Juz 4 dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Ali ‘Imran, memuat evaluasi mendalam dan “trauma healing” Rabbani atas tragedi Perang Uhud yang menjadi madrasah tarbiyah bagi setiap mukmin. Melalui rangkaian ayat ini, Allah membedah secara anatomi bahwa kekalahan sering kali berakar dari penyakit hati berupa cinta dunia, ketidakpatuhan terhadap perintah Rasul, serta guncangnya mental akibat isu yang tidak berdasar. Tulisan ini akan merangkum tujuh bahasan utama dalam Surah Ali ‘Imran yang menyingkap strategi, ujian iman, hingga kelembutan akhlak pemimpin sebagai pelajaran abadi bagi perjuangan umat Islam saat ini.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Perang Uhud dan Pelajaran di Dalamnya Daftar Isi tutup 1. Mengapa Surah Ali Imran Membahas Uhud secara Detail? 1.1. 1. Evaluasi Mental Setelah Luka Fisik 1.2. 2. Membedah Penyakit “Cinta Dunia” 1.3. 3. Memisahkan Emas dari Loyang 1.4. 4. Meneguhkan Konsep Kenabian 2. 7 Bahasan Utama Perang Uhud dalam Surah Ali Imran 2.1. 1. Persiapan Strategis dan Keberangkatan (Ayat 121-122) 2.2. 2. Motivasi dari Kemenangan Perang Badar (Ayat 123-129) 2.3. 3. Pembersihan Hati: Larangan Riba di Tengah Suasana Perang (Ayat 130-136) 2.4. 4. Isu Wafatnya Rasulullah dan Kekuatan Mental (Ayat 144) 2.5. 5. Titik Balik Kekalahan: Ujian Dunia dan Ketidakpatuhan (Ayat 152) 2.6. 6. Akhlak Pemimpin: Musyawarah dan Kelembutan Hati (Ayat 159) 2.7. 7. Menyingkap Kedok Kaum Munafik di Balik Tragedi Uhud (Ayat 167) 3. Ibrah bagi Kita dari Perang Uhud 4. Kesimpulan Mengapa Surah Ali Imran Membahas Uhud secara Detail?Peristiwa Perang Uhud bukan sekadar catatan sejarah tentang menang atau kalah. Dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Ali ‘Imran, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan porsi pembahasan yang sangat panjang (lebih dari 50 ayat) untuk mengupas tragedi ini. Mengapa demikian?1. Evaluasi Mental Setelah Luka FisikJuz 4 dibuka dengan penguatan akidah dan syariat, namun kemudian masuk ke dalam evaluasi Perang Uhud. Secara psikologis, pasukan Muslim saat itu sedang berada dalam titik terendah. Mereka kehilangan 70 syuhada, termasuk Hamzah bin Abdul Muthalib, dan Rasulullah ﷺ sendiri mengalami luka-luka.Allah menurunkan ayat-ayat ini bukan untuk menghakimi secara kasar, melainkan sebagai “Trauma Healing” Rabbani. Allah ingin menyembuhkan mental para sahabat dengan menjelaskan mengapa itu terjadi, agar kesedihan tidak berlarut-larut menjadi keputusasaan.وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139)Dalam Tafsir Al-Baghawi disebutkan:Allah Ta’ala berfirman: “Janganlah kalian merasa lemah dan jangan pula bersedih hati.”Ayat ini merupakan dorongan dan penyemangat bagi para sahabat Nabi ﷺ untuk terus berjihad, meskipun mereka telah tertimpa musibah berupa terbunuh dan terluka dalam Perang Uhud. Allah Ta’ala berfirman:“وَلَا تَهِنُوا”“Janganlah kalian menjadi lemah.”Maksudnya, janganlah kalian menjadi lemah dan jangan pula merasa gentar dalam menghadapi musuh-musuh kalian, hanya karena kalian mengalami korban terbunuh dan luka-luka.Pada hari itu gugur lima orang sahabat yang mulia, di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Mush’ab bin Umair, serta tujuh puluh orang dari kalangan Anshar.Kemudian Allah berfirman:“وَلَا تَحْزَنُوا”“Dan janganlah kalian bersedih hati.”Janganlah kalian bersedih atas apa yang telah menimpa kalian.“وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ”“Padahal kalianlah yang paling tinggi (derajatnya atau kedudukannya).”Yakni, pada akhirnya kalianlah yang akan memperoleh kemenangan dan pertolongan. Kalianlah yang akan mendapatkan akibat yang baik berupa kemenangan dan kejayaan.“إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ”“Jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman.”Maksudnya: karena kalian adalah orang-orang yang beriman. Keimanan itulah yang menjadi sebab datangnya pertolongan dan kemenangan.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: ketika para sahabat Rasulullah ﷺ tercerai-berai di lereng gunung (pada Perang Uhud), Khalid bin Walid datang bersama pasukan berkuda kaum musyrikin, hendak naik ke atas gunung untuk menyerang mereka.Maka Nabi ﷺ berdoa,اللَّهُمَّ لَا يَعْلُونَ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ لَا قُوَّةَ لَنَا إِلَّا بِكَ“Ya Allah, jangan Engkau biarkan mereka mengalahkan kami. Ya Allah, tidak ada kekuatan bagi kami kecuali dengan pertolongan-Mu.”Kemudian sekelompok kaum muslimin dari pasukan pemanah bangkit dan naik ke atas gunung. Mereka melempari pasukan berkuda kaum musyrikin hingga berhasil memukul mundur mereka. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: “Dan kalianlah yang paling tinggi.”Al-Kalbi berkata: ayat ini turun setelah Perang Uhud, ketika Nabi ﷺ memerintahkan para sahabat untuk mengejar musuh, meskipun mereka dalam keadaan terluka. Hal itu terasa sangat berat bagi kaum muslimin, maka Allah menurunkan ayat ini sebagai penguat dan peneguh hati mereka.Hal ini diperkuat oleh firman Allah Ta’ala:وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ“Dan janganlah kalian menjadi lemah dalam mengejar musuh.” (QS. An-Nisa’: 104) 2. Membedah Penyakit “Cinta Dunia”Jika Perang Badar (di Surah Al-Anfal) adalah cerita tentang pertolongan Allah yang luar biasa, maka Perang Uhud di Surah Ali ‘Imran adalah cerita tentang kedisiplinan dan kejujuran hati.Allah mendetailkan peristiwa ini untuk menunjukkan bahwa musuh terbesar bukanlah Khalid bin Walid (yang saat itu masih di pihak Quraisy), melainkan fitnah harta (ghanimah) yang muncul di hati sebagian pasukan. Ini adalah pelajaran abadi bagi aktivis dakwah dan umat Islam: bahwa maksiat di dalam barisan lebih berbahaya daripada kekuatan musuh di luar barisan.Baca juga: Jangan-Jangan Kita Terjangkit Penyakit Cinta Dunia, Ini Tandanya 3. Memisahkan Emas dari LoyangMelalui detail di Surah Ali ‘Imran, Allah ingin melakukan tashfiyah (penyaringan). Dalam suasana damai, semua orang bisa mengaku beriman. Namun, dalam situasi genting seperti di Uhud—di mana muncul isu Nabi wafat dan mundurnya pasukan munafik—akan terlihat siapa yang benar-benar berjuang karena Allah dan siapa yang hanya ikut-ikutan. 4. Meneguhkan Konsep KenabianDetailnya pembahasan ini juga untuk meluruskan pemahaman para sahabat bahwa Rasulullah ﷺ adalah manusia biasa yang bisa terluka dan kelak akan wafat. Umat Islam tidak boleh menggantungkan agama pada eksistensi fisik sang Nabi, melainkan pada ajaran yang beliau bawa. Inilah mengapa Allah menegur mereka di ayat 144 agar tetap teguh meski kabar duka menerpa.Ali ‘Imran tidak hanya menceritakan urutan kejadian, tapi melakukan bedah anatomi kesalahan agar umat Islam di masa depan (termasuk kita hari ini) tidak mengulangi lubang yang sama. Kekalahan di Uhud adalah “madrasah” tarbiyah yang sangat mahal harganya. 7 Bahasan Utama Perang Uhud dalam Surah Ali Imran1. Persiapan Strategis dan Keberangkatan (Ayat 121-122)Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّئُ ٱلْمُؤْمِنِينَ مَقَٰعِدَ لِلْقِتَالِ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran: 121)إِذْ هَمَّت طَّآئِفَتَانِ مِنكُمْ أَن تَفْشَلَا وَٱللَّهُ وَلِيُّهُمَا ۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ“Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Ali Imran: 122)Dalam Tafsir As-Sa’di dijelaskan mengenai dua ayat di atas.Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan Perang Uhud. Kisahnya sangat masyhur dalam kitab-kitab sirah dan sejarah.Hikmah penyebutannya di sini—serta disandingkannya dengan kisah Perang Badar—adalah karena Allah Ta’ala telah menjanjikan kepada orang-orang beriman bahwa jika mereka bersabar dan bertakwa, maka Dia akan menolong mereka dan menggagalkan tipu daya musuh. Janji ini bersifat umum dan benar adanya, tidak akan meleset selama syaratnya terpenuhi.Maka Allah menyebutkan dua contoh nyata dari janji tersebut. Dalam Perang Badar, Allah menolong kaum mukminin ketika mereka bersabar dan bertakwa. Namun dalam Perang Uhud, musuh sempat mendapatkan kemenangan atas mereka karena sebagian kaum muslimin melakukan pelanggaran terhadap ketakwaan.Di antara hikmah digabungkannya dua kisah ini adalah bahwa Allah menyukai hamba-Nya yang ketika tertimpa sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka mengingat kembali nikmat yang mereka cintai. Dengan itu, musibah menjadi terasa ringan, dan mereka pun bersyukur atas nikmat besar yang Allah karuniakan. Jika dibandingkan dengan nikmat tersebut, maka musibah yang menimpa sebenarnya sangat kecil dan pada hakikatnya mengandung kebaikan bagi mereka.Allah Ta’ala telah mengisyaratkan hikmah ini dalam firman-Nya:أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا“Dan apakah ketika kalian ditimpa musibah, padahal kalian telah menimpakan dua kali lipat musibah kepada musuh kalian…?” (QS. Ali ‘Imran: 165)Adapun ringkasan peristiwa Uhud adalah sebagai berikut:Ketika kaum musyrikin kembali dari Perang Badar ke Makkah pada tahun kedua hijrah, mereka mempersiapkan diri dengan segala kemampuan: harta, persenjataan, dan pasukan. Mereka mengumpulkan kekuatan yang besar dengan keyakinan akan tercapainya tujuan mereka dan terobatinya rasa dendam di dada mereka.Akhirnya, mereka berangkat dari Makkah menuju Madinah dengan tiga ribu pasukan, lalu berhenti di dekat kota Madinah.Rasulullah ﷺ keluar menghadapi mereka bersama para sahabatnya setelah melalui musyawarah dan pertimbangan. Akhirnya diputuskan untuk keluar dari kota. Beliau berangkat bersama seribu pasukan.Namun, ketika perjalanan baru berjalan sedikit, Abdullah bin Ubay, seorang munafik, kembali bersama sepertiga pasukan yang sepaham dengannya. Bahkan dua kelompok kaum mukminin—Bani Salamah dan Bani Haritsah—sempat berniat untuk mundur, tetapi Allah meneguhkan hati mereka.Ketika sampai di Uhud, Nabi ﷺ menyusun barisan kaum muslimin dan menempatkan mereka di posisi masing-masing. Mereka membelakangi Gunung Uhud agar tidak diserang dari belakang.Beliau juga menempatkan lima puluh sahabat di sebuah celah di Gunung Uhud dan memerintahkan mereka untuk tetap di tempat itu dan tidak meninggalkannya dalam keadaan apa pun, agar tidak ada musuh yang menyerang dari arah belakang.Ketika pertempuran dimulai, kaum musyrikin mengalami kekalahan telak dan meninggalkan perkemahan mereka. Kaum muslimin mengejar mereka, membunuh dan menawan sebagian dari mereka.Namun, para pemanah yang berada di atas gunung melihat kaum musyrikin lari tunggang-langgang. Sebagian dari mereka berkata, “Harta rampasan! Harta rampasan! Mengapa kita tetap di sini sementara musuh telah kalah?”Pemimpin mereka, Abdullah bin Jubair, menasihati mereka agar tidak melanggar perintah Rasulullah ﷺ, tetapi mereka tidak mengindahkannya. Ketika mereka meninggalkan posisi, hanya tersisa sedikit orang, termasuk pemimpin mereka.Dari celah itulah pasukan berkuda kaum musyrikin menyerang dari belakang dan menyerbu barisan kaum muslimin. Kaum muslimin pun kacau dan terjadi goncangan besar—ujian dari Allah untuk mereka. Dengan ujian itu Allah menghapus dosa-dosa mereka, sekaligus memberi mereka pelajaran atas pelanggaran yang telah terjadi.Sebagian sahabat gugur syahid, lalu mereka berkumpul dan bertahan di puncak Gunung Uhud. Allah kemudian menahan tangan kaum musyrikin sehingga mereka tidak melanjutkan serangan, lalu mereka kembali ke negeri mereka.Rasulullah ﷺ dan para sahabat kembali ke Madinah.Allah Ta’ala berfirman:وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ“Dan (ingatlah) ketika engkau berangkat dari keluargamu…”Kata ghuduw (غَدَوْتَ) di sini berarti keluar secara umum, bukan khusus pada pagi hari. Karena Nabi ﷺ dan para sahabat keluar setelah menunaikan shalat Jumat.تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِينَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ“Engkau menempatkan orang-orang beriman pada posisi-posisi untuk berperang.”Yakni, engkau menempatkan dan menyusun mereka sesuai posisi yang layak bagi masing-masing.Dalam ayat ini terdapat pujian yang sangat besar kepada Nabi ﷺ. Beliaulah yang langsung mengatur strategi dan menempatkan pasukan. Hal itu menunjukkan kesempurnaan ilmu, ketajaman pandangan, kelurusan pendapat, dan tingginya semangat beliau. Beliau sendiri turun tangan dalam pengaturan dan memiliki keberanian yang sempurna. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada beliau.Allah berfirman:وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”Allah Maha Mendengar segala sesuatu yang diucapkan, termasuk perkataan orang-orang beriman dan orang-orang munafik—masing-masing berbicara sesuai isi hatinya. Allah juga Maha Mengetahui niat para hamba, lalu membalas mereka dengan balasan yang paling sempurna.Selain itu, maknanya juga: Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui keadaan kalian. Dia menjaga kalian, mengatur urusan kalian, dan menguatkan kalian dengan pertolongan-Nya.Sebagaimana firman-Nya kepada Musa dan Harun:إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى“Sesungguhnya Aku bersama kalian berdua, Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thaha: 46)Di ayat selanjutnya (QS. Ali Imran ayat 122) dijelaskan oleh Syaikh As-Sa’di sebagai berikut.Di antara bentuk kelembutan dan kebaikan Allah kepada kaum mukminin adalah ketika dua golongan dari mereka hampir saja melemah dan mundur—yaitu Bani Salamah dan Bani Haritsah sebagaimana telah disebutkan sebelumnya—Allah meneguhkan hati keduanya. Itu adalah nikmat besar bagi mereka dan bagi seluruh kaum beriman.Karena itulah Allah berfirman:وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا“Dan Allah adalah Pelindung bagi keduanya.”Yakni dengan perlindungan khusus-Nya. Perlindungan ini berupa kelembutan-Nya kepada para wali-Nya, memberi mereka taufik kepada hal-hal yang membawa kebaikan dan menjaga mereka dari hal-hal yang membahayakan.Termasuk bentuk perlindungan Allah kepada dua kelompok itu adalah ketika mereka hampir terjerumus dalam dosa besar—yaitu melemah dan lari dari Rasulullah ﷺ—Allah menjaga mereka karena iman yang masih ada pada diri mereka.Sebagaimana firman-Nya:اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ“Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257)Kemudian Allah berfirman:وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ“Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal.”Ayat ini berisi perintah untuk bertawakal. Tawakal adalah sikap hati yang bersandar sepenuhnya kepada Allah dalam meraih manfaat dan menolak mudarat, disertai kepercayaan penuh kepada-Nya.Kadar tawakal seorang hamba sebanding dengan kadar imannya. Semakin kuat imannya, semakin kuat pula tawakalnya.Orang-orang beriman lebih pantas untuk bertawakal kepada Allah dibandingkan selain mereka. Terlebih lagi dalam situasi sulit dan medan peperangan, karena pada saat itu mereka sangat membutuhkan tawakal, memohon pertolongan kepada Rabb mereka, dan meminta kemenangan dari-Nya.Mereka harus melepaskan diri dari ketergantungan pada kekuatan dan kemampuan diri sendiri, lalu bersandar sepenuhnya kepada kekuatan dan pertolongan Allah. Dengan cara itulah Allah akan menolong mereka dan melindungi mereka dari berbagai bencana dan ujian. 2. Motivasi dari Kemenangan Perang Badar (Ayat 123-129)Ingat bahwa jumlah bukan penentu kemenangan, melainkan pertolongan Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. Ali Imran: 123)إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَن يَكْفِيَكُمْ أَن يُمِدَّكُمْ رَبُّكُم بِثَلَٰثَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُنزَلِينَ“(Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?” (QS. Ali Imran: 124)بَلَىٰٓ ۚ إِن تَصْبِرُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُسَوِّمِينَ“Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.” (QS. Ali Imran: 125)Secara ringkas dalam Tafsir As-Sa’di dijelaskan:Perang Badar terjadi pada tahun kedua hijrah. Rasulullah ﷺ keluar dari Madinah bersama sekitar tiga ratus belasan sahabat. Mereka tidak memiliki kecuali tujuh puluh unta dan dua ekor kuda. Awalnya mereka bermaksud menghadang kafilah dagang Quraisy yang datang dari Syam.Namun kabar itu sampai kepada kaum musyrikin. Mereka pun bersiap dari Makkah untuk menyelamatkan kafilah mereka. Mereka keluar dengan sekitar seribu pasukan lengkap dengan persenjataan dan kuda yang banyak.Kedua pasukan bertemu di sebuah tempat bernama Badar, sebuah mata air di antara Makkah dan Madinah.Dalam pertempuran itu, Allah memberikan kemenangan besar kepada kaum muslimin. Mereka berhasil membunuh tujuh puluh orang dari tokoh-tokoh dan pemberani kaum musyrikin, serta menawan tujuh puluh orang lainnya. Mereka juga menguasai perkemahan musuh beserta perlengkapannya.Kisah lengkap mengenai perang Badar terdapat di Surah Al-Anfal. Namun Allah menyebutkannya di sini agar kaum mukminin mengingatnya, sehingga mereka semakin bertakwa kepada Rabb mereka dan bersyukur kepada-Nya.Mengenai ayat 125, Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Dalam ayat ini, Allah menetapkan tiga syarat untuk turunnya bantuan berupa lima ribu malaikat:SabarTakwaDatangnya kaum musyrikin secara langsung dan segera dalam peristiwa tersebutJanji turunnya malaikat dan tambahan kekuatan ini bergantung pada terpenuhinya tiga syarat tersebut.Adapun janji kemenangan secara umum dan penangkalan tipu daya musuh, maka Allah hanya mensyaratkan dua hal pertama, yaitu sabar dan takwa. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam firman-Nya:وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا“Jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka tidak akan membahayakan kalian sedikit pun.”(QS. Ali ‘Imran: 120) 3. Pembersihan Hati: Larangan Riba di Tengah Suasana Perang (Ayat 130-136)Penyisipan ayat-ayat tentang riba dan sifat orang bertakwa di tengah pembahasan Perang Uhud ini merupakan bentuk reorientasi mental dan spiritual bagi umat Islam. Melalui ayat ini, Allah melarang riba untuk mencabut akar kecintaan pada dunia yang sempat menggoyahkan disiplin pasukan pemanah di Bukit Rumat, sekaligus mengalihkan ambisi mereka dari sekadar mengejar harta rampasan (ghanimah) menuju perlombaan mengejar ampunan dan surga. Allah ingin menegaskan bahwa kemenangan sejati hanya akan diraih oleh orang-orang bertakwa yang mampu mengelola hati di masa sulit, yaitu mereka yang tetap dermawan saat sempit, mampu menahan amarah atas kegagalan koordinasi perang, serta memiliki jiwa pemaaf demi menjaga keutuhan ukhuwah dalam barisan.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوا۟ ٱلرِّبَوٰٓا۟ أَضْعَٰفًا مُّضَٰعَفَةً ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda] dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imran: 130)وَٱتَّقُوا۟ ٱلنَّارَ ٱلَّتِىٓ أُعِدَّتْ لِلْكَٰفِرِينَ“Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (QS. Ali Imran: 131)وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. Ali Imran: 132)۞ وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)أُو۟لَٰٓئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّٰتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ ٱلْعَٰمِلِينَ“Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran: 136)Penjelasan ringkas dari Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Barangkali—wallahu a‘lam—hikmah disisipkannya ayat-ayat ini di tengah kisah Perang Uhud adalah karena sebelumnya Allah telah menjanjikan kepada orang-orang beriman bahwa jika mereka bersabar dan bertakwa, niscaya Dia akan menolong mereka dan menggagalkan tipu daya musuh.Seakan-akan jiwa para mukmin rindu untuk mengetahui sifat-sifat ketakwaan yang dapat menghadirkan kemenangan, keberuntungan, dan kebahagiaan. Maka Allah menyebutkan dalam ayat-ayat ini sifat-sifat utama dari ketakwaan. Jika seorang hamba mampu menegakkannya, maka menegakkan sifat-sifat lain tentu lebih mudah dan lebih layak lagi.Setiap kali dalam Al-Qur’an Allah memulai dengan seruan ini, lalu memerintahkan sesuatu atau melarang sesuatu, maka itu menunjukkan bahwa imanlah yang menjadi sebab dan pendorong untuk melaksanakan perintah tersebut dan menjauhi larangan itu. Karena iman adalah pembenaran yang sempurna terhadap apa yang wajib dibenarkan, yang menuntut pengamalan anggota badan.Di antara larangan dalam ayat-ayat ini adalah larangan memakan riba yang berlipat ganda. Itulah praktik yang biasa dilakukan pada masa jahiliah, juga oleh orang-orang yang tidak peduli dengan perintah syariat.Apabila utang telah jatuh tempo dan si peminjam tidak mampu membayar, mereka berkata, “Lunasi sekarang atau kami tambahkan waktunya, tetapi jumlah utangmu bertambah.” Maka orang miskin itu terpaksa menyetujui tambahan tersebut demi mendapat kelonggaran waktu. Akibatnya, utangnya terus bertambah berkali-kali lipat tanpa ada manfaat yang ia peroleh.Dalam firman-Nya:أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً“Berlipat ganda.” Terdapat peringatan tentang betapa buruknya perbuatan itu karena banyaknya tambahan yang memberatkan, sekaligus isyarat tentang hikmah pengharamannya. Allah mengharamkan riba karena di dalamnya terdapat kezaliman.Allah mewajibkan agar orang yang kesulitan diberi penangguhan tanpa tambahan apa pun pada utangnya. Maka membebani dia dengan tambahan di atas itu adalah kezaliman yang berlipat ganda.Karena itu, seorang mukmin yang bertakwa wajib meninggalkan riba dan tidak mendekatinya. Meninggalkannya termasuk konsekuensi ketakwaan. Sedangkan keberuntungan dan keselamatan bergantung pada ketakwaan. 4. Isu Wafatnya Rasulullah dan Kekuatan Mental (Ayat 144)Kekalahan di medan Uhud semakin memuncak ketika tersiar kabar hoaks bahwa Rasulullah ﷺ telah wafat, yang seketika meruntuhkan mental sebagian kaum Muslimin. Melalui Surah Ali ‘Imran ayat 144 ini, Allah meluruskan niat para sahabat agar dasar perjuangan mereka bukan semata-mata karena figur pemimpin, melainkan murni karena Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ ٱلرُّسُلُ ۚ أَفَإِي۟ن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ ٱنقَلَبْتُمْ عَلَىٰٓ أَعْقَٰبِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيْـًٔا ۗ وَسَيَجْزِى ٱللَّهُ ٱلشَّٰكِرِينَ“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Dalam ayat yang mulia ini terdapat bimbingan dari Allah agar hamba-hamba-Nya tidak mudah goyah dari iman atau dari konsekuensi iman, hanya karena kehilangan seorang pemimpin, meskipun ia sangat agung.Hal itu hanya dapat terwujud jika dalam setiap urusan agama tersedia sejumlah orang yang cakap dan layak memikul tanggung jawab tersebut. Jika salah satu dari mereka wafat atau tiada, maka yang lain dapat menggantikannya.Demikian pula hendaknya tujuan umum kaum mukminin adalah menegakkan agama Allah dan berjihad membelanya sesuai kemampuan, bukan bergantung pada sosok pemimpin tertentu. Dengan sikap seperti ini, urusan mereka akan kokoh dan keadaan mereka akan tetap teratur.Dalam ayat ini juga terdapat dalil yang sangat kuat tentang keutamaan ash-Shiddiq yang agung, yaitu Abu Bakar As-Siddiq, serta para sahabat yang memerangi kaum murtad setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Karena merekalah para pemimpin orang-orang yang bersyukur, yang tetap teguh menegakkan agama Allah setelah wafatnya Nabi mereka. 5. Titik Balik Kekalahan: Ujian Dunia dan Ketidakpatuhan (Ayat 152)Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ ٱللَّهُ وَعْدَهُۥٓ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِۦ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَٰزَعْتُمْ فِى ٱلْأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّنۢ بَعْدِ مَآ أَرَىٰكُم مَّا تُحِبُّونَ ۚ مِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلْءَاخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ ۗ وَٱللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 152)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ“Dan sungguh Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian.” Yakni janji kemenangan. Allah benar-benar telah menolong kalian atas musuh-musuh kalian, hingga mereka berpaling mundur dan kalian membunuh mereka. Kemenangan itu hampir sempurna.Namun kemudian kalian justru menjadi sebab kelemahan bagi diri kalian sendiri, bahkan menjadi penolong bagi musuh untuk mengalahkan kalian.Ketika muncul di antara kalian kelemahan dan rasa gentar, dan kalian berselisih dalam urusan, padahal Allah telah memerintahkan persatuan dan melarang perpecahan—maka terjadilah perbedaan pendapat.Sebagian berkata, “Kita tetap tinggal di posisi yang telah ditetapkan oleh Nabi ﷺ.” Sebagian lagi berkata, “Mengapa kita tetap di sini, padahal musuh telah kalah dan tidak ada lagi bahaya?”Maka kalian pun bermaksiat kepada Rasul ﷺ dan meninggalkan perintah beliau, setelah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai, yaitu kekalahan musuh kalian.Padahal orang yang telah Allah beri nikmat kemenangan, justru lebih besar kewajibannya untuk taat. Dalam kondisi seperti itu—dan dalam kondisi apa pun—yang wajib adalah menaati perintah Allah dan Rasul-Nya.Allah berfirman:مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا“Di antara kalian ada yang menginginkan dunia.”Mereka adalah orang-orang yang terdorong turun dari posisi mereka karena menginginkan harta rampasan.وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ“Dan di antara kalian ada yang menginginkan akhirat.”Mereka adalah orang-orang yang tetap teguh mematuhi perintah Rasulullah ﷺ dan bertahan di tempat yang telah ditetapkan.Kemudian Allah berfirman:ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ“Kemudian Dia memalingkan kalian dari mereka.”Yakni, setelah terjadi kelemahan dan perselisihan itu, Allah memalingkan keadaan sehingga musuh berbalik menyerang kalian. Itu adalah ujian dan cobaan dari Allah.Tujuannya agar tampak jelas siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang munafik, siapa yang taat dan siapa yang durhaka. Sekaligus agar Allah menghapus kesalahan yang muncul dari kalian melalui musibah tersebut.Karena itu Allah berfirman:وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ“Dan sungguh Allah telah memaafkan kalian. Dan Allah memiliki karunia yang besar atas orang-orang beriman.”Di antara karunia besar Allah kepada kaum mukminin adalah Dia menganugerahkan Islam kepada mereka, memberi mereka petunjuk kepada syariat-Nya, memaafkan kesalahan mereka, dan memberikan pahala atas musibah yang menimpa mereka.Bahkan termasuk bagian dari karunia-Nya adalah bahwa setiap kebaikan maupun musibah yang Allah tetapkan bagi seorang mukmin, semuanya menjadi kebaikan baginya.Jika mereka mendapat kesenangan lalu bersyukur, Allah memberi mereka pahala sebagai orang-orang yang bersyukur. Jika mereka ditimpa kesusahan lalu bersabar, Allah memberi mereka pahala sebagai orang-orang yang sabar. 6. Akhlak Pemimpin: Musyawarah dan Kelembutan Hati (Ayat 159)Bagaimana Nabi tetap merangkul sahabat yang bersalah. Poin penting untuk parenting dan kepemimpinan saat ini.فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Allah Ta’ala berfirman:فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ“Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.”Yakni, karena rahmat Allah kepadamu dan kepada para sahabatmu, Allah menganugerahkan kepadamu kelembutan hati. Engkau merendahkan sayapmu kepada mereka, bersikap penuh kasih, dan berakhlak mulia terhadap mereka. Maka mereka pun berkumpul di sekelilingmu, mencintaimu, dan menaati perintahmu.Kemudian Allah berfirman:وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ“Seandainya engkau bersikap kasar lagi berhati keras, niscaya mereka akan menjauh dari sekelilingmu.”Yakni, jika engkau buruk akhlaknya dan keras hatinya, tentu orang-orang akan menjauh dan membencimu. Karena akhlak yang buruk membuat manusia lari dan merasa tidak nyaman.Akhlak yang baik dari seorang pemimpin dalam urusan agama akan menarik manusia kepada agama Allah dan membuat mereka mencintainya. Selain itu, pemilik akhlak mulia akan memperoleh pujian dan pahala khusus dari Allah.Sebaliknya, akhlak yang buruk dari seorang pemimpin agama akan membuat manusia menjauh dari agama dan membencinya. Pemiliknya pun berhak mendapatkan celaan dan hukuman khusus.Jika kepada Rasulullah ﷺ—yang ma‘shum dan paling sempurna akalnya, ilmunya, serta pendapatnya—Allah memberikan arahan seperti ini, maka bagaimana lagi dengan selain beliau?Bukankah termasuk kewajiban terbesar dan perkara terpenting adalah meneladani akhlak beliau yang mulia? Berinteraksi dengan manusia sebagaimana beliau berinteraksi: dengan kelembutan, akhlak yang baik, dan usaha merangkul hati. Semua itu dalam rangka menaati perintah Allah dan menarik hamba-hamba-Nya kepada agama-Nya.Kemudian Allah memerintahkan beliau untuk memaafkan kesalahan mereka terhadap beliau:فَاعْفُ عَنْهُمْ“Karena itu maafkanlah mereka.”Yakni atas kekurangan mereka terhadap hak beliau ﷺ.وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ“Dan mohonkanlah ampun untuk mereka.”Yakni atas kekurangan mereka terhadap hak Allah.Dengan demikian, terkumpullah dua hal: memaafkan dan berbuat baik.Kemudian Allah berfirman:وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”Yakni dalam perkara-perkara yang membutuhkan pertimbangan, pemikiran, dan penelaahan.Musyawarah memiliki banyak manfaat dan maslahat, baik dalam urusan agama maupun dunia, yang sulit dihitung jumlahnya. Di antaranya:Musyawarah termasuk bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.Ia membuat hati orang-orang menjadi lapang dan menghilangkan ganjalan yang mungkin muncul dalam peristiwa-peristiwa tertentu.Jika seorang pemimpin mengumpulkan orang-orang yang berilmu dan berpengalaman untuk dimintai pendapat dalam suatu masalah, maka hati mereka menjadi tenang, mereka mencintainya, dan mengetahui bahwa ia tidak bersikap otoriter, tetapi menginginkan kemaslahatan bersama.Dengan demikian, mereka akan bersungguh-sungguh dalam menaati dan membantunya, karena mereka tahu bahwa ia berusaha demi kepentingan umum.Berbeda dengan pemimpin yang tidak bermusyawarah, biasanya ia tidak dicintai dengan tulus, dan jika ditaati pun, ketaatan itu tidak sepenuh hati.Musyawarah juga menerangi akal, karena setiap pendapat diasah dan digunakan sesuai fungsinya, sehingga menghasilkan tambahan kecerdasan.Dari musyawarah sering lahir pendapat yang tepat. Orang yang bermusyawarah jarang keliru. Jika pun keliru atau tidak mencapai hasil yang diinginkan, ia tidak tercela.Jika Allah memerintahkan Rasul-Nya ﷺ—yang paling sempurna akalnya, paling luas ilmunya, dan paling tepat pendapatnya—untuk bermusyawarah, maka bagaimana lagi dengan selain beliau?Kemudian Allah berfirman:فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”Yakni, setelah bermusyawarah dan menetapkan keputusan dalam suatu urusan, maka bersandarlah kepada kekuatan dan pertolongan Allah. Lepaskan diri dari ketergantungan pada kemampuan dan kekuatan diri sendiri.إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”Yaitu orang-orang yang bersandar kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, dan menjadikan-Nya sebagai tempat bergantung dalam setiap urusan mereka. 7. Menyingkap Kedok Kaum Munafik di Balik Tragedi Uhud (Ayat 167)Allah Ta’ala berfirman,وَلِيَعْلَمَ ٱلَّذِينَ نَافَقُوا۟ ۚ وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ قَٰتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَوِ ٱدْفَعُوا۟ ۖ قَالُوا۟ لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَّٱتَّبَعْنَٰكُمْ ۗ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَٰنِ ۚ يَقُولُونَ بِأَفْوَٰهِهِم مَّا لَيْسَ فِى قُلُوبِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ“Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.” (QS. Ali Imran: 167)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Semua itu agar menjadi jelas perbedaan antara orang beriman dan orang munafik. Ketika mereka diperintahkan untuk berperang, dan dikatakan kepada mereka:تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ“Marilah berperang di jalan Allah.”Yakni untuk membela agama Allah, melindunginya, dan mencari keridaan-Nya.Kemudian dikatakan pula:أَوِ ادْفَعُوا“Atau setidaknya bertahanlah (membela diri).”Maksudnya, jika kalian tidak memiliki niat yang tulus untuk membela agama, maka setidaknya berperanglah demi membela keluarga, kehormatan, dan negeri kalian.Namun mereka menolak dan mencari-cari alasan. Mereka berkata:لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَاتَّبَعْنَاكُمْ“Seandainya kami mengetahui akan terjadi peperangan, niscaya kami mengikuti kalian.”Artinya, “Jika kami tahu pasti akan terjadi pertempuran antara kalian dan mereka, tentu kami ikut bersama kalian.”Padahal mereka berdusta.Mereka mengetahui dan meyakini—dan semua orang pun tahu—bahwa kaum musyrikin dipenuhi rasa dendam dan kemarahan kepada kaum mukminin atas kekalahan yang mereka alami. Mereka telah mengerahkan harta, mengumpulkan pasukan dan perlengkapan, serta datang dalam jumlah besar menuju negeri kaum muslimin, dengan tekad kuat untuk memerangi mereka.Dalam keadaan seperti itu, bagaimana mungkin tidak terjadi peperangan? Terlebih lagi kaum muslimin telah keluar dari Madinah dan maju menghadapi mereka. Mustahil tidak terjadi pertempuran.Akan tetapi, kaum munafik mengira alasan itu akan laku di hadapan kaum mukminin.Allah berfirman:هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ“Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekufuran daripada kepada keimanan.”Yakni dalam keadaan mereka meninggalkan kewajiban berangkat bersama kaum mukminin, mereka lebih condong kepada kekufuran.يَقُولُونَ بِأَفْوَاهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ“Mereka mengatakan dengan mulut mereka apa yang tidak ada dalam hati mereka.”Inilah ciri khas orang munafik: mereka menampakkan dengan ucapan dan perbuatan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang tersembunyi dalam hati dan batin mereka.Termasuk di dalamnya ucapan mereka, “Seandainya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentu kami mengikuti kalian,” padahal mereka benar-benar tahu bahwa peperangan pasti terjadi.Dari ayat ini juga dapat diambil kaidah penting:اِرْتِكَابُ أَخَفِّ الْمَفْسَدَتَيْنِ لِدَفْعِ أَعْلَاهُمَا، وَفِعْلُ أَدْنَى الْمَصْلَحَتَيْنِ، لِلْعَجْزِ عَنْ أَعْلَاهُمَا.“Menempuh mudarat yang lebih ringan untuk menghindari mudarat yang lebih besar, serta melakukan maslahat yang lebih rendah ketika tidak mampu meraih maslahat yang lebih tinggi.”Sebab orang-orang munafik diperintahkan untuk berperang demi agama. Jika mereka tidak mau, maka minimal untuk membela keluarga dan negeri mereka. Artinya, jika tidak mampu meraih tujuan yang paling tinggi, maka jangan tinggalkan tujuan yang lebih rendah.Kemudian Allah menutup ayat dengan firman-Nya:وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ“Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka sembunyikan.”Allah mengetahui apa yang tersembunyi di hati mereka, lalu Dia akan menampakkannya kepada kaum mukminin dan memberikan balasan atasnya. Ibrah bagi Kita dari Perang UhudBerdasarkan rangkaian ayat-ayat dalam Ali Imran tersebut, berikut adalah poin-poin kesalahan kaum muslimin di Perang Uhud yang menjadi peringatan abadi bagi kita saat ini:Ketidakpatuhan terhadap Instruksi Pemimpin: Kesalahan fatal bermula ketika pasukan pemanah melanggar perintah tegas Rasulullah ﷺ untuk tetap di posisi. Ini menjadi peringatan bahwa ketaatan kepada pemimpin dalam kebaikan adalah kunci stabilitas dan kemenangan barisan.Terfitnah oleh Dunia (Ghanimah): Munculnya keinginan terhadap harta rampasan perang yang mengalahkan niat awal berjihad. Hal ini mengingatkan kita bahwa penyakit “cinta dunia” dapat merusak fokus perjuangan dan melunturkan nilai keikhlasan.Perselisihan di Internal Barisan: Adanya perdebatan dan perbedaan pendapat di saat genting (antara tetap bertahan atau turun bukit) yang memicu perpecahan. Persatuan adalah kekuatan, sedangkan pertikaian internal adalah pembuka pintu kekalahan.Kekaguman pada Figur secara Berlebihan: Sebagian sempat goyah dan ingin mundur saat mendengar kabar hoaks Nabi ﷺ wafat. Ini adalah peringatan agar iman dan perjuangan tidak boleh bergantung pada sosok manusia, melainkan harus tegak di atas nilai dan perintah Allah yang abadi.Sifat Gentar dan Lemah Tekad: Adanya rasa takut yang sempat menghinggapi sebagian sahabat (Bani Salamah dan Bani Haritsah) sebelum perang dimulai. Keimanan harus dibarengi dengan keberanian dan tawakal penuh agar tidak mudah goyah oleh besarnya kekuatan musuh.Lalai dalam Menjaga Kewaspadaan: Meninggalkan celah strategis (bukit Rumat) karena menyangka perang telah usai. Hal ini mengajarkan bahwa sikap meremehkan musuh dan terlalu cepat merasa menang bisa berakibat fatal.Kurangnya Ketajaman dalam Menilai Orang Munafik: Adanya pengaruh dari kaum munafik (Abdullah bin Ubay) yang berhasil membawa pulang sepertiga pasukan. Umat Islam harus waspada terhadap upaya pelemahan dari dalam yang seringkali dibungkus dengan alasan-alasan yang tampak logis. KesimpulanKesimpulan dari tadabbur Perang Uhud di Surah Ali ‘Imran adalah bahwa kemenangan sejati tidak ditentukan oleh kekuatan fisik semata, melainkan oleh keteguhan iman, ketaatan penuh kepada syariat, dan kebersihan hati dari ambisi duniawi.“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai ambisi terbesar kami, ampunilah kelemahan hati kami saat menghadapi ujian, dan teguhkanlah kaki kami di atas jalan kebenaran sebagaimana Engkau telah memberikan perlindungan khusus kepada hamba-hamba-Mu yang beriman.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic —– Malam Sabtu bakda Maghrib, 4 Ramadhan 1447 H @ Makkah Al-MukarramahPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshikmah perang perang perang di masa nabi perang uhud renungan ayat renungan quran
Juz 4 dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Ali ‘Imran, memuat evaluasi mendalam dan “trauma healing” Rabbani atas tragedi Perang Uhud yang menjadi madrasah tarbiyah bagi setiap mukmin. Melalui rangkaian ayat ini, Allah membedah secara anatomi bahwa kekalahan sering kali berakar dari penyakit hati berupa cinta dunia, ketidakpatuhan terhadap perintah Rasul, serta guncangnya mental akibat isu yang tidak berdasar. Tulisan ini akan merangkum tujuh bahasan utama dalam Surah Ali ‘Imran yang menyingkap strategi, ujian iman, hingga kelembutan akhlak pemimpin sebagai pelajaran abadi bagi perjuangan umat Islam saat ini.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Perang Uhud dan Pelajaran di Dalamnya Daftar Isi tutup 1. Mengapa Surah Ali Imran Membahas Uhud secara Detail? 1.1. 1. Evaluasi Mental Setelah Luka Fisik 1.2. 2. Membedah Penyakit “Cinta Dunia” 1.3. 3. Memisahkan Emas dari Loyang 1.4. 4. Meneguhkan Konsep Kenabian 2. 7 Bahasan Utama Perang Uhud dalam Surah Ali Imran 2.1. 1. Persiapan Strategis dan Keberangkatan (Ayat 121-122) 2.2. 2. Motivasi dari Kemenangan Perang Badar (Ayat 123-129) 2.3. 3. Pembersihan Hati: Larangan Riba di Tengah Suasana Perang (Ayat 130-136) 2.4. 4. Isu Wafatnya Rasulullah dan Kekuatan Mental (Ayat 144) 2.5. 5. Titik Balik Kekalahan: Ujian Dunia dan Ketidakpatuhan (Ayat 152) 2.6. 6. Akhlak Pemimpin: Musyawarah dan Kelembutan Hati (Ayat 159) 2.7. 7. Menyingkap Kedok Kaum Munafik di Balik Tragedi Uhud (Ayat 167) 3. Ibrah bagi Kita dari Perang Uhud 4. Kesimpulan Mengapa Surah Ali Imran Membahas Uhud secara Detail?Peristiwa Perang Uhud bukan sekadar catatan sejarah tentang menang atau kalah. Dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Ali ‘Imran, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan porsi pembahasan yang sangat panjang (lebih dari 50 ayat) untuk mengupas tragedi ini. Mengapa demikian?1. Evaluasi Mental Setelah Luka FisikJuz 4 dibuka dengan penguatan akidah dan syariat, namun kemudian masuk ke dalam evaluasi Perang Uhud. Secara psikologis, pasukan Muslim saat itu sedang berada dalam titik terendah. Mereka kehilangan 70 syuhada, termasuk Hamzah bin Abdul Muthalib, dan Rasulullah ﷺ sendiri mengalami luka-luka.Allah menurunkan ayat-ayat ini bukan untuk menghakimi secara kasar, melainkan sebagai “Trauma Healing” Rabbani. Allah ingin menyembuhkan mental para sahabat dengan menjelaskan mengapa itu terjadi, agar kesedihan tidak berlarut-larut menjadi keputusasaan.وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139)Dalam Tafsir Al-Baghawi disebutkan:Allah Ta’ala berfirman: “Janganlah kalian merasa lemah dan jangan pula bersedih hati.”Ayat ini merupakan dorongan dan penyemangat bagi para sahabat Nabi ﷺ untuk terus berjihad, meskipun mereka telah tertimpa musibah berupa terbunuh dan terluka dalam Perang Uhud. Allah Ta’ala berfirman:“وَلَا تَهِنُوا”“Janganlah kalian menjadi lemah.”Maksudnya, janganlah kalian menjadi lemah dan jangan pula merasa gentar dalam menghadapi musuh-musuh kalian, hanya karena kalian mengalami korban terbunuh dan luka-luka.Pada hari itu gugur lima orang sahabat yang mulia, di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Mush’ab bin Umair, serta tujuh puluh orang dari kalangan Anshar.Kemudian Allah berfirman:“وَلَا تَحْزَنُوا”“Dan janganlah kalian bersedih hati.”Janganlah kalian bersedih atas apa yang telah menimpa kalian.“وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ”“Padahal kalianlah yang paling tinggi (derajatnya atau kedudukannya).”Yakni, pada akhirnya kalianlah yang akan memperoleh kemenangan dan pertolongan. Kalianlah yang akan mendapatkan akibat yang baik berupa kemenangan dan kejayaan.“إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ”“Jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman.”Maksudnya: karena kalian adalah orang-orang yang beriman. Keimanan itulah yang menjadi sebab datangnya pertolongan dan kemenangan.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: ketika para sahabat Rasulullah ﷺ tercerai-berai di lereng gunung (pada Perang Uhud), Khalid bin Walid datang bersama pasukan berkuda kaum musyrikin, hendak naik ke atas gunung untuk menyerang mereka.Maka Nabi ﷺ berdoa,اللَّهُمَّ لَا يَعْلُونَ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ لَا قُوَّةَ لَنَا إِلَّا بِكَ“Ya Allah, jangan Engkau biarkan mereka mengalahkan kami. Ya Allah, tidak ada kekuatan bagi kami kecuali dengan pertolongan-Mu.”Kemudian sekelompok kaum muslimin dari pasukan pemanah bangkit dan naik ke atas gunung. Mereka melempari pasukan berkuda kaum musyrikin hingga berhasil memukul mundur mereka. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: “Dan kalianlah yang paling tinggi.”Al-Kalbi berkata: ayat ini turun setelah Perang Uhud, ketika Nabi ﷺ memerintahkan para sahabat untuk mengejar musuh, meskipun mereka dalam keadaan terluka. Hal itu terasa sangat berat bagi kaum muslimin, maka Allah menurunkan ayat ini sebagai penguat dan peneguh hati mereka.Hal ini diperkuat oleh firman Allah Ta’ala:وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ“Dan janganlah kalian menjadi lemah dalam mengejar musuh.” (QS. An-Nisa’: 104) 2. Membedah Penyakit “Cinta Dunia”Jika Perang Badar (di Surah Al-Anfal) adalah cerita tentang pertolongan Allah yang luar biasa, maka Perang Uhud di Surah Ali ‘Imran adalah cerita tentang kedisiplinan dan kejujuran hati.Allah mendetailkan peristiwa ini untuk menunjukkan bahwa musuh terbesar bukanlah Khalid bin Walid (yang saat itu masih di pihak Quraisy), melainkan fitnah harta (ghanimah) yang muncul di hati sebagian pasukan. Ini adalah pelajaran abadi bagi aktivis dakwah dan umat Islam: bahwa maksiat di dalam barisan lebih berbahaya daripada kekuatan musuh di luar barisan.Baca juga: Jangan-Jangan Kita Terjangkit Penyakit Cinta Dunia, Ini Tandanya 3. Memisahkan Emas dari LoyangMelalui detail di Surah Ali ‘Imran, Allah ingin melakukan tashfiyah (penyaringan). Dalam suasana damai, semua orang bisa mengaku beriman. Namun, dalam situasi genting seperti di Uhud—di mana muncul isu Nabi wafat dan mundurnya pasukan munafik—akan terlihat siapa yang benar-benar berjuang karena Allah dan siapa yang hanya ikut-ikutan. 4. Meneguhkan Konsep KenabianDetailnya pembahasan ini juga untuk meluruskan pemahaman para sahabat bahwa Rasulullah ﷺ adalah manusia biasa yang bisa terluka dan kelak akan wafat. Umat Islam tidak boleh menggantungkan agama pada eksistensi fisik sang Nabi, melainkan pada ajaran yang beliau bawa. Inilah mengapa Allah menegur mereka di ayat 144 agar tetap teguh meski kabar duka menerpa.Ali ‘Imran tidak hanya menceritakan urutan kejadian, tapi melakukan bedah anatomi kesalahan agar umat Islam di masa depan (termasuk kita hari ini) tidak mengulangi lubang yang sama. Kekalahan di Uhud adalah “madrasah” tarbiyah yang sangat mahal harganya. 7 Bahasan Utama Perang Uhud dalam Surah Ali Imran1. Persiapan Strategis dan Keberangkatan (Ayat 121-122)Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّئُ ٱلْمُؤْمِنِينَ مَقَٰعِدَ لِلْقِتَالِ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran: 121)إِذْ هَمَّت طَّآئِفَتَانِ مِنكُمْ أَن تَفْشَلَا وَٱللَّهُ وَلِيُّهُمَا ۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ“Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Ali Imran: 122)Dalam Tafsir As-Sa’di dijelaskan mengenai dua ayat di atas.Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan Perang Uhud. Kisahnya sangat masyhur dalam kitab-kitab sirah dan sejarah.Hikmah penyebutannya di sini—serta disandingkannya dengan kisah Perang Badar—adalah karena Allah Ta’ala telah menjanjikan kepada orang-orang beriman bahwa jika mereka bersabar dan bertakwa, maka Dia akan menolong mereka dan menggagalkan tipu daya musuh. Janji ini bersifat umum dan benar adanya, tidak akan meleset selama syaratnya terpenuhi.Maka Allah menyebutkan dua contoh nyata dari janji tersebut. Dalam Perang Badar, Allah menolong kaum mukminin ketika mereka bersabar dan bertakwa. Namun dalam Perang Uhud, musuh sempat mendapatkan kemenangan atas mereka karena sebagian kaum muslimin melakukan pelanggaran terhadap ketakwaan.Di antara hikmah digabungkannya dua kisah ini adalah bahwa Allah menyukai hamba-Nya yang ketika tertimpa sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka mengingat kembali nikmat yang mereka cintai. Dengan itu, musibah menjadi terasa ringan, dan mereka pun bersyukur atas nikmat besar yang Allah karuniakan. Jika dibandingkan dengan nikmat tersebut, maka musibah yang menimpa sebenarnya sangat kecil dan pada hakikatnya mengandung kebaikan bagi mereka.Allah Ta’ala telah mengisyaratkan hikmah ini dalam firman-Nya:أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا“Dan apakah ketika kalian ditimpa musibah, padahal kalian telah menimpakan dua kali lipat musibah kepada musuh kalian…?” (QS. Ali ‘Imran: 165)Adapun ringkasan peristiwa Uhud adalah sebagai berikut:Ketika kaum musyrikin kembali dari Perang Badar ke Makkah pada tahun kedua hijrah, mereka mempersiapkan diri dengan segala kemampuan: harta, persenjataan, dan pasukan. Mereka mengumpulkan kekuatan yang besar dengan keyakinan akan tercapainya tujuan mereka dan terobatinya rasa dendam di dada mereka.Akhirnya, mereka berangkat dari Makkah menuju Madinah dengan tiga ribu pasukan, lalu berhenti di dekat kota Madinah.Rasulullah ﷺ keluar menghadapi mereka bersama para sahabatnya setelah melalui musyawarah dan pertimbangan. Akhirnya diputuskan untuk keluar dari kota. Beliau berangkat bersama seribu pasukan.Namun, ketika perjalanan baru berjalan sedikit, Abdullah bin Ubay, seorang munafik, kembali bersama sepertiga pasukan yang sepaham dengannya. Bahkan dua kelompok kaum mukminin—Bani Salamah dan Bani Haritsah—sempat berniat untuk mundur, tetapi Allah meneguhkan hati mereka.Ketika sampai di Uhud, Nabi ﷺ menyusun barisan kaum muslimin dan menempatkan mereka di posisi masing-masing. Mereka membelakangi Gunung Uhud agar tidak diserang dari belakang.Beliau juga menempatkan lima puluh sahabat di sebuah celah di Gunung Uhud dan memerintahkan mereka untuk tetap di tempat itu dan tidak meninggalkannya dalam keadaan apa pun, agar tidak ada musuh yang menyerang dari arah belakang.Ketika pertempuran dimulai, kaum musyrikin mengalami kekalahan telak dan meninggalkan perkemahan mereka. Kaum muslimin mengejar mereka, membunuh dan menawan sebagian dari mereka.Namun, para pemanah yang berada di atas gunung melihat kaum musyrikin lari tunggang-langgang. Sebagian dari mereka berkata, “Harta rampasan! Harta rampasan! Mengapa kita tetap di sini sementara musuh telah kalah?”Pemimpin mereka, Abdullah bin Jubair, menasihati mereka agar tidak melanggar perintah Rasulullah ﷺ, tetapi mereka tidak mengindahkannya. Ketika mereka meninggalkan posisi, hanya tersisa sedikit orang, termasuk pemimpin mereka.Dari celah itulah pasukan berkuda kaum musyrikin menyerang dari belakang dan menyerbu barisan kaum muslimin. Kaum muslimin pun kacau dan terjadi goncangan besar—ujian dari Allah untuk mereka. Dengan ujian itu Allah menghapus dosa-dosa mereka, sekaligus memberi mereka pelajaran atas pelanggaran yang telah terjadi.Sebagian sahabat gugur syahid, lalu mereka berkumpul dan bertahan di puncak Gunung Uhud. Allah kemudian menahan tangan kaum musyrikin sehingga mereka tidak melanjutkan serangan, lalu mereka kembali ke negeri mereka.Rasulullah ﷺ dan para sahabat kembali ke Madinah.Allah Ta’ala berfirman:وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ“Dan (ingatlah) ketika engkau berangkat dari keluargamu…”Kata ghuduw (غَدَوْتَ) di sini berarti keluar secara umum, bukan khusus pada pagi hari. Karena Nabi ﷺ dan para sahabat keluar setelah menunaikan shalat Jumat.تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِينَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ“Engkau menempatkan orang-orang beriman pada posisi-posisi untuk berperang.”Yakni, engkau menempatkan dan menyusun mereka sesuai posisi yang layak bagi masing-masing.Dalam ayat ini terdapat pujian yang sangat besar kepada Nabi ﷺ. Beliaulah yang langsung mengatur strategi dan menempatkan pasukan. Hal itu menunjukkan kesempurnaan ilmu, ketajaman pandangan, kelurusan pendapat, dan tingginya semangat beliau. Beliau sendiri turun tangan dalam pengaturan dan memiliki keberanian yang sempurna. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada beliau.Allah berfirman:وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”Allah Maha Mendengar segala sesuatu yang diucapkan, termasuk perkataan orang-orang beriman dan orang-orang munafik—masing-masing berbicara sesuai isi hatinya. Allah juga Maha Mengetahui niat para hamba, lalu membalas mereka dengan balasan yang paling sempurna.Selain itu, maknanya juga: Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui keadaan kalian. Dia menjaga kalian, mengatur urusan kalian, dan menguatkan kalian dengan pertolongan-Nya.Sebagaimana firman-Nya kepada Musa dan Harun:إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى“Sesungguhnya Aku bersama kalian berdua, Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thaha: 46)Di ayat selanjutnya (QS. Ali Imran ayat 122) dijelaskan oleh Syaikh As-Sa’di sebagai berikut.Di antara bentuk kelembutan dan kebaikan Allah kepada kaum mukminin adalah ketika dua golongan dari mereka hampir saja melemah dan mundur—yaitu Bani Salamah dan Bani Haritsah sebagaimana telah disebutkan sebelumnya—Allah meneguhkan hati keduanya. Itu adalah nikmat besar bagi mereka dan bagi seluruh kaum beriman.Karena itulah Allah berfirman:وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا“Dan Allah adalah Pelindung bagi keduanya.”Yakni dengan perlindungan khusus-Nya. Perlindungan ini berupa kelembutan-Nya kepada para wali-Nya, memberi mereka taufik kepada hal-hal yang membawa kebaikan dan menjaga mereka dari hal-hal yang membahayakan.Termasuk bentuk perlindungan Allah kepada dua kelompok itu adalah ketika mereka hampir terjerumus dalam dosa besar—yaitu melemah dan lari dari Rasulullah ﷺ—Allah menjaga mereka karena iman yang masih ada pada diri mereka.Sebagaimana firman-Nya:اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ“Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257)Kemudian Allah berfirman:وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ“Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal.”Ayat ini berisi perintah untuk bertawakal. Tawakal adalah sikap hati yang bersandar sepenuhnya kepada Allah dalam meraih manfaat dan menolak mudarat, disertai kepercayaan penuh kepada-Nya.Kadar tawakal seorang hamba sebanding dengan kadar imannya. Semakin kuat imannya, semakin kuat pula tawakalnya.Orang-orang beriman lebih pantas untuk bertawakal kepada Allah dibandingkan selain mereka. Terlebih lagi dalam situasi sulit dan medan peperangan, karena pada saat itu mereka sangat membutuhkan tawakal, memohon pertolongan kepada Rabb mereka, dan meminta kemenangan dari-Nya.Mereka harus melepaskan diri dari ketergantungan pada kekuatan dan kemampuan diri sendiri, lalu bersandar sepenuhnya kepada kekuatan dan pertolongan Allah. Dengan cara itulah Allah akan menolong mereka dan melindungi mereka dari berbagai bencana dan ujian. 2. Motivasi dari Kemenangan Perang Badar (Ayat 123-129)Ingat bahwa jumlah bukan penentu kemenangan, melainkan pertolongan Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. Ali Imran: 123)إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَن يَكْفِيَكُمْ أَن يُمِدَّكُمْ رَبُّكُم بِثَلَٰثَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُنزَلِينَ“(Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?” (QS. Ali Imran: 124)بَلَىٰٓ ۚ إِن تَصْبِرُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُسَوِّمِينَ“Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.” (QS. Ali Imran: 125)Secara ringkas dalam Tafsir As-Sa’di dijelaskan:Perang Badar terjadi pada tahun kedua hijrah. Rasulullah ﷺ keluar dari Madinah bersama sekitar tiga ratus belasan sahabat. Mereka tidak memiliki kecuali tujuh puluh unta dan dua ekor kuda. Awalnya mereka bermaksud menghadang kafilah dagang Quraisy yang datang dari Syam.Namun kabar itu sampai kepada kaum musyrikin. Mereka pun bersiap dari Makkah untuk menyelamatkan kafilah mereka. Mereka keluar dengan sekitar seribu pasukan lengkap dengan persenjataan dan kuda yang banyak.Kedua pasukan bertemu di sebuah tempat bernama Badar, sebuah mata air di antara Makkah dan Madinah.Dalam pertempuran itu, Allah memberikan kemenangan besar kepada kaum muslimin. Mereka berhasil membunuh tujuh puluh orang dari tokoh-tokoh dan pemberani kaum musyrikin, serta menawan tujuh puluh orang lainnya. Mereka juga menguasai perkemahan musuh beserta perlengkapannya.Kisah lengkap mengenai perang Badar terdapat di Surah Al-Anfal. Namun Allah menyebutkannya di sini agar kaum mukminin mengingatnya, sehingga mereka semakin bertakwa kepada Rabb mereka dan bersyukur kepada-Nya.Mengenai ayat 125, Syaikh As-Sa’di menjelaskan:Dalam ayat ini, Allah menetapkan tiga syarat untuk turunnya bantuan berupa lima ribu malaikat:SabarTakwaDatangnya kaum musyrikin secara langsung dan segera dalam peristiwa tersebutJanji turunnya malaikat dan tambahan kekuatan ini bergantung pada terpenuhinya tiga syarat tersebut.Adapun janji kemenangan secara umum dan penangkalan tipu daya musuh, maka Allah hanya mensyaratkan dua hal pertama, yaitu sabar dan takwa. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam firman-Nya:وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا“Jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka tidak akan membahayakan kalian sedikit pun.”(QS. Ali ‘Imran: 120) 3. Pembersihan Hati: Larangan Riba di Tengah Suasana Perang (Ayat 130-136)Penyisipan ayat-ayat tentang riba dan sifat orang bertakwa di tengah pembahasan Perang Uhud ini merupakan bentuk reorientasi mental dan spiritual bagi umat Islam. Melalui ayat ini, Allah melarang riba untuk mencabut akar kecintaan pada dunia yang sempat menggoyahkan disiplin pasukan pemanah di Bukit Rumat, sekaligus mengalihkan ambisi mereka dari sekadar mengejar harta rampasan (ghanimah) menuju perlombaan mengejar ampunan dan surga. Allah ingin menegaskan bahwa kemenangan sejati hanya akan diraih oleh orang-orang bertakwa yang mampu mengelola hati di masa sulit, yaitu mereka yang tetap dermawan saat sempit, mampu menahan amarah atas kegagalan koordinasi perang, serta memiliki jiwa pemaaf demi menjaga keutuhan ukhuwah dalam barisan.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوا۟ ٱلرِّبَوٰٓا۟ أَضْعَٰفًا مُّضَٰعَفَةً ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda] dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imran: 130)وَٱتَّقُوا۟ ٱلنَّارَ ٱلَّتِىٓ أُعِدَّتْ لِلْكَٰفِرِينَ“Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (QS. Ali Imran: 131)وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. Ali Imran: 132)۞ وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)أُو۟لَٰٓئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّٰتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ ٱلْعَٰمِلِينَ“Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran: 136)Penjelasan ringkas dari Syaikh As-Sa’di rahimahullah.Barangkali—wallahu a‘lam—hikmah disisipkannya ayat-ayat ini di tengah kisah Perang Uhud adalah karena sebelumnya Allah telah menjanjikan kepada orang-orang beriman bahwa jika mereka bersabar dan bertakwa, niscaya Dia akan menolong mereka dan menggagalkan tipu daya musuh.Seakan-akan jiwa para mukmin rindu untuk mengetahui sifat-sifat ketakwaan yang dapat menghadirkan kemenangan, keberuntungan, dan kebahagiaan. Maka Allah menyebutkan dalam ayat-ayat ini sifat-sifat utama dari ketakwaan. Jika seorang hamba mampu menegakkannya, maka menegakkan sifat-sifat lain tentu lebih mudah dan lebih layak lagi.Setiap kali dalam Al-Qur’an Allah memulai dengan seruan ini, lalu memerintahkan sesuatu atau melarang sesuatu, maka itu menunjukkan bahwa imanlah yang menjadi sebab dan pendorong untuk melaksanakan perintah tersebut dan menjauhi larangan itu. Karena iman adalah pembenaran yang sempurna terhadap apa yang wajib dibenarkan, yang menuntut pengamalan anggota badan.Di antara larangan dalam ayat-ayat ini adalah larangan memakan riba yang berlipat ganda. Itulah praktik yang biasa dilakukan pada masa jahiliah, juga oleh orang-orang yang tidak peduli dengan perintah syariat.Apabila utang telah jatuh tempo dan si peminjam tidak mampu membayar, mereka berkata, “Lunasi sekarang atau kami tambahkan waktunya, tetapi jumlah utangmu bertambah.” Maka orang miskin itu terpaksa menyetujui tambahan tersebut demi mendapat kelonggaran waktu. Akibatnya, utangnya terus bertambah berkali-kali lipat tanpa ada manfaat yang ia peroleh.Dalam firman-Nya:أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً“Berlipat ganda.” Terdapat peringatan tentang betapa buruknya perbuatan itu karena banyaknya tambahan yang memberatkan, sekaligus isyarat tentang hikmah pengharamannya. Allah mengharamkan riba karena di dalamnya terdapat kezaliman.Allah mewajibkan agar orang yang kesulitan diberi penangguhan tanpa tambahan apa pun pada utangnya. Maka membebani dia dengan tambahan di atas itu adalah kezaliman yang berlipat ganda.Karena itu, seorang mukmin yang bertakwa wajib meninggalkan riba dan tidak mendekatinya. Meninggalkannya termasuk konsekuensi ketakwaan. Sedangkan keberuntungan dan keselamatan bergantung pada ketakwaan. 4. Isu Wafatnya Rasulullah dan Kekuatan Mental (Ayat 144)Kekalahan di medan Uhud semakin memuncak ketika tersiar kabar hoaks bahwa Rasulullah ﷺ telah wafat, yang seketika meruntuhkan mental sebagian kaum Muslimin. Melalui Surah Ali ‘Imran ayat 144 ini, Allah meluruskan niat para sahabat agar dasar perjuangan mereka bukan semata-mata karena figur pemimpin, melainkan murni karena Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ ٱلرُّسُلُ ۚ أَفَإِي۟ن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ ٱنقَلَبْتُمْ عَلَىٰٓ أَعْقَٰبِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيْـًٔا ۗ وَسَيَجْزِى ٱللَّهُ ٱلشَّٰكِرِينَ“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Dalam ayat yang mulia ini terdapat bimbingan dari Allah agar hamba-hamba-Nya tidak mudah goyah dari iman atau dari konsekuensi iman, hanya karena kehilangan seorang pemimpin, meskipun ia sangat agung.Hal itu hanya dapat terwujud jika dalam setiap urusan agama tersedia sejumlah orang yang cakap dan layak memikul tanggung jawab tersebut. Jika salah satu dari mereka wafat atau tiada, maka yang lain dapat menggantikannya.Demikian pula hendaknya tujuan umum kaum mukminin adalah menegakkan agama Allah dan berjihad membelanya sesuai kemampuan, bukan bergantung pada sosok pemimpin tertentu. Dengan sikap seperti ini, urusan mereka akan kokoh dan keadaan mereka akan tetap teratur.Dalam ayat ini juga terdapat dalil yang sangat kuat tentang keutamaan ash-Shiddiq yang agung, yaitu Abu Bakar As-Siddiq, serta para sahabat yang memerangi kaum murtad setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Karena merekalah para pemimpin orang-orang yang bersyukur, yang tetap teguh menegakkan agama Allah setelah wafatnya Nabi mereka. 5. Titik Balik Kekalahan: Ujian Dunia dan Ketidakpatuhan (Ayat 152)Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ ٱللَّهُ وَعْدَهُۥٓ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِۦ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَٰزَعْتُمْ فِى ٱلْأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّنۢ بَعْدِ مَآ أَرَىٰكُم مَّا تُحِبُّونَ ۚ مِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلْءَاخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ ۗ وَٱللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 152)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ“Dan sungguh Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian.” Yakni janji kemenangan. Allah benar-benar telah menolong kalian atas musuh-musuh kalian, hingga mereka berpaling mundur dan kalian membunuh mereka. Kemenangan itu hampir sempurna.Namun kemudian kalian justru menjadi sebab kelemahan bagi diri kalian sendiri, bahkan menjadi penolong bagi musuh untuk mengalahkan kalian.Ketika muncul di antara kalian kelemahan dan rasa gentar, dan kalian berselisih dalam urusan, padahal Allah telah memerintahkan persatuan dan melarang perpecahan—maka terjadilah perbedaan pendapat.Sebagian berkata, “Kita tetap tinggal di posisi yang telah ditetapkan oleh Nabi ﷺ.” Sebagian lagi berkata, “Mengapa kita tetap di sini, padahal musuh telah kalah dan tidak ada lagi bahaya?”Maka kalian pun bermaksiat kepada Rasul ﷺ dan meninggalkan perintah beliau, setelah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai, yaitu kekalahan musuh kalian.Padahal orang yang telah Allah beri nikmat kemenangan, justru lebih besar kewajibannya untuk taat. Dalam kondisi seperti itu—dan dalam kondisi apa pun—yang wajib adalah menaati perintah Allah dan Rasul-Nya.Allah berfirman:مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا“Di antara kalian ada yang menginginkan dunia.”Mereka adalah orang-orang yang terdorong turun dari posisi mereka karena menginginkan harta rampasan.وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ“Dan di antara kalian ada yang menginginkan akhirat.”Mereka adalah orang-orang yang tetap teguh mematuhi perintah Rasulullah ﷺ dan bertahan di tempat yang telah ditetapkan.Kemudian Allah berfirman:ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ“Kemudian Dia memalingkan kalian dari mereka.”Yakni, setelah terjadi kelemahan dan perselisihan itu, Allah memalingkan keadaan sehingga musuh berbalik menyerang kalian. Itu adalah ujian dan cobaan dari Allah.Tujuannya agar tampak jelas siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang munafik, siapa yang taat dan siapa yang durhaka. Sekaligus agar Allah menghapus kesalahan yang muncul dari kalian melalui musibah tersebut.Karena itu Allah berfirman:وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ“Dan sungguh Allah telah memaafkan kalian. Dan Allah memiliki karunia yang besar atas orang-orang beriman.”Di antara karunia besar Allah kepada kaum mukminin adalah Dia menganugerahkan Islam kepada mereka, memberi mereka petunjuk kepada syariat-Nya, memaafkan kesalahan mereka, dan memberikan pahala atas musibah yang menimpa mereka.Bahkan termasuk bagian dari karunia-Nya adalah bahwa setiap kebaikan maupun musibah yang Allah tetapkan bagi seorang mukmin, semuanya menjadi kebaikan baginya.Jika mereka mendapat kesenangan lalu bersyukur, Allah memberi mereka pahala sebagai orang-orang yang bersyukur. Jika mereka ditimpa kesusahan lalu bersabar, Allah memberi mereka pahala sebagai orang-orang yang sabar. 6. Akhlak Pemimpin: Musyawarah dan Kelembutan Hati (Ayat 159)Bagaimana Nabi tetap merangkul sahabat yang bersalah. Poin penting untuk parenting dan kepemimpinan saat ini.فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Allah Ta’ala berfirman:فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ“Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.”Yakni, karena rahmat Allah kepadamu dan kepada para sahabatmu, Allah menganugerahkan kepadamu kelembutan hati. Engkau merendahkan sayapmu kepada mereka, bersikap penuh kasih, dan berakhlak mulia terhadap mereka. Maka mereka pun berkumpul di sekelilingmu, mencintaimu, dan menaati perintahmu.Kemudian Allah berfirman:وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ“Seandainya engkau bersikap kasar lagi berhati keras, niscaya mereka akan menjauh dari sekelilingmu.”Yakni, jika engkau buruk akhlaknya dan keras hatinya, tentu orang-orang akan menjauh dan membencimu. Karena akhlak yang buruk membuat manusia lari dan merasa tidak nyaman.Akhlak yang baik dari seorang pemimpin dalam urusan agama akan menarik manusia kepada agama Allah dan membuat mereka mencintainya. Selain itu, pemilik akhlak mulia akan memperoleh pujian dan pahala khusus dari Allah.Sebaliknya, akhlak yang buruk dari seorang pemimpin agama akan membuat manusia menjauh dari agama dan membencinya. Pemiliknya pun berhak mendapatkan celaan dan hukuman khusus.Jika kepada Rasulullah ﷺ—yang ma‘shum dan paling sempurna akalnya, ilmunya, serta pendapatnya—Allah memberikan arahan seperti ini, maka bagaimana lagi dengan selain beliau?Bukankah termasuk kewajiban terbesar dan perkara terpenting adalah meneladani akhlak beliau yang mulia? Berinteraksi dengan manusia sebagaimana beliau berinteraksi: dengan kelembutan, akhlak yang baik, dan usaha merangkul hati. Semua itu dalam rangka menaati perintah Allah dan menarik hamba-hamba-Nya kepada agama-Nya.Kemudian Allah memerintahkan beliau untuk memaafkan kesalahan mereka terhadap beliau:فَاعْفُ عَنْهُمْ“Karena itu maafkanlah mereka.”Yakni atas kekurangan mereka terhadap hak beliau ﷺ.وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ“Dan mohonkanlah ampun untuk mereka.”Yakni atas kekurangan mereka terhadap hak Allah.Dengan demikian, terkumpullah dua hal: memaafkan dan berbuat baik.Kemudian Allah berfirman:وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”Yakni dalam perkara-perkara yang membutuhkan pertimbangan, pemikiran, dan penelaahan.Musyawarah memiliki banyak manfaat dan maslahat, baik dalam urusan agama maupun dunia, yang sulit dihitung jumlahnya. Di antaranya:Musyawarah termasuk bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.Ia membuat hati orang-orang menjadi lapang dan menghilangkan ganjalan yang mungkin muncul dalam peristiwa-peristiwa tertentu.Jika seorang pemimpin mengumpulkan orang-orang yang berilmu dan berpengalaman untuk dimintai pendapat dalam suatu masalah, maka hati mereka menjadi tenang, mereka mencintainya, dan mengetahui bahwa ia tidak bersikap otoriter, tetapi menginginkan kemaslahatan bersama.Dengan demikian, mereka akan bersungguh-sungguh dalam menaati dan membantunya, karena mereka tahu bahwa ia berusaha demi kepentingan umum.Berbeda dengan pemimpin yang tidak bermusyawarah, biasanya ia tidak dicintai dengan tulus, dan jika ditaati pun, ketaatan itu tidak sepenuh hati.Musyawarah juga menerangi akal, karena setiap pendapat diasah dan digunakan sesuai fungsinya, sehingga menghasilkan tambahan kecerdasan.Dari musyawarah sering lahir pendapat yang tepat. Orang yang bermusyawarah jarang keliru. Jika pun keliru atau tidak mencapai hasil yang diinginkan, ia tidak tercela.Jika Allah memerintahkan Rasul-Nya ﷺ—yang paling sempurna akalnya, paling luas ilmunya, dan paling tepat pendapatnya—untuk bermusyawarah, maka bagaimana lagi dengan selain beliau?Kemudian Allah berfirman:فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”Yakni, setelah bermusyawarah dan menetapkan keputusan dalam suatu urusan, maka bersandarlah kepada kekuatan dan pertolongan Allah. Lepaskan diri dari ketergantungan pada kemampuan dan kekuatan diri sendiri.إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”Yaitu orang-orang yang bersandar kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, dan menjadikan-Nya sebagai tempat bergantung dalam setiap urusan mereka. 7. Menyingkap Kedok Kaum Munafik di Balik Tragedi Uhud (Ayat 167)Allah Ta’ala berfirman,وَلِيَعْلَمَ ٱلَّذِينَ نَافَقُوا۟ ۚ وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ قَٰتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَوِ ٱدْفَعُوا۟ ۖ قَالُوا۟ لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَّٱتَّبَعْنَٰكُمْ ۗ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَٰنِ ۚ يَقُولُونَ بِأَفْوَٰهِهِم مَّا لَيْسَ فِى قُلُوبِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ“Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.” (QS. Ali Imran: 167)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Semua itu agar menjadi jelas perbedaan antara orang beriman dan orang munafik. Ketika mereka diperintahkan untuk berperang, dan dikatakan kepada mereka:تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ“Marilah berperang di jalan Allah.”Yakni untuk membela agama Allah, melindunginya, dan mencari keridaan-Nya.Kemudian dikatakan pula:أَوِ ادْفَعُوا“Atau setidaknya bertahanlah (membela diri).”Maksudnya, jika kalian tidak memiliki niat yang tulus untuk membela agama, maka setidaknya berperanglah demi membela keluarga, kehormatan, dan negeri kalian.Namun mereka menolak dan mencari-cari alasan. Mereka berkata:لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَاتَّبَعْنَاكُمْ“Seandainya kami mengetahui akan terjadi peperangan, niscaya kami mengikuti kalian.”Artinya, “Jika kami tahu pasti akan terjadi pertempuran antara kalian dan mereka, tentu kami ikut bersama kalian.”Padahal mereka berdusta.Mereka mengetahui dan meyakini—dan semua orang pun tahu—bahwa kaum musyrikin dipenuhi rasa dendam dan kemarahan kepada kaum mukminin atas kekalahan yang mereka alami. Mereka telah mengerahkan harta, mengumpulkan pasukan dan perlengkapan, serta datang dalam jumlah besar menuju negeri kaum muslimin, dengan tekad kuat untuk memerangi mereka.Dalam keadaan seperti itu, bagaimana mungkin tidak terjadi peperangan? Terlebih lagi kaum muslimin telah keluar dari Madinah dan maju menghadapi mereka. Mustahil tidak terjadi pertempuran.Akan tetapi, kaum munafik mengira alasan itu akan laku di hadapan kaum mukminin.Allah berfirman:هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ“Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekufuran daripada kepada keimanan.”Yakni dalam keadaan mereka meninggalkan kewajiban berangkat bersama kaum mukminin, mereka lebih condong kepada kekufuran.يَقُولُونَ بِأَفْوَاهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ“Mereka mengatakan dengan mulut mereka apa yang tidak ada dalam hati mereka.”Inilah ciri khas orang munafik: mereka menampakkan dengan ucapan dan perbuatan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang tersembunyi dalam hati dan batin mereka.Termasuk di dalamnya ucapan mereka, “Seandainya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentu kami mengikuti kalian,” padahal mereka benar-benar tahu bahwa peperangan pasti terjadi.Dari ayat ini juga dapat diambil kaidah penting:اِرْتِكَابُ أَخَفِّ الْمَفْسَدَتَيْنِ لِدَفْعِ أَعْلَاهُمَا، وَفِعْلُ أَدْنَى الْمَصْلَحَتَيْنِ، لِلْعَجْزِ عَنْ أَعْلَاهُمَا.“Menempuh mudarat yang lebih ringan untuk menghindari mudarat yang lebih besar, serta melakukan maslahat yang lebih rendah ketika tidak mampu meraih maslahat yang lebih tinggi.”Sebab orang-orang munafik diperintahkan untuk berperang demi agama. Jika mereka tidak mau, maka minimal untuk membela keluarga dan negeri mereka. Artinya, jika tidak mampu meraih tujuan yang paling tinggi, maka jangan tinggalkan tujuan yang lebih rendah.Kemudian Allah menutup ayat dengan firman-Nya:وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ“Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka sembunyikan.”Allah mengetahui apa yang tersembunyi di hati mereka, lalu Dia akan menampakkannya kepada kaum mukminin dan memberikan balasan atasnya. Ibrah bagi Kita dari Perang UhudBerdasarkan rangkaian ayat-ayat dalam Ali Imran tersebut, berikut adalah poin-poin kesalahan kaum muslimin di Perang Uhud yang menjadi peringatan abadi bagi kita saat ini:Ketidakpatuhan terhadap Instruksi Pemimpin: Kesalahan fatal bermula ketika pasukan pemanah melanggar perintah tegas Rasulullah ﷺ untuk tetap di posisi. Ini menjadi peringatan bahwa ketaatan kepada pemimpin dalam kebaikan adalah kunci stabilitas dan kemenangan barisan.Terfitnah oleh Dunia (Ghanimah): Munculnya keinginan terhadap harta rampasan perang yang mengalahkan niat awal berjihad. Hal ini mengingatkan kita bahwa penyakit “cinta dunia” dapat merusak fokus perjuangan dan melunturkan nilai keikhlasan.Perselisihan di Internal Barisan: Adanya perdebatan dan perbedaan pendapat di saat genting (antara tetap bertahan atau turun bukit) yang memicu perpecahan. Persatuan adalah kekuatan, sedangkan pertikaian internal adalah pembuka pintu kekalahan.Kekaguman pada Figur secara Berlebihan: Sebagian sempat goyah dan ingin mundur saat mendengar kabar hoaks Nabi ﷺ wafat. Ini adalah peringatan agar iman dan perjuangan tidak boleh bergantung pada sosok manusia, melainkan harus tegak di atas nilai dan perintah Allah yang abadi.Sifat Gentar dan Lemah Tekad: Adanya rasa takut yang sempat menghinggapi sebagian sahabat (Bani Salamah dan Bani Haritsah) sebelum perang dimulai. Keimanan harus dibarengi dengan keberanian dan tawakal penuh agar tidak mudah goyah oleh besarnya kekuatan musuh.Lalai dalam Menjaga Kewaspadaan: Meninggalkan celah strategis (bukit Rumat) karena menyangka perang telah usai. Hal ini mengajarkan bahwa sikap meremehkan musuh dan terlalu cepat merasa menang bisa berakibat fatal.Kurangnya Ketajaman dalam Menilai Orang Munafik: Adanya pengaruh dari kaum munafik (Abdullah bin Ubay) yang berhasil membawa pulang sepertiga pasukan. Umat Islam harus waspada terhadap upaya pelemahan dari dalam yang seringkali dibungkus dengan alasan-alasan yang tampak logis. KesimpulanKesimpulan dari tadabbur Perang Uhud di Surah Ali ‘Imran adalah bahwa kemenangan sejati tidak ditentukan oleh kekuatan fisik semata, melainkan oleh keteguhan iman, ketaatan penuh kepada syariat, dan kebersihan hati dari ambisi duniawi.“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai ambisi terbesar kami, ampunilah kelemahan hati kami saat menghadapi ujian, dan teguhkanlah kaki kami di atas jalan kebenaran sebagaimana Engkau telah memberikan perlindungan khusus kepada hamba-hamba-Mu yang beriman.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic —– Malam Sabtu bakda Maghrib, 4 Ramadhan 1447 H @ Makkah Al-MukarramahPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshikmah perang perang perang di masa nabi perang uhud renungan ayat renungan quran