةَ ذَلِكَ الرَّجُلِ وَلَا عَلَاقَةَ لَهَا بِدَعْوَةِ هَذَا الدَّاعِي أَوْ يَكُونُ دَعَا عَلَيْهِ بِأَمْرٍ لَا يَسْتَحِقُّهُ لَا يَسْتَحِقُّ أَنْ يُدْعَى عَلَيْهِ فِي مِثْلِ ذَلِكَ بِمِثْلِ هَذَا الدُّعَاءِ وَيَدْعُو الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَأَيْنَ التَّسَرُّعُ فِي مِثْلِ هَذَا الـدُّعَاءِ مِمَّا وَقَفْتُ عَلَيْهِ فِي تَرْجَمَةِ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ فِي سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ وَهِيَ فَائِدَةٌ ثَمِينَةٌ أَدْعُو الْجَمِيعَ إِلَى تَقْيِيدِهَا إِمَّا فِي الذِّهْنِ أَوْ كِتَابَةً قَالُوا فِي… ذَكَرُوا فِي تَرْجَمَتِهِ: كَانَ إِذَا اشْتَدَّ غَضَبُهُ مِنْ شَخْصٍ قَالَ: بَارَكَ اللهُ فِيكَ كَانَ إِذَا اشْتَدَّ غَضَبُهُ مِنْ شَخْصٍ قَالَ: بَارَكَ اللهُ فِيكَ مَرَّةً رَوَيْتُهَا فِي أَحَدِ الْمَجَالِسِ قَالَ: هَذَا وَهُوَ مُرْتَاحٌ مَا هُوَ غَضْبَانُ بِمَاذَا يَدْعُو؟ إِذَا كَانَ فِي شِدَّةِ الْغَضَبِ: “بَارَكَ اللهُ فِيكَ”، فَكَيْفَ وَهُوَ مُرْتَاحٌ؟ فَالْحَاصِلُ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَتَسَرَّعَ وَهَذَا مِثَالٌ يَعْنِي مِنَ الِاسْتِعْجَالِ فِي فِي الدُّعَاءِ


Penanya bercerita: Seorang oknum pegawai pemerintah telah menzalimi saya. Ia merobek dokumen-dokumen saya yang baru saja saya serahkan padanya. Saat itu, saya merasa sakit hati telah dizalimi. Karena itu, saya berdoa agar Allah menghancurkan tubuhnya, sebagaimana ia merobek-robek dokumen saya. Dua atau tiga tahun kemudian, ia meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Tubuhnya hancur hingga jenazahnya tidak bisa lagi dimandikan atau dikafani dengan normal. Mereka terpaksa membungkusnya dalam kantong plastik khusus. Apakah saya berdosa atau menanggung beban atas doa yang pernah saya ucapkan itu? Mengenai balasan, bahkan saat seseorang mendoakan orang yang menzaliminya, tidaklah boleh melampaui batas kadar kezaliman yang ia terima. Di sinilah banyak orang melakukan kesalahan. Ada orang yang dizalimi pada perkara tertentu, pada perkara menyangkut urusan duniawi, lalu ia mendoakan orang tersebut agar Allah memasukkannya ke neraka, kekal selama-lamanya. Ini kezaliman! Atau ia mendoakannya dengan balasan yang lebih besar daripada kesalahan yang dilakukan orang itu. “Dan jika kalian membalas, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126). Dalam Surah Asy-Syura, Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40). Dari ayat ini, para ulama menyimpulkan adanya tiga tingkatan sikap pada perkara ini: Pertama, membalas keburukan dengan hal yang serupa. Ini adalah sikap yang adil, sebagaimana firman-Nya: “Balaslah dengan balasan yang setimpal.” (QS. An-Nahl: 126). Kedua, memaafkan. Ini adalah sikap yang paling sempurna, sebagaimana firman-Nya: “Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya di sisi Allah.” (QS. Asy-Syura: 40). Dan tingkatan ketiga adalah berbuat zalim (melampaui batas dalam membalas), karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Maka dalam kasus seperti ini, muncul sebuah pertanyaan: Jika ada seorang petugas merobek dokumen milik seseorang, apakah tindakan merobek kertas itu pantas dibalas secara syariat dengan hukuman fisik dengan dirobek-robek tubuh pelakunya? Apakah pantas dihukum begitu? Tentu saja ia tak pantas dihukum begitu, hanya gara-gara merobek kertas. Tentu saja tindakan merobek dokumen itu pantas diberi sanksi yang setimpal, tapi semua sepakat bahwa pelakunya tidak pantas dihukum dengan dihancurkan tubuhnya. Oleh karena itu, tidaklah benar mendoakan keburukan seperti itu kepadanya. Bisa jadi musibah yang menimpa orang tersebut memang sudah ajalnya dan tidak ada kaitannya dengan doa orang yang merasa dizalimi tadi. Bisa jadi pula, ia didoakan dengan sesuatu yang tidak seharusnya ia terima. “Dan manusia tergesa-gesa mendoakan keburukan, sebagaimana ia mendoakan kebaikan.” (QS. Al-Isra: 11). Sikap terburu-buru dalam berdoa ini perlu kita waspadai. Ada sebuah kisah berharga yang saya temukan dalam biografi ‘Aun bin ‘Abdullah dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala’. Ini adalah pelajaran penting yang saya harap kita semua bisa mencatatnya, baik dalam ingatan maupun tulisan. Disebutkan bahwa ketika beliau sangat marah kepada seseorang, beliau akan mengucapkan: “Baarokallaahu fiik” (semoga Allah memberkahimu). Saat kemarahannya memuncak, beliau justru berkata: “Baarokallaahu fiik” (semoga Allah memberkahimu). Pernah saya ceritakan ini dalam sebuah majelis, lalu ada yang bertanya: “Jika saat marah saja beliau mendoakan keberkahan, lantas doa apa yang beliau ucapkan saat sedang senang?” Jika saat marah saja beliau berkata: “Baarokallaahu fiik”, lantas doa apa yang beliau ucapkan saat sedang senang?” Intinya, kita janganlah tergesa-gesa mendoakan keburukan. Kejadian tadi adalah salah satu contoh sikap terburu-buru melontarkan doa buruk. ===== يَقُولُ: ظَلَمَنِي أَحَدُ الْمُوَظَّفِينَ فِي الْبَلَدِيَّةِ وَمَزَّقَ أَوْرَاقِي وَقَدْ كُنْتُ أَعْطَيْتُهَا لَهُفَاعْتَرَانِي شُعُورٌ بِالظُّلْمِ فَدَعَوْتُ اللهَ عَلَيْهِ أَنْ يُمَزِّقَهُ كَمَا مَزَّقَ أَوْرَاقِي فَمَاتَ بَعْدَ سَنَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثٍ بِحَادِثٍ مُرُورِيٍّ مُزِّقَتْ فِيهِ جُثَّتُهُ بِحَيْثُ لَمْ يُسْتَطَعْ عَلَى أَنْ يُغَسَّلَ أَوْ يُكَفَّنَ بَلْ وَضَعُوهُ فِي كِيسٍ بِلَاسْتِيكِيٍّ وَخُصِّصَ لِذَلِكَ هَلْ عَلَيَّ إِثْمٌ أَوْ هَلْ عَلَيَّ شَيْءٌ فِيمَا دَعَوْتُ عَلَيْهِ؟ الْعُقُوبَةُ حَتَّى فِي دُعَاءِ الشَّخْصِ عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ لَا يُتَجَاوَزُ فِيهَا حَدَّ الْمَظْلَمَةِ وَهَذَا يُخْطِئُ فِيهِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يُظْلَمُ فِي قَضِيَّةٍ مَا مُعَيَّنَةٍ وَفِي مَصْلَحَةٍ مِنْ مَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ ٌفَيَدْعُو عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ بِأَنْ يَجْعَلَهُ اللهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ مُخَلَّدًا فِيهَا ظُلْم أَوْ يَدْعُو عَلَيْهِ بِأَشْيَاءَ هِيَ أَعْظَمُ مِنَ الذَّنْبِ اللهُ يَقُولُ: وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّابِرِينَ وَفِي سُورَةِ الشُّورَى قَالَ جَلَّ وَعَلَا: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ أَخَذَ الْعُلَمَاءُ مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ أَنَّ الْمَرَاتِبَ ثَلَاثَةٌ الْمَرَاتِبُ فِي هَذَا الْبَابِ ثَلَاثَةٌ الْأُولَى جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَهَذَا عَدْلٌ وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ الْمَرْتَبَةُ الثَّانِيَةُ: الْعَفْوُ وَهَذَا أَكْمَلُ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَالْمَرْتَبَةُ الثَّالِثَةُ: الظُّلْمُ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ فَفِي مِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ يَأْتِي سُؤَالٌ الْآنَ إِذَا مَزَّقَ الْمُوَظَّفُ وَرَقَةَ الْإِنْسَانِ هَلْ تَمْزِيقُ الْوَرَقَةِ يَسْتَحِقُّ بِهِ عُقُوبَةً شَرْعِيَّةً أَنْ يُؤْتَى بِهِ وَيُمَزَّقَ بَدَنُهُ؟ هَلْ يَسْتَحِقُّ؟ هُوَ لَا يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ لِتَمْزِيقِ الْوَرَقَةِ نَعَمْ هُنَاكَ عُقُوبَاتٌ أُخْرَى يَكُونُ مُسْتَحِقًّا لَهَا لَكِنْ اِتِّفَاقًا لَيْسَ مُسْتَحِقًّا أَنْ يُمَزَّقَ بَدَنُهُ إِذًا لَا يَصِحُّ أَنْ يُدْعَى عَلَيْهِ بِذَلِكَ وَقَدْ يَكُونُ هَذَا الْأَمْرُ مَنِيَّةَ ذَلِكَ الرَّجُلِ وَلَا عَلَاقَةَ لَهَا بِدَعْوَةِ هَذَا الدَّاعِي أَوْ يَكُونُ دَعَا عَلَيْهِ بِأَمْرٍ لَا يَسْتَحِقُّهُ لَا يَسْتَحِقُّ أَنْ يُدْعَى عَلَيْهِ فِي مِثْلِ ذَلِكَ بِمِثْلِ هَذَا الدُّعَاءِ وَيَدْعُو الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَأَيْنَ التَّسَرُّعُ فِي مِثْلِ هَذَا الـدُّعَاءِ مِمَّا وَقَفْتُ عَلَيْهِ فِي تَرْجَمَةِ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ فِي سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ وَهِيَ فَائِدَةٌ ثَمِينَةٌ أَدْعُو الْجَمِيعَ إِلَى تَقْيِيدِهَا إِمَّا فِي الذِّهْنِ أَوْ كِتَابَةً قَالُوا فِي… ذَكَرُوا فِي تَرْجَمَتِهِ: كَانَ إِذَا اشْتَدَّ غَضَبُهُ مِنْ شَخْصٍ قَالَ: بَارَكَ اللهُ فِيكَ كَانَ إِذَا اشْتَدَّ غَضَبُهُ مِنْ شَخْصٍ قَالَ: بَارَكَ اللهُ فِيكَ مَرَّةً رَوَيْتُهَا فِي أَحَدِ الْمَجَالِسِ قَالَ: هَذَا وَهُوَ مُرْتَاحٌ مَا هُوَ غَضْبَانُ بِمَاذَا يَدْعُو؟ إِذَا كَانَ فِي شِدَّةِ الْغَضَبِ: “بَارَكَ اللهُ فِيكَ”، فَكَيْفَ وَهُوَ مُرْتَاحٌ؟ فَالْحَاصِلُ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَتَسَرَّعَ وَهَذَا مِثَالٌ يَعْنِي مِنَ الِاسْتِعْجَالِ فِي فِي الدُّعَاءِ

Menggunakan Al-Quran dan As-Sunah dalam Dialog Eksistensi Tuhan (Bag. 3)

Daftar Isi ToggleKelima: Tidak menyimpangkan teksnya maupun maknanyaKeenam: Tidak melakukan cocokologi tanpa dasar ulumul quran dan ulumul hadits yang dikenal oleh para ulama otoritatifKetujuh: Wajib ada ulama yang lebih dahulu mengatakan apa yang anda katakanEsensi mempelajari cara menggunakan dua wahyu sebagai argumen keberadaan TuhanAl-Quran dan As-Sunah mengandung petunjuk yang lengkap untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Semua pertanyaan dan kebingungan telah terjawab oleh keduanya, atau ditunjukkan jalan kepada jawaban oleh keduanya. Inilah esensi Al-Quran sebagai hudan lil muttaqin (هدى للمتقين) atau petunjuk bagi orang yang bertakwa. Semua hal yang samar menjadi terang di sisi orang yang bertakwa dan menggunakan wahyu Allah ﷻ sebagai pegangannya. Tentu Al-Quran dan As-Sunah pun telah memiliki keterangan dalam permasalahan bukti keberadaan Tuhan sebagai fundamen keimanan. Namun, ia membutuhkan kepada kaidah dalam penggunaannya, sehingga artikel ini hadir untuk membantu kita semua dalam memanfaatkan Al-Quran dan As-Sunah sebagai petunjuk jalan.Kelima: Tidak menyimpangkan teksnya maupun maknanyaAllah ﷻ menurunkan wahyu-Nya, khususnya Al-Quran, dengan penjagaan yang spesifik dan ketat sekali. Terbukti kita mendapatkan riwayat yang lengkap dari Al-Quran dengan sangat jelas, termasuk keragaman qiraah atau pembacaannya, semuanya diketahui. Apalagi jika kita bandingkan dengan kitab-kitab agama lainnya, maka dari segi validitasnya, Al-Quran unggul jauh. Oleh sebab itu, tidak layak kemurnian Al-Quran dinodai dengan penyelewengan, baik dari segi teks maupun makna.Praktik ini terjadi sejak zaman para ulama terdahulu. Ibnu Khuzaimah rahimahullah menerangkan bahwa sebagian ahli bid’ah di zamannya mengubah firman Allah ﷻ,اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ“Allâh (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (QS. An-Nûr [24]: 35)Mereka mengubahnya menjadi,اللَّهُ نَوَّرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ“Allâh menerangi langit dan bumi.”Allah musta’an! Mungkin kita sebagai orang non-Arab mengira bahwa secara huruf tidak ada yang bertambah. Namun, keberadaan tasydid itu sama dengan menambah satu huruf. Tidak hanya sekadar penambahan satu huruf, tetapi juga perubahan makna yang diakibatkannya. Ketahuilah, ini adalah perbuatan Yahudi!وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Sesungguhnya di antara mereka (ahli kitab) ada sekelompok orang yang menggunakan lisan-lisan mereka untuk mengubah-ubah Al-Kitab (Taurat dan Injil) supaya kamu menyangka itu sebagian dari Kitab, padahal itu bukan dari Kitab. Dan mereka mengatakan, ‘Itu dari Allah,’ padahal itu bukan dari Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 78)مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَٰكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata, “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula), “Dengarlah”; sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan), “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan, “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat. Akan tetapi, Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.” (QS. An-Nisa’ [4]: 46)Al-Qadhi Iyadh menerangkan konsekuensi dari menambah atau mengurangi satu huruf Al-Quran, beliau berkata, “Barangsiapa yang dengan sengaja mengurangi satu huruf atau mengganti satu huruf dengan huruf lain, atau dengan sengaja menambahkan huruf lain yang tidak termasuk dalam mushaf yang disepakati dan ada kesepakatan bahwa itu bukan bagian dari Al-Qur’an, maka ia telah kafir.” (Asy-Syifa, 2: 304-305)Tentu yang lebih banyak lagi adalah mereka yang menyelewengkan makna dari Al-Quran. Sebagian besar dari mereka melakukan ini dibarengi dengan cocokologi untuk menerangkan fenomena yang ada. Padahal tidak ada tuntutan buat seseorang untuk menjelaskan segala sesuatu dengan Al-Quran maupun sunah secara spesifik. Dalam perkara yang bersifat duniawi, telah jelas nash-nya,أَنْتُمْ أَعْلَمُ بأَمْرِ دُنْيَاكُمْ“Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.” (HR. Ibnu Majah no. 2741, dinilai sahih oleh Al-Albani)Fenomena alam yang terjadi tidak semuanya termaktub dalam Al-Quran dan sunah. Ada saja fenomena alam itu yang terjadi sebagai bentuk sunnatullah. Memang demikianlah Allah ﷻ menciptakan keteraturan sebagai ayat atau tanda-tanda bagi orang yang berakal.اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الۡاَلۡبَابِ ۚۖ‏“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)Namun, hal itu semua tidak termaktub secara detail di dalam kedua wahyu yang sampai kepada kita. Beberapa pendakwah Islam menyebutkan kaidah,“Al-Quran bukanlah kitab science (pengetahuan), melainkan kitab signs (tanda-tanda).”Pembahasan cocokologi akan lebih mendalam dibahas pada poin selanjutnya.Keenam: Tidak melakukan cocokologi tanpa dasar ulumul quran dan ulumul hadits yang dikenal oleh para ulama otoritatifMasalah cocokologi adalah bagian dari menyelewengkan makna. Termasuk pula ia ke dalam bab berbicara tentang agama Allah ﷻ tanpa ilmu.Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. Al-Isra’: 36)– اتَّقوا الحديثَ عنِّي إلَّا ما علِمتُمْ فمَن كذبَ عليَّ مُتعمِّدًا فليتَبوَّأْ مَقعدَهُ مِن النَّارِ ، ومَن قال في القرآنِ برأيِّهِ ، فليتَبوَّأْ مَقعدَهُ مِن النَّارِ“Berhati-hatilah dalam membicarakan tentangku kecuali apa yang kalian ketahui. Barangsiapa yang sengaja berdusta tentangku, maka tempatnya di neraka. Dan barangsiapa yang berbicara tentang Al-Qur’an menurut pendapatnya sendiri, maka tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2951, dinilai hasan)Ketujuh: Wajib ada ulama yang lebih dahulu mengatakan apa yang anda katakanIbnu Wahb rahimahullah berkata, “Siapapun penghapal hadis yang tidak memiliki imam dalam masalah fikih, maka ia tersesat.”Perkataan ini dibawakan oleh Ibnu Wahb seorang muhaddits, murid dari Imam Malik dan Imam Laits rahimahumullah. Ia seorang alim yang menguasai hadis, tetapi potensi tersesat itu tetap saja ada jika tidak ada imam atau guru yang paham akan agama keseluruhan dalam membimbingnya. Maka, apalagi kita sebagai orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama?Dalam tafsir Al-Qurthubi dijelaskan berkaitan dengan berbicara perkara tanpa ada imam sebelumnya, salah satu dampaknya adalah,من قال في مشكل القرآن بما لا يعرف  من مذهب الأوائل من الصحابة والتابعين فهو متعرض لسخط الله“Barang siapa yang berpendapat pada permasalahan Al-Qur’an dengan (pendapat) yang tidak diketahui oleh ulama generasi awal dari para sahabat dan tabi’in, maka ia sedang mengarah kepada kemurkaan Allah.” (Tafsir Al-Qurthubi, 1: 46)Jangan menyangka diri otoritatif untuk membicarakan perkara agama sebelum benar-benar mempelajarinya dan mendapatkan pengakuan oleh orang yang selevel atau lebih tinggi ilmunya dari kita. Perhatikanlah ungkapan berikut agar kita semua sadar tentangg perkara ini. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,مَنْ سَامَ بِنَفْسِهِ فَوْقَ مَا يُسَاِوي رَدَّهُ اللهُ تَعَالَى إِِلَى قِيْمَتِهِ“Barangsiapa yang mengklaim dirinya telah mencapai derajat yang belum ia capai, maka Allah akan membuka kedoknya dan mengembalikannya ke derajat dia yang sesungguhnya.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 1: 13)Esensi mempelajari cara menggunakan dua wahyu sebagai argumen keberadaan TuhanPembaca budiman! Keadaan di zaman ini menuntut kita untuk lebih mengilmui agama kita. Khususnya dalam perkara mendasar yang menjadi pondasi beragama. Salah satu pembahasaan krusial tersebut adalah argumentasi keberadaan Tuhan. Sejatinya manusia telah lahir dengan fitrah untuk meyakini adanya sosok maha hebat yang meliputi kemampuan mencipta, memiliki, dan mengatur seluruh alam semesta. Inilah yang menjadi pondasi iman tauhid tentang rububiyah Allah. Maka, pembahasan ini bukanlah hal yang dapat diremehkan atau dianggap terlalu mendalam. Melainkan ini adalah bentuk pembekalan bagi diri kita untuk menghadapi terjangan syubhat pemikiran di zaman ini.Pedoman yang kami susun bertujuan sebagai bahan pembelajaran bagi kami pribadi maupun Anda semuanya dalam menyusun argumentasi tentang adanya Tuhan. Sejatinya ini adalah kaidah yang umum dalam berdalil menggunakan Al-Quran dan As-Sunnah. Namun, kami pilih beberapa yang sekiranya sangat relevan dan juga spesifik dengan keadaan dialog eksistensi Tuhan.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Menggunakan Al-Quran dan As-Sunah dalam Dialog Eksistensi Tuhan (Bag. 3)

Daftar Isi ToggleKelima: Tidak menyimpangkan teksnya maupun maknanyaKeenam: Tidak melakukan cocokologi tanpa dasar ulumul quran dan ulumul hadits yang dikenal oleh para ulama otoritatifKetujuh: Wajib ada ulama yang lebih dahulu mengatakan apa yang anda katakanEsensi mempelajari cara menggunakan dua wahyu sebagai argumen keberadaan TuhanAl-Quran dan As-Sunah mengandung petunjuk yang lengkap untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Semua pertanyaan dan kebingungan telah terjawab oleh keduanya, atau ditunjukkan jalan kepada jawaban oleh keduanya. Inilah esensi Al-Quran sebagai hudan lil muttaqin (هدى للمتقين) atau petunjuk bagi orang yang bertakwa. Semua hal yang samar menjadi terang di sisi orang yang bertakwa dan menggunakan wahyu Allah ﷻ sebagai pegangannya. Tentu Al-Quran dan As-Sunah pun telah memiliki keterangan dalam permasalahan bukti keberadaan Tuhan sebagai fundamen keimanan. Namun, ia membutuhkan kepada kaidah dalam penggunaannya, sehingga artikel ini hadir untuk membantu kita semua dalam memanfaatkan Al-Quran dan As-Sunah sebagai petunjuk jalan.Kelima: Tidak menyimpangkan teksnya maupun maknanyaAllah ﷻ menurunkan wahyu-Nya, khususnya Al-Quran, dengan penjagaan yang spesifik dan ketat sekali. Terbukti kita mendapatkan riwayat yang lengkap dari Al-Quran dengan sangat jelas, termasuk keragaman qiraah atau pembacaannya, semuanya diketahui. Apalagi jika kita bandingkan dengan kitab-kitab agama lainnya, maka dari segi validitasnya, Al-Quran unggul jauh. Oleh sebab itu, tidak layak kemurnian Al-Quran dinodai dengan penyelewengan, baik dari segi teks maupun makna.Praktik ini terjadi sejak zaman para ulama terdahulu. Ibnu Khuzaimah rahimahullah menerangkan bahwa sebagian ahli bid’ah di zamannya mengubah firman Allah ﷻ,اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ“Allâh (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (QS. An-Nûr [24]: 35)Mereka mengubahnya menjadi,اللَّهُ نَوَّرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ“Allâh menerangi langit dan bumi.”Allah musta’an! Mungkin kita sebagai orang non-Arab mengira bahwa secara huruf tidak ada yang bertambah. Namun, keberadaan tasydid itu sama dengan menambah satu huruf. Tidak hanya sekadar penambahan satu huruf, tetapi juga perubahan makna yang diakibatkannya. Ketahuilah, ini adalah perbuatan Yahudi!وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Sesungguhnya di antara mereka (ahli kitab) ada sekelompok orang yang menggunakan lisan-lisan mereka untuk mengubah-ubah Al-Kitab (Taurat dan Injil) supaya kamu menyangka itu sebagian dari Kitab, padahal itu bukan dari Kitab. Dan mereka mengatakan, ‘Itu dari Allah,’ padahal itu bukan dari Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 78)مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَٰكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata, “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula), “Dengarlah”; sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan), “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan, “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat. Akan tetapi, Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.” (QS. An-Nisa’ [4]: 46)Al-Qadhi Iyadh menerangkan konsekuensi dari menambah atau mengurangi satu huruf Al-Quran, beliau berkata, “Barangsiapa yang dengan sengaja mengurangi satu huruf atau mengganti satu huruf dengan huruf lain, atau dengan sengaja menambahkan huruf lain yang tidak termasuk dalam mushaf yang disepakati dan ada kesepakatan bahwa itu bukan bagian dari Al-Qur’an, maka ia telah kafir.” (Asy-Syifa, 2: 304-305)Tentu yang lebih banyak lagi adalah mereka yang menyelewengkan makna dari Al-Quran. Sebagian besar dari mereka melakukan ini dibarengi dengan cocokologi untuk menerangkan fenomena yang ada. Padahal tidak ada tuntutan buat seseorang untuk menjelaskan segala sesuatu dengan Al-Quran maupun sunah secara spesifik. Dalam perkara yang bersifat duniawi, telah jelas nash-nya,أَنْتُمْ أَعْلَمُ بأَمْرِ دُنْيَاكُمْ“Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.” (HR. Ibnu Majah no. 2741, dinilai sahih oleh Al-Albani)Fenomena alam yang terjadi tidak semuanya termaktub dalam Al-Quran dan sunah. Ada saja fenomena alam itu yang terjadi sebagai bentuk sunnatullah. Memang demikianlah Allah ﷻ menciptakan keteraturan sebagai ayat atau tanda-tanda bagi orang yang berakal.اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الۡاَلۡبَابِ ۚۖ‏“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)Namun, hal itu semua tidak termaktub secara detail di dalam kedua wahyu yang sampai kepada kita. Beberapa pendakwah Islam menyebutkan kaidah,“Al-Quran bukanlah kitab science (pengetahuan), melainkan kitab signs (tanda-tanda).”Pembahasan cocokologi akan lebih mendalam dibahas pada poin selanjutnya.Keenam: Tidak melakukan cocokologi tanpa dasar ulumul quran dan ulumul hadits yang dikenal oleh para ulama otoritatifMasalah cocokologi adalah bagian dari menyelewengkan makna. Termasuk pula ia ke dalam bab berbicara tentang agama Allah ﷻ tanpa ilmu.Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. Al-Isra’: 36)– اتَّقوا الحديثَ عنِّي إلَّا ما علِمتُمْ فمَن كذبَ عليَّ مُتعمِّدًا فليتَبوَّأْ مَقعدَهُ مِن النَّارِ ، ومَن قال في القرآنِ برأيِّهِ ، فليتَبوَّأْ مَقعدَهُ مِن النَّارِ“Berhati-hatilah dalam membicarakan tentangku kecuali apa yang kalian ketahui. Barangsiapa yang sengaja berdusta tentangku, maka tempatnya di neraka. Dan barangsiapa yang berbicara tentang Al-Qur’an menurut pendapatnya sendiri, maka tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2951, dinilai hasan)Ketujuh: Wajib ada ulama yang lebih dahulu mengatakan apa yang anda katakanIbnu Wahb rahimahullah berkata, “Siapapun penghapal hadis yang tidak memiliki imam dalam masalah fikih, maka ia tersesat.”Perkataan ini dibawakan oleh Ibnu Wahb seorang muhaddits, murid dari Imam Malik dan Imam Laits rahimahumullah. Ia seorang alim yang menguasai hadis, tetapi potensi tersesat itu tetap saja ada jika tidak ada imam atau guru yang paham akan agama keseluruhan dalam membimbingnya. Maka, apalagi kita sebagai orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama?Dalam tafsir Al-Qurthubi dijelaskan berkaitan dengan berbicara perkara tanpa ada imam sebelumnya, salah satu dampaknya adalah,من قال في مشكل القرآن بما لا يعرف  من مذهب الأوائل من الصحابة والتابعين فهو متعرض لسخط الله“Barang siapa yang berpendapat pada permasalahan Al-Qur’an dengan (pendapat) yang tidak diketahui oleh ulama generasi awal dari para sahabat dan tabi’in, maka ia sedang mengarah kepada kemurkaan Allah.” (Tafsir Al-Qurthubi, 1: 46)Jangan menyangka diri otoritatif untuk membicarakan perkara agama sebelum benar-benar mempelajarinya dan mendapatkan pengakuan oleh orang yang selevel atau lebih tinggi ilmunya dari kita. Perhatikanlah ungkapan berikut agar kita semua sadar tentangg perkara ini. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,مَنْ سَامَ بِنَفْسِهِ فَوْقَ مَا يُسَاِوي رَدَّهُ اللهُ تَعَالَى إِِلَى قِيْمَتِهِ“Barangsiapa yang mengklaim dirinya telah mencapai derajat yang belum ia capai, maka Allah akan membuka kedoknya dan mengembalikannya ke derajat dia yang sesungguhnya.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 1: 13)Esensi mempelajari cara menggunakan dua wahyu sebagai argumen keberadaan TuhanPembaca budiman! Keadaan di zaman ini menuntut kita untuk lebih mengilmui agama kita. Khususnya dalam perkara mendasar yang menjadi pondasi beragama. Salah satu pembahasaan krusial tersebut adalah argumentasi keberadaan Tuhan. Sejatinya manusia telah lahir dengan fitrah untuk meyakini adanya sosok maha hebat yang meliputi kemampuan mencipta, memiliki, dan mengatur seluruh alam semesta. Inilah yang menjadi pondasi iman tauhid tentang rububiyah Allah. Maka, pembahasan ini bukanlah hal yang dapat diremehkan atau dianggap terlalu mendalam. Melainkan ini adalah bentuk pembekalan bagi diri kita untuk menghadapi terjangan syubhat pemikiran di zaman ini.Pedoman yang kami susun bertujuan sebagai bahan pembelajaran bagi kami pribadi maupun Anda semuanya dalam menyusun argumentasi tentang adanya Tuhan. Sejatinya ini adalah kaidah yang umum dalam berdalil menggunakan Al-Quran dan As-Sunnah. Namun, kami pilih beberapa yang sekiranya sangat relevan dan juga spesifik dengan keadaan dialog eksistensi Tuhan.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKelima: Tidak menyimpangkan teksnya maupun maknanyaKeenam: Tidak melakukan cocokologi tanpa dasar ulumul quran dan ulumul hadits yang dikenal oleh para ulama otoritatifKetujuh: Wajib ada ulama yang lebih dahulu mengatakan apa yang anda katakanEsensi mempelajari cara menggunakan dua wahyu sebagai argumen keberadaan TuhanAl-Quran dan As-Sunah mengandung petunjuk yang lengkap untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Semua pertanyaan dan kebingungan telah terjawab oleh keduanya, atau ditunjukkan jalan kepada jawaban oleh keduanya. Inilah esensi Al-Quran sebagai hudan lil muttaqin (هدى للمتقين) atau petunjuk bagi orang yang bertakwa. Semua hal yang samar menjadi terang di sisi orang yang bertakwa dan menggunakan wahyu Allah ﷻ sebagai pegangannya. Tentu Al-Quran dan As-Sunah pun telah memiliki keterangan dalam permasalahan bukti keberadaan Tuhan sebagai fundamen keimanan. Namun, ia membutuhkan kepada kaidah dalam penggunaannya, sehingga artikel ini hadir untuk membantu kita semua dalam memanfaatkan Al-Quran dan As-Sunah sebagai petunjuk jalan.Kelima: Tidak menyimpangkan teksnya maupun maknanyaAllah ﷻ menurunkan wahyu-Nya, khususnya Al-Quran, dengan penjagaan yang spesifik dan ketat sekali. Terbukti kita mendapatkan riwayat yang lengkap dari Al-Quran dengan sangat jelas, termasuk keragaman qiraah atau pembacaannya, semuanya diketahui. Apalagi jika kita bandingkan dengan kitab-kitab agama lainnya, maka dari segi validitasnya, Al-Quran unggul jauh. Oleh sebab itu, tidak layak kemurnian Al-Quran dinodai dengan penyelewengan, baik dari segi teks maupun makna.Praktik ini terjadi sejak zaman para ulama terdahulu. Ibnu Khuzaimah rahimahullah menerangkan bahwa sebagian ahli bid’ah di zamannya mengubah firman Allah ﷻ,اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ“Allâh (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (QS. An-Nûr [24]: 35)Mereka mengubahnya menjadi,اللَّهُ نَوَّرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ“Allâh menerangi langit dan bumi.”Allah musta’an! Mungkin kita sebagai orang non-Arab mengira bahwa secara huruf tidak ada yang bertambah. Namun, keberadaan tasydid itu sama dengan menambah satu huruf. Tidak hanya sekadar penambahan satu huruf, tetapi juga perubahan makna yang diakibatkannya. Ketahuilah, ini adalah perbuatan Yahudi!وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Sesungguhnya di antara mereka (ahli kitab) ada sekelompok orang yang menggunakan lisan-lisan mereka untuk mengubah-ubah Al-Kitab (Taurat dan Injil) supaya kamu menyangka itu sebagian dari Kitab, padahal itu bukan dari Kitab. Dan mereka mengatakan, ‘Itu dari Allah,’ padahal itu bukan dari Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 78)مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَٰكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata, “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula), “Dengarlah”; sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan), “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan, “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat. Akan tetapi, Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.” (QS. An-Nisa’ [4]: 46)Al-Qadhi Iyadh menerangkan konsekuensi dari menambah atau mengurangi satu huruf Al-Quran, beliau berkata, “Barangsiapa yang dengan sengaja mengurangi satu huruf atau mengganti satu huruf dengan huruf lain, atau dengan sengaja menambahkan huruf lain yang tidak termasuk dalam mushaf yang disepakati dan ada kesepakatan bahwa itu bukan bagian dari Al-Qur’an, maka ia telah kafir.” (Asy-Syifa, 2: 304-305)Tentu yang lebih banyak lagi adalah mereka yang menyelewengkan makna dari Al-Quran. Sebagian besar dari mereka melakukan ini dibarengi dengan cocokologi untuk menerangkan fenomena yang ada. Padahal tidak ada tuntutan buat seseorang untuk menjelaskan segala sesuatu dengan Al-Quran maupun sunah secara spesifik. Dalam perkara yang bersifat duniawi, telah jelas nash-nya,أَنْتُمْ أَعْلَمُ بأَمْرِ دُنْيَاكُمْ“Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.” (HR. Ibnu Majah no. 2741, dinilai sahih oleh Al-Albani)Fenomena alam yang terjadi tidak semuanya termaktub dalam Al-Quran dan sunah. Ada saja fenomena alam itu yang terjadi sebagai bentuk sunnatullah. Memang demikianlah Allah ﷻ menciptakan keteraturan sebagai ayat atau tanda-tanda bagi orang yang berakal.اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الۡاَلۡبَابِ ۚۖ‏“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)Namun, hal itu semua tidak termaktub secara detail di dalam kedua wahyu yang sampai kepada kita. Beberapa pendakwah Islam menyebutkan kaidah,“Al-Quran bukanlah kitab science (pengetahuan), melainkan kitab signs (tanda-tanda).”Pembahasan cocokologi akan lebih mendalam dibahas pada poin selanjutnya.Keenam: Tidak melakukan cocokologi tanpa dasar ulumul quran dan ulumul hadits yang dikenal oleh para ulama otoritatifMasalah cocokologi adalah bagian dari menyelewengkan makna. Termasuk pula ia ke dalam bab berbicara tentang agama Allah ﷻ tanpa ilmu.Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. Al-Isra’: 36)– اتَّقوا الحديثَ عنِّي إلَّا ما علِمتُمْ فمَن كذبَ عليَّ مُتعمِّدًا فليتَبوَّأْ مَقعدَهُ مِن النَّارِ ، ومَن قال في القرآنِ برأيِّهِ ، فليتَبوَّأْ مَقعدَهُ مِن النَّارِ“Berhati-hatilah dalam membicarakan tentangku kecuali apa yang kalian ketahui. Barangsiapa yang sengaja berdusta tentangku, maka tempatnya di neraka. Dan barangsiapa yang berbicara tentang Al-Qur’an menurut pendapatnya sendiri, maka tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2951, dinilai hasan)Ketujuh: Wajib ada ulama yang lebih dahulu mengatakan apa yang anda katakanIbnu Wahb rahimahullah berkata, “Siapapun penghapal hadis yang tidak memiliki imam dalam masalah fikih, maka ia tersesat.”Perkataan ini dibawakan oleh Ibnu Wahb seorang muhaddits, murid dari Imam Malik dan Imam Laits rahimahumullah. Ia seorang alim yang menguasai hadis, tetapi potensi tersesat itu tetap saja ada jika tidak ada imam atau guru yang paham akan agama keseluruhan dalam membimbingnya. Maka, apalagi kita sebagai orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama?Dalam tafsir Al-Qurthubi dijelaskan berkaitan dengan berbicara perkara tanpa ada imam sebelumnya, salah satu dampaknya adalah,من قال في مشكل القرآن بما لا يعرف  من مذهب الأوائل من الصحابة والتابعين فهو متعرض لسخط الله“Barang siapa yang berpendapat pada permasalahan Al-Qur’an dengan (pendapat) yang tidak diketahui oleh ulama generasi awal dari para sahabat dan tabi’in, maka ia sedang mengarah kepada kemurkaan Allah.” (Tafsir Al-Qurthubi, 1: 46)Jangan menyangka diri otoritatif untuk membicarakan perkara agama sebelum benar-benar mempelajarinya dan mendapatkan pengakuan oleh orang yang selevel atau lebih tinggi ilmunya dari kita. Perhatikanlah ungkapan berikut agar kita semua sadar tentangg perkara ini. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,مَنْ سَامَ بِنَفْسِهِ فَوْقَ مَا يُسَاِوي رَدَّهُ اللهُ تَعَالَى إِِلَى قِيْمَتِهِ“Barangsiapa yang mengklaim dirinya telah mencapai derajat yang belum ia capai, maka Allah akan membuka kedoknya dan mengembalikannya ke derajat dia yang sesungguhnya.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 1: 13)Esensi mempelajari cara menggunakan dua wahyu sebagai argumen keberadaan TuhanPembaca budiman! Keadaan di zaman ini menuntut kita untuk lebih mengilmui agama kita. Khususnya dalam perkara mendasar yang menjadi pondasi beragama. Salah satu pembahasaan krusial tersebut adalah argumentasi keberadaan Tuhan. Sejatinya manusia telah lahir dengan fitrah untuk meyakini adanya sosok maha hebat yang meliputi kemampuan mencipta, memiliki, dan mengatur seluruh alam semesta. Inilah yang menjadi pondasi iman tauhid tentang rububiyah Allah. Maka, pembahasan ini bukanlah hal yang dapat diremehkan atau dianggap terlalu mendalam. Melainkan ini adalah bentuk pembekalan bagi diri kita untuk menghadapi terjangan syubhat pemikiran di zaman ini.Pedoman yang kami susun bertujuan sebagai bahan pembelajaran bagi kami pribadi maupun Anda semuanya dalam menyusun argumentasi tentang adanya Tuhan. Sejatinya ini adalah kaidah yang umum dalam berdalil menggunakan Al-Quran dan As-Sunnah. Namun, kami pilih beberapa yang sekiranya sangat relevan dan juga spesifik dengan keadaan dialog eksistensi Tuhan.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKelima: Tidak menyimpangkan teksnya maupun maknanyaKeenam: Tidak melakukan cocokologi tanpa dasar ulumul quran dan ulumul hadits yang dikenal oleh para ulama otoritatifKetujuh: Wajib ada ulama yang lebih dahulu mengatakan apa yang anda katakanEsensi mempelajari cara menggunakan dua wahyu sebagai argumen keberadaan TuhanAl-Quran dan As-Sunah mengandung petunjuk yang lengkap untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Semua pertanyaan dan kebingungan telah terjawab oleh keduanya, atau ditunjukkan jalan kepada jawaban oleh keduanya. Inilah esensi Al-Quran sebagai hudan lil muttaqin (هدى للمتقين) atau petunjuk bagi orang yang bertakwa. Semua hal yang samar menjadi terang di sisi orang yang bertakwa dan menggunakan wahyu Allah ﷻ sebagai pegangannya. Tentu Al-Quran dan As-Sunah pun telah memiliki keterangan dalam permasalahan bukti keberadaan Tuhan sebagai fundamen keimanan. Namun, ia membutuhkan kepada kaidah dalam penggunaannya, sehingga artikel ini hadir untuk membantu kita semua dalam memanfaatkan Al-Quran dan As-Sunah sebagai petunjuk jalan.Kelima: Tidak menyimpangkan teksnya maupun maknanyaAllah ﷻ menurunkan wahyu-Nya, khususnya Al-Quran, dengan penjagaan yang spesifik dan ketat sekali. Terbukti kita mendapatkan riwayat yang lengkap dari Al-Quran dengan sangat jelas, termasuk keragaman qiraah atau pembacaannya, semuanya diketahui. Apalagi jika kita bandingkan dengan kitab-kitab agama lainnya, maka dari segi validitasnya, Al-Quran unggul jauh. Oleh sebab itu, tidak layak kemurnian Al-Quran dinodai dengan penyelewengan, baik dari segi teks maupun makna.Praktik ini terjadi sejak zaman para ulama terdahulu. Ibnu Khuzaimah rahimahullah menerangkan bahwa sebagian ahli bid’ah di zamannya mengubah firman Allah ﷻ,اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ“Allâh (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (QS. An-Nûr [24]: 35)Mereka mengubahnya menjadi,اللَّهُ نَوَّرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ“Allâh menerangi langit dan bumi.”Allah musta’an! Mungkin kita sebagai orang non-Arab mengira bahwa secara huruf tidak ada yang bertambah. Namun, keberadaan tasydid itu sama dengan menambah satu huruf. Tidak hanya sekadar penambahan satu huruf, tetapi juga perubahan makna yang diakibatkannya. Ketahuilah, ini adalah perbuatan Yahudi!وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Sesungguhnya di antara mereka (ahli kitab) ada sekelompok orang yang menggunakan lisan-lisan mereka untuk mengubah-ubah Al-Kitab (Taurat dan Injil) supaya kamu menyangka itu sebagian dari Kitab, padahal itu bukan dari Kitab. Dan mereka mengatakan, ‘Itu dari Allah,’ padahal itu bukan dari Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 78)مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَٰكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata, “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula), “Dengarlah”; sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan), “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan, “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat. Akan tetapi, Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.” (QS. An-Nisa’ [4]: 46)Al-Qadhi Iyadh menerangkan konsekuensi dari menambah atau mengurangi satu huruf Al-Quran, beliau berkata, “Barangsiapa yang dengan sengaja mengurangi satu huruf atau mengganti satu huruf dengan huruf lain, atau dengan sengaja menambahkan huruf lain yang tidak termasuk dalam mushaf yang disepakati dan ada kesepakatan bahwa itu bukan bagian dari Al-Qur’an, maka ia telah kafir.” (Asy-Syifa, 2: 304-305)Tentu yang lebih banyak lagi adalah mereka yang menyelewengkan makna dari Al-Quran. Sebagian besar dari mereka melakukan ini dibarengi dengan cocokologi untuk menerangkan fenomena yang ada. Padahal tidak ada tuntutan buat seseorang untuk menjelaskan segala sesuatu dengan Al-Quran maupun sunah secara spesifik. Dalam perkara yang bersifat duniawi, telah jelas nash-nya,أَنْتُمْ أَعْلَمُ بأَمْرِ دُنْيَاكُمْ“Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.” (HR. Ibnu Majah no. 2741, dinilai sahih oleh Al-Albani)Fenomena alam yang terjadi tidak semuanya termaktub dalam Al-Quran dan sunah. Ada saja fenomena alam itu yang terjadi sebagai bentuk sunnatullah. Memang demikianlah Allah ﷻ menciptakan keteraturan sebagai ayat atau tanda-tanda bagi orang yang berakal.اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الۡاَلۡبَابِ ۚۖ‏“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)Namun, hal itu semua tidak termaktub secara detail di dalam kedua wahyu yang sampai kepada kita. Beberapa pendakwah Islam menyebutkan kaidah,“Al-Quran bukanlah kitab science (pengetahuan), melainkan kitab signs (tanda-tanda).”Pembahasan cocokologi akan lebih mendalam dibahas pada poin selanjutnya.Keenam: Tidak melakukan cocokologi tanpa dasar ulumul quran dan ulumul hadits yang dikenal oleh para ulama otoritatifMasalah cocokologi adalah bagian dari menyelewengkan makna. Termasuk pula ia ke dalam bab berbicara tentang agama Allah ﷻ tanpa ilmu.Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. Al-Isra’: 36)– اتَّقوا الحديثَ عنِّي إلَّا ما علِمتُمْ فمَن كذبَ عليَّ مُتعمِّدًا فليتَبوَّأْ مَقعدَهُ مِن النَّارِ ، ومَن قال في القرآنِ برأيِّهِ ، فليتَبوَّأْ مَقعدَهُ مِن النَّارِ“Berhati-hatilah dalam membicarakan tentangku kecuali apa yang kalian ketahui. Barangsiapa yang sengaja berdusta tentangku, maka tempatnya di neraka. Dan barangsiapa yang berbicara tentang Al-Qur’an menurut pendapatnya sendiri, maka tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2951, dinilai hasan)Ketujuh: Wajib ada ulama yang lebih dahulu mengatakan apa yang anda katakanIbnu Wahb rahimahullah berkata, “Siapapun penghapal hadis yang tidak memiliki imam dalam masalah fikih, maka ia tersesat.”Perkataan ini dibawakan oleh Ibnu Wahb seorang muhaddits, murid dari Imam Malik dan Imam Laits rahimahumullah. Ia seorang alim yang menguasai hadis, tetapi potensi tersesat itu tetap saja ada jika tidak ada imam atau guru yang paham akan agama keseluruhan dalam membimbingnya. Maka, apalagi kita sebagai orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama?Dalam tafsir Al-Qurthubi dijelaskan berkaitan dengan berbicara perkara tanpa ada imam sebelumnya, salah satu dampaknya adalah,من قال في مشكل القرآن بما لا يعرف  من مذهب الأوائل من الصحابة والتابعين فهو متعرض لسخط الله“Barang siapa yang berpendapat pada permasalahan Al-Qur’an dengan (pendapat) yang tidak diketahui oleh ulama generasi awal dari para sahabat dan tabi’in, maka ia sedang mengarah kepada kemurkaan Allah.” (Tafsir Al-Qurthubi, 1: 46)Jangan menyangka diri otoritatif untuk membicarakan perkara agama sebelum benar-benar mempelajarinya dan mendapatkan pengakuan oleh orang yang selevel atau lebih tinggi ilmunya dari kita. Perhatikanlah ungkapan berikut agar kita semua sadar tentangg perkara ini. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,مَنْ سَامَ بِنَفْسِهِ فَوْقَ مَا يُسَاِوي رَدَّهُ اللهُ تَعَالَى إِِلَى قِيْمَتِهِ“Barangsiapa yang mengklaim dirinya telah mencapai derajat yang belum ia capai, maka Allah akan membuka kedoknya dan mengembalikannya ke derajat dia yang sesungguhnya.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 1: 13)Esensi mempelajari cara menggunakan dua wahyu sebagai argumen keberadaan TuhanPembaca budiman! Keadaan di zaman ini menuntut kita untuk lebih mengilmui agama kita. Khususnya dalam perkara mendasar yang menjadi pondasi beragama. Salah satu pembahasaan krusial tersebut adalah argumentasi keberadaan Tuhan. Sejatinya manusia telah lahir dengan fitrah untuk meyakini adanya sosok maha hebat yang meliputi kemampuan mencipta, memiliki, dan mengatur seluruh alam semesta. Inilah yang menjadi pondasi iman tauhid tentang rububiyah Allah. Maka, pembahasan ini bukanlah hal yang dapat diremehkan atau dianggap terlalu mendalam. Melainkan ini adalah bentuk pembekalan bagi diri kita untuk menghadapi terjangan syubhat pemikiran di zaman ini.Pedoman yang kami susun bertujuan sebagai bahan pembelajaran bagi kami pribadi maupun Anda semuanya dalam menyusun argumentasi tentang adanya Tuhan. Sejatinya ini adalah kaidah yang umum dalam berdalil menggunakan Al-Quran dan As-Sunnah. Namun, kami pilih beberapa yang sekiranya sangat relevan dan juga spesifik dengan keadaan dialog eksistensi Tuhan.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Menggunakan Al-Quran dan As-Sunah dalam Dialog Eksistensi Tuhan (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleKetiga: Mengikuti cara berargumen yang dibawakan dalam Al-Quran dan As-SunahAl-Quran dan As-Sunah memiliki susunan argumen terbaikKemudahan memahami Al-Quran dan As-Sunah kontras dengan argumen kalamKeempat: Mencukupkan diri dengan sumber-sumber yang sah dari Al-Quran dan As-SunahRagam argumen dan narasi tentang eksistensi Tuhan mendorong kita sebagai ahli tauhid untuk menggunakannya demi membela hak Allah ﷻ. Namun, saking banyaknya, kita sampai tidak sempat untuk menelaah argumennya lebih dalam beserta konsekuensinya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunah sebagai sumber argumentasi, khususnya dalam bab kewujudan Allah ﷻ. Setelah beberapa kaidah disebutkan di bagian artikel sebelumnya, pada bagian ini kita akan melanjutkan penelaahan pada penggunaan kedua wahyu Allah ﷻ yang mulia dalam dialog teologis.Ketiga: Mengikuti cara berargumen yang dibawakan dalam Al-Quran dan As-SunahAl-Quran dan As-Sunah memiliki susunan argumen terbaikAllah ﷻ menjadikan Al-Quran sebagai pegangan bagi kaum muslimin dan seluruh alam, tentu Allah ﷻ tidak menyepelekan petunjuk tersebut. Allah ﷻ pasti memberikan inti terbaik atas pegangan bagi manusia tersebut. Ada dua hal yang secara akal menunjukkan pernyataan ini benar:Karena Al-Quran adalah kalamullah dan Allah ﷻ yang paling dapat membuktikan kewujudan zat-Nya sendiri;Karena kesempurnaan Allah ﷻ yang melekat pada zat-Nya dan apa yang menjadi sifat-Nya.Allah ﷻ juga menjelaskan secara tegas bahwa apa yang menjadi ungkapan Al-Quran pasti merupakan ungkapan terbaik. Allah ﷻ berfirman,وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا“Lantas siapa yang lebih benar pengungkapannya dibandingkan Allah ﷻ?!” (QS. An-Nisa: 87)Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ berfirman,وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا“Lantas siapa yang lebih benar pernyataannya dibandingkan Allah ﷻ?!” (QS. An-Nisa: 122)Kami nukilkan penjelasan Prof. Fuad Muhammad Musa, dosen tarbiyah di Jamiah Al-Manshurah, Mesir, tentang ayat ini,إن هذه الآيات توضح لنا خصيصة الخطاب الإسلامي التى يتفرد بها عن كل خطاب البشر، إنه خطاب رب الناس للناس، فهو أصدق خطاب، وأيسر خطاب. ومن ثم لا ينبغي باستبداله بأي خطاب آخر للبشر في الدعوة الإسلامية مهما بلغت بلاغتهم وأساليبهم في الدعوة للإسلام“Ayat-ayat ini menjelaskan kepada kita ciri khas narasi atau pengungkapan Islam yang khas, yang membedakannya dari semua narasi manusia lainnya. Ini adalah narasi Tuhan manusia kepada manusia, dan karenanya merupakan narasi yang paling benar dan paling mudah. Dengan demikian, narasi yang digunakan Islam tidak pantas digantikan dengan ungkapan manusia lainnya dalam seruan kepada Islam, betapapun tinggi kefasihan dan keindahan gaya bahasa mereka dalam mengajak kepada Islam.” [1]Oleh karena itu, metode penjelasan serta diksi yang digunakan Al-Quran mestilah yang terbaik. Istilah dan metode berdalil Al-Quran hendaklah menjadi acuan dalam kita membangun argumentasi fundamental seperti masalah kewujudan zat Tuhan ini. Tidak hanya substansinya atau dalilnya secara langsung, tetapi kita juga bisa mengambil faidah dari susunan argumennya.Sehingga kita tidak boleh terjebak dengan kesibukan membahas istilah tertentu seperti yang terjadi pada diskursus ilmu kalam. Kaidahnya adalah terhadap istilah yang tidak datang dari syariat mesti ditimbang atas apa yang dimaksudkan olehnya, sebagaimana yang diterangkan oleh Ibnu Abil Izz Al-Hanafi dalam Syarah Aqidah Thahawiyah. Bahkan jika memang tidak penting, maka tidak perlu istilah yang ada digunakan. Ada banyak istilah yang diserap dari tradisi filsafat Yunani yang masuk ke dalam diskursus ilmu kalam ketuhanan dalam Islam yang ambigu. Tidak sekadar ambigu, tetapi juga memberikan kesulitan dalam penggunaan karena pemaknaannya yang kabur serta konsekuensi penggunaannya yang kacau.Kemudahan memahami Al-Quran dan As-Sunah kontras dengan argumen kalamHal ini sangat berbeda dengan Al-Quran maupun As-Sunah. Allah ﷻ jadikan Al-Quran dengan kemudahan untuk dipahami serta sabda Nabi ﷺ dikemas dengan jawamiul kalim (bahasa ringkas, namun sarat makna). Al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab; barangsiapa ingin memahami dalil dari Al-Quran, maka melalui lisan orang Arab yang dipahami. Sebagaimana firman Allah ﷻ,بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ“Al-Quran  dengan lisan Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 195)Juga firman Allah ﷻ,وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِّسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ“Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, ‘Sesungguhnya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)’. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al-Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (QS. An-Nahl: 103)Allah ﷻ menurunkan Al-Quran dengan bahasa Arab yang jelas juga begitu fasih. Tujuannya adalah agar memudahkan Nabi ﷺ sebagai pendakwah dan para objek dakwah untuk merenungi ayat-ayat Allah ﷻ yang mulia ini. Terbukti bahwa Al-Quran dapat diterima oleh akal yang cemerlang, maupun akal yang sederhana karena sumber pengetahuan yang terbatas. Tidak kita dapati para sahabat banyak bertanya yang terlalu mendetail atas suatu perkara, tetapi justru mereka adalah pemilik iman terbaik.Artinya, penjelasan Islam sudah mencukupi untuk membantah berbagai syubhat. Buktinya adalah para sahabat Nabi ﷺ menerima iman Islam dan konsepsinya. Adapun kafir Quraisy yang menolak Nabi ﷺ sebenarnya menerima keterangan yang diberikan baginda Nabi ﷺ, tetapi mereka menolak karena faktor kedengkian hati dan terjebaknya dengan doktrin agama nenek moyang.Segala induk pembahasan sudah termaktub dengan jelas di Al-Quran dan kalam Nabi ﷺ.Allah ﷻ berfirman,وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya. Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 115)Allah ﷻ berfirman,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)Kita menyaksikan syariat Nabi Muhammad ﷺ telah begitu komprehensif membahas perkara kehidupan dari yang paling asasi hingga perkara remeh-temeh seperti urusan kamar mandi. Tentu dalam perkara yang lebih esensial lagi, seperti masalah keberadaan Tuhan, telah dibahas dengan tuntas di dalamnya dan sangat kokoh. Oleh sebab itu, tidak perlu ragu menelaah Al-Quran dan As-Sunah untuk dijadikan basis argumen membela Allah ﷻ.Keempat: Mencukupkan diri dengan sumber-sumber yang sah dari Al-Quran dan As-SunahKarena banyaknya pandangan dan pendapat yang membicarakan tentang Tuhan, kita sangat tergoda untuk menggunakannya. Sebagaimana pedoman ketiga meninjau dari aspek validitas substansi dan konsekuensi, maka dari pedoman keempat ini kita memberikan panduan agar argumen eksistensi Tuhan tidak melampaui batas. Jangan sampai sebab kita membela satu pondasi argumen tertentu, sehingga kita membuat perkara baru yang diada-adakan agama.Perkara fatal dalam tubuh Islam yang pertama kali muncul di antaranya adalah bid’ah dalam masalah akidah. Kelompok yang dikenal sebagai Khawarij, Murjiah, dan Qadariy-Jabriy adalah hasil dari kebodohan akan nash yang ditambah dengan sikap mengandalkan akal. Mereka inilah yang menjadi pondasi diskursus firaq dalam Islam karena kebidahan yang muncul ada pada masalah substansial (akidah).Marilah kita menyimak sabda Rasulullah ﷺ yang biasa beliau bacakan ketika membuka khotbah,أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867)Rasulullah ﷺ telah memberikan wasiat bahwa sebaik-baik petunjuk adalah dua wahyu yang diturunkan kepadanya. Barangsiapa yang menyelisihi dua wahyu tersebut atau merasa tidak cukup dengan keduanya sehingga mencari-cari dari luar atau menambah perkara yang baru dalam agama, pasti semua jalan itu akan menghasilkan kerusakan.Sadarkah kita semua betapa besar kejelekan yang ditimbulkan dari bid’ah akidah tersebut?! Benarlah sabda Nabi ﷺ tentang kejelekan bid’ah yang membawa kepada kerusakan dan pertumpahan darah sepanjang zaman. Bahkan sampai hari ini pun kita masih menyaksikan pertembungan antar berbagai kelompok dikarenakan penyimpangan bid’ah dalam tubuh kelompok berseteru, illa man rahima rabbuna.Sebagian dari kelompok tersebut memunculkan bid’ah-nya karena menganggap perkara itu baik. Semisal kelompok Qadariyah (kelompok penolak penetapan takdir oleh Allah ﷻ), mereka berkeyakinan demikian karena ingin menyucikan Allah ﷻ dari penciptaan takdir buruk. Semisal Khawarij yang menggunakan akal pendeknya untuk berargumen membantah Ali radhiyallahu ‘anhu dengan ayat-ayat Al-Quran. Paling jelas dapat kita amati pada kelompok Jahmiyah-Mutazilah yang menolak penetapan seluruh sifat Allah ﷻ karena ingin menyucikannya dari sifat berubah yang lazim dimiliki makhluk. Keyakinan sesat ini bersumber dari syubhat pemikiran filsafat Yunani yang menetapkan Tuhan harus bersifat A, B, C, dan seterusnya. Kemudian timbul pula kelompok mutakallimin semisal Asyariyah-Maturidiyah yang berusaha menjawab syubhat filsafat dalam ketuhanan, tetapi sayangnya saudara kita tersebut terjebak dalam argumen filsafat pula.Maka di sinilah pentingnya kita meniti manhaj para salaf dalam berargumentasi. Salah satu fundamennya adalah menjauhi bid’ah dan tidak menganggapnya baik sama sekali. Imam Malik bin Anas rahimahullahu mengatakan,من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن محمدا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم خان الرسالة“Barangsiapa yang berbuat bid’ah di dalam agama Islam yang ia anggap sebagai bid’ah hasanah, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad ﷺ telah mengkhianati risalah.” (Al-I’tisham, 1: 49)Dalam permasalahan metode penyampaian memang ada keluasan, tetapi sebagai penegas kembali, seluruh pembahasan telah sempurna disampaikan oleh baginda Nabi ﷺ dan kita dilarang untuk melampaui mereka. Allah ﷻ berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 4)Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ“Ikutilah (petunjuk Nabi ﷺ), janganlah membuat bid’ah. Karena sunah itu sudah mecukupi bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 8770)Dengan demikian, menjadi jelas bagi kita semua bahwa mengacu kepada Al-Quran dan As-Sunah tidak hanya meliputi substansi, tetapi juga metode penyampaian. Keluasan dalam menyusun argumen seringkali memunculkan syubhat dalam hati kita bahwa syariat Nabi ﷺ tidak mencukupi. Sehingga sedikit demi sedikit mulai mencicipi argumen sesat, kemudian setan menghiasi dan membuatnya masuk akal. Sehingga pada akhirnya, kita terjerumus ke dalam kebidahan sampai masuk ke sarang biawak. Waliyadzubillah.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Alukah.net

Menggunakan Al-Quran dan As-Sunah dalam Dialog Eksistensi Tuhan (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleKetiga: Mengikuti cara berargumen yang dibawakan dalam Al-Quran dan As-SunahAl-Quran dan As-Sunah memiliki susunan argumen terbaikKemudahan memahami Al-Quran dan As-Sunah kontras dengan argumen kalamKeempat: Mencukupkan diri dengan sumber-sumber yang sah dari Al-Quran dan As-SunahRagam argumen dan narasi tentang eksistensi Tuhan mendorong kita sebagai ahli tauhid untuk menggunakannya demi membela hak Allah ﷻ. Namun, saking banyaknya, kita sampai tidak sempat untuk menelaah argumennya lebih dalam beserta konsekuensinya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunah sebagai sumber argumentasi, khususnya dalam bab kewujudan Allah ﷻ. Setelah beberapa kaidah disebutkan di bagian artikel sebelumnya, pada bagian ini kita akan melanjutkan penelaahan pada penggunaan kedua wahyu Allah ﷻ yang mulia dalam dialog teologis.Ketiga: Mengikuti cara berargumen yang dibawakan dalam Al-Quran dan As-SunahAl-Quran dan As-Sunah memiliki susunan argumen terbaikAllah ﷻ menjadikan Al-Quran sebagai pegangan bagi kaum muslimin dan seluruh alam, tentu Allah ﷻ tidak menyepelekan petunjuk tersebut. Allah ﷻ pasti memberikan inti terbaik atas pegangan bagi manusia tersebut. Ada dua hal yang secara akal menunjukkan pernyataan ini benar:Karena Al-Quran adalah kalamullah dan Allah ﷻ yang paling dapat membuktikan kewujudan zat-Nya sendiri;Karena kesempurnaan Allah ﷻ yang melekat pada zat-Nya dan apa yang menjadi sifat-Nya.Allah ﷻ juga menjelaskan secara tegas bahwa apa yang menjadi ungkapan Al-Quran pasti merupakan ungkapan terbaik. Allah ﷻ berfirman,وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا“Lantas siapa yang lebih benar pengungkapannya dibandingkan Allah ﷻ?!” (QS. An-Nisa: 87)Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ berfirman,وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا“Lantas siapa yang lebih benar pernyataannya dibandingkan Allah ﷻ?!” (QS. An-Nisa: 122)Kami nukilkan penjelasan Prof. Fuad Muhammad Musa, dosen tarbiyah di Jamiah Al-Manshurah, Mesir, tentang ayat ini,إن هذه الآيات توضح لنا خصيصة الخطاب الإسلامي التى يتفرد بها عن كل خطاب البشر، إنه خطاب رب الناس للناس، فهو أصدق خطاب، وأيسر خطاب. ومن ثم لا ينبغي باستبداله بأي خطاب آخر للبشر في الدعوة الإسلامية مهما بلغت بلاغتهم وأساليبهم في الدعوة للإسلام“Ayat-ayat ini menjelaskan kepada kita ciri khas narasi atau pengungkapan Islam yang khas, yang membedakannya dari semua narasi manusia lainnya. Ini adalah narasi Tuhan manusia kepada manusia, dan karenanya merupakan narasi yang paling benar dan paling mudah. Dengan demikian, narasi yang digunakan Islam tidak pantas digantikan dengan ungkapan manusia lainnya dalam seruan kepada Islam, betapapun tinggi kefasihan dan keindahan gaya bahasa mereka dalam mengajak kepada Islam.” [1]Oleh karena itu, metode penjelasan serta diksi yang digunakan Al-Quran mestilah yang terbaik. Istilah dan metode berdalil Al-Quran hendaklah menjadi acuan dalam kita membangun argumentasi fundamental seperti masalah kewujudan zat Tuhan ini. Tidak hanya substansinya atau dalilnya secara langsung, tetapi kita juga bisa mengambil faidah dari susunan argumennya.Sehingga kita tidak boleh terjebak dengan kesibukan membahas istilah tertentu seperti yang terjadi pada diskursus ilmu kalam. Kaidahnya adalah terhadap istilah yang tidak datang dari syariat mesti ditimbang atas apa yang dimaksudkan olehnya, sebagaimana yang diterangkan oleh Ibnu Abil Izz Al-Hanafi dalam Syarah Aqidah Thahawiyah. Bahkan jika memang tidak penting, maka tidak perlu istilah yang ada digunakan. Ada banyak istilah yang diserap dari tradisi filsafat Yunani yang masuk ke dalam diskursus ilmu kalam ketuhanan dalam Islam yang ambigu. Tidak sekadar ambigu, tetapi juga memberikan kesulitan dalam penggunaan karena pemaknaannya yang kabur serta konsekuensi penggunaannya yang kacau.Kemudahan memahami Al-Quran dan As-Sunah kontras dengan argumen kalamHal ini sangat berbeda dengan Al-Quran maupun As-Sunah. Allah ﷻ jadikan Al-Quran dengan kemudahan untuk dipahami serta sabda Nabi ﷺ dikemas dengan jawamiul kalim (bahasa ringkas, namun sarat makna). Al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab; barangsiapa ingin memahami dalil dari Al-Quran, maka melalui lisan orang Arab yang dipahami. Sebagaimana firman Allah ﷻ,بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ“Al-Quran  dengan lisan Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 195)Juga firman Allah ﷻ,وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِّسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ“Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, ‘Sesungguhnya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)’. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al-Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (QS. An-Nahl: 103)Allah ﷻ menurunkan Al-Quran dengan bahasa Arab yang jelas juga begitu fasih. Tujuannya adalah agar memudahkan Nabi ﷺ sebagai pendakwah dan para objek dakwah untuk merenungi ayat-ayat Allah ﷻ yang mulia ini. Terbukti bahwa Al-Quran dapat diterima oleh akal yang cemerlang, maupun akal yang sederhana karena sumber pengetahuan yang terbatas. Tidak kita dapati para sahabat banyak bertanya yang terlalu mendetail atas suatu perkara, tetapi justru mereka adalah pemilik iman terbaik.Artinya, penjelasan Islam sudah mencukupi untuk membantah berbagai syubhat. Buktinya adalah para sahabat Nabi ﷺ menerima iman Islam dan konsepsinya. Adapun kafir Quraisy yang menolak Nabi ﷺ sebenarnya menerima keterangan yang diberikan baginda Nabi ﷺ, tetapi mereka menolak karena faktor kedengkian hati dan terjebaknya dengan doktrin agama nenek moyang.Segala induk pembahasan sudah termaktub dengan jelas di Al-Quran dan kalam Nabi ﷺ.Allah ﷻ berfirman,وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya. Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 115)Allah ﷻ berfirman,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)Kita menyaksikan syariat Nabi Muhammad ﷺ telah begitu komprehensif membahas perkara kehidupan dari yang paling asasi hingga perkara remeh-temeh seperti urusan kamar mandi. Tentu dalam perkara yang lebih esensial lagi, seperti masalah keberadaan Tuhan, telah dibahas dengan tuntas di dalamnya dan sangat kokoh. Oleh sebab itu, tidak perlu ragu menelaah Al-Quran dan As-Sunah untuk dijadikan basis argumen membela Allah ﷻ.Keempat: Mencukupkan diri dengan sumber-sumber yang sah dari Al-Quran dan As-SunahKarena banyaknya pandangan dan pendapat yang membicarakan tentang Tuhan, kita sangat tergoda untuk menggunakannya. Sebagaimana pedoman ketiga meninjau dari aspek validitas substansi dan konsekuensi, maka dari pedoman keempat ini kita memberikan panduan agar argumen eksistensi Tuhan tidak melampaui batas. Jangan sampai sebab kita membela satu pondasi argumen tertentu, sehingga kita membuat perkara baru yang diada-adakan agama.Perkara fatal dalam tubuh Islam yang pertama kali muncul di antaranya adalah bid’ah dalam masalah akidah. Kelompok yang dikenal sebagai Khawarij, Murjiah, dan Qadariy-Jabriy adalah hasil dari kebodohan akan nash yang ditambah dengan sikap mengandalkan akal. Mereka inilah yang menjadi pondasi diskursus firaq dalam Islam karena kebidahan yang muncul ada pada masalah substansial (akidah).Marilah kita menyimak sabda Rasulullah ﷺ yang biasa beliau bacakan ketika membuka khotbah,أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867)Rasulullah ﷺ telah memberikan wasiat bahwa sebaik-baik petunjuk adalah dua wahyu yang diturunkan kepadanya. Barangsiapa yang menyelisihi dua wahyu tersebut atau merasa tidak cukup dengan keduanya sehingga mencari-cari dari luar atau menambah perkara yang baru dalam agama, pasti semua jalan itu akan menghasilkan kerusakan.Sadarkah kita semua betapa besar kejelekan yang ditimbulkan dari bid’ah akidah tersebut?! Benarlah sabda Nabi ﷺ tentang kejelekan bid’ah yang membawa kepada kerusakan dan pertumpahan darah sepanjang zaman. Bahkan sampai hari ini pun kita masih menyaksikan pertembungan antar berbagai kelompok dikarenakan penyimpangan bid’ah dalam tubuh kelompok berseteru, illa man rahima rabbuna.Sebagian dari kelompok tersebut memunculkan bid’ah-nya karena menganggap perkara itu baik. Semisal kelompok Qadariyah (kelompok penolak penetapan takdir oleh Allah ﷻ), mereka berkeyakinan demikian karena ingin menyucikan Allah ﷻ dari penciptaan takdir buruk. Semisal Khawarij yang menggunakan akal pendeknya untuk berargumen membantah Ali radhiyallahu ‘anhu dengan ayat-ayat Al-Quran. Paling jelas dapat kita amati pada kelompok Jahmiyah-Mutazilah yang menolak penetapan seluruh sifat Allah ﷻ karena ingin menyucikannya dari sifat berubah yang lazim dimiliki makhluk. Keyakinan sesat ini bersumber dari syubhat pemikiran filsafat Yunani yang menetapkan Tuhan harus bersifat A, B, C, dan seterusnya. Kemudian timbul pula kelompok mutakallimin semisal Asyariyah-Maturidiyah yang berusaha menjawab syubhat filsafat dalam ketuhanan, tetapi sayangnya saudara kita tersebut terjebak dalam argumen filsafat pula.Maka di sinilah pentingnya kita meniti manhaj para salaf dalam berargumentasi. Salah satu fundamennya adalah menjauhi bid’ah dan tidak menganggapnya baik sama sekali. Imam Malik bin Anas rahimahullahu mengatakan,من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن محمدا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم خان الرسالة“Barangsiapa yang berbuat bid’ah di dalam agama Islam yang ia anggap sebagai bid’ah hasanah, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad ﷺ telah mengkhianati risalah.” (Al-I’tisham, 1: 49)Dalam permasalahan metode penyampaian memang ada keluasan, tetapi sebagai penegas kembali, seluruh pembahasan telah sempurna disampaikan oleh baginda Nabi ﷺ dan kita dilarang untuk melampaui mereka. Allah ﷻ berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 4)Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ“Ikutilah (petunjuk Nabi ﷺ), janganlah membuat bid’ah. Karena sunah itu sudah mecukupi bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 8770)Dengan demikian, menjadi jelas bagi kita semua bahwa mengacu kepada Al-Quran dan As-Sunah tidak hanya meliputi substansi, tetapi juga metode penyampaian. Keluasan dalam menyusun argumen seringkali memunculkan syubhat dalam hati kita bahwa syariat Nabi ﷺ tidak mencukupi. Sehingga sedikit demi sedikit mulai mencicipi argumen sesat, kemudian setan menghiasi dan membuatnya masuk akal. Sehingga pada akhirnya, kita terjerumus ke dalam kebidahan sampai masuk ke sarang biawak. Waliyadzubillah.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Alukah.net
Daftar Isi ToggleKetiga: Mengikuti cara berargumen yang dibawakan dalam Al-Quran dan As-SunahAl-Quran dan As-Sunah memiliki susunan argumen terbaikKemudahan memahami Al-Quran dan As-Sunah kontras dengan argumen kalamKeempat: Mencukupkan diri dengan sumber-sumber yang sah dari Al-Quran dan As-SunahRagam argumen dan narasi tentang eksistensi Tuhan mendorong kita sebagai ahli tauhid untuk menggunakannya demi membela hak Allah ﷻ. Namun, saking banyaknya, kita sampai tidak sempat untuk menelaah argumennya lebih dalam beserta konsekuensinya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunah sebagai sumber argumentasi, khususnya dalam bab kewujudan Allah ﷻ. Setelah beberapa kaidah disebutkan di bagian artikel sebelumnya, pada bagian ini kita akan melanjutkan penelaahan pada penggunaan kedua wahyu Allah ﷻ yang mulia dalam dialog teologis.Ketiga: Mengikuti cara berargumen yang dibawakan dalam Al-Quran dan As-SunahAl-Quran dan As-Sunah memiliki susunan argumen terbaikAllah ﷻ menjadikan Al-Quran sebagai pegangan bagi kaum muslimin dan seluruh alam, tentu Allah ﷻ tidak menyepelekan petunjuk tersebut. Allah ﷻ pasti memberikan inti terbaik atas pegangan bagi manusia tersebut. Ada dua hal yang secara akal menunjukkan pernyataan ini benar:Karena Al-Quran adalah kalamullah dan Allah ﷻ yang paling dapat membuktikan kewujudan zat-Nya sendiri;Karena kesempurnaan Allah ﷻ yang melekat pada zat-Nya dan apa yang menjadi sifat-Nya.Allah ﷻ juga menjelaskan secara tegas bahwa apa yang menjadi ungkapan Al-Quran pasti merupakan ungkapan terbaik. Allah ﷻ berfirman,وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا“Lantas siapa yang lebih benar pengungkapannya dibandingkan Allah ﷻ?!” (QS. An-Nisa: 87)Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ berfirman,وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا“Lantas siapa yang lebih benar pernyataannya dibandingkan Allah ﷻ?!” (QS. An-Nisa: 122)Kami nukilkan penjelasan Prof. Fuad Muhammad Musa, dosen tarbiyah di Jamiah Al-Manshurah, Mesir, tentang ayat ini,إن هذه الآيات توضح لنا خصيصة الخطاب الإسلامي التى يتفرد بها عن كل خطاب البشر، إنه خطاب رب الناس للناس، فهو أصدق خطاب، وأيسر خطاب. ومن ثم لا ينبغي باستبداله بأي خطاب آخر للبشر في الدعوة الإسلامية مهما بلغت بلاغتهم وأساليبهم في الدعوة للإسلام“Ayat-ayat ini menjelaskan kepada kita ciri khas narasi atau pengungkapan Islam yang khas, yang membedakannya dari semua narasi manusia lainnya. Ini adalah narasi Tuhan manusia kepada manusia, dan karenanya merupakan narasi yang paling benar dan paling mudah. Dengan demikian, narasi yang digunakan Islam tidak pantas digantikan dengan ungkapan manusia lainnya dalam seruan kepada Islam, betapapun tinggi kefasihan dan keindahan gaya bahasa mereka dalam mengajak kepada Islam.” [1]Oleh karena itu, metode penjelasan serta diksi yang digunakan Al-Quran mestilah yang terbaik. Istilah dan metode berdalil Al-Quran hendaklah menjadi acuan dalam kita membangun argumentasi fundamental seperti masalah kewujudan zat Tuhan ini. Tidak hanya substansinya atau dalilnya secara langsung, tetapi kita juga bisa mengambil faidah dari susunan argumennya.Sehingga kita tidak boleh terjebak dengan kesibukan membahas istilah tertentu seperti yang terjadi pada diskursus ilmu kalam. Kaidahnya adalah terhadap istilah yang tidak datang dari syariat mesti ditimbang atas apa yang dimaksudkan olehnya, sebagaimana yang diterangkan oleh Ibnu Abil Izz Al-Hanafi dalam Syarah Aqidah Thahawiyah. Bahkan jika memang tidak penting, maka tidak perlu istilah yang ada digunakan. Ada banyak istilah yang diserap dari tradisi filsafat Yunani yang masuk ke dalam diskursus ilmu kalam ketuhanan dalam Islam yang ambigu. Tidak sekadar ambigu, tetapi juga memberikan kesulitan dalam penggunaan karena pemaknaannya yang kabur serta konsekuensi penggunaannya yang kacau.Kemudahan memahami Al-Quran dan As-Sunah kontras dengan argumen kalamHal ini sangat berbeda dengan Al-Quran maupun As-Sunah. Allah ﷻ jadikan Al-Quran dengan kemudahan untuk dipahami serta sabda Nabi ﷺ dikemas dengan jawamiul kalim (bahasa ringkas, namun sarat makna). Al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab; barangsiapa ingin memahami dalil dari Al-Quran, maka melalui lisan orang Arab yang dipahami. Sebagaimana firman Allah ﷻ,بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ“Al-Quran  dengan lisan Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 195)Juga firman Allah ﷻ,وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِّسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ“Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, ‘Sesungguhnya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)’. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al-Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (QS. An-Nahl: 103)Allah ﷻ menurunkan Al-Quran dengan bahasa Arab yang jelas juga begitu fasih. Tujuannya adalah agar memudahkan Nabi ﷺ sebagai pendakwah dan para objek dakwah untuk merenungi ayat-ayat Allah ﷻ yang mulia ini. Terbukti bahwa Al-Quran dapat diterima oleh akal yang cemerlang, maupun akal yang sederhana karena sumber pengetahuan yang terbatas. Tidak kita dapati para sahabat banyak bertanya yang terlalu mendetail atas suatu perkara, tetapi justru mereka adalah pemilik iman terbaik.Artinya, penjelasan Islam sudah mencukupi untuk membantah berbagai syubhat. Buktinya adalah para sahabat Nabi ﷺ menerima iman Islam dan konsepsinya. Adapun kafir Quraisy yang menolak Nabi ﷺ sebenarnya menerima keterangan yang diberikan baginda Nabi ﷺ, tetapi mereka menolak karena faktor kedengkian hati dan terjebaknya dengan doktrin agama nenek moyang.Segala induk pembahasan sudah termaktub dengan jelas di Al-Quran dan kalam Nabi ﷺ.Allah ﷻ berfirman,وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya. Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 115)Allah ﷻ berfirman,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)Kita menyaksikan syariat Nabi Muhammad ﷺ telah begitu komprehensif membahas perkara kehidupan dari yang paling asasi hingga perkara remeh-temeh seperti urusan kamar mandi. Tentu dalam perkara yang lebih esensial lagi, seperti masalah keberadaan Tuhan, telah dibahas dengan tuntas di dalamnya dan sangat kokoh. Oleh sebab itu, tidak perlu ragu menelaah Al-Quran dan As-Sunah untuk dijadikan basis argumen membela Allah ﷻ.Keempat: Mencukupkan diri dengan sumber-sumber yang sah dari Al-Quran dan As-SunahKarena banyaknya pandangan dan pendapat yang membicarakan tentang Tuhan, kita sangat tergoda untuk menggunakannya. Sebagaimana pedoman ketiga meninjau dari aspek validitas substansi dan konsekuensi, maka dari pedoman keempat ini kita memberikan panduan agar argumen eksistensi Tuhan tidak melampaui batas. Jangan sampai sebab kita membela satu pondasi argumen tertentu, sehingga kita membuat perkara baru yang diada-adakan agama.Perkara fatal dalam tubuh Islam yang pertama kali muncul di antaranya adalah bid’ah dalam masalah akidah. Kelompok yang dikenal sebagai Khawarij, Murjiah, dan Qadariy-Jabriy adalah hasil dari kebodohan akan nash yang ditambah dengan sikap mengandalkan akal. Mereka inilah yang menjadi pondasi diskursus firaq dalam Islam karena kebidahan yang muncul ada pada masalah substansial (akidah).Marilah kita menyimak sabda Rasulullah ﷺ yang biasa beliau bacakan ketika membuka khotbah,أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867)Rasulullah ﷺ telah memberikan wasiat bahwa sebaik-baik petunjuk adalah dua wahyu yang diturunkan kepadanya. Barangsiapa yang menyelisihi dua wahyu tersebut atau merasa tidak cukup dengan keduanya sehingga mencari-cari dari luar atau menambah perkara yang baru dalam agama, pasti semua jalan itu akan menghasilkan kerusakan.Sadarkah kita semua betapa besar kejelekan yang ditimbulkan dari bid’ah akidah tersebut?! Benarlah sabda Nabi ﷺ tentang kejelekan bid’ah yang membawa kepada kerusakan dan pertumpahan darah sepanjang zaman. Bahkan sampai hari ini pun kita masih menyaksikan pertembungan antar berbagai kelompok dikarenakan penyimpangan bid’ah dalam tubuh kelompok berseteru, illa man rahima rabbuna.Sebagian dari kelompok tersebut memunculkan bid’ah-nya karena menganggap perkara itu baik. Semisal kelompok Qadariyah (kelompok penolak penetapan takdir oleh Allah ﷻ), mereka berkeyakinan demikian karena ingin menyucikan Allah ﷻ dari penciptaan takdir buruk. Semisal Khawarij yang menggunakan akal pendeknya untuk berargumen membantah Ali radhiyallahu ‘anhu dengan ayat-ayat Al-Quran. Paling jelas dapat kita amati pada kelompok Jahmiyah-Mutazilah yang menolak penetapan seluruh sifat Allah ﷻ karena ingin menyucikannya dari sifat berubah yang lazim dimiliki makhluk. Keyakinan sesat ini bersumber dari syubhat pemikiran filsafat Yunani yang menetapkan Tuhan harus bersifat A, B, C, dan seterusnya. Kemudian timbul pula kelompok mutakallimin semisal Asyariyah-Maturidiyah yang berusaha menjawab syubhat filsafat dalam ketuhanan, tetapi sayangnya saudara kita tersebut terjebak dalam argumen filsafat pula.Maka di sinilah pentingnya kita meniti manhaj para salaf dalam berargumentasi. Salah satu fundamennya adalah menjauhi bid’ah dan tidak menganggapnya baik sama sekali. Imam Malik bin Anas rahimahullahu mengatakan,من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن محمدا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم خان الرسالة“Barangsiapa yang berbuat bid’ah di dalam agama Islam yang ia anggap sebagai bid’ah hasanah, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad ﷺ telah mengkhianati risalah.” (Al-I’tisham, 1: 49)Dalam permasalahan metode penyampaian memang ada keluasan, tetapi sebagai penegas kembali, seluruh pembahasan telah sempurna disampaikan oleh baginda Nabi ﷺ dan kita dilarang untuk melampaui mereka. Allah ﷻ berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 4)Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ“Ikutilah (petunjuk Nabi ﷺ), janganlah membuat bid’ah. Karena sunah itu sudah mecukupi bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 8770)Dengan demikian, menjadi jelas bagi kita semua bahwa mengacu kepada Al-Quran dan As-Sunah tidak hanya meliputi substansi, tetapi juga metode penyampaian. Keluasan dalam menyusun argumen seringkali memunculkan syubhat dalam hati kita bahwa syariat Nabi ﷺ tidak mencukupi. Sehingga sedikit demi sedikit mulai mencicipi argumen sesat, kemudian setan menghiasi dan membuatnya masuk akal. Sehingga pada akhirnya, kita terjerumus ke dalam kebidahan sampai masuk ke sarang biawak. Waliyadzubillah.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Alukah.net


Daftar Isi ToggleKetiga: Mengikuti cara berargumen yang dibawakan dalam Al-Quran dan As-SunahAl-Quran dan As-Sunah memiliki susunan argumen terbaikKemudahan memahami Al-Quran dan As-Sunah kontras dengan argumen kalamKeempat: Mencukupkan diri dengan sumber-sumber yang sah dari Al-Quran dan As-SunahRagam argumen dan narasi tentang eksistensi Tuhan mendorong kita sebagai ahli tauhid untuk menggunakannya demi membela hak Allah ﷻ. Namun, saking banyaknya, kita sampai tidak sempat untuk menelaah argumennya lebih dalam beserta konsekuensinya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunah sebagai sumber argumentasi, khususnya dalam bab kewujudan Allah ﷻ. Setelah beberapa kaidah disebutkan di bagian artikel sebelumnya, pada bagian ini kita akan melanjutkan penelaahan pada penggunaan kedua wahyu Allah ﷻ yang mulia dalam dialog teologis.Ketiga: Mengikuti cara berargumen yang dibawakan dalam Al-Quran dan As-SunahAl-Quran dan As-Sunah memiliki susunan argumen terbaikAllah ﷻ menjadikan Al-Quran sebagai pegangan bagi kaum muslimin dan seluruh alam, tentu Allah ﷻ tidak menyepelekan petunjuk tersebut. Allah ﷻ pasti memberikan inti terbaik atas pegangan bagi manusia tersebut. Ada dua hal yang secara akal menunjukkan pernyataan ini benar:Karena Al-Quran adalah kalamullah dan Allah ﷻ yang paling dapat membuktikan kewujudan zat-Nya sendiri;Karena kesempurnaan Allah ﷻ yang melekat pada zat-Nya dan apa yang menjadi sifat-Nya.Allah ﷻ juga menjelaskan secara tegas bahwa apa yang menjadi ungkapan Al-Quran pasti merupakan ungkapan terbaik. Allah ﷻ berfirman,وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا“Lantas siapa yang lebih benar pengungkapannya dibandingkan Allah ﷻ?!” (QS. An-Nisa: 87)Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ berfirman,وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا“Lantas siapa yang lebih benar pernyataannya dibandingkan Allah ﷻ?!” (QS. An-Nisa: 122)Kami nukilkan penjelasan Prof. Fuad Muhammad Musa, dosen tarbiyah di Jamiah Al-Manshurah, Mesir, tentang ayat ini,إن هذه الآيات توضح لنا خصيصة الخطاب الإسلامي التى يتفرد بها عن كل خطاب البشر، إنه خطاب رب الناس للناس، فهو أصدق خطاب، وأيسر خطاب. ومن ثم لا ينبغي باستبداله بأي خطاب آخر للبشر في الدعوة الإسلامية مهما بلغت بلاغتهم وأساليبهم في الدعوة للإسلام“Ayat-ayat ini menjelaskan kepada kita ciri khas narasi atau pengungkapan Islam yang khas, yang membedakannya dari semua narasi manusia lainnya. Ini adalah narasi Tuhan manusia kepada manusia, dan karenanya merupakan narasi yang paling benar dan paling mudah. Dengan demikian, narasi yang digunakan Islam tidak pantas digantikan dengan ungkapan manusia lainnya dalam seruan kepada Islam, betapapun tinggi kefasihan dan keindahan gaya bahasa mereka dalam mengajak kepada Islam.” [1]Oleh karena itu, metode penjelasan serta diksi yang digunakan Al-Quran mestilah yang terbaik. Istilah dan metode berdalil Al-Quran hendaklah menjadi acuan dalam kita membangun argumentasi fundamental seperti masalah kewujudan zat Tuhan ini. Tidak hanya substansinya atau dalilnya secara langsung, tetapi kita juga bisa mengambil faidah dari susunan argumennya.Sehingga kita tidak boleh terjebak dengan kesibukan membahas istilah tertentu seperti yang terjadi pada diskursus ilmu kalam. Kaidahnya adalah terhadap istilah yang tidak datang dari syariat mesti ditimbang atas apa yang dimaksudkan olehnya, sebagaimana yang diterangkan oleh Ibnu Abil Izz Al-Hanafi dalam Syarah Aqidah Thahawiyah. Bahkan jika memang tidak penting, maka tidak perlu istilah yang ada digunakan. Ada banyak istilah yang diserap dari tradisi filsafat Yunani yang masuk ke dalam diskursus ilmu kalam ketuhanan dalam Islam yang ambigu. Tidak sekadar ambigu, tetapi juga memberikan kesulitan dalam penggunaan karena pemaknaannya yang kabur serta konsekuensi penggunaannya yang kacau.Kemudahan memahami Al-Quran dan As-Sunah kontras dengan argumen kalamHal ini sangat berbeda dengan Al-Quran maupun As-Sunah. Allah ﷻ jadikan Al-Quran dengan kemudahan untuk dipahami serta sabda Nabi ﷺ dikemas dengan jawamiul kalim (bahasa ringkas, namun sarat makna). Al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab; barangsiapa ingin memahami dalil dari Al-Quran, maka melalui lisan orang Arab yang dipahami. Sebagaimana firman Allah ﷻ,بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ“Al-Quran  dengan lisan Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 195)Juga firman Allah ﷻ,وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِّسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ“Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, ‘Sesungguhnya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)’. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al-Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (QS. An-Nahl: 103)Allah ﷻ menurunkan Al-Quran dengan bahasa Arab yang jelas juga begitu fasih. Tujuannya adalah agar memudahkan Nabi ﷺ sebagai pendakwah dan para objek dakwah untuk merenungi ayat-ayat Allah ﷻ yang mulia ini. Terbukti bahwa Al-Quran dapat diterima oleh akal yang cemerlang, maupun akal yang sederhana karena sumber pengetahuan yang terbatas. Tidak kita dapati para sahabat banyak bertanya yang terlalu mendetail atas suatu perkara, tetapi justru mereka adalah pemilik iman terbaik.Artinya, penjelasan Islam sudah mencukupi untuk membantah berbagai syubhat. Buktinya adalah para sahabat Nabi ﷺ menerima iman Islam dan konsepsinya. Adapun kafir Quraisy yang menolak Nabi ﷺ sebenarnya menerima keterangan yang diberikan baginda Nabi ﷺ, tetapi mereka menolak karena faktor kedengkian hati dan terjebaknya dengan doktrin agama nenek moyang.Segala induk pembahasan sudah termaktub dengan jelas di Al-Quran dan kalam Nabi ﷺ.Allah ﷻ berfirman,وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya. Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 115)Allah ﷻ berfirman,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)Kita menyaksikan syariat Nabi Muhammad ﷺ telah begitu komprehensif membahas perkara kehidupan dari yang paling asasi hingga perkara remeh-temeh seperti urusan kamar mandi. Tentu dalam perkara yang lebih esensial lagi, seperti masalah keberadaan Tuhan, telah dibahas dengan tuntas di dalamnya dan sangat kokoh. Oleh sebab itu, tidak perlu ragu menelaah Al-Quran dan As-Sunah untuk dijadikan basis argumen membela Allah ﷻ.Keempat: Mencukupkan diri dengan sumber-sumber yang sah dari Al-Quran dan As-SunahKarena banyaknya pandangan dan pendapat yang membicarakan tentang Tuhan, kita sangat tergoda untuk menggunakannya. Sebagaimana pedoman ketiga meninjau dari aspek validitas substansi dan konsekuensi, maka dari pedoman keempat ini kita memberikan panduan agar argumen eksistensi Tuhan tidak melampaui batas. Jangan sampai sebab kita membela satu pondasi argumen tertentu, sehingga kita membuat perkara baru yang diada-adakan agama.Perkara fatal dalam tubuh Islam yang pertama kali muncul di antaranya adalah bid’ah dalam masalah akidah. Kelompok yang dikenal sebagai Khawarij, Murjiah, dan Qadariy-Jabriy adalah hasil dari kebodohan akan nash yang ditambah dengan sikap mengandalkan akal. Mereka inilah yang menjadi pondasi diskursus firaq dalam Islam karena kebidahan yang muncul ada pada masalah substansial (akidah).Marilah kita menyimak sabda Rasulullah ﷺ yang biasa beliau bacakan ketika membuka khotbah,أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867)Rasulullah ﷺ telah memberikan wasiat bahwa sebaik-baik petunjuk adalah dua wahyu yang diturunkan kepadanya. Barangsiapa yang menyelisihi dua wahyu tersebut atau merasa tidak cukup dengan keduanya sehingga mencari-cari dari luar atau menambah perkara yang baru dalam agama, pasti semua jalan itu akan menghasilkan kerusakan.Sadarkah kita semua betapa besar kejelekan yang ditimbulkan dari bid’ah akidah tersebut?! Benarlah sabda Nabi ﷺ tentang kejelekan bid’ah yang membawa kepada kerusakan dan pertumpahan darah sepanjang zaman. Bahkan sampai hari ini pun kita masih menyaksikan pertembungan antar berbagai kelompok dikarenakan penyimpangan bid’ah dalam tubuh kelompok berseteru, illa man rahima rabbuna.Sebagian dari kelompok tersebut memunculkan bid’ah-nya karena menganggap perkara itu baik. Semisal kelompok Qadariyah (kelompok penolak penetapan takdir oleh Allah ﷻ), mereka berkeyakinan demikian karena ingin menyucikan Allah ﷻ dari penciptaan takdir buruk. Semisal Khawarij yang menggunakan akal pendeknya untuk berargumen membantah Ali radhiyallahu ‘anhu dengan ayat-ayat Al-Quran. Paling jelas dapat kita amati pada kelompok Jahmiyah-Mutazilah yang menolak penetapan seluruh sifat Allah ﷻ karena ingin menyucikannya dari sifat berubah yang lazim dimiliki makhluk. Keyakinan sesat ini bersumber dari syubhat pemikiran filsafat Yunani yang menetapkan Tuhan harus bersifat A, B, C, dan seterusnya. Kemudian timbul pula kelompok mutakallimin semisal Asyariyah-Maturidiyah yang berusaha menjawab syubhat filsafat dalam ketuhanan, tetapi sayangnya saudara kita tersebut terjebak dalam argumen filsafat pula.Maka di sinilah pentingnya kita meniti manhaj para salaf dalam berargumentasi. Salah satu fundamennya adalah menjauhi bid’ah dan tidak menganggapnya baik sama sekali. Imam Malik bin Anas rahimahullahu mengatakan,من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن محمدا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم خان الرسالة“Barangsiapa yang berbuat bid’ah di dalam agama Islam yang ia anggap sebagai bid’ah hasanah, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad ﷺ telah mengkhianati risalah.” (Al-I’tisham, 1: 49)Dalam permasalahan metode penyampaian memang ada keluasan, tetapi sebagai penegas kembali, seluruh pembahasan telah sempurna disampaikan oleh baginda Nabi ﷺ dan kita dilarang untuk melampaui mereka. Allah ﷻ berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 4)Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ“Ikutilah (petunjuk Nabi ﷺ), janganlah membuat bid’ah. Karena sunah itu sudah mecukupi bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 8770)Dengan demikian, menjadi jelas bagi kita semua bahwa mengacu kepada Al-Quran dan As-Sunah tidak hanya meliputi substansi, tetapi juga metode penyampaian. Keluasan dalam menyusun argumen seringkali memunculkan syubhat dalam hati kita bahwa syariat Nabi ﷺ tidak mencukupi. Sehingga sedikit demi sedikit mulai mencicipi argumen sesat, kemudian setan menghiasi dan membuatnya masuk akal. Sehingga pada akhirnya, kita terjerumus ke dalam kebidahan sampai masuk ke sarang biawak. Waliyadzubillah.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Alukah.net

Inilah Tujuh Keutamaan Hari Arafah (Bag. 3)

Daftar Isi ToggleKeutamaan keempat: Allah mendekat kepada para hamba-NyaKeutamaan kelima: Allah membanggakan ahli Arafah di hadapan para malaikatKeutamaan keenam: Allah mengabulkan doa bagi ahli ArafahKeutamaan ketujuh: Hari Arafah adalah hari yang paling agung dalam setahun untuk mempermalukan setanKeutamaan keempat: Allah mendekat kepada para hamba-Nya Di dalam hadis dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang telah lalu disebutkan,وإنَّه لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ، فيَقولُ: ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟“Sesungguhnya Allah mendekat dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman, ‘Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)Makna sabda Nabi (وإنَّه لَيَدْنُو) maksudnya Allah turun ke langit dunia, dan mendekat kepada hamba-Nya di Arafah sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah. Kita meyakininya tanpa mempertanyakan bagaimananya, tanpa menyerupakan dengan makhluk, tanpa menyelewengkan maknanya, dan tanpa menolaknya. Turun dan mendekatnya Allah kepada orang yang wukuf di Arafah merupakan rahmat Allah yang berdampak banyak kebaikan dan keberkahan. Turunnya rahmat Allah sebagaimana disebutkan dalam hadis, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah kedatangan seorang sahabat yang bertanya kepada beliau tetang pahala bagi orang yang wukuf di Arafah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وأما وقوفك بعرفة، فإن الله تبارك وتعالى ينـزل إلى سماء الدنيا، فيباهي بهم الملائكة، فيقول: هؤلاء عبادي جاؤوا شعثًا غبرًا من كل فج عميق، يرجون رحمتي، ويخافون عذابي، ولم يروني، فكيف لو رأوني، فلو كان عليك مثل رمل عالج، أو مثل أيام الدنيا، أو مثل قطر السماء ذنوبًا، غسلها الله عنك“Adapun wukuf di Arafah yang engkau lakukan, sesungguhnya pada hari itu Allah turun ke langit bumi, dan Dia membanggakan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah di hadapan para malaikat-Nya, dengan berkata, ‘Ini adalah hamba-hamba-Ku yang datang dengan rambut kusut dan berdebu dari setiap penjuru yang jauh, mengharapkan rahmat-Ku, dan takut akan azab-Ku, padahal mereka belum pernah melihat-Ku. Maka, bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?’ Jika dosa-dosamu sebanyak butiran pasir atau sebanyak hari-hari di dunia, atau sebanyak tetesan hujan di langit, niscaya Allah akan menghapus semuanya darimu.” (HR. Ath-Thabrani no. 13566, hasan)Keutamaan kelima: Allah membanggakan ahli Arafah di hadapan para malaikat Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِى مَلاَئِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ فَيَقُولُ انْظُرُوا إِلَى عِبَادِى أَتَوْنِى شُعْثاً غُبْراً“Sesungguhnya Allah berbangga kepada para malaikat-Nya pada sore Arafah dengan orang-orang di Arafah, dan berkata, “Lihatlah keadaan hamba-Ku, mereka mendatangi-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu.” (HR. Ahmad no. 8047, sahih)Dan telah berlalu hadis dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ“Dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat.” (HR. Muslim no. 1348)Ini merupakan keutamaan yang agung bagi ahli Arafah, bahwa Allah Rabbul ‘aalamiin membanggakan mereka di hadapan penduduk langit, yaitu para malaikat yang mulia, sementara sejatinya Allah tidak butuh terhadap hamba-Nya, tidak butuh haji dan doa-doa mereka. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِۚ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ ۝١٥اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ ۝١٦i وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ ۝١٧“Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah. Hanya Allah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Jika berkehendak, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru. Yang demikian itu bagi Allah tidak sulit.“ (QS. Fathir: 15-17)Allah dengan kesempurnaan-Nya yang tidak membutuhkan apapun dari makhluk ternyata membanggakan ahli Arafah di hadapan para mailakat, sebagai bentuk pemuliaan terhadap mereka.Penyebutan kebanggaan ini di hadapan para malaikat menunjukkan bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka. Karena sesungguhnya jemaah haji ketika datang dari negerinya, mereka sangat mengharapkan rahmat dari Allah, dan menginginkan kesuksesan dan mendapatkan keridaan dan surga Allah, mendapatkan ampunan dari neraka. Maka Allah memuliakan mereka dengan mengampuni dosa-dosa mereka dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat. Hal ini disebutkan dalam hadis Nabi ketika beliau bersabda tentang jemaah haji yang wukuf di Arafah,إن الله يهبط إلى سماء الدنيا، ثم يباهي بهم الملائكة، فيقول: هؤلاء عبادي جاءوني شعثا سفعا، يرجون رحمتي ومغفرتي؛ فلو كانت ذنوبهم كعدد الرمل، وكعدد القطر، وكزبد البحر، لغفرتها، أفيضوا عبادي مغفورا لكم، ولمن شفعتم له“Allah turun ke langit dunia dan membanggakan mereka kepada para malaikat, seraya berkata, “Ini adalah hamba-hamba-Ku yang datang kepada-Ku dalam keadaan lusuh dan berdebu, mengharapkan rahmat dan pengampunan-Ku. Sekalipun dosa mereka sebanyak butiran pasir, sebanyak tetesan hujan, dan sebanyak buih di laut, Aku akan mengampuni mereka. Pergilah, wahai hamba-hamba-Ku, dalam keadaan telah diampuni dosa-dosa kalian dan juga orang-orang  yang kalian beri syafaat kepada mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)Keutamaan keenam: Allah mengabulkan doa bagi ahli ArafahSesungguhnya Allah Ta’ala mengabulkan orang yang berdoa kepada-Nya dan memberi orang yang meminta kepada-Nya bagi orang yang wukuf di hari yang agung ini. Hal ini diterangkan dalam hadis Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟“Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)Allah bertanya kepada para malaikat-Nya, “Apa yang mereka inginkan?“ Padahal Allah lebih tahu tentang mereka dan lebih tahu tentang apa yang ada di hati mereka. Akan tetapi, Allah bertanya seperti itu agar mereka bisa menyampaikan apa yang mereka inginkan, sehingga Allah bisa mengabulkan permintaan mereka. Oleh karena itu, setelahnya Allah berfirman,اشْهدوا ملائكتي أني قد غفرت لهم“Bersaksilah, wahai malaikat-malaikat-Ku, bahwa Aku telah mengampuni mereka.” (Lihat dalam Shahih At-Targhiib wa At-Tarhiib no. 1154)Bahkan sesungguhnya Allah Ta’ala, di antara bentuk pemuliaan dari-Nya kepada ahli Arafah, maka Allah menerima syafaat mereka bagi orang-orang yang meminta kepada-Nya, dan meminta ampunan kepada-Nya, sebagaimana ditetapkan dalam hadis,أفيضوا عبادي مغفورا لكم، ولمن شفعتم له“Pergilah, wahai hamba-hamba-Ku, dalam keadaan telah diampuni dosa-dosa kalian dan juga orang-orang  yang kalian beri syafaat kepada mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)Oleh karena itu, hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahun untuk berdoa dan bermunajat, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خيرُ الدعاءِ دعاءُ يومِ عرفةَ“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.“ (HR. Tirmidzi no. 3585, shahih)Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata, “Dalam hadis ini terkandung fikih bahwasannya doa pada hari Arafah lebih utama dibandingkan yang lainnya, dan dalam hadis ini terdapat dalil bahwasanya doa di hari Arafah secara umum akan dikabulkan semuanya.“Hendaknya para jemaah haji pada hari ini benar-benar berdoa kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan dan bahwa Allah tidak akan menolak permintaan-Nya, dan tidak memutus harapan-Nya. Maka berdoalah pada saat itu dengan ikhlas disertai dengan kejujuran meminta kepada Allah, dan memohon disertai dengan berprasangka baik dengan Allah yang Mahamulia.‘Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah berkata, “Aku mendatangi Sufyan Ats-Tsauri pada hari Arafah dan beliau sedang di atas tunggangannya, dan air matanya menetes. Aku pun menangis dan beliau pun menghampiriku seraya berkata, “Apa yang engkau lakukan?” Aku pun menjawab, “Siapakah orang yang paling jelek keadaannya yang berkumpul di hari ini?“ Maka Sufyan menjawab, “Orang yang menyangka bahwasanya Allah tidak akan mengampuinya.”Keutamaan ketujuh: Hari Arafah adalah hari yang paling agung dalam setahun untuk mempermalukan setanDari Thalhah bin ‘Ubaidillah bin Kuraiz rahimahullah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا رُئِيَ الشَّيْطَانُ يَوْمًا هُوَ فِيهِ أَصْغَرُ وَلاَ أَدْحَرُ وَلاَ أَحْقَرُ وَلاَ أَغْيَظُ مِنْهُ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ وَمَا ذَاكَ إِلاَّ لِمَا رَأَى مِنْ تَنَزُّلِ الرَّحْمَةِ وَتَجَاوُزِ اللَّهِ عَنْ الذُّنُوبِ الْعِظَامِ“Tidaklah setan pernah terlihat lebih kerdil, terjauhkan, hina, dan marah daripada saat hari Arafah, dan itu tidak lain karena ia melihat turunnya rahmat dan pengampunan Allâh atas dosa-dosa besar.“ (HR. Malik no. 944)Setan murka dan sedih dengan apa yang akan terjadi pada hari itu berupa pembebasan budak, turunnya rahmat, dan pengampunan dosa. Namun ia kembali dengan kecewa, kalah, dan takluk.[Selesai]***Penerjemah: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.

Inilah Tujuh Keutamaan Hari Arafah (Bag. 3)

Daftar Isi ToggleKeutamaan keempat: Allah mendekat kepada para hamba-NyaKeutamaan kelima: Allah membanggakan ahli Arafah di hadapan para malaikatKeutamaan keenam: Allah mengabulkan doa bagi ahli ArafahKeutamaan ketujuh: Hari Arafah adalah hari yang paling agung dalam setahun untuk mempermalukan setanKeutamaan keempat: Allah mendekat kepada para hamba-Nya Di dalam hadis dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang telah lalu disebutkan,وإنَّه لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ، فيَقولُ: ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟“Sesungguhnya Allah mendekat dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman, ‘Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)Makna sabda Nabi (وإنَّه لَيَدْنُو) maksudnya Allah turun ke langit dunia, dan mendekat kepada hamba-Nya di Arafah sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah. Kita meyakininya tanpa mempertanyakan bagaimananya, tanpa menyerupakan dengan makhluk, tanpa menyelewengkan maknanya, dan tanpa menolaknya. Turun dan mendekatnya Allah kepada orang yang wukuf di Arafah merupakan rahmat Allah yang berdampak banyak kebaikan dan keberkahan. Turunnya rahmat Allah sebagaimana disebutkan dalam hadis, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah kedatangan seorang sahabat yang bertanya kepada beliau tetang pahala bagi orang yang wukuf di Arafah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وأما وقوفك بعرفة، فإن الله تبارك وتعالى ينـزل إلى سماء الدنيا، فيباهي بهم الملائكة، فيقول: هؤلاء عبادي جاؤوا شعثًا غبرًا من كل فج عميق، يرجون رحمتي، ويخافون عذابي، ولم يروني، فكيف لو رأوني، فلو كان عليك مثل رمل عالج، أو مثل أيام الدنيا، أو مثل قطر السماء ذنوبًا، غسلها الله عنك“Adapun wukuf di Arafah yang engkau lakukan, sesungguhnya pada hari itu Allah turun ke langit bumi, dan Dia membanggakan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah di hadapan para malaikat-Nya, dengan berkata, ‘Ini adalah hamba-hamba-Ku yang datang dengan rambut kusut dan berdebu dari setiap penjuru yang jauh, mengharapkan rahmat-Ku, dan takut akan azab-Ku, padahal mereka belum pernah melihat-Ku. Maka, bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?’ Jika dosa-dosamu sebanyak butiran pasir atau sebanyak hari-hari di dunia, atau sebanyak tetesan hujan di langit, niscaya Allah akan menghapus semuanya darimu.” (HR. Ath-Thabrani no. 13566, hasan)Keutamaan kelima: Allah membanggakan ahli Arafah di hadapan para malaikat Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِى مَلاَئِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ فَيَقُولُ انْظُرُوا إِلَى عِبَادِى أَتَوْنِى شُعْثاً غُبْراً“Sesungguhnya Allah berbangga kepada para malaikat-Nya pada sore Arafah dengan orang-orang di Arafah, dan berkata, “Lihatlah keadaan hamba-Ku, mereka mendatangi-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu.” (HR. Ahmad no. 8047, sahih)Dan telah berlalu hadis dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ“Dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat.” (HR. Muslim no. 1348)Ini merupakan keutamaan yang agung bagi ahli Arafah, bahwa Allah Rabbul ‘aalamiin membanggakan mereka di hadapan penduduk langit, yaitu para malaikat yang mulia, sementara sejatinya Allah tidak butuh terhadap hamba-Nya, tidak butuh haji dan doa-doa mereka. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِۚ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ ۝١٥اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ ۝١٦i وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ ۝١٧“Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah. Hanya Allah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Jika berkehendak, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru. Yang demikian itu bagi Allah tidak sulit.“ (QS. Fathir: 15-17)Allah dengan kesempurnaan-Nya yang tidak membutuhkan apapun dari makhluk ternyata membanggakan ahli Arafah di hadapan para mailakat, sebagai bentuk pemuliaan terhadap mereka.Penyebutan kebanggaan ini di hadapan para malaikat menunjukkan bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka. Karena sesungguhnya jemaah haji ketika datang dari negerinya, mereka sangat mengharapkan rahmat dari Allah, dan menginginkan kesuksesan dan mendapatkan keridaan dan surga Allah, mendapatkan ampunan dari neraka. Maka Allah memuliakan mereka dengan mengampuni dosa-dosa mereka dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat. Hal ini disebutkan dalam hadis Nabi ketika beliau bersabda tentang jemaah haji yang wukuf di Arafah,إن الله يهبط إلى سماء الدنيا، ثم يباهي بهم الملائكة، فيقول: هؤلاء عبادي جاءوني شعثا سفعا، يرجون رحمتي ومغفرتي؛ فلو كانت ذنوبهم كعدد الرمل، وكعدد القطر، وكزبد البحر، لغفرتها، أفيضوا عبادي مغفورا لكم، ولمن شفعتم له“Allah turun ke langit dunia dan membanggakan mereka kepada para malaikat, seraya berkata, “Ini adalah hamba-hamba-Ku yang datang kepada-Ku dalam keadaan lusuh dan berdebu, mengharapkan rahmat dan pengampunan-Ku. Sekalipun dosa mereka sebanyak butiran pasir, sebanyak tetesan hujan, dan sebanyak buih di laut, Aku akan mengampuni mereka. Pergilah, wahai hamba-hamba-Ku, dalam keadaan telah diampuni dosa-dosa kalian dan juga orang-orang  yang kalian beri syafaat kepada mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)Keutamaan keenam: Allah mengabulkan doa bagi ahli ArafahSesungguhnya Allah Ta’ala mengabulkan orang yang berdoa kepada-Nya dan memberi orang yang meminta kepada-Nya bagi orang yang wukuf di hari yang agung ini. Hal ini diterangkan dalam hadis Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟“Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)Allah bertanya kepada para malaikat-Nya, “Apa yang mereka inginkan?“ Padahal Allah lebih tahu tentang mereka dan lebih tahu tentang apa yang ada di hati mereka. Akan tetapi, Allah bertanya seperti itu agar mereka bisa menyampaikan apa yang mereka inginkan, sehingga Allah bisa mengabulkan permintaan mereka. Oleh karena itu, setelahnya Allah berfirman,اشْهدوا ملائكتي أني قد غفرت لهم“Bersaksilah, wahai malaikat-malaikat-Ku, bahwa Aku telah mengampuni mereka.” (Lihat dalam Shahih At-Targhiib wa At-Tarhiib no. 1154)Bahkan sesungguhnya Allah Ta’ala, di antara bentuk pemuliaan dari-Nya kepada ahli Arafah, maka Allah menerima syafaat mereka bagi orang-orang yang meminta kepada-Nya, dan meminta ampunan kepada-Nya, sebagaimana ditetapkan dalam hadis,أفيضوا عبادي مغفورا لكم، ولمن شفعتم له“Pergilah, wahai hamba-hamba-Ku, dalam keadaan telah diampuni dosa-dosa kalian dan juga orang-orang  yang kalian beri syafaat kepada mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)Oleh karena itu, hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahun untuk berdoa dan bermunajat, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خيرُ الدعاءِ دعاءُ يومِ عرفةَ“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.“ (HR. Tirmidzi no. 3585, shahih)Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata, “Dalam hadis ini terkandung fikih bahwasannya doa pada hari Arafah lebih utama dibandingkan yang lainnya, dan dalam hadis ini terdapat dalil bahwasanya doa di hari Arafah secara umum akan dikabulkan semuanya.“Hendaknya para jemaah haji pada hari ini benar-benar berdoa kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan dan bahwa Allah tidak akan menolak permintaan-Nya, dan tidak memutus harapan-Nya. Maka berdoalah pada saat itu dengan ikhlas disertai dengan kejujuran meminta kepada Allah, dan memohon disertai dengan berprasangka baik dengan Allah yang Mahamulia.‘Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah berkata, “Aku mendatangi Sufyan Ats-Tsauri pada hari Arafah dan beliau sedang di atas tunggangannya, dan air matanya menetes. Aku pun menangis dan beliau pun menghampiriku seraya berkata, “Apa yang engkau lakukan?” Aku pun menjawab, “Siapakah orang yang paling jelek keadaannya yang berkumpul di hari ini?“ Maka Sufyan menjawab, “Orang yang menyangka bahwasanya Allah tidak akan mengampuinya.”Keutamaan ketujuh: Hari Arafah adalah hari yang paling agung dalam setahun untuk mempermalukan setanDari Thalhah bin ‘Ubaidillah bin Kuraiz rahimahullah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا رُئِيَ الشَّيْطَانُ يَوْمًا هُوَ فِيهِ أَصْغَرُ وَلاَ أَدْحَرُ وَلاَ أَحْقَرُ وَلاَ أَغْيَظُ مِنْهُ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ وَمَا ذَاكَ إِلاَّ لِمَا رَأَى مِنْ تَنَزُّلِ الرَّحْمَةِ وَتَجَاوُزِ اللَّهِ عَنْ الذُّنُوبِ الْعِظَامِ“Tidaklah setan pernah terlihat lebih kerdil, terjauhkan, hina, dan marah daripada saat hari Arafah, dan itu tidak lain karena ia melihat turunnya rahmat dan pengampunan Allâh atas dosa-dosa besar.“ (HR. Malik no. 944)Setan murka dan sedih dengan apa yang akan terjadi pada hari itu berupa pembebasan budak, turunnya rahmat, dan pengampunan dosa. Namun ia kembali dengan kecewa, kalah, dan takluk.[Selesai]***Penerjemah: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.
Daftar Isi ToggleKeutamaan keempat: Allah mendekat kepada para hamba-NyaKeutamaan kelima: Allah membanggakan ahli Arafah di hadapan para malaikatKeutamaan keenam: Allah mengabulkan doa bagi ahli ArafahKeutamaan ketujuh: Hari Arafah adalah hari yang paling agung dalam setahun untuk mempermalukan setanKeutamaan keempat: Allah mendekat kepada para hamba-Nya Di dalam hadis dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang telah lalu disebutkan,وإنَّه لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ، فيَقولُ: ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟“Sesungguhnya Allah mendekat dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman, ‘Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)Makna sabda Nabi (وإنَّه لَيَدْنُو) maksudnya Allah turun ke langit dunia, dan mendekat kepada hamba-Nya di Arafah sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah. Kita meyakininya tanpa mempertanyakan bagaimananya, tanpa menyerupakan dengan makhluk, tanpa menyelewengkan maknanya, dan tanpa menolaknya. Turun dan mendekatnya Allah kepada orang yang wukuf di Arafah merupakan rahmat Allah yang berdampak banyak kebaikan dan keberkahan. Turunnya rahmat Allah sebagaimana disebutkan dalam hadis, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah kedatangan seorang sahabat yang bertanya kepada beliau tetang pahala bagi orang yang wukuf di Arafah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وأما وقوفك بعرفة، فإن الله تبارك وتعالى ينـزل إلى سماء الدنيا، فيباهي بهم الملائكة، فيقول: هؤلاء عبادي جاؤوا شعثًا غبرًا من كل فج عميق، يرجون رحمتي، ويخافون عذابي، ولم يروني، فكيف لو رأوني، فلو كان عليك مثل رمل عالج، أو مثل أيام الدنيا، أو مثل قطر السماء ذنوبًا، غسلها الله عنك“Adapun wukuf di Arafah yang engkau lakukan, sesungguhnya pada hari itu Allah turun ke langit bumi, dan Dia membanggakan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah di hadapan para malaikat-Nya, dengan berkata, ‘Ini adalah hamba-hamba-Ku yang datang dengan rambut kusut dan berdebu dari setiap penjuru yang jauh, mengharapkan rahmat-Ku, dan takut akan azab-Ku, padahal mereka belum pernah melihat-Ku. Maka, bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?’ Jika dosa-dosamu sebanyak butiran pasir atau sebanyak hari-hari di dunia, atau sebanyak tetesan hujan di langit, niscaya Allah akan menghapus semuanya darimu.” (HR. Ath-Thabrani no. 13566, hasan)Keutamaan kelima: Allah membanggakan ahli Arafah di hadapan para malaikat Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِى مَلاَئِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ فَيَقُولُ انْظُرُوا إِلَى عِبَادِى أَتَوْنِى شُعْثاً غُبْراً“Sesungguhnya Allah berbangga kepada para malaikat-Nya pada sore Arafah dengan orang-orang di Arafah, dan berkata, “Lihatlah keadaan hamba-Ku, mereka mendatangi-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu.” (HR. Ahmad no. 8047, sahih)Dan telah berlalu hadis dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ“Dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat.” (HR. Muslim no. 1348)Ini merupakan keutamaan yang agung bagi ahli Arafah, bahwa Allah Rabbul ‘aalamiin membanggakan mereka di hadapan penduduk langit, yaitu para malaikat yang mulia, sementara sejatinya Allah tidak butuh terhadap hamba-Nya, tidak butuh haji dan doa-doa mereka. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِۚ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ ۝١٥اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ ۝١٦i وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ ۝١٧“Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah. Hanya Allah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Jika berkehendak, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru. Yang demikian itu bagi Allah tidak sulit.“ (QS. Fathir: 15-17)Allah dengan kesempurnaan-Nya yang tidak membutuhkan apapun dari makhluk ternyata membanggakan ahli Arafah di hadapan para mailakat, sebagai bentuk pemuliaan terhadap mereka.Penyebutan kebanggaan ini di hadapan para malaikat menunjukkan bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka. Karena sesungguhnya jemaah haji ketika datang dari negerinya, mereka sangat mengharapkan rahmat dari Allah, dan menginginkan kesuksesan dan mendapatkan keridaan dan surga Allah, mendapatkan ampunan dari neraka. Maka Allah memuliakan mereka dengan mengampuni dosa-dosa mereka dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat. Hal ini disebutkan dalam hadis Nabi ketika beliau bersabda tentang jemaah haji yang wukuf di Arafah,إن الله يهبط إلى سماء الدنيا، ثم يباهي بهم الملائكة، فيقول: هؤلاء عبادي جاءوني شعثا سفعا، يرجون رحمتي ومغفرتي؛ فلو كانت ذنوبهم كعدد الرمل، وكعدد القطر، وكزبد البحر، لغفرتها، أفيضوا عبادي مغفورا لكم، ولمن شفعتم له“Allah turun ke langit dunia dan membanggakan mereka kepada para malaikat, seraya berkata, “Ini adalah hamba-hamba-Ku yang datang kepada-Ku dalam keadaan lusuh dan berdebu, mengharapkan rahmat dan pengampunan-Ku. Sekalipun dosa mereka sebanyak butiran pasir, sebanyak tetesan hujan, dan sebanyak buih di laut, Aku akan mengampuni mereka. Pergilah, wahai hamba-hamba-Ku, dalam keadaan telah diampuni dosa-dosa kalian dan juga orang-orang  yang kalian beri syafaat kepada mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)Keutamaan keenam: Allah mengabulkan doa bagi ahli ArafahSesungguhnya Allah Ta’ala mengabulkan orang yang berdoa kepada-Nya dan memberi orang yang meminta kepada-Nya bagi orang yang wukuf di hari yang agung ini. Hal ini diterangkan dalam hadis Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟“Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)Allah bertanya kepada para malaikat-Nya, “Apa yang mereka inginkan?“ Padahal Allah lebih tahu tentang mereka dan lebih tahu tentang apa yang ada di hati mereka. Akan tetapi, Allah bertanya seperti itu agar mereka bisa menyampaikan apa yang mereka inginkan, sehingga Allah bisa mengabulkan permintaan mereka. Oleh karena itu, setelahnya Allah berfirman,اشْهدوا ملائكتي أني قد غفرت لهم“Bersaksilah, wahai malaikat-malaikat-Ku, bahwa Aku telah mengampuni mereka.” (Lihat dalam Shahih At-Targhiib wa At-Tarhiib no. 1154)Bahkan sesungguhnya Allah Ta’ala, di antara bentuk pemuliaan dari-Nya kepada ahli Arafah, maka Allah menerima syafaat mereka bagi orang-orang yang meminta kepada-Nya, dan meminta ampunan kepada-Nya, sebagaimana ditetapkan dalam hadis,أفيضوا عبادي مغفورا لكم، ولمن شفعتم له“Pergilah, wahai hamba-hamba-Ku, dalam keadaan telah diampuni dosa-dosa kalian dan juga orang-orang  yang kalian beri syafaat kepada mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)Oleh karena itu, hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahun untuk berdoa dan bermunajat, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خيرُ الدعاءِ دعاءُ يومِ عرفةَ“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.“ (HR. Tirmidzi no. 3585, shahih)Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata, “Dalam hadis ini terkandung fikih bahwasannya doa pada hari Arafah lebih utama dibandingkan yang lainnya, dan dalam hadis ini terdapat dalil bahwasanya doa di hari Arafah secara umum akan dikabulkan semuanya.“Hendaknya para jemaah haji pada hari ini benar-benar berdoa kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan dan bahwa Allah tidak akan menolak permintaan-Nya, dan tidak memutus harapan-Nya. Maka berdoalah pada saat itu dengan ikhlas disertai dengan kejujuran meminta kepada Allah, dan memohon disertai dengan berprasangka baik dengan Allah yang Mahamulia.‘Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah berkata, “Aku mendatangi Sufyan Ats-Tsauri pada hari Arafah dan beliau sedang di atas tunggangannya, dan air matanya menetes. Aku pun menangis dan beliau pun menghampiriku seraya berkata, “Apa yang engkau lakukan?” Aku pun menjawab, “Siapakah orang yang paling jelek keadaannya yang berkumpul di hari ini?“ Maka Sufyan menjawab, “Orang yang menyangka bahwasanya Allah tidak akan mengampuinya.”Keutamaan ketujuh: Hari Arafah adalah hari yang paling agung dalam setahun untuk mempermalukan setanDari Thalhah bin ‘Ubaidillah bin Kuraiz rahimahullah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا رُئِيَ الشَّيْطَانُ يَوْمًا هُوَ فِيهِ أَصْغَرُ وَلاَ أَدْحَرُ وَلاَ أَحْقَرُ وَلاَ أَغْيَظُ مِنْهُ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ وَمَا ذَاكَ إِلاَّ لِمَا رَأَى مِنْ تَنَزُّلِ الرَّحْمَةِ وَتَجَاوُزِ اللَّهِ عَنْ الذُّنُوبِ الْعِظَامِ“Tidaklah setan pernah terlihat lebih kerdil, terjauhkan, hina, dan marah daripada saat hari Arafah, dan itu tidak lain karena ia melihat turunnya rahmat dan pengampunan Allâh atas dosa-dosa besar.“ (HR. Malik no. 944)Setan murka dan sedih dengan apa yang akan terjadi pada hari itu berupa pembebasan budak, turunnya rahmat, dan pengampunan dosa. Namun ia kembali dengan kecewa, kalah, dan takluk.[Selesai]***Penerjemah: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.


Daftar Isi ToggleKeutamaan keempat: Allah mendekat kepada para hamba-NyaKeutamaan kelima: Allah membanggakan ahli Arafah di hadapan para malaikatKeutamaan keenam: Allah mengabulkan doa bagi ahli ArafahKeutamaan ketujuh: Hari Arafah adalah hari yang paling agung dalam setahun untuk mempermalukan setanKeutamaan keempat: Allah mendekat kepada para hamba-Nya Di dalam hadis dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang telah lalu disebutkan,وإنَّه لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ، فيَقولُ: ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟“Sesungguhnya Allah mendekat dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman, ‘Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)Makna sabda Nabi (وإنَّه لَيَدْنُو) maksudnya Allah turun ke langit dunia, dan mendekat kepada hamba-Nya di Arafah sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah. Kita meyakininya tanpa mempertanyakan bagaimananya, tanpa menyerupakan dengan makhluk, tanpa menyelewengkan maknanya, dan tanpa menolaknya. Turun dan mendekatnya Allah kepada orang yang wukuf di Arafah merupakan rahmat Allah yang berdampak banyak kebaikan dan keberkahan. Turunnya rahmat Allah sebagaimana disebutkan dalam hadis, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah kedatangan seorang sahabat yang bertanya kepada beliau tetang pahala bagi orang yang wukuf di Arafah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وأما وقوفك بعرفة، فإن الله تبارك وتعالى ينـزل إلى سماء الدنيا، فيباهي بهم الملائكة، فيقول: هؤلاء عبادي جاؤوا شعثًا غبرًا من كل فج عميق، يرجون رحمتي، ويخافون عذابي، ولم يروني، فكيف لو رأوني، فلو كان عليك مثل رمل عالج، أو مثل أيام الدنيا، أو مثل قطر السماء ذنوبًا، غسلها الله عنك“Adapun wukuf di Arafah yang engkau lakukan, sesungguhnya pada hari itu Allah turun ke langit bumi, dan Dia membanggakan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah di hadapan para malaikat-Nya, dengan berkata, ‘Ini adalah hamba-hamba-Ku yang datang dengan rambut kusut dan berdebu dari setiap penjuru yang jauh, mengharapkan rahmat-Ku, dan takut akan azab-Ku, padahal mereka belum pernah melihat-Ku. Maka, bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?’ Jika dosa-dosamu sebanyak butiran pasir atau sebanyak hari-hari di dunia, atau sebanyak tetesan hujan di langit, niscaya Allah akan menghapus semuanya darimu.” (HR. Ath-Thabrani no. 13566, hasan)Keutamaan kelima: Allah membanggakan ahli Arafah di hadapan para malaikat Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِى مَلاَئِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ فَيَقُولُ انْظُرُوا إِلَى عِبَادِى أَتَوْنِى شُعْثاً غُبْراً“Sesungguhnya Allah berbangga kepada para malaikat-Nya pada sore Arafah dengan orang-orang di Arafah, dan berkata, “Lihatlah keadaan hamba-Ku, mereka mendatangi-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu.” (HR. Ahmad no. 8047, sahih)Dan telah berlalu hadis dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ“Dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat.” (HR. Muslim no. 1348)Ini merupakan keutamaan yang agung bagi ahli Arafah, bahwa Allah Rabbul ‘aalamiin membanggakan mereka di hadapan penduduk langit, yaitu para malaikat yang mulia, sementara sejatinya Allah tidak butuh terhadap hamba-Nya, tidak butuh haji dan doa-doa mereka. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِۚ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ ۝١٥اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ ۝١٦i وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ ۝١٧“Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah. Hanya Allah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Jika berkehendak, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru. Yang demikian itu bagi Allah tidak sulit.“ (QS. Fathir: 15-17)Allah dengan kesempurnaan-Nya yang tidak membutuhkan apapun dari makhluk ternyata membanggakan ahli Arafah di hadapan para mailakat, sebagai bentuk pemuliaan terhadap mereka.Penyebutan kebanggaan ini di hadapan para malaikat menunjukkan bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka. Karena sesungguhnya jemaah haji ketika datang dari negerinya, mereka sangat mengharapkan rahmat dari Allah, dan menginginkan kesuksesan dan mendapatkan keridaan dan surga Allah, mendapatkan ampunan dari neraka. Maka Allah memuliakan mereka dengan mengampuni dosa-dosa mereka dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat. Hal ini disebutkan dalam hadis Nabi ketika beliau bersabda tentang jemaah haji yang wukuf di Arafah,إن الله يهبط إلى سماء الدنيا، ثم يباهي بهم الملائكة، فيقول: هؤلاء عبادي جاءوني شعثا سفعا، يرجون رحمتي ومغفرتي؛ فلو كانت ذنوبهم كعدد الرمل، وكعدد القطر، وكزبد البحر، لغفرتها، أفيضوا عبادي مغفورا لكم، ولمن شفعتم له“Allah turun ke langit dunia dan membanggakan mereka kepada para malaikat, seraya berkata, “Ini adalah hamba-hamba-Ku yang datang kepada-Ku dalam keadaan lusuh dan berdebu, mengharapkan rahmat dan pengampunan-Ku. Sekalipun dosa mereka sebanyak butiran pasir, sebanyak tetesan hujan, dan sebanyak buih di laut, Aku akan mengampuni mereka. Pergilah, wahai hamba-hamba-Ku, dalam keadaan telah diampuni dosa-dosa kalian dan juga orang-orang  yang kalian beri syafaat kepada mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)Keutamaan keenam: Allah mengabulkan doa bagi ahli ArafahSesungguhnya Allah Ta’ala mengabulkan orang yang berdoa kepada-Nya dan memberi orang yang meminta kepada-Nya bagi orang yang wukuf di hari yang agung ini. Hal ini diterangkan dalam hadis Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟“Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)Allah bertanya kepada para malaikat-Nya, “Apa yang mereka inginkan?“ Padahal Allah lebih tahu tentang mereka dan lebih tahu tentang apa yang ada di hati mereka. Akan tetapi, Allah bertanya seperti itu agar mereka bisa menyampaikan apa yang mereka inginkan, sehingga Allah bisa mengabulkan permintaan mereka. Oleh karena itu, setelahnya Allah berfirman,اشْهدوا ملائكتي أني قد غفرت لهم“Bersaksilah, wahai malaikat-malaikat-Ku, bahwa Aku telah mengampuni mereka.” (Lihat dalam Shahih At-Targhiib wa At-Tarhiib no. 1154)Bahkan sesungguhnya Allah Ta’ala, di antara bentuk pemuliaan dari-Nya kepada ahli Arafah, maka Allah menerima syafaat mereka bagi orang-orang yang meminta kepada-Nya, dan meminta ampunan kepada-Nya, sebagaimana ditetapkan dalam hadis,أفيضوا عبادي مغفورا لكم، ولمن شفعتم له“Pergilah, wahai hamba-hamba-Ku, dalam keadaan telah diampuni dosa-dosa kalian dan juga orang-orang  yang kalian beri syafaat kepada mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)Oleh karena itu, hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahun untuk berdoa dan bermunajat, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خيرُ الدعاءِ دعاءُ يومِ عرفةَ“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.“ (HR. Tirmidzi no. 3585, shahih)Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata, “Dalam hadis ini terkandung fikih bahwasannya doa pada hari Arafah lebih utama dibandingkan yang lainnya, dan dalam hadis ini terdapat dalil bahwasanya doa di hari Arafah secara umum akan dikabulkan semuanya.“Hendaknya para jemaah haji pada hari ini benar-benar berdoa kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan dan bahwa Allah tidak akan menolak permintaan-Nya, dan tidak memutus harapan-Nya. Maka berdoalah pada saat itu dengan ikhlas disertai dengan kejujuran meminta kepada Allah, dan memohon disertai dengan berprasangka baik dengan Allah yang Mahamulia.‘Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah berkata, “Aku mendatangi Sufyan Ats-Tsauri pada hari Arafah dan beliau sedang di atas tunggangannya, dan air matanya menetes. Aku pun menangis dan beliau pun menghampiriku seraya berkata, “Apa yang engkau lakukan?” Aku pun menjawab, “Siapakah orang yang paling jelek keadaannya yang berkumpul di hari ini?“ Maka Sufyan menjawab, “Orang yang menyangka bahwasanya Allah tidak akan mengampuinya.”Keutamaan ketujuh: Hari Arafah adalah hari yang paling agung dalam setahun untuk mempermalukan setanDari Thalhah bin ‘Ubaidillah bin Kuraiz rahimahullah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا رُئِيَ الشَّيْطَانُ يَوْمًا هُوَ فِيهِ أَصْغَرُ وَلاَ أَدْحَرُ وَلاَ أَحْقَرُ وَلاَ أَغْيَظُ مِنْهُ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ وَمَا ذَاكَ إِلاَّ لِمَا رَأَى مِنْ تَنَزُّلِ الرَّحْمَةِ وَتَجَاوُزِ اللَّهِ عَنْ الذُّنُوبِ الْعِظَامِ“Tidaklah setan pernah terlihat lebih kerdil, terjauhkan, hina, dan marah daripada saat hari Arafah, dan itu tidak lain karena ia melihat turunnya rahmat dan pengampunan Allâh atas dosa-dosa besar.“ (HR. Malik no. 944)Setan murka dan sedih dengan apa yang akan terjadi pada hari itu berupa pembebasan budak, turunnya rahmat, dan pengampunan dosa. Namun ia kembali dengan kecewa, kalah, dan takluk.[Selesai]***Penerjemah: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.

Sering Malas Shalat? Lakukan Strategi Dua Langkah Ini Agar Anda Kembali Bersemangat!

Sebagian saudara kita merasa bahwa menunaikan shalat adalah perkara yang berat dan sulit. Baik itu secara keseluruhan, dalam arti ia merasa sangat berat untuk mengerjakan shalat, entah dia seorang penuntut ilmu maupun selainnya, atau orang yang baru masuk Islam. Maupun ia merasa berat dalam menjalankan sebagian kewajiban shalat maupun sunah-sunah muakadnya. Di antara kewajiban shalat—menurut pendapat banyak ulama—adalah melaksanakannya secara berjamaah. Ada orang yang merasa berat untuk shalat berjamaah, tapi ia tetap menunaikan shalat. Maka kami katakan bahwa langkah pertama yang harus ditekankan oleh seseorang setelah memberikan perhatian pada shalat, adalah melatih dirinya melalui dua perkara. Perkara pertama: Melaksanakan ibadah wajib beserta sunah-sunahnya. Karena siapa yang melakukan ibadah wajib beserta sunah-sunahnya, maka saat ia sedang malas dan lesu, ia akan tetap mengerjakan ibadah wajib tersebut dan hanya meninggalkan amalan sunahnya saja. Ini sangat jelas, dan inilah makna ucapan Imam Ahmad: “Orang yang terbiasa meninggalkan sunah rawatib adalah orang yang buruk.” Karena di saat ia sedang lemah dan lesu, bisa jadi ia akan meninggalkan ibadah yang wajib. Perkara kedua: Memberikan perhatian pada shalat-shalat yang paling ditekankan. Adapun di antara shalat lima waktu yang paling ditekankan adalah Shalat Ashar. Kemudian Shalat Subuh, lalu Shalat Isya. Siapa yang mampu menjaga ketiga shalat ini dengan baik, niscaya ia akan mampu menjaga shalat lainnya. Bahkan para ulama menegaskan bahwa siapa pun yang menjaga Shalat Ashar dengan baik, maka ia akan lebih mudah menjaga shalat-shalat yang lain. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Peliharalah semua shalat fardhu dan shalat yang pertengahan…” (QS. Al-Baqarah: 238). Makna “shalat yang pertengahan” adalah Shalat Ashar. Maka, menjaga Shalat Ashar sangat ditekankan, melebihi shalat-shalat lainnya. Dahulu tidaklah beberapa Nabi terhalang dari shalat, kecuali dari Shalat Ashar. Nabi Sulaiman pernah terhalang dari Shalat Ashar. Begitu pula Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terhalang dari Shalat Ashar saat perang Khandaq. Beliau baru bisa menunaikannya setelah waktunya berakhir. Oleh karena itu, ketika Anda melihat seseorang yang merasa berat untuk menunaikan shalat, maka katakanlah kepadanya: “Biasakanlah dirimu untuk selalu menjaga Shalat Ashar.” Sebab ia adalah shalat yang pertengahan. Barang siapa yang mampu menjaga Shalat Ashar dan seluruh shalat lainnya—”Peliharalah semua shalatmu dan shalat yang pertengahan”—niscaya ia dapat konsisten menjalankan shalat lainnya setelah itu. ===== وَبَعْضُ الْإِخْوَانِ يَعْنِي يَكُونُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ أَمْرُهَا ثَقِيلًا وَشَاقًّا إِمَّا بِالْكُلِّيَّةِ فَيَشُقُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ سَوَاءً مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ أَوْ مِنْ غَيْرِهِمْ أَوْ مِنْ حَديْثِ عَهْدِ بِالْإِسْلَامِ أَوْ يَشُقُّ عَلَيْهِ بَعْضُ وَاجِبَاتِهَا أَوْ مَنْدُوبَاتِهَا الْمُؤَكَّدَةِ فَمِنَ الْوَاجِبَاتِ فِي قَوْلِ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الْجَمَاعَةُ فَبَعْضُ النَّاسِ قَدْ تَشُقُّ عَلَيْهِ الْجَمَاعَةُ وَلَكِنَّهُ يُصَلِّي فَنَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يَلْزَمُ الْمَرْءَ بَعْدَ الْعِنَايَةِ بِالصَّلَاةِ أَنْ يُدَرِّبَ نَفْسَهُ عَلَيْهَا بِأَمْرَيْنِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ يَأْتِيَ بِالشَّيْءِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَمَنْ أَتَى بِالْوَاجِبِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَإِنَّهُ فِي حَالِ كَسَلِهِ وَضَعْفِهِ فَإِنَّهُ يَأْتِي بِهِ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ وَيَتْرُكُ الْمَنْدُوبَ وَهَذَا وَاضِحٌ وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ أَحْمَدَ إِنَّ الَّذِي يَتْرُكُ السُّنَنَ الرَّوَاتِبَ رَجُلُ سُوءٍ لِأَنَّهُ فِي حَالِ ضَعْفِهِ وَفُتُورِهِ قَدْ يَتْرُكُ الْفَرَائِضَ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يُعْنَى بِالصَّلَوَاتِ الْآكَدِ وَآكَدُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْعَصْرُ ثُمَّ الْفَجْرُ ثُمَّ الْعِشَاءُ فَهَذِهِ الصَّلَوَاتُ الثَّلَاثُ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِي بَلْ قَدْ نَصَّ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ مَنْ حَافَظَ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِيَاتِ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَالصَّلَاةُ الْوُسْطَى هِيَ صَلَاةُ الْعَصْرِ فَصَلَاةُ الْعَصْرِ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا مُؤَكَّدٌ آكَدُ مِنْ غَيْرِهَا وَمَا شُغِلَ بَعْضُ الْأَنْبِيَاءِ إِلَّا عَنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ فَقَدْ شُغِلَ سُلَيْمَانُ عَنْهَا وَشُغِلَ نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهَا فِي غَزْوَةِ الْخَنْدَقِ وَمَا صَلَّاهَا إِلَّا بَعْدَ خُرُوجِ وَقْتِهَا فَلِذَلِكَ إِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا تَثْقُلُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ فَقُلْ لَهُ عَوِّدْ نَفْسَكَ عَلَى الْمُحَافَظَةِ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ هَذِهِ هِيَ وُسْطَى الصَّلَوَاتِ فَمَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَاةِ وَسَائِرِ الصَّلَوَاتِ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى بَاقِي الصَّلَوَاتِ بَعْدَ ذَلِكَ

Sering Malas Shalat? Lakukan Strategi Dua Langkah Ini Agar Anda Kembali Bersemangat!

Sebagian saudara kita merasa bahwa menunaikan shalat adalah perkara yang berat dan sulit. Baik itu secara keseluruhan, dalam arti ia merasa sangat berat untuk mengerjakan shalat, entah dia seorang penuntut ilmu maupun selainnya, atau orang yang baru masuk Islam. Maupun ia merasa berat dalam menjalankan sebagian kewajiban shalat maupun sunah-sunah muakadnya. Di antara kewajiban shalat—menurut pendapat banyak ulama—adalah melaksanakannya secara berjamaah. Ada orang yang merasa berat untuk shalat berjamaah, tapi ia tetap menunaikan shalat. Maka kami katakan bahwa langkah pertama yang harus ditekankan oleh seseorang setelah memberikan perhatian pada shalat, adalah melatih dirinya melalui dua perkara. Perkara pertama: Melaksanakan ibadah wajib beserta sunah-sunahnya. Karena siapa yang melakukan ibadah wajib beserta sunah-sunahnya, maka saat ia sedang malas dan lesu, ia akan tetap mengerjakan ibadah wajib tersebut dan hanya meninggalkan amalan sunahnya saja. Ini sangat jelas, dan inilah makna ucapan Imam Ahmad: “Orang yang terbiasa meninggalkan sunah rawatib adalah orang yang buruk.” Karena di saat ia sedang lemah dan lesu, bisa jadi ia akan meninggalkan ibadah yang wajib. Perkara kedua: Memberikan perhatian pada shalat-shalat yang paling ditekankan. Adapun di antara shalat lima waktu yang paling ditekankan adalah Shalat Ashar. Kemudian Shalat Subuh, lalu Shalat Isya. Siapa yang mampu menjaga ketiga shalat ini dengan baik, niscaya ia akan mampu menjaga shalat lainnya. Bahkan para ulama menegaskan bahwa siapa pun yang menjaga Shalat Ashar dengan baik, maka ia akan lebih mudah menjaga shalat-shalat yang lain. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Peliharalah semua shalat fardhu dan shalat yang pertengahan…” (QS. Al-Baqarah: 238). Makna “shalat yang pertengahan” adalah Shalat Ashar. Maka, menjaga Shalat Ashar sangat ditekankan, melebihi shalat-shalat lainnya. Dahulu tidaklah beberapa Nabi terhalang dari shalat, kecuali dari Shalat Ashar. Nabi Sulaiman pernah terhalang dari Shalat Ashar. Begitu pula Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terhalang dari Shalat Ashar saat perang Khandaq. Beliau baru bisa menunaikannya setelah waktunya berakhir. Oleh karena itu, ketika Anda melihat seseorang yang merasa berat untuk menunaikan shalat, maka katakanlah kepadanya: “Biasakanlah dirimu untuk selalu menjaga Shalat Ashar.” Sebab ia adalah shalat yang pertengahan. Barang siapa yang mampu menjaga Shalat Ashar dan seluruh shalat lainnya—”Peliharalah semua shalatmu dan shalat yang pertengahan”—niscaya ia dapat konsisten menjalankan shalat lainnya setelah itu. ===== وَبَعْضُ الْإِخْوَانِ يَعْنِي يَكُونُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ أَمْرُهَا ثَقِيلًا وَشَاقًّا إِمَّا بِالْكُلِّيَّةِ فَيَشُقُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ سَوَاءً مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ أَوْ مِنْ غَيْرِهِمْ أَوْ مِنْ حَديْثِ عَهْدِ بِالْإِسْلَامِ أَوْ يَشُقُّ عَلَيْهِ بَعْضُ وَاجِبَاتِهَا أَوْ مَنْدُوبَاتِهَا الْمُؤَكَّدَةِ فَمِنَ الْوَاجِبَاتِ فِي قَوْلِ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الْجَمَاعَةُ فَبَعْضُ النَّاسِ قَدْ تَشُقُّ عَلَيْهِ الْجَمَاعَةُ وَلَكِنَّهُ يُصَلِّي فَنَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يَلْزَمُ الْمَرْءَ بَعْدَ الْعِنَايَةِ بِالصَّلَاةِ أَنْ يُدَرِّبَ نَفْسَهُ عَلَيْهَا بِأَمْرَيْنِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ يَأْتِيَ بِالشَّيْءِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَمَنْ أَتَى بِالْوَاجِبِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَإِنَّهُ فِي حَالِ كَسَلِهِ وَضَعْفِهِ فَإِنَّهُ يَأْتِي بِهِ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ وَيَتْرُكُ الْمَنْدُوبَ وَهَذَا وَاضِحٌ وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ أَحْمَدَ إِنَّ الَّذِي يَتْرُكُ السُّنَنَ الرَّوَاتِبَ رَجُلُ سُوءٍ لِأَنَّهُ فِي حَالِ ضَعْفِهِ وَفُتُورِهِ قَدْ يَتْرُكُ الْفَرَائِضَ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يُعْنَى بِالصَّلَوَاتِ الْآكَدِ وَآكَدُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْعَصْرُ ثُمَّ الْفَجْرُ ثُمَّ الْعِشَاءُ فَهَذِهِ الصَّلَوَاتُ الثَّلَاثُ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِي بَلْ قَدْ نَصَّ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ مَنْ حَافَظَ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِيَاتِ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَالصَّلَاةُ الْوُسْطَى هِيَ صَلَاةُ الْعَصْرِ فَصَلَاةُ الْعَصْرِ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا مُؤَكَّدٌ آكَدُ مِنْ غَيْرِهَا وَمَا شُغِلَ بَعْضُ الْأَنْبِيَاءِ إِلَّا عَنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ فَقَدْ شُغِلَ سُلَيْمَانُ عَنْهَا وَشُغِلَ نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهَا فِي غَزْوَةِ الْخَنْدَقِ وَمَا صَلَّاهَا إِلَّا بَعْدَ خُرُوجِ وَقْتِهَا فَلِذَلِكَ إِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا تَثْقُلُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ فَقُلْ لَهُ عَوِّدْ نَفْسَكَ عَلَى الْمُحَافَظَةِ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ هَذِهِ هِيَ وُسْطَى الصَّلَوَاتِ فَمَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَاةِ وَسَائِرِ الصَّلَوَاتِ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى بَاقِي الصَّلَوَاتِ بَعْدَ ذَلِكَ
Sebagian saudara kita merasa bahwa menunaikan shalat adalah perkara yang berat dan sulit. Baik itu secara keseluruhan, dalam arti ia merasa sangat berat untuk mengerjakan shalat, entah dia seorang penuntut ilmu maupun selainnya, atau orang yang baru masuk Islam. Maupun ia merasa berat dalam menjalankan sebagian kewajiban shalat maupun sunah-sunah muakadnya. Di antara kewajiban shalat—menurut pendapat banyak ulama—adalah melaksanakannya secara berjamaah. Ada orang yang merasa berat untuk shalat berjamaah, tapi ia tetap menunaikan shalat. Maka kami katakan bahwa langkah pertama yang harus ditekankan oleh seseorang setelah memberikan perhatian pada shalat, adalah melatih dirinya melalui dua perkara. Perkara pertama: Melaksanakan ibadah wajib beserta sunah-sunahnya. Karena siapa yang melakukan ibadah wajib beserta sunah-sunahnya, maka saat ia sedang malas dan lesu, ia akan tetap mengerjakan ibadah wajib tersebut dan hanya meninggalkan amalan sunahnya saja. Ini sangat jelas, dan inilah makna ucapan Imam Ahmad: “Orang yang terbiasa meninggalkan sunah rawatib adalah orang yang buruk.” Karena di saat ia sedang lemah dan lesu, bisa jadi ia akan meninggalkan ibadah yang wajib. Perkara kedua: Memberikan perhatian pada shalat-shalat yang paling ditekankan. Adapun di antara shalat lima waktu yang paling ditekankan adalah Shalat Ashar. Kemudian Shalat Subuh, lalu Shalat Isya. Siapa yang mampu menjaga ketiga shalat ini dengan baik, niscaya ia akan mampu menjaga shalat lainnya. Bahkan para ulama menegaskan bahwa siapa pun yang menjaga Shalat Ashar dengan baik, maka ia akan lebih mudah menjaga shalat-shalat yang lain. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Peliharalah semua shalat fardhu dan shalat yang pertengahan…” (QS. Al-Baqarah: 238). Makna “shalat yang pertengahan” adalah Shalat Ashar. Maka, menjaga Shalat Ashar sangat ditekankan, melebihi shalat-shalat lainnya. Dahulu tidaklah beberapa Nabi terhalang dari shalat, kecuali dari Shalat Ashar. Nabi Sulaiman pernah terhalang dari Shalat Ashar. Begitu pula Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terhalang dari Shalat Ashar saat perang Khandaq. Beliau baru bisa menunaikannya setelah waktunya berakhir. Oleh karena itu, ketika Anda melihat seseorang yang merasa berat untuk menunaikan shalat, maka katakanlah kepadanya: “Biasakanlah dirimu untuk selalu menjaga Shalat Ashar.” Sebab ia adalah shalat yang pertengahan. Barang siapa yang mampu menjaga Shalat Ashar dan seluruh shalat lainnya—”Peliharalah semua shalatmu dan shalat yang pertengahan”—niscaya ia dapat konsisten menjalankan shalat lainnya setelah itu. ===== وَبَعْضُ الْإِخْوَانِ يَعْنِي يَكُونُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ أَمْرُهَا ثَقِيلًا وَشَاقًّا إِمَّا بِالْكُلِّيَّةِ فَيَشُقُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ سَوَاءً مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ أَوْ مِنْ غَيْرِهِمْ أَوْ مِنْ حَديْثِ عَهْدِ بِالْإِسْلَامِ أَوْ يَشُقُّ عَلَيْهِ بَعْضُ وَاجِبَاتِهَا أَوْ مَنْدُوبَاتِهَا الْمُؤَكَّدَةِ فَمِنَ الْوَاجِبَاتِ فِي قَوْلِ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الْجَمَاعَةُ فَبَعْضُ النَّاسِ قَدْ تَشُقُّ عَلَيْهِ الْجَمَاعَةُ وَلَكِنَّهُ يُصَلِّي فَنَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يَلْزَمُ الْمَرْءَ بَعْدَ الْعِنَايَةِ بِالصَّلَاةِ أَنْ يُدَرِّبَ نَفْسَهُ عَلَيْهَا بِأَمْرَيْنِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ يَأْتِيَ بِالشَّيْءِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَمَنْ أَتَى بِالْوَاجِبِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَإِنَّهُ فِي حَالِ كَسَلِهِ وَضَعْفِهِ فَإِنَّهُ يَأْتِي بِهِ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ وَيَتْرُكُ الْمَنْدُوبَ وَهَذَا وَاضِحٌ وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ أَحْمَدَ إِنَّ الَّذِي يَتْرُكُ السُّنَنَ الرَّوَاتِبَ رَجُلُ سُوءٍ لِأَنَّهُ فِي حَالِ ضَعْفِهِ وَفُتُورِهِ قَدْ يَتْرُكُ الْفَرَائِضَ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يُعْنَى بِالصَّلَوَاتِ الْآكَدِ وَآكَدُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْعَصْرُ ثُمَّ الْفَجْرُ ثُمَّ الْعِشَاءُ فَهَذِهِ الصَّلَوَاتُ الثَّلَاثُ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِي بَلْ قَدْ نَصَّ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ مَنْ حَافَظَ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِيَاتِ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَالصَّلَاةُ الْوُسْطَى هِيَ صَلَاةُ الْعَصْرِ فَصَلَاةُ الْعَصْرِ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا مُؤَكَّدٌ آكَدُ مِنْ غَيْرِهَا وَمَا شُغِلَ بَعْضُ الْأَنْبِيَاءِ إِلَّا عَنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ فَقَدْ شُغِلَ سُلَيْمَانُ عَنْهَا وَشُغِلَ نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهَا فِي غَزْوَةِ الْخَنْدَقِ وَمَا صَلَّاهَا إِلَّا بَعْدَ خُرُوجِ وَقْتِهَا فَلِذَلِكَ إِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا تَثْقُلُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ فَقُلْ لَهُ عَوِّدْ نَفْسَكَ عَلَى الْمُحَافَظَةِ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ هَذِهِ هِيَ وُسْطَى الصَّلَوَاتِ فَمَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَاةِ وَسَائِرِ الصَّلَوَاتِ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى بَاقِي الصَّلَوَاتِ بَعْدَ ذَلِكَ


Sebagian saudara kita merasa bahwa menunaikan shalat adalah perkara yang berat dan sulit. Baik itu secara keseluruhan, dalam arti ia merasa sangat berat untuk mengerjakan shalat, entah dia seorang penuntut ilmu maupun selainnya, atau orang yang baru masuk Islam. Maupun ia merasa berat dalam menjalankan sebagian kewajiban shalat maupun sunah-sunah muakadnya. Di antara kewajiban shalat—menurut pendapat banyak ulama—adalah melaksanakannya secara berjamaah. Ada orang yang merasa berat untuk shalat berjamaah, tapi ia tetap menunaikan shalat. Maka kami katakan bahwa langkah pertama yang harus ditekankan oleh seseorang setelah memberikan perhatian pada shalat, adalah melatih dirinya melalui dua perkara. Perkara pertama: Melaksanakan ibadah wajib beserta sunah-sunahnya. Karena siapa yang melakukan ibadah wajib beserta sunah-sunahnya, maka saat ia sedang malas dan lesu, ia akan tetap mengerjakan ibadah wajib tersebut dan hanya meninggalkan amalan sunahnya saja. Ini sangat jelas, dan inilah makna ucapan Imam Ahmad: “Orang yang terbiasa meninggalkan sunah rawatib adalah orang yang buruk.” Karena di saat ia sedang lemah dan lesu, bisa jadi ia akan meninggalkan ibadah yang wajib. Perkara kedua: Memberikan perhatian pada shalat-shalat yang paling ditekankan. Adapun di antara shalat lima waktu yang paling ditekankan adalah Shalat Ashar. Kemudian Shalat Subuh, lalu Shalat Isya. Siapa yang mampu menjaga ketiga shalat ini dengan baik, niscaya ia akan mampu menjaga shalat lainnya. Bahkan para ulama menegaskan bahwa siapa pun yang menjaga Shalat Ashar dengan baik, maka ia akan lebih mudah menjaga shalat-shalat yang lain. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Peliharalah semua shalat fardhu dan shalat yang pertengahan…” (QS. Al-Baqarah: 238). Makna “shalat yang pertengahan” adalah Shalat Ashar. Maka, menjaga Shalat Ashar sangat ditekankan, melebihi shalat-shalat lainnya. Dahulu tidaklah beberapa Nabi terhalang dari shalat, kecuali dari Shalat Ashar. Nabi Sulaiman pernah terhalang dari Shalat Ashar. Begitu pula Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terhalang dari Shalat Ashar saat perang Khandaq. Beliau baru bisa menunaikannya setelah waktunya berakhir. Oleh karena itu, ketika Anda melihat seseorang yang merasa berat untuk menunaikan shalat, maka katakanlah kepadanya: “Biasakanlah dirimu untuk selalu menjaga Shalat Ashar.” Sebab ia adalah shalat yang pertengahan. Barang siapa yang mampu menjaga Shalat Ashar dan seluruh shalat lainnya—”Peliharalah semua shalatmu dan shalat yang pertengahan”—niscaya ia dapat konsisten menjalankan shalat lainnya setelah itu. ===== وَبَعْضُ الْإِخْوَانِ يَعْنِي يَكُونُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ أَمْرُهَا ثَقِيلًا وَشَاقًّا إِمَّا بِالْكُلِّيَّةِ فَيَشُقُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ سَوَاءً مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ أَوْ مِنْ غَيْرِهِمْ أَوْ مِنْ حَديْثِ عَهْدِ بِالْإِسْلَامِ أَوْ يَشُقُّ عَلَيْهِ بَعْضُ وَاجِبَاتِهَا أَوْ مَنْدُوبَاتِهَا الْمُؤَكَّدَةِ فَمِنَ الْوَاجِبَاتِ فِي قَوْلِ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الْجَمَاعَةُ فَبَعْضُ النَّاسِ قَدْ تَشُقُّ عَلَيْهِ الْجَمَاعَةُ وَلَكِنَّهُ يُصَلِّي فَنَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يَلْزَمُ الْمَرْءَ بَعْدَ الْعِنَايَةِ بِالصَّلَاةِ أَنْ يُدَرِّبَ نَفْسَهُ عَلَيْهَا بِأَمْرَيْنِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ يَأْتِيَ بِالشَّيْءِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَمَنْ أَتَى بِالْوَاجِبِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَإِنَّهُ فِي حَالِ كَسَلِهِ وَضَعْفِهِ فَإِنَّهُ يَأْتِي بِهِ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ وَيَتْرُكُ الْمَنْدُوبَ وَهَذَا وَاضِحٌ وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ أَحْمَدَ إِنَّ الَّذِي يَتْرُكُ السُّنَنَ الرَّوَاتِبَ رَجُلُ سُوءٍ لِأَنَّهُ فِي حَالِ ضَعْفِهِ وَفُتُورِهِ قَدْ يَتْرُكُ الْفَرَائِضَ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يُعْنَى بِالصَّلَوَاتِ الْآكَدِ وَآكَدُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْعَصْرُ ثُمَّ الْفَجْرُ ثُمَّ الْعِشَاءُ فَهَذِهِ الصَّلَوَاتُ الثَّلَاثُ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِي بَلْ قَدْ نَصَّ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ مَنْ حَافَظَ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِيَاتِ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَالصَّلَاةُ الْوُسْطَى هِيَ صَلَاةُ الْعَصْرِ فَصَلَاةُ الْعَصْرِ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا مُؤَكَّدٌ آكَدُ مِنْ غَيْرِهَا وَمَا شُغِلَ بَعْضُ الْأَنْبِيَاءِ إِلَّا عَنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ فَقَدْ شُغِلَ سُلَيْمَانُ عَنْهَا وَشُغِلَ نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهَا فِي غَزْوَةِ الْخَنْدَقِ وَمَا صَلَّاهَا إِلَّا بَعْدَ خُرُوجِ وَقْتِهَا فَلِذَلِكَ إِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا تَثْقُلُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ فَقُلْ لَهُ عَوِّدْ نَفْسَكَ عَلَى الْمُحَافَظَةِ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ هَذِهِ هِيَ وُسْطَى الصَّلَوَاتِ فَمَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَاةِ وَسَائِرِ الصَّلَوَاتِ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى بَاقِي الصَّلَوَاتِ بَعْدَ ذَلِكَ

Tak Banyak yang Tahu: Membatalkan Transaksi Bisa Menghapus Dosa

Tidak semua keuntungan dalam bisnis harus dipertahankan mati-matian. Kadang, justru melepas sedikit hak di dunia menjadi sebab mendapatkan ampunan besar di akhirat. Hadits ini membuka mata kita bahwa sikap lapang dalam transaksi adalah jalan cepat menuju rahmat Allah.  Daftar Isi tutup 1. Muamalah yang Baik 2. Nasihat Penutup  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا بَيْعَتَهُ؛ أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 3460, Ibnu Majah no. 2199, Ahmad dalam Zawa’id, dan Ibnu Hibban; disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1758).Makna hadits ini:“أقال مسلمًا بيعته” : memberi kesempatan kepada orang lain untuk membatalkan transaksi karena ia merasa rugi atau menyesal“أقاله الله عثرته” : Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahannya kelak di hari kiamat Muamalah yang BaikNabi ﷺ mendorong kita untuk saling berinteraksi dengan cara yang baik, penuh kelembutan, dan sikap yang lunak. Beliau juga menjelaskan keutamaan membantu meringankan kesulitan dan beban orang lain.Dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Makna iqālah (membatalkan transaksi) dalam syariat adalah menghapus akad yang telah terjadi antara dua pihak yang bertransaksi. Hal ini disepakati kebolehannya oleh para ulama (ijma’). Namun, harus ada ungkapan yang menunjukkan hal tersebut, seperti ucapan “aku batalkan” atau ungkapan lain yang dipahami secara umum dengan makna yang sama.Gambaran iqālah dalam jual beli adalah ketika seseorang membeli suatu barang, lalu ia menyesal atas pembelian tersebut. Penyesalan itu bisa karena:merasa dirugikan,kebutuhannya sudah tidak ada,atau karena tidak lagi memiliki uang.Lalu ia mengembalikan barang tersebut kepada penjual, dan penjual menerima pengembalian itu.Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Artinya, Allah akan menghapus dosa dan kesalahannya serta menghilangkan kesulitannya pada hari kiamat. Hal ini karena ia telah berbuat baik kepada pembeli. Sebab, setelah akad jual beli terjadi dan sah, pembeli sebenarnya tidak bisa membatalkannya secara sepihak.Maka balasan yang diberikan adalah sejenis dengan perbuatannya. Ketika seseorang berbuat baik kepada saudaranya dengan memberi keringanan—padahal transaksi sudah sah dan mengikat—dan ia rela mengembalikan uang serta menerima kembali barangnya, maka Allah Yang Maha Mulia akan membalasnya dengan kemurahan yang lebih besar pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat-Nya.Namun, hal ini tidak bersifat wajib. Seorang penjual tidak berdosa jika menolak membatalkan transaksi. Akan tetapi, yang lebih sempurna, lebih bermanfaat, dan lebih utama adalah memberikan keringanan kepada saudaranya sesama muslim, terutama jika ia sedang membutuhkan.Jika ia memberi keringanan dalam kondisi seperti ini, maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat Allah.Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain:«مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ»“Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Dan barang siapa meringankan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan meringankan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 2442 dan Muslim, no. 2580)Baca juga: Rahasia Masuk Surga, Mudah dalam Jual Beli dan Menagih Hak Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang fokus menang dalam transaksi, tetapi lupa menjaga hati dan hubungan. Jangan sampai kita keras dalam menuntut hak, namun kehilangan keberkahan hidup. Belajarlah memberi ruang, memahami kondisi orang lain, dan tidak kaku dalam muamalah. Bisa jadi, kelonggaran kecil yang kita berikan hari ini menjadi penyelamat besar di akhirat nanti. Referensi: Dorar.Net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak bisnis ampunan Allah bisnis berkah etika transaksi hadits jual beli iqalah islam dan muamalah jual beli islam memudahkan orang lain muamalah islami

Tak Banyak yang Tahu: Membatalkan Transaksi Bisa Menghapus Dosa

Tidak semua keuntungan dalam bisnis harus dipertahankan mati-matian. Kadang, justru melepas sedikit hak di dunia menjadi sebab mendapatkan ampunan besar di akhirat. Hadits ini membuka mata kita bahwa sikap lapang dalam transaksi adalah jalan cepat menuju rahmat Allah.  Daftar Isi tutup 1. Muamalah yang Baik 2. Nasihat Penutup  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا بَيْعَتَهُ؛ أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 3460, Ibnu Majah no. 2199, Ahmad dalam Zawa’id, dan Ibnu Hibban; disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1758).Makna hadits ini:“أقال مسلمًا بيعته” : memberi kesempatan kepada orang lain untuk membatalkan transaksi karena ia merasa rugi atau menyesal“أقاله الله عثرته” : Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahannya kelak di hari kiamat Muamalah yang BaikNabi ﷺ mendorong kita untuk saling berinteraksi dengan cara yang baik, penuh kelembutan, dan sikap yang lunak. Beliau juga menjelaskan keutamaan membantu meringankan kesulitan dan beban orang lain.Dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Makna iqālah (membatalkan transaksi) dalam syariat adalah menghapus akad yang telah terjadi antara dua pihak yang bertransaksi. Hal ini disepakati kebolehannya oleh para ulama (ijma’). Namun, harus ada ungkapan yang menunjukkan hal tersebut, seperti ucapan “aku batalkan” atau ungkapan lain yang dipahami secara umum dengan makna yang sama.Gambaran iqālah dalam jual beli adalah ketika seseorang membeli suatu barang, lalu ia menyesal atas pembelian tersebut. Penyesalan itu bisa karena:merasa dirugikan,kebutuhannya sudah tidak ada,atau karena tidak lagi memiliki uang.Lalu ia mengembalikan barang tersebut kepada penjual, dan penjual menerima pengembalian itu.Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Artinya, Allah akan menghapus dosa dan kesalahannya serta menghilangkan kesulitannya pada hari kiamat. Hal ini karena ia telah berbuat baik kepada pembeli. Sebab, setelah akad jual beli terjadi dan sah, pembeli sebenarnya tidak bisa membatalkannya secara sepihak.Maka balasan yang diberikan adalah sejenis dengan perbuatannya. Ketika seseorang berbuat baik kepada saudaranya dengan memberi keringanan—padahal transaksi sudah sah dan mengikat—dan ia rela mengembalikan uang serta menerima kembali barangnya, maka Allah Yang Maha Mulia akan membalasnya dengan kemurahan yang lebih besar pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat-Nya.Namun, hal ini tidak bersifat wajib. Seorang penjual tidak berdosa jika menolak membatalkan transaksi. Akan tetapi, yang lebih sempurna, lebih bermanfaat, dan lebih utama adalah memberikan keringanan kepada saudaranya sesama muslim, terutama jika ia sedang membutuhkan.Jika ia memberi keringanan dalam kondisi seperti ini, maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat Allah.Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain:«مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ»“Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Dan barang siapa meringankan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan meringankan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 2442 dan Muslim, no. 2580)Baca juga: Rahasia Masuk Surga, Mudah dalam Jual Beli dan Menagih Hak Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang fokus menang dalam transaksi, tetapi lupa menjaga hati dan hubungan. Jangan sampai kita keras dalam menuntut hak, namun kehilangan keberkahan hidup. Belajarlah memberi ruang, memahami kondisi orang lain, dan tidak kaku dalam muamalah. Bisa jadi, kelonggaran kecil yang kita berikan hari ini menjadi penyelamat besar di akhirat nanti. Referensi: Dorar.Net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak bisnis ampunan Allah bisnis berkah etika transaksi hadits jual beli iqalah islam dan muamalah jual beli islam memudahkan orang lain muamalah islami
Tidak semua keuntungan dalam bisnis harus dipertahankan mati-matian. Kadang, justru melepas sedikit hak di dunia menjadi sebab mendapatkan ampunan besar di akhirat. Hadits ini membuka mata kita bahwa sikap lapang dalam transaksi adalah jalan cepat menuju rahmat Allah.  Daftar Isi tutup 1. Muamalah yang Baik 2. Nasihat Penutup  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا بَيْعَتَهُ؛ أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 3460, Ibnu Majah no. 2199, Ahmad dalam Zawa’id, dan Ibnu Hibban; disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1758).Makna hadits ini:“أقال مسلمًا بيعته” : memberi kesempatan kepada orang lain untuk membatalkan transaksi karena ia merasa rugi atau menyesal“أقاله الله عثرته” : Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahannya kelak di hari kiamat Muamalah yang BaikNabi ﷺ mendorong kita untuk saling berinteraksi dengan cara yang baik, penuh kelembutan, dan sikap yang lunak. Beliau juga menjelaskan keutamaan membantu meringankan kesulitan dan beban orang lain.Dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Makna iqālah (membatalkan transaksi) dalam syariat adalah menghapus akad yang telah terjadi antara dua pihak yang bertransaksi. Hal ini disepakati kebolehannya oleh para ulama (ijma’). Namun, harus ada ungkapan yang menunjukkan hal tersebut, seperti ucapan “aku batalkan” atau ungkapan lain yang dipahami secara umum dengan makna yang sama.Gambaran iqālah dalam jual beli adalah ketika seseorang membeli suatu barang, lalu ia menyesal atas pembelian tersebut. Penyesalan itu bisa karena:merasa dirugikan,kebutuhannya sudah tidak ada,atau karena tidak lagi memiliki uang.Lalu ia mengembalikan barang tersebut kepada penjual, dan penjual menerima pengembalian itu.Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Artinya, Allah akan menghapus dosa dan kesalahannya serta menghilangkan kesulitannya pada hari kiamat. Hal ini karena ia telah berbuat baik kepada pembeli. Sebab, setelah akad jual beli terjadi dan sah, pembeli sebenarnya tidak bisa membatalkannya secara sepihak.Maka balasan yang diberikan adalah sejenis dengan perbuatannya. Ketika seseorang berbuat baik kepada saudaranya dengan memberi keringanan—padahal transaksi sudah sah dan mengikat—dan ia rela mengembalikan uang serta menerima kembali barangnya, maka Allah Yang Maha Mulia akan membalasnya dengan kemurahan yang lebih besar pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat-Nya.Namun, hal ini tidak bersifat wajib. Seorang penjual tidak berdosa jika menolak membatalkan transaksi. Akan tetapi, yang lebih sempurna, lebih bermanfaat, dan lebih utama adalah memberikan keringanan kepada saudaranya sesama muslim, terutama jika ia sedang membutuhkan.Jika ia memberi keringanan dalam kondisi seperti ini, maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat Allah.Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain:«مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ»“Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Dan barang siapa meringankan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan meringankan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 2442 dan Muslim, no. 2580)Baca juga: Rahasia Masuk Surga, Mudah dalam Jual Beli dan Menagih Hak Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang fokus menang dalam transaksi, tetapi lupa menjaga hati dan hubungan. Jangan sampai kita keras dalam menuntut hak, namun kehilangan keberkahan hidup. Belajarlah memberi ruang, memahami kondisi orang lain, dan tidak kaku dalam muamalah. Bisa jadi, kelonggaran kecil yang kita berikan hari ini menjadi penyelamat besar di akhirat nanti. Referensi: Dorar.Net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak bisnis ampunan Allah bisnis berkah etika transaksi hadits jual beli iqalah islam dan muamalah jual beli islam memudahkan orang lain muamalah islami


Tidak semua keuntungan dalam bisnis harus dipertahankan mati-matian. Kadang, justru melepas sedikit hak di dunia menjadi sebab mendapatkan ampunan besar di akhirat. Hadits ini membuka mata kita bahwa sikap lapang dalam transaksi adalah jalan cepat menuju rahmat Allah.  Daftar Isi tutup 1. Muamalah yang Baik 2. Nasihat Penutup  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا بَيْعَتَهُ؛ أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 3460, Ibnu Majah no. 2199, Ahmad dalam Zawa’id, dan Ibnu Hibban; disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1758).Makna hadits ini:“أقال مسلمًا بيعته” : memberi kesempatan kepada orang lain untuk membatalkan transaksi karena ia merasa rugi atau menyesal“أقاله الله عثرته” : Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahannya kelak di hari kiamat Muamalah yang BaikNabi ﷺ mendorong kita untuk saling berinteraksi dengan cara yang baik, penuh kelembutan, dan sikap yang lunak. Beliau juga menjelaskan keutamaan membantu meringankan kesulitan dan beban orang lain.Dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Makna iqālah (membatalkan transaksi) dalam syariat adalah menghapus akad yang telah terjadi antara dua pihak yang bertransaksi. Hal ini disepakati kebolehannya oleh para ulama (ijma’). Namun, harus ada ungkapan yang menunjukkan hal tersebut, seperti ucapan “aku batalkan” atau ungkapan lain yang dipahami secara umum dengan makna yang sama.Gambaran iqālah dalam jual beli adalah ketika seseorang membeli suatu barang, lalu ia menyesal atas pembelian tersebut. Penyesalan itu bisa karena:merasa dirugikan,kebutuhannya sudah tidak ada,atau karena tidak lagi memiliki uang.Lalu ia mengembalikan barang tersebut kepada penjual, dan penjual menerima pengembalian itu.Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Artinya, Allah akan menghapus dosa dan kesalahannya serta menghilangkan kesulitannya pada hari kiamat. Hal ini karena ia telah berbuat baik kepada pembeli. Sebab, setelah akad jual beli terjadi dan sah, pembeli sebenarnya tidak bisa membatalkannya secara sepihak.Maka balasan yang diberikan adalah sejenis dengan perbuatannya. Ketika seseorang berbuat baik kepada saudaranya dengan memberi keringanan—padahal transaksi sudah sah dan mengikat—dan ia rela mengembalikan uang serta menerima kembali barangnya, maka Allah Yang Maha Mulia akan membalasnya dengan kemurahan yang lebih besar pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat-Nya.Namun, hal ini tidak bersifat wajib. Seorang penjual tidak berdosa jika menolak membatalkan transaksi. Akan tetapi, yang lebih sempurna, lebih bermanfaat, dan lebih utama adalah memberikan keringanan kepada saudaranya sesama muslim, terutama jika ia sedang membutuhkan.Jika ia memberi keringanan dalam kondisi seperti ini, maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat Allah.Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain:«مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ»“Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Dan barang siapa meringankan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan meringankan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 2442 dan Muslim, no. 2580)Baca juga: Rahasia Masuk Surga, Mudah dalam Jual Beli dan Menagih Hak Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang fokus menang dalam transaksi, tetapi lupa menjaga hati dan hubungan. Jangan sampai kita keras dalam menuntut hak, namun kehilangan keberkahan hidup. Belajarlah memberi ruang, memahami kondisi orang lain, dan tidak kaku dalam muamalah. Bisa jadi, kelonggaran kecil yang kita berikan hari ini menjadi penyelamat besar di akhirat nanti. Referensi: Dorar.Net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak bisnis ampunan Allah bisnis berkah etika transaksi hadits jual beli iqalah islam dan muamalah jual beli islam memudahkan orang lain muamalah islami

Rahasia Doa Mustajab: Doakan Saudaramu Diam-Diam, Malaikat Mengaminkan!

Banyak orang sibuk berdoa untuk dirinya sendiri, namun lupa bahwa ada doa yang justru lebih cepat dikabulkan. Doa itu adalah doa untuk orang lain tanpa sepengetahuan mereka. Inilah rahasia amal ringan yang penuh keikhlasan, diam-diam didengar oleh malaikat, dan berbuah kebaikan untuk diri sendiri.  Daftar Isi tutup 1. Doa untuk Saudara Itu Mustajab 2. Malaikat Mengaminkan Doa 3. Jangan Egois dalam Doa 4. Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini 5. Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril Ghaib 6. Penutup  Doa untuk Saudara Itu MustajabDari Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,إِنَّ دَعْوَةَ الأَخِ فِي اللَّهِ تُسْتَجَابُ“Sesungguhnya do’a seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah do’a yang mustajab (terkabulkan).“(HR. Muslim no. 2732; dinyatakan oleh Az-Zarqani dalam Mukhtashar Al-Maqashid hlm. 458, dengan sedikit perbedaan redaksi) Malaikat Mengaminkan DoaDari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan–istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’–, beliau mengatakan, “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.”Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu doakanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,”دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ“Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733) Jangan Egois dalam DoaDari ‘Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata bahwa seseorang mengatakan,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِمُحَمَّدٍ وَحْدَنَا“Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad saja!”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,لَقَدْ حَجَبْتَهَا عَنْ نَاسٍ كَثِيرٍ“Sungguh engkau telah menyempitkan do’amu tadi dari do’a kepada orang banyak.”(HR. Ahmad no. 6849, Al-Adab Al-Mufrad no. 626, dan Al-Mu’jam Al-Kabir no. 14465; dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban no. 986) Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini1. Keutamaan Doa untuk Orang Lain Tanpa Sepengetahuan MerekaDoa bi zhahril ghaib (tanpa diketahui orangnya) termasuk doa yang paling dekat dikabulkan. Ini karena:Tidak ada unsur riya’Murni karena keikhlasan dan cinta karena AllahIni menunjukkan kuatnya ikatan ukhuwah iman.2. Bukti Adanya Malaikat yang Mengaminkan DoaHadits kedua menegaskan:Ada malaikat khusus yang ditugaskanSetiap doa kebaikan akan diaminkanIni menguatkan iman kepada perkara ghaib (iman kepada malaikat), bagian dari akidah Ahlus Sunnah.3. Doa untuk Orang Lain adalah Jalan Mendapatkan Doa untuk Diri SendiriKaedah penting:“Balasan sesuai dengan jenis amal.”Saat kita mendoakan orang lain:Malaikat berkata: “Aamiin, dan bagimu semisal itu.”Ini cara cerdas: Ingin cepat dikabulkan? Perbanyak doa untuk orang lain.4. Larangan Bersikap Egois dalam DoaHadits ketiga memberi pelajaran:Doa hanya untuk diri sendiri → tercelaIslam mengajarkan kelapangan hatiIni menunjukkan:Akhlak seorang mukmin itu luasTidak sempit dan individualis5. Disyariatkan “Titip Doa”Sebagaimana praktik para sahabat:Ummu Ad-Darda’ meminta didoakanAbu Ad-Darda’ menguatkan hadits tersebutFaedah:Boleh meminta doa kepada orang salehTerutama saat safar, ibadah, atau kondisi mustajab6. Tanda Keikhlasan HatiOrang yang suka mendoakan orang lain tanpa diketahui:Tidak menunggu balasanTidak ingin dipujiIni tanda ikhlas dan bersihnya hati dari hasad7. Obat Hasad (Iri Hati)Jika sulit melihat orang lain bahagia:Paksa diri untuk mendoakannyaKarena:Tidak mungkin hasad dan doa kebaikan berkumpul dalam satu hati8. Menguatkan Persatuan UmatJika setiap muslim: Mendoakan saudaranyaMaka:Hilang kebencianTumbuh cinta dan empatiIni solusi konflik sosial dan bahkan konflik keluarga9. Luasnya Rahmat IslamIslam tidak hanya mengajarkan: “Doa untuk diri sendiri”Tapi: Doa untuk orang lainBahkan orang yang tidak hadirIni menunjukkan rahmat Islam bersifat kolektif, bukan individual Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril GhaibImam An-Nawawi berkata ketika menjelaskan hadits ini: “(Bi zhahril ghaib) maksudnya adalah mendoakan dalam keadaan orang yang didoakan tidak hadir dan tanpa sepengetahuannya. Ini lebih kuat dalam hal keikhlasan. Jika seseorang mendoakan sekelompok kaum muslimin, maka ia mendapatkan keutamaan ini. Bahkan jika ia mendoakan seluruh kaum muslimin, maka secara lahir juga diharapkan ia mendapatkan keutamaan tersebut. Dahulu sebagian ulama salaf, jika ingin mendoakan dirinya sendiri, ia justru mendoakan saudaranya terlebih dahulu dengan doa yang sama, karena doa tersebut lebih mudah dikabulkan dan ia pun akan mendapatkan yang semisal.”Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa Harm bin Hayyan pernah mengunjungi tabi’in mulia, Uwais al-Qarni. Maka Harm berkata: “Wahai Uwais, teruslah menjalin hubungan dengan kami melalui kunjungan.”Uwais menjawab: “Aku telah menjalin hubungan denganmu dengan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada sekadar kunjungan dan pertemuan, yaitu doa tanpa sepengetahuanmu. Karena dalam kunjungan dan pertemuan, terkadang bisa muncul sikap berhias diri dan riya’.”Ibnu Jauzi juga menyebutkan bahwa Abu Hamdun memiliki catatan berisi tiga ratus nama sahabatnya. Setiap malam, ia mendoakan mereka satu per satu dengan menyebut nama mereka. Suatu malam ia tertidur dan tidak mendoakan mereka. Lalu dalam mimpinya dikatakan kepadanya: “Wahai Abu Hamdun, mengapa engkau tidak menyalakan lampu-lampumu?” Maka ia pun terbangun dan segera mendoakan mereka.Referensi: Alukah.Net PenutupDi zaman sekarang, banyak orang lebih mudah membicarakan keburukan orang lain daripada mendoakannya. Padahal, mendoakan diam-diam jauh lebih bermanfaat bagi hati dan kehidupan. Jika ingin hidup lebih tenang dan penuh keberkahan, perbanyaklah doa untuk saudara kita. Bisa jadi, jalan keluar masalah kita justru datang dari doa yang kita panjatkan untuk orang lain. Baca juga:Doakanlah Saudaramu di Saat Dia Tidak MengetahuinyaSudah Doakan Saudaramu di Saat Ia Tidak di Hadapanmu?Kumpulan Amalan Ringan #30: Doa Bi Zhahril Ghaib —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa doa mustajab doa untuk saudara hasad ikhlas keutamaan doa malaikat aminkan doa penyakit hati tazkiyatun nafs ukhuwah islamiyah

Rahasia Doa Mustajab: Doakan Saudaramu Diam-Diam, Malaikat Mengaminkan!

Banyak orang sibuk berdoa untuk dirinya sendiri, namun lupa bahwa ada doa yang justru lebih cepat dikabulkan. Doa itu adalah doa untuk orang lain tanpa sepengetahuan mereka. Inilah rahasia amal ringan yang penuh keikhlasan, diam-diam didengar oleh malaikat, dan berbuah kebaikan untuk diri sendiri.  Daftar Isi tutup 1. Doa untuk Saudara Itu Mustajab 2. Malaikat Mengaminkan Doa 3. Jangan Egois dalam Doa 4. Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini 5. Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril Ghaib 6. Penutup  Doa untuk Saudara Itu MustajabDari Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,إِنَّ دَعْوَةَ الأَخِ فِي اللَّهِ تُسْتَجَابُ“Sesungguhnya do’a seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah do’a yang mustajab (terkabulkan).“(HR. Muslim no. 2732; dinyatakan oleh Az-Zarqani dalam Mukhtashar Al-Maqashid hlm. 458, dengan sedikit perbedaan redaksi) Malaikat Mengaminkan DoaDari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan–istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’–, beliau mengatakan, “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.”Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu doakanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,”دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ“Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733) Jangan Egois dalam DoaDari ‘Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata bahwa seseorang mengatakan,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِمُحَمَّدٍ وَحْدَنَا“Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad saja!”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,لَقَدْ حَجَبْتَهَا عَنْ نَاسٍ كَثِيرٍ“Sungguh engkau telah menyempitkan do’amu tadi dari do’a kepada orang banyak.”(HR. Ahmad no. 6849, Al-Adab Al-Mufrad no. 626, dan Al-Mu’jam Al-Kabir no. 14465; dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban no. 986) Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini1. Keutamaan Doa untuk Orang Lain Tanpa Sepengetahuan MerekaDoa bi zhahril ghaib (tanpa diketahui orangnya) termasuk doa yang paling dekat dikabulkan. Ini karena:Tidak ada unsur riya’Murni karena keikhlasan dan cinta karena AllahIni menunjukkan kuatnya ikatan ukhuwah iman.2. Bukti Adanya Malaikat yang Mengaminkan DoaHadits kedua menegaskan:Ada malaikat khusus yang ditugaskanSetiap doa kebaikan akan diaminkanIni menguatkan iman kepada perkara ghaib (iman kepada malaikat), bagian dari akidah Ahlus Sunnah.3. Doa untuk Orang Lain adalah Jalan Mendapatkan Doa untuk Diri SendiriKaedah penting:“Balasan sesuai dengan jenis amal.”Saat kita mendoakan orang lain:Malaikat berkata: “Aamiin, dan bagimu semisal itu.”Ini cara cerdas: Ingin cepat dikabulkan? Perbanyak doa untuk orang lain.4. Larangan Bersikap Egois dalam DoaHadits ketiga memberi pelajaran:Doa hanya untuk diri sendiri → tercelaIslam mengajarkan kelapangan hatiIni menunjukkan:Akhlak seorang mukmin itu luasTidak sempit dan individualis5. Disyariatkan “Titip Doa”Sebagaimana praktik para sahabat:Ummu Ad-Darda’ meminta didoakanAbu Ad-Darda’ menguatkan hadits tersebutFaedah:Boleh meminta doa kepada orang salehTerutama saat safar, ibadah, atau kondisi mustajab6. Tanda Keikhlasan HatiOrang yang suka mendoakan orang lain tanpa diketahui:Tidak menunggu balasanTidak ingin dipujiIni tanda ikhlas dan bersihnya hati dari hasad7. Obat Hasad (Iri Hati)Jika sulit melihat orang lain bahagia:Paksa diri untuk mendoakannyaKarena:Tidak mungkin hasad dan doa kebaikan berkumpul dalam satu hati8. Menguatkan Persatuan UmatJika setiap muslim: Mendoakan saudaranyaMaka:Hilang kebencianTumbuh cinta dan empatiIni solusi konflik sosial dan bahkan konflik keluarga9. Luasnya Rahmat IslamIslam tidak hanya mengajarkan: “Doa untuk diri sendiri”Tapi: Doa untuk orang lainBahkan orang yang tidak hadirIni menunjukkan rahmat Islam bersifat kolektif, bukan individual Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril GhaibImam An-Nawawi berkata ketika menjelaskan hadits ini: “(Bi zhahril ghaib) maksudnya adalah mendoakan dalam keadaan orang yang didoakan tidak hadir dan tanpa sepengetahuannya. Ini lebih kuat dalam hal keikhlasan. Jika seseorang mendoakan sekelompok kaum muslimin, maka ia mendapatkan keutamaan ini. Bahkan jika ia mendoakan seluruh kaum muslimin, maka secara lahir juga diharapkan ia mendapatkan keutamaan tersebut. Dahulu sebagian ulama salaf, jika ingin mendoakan dirinya sendiri, ia justru mendoakan saudaranya terlebih dahulu dengan doa yang sama, karena doa tersebut lebih mudah dikabulkan dan ia pun akan mendapatkan yang semisal.”Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa Harm bin Hayyan pernah mengunjungi tabi’in mulia, Uwais al-Qarni. Maka Harm berkata: “Wahai Uwais, teruslah menjalin hubungan dengan kami melalui kunjungan.”Uwais menjawab: “Aku telah menjalin hubungan denganmu dengan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada sekadar kunjungan dan pertemuan, yaitu doa tanpa sepengetahuanmu. Karena dalam kunjungan dan pertemuan, terkadang bisa muncul sikap berhias diri dan riya’.”Ibnu Jauzi juga menyebutkan bahwa Abu Hamdun memiliki catatan berisi tiga ratus nama sahabatnya. Setiap malam, ia mendoakan mereka satu per satu dengan menyebut nama mereka. Suatu malam ia tertidur dan tidak mendoakan mereka. Lalu dalam mimpinya dikatakan kepadanya: “Wahai Abu Hamdun, mengapa engkau tidak menyalakan lampu-lampumu?” Maka ia pun terbangun dan segera mendoakan mereka.Referensi: Alukah.Net PenutupDi zaman sekarang, banyak orang lebih mudah membicarakan keburukan orang lain daripada mendoakannya. Padahal, mendoakan diam-diam jauh lebih bermanfaat bagi hati dan kehidupan. Jika ingin hidup lebih tenang dan penuh keberkahan, perbanyaklah doa untuk saudara kita. Bisa jadi, jalan keluar masalah kita justru datang dari doa yang kita panjatkan untuk orang lain. Baca juga:Doakanlah Saudaramu di Saat Dia Tidak MengetahuinyaSudah Doakan Saudaramu di Saat Ia Tidak di Hadapanmu?Kumpulan Amalan Ringan #30: Doa Bi Zhahril Ghaib —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa doa mustajab doa untuk saudara hasad ikhlas keutamaan doa malaikat aminkan doa penyakit hati tazkiyatun nafs ukhuwah islamiyah
Banyak orang sibuk berdoa untuk dirinya sendiri, namun lupa bahwa ada doa yang justru lebih cepat dikabulkan. Doa itu adalah doa untuk orang lain tanpa sepengetahuan mereka. Inilah rahasia amal ringan yang penuh keikhlasan, diam-diam didengar oleh malaikat, dan berbuah kebaikan untuk diri sendiri.  Daftar Isi tutup 1. Doa untuk Saudara Itu Mustajab 2. Malaikat Mengaminkan Doa 3. Jangan Egois dalam Doa 4. Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini 5. Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril Ghaib 6. Penutup  Doa untuk Saudara Itu MustajabDari Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,إِنَّ دَعْوَةَ الأَخِ فِي اللَّهِ تُسْتَجَابُ“Sesungguhnya do’a seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah do’a yang mustajab (terkabulkan).“(HR. Muslim no. 2732; dinyatakan oleh Az-Zarqani dalam Mukhtashar Al-Maqashid hlm. 458, dengan sedikit perbedaan redaksi) Malaikat Mengaminkan DoaDari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan–istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’–, beliau mengatakan, “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.”Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu doakanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,”دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ“Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733) Jangan Egois dalam DoaDari ‘Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata bahwa seseorang mengatakan,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِمُحَمَّدٍ وَحْدَنَا“Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad saja!”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,لَقَدْ حَجَبْتَهَا عَنْ نَاسٍ كَثِيرٍ“Sungguh engkau telah menyempitkan do’amu tadi dari do’a kepada orang banyak.”(HR. Ahmad no. 6849, Al-Adab Al-Mufrad no. 626, dan Al-Mu’jam Al-Kabir no. 14465; dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban no. 986) Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini1. Keutamaan Doa untuk Orang Lain Tanpa Sepengetahuan MerekaDoa bi zhahril ghaib (tanpa diketahui orangnya) termasuk doa yang paling dekat dikabulkan. Ini karena:Tidak ada unsur riya’Murni karena keikhlasan dan cinta karena AllahIni menunjukkan kuatnya ikatan ukhuwah iman.2. Bukti Adanya Malaikat yang Mengaminkan DoaHadits kedua menegaskan:Ada malaikat khusus yang ditugaskanSetiap doa kebaikan akan diaminkanIni menguatkan iman kepada perkara ghaib (iman kepada malaikat), bagian dari akidah Ahlus Sunnah.3. Doa untuk Orang Lain adalah Jalan Mendapatkan Doa untuk Diri SendiriKaedah penting:“Balasan sesuai dengan jenis amal.”Saat kita mendoakan orang lain:Malaikat berkata: “Aamiin, dan bagimu semisal itu.”Ini cara cerdas: Ingin cepat dikabulkan? Perbanyak doa untuk orang lain.4. Larangan Bersikap Egois dalam DoaHadits ketiga memberi pelajaran:Doa hanya untuk diri sendiri → tercelaIslam mengajarkan kelapangan hatiIni menunjukkan:Akhlak seorang mukmin itu luasTidak sempit dan individualis5. Disyariatkan “Titip Doa”Sebagaimana praktik para sahabat:Ummu Ad-Darda’ meminta didoakanAbu Ad-Darda’ menguatkan hadits tersebutFaedah:Boleh meminta doa kepada orang salehTerutama saat safar, ibadah, atau kondisi mustajab6. Tanda Keikhlasan HatiOrang yang suka mendoakan orang lain tanpa diketahui:Tidak menunggu balasanTidak ingin dipujiIni tanda ikhlas dan bersihnya hati dari hasad7. Obat Hasad (Iri Hati)Jika sulit melihat orang lain bahagia:Paksa diri untuk mendoakannyaKarena:Tidak mungkin hasad dan doa kebaikan berkumpul dalam satu hati8. Menguatkan Persatuan UmatJika setiap muslim: Mendoakan saudaranyaMaka:Hilang kebencianTumbuh cinta dan empatiIni solusi konflik sosial dan bahkan konflik keluarga9. Luasnya Rahmat IslamIslam tidak hanya mengajarkan: “Doa untuk diri sendiri”Tapi: Doa untuk orang lainBahkan orang yang tidak hadirIni menunjukkan rahmat Islam bersifat kolektif, bukan individual Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril GhaibImam An-Nawawi berkata ketika menjelaskan hadits ini: “(Bi zhahril ghaib) maksudnya adalah mendoakan dalam keadaan orang yang didoakan tidak hadir dan tanpa sepengetahuannya. Ini lebih kuat dalam hal keikhlasan. Jika seseorang mendoakan sekelompok kaum muslimin, maka ia mendapatkan keutamaan ini. Bahkan jika ia mendoakan seluruh kaum muslimin, maka secara lahir juga diharapkan ia mendapatkan keutamaan tersebut. Dahulu sebagian ulama salaf, jika ingin mendoakan dirinya sendiri, ia justru mendoakan saudaranya terlebih dahulu dengan doa yang sama, karena doa tersebut lebih mudah dikabulkan dan ia pun akan mendapatkan yang semisal.”Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa Harm bin Hayyan pernah mengunjungi tabi’in mulia, Uwais al-Qarni. Maka Harm berkata: “Wahai Uwais, teruslah menjalin hubungan dengan kami melalui kunjungan.”Uwais menjawab: “Aku telah menjalin hubungan denganmu dengan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada sekadar kunjungan dan pertemuan, yaitu doa tanpa sepengetahuanmu. Karena dalam kunjungan dan pertemuan, terkadang bisa muncul sikap berhias diri dan riya’.”Ibnu Jauzi juga menyebutkan bahwa Abu Hamdun memiliki catatan berisi tiga ratus nama sahabatnya. Setiap malam, ia mendoakan mereka satu per satu dengan menyebut nama mereka. Suatu malam ia tertidur dan tidak mendoakan mereka. Lalu dalam mimpinya dikatakan kepadanya: “Wahai Abu Hamdun, mengapa engkau tidak menyalakan lampu-lampumu?” Maka ia pun terbangun dan segera mendoakan mereka.Referensi: Alukah.Net PenutupDi zaman sekarang, banyak orang lebih mudah membicarakan keburukan orang lain daripada mendoakannya. Padahal, mendoakan diam-diam jauh lebih bermanfaat bagi hati dan kehidupan. Jika ingin hidup lebih tenang dan penuh keberkahan, perbanyaklah doa untuk saudara kita. Bisa jadi, jalan keluar masalah kita justru datang dari doa yang kita panjatkan untuk orang lain. Baca juga:Doakanlah Saudaramu di Saat Dia Tidak MengetahuinyaSudah Doakan Saudaramu di Saat Ia Tidak di Hadapanmu?Kumpulan Amalan Ringan #30: Doa Bi Zhahril Ghaib —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa doa mustajab doa untuk saudara hasad ikhlas keutamaan doa malaikat aminkan doa penyakit hati tazkiyatun nafs ukhuwah islamiyah


Banyak orang sibuk berdoa untuk dirinya sendiri, namun lupa bahwa ada doa yang justru lebih cepat dikabulkan. Doa itu adalah doa untuk orang lain tanpa sepengetahuan mereka. Inilah rahasia amal ringan yang penuh keikhlasan, diam-diam didengar oleh malaikat, dan berbuah kebaikan untuk diri sendiri.  Daftar Isi tutup 1. Doa untuk Saudara Itu Mustajab 2. Malaikat Mengaminkan Doa 3. Jangan Egois dalam Doa 4. Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini 5. Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril Ghaib 6. Penutup  Doa untuk Saudara Itu MustajabDari Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,إِنَّ دَعْوَةَ الأَخِ فِي اللَّهِ تُسْتَجَابُ“Sesungguhnya do’a seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah do’a yang mustajab (terkabulkan).“(HR. Muslim no. 2732; dinyatakan oleh Az-Zarqani dalam Mukhtashar Al-Maqashid hlm. 458, dengan sedikit perbedaan redaksi) Malaikat Mengaminkan DoaDari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan–istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’–, beliau mengatakan, “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.”Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu doakanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,”دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ“Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733) Jangan Egois dalam DoaDari ‘Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata bahwa seseorang mengatakan,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِمُحَمَّدٍ وَحْدَنَا“Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad saja!”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,لَقَدْ حَجَبْتَهَا عَنْ نَاسٍ كَثِيرٍ“Sungguh engkau telah menyempitkan do’amu tadi dari do’a kepada orang banyak.”(HR. Ahmad no. 6849, Al-Adab Al-Mufrad no. 626, dan Al-Mu’jam Al-Kabir no. 14465; dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban no. 986) Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini1. Keutamaan Doa untuk Orang Lain Tanpa Sepengetahuan MerekaDoa bi zhahril ghaib (tanpa diketahui orangnya) termasuk doa yang paling dekat dikabulkan. Ini karena:Tidak ada unsur riya’Murni karena keikhlasan dan cinta karena AllahIni menunjukkan kuatnya ikatan ukhuwah iman.2. Bukti Adanya Malaikat yang Mengaminkan DoaHadits kedua menegaskan:Ada malaikat khusus yang ditugaskanSetiap doa kebaikan akan diaminkanIni menguatkan iman kepada perkara ghaib (iman kepada malaikat), bagian dari akidah Ahlus Sunnah.3. Doa untuk Orang Lain adalah Jalan Mendapatkan Doa untuk Diri SendiriKaedah penting:“Balasan sesuai dengan jenis amal.”Saat kita mendoakan orang lain:Malaikat berkata: “Aamiin, dan bagimu semisal itu.”Ini cara cerdas: Ingin cepat dikabulkan? Perbanyak doa untuk orang lain.4. Larangan Bersikap Egois dalam DoaHadits ketiga memberi pelajaran:Doa hanya untuk diri sendiri → tercelaIslam mengajarkan kelapangan hatiIni menunjukkan:Akhlak seorang mukmin itu luasTidak sempit dan individualis5. Disyariatkan “Titip Doa”Sebagaimana praktik para sahabat:Ummu Ad-Darda’ meminta didoakanAbu Ad-Darda’ menguatkan hadits tersebutFaedah:Boleh meminta doa kepada orang salehTerutama saat safar, ibadah, atau kondisi mustajab6. Tanda Keikhlasan HatiOrang yang suka mendoakan orang lain tanpa diketahui:Tidak menunggu balasanTidak ingin dipujiIni tanda ikhlas dan bersihnya hati dari hasad7. Obat Hasad (Iri Hati)Jika sulit melihat orang lain bahagia:Paksa diri untuk mendoakannyaKarena:Tidak mungkin hasad dan doa kebaikan berkumpul dalam satu hati8. Menguatkan Persatuan UmatJika setiap muslim: Mendoakan saudaranyaMaka:Hilang kebencianTumbuh cinta dan empatiIni solusi konflik sosial dan bahkan konflik keluarga9. Luasnya Rahmat IslamIslam tidak hanya mengajarkan: “Doa untuk diri sendiri”Tapi: Doa untuk orang lainBahkan orang yang tidak hadirIni menunjukkan rahmat Islam bersifat kolektif, bukan individual Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril GhaibImam An-Nawawi berkata ketika menjelaskan hadits ini: “(Bi zhahril ghaib) maksudnya adalah mendoakan dalam keadaan orang yang didoakan tidak hadir dan tanpa sepengetahuannya. Ini lebih kuat dalam hal keikhlasan. Jika seseorang mendoakan sekelompok kaum muslimin, maka ia mendapatkan keutamaan ini. Bahkan jika ia mendoakan seluruh kaum muslimin, maka secara lahir juga diharapkan ia mendapatkan keutamaan tersebut. Dahulu sebagian ulama salaf, jika ingin mendoakan dirinya sendiri, ia justru mendoakan saudaranya terlebih dahulu dengan doa yang sama, karena doa tersebut lebih mudah dikabulkan dan ia pun akan mendapatkan yang semisal.”Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa Harm bin Hayyan pernah mengunjungi tabi’in mulia, Uwais al-Qarni. Maka Harm berkata: “Wahai Uwais, teruslah menjalin hubungan dengan kami melalui kunjungan.”Uwais menjawab: “Aku telah menjalin hubungan denganmu dengan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada sekadar kunjungan dan pertemuan, yaitu doa tanpa sepengetahuanmu. Karena dalam kunjungan dan pertemuan, terkadang bisa muncul sikap berhias diri dan riya’.”Ibnu Jauzi juga menyebutkan bahwa Abu Hamdun memiliki catatan berisi tiga ratus nama sahabatnya. Setiap malam, ia mendoakan mereka satu per satu dengan menyebut nama mereka. Suatu malam ia tertidur dan tidak mendoakan mereka. Lalu dalam mimpinya dikatakan kepadanya: “Wahai Abu Hamdun, mengapa engkau tidak menyalakan lampu-lampumu?” Maka ia pun terbangun dan segera mendoakan mereka.Referensi: Alukah.Net PenutupDi zaman sekarang, banyak orang lebih mudah membicarakan keburukan orang lain daripada mendoakannya. Padahal, mendoakan diam-diam jauh lebih bermanfaat bagi hati dan kehidupan. Jika ingin hidup lebih tenang dan penuh keberkahan, perbanyaklah doa untuk saudara kita. Bisa jadi, jalan keluar masalah kita justru datang dari doa yang kita panjatkan untuk orang lain. Baca juga:Doakanlah Saudaramu di Saat Dia Tidak MengetahuinyaSudah Doakan Saudaramu di Saat Ia Tidak di Hadapanmu?Kumpulan Amalan Ringan #30: Doa Bi Zhahril Ghaib —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa doa mustajab doa untuk saudara hasad ikhlas keutamaan doa malaikat aminkan doa penyakit hati tazkiyatun nafs ukhuwah islamiyah

Benarkah Malas Ibadah Setelah Ramadhan Tanda Amal Kita Ditolak? Jangan Salah Paham! Syaikh Utsaimin

Apakah rasa lesu dalam beramal saleh setelah Ramadhan merupakan tanda bahwa ibadah tidak diterima? Saya merasa lesu dan khawatir Allah tidak menerima ibadah saya. Tidak. Itu bukanlah tanda bahwa Allah tidak menerima amal ibadah Anda. Namun, itu adalah tanda lemahnya tekad dan tidak adanya antusias. Oleh karena itu, setiap insan sepatutnya melatih kesabaran dirinya, serta menuntun dirinya untuk terus beramal saleh. Sebab, Ramadhan pada hakikatnya adalah sebuah madrasah (sekolah). 29 atau 30 hari yang Anda lalui dalam kondisi senantiasa menjalankan berbagai macam ibadah, pastilah memberikan pengaruh positif pada hati dan perjalanan hidup Anda. Maka manfaatkanlah kesempatan tersebut. Adapun anggapan bahwa orang yang kembali bermaksiat setelah Ramadhan, merupakan tanda amalnya tidak diterima, maka kita tidak memiliki wewenang untuk mengatakan demikian. ===== هَلِ الْفُتُورُ فِي عَمَلِ الصَّالِحَاتِ بَعْدَ رَمَضَانَ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ؟ أَنَا أُحِسُّ بِفُتُورٍ وَأَخْشَى أَلَّا يَكُونَ اللَّهُ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي إِيَّاهَا فَهَذَا لَا لَيْسَ دَلِيلًا عَلَى أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَقْبَلْ مِنْكَ لَكِنَّهُ دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ الْهِمَّةِ وَعَدَمِ الرَّغْبَةِ وَلِذَلِكَ يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ وَأَنْ يَحْمِلَهَا عَلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ لِأَنَّ رَمَضَانَ مَدْرَسَةٌ فِي الْوَاقِعِ ثَلَاثُونَ يَوْمًا أَوْ تِسْعَةٌ وَعِشْرُونَ يَوْمًا تَمْضِي وَأَنْتَ مُتَلَبِّسٌ بِالْعِبَادَاتِ الْمُتَنَوِّعَةِ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَثِّرَ عَلَى قَلْبِكَ وَعَلَى مَسِيرَتِكَ فَاغْتَنِمْ هَذِهِ الْفُرْصَةَ أَمَّا أَنْ نَقُولَ إِنَّ مَنْ عَادَ إِلَى الْمَعَاصِي بَعْدَ رَمَضَانَ فَإِنَّهُ عَلَامَةٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ فَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ هَذَا

Benarkah Malas Ibadah Setelah Ramadhan Tanda Amal Kita Ditolak? Jangan Salah Paham! Syaikh Utsaimin

Apakah rasa lesu dalam beramal saleh setelah Ramadhan merupakan tanda bahwa ibadah tidak diterima? Saya merasa lesu dan khawatir Allah tidak menerima ibadah saya. Tidak. Itu bukanlah tanda bahwa Allah tidak menerima amal ibadah Anda. Namun, itu adalah tanda lemahnya tekad dan tidak adanya antusias. Oleh karena itu, setiap insan sepatutnya melatih kesabaran dirinya, serta menuntun dirinya untuk terus beramal saleh. Sebab, Ramadhan pada hakikatnya adalah sebuah madrasah (sekolah). 29 atau 30 hari yang Anda lalui dalam kondisi senantiasa menjalankan berbagai macam ibadah, pastilah memberikan pengaruh positif pada hati dan perjalanan hidup Anda. Maka manfaatkanlah kesempatan tersebut. Adapun anggapan bahwa orang yang kembali bermaksiat setelah Ramadhan, merupakan tanda amalnya tidak diterima, maka kita tidak memiliki wewenang untuk mengatakan demikian. ===== هَلِ الْفُتُورُ فِي عَمَلِ الصَّالِحَاتِ بَعْدَ رَمَضَانَ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ؟ أَنَا أُحِسُّ بِفُتُورٍ وَأَخْشَى أَلَّا يَكُونَ اللَّهُ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي إِيَّاهَا فَهَذَا لَا لَيْسَ دَلِيلًا عَلَى أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَقْبَلْ مِنْكَ لَكِنَّهُ دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ الْهِمَّةِ وَعَدَمِ الرَّغْبَةِ وَلِذَلِكَ يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ وَأَنْ يَحْمِلَهَا عَلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ لِأَنَّ رَمَضَانَ مَدْرَسَةٌ فِي الْوَاقِعِ ثَلَاثُونَ يَوْمًا أَوْ تِسْعَةٌ وَعِشْرُونَ يَوْمًا تَمْضِي وَأَنْتَ مُتَلَبِّسٌ بِالْعِبَادَاتِ الْمُتَنَوِّعَةِ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَثِّرَ عَلَى قَلْبِكَ وَعَلَى مَسِيرَتِكَ فَاغْتَنِمْ هَذِهِ الْفُرْصَةَ أَمَّا أَنْ نَقُولَ إِنَّ مَنْ عَادَ إِلَى الْمَعَاصِي بَعْدَ رَمَضَانَ فَإِنَّهُ عَلَامَةٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ فَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ هَذَا
Apakah rasa lesu dalam beramal saleh setelah Ramadhan merupakan tanda bahwa ibadah tidak diterima? Saya merasa lesu dan khawatir Allah tidak menerima ibadah saya. Tidak. Itu bukanlah tanda bahwa Allah tidak menerima amal ibadah Anda. Namun, itu adalah tanda lemahnya tekad dan tidak adanya antusias. Oleh karena itu, setiap insan sepatutnya melatih kesabaran dirinya, serta menuntun dirinya untuk terus beramal saleh. Sebab, Ramadhan pada hakikatnya adalah sebuah madrasah (sekolah). 29 atau 30 hari yang Anda lalui dalam kondisi senantiasa menjalankan berbagai macam ibadah, pastilah memberikan pengaruh positif pada hati dan perjalanan hidup Anda. Maka manfaatkanlah kesempatan tersebut. Adapun anggapan bahwa orang yang kembali bermaksiat setelah Ramadhan, merupakan tanda amalnya tidak diterima, maka kita tidak memiliki wewenang untuk mengatakan demikian. ===== هَلِ الْفُتُورُ فِي عَمَلِ الصَّالِحَاتِ بَعْدَ رَمَضَانَ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ؟ أَنَا أُحِسُّ بِفُتُورٍ وَأَخْشَى أَلَّا يَكُونَ اللَّهُ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي إِيَّاهَا فَهَذَا لَا لَيْسَ دَلِيلًا عَلَى أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَقْبَلْ مِنْكَ لَكِنَّهُ دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ الْهِمَّةِ وَعَدَمِ الرَّغْبَةِ وَلِذَلِكَ يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ وَأَنْ يَحْمِلَهَا عَلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ لِأَنَّ رَمَضَانَ مَدْرَسَةٌ فِي الْوَاقِعِ ثَلَاثُونَ يَوْمًا أَوْ تِسْعَةٌ وَعِشْرُونَ يَوْمًا تَمْضِي وَأَنْتَ مُتَلَبِّسٌ بِالْعِبَادَاتِ الْمُتَنَوِّعَةِ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَثِّرَ عَلَى قَلْبِكَ وَعَلَى مَسِيرَتِكَ فَاغْتَنِمْ هَذِهِ الْفُرْصَةَ أَمَّا أَنْ نَقُولَ إِنَّ مَنْ عَادَ إِلَى الْمَعَاصِي بَعْدَ رَمَضَانَ فَإِنَّهُ عَلَامَةٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ فَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ هَذَا


Apakah rasa lesu dalam beramal saleh setelah Ramadhan merupakan tanda bahwa ibadah tidak diterima? Saya merasa lesu dan khawatir Allah tidak menerima ibadah saya. Tidak. Itu bukanlah tanda bahwa Allah tidak menerima amal ibadah Anda. Namun, itu adalah tanda lemahnya tekad dan tidak adanya antusias. Oleh karena itu, setiap insan sepatutnya melatih kesabaran dirinya, serta menuntun dirinya untuk terus beramal saleh. Sebab, Ramadhan pada hakikatnya adalah sebuah madrasah (sekolah). 29 atau 30 hari yang Anda lalui dalam kondisi senantiasa menjalankan berbagai macam ibadah, pastilah memberikan pengaruh positif pada hati dan perjalanan hidup Anda. Maka manfaatkanlah kesempatan tersebut. Adapun anggapan bahwa orang yang kembali bermaksiat setelah Ramadhan, merupakan tanda amalnya tidak diterima, maka kita tidak memiliki wewenang untuk mengatakan demikian. ===== هَلِ الْفُتُورُ فِي عَمَلِ الصَّالِحَاتِ بَعْدَ رَمَضَانَ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ؟ أَنَا أُحِسُّ بِفُتُورٍ وَأَخْشَى أَلَّا يَكُونَ اللَّهُ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي إِيَّاهَا فَهَذَا لَا لَيْسَ دَلِيلًا عَلَى أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَقْبَلْ مِنْكَ لَكِنَّهُ دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ الْهِمَّةِ وَعَدَمِ الرَّغْبَةِ وَلِذَلِكَ يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ وَأَنْ يَحْمِلَهَا عَلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ لِأَنَّ رَمَضَانَ مَدْرَسَةٌ فِي الْوَاقِعِ ثَلَاثُونَ يَوْمًا أَوْ تِسْعَةٌ وَعِشْرُونَ يَوْمًا تَمْضِي وَأَنْتَ مُتَلَبِّسٌ بِالْعِبَادَاتِ الْمُتَنَوِّعَةِ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَثِّرَ عَلَى قَلْبِكَ وَعَلَى مَسِيرَتِكَ فَاغْتَنِمْ هَذِهِ الْفُرْصَةَ أَمَّا أَنْ نَقُولَ إِنَّ مَنْ عَادَ إِلَى الْمَعَاصِي بَعْدَ رَمَضَانَ فَإِنَّهُ عَلَامَةٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ فَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ هَذَا
Prev     Next