Bukan Mencari Tuhan! Nabi Ibrahim Sedang Menghancurkan Logika Syirik Kaumnya (Tafsir Surah Al-An’am ayat 74-80)

Lanjut lagi bahasan dari juz ketujuh, dari surah Al-An’am. Banyak orang memahami kisah bintang, bulan, dan matahari dalam QS. Al-An‘am seakan-akan Nabi Ibrahim ‘alaihissalām sedang “mencari Tuhan”. Padahal, para ulama tafsir menjelaskan bahwa konteksnya adalah dialog dan debat untuk membongkar kesyirikan kaumnya. Nabi Ibrahim tidak sedang ragu, tetapi sedang menuntun kaumnya dengan hujah yang mereka pahami: menunjukkan bahwa benda-benda langit yang terbit lalu terbenam adalah makhluk yang diatur, bukan Tuhan yang disembah.Inilah pelajaran besar bagi kita: tauhid bukan sekadar keyakinan di hati, tetapi juga kejernihan logika dalam menilai apa yang layak disembah. Jika sesuatu hilang, berubah, lemah, dan tidak mengurus hamba—maka ia tidak pantas menjadi ilah (sesembahan). Karena itu, puncak kisah ini bukan pada “pencarian”, melainkan pada deklarasi berlepas diri dari syirik dan menghadap total kepada Pencipta langit dan bumi: “Inni wajjahtu wajhiya…”.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan Kaumnya 2. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat Kauniyah 3. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan Kaumnya 4. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari Tuhan 5. Kesimpulan  Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً ۖ إِنِّىٓ أَرَىٰكَ وَقَوْمَكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-An’am: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman: Ingatlah kisah Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam, dengan memuji dan mengagungkannya dalam dakwahnya kepada tauhid serta dalam upayanya melarang dari kesyirikan.Ketika ia berkata kepada ayahnya, “Azar, apakah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?” Padahal berhala-berhala itu tidak mampu memberi manfaat dan tidak pula menimbulkan mudarat. Ia sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas apa pun.Kemudian Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” Karena kalian menyembah sesuatu yang sama sekali tidak berhak untuk disembah, dan kalian meninggalkan ibadah kepada Pencipta kalian, Pemberi rezeki kalian, dan Pengatur seluruh urusan kalian. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat KauniyahAllah Ta’ala berfirman,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Makna firman-Nya, “Dan demikianlah”, yaitu sebagaimana Kami telah memberi taufik kepadanya untuk mentauhidkan Allah dan berdakwah kepada tauhid.“Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi”, maksudnya agar ia menyaksikan dengan mata hatinya berbagai tanda dan bukti yang tegas, serta dalil-dalil yang terang, yang terdapat di langit dan di bumi.“Dan agar ia termasuk orang-orang yang yakin.” Karena dengan tegaknya dalil-dalil dan kuatnya bukti-bukti itu, lahirlah keyakinan yang sempurna dan ilmu yang mendalam tentang seluruh perkara yang menjadi tujuan iman. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ ٱلَّيْلُ رَءَا كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلْءَافِلِينَ“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.” (QS. Al-An’am: 76)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika malam telah gelap menutupinya”, yaitu ketika malam menjadi gelap gulita.“Ia melihat sebuah bintang”, kemungkinan besar adalah bintang yang sangat terang, karena penyebutan khusus terhadapnya menunjukkan bahwa ia lebih menonjol dibanding bintang-bintang lainnya. Oleh karena itu—wallahu a‘lam—sebagian ulama berpendapat bahwa bintang tersebut adalah Venus.Ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Ucapan ini disampaikan dalam rangka berdialog dan mengikuti alur berpikir kaumnya, seakan-akan ia berkata, “Baiklah, ini Tuhanku. Mari kita perhatikan, apakah ia memang layak menjadi Tuhan? Apakah ada bukti dan dalil yang menunjukkan bahwa ia pantas disembah?” Karena tidak sepantasnya orang yang berakal menjadikan sesuatu sebagai tuhan hanya berdasarkan hawa nafsu, tanpa hujah dan tanpa bukti.“Ketika bintang itu terbenam”, yakni ketika bintang tersebut menghilang dan tidak tampak lagi.Ia berkata, “Aku tidak menyukai sesuatu yang terbenam.” Maksudnya, sesuatu yang menghilang dan tidak tampak dari para penyembahnya tidak layak untuk disembah. Sesembahan yang benar seharusnya selalu mengurusi kepentingan hamba yang menyembahnya, mengatur seluruh urusannya setiap waktu. Adapun sesuatu yang dalam waktu lama menghilang dan tidak terlihat, bagaimana mungkin ia pantas menjadi Tuhan?Menjadikannya sebagai sesembahan hanyalah bentuk kebodohan yang paling nyata dan kesesatan yang paling batil.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِى رَبِّى لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلضَّآلِّينَ“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”.” (QS. Al-An’am: 77)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat bulan terbit”, yaitu ketika bulan muncul dan bersinar. Ia melihat bahwa cahaya bulan lebih besar dibandingkan cahaya bintang-bintang, dan berbeda dari yang lainnya.Ia berkata, “Inilah Tuhanku,” sebagai bentuk mengikuti alur berpikir kaumnya dalam berdialog dengan mereka.“Ketika bulan itu terbenam”, ia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pasti aku termasuk orang-orang yang sesat.”Dalam ucapan ini tampak betapa ia sangat membutuhkan petunjuk dari Rabbnya. Ia benar-benar menunjukkan ketergantungan yang sempurna kepada Allah. Ia menyadari bahwa jika Allah tidak memberinya hidayah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberinya petunjuk. Jika Allah tidak menolongnya dalam ketaatan, maka tidak ada penolong baginya.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّى هَٰذَآ أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّآ أَفَلَتْ قَالَ يَٰقَوْمِ إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Al-An’am: 78)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat matahari terbit”, ia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar,” yakni lebih besar daripada bintang dan bulan.Namun ketika matahari itu terbenam, saat itulah kebenaran semakin jelas dan kesesatan pun sirna. Maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.”Karena telah tegak dalil yang benar dan nyata, yang menunjukkan batilnya apa yang mereka sembah. Dengan demikian, jelaslah bahwa semua benda langit itu tidak layak menjadi sesembahan.Allah Ta’ala berfirman,إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-An’am: 79)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Maknanya: Aku memurnikan ibadahku hanya kepada Allah semata, menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya, dan berpaling dari segala sesuatu selain-Nya.“Dalam keadaan hanif”, yaitu lurus di atas tauhid, condong kepada kebenaran dan menjauhi kesyirikan.“Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” Dengan pernyataan ini, ia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk sepenuhnya kepada tauhid, dan menegakkan hujah yang jelas atas kebenaran tersebut.Penjelasan yang telah disebutkan dalam menafsirkan ayat-ayat ini adalah pendapat yang benar, yaitu bahwa konteksnya adalah dialog dan perdebatan Nabi Ibrahim dengan kaumnya untuk menjelaskan batilnya penyembahan terhadap benda-benda langit dan selainnya.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ini adalah proses pencarian Ibrahim ketika masa kecilnya, maka pendapat tersebut tidak memiliki dalil yang kuat. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari TuhanBerikut adalah penjelasan dari Imam Ibnu Katsir dari kitab tafsinya.Yang benar adalah bahwa Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam pada saat itu sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya. Ia menjelaskan batilnya ajaran yang mereka anut, yaitu menyembah bangunan-bangunan suci dan patung-patung.Pada kesempatan sebelumnya bersama ayahnya, ia telah menjelaskan kesalahan mereka dalam menyembah patung-patung di bumi, yang dibuat menyerupai malaikat-malaikat di langit. Mereka menjadikannya sebagai perantara agar dapat memberi syafaat kepada mereka di sisi Sang Pencipta Yang Mahaagung. Menurut anggapan mereka, diri mereka terlalu rendah untuk langsung menyembah Allah. Karena itu, mereka bertawasul dengan menyembah para malaikat, agar malaikat-malaikat tersebut memberi syafaat kepada mereka dalam hal rezeki, kemenangan, dan berbagai kebutuhan lainnya.Dalam peristiwa ini, Ibrahim juga menjelaskan kesalahan dan kesesatan mereka dalam menyembah bangunan-bangunan yang berkaitan dengan tujuh benda langit yang bergerak, yaitu: bulan, Merkurius, Venus, matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Benda yang paling terang dan paling bersinar menurut mereka adalah matahari, kemudian bulan, lalu Venus.Maka Ibrahim pertama-tama menjelaskan bahwa Venus tidak pantas dijadikan tuhan. Ia hanyalah makhluk yang ditundukkan dan diatur dalam orbit tertentu. Ia tidak menyimpang sedikit pun ke kanan atau ke kiri, dan tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Ia hanyalah salah satu benda langit yang Allah ciptakan bercahaya, karena hikmah-hikmah besar yang Dia kehendaki. Ia terbit dari timur, bergerak hingga ke barat, lalu menghilang dari pandangan, dan muncul kembali pada malam berikutnya dengan pola yang sama. Sesuatu yang seperti ini jelas tidak layak untuk disembah.Kemudian ia berpindah kepada bulan, dan menjelaskan hal yang sama sebagaimana ia jelaskan tentang bintang.Lalu ia berpindah kepada matahari. Ketika ketiga benda langit tersebut—yang merupakan benda paling terang yang dapat dilihat mata—telah jelas tidak layak menjadi sesembahan dengan dalil yang tegas, maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.” Maksudnya, aku berlepas diri dari menyembah dan loyalitas kepada benda-benda itu. Jika memang mereka adalah tuhan-tuhan, maka silakan kalian bersama-sama mencelakakanku dengan mereka tanpa memberi penangguhan sedikit pun.Kemudian ia menegaskan, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus (hanif), dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.” Maksudnya, aku hanya menyembah Pencipta semua benda itu, yang mengadakannya, menundukkannya, mengaturnya, dan menetapkan peredarannya. Dia-lah yang di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu, Pencipta dan Pemilik segala sesuatu, Rabb dan Ilah seluruh makhluk.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُۥ حَثِيثًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍۭ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)Bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil berada dalam posisi mencari-cari kebenaran pada saat itu, padahal Allah telah berfirman tentangnya:۞ وَلَقَدْ ءَاتَيْنَآ إِبْرَٰهِيمَ رُشْدَهُۥ مِن قَبْلُ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَإِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِىٓ أَنتُمْ لَهَا عَٰكِفُونَ“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” (QS. Al-Anbiya: 51-52)Allah juga berfirman,إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَشَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ ٱجْتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍوَءَاتَيْنَٰهُ فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. An-Nahl: 120–123)Dan Allah berfirman:قُلْ إِنَّنِى هَدَىٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”.” (QS. Al-An‘am: 161)Telah sahih dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.”Dalam Shahih Muslim dari ‘Iyadh bin Himar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah berfirman:إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif.”Dan Allah berfirman:فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 30)Dan firman-Nya:وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.” (QS. Al-A‘raf: 172)Makna ayat ini menurut salah satu pendapat sejalan dengan firman-Nya, “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu,” sebagaimana akan dijelaskan.Jika demikian keadaan seluruh makhluk pada asal penciptaannya, maka bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil—yang Allah jadikan sebagai “seorang imam yang patuh kepada Allah, hanif, dan tidak termasuk orang-orang musyrik”—dalam posisi sedang mencari-cari kebenaran pada saat itu?Justru ia adalah manusia yang paling layak memiliki fitrah yang lurus dan tabiat yang benar, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa ada keraguan sedikit pun.Di antara dalil yang menguatkan bahwa pada saat itu ia sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya—bukan sedang mencari kebenaran—adalah firman Allah Ta’ala berikutnya.وَحَآجَّهُۥ قَوْمُهُۥ ۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّى فِى ٱللَّهِ وَقَدْ هَدَىٰنِ ۚ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِۦٓ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّى شَيْـًٔا ۗ وَسِعَ رَبِّى كُلَّ شَىْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ“Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?” (QS. Al-An’am: 80)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai surah Al-An’am ayat 80 sebagai berikut.Ibrahim berkata, “Apakah kalian membantahku tentang Allah, padahal Dia telah memberiku petunjuk?” Maksudnya, apakah kalian masih juga memperdebatkanku tentang keesaan Allah, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, padahal Allah telah membukakan hatiku, memberiku petunjuk kepada kebenaran, dan aku berada di atas dalil yang jelas? Lalu bagaimana mungkin aku berpaling kepada ucapan-ucapan kalian yang rusak dan syubhat-syubhat kalian yang batil?Kemudian ia berkata, “Aku tidak takut kepada apa yang kalian persekutukan dengan-Nya, kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu.” Ini juga menjadi bukti atas batilnya keyakinan mereka. Sesembahan yang mereka agungkan itu sama sekali tidak memiliki pengaruh apa pun. Ibrahim tidak takut kepadanya dan tidak memedulikannya. Seandainya sesembahan-sesembahan itu benar-benar memiliki kekuatan, maka silakan mereka mencelakakannya segera tanpa ditunda-tunda.Adapun ucapannya, “kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu,” merupakan pengecualian yang terputus maknanya. Artinya, tidak ada yang mampu memberi mudarat atau manfaat selain Allah semata.Lalu ia menegaskan, “Ilmu Rabbku meliputi segala sesuatu.” Maksudnya, pengetahuan Allah mencakup seluruh makhluk dan seluruh keadaan mereka; tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya.Kemudian ia berkata, “Tidakkah kalian mengambil pelajaran?” Maksudnya, tidakkah kalian merenungkan penjelasan yang telah aku sampaikan, sehingga kalian menyadari bahwa sesembahan-sesembahan itu batil, lalu berhenti dari menyembahnya?Hujah yang disampaikan Ibrahim ini serupa dengan hujah yang disampaikan Nabi Hud ‘alaihissalam kepada kaumnya, kaum ‘Ad. Sebagaimana Allah kisahkan dalam Al-Qur’an,قَالُوا۟ يَٰهُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِىٓ ءَالِهَتِنَا عَن قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ“Kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.” (QS. Hud: 53)إِن نَّقُولُ إِلَّا ٱعْتَرَىٰكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوٓءٍ ۗ قَالَ إِنِّىٓ أُشْهِدُ ٱللَّهَ وَٱشْهَدُوٓا۟ أَنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Hud: 54)مِن دُونِهِۦ ۖ فَكِيدُونِى جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ“Dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (QS. Hud: 55)إِنِّى تَوَكَّلْتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّى وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌۢ بِنَاصِيَتِهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus“.” (QS. Hud: 56) KesimpulanDari seluruh dialog ini lahir kaidah besar:Setiap yang lemah, berubah, hilang, diatur, dan tidak berkuasa — bukan ilah yang berhak disembah.Karena itu Ibrahim menutup dengan deklarasi:إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ“Aku menghadapkan diriku hanya kepada Pencipta langit dan bumi.”Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalām dalam QS. Al-An‘am (74–80) menegaskan bahwa akar kesesatan kaumnya adalah kesyirikan: menyembah patung dan benda-benda langit sebagai perantara, padahal semuanya makhluk yang tidak kuasa memberi manfaat dan mudarat. Allah meneguhkan Ibrahim dengan “malakūt” langit dan bumi agar keyakinannya sempurna, lalu Ibrahim membantah keyakinan kaumnya dengan hujah yang terang: bintang, bulan, dan matahari terbit dan tenggelam, sehingga tidak layak jadi sesembahan. Maka Ibrahim menutupnya dengan bara’ (berlepas diri) dari syirik dan itsbāt (menetapkan) tauhid: hanya Allah Pencipta dan Pengatur semesta yang berhak diibadahi. Ini juga membantah anggapan bahwa Ibrahim pernah “mencari Tuhan”; yang benar, beliau menghancurkan logika syirik kaumnya melalui dialog yang cerdas dan tegas.اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ وَالْيَقِينِ“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bertauhid dan memiliki keyakinan yang kokoh.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa siang, 7 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang tauhid bantahan kesyirikan belajar tauhid dakwah tauhid para nabi dialog tauhid Ibrahim kisah Nabi Ibrahim logika tauhid dalam Islam makna hanif dalam Islam nabi ibrahim nabi Ibrahim dan penyembahan berhala pelajaran tauhid Al-Quran renungan ayat renungan quran tafsir Al-Anam tauhid tauhid Nabi Ibrahim

Bukan Mencari Tuhan! Nabi Ibrahim Sedang Menghancurkan Logika Syirik Kaumnya (Tafsir Surah Al-An’am ayat 74-80)

Lanjut lagi bahasan dari juz ketujuh, dari surah Al-An’am. Banyak orang memahami kisah bintang, bulan, dan matahari dalam QS. Al-An‘am seakan-akan Nabi Ibrahim ‘alaihissalām sedang “mencari Tuhan”. Padahal, para ulama tafsir menjelaskan bahwa konteksnya adalah dialog dan debat untuk membongkar kesyirikan kaumnya. Nabi Ibrahim tidak sedang ragu, tetapi sedang menuntun kaumnya dengan hujah yang mereka pahami: menunjukkan bahwa benda-benda langit yang terbit lalu terbenam adalah makhluk yang diatur, bukan Tuhan yang disembah.Inilah pelajaran besar bagi kita: tauhid bukan sekadar keyakinan di hati, tetapi juga kejernihan logika dalam menilai apa yang layak disembah. Jika sesuatu hilang, berubah, lemah, dan tidak mengurus hamba—maka ia tidak pantas menjadi ilah (sesembahan). Karena itu, puncak kisah ini bukan pada “pencarian”, melainkan pada deklarasi berlepas diri dari syirik dan menghadap total kepada Pencipta langit dan bumi: “Inni wajjahtu wajhiya…”.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan Kaumnya 2. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat Kauniyah 3. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan Kaumnya 4. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari Tuhan 5. Kesimpulan  Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً ۖ إِنِّىٓ أَرَىٰكَ وَقَوْمَكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-An’am: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman: Ingatlah kisah Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam, dengan memuji dan mengagungkannya dalam dakwahnya kepada tauhid serta dalam upayanya melarang dari kesyirikan.Ketika ia berkata kepada ayahnya, “Azar, apakah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?” Padahal berhala-berhala itu tidak mampu memberi manfaat dan tidak pula menimbulkan mudarat. Ia sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas apa pun.Kemudian Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” Karena kalian menyembah sesuatu yang sama sekali tidak berhak untuk disembah, dan kalian meninggalkan ibadah kepada Pencipta kalian, Pemberi rezeki kalian, dan Pengatur seluruh urusan kalian. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat KauniyahAllah Ta’ala berfirman,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Makna firman-Nya, “Dan demikianlah”, yaitu sebagaimana Kami telah memberi taufik kepadanya untuk mentauhidkan Allah dan berdakwah kepada tauhid.“Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi”, maksudnya agar ia menyaksikan dengan mata hatinya berbagai tanda dan bukti yang tegas, serta dalil-dalil yang terang, yang terdapat di langit dan di bumi.“Dan agar ia termasuk orang-orang yang yakin.” Karena dengan tegaknya dalil-dalil dan kuatnya bukti-bukti itu, lahirlah keyakinan yang sempurna dan ilmu yang mendalam tentang seluruh perkara yang menjadi tujuan iman. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ ٱلَّيْلُ رَءَا كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلْءَافِلِينَ“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.” (QS. Al-An’am: 76)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika malam telah gelap menutupinya”, yaitu ketika malam menjadi gelap gulita.“Ia melihat sebuah bintang”, kemungkinan besar adalah bintang yang sangat terang, karena penyebutan khusus terhadapnya menunjukkan bahwa ia lebih menonjol dibanding bintang-bintang lainnya. Oleh karena itu—wallahu a‘lam—sebagian ulama berpendapat bahwa bintang tersebut adalah Venus.Ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Ucapan ini disampaikan dalam rangka berdialog dan mengikuti alur berpikir kaumnya, seakan-akan ia berkata, “Baiklah, ini Tuhanku. Mari kita perhatikan, apakah ia memang layak menjadi Tuhan? Apakah ada bukti dan dalil yang menunjukkan bahwa ia pantas disembah?” Karena tidak sepantasnya orang yang berakal menjadikan sesuatu sebagai tuhan hanya berdasarkan hawa nafsu, tanpa hujah dan tanpa bukti.“Ketika bintang itu terbenam”, yakni ketika bintang tersebut menghilang dan tidak tampak lagi.Ia berkata, “Aku tidak menyukai sesuatu yang terbenam.” Maksudnya, sesuatu yang menghilang dan tidak tampak dari para penyembahnya tidak layak untuk disembah. Sesembahan yang benar seharusnya selalu mengurusi kepentingan hamba yang menyembahnya, mengatur seluruh urusannya setiap waktu. Adapun sesuatu yang dalam waktu lama menghilang dan tidak terlihat, bagaimana mungkin ia pantas menjadi Tuhan?Menjadikannya sebagai sesembahan hanyalah bentuk kebodohan yang paling nyata dan kesesatan yang paling batil.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِى رَبِّى لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلضَّآلِّينَ“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”.” (QS. Al-An’am: 77)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat bulan terbit”, yaitu ketika bulan muncul dan bersinar. Ia melihat bahwa cahaya bulan lebih besar dibandingkan cahaya bintang-bintang, dan berbeda dari yang lainnya.Ia berkata, “Inilah Tuhanku,” sebagai bentuk mengikuti alur berpikir kaumnya dalam berdialog dengan mereka.“Ketika bulan itu terbenam”, ia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pasti aku termasuk orang-orang yang sesat.”Dalam ucapan ini tampak betapa ia sangat membutuhkan petunjuk dari Rabbnya. Ia benar-benar menunjukkan ketergantungan yang sempurna kepada Allah. Ia menyadari bahwa jika Allah tidak memberinya hidayah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberinya petunjuk. Jika Allah tidak menolongnya dalam ketaatan, maka tidak ada penolong baginya.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّى هَٰذَآ أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّآ أَفَلَتْ قَالَ يَٰقَوْمِ إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Al-An’am: 78)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat matahari terbit”, ia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar,” yakni lebih besar daripada bintang dan bulan.Namun ketika matahari itu terbenam, saat itulah kebenaran semakin jelas dan kesesatan pun sirna. Maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.”Karena telah tegak dalil yang benar dan nyata, yang menunjukkan batilnya apa yang mereka sembah. Dengan demikian, jelaslah bahwa semua benda langit itu tidak layak menjadi sesembahan.Allah Ta’ala berfirman,إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-An’am: 79)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Maknanya: Aku memurnikan ibadahku hanya kepada Allah semata, menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya, dan berpaling dari segala sesuatu selain-Nya.“Dalam keadaan hanif”, yaitu lurus di atas tauhid, condong kepada kebenaran dan menjauhi kesyirikan.“Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” Dengan pernyataan ini, ia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk sepenuhnya kepada tauhid, dan menegakkan hujah yang jelas atas kebenaran tersebut.Penjelasan yang telah disebutkan dalam menafsirkan ayat-ayat ini adalah pendapat yang benar, yaitu bahwa konteksnya adalah dialog dan perdebatan Nabi Ibrahim dengan kaumnya untuk menjelaskan batilnya penyembahan terhadap benda-benda langit dan selainnya.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ini adalah proses pencarian Ibrahim ketika masa kecilnya, maka pendapat tersebut tidak memiliki dalil yang kuat. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari TuhanBerikut adalah penjelasan dari Imam Ibnu Katsir dari kitab tafsinya.Yang benar adalah bahwa Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam pada saat itu sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya. Ia menjelaskan batilnya ajaran yang mereka anut, yaitu menyembah bangunan-bangunan suci dan patung-patung.Pada kesempatan sebelumnya bersama ayahnya, ia telah menjelaskan kesalahan mereka dalam menyembah patung-patung di bumi, yang dibuat menyerupai malaikat-malaikat di langit. Mereka menjadikannya sebagai perantara agar dapat memberi syafaat kepada mereka di sisi Sang Pencipta Yang Mahaagung. Menurut anggapan mereka, diri mereka terlalu rendah untuk langsung menyembah Allah. Karena itu, mereka bertawasul dengan menyembah para malaikat, agar malaikat-malaikat tersebut memberi syafaat kepada mereka dalam hal rezeki, kemenangan, dan berbagai kebutuhan lainnya.Dalam peristiwa ini, Ibrahim juga menjelaskan kesalahan dan kesesatan mereka dalam menyembah bangunan-bangunan yang berkaitan dengan tujuh benda langit yang bergerak, yaitu: bulan, Merkurius, Venus, matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Benda yang paling terang dan paling bersinar menurut mereka adalah matahari, kemudian bulan, lalu Venus.Maka Ibrahim pertama-tama menjelaskan bahwa Venus tidak pantas dijadikan tuhan. Ia hanyalah makhluk yang ditundukkan dan diatur dalam orbit tertentu. Ia tidak menyimpang sedikit pun ke kanan atau ke kiri, dan tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Ia hanyalah salah satu benda langit yang Allah ciptakan bercahaya, karena hikmah-hikmah besar yang Dia kehendaki. Ia terbit dari timur, bergerak hingga ke barat, lalu menghilang dari pandangan, dan muncul kembali pada malam berikutnya dengan pola yang sama. Sesuatu yang seperti ini jelas tidak layak untuk disembah.Kemudian ia berpindah kepada bulan, dan menjelaskan hal yang sama sebagaimana ia jelaskan tentang bintang.Lalu ia berpindah kepada matahari. Ketika ketiga benda langit tersebut—yang merupakan benda paling terang yang dapat dilihat mata—telah jelas tidak layak menjadi sesembahan dengan dalil yang tegas, maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.” Maksudnya, aku berlepas diri dari menyembah dan loyalitas kepada benda-benda itu. Jika memang mereka adalah tuhan-tuhan, maka silakan kalian bersama-sama mencelakakanku dengan mereka tanpa memberi penangguhan sedikit pun.Kemudian ia menegaskan, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus (hanif), dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.” Maksudnya, aku hanya menyembah Pencipta semua benda itu, yang mengadakannya, menundukkannya, mengaturnya, dan menetapkan peredarannya. Dia-lah yang di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu, Pencipta dan Pemilik segala sesuatu, Rabb dan Ilah seluruh makhluk.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُۥ حَثِيثًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍۭ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)Bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil berada dalam posisi mencari-cari kebenaran pada saat itu, padahal Allah telah berfirman tentangnya:۞ وَلَقَدْ ءَاتَيْنَآ إِبْرَٰهِيمَ رُشْدَهُۥ مِن قَبْلُ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَإِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِىٓ أَنتُمْ لَهَا عَٰكِفُونَ“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” (QS. Al-Anbiya: 51-52)Allah juga berfirman,إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَشَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ ٱجْتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍوَءَاتَيْنَٰهُ فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. An-Nahl: 120–123)Dan Allah berfirman:قُلْ إِنَّنِى هَدَىٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”.” (QS. Al-An‘am: 161)Telah sahih dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.”Dalam Shahih Muslim dari ‘Iyadh bin Himar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah berfirman:إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif.”Dan Allah berfirman:فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 30)Dan firman-Nya:وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.” (QS. Al-A‘raf: 172)Makna ayat ini menurut salah satu pendapat sejalan dengan firman-Nya, “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu,” sebagaimana akan dijelaskan.Jika demikian keadaan seluruh makhluk pada asal penciptaannya, maka bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil—yang Allah jadikan sebagai “seorang imam yang patuh kepada Allah, hanif, dan tidak termasuk orang-orang musyrik”—dalam posisi sedang mencari-cari kebenaran pada saat itu?Justru ia adalah manusia yang paling layak memiliki fitrah yang lurus dan tabiat yang benar, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa ada keraguan sedikit pun.Di antara dalil yang menguatkan bahwa pada saat itu ia sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya—bukan sedang mencari kebenaran—adalah firman Allah Ta’ala berikutnya.وَحَآجَّهُۥ قَوْمُهُۥ ۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّى فِى ٱللَّهِ وَقَدْ هَدَىٰنِ ۚ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِۦٓ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّى شَيْـًٔا ۗ وَسِعَ رَبِّى كُلَّ شَىْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ“Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?” (QS. Al-An’am: 80)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai surah Al-An’am ayat 80 sebagai berikut.Ibrahim berkata, “Apakah kalian membantahku tentang Allah, padahal Dia telah memberiku petunjuk?” Maksudnya, apakah kalian masih juga memperdebatkanku tentang keesaan Allah, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, padahal Allah telah membukakan hatiku, memberiku petunjuk kepada kebenaran, dan aku berada di atas dalil yang jelas? Lalu bagaimana mungkin aku berpaling kepada ucapan-ucapan kalian yang rusak dan syubhat-syubhat kalian yang batil?Kemudian ia berkata, “Aku tidak takut kepada apa yang kalian persekutukan dengan-Nya, kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu.” Ini juga menjadi bukti atas batilnya keyakinan mereka. Sesembahan yang mereka agungkan itu sama sekali tidak memiliki pengaruh apa pun. Ibrahim tidak takut kepadanya dan tidak memedulikannya. Seandainya sesembahan-sesembahan itu benar-benar memiliki kekuatan, maka silakan mereka mencelakakannya segera tanpa ditunda-tunda.Adapun ucapannya, “kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu,” merupakan pengecualian yang terputus maknanya. Artinya, tidak ada yang mampu memberi mudarat atau manfaat selain Allah semata.Lalu ia menegaskan, “Ilmu Rabbku meliputi segala sesuatu.” Maksudnya, pengetahuan Allah mencakup seluruh makhluk dan seluruh keadaan mereka; tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya.Kemudian ia berkata, “Tidakkah kalian mengambil pelajaran?” Maksudnya, tidakkah kalian merenungkan penjelasan yang telah aku sampaikan, sehingga kalian menyadari bahwa sesembahan-sesembahan itu batil, lalu berhenti dari menyembahnya?Hujah yang disampaikan Ibrahim ini serupa dengan hujah yang disampaikan Nabi Hud ‘alaihissalam kepada kaumnya, kaum ‘Ad. Sebagaimana Allah kisahkan dalam Al-Qur’an,قَالُوا۟ يَٰهُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِىٓ ءَالِهَتِنَا عَن قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ“Kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.” (QS. Hud: 53)إِن نَّقُولُ إِلَّا ٱعْتَرَىٰكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوٓءٍ ۗ قَالَ إِنِّىٓ أُشْهِدُ ٱللَّهَ وَٱشْهَدُوٓا۟ أَنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Hud: 54)مِن دُونِهِۦ ۖ فَكِيدُونِى جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ“Dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (QS. Hud: 55)إِنِّى تَوَكَّلْتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّى وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌۢ بِنَاصِيَتِهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus“.” (QS. Hud: 56) KesimpulanDari seluruh dialog ini lahir kaidah besar:Setiap yang lemah, berubah, hilang, diatur, dan tidak berkuasa — bukan ilah yang berhak disembah.Karena itu Ibrahim menutup dengan deklarasi:إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ“Aku menghadapkan diriku hanya kepada Pencipta langit dan bumi.”Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalām dalam QS. Al-An‘am (74–80) menegaskan bahwa akar kesesatan kaumnya adalah kesyirikan: menyembah patung dan benda-benda langit sebagai perantara, padahal semuanya makhluk yang tidak kuasa memberi manfaat dan mudarat. Allah meneguhkan Ibrahim dengan “malakūt” langit dan bumi agar keyakinannya sempurna, lalu Ibrahim membantah keyakinan kaumnya dengan hujah yang terang: bintang, bulan, dan matahari terbit dan tenggelam, sehingga tidak layak jadi sesembahan. Maka Ibrahim menutupnya dengan bara’ (berlepas diri) dari syirik dan itsbāt (menetapkan) tauhid: hanya Allah Pencipta dan Pengatur semesta yang berhak diibadahi. Ini juga membantah anggapan bahwa Ibrahim pernah “mencari Tuhan”; yang benar, beliau menghancurkan logika syirik kaumnya melalui dialog yang cerdas dan tegas.اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ وَالْيَقِينِ“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bertauhid dan memiliki keyakinan yang kokoh.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa siang, 7 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang tauhid bantahan kesyirikan belajar tauhid dakwah tauhid para nabi dialog tauhid Ibrahim kisah Nabi Ibrahim logika tauhid dalam Islam makna hanif dalam Islam nabi ibrahim nabi Ibrahim dan penyembahan berhala pelajaran tauhid Al-Quran renungan ayat renungan quran tafsir Al-Anam tauhid tauhid Nabi Ibrahim
Lanjut lagi bahasan dari juz ketujuh, dari surah Al-An’am. Banyak orang memahami kisah bintang, bulan, dan matahari dalam QS. Al-An‘am seakan-akan Nabi Ibrahim ‘alaihissalām sedang “mencari Tuhan”. Padahal, para ulama tafsir menjelaskan bahwa konteksnya adalah dialog dan debat untuk membongkar kesyirikan kaumnya. Nabi Ibrahim tidak sedang ragu, tetapi sedang menuntun kaumnya dengan hujah yang mereka pahami: menunjukkan bahwa benda-benda langit yang terbit lalu terbenam adalah makhluk yang diatur, bukan Tuhan yang disembah.Inilah pelajaran besar bagi kita: tauhid bukan sekadar keyakinan di hati, tetapi juga kejernihan logika dalam menilai apa yang layak disembah. Jika sesuatu hilang, berubah, lemah, dan tidak mengurus hamba—maka ia tidak pantas menjadi ilah (sesembahan). Karena itu, puncak kisah ini bukan pada “pencarian”, melainkan pada deklarasi berlepas diri dari syirik dan menghadap total kepada Pencipta langit dan bumi: “Inni wajjahtu wajhiya…”.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan Kaumnya 2. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat Kauniyah 3. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan Kaumnya 4. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari Tuhan 5. Kesimpulan  Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً ۖ إِنِّىٓ أَرَىٰكَ وَقَوْمَكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-An’am: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman: Ingatlah kisah Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam, dengan memuji dan mengagungkannya dalam dakwahnya kepada tauhid serta dalam upayanya melarang dari kesyirikan.Ketika ia berkata kepada ayahnya, “Azar, apakah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?” Padahal berhala-berhala itu tidak mampu memberi manfaat dan tidak pula menimbulkan mudarat. Ia sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas apa pun.Kemudian Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” Karena kalian menyembah sesuatu yang sama sekali tidak berhak untuk disembah, dan kalian meninggalkan ibadah kepada Pencipta kalian, Pemberi rezeki kalian, dan Pengatur seluruh urusan kalian. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat KauniyahAllah Ta’ala berfirman,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Makna firman-Nya, “Dan demikianlah”, yaitu sebagaimana Kami telah memberi taufik kepadanya untuk mentauhidkan Allah dan berdakwah kepada tauhid.“Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi”, maksudnya agar ia menyaksikan dengan mata hatinya berbagai tanda dan bukti yang tegas, serta dalil-dalil yang terang, yang terdapat di langit dan di bumi.“Dan agar ia termasuk orang-orang yang yakin.” Karena dengan tegaknya dalil-dalil dan kuatnya bukti-bukti itu, lahirlah keyakinan yang sempurna dan ilmu yang mendalam tentang seluruh perkara yang menjadi tujuan iman. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ ٱلَّيْلُ رَءَا كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلْءَافِلِينَ“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.” (QS. Al-An’am: 76)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika malam telah gelap menutupinya”, yaitu ketika malam menjadi gelap gulita.“Ia melihat sebuah bintang”, kemungkinan besar adalah bintang yang sangat terang, karena penyebutan khusus terhadapnya menunjukkan bahwa ia lebih menonjol dibanding bintang-bintang lainnya. Oleh karena itu—wallahu a‘lam—sebagian ulama berpendapat bahwa bintang tersebut adalah Venus.Ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Ucapan ini disampaikan dalam rangka berdialog dan mengikuti alur berpikir kaumnya, seakan-akan ia berkata, “Baiklah, ini Tuhanku. Mari kita perhatikan, apakah ia memang layak menjadi Tuhan? Apakah ada bukti dan dalil yang menunjukkan bahwa ia pantas disembah?” Karena tidak sepantasnya orang yang berakal menjadikan sesuatu sebagai tuhan hanya berdasarkan hawa nafsu, tanpa hujah dan tanpa bukti.“Ketika bintang itu terbenam”, yakni ketika bintang tersebut menghilang dan tidak tampak lagi.Ia berkata, “Aku tidak menyukai sesuatu yang terbenam.” Maksudnya, sesuatu yang menghilang dan tidak tampak dari para penyembahnya tidak layak untuk disembah. Sesembahan yang benar seharusnya selalu mengurusi kepentingan hamba yang menyembahnya, mengatur seluruh urusannya setiap waktu. Adapun sesuatu yang dalam waktu lama menghilang dan tidak terlihat, bagaimana mungkin ia pantas menjadi Tuhan?Menjadikannya sebagai sesembahan hanyalah bentuk kebodohan yang paling nyata dan kesesatan yang paling batil.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِى رَبِّى لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلضَّآلِّينَ“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”.” (QS. Al-An’am: 77)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat bulan terbit”, yaitu ketika bulan muncul dan bersinar. Ia melihat bahwa cahaya bulan lebih besar dibandingkan cahaya bintang-bintang, dan berbeda dari yang lainnya.Ia berkata, “Inilah Tuhanku,” sebagai bentuk mengikuti alur berpikir kaumnya dalam berdialog dengan mereka.“Ketika bulan itu terbenam”, ia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pasti aku termasuk orang-orang yang sesat.”Dalam ucapan ini tampak betapa ia sangat membutuhkan petunjuk dari Rabbnya. Ia benar-benar menunjukkan ketergantungan yang sempurna kepada Allah. Ia menyadari bahwa jika Allah tidak memberinya hidayah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberinya petunjuk. Jika Allah tidak menolongnya dalam ketaatan, maka tidak ada penolong baginya.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّى هَٰذَآ أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّآ أَفَلَتْ قَالَ يَٰقَوْمِ إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Al-An’am: 78)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat matahari terbit”, ia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar,” yakni lebih besar daripada bintang dan bulan.Namun ketika matahari itu terbenam, saat itulah kebenaran semakin jelas dan kesesatan pun sirna. Maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.”Karena telah tegak dalil yang benar dan nyata, yang menunjukkan batilnya apa yang mereka sembah. Dengan demikian, jelaslah bahwa semua benda langit itu tidak layak menjadi sesembahan.Allah Ta’ala berfirman,إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-An’am: 79)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Maknanya: Aku memurnikan ibadahku hanya kepada Allah semata, menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya, dan berpaling dari segala sesuatu selain-Nya.“Dalam keadaan hanif”, yaitu lurus di atas tauhid, condong kepada kebenaran dan menjauhi kesyirikan.“Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” Dengan pernyataan ini, ia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk sepenuhnya kepada tauhid, dan menegakkan hujah yang jelas atas kebenaran tersebut.Penjelasan yang telah disebutkan dalam menafsirkan ayat-ayat ini adalah pendapat yang benar, yaitu bahwa konteksnya adalah dialog dan perdebatan Nabi Ibrahim dengan kaumnya untuk menjelaskan batilnya penyembahan terhadap benda-benda langit dan selainnya.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ini adalah proses pencarian Ibrahim ketika masa kecilnya, maka pendapat tersebut tidak memiliki dalil yang kuat. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari TuhanBerikut adalah penjelasan dari Imam Ibnu Katsir dari kitab tafsinya.Yang benar adalah bahwa Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam pada saat itu sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya. Ia menjelaskan batilnya ajaran yang mereka anut, yaitu menyembah bangunan-bangunan suci dan patung-patung.Pada kesempatan sebelumnya bersama ayahnya, ia telah menjelaskan kesalahan mereka dalam menyembah patung-patung di bumi, yang dibuat menyerupai malaikat-malaikat di langit. Mereka menjadikannya sebagai perantara agar dapat memberi syafaat kepada mereka di sisi Sang Pencipta Yang Mahaagung. Menurut anggapan mereka, diri mereka terlalu rendah untuk langsung menyembah Allah. Karena itu, mereka bertawasul dengan menyembah para malaikat, agar malaikat-malaikat tersebut memberi syafaat kepada mereka dalam hal rezeki, kemenangan, dan berbagai kebutuhan lainnya.Dalam peristiwa ini, Ibrahim juga menjelaskan kesalahan dan kesesatan mereka dalam menyembah bangunan-bangunan yang berkaitan dengan tujuh benda langit yang bergerak, yaitu: bulan, Merkurius, Venus, matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Benda yang paling terang dan paling bersinar menurut mereka adalah matahari, kemudian bulan, lalu Venus.Maka Ibrahim pertama-tama menjelaskan bahwa Venus tidak pantas dijadikan tuhan. Ia hanyalah makhluk yang ditundukkan dan diatur dalam orbit tertentu. Ia tidak menyimpang sedikit pun ke kanan atau ke kiri, dan tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Ia hanyalah salah satu benda langit yang Allah ciptakan bercahaya, karena hikmah-hikmah besar yang Dia kehendaki. Ia terbit dari timur, bergerak hingga ke barat, lalu menghilang dari pandangan, dan muncul kembali pada malam berikutnya dengan pola yang sama. Sesuatu yang seperti ini jelas tidak layak untuk disembah.Kemudian ia berpindah kepada bulan, dan menjelaskan hal yang sama sebagaimana ia jelaskan tentang bintang.Lalu ia berpindah kepada matahari. Ketika ketiga benda langit tersebut—yang merupakan benda paling terang yang dapat dilihat mata—telah jelas tidak layak menjadi sesembahan dengan dalil yang tegas, maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.” Maksudnya, aku berlepas diri dari menyembah dan loyalitas kepada benda-benda itu. Jika memang mereka adalah tuhan-tuhan, maka silakan kalian bersama-sama mencelakakanku dengan mereka tanpa memberi penangguhan sedikit pun.Kemudian ia menegaskan, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus (hanif), dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.” Maksudnya, aku hanya menyembah Pencipta semua benda itu, yang mengadakannya, menundukkannya, mengaturnya, dan menetapkan peredarannya. Dia-lah yang di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu, Pencipta dan Pemilik segala sesuatu, Rabb dan Ilah seluruh makhluk.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُۥ حَثِيثًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍۭ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)Bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil berada dalam posisi mencari-cari kebenaran pada saat itu, padahal Allah telah berfirman tentangnya:۞ وَلَقَدْ ءَاتَيْنَآ إِبْرَٰهِيمَ رُشْدَهُۥ مِن قَبْلُ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَإِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِىٓ أَنتُمْ لَهَا عَٰكِفُونَ“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” (QS. Al-Anbiya: 51-52)Allah juga berfirman,إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَشَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ ٱجْتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍوَءَاتَيْنَٰهُ فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. An-Nahl: 120–123)Dan Allah berfirman:قُلْ إِنَّنِى هَدَىٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”.” (QS. Al-An‘am: 161)Telah sahih dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.”Dalam Shahih Muslim dari ‘Iyadh bin Himar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah berfirman:إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif.”Dan Allah berfirman:فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 30)Dan firman-Nya:وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.” (QS. Al-A‘raf: 172)Makna ayat ini menurut salah satu pendapat sejalan dengan firman-Nya, “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu,” sebagaimana akan dijelaskan.Jika demikian keadaan seluruh makhluk pada asal penciptaannya, maka bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil—yang Allah jadikan sebagai “seorang imam yang patuh kepada Allah, hanif, dan tidak termasuk orang-orang musyrik”—dalam posisi sedang mencari-cari kebenaran pada saat itu?Justru ia adalah manusia yang paling layak memiliki fitrah yang lurus dan tabiat yang benar, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa ada keraguan sedikit pun.Di antara dalil yang menguatkan bahwa pada saat itu ia sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya—bukan sedang mencari kebenaran—adalah firman Allah Ta’ala berikutnya.وَحَآجَّهُۥ قَوْمُهُۥ ۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّى فِى ٱللَّهِ وَقَدْ هَدَىٰنِ ۚ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِۦٓ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّى شَيْـًٔا ۗ وَسِعَ رَبِّى كُلَّ شَىْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ“Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?” (QS. Al-An’am: 80)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai surah Al-An’am ayat 80 sebagai berikut.Ibrahim berkata, “Apakah kalian membantahku tentang Allah, padahal Dia telah memberiku petunjuk?” Maksudnya, apakah kalian masih juga memperdebatkanku tentang keesaan Allah, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, padahal Allah telah membukakan hatiku, memberiku petunjuk kepada kebenaran, dan aku berada di atas dalil yang jelas? Lalu bagaimana mungkin aku berpaling kepada ucapan-ucapan kalian yang rusak dan syubhat-syubhat kalian yang batil?Kemudian ia berkata, “Aku tidak takut kepada apa yang kalian persekutukan dengan-Nya, kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu.” Ini juga menjadi bukti atas batilnya keyakinan mereka. Sesembahan yang mereka agungkan itu sama sekali tidak memiliki pengaruh apa pun. Ibrahim tidak takut kepadanya dan tidak memedulikannya. Seandainya sesembahan-sesembahan itu benar-benar memiliki kekuatan, maka silakan mereka mencelakakannya segera tanpa ditunda-tunda.Adapun ucapannya, “kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu,” merupakan pengecualian yang terputus maknanya. Artinya, tidak ada yang mampu memberi mudarat atau manfaat selain Allah semata.Lalu ia menegaskan, “Ilmu Rabbku meliputi segala sesuatu.” Maksudnya, pengetahuan Allah mencakup seluruh makhluk dan seluruh keadaan mereka; tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya.Kemudian ia berkata, “Tidakkah kalian mengambil pelajaran?” Maksudnya, tidakkah kalian merenungkan penjelasan yang telah aku sampaikan, sehingga kalian menyadari bahwa sesembahan-sesembahan itu batil, lalu berhenti dari menyembahnya?Hujah yang disampaikan Ibrahim ini serupa dengan hujah yang disampaikan Nabi Hud ‘alaihissalam kepada kaumnya, kaum ‘Ad. Sebagaimana Allah kisahkan dalam Al-Qur’an,قَالُوا۟ يَٰهُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِىٓ ءَالِهَتِنَا عَن قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ“Kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.” (QS. Hud: 53)إِن نَّقُولُ إِلَّا ٱعْتَرَىٰكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوٓءٍ ۗ قَالَ إِنِّىٓ أُشْهِدُ ٱللَّهَ وَٱشْهَدُوٓا۟ أَنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Hud: 54)مِن دُونِهِۦ ۖ فَكِيدُونِى جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ“Dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (QS. Hud: 55)إِنِّى تَوَكَّلْتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّى وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌۢ بِنَاصِيَتِهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus“.” (QS. Hud: 56) KesimpulanDari seluruh dialog ini lahir kaidah besar:Setiap yang lemah, berubah, hilang, diatur, dan tidak berkuasa — bukan ilah yang berhak disembah.Karena itu Ibrahim menutup dengan deklarasi:إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ“Aku menghadapkan diriku hanya kepada Pencipta langit dan bumi.”Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalām dalam QS. Al-An‘am (74–80) menegaskan bahwa akar kesesatan kaumnya adalah kesyirikan: menyembah patung dan benda-benda langit sebagai perantara, padahal semuanya makhluk yang tidak kuasa memberi manfaat dan mudarat. Allah meneguhkan Ibrahim dengan “malakūt” langit dan bumi agar keyakinannya sempurna, lalu Ibrahim membantah keyakinan kaumnya dengan hujah yang terang: bintang, bulan, dan matahari terbit dan tenggelam, sehingga tidak layak jadi sesembahan. Maka Ibrahim menutupnya dengan bara’ (berlepas diri) dari syirik dan itsbāt (menetapkan) tauhid: hanya Allah Pencipta dan Pengatur semesta yang berhak diibadahi. Ini juga membantah anggapan bahwa Ibrahim pernah “mencari Tuhan”; yang benar, beliau menghancurkan logika syirik kaumnya melalui dialog yang cerdas dan tegas.اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ وَالْيَقِينِ“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bertauhid dan memiliki keyakinan yang kokoh.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa siang, 7 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang tauhid bantahan kesyirikan belajar tauhid dakwah tauhid para nabi dialog tauhid Ibrahim kisah Nabi Ibrahim logika tauhid dalam Islam makna hanif dalam Islam nabi ibrahim nabi Ibrahim dan penyembahan berhala pelajaran tauhid Al-Quran renungan ayat renungan quran tafsir Al-Anam tauhid tauhid Nabi Ibrahim


Lanjut lagi bahasan dari juz ketujuh, dari surah Al-An’am. Banyak orang memahami kisah bintang, bulan, dan matahari dalam QS. Al-An‘am seakan-akan Nabi Ibrahim ‘alaihissalām sedang “mencari Tuhan”. Padahal, para ulama tafsir menjelaskan bahwa konteksnya adalah dialog dan debat untuk membongkar kesyirikan kaumnya. Nabi Ibrahim tidak sedang ragu, tetapi sedang menuntun kaumnya dengan hujah yang mereka pahami: menunjukkan bahwa benda-benda langit yang terbit lalu terbenam adalah makhluk yang diatur, bukan Tuhan yang disembah.Inilah pelajaran besar bagi kita: tauhid bukan sekadar keyakinan di hati, tetapi juga kejernihan logika dalam menilai apa yang layak disembah. Jika sesuatu hilang, berubah, lemah, dan tidak mengurus hamba—maka ia tidak pantas menjadi ilah (sesembahan). Karena itu, puncak kisah ini bukan pada “pencarian”, melainkan pada deklarasi berlepas diri dari syirik dan menghadap total kepada Pencipta langit dan bumi: “Inni wajjahtu wajhiya…”.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan Kaumnya 2. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat Kauniyah 3. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan Kaumnya 4. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari Tuhan 5. Kesimpulan  Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً ۖ إِنِّىٓ أَرَىٰكَ وَقَوْمَكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-An’am: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman: Ingatlah kisah Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam, dengan memuji dan mengagungkannya dalam dakwahnya kepada tauhid serta dalam upayanya melarang dari kesyirikan.Ketika ia berkata kepada ayahnya, “Azar, apakah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?” Padahal berhala-berhala itu tidak mampu memberi manfaat dan tidak pula menimbulkan mudarat. Ia sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas apa pun.Kemudian Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” Karena kalian menyembah sesuatu yang sama sekali tidak berhak untuk disembah, dan kalian meninggalkan ibadah kepada Pencipta kalian, Pemberi rezeki kalian, dan Pengatur seluruh urusan kalian. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat KauniyahAllah Ta’ala berfirman,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Makna firman-Nya, “Dan demikianlah”, yaitu sebagaimana Kami telah memberi taufik kepadanya untuk mentauhidkan Allah dan berdakwah kepada tauhid.“Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi”, maksudnya agar ia menyaksikan dengan mata hatinya berbagai tanda dan bukti yang tegas, serta dalil-dalil yang terang, yang terdapat di langit dan di bumi.“Dan agar ia termasuk orang-orang yang yakin.” Karena dengan tegaknya dalil-dalil dan kuatnya bukti-bukti itu, lahirlah keyakinan yang sempurna dan ilmu yang mendalam tentang seluruh perkara yang menjadi tujuan iman. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ ٱلَّيْلُ رَءَا كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلْءَافِلِينَ“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.” (QS. Al-An’am: 76)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika malam telah gelap menutupinya”, yaitu ketika malam menjadi gelap gulita.“Ia melihat sebuah bintang”, kemungkinan besar adalah bintang yang sangat terang, karena penyebutan khusus terhadapnya menunjukkan bahwa ia lebih menonjol dibanding bintang-bintang lainnya. Oleh karena itu—wallahu a‘lam—sebagian ulama berpendapat bahwa bintang tersebut adalah Venus.Ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Ucapan ini disampaikan dalam rangka berdialog dan mengikuti alur berpikir kaumnya, seakan-akan ia berkata, “Baiklah, ini Tuhanku. Mari kita perhatikan, apakah ia memang layak menjadi Tuhan? Apakah ada bukti dan dalil yang menunjukkan bahwa ia pantas disembah?” Karena tidak sepantasnya orang yang berakal menjadikan sesuatu sebagai tuhan hanya berdasarkan hawa nafsu, tanpa hujah dan tanpa bukti.“Ketika bintang itu terbenam”, yakni ketika bintang tersebut menghilang dan tidak tampak lagi.Ia berkata, “Aku tidak menyukai sesuatu yang terbenam.” Maksudnya, sesuatu yang menghilang dan tidak tampak dari para penyembahnya tidak layak untuk disembah. Sesembahan yang benar seharusnya selalu mengurusi kepentingan hamba yang menyembahnya, mengatur seluruh urusannya setiap waktu. Adapun sesuatu yang dalam waktu lama menghilang dan tidak terlihat, bagaimana mungkin ia pantas menjadi Tuhan?Menjadikannya sebagai sesembahan hanyalah bentuk kebodohan yang paling nyata dan kesesatan yang paling batil.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِى رَبِّى لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلضَّآلِّينَ“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”.” (QS. Al-An’am: 77)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat bulan terbit”, yaitu ketika bulan muncul dan bersinar. Ia melihat bahwa cahaya bulan lebih besar dibandingkan cahaya bintang-bintang, dan berbeda dari yang lainnya.Ia berkata, “Inilah Tuhanku,” sebagai bentuk mengikuti alur berpikir kaumnya dalam berdialog dengan mereka.“Ketika bulan itu terbenam”, ia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pasti aku termasuk orang-orang yang sesat.”Dalam ucapan ini tampak betapa ia sangat membutuhkan petunjuk dari Rabbnya. Ia benar-benar menunjukkan ketergantungan yang sempurna kepada Allah. Ia menyadari bahwa jika Allah tidak memberinya hidayah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberinya petunjuk. Jika Allah tidak menolongnya dalam ketaatan, maka tidak ada penolong baginya.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّى هَٰذَآ أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّآ أَفَلَتْ قَالَ يَٰقَوْمِ إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Al-An’am: 78)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat matahari terbit”, ia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar,” yakni lebih besar daripada bintang dan bulan.Namun ketika matahari itu terbenam, saat itulah kebenaran semakin jelas dan kesesatan pun sirna. Maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.”Karena telah tegak dalil yang benar dan nyata, yang menunjukkan batilnya apa yang mereka sembah. Dengan demikian, jelaslah bahwa semua benda langit itu tidak layak menjadi sesembahan.Allah Ta’ala berfirman,إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-An’am: 79)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Maknanya: Aku memurnikan ibadahku hanya kepada Allah semata, menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya, dan berpaling dari segala sesuatu selain-Nya.“Dalam keadaan hanif”, yaitu lurus di atas tauhid, condong kepada kebenaran dan menjauhi kesyirikan.“Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” Dengan pernyataan ini, ia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk sepenuhnya kepada tauhid, dan menegakkan hujah yang jelas atas kebenaran tersebut.Penjelasan yang telah disebutkan dalam menafsirkan ayat-ayat ini adalah pendapat yang benar, yaitu bahwa konteksnya adalah dialog dan perdebatan Nabi Ibrahim dengan kaumnya untuk menjelaskan batilnya penyembahan terhadap benda-benda langit dan selainnya.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ini adalah proses pencarian Ibrahim ketika masa kecilnya, maka pendapat tersebut tidak memiliki dalil yang kuat. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari TuhanBerikut adalah penjelasan dari Imam Ibnu Katsir dari kitab tafsinya.Yang benar adalah bahwa Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam pada saat itu sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya. Ia menjelaskan batilnya ajaran yang mereka anut, yaitu menyembah bangunan-bangunan suci dan patung-patung.Pada kesempatan sebelumnya bersama ayahnya, ia telah menjelaskan kesalahan mereka dalam menyembah patung-patung di bumi, yang dibuat menyerupai malaikat-malaikat di langit. Mereka menjadikannya sebagai perantara agar dapat memberi syafaat kepada mereka di sisi Sang Pencipta Yang Mahaagung. Menurut anggapan mereka, diri mereka terlalu rendah untuk langsung menyembah Allah. Karena itu, mereka bertawasul dengan menyembah para malaikat, agar malaikat-malaikat tersebut memberi syafaat kepada mereka dalam hal rezeki, kemenangan, dan berbagai kebutuhan lainnya.Dalam peristiwa ini, Ibrahim juga menjelaskan kesalahan dan kesesatan mereka dalam menyembah bangunan-bangunan yang berkaitan dengan tujuh benda langit yang bergerak, yaitu: bulan, Merkurius, Venus, matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Benda yang paling terang dan paling bersinar menurut mereka adalah matahari, kemudian bulan, lalu Venus.Maka Ibrahim pertama-tama menjelaskan bahwa Venus tidak pantas dijadikan tuhan. Ia hanyalah makhluk yang ditundukkan dan diatur dalam orbit tertentu. Ia tidak menyimpang sedikit pun ke kanan atau ke kiri, dan tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Ia hanyalah salah satu benda langit yang Allah ciptakan bercahaya, karena hikmah-hikmah besar yang Dia kehendaki. Ia terbit dari timur, bergerak hingga ke barat, lalu menghilang dari pandangan, dan muncul kembali pada malam berikutnya dengan pola yang sama. Sesuatu yang seperti ini jelas tidak layak untuk disembah.Kemudian ia berpindah kepada bulan, dan menjelaskan hal yang sama sebagaimana ia jelaskan tentang bintang.Lalu ia berpindah kepada matahari. Ketika ketiga benda langit tersebut—yang merupakan benda paling terang yang dapat dilihat mata—telah jelas tidak layak menjadi sesembahan dengan dalil yang tegas, maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.” Maksudnya, aku berlepas diri dari menyembah dan loyalitas kepada benda-benda itu. Jika memang mereka adalah tuhan-tuhan, maka silakan kalian bersama-sama mencelakakanku dengan mereka tanpa memberi penangguhan sedikit pun.Kemudian ia menegaskan, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus (hanif), dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.” Maksudnya, aku hanya menyembah Pencipta semua benda itu, yang mengadakannya, menundukkannya, mengaturnya, dan menetapkan peredarannya. Dia-lah yang di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu, Pencipta dan Pemilik segala sesuatu, Rabb dan Ilah seluruh makhluk.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُۥ حَثِيثًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍۭ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)Bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil berada dalam posisi mencari-cari kebenaran pada saat itu, padahal Allah telah berfirman tentangnya:۞ وَلَقَدْ ءَاتَيْنَآ إِبْرَٰهِيمَ رُشْدَهُۥ مِن قَبْلُ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَإِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِىٓ أَنتُمْ لَهَا عَٰكِفُونَ“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” (QS. Al-Anbiya: 51-52)Allah juga berfirman,إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَشَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ ٱجْتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍوَءَاتَيْنَٰهُ فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. An-Nahl: 120–123)Dan Allah berfirman:قُلْ إِنَّنِى هَدَىٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”.” (QS. Al-An‘am: 161)Telah sahih dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.”Dalam Shahih Muslim dari ‘Iyadh bin Himar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah berfirman:إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif.”Dan Allah berfirman:فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 30)Dan firman-Nya:وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.” (QS. Al-A‘raf: 172)Makna ayat ini menurut salah satu pendapat sejalan dengan firman-Nya, “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu,” sebagaimana akan dijelaskan.Jika demikian keadaan seluruh makhluk pada asal penciptaannya, maka bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil—yang Allah jadikan sebagai “seorang imam yang patuh kepada Allah, hanif, dan tidak termasuk orang-orang musyrik”—dalam posisi sedang mencari-cari kebenaran pada saat itu?Justru ia adalah manusia yang paling layak memiliki fitrah yang lurus dan tabiat yang benar, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa ada keraguan sedikit pun.Di antara dalil yang menguatkan bahwa pada saat itu ia sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya—bukan sedang mencari kebenaran—adalah firman Allah Ta’ala berikutnya.وَحَآجَّهُۥ قَوْمُهُۥ ۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّى فِى ٱللَّهِ وَقَدْ هَدَىٰنِ ۚ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِۦٓ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّى شَيْـًٔا ۗ وَسِعَ رَبِّى كُلَّ شَىْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ“Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?” (QS. Al-An’am: 80)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai surah Al-An’am ayat 80 sebagai berikut.Ibrahim berkata, “Apakah kalian membantahku tentang Allah, padahal Dia telah memberiku petunjuk?” Maksudnya, apakah kalian masih juga memperdebatkanku tentang keesaan Allah, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, padahal Allah telah membukakan hatiku, memberiku petunjuk kepada kebenaran, dan aku berada di atas dalil yang jelas? Lalu bagaimana mungkin aku berpaling kepada ucapan-ucapan kalian yang rusak dan syubhat-syubhat kalian yang batil?Kemudian ia berkata, “Aku tidak takut kepada apa yang kalian persekutukan dengan-Nya, kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu.” Ini juga menjadi bukti atas batilnya keyakinan mereka. Sesembahan yang mereka agungkan itu sama sekali tidak memiliki pengaruh apa pun. Ibrahim tidak takut kepadanya dan tidak memedulikannya. Seandainya sesembahan-sesembahan itu benar-benar memiliki kekuatan, maka silakan mereka mencelakakannya segera tanpa ditunda-tunda.Adapun ucapannya, “kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu,” merupakan pengecualian yang terputus maknanya. Artinya, tidak ada yang mampu memberi mudarat atau manfaat selain Allah semata.Lalu ia menegaskan, “Ilmu Rabbku meliputi segala sesuatu.” Maksudnya, pengetahuan Allah mencakup seluruh makhluk dan seluruh keadaan mereka; tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya.Kemudian ia berkata, “Tidakkah kalian mengambil pelajaran?” Maksudnya, tidakkah kalian merenungkan penjelasan yang telah aku sampaikan, sehingga kalian menyadari bahwa sesembahan-sesembahan itu batil, lalu berhenti dari menyembahnya?Hujah yang disampaikan Ibrahim ini serupa dengan hujah yang disampaikan Nabi Hud ‘alaihissalam kepada kaumnya, kaum ‘Ad. Sebagaimana Allah kisahkan dalam Al-Qur’an,قَالُوا۟ يَٰهُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِىٓ ءَالِهَتِنَا عَن قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ“Kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.” (QS. Hud: 53)إِن نَّقُولُ إِلَّا ٱعْتَرَىٰكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوٓءٍ ۗ قَالَ إِنِّىٓ أُشْهِدُ ٱللَّهَ وَٱشْهَدُوٓا۟ أَنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Hud: 54)مِن دُونِهِۦ ۖ فَكِيدُونِى جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ“Dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (QS. Hud: 55)إِنِّى تَوَكَّلْتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّى وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌۢ بِنَاصِيَتِهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus“.” (QS. Hud: 56) KesimpulanDari seluruh dialog ini lahir kaidah besar:Setiap yang lemah, berubah, hilang, diatur, dan tidak berkuasa — bukan ilah yang berhak disembah.Karena itu Ibrahim menutup dengan deklarasi:إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ“Aku menghadapkan diriku hanya kepada Pencipta langit dan bumi.”Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalām dalam QS. Al-An‘am (74–80) menegaskan bahwa akar kesesatan kaumnya adalah kesyirikan: menyembah patung dan benda-benda langit sebagai perantara, padahal semuanya makhluk yang tidak kuasa memberi manfaat dan mudarat. Allah meneguhkan Ibrahim dengan “malakūt” langit dan bumi agar keyakinannya sempurna, lalu Ibrahim membantah keyakinan kaumnya dengan hujah yang terang: bintang, bulan, dan matahari terbit dan tenggelam, sehingga tidak layak jadi sesembahan. Maka Ibrahim menutupnya dengan bara’ (berlepas diri) dari syirik dan itsbāt (menetapkan) tauhid: hanya Allah Pencipta dan Pengatur semesta yang berhak diibadahi. Ini juga membantah anggapan bahwa Ibrahim pernah “mencari Tuhan”; yang benar, beliau menghancurkan logika syirik kaumnya melalui dialog yang cerdas dan tegas.اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ وَالْيَقِينِ“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bertauhid dan memiliki keyakinan yang kokoh.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa siang, 7 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang tauhid bantahan kesyirikan belajar tauhid dakwah tauhid para nabi dialog tauhid Ibrahim kisah Nabi Ibrahim logika tauhid dalam Islam makna hanif dalam Islam nabi ibrahim nabi Ibrahim dan penyembahan berhala pelajaran tauhid Al-Quran renungan ayat renungan quran tafsir Al-Anam tauhid tauhid Nabi Ibrahim

Tafsir Surah Al-Insyiqaq: Jangan Lupa, Kita Semua Akan Bertemu Allah

Surah Al-Insyiqaq menggambarkan kedahsyatan hari kiamat: langit terbelah, bumi diratakan, dan seluruh isi kubur dimuntahkan. Di tengah guncangan kosmik itu, Allah mengingatkan bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju Rabb-nya dan pasti akan berjumpa dengan-Nya. Maka jangan lupa, seluruh amal kita akan dipertemukan dengan balasannya pada hari yang tidak mungkin dihindari.  Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama 2. Ayat Kedua 3. Ayat Ketiga 4. Ayat Keempat 5. Ayat Kelima 6. Ayat Keenam 7. Ayat Ketujuh 8. Ayat Kedelapan 8.1. Yang Dimaksud Hisab yang Mudah 8.2. Doa Agar Mendapatkan Hisab yang Mudah pada Hari Kiamat 9. Ayat Kesembilan 10. Ayat Kesepuluh 11. Ayat Kesebelas 12. Ayat Kedua Belas 13. Ayat Ketiga Belas 14. Ayat Keempat Belas 15. Ayat Kelima Belas 15.1. Siapa yang Menerima Kitab dengan Tangan Kanan atau Kiri dari Balik Punggung? 16. Ayat Keenam Belas 17. Ayat Ketujuh Belas 18. Ayat Kedelapan Belas 19. Ayat Kesembilan Belas 20. Ayat Kedua Puluh 21. Ayat Kedua Puluh Satu 22. Ayat Kedua Puluh Dua 23. Ayat Kedua Puluh Tiga 24. Ayat Kedua Puluh Empat 25. Ayat Kedua Puluh Lima   Ayat Pertamaإِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتْ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Insyiqaq: 1)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah Ta’ala menjelaskan gambaran dahsyat yang akan terjadi pada hari kiamat, yaitu perubahan besar yang menimpa benda-benda langit yang sangat agung.Firman-Nya, إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ, maksudnya adalah ketika langit terbelah dan terpecah-pecah, bagian-bagiannya terpisah satu sama lain. Bintang-bintang berjatuhan dan berserakan. Matahari dan bulan pun mengalami kehancuran; keduanya kehilangan cahaya dan tertelan (lenyap).Ini semua merupakan gambaran kedahsyatan hari kiamat, ketika tatanan alam semesta yang selama ini kokoh dan teratur berubah total atas perintah Allah. Ayat Keduaوَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ“dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh.” (QS. Al-Insyiqaq: 2)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud firman Allah, وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا, yaitu langit mendengarkan perintah Rabb-nya dengan penuh kepatuhan. Ia menyimak dengan sungguh-sungguh, memasang pendengaran, dan tunduk sepenuhnya terhadap titah-Nya.Memang sudah sepantasnya langit bersikap demikian. Sebab ia adalah makhluk yang sepenuhnya diatur dan ditundukkan oleh Allah, berada di bawah kekuasaan Raja Yang Maha Agung. Tidak ada satu pun perintah-Nya yang bisa ditentang, dan tidak ada satu pun ketetapan-Nya yang dapat diselisihi.Ayat ini menggambarkan kesempurnaan ketaatan makhluk kepada Allah pada hari kiamat, ketika seluruh alam tunduk total kepada perintah-Nya tanpa sedikit pun pembangkangan. Ayat Ketigaوَإِذَا ٱلْأَرْضُ مُدَّتْ“dan apabila bumi diratakan.” (QS. Al-Insyiqaq: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan firman Allah, وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ, adalah ketika bumi diguncangkan dan digetarkan dengan dahsyat. Gunung-gunung yang ada di atasnya dicabut dan dihancurkan. Segala bangunan dan tanda-tanda yang berdiri di atasnya diratakan hingga lenyap.Kemudian Allah membentangkan bumi itu seperti hamparan kulit yang dibentangkan, sehingga menjadi sangat luas. Bumi pada saat itu cukup untuk menampung seluruh manusia yang dikumpulkan di padang mahsyar, meskipun jumlah mereka sangat banyak.Akhirnya, bumi menjadi tanah yang datar dan rata, tanpa terlihat sedikit pun lekukan atau tonjolan. Tidak ada lagi perbedaan ketinggian, semuanya menjadi satu hamparan luas yang terbuka. Ayat Keempatوَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ“dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.” (QS. Al-Insyiqaq: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan firman Allah, وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا, adalah bumi mengeluarkan seluruh isi yang tersimpan di dalamnya, baik berupa jasad-jasad manusia yang telah mati maupun harta-harta terpendam dan berbagai kekayaan yang dahulu tersembunyi.Kemudian firman-Nya, وَتَخَلَّتْ, maksudnya bumi menjadi kosong dari semua itu. Ketika sangkakala ditiup, seluruh manusia bangkit dari kubur mereka dan keluar ke permukaan bumi. Bumi pun mengeluarkan seluruh perbendaharaan yang dikandungnya hingga tampak menumpuk seperti tiang besar yang menjulang.Semua makhluk menyaksikan harta-harta itu dengan mata kepala mereka sendiri. Pada saat itulah manusia menyesal, mengingat dahulu mereka berlomba-lomba dan saling bersaing untuk mendapatkannya, padahal kini semua itu tidak lagi berguna bagi mereka. Ayat Kelimaوَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ“dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya).” (QS. Al-Insyiqaq: 5) Ayat Keenamيَٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَٰقِيهِ“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju Allah. Ia berusaha, beramal, dan menjalani kehidupan dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dalam perjalanannya itu, ada yang mendekat kepada Allah dengan kebaikan, dan ada pula yang mendekat dengan keburukan.Pada akhirnya, setiap manusia pasti akan berjumpa dengan Allah pada hari kiamat. Tidak seorang pun akan luput dari pertemuan tersebut. Di sana, ia akan menerima balasan. Jika ia termasuk orang yang berbahagia (beriman dan taat), maka ia akan mendapatkan balasan dengan karunia dan kemurahan Allah. Namun jika ia termasuk orang yang celaka (kufur dan bermaksiat), maka ia akan menerima balasan dengan keadilan Allah.Ayat ini mengingatkan bahwa hidup bukanlah perjalanan tanpa tujuan. Setiap langkah, setiap usaha, dan setiap amal akan bermuara pada satu pertemuan besar: pertemuan dengan Allah Ta’ala. Ayat Ketujuhفَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya.” (QS. Al-Insyiqaq: 7)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Mereka inilah orang-orang yang berbahagia. Mereka adalah ahli kebahagiaan, yakni orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Pemberian kitab dengan tangan kanan merupakan tanda keselamatan, keberuntungan, dan keberhasilan mereka di hari kiamat. Ayat Kedelapanفَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا“maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (QS. Al-Insyiqaq: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan hisab yang mudah adalah sekadar diperlihatkannya amal-amal di hadapan Allah. Allah menampakkan dosa-dosanya dan membuatnya mengakui semua itu. Hingga ketika sang hamba merasa dirinya telah binasa karena banyaknya dosa yang diingatkan kepadanya, Allah Ta’ala berfirman kepadanya:إِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، فَأَنَا أَسْتُرُهَا لَكَ الْيَوْمَ“Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan hari ini Aku pun menutupinya untukmu.”Inilah makna hisab yang mudah: bukan diperiksa secara rinci dan diperdebatkan setiap amalnya, tetapi hanya diperlihatkan lalu diampuni oleh Allah. Yang Dimaksud Hisab yang MudahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ“Siapa saja yang benar-benar dihisab (secara rinci dan teliti), maka ia akan tersiksa.” Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya, “Bukankah Allah Ta‘ala telah berfirman, ‘Maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah’ (QS. Al-Insyiqaq: 8)?” Beliau menjawab, “Yang dimaksud ayat itu hanyalah al-‘aradh, yaitu sekadar diperlihatkan amalnya. Adapun orang yang diperiksa secara detail dan diperdebatkan hisabnya, maka ia akan binasa.” (HR. Bukhari no. 103 dan Muslim no. 2876)Hisab menurut kaca mata akidah memiliki dua pengertian:Pertama: Al-‘Aradh (penampakan dosa dan pengakuan), mempunyai dua pengertian.Pengertian umum, yaitu seluruh makhluk ditampakkan di hadapan Allah dalam keadaan menampakkan lembaran amalan mereka. Ini mencakup orang yang dimunaqasyah hisabnya dan yang tidak dihisab.Pemaparan amalan maksiat kaum mukminin kepada mereka, penetapannya, merahasiakan (tidak dibuka dihadapan orang lain), dan pengampunan Allah atasnya. Hisab demikian ini dinamakan hisab yang ringan (hisab yasir).Kedua: Munaqasyah (diperiksa secara sungguh-sungguh) dan inilah yang dinamakan hisab (perhitungan) antara kebaikan dan keburukan. (Lihat Mukhtashar Ma’arij Al-Qabul Hafizh al Hakami, diringkas oleh Hisyam Ali ‘Uqdah, Cetakan Ketiga, Tahun 1413 H, hlm. 246)Untuk itulah Syaikhul Islam menyatakan bahwa hisab dapat dimaksudkan sebagai perhitungan antara amal kebajikan dan amal keburukan, dan di dalamnya terkandung pengertian munaqasyah. Juga dimaksukan dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan amalan terhadap pelakunya. (Dar’u Ta’arudh Al-‘Aqli wa An-Naqli, Ibnu Taimiyyah, Tahqiq Muhammad Rasyaad Saalim, tanpa tahun, 5:229)Baca juga: Syarhus Sunnah: Hisab dan Timbangan pada Hari Kiamat Doa Agar Mendapatkan Hisab yang Mudah pada Hari KiamatDari Aisyah radhiyallahu ‘anha; ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca,اَللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَاباً يَسِيرًاALLOOHUMMA HAASIBNII HISAABAN YASIIROO.Artinya: Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah.فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ؟قَالَ: أَنْ يُنْظَرَ فِي كِتَابِهِ فَيُتَجَاوَزَ لَهُ عَنْهُ، إِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَا عَائِشَةُ يَوْمَئِذٍ هَلَكَ.Setelah beliau selesai (dari doa itu), aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan hisab yang mudah?” Beliau menjawab, “Yaitu ketika seseorang diperlihatkan catatan amalnya, lalu Allah memaafkannya dan melewati (kesalahan-kesalahannya). Karena sesungguhnya, siapa saja yang diperiksa hisabnya secara teliti pada hari itu, wahai Aisyah, maka ia akan binasa.”(HR. Ahmad, 6:48. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih selain pada kalimat “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca.” Tentang tambahan ini, Muhammad bin Ishaq bersendirian) Doa ini disebutkan dalam kumpulan doa yang kami susun dari buku “50 Doa Mengatasi Problem Hidup” yang diterbitkan oleh Rumaysho. Pesan bukunya di Rumaysho Store via WA: 0821-3626-7701 atau 0821-2000-0454 atau Marketplace Rumaysho Store.Ayat Kesembilanوَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًا“dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.” (QS. Al-Insyiqaq: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia kembali kepada keluarganya di dalam surga dalam keadaan penuh kebahagiaan. Ia merasa sangat gembira karena telah selamat dari azab dan berhasil meraih pahala serta balasan yang mulia.Kegembiraannya bukan sekadar karena berkumpul dengan keluarga, tetapi karena ia telah melewati hisab dengan selamat, terbebas dari siksa, dan mendapatkan kenikmatan yang abadi. Ayat Kesepuluhوَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهْرِهِۦ“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang.” (QS. Al-Insyiqaq: 10)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia menerima kitabnya dengan tangan kiri dari arah belakang.Ini adalah bentuk penghinaan dan kehinaan baginya pada hari kiamat. Ia tidak menerima kitabnya dengan tangan kanan seperti orang-orang yang berbahagia, tetapi justru dengan tangan kiri dan dari belakang punggungnya sebagai tanda kecelakaan dan kebinasaan. Ayat Kesebelasفَسَوْفَ يَدْعُوا۟ ثُبُورًا“maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”.” (QS. Al-Insyiqaq: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia akan memohon agar dirinya dibinasakan, karena dahsyatnya kehinaan dan rasa malu yang ia rasakan. Ia melihat sendiri dalam kitab amalnya berbagai perbuatan buruk yang pernah ia lakukan dan tidak ia tobati. Ayat Kedua Belasوَيَصْلَىٰ سَعِيرًا“Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. Al-Insyiqaq: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, api neraka akan meliputinya dari segala arah. Ia akan dibolak-balik dalam panasnya yang menyala dan merasakan azabnya yang sangat pedih. Ayat Ketiga Belasإِنَّهُۥ كَانَ فِىٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًا“Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir).” (QS. Al-Insyiqaq: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia dahulu bergembira di tengah keluarganya, tidak terlintas dalam benaknya tentang kebangkitan, padahal ia telah berbuat keburukan. Ayat Keempat Belasإِنَّهُۥ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ“Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya).” (QS. Al-Insyiqaq: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia tidak menyangka bahwa dirinya akan kembali kepada Rabbnya dan berdiri di hadapan-Nya. Ayat Kelima Belasبَلَىٰٓ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرًا“(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.” (QS. Al-Insyiqaq: 15)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, tidaklah pantas ia dibiarkan begitu saja—tanpa diperintah dan dilarang, tanpa diberi pahala dan tanpa dihukum—karena Rabbnya Maha Melihat segala keadaannya. Siapa yang Menerima Kitab dengan Tangan Kanan atau Kiri dari Balik Punggung?Ada hadits yang diriwayatkan dari Shafwan bin Muhriz Al-Mazini. Ia berkata:Ketika aku sedang berjalan bersama Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma sambil memegang tangannya, tiba-tiba seseorang mendekat dan bertanya, “Bagaimana engkau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda tentang najwa (bisikan khusus pada hari kiamat)?”Ibnu Umar menjawab, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ، أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ “Sesungguhnya Allah mendekatkan seorang mukmin, lalu Allah melindunginya dan menutupinya. Allah berfirman, ‘Apakah engkau ingat dosa ini? Apakah engkau ingat dosa itu?’ Ia menjawab, ‘Ya, wahai Rabbku.’ Hingga ketika Allah telah menetapkannya atas dosa-dosanya dan ia merasa dirinya pasti binasa, Allah berfirman, ‘Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan hari ini Aku mengampuninya untukmu.’ Maka ia pun diberikan kitab kebaikannya.” (HR. Bukhari, no. 2441; Muslim, no. 2768; dan Ibnu Majah, no. 183). Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan, “dengan tangan kanannya.”Dalam riwayat lain disebutkan,إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُدْنِي الْمُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَسِتْرَهُ مِنَ النَّاسِ، وَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ قَدْ هَلَكَ، قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، ثُمَّ يُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ بِيَمِينِهِ. وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولُ الْأَشْهَادُ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ، أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ.Sesungguhnya Allah Ta‘ala akan mendekatkan seorang mukmin kepada-Nya. Lalu Allah menaunginya dengan perlindungan dan tirai-Nya sehingga ia tertutup dari pandangan manusia. Kemudian Allah mengingatkannya satu per satu akan dosa-dosanya seraya berfirman, “Apakah engkau ingat dosa ini? Apakah engkau ingat dosa itu?”Ia pun menjawab, “Ya, wahai Rabbku.”Pengakuan itu terus berlangsung hingga ia benar-benar dihadapkan pada seluruh dosa-dosanya dan dalam hatinya ia merasa bahwa dirinya pasti binasa.Namun Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya untukmu.”Setelah itu, ia diberikan catatan amal kebaikannya dengan tangan kanannya.Adapun orang kafir dan munafik, maka para saksi akan berkata, “Inilah orang-orang yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.” Ketahuilah, laknat Allah tertimpa atas orang-orang yang zalim. (HR. Bukhari, no. 2441; Muslim, no. 2768) Adapun orang-orang kafir dan munafik, maka mereka diseru di hadapan seluruh makhluk, ‘Inilah orang-orang yang dahulu berdusta terhadap Allah.’”Adapun para pelaku maksiat dari kalangan orang-orang bertauhid—yang masuk neraka lalu dikeluarkan darinya—maka terdapat perbedaan pendapat tentang mereka. Sebagian ulama berpendapat bahwa mereka menerima kitab mereka dengan tangan kanan. Sebagian yang lain berpendapat bahwa mereka menerimanya dengan tangan kiri.As-Safarini rahimahullah berkata: “Orang kafir diberikan kitabnya dengan tangan kiri dari belakang punggungnya. Orang mukmin yang bermaksiat diberikan kitabnya dengan tangan kiri dari arah depan. Sedangkan orang mukmin yang taat diberikan kitabnya dengan tangan kanan dari arah depan.Al-Mawardi rahimahullah memastikan bahwa pendapat yang masyhur adalah orang fasik yang meninggal dalam keadaan fasik tanpa tobat menerima kitabnya dengan tangan kanan. Lalu ia menyebutkan adanya pendapat yang bersikap tawaqquf (menahan diri dalam masalah ini). Ia juga mengatakan bahwa tidak ada yang berpendapat bahwa ia menerimanya dengan tangan kiri.”Yusuf bin ‘Umar dari kalangan Malikiyah berkata, “Para ulama berbeda pendapat tentang nasib para pelaku maksiat dari kalangan orang-orang bertauhid. Ada yang mengatakan bahwa mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka menerimanya dengan tangan kiri.”Berdasarkan pendapat yang menyatakan bahwa mereka menerima dengan tangan kanan, muncul dua rincian pendapat lagi. Ada yang mengatakan bahwa mereka menerimanya sebelum masuk ke dalam neraka. Penerimaan itu menjadi tanda bahwa mereka tidak kekal di dalamnya. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka menerimanya setelah keluar dari neraka. Wallahu a‘lam. (Lawāmi‘ al-Anwār al-Bahiyyah, 2:183)Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Bagaimana dengan seorang mukmin yang bermaksiat, apakah ia menerima kitab amalnya dengan tangan kanan atau tangan kiri?” Beliau menjawab, “Ia menerimanya dengan tangan kanan.” (Al-As’ilah al-Mulḥaqah bi Syarḥ as-Safārīniyyah, hlm. 500) Ayat Keenam Belasفَلَآ أُقْسِمُ بِٱلشَّفَقِ“Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja.” (QS. Al-Insyiqaq: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Pada ayat ini Allah bersumpah dengan salah satu tanda kekuasaan-Nya yang tampak pada waktu malam. Dia bersumpah dengan asy-syafaq, yaitu sisa cahaya matahari yang masih terlihat setelah matahari terbenam. Cahaya kemerahan itu menjadi penanda awal datangnya malam. Ayat Ketujuh Belasوَٱلَّيْلِ وَمَا وَسَقَ“dan dengan malam dan apa yang diselubunginya.” (QS. Al-Insyiqaq: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah bersumpah demi malam dan segala sesuatu yang dihimpun serta diliputinya. Malam menutupi dan mengumpulkan berbagai makhluk di dalamnya, baik hewan-hewan maupun makhluk lainnya.Ketika malam datang, banyak makhluk kembali ke tempatnya, berdiam diri, atau bergerak sesuai tabiatnya. Semua itu berada dalam pengaturan dan kekuasaan Allah. Sumpah ini kembali menunjukkan betapa teraturnya alam semesta di bawah kendali-Nya. Ayat Kedelapan Belasوَٱلْقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ“dan dengan bulan apabila jadi purnama.” (QS. Al-Insyiqaq: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah bersumpah demi bulan ketika ia telah sempurna cahayanya, yaitu saat bulan berada dalam keadaan purnama. Pada saat itu, cahaya bulan tampak penuh dan paling indah. Keadaan tersebut merupakan waktu ketika manfaat cahaya bulan paling besar. Ayat Kesembilan Belasلَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍ“sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).” (QS. Al-Insyiqaq: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, wahai manusia, kalian akan menjalani berbagai fase dan keadaan yang berbeda-beda. Dari setetes mani, kemudian menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging, kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya. Setelah itu lahir sebagai bayi, tumbuh menjadi anak kecil, lalu mencapai usia tamyiz (dapat membedakan baik dan buruk), kemudian datang masa dibebani kewajiban syariat—dengan perintah dan larangan.Setelah itu manusia akan meninggal dunia, lalu dibangkitkan kembali, dan akhirnya diberi balasan sesuai dengan amal perbuatannya.Berbagai tahapan kehidupan yang silih berganti ini menunjukkan bahwa Allah semata yang berhak disembah. Dialah Yang Maha Esa, yang mengatur hamba-hamba-Nya dengan penuh hikmah dan rahmat. Sedangkan manusia hanyalah makhluk yang lemah dan fakir, sepenuhnya berada di bawah pengaturan Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Ayat Kedua Puluhفَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ“Mengapa mereka tidak mau beriman?” (QS. Al-Insyiqaq: 20)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Setelah Allah menjelaskan berbagai tanda kekuasaan-Nya dan tahapan kehidupan manusia yang begitu jelas menunjukkan keesaan dan pengaturan-Nya, Allah pun mengajukan pertanyaan yang bernada celaan dan keheranan: mengapa mereka tidak juga beriman? Ayat Kedua Puluh Satuوَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ ٱلْقُرْءَانُ لَا يَسْجُدُونَ ۩“dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.” (QS. Al-Insyiqaq: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah ketika Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak tunduk dan tidak merendahkan diri. Mereka tidak patuh terhadap ajaran-ajarannya, tidak mengikuti perintah-perintahnya, dan tidak menjauhi larangan-larangannya. Ayat Kedua Puluh Duaبَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُكَذِّبُونَ“bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya).” (QS. Al-Insyiqaq: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah bahwa mereka bukan sekadar tidak beriman, tetapi dengan sengaja mendustakan kebenaran setelah kebenaran itu tampak jelas bagi mereka. Mereka menolak karena sikap membangkang dan keras kepala. Karena itu, tidak mengherankan jika mereka tidak beriman dan tidak tunduk kepada Al-Qur’an. Ayat Kedua Puluh Tigaوَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُوعُونَ“Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka).” (QS. Al-Insyiqaq: 23)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah Maha Mengetahui apa yang mereka simpan dalam hati mereka—baik berupa amal perbuatan maupun niat-niat yang tersembunyi. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, baik yang mereka tampakkan maupun yang mereka rahasiakan.Allah mengetahui rahasia dan bisikan hati mereka. Karena itu, Dia akan memberikan balasan atas seluruh amal yang mereka kerjakan, sesuai dengan apa yang mereka niatkan dan lakukan. Ayat Kedua Puluh Empatفَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ“Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih.” (QS. Al-Insyiqaq: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kata basyarah (kabar gembira) disebut demikian karena pengaruhnya tampak pada wajah (kulit) seseorang, baik berupa kegembiraan maupun kesedihan. Dalam ayat ini, kata tersebut digunakan sebagai bentuk ancaman dan celaan, karena yang diberitakan justru azab yang menyakitkan.Inilah keadaan kebanyakan manusia: mereka mendustakan Al-Qur’an dan tidak beriman kepadanya. Maka sebagai balasan atas sikap keras kepala dan pendustaan itu, mereka diancam dengan azab yang pedih pada hari kiamat. Ayat Kedua Puluh Limaإِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍۭ“tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.” (QS. Al-Insyiqaq: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Di antara manusia ada sekelompok orang yang diberi hidayah oleh Allah. Mereka beriman kepada Allah, menerima ajaran yang dibawa para rasul, lalu membuktikan keimanan itu dengan amal-amal saleh.Mereka inilah yang mendapatkan pahala yang ghairu mamnūn, yaitu pahala yang tidak terputus dan tidak berkurang. Pahala itu kekal dan terus-menerus, berupa kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. Semoga Allah beri manfaat dengan kajian tafsir Surah Al-Insyiqaq ini.  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Senin bakda Subuh, 6 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscatatan amal tafsir as-sa'di tafsir juz amma tafsir surah al insyiqaq

Tafsir Surah Al-Insyiqaq: Jangan Lupa, Kita Semua Akan Bertemu Allah

Surah Al-Insyiqaq menggambarkan kedahsyatan hari kiamat: langit terbelah, bumi diratakan, dan seluruh isi kubur dimuntahkan. Di tengah guncangan kosmik itu, Allah mengingatkan bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju Rabb-nya dan pasti akan berjumpa dengan-Nya. Maka jangan lupa, seluruh amal kita akan dipertemukan dengan balasannya pada hari yang tidak mungkin dihindari.  Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama 2. Ayat Kedua 3. Ayat Ketiga 4. Ayat Keempat 5. Ayat Kelima 6. Ayat Keenam 7. Ayat Ketujuh 8. Ayat Kedelapan 8.1. Yang Dimaksud Hisab yang Mudah 8.2. Doa Agar Mendapatkan Hisab yang Mudah pada Hari Kiamat 9. Ayat Kesembilan 10. Ayat Kesepuluh 11. Ayat Kesebelas 12. Ayat Kedua Belas 13. Ayat Ketiga Belas 14. Ayat Keempat Belas 15. Ayat Kelima Belas 15.1. Siapa yang Menerima Kitab dengan Tangan Kanan atau Kiri dari Balik Punggung? 16. Ayat Keenam Belas 17. Ayat Ketujuh Belas 18. Ayat Kedelapan Belas 19. Ayat Kesembilan Belas 20. Ayat Kedua Puluh 21. Ayat Kedua Puluh Satu 22. Ayat Kedua Puluh Dua 23. Ayat Kedua Puluh Tiga 24. Ayat Kedua Puluh Empat 25. Ayat Kedua Puluh Lima   Ayat Pertamaإِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتْ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Insyiqaq: 1)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah Ta’ala menjelaskan gambaran dahsyat yang akan terjadi pada hari kiamat, yaitu perubahan besar yang menimpa benda-benda langit yang sangat agung.Firman-Nya, إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ, maksudnya adalah ketika langit terbelah dan terpecah-pecah, bagian-bagiannya terpisah satu sama lain. Bintang-bintang berjatuhan dan berserakan. Matahari dan bulan pun mengalami kehancuran; keduanya kehilangan cahaya dan tertelan (lenyap).Ini semua merupakan gambaran kedahsyatan hari kiamat, ketika tatanan alam semesta yang selama ini kokoh dan teratur berubah total atas perintah Allah. Ayat Keduaوَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ“dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh.” (QS. Al-Insyiqaq: 2)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud firman Allah, وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا, yaitu langit mendengarkan perintah Rabb-nya dengan penuh kepatuhan. Ia menyimak dengan sungguh-sungguh, memasang pendengaran, dan tunduk sepenuhnya terhadap titah-Nya.Memang sudah sepantasnya langit bersikap demikian. Sebab ia adalah makhluk yang sepenuhnya diatur dan ditundukkan oleh Allah, berada di bawah kekuasaan Raja Yang Maha Agung. Tidak ada satu pun perintah-Nya yang bisa ditentang, dan tidak ada satu pun ketetapan-Nya yang dapat diselisihi.Ayat ini menggambarkan kesempurnaan ketaatan makhluk kepada Allah pada hari kiamat, ketika seluruh alam tunduk total kepada perintah-Nya tanpa sedikit pun pembangkangan. Ayat Ketigaوَإِذَا ٱلْأَرْضُ مُدَّتْ“dan apabila bumi diratakan.” (QS. Al-Insyiqaq: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan firman Allah, وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ, adalah ketika bumi diguncangkan dan digetarkan dengan dahsyat. Gunung-gunung yang ada di atasnya dicabut dan dihancurkan. Segala bangunan dan tanda-tanda yang berdiri di atasnya diratakan hingga lenyap.Kemudian Allah membentangkan bumi itu seperti hamparan kulit yang dibentangkan, sehingga menjadi sangat luas. Bumi pada saat itu cukup untuk menampung seluruh manusia yang dikumpulkan di padang mahsyar, meskipun jumlah mereka sangat banyak.Akhirnya, bumi menjadi tanah yang datar dan rata, tanpa terlihat sedikit pun lekukan atau tonjolan. Tidak ada lagi perbedaan ketinggian, semuanya menjadi satu hamparan luas yang terbuka. Ayat Keempatوَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ“dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.” (QS. Al-Insyiqaq: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan firman Allah, وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا, adalah bumi mengeluarkan seluruh isi yang tersimpan di dalamnya, baik berupa jasad-jasad manusia yang telah mati maupun harta-harta terpendam dan berbagai kekayaan yang dahulu tersembunyi.Kemudian firman-Nya, وَتَخَلَّتْ, maksudnya bumi menjadi kosong dari semua itu. Ketika sangkakala ditiup, seluruh manusia bangkit dari kubur mereka dan keluar ke permukaan bumi. Bumi pun mengeluarkan seluruh perbendaharaan yang dikandungnya hingga tampak menumpuk seperti tiang besar yang menjulang.Semua makhluk menyaksikan harta-harta itu dengan mata kepala mereka sendiri. Pada saat itulah manusia menyesal, mengingat dahulu mereka berlomba-lomba dan saling bersaing untuk mendapatkannya, padahal kini semua itu tidak lagi berguna bagi mereka. Ayat Kelimaوَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ“dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya).” (QS. Al-Insyiqaq: 5) Ayat Keenamيَٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَٰقِيهِ“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju Allah. Ia berusaha, beramal, dan menjalani kehidupan dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dalam perjalanannya itu, ada yang mendekat kepada Allah dengan kebaikan, dan ada pula yang mendekat dengan keburukan.Pada akhirnya, setiap manusia pasti akan berjumpa dengan Allah pada hari kiamat. Tidak seorang pun akan luput dari pertemuan tersebut. Di sana, ia akan menerima balasan. Jika ia termasuk orang yang berbahagia (beriman dan taat), maka ia akan mendapatkan balasan dengan karunia dan kemurahan Allah. Namun jika ia termasuk orang yang celaka (kufur dan bermaksiat), maka ia akan menerima balasan dengan keadilan Allah.Ayat ini mengingatkan bahwa hidup bukanlah perjalanan tanpa tujuan. Setiap langkah, setiap usaha, dan setiap amal akan bermuara pada satu pertemuan besar: pertemuan dengan Allah Ta’ala. Ayat Ketujuhفَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya.” (QS. Al-Insyiqaq: 7)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Mereka inilah orang-orang yang berbahagia. Mereka adalah ahli kebahagiaan, yakni orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Pemberian kitab dengan tangan kanan merupakan tanda keselamatan, keberuntungan, dan keberhasilan mereka di hari kiamat. Ayat Kedelapanفَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا“maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (QS. Al-Insyiqaq: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan hisab yang mudah adalah sekadar diperlihatkannya amal-amal di hadapan Allah. Allah menampakkan dosa-dosanya dan membuatnya mengakui semua itu. Hingga ketika sang hamba merasa dirinya telah binasa karena banyaknya dosa yang diingatkan kepadanya, Allah Ta’ala berfirman kepadanya:إِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، فَأَنَا أَسْتُرُهَا لَكَ الْيَوْمَ“Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan hari ini Aku pun menutupinya untukmu.”Inilah makna hisab yang mudah: bukan diperiksa secara rinci dan diperdebatkan setiap amalnya, tetapi hanya diperlihatkan lalu diampuni oleh Allah. Yang Dimaksud Hisab yang MudahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ“Siapa saja yang benar-benar dihisab (secara rinci dan teliti), maka ia akan tersiksa.” Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya, “Bukankah Allah Ta‘ala telah berfirman, ‘Maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah’ (QS. Al-Insyiqaq: 8)?” Beliau menjawab, “Yang dimaksud ayat itu hanyalah al-‘aradh, yaitu sekadar diperlihatkan amalnya. Adapun orang yang diperiksa secara detail dan diperdebatkan hisabnya, maka ia akan binasa.” (HR. Bukhari no. 103 dan Muslim no. 2876)Hisab menurut kaca mata akidah memiliki dua pengertian:Pertama: Al-‘Aradh (penampakan dosa dan pengakuan), mempunyai dua pengertian.Pengertian umum, yaitu seluruh makhluk ditampakkan di hadapan Allah dalam keadaan menampakkan lembaran amalan mereka. Ini mencakup orang yang dimunaqasyah hisabnya dan yang tidak dihisab.Pemaparan amalan maksiat kaum mukminin kepada mereka, penetapannya, merahasiakan (tidak dibuka dihadapan orang lain), dan pengampunan Allah atasnya. Hisab demikian ini dinamakan hisab yang ringan (hisab yasir).Kedua: Munaqasyah (diperiksa secara sungguh-sungguh) dan inilah yang dinamakan hisab (perhitungan) antara kebaikan dan keburukan. (Lihat Mukhtashar Ma’arij Al-Qabul Hafizh al Hakami, diringkas oleh Hisyam Ali ‘Uqdah, Cetakan Ketiga, Tahun 1413 H, hlm. 246)Untuk itulah Syaikhul Islam menyatakan bahwa hisab dapat dimaksudkan sebagai perhitungan antara amal kebajikan dan amal keburukan, dan di dalamnya terkandung pengertian munaqasyah. Juga dimaksukan dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan amalan terhadap pelakunya. (Dar’u Ta’arudh Al-‘Aqli wa An-Naqli, Ibnu Taimiyyah, Tahqiq Muhammad Rasyaad Saalim, tanpa tahun, 5:229)Baca juga: Syarhus Sunnah: Hisab dan Timbangan pada Hari Kiamat Doa Agar Mendapatkan Hisab yang Mudah pada Hari KiamatDari Aisyah radhiyallahu ‘anha; ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca,اَللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَاباً يَسِيرًاALLOOHUMMA HAASIBNII HISAABAN YASIIROO.Artinya: Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah.فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ؟قَالَ: أَنْ يُنْظَرَ فِي كِتَابِهِ فَيُتَجَاوَزَ لَهُ عَنْهُ، إِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَا عَائِشَةُ يَوْمَئِذٍ هَلَكَ.Setelah beliau selesai (dari doa itu), aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan hisab yang mudah?” Beliau menjawab, “Yaitu ketika seseorang diperlihatkan catatan amalnya, lalu Allah memaafkannya dan melewati (kesalahan-kesalahannya). Karena sesungguhnya, siapa saja yang diperiksa hisabnya secara teliti pada hari itu, wahai Aisyah, maka ia akan binasa.”(HR. Ahmad, 6:48. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih selain pada kalimat “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca.” Tentang tambahan ini, Muhammad bin Ishaq bersendirian) Doa ini disebutkan dalam kumpulan doa yang kami susun dari buku “50 Doa Mengatasi Problem Hidup” yang diterbitkan oleh Rumaysho. Pesan bukunya di Rumaysho Store via WA: 0821-3626-7701 atau 0821-2000-0454 atau Marketplace Rumaysho Store.Ayat Kesembilanوَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًا“dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.” (QS. Al-Insyiqaq: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia kembali kepada keluarganya di dalam surga dalam keadaan penuh kebahagiaan. Ia merasa sangat gembira karena telah selamat dari azab dan berhasil meraih pahala serta balasan yang mulia.Kegembiraannya bukan sekadar karena berkumpul dengan keluarga, tetapi karena ia telah melewati hisab dengan selamat, terbebas dari siksa, dan mendapatkan kenikmatan yang abadi. Ayat Kesepuluhوَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهْرِهِۦ“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang.” (QS. Al-Insyiqaq: 10)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia menerima kitabnya dengan tangan kiri dari arah belakang.Ini adalah bentuk penghinaan dan kehinaan baginya pada hari kiamat. Ia tidak menerima kitabnya dengan tangan kanan seperti orang-orang yang berbahagia, tetapi justru dengan tangan kiri dan dari belakang punggungnya sebagai tanda kecelakaan dan kebinasaan. Ayat Kesebelasفَسَوْفَ يَدْعُوا۟ ثُبُورًا“maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”.” (QS. Al-Insyiqaq: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia akan memohon agar dirinya dibinasakan, karena dahsyatnya kehinaan dan rasa malu yang ia rasakan. Ia melihat sendiri dalam kitab amalnya berbagai perbuatan buruk yang pernah ia lakukan dan tidak ia tobati. Ayat Kedua Belasوَيَصْلَىٰ سَعِيرًا“Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. Al-Insyiqaq: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, api neraka akan meliputinya dari segala arah. Ia akan dibolak-balik dalam panasnya yang menyala dan merasakan azabnya yang sangat pedih. Ayat Ketiga Belasإِنَّهُۥ كَانَ فِىٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًا“Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir).” (QS. Al-Insyiqaq: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia dahulu bergembira di tengah keluarganya, tidak terlintas dalam benaknya tentang kebangkitan, padahal ia telah berbuat keburukan. Ayat Keempat Belasإِنَّهُۥ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ“Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya).” (QS. Al-Insyiqaq: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia tidak menyangka bahwa dirinya akan kembali kepada Rabbnya dan berdiri di hadapan-Nya. Ayat Kelima Belasبَلَىٰٓ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرًا“(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.” (QS. Al-Insyiqaq: 15)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, tidaklah pantas ia dibiarkan begitu saja—tanpa diperintah dan dilarang, tanpa diberi pahala dan tanpa dihukum—karena Rabbnya Maha Melihat segala keadaannya. Siapa yang Menerima Kitab dengan Tangan Kanan atau Kiri dari Balik Punggung?Ada hadits yang diriwayatkan dari Shafwan bin Muhriz Al-Mazini. Ia berkata:Ketika aku sedang berjalan bersama Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma sambil memegang tangannya, tiba-tiba seseorang mendekat dan bertanya, “Bagaimana engkau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda tentang najwa (bisikan khusus pada hari kiamat)?”Ibnu Umar menjawab, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ، أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ “Sesungguhnya Allah mendekatkan seorang mukmin, lalu Allah melindunginya dan menutupinya. Allah berfirman, ‘Apakah engkau ingat dosa ini? Apakah engkau ingat dosa itu?’ Ia menjawab, ‘Ya, wahai Rabbku.’ Hingga ketika Allah telah menetapkannya atas dosa-dosanya dan ia merasa dirinya pasti binasa, Allah berfirman, ‘Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan hari ini Aku mengampuninya untukmu.’ Maka ia pun diberikan kitab kebaikannya.” (HR. Bukhari, no. 2441; Muslim, no. 2768; dan Ibnu Majah, no. 183). Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan, “dengan tangan kanannya.”Dalam riwayat lain disebutkan,إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُدْنِي الْمُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَسِتْرَهُ مِنَ النَّاسِ، وَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ قَدْ هَلَكَ، قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، ثُمَّ يُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ بِيَمِينِهِ. وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولُ الْأَشْهَادُ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ، أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ.Sesungguhnya Allah Ta‘ala akan mendekatkan seorang mukmin kepada-Nya. Lalu Allah menaunginya dengan perlindungan dan tirai-Nya sehingga ia tertutup dari pandangan manusia. Kemudian Allah mengingatkannya satu per satu akan dosa-dosanya seraya berfirman, “Apakah engkau ingat dosa ini? Apakah engkau ingat dosa itu?”Ia pun menjawab, “Ya, wahai Rabbku.”Pengakuan itu terus berlangsung hingga ia benar-benar dihadapkan pada seluruh dosa-dosanya dan dalam hatinya ia merasa bahwa dirinya pasti binasa.Namun Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya untukmu.”Setelah itu, ia diberikan catatan amal kebaikannya dengan tangan kanannya.Adapun orang kafir dan munafik, maka para saksi akan berkata, “Inilah orang-orang yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.” Ketahuilah, laknat Allah tertimpa atas orang-orang yang zalim. (HR. Bukhari, no. 2441; Muslim, no. 2768) Adapun orang-orang kafir dan munafik, maka mereka diseru di hadapan seluruh makhluk, ‘Inilah orang-orang yang dahulu berdusta terhadap Allah.’”Adapun para pelaku maksiat dari kalangan orang-orang bertauhid—yang masuk neraka lalu dikeluarkan darinya—maka terdapat perbedaan pendapat tentang mereka. Sebagian ulama berpendapat bahwa mereka menerima kitab mereka dengan tangan kanan. Sebagian yang lain berpendapat bahwa mereka menerimanya dengan tangan kiri.As-Safarini rahimahullah berkata: “Orang kafir diberikan kitabnya dengan tangan kiri dari belakang punggungnya. Orang mukmin yang bermaksiat diberikan kitabnya dengan tangan kiri dari arah depan. Sedangkan orang mukmin yang taat diberikan kitabnya dengan tangan kanan dari arah depan.Al-Mawardi rahimahullah memastikan bahwa pendapat yang masyhur adalah orang fasik yang meninggal dalam keadaan fasik tanpa tobat menerima kitabnya dengan tangan kanan. Lalu ia menyebutkan adanya pendapat yang bersikap tawaqquf (menahan diri dalam masalah ini). Ia juga mengatakan bahwa tidak ada yang berpendapat bahwa ia menerimanya dengan tangan kiri.”Yusuf bin ‘Umar dari kalangan Malikiyah berkata, “Para ulama berbeda pendapat tentang nasib para pelaku maksiat dari kalangan orang-orang bertauhid. Ada yang mengatakan bahwa mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka menerimanya dengan tangan kiri.”Berdasarkan pendapat yang menyatakan bahwa mereka menerima dengan tangan kanan, muncul dua rincian pendapat lagi. Ada yang mengatakan bahwa mereka menerimanya sebelum masuk ke dalam neraka. Penerimaan itu menjadi tanda bahwa mereka tidak kekal di dalamnya. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka menerimanya setelah keluar dari neraka. Wallahu a‘lam. (Lawāmi‘ al-Anwār al-Bahiyyah, 2:183)Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Bagaimana dengan seorang mukmin yang bermaksiat, apakah ia menerima kitab amalnya dengan tangan kanan atau tangan kiri?” Beliau menjawab, “Ia menerimanya dengan tangan kanan.” (Al-As’ilah al-Mulḥaqah bi Syarḥ as-Safārīniyyah, hlm. 500) Ayat Keenam Belasفَلَآ أُقْسِمُ بِٱلشَّفَقِ“Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja.” (QS. Al-Insyiqaq: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Pada ayat ini Allah bersumpah dengan salah satu tanda kekuasaan-Nya yang tampak pada waktu malam. Dia bersumpah dengan asy-syafaq, yaitu sisa cahaya matahari yang masih terlihat setelah matahari terbenam. Cahaya kemerahan itu menjadi penanda awal datangnya malam. Ayat Ketujuh Belasوَٱلَّيْلِ وَمَا وَسَقَ“dan dengan malam dan apa yang diselubunginya.” (QS. Al-Insyiqaq: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah bersumpah demi malam dan segala sesuatu yang dihimpun serta diliputinya. Malam menutupi dan mengumpulkan berbagai makhluk di dalamnya, baik hewan-hewan maupun makhluk lainnya.Ketika malam datang, banyak makhluk kembali ke tempatnya, berdiam diri, atau bergerak sesuai tabiatnya. Semua itu berada dalam pengaturan dan kekuasaan Allah. Sumpah ini kembali menunjukkan betapa teraturnya alam semesta di bawah kendali-Nya. Ayat Kedelapan Belasوَٱلْقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ“dan dengan bulan apabila jadi purnama.” (QS. Al-Insyiqaq: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah bersumpah demi bulan ketika ia telah sempurna cahayanya, yaitu saat bulan berada dalam keadaan purnama. Pada saat itu, cahaya bulan tampak penuh dan paling indah. Keadaan tersebut merupakan waktu ketika manfaat cahaya bulan paling besar. Ayat Kesembilan Belasلَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍ“sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).” (QS. Al-Insyiqaq: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, wahai manusia, kalian akan menjalani berbagai fase dan keadaan yang berbeda-beda. Dari setetes mani, kemudian menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging, kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya. Setelah itu lahir sebagai bayi, tumbuh menjadi anak kecil, lalu mencapai usia tamyiz (dapat membedakan baik dan buruk), kemudian datang masa dibebani kewajiban syariat—dengan perintah dan larangan.Setelah itu manusia akan meninggal dunia, lalu dibangkitkan kembali, dan akhirnya diberi balasan sesuai dengan amal perbuatannya.Berbagai tahapan kehidupan yang silih berganti ini menunjukkan bahwa Allah semata yang berhak disembah. Dialah Yang Maha Esa, yang mengatur hamba-hamba-Nya dengan penuh hikmah dan rahmat. Sedangkan manusia hanyalah makhluk yang lemah dan fakir, sepenuhnya berada di bawah pengaturan Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Ayat Kedua Puluhفَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ“Mengapa mereka tidak mau beriman?” (QS. Al-Insyiqaq: 20)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Setelah Allah menjelaskan berbagai tanda kekuasaan-Nya dan tahapan kehidupan manusia yang begitu jelas menunjukkan keesaan dan pengaturan-Nya, Allah pun mengajukan pertanyaan yang bernada celaan dan keheranan: mengapa mereka tidak juga beriman? Ayat Kedua Puluh Satuوَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ ٱلْقُرْءَانُ لَا يَسْجُدُونَ ۩“dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.” (QS. Al-Insyiqaq: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah ketika Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak tunduk dan tidak merendahkan diri. Mereka tidak patuh terhadap ajaran-ajarannya, tidak mengikuti perintah-perintahnya, dan tidak menjauhi larangan-larangannya. Ayat Kedua Puluh Duaبَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُكَذِّبُونَ“bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya).” (QS. Al-Insyiqaq: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah bahwa mereka bukan sekadar tidak beriman, tetapi dengan sengaja mendustakan kebenaran setelah kebenaran itu tampak jelas bagi mereka. Mereka menolak karena sikap membangkang dan keras kepala. Karena itu, tidak mengherankan jika mereka tidak beriman dan tidak tunduk kepada Al-Qur’an. Ayat Kedua Puluh Tigaوَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُوعُونَ“Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka).” (QS. Al-Insyiqaq: 23)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah Maha Mengetahui apa yang mereka simpan dalam hati mereka—baik berupa amal perbuatan maupun niat-niat yang tersembunyi. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, baik yang mereka tampakkan maupun yang mereka rahasiakan.Allah mengetahui rahasia dan bisikan hati mereka. Karena itu, Dia akan memberikan balasan atas seluruh amal yang mereka kerjakan, sesuai dengan apa yang mereka niatkan dan lakukan. Ayat Kedua Puluh Empatفَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ“Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih.” (QS. Al-Insyiqaq: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kata basyarah (kabar gembira) disebut demikian karena pengaruhnya tampak pada wajah (kulit) seseorang, baik berupa kegembiraan maupun kesedihan. Dalam ayat ini, kata tersebut digunakan sebagai bentuk ancaman dan celaan, karena yang diberitakan justru azab yang menyakitkan.Inilah keadaan kebanyakan manusia: mereka mendustakan Al-Qur’an dan tidak beriman kepadanya. Maka sebagai balasan atas sikap keras kepala dan pendustaan itu, mereka diancam dengan azab yang pedih pada hari kiamat. Ayat Kedua Puluh Limaإِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍۭ“tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.” (QS. Al-Insyiqaq: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Di antara manusia ada sekelompok orang yang diberi hidayah oleh Allah. Mereka beriman kepada Allah, menerima ajaran yang dibawa para rasul, lalu membuktikan keimanan itu dengan amal-amal saleh.Mereka inilah yang mendapatkan pahala yang ghairu mamnūn, yaitu pahala yang tidak terputus dan tidak berkurang. Pahala itu kekal dan terus-menerus, berupa kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. Semoga Allah beri manfaat dengan kajian tafsir Surah Al-Insyiqaq ini.  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Senin bakda Subuh, 6 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscatatan amal tafsir as-sa'di tafsir juz amma tafsir surah al insyiqaq
Surah Al-Insyiqaq menggambarkan kedahsyatan hari kiamat: langit terbelah, bumi diratakan, dan seluruh isi kubur dimuntahkan. Di tengah guncangan kosmik itu, Allah mengingatkan bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju Rabb-nya dan pasti akan berjumpa dengan-Nya. Maka jangan lupa, seluruh amal kita akan dipertemukan dengan balasannya pada hari yang tidak mungkin dihindari.  Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama 2. Ayat Kedua 3. Ayat Ketiga 4. Ayat Keempat 5. Ayat Kelima 6. Ayat Keenam 7. Ayat Ketujuh 8. Ayat Kedelapan 8.1. Yang Dimaksud Hisab yang Mudah 8.2. Doa Agar Mendapatkan Hisab yang Mudah pada Hari Kiamat 9. Ayat Kesembilan 10. Ayat Kesepuluh 11. Ayat Kesebelas 12. Ayat Kedua Belas 13. Ayat Ketiga Belas 14. Ayat Keempat Belas 15. Ayat Kelima Belas 15.1. Siapa yang Menerima Kitab dengan Tangan Kanan atau Kiri dari Balik Punggung? 16. Ayat Keenam Belas 17. Ayat Ketujuh Belas 18. Ayat Kedelapan Belas 19. Ayat Kesembilan Belas 20. Ayat Kedua Puluh 21. Ayat Kedua Puluh Satu 22. Ayat Kedua Puluh Dua 23. Ayat Kedua Puluh Tiga 24. Ayat Kedua Puluh Empat 25. Ayat Kedua Puluh Lima   Ayat Pertamaإِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتْ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Insyiqaq: 1)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah Ta’ala menjelaskan gambaran dahsyat yang akan terjadi pada hari kiamat, yaitu perubahan besar yang menimpa benda-benda langit yang sangat agung.Firman-Nya, إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ, maksudnya adalah ketika langit terbelah dan terpecah-pecah, bagian-bagiannya terpisah satu sama lain. Bintang-bintang berjatuhan dan berserakan. Matahari dan bulan pun mengalami kehancuran; keduanya kehilangan cahaya dan tertelan (lenyap).Ini semua merupakan gambaran kedahsyatan hari kiamat, ketika tatanan alam semesta yang selama ini kokoh dan teratur berubah total atas perintah Allah. Ayat Keduaوَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ“dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh.” (QS. Al-Insyiqaq: 2)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud firman Allah, وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا, yaitu langit mendengarkan perintah Rabb-nya dengan penuh kepatuhan. Ia menyimak dengan sungguh-sungguh, memasang pendengaran, dan tunduk sepenuhnya terhadap titah-Nya.Memang sudah sepantasnya langit bersikap demikian. Sebab ia adalah makhluk yang sepenuhnya diatur dan ditundukkan oleh Allah, berada di bawah kekuasaan Raja Yang Maha Agung. Tidak ada satu pun perintah-Nya yang bisa ditentang, dan tidak ada satu pun ketetapan-Nya yang dapat diselisihi.Ayat ini menggambarkan kesempurnaan ketaatan makhluk kepada Allah pada hari kiamat, ketika seluruh alam tunduk total kepada perintah-Nya tanpa sedikit pun pembangkangan. Ayat Ketigaوَإِذَا ٱلْأَرْضُ مُدَّتْ“dan apabila bumi diratakan.” (QS. Al-Insyiqaq: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan firman Allah, وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ, adalah ketika bumi diguncangkan dan digetarkan dengan dahsyat. Gunung-gunung yang ada di atasnya dicabut dan dihancurkan. Segala bangunan dan tanda-tanda yang berdiri di atasnya diratakan hingga lenyap.Kemudian Allah membentangkan bumi itu seperti hamparan kulit yang dibentangkan, sehingga menjadi sangat luas. Bumi pada saat itu cukup untuk menampung seluruh manusia yang dikumpulkan di padang mahsyar, meskipun jumlah mereka sangat banyak.Akhirnya, bumi menjadi tanah yang datar dan rata, tanpa terlihat sedikit pun lekukan atau tonjolan. Tidak ada lagi perbedaan ketinggian, semuanya menjadi satu hamparan luas yang terbuka. Ayat Keempatوَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ“dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.” (QS. Al-Insyiqaq: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan firman Allah, وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا, adalah bumi mengeluarkan seluruh isi yang tersimpan di dalamnya, baik berupa jasad-jasad manusia yang telah mati maupun harta-harta terpendam dan berbagai kekayaan yang dahulu tersembunyi.Kemudian firman-Nya, وَتَخَلَّتْ, maksudnya bumi menjadi kosong dari semua itu. Ketika sangkakala ditiup, seluruh manusia bangkit dari kubur mereka dan keluar ke permukaan bumi. Bumi pun mengeluarkan seluruh perbendaharaan yang dikandungnya hingga tampak menumpuk seperti tiang besar yang menjulang.Semua makhluk menyaksikan harta-harta itu dengan mata kepala mereka sendiri. Pada saat itulah manusia menyesal, mengingat dahulu mereka berlomba-lomba dan saling bersaing untuk mendapatkannya, padahal kini semua itu tidak lagi berguna bagi mereka. Ayat Kelimaوَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ“dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya).” (QS. Al-Insyiqaq: 5) Ayat Keenamيَٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَٰقِيهِ“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju Allah. Ia berusaha, beramal, dan menjalani kehidupan dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dalam perjalanannya itu, ada yang mendekat kepada Allah dengan kebaikan, dan ada pula yang mendekat dengan keburukan.Pada akhirnya, setiap manusia pasti akan berjumpa dengan Allah pada hari kiamat. Tidak seorang pun akan luput dari pertemuan tersebut. Di sana, ia akan menerima balasan. Jika ia termasuk orang yang berbahagia (beriman dan taat), maka ia akan mendapatkan balasan dengan karunia dan kemurahan Allah. Namun jika ia termasuk orang yang celaka (kufur dan bermaksiat), maka ia akan menerima balasan dengan keadilan Allah.Ayat ini mengingatkan bahwa hidup bukanlah perjalanan tanpa tujuan. Setiap langkah, setiap usaha, dan setiap amal akan bermuara pada satu pertemuan besar: pertemuan dengan Allah Ta’ala. Ayat Ketujuhفَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya.” (QS. Al-Insyiqaq: 7)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Mereka inilah orang-orang yang berbahagia. Mereka adalah ahli kebahagiaan, yakni orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Pemberian kitab dengan tangan kanan merupakan tanda keselamatan, keberuntungan, dan keberhasilan mereka di hari kiamat. Ayat Kedelapanفَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا“maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (QS. Al-Insyiqaq: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan hisab yang mudah adalah sekadar diperlihatkannya amal-amal di hadapan Allah. Allah menampakkan dosa-dosanya dan membuatnya mengakui semua itu. Hingga ketika sang hamba merasa dirinya telah binasa karena banyaknya dosa yang diingatkan kepadanya, Allah Ta’ala berfirman kepadanya:إِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، فَأَنَا أَسْتُرُهَا لَكَ الْيَوْمَ“Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan hari ini Aku pun menutupinya untukmu.”Inilah makna hisab yang mudah: bukan diperiksa secara rinci dan diperdebatkan setiap amalnya, tetapi hanya diperlihatkan lalu diampuni oleh Allah. Yang Dimaksud Hisab yang MudahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ“Siapa saja yang benar-benar dihisab (secara rinci dan teliti), maka ia akan tersiksa.” Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya, “Bukankah Allah Ta‘ala telah berfirman, ‘Maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah’ (QS. Al-Insyiqaq: 8)?” Beliau menjawab, “Yang dimaksud ayat itu hanyalah al-‘aradh, yaitu sekadar diperlihatkan amalnya. Adapun orang yang diperiksa secara detail dan diperdebatkan hisabnya, maka ia akan binasa.” (HR. Bukhari no. 103 dan Muslim no. 2876)Hisab menurut kaca mata akidah memiliki dua pengertian:Pertama: Al-‘Aradh (penampakan dosa dan pengakuan), mempunyai dua pengertian.Pengertian umum, yaitu seluruh makhluk ditampakkan di hadapan Allah dalam keadaan menampakkan lembaran amalan mereka. Ini mencakup orang yang dimunaqasyah hisabnya dan yang tidak dihisab.Pemaparan amalan maksiat kaum mukminin kepada mereka, penetapannya, merahasiakan (tidak dibuka dihadapan orang lain), dan pengampunan Allah atasnya. Hisab demikian ini dinamakan hisab yang ringan (hisab yasir).Kedua: Munaqasyah (diperiksa secara sungguh-sungguh) dan inilah yang dinamakan hisab (perhitungan) antara kebaikan dan keburukan. (Lihat Mukhtashar Ma’arij Al-Qabul Hafizh al Hakami, diringkas oleh Hisyam Ali ‘Uqdah, Cetakan Ketiga, Tahun 1413 H, hlm. 246)Untuk itulah Syaikhul Islam menyatakan bahwa hisab dapat dimaksudkan sebagai perhitungan antara amal kebajikan dan amal keburukan, dan di dalamnya terkandung pengertian munaqasyah. Juga dimaksukan dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan amalan terhadap pelakunya. (Dar’u Ta’arudh Al-‘Aqli wa An-Naqli, Ibnu Taimiyyah, Tahqiq Muhammad Rasyaad Saalim, tanpa tahun, 5:229)Baca juga: Syarhus Sunnah: Hisab dan Timbangan pada Hari Kiamat Doa Agar Mendapatkan Hisab yang Mudah pada Hari KiamatDari Aisyah radhiyallahu ‘anha; ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca,اَللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَاباً يَسِيرًاALLOOHUMMA HAASIBNII HISAABAN YASIIROO.Artinya: Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah.فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ؟قَالَ: أَنْ يُنْظَرَ فِي كِتَابِهِ فَيُتَجَاوَزَ لَهُ عَنْهُ، إِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَا عَائِشَةُ يَوْمَئِذٍ هَلَكَ.Setelah beliau selesai (dari doa itu), aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan hisab yang mudah?” Beliau menjawab, “Yaitu ketika seseorang diperlihatkan catatan amalnya, lalu Allah memaafkannya dan melewati (kesalahan-kesalahannya). Karena sesungguhnya, siapa saja yang diperiksa hisabnya secara teliti pada hari itu, wahai Aisyah, maka ia akan binasa.”(HR. Ahmad, 6:48. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih selain pada kalimat “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca.” Tentang tambahan ini, Muhammad bin Ishaq bersendirian) Doa ini disebutkan dalam kumpulan doa yang kami susun dari buku “50 Doa Mengatasi Problem Hidup” yang diterbitkan oleh Rumaysho. Pesan bukunya di Rumaysho Store via WA: 0821-3626-7701 atau 0821-2000-0454 atau Marketplace Rumaysho Store.Ayat Kesembilanوَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًا“dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.” (QS. Al-Insyiqaq: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia kembali kepada keluarganya di dalam surga dalam keadaan penuh kebahagiaan. Ia merasa sangat gembira karena telah selamat dari azab dan berhasil meraih pahala serta balasan yang mulia.Kegembiraannya bukan sekadar karena berkumpul dengan keluarga, tetapi karena ia telah melewati hisab dengan selamat, terbebas dari siksa, dan mendapatkan kenikmatan yang abadi. Ayat Kesepuluhوَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهْرِهِۦ“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang.” (QS. Al-Insyiqaq: 10)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia menerima kitabnya dengan tangan kiri dari arah belakang.Ini adalah bentuk penghinaan dan kehinaan baginya pada hari kiamat. Ia tidak menerima kitabnya dengan tangan kanan seperti orang-orang yang berbahagia, tetapi justru dengan tangan kiri dan dari belakang punggungnya sebagai tanda kecelakaan dan kebinasaan. Ayat Kesebelasفَسَوْفَ يَدْعُوا۟ ثُبُورًا“maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”.” (QS. Al-Insyiqaq: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia akan memohon agar dirinya dibinasakan, karena dahsyatnya kehinaan dan rasa malu yang ia rasakan. Ia melihat sendiri dalam kitab amalnya berbagai perbuatan buruk yang pernah ia lakukan dan tidak ia tobati. Ayat Kedua Belasوَيَصْلَىٰ سَعِيرًا“Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. Al-Insyiqaq: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, api neraka akan meliputinya dari segala arah. Ia akan dibolak-balik dalam panasnya yang menyala dan merasakan azabnya yang sangat pedih. Ayat Ketiga Belasإِنَّهُۥ كَانَ فِىٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًا“Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir).” (QS. Al-Insyiqaq: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia dahulu bergembira di tengah keluarganya, tidak terlintas dalam benaknya tentang kebangkitan, padahal ia telah berbuat keburukan. Ayat Keempat Belasإِنَّهُۥ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ“Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya).” (QS. Al-Insyiqaq: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia tidak menyangka bahwa dirinya akan kembali kepada Rabbnya dan berdiri di hadapan-Nya. Ayat Kelima Belasبَلَىٰٓ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرًا“(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.” (QS. Al-Insyiqaq: 15)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, tidaklah pantas ia dibiarkan begitu saja—tanpa diperintah dan dilarang, tanpa diberi pahala dan tanpa dihukum—karena Rabbnya Maha Melihat segala keadaannya. Siapa yang Menerima Kitab dengan Tangan Kanan atau Kiri dari Balik Punggung?Ada hadits yang diriwayatkan dari Shafwan bin Muhriz Al-Mazini. Ia berkata:Ketika aku sedang berjalan bersama Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma sambil memegang tangannya, tiba-tiba seseorang mendekat dan bertanya, “Bagaimana engkau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda tentang najwa (bisikan khusus pada hari kiamat)?”Ibnu Umar menjawab, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ، أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ “Sesungguhnya Allah mendekatkan seorang mukmin, lalu Allah melindunginya dan menutupinya. Allah berfirman, ‘Apakah engkau ingat dosa ini? Apakah engkau ingat dosa itu?’ Ia menjawab, ‘Ya, wahai Rabbku.’ Hingga ketika Allah telah menetapkannya atas dosa-dosanya dan ia merasa dirinya pasti binasa, Allah berfirman, ‘Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan hari ini Aku mengampuninya untukmu.’ Maka ia pun diberikan kitab kebaikannya.” (HR. Bukhari, no. 2441; Muslim, no. 2768; dan Ibnu Majah, no. 183). Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan, “dengan tangan kanannya.”Dalam riwayat lain disebutkan,إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُدْنِي الْمُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَسِتْرَهُ مِنَ النَّاسِ، وَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ قَدْ هَلَكَ، قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، ثُمَّ يُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ بِيَمِينِهِ. وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولُ الْأَشْهَادُ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ، أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ.Sesungguhnya Allah Ta‘ala akan mendekatkan seorang mukmin kepada-Nya. Lalu Allah menaunginya dengan perlindungan dan tirai-Nya sehingga ia tertutup dari pandangan manusia. Kemudian Allah mengingatkannya satu per satu akan dosa-dosanya seraya berfirman, “Apakah engkau ingat dosa ini? Apakah engkau ingat dosa itu?”Ia pun menjawab, “Ya, wahai Rabbku.”Pengakuan itu terus berlangsung hingga ia benar-benar dihadapkan pada seluruh dosa-dosanya dan dalam hatinya ia merasa bahwa dirinya pasti binasa.Namun Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya untukmu.”Setelah itu, ia diberikan catatan amal kebaikannya dengan tangan kanannya.Adapun orang kafir dan munafik, maka para saksi akan berkata, “Inilah orang-orang yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.” Ketahuilah, laknat Allah tertimpa atas orang-orang yang zalim. (HR. Bukhari, no. 2441; Muslim, no. 2768) Adapun orang-orang kafir dan munafik, maka mereka diseru di hadapan seluruh makhluk, ‘Inilah orang-orang yang dahulu berdusta terhadap Allah.’”Adapun para pelaku maksiat dari kalangan orang-orang bertauhid—yang masuk neraka lalu dikeluarkan darinya—maka terdapat perbedaan pendapat tentang mereka. Sebagian ulama berpendapat bahwa mereka menerima kitab mereka dengan tangan kanan. Sebagian yang lain berpendapat bahwa mereka menerimanya dengan tangan kiri.As-Safarini rahimahullah berkata: “Orang kafir diberikan kitabnya dengan tangan kiri dari belakang punggungnya. Orang mukmin yang bermaksiat diberikan kitabnya dengan tangan kiri dari arah depan. Sedangkan orang mukmin yang taat diberikan kitabnya dengan tangan kanan dari arah depan.Al-Mawardi rahimahullah memastikan bahwa pendapat yang masyhur adalah orang fasik yang meninggal dalam keadaan fasik tanpa tobat menerima kitabnya dengan tangan kanan. Lalu ia menyebutkan adanya pendapat yang bersikap tawaqquf (menahan diri dalam masalah ini). Ia juga mengatakan bahwa tidak ada yang berpendapat bahwa ia menerimanya dengan tangan kiri.”Yusuf bin ‘Umar dari kalangan Malikiyah berkata, “Para ulama berbeda pendapat tentang nasib para pelaku maksiat dari kalangan orang-orang bertauhid. Ada yang mengatakan bahwa mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka menerimanya dengan tangan kiri.”Berdasarkan pendapat yang menyatakan bahwa mereka menerima dengan tangan kanan, muncul dua rincian pendapat lagi. Ada yang mengatakan bahwa mereka menerimanya sebelum masuk ke dalam neraka. Penerimaan itu menjadi tanda bahwa mereka tidak kekal di dalamnya. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka menerimanya setelah keluar dari neraka. Wallahu a‘lam. (Lawāmi‘ al-Anwār al-Bahiyyah, 2:183)Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Bagaimana dengan seorang mukmin yang bermaksiat, apakah ia menerima kitab amalnya dengan tangan kanan atau tangan kiri?” Beliau menjawab, “Ia menerimanya dengan tangan kanan.” (Al-As’ilah al-Mulḥaqah bi Syarḥ as-Safārīniyyah, hlm. 500) Ayat Keenam Belasفَلَآ أُقْسِمُ بِٱلشَّفَقِ“Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja.” (QS. Al-Insyiqaq: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Pada ayat ini Allah bersumpah dengan salah satu tanda kekuasaan-Nya yang tampak pada waktu malam. Dia bersumpah dengan asy-syafaq, yaitu sisa cahaya matahari yang masih terlihat setelah matahari terbenam. Cahaya kemerahan itu menjadi penanda awal datangnya malam. Ayat Ketujuh Belasوَٱلَّيْلِ وَمَا وَسَقَ“dan dengan malam dan apa yang diselubunginya.” (QS. Al-Insyiqaq: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah bersumpah demi malam dan segala sesuatu yang dihimpun serta diliputinya. Malam menutupi dan mengumpulkan berbagai makhluk di dalamnya, baik hewan-hewan maupun makhluk lainnya.Ketika malam datang, banyak makhluk kembali ke tempatnya, berdiam diri, atau bergerak sesuai tabiatnya. Semua itu berada dalam pengaturan dan kekuasaan Allah. Sumpah ini kembali menunjukkan betapa teraturnya alam semesta di bawah kendali-Nya. Ayat Kedelapan Belasوَٱلْقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ“dan dengan bulan apabila jadi purnama.” (QS. Al-Insyiqaq: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah bersumpah demi bulan ketika ia telah sempurna cahayanya, yaitu saat bulan berada dalam keadaan purnama. Pada saat itu, cahaya bulan tampak penuh dan paling indah. Keadaan tersebut merupakan waktu ketika manfaat cahaya bulan paling besar. Ayat Kesembilan Belasلَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍ“sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).” (QS. Al-Insyiqaq: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, wahai manusia, kalian akan menjalani berbagai fase dan keadaan yang berbeda-beda. Dari setetes mani, kemudian menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging, kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya. Setelah itu lahir sebagai bayi, tumbuh menjadi anak kecil, lalu mencapai usia tamyiz (dapat membedakan baik dan buruk), kemudian datang masa dibebani kewajiban syariat—dengan perintah dan larangan.Setelah itu manusia akan meninggal dunia, lalu dibangkitkan kembali, dan akhirnya diberi balasan sesuai dengan amal perbuatannya.Berbagai tahapan kehidupan yang silih berganti ini menunjukkan bahwa Allah semata yang berhak disembah. Dialah Yang Maha Esa, yang mengatur hamba-hamba-Nya dengan penuh hikmah dan rahmat. Sedangkan manusia hanyalah makhluk yang lemah dan fakir, sepenuhnya berada di bawah pengaturan Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Ayat Kedua Puluhفَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ“Mengapa mereka tidak mau beriman?” (QS. Al-Insyiqaq: 20)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Setelah Allah menjelaskan berbagai tanda kekuasaan-Nya dan tahapan kehidupan manusia yang begitu jelas menunjukkan keesaan dan pengaturan-Nya, Allah pun mengajukan pertanyaan yang bernada celaan dan keheranan: mengapa mereka tidak juga beriman? Ayat Kedua Puluh Satuوَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ ٱلْقُرْءَانُ لَا يَسْجُدُونَ ۩“dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.” (QS. Al-Insyiqaq: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah ketika Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak tunduk dan tidak merendahkan diri. Mereka tidak patuh terhadap ajaran-ajarannya, tidak mengikuti perintah-perintahnya, dan tidak menjauhi larangan-larangannya. Ayat Kedua Puluh Duaبَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُكَذِّبُونَ“bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya).” (QS. Al-Insyiqaq: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah bahwa mereka bukan sekadar tidak beriman, tetapi dengan sengaja mendustakan kebenaran setelah kebenaran itu tampak jelas bagi mereka. Mereka menolak karena sikap membangkang dan keras kepala. Karena itu, tidak mengherankan jika mereka tidak beriman dan tidak tunduk kepada Al-Qur’an. Ayat Kedua Puluh Tigaوَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُوعُونَ“Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka).” (QS. Al-Insyiqaq: 23)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah Maha Mengetahui apa yang mereka simpan dalam hati mereka—baik berupa amal perbuatan maupun niat-niat yang tersembunyi. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, baik yang mereka tampakkan maupun yang mereka rahasiakan.Allah mengetahui rahasia dan bisikan hati mereka. Karena itu, Dia akan memberikan balasan atas seluruh amal yang mereka kerjakan, sesuai dengan apa yang mereka niatkan dan lakukan. Ayat Kedua Puluh Empatفَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ“Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih.” (QS. Al-Insyiqaq: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kata basyarah (kabar gembira) disebut demikian karena pengaruhnya tampak pada wajah (kulit) seseorang, baik berupa kegembiraan maupun kesedihan. Dalam ayat ini, kata tersebut digunakan sebagai bentuk ancaman dan celaan, karena yang diberitakan justru azab yang menyakitkan.Inilah keadaan kebanyakan manusia: mereka mendustakan Al-Qur’an dan tidak beriman kepadanya. Maka sebagai balasan atas sikap keras kepala dan pendustaan itu, mereka diancam dengan azab yang pedih pada hari kiamat. Ayat Kedua Puluh Limaإِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍۭ“tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.” (QS. Al-Insyiqaq: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Di antara manusia ada sekelompok orang yang diberi hidayah oleh Allah. Mereka beriman kepada Allah, menerima ajaran yang dibawa para rasul, lalu membuktikan keimanan itu dengan amal-amal saleh.Mereka inilah yang mendapatkan pahala yang ghairu mamnūn, yaitu pahala yang tidak terputus dan tidak berkurang. Pahala itu kekal dan terus-menerus, berupa kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. Semoga Allah beri manfaat dengan kajian tafsir Surah Al-Insyiqaq ini.  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Senin bakda Subuh, 6 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscatatan amal tafsir as-sa'di tafsir juz amma tafsir surah al insyiqaq


Surah Al-Insyiqaq menggambarkan kedahsyatan hari kiamat: langit terbelah, bumi diratakan, dan seluruh isi kubur dimuntahkan. Di tengah guncangan kosmik itu, Allah mengingatkan bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju Rabb-nya dan pasti akan berjumpa dengan-Nya. Maka jangan lupa, seluruh amal kita akan dipertemukan dengan balasannya pada hari yang tidak mungkin dihindari.  Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama 2. Ayat Kedua 3. Ayat Ketiga 4. Ayat Keempat 5. Ayat Kelima 6. Ayat Keenam 7. Ayat Ketujuh 8. Ayat Kedelapan 8.1. Yang Dimaksud Hisab yang Mudah 8.2. Doa Agar Mendapatkan Hisab yang Mudah pada Hari Kiamat 9. Ayat Kesembilan 10. Ayat Kesepuluh 11. Ayat Kesebelas 12. Ayat Kedua Belas 13. Ayat Ketiga Belas 14. Ayat Keempat Belas 15. Ayat Kelima Belas 15.1. Siapa yang Menerima Kitab dengan Tangan Kanan atau Kiri dari Balik Punggung? 16. Ayat Keenam Belas 17. Ayat Ketujuh Belas 18. Ayat Kedelapan Belas 19. Ayat Kesembilan Belas 20. Ayat Kedua Puluh 21. Ayat Kedua Puluh Satu 22. Ayat Kedua Puluh Dua 23. Ayat Kedua Puluh Tiga 24. Ayat Kedua Puluh Empat 25. Ayat Kedua Puluh Lima   Ayat Pertamaإِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتْ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Insyiqaq: 1)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah Ta’ala menjelaskan gambaran dahsyat yang akan terjadi pada hari kiamat, yaitu perubahan besar yang menimpa benda-benda langit yang sangat agung.Firman-Nya, إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ, maksudnya adalah ketika langit terbelah dan terpecah-pecah, bagian-bagiannya terpisah satu sama lain. Bintang-bintang berjatuhan dan berserakan. Matahari dan bulan pun mengalami kehancuran; keduanya kehilangan cahaya dan tertelan (lenyap).Ini semua merupakan gambaran kedahsyatan hari kiamat, ketika tatanan alam semesta yang selama ini kokoh dan teratur berubah total atas perintah Allah. Ayat Keduaوَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ“dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh.” (QS. Al-Insyiqaq: 2)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud firman Allah, وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا, yaitu langit mendengarkan perintah Rabb-nya dengan penuh kepatuhan. Ia menyimak dengan sungguh-sungguh, memasang pendengaran, dan tunduk sepenuhnya terhadap titah-Nya.Memang sudah sepantasnya langit bersikap demikian. Sebab ia adalah makhluk yang sepenuhnya diatur dan ditundukkan oleh Allah, berada di bawah kekuasaan Raja Yang Maha Agung. Tidak ada satu pun perintah-Nya yang bisa ditentang, dan tidak ada satu pun ketetapan-Nya yang dapat diselisihi.Ayat ini menggambarkan kesempurnaan ketaatan makhluk kepada Allah pada hari kiamat, ketika seluruh alam tunduk total kepada perintah-Nya tanpa sedikit pun pembangkangan. Ayat Ketigaوَإِذَا ٱلْأَرْضُ مُدَّتْ“dan apabila bumi diratakan.” (QS. Al-Insyiqaq: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan firman Allah, وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ, adalah ketika bumi diguncangkan dan digetarkan dengan dahsyat. Gunung-gunung yang ada di atasnya dicabut dan dihancurkan. Segala bangunan dan tanda-tanda yang berdiri di atasnya diratakan hingga lenyap.Kemudian Allah membentangkan bumi itu seperti hamparan kulit yang dibentangkan, sehingga menjadi sangat luas. Bumi pada saat itu cukup untuk menampung seluruh manusia yang dikumpulkan di padang mahsyar, meskipun jumlah mereka sangat banyak.Akhirnya, bumi menjadi tanah yang datar dan rata, tanpa terlihat sedikit pun lekukan atau tonjolan. Tidak ada lagi perbedaan ketinggian, semuanya menjadi satu hamparan luas yang terbuka. Ayat Keempatوَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ“dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.” (QS. Al-Insyiqaq: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan firman Allah, وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا, adalah bumi mengeluarkan seluruh isi yang tersimpan di dalamnya, baik berupa jasad-jasad manusia yang telah mati maupun harta-harta terpendam dan berbagai kekayaan yang dahulu tersembunyi.Kemudian firman-Nya, وَتَخَلَّتْ, maksudnya bumi menjadi kosong dari semua itu. Ketika sangkakala ditiup, seluruh manusia bangkit dari kubur mereka dan keluar ke permukaan bumi. Bumi pun mengeluarkan seluruh perbendaharaan yang dikandungnya hingga tampak menumpuk seperti tiang besar yang menjulang.Semua makhluk menyaksikan harta-harta itu dengan mata kepala mereka sendiri. Pada saat itulah manusia menyesal, mengingat dahulu mereka berlomba-lomba dan saling bersaing untuk mendapatkannya, padahal kini semua itu tidak lagi berguna bagi mereka. Ayat Kelimaوَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ“dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya).” (QS. Al-Insyiqaq: 5) Ayat Keenamيَٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَٰقِيهِ“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju Allah. Ia berusaha, beramal, dan menjalani kehidupan dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dalam perjalanannya itu, ada yang mendekat kepada Allah dengan kebaikan, dan ada pula yang mendekat dengan keburukan.Pada akhirnya, setiap manusia pasti akan berjumpa dengan Allah pada hari kiamat. Tidak seorang pun akan luput dari pertemuan tersebut. Di sana, ia akan menerima balasan. Jika ia termasuk orang yang berbahagia (beriman dan taat), maka ia akan mendapatkan balasan dengan karunia dan kemurahan Allah. Namun jika ia termasuk orang yang celaka (kufur dan bermaksiat), maka ia akan menerima balasan dengan keadilan Allah.Ayat ini mengingatkan bahwa hidup bukanlah perjalanan tanpa tujuan. Setiap langkah, setiap usaha, dan setiap amal akan bermuara pada satu pertemuan besar: pertemuan dengan Allah Ta’ala. Ayat Ketujuhفَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya.” (QS. Al-Insyiqaq: 7)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Mereka inilah orang-orang yang berbahagia. Mereka adalah ahli kebahagiaan, yakni orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Pemberian kitab dengan tangan kanan merupakan tanda keselamatan, keberuntungan, dan keberhasilan mereka di hari kiamat. Ayat Kedelapanفَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا“maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (QS. Al-Insyiqaq: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan hisab yang mudah adalah sekadar diperlihatkannya amal-amal di hadapan Allah. Allah menampakkan dosa-dosanya dan membuatnya mengakui semua itu. Hingga ketika sang hamba merasa dirinya telah binasa karena banyaknya dosa yang diingatkan kepadanya, Allah Ta’ala berfirman kepadanya:إِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، فَأَنَا أَسْتُرُهَا لَكَ الْيَوْمَ“Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan hari ini Aku pun menutupinya untukmu.”Inilah makna hisab yang mudah: bukan diperiksa secara rinci dan diperdebatkan setiap amalnya, tetapi hanya diperlihatkan lalu diampuni oleh Allah. Yang Dimaksud Hisab yang MudahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ“Siapa saja yang benar-benar dihisab (secara rinci dan teliti), maka ia akan tersiksa.” Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya, “Bukankah Allah Ta‘ala telah berfirman, ‘Maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah’ (QS. Al-Insyiqaq: 8)?” Beliau menjawab, “Yang dimaksud ayat itu hanyalah al-‘aradh, yaitu sekadar diperlihatkan amalnya. Adapun orang yang diperiksa secara detail dan diperdebatkan hisabnya, maka ia akan binasa.” (HR. Bukhari no. 103 dan Muslim no. 2876)Hisab menurut kaca mata akidah memiliki dua pengertian:Pertama: Al-‘Aradh (penampakan dosa dan pengakuan), mempunyai dua pengertian.Pengertian umum, yaitu seluruh makhluk ditampakkan di hadapan Allah dalam keadaan menampakkan lembaran amalan mereka. Ini mencakup orang yang dimunaqasyah hisabnya dan yang tidak dihisab.Pemaparan amalan maksiat kaum mukminin kepada mereka, penetapannya, merahasiakan (tidak dibuka dihadapan orang lain), dan pengampunan Allah atasnya. Hisab demikian ini dinamakan hisab yang ringan (hisab yasir).Kedua: Munaqasyah (diperiksa secara sungguh-sungguh) dan inilah yang dinamakan hisab (perhitungan) antara kebaikan dan keburukan. (Lihat Mukhtashar Ma’arij Al-Qabul Hafizh al Hakami, diringkas oleh Hisyam Ali ‘Uqdah, Cetakan Ketiga, Tahun 1413 H, hlm. 246)Untuk itulah Syaikhul Islam menyatakan bahwa hisab dapat dimaksudkan sebagai perhitungan antara amal kebajikan dan amal keburukan, dan di dalamnya terkandung pengertian munaqasyah. Juga dimaksukan dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan amalan terhadap pelakunya. (Dar’u Ta’arudh Al-‘Aqli wa An-Naqli, Ibnu Taimiyyah, Tahqiq Muhammad Rasyaad Saalim, tanpa tahun, 5:229)Baca juga: Syarhus Sunnah: Hisab dan Timbangan pada Hari Kiamat Doa Agar Mendapatkan Hisab yang Mudah pada Hari KiamatDari Aisyah radhiyallahu ‘anha; ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca,اَللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَاباً يَسِيرًاALLOOHUMMA HAASIBNII HISAABAN YASIIROO.Artinya: Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah.فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ؟قَالَ: أَنْ يُنْظَرَ فِي كِتَابِهِ فَيُتَجَاوَزَ لَهُ عَنْهُ، إِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَا عَائِشَةُ يَوْمَئِذٍ هَلَكَ.Setelah beliau selesai (dari doa itu), aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan hisab yang mudah?” Beliau menjawab, “Yaitu ketika seseorang diperlihatkan catatan amalnya, lalu Allah memaafkannya dan melewati (kesalahan-kesalahannya). Karena sesungguhnya, siapa saja yang diperiksa hisabnya secara teliti pada hari itu, wahai Aisyah, maka ia akan binasa.”(HR. Ahmad, 6:48. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih selain pada kalimat “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca.” Tentang tambahan ini, Muhammad bin Ishaq bersendirian) Doa ini disebutkan dalam kumpulan doa yang kami susun dari buku “50 Doa Mengatasi Problem Hidup” yang diterbitkan oleh Rumaysho. Pesan bukunya di Rumaysho Store via WA: 0821-3626-7701 atau 0821-2000-0454 atau Marketplace Rumaysho Store.Ayat Kesembilanوَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًا“dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.” (QS. Al-Insyiqaq: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia kembali kepada keluarganya di dalam surga dalam keadaan penuh kebahagiaan. Ia merasa sangat gembira karena telah selamat dari azab dan berhasil meraih pahala serta balasan yang mulia.Kegembiraannya bukan sekadar karena berkumpul dengan keluarga, tetapi karena ia telah melewati hisab dengan selamat, terbebas dari siksa, dan mendapatkan kenikmatan yang abadi. Ayat Kesepuluhوَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهْرِهِۦ“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang.” (QS. Al-Insyiqaq: 10)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia menerima kitabnya dengan tangan kiri dari arah belakang.Ini adalah bentuk penghinaan dan kehinaan baginya pada hari kiamat. Ia tidak menerima kitabnya dengan tangan kanan seperti orang-orang yang berbahagia, tetapi justru dengan tangan kiri dan dari belakang punggungnya sebagai tanda kecelakaan dan kebinasaan. Ayat Kesebelasفَسَوْفَ يَدْعُوا۟ ثُبُورًا“maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”.” (QS. Al-Insyiqaq: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia akan memohon agar dirinya dibinasakan, karena dahsyatnya kehinaan dan rasa malu yang ia rasakan. Ia melihat sendiri dalam kitab amalnya berbagai perbuatan buruk yang pernah ia lakukan dan tidak ia tobati. Ayat Kedua Belasوَيَصْلَىٰ سَعِيرًا“Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. Al-Insyiqaq: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, api neraka akan meliputinya dari segala arah. Ia akan dibolak-balik dalam panasnya yang menyala dan merasakan azabnya yang sangat pedih. Ayat Ketiga Belasإِنَّهُۥ كَانَ فِىٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًا“Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir).” (QS. Al-Insyiqaq: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia dahulu bergembira di tengah keluarganya, tidak terlintas dalam benaknya tentang kebangkitan, padahal ia telah berbuat keburukan. Ayat Keempat Belasإِنَّهُۥ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ“Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya).” (QS. Al-Insyiqaq: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia tidak menyangka bahwa dirinya akan kembali kepada Rabbnya dan berdiri di hadapan-Nya. Ayat Kelima Belasبَلَىٰٓ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرًا“(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.” (QS. Al-Insyiqaq: 15)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, tidaklah pantas ia dibiarkan begitu saja—tanpa diperintah dan dilarang, tanpa diberi pahala dan tanpa dihukum—karena Rabbnya Maha Melihat segala keadaannya. Siapa yang Menerima Kitab dengan Tangan Kanan atau Kiri dari Balik Punggung?Ada hadits yang diriwayatkan dari Shafwan bin Muhriz Al-Mazini. Ia berkata:Ketika aku sedang berjalan bersama Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma sambil memegang tangannya, tiba-tiba seseorang mendekat dan bertanya, “Bagaimana engkau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda tentang najwa (bisikan khusus pada hari kiamat)?”Ibnu Umar menjawab, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ، أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ “Sesungguhnya Allah mendekatkan seorang mukmin, lalu Allah melindunginya dan menutupinya. Allah berfirman, ‘Apakah engkau ingat dosa ini? Apakah engkau ingat dosa itu?’ Ia menjawab, ‘Ya, wahai Rabbku.’ Hingga ketika Allah telah menetapkannya atas dosa-dosanya dan ia merasa dirinya pasti binasa, Allah berfirman, ‘Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan hari ini Aku mengampuninya untukmu.’ Maka ia pun diberikan kitab kebaikannya.” (HR. Bukhari, no. 2441; Muslim, no. 2768; dan Ibnu Majah, no. 183). Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan, “dengan tangan kanannya.”Dalam riwayat lain disebutkan,إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُدْنِي الْمُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَسِتْرَهُ مِنَ النَّاسِ، وَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ قَدْ هَلَكَ، قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، ثُمَّ يُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ بِيَمِينِهِ. وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولُ الْأَشْهَادُ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ، أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ.Sesungguhnya Allah Ta‘ala akan mendekatkan seorang mukmin kepada-Nya. Lalu Allah menaunginya dengan perlindungan dan tirai-Nya sehingga ia tertutup dari pandangan manusia. Kemudian Allah mengingatkannya satu per satu akan dosa-dosanya seraya berfirman, “Apakah engkau ingat dosa ini? Apakah engkau ingat dosa itu?”Ia pun menjawab, “Ya, wahai Rabbku.”Pengakuan itu terus berlangsung hingga ia benar-benar dihadapkan pada seluruh dosa-dosanya dan dalam hatinya ia merasa bahwa dirinya pasti binasa.Namun Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya untukmu.”Setelah itu, ia diberikan catatan amal kebaikannya dengan tangan kanannya.Adapun orang kafir dan munafik, maka para saksi akan berkata, “Inilah orang-orang yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.” Ketahuilah, laknat Allah tertimpa atas orang-orang yang zalim. (HR. Bukhari, no. 2441; Muslim, no. 2768) Adapun orang-orang kafir dan munafik, maka mereka diseru di hadapan seluruh makhluk, ‘Inilah orang-orang yang dahulu berdusta terhadap Allah.’”Adapun para pelaku maksiat dari kalangan orang-orang bertauhid—yang masuk neraka lalu dikeluarkan darinya—maka terdapat perbedaan pendapat tentang mereka. Sebagian ulama berpendapat bahwa mereka menerima kitab mereka dengan tangan kanan. Sebagian yang lain berpendapat bahwa mereka menerimanya dengan tangan kiri.As-Safarini rahimahullah berkata: “Orang kafir diberikan kitabnya dengan tangan kiri dari belakang punggungnya. Orang mukmin yang bermaksiat diberikan kitabnya dengan tangan kiri dari arah depan. Sedangkan orang mukmin yang taat diberikan kitabnya dengan tangan kanan dari arah depan.Al-Mawardi rahimahullah memastikan bahwa pendapat yang masyhur adalah orang fasik yang meninggal dalam keadaan fasik tanpa tobat menerima kitabnya dengan tangan kanan. Lalu ia menyebutkan adanya pendapat yang bersikap tawaqquf (menahan diri dalam masalah ini). Ia juga mengatakan bahwa tidak ada yang berpendapat bahwa ia menerimanya dengan tangan kiri.”Yusuf bin ‘Umar dari kalangan Malikiyah berkata, “Para ulama berbeda pendapat tentang nasib para pelaku maksiat dari kalangan orang-orang bertauhid. Ada yang mengatakan bahwa mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka menerimanya dengan tangan kiri.”Berdasarkan pendapat yang menyatakan bahwa mereka menerima dengan tangan kanan, muncul dua rincian pendapat lagi. Ada yang mengatakan bahwa mereka menerimanya sebelum masuk ke dalam neraka. Penerimaan itu menjadi tanda bahwa mereka tidak kekal di dalamnya. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka menerimanya setelah keluar dari neraka. Wallahu a‘lam. (Lawāmi‘ al-Anwār al-Bahiyyah, 2:183)Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Bagaimana dengan seorang mukmin yang bermaksiat, apakah ia menerima kitab amalnya dengan tangan kanan atau tangan kiri?” Beliau menjawab, “Ia menerimanya dengan tangan kanan.” (Al-As’ilah al-Mulḥaqah bi Syarḥ as-Safārīniyyah, hlm. 500) Ayat Keenam Belasفَلَآ أُقْسِمُ بِٱلشَّفَقِ“Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja.” (QS. Al-Insyiqaq: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Pada ayat ini Allah bersumpah dengan salah satu tanda kekuasaan-Nya yang tampak pada waktu malam. Dia bersumpah dengan asy-syafaq, yaitu sisa cahaya matahari yang masih terlihat setelah matahari terbenam. Cahaya kemerahan itu menjadi penanda awal datangnya malam. Ayat Ketujuh Belasوَٱلَّيْلِ وَمَا وَسَقَ“dan dengan malam dan apa yang diselubunginya.” (QS. Al-Insyiqaq: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah bersumpah demi malam dan segala sesuatu yang dihimpun serta diliputinya. Malam menutupi dan mengumpulkan berbagai makhluk di dalamnya, baik hewan-hewan maupun makhluk lainnya.Ketika malam datang, banyak makhluk kembali ke tempatnya, berdiam diri, atau bergerak sesuai tabiatnya. Semua itu berada dalam pengaturan dan kekuasaan Allah. Sumpah ini kembali menunjukkan betapa teraturnya alam semesta di bawah kendali-Nya. Ayat Kedelapan Belasوَٱلْقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ“dan dengan bulan apabila jadi purnama.” (QS. Al-Insyiqaq: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah bersumpah demi bulan ketika ia telah sempurna cahayanya, yaitu saat bulan berada dalam keadaan purnama. Pada saat itu, cahaya bulan tampak penuh dan paling indah. Keadaan tersebut merupakan waktu ketika manfaat cahaya bulan paling besar. Ayat Kesembilan Belasلَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍ“sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).” (QS. Al-Insyiqaq: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, wahai manusia, kalian akan menjalani berbagai fase dan keadaan yang berbeda-beda. Dari setetes mani, kemudian menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging, kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya. Setelah itu lahir sebagai bayi, tumbuh menjadi anak kecil, lalu mencapai usia tamyiz (dapat membedakan baik dan buruk), kemudian datang masa dibebani kewajiban syariat—dengan perintah dan larangan.Setelah itu manusia akan meninggal dunia, lalu dibangkitkan kembali, dan akhirnya diberi balasan sesuai dengan amal perbuatannya.Berbagai tahapan kehidupan yang silih berganti ini menunjukkan bahwa Allah semata yang berhak disembah. Dialah Yang Maha Esa, yang mengatur hamba-hamba-Nya dengan penuh hikmah dan rahmat. Sedangkan manusia hanyalah makhluk yang lemah dan fakir, sepenuhnya berada di bawah pengaturan Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Ayat Kedua Puluhفَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ“Mengapa mereka tidak mau beriman?” (QS. Al-Insyiqaq: 20)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Setelah Allah menjelaskan berbagai tanda kekuasaan-Nya dan tahapan kehidupan manusia yang begitu jelas menunjukkan keesaan dan pengaturan-Nya, Allah pun mengajukan pertanyaan yang bernada celaan dan keheranan: mengapa mereka tidak juga beriman? Ayat Kedua Puluh Satuوَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ ٱلْقُرْءَانُ لَا يَسْجُدُونَ ۩“dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.” (QS. Al-Insyiqaq: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah ketika Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak tunduk dan tidak merendahkan diri. Mereka tidak patuh terhadap ajaran-ajarannya, tidak mengikuti perintah-perintahnya, dan tidak menjauhi larangan-larangannya. Ayat Kedua Puluh Duaبَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُكَذِّبُونَ“bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya).” (QS. Al-Insyiqaq: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah bahwa mereka bukan sekadar tidak beriman, tetapi dengan sengaja mendustakan kebenaran setelah kebenaran itu tampak jelas bagi mereka. Mereka menolak karena sikap membangkang dan keras kepala. Karena itu, tidak mengherankan jika mereka tidak beriman dan tidak tunduk kepada Al-Qur’an. Ayat Kedua Puluh Tigaوَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُوعُونَ“Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka).” (QS. Al-Insyiqaq: 23)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah Maha Mengetahui apa yang mereka simpan dalam hati mereka—baik berupa amal perbuatan maupun niat-niat yang tersembunyi. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, baik yang mereka tampakkan maupun yang mereka rahasiakan.Allah mengetahui rahasia dan bisikan hati mereka. Karena itu, Dia akan memberikan balasan atas seluruh amal yang mereka kerjakan, sesuai dengan apa yang mereka niatkan dan lakukan. Ayat Kedua Puluh Empatفَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ“Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih.” (QS. Al-Insyiqaq: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kata basyarah (kabar gembira) disebut demikian karena pengaruhnya tampak pada wajah (kulit) seseorang, baik berupa kegembiraan maupun kesedihan. Dalam ayat ini, kata tersebut digunakan sebagai bentuk ancaman dan celaan, karena yang diberitakan justru azab yang menyakitkan.Inilah keadaan kebanyakan manusia: mereka mendustakan Al-Qur’an dan tidak beriman kepadanya. Maka sebagai balasan atas sikap keras kepala dan pendustaan itu, mereka diancam dengan azab yang pedih pada hari kiamat. Ayat Kedua Puluh Limaإِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍۭ“tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.” (QS. Al-Insyiqaq: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Di antara manusia ada sekelompok orang yang diberi hidayah oleh Allah. Mereka beriman kepada Allah, menerima ajaran yang dibawa para rasul, lalu membuktikan keimanan itu dengan amal-amal saleh.Mereka inilah yang mendapatkan pahala yang ghairu mamnūn, yaitu pahala yang tidak terputus dan tidak berkurang. Pahala itu kekal dan terus-menerus, berupa kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. Semoga Allah beri manfaat dengan kajian tafsir Surah Al-Insyiqaq ini.  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Senin bakda Subuh, 6 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscatatan amal tafsir as-sa'di tafsir juz amma tafsir surah al insyiqaq

Bahaya Melanggar Perjanjian dengan Allah dan Dampaknya bagi Hati (Tafsir QS. Al-Maidah Ayat 12–13)

Dalam QS. Al-Maidah ayat 12–13 dari juz keenam, Allah menjelaskan perjanjian besar yang diambil dari Bani Israil serta konsekuensi ketika perjanjian itu dilanggar. Ayat ini tidak hanya berbicara tentang sejarah, tetapi menjadi cermin bagi setiap muslim dalam menjaga komitmen kepada Allah. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang rahmat, kerasnya hati, hilangnya taufik, serta pentingnya ihsan dalam kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Pelajaran Penting 1.1. 1. Menjaga Janji kepada Allah adalah Kunci Rahmat 1.2. 2. Pertolongan Allah Sejalan dengan Tanggung Jawab 1.3. 3. Hati Keras adalah Hukuman yang Sangat Berbahaya 1.4. 4. Bahaya Memelintir Kebenaran demi Kepentingan 1.5. 5. Ilmu Bisa Dicabut sebagai Hukuman 1.6. 6. Pengkhianatan Dimulai dari Hati yang Rusak 1.7. 7. Keberuntungan Hakiki adalah Taufik dan Kesabaran 1.8. 8. Tetap Berbuat Ihsan Meski Disakiti 2. Kesimpulan  Allah Ta’ala berfirman,۞ وَلَقَدْ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ ٱثْنَىْ عَشَرَ نَقِيبًا ۖ وَقَالَ ٱللَّهُ إِنِّى مَعَكُمْ ۖ لَئِنْ أَقَمْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَيْتُمُ ٱلزَّكَوٰةَ وَءَامَنتُم بِرُسُلِى وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ فَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah mengambil perjanjian yang sangat kuat dan tegas dari Bani Israil. Perjanjian itu bukan janji biasa, melainkan janji yang disertai penegasan dan kewajiban yang berat.Allah juga mengangkat dari kalangan mereka dua belas orang pemimpin. Setiap pemimpin bertugas mengawasi kaumnya, mendorong mereka agar menjalankan perintah Allah, serta menagih komitmen mereka terhadap perjanjian tersebut.Allah berfirman kepada para pemimpin yang memikul tanggung jawab besar itu, “Sesungguhnya Aku bersama kalian,” yaitu dengan pertolongan dan dukungan. Pertolongan itu sebanding dengan beban yang dipikul. Semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula pertolongan Allah bagi yang menunaikannya.Kemudian Allah menyebutkan isi perjanjian tersebut. Jika mereka:Menegakkan salat secara lahir dan batin, dengan memenuhi syarat, rukun, serta menjaga kesinambungannya.Menunaikan zakat kepada yang berhak menerimanya.Beriman kepada seluruh rasul-Nya, yang paling utama dan paling sempurna di antara mereka adalah Nabi Muhammad ﷺ.Memuliakan para rasul, mengagungkan mereka, serta menunaikan hak-hak berupa penghormatan dan ketaatan.Menginfakkan harta di jalan Allah dengan ikhlas, dari harta yang baik dan cara yang benar.Maka Allah menjanjikan dua anugerah besar sekaligus:Pertama, menghapus dosa-dosa mereka sehingga terhindar dari hukuman.Kedua, memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, sebagai kenikmatan yang kekal.Namun jika setelah perjanjian yang begitu kuat—yang diperkuat dengan sumpah dan disertai janji pahala—mereka tetap ingkar, maka mereka benar-benar telah menyimpang dari jalan yang lurus. Penyimpangan itu dilakukan dengan sadar dan sengaja, sehingga mereka pantas kehilangan pahala dan mendapatkan hukuman.Seakan-akan muncul pertanyaan: Lalu apa yang mereka lakukan? Apakah mereka menepati janji kepada Allah, atau justru mengkhianatinya? Allah Ta’ala berfirman,فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَٰقَهُمْ لَعَنَّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَٰسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ ٱلْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِۦ ۙ وَنَسُوا۟ حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَآئِنَةٍ مِّنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱصْفَحْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Maidah: 13)Karena mereka melanggar perjanjian yang telah diambil atas mereka, Allah pun menimpakan beberapa hukuman besar.Pertama, Allah melaknat mereka, yakni mengusir dan menjauhkan mereka dari rahmat-Nya. Mereka sendiri telah menutup pintu-pintu rahmat itu dengan tidak menunaikan perjanjian yang menjadi sebab utama turunnya rahmat.Kedua, Allah menjadikan hati mereka keras. Hati yang keras tidak tersentuh oleh nasihat, tidak tergerak oleh ayat-ayat Allah, dan tidak tersentak oleh peringatan. Janji surga tidak membuat mereka tertarik, dan ancaman neraka tidak membuat mereka gentar. Ini termasuk hukuman paling berat bagi seorang hamba: ketika hatinya tidak lagi menerima petunjuk, bahkan kebaikan justru berbalik menjadi keburukan baginya.Ketiga, mereka mengubah kalimat dari tempatnya. Mereka ditimpa penyakit mengubah dan mengganti makna firman Allah, sehingga makna yang dikehendaki Allah dan rasul-Nya dipalingkan menjadi makna lain sesuai hawa nafsu mereka.Keempat, mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Mereka telah diingatkan dengan Taurat dan wahyu yang Allah turunkan kepada Musa, namun sebagian ajaran itu mereka lupakan. Kelupaan ini mencakup dua hal:1. Lupa terhadap ilmunya, sehingga ilmu itu hilang dan tidak lagi mereka miliki sebagai hukuman dari Allah.2. Lupa dalam arti meninggalkan pengamalannya, sehingga mereka tidak diberi taufik untuk menjalankan perintah yang telah dibebankan kepada mereka.Karena itu, pengingkaran Ahli Kitab terhadap sebagian isi kitab mereka atau terhadap peristiwa yang terjadi pada masa mereka sendiri menjadi bukti bahwa mereka telah melupakan bagian dari apa yang pernah diingatkan kepada mereka.Kelima, pengkhianatan yang terus-menerus. Engkau, wahai Nabi Muhammad ﷺ, akan senantiasa mengetahui bentuk-bentuk pengkhianatan dari mereka, baik pengkhianatan kepada Allah maupun kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Di antara pengkhianatan terbesar mereka adalah menyembunyikan kebenaran dari orang-orang yang menasihati mereka dan berbaik sangka kepada mereka, serta membiarkan diri tetap dalam kekafiran.Sifat-sifat tercela ini tidak hanya berlaku bagi mereka, tetapi juga bagi siapa saja yang memiliki sifat serupa. Setiap orang yang tidak menunaikan perintah Allah dan melanggar komitmen yang telah diambil atas dirinya akan mendapatkan bagian dari hukuman-hukuman tersebut: terjauh dari rahmat, keras hati, terjatuh dalam penyelewengan makna, tidak diberi taufik kepada kebenaran, melupakan sebagian nasihat, dan akhirnya terjerumus dalam pengkhianatan. Kita memohon keselamatan kepada Allah dari semua itu.Allah menyebut apa yang mereka lupakan sebagai “hazhzhan” (bagian atau keberuntungan), karena itulah keberuntungan terbesar. Adapun selain itu hanyalah keberuntungan dunia yang fana. Allah Ta’ala berfirman:فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَـٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَـٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Lalu ia (Qarun) keluar kepada kaumnya dalam kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, ‘Wahai, seandainya kita memiliki seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sungguh, ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.’” (QS, Al-Qashash: 79)Dan tentang keberuntungan yang hakiki, Allah berfirman:وَمَا يُلَقَّاهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّاهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Dan sifat itu tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS, Al-Fussilat: 35)Firman Allah, “kecuali sedikit dari mereka,” menunjukkan bahwa ada sebagian kecil yang menepati janji kepada Allah. Mereka itulah yang diberi taufik dan ditunjuki ke jalan yang lurus.Kemudian Allah memerintahkan Nabi-Nya, “Maafkanlah mereka dan berlapang dadalah.” Maksudnya, janganlah membalas gangguan mereka selama masih ada ruang untuk memaafkan dan bersikap lapang. Sikap demikian termasuk ihsan.Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.Ihsan kepada Allah adalah beribadah kepada-Nya seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.Adapun ihsan kepada sesama makhluk adalah dengan memberikan manfaat kepada mereka, baik manfaat agama maupun manfaat dunia. Pelajaran Penting1. Menjaga Janji kepada Allah adalah Kunci RahmatPerjanjian terbesar seorang muslim adalah syahadat dan komitmen menjalankan agama. Ketika salat ditinggalkan, zakat diabaikan, atau perintah Allah diremehkan, itu adalah bentuk pelanggaran terhadap “mitsaq” (perjanjian) dengan Allah.Semakin kuat komitmen kita menjaga perjanjian itu, semakin dekat kita dengan rahmat dan pertolongan Allah.2. Pertolongan Allah Sejalan dengan Tanggung JawabAllah berfirman, “Sesungguhnya Aku bersama kalian.” Kebersamaan Allah datang bersama amanah dan ketaatan.Siapa yang memikul tanggung jawab agama—baik sebagai orang tua, pendidik, pemimpin, atau dai—lalu menunaikannya dengan benar, maka ia berhak mendapatkan pertolongan Allah sesuai kadar bebannya.3. Hati Keras adalah Hukuman yang Sangat BerbahayaSalah satu hukuman terbesar bukanlah hilangnya harta atau kedudukan, tetapi kerasnya hati:Nasihat tidak masuk.Ayat tidak menggerakkan.Ancaman tidak menakutkan.Janji surga tidak memotivasi.Seorang muslim harus takut terhadap gejala ini. Jika mulai sulit tersentuh oleh kebenaran, segera perbanyak istighfar, taubat, dan perbaiki ibadah.4. Bahaya Memelintir Kebenaran demi KepentinganMengubah makna dalil agar sesuai hawa nafsu bukan hanya kesalahan ilmiah, tetapi dosa besar.Di zaman ini, bentuknya bisa berupa:Menafsirkan agama agar sesuai tren.Membenarkan maksiat dengan dalih “konteks”.Mengambil sebagian dalil dan meninggalkan yang lain.Ini adalah penyakit umat terdahulu yang harus dihindari.5. Ilmu Bisa Dicabut sebagai HukumanAllah menyebut mereka “melupakan bagian” dari apa yang diingatkan kepada mereka. Ini pelajaran besar:Ilmu bisa hilang karena maksiat.Hafalan bisa lupa karena dosa.Pemahaman bisa tertutup karena kesombongan.Karena itu, menjaga amal sama pentingnya dengan menuntut ilmu.6. Pengkhianatan Dimulai dari Hati yang RusakKetika hati keras dan ilmu tidak diamalkan, muncullah pengkhianatan:Khianat terhadap amanah.Khianat dalam rumah tangga.Khianat dalam jabatan.Khianat dalam dakwah.Semua itu berakar dari pelanggaran terhadap komitmen kepada Allah.7. Keberuntungan Hakiki adalah Taufik dan KesabaranAllah menyebut ajaran agama sebagai “hazzan” (keberuntungan). Artinya:Keberuntungan terbesar bukan harta, bukan jabatan, bukan popularitas.Keberuntungan terbesar adalah:Bisa taat.Bisa sabar.Bisa istiqamah.Bisa menerima kebenaran.Itulah “hazzun ‘azhim” yang sesungguhnya.8. Tetap Berbuat Ihsan Meski DisakitiAllah memerintahkan Nabi ﷺ untuk memaafkan dan berlapang dada. Ini pelajaran luar biasa:Seorang muslim tetap berbuat baik meski dizalimi.Tetap menjaga akhlak meski disakiti.Tetap memberi manfaat meski dikhianati.Karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan. KesimpulanAyat ini bukan hanya kisah tentang Bani Israil. Ia adalah cermin bagi setiap muslim.Siapa yang:Menjaga perjanjian dengan Allah → mendapat rahmat dan surga.Melanggar komitmen → terancam keras hati, tersesat, dan kehilangan taufik.Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang menepati janji kepada-Mu, yang menjaga salat dan zakat, serta istiqamah dalam iman dan amal saleh. Jangan Engkau jadikan hati kami keras setelah Engkau beri petunjuk, dan jangan Engkau cabut ilmu serta taufik dari diri kami karena dosa-dosa kami. Karuniakanlah kepada kami keberuntungan yang besar berupa kesabaran, keistiqamahan, dan kemampuan berbuat ihsan hingga akhir hayat kami. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic   —– Senin pagi, 6 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbahaya melanggar janji bani israil hilangnya taufik istiqamah dalam ketaatan jalan yang lurus kerasnya hati makna ihsan pelajaran Bani Israil perjanjian dengan Allah renungan ayat renungan quran tafsir Al Maidah 12-13 tafsir as-sa'di

Bahaya Melanggar Perjanjian dengan Allah dan Dampaknya bagi Hati (Tafsir QS. Al-Maidah Ayat 12–13)

Dalam QS. Al-Maidah ayat 12–13 dari juz keenam, Allah menjelaskan perjanjian besar yang diambil dari Bani Israil serta konsekuensi ketika perjanjian itu dilanggar. Ayat ini tidak hanya berbicara tentang sejarah, tetapi menjadi cermin bagi setiap muslim dalam menjaga komitmen kepada Allah. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang rahmat, kerasnya hati, hilangnya taufik, serta pentingnya ihsan dalam kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Pelajaran Penting 1.1. 1. Menjaga Janji kepada Allah adalah Kunci Rahmat 1.2. 2. Pertolongan Allah Sejalan dengan Tanggung Jawab 1.3. 3. Hati Keras adalah Hukuman yang Sangat Berbahaya 1.4. 4. Bahaya Memelintir Kebenaran demi Kepentingan 1.5. 5. Ilmu Bisa Dicabut sebagai Hukuman 1.6. 6. Pengkhianatan Dimulai dari Hati yang Rusak 1.7. 7. Keberuntungan Hakiki adalah Taufik dan Kesabaran 1.8. 8. Tetap Berbuat Ihsan Meski Disakiti 2. Kesimpulan  Allah Ta’ala berfirman,۞ وَلَقَدْ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ ٱثْنَىْ عَشَرَ نَقِيبًا ۖ وَقَالَ ٱللَّهُ إِنِّى مَعَكُمْ ۖ لَئِنْ أَقَمْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَيْتُمُ ٱلزَّكَوٰةَ وَءَامَنتُم بِرُسُلِى وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ فَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah mengambil perjanjian yang sangat kuat dan tegas dari Bani Israil. Perjanjian itu bukan janji biasa, melainkan janji yang disertai penegasan dan kewajiban yang berat.Allah juga mengangkat dari kalangan mereka dua belas orang pemimpin. Setiap pemimpin bertugas mengawasi kaumnya, mendorong mereka agar menjalankan perintah Allah, serta menagih komitmen mereka terhadap perjanjian tersebut.Allah berfirman kepada para pemimpin yang memikul tanggung jawab besar itu, “Sesungguhnya Aku bersama kalian,” yaitu dengan pertolongan dan dukungan. Pertolongan itu sebanding dengan beban yang dipikul. Semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula pertolongan Allah bagi yang menunaikannya.Kemudian Allah menyebutkan isi perjanjian tersebut. Jika mereka:Menegakkan salat secara lahir dan batin, dengan memenuhi syarat, rukun, serta menjaga kesinambungannya.Menunaikan zakat kepada yang berhak menerimanya.Beriman kepada seluruh rasul-Nya, yang paling utama dan paling sempurna di antara mereka adalah Nabi Muhammad ﷺ.Memuliakan para rasul, mengagungkan mereka, serta menunaikan hak-hak berupa penghormatan dan ketaatan.Menginfakkan harta di jalan Allah dengan ikhlas, dari harta yang baik dan cara yang benar.Maka Allah menjanjikan dua anugerah besar sekaligus:Pertama, menghapus dosa-dosa mereka sehingga terhindar dari hukuman.Kedua, memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, sebagai kenikmatan yang kekal.Namun jika setelah perjanjian yang begitu kuat—yang diperkuat dengan sumpah dan disertai janji pahala—mereka tetap ingkar, maka mereka benar-benar telah menyimpang dari jalan yang lurus. Penyimpangan itu dilakukan dengan sadar dan sengaja, sehingga mereka pantas kehilangan pahala dan mendapatkan hukuman.Seakan-akan muncul pertanyaan: Lalu apa yang mereka lakukan? Apakah mereka menepati janji kepada Allah, atau justru mengkhianatinya? Allah Ta’ala berfirman,فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَٰقَهُمْ لَعَنَّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَٰسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ ٱلْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِۦ ۙ وَنَسُوا۟ حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَآئِنَةٍ مِّنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱصْفَحْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Maidah: 13)Karena mereka melanggar perjanjian yang telah diambil atas mereka, Allah pun menimpakan beberapa hukuman besar.Pertama, Allah melaknat mereka, yakni mengusir dan menjauhkan mereka dari rahmat-Nya. Mereka sendiri telah menutup pintu-pintu rahmat itu dengan tidak menunaikan perjanjian yang menjadi sebab utama turunnya rahmat.Kedua, Allah menjadikan hati mereka keras. Hati yang keras tidak tersentuh oleh nasihat, tidak tergerak oleh ayat-ayat Allah, dan tidak tersentak oleh peringatan. Janji surga tidak membuat mereka tertarik, dan ancaman neraka tidak membuat mereka gentar. Ini termasuk hukuman paling berat bagi seorang hamba: ketika hatinya tidak lagi menerima petunjuk, bahkan kebaikan justru berbalik menjadi keburukan baginya.Ketiga, mereka mengubah kalimat dari tempatnya. Mereka ditimpa penyakit mengubah dan mengganti makna firman Allah, sehingga makna yang dikehendaki Allah dan rasul-Nya dipalingkan menjadi makna lain sesuai hawa nafsu mereka.Keempat, mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Mereka telah diingatkan dengan Taurat dan wahyu yang Allah turunkan kepada Musa, namun sebagian ajaran itu mereka lupakan. Kelupaan ini mencakup dua hal:1. Lupa terhadap ilmunya, sehingga ilmu itu hilang dan tidak lagi mereka miliki sebagai hukuman dari Allah.2. Lupa dalam arti meninggalkan pengamalannya, sehingga mereka tidak diberi taufik untuk menjalankan perintah yang telah dibebankan kepada mereka.Karena itu, pengingkaran Ahli Kitab terhadap sebagian isi kitab mereka atau terhadap peristiwa yang terjadi pada masa mereka sendiri menjadi bukti bahwa mereka telah melupakan bagian dari apa yang pernah diingatkan kepada mereka.Kelima, pengkhianatan yang terus-menerus. Engkau, wahai Nabi Muhammad ﷺ, akan senantiasa mengetahui bentuk-bentuk pengkhianatan dari mereka, baik pengkhianatan kepada Allah maupun kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Di antara pengkhianatan terbesar mereka adalah menyembunyikan kebenaran dari orang-orang yang menasihati mereka dan berbaik sangka kepada mereka, serta membiarkan diri tetap dalam kekafiran.Sifat-sifat tercela ini tidak hanya berlaku bagi mereka, tetapi juga bagi siapa saja yang memiliki sifat serupa. Setiap orang yang tidak menunaikan perintah Allah dan melanggar komitmen yang telah diambil atas dirinya akan mendapatkan bagian dari hukuman-hukuman tersebut: terjauh dari rahmat, keras hati, terjatuh dalam penyelewengan makna, tidak diberi taufik kepada kebenaran, melupakan sebagian nasihat, dan akhirnya terjerumus dalam pengkhianatan. Kita memohon keselamatan kepada Allah dari semua itu.Allah menyebut apa yang mereka lupakan sebagai “hazhzhan” (bagian atau keberuntungan), karena itulah keberuntungan terbesar. Adapun selain itu hanyalah keberuntungan dunia yang fana. Allah Ta’ala berfirman:فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَـٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَـٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Lalu ia (Qarun) keluar kepada kaumnya dalam kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, ‘Wahai, seandainya kita memiliki seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sungguh, ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.’” (QS, Al-Qashash: 79)Dan tentang keberuntungan yang hakiki, Allah berfirman:وَمَا يُلَقَّاهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّاهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Dan sifat itu tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS, Al-Fussilat: 35)Firman Allah, “kecuali sedikit dari mereka,” menunjukkan bahwa ada sebagian kecil yang menepati janji kepada Allah. Mereka itulah yang diberi taufik dan ditunjuki ke jalan yang lurus.Kemudian Allah memerintahkan Nabi-Nya, “Maafkanlah mereka dan berlapang dadalah.” Maksudnya, janganlah membalas gangguan mereka selama masih ada ruang untuk memaafkan dan bersikap lapang. Sikap demikian termasuk ihsan.Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.Ihsan kepada Allah adalah beribadah kepada-Nya seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.Adapun ihsan kepada sesama makhluk adalah dengan memberikan manfaat kepada mereka, baik manfaat agama maupun manfaat dunia. Pelajaran Penting1. Menjaga Janji kepada Allah adalah Kunci RahmatPerjanjian terbesar seorang muslim adalah syahadat dan komitmen menjalankan agama. Ketika salat ditinggalkan, zakat diabaikan, atau perintah Allah diremehkan, itu adalah bentuk pelanggaran terhadap “mitsaq” (perjanjian) dengan Allah.Semakin kuat komitmen kita menjaga perjanjian itu, semakin dekat kita dengan rahmat dan pertolongan Allah.2. Pertolongan Allah Sejalan dengan Tanggung JawabAllah berfirman, “Sesungguhnya Aku bersama kalian.” Kebersamaan Allah datang bersama amanah dan ketaatan.Siapa yang memikul tanggung jawab agama—baik sebagai orang tua, pendidik, pemimpin, atau dai—lalu menunaikannya dengan benar, maka ia berhak mendapatkan pertolongan Allah sesuai kadar bebannya.3. Hati Keras adalah Hukuman yang Sangat BerbahayaSalah satu hukuman terbesar bukanlah hilangnya harta atau kedudukan, tetapi kerasnya hati:Nasihat tidak masuk.Ayat tidak menggerakkan.Ancaman tidak menakutkan.Janji surga tidak memotivasi.Seorang muslim harus takut terhadap gejala ini. Jika mulai sulit tersentuh oleh kebenaran, segera perbanyak istighfar, taubat, dan perbaiki ibadah.4. Bahaya Memelintir Kebenaran demi KepentinganMengubah makna dalil agar sesuai hawa nafsu bukan hanya kesalahan ilmiah, tetapi dosa besar.Di zaman ini, bentuknya bisa berupa:Menafsirkan agama agar sesuai tren.Membenarkan maksiat dengan dalih “konteks”.Mengambil sebagian dalil dan meninggalkan yang lain.Ini adalah penyakit umat terdahulu yang harus dihindari.5. Ilmu Bisa Dicabut sebagai HukumanAllah menyebut mereka “melupakan bagian” dari apa yang diingatkan kepada mereka. Ini pelajaran besar:Ilmu bisa hilang karena maksiat.Hafalan bisa lupa karena dosa.Pemahaman bisa tertutup karena kesombongan.Karena itu, menjaga amal sama pentingnya dengan menuntut ilmu.6. Pengkhianatan Dimulai dari Hati yang RusakKetika hati keras dan ilmu tidak diamalkan, muncullah pengkhianatan:Khianat terhadap amanah.Khianat dalam rumah tangga.Khianat dalam jabatan.Khianat dalam dakwah.Semua itu berakar dari pelanggaran terhadap komitmen kepada Allah.7. Keberuntungan Hakiki adalah Taufik dan KesabaranAllah menyebut ajaran agama sebagai “hazzan” (keberuntungan). Artinya:Keberuntungan terbesar bukan harta, bukan jabatan, bukan popularitas.Keberuntungan terbesar adalah:Bisa taat.Bisa sabar.Bisa istiqamah.Bisa menerima kebenaran.Itulah “hazzun ‘azhim” yang sesungguhnya.8. Tetap Berbuat Ihsan Meski DisakitiAllah memerintahkan Nabi ﷺ untuk memaafkan dan berlapang dada. Ini pelajaran luar biasa:Seorang muslim tetap berbuat baik meski dizalimi.Tetap menjaga akhlak meski disakiti.Tetap memberi manfaat meski dikhianati.Karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan. KesimpulanAyat ini bukan hanya kisah tentang Bani Israil. Ia adalah cermin bagi setiap muslim.Siapa yang:Menjaga perjanjian dengan Allah → mendapat rahmat dan surga.Melanggar komitmen → terancam keras hati, tersesat, dan kehilangan taufik.Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang menepati janji kepada-Mu, yang menjaga salat dan zakat, serta istiqamah dalam iman dan amal saleh. Jangan Engkau jadikan hati kami keras setelah Engkau beri petunjuk, dan jangan Engkau cabut ilmu serta taufik dari diri kami karena dosa-dosa kami. Karuniakanlah kepada kami keberuntungan yang besar berupa kesabaran, keistiqamahan, dan kemampuan berbuat ihsan hingga akhir hayat kami. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic   —– Senin pagi, 6 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbahaya melanggar janji bani israil hilangnya taufik istiqamah dalam ketaatan jalan yang lurus kerasnya hati makna ihsan pelajaran Bani Israil perjanjian dengan Allah renungan ayat renungan quran tafsir Al Maidah 12-13 tafsir as-sa'di
Dalam QS. Al-Maidah ayat 12–13 dari juz keenam, Allah menjelaskan perjanjian besar yang diambil dari Bani Israil serta konsekuensi ketika perjanjian itu dilanggar. Ayat ini tidak hanya berbicara tentang sejarah, tetapi menjadi cermin bagi setiap muslim dalam menjaga komitmen kepada Allah. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang rahmat, kerasnya hati, hilangnya taufik, serta pentingnya ihsan dalam kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Pelajaran Penting 1.1. 1. Menjaga Janji kepada Allah adalah Kunci Rahmat 1.2. 2. Pertolongan Allah Sejalan dengan Tanggung Jawab 1.3. 3. Hati Keras adalah Hukuman yang Sangat Berbahaya 1.4. 4. Bahaya Memelintir Kebenaran demi Kepentingan 1.5. 5. Ilmu Bisa Dicabut sebagai Hukuman 1.6. 6. Pengkhianatan Dimulai dari Hati yang Rusak 1.7. 7. Keberuntungan Hakiki adalah Taufik dan Kesabaran 1.8. 8. Tetap Berbuat Ihsan Meski Disakiti 2. Kesimpulan  Allah Ta’ala berfirman,۞ وَلَقَدْ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ ٱثْنَىْ عَشَرَ نَقِيبًا ۖ وَقَالَ ٱللَّهُ إِنِّى مَعَكُمْ ۖ لَئِنْ أَقَمْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَيْتُمُ ٱلزَّكَوٰةَ وَءَامَنتُم بِرُسُلِى وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ فَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah mengambil perjanjian yang sangat kuat dan tegas dari Bani Israil. Perjanjian itu bukan janji biasa, melainkan janji yang disertai penegasan dan kewajiban yang berat.Allah juga mengangkat dari kalangan mereka dua belas orang pemimpin. Setiap pemimpin bertugas mengawasi kaumnya, mendorong mereka agar menjalankan perintah Allah, serta menagih komitmen mereka terhadap perjanjian tersebut.Allah berfirman kepada para pemimpin yang memikul tanggung jawab besar itu, “Sesungguhnya Aku bersama kalian,” yaitu dengan pertolongan dan dukungan. Pertolongan itu sebanding dengan beban yang dipikul. Semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula pertolongan Allah bagi yang menunaikannya.Kemudian Allah menyebutkan isi perjanjian tersebut. Jika mereka:Menegakkan salat secara lahir dan batin, dengan memenuhi syarat, rukun, serta menjaga kesinambungannya.Menunaikan zakat kepada yang berhak menerimanya.Beriman kepada seluruh rasul-Nya, yang paling utama dan paling sempurna di antara mereka adalah Nabi Muhammad ﷺ.Memuliakan para rasul, mengagungkan mereka, serta menunaikan hak-hak berupa penghormatan dan ketaatan.Menginfakkan harta di jalan Allah dengan ikhlas, dari harta yang baik dan cara yang benar.Maka Allah menjanjikan dua anugerah besar sekaligus:Pertama, menghapus dosa-dosa mereka sehingga terhindar dari hukuman.Kedua, memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, sebagai kenikmatan yang kekal.Namun jika setelah perjanjian yang begitu kuat—yang diperkuat dengan sumpah dan disertai janji pahala—mereka tetap ingkar, maka mereka benar-benar telah menyimpang dari jalan yang lurus. Penyimpangan itu dilakukan dengan sadar dan sengaja, sehingga mereka pantas kehilangan pahala dan mendapatkan hukuman.Seakan-akan muncul pertanyaan: Lalu apa yang mereka lakukan? Apakah mereka menepati janji kepada Allah, atau justru mengkhianatinya? Allah Ta’ala berfirman,فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَٰقَهُمْ لَعَنَّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَٰسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ ٱلْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِۦ ۙ وَنَسُوا۟ حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَآئِنَةٍ مِّنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱصْفَحْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Maidah: 13)Karena mereka melanggar perjanjian yang telah diambil atas mereka, Allah pun menimpakan beberapa hukuman besar.Pertama, Allah melaknat mereka, yakni mengusir dan menjauhkan mereka dari rahmat-Nya. Mereka sendiri telah menutup pintu-pintu rahmat itu dengan tidak menunaikan perjanjian yang menjadi sebab utama turunnya rahmat.Kedua, Allah menjadikan hati mereka keras. Hati yang keras tidak tersentuh oleh nasihat, tidak tergerak oleh ayat-ayat Allah, dan tidak tersentak oleh peringatan. Janji surga tidak membuat mereka tertarik, dan ancaman neraka tidak membuat mereka gentar. Ini termasuk hukuman paling berat bagi seorang hamba: ketika hatinya tidak lagi menerima petunjuk, bahkan kebaikan justru berbalik menjadi keburukan baginya.Ketiga, mereka mengubah kalimat dari tempatnya. Mereka ditimpa penyakit mengubah dan mengganti makna firman Allah, sehingga makna yang dikehendaki Allah dan rasul-Nya dipalingkan menjadi makna lain sesuai hawa nafsu mereka.Keempat, mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Mereka telah diingatkan dengan Taurat dan wahyu yang Allah turunkan kepada Musa, namun sebagian ajaran itu mereka lupakan. Kelupaan ini mencakup dua hal:1. Lupa terhadap ilmunya, sehingga ilmu itu hilang dan tidak lagi mereka miliki sebagai hukuman dari Allah.2. Lupa dalam arti meninggalkan pengamalannya, sehingga mereka tidak diberi taufik untuk menjalankan perintah yang telah dibebankan kepada mereka.Karena itu, pengingkaran Ahli Kitab terhadap sebagian isi kitab mereka atau terhadap peristiwa yang terjadi pada masa mereka sendiri menjadi bukti bahwa mereka telah melupakan bagian dari apa yang pernah diingatkan kepada mereka.Kelima, pengkhianatan yang terus-menerus. Engkau, wahai Nabi Muhammad ﷺ, akan senantiasa mengetahui bentuk-bentuk pengkhianatan dari mereka, baik pengkhianatan kepada Allah maupun kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Di antara pengkhianatan terbesar mereka adalah menyembunyikan kebenaran dari orang-orang yang menasihati mereka dan berbaik sangka kepada mereka, serta membiarkan diri tetap dalam kekafiran.Sifat-sifat tercela ini tidak hanya berlaku bagi mereka, tetapi juga bagi siapa saja yang memiliki sifat serupa. Setiap orang yang tidak menunaikan perintah Allah dan melanggar komitmen yang telah diambil atas dirinya akan mendapatkan bagian dari hukuman-hukuman tersebut: terjauh dari rahmat, keras hati, terjatuh dalam penyelewengan makna, tidak diberi taufik kepada kebenaran, melupakan sebagian nasihat, dan akhirnya terjerumus dalam pengkhianatan. Kita memohon keselamatan kepada Allah dari semua itu.Allah menyebut apa yang mereka lupakan sebagai “hazhzhan” (bagian atau keberuntungan), karena itulah keberuntungan terbesar. Adapun selain itu hanyalah keberuntungan dunia yang fana. Allah Ta’ala berfirman:فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَـٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَـٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Lalu ia (Qarun) keluar kepada kaumnya dalam kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, ‘Wahai, seandainya kita memiliki seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sungguh, ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.’” (QS, Al-Qashash: 79)Dan tentang keberuntungan yang hakiki, Allah berfirman:وَمَا يُلَقَّاهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّاهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Dan sifat itu tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS, Al-Fussilat: 35)Firman Allah, “kecuali sedikit dari mereka,” menunjukkan bahwa ada sebagian kecil yang menepati janji kepada Allah. Mereka itulah yang diberi taufik dan ditunjuki ke jalan yang lurus.Kemudian Allah memerintahkan Nabi-Nya, “Maafkanlah mereka dan berlapang dadalah.” Maksudnya, janganlah membalas gangguan mereka selama masih ada ruang untuk memaafkan dan bersikap lapang. Sikap demikian termasuk ihsan.Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.Ihsan kepada Allah adalah beribadah kepada-Nya seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.Adapun ihsan kepada sesama makhluk adalah dengan memberikan manfaat kepada mereka, baik manfaat agama maupun manfaat dunia. Pelajaran Penting1. Menjaga Janji kepada Allah adalah Kunci RahmatPerjanjian terbesar seorang muslim adalah syahadat dan komitmen menjalankan agama. Ketika salat ditinggalkan, zakat diabaikan, atau perintah Allah diremehkan, itu adalah bentuk pelanggaran terhadap “mitsaq” (perjanjian) dengan Allah.Semakin kuat komitmen kita menjaga perjanjian itu, semakin dekat kita dengan rahmat dan pertolongan Allah.2. Pertolongan Allah Sejalan dengan Tanggung JawabAllah berfirman, “Sesungguhnya Aku bersama kalian.” Kebersamaan Allah datang bersama amanah dan ketaatan.Siapa yang memikul tanggung jawab agama—baik sebagai orang tua, pendidik, pemimpin, atau dai—lalu menunaikannya dengan benar, maka ia berhak mendapatkan pertolongan Allah sesuai kadar bebannya.3. Hati Keras adalah Hukuman yang Sangat BerbahayaSalah satu hukuman terbesar bukanlah hilangnya harta atau kedudukan, tetapi kerasnya hati:Nasihat tidak masuk.Ayat tidak menggerakkan.Ancaman tidak menakutkan.Janji surga tidak memotivasi.Seorang muslim harus takut terhadap gejala ini. Jika mulai sulit tersentuh oleh kebenaran, segera perbanyak istighfar, taubat, dan perbaiki ibadah.4. Bahaya Memelintir Kebenaran demi KepentinganMengubah makna dalil agar sesuai hawa nafsu bukan hanya kesalahan ilmiah, tetapi dosa besar.Di zaman ini, bentuknya bisa berupa:Menafsirkan agama agar sesuai tren.Membenarkan maksiat dengan dalih “konteks”.Mengambil sebagian dalil dan meninggalkan yang lain.Ini adalah penyakit umat terdahulu yang harus dihindari.5. Ilmu Bisa Dicabut sebagai HukumanAllah menyebut mereka “melupakan bagian” dari apa yang diingatkan kepada mereka. Ini pelajaran besar:Ilmu bisa hilang karena maksiat.Hafalan bisa lupa karena dosa.Pemahaman bisa tertutup karena kesombongan.Karena itu, menjaga amal sama pentingnya dengan menuntut ilmu.6. Pengkhianatan Dimulai dari Hati yang RusakKetika hati keras dan ilmu tidak diamalkan, muncullah pengkhianatan:Khianat terhadap amanah.Khianat dalam rumah tangga.Khianat dalam jabatan.Khianat dalam dakwah.Semua itu berakar dari pelanggaran terhadap komitmen kepada Allah.7. Keberuntungan Hakiki adalah Taufik dan KesabaranAllah menyebut ajaran agama sebagai “hazzan” (keberuntungan). Artinya:Keberuntungan terbesar bukan harta, bukan jabatan, bukan popularitas.Keberuntungan terbesar adalah:Bisa taat.Bisa sabar.Bisa istiqamah.Bisa menerima kebenaran.Itulah “hazzun ‘azhim” yang sesungguhnya.8. Tetap Berbuat Ihsan Meski DisakitiAllah memerintahkan Nabi ﷺ untuk memaafkan dan berlapang dada. Ini pelajaran luar biasa:Seorang muslim tetap berbuat baik meski dizalimi.Tetap menjaga akhlak meski disakiti.Tetap memberi manfaat meski dikhianati.Karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan. KesimpulanAyat ini bukan hanya kisah tentang Bani Israil. Ia adalah cermin bagi setiap muslim.Siapa yang:Menjaga perjanjian dengan Allah → mendapat rahmat dan surga.Melanggar komitmen → terancam keras hati, tersesat, dan kehilangan taufik.Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang menepati janji kepada-Mu, yang menjaga salat dan zakat, serta istiqamah dalam iman dan amal saleh. Jangan Engkau jadikan hati kami keras setelah Engkau beri petunjuk, dan jangan Engkau cabut ilmu serta taufik dari diri kami karena dosa-dosa kami. Karuniakanlah kepada kami keberuntungan yang besar berupa kesabaran, keistiqamahan, dan kemampuan berbuat ihsan hingga akhir hayat kami. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic   —– Senin pagi, 6 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbahaya melanggar janji bani israil hilangnya taufik istiqamah dalam ketaatan jalan yang lurus kerasnya hati makna ihsan pelajaran Bani Israil perjanjian dengan Allah renungan ayat renungan quran tafsir Al Maidah 12-13 tafsir as-sa'di


Dalam QS. Al-Maidah ayat 12–13 dari juz keenam, Allah menjelaskan perjanjian besar yang diambil dari Bani Israil serta konsekuensi ketika perjanjian itu dilanggar. Ayat ini tidak hanya berbicara tentang sejarah, tetapi menjadi cermin bagi setiap muslim dalam menjaga komitmen kepada Allah. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang rahmat, kerasnya hati, hilangnya taufik, serta pentingnya ihsan dalam kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Pelajaran Penting 1.1. 1. Menjaga Janji kepada Allah adalah Kunci Rahmat 1.2. 2. Pertolongan Allah Sejalan dengan Tanggung Jawab 1.3. 3. Hati Keras adalah Hukuman yang Sangat Berbahaya 1.4. 4. Bahaya Memelintir Kebenaran demi Kepentingan 1.5. 5. Ilmu Bisa Dicabut sebagai Hukuman 1.6. 6. Pengkhianatan Dimulai dari Hati yang Rusak 1.7. 7. Keberuntungan Hakiki adalah Taufik dan Kesabaran 1.8. 8. Tetap Berbuat Ihsan Meski Disakiti 2. Kesimpulan  Allah Ta’ala berfirman,۞ وَلَقَدْ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ ٱثْنَىْ عَشَرَ نَقِيبًا ۖ وَقَالَ ٱللَّهُ إِنِّى مَعَكُمْ ۖ لَئِنْ أَقَمْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَيْتُمُ ٱلزَّكَوٰةَ وَءَامَنتُم بِرُسُلِى وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ فَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah mengambil perjanjian yang sangat kuat dan tegas dari Bani Israil. Perjanjian itu bukan janji biasa, melainkan janji yang disertai penegasan dan kewajiban yang berat.Allah juga mengangkat dari kalangan mereka dua belas orang pemimpin. Setiap pemimpin bertugas mengawasi kaumnya, mendorong mereka agar menjalankan perintah Allah, serta menagih komitmen mereka terhadap perjanjian tersebut.Allah berfirman kepada para pemimpin yang memikul tanggung jawab besar itu, “Sesungguhnya Aku bersama kalian,” yaitu dengan pertolongan dan dukungan. Pertolongan itu sebanding dengan beban yang dipikul. Semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula pertolongan Allah bagi yang menunaikannya.Kemudian Allah menyebutkan isi perjanjian tersebut. Jika mereka:Menegakkan salat secara lahir dan batin, dengan memenuhi syarat, rukun, serta menjaga kesinambungannya.Menunaikan zakat kepada yang berhak menerimanya.Beriman kepada seluruh rasul-Nya, yang paling utama dan paling sempurna di antara mereka adalah Nabi Muhammad ﷺ.Memuliakan para rasul, mengagungkan mereka, serta menunaikan hak-hak berupa penghormatan dan ketaatan.Menginfakkan harta di jalan Allah dengan ikhlas, dari harta yang baik dan cara yang benar.Maka Allah menjanjikan dua anugerah besar sekaligus:Pertama, menghapus dosa-dosa mereka sehingga terhindar dari hukuman.Kedua, memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, sebagai kenikmatan yang kekal.Namun jika setelah perjanjian yang begitu kuat—yang diperkuat dengan sumpah dan disertai janji pahala—mereka tetap ingkar, maka mereka benar-benar telah menyimpang dari jalan yang lurus. Penyimpangan itu dilakukan dengan sadar dan sengaja, sehingga mereka pantas kehilangan pahala dan mendapatkan hukuman.Seakan-akan muncul pertanyaan: Lalu apa yang mereka lakukan? Apakah mereka menepati janji kepada Allah, atau justru mengkhianatinya? Allah Ta’ala berfirman,فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَٰقَهُمْ لَعَنَّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَٰسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ ٱلْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِۦ ۙ وَنَسُوا۟ حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَآئِنَةٍ مِّنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱصْفَحْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Maidah: 13)Karena mereka melanggar perjanjian yang telah diambil atas mereka, Allah pun menimpakan beberapa hukuman besar.Pertama, Allah melaknat mereka, yakni mengusir dan menjauhkan mereka dari rahmat-Nya. Mereka sendiri telah menutup pintu-pintu rahmat itu dengan tidak menunaikan perjanjian yang menjadi sebab utama turunnya rahmat.Kedua, Allah menjadikan hati mereka keras. Hati yang keras tidak tersentuh oleh nasihat, tidak tergerak oleh ayat-ayat Allah, dan tidak tersentak oleh peringatan. Janji surga tidak membuat mereka tertarik, dan ancaman neraka tidak membuat mereka gentar. Ini termasuk hukuman paling berat bagi seorang hamba: ketika hatinya tidak lagi menerima petunjuk, bahkan kebaikan justru berbalik menjadi keburukan baginya.Ketiga, mereka mengubah kalimat dari tempatnya. Mereka ditimpa penyakit mengubah dan mengganti makna firman Allah, sehingga makna yang dikehendaki Allah dan rasul-Nya dipalingkan menjadi makna lain sesuai hawa nafsu mereka.Keempat, mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Mereka telah diingatkan dengan Taurat dan wahyu yang Allah turunkan kepada Musa, namun sebagian ajaran itu mereka lupakan. Kelupaan ini mencakup dua hal:1. Lupa terhadap ilmunya, sehingga ilmu itu hilang dan tidak lagi mereka miliki sebagai hukuman dari Allah.2. Lupa dalam arti meninggalkan pengamalannya, sehingga mereka tidak diberi taufik untuk menjalankan perintah yang telah dibebankan kepada mereka.Karena itu, pengingkaran Ahli Kitab terhadap sebagian isi kitab mereka atau terhadap peristiwa yang terjadi pada masa mereka sendiri menjadi bukti bahwa mereka telah melupakan bagian dari apa yang pernah diingatkan kepada mereka.Kelima, pengkhianatan yang terus-menerus. Engkau, wahai Nabi Muhammad ﷺ, akan senantiasa mengetahui bentuk-bentuk pengkhianatan dari mereka, baik pengkhianatan kepada Allah maupun kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Di antara pengkhianatan terbesar mereka adalah menyembunyikan kebenaran dari orang-orang yang menasihati mereka dan berbaik sangka kepada mereka, serta membiarkan diri tetap dalam kekafiran.Sifat-sifat tercela ini tidak hanya berlaku bagi mereka, tetapi juga bagi siapa saja yang memiliki sifat serupa. Setiap orang yang tidak menunaikan perintah Allah dan melanggar komitmen yang telah diambil atas dirinya akan mendapatkan bagian dari hukuman-hukuman tersebut: terjauh dari rahmat, keras hati, terjatuh dalam penyelewengan makna, tidak diberi taufik kepada kebenaran, melupakan sebagian nasihat, dan akhirnya terjerumus dalam pengkhianatan. Kita memohon keselamatan kepada Allah dari semua itu.Allah menyebut apa yang mereka lupakan sebagai “hazhzhan” (bagian atau keberuntungan), karena itulah keberuntungan terbesar. Adapun selain itu hanyalah keberuntungan dunia yang fana. Allah Ta’ala berfirman:فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَـٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَـٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Lalu ia (Qarun) keluar kepada kaumnya dalam kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, ‘Wahai, seandainya kita memiliki seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sungguh, ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.’” (QS, Al-Qashash: 79)Dan tentang keberuntungan yang hakiki, Allah berfirman:وَمَا يُلَقَّاهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّاهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Dan sifat itu tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS, Al-Fussilat: 35)Firman Allah, “kecuali sedikit dari mereka,” menunjukkan bahwa ada sebagian kecil yang menepati janji kepada Allah. Mereka itulah yang diberi taufik dan ditunjuki ke jalan yang lurus.Kemudian Allah memerintahkan Nabi-Nya, “Maafkanlah mereka dan berlapang dadalah.” Maksudnya, janganlah membalas gangguan mereka selama masih ada ruang untuk memaafkan dan bersikap lapang. Sikap demikian termasuk ihsan.Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.Ihsan kepada Allah adalah beribadah kepada-Nya seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.Adapun ihsan kepada sesama makhluk adalah dengan memberikan manfaat kepada mereka, baik manfaat agama maupun manfaat dunia. Pelajaran Penting1. Menjaga Janji kepada Allah adalah Kunci RahmatPerjanjian terbesar seorang muslim adalah syahadat dan komitmen menjalankan agama. Ketika salat ditinggalkan, zakat diabaikan, atau perintah Allah diremehkan, itu adalah bentuk pelanggaran terhadap “mitsaq” (perjanjian) dengan Allah.Semakin kuat komitmen kita menjaga perjanjian itu, semakin dekat kita dengan rahmat dan pertolongan Allah.2. Pertolongan Allah Sejalan dengan Tanggung JawabAllah berfirman, “Sesungguhnya Aku bersama kalian.” Kebersamaan Allah datang bersama amanah dan ketaatan.Siapa yang memikul tanggung jawab agama—baik sebagai orang tua, pendidik, pemimpin, atau dai—lalu menunaikannya dengan benar, maka ia berhak mendapatkan pertolongan Allah sesuai kadar bebannya.3. Hati Keras adalah Hukuman yang Sangat BerbahayaSalah satu hukuman terbesar bukanlah hilangnya harta atau kedudukan, tetapi kerasnya hati:Nasihat tidak masuk.Ayat tidak menggerakkan.Ancaman tidak menakutkan.Janji surga tidak memotivasi.Seorang muslim harus takut terhadap gejala ini. Jika mulai sulit tersentuh oleh kebenaran, segera perbanyak istighfar, taubat, dan perbaiki ibadah.4. Bahaya Memelintir Kebenaran demi KepentinganMengubah makna dalil agar sesuai hawa nafsu bukan hanya kesalahan ilmiah, tetapi dosa besar.Di zaman ini, bentuknya bisa berupa:Menafsirkan agama agar sesuai tren.Membenarkan maksiat dengan dalih “konteks”.Mengambil sebagian dalil dan meninggalkan yang lain.Ini adalah penyakit umat terdahulu yang harus dihindari.5. Ilmu Bisa Dicabut sebagai HukumanAllah menyebut mereka “melupakan bagian” dari apa yang diingatkan kepada mereka. Ini pelajaran besar:Ilmu bisa hilang karena maksiat.Hafalan bisa lupa karena dosa.Pemahaman bisa tertutup karena kesombongan.Karena itu, menjaga amal sama pentingnya dengan menuntut ilmu.6. Pengkhianatan Dimulai dari Hati yang RusakKetika hati keras dan ilmu tidak diamalkan, muncullah pengkhianatan:Khianat terhadap amanah.Khianat dalam rumah tangga.Khianat dalam jabatan.Khianat dalam dakwah.Semua itu berakar dari pelanggaran terhadap komitmen kepada Allah.7. Keberuntungan Hakiki adalah Taufik dan KesabaranAllah menyebut ajaran agama sebagai “hazzan” (keberuntungan). Artinya:Keberuntungan terbesar bukan harta, bukan jabatan, bukan popularitas.Keberuntungan terbesar adalah:Bisa taat.Bisa sabar.Bisa istiqamah.Bisa menerima kebenaran.Itulah “hazzun ‘azhim” yang sesungguhnya.8. Tetap Berbuat Ihsan Meski DisakitiAllah memerintahkan Nabi ﷺ untuk memaafkan dan berlapang dada. Ini pelajaran luar biasa:Seorang muslim tetap berbuat baik meski dizalimi.Tetap menjaga akhlak meski disakiti.Tetap memberi manfaat meski dikhianati.Karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan. KesimpulanAyat ini bukan hanya kisah tentang Bani Israil. Ia adalah cermin bagi setiap muslim.Siapa yang:Menjaga perjanjian dengan Allah → mendapat rahmat dan surga.Melanggar komitmen → terancam keras hati, tersesat, dan kehilangan taufik.Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang menepati janji kepada-Mu, yang menjaga salat dan zakat, serta istiqamah dalam iman dan amal saleh. Jangan Engkau jadikan hati kami keras setelah Engkau beri petunjuk, dan jangan Engkau cabut ilmu serta taufik dari diri kami karena dosa-dosa kami. Karuniakanlah kepada kami keberuntungan yang besar berupa kesabaran, keistiqamahan, dan kemampuan berbuat ihsan hingga akhir hayat kami. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic   —– Senin pagi, 6 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbahaya melanggar janji bani israil hilangnya taufik istiqamah dalam ketaatan jalan yang lurus kerasnya hati makna ihsan pelajaran Bani Israil perjanjian dengan Allah renungan ayat renungan quran tafsir Al Maidah 12-13 tafsir as-sa'di

Mendidik Jiwa Sosial di Bulan Ramadan

Daftar Isi ToggleKeteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanRamadan mendidik kita untuk semangat berbagiMembantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarBulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaMenggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaMenolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaPendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaJiwa sosial para salaf di bulan RamadanBulan Ramadan mengandung banyak keberkahan dan juga tuntutan pendidikan. Salah satu hasil dari madrasah Ramadan adalah tumbuhnya jiwa sosial dan semangat kedermawanan bagi para ahli Ramadan. Menumbuhkan empati dan jiwa sosial adalah salah satu tujuan dari diistimewakannya bulan Ramadan. Salah seorang salaf pernah ditanya, “Mengapa puasa disyariatkan?” la lantas menjawab,ليذوق الغني طعم الجوع فلا ينسى الجائع“Agar orang yang kaya dapat merasakan lapar, sehingga ia tidak lupa kepada orang yang lapar.” (Lathaiful Maarif, hal. 168)Ini termasuk salah satu hikmah dan faidah puasa. Sebagaimana dalam hadis dari Salman yang dinilai lemah, tetapi diambil sebagian ulama untuk menjelaskan Ramadan, yang mana disebutkan,وهو شهر المواساة“Ramadan adalah bulan empati.”Hadis Salman ini adalah hadis yang banyak disebutkan dalam motivasi meningkatkan kedermawanan dan jiwa sosial di bulan Ramadan. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, dari Salman secara marfu’, perihal keutamaan bulan Ramadan,وهو شهر المواساة وشهر يزاد فيه في رزق المؤمن من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه وعتق رقبته من النار وكان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيء“Ia adalah bulan empati (terhadap fakir miskin). Bulan di mana rezeki orang mukmin ditambah. Siapa saja yang memberi makan (untuk buka puasa) bagi orang berpuasa di bulan tersebut, itu akan menjadi pengampunan bagi dosa-dosanya dan pembebas dari api neraka. la mendapatkan pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.”Hadis ini secara sanadnya lemah, sehingga tidak bisa disandarkan kepada Nabi ﷺ. Namun, masing-masing isi hadis di atas didukung oleh riwayat yang lainnya. Termasuk Syekh Bin Baz rahimahullah, ketika beliau menjelaskan hadis ini, beliau menggunakan ungkapan berikut dalam keterangannya,فقد ثبت عن رسول الله ﷺ في هذا الشهر الكريم -شهر رمضان- من الأحاديث الكثيرة ما يدل على عظم شأنه، وأنه شهر المواساة، وشهر الإحسان، وشهر الصدقات، وشهر المسارعة إلى الطاعات والمنافسة في أنواع الخير“Telah diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ mengenai bulan yang diberkahi, yakni Ramadan, bahwa terdapat banyak hadis yang menunjukkan betapa pentingnya bulan ini, dan bahwa bulan ini adalah bulan kasih sayang, bulan kebajikan, bulan sedekah, dan bulan untuk bersegera melaksanakan amal ketaatan dan berlomba-lomba dalam segala macam perbuatan baik.” (Syarah Wazhaif Ramadan 01) [1]Sebelumnya, Syekh Bin Baz rahimahullah memberikan keterangan,وهكذا ما جاء في حديث سلمان أن الرسول الكريم كان يبشر أصحابه له شواهد، وإن كان في حديث سلمان انقطاع وضعف لكن له شواهد تقدم بعضها“Oleh karena itu, apa yang disebutkan dalam hadis Salman (dalam riwayat Ibnu Khuzaimah), bahwa Rasulullah ﷺ biasa menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, memiliki bukti pendukung. Meskipun hadis Salman tersebut terputus dan lemah, tetapi tetap memiliki bukti pendukung, sebagian di antaranya telah disebutkan sebelumnya.”Keteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanSuri tauladan kita, Rasulullah ﷺ juga meningkatkan kedermawanan beliau di bulan Ramadan, disebabkan beliau banyak bertemu dengan Jibril alaihissalam untuk belajar Al-Qur’an. Sedangkan Al-Qur’an adalah kitab yang menghimbau kepada akhlak-akhlak mulia dan sifat dermawan.كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أجودَ الناسِ بالخيرِ ، وكان أجودَ ما يكون في شهرِ رمضانَ حتى ينسلِخَ ، فيأتيه جبريلُ فيعرضُ عليه القرآنَ ، فإذا لقِيَه جبريلُ كان رسولُ اللهِ أجودَ بالخيرِ من الرِّيحِ الْمُرسَلَةِ“Baginda Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan–bersemangat dalam menebar kebaikan. Dan kedermawanan beliau ﷺ memuncak pada bulan Ramadan hingga berakhir ketika Jibril datang kepadanya dan membacakan Al-Quran kepadanya. Ketika Jibril bertemu dengannya, Rasulullah ﷺ menjadi begitu dermawan melebihi hembusan angin kencang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Bahkan levelnya Nabi ﷺ itu tidak sekadar semangat berbagi, tetapi juga berbahagia ketika berbagi. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan sifat Nabi ﷺ,وَكَانَ الْعَطَاءُ وَالصَّدَقَةُ أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْهِ، وَكَانَ سُرُورُهُ وَفَرَحُهُ بِمَا يُعْطِيهِ أَعْظَمَ مِنْ سُرُورِ الْآخِذِ بِمَا يَأْخُذُهُ“Memberi dan bersedekah adalah perkara yang paling Nabi ﷺ sukai. Dan kegembiraan serta kebahagiaan Nabi ﷺ ketika memberi lebih besar daripada kegembiraan si penerima atas apa yang ia terima.” (Zaadul Ma’ad, 2: 22) [2]Inilah satu level yang perlu kita capai: menjadi orang yang berbahagia ketika berbagi. Bagi kita, ada banyak letak kebahagiaan yang diraih di sana. Salah satunya juga adalah kebahagiaan mencocoki sunah Nabi ﷺ dalam bersemangat berkontribusi sosial dan berbahagia dengan hal tersebut.Ramadan mendidik kita untuk semangat berbagiAda banyak motivasi yang tersebar dalam bulan Ramadan agar manusia meningkatkan jiwa sosialnya. Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beberapa di antaranya yang akan disebutkan setelah ini. Salah satunya adalah mengenai momentum bulan Ramadan yang istimewa. Bulan Ramadan adalah bulan mulia, ketika semua amal dilipatgandakan pahalanya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Anas secara marfu’ disebutkan,أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ“Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadan.”Hadis ini dinilai lemah oleh para ulama, di antaranya oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir (no. 1117), kami tidak temukan satupun riwayat yang berderajat lebih tinggi. Namun, riwayat ini berselarasan dengan hadis yang sahih dalam Ash-Shahihain, berkaitan dengan sifat kedermawanan Nabi ﷺ yang memuncak di bulan Ramadan. Menurut Syekh Shalih Al-Ushaimy hafizhahullah, kandungan hadis riwayat Tirmidzi ini berselarasan dengan praktik Nabi ﷺ di bulan Ramadan; dan karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan sedekah di bulan Ramadan. [3]Membantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarSebagaimana orang yang membantu menyiapkan bekal orang yang berangkat berperang, sama saja ia telah ikut berperang. Begitu juga, siapa saja yang menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, sama saja ia telah ikut berperang. Perbuatan inilah yang kita harapkan pahalanya selama bulan Ramadan. Dalam sebuah hadis dari Zaid bin Khalid, Nabi ﷺ bersabda,مَنْ فَطَرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ“Barangsiapa memberi makanan buka untuk orang yang berpuasa, ia juga mendapatkan pahala seperti pahala orang puasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad no. 116 dan Tirmidzi, dinilai hasan shahih)Bulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaPemberian itu berupa rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Terlebih pada saat Lailatul Qadar tiba. Allah juga mengasihi para hamba-Nya yang mau memberi kasih sayang kepada orang lain. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,إنما يرحم الله من عباده الرحماء“Sesungguhnya yang Allah kasihi hanyalah para hamba-Nya yang pengasih.”Barangsiapa gemar memberi kepada sesama hamba Allah, Allah pun akan banyak memberikan rahmat dan karunia kepadanya. Dan ganjaran itu sesuai dengan jenis amal.Menggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaSebagaimana disebutkan dalam hadis, Nabi ﷺ bersabda,إن في الجنة غرفا الجنة غرفا يرى ظهورها من بطونها من ظهورها قالوا: لمن هي يا رسول الله؟ قال: لمن طيب الكلام وأطعم الطعام وأدام الصيام وصلى بالليل والناس نيام“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar.” Para sahabat lantas bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah bilik-bilik kamar itu?” Beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang baik tutur katanya, suka memberi makan orang lain, rajin berpuasa, dan salat malam di saat manusia tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1985, Adz-Dzahabi menilainya sahih)Menolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaImam Asy-Syafii rahimahullah berkata,أحب للرجل الزيادة في الجود في شهر رمضان اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم ولحاجة الناس فيه إلى مصالحهم ولتشاغل كثير منهم بالصوم والصلاة عن مكاسبهم“Aku menyukai seseorang meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadan dalam rangka meneladani Rasulullah ﷺ, dikarenakan manusia pada bulan tersebut memiliki banyak kebutuhan. Sementara manusia tersibukkan dengan berpuasa dan salat, sehingga tidak fokus terhadap pekerjaan mereka.” (Lathaiful Maarif, hal. 169)Ini juga merupakan pendapat yang disetujui oleh Al-Qadhi Abu Ya’la dari kalangan Hanabilah.Pendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaIbnu Rajab rahimahullah dalam keterangan yang panjang menjelaskan bahwa dianjurkan untuk memberi menu berbuka kepada orang yang berpuasa dan dianjurkan untuk ikut berbuka bersamanya. Hal itu akan menumbuhkan empati yang lebih besar ditinjau dari dampak perbuatan tersebut kepada hati. Berbuka bersama dengan makanan yang disedekahkan menunjukkan bahwa makanan yang ia sedekahkan tersebut adalah makanan yang ia sukai, sehingga menghibur hati orang yang diberi. Dengan demikian, dia termasuk golongan orang-orang yang bersedekah dengan harta yang ia sukai.Hal itu juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat dibolehkannya kembali menikmati makanan dan minuman setelah sebelumnya terlarang, sebab nikmat makan dan minum itu benar-benar dapat dirasakan nilainya ketika kita dilarang menikmatinya. Contoh ini datang dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma; apabila beliau berpuasa, beliau tidak berbuka kecuali bersama orang-orang miskin. Jika keluarganya menghalanginya, ia pun tidak makan pada malam itu. Inilah derajat amalan berempati kepada orang lain.Jiwa sosial para salaf di bulan RamadanAda derajat yang lebih tinggi lagi dari sebuah empati, yakni mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadinya (itsar). Banyak sekali kaum salaf yang mengutamakan orang lain berbuka, meskipun mereka sendiri lapar. [4]Salah satu contohnya adalah kisah Imam Ahmad rahimahullah yang didatangi seorang pengemis ketika beliau berpuasa. Pengemis itu meminta makanan kepada Imam Ahmad. Imam Ahmad lantas memberikan kepadanya dua potong roti yang telah ia persiapkan untuk berbuka. Kemudian ia menahan lapar dan pagi harinya ia melanjutkan berpuasa.Pada riwayat lain dikisahkan, ketika Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dimintai makanan yang sedang ia makan, ia lantas berdiri dan memberikan makanannya yang masih tersisa kepada peminta-minta tersebut. Kemudian ia pulang di saat keluarganya telah makan makanan yang tersisa dalam wadah. Lantas pagi harinya ia berpuasa, padahal malamnya ia tidak makan apa-apa.Dalam riwayat lain, Hasan biasa memberi makan saudara-saudaranya secara sukarela ketika ia berpuasa. la juga ikut duduk menyenangkan hati mereka di saat mereka makan. Ibnul Mubarak memberi makan saudara-saudaranya dalam perjalanan, seperti manisan dan lainnya; sementara dia sendiri berpuasa.Ada seorang saleh sedang menginginkan suatu makanan saat berpuasa. Tatkala berbuka, makanan yang ia inginkan itu dihidangkan di hadapannya. Tiba-tiba, ia mendengar seorang peminta-minta berkata, “Siapa yang mau meminjamkan hartanya kepada Yang Mahacepat Menepati, Yang Maha Melunasi, dan Mahakaya?”Orang saleh tersebut menjawab, “Hamba-Nya yang tidak memiliki amal kebaikan.” Kemudian ia berdiri mengambil piring makanan itu dan memberikannya kepada si peminta-minta. Sementara ia sendiri menjalani malam harinya dalam keadaan lapar.Semua ini didasarkan oleh semangat berbagi yang tumbuh atas dasar iman yang kuat dari para salaf terdahulu. Kita semua pasti merasakan beratnya melakukan apa yang diteladankan para salaf ini. Siapa di antara kita yang ketika ada makanan yang sudah kita nantikan sejak lama, terlebih di hari itu kita berpuasa, tetapi ketika kita hendak menikmatinya, ada orang yang menginginkannya, lantas kita memberikan makanan tersebut? Penulis rasa, jarang sekali yang berada di level demikian di hari ini. Namun, itulah esensi Ramadan yang diteladankan oleh baginda Nabi ﷺ, diikuti oleh para salaf, dan harusnya tertanam pada diri kita hari ini.Di masa kini, mudah bagi kita untuk melakukan kedermawanan. Upaya kebaikan itu dapat kita lakukan bahkan dari genggaman kita, berupa sedekah maupun semangat menebar kebaikan yang lain. Ini adalah zaman di mana amal perbuatan dipermudah, tetapi godaan untuk melalaikan kita pun besar pula. Maka, ini adalah bentuk jihad tersendiri bagi kita hari ini. Sebuah jihad melawan nafsu kita untuk menyepelekan amalan-amalan yang bisa kita kerjakan. Spirit menebar kebermanfaatan itu menuntut perwujudan amal dari kita semua.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://binbaz.org.sa[2] https://www.islamweb.net/ar[3] Diambil dari status twitter resmi beliau https://x.com/Osaimi0543/status/1382474171691728897[4] Semua riwayat dalam subpembahasan ini dinukil dari Lathaiful Maarif, karya Ibnu Rajab rahimahullah.

Mendidik Jiwa Sosial di Bulan Ramadan

Daftar Isi ToggleKeteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanRamadan mendidik kita untuk semangat berbagiMembantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarBulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaMenggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaMenolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaPendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaJiwa sosial para salaf di bulan RamadanBulan Ramadan mengandung banyak keberkahan dan juga tuntutan pendidikan. Salah satu hasil dari madrasah Ramadan adalah tumbuhnya jiwa sosial dan semangat kedermawanan bagi para ahli Ramadan. Menumbuhkan empati dan jiwa sosial adalah salah satu tujuan dari diistimewakannya bulan Ramadan. Salah seorang salaf pernah ditanya, “Mengapa puasa disyariatkan?” la lantas menjawab,ليذوق الغني طعم الجوع فلا ينسى الجائع“Agar orang yang kaya dapat merasakan lapar, sehingga ia tidak lupa kepada orang yang lapar.” (Lathaiful Maarif, hal. 168)Ini termasuk salah satu hikmah dan faidah puasa. Sebagaimana dalam hadis dari Salman yang dinilai lemah, tetapi diambil sebagian ulama untuk menjelaskan Ramadan, yang mana disebutkan,وهو شهر المواساة“Ramadan adalah bulan empati.”Hadis Salman ini adalah hadis yang banyak disebutkan dalam motivasi meningkatkan kedermawanan dan jiwa sosial di bulan Ramadan. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, dari Salman secara marfu’, perihal keutamaan bulan Ramadan,وهو شهر المواساة وشهر يزاد فيه في رزق المؤمن من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه وعتق رقبته من النار وكان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيء“Ia adalah bulan empati (terhadap fakir miskin). Bulan di mana rezeki orang mukmin ditambah. Siapa saja yang memberi makan (untuk buka puasa) bagi orang berpuasa di bulan tersebut, itu akan menjadi pengampunan bagi dosa-dosanya dan pembebas dari api neraka. la mendapatkan pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.”Hadis ini secara sanadnya lemah, sehingga tidak bisa disandarkan kepada Nabi ﷺ. Namun, masing-masing isi hadis di atas didukung oleh riwayat yang lainnya. Termasuk Syekh Bin Baz rahimahullah, ketika beliau menjelaskan hadis ini, beliau menggunakan ungkapan berikut dalam keterangannya,فقد ثبت عن رسول الله ﷺ في هذا الشهر الكريم -شهر رمضان- من الأحاديث الكثيرة ما يدل على عظم شأنه، وأنه شهر المواساة، وشهر الإحسان، وشهر الصدقات، وشهر المسارعة إلى الطاعات والمنافسة في أنواع الخير“Telah diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ mengenai bulan yang diberkahi, yakni Ramadan, bahwa terdapat banyak hadis yang menunjukkan betapa pentingnya bulan ini, dan bahwa bulan ini adalah bulan kasih sayang, bulan kebajikan, bulan sedekah, dan bulan untuk bersegera melaksanakan amal ketaatan dan berlomba-lomba dalam segala macam perbuatan baik.” (Syarah Wazhaif Ramadan 01) [1]Sebelumnya, Syekh Bin Baz rahimahullah memberikan keterangan,وهكذا ما جاء في حديث سلمان أن الرسول الكريم كان يبشر أصحابه له شواهد، وإن كان في حديث سلمان انقطاع وضعف لكن له شواهد تقدم بعضها“Oleh karena itu, apa yang disebutkan dalam hadis Salman (dalam riwayat Ibnu Khuzaimah), bahwa Rasulullah ﷺ biasa menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, memiliki bukti pendukung. Meskipun hadis Salman tersebut terputus dan lemah, tetapi tetap memiliki bukti pendukung, sebagian di antaranya telah disebutkan sebelumnya.”Keteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanSuri tauladan kita, Rasulullah ﷺ juga meningkatkan kedermawanan beliau di bulan Ramadan, disebabkan beliau banyak bertemu dengan Jibril alaihissalam untuk belajar Al-Qur’an. Sedangkan Al-Qur’an adalah kitab yang menghimbau kepada akhlak-akhlak mulia dan sifat dermawan.كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أجودَ الناسِ بالخيرِ ، وكان أجودَ ما يكون في شهرِ رمضانَ حتى ينسلِخَ ، فيأتيه جبريلُ فيعرضُ عليه القرآنَ ، فإذا لقِيَه جبريلُ كان رسولُ اللهِ أجودَ بالخيرِ من الرِّيحِ الْمُرسَلَةِ“Baginda Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan–bersemangat dalam menebar kebaikan. Dan kedermawanan beliau ﷺ memuncak pada bulan Ramadan hingga berakhir ketika Jibril datang kepadanya dan membacakan Al-Quran kepadanya. Ketika Jibril bertemu dengannya, Rasulullah ﷺ menjadi begitu dermawan melebihi hembusan angin kencang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Bahkan levelnya Nabi ﷺ itu tidak sekadar semangat berbagi, tetapi juga berbahagia ketika berbagi. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan sifat Nabi ﷺ,وَكَانَ الْعَطَاءُ وَالصَّدَقَةُ أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْهِ، وَكَانَ سُرُورُهُ وَفَرَحُهُ بِمَا يُعْطِيهِ أَعْظَمَ مِنْ سُرُورِ الْآخِذِ بِمَا يَأْخُذُهُ“Memberi dan bersedekah adalah perkara yang paling Nabi ﷺ sukai. Dan kegembiraan serta kebahagiaan Nabi ﷺ ketika memberi lebih besar daripada kegembiraan si penerima atas apa yang ia terima.” (Zaadul Ma’ad, 2: 22) [2]Inilah satu level yang perlu kita capai: menjadi orang yang berbahagia ketika berbagi. Bagi kita, ada banyak letak kebahagiaan yang diraih di sana. Salah satunya juga adalah kebahagiaan mencocoki sunah Nabi ﷺ dalam bersemangat berkontribusi sosial dan berbahagia dengan hal tersebut.Ramadan mendidik kita untuk semangat berbagiAda banyak motivasi yang tersebar dalam bulan Ramadan agar manusia meningkatkan jiwa sosialnya. Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beberapa di antaranya yang akan disebutkan setelah ini. Salah satunya adalah mengenai momentum bulan Ramadan yang istimewa. Bulan Ramadan adalah bulan mulia, ketika semua amal dilipatgandakan pahalanya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Anas secara marfu’ disebutkan,أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ“Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadan.”Hadis ini dinilai lemah oleh para ulama, di antaranya oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir (no. 1117), kami tidak temukan satupun riwayat yang berderajat lebih tinggi. Namun, riwayat ini berselarasan dengan hadis yang sahih dalam Ash-Shahihain, berkaitan dengan sifat kedermawanan Nabi ﷺ yang memuncak di bulan Ramadan. Menurut Syekh Shalih Al-Ushaimy hafizhahullah, kandungan hadis riwayat Tirmidzi ini berselarasan dengan praktik Nabi ﷺ di bulan Ramadan; dan karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan sedekah di bulan Ramadan. [3]Membantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarSebagaimana orang yang membantu menyiapkan bekal orang yang berangkat berperang, sama saja ia telah ikut berperang. Begitu juga, siapa saja yang menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, sama saja ia telah ikut berperang. Perbuatan inilah yang kita harapkan pahalanya selama bulan Ramadan. Dalam sebuah hadis dari Zaid bin Khalid, Nabi ﷺ bersabda,مَنْ فَطَرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ“Barangsiapa memberi makanan buka untuk orang yang berpuasa, ia juga mendapatkan pahala seperti pahala orang puasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad no. 116 dan Tirmidzi, dinilai hasan shahih)Bulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaPemberian itu berupa rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Terlebih pada saat Lailatul Qadar tiba. Allah juga mengasihi para hamba-Nya yang mau memberi kasih sayang kepada orang lain. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,إنما يرحم الله من عباده الرحماء“Sesungguhnya yang Allah kasihi hanyalah para hamba-Nya yang pengasih.”Barangsiapa gemar memberi kepada sesama hamba Allah, Allah pun akan banyak memberikan rahmat dan karunia kepadanya. Dan ganjaran itu sesuai dengan jenis amal.Menggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaSebagaimana disebutkan dalam hadis, Nabi ﷺ bersabda,إن في الجنة غرفا الجنة غرفا يرى ظهورها من بطونها من ظهورها قالوا: لمن هي يا رسول الله؟ قال: لمن طيب الكلام وأطعم الطعام وأدام الصيام وصلى بالليل والناس نيام“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar.” Para sahabat lantas bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah bilik-bilik kamar itu?” Beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang baik tutur katanya, suka memberi makan orang lain, rajin berpuasa, dan salat malam di saat manusia tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1985, Adz-Dzahabi menilainya sahih)Menolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaImam Asy-Syafii rahimahullah berkata,أحب للرجل الزيادة في الجود في شهر رمضان اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم ولحاجة الناس فيه إلى مصالحهم ولتشاغل كثير منهم بالصوم والصلاة عن مكاسبهم“Aku menyukai seseorang meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadan dalam rangka meneladani Rasulullah ﷺ, dikarenakan manusia pada bulan tersebut memiliki banyak kebutuhan. Sementara manusia tersibukkan dengan berpuasa dan salat, sehingga tidak fokus terhadap pekerjaan mereka.” (Lathaiful Maarif, hal. 169)Ini juga merupakan pendapat yang disetujui oleh Al-Qadhi Abu Ya’la dari kalangan Hanabilah.Pendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaIbnu Rajab rahimahullah dalam keterangan yang panjang menjelaskan bahwa dianjurkan untuk memberi menu berbuka kepada orang yang berpuasa dan dianjurkan untuk ikut berbuka bersamanya. Hal itu akan menumbuhkan empati yang lebih besar ditinjau dari dampak perbuatan tersebut kepada hati. Berbuka bersama dengan makanan yang disedekahkan menunjukkan bahwa makanan yang ia sedekahkan tersebut adalah makanan yang ia sukai, sehingga menghibur hati orang yang diberi. Dengan demikian, dia termasuk golongan orang-orang yang bersedekah dengan harta yang ia sukai.Hal itu juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat dibolehkannya kembali menikmati makanan dan minuman setelah sebelumnya terlarang, sebab nikmat makan dan minum itu benar-benar dapat dirasakan nilainya ketika kita dilarang menikmatinya. Contoh ini datang dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma; apabila beliau berpuasa, beliau tidak berbuka kecuali bersama orang-orang miskin. Jika keluarganya menghalanginya, ia pun tidak makan pada malam itu. Inilah derajat amalan berempati kepada orang lain.Jiwa sosial para salaf di bulan RamadanAda derajat yang lebih tinggi lagi dari sebuah empati, yakni mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadinya (itsar). Banyak sekali kaum salaf yang mengutamakan orang lain berbuka, meskipun mereka sendiri lapar. [4]Salah satu contohnya adalah kisah Imam Ahmad rahimahullah yang didatangi seorang pengemis ketika beliau berpuasa. Pengemis itu meminta makanan kepada Imam Ahmad. Imam Ahmad lantas memberikan kepadanya dua potong roti yang telah ia persiapkan untuk berbuka. Kemudian ia menahan lapar dan pagi harinya ia melanjutkan berpuasa.Pada riwayat lain dikisahkan, ketika Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dimintai makanan yang sedang ia makan, ia lantas berdiri dan memberikan makanannya yang masih tersisa kepada peminta-minta tersebut. Kemudian ia pulang di saat keluarganya telah makan makanan yang tersisa dalam wadah. Lantas pagi harinya ia berpuasa, padahal malamnya ia tidak makan apa-apa.Dalam riwayat lain, Hasan biasa memberi makan saudara-saudaranya secara sukarela ketika ia berpuasa. la juga ikut duduk menyenangkan hati mereka di saat mereka makan. Ibnul Mubarak memberi makan saudara-saudaranya dalam perjalanan, seperti manisan dan lainnya; sementara dia sendiri berpuasa.Ada seorang saleh sedang menginginkan suatu makanan saat berpuasa. Tatkala berbuka, makanan yang ia inginkan itu dihidangkan di hadapannya. Tiba-tiba, ia mendengar seorang peminta-minta berkata, “Siapa yang mau meminjamkan hartanya kepada Yang Mahacepat Menepati, Yang Maha Melunasi, dan Mahakaya?”Orang saleh tersebut menjawab, “Hamba-Nya yang tidak memiliki amal kebaikan.” Kemudian ia berdiri mengambil piring makanan itu dan memberikannya kepada si peminta-minta. Sementara ia sendiri menjalani malam harinya dalam keadaan lapar.Semua ini didasarkan oleh semangat berbagi yang tumbuh atas dasar iman yang kuat dari para salaf terdahulu. Kita semua pasti merasakan beratnya melakukan apa yang diteladankan para salaf ini. Siapa di antara kita yang ketika ada makanan yang sudah kita nantikan sejak lama, terlebih di hari itu kita berpuasa, tetapi ketika kita hendak menikmatinya, ada orang yang menginginkannya, lantas kita memberikan makanan tersebut? Penulis rasa, jarang sekali yang berada di level demikian di hari ini. Namun, itulah esensi Ramadan yang diteladankan oleh baginda Nabi ﷺ, diikuti oleh para salaf, dan harusnya tertanam pada diri kita hari ini.Di masa kini, mudah bagi kita untuk melakukan kedermawanan. Upaya kebaikan itu dapat kita lakukan bahkan dari genggaman kita, berupa sedekah maupun semangat menebar kebaikan yang lain. Ini adalah zaman di mana amal perbuatan dipermudah, tetapi godaan untuk melalaikan kita pun besar pula. Maka, ini adalah bentuk jihad tersendiri bagi kita hari ini. Sebuah jihad melawan nafsu kita untuk menyepelekan amalan-amalan yang bisa kita kerjakan. Spirit menebar kebermanfaatan itu menuntut perwujudan amal dari kita semua.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://binbaz.org.sa[2] https://www.islamweb.net/ar[3] Diambil dari status twitter resmi beliau https://x.com/Osaimi0543/status/1382474171691728897[4] Semua riwayat dalam subpembahasan ini dinukil dari Lathaiful Maarif, karya Ibnu Rajab rahimahullah.
Daftar Isi ToggleKeteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanRamadan mendidik kita untuk semangat berbagiMembantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarBulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaMenggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaMenolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaPendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaJiwa sosial para salaf di bulan RamadanBulan Ramadan mengandung banyak keberkahan dan juga tuntutan pendidikan. Salah satu hasil dari madrasah Ramadan adalah tumbuhnya jiwa sosial dan semangat kedermawanan bagi para ahli Ramadan. Menumbuhkan empati dan jiwa sosial adalah salah satu tujuan dari diistimewakannya bulan Ramadan. Salah seorang salaf pernah ditanya, “Mengapa puasa disyariatkan?” la lantas menjawab,ليذوق الغني طعم الجوع فلا ينسى الجائع“Agar orang yang kaya dapat merasakan lapar, sehingga ia tidak lupa kepada orang yang lapar.” (Lathaiful Maarif, hal. 168)Ini termasuk salah satu hikmah dan faidah puasa. Sebagaimana dalam hadis dari Salman yang dinilai lemah, tetapi diambil sebagian ulama untuk menjelaskan Ramadan, yang mana disebutkan,وهو شهر المواساة“Ramadan adalah bulan empati.”Hadis Salman ini adalah hadis yang banyak disebutkan dalam motivasi meningkatkan kedermawanan dan jiwa sosial di bulan Ramadan. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, dari Salman secara marfu’, perihal keutamaan bulan Ramadan,وهو شهر المواساة وشهر يزاد فيه في رزق المؤمن من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه وعتق رقبته من النار وكان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيء“Ia adalah bulan empati (terhadap fakir miskin). Bulan di mana rezeki orang mukmin ditambah. Siapa saja yang memberi makan (untuk buka puasa) bagi orang berpuasa di bulan tersebut, itu akan menjadi pengampunan bagi dosa-dosanya dan pembebas dari api neraka. la mendapatkan pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.”Hadis ini secara sanadnya lemah, sehingga tidak bisa disandarkan kepada Nabi ﷺ. Namun, masing-masing isi hadis di atas didukung oleh riwayat yang lainnya. Termasuk Syekh Bin Baz rahimahullah, ketika beliau menjelaskan hadis ini, beliau menggunakan ungkapan berikut dalam keterangannya,فقد ثبت عن رسول الله ﷺ في هذا الشهر الكريم -شهر رمضان- من الأحاديث الكثيرة ما يدل على عظم شأنه، وأنه شهر المواساة، وشهر الإحسان، وشهر الصدقات، وشهر المسارعة إلى الطاعات والمنافسة في أنواع الخير“Telah diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ mengenai bulan yang diberkahi, yakni Ramadan, bahwa terdapat banyak hadis yang menunjukkan betapa pentingnya bulan ini, dan bahwa bulan ini adalah bulan kasih sayang, bulan kebajikan, bulan sedekah, dan bulan untuk bersegera melaksanakan amal ketaatan dan berlomba-lomba dalam segala macam perbuatan baik.” (Syarah Wazhaif Ramadan 01) [1]Sebelumnya, Syekh Bin Baz rahimahullah memberikan keterangan,وهكذا ما جاء في حديث سلمان أن الرسول الكريم كان يبشر أصحابه له شواهد، وإن كان في حديث سلمان انقطاع وضعف لكن له شواهد تقدم بعضها“Oleh karena itu, apa yang disebutkan dalam hadis Salman (dalam riwayat Ibnu Khuzaimah), bahwa Rasulullah ﷺ biasa menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, memiliki bukti pendukung. Meskipun hadis Salman tersebut terputus dan lemah, tetapi tetap memiliki bukti pendukung, sebagian di antaranya telah disebutkan sebelumnya.”Keteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanSuri tauladan kita, Rasulullah ﷺ juga meningkatkan kedermawanan beliau di bulan Ramadan, disebabkan beliau banyak bertemu dengan Jibril alaihissalam untuk belajar Al-Qur’an. Sedangkan Al-Qur’an adalah kitab yang menghimbau kepada akhlak-akhlak mulia dan sifat dermawan.كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أجودَ الناسِ بالخيرِ ، وكان أجودَ ما يكون في شهرِ رمضانَ حتى ينسلِخَ ، فيأتيه جبريلُ فيعرضُ عليه القرآنَ ، فإذا لقِيَه جبريلُ كان رسولُ اللهِ أجودَ بالخيرِ من الرِّيحِ الْمُرسَلَةِ“Baginda Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan–bersemangat dalam menebar kebaikan. Dan kedermawanan beliau ﷺ memuncak pada bulan Ramadan hingga berakhir ketika Jibril datang kepadanya dan membacakan Al-Quran kepadanya. Ketika Jibril bertemu dengannya, Rasulullah ﷺ menjadi begitu dermawan melebihi hembusan angin kencang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Bahkan levelnya Nabi ﷺ itu tidak sekadar semangat berbagi, tetapi juga berbahagia ketika berbagi. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan sifat Nabi ﷺ,وَكَانَ الْعَطَاءُ وَالصَّدَقَةُ أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْهِ، وَكَانَ سُرُورُهُ وَفَرَحُهُ بِمَا يُعْطِيهِ أَعْظَمَ مِنْ سُرُورِ الْآخِذِ بِمَا يَأْخُذُهُ“Memberi dan bersedekah adalah perkara yang paling Nabi ﷺ sukai. Dan kegembiraan serta kebahagiaan Nabi ﷺ ketika memberi lebih besar daripada kegembiraan si penerima atas apa yang ia terima.” (Zaadul Ma’ad, 2: 22) [2]Inilah satu level yang perlu kita capai: menjadi orang yang berbahagia ketika berbagi. Bagi kita, ada banyak letak kebahagiaan yang diraih di sana. Salah satunya juga adalah kebahagiaan mencocoki sunah Nabi ﷺ dalam bersemangat berkontribusi sosial dan berbahagia dengan hal tersebut.Ramadan mendidik kita untuk semangat berbagiAda banyak motivasi yang tersebar dalam bulan Ramadan agar manusia meningkatkan jiwa sosialnya. Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beberapa di antaranya yang akan disebutkan setelah ini. Salah satunya adalah mengenai momentum bulan Ramadan yang istimewa. Bulan Ramadan adalah bulan mulia, ketika semua amal dilipatgandakan pahalanya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Anas secara marfu’ disebutkan,أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ“Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadan.”Hadis ini dinilai lemah oleh para ulama, di antaranya oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir (no. 1117), kami tidak temukan satupun riwayat yang berderajat lebih tinggi. Namun, riwayat ini berselarasan dengan hadis yang sahih dalam Ash-Shahihain, berkaitan dengan sifat kedermawanan Nabi ﷺ yang memuncak di bulan Ramadan. Menurut Syekh Shalih Al-Ushaimy hafizhahullah, kandungan hadis riwayat Tirmidzi ini berselarasan dengan praktik Nabi ﷺ di bulan Ramadan; dan karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan sedekah di bulan Ramadan. [3]Membantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarSebagaimana orang yang membantu menyiapkan bekal orang yang berangkat berperang, sama saja ia telah ikut berperang. Begitu juga, siapa saja yang menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, sama saja ia telah ikut berperang. Perbuatan inilah yang kita harapkan pahalanya selama bulan Ramadan. Dalam sebuah hadis dari Zaid bin Khalid, Nabi ﷺ bersabda,مَنْ فَطَرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ“Barangsiapa memberi makanan buka untuk orang yang berpuasa, ia juga mendapatkan pahala seperti pahala orang puasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad no. 116 dan Tirmidzi, dinilai hasan shahih)Bulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaPemberian itu berupa rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Terlebih pada saat Lailatul Qadar tiba. Allah juga mengasihi para hamba-Nya yang mau memberi kasih sayang kepada orang lain. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,إنما يرحم الله من عباده الرحماء“Sesungguhnya yang Allah kasihi hanyalah para hamba-Nya yang pengasih.”Barangsiapa gemar memberi kepada sesama hamba Allah, Allah pun akan banyak memberikan rahmat dan karunia kepadanya. Dan ganjaran itu sesuai dengan jenis amal.Menggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaSebagaimana disebutkan dalam hadis, Nabi ﷺ bersabda,إن في الجنة غرفا الجنة غرفا يرى ظهورها من بطونها من ظهورها قالوا: لمن هي يا رسول الله؟ قال: لمن طيب الكلام وأطعم الطعام وأدام الصيام وصلى بالليل والناس نيام“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar.” Para sahabat lantas bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah bilik-bilik kamar itu?” Beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang baik tutur katanya, suka memberi makan orang lain, rajin berpuasa, dan salat malam di saat manusia tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1985, Adz-Dzahabi menilainya sahih)Menolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaImam Asy-Syafii rahimahullah berkata,أحب للرجل الزيادة في الجود في شهر رمضان اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم ولحاجة الناس فيه إلى مصالحهم ولتشاغل كثير منهم بالصوم والصلاة عن مكاسبهم“Aku menyukai seseorang meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadan dalam rangka meneladani Rasulullah ﷺ, dikarenakan manusia pada bulan tersebut memiliki banyak kebutuhan. Sementara manusia tersibukkan dengan berpuasa dan salat, sehingga tidak fokus terhadap pekerjaan mereka.” (Lathaiful Maarif, hal. 169)Ini juga merupakan pendapat yang disetujui oleh Al-Qadhi Abu Ya’la dari kalangan Hanabilah.Pendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaIbnu Rajab rahimahullah dalam keterangan yang panjang menjelaskan bahwa dianjurkan untuk memberi menu berbuka kepada orang yang berpuasa dan dianjurkan untuk ikut berbuka bersamanya. Hal itu akan menumbuhkan empati yang lebih besar ditinjau dari dampak perbuatan tersebut kepada hati. Berbuka bersama dengan makanan yang disedekahkan menunjukkan bahwa makanan yang ia sedekahkan tersebut adalah makanan yang ia sukai, sehingga menghibur hati orang yang diberi. Dengan demikian, dia termasuk golongan orang-orang yang bersedekah dengan harta yang ia sukai.Hal itu juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat dibolehkannya kembali menikmati makanan dan minuman setelah sebelumnya terlarang, sebab nikmat makan dan minum itu benar-benar dapat dirasakan nilainya ketika kita dilarang menikmatinya. Contoh ini datang dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma; apabila beliau berpuasa, beliau tidak berbuka kecuali bersama orang-orang miskin. Jika keluarganya menghalanginya, ia pun tidak makan pada malam itu. Inilah derajat amalan berempati kepada orang lain.Jiwa sosial para salaf di bulan RamadanAda derajat yang lebih tinggi lagi dari sebuah empati, yakni mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadinya (itsar). Banyak sekali kaum salaf yang mengutamakan orang lain berbuka, meskipun mereka sendiri lapar. [4]Salah satu contohnya adalah kisah Imam Ahmad rahimahullah yang didatangi seorang pengemis ketika beliau berpuasa. Pengemis itu meminta makanan kepada Imam Ahmad. Imam Ahmad lantas memberikan kepadanya dua potong roti yang telah ia persiapkan untuk berbuka. Kemudian ia menahan lapar dan pagi harinya ia melanjutkan berpuasa.Pada riwayat lain dikisahkan, ketika Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dimintai makanan yang sedang ia makan, ia lantas berdiri dan memberikan makanannya yang masih tersisa kepada peminta-minta tersebut. Kemudian ia pulang di saat keluarganya telah makan makanan yang tersisa dalam wadah. Lantas pagi harinya ia berpuasa, padahal malamnya ia tidak makan apa-apa.Dalam riwayat lain, Hasan biasa memberi makan saudara-saudaranya secara sukarela ketika ia berpuasa. la juga ikut duduk menyenangkan hati mereka di saat mereka makan. Ibnul Mubarak memberi makan saudara-saudaranya dalam perjalanan, seperti manisan dan lainnya; sementara dia sendiri berpuasa.Ada seorang saleh sedang menginginkan suatu makanan saat berpuasa. Tatkala berbuka, makanan yang ia inginkan itu dihidangkan di hadapannya. Tiba-tiba, ia mendengar seorang peminta-minta berkata, “Siapa yang mau meminjamkan hartanya kepada Yang Mahacepat Menepati, Yang Maha Melunasi, dan Mahakaya?”Orang saleh tersebut menjawab, “Hamba-Nya yang tidak memiliki amal kebaikan.” Kemudian ia berdiri mengambil piring makanan itu dan memberikannya kepada si peminta-minta. Sementara ia sendiri menjalani malam harinya dalam keadaan lapar.Semua ini didasarkan oleh semangat berbagi yang tumbuh atas dasar iman yang kuat dari para salaf terdahulu. Kita semua pasti merasakan beratnya melakukan apa yang diteladankan para salaf ini. Siapa di antara kita yang ketika ada makanan yang sudah kita nantikan sejak lama, terlebih di hari itu kita berpuasa, tetapi ketika kita hendak menikmatinya, ada orang yang menginginkannya, lantas kita memberikan makanan tersebut? Penulis rasa, jarang sekali yang berada di level demikian di hari ini. Namun, itulah esensi Ramadan yang diteladankan oleh baginda Nabi ﷺ, diikuti oleh para salaf, dan harusnya tertanam pada diri kita hari ini.Di masa kini, mudah bagi kita untuk melakukan kedermawanan. Upaya kebaikan itu dapat kita lakukan bahkan dari genggaman kita, berupa sedekah maupun semangat menebar kebaikan yang lain. Ini adalah zaman di mana amal perbuatan dipermudah, tetapi godaan untuk melalaikan kita pun besar pula. Maka, ini adalah bentuk jihad tersendiri bagi kita hari ini. Sebuah jihad melawan nafsu kita untuk menyepelekan amalan-amalan yang bisa kita kerjakan. Spirit menebar kebermanfaatan itu menuntut perwujudan amal dari kita semua.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://binbaz.org.sa[2] https://www.islamweb.net/ar[3] Diambil dari status twitter resmi beliau https://x.com/Osaimi0543/status/1382474171691728897[4] Semua riwayat dalam subpembahasan ini dinukil dari Lathaiful Maarif, karya Ibnu Rajab rahimahullah.


Daftar Isi ToggleKeteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanRamadan mendidik kita untuk semangat berbagiMembantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarBulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaMenggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaMenolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaPendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaJiwa sosial para salaf di bulan RamadanBulan Ramadan mengandung banyak keberkahan dan juga tuntutan pendidikan. Salah satu hasil dari madrasah Ramadan adalah tumbuhnya jiwa sosial dan semangat kedermawanan bagi para ahli Ramadan. Menumbuhkan empati dan jiwa sosial adalah salah satu tujuan dari diistimewakannya bulan Ramadan. Salah seorang salaf pernah ditanya, “Mengapa puasa disyariatkan?” la lantas menjawab,ليذوق الغني طعم الجوع فلا ينسى الجائع“Agar orang yang kaya dapat merasakan lapar, sehingga ia tidak lupa kepada orang yang lapar.” (Lathaiful Maarif, hal. 168)Ini termasuk salah satu hikmah dan faidah puasa. Sebagaimana dalam hadis dari Salman yang dinilai lemah, tetapi diambil sebagian ulama untuk menjelaskan Ramadan, yang mana disebutkan,وهو شهر المواساة“Ramadan adalah bulan empati.”Hadis Salman ini adalah hadis yang banyak disebutkan dalam motivasi meningkatkan kedermawanan dan jiwa sosial di bulan Ramadan. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, dari Salman secara marfu’, perihal keutamaan bulan Ramadan,وهو شهر المواساة وشهر يزاد فيه في رزق المؤمن من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه وعتق رقبته من النار وكان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيء“Ia adalah bulan empati (terhadap fakir miskin). Bulan di mana rezeki orang mukmin ditambah. Siapa saja yang memberi makan (untuk buka puasa) bagi orang berpuasa di bulan tersebut, itu akan menjadi pengampunan bagi dosa-dosanya dan pembebas dari api neraka. la mendapatkan pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.”Hadis ini secara sanadnya lemah, sehingga tidak bisa disandarkan kepada Nabi ﷺ. Namun, masing-masing isi hadis di atas didukung oleh riwayat yang lainnya. Termasuk Syekh Bin Baz rahimahullah, ketika beliau menjelaskan hadis ini, beliau menggunakan ungkapan berikut dalam keterangannya,فقد ثبت عن رسول الله ﷺ في هذا الشهر الكريم -شهر رمضان- من الأحاديث الكثيرة ما يدل على عظم شأنه، وأنه شهر المواساة، وشهر الإحسان، وشهر الصدقات، وشهر المسارعة إلى الطاعات والمنافسة في أنواع الخير“Telah diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ mengenai bulan yang diberkahi, yakni Ramadan, bahwa terdapat banyak hadis yang menunjukkan betapa pentingnya bulan ini, dan bahwa bulan ini adalah bulan kasih sayang, bulan kebajikan, bulan sedekah, dan bulan untuk bersegera melaksanakan amal ketaatan dan berlomba-lomba dalam segala macam perbuatan baik.” (Syarah Wazhaif Ramadan 01) [1]Sebelumnya, Syekh Bin Baz rahimahullah memberikan keterangan,وهكذا ما جاء في حديث سلمان أن الرسول الكريم كان يبشر أصحابه له شواهد، وإن كان في حديث سلمان انقطاع وضعف لكن له شواهد تقدم بعضها“Oleh karena itu, apa yang disebutkan dalam hadis Salman (dalam riwayat Ibnu Khuzaimah), bahwa Rasulullah ﷺ biasa menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, memiliki bukti pendukung. Meskipun hadis Salman tersebut terputus dan lemah, tetapi tetap memiliki bukti pendukung, sebagian di antaranya telah disebutkan sebelumnya.”Keteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanSuri tauladan kita, Rasulullah ﷺ juga meningkatkan kedermawanan beliau di bulan Ramadan, disebabkan beliau banyak bertemu dengan Jibril alaihissalam untuk belajar Al-Qur’an. Sedangkan Al-Qur’an adalah kitab yang menghimbau kepada akhlak-akhlak mulia dan sifat dermawan.كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أجودَ الناسِ بالخيرِ ، وكان أجودَ ما يكون في شهرِ رمضانَ حتى ينسلِخَ ، فيأتيه جبريلُ فيعرضُ عليه القرآنَ ، فإذا لقِيَه جبريلُ كان رسولُ اللهِ أجودَ بالخيرِ من الرِّيحِ الْمُرسَلَةِ“Baginda Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan–bersemangat dalam menebar kebaikan. Dan kedermawanan beliau ﷺ memuncak pada bulan Ramadan hingga berakhir ketika Jibril datang kepadanya dan membacakan Al-Quran kepadanya. Ketika Jibril bertemu dengannya, Rasulullah ﷺ menjadi begitu dermawan melebihi hembusan angin kencang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Bahkan levelnya Nabi ﷺ itu tidak sekadar semangat berbagi, tetapi juga berbahagia ketika berbagi. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan sifat Nabi ﷺ,وَكَانَ الْعَطَاءُ وَالصَّدَقَةُ أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْهِ، وَكَانَ سُرُورُهُ وَفَرَحُهُ بِمَا يُعْطِيهِ أَعْظَمَ مِنْ سُرُورِ الْآخِذِ بِمَا يَأْخُذُهُ“Memberi dan bersedekah adalah perkara yang paling Nabi ﷺ sukai. Dan kegembiraan serta kebahagiaan Nabi ﷺ ketika memberi lebih besar daripada kegembiraan si penerima atas apa yang ia terima.” (Zaadul Ma’ad, 2: 22) [2]Inilah satu level yang perlu kita capai: menjadi orang yang berbahagia ketika berbagi. Bagi kita, ada banyak letak kebahagiaan yang diraih di sana. Salah satunya juga adalah kebahagiaan mencocoki sunah Nabi ﷺ dalam bersemangat berkontribusi sosial dan berbahagia dengan hal tersebut.Ramadan mendidik kita untuk semangat berbagiAda banyak motivasi yang tersebar dalam bulan Ramadan agar manusia meningkatkan jiwa sosialnya. Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beberapa di antaranya yang akan disebutkan setelah ini. Salah satunya adalah mengenai momentum bulan Ramadan yang istimewa. Bulan Ramadan adalah bulan mulia, ketika semua amal dilipatgandakan pahalanya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Anas secara marfu’ disebutkan,أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ“Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadan.”Hadis ini dinilai lemah oleh para ulama, di antaranya oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir (no. 1117), kami tidak temukan satupun riwayat yang berderajat lebih tinggi. Namun, riwayat ini berselarasan dengan hadis yang sahih dalam Ash-Shahihain, berkaitan dengan sifat kedermawanan Nabi ﷺ yang memuncak di bulan Ramadan. Menurut Syekh Shalih Al-Ushaimy hafizhahullah, kandungan hadis riwayat Tirmidzi ini berselarasan dengan praktik Nabi ﷺ di bulan Ramadan; dan karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan sedekah di bulan Ramadan. [3]Membantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarSebagaimana orang yang membantu menyiapkan bekal orang yang berangkat berperang, sama saja ia telah ikut berperang. Begitu juga, siapa saja yang menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, sama saja ia telah ikut berperang. Perbuatan inilah yang kita harapkan pahalanya selama bulan Ramadan. Dalam sebuah hadis dari Zaid bin Khalid, Nabi ﷺ bersabda,مَنْ فَطَرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ“Barangsiapa memberi makanan buka untuk orang yang berpuasa, ia juga mendapatkan pahala seperti pahala orang puasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad no. 116 dan Tirmidzi, dinilai hasan shahih)Bulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaPemberian itu berupa rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Terlebih pada saat Lailatul Qadar tiba. Allah juga mengasihi para hamba-Nya yang mau memberi kasih sayang kepada orang lain. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,إنما يرحم الله من عباده الرحماء“Sesungguhnya yang Allah kasihi hanyalah para hamba-Nya yang pengasih.”Barangsiapa gemar memberi kepada sesama hamba Allah, Allah pun akan banyak memberikan rahmat dan karunia kepadanya. Dan ganjaran itu sesuai dengan jenis amal.Menggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaSebagaimana disebutkan dalam hadis, Nabi ﷺ bersabda,إن في الجنة غرفا الجنة غرفا يرى ظهورها من بطونها من ظهورها قالوا: لمن هي يا رسول الله؟ قال: لمن طيب الكلام وأطعم الطعام وأدام الصيام وصلى بالليل والناس نيام“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar.” Para sahabat lantas bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah bilik-bilik kamar itu?” Beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang baik tutur katanya, suka memberi makan orang lain, rajin berpuasa, dan salat malam di saat manusia tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1985, Adz-Dzahabi menilainya sahih)Menolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaImam Asy-Syafii rahimahullah berkata,أحب للرجل الزيادة في الجود في شهر رمضان اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم ولحاجة الناس فيه إلى مصالحهم ولتشاغل كثير منهم بالصوم والصلاة عن مكاسبهم“Aku menyukai seseorang meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadan dalam rangka meneladani Rasulullah ﷺ, dikarenakan manusia pada bulan tersebut memiliki banyak kebutuhan. Sementara manusia tersibukkan dengan berpuasa dan salat, sehingga tidak fokus terhadap pekerjaan mereka.” (Lathaiful Maarif, hal. 169)Ini juga merupakan pendapat yang disetujui oleh Al-Qadhi Abu Ya’la dari kalangan Hanabilah.Pendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaIbnu Rajab rahimahullah dalam keterangan yang panjang menjelaskan bahwa dianjurkan untuk memberi menu berbuka kepada orang yang berpuasa dan dianjurkan untuk ikut berbuka bersamanya. Hal itu akan menumbuhkan empati yang lebih besar ditinjau dari dampak perbuatan tersebut kepada hati. Berbuka bersama dengan makanan yang disedekahkan menunjukkan bahwa makanan yang ia sedekahkan tersebut adalah makanan yang ia sukai, sehingga menghibur hati orang yang diberi. Dengan demikian, dia termasuk golongan orang-orang yang bersedekah dengan harta yang ia sukai.Hal itu juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat dibolehkannya kembali menikmati makanan dan minuman setelah sebelumnya terlarang, sebab nikmat makan dan minum itu benar-benar dapat dirasakan nilainya ketika kita dilarang menikmatinya. Contoh ini datang dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma; apabila beliau berpuasa, beliau tidak berbuka kecuali bersama orang-orang miskin. Jika keluarganya menghalanginya, ia pun tidak makan pada malam itu. Inilah derajat amalan berempati kepada orang lain.Jiwa sosial para salaf di bulan RamadanAda derajat yang lebih tinggi lagi dari sebuah empati, yakni mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadinya (itsar). Banyak sekali kaum salaf yang mengutamakan orang lain berbuka, meskipun mereka sendiri lapar. [4]Salah satu contohnya adalah kisah Imam Ahmad rahimahullah yang didatangi seorang pengemis ketika beliau berpuasa. Pengemis itu meminta makanan kepada Imam Ahmad. Imam Ahmad lantas memberikan kepadanya dua potong roti yang telah ia persiapkan untuk berbuka. Kemudian ia menahan lapar dan pagi harinya ia melanjutkan berpuasa.Pada riwayat lain dikisahkan, ketika Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dimintai makanan yang sedang ia makan, ia lantas berdiri dan memberikan makanannya yang masih tersisa kepada peminta-minta tersebut. Kemudian ia pulang di saat keluarganya telah makan makanan yang tersisa dalam wadah. Lantas pagi harinya ia berpuasa, padahal malamnya ia tidak makan apa-apa.Dalam riwayat lain, Hasan biasa memberi makan saudara-saudaranya secara sukarela ketika ia berpuasa. la juga ikut duduk menyenangkan hati mereka di saat mereka makan. Ibnul Mubarak memberi makan saudara-saudaranya dalam perjalanan, seperti manisan dan lainnya; sementara dia sendiri berpuasa.Ada seorang saleh sedang menginginkan suatu makanan saat berpuasa. Tatkala berbuka, makanan yang ia inginkan itu dihidangkan di hadapannya. Tiba-tiba, ia mendengar seorang peminta-minta berkata, “Siapa yang mau meminjamkan hartanya kepada Yang Mahacepat Menepati, Yang Maha Melunasi, dan Mahakaya?”Orang saleh tersebut menjawab, “Hamba-Nya yang tidak memiliki amal kebaikan.” Kemudian ia berdiri mengambil piring makanan itu dan memberikannya kepada si peminta-minta. Sementara ia sendiri menjalani malam harinya dalam keadaan lapar.Semua ini didasarkan oleh semangat berbagi yang tumbuh atas dasar iman yang kuat dari para salaf terdahulu. Kita semua pasti merasakan beratnya melakukan apa yang diteladankan para salaf ini. Siapa di antara kita yang ketika ada makanan yang sudah kita nantikan sejak lama, terlebih di hari itu kita berpuasa, tetapi ketika kita hendak menikmatinya, ada orang yang menginginkannya, lantas kita memberikan makanan tersebut? Penulis rasa, jarang sekali yang berada di level demikian di hari ini. Namun, itulah esensi Ramadan yang diteladankan oleh baginda Nabi ﷺ, diikuti oleh para salaf, dan harusnya tertanam pada diri kita hari ini.Di masa kini, mudah bagi kita untuk melakukan kedermawanan. Upaya kebaikan itu dapat kita lakukan bahkan dari genggaman kita, berupa sedekah maupun semangat menebar kebaikan yang lain. Ini adalah zaman di mana amal perbuatan dipermudah, tetapi godaan untuk melalaikan kita pun besar pula. Maka, ini adalah bentuk jihad tersendiri bagi kita hari ini. Sebuah jihad melawan nafsu kita untuk menyepelekan amalan-amalan yang bisa kita kerjakan. Spirit menebar kebermanfaatan itu menuntut perwujudan amal dari kita semua.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://binbaz.org.sa[2] https://www.islamweb.net/ar[3] Diambil dari status twitter resmi beliau https://x.com/Osaimi0543/status/1382474171691728897[4] Semua riwayat dalam subpembahasan ini dinukil dari Lathaiful Maarif, karya Ibnu Rajab rahimahullah.

Allah akan Ganti yang Lebih Baik

Oleh: Dr. Amir bin Muhammad al-Mudari Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudaraku tercinta! Berapa kali kita melalui momen-momen yang memaksa kita untuk meninggalkan sesuatu yang kita sukai atau kita sudah nyaman dengan hal itu, dan kita mungkin sudah meninggalkannya dengan rasa harap mendapat keridhaan Allah? Apakah kita pernah memikirkan tentang ganti yang Allah janjikan kepada kita atas kehilangan itu? Seperti yang disebutkan dalam satu atsar:  مَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلَّهِ عَوَّضَهُ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.” Wahai saudara-saudaraku yang saya cintai karena Allah! Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjanjikan bagi para hamba-Nya yang saleh, siapa yang meninggalkan sesuatu di jalan-Nya, baik itu berupa harta, gejolak nafsu, kebiasaan, atau dosa, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberinya ganti dengan sesuatu yang lebih baik, ganti yang tidak tertandingi nilainya daripada dengan sesuatu yang hilang. Bisa jadi ganti itu diberikan di dunia atau di akhirat, dan ganti terbaiknya selalu kita harapkan berupa ganjaran terbesar di surga. Diriwayatkan dalam hadis shahih dari Abu Qatadah dan Abu Ad-Dahma’ bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda: إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Sungguh tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, melainkan Allah akan memberimu yang lebih baik darinya.” (Musnad Imam Ahmad jilid 5 hlm. 363). Wahai saudara-saudara! Janji yang agung ini memberi kita semangat untuk bersabar dan berani berkorban dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan dan menjauhi syahwat-syahwat yang menjauhkan kita dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebesar apa pun kerugian duniawi yang dapat menimpa kita, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang yang berbuat baik. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim terdapat riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: إِذَا أَرَادَ عَبْدِي أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَا، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا بِمِثْلِهَا، وَإِنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِي فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً. وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ “Allah berfirman: ‘Apabila hamba-Ku berniat melakukan kejahatan, maka janganlah kalian mencatatnya hingga ia melakukannya. Jika ia melakukannya, catatlah satu kejahatan yang sepadan. Namun jika ia meninggalkannya karena Aku, catatlah baginya satu kebaikan. Dan apabila ia berniat melakukan kebaikan tapi belum melakukannya, catatlah baginya satu kebaikan. Jika ia benar-benar melakukannya, catatlah baginya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Inilah janji dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang akan mengganti dengan kebaikan yang melimpah bagi hamba yang meninggalkan dosa karena mengharap keridhaan-Nya. Inilah bentuk kemurahan agung dari Tuhan kita. Diriwayatkan juga dari Sahal bin Muadz bin Anas Al-Juhani dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ، حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ الْإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا “Barang siapa meninggalkan pakaian (yang mewah) karena tunduk kepada Allah padahal ia mampu memakainya, Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk, lalu memberinya pilihan dari pakaian-pakaian iman mana saja yang ingin ia kenakan.” (HR. At-Tirmidzi 2/79, Al-Hakim 4/183, Ahmad 3/439).  Diriwayatkan dari Sahal juga dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ شَهْوَةً وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهَا تَوَاضُعًا لِلَّهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ “Barang siapa meninggalkan suatu syahwat padahal ia mampu melakukannya, karena tunduk kepada Allah, niscaya Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk.” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitabnya At-Tarikh 6/2/101). Diriwayatkan juga dari Hudzaifah bin Al-Yaman bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: النَّظْرَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومٌ، مَنْ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللَّهِ أَثَابَهُ اللَّهُ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ “Pandangan kepada perempuan adalah salah satu anak panah Iblis yang beracun; siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya iman yang ia merasakan manisnya di dalam hatinya.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak jilid 4 hlm. 313, Al-Qudha’i dalam kitabnya Al-Musnad jilid 1 hlm. 195, dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir no. 10362). Wahai saudara-saudaraku tercinta! Perhatikanlah kisah seorang sahabat Nabi yang mulia ini, Shuhaib Ar-Rumi Radhiyallahu ‘anhu, seorang lelaki yang punya harta melimpah ketika di Makkah. Ketika kaum Musyrikin semakin gencar menzaliminya, ia memutuskan untuk berhijrah ke Madinah, meninggalkan harta dan keluarganya di Makkah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan keridhaan-Nya. Allah memberinya ganti yang lebih baik di akhirat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikannya termasuk penghuni surga, dengan karunia dan rahmat-Nya. Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang diturunkan berkaitan dengan shuhaib dan orang-orang yang berhijrah lainnya, yang meninggalkan dunia demi meraih keridhaan Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridhaan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 207). Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pun bersabda kepadanya: “Wahai Abu Yahya, ini jual beli yang menguntungkan!” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan beliau menilai hadis ini sahih memenuhi syarat keshahihan Imam Muslim). Perhatikanlah kisah Nabi Yusuf Alaihissalam yang meninggalkan kenikmatan dan perhiasan dunia, menolak untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan meskipun godaannya begitu besar, dan beliau lebih memilih dipenjara daripada mengkhianati amanah yang diembannya. Beliau berkata:  قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ … فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ “Dia (Yusuf) berkata: ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka ajak aku kepadanya.’ maka Tuhannya mengabulkan doanya.” (QS. Yusuf: 33-34). Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabulkan doa beliau dan memberi ganti bagi beliau dengan hal yang lebih baik, memberinya kekuasaan di bumi dan kedudukan yang tinggi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الأَرْضِ … وَلاَ نُضِيعُ أَجْرَ المُحْسِنِينَ “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan (kekuasaan) kepada Yusuf di negeri itu, dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 56). Memberi kelonggaran bagi orang yang kesulitan, maka Allah memberi ampunan baginya Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda: كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ: إِذَا جِئْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا. قَالَ: فَلَقِيَ اللَّهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ “Dahulu ada seorang lelaki yang memberi pinjaman kepada orang-orang. Ia berkata kepada pembantunya: ‘Jika engkau mendatangi orang yang kesulitan (tidak mampu membayar utangnya), maka maafkanlah dia, semoga Allah memaafkan kita.’ Maka ketika ia telah berjumpa dengan Allah, Allah pun memaafkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain, dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَلَقَّتْ رُوحَ رَجُلٍ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَقَالُوا لَهُ: هَلْ عَمِلْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ قَالَ: لَا. قَالُوا: تَذَكَّرْ. قَالَ: لَا، إِلَّا أَنِّي كُنْتُ أُدَايِنُ النَّاسَ، فَكُنْتُ آمُرُ فِتْيَانِي أَنْ يُنْظِرُوا الْمُوسِرَ، وَيَتَجَاوَزُوا عَنِ الْمُعْسِرِ. قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: تَجَاوَزُوا عَنْهُ “Sungguh para malaikat menyambut ruh seorang lelaki dari umat sebelum kalian. Mereka berkata kepadanya: ‘Apakah engkau pernah melakukan suatu kebaikan?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Mereka berkata: ‘Coba ingat kembali.’ Ia menjawab: ‘Tidak, kecuali aku dahulu memberi pinjaman kepada orang-orang, aku memerintahkan para pembantuku agar memberi kelonggaran kepada orang yang mampu dan memaafkan orang yang kesulitan membayar.’ Lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Maafkanlah dia.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Wahai saudara-saudaraku yang tercinta! Janganlah takut meninggalkan sesuatu karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Allah tidak akan mengecewakan harapan orang yang telah bertawakal kepada-Nya. Dia tidak akan memberi ganti bagi hamba-Nya kecuali dengan yang lebih baik, maka kuatkanlah tekad kita dalam meninggalkan hal-hal yang mengundang kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan besarkanlah keyakinanmu bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberi ganti bagi kita dengan sesuatu yang lebih baik daripada yang telah hilang dari kita. Kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang memperhatikan ucapan dan mengikuti yang terbaiknya, menolong kita dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya, dan mengaruniakan kepada kita surga tertinggi, surga Firdaus tanpa hisab. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan salawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/180455/من-ترك-شيئا-لله-عوضه-الله-خيرا-منه/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Sunat Bagi Anak Perempuan, Doa Ketika Menghadapi Masalah, Ucapan Salam, Bahaya Onanisme Bagi Perempuan, Cara Sholat Jamak Takhir Visited 556 times, 241 visit(s) today Post Views: 3 QRIS donasi Yufid

Allah akan Ganti yang Lebih Baik

Oleh: Dr. Amir bin Muhammad al-Mudari Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudaraku tercinta! Berapa kali kita melalui momen-momen yang memaksa kita untuk meninggalkan sesuatu yang kita sukai atau kita sudah nyaman dengan hal itu, dan kita mungkin sudah meninggalkannya dengan rasa harap mendapat keridhaan Allah? Apakah kita pernah memikirkan tentang ganti yang Allah janjikan kepada kita atas kehilangan itu? Seperti yang disebutkan dalam satu atsar:  مَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلَّهِ عَوَّضَهُ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.” Wahai saudara-saudaraku yang saya cintai karena Allah! Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjanjikan bagi para hamba-Nya yang saleh, siapa yang meninggalkan sesuatu di jalan-Nya, baik itu berupa harta, gejolak nafsu, kebiasaan, atau dosa, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberinya ganti dengan sesuatu yang lebih baik, ganti yang tidak tertandingi nilainya daripada dengan sesuatu yang hilang. Bisa jadi ganti itu diberikan di dunia atau di akhirat, dan ganti terbaiknya selalu kita harapkan berupa ganjaran terbesar di surga. Diriwayatkan dalam hadis shahih dari Abu Qatadah dan Abu Ad-Dahma’ bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda: إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Sungguh tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, melainkan Allah akan memberimu yang lebih baik darinya.” (Musnad Imam Ahmad jilid 5 hlm. 363). Wahai saudara-saudara! Janji yang agung ini memberi kita semangat untuk bersabar dan berani berkorban dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan dan menjauhi syahwat-syahwat yang menjauhkan kita dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebesar apa pun kerugian duniawi yang dapat menimpa kita, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang yang berbuat baik. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim terdapat riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: إِذَا أَرَادَ عَبْدِي أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَا، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا بِمِثْلِهَا، وَإِنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِي فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً. وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ “Allah berfirman: ‘Apabila hamba-Ku berniat melakukan kejahatan, maka janganlah kalian mencatatnya hingga ia melakukannya. Jika ia melakukannya, catatlah satu kejahatan yang sepadan. Namun jika ia meninggalkannya karena Aku, catatlah baginya satu kebaikan. Dan apabila ia berniat melakukan kebaikan tapi belum melakukannya, catatlah baginya satu kebaikan. Jika ia benar-benar melakukannya, catatlah baginya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Inilah janji dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang akan mengganti dengan kebaikan yang melimpah bagi hamba yang meninggalkan dosa karena mengharap keridhaan-Nya. Inilah bentuk kemurahan agung dari Tuhan kita. Diriwayatkan juga dari Sahal bin Muadz bin Anas Al-Juhani dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ، حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ الْإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا “Barang siapa meninggalkan pakaian (yang mewah) karena tunduk kepada Allah padahal ia mampu memakainya, Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk, lalu memberinya pilihan dari pakaian-pakaian iman mana saja yang ingin ia kenakan.” (HR. At-Tirmidzi 2/79, Al-Hakim 4/183, Ahmad 3/439).  Diriwayatkan dari Sahal juga dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ شَهْوَةً وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهَا تَوَاضُعًا لِلَّهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ “Barang siapa meninggalkan suatu syahwat padahal ia mampu melakukannya, karena tunduk kepada Allah, niscaya Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk.” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitabnya At-Tarikh 6/2/101). Diriwayatkan juga dari Hudzaifah bin Al-Yaman bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: النَّظْرَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومٌ، مَنْ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللَّهِ أَثَابَهُ اللَّهُ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ “Pandangan kepada perempuan adalah salah satu anak panah Iblis yang beracun; siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya iman yang ia merasakan manisnya di dalam hatinya.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak jilid 4 hlm. 313, Al-Qudha’i dalam kitabnya Al-Musnad jilid 1 hlm. 195, dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir no. 10362). Wahai saudara-saudaraku tercinta! Perhatikanlah kisah seorang sahabat Nabi yang mulia ini, Shuhaib Ar-Rumi Radhiyallahu ‘anhu, seorang lelaki yang punya harta melimpah ketika di Makkah. Ketika kaum Musyrikin semakin gencar menzaliminya, ia memutuskan untuk berhijrah ke Madinah, meninggalkan harta dan keluarganya di Makkah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan keridhaan-Nya. Allah memberinya ganti yang lebih baik di akhirat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikannya termasuk penghuni surga, dengan karunia dan rahmat-Nya. Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang diturunkan berkaitan dengan shuhaib dan orang-orang yang berhijrah lainnya, yang meninggalkan dunia demi meraih keridhaan Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridhaan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 207). Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pun bersabda kepadanya: “Wahai Abu Yahya, ini jual beli yang menguntungkan!” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan beliau menilai hadis ini sahih memenuhi syarat keshahihan Imam Muslim). Perhatikanlah kisah Nabi Yusuf Alaihissalam yang meninggalkan kenikmatan dan perhiasan dunia, menolak untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan meskipun godaannya begitu besar, dan beliau lebih memilih dipenjara daripada mengkhianati amanah yang diembannya. Beliau berkata:  قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ … فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ “Dia (Yusuf) berkata: ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka ajak aku kepadanya.’ maka Tuhannya mengabulkan doanya.” (QS. Yusuf: 33-34). Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabulkan doa beliau dan memberi ganti bagi beliau dengan hal yang lebih baik, memberinya kekuasaan di bumi dan kedudukan yang tinggi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الأَرْضِ … وَلاَ نُضِيعُ أَجْرَ المُحْسِنِينَ “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan (kekuasaan) kepada Yusuf di negeri itu, dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 56). Memberi kelonggaran bagi orang yang kesulitan, maka Allah memberi ampunan baginya Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda: كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ: إِذَا جِئْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا. قَالَ: فَلَقِيَ اللَّهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ “Dahulu ada seorang lelaki yang memberi pinjaman kepada orang-orang. Ia berkata kepada pembantunya: ‘Jika engkau mendatangi orang yang kesulitan (tidak mampu membayar utangnya), maka maafkanlah dia, semoga Allah memaafkan kita.’ Maka ketika ia telah berjumpa dengan Allah, Allah pun memaafkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain, dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَلَقَّتْ رُوحَ رَجُلٍ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَقَالُوا لَهُ: هَلْ عَمِلْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ قَالَ: لَا. قَالُوا: تَذَكَّرْ. قَالَ: لَا، إِلَّا أَنِّي كُنْتُ أُدَايِنُ النَّاسَ، فَكُنْتُ آمُرُ فِتْيَانِي أَنْ يُنْظِرُوا الْمُوسِرَ، وَيَتَجَاوَزُوا عَنِ الْمُعْسِرِ. قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: تَجَاوَزُوا عَنْهُ “Sungguh para malaikat menyambut ruh seorang lelaki dari umat sebelum kalian. Mereka berkata kepadanya: ‘Apakah engkau pernah melakukan suatu kebaikan?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Mereka berkata: ‘Coba ingat kembali.’ Ia menjawab: ‘Tidak, kecuali aku dahulu memberi pinjaman kepada orang-orang, aku memerintahkan para pembantuku agar memberi kelonggaran kepada orang yang mampu dan memaafkan orang yang kesulitan membayar.’ Lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Maafkanlah dia.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Wahai saudara-saudaraku yang tercinta! Janganlah takut meninggalkan sesuatu karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Allah tidak akan mengecewakan harapan orang yang telah bertawakal kepada-Nya. Dia tidak akan memberi ganti bagi hamba-Nya kecuali dengan yang lebih baik, maka kuatkanlah tekad kita dalam meninggalkan hal-hal yang mengundang kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan besarkanlah keyakinanmu bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberi ganti bagi kita dengan sesuatu yang lebih baik daripada yang telah hilang dari kita. Kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang memperhatikan ucapan dan mengikuti yang terbaiknya, menolong kita dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya, dan mengaruniakan kepada kita surga tertinggi, surga Firdaus tanpa hisab. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan salawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/180455/من-ترك-شيئا-لله-عوضه-الله-خيرا-منه/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Sunat Bagi Anak Perempuan, Doa Ketika Menghadapi Masalah, Ucapan Salam, Bahaya Onanisme Bagi Perempuan, Cara Sholat Jamak Takhir Visited 556 times, 241 visit(s) today Post Views: 3 QRIS donasi Yufid
Oleh: Dr. Amir bin Muhammad al-Mudari Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudaraku tercinta! Berapa kali kita melalui momen-momen yang memaksa kita untuk meninggalkan sesuatu yang kita sukai atau kita sudah nyaman dengan hal itu, dan kita mungkin sudah meninggalkannya dengan rasa harap mendapat keridhaan Allah? Apakah kita pernah memikirkan tentang ganti yang Allah janjikan kepada kita atas kehilangan itu? Seperti yang disebutkan dalam satu atsar:  مَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلَّهِ عَوَّضَهُ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.” Wahai saudara-saudaraku yang saya cintai karena Allah! Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjanjikan bagi para hamba-Nya yang saleh, siapa yang meninggalkan sesuatu di jalan-Nya, baik itu berupa harta, gejolak nafsu, kebiasaan, atau dosa, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberinya ganti dengan sesuatu yang lebih baik, ganti yang tidak tertandingi nilainya daripada dengan sesuatu yang hilang. Bisa jadi ganti itu diberikan di dunia atau di akhirat, dan ganti terbaiknya selalu kita harapkan berupa ganjaran terbesar di surga. Diriwayatkan dalam hadis shahih dari Abu Qatadah dan Abu Ad-Dahma’ bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda: إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Sungguh tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, melainkan Allah akan memberimu yang lebih baik darinya.” (Musnad Imam Ahmad jilid 5 hlm. 363). Wahai saudara-saudara! Janji yang agung ini memberi kita semangat untuk bersabar dan berani berkorban dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan dan menjauhi syahwat-syahwat yang menjauhkan kita dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebesar apa pun kerugian duniawi yang dapat menimpa kita, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang yang berbuat baik. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim terdapat riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: إِذَا أَرَادَ عَبْدِي أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَا، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا بِمِثْلِهَا، وَإِنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِي فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً. وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ “Allah berfirman: ‘Apabila hamba-Ku berniat melakukan kejahatan, maka janganlah kalian mencatatnya hingga ia melakukannya. Jika ia melakukannya, catatlah satu kejahatan yang sepadan. Namun jika ia meninggalkannya karena Aku, catatlah baginya satu kebaikan. Dan apabila ia berniat melakukan kebaikan tapi belum melakukannya, catatlah baginya satu kebaikan. Jika ia benar-benar melakukannya, catatlah baginya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Inilah janji dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang akan mengganti dengan kebaikan yang melimpah bagi hamba yang meninggalkan dosa karena mengharap keridhaan-Nya. Inilah bentuk kemurahan agung dari Tuhan kita. Diriwayatkan juga dari Sahal bin Muadz bin Anas Al-Juhani dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ، حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ الْإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا “Barang siapa meninggalkan pakaian (yang mewah) karena tunduk kepada Allah padahal ia mampu memakainya, Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk, lalu memberinya pilihan dari pakaian-pakaian iman mana saja yang ingin ia kenakan.” (HR. At-Tirmidzi 2/79, Al-Hakim 4/183, Ahmad 3/439).  Diriwayatkan dari Sahal juga dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ شَهْوَةً وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهَا تَوَاضُعًا لِلَّهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ “Barang siapa meninggalkan suatu syahwat padahal ia mampu melakukannya, karena tunduk kepada Allah, niscaya Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk.” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitabnya At-Tarikh 6/2/101). Diriwayatkan juga dari Hudzaifah bin Al-Yaman bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: النَّظْرَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومٌ، مَنْ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللَّهِ أَثَابَهُ اللَّهُ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ “Pandangan kepada perempuan adalah salah satu anak panah Iblis yang beracun; siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya iman yang ia merasakan manisnya di dalam hatinya.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak jilid 4 hlm. 313, Al-Qudha’i dalam kitabnya Al-Musnad jilid 1 hlm. 195, dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir no. 10362). Wahai saudara-saudaraku tercinta! Perhatikanlah kisah seorang sahabat Nabi yang mulia ini, Shuhaib Ar-Rumi Radhiyallahu ‘anhu, seorang lelaki yang punya harta melimpah ketika di Makkah. Ketika kaum Musyrikin semakin gencar menzaliminya, ia memutuskan untuk berhijrah ke Madinah, meninggalkan harta dan keluarganya di Makkah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan keridhaan-Nya. Allah memberinya ganti yang lebih baik di akhirat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikannya termasuk penghuni surga, dengan karunia dan rahmat-Nya. Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang diturunkan berkaitan dengan shuhaib dan orang-orang yang berhijrah lainnya, yang meninggalkan dunia demi meraih keridhaan Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridhaan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 207). Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pun bersabda kepadanya: “Wahai Abu Yahya, ini jual beli yang menguntungkan!” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan beliau menilai hadis ini sahih memenuhi syarat keshahihan Imam Muslim). Perhatikanlah kisah Nabi Yusuf Alaihissalam yang meninggalkan kenikmatan dan perhiasan dunia, menolak untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan meskipun godaannya begitu besar, dan beliau lebih memilih dipenjara daripada mengkhianati amanah yang diembannya. Beliau berkata:  قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ … فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ “Dia (Yusuf) berkata: ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka ajak aku kepadanya.’ maka Tuhannya mengabulkan doanya.” (QS. Yusuf: 33-34). Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabulkan doa beliau dan memberi ganti bagi beliau dengan hal yang lebih baik, memberinya kekuasaan di bumi dan kedudukan yang tinggi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الأَرْضِ … وَلاَ نُضِيعُ أَجْرَ المُحْسِنِينَ “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan (kekuasaan) kepada Yusuf di negeri itu, dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 56). Memberi kelonggaran bagi orang yang kesulitan, maka Allah memberi ampunan baginya Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda: كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ: إِذَا جِئْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا. قَالَ: فَلَقِيَ اللَّهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ “Dahulu ada seorang lelaki yang memberi pinjaman kepada orang-orang. Ia berkata kepada pembantunya: ‘Jika engkau mendatangi orang yang kesulitan (tidak mampu membayar utangnya), maka maafkanlah dia, semoga Allah memaafkan kita.’ Maka ketika ia telah berjumpa dengan Allah, Allah pun memaafkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain, dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَلَقَّتْ رُوحَ رَجُلٍ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَقَالُوا لَهُ: هَلْ عَمِلْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ قَالَ: لَا. قَالُوا: تَذَكَّرْ. قَالَ: لَا، إِلَّا أَنِّي كُنْتُ أُدَايِنُ النَّاسَ، فَكُنْتُ آمُرُ فِتْيَانِي أَنْ يُنْظِرُوا الْمُوسِرَ، وَيَتَجَاوَزُوا عَنِ الْمُعْسِرِ. قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: تَجَاوَزُوا عَنْهُ “Sungguh para malaikat menyambut ruh seorang lelaki dari umat sebelum kalian. Mereka berkata kepadanya: ‘Apakah engkau pernah melakukan suatu kebaikan?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Mereka berkata: ‘Coba ingat kembali.’ Ia menjawab: ‘Tidak, kecuali aku dahulu memberi pinjaman kepada orang-orang, aku memerintahkan para pembantuku agar memberi kelonggaran kepada orang yang mampu dan memaafkan orang yang kesulitan membayar.’ Lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Maafkanlah dia.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Wahai saudara-saudaraku yang tercinta! Janganlah takut meninggalkan sesuatu karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Allah tidak akan mengecewakan harapan orang yang telah bertawakal kepada-Nya. Dia tidak akan memberi ganti bagi hamba-Nya kecuali dengan yang lebih baik, maka kuatkanlah tekad kita dalam meninggalkan hal-hal yang mengundang kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan besarkanlah keyakinanmu bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberi ganti bagi kita dengan sesuatu yang lebih baik daripada yang telah hilang dari kita. Kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang memperhatikan ucapan dan mengikuti yang terbaiknya, menolong kita dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya, dan mengaruniakan kepada kita surga tertinggi, surga Firdaus tanpa hisab. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan salawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/180455/من-ترك-شيئا-لله-عوضه-الله-خيرا-منه/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Sunat Bagi Anak Perempuan, Doa Ketika Menghadapi Masalah, Ucapan Salam, Bahaya Onanisme Bagi Perempuan, Cara Sholat Jamak Takhir Visited 556 times, 241 visit(s) today Post Views: 3 QRIS donasi Yufid


Oleh: Dr. Amir bin Muhammad al-Mudari Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudaraku tercinta! Berapa kali kita melalui momen-momen yang memaksa kita untuk meninggalkan sesuatu yang kita sukai atau kita sudah nyaman dengan hal itu, dan kita mungkin sudah meninggalkannya dengan rasa harap mendapat keridhaan Allah? Apakah kita pernah memikirkan tentang ganti yang Allah janjikan kepada kita atas kehilangan itu? Seperti yang disebutkan dalam satu atsar:  مَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلَّهِ عَوَّضَهُ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.” Wahai saudara-saudaraku yang saya cintai karena Allah! Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjanjikan bagi para hamba-Nya yang saleh, siapa yang meninggalkan sesuatu di jalan-Nya, baik itu berupa harta, gejolak nafsu, kebiasaan, atau dosa, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberinya ganti dengan sesuatu yang lebih baik, ganti yang tidak tertandingi nilainya daripada dengan sesuatu yang hilang. Bisa jadi ganti itu diberikan di dunia atau di akhirat, dan ganti terbaiknya selalu kita harapkan berupa ganjaran terbesar di surga. Diriwayatkan dalam hadis shahih dari Abu Qatadah dan Abu Ad-Dahma’ bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda: إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Sungguh tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, melainkan Allah akan memberimu yang lebih baik darinya.” (Musnad Imam Ahmad jilid 5 hlm. 363). Wahai saudara-saudara! Janji yang agung ini memberi kita semangat untuk bersabar dan berani berkorban dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan dan menjauhi syahwat-syahwat yang menjauhkan kita dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebesar apa pun kerugian duniawi yang dapat menimpa kita, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang yang berbuat baik. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim terdapat riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: إِذَا أَرَادَ عَبْدِي أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَا، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا بِمِثْلِهَا، وَإِنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِي فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً. وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ “Allah berfirman: ‘Apabila hamba-Ku berniat melakukan kejahatan, maka janganlah kalian mencatatnya hingga ia melakukannya. Jika ia melakukannya, catatlah satu kejahatan yang sepadan. Namun jika ia meninggalkannya karena Aku, catatlah baginya satu kebaikan. Dan apabila ia berniat melakukan kebaikan tapi belum melakukannya, catatlah baginya satu kebaikan. Jika ia benar-benar melakukannya, catatlah baginya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Inilah janji dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang akan mengganti dengan kebaikan yang melimpah bagi hamba yang meninggalkan dosa karena mengharap keridhaan-Nya. Inilah bentuk kemurahan agung dari Tuhan kita. Diriwayatkan juga dari Sahal bin Muadz bin Anas Al-Juhani dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ، حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ الْإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا “Barang siapa meninggalkan pakaian (yang mewah) karena tunduk kepada Allah padahal ia mampu memakainya, Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk, lalu memberinya pilihan dari pakaian-pakaian iman mana saja yang ingin ia kenakan.” (HR. At-Tirmidzi 2/79, Al-Hakim 4/183, Ahmad 3/439).  Diriwayatkan dari Sahal juga dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ شَهْوَةً وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهَا تَوَاضُعًا لِلَّهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ “Barang siapa meninggalkan suatu syahwat padahal ia mampu melakukannya, karena tunduk kepada Allah, niscaya Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk.” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitabnya At-Tarikh 6/2/101). Diriwayatkan juga dari Hudzaifah bin Al-Yaman bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: النَّظْرَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومٌ، مَنْ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللَّهِ أَثَابَهُ اللَّهُ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ “Pandangan kepada perempuan adalah salah satu anak panah Iblis yang beracun; siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya iman yang ia merasakan manisnya di dalam hatinya.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak jilid 4 hlm. 313, Al-Qudha’i dalam kitabnya Al-Musnad jilid 1 hlm. 195, dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir no. 10362). Wahai saudara-saudaraku tercinta! Perhatikanlah kisah seorang sahabat Nabi yang mulia ini, Shuhaib Ar-Rumi Radhiyallahu ‘anhu, seorang lelaki yang punya harta melimpah ketika di Makkah. Ketika kaum Musyrikin semakin gencar menzaliminya, ia memutuskan untuk berhijrah ke Madinah, meninggalkan harta dan keluarganya di Makkah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan keridhaan-Nya. Allah memberinya ganti yang lebih baik di akhirat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikannya termasuk penghuni surga, dengan karunia dan rahmat-Nya. Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang diturunkan berkaitan dengan shuhaib dan orang-orang yang berhijrah lainnya, yang meninggalkan dunia demi meraih keridhaan Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridhaan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 207). Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pun bersabda kepadanya: “Wahai Abu Yahya, ini jual beli yang menguntungkan!” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan beliau menilai hadis ini sahih memenuhi syarat keshahihan Imam Muslim). Perhatikanlah kisah Nabi Yusuf Alaihissalam yang meninggalkan kenikmatan dan perhiasan dunia, menolak untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan meskipun godaannya begitu besar, dan beliau lebih memilih dipenjara daripada mengkhianati amanah yang diembannya. Beliau berkata:  قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ … فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ “Dia (Yusuf) berkata: ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka ajak aku kepadanya.’ maka Tuhannya mengabulkan doanya.” (QS. Yusuf: 33-34). Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabulkan doa beliau dan memberi ganti bagi beliau dengan hal yang lebih baik, memberinya kekuasaan di bumi dan kedudukan yang tinggi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الأَرْضِ … وَلاَ نُضِيعُ أَجْرَ المُحْسِنِينَ “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan (kekuasaan) kepada Yusuf di negeri itu, dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 56). Memberi kelonggaran bagi orang yang kesulitan, maka Allah memberi ampunan baginya Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda: كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ: إِذَا جِئْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا. قَالَ: فَلَقِيَ اللَّهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ “Dahulu ada seorang lelaki yang memberi pinjaman kepada orang-orang. Ia berkata kepada pembantunya: ‘Jika engkau mendatangi orang yang kesulitan (tidak mampu membayar utangnya), maka maafkanlah dia, semoga Allah memaafkan kita.’ Maka ketika ia telah berjumpa dengan Allah, Allah pun memaafkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain, dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَلَقَّتْ رُوحَ رَجُلٍ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَقَالُوا لَهُ: هَلْ عَمِلْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ قَالَ: لَا. قَالُوا: تَذَكَّرْ. قَالَ: لَا، إِلَّا أَنِّي كُنْتُ أُدَايِنُ النَّاسَ، فَكُنْتُ آمُرُ فِتْيَانِي أَنْ يُنْظِرُوا الْمُوسِرَ، وَيَتَجَاوَزُوا عَنِ الْمُعْسِرِ. قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: تَجَاوَزُوا عَنْهُ “Sungguh para malaikat menyambut ruh seorang lelaki dari umat sebelum kalian. Mereka berkata kepadanya: ‘Apakah engkau pernah melakukan suatu kebaikan?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Mereka berkata: ‘Coba ingat kembali.’ Ia menjawab: ‘Tidak, kecuali aku dahulu memberi pinjaman kepada orang-orang, aku memerintahkan para pembantuku agar memberi kelonggaran kepada orang yang mampu dan memaafkan orang yang kesulitan membayar.’ Lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Maafkanlah dia.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Wahai saudara-saudaraku yang tercinta! Janganlah takut meninggalkan sesuatu karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Allah tidak akan mengecewakan harapan orang yang telah bertawakal kepada-Nya. Dia tidak akan memberi ganti bagi hamba-Nya kecuali dengan yang lebih baik, maka kuatkanlah tekad kita dalam meninggalkan hal-hal yang mengundang kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan besarkanlah keyakinanmu bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberi ganti bagi kita dengan sesuatu yang lebih baik daripada yang telah hilang dari kita. Kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang memperhatikan ucapan dan mengikuti yang terbaiknya, menolong kita dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya, dan mengaruniakan kepada kita surga tertinggi, surga Firdaus tanpa hisab. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan salawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/180455/من-ترك-شيئا-لله-عوضه-الله-خيرا-منه/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Sunat Bagi Anak Perempuan, Doa Ketika Menghadapi Masalah, Ucapan Salam, Bahaya Onanisme Bagi Perempuan, Cara Sholat Jamak Takhir Visited 556 times, 241 visit(s) today Post Views: 3 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Keadilan bagi Perempuan, Solusi Konflik Rumah Tangga, dan Hikmah Perpisahan (Tafsir Surah An-Nisa Ayat 127–130)

Surah An-Nisa ayat 127–130 memberikan panduan lengkap tentang dinamika rumah tangga: dari kewajiban adil terhadap perempuan dan anak yatim, solusi saat hubungan retak, hingga kebolehan berpisah ketika tak lagi bisa dipertahankan. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat realistis dalam memandang kehidupan keluarga. Di dalamnya terdapat prinsip keadilan, kelapangan dada, tanggung jawab, dan tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Keadilan bagi Perempuan dan Anak Yatim 2. Damai Itu Lebih Baik: Solusi Saat Rumah Tangga Retak 3. Prinsip Adil dalam Poligami 4. Saat Perpisahan Menjadi Jalan Terbaik 5. Kesimpulan dan Refleksi Praktis 5.1. QS. An-Nisa: 127 5.2. QS. An-Nisa: 128 5.3. QS. An-Nisa: 129 5.4. QS. An-Nisa: 130  Keadilan bagi Perempuan dan Anak YatimAllah Ta’ala berfirman,وَيَسْتَفْتُونَكَ فِى ٱلنِّسَآءِ ۖ قُلِ ٱللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِى ٱلْكِتَٰبِ فِى يَتَٰمَى ٱلنِّسَآءِ ٱلَّٰتِى لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرْغَبُونَ أَن تَنكِحُوهُنَّ وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلْوِلْدَٰنِ وَأَن تَقُومُوا۟ لِلْيَتَٰمَىٰ بِٱلْقِسْطِ ۚ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِهِۦ عَلِيمًا“Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya.” (QS. An-Nisa: 127)Ayat ini menegaskan kembali pentingnya memberikan mahar dan hak waris kepada wanita yatim. Ada teguran bagi wali yang ingin menikahi wanita yatim di bawah asuhannya hanya karena mengincar hartanya atau kecantikannya namun tidak mau memberikan haknya secara penuh.Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya.Al-istifta’ adalah permintaan seseorang kepada pihak yang berwenang untuk menjelaskan hukum syariat mengenai suatu perkara.Dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwa kaum mukminin meminta fatwa kepada Rasulullah ﷺ tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan para wanita. Lalu Allah sendiri yang mengambil alih penjelasan hukum tersebut dengan berfirman:{قُلِ ٱللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ}“Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka.”Artinya, amalkanlah apa yang Allah fatwakan kepada kalian dalam seluruh urusan yang berkaitan dengan wanita: menunaikan hak-hak mereka dan meninggalkan segala bentuk kezaliman terhadap mereka, baik secara umum maupun khusus.Perintah ini bersifat umum, mencakup seluruh hukum yang Allah syariatkan terkait wanita, baik perintah maupun larangan, baik bagi istri maupun selainnya, baik yang masih kecil maupun yang sudah dewasa.Setelah penegasan umum tersebut, Allah secara khusus menekankan wasiat tentang orang-orang yang lemah, yaitu anak-anak yatim dan anak-anak kecil, sebagai bentuk perhatian besar terhadap mereka dan sebagai peringatan keras agar tidak menyia-nyiakan hak mereka.Allah berfirman:{وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِي ٱلْكِتَابِ فِي يَتَامَى ٱلنِّسَاءِ}“Dan juga tentang apa yang dibacakan kepadamu dalam Kitab mengenai wanita-wanita yatim.”Yakni Allah juga memberi fatwa kepada kalian tentang hukum yang telah dibacakan dalam Al-Qur’an terkait para wanita yatim.Kemudian Allah menjelaskan kondisi yang terjadi saat itu:{ٱلَّاتِي لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ}“Yaitu wanita-wanita yatim yang tidak kamu berikan kepada mereka apa yang telah ditetapkan untuk mereka.”Pada masa itu, seorang anak yatim perempuan yang berada dalam perwalian seorang laki-laki seringkali dizalimi. Bentuk kezaliman itu bermacam-macam:Walinya memakan seluruh atau sebagian hartanya.Ia menahannya dari pernikahan agar tetap bisa memanfaatkan hartanya, karena khawatir jika ia menikah, hartanya akan lepas dari tangannya.Ia mengambil sebagian mahar anak yatim tersebut, baik dengan syarat tertentu atau tanpa syarat.Jika wali tersebut tidak tertarik untuk menikahinya, ia menahannya demi hartanya. Jika ia tertarik karena kecantikan dan hartanya, ia tetap tidak berlaku adil dalam mahar, melainkan memberinya kurang dari yang semestinya ia terima.Semua bentuk perlakuan ini termasuk kezaliman yang tercakup dalam ayat ini.Karena itu Allah berfirman:{وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ}“Sedangkan kamu ingin menikahi mereka.”Maksudnya, kalian bisa jadi tidak ingin menikahi mereka, atau justru ingin menikahi mereka, sebagaimana telah dijelaskan contohnya. Dalam kedua keadaan tersebut, kalian tetap diperintahkan untuk berlaku adil dan tidak menzalimi.Kemudian Allah menyebutkan:{وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلْوِلْدَانِ}“Dan juga tentang anak-anak yang lemah.”Yakni Allah memberi fatwa kepada kalian mengenai anak-anak kecil yang lemah agar kalian memberikan hak mereka, baik dalam warisan maupun selainnya, dan agar kalian tidak menguasai harta mereka dengan cara zalim dan sewenang-wenang.Selanjutnya Allah berfirman:{وَأَنْ تَقُومُوا لِلْيَتَامَىٰ بِٱلْقِسْطِ}“Dan hendaklah kamu berlaku adil terhadap anak-anak yatim.”Artinya, berlaku dengan keadilan yang sempurna.Ini mencakup dua hal:Menegakkan kewajiban agama atas mereka, dengan membimbing mereka kepada perintah Allah dan kewajiban syariat. Para wali bertanggung jawab untuk mengarahkan dan mewajibkan mereka dalam hal-hal yang Allah wajibkan.Mengurus kepentingan duniawi mereka, seperti mengembangkan harta mereka dan mencari yang paling bermanfaat bagi mereka, serta tidak mendekati harta mereka kecuali dengan cara yang terbaik.Selain itu, tidak boleh memihak teman atau siapa pun dalam urusan mereka—baik dalam pernikahan maupun yang lainnya—dengan cara yang merugikan hak anak yatim tersebut.Semua ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah sangat menekankan agar diperhatikan kepentingan orang-orang yang tidak mampu mengurus dirinya sendiri karena kelemahan dan kehilangan ayah.Kemudian Allah mendorong untuk berbuat baik secara umum:{وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ}“Dan apa pun kebaikan yang kamu kerjakan,”baik kepada anak-anak yatim maupun kepada selain mereka, baik kebaikan yang manfaatnya meluas kepada orang lain maupun yang manfaatnya kembali kepada diri sendiri,{فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِهِ عَلِيمًا}“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”Ilmu Allah meliputi seluruh amal perbuatan para pelaku kebaikan—baik sedikit maupun banyak, baik yang baik maupun yang sebaliknya—dan Dia akan membalas setiap orang sesuai dengan amalnya.Demikian penjelasan dari Syaikh As-Sa’di. Adapun penerapan ayat tersebut di antaranya:Jangan memanfaatkan kelemahan pihak yang lemah. Anak yatim, anak kecil, perempuan yang berada di bawah perwalian, atau siapa pun yang bergantung secara finansial tidak boleh dimanfaatkan demi keuntungan pribadi, baik dalam urusan harta, pernikahan, maupun keputusan hidup.Kelola harta amanah secara profesional dan transparan. Jika mengurus harta anak yatim atau anggota keluarga yang belum cakap hukum, kelola dengan penuh tanggung jawab, transparan, dan demi maslahat mereka—bukan demi kepentingan pribadi.Adil dalam urusan pernikahan.Jangan menghalangi perempuan menikah demi kepentingan ekonomi keluarga. Jangan pula menekan mahar atau hak-haknya karena posisi tawar yang lemah.Damai Itu Lebih Baik: Solusi Saat Rumah Tangga RetakAllah Ta’ala berfirman,وَإِنِ ٱمْرَأَةٌ خَافَتْ مِنۢ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ ۚ وَإِن تُحْسِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 128)Jika terjadi ketidakharmonisan (nushuz) dari pihak suami (seperti sikap dingin atau tidak perhatian), Al-Qur’an menganjurkan jalan perdamaian. Istri diperbolehkan merelakan sebagian haknya (misalnya jatah waktu atau nafkah) demi mempertahankan ikatan pernikahan. Prinsipnya adalah “perdamaian itu lebih baik” daripada perceraian.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas.Jika seorang istri merasa khawatir akan nusyuz suaminya—yakni suami mulai meninggikan diri darinya, tidak lagi tertarik, atau berpaling dan tidak peduli—maka jalan terbaik dalam kondisi seperti ini adalah keduanya melakukan perdamaian.Perdamaian itu bisa berupa kesediaan istri untuk menggugurkan sebagian haknya agar tetap dapat mempertahankan rumah tangga. Misalnya:Rela menerima nafkah yang lebih sedikit dari standar yang semestinya.Rela dalam pembagian giliran (bagi yang berpoligami), dengan menggugurkan jatahnya.Menghibahkan hari atau malamnya kepada suami atau kepada istri yang lain.Jika keduanya sepakat atas bentuk perdamaian tersebut, maka tidak ada dosa atas keduanya. Suami boleh tetap bersama istrinya dalam keadaan seperti itu. Dan keadaan ini lebih baik daripada perceraian.Karena itu Allah menegaskan:{وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ}“Dan perdamaian itu lebih baik.”Dari keumuman lafaz ini dipahami bahwa perdamaian dalam setiap perselisihan dan sengketa lebih baik daripada masing-masing pihak menuntut seluruh haknya secara kaku. Sebab dalam perdamaian terdapat perbaikan hubungan, terjaganya kasih sayang, dan tumbuhnya sikap lapang dada.Namun, perdamaian itu sah selama tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang halal. Jika sampai melanggar syariat, maka itu bukan perdamaian, melainkan kezaliman.Setiap hukum tidak akan sempurna kecuali dengan adanya pendorong dan hilangnya penghalang. Dalam masalah perdamaian ini, Allah menyebutkan pendorongnya: karena perdamaian itu baik, dan setiap orang berakal tentu mencintai kebaikan. Apalagi jika Allah sendiri yang memerintahkan dan menganjurkannya, maka seorang mukmin semakin terdorong untuk melakukannya.Adapun penghalangnya adalah:{وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ}“Dan manusia itu menurut tabiatnya kikir.”Jiwa manusia secara naluriah itu syuhh, yaitu berat untuk melepaskan haknya dan sangat ingin mempertahankan apa yang menjadi bagiannya. Ia enggan memberi, tetapi ingin menerima sepenuhnya.Karena itu seseorang harus berusaha membersihkan dirinya dari sifat tercela ini dan menggantinya dengan sifat lapang dada: bersedia menunaikan kewajiban dan rela menerima sebagian haknya saja.Jika seseorang berhasil memiliki sifat ini, maka perdamaian dengan pasangan atau dengan siapa pun akan menjadi mudah. Namun jika ia tetap dikuasai sifat kikir dan egois, maka perdamaian akan sulit tercapai, apalagi jika kedua belah pihak sama-sama keras mempertahankan haknya.Kemudian Allah menutup ayat ini dengan dorongan yang agung:{وَإِن تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا}“Dan jika kamu berbuat baik dan bertakwa.”Berbuat baik kepada Allah dengan beribadah seakan-akan melihat-Nya; jika tidak mampu, maka yakinlah bahwa Dia melihat kita. Berbuat baik kepada sesama dengan segala bentuk kebaikan: harta, ilmu, kedudukan, atau bantuan apa pun.Dan bertakwa dengan melaksanakan semua perintah dan meninggalkan semua larangan.{فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا}“Maka sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”Allah mengetahui lahir dan batin perbuatan hamba. Dia mencatat, menjaga, dan akan membalasnya dengan balasan yang sempurna.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini.Saudah binti Zam‘ah radhiyallahu ‘anha telah berusia lanjut, Rasulullah ﷺ berkeinginan untuk berpisah darinya. Maka Saudah mengajukan perdamaian agar tetap dipertahankan sebagai istri, dengan syarat ia menyerahkan hari gilirannya kepada Aisyah. Nabi ﷺ menerima hal itu dan tetap mempertahankannya sebagai istri.Diriwayatkan bahwa: Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Saudah khawatir Rasulullah ﷺ akan menceraikannya. Maka ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, jangan ceraikan aku dan jadikan hari giliranku untuk Aisyah.’ Maka beliau pun melakukannya. Lalu turunlah ayat ini: ‘Dan jika seorang perempuan khawatir akan nusyuz atau sikap tidak peduli dari suaminya…’.” Ibnu Abbas berkata: “Maka apa saja yang disepakati keduanya dalam perdamaian itu, hukumnya boleh.”Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Istri-Istri Nabi, Saudah dan HafshahRefleksi: Ayat ini menunjukkan keluwesan syariat dalam menjaga stabilitas keluarga. Tidak semua masalah harus berujung perpisahan. Selama masih ada ruang untuk kompromi yang halal dan saling ridha, maka perdamaian itu lebih baik.Dan semua itu kembali pada kemampuan menundukkan sifat syuḥḥ dalam jiwa—yakni berat melepaskan hak dan ingin menang sendiri. Ketika jiwa dilatih untuk lapang dan mengutamakan maslahat yang lebih besar, maka rumah tangga lebih mudah diselamatkan.Baca juga: Do’a Agar Diselamatkan dari Penyakit ‘Syuh’ (Tamak & Kikir)Prinsip Adil dalam PoligamiAllah Ta’ala berfirman,وَلَن تَسْتَطِيعُوٓا۟ أَن تَعْدِلُوا۟ بَيْنَ ٱلنِّسَآءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا۟ كُلَّ ٱلْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَٱلْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِن تُصْلِحُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 129)Allah menegaskan bahwa secara tabiat, manusia tidak akan pernah bisa adil 100% dalam hal perasaan (cinta) di antara istri-istri. Namun, yang dilarang adalah keadilan dalam hal lahiriyah (nafkah dan waktu). Suami dilarang terlalu condong kepada satu istri sehingga istri yang lain terabaikan seperti “tergantung” (tidak memiliki status yang jelas sebagai istri namun tidak pula diceraikan).Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala mengabarkan bahwa para suami tidak akan mampu dan memang tidak berada dalam kekuasaan mereka untuk berbuat adil secara sempurna di antara para istri.Sebab keadilan yang sempurna menuntut kesamaan dalam cinta, dorongan batin, dan kecenderungan hati kepada mereka secara seimbang, lalu bertindak sesuai dengan kecenderungan itu. Hal seperti ini mustahil dan tidak mungkin dilakukan.Karena itulah Allah memaafkan perkara yang tidak mampu dilakukan, dan melarang sesuatu yang masih dalam batas kemampuan, dengan firman-Nya:{فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ}“Maka janganlah kamu terlalu condong (kepada salah satu), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.”Artinya, janganlah kalian condong secara berlebihan sehingga hak-hak wajib istri tidak ditunaikan. Lakukanlah keadilan dalam perkara yang mampu kalian lakukan.Dalam hal nafkah, pakaian, giliran bermalam, dan hak-hak lahiriah lainnya, kalian wajib berlaku adil. Adapun dalam hal cinta, kecenderungan hati, dan hubungan batin semisalnya, itu di luar kemampuan manusia.Jika seorang suami meninggalkan hak-hak wajib istrinya, maka istrinya akan menjadi seperti wanita yang “tergantung”: bukan istri yang mendapat hak penuh sehingga tenang, dan bukan pula wanita yang bebas sehingga bisa menikah lagi.Kemudian Allah berfirman:{وَإِنْ تُصْلِحُوا}“Dan jika kamu memperbaiki…”Yakni memperbaiki hubungan antara kalian dan para istri dengan memaksa diri melakukan hal yang mungkin tidak disukai jiwa, demi menunaikan hak mereka dan mengharap pahala.Termasuk juga memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, serta mendamaikan orang-orang yang berselisih. Ayat ini mendorong semua jalan yang mengantarkan pada perdamaian, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.Lalu Allah berfirman:{وَتَتَّقُوا}“Dan jika kamu bertakwa…”Yakni bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah, meninggalkan larangan, serta bersabar terhadap ketentuan yang Allah takdirkan.{فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا}“Maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Allah mengampuni dosa dan kekurangan kalian dalam menunaikan hak yang wajib, serta merahmati kalian sebagaimana kalian menyayangi dan berbuat lembut kepada para istri.Baca juga: Hukum Poligami: Ketentuan Menikah dengan Empat Istri dalam Islam Saat Perpisahan Menjadi Jalan TerbaikAllah Ta’ala berfirman,وَإِن يَتَفَرَّقَا يُغْنِ ٱللَّهُ كُلًّا مِّن سَعَتِهِۦ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ وَٰسِعًا حَكِيمًا“Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 130)Ayat ini memberikan ketenangan bagi pasangan yang memang sudah tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangga. Perceraian bukanlah akhir dari segalanya; Allah menjanjikan akan memberikan kecukupan bagi masing-masing pihak melalui karunia-Nya yang luas. Hal ini mendidik umat agar tidak saling menzalimi hanya karena takut akan masa depan ekonomi pasca cerai.Imam Ibnu Katsir saat menjelaskan ayat 128 menyatakan:Allah Ta’ala mengabarkan sekaligus menetapkan hukum tentang keadaan suami istri:terkadang dalam kondisi suami menjauh dan tidak lagi berkenan kepada istrinya,terkadang dalam kondisi keduanya masih rukun dan sepakat,dan terkadang dalam kondisi keduanya berpisah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan sebagai berikut.Inilah keadaan ketiga dalam hubungan suami istri. Jika kesepakatan tidak lagi mungkin dicapai, maka tidak mengapa terjadi perpisahan. Allah berfirman:{وَإِنْ يَتَفَرَّقَا}“Dan jika keduanya berpisah…”Yakni melalui talak, fasakh, khulu’, atau bentuk perpisahan lainnya.{يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ}“Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari keluasan karunia-Nya.”Artinya, Allah akan mencukupi suami dan istri dengan karunia dan kebaikan-Nya yang luas. Bisa jadi suami diberi istri yang lebih baik baginya, dan istri pun diberi kecukupan dari karunia Allah meskipun ia tidak lagi bersama suaminya. Rezekinya tetap berada di tangan Allah yang menjamin rezeki seluruh makhluk dan mengatur kemaslahatan mereka.Boleh jadi Allah memberinya pasangan yang lebih baik dari sebelumnya.Kemudian Allah berfirman:{وَكَانَ اللَّهُ وَاسِعًا}“Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya).”Yakni luas karunia dan rahmat-Nya. Rahmat dan kebaikan-Nya meliputi segala sesuatu sebagaimana ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.Namun Allah juga:{حَكِيمًا}“Maha Bijaksana.”Dia memberi karena hikmah dan menahan karena hikmah. Jika hikmah-Nya menuntut untuk menahan sebagian hamba dari karunia tertentu—karena ada sebab dari diri hamba yang tidak layak mendapatkan tambahan kebaikan—maka Allah menahannya dengan keadilan dan kebijaksanaan. Kesimpulan dan Refleksi PraktisQS. An-Nisa: 127Ayat ini menegaskan bahwa keadilan dalam keluarga adalah amanah besar, terutama terhadap pihak yang lemah seperti perempuan dan anak yatim. Dalam praktik rumah tangga hari ini, ini berarti tidak boleh ada manipulasi harta, tekanan dalam pernikahan, atau pengambilan keputusan sepihak yang merugikan pihak yang lebih lemah. Wali, orang tua, atau siapa pun yang memegang kendali finansial wajib bersikap transparan dan bertanggung jawab. Setiap bentuk kebaikan dan kejujuran dalam menjaga hak keluarga tidak pernah luput dari pengawasan Allah, sehingga keadilan harus ditegakkan bukan hanya karena hukum sosial, tetapi karena kesadaran iman.QS. An-Nisa: 128Ayat ini mengajarkan bahwa ketika rumah tangga mulai retak karena sikap dingin atau berpalingnya pasangan, solusi pertama adalah perdamaian, bukan perpisahan. Dalam kehidupan modern, ini berarti membuka ruang dialog, menurunkan ego, dan bersedia berkompromi selama tidak melanggar syariat. Tidak semua hak harus dituntut secara maksimal jika itu menghancurkan hubungan; kadang merelakan sebagian hak adalah jalan untuk menjaga keutuhan keluarga. Namun perdamaian harus dibangun di atas kerelaan dan kejujuran, bukan paksaan atau kezaliman. Tantangan terbesar dalam konflik bukan kurangnya cinta, tetapi kuatnya sifat egois dalam diri, dan di situlah latihan takwa menjadi kunci.QS. An-Nisa: 129Ayat ini memberikan keseimbangan antara idealisme dan realitas. Adil sepenuhnya dalam urusan hati memang mustahil, tetapi adil dalam hak-hak lahiriah adalah kewajiban. Dalam praktiknya, suami tidak boleh menelantarkan salah satu istri dalam nafkah, perhatian, dan tanggung jawab yang bisa diusahakan. Prinsip ini juga relevan secara umum dalam rumah tangga: jangan membiarkan pasangan merasa “tergantung”, tidak bahagia tetapi juga tidak diberi kejelasan. Allah memaafkan kekurangan yang di luar kemampuan manusia, tetapi tidak membenarkan kezaliman dalam perkara yang mampu dilakukan. Karena itu, keadilan lahir dari kesungguhan memperbaiki diri dan kesadaran bahwa Allah Maha Mengawasi.QS. An-Nisa: 130Ayat ini memberi ketenangan bahwa jika seluruh upaya perbaikan gagal dan kebersamaan justru membawa mudarat, maka perpisahan bukanlah dosa. Dalam konteks masa kini, pasangan tidak perlu bertahan dalam hubungan yang penuh kezaliman hanya karena takut kehilangan nafkah atau masa depan. Allah yang menyatukan juga Allah yang mencukupi setelah perpisahan. Namun keputusan ini harus menjadi jalan terakhir setelah usaha ishlah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sikap tawakal dan husnuzan kepada Allah menjadi penopang utama, karena Dia Maha Luas karunia-Nya dan Maha Bijaksana dalam setiap takdir-Nya.Semoga Allah menjadikan rumah tangga kita dibangun di atas keadilan, kelapangan hati, dan ketakwaan. Semoga Dia menjaga kita dari sifat zalim, egois, dan kikir terhadap hak pasangan, serta memberi taufik untuk selalu memilih perdamaian selama itu baik dan diridai-Nya.Ya Allah, perbaikilah hubungan kami dengan pasangan dan keluarga kami, lapangkan hati kami untuk menunaikan hak-hak mereka, dan jika Engkau takdirkan ujian dalam rumah tangga kami, maka berikanlah jalan keluar terbaik serta kecukupan dari keluasan karunia-Mu. Aamiin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic   —– Ahad sore sebelum Maghrib, 5 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadil dalam poligami fikih keluarga hak anak yatim hak perempuan dalam Islam hukum perceraian dalam Islam hukum rumah tangga dalam Islam keadilan dalam islam keluarga sakinah nasihat pernikahan Islami nusyuz dalam rumah tangga perdamaian dalam Islam poligami poligami dalam Islam renungan ayat renungan quran solusi konflik rumah tangga syarat poligami syuhh dalam Islam talak dalam Islam

Keadilan bagi Perempuan, Solusi Konflik Rumah Tangga, dan Hikmah Perpisahan (Tafsir Surah An-Nisa Ayat 127–130)

Surah An-Nisa ayat 127–130 memberikan panduan lengkap tentang dinamika rumah tangga: dari kewajiban adil terhadap perempuan dan anak yatim, solusi saat hubungan retak, hingga kebolehan berpisah ketika tak lagi bisa dipertahankan. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat realistis dalam memandang kehidupan keluarga. Di dalamnya terdapat prinsip keadilan, kelapangan dada, tanggung jawab, dan tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Keadilan bagi Perempuan dan Anak Yatim 2. Damai Itu Lebih Baik: Solusi Saat Rumah Tangga Retak 3. Prinsip Adil dalam Poligami 4. Saat Perpisahan Menjadi Jalan Terbaik 5. Kesimpulan dan Refleksi Praktis 5.1. QS. An-Nisa: 127 5.2. QS. An-Nisa: 128 5.3. QS. An-Nisa: 129 5.4. QS. An-Nisa: 130  Keadilan bagi Perempuan dan Anak YatimAllah Ta’ala berfirman,وَيَسْتَفْتُونَكَ فِى ٱلنِّسَآءِ ۖ قُلِ ٱللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِى ٱلْكِتَٰبِ فِى يَتَٰمَى ٱلنِّسَآءِ ٱلَّٰتِى لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرْغَبُونَ أَن تَنكِحُوهُنَّ وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلْوِلْدَٰنِ وَأَن تَقُومُوا۟ لِلْيَتَٰمَىٰ بِٱلْقِسْطِ ۚ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِهِۦ عَلِيمًا“Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya.” (QS. An-Nisa: 127)Ayat ini menegaskan kembali pentingnya memberikan mahar dan hak waris kepada wanita yatim. Ada teguran bagi wali yang ingin menikahi wanita yatim di bawah asuhannya hanya karena mengincar hartanya atau kecantikannya namun tidak mau memberikan haknya secara penuh.Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya.Al-istifta’ adalah permintaan seseorang kepada pihak yang berwenang untuk menjelaskan hukum syariat mengenai suatu perkara.Dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwa kaum mukminin meminta fatwa kepada Rasulullah ﷺ tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan para wanita. Lalu Allah sendiri yang mengambil alih penjelasan hukum tersebut dengan berfirman:{قُلِ ٱللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ}“Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka.”Artinya, amalkanlah apa yang Allah fatwakan kepada kalian dalam seluruh urusan yang berkaitan dengan wanita: menunaikan hak-hak mereka dan meninggalkan segala bentuk kezaliman terhadap mereka, baik secara umum maupun khusus.Perintah ini bersifat umum, mencakup seluruh hukum yang Allah syariatkan terkait wanita, baik perintah maupun larangan, baik bagi istri maupun selainnya, baik yang masih kecil maupun yang sudah dewasa.Setelah penegasan umum tersebut, Allah secara khusus menekankan wasiat tentang orang-orang yang lemah, yaitu anak-anak yatim dan anak-anak kecil, sebagai bentuk perhatian besar terhadap mereka dan sebagai peringatan keras agar tidak menyia-nyiakan hak mereka.Allah berfirman:{وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِي ٱلْكِتَابِ فِي يَتَامَى ٱلنِّسَاءِ}“Dan juga tentang apa yang dibacakan kepadamu dalam Kitab mengenai wanita-wanita yatim.”Yakni Allah juga memberi fatwa kepada kalian tentang hukum yang telah dibacakan dalam Al-Qur’an terkait para wanita yatim.Kemudian Allah menjelaskan kondisi yang terjadi saat itu:{ٱلَّاتِي لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ}“Yaitu wanita-wanita yatim yang tidak kamu berikan kepada mereka apa yang telah ditetapkan untuk mereka.”Pada masa itu, seorang anak yatim perempuan yang berada dalam perwalian seorang laki-laki seringkali dizalimi. Bentuk kezaliman itu bermacam-macam:Walinya memakan seluruh atau sebagian hartanya.Ia menahannya dari pernikahan agar tetap bisa memanfaatkan hartanya, karena khawatir jika ia menikah, hartanya akan lepas dari tangannya.Ia mengambil sebagian mahar anak yatim tersebut, baik dengan syarat tertentu atau tanpa syarat.Jika wali tersebut tidak tertarik untuk menikahinya, ia menahannya demi hartanya. Jika ia tertarik karena kecantikan dan hartanya, ia tetap tidak berlaku adil dalam mahar, melainkan memberinya kurang dari yang semestinya ia terima.Semua bentuk perlakuan ini termasuk kezaliman yang tercakup dalam ayat ini.Karena itu Allah berfirman:{وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ}“Sedangkan kamu ingin menikahi mereka.”Maksudnya, kalian bisa jadi tidak ingin menikahi mereka, atau justru ingin menikahi mereka, sebagaimana telah dijelaskan contohnya. Dalam kedua keadaan tersebut, kalian tetap diperintahkan untuk berlaku adil dan tidak menzalimi.Kemudian Allah menyebutkan:{وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلْوِلْدَانِ}“Dan juga tentang anak-anak yang lemah.”Yakni Allah memberi fatwa kepada kalian mengenai anak-anak kecil yang lemah agar kalian memberikan hak mereka, baik dalam warisan maupun selainnya, dan agar kalian tidak menguasai harta mereka dengan cara zalim dan sewenang-wenang.Selanjutnya Allah berfirman:{وَأَنْ تَقُومُوا لِلْيَتَامَىٰ بِٱلْقِسْطِ}“Dan hendaklah kamu berlaku adil terhadap anak-anak yatim.”Artinya, berlaku dengan keadilan yang sempurna.Ini mencakup dua hal:Menegakkan kewajiban agama atas mereka, dengan membimbing mereka kepada perintah Allah dan kewajiban syariat. Para wali bertanggung jawab untuk mengarahkan dan mewajibkan mereka dalam hal-hal yang Allah wajibkan.Mengurus kepentingan duniawi mereka, seperti mengembangkan harta mereka dan mencari yang paling bermanfaat bagi mereka, serta tidak mendekati harta mereka kecuali dengan cara yang terbaik.Selain itu, tidak boleh memihak teman atau siapa pun dalam urusan mereka—baik dalam pernikahan maupun yang lainnya—dengan cara yang merugikan hak anak yatim tersebut.Semua ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah sangat menekankan agar diperhatikan kepentingan orang-orang yang tidak mampu mengurus dirinya sendiri karena kelemahan dan kehilangan ayah.Kemudian Allah mendorong untuk berbuat baik secara umum:{وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ}“Dan apa pun kebaikan yang kamu kerjakan,”baik kepada anak-anak yatim maupun kepada selain mereka, baik kebaikan yang manfaatnya meluas kepada orang lain maupun yang manfaatnya kembali kepada diri sendiri,{فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِهِ عَلِيمًا}“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”Ilmu Allah meliputi seluruh amal perbuatan para pelaku kebaikan—baik sedikit maupun banyak, baik yang baik maupun yang sebaliknya—dan Dia akan membalas setiap orang sesuai dengan amalnya.Demikian penjelasan dari Syaikh As-Sa’di. Adapun penerapan ayat tersebut di antaranya:Jangan memanfaatkan kelemahan pihak yang lemah. Anak yatim, anak kecil, perempuan yang berada di bawah perwalian, atau siapa pun yang bergantung secara finansial tidak boleh dimanfaatkan demi keuntungan pribadi, baik dalam urusan harta, pernikahan, maupun keputusan hidup.Kelola harta amanah secara profesional dan transparan. Jika mengurus harta anak yatim atau anggota keluarga yang belum cakap hukum, kelola dengan penuh tanggung jawab, transparan, dan demi maslahat mereka—bukan demi kepentingan pribadi.Adil dalam urusan pernikahan.Jangan menghalangi perempuan menikah demi kepentingan ekonomi keluarga. Jangan pula menekan mahar atau hak-haknya karena posisi tawar yang lemah.Damai Itu Lebih Baik: Solusi Saat Rumah Tangga RetakAllah Ta’ala berfirman,وَإِنِ ٱمْرَأَةٌ خَافَتْ مِنۢ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ ۚ وَإِن تُحْسِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 128)Jika terjadi ketidakharmonisan (nushuz) dari pihak suami (seperti sikap dingin atau tidak perhatian), Al-Qur’an menganjurkan jalan perdamaian. Istri diperbolehkan merelakan sebagian haknya (misalnya jatah waktu atau nafkah) demi mempertahankan ikatan pernikahan. Prinsipnya adalah “perdamaian itu lebih baik” daripada perceraian.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas.Jika seorang istri merasa khawatir akan nusyuz suaminya—yakni suami mulai meninggikan diri darinya, tidak lagi tertarik, atau berpaling dan tidak peduli—maka jalan terbaik dalam kondisi seperti ini adalah keduanya melakukan perdamaian.Perdamaian itu bisa berupa kesediaan istri untuk menggugurkan sebagian haknya agar tetap dapat mempertahankan rumah tangga. Misalnya:Rela menerima nafkah yang lebih sedikit dari standar yang semestinya.Rela dalam pembagian giliran (bagi yang berpoligami), dengan menggugurkan jatahnya.Menghibahkan hari atau malamnya kepada suami atau kepada istri yang lain.Jika keduanya sepakat atas bentuk perdamaian tersebut, maka tidak ada dosa atas keduanya. Suami boleh tetap bersama istrinya dalam keadaan seperti itu. Dan keadaan ini lebih baik daripada perceraian.Karena itu Allah menegaskan:{وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ}“Dan perdamaian itu lebih baik.”Dari keumuman lafaz ini dipahami bahwa perdamaian dalam setiap perselisihan dan sengketa lebih baik daripada masing-masing pihak menuntut seluruh haknya secara kaku. Sebab dalam perdamaian terdapat perbaikan hubungan, terjaganya kasih sayang, dan tumbuhnya sikap lapang dada.Namun, perdamaian itu sah selama tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang halal. Jika sampai melanggar syariat, maka itu bukan perdamaian, melainkan kezaliman.Setiap hukum tidak akan sempurna kecuali dengan adanya pendorong dan hilangnya penghalang. Dalam masalah perdamaian ini, Allah menyebutkan pendorongnya: karena perdamaian itu baik, dan setiap orang berakal tentu mencintai kebaikan. Apalagi jika Allah sendiri yang memerintahkan dan menganjurkannya, maka seorang mukmin semakin terdorong untuk melakukannya.Adapun penghalangnya adalah:{وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ}“Dan manusia itu menurut tabiatnya kikir.”Jiwa manusia secara naluriah itu syuhh, yaitu berat untuk melepaskan haknya dan sangat ingin mempertahankan apa yang menjadi bagiannya. Ia enggan memberi, tetapi ingin menerima sepenuhnya.Karena itu seseorang harus berusaha membersihkan dirinya dari sifat tercela ini dan menggantinya dengan sifat lapang dada: bersedia menunaikan kewajiban dan rela menerima sebagian haknya saja.Jika seseorang berhasil memiliki sifat ini, maka perdamaian dengan pasangan atau dengan siapa pun akan menjadi mudah. Namun jika ia tetap dikuasai sifat kikir dan egois, maka perdamaian akan sulit tercapai, apalagi jika kedua belah pihak sama-sama keras mempertahankan haknya.Kemudian Allah menutup ayat ini dengan dorongan yang agung:{وَإِن تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا}“Dan jika kamu berbuat baik dan bertakwa.”Berbuat baik kepada Allah dengan beribadah seakan-akan melihat-Nya; jika tidak mampu, maka yakinlah bahwa Dia melihat kita. Berbuat baik kepada sesama dengan segala bentuk kebaikan: harta, ilmu, kedudukan, atau bantuan apa pun.Dan bertakwa dengan melaksanakan semua perintah dan meninggalkan semua larangan.{فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا}“Maka sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”Allah mengetahui lahir dan batin perbuatan hamba. Dia mencatat, menjaga, dan akan membalasnya dengan balasan yang sempurna.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini.Saudah binti Zam‘ah radhiyallahu ‘anha telah berusia lanjut, Rasulullah ﷺ berkeinginan untuk berpisah darinya. Maka Saudah mengajukan perdamaian agar tetap dipertahankan sebagai istri, dengan syarat ia menyerahkan hari gilirannya kepada Aisyah. Nabi ﷺ menerima hal itu dan tetap mempertahankannya sebagai istri.Diriwayatkan bahwa: Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Saudah khawatir Rasulullah ﷺ akan menceraikannya. Maka ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, jangan ceraikan aku dan jadikan hari giliranku untuk Aisyah.’ Maka beliau pun melakukannya. Lalu turunlah ayat ini: ‘Dan jika seorang perempuan khawatir akan nusyuz atau sikap tidak peduli dari suaminya…’.” Ibnu Abbas berkata: “Maka apa saja yang disepakati keduanya dalam perdamaian itu, hukumnya boleh.”Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Istri-Istri Nabi, Saudah dan HafshahRefleksi: Ayat ini menunjukkan keluwesan syariat dalam menjaga stabilitas keluarga. Tidak semua masalah harus berujung perpisahan. Selama masih ada ruang untuk kompromi yang halal dan saling ridha, maka perdamaian itu lebih baik.Dan semua itu kembali pada kemampuan menundukkan sifat syuḥḥ dalam jiwa—yakni berat melepaskan hak dan ingin menang sendiri. Ketika jiwa dilatih untuk lapang dan mengutamakan maslahat yang lebih besar, maka rumah tangga lebih mudah diselamatkan.Baca juga: Do’a Agar Diselamatkan dari Penyakit ‘Syuh’ (Tamak & Kikir)Prinsip Adil dalam PoligamiAllah Ta’ala berfirman,وَلَن تَسْتَطِيعُوٓا۟ أَن تَعْدِلُوا۟ بَيْنَ ٱلنِّسَآءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا۟ كُلَّ ٱلْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَٱلْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِن تُصْلِحُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 129)Allah menegaskan bahwa secara tabiat, manusia tidak akan pernah bisa adil 100% dalam hal perasaan (cinta) di antara istri-istri. Namun, yang dilarang adalah keadilan dalam hal lahiriyah (nafkah dan waktu). Suami dilarang terlalu condong kepada satu istri sehingga istri yang lain terabaikan seperti “tergantung” (tidak memiliki status yang jelas sebagai istri namun tidak pula diceraikan).Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala mengabarkan bahwa para suami tidak akan mampu dan memang tidak berada dalam kekuasaan mereka untuk berbuat adil secara sempurna di antara para istri.Sebab keadilan yang sempurna menuntut kesamaan dalam cinta, dorongan batin, dan kecenderungan hati kepada mereka secara seimbang, lalu bertindak sesuai dengan kecenderungan itu. Hal seperti ini mustahil dan tidak mungkin dilakukan.Karena itulah Allah memaafkan perkara yang tidak mampu dilakukan, dan melarang sesuatu yang masih dalam batas kemampuan, dengan firman-Nya:{فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ}“Maka janganlah kamu terlalu condong (kepada salah satu), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.”Artinya, janganlah kalian condong secara berlebihan sehingga hak-hak wajib istri tidak ditunaikan. Lakukanlah keadilan dalam perkara yang mampu kalian lakukan.Dalam hal nafkah, pakaian, giliran bermalam, dan hak-hak lahiriah lainnya, kalian wajib berlaku adil. Adapun dalam hal cinta, kecenderungan hati, dan hubungan batin semisalnya, itu di luar kemampuan manusia.Jika seorang suami meninggalkan hak-hak wajib istrinya, maka istrinya akan menjadi seperti wanita yang “tergantung”: bukan istri yang mendapat hak penuh sehingga tenang, dan bukan pula wanita yang bebas sehingga bisa menikah lagi.Kemudian Allah berfirman:{وَإِنْ تُصْلِحُوا}“Dan jika kamu memperbaiki…”Yakni memperbaiki hubungan antara kalian dan para istri dengan memaksa diri melakukan hal yang mungkin tidak disukai jiwa, demi menunaikan hak mereka dan mengharap pahala.Termasuk juga memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, serta mendamaikan orang-orang yang berselisih. Ayat ini mendorong semua jalan yang mengantarkan pada perdamaian, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.Lalu Allah berfirman:{وَتَتَّقُوا}“Dan jika kamu bertakwa…”Yakni bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah, meninggalkan larangan, serta bersabar terhadap ketentuan yang Allah takdirkan.{فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا}“Maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Allah mengampuni dosa dan kekurangan kalian dalam menunaikan hak yang wajib, serta merahmati kalian sebagaimana kalian menyayangi dan berbuat lembut kepada para istri.Baca juga: Hukum Poligami: Ketentuan Menikah dengan Empat Istri dalam Islam Saat Perpisahan Menjadi Jalan TerbaikAllah Ta’ala berfirman,وَإِن يَتَفَرَّقَا يُغْنِ ٱللَّهُ كُلًّا مِّن سَعَتِهِۦ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ وَٰسِعًا حَكِيمًا“Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 130)Ayat ini memberikan ketenangan bagi pasangan yang memang sudah tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangga. Perceraian bukanlah akhir dari segalanya; Allah menjanjikan akan memberikan kecukupan bagi masing-masing pihak melalui karunia-Nya yang luas. Hal ini mendidik umat agar tidak saling menzalimi hanya karena takut akan masa depan ekonomi pasca cerai.Imam Ibnu Katsir saat menjelaskan ayat 128 menyatakan:Allah Ta’ala mengabarkan sekaligus menetapkan hukum tentang keadaan suami istri:terkadang dalam kondisi suami menjauh dan tidak lagi berkenan kepada istrinya,terkadang dalam kondisi keduanya masih rukun dan sepakat,dan terkadang dalam kondisi keduanya berpisah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan sebagai berikut.Inilah keadaan ketiga dalam hubungan suami istri. Jika kesepakatan tidak lagi mungkin dicapai, maka tidak mengapa terjadi perpisahan. Allah berfirman:{وَإِنْ يَتَفَرَّقَا}“Dan jika keduanya berpisah…”Yakni melalui talak, fasakh, khulu’, atau bentuk perpisahan lainnya.{يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ}“Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari keluasan karunia-Nya.”Artinya, Allah akan mencukupi suami dan istri dengan karunia dan kebaikan-Nya yang luas. Bisa jadi suami diberi istri yang lebih baik baginya, dan istri pun diberi kecukupan dari karunia Allah meskipun ia tidak lagi bersama suaminya. Rezekinya tetap berada di tangan Allah yang menjamin rezeki seluruh makhluk dan mengatur kemaslahatan mereka.Boleh jadi Allah memberinya pasangan yang lebih baik dari sebelumnya.Kemudian Allah berfirman:{وَكَانَ اللَّهُ وَاسِعًا}“Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya).”Yakni luas karunia dan rahmat-Nya. Rahmat dan kebaikan-Nya meliputi segala sesuatu sebagaimana ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.Namun Allah juga:{حَكِيمًا}“Maha Bijaksana.”Dia memberi karena hikmah dan menahan karena hikmah. Jika hikmah-Nya menuntut untuk menahan sebagian hamba dari karunia tertentu—karena ada sebab dari diri hamba yang tidak layak mendapatkan tambahan kebaikan—maka Allah menahannya dengan keadilan dan kebijaksanaan. Kesimpulan dan Refleksi PraktisQS. An-Nisa: 127Ayat ini menegaskan bahwa keadilan dalam keluarga adalah amanah besar, terutama terhadap pihak yang lemah seperti perempuan dan anak yatim. Dalam praktik rumah tangga hari ini, ini berarti tidak boleh ada manipulasi harta, tekanan dalam pernikahan, atau pengambilan keputusan sepihak yang merugikan pihak yang lebih lemah. Wali, orang tua, atau siapa pun yang memegang kendali finansial wajib bersikap transparan dan bertanggung jawab. Setiap bentuk kebaikan dan kejujuran dalam menjaga hak keluarga tidak pernah luput dari pengawasan Allah, sehingga keadilan harus ditegakkan bukan hanya karena hukum sosial, tetapi karena kesadaran iman.QS. An-Nisa: 128Ayat ini mengajarkan bahwa ketika rumah tangga mulai retak karena sikap dingin atau berpalingnya pasangan, solusi pertama adalah perdamaian, bukan perpisahan. Dalam kehidupan modern, ini berarti membuka ruang dialog, menurunkan ego, dan bersedia berkompromi selama tidak melanggar syariat. Tidak semua hak harus dituntut secara maksimal jika itu menghancurkan hubungan; kadang merelakan sebagian hak adalah jalan untuk menjaga keutuhan keluarga. Namun perdamaian harus dibangun di atas kerelaan dan kejujuran, bukan paksaan atau kezaliman. Tantangan terbesar dalam konflik bukan kurangnya cinta, tetapi kuatnya sifat egois dalam diri, dan di situlah latihan takwa menjadi kunci.QS. An-Nisa: 129Ayat ini memberikan keseimbangan antara idealisme dan realitas. Adil sepenuhnya dalam urusan hati memang mustahil, tetapi adil dalam hak-hak lahiriah adalah kewajiban. Dalam praktiknya, suami tidak boleh menelantarkan salah satu istri dalam nafkah, perhatian, dan tanggung jawab yang bisa diusahakan. Prinsip ini juga relevan secara umum dalam rumah tangga: jangan membiarkan pasangan merasa “tergantung”, tidak bahagia tetapi juga tidak diberi kejelasan. Allah memaafkan kekurangan yang di luar kemampuan manusia, tetapi tidak membenarkan kezaliman dalam perkara yang mampu dilakukan. Karena itu, keadilan lahir dari kesungguhan memperbaiki diri dan kesadaran bahwa Allah Maha Mengawasi.QS. An-Nisa: 130Ayat ini memberi ketenangan bahwa jika seluruh upaya perbaikan gagal dan kebersamaan justru membawa mudarat, maka perpisahan bukanlah dosa. Dalam konteks masa kini, pasangan tidak perlu bertahan dalam hubungan yang penuh kezaliman hanya karena takut kehilangan nafkah atau masa depan. Allah yang menyatukan juga Allah yang mencukupi setelah perpisahan. Namun keputusan ini harus menjadi jalan terakhir setelah usaha ishlah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sikap tawakal dan husnuzan kepada Allah menjadi penopang utama, karena Dia Maha Luas karunia-Nya dan Maha Bijaksana dalam setiap takdir-Nya.Semoga Allah menjadikan rumah tangga kita dibangun di atas keadilan, kelapangan hati, dan ketakwaan. Semoga Dia menjaga kita dari sifat zalim, egois, dan kikir terhadap hak pasangan, serta memberi taufik untuk selalu memilih perdamaian selama itu baik dan diridai-Nya.Ya Allah, perbaikilah hubungan kami dengan pasangan dan keluarga kami, lapangkan hati kami untuk menunaikan hak-hak mereka, dan jika Engkau takdirkan ujian dalam rumah tangga kami, maka berikanlah jalan keluar terbaik serta kecukupan dari keluasan karunia-Mu. Aamiin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic   —– Ahad sore sebelum Maghrib, 5 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadil dalam poligami fikih keluarga hak anak yatim hak perempuan dalam Islam hukum perceraian dalam Islam hukum rumah tangga dalam Islam keadilan dalam islam keluarga sakinah nasihat pernikahan Islami nusyuz dalam rumah tangga perdamaian dalam Islam poligami poligami dalam Islam renungan ayat renungan quran solusi konflik rumah tangga syarat poligami syuhh dalam Islam talak dalam Islam
Surah An-Nisa ayat 127–130 memberikan panduan lengkap tentang dinamika rumah tangga: dari kewajiban adil terhadap perempuan dan anak yatim, solusi saat hubungan retak, hingga kebolehan berpisah ketika tak lagi bisa dipertahankan. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat realistis dalam memandang kehidupan keluarga. Di dalamnya terdapat prinsip keadilan, kelapangan dada, tanggung jawab, dan tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Keadilan bagi Perempuan dan Anak Yatim 2. Damai Itu Lebih Baik: Solusi Saat Rumah Tangga Retak 3. Prinsip Adil dalam Poligami 4. Saat Perpisahan Menjadi Jalan Terbaik 5. Kesimpulan dan Refleksi Praktis 5.1. QS. An-Nisa: 127 5.2. QS. An-Nisa: 128 5.3. QS. An-Nisa: 129 5.4. QS. An-Nisa: 130  Keadilan bagi Perempuan dan Anak YatimAllah Ta’ala berfirman,وَيَسْتَفْتُونَكَ فِى ٱلنِّسَآءِ ۖ قُلِ ٱللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِى ٱلْكِتَٰبِ فِى يَتَٰمَى ٱلنِّسَآءِ ٱلَّٰتِى لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرْغَبُونَ أَن تَنكِحُوهُنَّ وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلْوِلْدَٰنِ وَأَن تَقُومُوا۟ لِلْيَتَٰمَىٰ بِٱلْقِسْطِ ۚ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِهِۦ عَلِيمًا“Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya.” (QS. An-Nisa: 127)Ayat ini menegaskan kembali pentingnya memberikan mahar dan hak waris kepada wanita yatim. Ada teguran bagi wali yang ingin menikahi wanita yatim di bawah asuhannya hanya karena mengincar hartanya atau kecantikannya namun tidak mau memberikan haknya secara penuh.Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya.Al-istifta’ adalah permintaan seseorang kepada pihak yang berwenang untuk menjelaskan hukum syariat mengenai suatu perkara.Dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwa kaum mukminin meminta fatwa kepada Rasulullah ﷺ tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan para wanita. Lalu Allah sendiri yang mengambil alih penjelasan hukum tersebut dengan berfirman:{قُلِ ٱللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ}“Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka.”Artinya, amalkanlah apa yang Allah fatwakan kepada kalian dalam seluruh urusan yang berkaitan dengan wanita: menunaikan hak-hak mereka dan meninggalkan segala bentuk kezaliman terhadap mereka, baik secara umum maupun khusus.Perintah ini bersifat umum, mencakup seluruh hukum yang Allah syariatkan terkait wanita, baik perintah maupun larangan, baik bagi istri maupun selainnya, baik yang masih kecil maupun yang sudah dewasa.Setelah penegasan umum tersebut, Allah secara khusus menekankan wasiat tentang orang-orang yang lemah, yaitu anak-anak yatim dan anak-anak kecil, sebagai bentuk perhatian besar terhadap mereka dan sebagai peringatan keras agar tidak menyia-nyiakan hak mereka.Allah berfirman:{وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِي ٱلْكِتَابِ فِي يَتَامَى ٱلنِّسَاءِ}“Dan juga tentang apa yang dibacakan kepadamu dalam Kitab mengenai wanita-wanita yatim.”Yakni Allah juga memberi fatwa kepada kalian tentang hukum yang telah dibacakan dalam Al-Qur’an terkait para wanita yatim.Kemudian Allah menjelaskan kondisi yang terjadi saat itu:{ٱلَّاتِي لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ}“Yaitu wanita-wanita yatim yang tidak kamu berikan kepada mereka apa yang telah ditetapkan untuk mereka.”Pada masa itu, seorang anak yatim perempuan yang berada dalam perwalian seorang laki-laki seringkali dizalimi. Bentuk kezaliman itu bermacam-macam:Walinya memakan seluruh atau sebagian hartanya.Ia menahannya dari pernikahan agar tetap bisa memanfaatkan hartanya, karena khawatir jika ia menikah, hartanya akan lepas dari tangannya.Ia mengambil sebagian mahar anak yatim tersebut, baik dengan syarat tertentu atau tanpa syarat.Jika wali tersebut tidak tertarik untuk menikahinya, ia menahannya demi hartanya. Jika ia tertarik karena kecantikan dan hartanya, ia tetap tidak berlaku adil dalam mahar, melainkan memberinya kurang dari yang semestinya ia terima.Semua bentuk perlakuan ini termasuk kezaliman yang tercakup dalam ayat ini.Karena itu Allah berfirman:{وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ}“Sedangkan kamu ingin menikahi mereka.”Maksudnya, kalian bisa jadi tidak ingin menikahi mereka, atau justru ingin menikahi mereka, sebagaimana telah dijelaskan contohnya. Dalam kedua keadaan tersebut, kalian tetap diperintahkan untuk berlaku adil dan tidak menzalimi.Kemudian Allah menyebutkan:{وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلْوِلْدَانِ}“Dan juga tentang anak-anak yang lemah.”Yakni Allah memberi fatwa kepada kalian mengenai anak-anak kecil yang lemah agar kalian memberikan hak mereka, baik dalam warisan maupun selainnya, dan agar kalian tidak menguasai harta mereka dengan cara zalim dan sewenang-wenang.Selanjutnya Allah berfirman:{وَأَنْ تَقُومُوا لِلْيَتَامَىٰ بِٱلْقِسْطِ}“Dan hendaklah kamu berlaku adil terhadap anak-anak yatim.”Artinya, berlaku dengan keadilan yang sempurna.Ini mencakup dua hal:Menegakkan kewajiban agama atas mereka, dengan membimbing mereka kepada perintah Allah dan kewajiban syariat. Para wali bertanggung jawab untuk mengarahkan dan mewajibkan mereka dalam hal-hal yang Allah wajibkan.Mengurus kepentingan duniawi mereka, seperti mengembangkan harta mereka dan mencari yang paling bermanfaat bagi mereka, serta tidak mendekati harta mereka kecuali dengan cara yang terbaik.Selain itu, tidak boleh memihak teman atau siapa pun dalam urusan mereka—baik dalam pernikahan maupun yang lainnya—dengan cara yang merugikan hak anak yatim tersebut.Semua ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah sangat menekankan agar diperhatikan kepentingan orang-orang yang tidak mampu mengurus dirinya sendiri karena kelemahan dan kehilangan ayah.Kemudian Allah mendorong untuk berbuat baik secara umum:{وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ}“Dan apa pun kebaikan yang kamu kerjakan,”baik kepada anak-anak yatim maupun kepada selain mereka, baik kebaikan yang manfaatnya meluas kepada orang lain maupun yang manfaatnya kembali kepada diri sendiri,{فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِهِ عَلِيمًا}“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”Ilmu Allah meliputi seluruh amal perbuatan para pelaku kebaikan—baik sedikit maupun banyak, baik yang baik maupun yang sebaliknya—dan Dia akan membalas setiap orang sesuai dengan amalnya.Demikian penjelasan dari Syaikh As-Sa’di. Adapun penerapan ayat tersebut di antaranya:Jangan memanfaatkan kelemahan pihak yang lemah. Anak yatim, anak kecil, perempuan yang berada di bawah perwalian, atau siapa pun yang bergantung secara finansial tidak boleh dimanfaatkan demi keuntungan pribadi, baik dalam urusan harta, pernikahan, maupun keputusan hidup.Kelola harta amanah secara profesional dan transparan. Jika mengurus harta anak yatim atau anggota keluarga yang belum cakap hukum, kelola dengan penuh tanggung jawab, transparan, dan demi maslahat mereka—bukan demi kepentingan pribadi.Adil dalam urusan pernikahan.Jangan menghalangi perempuan menikah demi kepentingan ekonomi keluarga. Jangan pula menekan mahar atau hak-haknya karena posisi tawar yang lemah.Damai Itu Lebih Baik: Solusi Saat Rumah Tangga RetakAllah Ta’ala berfirman,وَإِنِ ٱمْرَأَةٌ خَافَتْ مِنۢ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ ۚ وَإِن تُحْسِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 128)Jika terjadi ketidakharmonisan (nushuz) dari pihak suami (seperti sikap dingin atau tidak perhatian), Al-Qur’an menganjurkan jalan perdamaian. Istri diperbolehkan merelakan sebagian haknya (misalnya jatah waktu atau nafkah) demi mempertahankan ikatan pernikahan. Prinsipnya adalah “perdamaian itu lebih baik” daripada perceraian.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas.Jika seorang istri merasa khawatir akan nusyuz suaminya—yakni suami mulai meninggikan diri darinya, tidak lagi tertarik, atau berpaling dan tidak peduli—maka jalan terbaik dalam kondisi seperti ini adalah keduanya melakukan perdamaian.Perdamaian itu bisa berupa kesediaan istri untuk menggugurkan sebagian haknya agar tetap dapat mempertahankan rumah tangga. Misalnya:Rela menerima nafkah yang lebih sedikit dari standar yang semestinya.Rela dalam pembagian giliran (bagi yang berpoligami), dengan menggugurkan jatahnya.Menghibahkan hari atau malamnya kepada suami atau kepada istri yang lain.Jika keduanya sepakat atas bentuk perdamaian tersebut, maka tidak ada dosa atas keduanya. Suami boleh tetap bersama istrinya dalam keadaan seperti itu. Dan keadaan ini lebih baik daripada perceraian.Karena itu Allah menegaskan:{وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ}“Dan perdamaian itu lebih baik.”Dari keumuman lafaz ini dipahami bahwa perdamaian dalam setiap perselisihan dan sengketa lebih baik daripada masing-masing pihak menuntut seluruh haknya secara kaku. Sebab dalam perdamaian terdapat perbaikan hubungan, terjaganya kasih sayang, dan tumbuhnya sikap lapang dada.Namun, perdamaian itu sah selama tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang halal. Jika sampai melanggar syariat, maka itu bukan perdamaian, melainkan kezaliman.Setiap hukum tidak akan sempurna kecuali dengan adanya pendorong dan hilangnya penghalang. Dalam masalah perdamaian ini, Allah menyebutkan pendorongnya: karena perdamaian itu baik, dan setiap orang berakal tentu mencintai kebaikan. Apalagi jika Allah sendiri yang memerintahkan dan menganjurkannya, maka seorang mukmin semakin terdorong untuk melakukannya.Adapun penghalangnya adalah:{وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ}“Dan manusia itu menurut tabiatnya kikir.”Jiwa manusia secara naluriah itu syuhh, yaitu berat untuk melepaskan haknya dan sangat ingin mempertahankan apa yang menjadi bagiannya. Ia enggan memberi, tetapi ingin menerima sepenuhnya.Karena itu seseorang harus berusaha membersihkan dirinya dari sifat tercela ini dan menggantinya dengan sifat lapang dada: bersedia menunaikan kewajiban dan rela menerima sebagian haknya saja.Jika seseorang berhasil memiliki sifat ini, maka perdamaian dengan pasangan atau dengan siapa pun akan menjadi mudah. Namun jika ia tetap dikuasai sifat kikir dan egois, maka perdamaian akan sulit tercapai, apalagi jika kedua belah pihak sama-sama keras mempertahankan haknya.Kemudian Allah menutup ayat ini dengan dorongan yang agung:{وَإِن تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا}“Dan jika kamu berbuat baik dan bertakwa.”Berbuat baik kepada Allah dengan beribadah seakan-akan melihat-Nya; jika tidak mampu, maka yakinlah bahwa Dia melihat kita. Berbuat baik kepada sesama dengan segala bentuk kebaikan: harta, ilmu, kedudukan, atau bantuan apa pun.Dan bertakwa dengan melaksanakan semua perintah dan meninggalkan semua larangan.{فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا}“Maka sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”Allah mengetahui lahir dan batin perbuatan hamba. Dia mencatat, menjaga, dan akan membalasnya dengan balasan yang sempurna.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini.Saudah binti Zam‘ah radhiyallahu ‘anha telah berusia lanjut, Rasulullah ﷺ berkeinginan untuk berpisah darinya. Maka Saudah mengajukan perdamaian agar tetap dipertahankan sebagai istri, dengan syarat ia menyerahkan hari gilirannya kepada Aisyah. Nabi ﷺ menerima hal itu dan tetap mempertahankannya sebagai istri.Diriwayatkan bahwa: Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Saudah khawatir Rasulullah ﷺ akan menceraikannya. Maka ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, jangan ceraikan aku dan jadikan hari giliranku untuk Aisyah.’ Maka beliau pun melakukannya. Lalu turunlah ayat ini: ‘Dan jika seorang perempuan khawatir akan nusyuz atau sikap tidak peduli dari suaminya…’.” Ibnu Abbas berkata: “Maka apa saja yang disepakati keduanya dalam perdamaian itu, hukumnya boleh.”Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Istri-Istri Nabi, Saudah dan HafshahRefleksi: Ayat ini menunjukkan keluwesan syariat dalam menjaga stabilitas keluarga. Tidak semua masalah harus berujung perpisahan. Selama masih ada ruang untuk kompromi yang halal dan saling ridha, maka perdamaian itu lebih baik.Dan semua itu kembali pada kemampuan menundukkan sifat syuḥḥ dalam jiwa—yakni berat melepaskan hak dan ingin menang sendiri. Ketika jiwa dilatih untuk lapang dan mengutamakan maslahat yang lebih besar, maka rumah tangga lebih mudah diselamatkan.Baca juga: Do’a Agar Diselamatkan dari Penyakit ‘Syuh’ (Tamak & Kikir)Prinsip Adil dalam PoligamiAllah Ta’ala berfirman,وَلَن تَسْتَطِيعُوٓا۟ أَن تَعْدِلُوا۟ بَيْنَ ٱلنِّسَآءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا۟ كُلَّ ٱلْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَٱلْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِن تُصْلِحُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 129)Allah menegaskan bahwa secara tabiat, manusia tidak akan pernah bisa adil 100% dalam hal perasaan (cinta) di antara istri-istri. Namun, yang dilarang adalah keadilan dalam hal lahiriyah (nafkah dan waktu). Suami dilarang terlalu condong kepada satu istri sehingga istri yang lain terabaikan seperti “tergantung” (tidak memiliki status yang jelas sebagai istri namun tidak pula diceraikan).Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala mengabarkan bahwa para suami tidak akan mampu dan memang tidak berada dalam kekuasaan mereka untuk berbuat adil secara sempurna di antara para istri.Sebab keadilan yang sempurna menuntut kesamaan dalam cinta, dorongan batin, dan kecenderungan hati kepada mereka secara seimbang, lalu bertindak sesuai dengan kecenderungan itu. Hal seperti ini mustahil dan tidak mungkin dilakukan.Karena itulah Allah memaafkan perkara yang tidak mampu dilakukan, dan melarang sesuatu yang masih dalam batas kemampuan, dengan firman-Nya:{فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ}“Maka janganlah kamu terlalu condong (kepada salah satu), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.”Artinya, janganlah kalian condong secara berlebihan sehingga hak-hak wajib istri tidak ditunaikan. Lakukanlah keadilan dalam perkara yang mampu kalian lakukan.Dalam hal nafkah, pakaian, giliran bermalam, dan hak-hak lahiriah lainnya, kalian wajib berlaku adil. Adapun dalam hal cinta, kecenderungan hati, dan hubungan batin semisalnya, itu di luar kemampuan manusia.Jika seorang suami meninggalkan hak-hak wajib istrinya, maka istrinya akan menjadi seperti wanita yang “tergantung”: bukan istri yang mendapat hak penuh sehingga tenang, dan bukan pula wanita yang bebas sehingga bisa menikah lagi.Kemudian Allah berfirman:{وَإِنْ تُصْلِحُوا}“Dan jika kamu memperbaiki…”Yakni memperbaiki hubungan antara kalian dan para istri dengan memaksa diri melakukan hal yang mungkin tidak disukai jiwa, demi menunaikan hak mereka dan mengharap pahala.Termasuk juga memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, serta mendamaikan orang-orang yang berselisih. Ayat ini mendorong semua jalan yang mengantarkan pada perdamaian, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.Lalu Allah berfirman:{وَتَتَّقُوا}“Dan jika kamu bertakwa…”Yakni bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah, meninggalkan larangan, serta bersabar terhadap ketentuan yang Allah takdirkan.{فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا}“Maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Allah mengampuni dosa dan kekurangan kalian dalam menunaikan hak yang wajib, serta merahmati kalian sebagaimana kalian menyayangi dan berbuat lembut kepada para istri.Baca juga: Hukum Poligami: Ketentuan Menikah dengan Empat Istri dalam Islam Saat Perpisahan Menjadi Jalan TerbaikAllah Ta’ala berfirman,وَإِن يَتَفَرَّقَا يُغْنِ ٱللَّهُ كُلًّا مِّن سَعَتِهِۦ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ وَٰسِعًا حَكِيمًا“Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 130)Ayat ini memberikan ketenangan bagi pasangan yang memang sudah tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangga. Perceraian bukanlah akhir dari segalanya; Allah menjanjikan akan memberikan kecukupan bagi masing-masing pihak melalui karunia-Nya yang luas. Hal ini mendidik umat agar tidak saling menzalimi hanya karena takut akan masa depan ekonomi pasca cerai.Imam Ibnu Katsir saat menjelaskan ayat 128 menyatakan:Allah Ta’ala mengabarkan sekaligus menetapkan hukum tentang keadaan suami istri:terkadang dalam kondisi suami menjauh dan tidak lagi berkenan kepada istrinya,terkadang dalam kondisi keduanya masih rukun dan sepakat,dan terkadang dalam kondisi keduanya berpisah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan sebagai berikut.Inilah keadaan ketiga dalam hubungan suami istri. Jika kesepakatan tidak lagi mungkin dicapai, maka tidak mengapa terjadi perpisahan. Allah berfirman:{وَإِنْ يَتَفَرَّقَا}“Dan jika keduanya berpisah…”Yakni melalui talak, fasakh, khulu’, atau bentuk perpisahan lainnya.{يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ}“Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari keluasan karunia-Nya.”Artinya, Allah akan mencukupi suami dan istri dengan karunia dan kebaikan-Nya yang luas. Bisa jadi suami diberi istri yang lebih baik baginya, dan istri pun diberi kecukupan dari karunia Allah meskipun ia tidak lagi bersama suaminya. Rezekinya tetap berada di tangan Allah yang menjamin rezeki seluruh makhluk dan mengatur kemaslahatan mereka.Boleh jadi Allah memberinya pasangan yang lebih baik dari sebelumnya.Kemudian Allah berfirman:{وَكَانَ اللَّهُ وَاسِعًا}“Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya).”Yakni luas karunia dan rahmat-Nya. Rahmat dan kebaikan-Nya meliputi segala sesuatu sebagaimana ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.Namun Allah juga:{حَكِيمًا}“Maha Bijaksana.”Dia memberi karena hikmah dan menahan karena hikmah. Jika hikmah-Nya menuntut untuk menahan sebagian hamba dari karunia tertentu—karena ada sebab dari diri hamba yang tidak layak mendapatkan tambahan kebaikan—maka Allah menahannya dengan keadilan dan kebijaksanaan. Kesimpulan dan Refleksi PraktisQS. An-Nisa: 127Ayat ini menegaskan bahwa keadilan dalam keluarga adalah amanah besar, terutama terhadap pihak yang lemah seperti perempuan dan anak yatim. Dalam praktik rumah tangga hari ini, ini berarti tidak boleh ada manipulasi harta, tekanan dalam pernikahan, atau pengambilan keputusan sepihak yang merugikan pihak yang lebih lemah. Wali, orang tua, atau siapa pun yang memegang kendali finansial wajib bersikap transparan dan bertanggung jawab. Setiap bentuk kebaikan dan kejujuran dalam menjaga hak keluarga tidak pernah luput dari pengawasan Allah, sehingga keadilan harus ditegakkan bukan hanya karena hukum sosial, tetapi karena kesadaran iman.QS. An-Nisa: 128Ayat ini mengajarkan bahwa ketika rumah tangga mulai retak karena sikap dingin atau berpalingnya pasangan, solusi pertama adalah perdamaian, bukan perpisahan. Dalam kehidupan modern, ini berarti membuka ruang dialog, menurunkan ego, dan bersedia berkompromi selama tidak melanggar syariat. Tidak semua hak harus dituntut secara maksimal jika itu menghancurkan hubungan; kadang merelakan sebagian hak adalah jalan untuk menjaga keutuhan keluarga. Namun perdamaian harus dibangun di atas kerelaan dan kejujuran, bukan paksaan atau kezaliman. Tantangan terbesar dalam konflik bukan kurangnya cinta, tetapi kuatnya sifat egois dalam diri, dan di situlah latihan takwa menjadi kunci.QS. An-Nisa: 129Ayat ini memberikan keseimbangan antara idealisme dan realitas. Adil sepenuhnya dalam urusan hati memang mustahil, tetapi adil dalam hak-hak lahiriah adalah kewajiban. Dalam praktiknya, suami tidak boleh menelantarkan salah satu istri dalam nafkah, perhatian, dan tanggung jawab yang bisa diusahakan. Prinsip ini juga relevan secara umum dalam rumah tangga: jangan membiarkan pasangan merasa “tergantung”, tidak bahagia tetapi juga tidak diberi kejelasan. Allah memaafkan kekurangan yang di luar kemampuan manusia, tetapi tidak membenarkan kezaliman dalam perkara yang mampu dilakukan. Karena itu, keadilan lahir dari kesungguhan memperbaiki diri dan kesadaran bahwa Allah Maha Mengawasi.QS. An-Nisa: 130Ayat ini memberi ketenangan bahwa jika seluruh upaya perbaikan gagal dan kebersamaan justru membawa mudarat, maka perpisahan bukanlah dosa. Dalam konteks masa kini, pasangan tidak perlu bertahan dalam hubungan yang penuh kezaliman hanya karena takut kehilangan nafkah atau masa depan. Allah yang menyatukan juga Allah yang mencukupi setelah perpisahan. Namun keputusan ini harus menjadi jalan terakhir setelah usaha ishlah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sikap tawakal dan husnuzan kepada Allah menjadi penopang utama, karena Dia Maha Luas karunia-Nya dan Maha Bijaksana dalam setiap takdir-Nya.Semoga Allah menjadikan rumah tangga kita dibangun di atas keadilan, kelapangan hati, dan ketakwaan. Semoga Dia menjaga kita dari sifat zalim, egois, dan kikir terhadap hak pasangan, serta memberi taufik untuk selalu memilih perdamaian selama itu baik dan diridai-Nya.Ya Allah, perbaikilah hubungan kami dengan pasangan dan keluarga kami, lapangkan hati kami untuk menunaikan hak-hak mereka, dan jika Engkau takdirkan ujian dalam rumah tangga kami, maka berikanlah jalan keluar terbaik serta kecukupan dari keluasan karunia-Mu. Aamiin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic   —– Ahad sore sebelum Maghrib, 5 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadil dalam poligami fikih keluarga hak anak yatim hak perempuan dalam Islam hukum perceraian dalam Islam hukum rumah tangga dalam Islam keadilan dalam islam keluarga sakinah nasihat pernikahan Islami nusyuz dalam rumah tangga perdamaian dalam Islam poligami poligami dalam Islam renungan ayat renungan quran solusi konflik rumah tangga syarat poligami syuhh dalam Islam talak dalam Islam


Surah An-Nisa ayat 127–130 memberikan panduan lengkap tentang dinamika rumah tangga: dari kewajiban adil terhadap perempuan dan anak yatim, solusi saat hubungan retak, hingga kebolehan berpisah ketika tak lagi bisa dipertahankan. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat realistis dalam memandang kehidupan keluarga. Di dalamnya terdapat prinsip keadilan, kelapangan dada, tanggung jawab, dan tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Keadilan bagi Perempuan dan Anak Yatim 2. Damai Itu Lebih Baik: Solusi Saat Rumah Tangga Retak 3. Prinsip Adil dalam Poligami 4. Saat Perpisahan Menjadi Jalan Terbaik 5. Kesimpulan dan Refleksi Praktis 5.1. QS. An-Nisa: 127 5.2. QS. An-Nisa: 128 5.3. QS. An-Nisa: 129 5.4. QS. An-Nisa: 130  Keadilan bagi Perempuan dan Anak YatimAllah Ta’ala berfirman,وَيَسْتَفْتُونَكَ فِى ٱلنِّسَآءِ ۖ قُلِ ٱللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِى ٱلْكِتَٰبِ فِى يَتَٰمَى ٱلنِّسَآءِ ٱلَّٰتِى لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرْغَبُونَ أَن تَنكِحُوهُنَّ وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلْوِلْدَٰنِ وَأَن تَقُومُوا۟ لِلْيَتَٰمَىٰ بِٱلْقِسْطِ ۚ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِهِۦ عَلِيمًا“Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya.” (QS. An-Nisa: 127)Ayat ini menegaskan kembali pentingnya memberikan mahar dan hak waris kepada wanita yatim. Ada teguran bagi wali yang ingin menikahi wanita yatim di bawah asuhannya hanya karena mengincar hartanya atau kecantikannya namun tidak mau memberikan haknya secara penuh.Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya.Al-istifta’ adalah permintaan seseorang kepada pihak yang berwenang untuk menjelaskan hukum syariat mengenai suatu perkara.Dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwa kaum mukminin meminta fatwa kepada Rasulullah ﷺ tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan para wanita. Lalu Allah sendiri yang mengambil alih penjelasan hukum tersebut dengan berfirman:{قُلِ ٱللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ}“Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka.”Artinya, amalkanlah apa yang Allah fatwakan kepada kalian dalam seluruh urusan yang berkaitan dengan wanita: menunaikan hak-hak mereka dan meninggalkan segala bentuk kezaliman terhadap mereka, baik secara umum maupun khusus.Perintah ini bersifat umum, mencakup seluruh hukum yang Allah syariatkan terkait wanita, baik perintah maupun larangan, baik bagi istri maupun selainnya, baik yang masih kecil maupun yang sudah dewasa.Setelah penegasan umum tersebut, Allah secara khusus menekankan wasiat tentang orang-orang yang lemah, yaitu anak-anak yatim dan anak-anak kecil, sebagai bentuk perhatian besar terhadap mereka dan sebagai peringatan keras agar tidak menyia-nyiakan hak mereka.Allah berfirman:{وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِي ٱلْكِتَابِ فِي يَتَامَى ٱلنِّسَاءِ}“Dan juga tentang apa yang dibacakan kepadamu dalam Kitab mengenai wanita-wanita yatim.”Yakni Allah juga memberi fatwa kepada kalian tentang hukum yang telah dibacakan dalam Al-Qur’an terkait para wanita yatim.Kemudian Allah menjelaskan kondisi yang terjadi saat itu:{ٱلَّاتِي لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ}“Yaitu wanita-wanita yatim yang tidak kamu berikan kepada mereka apa yang telah ditetapkan untuk mereka.”Pada masa itu, seorang anak yatim perempuan yang berada dalam perwalian seorang laki-laki seringkali dizalimi. Bentuk kezaliman itu bermacam-macam:Walinya memakan seluruh atau sebagian hartanya.Ia menahannya dari pernikahan agar tetap bisa memanfaatkan hartanya, karena khawatir jika ia menikah, hartanya akan lepas dari tangannya.Ia mengambil sebagian mahar anak yatim tersebut, baik dengan syarat tertentu atau tanpa syarat.Jika wali tersebut tidak tertarik untuk menikahinya, ia menahannya demi hartanya. Jika ia tertarik karena kecantikan dan hartanya, ia tetap tidak berlaku adil dalam mahar, melainkan memberinya kurang dari yang semestinya ia terima.Semua bentuk perlakuan ini termasuk kezaliman yang tercakup dalam ayat ini.Karena itu Allah berfirman:{وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ}“Sedangkan kamu ingin menikahi mereka.”Maksudnya, kalian bisa jadi tidak ingin menikahi mereka, atau justru ingin menikahi mereka, sebagaimana telah dijelaskan contohnya. Dalam kedua keadaan tersebut, kalian tetap diperintahkan untuk berlaku adil dan tidak menzalimi.Kemudian Allah menyebutkan:{وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلْوِلْدَانِ}“Dan juga tentang anak-anak yang lemah.”Yakni Allah memberi fatwa kepada kalian mengenai anak-anak kecil yang lemah agar kalian memberikan hak mereka, baik dalam warisan maupun selainnya, dan agar kalian tidak menguasai harta mereka dengan cara zalim dan sewenang-wenang.Selanjutnya Allah berfirman:{وَأَنْ تَقُومُوا لِلْيَتَامَىٰ بِٱلْقِسْطِ}“Dan hendaklah kamu berlaku adil terhadap anak-anak yatim.”Artinya, berlaku dengan keadilan yang sempurna.Ini mencakup dua hal:Menegakkan kewajiban agama atas mereka, dengan membimbing mereka kepada perintah Allah dan kewajiban syariat. Para wali bertanggung jawab untuk mengarahkan dan mewajibkan mereka dalam hal-hal yang Allah wajibkan.Mengurus kepentingan duniawi mereka, seperti mengembangkan harta mereka dan mencari yang paling bermanfaat bagi mereka, serta tidak mendekati harta mereka kecuali dengan cara yang terbaik.Selain itu, tidak boleh memihak teman atau siapa pun dalam urusan mereka—baik dalam pernikahan maupun yang lainnya—dengan cara yang merugikan hak anak yatim tersebut.Semua ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah sangat menekankan agar diperhatikan kepentingan orang-orang yang tidak mampu mengurus dirinya sendiri karena kelemahan dan kehilangan ayah.Kemudian Allah mendorong untuk berbuat baik secara umum:{وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ}“Dan apa pun kebaikan yang kamu kerjakan,”baik kepada anak-anak yatim maupun kepada selain mereka, baik kebaikan yang manfaatnya meluas kepada orang lain maupun yang manfaatnya kembali kepada diri sendiri,{فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِهِ عَلِيمًا}“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”Ilmu Allah meliputi seluruh amal perbuatan para pelaku kebaikan—baik sedikit maupun banyak, baik yang baik maupun yang sebaliknya—dan Dia akan membalas setiap orang sesuai dengan amalnya.Demikian penjelasan dari Syaikh As-Sa’di. Adapun penerapan ayat tersebut di antaranya:Jangan memanfaatkan kelemahan pihak yang lemah. Anak yatim, anak kecil, perempuan yang berada di bawah perwalian, atau siapa pun yang bergantung secara finansial tidak boleh dimanfaatkan demi keuntungan pribadi, baik dalam urusan harta, pernikahan, maupun keputusan hidup.Kelola harta amanah secara profesional dan transparan. Jika mengurus harta anak yatim atau anggota keluarga yang belum cakap hukum, kelola dengan penuh tanggung jawab, transparan, dan demi maslahat mereka—bukan demi kepentingan pribadi.Adil dalam urusan pernikahan.Jangan menghalangi perempuan menikah demi kepentingan ekonomi keluarga. Jangan pula menekan mahar atau hak-haknya karena posisi tawar yang lemah.Damai Itu Lebih Baik: Solusi Saat Rumah Tangga RetakAllah Ta’ala berfirman,وَإِنِ ٱمْرَأَةٌ خَافَتْ مِنۢ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ ۚ وَإِن تُحْسِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 128)Jika terjadi ketidakharmonisan (nushuz) dari pihak suami (seperti sikap dingin atau tidak perhatian), Al-Qur’an menganjurkan jalan perdamaian. Istri diperbolehkan merelakan sebagian haknya (misalnya jatah waktu atau nafkah) demi mempertahankan ikatan pernikahan. Prinsipnya adalah “perdamaian itu lebih baik” daripada perceraian.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas.Jika seorang istri merasa khawatir akan nusyuz suaminya—yakni suami mulai meninggikan diri darinya, tidak lagi tertarik, atau berpaling dan tidak peduli—maka jalan terbaik dalam kondisi seperti ini adalah keduanya melakukan perdamaian.Perdamaian itu bisa berupa kesediaan istri untuk menggugurkan sebagian haknya agar tetap dapat mempertahankan rumah tangga. Misalnya:Rela menerima nafkah yang lebih sedikit dari standar yang semestinya.Rela dalam pembagian giliran (bagi yang berpoligami), dengan menggugurkan jatahnya.Menghibahkan hari atau malamnya kepada suami atau kepada istri yang lain.Jika keduanya sepakat atas bentuk perdamaian tersebut, maka tidak ada dosa atas keduanya. Suami boleh tetap bersama istrinya dalam keadaan seperti itu. Dan keadaan ini lebih baik daripada perceraian.Karena itu Allah menegaskan:{وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ}“Dan perdamaian itu lebih baik.”Dari keumuman lafaz ini dipahami bahwa perdamaian dalam setiap perselisihan dan sengketa lebih baik daripada masing-masing pihak menuntut seluruh haknya secara kaku. Sebab dalam perdamaian terdapat perbaikan hubungan, terjaganya kasih sayang, dan tumbuhnya sikap lapang dada.Namun, perdamaian itu sah selama tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang halal. Jika sampai melanggar syariat, maka itu bukan perdamaian, melainkan kezaliman.Setiap hukum tidak akan sempurna kecuali dengan adanya pendorong dan hilangnya penghalang. Dalam masalah perdamaian ini, Allah menyebutkan pendorongnya: karena perdamaian itu baik, dan setiap orang berakal tentu mencintai kebaikan. Apalagi jika Allah sendiri yang memerintahkan dan menganjurkannya, maka seorang mukmin semakin terdorong untuk melakukannya.Adapun penghalangnya adalah:{وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ}“Dan manusia itu menurut tabiatnya kikir.”Jiwa manusia secara naluriah itu syuhh, yaitu berat untuk melepaskan haknya dan sangat ingin mempertahankan apa yang menjadi bagiannya. Ia enggan memberi, tetapi ingin menerima sepenuhnya.Karena itu seseorang harus berusaha membersihkan dirinya dari sifat tercela ini dan menggantinya dengan sifat lapang dada: bersedia menunaikan kewajiban dan rela menerima sebagian haknya saja.Jika seseorang berhasil memiliki sifat ini, maka perdamaian dengan pasangan atau dengan siapa pun akan menjadi mudah. Namun jika ia tetap dikuasai sifat kikir dan egois, maka perdamaian akan sulit tercapai, apalagi jika kedua belah pihak sama-sama keras mempertahankan haknya.Kemudian Allah menutup ayat ini dengan dorongan yang agung:{وَإِن تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا}“Dan jika kamu berbuat baik dan bertakwa.”Berbuat baik kepada Allah dengan beribadah seakan-akan melihat-Nya; jika tidak mampu, maka yakinlah bahwa Dia melihat kita. Berbuat baik kepada sesama dengan segala bentuk kebaikan: harta, ilmu, kedudukan, atau bantuan apa pun.Dan bertakwa dengan melaksanakan semua perintah dan meninggalkan semua larangan.{فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا}“Maka sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”Allah mengetahui lahir dan batin perbuatan hamba. Dia mencatat, menjaga, dan akan membalasnya dengan balasan yang sempurna.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini.Saudah binti Zam‘ah radhiyallahu ‘anha telah berusia lanjut, Rasulullah ﷺ berkeinginan untuk berpisah darinya. Maka Saudah mengajukan perdamaian agar tetap dipertahankan sebagai istri, dengan syarat ia menyerahkan hari gilirannya kepada Aisyah. Nabi ﷺ menerima hal itu dan tetap mempertahankannya sebagai istri.Diriwayatkan bahwa: Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Saudah khawatir Rasulullah ﷺ akan menceraikannya. Maka ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, jangan ceraikan aku dan jadikan hari giliranku untuk Aisyah.’ Maka beliau pun melakukannya. Lalu turunlah ayat ini: ‘Dan jika seorang perempuan khawatir akan nusyuz atau sikap tidak peduli dari suaminya…’.” Ibnu Abbas berkata: “Maka apa saja yang disepakati keduanya dalam perdamaian itu, hukumnya boleh.”Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Istri-Istri Nabi, Saudah dan HafshahRefleksi: Ayat ini menunjukkan keluwesan syariat dalam menjaga stabilitas keluarga. Tidak semua masalah harus berujung perpisahan. Selama masih ada ruang untuk kompromi yang halal dan saling ridha, maka perdamaian itu lebih baik.Dan semua itu kembali pada kemampuan menundukkan sifat syuḥḥ dalam jiwa—yakni berat melepaskan hak dan ingin menang sendiri. Ketika jiwa dilatih untuk lapang dan mengutamakan maslahat yang lebih besar, maka rumah tangga lebih mudah diselamatkan.Baca juga: Do’a Agar Diselamatkan dari Penyakit ‘Syuh’ (Tamak & Kikir)Prinsip Adil dalam PoligamiAllah Ta’ala berfirman,وَلَن تَسْتَطِيعُوٓا۟ أَن تَعْدِلُوا۟ بَيْنَ ٱلنِّسَآءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا۟ كُلَّ ٱلْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَٱلْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِن تُصْلِحُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 129)Allah menegaskan bahwa secara tabiat, manusia tidak akan pernah bisa adil 100% dalam hal perasaan (cinta) di antara istri-istri. Namun, yang dilarang adalah keadilan dalam hal lahiriyah (nafkah dan waktu). Suami dilarang terlalu condong kepada satu istri sehingga istri yang lain terabaikan seperti “tergantung” (tidak memiliki status yang jelas sebagai istri namun tidak pula diceraikan).Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala mengabarkan bahwa para suami tidak akan mampu dan memang tidak berada dalam kekuasaan mereka untuk berbuat adil secara sempurna di antara para istri.Sebab keadilan yang sempurna menuntut kesamaan dalam cinta, dorongan batin, dan kecenderungan hati kepada mereka secara seimbang, lalu bertindak sesuai dengan kecenderungan itu. Hal seperti ini mustahil dan tidak mungkin dilakukan.Karena itulah Allah memaafkan perkara yang tidak mampu dilakukan, dan melarang sesuatu yang masih dalam batas kemampuan, dengan firman-Nya:{فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ}“Maka janganlah kamu terlalu condong (kepada salah satu), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.”Artinya, janganlah kalian condong secara berlebihan sehingga hak-hak wajib istri tidak ditunaikan. Lakukanlah keadilan dalam perkara yang mampu kalian lakukan.Dalam hal nafkah, pakaian, giliran bermalam, dan hak-hak lahiriah lainnya, kalian wajib berlaku adil. Adapun dalam hal cinta, kecenderungan hati, dan hubungan batin semisalnya, itu di luar kemampuan manusia.Jika seorang suami meninggalkan hak-hak wajib istrinya, maka istrinya akan menjadi seperti wanita yang “tergantung”: bukan istri yang mendapat hak penuh sehingga tenang, dan bukan pula wanita yang bebas sehingga bisa menikah lagi.Kemudian Allah berfirman:{وَإِنْ تُصْلِحُوا}“Dan jika kamu memperbaiki…”Yakni memperbaiki hubungan antara kalian dan para istri dengan memaksa diri melakukan hal yang mungkin tidak disukai jiwa, demi menunaikan hak mereka dan mengharap pahala.Termasuk juga memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, serta mendamaikan orang-orang yang berselisih. Ayat ini mendorong semua jalan yang mengantarkan pada perdamaian, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.Lalu Allah berfirman:{وَتَتَّقُوا}“Dan jika kamu bertakwa…”Yakni bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah, meninggalkan larangan, serta bersabar terhadap ketentuan yang Allah takdirkan.{فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا}“Maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Allah mengampuni dosa dan kekurangan kalian dalam menunaikan hak yang wajib, serta merahmati kalian sebagaimana kalian menyayangi dan berbuat lembut kepada para istri.Baca juga: Hukum Poligami: Ketentuan Menikah dengan Empat Istri dalam Islam Saat Perpisahan Menjadi Jalan TerbaikAllah Ta’ala berfirman,وَإِن يَتَفَرَّقَا يُغْنِ ٱللَّهُ كُلًّا مِّن سَعَتِهِۦ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ وَٰسِعًا حَكِيمًا“Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 130)Ayat ini memberikan ketenangan bagi pasangan yang memang sudah tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangga. Perceraian bukanlah akhir dari segalanya; Allah menjanjikan akan memberikan kecukupan bagi masing-masing pihak melalui karunia-Nya yang luas. Hal ini mendidik umat agar tidak saling menzalimi hanya karena takut akan masa depan ekonomi pasca cerai.Imam Ibnu Katsir saat menjelaskan ayat 128 menyatakan:Allah Ta’ala mengabarkan sekaligus menetapkan hukum tentang keadaan suami istri:terkadang dalam kondisi suami menjauh dan tidak lagi berkenan kepada istrinya,terkadang dalam kondisi keduanya masih rukun dan sepakat,dan terkadang dalam kondisi keduanya berpisah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan sebagai berikut.Inilah keadaan ketiga dalam hubungan suami istri. Jika kesepakatan tidak lagi mungkin dicapai, maka tidak mengapa terjadi perpisahan. Allah berfirman:{وَإِنْ يَتَفَرَّقَا}“Dan jika keduanya berpisah…”Yakni melalui talak, fasakh, khulu’, atau bentuk perpisahan lainnya.{يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ}“Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari keluasan karunia-Nya.”Artinya, Allah akan mencukupi suami dan istri dengan karunia dan kebaikan-Nya yang luas. Bisa jadi suami diberi istri yang lebih baik baginya, dan istri pun diberi kecukupan dari karunia Allah meskipun ia tidak lagi bersama suaminya. Rezekinya tetap berada di tangan Allah yang menjamin rezeki seluruh makhluk dan mengatur kemaslahatan mereka.Boleh jadi Allah memberinya pasangan yang lebih baik dari sebelumnya.Kemudian Allah berfirman:{وَكَانَ اللَّهُ وَاسِعًا}“Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya).”Yakni luas karunia dan rahmat-Nya. Rahmat dan kebaikan-Nya meliputi segala sesuatu sebagaimana ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.Namun Allah juga:{حَكِيمًا}“Maha Bijaksana.”Dia memberi karena hikmah dan menahan karena hikmah. Jika hikmah-Nya menuntut untuk menahan sebagian hamba dari karunia tertentu—karena ada sebab dari diri hamba yang tidak layak mendapatkan tambahan kebaikan—maka Allah menahannya dengan keadilan dan kebijaksanaan. Kesimpulan dan Refleksi PraktisQS. An-Nisa: 127Ayat ini menegaskan bahwa keadilan dalam keluarga adalah amanah besar, terutama terhadap pihak yang lemah seperti perempuan dan anak yatim. Dalam praktik rumah tangga hari ini, ini berarti tidak boleh ada manipulasi harta, tekanan dalam pernikahan, atau pengambilan keputusan sepihak yang merugikan pihak yang lebih lemah. Wali, orang tua, atau siapa pun yang memegang kendali finansial wajib bersikap transparan dan bertanggung jawab. Setiap bentuk kebaikan dan kejujuran dalam menjaga hak keluarga tidak pernah luput dari pengawasan Allah, sehingga keadilan harus ditegakkan bukan hanya karena hukum sosial, tetapi karena kesadaran iman.QS. An-Nisa: 128Ayat ini mengajarkan bahwa ketika rumah tangga mulai retak karena sikap dingin atau berpalingnya pasangan, solusi pertama adalah perdamaian, bukan perpisahan. Dalam kehidupan modern, ini berarti membuka ruang dialog, menurunkan ego, dan bersedia berkompromi selama tidak melanggar syariat. Tidak semua hak harus dituntut secara maksimal jika itu menghancurkan hubungan; kadang merelakan sebagian hak adalah jalan untuk menjaga keutuhan keluarga. Namun perdamaian harus dibangun di atas kerelaan dan kejujuran, bukan paksaan atau kezaliman. Tantangan terbesar dalam konflik bukan kurangnya cinta, tetapi kuatnya sifat egois dalam diri, dan di situlah latihan takwa menjadi kunci.QS. An-Nisa: 129Ayat ini memberikan keseimbangan antara idealisme dan realitas. Adil sepenuhnya dalam urusan hati memang mustahil, tetapi adil dalam hak-hak lahiriah adalah kewajiban. Dalam praktiknya, suami tidak boleh menelantarkan salah satu istri dalam nafkah, perhatian, dan tanggung jawab yang bisa diusahakan. Prinsip ini juga relevan secara umum dalam rumah tangga: jangan membiarkan pasangan merasa “tergantung”, tidak bahagia tetapi juga tidak diberi kejelasan. Allah memaafkan kekurangan yang di luar kemampuan manusia, tetapi tidak membenarkan kezaliman dalam perkara yang mampu dilakukan. Karena itu, keadilan lahir dari kesungguhan memperbaiki diri dan kesadaran bahwa Allah Maha Mengawasi.QS. An-Nisa: 130Ayat ini memberi ketenangan bahwa jika seluruh upaya perbaikan gagal dan kebersamaan justru membawa mudarat, maka perpisahan bukanlah dosa. Dalam konteks masa kini, pasangan tidak perlu bertahan dalam hubungan yang penuh kezaliman hanya karena takut kehilangan nafkah atau masa depan. Allah yang menyatukan juga Allah yang mencukupi setelah perpisahan. Namun keputusan ini harus menjadi jalan terakhir setelah usaha ishlah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sikap tawakal dan husnuzan kepada Allah menjadi penopang utama, karena Dia Maha Luas karunia-Nya dan Maha Bijaksana dalam setiap takdir-Nya.Semoga Allah menjadikan rumah tangga kita dibangun di atas keadilan, kelapangan hati, dan ketakwaan. Semoga Dia menjaga kita dari sifat zalim, egois, dan kikir terhadap hak pasangan, serta memberi taufik untuk selalu memilih perdamaian selama itu baik dan diridai-Nya.Ya Allah, perbaikilah hubungan kami dengan pasangan dan keluarga kami, lapangkan hati kami untuk menunaikan hak-hak mereka, dan jika Engkau takdirkan ujian dalam rumah tangga kami, maka berikanlah jalan keluar terbaik serta kecukupan dari keluasan karunia-Mu. Aamiin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic   —– Ahad sore sebelum Maghrib, 5 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadil dalam poligami fikih keluarga hak anak yatim hak perempuan dalam Islam hukum perceraian dalam Islam hukum rumah tangga dalam Islam keadilan dalam islam keluarga sakinah nasihat pernikahan Islami nusyuz dalam rumah tangga perdamaian dalam Islam poligami poligami dalam Islam renungan ayat renungan quran solusi konflik rumah tangga syarat poligami syuhh dalam Islam talak dalam Islam

Bagaimana Rasulullah di Bulan Ramadan?

Daftar Isi ToggleMemperbanyak sedekah dan tadarus Al-QuranMenyegerakan berbuka puasaMengerjakan makan sahurMurajaah Al-QuranMendirikan salat tarawihI’tikaf dan bersungguh-sungguh ibadah pada 10 hari terakhir RamadanTetap mengumpuli istri di malam hariPenutupBulan Ramadan adalah bulan yang spesial bagi seorang muslim. Pada bulan ini, terdapat banyak sekali keutamaan, mulai dari dipermudahnya beramal, dihapusnya dosa-dosa, hingga pahala yang beribu-ribu kali lipat.Oleh karena itu, seorang muslim tentunya memiliki kebiasaan yang berbeda di bulan Ramadan demi memanfaatkan waktu yang mulia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun demikian. Ketika di bulan Ramadan, beliau memiliki kebiasaan-kebiasaan khusus. Lalu bagaimanakah Rasulullah di bulan Ramadan?Rasulullah di bulan Ramadan terbiasa melakukan hal-hal berikut:Memperbanyak sedekah dan tadarus Al-QuranRamadan merupakan bulan Al-Quran dan juga bulan di mana kebaikan yang dilakukan pada bulan ini akan berlipat. Oleh karena itu, pada bulan Ramadan, Rasulullah -yang merupakan orang yang paling dermawan- berada di puncak kedermawanannya. Beliau juga senantiasa membaca dan mengulangi hafalan Al-Quran pada bulan Ramadan.Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Beliau berada di puncak kedermawanannya pada bulan Ramadan saat Jibril menemuinya. Jibril biasa menemuinya setiap malam di bulan Ramadan untuk mengulang hafalan Al-Qur’an. Sungguh, Rasulullah hallallahu ‘alaihi wa sallam jauh lebih dermawan dalam berbuat kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari)Menyegerakan berbuka puasaDi antara kebiasaan Rasulullah di bulan Ramadan adalah ketika puasa, beliau menyegerakan berbuka. Puasa tentunya merupakan ibadah yang agung untuk menunjukkan ketundukan dan kejujuran kita kepada Allah Azza wa Jalla, bukan ajang untuk menunjukkan kemampuan untuk menahan haus dan lapar. Rasulullah pun mengingatkan agar kita menyegerakan berbuka dalam sebuah hadis,لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Muslim)Baca juga: Sunnah-Sunnah Ketika Berbuka PuasaMengerjakan makan sahurKetika berpuasa di bulan Ramadan, beliau mengerjakan sahur. Sahur bukan sekedar waktu makan agar kita bisa kuat berpuasa di bulan Ramadan. Di dalam makan sahur, ada keberkahan sehingga selayaknya kita meniru beliau untuk mengerjakan sahur sebagaimana sabda beliau,تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً“Kerjakanlah sahur oleh kalian, sesungguhnya dalam makan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari)Rasulullah juga mengerjakan sahur di akhir waktu sebelum azan Subuh. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit,تسحَّرْنا معَ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ ثمَّ قمنا إلى الصَّلاةِ قلتُ كم بينَهما قالَ قدرُ قراءةِ خمسينَ آيةً“Kami mengerjakan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami pergi untuk mengerjakan salat.” Aku berkata, “Berapa lama antara keduanya?” Zaid menjawab, “Selama bacaan 50 ayat Al-Quran.” (HR Bukhari)Murajaah Al-Quran Ramadan merupakan bulan Al-Quran, bulan dimana Al-Quran diturunkan. Di bulan Ramadan, Rasulullah senantiasa murajaah hafalan Al-Quran bersama Jibril. Setiap bulan Ramadan, Jibril mendatangi Rasulullah untuk mengulang hafalan Al-Quran. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis,جِبْرِيلَ كَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ“Jibril senantiasa menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadan hingga akhir bulan. Di saat itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an di hadapannya.” (HR. Bukhari)Mendirikan salat tarawihDi antara kebiasaan Rasulullah di bulan Ramadan adalah mengerjakan salat tarawih di malam hari. Hal tersebut karena keutamaan salat malam di bulan Ramadan,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang mendirikan salat di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya sebelumnya akan diampuni.” (HR. Muslim)Akan tetapi, Rasulullah tidak mengerjakan tarawih sebagaimana yang kita kerjakan dengan berjamaah di masjid. Beliau biasanya salat sendiri di rumah dan terkadang salat berjamaah di masjid. Hal tersebut karena beliau khawatir salat tersebut akan diwajibkan untuk umatnya, sebagaimana dalam hadis dari ‘Aisyah,عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ، فَصَلَّى بِصَلاتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ، فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ، فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ، وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ‘Suatu malam di bulan Ramadan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salat di masjid, lalu orang-orang ikut salat bermakmum di belakang beliau. Pada malam berikutnya, beliau salat lagi dan jamaah yang ikut semakin banyak.Kemudian pada malam ketiga atau keempat, orang-orang sudah berkumpul memadati masjid, namun Rasulullah tidak keluar menemui mereka.Keesokan paginya, beliau bersabda, ‘Aku tahu apa yang kalian lakukan tadi malam. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian, selain kekhawatiranku bahwa salat ini akan diwajibkan atas kalian.'” (HR. Bukhari)I’tikaf dan bersungguh-sungguh ibadah pada 10 hari terakhir RamadanSepuluh hari terakhir Ramadan merupakan waktu yang memiliki keutamaan luar biasa. Oleh karena itu, di 10 hari terakhir Ramadan, beliau melakukan i’tikaf di masjid untuk beribadah dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ“Sesungguhnya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengerjakan i’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadan.” (HR. Muslim)Pada 10 hari terakhir Ramadan, beliau beribadah dengan sangat sungguh-sungguh. Hal tersebut sebagaimana yang digambarkan dalam sebuah hadis,كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ“Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, serta membangunkan keluarganya.” (HR. Muslim)Tetap mengumpuli istri di malam hariMengumpuli istri atau berhubungan suami istri di siang hari bulan Ramadan merupakan hal yang terlarang. Hal tersebut membatalkan puasa dan juga ada kafarah yang harus ditanggung oleh pelakunya. Akan tetapi di malam hari, hal tersebut tidak diharamkan. Bahkan Rasulullah pun tetap mengumpuli istrinya ketika bulan Ramadan di malam hari.Hal tersebut bisa disimpulkan dari sebuah hadis yang menunjukkan Rasulullah berada dalam kondisi junub di waktu Subuh, sebagaimana dalam sebuah hadis,كانَ رسولُ اللَهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يصبِحُ جنبًا من جِماعٍ غيرَ احتلامٍ في رمضانَ ثمَّ يصومُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan junub di waktu Subuh karena jima’ bukan karena mimpi di bulan Ramadan, lalu berpuasa.” (HR. Muslim)Dari hadis di atas, bisa kita simpulkan bahwa Rasulullah tetap mengumpuli istrinya di bulan Ramadan. Akan tetapi, ketika 10 hari terakhir di bulan Ramadan, beliau tidak melakukannya. Sebagaimana dalam hadis sebelumnya, di 10 hari terakhir Ramadan, beliau mengencangkan kain sarungnya dan menghidupkan malam di 10 hari terakhir Ramadan dengan ibadah.PenutupItulah beberapa hal yang biasa dilakukan Rasulullah di bulan Ramadan. Semoga dengan mengetahui kebiasaan beliau di bulan Ramadan, kita bisa mencontoh beliau agar kita bisa menjalankan bulan Ramadan dengan baik dan bisa memanfaatkan momen bulan Ramadan untuk menggapai ampunan dan pahala sebanyak-banyaknya.Baca juga: Amalan Harian Ramadhan***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id

Bagaimana Rasulullah di Bulan Ramadan?

Daftar Isi ToggleMemperbanyak sedekah dan tadarus Al-QuranMenyegerakan berbuka puasaMengerjakan makan sahurMurajaah Al-QuranMendirikan salat tarawihI’tikaf dan bersungguh-sungguh ibadah pada 10 hari terakhir RamadanTetap mengumpuli istri di malam hariPenutupBulan Ramadan adalah bulan yang spesial bagi seorang muslim. Pada bulan ini, terdapat banyak sekali keutamaan, mulai dari dipermudahnya beramal, dihapusnya dosa-dosa, hingga pahala yang beribu-ribu kali lipat.Oleh karena itu, seorang muslim tentunya memiliki kebiasaan yang berbeda di bulan Ramadan demi memanfaatkan waktu yang mulia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun demikian. Ketika di bulan Ramadan, beliau memiliki kebiasaan-kebiasaan khusus. Lalu bagaimanakah Rasulullah di bulan Ramadan?Rasulullah di bulan Ramadan terbiasa melakukan hal-hal berikut:Memperbanyak sedekah dan tadarus Al-QuranRamadan merupakan bulan Al-Quran dan juga bulan di mana kebaikan yang dilakukan pada bulan ini akan berlipat. Oleh karena itu, pada bulan Ramadan, Rasulullah -yang merupakan orang yang paling dermawan- berada di puncak kedermawanannya. Beliau juga senantiasa membaca dan mengulangi hafalan Al-Quran pada bulan Ramadan.Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Beliau berada di puncak kedermawanannya pada bulan Ramadan saat Jibril menemuinya. Jibril biasa menemuinya setiap malam di bulan Ramadan untuk mengulang hafalan Al-Qur’an. Sungguh, Rasulullah hallallahu ‘alaihi wa sallam jauh lebih dermawan dalam berbuat kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari)Menyegerakan berbuka puasaDi antara kebiasaan Rasulullah di bulan Ramadan adalah ketika puasa, beliau menyegerakan berbuka. Puasa tentunya merupakan ibadah yang agung untuk menunjukkan ketundukan dan kejujuran kita kepada Allah Azza wa Jalla, bukan ajang untuk menunjukkan kemampuan untuk menahan haus dan lapar. Rasulullah pun mengingatkan agar kita menyegerakan berbuka dalam sebuah hadis,لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Muslim)Baca juga: Sunnah-Sunnah Ketika Berbuka PuasaMengerjakan makan sahurKetika berpuasa di bulan Ramadan, beliau mengerjakan sahur. Sahur bukan sekedar waktu makan agar kita bisa kuat berpuasa di bulan Ramadan. Di dalam makan sahur, ada keberkahan sehingga selayaknya kita meniru beliau untuk mengerjakan sahur sebagaimana sabda beliau,تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً“Kerjakanlah sahur oleh kalian, sesungguhnya dalam makan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari)Rasulullah juga mengerjakan sahur di akhir waktu sebelum azan Subuh. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit,تسحَّرْنا معَ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ ثمَّ قمنا إلى الصَّلاةِ قلتُ كم بينَهما قالَ قدرُ قراءةِ خمسينَ آيةً“Kami mengerjakan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami pergi untuk mengerjakan salat.” Aku berkata, “Berapa lama antara keduanya?” Zaid menjawab, “Selama bacaan 50 ayat Al-Quran.” (HR Bukhari)Murajaah Al-Quran Ramadan merupakan bulan Al-Quran, bulan dimana Al-Quran diturunkan. Di bulan Ramadan, Rasulullah senantiasa murajaah hafalan Al-Quran bersama Jibril. Setiap bulan Ramadan, Jibril mendatangi Rasulullah untuk mengulang hafalan Al-Quran. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis,جِبْرِيلَ كَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ“Jibril senantiasa menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadan hingga akhir bulan. Di saat itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an di hadapannya.” (HR. Bukhari)Mendirikan salat tarawihDi antara kebiasaan Rasulullah di bulan Ramadan adalah mengerjakan salat tarawih di malam hari. Hal tersebut karena keutamaan salat malam di bulan Ramadan,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang mendirikan salat di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya sebelumnya akan diampuni.” (HR. Muslim)Akan tetapi, Rasulullah tidak mengerjakan tarawih sebagaimana yang kita kerjakan dengan berjamaah di masjid. Beliau biasanya salat sendiri di rumah dan terkadang salat berjamaah di masjid. Hal tersebut karena beliau khawatir salat tersebut akan diwajibkan untuk umatnya, sebagaimana dalam hadis dari ‘Aisyah,عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ، فَصَلَّى بِصَلاتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ، فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ، فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ، وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ‘Suatu malam di bulan Ramadan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salat di masjid, lalu orang-orang ikut salat bermakmum di belakang beliau. Pada malam berikutnya, beliau salat lagi dan jamaah yang ikut semakin banyak.Kemudian pada malam ketiga atau keempat, orang-orang sudah berkumpul memadati masjid, namun Rasulullah tidak keluar menemui mereka.Keesokan paginya, beliau bersabda, ‘Aku tahu apa yang kalian lakukan tadi malam. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian, selain kekhawatiranku bahwa salat ini akan diwajibkan atas kalian.'” (HR. Bukhari)I’tikaf dan bersungguh-sungguh ibadah pada 10 hari terakhir RamadanSepuluh hari terakhir Ramadan merupakan waktu yang memiliki keutamaan luar biasa. Oleh karena itu, di 10 hari terakhir Ramadan, beliau melakukan i’tikaf di masjid untuk beribadah dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ“Sesungguhnya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengerjakan i’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadan.” (HR. Muslim)Pada 10 hari terakhir Ramadan, beliau beribadah dengan sangat sungguh-sungguh. Hal tersebut sebagaimana yang digambarkan dalam sebuah hadis,كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ“Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, serta membangunkan keluarganya.” (HR. Muslim)Tetap mengumpuli istri di malam hariMengumpuli istri atau berhubungan suami istri di siang hari bulan Ramadan merupakan hal yang terlarang. Hal tersebut membatalkan puasa dan juga ada kafarah yang harus ditanggung oleh pelakunya. Akan tetapi di malam hari, hal tersebut tidak diharamkan. Bahkan Rasulullah pun tetap mengumpuli istrinya ketika bulan Ramadan di malam hari.Hal tersebut bisa disimpulkan dari sebuah hadis yang menunjukkan Rasulullah berada dalam kondisi junub di waktu Subuh, sebagaimana dalam sebuah hadis,كانَ رسولُ اللَهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يصبِحُ جنبًا من جِماعٍ غيرَ احتلامٍ في رمضانَ ثمَّ يصومُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan junub di waktu Subuh karena jima’ bukan karena mimpi di bulan Ramadan, lalu berpuasa.” (HR. Muslim)Dari hadis di atas, bisa kita simpulkan bahwa Rasulullah tetap mengumpuli istrinya di bulan Ramadan. Akan tetapi, ketika 10 hari terakhir di bulan Ramadan, beliau tidak melakukannya. Sebagaimana dalam hadis sebelumnya, di 10 hari terakhir Ramadan, beliau mengencangkan kain sarungnya dan menghidupkan malam di 10 hari terakhir Ramadan dengan ibadah.PenutupItulah beberapa hal yang biasa dilakukan Rasulullah di bulan Ramadan. Semoga dengan mengetahui kebiasaan beliau di bulan Ramadan, kita bisa mencontoh beliau agar kita bisa menjalankan bulan Ramadan dengan baik dan bisa memanfaatkan momen bulan Ramadan untuk menggapai ampunan dan pahala sebanyak-banyaknya.Baca juga: Amalan Harian Ramadhan***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleMemperbanyak sedekah dan tadarus Al-QuranMenyegerakan berbuka puasaMengerjakan makan sahurMurajaah Al-QuranMendirikan salat tarawihI’tikaf dan bersungguh-sungguh ibadah pada 10 hari terakhir RamadanTetap mengumpuli istri di malam hariPenutupBulan Ramadan adalah bulan yang spesial bagi seorang muslim. Pada bulan ini, terdapat banyak sekali keutamaan, mulai dari dipermudahnya beramal, dihapusnya dosa-dosa, hingga pahala yang beribu-ribu kali lipat.Oleh karena itu, seorang muslim tentunya memiliki kebiasaan yang berbeda di bulan Ramadan demi memanfaatkan waktu yang mulia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun demikian. Ketika di bulan Ramadan, beliau memiliki kebiasaan-kebiasaan khusus. Lalu bagaimanakah Rasulullah di bulan Ramadan?Rasulullah di bulan Ramadan terbiasa melakukan hal-hal berikut:Memperbanyak sedekah dan tadarus Al-QuranRamadan merupakan bulan Al-Quran dan juga bulan di mana kebaikan yang dilakukan pada bulan ini akan berlipat. Oleh karena itu, pada bulan Ramadan, Rasulullah -yang merupakan orang yang paling dermawan- berada di puncak kedermawanannya. Beliau juga senantiasa membaca dan mengulangi hafalan Al-Quran pada bulan Ramadan.Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Beliau berada di puncak kedermawanannya pada bulan Ramadan saat Jibril menemuinya. Jibril biasa menemuinya setiap malam di bulan Ramadan untuk mengulang hafalan Al-Qur’an. Sungguh, Rasulullah hallallahu ‘alaihi wa sallam jauh lebih dermawan dalam berbuat kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari)Menyegerakan berbuka puasaDi antara kebiasaan Rasulullah di bulan Ramadan adalah ketika puasa, beliau menyegerakan berbuka. Puasa tentunya merupakan ibadah yang agung untuk menunjukkan ketundukan dan kejujuran kita kepada Allah Azza wa Jalla, bukan ajang untuk menunjukkan kemampuan untuk menahan haus dan lapar. Rasulullah pun mengingatkan agar kita menyegerakan berbuka dalam sebuah hadis,لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Muslim)Baca juga: Sunnah-Sunnah Ketika Berbuka PuasaMengerjakan makan sahurKetika berpuasa di bulan Ramadan, beliau mengerjakan sahur. Sahur bukan sekedar waktu makan agar kita bisa kuat berpuasa di bulan Ramadan. Di dalam makan sahur, ada keberkahan sehingga selayaknya kita meniru beliau untuk mengerjakan sahur sebagaimana sabda beliau,تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً“Kerjakanlah sahur oleh kalian, sesungguhnya dalam makan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari)Rasulullah juga mengerjakan sahur di akhir waktu sebelum azan Subuh. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit,تسحَّرْنا معَ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ ثمَّ قمنا إلى الصَّلاةِ قلتُ كم بينَهما قالَ قدرُ قراءةِ خمسينَ آيةً“Kami mengerjakan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami pergi untuk mengerjakan salat.” Aku berkata, “Berapa lama antara keduanya?” Zaid menjawab, “Selama bacaan 50 ayat Al-Quran.” (HR Bukhari)Murajaah Al-Quran Ramadan merupakan bulan Al-Quran, bulan dimana Al-Quran diturunkan. Di bulan Ramadan, Rasulullah senantiasa murajaah hafalan Al-Quran bersama Jibril. Setiap bulan Ramadan, Jibril mendatangi Rasulullah untuk mengulang hafalan Al-Quran. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis,جِبْرِيلَ كَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ“Jibril senantiasa menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadan hingga akhir bulan. Di saat itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an di hadapannya.” (HR. Bukhari)Mendirikan salat tarawihDi antara kebiasaan Rasulullah di bulan Ramadan adalah mengerjakan salat tarawih di malam hari. Hal tersebut karena keutamaan salat malam di bulan Ramadan,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang mendirikan salat di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya sebelumnya akan diampuni.” (HR. Muslim)Akan tetapi, Rasulullah tidak mengerjakan tarawih sebagaimana yang kita kerjakan dengan berjamaah di masjid. Beliau biasanya salat sendiri di rumah dan terkadang salat berjamaah di masjid. Hal tersebut karena beliau khawatir salat tersebut akan diwajibkan untuk umatnya, sebagaimana dalam hadis dari ‘Aisyah,عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ، فَصَلَّى بِصَلاتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ، فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ، فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ، وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ‘Suatu malam di bulan Ramadan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salat di masjid, lalu orang-orang ikut salat bermakmum di belakang beliau. Pada malam berikutnya, beliau salat lagi dan jamaah yang ikut semakin banyak.Kemudian pada malam ketiga atau keempat, orang-orang sudah berkumpul memadati masjid, namun Rasulullah tidak keluar menemui mereka.Keesokan paginya, beliau bersabda, ‘Aku tahu apa yang kalian lakukan tadi malam. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian, selain kekhawatiranku bahwa salat ini akan diwajibkan atas kalian.'” (HR. Bukhari)I’tikaf dan bersungguh-sungguh ibadah pada 10 hari terakhir RamadanSepuluh hari terakhir Ramadan merupakan waktu yang memiliki keutamaan luar biasa. Oleh karena itu, di 10 hari terakhir Ramadan, beliau melakukan i’tikaf di masjid untuk beribadah dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ“Sesungguhnya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengerjakan i’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadan.” (HR. Muslim)Pada 10 hari terakhir Ramadan, beliau beribadah dengan sangat sungguh-sungguh. Hal tersebut sebagaimana yang digambarkan dalam sebuah hadis,كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ“Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, serta membangunkan keluarganya.” (HR. Muslim)Tetap mengumpuli istri di malam hariMengumpuli istri atau berhubungan suami istri di siang hari bulan Ramadan merupakan hal yang terlarang. Hal tersebut membatalkan puasa dan juga ada kafarah yang harus ditanggung oleh pelakunya. Akan tetapi di malam hari, hal tersebut tidak diharamkan. Bahkan Rasulullah pun tetap mengumpuli istrinya ketika bulan Ramadan di malam hari.Hal tersebut bisa disimpulkan dari sebuah hadis yang menunjukkan Rasulullah berada dalam kondisi junub di waktu Subuh, sebagaimana dalam sebuah hadis,كانَ رسولُ اللَهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يصبِحُ جنبًا من جِماعٍ غيرَ احتلامٍ في رمضانَ ثمَّ يصومُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan junub di waktu Subuh karena jima’ bukan karena mimpi di bulan Ramadan, lalu berpuasa.” (HR. Muslim)Dari hadis di atas, bisa kita simpulkan bahwa Rasulullah tetap mengumpuli istrinya di bulan Ramadan. Akan tetapi, ketika 10 hari terakhir di bulan Ramadan, beliau tidak melakukannya. Sebagaimana dalam hadis sebelumnya, di 10 hari terakhir Ramadan, beliau mengencangkan kain sarungnya dan menghidupkan malam di 10 hari terakhir Ramadan dengan ibadah.PenutupItulah beberapa hal yang biasa dilakukan Rasulullah di bulan Ramadan. Semoga dengan mengetahui kebiasaan beliau di bulan Ramadan, kita bisa mencontoh beliau agar kita bisa menjalankan bulan Ramadan dengan baik dan bisa memanfaatkan momen bulan Ramadan untuk menggapai ampunan dan pahala sebanyak-banyaknya.Baca juga: Amalan Harian Ramadhan***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleMemperbanyak sedekah dan tadarus Al-QuranMenyegerakan berbuka puasaMengerjakan makan sahurMurajaah Al-QuranMendirikan salat tarawihI’tikaf dan bersungguh-sungguh ibadah pada 10 hari terakhir RamadanTetap mengumpuli istri di malam hariPenutupBulan Ramadan adalah bulan yang spesial bagi seorang muslim. Pada bulan ini, terdapat banyak sekali keutamaan, mulai dari dipermudahnya beramal, dihapusnya dosa-dosa, hingga pahala yang beribu-ribu kali lipat.Oleh karena itu, seorang muslim tentunya memiliki kebiasaan yang berbeda di bulan Ramadan demi memanfaatkan waktu yang mulia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun demikian. Ketika di bulan Ramadan, beliau memiliki kebiasaan-kebiasaan khusus. Lalu bagaimanakah Rasulullah di bulan Ramadan?Rasulullah di bulan Ramadan terbiasa melakukan hal-hal berikut:Memperbanyak sedekah dan tadarus Al-QuranRamadan merupakan bulan Al-Quran dan juga bulan di mana kebaikan yang dilakukan pada bulan ini akan berlipat. Oleh karena itu, pada bulan Ramadan, Rasulullah -yang merupakan orang yang paling dermawan- berada di puncak kedermawanannya. Beliau juga senantiasa membaca dan mengulangi hafalan Al-Quran pada bulan Ramadan.Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Beliau berada di puncak kedermawanannya pada bulan Ramadan saat Jibril menemuinya. Jibril biasa menemuinya setiap malam di bulan Ramadan untuk mengulang hafalan Al-Qur’an. Sungguh, Rasulullah hallallahu ‘alaihi wa sallam jauh lebih dermawan dalam berbuat kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari)Menyegerakan berbuka puasaDi antara kebiasaan Rasulullah di bulan Ramadan adalah ketika puasa, beliau menyegerakan berbuka. Puasa tentunya merupakan ibadah yang agung untuk menunjukkan ketundukan dan kejujuran kita kepada Allah Azza wa Jalla, bukan ajang untuk menunjukkan kemampuan untuk menahan haus dan lapar. Rasulullah pun mengingatkan agar kita menyegerakan berbuka dalam sebuah hadis,لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Muslim)Baca juga: Sunnah-Sunnah Ketika Berbuka PuasaMengerjakan makan sahurKetika berpuasa di bulan Ramadan, beliau mengerjakan sahur. Sahur bukan sekedar waktu makan agar kita bisa kuat berpuasa di bulan Ramadan. Di dalam makan sahur, ada keberkahan sehingga selayaknya kita meniru beliau untuk mengerjakan sahur sebagaimana sabda beliau,تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً“Kerjakanlah sahur oleh kalian, sesungguhnya dalam makan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari)Rasulullah juga mengerjakan sahur di akhir waktu sebelum azan Subuh. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit,تسحَّرْنا معَ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ ثمَّ قمنا إلى الصَّلاةِ قلتُ كم بينَهما قالَ قدرُ قراءةِ خمسينَ آيةً“Kami mengerjakan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami pergi untuk mengerjakan salat.” Aku berkata, “Berapa lama antara keduanya?” Zaid menjawab, “Selama bacaan 50 ayat Al-Quran.” (HR Bukhari)Murajaah Al-Quran Ramadan merupakan bulan Al-Quran, bulan dimana Al-Quran diturunkan. Di bulan Ramadan, Rasulullah senantiasa murajaah hafalan Al-Quran bersama Jibril. Setiap bulan Ramadan, Jibril mendatangi Rasulullah untuk mengulang hafalan Al-Quran. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis,جِبْرِيلَ كَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ“Jibril senantiasa menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadan hingga akhir bulan. Di saat itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an di hadapannya.” (HR. Bukhari)Mendirikan salat tarawihDi antara kebiasaan Rasulullah di bulan Ramadan adalah mengerjakan salat tarawih di malam hari. Hal tersebut karena keutamaan salat malam di bulan Ramadan,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang mendirikan salat di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya sebelumnya akan diampuni.” (HR. Muslim)Akan tetapi, Rasulullah tidak mengerjakan tarawih sebagaimana yang kita kerjakan dengan berjamaah di masjid. Beliau biasanya salat sendiri di rumah dan terkadang salat berjamaah di masjid. Hal tersebut karena beliau khawatir salat tersebut akan diwajibkan untuk umatnya, sebagaimana dalam hadis dari ‘Aisyah,عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ، فَصَلَّى بِصَلاتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ، فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ، فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ، وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ‘Suatu malam di bulan Ramadan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salat di masjid, lalu orang-orang ikut salat bermakmum di belakang beliau. Pada malam berikutnya, beliau salat lagi dan jamaah yang ikut semakin banyak.Kemudian pada malam ketiga atau keempat, orang-orang sudah berkumpul memadati masjid, namun Rasulullah tidak keluar menemui mereka.Keesokan paginya, beliau bersabda, ‘Aku tahu apa yang kalian lakukan tadi malam. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian, selain kekhawatiranku bahwa salat ini akan diwajibkan atas kalian.'” (HR. Bukhari)I’tikaf dan bersungguh-sungguh ibadah pada 10 hari terakhir RamadanSepuluh hari terakhir Ramadan merupakan waktu yang memiliki keutamaan luar biasa. Oleh karena itu, di 10 hari terakhir Ramadan, beliau melakukan i’tikaf di masjid untuk beribadah dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ“Sesungguhnya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengerjakan i’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadan.” (HR. Muslim)Pada 10 hari terakhir Ramadan, beliau beribadah dengan sangat sungguh-sungguh. Hal tersebut sebagaimana yang digambarkan dalam sebuah hadis,كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ“Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, serta membangunkan keluarganya.” (HR. Muslim)Tetap mengumpuli istri di malam hariMengumpuli istri atau berhubungan suami istri di siang hari bulan Ramadan merupakan hal yang terlarang. Hal tersebut membatalkan puasa dan juga ada kafarah yang harus ditanggung oleh pelakunya. Akan tetapi di malam hari, hal tersebut tidak diharamkan. Bahkan Rasulullah pun tetap mengumpuli istrinya ketika bulan Ramadan di malam hari.Hal tersebut bisa disimpulkan dari sebuah hadis yang menunjukkan Rasulullah berada dalam kondisi junub di waktu Subuh, sebagaimana dalam sebuah hadis,كانَ رسولُ اللَهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يصبِحُ جنبًا من جِماعٍ غيرَ احتلامٍ في رمضانَ ثمَّ يصومُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan junub di waktu Subuh karena jima’ bukan karena mimpi di bulan Ramadan, lalu berpuasa.” (HR. Muslim)Dari hadis di atas, bisa kita simpulkan bahwa Rasulullah tetap mengumpuli istrinya di bulan Ramadan. Akan tetapi, ketika 10 hari terakhir di bulan Ramadan, beliau tidak melakukannya. Sebagaimana dalam hadis sebelumnya, di 10 hari terakhir Ramadan, beliau mengencangkan kain sarungnya dan menghidupkan malam di 10 hari terakhir Ramadan dengan ibadah.PenutupItulah beberapa hal yang biasa dilakukan Rasulullah di bulan Ramadan. Semoga dengan mengetahui kebiasaan beliau di bulan Ramadan, kita bisa mencontoh beliau agar kita bisa menjalankan bulan Ramadan dengan baik dan bisa memanfaatkan momen bulan Ramadan untuk menggapai ampunan dan pahala sebanyak-banyaknya.Baca juga: Amalan Harian Ramadhan***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id

Tadabbur Perang Uhud dalam Surah Ali Imran: Pelajaran Berharga tentang Ketaatan dan Bahaya Cinta Dunia

Juz 4 dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Ali ‘Imran, memuat evaluasi mendalam dan “trauma healing” Rabbani atas tragedi Perang Uhud yang menjadi madrasah tarbiyah bagi setiap mukmin. Melalui rangkaian ayat ini, Allah membedah secara anatomi bahwa kekalahan sering kali berakar dari penyakit hati berupa cinta dunia, ketidakpatuhan terhadap perintah Rasul, serta guncangnya mental akibat isu yang tidak berdasar. Tulisan ini akan merangkum tujuh bahasan utama dalam Surah Ali ‘Imran yang menyingkap strategi, ujian iman, hingga kelembutan akhlak pemimpin sebagai pelajaran abadi bagi perjuangan umat Islam saat ini.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Perang Uhud dan Pelajaran di Dalamnya  Daftar Isi tutup 1. Mengapa Surah Ali Imran Membahas Uhud secara Detail? 1.1. 1. Evaluasi Mental Setelah Luka Fisik 1.2. 2. Membedah Penyakit “Cinta Dunia” 1.3. 3. Memisahkan Emas dari Loyang 1.4. 4. Meneguhkan Konsep Kenabian 2. 7 Bahasan Utama Perang Uhud dalam Surah Ali Imran 2.1. 1. Persiapan Strategis dan Keberangkatan (Ayat 121-122) 2.2. 2. Motivasi dari Kemenangan Perang Badar (Ayat 123-129) 2.3. 3. Pembersihan Hati: Larangan Riba di Tengah Suasana Perang (Ayat 130-136) 2.4. 4. Isu Wafatnya Rasulullah dan Kekuatan Mental (Ayat 144) 2.5. 5. Titik Balik Kekalahan: Ujian Dunia dan Ketidakpatuhan (Ayat 152) 2.6. 6. Akhlak Pemimpin: Musyawarah dan Kelembutan Hati (Ayat 159) 2.7. 7. Menyingkap Kedok Kaum Munafik di Balik Tragedi Uhud (Ayat 167) 3. Ibrah bagi Kita dari Perang Uhud 4. Kesimpulan   Mengapa Surah Ali Imran Membahas Uhud secara Detail?Peristiwa Perang Uhud bukan sekadar catatan sejarah tentang menang atau kalah. Dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Ali ‘Imran, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan porsi pembahasan yang sangat panjang (lebih dari 50 ayat) untuk mengupas tragedi ini. Mengapa demikian?1. Evaluasi Mental Setelah Luka FisikJuz 4 dibuka dengan penguatan akidah dan syariat, namun kemudian masuk ke dalam evaluasi Perang Uhud. Secara psikologis, pasukan Muslim saat itu sedang berada dalam titik terendah. Mereka kehilangan 70 syuhada, termasuk Hamzah bin Abdul Muthalib, dan Rasulullah ﷺ sendiri mengalami luka-luka.Allah menurunkan ayat-ayat ini bukan untuk menghakimi secara kasar, melainkan sebagai “Trauma Healing” Rabbani. Allah ingin menyembuhkan mental para sahabat dengan menjelaskan mengapa itu terjadi, agar kesedihan tidak berlarut-larut menjadi keputusasaan.وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139)Dalam Tafsir Al-Baghawi disebutkan:Allah Ta’ala berfirman: “Janganlah kalian merasa lemah dan jangan pula bersedih hati.”Ayat ini merupakan dorongan dan penyemangat bagi para sahabat Nabi ﷺ untuk terus berjihad, meskipun mereka telah tertimpa musibah berupa terbunuh dan terluka dalam Perang Uhud. Allah Ta’ala berfirman:“وَلَا تَهِنُوا”“Janganlah kalian menjadi lemah.”Maksudnya, janganlah kalian menjadi lemah dan jangan pula merasa gentar dalam menghadapi musuh-musuh kalian, hanya karena kalian mengalami korban terbunuh dan luka-luka.Pada hari itu gugur lima orang sahabat yang mulia, di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Mush’ab bin Umair, serta tujuh puluh orang dari kalangan Anshar.Kemudian Allah berfirman:“وَلَا تَحْزَنُوا”“Dan janganlah kalian bersedih hati.”Janganlah kalian bersedih atas apa yang telah menimpa kalian.“وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ”“Padahal kalianlah yang paling tinggi (derajatnya atau kedudukannya).”Yakni, pada akhirnya kalianlah yang akan memperoleh kemenangan dan pertolongan. Kalianlah yang akan mendapatkan akibat yang baik berupa kemenangan dan kejayaan.“إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ”“Jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman.”Maksudnya: karena kalian adalah orang-orang yang beriman. Keimanan itulah yang menjadi sebab datangnya pertolongan dan kemenangan.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: ketika para sahabat Rasulullah ﷺ tercerai-berai di lereng gunung (pada Perang Uhud), Khalid bin Walid datang bersama pasukan berkuda kaum musyrikin, hendak naik ke atas gunung untuk menyerang mereka.Maka Nabi ﷺ berdoa,اللَّهُمَّ لَا يَعْلُونَ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ لَا قُوَّةَ لَنَا إِلَّا بِكَ“Ya Allah, jangan Engkau biarkan mereka mengalahkan kami. Ya Allah, tidak ada kekuatan bagi kami kecuali dengan pertolongan-Mu.”Kemudian sekelompok kaum muslimin dari pasukan pemanah bangkit dan naik ke atas gunung. Mereka melempari pasukan berkuda kaum musyrikin hingga berhasil memukul mundur mereka. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: “Dan kalianlah yang paling tinggi.”Al-Kalbi berkata: ayat ini turun setelah Perang Uhud, ketika Nabi ﷺ memerintahkan para sahabat untuk mengejar musuh, meskipun mereka dalam keadaan terluka. Hal itu terasa sangat berat bagi kaum muslimin, maka Allah menurunkan ayat ini sebagai penguat dan peneguh hati mereka.Hal ini diperkuat oleh firman Allah Ta’ala:وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ“Dan janganlah kalian menjadi lemah dalam mengejar musuh.” (QS. An-Nisa’: 104) 2. Membedah Penyakit “Cinta Dunia”Jika Perang Badar (di Surah Al-Anfal) adalah cerita tentang pertolongan Allah yang luar biasa, maka Perang Uhud di Surah Ali ‘Imran adalah cerita tentang kedisiplinan dan kejujuran hati.Allah mendetailkan peristiwa ini untuk menunjukkan bahwa musuh terbesar bukanlah Khalid bin Walid (yang saat itu masih di pihak Quraisy), melainkan fitnah harta (ghanimah) yang muncul di hati sebagian pasukan. Ini adalah pelajaran abadi bagi aktivis dakwah dan umat Islam: bahwa maksiat di dalam barisan lebih berbahaya daripada kekuatan musuh di luar barisan.Baca juga: Jangan-Jangan Kita Terjangkit Penyakit Cinta Dunia, Ini Tandanya 3. Memisahkan Emas dari LoyangMelalui detail di Surah Ali ‘Imran, Allah ingin melakukan tashfiyah (penyaringan). Dalam suasana damai, semua orang bisa mengaku beriman. Namun, dalam situasi genting seperti di Uhud—di mana muncul isu Nabi wafat dan mundurnya pasukan munafik—akan terlihat siapa yang benar-benar berjuang karena Allah dan siapa yang hanya ikut-ikutan. 4. Meneguhkan Konsep KenabianDetailnya pembahasan ini juga untuk meluruskan pemahaman para sahabat bahwa Rasulullah ﷺ adalah manusia biasa yang bisa terluka dan kelak akan wafat. Umat Islam tidak boleh menggantungkan agama pada eksistensi fisik sang Nabi, melainkan pada ajaran yang beliau bawa. Inilah mengapa Allah menegur mereka di ayat 144 agar tetap teguh meski kabar duka menerpa.Ali ‘Imran tidak hanya menceritakan urutan kejadian, tapi melakukan bedah anatomi kesalahan agar umat Islam di masa depan (termasuk kita hari ini) tidak mengulangi lubang yang sama. Kekalahan di Uhud adalah “madrasah” tarbiyah yang sangat mahal harganya. 7 Bahasan Utama Perang Uhud dalam Surah Ali Imran1. Persiapan Strategis dan Keberangkatan (Ayat 121-122)Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّئُ ٱلْمُؤْمِنِينَ مَقَٰعِدَ لِلْقِتَالِ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran: 121)إِذْ هَمَّت طَّآئِفَتَانِ مِنكُمْ أَن تَفْشَلَا وَٱللَّهُ وَلِيُّهُمَا ۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ“Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Ali Imran: 122)Dalam Tafsir As-Sa’di dijelaskan mengenai dua ayat di atas.Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan Perang Uhud. Kisahnya sangat masyhur dalam kitab-kitab sirah dan sejarah.Hikmah penyebutannya di sini—serta disandingkannya dengan kisah Perang Badar—adalah karena Allah Ta’ala telah menjanjikan kepada orang-orang beriman bahwa jika mereka bersabar dan bertakwa, maka Dia akan menolong mereka dan menggagalkan tipu daya musuh. Janji ini bersifat umum dan benar adanya, tidak akan meleset selama syaratnya terpenuhi.Maka Allah menyebutkan dua contoh nyata dari janji tersebut. Dalam Perang Badar, Allah menolong kaum mukminin ketika mereka bersabar dan bertakwa. Namun dalam Perang Uhud, musuh sempat mendapatkan kemenangan atas mereka karena sebagian kaum muslimin melakukan pelanggaran terhadap ketakwaan.Di antara hikmah digabungkannya dua kisah ini adalah bahwa Allah menyukai hamba-Nya yang ketika tertimpa sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka mengingat kembali nikmat yang mereka cintai. Dengan itu, musibah menjadi terasa ringan, dan mereka pun bersyukur atas nikmat besar yang Allah karuniakan. Jika dibandingkan dengan nikmat tersebut, maka musibah yang menimpa sebenarnya sangat kecil dan pada hakikatnya mengandung kebaikan bagi mereka.Allah Ta’ala telah mengisyaratkan hikmah ini dalam firman-Nya:أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا“Dan apakah ketika kalian ditimpa musibah, padahal kalian telah menimpakan dua kali lipat musibah kepada musuh kalian…?” (QS. Ali ‘Imran: 165)Adapun ringkasan peristiwa Uhud adalah sebagai berikut:Ketika kaum musyrikin kembali dari Perang Badar ke Makkah pada tahun kedua hijrah, mereka mempersiapkan diri dengan segala kemampuan: harta, persenjataan, dan pasukan. Mereka mengumpulkan kekuatan yang besar dengan keyakinan akan tercapainya tujuan mereka dan terobatinya rasa dendam di dada mereka.Akhirnya, mereka berangkat dari Makkah menuju Madinah dengan tiga ribu pasukan, lalu berhenti di dekat kota Madinah.Rasulullah ﷺ keluar menghadapi mereka bersama para sahabatnya setelah melalui musyawarah dan pertimbangan. Akhirnya diputuskan untuk keluar dari kota. Beliau berangkat bersama seribu pasukan.Namun, ketika perjalanan baru berjalan sedikit, Abdullah bin Ubay, seorang munafik, kembali bersama sepertiga pasukan yang sepaham dengannya. Bahkan dua kelompok kaum mukminin—Bani Salamah dan Bani Haritsah—sempat berniat untuk mundur, tetapi Allah meneguhkan hati mereka.Ketika sampai di Uhud, Nabi ﷺ menyusun barisan kaum muslimin dan menempatkan mereka di posisi masing-masing. Mereka membelakangi Gunung Uhud agar tidak diserang dari belakang.Beliau juga menempatkan lima puluh sahabat di sebuah celah di Gunung Uhud dan memerintahkan mereka untuk tetap di tempat itu dan tidak meninggalkannya dalam keadaan apa pun, agar tidak ada musuh yang menyerang dari arah belakang.Ketika pertempuran dimulai, kaum musyrikin mengalami kekalahan telak dan meninggalkan perkemahan mereka. Kaum muslimin mengejar mereka, membunuh dan menawan sebagian dari mereka.Namun, para pemanah yang berada di atas gunung melihat kaum musyrikin lari tunggang-langgang. Sebagian dari mereka berkata, “Harta rampasan! Harta rampasan! Mengapa kita tetap di sini sementara musuh telah kalah?”Pemimpin mereka, Abdullah bin Jubair, menasihati mereka agar tidak melanggar perintah Rasulullah ﷺ, tetapi mereka tidak mengindahkannya. Ketika mereka meninggalkan posisi, hanya tersisa sedikit orang, termasuk pemimpin mereka.Dari celah itulah pasukan berkuda kaum musyrikin menyerang dari belakang dan menyerbu barisan kaum muslimin. Kaum muslimin pun kacau dan terjadi goncangan besar—ujian dari Allah untuk mereka. Dengan ujian itu Allah menghapus dosa-dosa mereka, sekaligus memberi mereka pelajaran atas pelanggaran yang telah terjadi.Sebagian sahabat gugur syahid, lalu mereka berkumpul dan bertahan di puncak Gunung Uhud. Allah kemudian menahan tangan kaum musyrikin sehingga mereka tidak melanjutkan serangan, lalu mereka kembali ke negeri mereka.Rasulullah ﷺ dan para sahabat kembali ke Madinah.Allah Ta’ala berfirman:وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ“Dan (ingatlah) ketika engkau berangkat dari keluargamu…”Kata ghuduw (غَدَوْتَ) di sini berarti keluar secara umum, bukan khusus pada pagi hari. Karena Nabi ﷺ dan para sahabat keluar setelah menunaikan shalat Jumat.تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِينَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ“Engkau menempatkan orang-orang beriman pada posisi-posisi untuk berperang.”Yakni, engkau menempatkan dan menyusun mereka sesuai posisi yang layak bagi masing-masing.Dalam ayat ini terdapat pujian yang sangat besar kepada Nabi ﷺ. Beliaulah yang langsung mengatur strategi dan menempatkan pasukan. Hal itu menunjukkan kesempurnaan ilmu, ketajaman pandangan, kelurusan pendapat, dan tingginya semangat beliau. Beliau sendiri turun tangan dalam pengaturan dan memiliki keberanian yang sempurna. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada beliau.Allah berfirman:وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”Allah Maha Mendengar segala sesuatu yang diucapkan, termasuk perkataan orang-orang beriman dan orang-orang munafik—masing-masing berbicara sesuai isi hatinya. Allah juga Maha Mengetahui niat para hamba, lalu membalas mereka dengan balasan yang paling sempurna.Selain itu, maknanya juga: Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui keadaan kalian. Dia menjaga kalian, mengatur urusan kalian, dan menguatkan kalian dengan pertolongan-Nya.Sebagaimana firman-Nya kepada Musa dan Harun:إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى“Sesungguhnya Aku bersama kalian berdua, Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thaha: 46)Di ayat selanjutnya (QS. Ali Imran ayat 122) dijelaskan oleh Syaikh As-Sa’di sebagai berikut.Di antara bentuk kelembutan dan kebaikan Allah kepada kaum mukminin adalah ketika dua golongan dari mereka hampir saja melemah dan mundur—yaitu Bani Salamah dan Bani Haritsah sebagaimana telah disebutkan sebelumnya—Allah meneguhkan hati keduanya. Itu adalah nikmat besar bagi mereka dan bagi seluruh kaum beriman.Karena itulah Allah berfirman:وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا“Dan Allah adalah Pelindung bagi keduanya.”Yakni dengan perlindungan khusus-Nya. Perlindungan ini berupa kelembutan-Nya kepada para wali-Nya, memberi mereka taufik kepada hal-hal yang membawa kebaikan dan menjaga mereka dari hal-hal yang membahayakan.Termasuk bentuk perlindungan Allah kepada dua kelompok itu adalah ketika mereka hampir terjerumus dalam dosa besar—yaitu melemah dan lari dari Rasulullah ﷺ—Allah menjaga mereka karena iman yang masih ada pada diri mereka.Sebagaimana firman-Nya:اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ“Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257)Kemudian Allah berfirman:وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ“Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal.”Ayat ini berisi perintah untuk bertawakal. Tawakal adalah sikap hati yang bersandar sepenuhnya kepada Allah dalam meraih manfaat dan menolak mudarat, disertai kepercayaan penuh kepada-Nya.Kadar tawakal seorang hamba sebanding dengan kadar imannya. Semakin kuat imannya, semakin kuat pula tawakalnya.Orang-orang beriman lebih pantas untuk bertawakal kepada Allah dibandingkan selain mereka. Terlebih lagi dalam situasi sulit dan medan peperangan, karena pada saat itu mereka sangat membutuhkan tawakal, memohon pertolongan kepada Rabb mereka, dan meminta kemenangan dari-Nya.Mereka harus melepaskan diri dari ketergantungan pada kekuatan dan kemampuan diri sendiri, lalu bersandar sepenuhnya kepada kekuatan dan pertolongan Allah. Dengan cara itulah Allah akan menolong mereka dan melindungi mereka dari berbagai bencana dan ujian. 2. Motivasi dari Kemenangan Perang Badar (Ayat 123-129)Ingat bahwa jumlah bukan penentu kemenangan, melainkan pertolongan Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. Ali Imran: 123)إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَن يَكْفِيَكُمْ أَن يُمِدَّكُمْ رَبُّكُم بِثَلَٰثَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُنزَلِينَ“(Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?” (QS. Ali Imran: 124)بَلَىٰٓ ۚ إِن تَصْبِرُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُسَوِّمِينَ“Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.” (QS. Ali Imran: 125)Secara ringkas dalam Tafsir As-Sa’di dijelaskan:Perang Badar terjadi pada tahun kedua hijrah. Rasulullah ﷺ keluar dari Madinah bersama sekitar tiga ratus belasan sahabat. Mereka tidak memiliki kecuali tujuh puluh unta dan dua ekor kuda. Awalnya mereka bermaksud menghadang kafilah dagang Quraisy yang datang dari Syam.Namun kabar itu sampai kepada kaum musyrikin. Mereka pun bersiap dari Makkah untuk menyelamatkan kafilah mereka. Mereka keluar dengan sekitar seribu pasukan lengkap dengan persenjataan dan kuda yang banyak.Kedua pasukan bertemu di sebuah tempat bernama Badar, sebuah mata air di antara Makkah dan Madinah.Dalam pertempuran itu, Allah memberikan kemenangan besar kepada kaum muslimin. Mereka berhasil membunuh tujuh puluh orang dari tokoh-tokoh dan pemberani kaum musyrikin, serta menawan tujuh puluh orang lainnya. Mereka juga menguasai perkemahan musuh beserta perlengkapannya.Kisah lengkap mengenai perang Badar terdapat di Surah Al-Anfal. Namun Allah menyebutkannya di sini agar kaum mukminin mengingatnya, sehingga mereka semakin bertakwa kepada Rabb mereka dan bersyukur kepada-Nya.Mengenai ayat 125, Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Dalam ayat ini, Allah menetapkan tiga syarat untuk turunnya bantuan berupa lima ribu malaikat:SabarTakwaDatangnya kaum musyrikin secara langsung dan segera dalam peristiwa tersebutJanji turunnya malaikat dan tambahan kekuatan ini bergantung pada terpenuhinya tiga syarat tersebut.Adapun janji kemenangan secara umum dan penangkalan tipu daya musuh, maka Allah hanya mensyaratkan dua hal pertama, yaitu sabar dan takwa. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam firman-Nya:وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا“Jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka tidak akan membahayakan kalian sedikit pun.”(QS. Ali ‘Imran: 120) 3. Pembersihan Hati: Larangan Riba di Tengah Suasana Perang (Ayat 130-136)Penyisipan ayat-ayat tentang riba dan sifat orang bertakwa di tengah pembahasan Perang Uhud ini merupakan bentuk reorientasi mental dan spiritual bagi umat Islam. Melalui ayat ini, Allah melarang riba untuk mencabut akar kecintaan pada dunia yang sempat menggoyahkan disiplin pasukan pemanah di Bukit Rumat, sekaligus mengalihkan ambisi mereka dari sekadar mengejar harta rampasan (ghanimah) menuju perlombaan mengejar ampunan dan surga. Allah ingin menegaskan bahwa kemenangan sejati hanya akan diraih oleh orang-orang bertakwa yang mampu mengelola hati di masa sulit, yaitu mereka yang tetap dermawan saat sempit, mampu menahan amarah atas kegagalan koordinasi perang, serta memiliki jiwa pemaaf demi menjaga keutuhan ukhuwah dalam barisan.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوا۟ ٱلرِّبَوٰٓا۟ أَضْعَٰفًا مُّضَٰعَفَةً ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda] dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imran: 130)وَٱتَّقُوا۟ ٱلنَّارَ ٱلَّتِىٓ أُعِدَّتْ لِلْكَٰفِرِينَ“Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (QS. Ali Imran: 131)وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. Ali Imran: 132)۞ وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)أُو۟لَٰٓئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّٰتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ ٱلْعَٰمِلِينَ“Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran: 136)Penjelasan ringkas dari Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Barangkali—wallahu a‘lam—hikmah disisipkannya ayat-ayat ini di tengah kisah Perang Uhud adalah karena sebelumnya Allah telah menjanjikan kepada orang-orang beriman bahwa jika mereka bersabar dan bertakwa, niscaya Dia akan menolong mereka dan menggagalkan tipu daya musuh.Seakan-akan jiwa para mukmin rindu untuk mengetahui sifat-sifat ketakwaan yang dapat menghadirkan kemenangan, keberuntungan, dan kebahagiaan. Maka Allah menyebutkan dalam ayat-ayat ini sifat-sifat utama dari ketakwaan. Jika seorang hamba mampu menegakkannya, maka menegakkan sifat-sifat lain tentu lebih mudah dan lebih layak lagi.Setiap kali dalam Al-Qur’an Allah memulai dengan seruan ini, lalu memerintahkan sesuatu atau melarang sesuatu, maka itu menunjukkan bahwa imanlah yang menjadi sebab dan pendorong untuk melaksanakan perintah tersebut dan menjauhi larangan itu. Karena iman adalah pembenaran yang sempurna terhadap apa yang wajib dibenarkan, yang menuntut pengamalan anggota badan.Di antara larangan dalam ayat-ayat ini adalah larangan memakan riba yang berlipat ganda. Itulah praktik yang biasa dilakukan pada masa jahiliah, juga oleh orang-orang yang tidak peduli dengan perintah syariat.Apabila utang telah jatuh tempo dan si peminjam tidak mampu membayar, mereka berkata, “Lunasi sekarang atau kami tambahkan waktunya, tetapi jumlah utangmu bertambah.” Maka orang miskin itu terpaksa menyetujui tambahan tersebut demi mendapat kelonggaran waktu. Akibatnya, utangnya terus bertambah berkali-kali lipat tanpa ada manfaat yang ia peroleh.Dalam firman-Nya:أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً“Berlipat ganda.” Terdapat peringatan tentang betapa buruknya perbuatan itu karena banyaknya tambahan yang memberatkan, sekaligus isyarat tentang hikmah pengharamannya. Allah mengharamkan riba karena di dalamnya terdapat kezaliman.Allah mewajibkan agar orang yang kesulitan diberi penangguhan tanpa tambahan apa pun pada utangnya. Maka membebani dia dengan tambahan di atas itu adalah kezaliman yang berlipat ganda.Karena itu, seorang mukmin yang bertakwa wajib meninggalkan riba dan tidak mendekatinya. Meninggalkannya termasuk konsekuensi ketakwaan. Sedangkan keberuntungan dan keselamatan bergantung pada ketakwaan. 4. Isu Wafatnya Rasulullah dan Kekuatan Mental (Ayat 144)Kekalahan di medan Uhud semakin memuncak ketika tersiar kabar hoaks bahwa Rasulullah ﷺ telah wafat, yang seketika meruntuhkan mental sebagian kaum Muslimin. Melalui Surah Ali ‘Imran ayat 144 ini, Allah meluruskan niat para sahabat agar dasar perjuangan mereka bukan semata-mata karena figur pemimpin, melainkan murni karena Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ ٱلرُّسُلُ ۚ أَفَإِي۟ن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ ٱنقَلَبْتُمْ عَلَىٰٓ أَعْقَٰبِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيْـًٔا ۗ وَسَيَجْزِى ٱللَّهُ ٱلشَّٰكِرِينَ“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Dalam ayat yang mulia ini terdapat bimbingan dari Allah agar hamba-hamba-Nya tidak mudah goyah dari iman atau dari konsekuensi iman, hanya karena kehilangan seorang pemimpin, meskipun ia sangat agung.Hal itu hanya dapat terwujud jika dalam setiap urusan agama tersedia sejumlah orang yang cakap dan layak memikul tanggung jawab tersebut. Jika salah satu dari mereka wafat atau tiada, maka yang lain dapat menggantikannya.Demikian pula hendaknya tujuan umum kaum mukminin adalah menegakkan agama Allah dan berjihad membelanya sesuai kemampuan, bukan bergantung pada sosok pemimpin tertentu. Dengan sikap seperti ini, urusan mereka akan kokoh dan keadaan mereka akan tetap teratur.Dalam ayat ini juga terdapat dalil yang sangat kuat tentang keutamaan ash-Shiddiq yang agung, yaitu Abu Bakar As-Siddiq, serta para sahabat yang memerangi kaum murtad setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Karena merekalah para pemimpin orang-orang yang bersyukur, yang tetap teguh menegakkan agama Allah setelah wafatnya Nabi mereka. 5. Titik Balik Kekalahan: Ujian Dunia dan Ketidakpatuhan (Ayat 152)Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ ٱللَّهُ وَعْدَهُۥٓ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِۦ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَٰزَعْتُمْ فِى ٱلْأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّنۢ بَعْدِ مَآ أَرَىٰكُم مَّا تُحِبُّونَ ۚ مِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلْءَاخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ ۗ وَٱللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 152)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ“Dan sungguh Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian.” Yakni janji kemenangan. Allah benar-benar telah menolong kalian atas musuh-musuh kalian, hingga mereka berpaling mundur dan kalian membunuh mereka. Kemenangan itu hampir sempurna.Namun kemudian kalian justru menjadi sebab kelemahan bagi diri kalian sendiri, bahkan menjadi penolong bagi musuh untuk mengalahkan kalian.Ketika muncul di antara kalian kelemahan dan rasa gentar, dan kalian berselisih dalam urusan, padahal Allah telah memerintahkan persatuan dan melarang perpecahan—maka terjadilah perbedaan pendapat.Sebagian berkata, “Kita tetap tinggal di posisi yang telah ditetapkan oleh Nabi ﷺ.” Sebagian lagi berkata, “Mengapa kita tetap di sini, padahal musuh telah kalah dan tidak ada lagi bahaya?”Maka kalian pun bermaksiat kepada Rasul ﷺ dan meninggalkan perintah beliau, setelah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai, yaitu kekalahan musuh kalian.Padahal orang yang telah Allah beri nikmat kemenangan, justru lebih besar kewajibannya untuk taat. Dalam kondisi seperti itu—dan dalam kondisi apa pun—yang wajib adalah menaati perintah Allah dan Rasul-Nya.Allah berfirman:مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا“Di antara kalian ada yang menginginkan dunia.”Mereka adalah orang-orang yang terdorong turun dari posisi mereka karena menginginkan harta rampasan.وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ“Dan di antara kalian ada yang menginginkan akhirat.”Mereka adalah orang-orang yang tetap teguh mematuhi perintah Rasulullah ﷺ dan bertahan di tempat yang telah ditetapkan.Kemudian Allah berfirman:ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ“Kemudian Dia memalingkan kalian dari mereka.”Yakni, setelah terjadi kelemahan dan perselisihan itu, Allah memalingkan keadaan sehingga musuh berbalik menyerang kalian. Itu adalah ujian dan cobaan dari Allah.Tujuannya agar tampak jelas siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang munafik, siapa yang taat dan siapa yang durhaka. Sekaligus agar Allah menghapus kesalahan yang muncul dari kalian melalui musibah tersebut.Karena itu Allah berfirman:وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ“Dan sungguh Allah telah memaafkan kalian. Dan Allah memiliki karunia yang besar atas orang-orang beriman.”Di antara karunia besar Allah kepada kaum mukminin adalah Dia menganugerahkan Islam kepada mereka, memberi mereka petunjuk kepada syariat-Nya, memaafkan kesalahan mereka, dan memberikan pahala atas musibah yang menimpa mereka.Bahkan termasuk bagian dari karunia-Nya adalah bahwa setiap kebaikan maupun musibah yang Allah tetapkan bagi seorang mukmin, semuanya menjadi kebaikan baginya.Jika mereka mendapat kesenangan lalu bersyukur, Allah memberi mereka pahala sebagai orang-orang yang bersyukur. Jika mereka ditimpa kesusahan lalu bersabar, Allah memberi mereka pahala sebagai orang-orang yang sabar. 6. Akhlak Pemimpin: Musyawarah dan Kelembutan Hati (Ayat 159)Bagaimana Nabi tetap merangkul sahabat yang bersalah. Poin penting untuk parenting dan kepemimpinan saat ini.فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Allah Ta’ala berfirman:فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ“Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.”Yakni, karena rahmat Allah kepadamu dan kepada para sahabatmu, Allah menganugerahkan kepadamu kelembutan hati. Engkau merendahkan sayapmu kepada mereka, bersikap penuh kasih, dan berakhlak mulia terhadap mereka. Maka mereka pun berkumpul di sekelilingmu, mencintaimu, dan menaati perintahmu.Kemudian Allah berfirman:وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ“Seandainya engkau bersikap kasar lagi berhati keras, niscaya mereka akan menjauh dari sekelilingmu.”Yakni, jika engkau buruk akhlaknya dan keras hatinya, tentu orang-orang akan menjauh dan membencimu. Karena akhlak yang buruk membuat manusia lari dan merasa tidak nyaman.Akhlak yang baik dari seorang pemimpin dalam urusan agama akan menarik manusia kepada agama Allah dan membuat mereka mencintainya. Selain itu, pemilik akhlak mulia akan memperoleh pujian dan pahala khusus dari Allah.Sebaliknya, akhlak yang buruk dari seorang pemimpin agama akan membuat manusia menjauh dari agama dan membencinya. Pemiliknya pun berhak mendapatkan celaan dan hukuman khusus.Jika kepada Rasulullah ﷺ—yang ma‘shum dan paling sempurna akalnya, ilmunya, serta pendapatnya—Allah memberikan arahan seperti ini, maka bagaimana lagi dengan selain beliau?Bukankah termasuk kewajiban terbesar dan perkara terpenting adalah meneladani akhlak beliau yang mulia? Berinteraksi dengan manusia sebagaimana beliau berinteraksi: dengan kelembutan, akhlak yang baik, dan usaha merangkul hati. Semua itu dalam rangka menaati perintah Allah dan menarik hamba-hamba-Nya kepada agama-Nya.Kemudian Allah memerintahkan beliau untuk memaafkan kesalahan mereka terhadap beliau:فَاعْفُ عَنْهُمْ“Karena itu maafkanlah mereka.”Yakni atas kekurangan mereka terhadap hak beliau ﷺ.وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ“Dan mohonkanlah ampun untuk mereka.”Yakni atas kekurangan mereka terhadap hak Allah.Dengan demikian, terkumpullah dua hal: memaafkan dan berbuat baik.Kemudian Allah berfirman:وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”Yakni dalam perkara-perkara yang membutuhkan pertimbangan, pemikiran, dan penelaahan.Musyawarah memiliki banyak manfaat dan maslahat, baik dalam urusan agama maupun dunia, yang sulit dihitung jumlahnya. Di antaranya:Musyawarah termasuk bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.Ia membuat hati orang-orang menjadi lapang dan menghilangkan ganjalan yang mungkin muncul dalam peristiwa-peristiwa tertentu.Jika seorang pemimpin mengumpulkan orang-orang yang berilmu dan berpengalaman untuk dimintai pendapat dalam suatu masalah, maka hati mereka menjadi tenang, mereka mencintainya, dan mengetahui bahwa ia tidak bersikap otoriter, tetapi menginginkan kemaslahatan bersama.Dengan demikian, mereka akan bersungguh-sungguh dalam menaati dan membantunya, karena mereka tahu bahwa ia berusaha demi kepentingan umum.Berbeda dengan pemimpin yang tidak bermusyawarah, biasanya ia tidak dicintai dengan tulus, dan jika ditaati pun, ketaatan itu tidak sepenuh hati.Musyawarah juga menerangi akal, karena setiap pendapat diasah dan digunakan sesuai fungsinya, sehingga menghasilkan tambahan kecerdasan.Dari musyawarah sering lahir pendapat yang tepat. Orang yang bermusyawarah jarang keliru. Jika pun keliru atau tidak mencapai hasil yang diinginkan, ia tidak tercela.Jika Allah memerintahkan Rasul-Nya ﷺ—yang paling sempurna akalnya, paling luas ilmunya, dan paling tepat pendapatnya—untuk bermusyawarah, maka bagaimana lagi dengan selain beliau?Kemudian Allah berfirman:فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”Yakni, setelah bermusyawarah dan menetapkan keputusan dalam suatu urusan, maka bersandarlah kepada kekuatan dan pertolongan Allah. Lepaskan diri dari ketergantungan pada kemampuan dan kekuatan diri sendiri.إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”Yaitu orang-orang yang bersandar kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, dan menjadikan-Nya sebagai tempat bergantung dalam setiap urusan mereka. 7. Menyingkap Kedok Kaum Munafik di Balik Tragedi Uhud (Ayat 167)Allah Ta’ala berfirman,وَلِيَعْلَمَ ٱلَّذِينَ نَافَقُوا۟ ۚ وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ قَٰتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَوِ ٱدْفَعُوا۟ ۖ قَالُوا۟ لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَّٱتَّبَعْنَٰكُمْ ۗ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَٰنِ ۚ يَقُولُونَ بِأَفْوَٰهِهِم مَّا لَيْسَ فِى قُلُوبِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ“Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.” (QS. Ali Imran: 167)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Semua itu agar menjadi jelas perbedaan antara orang beriman dan orang munafik. Ketika mereka diperintahkan untuk berperang, dan dikatakan kepada mereka:تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ“Marilah berperang di jalan Allah.”Yakni untuk membela agama Allah, melindunginya, dan mencari keridaan-Nya.Kemudian dikatakan pula:أَوِ ادْفَعُوا“Atau setidaknya bertahanlah (membela diri).”Maksudnya, jika kalian tidak memiliki niat yang tulus untuk membela agama, maka setidaknya berperanglah demi membela keluarga, kehormatan, dan negeri kalian.Namun mereka menolak dan mencari-cari alasan. Mereka berkata:لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَاتَّبَعْنَاكُمْ“Seandainya kami mengetahui akan terjadi peperangan, niscaya kami mengikuti kalian.”Artinya, “Jika kami tahu pasti akan terjadi pertempuran antara kalian dan mereka, tentu kami ikut bersama kalian.”Padahal mereka berdusta.Mereka mengetahui dan meyakini—dan semua orang pun tahu—bahwa kaum musyrikin dipenuhi rasa dendam dan kemarahan kepada kaum mukminin atas kekalahan yang mereka alami. Mereka telah mengerahkan harta, mengumpulkan pasukan dan perlengkapan, serta datang dalam jumlah besar menuju negeri kaum muslimin, dengan tekad kuat untuk memerangi mereka.Dalam keadaan seperti itu, bagaimana mungkin tidak terjadi peperangan? Terlebih lagi kaum muslimin telah keluar dari Madinah dan maju menghadapi mereka. Mustahil tidak terjadi pertempuran.Akan tetapi, kaum munafik mengira alasan itu akan laku di hadapan kaum mukminin.Allah berfirman:هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ“Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekufuran daripada kepada keimanan.”Yakni dalam keadaan mereka meninggalkan kewajiban berangkat bersama kaum mukminin, mereka lebih condong kepada kekufuran.يَقُولُونَ بِأَفْوَاهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ“Mereka mengatakan dengan mulut mereka apa yang tidak ada dalam hati mereka.”Inilah ciri khas orang munafik: mereka menampakkan dengan ucapan dan perbuatan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang tersembunyi dalam hati dan batin mereka.Termasuk di dalamnya ucapan mereka, “Seandainya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentu kami mengikuti kalian,” padahal mereka benar-benar tahu bahwa peperangan pasti terjadi.Dari ayat ini juga dapat diambil kaidah penting:اِرْتِكَابُ أَخَفِّ الْمَفْسَدَتَيْنِ لِدَفْعِ أَعْلَاهُمَا، وَفِعْلُ أَدْنَى الْمَصْلَحَتَيْنِ، لِلْعَجْزِ عَنْ أَعْلَاهُمَا.“Menempuh mudarat yang lebih ringan untuk menghindari mudarat yang lebih besar, serta melakukan maslahat yang lebih rendah ketika tidak mampu meraih maslahat yang lebih tinggi.”Sebab orang-orang munafik diperintahkan untuk berperang demi agama. Jika mereka tidak mau, maka minimal untuk membela keluarga dan negeri mereka. Artinya, jika tidak mampu meraih tujuan yang paling tinggi, maka jangan tinggalkan tujuan yang lebih rendah.Kemudian Allah menutup ayat dengan firman-Nya:وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ“Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka sembunyikan.”Allah mengetahui apa yang tersembunyi di hati mereka, lalu Dia akan menampakkannya kepada kaum mukminin dan memberikan balasan atasnya. Ibrah bagi Kita dari Perang UhudBerdasarkan rangkaian ayat-ayat dalam Ali Imran tersebut, berikut adalah poin-poin kesalahan kaum muslimin di Perang Uhud yang menjadi peringatan abadi bagi kita saat ini:Ketidakpatuhan terhadap Instruksi Pemimpin: Kesalahan fatal bermula ketika pasukan pemanah melanggar perintah tegas Rasulullah ﷺ untuk tetap di posisi. Ini menjadi peringatan bahwa ketaatan kepada pemimpin dalam kebaikan adalah kunci stabilitas dan kemenangan barisan.Terfitnah oleh Dunia (Ghanimah): Munculnya keinginan terhadap harta rampasan perang yang mengalahkan niat awal berjihad. Hal ini mengingatkan kita bahwa penyakit “cinta dunia” dapat merusak fokus perjuangan dan melunturkan nilai keikhlasan.Perselisihan di Internal Barisan: Adanya perdebatan dan perbedaan pendapat di saat genting (antara tetap bertahan atau turun bukit) yang memicu perpecahan. Persatuan adalah kekuatan, sedangkan pertikaian internal adalah pembuka pintu kekalahan.Kekaguman pada Figur secara Berlebihan: Sebagian sempat goyah dan ingin mundur saat mendengar kabar hoaks Nabi ﷺ wafat. Ini adalah peringatan agar iman dan perjuangan tidak boleh bergantung pada sosok manusia, melainkan harus tegak di atas nilai dan perintah Allah yang abadi.Sifat Gentar dan Lemah Tekad: Adanya rasa takut yang sempat menghinggapi sebagian sahabat (Bani Salamah dan Bani Haritsah) sebelum perang dimulai. Keimanan harus dibarengi dengan keberanian dan tawakal penuh agar tidak mudah goyah oleh besarnya kekuatan musuh.Lalai dalam Menjaga Kewaspadaan: Meninggalkan celah strategis (bukit Rumat) karena menyangka perang telah usai. Hal ini mengajarkan bahwa sikap meremehkan musuh dan terlalu cepat merasa menang bisa berakibat fatal.Kurangnya Ketajaman dalam Menilai Orang Munafik: Adanya pengaruh dari kaum munafik (Abdullah bin Ubay) yang berhasil membawa pulang sepertiga pasukan. Umat Islam harus waspada terhadap upaya pelemahan dari dalam yang seringkali dibungkus dengan alasan-alasan yang tampak logis. KesimpulanKesimpulan dari tadabbur Perang Uhud di Surah Ali ‘Imran adalah bahwa kemenangan sejati tidak ditentukan oleh kekuatan fisik semata, melainkan oleh keteguhan iman, ketaatan penuh kepada syariat, dan kebersihan hati dari ambisi duniawi.“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai ambisi terbesar kami, ampunilah kelemahan hati kami saat menghadapi ujian, dan teguhkanlah kaki kami di atas jalan kebenaran sebagaimana Engkau telah memberikan perlindungan khusus kepada hamba-hamba-Mu yang beriman.”  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Sabtu bakda Maghrib, 4 Ramadhan 1447 H @ Makkah Al-MukarramahPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagshikmah perang perang perang di masa nabi perang uhud renungan ayat renungan quran

Tadabbur Perang Uhud dalam Surah Ali Imran: Pelajaran Berharga tentang Ketaatan dan Bahaya Cinta Dunia

Juz 4 dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Ali ‘Imran, memuat evaluasi mendalam dan “trauma healing” Rabbani atas tragedi Perang Uhud yang menjadi madrasah tarbiyah bagi setiap mukmin. Melalui rangkaian ayat ini, Allah membedah secara anatomi bahwa kekalahan sering kali berakar dari penyakit hati berupa cinta dunia, ketidakpatuhan terhadap perintah Rasul, serta guncangnya mental akibat isu yang tidak berdasar. Tulisan ini akan merangkum tujuh bahasan utama dalam Surah Ali ‘Imran yang menyingkap strategi, ujian iman, hingga kelembutan akhlak pemimpin sebagai pelajaran abadi bagi perjuangan umat Islam saat ini.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Perang Uhud dan Pelajaran di Dalamnya  Daftar Isi tutup 1. Mengapa Surah Ali Imran Membahas Uhud secara Detail? 1.1. 1. Evaluasi Mental Setelah Luka Fisik 1.2. 2. Membedah Penyakit “Cinta Dunia” 1.3. 3. Memisahkan Emas dari Loyang 1.4. 4. Meneguhkan Konsep Kenabian 2. 7 Bahasan Utama Perang Uhud dalam Surah Ali Imran 2.1. 1. Persiapan Strategis dan Keberangkatan (Ayat 121-122) 2.2. 2. Motivasi dari Kemenangan Perang Badar (Ayat 123-129) 2.3. 3. Pembersihan Hati: Larangan Riba di Tengah Suasana Perang (Ayat 130-136) 2.4. 4. Isu Wafatnya Rasulullah dan Kekuatan Mental (Ayat 144) 2.5. 5. Titik Balik Kekalahan: Ujian Dunia dan Ketidakpatuhan (Ayat 152) 2.6. 6. Akhlak Pemimpin: Musyawarah dan Kelembutan Hati (Ayat 159) 2.7. 7. Menyingkap Kedok Kaum Munafik di Balik Tragedi Uhud (Ayat 167) 3. Ibrah bagi Kita dari Perang Uhud 4. Kesimpulan   Mengapa Surah Ali Imran Membahas Uhud secara Detail?Peristiwa Perang Uhud bukan sekadar catatan sejarah tentang menang atau kalah. Dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Ali ‘Imran, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan porsi pembahasan yang sangat panjang (lebih dari 50 ayat) untuk mengupas tragedi ini. Mengapa demikian?1. Evaluasi Mental Setelah Luka FisikJuz 4 dibuka dengan penguatan akidah dan syariat, namun kemudian masuk ke dalam evaluasi Perang Uhud. Secara psikologis, pasukan Muslim saat itu sedang berada dalam titik terendah. Mereka kehilangan 70 syuhada, termasuk Hamzah bin Abdul Muthalib, dan Rasulullah ﷺ sendiri mengalami luka-luka.Allah menurunkan ayat-ayat ini bukan untuk menghakimi secara kasar, melainkan sebagai “Trauma Healing” Rabbani. Allah ingin menyembuhkan mental para sahabat dengan menjelaskan mengapa itu terjadi, agar kesedihan tidak berlarut-larut menjadi keputusasaan.وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139)Dalam Tafsir Al-Baghawi disebutkan:Allah Ta’ala berfirman: “Janganlah kalian merasa lemah dan jangan pula bersedih hati.”Ayat ini merupakan dorongan dan penyemangat bagi para sahabat Nabi ﷺ untuk terus berjihad, meskipun mereka telah tertimpa musibah berupa terbunuh dan terluka dalam Perang Uhud. Allah Ta’ala berfirman:“وَلَا تَهِنُوا”“Janganlah kalian menjadi lemah.”Maksudnya, janganlah kalian menjadi lemah dan jangan pula merasa gentar dalam menghadapi musuh-musuh kalian, hanya karena kalian mengalami korban terbunuh dan luka-luka.Pada hari itu gugur lima orang sahabat yang mulia, di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Mush’ab bin Umair, serta tujuh puluh orang dari kalangan Anshar.Kemudian Allah berfirman:“وَلَا تَحْزَنُوا”“Dan janganlah kalian bersedih hati.”Janganlah kalian bersedih atas apa yang telah menimpa kalian.“وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ”“Padahal kalianlah yang paling tinggi (derajatnya atau kedudukannya).”Yakni, pada akhirnya kalianlah yang akan memperoleh kemenangan dan pertolongan. Kalianlah yang akan mendapatkan akibat yang baik berupa kemenangan dan kejayaan.“إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ”“Jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman.”Maksudnya: karena kalian adalah orang-orang yang beriman. Keimanan itulah yang menjadi sebab datangnya pertolongan dan kemenangan.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: ketika para sahabat Rasulullah ﷺ tercerai-berai di lereng gunung (pada Perang Uhud), Khalid bin Walid datang bersama pasukan berkuda kaum musyrikin, hendak naik ke atas gunung untuk menyerang mereka.Maka Nabi ﷺ berdoa,اللَّهُمَّ لَا يَعْلُونَ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ لَا قُوَّةَ لَنَا إِلَّا بِكَ“Ya Allah, jangan Engkau biarkan mereka mengalahkan kami. Ya Allah, tidak ada kekuatan bagi kami kecuali dengan pertolongan-Mu.”Kemudian sekelompok kaum muslimin dari pasukan pemanah bangkit dan naik ke atas gunung. Mereka melempari pasukan berkuda kaum musyrikin hingga berhasil memukul mundur mereka. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: “Dan kalianlah yang paling tinggi.”Al-Kalbi berkata: ayat ini turun setelah Perang Uhud, ketika Nabi ﷺ memerintahkan para sahabat untuk mengejar musuh, meskipun mereka dalam keadaan terluka. Hal itu terasa sangat berat bagi kaum muslimin, maka Allah menurunkan ayat ini sebagai penguat dan peneguh hati mereka.Hal ini diperkuat oleh firman Allah Ta’ala:وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ“Dan janganlah kalian menjadi lemah dalam mengejar musuh.” (QS. An-Nisa’: 104) 2. Membedah Penyakit “Cinta Dunia”Jika Perang Badar (di Surah Al-Anfal) adalah cerita tentang pertolongan Allah yang luar biasa, maka Perang Uhud di Surah Ali ‘Imran adalah cerita tentang kedisiplinan dan kejujuran hati.Allah mendetailkan peristiwa ini untuk menunjukkan bahwa musuh terbesar bukanlah Khalid bin Walid (yang saat itu masih di pihak Quraisy), melainkan fitnah harta (ghanimah) yang muncul di hati sebagian pasukan. Ini adalah pelajaran abadi bagi aktivis dakwah dan umat Islam: bahwa maksiat di dalam barisan lebih berbahaya daripada kekuatan musuh di luar barisan.Baca juga: Jangan-Jangan Kita Terjangkit Penyakit Cinta Dunia, Ini Tandanya 3. Memisahkan Emas dari LoyangMelalui detail di Surah Ali ‘Imran, Allah ingin melakukan tashfiyah (penyaringan). Dalam suasana damai, semua orang bisa mengaku beriman. Namun, dalam situasi genting seperti di Uhud—di mana muncul isu Nabi wafat dan mundurnya pasukan munafik—akan terlihat siapa yang benar-benar berjuang karena Allah dan siapa yang hanya ikut-ikutan. 4. Meneguhkan Konsep KenabianDetailnya pembahasan ini juga untuk meluruskan pemahaman para sahabat bahwa Rasulullah ﷺ adalah manusia biasa yang bisa terluka dan kelak akan wafat. Umat Islam tidak boleh menggantungkan agama pada eksistensi fisik sang Nabi, melainkan pada ajaran yang beliau bawa. Inilah mengapa Allah menegur mereka di ayat 144 agar tetap teguh meski kabar duka menerpa.Ali ‘Imran tidak hanya menceritakan urutan kejadian, tapi melakukan bedah anatomi kesalahan agar umat Islam di masa depan (termasuk kita hari ini) tidak mengulangi lubang yang sama. Kekalahan di Uhud adalah “madrasah” tarbiyah yang sangat mahal harganya. 7 Bahasan Utama Perang Uhud dalam Surah Ali Imran1. Persiapan Strategis dan Keberangkatan (Ayat 121-122)Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّئُ ٱلْمُؤْمِنِينَ مَقَٰعِدَ لِلْقِتَالِ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran: 121)إِذْ هَمَّت طَّآئِفَتَانِ مِنكُمْ أَن تَفْشَلَا وَٱللَّهُ وَلِيُّهُمَا ۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ“Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Ali Imran: 122)Dalam Tafsir As-Sa’di dijelaskan mengenai dua ayat di atas.Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan Perang Uhud. Kisahnya sangat masyhur dalam kitab-kitab sirah dan sejarah.Hikmah penyebutannya di sini—serta disandingkannya dengan kisah Perang Badar—adalah karena Allah Ta’ala telah menjanjikan kepada orang-orang beriman bahwa jika mereka bersabar dan bertakwa, maka Dia akan menolong mereka dan menggagalkan tipu daya musuh. Janji ini bersifat umum dan benar adanya, tidak akan meleset selama syaratnya terpenuhi.Maka Allah menyebutkan dua contoh nyata dari janji tersebut. Dalam Perang Badar, Allah menolong kaum mukminin ketika mereka bersabar dan bertakwa. Namun dalam Perang Uhud, musuh sempat mendapatkan kemenangan atas mereka karena sebagian kaum muslimin melakukan pelanggaran terhadap ketakwaan.Di antara hikmah digabungkannya dua kisah ini adalah bahwa Allah menyukai hamba-Nya yang ketika tertimpa sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka mengingat kembali nikmat yang mereka cintai. Dengan itu, musibah menjadi terasa ringan, dan mereka pun bersyukur atas nikmat besar yang Allah karuniakan. Jika dibandingkan dengan nikmat tersebut, maka musibah yang menimpa sebenarnya sangat kecil dan pada hakikatnya mengandung kebaikan bagi mereka.Allah Ta’ala telah mengisyaratkan hikmah ini dalam firman-Nya:أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا“Dan apakah ketika kalian ditimpa musibah, padahal kalian telah menimpakan dua kali lipat musibah kepada musuh kalian…?” (QS. Ali ‘Imran: 165)Adapun ringkasan peristiwa Uhud adalah sebagai berikut:Ketika kaum musyrikin kembali dari Perang Badar ke Makkah pada tahun kedua hijrah, mereka mempersiapkan diri dengan segala kemampuan: harta, persenjataan, dan pasukan. Mereka mengumpulkan kekuatan yang besar dengan keyakinan akan tercapainya tujuan mereka dan terobatinya rasa dendam di dada mereka.Akhirnya, mereka berangkat dari Makkah menuju Madinah dengan tiga ribu pasukan, lalu berhenti di dekat kota Madinah.Rasulullah ﷺ keluar menghadapi mereka bersama para sahabatnya setelah melalui musyawarah dan pertimbangan. Akhirnya diputuskan untuk keluar dari kota. Beliau berangkat bersama seribu pasukan.Namun, ketika perjalanan baru berjalan sedikit, Abdullah bin Ubay, seorang munafik, kembali bersama sepertiga pasukan yang sepaham dengannya. Bahkan dua kelompok kaum mukminin—Bani Salamah dan Bani Haritsah—sempat berniat untuk mundur, tetapi Allah meneguhkan hati mereka.Ketika sampai di Uhud, Nabi ﷺ menyusun barisan kaum muslimin dan menempatkan mereka di posisi masing-masing. Mereka membelakangi Gunung Uhud agar tidak diserang dari belakang.Beliau juga menempatkan lima puluh sahabat di sebuah celah di Gunung Uhud dan memerintahkan mereka untuk tetap di tempat itu dan tidak meninggalkannya dalam keadaan apa pun, agar tidak ada musuh yang menyerang dari arah belakang.Ketika pertempuran dimulai, kaum musyrikin mengalami kekalahan telak dan meninggalkan perkemahan mereka. Kaum muslimin mengejar mereka, membunuh dan menawan sebagian dari mereka.Namun, para pemanah yang berada di atas gunung melihat kaum musyrikin lari tunggang-langgang. Sebagian dari mereka berkata, “Harta rampasan! Harta rampasan! Mengapa kita tetap di sini sementara musuh telah kalah?”Pemimpin mereka, Abdullah bin Jubair, menasihati mereka agar tidak melanggar perintah Rasulullah ﷺ, tetapi mereka tidak mengindahkannya. Ketika mereka meninggalkan posisi, hanya tersisa sedikit orang, termasuk pemimpin mereka.Dari celah itulah pasukan berkuda kaum musyrikin menyerang dari belakang dan menyerbu barisan kaum muslimin. Kaum muslimin pun kacau dan terjadi goncangan besar—ujian dari Allah untuk mereka. Dengan ujian itu Allah menghapus dosa-dosa mereka, sekaligus memberi mereka pelajaran atas pelanggaran yang telah terjadi.Sebagian sahabat gugur syahid, lalu mereka berkumpul dan bertahan di puncak Gunung Uhud. Allah kemudian menahan tangan kaum musyrikin sehingga mereka tidak melanjutkan serangan, lalu mereka kembali ke negeri mereka.Rasulullah ﷺ dan para sahabat kembali ke Madinah.Allah Ta’ala berfirman:وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ“Dan (ingatlah) ketika engkau berangkat dari keluargamu…”Kata ghuduw (غَدَوْتَ) di sini berarti keluar secara umum, bukan khusus pada pagi hari. Karena Nabi ﷺ dan para sahabat keluar setelah menunaikan shalat Jumat.تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِينَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ“Engkau menempatkan orang-orang beriman pada posisi-posisi untuk berperang.”Yakni, engkau menempatkan dan menyusun mereka sesuai posisi yang layak bagi masing-masing.Dalam ayat ini terdapat pujian yang sangat besar kepada Nabi ﷺ. Beliaulah yang langsung mengatur strategi dan menempatkan pasukan. Hal itu menunjukkan kesempurnaan ilmu, ketajaman pandangan, kelurusan pendapat, dan tingginya semangat beliau. Beliau sendiri turun tangan dalam pengaturan dan memiliki keberanian yang sempurna. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada beliau.Allah berfirman:وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”Allah Maha Mendengar segala sesuatu yang diucapkan, termasuk perkataan orang-orang beriman dan orang-orang munafik—masing-masing berbicara sesuai isi hatinya. Allah juga Maha Mengetahui niat para hamba, lalu membalas mereka dengan balasan yang paling sempurna.Selain itu, maknanya juga: Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui keadaan kalian. Dia menjaga kalian, mengatur urusan kalian, dan menguatkan kalian dengan pertolongan-Nya.Sebagaimana firman-Nya kepada Musa dan Harun:إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى“Sesungguhnya Aku bersama kalian berdua, Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thaha: 46)Di ayat selanjutnya (QS. Ali Imran ayat 122) dijelaskan oleh Syaikh As-Sa’di sebagai berikut.Di antara bentuk kelembutan dan kebaikan Allah kepada kaum mukminin adalah ketika dua golongan dari mereka hampir saja melemah dan mundur—yaitu Bani Salamah dan Bani Haritsah sebagaimana telah disebutkan sebelumnya—Allah meneguhkan hati keduanya. Itu adalah nikmat besar bagi mereka dan bagi seluruh kaum beriman.Karena itulah Allah berfirman:وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا“Dan Allah adalah Pelindung bagi keduanya.”Yakni dengan perlindungan khusus-Nya. Perlindungan ini berupa kelembutan-Nya kepada para wali-Nya, memberi mereka taufik kepada hal-hal yang membawa kebaikan dan menjaga mereka dari hal-hal yang membahayakan.Termasuk bentuk perlindungan Allah kepada dua kelompok itu adalah ketika mereka hampir terjerumus dalam dosa besar—yaitu melemah dan lari dari Rasulullah ﷺ—Allah menjaga mereka karena iman yang masih ada pada diri mereka.Sebagaimana firman-Nya:اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ“Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257)Kemudian Allah berfirman:وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ“Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal.”Ayat ini berisi perintah untuk bertawakal. Tawakal adalah sikap hati yang bersandar sepenuhnya kepada Allah dalam meraih manfaat dan menolak mudarat, disertai kepercayaan penuh kepada-Nya.Kadar tawakal seorang hamba sebanding dengan kadar imannya. Semakin kuat imannya, semakin kuat pula tawakalnya.Orang-orang beriman lebih pantas untuk bertawakal kepada Allah dibandingkan selain mereka. Terlebih lagi dalam situasi sulit dan medan peperangan, karena pada saat itu mereka sangat membutuhkan tawakal, memohon pertolongan kepada Rabb mereka, dan meminta kemenangan dari-Nya.Mereka harus melepaskan diri dari ketergantungan pada kekuatan dan kemampuan diri sendiri, lalu bersandar sepenuhnya kepada kekuatan dan pertolongan Allah. Dengan cara itulah Allah akan menolong mereka dan melindungi mereka dari berbagai bencana dan ujian. 2. Motivasi dari Kemenangan Perang Badar (Ayat 123-129)Ingat bahwa jumlah bukan penentu kemenangan, melainkan pertolongan Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. Ali Imran: 123)إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَن يَكْفِيَكُمْ أَن يُمِدَّكُمْ رَبُّكُم بِثَلَٰثَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُنزَلِينَ“(Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?” (QS. Ali Imran: 124)بَلَىٰٓ ۚ إِن تَصْبِرُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُسَوِّمِينَ“Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.” (QS. Ali Imran: 125)Secara ringkas dalam Tafsir As-Sa’di dijelaskan:Perang Badar terjadi pada tahun kedua hijrah. Rasulullah ﷺ keluar dari Madinah bersama sekitar tiga ratus belasan sahabat. Mereka tidak memiliki kecuali tujuh puluh unta dan dua ekor kuda. Awalnya mereka bermaksud menghadang kafilah dagang Quraisy yang datang dari Syam.Namun kabar itu sampai kepada kaum musyrikin. Mereka pun bersiap dari Makkah untuk menyelamatkan kafilah mereka. Mereka keluar dengan sekitar seribu pasukan lengkap dengan persenjataan dan kuda yang banyak.Kedua pasukan bertemu di sebuah tempat bernama Badar, sebuah mata air di antara Makkah dan Madinah.Dalam pertempuran itu, Allah memberikan kemenangan besar kepada kaum muslimin. Mereka berhasil membunuh tujuh puluh orang dari tokoh-tokoh dan pemberani kaum musyrikin, serta menawan tujuh puluh orang lainnya. Mereka juga menguasai perkemahan musuh beserta perlengkapannya.Kisah lengkap mengenai perang Badar terdapat di Surah Al-Anfal. Namun Allah menyebutkannya di sini agar kaum mukminin mengingatnya, sehingga mereka semakin bertakwa kepada Rabb mereka dan bersyukur kepada-Nya.Mengenai ayat 125, Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Dalam ayat ini, Allah menetapkan tiga syarat untuk turunnya bantuan berupa lima ribu malaikat:SabarTakwaDatangnya kaum musyrikin secara langsung dan segera dalam peristiwa tersebutJanji turunnya malaikat dan tambahan kekuatan ini bergantung pada terpenuhinya tiga syarat tersebut.Adapun janji kemenangan secara umum dan penangkalan tipu daya musuh, maka Allah hanya mensyaratkan dua hal pertama, yaitu sabar dan takwa. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam firman-Nya:وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا“Jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka tidak akan membahayakan kalian sedikit pun.”(QS. Ali ‘Imran: 120) 3. Pembersihan Hati: Larangan Riba di Tengah Suasana Perang (Ayat 130-136)Penyisipan ayat-ayat tentang riba dan sifat orang bertakwa di tengah pembahasan Perang Uhud ini merupakan bentuk reorientasi mental dan spiritual bagi umat Islam. Melalui ayat ini, Allah melarang riba untuk mencabut akar kecintaan pada dunia yang sempat menggoyahkan disiplin pasukan pemanah di Bukit Rumat, sekaligus mengalihkan ambisi mereka dari sekadar mengejar harta rampasan (ghanimah) menuju perlombaan mengejar ampunan dan surga. Allah ingin menegaskan bahwa kemenangan sejati hanya akan diraih oleh orang-orang bertakwa yang mampu mengelola hati di masa sulit, yaitu mereka yang tetap dermawan saat sempit, mampu menahan amarah atas kegagalan koordinasi perang, serta memiliki jiwa pemaaf demi menjaga keutuhan ukhuwah dalam barisan.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوا۟ ٱلرِّبَوٰٓا۟ أَضْعَٰفًا مُّضَٰعَفَةً ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda] dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imran: 130)وَٱتَّقُوا۟ ٱلنَّارَ ٱلَّتِىٓ أُعِدَّتْ لِلْكَٰفِرِينَ“Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (QS. Ali Imran: 131)وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. Ali Imran: 132)۞ وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)أُو۟لَٰٓئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّٰتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ ٱلْعَٰمِلِينَ“Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran: 136)Penjelasan ringkas dari Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Barangkali—wallahu a‘lam—hikmah disisipkannya ayat-ayat ini di tengah kisah Perang Uhud adalah karena sebelumnya Allah telah menjanjikan kepada orang-orang beriman bahwa jika mereka bersabar dan bertakwa, niscaya Dia akan menolong mereka dan menggagalkan tipu daya musuh.Seakan-akan jiwa para mukmin rindu untuk mengetahui sifat-sifat ketakwaan yang dapat menghadirkan kemenangan, keberuntungan, dan kebahagiaan. Maka Allah menyebutkan dalam ayat-ayat ini sifat-sifat utama dari ketakwaan. Jika seorang hamba mampu menegakkannya, maka menegakkan sifat-sifat lain tentu lebih mudah dan lebih layak lagi.Setiap kali dalam Al-Qur’an Allah memulai dengan seruan ini, lalu memerintahkan sesuatu atau melarang sesuatu, maka itu menunjukkan bahwa imanlah yang menjadi sebab dan pendorong untuk melaksanakan perintah tersebut dan menjauhi larangan itu. Karena iman adalah pembenaran yang sempurna terhadap apa yang wajib dibenarkan, yang menuntut pengamalan anggota badan.Di antara larangan dalam ayat-ayat ini adalah larangan memakan riba yang berlipat ganda. Itulah praktik yang biasa dilakukan pada masa jahiliah, juga oleh orang-orang yang tidak peduli dengan perintah syariat.Apabila utang telah jatuh tempo dan si peminjam tidak mampu membayar, mereka berkata, “Lunasi sekarang atau kami tambahkan waktunya, tetapi jumlah utangmu bertambah.” Maka orang miskin itu terpaksa menyetujui tambahan tersebut demi mendapat kelonggaran waktu. Akibatnya, utangnya terus bertambah berkali-kali lipat tanpa ada manfaat yang ia peroleh.Dalam firman-Nya:أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً“Berlipat ganda.” Terdapat peringatan tentang betapa buruknya perbuatan itu karena banyaknya tambahan yang memberatkan, sekaligus isyarat tentang hikmah pengharamannya. Allah mengharamkan riba karena di dalamnya terdapat kezaliman.Allah mewajibkan agar orang yang kesulitan diberi penangguhan tanpa tambahan apa pun pada utangnya. Maka membebani dia dengan tambahan di atas itu adalah kezaliman yang berlipat ganda.Karena itu, seorang mukmin yang bertakwa wajib meninggalkan riba dan tidak mendekatinya. Meninggalkannya termasuk konsekuensi ketakwaan. Sedangkan keberuntungan dan keselamatan bergantung pada ketakwaan. 4. Isu Wafatnya Rasulullah dan Kekuatan Mental (Ayat 144)Kekalahan di medan Uhud semakin memuncak ketika tersiar kabar hoaks bahwa Rasulullah ﷺ telah wafat, yang seketika meruntuhkan mental sebagian kaum Muslimin. Melalui Surah Ali ‘Imran ayat 144 ini, Allah meluruskan niat para sahabat agar dasar perjuangan mereka bukan semata-mata karena figur pemimpin, melainkan murni karena Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ ٱلرُّسُلُ ۚ أَفَإِي۟ن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ ٱنقَلَبْتُمْ عَلَىٰٓ أَعْقَٰبِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيْـًٔا ۗ وَسَيَجْزِى ٱللَّهُ ٱلشَّٰكِرِينَ“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Dalam ayat yang mulia ini terdapat bimbingan dari Allah agar hamba-hamba-Nya tidak mudah goyah dari iman atau dari konsekuensi iman, hanya karena kehilangan seorang pemimpin, meskipun ia sangat agung.Hal itu hanya dapat terwujud jika dalam setiap urusan agama tersedia sejumlah orang yang cakap dan layak memikul tanggung jawab tersebut. Jika salah satu dari mereka wafat atau tiada, maka yang lain dapat menggantikannya.Demikian pula hendaknya tujuan umum kaum mukminin adalah menegakkan agama Allah dan berjihad membelanya sesuai kemampuan, bukan bergantung pada sosok pemimpin tertentu. Dengan sikap seperti ini, urusan mereka akan kokoh dan keadaan mereka akan tetap teratur.Dalam ayat ini juga terdapat dalil yang sangat kuat tentang keutamaan ash-Shiddiq yang agung, yaitu Abu Bakar As-Siddiq, serta para sahabat yang memerangi kaum murtad setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Karena merekalah para pemimpin orang-orang yang bersyukur, yang tetap teguh menegakkan agama Allah setelah wafatnya Nabi mereka. 5. Titik Balik Kekalahan: Ujian Dunia dan Ketidakpatuhan (Ayat 152)Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ ٱللَّهُ وَعْدَهُۥٓ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِۦ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَٰزَعْتُمْ فِى ٱلْأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّنۢ بَعْدِ مَآ أَرَىٰكُم مَّا تُحِبُّونَ ۚ مِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلْءَاخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ ۗ وَٱللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 152)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ“Dan sungguh Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian.” Yakni janji kemenangan. Allah benar-benar telah menolong kalian atas musuh-musuh kalian, hingga mereka berpaling mundur dan kalian membunuh mereka. Kemenangan itu hampir sempurna.Namun kemudian kalian justru menjadi sebab kelemahan bagi diri kalian sendiri, bahkan menjadi penolong bagi musuh untuk mengalahkan kalian.Ketika muncul di antara kalian kelemahan dan rasa gentar, dan kalian berselisih dalam urusan, padahal Allah telah memerintahkan persatuan dan melarang perpecahan—maka terjadilah perbedaan pendapat.Sebagian berkata, “Kita tetap tinggal di posisi yang telah ditetapkan oleh Nabi ﷺ.” Sebagian lagi berkata, “Mengapa kita tetap di sini, padahal musuh telah kalah dan tidak ada lagi bahaya?”Maka kalian pun bermaksiat kepada Rasul ﷺ dan meninggalkan perintah beliau, setelah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai, yaitu kekalahan musuh kalian.Padahal orang yang telah Allah beri nikmat kemenangan, justru lebih besar kewajibannya untuk taat. Dalam kondisi seperti itu—dan dalam kondisi apa pun—yang wajib adalah menaati perintah Allah dan Rasul-Nya.Allah berfirman:مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا“Di antara kalian ada yang menginginkan dunia.”Mereka adalah orang-orang yang terdorong turun dari posisi mereka karena menginginkan harta rampasan.وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ“Dan di antara kalian ada yang menginginkan akhirat.”Mereka adalah orang-orang yang tetap teguh mematuhi perintah Rasulullah ﷺ dan bertahan di tempat yang telah ditetapkan.Kemudian Allah berfirman:ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ“Kemudian Dia memalingkan kalian dari mereka.”Yakni, setelah terjadi kelemahan dan perselisihan itu, Allah memalingkan keadaan sehingga musuh berbalik menyerang kalian. Itu adalah ujian dan cobaan dari Allah.Tujuannya agar tampak jelas siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang munafik, siapa yang taat dan siapa yang durhaka. Sekaligus agar Allah menghapus kesalahan yang muncul dari kalian melalui musibah tersebut.Karena itu Allah berfirman:وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ“Dan sungguh Allah telah memaafkan kalian. Dan Allah memiliki karunia yang besar atas orang-orang beriman.”Di antara karunia besar Allah kepada kaum mukminin adalah Dia menganugerahkan Islam kepada mereka, memberi mereka petunjuk kepada syariat-Nya, memaafkan kesalahan mereka, dan memberikan pahala atas musibah yang menimpa mereka.Bahkan termasuk bagian dari karunia-Nya adalah bahwa setiap kebaikan maupun musibah yang Allah tetapkan bagi seorang mukmin, semuanya menjadi kebaikan baginya.Jika mereka mendapat kesenangan lalu bersyukur, Allah memberi mereka pahala sebagai orang-orang yang bersyukur. Jika mereka ditimpa kesusahan lalu bersabar, Allah memberi mereka pahala sebagai orang-orang yang sabar. 6. Akhlak Pemimpin: Musyawarah dan Kelembutan Hati (Ayat 159)Bagaimana Nabi tetap merangkul sahabat yang bersalah. Poin penting untuk parenting dan kepemimpinan saat ini.فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Allah Ta’ala berfirman:فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ“Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.”Yakni, karena rahmat Allah kepadamu dan kepada para sahabatmu, Allah menganugerahkan kepadamu kelembutan hati. Engkau merendahkan sayapmu kepada mereka, bersikap penuh kasih, dan berakhlak mulia terhadap mereka. Maka mereka pun berkumpul di sekelilingmu, mencintaimu, dan menaati perintahmu.Kemudian Allah berfirman:وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ“Seandainya engkau bersikap kasar lagi berhati keras, niscaya mereka akan menjauh dari sekelilingmu.”Yakni, jika engkau buruk akhlaknya dan keras hatinya, tentu orang-orang akan menjauh dan membencimu. Karena akhlak yang buruk membuat manusia lari dan merasa tidak nyaman.Akhlak yang baik dari seorang pemimpin dalam urusan agama akan menarik manusia kepada agama Allah dan membuat mereka mencintainya. Selain itu, pemilik akhlak mulia akan memperoleh pujian dan pahala khusus dari Allah.Sebaliknya, akhlak yang buruk dari seorang pemimpin agama akan membuat manusia menjauh dari agama dan membencinya. Pemiliknya pun berhak mendapatkan celaan dan hukuman khusus.Jika kepada Rasulullah ﷺ—yang ma‘shum dan paling sempurna akalnya, ilmunya, serta pendapatnya—Allah memberikan arahan seperti ini, maka bagaimana lagi dengan selain beliau?Bukankah termasuk kewajiban terbesar dan perkara terpenting adalah meneladani akhlak beliau yang mulia? Berinteraksi dengan manusia sebagaimana beliau berinteraksi: dengan kelembutan, akhlak yang baik, dan usaha merangkul hati. Semua itu dalam rangka menaati perintah Allah dan menarik hamba-hamba-Nya kepada agama-Nya.Kemudian Allah memerintahkan beliau untuk memaafkan kesalahan mereka terhadap beliau:فَاعْفُ عَنْهُمْ“Karena itu maafkanlah mereka.”Yakni atas kekurangan mereka terhadap hak beliau ﷺ.وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ“Dan mohonkanlah ampun untuk mereka.”Yakni atas kekurangan mereka terhadap hak Allah.Dengan demikian, terkumpullah dua hal: memaafkan dan berbuat baik.Kemudian Allah berfirman:وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”Yakni dalam perkara-perkara yang membutuhkan pertimbangan, pemikiran, dan penelaahan.Musyawarah memiliki banyak manfaat dan maslahat, baik dalam urusan agama maupun dunia, yang sulit dihitung jumlahnya. Di antaranya:Musyawarah termasuk bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.Ia membuat hati orang-orang menjadi lapang dan menghilangkan ganjalan yang mungkin muncul dalam peristiwa-peristiwa tertentu.Jika seorang pemimpin mengumpulkan orang-orang yang berilmu dan berpengalaman untuk dimintai pendapat dalam suatu masalah, maka hati mereka menjadi tenang, mereka mencintainya, dan mengetahui bahwa ia tidak bersikap otoriter, tetapi menginginkan kemaslahatan bersama.Dengan demikian, mereka akan bersungguh-sungguh dalam menaati dan membantunya, karena mereka tahu bahwa ia berusaha demi kepentingan umum.Berbeda dengan pemimpin yang tidak bermusyawarah, biasanya ia tidak dicintai dengan tulus, dan jika ditaati pun, ketaatan itu tidak sepenuh hati.Musyawarah juga menerangi akal, karena setiap pendapat diasah dan digunakan sesuai fungsinya, sehingga menghasilkan tambahan kecerdasan.Dari musyawarah sering lahir pendapat yang tepat. Orang yang bermusyawarah jarang keliru. Jika pun keliru atau tidak mencapai hasil yang diinginkan, ia tidak tercela.Jika Allah memerintahkan Rasul-Nya ﷺ—yang paling sempurna akalnya, paling luas ilmunya, dan paling tepat pendapatnya—untuk bermusyawarah, maka bagaimana lagi dengan selain beliau?Kemudian Allah berfirman:فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”Yakni, setelah bermusyawarah dan menetapkan keputusan dalam suatu urusan, maka bersandarlah kepada kekuatan dan pertolongan Allah. Lepaskan diri dari ketergantungan pada kemampuan dan kekuatan diri sendiri.إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”Yaitu orang-orang yang bersandar kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, dan menjadikan-Nya sebagai tempat bergantung dalam setiap urusan mereka. 7. Menyingkap Kedok Kaum Munafik di Balik Tragedi Uhud (Ayat 167)Allah Ta’ala berfirman,وَلِيَعْلَمَ ٱلَّذِينَ نَافَقُوا۟ ۚ وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ قَٰتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَوِ ٱدْفَعُوا۟ ۖ قَالُوا۟ لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَّٱتَّبَعْنَٰكُمْ ۗ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَٰنِ ۚ يَقُولُونَ بِأَفْوَٰهِهِم مَّا لَيْسَ فِى قُلُوبِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ“Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.” (QS. Ali Imran: 167)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Semua itu agar menjadi jelas perbedaan antara orang beriman dan orang munafik. Ketika mereka diperintahkan untuk berperang, dan dikatakan kepada mereka:تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ“Marilah berperang di jalan Allah.”Yakni untuk membela agama Allah, melindunginya, dan mencari keridaan-Nya.Kemudian dikatakan pula:أَوِ ادْفَعُوا“Atau setidaknya bertahanlah (membela diri).”Maksudnya, jika kalian tidak memiliki niat yang tulus untuk membela agama, maka setidaknya berperanglah demi membela keluarga, kehormatan, dan negeri kalian.Namun mereka menolak dan mencari-cari alasan. Mereka berkata:لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَاتَّبَعْنَاكُمْ“Seandainya kami mengetahui akan terjadi peperangan, niscaya kami mengikuti kalian.”Artinya, “Jika kami tahu pasti akan terjadi pertempuran antara kalian dan mereka, tentu kami ikut bersama kalian.”Padahal mereka berdusta.Mereka mengetahui dan meyakini—dan semua orang pun tahu—bahwa kaum musyrikin dipenuhi rasa dendam dan kemarahan kepada kaum mukminin atas kekalahan yang mereka alami. Mereka telah mengerahkan harta, mengumpulkan pasukan dan perlengkapan, serta datang dalam jumlah besar menuju negeri kaum muslimin, dengan tekad kuat untuk memerangi mereka.Dalam keadaan seperti itu, bagaimana mungkin tidak terjadi peperangan? Terlebih lagi kaum muslimin telah keluar dari Madinah dan maju menghadapi mereka. Mustahil tidak terjadi pertempuran.Akan tetapi, kaum munafik mengira alasan itu akan laku di hadapan kaum mukminin.Allah berfirman:هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ“Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekufuran daripada kepada keimanan.”Yakni dalam keadaan mereka meninggalkan kewajiban berangkat bersama kaum mukminin, mereka lebih condong kepada kekufuran.يَقُولُونَ بِأَفْوَاهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ“Mereka mengatakan dengan mulut mereka apa yang tidak ada dalam hati mereka.”Inilah ciri khas orang munafik: mereka menampakkan dengan ucapan dan perbuatan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang tersembunyi dalam hati dan batin mereka.Termasuk di dalamnya ucapan mereka, “Seandainya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentu kami mengikuti kalian,” padahal mereka benar-benar tahu bahwa peperangan pasti terjadi.Dari ayat ini juga dapat diambil kaidah penting:اِرْتِكَابُ أَخَفِّ الْمَفْسَدَتَيْنِ لِدَفْعِ أَعْلَاهُمَا، وَفِعْلُ أَدْنَى الْمَصْلَحَتَيْنِ، لِلْعَجْزِ عَنْ أَعْلَاهُمَا.“Menempuh mudarat yang lebih ringan untuk menghindari mudarat yang lebih besar, serta melakukan maslahat yang lebih rendah ketika tidak mampu meraih maslahat yang lebih tinggi.”Sebab orang-orang munafik diperintahkan untuk berperang demi agama. Jika mereka tidak mau, maka minimal untuk membela keluarga dan negeri mereka. Artinya, jika tidak mampu meraih tujuan yang paling tinggi, maka jangan tinggalkan tujuan yang lebih rendah.Kemudian Allah menutup ayat dengan firman-Nya:وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ“Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka sembunyikan.”Allah mengetahui apa yang tersembunyi di hati mereka, lalu Dia akan menampakkannya kepada kaum mukminin dan memberikan balasan atasnya. Ibrah bagi Kita dari Perang UhudBerdasarkan rangkaian ayat-ayat dalam Ali Imran tersebut, berikut adalah poin-poin kesalahan kaum muslimin di Perang Uhud yang menjadi peringatan abadi bagi kita saat ini:Ketidakpatuhan terhadap Instruksi Pemimpin: Kesalahan fatal bermula ketika pasukan pemanah melanggar perintah tegas Rasulullah ﷺ untuk tetap di posisi. Ini menjadi peringatan bahwa ketaatan kepada pemimpin dalam kebaikan adalah kunci stabilitas dan kemenangan barisan.Terfitnah oleh Dunia (Ghanimah): Munculnya keinginan terhadap harta rampasan perang yang mengalahkan niat awal berjihad. Hal ini mengingatkan kita bahwa penyakit “cinta dunia” dapat merusak fokus perjuangan dan melunturkan nilai keikhlasan.Perselisihan di Internal Barisan: Adanya perdebatan dan perbedaan pendapat di saat genting (antara tetap bertahan atau turun bukit) yang memicu perpecahan. Persatuan adalah kekuatan, sedangkan pertikaian internal adalah pembuka pintu kekalahan.Kekaguman pada Figur secara Berlebihan: Sebagian sempat goyah dan ingin mundur saat mendengar kabar hoaks Nabi ﷺ wafat. Ini adalah peringatan agar iman dan perjuangan tidak boleh bergantung pada sosok manusia, melainkan harus tegak di atas nilai dan perintah Allah yang abadi.Sifat Gentar dan Lemah Tekad: Adanya rasa takut yang sempat menghinggapi sebagian sahabat (Bani Salamah dan Bani Haritsah) sebelum perang dimulai. Keimanan harus dibarengi dengan keberanian dan tawakal penuh agar tidak mudah goyah oleh besarnya kekuatan musuh.Lalai dalam Menjaga Kewaspadaan: Meninggalkan celah strategis (bukit Rumat) karena menyangka perang telah usai. Hal ini mengajarkan bahwa sikap meremehkan musuh dan terlalu cepat merasa menang bisa berakibat fatal.Kurangnya Ketajaman dalam Menilai Orang Munafik: Adanya pengaruh dari kaum munafik (Abdullah bin Ubay) yang berhasil membawa pulang sepertiga pasukan. Umat Islam harus waspada terhadap upaya pelemahan dari dalam yang seringkali dibungkus dengan alasan-alasan yang tampak logis. KesimpulanKesimpulan dari tadabbur Perang Uhud di Surah Ali ‘Imran adalah bahwa kemenangan sejati tidak ditentukan oleh kekuatan fisik semata, melainkan oleh keteguhan iman, ketaatan penuh kepada syariat, dan kebersihan hati dari ambisi duniawi.“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai ambisi terbesar kami, ampunilah kelemahan hati kami saat menghadapi ujian, dan teguhkanlah kaki kami di atas jalan kebenaran sebagaimana Engkau telah memberikan perlindungan khusus kepada hamba-hamba-Mu yang beriman.”  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Sabtu bakda Maghrib, 4 Ramadhan 1447 H @ Makkah Al-MukarramahPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagshikmah perang perang perang di masa nabi perang uhud renungan ayat renungan quran
Juz 4 dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Ali ‘Imran, memuat evaluasi mendalam dan “trauma healing” Rabbani atas tragedi Perang Uhud yang menjadi madrasah tarbiyah bagi setiap mukmin. Melalui rangkaian ayat ini, Allah membedah secara anatomi bahwa kekalahan sering kali berakar dari penyakit hati berupa cinta dunia, ketidakpatuhan terhadap perintah Rasul, serta guncangnya mental akibat isu yang tidak berdasar. Tulisan ini akan merangkum tujuh bahasan utama dalam Surah Ali ‘Imran yang menyingkap strategi, ujian iman, hingga kelembutan akhlak pemimpin sebagai pelajaran abadi bagi perjuangan umat Islam saat ini.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Perang Uhud dan Pelajaran di Dalamnya  Daftar Isi tutup 1. Mengapa Surah Ali Imran Membahas Uhud secara Detail? 1.1. 1. Evaluasi Mental Setelah Luka Fisik 1.2. 2. Membedah Penyakit “Cinta Dunia” 1.3. 3. Memisahkan Emas dari Loyang 1.4. 4. Meneguhkan Konsep Kenabian 2. 7 Bahasan Utama Perang Uhud dalam Surah Ali Imran 2.1. 1. Persiapan Strategis dan Keberangkatan (Ayat 121-122) 2.2. 2. Motivasi dari Kemenangan Perang Badar (Ayat 123-129) 2.3. 3. Pembersihan Hati: Larangan Riba di Tengah Suasana Perang (Ayat 130-136) 2.4. 4. Isu Wafatnya Rasulullah dan Kekuatan Mental (Ayat 144) 2.5. 5. Titik Balik Kekalahan: Ujian Dunia dan Ketidakpatuhan (Ayat 152) 2.6. 6. Akhlak Pemimpin: Musyawarah dan Kelembutan Hati (Ayat 159) 2.7. 7. Menyingkap Kedok Kaum Munafik di Balik Tragedi Uhud (Ayat 167) 3. Ibrah bagi Kita dari Perang Uhud 4. Kesimpulan   Mengapa Surah Ali Imran Membahas Uhud secara Detail?Peristiwa Perang Uhud bukan sekadar catatan sejarah tentang menang atau kalah. Dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Ali ‘Imran, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan porsi pembahasan yang sangat panjang (lebih dari 50 ayat) untuk mengupas tragedi ini. Mengapa demikian?1. Evaluasi Mental Setelah Luka FisikJuz 4 dibuka dengan penguatan akidah dan syariat, namun kemudian masuk ke dalam evaluasi Perang Uhud. Secara psikologis, pasukan Muslim saat itu sedang berada dalam titik terendah. Mereka kehilangan 70 syuhada, termasuk Hamzah bin Abdul Muthalib, dan Rasulullah ﷺ sendiri mengalami luka-luka.Allah menurunkan ayat-ayat ini bukan untuk menghakimi secara kasar, melainkan sebagai “Trauma Healing” Rabbani. Allah ingin menyembuhkan mental para sahabat dengan menjelaskan mengapa itu terjadi, agar kesedihan tidak berlarut-larut menjadi keputusasaan.وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139)Dalam Tafsir Al-Baghawi disebutkan:Allah Ta’ala berfirman: “Janganlah kalian merasa lemah dan jangan pula bersedih hati.”Ayat ini merupakan dorongan dan penyemangat bagi para sahabat Nabi ﷺ untuk terus berjihad, meskipun mereka telah tertimpa musibah berupa terbunuh dan terluka dalam Perang Uhud. Allah Ta’ala berfirman:“وَلَا تَهِنُوا”“Janganlah kalian menjadi lemah.”Maksudnya, janganlah kalian menjadi lemah dan jangan pula merasa gentar dalam menghadapi musuh-musuh kalian, hanya karena kalian mengalami korban terbunuh dan luka-luka.Pada hari itu gugur lima orang sahabat yang mulia, di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Mush’ab bin Umair, serta tujuh puluh orang dari kalangan Anshar.Kemudian Allah berfirman:“وَلَا تَحْزَنُوا”“Dan janganlah kalian bersedih hati.”Janganlah kalian bersedih atas apa yang telah menimpa kalian.“وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ”“Padahal kalianlah yang paling tinggi (derajatnya atau kedudukannya).”Yakni, pada akhirnya kalianlah yang akan memperoleh kemenangan dan pertolongan. Kalianlah yang akan mendapatkan akibat yang baik berupa kemenangan dan kejayaan.“إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ”“Jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman.”Maksudnya: karena kalian adalah orang-orang yang beriman. Keimanan itulah yang menjadi sebab datangnya pertolongan dan kemenangan.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: ketika para sahabat Rasulullah ﷺ tercerai-berai di lereng gunung (pada Perang Uhud), Khalid bin Walid datang bersama pasukan berkuda kaum musyrikin, hendak naik ke atas gunung untuk menyerang mereka.Maka Nabi ﷺ berdoa,اللَّهُمَّ لَا يَعْلُونَ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ لَا قُوَّةَ لَنَا إِلَّا بِكَ“Ya Allah, jangan Engkau biarkan mereka mengalahkan kami. Ya Allah, tidak ada kekuatan bagi kami kecuali dengan pertolongan-Mu.”Kemudian sekelompok kaum muslimin dari pasukan pemanah bangkit dan naik ke atas gunung. Mereka melempari pasukan berkuda kaum musyrikin hingga berhasil memukul mundur mereka. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: “Dan kalianlah yang paling tinggi.”Al-Kalbi berkata: ayat ini turun setelah Perang Uhud, ketika Nabi ﷺ memerintahkan para sahabat untuk mengejar musuh, meskipun mereka dalam keadaan terluka. Hal itu terasa sangat berat bagi kaum muslimin, maka Allah menurunkan ayat ini sebagai penguat dan peneguh hati mereka.Hal ini diperkuat oleh firman Allah Ta’ala:وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ“Dan janganlah kalian menjadi lemah dalam mengejar musuh.” (QS. An-Nisa’: 104) 2. Membedah Penyakit “Cinta Dunia”Jika Perang Badar (di Surah Al-Anfal) adalah cerita tentang pertolongan Allah yang luar biasa, maka Perang Uhud di Surah Ali ‘Imran adalah cerita tentang kedisiplinan dan kejujuran hati.Allah mendetailkan peristiwa ini untuk menunjukkan bahwa musuh terbesar bukanlah Khalid bin Walid (yang saat itu masih di pihak Quraisy), melainkan fitnah harta (ghanimah) yang muncul di hati sebagian pasukan. Ini adalah pelajaran abadi bagi aktivis dakwah dan umat Islam: bahwa maksiat di dalam barisan lebih berbahaya daripada kekuatan musuh di luar barisan.Baca juga: Jangan-Jangan Kita Terjangkit Penyakit Cinta Dunia, Ini Tandanya 3. Memisahkan Emas dari LoyangMelalui detail di Surah Ali ‘Imran, Allah ingin melakukan tashfiyah (penyaringan). Dalam suasana damai, semua orang bisa mengaku beriman. Namun, dalam situasi genting seperti di Uhud—di mana muncul isu Nabi wafat dan mundurnya pasukan munafik—akan terlihat siapa yang benar-benar berjuang karena Allah dan siapa yang hanya ikut-ikutan. 4. Meneguhkan Konsep KenabianDetailnya pembahasan ini juga untuk meluruskan pemahaman para sahabat bahwa Rasulullah ﷺ adalah manusia biasa yang bisa terluka dan kelak akan wafat. Umat Islam tidak boleh menggantungkan agama pada eksistensi fisik sang Nabi, melainkan pada ajaran yang beliau bawa. Inilah mengapa Allah menegur mereka di ayat 144 agar tetap teguh meski kabar duka menerpa.Ali ‘Imran tidak hanya menceritakan urutan kejadian, tapi melakukan bedah anatomi kesalahan agar umat Islam di masa depan (termasuk kita hari ini) tidak mengulangi lubang yang sama. Kekalahan di Uhud adalah “madrasah” tarbiyah yang sangat mahal harganya. 7 Bahasan Utama Perang Uhud dalam Surah Ali Imran1. Persiapan Strategis dan Keberangkatan (Ayat 121-122)Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّئُ ٱلْمُؤْمِنِينَ مَقَٰعِدَ لِلْقِتَالِ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran: 121)إِذْ هَمَّت طَّآئِفَتَانِ مِنكُمْ أَن تَفْشَلَا وَٱللَّهُ وَلِيُّهُمَا ۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ“Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Ali Imran: 122)Dalam Tafsir As-Sa’di dijelaskan mengenai dua ayat di atas.Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan Perang Uhud. Kisahnya sangat masyhur dalam kitab-kitab sirah dan sejarah.Hikmah penyebutannya di sini—serta disandingkannya dengan kisah Perang Badar—adalah karena Allah Ta’ala telah menjanjikan kepada orang-orang beriman bahwa jika mereka bersabar dan bertakwa, maka Dia akan menolong mereka dan menggagalkan tipu daya musuh. Janji ini bersifat umum dan benar adanya, tidak akan meleset selama syaratnya terpenuhi.Maka Allah menyebutkan dua contoh nyata dari janji tersebut. Dalam Perang Badar, Allah menolong kaum mukminin ketika mereka bersabar dan bertakwa. Namun dalam Perang Uhud, musuh sempat mendapatkan kemenangan atas mereka karena sebagian kaum muslimin melakukan pelanggaran terhadap ketakwaan.Di antara hikmah digabungkannya dua kisah ini adalah bahwa Allah menyukai hamba-Nya yang ketika tertimpa sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka mengingat kembali nikmat yang mereka cintai. Dengan itu, musibah menjadi terasa ringan, dan mereka pun bersyukur atas nikmat besar yang Allah karuniakan. Jika dibandingkan dengan nikmat tersebut, maka musibah yang menimpa sebenarnya sangat kecil dan pada hakikatnya mengandung kebaikan bagi mereka.Allah Ta’ala telah mengisyaratkan hikmah ini dalam firman-Nya:أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا“Dan apakah ketika kalian ditimpa musibah, padahal kalian telah menimpakan dua kali lipat musibah kepada musuh kalian…?” (QS. Ali ‘Imran: 165)Adapun ringkasan peristiwa Uhud adalah sebagai berikut:Ketika kaum musyrikin kembali dari Perang Badar ke Makkah pada tahun kedua hijrah, mereka mempersiapkan diri dengan segala kemampuan: harta, persenjataan, dan pasukan. Mereka mengumpulkan kekuatan yang besar dengan keyakinan akan tercapainya tujuan mereka dan terobatinya rasa dendam di dada mereka.Akhirnya, mereka berangkat dari Makkah menuju Madinah dengan tiga ribu pasukan, lalu berhenti di dekat kota Madinah.Rasulullah ﷺ keluar menghadapi mereka bersama para sahabatnya setelah melalui musyawarah dan pertimbangan. Akhirnya diputuskan untuk keluar dari kota. Beliau berangkat bersama seribu pasukan.Namun, ketika perjalanan baru berjalan sedikit, Abdullah bin Ubay, seorang munafik, kembali bersama sepertiga pasukan yang sepaham dengannya. Bahkan dua kelompok kaum mukminin—Bani Salamah dan Bani Haritsah—sempat berniat untuk mundur, tetapi Allah meneguhkan hati mereka.Ketika sampai di Uhud, Nabi ﷺ menyusun barisan kaum muslimin dan menempatkan mereka di posisi masing-masing. Mereka membelakangi Gunung Uhud agar tidak diserang dari belakang.Beliau juga menempatkan lima puluh sahabat di sebuah celah di Gunung Uhud dan memerintahkan mereka untuk tetap di tempat itu dan tidak meninggalkannya dalam keadaan apa pun, agar tidak ada musuh yang menyerang dari arah belakang.Ketika pertempuran dimulai, kaum musyrikin mengalami kekalahan telak dan meninggalkan perkemahan mereka. Kaum muslimin mengejar mereka, membunuh dan menawan sebagian dari mereka.Namun, para pemanah yang berada di atas gunung melihat kaum musyrikin lari tunggang-langgang. Sebagian dari mereka berkata, “Harta rampasan! Harta rampasan! Mengapa kita tetap di sini sementara musuh telah kalah?”Pemimpin mereka, Abdullah bin Jubair, menasihati mereka agar tidak melanggar perintah Rasulullah ﷺ, tetapi mereka tidak mengindahkannya. Ketika mereka meninggalkan posisi, hanya tersisa sedikit orang, termasuk pemimpin mereka.Dari celah itulah pasukan berkuda kaum musyrikin menyerang dari belakang dan menyerbu barisan kaum muslimin. Kaum muslimin pun kacau dan terjadi goncangan besar—ujian dari Allah untuk mereka. Dengan ujian itu Allah menghapus dosa-dosa mereka, sekaligus memberi mereka pelajaran atas pelanggaran yang telah terjadi.Sebagian sahabat gugur syahid, lalu mereka berkumpul dan bertahan di puncak Gunung Uhud. Allah kemudian menahan tangan kaum musyrikin sehingga mereka tidak melanjutkan serangan, lalu mereka kembali ke negeri mereka.Rasulullah ﷺ dan para sahabat kembali ke Madinah.Allah Ta’ala berfirman:وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ“Dan (ingatlah) ketika engkau berangkat dari keluargamu…”Kata ghuduw (غَدَوْتَ) di sini berarti keluar secara umum, bukan khusus pada pagi hari. Karena Nabi ﷺ dan para sahabat keluar setelah menunaikan shalat Jumat.تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِينَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ“Engkau menempatkan orang-orang beriman pada posisi-posisi untuk berperang.”Yakni, engkau menempatkan dan menyusun mereka sesuai posisi yang layak bagi masing-masing.Dalam ayat ini terdapat pujian yang sangat besar kepada Nabi ﷺ. Beliaulah yang langsung mengatur strategi dan menempatkan pasukan. Hal itu menunjukkan kesempurnaan ilmu, ketajaman pandangan, kelurusan pendapat, dan tingginya semangat beliau. Beliau sendiri turun tangan dalam pengaturan dan memiliki keberanian yang sempurna. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada beliau.Allah berfirman:وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”Allah Maha Mendengar segala sesuatu yang diucapkan, termasuk perkataan orang-orang beriman dan orang-orang munafik—masing-masing berbicara sesuai isi hatinya. Allah juga Maha Mengetahui niat para hamba, lalu membalas mereka dengan balasan yang paling sempurna.Selain itu, maknanya juga: Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui keadaan kalian. Dia menjaga kalian, mengatur urusan kalian, dan menguatkan kalian dengan pertolongan-Nya.Sebagaimana firman-Nya kepada Musa dan Harun:إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى“Sesungguhnya Aku bersama kalian berdua, Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thaha: 46)Di ayat selanjutnya (QS. Ali Imran ayat 122) dijelaskan oleh Syaikh As-Sa’di sebagai berikut.Di antara bentuk kelembutan dan kebaikan Allah kepada kaum mukminin adalah ketika dua golongan dari mereka hampir saja melemah dan mundur—yaitu Bani Salamah dan Bani Haritsah sebagaimana telah disebutkan sebelumnya—Allah meneguhkan hati keduanya. Itu adalah nikmat besar bagi mereka dan bagi seluruh kaum beriman.Karena itulah Allah berfirman:وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا“Dan Allah adalah Pelindung bagi keduanya.”Yakni dengan perlindungan khusus-Nya. Perlindungan ini berupa kelembutan-Nya kepada para wali-Nya, memberi mereka taufik kepada hal-hal yang membawa kebaikan dan menjaga mereka dari hal-hal yang membahayakan.Termasuk bentuk perlindungan Allah kepada dua kelompok itu adalah ketika mereka hampir terjerumus dalam dosa besar—yaitu melemah dan lari dari Rasulullah ﷺ—Allah menjaga mereka karena iman yang masih ada pada diri mereka.Sebagaimana firman-Nya:اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ“Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257)Kemudian Allah berfirman:وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ“Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal.”Ayat ini berisi perintah untuk bertawakal. Tawakal adalah sikap hati yang bersandar sepenuhnya kepada Allah dalam meraih manfaat dan menolak mudarat, disertai kepercayaan penuh kepada-Nya.Kadar tawakal seorang hamba sebanding dengan kadar imannya. Semakin kuat imannya, semakin kuat pula tawakalnya.Orang-orang beriman lebih pantas untuk bertawakal kepada Allah dibandingkan selain mereka. Terlebih lagi dalam situasi sulit dan medan peperangan, karena pada saat itu mereka sangat membutuhkan tawakal, memohon pertolongan kepada Rabb mereka, dan meminta kemenangan dari-Nya.Mereka harus melepaskan diri dari ketergantungan pada kekuatan dan kemampuan diri sendiri, lalu bersandar sepenuhnya kepada kekuatan dan pertolongan Allah. Dengan cara itulah Allah akan menolong mereka dan melindungi mereka dari berbagai bencana dan ujian. 2. Motivasi dari Kemenangan Perang Badar (Ayat 123-129)Ingat bahwa jumlah bukan penentu kemenangan, melainkan pertolongan Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. Ali Imran: 123)إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَن يَكْفِيَكُمْ أَن يُمِدَّكُمْ رَبُّكُم بِثَلَٰثَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُنزَلِينَ“(Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?” (QS. Ali Imran: 124)بَلَىٰٓ ۚ إِن تَصْبِرُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُسَوِّمِينَ“Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.” (QS. Ali Imran: 125)Secara ringkas dalam Tafsir As-Sa’di dijelaskan:Perang Badar terjadi pada tahun kedua hijrah. Rasulullah ﷺ keluar dari Madinah bersama sekitar tiga ratus belasan sahabat. Mereka tidak memiliki kecuali tujuh puluh unta dan dua ekor kuda. Awalnya mereka bermaksud menghadang kafilah dagang Quraisy yang datang dari Syam.Namun kabar itu sampai kepada kaum musyrikin. Mereka pun bersiap dari Makkah untuk menyelamatkan kafilah mereka. Mereka keluar dengan sekitar seribu pasukan lengkap dengan persenjataan dan kuda yang banyak.Kedua pasukan bertemu di sebuah tempat bernama Badar, sebuah mata air di antara Makkah dan Madinah.Dalam pertempuran itu, Allah memberikan kemenangan besar kepada kaum muslimin. Mereka berhasil membunuh tujuh puluh orang dari tokoh-tokoh dan pemberani kaum musyrikin, serta menawan tujuh puluh orang lainnya. Mereka juga menguasai perkemahan musuh beserta perlengkapannya.Kisah lengkap mengenai perang Badar terdapat di Surah Al-Anfal. Namun Allah menyebutkannya di sini agar kaum mukminin mengingatnya, sehingga mereka semakin bertakwa kepada Rabb mereka dan bersyukur kepada-Nya.Mengenai ayat 125, Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Dalam ayat ini, Allah menetapkan tiga syarat untuk turunnya bantuan berupa lima ribu malaikat:SabarTakwaDatangnya kaum musyrikin secara langsung dan segera dalam peristiwa tersebutJanji turunnya malaikat dan tambahan kekuatan ini bergantung pada terpenuhinya tiga syarat tersebut.Adapun janji kemenangan secara umum dan penangkalan tipu daya musuh, maka Allah hanya mensyaratkan dua hal pertama, yaitu sabar dan takwa. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam firman-Nya:وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا“Jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka tidak akan membahayakan kalian sedikit pun.”(QS. Ali ‘Imran: 120) 3. Pembersihan Hati: Larangan Riba di Tengah Suasana Perang (Ayat 130-136)Penyisipan ayat-ayat tentang riba dan sifat orang bertakwa di tengah pembahasan Perang Uhud ini merupakan bentuk reorientasi mental dan spiritual bagi umat Islam. Melalui ayat ini, Allah melarang riba untuk mencabut akar kecintaan pada dunia yang sempat menggoyahkan disiplin pasukan pemanah di Bukit Rumat, sekaligus mengalihkan ambisi mereka dari sekadar mengejar harta rampasan (ghanimah) menuju perlombaan mengejar ampunan dan surga. Allah ingin menegaskan bahwa kemenangan sejati hanya akan diraih oleh orang-orang bertakwa yang mampu mengelola hati di masa sulit, yaitu mereka yang tetap dermawan saat sempit, mampu menahan amarah atas kegagalan koordinasi perang, serta memiliki jiwa pemaaf demi menjaga keutuhan ukhuwah dalam barisan.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوا۟ ٱلرِّبَوٰٓا۟ أَضْعَٰفًا مُّضَٰعَفَةً ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda] dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imran: 130)وَٱتَّقُوا۟ ٱلنَّارَ ٱلَّتِىٓ أُعِدَّتْ لِلْكَٰفِرِينَ“Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (QS. Ali Imran: 131)وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. Ali Imran: 132)۞ وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)أُو۟لَٰٓئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّٰتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ ٱلْعَٰمِلِينَ“Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran: 136)Penjelasan ringkas dari Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Barangkali—wallahu a‘lam—hikmah disisipkannya ayat-ayat ini di tengah kisah Perang Uhud adalah karena sebelumnya Allah telah menjanjikan kepada orang-orang beriman bahwa jika mereka bersabar dan bertakwa, niscaya Dia akan menolong mereka dan menggagalkan tipu daya musuh.Seakan-akan jiwa para mukmin rindu untuk mengetahui sifat-sifat ketakwaan yang dapat menghadirkan kemenangan, keberuntungan, dan kebahagiaan. Maka Allah menyebutkan dalam ayat-ayat ini sifat-sifat utama dari ketakwaan. Jika seorang hamba mampu menegakkannya, maka menegakkan sifat-sifat lain tentu lebih mudah dan lebih layak lagi.Setiap kali dalam Al-Qur’an Allah memulai dengan seruan ini, lalu memerintahkan sesuatu atau melarang sesuatu, maka itu menunjukkan bahwa imanlah yang menjadi sebab dan pendorong untuk melaksanakan perintah tersebut dan menjauhi larangan itu. Karena iman adalah pembenaran yang sempurna terhadap apa yang wajib dibenarkan, yang menuntut pengamalan anggota badan.Di antara larangan dalam ayat-ayat ini adalah larangan memakan riba yang berlipat ganda. Itulah praktik yang biasa dilakukan pada masa jahiliah, juga oleh orang-orang yang tidak peduli dengan perintah syariat.Apabila utang telah jatuh tempo dan si peminjam tidak mampu membayar, mereka berkata, “Lunasi sekarang atau kami tambahkan waktunya, tetapi jumlah utangmu bertambah.” Maka orang miskin itu terpaksa menyetujui tambahan tersebut demi mendapat kelonggaran waktu. Akibatnya, utangnya terus bertambah berkali-kali lipat tanpa ada manfaat yang ia peroleh.Dalam firman-Nya:أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً“Berlipat ganda.” Terdapat peringatan tentang betapa buruknya perbuatan itu karena banyaknya tambahan yang memberatkan, sekaligus isyarat tentang hikmah pengharamannya. Allah mengharamkan riba karena di dalamnya terdapat kezaliman.Allah mewajibkan agar orang yang kesulitan diberi penangguhan tanpa tambahan apa pun pada utangnya. Maka membebani dia dengan tambahan di atas itu adalah kezaliman yang berlipat ganda.Karena itu, seorang mukmin yang bertakwa wajib meninggalkan riba dan tidak mendekatinya. Meninggalkannya termasuk konsekuensi ketakwaan. Sedangkan keberuntungan dan keselamatan bergantung pada ketakwaan. 4. Isu Wafatnya Rasulullah dan Kekuatan Mental (Ayat 144)Kekalahan di medan Uhud semakin memuncak ketika tersiar kabar hoaks bahwa Rasulullah ﷺ telah wafat, yang seketika meruntuhkan mental sebagian kaum Muslimin. Melalui Surah Ali ‘Imran ayat 144 ini, Allah meluruskan niat para sahabat agar dasar perjuangan mereka bukan semata-mata karena figur pemimpin, melainkan murni karena Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ ٱلرُّسُلُ ۚ أَفَإِي۟ن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ ٱنقَلَبْتُمْ عَلَىٰٓ أَعْقَٰبِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيْـًٔا ۗ وَسَيَجْزِى ٱللَّهُ ٱلشَّٰكِرِينَ“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Dalam ayat yang mulia ini terdapat bimbingan dari Allah agar hamba-hamba-Nya tidak mudah goyah dari iman atau dari konsekuensi iman, hanya karena kehilangan seorang pemimpin, meskipun ia sangat agung.Hal itu hanya dapat terwujud jika dalam setiap urusan agama tersedia sejumlah orang yang cakap dan layak memikul tanggung jawab tersebut. Jika salah satu dari mereka wafat atau tiada, maka yang lain dapat menggantikannya.Demikian pula hendaknya tujuan umum kaum mukminin adalah menegakkan agama Allah dan berjihad membelanya sesuai kemampuan, bukan bergantung pada sosok pemimpin tertentu. Dengan sikap seperti ini, urusan mereka akan kokoh dan keadaan mereka akan tetap teratur.Dalam ayat ini juga terdapat dalil yang sangat kuat tentang keutamaan ash-Shiddiq yang agung, yaitu Abu Bakar As-Siddiq, serta para sahabat yang memerangi kaum murtad setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Karena merekalah para pemimpin orang-orang yang bersyukur, yang tetap teguh menegakkan agama Allah setelah wafatnya Nabi mereka. 5. Titik Balik Kekalahan: Ujian Dunia dan Ketidakpatuhan (Ayat 152)Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ ٱللَّهُ وَعْدَهُۥٓ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِۦ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَٰزَعْتُمْ فِى ٱلْأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّنۢ بَعْدِ مَآ أَرَىٰكُم مَّا تُحِبُّونَ ۚ مِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلْءَاخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ ۗ وَٱللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 152)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ“Dan sungguh Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian.” Yakni janji kemenangan. Allah benar-benar telah menolong kalian atas musuh-musuh kalian, hingga mereka berpaling mundur dan kalian membunuh mereka. Kemenangan itu hampir sempurna.Namun kemudian kalian justru menjadi sebab kelemahan bagi diri kalian sendiri, bahkan menjadi penolong bagi musuh untuk mengalahkan kalian.Ketika muncul di antara kalian kelemahan dan rasa gentar, dan kalian berselisih dalam urusan, padahal Allah telah memerintahkan persatuan dan melarang perpecahan—maka terjadilah perbedaan pendapat.Sebagian berkata, “Kita tetap tinggal di posisi yang telah ditetapkan oleh Nabi ﷺ.” Sebagian lagi berkata, “Mengapa kita tetap di sini, padahal musuh telah kalah dan tidak ada lagi bahaya?”Maka kalian pun bermaksiat kepada Rasul ﷺ dan meninggalkan perintah beliau, setelah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai, yaitu kekalahan musuh kalian.Padahal orang yang telah Allah beri nikmat kemenangan, justru lebih besar kewajibannya untuk taat. Dalam kondisi seperti itu—dan dalam kondisi apa pun—yang wajib adalah menaati perintah Allah dan Rasul-Nya.Allah berfirman:مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا“Di antara kalian ada yang menginginkan dunia.”Mereka adalah orang-orang yang terdorong turun dari posisi mereka karena menginginkan harta rampasan.وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ“Dan di antara kalian ada yang menginginkan akhirat.”Mereka adalah orang-orang yang tetap teguh mematuhi perintah Rasulullah ﷺ dan bertahan di tempat yang telah ditetapkan.Kemudian Allah berfirman:ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ“Kemudian Dia memalingkan kalian dari mereka.”Yakni, setelah terjadi kelemahan dan perselisihan itu, Allah memalingkan keadaan sehingga musuh berbalik menyerang kalian. Itu adalah ujian dan cobaan dari Allah.Tujuannya agar tampak jelas siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang munafik, siapa yang taat dan siapa yang durhaka. Sekaligus agar Allah menghapus kesalahan yang muncul dari kalian melalui musibah tersebut.Karena itu Allah berfirman:وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ“Dan sungguh Allah telah memaafkan kalian. Dan Allah memiliki karunia yang besar atas orang-orang beriman.”Di antara karunia besar Allah kepada kaum mukminin adalah Dia menganugerahkan Islam kepada mereka, memberi mereka petunjuk kepada syariat-Nya, memaafkan kesalahan mereka, dan memberikan pahala atas musibah yang menimpa mereka.Bahkan termasuk bagian dari karunia-Nya adalah bahwa setiap kebaikan maupun musibah yang Allah tetapkan bagi seorang mukmin, semuanya menjadi kebaikan baginya.Jika mereka mendapat kesenangan lalu bersyukur, Allah memberi mereka pahala sebagai orang-orang yang bersyukur. Jika mereka ditimpa kesusahan lalu bersabar, Allah memberi mereka pahala sebagai orang-orang yang sabar. 6. Akhlak Pemimpin: Musyawarah dan Kelembutan Hati (Ayat 159)Bagaimana Nabi tetap merangkul sahabat yang bersalah. Poin penting untuk parenting dan kepemimpinan saat ini.فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Allah Ta’ala berfirman:فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ“Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.”Yakni, karena rahmat Allah kepadamu dan kepada para sahabatmu, Allah menganugerahkan kepadamu kelembutan hati. Engkau merendahkan sayapmu kepada mereka, bersikap penuh kasih, dan berakhlak mulia terhadap mereka. Maka mereka pun berkumpul di sekelilingmu, mencintaimu, dan menaati perintahmu.Kemudian Allah berfirman:وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ“Seandainya engkau bersikap kasar lagi berhati keras, niscaya mereka akan menjauh dari sekelilingmu.”Yakni, jika engkau buruk akhlaknya dan keras hatinya, tentu orang-orang akan menjauh dan membencimu. Karena akhlak yang buruk membuat manusia lari dan merasa tidak nyaman.Akhlak yang baik dari seorang pemimpin dalam urusan agama akan menarik manusia kepada agama Allah dan membuat mereka mencintainya. Selain itu, pemilik akhlak mulia akan memperoleh pujian dan pahala khusus dari Allah.Sebaliknya, akhlak yang buruk dari seorang pemimpin agama akan membuat manusia menjauh dari agama dan membencinya. Pemiliknya pun berhak mendapatkan celaan dan hukuman khusus.Jika kepada Rasulullah ﷺ—yang ma‘shum dan paling sempurna akalnya, ilmunya, serta pendapatnya—Allah memberikan arahan seperti ini, maka bagaimana lagi dengan selain beliau?Bukankah termasuk kewajiban terbesar dan perkara terpenting adalah meneladani akhlak beliau yang mulia? Berinteraksi dengan manusia sebagaimana beliau berinteraksi: dengan kelembutan, akhlak yang baik, dan usaha merangkul hati. Semua itu dalam rangka menaati perintah Allah dan menarik hamba-hamba-Nya kepada agama-Nya.Kemudian Allah memerintahkan beliau untuk memaafkan kesalahan mereka terhadap beliau:فَاعْفُ عَنْهُمْ“Karena itu maafkanlah mereka.”Yakni atas kekurangan mereka terhadap hak beliau ﷺ.وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ“Dan mohonkanlah ampun untuk mereka.”Yakni atas kekurangan mereka terhadap hak Allah.Dengan demikian, terkumpullah dua hal: memaafkan dan berbuat baik.Kemudian Allah berfirman:وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”Yakni dalam perkara-perkara yang membutuhkan pertimbangan, pemikiran, dan penelaahan.Musyawarah memiliki banyak manfaat dan maslahat, baik dalam urusan agama maupun dunia, yang sulit dihitung jumlahnya. Di antaranya:Musyawarah termasuk bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.Ia membuat hati orang-orang menjadi lapang dan menghilangkan ganjalan yang mungkin muncul dalam peristiwa-peristiwa tertentu.Jika seorang pemimpin mengumpulkan orang-orang yang berilmu dan berpengalaman untuk dimintai pendapat dalam suatu masalah, maka hati mereka menjadi tenang, mereka mencintainya, dan mengetahui bahwa ia tidak bersikap otoriter, tetapi menginginkan kemaslahatan bersama.Dengan demikian, mereka akan bersungguh-sungguh dalam menaati dan membantunya, karena mereka tahu bahwa ia berusaha demi kepentingan umum.Berbeda dengan pemimpin yang tidak bermusyawarah, biasanya ia tidak dicintai dengan tulus, dan jika ditaati pun, ketaatan itu tidak sepenuh hati.Musyawarah juga menerangi akal, karena setiap pendapat diasah dan digunakan sesuai fungsinya, sehingga menghasilkan tambahan kecerdasan.Dari musyawarah sering lahir pendapat yang tepat. Orang yang bermusyawarah jarang keliru. Jika pun keliru atau tidak mencapai hasil yang diinginkan, ia tidak tercela.Jika Allah memerintahkan Rasul-Nya ﷺ—yang paling sempurna akalnya, paling luas ilmunya, dan paling tepat pendapatnya—untuk bermusyawarah, maka bagaimana lagi dengan selain beliau?Kemudian Allah berfirman:فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”Yakni, setelah bermusyawarah dan menetapkan keputusan dalam suatu urusan, maka bersandarlah kepada kekuatan dan pertolongan Allah. Lepaskan diri dari ketergantungan pada kemampuan dan kekuatan diri sendiri.إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”Yaitu orang-orang yang bersandar kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, dan menjadikan-Nya sebagai tempat bergantung dalam setiap urusan mereka. 7. Menyingkap Kedok Kaum Munafik di Balik Tragedi Uhud (Ayat 167)Allah Ta’ala berfirman,وَلِيَعْلَمَ ٱلَّذِينَ نَافَقُوا۟ ۚ وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ قَٰتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَوِ ٱدْفَعُوا۟ ۖ قَالُوا۟ لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَّٱتَّبَعْنَٰكُمْ ۗ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَٰنِ ۚ يَقُولُونَ بِأَفْوَٰهِهِم مَّا لَيْسَ فِى قُلُوبِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ“Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.” (QS. Ali Imran: 167)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Semua itu agar menjadi jelas perbedaan antara orang beriman dan orang munafik. Ketika mereka diperintahkan untuk berperang, dan dikatakan kepada mereka:تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ“Marilah berperang di jalan Allah.”Yakni untuk membela agama Allah, melindunginya, dan mencari keridaan-Nya.Kemudian dikatakan pula:أَوِ ادْفَعُوا“Atau setidaknya bertahanlah (membela diri).”Maksudnya, jika kalian tidak memiliki niat yang tulus untuk membela agama, maka setidaknya berperanglah demi membela keluarga, kehormatan, dan negeri kalian.Namun mereka menolak dan mencari-cari alasan. Mereka berkata:لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَاتَّبَعْنَاكُمْ“Seandainya kami mengetahui akan terjadi peperangan, niscaya kami mengikuti kalian.”Artinya, “Jika kami tahu pasti akan terjadi pertempuran antara kalian dan mereka, tentu kami ikut bersama kalian.”Padahal mereka berdusta.Mereka mengetahui dan meyakini—dan semua orang pun tahu—bahwa kaum musyrikin dipenuhi rasa dendam dan kemarahan kepada kaum mukminin atas kekalahan yang mereka alami. Mereka telah mengerahkan harta, mengumpulkan pasukan dan perlengkapan, serta datang dalam jumlah besar menuju negeri kaum muslimin, dengan tekad kuat untuk memerangi mereka.Dalam keadaan seperti itu, bagaimana mungkin tidak terjadi peperangan? Terlebih lagi kaum muslimin telah keluar dari Madinah dan maju menghadapi mereka. Mustahil tidak terjadi pertempuran.Akan tetapi, kaum munafik mengira alasan itu akan laku di hadapan kaum mukminin.Allah berfirman:هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ“Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekufuran daripada kepada keimanan.”Yakni dalam keadaan mereka meninggalkan kewajiban berangkat bersama kaum mukminin, mereka lebih condong kepada kekufuran.يَقُولُونَ بِأَفْوَاهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ“Mereka mengatakan dengan mulut mereka apa yang tidak ada dalam hati mereka.”Inilah ciri khas orang munafik: mereka menampakkan dengan ucapan dan perbuatan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang tersembunyi dalam hati dan batin mereka.Termasuk di dalamnya ucapan mereka, “Seandainya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentu kami mengikuti kalian,” padahal mereka benar-benar tahu bahwa peperangan pasti terjadi.Dari ayat ini juga dapat diambil kaidah penting:اِرْتِكَابُ أَخَفِّ الْمَفْسَدَتَيْنِ لِدَفْعِ أَعْلَاهُمَا، وَفِعْلُ أَدْنَى الْمَصْلَحَتَيْنِ، لِلْعَجْزِ عَنْ أَعْلَاهُمَا.“Menempuh mudarat yang lebih ringan untuk menghindari mudarat yang lebih besar, serta melakukan maslahat yang lebih rendah ketika tidak mampu meraih maslahat yang lebih tinggi.”Sebab orang-orang munafik diperintahkan untuk berperang demi agama. Jika mereka tidak mau, maka minimal untuk membela keluarga dan negeri mereka. Artinya, jika tidak mampu meraih tujuan yang paling tinggi, maka jangan tinggalkan tujuan yang lebih rendah.Kemudian Allah menutup ayat dengan firman-Nya:وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ“Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka sembunyikan.”Allah mengetahui apa yang tersembunyi di hati mereka, lalu Dia akan menampakkannya kepada kaum mukminin dan memberikan balasan atasnya. Ibrah bagi Kita dari Perang UhudBerdasarkan rangkaian ayat-ayat dalam Ali Imran tersebut, berikut adalah poin-poin kesalahan kaum muslimin di Perang Uhud yang menjadi peringatan abadi bagi kita saat ini:Ketidakpatuhan terhadap Instruksi Pemimpin: Kesalahan fatal bermula ketika pasukan pemanah melanggar perintah tegas Rasulullah ﷺ untuk tetap di posisi. Ini menjadi peringatan bahwa ketaatan kepada pemimpin dalam kebaikan adalah kunci stabilitas dan kemenangan barisan.Terfitnah oleh Dunia (Ghanimah): Munculnya keinginan terhadap harta rampasan perang yang mengalahkan niat awal berjihad. Hal ini mengingatkan kita bahwa penyakit “cinta dunia” dapat merusak fokus perjuangan dan melunturkan nilai keikhlasan.Perselisihan di Internal Barisan: Adanya perdebatan dan perbedaan pendapat di saat genting (antara tetap bertahan atau turun bukit) yang memicu perpecahan. Persatuan adalah kekuatan, sedangkan pertikaian internal adalah pembuka pintu kekalahan.Kekaguman pada Figur secara Berlebihan: Sebagian sempat goyah dan ingin mundur saat mendengar kabar hoaks Nabi ﷺ wafat. Ini adalah peringatan agar iman dan perjuangan tidak boleh bergantung pada sosok manusia, melainkan harus tegak di atas nilai dan perintah Allah yang abadi.Sifat Gentar dan Lemah Tekad: Adanya rasa takut yang sempat menghinggapi sebagian sahabat (Bani Salamah dan Bani Haritsah) sebelum perang dimulai. Keimanan harus dibarengi dengan keberanian dan tawakal penuh agar tidak mudah goyah oleh besarnya kekuatan musuh.Lalai dalam Menjaga Kewaspadaan: Meninggalkan celah strategis (bukit Rumat) karena menyangka perang telah usai. Hal ini mengajarkan bahwa sikap meremehkan musuh dan terlalu cepat merasa menang bisa berakibat fatal.Kurangnya Ketajaman dalam Menilai Orang Munafik: Adanya pengaruh dari kaum munafik (Abdullah bin Ubay) yang berhasil membawa pulang sepertiga pasukan. Umat Islam harus waspada terhadap upaya pelemahan dari dalam yang seringkali dibungkus dengan alasan-alasan yang tampak logis. KesimpulanKesimpulan dari tadabbur Perang Uhud di Surah Ali ‘Imran adalah bahwa kemenangan sejati tidak ditentukan oleh kekuatan fisik semata, melainkan oleh keteguhan iman, ketaatan penuh kepada syariat, dan kebersihan hati dari ambisi duniawi.“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai ambisi terbesar kami, ampunilah kelemahan hati kami saat menghadapi ujian, dan teguhkanlah kaki kami di atas jalan kebenaran sebagaimana Engkau telah memberikan perlindungan khusus kepada hamba-hamba-Mu yang beriman.”  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Sabtu bakda Maghrib, 4 Ramadhan 1447 H @ Makkah Al-MukarramahPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagshikmah perang perang perang di masa nabi perang uhud renungan ayat renungan quran


Juz 4 dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Ali ‘Imran, memuat evaluasi mendalam dan “trauma healing” Rabbani atas tragedi Perang Uhud yang menjadi madrasah tarbiyah bagi setiap mukmin. Melalui rangkaian ayat ini, Allah membedah secara anatomi bahwa kekalahan sering kali berakar dari penyakit hati berupa cinta dunia, ketidakpatuhan terhadap perintah Rasul, serta guncangnya mental akibat isu yang tidak berdasar. Tulisan ini akan merangkum tujuh bahasan utama dalam Surah Ali ‘Imran yang menyingkap strategi, ujian iman, hingga kelembutan akhlak pemimpin sebagai pelajaran abadi bagi perjuangan umat Islam saat ini.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Perang Uhud dan Pelajaran di Dalamnya  Daftar Isi tutup 1. Mengapa Surah Ali Imran Membahas Uhud secara Detail? 1.1. 1. Evaluasi Mental Setelah Luka Fisik 1.2. 2. Membedah Penyakit “Cinta Dunia” 1.3. 3. Memisahkan Emas dari Loyang 1.4. 4. Meneguhkan Konsep Kenabian 2. 7 Bahasan Utama Perang Uhud dalam Surah Ali Imran 2.1. 1. Persiapan Strategis dan Keberangkatan (Ayat 121-122) 2.2. 2. Motivasi dari Kemenangan Perang Badar (Ayat 123-129) 2.3. 3. Pembersihan Hati: Larangan Riba di Tengah Suasana Perang (Ayat 130-136) 2.4. 4. Isu Wafatnya Rasulullah dan Kekuatan Mental (Ayat 144) 2.5. 5. Titik Balik Kekalahan: Ujian Dunia dan Ketidakpatuhan (Ayat 152) 2.6. 6. Akhlak Pemimpin: Musyawarah dan Kelembutan Hati (Ayat 159) 2.7. 7. Menyingkap Kedok Kaum Munafik di Balik Tragedi Uhud (Ayat 167) 3. Ibrah bagi Kita dari Perang Uhud 4. Kesimpulan   Mengapa Surah Ali Imran Membahas Uhud secara Detail?Peristiwa Perang Uhud bukan sekadar catatan sejarah tentang menang atau kalah. Dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Ali ‘Imran, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan porsi pembahasan yang sangat panjang (lebih dari 50 ayat) untuk mengupas tragedi ini. Mengapa demikian?1. Evaluasi Mental Setelah Luka FisikJuz 4 dibuka dengan penguatan akidah dan syariat, namun kemudian masuk ke dalam evaluasi Perang Uhud. Secara psikologis, pasukan Muslim saat itu sedang berada dalam titik terendah. Mereka kehilangan 70 syuhada, termasuk Hamzah bin Abdul Muthalib, dan Rasulullah ﷺ sendiri mengalami luka-luka.Allah menurunkan ayat-ayat ini bukan untuk menghakimi secara kasar, melainkan sebagai “Trauma Healing” Rabbani. Allah ingin menyembuhkan mental para sahabat dengan menjelaskan mengapa itu terjadi, agar kesedihan tidak berlarut-larut menjadi keputusasaan.وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139)Dalam Tafsir Al-Baghawi disebutkan:Allah Ta’ala berfirman: “Janganlah kalian merasa lemah dan jangan pula bersedih hati.”Ayat ini merupakan dorongan dan penyemangat bagi para sahabat Nabi ﷺ untuk terus berjihad, meskipun mereka telah tertimpa musibah berupa terbunuh dan terluka dalam Perang Uhud. Allah Ta’ala berfirman:“وَلَا تَهِنُوا”“Janganlah kalian menjadi lemah.”Maksudnya, janganlah kalian menjadi lemah dan jangan pula merasa gentar dalam menghadapi musuh-musuh kalian, hanya karena kalian mengalami korban terbunuh dan luka-luka.Pada hari itu gugur lima orang sahabat yang mulia, di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Mush’ab bin Umair, serta tujuh puluh orang dari kalangan Anshar.Kemudian Allah berfirman:“وَلَا تَحْزَنُوا”“Dan janganlah kalian bersedih hati.”Janganlah kalian bersedih atas apa yang telah menimpa kalian.“وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ”“Padahal kalianlah yang paling tinggi (derajatnya atau kedudukannya).”Yakni, pada akhirnya kalianlah yang akan memperoleh kemenangan dan pertolongan. Kalianlah yang akan mendapatkan akibat yang baik berupa kemenangan dan kejayaan.“إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ”“Jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman.”Maksudnya: karena kalian adalah orang-orang yang beriman. Keimanan itulah yang menjadi sebab datangnya pertolongan dan kemenangan.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: ketika para sahabat Rasulullah ﷺ tercerai-berai di lereng gunung (pada Perang Uhud), Khalid bin Walid datang bersama pasukan berkuda kaum musyrikin, hendak naik ke atas gunung untuk menyerang mereka.Maka Nabi ﷺ berdoa,اللَّهُمَّ لَا يَعْلُونَ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ لَا قُوَّةَ لَنَا إِلَّا بِكَ“Ya Allah, jangan Engkau biarkan mereka mengalahkan kami. Ya Allah, tidak ada kekuatan bagi kami kecuali dengan pertolongan-Mu.”Kemudian sekelompok kaum muslimin dari pasukan pemanah bangkit dan naik ke atas gunung. Mereka melempari pasukan berkuda kaum musyrikin hingga berhasil memukul mundur mereka. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: “Dan kalianlah yang paling tinggi.”Al-Kalbi berkata: ayat ini turun setelah Perang Uhud, ketika Nabi ﷺ memerintahkan para sahabat untuk mengejar musuh, meskipun mereka dalam keadaan terluka. Hal itu terasa sangat berat bagi kaum muslimin, maka Allah menurunkan ayat ini sebagai penguat dan peneguh hati mereka.Hal ini diperkuat oleh firman Allah Ta’ala:وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ“Dan janganlah kalian menjadi lemah dalam mengejar musuh.” (QS. An-Nisa’: 104) 2. Membedah Penyakit “Cinta Dunia”Jika Perang Badar (di Surah Al-Anfal) adalah cerita tentang pertolongan Allah yang luar biasa, maka Perang Uhud di Surah Ali ‘Imran adalah cerita tentang kedisiplinan dan kejujuran hati.Allah mendetailkan peristiwa ini untuk menunjukkan bahwa musuh terbesar bukanlah Khalid bin Walid (yang saat itu masih di pihak Quraisy), melainkan fitnah harta (ghanimah) yang muncul di hati sebagian pasukan. Ini adalah pelajaran abadi bagi aktivis dakwah dan umat Islam: bahwa maksiat di dalam barisan lebih berbahaya daripada kekuatan musuh di luar barisan.Baca juga: Jangan-Jangan Kita Terjangkit Penyakit Cinta Dunia, Ini Tandanya 3. Memisahkan Emas dari LoyangMelalui detail di Surah Ali ‘Imran, Allah ingin melakukan tashfiyah (penyaringan). Dalam suasana damai, semua orang bisa mengaku beriman. Namun, dalam situasi genting seperti di Uhud—di mana muncul isu Nabi wafat dan mundurnya pasukan munafik—akan terlihat siapa yang benar-benar berjuang karena Allah dan siapa yang hanya ikut-ikutan. 4. Meneguhkan Konsep KenabianDetailnya pembahasan ini juga untuk meluruskan pemahaman para sahabat bahwa Rasulullah ﷺ adalah manusia biasa yang bisa terluka dan kelak akan wafat. Umat Islam tidak boleh menggantungkan agama pada eksistensi fisik sang Nabi, melainkan pada ajaran yang beliau bawa. Inilah mengapa Allah menegur mereka di ayat 144 agar tetap teguh meski kabar duka menerpa.Ali ‘Imran tidak hanya menceritakan urutan kejadian, tapi melakukan bedah anatomi kesalahan agar umat Islam di masa depan (termasuk kita hari ini) tidak mengulangi lubang yang sama. Kekalahan di Uhud adalah “madrasah” tarbiyah yang sangat mahal harganya. 7 Bahasan Utama Perang Uhud dalam Surah Ali Imran1. Persiapan Strategis dan Keberangkatan (Ayat 121-122)Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّئُ ٱلْمُؤْمِنِينَ مَقَٰعِدَ لِلْقِتَالِ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran: 121)إِذْ هَمَّت طَّآئِفَتَانِ مِنكُمْ أَن تَفْشَلَا وَٱللَّهُ وَلِيُّهُمَا ۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ“Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Ali Imran: 122)Dalam Tafsir As-Sa’di dijelaskan mengenai dua ayat di atas.Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan Perang Uhud. Kisahnya sangat masyhur dalam kitab-kitab sirah dan sejarah.Hikmah penyebutannya di sini—serta disandingkannya dengan kisah Perang Badar—adalah karena Allah Ta’ala telah menjanjikan kepada orang-orang beriman bahwa jika mereka bersabar dan bertakwa, maka Dia akan menolong mereka dan menggagalkan tipu daya musuh. Janji ini bersifat umum dan benar adanya, tidak akan meleset selama syaratnya terpenuhi.Maka Allah menyebutkan dua contoh nyata dari janji tersebut. Dalam Perang Badar, Allah menolong kaum mukminin ketika mereka bersabar dan bertakwa. Namun dalam Perang Uhud, musuh sempat mendapatkan kemenangan atas mereka karena sebagian kaum muslimin melakukan pelanggaran terhadap ketakwaan.Di antara hikmah digabungkannya dua kisah ini adalah bahwa Allah menyukai hamba-Nya yang ketika tertimpa sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka mengingat kembali nikmat yang mereka cintai. Dengan itu, musibah menjadi terasa ringan, dan mereka pun bersyukur atas nikmat besar yang Allah karuniakan. Jika dibandingkan dengan nikmat tersebut, maka musibah yang menimpa sebenarnya sangat kecil dan pada hakikatnya mengandung kebaikan bagi mereka.Allah Ta’ala telah mengisyaratkan hikmah ini dalam firman-Nya:أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا“Dan apakah ketika kalian ditimpa musibah, padahal kalian telah menimpakan dua kali lipat musibah kepada musuh kalian…?” (QS. Ali ‘Imran: 165)Adapun ringkasan peristiwa Uhud adalah sebagai berikut:Ketika kaum musyrikin kembali dari Perang Badar ke Makkah pada tahun kedua hijrah, mereka mempersiapkan diri dengan segala kemampuan: harta, persenjataan, dan pasukan. Mereka mengumpulkan kekuatan yang besar dengan keyakinan akan tercapainya tujuan mereka dan terobatinya rasa dendam di dada mereka.Akhirnya, mereka berangkat dari Makkah menuju Madinah dengan tiga ribu pasukan, lalu berhenti di dekat kota Madinah.Rasulullah ﷺ keluar menghadapi mereka bersama para sahabatnya setelah melalui musyawarah dan pertimbangan. Akhirnya diputuskan untuk keluar dari kota. Beliau berangkat bersama seribu pasukan.Namun, ketika perjalanan baru berjalan sedikit, Abdullah bin Ubay, seorang munafik, kembali bersama sepertiga pasukan yang sepaham dengannya. Bahkan dua kelompok kaum mukminin—Bani Salamah dan Bani Haritsah—sempat berniat untuk mundur, tetapi Allah meneguhkan hati mereka.Ketika sampai di Uhud, Nabi ﷺ menyusun barisan kaum muslimin dan menempatkan mereka di posisi masing-masing. Mereka membelakangi Gunung Uhud agar tidak diserang dari belakang.Beliau juga menempatkan lima puluh sahabat di sebuah celah di Gunung Uhud dan memerintahkan mereka untuk tetap di tempat itu dan tidak meninggalkannya dalam keadaan apa pun, agar tidak ada musuh yang menyerang dari arah belakang.Ketika pertempuran dimulai, kaum musyrikin mengalami kekalahan telak dan meninggalkan perkemahan mereka. Kaum muslimin mengejar mereka, membunuh dan menawan sebagian dari mereka.Namun, para pemanah yang berada di atas gunung melihat kaum musyrikin lari tunggang-langgang. Sebagian dari mereka berkata, “Harta rampasan! Harta rampasan! Mengapa kita tetap di sini sementara musuh telah kalah?”Pemimpin mereka, Abdullah bin Jubair, menasihati mereka agar tidak melanggar perintah Rasulullah ﷺ, tetapi mereka tidak mengindahkannya. Ketika mereka meninggalkan posisi, hanya tersisa sedikit orang, termasuk pemimpin mereka.Dari celah itulah pasukan berkuda kaum musyrikin menyerang dari belakang dan menyerbu barisan kaum muslimin. Kaum muslimin pun kacau dan terjadi goncangan besar—ujian dari Allah untuk mereka. Dengan ujian itu Allah menghapus dosa-dosa mereka, sekaligus memberi mereka pelajaran atas pelanggaran yang telah terjadi.Sebagian sahabat gugur syahid, lalu mereka berkumpul dan bertahan di puncak Gunung Uhud. Allah kemudian menahan tangan kaum musyrikin sehingga mereka tidak melanjutkan serangan, lalu mereka kembali ke negeri mereka.Rasulullah ﷺ dan para sahabat kembali ke Madinah.Allah Ta’ala berfirman:وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ“Dan (ingatlah) ketika engkau berangkat dari keluargamu…”Kata ghuduw (غَدَوْتَ) di sini berarti keluar secara umum, bukan khusus pada pagi hari. Karena Nabi ﷺ dan para sahabat keluar setelah menunaikan shalat Jumat.تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِينَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ“Engkau menempatkan orang-orang beriman pada posisi-posisi untuk berperang.”Yakni, engkau menempatkan dan menyusun mereka sesuai posisi yang layak bagi masing-masing.Dalam ayat ini terdapat pujian yang sangat besar kepada Nabi ﷺ. Beliaulah yang langsung mengatur strategi dan menempatkan pasukan. Hal itu menunjukkan kesempurnaan ilmu, ketajaman pandangan, kelurusan pendapat, dan tingginya semangat beliau. Beliau sendiri turun tangan dalam pengaturan dan memiliki keberanian yang sempurna. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada beliau.Allah berfirman:وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”Allah Maha Mendengar segala sesuatu yang diucapkan, termasuk perkataan orang-orang beriman dan orang-orang munafik—masing-masing berbicara sesuai isi hatinya. Allah juga Maha Mengetahui niat para hamba, lalu membalas mereka dengan balasan yang paling sempurna.Selain itu, maknanya juga: Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui keadaan kalian. Dia menjaga kalian, mengatur urusan kalian, dan menguatkan kalian dengan pertolongan-Nya.Sebagaimana firman-Nya kepada Musa dan Harun:إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى“Sesungguhnya Aku bersama kalian berdua, Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thaha: 46)Di ayat selanjutnya (QS. Ali Imran ayat 122) dijelaskan oleh Syaikh As-Sa’di sebagai berikut.Di antara bentuk kelembutan dan kebaikan Allah kepada kaum mukminin adalah ketika dua golongan dari mereka hampir saja melemah dan mundur—yaitu Bani Salamah dan Bani Haritsah sebagaimana telah disebutkan sebelumnya—Allah meneguhkan hati keduanya. Itu adalah nikmat besar bagi mereka dan bagi seluruh kaum beriman.Karena itulah Allah berfirman:وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا“Dan Allah adalah Pelindung bagi keduanya.”Yakni dengan perlindungan khusus-Nya. Perlindungan ini berupa kelembutan-Nya kepada para wali-Nya, memberi mereka taufik kepada hal-hal yang membawa kebaikan dan menjaga mereka dari hal-hal yang membahayakan.Termasuk bentuk perlindungan Allah kepada dua kelompok itu adalah ketika mereka hampir terjerumus dalam dosa besar—yaitu melemah dan lari dari Rasulullah ﷺ—Allah menjaga mereka karena iman yang masih ada pada diri mereka.Sebagaimana firman-Nya:اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ“Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257)Kemudian Allah berfirman:وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ“Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal.”Ayat ini berisi perintah untuk bertawakal. Tawakal adalah sikap hati yang bersandar sepenuhnya kepada Allah dalam meraih manfaat dan menolak mudarat, disertai kepercayaan penuh kepada-Nya.Kadar tawakal seorang hamba sebanding dengan kadar imannya. Semakin kuat imannya, semakin kuat pula tawakalnya.Orang-orang beriman lebih pantas untuk bertawakal kepada Allah dibandingkan selain mereka. Terlebih lagi dalam situasi sulit dan medan peperangan, karena pada saat itu mereka sangat membutuhkan tawakal, memohon pertolongan kepada Rabb mereka, dan meminta kemenangan dari-Nya.Mereka harus melepaskan diri dari ketergantungan pada kekuatan dan kemampuan diri sendiri, lalu bersandar sepenuhnya kepada kekuatan dan pertolongan Allah. Dengan cara itulah Allah akan menolong mereka dan melindungi mereka dari berbagai bencana dan ujian. 2. Motivasi dari Kemenangan Perang Badar (Ayat 123-129)Ingat bahwa jumlah bukan penentu kemenangan, melainkan pertolongan Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. Ali Imran: 123)إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَن يَكْفِيَكُمْ أَن يُمِدَّكُمْ رَبُّكُم بِثَلَٰثَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُنزَلِينَ“(Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?” (QS. Ali Imran: 124)بَلَىٰٓ ۚ إِن تَصْبِرُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُسَوِّمِينَ“Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.” (QS. Ali Imran: 125)Secara ringkas dalam Tafsir As-Sa’di dijelaskan:Perang Badar terjadi pada tahun kedua hijrah. Rasulullah ﷺ keluar dari Madinah bersama sekitar tiga ratus belasan sahabat. Mereka tidak memiliki kecuali tujuh puluh unta dan dua ekor kuda. Awalnya mereka bermaksud menghadang kafilah dagang Quraisy yang datang dari Syam.Namun kabar itu sampai kepada kaum musyrikin. Mereka pun bersiap dari Makkah untuk menyelamatkan kafilah mereka. Mereka keluar dengan sekitar seribu pasukan lengkap dengan persenjataan dan kuda yang banyak.Kedua pasukan bertemu di sebuah tempat bernama Badar, sebuah mata air di antara Makkah dan Madinah.Dalam pertempuran itu, Allah memberikan kemenangan besar kepada kaum muslimin. Mereka berhasil membunuh tujuh puluh orang dari tokoh-tokoh dan pemberani kaum musyrikin, serta menawan tujuh puluh orang lainnya. Mereka juga menguasai perkemahan musuh beserta perlengkapannya.Kisah lengkap mengenai perang Badar terdapat di Surah Al-Anfal. Namun Allah menyebutkannya di sini agar kaum mukminin mengingatnya, sehingga mereka semakin bertakwa kepada Rabb mereka dan bersyukur kepada-Nya.Mengenai ayat 125, Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Dalam ayat ini, Allah menetapkan tiga syarat untuk turunnya bantuan berupa lima ribu malaikat:SabarTakwaDatangnya kaum musyrikin secara langsung dan segera dalam peristiwa tersebutJanji turunnya malaikat dan tambahan kekuatan ini bergantung pada terpenuhinya tiga syarat tersebut.Adapun janji kemenangan secara umum dan penangkalan tipu daya musuh, maka Allah hanya mensyaratkan dua hal pertama, yaitu sabar dan takwa. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam firman-Nya:وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا“Jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka tidak akan membahayakan kalian sedikit pun.”(QS. Ali ‘Imran: 120) 3. Pembersihan Hati: Larangan Riba di Tengah Suasana Perang (Ayat 130-136)Penyisipan ayat-ayat tentang riba dan sifat orang bertakwa di tengah pembahasan Perang Uhud ini merupakan bentuk reorientasi mental dan spiritual bagi umat Islam. Melalui ayat ini, Allah melarang riba untuk mencabut akar kecintaan pada dunia yang sempat menggoyahkan disiplin pasukan pemanah di Bukit Rumat, sekaligus mengalihkan ambisi mereka dari sekadar mengejar harta rampasan (ghanimah) menuju perlombaan mengejar ampunan dan surga. Allah ingin menegaskan bahwa kemenangan sejati hanya akan diraih oleh orang-orang bertakwa yang mampu mengelola hati di masa sulit, yaitu mereka yang tetap dermawan saat sempit, mampu menahan amarah atas kegagalan koordinasi perang, serta memiliki jiwa pemaaf demi menjaga keutuhan ukhuwah dalam barisan.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوا۟ ٱلرِّبَوٰٓا۟ أَضْعَٰفًا مُّضَٰعَفَةً ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda] dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imran: 130)وَٱتَّقُوا۟ ٱلنَّارَ ٱلَّتِىٓ أُعِدَّتْ لِلْكَٰفِرِينَ“Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (QS. Ali Imran: 131)وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. Ali Imran: 132)۞ وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)أُو۟لَٰٓئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّٰتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ ٱلْعَٰمِلِينَ“Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran: 136)Penjelasan ringkas dari Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Barangkali—wallahu a‘lam—hikmah disisipkannya ayat-ayat ini di tengah kisah Perang Uhud adalah karena sebelumnya Allah telah menjanjikan kepada orang-orang beriman bahwa jika mereka bersabar dan bertakwa, niscaya Dia akan menolong mereka dan menggagalkan tipu daya musuh.Seakan-akan jiwa para mukmin rindu untuk mengetahui sifat-sifat ketakwaan yang dapat menghadirkan kemenangan, keberuntungan, dan kebahagiaan. Maka Allah menyebutkan dalam ayat-ayat ini sifat-sifat utama dari ketakwaan. Jika seorang hamba mampu menegakkannya, maka menegakkan sifat-sifat lain tentu lebih mudah dan lebih layak lagi.Setiap kali dalam Al-Qur’an Allah memulai dengan seruan ini, lalu memerintahkan sesuatu atau melarang sesuatu, maka itu menunjukkan bahwa imanlah yang menjadi sebab dan pendorong untuk melaksanakan perintah tersebut dan menjauhi larangan itu. Karena iman adalah pembenaran yang sempurna terhadap apa yang wajib dibenarkan, yang menuntut pengamalan anggota badan.Di antara larangan dalam ayat-ayat ini adalah larangan memakan riba yang berlipat ganda. Itulah praktik yang biasa dilakukan pada masa jahiliah, juga oleh orang-orang yang tidak peduli dengan perintah syariat.Apabila utang telah jatuh tempo dan si peminjam tidak mampu membayar, mereka berkata, “Lunasi sekarang atau kami tambahkan waktunya, tetapi jumlah utangmu bertambah.” Maka orang miskin itu terpaksa menyetujui tambahan tersebut demi mendapat kelonggaran waktu. Akibatnya, utangnya terus bertambah berkali-kali lipat tanpa ada manfaat yang ia peroleh.Dalam firman-Nya:أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً“Berlipat ganda.” Terdapat peringatan tentang betapa buruknya perbuatan itu karena banyaknya tambahan yang memberatkan, sekaligus isyarat tentang hikmah pengharamannya. Allah mengharamkan riba karena di dalamnya terdapat kezaliman.Allah mewajibkan agar orang yang kesulitan diberi penangguhan tanpa tambahan apa pun pada utangnya. Maka membebani dia dengan tambahan di atas itu adalah kezaliman yang berlipat ganda.Karena itu, seorang mukmin yang bertakwa wajib meninggalkan riba dan tidak mendekatinya. Meninggalkannya termasuk konsekuensi ketakwaan. Sedangkan keberuntungan dan keselamatan bergantung pada ketakwaan. 4. Isu Wafatnya Rasulullah dan Kekuatan Mental (Ayat 144)Kekalahan di medan Uhud semakin memuncak ketika tersiar kabar hoaks bahwa Rasulullah ﷺ telah wafat, yang seketika meruntuhkan mental sebagian kaum Muslimin. Melalui Surah Ali ‘Imran ayat 144 ini, Allah meluruskan niat para sahabat agar dasar perjuangan mereka bukan semata-mata karena figur pemimpin, melainkan murni karena Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ ٱلرُّسُلُ ۚ أَفَإِي۟ن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ ٱنقَلَبْتُمْ عَلَىٰٓ أَعْقَٰبِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيْـًٔا ۗ وَسَيَجْزِى ٱللَّهُ ٱلشَّٰكِرِينَ“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Dalam ayat yang mulia ini terdapat bimbingan dari Allah agar hamba-hamba-Nya tidak mudah goyah dari iman atau dari konsekuensi iman, hanya karena kehilangan seorang pemimpin, meskipun ia sangat agung.Hal itu hanya dapat terwujud jika dalam setiap urusan agama tersedia sejumlah orang yang cakap dan layak memikul tanggung jawab tersebut. Jika salah satu dari mereka wafat atau tiada, maka yang lain dapat menggantikannya.Demikian pula hendaknya tujuan umum kaum mukminin adalah menegakkan agama Allah dan berjihad membelanya sesuai kemampuan, bukan bergantung pada sosok pemimpin tertentu. Dengan sikap seperti ini, urusan mereka akan kokoh dan keadaan mereka akan tetap teratur.Dalam ayat ini juga terdapat dalil yang sangat kuat tentang keutamaan ash-Shiddiq yang agung, yaitu Abu Bakar As-Siddiq, serta para sahabat yang memerangi kaum murtad setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Karena merekalah para pemimpin orang-orang yang bersyukur, yang tetap teguh menegakkan agama Allah setelah wafatnya Nabi mereka. 5. Titik Balik Kekalahan: Ujian Dunia dan Ketidakpatuhan (Ayat 152)Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ ٱللَّهُ وَعْدَهُۥٓ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِۦ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَٰزَعْتُمْ فِى ٱلْأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّنۢ بَعْدِ مَآ أَرَىٰكُم مَّا تُحِبُّونَ ۚ مِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلْءَاخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ ۗ وَٱللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 152)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ“Dan sungguh Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian.” Yakni janji kemenangan. Allah benar-benar telah menolong kalian atas musuh-musuh kalian, hingga mereka berpaling mundur dan kalian membunuh mereka. Kemenangan itu hampir sempurna.Namun kemudian kalian justru menjadi sebab kelemahan bagi diri kalian sendiri, bahkan menjadi penolong bagi musuh untuk mengalahkan kalian.Ketika muncul di antara kalian kelemahan dan rasa gentar, dan kalian berselisih dalam urusan, padahal Allah telah memerintahkan persatuan dan melarang perpecahan—maka terjadilah perbedaan pendapat.Sebagian berkata, “Kita tetap tinggal di posisi yang telah ditetapkan oleh Nabi ﷺ.” Sebagian lagi berkata, “Mengapa kita tetap di sini, padahal musuh telah kalah dan tidak ada lagi bahaya?”Maka kalian pun bermaksiat kepada Rasul ﷺ dan meninggalkan perintah beliau, setelah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai, yaitu kekalahan musuh kalian.Padahal orang yang telah Allah beri nikmat kemenangan, justru lebih besar kewajibannya untuk taat. Dalam kondisi seperti itu—dan dalam kondisi apa pun—yang wajib adalah menaati perintah Allah dan Rasul-Nya.Allah berfirman:مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا“Di antara kalian ada yang menginginkan dunia.”Mereka adalah orang-orang yang terdorong turun dari posisi mereka karena menginginkan harta rampasan.وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ“Dan di antara kalian ada yang menginginkan akhirat.”Mereka adalah orang-orang yang tetap teguh mematuhi perintah Rasulullah ﷺ dan bertahan di tempat yang telah ditetapkan.Kemudian Allah berfirman:ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ“Kemudian Dia memalingkan kalian dari mereka.”Yakni, setelah terjadi kelemahan dan perselisihan itu, Allah memalingkan keadaan sehingga musuh berbalik menyerang kalian. Itu adalah ujian dan cobaan dari Allah.Tujuannya agar tampak jelas siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang munafik, siapa yang taat dan siapa yang durhaka. Sekaligus agar Allah menghapus kesalahan yang muncul dari kalian melalui musibah tersebut.Karena itu Allah berfirman:وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ“Dan sungguh Allah telah memaafkan kalian. Dan Allah memiliki karunia yang besar atas orang-orang beriman.”Di antara karunia besar Allah kepada kaum mukminin adalah Dia menganugerahkan Islam kepada mereka, memberi mereka petunjuk kepada syariat-Nya, memaafkan kesalahan mereka, dan memberikan pahala atas musibah yang menimpa mereka.Bahkan termasuk bagian dari karunia-Nya adalah bahwa setiap kebaikan maupun musibah yang Allah tetapkan bagi seorang mukmin, semuanya menjadi kebaikan baginya.Jika mereka mendapat kesenangan lalu bersyukur, Allah memberi mereka pahala sebagai orang-orang yang bersyukur. Jika mereka ditimpa kesusahan lalu bersabar, Allah memberi mereka pahala sebagai orang-orang yang sabar. 6. Akhlak Pemimpin: Musyawarah dan Kelembutan Hati (Ayat 159)Bagaimana Nabi tetap merangkul sahabat yang bersalah. Poin penting untuk parenting dan kepemimpinan saat ini.فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Allah Ta’ala berfirman:فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ“Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.”Yakni, karena rahmat Allah kepadamu dan kepada para sahabatmu, Allah menganugerahkan kepadamu kelembutan hati. Engkau merendahkan sayapmu kepada mereka, bersikap penuh kasih, dan berakhlak mulia terhadap mereka. Maka mereka pun berkumpul di sekelilingmu, mencintaimu, dan menaati perintahmu.Kemudian Allah berfirman:وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ“Seandainya engkau bersikap kasar lagi berhati keras, niscaya mereka akan menjauh dari sekelilingmu.”Yakni, jika engkau buruk akhlaknya dan keras hatinya, tentu orang-orang akan menjauh dan membencimu. Karena akhlak yang buruk membuat manusia lari dan merasa tidak nyaman.Akhlak yang baik dari seorang pemimpin dalam urusan agama akan menarik manusia kepada agama Allah dan membuat mereka mencintainya. Selain itu, pemilik akhlak mulia akan memperoleh pujian dan pahala khusus dari Allah.Sebaliknya, akhlak yang buruk dari seorang pemimpin agama akan membuat manusia menjauh dari agama dan membencinya. Pemiliknya pun berhak mendapatkan celaan dan hukuman khusus.Jika kepada Rasulullah ﷺ—yang ma‘shum dan paling sempurna akalnya, ilmunya, serta pendapatnya—Allah memberikan arahan seperti ini, maka bagaimana lagi dengan selain beliau?Bukankah termasuk kewajiban terbesar dan perkara terpenting adalah meneladani akhlak beliau yang mulia? Berinteraksi dengan manusia sebagaimana beliau berinteraksi: dengan kelembutan, akhlak yang baik, dan usaha merangkul hati. Semua itu dalam rangka menaati perintah Allah dan menarik hamba-hamba-Nya kepada agama-Nya.Kemudian Allah memerintahkan beliau untuk memaafkan kesalahan mereka terhadap beliau:فَاعْفُ عَنْهُمْ“Karena itu maafkanlah mereka.”Yakni atas kekurangan mereka terhadap hak beliau ﷺ.وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ“Dan mohonkanlah ampun untuk mereka.”Yakni atas kekurangan mereka terhadap hak Allah.Dengan demikian, terkumpullah dua hal: memaafkan dan berbuat baik.Kemudian Allah berfirman:وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”Yakni dalam perkara-perkara yang membutuhkan pertimbangan, pemikiran, dan penelaahan.Musyawarah memiliki banyak manfaat dan maslahat, baik dalam urusan agama maupun dunia, yang sulit dihitung jumlahnya. Di antaranya:Musyawarah termasuk bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.Ia membuat hati orang-orang menjadi lapang dan menghilangkan ganjalan yang mungkin muncul dalam peristiwa-peristiwa tertentu.Jika seorang pemimpin mengumpulkan orang-orang yang berilmu dan berpengalaman untuk dimintai pendapat dalam suatu masalah, maka hati mereka menjadi tenang, mereka mencintainya, dan mengetahui bahwa ia tidak bersikap otoriter, tetapi menginginkan kemaslahatan bersama.Dengan demikian, mereka akan bersungguh-sungguh dalam menaati dan membantunya, karena mereka tahu bahwa ia berusaha demi kepentingan umum.Berbeda dengan pemimpin yang tidak bermusyawarah, biasanya ia tidak dicintai dengan tulus, dan jika ditaati pun, ketaatan itu tidak sepenuh hati.Musyawarah juga menerangi akal, karena setiap pendapat diasah dan digunakan sesuai fungsinya, sehingga menghasilkan tambahan kecerdasan.Dari musyawarah sering lahir pendapat yang tepat. Orang yang bermusyawarah jarang keliru. Jika pun keliru atau tidak mencapai hasil yang diinginkan, ia tidak tercela.Jika Allah memerintahkan Rasul-Nya ﷺ—yang paling sempurna akalnya, paling luas ilmunya, dan paling tepat pendapatnya—untuk bermusyawarah, maka bagaimana lagi dengan selain beliau?Kemudian Allah berfirman:فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”Yakni, setelah bermusyawarah dan menetapkan keputusan dalam suatu urusan, maka bersandarlah kepada kekuatan dan pertolongan Allah. Lepaskan diri dari ketergantungan pada kemampuan dan kekuatan diri sendiri.إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”Yaitu orang-orang yang bersandar kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, dan menjadikan-Nya sebagai tempat bergantung dalam setiap urusan mereka. 7. Menyingkap Kedok Kaum Munafik di Balik Tragedi Uhud (Ayat 167)Allah Ta’ala berfirman,وَلِيَعْلَمَ ٱلَّذِينَ نَافَقُوا۟ ۚ وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ قَٰتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَوِ ٱدْفَعُوا۟ ۖ قَالُوا۟ لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَّٱتَّبَعْنَٰكُمْ ۗ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَٰنِ ۚ يَقُولُونَ بِأَفْوَٰهِهِم مَّا لَيْسَ فِى قُلُوبِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ“Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.” (QS. Ali Imran: 167)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Semua itu agar menjadi jelas perbedaan antara orang beriman dan orang munafik. Ketika mereka diperintahkan untuk berperang, dan dikatakan kepada mereka:تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ“Marilah berperang di jalan Allah.”Yakni untuk membela agama Allah, melindunginya, dan mencari keridaan-Nya.Kemudian dikatakan pula:أَوِ ادْفَعُوا“Atau setidaknya bertahanlah (membela diri).”Maksudnya, jika kalian tidak memiliki niat yang tulus untuk membela agama, maka setidaknya berperanglah demi membela keluarga, kehormatan, dan negeri kalian.Namun mereka menolak dan mencari-cari alasan. Mereka berkata:لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَاتَّبَعْنَاكُمْ“Seandainya kami mengetahui akan terjadi peperangan, niscaya kami mengikuti kalian.”Artinya, “Jika kami tahu pasti akan terjadi pertempuran antara kalian dan mereka, tentu kami ikut bersama kalian.”Padahal mereka berdusta.Mereka mengetahui dan meyakini—dan semua orang pun tahu—bahwa kaum musyrikin dipenuhi rasa dendam dan kemarahan kepada kaum mukminin atas kekalahan yang mereka alami. Mereka telah mengerahkan harta, mengumpulkan pasukan dan perlengkapan, serta datang dalam jumlah besar menuju negeri kaum muslimin, dengan tekad kuat untuk memerangi mereka.Dalam keadaan seperti itu, bagaimana mungkin tidak terjadi peperangan? Terlebih lagi kaum muslimin telah keluar dari Madinah dan maju menghadapi mereka. Mustahil tidak terjadi pertempuran.Akan tetapi, kaum munafik mengira alasan itu akan laku di hadapan kaum mukminin.Allah berfirman:هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ“Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekufuran daripada kepada keimanan.”Yakni dalam keadaan mereka meninggalkan kewajiban berangkat bersama kaum mukminin, mereka lebih condong kepada kekufuran.يَقُولُونَ بِأَفْوَاهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ“Mereka mengatakan dengan mulut mereka apa yang tidak ada dalam hati mereka.”Inilah ciri khas orang munafik: mereka menampakkan dengan ucapan dan perbuatan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang tersembunyi dalam hati dan batin mereka.Termasuk di dalamnya ucapan mereka, “Seandainya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentu kami mengikuti kalian,” padahal mereka benar-benar tahu bahwa peperangan pasti terjadi.Dari ayat ini juga dapat diambil kaidah penting:اِرْتِكَابُ أَخَفِّ الْمَفْسَدَتَيْنِ لِدَفْعِ أَعْلَاهُمَا، وَفِعْلُ أَدْنَى الْمَصْلَحَتَيْنِ، لِلْعَجْزِ عَنْ أَعْلَاهُمَا.“Menempuh mudarat yang lebih ringan untuk menghindari mudarat yang lebih besar, serta melakukan maslahat yang lebih rendah ketika tidak mampu meraih maslahat yang lebih tinggi.”Sebab orang-orang munafik diperintahkan untuk berperang demi agama. Jika mereka tidak mau, maka minimal untuk membela keluarga dan negeri mereka. Artinya, jika tidak mampu meraih tujuan yang paling tinggi, maka jangan tinggalkan tujuan yang lebih rendah.Kemudian Allah menutup ayat dengan firman-Nya:وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ“Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka sembunyikan.”Allah mengetahui apa yang tersembunyi di hati mereka, lalu Dia akan menampakkannya kepada kaum mukminin dan memberikan balasan atasnya. Ibrah bagi Kita dari Perang UhudBerdasarkan rangkaian ayat-ayat dalam Ali Imran tersebut, berikut adalah poin-poin kesalahan kaum muslimin di Perang Uhud yang menjadi peringatan abadi bagi kita saat ini:Ketidakpatuhan terhadap Instruksi Pemimpin: Kesalahan fatal bermula ketika pasukan pemanah melanggar perintah tegas Rasulullah ﷺ untuk tetap di posisi. Ini menjadi peringatan bahwa ketaatan kepada pemimpin dalam kebaikan adalah kunci stabilitas dan kemenangan barisan.Terfitnah oleh Dunia (Ghanimah): Munculnya keinginan terhadap harta rampasan perang yang mengalahkan niat awal berjihad. Hal ini mengingatkan kita bahwa penyakit “cinta dunia” dapat merusak fokus perjuangan dan melunturkan nilai keikhlasan.Perselisihan di Internal Barisan: Adanya perdebatan dan perbedaan pendapat di saat genting (antara tetap bertahan atau turun bukit) yang memicu perpecahan. Persatuan adalah kekuatan, sedangkan pertikaian internal adalah pembuka pintu kekalahan.Kekaguman pada Figur secara Berlebihan: Sebagian sempat goyah dan ingin mundur saat mendengar kabar hoaks Nabi ﷺ wafat. Ini adalah peringatan agar iman dan perjuangan tidak boleh bergantung pada sosok manusia, melainkan harus tegak di atas nilai dan perintah Allah yang abadi.Sifat Gentar dan Lemah Tekad: Adanya rasa takut yang sempat menghinggapi sebagian sahabat (Bani Salamah dan Bani Haritsah) sebelum perang dimulai. Keimanan harus dibarengi dengan keberanian dan tawakal penuh agar tidak mudah goyah oleh besarnya kekuatan musuh.Lalai dalam Menjaga Kewaspadaan: Meninggalkan celah strategis (bukit Rumat) karena menyangka perang telah usai. Hal ini mengajarkan bahwa sikap meremehkan musuh dan terlalu cepat merasa menang bisa berakibat fatal.Kurangnya Ketajaman dalam Menilai Orang Munafik: Adanya pengaruh dari kaum munafik (Abdullah bin Ubay) yang berhasil membawa pulang sepertiga pasukan. Umat Islam harus waspada terhadap upaya pelemahan dari dalam yang seringkali dibungkus dengan alasan-alasan yang tampak logis. KesimpulanKesimpulan dari tadabbur Perang Uhud di Surah Ali ‘Imran adalah bahwa kemenangan sejati tidak ditentukan oleh kekuatan fisik semata, melainkan oleh keteguhan iman, ketaatan penuh kepada syariat, dan kebersihan hati dari ambisi duniawi.“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai ambisi terbesar kami, ampunilah kelemahan hati kami saat menghadapi ujian, dan teguhkanlah kaki kami di atas jalan kebenaran sebagaimana Engkau telah memberikan perlindungan khusus kepada hamba-hamba-Mu yang beriman.”  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Sabtu bakda Maghrib, 4 Ramadhan 1447 H @ Makkah Al-MukarramahPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagshikmah perang perang perang di masa nabi perang uhud renungan ayat renungan quran

Detoks Digital di Bulan Ramadan: Cara Ampuh Mengembalikan Fokus Ibadah Anda

Wahai saudara-saudara! Kita wajib mengurangi kesibukan duniawi pada bulan Ramadan. Termasuk di antaranya adalah penggunaan ponsel ini. Hendaknya sedari sekarang kita mulai mengurangi intensitas penggunaannya. Karena pada zaman ini, ponsel merupakan pencuri terbesar. Pencuri terbesar adalah ponsel ini! Ia mencuri waktu-waktu kita dengan cara yang mengerikan. Bahkan, sebagian dari kita seolah tidak bisa terlepas darinya, sekalipun saat berada di masjid. Sering kali ia tetap memegangnya hingga imam bertakbiratul ihram, barulah ia meletakkannya. Lalu ketika imam mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum warahmatullah… Assalamu’alaikum warahmatullah…” Sebelum beristigfar, ia sudah mengeluarkan ponsel dan membukanya kembali. Kita harus membiasakan diri untuk mengurangi penggunaan ponsel. Kurangilah pemakaiannya, misalnya cukup gunakan selama satu jam saja. Aku membuka ponsel ini untuk melihat apa yang memang perlu aku lihat. Setelah itu, simpanlah ponsel tersebut. Kecuali jika ada panggilan telepon atau keperluan mendesak lainnya. Biasakanlah dirimu, agar pada bulan Ramadan, Anda dapat fokus membaca Al-Qur’an. Demi Allah wahai saudara-saudara, kebanyakan orang saat ini terhalang dari membaca Al-Qur’an karena ponsel ini. Jika Anda bertanya kepadanya: “Sudahkah Anda mengkhatamkan Al-Qur’an?” Ia menjawab: “Demi Allah, masalahnya aku tidak punya waktu.” Padahal mayoritas waktunya habis hanya untuk memegang ponsel ini. Di antara bentuk persiapan diri yang indah menyambut Ramadan adalah melatih diri kita sedari sekarang untuk mengurangi penggunaan ponsel. Adapun hal-hal yang haram, jangan sampai Anda memasuki bulan Ramadan dengan niat untuk berbuat haram. Baik itu menonton maupun mendengar hal-hal yang diharamkan. Sebab, hal itu merupakan faktor penghalang datangnya kebaikan. Akan ada seruan pada malam pertama Ramadan dan pada setiap malamnya: “Wahai para pencari kebaikan! Sambutlah!” Ramadan adalah bulan penuh kebaikan. “Wahai para pencari kebaikan! Sambutlah!” Yakni mereka yang mengharapkan kebajikan. Yang diseru adalah orang yang menginginkan kebaikan, dan ia akan ditolong untuk itu. Barang siapa yang jujur kepada Allah, niscaya Allah akan menolongnya. “Dan wahai para pencari keburukan! Berhentilah!” Stop! Batalkanlah niatmu untuk berbuat buruk itu! Sesungguhnya Anda akan ditolong pada bulan ini untuk meninggalkannya. Maka waspadalah wahai hamba Allah, jangan sampai Anda menyambut Ramadan sedangkan dalam hati Anda masih tersimpan niat berbuat buruk. Namun, penuhilah hati Anda dengan tekad untuk berbuat baik, disertai rasa benci terhadap keburukan, kemurkaan terhadapnya, serta tidak adanya keinginan untuk bermaksiat. Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menolong kita dalam mengendalikan nafsu, dan menyampaikan kita ke bulan Ramadan dalam keadaan sehat dan kuat. Semoga Allah menolong kita dalam menjalankan puasa dan Salat Malam. Juga amal-amal ketaatan lainnya. Semoga Allah memberkahi kita semua. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam. Semoga selawat dan salam tercurah kepada Nabi kita. ===== فَالْوَاجِبُ عَلَيْنَا يَا إِخْوَةُ أَنْ نَتَقَلَّلَ مِنَ الدُّنْيَا فِي رَمَضَانَ حَتَّى هَذَا الْهَاتِفُ يَنْبَغِي مِنَ الْآنِ أَنْ نُقَلِّلَ اسْتِعْمَالَنَا لَهُ لِأَنَّ هَذَا الْهَاتِفَ الْيَوْمَ أَكْبَرُ لِصٍّ أَكْبَرُ لِصٍّ هَذَا الْهَاتِفُ يَسْرِقُ أَوْقَاتَنَا سَرِقَةً عَجِيبَةً حَتَّى أَنَّ أَحَدَنَا صَارَ مَا يَسْتَغْنِي عَنْهُ حَتَّى فِي الْمَسْجِدِ رُبَّمَا يُمْسِكُ بِهِ حَتَّى يُكَبِّرَ الْإِمَامُ تَكْبِيرَةَ الْإِحْرَامِ ثُمَّ يَضَعُهُ ثُمَّ إِذَا قَالَ الْإِمَامُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ يُخْرِجُهُ يَنْظُرُ فِيهِ نُعَوِّدُ أَنْفُسَنَا عَلَى التَّقْلِيلِ مِنِ اسْتِعْمَالِ هَذَا الْهَاتِفِ وَالتَّقْلِيلِ اجْعَلْ لَكَ سَاعَةً أَفْتَحُ هَذَا الْهَاتِفَ أَنْظُرُ فِيمَا أُحِبُّ أَنْ أَنْظُرَ فِيهِ ثُمَّ اتْرُكْهُ إِلَّا إِذَا كَانَ هُنَاكَ اتِّصَالٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ عَوِّدْ نَفْسَكَ حَتَّى تَسْتَطِيعَ فِي رَمَضَانَ أَنْ تَقْرَأَ الْقُرْآنَ وَاللهِ يَا إِخْوَةُ أَكْثَرُ النَّاسِ الْيَوْمَ يَصْرِفُهُمْ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ هَذَا الْجَوَّالُ هَذَا الْهَاتِفُ إِذَا قُلْتَ لَهُ هَلْ خَتَمْتَ قَالَ وَاللهِ يَا أَخِي المُشْكِلَةُ الْوَقْتُ وَأَكْثَرُ وَقْتِهِ يُمْسِكُ هَذَا الْهَاتِفَ مِن جَمِيلِ الِاسْتِعْدَادِ أَنْ نُعَوِّدَ أَنْفُسَنَا مِنَ الْآنِ عَلَى التَّقْلِيلِ مِنِ اسْتِعْمَالِ هَذَا الْهَاتِفِ أَمَّا الْمُحَرَّمَاتُ فَإِيَّاكَ أَنْ تَدْخُلَ رَمَضَانَ وَأَنْتَ تَنْوِي أَنْ تَفْعَلَ مُحَرَّمًا أَنْ تُشَاهِدَ مُحَرَّمًا أَنْ تَسْمَعَ مُحَرَّمًا فَإِنَّ هَذَا مِنْ أَسْبَابِ الْحِرْمَانِ يُنَادَى مِنْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ وَفِي كُلِّ لَيْلَةٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ رَمَضَانُ خَيْرٌ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ يَا بَاغِيَ يَا مُرِيدَ الَّذِي يُنَادَى الَّذِي يُرِيدُ الْخَيْرَ يُعَانُ وَمَنْ صَدَقَ اللهَ صَدَقَهُ اللهُ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ كُفَّ أَبْطِلْ نِيَّةَ إِرَادَةِ الشَّرِّ فَإِنَّكَ تُعَانُ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَإِيَّاكَ يَا عَبْدَ اللهِ أَنْ تُقْبِلَ عَلَى شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَنْتَ تَنْوِي الشَّرَّ بَلِ امْلَأْ قَلْبَكَ إِرَادَةً لِلْخَيْرِ وَكُرْهًا لِلشَّرِّ وَبُغْضًا لِلشَّرِّ وَعَدَمَ إِرَادَةٍ لِلشَّرِّ أَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعِينَنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَأَنْ يُبَلِّغَنَا شَهْرَ رَمَضَانَ وَنَحْنُ فِي عَافِيَةٍ وَقُوَّةٍ وَأَنْ يُعِينَنَا عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ وَعَمَلِ الطَّاعَةِ بَارَكَ اللهُ فِي الْجَمِيعِ وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ

Detoks Digital di Bulan Ramadan: Cara Ampuh Mengembalikan Fokus Ibadah Anda

Wahai saudara-saudara! Kita wajib mengurangi kesibukan duniawi pada bulan Ramadan. Termasuk di antaranya adalah penggunaan ponsel ini. Hendaknya sedari sekarang kita mulai mengurangi intensitas penggunaannya. Karena pada zaman ini, ponsel merupakan pencuri terbesar. Pencuri terbesar adalah ponsel ini! Ia mencuri waktu-waktu kita dengan cara yang mengerikan. Bahkan, sebagian dari kita seolah tidak bisa terlepas darinya, sekalipun saat berada di masjid. Sering kali ia tetap memegangnya hingga imam bertakbiratul ihram, barulah ia meletakkannya. Lalu ketika imam mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum warahmatullah… Assalamu’alaikum warahmatullah…” Sebelum beristigfar, ia sudah mengeluarkan ponsel dan membukanya kembali. Kita harus membiasakan diri untuk mengurangi penggunaan ponsel. Kurangilah pemakaiannya, misalnya cukup gunakan selama satu jam saja. Aku membuka ponsel ini untuk melihat apa yang memang perlu aku lihat. Setelah itu, simpanlah ponsel tersebut. Kecuali jika ada panggilan telepon atau keperluan mendesak lainnya. Biasakanlah dirimu, agar pada bulan Ramadan, Anda dapat fokus membaca Al-Qur’an. Demi Allah wahai saudara-saudara, kebanyakan orang saat ini terhalang dari membaca Al-Qur’an karena ponsel ini. Jika Anda bertanya kepadanya: “Sudahkah Anda mengkhatamkan Al-Qur’an?” Ia menjawab: “Demi Allah, masalahnya aku tidak punya waktu.” Padahal mayoritas waktunya habis hanya untuk memegang ponsel ini. Di antara bentuk persiapan diri yang indah menyambut Ramadan adalah melatih diri kita sedari sekarang untuk mengurangi penggunaan ponsel. Adapun hal-hal yang haram, jangan sampai Anda memasuki bulan Ramadan dengan niat untuk berbuat haram. Baik itu menonton maupun mendengar hal-hal yang diharamkan. Sebab, hal itu merupakan faktor penghalang datangnya kebaikan. Akan ada seruan pada malam pertama Ramadan dan pada setiap malamnya: “Wahai para pencari kebaikan! Sambutlah!” Ramadan adalah bulan penuh kebaikan. “Wahai para pencari kebaikan! Sambutlah!” Yakni mereka yang mengharapkan kebajikan. Yang diseru adalah orang yang menginginkan kebaikan, dan ia akan ditolong untuk itu. Barang siapa yang jujur kepada Allah, niscaya Allah akan menolongnya. “Dan wahai para pencari keburukan! Berhentilah!” Stop! Batalkanlah niatmu untuk berbuat buruk itu! Sesungguhnya Anda akan ditolong pada bulan ini untuk meninggalkannya. Maka waspadalah wahai hamba Allah, jangan sampai Anda menyambut Ramadan sedangkan dalam hati Anda masih tersimpan niat berbuat buruk. Namun, penuhilah hati Anda dengan tekad untuk berbuat baik, disertai rasa benci terhadap keburukan, kemurkaan terhadapnya, serta tidak adanya keinginan untuk bermaksiat. Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menolong kita dalam mengendalikan nafsu, dan menyampaikan kita ke bulan Ramadan dalam keadaan sehat dan kuat. Semoga Allah menolong kita dalam menjalankan puasa dan Salat Malam. Juga amal-amal ketaatan lainnya. Semoga Allah memberkahi kita semua. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam. Semoga selawat dan salam tercurah kepada Nabi kita. ===== فَالْوَاجِبُ عَلَيْنَا يَا إِخْوَةُ أَنْ نَتَقَلَّلَ مِنَ الدُّنْيَا فِي رَمَضَانَ حَتَّى هَذَا الْهَاتِفُ يَنْبَغِي مِنَ الْآنِ أَنْ نُقَلِّلَ اسْتِعْمَالَنَا لَهُ لِأَنَّ هَذَا الْهَاتِفَ الْيَوْمَ أَكْبَرُ لِصٍّ أَكْبَرُ لِصٍّ هَذَا الْهَاتِفُ يَسْرِقُ أَوْقَاتَنَا سَرِقَةً عَجِيبَةً حَتَّى أَنَّ أَحَدَنَا صَارَ مَا يَسْتَغْنِي عَنْهُ حَتَّى فِي الْمَسْجِدِ رُبَّمَا يُمْسِكُ بِهِ حَتَّى يُكَبِّرَ الْإِمَامُ تَكْبِيرَةَ الْإِحْرَامِ ثُمَّ يَضَعُهُ ثُمَّ إِذَا قَالَ الْإِمَامُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ يُخْرِجُهُ يَنْظُرُ فِيهِ نُعَوِّدُ أَنْفُسَنَا عَلَى التَّقْلِيلِ مِنِ اسْتِعْمَالِ هَذَا الْهَاتِفِ وَالتَّقْلِيلِ اجْعَلْ لَكَ سَاعَةً أَفْتَحُ هَذَا الْهَاتِفَ أَنْظُرُ فِيمَا أُحِبُّ أَنْ أَنْظُرَ فِيهِ ثُمَّ اتْرُكْهُ إِلَّا إِذَا كَانَ هُنَاكَ اتِّصَالٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ عَوِّدْ نَفْسَكَ حَتَّى تَسْتَطِيعَ فِي رَمَضَانَ أَنْ تَقْرَأَ الْقُرْآنَ وَاللهِ يَا إِخْوَةُ أَكْثَرُ النَّاسِ الْيَوْمَ يَصْرِفُهُمْ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ هَذَا الْجَوَّالُ هَذَا الْهَاتِفُ إِذَا قُلْتَ لَهُ هَلْ خَتَمْتَ قَالَ وَاللهِ يَا أَخِي المُشْكِلَةُ الْوَقْتُ وَأَكْثَرُ وَقْتِهِ يُمْسِكُ هَذَا الْهَاتِفَ مِن جَمِيلِ الِاسْتِعْدَادِ أَنْ نُعَوِّدَ أَنْفُسَنَا مِنَ الْآنِ عَلَى التَّقْلِيلِ مِنِ اسْتِعْمَالِ هَذَا الْهَاتِفِ أَمَّا الْمُحَرَّمَاتُ فَإِيَّاكَ أَنْ تَدْخُلَ رَمَضَانَ وَأَنْتَ تَنْوِي أَنْ تَفْعَلَ مُحَرَّمًا أَنْ تُشَاهِدَ مُحَرَّمًا أَنْ تَسْمَعَ مُحَرَّمًا فَإِنَّ هَذَا مِنْ أَسْبَابِ الْحِرْمَانِ يُنَادَى مِنْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ وَفِي كُلِّ لَيْلَةٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ رَمَضَانُ خَيْرٌ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ يَا بَاغِيَ يَا مُرِيدَ الَّذِي يُنَادَى الَّذِي يُرِيدُ الْخَيْرَ يُعَانُ وَمَنْ صَدَقَ اللهَ صَدَقَهُ اللهُ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ كُفَّ أَبْطِلْ نِيَّةَ إِرَادَةِ الشَّرِّ فَإِنَّكَ تُعَانُ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَإِيَّاكَ يَا عَبْدَ اللهِ أَنْ تُقْبِلَ عَلَى شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَنْتَ تَنْوِي الشَّرَّ بَلِ امْلَأْ قَلْبَكَ إِرَادَةً لِلْخَيْرِ وَكُرْهًا لِلشَّرِّ وَبُغْضًا لِلشَّرِّ وَعَدَمَ إِرَادَةٍ لِلشَّرِّ أَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعِينَنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَأَنْ يُبَلِّغَنَا شَهْرَ رَمَضَانَ وَنَحْنُ فِي عَافِيَةٍ وَقُوَّةٍ وَأَنْ يُعِينَنَا عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ وَعَمَلِ الطَّاعَةِ بَارَكَ اللهُ فِي الْجَمِيعِ وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ
Wahai saudara-saudara! Kita wajib mengurangi kesibukan duniawi pada bulan Ramadan. Termasuk di antaranya adalah penggunaan ponsel ini. Hendaknya sedari sekarang kita mulai mengurangi intensitas penggunaannya. Karena pada zaman ini, ponsel merupakan pencuri terbesar. Pencuri terbesar adalah ponsel ini! Ia mencuri waktu-waktu kita dengan cara yang mengerikan. Bahkan, sebagian dari kita seolah tidak bisa terlepas darinya, sekalipun saat berada di masjid. Sering kali ia tetap memegangnya hingga imam bertakbiratul ihram, barulah ia meletakkannya. Lalu ketika imam mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum warahmatullah… Assalamu’alaikum warahmatullah…” Sebelum beristigfar, ia sudah mengeluarkan ponsel dan membukanya kembali. Kita harus membiasakan diri untuk mengurangi penggunaan ponsel. Kurangilah pemakaiannya, misalnya cukup gunakan selama satu jam saja. Aku membuka ponsel ini untuk melihat apa yang memang perlu aku lihat. Setelah itu, simpanlah ponsel tersebut. Kecuali jika ada panggilan telepon atau keperluan mendesak lainnya. Biasakanlah dirimu, agar pada bulan Ramadan, Anda dapat fokus membaca Al-Qur’an. Demi Allah wahai saudara-saudara, kebanyakan orang saat ini terhalang dari membaca Al-Qur’an karena ponsel ini. Jika Anda bertanya kepadanya: “Sudahkah Anda mengkhatamkan Al-Qur’an?” Ia menjawab: “Demi Allah, masalahnya aku tidak punya waktu.” Padahal mayoritas waktunya habis hanya untuk memegang ponsel ini. Di antara bentuk persiapan diri yang indah menyambut Ramadan adalah melatih diri kita sedari sekarang untuk mengurangi penggunaan ponsel. Adapun hal-hal yang haram, jangan sampai Anda memasuki bulan Ramadan dengan niat untuk berbuat haram. Baik itu menonton maupun mendengar hal-hal yang diharamkan. Sebab, hal itu merupakan faktor penghalang datangnya kebaikan. Akan ada seruan pada malam pertama Ramadan dan pada setiap malamnya: “Wahai para pencari kebaikan! Sambutlah!” Ramadan adalah bulan penuh kebaikan. “Wahai para pencari kebaikan! Sambutlah!” Yakni mereka yang mengharapkan kebajikan. Yang diseru adalah orang yang menginginkan kebaikan, dan ia akan ditolong untuk itu. Barang siapa yang jujur kepada Allah, niscaya Allah akan menolongnya. “Dan wahai para pencari keburukan! Berhentilah!” Stop! Batalkanlah niatmu untuk berbuat buruk itu! Sesungguhnya Anda akan ditolong pada bulan ini untuk meninggalkannya. Maka waspadalah wahai hamba Allah, jangan sampai Anda menyambut Ramadan sedangkan dalam hati Anda masih tersimpan niat berbuat buruk. Namun, penuhilah hati Anda dengan tekad untuk berbuat baik, disertai rasa benci terhadap keburukan, kemurkaan terhadapnya, serta tidak adanya keinginan untuk bermaksiat. Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menolong kita dalam mengendalikan nafsu, dan menyampaikan kita ke bulan Ramadan dalam keadaan sehat dan kuat. Semoga Allah menolong kita dalam menjalankan puasa dan Salat Malam. Juga amal-amal ketaatan lainnya. Semoga Allah memberkahi kita semua. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam. Semoga selawat dan salam tercurah kepada Nabi kita. ===== فَالْوَاجِبُ عَلَيْنَا يَا إِخْوَةُ أَنْ نَتَقَلَّلَ مِنَ الدُّنْيَا فِي رَمَضَانَ حَتَّى هَذَا الْهَاتِفُ يَنْبَغِي مِنَ الْآنِ أَنْ نُقَلِّلَ اسْتِعْمَالَنَا لَهُ لِأَنَّ هَذَا الْهَاتِفَ الْيَوْمَ أَكْبَرُ لِصٍّ أَكْبَرُ لِصٍّ هَذَا الْهَاتِفُ يَسْرِقُ أَوْقَاتَنَا سَرِقَةً عَجِيبَةً حَتَّى أَنَّ أَحَدَنَا صَارَ مَا يَسْتَغْنِي عَنْهُ حَتَّى فِي الْمَسْجِدِ رُبَّمَا يُمْسِكُ بِهِ حَتَّى يُكَبِّرَ الْإِمَامُ تَكْبِيرَةَ الْإِحْرَامِ ثُمَّ يَضَعُهُ ثُمَّ إِذَا قَالَ الْإِمَامُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ يُخْرِجُهُ يَنْظُرُ فِيهِ نُعَوِّدُ أَنْفُسَنَا عَلَى التَّقْلِيلِ مِنِ اسْتِعْمَالِ هَذَا الْهَاتِفِ وَالتَّقْلِيلِ اجْعَلْ لَكَ سَاعَةً أَفْتَحُ هَذَا الْهَاتِفَ أَنْظُرُ فِيمَا أُحِبُّ أَنْ أَنْظُرَ فِيهِ ثُمَّ اتْرُكْهُ إِلَّا إِذَا كَانَ هُنَاكَ اتِّصَالٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ عَوِّدْ نَفْسَكَ حَتَّى تَسْتَطِيعَ فِي رَمَضَانَ أَنْ تَقْرَأَ الْقُرْآنَ وَاللهِ يَا إِخْوَةُ أَكْثَرُ النَّاسِ الْيَوْمَ يَصْرِفُهُمْ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ هَذَا الْجَوَّالُ هَذَا الْهَاتِفُ إِذَا قُلْتَ لَهُ هَلْ خَتَمْتَ قَالَ وَاللهِ يَا أَخِي المُشْكِلَةُ الْوَقْتُ وَأَكْثَرُ وَقْتِهِ يُمْسِكُ هَذَا الْهَاتِفَ مِن جَمِيلِ الِاسْتِعْدَادِ أَنْ نُعَوِّدَ أَنْفُسَنَا مِنَ الْآنِ عَلَى التَّقْلِيلِ مِنِ اسْتِعْمَالِ هَذَا الْهَاتِفِ أَمَّا الْمُحَرَّمَاتُ فَإِيَّاكَ أَنْ تَدْخُلَ رَمَضَانَ وَأَنْتَ تَنْوِي أَنْ تَفْعَلَ مُحَرَّمًا أَنْ تُشَاهِدَ مُحَرَّمًا أَنْ تَسْمَعَ مُحَرَّمًا فَإِنَّ هَذَا مِنْ أَسْبَابِ الْحِرْمَانِ يُنَادَى مِنْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ وَفِي كُلِّ لَيْلَةٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ رَمَضَانُ خَيْرٌ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ يَا بَاغِيَ يَا مُرِيدَ الَّذِي يُنَادَى الَّذِي يُرِيدُ الْخَيْرَ يُعَانُ وَمَنْ صَدَقَ اللهَ صَدَقَهُ اللهُ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ كُفَّ أَبْطِلْ نِيَّةَ إِرَادَةِ الشَّرِّ فَإِنَّكَ تُعَانُ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَإِيَّاكَ يَا عَبْدَ اللهِ أَنْ تُقْبِلَ عَلَى شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَنْتَ تَنْوِي الشَّرَّ بَلِ امْلَأْ قَلْبَكَ إِرَادَةً لِلْخَيْرِ وَكُرْهًا لِلشَّرِّ وَبُغْضًا لِلشَّرِّ وَعَدَمَ إِرَادَةٍ لِلشَّرِّ أَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعِينَنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَأَنْ يُبَلِّغَنَا شَهْرَ رَمَضَانَ وَنَحْنُ فِي عَافِيَةٍ وَقُوَّةٍ وَأَنْ يُعِينَنَا عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ وَعَمَلِ الطَّاعَةِ بَارَكَ اللهُ فِي الْجَمِيعِ وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ


Wahai saudara-saudara! Kita wajib mengurangi kesibukan duniawi pada bulan Ramadan. Termasuk di antaranya adalah penggunaan ponsel ini. Hendaknya sedari sekarang kita mulai mengurangi intensitas penggunaannya. Karena pada zaman ini, ponsel merupakan pencuri terbesar. Pencuri terbesar adalah ponsel ini! Ia mencuri waktu-waktu kita dengan cara yang mengerikan. Bahkan, sebagian dari kita seolah tidak bisa terlepas darinya, sekalipun saat berada di masjid. Sering kali ia tetap memegangnya hingga imam bertakbiratul ihram, barulah ia meletakkannya. Lalu ketika imam mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum warahmatullah… Assalamu’alaikum warahmatullah…” Sebelum beristigfar, ia sudah mengeluarkan ponsel dan membukanya kembali. Kita harus membiasakan diri untuk mengurangi penggunaan ponsel. Kurangilah pemakaiannya, misalnya cukup gunakan selama satu jam saja. Aku membuka ponsel ini untuk melihat apa yang memang perlu aku lihat. Setelah itu, simpanlah ponsel tersebut. Kecuali jika ada panggilan telepon atau keperluan mendesak lainnya. Biasakanlah dirimu, agar pada bulan Ramadan, Anda dapat fokus membaca Al-Qur’an. Demi Allah wahai saudara-saudara, kebanyakan orang saat ini terhalang dari membaca Al-Qur’an karena ponsel ini. Jika Anda bertanya kepadanya: “Sudahkah Anda mengkhatamkan Al-Qur’an?” Ia menjawab: “Demi Allah, masalahnya aku tidak punya waktu.” Padahal mayoritas waktunya habis hanya untuk memegang ponsel ini. Di antara bentuk persiapan diri yang indah menyambut Ramadan adalah melatih diri kita sedari sekarang untuk mengurangi penggunaan ponsel. Adapun hal-hal yang haram, jangan sampai Anda memasuki bulan Ramadan dengan niat untuk berbuat haram. Baik itu menonton maupun mendengar hal-hal yang diharamkan. Sebab, hal itu merupakan faktor penghalang datangnya kebaikan. Akan ada seruan pada malam pertama Ramadan dan pada setiap malamnya: “Wahai para pencari kebaikan! Sambutlah!” Ramadan adalah bulan penuh kebaikan. “Wahai para pencari kebaikan! Sambutlah!” Yakni mereka yang mengharapkan kebajikan. Yang diseru adalah orang yang menginginkan kebaikan, dan ia akan ditolong untuk itu. Barang siapa yang jujur kepada Allah, niscaya Allah akan menolongnya. “Dan wahai para pencari keburukan! Berhentilah!” Stop! Batalkanlah niatmu untuk berbuat buruk itu! Sesungguhnya Anda akan ditolong pada bulan ini untuk meninggalkannya. Maka waspadalah wahai hamba Allah, jangan sampai Anda menyambut Ramadan sedangkan dalam hati Anda masih tersimpan niat berbuat buruk. Namun, penuhilah hati Anda dengan tekad untuk berbuat baik, disertai rasa benci terhadap keburukan, kemurkaan terhadapnya, serta tidak adanya keinginan untuk bermaksiat. Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menolong kita dalam mengendalikan nafsu, dan menyampaikan kita ke bulan Ramadan dalam keadaan sehat dan kuat. Semoga Allah menolong kita dalam menjalankan puasa dan Salat Malam. Juga amal-amal ketaatan lainnya. Semoga Allah memberkahi kita semua. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam. Semoga selawat dan salam tercurah kepada Nabi kita. ===== فَالْوَاجِبُ عَلَيْنَا يَا إِخْوَةُ أَنْ نَتَقَلَّلَ مِنَ الدُّنْيَا فِي رَمَضَانَ حَتَّى هَذَا الْهَاتِفُ يَنْبَغِي مِنَ الْآنِ أَنْ نُقَلِّلَ اسْتِعْمَالَنَا لَهُ لِأَنَّ هَذَا الْهَاتِفَ الْيَوْمَ أَكْبَرُ لِصٍّ أَكْبَرُ لِصٍّ هَذَا الْهَاتِفُ يَسْرِقُ أَوْقَاتَنَا سَرِقَةً عَجِيبَةً حَتَّى أَنَّ أَحَدَنَا صَارَ مَا يَسْتَغْنِي عَنْهُ حَتَّى فِي الْمَسْجِدِ رُبَّمَا يُمْسِكُ بِهِ حَتَّى يُكَبِّرَ الْإِمَامُ تَكْبِيرَةَ الْإِحْرَامِ ثُمَّ يَضَعُهُ ثُمَّ إِذَا قَالَ الْإِمَامُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ يُخْرِجُهُ يَنْظُرُ فِيهِ نُعَوِّدُ أَنْفُسَنَا عَلَى التَّقْلِيلِ مِنِ اسْتِعْمَالِ هَذَا الْهَاتِفِ وَالتَّقْلِيلِ اجْعَلْ لَكَ سَاعَةً أَفْتَحُ هَذَا الْهَاتِفَ أَنْظُرُ فِيمَا أُحِبُّ أَنْ أَنْظُرَ فِيهِ ثُمَّ اتْرُكْهُ إِلَّا إِذَا كَانَ هُنَاكَ اتِّصَالٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ عَوِّدْ نَفْسَكَ حَتَّى تَسْتَطِيعَ فِي رَمَضَانَ أَنْ تَقْرَأَ الْقُرْآنَ وَاللهِ يَا إِخْوَةُ أَكْثَرُ النَّاسِ الْيَوْمَ يَصْرِفُهُمْ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ هَذَا الْجَوَّالُ هَذَا الْهَاتِفُ إِذَا قُلْتَ لَهُ هَلْ خَتَمْتَ قَالَ وَاللهِ يَا أَخِي المُشْكِلَةُ الْوَقْتُ وَأَكْثَرُ وَقْتِهِ يُمْسِكُ هَذَا الْهَاتِفَ مِن جَمِيلِ الِاسْتِعْدَادِ أَنْ نُعَوِّدَ أَنْفُسَنَا مِنَ الْآنِ عَلَى التَّقْلِيلِ مِنِ اسْتِعْمَالِ هَذَا الْهَاتِفِ أَمَّا الْمُحَرَّمَاتُ فَإِيَّاكَ أَنْ تَدْخُلَ رَمَضَانَ وَأَنْتَ تَنْوِي أَنْ تَفْعَلَ مُحَرَّمًا أَنْ تُشَاهِدَ مُحَرَّمًا أَنْ تَسْمَعَ مُحَرَّمًا فَإِنَّ هَذَا مِنْ أَسْبَابِ الْحِرْمَانِ يُنَادَى مِنْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ وَفِي كُلِّ لَيْلَةٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ رَمَضَانُ خَيْرٌ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ يَا بَاغِيَ يَا مُرِيدَ الَّذِي يُنَادَى الَّذِي يُرِيدُ الْخَيْرَ يُعَانُ وَمَنْ صَدَقَ اللهَ صَدَقَهُ اللهُ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ كُفَّ أَبْطِلْ نِيَّةَ إِرَادَةِ الشَّرِّ فَإِنَّكَ تُعَانُ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَإِيَّاكَ يَا عَبْدَ اللهِ أَنْ تُقْبِلَ عَلَى شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَنْتَ تَنْوِي الشَّرَّ بَلِ امْلَأْ قَلْبَكَ إِرَادَةً لِلْخَيْرِ وَكُرْهًا لِلشَّرِّ وَبُغْضًا لِلشَّرِّ وَعَدَمَ إِرَادَةٍ لِلشَّرِّ أَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعِينَنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَأَنْ يُبَلِّغَنَا شَهْرَ رَمَضَانَ وَنَحْنُ فِي عَافِيَةٍ وَقُوَّةٍ وَأَنْ يُعِينَنَا عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ وَعَمَلِ الطَّاعَةِ بَارَكَ اللهُ فِي الْجَمِيعِ وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ

Apa Amalan Terbaik di Bulan Ramadan?

Daftar Isi ToggleTidak meninggalkan amalan sosialKombinasi amalan istimewaKombinasi puasa, salat, dan sedekah dapat mengantarkan pelakunya ke surgaKombinasi amalan ini lebih efektif melindungi dari neraka jahanamMutiara hikmahRamadan menjadi bulan penuh motivasi beramal. Semua bentuk motivasi terkumpul di dalamnya:Motivasi ganjaran dari Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ;Keadaan lingkungan yang mendorong untuk beramal;Rentang waktu ringkas yang membuat alokasi tenaga terukur;Waktu bonus dan istimewa seperti 10 hari terakhir dan lailatul qadar;Predikat takwa yang disematkan kepada lulusan madrasah Ramadan.Semua hal tersebut memotivasi kita untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas amalan. Namun, banyaknya pintu kebaikan justru menuntut kita untuk menentukan skala prioritas dalam beramal. Energi kita terbatas, waktu kita terbatas, maka kita perlu mengalokasikan kapabilitas diri kita kepada amalan yang paling bermanfaat bagi diri kita. Maka, pertanyaan yang sangat relevan adalah, “Apa amalan terbaik di bulan Ramadan?”Sejatinya, jawaban dari pertanyaan tersebut tidaklah tunggal. Amalan terbaik di bulan Ramadan bisa beragam bagi semua orang. Sebagaimana Nabi ﷺ juga menjawab pertanyaan amalan paling utama dengan banyak pilihan jawaban. Nabi ﷺ menjawab sesuai kapasitas dan potensi orang yang bertanya. Sehingga amalan utama tidak harus sama antara satu sama lain. Sebagaimana jawaban Imam Malik rahimahullah ketika dikritisi tentang dirinya yang sibuk dengan ilmu dibandingkan ibadah mahdhah, beliau berkata,أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَسَّمَ الْأَعْمَالَ كَمَا قَسَّمَ الْأَرْزَاقَ“Sesungguhnya Allah ﷻ itu membagi amal (ibadah) sebagaimana Allah membagi rezeki.” (Siyar A’laam An-Nubalaa’, 8: 114)Maka, amalan terbaik adalah amalan yang paling bisa kita maksimalkan sesuai potensi diri kita.Amalan terbaik tentu saja dapat kita klasifikasikan berdasarkan level perintahnya. Amalan wajib lebih utama dari amalan sunah. As-Suyuthi rahimahullah membawakan kaidah dalam masalah ini,الفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ“Amalan wajib lebih utama daripada amalan sunah.”Jangan sampai kita tertipu dengan amalan yang tidak lebih utama daripada yang lainnya. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنْ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنْ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ“Siapa saja yang tersibukkan dengan amal yang wajib dari yang sunah, dialah orang yang patut diberi uzur. Sedangkan siapa saja yang tersibukkan dengan yang sunah sehingga melalaikan yang wajib, maka dialah orang yang benar-benar tertipu.” (Fath Al-Bari, 11: 343)Syekh Al-Utsaimin rahimahullah menerangkan bahwa salah satu jebakan setan adalah menyibukkan manusia kepada amal yang sunah daripada yang wajib. Hal ini bersesuaian dengan keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah. Syekh Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Menjadi kewajiban seorang muslim untuk memulai dengan melakukan kewajiban yang mesti dijalankan oleh dirinya. Baru kemudian, ia melakukan yang sunah yang ia inginkan. Karena setan ingin sekali manusia melakukan amalan sunah dan membuatnya meremehkan amalan yang wajib.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 1: 678)Tidak meninggalkan amalan sosialSebagian orang di bulan Ramadan memiliki syubhat bahwasanya amalan yang utama di Ramadan adalah amalan yang fokus kepada diri sendiri. Landasannya adalah praktik para salaf yang katanya benar-benar berfokus pada tiga amalan pribadi, seperti salat, membaca Al-Quran, dan tafakur.Nabi ﷺ justru menjadi orang yang paling dermawan di bulan Ramadan. Kedermawanan Nabi ﷺ atas segala kebaikan, artinya bukan hanya harta saja, tetapi segala perbuatan bermanfaat bagi orang lain. Terlalu banyak riwayat yang menjelaskan bahwa baginda Nabi ﷺ justru semakin semangat beramal sosial di bulan Ramadan.كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أجودَ الناسِ بالخيرِ ، وكان أجودَ ما يكون في شهرِ رمضانَ حتى ينسلِخَ ، فيأتيه جبريلُ فيعرضُ عليه القرآنَ ، فإذا لقِيَه جبريلُ كان رسولُ اللهِ أجودَ بالخيرِ من الرِّيحِ الْمُرسَلَةِ“Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan–bersemangat dalam menebar kebaikan. Dan kedermawanan beliau ﷺ memuncak pada bulan Ramadan hingga berakhir ketika Jibril datang kepadanya dan membacakan Al-Quran kepadanya. Ketika Jibril bertemu dengannya, Rasulullah ﷺ menjadi begitu dermawan melebihi hembusan angin kencang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Begitupula hal ini menjadi pendapat fikih dari para ulama dan merekomendasikannya kepada umat, salah satunya Imam Asy-Syafii rahimahullah sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab rahimahullah.Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata,أحب للرجل الزيادة في الجود في شهر رمضان اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم ولحاجة الناس فيه إلى مصالحهم ولتشاغل كثير منهم بالصوم والصلاة عن مكاسبهم“Aku menyukai seseorang meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadan dalam rangka meneladani Rasulullah ﷺ dikarenakan manusia pada bulan tersebut memiliki banyak kebutuhan. Sementara manusia tersibukkan dengan berpuasa dan salat sehingga tidak fokus terhadap pekerjaan mereka.” (Lathaiful Maarif, hal. 169)Baca juga: Tanda Diterimanya Amal di Bulan RamadanKombinasi amalan istimewaTeladan yang bisa menjadi solusi atas pertanyaan “apa amalan terbaik di Ramadan?” adalah menggabungkan keseluruhan amal utama di dalamnya. Nabi ﷺ sendiri melaksanakan salat tahajud dengan bacaan Al-Quran secara tartil, berdoa setiap menjumpai ayat rahmat dan azab, sehingga beliau menggabungkan antara salat, membaca Al-Quran, doa, dan tafakur.كان النبي صلى الله عليه وسلم يتهجد في ليالي رمضان ويقرأ قراءة مرتلة لا يمر بآية فيها رحمة إلا سأل ولا بآية فيها عذاب إلا تعوذ فيجمع بين الصلاة والقراءة والدعاء والتفكر وهذا أفضل الأعمال وأكملها في ليالي العشر وغيرها والله أعلمNabi ﷺ pun biasa salat pada malam-malam bulan Ramadan, membaca Al-Quran dengan tartil (tenang penuh penghayatan). Beliau tidak melewatkan ayat rahmat, kecuali memohon rahmatnya; dan tidaklah beliau melewatkan ayat tentang azab, kecuali beliau memohon perlindungan darinya. Dengan demikian, beliau menggabungkan salat, bacaan Al-Quran, berdoa, dan tafakur. Inilah amalan terbaik dan paling sempurna selama sepuluh malam terakhir Ramadan dan pada waktu-waktu lainnya. Wallahu a’lam. (Lathaiful Maarif, hal. 204)Dan perkara-perkara ini dapat berkumpul semuanya di bulan Ramadan. Pada bulan tersebut, seorang mukmin sedang berpuasa, malamnya melaksanakan salat malam. Mereka juga bersedekah dan bertutur kata baik, sebab orang yang sedang berpuasa dilarang mengucapkan perkataan yang sia-sia dan kotor.عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ الله ِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :قَالَ الله ُعَزَّ وَجَلَّ : وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ، وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Allah ﷻ berfirman, ‘Apabila seseorang di antara kamu berpuasa, janganlah berkata kotor/keji/cabul dan berteriak-teriak. Apabila ada orang yang mencaci makinya atau mengajak bertengkar, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (Muttafaqun ‘alaihi)Kombinasi puasa, salat, dan sedekah dapat mengantarkan pelakunya ke surgaSeorang salaf berkata,الصلاة توصل صاحبها إلى نصف الطريق والصيام يوصله إلى باب الملك والصدقة تأخذ بيده فتدخله على الملك“Salat mengantarkan pelakunya hingga pertengahan jalan. Puasa mengantarkannya ke pintu Sang Raja. Dan sedekah yang menarik tangannya masuk menemui Sang Raja.” (Lathaiful Maarif, hal. 167)Tiga kombinasi amal ini adalah karakter dari sahabat utama Nabi ﷺ, yakni Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Siapakah di antara kalian yang pagi ini berpuasa?” Abu Bakar lantas berkata, “Saya.” “Siapa di antara kalian yang hari ini ikut mengantar jenazah?”, tanya beliau kemudian. Abu Bakar kembali berkata, “Saya.” Beliau lanjut bertanya, “Siapa di antara kalian yang sudah memberi makan orang miskin?” Abu Bakar kembali berkata, “Saya.” Beliau berkata lagi, “Siapa di antara kalian yang sudah menjenguk orang sakit?” Lagi-lagi Abu Bakar berkata, “Saya.” Rasulullah kemudian bersabda, “Tidaklah semua kebaikan itu berkumpul pada diri seseorang, kecuali ia pasti masuk surga.” (HR. Muslim no. 1028)Kombinasi amalan ini lebih efektif melindungi dari neraka jahanamMenggabungkan puasa dan sedekah lebih efektif dalam menghapuskan dosa, melindungi diri, serta menjauhkannya dari neraka jahanam, terlebih apabila ditambah salat malam. Diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda,الصيام جنة“Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari no. 1894)Dalam hadis Muadz, Nabi ﷺ bersabda,الصدقة تطفىء الخطيئة كما يطفىء الماء النار وقيام الرجل من جوف الليل“Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api. Begitu juga salatnya seseorang di pertengahan malam.” (HR. Tirmidzi no. 2619, hadis hasan shahih)Maksudnya adalah salat malam juga dapat memadamkan dosa seseorang, sebagaimana ditegaskan dalam riwayat Ahmad.Dalam sebuah hadis sahih, disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda,اتقوا النار ولو بشق تمرة“Lindungilah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan bersedekah setengah buah kurma.” (HR. Bukhari no. 1417)Abu Darda radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,صلوا في ظلمة الليل ركعتين لظلمة القبور صوموا يوما شديدا حره لحر يوم النشور تصدقوا بصدقة لشر يوم عسير“Salatlah dua rekaat di tengah kegelapan malam untuk menghadapi kegelapan kubur; berpuasalah di hari yang sangat panas untuk menghadapi panasnya hari kiamat; berikanlah sedekah untuk menghadapi kesulitan di hari yang berat itu.” (Lathaiful Maarif, hal. 167)Mutiara hikmahRiwayat di atas menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ dan para salaf tidak membatasi diri dengan satu dua amalan selama bulan Ramadan. Mereka mengkombinasikan amalan istimewa di bulan Ramadan, bahkan mendorong untuk lebih maksimal berkontribusi kebaikan kepada orang lain. Pandangan yang membatasi bahwa amalan utama di bulan Ramadan hanyalah amalan pribadi adalah pandangan yang kurang tepat. Banyak riwayat yang menunjukkan justru Nabi ﷺ semakin aktif menebar kebaikan di bulan Ramadan. Belum lagi praktik para salaf yang justru banyak tilawah Al-Quran dan mengajarkannya.Di satu sisi, semua amalan tersebut dikombinasikan dengan amalan pribadi yang harus ditekankan juga. Jangan sampai karena sibuk berkontribusi sosial, sehingga tidak ada waktu untuk menepi berdoa dan salat malam. Padahal, ini adalah momentum bagi kita untuk semakin dekat kepada Allah Ta’ala.Semoga risalah yang singkat ini dapat menjawab pertanyaan tersebut. Semoga Allah Ta’ala jadikan kita hamba-Nya yang berhasil meraih predikat takwa pasca Ramadan.Baca juga: Ringkasan Fikih Puasa Ramadan***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Artikel ini banyak diambil dari kitab Lathaiful Maarif karya ulama besar Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah yang telah mengumpulkan riwayat sebagai panduan memaksimalkan bulan Ramadan.

Apa Amalan Terbaik di Bulan Ramadan?

Daftar Isi ToggleTidak meninggalkan amalan sosialKombinasi amalan istimewaKombinasi puasa, salat, dan sedekah dapat mengantarkan pelakunya ke surgaKombinasi amalan ini lebih efektif melindungi dari neraka jahanamMutiara hikmahRamadan menjadi bulan penuh motivasi beramal. Semua bentuk motivasi terkumpul di dalamnya:Motivasi ganjaran dari Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ;Keadaan lingkungan yang mendorong untuk beramal;Rentang waktu ringkas yang membuat alokasi tenaga terukur;Waktu bonus dan istimewa seperti 10 hari terakhir dan lailatul qadar;Predikat takwa yang disematkan kepada lulusan madrasah Ramadan.Semua hal tersebut memotivasi kita untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas amalan. Namun, banyaknya pintu kebaikan justru menuntut kita untuk menentukan skala prioritas dalam beramal. Energi kita terbatas, waktu kita terbatas, maka kita perlu mengalokasikan kapabilitas diri kita kepada amalan yang paling bermanfaat bagi diri kita. Maka, pertanyaan yang sangat relevan adalah, “Apa amalan terbaik di bulan Ramadan?”Sejatinya, jawaban dari pertanyaan tersebut tidaklah tunggal. Amalan terbaik di bulan Ramadan bisa beragam bagi semua orang. Sebagaimana Nabi ﷺ juga menjawab pertanyaan amalan paling utama dengan banyak pilihan jawaban. Nabi ﷺ menjawab sesuai kapasitas dan potensi orang yang bertanya. Sehingga amalan utama tidak harus sama antara satu sama lain. Sebagaimana jawaban Imam Malik rahimahullah ketika dikritisi tentang dirinya yang sibuk dengan ilmu dibandingkan ibadah mahdhah, beliau berkata,أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَسَّمَ الْأَعْمَالَ كَمَا قَسَّمَ الْأَرْزَاقَ“Sesungguhnya Allah ﷻ itu membagi amal (ibadah) sebagaimana Allah membagi rezeki.” (Siyar A’laam An-Nubalaa’, 8: 114)Maka, amalan terbaik adalah amalan yang paling bisa kita maksimalkan sesuai potensi diri kita.Amalan terbaik tentu saja dapat kita klasifikasikan berdasarkan level perintahnya. Amalan wajib lebih utama dari amalan sunah. As-Suyuthi rahimahullah membawakan kaidah dalam masalah ini,الفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ“Amalan wajib lebih utama daripada amalan sunah.”Jangan sampai kita tertipu dengan amalan yang tidak lebih utama daripada yang lainnya. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنْ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنْ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ“Siapa saja yang tersibukkan dengan amal yang wajib dari yang sunah, dialah orang yang patut diberi uzur. Sedangkan siapa saja yang tersibukkan dengan yang sunah sehingga melalaikan yang wajib, maka dialah orang yang benar-benar tertipu.” (Fath Al-Bari, 11: 343)Syekh Al-Utsaimin rahimahullah menerangkan bahwa salah satu jebakan setan adalah menyibukkan manusia kepada amal yang sunah daripada yang wajib. Hal ini bersesuaian dengan keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah. Syekh Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Menjadi kewajiban seorang muslim untuk memulai dengan melakukan kewajiban yang mesti dijalankan oleh dirinya. Baru kemudian, ia melakukan yang sunah yang ia inginkan. Karena setan ingin sekali manusia melakukan amalan sunah dan membuatnya meremehkan amalan yang wajib.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 1: 678)Tidak meninggalkan amalan sosialSebagian orang di bulan Ramadan memiliki syubhat bahwasanya amalan yang utama di Ramadan adalah amalan yang fokus kepada diri sendiri. Landasannya adalah praktik para salaf yang katanya benar-benar berfokus pada tiga amalan pribadi, seperti salat, membaca Al-Quran, dan tafakur.Nabi ﷺ justru menjadi orang yang paling dermawan di bulan Ramadan. Kedermawanan Nabi ﷺ atas segala kebaikan, artinya bukan hanya harta saja, tetapi segala perbuatan bermanfaat bagi orang lain. Terlalu banyak riwayat yang menjelaskan bahwa baginda Nabi ﷺ justru semakin semangat beramal sosial di bulan Ramadan.كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أجودَ الناسِ بالخيرِ ، وكان أجودَ ما يكون في شهرِ رمضانَ حتى ينسلِخَ ، فيأتيه جبريلُ فيعرضُ عليه القرآنَ ، فإذا لقِيَه جبريلُ كان رسولُ اللهِ أجودَ بالخيرِ من الرِّيحِ الْمُرسَلَةِ“Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan–bersemangat dalam menebar kebaikan. Dan kedermawanan beliau ﷺ memuncak pada bulan Ramadan hingga berakhir ketika Jibril datang kepadanya dan membacakan Al-Quran kepadanya. Ketika Jibril bertemu dengannya, Rasulullah ﷺ menjadi begitu dermawan melebihi hembusan angin kencang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Begitupula hal ini menjadi pendapat fikih dari para ulama dan merekomendasikannya kepada umat, salah satunya Imam Asy-Syafii rahimahullah sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab rahimahullah.Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata,أحب للرجل الزيادة في الجود في شهر رمضان اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم ولحاجة الناس فيه إلى مصالحهم ولتشاغل كثير منهم بالصوم والصلاة عن مكاسبهم“Aku menyukai seseorang meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadan dalam rangka meneladani Rasulullah ﷺ dikarenakan manusia pada bulan tersebut memiliki banyak kebutuhan. Sementara manusia tersibukkan dengan berpuasa dan salat sehingga tidak fokus terhadap pekerjaan mereka.” (Lathaiful Maarif, hal. 169)Baca juga: Tanda Diterimanya Amal di Bulan RamadanKombinasi amalan istimewaTeladan yang bisa menjadi solusi atas pertanyaan “apa amalan terbaik di Ramadan?” adalah menggabungkan keseluruhan amal utama di dalamnya. Nabi ﷺ sendiri melaksanakan salat tahajud dengan bacaan Al-Quran secara tartil, berdoa setiap menjumpai ayat rahmat dan azab, sehingga beliau menggabungkan antara salat, membaca Al-Quran, doa, dan tafakur.كان النبي صلى الله عليه وسلم يتهجد في ليالي رمضان ويقرأ قراءة مرتلة لا يمر بآية فيها رحمة إلا سأل ولا بآية فيها عذاب إلا تعوذ فيجمع بين الصلاة والقراءة والدعاء والتفكر وهذا أفضل الأعمال وأكملها في ليالي العشر وغيرها والله أعلمNabi ﷺ pun biasa salat pada malam-malam bulan Ramadan, membaca Al-Quran dengan tartil (tenang penuh penghayatan). Beliau tidak melewatkan ayat rahmat, kecuali memohon rahmatnya; dan tidaklah beliau melewatkan ayat tentang azab, kecuali beliau memohon perlindungan darinya. Dengan demikian, beliau menggabungkan salat, bacaan Al-Quran, berdoa, dan tafakur. Inilah amalan terbaik dan paling sempurna selama sepuluh malam terakhir Ramadan dan pada waktu-waktu lainnya. Wallahu a’lam. (Lathaiful Maarif, hal. 204)Dan perkara-perkara ini dapat berkumpul semuanya di bulan Ramadan. Pada bulan tersebut, seorang mukmin sedang berpuasa, malamnya melaksanakan salat malam. Mereka juga bersedekah dan bertutur kata baik, sebab orang yang sedang berpuasa dilarang mengucapkan perkataan yang sia-sia dan kotor.عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ الله ِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :قَالَ الله ُعَزَّ وَجَلَّ : وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ، وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Allah ﷻ berfirman, ‘Apabila seseorang di antara kamu berpuasa, janganlah berkata kotor/keji/cabul dan berteriak-teriak. Apabila ada orang yang mencaci makinya atau mengajak bertengkar, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (Muttafaqun ‘alaihi)Kombinasi puasa, salat, dan sedekah dapat mengantarkan pelakunya ke surgaSeorang salaf berkata,الصلاة توصل صاحبها إلى نصف الطريق والصيام يوصله إلى باب الملك والصدقة تأخذ بيده فتدخله على الملك“Salat mengantarkan pelakunya hingga pertengahan jalan. Puasa mengantarkannya ke pintu Sang Raja. Dan sedekah yang menarik tangannya masuk menemui Sang Raja.” (Lathaiful Maarif, hal. 167)Tiga kombinasi amal ini adalah karakter dari sahabat utama Nabi ﷺ, yakni Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Siapakah di antara kalian yang pagi ini berpuasa?” Abu Bakar lantas berkata, “Saya.” “Siapa di antara kalian yang hari ini ikut mengantar jenazah?”, tanya beliau kemudian. Abu Bakar kembali berkata, “Saya.” Beliau lanjut bertanya, “Siapa di antara kalian yang sudah memberi makan orang miskin?” Abu Bakar kembali berkata, “Saya.” Beliau berkata lagi, “Siapa di antara kalian yang sudah menjenguk orang sakit?” Lagi-lagi Abu Bakar berkata, “Saya.” Rasulullah kemudian bersabda, “Tidaklah semua kebaikan itu berkumpul pada diri seseorang, kecuali ia pasti masuk surga.” (HR. Muslim no. 1028)Kombinasi amalan ini lebih efektif melindungi dari neraka jahanamMenggabungkan puasa dan sedekah lebih efektif dalam menghapuskan dosa, melindungi diri, serta menjauhkannya dari neraka jahanam, terlebih apabila ditambah salat malam. Diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda,الصيام جنة“Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari no. 1894)Dalam hadis Muadz, Nabi ﷺ bersabda,الصدقة تطفىء الخطيئة كما يطفىء الماء النار وقيام الرجل من جوف الليل“Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api. Begitu juga salatnya seseorang di pertengahan malam.” (HR. Tirmidzi no. 2619, hadis hasan shahih)Maksudnya adalah salat malam juga dapat memadamkan dosa seseorang, sebagaimana ditegaskan dalam riwayat Ahmad.Dalam sebuah hadis sahih, disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda,اتقوا النار ولو بشق تمرة“Lindungilah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan bersedekah setengah buah kurma.” (HR. Bukhari no. 1417)Abu Darda radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,صلوا في ظلمة الليل ركعتين لظلمة القبور صوموا يوما شديدا حره لحر يوم النشور تصدقوا بصدقة لشر يوم عسير“Salatlah dua rekaat di tengah kegelapan malam untuk menghadapi kegelapan kubur; berpuasalah di hari yang sangat panas untuk menghadapi panasnya hari kiamat; berikanlah sedekah untuk menghadapi kesulitan di hari yang berat itu.” (Lathaiful Maarif, hal. 167)Mutiara hikmahRiwayat di atas menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ dan para salaf tidak membatasi diri dengan satu dua amalan selama bulan Ramadan. Mereka mengkombinasikan amalan istimewa di bulan Ramadan, bahkan mendorong untuk lebih maksimal berkontribusi kebaikan kepada orang lain. Pandangan yang membatasi bahwa amalan utama di bulan Ramadan hanyalah amalan pribadi adalah pandangan yang kurang tepat. Banyak riwayat yang menunjukkan justru Nabi ﷺ semakin aktif menebar kebaikan di bulan Ramadan. Belum lagi praktik para salaf yang justru banyak tilawah Al-Quran dan mengajarkannya.Di satu sisi, semua amalan tersebut dikombinasikan dengan amalan pribadi yang harus ditekankan juga. Jangan sampai karena sibuk berkontribusi sosial, sehingga tidak ada waktu untuk menepi berdoa dan salat malam. Padahal, ini adalah momentum bagi kita untuk semakin dekat kepada Allah Ta’ala.Semoga risalah yang singkat ini dapat menjawab pertanyaan tersebut. Semoga Allah Ta’ala jadikan kita hamba-Nya yang berhasil meraih predikat takwa pasca Ramadan.Baca juga: Ringkasan Fikih Puasa Ramadan***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Artikel ini banyak diambil dari kitab Lathaiful Maarif karya ulama besar Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah yang telah mengumpulkan riwayat sebagai panduan memaksimalkan bulan Ramadan.
Daftar Isi ToggleTidak meninggalkan amalan sosialKombinasi amalan istimewaKombinasi puasa, salat, dan sedekah dapat mengantarkan pelakunya ke surgaKombinasi amalan ini lebih efektif melindungi dari neraka jahanamMutiara hikmahRamadan menjadi bulan penuh motivasi beramal. Semua bentuk motivasi terkumpul di dalamnya:Motivasi ganjaran dari Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ;Keadaan lingkungan yang mendorong untuk beramal;Rentang waktu ringkas yang membuat alokasi tenaga terukur;Waktu bonus dan istimewa seperti 10 hari terakhir dan lailatul qadar;Predikat takwa yang disematkan kepada lulusan madrasah Ramadan.Semua hal tersebut memotivasi kita untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas amalan. Namun, banyaknya pintu kebaikan justru menuntut kita untuk menentukan skala prioritas dalam beramal. Energi kita terbatas, waktu kita terbatas, maka kita perlu mengalokasikan kapabilitas diri kita kepada amalan yang paling bermanfaat bagi diri kita. Maka, pertanyaan yang sangat relevan adalah, “Apa amalan terbaik di bulan Ramadan?”Sejatinya, jawaban dari pertanyaan tersebut tidaklah tunggal. Amalan terbaik di bulan Ramadan bisa beragam bagi semua orang. Sebagaimana Nabi ﷺ juga menjawab pertanyaan amalan paling utama dengan banyak pilihan jawaban. Nabi ﷺ menjawab sesuai kapasitas dan potensi orang yang bertanya. Sehingga amalan utama tidak harus sama antara satu sama lain. Sebagaimana jawaban Imam Malik rahimahullah ketika dikritisi tentang dirinya yang sibuk dengan ilmu dibandingkan ibadah mahdhah, beliau berkata,أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَسَّمَ الْأَعْمَالَ كَمَا قَسَّمَ الْأَرْزَاقَ“Sesungguhnya Allah ﷻ itu membagi amal (ibadah) sebagaimana Allah membagi rezeki.” (Siyar A’laam An-Nubalaa’, 8: 114)Maka, amalan terbaik adalah amalan yang paling bisa kita maksimalkan sesuai potensi diri kita.Amalan terbaik tentu saja dapat kita klasifikasikan berdasarkan level perintahnya. Amalan wajib lebih utama dari amalan sunah. As-Suyuthi rahimahullah membawakan kaidah dalam masalah ini,الفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ“Amalan wajib lebih utama daripada amalan sunah.”Jangan sampai kita tertipu dengan amalan yang tidak lebih utama daripada yang lainnya. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنْ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنْ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ“Siapa saja yang tersibukkan dengan amal yang wajib dari yang sunah, dialah orang yang patut diberi uzur. Sedangkan siapa saja yang tersibukkan dengan yang sunah sehingga melalaikan yang wajib, maka dialah orang yang benar-benar tertipu.” (Fath Al-Bari, 11: 343)Syekh Al-Utsaimin rahimahullah menerangkan bahwa salah satu jebakan setan adalah menyibukkan manusia kepada amal yang sunah daripada yang wajib. Hal ini bersesuaian dengan keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah. Syekh Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Menjadi kewajiban seorang muslim untuk memulai dengan melakukan kewajiban yang mesti dijalankan oleh dirinya. Baru kemudian, ia melakukan yang sunah yang ia inginkan. Karena setan ingin sekali manusia melakukan amalan sunah dan membuatnya meremehkan amalan yang wajib.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 1: 678)Tidak meninggalkan amalan sosialSebagian orang di bulan Ramadan memiliki syubhat bahwasanya amalan yang utama di Ramadan adalah amalan yang fokus kepada diri sendiri. Landasannya adalah praktik para salaf yang katanya benar-benar berfokus pada tiga amalan pribadi, seperti salat, membaca Al-Quran, dan tafakur.Nabi ﷺ justru menjadi orang yang paling dermawan di bulan Ramadan. Kedermawanan Nabi ﷺ atas segala kebaikan, artinya bukan hanya harta saja, tetapi segala perbuatan bermanfaat bagi orang lain. Terlalu banyak riwayat yang menjelaskan bahwa baginda Nabi ﷺ justru semakin semangat beramal sosial di bulan Ramadan.كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أجودَ الناسِ بالخيرِ ، وكان أجودَ ما يكون في شهرِ رمضانَ حتى ينسلِخَ ، فيأتيه جبريلُ فيعرضُ عليه القرآنَ ، فإذا لقِيَه جبريلُ كان رسولُ اللهِ أجودَ بالخيرِ من الرِّيحِ الْمُرسَلَةِ“Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan–bersemangat dalam menebar kebaikan. Dan kedermawanan beliau ﷺ memuncak pada bulan Ramadan hingga berakhir ketika Jibril datang kepadanya dan membacakan Al-Quran kepadanya. Ketika Jibril bertemu dengannya, Rasulullah ﷺ menjadi begitu dermawan melebihi hembusan angin kencang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Begitupula hal ini menjadi pendapat fikih dari para ulama dan merekomendasikannya kepada umat, salah satunya Imam Asy-Syafii rahimahullah sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab rahimahullah.Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata,أحب للرجل الزيادة في الجود في شهر رمضان اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم ولحاجة الناس فيه إلى مصالحهم ولتشاغل كثير منهم بالصوم والصلاة عن مكاسبهم“Aku menyukai seseorang meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadan dalam rangka meneladani Rasulullah ﷺ dikarenakan manusia pada bulan tersebut memiliki banyak kebutuhan. Sementara manusia tersibukkan dengan berpuasa dan salat sehingga tidak fokus terhadap pekerjaan mereka.” (Lathaiful Maarif, hal. 169)Baca juga: Tanda Diterimanya Amal di Bulan RamadanKombinasi amalan istimewaTeladan yang bisa menjadi solusi atas pertanyaan “apa amalan terbaik di Ramadan?” adalah menggabungkan keseluruhan amal utama di dalamnya. Nabi ﷺ sendiri melaksanakan salat tahajud dengan bacaan Al-Quran secara tartil, berdoa setiap menjumpai ayat rahmat dan azab, sehingga beliau menggabungkan antara salat, membaca Al-Quran, doa, dan tafakur.كان النبي صلى الله عليه وسلم يتهجد في ليالي رمضان ويقرأ قراءة مرتلة لا يمر بآية فيها رحمة إلا سأل ولا بآية فيها عذاب إلا تعوذ فيجمع بين الصلاة والقراءة والدعاء والتفكر وهذا أفضل الأعمال وأكملها في ليالي العشر وغيرها والله أعلمNabi ﷺ pun biasa salat pada malam-malam bulan Ramadan, membaca Al-Quran dengan tartil (tenang penuh penghayatan). Beliau tidak melewatkan ayat rahmat, kecuali memohon rahmatnya; dan tidaklah beliau melewatkan ayat tentang azab, kecuali beliau memohon perlindungan darinya. Dengan demikian, beliau menggabungkan salat, bacaan Al-Quran, berdoa, dan tafakur. Inilah amalan terbaik dan paling sempurna selama sepuluh malam terakhir Ramadan dan pada waktu-waktu lainnya. Wallahu a’lam. (Lathaiful Maarif, hal. 204)Dan perkara-perkara ini dapat berkumpul semuanya di bulan Ramadan. Pada bulan tersebut, seorang mukmin sedang berpuasa, malamnya melaksanakan salat malam. Mereka juga bersedekah dan bertutur kata baik, sebab orang yang sedang berpuasa dilarang mengucapkan perkataan yang sia-sia dan kotor.عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ الله ِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :قَالَ الله ُعَزَّ وَجَلَّ : وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ، وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Allah ﷻ berfirman, ‘Apabila seseorang di antara kamu berpuasa, janganlah berkata kotor/keji/cabul dan berteriak-teriak. Apabila ada orang yang mencaci makinya atau mengajak bertengkar, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (Muttafaqun ‘alaihi)Kombinasi puasa, salat, dan sedekah dapat mengantarkan pelakunya ke surgaSeorang salaf berkata,الصلاة توصل صاحبها إلى نصف الطريق والصيام يوصله إلى باب الملك والصدقة تأخذ بيده فتدخله على الملك“Salat mengantarkan pelakunya hingga pertengahan jalan. Puasa mengantarkannya ke pintu Sang Raja. Dan sedekah yang menarik tangannya masuk menemui Sang Raja.” (Lathaiful Maarif, hal. 167)Tiga kombinasi amal ini adalah karakter dari sahabat utama Nabi ﷺ, yakni Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Siapakah di antara kalian yang pagi ini berpuasa?” Abu Bakar lantas berkata, “Saya.” “Siapa di antara kalian yang hari ini ikut mengantar jenazah?”, tanya beliau kemudian. Abu Bakar kembali berkata, “Saya.” Beliau lanjut bertanya, “Siapa di antara kalian yang sudah memberi makan orang miskin?” Abu Bakar kembali berkata, “Saya.” Beliau berkata lagi, “Siapa di antara kalian yang sudah menjenguk orang sakit?” Lagi-lagi Abu Bakar berkata, “Saya.” Rasulullah kemudian bersabda, “Tidaklah semua kebaikan itu berkumpul pada diri seseorang, kecuali ia pasti masuk surga.” (HR. Muslim no. 1028)Kombinasi amalan ini lebih efektif melindungi dari neraka jahanamMenggabungkan puasa dan sedekah lebih efektif dalam menghapuskan dosa, melindungi diri, serta menjauhkannya dari neraka jahanam, terlebih apabila ditambah salat malam. Diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda,الصيام جنة“Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari no. 1894)Dalam hadis Muadz, Nabi ﷺ bersabda,الصدقة تطفىء الخطيئة كما يطفىء الماء النار وقيام الرجل من جوف الليل“Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api. Begitu juga salatnya seseorang di pertengahan malam.” (HR. Tirmidzi no. 2619, hadis hasan shahih)Maksudnya adalah salat malam juga dapat memadamkan dosa seseorang, sebagaimana ditegaskan dalam riwayat Ahmad.Dalam sebuah hadis sahih, disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda,اتقوا النار ولو بشق تمرة“Lindungilah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan bersedekah setengah buah kurma.” (HR. Bukhari no. 1417)Abu Darda radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,صلوا في ظلمة الليل ركعتين لظلمة القبور صوموا يوما شديدا حره لحر يوم النشور تصدقوا بصدقة لشر يوم عسير“Salatlah dua rekaat di tengah kegelapan malam untuk menghadapi kegelapan kubur; berpuasalah di hari yang sangat panas untuk menghadapi panasnya hari kiamat; berikanlah sedekah untuk menghadapi kesulitan di hari yang berat itu.” (Lathaiful Maarif, hal. 167)Mutiara hikmahRiwayat di atas menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ dan para salaf tidak membatasi diri dengan satu dua amalan selama bulan Ramadan. Mereka mengkombinasikan amalan istimewa di bulan Ramadan, bahkan mendorong untuk lebih maksimal berkontribusi kebaikan kepada orang lain. Pandangan yang membatasi bahwa amalan utama di bulan Ramadan hanyalah amalan pribadi adalah pandangan yang kurang tepat. Banyak riwayat yang menunjukkan justru Nabi ﷺ semakin aktif menebar kebaikan di bulan Ramadan. Belum lagi praktik para salaf yang justru banyak tilawah Al-Quran dan mengajarkannya.Di satu sisi, semua amalan tersebut dikombinasikan dengan amalan pribadi yang harus ditekankan juga. Jangan sampai karena sibuk berkontribusi sosial, sehingga tidak ada waktu untuk menepi berdoa dan salat malam. Padahal, ini adalah momentum bagi kita untuk semakin dekat kepada Allah Ta’ala.Semoga risalah yang singkat ini dapat menjawab pertanyaan tersebut. Semoga Allah Ta’ala jadikan kita hamba-Nya yang berhasil meraih predikat takwa pasca Ramadan.Baca juga: Ringkasan Fikih Puasa Ramadan***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Artikel ini banyak diambil dari kitab Lathaiful Maarif karya ulama besar Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah yang telah mengumpulkan riwayat sebagai panduan memaksimalkan bulan Ramadan.


Daftar Isi ToggleTidak meninggalkan amalan sosialKombinasi amalan istimewaKombinasi puasa, salat, dan sedekah dapat mengantarkan pelakunya ke surgaKombinasi amalan ini lebih efektif melindungi dari neraka jahanamMutiara hikmahRamadan menjadi bulan penuh motivasi beramal. Semua bentuk motivasi terkumpul di dalamnya:Motivasi ganjaran dari Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ;Keadaan lingkungan yang mendorong untuk beramal;Rentang waktu ringkas yang membuat alokasi tenaga terukur;Waktu bonus dan istimewa seperti 10 hari terakhir dan lailatul qadar;Predikat takwa yang disematkan kepada lulusan madrasah Ramadan.Semua hal tersebut memotivasi kita untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas amalan. Namun, banyaknya pintu kebaikan justru menuntut kita untuk menentukan skala prioritas dalam beramal. Energi kita terbatas, waktu kita terbatas, maka kita perlu mengalokasikan kapabilitas diri kita kepada amalan yang paling bermanfaat bagi diri kita. Maka, pertanyaan yang sangat relevan adalah, “Apa amalan terbaik di bulan Ramadan?”Sejatinya, jawaban dari pertanyaan tersebut tidaklah tunggal. Amalan terbaik di bulan Ramadan bisa beragam bagi semua orang. Sebagaimana Nabi ﷺ juga menjawab pertanyaan amalan paling utama dengan banyak pilihan jawaban. Nabi ﷺ menjawab sesuai kapasitas dan potensi orang yang bertanya. Sehingga amalan utama tidak harus sama antara satu sama lain. Sebagaimana jawaban Imam Malik rahimahullah ketika dikritisi tentang dirinya yang sibuk dengan ilmu dibandingkan ibadah mahdhah, beliau berkata,أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَسَّمَ الْأَعْمَالَ كَمَا قَسَّمَ الْأَرْزَاقَ“Sesungguhnya Allah ﷻ itu membagi amal (ibadah) sebagaimana Allah membagi rezeki.” (Siyar A’laam An-Nubalaa’, 8: 114)Maka, amalan terbaik adalah amalan yang paling bisa kita maksimalkan sesuai potensi diri kita.Amalan terbaik tentu saja dapat kita klasifikasikan berdasarkan level perintahnya. Amalan wajib lebih utama dari amalan sunah. As-Suyuthi rahimahullah membawakan kaidah dalam masalah ini,الفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ“Amalan wajib lebih utama daripada amalan sunah.”Jangan sampai kita tertipu dengan amalan yang tidak lebih utama daripada yang lainnya. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنْ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنْ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ“Siapa saja yang tersibukkan dengan amal yang wajib dari yang sunah, dialah orang yang patut diberi uzur. Sedangkan siapa saja yang tersibukkan dengan yang sunah sehingga melalaikan yang wajib, maka dialah orang yang benar-benar tertipu.” (Fath Al-Bari, 11: 343)Syekh Al-Utsaimin rahimahullah menerangkan bahwa salah satu jebakan setan adalah menyibukkan manusia kepada amal yang sunah daripada yang wajib. Hal ini bersesuaian dengan keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah. Syekh Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Menjadi kewajiban seorang muslim untuk memulai dengan melakukan kewajiban yang mesti dijalankan oleh dirinya. Baru kemudian, ia melakukan yang sunah yang ia inginkan. Karena setan ingin sekali manusia melakukan amalan sunah dan membuatnya meremehkan amalan yang wajib.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 1: 678)Tidak meninggalkan amalan sosialSebagian orang di bulan Ramadan memiliki syubhat bahwasanya amalan yang utama di Ramadan adalah amalan yang fokus kepada diri sendiri. Landasannya adalah praktik para salaf yang katanya benar-benar berfokus pada tiga amalan pribadi, seperti salat, membaca Al-Quran, dan tafakur.Nabi ﷺ justru menjadi orang yang paling dermawan di bulan Ramadan. Kedermawanan Nabi ﷺ atas segala kebaikan, artinya bukan hanya harta saja, tetapi segala perbuatan bermanfaat bagi orang lain. Terlalu banyak riwayat yang menjelaskan bahwa baginda Nabi ﷺ justru semakin semangat beramal sosial di bulan Ramadan.كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أجودَ الناسِ بالخيرِ ، وكان أجودَ ما يكون في شهرِ رمضانَ حتى ينسلِخَ ، فيأتيه جبريلُ فيعرضُ عليه القرآنَ ، فإذا لقِيَه جبريلُ كان رسولُ اللهِ أجودَ بالخيرِ من الرِّيحِ الْمُرسَلَةِ“Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan–bersemangat dalam menebar kebaikan. Dan kedermawanan beliau ﷺ memuncak pada bulan Ramadan hingga berakhir ketika Jibril datang kepadanya dan membacakan Al-Quran kepadanya. Ketika Jibril bertemu dengannya, Rasulullah ﷺ menjadi begitu dermawan melebihi hembusan angin kencang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Begitupula hal ini menjadi pendapat fikih dari para ulama dan merekomendasikannya kepada umat, salah satunya Imam Asy-Syafii rahimahullah sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab rahimahullah.Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata,أحب للرجل الزيادة في الجود في شهر رمضان اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم ولحاجة الناس فيه إلى مصالحهم ولتشاغل كثير منهم بالصوم والصلاة عن مكاسبهم“Aku menyukai seseorang meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadan dalam rangka meneladani Rasulullah ﷺ dikarenakan manusia pada bulan tersebut memiliki banyak kebutuhan. Sementara manusia tersibukkan dengan berpuasa dan salat sehingga tidak fokus terhadap pekerjaan mereka.” (Lathaiful Maarif, hal. 169)Baca juga: Tanda Diterimanya Amal di Bulan RamadanKombinasi amalan istimewaTeladan yang bisa menjadi solusi atas pertanyaan “apa amalan terbaik di Ramadan?” adalah menggabungkan keseluruhan amal utama di dalamnya. Nabi ﷺ sendiri melaksanakan salat tahajud dengan bacaan Al-Quran secara tartil, berdoa setiap menjumpai ayat rahmat dan azab, sehingga beliau menggabungkan antara salat, membaca Al-Quran, doa, dan tafakur.كان النبي صلى الله عليه وسلم يتهجد في ليالي رمضان ويقرأ قراءة مرتلة لا يمر بآية فيها رحمة إلا سأل ولا بآية فيها عذاب إلا تعوذ فيجمع بين الصلاة والقراءة والدعاء والتفكر وهذا أفضل الأعمال وأكملها في ليالي العشر وغيرها والله أعلمNabi ﷺ pun biasa salat pada malam-malam bulan Ramadan, membaca Al-Quran dengan tartil (tenang penuh penghayatan). Beliau tidak melewatkan ayat rahmat, kecuali memohon rahmatnya; dan tidaklah beliau melewatkan ayat tentang azab, kecuali beliau memohon perlindungan darinya. Dengan demikian, beliau menggabungkan salat, bacaan Al-Quran, berdoa, dan tafakur. Inilah amalan terbaik dan paling sempurna selama sepuluh malam terakhir Ramadan dan pada waktu-waktu lainnya. Wallahu a’lam. (Lathaiful Maarif, hal. 204)Dan perkara-perkara ini dapat berkumpul semuanya di bulan Ramadan. Pada bulan tersebut, seorang mukmin sedang berpuasa, malamnya melaksanakan salat malam. Mereka juga bersedekah dan bertutur kata baik, sebab orang yang sedang berpuasa dilarang mengucapkan perkataan yang sia-sia dan kotor.عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ الله ِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :قَالَ الله ُعَزَّ وَجَلَّ : وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ، وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Allah ﷻ berfirman, ‘Apabila seseorang di antara kamu berpuasa, janganlah berkata kotor/keji/cabul dan berteriak-teriak. Apabila ada orang yang mencaci makinya atau mengajak bertengkar, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (Muttafaqun ‘alaihi)Kombinasi puasa, salat, dan sedekah dapat mengantarkan pelakunya ke surgaSeorang salaf berkata,الصلاة توصل صاحبها إلى نصف الطريق والصيام يوصله إلى باب الملك والصدقة تأخذ بيده فتدخله على الملك“Salat mengantarkan pelakunya hingga pertengahan jalan. Puasa mengantarkannya ke pintu Sang Raja. Dan sedekah yang menarik tangannya masuk menemui Sang Raja.” (Lathaiful Maarif, hal. 167)Tiga kombinasi amal ini adalah karakter dari sahabat utama Nabi ﷺ, yakni Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Siapakah di antara kalian yang pagi ini berpuasa?” Abu Bakar lantas berkata, “Saya.” “Siapa di antara kalian yang hari ini ikut mengantar jenazah?”, tanya beliau kemudian. Abu Bakar kembali berkata, “Saya.” Beliau lanjut bertanya, “Siapa di antara kalian yang sudah memberi makan orang miskin?” Abu Bakar kembali berkata, “Saya.” Beliau berkata lagi, “Siapa di antara kalian yang sudah menjenguk orang sakit?” Lagi-lagi Abu Bakar berkata, “Saya.” Rasulullah kemudian bersabda, “Tidaklah semua kebaikan itu berkumpul pada diri seseorang, kecuali ia pasti masuk surga.” (HR. Muslim no. 1028)Kombinasi amalan ini lebih efektif melindungi dari neraka jahanamMenggabungkan puasa dan sedekah lebih efektif dalam menghapuskan dosa, melindungi diri, serta menjauhkannya dari neraka jahanam, terlebih apabila ditambah salat malam. Diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda,الصيام جنة“Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari no. 1894)Dalam hadis Muadz, Nabi ﷺ bersabda,الصدقة تطفىء الخطيئة كما يطفىء الماء النار وقيام الرجل من جوف الليل“Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api. Begitu juga salatnya seseorang di pertengahan malam.” (HR. Tirmidzi no. 2619, hadis hasan shahih)Maksudnya adalah salat malam juga dapat memadamkan dosa seseorang, sebagaimana ditegaskan dalam riwayat Ahmad.Dalam sebuah hadis sahih, disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda,اتقوا النار ولو بشق تمرة“Lindungilah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan bersedekah setengah buah kurma.” (HR. Bukhari no. 1417)Abu Darda radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,صلوا في ظلمة الليل ركعتين لظلمة القبور صوموا يوما شديدا حره لحر يوم النشور تصدقوا بصدقة لشر يوم عسير“Salatlah dua rekaat di tengah kegelapan malam untuk menghadapi kegelapan kubur; berpuasalah di hari yang sangat panas untuk menghadapi panasnya hari kiamat; berikanlah sedekah untuk menghadapi kesulitan di hari yang berat itu.” (Lathaiful Maarif, hal. 167)Mutiara hikmahRiwayat di atas menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ dan para salaf tidak membatasi diri dengan satu dua amalan selama bulan Ramadan. Mereka mengkombinasikan amalan istimewa di bulan Ramadan, bahkan mendorong untuk lebih maksimal berkontribusi kebaikan kepada orang lain. Pandangan yang membatasi bahwa amalan utama di bulan Ramadan hanyalah amalan pribadi adalah pandangan yang kurang tepat. Banyak riwayat yang menunjukkan justru Nabi ﷺ semakin aktif menebar kebaikan di bulan Ramadan. Belum lagi praktik para salaf yang justru banyak tilawah Al-Quran dan mengajarkannya.Di satu sisi, semua amalan tersebut dikombinasikan dengan amalan pribadi yang harus ditekankan juga. Jangan sampai karena sibuk berkontribusi sosial, sehingga tidak ada waktu untuk menepi berdoa dan salat malam. Padahal, ini adalah momentum bagi kita untuk semakin dekat kepada Allah Ta’ala.Semoga risalah yang singkat ini dapat menjawab pertanyaan tersebut. Semoga Allah Ta’ala jadikan kita hamba-Nya yang berhasil meraih predikat takwa pasca Ramadan.Baca juga: Ringkasan Fikih Puasa Ramadan***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Artikel ini banyak diambil dari kitab Lathaiful Maarif karya ulama besar Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah yang telah mengumpulkan riwayat sebagai panduan memaksimalkan bulan Ramadan.

Kisah Thalut, Jalut, dan Nabi Daud: Ujian Kepemimpinan dan Kemenangan Iman

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 246–252, Allah mengisahkan Bani Israil yang meminta pemimpin untuk berjihad, namun banyak yang mundur ketika ujian benar-benar datang. Dari penunjukan Thalut, kembalinya tabut yang membawa sakinah, hingga ujian sungai, Allah menampakkan siapa yang tulus dan siapa yang rapuh. Kisah ini berpuncak pada kemenangan atas Jalut dan munculnya Nabi Daud ‘alaihis salam, sebagai pelajaran bahwa kemenangan diraih dengan iman, kesabaran, dan pertolongan Allah.  Daftar Isi tutup 1. Meminta Jihad, Namun Mundur Saat Diuji 2. Hakikat Kepemimpinan: Ilmu dan Kekuatan, Bukan Harta 3. Tanda Kekuasaan Thalut: Datangnya Tabut yang Membawa Sakinah 4. Ketika Allah Menguji Pasukan Thalut 5. Tidak Bersandar kepada Jumlah dan Kemampuan Diri, Bersandarlah kepada Allah 6. Saat Daud Menumbangkan Jalut 7. Pelajaran dari Kisah Thalut, Jalut, dan Nabi Daud ‘alaihis salam  Meminta Jihad, Namun Mundur Saat DiujiAllah Ta’ala berfirman,أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلْمَلَإِ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰٓ إِذْ قَالُوا۟ لِنَبِىٍّ لَّهُمُ ٱبْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَٰتِلْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ أَلَّا تُقَٰتِلُوا۟ ۖ قَالُوا۟ وَمَا لَنَآ أَلَّا نُقَٰتِلَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَٰرِنَا وَأَبْنَآئِنَا ۖ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ ٱلْقِتَالُ تَوَلَّوْا۟ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ“Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 246)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Allah Ta’ala menceritakan kepada Nabi-Nya kisah para pembesar Bani Israil, yaitu kalangan terhormat dan para pemimpin mereka. Mereka disebut secara khusus karena biasanya merekalah yang paling dahulu memikirkan kepentingan bersama. Jika mereka telah sepakat dalam suatu urusan, maka orang-orang di bawah mereka akan mengikuti keputusan tersebut.Dikisahkan bahwa mereka mendatangi seorang nabi mereka setelah wafatnya Nabi Musa ‘alaihis salam. Mereka berkata,{ ٱبْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَٰتِلْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ }“Angkatlah untuk kami seorang raja agar kami dapat berperang di jalan Allah.”Maksud mereka adalah: tunjuklah seorang pemimpin yang dapat menyatukan barisan kami yang tercerai-berai, sehingga kami mampu menghadapi musuh bersama. Pada saat itu, kemungkinan besar mereka tidak memiliki seorang pemimpin tunggal yang dapat mempersatukan mereka. Sebagaimana kebiasaan kabilah-kabilah besar, masing-masing enggan dipimpin oleh tokoh dari kabilah lain. Karena itu, mereka meminta nabi mereka untuk menunjuk seorang raja yang bisa diterima semua pihak dan sesuai dengan tradisi mereka.Pada masa itu, para nabi Bani Israil berfungsi sebagai pemimpin dan pengatur urusan mereka. Setiap kali seorang nabi wafat, digantikan oleh nabi berikutnya.Ketika mereka menyampaikan permintaan tersebut, nabi mereka berkata,{ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا }“Jangan-jangan jika diwajibkan atas kalian berperang, kalian justru tidak akan melaksanakannya.”Maksudnya, jangan sampai kalian meminta sesuatu yang kelak, ketika benar-benar diwajibkan, kalian tidak sanggup menjalaninya. Nabi mereka seakan menawarkan pilihan untuk tidak terburu-buru meminta kewajiban berat itu, namun mereka tetap bersikeras dan merasa yakin dengan tekad serta niat mereka.Mereka menjawab,{ وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَٰرِنَا وَأَبْنَائِنَا }“Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami telah diusir dari negeri kami dan anak-anak kami (ditawan)?”Artinya, apa lagi yang menghalangi kami untuk berperang? Kami sudah terusir dari tanah air kami dan anak-anak kami pun ditawan. Keadaan ini saja sudah cukup menjadi alasan bagi kami untuk berperang, meskipun itu belum diwajibkan. Maka bagaimana mungkin kami tidak berperang jika sudah benar-benar diwajibkan?Namun, ketika niat mereka ternyata tidak tulus dan tawakal mereka kepada Allah lemah, maka apa yang dikhawatirkan itu pun terjadi. Allah berfirman,{ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ ٱلْقِتَالُ تَوَلَّوْا }“Maka ketika diwajibkan atas mereka berperang, mereka pun berpaling.”Mereka menjadi pengecut, tidak berani menghadapi musuh, dan tidak sanggup menghadapi pertempuran. Tekad yang sebelumnya mereka banggakan pun sirna. Rasa lemah dan takut menguasai sebagian besar dari mereka.Allah melanjutkan,{ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ }“Kecuali sedikit dari mereka.”Hanya segelintir orang yang Allah jaga, teguhkan, dan kuatkan hatinya. Mereka benar-benar menjalankan perintah Allah dan mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh. Mereka inilah yang meraih kemuliaan dunia dan akhirat.Adapun mayoritas mereka telah menzalimi diri sendiri dengan meninggalkan perintah Allah. Karena itulah Allah menutup ayat tersebut dengan firman-Nya,{ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ }“Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.”Tidak ada satu pun kedustaan niat dan kelemahan tekad yang tersembunyi dari-Nya. Catatan:Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir disebutkan:Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah, bahwa nabi yang dimaksud dalam kisah tersebut adalah Yusya’ bin Nun.Ibnu Jarir menjelaskan bahwa ia adalah Yusya’ bin Afratsim bin Yusuf bin Ya‘qub.Namun pendapat ini dinilai lemah. Sebab peristiwa tersebut terjadi lama setelah Nabi Musa ‘alaihis salam. Bahkan, sebagaimana disebutkan secara jelas dalam kisah itu, peristiwa tersebut terjadi pada masa Nabi Daud ‘alaihis salam. Padahal jarak waktu antara Nabi Musa dan Nabi Daud lebih dari seribu tahun. Wallahu a‘lam.As-Suddi berpendapat bahwa nabi tersebut adalah Syam‘un.Sedangkan Mujahid mengatakan bahwa ia adalah Nabi Syamwil ‘alaihis salam.Pendapat ini juga dikemukakan oleh Muhammad bin Ishaq, yang meriwayatkannya dari Wahb bin Munabbih. Ia menjelaskan bahwa nasabnya adalah: Syamwil bin Bali bin ‘Alqamah bin Yarkham bin Ilyahu bin Tahu bin Shuf bin ‘Alqamah bin Mahats bin ‘Amusha bin ‘Azarya bin Shafniyah bin ‘Alqamah bin Abi Yasaf bin Qarun bin Yashar bin Qahits bin Lawi bin Ya‘qub bin Ishaq bin Ibrahim Al-Khalil ‘alaihis salam. Hakikat Kepemimpinan: Ilmu dan Kekuatan, Bukan HartaAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ٱللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوٓا۟ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ ٱلْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِٱلْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ ٱلْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُۥ بَسْطَةً فِى ٱلْعِلْمِ وَٱلْجِسْمِ ۖ وَٱللَّهُ يُؤْتِى مُلْكَهُۥ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 247)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Allah berfirman tentang jawaban nabi mereka atas permintaan Bani Israil:{ وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ٱللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا }“Dan nabi mereka berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut sebagai raja bagi kalian.’”Ini adalah penunjukan langsung dari Allah. Seharusnya mereka menerima dengan patuh, tunduk, dan tidak membantah. Namun, mereka justru menolak dan mengajukan keberatan.Mereka berkata:{ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ ٱلْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِٱلْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ ٱلْمَالِ }“Bagaimana mungkin ia menjadi raja atas kami, padahal kami lebih berhak atas kerajaan itu darinya, dan ia pun tidak diberi kelapangan harta?”Maksud mereka, bagaimana mungkin ia memimpin kami, sementara dari sisi nasab dan kedudukan sosial ia tidak lebih mulia daripada kami? Bahkan ia juga bukan orang kaya yang memiliki harta cukup untuk menopang kekuasaan.Keberatan ini dibangun atas anggapan yang keliru. Mereka mengira bahwa kepemimpinan dan kekuasaan harus didasarkan pada kemuliaan nasab dan banyaknya harta. Mereka tidak memahami bahwa kualitas hakiki yang menjadikan seseorang layak memimpin jauh lebih utama daripada sekadar keturunan dan kekayaan.Karena itu nabi mereka menjawab:{ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰهُ عَلَيْكُمْ }“Sesungguhnya Allah telah memilihnya atas kalian.”Artinya, Allah sendirilah yang memilihnya. Maka kewajiban kalian adalah tunduk dan menerima keputusan tersebut.Kemudian beliau menjelaskan alasan pemilihannya:{ وَزَادَهُۥ بَسْطَةً فِي ٱلْعِلْمِ وَٱلْجِسْمِ }“Dan Allah menganugerahkan kepadanya kelebihan dalam ilmu dan fisik.”Thalut diberi keunggulan dalam keluasan ilmu serta kekuatan jasmani. Dua hal inilah yang sangat menentukan keberhasilan seorang pemimpin. Dengan ilmu, ia memiliki pandangan yang matang, kebijaksanaan, dan keputusan yang tepat. Dengan kekuatan fisik, ia mampu menegakkan keputusan itu dan menghadapi berbagai tantangan.Jika seorang pemimpin kuat secara fisik tetapi lemah dalam pemikiran, maka kekuasaan akan berubah menjadi tindakan sewenang-wenang, keras tanpa hikmah, dan menyimpang dari kebenaran. Sebaliknya, jika ia cerdas dan berilmu tetapi tidak memiliki kekuatan untuk menegakkan keputusannya, maka ilmunya tidak akan memberi manfaat dalam praktik kepemimpinan.Allah menutup penjelasan itu dengan firman-Nya,{ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ }“Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”Artinya, Allah Mahaluas karunia dan anugerah-Nya. Dia tidak membatasi rahmat-Nya hanya pada orang tertentu, tidak pula hanya kepada kalangan terpandang atau kaya. Namun, Allah Maha Mengetahui siapa yang pantas menerima karunia tersebut dan menempatkannya pada tempat yang tepat.Dengan penjelasan ini, gugurlah semua keraguan, syubhat, dan keberatan yang ada di hati mereka. Sebab telah jelas bahwa sebab-sebab kepemimpinan ada pada Thalut, dan bahwa karunia Allah diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya dan tidak ada yang mampu menghalangi kebaikan-Nya.Catatan:Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:Thalut bukan dari jalur keluarga raja. Ia seorang yang miskin, tidak memiliki harta yang dianggap cukup untuk menopang kekuasaan. Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa ia dahulu bekerja sebagai pengambil air (penyedia air), dan ada pula yang mengatakan ia seorang penyamak kulit.Thalut diberi keunggulan dibanding kalian: lebih berilmu, lebih mulia penampilan dan kepribadiannya, lebih kuat fisiknya, lebih sabar dalam peperangan, serta lebih paham urusan perang. Dengan kata lain, ia lebih sempurna dalam ilmu dan postur dibanding kalian.Dari sini dapat dipahami bahwa seorang raja atau pemimpin idealnya memiliki ilmu, penampilan yang baik (wibawa), dan kekuatan fisik serta mental yang besar. Tanda Kekuasaan Thalut: Datangnya Tabut yang Membawa SakinahAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ءَايَةَ مُلْكِهِۦٓ أَن يَأْتِيَكُمُ ٱلتَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَىٰ وَءَالُ هَٰرُونَ تَحْمِلُهُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 248)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Kemudian nabi mereka juga menyebutkan kepada mereka sebuah tanda yang nyata dan bisa mereka saksikan langsung, yaitu kembalinya tabut (peti suci) yang telah lama hilang dari tengah-tengah mereka.Di dalam tabut itu terdapat ketenangan (sakinah) yang membuat hati mereka menjadi tenteram dan pikiran mereka menjadi tenang. Di dalamnya juga terdapat peninggalan dari keluarga Nabi Musa dan keluarga Nabi Harun ‘alaihimassalam, berupa sisa-sisa warisan yang mulia.Allah berfirman tentang tanda tersebut,{ وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ ٱلتَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَىٰ وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ ٱلْمَلَائِكَةُ }“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat.’”Tabut itu benar-benar datang dalam keadaan dibawa oleh para malaikat, sementara mereka menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Ini menjadi bukti yang sangat jelas dan tanda yang tidak bisa dibantah lagi tentang kebenaran kepemimpinan Thalut.Catatan: Dalam kisah Thalut dan Jalut (QS. Al-Baqarah: 248), Tabut (peti/kotak) adalah peti suci peninggalan Nabi Musa dan Harun yang membawa sakinah (ketenangan) dan sisa warisan berharga dari keluarga mereka. Tabut ini menjadi simbol kepemimpinan, legitimasi kekuasaan Thalut, serta wahyu Allah yang memberikan kekuatan dan ketenteraman hati bagi Bani Israil dalam menghadapi peperangan. Ketika Allah Menguji Pasukan ThalutAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِٱلْجُنُودِ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّى وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُۥ مِنِّىٓ إِلَّا مَنِ ٱغْتَرَفَ غُرْفَةًۢ بِيَدِهِۦ ۚ فَشَرِبُوا۟ مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُۥ هُوَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ قَالُوا۟ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ ۚ قَالَ ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَٰقُوا۟ ٱللَّهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةًۢ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku”. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya”. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.” (QS. Al-Baqarah: 249)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Maksudnya, ketika Thalut telah resmi menjadi raja atas Bani Israil dan kekuasaannya telah stabil, mereka pun bersiap untuk menghadapi musuh. Saat Thalut berangkat bersama pasukan Bani Israil—yang jumlahnya sangat banyak—Allah memerintahkan agar mereka diuji, supaya tampak siapa yang teguh dan siapa yang lemah.Thalut berkata:{ إِنَّ ٱللَّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّيٓ إِلَّا مَنِ ٱغْتَرَفَ غُرْفَةًۢ بِيَدِهِ }“Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.”Artinya, siapa yang minum secara berlebihan dari sungai itu, berarti ia telah melanggar perintah dan tidak layak ikut dalam barisan. Sebab ia tidak mampu bersabar dan tidak teguh dalam ketaatan. Adapun yang tidak meminumnya sama sekali, ia termasuk golongan yang taat. Sementara yang hanya mengambil satu cidukan dengan tangan, tidak mengapa. Bisa jadi Allah menjadikan sedikit air itu cukup baginya.Ujian ini menunjukkan bahwa persediaan air ketika itu sangat terbatas, sehingga benar-benar menjadi sarana penyaringan yang nyata. Namun mayoritas mereka gagal. Mereka minum sebanyak-banyaknya dari sungai tersebut, melanggar larangan, lalu akhirnya kembali pulang dan mundur dari medan perang.Ketidakmampuan mereka menahan diri dari air hanya dalam waktu singkat menjadi bukti bahwa mereka tidak akan sanggup bersabar menghadapi peperangan panjang dan berat. Mundurnya sebagian besar pasukan justru membuat orang-orang yang tersisa semakin bertawakal kepada Allah, semakin merendahkan diri, dan semakin melepaskan ketergantungan pada kekuatan pribadi. Dengan jumlah yang sedikit dan musuh yang jauh lebih besar, kesabaran mereka justru semakin kuat.Allah berfirman,{ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَٱلَّذِينَ آمَنُوا۟ مَعَهُ }“Maka ketika ia (Thalut) dan orang-orang beriman bersamanya telah menyeberangi sungai itu…”Yaitu mereka yang taat dan tidak melanggar perintah minum. Ketika mereka melihat betapa sedikitnya jumlah mereka dan betapa banyaknya musuh, sebagian dari mereka berkata,{ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ }“Kami tidak sanggup pada hari ini menghadapi Jalut dan pasukannya.”Mereka merasa gentar melihat jumlah dan persenjataan musuh.Namun orang-orang yang yakin akan pertemuan dengan Allah—yaitu mereka yang imannya kokoh dan keyakinannya kuat—menenangkan dan menasihati yang lain dengan berkata,{ كَم مِّن فِئَةٍۢ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةًۭ كَثِيرَةًۢ بِإِذْنِ ٱللَّهِ }“Betapa banyak kelompok kecil mampu mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.”Maksudnya, kemenangan bukan ditentukan oleh jumlah. Segala urusan berada di tangan Allah. Siapa yang dimuliakan Allah, dialah yang mulia; siapa yang dihinakan-Nya, dialah yang hina. Banyaknya jumlah tidak berguna jika Allah tidak menolong, dan sedikitnya jumlah tidak berbahaya jika Allah memberikan pertolongan.Baca juga: Perang Hunain: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin KemenanganAllah menegaskan,{ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ }“Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.”Kebersamaan Allah di sini adalah dalam bentuk pertolongan, bantuan, dan taufik. Sebab yang paling besar mendatangkan pertolongan Allah adalah kesabaran seorang hamba karena Allah.Baca juga: Allah Di Atas ‘Arsy-Nya, Namun Allah juga Bersama dan Dekat dengan Hamba-NyaNasihat itu pun meresap ke dalam hati mereka, menguatkan tekad, dan menghidupkan kembali keberanian dalam jiwa mereka. Tidak Bersandar kepada Jumlah dan Kemampuan Diri, Bersandarlah kepada AllahAllah Ta’ala berfirman,وَلَمَّا بَرَزُوا۟ لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ قَالُوا۟ رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ“Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”.” (QS. Al-Baqarah: 250)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Karena itu, ketika mereka telah benar-benar berhadapan dengan Jalut dan pasukannya, mereka semua berdoa dengan penuh kerendahan hati:{ رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَافِرِينَ }RABBANAA AFRIGH ‘ALAINAA SHABRAN WA TSABBIT AQDAAMANAA WANSHURNAA ‘ALAL QAUMIL KAAFIRIIN“Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”Maksudnya, kuatkanlah hati kami, karuniakanlah kepada kami kesabaran yang sempurna, dan jangan Engkau biarkan kami goyah atau lari dari medan pertempuran. Teguhkanlah langkah kami agar tetap kokoh dalam menghadapi musuh, dan berikanlah kemenangan atas orang-orang kafir.Doa ini menunjukkan bahwa mereka tidak lagi bersandar pada kekuatan jumlah atau kemampuan diri, tetapi sepenuhnya menggantungkan harapan kepada Allah. Mereka memohon kekuatan hati sebelum meminta kemenangan, karena kemenangan sejati lahir dari kesabaran dan keteguhan yang Allah tanamkan dalam jiwa hamba-Nya. Saat Daud Menumbangkan JalutAllah Ta’ala berfirman,فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ ٱللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ جَالُوتَ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ وَٱلْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُۥ مِمَّا يَشَآءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ ٱلْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (QS. Al-Baqarah: 251)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Dari kisah ini kita mengetahui bahwa Jalut dan pasukannya adalah orang-orang kafir. Allah pun mengabulkan doa kaum beriman itu, karena mereka telah menempuh sebab-sebab yang mendatangkan pertolongan: bersabar, bertawakal, dan memohon kepada-Nya.Allah berfirman,{ فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ ٱللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ جَالُوتَ }“Maka mereka mengalahkan musuh-musuhnya dengan izin Allah, dan Dawud membunuh Jalut.”Nabi Daud ‘alaihis salam ketika itu berada di barisan pasukan Thalut. Beliaulah yang secara langsung membunuh Jalut, raja kaum kafir, dengan tangannya sendiri. Hal itu menunjukkan keberanian, kekuatan, dan kesabarannya.Kemudian Allah berfirman,{ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ وَٱلْحِكْمَةَ }“Dan Allah menganugerahinya kerajaan dan hikmah.”Artinya, Allah memberikan kepada Daud kekuasaan atas Bani Israil sekaligus hikmah, yaitu kenabian yang mengandung syariat agung dan jalan yang lurus.Selanjutnya Allah berfirman:{ وَعَلَّمَهُۥ مِمَّا يَشَآءُ }“Dan Allah mengajarinya apa yang Dia kehendaki.”Yakni Allah mengajarkan kepadanya berbagai ilmu, baik ilmu syariat maupun ilmu pemerintahan dan strategi. Pada diri Daud terkumpul dua kemuliaan sekaligus: kerajaan dan kenabian. Padahal sebelumnya, pada sebagian nabi, kekuasaan berada di tangan orang lain. Namun Allah menghendaki pada Daud terkumpul keduanya.Setelah Allah memberikan kemenangan, mereka pun hidup tenteram di negeri mereka. Mereka dapat beribadah kepada Allah dengan aman dan tenang, karena musuh-musuh mereka telah dikalahkan dan mereka diberi kekuasaan di bumi. Semua itu adalah buah dari jihad di jalan Allah. Seandainya jihad tidak disyariatkan, niscaya keadaan aman dan kemuliaan itu tidak akan terwujud.Karena itu Allah berfirman,{ وَلَوْلَا دَفْعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ ٱلْأَرْضُ }“Dan seandainya Allah tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini.”Artinya, seandainya Allah tidak menahan kejahatan orang-orang fajir dan kekafiran orang-orang kafir melalui kaum beriman yang berjuang di jalan-Nya, niscaya bumi akan rusak. Orang-orang kafir akan menguasainya, menegakkan syiar kekafiran, serta menghalangi manusia dari beribadah kepada Allah dan menampakkan agama-Nya.Namun Allah menutup ayat tersebut dengan firman-Nya,{ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ }“Tetapi Allah memiliki karunia yang besar atas seluruh alam.”Di antara karunia-Nya adalah disyariatkannya jihad yang menjadi sebab kebahagiaan manusia dan perlindungan mereka. Allah pula yang memberikan kekuasaan di bumi melalui sebab-sebab yang mereka ketahui dan sebab-sebab lain yang tidak mereka ketahui. Pelajaran dari Kisah Thalut, Jalut, dan Nabi Daud ‘alaihis salamAllah Ta’ala berfirman,تِلْكَ ءَايَٰتُ ٱللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِٱلْحَقِّ ۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ“Itu adalah ayat-ayat dari Allah, Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus.” (QS. Al-Baqarah: 252)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Kemudian Allah Ta’ala berfirman:{ تِلْكَ آيَاتُ ٱللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِٱلْحَقِّ }“Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan benar.”Maksudnya, kisah-kisah itu adalah ayat-ayat Allah yang dibacakan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan penuh kebenaran, tanpa keraguan sedikit pun. Di dalamnya terkandung pelajaran, perenungan, dan penjelasan hakikat berbagai peristiwa.Lalu Allah menegaskan:{ وَإِنَّكَ لَمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ }“Dan sesungguhnya engkau benar-benar termasuk para rasul.”Ini adalah persaksian langsung dari Allah atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ. Di antara bukti kerasulan beliau adalah kisah-kisah umat terdahulu, para nabi, pengikut mereka, serta musuh-musuh mereka yang Allah ceritakan kepadanya. Tanpa wahyu dari Allah, beliau tidak mungkin mengetahui semua itu. Bahkan kaumnya pun tidak memiliki pengetahuan tentang rincian kisah tersebut. Ini menjadi bukti nyata bahwa beliau adalah Rasul yang benar, diutus dengan membawa kebenaran dan agama yang benar, untuk dimenangkan atas seluruh agama, walaupun orang-orang musyrik membencinya. Dalam kisah ini terdapat banyak tanda dan pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Di antaranya:Pertama, pentingnya persatuan para pemimpin dan tokoh masyarakat (ahlul halli wal ‘aqdi), duduk bersama mencari jalan terbaik untuk memperbaiki keadaan, memahaminya dengan baik, lalu mengamalkannya. Itulah sebab besar kemajuan dan tercapainya tujuan. Hal ini tampak ketika para pembesar Bani Israil meminta kepada nabi mereka agar ditunjuk seorang raja yang dapat menyatukan barisan dan menghimpun kekuatan mereka.Kedua, kebenaran itu semakin jelas ketika diuji dan diserang dengan berbagai syubhat. Justru ketika muncul keberatan dan pertanyaan, lalu dijawab dengan argumen yang kuat, keyakinan menjadi semakin mantap. Sebagaimana terjadi ketika mereka mempersoalkan kelayakan Thalut menjadi raja, lalu dijelaskan dengan dalil yang menenangkan hati dan menghilangkan keraguan.Ketiga, ilmu dan kebijaksanaan yang disertai dengan kekuatan untuk mengeksekusinya adalah kesempurnaan dalam kepemimpinan. Jika salah satunya hilang, maka kepemimpinan akan pincang dan membawa mudarat.Keempat, bersandar pada kemampuan diri sendiri menjadi sebab kegagalan dan kehinaan. Sebaliknya, meminta pertolongan kepada Allah, bersabar, dan bergantung kepada-Nya adalah sebab kemenangan.Yang pertama tampak dalam ucapan mereka,{ وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا }“Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami telah diusir dari negeri kami dan anak-anak kami?”Seolah-olah mereka yakin pada diri sendiri. Namun ketika benar-benar diwajibkan berperang, mereka justru berpaling.Adapun sikap yang kedua tampak dalam doa orang-orang beriman ketika berhadapan dengan Jalut dan tentaranya,{ وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ قَالُوا رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ ٱللَّهِ }“Dan ketika mereka maju menghadapi Jalut dan tentaranya, mereka berdoa: ‘Wahai Rabb kami, limpahkanlah kepada kami kesabaran, teguhkanlah langkah kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir.’ Maka mereka pun mengalahkan musuh-musuhnya dengan izin Allah.”Kelima, termasuk hikmah Allah adalah membedakan yang buruk dari yang baik, yang jujur dari yang dusta, yang sabar dari yang pengecut. Allah tidak membiarkan manusia bercampur tanpa ujian dan tanpa penyaringan.Keenam, termasuk rahmat dan sunnatullah yang berlaku adalah bahwa Allah menolak kerusakan dan bahaya orang-orang kafir serta munafik melalui orang-orang beriman yang berjuang. Seandainya tidak demikian, niscaya bumi ini rusak karena kekuasaan kekafiran dan simbol-simbolnya yang merajalela. Semoga kisah ini meneguhkan hati kita untuk selalu tunduk pada pilihan Allah, tidak terpedaya oleh jumlah dan kemampuan diri, serta istiqamah bersabar di saat ujian.Ya Allah, limpahkan kepada kami kesabaran, teguhkan langkah kami dalam ketaatan, dan tolonglah kami atas hawa nafsu serta segala kebatilan. Jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas, kuat tawakalnya, dan Engkau anugerahi ketenteraman serta kemenangan dengan izin-Mu. Aamiin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Jumat di waktu sahur, 3 Ramadhan 1447 H @ Makkah Al-MukarramahPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscerita nabi jalut kisah para nabi nabi daud renungan ayat renungan quran thalut

Kisah Thalut, Jalut, dan Nabi Daud: Ujian Kepemimpinan dan Kemenangan Iman

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 246–252, Allah mengisahkan Bani Israil yang meminta pemimpin untuk berjihad, namun banyak yang mundur ketika ujian benar-benar datang. Dari penunjukan Thalut, kembalinya tabut yang membawa sakinah, hingga ujian sungai, Allah menampakkan siapa yang tulus dan siapa yang rapuh. Kisah ini berpuncak pada kemenangan atas Jalut dan munculnya Nabi Daud ‘alaihis salam, sebagai pelajaran bahwa kemenangan diraih dengan iman, kesabaran, dan pertolongan Allah.  Daftar Isi tutup 1. Meminta Jihad, Namun Mundur Saat Diuji 2. Hakikat Kepemimpinan: Ilmu dan Kekuatan, Bukan Harta 3. Tanda Kekuasaan Thalut: Datangnya Tabut yang Membawa Sakinah 4. Ketika Allah Menguji Pasukan Thalut 5. Tidak Bersandar kepada Jumlah dan Kemampuan Diri, Bersandarlah kepada Allah 6. Saat Daud Menumbangkan Jalut 7. Pelajaran dari Kisah Thalut, Jalut, dan Nabi Daud ‘alaihis salam  Meminta Jihad, Namun Mundur Saat DiujiAllah Ta’ala berfirman,أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلْمَلَإِ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰٓ إِذْ قَالُوا۟ لِنَبِىٍّ لَّهُمُ ٱبْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَٰتِلْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ أَلَّا تُقَٰتِلُوا۟ ۖ قَالُوا۟ وَمَا لَنَآ أَلَّا نُقَٰتِلَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَٰرِنَا وَأَبْنَآئِنَا ۖ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ ٱلْقِتَالُ تَوَلَّوْا۟ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ“Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 246)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Allah Ta’ala menceritakan kepada Nabi-Nya kisah para pembesar Bani Israil, yaitu kalangan terhormat dan para pemimpin mereka. Mereka disebut secara khusus karena biasanya merekalah yang paling dahulu memikirkan kepentingan bersama. Jika mereka telah sepakat dalam suatu urusan, maka orang-orang di bawah mereka akan mengikuti keputusan tersebut.Dikisahkan bahwa mereka mendatangi seorang nabi mereka setelah wafatnya Nabi Musa ‘alaihis salam. Mereka berkata,{ ٱبْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَٰتِلْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ }“Angkatlah untuk kami seorang raja agar kami dapat berperang di jalan Allah.”Maksud mereka adalah: tunjuklah seorang pemimpin yang dapat menyatukan barisan kami yang tercerai-berai, sehingga kami mampu menghadapi musuh bersama. Pada saat itu, kemungkinan besar mereka tidak memiliki seorang pemimpin tunggal yang dapat mempersatukan mereka. Sebagaimana kebiasaan kabilah-kabilah besar, masing-masing enggan dipimpin oleh tokoh dari kabilah lain. Karena itu, mereka meminta nabi mereka untuk menunjuk seorang raja yang bisa diterima semua pihak dan sesuai dengan tradisi mereka.Pada masa itu, para nabi Bani Israil berfungsi sebagai pemimpin dan pengatur urusan mereka. Setiap kali seorang nabi wafat, digantikan oleh nabi berikutnya.Ketika mereka menyampaikan permintaan tersebut, nabi mereka berkata,{ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا }“Jangan-jangan jika diwajibkan atas kalian berperang, kalian justru tidak akan melaksanakannya.”Maksudnya, jangan sampai kalian meminta sesuatu yang kelak, ketika benar-benar diwajibkan, kalian tidak sanggup menjalaninya. Nabi mereka seakan menawarkan pilihan untuk tidak terburu-buru meminta kewajiban berat itu, namun mereka tetap bersikeras dan merasa yakin dengan tekad serta niat mereka.Mereka menjawab,{ وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَٰرِنَا وَأَبْنَائِنَا }“Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami telah diusir dari negeri kami dan anak-anak kami (ditawan)?”Artinya, apa lagi yang menghalangi kami untuk berperang? Kami sudah terusir dari tanah air kami dan anak-anak kami pun ditawan. Keadaan ini saja sudah cukup menjadi alasan bagi kami untuk berperang, meskipun itu belum diwajibkan. Maka bagaimana mungkin kami tidak berperang jika sudah benar-benar diwajibkan?Namun, ketika niat mereka ternyata tidak tulus dan tawakal mereka kepada Allah lemah, maka apa yang dikhawatirkan itu pun terjadi. Allah berfirman,{ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ ٱلْقِتَالُ تَوَلَّوْا }“Maka ketika diwajibkan atas mereka berperang, mereka pun berpaling.”Mereka menjadi pengecut, tidak berani menghadapi musuh, dan tidak sanggup menghadapi pertempuran. Tekad yang sebelumnya mereka banggakan pun sirna. Rasa lemah dan takut menguasai sebagian besar dari mereka.Allah melanjutkan,{ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ }“Kecuali sedikit dari mereka.”Hanya segelintir orang yang Allah jaga, teguhkan, dan kuatkan hatinya. Mereka benar-benar menjalankan perintah Allah dan mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh. Mereka inilah yang meraih kemuliaan dunia dan akhirat.Adapun mayoritas mereka telah menzalimi diri sendiri dengan meninggalkan perintah Allah. Karena itulah Allah menutup ayat tersebut dengan firman-Nya,{ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ }“Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.”Tidak ada satu pun kedustaan niat dan kelemahan tekad yang tersembunyi dari-Nya. Catatan:Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir disebutkan:Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah, bahwa nabi yang dimaksud dalam kisah tersebut adalah Yusya’ bin Nun.Ibnu Jarir menjelaskan bahwa ia adalah Yusya’ bin Afratsim bin Yusuf bin Ya‘qub.Namun pendapat ini dinilai lemah. Sebab peristiwa tersebut terjadi lama setelah Nabi Musa ‘alaihis salam. Bahkan, sebagaimana disebutkan secara jelas dalam kisah itu, peristiwa tersebut terjadi pada masa Nabi Daud ‘alaihis salam. Padahal jarak waktu antara Nabi Musa dan Nabi Daud lebih dari seribu tahun. Wallahu a‘lam.As-Suddi berpendapat bahwa nabi tersebut adalah Syam‘un.Sedangkan Mujahid mengatakan bahwa ia adalah Nabi Syamwil ‘alaihis salam.Pendapat ini juga dikemukakan oleh Muhammad bin Ishaq, yang meriwayatkannya dari Wahb bin Munabbih. Ia menjelaskan bahwa nasabnya adalah: Syamwil bin Bali bin ‘Alqamah bin Yarkham bin Ilyahu bin Tahu bin Shuf bin ‘Alqamah bin Mahats bin ‘Amusha bin ‘Azarya bin Shafniyah bin ‘Alqamah bin Abi Yasaf bin Qarun bin Yashar bin Qahits bin Lawi bin Ya‘qub bin Ishaq bin Ibrahim Al-Khalil ‘alaihis salam. Hakikat Kepemimpinan: Ilmu dan Kekuatan, Bukan HartaAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ٱللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوٓا۟ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ ٱلْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِٱلْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ ٱلْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُۥ بَسْطَةً فِى ٱلْعِلْمِ وَٱلْجِسْمِ ۖ وَٱللَّهُ يُؤْتِى مُلْكَهُۥ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 247)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Allah berfirman tentang jawaban nabi mereka atas permintaan Bani Israil:{ وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ٱللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا }“Dan nabi mereka berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut sebagai raja bagi kalian.’”Ini adalah penunjukan langsung dari Allah. Seharusnya mereka menerima dengan patuh, tunduk, dan tidak membantah. Namun, mereka justru menolak dan mengajukan keberatan.Mereka berkata:{ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ ٱلْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِٱلْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ ٱلْمَالِ }“Bagaimana mungkin ia menjadi raja atas kami, padahal kami lebih berhak atas kerajaan itu darinya, dan ia pun tidak diberi kelapangan harta?”Maksud mereka, bagaimana mungkin ia memimpin kami, sementara dari sisi nasab dan kedudukan sosial ia tidak lebih mulia daripada kami? Bahkan ia juga bukan orang kaya yang memiliki harta cukup untuk menopang kekuasaan.Keberatan ini dibangun atas anggapan yang keliru. Mereka mengira bahwa kepemimpinan dan kekuasaan harus didasarkan pada kemuliaan nasab dan banyaknya harta. Mereka tidak memahami bahwa kualitas hakiki yang menjadikan seseorang layak memimpin jauh lebih utama daripada sekadar keturunan dan kekayaan.Karena itu nabi mereka menjawab:{ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰهُ عَلَيْكُمْ }“Sesungguhnya Allah telah memilihnya atas kalian.”Artinya, Allah sendirilah yang memilihnya. Maka kewajiban kalian adalah tunduk dan menerima keputusan tersebut.Kemudian beliau menjelaskan alasan pemilihannya:{ وَزَادَهُۥ بَسْطَةً فِي ٱلْعِلْمِ وَٱلْجِسْمِ }“Dan Allah menganugerahkan kepadanya kelebihan dalam ilmu dan fisik.”Thalut diberi keunggulan dalam keluasan ilmu serta kekuatan jasmani. Dua hal inilah yang sangat menentukan keberhasilan seorang pemimpin. Dengan ilmu, ia memiliki pandangan yang matang, kebijaksanaan, dan keputusan yang tepat. Dengan kekuatan fisik, ia mampu menegakkan keputusan itu dan menghadapi berbagai tantangan.Jika seorang pemimpin kuat secara fisik tetapi lemah dalam pemikiran, maka kekuasaan akan berubah menjadi tindakan sewenang-wenang, keras tanpa hikmah, dan menyimpang dari kebenaran. Sebaliknya, jika ia cerdas dan berilmu tetapi tidak memiliki kekuatan untuk menegakkan keputusannya, maka ilmunya tidak akan memberi manfaat dalam praktik kepemimpinan.Allah menutup penjelasan itu dengan firman-Nya,{ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ }“Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”Artinya, Allah Mahaluas karunia dan anugerah-Nya. Dia tidak membatasi rahmat-Nya hanya pada orang tertentu, tidak pula hanya kepada kalangan terpandang atau kaya. Namun, Allah Maha Mengetahui siapa yang pantas menerima karunia tersebut dan menempatkannya pada tempat yang tepat.Dengan penjelasan ini, gugurlah semua keraguan, syubhat, dan keberatan yang ada di hati mereka. Sebab telah jelas bahwa sebab-sebab kepemimpinan ada pada Thalut, dan bahwa karunia Allah diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya dan tidak ada yang mampu menghalangi kebaikan-Nya.Catatan:Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:Thalut bukan dari jalur keluarga raja. Ia seorang yang miskin, tidak memiliki harta yang dianggap cukup untuk menopang kekuasaan. Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa ia dahulu bekerja sebagai pengambil air (penyedia air), dan ada pula yang mengatakan ia seorang penyamak kulit.Thalut diberi keunggulan dibanding kalian: lebih berilmu, lebih mulia penampilan dan kepribadiannya, lebih kuat fisiknya, lebih sabar dalam peperangan, serta lebih paham urusan perang. Dengan kata lain, ia lebih sempurna dalam ilmu dan postur dibanding kalian.Dari sini dapat dipahami bahwa seorang raja atau pemimpin idealnya memiliki ilmu, penampilan yang baik (wibawa), dan kekuatan fisik serta mental yang besar. Tanda Kekuasaan Thalut: Datangnya Tabut yang Membawa SakinahAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ءَايَةَ مُلْكِهِۦٓ أَن يَأْتِيَكُمُ ٱلتَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَىٰ وَءَالُ هَٰرُونَ تَحْمِلُهُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 248)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Kemudian nabi mereka juga menyebutkan kepada mereka sebuah tanda yang nyata dan bisa mereka saksikan langsung, yaitu kembalinya tabut (peti suci) yang telah lama hilang dari tengah-tengah mereka.Di dalam tabut itu terdapat ketenangan (sakinah) yang membuat hati mereka menjadi tenteram dan pikiran mereka menjadi tenang. Di dalamnya juga terdapat peninggalan dari keluarga Nabi Musa dan keluarga Nabi Harun ‘alaihimassalam, berupa sisa-sisa warisan yang mulia.Allah berfirman tentang tanda tersebut,{ وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ ٱلتَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَىٰ وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ ٱلْمَلَائِكَةُ }“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat.’”Tabut itu benar-benar datang dalam keadaan dibawa oleh para malaikat, sementara mereka menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Ini menjadi bukti yang sangat jelas dan tanda yang tidak bisa dibantah lagi tentang kebenaran kepemimpinan Thalut.Catatan: Dalam kisah Thalut dan Jalut (QS. Al-Baqarah: 248), Tabut (peti/kotak) adalah peti suci peninggalan Nabi Musa dan Harun yang membawa sakinah (ketenangan) dan sisa warisan berharga dari keluarga mereka. Tabut ini menjadi simbol kepemimpinan, legitimasi kekuasaan Thalut, serta wahyu Allah yang memberikan kekuatan dan ketenteraman hati bagi Bani Israil dalam menghadapi peperangan. Ketika Allah Menguji Pasukan ThalutAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِٱلْجُنُودِ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّى وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُۥ مِنِّىٓ إِلَّا مَنِ ٱغْتَرَفَ غُرْفَةًۢ بِيَدِهِۦ ۚ فَشَرِبُوا۟ مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُۥ هُوَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ قَالُوا۟ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ ۚ قَالَ ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَٰقُوا۟ ٱللَّهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةًۢ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku”. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya”. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.” (QS. Al-Baqarah: 249)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Maksudnya, ketika Thalut telah resmi menjadi raja atas Bani Israil dan kekuasaannya telah stabil, mereka pun bersiap untuk menghadapi musuh. Saat Thalut berangkat bersama pasukan Bani Israil—yang jumlahnya sangat banyak—Allah memerintahkan agar mereka diuji, supaya tampak siapa yang teguh dan siapa yang lemah.Thalut berkata:{ إِنَّ ٱللَّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّيٓ إِلَّا مَنِ ٱغْتَرَفَ غُرْفَةًۢ بِيَدِهِ }“Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.”Artinya, siapa yang minum secara berlebihan dari sungai itu, berarti ia telah melanggar perintah dan tidak layak ikut dalam barisan. Sebab ia tidak mampu bersabar dan tidak teguh dalam ketaatan. Adapun yang tidak meminumnya sama sekali, ia termasuk golongan yang taat. Sementara yang hanya mengambil satu cidukan dengan tangan, tidak mengapa. Bisa jadi Allah menjadikan sedikit air itu cukup baginya.Ujian ini menunjukkan bahwa persediaan air ketika itu sangat terbatas, sehingga benar-benar menjadi sarana penyaringan yang nyata. Namun mayoritas mereka gagal. Mereka minum sebanyak-banyaknya dari sungai tersebut, melanggar larangan, lalu akhirnya kembali pulang dan mundur dari medan perang.Ketidakmampuan mereka menahan diri dari air hanya dalam waktu singkat menjadi bukti bahwa mereka tidak akan sanggup bersabar menghadapi peperangan panjang dan berat. Mundurnya sebagian besar pasukan justru membuat orang-orang yang tersisa semakin bertawakal kepada Allah, semakin merendahkan diri, dan semakin melepaskan ketergantungan pada kekuatan pribadi. Dengan jumlah yang sedikit dan musuh yang jauh lebih besar, kesabaran mereka justru semakin kuat.Allah berfirman,{ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَٱلَّذِينَ آمَنُوا۟ مَعَهُ }“Maka ketika ia (Thalut) dan orang-orang beriman bersamanya telah menyeberangi sungai itu…”Yaitu mereka yang taat dan tidak melanggar perintah minum. Ketika mereka melihat betapa sedikitnya jumlah mereka dan betapa banyaknya musuh, sebagian dari mereka berkata,{ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ }“Kami tidak sanggup pada hari ini menghadapi Jalut dan pasukannya.”Mereka merasa gentar melihat jumlah dan persenjataan musuh.Namun orang-orang yang yakin akan pertemuan dengan Allah—yaitu mereka yang imannya kokoh dan keyakinannya kuat—menenangkan dan menasihati yang lain dengan berkata,{ كَم مِّن فِئَةٍۢ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةًۭ كَثِيرَةًۢ بِإِذْنِ ٱللَّهِ }“Betapa banyak kelompok kecil mampu mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.”Maksudnya, kemenangan bukan ditentukan oleh jumlah. Segala urusan berada di tangan Allah. Siapa yang dimuliakan Allah, dialah yang mulia; siapa yang dihinakan-Nya, dialah yang hina. Banyaknya jumlah tidak berguna jika Allah tidak menolong, dan sedikitnya jumlah tidak berbahaya jika Allah memberikan pertolongan.Baca juga: Perang Hunain: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin KemenanganAllah menegaskan,{ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ }“Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.”Kebersamaan Allah di sini adalah dalam bentuk pertolongan, bantuan, dan taufik. Sebab yang paling besar mendatangkan pertolongan Allah adalah kesabaran seorang hamba karena Allah.Baca juga: Allah Di Atas ‘Arsy-Nya, Namun Allah juga Bersama dan Dekat dengan Hamba-NyaNasihat itu pun meresap ke dalam hati mereka, menguatkan tekad, dan menghidupkan kembali keberanian dalam jiwa mereka. Tidak Bersandar kepada Jumlah dan Kemampuan Diri, Bersandarlah kepada AllahAllah Ta’ala berfirman,وَلَمَّا بَرَزُوا۟ لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ قَالُوا۟ رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ“Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”.” (QS. Al-Baqarah: 250)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Karena itu, ketika mereka telah benar-benar berhadapan dengan Jalut dan pasukannya, mereka semua berdoa dengan penuh kerendahan hati:{ رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَافِرِينَ }RABBANAA AFRIGH ‘ALAINAA SHABRAN WA TSABBIT AQDAAMANAA WANSHURNAA ‘ALAL QAUMIL KAAFIRIIN“Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”Maksudnya, kuatkanlah hati kami, karuniakanlah kepada kami kesabaran yang sempurna, dan jangan Engkau biarkan kami goyah atau lari dari medan pertempuran. Teguhkanlah langkah kami agar tetap kokoh dalam menghadapi musuh, dan berikanlah kemenangan atas orang-orang kafir.Doa ini menunjukkan bahwa mereka tidak lagi bersandar pada kekuatan jumlah atau kemampuan diri, tetapi sepenuhnya menggantungkan harapan kepada Allah. Mereka memohon kekuatan hati sebelum meminta kemenangan, karena kemenangan sejati lahir dari kesabaran dan keteguhan yang Allah tanamkan dalam jiwa hamba-Nya. Saat Daud Menumbangkan JalutAllah Ta’ala berfirman,فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ ٱللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ جَالُوتَ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ وَٱلْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُۥ مِمَّا يَشَآءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ ٱلْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (QS. Al-Baqarah: 251)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Dari kisah ini kita mengetahui bahwa Jalut dan pasukannya adalah orang-orang kafir. Allah pun mengabulkan doa kaum beriman itu, karena mereka telah menempuh sebab-sebab yang mendatangkan pertolongan: bersabar, bertawakal, dan memohon kepada-Nya.Allah berfirman,{ فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ ٱللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ جَالُوتَ }“Maka mereka mengalahkan musuh-musuhnya dengan izin Allah, dan Dawud membunuh Jalut.”Nabi Daud ‘alaihis salam ketika itu berada di barisan pasukan Thalut. Beliaulah yang secara langsung membunuh Jalut, raja kaum kafir, dengan tangannya sendiri. Hal itu menunjukkan keberanian, kekuatan, dan kesabarannya.Kemudian Allah berfirman,{ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ وَٱلْحِكْمَةَ }“Dan Allah menganugerahinya kerajaan dan hikmah.”Artinya, Allah memberikan kepada Daud kekuasaan atas Bani Israil sekaligus hikmah, yaitu kenabian yang mengandung syariat agung dan jalan yang lurus.Selanjutnya Allah berfirman:{ وَعَلَّمَهُۥ مِمَّا يَشَآءُ }“Dan Allah mengajarinya apa yang Dia kehendaki.”Yakni Allah mengajarkan kepadanya berbagai ilmu, baik ilmu syariat maupun ilmu pemerintahan dan strategi. Pada diri Daud terkumpul dua kemuliaan sekaligus: kerajaan dan kenabian. Padahal sebelumnya, pada sebagian nabi, kekuasaan berada di tangan orang lain. Namun Allah menghendaki pada Daud terkumpul keduanya.Setelah Allah memberikan kemenangan, mereka pun hidup tenteram di negeri mereka. Mereka dapat beribadah kepada Allah dengan aman dan tenang, karena musuh-musuh mereka telah dikalahkan dan mereka diberi kekuasaan di bumi. Semua itu adalah buah dari jihad di jalan Allah. Seandainya jihad tidak disyariatkan, niscaya keadaan aman dan kemuliaan itu tidak akan terwujud.Karena itu Allah berfirman,{ وَلَوْلَا دَفْعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ ٱلْأَرْضُ }“Dan seandainya Allah tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini.”Artinya, seandainya Allah tidak menahan kejahatan orang-orang fajir dan kekafiran orang-orang kafir melalui kaum beriman yang berjuang di jalan-Nya, niscaya bumi akan rusak. Orang-orang kafir akan menguasainya, menegakkan syiar kekafiran, serta menghalangi manusia dari beribadah kepada Allah dan menampakkan agama-Nya.Namun Allah menutup ayat tersebut dengan firman-Nya,{ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ }“Tetapi Allah memiliki karunia yang besar atas seluruh alam.”Di antara karunia-Nya adalah disyariatkannya jihad yang menjadi sebab kebahagiaan manusia dan perlindungan mereka. Allah pula yang memberikan kekuasaan di bumi melalui sebab-sebab yang mereka ketahui dan sebab-sebab lain yang tidak mereka ketahui. Pelajaran dari Kisah Thalut, Jalut, dan Nabi Daud ‘alaihis salamAllah Ta’ala berfirman,تِلْكَ ءَايَٰتُ ٱللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِٱلْحَقِّ ۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ“Itu adalah ayat-ayat dari Allah, Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus.” (QS. Al-Baqarah: 252)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Kemudian Allah Ta’ala berfirman:{ تِلْكَ آيَاتُ ٱللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِٱلْحَقِّ }“Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan benar.”Maksudnya, kisah-kisah itu adalah ayat-ayat Allah yang dibacakan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan penuh kebenaran, tanpa keraguan sedikit pun. Di dalamnya terkandung pelajaran, perenungan, dan penjelasan hakikat berbagai peristiwa.Lalu Allah menegaskan:{ وَإِنَّكَ لَمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ }“Dan sesungguhnya engkau benar-benar termasuk para rasul.”Ini adalah persaksian langsung dari Allah atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ. Di antara bukti kerasulan beliau adalah kisah-kisah umat terdahulu, para nabi, pengikut mereka, serta musuh-musuh mereka yang Allah ceritakan kepadanya. Tanpa wahyu dari Allah, beliau tidak mungkin mengetahui semua itu. Bahkan kaumnya pun tidak memiliki pengetahuan tentang rincian kisah tersebut. Ini menjadi bukti nyata bahwa beliau adalah Rasul yang benar, diutus dengan membawa kebenaran dan agama yang benar, untuk dimenangkan atas seluruh agama, walaupun orang-orang musyrik membencinya. Dalam kisah ini terdapat banyak tanda dan pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Di antaranya:Pertama, pentingnya persatuan para pemimpin dan tokoh masyarakat (ahlul halli wal ‘aqdi), duduk bersama mencari jalan terbaik untuk memperbaiki keadaan, memahaminya dengan baik, lalu mengamalkannya. Itulah sebab besar kemajuan dan tercapainya tujuan. Hal ini tampak ketika para pembesar Bani Israil meminta kepada nabi mereka agar ditunjuk seorang raja yang dapat menyatukan barisan dan menghimpun kekuatan mereka.Kedua, kebenaran itu semakin jelas ketika diuji dan diserang dengan berbagai syubhat. Justru ketika muncul keberatan dan pertanyaan, lalu dijawab dengan argumen yang kuat, keyakinan menjadi semakin mantap. Sebagaimana terjadi ketika mereka mempersoalkan kelayakan Thalut menjadi raja, lalu dijelaskan dengan dalil yang menenangkan hati dan menghilangkan keraguan.Ketiga, ilmu dan kebijaksanaan yang disertai dengan kekuatan untuk mengeksekusinya adalah kesempurnaan dalam kepemimpinan. Jika salah satunya hilang, maka kepemimpinan akan pincang dan membawa mudarat.Keempat, bersandar pada kemampuan diri sendiri menjadi sebab kegagalan dan kehinaan. Sebaliknya, meminta pertolongan kepada Allah, bersabar, dan bergantung kepada-Nya adalah sebab kemenangan.Yang pertama tampak dalam ucapan mereka,{ وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا }“Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami telah diusir dari negeri kami dan anak-anak kami?”Seolah-olah mereka yakin pada diri sendiri. Namun ketika benar-benar diwajibkan berperang, mereka justru berpaling.Adapun sikap yang kedua tampak dalam doa orang-orang beriman ketika berhadapan dengan Jalut dan tentaranya,{ وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ قَالُوا رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ ٱللَّهِ }“Dan ketika mereka maju menghadapi Jalut dan tentaranya, mereka berdoa: ‘Wahai Rabb kami, limpahkanlah kepada kami kesabaran, teguhkanlah langkah kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir.’ Maka mereka pun mengalahkan musuh-musuhnya dengan izin Allah.”Kelima, termasuk hikmah Allah adalah membedakan yang buruk dari yang baik, yang jujur dari yang dusta, yang sabar dari yang pengecut. Allah tidak membiarkan manusia bercampur tanpa ujian dan tanpa penyaringan.Keenam, termasuk rahmat dan sunnatullah yang berlaku adalah bahwa Allah menolak kerusakan dan bahaya orang-orang kafir serta munafik melalui orang-orang beriman yang berjuang. Seandainya tidak demikian, niscaya bumi ini rusak karena kekuasaan kekafiran dan simbol-simbolnya yang merajalela. Semoga kisah ini meneguhkan hati kita untuk selalu tunduk pada pilihan Allah, tidak terpedaya oleh jumlah dan kemampuan diri, serta istiqamah bersabar di saat ujian.Ya Allah, limpahkan kepada kami kesabaran, teguhkan langkah kami dalam ketaatan, dan tolonglah kami atas hawa nafsu serta segala kebatilan. Jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas, kuat tawakalnya, dan Engkau anugerahi ketenteraman serta kemenangan dengan izin-Mu. Aamiin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Jumat di waktu sahur, 3 Ramadhan 1447 H @ Makkah Al-MukarramahPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscerita nabi jalut kisah para nabi nabi daud renungan ayat renungan quran thalut
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 246–252, Allah mengisahkan Bani Israil yang meminta pemimpin untuk berjihad, namun banyak yang mundur ketika ujian benar-benar datang. Dari penunjukan Thalut, kembalinya tabut yang membawa sakinah, hingga ujian sungai, Allah menampakkan siapa yang tulus dan siapa yang rapuh. Kisah ini berpuncak pada kemenangan atas Jalut dan munculnya Nabi Daud ‘alaihis salam, sebagai pelajaran bahwa kemenangan diraih dengan iman, kesabaran, dan pertolongan Allah.  Daftar Isi tutup 1. Meminta Jihad, Namun Mundur Saat Diuji 2. Hakikat Kepemimpinan: Ilmu dan Kekuatan, Bukan Harta 3. Tanda Kekuasaan Thalut: Datangnya Tabut yang Membawa Sakinah 4. Ketika Allah Menguji Pasukan Thalut 5. Tidak Bersandar kepada Jumlah dan Kemampuan Diri, Bersandarlah kepada Allah 6. Saat Daud Menumbangkan Jalut 7. Pelajaran dari Kisah Thalut, Jalut, dan Nabi Daud ‘alaihis salam  Meminta Jihad, Namun Mundur Saat DiujiAllah Ta’ala berfirman,أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلْمَلَإِ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰٓ إِذْ قَالُوا۟ لِنَبِىٍّ لَّهُمُ ٱبْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَٰتِلْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ أَلَّا تُقَٰتِلُوا۟ ۖ قَالُوا۟ وَمَا لَنَآ أَلَّا نُقَٰتِلَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَٰرِنَا وَأَبْنَآئِنَا ۖ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ ٱلْقِتَالُ تَوَلَّوْا۟ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ“Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 246)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Allah Ta’ala menceritakan kepada Nabi-Nya kisah para pembesar Bani Israil, yaitu kalangan terhormat dan para pemimpin mereka. Mereka disebut secara khusus karena biasanya merekalah yang paling dahulu memikirkan kepentingan bersama. Jika mereka telah sepakat dalam suatu urusan, maka orang-orang di bawah mereka akan mengikuti keputusan tersebut.Dikisahkan bahwa mereka mendatangi seorang nabi mereka setelah wafatnya Nabi Musa ‘alaihis salam. Mereka berkata,{ ٱبْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَٰتِلْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ }“Angkatlah untuk kami seorang raja agar kami dapat berperang di jalan Allah.”Maksud mereka adalah: tunjuklah seorang pemimpin yang dapat menyatukan barisan kami yang tercerai-berai, sehingga kami mampu menghadapi musuh bersama. Pada saat itu, kemungkinan besar mereka tidak memiliki seorang pemimpin tunggal yang dapat mempersatukan mereka. Sebagaimana kebiasaan kabilah-kabilah besar, masing-masing enggan dipimpin oleh tokoh dari kabilah lain. Karena itu, mereka meminta nabi mereka untuk menunjuk seorang raja yang bisa diterima semua pihak dan sesuai dengan tradisi mereka.Pada masa itu, para nabi Bani Israil berfungsi sebagai pemimpin dan pengatur urusan mereka. Setiap kali seorang nabi wafat, digantikan oleh nabi berikutnya.Ketika mereka menyampaikan permintaan tersebut, nabi mereka berkata,{ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا }“Jangan-jangan jika diwajibkan atas kalian berperang, kalian justru tidak akan melaksanakannya.”Maksudnya, jangan sampai kalian meminta sesuatu yang kelak, ketika benar-benar diwajibkan, kalian tidak sanggup menjalaninya. Nabi mereka seakan menawarkan pilihan untuk tidak terburu-buru meminta kewajiban berat itu, namun mereka tetap bersikeras dan merasa yakin dengan tekad serta niat mereka.Mereka menjawab,{ وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَٰرِنَا وَأَبْنَائِنَا }“Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami telah diusir dari negeri kami dan anak-anak kami (ditawan)?”Artinya, apa lagi yang menghalangi kami untuk berperang? Kami sudah terusir dari tanah air kami dan anak-anak kami pun ditawan. Keadaan ini saja sudah cukup menjadi alasan bagi kami untuk berperang, meskipun itu belum diwajibkan. Maka bagaimana mungkin kami tidak berperang jika sudah benar-benar diwajibkan?Namun, ketika niat mereka ternyata tidak tulus dan tawakal mereka kepada Allah lemah, maka apa yang dikhawatirkan itu pun terjadi. Allah berfirman,{ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ ٱلْقِتَالُ تَوَلَّوْا }“Maka ketika diwajibkan atas mereka berperang, mereka pun berpaling.”Mereka menjadi pengecut, tidak berani menghadapi musuh, dan tidak sanggup menghadapi pertempuran. Tekad yang sebelumnya mereka banggakan pun sirna. Rasa lemah dan takut menguasai sebagian besar dari mereka.Allah melanjutkan,{ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ }“Kecuali sedikit dari mereka.”Hanya segelintir orang yang Allah jaga, teguhkan, dan kuatkan hatinya. Mereka benar-benar menjalankan perintah Allah dan mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh. Mereka inilah yang meraih kemuliaan dunia dan akhirat.Adapun mayoritas mereka telah menzalimi diri sendiri dengan meninggalkan perintah Allah. Karena itulah Allah menutup ayat tersebut dengan firman-Nya,{ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ }“Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.”Tidak ada satu pun kedustaan niat dan kelemahan tekad yang tersembunyi dari-Nya. Catatan:Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir disebutkan:Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah, bahwa nabi yang dimaksud dalam kisah tersebut adalah Yusya’ bin Nun.Ibnu Jarir menjelaskan bahwa ia adalah Yusya’ bin Afratsim bin Yusuf bin Ya‘qub.Namun pendapat ini dinilai lemah. Sebab peristiwa tersebut terjadi lama setelah Nabi Musa ‘alaihis salam. Bahkan, sebagaimana disebutkan secara jelas dalam kisah itu, peristiwa tersebut terjadi pada masa Nabi Daud ‘alaihis salam. Padahal jarak waktu antara Nabi Musa dan Nabi Daud lebih dari seribu tahun. Wallahu a‘lam.As-Suddi berpendapat bahwa nabi tersebut adalah Syam‘un.Sedangkan Mujahid mengatakan bahwa ia adalah Nabi Syamwil ‘alaihis salam.Pendapat ini juga dikemukakan oleh Muhammad bin Ishaq, yang meriwayatkannya dari Wahb bin Munabbih. Ia menjelaskan bahwa nasabnya adalah: Syamwil bin Bali bin ‘Alqamah bin Yarkham bin Ilyahu bin Tahu bin Shuf bin ‘Alqamah bin Mahats bin ‘Amusha bin ‘Azarya bin Shafniyah bin ‘Alqamah bin Abi Yasaf bin Qarun bin Yashar bin Qahits bin Lawi bin Ya‘qub bin Ishaq bin Ibrahim Al-Khalil ‘alaihis salam. Hakikat Kepemimpinan: Ilmu dan Kekuatan, Bukan HartaAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ٱللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوٓا۟ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ ٱلْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِٱلْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ ٱلْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُۥ بَسْطَةً فِى ٱلْعِلْمِ وَٱلْجِسْمِ ۖ وَٱللَّهُ يُؤْتِى مُلْكَهُۥ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 247)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Allah berfirman tentang jawaban nabi mereka atas permintaan Bani Israil:{ وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ٱللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا }“Dan nabi mereka berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut sebagai raja bagi kalian.’”Ini adalah penunjukan langsung dari Allah. Seharusnya mereka menerima dengan patuh, tunduk, dan tidak membantah. Namun, mereka justru menolak dan mengajukan keberatan.Mereka berkata:{ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ ٱلْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِٱلْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ ٱلْمَالِ }“Bagaimana mungkin ia menjadi raja atas kami, padahal kami lebih berhak atas kerajaan itu darinya, dan ia pun tidak diberi kelapangan harta?”Maksud mereka, bagaimana mungkin ia memimpin kami, sementara dari sisi nasab dan kedudukan sosial ia tidak lebih mulia daripada kami? Bahkan ia juga bukan orang kaya yang memiliki harta cukup untuk menopang kekuasaan.Keberatan ini dibangun atas anggapan yang keliru. Mereka mengira bahwa kepemimpinan dan kekuasaan harus didasarkan pada kemuliaan nasab dan banyaknya harta. Mereka tidak memahami bahwa kualitas hakiki yang menjadikan seseorang layak memimpin jauh lebih utama daripada sekadar keturunan dan kekayaan.Karena itu nabi mereka menjawab:{ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰهُ عَلَيْكُمْ }“Sesungguhnya Allah telah memilihnya atas kalian.”Artinya, Allah sendirilah yang memilihnya. Maka kewajiban kalian adalah tunduk dan menerima keputusan tersebut.Kemudian beliau menjelaskan alasan pemilihannya:{ وَزَادَهُۥ بَسْطَةً فِي ٱلْعِلْمِ وَٱلْجِسْمِ }“Dan Allah menganugerahkan kepadanya kelebihan dalam ilmu dan fisik.”Thalut diberi keunggulan dalam keluasan ilmu serta kekuatan jasmani. Dua hal inilah yang sangat menentukan keberhasilan seorang pemimpin. Dengan ilmu, ia memiliki pandangan yang matang, kebijaksanaan, dan keputusan yang tepat. Dengan kekuatan fisik, ia mampu menegakkan keputusan itu dan menghadapi berbagai tantangan.Jika seorang pemimpin kuat secara fisik tetapi lemah dalam pemikiran, maka kekuasaan akan berubah menjadi tindakan sewenang-wenang, keras tanpa hikmah, dan menyimpang dari kebenaran. Sebaliknya, jika ia cerdas dan berilmu tetapi tidak memiliki kekuatan untuk menegakkan keputusannya, maka ilmunya tidak akan memberi manfaat dalam praktik kepemimpinan.Allah menutup penjelasan itu dengan firman-Nya,{ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ }“Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”Artinya, Allah Mahaluas karunia dan anugerah-Nya. Dia tidak membatasi rahmat-Nya hanya pada orang tertentu, tidak pula hanya kepada kalangan terpandang atau kaya. Namun, Allah Maha Mengetahui siapa yang pantas menerima karunia tersebut dan menempatkannya pada tempat yang tepat.Dengan penjelasan ini, gugurlah semua keraguan, syubhat, dan keberatan yang ada di hati mereka. Sebab telah jelas bahwa sebab-sebab kepemimpinan ada pada Thalut, dan bahwa karunia Allah diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya dan tidak ada yang mampu menghalangi kebaikan-Nya.Catatan:Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:Thalut bukan dari jalur keluarga raja. Ia seorang yang miskin, tidak memiliki harta yang dianggap cukup untuk menopang kekuasaan. Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa ia dahulu bekerja sebagai pengambil air (penyedia air), dan ada pula yang mengatakan ia seorang penyamak kulit.Thalut diberi keunggulan dibanding kalian: lebih berilmu, lebih mulia penampilan dan kepribadiannya, lebih kuat fisiknya, lebih sabar dalam peperangan, serta lebih paham urusan perang. Dengan kata lain, ia lebih sempurna dalam ilmu dan postur dibanding kalian.Dari sini dapat dipahami bahwa seorang raja atau pemimpin idealnya memiliki ilmu, penampilan yang baik (wibawa), dan kekuatan fisik serta mental yang besar. Tanda Kekuasaan Thalut: Datangnya Tabut yang Membawa SakinahAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ءَايَةَ مُلْكِهِۦٓ أَن يَأْتِيَكُمُ ٱلتَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَىٰ وَءَالُ هَٰرُونَ تَحْمِلُهُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 248)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Kemudian nabi mereka juga menyebutkan kepada mereka sebuah tanda yang nyata dan bisa mereka saksikan langsung, yaitu kembalinya tabut (peti suci) yang telah lama hilang dari tengah-tengah mereka.Di dalam tabut itu terdapat ketenangan (sakinah) yang membuat hati mereka menjadi tenteram dan pikiran mereka menjadi tenang. Di dalamnya juga terdapat peninggalan dari keluarga Nabi Musa dan keluarga Nabi Harun ‘alaihimassalam, berupa sisa-sisa warisan yang mulia.Allah berfirman tentang tanda tersebut,{ وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ ٱلتَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَىٰ وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ ٱلْمَلَائِكَةُ }“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat.’”Tabut itu benar-benar datang dalam keadaan dibawa oleh para malaikat, sementara mereka menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Ini menjadi bukti yang sangat jelas dan tanda yang tidak bisa dibantah lagi tentang kebenaran kepemimpinan Thalut.Catatan: Dalam kisah Thalut dan Jalut (QS. Al-Baqarah: 248), Tabut (peti/kotak) adalah peti suci peninggalan Nabi Musa dan Harun yang membawa sakinah (ketenangan) dan sisa warisan berharga dari keluarga mereka. Tabut ini menjadi simbol kepemimpinan, legitimasi kekuasaan Thalut, serta wahyu Allah yang memberikan kekuatan dan ketenteraman hati bagi Bani Israil dalam menghadapi peperangan. Ketika Allah Menguji Pasukan ThalutAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِٱلْجُنُودِ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّى وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُۥ مِنِّىٓ إِلَّا مَنِ ٱغْتَرَفَ غُرْفَةًۢ بِيَدِهِۦ ۚ فَشَرِبُوا۟ مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُۥ هُوَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ قَالُوا۟ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ ۚ قَالَ ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَٰقُوا۟ ٱللَّهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةًۢ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku”. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya”. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.” (QS. Al-Baqarah: 249)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Maksudnya, ketika Thalut telah resmi menjadi raja atas Bani Israil dan kekuasaannya telah stabil, mereka pun bersiap untuk menghadapi musuh. Saat Thalut berangkat bersama pasukan Bani Israil—yang jumlahnya sangat banyak—Allah memerintahkan agar mereka diuji, supaya tampak siapa yang teguh dan siapa yang lemah.Thalut berkata:{ إِنَّ ٱللَّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّيٓ إِلَّا مَنِ ٱغْتَرَفَ غُرْفَةًۢ بِيَدِهِ }“Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.”Artinya, siapa yang minum secara berlebihan dari sungai itu, berarti ia telah melanggar perintah dan tidak layak ikut dalam barisan. Sebab ia tidak mampu bersabar dan tidak teguh dalam ketaatan. Adapun yang tidak meminumnya sama sekali, ia termasuk golongan yang taat. Sementara yang hanya mengambil satu cidukan dengan tangan, tidak mengapa. Bisa jadi Allah menjadikan sedikit air itu cukup baginya.Ujian ini menunjukkan bahwa persediaan air ketika itu sangat terbatas, sehingga benar-benar menjadi sarana penyaringan yang nyata. Namun mayoritas mereka gagal. Mereka minum sebanyak-banyaknya dari sungai tersebut, melanggar larangan, lalu akhirnya kembali pulang dan mundur dari medan perang.Ketidakmampuan mereka menahan diri dari air hanya dalam waktu singkat menjadi bukti bahwa mereka tidak akan sanggup bersabar menghadapi peperangan panjang dan berat. Mundurnya sebagian besar pasukan justru membuat orang-orang yang tersisa semakin bertawakal kepada Allah, semakin merendahkan diri, dan semakin melepaskan ketergantungan pada kekuatan pribadi. Dengan jumlah yang sedikit dan musuh yang jauh lebih besar, kesabaran mereka justru semakin kuat.Allah berfirman,{ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَٱلَّذِينَ آمَنُوا۟ مَعَهُ }“Maka ketika ia (Thalut) dan orang-orang beriman bersamanya telah menyeberangi sungai itu…”Yaitu mereka yang taat dan tidak melanggar perintah minum. Ketika mereka melihat betapa sedikitnya jumlah mereka dan betapa banyaknya musuh, sebagian dari mereka berkata,{ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ }“Kami tidak sanggup pada hari ini menghadapi Jalut dan pasukannya.”Mereka merasa gentar melihat jumlah dan persenjataan musuh.Namun orang-orang yang yakin akan pertemuan dengan Allah—yaitu mereka yang imannya kokoh dan keyakinannya kuat—menenangkan dan menasihati yang lain dengan berkata,{ كَم مِّن فِئَةٍۢ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةًۭ كَثِيرَةًۢ بِإِذْنِ ٱللَّهِ }“Betapa banyak kelompok kecil mampu mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.”Maksudnya, kemenangan bukan ditentukan oleh jumlah. Segala urusan berada di tangan Allah. Siapa yang dimuliakan Allah, dialah yang mulia; siapa yang dihinakan-Nya, dialah yang hina. Banyaknya jumlah tidak berguna jika Allah tidak menolong, dan sedikitnya jumlah tidak berbahaya jika Allah memberikan pertolongan.Baca juga: Perang Hunain: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin KemenanganAllah menegaskan,{ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ }“Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.”Kebersamaan Allah di sini adalah dalam bentuk pertolongan, bantuan, dan taufik. Sebab yang paling besar mendatangkan pertolongan Allah adalah kesabaran seorang hamba karena Allah.Baca juga: Allah Di Atas ‘Arsy-Nya, Namun Allah juga Bersama dan Dekat dengan Hamba-NyaNasihat itu pun meresap ke dalam hati mereka, menguatkan tekad, dan menghidupkan kembali keberanian dalam jiwa mereka. Tidak Bersandar kepada Jumlah dan Kemampuan Diri, Bersandarlah kepada AllahAllah Ta’ala berfirman,وَلَمَّا بَرَزُوا۟ لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ قَالُوا۟ رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ“Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”.” (QS. Al-Baqarah: 250)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Karena itu, ketika mereka telah benar-benar berhadapan dengan Jalut dan pasukannya, mereka semua berdoa dengan penuh kerendahan hati:{ رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَافِرِينَ }RABBANAA AFRIGH ‘ALAINAA SHABRAN WA TSABBIT AQDAAMANAA WANSHURNAA ‘ALAL QAUMIL KAAFIRIIN“Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”Maksudnya, kuatkanlah hati kami, karuniakanlah kepada kami kesabaran yang sempurna, dan jangan Engkau biarkan kami goyah atau lari dari medan pertempuran. Teguhkanlah langkah kami agar tetap kokoh dalam menghadapi musuh, dan berikanlah kemenangan atas orang-orang kafir.Doa ini menunjukkan bahwa mereka tidak lagi bersandar pada kekuatan jumlah atau kemampuan diri, tetapi sepenuhnya menggantungkan harapan kepada Allah. Mereka memohon kekuatan hati sebelum meminta kemenangan, karena kemenangan sejati lahir dari kesabaran dan keteguhan yang Allah tanamkan dalam jiwa hamba-Nya. Saat Daud Menumbangkan JalutAllah Ta’ala berfirman,فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ ٱللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ جَالُوتَ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ وَٱلْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُۥ مِمَّا يَشَآءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ ٱلْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (QS. Al-Baqarah: 251)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Dari kisah ini kita mengetahui bahwa Jalut dan pasukannya adalah orang-orang kafir. Allah pun mengabulkan doa kaum beriman itu, karena mereka telah menempuh sebab-sebab yang mendatangkan pertolongan: bersabar, bertawakal, dan memohon kepada-Nya.Allah berfirman,{ فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ ٱللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ جَالُوتَ }“Maka mereka mengalahkan musuh-musuhnya dengan izin Allah, dan Dawud membunuh Jalut.”Nabi Daud ‘alaihis salam ketika itu berada di barisan pasukan Thalut. Beliaulah yang secara langsung membunuh Jalut, raja kaum kafir, dengan tangannya sendiri. Hal itu menunjukkan keberanian, kekuatan, dan kesabarannya.Kemudian Allah berfirman,{ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ وَٱلْحِكْمَةَ }“Dan Allah menganugerahinya kerajaan dan hikmah.”Artinya, Allah memberikan kepada Daud kekuasaan atas Bani Israil sekaligus hikmah, yaitu kenabian yang mengandung syariat agung dan jalan yang lurus.Selanjutnya Allah berfirman:{ وَعَلَّمَهُۥ مِمَّا يَشَآءُ }“Dan Allah mengajarinya apa yang Dia kehendaki.”Yakni Allah mengajarkan kepadanya berbagai ilmu, baik ilmu syariat maupun ilmu pemerintahan dan strategi. Pada diri Daud terkumpul dua kemuliaan sekaligus: kerajaan dan kenabian. Padahal sebelumnya, pada sebagian nabi, kekuasaan berada di tangan orang lain. Namun Allah menghendaki pada Daud terkumpul keduanya.Setelah Allah memberikan kemenangan, mereka pun hidup tenteram di negeri mereka. Mereka dapat beribadah kepada Allah dengan aman dan tenang, karena musuh-musuh mereka telah dikalahkan dan mereka diberi kekuasaan di bumi. Semua itu adalah buah dari jihad di jalan Allah. Seandainya jihad tidak disyariatkan, niscaya keadaan aman dan kemuliaan itu tidak akan terwujud.Karena itu Allah berfirman,{ وَلَوْلَا دَفْعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ ٱلْأَرْضُ }“Dan seandainya Allah tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini.”Artinya, seandainya Allah tidak menahan kejahatan orang-orang fajir dan kekafiran orang-orang kafir melalui kaum beriman yang berjuang di jalan-Nya, niscaya bumi akan rusak. Orang-orang kafir akan menguasainya, menegakkan syiar kekafiran, serta menghalangi manusia dari beribadah kepada Allah dan menampakkan agama-Nya.Namun Allah menutup ayat tersebut dengan firman-Nya,{ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ }“Tetapi Allah memiliki karunia yang besar atas seluruh alam.”Di antara karunia-Nya adalah disyariatkannya jihad yang menjadi sebab kebahagiaan manusia dan perlindungan mereka. Allah pula yang memberikan kekuasaan di bumi melalui sebab-sebab yang mereka ketahui dan sebab-sebab lain yang tidak mereka ketahui. Pelajaran dari Kisah Thalut, Jalut, dan Nabi Daud ‘alaihis salamAllah Ta’ala berfirman,تِلْكَ ءَايَٰتُ ٱللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِٱلْحَقِّ ۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ“Itu adalah ayat-ayat dari Allah, Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus.” (QS. Al-Baqarah: 252)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Kemudian Allah Ta’ala berfirman:{ تِلْكَ آيَاتُ ٱللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِٱلْحَقِّ }“Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan benar.”Maksudnya, kisah-kisah itu adalah ayat-ayat Allah yang dibacakan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan penuh kebenaran, tanpa keraguan sedikit pun. Di dalamnya terkandung pelajaran, perenungan, dan penjelasan hakikat berbagai peristiwa.Lalu Allah menegaskan:{ وَإِنَّكَ لَمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ }“Dan sesungguhnya engkau benar-benar termasuk para rasul.”Ini adalah persaksian langsung dari Allah atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ. Di antara bukti kerasulan beliau adalah kisah-kisah umat terdahulu, para nabi, pengikut mereka, serta musuh-musuh mereka yang Allah ceritakan kepadanya. Tanpa wahyu dari Allah, beliau tidak mungkin mengetahui semua itu. Bahkan kaumnya pun tidak memiliki pengetahuan tentang rincian kisah tersebut. Ini menjadi bukti nyata bahwa beliau adalah Rasul yang benar, diutus dengan membawa kebenaran dan agama yang benar, untuk dimenangkan atas seluruh agama, walaupun orang-orang musyrik membencinya. Dalam kisah ini terdapat banyak tanda dan pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Di antaranya:Pertama, pentingnya persatuan para pemimpin dan tokoh masyarakat (ahlul halli wal ‘aqdi), duduk bersama mencari jalan terbaik untuk memperbaiki keadaan, memahaminya dengan baik, lalu mengamalkannya. Itulah sebab besar kemajuan dan tercapainya tujuan. Hal ini tampak ketika para pembesar Bani Israil meminta kepada nabi mereka agar ditunjuk seorang raja yang dapat menyatukan barisan dan menghimpun kekuatan mereka.Kedua, kebenaran itu semakin jelas ketika diuji dan diserang dengan berbagai syubhat. Justru ketika muncul keberatan dan pertanyaan, lalu dijawab dengan argumen yang kuat, keyakinan menjadi semakin mantap. Sebagaimana terjadi ketika mereka mempersoalkan kelayakan Thalut menjadi raja, lalu dijelaskan dengan dalil yang menenangkan hati dan menghilangkan keraguan.Ketiga, ilmu dan kebijaksanaan yang disertai dengan kekuatan untuk mengeksekusinya adalah kesempurnaan dalam kepemimpinan. Jika salah satunya hilang, maka kepemimpinan akan pincang dan membawa mudarat.Keempat, bersandar pada kemampuan diri sendiri menjadi sebab kegagalan dan kehinaan. Sebaliknya, meminta pertolongan kepada Allah, bersabar, dan bergantung kepada-Nya adalah sebab kemenangan.Yang pertama tampak dalam ucapan mereka,{ وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا }“Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami telah diusir dari negeri kami dan anak-anak kami?”Seolah-olah mereka yakin pada diri sendiri. Namun ketika benar-benar diwajibkan berperang, mereka justru berpaling.Adapun sikap yang kedua tampak dalam doa orang-orang beriman ketika berhadapan dengan Jalut dan tentaranya,{ وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ قَالُوا رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ ٱللَّهِ }“Dan ketika mereka maju menghadapi Jalut dan tentaranya, mereka berdoa: ‘Wahai Rabb kami, limpahkanlah kepada kami kesabaran, teguhkanlah langkah kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir.’ Maka mereka pun mengalahkan musuh-musuhnya dengan izin Allah.”Kelima, termasuk hikmah Allah adalah membedakan yang buruk dari yang baik, yang jujur dari yang dusta, yang sabar dari yang pengecut. Allah tidak membiarkan manusia bercampur tanpa ujian dan tanpa penyaringan.Keenam, termasuk rahmat dan sunnatullah yang berlaku adalah bahwa Allah menolak kerusakan dan bahaya orang-orang kafir serta munafik melalui orang-orang beriman yang berjuang. Seandainya tidak demikian, niscaya bumi ini rusak karena kekuasaan kekafiran dan simbol-simbolnya yang merajalela. Semoga kisah ini meneguhkan hati kita untuk selalu tunduk pada pilihan Allah, tidak terpedaya oleh jumlah dan kemampuan diri, serta istiqamah bersabar di saat ujian.Ya Allah, limpahkan kepada kami kesabaran, teguhkan langkah kami dalam ketaatan, dan tolonglah kami atas hawa nafsu serta segala kebatilan. Jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas, kuat tawakalnya, dan Engkau anugerahi ketenteraman serta kemenangan dengan izin-Mu. Aamiin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Jumat di waktu sahur, 3 Ramadhan 1447 H @ Makkah Al-MukarramahPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscerita nabi jalut kisah para nabi nabi daud renungan ayat renungan quran thalut


Dalam Surah Al-Baqarah ayat 246–252, Allah mengisahkan Bani Israil yang meminta pemimpin untuk berjihad, namun banyak yang mundur ketika ujian benar-benar datang. Dari penunjukan Thalut, kembalinya tabut yang membawa sakinah, hingga ujian sungai, Allah menampakkan siapa yang tulus dan siapa yang rapuh. Kisah ini berpuncak pada kemenangan atas Jalut dan munculnya Nabi Daud ‘alaihis salam, sebagai pelajaran bahwa kemenangan diraih dengan iman, kesabaran, dan pertolongan Allah.  Daftar Isi tutup 1. Meminta Jihad, Namun Mundur Saat Diuji 2. Hakikat Kepemimpinan: Ilmu dan Kekuatan, Bukan Harta 3. Tanda Kekuasaan Thalut: Datangnya Tabut yang Membawa Sakinah 4. Ketika Allah Menguji Pasukan Thalut 5. Tidak Bersandar kepada Jumlah dan Kemampuan Diri, Bersandarlah kepada Allah 6. Saat Daud Menumbangkan Jalut 7. Pelajaran dari Kisah Thalut, Jalut, dan Nabi Daud ‘alaihis salam  Meminta Jihad, Namun Mundur Saat DiujiAllah Ta’ala berfirman,أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلْمَلَإِ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰٓ إِذْ قَالُوا۟ لِنَبِىٍّ لَّهُمُ ٱبْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَٰتِلْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ أَلَّا تُقَٰتِلُوا۟ ۖ قَالُوا۟ وَمَا لَنَآ أَلَّا نُقَٰتِلَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَٰرِنَا وَأَبْنَآئِنَا ۖ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ ٱلْقِتَالُ تَوَلَّوْا۟ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ“Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 246)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Allah Ta’ala menceritakan kepada Nabi-Nya kisah para pembesar Bani Israil, yaitu kalangan terhormat dan para pemimpin mereka. Mereka disebut secara khusus karena biasanya merekalah yang paling dahulu memikirkan kepentingan bersama. Jika mereka telah sepakat dalam suatu urusan, maka orang-orang di bawah mereka akan mengikuti keputusan tersebut.Dikisahkan bahwa mereka mendatangi seorang nabi mereka setelah wafatnya Nabi Musa ‘alaihis salam. Mereka berkata,{ ٱبْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَٰتِلْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ }“Angkatlah untuk kami seorang raja agar kami dapat berperang di jalan Allah.”Maksud mereka adalah: tunjuklah seorang pemimpin yang dapat menyatukan barisan kami yang tercerai-berai, sehingga kami mampu menghadapi musuh bersama. Pada saat itu, kemungkinan besar mereka tidak memiliki seorang pemimpin tunggal yang dapat mempersatukan mereka. Sebagaimana kebiasaan kabilah-kabilah besar, masing-masing enggan dipimpin oleh tokoh dari kabilah lain. Karena itu, mereka meminta nabi mereka untuk menunjuk seorang raja yang bisa diterima semua pihak dan sesuai dengan tradisi mereka.Pada masa itu, para nabi Bani Israil berfungsi sebagai pemimpin dan pengatur urusan mereka. Setiap kali seorang nabi wafat, digantikan oleh nabi berikutnya.Ketika mereka menyampaikan permintaan tersebut, nabi mereka berkata,{ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا }“Jangan-jangan jika diwajibkan atas kalian berperang, kalian justru tidak akan melaksanakannya.”Maksudnya, jangan sampai kalian meminta sesuatu yang kelak, ketika benar-benar diwajibkan, kalian tidak sanggup menjalaninya. Nabi mereka seakan menawarkan pilihan untuk tidak terburu-buru meminta kewajiban berat itu, namun mereka tetap bersikeras dan merasa yakin dengan tekad serta niat mereka.Mereka menjawab,{ وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَٰرِنَا وَأَبْنَائِنَا }“Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami telah diusir dari negeri kami dan anak-anak kami (ditawan)?”Artinya, apa lagi yang menghalangi kami untuk berperang? Kami sudah terusir dari tanah air kami dan anak-anak kami pun ditawan. Keadaan ini saja sudah cukup menjadi alasan bagi kami untuk berperang, meskipun itu belum diwajibkan. Maka bagaimana mungkin kami tidak berperang jika sudah benar-benar diwajibkan?Namun, ketika niat mereka ternyata tidak tulus dan tawakal mereka kepada Allah lemah, maka apa yang dikhawatirkan itu pun terjadi. Allah berfirman,{ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ ٱلْقِتَالُ تَوَلَّوْا }“Maka ketika diwajibkan atas mereka berperang, mereka pun berpaling.”Mereka menjadi pengecut, tidak berani menghadapi musuh, dan tidak sanggup menghadapi pertempuran. Tekad yang sebelumnya mereka banggakan pun sirna. Rasa lemah dan takut menguasai sebagian besar dari mereka.Allah melanjutkan,{ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ }“Kecuali sedikit dari mereka.”Hanya segelintir orang yang Allah jaga, teguhkan, dan kuatkan hatinya. Mereka benar-benar menjalankan perintah Allah dan mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh. Mereka inilah yang meraih kemuliaan dunia dan akhirat.Adapun mayoritas mereka telah menzalimi diri sendiri dengan meninggalkan perintah Allah. Karena itulah Allah menutup ayat tersebut dengan firman-Nya,{ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ }“Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.”Tidak ada satu pun kedustaan niat dan kelemahan tekad yang tersembunyi dari-Nya. Catatan:Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir disebutkan:Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah, bahwa nabi yang dimaksud dalam kisah tersebut adalah Yusya’ bin Nun.Ibnu Jarir menjelaskan bahwa ia adalah Yusya’ bin Afratsim bin Yusuf bin Ya‘qub.Namun pendapat ini dinilai lemah. Sebab peristiwa tersebut terjadi lama setelah Nabi Musa ‘alaihis salam. Bahkan, sebagaimana disebutkan secara jelas dalam kisah itu, peristiwa tersebut terjadi pada masa Nabi Daud ‘alaihis salam. Padahal jarak waktu antara Nabi Musa dan Nabi Daud lebih dari seribu tahun. Wallahu a‘lam.As-Suddi berpendapat bahwa nabi tersebut adalah Syam‘un.Sedangkan Mujahid mengatakan bahwa ia adalah Nabi Syamwil ‘alaihis salam.Pendapat ini juga dikemukakan oleh Muhammad bin Ishaq, yang meriwayatkannya dari Wahb bin Munabbih. Ia menjelaskan bahwa nasabnya adalah: Syamwil bin Bali bin ‘Alqamah bin Yarkham bin Ilyahu bin Tahu bin Shuf bin ‘Alqamah bin Mahats bin ‘Amusha bin ‘Azarya bin Shafniyah bin ‘Alqamah bin Abi Yasaf bin Qarun bin Yashar bin Qahits bin Lawi bin Ya‘qub bin Ishaq bin Ibrahim Al-Khalil ‘alaihis salam. Hakikat Kepemimpinan: Ilmu dan Kekuatan, Bukan HartaAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ٱللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوٓا۟ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ ٱلْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِٱلْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ ٱلْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُۥ بَسْطَةً فِى ٱلْعِلْمِ وَٱلْجِسْمِ ۖ وَٱللَّهُ يُؤْتِى مُلْكَهُۥ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 247)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Allah berfirman tentang jawaban nabi mereka atas permintaan Bani Israil:{ وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ٱللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا }“Dan nabi mereka berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut sebagai raja bagi kalian.’”Ini adalah penunjukan langsung dari Allah. Seharusnya mereka menerima dengan patuh, tunduk, dan tidak membantah. Namun, mereka justru menolak dan mengajukan keberatan.Mereka berkata:{ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ ٱلْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِٱلْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ ٱلْمَالِ }“Bagaimana mungkin ia menjadi raja atas kami, padahal kami lebih berhak atas kerajaan itu darinya, dan ia pun tidak diberi kelapangan harta?”Maksud mereka, bagaimana mungkin ia memimpin kami, sementara dari sisi nasab dan kedudukan sosial ia tidak lebih mulia daripada kami? Bahkan ia juga bukan orang kaya yang memiliki harta cukup untuk menopang kekuasaan.Keberatan ini dibangun atas anggapan yang keliru. Mereka mengira bahwa kepemimpinan dan kekuasaan harus didasarkan pada kemuliaan nasab dan banyaknya harta. Mereka tidak memahami bahwa kualitas hakiki yang menjadikan seseorang layak memimpin jauh lebih utama daripada sekadar keturunan dan kekayaan.Karena itu nabi mereka menjawab:{ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰهُ عَلَيْكُمْ }“Sesungguhnya Allah telah memilihnya atas kalian.”Artinya, Allah sendirilah yang memilihnya. Maka kewajiban kalian adalah tunduk dan menerima keputusan tersebut.Kemudian beliau menjelaskan alasan pemilihannya:{ وَزَادَهُۥ بَسْطَةً فِي ٱلْعِلْمِ وَٱلْجِسْمِ }“Dan Allah menganugerahkan kepadanya kelebihan dalam ilmu dan fisik.”Thalut diberi keunggulan dalam keluasan ilmu serta kekuatan jasmani. Dua hal inilah yang sangat menentukan keberhasilan seorang pemimpin. Dengan ilmu, ia memiliki pandangan yang matang, kebijaksanaan, dan keputusan yang tepat. Dengan kekuatan fisik, ia mampu menegakkan keputusan itu dan menghadapi berbagai tantangan.Jika seorang pemimpin kuat secara fisik tetapi lemah dalam pemikiran, maka kekuasaan akan berubah menjadi tindakan sewenang-wenang, keras tanpa hikmah, dan menyimpang dari kebenaran. Sebaliknya, jika ia cerdas dan berilmu tetapi tidak memiliki kekuatan untuk menegakkan keputusannya, maka ilmunya tidak akan memberi manfaat dalam praktik kepemimpinan.Allah menutup penjelasan itu dengan firman-Nya,{ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ }“Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”Artinya, Allah Mahaluas karunia dan anugerah-Nya. Dia tidak membatasi rahmat-Nya hanya pada orang tertentu, tidak pula hanya kepada kalangan terpandang atau kaya. Namun, Allah Maha Mengetahui siapa yang pantas menerima karunia tersebut dan menempatkannya pada tempat yang tepat.Dengan penjelasan ini, gugurlah semua keraguan, syubhat, dan keberatan yang ada di hati mereka. Sebab telah jelas bahwa sebab-sebab kepemimpinan ada pada Thalut, dan bahwa karunia Allah diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya dan tidak ada yang mampu menghalangi kebaikan-Nya.Catatan:Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:Thalut bukan dari jalur keluarga raja. Ia seorang yang miskin, tidak memiliki harta yang dianggap cukup untuk menopang kekuasaan. Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa ia dahulu bekerja sebagai pengambil air (penyedia air), dan ada pula yang mengatakan ia seorang penyamak kulit.Thalut diberi keunggulan dibanding kalian: lebih berilmu, lebih mulia penampilan dan kepribadiannya, lebih kuat fisiknya, lebih sabar dalam peperangan, serta lebih paham urusan perang. Dengan kata lain, ia lebih sempurna dalam ilmu dan postur dibanding kalian.Dari sini dapat dipahami bahwa seorang raja atau pemimpin idealnya memiliki ilmu, penampilan yang baik (wibawa), dan kekuatan fisik serta mental yang besar. Tanda Kekuasaan Thalut: Datangnya Tabut yang Membawa SakinahAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ءَايَةَ مُلْكِهِۦٓ أَن يَأْتِيَكُمُ ٱلتَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَىٰ وَءَالُ هَٰرُونَ تَحْمِلُهُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 248)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Kemudian nabi mereka juga menyebutkan kepada mereka sebuah tanda yang nyata dan bisa mereka saksikan langsung, yaitu kembalinya tabut (peti suci) yang telah lama hilang dari tengah-tengah mereka.Di dalam tabut itu terdapat ketenangan (sakinah) yang membuat hati mereka menjadi tenteram dan pikiran mereka menjadi tenang. Di dalamnya juga terdapat peninggalan dari keluarga Nabi Musa dan keluarga Nabi Harun ‘alaihimassalam, berupa sisa-sisa warisan yang mulia.Allah berfirman tentang tanda tersebut,{ وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ ٱلتَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَىٰ وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ ٱلْمَلَائِكَةُ }“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat.’”Tabut itu benar-benar datang dalam keadaan dibawa oleh para malaikat, sementara mereka menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Ini menjadi bukti yang sangat jelas dan tanda yang tidak bisa dibantah lagi tentang kebenaran kepemimpinan Thalut.Catatan: Dalam kisah Thalut dan Jalut (QS. Al-Baqarah: 248), Tabut (peti/kotak) adalah peti suci peninggalan Nabi Musa dan Harun yang membawa sakinah (ketenangan) dan sisa warisan berharga dari keluarga mereka. Tabut ini menjadi simbol kepemimpinan, legitimasi kekuasaan Thalut, serta wahyu Allah yang memberikan kekuatan dan ketenteraman hati bagi Bani Israil dalam menghadapi peperangan. Ketika Allah Menguji Pasukan ThalutAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِٱلْجُنُودِ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّى وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُۥ مِنِّىٓ إِلَّا مَنِ ٱغْتَرَفَ غُرْفَةًۢ بِيَدِهِۦ ۚ فَشَرِبُوا۟ مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُۥ هُوَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ قَالُوا۟ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ ۚ قَالَ ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَٰقُوا۟ ٱللَّهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةًۢ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku”. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya”. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.” (QS. Al-Baqarah: 249)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Maksudnya, ketika Thalut telah resmi menjadi raja atas Bani Israil dan kekuasaannya telah stabil, mereka pun bersiap untuk menghadapi musuh. Saat Thalut berangkat bersama pasukan Bani Israil—yang jumlahnya sangat banyak—Allah memerintahkan agar mereka diuji, supaya tampak siapa yang teguh dan siapa yang lemah.Thalut berkata:{ إِنَّ ٱللَّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّيٓ إِلَّا مَنِ ٱغْتَرَفَ غُرْفَةًۢ بِيَدِهِ }“Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.”Artinya, siapa yang minum secara berlebihan dari sungai itu, berarti ia telah melanggar perintah dan tidak layak ikut dalam barisan. Sebab ia tidak mampu bersabar dan tidak teguh dalam ketaatan. Adapun yang tidak meminumnya sama sekali, ia termasuk golongan yang taat. Sementara yang hanya mengambil satu cidukan dengan tangan, tidak mengapa. Bisa jadi Allah menjadikan sedikit air itu cukup baginya.Ujian ini menunjukkan bahwa persediaan air ketika itu sangat terbatas, sehingga benar-benar menjadi sarana penyaringan yang nyata. Namun mayoritas mereka gagal. Mereka minum sebanyak-banyaknya dari sungai tersebut, melanggar larangan, lalu akhirnya kembali pulang dan mundur dari medan perang.Ketidakmampuan mereka menahan diri dari air hanya dalam waktu singkat menjadi bukti bahwa mereka tidak akan sanggup bersabar menghadapi peperangan panjang dan berat. Mundurnya sebagian besar pasukan justru membuat orang-orang yang tersisa semakin bertawakal kepada Allah, semakin merendahkan diri, dan semakin melepaskan ketergantungan pada kekuatan pribadi. Dengan jumlah yang sedikit dan musuh yang jauh lebih besar, kesabaran mereka justru semakin kuat.Allah berfirman,{ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَٱلَّذِينَ آمَنُوا۟ مَعَهُ }“Maka ketika ia (Thalut) dan orang-orang beriman bersamanya telah menyeberangi sungai itu…”Yaitu mereka yang taat dan tidak melanggar perintah minum. Ketika mereka melihat betapa sedikitnya jumlah mereka dan betapa banyaknya musuh, sebagian dari mereka berkata,{ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ }“Kami tidak sanggup pada hari ini menghadapi Jalut dan pasukannya.”Mereka merasa gentar melihat jumlah dan persenjataan musuh.Namun orang-orang yang yakin akan pertemuan dengan Allah—yaitu mereka yang imannya kokoh dan keyakinannya kuat—menenangkan dan menasihati yang lain dengan berkata,{ كَم مِّن فِئَةٍۢ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةًۭ كَثِيرَةًۢ بِإِذْنِ ٱللَّهِ }“Betapa banyak kelompok kecil mampu mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.”Maksudnya, kemenangan bukan ditentukan oleh jumlah. Segala urusan berada di tangan Allah. Siapa yang dimuliakan Allah, dialah yang mulia; siapa yang dihinakan-Nya, dialah yang hina. Banyaknya jumlah tidak berguna jika Allah tidak menolong, dan sedikitnya jumlah tidak berbahaya jika Allah memberikan pertolongan.Baca juga: Perang Hunain: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin KemenanganAllah menegaskan,{ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ }“Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.”Kebersamaan Allah di sini adalah dalam bentuk pertolongan, bantuan, dan taufik. Sebab yang paling besar mendatangkan pertolongan Allah adalah kesabaran seorang hamba karena Allah.Baca juga: Allah Di Atas ‘Arsy-Nya, Namun Allah juga Bersama dan Dekat dengan Hamba-NyaNasihat itu pun meresap ke dalam hati mereka, menguatkan tekad, dan menghidupkan kembali keberanian dalam jiwa mereka. Tidak Bersandar kepada Jumlah dan Kemampuan Diri, Bersandarlah kepada AllahAllah Ta’ala berfirman,وَلَمَّا بَرَزُوا۟ لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ قَالُوا۟ رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ“Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”.” (QS. Al-Baqarah: 250)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Karena itu, ketika mereka telah benar-benar berhadapan dengan Jalut dan pasukannya, mereka semua berdoa dengan penuh kerendahan hati:{ رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَافِرِينَ }RABBANAA AFRIGH ‘ALAINAA SHABRAN WA TSABBIT AQDAAMANAA WANSHURNAA ‘ALAL QAUMIL KAAFIRIIN“Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”Maksudnya, kuatkanlah hati kami, karuniakanlah kepada kami kesabaran yang sempurna, dan jangan Engkau biarkan kami goyah atau lari dari medan pertempuran. Teguhkanlah langkah kami agar tetap kokoh dalam menghadapi musuh, dan berikanlah kemenangan atas orang-orang kafir.Doa ini menunjukkan bahwa mereka tidak lagi bersandar pada kekuatan jumlah atau kemampuan diri, tetapi sepenuhnya menggantungkan harapan kepada Allah. Mereka memohon kekuatan hati sebelum meminta kemenangan, karena kemenangan sejati lahir dari kesabaran dan keteguhan yang Allah tanamkan dalam jiwa hamba-Nya. Saat Daud Menumbangkan JalutAllah Ta’ala berfirman,فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ ٱللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ جَالُوتَ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ وَٱلْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُۥ مِمَّا يَشَآءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ ٱلْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (QS. Al-Baqarah: 251)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Dari kisah ini kita mengetahui bahwa Jalut dan pasukannya adalah orang-orang kafir. Allah pun mengabulkan doa kaum beriman itu, karena mereka telah menempuh sebab-sebab yang mendatangkan pertolongan: bersabar, bertawakal, dan memohon kepada-Nya.Allah berfirman,{ فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ ٱللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ جَالُوتَ }“Maka mereka mengalahkan musuh-musuhnya dengan izin Allah, dan Dawud membunuh Jalut.”Nabi Daud ‘alaihis salam ketika itu berada di barisan pasukan Thalut. Beliaulah yang secara langsung membunuh Jalut, raja kaum kafir, dengan tangannya sendiri. Hal itu menunjukkan keberanian, kekuatan, dan kesabarannya.Kemudian Allah berfirman,{ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ وَٱلْحِكْمَةَ }“Dan Allah menganugerahinya kerajaan dan hikmah.”Artinya, Allah memberikan kepada Daud kekuasaan atas Bani Israil sekaligus hikmah, yaitu kenabian yang mengandung syariat agung dan jalan yang lurus.Selanjutnya Allah berfirman:{ وَعَلَّمَهُۥ مِمَّا يَشَآءُ }“Dan Allah mengajarinya apa yang Dia kehendaki.”Yakni Allah mengajarkan kepadanya berbagai ilmu, baik ilmu syariat maupun ilmu pemerintahan dan strategi. Pada diri Daud terkumpul dua kemuliaan sekaligus: kerajaan dan kenabian. Padahal sebelumnya, pada sebagian nabi, kekuasaan berada di tangan orang lain. Namun Allah menghendaki pada Daud terkumpul keduanya.Setelah Allah memberikan kemenangan, mereka pun hidup tenteram di negeri mereka. Mereka dapat beribadah kepada Allah dengan aman dan tenang, karena musuh-musuh mereka telah dikalahkan dan mereka diberi kekuasaan di bumi. Semua itu adalah buah dari jihad di jalan Allah. Seandainya jihad tidak disyariatkan, niscaya keadaan aman dan kemuliaan itu tidak akan terwujud.Karena itu Allah berfirman,{ وَلَوْلَا دَفْعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ ٱلْأَرْضُ }“Dan seandainya Allah tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini.”Artinya, seandainya Allah tidak menahan kejahatan orang-orang fajir dan kekafiran orang-orang kafir melalui kaum beriman yang berjuang di jalan-Nya, niscaya bumi akan rusak. Orang-orang kafir akan menguasainya, menegakkan syiar kekafiran, serta menghalangi manusia dari beribadah kepada Allah dan menampakkan agama-Nya.Namun Allah menutup ayat tersebut dengan firman-Nya,{ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ }“Tetapi Allah memiliki karunia yang besar atas seluruh alam.”Di antara karunia-Nya adalah disyariatkannya jihad yang menjadi sebab kebahagiaan manusia dan perlindungan mereka. Allah pula yang memberikan kekuasaan di bumi melalui sebab-sebab yang mereka ketahui dan sebab-sebab lain yang tidak mereka ketahui. Pelajaran dari Kisah Thalut, Jalut, dan Nabi Daud ‘alaihis salamAllah Ta’ala berfirman,تِلْكَ ءَايَٰتُ ٱللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِٱلْحَقِّ ۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ“Itu adalah ayat-ayat dari Allah, Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus.” (QS. Al-Baqarah: 252)Berikut adalah penjelasan dari Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Kemudian Allah Ta’ala berfirman:{ تِلْكَ آيَاتُ ٱللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِٱلْحَقِّ }“Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan benar.”Maksudnya, kisah-kisah itu adalah ayat-ayat Allah yang dibacakan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan penuh kebenaran, tanpa keraguan sedikit pun. Di dalamnya terkandung pelajaran, perenungan, dan penjelasan hakikat berbagai peristiwa.Lalu Allah menegaskan:{ وَإِنَّكَ لَمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ }“Dan sesungguhnya engkau benar-benar termasuk para rasul.”Ini adalah persaksian langsung dari Allah atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ. Di antara bukti kerasulan beliau adalah kisah-kisah umat terdahulu, para nabi, pengikut mereka, serta musuh-musuh mereka yang Allah ceritakan kepadanya. Tanpa wahyu dari Allah, beliau tidak mungkin mengetahui semua itu. Bahkan kaumnya pun tidak memiliki pengetahuan tentang rincian kisah tersebut. Ini menjadi bukti nyata bahwa beliau adalah Rasul yang benar, diutus dengan membawa kebenaran dan agama yang benar, untuk dimenangkan atas seluruh agama, walaupun orang-orang musyrik membencinya. Dalam kisah ini terdapat banyak tanda dan pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Di antaranya:Pertama, pentingnya persatuan para pemimpin dan tokoh masyarakat (ahlul halli wal ‘aqdi), duduk bersama mencari jalan terbaik untuk memperbaiki keadaan, memahaminya dengan baik, lalu mengamalkannya. Itulah sebab besar kemajuan dan tercapainya tujuan. Hal ini tampak ketika para pembesar Bani Israil meminta kepada nabi mereka agar ditunjuk seorang raja yang dapat menyatukan barisan dan menghimpun kekuatan mereka.Kedua, kebenaran itu semakin jelas ketika diuji dan diserang dengan berbagai syubhat. Justru ketika muncul keberatan dan pertanyaan, lalu dijawab dengan argumen yang kuat, keyakinan menjadi semakin mantap. Sebagaimana terjadi ketika mereka mempersoalkan kelayakan Thalut menjadi raja, lalu dijelaskan dengan dalil yang menenangkan hati dan menghilangkan keraguan.Ketiga, ilmu dan kebijaksanaan yang disertai dengan kekuatan untuk mengeksekusinya adalah kesempurnaan dalam kepemimpinan. Jika salah satunya hilang, maka kepemimpinan akan pincang dan membawa mudarat.Keempat, bersandar pada kemampuan diri sendiri menjadi sebab kegagalan dan kehinaan. Sebaliknya, meminta pertolongan kepada Allah, bersabar, dan bergantung kepada-Nya adalah sebab kemenangan.Yang pertama tampak dalam ucapan mereka,{ وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا }“Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami telah diusir dari negeri kami dan anak-anak kami?”Seolah-olah mereka yakin pada diri sendiri. Namun ketika benar-benar diwajibkan berperang, mereka justru berpaling.Adapun sikap yang kedua tampak dalam doa orang-orang beriman ketika berhadapan dengan Jalut dan tentaranya,{ وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ قَالُوا رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ ٱللَّهِ }“Dan ketika mereka maju menghadapi Jalut dan tentaranya, mereka berdoa: ‘Wahai Rabb kami, limpahkanlah kepada kami kesabaran, teguhkanlah langkah kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir.’ Maka mereka pun mengalahkan musuh-musuhnya dengan izin Allah.”Kelima, termasuk hikmah Allah adalah membedakan yang buruk dari yang baik, yang jujur dari yang dusta, yang sabar dari yang pengecut. Allah tidak membiarkan manusia bercampur tanpa ujian dan tanpa penyaringan.Keenam, termasuk rahmat dan sunnatullah yang berlaku adalah bahwa Allah menolak kerusakan dan bahaya orang-orang kafir serta munafik melalui orang-orang beriman yang berjuang. Seandainya tidak demikian, niscaya bumi ini rusak karena kekuasaan kekafiran dan simbol-simbolnya yang merajalela. Semoga kisah ini meneguhkan hati kita untuk selalu tunduk pada pilihan Allah, tidak terpedaya oleh jumlah dan kemampuan diri, serta istiqamah bersabar di saat ujian.Ya Allah, limpahkan kepada kami kesabaran, teguhkan langkah kami dalam ketaatan, dan tolonglah kami atas hawa nafsu serta segala kebatilan. Jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas, kuat tawakalnya, dan Engkau anugerahi ketenteraman serta kemenangan dengan izin-Mu. Aamiin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Jumat di waktu sahur, 3 Ramadhan 1447 H @ Makkah Al-MukarramahPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscerita nabi jalut kisah para nabi nabi daud renungan ayat renungan quran thalut

Penegak Hukum: Pedang Bermata Dua, Jembatan Menuju Surga dan Jurang Menuju Neraka

Daftar Isi TogglePosisi ulil amri dan penegak hukum dalam IslamKeutamaan bagi penegak hukum yang adilAncaman bagi penegak hukum yang zalimKesimpulanIslam adalah agama yang sangat sempurna. Kesempurnaannya mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak ada satu pun persoalan yang luput dari perhatian Islam. Semua itu Allah tetapkan agar kemaslahatan dapat dirasakan oleh seluruh makhluk. Allah berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini, telah Kusempurnakan agama kalian, Kulengkapkan nikmatu-Ku bagi kalian, dan Kuridai Islam sebagai agama atas kalian.” (QS. al-Maidah: 3)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat tersebut,فلما أكمل الدين لهم تمت النعمة عليهم“Ketika Allah menyempurnakan (syariat) agama untuk mereka, maka sempurnalah kenikmatan atas mereka.” [1]Berdasarkan ayat Al-Qur’an serta penjelasan Ibnu Katsir rahimahullah, dapat dipahami bahwa kesempurnaan Islam merupakan wujud sempurnanya nikmat Allah bagi umat manusia. Syariat Islam tidaklah ditetapkan kecuali untuk menghadirkan kemaslahatan, menjaga kehidupan, serta menunjang kebaikan dan kesejahteraan manusia beserta seluruh makhluk.Di antara bentuk kesempurnaan syariat yang Islam ajarkan untuk menunjang kehidupan sesama adalah bahwa manusia diberi tanggung jawab sesuai dengan peranannya. Setiap orang memiliki amanah yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ ومَسْئُولٌ عن رَعِيَّتِهِ، والإِمَامُ رَاعٍ ومَسْئُولٌ عن رَعِيَّتِهِ، والرَّجُلُ رَاعٍ في أَهْلِهِ ومَسْئُولٌ عن رَعِيَّتِهِ، والمَرْأَةُ في بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ ومَسْئُولَةٌ عن رَعِيَّتِهَا، والخَادِمُ في مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ ومَسْئُولٌ عن رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Seorang pembantu adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya.” (Muttafaq ‘alaihi) [2]Hadis di atas menjelaskan bahwa setiap individu bertanggung jawab atas apa yang ia diamanahi kepemimpinannya di hadapan Allah, baik sebagai pribadi, anggota keluarga, pemimpin, maupun bagian dari masyarakat. Dengan adanya pembagian peran dan tanggung jawab ini, kehidupan menjadi tertata, hak-hak terjaga, serta keadilan dapat ditegakkan di tengah-tengah manusia.Semakin besar sebuah kekuasaan yang dimiliki seseorang, semakin besar juga pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Di antara yang paling besar pertanggungjawabannya adalah penegak hukum.Posisi ulil amri dan penegak hukum dalam IslamIslam sangat memperhatikan kemaslahatan bersama. Di antara hal yang Islam perintahkan untuk mempertahankan kemaslahatan bersama adalah adanya ulil amri atau pemerintah di tengah masyarakat. Bahkan, Islam memerintahkan umatnya untuk menaatinya selama tidak dalam kemaksiatan. Allah berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, taati Allah, taati Rasul, dan ulil amri (pemerintah sah) kalian.” (QS. an-Nisa: 59)Ayat ini menjelaskan kedudukan ulil amri dalam agama Islam sangatlah spesial. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menaati mereka selama bukan dalam kemaksiatan. Maka, pertanyaan selanjutnya adalah siapakah ulil amri yang dimaksud dalam ayat tersebut? Para ulama memberikan banyak definisi tentang ulil amri, di antaranya Syekh Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata dalam kitabnya, Liqa al-Bab al-Maftuh,فمن هم أولو الأمر؟ أولو الأمر طائفتان من الناس: العلماء هم أولو الأمر في شريعة الله وتبيينها للخلق، والأمراء هم أولو الأمر في تنفيذ الشريعة وحفظ الأمن، أوجب الله طاعة هؤلاء؛ لأجل حفظ الشريعة وحفظ الأمن وانتظام الناس“Maka siapakah ulil amri itu? Ulil amri ada dua golongan dari manusia: 1) para ulama, mereka adalah ulil amri dalam hal syariat Allah dan dalam menjelaskannya kepada manusia; 2) dan para umara (pemimpin), mereka adalah ulil amri dalam hal menegakkan syariat dan menjaga keamanan. Allah mewajibkan ketaatan kepada mereka demi menjaga syariat, menjaga keamanan, dan agar kehidupan manusia berjalan dengan tertib.” [3]Kemudian Syekh Muhammad Ismail al-Muqaddim dalam al-Ilam bi Hurmat Ahl al-Ilm wal-Islam menukil perkataan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah,أمراء الحرب يسوسون الناس في أمر الدنيا والدين الظاهر، وشيوخ العلم يسوسون الناس بما يرجع إليهم من العلم والدين، وهؤلاء أولو الأمر“Pemimpin dalam urusan peperangan dan pemerintahan mengatur manusia dalam perkara dunia serta urusan agama yang tampak. Adapun para syekh dan ulama membimbing manusia dalam hal ilmu dan urusan agama yang kembali kepada mereka. Kedua golongan inilah yang disebut sebagai ulil amri.” [4]Dari penjelasan beliau di atas, dapat disimpulkan bahwa penegak hukum yang bertanggung jawab dalam menetapkan dan menjalankan hukum pidana di tengah masyarakat, serta dalam membuat dan menerapkan kebijakan, termasuk bagian dari ulil amri yang disebutkan dalam ayat tersebut. Sebab, merekalah yang memiliki serta disepakati untuk memberi kebijakan dan keputusan hukum. Oleh karena itu, pada dasarnya, selama mereka tidak memerintahkan kepada keburukan, maka wajib bagi kaum muslimin untuk patuh kepada mereka.Selain mendapatkan hak untuk ditaati oleh rakyatnya, para ulil amri, dalam hal ini penegak hukum, memiliki kewajiban besar dalam menjaga keberlangsungan maslahat di tengah masyarakat. Sebagaimana telah kita pahami sebelumnya, syariat ini Allah adakan dengan tujuan kemaslahatan bersama. Oleh karena itu, tujuan masyarakat untuk taat adalah agar kemaslahatan tersebut benar-benar terwujud di tengah mereka. Para penegak hukum akan dituntut dan dimintai pertanggungjawaban atas hal tersebut.Setelah kita mengetahui bahwa penegak hukum termasuk bagian dari ulil amri yang diperintahkan untuk ditaati, serta memahami besarnya tanggung jawab yang mereka pikul, maka menjadi jelas bahwa jabatan ini adalah pedang bermata dua: dapat mengangkat derajat seseorang setinggi-tingginya, atau justru menjatuhkannya ke dalam azab yang pedih. Semua itu bergantung pada satu hal mendasar, apakah ia menegakkan keadilan atau justru terjerumus dalam kezaliman. Karena itu, syariat Islam tidak hanya memberikan peringatan keras, tetapi juga menjanjikan keutamaan yang agung bagi para penegak hukum yang berlaku adil.Baca juga: Penegakan Hukum di Masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamKeutamaan bagi penegak hukum yang adilPara penegak hukum, Allah mewajibkan atas mereka berlaku adil pada banyak ayat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian berbuat adil dan kebaikan.” (QS. an-Nahl: 90)Allah Ta`ala juga berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّواْ الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُواْ بِالْعَدْلِ“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak atasnya dan juga ketika kalian memberi hukum untuk berhukum dengan cara yang adil.” (QS. an-Nisa: 48)Kedua ayat di atas adalah perintah mutlak untuk berlaku adil. Keadilan tersebut akan lebih berdampak jika dilakukan oleh para pemimpin. Pemimpin dilarang keras berbuat tidak adil dengan apapun alasannya.Kemudian, Allah Ta`ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.” (QS. al-Maidah: 8)Juga berfirman,يا داود إنا جعلناك خليفة في الأرض فاحكم بين الناس بالحق ولا تتبع الهوى فيضلك عن سبيل الله“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil.” (QS. Shad: 26)Kedua ayat ini juga menegaskan bahwa seorang penegak hukum dilarang membawa emosi pribadi bahkan keuntungan yang menguntungkan diri sendiri dalam memberi kebijakan karena hal tersebut akan mencederai keadilannya.Allah tidak hanya memerintahkan dengan cuma-cuma kepada para penegak hukum untuk berlaku adil, Allah juga menyiapkan keutamaan yang sangat banyak bagi para penegak hukum yang berbuat adil.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَومَ القِيَامَةِ في ظِلِّهِ، يَومَ لا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ في عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ في خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ في المَسْجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا في اللَّهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إلى نَفْسِهَا، قالَ: إنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فأخْفَاهَا حتَّى لا تَعْلَمَ شِمَالُهُ ما صَنَعَتْ يَمِينُهُ.“Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari kiamat dalam naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: pemimpin yang adil; pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah; seseorang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri lalu kedua matanya meneteskan air mata; seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena-Nya; seorang laki-laki yang diajak oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan untuk berbuat maksiat, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’; dan seseorang yang bersedekah, lalu ia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (Muttafaq ‘alaihi) [5]Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إنَّ المُقْسِطِينَ عِنْدَ اللهِ علَى مَنابِرَ مِن نُورٍ، عن يَمِينِ الرَّحْمَنِ عزَّ وجلَّ -وكِلْتا يَدَيْهِ يَمِينٌ- الَّذِينَ يَعْدِلُونَ في حُكْمِهِمْ وأَهْلِيهِمْ وما وَلُوا.“Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil berada di sisi Allah di atas mimbar-mimbar dari cahaya, di sebelah kanan Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla (kedua tangan-Nya adalah kanan), yaitu mereka yang berlaku adil dalam hukum mereka, terhadap keluarga mereka, dan dalam segala urusan yang dipimpin oleh mereka.” (HR. Muslim) [6]Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa penegak hukum itu terbagi dalam tiga keadaan, satu keadaan berada di surga dan dua keadaan berada di neraka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,القُضاةُ ثلاثةٌ، اثنانِ في النَّارِ، وواحدٌ في الجنَّةِ، رجلٌ علِمَ الحقَّ فقضَى بهِ فَهوَ في الجنَّةِ“Para hakim itu ada tiga: dua di neraka dan satu di surga. Seseorang yang mengetahui kebenaran, lalu memutuskan perkara dengannya, maka ia berada di surga.” (HR. Ibnu Majah, Nasa’i, Abu Daud, dan Tirmidzi) [7]Maka, para penegak hukum dapat mendapatkan keutamaan-keutamaan tersebut dengan melakukan keadilan dalam memberikan keputusan.Ancaman bagi penegak hukum yang zalimSelain memberikan keutamaan bagi penegak hukum yang berlaku adil, Allah juga memberikan ancaman yang sangat besar kepada para penegak hukum yang tidak berlaku adil. Sebab, Allah membenci kezaliman. Allah berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ“Sesungguhnya Allah membenci orang-orang yang berbuat zalim.” (QS. Ali Imran: 57)Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang berbuat zalim tanpa diberikan hukuman, karena Allah tidak akan luput atas kezaliman mereka. Allah berfirman,وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ“Janganlah sekali-kali engkau menyangka Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari di mana pandangan-pandangan terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42)Kita juga meyakini bahwa setiap kezaliman di dunia akan menjadi kegelapan di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اتَّقُوا الظُّلمَ؛ فإنَّ الظُّلمَ ظُلُماتٌ يومَ القيامةِ، واتَّقُوا الشُّحَّ؛ فإنَّ الشُّحَّ أهلكَ مَن كانَ قبلَكُم، حملَهُم على أنْ سَفكُوا دِمائَهم، واستَحَلُّوا مَحارِمَهم“Jauhilah kezaliman, karena sesungguhnya kezaliman adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat. Dan jauhilah sifat kikir, karena sifat kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kalian; sifat itu mendorong mereka untuk menumpahkan darah sesama mereka dan menghalalkan apa yang diharamkan atas mereka.” (HR. Muslim) [8]Allah mengancam neraka bagi penegak hukum yang tidak berbuat adil dengan kepemimpinan dan kebijakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من وَلِيَ من أمورِ المسلمين شيئًا، فغشَّهم؛ فهو في النَّارِ“Barang siapa yang memegang suatu urusan kaum muslimin, lalu ia menipu atau berkhianat kepada mereka, maka ia berada di neraka.” (HR. Thabrani) [9]Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,ما مِنْ عبدٍ يسترْعيه اللهُ رعيَّةً، يموتُ يومَ يموتُ، وهوَ غاشٌّ لرعِيَّتِهِ، إلَّا حرّمَ اللهُ عليْهِ الجنَّةَ“Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanah untuk memimpin rakyat, kemudian ia meninggal pada hari kematiannya dalam keadaan menipu atau mengkhianati rakyatnya, kecuali Allah haramkan surga baginya.” (Muttafaq ‘alaih) [10]Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,صِنْفَانِ من أهلِ النارِ لمْ أَرَهُما بَعْدُ : قومٌ مَعَهُمْ سِياطٌ كَأَذْنابِ البَقَرِ يَضْرِبُونَ الناسَ بِها، ونِساءٌ كَاسِياتٌ عَارِياتٌ، مُمِيلاتٌ مائِلاتٌ، رُؤوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ البُخْتِ المائِلَةِ، لا يَدْخُلَنَّ الجنةَ، ولا يَجِدَنَّ رِيحَها، وإِنَّ رِيحَها لَيوجَدُ من مَسِيرَةِ كذا وكذا“Dua golongan dari penghuni neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya: 1) suatu kaum yang bersama mereka cambuk-cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya, dan 2) para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, condong (kepada keburukan) dan membuat orang lain condong (kepada keburukan), kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga itu dapat tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim) [11]Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,القُضاةُ ثلاثةٌ، اثنانِ في النَّارِ، وواحدٌ في الجنَّةِ، رجلٌ علِمَ الحقَّ فقضَى بهِ فَهوَ في الجنَّةِ، ورجلٌ قضَى للنَّاسِ علَى جَهْلٍ فَهوَ في النَّارِ، ورجلٌ جارَ في الحُكْمِ فَهوَ في النَّارِ، لقُلنا: إنَّ القاضيَ إذا اجتَهَدَ فَهوَ في الجنَّةِ“Para hakim itu ada tiga: dua di neraka dan satu di surga. Seseorang yang mengetahui kebenaran lalu memutuskan perkara dengannya, maka ia di surga. Seseorang yang memutuskan perkara bagi manusia dalam keadaan jahil (tidak mengetahui kebenaran), maka ia di neraka. Dan seseorang yang berbuat zalim dalam hukum, maka ia di neraka.”  (HR. Ibnu Majah, Nasa’i, Abu Daud, dan Tirmidzi) [12]Hadis di atas menjelaskan bahwa seorang penegak hukum dapat dengan mudah masuk neraka jika ia tidak berbuat adil. Peluang masuk neraka adalah dua berbanding tiga, dan hal itu disebabkan oleh ketidakadilannya dalam memberikan keputusan.Rasulullah juga sangat membenci para penegak hukum yang menyulitkan urusan rakyatnya, terlebih lagi para penegak hukum yang mempersulit urusan manusia lain untuk kepentingan dirinya. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam hadis yang sangat panjang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa,اللهُمَّ مَنْ ولِي من أمْرِ أُمَّتِي شيئًا فَشَقَّ عليهم فاشْقُقْ علَيهِ ، ومَنْ ولِيَ من أمرِ أُمَّتِي شيئًا فَرَفَقَ بِهمْ فارْفُقْ بِهِ“Ya Allah, siapa saja yang memegang suatu urusan dari umatku, lalu ia menyusahkan mereka, maka persulitlah ia. Dan siapa saja yang memegang suatu urusan dari umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah Engkau kepadanya.” [13]Ancaman-ancaman itu Allah berikan agar para penegak hukum benar-benar berjalan sesuai dengan fungsinya. Sehingga, jika penegak hukum dirasa dapat berlaku adil, diharapkan lebih tersebarnya kemaslahatan kepada umat manusia.KesimpulanDapat dipahami bahwa jabatan sebagai penegak hukum bukanlah sekadar posisi duniawi, tetapi amanah besar yang menentukan keselamatan di akhirat. Ia benar-benar menjadi pedang bermata dua: keadilan yang ditegakkan akan mengangkat derajat hingga mendapatkan naungan Allah, sementara kezaliman yang dilakukan akan menyeret pelakunya kepada ancaman yang sangat keras. Oleh karena itu, setiap keputusan, sekecil apa pun, harus dibangun di atas rasa takut kepada Allah dan kesadaran akan hisab yang pasti. Allah Ta’ala mengingatkan dengan sangat tegas,وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِم مَّوْعِدًا“Dan negeri-negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan Kami telah menetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.” (QS. al-Kahfi: 59)Ayat ini menjadi peringatan bahwa kezaliman bukan hanya menghancurkan individu, tetapi juga bisa menghancurkan suatu masyarakat. Hendaknya setiap penegak hukum senantiasa menimbang setiap kebijakan dan keputusan dengan keadilan, karena di situlah letak keselamatan, baik bagi dirinya di akhirat maupun bagi masyarakat yang ia pimpin di dunia.Baca juga: Pilih Kasih dalam Penegakan Hukum, Faktor Hancurnya Sebuah Negara***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Imam Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 5: 46.[2] Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 2751. Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1829, dengan perbedaan redaksi yang ringan.[3] Syekh Ibnu Utsaimin, Liqa al-Bab al-Maftuh, 38: 4.[4] Syekh Muhammad Ismail al-Muqaddim, al-Ilam bi Hurmat Ahl al-Ilm wal-Islam, hal. 171.[5] Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6806. Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1031.[6] Imam Muslim, Shahih Muslim, no. 1827.[7] Hadis riwayat Imam Abu Dawud no. 3573, Imam at-Tirmidzi no. 1322, Imam Ibnu Majah no. 2315 (lafaz Ibnu Majah), dan Imam an-Nasai dalam as-Sunan al-Kubra no. 5922; dinilai sahih oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1887.[8] Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 2578.[9] Imam at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath no. 3481, disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, no. 2206[10] Hadis riwayat Imam al-Bukhari no. 7150 dan Imam Muslim no. 142 (lafaz Muslim).[11] Hadis riwayat Imam Muslim, Shahih Muslim, no. 2128.[12] Hadis riwayat Imam Abu Dawud no. 3573, Imam at-Tirmidzi no. 1322, Imam Ibnu Majah no. 2315 (lafaz Ibnu Majah), dan Imam an-Nasai dalam as-Sunan al-Kubra no. 5922; dinilai sahih oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1887.[13] Hadis riwayat Imam Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, no. 1828 (dengan redaksi lebih panjang). Daftar Pustakaal-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih al-Adab al-Mufrad. Riyadh: Maktabah al-Maarif.al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih al-Jami‘ Ash-Shaghir wa Ziyadatuhu. Beirut: Al-Maktabah al-Islami.al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Ibnu Majah. Riyadh: Maktabah al-Maarif.Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asyats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar ar-Risalah.al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir.Ibnu Katsir, Ismail bin Umar bin Katsir ad-Dimasyqi. Tafsir al-Qur’an al-Azhim. Giza: Muassasah Qurtubah, Maktabah Aulad asy-Syaikh, 1421 H / 2000 M.Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibni Majah. Beirut: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah.al-Muqaddim, Muhammad bin Ahmad bin Ismail. al-Ilam bi Hurmat Ahl al-Ilm wal-Islam. Riyadh: Dar Taibah, Maktabah al-Kautsar, 1419 H / 1998 M.Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi.an-Nasai, Ahmad bin Syuaib. as-Sunan al-Kubra. Beirut: Muassasah ar-Risalah.at-Tabarani, Sulaiman bin Ahmad. al-Mu‘jam al-Awsath. Beirut: Dar al-Haramain.at-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan at-Tirmidzi. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami.al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih bin Muhammad. Liqa al-Bab al-Maftuh. IslamWeb, 1421 H.

Penegak Hukum: Pedang Bermata Dua, Jembatan Menuju Surga dan Jurang Menuju Neraka

Daftar Isi TogglePosisi ulil amri dan penegak hukum dalam IslamKeutamaan bagi penegak hukum yang adilAncaman bagi penegak hukum yang zalimKesimpulanIslam adalah agama yang sangat sempurna. Kesempurnaannya mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak ada satu pun persoalan yang luput dari perhatian Islam. Semua itu Allah tetapkan agar kemaslahatan dapat dirasakan oleh seluruh makhluk. Allah berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini, telah Kusempurnakan agama kalian, Kulengkapkan nikmatu-Ku bagi kalian, dan Kuridai Islam sebagai agama atas kalian.” (QS. al-Maidah: 3)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat tersebut,فلما أكمل الدين لهم تمت النعمة عليهم“Ketika Allah menyempurnakan (syariat) agama untuk mereka, maka sempurnalah kenikmatan atas mereka.” [1]Berdasarkan ayat Al-Qur’an serta penjelasan Ibnu Katsir rahimahullah, dapat dipahami bahwa kesempurnaan Islam merupakan wujud sempurnanya nikmat Allah bagi umat manusia. Syariat Islam tidaklah ditetapkan kecuali untuk menghadirkan kemaslahatan, menjaga kehidupan, serta menunjang kebaikan dan kesejahteraan manusia beserta seluruh makhluk.Di antara bentuk kesempurnaan syariat yang Islam ajarkan untuk menunjang kehidupan sesama adalah bahwa manusia diberi tanggung jawab sesuai dengan peranannya. Setiap orang memiliki amanah yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ ومَسْئُولٌ عن رَعِيَّتِهِ، والإِمَامُ رَاعٍ ومَسْئُولٌ عن رَعِيَّتِهِ، والرَّجُلُ رَاعٍ في أَهْلِهِ ومَسْئُولٌ عن رَعِيَّتِهِ، والمَرْأَةُ في بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ ومَسْئُولَةٌ عن رَعِيَّتِهَا، والخَادِمُ في مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ ومَسْئُولٌ عن رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Seorang pembantu adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya.” (Muttafaq ‘alaihi) [2]Hadis di atas menjelaskan bahwa setiap individu bertanggung jawab atas apa yang ia diamanahi kepemimpinannya di hadapan Allah, baik sebagai pribadi, anggota keluarga, pemimpin, maupun bagian dari masyarakat. Dengan adanya pembagian peran dan tanggung jawab ini, kehidupan menjadi tertata, hak-hak terjaga, serta keadilan dapat ditegakkan di tengah-tengah manusia.Semakin besar sebuah kekuasaan yang dimiliki seseorang, semakin besar juga pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Di antara yang paling besar pertanggungjawabannya adalah penegak hukum.Posisi ulil amri dan penegak hukum dalam IslamIslam sangat memperhatikan kemaslahatan bersama. Di antara hal yang Islam perintahkan untuk mempertahankan kemaslahatan bersama adalah adanya ulil amri atau pemerintah di tengah masyarakat. Bahkan, Islam memerintahkan umatnya untuk menaatinya selama tidak dalam kemaksiatan. Allah berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, taati Allah, taati Rasul, dan ulil amri (pemerintah sah) kalian.” (QS. an-Nisa: 59)Ayat ini menjelaskan kedudukan ulil amri dalam agama Islam sangatlah spesial. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menaati mereka selama bukan dalam kemaksiatan. Maka, pertanyaan selanjutnya adalah siapakah ulil amri yang dimaksud dalam ayat tersebut? Para ulama memberikan banyak definisi tentang ulil amri, di antaranya Syekh Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata dalam kitabnya, Liqa al-Bab al-Maftuh,فمن هم أولو الأمر؟ أولو الأمر طائفتان من الناس: العلماء هم أولو الأمر في شريعة الله وتبيينها للخلق، والأمراء هم أولو الأمر في تنفيذ الشريعة وحفظ الأمن، أوجب الله طاعة هؤلاء؛ لأجل حفظ الشريعة وحفظ الأمن وانتظام الناس“Maka siapakah ulil amri itu? Ulil amri ada dua golongan dari manusia: 1) para ulama, mereka adalah ulil amri dalam hal syariat Allah dan dalam menjelaskannya kepada manusia; 2) dan para umara (pemimpin), mereka adalah ulil amri dalam hal menegakkan syariat dan menjaga keamanan. Allah mewajibkan ketaatan kepada mereka demi menjaga syariat, menjaga keamanan, dan agar kehidupan manusia berjalan dengan tertib.” [3]Kemudian Syekh Muhammad Ismail al-Muqaddim dalam al-Ilam bi Hurmat Ahl al-Ilm wal-Islam menukil perkataan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah,أمراء الحرب يسوسون الناس في أمر الدنيا والدين الظاهر، وشيوخ العلم يسوسون الناس بما يرجع إليهم من العلم والدين، وهؤلاء أولو الأمر“Pemimpin dalam urusan peperangan dan pemerintahan mengatur manusia dalam perkara dunia serta urusan agama yang tampak. Adapun para syekh dan ulama membimbing manusia dalam hal ilmu dan urusan agama yang kembali kepada mereka. Kedua golongan inilah yang disebut sebagai ulil amri.” [4]Dari penjelasan beliau di atas, dapat disimpulkan bahwa penegak hukum yang bertanggung jawab dalam menetapkan dan menjalankan hukum pidana di tengah masyarakat, serta dalam membuat dan menerapkan kebijakan, termasuk bagian dari ulil amri yang disebutkan dalam ayat tersebut. Sebab, merekalah yang memiliki serta disepakati untuk memberi kebijakan dan keputusan hukum. Oleh karena itu, pada dasarnya, selama mereka tidak memerintahkan kepada keburukan, maka wajib bagi kaum muslimin untuk patuh kepada mereka.Selain mendapatkan hak untuk ditaati oleh rakyatnya, para ulil amri, dalam hal ini penegak hukum, memiliki kewajiban besar dalam menjaga keberlangsungan maslahat di tengah masyarakat. Sebagaimana telah kita pahami sebelumnya, syariat ini Allah adakan dengan tujuan kemaslahatan bersama. Oleh karena itu, tujuan masyarakat untuk taat adalah agar kemaslahatan tersebut benar-benar terwujud di tengah mereka. Para penegak hukum akan dituntut dan dimintai pertanggungjawaban atas hal tersebut.Setelah kita mengetahui bahwa penegak hukum termasuk bagian dari ulil amri yang diperintahkan untuk ditaati, serta memahami besarnya tanggung jawab yang mereka pikul, maka menjadi jelas bahwa jabatan ini adalah pedang bermata dua: dapat mengangkat derajat seseorang setinggi-tingginya, atau justru menjatuhkannya ke dalam azab yang pedih. Semua itu bergantung pada satu hal mendasar, apakah ia menegakkan keadilan atau justru terjerumus dalam kezaliman. Karena itu, syariat Islam tidak hanya memberikan peringatan keras, tetapi juga menjanjikan keutamaan yang agung bagi para penegak hukum yang berlaku adil.Baca juga: Penegakan Hukum di Masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamKeutamaan bagi penegak hukum yang adilPara penegak hukum, Allah mewajibkan atas mereka berlaku adil pada banyak ayat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian berbuat adil dan kebaikan.” (QS. an-Nahl: 90)Allah Ta`ala juga berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّواْ الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُواْ بِالْعَدْلِ“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak atasnya dan juga ketika kalian memberi hukum untuk berhukum dengan cara yang adil.” (QS. an-Nisa: 48)Kedua ayat di atas adalah perintah mutlak untuk berlaku adil. Keadilan tersebut akan lebih berdampak jika dilakukan oleh para pemimpin. Pemimpin dilarang keras berbuat tidak adil dengan apapun alasannya.Kemudian, Allah Ta`ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.” (QS. al-Maidah: 8)Juga berfirman,يا داود إنا جعلناك خليفة في الأرض فاحكم بين الناس بالحق ولا تتبع الهوى فيضلك عن سبيل الله“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil.” (QS. Shad: 26)Kedua ayat ini juga menegaskan bahwa seorang penegak hukum dilarang membawa emosi pribadi bahkan keuntungan yang menguntungkan diri sendiri dalam memberi kebijakan karena hal tersebut akan mencederai keadilannya.Allah tidak hanya memerintahkan dengan cuma-cuma kepada para penegak hukum untuk berlaku adil, Allah juga menyiapkan keutamaan yang sangat banyak bagi para penegak hukum yang berbuat adil.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَومَ القِيَامَةِ في ظِلِّهِ، يَومَ لا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ في عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ في خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ في المَسْجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا في اللَّهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إلى نَفْسِهَا، قالَ: إنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فأخْفَاهَا حتَّى لا تَعْلَمَ شِمَالُهُ ما صَنَعَتْ يَمِينُهُ.“Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari kiamat dalam naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: pemimpin yang adil; pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah; seseorang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri lalu kedua matanya meneteskan air mata; seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena-Nya; seorang laki-laki yang diajak oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan untuk berbuat maksiat, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’; dan seseorang yang bersedekah, lalu ia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (Muttafaq ‘alaihi) [5]Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إنَّ المُقْسِطِينَ عِنْدَ اللهِ علَى مَنابِرَ مِن نُورٍ، عن يَمِينِ الرَّحْمَنِ عزَّ وجلَّ -وكِلْتا يَدَيْهِ يَمِينٌ- الَّذِينَ يَعْدِلُونَ في حُكْمِهِمْ وأَهْلِيهِمْ وما وَلُوا.“Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil berada di sisi Allah di atas mimbar-mimbar dari cahaya, di sebelah kanan Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla (kedua tangan-Nya adalah kanan), yaitu mereka yang berlaku adil dalam hukum mereka, terhadap keluarga mereka, dan dalam segala urusan yang dipimpin oleh mereka.” (HR. Muslim) [6]Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa penegak hukum itu terbagi dalam tiga keadaan, satu keadaan berada di surga dan dua keadaan berada di neraka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,القُضاةُ ثلاثةٌ، اثنانِ في النَّارِ، وواحدٌ في الجنَّةِ، رجلٌ علِمَ الحقَّ فقضَى بهِ فَهوَ في الجنَّةِ“Para hakim itu ada tiga: dua di neraka dan satu di surga. Seseorang yang mengetahui kebenaran, lalu memutuskan perkara dengannya, maka ia berada di surga.” (HR. Ibnu Majah, Nasa’i, Abu Daud, dan Tirmidzi) [7]Maka, para penegak hukum dapat mendapatkan keutamaan-keutamaan tersebut dengan melakukan keadilan dalam memberikan keputusan.Ancaman bagi penegak hukum yang zalimSelain memberikan keutamaan bagi penegak hukum yang berlaku adil, Allah juga memberikan ancaman yang sangat besar kepada para penegak hukum yang tidak berlaku adil. Sebab, Allah membenci kezaliman. Allah berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ“Sesungguhnya Allah membenci orang-orang yang berbuat zalim.” (QS. Ali Imran: 57)Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang berbuat zalim tanpa diberikan hukuman, karena Allah tidak akan luput atas kezaliman mereka. Allah berfirman,وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ“Janganlah sekali-kali engkau menyangka Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari di mana pandangan-pandangan terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42)Kita juga meyakini bahwa setiap kezaliman di dunia akan menjadi kegelapan di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اتَّقُوا الظُّلمَ؛ فإنَّ الظُّلمَ ظُلُماتٌ يومَ القيامةِ، واتَّقُوا الشُّحَّ؛ فإنَّ الشُّحَّ أهلكَ مَن كانَ قبلَكُم، حملَهُم على أنْ سَفكُوا دِمائَهم، واستَحَلُّوا مَحارِمَهم“Jauhilah kezaliman, karena sesungguhnya kezaliman adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat. Dan jauhilah sifat kikir, karena sifat kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kalian; sifat itu mendorong mereka untuk menumpahkan darah sesama mereka dan menghalalkan apa yang diharamkan atas mereka.” (HR. Muslim) [8]Allah mengancam neraka bagi penegak hukum yang tidak berbuat adil dengan kepemimpinan dan kebijakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من وَلِيَ من أمورِ المسلمين شيئًا، فغشَّهم؛ فهو في النَّارِ“Barang siapa yang memegang suatu urusan kaum muslimin, lalu ia menipu atau berkhianat kepada mereka, maka ia berada di neraka.” (HR. Thabrani) [9]Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,ما مِنْ عبدٍ يسترْعيه اللهُ رعيَّةً، يموتُ يومَ يموتُ، وهوَ غاشٌّ لرعِيَّتِهِ، إلَّا حرّمَ اللهُ عليْهِ الجنَّةَ“Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanah untuk memimpin rakyat, kemudian ia meninggal pada hari kematiannya dalam keadaan menipu atau mengkhianati rakyatnya, kecuali Allah haramkan surga baginya.” (Muttafaq ‘alaih) [10]Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,صِنْفَانِ من أهلِ النارِ لمْ أَرَهُما بَعْدُ : قومٌ مَعَهُمْ سِياطٌ كَأَذْنابِ البَقَرِ يَضْرِبُونَ الناسَ بِها، ونِساءٌ كَاسِياتٌ عَارِياتٌ، مُمِيلاتٌ مائِلاتٌ، رُؤوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ البُخْتِ المائِلَةِ، لا يَدْخُلَنَّ الجنةَ، ولا يَجِدَنَّ رِيحَها، وإِنَّ رِيحَها لَيوجَدُ من مَسِيرَةِ كذا وكذا“Dua golongan dari penghuni neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya: 1) suatu kaum yang bersama mereka cambuk-cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya, dan 2) para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, condong (kepada keburukan) dan membuat orang lain condong (kepada keburukan), kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga itu dapat tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim) [11]Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,القُضاةُ ثلاثةٌ، اثنانِ في النَّارِ، وواحدٌ في الجنَّةِ، رجلٌ علِمَ الحقَّ فقضَى بهِ فَهوَ في الجنَّةِ، ورجلٌ قضَى للنَّاسِ علَى جَهْلٍ فَهوَ في النَّارِ، ورجلٌ جارَ في الحُكْمِ فَهوَ في النَّارِ، لقُلنا: إنَّ القاضيَ إذا اجتَهَدَ فَهوَ في الجنَّةِ“Para hakim itu ada tiga: dua di neraka dan satu di surga. Seseorang yang mengetahui kebenaran lalu memutuskan perkara dengannya, maka ia di surga. Seseorang yang memutuskan perkara bagi manusia dalam keadaan jahil (tidak mengetahui kebenaran), maka ia di neraka. Dan seseorang yang berbuat zalim dalam hukum, maka ia di neraka.”  (HR. Ibnu Majah, Nasa’i, Abu Daud, dan Tirmidzi) [12]Hadis di atas menjelaskan bahwa seorang penegak hukum dapat dengan mudah masuk neraka jika ia tidak berbuat adil. Peluang masuk neraka adalah dua berbanding tiga, dan hal itu disebabkan oleh ketidakadilannya dalam memberikan keputusan.Rasulullah juga sangat membenci para penegak hukum yang menyulitkan urusan rakyatnya, terlebih lagi para penegak hukum yang mempersulit urusan manusia lain untuk kepentingan dirinya. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam hadis yang sangat panjang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa,اللهُمَّ مَنْ ولِي من أمْرِ أُمَّتِي شيئًا فَشَقَّ عليهم فاشْقُقْ علَيهِ ، ومَنْ ولِيَ من أمرِ أُمَّتِي شيئًا فَرَفَقَ بِهمْ فارْفُقْ بِهِ“Ya Allah, siapa saja yang memegang suatu urusan dari umatku, lalu ia menyusahkan mereka, maka persulitlah ia. Dan siapa saja yang memegang suatu urusan dari umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah Engkau kepadanya.” [13]Ancaman-ancaman itu Allah berikan agar para penegak hukum benar-benar berjalan sesuai dengan fungsinya. Sehingga, jika penegak hukum dirasa dapat berlaku adil, diharapkan lebih tersebarnya kemaslahatan kepada umat manusia.KesimpulanDapat dipahami bahwa jabatan sebagai penegak hukum bukanlah sekadar posisi duniawi, tetapi amanah besar yang menentukan keselamatan di akhirat. Ia benar-benar menjadi pedang bermata dua: keadilan yang ditegakkan akan mengangkat derajat hingga mendapatkan naungan Allah, sementara kezaliman yang dilakukan akan menyeret pelakunya kepada ancaman yang sangat keras. Oleh karena itu, setiap keputusan, sekecil apa pun, harus dibangun di atas rasa takut kepada Allah dan kesadaran akan hisab yang pasti. Allah Ta’ala mengingatkan dengan sangat tegas,وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِم مَّوْعِدًا“Dan negeri-negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan Kami telah menetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.” (QS. al-Kahfi: 59)Ayat ini menjadi peringatan bahwa kezaliman bukan hanya menghancurkan individu, tetapi juga bisa menghancurkan suatu masyarakat. Hendaknya setiap penegak hukum senantiasa menimbang setiap kebijakan dan keputusan dengan keadilan, karena di situlah letak keselamatan, baik bagi dirinya di akhirat maupun bagi masyarakat yang ia pimpin di dunia.Baca juga: Pilih Kasih dalam Penegakan Hukum, Faktor Hancurnya Sebuah Negara***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Imam Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 5: 46.[2] Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 2751. Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1829, dengan perbedaan redaksi yang ringan.[3] Syekh Ibnu Utsaimin, Liqa al-Bab al-Maftuh, 38: 4.[4] Syekh Muhammad Ismail al-Muqaddim, al-Ilam bi Hurmat Ahl al-Ilm wal-Islam, hal. 171.[5] Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6806. Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1031.[6] Imam Muslim, Shahih Muslim, no. 1827.[7] Hadis riwayat Imam Abu Dawud no. 3573, Imam at-Tirmidzi no. 1322, Imam Ibnu Majah no. 2315 (lafaz Ibnu Majah), dan Imam an-Nasai dalam as-Sunan al-Kubra no. 5922; dinilai sahih oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1887.[8] Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 2578.[9] Imam at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath no. 3481, disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, no. 2206[10] Hadis riwayat Imam al-Bukhari no. 7150 dan Imam Muslim no. 142 (lafaz Muslim).[11] Hadis riwayat Imam Muslim, Shahih Muslim, no. 2128.[12] Hadis riwayat Imam Abu Dawud no. 3573, Imam at-Tirmidzi no. 1322, Imam Ibnu Majah no. 2315 (lafaz Ibnu Majah), dan Imam an-Nasai dalam as-Sunan al-Kubra no. 5922; dinilai sahih oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1887.[13] Hadis riwayat Imam Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, no. 1828 (dengan redaksi lebih panjang). Daftar Pustakaal-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih al-Adab al-Mufrad. Riyadh: Maktabah al-Maarif.al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih al-Jami‘ Ash-Shaghir wa Ziyadatuhu. Beirut: Al-Maktabah al-Islami.al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Ibnu Majah. Riyadh: Maktabah al-Maarif.Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asyats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar ar-Risalah.al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir.Ibnu Katsir, Ismail bin Umar bin Katsir ad-Dimasyqi. Tafsir al-Qur’an al-Azhim. Giza: Muassasah Qurtubah, Maktabah Aulad asy-Syaikh, 1421 H / 2000 M.Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibni Majah. Beirut: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah.al-Muqaddim, Muhammad bin Ahmad bin Ismail. al-Ilam bi Hurmat Ahl al-Ilm wal-Islam. Riyadh: Dar Taibah, Maktabah al-Kautsar, 1419 H / 1998 M.Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi.an-Nasai, Ahmad bin Syuaib. as-Sunan al-Kubra. Beirut: Muassasah ar-Risalah.at-Tabarani, Sulaiman bin Ahmad. al-Mu‘jam al-Awsath. Beirut: Dar al-Haramain.at-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan at-Tirmidzi. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami.al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih bin Muhammad. Liqa al-Bab al-Maftuh. IslamWeb, 1421 H.
Daftar Isi TogglePosisi ulil amri dan penegak hukum dalam IslamKeutamaan bagi penegak hukum yang adilAncaman bagi penegak hukum yang zalimKesimpulanIslam adalah agama yang sangat sempurna. Kesempurnaannya mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak ada satu pun persoalan yang luput dari perhatian Islam. Semua itu Allah tetapkan agar kemaslahatan dapat dirasakan oleh seluruh makhluk. Allah berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini, telah Kusempurnakan agama kalian, Kulengkapkan nikmatu-Ku bagi kalian, dan Kuridai Islam sebagai agama atas kalian.” (QS. al-Maidah: 3)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat tersebut,فلما أكمل الدين لهم تمت النعمة عليهم“Ketika Allah menyempurnakan (syariat) agama untuk mereka, maka sempurnalah kenikmatan atas mereka.” [1]Berdasarkan ayat Al-Qur’an serta penjelasan Ibnu Katsir rahimahullah, dapat dipahami bahwa kesempurnaan Islam merupakan wujud sempurnanya nikmat Allah bagi umat manusia. Syariat Islam tidaklah ditetapkan kecuali untuk menghadirkan kemaslahatan, menjaga kehidupan, serta menunjang kebaikan dan kesejahteraan manusia beserta seluruh makhluk.Di antara bentuk kesempurnaan syariat yang Islam ajarkan untuk menunjang kehidupan sesama adalah bahwa manusia diberi tanggung jawab sesuai dengan peranannya. Setiap orang memiliki amanah yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ ومَسْئُولٌ عن رَعِيَّتِهِ، والإِمَامُ رَاعٍ ومَسْئُولٌ عن رَعِيَّتِهِ، والرَّجُلُ رَاعٍ في أَهْلِهِ ومَسْئُولٌ عن رَعِيَّتِهِ، والمَرْأَةُ في بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ ومَسْئُولَةٌ عن رَعِيَّتِهَا، والخَادِمُ في مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ ومَسْئُولٌ عن رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Seorang pembantu adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya.” (Muttafaq ‘alaihi) [2]Hadis di atas menjelaskan bahwa setiap individu bertanggung jawab atas apa yang ia diamanahi kepemimpinannya di hadapan Allah, baik sebagai pribadi, anggota keluarga, pemimpin, maupun bagian dari masyarakat. Dengan adanya pembagian peran dan tanggung jawab ini, kehidupan menjadi tertata, hak-hak terjaga, serta keadilan dapat ditegakkan di tengah-tengah manusia.Semakin besar sebuah kekuasaan yang dimiliki seseorang, semakin besar juga pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Di antara yang paling besar pertanggungjawabannya adalah penegak hukum.Posisi ulil amri dan penegak hukum dalam IslamIslam sangat memperhatikan kemaslahatan bersama. Di antara hal yang Islam perintahkan untuk mempertahankan kemaslahatan bersama adalah adanya ulil amri atau pemerintah di tengah masyarakat. Bahkan, Islam memerintahkan umatnya untuk menaatinya selama tidak dalam kemaksiatan. Allah berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, taati Allah, taati Rasul, dan ulil amri (pemerintah sah) kalian.” (QS. an-Nisa: 59)Ayat ini menjelaskan kedudukan ulil amri dalam agama Islam sangatlah spesial. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menaati mereka selama bukan dalam kemaksiatan. Maka, pertanyaan selanjutnya adalah siapakah ulil amri yang dimaksud dalam ayat tersebut? Para ulama memberikan banyak definisi tentang ulil amri, di antaranya Syekh Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata dalam kitabnya, Liqa al-Bab al-Maftuh,فمن هم أولو الأمر؟ أولو الأمر طائفتان من الناس: العلماء هم أولو الأمر في شريعة الله وتبيينها للخلق، والأمراء هم أولو الأمر في تنفيذ الشريعة وحفظ الأمن، أوجب الله طاعة هؤلاء؛ لأجل حفظ الشريعة وحفظ الأمن وانتظام الناس“Maka siapakah ulil amri itu? Ulil amri ada dua golongan dari manusia: 1) para ulama, mereka adalah ulil amri dalam hal syariat Allah dan dalam menjelaskannya kepada manusia; 2) dan para umara (pemimpin), mereka adalah ulil amri dalam hal menegakkan syariat dan menjaga keamanan. Allah mewajibkan ketaatan kepada mereka demi menjaga syariat, menjaga keamanan, dan agar kehidupan manusia berjalan dengan tertib.” [3]Kemudian Syekh Muhammad Ismail al-Muqaddim dalam al-Ilam bi Hurmat Ahl al-Ilm wal-Islam menukil perkataan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah,أمراء الحرب يسوسون الناس في أمر الدنيا والدين الظاهر، وشيوخ العلم يسوسون الناس بما يرجع إليهم من العلم والدين، وهؤلاء أولو الأمر“Pemimpin dalam urusan peperangan dan pemerintahan mengatur manusia dalam perkara dunia serta urusan agama yang tampak. Adapun para syekh dan ulama membimbing manusia dalam hal ilmu dan urusan agama yang kembali kepada mereka. Kedua golongan inilah yang disebut sebagai ulil amri.” [4]Dari penjelasan beliau di atas, dapat disimpulkan bahwa penegak hukum yang bertanggung jawab dalam menetapkan dan menjalankan hukum pidana di tengah masyarakat, serta dalam membuat dan menerapkan kebijakan, termasuk bagian dari ulil amri yang disebutkan dalam ayat tersebut. Sebab, merekalah yang memiliki serta disepakati untuk memberi kebijakan dan keputusan hukum. Oleh karena itu, pada dasarnya, selama mereka tidak memerintahkan kepada keburukan, maka wajib bagi kaum muslimin untuk patuh kepada mereka.Selain mendapatkan hak untuk ditaati oleh rakyatnya, para ulil amri, dalam hal ini penegak hukum, memiliki kewajiban besar dalam menjaga keberlangsungan maslahat di tengah masyarakat. Sebagaimana telah kita pahami sebelumnya, syariat ini Allah adakan dengan tujuan kemaslahatan bersama. Oleh karena itu, tujuan masyarakat untuk taat adalah agar kemaslahatan tersebut benar-benar terwujud di tengah mereka. Para penegak hukum akan dituntut dan dimintai pertanggungjawaban atas hal tersebut.Setelah kita mengetahui bahwa penegak hukum termasuk bagian dari ulil amri yang diperintahkan untuk ditaati, serta memahami besarnya tanggung jawab yang mereka pikul, maka menjadi jelas bahwa jabatan ini adalah pedang bermata dua: dapat mengangkat derajat seseorang setinggi-tingginya, atau justru menjatuhkannya ke dalam azab yang pedih. Semua itu bergantung pada satu hal mendasar, apakah ia menegakkan keadilan atau justru terjerumus dalam kezaliman. Karena itu, syariat Islam tidak hanya memberikan peringatan keras, tetapi juga menjanjikan keutamaan yang agung bagi para penegak hukum yang berlaku adil.Baca juga: Penegakan Hukum di Masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamKeutamaan bagi penegak hukum yang adilPara penegak hukum, Allah mewajibkan atas mereka berlaku adil pada banyak ayat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian berbuat adil dan kebaikan.” (QS. an-Nahl: 90)Allah Ta`ala juga berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّواْ الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُواْ بِالْعَدْلِ“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak atasnya dan juga ketika kalian memberi hukum untuk berhukum dengan cara yang adil.” (QS. an-Nisa: 48)Kedua ayat di atas adalah perintah mutlak untuk berlaku adil. Keadilan tersebut akan lebih berdampak jika dilakukan oleh para pemimpin. Pemimpin dilarang keras berbuat tidak adil dengan apapun alasannya.Kemudian, Allah Ta`ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.” (QS. al-Maidah: 8)Juga berfirman,يا داود إنا جعلناك خليفة في الأرض فاحكم بين الناس بالحق ولا تتبع الهوى فيضلك عن سبيل الله“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil.” (QS. Shad: 26)Kedua ayat ini juga menegaskan bahwa seorang penegak hukum dilarang membawa emosi pribadi bahkan keuntungan yang menguntungkan diri sendiri dalam memberi kebijakan karena hal tersebut akan mencederai keadilannya.Allah tidak hanya memerintahkan dengan cuma-cuma kepada para penegak hukum untuk berlaku adil, Allah juga menyiapkan keutamaan yang sangat banyak bagi para penegak hukum yang berbuat adil.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَومَ القِيَامَةِ في ظِلِّهِ، يَومَ لا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ في عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ في خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ في المَسْجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا في اللَّهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إلى نَفْسِهَا، قالَ: إنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فأخْفَاهَا حتَّى لا تَعْلَمَ شِمَالُهُ ما صَنَعَتْ يَمِينُهُ.“Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari kiamat dalam naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: pemimpin yang adil; pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah; seseorang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri lalu kedua matanya meneteskan air mata; seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena-Nya; seorang laki-laki yang diajak oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan untuk berbuat maksiat, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’; dan seseorang yang bersedekah, lalu ia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (Muttafaq ‘alaihi) [5]Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إنَّ المُقْسِطِينَ عِنْدَ اللهِ علَى مَنابِرَ مِن نُورٍ، عن يَمِينِ الرَّحْمَنِ عزَّ وجلَّ -وكِلْتا يَدَيْهِ يَمِينٌ- الَّذِينَ يَعْدِلُونَ في حُكْمِهِمْ وأَهْلِيهِمْ وما وَلُوا.“Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil berada di sisi Allah di atas mimbar-mimbar dari cahaya, di sebelah kanan Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla (kedua tangan-Nya adalah kanan), yaitu mereka yang berlaku adil dalam hukum mereka, terhadap keluarga mereka, dan dalam segala urusan yang dipimpin oleh mereka.” (HR. Muslim) [6]Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa penegak hukum itu terbagi dalam tiga keadaan, satu keadaan berada di surga dan dua keadaan berada di neraka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,القُضاةُ ثلاثةٌ، اثنانِ في النَّارِ، وواحدٌ في الجنَّةِ، رجلٌ علِمَ الحقَّ فقضَى بهِ فَهوَ في الجنَّةِ“Para hakim itu ada tiga: dua di neraka dan satu di surga. Seseorang yang mengetahui kebenaran, lalu memutuskan perkara dengannya, maka ia berada di surga.” (HR. Ibnu Majah, Nasa’i, Abu Daud, dan Tirmidzi) [7]Maka, para penegak hukum dapat mendapatkan keutamaan-keutamaan tersebut dengan melakukan keadilan dalam memberikan keputusan.Ancaman bagi penegak hukum yang zalimSelain memberikan keutamaan bagi penegak hukum yang berlaku adil, Allah juga memberikan ancaman yang sangat besar kepada para penegak hukum yang tidak berlaku adil. Sebab, Allah membenci kezaliman. Allah berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ“Sesungguhnya Allah membenci orang-orang yang berbuat zalim.” (QS. Ali Imran: 57)Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang berbuat zalim tanpa diberikan hukuman, karena Allah tidak akan luput atas kezaliman mereka. Allah berfirman,وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ“Janganlah sekali-kali engkau menyangka Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari di mana pandangan-pandangan terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42)Kita juga meyakini bahwa setiap kezaliman di dunia akan menjadi kegelapan di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اتَّقُوا الظُّلمَ؛ فإنَّ الظُّلمَ ظُلُماتٌ يومَ القيامةِ، واتَّقُوا الشُّحَّ؛ فإنَّ الشُّحَّ أهلكَ مَن كانَ قبلَكُم، حملَهُم على أنْ سَفكُوا دِمائَهم، واستَحَلُّوا مَحارِمَهم“Jauhilah kezaliman, karena sesungguhnya kezaliman adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat. Dan jauhilah sifat kikir, karena sifat kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kalian; sifat itu mendorong mereka untuk menumpahkan darah sesama mereka dan menghalalkan apa yang diharamkan atas mereka.” (HR. Muslim) [8]Allah mengancam neraka bagi penegak hukum yang tidak berbuat adil dengan kepemimpinan dan kebijakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من وَلِيَ من أمورِ المسلمين شيئًا، فغشَّهم؛ فهو في النَّارِ“Barang siapa yang memegang suatu urusan kaum muslimin, lalu ia menipu atau berkhianat kepada mereka, maka ia berada di neraka.” (HR. Thabrani) [9]Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,ما مِنْ عبدٍ يسترْعيه اللهُ رعيَّةً، يموتُ يومَ يموتُ، وهوَ غاشٌّ لرعِيَّتِهِ، إلَّا حرّمَ اللهُ عليْهِ الجنَّةَ“Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanah untuk memimpin rakyat, kemudian ia meninggal pada hari kematiannya dalam keadaan menipu atau mengkhianati rakyatnya, kecuali Allah haramkan surga baginya.” (Muttafaq ‘alaih) [10]Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,صِنْفَانِ من أهلِ النارِ لمْ أَرَهُما بَعْدُ : قومٌ مَعَهُمْ سِياطٌ كَأَذْنابِ البَقَرِ يَضْرِبُونَ الناسَ بِها، ونِساءٌ كَاسِياتٌ عَارِياتٌ، مُمِيلاتٌ مائِلاتٌ، رُؤوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ البُخْتِ المائِلَةِ، لا يَدْخُلَنَّ الجنةَ، ولا يَجِدَنَّ رِيحَها، وإِنَّ رِيحَها لَيوجَدُ من مَسِيرَةِ كذا وكذا“Dua golongan dari penghuni neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya: 1) suatu kaum yang bersama mereka cambuk-cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya, dan 2) para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, condong (kepada keburukan) dan membuat orang lain condong (kepada keburukan), kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga itu dapat tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim) [11]Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,القُضاةُ ثلاثةٌ، اثنانِ في النَّارِ، وواحدٌ في الجنَّةِ، رجلٌ علِمَ الحقَّ فقضَى بهِ فَهوَ في الجنَّةِ، ورجلٌ قضَى للنَّاسِ علَى جَهْلٍ فَهوَ في النَّارِ، ورجلٌ جارَ في الحُكْمِ فَهوَ في النَّارِ، لقُلنا: إنَّ القاضيَ إذا اجتَهَدَ فَهوَ في الجنَّةِ“Para hakim itu ada tiga: dua di neraka dan satu di surga. Seseorang yang mengetahui kebenaran lalu memutuskan perkara dengannya, maka ia di surga. Seseorang yang memutuskan perkara bagi manusia dalam keadaan jahil (tidak mengetahui kebenaran), maka ia di neraka. Dan seseorang yang berbuat zalim dalam hukum, maka ia di neraka.”  (HR. Ibnu Majah, Nasa’i, Abu Daud, dan Tirmidzi) [12]Hadis di atas menjelaskan bahwa seorang penegak hukum dapat dengan mudah masuk neraka jika ia tidak berbuat adil. Peluang masuk neraka adalah dua berbanding tiga, dan hal itu disebabkan oleh ketidakadilannya dalam memberikan keputusan.Rasulullah juga sangat membenci para penegak hukum yang menyulitkan urusan rakyatnya, terlebih lagi para penegak hukum yang mempersulit urusan manusia lain untuk kepentingan dirinya. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam hadis yang sangat panjang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa,اللهُمَّ مَنْ ولِي من أمْرِ أُمَّتِي شيئًا فَشَقَّ عليهم فاشْقُقْ علَيهِ ، ومَنْ ولِيَ من أمرِ أُمَّتِي شيئًا فَرَفَقَ بِهمْ فارْفُقْ بِهِ“Ya Allah, siapa saja yang memegang suatu urusan dari umatku, lalu ia menyusahkan mereka, maka persulitlah ia. Dan siapa saja yang memegang suatu urusan dari umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah Engkau kepadanya.” [13]Ancaman-ancaman itu Allah berikan agar para penegak hukum benar-benar berjalan sesuai dengan fungsinya. Sehingga, jika penegak hukum dirasa dapat berlaku adil, diharapkan lebih tersebarnya kemaslahatan kepada umat manusia.KesimpulanDapat dipahami bahwa jabatan sebagai penegak hukum bukanlah sekadar posisi duniawi, tetapi amanah besar yang menentukan keselamatan di akhirat. Ia benar-benar menjadi pedang bermata dua: keadilan yang ditegakkan akan mengangkat derajat hingga mendapatkan naungan Allah, sementara kezaliman yang dilakukan akan menyeret pelakunya kepada ancaman yang sangat keras. Oleh karena itu, setiap keputusan, sekecil apa pun, harus dibangun di atas rasa takut kepada Allah dan kesadaran akan hisab yang pasti. Allah Ta’ala mengingatkan dengan sangat tegas,وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِم مَّوْعِدًا“Dan negeri-negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan Kami telah menetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.” (QS. al-Kahfi: 59)Ayat ini menjadi peringatan bahwa kezaliman bukan hanya menghancurkan individu, tetapi juga bisa menghancurkan suatu masyarakat. Hendaknya setiap penegak hukum senantiasa menimbang setiap kebijakan dan keputusan dengan keadilan, karena di situlah letak keselamatan, baik bagi dirinya di akhirat maupun bagi masyarakat yang ia pimpin di dunia.Baca juga: Pilih Kasih dalam Penegakan Hukum, Faktor Hancurnya Sebuah Negara***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Imam Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 5: 46.[2] Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 2751. Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1829, dengan perbedaan redaksi yang ringan.[3] Syekh Ibnu Utsaimin, Liqa al-Bab al-Maftuh, 38: 4.[4] Syekh Muhammad Ismail al-Muqaddim, al-Ilam bi Hurmat Ahl al-Ilm wal-Islam, hal. 171.[5] Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6806. Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1031.[6] Imam Muslim, Shahih Muslim, no. 1827.[7] Hadis riwayat Imam Abu Dawud no. 3573, Imam at-Tirmidzi no. 1322, Imam Ibnu Majah no. 2315 (lafaz Ibnu Majah), dan Imam an-Nasai dalam as-Sunan al-Kubra no. 5922; dinilai sahih oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1887.[8] Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 2578.[9] Imam at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath no. 3481, disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, no. 2206[10] Hadis riwayat Imam al-Bukhari no. 7150 dan Imam Muslim no. 142 (lafaz Muslim).[11] Hadis riwayat Imam Muslim, Shahih Muslim, no. 2128.[12] Hadis riwayat Imam Abu Dawud no. 3573, Imam at-Tirmidzi no. 1322, Imam Ibnu Majah no. 2315 (lafaz Ibnu Majah), dan Imam an-Nasai dalam as-Sunan al-Kubra no. 5922; dinilai sahih oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1887.[13] Hadis riwayat Imam Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, no. 1828 (dengan redaksi lebih panjang). Daftar Pustakaal-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih al-Adab al-Mufrad. Riyadh: Maktabah al-Maarif.al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih al-Jami‘ Ash-Shaghir wa Ziyadatuhu. Beirut: Al-Maktabah al-Islami.al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Ibnu Majah. Riyadh: Maktabah al-Maarif.Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asyats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar ar-Risalah.al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir.Ibnu Katsir, Ismail bin Umar bin Katsir ad-Dimasyqi. Tafsir al-Qur’an al-Azhim. Giza: Muassasah Qurtubah, Maktabah Aulad asy-Syaikh, 1421 H / 2000 M.Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibni Majah. Beirut: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah.al-Muqaddim, Muhammad bin Ahmad bin Ismail. al-Ilam bi Hurmat Ahl al-Ilm wal-Islam. Riyadh: Dar Taibah, Maktabah al-Kautsar, 1419 H / 1998 M.Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi.an-Nasai, Ahmad bin Syuaib. as-Sunan al-Kubra. Beirut: Muassasah ar-Risalah.at-Tabarani, Sulaiman bin Ahmad. al-Mu‘jam al-Awsath. Beirut: Dar al-Haramain.at-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan at-Tirmidzi. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami.al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih bin Muhammad. Liqa al-Bab al-Maftuh. IslamWeb, 1421 H.


Daftar Isi TogglePosisi ulil amri dan penegak hukum dalam IslamKeutamaan bagi penegak hukum yang adilAncaman bagi penegak hukum yang zalimKesimpulanIslam adalah agama yang sangat sempurna. Kesempurnaannya mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak ada satu pun persoalan yang luput dari perhatian Islam. Semua itu Allah tetapkan agar kemaslahatan dapat dirasakan oleh seluruh makhluk. Allah berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini, telah Kusempurnakan agama kalian, Kulengkapkan nikmatu-Ku bagi kalian, dan Kuridai Islam sebagai agama atas kalian.” (QS. al-Maidah: 3)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat tersebut,فلما أكمل الدين لهم تمت النعمة عليهم“Ketika Allah menyempurnakan (syariat) agama untuk mereka, maka sempurnalah kenikmatan atas mereka.” [1]Berdasarkan ayat Al-Qur’an serta penjelasan Ibnu Katsir rahimahullah, dapat dipahami bahwa kesempurnaan Islam merupakan wujud sempurnanya nikmat Allah bagi umat manusia. Syariat Islam tidaklah ditetapkan kecuali untuk menghadirkan kemaslahatan, menjaga kehidupan, serta menunjang kebaikan dan kesejahteraan manusia beserta seluruh makhluk.Di antara bentuk kesempurnaan syariat yang Islam ajarkan untuk menunjang kehidupan sesama adalah bahwa manusia diberi tanggung jawab sesuai dengan peranannya. Setiap orang memiliki amanah yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ ومَسْئُولٌ عن رَعِيَّتِهِ، والإِمَامُ رَاعٍ ومَسْئُولٌ عن رَعِيَّتِهِ، والرَّجُلُ رَاعٍ في أَهْلِهِ ومَسْئُولٌ عن رَعِيَّتِهِ، والمَرْأَةُ في بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ ومَسْئُولَةٌ عن رَعِيَّتِهَا، والخَادِمُ في مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ ومَسْئُولٌ عن رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Seorang pembantu adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya.” (Muttafaq ‘alaihi) [2]Hadis di atas menjelaskan bahwa setiap individu bertanggung jawab atas apa yang ia diamanahi kepemimpinannya di hadapan Allah, baik sebagai pribadi, anggota keluarga, pemimpin, maupun bagian dari masyarakat. Dengan adanya pembagian peran dan tanggung jawab ini, kehidupan menjadi tertata, hak-hak terjaga, serta keadilan dapat ditegakkan di tengah-tengah manusia.Semakin besar sebuah kekuasaan yang dimiliki seseorang, semakin besar juga pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Di antara yang paling besar pertanggungjawabannya adalah penegak hukum.Posisi ulil amri dan penegak hukum dalam IslamIslam sangat memperhatikan kemaslahatan bersama. Di antara hal yang Islam perintahkan untuk mempertahankan kemaslahatan bersama adalah adanya ulil amri atau pemerintah di tengah masyarakat. Bahkan, Islam memerintahkan umatnya untuk menaatinya selama tidak dalam kemaksiatan. Allah berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, taati Allah, taati Rasul, dan ulil amri (pemerintah sah) kalian.” (QS. an-Nisa: 59)Ayat ini menjelaskan kedudukan ulil amri dalam agama Islam sangatlah spesial. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menaati mereka selama bukan dalam kemaksiatan. Maka, pertanyaan selanjutnya adalah siapakah ulil amri yang dimaksud dalam ayat tersebut? Para ulama memberikan banyak definisi tentang ulil amri, di antaranya Syekh Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata dalam kitabnya, Liqa al-Bab al-Maftuh,فمن هم أولو الأمر؟ أولو الأمر طائفتان من الناس: العلماء هم أولو الأمر في شريعة الله وتبيينها للخلق، والأمراء هم أولو الأمر في تنفيذ الشريعة وحفظ الأمن، أوجب الله طاعة هؤلاء؛ لأجل حفظ الشريعة وحفظ الأمن وانتظام الناس“Maka siapakah ulil amri itu? Ulil amri ada dua golongan dari manusia: 1) para ulama, mereka adalah ulil amri dalam hal syariat Allah dan dalam menjelaskannya kepada manusia; 2) dan para umara (pemimpin), mereka adalah ulil amri dalam hal menegakkan syariat dan menjaga keamanan. Allah mewajibkan ketaatan kepada mereka demi menjaga syariat, menjaga keamanan, dan agar kehidupan manusia berjalan dengan tertib.” [3]Kemudian Syekh Muhammad Ismail al-Muqaddim dalam al-Ilam bi Hurmat Ahl al-Ilm wal-Islam menukil perkataan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah,أمراء الحرب يسوسون الناس في أمر الدنيا والدين الظاهر، وشيوخ العلم يسوسون الناس بما يرجع إليهم من العلم والدين، وهؤلاء أولو الأمر“Pemimpin dalam urusan peperangan dan pemerintahan mengatur manusia dalam perkara dunia serta urusan agama yang tampak. Adapun para syekh dan ulama membimbing manusia dalam hal ilmu dan urusan agama yang kembali kepada mereka. Kedua golongan inilah yang disebut sebagai ulil amri.” [4]Dari penjelasan beliau di atas, dapat disimpulkan bahwa penegak hukum yang bertanggung jawab dalam menetapkan dan menjalankan hukum pidana di tengah masyarakat, serta dalam membuat dan menerapkan kebijakan, termasuk bagian dari ulil amri yang disebutkan dalam ayat tersebut. Sebab, merekalah yang memiliki serta disepakati untuk memberi kebijakan dan keputusan hukum. Oleh karena itu, pada dasarnya, selama mereka tidak memerintahkan kepada keburukan, maka wajib bagi kaum muslimin untuk patuh kepada mereka.Selain mendapatkan hak untuk ditaati oleh rakyatnya, para ulil amri, dalam hal ini penegak hukum, memiliki kewajiban besar dalam menjaga keberlangsungan maslahat di tengah masyarakat. Sebagaimana telah kita pahami sebelumnya, syariat ini Allah adakan dengan tujuan kemaslahatan bersama. Oleh karena itu, tujuan masyarakat untuk taat adalah agar kemaslahatan tersebut benar-benar terwujud di tengah mereka. Para penegak hukum akan dituntut dan dimintai pertanggungjawaban atas hal tersebut.Setelah kita mengetahui bahwa penegak hukum termasuk bagian dari ulil amri yang diperintahkan untuk ditaati, serta memahami besarnya tanggung jawab yang mereka pikul, maka menjadi jelas bahwa jabatan ini adalah pedang bermata dua: dapat mengangkat derajat seseorang setinggi-tingginya, atau justru menjatuhkannya ke dalam azab yang pedih. Semua itu bergantung pada satu hal mendasar, apakah ia menegakkan keadilan atau justru terjerumus dalam kezaliman. Karena itu, syariat Islam tidak hanya memberikan peringatan keras, tetapi juga menjanjikan keutamaan yang agung bagi para penegak hukum yang berlaku adil.Baca juga: Penegakan Hukum di Masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamKeutamaan bagi penegak hukum yang adilPara penegak hukum, Allah mewajibkan atas mereka berlaku adil pada banyak ayat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian berbuat adil dan kebaikan.” (QS. an-Nahl: 90)Allah Ta`ala juga berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّواْ الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُواْ بِالْعَدْلِ“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak atasnya dan juga ketika kalian memberi hukum untuk berhukum dengan cara yang adil.” (QS. an-Nisa: 48)Kedua ayat di atas adalah perintah mutlak untuk berlaku adil. Keadilan tersebut akan lebih berdampak jika dilakukan oleh para pemimpin. Pemimpin dilarang keras berbuat tidak adil dengan apapun alasannya.Kemudian, Allah Ta`ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.” (QS. al-Maidah: 8)Juga berfirman,يا داود إنا جعلناك خليفة في الأرض فاحكم بين الناس بالحق ولا تتبع الهوى فيضلك عن سبيل الله“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil.” (QS. Shad: 26)Kedua ayat ini juga menegaskan bahwa seorang penegak hukum dilarang membawa emosi pribadi bahkan keuntungan yang menguntungkan diri sendiri dalam memberi kebijakan karena hal tersebut akan mencederai keadilannya.Allah tidak hanya memerintahkan dengan cuma-cuma kepada para penegak hukum untuk berlaku adil, Allah juga menyiapkan keutamaan yang sangat banyak bagi para penegak hukum yang berbuat adil.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَومَ القِيَامَةِ في ظِلِّهِ، يَومَ لا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ في عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ في خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ في المَسْجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا في اللَّهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إلى نَفْسِهَا، قالَ: إنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فأخْفَاهَا حتَّى لا تَعْلَمَ شِمَالُهُ ما صَنَعَتْ يَمِينُهُ.“Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari kiamat dalam naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: pemimpin yang adil; pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah; seseorang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri lalu kedua matanya meneteskan air mata; seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena-Nya; seorang laki-laki yang diajak oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan untuk berbuat maksiat, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’; dan seseorang yang bersedekah, lalu ia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (Muttafaq ‘alaihi) [5]Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إنَّ المُقْسِطِينَ عِنْدَ اللهِ علَى مَنابِرَ مِن نُورٍ، عن يَمِينِ الرَّحْمَنِ عزَّ وجلَّ -وكِلْتا يَدَيْهِ يَمِينٌ- الَّذِينَ يَعْدِلُونَ في حُكْمِهِمْ وأَهْلِيهِمْ وما وَلُوا.“Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil berada di sisi Allah di atas mimbar-mimbar dari cahaya, di sebelah kanan Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla (kedua tangan-Nya adalah kanan), yaitu mereka yang berlaku adil dalam hukum mereka, terhadap keluarga mereka, dan dalam segala urusan yang dipimpin oleh mereka.” (HR. Muslim) [6]Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa penegak hukum itu terbagi dalam tiga keadaan, satu keadaan berada di surga dan dua keadaan berada di neraka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,القُضاةُ ثلاثةٌ، اثنانِ في النَّارِ، وواحدٌ في الجنَّةِ، رجلٌ علِمَ الحقَّ فقضَى بهِ فَهوَ في الجنَّةِ“Para hakim itu ada tiga: dua di neraka dan satu di surga. Seseorang yang mengetahui kebenaran, lalu memutuskan perkara dengannya, maka ia berada di surga.” (HR. Ibnu Majah, Nasa’i, Abu Daud, dan Tirmidzi) [7]Maka, para penegak hukum dapat mendapatkan keutamaan-keutamaan tersebut dengan melakukan keadilan dalam memberikan keputusan.Ancaman bagi penegak hukum yang zalimSelain memberikan keutamaan bagi penegak hukum yang berlaku adil, Allah juga memberikan ancaman yang sangat besar kepada para penegak hukum yang tidak berlaku adil. Sebab, Allah membenci kezaliman. Allah berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ“Sesungguhnya Allah membenci orang-orang yang berbuat zalim.” (QS. Ali Imran: 57)Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang berbuat zalim tanpa diberikan hukuman, karena Allah tidak akan luput atas kezaliman mereka. Allah berfirman,وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ“Janganlah sekali-kali engkau menyangka Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari di mana pandangan-pandangan terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42)Kita juga meyakini bahwa setiap kezaliman di dunia akan menjadi kegelapan di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اتَّقُوا الظُّلمَ؛ فإنَّ الظُّلمَ ظُلُماتٌ يومَ القيامةِ، واتَّقُوا الشُّحَّ؛ فإنَّ الشُّحَّ أهلكَ مَن كانَ قبلَكُم، حملَهُم على أنْ سَفكُوا دِمائَهم، واستَحَلُّوا مَحارِمَهم“Jauhilah kezaliman, karena sesungguhnya kezaliman adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat. Dan jauhilah sifat kikir, karena sifat kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kalian; sifat itu mendorong mereka untuk menumpahkan darah sesama mereka dan menghalalkan apa yang diharamkan atas mereka.” (HR. Muslim) [8]Allah mengancam neraka bagi penegak hukum yang tidak berbuat adil dengan kepemimpinan dan kebijakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من وَلِيَ من أمورِ المسلمين شيئًا، فغشَّهم؛ فهو في النَّارِ“Barang siapa yang memegang suatu urusan kaum muslimin, lalu ia menipu atau berkhianat kepada mereka, maka ia berada di neraka.” (HR. Thabrani) [9]Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,ما مِنْ عبدٍ يسترْعيه اللهُ رعيَّةً، يموتُ يومَ يموتُ، وهوَ غاشٌّ لرعِيَّتِهِ، إلَّا حرّمَ اللهُ عليْهِ الجنَّةَ“Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanah untuk memimpin rakyat, kemudian ia meninggal pada hari kematiannya dalam keadaan menipu atau mengkhianati rakyatnya, kecuali Allah haramkan surga baginya.” (Muttafaq ‘alaih) [10]Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,صِنْفَانِ من أهلِ النارِ لمْ أَرَهُما بَعْدُ : قومٌ مَعَهُمْ سِياطٌ كَأَذْنابِ البَقَرِ يَضْرِبُونَ الناسَ بِها، ونِساءٌ كَاسِياتٌ عَارِياتٌ، مُمِيلاتٌ مائِلاتٌ، رُؤوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ البُخْتِ المائِلَةِ، لا يَدْخُلَنَّ الجنةَ، ولا يَجِدَنَّ رِيحَها، وإِنَّ رِيحَها لَيوجَدُ من مَسِيرَةِ كذا وكذا“Dua golongan dari penghuni neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya: 1) suatu kaum yang bersama mereka cambuk-cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya, dan 2) para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, condong (kepada keburukan) dan membuat orang lain condong (kepada keburukan), kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga itu dapat tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim) [11]Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,القُضاةُ ثلاثةٌ، اثنانِ في النَّارِ، وواحدٌ في الجنَّةِ، رجلٌ علِمَ الحقَّ فقضَى بهِ فَهوَ في الجنَّةِ، ورجلٌ قضَى للنَّاسِ علَى جَهْلٍ فَهوَ في النَّارِ، ورجلٌ جارَ في الحُكْمِ فَهوَ في النَّارِ، لقُلنا: إنَّ القاضيَ إذا اجتَهَدَ فَهوَ في الجنَّةِ“Para hakim itu ada tiga: dua di neraka dan satu di surga. Seseorang yang mengetahui kebenaran lalu memutuskan perkara dengannya, maka ia di surga. Seseorang yang memutuskan perkara bagi manusia dalam keadaan jahil (tidak mengetahui kebenaran), maka ia di neraka. Dan seseorang yang berbuat zalim dalam hukum, maka ia di neraka.”  (HR. Ibnu Majah, Nasa’i, Abu Daud, dan Tirmidzi) [12]Hadis di atas menjelaskan bahwa seorang penegak hukum dapat dengan mudah masuk neraka jika ia tidak berbuat adil. Peluang masuk neraka adalah dua berbanding tiga, dan hal itu disebabkan oleh ketidakadilannya dalam memberikan keputusan.Rasulullah juga sangat membenci para penegak hukum yang menyulitkan urusan rakyatnya, terlebih lagi para penegak hukum yang mempersulit urusan manusia lain untuk kepentingan dirinya. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam hadis yang sangat panjang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa,اللهُمَّ مَنْ ولِي من أمْرِ أُمَّتِي شيئًا فَشَقَّ عليهم فاشْقُقْ علَيهِ ، ومَنْ ولِيَ من أمرِ أُمَّتِي شيئًا فَرَفَقَ بِهمْ فارْفُقْ بِهِ“Ya Allah, siapa saja yang memegang suatu urusan dari umatku, lalu ia menyusahkan mereka, maka persulitlah ia. Dan siapa saja yang memegang suatu urusan dari umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah Engkau kepadanya.” [13]Ancaman-ancaman itu Allah berikan agar para penegak hukum benar-benar berjalan sesuai dengan fungsinya. Sehingga, jika penegak hukum dirasa dapat berlaku adil, diharapkan lebih tersebarnya kemaslahatan kepada umat manusia.KesimpulanDapat dipahami bahwa jabatan sebagai penegak hukum bukanlah sekadar posisi duniawi, tetapi amanah besar yang menentukan keselamatan di akhirat. Ia benar-benar menjadi pedang bermata dua: keadilan yang ditegakkan akan mengangkat derajat hingga mendapatkan naungan Allah, sementara kezaliman yang dilakukan akan menyeret pelakunya kepada ancaman yang sangat keras. Oleh karena itu, setiap keputusan, sekecil apa pun, harus dibangun di atas rasa takut kepada Allah dan kesadaran akan hisab yang pasti. Allah Ta’ala mengingatkan dengan sangat tegas,وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِم مَّوْعِدًا“Dan negeri-negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan Kami telah menetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.” (QS. al-Kahfi: 59)Ayat ini menjadi peringatan bahwa kezaliman bukan hanya menghancurkan individu, tetapi juga bisa menghancurkan suatu masyarakat. Hendaknya setiap penegak hukum senantiasa menimbang setiap kebijakan dan keputusan dengan keadilan, karena di situlah letak keselamatan, baik bagi dirinya di akhirat maupun bagi masyarakat yang ia pimpin di dunia.Baca juga: Pilih Kasih dalam Penegakan Hukum, Faktor Hancurnya Sebuah Negara***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Imam Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 5: 46.[2] Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 2751. Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1829, dengan perbedaan redaksi yang ringan.[3] Syekh Ibnu Utsaimin, Liqa al-Bab al-Maftuh, 38: 4.[4] Syekh Muhammad Ismail al-Muqaddim, al-Ilam bi Hurmat Ahl al-Ilm wal-Islam, hal. 171.[5] Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6806. Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1031.[6] Imam Muslim, Shahih Muslim, no. 1827.[7] Hadis riwayat Imam Abu Dawud no. 3573, Imam at-Tirmidzi no. 1322, Imam Ibnu Majah no. 2315 (lafaz Ibnu Majah), dan Imam an-Nasai dalam as-Sunan al-Kubra no. 5922; dinilai sahih oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1887.[8] Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 2578.[9] Imam at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath no. 3481, disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, no. 2206[10] Hadis riwayat Imam al-Bukhari no. 7150 dan Imam Muslim no. 142 (lafaz Muslim).[11] Hadis riwayat Imam Muslim, Shahih Muslim, no. 2128.[12] Hadis riwayat Imam Abu Dawud no. 3573, Imam at-Tirmidzi no. 1322, Imam Ibnu Majah no. 2315 (lafaz Ibnu Majah), dan Imam an-Nasai dalam as-Sunan al-Kubra no. 5922; dinilai sahih oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1887.[13] Hadis riwayat Imam Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, no. 1828 (dengan redaksi lebih panjang). Daftar Pustakaal-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih al-Adab al-Mufrad. Riyadh: Maktabah al-Maarif.al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih al-Jami‘ Ash-Shaghir wa Ziyadatuhu. Beirut: Al-Maktabah al-Islami.al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Ibnu Majah. Riyadh: Maktabah al-Maarif.Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asyats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar ar-Risalah.al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir.Ibnu Katsir, Ismail bin Umar bin Katsir ad-Dimasyqi. Tafsir al-Qur’an al-Azhim. Giza: Muassasah Qurtubah, Maktabah Aulad asy-Syaikh, 1421 H / 2000 M.Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibni Majah. Beirut: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah.al-Muqaddim, Muhammad bin Ahmad bin Ismail. al-Ilam bi Hurmat Ahl al-Ilm wal-Islam. Riyadh: Dar Taibah, Maktabah al-Kautsar, 1419 H / 1998 M.Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi.an-Nasai, Ahmad bin Syuaib. as-Sunan al-Kubra. Beirut: Muassasah ar-Risalah.at-Tabarani, Sulaiman bin Ahmad. al-Mu‘jam al-Awsath. Beirut: Dar al-Haramain.at-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan at-Tirmidzi. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami.al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih bin Muhammad. Liqa al-Bab al-Maftuh. IslamWeb, 1421 H.

Bolehkah Minum Obat Penunda Haid Demi Puasa Full? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Syaikh yang mulia, dalam pertanyaan terakhirnya, ia menyebutkan bahwa ia mengalami siklus haid yang tidak seperti wanita pada umumnya. Haidnya terjadi dua kali pada bulan Ramadan yang penuh berkah ini, masing-masing selama sepuluh hari. Ia bertanya, apakah diperbolehkan mengonsumsi obat penunda haid agar siklusnya tertunda hingga bulan Syawal? Rujukan utama dalam hal ini adalah pendapat dokter spesialis. Apabila dokter spesialis menyatakan bahwa penggunaan obat-obat ini tidak berbahaya, maka boleh dilakukan. Namun, jika itu berbahaya bagi kesehatan, maka tidak boleh. Karena badan manusia bukanlah milik dirinya sendiri, tapi milik Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, ia tidak boleh memperlakukan tubuhnya dengan cara yang dapat membahayakan diri sendiri. Jadi, yang menjadi rujukan dalam hal ini adalah pandangan dari dokter spesialis. Meski demikian, kami nasihatkan kepada saudari yang mulia—sekadar sebagai nasihat—untuk tidak melakukan hal tersebut. Karena apabila seseorang menghalangi sesuatu yang telah Allah tetapkan secara alami pada tubuh manusia, atau menimbulkan perubahan yang tidak alami pada tubuhnya, maka hal itu dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Allah Ta’ala berfirman: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4). Allah Ta’ala menciptakan manusia dalam keadaan dan bentuk terbaik. Maka hendaklah manusia tidak ikut campur dalam hal itu. Tindakan wanita yang sengaja menahan darah haid terkadang dapat menimbulkan masalah kesehatan, meskipun dampaknya baru terasa dalam jangka panjang. Oleh karena itu, saran kami adalah agar ia tidak melakukannya. Alhamdulillah apabila ia mengalami haid, ia diperbolehkan untuk makan dan minum. Cukup dengan mengganti (qadha) hari-hari puasa tersebut setelah bulan Ramadan. Mengenai kekhawatirannya akan kehilangan kesempatan beribadah, maka kami katakan bahwa ia hanya dilarang melakukan shalat, puasa, dan tawaf. Itu saja. Ia hanya dilarang dari shalat, puasa, dan tawaf saja. Adapun ibadah selain itu, maka ia sama sepenuhnya seperti wanita yang tidak sedang haid. Ia tetap boleh membaca Al-Qur’an, asalkan tidak menyentuh mushaf secara langsung. Jika ingin membaca dari mushaf, hendaknya menggunakan pembatas atau alas. Ia juga bisa berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana wanita lainnya, dengan zikir apa pun, dan bisa juga berdoa. Kondisinya sama seperti wanita yang suci, kecuali hanya dalam shalat, puasa, dan tawaf. ===== فِي سُؤَالِهَا الْأَخِيرِ شَيْخَنَا الْكَرِيمُ تَقُولُ إِنَّ الدَّوْرَةَ الشَّهْرِيَّةَ تَأْتِيهَا عَلَى غَيْرِ الْمُعْتَادِ عِنْدَ النِّسَاءِ تَأْتِيهَا مَرَّتَيْنِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ الْمُبَارَكِ عَشَرَةَ أَيَّامٍ عَشَرَةَ أَيَّامٍ فَتَقُولُ هَلْ يَجُوزُ لَهَا أَنْ تَتَنَاوَلَ بَعْضَ الْعَقَاقِيرِ الَّتِي تُؤَخِّرُ هَذِهِ الدَّوْرَةَ الشَّهْرِيَّةَ إِلَى شَهْرِ شَوَّالٍ؟ الْمَرْجِعُ فِي ذَلِكَ لِرَأْيِ الطَّبِيبِ الْمُخْتَصِّ إِذَا كَانَ الطَّبِيبُ الْمُخْتَصُّ قَالَ إِنَّ اسْتِخْدَامَ هَذِهِ الْعَقَاقِيرِ غَيْرُ مُضِرٍّ فَلَا بَأْسَ أَمَّا إِذَا كَانَ مُضِرًّا لِلصِّحَّةِ فَلَا يَجُوزُ لِأَنَّ بَدَنَ الْإِنْسَانِ لَيْسَ مِلْكًا لَهُ وَإِنَّمَا هُوَ مِلْكٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَتَصَرَّفَ فِي بَدَنِهِ بِمَا يَضُرُّهُ فَالْمَرْجِعُ فِي ذَلِكَ إِذًا إِلَى رَأْيِ الطَّبِيبِ الْمُخْتَصِّ لَكِنْ نَنْصَحُ الْأُخْتَ الْكَرِيمَةَ عَلَى سَبِيلِ النَّصِيحَةِ أَلَّا تَفْعَلَ ذَلِكَ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا حَبَسَ أَمْرًا جَبَلَ اللَّهُ تَعَالَى الأَبْدَانَ عَلَيْهِ أَوْ أَحْدَثَ فِي بَدَنِهِ شَيْئًا غَيْرَ مُعْتَادٍ فَإِنَّهُ يُسَبِّبُ لَهُ الْمَشَاكِلَ الصِّحِّيَّةَ يَعْنِي اللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ اللَّهُ تَعَالَى خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ حَالٍ وَأَحْسَنِ تَقْوِيمٍ فَيَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ لَا يَتَدَخَّلَ فِي ذَلِكَ وَكَوْنُ الْمَرْأَةِ تَحْبِسُ دَمَ الْحَيْضِ هَذَا قَدْ يُسَبِّبُ لَهَا مَشَاكِلَ وَلَوْ عَلَى الْمَدَى الْبَعِيدِ فَالَّذِي نَنْصَحُهَا بِهِ أَنْ لَا تَفْعَلَ ذَلِكَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ يَعْنِي هِيَ إِذَا أَتَاهَا الْحَيْضُ لَهَا أَنْ تَأْكُلَ وَأَنْ تَشْرَبَ وَتَقْضِي هَذِهِ الْأَيَّامَ بَعْدَ رَمَضَانَ وَأَمَّا قَوْلُهَا إِنَّهَا يَفُوتُهَا عِبَادَاتٌ فَنَقُولُ هِيَ فَقَطْ مَمْنُوعَةٌ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالطَّوَافِ فَقَطْ مَمْنُوعَةٌ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالطَّوَافِ فَقَطْ أَمَّا مَا عَدَا ذَلِكَ فَهِيَ كَغَيْرِ الْحَائِضِ تَمَامًا لَهَا أَنْ تَقْرَأَ الْقُرْآنَ لَكِنْ بِدُوْنِ أَنْ تَمَسَّ الْمُصْحَفَ إِذَا أَرَادَتْ أَنْ تَقْرَأَ مِنَ الْمُصْحَفِ يَكُونَ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ تَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ هِيَ كَغَيْرِ الْحَائِضِ تَمَامًا بِجَمِيْعِ الْأَذْكَارِ وَمِنْ ذَلِكَ أَيْضًا الدُّعَاءُ فَهِيَ كَغَيْرِ الْحَائِضِ إِلَّا فَقَطْ الصَّلَاةَ وَالصِّيَامَ وَالطَّوَافَ

Bolehkah Minum Obat Penunda Haid Demi Puasa Full? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Syaikh yang mulia, dalam pertanyaan terakhirnya, ia menyebutkan bahwa ia mengalami siklus haid yang tidak seperti wanita pada umumnya. Haidnya terjadi dua kali pada bulan Ramadan yang penuh berkah ini, masing-masing selama sepuluh hari. Ia bertanya, apakah diperbolehkan mengonsumsi obat penunda haid agar siklusnya tertunda hingga bulan Syawal? Rujukan utama dalam hal ini adalah pendapat dokter spesialis. Apabila dokter spesialis menyatakan bahwa penggunaan obat-obat ini tidak berbahaya, maka boleh dilakukan. Namun, jika itu berbahaya bagi kesehatan, maka tidak boleh. Karena badan manusia bukanlah milik dirinya sendiri, tapi milik Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, ia tidak boleh memperlakukan tubuhnya dengan cara yang dapat membahayakan diri sendiri. Jadi, yang menjadi rujukan dalam hal ini adalah pandangan dari dokter spesialis. Meski demikian, kami nasihatkan kepada saudari yang mulia—sekadar sebagai nasihat—untuk tidak melakukan hal tersebut. Karena apabila seseorang menghalangi sesuatu yang telah Allah tetapkan secara alami pada tubuh manusia, atau menimbulkan perubahan yang tidak alami pada tubuhnya, maka hal itu dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Allah Ta’ala berfirman: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4). Allah Ta’ala menciptakan manusia dalam keadaan dan bentuk terbaik. Maka hendaklah manusia tidak ikut campur dalam hal itu. Tindakan wanita yang sengaja menahan darah haid terkadang dapat menimbulkan masalah kesehatan, meskipun dampaknya baru terasa dalam jangka panjang. Oleh karena itu, saran kami adalah agar ia tidak melakukannya. Alhamdulillah apabila ia mengalami haid, ia diperbolehkan untuk makan dan minum. Cukup dengan mengganti (qadha) hari-hari puasa tersebut setelah bulan Ramadan. Mengenai kekhawatirannya akan kehilangan kesempatan beribadah, maka kami katakan bahwa ia hanya dilarang melakukan shalat, puasa, dan tawaf. Itu saja. Ia hanya dilarang dari shalat, puasa, dan tawaf saja. Adapun ibadah selain itu, maka ia sama sepenuhnya seperti wanita yang tidak sedang haid. Ia tetap boleh membaca Al-Qur’an, asalkan tidak menyentuh mushaf secara langsung. Jika ingin membaca dari mushaf, hendaknya menggunakan pembatas atau alas. Ia juga bisa berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana wanita lainnya, dengan zikir apa pun, dan bisa juga berdoa. Kondisinya sama seperti wanita yang suci, kecuali hanya dalam shalat, puasa, dan tawaf. ===== فِي سُؤَالِهَا الْأَخِيرِ شَيْخَنَا الْكَرِيمُ تَقُولُ إِنَّ الدَّوْرَةَ الشَّهْرِيَّةَ تَأْتِيهَا عَلَى غَيْرِ الْمُعْتَادِ عِنْدَ النِّسَاءِ تَأْتِيهَا مَرَّتَيْنِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ الْمُبَارَكِ عَشَرَةَ أَيَّامٍ عَشَرَةَ أَيَّامٍ فَتَقُولُ هَلْ يَجُوزُ لَهَا أَنْ تَتَنَاوَلَ بَعْضَ الْعَقَاقِيرِ الَّتِي تُؤَخِّرُ هَذِهِ الدَّوْرَةَ الشَّهْرِيَّةَ إِلَى شَهْرِ شَوَّالٍ؟ الْمَرْجِعُ فِي ذَلِكَ لِرَأْيِ الطَّبِيبِ الْمُخْتَصِّ إِذَا كَانَ الطَّبِيبُ الْمُخْتَصُّ قَالَ إِنَّ اسْتِخْدَامَ هَذِهِ الْعَقَاقِيرِ غَيْرُ مُضِرٍّ فَلَا بَأْسَ أَمَّا إِذَا كَانَ مُضِرًّا لِلصِّحَّةِ فَلَا يَجُوزُ لِأَنَّ بَدَنَ الْإِنْسَانِ لَيْسَ مِلْكًا لَهُ وَإِنَّمَا هُوَ مِلْكٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَتَصَرَّفَ فِي بَدَنِهِ بِمَا يَضُرُّهُ فَالْمَرْجِعُ فِي ذَلِكَ إِذًا إِلَى رَأْيِ الطَّبِيبِ الْمُخْتَصِّ لَكِنْ نَنْصَحُ الْأُخْتَ الْكَرِيمَةَ عَلَى سَبِيلِ النَّصِيحَةِ أَلَّا تَفْعَلَ ذَلِكَ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا حَبَسَ أَمْرًا جَبَلَ اللَّهُ تَعَالَى الأَبْدَانَ عَلَيْهِ أَوْ أَحْدَثَ فِي بَدَنِهِ شَيْئًا غَيْرَ مُعْتَادٍ فَإِنَّهُ يُسَبِّبُ لَهُ الْمَشَاكِلَ الصِّحِّيَّةَ يَعْنِي اللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ اللَّهُ تَعَالَى خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ حَالٍ وَأَحْسَنِ تَقْوِيمٍ فَيَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ لَا يَتَدَخَّلَ فِي ذَلِكَ وَكَوْنُ الْمَرْأَةِ تَحْبِسُ دَمَ الْحَيْضِ هَذَا قَدْ يُسَبِّبُ لَهَا مَشَاكِلَ وَلَوْ عَلَى الْمَدَى الْبَعِيدِ فَالَّذِي نَنْصَحُهَا بِهِ أَنْ لَا تَفْعَلَ ذَلِكَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ يَعْنِي هِيَ إِذَا أَتَاهَا الْحَيْضُ لَهَا أَنْ تَأْكُلَ وَأَنْ تَشْرَبَ وَتَقْضِي هَذِهِ الْأَيَّامَ بَعْدَ رَمَضَانَ وَأَمَّا قَوْلُهَا إِنَّهَا يَفُوتُهَا عِبَادَاتٌ فَنَقُولُ هِيَ فَقَطْ مَمْنُوعَةٌ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالطَّوَافِ فَقَطْ مَمْنُوعَةٌ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالطَّوَافِ فَقَطْ أَمَّا مَا عَدَا ذَلِكَ فَهِيَ كَغَيْرِ الْحَائِضِ تَمَامًا لَهَا أَنْ تَقْرَأَ الْقُرْآنَ لَكِنْ بِدُوْنِ أَنْ تَمَسَّ الْمُصْحَفَ إِذَا أَرَادَتْ أَنْ تَقْرَأَ مِنَ الْمُصْحَفِ يَكُونَ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ تَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ هِيَ كَغَيْرِ الْحَائِضِ تَمَامًا بِجَمِيْعِ الْأَذْكَارِ وَمِنْ ذَلِكَ أَيْضًا الدُّعَاءُ فَهِيَ كَغَيْرِ الْحَائِضِ إِلَّا فَقَطْ الصَّلَاةَ وَالصِّيَامَ وَالطَّوَافَ
Syaikh yang mulia, dalam pertanyaan terakhirnya, ia menyebutkan bahwa ia mengalami siklus haid yang tidak seperti wanita pada umumnya. Haidnya terjadi dua kali pada bulan Ramadan yang penuh berkah ini, masing-masing selama sepuluh hari. Ia bertanya, apakah diperbolehkan mengonsumsi obat penunda haid agar siklusnya tertunda hingga bulan Syawal? Rujukan utama dalam hal ini adalah pendapat dokter spesialis. Apabila dokter spesialis menyatakan bahwa penggunaan obat-obat ini tidak berbahaya, maka boleh dilakukan. Namun, jika itu berbahaya bagi kesehatan, maka tidak boleh. Karena badan manusia bukanlah milik dirinya sendiri, tapi milik Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, ia tidak boleh memperlakukan tubuhnya dengan cara yang dapat membahayakan diri sendiri. Jadi, yang menjadi rujukan dalam hal ini adalah pandangan dari dokter spesialis. Meski demikian, kami nasihatkan kepada saudari yang mulia—sekadar sebagai nasihat—untuk tidak melakukan hal tersebut. Karena apabila seseorang menghalangi sesuatu yang telah Allah tetapkan secara alami pada tubuh manusia, atau menimbulkan perubahan yang tidak alami pada tubuhnya, maka hal itu dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Allah Ta’ala berfirman: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4). Allah Ta’ala menciptakan manusia dalam keadaan dan bentuk terbaik. Maka hendaklah manusia tidak ikut campur dalam hal itu. Tindakan wanita yang sengaja menahan darah haid terkadang dapat menimbulkan masalah kesehatan, meskipun dampaknya baru terasa dalam jangka panjang. Oleh karena itu, saran kami adalah agar ia tidak melakukannya. Alhamdulillah apabila ia mengalami haid, ia diperbolehkan untuk makan dan minum. Cukup dengan mengganti (qadha) hari-hari puasa tersebut setelah bulan Ramadan. Mengenai kekhawatirannya akan kehilangan kesempatan beribadah, maka kami katakan bahwa ia hanya dilarang melakukan shalat, puasa, dan tawaf. Itu saja. Ia hanya dilarang dari shalat, puasa, dan tawaf saja. Adapun ibadah selain itu, maka ia sama sepenuhnya seperti wanita yang tidak sedang haid. Ia tetap boleh membaca Al-Qur’an, asalkan tidak menyentuh mushaf secara langsung. Jika ingin membaca dari mushaf, hendaknya menggunakan pembatas atau alas. Ia juga bisa berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana wanita lainnya, dengan zikir apa pun, dan bisa juga berdoa. Kondisinya sama seperti wanita yang suci, kecuali hanya dalam shalat, puasa, dan tawaf. ===== فِي سُؤَالِهَا الْأَخِيرِ شَيْخَنَا الْكَرِيمُ تَقُولُ إِنَّ الدَّوْرَةَ الشَّهْرِيَّةَ تَأْتِيهَا عَلَى غَيْرِ الْمُعْتَادِ عِنْدَ النِّسَاءِ تَأْتِيهَا مَرَّتَيْنِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ الْمُبَارَكِ عَشَرَةَ أَيَّامٍ عَشَرَةَ أَيَّامٍ فَتَقُولُ هَلْ يَجُوزُ لَهَا أَنْ تَتَنَاوَلَ بَعْضَ الْعَقَاقِيرِ الَّتِي تُؤَخِّرُ هَذِهِ الدَّوْرَةَ الشَّهْرِيَّةَ إِلَى شَهْرِ شَوَّالٍ؟ الْمَرْجِعُ فِي ذَلِكَ لِرَأْيِ الطَّبِيبِ الْمُخْتَصِّ إِذَا كَانَ الطَّبِيبُ الْمُخْتَصُّ قَالَ إِنَّ اسْتِخْدَامَ هَذِهِ الْعَقَاقِيرِ غَيْرُ مُضِرٍّ فَلَا بَأْسَ أَمَّا إِذَا كَانَ مُضِرًّا لِلصِّحَّةِ فَلَا يَجُوزُ لِأَنَّ بَدَنَ الْإِنْسَانِ لَيْسَ مِلْكًا لَهُ وَإِنَّمَا هُوَ مِلْكٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَتَصَرَّفَ فِي بَدَنِهِ بِمَا يَضُرُّهُ فَالْمَرْجِعُ فِي ذَلِكَ إِذًا إِلَى رَأْيِ الطَّبِيبِ الْمُخْتَصِّ لَكِنْ نَنْصَحُ الْأُخْتَ الْكَرِيمَةَ عَلَى سَبِيلِ النَّصِيحَةِ أَلَّا تَفْعَلَ ذَلِكَ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا حَبَسَ أَمْرًا جَبَلَ اللَّهُ تَعَالَى الأَبْدَانَ عَلَيْهِ أَوْ أَحْدَثَ فِي بَدَنِهِ شَيْئًا غَيْرَ مُعْتَادٍ فَإِنَّهُ يُسَبِّبُ لَهُ الْمَشَاكِلَ الصِّحِّيَّةَ يَعْنِي اللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ اللَّهُ تَعَالَى خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ حَالٍ وَأَحْسَنِ تَقْوِيمٍ فَيَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ لَا يَتَدَخَّلَ فِي ذَلِكَ وَكَوْنُ الْمَرْأَةِ تَحْبِسُ دَمَ الْحَيْضِ هَذَا قَدْ يُسَبِّبُ لَهَا مَشَاكِلَ وَلَوْ عَلَى الْمَدَى الْبَعِيدِ فَالَّذِي نَنْصَحُهَا بِهِ أَنْ لَا تَفْعَلَ ذَلِكَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ يَعْنِي هِيَ إِذَا أَتَاهَا الْحَيْضُ لَهَا أَنْ تَأْكُلَ وَأَنْ تَشْرَبَ وَتَقْضِي هَذِهِ الْأَيَّامَ بَعْدَ رَمَضَانَ وَأَمَّا قَوْلُهَا إِنَّهَا يَفُوتُهَا عِبَادَاتٌ فَنَقُولُ هِيَ فَقَطْ مَمْنُوعَةٌ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالطَّوَافِ فَقَطْ مَمْنُوعَةٌ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالطَّوَافِ فَقَطْ أَمَّا مَا عَدَا ذَلِكَ فَهِيَ كَغَيْرِ الْحَائِضِ تَمَامًا لَهَا أَنْ تَقْرَأَ الْقُرْآنَ لَكِنْ بِدُوْنِ أَنْ تَمَسَّ الْمُصْحَفَ إِذَا أَرَادَتْ أَنْ تَقْرَأَ مِنَ الْمُصْحَفِ يَكُونَ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ تَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ هِيَ كَغَيْرِ الْحَائِضِ تَمَامًا بِجَمِيْعِ الْأَذْكَارِ وَمِنْ ذَلِكَ أَيْضًا الدُّعَاءُ فَهِيَ كَغَيْرِ الْحَائِضِ إِلَّا فَقَطْ الصَّلَاةَ وَالصِّيَامَ وَالطَّوَافَ


Syaikh yang mulia, dalam pertanyaan terakhirnya, ia menyebutkan bahwa ia mengalami siklus haid yang tidak seperti wanita pada umumnya. Haidnya terjadi dua kali pada bulan Ramadan yang penuh berkah ini, masing-masing selama sepuluh hari. Ia bertanya, apakah diperbolehkan mengonsumsi obat penunda haid agar siklusnya tertunda hingga bulan Syawal? Rujukan utama dalam hal ini adalah pendapat dokter spesialis. Apabila dokter spesialis menyatakan bahwa penggunaan obat-obat ini tidak berbahaya, maka boleh dilakukan. Namun, jika itu berbahaya bagi kesehatan, maka tidak boleh. Karena badan manusia bukanlah milik dirinya sendiri, tapi milik Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, ia tidak boleh memperlakukan tubuhnya dengan cara yang dapat membahayakan diri sendiri. Jadi, yang menjadi rujukan dalam hal ini adalah pandangan dari dokter spesialis. Meski demikian, kami nasihatkan kepada saudari yang mulia—sekadar sebagai nasihat—untuk tidak melakukan hal tersebut. Karena apabila seseorang menghalangi sesuatu yang telah Allah tetapkan secara alami pada tubuh manusia, atau menimbulkan perubahan yang tidak alami pada tubuhnya, maka hal itu dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Allah Ta’ala berfirman: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4). Allah Ta’ala menciptakan manusia dalam keadaan dan bentuk terbaik. Maka hendaklah manusia tidak ikut campur dalam hal itu. Tindakan wanita yang sengaja menahan darah haid terkadang dapat menimbulkan masalah kesehatan, meskipun dampaknya baru terasa dalam jangka panjang. Oleh karena itu, saran kami adalah agar ia tidak melakukannya. Alhamdulillah apabila ia mengalami haid, ia diperbolehkan untuk makan dan minum. Cukup dengan mengganti (qadha) hari-hari puasa tersebut setelah bulan Ramadan. Mengenai kekhawatirannya akan kehilangan kesempatan beribadah, maka kami katakan bahwa ia hanya dilarang melakukan shalat, puasa, dan tawaf. Itu saja. Ia hanya dilarang dari shalat, puasa, dan tawaf saja. Adapun ibadah selain itu, maka ia sama sepenuhnya seperti wanita yang tidak sedang haid. Ia tetap boleh membaca Al-Qur’an, asalkan tidak menyentuh mushaf secara langsung. Jika ingin membaca dari mushaf, hendaknya menggunakan pembatas atau alas. Ia juga bisa berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana wanita lainnya, dengan zikir apa pun, dan bisa juga berdoa. Kondisinya sama seperti wanita yang suci, kecuali hanya dalam shalat, puasa, dan tawaf. ===== فِي سُؤَالِهَا الْأَخِيرِ شَيْخَنَا الْكَرِيمُ تَقُولُ إِنَّ الدَّوْرَةَ الشَّهْرِيَّةَ تَأْتِيهَا عَلَى غَيْرِ الْمُعْتَادِ عِنْدَ النِّسَاءِ تَأْتِيهَا مَرَّتَيْنِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ الْمُبَارَكِ عَشَرَةَ أَيَّامٍ عَشَرَةَ أَيَّامٍ فَتَقُولُ هَلْ يَجُوزُ لَهَا أَنْ تَتَنَاوَلَ بَعْضَ الْعَقَاقِيرِ الَّتِي تُؤَخِّرُ هَذِهِ الدَّوْرَةَ الشَّهْرِيَّةَ إِلَى شَهْرِ شَوَّالٍ؟ الْمَرْجِعُ فِي ذَلِكَ لِرَأْيِ الطَّبِيبِ الْمُخْتَصِّ إِذَا كَانَ الطَّبِيبُ الْمُخْتَصُّ قَالَ إِنَّ اسْتِخْدَامَ هَذِهِ الْعَقَاقِيرِ غَيْرُ مُضِرٍّ فَلَا بَأْسَ أَمَّا إِذَا كَانَ مُضِرًّا لِلصِّحَّةِ فَلَا يَجُوزُ لِأَنَّ بَدَنَ الْإِنْسَانِ لَيْسَ مِلْكًا لَهُ وَإِنَّمَا هُوَ مِلْكٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَتَصَرَّفَ فِي بَدَنِهِ بِمَا يَضُرُّهُ فَالْمَرْجِعُ فِي ذَلِكَ إِذًا إِلَى رَأْيِ الطَّبِيبِ الْمُخْتَصِّ لَكِنْ نَنْصَحُ الْأُخْتَ الْكَرِيمَةَ عَلَى سَبِيلِ النَّصِيحَةِ أَلَّا تَفْعَلَ ذَلِكَ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا حَبَسَ أَمْرًا جَبَلَ اللَّهُ تَعَالَى الأَبْدَانَ عَلَيْهِ أَوْ أَحْدَثَ فِي بَدَنِهِ شَيْئًا غَيْرَ مُعْتَادٍ فَإِنَّهُ يُسَبِّبُ لَهُ الْمَشَاكِلَ الصِّحِّيَّةَ يَعْنِي اللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ اللَّهُ تَعَالَى خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ حَالٍ وَأَحْسَنِ تَقْوِيمٍ فَيَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ لَا يَتَدَخَّلَ فِي ذَلِكَ وَكَوْنُ الْمَرْأَةِ تَحْبِسُ دَمَ الْحَيْضِ هَذَا قَدْ يُسَبِّبُ لَهَا مَشَاكِلَ وَلَوْ عَلَى الْمَدَى الْبَعِيدِ فَالَّذِي نَنْصَحُهَا بِهِ أَنْ لَا تَفْعَلَ ذَلِكَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ يَعْنِي هِيَ إِذَا أَتَاهَا الْحَيْضُ لَهَا أَنْ تَأْكُلَ وَأَنْ تَشْرَبَ وَتَقْضِي هَذِهِ الْأَيَّامَ بَعْدَ رَمَضَانَ وَأَمَّا قَوْلُهَا إِنَّهَا يَفُوتُهَا عِبَادَاتٌ فَنَقُولُ هِيَ فَقَطْ مَمْنُوعَةٌ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالطَّوَافِ فَقَطْ مَمْنُوعَةٌ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالطَّوَافِ فَقَطْ أَمَّا مَا عَدَا ذَلِكَ فَهِيَ كَغَيْرِ الْحَائِضِ تَمَامًا لَهَا أَنْ تَقْرَأَ الْقُرْآنَ لَكِنْ بِدُوْنِ أَنْ تَمَسَّ الْمُصْحَفَ إِذَا أَرَادَتْ أَنْ تَقْرَأَ مِنَ الْمُصْحَفِ يَكُونَ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ تَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ هِيَ كَغَيْرِ الْحَائِضِ تَمَامًا بِجَمِيْعِ الْأَذْكَارِ وَمِنْ ذَلِكَ أَيْضًا الدُّعَاءُ فَهِيَ كَغَيْرِ الْحَائِضِ إِلَّا فَقَطْ الصَّلَاةَ وَالصِّيَامَ وَالطَّوَافَ

Syarah Hadis Fadilah Bulan Ramadan

Hadis Pertama: إذا استَهَلَّ رمضانُ، غُلِّقَتْ أبوابُ النَّارِ، وفُتِّحَتْ أبوابُ الجنَّةِ، وصُفِّدَتِ الشياطينُ. “Apabila telah masuk bulan Ramadan, Pintu-pintu Neraka ditutup, Pintu-pintu Surga dibuka, dan setan-setan dibelenggu.” Ringkasan Hukum menurut Muḥaddits: Sahih | Muḥaddits: Syu‘aib Al-Arna’ūṭ | Sumber: Takhrīj Al-Musnad karya Syu‘aib Al-Arna’ūṭ | Halaman atau nomor: 8914 |  Takhrīj: Diriwayatkan oleh Al-Bukhārī (1899) dengan redaksi yang semakna dan oleh Muslim (1079) dengan sedikit perbedaan. Hadis Kedua: إذا كانَت أوَّلُ ليلةٍ من رمَضانَ صُفِّدتِ الشَّياطينُ ومَردةُ الجِنِّ وغلِّقت أبَوابُ النَّارِ فلم يُفتَحْ منها بابٌ وفُتِحت أبوابُ الجنَّةِ فلم يُغلَقْ منها بابٌ ونادى منادٍ يا باغيَ الخيرِ أقبِلْ ويا باغيَ الشَّرِّ أقصِر وللَّهِ عتقاءُ منَ النَّارِ وذلِك في كلِّ ليلةٍ “Apabila sudah malam pertama bulan Ramadan, setan-setan dan para jin jahat dibelenggu, Pintu-pintu Neraka ditutup sehingga tidak satu pun dari pintunya dibuka, Pintu-pintu Surga dibuka sehingga tidak satu pun pintunya ditutup. Lalu ada penyeru yang berseru, ‘Wahai pencari kebaikan, bersungguh-sungguhlah! Wahai pencari keburukan, berhentilah!’ Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari api neraka, dan hal itu terjadi setiap malam.” Perawi: Abū Hurairah  | Muḥaddits: al-Albānī | Sumber: Ṣaḥīḥ Ibn Mājah   | Halaman atau nomor: 1339 | Ringkasan Hukum menurut Muḥaddits: Sahih. | Takhrīj: Diriwayatkan oleh At-Tirmiżī (682) dan Ibnu Mājah (1642), dan ini redaksi beliau. Penjelasan Hadis Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya musim-musim kebaikan, yang di dalam musim itu mereka memperoleh pahala yang banyak dari sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebab amal-amal saleh yang sedikit. Termasuk nikmat-Nya Subḥānahu wa Ta‘ālā pula bahwa Allah menundukkan bagi mereka berbagai sebab yang membantu mereka untuk menunaikannya dengan cara yang paling sempurna.  Dalam hadis ini, Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu mengabarkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Apabila sudah malam pertama bulan Ramadan,” yakni bahwa bersamaan dengan dimulainya bulan Ramadan, muncul tanda-tanda masuknya bulan tersebut dan berbagai anugerah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya.  Tanda dan anugerah yang pertama adalah sebagaimana yang disebutkan dalam sabda beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Setan-setan dibelenggu,” yakni dipasangkan pada mereka belenggu dan rantai, “dan para jin jahat”, maka dipasangkan belenggu dan rantai juga pada para jin jahat. Mereka adalah para pentolan setan yang sepenuhnya mengabdikan diri pada keburukan, atau para jin yang sangat durhaka dan jahat.  Hikmah dari pembelengguan mereka adalah agar mereka tidak melakukan bisikan-bisikan kepada orang-orang yang berpuasa dan tidak merusak puasa mereka. Ada pula yang berpendapat bahwa maksudnya adalah banyaknya pahala, ganjaran, dan ampunan, dengan berkurangnya upaya penyesatan para jin jahat terhadap kaum Muslimin, sehingga setan-setan itu seakan-akan terbelenggu tidak bisa menyesatkan dan membisikkan kejahatan.   Ada pula yang mengatakan bahwa setan-setan itu hanya dibelenggu dari orang-orang yang mengetahui hak-hak puasa, mengagungkannya, menunaikannya dengan sebaik-baiknya, memenuhi syarat-syarat, akhlak-akhlak, dan adab-adabnya.  Adapun orang yang hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi tidak mengetahui hak-hak puasa dan tidak menunaikan adab-adabnya secara sempurna, maka ia tidak termasuk orang terkena dampak dibelenggunya setan, sehingga pembelengguan itu berlaku pada sebagian perkara dan tidak pada sebagian yang lain, serta pada sebagian manusia dan tidak pada sebagian yang lain.  Mungkin juga maksudnya adalah bahwa setan-setan tidak bisa bebas menjerumuskan kaum Muslimin pada bulan Ramadan sebagaimana mereka bisa bebas melakukannya di luar bulan Ramadan, karena kaum Muslimin sibuk dengan puasa, membaca Al-Qur’an dan berzikir, yang menjadi kekang bagi syahwat mereka. Anugerah yang kedua adalah: “Pintu-pintu Neraka ditutup, sehingga tidak ada satu pintu pun darinya yang dibuka, dan Pintu-pintu Surga dibuka, sehingga tidak ada satu pintu pun darinya yang ditutup.” Ini merupakan penegasan terhadap keterangan sebelumnya, bahwa penutupan Pintu-pintu Neraka adalah penguatan penutupan seluruh jalan keburukan, dan pembukaan Pintu-pintu Surga adalah penambahan pembukaan terhadap semua jalan kebaikan.  Ada pula yang berpendapat bahwa pembukaan dan penutupan yang disebutkan tersebut terjadi secara hakiki, sebagai bentuk pemuliaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya pada bulan ini. Anugerah yang ketiga adalah “Dan ada penyeru,” yakni di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala “yang berseru: Wahai pencari kebaikan, sungguh-sungguhlah!” Maksudnya bahwa bulan ini memotivasi amal-amal kebaikan, khususnya bagi orang-orang yang memang condong kepadanya, karena di bulan ini ada sebab-sebab yang mendukung hal itu. Maka bersungguh-sungguhlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kepada ketaatan kepada-Nya. (Dia berseru: Dan wahai pencari keburukan, berhentilah!) Maksudnya: Tahanlah dan cegahlah! Karena ini adalah waktu di mana hati melembut untuk bertobat.  Anugerah yang keempat, “Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka,” yakni Allah Subhanahu Wa Ta’ala punya banyak hamba yang dibebaskan dari Neraka. Maka hendaklah setiap orang yang cerdas bersemangat untuk berusaha agar termasuk ke dalam golongan mereka.  “Dan itu pada setiap malam,” yakni di antara tambahan rahmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia membebaskan dari Neraka hamba-hamba-Nya pada setiap malam dari malam-malam Ramadan. Hal ini adalah bentuk dorongan agar bersungguh-sungguh beramal pada bulan yang mulia ini, agar seorang hamba termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dibebaskan tersebut, dianugerahi keselamatan dari api neraka, dan memperoleh kemenangan berupa Surga. Kandungan Hadis وفي الحديثِ: الحثُّ على اغتِنامِ أوقاتِ الفَضلِ والخيرِ بعَملِ الطَّاعاتِ والبُعْدِ عَن المنكَراتِ. وفيه: إثباتُ الجنَّةِ والنَّارِ، وأنَّهما الآنَ موجودَتانِ، وأنَّ لهما أبوابًا تُفتَحُ، وتُغلَقُ. وفيه: بيانُ عظَمةِ لُطفِ اللهِ تعالى، وكَثرةِ كرَمِه وإحسانِه على عبادِه، حيث يَحفَظُ لهم صِيامَهم، ويَدفَعُ عنهم أذَى المرَدَةِ مِن الشَّياطينِ. Dalam hadis ini: Anjuran untuk memanfaatkan waktu-waktu fadilah dan kebaikan untuk melakukan ketaatan serta menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan mungkar. Penetapan adanya Surga dan Neraka, bahwa keduanya saat ini sudah ada, dan bahwa keduanya memiliki pintu-pintu yang bisa dibuka dan ditutup. Penjelasan tentang agungnya kelembutan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, banyaknya kemurahan dan kedermawanan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, di mana Dia menjaga puasa mereka dan melindungi mereka dari gangguan para setan-setan jahat. Sumber: https://dorar.net/hadith/sharh/136539 Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Sunat Bagi Anak Perempuan, Doa Ketika Menghadapi Masalah, Ucapan Salam, Bahaya Onanisme Bagi Perempuan, Cara Sholat Jamak Takhir Visited 92 times, 1 visit(s) today Post Views: 17 QRIS donasi Yufid

Syarah Hadis Fadilah Bulan Ramadan

Hadis Pertama: إذا استَهَلَّ رمضانُ، غُلِّقَتْ أبوابُ النَّارِ، وفُتِّحَتْ أبوابُ الجنَّةِ، وصُفِّدَتِ الشياطينُ. “Apabila telah masuk bulan Ramadan, Pintu-pintu Neraka ditutup, Pintu-pintu Surga dibuka, dan setan-setan dibelenggu.” Ringkasan Hukum menurut Muḥaddits: Sahih | Muḥaddits: Syu‘aib Al-Arna’ūṭ | Sumber: Takhrīj Al-Musnad karya Syu‘aib Al-Arna’ūṭ | Halaman atau nomor: 8914 |  Takhrīj: Diriwayatkan oleh Al-Bukhārī (1899) dengan redaksi yang semakna dan oleh Muslim (1079) dengan sedikit perbedaan. Hadis Kedua: إذا كانَت أوَّلُ ليلةٍ من رمَضانَ صُفِّدتِ الشَّياطينُ ومَردةُ الجِنِّ وغلِّقت أبَوابُ النَّارِ فلم يُفتَحْ منها بابٌ وفُتِحت أبوابُ الجنَّةِ فلم يُغلَقْ منها بابٌ ونادى منادٍ يا باغيَ الخيرِ أقبِلْ ويا باغيَ الشَّرِّ أقصِر وللَّهِ عتقاءُ منَ النَّارِ وذلِك في كلِّ ليلةٍ “Apabila sudah malam pertama bulan Ramadan, setan-setan dan para jin jahat dibelenggu, Pintu-pintu Neraka ditutup sehingga tidak satu pun dari pintunya dibuka, Pintu-pintu Surga dibuka sehingga tidak satu pun pintunya ditutup. Lalu ada penyeru yang berseru, ‘Wahai pencari kebaikan, bersungguh-sungguhlah! Wahai pencari keburukan, berhentilah!’ Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari api neraka, dan hal itu terjadi setiap malam.” Perawi: Abū Hurairah  | Muḥaddits: al-Albānī | Sumber: Ṣaḥīḥ Ibn Mājah   | Halaman atau nomor: 1339 | Ringkasan Hukum menurut Muḥaddits: Sahih. | Takhrīj: Diriwayatkan oleh At-Tirmiżī (682) dan Ibnu Mājah (1642), dan ini redaksi beliau. Penjelasan Hadis Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya musim-musim kebaikan, yang di dalam musim itu mereka memperoleh pahala yang banyak dari sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebab amal-amal saleh yang sedikit. Termasuk nikmat-Nya Subḥānahu wa Ta‘ālā pula bahwa Allah menundukkan bagi mereka berbagai sebab yang membantu mereka untuk menunaikannya dengan cara yang paling sempurna.  Dalam hadis ini, Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu mengabarkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Apabila sudah malam pertama bulan Ramadan,” yakni bahwa bersamaan dengan dimulainya bulan Ramadan, muncul tanda-tanda masuknya bulan tersebut dan berbagai anugerah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya.  Tanda dan anugerah yang pertama adalah sebagaimana yang disebutkan dalam sabda beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Setan-setan dibelenggu,” yakni dipasangkan pada mereka belenggu dan rantai, “dan para jin jahat”, maka dipasangkan belenggu dan rantai juga pada para jin jahat. Mereka adalah para pentolan setan yang sepenuhnya mengabdikan diri pada keburukan, atau para jin yang sangat durhaka dan jahat.  Hikmah dari pembelengguan mereka adalah agar mereka tidak melakukan bisikan-bisikan kepada orang-orang yang berpuasa dan tidak merusak puasa mereka. Ada pula yang berpendapat bahwa maksudnya adalah banyaknya pahala, ganjaran, dan ampunan, dengan berkurangnya upaya penyesatan para jin jahat terhadap kaum Muslimin, sehingga setan-setan itu seakan-akan terbelenggu tidak bisa menyesatkan dan membisikkan kejahatan.   Ada pula yang mengatakan bahwa setan-setan itu hanya dibelenggu dari orang-orang yang mengetahui hak-hak puasa, mengagungkannya, menunaikannya dengan sebaik-baiknya, memenuhi syarat-syarat, akhlak-akhlak, dan adab-adabnya.  Adapun orang yang hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi tidak mengetahui hak-hak puasa dan tidak menunaikan adab-adabnya secara sempurna, maka ia tidak termasuk orang terkena dampak dibelenggunya setan, sehingga pembelengguan itu berlaku pada sebagian perkara dan tidak pada sebagian yang lain, serta pada sebagian manusia dan tidak pada sebagian yang lain.  Mungkin juga maksudnya adalah bahwa setan-setan tidak bisa bebas menjerumuskan kaum Muslimin pada bulan Ramadan sebagaimana mereka bisa bebas melakukannya di luar bulan Ramadan, karena kaum Muslimin sibuk dengan puasa, membaca Al-Qur’an dan berzikir, yang menjadi kekang bagi syahwat mereka. Anugerah yang kedua adalah: “Pintu-pintu Neraka ditutup, sehingga tidak ada satu pintu pun darinya yang dibuka, dan Pintu-pintu Surga dibuka, sehingga tidak ada satu pintu pun darinya yang ditutup.” Ini merupakan penegasan terhadap keterangan sebelumnya, bahwa penutupan Pintu-pintu Neraka adalah penguatan penutupan seluruh jalan keburukan, dan pembukaan Pintu-pintu Surga adalah penambahan pembukaan terhadap semua jalan kebaikan.  Ada pula yang berpendapat bahwa pembukaan dan penutupan yang disebutkan tersebut terjadi secara hakiki, sebagai bentuk pemuliaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya pada bulan ini. Anugerah yang ketiga adalah “Dan ada penyeru,” yakni di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala “yang berseru: Wahai pencari kebaikan, sungguh-sungguhlah!” Maksudnya bahwa bulan ini memotivasi amal-amal kebaikan, khususnya bagi orang-orang yang memang condong kepadanya, karena di bulan ini ada sebab-sebab yang mendukung hal itu. Maka bersungguh-sungguhlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kepada ketaatan kepada-Nya. (Dia berseru: Dan wahai pencari keburukan, berhentilah!) Maksudnya: Tahanlah dan cegahlah! Karena ini adalah waktu di mana hati melembut untuk bertobat.  Anugerah yang keempat, “Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka,” yakni Allah Subhanahu Wa Ta’ala punya banyak hamba yang dibebaskan dari Neraka. Maka hendaklah setiap orang yang cerdas bersemangat untuk berusaha agar termasuk ke dalam golongan mereka.  “Dan itu pada setiap malam,” yakni di antara tambahan rahmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia membebaskan dari Neraka hamba-hamba-Nya pada setiap malam dari malam-malam Ramadan. Hal ini adalah bentuk dorongan agar bersungguh-sungguh beramal pada bulan yang mulia ini, agar seorang hamba termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dibebaskan tersebut, dianugerahi keselamatan dari api neraka, dan memperoleh kemenangan berupa Surga. Kandungan Hadis وفي الحديثِ: الحثُّ على اغتِنامِ أوقاتِ الفَضلِ والخيرِ بعَملِ الطَّاعاتِ والبُعْدِ عَن المنكَراتِ. وفيه: إثباتُ الجنَّةِ والنَّارِ، وأنَّهما الآنَ موجودَتانِ، وأنَّ لهما أبوابًا تُفتَحُ، وتُغلَقُ. وفيه: بيانُ عظَمةِ لُطفِ اللهِ تعالى، وكَثرةِ كرَمِه وإحسانِه على عبادِه، حيث يَحفَظُ لهم صِيامَهم، ويَدفَعُ عنهم أذَى المرَدَةِ مِن الشَّياطينِ. Dalam hadis ini: Anjuran untuk memanfaatkan waktu-waktu fadilah dan kebaikan untuk melakukan ketaatan serta menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan mungkar. Penetapan adanya Surga dan Neraka, bahwa keduanya saat ini sudah ada, dan bahwa keduanya memiliki pintu-pintu yang bisa dibuka dan ditutup. Penjelasan tentang agungnya kelembutan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, banyaknya kemurahan dan kedermawanan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, di mana Dia menjaga puasa mereka dan melindungi mereka dari gangguan para setan-setan jahat. Sumber: https://dorar.net/hadith/sharh/136539 Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Sunat Bagi Anak Perempuan, Doa Ketika Menghadapi Masalah, Ucapan Salam, Bahaya Onanisme Bagi Perempuan, Cara Sholat Jamak Takhir Visited 92 times, 1 visit(s) today Post Views: 17 QRIS donasi Yufid
Hadis Pertama: إذا استَهَلَّ رمضانُ، غُلِّقَتْ أبوابُ النَّارِ، وفُتِّحَتْ أبوابُ الجنَّةِ، وصُفِّدَتِ الشياطينُ. “Apabila telah masuk bulan Ramadan, Pintu-pintu Neraka ditutup, Pintu-pintu Surga dibuka, dan setan-setan dibelenggu.” Ringkasan Hukum menurut Muḥaddits: Sahih | Muḥaddits: Syu‘aib Al-Arna’ūṭ | Sumber: Takhrīj Al-Musnad karya Syu‘aib Al-Arna’ūṭ | Halaman atau nomor: 8914 |  Takhrīj: Diriwayatkan oleh Al-Bukhārī (1899) dengan redaksi yang semakna dan oleh Muslim (1079) dengan sedikit perbedaan. Hadis Kedua: إذا كانَت أوَّلُ ليلةٍ من رمَضانَ صُفِّدتِ الشَّياطينُ ومَردةُ الجِنِّ وغلِّقت أبَوابُ النَّارِ فلم يُفتَحْ منها بابٌ وفُتِحت أبوابُ الجنَّةِ فلم يُغلَقْ منها بابٌ ونادى منادٍ يا باغيَ الخيرِ أقبِلْ ويا باغيَ الشَّرِّ أقصِر وللَّهِ عتقاءُ منَ النَّارِ وذلِك في كلِّ ليلةٍ “Apabila sudah malam pertama bulan Ramadan, setan-setan dan para jin jahat dibelenggu, Pintu-pintu Neraka ditutup sehingga tidak satu pun dari pintunya dibuka, Pintu-pintu Surga dibuka sehingga tidak satu pun pintunya ditutup. Lalu ada penyeru yang berseru, ‘Wahai pencari kebaikan, bersungguh-sungguhlah! Wahai pencari keburukan, berhentilah!’ Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari api neraka, dan hal itu terjadi setiap malam.” Perawi: Abū Hurairah  | Muḥaddits: al-Albānī | Sumber: Ṣaḥīḥ Ibn Mājah   | Halaman atau nomor: 1339 | Ringkasan Hukum menurut Muḥaddits: Sahih. | Takhrīj: Diriwayatkan oleh At-Tirmiżī (682) dan Ibnu Mājah (1642), dan ini redaksi beliau. Penjelasan Hadis Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya musim-musim kebaikan, yang di dalam musim itu mereka memperoleh pahala yang banyak dari sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebab amal-amal saleh yang sedikit. Termasuk nikmat-Nya Subḥānahu wa Ta‘ālā pula bahwa Allah menundukkan bagi mereka berbagai sebab yang membantu mereka untuk menunaikannya dengan cara yang paling sempurna.  Dalam hadis ini, Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu mengabarkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Apabila sudah malam pertama bulan Ramadan,” yakni bahwa bersamaan dengan dimulainya bulan Ramadan, muncul tanda-tanda masuknya bulan tersebut dan berbagai anugerah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya.  Tanda dan anugerah yang pertama adalah sebagaimana yang disebutkan dalam sabda beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Setan-setan dibelenggu,” yakni dipasangkan pada mereka belenggu dan rantai, “dan para jin jahat”, maka dipasangkan belenggu dan rantai juga pada para jin jahat. Mereka adalah para pentolan setan yang sepenuhnya mengabdikan diri pada keburukan, atau para jin yang sangat durhaka dan jahat.  Hikmah dari pembelengguan mereka adalah agar mereka tidak melakukan bisikan-bisikan kepada orang-orang yang berpuasa dan tidak merusak puasa mereka. Ada pula yang berpendapat bahwa maksudnya adalah banyaknya pahala, ganjaran, dan ampunan, dengan berkurangnya upaya penyesatan para jin jahat terhadap kaum Muslimin, sehingga setan-setan itu seakan-akan terbelenggu tidak bisa menyesatkan dan membisikkan kejahatan.   Ada pula yang mengatakan bahwa setan-setan itu hanya dibelenggu dari orang-orang yang mengetahui hak-hak puasa, mengagungkannya, menunaikannya dengan sebaik-baiknya, memenuhi syarat-syarat, akhlak-akhlak, dan adab-adabnya.  Adapun orang yang hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi tidak mengetahui hak-hak puasa dan tidak menunaikan adab-adabnya secara sempurna, maka ia tidak termasuk orang terkena dampak dibelenggunya setan, sehingga pembelengguan itu berlaku pada sebagian perkara dan tidak pada sebagian yang lain, serta pada sebagian manusia dan tidak pada sebagian yang lain.  Mungkin juga maksudnya adalah bahwa setan-setan tidak bisa bebas menjerumuskan kaum Muslimin pada bulan Ramadan sebagaimana mereka bisa bebas melakukannya di luar bulan Ramadan, karena kaum Muslimin sibuk dengan puasa, membaca Al-Qur’an dan berzikir, yang menjadi kekang bagi syahwat mereka. Anugerah yang kedua adalah: “Pintu-pintu Neraka ditutup, sehingga tidak ada satu pintu pun darinya yang dibuka, dan Pintu-pintu Surga dibuka, sehingga tidak ada satu pintu pun darinya yang ditutup.” Ini merupakan penegasan terhadap keterangan sebelumnya, bahwa penutupan Pintu-pintu Neraka adalah penguatan penutupan seluruh jalan keburukan, dan pembukaan Pintu-pintu Surga adalah penambahan pembukaan terhadap semua jalan kebaikan.  Ada pula yang berpendapat bahwa pembukaan dan penutupan yang disebutkan tersebut terjadi secara hakiki, sebagai bentuk pemuliaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya pada bulan ini. Anugerah yang ketiga adalah “Dan ada penyeru,” yakni di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala “yang berseru: Wahai pencari kebaikan, sungguh-sungguhlah!” Maksudnya bahwa bulan ini memotivasi amal-amal kebaikan, khususnya bagi orang-orang yang memang condong kepadanya, karena di bulan ini ada sebab-sebab yang mendukung hal itu. Maka bersungguh-sungguhlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kepada ketaatan kepada-Nya. (Dia berseru: Dan wahai pencari keburukan, berhentilah!) Maksudnya: Tahanlah dan cegahlah! Karena ini adalah waktu di mana hati melembut untuk bertobat.  Anugerah yang keempat, “Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka,” yakni Allah Subhanahu Wa Ta’ala punya banyak hamba yang dibebaskan dari Neraka. Maka hendaklah setiap orang yang cerdas bersemangat untuk berusaha agar termasuk ke dalam golongan mereka.  “Dan itu pada setiap malam,” yakni di antara tambahan rahmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia membebaskan dari Neraka hamba-hamba-Nya pada setiap malam dari malam-malam Ramadan. Hal ini adalah bentuk dorongan agar bersungguh-sungguh beramal pada bulan yang mulia ini, agar seorang hamba termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dibebaskan tersebut, dianugerahi keselamatan dari api neraka, dan memperoleh kemenangan berupa Surga. Kandungan Hadis وفي الحديثِ: الحثُّ على اغتِنامِ أوقاتِ الفَضلِ والخيرِ بعَملِ الطَّاعاتِ والبُعْدِ عَن المنكَراتِ. وفيه: إثباتُ الجنَّةِ والنَّارِ، وأنَّهما الآنَ موجودَتانِ، وأنَّ لهما أبوابًا تُفتَحُ، وتُغلَقُ. وفيه: بيانُ عظَمةِ لُطفِ اللهِ تعالى، وكَثرةِ كرَمِه وإحسانِه على عبادِه، حيث يَحفَظُ لهم صِيامَهم، ويَدفَعُ عنهم أذَى المرَدَةِ مِن الشَّياطينِ. Dalam hadis ini: Anjuran untuk memanfaatkan waktu-waktu fadilah dan kebaikan untuk melakukan ketaatan serta menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan mungkar. Penetapan adanya Surga dan Neraka, bahwa keduanya saat ini sudah ada, dan bahwa keduanya memiliki pintu-pintu yang bisa dibuka dan ditutup. Penjelasan tentang agungnya kelembutan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, banyaknya kemurahan dan kedermawanan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, di mana Dia menjaga puasa mereka dan melindungi mereka dari gangguan para setan-setan jahat. Sumber: https://dorar.net/hadith/sharh/136539 Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Sunat Bagi Anak Perempuan, Doa Ketika Menghadapi Masalah, Ucapan Salam, Bahaya Onanisme Bagi Perempuan, Cara Sholat Jamak Takhir Visited 92 times, 1 visit(s) today Post Views: 17 QRIS donasi Yufid


Hadis Pertama: إذا استَهَلَّ رمضانُ، غُلِّقَتْ أبوابُ النَّارِ، وفُتِّحَتْ أبوابُ الجنَّةِ، وصُفِّدَتِ الشياطينُ. “Apabila telah masuk bulan Ramadan, Pintu-pintu Neraka ditutup, Pintu-pintu Surga dibuka, dan setan-setan dibelenggu.” Ringkasan Hukum menurut Muḥaddits: Sahih | Muḥaddits: Syu‘aib Al-Arna’ūṭ | Sumber: Takhrīj Al-Musnad karya Syu‘aib Al-Arna’ūṭ | Halaman atau nomor: 8914 |  Takhrīj: Diriwayatkan oleh Al-Bukhārī (1899) dengan redaksi yang semakna dan oleh Muslim (1079) dengan sedikit perbedaan. Hadis Kedua: إذا كانَت أوَّلُ ليلةٍ من رمَضانَ صُفِّدتِ الشَّياطينُ ومَردةُ الجِنِّ وغلِّقت أبَوابُ النَّارِ فلم يُفتَحْ منها بابٌ وفُتِحت أبوابُ الجنَّةِ فلم يُغلَقْ منها بابٌ ونادى منادٍ يا باغيَ الخيرِ أقبِلْ ويا باغيَ الشَّرِّ أقصِر وللَّهِ عتقاءُ منَ النَّارِ وذلِك في كلِّ ليلةٍ “Apabila sudah malam pertama bulan Ramadan, setan-setan dan para jin jahat dibelenggu, Pintu-pintu Neraka ditutup sehingga tidak satu pun dari pintunya dibuka, Pintu-pintu Surga dibuka sehingga tidak satu pun pintunya ditutup. Lalu ada penyeru yang berseru, ‘Wahai pencari kebaikan, bersungguh-sungguhlah! Wahai pencari keburukan, berhentilah!’ Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari api neraka, dan hal itu terjadi setiap malam.” Perawi: Abū Hurairah  | Muḥaddits: al-Albānī | Sumber: Ṣaḥīḥ Ibn Mājah   | Halaman atau nomor: 1339 | Ringkasan Hukum menurut Muḥaddits: Sahih. | Takhrīj: Diriwayatkan oleh At-Tirmiżī (682) dan Ibnu Mājah (1642), dan ini redaksi beliau. Penjelasan Hadis Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya musim-musim kebaikan, yang di dalam musim itu mereka memperoleh pahala yang banyak dari sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebab amal-amal saleh yang sedikit. Termasuk nikmat-Nya Subḥānahu wa Ta‘ālā pula bahwa Allah menundukkan bagi mereka berbagai sebab yang membantu mereka untuk menunaikannya dengan cara yang paling sempurna.  Dalam hadis ini, Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu mengabarkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Apabila sudah malam pertama bulan Ramadan,” yakni bahwa bersamaan dengan dimulainya bulan Ramadan, muncul tanda-tanda masuknya bulan tersebut dan berbagai anugerah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya.  Tanda dan anugerah yang pertama adalah sebagaimana yang disebutkan dalam sabda beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Setan-setan dibelenggu,” yakni dipasangkan pada mereka belenggu dan rantai, “dan para jin jahat”, maka dipasangkan belenggu dan rantai juga pada para jin jahat. Mereka adalah para pentolan setan yang sepenuhnya mengabdikan diri pada keburukan, atau para jin yang sangat durhaka dan jahat.  Hikmah dari pembelengguan mereka adalah agar mereka tidak melakukan bisikan-bisikan kepada orang-orang yang berpuasa dan tidak merusak puasa mereka. Ada pula yang berpendapat bahwa maksudnya adalah banyaknya pahala, ganjaran, dan ampunan, dengan berkurangnya upaya penyesatan para jin jahat terhadap kaum Muslimin, sehingga setan-setan itu seakan-akan terbelenggu tidak bisa menyesatkan dan membisikkan kejahatan.   Ada pula yang mengatakan bahwa setan-setan itu hanya dibelenggu dari orang-orang yang mengetahui hak-hak puasa, mengagungkannya, menunaikannya dengan sebaik-baiknya, memenuhi syarat-syarat, akhlak-akhlak, dan adab-adabnya.  Adapun orang yang hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi tidak mengetahui hak-hak puasa dan tidak menunaikan adab-adabnya secara sempurna, maka ia tidak termasuk orang terkena dampak dibelenggunya setan, sehingga pembelengguan itu berlaku pada sebagian perkara dan tidak pada sebagian yang lain, serta pada sebagian manusia dan tidak pada sebagian yang lain.  Mungkin juga maksudnya adalah bahwa setan-setan tidak bisa bebas menjerumuskan kaum Muslimin pada bulan Ramadan sebagaimana mereka bisa bebas melakukannya di luar bulan Ramadan, karena kaum Muslimin sibuk dengan puasa, membaca Al-Qur’an dan berzikir, yang menjadi kekang bagi syahwat mereka. Anugerah yang kedua adalah: “Pintu-pintu Neraka ditutup, sehingga tidak ada satu pintu pun darinya yang dibuka, dan Pintu-pintu Surga dibuka, sehingga tidak ada satu pintu pun darinya yang ditutup.” Ini merupakan penegasan terhadap keterangan sebelumnya, bahwa penutupan Pintu-pintu Neraka adalah penguatan penutupan seluruh jalan keburukan, dan pembukaan Pintu-pintu Surga adalah penambahan pembukaan terhadap semua jalan kebaikan.  Ada pula yang berpendapat bahwa pembukaan dan penutupan yang disebutkan tersebut terjadi secara hakiki, sebagai bentuk pemuliaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya pada bulan ini. Anugerah yang ketiga adalah “Dan ada penyeru,” yakni di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala “yang berseru: Wahai pencari kebaikan, sungguh-sungguhlah!” Maksudnya bahwa bulan ini memotivasi amal-amal kebaikan, khususnya bagi orang-orang yang memang condong kepadanya, karena di bulan ini ada sebab-sebab yang mendukung hal itu. Maka bersungguh-sungguhlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kepada ketaatan kepada-Nya. (Dia berseru: Dan wahai pencari keburukan, berhentilah!) Maksudnya: Tahanlah dan cegahlah! Karena ini adalah waktu di mana hati melembut untuk bertobat.  Anugerah yang keempat, “Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka,” yakni Allah Subhanahu Wa Ta’ala punya banyak hamba yang dibebaskan dari Neraka. Maka hendaklah setiap orang yang cerdas bersemangat untuk berusaha agar termasuk ke dalam golongan mereka.  “Dan itu pada setiap malam,” yakni di antara tambahan rahmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia membebaskan dari Neraka hamba-hamba-Nya pada setiap malam dari malam-malam Ramadan. Hal ini adalah bentuk dorongan agar bersungguh-sungguh beramal pada bulan yang mulia ini, agar seorang hamba termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dibebaskan tersebut, dianugerahi keselamatan dari api neraka, dan memperoleh kemenangan berupa Surga. Kandungan Hadis وفي الحديثِ: الحثُّ على اغتِنامِ أوقاتِ الفَضلِ والخيرِ بعَملِ الطَّاعاتِ والبُعْدِ عَن المنكَراتِ. وفيه: إثباتُ الجنَّةِ والنَّارِ، وأنَّهما الآنَ موجودَتانِ، وأنَّ لهما أبوابًا تُفتَحُ، وتُغلَقُ. وفيه: بيانُ عظَمةِ لُطفِ اللهِ تعالى، وكَثرةِ كرَمِه وإحسانِه على عبادِه، حيث يَحفَظُ لهم صِيامَهم، ويَدفَعُ عنهم أذَى المرَدَةِ مِن الشَّياطينِ. Dalam hadis ini: Anjuran untuk memanfaatkan waktu-waktu fadilah dan kebaikan untuk melakukan ketaatan serta menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan mungkar. Penetapan adanya Surga dan Neraka, bahwa keduanya saat ini sudah ada, dan bahwa keduanya memiliki pintu-pintu yang bisa dibuka dan ditutup. Penjelasan tentang agungnya kelembutan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, banyaknya kemurahan dan kedermawanan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, di mana Dia menjaga puasa mereka dan melindungi mereka dari gangguan para setan-setan jahat. Sumber: https://dorar.net/hadith/sharh/136539 Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Sunat Bagi Anak Perempuan, Doa Ketika Menghadapi Masalah, Ucapan Salam, Bahaya Onanisme Bagi Perempuan, Cara Sholat Jamak Takhir Visited 92 times, 1 visit(s) today Post Views: 17 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />
Prev     Next