Tafsir Surah At-Takwir: Gambaran Dahsyat Hari Kiamat

Surah At-Takwir menggambarkan peristiwa-peristiwa dahsyat yang terjadi menjelang hari kiamat, ketika tatanan alam semesta berubah dan manusia menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah yang menggetarkan. Melalui ayat-ayat ini, Allah mengingatkan bahwa pada hari itu setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dipersiapkannya untuk akhirat, baik berupa kebaikan maupun keburukan.  Daftar Isi tutup 1. Gambaran Dahsyat Hari Kiamat di Awal Surah At-Takwir 1.1. Ketika Matahari Padam dan Bintang-Bintang Berjatuhan 1.2. Gunung Dihancurkan, Harta Paling Berharga Ditinggalkan 1.3. Binatang Dikumpulkan dan Lautan Menyala 1.4. Setiap Jiwa Dikumpulkan Bersama Golongannya 1.5. Bayi Perempuan yang Dikubur Hidup-Hidup Akan Ditanya 1.6. Catatan Amal Dibuka, Langit Disingkap 1.7. Neraka Dinyalakan dan Surga Didekatkan 1.8. Setiap Jiwa Melihat Apa yang Telah Dipersiapkannya 1.9. Surah At-Takwir, Lukisan Hari Kiamat yang Mengguncang Hati 2. Allah Bersumpah dengan Tanda-Tanda Besar di Alam Semesta 3. Al-Qur’an Dibawa oleh Utusan yang Mulia (Jibril) 4. Nabi Muhammad ﷺ Bukan Orang Gila, tetapi Pembawa Wahyu 5. Al-Qur’an Bukan Perkataan Setan 6. Mengapa Masih Berpaling dari Kebenaran? 7. Al-Qur’an adalah Peringatan bagi Seluruh Manusia 8. Hidayah Terjadi dengan Kehendak Allah  Gambaran Dahsyat Hari Kiamat di Awal Surah At-TakwirKetika Matahari Padam dan Bintang-Bintang BerjatuhanAllah Ta’ala berfirman,إِذَا ٱلشَّمْسُ كُوِّرَتْ“Apabila matahari digulung.” (QS. At-Takwir: 1)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Apabila terjadi peristiwa-peristiwa besar yang dahsyat ini, maka manusia akan dipisahkan, dan setiap orang akan mengetahui apa yang telah ia persiapkan untuk akhiratnya, berupa kebaikan maupun keburukan. Hal itu terjadi pada hari kiamat, ketika matahari digulung, yaitu dikumpulkan dan dilipat, bulan digelapkan, lalu keduanya dilemparkan ke dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتْ“dan apabila bintang-bintang berjatuhan.” (QS. At-Takwir: 2)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila bintang-bintang berubah dan jatuh berserakan dari tempat peredarannya. Gunung Dihancurkan, Harta Paling Berharga DitinggalkanAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجِبَالُ سُيِّرَتْ“dan apabila gunung-gunung dihancurkan.” (QS. At-Takwir: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila gunung-gunung digerakkan. Gunung-gunung itu mula-mula menjadi seperti gundukan pasir yang mudah hancur, kemudian menjadi seperti bulu yang beterbangan, lalu berubah menjadi debu yang bertebaran dan dipindahkan dari tempatnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْعِشَارُ عُطِّلَتْ“dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan).” (QS. At-Takwir: 4)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan. Pada saat itu manusia meninggalkan harta mereka yang paling berharga, yang sebelumnya sangat mereka perhatikan dan jaga setiap waktu. Mereka menjadi lalai darinya karena kedahsyatan yang mereka hadapi. Disebutkan “unta-unta bunting” karena itulah harta yang paling berharga bagi orang Arab pada masa itu. Penyebutan ini juga mencakup setiap harta yang sangat bernilai. Binatang Dikumpulkan dan Lautan MenyalaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْوُحُوشُ حُشِرَتْ“dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” (QS. At-Takwir: 5)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan. Semuanya dihimpun pada hari kiamat agar Allah menegakkan keadilan dengan memberi pembalasan antara sebagian dengan yang lain. Dengan demikian para hamba dapat melihat kesempurnaan keadilan-Nya. Bahkan akan dilakukan pembalasan antara hewan yang bertanduk terhadap hewan yang tidak bertanduk, kemudian setelah itu Allah berfirman kepadanya, “Jadilah kamu tanah.”Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْبِحَارُ سُجِّرَتْ“dan apabila lautan dijadikan meluap.” (QS. At-Takwir: 6)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila lautan dipanaskan hingga menyala, sehingga lautan yang sangat besar itu berubah menjadi api yang berkobar. Setiap Jiwa Dikumpulkan Bersama GolongannyaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتْ“dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh).” (QS. At-Takwir: 7)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila setiap jiwa dipasangkan dengan yang sejenis dengannya. Orang-orang yang berbuat baik dikumpulkan bersama orang-orang yang berbuat baik, dan orang-orang durhaka dikumpulkan bersama orang-orang durhaka. Orang-orang beriman dipasangkan dengan bidadari surga, sedangkan orang-orang kafir dipasangkan dengan setan-setan mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا“Orang-orang kafir digiring ke neraka Jahanam secara berkelompok.” (QS. Az-Zumar: 71)وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka digiring ke surga secara berkelompok.” (QS. Az-Zumar: 73)احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ“Kumpulkanlah orang-orang yang zalim bersama pasangan-pasangan mereka.” (QS. Ash-Shaffat: 22) Bayi Perempuan yang Dikubur Hidup-Hidup Akan DitanyaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْمَوْءُۥدَةُ سُئِلَتْ“dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya.” (QS. At-Takwir: 8)بِأَىِّ ذَنۢبٍ قُتِلَتْ“karena dosa apakah dia dibunuh.” (QS. At-Takwir: 9)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya. Yang dimaksud adalah perbuatan yang dahulu dilakukan oleh orang-orang jahiliah yang sangat bodoh, yaitu mengubur anak perempuan mereka hidup-hidup tanpa alasan apa pun, kecuali karena takut miskin.Lalu ditanyakan kepadanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Padahal sudah diketahui bahwa ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam hal ini terdapat celaan dan teguran keras bagi orang-orang yang membunuhnya.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai ayat di atas sebagai berikut.Demikianlah bacaan mayoritas ulama qiraah: سُئِلَتْ (ditanya). Yang dimaksud dengan al-mau’ūdah adalah bayi perempuan yang pada masa jahiliah dikubur hidup-hidup di dalam tanah karena mereka tidak menyukai kelahiran anak perempuan. Pada hari kiamat nanti, bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu akan ditanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Hal itu menjadi ancaman bagi orang yang membunuhnya. Jika yang dizalimi saja ditanya, maka bagaimana lagi keadaan orang yang berbuat zalim?Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya“, maksudnya adalah ia meminta penjelasan. Demikian pula dikatakan oleh Abu Adh-Dhuha, bahwa ia menuntut darahnya. Hal yang sama juga dikatakan oleh As-Suddi dan Qatadah.Terdapat beberapa hadis yang berkaitan dengan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup. Imam Ahmad meriwayatkan: Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, Sa’id bin Abi Ayyub menceritakan kepada kami, Abu Al-Aswad—yaitu Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Naufal—menceritakan kepadaku, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, dari Judamah binti Wahb, saudari ‘Ukasyah. Ia berkata: Aku pernah berada bersama Rasulullah ﷺ di tengah beberapa orang, lalu beliau bersabda, “Aku pernah berniat melarang ghilah (menggauli istri yang sedang menyusui). Namun aku melihat orang Romawi dan Persia melakukannya, dan hal itu tidak membahayakan anak-anak mereka.” Kemudian beliau ditanya tentang ‘azl (menumpahkan mani di luar rahim), maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Itu adalah pembunuhan yang tersembunyi,” yaitu seperti yang disebutkan dalam ayat “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya”.Hadis ini juga diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Abu ‘Abdurrahman Al-Muqri’, yaitu Abdullah bin Yazid, dari Sa’id bin Abi Ayyub. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah melalui Abu Bakr bin Abi Syaibah dari Yahya bin Ishaq As-Sailahini dari Yahya bin Ayyub. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i juga meriwayatkannya dari jalur Malik bin Anas, semuanya dari Abu Al-Aswad dengan sanad yang sama.Imam Ahmad juga meriwayatkan: Ibnu Abi ‘Adi menceritakan kepada kami dari Dawud bin Abi Hind, dari Asy-Sya’bi, dari ‘Alqamah, dari Salamah bin Yazid Al-Ju’fi. Ia berkata: Aku dan saudaraku pergi menemui Rasulullah ﷺ. Kami berkata, “Wahai Rasulullah, ibu kami yang bernama Mulaikah dahulu suka menyambung silaturahmi, memuliakan tamu, dan melakukan berbagai kebaikan, tetapi ia meninggal pada masa jahiliah. Apakah itu bermanfaat baginya?” Beliau menjawab, “Tidak.” Kami berkata lagi, “Dahulu ia pernah mengubur hidup-hidup saudari kami pada masa jahiliah. Apakah itu bermanfaat baginya?” Beliau bersabda, “Orang yang mengubur hidup-hidup dan yang dikubur hidup-hidup keduanya di neraka, kecuali jika orang yang mengubur itu masuk Islam, maka Allah akan memaafkannya.”Hadis ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari Dawud bin Abi Hind dengan sanad yang sama.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Ahmad bin Sinan Al-Wasithi menceritakan kepada kami, Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Isra’il meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari ‘Alqamah dan Abu Al-Ahwas, dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang mengubur hidup-hidup dan yang dikubur hidup-hidup keduanya di neraka.”Baca juga: Membunuh Anak Karena Takut MiskinAhmad juga meriwayatkan: Ishaq Al-Azraq menceritakan kepada kami, ‘Auf menceritakan kepada kami, Hasna binti Mu’awiyah As-Sarimiyah menceritakan kepadaku dari pamannya. Ia berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa saja yang berada di surga?” Beliau menjawab, “Nabi di surga, syahid di surga, anak kecil di surga, dan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup juga di surga.”Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan: Ayahku menceritakan kepada kami, Muslim bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Qurrah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Al-Hasan berkata: Pernah ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, “Siapakah yang berada di surga?” Beliau menjawab, “Bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup berada di surga.” Hadis ini adalah hadis mursal dari riwayat Al-Hasan, dan sebagian ulama menerimanya.Baca juga: Nasib Anak-Anak yang Meninggal Sebelum Baligh: Apakah Semua Masuk Surga?Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan: Abu Abdullah Az-Zahrani menceritakan kepada kami, Hafsh bin ‘Umar Al-‘Adani menceritakan kepada kami, Al-Hakam bin Aban menceritakan dari ‘Ikrimah bahwa Ibnu ‘Abbas berkata, “Anak-anak orang musyrik berada di surga. Barang siapa mengatakan bahwa mereka di neraka, maka ia telah berdusta.” Lalu ia membaca firman Allah:وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ • بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْIbnu ‘Abbas berkata: Yang dimaksud adalah anak perempuan yang dikubur hidup-hidup.Abdurrazzaq meriwayatkan: Isra’il menceritakan kepada kami dari Simak bin Harb, dari An-Nu’man bin Basyir, dari ‘Umar bin Al-Khaththab tentang firman Allah “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” berkata: Qais bin ‘Ashim datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku telah mengubur hidup-hidup beberapa anak perempuanku pada masa jahiliah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Bebaskanlah seorang budak untuk setiap anak perempuan itu.” Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku memiliki banyak unta.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, sembelihlah seekor unta untuk setiap anak perempuan itu.”Al-Hafizh Abu Bakr Al-Bazzar berkata: Riwayat ini diperselisihkan dari Abdurrazzaq, dan kami tidak menuliskannya kecuali dari jalur Al-Husain bin Mahdi darinya.Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkannya dengan sanad yang sama, hanya saja disebutkan bahwa Qais bin ‘Ashim berkata, “Aku telah mengubur delapan anak perempuanku pada masa jahiliah.” Pada akhir riwayat disebutkan, “Jika engkau mau, sembelihlah seekor unta untuk setiap anak perempuan itu.”Kemudian ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Abdullah bin Raja’ menceritakan kepada kami, Qais bin Ar-Rabi’ meriwayatkan dari Al-Aghar bin Ash-Shabah, dari Khalifah bin Hushain. Ia berkata: Qais bin ‘Ashim datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku telah mengubur dua belas atau tiga belas anak perempuanku pada masa jahiliah.” Beliau bersabda, “Bebaskanlah budak sejumlah mereka.” Maka ia pun membebaskan budak sebanyak itu. Pada tahun berikutnya ia datang dengan membawa seratus ekor unta lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah sedekah dari kaumku setelah apa yang telah aku lakukan terhadap kaum muslimin.” Ali bin Abi Thalib berkata: Kami pun menggembalakannya dan menamainya unta-unta Qais.Firman Allah:بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْPada hari kiamat bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Hal ini sebagai ancaman bagi orang yang membunuhnya. Jika orang yang dizalimi saja ditanya, maka bagaimana lagi keadaan orang yang berbuat zalim? Catatan Amal Dibuka, Langit DisingkapAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلصُّحُفُ نُشِرَتْ“dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka.” (QS. At-Takwir: 10)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Apabila lembaran-lembaran catatan amal dibuka, yaitu catatan yang berisi seluruh perbuatan manusia, baik kebaikan maupun keburukan. Catatan itu kemudian dibagikan kepada pemiliknya. Ada yang menerima kitabnya dengan tangan kanan, ada yang menerimanya dengan tangan kiri, dan ada pula yang menerimanya dari belakang punggungnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتْ“dan apabila langit dilenyapkan.” (QS. At-Takwir: 11)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila langit disingkap atau dihilangkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:يَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاءُ بِالْغَمَامِ“Pada hari ketika langit terbelah dengan awan.” (QS. Al-Furqan: 25)Dan firman-Nya:يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ“Pada hari Kami melipat langit seperti melipat lembaran-lembaran kitab.” (QS. Al-Anbiya’: 104)Serta firman-Nya: وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ “Dan bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67) Neraka Dinyalakan dan Surga DidekatkanAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجَحِيمُ سُعِّرَتْ“dan apabila neraka Jahim dinyalakan.” (QS. At-Takwir: 12)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila neraka Jahim dinyalakan dengan sangat dahsyat, sehingga apinya berkobar dan menyala-nyala dengan kobaran yang belum pernah terjadi sebelumnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ“dan apabila surga didekatkan.” (QS. At-Takwir: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa. Setiap Jiwa Melihat Apa yang Telah DipersiapkannyaAllah Ta’ala berfirman,عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ أَحْضَرَتْ“maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (QS. At-Takwir: 14)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Pada saat itu setiap jiwa mengetahui apa yang telah dibawanya, yaitu amal-amal yang dahulu telah ia kerjakan dan kini dihadirkan di hadapannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا“Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis di hadapan mereka).” (QS. Al-Kahfi: 49)Sifat-sifat hari kiamat yang digambarkan oleh Allah ini adalah gambaran yang mengguncang hati, menimbulkan kegelisahan yang besar, membuat tubuh gemetar, dan menimbulkan rasa takut yang meliputi manusia. Semua itu mendorong orang-orang yang berakal untuk mempersiapkan diri menghadapi hari tersebut dan menjauhi segala sesuatu yang mendatangkan penyesalan. Surah At-Takwir, Lukisan Hari Kiamat yang Mengguncang HatiKarena itu sebagian ulama salaf berkata:مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ رَأْيَ عَيْنٍ، فَلْيَتَدَبَّرْ سُورَةَ { إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ }“Barang siapa ingin melihat gambaran hari kiamat seakan-akan melihatnya dengan mata kepala sendiri, hendaklah ia merenungkan surah Idzasy-Syamsu Kuwwirat (Surah At-Takwir).” Allah Bersumpah dengan Tanda-Tanda Besar di Alam SemestaAllah Ta’ala berfirman,فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلْخُنَّسِ“Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang.” (QS. At-Takwir: 15)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Allah Ta‘ala bersumpah dengan bintang-bintang yang bersembunyi, yaitu bintang-bintang yang tampak mundur dari perjalanan biasa bintang-bintang lainnya menuju arah timur. Yang dimaksud adalah tujuh benda langit yang bergerak: matahari, bulan, Venus, Jupiter, Mars, Saturnus, dan Merkurius.Ketujuh benda langit ini memiliki dua jenis pergerakan: pergerakan menuju arah barat bersama bintang-bintang dan langit lainnya, serta pergerakan yang berlawanan menuju arah timur yang khusus dimiliki oleh ketujuh benda langit tersebut.Allah Ta’ala berfirman,ٱلْجَوَارِ ٱلْكُنَّسِ“yang beredar dan terbenam.” (QS. At-Takwir: 16)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Allah bersumpah dengan bintang-bintang itu ketika bersembunyi, yaitu ketika tampak mundur; ketika berjalan, yaitu saat bergerak di orbitnya; dan ketika masuk ke tempat persembunyian, yaitu saat tidak tampak di siang hari.Ada pula kemungkinan bahwa yang dimaksud adalah seluruh bintang, baik yang bergerak maupun yang tidak.Allah Ta’ala berfirman,وَٱلَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ“demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya.” (QS. At-Takwir: 17)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.“Demi malam apabila telah hampir berakhir.” Ada pula yang menafsirkan: apabila malam mulai datang.Allah Ta’ala berfirman,وَٱلصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ“dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (QS. At-Takwir: 18)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.“Dan demi subuh apabila mulai bernapas,” yaitu ketika tanda-tanda fajar mulai tampak dan cahaya mulai terbelah sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari pun terbit.Semua ini adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang agung. Allah bersumpah dengannya untuk menunjukkan kemuliaan dan kedudukan tinggi Al-Qur’an. Al-Qur’an Dibawa oleh Utusan yang Mulia (Jibril)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ“Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwir: 19)ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِى ٱلْعَرْشِ مَكِينٍ“yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy.” (QS. At-Takwir: 20)مُّطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ“yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” (QS. At-Takwir: 21)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah perkataan yang dibawa oleh seorang utusan yang mulia, yaitu Jibril ‘alaihissalam. Ia menurunkannya dari Allah Ta‘ala. Sebagaimana firman Allah:وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ ۝ عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ“Dan sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam. Yang dibawa turun oleh Ar-Rūḥul Amīn (Jibril) ke dalam hatimu agar engkau termasuk orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-194)Allah menyifati Jibril sebagai mulia, karena kemuliaan akhlaknya dan banyaknya sifat terpuji yang dimilikinya. Ia adalah malaikat yang paling utama dan paling tinggi kedudukannya di sisi Allah.ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (20)Ia memiliki kekuatan dalam melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.Di antara bukti kekuatannya adalah ketika ia membalik negeri kaum Nabi Luth, sehingga mereka pun dibinasakan.Ia juga dekat dengan Pemilik ‘Arsy, yaitu Allah. Artinya, Jibril memiliki kedudukan yang tinggi dan kedekatan khusus di sisi Allah.Makīn berarti memiliki kedudukan dan tempat yang tinggi, melebihi kedudukan para malaikat lainnya.مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ (21)Ia adalah malaikat yang ditaati di sana, yaitu di kalangan para malaikat di alam atas.Di bawah perintahnya terdapat para malaikat yang patuh kepadanya; perintahnya dijalankan dan pendapatnya ditaati.Ia juga amanah, yaitu menunaikan tugas yang diperintahkan kepadanya dengan sempurna: tidak menambah, tidak mengurangi, dan tidak melampaui apa yang telah ditetapkan baginya.Semua sifat ini menunjukkan betapa mulianya Al-Qur’an di sisi Allah, karena wahyu tersebut dibawa oleh malaikat yang mulia dengan sifat-sifat yang sempurna.Kebiasaan para raja adalah tidak mengutus orang yang mulia kecuali untuk tugas yang sangat penting dan pesan yang paling agung. Nabi Muhammad ﷺ Bukan Orang Gila, tetapi Pembawa WahyuAllah Ta’ala berfirman,وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجْنُونٍ“Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila.” (QS. At-Takwir: 22)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Setelah Allah menyebutkan keutamaan rasul dari kalangan malaikat yang membawa Al-Qur’an, Allah juga menyebutkan keutamaan rasul dari kalangan manusia yang menerima Al-Qur’an dan mengajak manusia kepadanya. Allah berfirman: “Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah orang gila.”Yang dimaksud adalah Nabi Muhammad ﷺ. Beliau bukanlah orang gila sebagaimana yang dituduhkan oleh musuh-musuhnya yang mendustakan risalahnya dan melontarkan berbagai tuduhan terhadapnya. Mereka mengatakan berbagai perkataan itu dengan maksud memadamkan kebenaran yang beliau bawa, sebisa yang mereka lakukan. Padahal beliau adalah manusia yang paling sempurna akalnya, paling matang pendapatnya, dan paling jujur ucapannya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ رَءَاهُ بِٱلْأُفُقِ ٱلْمُبِينِ“Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwir: 23)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Maksudnya, Nabi Muhammad ﷺ benar-benar melihat Malaikat Jibril ‘alaihissalam di ufuk yang terang dan jelas, yaitu di tempat paling tinggi yang dapat terlihat oleh pandangan mata.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ عَلَى ٱلْغَيْبِ بِضَنِينٍ“Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib.” (QS. At-Takwir: 24)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, beliau tidak dituduh menambah, mengurangi, atau menyembunyikan sedikit pun dari wahyu yang Allah turunkan kepadanya. Nabi ﷺ adalah orang yang terpercaya bagi penduduk langit dan penduduk bumi. Beliau menyampaikan risalah Tuhannya dengan penyampaian yang jelas. Beliau tidak menahan sedikit pun dari wahyu tersebut, baik kepada orang kaya maupun orang miskin, kepada pemimpin maupun rakyat biasa, kepada laki-laki maupun perempuan, kepada penduduk kota maupun penduduk desa. Karena itulah Allah mengutus beliau di tengah umat yang ummi dan sangat jahil. Namun sebelum beliau wafat, mereka telah menjadi ulama yang rabbani, para ahli ilmu yang tajam pemahamannya. Pada merekalah puncak ilmu, dan kepada merekalah berakhir kemampuan dalam menggali makna-makna yang mendalam. Mereka adalah para guru, sedangkan selain mereka hanyalah murid-murid mereka. Al-Qur’an Bukan Perkataan SetanAllah Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَٰنٍ رَّجِيمٍ“Dan Al Quran itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk.” (QS. At-Takwir: 25)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Setelah Allah menjelaskan kemuliaan kitab-Nya dan keutamaannya dengan menyebutkan dua rasul yang mulia—yang melalui keduanya Al-Qur’an sampai kepada manusia—serta memuji keduanya dengan pujian yang agung, Allah menolak segala tuduhan dan kekurangan yang dapat merusak kebenaran Al-Qur’an. Maka Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk, yaitu setan yang sangat jauh dari Allah dan dari kedekatan kepada-Nya. Mengapa Masih Berpaling dari Kebenaran?Allah Ta’ala berfirman,فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ“maka ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At-Takwir: 26)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, bagaimana mungkin anggapan seperti itu muncul dalam pikiran kalian? Ke mana hilangnya akal kalian sampai-sampai kalian menjadikan kebenaran—yang berada pada tingkat paling tinggi dari kejujuran—sebagai sesuatu yang dianggap dusta, padahal dusta adalah sesuatu yang paling rendah, paling buruk, dan paling hina di antara berbagai bentuk kebatilan? Bukankah ini tidak lain hanyalah bentuk terbaliknya hakikat kebenaran? Al-Qur’an adalah Peringatan bagi Seluruh ManusiaAllah Ta’ala berfirman,إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَٰلَمِينَ“Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.” (QS. At-Takwir: 27)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Melalui Al-Qur’an, manusia diingatkan tentang Tuhan mereka, tentang sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dan tentang segala kekurangan serta keburukan yang mustahil bagi-Nya. Mereka juga diingatkan tentang berbagai perintah dan larangan beserta hikmahnya. Selain itu, mereka diingatkan tentang ketentuan-ketentuan Allah, baik yang bersifat takdir, syariat, maupun balasan. Singkatnya, melalui Al-Qur’an manusia diingatkan tentang berbagai kemaslahatan dunia dan akhirat, dan dengan mengamalkannya mereka meraih kebahagiaan di dua kehidupan tersebut.لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwir: 28)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Hal ini berlaku setelah jelas perbedaan antara jalan yang benar dan jalan yang sesat, serta antara petunjuk dan kesesatan. Hidayah Terjadi dengan Kehendak AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, kehendak Allah pasti berlaku dan tidak mungkin ditolak ataupun dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat yang semisal terdapat bantahan terhadap dua kelompok: golongan Qadariyah yang menolak takdir dan golongan yang memaksakan takdir secara mutlak.   Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshari kiamat juz amma kiamat besar renungan ayat renungan quran tafsir juz amma tanda kiamat

Tafsir Surah At-Takwir: Gambaran Dahsyat Hari Kiamat

Surah At-Takwir menggambarkan peristiwa-peristiwa dahsyat yang terjadi menjelang hari kiamat, ketika tatanan alam semesta berubah dan manusia menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah yang menggetarkan. Melalui ayat-ayat ini, Allah mengingatkan bahwa pada hari itu setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dipersiapkannya untuk akhirat, baik berupa kebaikan maupun keburukan.  Daftar Isi tutup 1. Gambaran Dahsyat Hari Kiamat di Awal Surah At-Takwir 1.1. Ketika Matahari Padam dan Bintang-Bintang Berjatuhan 1.2. Gunung Dihancurkan, Harta Paling Berharga Ditinggalkan 1.3. Binatang Dikumpulkan dan Lautan Menyala 1.4. Setiap Jiwa Dikumpulkan Bersama Golongannya 1.5. Bayi Perempuan yang Dikubur Hidup-Hidup Akan Ditanya 1.6. Catatan Amal Dibuka, Langit Disingkap 1.7. Neraka Dinyalakan dan Surga Didekatkan 1.8. Setiap Jiwa Melihat Apa yang Telah Dipersiapkannya 1.9. Surah At-Takwir, Lukisan Hari Kiamat yang Mengguncang Hati 2. Allah Bersumpah dengan Tanda-Tanda Besar di Alam Semesta 3. Al-Qur’an Dibawa oleh Utusan yang Mulia (Jibril) 4. Nabi Muhammad ﷺ Bukan Orang Gila, tetapi Pembawa Wahyu 5. Al-Qur’an Bukan Perkataan Setan 6. Mengapa Masih Berpaling dari Kebenaran? 7. Al-Qur’an adalah Peringatan bagi Seluruh Manusia 8. Hidayah Terjadi dengan Kehendak Allah  Gambaran Dahsyat Hari Kiamat di Awal Surah At-TakwirKetika Matahari Padam dan Bintang-Bintang BerjatuhanAllah Ta’ala berfirman,إِذَا ٱلشَّمْسُ كُوِّرَتْ“Apabila matahari digulung.” (QS. At-Takwir: 1)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Apabila terjadi peristiwa-peristiwa besar yang dahsyat ini, maka manusia akan dipisahkan, dan setiap orang akan mengetahui apa yang telah ia persiapkan untuk akhiratnya, berupa kebaikan maupun keburukan. Hal itu terjadi pada hari kiamat, ketika matahari digulung, yaitu dikumpulkan dan dilipat, bulan digelapkan, lalu keduanya dilemparkan ke dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتْ“dan apabila bintang-bintang berjatuhan.” (QS. At-Takwir: 2)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila bintang-bintang berubah dan jatuh berserakan dari tempat peredarannya. Gunung Dihancurkan, Harta Paling Berharga DitinggalkanAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجِبَالُ سُيِّرَتْ“dan apabila gunung-gunung dihancurkan.” (QS. At-Takwir: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila gunung-gunung digerakkan. Gunung-gunung itu mula-mula menjadi seperti gundukan pasir yang mudah hancur, kemudian menjadi seperti bulu yang beterbangan, lalu berubah menjadi debu yang bertebaran dan dipindahkan dari tempatnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْعِشَارُ عُطِّلَتْ“dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan).” (QS. At-Takwir: 4)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan. Pada saat itu manusia meninggalkan harta mereka yang paling berharga, yang sebelumnya sangat mereka perhatikan dan jaga setiap waktu. Mereka menjadi lalai darinya karena kedahsyatan yang mereka hadapi. Disebutkan “unta-unta bunting” karena itulah harta yang paling berharga bagi orang Arab pada masa itu. Penyebutan ini juga mencakup setiap harta yang sangat bernilai. Binatang Dikumpulkan dan Lautan MenyalaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْوُحُوشُ حُشِرَتْ“dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” (QS. At-Takwir: 5)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan. Semuanya dihimpun pada hari kiamat agar Allah menegakkan keadilan dengan memberi pembalasan antara sebagian dengan yang lain. Dengan demikian para hamba dapat melihat kesempurnaan keadilan-Nya. Bahkan akan dilakukan pembalasan antara hewan yang bertanduk terhadap hewan yang tidak bertanduk, kemudian setelah itu Allah berfirman kepadanya, “Jadilah kamu tanah.”Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْبِحَارُ سُجِّرَتْ“dan apabila lautan dijadikan meluap.” (QS. At-Takwir: 6)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila lautan dipanaskan hingga menyala, sehingga lautan yang sangat besar itu berubah menjadi api yang berkobar. Setiap Jiwa Dikumpulkan Bersama GolongannyaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتْ“dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh).” (QS. At-Takwir: 7)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila setiap jiwa dipasangkan dengan yang sejenis dengannya. Orang-orang yang berbuat baik dikumpulkan bersama orang-orang yang berbuat baik, dan orang-orang durhaka dikumpulkan bersama orang-orang durhaka. Orang-orang beriman dipasangkan dengan bidadari surga, sedangkan orang-orang kafir dipasangkan dengan setan-setan mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا“Orang-orang kafir digiring ke neraka Jahanam secara berkelompok.” (QS. Az-Zumar: 71)وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka digiring ke surga secara berkelompok.” (QS. Az-Zumar: 73)احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ“Kumpulkanlah orang-orang yang zalim bersama pasangan-pasangan mereka.” (QS. Ash-Shaffat: 22) Bayi Perempuan yang Dikubur Hidup-Hidup Akan DitanyaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْمَوْءُۥدَةُ سُئِلَتْ“dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya.” (QS. At-Takwir: 8)بِأَىِّ ذَنۢبٍ قُتِلَتْ“karena dosa apakah dia dibunuh.” (QS. At-Takwir: 9)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya. Yang dimaksud adalah perbuatan yang dahulu dilakukan oleh orang-orang jahiliah yang sangat bodoh, yaitu mengubur anak perempuan mereka hidup-hidup tanpa alasan apa pun, kecuali karena takut miskin.Lalu ditanyakan kepadanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Padahal sudah diketahui bahwa ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam hal ini terdapat celaan dan teguran keras bagi orang-orang yang membunuhnya.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai ayat di atas sebagai berikut.Demikianlah bacaan mayoritas ulama qiraah: سُئِلَتْ (ditanya). Yang dimaksud dengan al-mau’ūdah adalah bayi perempuan yang pada masa jahiliah dikubur hidup-hidup di dalam tanah karena mereka tidak menyukai kelahiran anak perempuan. Pada hari kiamat nanti, bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu akan ditanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Hal itu menjadi ancaman bagi orang yang membunuhnya. Jika yang dizalimi saja ditanya, maka bagaimana lagi keadaan orang yang berbuat zalim?Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya“, maksudnya adalah ia meminta penjelasan. Demikian pula dikatakan oleh Abu Adh-Dhuha, bahwa ia menuntut darahnya. Hal yang sama juga dikatakan oleh As-Suddi dan Qatadah.Terdapat beberapa hadis yang berkaitan dengan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup. Imam Ahmad meriwayatkan: Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, Sa’id bin Abi Ayyub menceritakan kepada kami, Abu Al-Aswad—yaitu Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Naufal—menceritakan kepadaku, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, dari Judamah binti Wahb, saudari ‘Ukasyah. Ia berkata: Aku pernah berada bersama Rasulullah ﷺ di tengah beberapa orang, lalu beliau bersabda, “Aku pernah berniat melarang ghilah (menggauli istri yang sedang menyusui). Namun aku melihat orang Romawi dan Persia melakukannya, dan hal itu tidak membahayakan anak-anak mereka.” Kemudian beliau ditanya tentang ‘azl (menumpahkan mani di luar rahim), maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Itu adalah pembunuhan yang tersembunyi,” yaitu seperti yang disebutkan dalam ayat “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya”.Hadis ini juga diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Abu ‘Abdurrahman Al-Muqri’, yaitu Abdullah bin Yazid, dari Sa’id bin Abi Ayyub. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah melalui Abu Bakr bin Abi Syaibah dari Yahya bin Ishaq As-Sailahini dari Yahya bin Ayyub. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i juga meriwayatkannya dari jalur Malik bin Anas, semuanya dari Abu Al-Aswad dengan sanad yang sama.Imam Ahmad juga meriwayatkan: Ibnu Abi ‘Adi menceritakan kepada kami dari Dawud bin Abi Hind, dari Asy-Sya’bi, dari ‘Alqamah, dari Salamah bin Yazid Al-Ju’fi. Ia berkata: Aku dan saudaraku pergi menemui Rasulullah ﷺ. Kami berkata, “Wahai Rasulullah, ibu kami yang bernama Mulaikah dahulu suka menyambung silaturahmi, memuliakan tamu, dan melakukan berbagai kebaikan, tetapi ia meninggal pada masa jahiliah. Apakah itu bermanfaat baginya?” Beliau menjawab, “Tidak.” Kami berkata lagi, “Dahulu ia pernah mengubur hidup-hidup saudari kami pada masa jahiliah. Apakah itu bermanfaat baginya?” Beliau bersabda, “Orang yang mengubur hidup-hidup dan yang dikubur hidup-hidup keduanya di neraka, kecuali jika orang yang mengubur itu masuk Islam, maka Allah akan memaafkannya.”Hadis ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari Dawud bin Abi Hind dengan sanad yang sama.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Ahmad bin Sinan Al-Wasithi menceritakan kepada kami, Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Isra’il meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari ‘Alqamah dan Abu Al-Ahwas, dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang mengubur hidup-hidup dan yang dikubur hidup-hidup keduanya di neraka.”Baca juga: Membunuh Anak Karena Takut MiskinAhmad juga meriwayatkan: Ishaq Al-Azraq menceritakan kepada kami, ‘Auf menceritakan kepada kami, Hasna binti Mu’awiyah As-Sarimiyah menceritakan kepadaku dari pamannya. Ia berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa saja yang berada di surga?” Beliau menjawab, “Nabi di surga, syahid di surga, anak kecil di surga, dan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup juga di surga.”Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan: Ayahku menceritakan kepada kami, Muslim bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Qurrah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Al-Hasan berkata: Pernah ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, “Siapakah yang berada di surga?” Beliau menjawab, “Bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup berada di surga.” Hadis ini adalah hadis mursal dari riwayat Al-Hasan, dan sebagian ulama menerimanya.Baca juga: Nasib Anak-Anak yang Meninggal Sebelum Baligh: Apakah Semua Masuk Surga?Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan: Abu Abdullah Az-Zahrani menceritakan kepada kami, Hafsh bin ‘Umar Al-‘Adani menceritakan kepada kami, Al-Hakam bin Aban menceritakan dari ‘Ikrimah bahwa Ibnu ‘Abbas berkata, “Anak-anak orang musyrik berada di surga. Barang siapa mengatakan bahwa mereka di neraka, maka ia telah berdusta.” Lalu ia membaca firman Allah:وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ • بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْIbnu ‘Abbas berkata: Yang dimaksud adalah anak perempuan yang dikubur hidup-hidup.Abdurrazzaq meriwayatkan: Isra’il menceritakan kepada kami dari Simak bin Harb, dari An-Nu’man bin Basyir, dari ‘Umar bin Al-Khaththab tentang firman Allah “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” berkata: Qais bin ‘Ashim datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku telah mengubur hidup-hidup beberapa anak perempuanku pada masa jahiliah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Bebaskanlah seorang budak untuk setiap anak perempuan itu.” Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku memiliki banyak unta.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, sembelihlah seekor unta untuk setiap anak perempuan itu.”Al-Hafizh Abu Bakr Al-Bazzar berkata: Riwayat ini diperselisihkan dari Abdurrazzaq, dan kami tidak menuliskannya kecuali dari jalur Al-Husain bin Mahdi darinya.Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkannya dengan sanad yang sama, hanya saja disebutkan bahwa Qais bin ‘Ashim berkata, “Aku telah mengubur delapan anak perempuanku pada masa jahiliah.” Pada akhir riwayat disebutkan, “Jika engkau mau, sembelihlah seekor unta untuk setiap anak perempuan itu.”Kemudian ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Abdullah bin Raja’ menceritakan kepada kami, Qais bin Ar-Rabi’ meriwayatkan dari Al-Aghar bin Ash-Shabah, dari Khalifah bin Hushain. Ia berkata: Qais bin ‘Ashim datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku telah mengubur dua belas atau tiga belas anak perempuanku pada masa jahiliah.” Beliau bersabda, “Bebaskanlah budak sejumlah mereka.” Maka ia pun membebaskan budak sebanyak itu. Pada tahun berikutnya ia datang dengan membawa seratus ekor unta lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah sedekah dari kaumku setelah apa yang telah aku lakukan terhadap kaum muslimin.” Ali bin Abi Thalib berkata: Kami pun menggembalakannya dan menamainya unta-unta Qais.Firman Allah:بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْPada hari kiamat bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Hal ini sebagai ancaman bagi orang yang membunuhnya. Jika orang yang dizalimi saja ditanya, maka bagaimana lagi keadaan orang yang berbuat zalim? Catatan Amal Dibuka, Langit DisingkapAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلصُّحُفُ نُشِرَتْ“dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka.” (QS. At-Takwir: 10)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Apabila lembaran-lembaran catatan amal dibuka, yaitu catatan yang berisi seluruh perbuatan manusia, baik kebaikan maupun keburukan. Catatan itu kemudian dibagikan kepada pemiliknya. Ada yang menerima kitabnya dengan tangan kanan, ada yang menerimanya dengan tangan kiri, dan ada pula yang menerimanya dari belakang punggungnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتْ“dan apabila langit dilenyapkan.” (QS. At-Takwir: 11)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila langit disingkap atau dihilangkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:يَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاءُ بِالْغَمَامِ“Pada hari ketika langit terbelah dengan awan.” (QS. Al-Furqan: 25)Dan firman-Nya:يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ“Pada hari Kami melipat langit seperti melipat lembaran-lembaran kitab.” (QS. Al-Anbiya’: 104)Serta firman-Nya: وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ “Dan bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67) Neraka Dinyalakan dan Surga DidekatkanAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجَحِيمُ سُعِّرَتْ“dan apabila neraka Jahim dinyalakan.” (QS. At-Takwir: 12)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila neraka Jahim dinyalakan dengan sangat dahsyat, sehingga apinya berkobar dan menyala-nyala dengan kobaran yang belum pernah terjadi sebelumnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ“dan apabila surga didekatkan.” (QS. At-Takwir: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa. Setiap Jiwa Melihat Apa yang Telah DipersiapkannyaAllah Ta’ala berfirman,عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ أَحْضَرَتْ“maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (QS. At-Takwir: 14)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Pada saat itu setiap jiwa mengetahui apa yang telah dibawanya, yaitu amal-amal yang dahulu telah ia kerjakan dan kini dihadirkan di hadapannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا“Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis di hadapan mereka).” (QS. Al-Kahfi: 49)Sifat-sifat hari kiamat yang digambarkan oleh Allah ini adalah gambaran yang mengguncang hati, menimbulkan kegelisahan yang besar, membuat tubuh gemetar, dan menimbulkan rasa takut yang meliputi manusia. Semua itu mendorong orang-orang yang berakal untuk mempersiapkan diri menghadapi hari tersebut dan menjauhi segala sesuatu yang mendatangkan penyesalan. Surah At-Takwir, Lukisan Hari Kiamat yang Mengguncang HatiKarena itu sebagian ulama salaf berkata:مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ رَأْيَ عَيْنٍ، فَلْيَتَدَبَّرْ سُورَةَ { إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ }“Barang siapa ingin melihat gambaran hari kiamat seakan-akan melihatnya dengan mata kepala sendiri, hendaklah ia merenungkan surah Idzasy-Syamsu Kuwwirat (Surah At-Takwir).” Allah Bersumpah dengan Tanda-Tanda Besar di Alam SemestaAllah Ta’ala berfirman,فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلْخُنَّسِ“Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang.” (QS. At-Takwir: 15)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Allah Ta‘ala bersumpah dengan bintang-bintang yang bersembunyi, yaitu bintang-bintang yang tampak mundur dari perjalanan biasa bintang-bintang lainnya menuju arah timur. Yang dimaksud adalah tujuh benda langit yang bergerak: matahari, bulan, Venus, Jupiter, Mars, Saturnus, dan Merkurius.Ketujuh benda langit ini memiliki dua jenis pergerakan: pergerakan menuju arah barat bersama bintang-bintang dan langit lainnya, serta pergerakan yang berlawanan menuju arah timur yang khusus dimiliki oleh ketujuh benda langit tersebut.Allah Ta’ala berfirman,ٱلْجَوَارِ ٱلْكُنَّسِ“yang beredar dan terbenam.” (QS. At-Takwir: 16)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Allah bersumpah dengan bintang-bintang itu ketika bersembunyi, yaitu ketika tampak mundur; ketika berjalan, yaitu saat bergerak di orbitnya; dan ketika masuk ke tempat persembunyian, yaitu saat tidak tampak di siang hari.Ada pula kemungkinan bahwa yang dimaksud adalah seluruh bintang, baik yang bergerak maupun yang tidak.Allah Ta’ala berfirman,وَٱلَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ“demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya.” (QS. At-Takwir: 17)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.“Demi malam apabila telah hampir berakhir.” Ada pula yang menafsirkan: apabila malam mulai datang.Allah Ta’ala berfirman,وَٱلصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ“dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (QS. At-Takwir: 18)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.“Dan demi subuh apabila mulai bernapas,” yaitu ketika tanda-tanda fajar mulai tampak dan cahaya mulai terbelah sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari pun terbit.Semua ini adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang agung. Allah bersumpah dengannya untuk menunjukkan kemuliaan dan kedudukan tinggi Al-Qur’an. Al-Qur’an Dibawa oleh Utusan yang Mulia (Jibril)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ“Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwir: 19)ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِى ٱلْعَرْشِ مَكِينٍ“yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy.” (QS. At-Takwir: 20)مُّطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ“yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” (QS. At-Takwir: 21)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah perkataan yang dibawa oleh seorang utusan yang mulia, yaitu Jibril ‘alaihissalam. Ia menurunkannya dari Allah Ta‘ala. Sebagaimana firman Allah:وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ ۝ عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ“Dan sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam. Yang dibawa turun oleh Ar-Rūḥul Amīn (Jibril) ke dalam hatimu agar engkau termasuk orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-194)Allah menyifati Jibril sebagai mulia, karena kemuliaan akhlaknya dan banyaknya sifat terpuji yang dimilikinya. Ia adalah malaikat yang paling utama dan paling tinggi kedudukannya di sisi Allah.ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (20)Ia memiliki kekuatan dalam melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.Di antara bukti kekuatannya adalah ketika ia membalik negeri kaum Nabi Luth, sehingga mereka pun dibinasakan.Ia juga dekat dengan Pemilik ‘Arsy, yaitu Allah. Artinya, Jibril memiliki kedudukan yang tinggi dan kedekatan khusus di sisi Allah.Makīn berarti memiliki kedudukan dan tempat yang tinggi, melebihi kedudukan para malaikat lainnya.مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ (21)Ia adalah malaikat yang ditaati di sana, yaitu di kalangan para malaikat di alam atas.Di bawah perintahnya terdapat para malaikat yang patuh kepadanya; perintahnya dijalankan dan pendapatnya ditaati.Ia juga amanah, yaitu menunaikan tugas yang diperintahkan kepadanya dengan sempurna: tidak menambah, tidak mengurangi, dan tidak melampaui apa yang telah ditetapkan baginya.Semua sifat ini menunjukkan betapa mulianya Al-Qur’an di sisi Allah, karena wahyu tersebut dibawa oleh malaikat yang mulia dengan sifat-sifat yang sempurna.Kebiasaan para raja adalah tidak mengutus orang yang mulia kecuali untuk tugas yang sangat penting dan pesan yang paling agung. Nabi Muhammad ﷺ Bukan Orang Gila, tetapi Pembawa WahyuAllah Ta’ala berfirman,وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجْنُونٍ“Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila.” (QS. At-Takwir: 22)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Setelah Allah menyebutkan keutamaan rasul dari kalangan malaikat yang membawa Al-Qur’an, Allah juga menyebutkan keutamaan rasul dari kalangan manusia yang menerima Al-Qur’an dan mengajak manusia kepadanya. Allah berfirman: “Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah orang gila.”Yang dimaksud adalah Nabi Muhammad ﷺ. Beliau bukanlah orang gila sebagaimana yang dituduhkan oleh musuh-musuhnya yang mendustakan risalahnya dan melontarkan berbagai tuduhan terhadapnya. Mereka mengatakan berbagai perkataan itu dengan maksud memadamkan kebenaran yang beliau bawa, sebisa yang mereka lakukan. Padahal beliau adalah manusia yang paling sempurna akalnya, paling matang pendapatnya, dan paling jujur ucapannya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ رَءَاهُ بِٱلْأُفُقِ ٱلْمُبِينِ“Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwir: 23)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Maksudnya, Nabi Muhammad ﷺ benar-benar melihat Malaikat Jibril ‘alaihissalam di ufuk yang terang dan jelas, yaitu di tempat paling tinggi yang dapat terlihat oleh pandangan mata.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ عَلَى ٱلْغَيْبِ بِضَنِينٍ“Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib.” (QS. At-Takwir: 24)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, beliau tidak dituduh menambah, mengurangi, atau menyembunyikan sedikit pun dari wahyu yang Allah turunkan kepadanya. Nabi ﷺ adalah orang yang terpercaya bagi penduduk langit dan penduduk bumi. Beliau menyampaikan risalah Tuhannya dengan penyampaian yang jelas. Beliau tidak menahan sedikit pun dari wahyu tersebut, baik kepada orang kaya maupun orang miskin, kepada pemimpin maupun rakyat biasa, kepada laki-laki maupun perempuan, kepada penduduk kota maupun penduduk desa. Karena itulah Allah mengutus beliau di tengah umat yang ummi dan sangat jahil. Namun sebelum beliau wafat, mereka telah menjadi ulama yang rabbani, para ahli ilmu yang tajam pemahamannya. Pada merekalah puncak ilmu, dan kepada merekalah berakhir kemampuan dalam menggali makna-makna yang mendalam. Mereka adalah para guru, sedangkan selain mereka hanyalah murid-murid mereka. Al-Qur’an Bukan Perkataan SetanAllah Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَٰنٍ رَّجِيمٍ“Dan Al Quran itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk.” (QS. At-Takwir: 25)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Setelah Allah menjelaskan kemuliaan kitab-Nya dan keutamaannya dengan menyebutkan dua rasul yang mulia—yang melalui keduanya Al-Qur’an sampai kepada manusia—serta memuji keduanya dengan pujian yang agung, Allah menolak segala tuduhan dan kekurangan yang dapat merusak kebenaran Al-Qur’an. Maka Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk, yaitu setan yang sangat jauh dari Allah dan dari kedekatan kepada-Nya. Mengapa Masih Berpaling dari Kebenaran?Allah Ta’ala berfirman,فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ“maka ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At-Takwir: 26)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, bagaimana mungkin anggapan seperti itu muncul dalam pikiran kalian? Ke mana hilangnya akal kalian sampai-sampai kalian menjadikan kebenaran—yang berada pada tingkat paling tinggi dari kejujuran—sebagai sesuatu yang dianggap dusta, padahal dusta adalah sesuatu yang paling rendah, paling buruk, dan paling hina di antara berbagai bentuk kebatilan? Bukankah ini tidak lain hanyalah bentuk terbaliknya hakikat kebenaran? Al-Qur’an adalah Peringatan bagi Seluruh ManusiaAllah Ta’ala berfirman,إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَٰلَمِينَ“Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.” (QS. At-Takwir: 27)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Melalui Al-Qur’an, manusia diingatkan tentang Tuhan mereka, tentang sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dan tentang segala kekurangan serta keburukan yang mustahil bagi-Nya. Mereka juga diingatkan tentang berbagai perintah dan larangan beserta hikmahnya. Selain itu, mereka diingatkan tentang ketentuan-ketentuan Allah, baik yang bersifat takdir, syariat, maupun balasan. Singkatnya, melalui Al-Qur’an manusia diingatkan tentang berbagai kemaslahatan dunia dan akhirat, dan dengan mengamalkannya mereka meraih kebahagiaan di dua kehidupan tersebut.لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwir: 28)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Hal ini berlaku setelah jelas perbedaan antara jalan yang benar dan jalan yang sesat, serta antara petunjuk dan kesesatan. Hidayah Terjadi dengan Kehendak AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, kehendak Allah pasti berlaku dan tidak mungkin ditolak ataupun dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat yang semisal terdapat bantahan terhadap dua kelompok: golongan Qadariyah yang menolak takdir dan golongan yang memaksakan takdir secara mutlak.   Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshari kiamat juz amma kiamat besar renungan ayat renungan quran tafsir juz amma tanda kiamat
Surah At-Takwir menggambarkan peristiwa-peristiwa dahsyat yang terjadi menjelang hari kiamat, ketika tatanan alam semesta berubah dan manusia menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah yang menggetarkan. Melalui ayat-ayat ini, Allah mengingatkan bahwa pada hari itu setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dipersiapkannya untuk akhirat, baik berupa kebaikan maupun keburukan.  Daftar Isi tutup 1. Gambaran Dahsyat Hari Kiamat di Awal Surah At-Takwir 1.1. Ketika Matahari Padam dan Bintang-Bintang Berjatuhan 1.2. Gunung Dihancurkan, Harta Paling Berharga Ditinggalkan 1.3. Binatang Dikumpulkan dan Lautan Menyala 1.4. Setiap Jiwa Dikumpulkan Bersama Golongannya 1.5. Bayi Perempuan yang Dikubur Hidup-Hidup Akan Ditanya 1.6. Catatan Amal Dibuka, Langit Disingkap 1.7. Neraka Dinyalakan dan Surga Didekatkan 1.8. Setiap Jiwa Melihat Apa yang Telah Dipersiapkannya 1.9. Surah At-Takwir, Lukisan Hari Kiamat yang Mengguncang Hati 2. Allah Bersumpah dengan Tanda-Tanda Besar di Alam Semesta 3. Al-Qur’an Dibawa oleh Utusan yang Mulia (Jibril) 4. Nabi Muhammad ﷺ Bukan Orang Gila, tetapi Pembawa Wahyu 5. Al-Qur’an Bukan Perkataan Setan 6. Mengapa Masih Berpaling dari Kebenaran? 7. Al-Qur’an adalah Peringatan bagi Seluruh Manusia 8. Hidayah Terjadi dengan Kehendak Allah  Gambaran Dahsyat Hari Kiamat di Awal Surah At-TakwirKetika Matahari Padam dan Bintang-Bintang BerjatuhanAllah Ta’ala berfirman,إِذَا ٱلشَّمْسُ كُوِّرَتْ“Apabila matahari digulung.” (QS. At-Takwir: 1)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Apabila terjadi peristiwa-peristiwa besar yang dahsyat ini, maka manusia akan dipisahkan, dan setiap orang akan mengetahui apa yang telah ia persiapkan untuk akhiratnya, berupa kebaikan maupun keburukan. Hal itu terjadi pada hari kiamat, ketika matahari digulung, yaitu dikumpulkan dan dilipat, bulan digelapkan, lalu keduanya dilemparkan ke dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتْ“dan apabila bintang-bintang berjatuhan.” (QS. At-Takwir: 2)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila bintang-bintang berubah dan jatuh berserakan dari tempat peredarannya. Gunung Dihancurkan, Harta Paling Berharga DitinggalkanAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجِبَالُ سُيِّرَتْ“dan apabila gunung-gunung dihancurkan.” (QS. At-Takwir: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila gunung-gunung digerakkan. Gunung-gunung itu mula-mula menjadi seperti gundukan pasir yang mudah hancur, kemudian menjadi seperti bulu yang beterbangan, lalu berubah menjadi debu yang bertebaran dan dipindahkan dari tempatnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْعِشَارُ عُطِّلَتْ“dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan).” (QS. At-Takwir: 4)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan. Pada saat itu manusia meninggalkan harta mereka yang paling berharga, yang sebelumnya sangat mereka perhatikan dan jaga setiap waktu. Mereka menjadi lalai darinya karena kedahsyatan yang mereka hadapi. Disebutkan “unta-unta bunting” karena itulah harta yang paling berharga bagi orang Arab pada masa itu. Penyebutan ini juga mencakup setiap harta yang sangat bernilai. Binatang Dikumpulkan dan Lautan MenyalaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْوُحُوشُ حُشِرَتْ“dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” (QS. At-Takwir: 5)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan. Semuanya dihimpun pada hari kiamat agar Allah menegakkan keadilan dengan memberi pembalasan antara sebagian dengan yang lain. Dengan demikian para hamba dapat melihat kesempurnaan keadilan-Nya. Bahkan akan dilakukan pembalasan antara hewan yang bertanduk terhadap hewan yang tidak bertanduk, kemudian setelah itu Allah berfirman kepadanya, “Jadilah kamu tanah.”Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْبِحَارُ سُجِّرَتْ“dan apabila lautan dijadikan meluap.” (QS. At-Takwir: 6)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila lautan dipanaskan hingga menyala, sehingga lautan yang sangat besar itu berubah menjadi api yang berkobar. Setiap Jiwa Dikumpulkan Bersama GolongannyaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتْ“dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh).” (QS. At-Takwir: 7)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila setiap jiwa dipasangkan dengan yang sejenis dengannya. Orang-orang yang berbuat baik dikumpulkan bersama orang-orang yang berbuat baik, dan orang-orang durhaka dikumpulkan bersama orang-orang durhaka. Orang-orang beriman dipasangkan dengan bidadari surga, sedangkan orang-orang kafir dipasangkan dengan setan-setan mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا“Orang-orang kafir digiring ke neraka Jahanam secara berkelompok.” (QS. Az-Zumar: 71)وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka digiring ke surga secara berkelompok.” (QS. Az-Zumar: 73)احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ“Kumpulkanlah orang-orang yang zalim bersama pasangan-pasangan mereka.” (QS. Ash-Shaffat: 22) Bayi Perempuan yang Dikubur Hidup-Hidup Akan DitanyaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْمَوْءُۥدَةُ سُئِلَتْ“dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya.” (QS. At-Takwir: 8)بِأَىِّ ذَنۢبٍ قُتِلَتْ“karena dosa apakah dia dibunuh.” (QS. At-Takwir: 9)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya. Yang dimaksud adalah perbuatan yang dahulu dilakukan oleh orang-orang jahiliah yang sangat bodoh, yaitu mengubur anak perempuan mereka hidup-hidup tanpa alasan apa pun, kecuali karena takut miskin.Lalu ditanyakan kepadanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Padahal sudah diketahui bahwa ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam hal ini terdapat celaan dan teguran keras bagi orang-orang yang membunuhnya.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai ayat di atas sebagai berikut.Demikianlah bacaan mayoritas ulama qiraah: سُئِلَتْ (ditanya). Yang dimaksud dengan al-mau’ūdah adalah bayi perempuan yang pada masa jahiliah dikubur hidup-hidup di dalam tanah karena mereka tidak menyukai kelahiran anak perempuan. Pada hari kiamat nanti, bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu akan ditanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Hal itu menjadi ancaman bagi orang yang membunuhnya. Jika yang dizalimi saja ditanya, maka bagaimana lagi keadaan orang yang berbuat zalim?Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya“, maksudnya adalah ia meminta penjelasan. Demikian pula dikatakan oleh Abu Adh-Dhuha, bahwa ia menuntut darahnya. Hal yang sama juga dikatakan oleh As-Suddi dan Qatadah.Terdapat beberapa hadis yang berkaitan dengan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup. Imam Ahmad meriwayatkan: Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, Sa’id bin Abi Ayyub menceritakan kepada kami, Abu Al-Aswad—yaitu Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Naufal—menceritakan kepadaku, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, dari Judamah binti Wahb, saudari ‘Ukasyah. Ia berkata: Aku pernah berada bersama Rasulullah ﷺ di tengah beberapa orang, lalu beliau bersabda, “Aku pernah berniat melarang ghilah (menggauli istri yang sedang menyusui). Namun aku melihat orang Romawi dan Persia melakukannya, dan hal itu tidak membahayakan anak-anak mereka.” Kemudian beliau ditanya tentang ‘azl (menumpahkan mani di luar rahim), maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Itu adalah pembunuhan yang tersembunyi,” yaitu seperti yang disebutkan dalam ayat “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya”.Hadis ini juga diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Abu ‘Abdurrahman Al-Muqri’, yaitu Abdullah bin Yazid, dari Sa’id bin Abi Ayyub. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah melalui Abu Bakr bin Abi Syaibah dari Yahya bin Ishaq As-Sailahini dari Yahya bin Ayyub. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i juga meriwayatkannya dari jalur Malik bin Anas, semuanya dari Abu Al-Aswad dengan sanad yang sama.Imam Ahmad juga meriwayatkan: Ibnu Abi ‘Adi menceritakan kepada kami dari Dawud bin Abi Hind, dari Asy-Sya’bi, dari ‘Alqamah, dari Salamah bin Yazid Al-Ju’fi. Ia berkata: Aku dan saudaraku pergi menemui Rasulullah ﷺ. Kami berkata, “Wahai Rasulullah, ibu kami yang bernama Mulaikah dahulu suka menyambung silaturahmi, memuliakan tamu, dan melakukan berbagai kebaikan, tetapi ia meninggal pada masa jahiliah. Apakah itu bermanfaat baginya?” Beliau menjawab, “Tidak.” Kami berkata lagi, “Dahulu ia pernah mengubur hidup-hidup saudari kami pada masa jahiliah. Apakah itu bermanfaat baginya?” Beliau bersabda, “Orang yang mengubur hidup-hidup dan yang dikubur hidup-hidup keduanya di neraka, kecuali jika orang yang mengubur itu masuk Islam, maka Allah akan memaafkannya.”Hadis ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari Dawud bin Abi Hind dengan sanad yang sama.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Ahmad bin Sinan Al-Wasithi menceritakan kepada kami, Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Isra’il meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari ‘Alqamah dan Abu Al-Ahwas, dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang mengubur hidup-hidup dan yang dikubur hidup-hidup keduanya di neraka.”Baca juga: Membunuh Anak Karena Takut MiskinAhmad juga meriwayatkan: Ishaq Al-Azraq menceritakan kepada kami, ‘Auf menceritakan kepada kami, Hasna binti Mu’awiyah As-Sarimiyah menceritakan kepadaku dari pamannya. Ia berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa saja yang berada di surga?” Beliau menjawab, “Nabi di surga, syahid di surga, anak kecil di surga, dan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup juga di surga.”Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan: Ayahku menceritakan kepada kami, Muslim bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Qurrah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Al-Hasan berkata: Pernah ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, “Siapakah yang berada di surga?” Beliau menjawab, “Bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup berada di surga.” Hadis ini adalah hadis mursal dari riwayat Al-Hasan, dan sebagian ulama menerimanya.Baca juga: Nasib Anak-Anak yang Meninggal Sebelum Baligh: Apakah Semua Masuk Surga?Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan: Abu Abdullah Az-Zahrani menceritakan kepada kami, Hafsh bin ‘Umar Al-‘Adani menceritakan kepada kami, Al-Hakam bin Aban menceritakan dari ‘Ikrimah bahwa Ibnu ‘Abbas berkata, “Anak-anak orang musyrik berada di surga. Barang siapa mengatakan bahwa mereka di neraka, maka ia telah berdusta.” Lalu ia membaca firman Allah:وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ • بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْIbnu ‘Abbas berkata: Yang dimaksud adalah anak perempuan yang dikubur hidup-hidup.Abdurrazzaq meriwayatkan: Isra’il menceritakan kepada kami dari Simak bin Harb, dari An-Nu’man bin Basyir, dari ‘Umar bin Al-Khaththab tentang firman Allah “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” berkata: Qais bin ‘Ashim datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku telah mengubur hidup-hidup beberapa anak perempuanku pada masa jahiliah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Bebaskanlah seorang budak untuk setiap anak perempuan itu.” Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku memiliki banyak unta.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, sembelihlah seekor unta untuk setiap anak perempuan itu.”Al-Hafizh Abu Bakr Al-Bazzar berkata: Riwayat ini diperselisihkan dari Abdurrazzaq, dan kami tidak menuliskannya kecuali dari jalur Al-Husain bin Mahdi darinya.Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkannya dengan sanad yang sama, hanya saja disebutkan bahwa Qais bin ‘Ashim berkata, “Aku telah mengubur delapan anak perempuanku pada masa jahiliah.” Pada akhir riwayat disebutkan, “Jika engkau mau, sembelihlah seekor unta untuk setiap anak perempuan itu.”Kemudian ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Abdullah bin Raja’ menceritakan kepada kami, Qais bin Ar-Rabi’ meriwayatkan dari Al-Aghar bin Ash-Shabah, dari Khalifah bin Hushain. Ia berkata: Qais bin ‘Ashim datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku telah mengubur dua belas atau tiga belas anak perempuanku pada masa jahiliah.” Beliau bersabda, “Bebaskanlah budak sejumlah mereka.” Maka ia pun membebaskan budak sebanyak itu. Pada tahun berikutnya ia datang dengan membawa seratus ekor unta lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah sedekah dari kaumku setelah apa yang telah aku lakukan terhadap kaum muslimin.” Ali bin Abi Thalib berkata: Kami pun menggembalakannya dan menamainya unta-unta Qais.Firman Allah:بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْPada hari kiamat bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Hal ini sebagai ancaman bagi orang yang membunuhnya. Jika orang yang dizalimi saja ditanya, maka bagaimana lagi keadaan orang yang berbuat zalim? Catatan Amal Dibuka, Langit DisingkapAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلصُّحُفُ نُشِرَتْ“dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka.” (QS. At-Takwir: 10)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Apabila lembaran-lembaran catatan amal dibuka, yaitu catatan yang berisi seluruh perbuatan manusia, baik kebaikan maupun keburukan. Catatan itu kemudian dibagikan kepada pemiliknya. Ada yang menerima kitabnya dengan tangan kanan, ada yang menerimanya dengan tangan kiri, dan ada pula yang menerimanya dari belakang punggungnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتْ“dan apabila langit dilenyapkan.” (QS. At-Takwir: 11)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila langit disingkap atau dihilangkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:يَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاءُ بِالْغَمَامِ“Pada hari ketika langit terbelah dengan awan.” (QS. Al-Furqan: 25)Dan firman-Nya:يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ“Pada hari Kami melipat langit seperti melipat lembaran-lembaran kitab.” (QS. Al-Anbiya’: 104)Serta firman-Nya: وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ “Dan bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67) Neraka Dinyalakan dan Surga DidekatkanAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجَحِيمُ سُعِّرَتْ“dan apabila neraka Jahim dinyalakan.” (QS. At-Takwir: 12)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila neraka Jahim dinyalakan dengan sangat dahsyat, sehingga apinya berkobar dan menyala-nyala dengan kobaran yang belum pernah terjadi sebelumnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ“dan apabila surga didekatkan.” (QS. At-Takwir: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa. Setiap Jiwa Melihat Apa yang Telah DipersiapkannyaAllah Ta’ala berfirman,عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ أَحْضَرَتْ“maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (QS. At-Takwir: 14)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Pada saat itu setiap jiwa mengetahui apa yang telah dibawanya, yaitu amal-amal yang dahulu telah ia kerjakan dan kini dihadirkan di hadapannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا“Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis di hadapan mereka).” (QS. Al-Kahfi: 49)Sifat-sifat hari kiamat yang digambarkan oleh Allah ini adalah gambaran yang mengguncang hati, menimbulkan kegelisahan yang besar, membuat tubuh gemetar, dan menimbulkan rasa takut yang meliputi manusia. Semua itu mendorong orang-orang yang berakal untuk mempersiapkan diri menghadapi hari tersebut dan menjauhi segala sesuatu yang mendatangkan penyesalan. Surah At-Takwir, Lukisan Hari Kiamat yang Mengguncang HatiKarena itu sebagian ulama salaf berkata:مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ رَأْيَ عَيْنٍ، فَلْيَتَدَبَّرْ سُورَةَ { إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ }“Barang siapa ingin melihat gambaran hari kiamat seakan-akan melihatnya dengan mata kepala sendiri, hendaklah ia merenungkan surah Idzasy-Syamsu Kuwwirat (Surah At-Takwir).” Allah Bersumpah dengan Tanda-Tanda Besar di Alam SemestaAllah Ta’ala berfirman,فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلْخُنَّسِ“Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang.” (QS. At-Takwir: 15)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Allah Ta‘ala bersumpah dengan bintang-bintang yang bersembunyi, yaitu bintang-bintang yang tampak mundur dari perjalanan biasa bintang-bintang lainnya menuju arah timur. Yang dimaksud adalah tujuh benda langit yang bergerak: matahari, bulan, Venus, Jupiter, Mars, Saturnus, dan Merkurius.Ketujuh benda langit ini memiliki dua jenis pergerakan: pergerakan menuju arah barat bersama bintang-bintang dan langit lainnya, serta pergerakan yang berlawanan menuju arah timur yang khusus dimiliki oleh ketujuh benda langit tersebut.Allah Ta’ala berfirman,ٱلْجَوَارِ ٱلْكُنَّسِ“yang beredar dan terbenam.” (QS. At-Takwir: 16)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Allah bersumpah dengan bintang-bintang itu ketika bersembunyi, yaitu ketika tampak mundur; ketika berjalan, yaitu saat bergerak di orbitnya; dan ketika masuk ke tempat persembunyian, yaitu saat tidak tampak di siang hari.Ada pula kemungkinan bahwa yang dimaksud adalah seluruh bintang, baik yang bergerak maupun yang tidak.Allah Ta’ala berfirman,وَٱلَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ“demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya.” (QS. At-Takwir: 17)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.“Demi malam apabila telah hampir berakhir.” Ada pula yang menafsirkan: apabila malam mulai datang.Allah Ta’ala berfirman,وَٱلصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ“dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (QS. At-Takwir: 18)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.“Dan demi subuh apabila mulai bernapas,” yaitu ketika tanda-tanda fajar mulai tampak dan cahaya mulai terbelah sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari pun terbit.Semua ini adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang agung. Allah bersumpah dengannya untuk menunjukkan kemuliaan dan kedudukan tinggi Al-Qur’an. Al-Qur’an Dibawa oleh Utusan yang Mulia (Jibril)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ“Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwir: 19)ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِى ٱلْعَرْشِ مَكِينٍ“yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy.” (QS. At-Takwir: 20)مُّطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ“yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” (QS. At-Takwir: 21)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah perkataan yang dibawa oleh seorang utusan yang mulia, yaitu Jibril ‘alaihissalam. Ia menurunkannya dari Allah Ta‘ala. Sebagaimana firman Allah:وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ ۝ عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ“Dan sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam. Yang dibawa turun oleh Ar-Rūḥul Amīn (Jibril) ke dalam hatimu agar engkau termasuk orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-194)Allah menyifati Jibril sebagai mulia, karena kemuliaan akhlaknya dan banyaknya sifat terpuji yang dimilikinya. Ia adalah malaikat yang paling utama dan paling tinggi kedudukannya di sisi Allah.ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (20)Ia memiliki kekuatan dalam melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.Di antara bukti kekuatannya adalah ketika ia membalik negeri kaum Nabi Luth, sehingga mereka pun dibinasakan.Ia juga dekat dengan Pemilik ‘Arsy, yaitu Allah. Artinya, Jibril memiliki kedudukan yang tinggi dan kedekatan khusus di sisi Allah.Makīn berarti memiliki kedudukan dan tempat yang tinggi, melebihi kedudukan para malaikat lainnya.مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ (21)Ia adalah malaikat yang ditaati di sana, yaitu di kalangan para malaikat di alam atas.Di bawah perintahnya terdapat para malaikat yang patuh kepadanya; perintahnya dijalankan dan pendapatnya ditaati.Ia juga amanah, yaitu menunaikan tugas yang diperintahkan kepadanya dengan sempurna: tidak menambah, tidak mengurangi, dan tidak melampaui apa yang telah ditetapkan baginya.Semua sifat ini menunjukkan betapa mulianya Al-Qur’an di sisi Allah, karena wahyu tersebut dibawa oleh malaikat yang mulia dengan sifat-sifat yang sempurna.Kebiasaan para raja adalah tidak mengutus orang yang mulia kecuali untuk tugas yang sangat penting dan pesan yang paling agung. Nabi Muhammad ﷺ Bukan Orang Gila, tetapi Pembawa WahyuAllah Ta’ala berfirman,وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجْنُونٍ“Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila.” (QS. At-Takwir: 22)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Setelah Allah menyebutkan keutamaan rasul dari kalangan malaikat yang membawa Al-Qur’an, Allah juga menyebutkan keutamaan rasul dari kalangan manusia yang menerima Al-Qur’an dan mengajak manusia kepadanya. Allah berfirman: “Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah orang gila.”Yang dimaksud adalah Nabi Muhammad ﷺ. Beliau bukanlah orang gila sebagaimana yang dituduhkan oleh musuh-musuhnya yang mendustakan risalahnya dan melontarkan berbagai tuduhan terhadapnya. Mereka mengatakan berbagai perkataan itu dengan maksud memadamkan kebenaran yang beliau bawa, sebisa yang mereka lakukan. Padahal beliau adalah manusia yang paling sempurna akalnya, paling matang pendapatnya, dan paling jujur ucapannya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ رَءَاهُ بِٱلْأُفُقِ ٱلْمُبِينِ“Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwir: 23)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Maksudnya, Nabi Muhammad ﷺ benar-benar melihat Malaikat Jibril ‘alaihissalam di ufuk yang terang dan jelas, yaitu di tempat paling tinggi yang dapat terlihat oleh pandangan mata.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ عَلَى ٱلْغَيْبِ بِضَنِينٍ“Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib.” (QS. At-Takwir: 24)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, beliau tidak dituduh menambah, mengurangi, atau menyembunyikan sedikit pun dari wahyu yang Allah turunkan kepadanya. Nabi ﷺ adalah orang yang terpercaya bagi penduduk langit dan penduduk bumi. Beliau menyampaikan risalah Tuhannya dengan penyampaian yang jelas. Beliau tidak menahan sedikit pun dari wahyu tersebut, baik kepada orang kaya maupun orang miskin, kepada pemimpin maupun rakyat biasa, kepada laki-laki maupun perempuan, kepada penduduk kota maupun penduduk desa. Karena itulah Allah mengutus beliau di tengah umat yang ummi dan sangat jahil. Namun sebelum beliau wafat, mereka telah menjadi ulama yang rabbani, para ahli ilmu yang tajam pemahamannya. Pada merekalah puncak ilmu, dan kepada merekalah berakhir kemampuan dalam menggali makna-makna yang mendalam. Mereka adalah para guru, sedangkan selain mereka hanyalah murid-murid mereka. Al-Qur’an Bukan Perkataan SetanAllah Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَٰنٍ رَّجِيمٍ“Dan Al Quran itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk.” (QS. At-Takwir: 25)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Setelah Allah menjelaskan kemuliaan kitab-Nya dan keutamaannya dengan menyebutkan dua rasul yang mulia—yang melalui keduanya Al-Qur’an sampai kepada manusia—serta memuji keduanya dengan pujian yang agung, Allah menolak segala tuduhan dan kekurangan yang dapat merusak kebenaran Al-Qur’an. Maka Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk, yaitu setan yang sangat jauh dari Allah dan dari kedekatan kepada-Nya. Mengapa Masih Berpaling dari Kebenaran?Allah Ta’ala berfirman,فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ“maka ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At-Takwir: 26)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, bagaimana mungkin anggapan seperti itu muncul dalam pikiran kalian? Ke mana hilangnya akal kalian sampai-sampai kalian menjadikan kebenaran—yang berada pada tingkat paling tinggi dari kejujuran—sebagai sesuatu yang dianggap dusta, padahal dusta adalah sesuatu yang paling rendah, paling buruk, dan paling hina di antara berbagai bentuk kebatilan? Bukankah ini tidak lain hanyalah bentuk terbaliknya hakikat kebenaran? Al-Qur’an adalah Peringatan bagi Seluruh ManusiaAllah Ta’ala berfirman,إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَٰلَمِينَ“Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.” (QS. At-Takwir: 27)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Melalui Al-Qur’an, manusia diingatkan tentang Tuhan mereka, tentang sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dan tentang segala kekurangan serta keburukan yang mustahil bagi-Nya. Mereka juga diingatkan tentang berbagai perintah dan larangan beserta hikmahnya. Selain itu, mereka diingatkan tentang ketentuan-ketentuan Allah, baik yang bersifat takdir, syariat, maupun balasan. Singkatnya, melalui Al-Qur’an manusia diingatkan tentang berbagai kemaslahatan dunia dan akhirat, dan dengan mengamalkannya mereka meraih kebahagiaan di dua kehidupan tersebut.لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwir: 28)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Hal ini berlaku setelah jelas perbedaan antara jalan yang benar dan jalan yang sesat, serta antara petunjuk dan kesesatan. Hidayah Terjadi dengan Kehendak AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, kehendak Allah pasti berlaku dan tidak mungkin ditolak ataupun dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat yang semisal terdapat bantahan terhadap dua kelompok: golongan Qadariyah yang menolak takdir dan golongan yang memaksakan takdir secara mutlak.   Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshari kiamat juz amma kiamat besar renungan ayat renungan quran tafsir juz amma tanda kiamat


Surah At-Takwir menggambarkan peristiwa-peristiwa dahsyat yang terjadi menjelang hari kiamat, ketika tatanan alam semesta berubah dan manusia menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah yang menggetarkan. Melalui ayat-ayat ini, Allah mengingatkan bahwa pada hari itu setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dipersiapkannya untuk akhirat, baik berupa kebaikan maupun keburukan.  Daftar Isi tutup 1. Gambaran Dahsyat Hari Kiamat di Awal Surah At-Takwir 1.1. Ketika Matahari Padam dan Bintang-Bintang Berjatuhan 1.2. Gunung Dihancurkan, Harta Paling Berharga Ditinggalkan 1.3. Binatang Dikumpulkan dan Lautan Menyala 1.4. Setiap Jiwa Dikumpulkan Bersama Golongannya 1.5. Bayi Perempuan yang Dikubur Hidup-Hidup Akan Ditanya 1.6. Catatan Amal Dibuka, Langit Disingkap 1.7. Neraka Dinyalakan dan Surga Didekatkan 1.8. Setiap Jiwa Melihat Apa yang Telah Dipersiapkannya 1.9. Surah At-Takwir, Lukisan Hari Kiamat yang Mengguncang Hati 2. Allah Bersumpah dengan Tanda-Tanda Besar di Alam Semesta 3. Al-Qur’an Dibawa oleh Utusan yang Mulia (Jibril) 4. Nabi Muhammad ﷺ Bukan Orang Gila, tetapi Pembawa Wahyu 5. Al-Qur’an Bukan Perkataan Setan 6. Mengapa Masih Berpaling dari Kebenaran? 7. Al-Qur’an adalah Peringatan bagi Seluruh Manusia 8. Hidayah Terjadi dengan Kehendak Allah  Gambaran Dahsyat Hari Kiamat di Awal Surah At-TakwirKetika Matahari Padam dan Bintang-Bintang BerjatuhanAllah Ta’ala berfirman,إِذَا ٱلشَّمْسُ كُوِّرَتْ“Apabila matahari digulung.” (QS. At-Takwir: 1)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Apabila terjadi peristiwa-peristiwa besar yang dahsyat ini, maka manusia akan dipisahkan, dan setiap orang akan mengetahui apa yang telah ia persiapkan untuk akhiratnya, berupa kebaikan maupun keburukan. Hal itu terjadi pada hari kiamat, ketika matahari digulung, yaitu dikumpulkan dan dilipat, bulan digelapkan, lalu keduanya dilemparkan ke dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتْ“dan apabila bintang-bintang berjatuhan.” (QS. At-Takwir: 2)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila bintang-bintang berubah dan jatuh berserakan dari tempat peredarannya. Gunung Dihancurkan, Harta Paling Berharga DitinggalkanAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجِبَالُ سُيِّرَتْ“dan apabila gunung-gunung dihancurkan.” (QS. At-Takwir: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila gunung-gunung digerakkan. Gunung-gunung itu mula-mula menjadi seperti gundukan pasir yang mudah hancur, kemudian menjadi seperti bulu yang beterbangan, lalu berubah menjadi debu yang bertebaran dan dipindahkan dari tempatnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْعِشَارُ عُطِّلَتْ“dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan).” (QS. At-Takwir: 4)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan. Pada saat itu manusia meninggalkan harta mereka yang paling berharga, yang sebelumnya sangat mereka perhatikan dan jaga setiap waktu. Mereka menjadi lalai darinya karena kedahsyatan yang mereka hadapi. Disebutkan “unta-unta bunting” karena itulah harta yang paling berharga bagi orang Arab pada masa itu. Penyebutan ini juga mencakup setiap harta yang sangat bernilai. Binatang Dikumpulkan dan Lautan MenyalaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْوُحُوشُ حُشِرَتْ“dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” (QS. At-Takwir: 5)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan. Semuanya dihimpun pada hari kiamat agar Allah menegakkan keadilan dengan memberi pembalasan antara sebagian dengan yang lain. Dengan demikian para hamba dapat melihat kesempurnaan keadilan-Nya. Bahkan akan dilakukan pembalasan antara hewan yang bertanduk terhadap hewan yang tidak bertanduk, kemudian setelah itu Allah berfirman kepadanya, “Jadilah kamu tanah.”Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْبِحَارُ سُجِّرَتْ“dan apabila lautan dijadikan meluap.” (QS. At-Takwir: 6)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila lautan dipanaskan hingga menyala, sehingga lautan yang sangat besar itu berubah menjadi api yang berkobar. Setiap Jiwa Dikumpulkan Bersama GolongannyaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتْ“dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh).” (QS. At-Takwir: 7)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila setiap jiwa dipasangkan dengan yang sejenis dengannya. Orang-orang yang berbuat baik dikumpulkan bersama orang-orang yang berbuat baik, dan orang-orang durhaka dikumpulkan bersama orang-orang durhaka. Orang-orang beriman dipasangkan dengan bidadari surga, sedangkan orang-orang kafir dipasangkan dengan setan-setan mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا“Orang-orang kafir digiring ke neraka Jahanam secara berkelompok.” (QS. Az-Zumar: 71)وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka digiring ke surga secara berkelompok.” (QS. Az-Zumar: 73)احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ“Kumpulkanlah orang-orang yang zalim bersama pasangan-pasangan mereka.” (QS. Ash-Shaffat: 22) Bayi Perempuan yang Dikubur Hidup-Hidup Akan DitanyaAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْمَوْءُۥدَةُ سُئِلَتْ“dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya.” (QS. At-Takwir: 8)بِأَىِّ ذَنۢبٍ قُتِلَتْ“karena dosa apakah dia dibunuh.” (QS. At-Takwir: 9)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya. Yang dimaksud adalah perbuatan yang dahulu dilakukan oleh orang-orang jahiliah yang sangat bodoh, yaitu mengubur anak perempuan mereka hidup-hidup tanpa alasan apa pun, kecuali karena takut miskin.Lalu ditanyakan kepadanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Padahal sudah diketahui bahwa ia tidak memiliki dosa apa pun. Dalam hal ini terdapat celaan dan teguran keras bagi orang-orang yang membunuhnya.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai ayat di atas sebagai berikut.Demikianlah bacaan mayoritas ulama qiraah: سُئِلَتْ (ditanya). Yang dimaksud dengan al-mau’ūdah adalah bayi perempuan yang pada masa jahiliah dikubur hidup-hidup di dalam tanah karena mereka tidak menyukai kelahiran anak perempuan. Pada hari kiamat nanti, bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu akan ditanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Hal itu menjadi ancaman bagi orang yang membunuhnya. Jika yang dizalimi saja ditanya, maka bagaimana lagi keadaan orang yang berbuat zalim?Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya“, maksudnya adalah ia meminta penjelasan. Demikian pula dikatakan oleh Abu Adh-Dhuha, bahwa ia menuntut darahnya. Hal yang sama juga dikatakan oleh As-Suddi dan Qatadah.Terdapat beberapa hadis yang berkaitan dengan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup. Imam Ahmad meriwayatkan: Abdullah bin Yazid menceritakan kepada kami, Sa’id bin Abi Ayyub menceritakan kepada kami, Abu Al-Aswad—yaitu Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Naufal—menceritakan kepadaku, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, dari Judamah binti Wahb, saudari ‘Ukasyah. Ia berkata: Aku pernah berada bersama Rasulullah ﷺ di tengah beberapa orang, lalu beliau bersabda, “Aku pernah berniat melarang ghilah (menggauli istri yang sedang menyusui). Namun aku melihat orang Romawi dan Persia melakukannya, dan hal itu tidak membahayakan anak-anak mereka.” Kemudian beliau ditanya tentang ‘azl (menumpahkan mani di luar rahim), maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Itu adalah pembunuhan yang tersembunyi,” yaitu seperti yang disebutkan dalam ayat “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya”.Hadis ini juga diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Abu ‘Abdurrahman Al-Muqri’, yaitu Abdullah bin Yazid, dari Sa’id bin Abi Ayyub. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah melalui Abu Bakr bin Abi Syaibah dari Yahya bin Ishaq As-Sailahini dari Yahya bin Ayyub. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i juga meriwayatkannya dari jalur Malik bin Anas, semuanya dari Abu Al-Aswad dengan sanad yang sama.Imam Ahmad juga meriwayatkan: Ibnu Abi ‘Adi menceritakan kepada kami dari Dawud bin Abi Hind, dari Asy-Sya’bi, dari ‘Alqamah, dari Salamah bin Yazid Al-Ju’fi. Ia berkata: Aku dan saudaraku pergi menemui Rasulullah ﷺ. Kami berkata, “Wahai Rasulullah, ibu kami yang bernama Mulaikah dahulu suka menyambung silaturahmi, memuliakan tamu, dan melakukan berbagai kebaikan, tetapi ia meninggal pada masa jahiliah. Apakah itu bermanfaat baginya?” Beliau menjawab, “Tidak.” Kami berkata lagi, “Dahulu ia pernah mengubur hidup-hidup saudari kami pada masa jahiliah. Apakah itu bermanfaat baginya?” Beliau bersabda, “Orang yang mengubur hidup-hidup dan yang dikubur hidup-hidup keduanya di neraka, kecuali jika orang yang mengubur itu masuk Islam, maka Allah akan memaafkannya.”Hadis ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari Dawud bin Abi Hind dengan sanad yang sama.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Ahmad bin Sinan Al-Wasithi menceritakan kepada kami, Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Isra’il meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari ‘Alqamah dan Abu Al-Ahwas, dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang mengubur hidup-hidup dan yang dikubur hidup-hidup keduanya di neraka.”Baca juga: Membunuh Anak Karena Takut MiskinAhmad juga meriwayatkan: Ishaq Al-Azraq menceritakan kepada kami, ‘Auf menceritakan kepada kami, Hasna binti Mu’awiyah As-Sarimiyah menceritakan kepadaku dari pamannya. Ia berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa saja yang berada di surga?” Beliau menjawab, “Nabi di surga, syahid di surga, anak kecil di surga, dan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup juga di surga.”Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan: Ayahku menceritakan kepada kami, Muslim bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Qurrah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Al-Hasan berkata: Pernah ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, “Siapakah yang berada di surga?” Beliau menjawab, “Bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup berada di surga.” Hadis ini adalah hadis mursal dari riwayat Al-Hasan, dan sebagian ulama menerimanya.Baca juga: Nasib Anak-Anak yang Meninggal Sebelum Baligh: Apakah Semua Masuk Surga?Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan: Abu Abdullah Az-Zahrani menceritakan kepada kami, Hafsh bin ‘Umar Al-‘Adani menceritakan kepada kami, Al-Hakam bin Aban menceritakan dari ‘Ikrimah bahwa Ibnu ‘Abbas berkata, “Anak-anak orang musyrik berada di surga. Barang siapa mengatakan bahwa mereka di neraka, maka ia telah berdusta.” Lalu ia membaca firman Allah:وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ • بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْIbnu ‘Abbas berkata: Yang dimaksud adalah anak perempuan yang dikubur hidup-hidup.Abdurrazzaq meriwayatkan: Isra’il menceritakan kepada kami dari Simak bin Harb, dari An-Nu’man bin Basyir, dari ‘Umar bin Al-Khaththab tentang firman Allah “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” berkata: Qais bin ‘Ashim datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku telah mengubur hidup-hidup beberapa anak perempuanku pada masa jahiliah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Bebaskanlah seorang budak untuk setiap anak perempuan itu.” Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku memiliki banyak unta.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, sembelihlah seekor unta untuk setiap anak perempuan itu.”Al-Hafizh Abu Bakr Al-Bazzar berkata: Riwayat ini diperselisihkan dari Abdurrazzaq, dan kami tidak menuliskannya kecuali dari jalur Al-Husain bin Mahdi darinya.Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkannya dengan sanad yang sama, hanya saja disebutkan bahwa Qais bin ‘Ashim berkata, “Aku telah mengubur delapan anak perempuanku pada masa jahiliah.” Pada akhir riwayat disebutkan, “Jika engkau mau, sembelihlah seekor unta untuk setiap anak perempuan itu.”Kemudian ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Abdullah bin Raja’ menceritakan kepada kami, Qais bin Ar-Rabi’ meriwayatkan dari Al-Aghar bin Ash-Shabah, dari Khalifah bin Hushain. Ia berkata: Qais bin ‘Ashim datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku telah mengubur dua belas atau tiga belas anak perempuanku pada masa jahiliah.” Beliau bersabda, “Bebaskanlah budak sejumlah mereka.” Maka ia pun membebaskan budak sebanyak itu. Pada tahun berikutnya ia datang dengan membawa seratus ekor unta lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah sedekah dari kaumku setelah apa yang telah aku lakukan terhadap kaum muslimin.” Ali bin Abi Thalib berkata: Kami pun menggembalakannya dan menamainya unta-unta Qais.Firman Allah:بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْPada hari kiamat bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya, “Karena dosa apakah ia dibunuh?” Hal ini sebagai ancaman bagi orang yang membunuhnya. Jika orang yang dizalimi saja ditanya, maka bagaimana lagi keadaan orang yang berbuat zalim? Catatan Amal Dibuka, Langit DisingkapAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلصُّحُفُ نُشِرَتْ“dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka.” (QS. At-Takwir: 10)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Apabila lembaran-lembaran catatan amal dibuka, yaitu catatan yang berisi seluruh perbuatan manusia, baik kebaikan maupun keburukan. Catatan itu kemudian dibagikan kepada pemiliknya. Ada yang menerima kitabnya dengan tangan kanan, ada yang menerimanya dengan tangan kiri, dan ada pula yang menerimanya dari belakang punggungnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتْ“dan apabila langit dilenyapkan.” (QS. At-Takwir: 11)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila langit disingkap atau dihilangkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:يَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاءُ بِالْغَمَامِ“Pada hari ketika langit terbelah dengan awan.” (QS. Al-Furqan: 25)Dan firman-Nya:يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ“Pada hari Kami melipat langit seperti melipat lembaran-lembaran kitab.” (QS. Al-Anbiya’: 104)Serta firman-Nya: وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ “Dan bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67) Neraka Dinyalakan dan Surga DidekatkanAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجَحِيمُ سُعِّرَتْ“dan apabila neraka Jahim dinyalakan.” (QS. At-Takwir: 12)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila neraka Jahim dinyalakan dengan sangat dahsyat, sehingga apinya berkobar dan menyala-nyala dengan kobaran yang belum pernah terjadi sebelumnya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا ٱلْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ“dan apabila surga didekatkan.” (QS. At-Takwir: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Dan apabila surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa. Setiap Jiwa Melihat Apa yang Telah DipersiapkannyaAllah Ta’ala berfirman,عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ أَحْضَرَتْ“maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (QS. At-Takwir: 14)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Pada saat itu setiap jiwa mengetahui apa yang telah dibawanya, yaitu amal-amal yang dahulu telah ia kerjakan dan kini dihadirkan di hadapannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا“Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis di hadapan mereka).” (QS. Al-Kahfi: 49)Sifat-sifat hari kiamat yang digambarkan oleh Allah ini adalah gambaran yang mengguncang hati, menimbulkan kegelisahan yang besar, membuat tubuh gemetar, dan menimbulkan rasa takut yang meliputi manusia. Semua itu mendorong orang-orang yang berakal untuk mempersiapkan diri menghadapi hari tersebut dan menjauhi segala sesuatu yang mendatangkan penyesalan. Surah At-Takwir, Lukisan Hari Kiamat yang Mengguncang HatiKarena itu sebagian ulama salaf berkata:مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ رَأْيَ عَيْنٍ، فَلْيَتَدَبَّرْ سُورَةَ { إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ }“Barang siapa ingin melihat gambaran hari kiamat seakan-akan melihatnya dengan mata kepala sendiri, hendaklah ia merenungkan surah Idzasy-Syamsu Kuwwirat (Surah At-Takwir).” Allah Bersumpah dengan Tanda-Tanda Besar di Alam SemestaAllah Ta’ala berfirman,فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلْخُنَّسِ“Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang.” (QS. At-Takwir: 15)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Allah Ta‘ala bersumpah dengan bintang-bintang yang bersembunyi, yaitu bintang-bintang yang tampak mundur dari perjalanan biasa bintang-bintang lainnya menuju arah timur. Yang dimaksud adalah tujuh benda langit yang bergerak: matahari, bulan, Venus, Jupiter, Mars, Saturnus, dan Merkurius.Ketujuh benda langit ini memiliki dua jenis pergerakan: pergerakan menuju arah barat bersama bintang-bintang dan langit lainnya, serta pergerakan yang berlawanan menuju arah timur yang khusus dimiliki oleh ketujuh benda langit tersebut.Allah Ta’ala berfirman,ٱلْجَوَارِ ٱلْكُنَّسِ“yang beredar dan terbenam.” (QS. At-Takwir: 16)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Allah bersumpah dengan bintang-bintang itu ketika bersembunyi, yaitu ketika tampak mundur; ketika berjalan, yaitu saat bergerak di orbitnya; dan ketika masuk ke tempat persembunyian, yaitu saat tidak tampak di siang hari.Ada pula kemungkinan bahwa yang dimaksud adalah seluruh bintang, baik yang bergerak maupun yang tidak.Allah Ta’ala berfirman,وَٱلَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ“demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya.” (QS. At-Takwir: 17)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.“Demi malam apabila telah hampir berakhir.” Ada pula yang menafsirkan: apabila malam mulai datang.Allah Ta’ala berfirman,وَٱلصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ“dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (QS. At-Takwir: 18)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.“Dan demi subuh apabila mulai bernapas,” yaitu ketika tanda-tanda fajar mulai tampak dan cahaya mulai terbelah sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari pun terbit.Semua ini adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang agung. Allah bersumpah dengannya untuk menunjukkan kemuliaan dan kedudukan tinggi Al-Qur’an. Al-Qur’an Dibawa oleh Utusan yang Mulia (Jibril)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ“Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwir: 19)ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِى ٱلْعَرْشِ مَكِينٍ“yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy.” (QS. At-Takwir: 20)مُّطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ“yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” (QS. At-Takwir: 21)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah perkataan yang dibawa oleh seorang utusan yang mulia, yaitu Jibril ‘alaihissalam. Ia menurunkannya dari Allah Ta‘ala. Sebagaimana firman Allah:وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ ۝ عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ“Dan sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam. Yang dibawa turun oleh Ar-Rūḥul Amīn (Jibril) ke dalam hatimu agar engkau termasuk orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-194)Allah menyifati Jibril sebagai mulia, karena kemuliaan akhlaknya dan banyaknya sifat terpuji yang dimilikinya. Ia adalah malaikat yang paling utama dan paling tinggi kedudukannya di sisi Allah.ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (20)Ia memiliki kekuatan dalam melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.Di antara bukti kekuatannya adalah ketika ia membalik negeri kaum Nabi Luth, sehingga mereka pun dibinasakan.Ia juga dekat dengan Pemilik ‘Arsy, yaitu Allah. Artinya, Jibril memiliki kedudukan yang tinggi dan kedekatan khusus di sisi Allah.Makīn berarti memiliki kedudukan dan tempat yang tinggi, melebihi kedudukan para malaikat lainnya.مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ (21)Ia adalah malaikat yang ditaati di sana, yaitu di kalangan para malaikat di alam atas.Di bawah perintahnya terdapat para malaikat yang patuh kepadanya; perintahnya dijalankan dan pendapatnya ditaati.Ia juga amanah, yaitu menunaikan tugas yang diperintahkan kepadanya dengan sempurna: tidak menambah, tidak mengurangi, dan tidak melampaui apa yang telah ditetapkan baginya.Semua sifat ini menunjukkan betapa mulianya Al-Qur’an di sisi Allah, karena wahyu tersebut dibawa oleh malaikat yang mulia dengan sifat-sifat yang sempurna.Kebiasaan para raja adalah tidak mengutus orang yang mulia kecuali untuk tugas yang sangat penting dan pesan yang paling agung. Nabi Muhammad ﷺ Bukan Orang Gila, tetapi Pembawa WahyuAllah Ta’ala berfirman,وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجْنُونٍ“Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila.” (QS. At-Takwir: 22)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Setelah Allah menyebutkan keutamaan rasul dari kalangan malaikat yang membawa Al-Qur’an, Allah juga menyebutkan keutamaan rasul dari kalangan manusia yang menerima Al-Qur’an dan mengajak manusia kepadanya. Allah berfirman: “Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah orang gila.”Yang dimaksud adalah Nabi Muhammad ﷺ. Beliau bukanlah orang gila sebagaimana yang dituduhkan oleh musuh-musuhnya yang mendustakan risalahnya dan melontarkan berbagai tuduhan terhadapnya. Mereka mengatakan berbagai perkataan itu dengan maksud memadamkan kebenaran yang beliau bawa, sebisa yang mereka lakukan. Padahal beliau adalah manusia yang paling sempurna akalnya, paling matang pendapatnya, dan paling jujur ucapannya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ رَءَاهُ بِٱلْأُفُقِ ٱلْمُبِينِ“Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwir: 23)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Maksudnya, Nabi Muhammad ﷺ benar-benar melihat Malaikat Jibril ‘alaihissalam di ufuk yang terang dan jelas, yaitu di tempat paling tinggi yang dapat terlihat oleh pandangan mata.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ عَلَى ٱلْغَيْبِ بِضَنِينٍ“Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib.” (QS. At-Takwir: 24)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, beliau tidak dituduh menambah, mengurangi, atau menyembunyikan sedikit pun dari wahyu yang Allah turunkan kepadanya. Nabi ﷺ adalah orang yang terpercaya bagi penduduk langit dan penduduk bumi. Beliau menyampaikan risalah Tuhannya dengan penyampaian yang jelas. Beliau tidak menahan sedikit pun dari wahyu tersebut, baik kepada orang kaya maupun orang miskin, kepada pemimpin maupun rakyat biasa, kepada laki-laki maupun perempuan, kepada penduduk kota maupun penduduk desa. Karena itulah Allah mengutus beliau di tengah umat yang ummi dan sangat jahil. Namun sebelum beliau wafat, mereka telah menjadi ulama yang rabbani, para ahli ilmu yang tajam pemahamannya. Pada merekalah puncak ilmu, dan kepada merekalah berakhir kemampuan dalam menggali makna-makna yang mendalam. Mereka adalah para guru, sedangkan selain mereka hanyalah murid-murid mereka. Al-Qur’an Bukan Perkataan SetanAllah Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَٰنٍ رَّجِيمٍ“Dan Al Quran itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk.” (QS. At-Takwir: 25)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Setelah Allah menjelaskan kemuliaan kitab-Nya dan keutamaannya dengan menyebutkan dua rasul yang mulia—yang melalui keduanya Al-Qur’an sampai kepada manusia—serta memuji keduanya dengan pujian yang agung, Allah menolak segala tuduhan dan kekurangan yang dapat merusak kebenaran Al-Qur’an. Maka Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk, yaitu setan yang sangat jauh dari Allah dan dari kedekatan kepada-Nya. Mengapa Masih Berpaling dari Kebenaran?Allah Ta’ala berfirman,فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ“maka ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At-Takwir: 26)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, bagaimana mungkin anggapan seperti itu muncul dalam pikiran kalian? Ke mana hilangnya akal kalian sampai-sampai kalian menjadikan kebenaran—yang berada pada tingkat paling tinggi dari kejujuran—sebagai sesuatu yang dianggap dusta, padahal dusta adalah sesuatu yang paling rendah, paling buruk, dan paling hina di antara berbagai bentuk kebatilan? Bukankah ini tidak lain hanyalah bentuk terbaliknya hakikat kebenaran? Al-Qur’an adalah Peringatan bagi Seluruh ManusiaAllah Ta’ala berfirman,إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَٰلَمِينَ“Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.” (QS. At-Takwir: 27)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Melalui Al-Qur’an, manusia diingatkan tentang Tuhan mereka, tentang sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dan tentang segala kekurangan serta keburukan yang mustahil bagi-Nya. Mereka juga diingatkan tentang berbagai perintah dan larangan beserta hikmahnya. Selain itu, mereka diingatkan tentang ketentuan-ketentuan Allah, baik yang bersifat takdir, syariat, maupun balasan. Singkatnya, melalui Al-Qur’an manusia diingatkan tentang berbagai kemaslahatan dunia dan akhirat, dan dengan mengamalkannya mereka meraih kebahagiaan di dua kehidupan tersebut.لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwir: 28)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Hal ini berlaku setelah jelas perbedaan antara jalan yang benar dan jalan yang sesat, serta antara petunjuk dan kesesatan. Hidayah Terjadi dengan Kehendak AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata sebagai berikut.Artinya, kehendak Allah pasti berlaku dan tidak mungkin ditolak ataupun dihalangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat yang semisal terdapat bantahan terhadap dua kelompok: golongan Qadariyah yang menolak takdir dan golongan yang memaksakan takdir secara mutlak.   Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshari kiamat juz amma kiamat besar renungan ayat renungan quran tafsir juz amma tanda kiamat

Sudah Banyak Dosa? QS. Ghafir Ayat 3 Mengajarkan Jangan Putus Asa

Al-Qur’an sering menanamkan keseimbangan antara harapan dan rasa takut kepada Allah. Seorang hamba tidak boleh terlalu merasa aman dari azab-Nya, namun juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Surah Ghafir ayat 3 merangkum keseimbangan tersebut melalui sifat Allah yang Maha Mengampuni, menerima tobat, namun juga keras dalam hukuman-Nya.  Daftar Isi tutup 1. Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3 2. Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’an 3. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa Takut 4. Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh? 5. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab) 6. Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan Tobat 7. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum Terlambat  Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3Allah Ta’ala berfirman,غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Dialah Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya segala sesuatu kembali.” (QS. Ghafir: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.غَافِرِ الذَّنْبِ artinya Allah mengampuni dosa orang-orang yang berdosa.وَقَابِلِ التَّوْبِ artinya Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.شَدِيدِ الْعِقَابِ artinya Allah sangat keras hukuman-Nya terhadap orang yang berani terus-menerus berbuat dosa dan tidak mau bertobat.ذِي الطَّوْلِ maksudnya Allah memiliki karunia, kebaikan, dan ihsan yang sangat luas serta meliputi.Setelah Allah menegaskan kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan itu semua mengharuskan bahwa hanya Dia satu-satunya sesembahan yang pantas diibadahi serta hanya kepada-Nya amal diikhlaskan, maka Allah berfirman: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya tempat kembali.” Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’anSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini:Hubungan antara penyebutan turunnya Al-Qur’an dari Allah yang memiliki sifat-sifat agung ini adalah bahwa sifat-sifat tersebut mencakup seluruh kandungan makna Al-Qur’an.Sebab isi Al-Qur’an itu mencakup beberapa hal:Pertama, Al-Qur’an berisi berita tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Semua itu tercakup dalam ayat ini, karena di dalamnya disebut nama, sifat, dan perbuatan Allah.Kedua, Al-Qur’an berisi berita tentang perkara-perkara gaib, baik yang telah terjadi maupun yang akan datang. Semua itu merupakan bagian dari pengajaran Allah Yang Maha Mengetahui kepada hamba-hamba-Nya.Ketiga, Al-Qur’an berisi berita tentang nikmat-nikmat Allah yang agung, karunia-Nya yang besar, serta jalan untuk meraihnya melalui berbagai perintah. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: ذِي الطَّوْلِ.Keempat, Al-Qur’an berisi berita tentang azab Allah yang keras, serta berbagai perbuatan maksiat yang menyebabkan datangnya azab tersebut. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: شَدِيدِ الْعِقَابِ.Kelima, Al-Qur’an berisi ajakan kepada orang-orang yang berdosa agar bertobat, kembali kepada Allah, dan memohon ampun. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ.Keenam, Al-Qur’an berisi penjelasan bahwa hanya Allah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi. Al-Qur’an juga menegakkan dalil-dalil akal dan dalil-dalil syariat tentang hal itu, mendorong manusia untuk mentauhidkan Allah, melarang mereka dari menyembah selain-Nya, menerangkan rusaknya ibadah kepada selain Allah, serta memperingatkan manusia darinya. Semua ini ditunjukkan oleh firman-Nya: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ.Ketujuh, Al-Qur’an berisi berita tentang hukum balasan Allah yang adil, pahala bagi orang-orang yang berbuat baik, dan hukuman bagi orang-orang yang durhaka. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: إِلَيْهِ الْمَصِيرُ.Jadi, ayat ini secara ringkas telah merangkum seluruh pokok ajaran besar yang terkandung dalam Al-Qur’an. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa TakutDalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan firman Allah:غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِArtinya, Allah mengampuni dosa yang telah lalu dan menerima tobat pada masa yang akan datang bagi siapa saja yang bertobat kepada-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya.Kemudian firman-Nya:شَدِيدِ الْعِقَابِArtinya, Allah sangat keras hukuman-Nya bagi orang yang membangkang, melampaui batas, lebih memilih kehidupan dunia, menentang perintah Allah, dan berlaku zalim.Dalam ayat ini terkumpul dua hal sekaligus, yaitu harapan dan rasa takut. Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta’ala:نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُوَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ“Sampaikanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49–50)Allah sering menyandingkan kedua sifat ini dalam banyak ayat Al-Qur’an, agar seorang hamba selalu berada di antara harapan dan rasa takut.Selanjutnya firman Allah:ذِي الطَّوْلِIbnu ‘Abbas menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki keluasan dan kekayaan. Penafsiran ini juga dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah.Yazid bin Al-Asham mengatakan bahwa maknanya adalah Allah memiliki kebaikan yang sangat banyak.Ikrimah menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki karunia dan pemberian.Sedangkan Qatadah menjelaskan bahwa maknanya adalah Allah memiliki berbagai nikmat dan keutamaan.Makna keseluruhannya adalah bahwa Allah senantiasa melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya, memberikan berbagai anugerah dan nikmat kepada mereka, padahal mereka tidak mampu mensyukuri satu pun dari nikmat tersebut secara sempurna.Allah Ta’ala berfirman:وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat.” (QS. Ibrahim: 34)Kemudian firman-Nya:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَArtinya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, dan tidak ada Rabb selain-Nya.Firman-Nya:إِلَيْهِ الْمَصِيرُArtinya, hanya kepada-Nya tempat kembali dan tempat kembali terakhir. Di sana Allah akan membalas setiap orang sesuai dengan amalnya.Sebagaimana firman-Nya:وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ“Dan Dia Maha Cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41) Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh?Kisah pertama ini dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata: Aku mendengar Abu Ishaq As-Sabi‘i menceritakan bahwa seorang laki-laki datang kepada ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu lalu berkata,“Wahai Amirul Mukminin, aku telah melakukan pembunuhan. Apakah masih ada tobat bagiku?”Maka ‘Umar membacakan kepadanya ayat:حمتَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِغَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِKemudian beliau berkata,اِعْمَلْ وَلَا تَيْأَسْ“Beramallah dan jangan berputus asa.”Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim (dengan lafaz ini) dan juga oleh Ibnu Jarir. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab)Kisah kedua ini juga dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Musa bin Marwan Ar-Raqqi menceritakan kepada kami, ‘Umar — yaitu Ibnu Ayyub — menceritakan kepada kami, Ja‘far bin Burqan menceritakan dari Yazid bin Al-Asham, ia berkata: Dahulu ada seorang lelaki dari penduduk Syam yang dikenal kuat dan pemberani. Ia sering datang menemui ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Suatu waktu ‘Umar tidak lagi melihatnya, lalu beliau bertanya,“Apa yang terjadi dengan si fulan bin fulan?”Mereka menjawab,يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، يُتَابِعُ فِي هَذَا الشَّرَابِ“Wahai Amirul Mukminin, ia sekarang sering terjerumus dalam minuman keras.”Maka ‘Umar memanggil penulisnya dan berkata, “Tulislah:Dari ‘Umar bin Al-Khaththab kepada fulan bin fulan.Salam sejahtera untukmu. Amma ba‘du.Sesungguhnya aku memuji Allah kepadamu, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, dan hanya kepada-Nya tempat kembali.”Kemudian ‘Umar berkata kepada para sahabatnya,اُدْعُوا اللَّهَ لِأَخِيكُمْ أَنْ يُقْبِلَ بِقَلْبِهِ، وَأَنْ يَتُوبَ اللَّهُ عَلَيْهِ.“Doakanlah saudara kalian ini agar hatinya kembali kepada Allah dan agar Allah menerima tobatnya.”Ketika surat ‘Umar sampai kepada lelaki tersebut, ia membacanya berulang-ulang sambil berkata,“غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ(Dia Yang mengampuni dosa, menerima tobat, dan keras hukuman-Nya).”Ia berkata, “Allah telah memperingatkanku dengan hukuman-Nya, namun juga menjanjikan ampunan bagiku.”Ia terus mengulang-ulang ayat itu pada dirinya, hingga akhirnya ia menangis. Setelah itu ia meninggalkan kebiasaan buruknya dan bertobat dengan sebaik-baiknya.Ketika kabar tersebut sampai kepada ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,هَكَذَا فَاصْنَعُوا، إِذَا رَأَيْتُمْ أَخَاكُمْ زَلَّ زَلَّةً فَسَدِّدُوهُ وَوَفِّقُوهُ، وَادْعُوا اللَّهَ لَهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا أَعْوَانًا لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِ.“Seperti inilah yang harus kalian lakukan. Jika kalian melihat saudara kalian tergelincir dalam suatu kesalahan, maka luruskanlah dan bantulah ia kembali ke jalan yang benar. Doakanlah agar Allah menerima tobatnya. Jangan sampai kalian justru menjadi penolong setan untuk menjatuhkannya.”Baca juga: Isi Surat Umar pada Sahabatnya: Jangan Jadi Kroninya Setan Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan TobatKisah ketiga ini adalah kelanjutan penjelasan Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: ‘Umar bin Syabbah menceritakan kepada kami, Hammad bin Waqid — Abu ‘Umar Ash-Shaffar — menceritakan kepada kami, Tsabit Al-Bunani berkata:Aku pernah bersama Mush‘ab bin Az-Zubair di wilayah sekitar Kufah. Lalu aku masuk ke sebuah kebun untuk menunaikan shalat dua rakaat. Aku memulai membaca Surah حم المؤمن (Surah Ghafir). Ketika sampai pada ayat:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُtiba-tiba ada seorang lelaki di belakangku, menunggang bagal berwarna keabu-abuan. Ia mengenakan pakaian bergaris dari Yaman. Ia berkata kepadaku:“Jika engkau membaca غَافِرِ الذَّنْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Mengampuni dosa, ampunilah dosaku.’Jika engkau membaca وَقَابِلِ التَّوْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Menerima tobat, terimalah tobatku.’Jika engkau membaca شَدِيدِ الْعِقَابِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang sangat keras hukuman-Nya, janganlah Engkau menghukumku.’”Tsabit berkata: Aku pun menoleh ke belakang, tetapi tidak melihat seorang pun. Lalu aku keluar menuju pintu kebun dan bertanya kepada orang-orang,“Apakah ada seseorang yang lewat di sini, mengenakan pakaian bergaris dari Yaman?”Mereka menjawab, “Kami tidak melihat siapa pun.”Sebagian orang kemudian beranggapan bahwa orang tersebut adalah Nabi Ilyas ‘alaihissalam.Riwayat ini juga diriwayatkan melalui jalur lain dari Tsabit dengan kisah yang serupa, namun dalam riwayat itu tidak disebutkan bahwa orang tersebut adalah Ilyas. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum TerlambatDi zaman sekarang, banyak orang terjatuh dalam dua sikap yang berbahaya. Sebagian terlalu merasa aman dari dosa sehingga terus menunda tobat, sementara sebagian lain justru putus asa dari rahmat Allah karena banyaknya kesalahan yang pernah dilakukan. Padahal Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan: tetap takut kepada hukuman Allah, tetapi tetap berharap pada ampunan-Nya.Ayat ini mengajarkan bahwa pintu tobat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Bahkan seseorang yang pernah melakukan dosa besar sekalipun masih memiliki peluang kembali kepada Allah. Karena itu, jangan pernah menutup pintu harapan bagi diri sendiri maupun bagi saudara kita yang sedang jatuh dalam dosa.Sebaliknya, jika kita melihat saudara kita tergelincir, jangan malah mencela dan menjatuhkannya. Nasihati dengan lembut, doakan agar Allah memberinya hidayah, dan bantu ia kembali kepada jalan yang benar. Inilah akhlak para sahabat, sebagaimana nasihat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu agar kita tidak menjadi penolong setan atas saudara kita.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang selalu hidup di antara rasa takut dan harapan, serta senantiasa kembali kepada-Nya dengan tobat yang tulus.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، وَارْحَمْنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ التَّائِبِينَ الصَّادِقِينَ.“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, terimalah tobat kami, rahmatilah kami, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang benar-benar bertobat.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan ampunan harapan dan takut nasihat islam qs ghafir ayat 3 renungan ayat renungan quran sifat Allah tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran taubat dalam islam

Sudah Banyak Dosa? QS. Ghafir Ayat 3 Mengajarkan Jangan Putus Asa

Al-Qur’an sering menanamkan keseimbangan antara harapan dan rasa takut kepada Allah. Seorang hamba tidak boleh terlalu merasa aman dari azab-Nya, namun juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Surah Ghafir ayat 3 merangkum keseimbangan tersebut melalui sifat Allah yang Maha Mengampuni, menerima tobat, namun juga keras dalam hukuman-Nya.  Daftar Isi tutup 1. Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3 2. Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’an 3. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa Takut 4. Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh? 5. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab) 6. Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan Tobat 7. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum Terlambat  Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3Allah Ta’ala berfirman,غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Dialah Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya segala sesuatu kembali.” (QS. Ghafir: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.غَافِرِ الذَّنْبِ artinya Allah mengampuni dosa orang-orang yang berdosa.وَقَابِلِ التَّوْبِ artinya Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.شَدِيدِ الْعِقَابِ artinya Allah sangat keras hukuman-Nya terhadap orang yang berani terus-menerus berbuat dosa dan tidak mau bertobat.ذِي الطَّوْلِ maksudnya Allah memiliki karunia, kebaikan, dan ihsan yang sangat luas serta meliputi.Setelah Allah menegaskan kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan itu semua mengharuskan bahwa hanya Dia satu-satunya sesembahan yang pantas diibadahi serta hanya kepada-Nya amal diikhlaskan, maka Allah berfirman: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya tempat kembali.” Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’anSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini:Hubungan antara penyebutan turunnya Al-Qur’an dari Allah yang memiliki sifat-sifat agung ini adalah bahwa sifat-sifat tersebut mencakup seluruh kandungan makna Al-Qur’an.Sebab isi Al-Qur’an itu mencakup beberapa hal:Pertama, Al-Qur’an berisi berita tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Semua itu tercakup dalam ayat ini, karena di dalamnya disebut nama, sifat, dan perbuatan Allah.Kedua, Al-Qur’an berisi berita tentang perkara-perkara gaib, baik yang telah terjadi maupun yang akan datang. Semua itu merupakan bagian dari pengajaran Allah Yang Maha Mengetahui kepada hamba-hamba-Nya.Ketiga, Al-Qur’an berisi berita tentang nikmat-nikmat Allah yang agung, karunia-Nya yang besar, serta jalan untuk meraihnya melalui berbagai perintah. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: ذِي الطَّوْلِ.Keempat, Al-Qur’an berisi berita tentang azab Allah yang keras, serta berbagai perbuatan maksiat yang menyebabkan datangnya azab tersebut. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: شَدِيدِ الْعِقَابِ.Kelima, Al-Qur’an berisi ajakan kepada orang-orang yang berdosa agar bertobat, kembali kepada Allah, dan memohon ampun. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ.Keenam, Al-Qur’an berisi penjelasan bahwa hanya Allah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi. Al-Qur’an juga menegakkan dalil-dalil akal dan dalil-dalil syariat tentang hal itu, mendorong manusia untuk mentauhidkan Allah, melarang mereka dari menyembah selain-Nya, menerangkan rusaknya ibadah kepada selain Allah, serta memperingatkan manusia darinya. Semua ini ditunjukkan oleh firman-Nya: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ.Ketujuh, Al-Qur’an berisi berita tentang hukum balasan Allah yang adil, pahala bagi orang-orang yang berbuat baik, dan hukuman bagi orang-orang yang durhaka. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: إِلَيْهِ الْمَصِيرُ.Jadi, ayat ini secara ringkas telah merangkum seluruh pokok ajaran besar yang terkandung dalam Al-Qur’an. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa TakutDalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan firman Allah:غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِArtinya, Allah mengampuni dosa yang telah lalu dan menerima tobat pada masa yang akan datang bagi siapa saja yang bertobat kepada-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya.Kemudian firman-Nya:شَدِيدِ الْعِقَابِArtinya, Allah sangat keras hukuman-Nya bagi orang yang membangkang, melampaui batas, lebih memilih kehidupan dunia, menentang perintah Allah, dan berlaku zalim.Dalam ayat ini terkumpul dua hal sekaligus, yaitu harapan dan rasa takut. Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta’ala:نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُوَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ“Sampaikanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49–50)Allah sering menyandingkan kedua sifat ini dalam banyak ayat Al-Qur’an, agar seorang hamba selalu berada di antara harapan dan rasa takut.Selanjutnya firman Allah:ذِي الطَّوْلِIbnu ‘Abbas menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki keluasan dan kekayaan. Penafsiran ini juga dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah.Yazid bin Al-Asham mengatakan bahwa maknanya adalah Allah memiliki kebaikan yang sangat banyak.Ikrimah menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki karunia dan pemberian.Sedangkan Qatadah menjelaskan bahwa maknanya adalah Allah memiliki berbagai nikmat dan keutamaan.Makna keseluruhannya adalah bahwa Allah senantiasa melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya, memberikan berbagai anugerah dan nikmat kepada mereka, padahal mereka tidak mampu mensyukuri satu pun dari nikmat tersebut secara sempurna.Allah Ta’ala berfirman:وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat.” (QS. Ibrahim: 34)Kemudian firman-Nya:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَArtinya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, dan tidak ada Rabb selain-Nya.Firman-Nya:إِلَيْهِ الْمَصِيرُArtinya, hanya kepada-Nya tempat kembali dan tempat kembali terakhir. Di sana Allah akan membalas setiap orang sesuai dengan amalnya.Sebagaimana firman-Nya:وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ“Dan Dia Maha Cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41) Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh?Kisah pertama ini dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata: Aku mendengar Abu Ishaq As-Sabi‘i menceritakan bahwa seorang laki-laki datang kepada ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu lalu berkata,“Wahai Amirul Mukminin, aku telah melakukan pembunuhan. Apakah masih ada tobat bagiku?”Maka ‘Umar membacakan kepadanya ayat:حمتَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِغَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِKemudian beliau berkata,اِعْمَلْ وَلَا تَيْأَسْ“Beramallah dan jangan berputus asa.”Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim (dengan lafaz ini) dan juga oleh Ibnu Jarir. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab)Kisah kedua ini juga dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Musa bin Marwan Ar-Raqqi menceritakan kepada kami, ‘Umar — yaitu Ibnu Ayyub — menceritakan kepada kami, Ja‘far bin Burqan menceritakan dari Yazid bin Al-Asham, ia berkata: Dahulu ada seorang lelaki dari penduduk Syam yang dikenal kuat dan pemberani. Ia sering datang menemui ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Suatu waktu ‘Umar tidak lagi melihatnya, lalu beliau bertanya,“Apa yang terjadi dengan si fulan bin fulan?”Mereka menjawab,يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، يُتَابِعُ فِي هَذَا الشَّرَابِ“Wahai Amirul Mukminin, ia sekarang sering terjerumus dalam minuman keras.”Maka ‘Umar memanggil penulisnya dan berkata, “Tulislah:Dari ‘Umar bin Al-Khaththab kepada fulan bin fulan.Salam sejahtera untukmu. Amma ba‘du.Sesungguhnya aku memuji Allah kepadamu, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, dan hanya kepada-Nya tempat kembali.”Kemudian ‘Umar berkata kepada para sahabatnya,اُدْعُوا اللَّهَ لِأَخِيكُمْ أَنْ يُقْبِلَ بِقَلْبِهِ، وَأَنْ يَتُوبَ اللَّهُ عَلَيْهِ.“Doakanlah saudara kalian ini agar hatinya kembali kepada Allah dan agar Allah menerima tobatnya.”Ketika surat ‘Umar sampai kepada lelaki tersebut, ia membacanya berulang-ulang sambil berkata,“غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ(Dia Yang mengampuni dosa, menerima tobat, dan keras hukuman-Nya).”Ia berkata, “Allah telah memperingatkanku dengan hukuman-Nya, namun juga menjanjikan ampunan bagiku.”Ia terus mengulang-ulang ayat itu pada dirinya, hingga akhirnya ia menangis. Setelah itu ia meninggalkan kebiasaan buruknya dan bertobat dengan sebaik-baiknya.Ketika kabar tersebut sampai kepada ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,هَكَذَا فَاصْنَعُوا، إِذَا رَأَيْتُمْ أَخَاكُمْ زَلَّ زَلَّةً فَسَدِّدُوهُ وَوَفِّقُوهُ، وَادْعُوا اللَّهَ لَهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا أَعْوَانًا لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِ.“Seperti inilah yang harus kalian lakukan. Jika kalian melihat saudara kalian tergelincir dalam suatu kesalahan, maka luruskanlah dan bantulah ia kembali ke jalan yang benar. Doakanlah agar Allah menerima tobatnya. Jangan sampai kalian justru menjadi penolong setan untuk menjatuhkannya.”Baca juga: Isi Surat Umar pada Sahabatnya: Jangan Jadi Kroninya Setan Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan TobatKisah ketiga ini adalah kelanjutan penjelasan Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: ‘Umar bin Syabbah menceritakan kepada kami, Hammad bin Waqid — Abu ‘Umar Ash-Shaffar — menceritakan kepada kami, Tsabit Al-Bunani berkata:Aku pernah bersama Mush‘ab bin Az-Zubair di wilayah sekitar Kufah. Lalu aku masuk ke sebuah kebun untuk menunaikan shalat dua rakaat. Aku memulai membaca Surah حم المؤمن (Surah Ghafir). Ketika sampai pada ayat:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُtiba-tiba ada seorang lelaki di belakangku, menunggang bagal berwarna keabu-abuan. Ia mengenakan pakaian bergaris dari Yaman. Ia berkata kepadaku:“Jika engkau membaca غَافِرِ الذَّنْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Mengampuni dosa, ampunilah dosaku.’Jika engkau membaca وَقَابِلِ التَّوْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Menerima tobat, terimalah tobatku.’Jika engkau membaca شَدِيدِ الْعِقَابِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang sangat keras hukuman-Nya, janganlah Engkau menghukumku.’”Tsabit berkata: Aku pun menoleh ke belakang, tetapi tidak melihat seorang pun. Lalu aku keluar menuju pintu kebun dan bertanya kepada orang-orang,“Apakah ada seseorang yang lewat di sini, mengenakan pakaian bergaris dari Yaman?”Mereka menjawab, “Kami tidak melihat siapa pun.”Sebagian orang kemudian beranggapan bahwa orang tersebut adalah Nabi Ilyas ‘alaihissalam.Riwayat ini juga diriwayatkan melalui jalur lain dari Tsabit dengan kisah yang serupa, namun dalam riwayat itu tidak disebutkan bahwa orang tersebut adalah Ilyas. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum TerlambatDi zaman sekarang, banyak orang terjatuh dalam dua sikap yang berbahaya. Sebagian terlalu merasa aman dari dosa sehingga terus menunda tobat, sementara sebagian lain justru putus asa dari rahmat Allah karena banyaknya kesalahan yang pernah dilakukan. Padahal Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan: tetap takut kepada hukuman Allah, tetapi tetap berharap pada ampunan-Nya.Ayat ini mengajarkan bahwa pintu tobat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Bahkan seseorang yang pernah melakukan dosa besar sekalipun masih memiliki peluang kembali kepada Allah. Karena itu, jangan pernah menutup pintu harapan bagi diri sendiri maupun bagi saudara kita yang sedang jatuh dalam dosa.Sebaliknya, jika kita melihat saudara kita tergelincir, jangan malah mencela dan menjatuhkannya. Nasihati dengan lembut, doakan agar Allah memberinya hidayah, dan bantu ia kembali kepada jalan yang benar. Inilah akhlak para sahabat, sebagaimana nasihat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu agar kita tidak menjadi penolong setan atas saudara kita.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang selalu hidup di antara rasa takut dan harapan, serta senantiasa kembali kepada-Nya dengan tobat yang tulus.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، وَارْحَمْنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ التَّائِبِينَ الصَّادِقِينَ.“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, terimalah tobat kami, rahmatilah kami, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang benar-benar bertobat.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan ampunan harapan dan takut nasihat islam qs ghafir ayat 3 renungan ayat renungan quran sifat Allah tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran taubat dalam islam
Al-Qur’an sering menanamkan keseimbangan antara harapan dan rasa takut kepada Allah. Seorang hamba tidak boleh terlalu merasa aman dari azab-Nya, namun juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Surah Ghafir ayat 3 merangkum keseimbangan tersebut melalui sifat Allah yang Maha Mengampuni, menerima tobat, namun juga keras dalam hukuman-Nya.  Daftar Isi tutup 1. Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3 2. Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’an 3. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa Takut 4. Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh? 5. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab) 6. Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan Tobat 7. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum Terlambat  Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3Allah Ta’ala berfirman,غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Dialah Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya segala sesuatu kembali.” (QS. Ghafir: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.غَافِرِ الذَّنْبِ artinya Allah mengampuni dosa orang-orang yang berdosa.وَقَابِلِ التَّوْبِ artinya Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.شَدِيدِ الْعِقَابِ artinya Allah sangat keras hukuman-Nya terhadap orang yang berani terus-menerus berbuat dosa dan tidak mau bertobat.ذِي الطَّوْلِ maksudnya Allah memiliki karunia, kebaikan, dan ihsan yang sangat luas serta meliputi.Setelah Allah menegaskan kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan itu semua mengharuskan bahwa hanya Dia satu-satunya sesembahan yang pantas diibadahi serta hanya kepada-Nya amal diikhlaskan, maka Allah berfirman: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya tempat kembali.” Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’anSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini:Hubungan antara penyebutan turunnya Al-Qur’an dari Allah yang memiliki sifat-sifat agung ini adalah bahwa sifat-sifat tersebut mencakup seluruh kandungan makna Al-Qur’an.Sebab isi Al-Qur’an itu mencakup beberapa hal:Pertama, Al-Qur’an berisi berita tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Semua itu tercakup dalam ayat ini, karena di dalamnya disebut nama, sifat, dan perbuatan Allah.Kedua, Al-Qur’an berisi berita tentang perkara-perkara gaib, baik yang telah terjadi maupun yang akan datang. Semua itu merupakan bagian dari pengajaran Allah Yang Maha Mengetahui kepada hamba-hamba-Nya.Ketiga, Al-Qur’an berisi berita tentang nikmat-nikmat Allah yang agung, karunia-Nya yang besar, serta jalan untuk meraihnya melalui berbagai perintah. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: ذِي الطَّوْلِ.Keempat, Al-Qur’an berisi berita tentang azab Allah yang keras, serta berbagai perbuatan maksiat yang menyebabkan datangnya azab tersebut. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: شَدِيدِ الْعِقَابِ.Kelima, Al-Qur’an berisi ajakan kepada orang-orang yang berdosa agar bertobat, kembali kepada Allah, dan memohon ampun. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ.Keenam, Al-Qur’an berisi penjelasan bahwa hanya Allah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi. Al-Qur’an juga menegakkan dalil-dalil akal dan dalil-dalil syariat tentang hal itu, mendorong manusia untuk mentauhidkan Allah, melarang mereka dari menyembah selain-Nya, menerangkan rusaknya ibadah kepada selain Allah, serta memperingatkan manusia darinya. Semua ini ditunjukkan oleh firman-Nya: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ.Ketujuh, Al-Qur’an berisi berita tentang hukum balasan Allah yang adil, pahala bagi orang-orang yang berbuat baik, dan hukuman bagi orang-orang yang durhaka. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: إِلَيْهِ الْمَصِيرُ.Jadi, ayat ini secara ringkas telah merangkum seluruh pokok ajaran besar yang terkandung dalam Al-Qur’an. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa TakutDalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan firman Allah:غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِArtinya, Allah mengampuni dosa yang telah lalu dan menerima tobat pada masa yang akan datang bagi siapa saja yang bertobat kepada-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya.Kemudian firman-Nya:شَدِيدِ الْعِقَابِArtinya, Allah sangat keras hukuman-Nya bagi orang yang membangkang, melampaui batas, lebih memilih kehidupan dunia, menentang perintah Allah, dan berlaku zalim.Dalam ayat ini terkumpul dua hal sekaligus, yaitu harapan dan rasa takut. Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta’ala:نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُوَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ“Sampaikanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49–50)Allah sering menyandingkan kedua sifat ini dalam banyak ayat Al-Qur’an, agar seorang hamba selalu berada di antara harapan dan rasa takut.Selanjutnya firman Allah:ذِي الطَّوْلِIbnu ‘Abbas menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki keluasan dan kekayaan. Penafsiran ini juga dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah.Yazid bin Al-Asham mengatakan bahwa maknanya adalah Allah memiliki kebaikan yang sangat banyak.Ikrimah menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki karunia dan pemberian.Sedangkan Qatadah menjelaskan bahwa maknanya adalah Allah memiliki berbagai nikmat dan keutamaan.Makna keseluruhannya adalah bahwa Allah senantiasa melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya, memberikan berbagai anugerah dan nikmat kepada mereka, padahal mereka tidak mampu mensyukuri satu pun dari nikmat tersebut secara sempurna.Allah Ta’ala berfirman:وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat.” (QS. Ibrahim: 34)Kemudian firman-Nya:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَArtinya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, dan tidak ada Rabb selain-Nya.Firman-Nya:إِلَيْهِ الْمَصِيرُArtinya, hanya kepada-Nya tempat kembali dan tempat kembali terakhir. Di sana Allah akan membalas setiap orang sesuai dengan amalnya.Sebagaimana firman-Nya:وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ“Dan Dia Maha Cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41) Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh?Kisah pertama ini dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata: Aku mendengar Abu Ishaq As-Sabi‘i menceritakan bahwa seorang laki-laki datang kepada ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu lalu berkata,“Wahai Amirul Mukminin, aku telah melakukan pembunuhan. Apakah masih ada tobat bagiku?”Maka ‘Umar membacakan kepadanya ayat:حمتَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِغَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِKemudian beliau berkata,اِعْمَلْ وَلَا تَيْأَسْ“Beramallah dan jangan berputus asa.”Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim (dengan lafaz ini) dan juga oleh Ibnu Jarir. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab)Kisah kedua ini juga dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Musa bin Marwan Ar-Raqqi menceritakan kepada kami, ‘Umar — yaitu Ibnu Ayyub — menceritakan kepada kami, Ja‘far bin Burqan menceritakan dari Yazid bin Al-Asham, ia berkata: Dahulu ada seorang lelaki dari penduduk Syam yang dikenal kuat dan pemberani. Ia sering datang menemui ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Suatu waktu ‘Umar tidak lagi melihatnya, lalu beliau bertanya,“Apa yang terjadi dengan si fulan bin fulan?”Mereka menjawab,يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، يُتَابِعُ فِي هَذَا الشَّرَابِ“Wahai Amirul Mukminin, ia sekarang sering terjerumus dalam minuman keras.”Maka ‘Umar memanggil penulisnya dan berkata, “Tulislah:Dari ‘Umar bin Al-Khaththab kepada fulan bin fulan.Salam sejahtera untukmu. Amma ba‘du.Sesungguhnya aku memuji Allah kepadamu, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, dan hanya kepada-Nya tempat kembali.”Kemudian ‘Umar berkata kepada para sahabatnya,اُدْعُوا اللَّهَ لِأَخِيكُمْ أَنْ يُقْبِلَ بِقَلْبِهِ، وَأَنْ يَتُوبَ اللَّهُ عَلَيْهِ.“Doakanlah saudara kalian ini agar hatinya kembali kepada Allah dan agar Allah menerima tobatnya.”Ketika surat ‘Umar sampai kepada lelaki tersebut, ia membacanya berulang-ulang sambil berkata,“غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ(Dia Yang mengampuni dosa, menerima tobat, dan keras hukuman-Nya).”Ia berkata, “Allah telah memperingatkanku dengan hukuman-Nya, namun juga menjanjikan ampunan bagiku.”Ia terus mengulang-ulang ayat itu pada dirinya, hingga akhirnya ia menangis. Setelah itu ia meninggalkan kebiasaan buruknya dan bertobat dengan sebaik-baiknya.Ketika kabar tersebut sampai kepada ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,هَكَذَا فَاصْنَعُوا، إِذَا رَأَيْتُمْ أَخَاكُمْ زَلَّ زَلَّةً فَسَدِّدُوهُ وَوَفِّقُوهُ، وَادْعُوا اللَّهَ لَهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا أَعْوَانًا لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِ.“Seperti inilah yang harus kalian lakukan. Jika kalian melihat saudara kalian tergelincir dalam suatu kesalahan, maka luruskanlah dan bantulah ia kembali ke jalan yang benar. Doakanlah agar Allah menerima tobatnya. Jangan sampai kalian justru menjadi penolong setan untuk menjatuhkannya.”Baca juga: Isi Surat Umar pada Sahabatnya: Jangan Jadi Kroninya Setan Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan TobatKisah ketiga ini adalah kelanjutan penjelasan Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: ‘Umar bin Syabbah menceritakan kepada kami, Hammad bin Waqid — Abu ‘Umar Ash-Shaffar — menceritakan kepada kami, Tsabit Al-Bunani berkata:Aku pernah bersama Mush‘ab bin Az-Zubair di wilayah sekitar Kufah. Lalu aku masuk ke sebuah kebun untuk menunaikan shalat dua rakaat. Aku memulai membaca Surah حم المؤمن (Surah Ghafir). Ketika sampai pada ayat:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُtiba-tiba ada seorang lelaki di belakangku, menunggang bagal berwarna keabu-abuan. Ia mengenakan pakaian bergaris dari Yaman. Ia berkata kepadaku:“Jika engkau membaca غَافِرِ الذَّنْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Mengampuni dosa, ampunilah dosaku.’Jika engkau membaca وَقَابِلِ التَّوْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Menerima tobat, terimalah tobatku.’Jika engkau membaca شَدِيدِ الْعِقَابِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang sangat keras hukuman-Nya, janganlah Engkau menghukumku.’”Tsabit berkata: Aku pun menoleh ke belakang, tetapi tidak melihat seorang pun. Lalu aku keluar menuju pintu kebun dan bertanya kepada orang-orang,“Apakah ada seseorang yang lewat di sini, mengenakan pakaian bergaris dari Yaman?”Mereka menjawab, “Kami tidak melihat siapa pun.”Sebagian orang kemudian beranggapan bahwa orang tersebut adalah Nabi Ilyas ‘alaihissalam.Riwayat ini juga diriwayatkan melalui jalur lain dari Tsabit dengan kisah yang serupa, namun dalam riwayat itu tidak disebutkan bahwa orang tersebut adalah Ilyas. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum TerlambatDi zaman sekarang, banyak orang terjatuh dalam dua sikap yang berbahaya. Sebagian terlalu merasa aman dari dosa sehingga terus menunda tobat, sementara sebagian lain justru putus asa dari rahmat Allah karena banyaknya kesalahan yang pernah dilakukan. Padahal Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan: tetap takut kepada hukuman Allah, tetapi tetap berharap pada ampunan-Nya.Ayat ini mengajarkan bahwa pintu tobat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Bahkan seseorang yang pernah melakukan dosa besar sekalipun masih memiliki peluang kembali kepada Allah. Karena itu, jangan pernah menutup pintu harapan bagi diri sendiri maupun bagi saudara kita yang sedang jatuh dalam dosa.Sebaliknya, jika kita melihat saudara kita tergelincir, jangan malah mencela dan menjatuhkannya. Nasihati dengan lembut, doakan agar Allah memberinya hidayah, dan bantu ia kembali kepada jalan yang benar. Inilah akhlak para sahabat, sebagaimana nasihat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu agar kita tidak menjadi penolong setan atas saudara kita.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang selalu hidup di antara rasa takut dan harapan, serta senantiasa kembali kepada-Nya dengan tobat yang tulus.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، وَارْحَمْنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ التَّائِبِينَ الصَّادِقِينَ.“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, terimalah tobat kami, rahmatilah kami, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang benar-benar bertobat.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan ampunan harapan dan takut nasihat islam qs ghafir ayat 3 renungan ayat renungan quran sifat Allah tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran taubat dalam islam


Al-Qur’an sering menanamkan keseimbangan antara harapan dan rasa takut kepada Allah. Seorang hamba tidak boleh terlalu merasa aman dari azab-Nya, namun juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Surah Ghafir ayat 3 merangkum keseimbangan tersebut melalui sifat Allah yang Maha Mengampuni, menerima tobat, namun juga keras dalam hukuman-Nya.  Daftar Isi tutup 1. Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3 2. Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’an 3. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa Takut 4. Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh? 5. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab) 6. Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan Tobat 7. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum Terlambat  Makna Besar Surah Ghafir Ayat 3Allah Ta’ala berfirman,غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Dialah Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya segala sesuatu kembali.” (QS. Ghafir: 3)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.غَافِرِ الذَّنْبِ artinya Allah mengampuni dosa orang-orang yang berdosa.وَقَابِلِ التَّوْبِ artinya Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.شَدِيدِ الْعِقَابِ artinya Allah sangat keras hukuman-Nya terhadap orang yang berani terus-menerus berbuat dosa dan tidak mau bertobat.ذِي الطَّوْلِ maksudnya Allah memiliki karunia, kebaikan, dan ihsan yang sangat luas serta meliputi.Setelah Allah menegaskan kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan itu semua mengharuskan bahwa hanya Dia satu-satunya sesembahan yang pantas diibadahi serta hanya kepada-Nya amal diikhlaskan, maka Allah berfirman: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya tempat kembali.” Ayat Ini Merangkum Pokok Isi Al-Qur’anSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini:Hubungan antara penyebutan turunnya Al-Qur’an dari Allah yang memiliki sifat-sifat agung ini adalah bahwa sifat-sifat tersebut mencakup seluruh kandungan makna Al-Qur’an.Sebab isi Al-Qur’an itu mencakup beberapa hal:Pertama, Al-Qur’an berisi berita tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Semua itu tercakup dalam ayat ini, karena di dalamnya disebut nama, sifat, dan perbuatan Allah.Kedua, Al-Qur’an berisi berita tentang perkara-perkara gaib, baik yang telah terjadi maupun yang akan datang. Semua itu merupakan bagian dari pengajaran Allah Yang Maha Mengetahui kepada hamba-hamba-Nya.Ketiga, Al-Qur’an berisi berita tentang nikmat-nikmat Allah yang agung, karunia-Nya yang besar, serta jalan untuk meraihnya melalui berbagai perintah. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: ذِي الطَّوْلِ.Keempat, Al-Qur’an berisi berita tentang azab Allah yang keras, serta berbagai perbuatan maksiat yang menyebabkan datangnya azab tersebut. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: شَدِيدِ الْعِقَابِ.Kelima, Al-Qur’an berisi ajakan kepada orang-orang yang berdosa agar bertobat, kembali kepada Allah, dan memohon ampun. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ.Keenam, Al-Qur’an berisi penjelasan bahwa hanya Allah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi. Al-Qur’an juga menegakkan dalil-dalil akal dan dalil-dalil syariat tentang hal itu, mendorong manusia untuk mentauhidkan Allah, melarang mereka dari menyembah selain-Nya, menerangkan rusaknya ibadah kepada selain Allah, serta memperingatkan manusia darinya. Semua ini ditunjukkan oleh firman-Nya: لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ.Ketujuh, Al-Qur’an berisi berita tentang hukum balasan Allah yang adil, pahala bagi orang-orang yang berbuat baik, dan hukuman bagi orang-orang yang durhaka. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: إِلَيْهِ الْمَصِيرُ.Jadi, ayat ini secara ringkas telah merangkum seluruh pokok ajaran besar yang terkandung dalam Al-Qur’an. Tafsir Ibnu Katsir: Antara Harapan dan Rasa TakutDalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan firman Allah:غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِArtinya, Allah mengampuni dosa yang telah lalu dan menerima tobat pada masa yang akan datang bagi siapa saja yang bertobat kepada-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya.Kemudian firman-Nya:شَدِيدِ الْعِقَابِArtinya, Allah sangat keras hukuman-Nya bagi orang yang membangkang, melampaui batas, lebih memilih kehidupan dunia, menentang perintah Allah, dan berlaku zalim.Dalam ayat ini terkumpul dua hal sekaligus, yaitu harapan dan rasa takut. Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta’ala:نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُوَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ“Sampaikanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49–50)Allah sering menyandingkan kedua sifat ini dalam banyak ayat Al-Qur’an, agar seorang hamba selalu berada di antara harapan dan rasa takut.Selanjutnya firman Allah:ذِي الطَّوْلِIbnu ‘Abbas menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki keluasan dan kekayaan. Penafsiran ini juga dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah.Yazid bin Al-Asham mengatakan bahwa maknanya adalah Allah memiliki kebaikan yang sangat banyak.Ikrimah menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah memiliki karunia dan pemberian.Sedangkan Qatadah menjelaskan bahwa maknanya adalah Allah memiliki berbagai nikmat dan keutamaan.Makna keseluruhannya adalah bahwa Allah senantiasa melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya, memberikan berbagai anugerah dan nikmat kepada mereka, padahal mereka tidak mampu mensyukuri satu pun dari nikmat tersebut secara sempurna.Allah Ta’ala berfirman:وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat.” (QS. Ibrahim: 34)Kemudian firman-Nya:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَArtinya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, dan tidak ada Rabb selain-Nya.Firman-Nya:إِلَيْهِ الْمَصِيرُArtinya, hanya kepada-Nya tempat kembali dan tempat kembali terakhir. Di sana Allah akan membalas setiap orang sesuai dengan amalnya.Sebagaimana firman-Nya:وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ“Dan Dia Maha Cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41) Kisah #01: Masih Adakah Tobat bagi Pembunuh?Kisah pertama ini dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata: Aku mendengar Abu Ishaq As-Sabi‘i menceritakan bahwa seorang laki-laki datang kepada ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu lalu berkata,“Wahai Amirul Mukminin, aku telah melakukan pembunuhan. Apakah masih ada tobat bagiku?”Maka ‘Umar membacakan kepadanya ayat:حمتَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِغَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِKemudian beliau berkata,اِعْمَلْ وَلَا تَيْأَسْ“Beramallah dan jangan berputus asa.”Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim (dengan lafaz ini) dan juga oleh Ibnu Jarir. Kisah #02: Cara Menolong Orang yang Jatuh dalam Dosa (Teladan dari Umar bin Al-Khattab)Kisah kedua ini juga dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Musa bin Marwan Ar-Raqqi menceritakan kepada kami, ‘Umar — yaitu Ibnu Ayyub — menceritakan kepada kami, Ja‘far bin Burqan menceritakan dari Yazid bin Al-Asham, ia berkata: Dahulu ada seorang lelaki dari penduduk Syam yang dikenal kuat dan pemberani. Ia sering datang menemui ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Suatu waktu ‘Umar tidak lagi melihatnya, lalu beliau bertanya,“Apa yang terjadi dengan si fulan bin fulan?”Mereka menjawab,يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، يُتَابِعُ فِي هَذَا الشَّرَابِ“Wahai Amirul Mukminin, ia sekarang sering terjerumus dalam minuman keras.”Maka ‘Umar memanggil penulisnya dan berkata, “Tulislah:Dari ‘Umar bin Al-Khaththab kepada fulan bin fulan.Salam sejahtera untukmu. Amma ba‘du.Sesungguhnya aku memuji Allah kepadamu, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, dan memiliki karunia yang luas. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, dan hanya kepada-Nya tempat kembali.”Kemudian ‘Umar berkata kepada para sahabatnya,اُدْعُوا اللَّهَ لِأَخِيكُمْ أَنْ يُقْبِلَ بِقَلْبِهِ، وَأَنْ يَتُوبَ اللَّهُ عَلَيْهِ.“Doakanlah saudara kalian ini agar hatinya kembali kepada Allah dan agar Allah menerima tobatnya.”Ketika surat ‘Umar sampai kepada lelaki tersebut, ia membacanya berulang-ulang sambil berkata,“غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ(Dia Yang mengampuni dosa, menerima tobat, dan keras hukuman-Nya).”Ia berkata, “Allah telah memperingatkanku dengan hukuman-Nya, namun juga menjanjikan ampunan bagiku.”Ia terus mengulang-ulang ayat itu pada dirinya, hingga akhirnya ia menangis. Setelah itu ia meninggalkan kebiasaan buruknya dan bertobat dengan sebaik-baiknya.Ketika kabar tersebut sampai kepada ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,هَكَذَا فَاصْنَعُوا، إِذَا رَأَيْتُمْ أَخَاكُمْ زَلَّ زَلَّةً فَسَدِّدُوهُ وَوَفِّقُوهُ، وَادْعُوا اللَّهَ لَهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِ، وَلَا تَكُونُوا أَعْوَانًا لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِ.“Seperti inilah yang harus kalian lakukan. Jika kalian melihat saudara kalian tergelincir dalam suatu kesalahan, maka luruskanlah dan bantulah ia kembali ke jalan yang benar. Doakanlah agar Allah menerima tobatnya. Jangan sampai kalian justru menjadi penolong setan untuk menjatuhkannya.”Baca juga: Isi Surat Umar pada Sahabatnya: Jangan Jadi Kroninya Setan Kisah #03: Doa Saat Membaca Ayat Tentang Ampunan dan TobatKisah ketiga ini adalah kelanjutan penjelasan Imam Ibnu Katsir ketika membahas surah Ghafir ayat ketiga.Ibnu Abi Hatim berkata: ‘Umar bin Syabbah menceritakan kepada kami, Hammad bin Waqid — Abu ‘Umar Ash-Shaffar — menceritakan kepada kami, Tsabit Al-Bunani berkata:Aku pernah bersama Mush‘ab bin Az-Zubair di wilayah sekitar Kufah. Lalu aku masuk ke sebuah kebun untuk menunaikan shalat dua rakaat. Aku memulai membaca Surah حم المؤمن (Surah Ghafir). Ketika sampai pada ayat:لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُtiba-tiba ada seorang lelaki di belakangku, menunggang bagal berwarna keabu-abuan. Ia mengenakan pakaian bergaris dari Yaman. Ia berkata kepadaku:“Jika engkau membaca غَافِرِ الذَّنْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Mengampuni dosa, ampunilah dosaku.’Jika engkau membaca وَقَابِلِ التَّوْبِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang Menerima tobat, terimalah tobatku.’Jika engkau membaca شَدِيدِ الْعِقَابِ, maka katakanlah:‘Wahai Yang sangat keras hukuman-Nya, janganlah Engkau menghukumku.’”Tsabit berkata: Aku pun menoleh ke belakang, tetapi tidak melihat seorang pun. Lalu aku keluar menuju pintu kebun dan bertanya kepada orang-orang,“Apakah ada seseorang yang lewat di sini, mengenakan pakaian bergaris dari Yaman?”Mereka menjawab, “Kami tidak melihat siapa pun.”Sebagian orang kemudian beranggapan bahwa orang tersebut adalah Nabi Ilyas ‘alaihissalam.Riwayat ini juga diriwayatkan melalui jalur lain dari Tsabit dengan kisah yang serupa, namun dalam riwayat itu tidak disebutkan bahwa orang tersebut adalah Ilyas. Nasihat Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum TerlambatDi zaman sekarang, banyak orang terjatuh dalam dua sikap yang berbahaya. Sebagian terlalu merasa aman dari dosa sehingga terus menunda tobat, sementara sebagian lain justru putus asa dari rahmat Allah karena banyaknya kesalahan yang pernah dilakukan. Padahal Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan: tetap takut kepada hukuman Allah, tetapi tetap berharap pada ampunan-Nya.Ayat ini mengajarkan bahwa pintu tobat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Bahkan seseorang yang pernah melakukan dosa besar sekalipun masih memiliki peluang kembali kepada Allah. Karena itu, jangan pernah menutup pintu harapan bagi diri sendiri maupun bagi saudara kita yang sedang jatuh dalam dosa.Sebaliknya, jika kita melihat saudara kita tergelincir, jangan malah mencela dan menjatuhkannya. Nasihati dengan lembut, doakan agar Allah memberinya hidayah, dan bantu ia kembali kepada jalan yang benar. Inilah akhlak para sahabat, sebagaimana nasihat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu agar kita tidak menjadi penolong setan atas saudara kita.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang selalu hidup di antara rasa takut dan harapan, serta senantiasa kembali kepada-Nya dengan tobat yang tulus.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، وَارْحَمْنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ التَّائِبِينَ الصَّادِقِينَ.“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, terimalah tobat kami, rahmatilah kami, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang benar-benar bertobat.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan ampunan harapan dan takut nasihat islam qs ghafir ayat 3 renungan ayat renungan quran sifat Allah tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran taubat dalam islam

Mudik atau Liburan? Simak Aturan Lengkap Jamak Qashar Agar Ibadah Tetap Sah

https://youtu.be/N59ugSDv0kc Syaikh kami, ia ingin penjelasan rinci mengenai tenggat waktu yang membolehkan seorang musafir untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Hukum asal shalat adalah dilaksanakan secara sempurna. Setiap shalat ditunaikan pada waktunya masing-masing. Hal ini berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin.” (QS. An-Nisa: 103). Dengan demikian, wajib bagi setiap insan untuk melaksanakan shalat tepat pada waktunya, dan tidak diperbolehkan menunda shalat atau menjamak dua shalat sekaligus, tanpa (ada uzurnya). Setiap insan harus tetap mengupayakan shalat pada waktunya, serta menjalankannya dengan rakaat yang sempurna. Jika hal ini telah dipahami, maka seseorang diperbolehkan mengqashar shalat dalam beberapa kondisi. Kondisi pertama: Saat ia berpindah dari satu daerah ke daerah lain sebagai seorang musafir. Berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat, jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (QS. An-Nisa: 101). Kondisi kedua: Jika seseorang menetap sementara di tempat tujuan selama satu, dua, tiga, atau empat hari. Maka saat itu ia boleh mengambil rukhshah (keringanan) untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Adapun jika ia menetap sementara lebih dari batas waktu itu (lebih dari 4 hari), maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan rakaat aslinya). Demikian pula jika ia menetap di suatu tempat, tanpa tahu berapa lama ia akan menetap dan kapan akan berakhir urusannya, ia menunggu suatu urusan yang ia harap bisa selesai setiap harinya, maka dalam kondisi ini ia pun diperbolehkan mengambil keringanan safar. Sedangkan orang yang menetap sementara, tapi mengetahui berapa lama durasinya, dan itu lebih dari empat hari, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan jumlah rakaat aslinya), karena ia tidak lagi dianggap sebagai orang yang sedang bepergian. Sebab Allah Ta’ala berfirman: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat…” Dari ayat ini dapat dipahami bahwa orang yang sudah tidak lagi dalam keadaan bepergian, maka ia berdosa jika tetap mengqashar shalatnya. ===== سَأَلَتْ شَيْخَنَا تُرِيدُ التَّفْصِيلَ فِي الْمُدَّةِ الَّتِي يَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ أَنْ يَجْمَعَ وَيَقْصُرَ الصَّلَوَاتِ الْأَصْلُ فِي الصَّلَاةِ أَنْ تُؤَدَّى تَامَّةً كُلُّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا وَبِالتَّالِي الْوَاجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَقُومَ بِأَدَاءِ الصَّلَوَاتِ فِي أَوْقَاتِهَا وَلَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُؤَخِّرَ الصَّلَاةَ أَوْ أَنْ يَجْمَعَ الصَّلَاتَيْنِ بِدُونِ أَنْ بَلْ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَدِّيَ كُلَّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا وَأَنْ يُؤَدِّيَهَا تَامَّةً إِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَقْصُرَ الصَّلَاةَ فِي أَحْوَالٍ الْحَالَةُ الْأُولَى عِنْدَ انْتِقَالِهِ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ آخَرَ مُسَافِرًا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ إِذَا أَقَامَ الْإِنْسَانُ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً لِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ أَوْ أَرْبَعَةٍ جَازَ لَهُ حِينَئِذٍ أَنْ يَأْخُذَ بِالرُّخْصَةِ وَأَنْ يَجْمَعَ وَأَنْ يَقْصُرَ أَمَّا إِذَا زَادَتْ إِقَامَتُهُ الْمُؤَقَّتَةُ عَلَى هَذَا الْمِقْدَارِ وَجَبَ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ وَهَكَذَا إِذَا أَقَامَ إِقَامَةً لَا يَدْرِي مَا مَدَى هَذِهِ الْإِقَامَةِ وَلَا مَتَى سَتَنْتَهِي يَنْتَظِرُ أَمْرًا يَرْجُو خَلَاصَهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ فَهَذَا أَيْضًا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَتَرَخَّصَ بِرُخَصِ السَّفَرِ وَأَمَّا مَنْ أَقَامَ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً يَعْلَمُ مَدَاهَا وَيَكُونُ أَمَدُهَا زَائِدًا عَنْ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ لِكَوْنِهِ لَمْ يَعُدْ ضَارِبًا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ تَعَالَى قَالَ وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ فَفُهِمَ مِنْهُ أَنَّ مَنْ لَمْ يَضْرِبْ فِي الْأَرْضِ فَعَلَيْهِ جُنَاحٌ مَتَى قَصَرَ الصَّلَاةَ

Mudik atau Liburan? Simak Aturan Lengkap Jamak Qashar Agar Ibadah Tetap Sah

https://youtu.be/N59ugSDv0kc Syaikh kami, ia ingin penjelasan rinci mengenai tenggat waktu yang membolehkan seorang musafir untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Hukum asal shalat adalah dilaksanakan secara sempurna. Setiap shalat ditunaikan pada waktunya masing-masing. Hal ini berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin.” (QS. An-Nisa: 103). Dengan demikian, wajib bagi setiap insan untuk melaksanakan shalat tepat pada waktunya, dan tidak diperbolehkan menunda shalat atau menjamak dua shalat sekaligus, tanpa (ada uzurnya). Setiap insan harus tetap mengupayakan shalat pada waktunya, serta menjalankannya dengan rakaat yang sempurna. Jika hal ini telah dipahami, maka seseorang diperbolehkan mengqashar shalat dalam beberapa kondisi. Kondisi pertama: Saat ia berpindah dari satu daerah ke daerah lain sebagai seorang musafir. Berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat, jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (QS. An-Nisa: 101). Kondisi kedua: Jika seseorang menetap sementara di tempat tujuan selama satu, dua, tiga, atau empat hari. Maka saat itu ia boleh mengambil rukhshah (keringanan) untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Adapun jika ia menetap sementara lebih dari batas waktu itu (lebih dari 4 hari), maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan rakaat aslinya). Demikian pula jika ia menetap di suatu tempat, tanpa tahu berapa lama ia akan menetap dan kapan akan berakhir urusannya, ia menunggu suatu urusan yang ia harap bisa selesai setiap harinya, maka dalam kondisi ini ia pun diperbolehkan mengambil keringanan safar. Sedangkan orang yang menetap sementara, tapi mengetahui berapa lama durasinya, dan itu lebih dari empat hari, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan jumlah rakaat aslinya), karena ia tidak lagi dianggap sebagai orang yang sedang bepergian. Sebab Allah Ta’ala berfirman: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat…” Dari ayat ini dapat dipahami bahwa orang yang sudah tidak lagi dalam keadaan bepergian, maka ia berdosa jika tetap mengqashar shalatnya. ===== سَأَلَتْ شَيْخَنَا تُرِيدُ التَّفْصِيلَ فِي الْمُدَّةِ الَّتِي يَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ أَنْ يَجْمَعَ وَيَقْصُرَ الصَّلَوَاتِ الْأَصْلُ فِي الصَّلَاةِ أَنْ تُؤَدَّى تَامَّةً كُلُّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا وَبِالتَّالِي الْوَاجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَقُومَ بِأَدَاءِ الصَّلَوَاتِ فِي أَوْقَاتِهَا وَلَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُؤَخِّرَ الصَّلَاةَ أَوْ أَنْ يَجْمَعَ الصَّلَاتَيْنِ بِدُونِ أَنْ بَلْ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَدِّيَ كُلَّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا وَأَنْ يُؤَدِّيَهَا تَامَّةً إِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَقْصُرَ الصَّلَاةَ فِي أَحْوَالٍ الْحَالَةُ الْأُولَى عِنْدَ انْتِقَالِهِ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ آخَرَ مُسَافِرًا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ إِذَا أَقَامَ الْإِنْسَانُ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً لِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ أَوْ أَرْبَعَةٍ جَازَ لَهُ حِينَئِذٍ أَنْ يَأْخُذَ بِالرُّخْصَةِ وَأَنْ يَجْمَعَ وَأَنْ يَقْصُرَ أَمَّا إِذَا زَادَتْ إِقَامَتُهُ الْمُؤَقَّتَةُ عَلَى هَذَا الْمِقْدَارِ وَجَبَ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ وَهَكَذَا إِذَا أَقَامَ إِقَامَةً لَا يَدْرِي مَا مَدَى هَذِهِ الْإِقَامَةِ وَلَا مَتَى سَتَنْتَهِي يَنْتَظِرُ أَمْرًا يَرْجُو خَلَاصَهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ فَهَذَا أَيْضًا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَتَرَخَّصَ بِرُخَصِ السَّفَرِ وَأَمَّا مَنْ أَقَامَ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً يَعْلَمُ مَدَاهَا وَيَكُونُ أَمَدُهَا زَائِدًا عَنْ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ لِكَوْنِهِ لَمْ يَعُدْ ضَارِبًا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ تَعَالَى قَالَ وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ فَفُهِمَ مِنْهُ أَنَّ مَنْ لَمْ يَضْرِبْ فِي الْأَرْضِ فَعَلَيْهِ جُنَاحٌ مَتَى قَصَرَ الصَّلَاةَ
https://youtu.be/N59ugSDv0kc Syaikh kami, ia ingin penjelasan rinci mengenai tenggat waktu yang membolehkan seorang musafir untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Hukum asal shalat adalah dilaksanakan secara sempurna. Setiap shalat ditunaikan pada waktunya masing-masing. Hal ini berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin.” (QS. An-Nisa: 103). Dengan demikian, wajib bagi setiap insan untuk melaksanakan shalat tepat pada waktunya, dan tidak diperbolehkan menunda shalat atau menjamak dua shalat sekaligus, tanpa (ada uzurnya). Setiap insan harus tetap mengupayakan shalat pada waktunya, serta menjalankannya dengan rakaat yang sempurna. Jika hal ini telah dipahami, maka seseorang diperbolehkan mengqashar shalat dalam beberapa kondisi. Kondisi pertama: Saat ia berpindah dari satu daerah ke daerah lain sebagai seorang musafir. Berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat, jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (QS. An-Nisa: 101). Kondisi kedua: Jika seseorang menetap sementara di tempat tujuan selama satu, dua, tiga, atau empat hari. Maka saat itu ia boleh mengambil rukhshah (keringanan) untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Adapun jika ia menetap sementara lebih dari batas waktu itu (lebih dari 4 hari), maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan rakaat aslinya). Demikian pula jika ia menetap di suatu tempat, tanpa tahu berapa lama ia akan menetap dan kapan akan berakhir urusannya, ia menunggu suatu urusan yang ia harap bisa selesai setiap harinya, maka dalam kondisi ini ia pun diperbolehkan mengambil keringanan safar. Sedangkan orang yang menetap sementara, tapi mengetahui berapa lama durasinya, dan itu lebih dari empat hari, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan jumlah rakaat aslinya), karena ia tidak lagi dianggap sebagai orang yang sedang bepergian. Sebab Allah Ta’ala berfirman: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat…” Dari ayat ini dapat dipahami bahwa orang yang sudah tidak lagi dalam keadaan bepergian, maka ia berdosa jika tetap mengqashar shalatnya. ===== سَأَلَتْ شَيْخَنَا تُرِيدُ التَّفْصِيلَ فِي الْمُدَّةِ الَّتِي يَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ أَنْ يَجْمَعَ وَيَقْصُرَ الصَّلَوَاتِ الْأَصْلُ فِي الصَّلَاةِ أَنْ تُؤَدَّى تَامَّةً كُلُّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا وَبِالتَّالِي الْوَاجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَقُومَ بِأَدَاءِ الصَّلَوَاتِ فِي أَوْقَاتِهَا وَلَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُؤَخِّرَ الصَّلَاةَ أَوْ أَنْ يَجْمَعَ الصَّلَاتَيْنِ بِدُونِ أَنْ بَلْ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَدِّيَ كُلَّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا وَأَنْ يُؤَدِّيَهَا تَامَّةً إِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَقْصُرَ الصَّلَاةَ فِي أَحْوَالٍ الْحَالَةُ الْأُولَى عِنْدَ انْتِقَالِهِ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ آخَرَ مُسَافِرًا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ إِذَا أَقَامَ الْإِنْسَانُ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً لِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ أَوْ أَرْبَعَةٍ جَازَ لَهُ حِينَئِذٍ أَنْ يَأْخُذَ بِالرُّخْصَةِ وَأَنْ يَجْمَعَ وَأَنْ يَقْصُرَ أَمَّا إِذَا زَادَتْ إِقَامَتُهُ الْمُؤَقَّتَةُ عَلَى هَذَا الْمِقْدَارِ وَجَبَ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ وَهَكَذَا إِذَا أَقَامَ إِقَامَةً لَا يَدْرِي مَا مَدَى هَذِهِ الْإِقَامَةِ وَلَا مَتَى سَتَنْتَهِي يَنْتَظِرُ أَمْرًا يَرْجُو خَلَاصَهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ فَهَذَا أَيْضًا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَتَرَخَّصَ بِرُخَصِ السَّفَرِ وَأَمَّا مَنْ أَقَامَ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً يَعْلَمُ مَدَاهَا وَيَكُونُ أَمَدُهَا زَائِدًا عَنْ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ لِكَوْنِهِ لَمْ يَعُدْ ضَارِبًا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ تَعَالَى قَالَ وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ فَفُهِمَ مِنْهُ أَنَّ مَنْ لَمْ يَضْرِبْ فِي الْأَرْضِ فَعَلَيْهِ جُنَاحٌ مَتَى قَصَرَ الصَّلَاةَ


https://youtu.be/N59ugSDv0kc Syaikh kami, ia ingin penjelasan rinci mengenai tenggat waktu yang membolehkan seorang musafir untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Hukum asal shalat adalah dilaksanakan secara sempurna. Setiap shalat ditunaikan pada waktunya masing-masing. Hal ini berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin.” (QS. An-Nisa: 103). Dengan demikian, wajib bagi setiap insan untuk melaksanakan shalat tepat pada waktunya, dan tidak diperbolehkan menunda shalat atau menjamak dua shalat sekaligus, tanpa (ada uzurnya). Setiap insan harus tetap mengupayakan shalat pada waktunya, serta menjalankannya dengan rakaat yang sempurna. Jika hal ini telah dipahami, maka seseorang diperbolehkan mengqashar shalat dalam beberapa kondisi. Kondisi pertama: Saat ia berpindah dari satu daerah ke daerah lain sebagai seorang musafir. Berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat, jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (QS. An-Nisa: 101). Kondisi kedua: Jika seseorang menetap sementara di tempat tujuan selama satu, dua, tiga, atau empat hari. Maka saat itu ia boleh mengambil rukhshah (keringanan) untuk menjamak dan mengqashar shalatnya. Adapun jika ia menetap sementara lebih dari batas waktu itu (lebih dari 4 hari), maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan rakaat aslinya). Demikian pula jika ia menetap di suatu tempat, tanpa tahu berapa lama ia akan menetap dan kapan akan berakhir urusannya, ia menunggu suatu urusan yang ia harap bisa selesai setiap harinya, maka dalam kondisi ini ia pun diperbolehkan mengambil keringanan safar. Sedangkan orang yang menetap sementara, tapi mengetahui berapa lama durasinya, dan itu lebih dari empat hari, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (sesuai waktu dan jumlah rakaat aslinya), karena ia tidak lagi dianggap sebagai orang yang sedang bepergian. Sebab Allah Ta’ala berfirman: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak ada dosa bagimu untuk mengqashar shalat…” Dari ayat ini dapat dipahami bahwa orang yang sudah tidak lagi dalam keadaan bepergian, maka ia berdosa jika tetap mengqashar shalatnya. ===== سَأَلَتْ شَيْخَنَا تُرِيدُ التَّفْصِيلَ فِي الْمُدَّةِ الَّتِي يَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ أَنْ يَجْمَعَ وَيَقْصُرَ الصَّلَوَاتِ الْأَصْلُ فِي الصَّلَاةِ أَنْ تُؤَدَّى تَامَّةً كُلُّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا وَبِالتَّالِي الْوَاجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَقُومَ بِأَدَاءِ الصَّلَوَاتِ فِي أَوْقَاتِهَا وَلَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُؤَخِّرَ الصَّلَاةَ أَوْ أَنْ يَجْمَعَ الصَّلَاتَيْنِ بِدُونِ أَنْ بَلْ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَدِّيَ كُلَّ صَلَاةٍ فِي وَقْتِهَا وَأَنْ يُؤَدِّيَهَا تَامَّةً إِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَقْصُرَ الصَّلَاةَ فِي أَحْوَالٍ الْحَالَةُ الْأُولَى عِنْدَ انْتِقَالِهِ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ آخَرَ مُسَافِرًا لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ إِذَا أَقَامَ الْإِنْسَانُ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً لِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ أَوْ أَرْبَعَةٍ جَازَ لَهُ حِينَئِذٍ أَنْ يَأْخُذَ بِالرُّخْصَةِ وَأَنْ يَجْمَعَ وَأَنْ يَقْصُرَ أَمَّا إِذَا زَادَتْ إِقَامَتُهُ الْمُؤَقَّتَةُ عَلَى هَذَا الْمِقْدَارِ وَجَبَ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ وَهَكَذَا إِذَا أَقَامَ إِقَامَةً لَا يَدْرِي مَا مَدَى هَذِهِ الْإِقَامَةِ وَلَا مَتَى سَتَنْتَهِي يَنْتَظِرُ أَمْرًا يَرْجُو خَلَاصَهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ فَهَذَا أَيْضًا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَتَرَخَّصَ بِرُخَصِ السَّفَرِ وَأَمَّا مَنْ أَقَامَ إِقَامَةً مُؤَقَّتَةً يَعْلَمُ مَدَاهَا وَيَكُونُ أَمَدُهَا زَائِدًا عَنْ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الصَّلَاةِ لِكَوْنِهِ لَمْ يَعُدْ ضَارِبًا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ تَعَالَى قَالَ وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ فَفُهِمَ مِنْهُ أَنَّ مَنْ لَمْ يَضْرِبْ فِي الْأَرْضِ فَعَلَيْهِ جُنَاحٌ مَتَى قَصَرَ الصَّلَاةَ

Mudik: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung

Daftar Isi TogglePulang sebagai fitrah manusiaMudik dan silaturahimBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananSafar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiUjian akhlak dalam perjalananJangan jadikan mudik sebagai ajang pamerMudik sebagai muhasabahPenutupSetiap tahun, jutaan manusia bergerak serempak meninggalkan kota-kota besar menuju desa dan kampung halaman. Jalanan macet, terminal penuh, stasiun sesak, bandara padat. Orang rela menempuh perjalanan panjang, menguras tenaga, bahkan menabung berbulan-bulan demi satu tujuan: pulang.Mudik bukan sekadar tradisi tahunan. Ia bukan hanya fenomena sosial atau arus kendaraan yang memadati jalanan. Di balik koper, tiket, dan kemacetan panjang, ada sesuatu yang lebih dalam: kerinduan kepada keluarga, kepada orang tua, kepada akar kehidupan. Ia adalah perjalanan hati. Ia adalah rindu yang tak bisa diukur dengan jarak. Ada ibu yang menunggu di depan pintu. Ada ayah yang diam-diam menghitung hari. Ada rumah lama yang menyimpan kenangan masa kecil. Ada kampung halaman yang selalu terasa berbeda, meskipun sederhana.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya, amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Maka, mudik yang diniatkan untuk menyambung silaturahim, membahagiakan orang tua, memperbaiki hubungan, dan mencari rida Allah, dapat menjadi amal besar di sisi-Nya.Pulang sebagai fitrah manusiaManusia diciptakan dengan fitrah untuk mencintai tempat asalnya. Bahkan, ketika Nabi Adam diturunkan ke bumi, beliau merindukan surga sebagai tempat asalnya. Rindu adalah bagian dari jiwa manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman,يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ“Wahai manusia, sesungguhnya engkau sedang berjalan menuju Tuhanmu dengan sungguh-sungguh, dan engkau pasti akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)Seluruh hidup sejatinya adalah perjalanan pulang kepada Allah. Mudik di dunia seharusnya menjadi pengingat akan “mudik akhirat”, yaitu pulang yang sesungguhnya.Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan,إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ“Sesungguhnya, kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)Maka, jangan sampai perjalanan dunia membuat kita lupa pada perjalanan akhirat.Mudik dan silaturahimSalah satu nilai terbesar dalam mudik adalah silaturahim. Banyak orang yang selama setahun sibuk bekerja, jarang bertemu keluarga, bahkan jarang menelpon orang tua. Mudik menjadi momentum memperbaiki hubungan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Silaturahim bukan sekadar formalitas berjabat tangan, tetapi menghadirkan hati, meminta maaf dengan tulus, dan memperbaiki hubungan yang mungkin retak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ“Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian.” (QS. Al-Anfal: 1)Mudik menjadi ladang pahala jika diniatkan untuk berbakti kepada orang tua dan menyambung kekerabatan.Baca juga: Beberapa Bentuk Bakti Kepada Orang TuaBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananDi antara makna terdalam mudik adalah kesempatan bertemu orang tua. Ada yang masih memiliki keduanya, ada yang tinggal satu, dan ada pula yang telah kehilangan keduanya. Bagi yang masih diberi kesempatan, itulah nikmat yang sering kali baru terasa besar ketika ia sudah tiada.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)Dan juga,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa’: 36)Berbakti kepada orang tua disebutkan setelah perintah tauhid. Ini menunjukkan betapa agung dan tingginya kedudukan birrul walidain dalam Islam.Banyak orang menyesal ketika orang tuanya telah tiada. Rumah terasa kosong. Suara ibu tak lagi terdengar. Nasihat ayah tak lagi didapatkan. Kesempatan untuk mencium tangan, mendengar cerita yang berulang, dan sekadar duduk berbincang hangat tak akan pernah kembali.Karena itu, mudik adalah peluang emas untuk berbakti. Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi hadir dengan hati. Duduklah bersama mereka. Dengarkan cerita yang mungkin sudah sering diulang; sebab itu bukan hanya cerita, melainkan kebutuhan hati mereka. Cium tangan mereka dengan niat ibadah. Ucapkan kata-kata lembut yang mungkin sederhana, tetapi sangat berarti.Karena mungkin suatu hari nanti, kita ingin pulang, tetapi kesempatan itu sudah tidak ada lagi.Safar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiDalam Islam, safar bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah kondisi yang memiliki keistimewaan dan nilai spiritual tersendiri. Mudik termasuk safar, dan safar memiliki adab, doa, serta peluang pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثلاثُ دعوَاتٍ مُستجاباتٌ لا شَكَّ فيهنَّ : دعوَةُ المظلومِ ، ودعوةُ المسافرِ ، ودعوةُ الوالدِ على ولدِهِ“Tiga doa yang mustajab (dikabulkan), tidak ada keraguan di dalamnya: doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang bepergian (musafir), dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Doa seorang musafir termasuk doa yang dikabulkan. Ini menunjukkan bahwa perjalanan memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Mudik seharusnya diisi dengan doa, zikir, dan tawakal, bukan kelalaian atau sekadar kesibukan duniawi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan doa ketika naik kendaraan dengan membaca firman Allah,سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ“Maha Suci Allah yang menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (QS. Az-Zukhruf: 13)Ayat ini mengingatkan bahwa kendaraan, jalan yang aman, dan kemudahan perjalanan adalah nikmat dari Allah yang patut disyukuri. Dengan niat yang benar dan adab yang dijaga, safar bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan yang mendekatkan diri kepada Allah.Ujian akhlak dalam perjalananMudik bukan hanya tentang rindu dan pertemuan, tetapi juga ujian akhlak. Ia menguji kesabaran, kerendahan hati, dan kemampuan mengendalikan diri.Kemacetan panjang, kelelahan, cuaca panas, biaya perjalanan, bahkan perbedaan pendapat dengan keluarga, semuanya bisa memancing emosi. Dalam kondisi seperti itu, karakter seseorang benar-benar terlihat.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Kesabaran dalam perjalanan bukan hal kecil. Jika diniatkan karena Allah, ia menjadi pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ليس الشَّديدُ بالصُّرَعةِ، إنَّما الشَّديدُ الذي يملِكُ نفسَه عندَ الغَضَبِ“Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan diri ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadis ini dan berkata,فيه كَظمُ الغَيظِ، وإمساكُ النَّفسِ عندَ الغَضَبِ عن الانتِصارِ والمُخاصَمةِ والمُنازَعةِ“Di dalamnya terdapat menahan amarah, mengendalikan diri ketika marah dari keinginan untuk membalas, bertengkar, dan berselisih.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 16: 162)Mudik adalah ujian pengendalian diri. Bukan yang paling keras suaranya yang kuat, tetapi yang mampu menahan amarahnya. Bukan yang paling cepat membalas, tetapi yang mampu meredam ego.Perjalanan panjang bisa menjadi ladang pahala jika diisi dengan sabar dan akhlak yang baik. Namun, ia juga bisa menjadi ladang dosa jika dipenuhi keluh kesah dan kemarahan. Oleh karena itu, jadikan mudik bukan hanya perjalanan raga, tetapi juga latihan jiwa.Jangan jadikan mudik sebagai ajang pamerTidak jarang mudik berubah menjadi ajang menunjukkan keberhasilan: mobil baru, pakaian mahal, jabatan, atau pencapaian finansial.Padahal, Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Dan juga,أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.” (QS. At-Takatsur: 1)Kemuliaan bukan diukur dari harta yang dibawa pulang, tetapi dari akhlak dan ketakwaan.Mudik sebagai muhasabahPulang kampung sering membawa kita kembali ke masa kecil. Rumah sederhana, halaman tempat bermain, masjid kecil, jalan yang dulu terasa luas.Allah Azza wa Jalla berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً“Allah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian menjadikan setelah lemah itu kuat.” (QS. Ar-Rum: 54)Mudik bisa menjadi momen muhasabah: apakah kita menjadi lebih dekat kepada Allah atau justru semakin jauh?Dan ingatlah,كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Suatu hari nanti, kita akan pulang untuk selamanya.PenutupWahai yang sedang bersiap pulang…Luruskan niatmu sebelum melangkah. Jadikan setiap kilometer perjalanan sebagai ibadah. Isi waktu safarmu dengan doa, bukan keluh kesah. Datangi keluargamu dengan hati yang rendah, bukan dengan kesombongan.Ketika tanganmu mencium tangan ibu, niatkan sebagai bakti. Ketika engkau duduk mendengar nasihat ayah, niatkan sebagai ketaatan. Ketika engkau memaafkan saudara dan kerabat, niatkan sebagai pembersih hati.Karena mungkin suatu hari nanti, engkau ingin pulang, tetapi rumah itu telah sepi. Dan mungkin suatu saat, engkau kembali bukan sebagai tamu, tetapi sebagai jenazah yang diantarkan.Mudik mengajarkan bahwa setiap perjalanan ada ujungnya. Sebagaimana kita kembali ke kampung halaman, kelak kita semua akan kembali kepada Allah.Maka, jadikan mudik dunia sebagai pengingat untuk mempersiapkan mudik terbesar dalam hidup ini, yaitu perjalanan menuju akhirat.Semoga setiap langkah kita bernilai pahala, setiap rindu menjadi ibadah, dan setiap pertemuan membawa keberkahan.Wallāhu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Mudik: Tradisi atau Ibadah?***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Mudik: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung

Daftar Isi TogglePulang sebagai fitrah manusiaMudik dan silaturahimBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananSafar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiUjian akhlak dalam perjalananJangan jadikan mudik sebagai ajang pamerMudik sebagai muhasabahPenutupSetiap tahun, jutaan manusia bergerak serempak meninggalkan kota-kota besar menuju desa dan kampung halaman. Jalanan macet, terminal penuh, stasiun sesak, bandara padat. Orang rela menempuh perjalanan panjang, menguras tenaga, bahkan menabung berbulan-bulan demi satu tujuan: pulang.Mudik bukan sekadar tradisi tahunan. Ia bukan hanya fenomena sosial atau arus kendaraan yang memadati jalanan. Di balik koper, tiket, dan kemacetan panjang, ada sesuatu yang lebih dalam: kerinduan kepada keluarga, kepada orang tua, kepada akar kehidupan. Ia adalah perjalanan hati. Ia adalah rindu yang tak bisa diukur dengan jarak. Ada ibu yang menunggu di depan pintu. Ada ayah yang diam-diam menghitung hari. Ada rumah lama yang menyimpan kenangan masa kecil. Ada kampung halaman yang selalu terasa berbeda, meskipun sederhana.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya, amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Maka, mudik yang diniatkan untuk menyambung silaturahim, membahagiakan orang tua, memperbaiki hubungan, dan mencari rida Allah, dapat menjadi amal besar di sisi-Nya.Pulang sebagai fitrah manusiaManusia diciptakan dengan fitrah untuk mencintai tempat asalnya. Bahkan, ketika Nabi Adam diturunkan ke bumi, beliau merindukan surga sebagai tempat asalnya. Rindu adalah bagian dari jiwa manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman,يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ“Wahai manusia, sesungguhnya engkau sedang berjalan menuju Tuhanmu dengan sungguh-sungguh, dan engkau pasti akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)Seluruh hidup sejatinya adalah perjalanan pulang kepada Allah. Mudik di dunia seharusnya menjadi pengingat akan “mudik akhirat”, yaitu pulang yang sesungguhnya.Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan,إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ“Sesungguhnya, kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)Maka, jangan sampai perjalanan dunia membuat kita lupa pada perjalanan akhirat.Mudik dan silaturahimSalah satu nilai terbesar dalam mudik adalah silaturahim. Banyak orang yang selama setahun sibuk bekerja, jarang bertemu keluarga, bahkan jarang menelpon orang tua. Mudik menjadi momentum memperbaiki hubungan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Silaturahim bukan sekadar formalitas berjabat tangan, tetapi menghadirkan hati, meminta maaf dengan tulus, dan memperbaiki hubungan yang mungkin retak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ“Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian.” (QS. Al-Anfal: 1)Mudik menjadi ladang pahala jika diniatkan untuk berbakti kepada orang tua dan menyambung kekerabatan.Baca juga: Beberapa Bentuk Bakti Kepada Orang TuaBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananDi antara makna terdalam mudik adalah kesempatan bertemu orang tua. Ada yang masih memiliki keduanya, ada yang tinggal satu, dan ada pula yang telah kehilangan keduanya. Bagi yang masih diberi kesempatan, itulah nikmat yang sering kali baru terasa besar ketika ia sudah tiada.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)Dan juga,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa’: 36)Berbakti kepada orang tua disebutkan setelah perintah tauhid. Ini menunjukkan betapa agung dan tingginya kedudukan birrul walidain dalam Islam.Banyak orang menyesal ketika orang tuanya telah tiada. Rumah terasa kosong. Suara ibu tak lagi terdengar. Nasihat ayah tak lagi didapatkan. Kesempatan untuk mencium tangan, mendengar cerita yang berulang, dan sekadar duduk berbincang hangat tak akan pernah kembali.Karena itu, mudik adalah peluang emas untuk berbakti. Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi hadir dengan hati. Duduklah bersama mereka. Dengarkan cerita yang mungkin sudah sering diulang; sebab itu bukan hanya cerita, melainkan kebutuhan hati mereka. Cium tangan mereka dengan niat ibadah. Ucapkan kata-kata lembut yang mungkin sederhana, tetapi sangat berarti.Karena mungkin suatu hari nanti, kita ingin pulang, tetapi kesempatan itu sudah tidak ada lagi.Safar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiDalam Islam, safar bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah kondisi yang memiliki keistimewaan dan nilai spiritual tersendiri. Mudik termasuk safar, dan safar memiliki adab, doa, serta peluang pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثلاثُ دعوَاتٍ مُستجاباتٌ لا شَكَّ فيهنَّ : دعوَةُ المظلومِ ، ودعوةُ المسافرِ ، ودعوةُ الوالدِ على ولدِهِ“Tiga doa yang mustajab (dikabulkan), tidak ada keraguan di dalamnya: doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang bepergian (musafir), dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Doa seorang musafir termasuk doa yang dikabulkan. Ini menunjukkan bahwa perjalanan memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Mudik seharusnya diisi dengan doa, zikir, dan tawakal, bukan kelalaian atau sekadar kesibukan duniawi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan doa ketika naik kendaraan dengan membaca firman Allah,سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ“Maha Suci Allah yang menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (QS. Az-Zukhruf: 13)Ayat ini mengingatkan bahwa kendaraan, jalan yang aman, dan kemudahan perjalanan adalah nikmat dari Allah yang patut disyukuri. Dengan niat yang benar dan adab yang dijaga, safar bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan yang mendekatkan diri kepada Allah.Ujian akhlak dalam perjalananMudik bukan hanya tentang rindu dan pertemuan, tetapi juga ujian akhlak. Ia menguji kesabaran, kerendahan hati, dan kemampuan mengendalikan diri.Kemacetan panjang, kelelahan, cuaca panas, biaya perjalanan, bahkan perbedaan pendapat dengan keluarga, semuanya bisa memancing emosi. Dalam kondisi seperti itu, karakter seseorang benar-benar terlihat.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Kesabaran dalam perjalanan bukan hal kecil. Jika diniatkan karena Allah, ia menjadi pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ليس الشَّديدُ بالصُّرَعةِ، إنَّما الشَّديدُ الذي يملِكُ نفسَه عندَ الغَضَبِ“Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan diri ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadis ini dan berkata,فيه كَظمُ الغَيظِ، وإمساكُ النَّفسِ عندَ الغَضَبِ عن الانتِصارِ والمُخاصَمةِ والمُنازَعةِ“Di dalamnya terdapat menahan amarah, mengendalikan diri ketika marah dari keinginan untuk membalas, bertengkar, dan berselisih.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 16: 162)Mudik adalah ujian pengendalian diri. Bukan yang paling keras suaranya yang kuat, tetapi yang mampu menahan amarahnya. Bukan yang paling cepat membalas, tetapi yang mampu meredam ego.Perjalanan panjang bisa menjadi ladang pahala jika diisi dengan sabar dan akhlak yang baik. Namun, ia juga bisa menjadi ladang dosa jika dipenuhi keluh kesah dan kemarahan. Oleh karena itu, jadikan mudik bukan hanya perjalanan raga, tetapi juga latihan jiwa.Jangan jadikan mudik sebagai ajang pamerTidak jarang mudik berubah menjadi ajang menunjukkan keberhasilan: mobil baru, pakaian mahal, jabatan, atau pencapaian finansial.Padahal, Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Dan juga,أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.” (QS. At-Takatsur: 1)Kemuliaan bukan diukur dari harta yang dibawa pulang, tetapi dari akhlak dan ketakwaan.Mudik sebagai muhasabahPulang kampung sering membawa kita kembali ke masa kecil. Rumah sederhana, halaman tempat bermain, masjid kecil, jalan yang dulu terasa luas.Allah Azza wa Jalla berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً“Allah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian menjadikan setelah lemah itu kuat.” (QS. Ar-Rum: 54)Mudik bisa menjadi momen muhasabah: apakah kita menjadi lebih dekat kepada Allah atau justru semakin jauh?Dan ingatlah,كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Suatu hari nanti, kita akan pulang untuk selamanya.PenutupWahai yang sedang bersiap pulang…Luruskan niatmu sebelum melangkah. Jadikan setiap kilometer perjalanan sebagai ibadah. Isi waktu safarmu dengan doa, bukan keluh kesah. Datangi keluargamu dengan hati yang rendah, bukan dengan kesombongan.Ketika tanganmu mencium tangan ibu, niatkan sebagai bakti. Ketika engkau duduk mendengar nasihat ayah, niatkan sebagai ketaatan. Ketika engkau memaafkan saudara dan kerabat, niatkan sebagai pembersih hati.Karena mungkin suatu hari nanti, engkau ingin pulang, tetapi rumah itu telah sepi. Dan mungkin suatu saat, engkau kembali bukan sebagai tamu, tetapi sebagai jenazah yang diantarkan.Mudik mengajarkan bahwa setiap perjalanan ada ujungnya. Sebagaimana kita kembali ke kampung halaman, kelak kita semua akan kembali kepada Allah.Maka, jadikan mudik dunia sebagai pengingat untuk mempersiapkan mudik terbesar dalam hidup ini, yaitu perjalanan menuju akhirat.Semoga setiap langkah kita bernilai pahala, setiap rindu menjadi ibadah, dan setiap pertemuan membawa keberkahan.Wallāhu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Mudik: Tradisi atau Ibadah?***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi TogglePulang sebagai fitrah manusiaMudik dan silaturahimBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananSafar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiUjian akhlak dalam perjalananJangan jadikan mudik sebagai ajang pamerMudik sebagai muhasabahPenutupSetiap tahun, jutaan manusia bergerak serempak meninggalkan kota-kota besar menuju desa dan kampung halaman. Jalanan macet, terminal penuh, stasiun sesak, bandara padat. Orang rela menempuh perjalanan panjang, menguras tenaga, bahkan menabung berbulan-bulan demi satu tujuan: pulang.Mudik bukan sekadar tradisi tahunan. Ia bukan hanya fenomena sosial atau arus kendaraan yang memadati jalanan. Di balik koper, tiket, dan kemacetan panjang, ada sesuatu yang lebih dalam: kerinduan kepada keluarga, kepada orang tua, kepada akar kehidupan. Ia adalah perjalanan hati. Ia adalah rindu yang tak bisa diukur dengan jarak. Ada ibu yang menunggu di depan pintu. Ada ayah yang diam-diam menghitung hari. Ada rumah lama yang menyimpan kenangan masa kecil. Ada kampung halaman yang selalu terasa berbeda, meskipun sederhana.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya, amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Maka, mudik yang diniatkan untuk menyambung silaturahim, membahagiakan orang tua, memperbaiki hubungan, dan mencari rida Allah, dapat menjadi amal besar di sisi-Nya.Pulang sebagai fitrah manusiaManusia diciptakan dengan fitrah untuk mencintai tempat asalnya. Bahkan, ketika Nabi Adam diturunkan ke bumi, beliau merindukan surga sebagai tempat asalnya. Rindu adalah bagian dari jiwa manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman,يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ“Wahai manusia, sesungguhnya engkau sedang berjalan menuju Tuhanmu dengan sungguh-sungguh, dan engkau pasti akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)Seluruh hidup sejatinya adalah perjalanan pulang kepada Allah. Mudik di dunia seharusnya menjadi pengingat akan “mudik akhirat”, yaitu pulang yang sesungguhnya.Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan,إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ“Sesungguhnya, kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)Maka, jangan sampai perjalanan dunia membuat kita lupa pada perjalanan akhirat.Mudik dan silaturahimSalah satu nilai terbesar dalam mudik adalah silaturahim. Banyak orang yang selama setahun sibuk bekerja, jarang bertemu keluarga, bahkan jarang menelpon orang tua. Mudik menjadi momentum memperbaiki hubungan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Silaturahim bukan sekadar formalitas berjabat tangan, tetapi menghadirkan hati, meminta maaf dengan tulus, dan memperbaiki hubungan yang mungkin retak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ“Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian.” (QS. Al-Anfal: 1)Mudik menjadi ladang pahala jika diniatkan untuk berbakti kepada orang tua dan menyambung kekerabatan.Baca juga: Beberapa Bentuk Bakti Kepada Orang TuaBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananDi antara makna terdalam mudik adalah kesempatan bertemu orang tua. Ada yang masih memiliki keduanya, ada yang tinggal satu, dan ada pula yang telah kehilangan keduanya. Bagi yang masih diberi kesempatan, itulah nikmat yang sering kali baru terasa besar ketika ia sudah tiada.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)Dan juga,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa’: 36)Berbakti kepada orang tua disebutkan setelah perintah tauhid. Ini menunjukkan betapa agung dan tingginya kedudukan birrul walidain dalam Islam.Banyak orang menyesal ketika orang tuanya telah tiada. Rumah terasa kosong. Suara ibu tak lagi terdengar. Nasihat ayah tak lagi didapatkan. Kesempatan untuk mencium tangan, mendengar cerita yang berulang, dan sekadar duduk berbincang hangat tak akan pernah kembali.Karena itu, mudik adalah peluang emas untuk berbakti. Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi hadir dengan hati. Duduklah bersama mereka. Dengarkan cerita yang mungkin sudah sering diulang; sebab itu bukan hanya cerita, melainkan kebutuhan hati mereka. Cium tangan mereka dengan niat ibadah. Ucapkan kata-kata lembut yang mungkin sederhana, tetapi sangat berarti.Karena mungkin suatu hari nanti, kita ingin pulang, tetapi kesempatan itu sudah tidak ada lagi.Safar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiDalam Islam, safar bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah kondisi yang memiliki keistimewaan dan nilai spiritual tersendiri. Mudik termasuk safar, dan safar memiliki adab, doa, serta peluang pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثلاثُ دعوَاتٍ مُستجاباتٌ لا شَكَّ فيهنَّ : دعوَةُ المظلومِ ، ودعوةُ المسافرِ ، ودعوةُ الوالدِ على ولدِهِ“Tiga doa yang mustajab (dikabulkan), tidak ada keraguan di dalamnya: doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang bepergian (musafir), dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Doa seorang musafir termasuk doa yang dikabulkan. Ini menunjukkan bahwa perjalanan memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Mudik seharusnya diisi dengan doa, zikir, dan tawakal, bukan kelalaian atau sekadar kesibukan duniawi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan doa ketika naik kendaraan dengan membaca firman Allah,سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ“Maha Suci Allah yang menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (QS. Az-Zukhruf: 13)Ayat ini mengingatkan bahwa kendaraan, jalan yang aman, dan kemudahan perjalanan adalah nikmat dari Allah yang patut disyukuri. Dengan niat yang benar dan adab yang dijaga, safar bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan yang mendekatkan diri kepada Allah.Ujian akhlak dalam perjalananMudik bukan hanya tentang rindu dan pertemuan, tetapi juga ujian akhlak. Ia menguji kesabaran, kerendahan hati, dan kemampuan mengendalikan diri.Kemacetan panjang, kelelahan, cuaca panas, biaya perjalanan, bahkan perbedaan pendapat dengan keluarga, semuanya bisa memancing emosi. Dalam kondisi seperti itu, karakter seseorang benar-benar terlihat.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Kesabaran dalam perjalanan bukan hal kecil. Jika diniatkan karena Allah, ia menjadi pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ليس الشَّديدُ بالصُّرَعةِ، إنَّما الشَّديدُ الذي يملِكُ نفسَه عندَ الغَضَبِ“Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan diri ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadis ini dan berkata,فيه كَظمُ الغَيظِ، وإمساكُ النَّفسِ عندَ الغَضَبِ عن الانتِصارِ والمُخاصَمةِ والمُنازَعةِ“Di dalamnya terdapat menahan amarah, mengendalikan diri ketika marah dari keinginan untuk membalas, bertengkar, dan berselisih.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 16: 162)Mudik adalah ujian pengendalian diri. Bukan yang paling keras suaranya yang kuat, tetapi yang mampu menahan amarahnya. Bukan yang paling cepat membalas, tetapi yang mampu meredam ego.Perjalanan panjang bisa menjadi ladang pahala jika diisi dengan sabar dan akhlak yang baik. Namun, ia juga bisa menjadi ladang dosa jika dipenuhi keluh kesah dan kemarahan. Oleh karena itu, jadikan mudik bukan hanya perjalanan raga, tetapi juga latihan jiwa.Jangan jadikan mudik sebagai ajang pamerTidak jarang mudik berubah menjadi ajang menunjukkan keberhasilan: mobil baru, pakaian mahal, jabatan, atau pencapaian finansial.Padahal, Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Dan juga,أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.” (QS. At-Takatsur: 1)Kemuliaan bukan diukur dari harta yang dibawa pulang, tetapi dari akhlak dan ketakwaan.Mudik sebagai muhasabahPulang kampung sering membawa kita kembali ke masa kecil. Rumah sederhana, halaman tempat bermain, masjid kecil, jalan yang dulu terasa luas.Allah Azza wa Jalla berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً“Allah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian menjadikan setelah lemah itu kuat.” (QS. Ar-Rum: 54)Mudik bisa menjadi momen muhasabah: apakah kita menjadi lebih dekat kepada Allah atau justru semakin jauh?Dan ingatlah,كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Suatu hari nanti, kita akan pulang untuk selamanya.PenutupWahai yang sedang bersiap pulang…Luruskan niatmu sebelum melangkah. Jadikan setiap kilometer perjalanan sebagai ibadah. Isi waktu safarmu dengan doa, bukan keluh kesah. Datangi keluargamu dengan hati yang rendah, bukan dengan kesombongan.Ketika tanganmu mencium tangan ibu, niatkan sebagai bakti. Ketika engkau duduk mendengar nasihat ayah, niatkan sebagai ketaatan. Ketika engkau memaafkan saudara dan kerabat, niatkan sebagai pembersih hati.Karena mungkin suatu hari nanti, engkau ingin pulang, tetapi rumah itu telah sepi. Dan mungkin suatu saat, engkau kembali bukan sebagai tamu, tetapi sebagai jenazah yang diantarkan.Mudik mengajarkan bahwa setiap perjalanan ada ujungnya. Sebagaimana kita kembali ke kampung halaman, kelak kita semua akan kembali kepada Allah.Maka, jadikan mudik dunia sebagai pengingat untuk mempersiapkan mudik terbesar dalam hidup ini, yaitu perjalanan menuju akhirat.Semoga setiap langkah kita bernilai pahala, setiap rindu menjadi ibadah, dan setiap pertemuan membawa keberkahan.Wallāhu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Mudik: Tradisi atau Ibadah?***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi TogglePulang sebagai fitrah manusiaMudik dan silaturahimBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananSafar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiUjian akhlak dalam perjalananJangan jadikan mudik sebagai ajang pamerMudik sebagai muhasabahPenutupSetiap tahun, jutaan manusia bergerak serempak meninggalkan kota-kota besar menuju desa dan kampung halaman. Jalanan macet, terminal penuh, stasiun sesak, bandara padat. Orang rela menempuh perjalanan panjang, menguras tenaga, bahkan menabung berbulan-bulan demi satu tujuan: pulang.Mudik bukan sekadar tradisi tahunan. Ia bukan hanya fenomena sosial atau arus kendaraan yang memadati jalanan. Di balik koper, tiket, dan kemacetan panjang, ada sesuatu yang lebih dalam: kerinduan kepada keluarga, kepada orang tua, kepada akar kehidupan. Ia adalah perjalanan hati. Ia adalah rindu yang tak bisa diukur dengan jarak. Ada ibu yang menunggu di depan pintu. Ada ayah yang diam-diam menghitung hari. Ada rumah lama yang menyimpan kenangan masa kecil. Ada kampung halaman yang selalu terasa berbeda, meskipun sederhana.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya, amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Maka, mudik yang diniatkan untuk menyambung silaturahim, membahagiakan orang tua, memperbaiki hubungan, dan mencari rida Allah, dapat menjadi amal besar di sisi-Nya.Pulang sebagai fitrah manusiaManusia diciptakan dengan fitrah untuk mencintai tempat asalnya. Bahkan, ketika Nabi Adam diturunkan ke bumi, beliau merindukan surga sebagai tempat asalnya. Rindu adalah bagian dari jiwa manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman,يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ“Wahai manusia, sesungguhnya engkau sedang berjalan menuju Tuhanmu dengan sungguh-sungguh, dan engkau pasti akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)Seluruh hidup sejatinya adalah perjalanan pulang kepada Allah. Mudik di dunia seharusnya menjadi pengingat akan “mudik akhirat”, yaitu pulang yang sesungguhnya.Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan,إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ“Sesungguhnya, kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)Maka, jangan sampai perjalanan dunia membuat kita lupa pada perjalanan akhirat.Mudik dan silaturahimSalah satu nilai terbesar dalam mudik adalah silaturahim. Banyak orang yang selama setahun sibuk bekerja, jarang bertemu keluarga, bahkan jarang menelpon orang tua. Mudik menjadi momentum memperbaiki hubungan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Silaturahim bukan sekadar formalitas berjabat tangan, tetapi menghadirkan hati, meminta maaf dengan tulus, dan memperbaiki hubungan yang mungkin retak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ“Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian.” (QS. Al-Anfal: 1)Mudik menjadi ladang pahala jika diniatkan untuk berbakti kepada orang tua dan menyambung kekerabatan.Baca juga: Beberapa Bentuk Bakti Kepada Orang TuaBerbakti kepada orang tua: Inti dari perjalananDi antara makna terdalam mudik adalah kesempatan bertemu orang tua. Ada yang masih memiliki keduanya, ada yang tinggal satu, dan ada pula yang telah kehilangan keduanya. Bagi yang masih diberi kesempatan, itulah nikmat yang sering kali baru terasa besar ketika ia sudah tiada.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)Dan juga,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa’: 36)Berbakti kepada orang tua disebutkan setelah perintah tauhid. Ini menunjukkan betapa agung dan tingginya kedudukan birrul walidain dalam Islam.Banyak orang menyesal ketika orang tuanya telah tiada. Rumah terasa kosong. Suara ibu tak lagi terdengar. Nasihat ayah tak lagi didapatkan. Kesempatan untuk mencium tangan, mendengar cerita yang berulang, dan sekadar duduk berbincang hangat tak akan pernah kembali.Karena itu, mudik adalah peluang emas untuk berbakti. Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi hadir dengan hati. Duduklah bersama mereka. Dengarkan cerita yang mungkin sudah sering diulang; sebab itu bukan hanya cerita, melainkan kebutuhan hati mereka. Cium tangan mereka dengan niat ibadah. Ucapkan kata-kata lembut yang mungkin sederhana, tetapi sangat berarti.Karena mungkin suatu hari nanti, kita ingin pulang, tetapi kesempatan itu sudah tidak ada lagi.Safar dalam Islam: Perjalanan yang bernilaiDalam Islam, safar bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah kondisi yang memiliki keistimewaan dan nilai spiritual tersendiri. Mudik termasuk safar, dan safar memiliki adab, doa, serta peluang pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثلاثُ دعوَاتٍ مُستجاباتٌ لا شَكَّ فيهنَّ : دعوَةُ المظلومِ ، ودعوةُ المسافرِ ، ودعوةُ الوالدِ على ولدِهِ“Tiga doa yang mustajab (dikabulkan), tidak ada keraguan di dalamnya: doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang bepergian (musafir), dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Doa seorang musafir termasuk doa yang dikabulkan. Ini menunjukkan bahwa perjalanan memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Mudik seharusnya diisi dengan doa, zikir, dan tawakal, bukan kelalaian atau sekadar kesibukan duniawi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan doa ketika naik kendaraan dengan membaca firman Allah,سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ“Maha Suci Allah yang menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (QS. Az-Zukhruf: 13)Ayat ini mengingatkan bahwa kendaraan, jalan yang aman, dan kemudahan perjalanan adalah nikmat dari Allah yang patut disyukuri. Dengan niat yang benar dan adab yang dijaga, safar bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan yang mendekatkan diri kepada Allah.Ujian akhlak dalam perjalananMudik bukan hanya tentang rindu dan pertemuan, tetapi juga ujian akhlak. Ia menguji kesabaran, kerendahan hati, dan kemampuan mengendalikan diri.Kemacetan panjang, kelelahan, cuaca panas, biaya perjalanan, bahkan perbedaan pendapat dengan keluarga, semuanya bisa memancing emosi. Dalam kondisi seperti itu, karakter seseorang benar-benar terlihat.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Kesabaran dalam perjalanan bukan hal kecil. Jika diniatkan karena Allah, ia menjadi pahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ليس الشَّديدُ بالصُّرَعةِ، إنَّما الشَّديدُ الذي يملِكُ نفسَه عندَ الغَضَبِ“Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan diri ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadis ini dan berkata,فيه كَظمُ الغَيظِ، وإمساكُ النَّفسِ عندَ الغَضَبِ عن الانتِصارِ والمُخاصَمةِ والمُنازَعةِ“Di dalamnya terdapat menahan amarah, mengendalikan diri ketika marah dari keinginan untuk membalas, bertengkar, dan berselisih.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 16: 162)Mudik adalah ujian pengendalian diri. Bukan yang paling keras suaranya yang kuat, tetapi yang mampu menahan amarahnya. Bukan yang paling cepat membalas, tetapi yang mampu meredam ego.Perjalanan panjang bisa menjadi ladang pahala jika diisi dengan sabar dan akhlak yang baik. Namun, ia juga bisa menjadi ladang dosa jika dipenuhi keluh kesah dan kemarahan. Oleh karena itu, jadikan mudik bukan hanya perjalanan raga, tetapi juga latihan jiwa.Jangan jadikan mudik sebagai ajang pamerTidak jarang mudik berubah menjadi ajang menunjukkan keberhasilan: mobil baru, pakaian mahal, jabatan, atau pencapaian finansial.Padahal, Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Dan juga,أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.” (QS. At-Takatsur: 1)Kemuliaan bukan diukur dari harta yang dibawa pulang, tetapi dari akhlak dan ketakwaan.Mudik sebagai muhasabahPulang kampung sering membawa kita kembali ke masa kecil. Rumah sederhana, halaman tempat bermain, masjid kecil, jalan yang dulu terasa luas.Allah Azza wa Jalla berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً“Allah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian menjadikan setelah lemah itu kuat.” (QS. Ar-Rum: 54)Mudik bisa menjadi momen muhasabah: apakah kita menjadi lebih dekat kepada Allah atau justru semakin jauh?Dan ingatlah,كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Suatu hari nanti, kita akan pulang untuk selamanya.PenutupWahai yang sedang bersiap pulang…Luruskan niatmu sebelum melangkah. Jadikan setiap kilometer perjalanan sebagai ibadah. Isi waktu safarmu dengan doa, bukan keluh kesah. Datangi keluargamu dengan hati yang rendah, bukan dengan kesombongan.Ketika tanganmu mencium tangan ibu, niatkan sebagai bakti. Ketika engkau duduk mendengar nasihat ayah, niatkan sebagai ketaatan. Ketika engkau memaafkan saudara dan kerabat, niatkan sebagai pembersih hati.Karena mungkin suatu hari nanti, engkau ingin pulang, tetapi rumah itu telah sepi. Dan mungkin suatu saat, engkau kembali bukan sebagai tamu, tetapi sebagai jenazah yang diantarkan.Mudik mengajarkan bahwa setiap perjalanan ada ujungnya. Sebagaimana kita kembali ke kampung halaman, kelak kita semua akan kembali kepada Allah.Maka, jadikan mudik dunia sebagai pengingat untuk mempersiapkan mudik terbesar dalam hidup ini, yaitu perjalanan menuju akhirat.Semoga setiap langkah kita bernilai pahala, setiap rindu menjadi ibadah, dan setiap pertemuan membawa keberkahan.Wallāhu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Mudik: Tradisi atau Ibadah?***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail: Ujian Cinta kepada Allah yang Menggetarkan Hati

Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika diperintahkan menyembelih putranya, Ismail, adalah salah satu kisah paling agung dalam Al-Qur’an. Kisah ini menunjukkan betapa besar cinta seorang hamba kepada Allah sehingga ia mendahulukan perintah-Nya di atas segalanya. Dari peristiwa ini kita belajar tentang keimanan, ketundukan, kesabaran, dan keikhlasan yang luar biasa.Baca juga: Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail  Daftar Isi tutup 1. Hijrah Nabi Ibrahim karena Tauhid 2. Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang Saleh 3. Kabar Gembira Kelahiran Nabi Ismail 4. Perintah Menyembelih Ismail dalam Mimpi 5. Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran Ismail 6. Allah Menghentikan Penyembelihan 7. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada Allah 8. Asal Syariat Qurban 9. Pujian Abadi untuk Nabi Ibrahim 10. Balasan bagi Orang yang Berbuat Ihsan 11. Nasihat Penutup  Hijrah Nabi Ibrahim karena TauhidAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ“Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. As-Saffat: 99)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya: Ketika mereka melakukan tindakan tersebut terhadapnya, sementara Ibrahim telah menegakkan hujah kepada mereka dan telah menyampaikan alasan yang jelas, maka ia berkata, “Sesungguhnya aku akan pergi menuju Tuhanku,” yaitu berhijrah kepada-Nya dengan menuju negeri yang diberkahi, yaitu negeri Syam. “Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku,” yakni menunjukkan kepadaku jalan yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi urusan agama dan duniaku. Dalam ayat lain beliau berkata,وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدْعُوا۟ رَبِّى عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّى شَقِيًّا“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”.” (QS. Maryam: 48) Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang SalehAllah Ta’ala berfirman,رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh. Ketika Ibrahim telah berputus asa dari kaumnya dan tidak melihat kebaikan pada mereka, ia berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak laki-laki yang saleh, yang dapat memberi manfaat dalam kehidupannya dan setelah wafatnya. Kabar Gembira Kelahiran Nabi IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (QS. As-Saffat: 101)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Allah pun mengabulkan doanya dan berfirman, “Lalu Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat penyantun.” Anak tersebut adalah Ismail ‘alaihis salam tanpa keraguan. Setelah itu disebutkan kabar gembira tentang Ishaq. Allah berfirman dalam kabar gembira tentang Ishaq,وَٱمْرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَٰهَا بِإِسْحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسْحَٰقَ يَعْقُوبَ“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub.” (QS. Hud: 71)Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang diperintahkan untuk disembelih. Allah menyifati Ismail dengan sifat halim (penyantun), yang mencakup kesabaran, akhlak yang baik, kelapangan dada, dan sikap memaafkan orang yang berbuat salah. Perintah Menyembelih Ismail dalam MimpiAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.” (QS. As-Saffat: 102)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika anak itu telah mencapai usia yang memungkinkan ia membantu ayahnya dan menjadi usia yang biasanya paling dicintai oleh kedua orang tuanya—karena kesulitannya telah berlalu dan manfaatnya mulai tampak—maka Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” Maksudnya, ia melihat dalam mimpi bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelihnya. Mimpi para nabi adalah wahyu.Kemudian ia berkata, “Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Karena perintah Allah pasti harus dilaksanakan.Ismail menjawab dengan penuh kesabaran, mengharap pahala, ridha kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Ia memberitahukan kepada ayahnya bahwa dirinya telah menyiapkan diri untuk bersabar. Ia juga mengaitkannya dengan kehendak Allah, karena tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa kehendak-Nya.Baca juga: Yang Disembelih adalah Ishak, Bukan Ismail? Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).” (QS. As-Saffat: 103)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika Ibrahim dan putranya Ismail sama-sama berserah diri kepada perintah Allah, Ibrahim telah bertekad menyembelih anaknya—buah hatinya—dalam rangka menaati perintah Tuhannya dan karena takut akan azab-Nya. Sementara sang anak telah menyiapkan diri untuk bersabar, dan hal itu menjadi ringan baginya demi menaati Tuhannya dan menyenangkan ayahnya.“Dan Ibrahim membaringkannya di atas pelipisnya,” yaitu Ibrahim membaringkan Ismail dengan wajah menghadap ke bawah agar ia dapat menyembelihnya, sehingga ia tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. Allah Menghentikan PenyembelihanAllah Ta’ala berfirman,وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ“Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim.” (QS. As-Saffat: 104)قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 105)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Pada saat yang sangat menegangkan dan menggetarkan itu, Allah memanggilnya, “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu,” yaitu engkau telah melakukan apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau telah menyiapkan dirimu untuk melaksanakannya dan telah melakukan semua sebabnya. Yang tersisa hanyalah menjalankan pisau di leher anakmu.“Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,” yaitu mereka yang mendahulukan keridaan Allah daripada keinginan diri mereka. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada AllahAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. As-Saffat: 106)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ujian yang Allah berikan kepada Ibrahim ini adalah ujian yang sangat jelas, yang menampakkan kemurnian dirinya serta kesempurnaan cintanya kepada Allah. Ismail adalah anak yang sangat dicintainya, sedangkan Ibrahim adalah Khalilur Rahman, kekasih Allah. Tingkatan khullah adalah tingkatan cinta yang paling tinggi dan tidak menerima sekutu.Ketika sebagian hatinya terikat kepada anaknya, Allah ingin memurnikan cintanya dan menguji kedudukannya sebagai khalil. Maka Allah memerintahkannya untuk menyembelih sesuatu yang bersaing dengan kecintaannya kepada Allah.Ketika Ibrahim lebih mendahulukan cinta kepada Allah daripada keinginan dirinya dan telah bertekad menyembelih anaknya, maka hilanglah penghalang dalam hatinya. Karena itu penyembelihan tersebut tidak lagi diperlukan. Itulah sebabnya Allah berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” Asal Syariat QurbanAllah Ta’ala berfirman,وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat: 107)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan dari kambing yang besar, yang disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan itu disebut besar karena menjadi tebusan bagi Ismail, karena termasuk ibadah yang agung, dan karena ia menjadi qurban serta sunnah yang terus berlangsung hingga hari kiamat.Baca juga: Ketentuan dan Hikmah Ibadah Qurban Pujian Abadi untuk Nabi IbrahimAllah Ta’ala berfirman,وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْءَاخِرِينَ“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS. As-Saffat: 108)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Artinya, Allah menetapkan bagi Ibrahim pujian yang baik di kalangan generasi setelahnya, sebagaimana ia juga dipuji oleh generasi sebelumnya. Setiap zaman setelah Ibrahim, ia selalu dicintai, dimuliakan, dan dipuji.Allah Ta’ala berfirman,سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ“(yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.” (QS. As-Saffat: 109)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ini adalah bentuk penghormatan dan doa keselamatan untuknya, sebagaimana firman Allah,قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَىٰٓ ۗ ءَآللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ“Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.” (QS. An-Naml: 59) Balasan bagi Orang yang Berbuat IhsanAllah Ta’ala berfirman,كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 110)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, dalam beribadah kepada Allah dan dalam memperlakukan sesama manusia, Allah memberikan balasan kepada mereka dengan menghilangkan kesulitan dari mereka serta menjadikan bagi mereka akhir yang baik dan pujian yang indah.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُؤْمِنِينَ“Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. As-Saffat: 111)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ibrahim termasuk hamba-hamba Allah yang benar-benar beriman terhadap apa yang diperintahkan untuk diimani, hingga imannya mencapai tingkat keyakinan yang tinggi. Sebagaimana firman Allah,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75) Nasihat PenutupKisah ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala cinta lainnya: cinta kepada harta, jabatan, bahkan kepada keluarga. Di zaman sekarang, banyak orang rela melanggar perintah Allah demi menjaga kepentingan dunia, padahal seorang mukmin sejati adalah yang mendahulukan keridaan Allah di atas segala-galanya.Semoga kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ini menumbuhkan keikhlasan, kesabaran, dan ketundukan kita kepada Allah dalam setiap keadaan.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas, sabar dalam ujian, dan kuat dalam menaati perintah-Nya.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِينَ، وَارْزُقْنَا الصَّبْرَ فِي الْبَلَاءِ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang ikhlas, karuniakan kepada kami kesabaran dalam menghadapi ujian, dan tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsibrah kisah nabi kisah kurban dalam al quran kisah nabi dalam al quran kisah Nabi Ibrahim kisah penyembelihan ismail nabi ibrahim dan ismail pelajaran dari nabi ibrahim pelajaran iman nabi ibrahim renungan ayat renungan quran tafsir as-sa'di tafsir surat as saffat

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail: Ujian Cinta kepada Allah yang Menggetarkan Hati

Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika diperintahkan menyembelih putranya, Ismail, adalah salah satu kisah paling agung dalam Al-Qur’an. Kisah ini menunjukkan betapa besar cinta seorang hamba kepada Allah sehingga ia mendahulukan perintah-Nya di atas segalanya. Dari peristiwa ini kita belajar tentang keimanan, ketundukan, kesabaran, dan keikhlasan yang luar biasa.Baca juga: Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail  Daftar Isi tutup 1. Hijrah Nabi Ibrahim karena Tauhid 2. Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang Saleh 3. Kabar Gembira Kelahiran Nabi Ismail 4. Perintah Menyembelih Ismail dalam Mimpi 5. Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran Ismail 6. Allah Menghentikan Penyembelihan 7. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada Allah 8. Asal Syariat Qurban 9. Pujian Abadi untuk Nabi Ibrahim 10. Balasan bagi Orang yang Berbuat Ihsan 11. Nasihat Penutup  Hijrah Nabi Ibrahim karena TauhidAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ“Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. As-Saffat: 99)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya: Ketika mereka melakukan tindakan tersebut terhadapnya, sementara Ibrahim telah menegakkan hujah kepada mereka dan telah menyampaikan alasan yang jelas, maka ia berkata, “Sesungguhnya aku akan pergi menuju Tuhanku,” yaitu berhijrah kepada-Nya dengan menuju negeri yang diberkahi, yaitu negeri Syam. “Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku,” yakni menunjukkan kepadaku jalan yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi urusan agama dan duniaku. Dalam ayat lain beliau berkata,وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدْعُوا۟ رَبِّى عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّى شَقِيًّا“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”.” (QS. Maryam: 48) Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang SalehAllah Ta’ala berfirman,رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh. Ketika Ibrahim telah berputus asa dari kaumnya dan tidak melihat kebaikan pada mereka, ia berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak laki-laki yang saleh, yang dapat memberi manfaat dalam kehidupannya dan setelah wafatnya. Kabar Gembira Kelahiran Nabi IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (QS. As-Saffat: 101)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Allah pun mengabulkan doanya dan berfirman, “Lalu Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat penyantun.” Anak tersebut adalah Ismail ‘alaihis salam tanpa keraguan. Setelah itu disebutkan kabar gembira tentang Ishaq. Allah berfirman dalam kabar gembira tentang Ishaq,وَٱمْرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَٰهَا بِإِسْحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسْحَٰقَ يَعْقُوبَ“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub.” (QS. Hud: 71)Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang diperintahkan untuk disembelih. Allah menyifati Ismail dengan sifat halim (penyantun), yang mencakup kesabaran, akhlak yang baik, kelapangan dada, dan sikap memaafkan orang yang berbuat salah. Perintah Menyembelih Ismail dalam MimpiAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.” (QS. As-Saffat: 102)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika anak itu telah mencapai usia yang memungkinkan ia membantu ayahnya dan menjadi usia yang biasanya paling dicintai oleh kedua orang tuanya—karena kesulitannya telah berlalu dan manfaatnya mulai tampak—maka Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” Maksudnya, ia melihat dalam mimpi bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelihnya. Mimpi para nabi adalah wahyu.Kemudian ia berkata, “Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Karena perintah Allah pasti harus dilaksanakan.Ismail menjawab dengan penuh kesabaran, mengharap pahala, ridha kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Ia memberitahukan kepada ayahnya bahwa dirinya telah menyiapkan diri untuk bersabar. Ia juga mengaitkannya dengan kehendak Allah, karena tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa kehendak-Nya.Baca juga: Yang Disembelih adalah Ishak, Bukan Ismail? Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).” (QS. As-Saffat: 103)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika Ibrahim dan putranya Ismail sama-sama berserah diri kepada perintah Allah, Ibrahim telah bertekad menyembelih anaknya—buah hatinya—dalam rangka menaati perintah Tuhannya dan karena takut akan azab-Nya. Sementara sang anak telah menyiapkan diri untuk bersabar, dan hal itu menjadi ringan baginya demi menaati Tuhannya dan menyenangkan ayahnya.“Dan Ibrahim membaringkannya di atas pelipisnya,” yaitu Ibrahim membaringkan Ismail dengan wajah menghadap ke bawah agar ia dapat menyembelihnya, sehingga ia tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. Allah Menghentikan PenyembelihanAllah Ta’ala berfirman,وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ“Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim.” (QS. As-Saffat: 104)قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 105)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Pada saat yang sangat menegangkan dan menggetarkan itu, Allah memanggilnya, “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu,” yaitu engkau telah melakukan apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau telah menyiapkan dirimu untuk melaksanakannya dan telah melakukan semua sebabnya. Yang tersisa hanyalah menjalankan pisau di leher anakmu.“Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,” yaitu mereka yang mendahulukan keridaan Allah daripada keinginan diri mereka. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada AllahAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. As-Saffat: 106)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ujian yang Allah berikan kepada Ibrahim ini adalah ujian yang sangat jelas, yang menampakkan kemurnian dirinya serta kesempurnaan cintanya kepada Allah. Ismail adalah anak yang sangat dicintainya, sedangkan Ibrahim adalah Khalilur Rahman, kekasih Allah. Tingkatan khullah adalah tingkatan cinta yang paling tinggi dan tidak menerima sekutu.Ketika sebagian hatinya terikat kepada anaknya, Allah ingin memurnikan cintanya dan menguji kedudukannya sebagai khalil. Maka Allah memerintahkannya untuk menyembelih sesuatu yang bersaing dengan kecintaannya kepada Allah.Ketika Ibrahim lebih mendahulukan cinta kepada Allah daripada keinginan dirinya dan telah bertekad menyembelih anaknya, maka hilanglah penghalang dalam hatinya. Karena itu penyembelihan tersebut tidak lagi diperlukan. Itulah sebabnya Allah berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” Asal Syariat QurbanAllah Ta’ala berfirman,وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat: 107)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan dari kambing yang besar, yang disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan itu disebut besar karena menjadi tebusan bagi Ismail, karena termasuk ibadah yang agung, dan karena ia menjadi qurban serta sunnah yang terus berlangsung hingga hari kiamat.Baca juga: Ketentuan dan Hikmah Ibadah Qurban Pujian Abadi untuk Nabi IbrahimAllah Ta’ala berfirman,وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْءَاخِرِينَ“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS. As-Saffat: 108)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Artinya, Allah menetapkan bagi Ibrahim pujian yang baik di kalangan generasi setelahnya, sebagaimana ia juga dipuji oleh generasi sebelumnya. Setiap zaman setelah Ibrahim, ia selalu dicintai, dimuliakan, dan dipuji.Allah Ta’ala berfirman,سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ“(yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.” (QS. As-Saffat: 109)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ini adalah bentuk penghormatan dan doa keselamatan untuknya, sebagaimana firman Allah,قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَىٰٓ ۗ ءَآللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ“Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.” (QS. An-Naml: 59) Balasan bagi Orang yang Berbuat IhsanAllah Ta’ala berfirman,كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 110)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, dalam beribadah kepada Allah dan dalam memperlakukan sesama manusia, Allah memberikan balasan kepada mereka dengan menghilangkan kesulitan dari mereka serta menjadikan bagi mereka akhir yang baik dan pujian yang indah.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُؤْمِنِينَ“Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. As-Saffat: 111)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ibrahim termasuk hamba-hamba Allah yang benar-benar beriman terhadap apa yang diperintahkan untuk diimani, hingga imannya mencapai tingkat keyakinan yang tinggi. Sebagaimana firman Allah,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75) Nasihat PenutupKisah ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala cinta lainnya: cinta kepada harta, jabatan, bahkan kepada keluarga. Di zaman sekarang, banyak orang rela melanggar perintah Allah demi menjaga kepentingan dunia, padahal seorang mukmin sejati adalah yang mendahulukan keridaan Allah di atas segala-galanya.Semoga kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ini menumbuhkan keikhlasan, kesabaran, dan ketundukan kita kepada Allah dalam setiap keadaan.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas, sabar dalam ujian, dan kuat dalam menaati perintah-Nya.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِينَ، وَارْزُقْنَا الصَّبْرَ فِي الْبَلَاءِ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang ikhlas, karuniakan kepada kami kesabaran dalam menghadapi ujian, dan tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsibrah kisah nabi kisah kurban dalam al quran kisah nabi dalam al quran kisah Nabi Ibrahim kisah penyembelihan ismail nabi ibrahim dan ismail pelajaran dari nabi ibrahim pelajaran iman nabi ibrahim renungan ayat renungan quran tafsir as-sa'di tafsir surat as saffat
Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika diperintahkan menyembelih putranya, Ismail, adalah salah satu kisah paling agung dalam Al-Qur’an. Kisah ini menunjukkan betapa besar cinta seorang hamba kepada Allah sehingga ia mendahulukan perintah-Nya di atas segalanya. Dari peristiwa ini kita belajar tentang keimanan, ketundukan, kesabaran, dan keikhlasan yang luar biasa.Baca juga: Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail  Daftar Isi tutup 1. Hijrah Nabi Ibrahim karena Tauhid 2. Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang Saleh 3. Kabar Gembira Kelahiran Nabi Ismail 4. Perintah Menyembelih Ismail dalam Mimpi 5. Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran Ismail 6. Allah Menghentikan Penyembelihan 7. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada Allah 8. Asal Syariat Qurban 9. Pujian Abadi untuk Nabi Ibrahim 10. Balasan bagi Orang yang Berbuat Ihsan 11. Nasihat Penutup  Hijrah Nabi Ibrahim karena TauhidAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ“Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. As-Saffat: 99)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya: Ketika mereka melakukan tindakan tersebut terhadapnya, sementara Ibrahim telah menegakkan hujah kepada mereka dan telah menyampaikan alasan yang jelas, maka ia berkata, “Sesungguhnya aku akan pergi menuju Tuhanku,” yaitu berhijrah kepada-Nya dengan menuju negeri yang diberkahi, yaitu negeri Syam. “Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku,” yakni menunjukkan kepadaku jalan yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi urusan agama dan duniaku. Dalam ayat lain beliau berkata,وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدْعُوا۟ رَبِّى عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّى شَقِيًّا“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”.” (QS. Maryam: 48) Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang SalehAllah Ta’ala berfirman,رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh. Ketika Ibrahim telah berputus asa dari kaumnya dan tidak melihat kebaikan pada mereka, ia berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak laki-laki yang saleh, yang dapat memberi manfaat dalam kehidupannya dan setelah wafatnya. Kabar Gembira Kelahiran Nabi IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (QS. As-Saffat: 101)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Allah pun mengabulkan doanya dan berfirman, “Lalu Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat penyantun.” Anak tersebut adalah Ismail ‘alaihis salam tanpa keraguan. Setelah itu disebutkan kabar gembira tentang Ishaq. Allah berfirman dalam kabar gembira tentang Ishaq,وَٱمْرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَٰهَا بِإِسْحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسْحَٰقَ يَعْقُوبَ“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub.” (QS. Hud: 71)Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang diperintahkan untuk disembelih. Allah menyifati Ismail dengan sifat halim (penyantun), yang mencakup kesabaran, akhlak yang baik, kelapangan dada, dan sikap memaafkan orang yang berbuat salah. Perintah Menyembelih Ismail dalam MimpiAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.” (QS. As-Saffat: 102)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika anak itu telah mencapai usia yang memungkinkan ia membantu ayahnya dan menjadi usia yang biasanya paling dicintai oleh kedua orang tuanya—karena kesulitannya telah berlalu dan manfaatnya mulai tampak—maka Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” Maksudnya, ia melihat dalam mimpi bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelihnya. Mimpi para nabi adalah wahyu.Kemudian ia berkata, “Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Karena perintah Allah pasti harus dilaksanakan.Ismail menjawab dengan penuh kesabaran, mengharap pahala, ridha kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Ia memberitahukan kepada ayahnya bahwa dirinya telah menyiapkan diri untuk bersabar. Ia juga mengaitkannya dengan kehendak Allah, karena tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa kehendak-Nya.Baca juga: Yang Disembelih adalah Ishak, Bukan Ismail? Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).” (QS. As-Saffat: 103)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika Ibrahim dan putranya Ismail sama-sama berserah diri kepada perintah Allah, Ibrahim telah bertekad menyembelih anaknya—buah hatinya—dalam rangka menaati perintah Tuhannya dan karena takut akan azab-Nya. Sementara sang anak telah menyiapkan diri untuk bersabar, dan hal itu menjadi ringan baginya demi menaati Tuhannya dan menyenangkan ayahnya.“Dan Ibrahim membaringkannya di atas pelipisnya,” yaitu Ibrahim membaringkan Ismail dengan wajah menghadap ke bawah agar ia dapat menyembelihnya, sehingga ia tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. Allah Menghentikan PenyembelihanAllah Ta’ala berfirman,وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ“Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim.” (QS. As-Saffat: 104)قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 105)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Pada saat yang sangat menegangkan dan menggetarkan itu, Allah memanggilnya, “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu,” yaitu engkau telah melakukan apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau telah menyiapkan dirimu untuk melaksanakannya dan telah melakukan semua sebabnya. Yang tersisa hanyalah menjalankan pisau di leher anakmu.“Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,” yaitu mereka yang mendahulukan keridaan Allah daripada keinginan diri mereka. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada AllahAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. As-Saffat: 106)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ujian yang Allah berikan kepada Ibrahim ini adalah ujian yang sangat jelas, yang menampakkan kemurnian dirinya serta kesempurnaan cintanya kepada Allah. Ismail adalah anak yang sangat dicintainya, sedangkan Ibrahim adalah Khalilur Rahman, kekasih Allah. Tingkatan khullah adalah tingkatan cinta yang paling tinggi dan tidak menerima sekutu.Ketika sebagian hatinya terikat kepada anaknya, Allah ingin memurnikan cintanya dan menguji kedudukannya sebagai khalil. Maka Allah memerintahkannya untuk menyembelih sesuatu yang bersaing dengan kecintaannya kepada Allah.Ketika Ibrahim lebih mendahulukan cinta kepada Allah daripada keinginan dirinya dan telah bertekad menyembelih anaknya, maka hilanglah penghalang dalam hatinya. Karena itu penyembelihan tersebut tidak lagi diperlukan. Itulah sebabnya Allah berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” Asal Syariat QurbanAllah Ta’ala berfirman,وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat: 107)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan dari kambing yang besar, yang disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan itu disebut besar karena menjadi tebusan bagi Ismail, karena termasuk ibadah yang agung, dan karena ia menjadi qurban serta sunnah yang terus berlangsung hingga hari kiamat.Baca juga: Ketentuan dan Hikmah Ibadah Qurban Pujian Abadi untuk Nabi IbrahimAllah Ta’ala berfirman,وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْءَاخِرِينَ“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS. As-Saffat: 108)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Artinya, Allah menetapkan bagi Ibrahim pujian yang baik di kalangan generasi setelahnya, sebagaimana ia juga dipuji oleh generasi sebelumnya. Setiap zaman setelah Ibrahim, ia selalu dicintai, dimuliakan, dan dipuji.Allah Ta’ala berfirman,سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ“(yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.” (QS. As-Saffat: 109)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ini adalah bentuk penghormatan dan doa keselamatan untuknya, sebagaimana firman Allah,قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَىٰٓ ۗ ءَآللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ“Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.” (QS. An-Naml: 59) Balasan bagi Orang yang Berbuat IhsanAllah Ta’ala berfirman,كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 110)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, dalam beribadah kepada Allah dan dalam memperlakukan sesama manusia, Allah memberikan balasan kepada mereka dengan menghilangkan kesulitan dari mereka serta menjadikan bagi mereka akhir yang baik dan pujian yang indah.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُؤْمِنِينَ“Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. As-Saffat: 111)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ibrahim termasuk hamba-hamba Allah yang benar-benar beriman terhadap apa yang diperintahkan untuk diimani, hingga imannya mencapai tingkat keyakinan yang tinggi. Sebagaimana firman Allah,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75) Nasihat PenutupKisah ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala cinta lainnya: cinta kepada harta, jabatan, bahkan kepada keluarga. Di zaman sekarang, banyak orang rela melanggar perintah Allah demi menjaga kepentingan dunia, padahal seorang mukmin sejati adalah yang mendahulukan keridaan Allah di atas segala-galanya.Semoga kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ini menumbuhkan keikhlasan, kesabaran, dan ketundukan kita kepada Allah dalam setiap keadaan.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas, sabar dalam ujian, dan kuat dalam menaati perintah-Nya.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِينَ، وَارْزُقْنَا الصَّبْرَ فِي الْبَلَاءِ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang ikhlas, karuniakan kepada kami kesabaran dalam menghadapi ujian, dan tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsibrah kisah nabi kisah kurban dalam al quran kisah nabi dalam al quran kisah Nabi Ibrahim kisah penyembelihan ismail nabi ibrahim dan ismail pelajaran dari nabi ibrahim pelajaran iman nabi ibrahim renungan ayat renungan quran tafsir as-sa'di tafsir surat as saffat


Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika diperintahkan menyembelih putranya, Ismail, adalah salah satu kisah paling agung dalam Al-Qur’an. Kisah ini menunjukkan betapa besar cinta seorang hamba kepada Allah sehingga ia mendahulukan perintah-Nya di atas segalanya. Dari peristiwa ini kita belajar tentang keimanan, ketundukan, kesabaran, dan keikhlasan yang luar biasa.Baca juga: Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail  Daftar Isi tutup 1. Hijrah Nabi Ibrahim karena Tauhid 2. Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang Saleh 3. Kabar Gembira Kelahiran Nabi Ismail 4. Perintah Menyembelih Ismail dalam Mimpi 5. Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran Ismail 6. Allah Menghentikan Penyembelihan 7. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada Allah 8. Asal Syariat Qurban 9. Pujian Abadi untuk Nabi Ibrahim 10. Balasan bagi Orang yang Berbuat Ihsan 11. Nasihat Penutup  Hijrah Nabi Ibrahim karena TauhidAllah Ta’ala berfirman,وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ“Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. As-Saffat: 99)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya: Ketika mereka melakukan tindakan tersebut terhadapnya, sementara Ibrahim telah menegakkan hujah kepada mereka dan telah menyampaikan alasan yang jelas, maka ia berkata, “Sesungguhnya aku akan pergi menuju Tuhanku,” yaitu berhijrah kepada-Nya dengan menuju negeri yang diberkahi, yaitu negeri Syam. “Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku,” yakni menunjukkan kepadaku jalan yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi urusan agama dan duniaku. Dalam ayat lain beliau berkata,وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدْعُوا۟ رَبِّى عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّى شَقِيًّا“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”.” (QS. Maryam: 48) Doa Nabi Ibrahim Meminta Anak yang SalehAllah Ta’ala berfirman,رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh. Ketika Ibrahim telah berputus asa dari kaumnya dan tidak melihat kebaikan pada mereka, ia berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak laki-laki yang saleh, yang dapat memberi manfaat dalam kehidupannya dan setelah wafatnya. Kabar Gembira Kelahiran Nabi IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (QS. As-Saffat: 101)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Allah pun mengabulkan doanya dan berfirman, “Lalu Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat penyantun.” Anak tersebut adalah Ismail ‘alaihis salam tanpa keraguan. Setelah itu disebutkan kabar gembira tentang Ishaq. Allah berfirman dalam kabar gembira tentang Ishaq,وَٱمْرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَٰهَا بِإِسْحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسْحَٰقَ يَعْقُوبَ“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub.” (QS. Hud: 71)Ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah anak yang diperintahkan untuk disembelih. Allah menyifati Ismail dengan sifat halim (penyantun), yang mencakup kesabaran, akhlak yang baik, kelapangan dada, dan sikap memaafkan orang yang berbuat salah. Perintah Menyembelih Ismail dalam MimpiAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.” (QS. As-Saffat: 102)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika anak itu telah mencapai usia yang memungkinkan ia membantu ayahnya dan menjadi usia yang biasanya paling dicintai oleh kedua orang tuanya—karena kesulitannya telah berlalu dan manfaatnya mulai tampak—maka Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” Maksudnya, ia melihat dalam mimpi bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelihnya. Mimpi para nabi adalah wahyu.Kemudian ia berkata, “Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Karena perintah Allah pasti harus dilaksanakan.Ismail menjawab dengan penuh kesabaran, mengharap pahala, ridha kepada Tuhannya, dan berbakti kepada ayahnya, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Ia memberitahukan kepada ayahnya bahwa dirinya telah menyiapkan diri untuk bersabar. Ia juga mengaitkannya dengan kehendak Allah, karena tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa kehendak-Nya.Baca juga: Yang Disembelih adalah Ishak, Bukan Ismail? Ketundukan Ibrahim dan Kesabaran IsmailAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).” (QS. As-Saffat: 103)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ketika Ibrahim dan putranya Ismail sama-sama berserah diri kepada perintah Allah, Ibrahim telah bertekad menyembelih anaknya—buah hatinya—dalam rangka menaati perintah Tuhannya dan karena takut akan azab-Nya. Sementara sang anak telah menyiapkan diri untuk bersabar, dan hal itu menjadi ringan baginya demi menaati Tuhannya dan menyenangkan ayahnya.“Dan Ibrahim membaringkannya di atas pelipisnya,” yaitu Ibrahim membaringkan Ismail dengan wajah menghadap ke bawah agar ia dapat menyembelihnya, sehingga ia tidak melihat wajah anaknya saat penyembelihan. Allah Menghentikan PenyembelihanAllah Ta’ala berfirman,وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ“Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim.” (QS. As-Saffat: 104)قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 105)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Pada saat yang sangat menegangkan dan menggetarkan itu, Allah memanggilnya, “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu,” yaitu engkau telah melakukan apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau telah menyiapkan dirimu untuk melaksanakannya dan telah melakukan semua sebabnya. Yang tersisa hanyalah menjalankan pisau di leher anakmu.“Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,” yaitu mereka yang mendahulukan keridaan Allah daripada keinginan diri mereka. Ujian Besar yang Mengungkap Cinta kepada AllahAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. As-Saffat: 106)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ujian yang Allah berikan kepada Ibrahim ini adalah ujian yang sangat jelas, yang menampakkan kemurnian dirinya serta kesempurnaan cintanya kepada Allah. Ismail adalah anak yang sangat dicintainya, sedangkan Ibrahim adalah Khalilur Rahman, kekasih Allah. Tingkatan khullah adalah tingkatan cinta yang paling tinggi dan tidak menerima sekutu.Ketika sebagian hatinya terikat kepada anaknya, Allah ingin memurnikan cintanya dan menguji kedudukannya sebagai khalil. Maka Allah memerintahkannya untuk menyembelih sesuatu yang bersaing dengan kecintaannya kepada Allah.Ketika Ibrahim lebih mendahulukan cinta kepada Allah daripada keinginan dirinya dan telah bertekad menyembelih anaknya, maka hilanglah penghalang dalam hatinya. Karena itu penyembelihan tersebut tidak lagi diperlukan. Itulah sebabnya Allah berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” Asal Syariat QurbanAllah Ta’ala berfirman,وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat: 107)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan dari kambing yang besar, yang disembelih oleh Ibrahim. Sembelihan itu disebut besar karena menjadi tebusan bagi Ismail, karena termasuk ibadah yang agung, dan karena ia menjadi qurban serta sunnah yang terus berlangsung hingga hari kiamat.Baca juga: Ketentuan dan Hikmah Ibadah Qurban Pujian Abadi untuk Nabi IbrahimAllah Ta’ala berfirman,وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْءَاخِرِينَ“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS. As-Saffat: 108)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Artinya, Allah menetapkan bagi Ibrahim pujian yang baik di kalangan generasi setelahnya, sebagaimana ia juga dipuji oleh generasi sebelumnya. Setiap zaman setelah Ibrahim, ia selalu dicintai, dimuliakan, dan dipuji.Allah Ta’ala berfirman,سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ“(yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.” (QS. As-Saffat: 109)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ini adalah bentuk penghormatan dan doa keselamatan untuknya, sebagaimana firman Allah,قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَىٰٓ ۗ ءَآللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ“Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.” (QS. An-Naml: 59) Balasan bagi Orang yang Berbuat IhsanAllah Ta’ala berfirman,كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 110)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Maksudnya, dalam beribadah kepada Allah dan dalam memperlakukan sesama manusia, Allah memberikan balasan kepada mereka dengan menghilangkan kesulitan dari mereka serta menjadikan bagi mereka akhir yang baik dan pujian yang indah.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُؤْمِنِينَ“Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. As-Saffat: 111)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya:Ibrahim termasuk hamba-hamba Allah yang benar-benar beriman terhadap apa yang diperintahkan untuk diimani, hingga imannya mencapai tingkat keyakinan yang tinggi. Sebagaimana firman Allah,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75) Nasihat PenutupKisah ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala cinta lainnya: cinta kepada harta, jabatan, bahkan kepada keluarga. Di zaman sekarang, banyak orang rela melanggar perintah Allah demi menjaga kepentingan dunia, padahal seorang mukmin sejati adalah yang mendahulukan keridaan Allah di atas segala-galanya.Semoga kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ini menumbuhkan keikhlasan, kesabaran, dan ketundukan kita kepada Allah dalam setiap keadaan.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas, sabar dalam ujian, dan kuat dalam menaati perintah-Nya.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِينَ، وَارْزُقْنَا الصَّبْرَ فِي الْبَلَاءِ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang ikhlas, karuniakan kepada kami kesabaran dalam menghadapi ujian, dan tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Malam Sabtu, 25 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsibrah kisah nabi kisah kurban dalam al quran kisah nabi dalam al quran kisah Nabi Ibrahim kisah penyembelihan ismail nabi ibrahim dan ismail pelajaran dari nabi ibrahim pelajaran iman nabi ibrahim renungan ayat renungan quran tafsir as-sa'di tafsir surat as saffat

Ngeri! Satu Golongan Orang yang Didoakan Celaka oleh Jibril di Bulan Ramadan

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam yang paling sempurna bagi Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta. Juga bagi keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudari sekalian! Sungguh ada seruan agung yang dikumandangkan sejak malam pertama bulan Ramadan hingga malam terakhir di bulan Ramadan. Ada penyeru dari langit yang berseru: “Wahai pencari kebaikan, sambutlah!” “Wahai pencari keburukan, berhentilah!” Wahai pencari kebaikan! Wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi diri sendiri, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi keluarga, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi masyarakat Anda, sambutlah! Inilah bulan kebaikan. Inilah bulan yang penuh dengan kebaikan. Inilah bulan yang penuh keberkahan. Jika Anda tidak mendekat di bulan ini, lalu kapan lagi? Jika Anda berpaling di bulan ini, lalu kapan lagi Anda akan berjalan menuju Tuhan Anda? Sambutlah seruan ini! Dan wahai pencari keburukan, berhentilah! Sebab, Anda sedang dibantu untuk melawan hawa nafsu, dan dibantu melawan godaan setan. Maka tinggalkanlah keburukan, dan bulatkanlah tekad untuk menjauhinya. Serta bertawakallah kepada Tuhan Anda! Demi Allah, inilah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan! Sungguh pada bulan ini, seorang hamba mendapat pertolongan untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan amal-amal kebaikan. Seorang hamba juga mendapatkan pertolongan untuk meninggalkan kemaksiatan. Oleh sebab itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menaiki mimbar, saat beliau menaiki anak tangga pertama, beliau mengucapkan “Amin”. Saat menaiki anak tangga kedua, beliau juga mengucapkan “Amin”. Dan saat menaiki anak tangga ketiga, beliau kembali mengucapkan “Amin”. Setelah turun dari mimbar, beliau bersabda kepada para sahabat—semoga ayah, ibu, dan seluruh manusia menjadi tebusan baginya: Para sahabat radhiyallahu ‘anhum lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Beliau menjawab: “Sungguh malaikat Jibril mendatangiku tadi, lalu ia berkata: ‘Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni. Katakanlah: Amin!’ Maka aku pun mengucapkan: ‘Amiin.'” Allahu Akbar! Sungguh merugi orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni dosa-dosanya. Mengapa ia sampai merugi sejauh itu? Sebab di bulan Ramadan, seseorang dibantu untuk berbuat baik, dan dibantu pula untuk menjauhi keburukan. Dan dua hal ini termasuk sebab terbesar untuk meraih ampunan. Maka ketika seseorang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak mengerjakan ketaatan kepada Allah, serta tidak berhenti dari melakukan kemaksiatan kepada-Nya, sehingga ia tidak mendapatkan ampunan, maka sungguh merugilah ia. Siapa yang mendoakan? Jibril ‘alaihissalam. Siapa yang mengaminkan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malaikat terbaik yang mendoakan, dan Rasul terbaik yang mengaminkan. Allahu Akbar! Betapa agungnya peristiwa tersebut! Maka sepatutnya Anda merenungkan hal ini, wahai saudaraku, dan Anda renungkan ini, wahai saudariku! Mengapa doa ini dipanjatkan? Karena alasan yang telah kami jelaskan tadi. Bahwa Ramadan adalah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan, sehingga kita harus bersungguh-sungguh untuk mengarahkan diri kita menuju ketaatan kepada Allah. Wahai pencari kebaikan, sambutlah! Serta cegahlah diri kita dari melakukan kemaksiatan kepada Allah. Wahai pencari keburukan, berhentilah! Semoga Allah mengaruniakan kita semua kemudahan dalam beramal ketaatan, serta menjaga kita dari buruknya kemaksiatan. Serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Dan hanya Allah Ta’ala yang Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita. ===== الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ عَلَى الْمَبْعُوثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ فَمَعَاشِرَ الْإِخْوَةِ وَالْأَخَوَاتِ إِنَّ نِدَاءً عَظِيمًا يُنَادَى بِهِ مِنْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ إِلَى آخِرِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ يُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِنَفْسِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِأَهْلِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِمُجْتَمَعِكَ أَقْبِلْ فَهَذَا شَهْرُ الْخَيْرِ هَذَا شَهْرُ الْخَيْرَاتِ هَذَا شَهْرُ الْبَرَكَاتِ إِنْ لَمْ تُقْبِلْ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تُقْبِلُ إِنْ أَعْرَضْتَ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تَسِيرُ إِلَى رَبِّكَ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ فَإِنَّكَ تُعَانُ عَلَى نَفْسِكَ وَتُعَانُ عَلَى الشَّيَاطِينِ فَاتْرُكِ الشَّرَّ وَاعْزِمْ عَلَى تَرْكِهِ وَتَوَكَّلْ عَلَى رَبِّكَ فَهَذَا شَهْرُ الْإِعَانَةِ وَاللَّهِ إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ يُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَعَلَى الْخَيْرَاتِ وَيُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَلِذَلِكَ لَمَّا رَقَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمِنْبَرَ فَلَمَّا صَعَدَ الدَّرَجَةَ الْأُولَى قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّانِيَةَ قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّالِثَةَ فَقَالَ آمِينَ فَلَمَّا نَزَلَ فِدَاهُ أَبِي وَأُمِّي وَالنَّاسُ أَجْمَعِينَ قَالَ لَهُ الصَّحَابَةُ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا فَقَالَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَرَضَ لِي آنِفًا فَقَالَ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ قُلْ آمِينَ فَقُلْتُ آمِينَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ لِمَاذَا بَعُدَ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ فِي رَمَضَانَ يُعَانُ عَلَى الْخَيْرِ وَيُعَانُ عَلَى تَرْكِ الشَّرِّ وَهَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْمَغْفِرَةِ فَإِذَا أَدْرَكَ الْإِنْسَانُ رَمَضَانَ وَلَمْ يُقْبِلْ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَلَمْ يَنْتَهِ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ بَعُدَ مَنِ الَّذِي دَعَا؟ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَمَنِ الَّذِي أَمَّنَ؟ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْمَلَائِكَةِ دَعَا وَأَفْضَلُ الرُّسُلِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ أَمَّنَ اللَّهُ أَكْبَرُ مَا أَعْظَمَهُ مِنْ مَقَامٍ يَنْبَغِي أَنْ تَتَفَكَّرَ يَا أَخِي وَأَنْ تَتَفَكَّرِي يَا أُخْتِي لِمَا كَانَ هَذَا الدُّعَاءُ لِمَا ذَكَرْنَاهُ أَنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ هُوَ شَهْرُ الْإِعَانَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ نَجْتَهِدَ فِي قَوْدِ أَنْفُسِنَا إِلَى طَاعَةِ اللَّهِ فَيَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَمَنْعِ أَنْفُسِنَا عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ رَزَقَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمُ الطَّاعَاتِ وَكَفَانِي وَإِيَّاكُمْ شَرَّ الْمَعَاصِي وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ

Ngeri! Satu Golongan Orang yang Didoakan Celaka oleh Jibril di Bulan Ramadan

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam yang paling sempurna bagi Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta. Juga bagi keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudari sekalian! Sungguh ada seruan agung yang dikumandangkan sejak malam pertama bulan Ramadan hingga malam terakhir di bulan Ramadan. Ada penyeru dari langit yang berseru: “Wahai pencari kebaikan, sambutlah!” “Wahai pencari keburukan, berhentilah!” Wahai pencari kebaikan! Wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi diri sendiri, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi keluarga, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi masyarakat Anda, sambutlah! Inilah bulan kebaikan. Inilah bulan yang penuh dengan kebaikan. Inilah bulan yang penuh keberkahan. Jika Anda tidak mendekat di bulan ini, lalu kapan lagi? Jika Anda berpaling di bulan ini, lalu kapan lagi Anda akan berjalan menuju Tuhan Anda? Sambutlah seruan ini! Dan wahai pencari keburukan, berhentilah! Sebab, Anda sedang dibantu untuk melawan hawa nafsu, dan dibantu melawan godaan setan. Maka tinggalkanlah keburukan, dan bulatkanlah tekad untuk menjauhinya. Serta bertawakallah kepada Tuhan Anda! Demi Allah, inilah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan! Sungguh pada bulan ini, seorang hamba mendapat pertolongan untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan amal-amal kebaikan. Seorang hamba juga mendapatkan pertolongan untuk meninggalkan kemaksiatan. Oleh sebab itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menaiki mimbar, saat beliau menaiki anak tangga pertama, beliau mengucapkan “Amin”. Saat menaiki anak tangga kedua, beliau juga mengucapkan “Amin”. Dan saat menaiki anak tangga ketiga, beliau kembali mengucapkan “Amin”. Setelah turun dari mimbar, beliau bersabda kepada para sahabat—semoga ayah, ibu, dan seluruh manusia menjadi tebusan baginya: Para sahabat radhiyallahu ‘anhum lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Beliau menjawab: “Sungguh malaikat Jibril mendatangiku tadi, lalu ia berkata: ‘Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni. Katakanlah: Amin!’ Maka aku pun mengucapkan: ‘Amiin.'” Allahu Akbar! Sungguh merugi orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni dosa-dosanya. Mengapa ia sampai merugi sejauh itu? Sebab di bulan Ramadan, seseorang dibantu untuk berbuat baik, dan dibantu pula untuk menjauhi keburukan. Dan dua hal ini termasuk sebab terbesar untuk meraih ampunan. Maka ketika seseorang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak mengerjakan ketaatan kepada Allah, serta tidak berhenti dari melakukan kemaksiatan kepada-Nya, sehingga ia tidak mendapatkan ampunan, maka sungguh merugilah ia. Siapa yang mendoakan? Jibril ‘alaihissalam. Siapa yang mengaminkan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malaikat terbaik yang mendoakan, dan Rasul terbaik yang mengaminkan. Allahu Akbar! Betapa agungnya peristiwa tersebut! Maka sepatutnya Anda merenungkan hal ini, wahai saudaraku, dan Anda renungkan ini, wahai saudariku! Mengapa doa ini dipanjatkan? Karena alasan yang telah kami jelaskan tadi. Bahwa Ramadan adalah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan, sehingga kita harus bersungguh-sungguh untuk mengarahkan diri kita menuju ketaatan kepada Allah. Wahai pencari kebaikan, sambutlah! Serta cegahlah diri kita dari melakukan kemaksiatan kepada Allah. Wahai pencari keburukan, berhentilah! Semoga Allah mengaruniakan kita semua kemudahan dalam beramal ketaatan, serta menjaga kita dari buruknya kemaksiatan. Serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Dan hanya Allah Ta’ala yang Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita. ===== الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ عَلَى الْمَبْعُوثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ فَمَعَاشِرَ الْإِخْوَةِ وَالْأَخَوَاتِ إِنَّ نِدَاءً عَظِيمًا يُنَادَى بِهِ مِنْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ إِلَى آخِرِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ يُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِنَفْسِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِأَهْلِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِمُجْتَمَعِكَ أَقْبِلْ فَهَذَا شَهْرُ الْخَيْرِ هَذَا شَهْرُ الْخَيْرَاتِ هَذَا شَهْرُ الْبَرَكَاتِ إِنْ لَمْ تُقْبِلْ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تُقْبِلُ إِنْ أَعْرَضْتَ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تَسِيرُ إِلَى رَبِّكَ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ فَإِنَّكَ تُعَانُ عَلَى نَفْسِكَ وَتُعَانُ عَلَى الشَّيَاطِينِ فَاتْرُكِ الشَّرَّ وَاعْزِمْ عَلَى تَرْكِهِ وَتَوَكَّلْ عَلَى رَبِّكَ فَهَذَا شَهْرُ الْإِعَانَةِ وَاللَّهِ إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ يُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَعَلَى الْخَيْرَاتِ وَيُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَلِذَلِكَ لَمَّا رَقَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمِنْبَرَ فَلَمَّا صَعَدَ الدَّرَجَةَ الْأُولَى قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّانِيَةَ قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّالِثَةَ فَقَالَ آمِينَ فَلَمَّا نَزَلَ فِدَاهُ أَبِي وَأُمِّي وَالنَّاسُ أَجْمَعِينَ قَالَ لَهُ الصَّحَابَةُ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا فَقَالَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَرَضَ لِي آنِفًا فَقَالَ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ قُلْ آمِينَ فَقُلْتُ آمِينَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ لِمَاذَا بَعُدَ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ فِي رَمَضَانَ يُعَانُ عَلَى الْخَيْرِ وَيُعَانُ عَلَى تَرْكِ الشَّرِّ وَهَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْمَغْفِرَةِ فَإِذَا أَدْرَكَ الْإِنْسَانُ رَمَضَانَ وَلَمْ يُقْبِلْ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَلَمْ يَنْتَهِ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ بَعُدَ مَنِ الَّذِي دَعَا؟ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَمَنِ الَّذِي أَمَّنَ؟ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْمَلَائِكَةِ دَعَا وَأَفْضَلُ الرُّسُلِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ أَمَّنَ اللَّهُ أَكْبَرُ مَا أَعْظَمَهُ مِنْ مَقَامٍ يَنْبَغِي أَنْ تَتَفَكَّرَ يَا أَخِي وَأَنْ تَتَفَكَّرِي يَا أُخْتِي لِمَا كَانَ هَذَا الدُّعَاءُ لِمَا ذَكَرْنَاهُ أَنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ هُوَ شَهْرُ الْإِعَانَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ نَجْتَهِدَ فِي قَوْدِ أَنْفُسِنَا إِلَى طَاعَةِ اللَّهِ فَيَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَمَنْعِ أَنْفُسِنَا عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ رَزَقَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمُ الطَّاعَاتِ وَكَفَانِي وَإِيَّاكُمْ شَرَّ الْمَعَاصِي وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam yang paling sempurna bagi Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta. Juga bagi keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudari sekalian! Sungguh ada seruan agung yang dikumandangkan sejak malam pertama bulan Ramadan hingga malam terakhir di bulan Ramadan. Ada penyeru dari langit yang berseru: “Wahai pencari kebaikan, sambutlah!” “Wahai pencari keburukan, berhentilah!” Wahai pencari kebaikan! Wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi diri sendiri, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi keluarga, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi masyarakat Anda, sambutlah! Inilah bulan kebaikan. Inilah bulan yang penuh dengan kebaikan. Inilah bulan yang penuh keberkahan. Jika Anda tidak mendekat di bulan ini, lalu kapan lagi? Jika Anda berpaling di bulan ini, lalu kapan lagi Anda akan berjalan menuju Tuhan Anda? Sambutlah seruan ini! Dan wahai pencari keburukan, berhentilah! Sebab, Anda sedang dibantu untuk melawan hawa nafsu, dan dibantu melawan godaan setan. Maka tinggalkanlah keburukan, dan bulatkanlah tekad untuk menjauhinya. Serta bertawakallah kepada Tuhan Anda! Demi Allah, inilah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan! Sungguh pada bulan ini, seorang hamba mendapat pertolongan untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan amal-amal kebaikan. Seorang hamba juga mendapatkan pertolongan untuk meninggalkan kemaksiatan. Oleh sebab itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menaiki mimbar, saat beliau menaiki anak tangga pertama, beliau mengucapkan “Amin”. Saat menaiki anak tangga kedua, beliau juga mengucapkan “Amin”. Dan saat menaiki anak tangga ketiga, beliau kembali mengucapkan “Amin”. Setelah turun dari mimbar, beliau bersabda kepada para sahabat—semoga ayah, ibu, dan seluruh manusia menjadi tebusan baginya: Para sahabat radhiyallahu ‘anhum lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Beliau menjawab: “Sungguh malaikat Jibril mendatangiku tadi, lalu ia berkata: ‘Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni. Katakanlah: Amin!’ Maka aku pun mengucapkan: ‘Amiin.'” Allahu Akbar! Sungguh merugi orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni dosa-dosanya. Mengapa ia sampai merugi sejauh itu? Sebab di bulan Ramadan, seseorang dibantu untuk berbuat baik, dan dibantu pula untuk menjauhi keburukan. Dan dua hal ini termasuk sebab terbesar untuk meraih ampunan. Maka ketika seseorang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak mengerjakan ketaatan kepada Allah, serta tidak berhenti dari melakukan kemaksiatan kepada-Nya, sehingga ia tidak mendapatkan ampunan, maka sungguh merugilah ia. Siapa yang mendoakan? Jibril ‘alaihissalam. Siapa yang mengaminkan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malaikat terbaik yang mendoakan, dan Rasul terbaik yang mengaminkan. Allahu Akbar! Betapa agungnya peristiwa tersebut! Maka sepatutnya Anda merenungkan hal ini, wahai saudaraku, dan Anda renungkan ini, wahai saudariku! Mengapa doa ini dipanjatkan? Karena alasan yang telah kami jelaskan tadi. Bahwa Ramadan adalah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan, sehingga kita harus bersungguh-sungguh untuk mengarahkan diri kita menuju ketaatan kepada Allah. Wahai pencari kebaikan, sambutlah! Serta cegahlah diri kita dari melakukan kemaksiatan kepada Allah. Wahai pencari keburukan, berhentilah! Semoga Allah mengaruniakan kita semua kemudahan dalam beramal ketaatan, serta menjaga kita dari buruknya kemaksiatan. Serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Dan hanya Allah Ta’ala yang Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita. ===== الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ عَلَى الْمَبْعُوثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ فَمَعَاشِرَ الْإِخْوَةِ وَالْأَخَوَاتِ إِنَّ نِدَاءً عَظِيمًا يُنَادَى بِهِ مِنْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ إِلَى آخِرِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ يُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِنَفْسِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِأَهْلِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِمُجْتَمَعِكَ أَقْبِلْ فَهَذَا شَهْرُ الْخَيْرِ هَذَا شَهْرُ الْخَيْرَاتِ هَذَا شَهْرُ الْبَرَكَاتِ إِنْ لَمْ تُقْبِلْ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تُقْبِلُ إِنْ أَعْرَضْتَ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تَسِيرُ إِلَى رَبِّكَ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ فَإِنَّكَ تُعَانُ عَلَى نَفْسِكَ وَتُعَانُ عَلَى الشَّيَاطِينِ فَاتْرُكِ الشَّرَّ وَاعْزِمْ عَلَى تَرْكِهِ وَتَوَكَّلْ عَلَى رَبِّكَ فَهَذَا شَهْرُ الْإِعَانَةِ وَاللَّهِ إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ يُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَعَلَى الْخَيْرَاتِ وَيُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَلِذَلِكَ لَمَّا رَقَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمِنْبَرَ فَلَمَّا صَعَدَ الدَّرَجَةَ الْأُولَى قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّانِيَةَ قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّالِثَةَ فَقَالَ آمِينَ فَلَمَّا نَزَلَ فِدَاهُ أَبِي وَأُمِّي وَالنَّاسُ أَجْمَعِينَ قَالَ لَهُ الصَّحَابَةُ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا فَقَالَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَرَضَ لِي آنِفًا فَقَالَ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ قُلْ آمِينَ فَقُلْتُ آمِينَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ لِمَاذَا بَعُدَ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ فِي رَمَضَانَ يُعَانُ عَلَى الْخَيْرِ وَيُعَانُ عَلَى تَرْكِ الشَّرِّ وَهَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْمَغْفِرَةِ فَإِذَا أَدْرَكَ الْإِنْسَانُ رَمَضَانَ وَلَمْ يُقْبِلْ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَلَمْ يَنْتَهِ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ بَعُدَ مَنِ الَّذِي دَعَا؟ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَمَنِ الَّذِي أَمَّنَ؟ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْمَلَائِكَةِ دَعَا وَأَفْضَلُ الرُّسُلِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ أَمَّنَ اللَّهُ أَكْبَرُ مَا أَعْظَمَهُ مِنْ مَقَامٍ يَنْبَغِي أَنْ تَتَفَكَّرَ يَا أَخِي وَأَنْ تَتَفَكَّرِي يَا أُخْتِي لِمَا كَانَ هَذَا الدُّعَاءُ لِمَا ذَكَرْنَاهُ أَنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ هُوَ شَهْرُ الْإِعَانَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ نَجْتَهِدَ فِي قَوْدِ أَنْفُسِنَا إِلَى طَاعَةِ اللَّهِ فَيَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَمَنْعِ أَنْفُسِنَا عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ رَزَقَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمُ الطَّاعَاتِ وَكَفَانِي وَإِيَّاكُمْ شَرَّ الْمَعَاصِي وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ


Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam yang paling sempurna bagi Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta. Juga bagi keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudari sekalian! Sungguh ada seruan agung yang dikumandangkan sejak malam pertama bulan Ramadan hingga malam terakhir di bulan Ramadan. Ada penyeru dari langit yang berseru: “Wahai pencari kebaikan, sambutlah!” “Wahai pencari keburukan, berhentilah!” Wahai pencari kebaikan! Wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi diri sendiri, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi keluarga, wahai Anda yang menginginkan kebaikan bagi masyarakat Anda, sambutlah! Inilah bulan kebaikan. Inilah bulan yang penuh dengan kebaikan. Inilah bulan yang penuh keberkahan. Jika Anda tidak mendekat di bulan ini, lalu kapan lagi? Jika Anda berpaling di bulan ini, lalu kapan lagi Anda akan berjalan menuju Tuhan Anda? Sambutlah seruan ini! Dan wahai pencari keburukan, berhentilah! Sebab, Anda sedang dibantu untuk melawan hawa nafsu, dan dibantu melawan godaan setan. Maka tinggalkanlah keburukan, dan bulatkanlah tekad untuk menjauhinya. Serta bertawakallah kepada Tuhan Anda! Demi Allah, inilah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan! Sungguh pada bulan ini, seorang hamba mendapat pertolongan untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan amal-amal kebaikan. Seorang hamba juga mendapatkan pertolongan untuk meninggalkan kemaksiatan. Oleh sebab itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menaiki mimbar, saat beliau menaiki anak tangga pertama, beliau mengucapkan “Amin”. Saat menaiki anak tangga kedua, beliau juga mengucapkan “Amin”. Dan saat menaiki anak tangga ketiga, beliau kembali mengucapkan “Amin”. Setelah turun dari mimbar, beliau bersabda kepada para sahabat—semoga ayah, ibu, dan seluruh manusia menjadi tebusan baginya: Para sahabat radhiyallahu ‘anhum lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Beliau menjawab: “Sungguh malaikat Jibril mendatangiku tadi, lalu ia berkata: ‘Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni. Katakanlah: Amin!’ Maka aku pun mengucapkan: ‘Amiin.'” Allahu Akbar! Sungguh merugi orang yang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak diampuni dosa-dosanya. Mengapa ia sampai merugi sejauh itu? Sebab di bulan Ramadan, seseorang dibantu untuk berbuat baik, dan dibantu pula untuk menjauhi keburukan. Dan dua hal ini termasuk sebab terbesar untuk meraih ampunan. Maka ketika seseorang mendapati bulan Ramadan, tapi ia tidak mengerjakan ketaatan kepada Allah, serta tidak berhenti dari melakukan kemaksiatan kepada-Nya, sehingga ia tidak mendapatkan ampunan, maka sungguh merugilah ia. Siapa yang mendoakan? Jibril ‘alaihissalam. Siapa yang mengaminkan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malaikat terbaik yang mendoakan, dan Rasul terbaik yang mengaminkan. Allahu Akbar! Betapa agungnya peristiwa tersebut! Maka sepatutnya Anda merenungkan hal ini, wahai saudaraku, dan Anda renungkan ini, wahai saudariku! Mengapa doa ini dipanjatkan? Karena alasan yang telah kami jelaskan tadi. Bahwa Ramadan adalah bulan di mana kita mendapatkan pertolongan, sehingga kita harus bersungguh-sungguh untuk mengarahkan diri kita menuju ketaatan kepada Allah. Wahai pencari kebaikan, sambutlah! Serta cegahlah diri kita dari melakukan kemaksiatan kepada Allah. Wahai pencari keburukan, berhentilah! Semoga Allah mengaruniakan kita semua kemudahan dalam beramal ketaatan, serta menjaga kita dari buruknya kemaksiatan. Serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Dan hanya Allah Ta’ala yang Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita. ===== الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ عَلَى الْمَبْعُوثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ فَمَعَاشِرَ الْإِخْوَةِ وَالْأَخَوَاتِ إِنَّ نِدَاءً عَظِيمًا يُنَادَى بِهِ مِنْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ إِلَى آخِرِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ يُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِنَفْسِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِأَهْلِكَ يَا مَنْ تُرِيدُ الْخَيْرَ لِمُجْتَمَعِكَ أَقْبِلْ فَهَذَا شَهْرُ الْخَيْرِ هَذَا شَهْرُ الْخَيْرَاتِ هَذَا شَهْرُ الْبَرَكَاتِ إِنْ لَمْ تُقْبِلْ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تُقْبِلُ إِنْ أَعْرَضْتَ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَمَتَى تَسِيرُ إِلَى رَبِّكَ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ فَإِنَّكَ تُعَانُ عَلَى نَفْسِكَ وَتُعَانُ عَلَى الشَّيَاطِينِ فَاتْرُكِ الشَّرَّ وَاعْزِمْ عَلَى تَرْكِهِ وَتَوَكَّلْ عَلَى رَبِّكَ فَهَذَا شَهْرُ الْإِعَانَةِ وَاللَّهِ إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ يُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَعَلَى الْخَيْرَاتِ وَيُعَانُ فِيهِ الْعَبْدُ عَلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَلِذَلِكَ لَمَّا رَقَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمِنْبَرَ فَلَمَّا صَعَدَ الدَّرَجَةَ الْأُولَى قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّانِيَةَ قَالَ آمِينَ فَلَمَّا صَعَدَ الثَّالِثَةَ فَقَالَ آمِينَ فَلَمَّا نَزَلَ فِدَاهُ أَبِي وَأُمِّي وَالنَّاسُ أَجْمَعِينَ قَالَ لَهُ الصَّحَابَةُ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا قَدْ فَعَلْتَ شَيْئًا فَقَالَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَرَضَ لِي آنِفًا فَقَالَ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ قُلْ آمِينَ فَقُلْتُ آمِينَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ لِمَاذَا بَعُدَ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ فِي رَمَضَانَ يُعَانُ عَلَى الْخَيْرِ وَيُعَانُ عَلَى تَرْكِ الشَّرِّ وَهَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْمَغْفِرَةِ فَإِذَا أَدْرَكَ الْإِنْسَانُ رَمَضَانَ وَلَمْ يُقْبِلْ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَلَمْ يَنْتَهِ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ بَعُدَ مَنِ الَّذِي دَعَا؟ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَمَنِ الَّذِي أَمَّنَ؟ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْمَلَائِكَةِ دَعَا وَأَفْضَلُ الرُّسُلِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ أَمَّنَ اللَّهُ أَكْبَرُ مَا أَعْظَمَهُ مِنْ مَقَامٍ يَنْبَغِي أَنْ تَتَفَكَّرَ يَا أَخِي وَأَنْ تَتَفَكَّرِي يَا أُخْتِي لِمَا كَانَ هَذَا الدُّعَاءُ لِمَا ذَكَرْنَاهُ أَنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ هُوَ شَهْرُ الْإِعَانَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ نَجْتَهِدَ فِي قَوْدِ أَنْفُسِنَا إِلَى طَاعَةِ اللَّهِ فَيَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَمَنْعِ أَنْفُسِنَا عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ رَزَقَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمُ الطَّاعَاتِ وَكَفَانِي وَإِيَّاكُمْ شَرَّ الْمَعَاصِي وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ

Bagaimana Cara Menentukan Malam Lailatul Qadar?

Daftar Isi ToggleMulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanBagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Tanda malam lailatul qadarApa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Perbincangan tentang kapan terjadinya lailatul qadar selalu menjadi bahan obrolan panas di setiap Ramadan. Ada sebagian yang melakukan penelitian tertentu dengan melihat tanda alam, ada yang menghitung tanggal berdasarkan riwayat salaf, atau bahkan mengaku melihat malaikat Jibril turun kepadanya memberitahukan malam itu lailatul qadar. Ini semua adalah fenomena yang terjadi di masyarakat. Hal ini tidak sekadar meramaikan suasana Ramadan, tetapi bisa berkonsekuensi kepada akidah seorang muslim.Oleh karena itu, penentuan lailatul qadar menjadi penting bagi kaum muslimin. Bukan hanya sekadar motivasi untuk meningkatkan amal, tetapi tentang bagaimana seorang muslim hendaknya berinteraksi dengan perkara gaib. Selain itu, terdapat faidah adab berinteraksi dengan ayat dan riwayat.Mulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanTerdapat banyak pendapat dari kalangan ulama salaf mengenai kapan terjadinya lailatul qadar. Dalam Lathaiful Maarif, Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beragam riwayat bahwasanya para ulama terdahulu mulai mencari lailatul qadar dari paruh kedua bulan Ramadan. Artinya, dari malam ke-15 sudah ada dari kalangan para sahabat yang memfokuskan diri meningkatkan amalan malam Ramadannya. Di antaranya adalah Ubay bin Kaab mendasari perbuatannya melakukan qunut di witir pada paruh kedua Ramadan karena berharap datangnya lailatul qadar. Ibnu Rajab rahimahullah menilai ini didasarkan pada hadis,رأيتُها ونسِيتُها ، فتحَرَّها في النِّصْف الأواخر“Aku mengetahuinya, lalu melupakan kapannya, jadi carilah dia di separuh terakhir Ramadan.” (HR. Thabrani, sebagian nukilan matan-nya didapatkan pula pada riwayat Muslim)Namun, setelah perintah ini, Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk mencari di malam ke-23.Salah satu pendapat kuat di luar 10 malam terakhir adalah malam ke-17 Ramadan, karena banyak dikaitkan dengan peristiwa besar di sejarah Islam. Kejadian besar yang terjadi di malam ke-17 adalah peristiwa perang Badr yang menjadi momentum kemenangan kaum muslimin atas kaum kuffar Quraisy.Juga terdapat atsar dari Ibnu Mas’ud yang dinilai marfu’ oleh Ibnu Rajab, tetapi dilemahkan sebagian ulama,اطْلُبُوها ليلةَ سبْعَ عشْرَةَ مِن رَمَضانَ، وليلةَ إحدَى وعشرين، وليلَةَ ثلاثٍ وعشرين“Aku mencarinya pada malam ke-17 Ramadan, malam ke-21, dan malam ke-23.” (HR. Abu Dawud no. 1384, dinilai hasan. Al-Mundziri memberikan komentar pada perawinya, yakni Hakim bin Saif, sebagai tokoh yang diperbincangkan)Namun, semua riwayat ini lemah. Akan tetapi, ada sebagian riwayat yang menyebutkan para salaf melakukannya. Apakah ini bertentangan? Jawabannya tidak. Lantas bagaimana cara menyikapinya?Baca juga: Kapan Malam Lailatul Qadar Tahun Ini?Bagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Simaklah keterangan Ibnu Rajab rahimahullah berikut,وأيضًا فكُلُّ زمانٍ فاضلٍ من ليلٍ أو نهارٍ، فإنّ آخِرَه أفضَلُ من أوَّلِه، كيومِ عَرَفَةَ، ويوم الجُمُعة. وكذلك اللَّيلُ والنَّهار عمومًا؛ آخِرُهُ أفضَلُ من أوَّلهِ. ولذلكَ كانت الصلاةُ الوسطى صلاةَ العَصْر، كما دلَّت الأحاديثُ الصَّحيحةُ عليه، وآثارُ السَّلفِ الكثيرة تدُلُّ عليه. وكذلك عشْرُ ذي الحجة والمحرم؛ آخِرُهُما أفضَلُ من أوَّلهما“Alasan lainnya adalah setiap waktu itu utama, baik siang atau malam. Sedang bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya, misalnya hari Arafah dan hari Jumat. Begitu pula di seluruh waktu malam maupun siang secara umum, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya. Oleh karena itu, salat pertengahan atau salat wushtha itu adalah salat Asar berdasarkan hadis-hadis sahih yang ada dan atsar-atsar dari para salaf. Begitu juga sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dan Muharam, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya.” (Lathaiful Maarif, hal. 176)Artinya, perbuatan para ulama terdahulu ini dalam konteks semakin mendekati akhir, mereka semakin meningkatkan tarikan gas amal. Inilah pesan yang ingin kami sampaikan. Bukan menekankan kepada amalan berbasis hadis lemah, tetapi bagaimana kultur yang terbentuk di kalangan salaf terdahulu dalam mencari lailatul qadar.Nabi ﷺ pun melakukan iktikaf dan mengejar malam semenjak paruh kedua Ramadan. Namun, dalam riwayat yang sahih, dijelaskan Nabi ﷺ memerintahkan untuk mencari di 10 malam terakhir. Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa riwayat ini semua menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ belum mendapatkan isyarat bahwa lailatul qadar hadir di 10 malam terakhir. Ketika sudah mendapatkan wahyu tersebut, maka Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk meningkatkan amal di 10 malam terakhir.Dan berbagai riwayat yang menyebutkan Nabi ﷺ tidak tidur di 10 malam terakhir pun tak lepas dari kritik sanad. Sehingga yang ingin kita tekankan adalah bagaimana suasana mengejar malam kemuliaan itu dibangun. Kritik yang mengenai riwayat-riwayat ini tidak melemahkan pesannya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amal di paruh akhir.Sebab, yang terefleksikan dari perbuatan penduduk Madinah misalnya, mereka mengencangkan semangat beramalnya sejak 17 Ramadan, sebagaimana dinukilkan oleh Imam Ahmad rahimahullah. Begitupula ada sebagian yang mengkhususkan mencari di malam tersebut, di antara penduduk Mekah dan Madinah. Begitupula pendapat Qadhi Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani yang menilai bahwa lailatul qadar dicari di paruh kedua Ramadan tanpa ditentukan pastinya di hari ke berapa.Semuanya menyimpulkan bahwa pesan kuncinya adalah bersemangat mengejar lailatul qadar sedini mungkin.Namun, jika artikel ini hanya berhenti sampai sini, maka ini akan mengecewakan para pembaca yang menuntut jawaban dari pertanyaan pada judul tersebut. Oleh karena itu, kita akan membahas bagaimana para salaf terdahulu merekam tanda-tanda lailatul qadar.Tanda malam lailatul qadarTerdapat beberapa qarinah (indikasi) yang menunjukkan terjadinya lailatul qadar pada malam yang memiliki ciri-ciri atau rumus-rumus ini. Tujuannya bukan memastikan, tetapi menghimpun ciri-ciri yang dilihat oleh para salaf terdahulu pada lailatul qadar. Perbuatan ini mengejawantahkan ciri yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Quran.سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ“Keselamatan terjadi sampai akhir terbitnya fajar.” (QS. Al-Qadr: 5)Tanda-tanda tersebut berupa riwayat yang sahih datang dari Nabi ﷺ berkaitan waktu, dan juga suasana yang terjadi. Terdapat pula riwayat pengalaman dan pengamatan para salaf setelah zaman Nabi ﷺ.1) Udara terasa sejuk, tenang, dan cerah. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda,ليلة لقدر ليلة سمحة, طلقةو لا حارة, ولا باردة, تصبح الشمس صبيحتها ضعيفة حمراء“[Malam] lailatul qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR. At-Thayalisy no. 349, Ibnu Khuzaimah 3: 231, Bazzar 1: 486, dan dihasankan oleh Syekh Ali Hasan Al-Halabi)2) Matahari pada pagi harinya jernih dan tidak ada sinar yang menyilaukan. Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,صبيحة ليلة لقدر تطلع الشمس لا شعاع لها كأنها طست حتى ترتفع“Pagi hari malam lailatul qadar, matahari terbit tidak ada sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR. Muslim no. 762)3) Ada rasa ketenangan dan kelezatan dalam beribadah karena Jibril ‘alaihissalam dan para malaikat turun pada malam tersebut. Allah ﷻ berfirman,تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا“Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril.” (QS. Al Qadar: 4).Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Banyak malaikat yang akan turun pada lailatul qadar karena banyaknya berkah pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat.”Dari semua tanda di atas, kita tidak mengetahui dengan pasti kapan malam lailatul qadar terjadi. Semuanya hanyalah tanda yang tidak bisa kita pastikan. Inilah jawaban akhirnya: tidak ada cara menentukan malam lailatul qadar secara pasti.Namun, tentunya ada hikmah dari perbuatan Allah ﷻ menjadikan lailatul qadar sebagai rahasia bagi hamba-Nya.Apa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Hikmahnya adalah agar kita sapu bersih setiap malam di bulan Ramadan. Hanya saja isyarat-isyarat ini akan mendorong kita untuk menentukan momentum menekan gas amal kita mulai kapan. Praktik Nabi ﷺ dan para sahabat yang mulia adalah demikian, mereka tidak membeda-bedakan secara ekstrem hari-hari mulia di bulan Ramadan. Sebagaimana prinsip yang dikemas oleh Ibnu Rajab rahimahullah,“Hari-hari di Ramadan sama mulianya dengan malam Ramadan. Dan semakin mendekati ujung suatu momentum, maka semakin istimewa.”Jadilah kita hamba Allah ﷻ yang menyembah-Nya kapan saja dan karena alasan Dialah Zat yang berhak disembah. Bukan karena sekadar hari istimewa. Hari-hari istimewa adalah kemurahan Allah ﷻ untuk memotivasi kita lebih semangat beramal. Dan tentu, sangat mudah bagi akal kita menerima fakta bahwa: pelari yang berlatih 30 hari akan lebih berhak meraih podium juara dibandingkan orang biasa yang baru berlari di momen perlombaan tersebut.Pilihan ada di tangan Anda: menjadi pelari yang terlatih atau menjadi orang biasa yang baru mencoba berlari di hari perlombaan?Baca juga: Untung Besar di Malam Lailatul Qadar***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Seluruh catatan ini mengacu kepada kitab Lathaiful Maarif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dengan muhaqqiq Asy-Syaikh Yasin Muhammad As-Sawas. Umumnya penilaian hadis ini berdasarkan catatan muhaqqiq.

Bagaimana Cara Menentukan Malam Lailatul Qadar?

Daftar Isi ToggleMulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanBagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Tanda malam lailatul qadarApa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Perbincangan tentang kapan terjadinya lailatul qadar selalu menjadi bahan obrolan panas di setiap Ramadan. Ada sebagian yang melakukan penelitian tertentu dengan melihat tanda alam, ada yang menghitung tanggal berdasarkan riwayat salaf, atau bahkan mengaku melihat malaikat Jibril turun kepadanya memberitahukan malam itu lailatul qadar. Ini semua adalah fenomena yang terjadi di masyarakat. Hal ini tidak sekadar meramaikan suasana Ramadan, tetapi bisa berkonsekuensi kepada akidah seorang muslim.Oleh karena itu, penentuan lailatul qadar menjadi penting bagi kaum muslimin. Bukan hanya sekadar motivasi untuk meningkatkan amal, tetapi tentang bagaimana seorang muslim hendaknya berinteraksi dengan perkara gaib. Selain itu, terdapat faidah adab berinteraksi dengan ayat dan riwayat.Mulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanTerdapat banyak pendapat dari kalangan ulama salaf mengenai kapan terjadinya lailatul qadar. Dalam Lathaiful Maarif, Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beragam riwayat bahwasanya para ulama terdahulu mulai mencari lailatul qadar dari paruh kedua bulan Ramadan. Artinya, dari malam ke-15 sudah ada dari kalangan para sahabat yang memfokuskan diri meningkatkan amalan malam Ramadannya. Di antaranya adalah Ubay bin Kaab mendasari perbuatannya melakukan qunut di witir pada paruh kedua Ramadan karena berharap datangnya lailatul qadar. Ibnu Rajab rahimahullah menilai ini didasarkan pada hadis,رأيتُها ونسِيتُها ، فتحَرَّها في النِّصْف الأواخر“Aku mengetahuinya, lalu melupakan kapannya, jadi carilah dia di separuh terakhir Ramadan.” (HR. Thabrani, sebagian nukilan matan-nya didapatkan pula pada riwayat Muslim)Namun, setelah perintah ini, Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk mencari di malam ke-23.Salah satu pendapat kuat di luar 10 malam terakhir adalah malam ke-17 Ramadan, karena banyak dikaitkan dengan peristiwa besar di sejarah Islam. Kejadian besar yang terjadi di malam ke-17 adalah peristiwa perang Badr yang menjadi momentum kemenangan kaum muslimin atas kaum kuffar Quraisy.Juga terdapat atsar dari Ibnu Mas’ud yang dinilai marfu’ oleh Ibnu Rajab, tetapi dilemahkan sebagian ulama,اطْلُبُوها ليلةَ سبْعَ عشْرَةَ مِن رَمَضانَ، وليلةَ إحدَى وعشرين، وليلَةَ ثلاثٍ وعشرين“Aku mencarinya pada malam ke-17 Ramadan, malam ke-21, dan malam ke-23.” (HR. Abu Dawud no. 1384, dinilai hasan. Al-Mundziri memberikan komentar pada perawinya, yakni Hakim bin Saif, sebagai tokoh yang diperbincangkan)Namun, semua riwayat ini lemah. Akan tetapi, ada sebagian riwayat yang menyebutkan para salaf melakukannya. Apakah ini bertentangan? Jawabannya tidak. Lantas bagaimana cara menyikapinya?Baca juga: Kapan Malam Lailatul Qadar Tahun Ini?Bagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Simaklah keterangan Ibnu Rajab rahimahullah berikut,وأيضًا فكُلُّ زمانٍ فاضلٍ من ليلٍ أو نهارٍ، فإنّ آخِرَه أفضَلُ من أوَّلِه، كيومِ عَرَفَةَ، ويوم الجُمُعة. وكذلك اللَّيلُ والنَّهار عمومًا؛ آخِرُهُ أفضَلُ من أوَّلهِ. ولذلكَ كانت الصلاةُ الوسطى صلاةَ العَصْر، كما دلَّت الأحاديثُ الصَّحيحةُ عليه، وآثارُ السَّلفِ الكثيرة تدُلُّ عليه. وكذلك عشْرُ ذي الحجة والمحرم؛ آخِرُهُما أفضَلُ من أوَّلهما“Alasan lainnya adalah setiap waktu itu utama, baik siang atau malam. Sedang bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya, misalnya hari Arafah dan hari Jumat. Begitu pula di seluruh waktu malam maupun siang secara umum, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya. Oleh karena itu, salat pertengahan atau salat wushtha itu adalah salat Asar berdasarkan hadis-hadis sahih yang ada dan atsar-atsar dari para salaf. Begitu juga sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dan Muharam, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya.” (Lathaiful Maarif, hal. 176)Artinya, perbuatan para ulama terdahulu ini dalam konteks semakin mendekati akhir, mereka semakin meningkatkan tarikan gas amal. Inilah pesan yang ingin kami sampaikan. Bukan menekankan kepada amalan berbasis hadis lemah, tetapi bagaimana kultur yang terbentuk di kalangan salaf terdahulu dalam mencari lailatul qadar.Nabi ﷺ pun melakukan iktikaf dan mengejar malam semenjak paruh kedua Ramadan. Namun, dalam riwayat yang sahih, dijelaskan Nabi ﷺ memerintahkan untuk mencari di 10 malam terakhir. Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa riwayat ini semua menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ belum mendapatkan isyarat bahwa lailatul qadar hadir di 10 malam terakhir. Ketika sudah mendapatkan wahyu tersebut, maka Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk meningkatkan amal di 10 malam terakhir.Dan berbagai riwayat yang menyebutkan Nabi ﷺ tidak tidur di 10 malam terakhir pun tak lepas dari kritik sanad. Sehingga yang ingin kita tekankan adalah bagaimana suasana mengejar malam kemuliaan itu dibangun. Kritik yang mengenai riwayat-riwayat ini tidak melemahkan pesannya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amal di paruh akhir.Sebab, yang terefleksikan dari perbuatan penduduk Madinah misalnya, mereka mengencangkan semangat beramalnya sejak 17 Ramadan, sebagaimana dinukilkan oleh Imam Ahmad rahimahullah. Begitupula ada sebagian yang mengkhususkan mencari di malam tersebut, di antara penduduk Mekah dan Madinah. Begitupula pendapat Qadhi Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani yang menilai bahwa lailatul qadar dicari di paruh kedua Ramadan tanpa ditentukan pastinya di hari ke berapa.Semuanya menyimpulkan bahwa pesan kuncinya adalah bersemangat mengejar lailatul qadar sedini mungkin.Namun, jika artikel ini hanya berhenti sampai sini, maka ini akan mengecewakan para pembaca yang menuntut jawaban dari pertanyaan pada judul tersebut. Oleh karena itu, kita akan membahas bagaimana para salaf terdahulu merekam tanda-tanda lailatul qadar.Tanda malam lailatul qadarTerdapat beberapa qarinah (indikasi) yang menunjukkan terjadinya lailatul qadar pada malam yang memiliki ciri-ciri atau rumus-rumus ini. Tujuannya bukan memastikan, tetapi menghimpun ciri-ciri yang dilihat oleh para salaf terdahulu pada lailatul qadar. Perbuatan ini mengejawantahkan ciri yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Quran.سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ“Keselamatan terjadi sampai akhir terbitnya fajar.” (QS. Al-Qadr: 5)Tanda-tanda tersebut berupa riwayat yang sahih datang dari Nabi ﷺ berkaitan waktu, dan juga suasana yang terjadi. Terdapat pula riwayat pengalaman dan pengamatan para salaf setelah zaman Nabi ﷺ.1) Udara terasa sejuk, tenang, dan cerah. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda,ليلة لقدر ليلة سمحة, طلقةو لا حارة, ولا باردة, تصبح الشمس صبيحتها ضعيفة حمراء“[Malam] lailatul qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR. At-Thayalisy no. 349, Ibnu Khuzaimah 3: 231, Bazzar 1: 486, dan dihasankan oleh Syekh Ali Hasan Al-Halabi)2) Matahari pada pagi harinya jernih dan tidak ada sinar yang menyilaukan. Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,صبيحة ليلة لقدر تطلع الشمس لا شعاع لها كأنها طست حتى ترتفع“Pagi hari malam lailatul qadar, matahari terbit tidak ada sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR. Muslim no. 762)3) Ada rasa ketenangan dan kelezatan dalam beribadah karena Jibril ‘alaihissalam dan para malaikat turun pada malam tersebut. Allah ﷻ berfirman,تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا“Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril.” (QS. Al Qadar: 4).Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Banyak malaikat yang akan turun pada lailatul qadar karena banyaknya berkah pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat.”Dari semua tanda di atas, kita tidak mengetahui dengan pasti kapan malam lailatul qadar terjadi. Semuanya hanyalah tanda yang tidak bisa kita pastikan. Inilah jawaban akhirnya: tidak ada cara menentukan malam lailatul qadar secara pasti.Namun, tentunya ada hikmah dari perbuatan Allah ﷻ menjadikan lailatul qadar sebagai rahasia bagi hamba-Nya.Apa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Hikmahnya adalah agar kita sapu bersih setiap malam di bulan Ramadan. Hanya saja isyarat-isyarat ini akan mendorong kita untuk menentukan momentum menekan gas amal kita mulai kapan. Praktik Nabi ﷺ dan para sahabat yang mulia adalah demikian, mereka tidak membeda-bedakan secara ekstrem hari-hari mulia di bulan Ramadan. Sebagaimana prinsip yang dikemas oleh Ibnu Rajab rahimahullah,“Hari-hari di Ramadan sama mulianya dengan malam Ramadan. Dan semakin mendekati ujung suatu momentum, maka semakin istimewa.”Jadilah kita hamba Allah ﷻ yang menyembah-Nya kapan saja dan karena alasan Dialah Zat yang berhak disembah. Bukan karena sekadar hari istimewa. Hari-hari istimewa adalah kemurahan Allah ﷻ untuk memotivasi kita lebih semangat beramal. Dan tentu, sangat mudah bagi akal kita menerima fakta bahwa: pelari yang berlatih 30 hari akan lebih berhak meraih podium juara dibandingkan orang biasa yang baru berlari di momen perlombaan tersebut.Pilihan ada di tangan Anda: menjadi pelari yang terlatih atau menjadi orang biasa yang baru mencoba berlari di hari perlombaan?Baca juga: Untung Besar di Malam Lailatul Qadar***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Seluruh catatan ini mengacu kepada kitab Lathaiful Maarif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dengan muhaqqiq Asy-Syaikh Yasin Muhammad As-Sawas. Umumnya penilaian hadis ini berdasarkan catatan muhaqqiq.
Daftar Isi ToggleMulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanBagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Tanda malam lailatul qadarApa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Perbincangan tentang kapan terjadinya lailatul qadar selalu menjadi bahan obrolan panas di setiap Ramadan. Ada sebagian yang melakukan penelitian tertentu dengan melihat tanda alam, ada yang menghitung tanggal berdasarkan riwayat salaf, atau bahkan mengaku melihat malaikat Jibril turun kepadanya memberitahukan malam itu lailatul qadar. Ini semua adalah fenomena yang terjadi di masyarakat. Hal ini tidak sekadar meramaikan suasana Ramadan, tetapi bisa berkonsekuensi kepada akidah seorang muslim.Oleh karena itu, penentuan lailatul qadar menjadi penting bagi kaum muslimin. Bukan hanya sekadar motivasi untuk meningkatkan amal, tetapi tentang bagaimana seorang muslim hendaknya berinteraksi dengan perkara gaib. Selain itu, terdapat faidah adab berinteraksi dengan ayat dan riwayat.Mulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanTerdapat banyak pendapat dari kalangan ulama salaf mengenai kapan terjadinya lailatul qadar. Dalam Lathaiful Maarif, Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beragam riwayat bahwasanya para ulama terdahulu mulai mencari lailatul qadar dari paruh kedua bulan Ramadan. Artinya, dari malam ke-15 sudah ada dari kalangan para sahabat yang memfokuskan diri meningkatkan amalan malam Ramadannya. Di antaranya adalah Ubay bin Kaab mendasari perbuatannya melakukan qunut di witir pada paruh kedua Ramadan karena berharap datangnya lailatul qadar. Ibnu Rajab rahimahullah menilai ini didasarkan pada hadis,رأيتُها ونسِيتُها ، فتحَرَّها في النِّصْف الأواخر“Aku mengetahuinya, lalu melupakan kapannya, jadi carilah dia di separuh terakhir Ramadan.” (HR. Thabrani, sebagian nukilan matan-nya didapatkan pula pada riwayat Muslim)Namun, setelah perintah ini, Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk mencari di malam ke-23.Salah satu pendapat kuat di luar 10 malam terakhir adalah malam ke-17 Ramadan, karena banyak dikaitkan dengan peristiwa besar di sejarah Islam. Kejadian besar yang terjadi di malam ke-17 adalah peristiwa perang Badr yang menjadi momentum kemenangan kaum muslimin atas kaum kuffar Quraisy.Juga terdapat atsar dari Ibnu Mas’ud yang dinilai marfu’ oleh Ibnu Rajab, tetapi dilemahkan sebagian ulama,اطْلُبُوها ليلةَ سبْعَ عشْرَةَ مِن رَمَضانَ، وليلةَ إحدَى وعشرين، وليلَةَ ثلاثٍ وعشرين“Aku mencarinya pada malam ke-17 Ramadan, malam ke-21, dan malam ke-23.” (HR. Abu Dawud no. 1384, dinilai hasan. Al-Mundziri memberikan komentar pada perawinya, yakni Hakim bin Saif, sebagai tokoh yang diperbincangkan)Namun, semua riwayat ini lemah. Akan tetapi, ada sebagian riwayat yang menyebutkan para salaf melakukannya. Apakah ini bertentangan? Jawabannya tidak. Lantas bagaimana cara menyikapinya?Baca juga: Kapan Malam Lailatul Qadar Tahun Ini?Bagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Simaklah keterangan Ibnu Rajab rahimahullah berikut,وأيضًا فكُلُّ زمانٍ فاضلٍ من ليلٍ أو نهارٍ، فإنّ آخِرَه أفضَلُ من أوَّلِه، كيومِ عَرَفَةَ، ويوم الجُمُعة. وكذلك اللَّيلُ والنَّهار عمومًا؛ آخِرُهُ أفضَلُ من أوَّلهِ. ولذلكَ كانت الصلاةُ الوسطى صلاةَ العَصْر، كما دلَّت الأحاديثُ الصَّحيحةُ عليه، وآثارُ السَّلفِ الكثيرة تدُلُّ عليه. وكذلك عشْرُ ذي الحجة والمحرم؛ آخِرُهُما أفضَلُ من أوَّلهما“Alasan lainnya adalah setiap waktu itu utama, baik siang atau malam. Sedang bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya, misalnya hari Arafah dan hari Jumat. Begitu pula di seluruh waktu malam maupun siang secara umum, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya. Oleh karena itu, salat pertengahan atau salat wushtha itu adalah salat Asar berdasarkan hadis-hadis sahih yang ada dan atsar-atsar dari para salaf. Begitu juga sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dan Muharam, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya.” (Lathaiful Maarif, hal. 176)Artinya, perbuatan para ulama terdahulu ini dalam konteks semakin mendekati akhir, mereka semakin meningkatkan tarikan gas amal. Inilah pesan yang ingin kami sampaikan. Bukan menekankan kepada amalan berbasis hadis lemah, tetapi bagaimana kultur yang terbentuk di kalangan salaf terdahulu dalam mencari lailatul qadar.Nabi ﷺ pun melakukan iktikaf dan mengejar malam semenjak paruh kedua Ramadan. Namun, dalam riwayat yang sahih, dijelaskan Nabi ﷺ memerintahkan untuk mencari di 10 malam terakhir. Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa riwayat ini semua menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ belum mendapatkan isyarat bahwa lailatul qadar hadir di 10 malam terakhir. Ketika sudah mendapatkan wahyu tersebut, maka Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk meningkatkan amal di 10 malam terakhir.Dan berbagai riwayat yang menyebutkan Nabi ﷺ tidak tidur di 10 malam terakhir pun tak lepas dari kritik sanad. Sehingga yang ingin kita tekankan adalah bagaimana suasana mengejar malam kemuliaan itu dibangun. Kritik yang mengenai riwayat-riwayat ini tidak melemahkan pesannya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amal di paruh akhir.Sebab, yang terefleksikan dari perbuatan penduduk Madinah misalnya, mereka mengencangkan semangat beramalnya sejak 17 Ramadan, sebagaimana dinukilkan oleh Imam Ahmad rahimahullah. Begitupula ada sebagian yang mengkhususkan mencari di malam tersebut, di antara penduduk Mekah dan Madinah. Begitupula pendapat Qadhi Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani yang menilai bahwa lailatul qadar dicari di paruh kedua Ramadan tanpa ditentukan pastinya di hari ke berapa.Semuanya menyimpulkan bahwa pesan kuncinya adalah bersemangat mengejar lailatul qadar sedini mungkin.Namun, jika artikel ini hanya berhenti sampai sini, maka ini akan mengecewakan para pembaca yang menuntut jawaban dari pertanyaan pada judul tersebut. Oleh karena itu, kita akan membahas bagaimana para salaf terdahulu merekam tanda-tanda lailatul qadar.Tanda malam lailatul qadarTerdapat beberapa qarinah (indikasi) yang menunjukkan terjadinya lailatul qadar pada malam yang memiliki ciri-ciri atau rumus-rumus ini. Tujuannya bukan memastikan, tetapi menghimpun ciri-ciri yang dilihat oleh para salaf terdahulu pada lailatul qadar. Perbuatan ini mengejawantahkan ciri yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Quran.سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ“Keselamatan terjadi sampai akhir terbitnya fajar.” (QS. Al-Qadr: 5)Tanda-tanda tersebut berupa riwayat yang sahih datang dari Nabi ﷺ berkaitan waktu, dan juga suasana yang terjadi. Terdapat pula riwayat pengalaman dan pengamatan para salaf setelah zaman Nabi ﷺ.1) Udara terasa sejuk, tenang, dan cerah. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda,ليلة لقدر ليلة سمحة, طلقةو لا حارة, ولا باردة, تصبح الشمس صبيحتها ضعيفة حمراء“[Malam] lailatul qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR. At-Thayalisy no. 349, Ibnu Khuzaimah 3: 231, Bazzar 1: 486, dan dihasankan oleh Syekh Ali Hasan Al-Halabi)2) Matahari pada pagi harinya jernih dan tidak ada sinar yang menyilaukan. Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,صبيحة ليلة لقدر تطلع الشمس لا شعاع لها كأنها طست حتى ترتفع“Pagi hari malam lailatul qadar, matahari terbit tidak ada sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR. Muslim no. 762)3) Ada rasa ketenangan dan kelezatan dalam beribadah karena Jibril ‘alaihissalam dan para malaikat turun pada malam tersebut. Allah ﷻ berfirman,تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا“Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril.” (QS. Al Qadar: 4).Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Banyak malaikat yang akan turun pada lailatul qadar karena banyaknya berkah pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat.”Dari semua tanda di atas, kita tidak mengetahui dengan pasti kapan malam lailatul qadar terjadi. Semuanya hanyalah tanda yang tidak bisa kita pastikan. Inilah jawaban akhirnya: tidak ada cara menentukan malam lailatul qadar secara pasti.Namun, tentunya ada hikmah dari perbuatan Allah ﷻ menjadikan lailatul qadar sebagai rahasia bagi hamba-Nya.Apa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Hikmahnya adalah agar kita sapu bersih setiap malam di bulan Ramadan. Hanya saja isyarat-isyarat ini akan mendorong kita untuk menentukan momentum menekan gas amal kita mulai kapan. Praktik Nabi ﷺ dan para sahabat yang mulia adalah demikian, mereka tidak membeda-bedakan secara ekstrem hari-hari mulia di bulan Ramadan. Sebagaimana prinsip yang dikemas oleh Ibnu Rajab rahimahullah,“Hari-hari di Ramadan sama mulianya dengan malam Ramadan. Dan semakin mendekati ujung suatu momentum, maka semakin istimewa.”Jadilah kita hamba Allah ﷻ yang menyembah-Nya kapan saja dan karena alasan Dialah Zat yang berhak disembah. Bukan karena sekadar hari istimewa. Hari-hari istimewa adalah kemurahan Allah ﷻ untuk memotivasi kita lebih semangat beramal. Dan tentu, sangat mudah bagi akal kita menerima fakta bahwa: pelari yang berlatih 30 hari akan lebih berhak meraih podium juara dibandingkan orang biasa yang baru berlari di momen perlombaan tersebut.Pilihan ada di tangan Anda: menjadi pelari yang terlatih atau menjadi orang biasa yang baru mencoba berlari di hari perlombaan?Baca juga: Untung Besar di Malam Lailatul Qadar***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Seluruh catatan ini mengacu kepada kitab Lathaiful Maarif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dengan muhaqqiq Asy-Syaikh Yasin Muhammad As-Sawas. Umumnya penilaian hadis ini berdasarkan catatan muhaqqiq.


Daftar Isi ToggleMulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanBagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Tanda malam lailatul qadarApa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Perbincangan tentang kapan terjadinya lailatul qadar selalu menjadi bahan obrolan panas di setiap Ramadan. Ada sebagian yang melakukan penelitian tertentu dengan melihat tanda alam, ada yang menghitung tanggal berdasarkan riwayat salaf, atau bahkan mengaku melihat malaikat Jibril turun kepadanya memberitahukan malam itu lailatul qadar. Ini semua adalah fenomena yang terjadi di masyarakat. Hal ini tidak sekadar meramaikan suasana Ramadan, tetapi bisa berkonsekuensi kepada akidah seorang muslim.Oleh karena itu, penentuan lailatul qadar menjadi penting bagi kaum muslimin. Bukan hanya sekadar motivasi untuk meningkatkan amal, tetapi tentang bagaimana seorang muslim hendaknya berinteraksi dengan perkara gaib. Selain itu, terdapat faidah adab berinteraksi dengan ayat dan riwayat.Mulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua RamadanTerdapat banyak pendapat dari kalangan ulama salaf mengenai kapan terjadinya lailatul qadar. Dalam Lathaiful Maarif, Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beragam riwayat bahwasanya para ulama terdahulu mulai mencari lailatul qadar dari paruh kedua bulan Ramadan. Artinya, dari malam ke-15 sudah ada dari kalangan para sahabat yang memfokuskan diri meningkatkan amalan malam Ramadannya. Di antaranya adalah Ubay bin Kaab mendasari perbuatannya melakukan qunut di witir pada paruh kedua Ramadan karena berharap datangnya lailatul qadar. Ibnu Rajab rahimahullah menilai ini didasarkan pada hadis,رأيتُها ونسِيتُها ، فتحَرَّها في النِّصْف الأواخر“Aku mengetahuinya, lalu melupakan kapannya, jadi carilah dia di separuh terakhir Ramadan.” (HR. Thabrani, sebagian nukilan matan-nya didapatkan pula pada riwayat Muslim)Namun, setelah perintah ini, Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk mencari di malam ke-23.Salah satu pendapat kuat di luar 10 malam terakhir adalah malam ke-17 Ramadan, karena banyak dikaitkan dengan peristiwa besar di sejarah Islam. Kejadian besar yang terjadi di malam ke-17 adalah peristiwa perang Badr yang menjadi momentum kemenangan kaum muslimin atas kaum kuffar Quraisy.Juga terdapat atsar dari Ibnu Mas’ud yang dinilai marfu’ oleh Ibnu Rajab, tetapi dilemahkan sebagian ulama,اطْلُبُوها ليلةَ سبْعَ عشْرَةَ مِن رَمَضانَ، وليلةَ إحدَى وعشرين، وليلَةَ ثلاثٍ وعشرين“Aku mencarinya pada malam ke-17 Ramadan, malam ke-21, dan malam ke-23.” (HR. Abu Dawud no. 1384, dinilai hasan. Al-Mundziri memberikan komentar pada perawinya, yakni Hakim bin Saif, sebagai tokoh yang diperbincangkan)Namun, semua riwayat ini lemah. Akan tetapi, ada sebagian riwayat yang menyebutkan para salaf melakukannya. Apakah ini bertentangan? Jawabannya tidak. Lantas bagaimana cara menyikapinya?Baca juga: Kapan Malam Lailatul Qadar Tahun Ini?Bagaimana menyikapi riwayat lemah berkaitan lailatul qadar?Simaklah keterangan Ibnu Rajab rahimahullah berikut,وأيضًا فكُلُّ زمانٍ فاضلٍ من ليلٍ أو نهارٍ، فإنّ آخِرَه أفضَلُ من أوَّلِه، كيومِ عَرَفَةَ، ويوم الجُمُعة. وكذلك اللَّيلُ والنَّهار عمومًا؛ آخِرُهُ أفضَلُ من أوَّلهِ. ولذلكَ كانت الصلاةُ الوسطى صلاةَ العَصْر، كما دلَّت الأحاديثُ الصَّحيحةُ عليه، وآثارُ السَّلفِ الكثيرة تدُلُّ عليه. وكذلك عشْرُ ذي الحجة والمحرم؛ آخِرُهُما أفضَلُ من أوَّلهما“Alasan lainnya adalah setiap waktu itu utama, baik siang atau malam. Sedang bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya, misalnya hari Arafah dan hari Jumat. Begitu pula di seluruh waktu malam maupun siang secara umum, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya. Oleh karena itu, salat pertengahan atau salat wushtha itu adalah salat Asar berdasarkan hadis-hadis sahih yang ada dan atsar-atsar dari para salaf. Begitu juga sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dan Muharam, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya.” (Lathaiful Maarif, hal. 176)Artinya, perbuatan para ulama terdahulu ini dalam konteks semakin mendekati akhir, mereka semakin meningkatkan tarikan gas amal. Inilah pesan yang ingin kami sampaikan. Bukan menekankan kepada amalan berbasis hadis lemah, tetapi bagaimana kultur yang terbentuk di kalangan salaf terdahulu dalam mencari lailatul qadar.Nabi ﷺ pun melakukan iktikaf dan mengejar malam semenjak paruh kedua Ramadan. Namun, dalam riwayat yang sahih, dijelaskan Nabi ﷺ memerintahkan untuk mencari di 10 malam terakhir. Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa riwayat ini semua menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ belum mendapatkan isyarat bahwa lailatul qadar hadir di 10 malam terakhir. Ketika sudah mendapatkan wahyu tersebut, maka Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk meningkatkan amal di 10 malam terakhir.Dan berbagai riwayat yang menyebutkan Nabi ﷺ tidak tidur di 10 malam terakhir pun tak lepas dari kritik sanad. Sehingga yang ingin kita tekankan adalah bagaimana suasana mengejar malam kemuliaan itu dibangun. Kritik yang mengenai riwayat-riwayat ini tidak melemahkan pesannya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amal di paruh akhir.Sebab, yang terefleksikan dari perbuatan penduduk Madinah misalnya, mereka mengencangkan semangat beramalnya sejak 17 Ramadan, sebagaimana dinukilkan oleh Imam Ahmad rahimahullah. Begitupula ada sebagian yang mengkhususkan mencari di malam tersebut, di antara penduduk Mekah dan Madinah. Begitupula pendapat Qadhi Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani yang menilai bahwa lailatul qadar dicari di paruh kedua Ramadan tanpa ditentukan pastinya di hari ke berapa.Semuanya menyimpulkan bahwa pesan kuncinya adalah bersemangat mengejar lailatul qadar sedini mungkin.Namun, jika artikel ini hanya berhenti sampai sini, maka ini akan mengecewakan para pembaca yang menuntut jawaban dari pertanyaan pada judul tersebut. Oleh karena itu, kita akan membahas bagaimana para salaf terdahulu merekam tanda-tanda lailatul qadar.Tanda malam lailatul qadarTerdapat beberapa qarinah (indikasi) yang menunjukkan terjadinya lailatul qadar pada malam yang memiliki ciri-ciri atau rumus-rumus ini. Tujuannya bukan memastikan, tetapi menghimpun ciri-ciri yang dilihat oleh para salaf terdahulu pada lailatul qadar. Perbuatan ini mengejawantahkan ciri yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Quran.سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ“Keselamatan terjadi sampai akhir terbitnya fajar.” (QS. Al-Qadr: 5)Tanda-tanda tersebut berupa riwayat yang sahih datang dari Nabi ﷺ berkaitan waktu, dan juga suasana yang terjadi. Terdapat pula riwayat pengalaman dan pengamatan para salaf setelah zaman Nabi ﷺ.1) Udara terasa sejuk, tenang, dan cerah. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda,ليلة لقدر ليلة سمحة, طلقةو لا حارة, ولا باردة, تصبح الشمس صبيحتها ضعيفة حمراء“[Malam] lailatul qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR. At-Thayalisy no. 349, Ibnu Khuzaimah 3: 231, Bazzar 1: 486, dan dihasankan oleh Syekh Ali Hasan Al-Halabi)2) Matahari pada pagi harinya jernih dan tidak ada sinar yang menyilaukan. Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,صبيحة ليلة لقدر تطلع الشمس لا شعاع لها كأنها طست حتى ترتفع“Pagi hari malam lailatul qadar, matahari terbit tidak ada sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR. Muslim no. 762)3) Ada rasa ketenangan dan kelezatan dalam beribadah karena Jibril ‘alaihissalam dan para malaikat turun pada malam tersebut. Allah ﷻ berfirman,تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا“Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril.” (QS. Al Qadar: 4).Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Banyak malaikat yang akan turun pada lailatul qadar karena banyaknya berkah pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat.”Dari semua tanda di atas, kita tidak mengetahui dengan pasti kapan malam lailatul qadar terjadi. Semuanya hanyalah tanda yang tidak bisa kita pastikan. Inilah jawaban akhirnya: tidak ada cara menentukan malam lailatul qadar secara pasti.Namun, tentunya ada hikmah dari perbuatan Allah ﷻ menjadikan lailatul qadar sebagai rahasia bagi hamba-Nya.Apa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?Hikmahnya adalah agar kita sapu bersih setiap malam di bulan Ramadan. Hanya saja isyarat-isyarat ini akan mendorong kita untuk menentukan momentum menekan gas amal kita mulai kapan. Praktik Nabi ﷺ dan para sahabat yang mulia adalah demikian, mereka tidak membeda-bedakan secara ekstrem hari-hari mulia di bulan Ramadan. Sebagaimana prinsip yang dikemas oleh Ibnu Rajab rahimahullah,“Hari-hari di Ramadan sama mulianya dengan malam Ramadan. Dan semakin mendekati ujung suatu momentum, maka semakin istimewa.”Jadilah kita hamba Allah ﷻ yang menyembah-Nya kapan saja dan karena alasan Dialah Zat yang berhak disembah. Bukan karena sekadar hari istimewa. Hari-hari istimewa adalah kemurahan Allah ﷻ untuk memotivasi kita lebih semangat beramal. Dan tentu, sangat mudah bagi akal kita menerima fakta bahwa: pelari yang berlatih 30 hari akan lebih berhak meraih podium juara dibandingkan orang biasa yang baru berlari di momen perlombaan tersebut.Pilihan ada di tangan Anda: menjadi pelari yang terlatih atau menjadi orang biasa yang baru mencoba berlari di hari perlombaan?Baca juga: Untung Besar di Malam Lailatul Qadar***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Seluruh catatan ini mengacu kepada kitab Lathaiful Maarif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dengan muhaqqiq Asy-Syaikh Yasin Muhammad As-Sawas. Umumnya penilaian hadis ini berdasarkan catatan muhaqqiq.

Ternyata Ini Orang yang Paling Besar Pahala Puasanya! – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad

Sungguh, orang-orang yang berpuasa tidaklah sama pahalanya, melainkan berbeda-beda tingkatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan derajat orang-orang yang berpuasa dalam hal pahala, sesuai dengan kadar zikir mereka kepada Allah. Mengapa demikian? Karena ibadah puasa, shalat, haji, dan seluruh ketaatan pada umumnya disyariatkan semata-mata untuk menegakkan zikir kepada Allah. Maka, apakah sama pahala puasa orang yang senantiasa berzikir dengan orang yang lalai? Apakah mereka setara? Apakah ganjaran keduanya sama? Tidak, demi Allah! Di antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh. Orang yang paling besar pahalanya dalam puasa adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah. Bahkan sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib, beliau berkata: “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap amalan ketaatan adalah yang paling banyak mengingat Allah saat melakukan ketaatan tersebut.” “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya.” Oleh sebab itu, bersemangatlah di siang hari Ramadan untuk memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahlil, bertahmid, dan bertakbir, serta membaca kitab-kitab ilmu, menghadiri serta duduk di dalam majelis ilmu, serta menyimak segala kebaikan yang disampaikan di sana. Sesungguhnya majelis ilmu adalah majelis zikir kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah!” Para sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah zikir.” (HR. At-Tirmidzi). Maksudnya majelis-majelis ilmu, tempat dijelaskannya perkara halal dan haram, diterangkannya hukum-hukum agama, dan manusia diperkenalkan kepada Allah, mengenal nama-nama-Nya, keagungan-Nya, serta sifat-sifat-Nya. Tempat di mana dibacakan ayat-ayat Allah dan dijelaskan maknanya, serta hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diterangkan kandungannya, sehingga manusia dapat mendalami agama dan mempelajari berbagai kebaikan. Semua hal itu termasuk dalam menegakkan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan merupakan bentuk nyata dalam mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== إِنَّ الصُّوَّامَ لَيْسُوا سَوَاءً فِي الْأَجْرِ بَلْ يَتَفَاوَتُونَ سُئِلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ذَا يَدُلُّ عَلَى تَفَاوُتِ أَهْلِ الصِّيَامِ فِي أَجْرِ الصِّيَامِ بِحَسَبِ حَظِّهِمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الصِّيَامَ وَالصَّلَاةَ وَالْحَجَّ وَعُمُومَ الطَّاعَاتِ إِنَّمَا شُرِعَتْ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ أَفَيَسْتَوِي فِي أَجْرِ الصِّيَامِ الذَّاكِرُ وَالْغَافِلُ؟ هَلْ يَسْتَوُونَ؟ أَيَكُونُ أَجْرُهُمَا سَوَاءً؟ لَا وَاللَّهِ، بَيْنَهُمَا بَوْنٌ شَاسِعٌ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصِّيَامِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا بَلْ كَمَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ ذَكَرَ ذَلِكَ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا وَلِهَذَا احْرِصْ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ عَلَى كَثْرَةِ الذِّكْرِ قِرَاءَةً لِلْقُرْآنِ، تَسْبِيحًا وَتَهْلِيلًا وَحَمْدًا وَتَكْبِيرًا، قِرَاءَةً لِكُتُبِ الْعِلْمِ وَحُضُورًا لِمَجَالِسِ الْعِلْمِ، وَجُلُوسًا فِيهَا وَاسْتِمَاعًا لِمَا يُقَالُ فِيهَا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ مَجَالِسَ الْعِلْمِ مَجَالِسُ ذِكْرٍ لِلَّهِ وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ أَيْ مَجَالِسُ الْعِلْمِ الَّتِي يُبَيَّنُ فِيهَا الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ وَتُبَيَّنُ الْأَحْكَامُ، وَيُعَرَّفُ النَّاسُ فِيهَا بِاللَّهِ وَأَسْمَائِهِ وَعَظَمَتِهِ وَصِفَاتِهِ وَتُتْلَى فِيهَا آيَاتُ اللَّهِ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا وَأَحَادِيثُ الرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا، وَيَتَفَقَّهُ النَّاسُ وَيَتَعَلَّمُونَ الْخَيْرَ هَذَا كُلُّهُ هَذَا كُلُّهُ مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Ternyata Ini Orang yang Paling Besar Pahala Puasanya! – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad

Sungguh, orang-orang yang berpuasa tidaklah sama pahalanya, melainkan berbeda-beda tingkatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan derajat orang-orang yang berpuasa dalam hal pahala, sesuai dengan kadar zikir mereka kepada Allah. Mengapa demikian? Karena ibadah puasa, shalat, haji, dan seluruh ketaatan pada umumnya disyariatkan semata-mata untuk menegakkan zikir kepada Allah. Maka, apakah sama pahala puasa orang yang senantiasa berzikir dengan orang yang lalai? Apakah mereka setara? Apakah ganjaran keduanya sama? Tidak, demi Allah! Di antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh. Orang yang paling besar pahalanya dalam puasa adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah. Bahkan sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib, beliau berkata: “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap amalan ketaatan adalah yang paling banyak mengingat Allah saat melakukan ketaatan tersebut.” “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya.” Oleh sebab itu, bersemangatlah di siang hari Ramadan untuk memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahlil, bertahmid, dan bertakbir, serta membaca kitab-kitab ilmu, menghadiri serta duduk di dalam majelis ilmu, serta menyimak segala kebaikan yang disampaikan di sana. Sesungguhnya majelis ilmu adalah majelis zikir kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah!” Para sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah zikir.” (HR. At-Tirmidzi). Maksudnya majelis-majelis ilmu, tempat dijelaskannya perkara halal dan haram, diterangkannya hukum-hukum agama, dan manusia diperkenalkan kepada Allah, mengenal nama-nama-Nya, keagungan-Nya, serta sifat-sifat-Nya. Tempat di mana dibacakan ayat-ayat Allah dan dijelaskan maknanya, serta hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diterangkan kandungannya, sehingga manusia dapat mendalami agama dan mempelajari berbagai kebaikan. Semua hal itu termasuk dalam menegakkan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan merupakan bentuk nyata dalam mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== إِنَّ الصُّوَّامَ لَيْسُوا سَوَاءً فِي الْأَجْرِ بَلْ يَتَفَاوَتُونَ سُئِلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ذَا يَدُلُّ عَلَى تَفَاوُتِ أَهْلِ الصِّيَامِ فِي أَجْرِ الصِّيَامِ بِحَسَبِ حَظِّهِمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الصِّيَامَ وَالصَّلَاةَ وَالْحَجَّ وَعُمُومَ الطَّاعَاتِ إِنَّمَا شُرِعَتْ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ أَفَيَسْتَوِي فِي أَجْرِ الصِّيَامِ الذَّاكِرُ وَالْغَافِلُ؟ هَلْ يَسْتَوُونَ؟ أَيَكُونُ أَجْرُهُمَا سَوَاءً؟ لَا وَاللَّهِ، بَيْنَهُمَا بَوْنٌ شَاسِعٌ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصِّيَامِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا بَلْ كَمَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ ذَكَرَ ذَلِكَ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا وَلِهَذَا احْرِصْ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ عَلَى كَثْرَةِ الذِّكْرِ قِرَاءَةً لِلْقُرْآنِ، تَسْبِيحًا وَتَهْلِيلًا وَحَمْدًا وَتَكْبِيرًا، قِرَاءَةً لِكُتُبِ الْعِلْمِ وَحُضُورًا لِمَجَالِسِ الْعِلْمِ، وَجُلُوسًا فِيهَا وَاسْتِمَاعًا لِمَا يُقَالُ فِيهَا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ مَجَالِسَ الْعِلْمِ مَجَالِسُ ذِكْرٍ لِلَّهِ وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ أَيْ مَجَالِسُ الْعِلْمِ الَّتِي يُبَيَّنُ فِيهَا الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ وَتُبَيَّنُ الْأَحْكَامُ، وَيُعَرَّفُ النَّاسُ فِيهَا بِاللَّهِ وَأَسْمَائِهِ وَعَظَمَتِهِ وَصِفَاتِهِ وَتُتْلَى فِيهَا آيَاتُ اللَّهِ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا وَأَحَادِيثُ الرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا، وَيَتَفَقَّهُ النَّاسُ وَيَتَعَلَّمُونَ الْخَيْرَ هَذَا كُلُّهُ هَذَا كُلُّهُ مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Sungguh, orang-orang yang berpuasa tidaklah sama pahalanya, melainkan berbeda-beda tingkatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan derajat orang-orang yang berpuasa dalam hal pahala, sesuai dengan kadar zikir mereka kepada Allah. Mengapa demikian? Karena ibadah puasa, shalat, haji, dan seluruh ketaatan pada umumnya disyariatkan semata-mata untuk menegakkan zikir kepada Allah. Maka, apakah sama pahala puasa orang yang senantiasa berzikir dengan orang yang lalai? Apakah mereka setara? Apakah ganjaran keduanya sama? Tidak, demi Allah! Di antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh. Orang yang paling besar pahalanya dalam puasa adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah. Bahkan sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib, beliau berkata: “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap amalan ketaatan adalah yang paling banyak mengingat Allah saat melakukan ketaatan tersebut.” “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya.” Oleh sebab itu, bersemangatlah di siang hari Ramadan untuk memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahlil, bertahmid, dan bertakbir, serta membaca kitab-kitab ilmu, menghadiri serta duduk di dalam majelis ilmu, serta menyimak segala kebaikan yang disampaikan di sana. Sesungguhnya majelis ilmu adalah majelis zikir kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah!” Para sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah zikir.” (HR. At-Tirmidzi). Maksudnya majelis-majelis ilmu, tempat dijelaskannya perkara halal dan haram, diterangkannya hukum-hukum agama, dan manusia diperkenalkan kepada Allah, mengenal nama-nama-Nya, keagungan-Nya, serta sifat-sifat-Nya. Tempat di mana dibacakan ayat-ayat Allah dan dijelaskan maknanya, serta hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diterangkan kandungannya, sehingga manusia dapat mendalami agama dan mempelajari berbagai kebaikan. Semua hal itu termasuk dalam menegakkan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan merupakan bentuk nyata dalam mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== إِنَّ الصُّوَّامَ لَيْسُوا سَوَاءً فِي الْأَجْرِ بَلْ يَتَفَاوَتُونَ سُئِلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ذَا يَدُلُّ عَلَى تَفَاوُتِ أَهْلِ الصِّيَامِ فِي أَجْرِ الصِّيَامِ بِحَسَبِ حَظِّهِمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الصِّيَامَ وَالصَّلَاةَ وَالْحَجَّ وَعُمُومَ الطَّاعَاتِ إِنَّمَا شُرِعَتْ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ أَفَيَسْتَوِي فِي أَجْرِ الصِّيَامِ الذَّاكِرُ وَالْغَافِلُ؟ هَلْ يَسْتَوُونَ؟ أَيَكُونُ أَجْرُهُمَا سَوَاءً؟ لَا وَاللَّهِ، بَيْنَهُمَا بَوْنٌ شَاسِعٌ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصِّيَامِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا بَلْ كَمَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ ذَكَرَ ذَلِكَ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا وَلِهَذَا احْرِصْ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ عَلَى كَثْرَةِ الذِّكْرِ قِرَاءَةً لِلْقُرْآنِ، تَسْبِيحًا وَتَهْلِيلًا وَحَمْدًا وَتَكْبِيرًا، قِرَاءَةً لِكُتُبِ الْعِلْمِ وَحُضُورًا لِمَجَالِسِ الْعِلْمِ، وَجُلُوسًا فِيهَا وَاسْتِمَاعًا لِمَا يُقَالُ فِيهَا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ مَجَالِسَ الْعِلْمِ مَجَالِسُ ذِكْرٍ لِلَّهِ وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ أَيْ مَجَالِسُ الْعِلْمِ الَّتِي يُبَيَّنُ فِيهَا الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ وَتُبَيَّنُ الْأَحْكَامُ، وَيُعَرَّفُ النَّاسُ فِيهَا بِاللَّهِ وَأَسْمَائِهِ وَعَظَمَتِهِ وَصِفَاتِهِ وَتُتْلَى فِيهَا آيَاتُ اللَّهِ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا وَأَحَادِيثُ الرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا، وَيَتَفَقَّهُ النَّاسُ وَيَتَعَلَّمُونَ الْخَيْرَ هَذَا كُلُّهُ هَذَا كُلُّهُ مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى


Sungguh, orang-orang yang berpuasa tidaklah sama pahalanya, melainkan berbeda-beda tingkatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir mengingat Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan derajat orang-orang yang berpuasa dalam hal pahala, sesuai dengan kadar zikir mereka kepada Allah. Mengapa demikian? Karena ibadah puasa, shalat, haji, dan seluruh ketaatan pada umumnya disyariatkan semata-mata untuk menegakkan zikir kepada Allah. Maka, apakah sama pahala puasa orang yang senantiasa berzikir dengan orang yang lalai? Apakah mereka setara? Apakah ganjaran keduanya sama? Tidak, demi Allah! Di antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh. Orang yang paling besar pahalanya dalam puasa adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah. Bahkan sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib, beliau berkata: “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap amalan ketaatan adalah yang paling banyak mengingat Allah saat melakukan ketaatan tersebut.” “Orang yang paling besar pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya.” Oleh sebab itu, bersemangatlah di siang hari Ramadan untuk memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahlil, bertahmid, dan bertakbir, serta membaca kitab-kitab ilmu, menghadiri serta duduk di dalam majelis ilmu, serta menyimak segala kebaikan yang disampaikan di sana. Sesungguhnya majelis ilmu adalah majelis zikir kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah!” Para sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah zikir.” (HR. At-Tirmidzi). Maksudnya majelis-majelis ilmu, tempat dijelaskannya perkara halal dan haram, diterangkannya hukum-hukum agama, dan manusia diperkenalkan kepada Allah, mengenal nama-nama-Nya, keagungan-Nya, serta sifat-sifat-Nya. Tempat di mana dibacakan ayat-ayat Allah dan dijelaskan maknanya, serta hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diterangkan kandungannya, sehingga manusia dapat mendalami agama dan mempelajari berbagai kebaikan. Semua hal itu termasuk dalam menegakkan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan merupakan bentuk nyata dalam mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== إِنَّ الصُّوَّامَ لَيْسُوا سَوَاءً فِي الْأَجْرِ بَلْ يَتَفَاوَتُونَ سُئِلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ذَا يَدُلُّ عَلَى تَفَاوُتِ أَهْلِ الصِّيَامِ فِي أَجْرِ الصِّيَامِ بِحَسَبِ حَظِّهِمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الصِّيَامَ وَالصَّلَاةَ وَالْحَجَّ وَعُمُومَ الطَّاعَاتِ إِنَّمَا شُرِعَتْ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ أَفَيَسْتَوِي فِي أَجْرِ الصِّيَامِ الذَّاكِرُ وَالْغَافِلُ؟ هَلْ يَسْتَوُونَ؟ أَيَكُونُ أَجْرُهُمَا سَوَاءً؟ لَا وَاللَّهِ، بَيْنَهُمَا بَوْنٌ شَاسِعٌ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصِّيَامِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا بَلْ كَمَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ ذَكَرَ ذَلِكَ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا وَلِهَذَا احْرِصْ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ عَلَى كَثْرَةِ الذِّكْرِ قِرَاءَةً لِلْقُرْآنِ، تَسْبِيحًا وَتَهْلِيلًا وَحَمْدًا وَتَكْبِيرًا، قِرَاءَةً لِكُتُبِ الْعِلْمِ وَحُضُورًا لِمَجَالِسِ الْعِلْمِ، وَجُلُوسًا فِيهَا وَاسْتِمَاعًا لِمَا يُقَالُ فِيهَا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ مَجَالِسَ الْعِلْمِ مَجَالِسُ ذِكْرٍ لِلَّهِ وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ أَيْ مَجَالِسُ الْعِلْمِ الَّتِي يُبَيَّنُ فِيهَا الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ وَتُبَيَّنُ الْأَحْكَامُ، وَيُعَرَّفُ النَّاسُ فِيهَا بِاللَّهِ وَأَسْمَائِهِ وَعَظَمَتِهِ وَصِفَاتِهِ وَتُتْلَى فِيهَا آيَاتُ اللَّهِ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا وَأَحَادِيثُ الرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَتُبَيَّنُ مَعَانِيهَا، وَيَتَفَقَّهُ النَّاسُ وَيَتَعَلَّمُونَ الْخَيْرَ هَذَا كُلُّهُ هَذَا كُلُّهُ مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ إِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Kisah Ibnu Shayyad (Bag. 1): Pemuda Yahudi yang Dicurigai Sebagai Dajjal

Daftar Isi ToggleMengenal Ibnu SayyadKeadaan Ibnu ShayyadUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadIbnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKematian Ibnu ShayyadAda pertanyaan yang muncul di benak kita mengenai siapa dan di mana keberadaan Dajjal. Apakah Dajjal hidup (saat ini)? Apakah ia sudah ada pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu kita ketahui dahulu tentang kisah Ibnu Shayyad. Pemuda Yahudi yang hidup di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dicurigai sebagai Dajjal. Apakah dia Dajjal atau bukan? Jika Ibnu Shayyad bukan Dajjal, apakah Dajjal sudah ada sebelum kemunculannya dengan fitnahnya, atau baru muncul kemudian (saat menjelang hari kiamat)?Mengenal Ibnu SayyadNama aslinya adalah Shaff (ada yang mengatakan Abdullah) bin Shayyad atau Shaid. Ia merupakan seorang Yahudi dari Madinah, ada juga yang mengatakan dari kalangan Anshar. Ia masih kecil ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah.Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad kemudian masuk Islam, dan anaknya, ‘Umarah, termasuk dari kalangan tabi’in yang terkemuka. Imam Malik dan lainnya meriwayatkan darinya.Adz-Dzhahabi menulis dalam bukunya Tajrid Asma’ as-Sahabah,عبد الله بن صيَّاد، أورده ابن شاهين، وقال: هو ابن صائد، كان أبوه يهوديًّا، فولد عبد الله أعور مختونًا، وهو الّذي قيل: إنّه الدَّجّال، ثمَّ أسلم، فهو تابعيٌّ، له رؤية“Abdullah bin Shayyad, disebut oleh Ibnu Shahin. Ayahnya seorang Yahudi, lahirlah Abdullah yang cacat mata dan disunat, dan orang mengatakan dialah Dajjal. Ia kemudian masuk Islam, sehingga termasuk tabi’in yang pernah bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Al-Hafizh Ibnu Hajar juga menulis dalam al-Isabah menekankan hal yang sama, dan menyebut anaknya ‘Umarah bin Abdullah bin Shayyad sebagai salah satu tabi’in yang terkemuka, yang meriwayatkan dari Imam Malik dan lainnya.Keadaan Ibnu ShayyadIbnu Shayyad dikenal sebagai seorang pendusta yang sering meramal. Terkadang ucapannya benar, dan terkadang salah. Karena sifatnya itu, berita tentang dirinya tersebar luas di tengah masyarakat, sampai muncul anggapan bahwa dialah Dajjal sebagaimana akan dijelaskan dalam kisah ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya.Baca juga: Beriman Terhadap Munculnya DajalUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadKetika kabar tentang Ibnu Shayyad semakin melebar, dan banyak orang percaya bahwa ia adalah Dajjal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memastikan kebenaran itu. Beliau mendatangi Ibnu Shayyad secara diam-diam agar tidak ketahuan, dengan harapan dapat mendengar sesuatu yang mengungkap hakikat dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuka jati diri Ibnu Shayyad.Dalam sebuah hadis, Ibnu Umar menceritakan bahwa Umar pernah pergi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Ibnu Shayyad. Mereka menemukan Ibnu Shayyad sedang bermain dengan anak-anak di dekat benteng Bani Maghalah, dan ia sudah hampir baligh. Tiba-tiba, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuknya dan bertanya,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?”Ibnu Shayyad menatap beliau dan menjawab,أشهد أنك رسول الأميين“Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul bagi orang-orang yang ummi.”Dan Ibnu Shayyad balik bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolaknya dan menjawab,آمنت بالله وبرسله“Aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,يأتيني صادق وكاذب“Datang kepadaku yang benar dan yang dusta.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,خلط عليك الأمر“Engkau telah bingung dan tercampur dalam urusanmu.”Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi,إنِّي خبأت لك خبيئًا؟“Aku menyembunyikan sesuatu untukmu, coba katakan apa itu?”Ibnu Shayyad menjawab,هو الدُّخ“Ad-dukh…”Ia bermaksud mengatakan ad-dukhān (asap), namun hanya mampu mengucapkan sebagian kata itu.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata,اخسأ فلن تعدو قدرك“Diam! Engkau tidak akan melampaui batasmu.”Umar kemudian berkata,دعني يا رسول الله أضرب عنقه“Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya!”Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن يكنه؛ فلن تسلط عليه، وإن لم يكنه؛ فلا خير لك في قتله“Jika memang dialah (Dajjal), engkau tidak akan mampu membunuhnya. Dan jika bukan dia, maka tidak ada gunanya engkau membunuhnya.” (HR. Bukhari)Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi kepadanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,أرى عرشًا على الماء“Aku melihat singgasana berada di atas air.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,ترى عرش إبليس على البحر، وما ترى؟“Engkau melihat singgasana Iblis di atas lautan. Apa lagi yang kau lihat?”Ia menjawab,أرى صادقين وكاذبًا، أو كاذبين وصادقًا.“Aku melihat dua yang benar dan satu yang dusta, atau dua yang dusta dan satu yang benar.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لُبِّسَ عليه، دعوه“Pikirannya telah dikacaukan. Biarkan saja dia.” (HR. Muslim)Ibnu Umar juga menceritakan bahwa setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Ubay bin Ka‘ab kembali mendatangi kebun kurma tempat Ibnu Shayyad berada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersembunyi di balik pohon-pohon dengan harapan bisa mendengar sesuatu darinya sebelum ia sadar kedatangan beliau. Saat itu, Ibnu Sayyad sedang berbaring dengan selimutnya. Ibu Ibnu Shayyad melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memanggil anaknya,يا صاف -وهو اسم ابن صياد-! هذا محمَّد صلى الله عليه وسلم.“Wahai Shaff! Itu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam!”Ibnu Shayyad pun terkejut dan bangun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,لو تركته بيَّن“Seandainya ibunya membiarkannya, pasti urusannya menjadi jelas.” (HR. Bukhari)Abu Dzar pernah ditugaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya kepada ibu Ibnu Shayyad,سلها كم حملت به؟“Berapa lama engkau mengandungnya?”Sang ibu menjawab,حملتُ به اثني عشر شهرًا.“Aku mengandungnya selama dua belas bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abu Dzar untuk bertanya lagi,سلها عن صيحته حين وقع؟“Bagaimana tangisannya saat ia lahir?”Sang ibu menjawab,صاح صيحة الصبي ابن شهر“Ia menangis seperti bayi berusia satu bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ibnu Shayyad,إنِّي قد خبأت لك خبئًا“Aku menyembunyikan sesuatu darimu. Apa itu?”Ibnu Sayyad menjawab,خبأت لي خطم شاة عفراء والدُّخان“Engkau menyembunyikan khitm (hidung) domba dan asap.”Ia ingin mengucapkan kata ad-dukhan (asap), tetapi ia hanya mampu mengucapkan,الدُّخ، الدُّخ“Ad-dukh… ad-dukh…”Ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kata “ad-dukhan” merujuk pada firman Allah,فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ“Tunggulah pada hari ketika langit menurunkan asap yang jelas.” (QS. Ad-Dukhan: 10)Dalam riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan ayat ini sebagai ujian bagi Ibnu Sayyad.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,ابن صياد كاشف على طريقة الكهَّان، بلسان الجان، وهم يقرطون -أي: يقطعون- العبارة، ولهذا قال: هو الدُّخ يعني: الدُّخان، فعندها عرف رسول الله صلى الله عليه وسلم مادته، وأنّها شيطانية، فقال له: (اخسأ؛ فلن تعدو قدرك)“Ibnu Shayyad memiliki kemampuan seperti para dukun yang dibantu jin, sehingga ucapannya terpotong-potong. Oleh karena itu, ia hanya mampu mengatakan ad-dukh. Saat itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa sumbernya adalah dari setan. Beliau pun berkata, ‘Diam! Engkau tidak akan melampaui batas.’”Ibnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKisah Ibnu Shayyad ini pun ada yang mengatakan adalah kisah mitos saja bukan kenyataan. Salah satu yang berpendapat mengenai hal ini adalah Abu Ubaydah. Dia berkata,شخصية ابن صياد خرافة جازت على بعض العقول، فعاشت قصتها في بعض الكتب منسوبة إلى الرسول، والرسول عليه صلوات الله لا يصدر عنه من القول والفعل إِلَّا ما هو لُباب الحق ومُصاصه، ولقد آن الأوان لنأخذ بعين الاعتبار والجد روح الحديث ومعناه، ودلالته ومرماه؛ كما نأخذ سنده وطريقه؛ لتنجو مداركنا الإِسلامية من الشطط والغلط“Kepribadian Ibnu Shayyad adalah mitos yang diterima oleh beberapa orang, sehingga kisahnya hidup dalam beberapa kitab dan dikaitkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berkata atau berbuat kecuali yang merupakan inti kebenaran dan esensinya. Sudah saatnya kita memperhatikan ruh hadis, maknanya, petunjuk, dan tujuannya, sebagaimana kita memperhatikan sanad dan jalurnya, agar akal keislaman kita selamat dari penyimpangan dan kesalahan.”Namun, hal ini dapat dijawab: hadis-hadis yang menyebut Ibnu Shayyad adalah sahih, tercantum dalam kitab-kitab hadis seperti Ash-Shahihain dan lainnya. Tidak ada yang bertentangan dengan ruh hadis atau inti kebenaran. Ibnu Shayyad, seperti telah disebutkan sebelumnya, memang membuat umat Islam bingung dan termasuk salah satu penipu (Dajjal) dari golongan penipu, dan Allah menampakkan kebohongannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat Muslim.Kematian Ibnu ShayyadJabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,فقدنا ابن صيَّاد يوم الحرَّة“Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada hari Harrah.” (HR. Abu Daud)Ibnu Hajar rahimahullah menilai riwayat ini sahih. Sementara pendapat yang menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad wafat di Madinah dan bahwa orang-orang membukakan wajahnya serta mensalatinya, dianggap lemah oleh Ibnu Hajar.[Bersambung]***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Kisah Ibnu Shayyad (Bag. 1): Pemuda Yahudi yang Dicurigai Sebagai Dajjal

Daftar Isi ToggleMengenal Ibnu SayyadKeadaan Ibnu ShayyadUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadIbnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKematian Ibnu ShayyadAda pertanyaan yang muncul di benak kita mengenai siapa dan di mana keberadaan Dajjal. Apakah Dajjal hidup (saat ini)? Apakah ia sudah ada pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu kita ketahui dahulu tentang kisah Ibnu Shayyad. Pemuda Yahudi yang hidup di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dicurigai sebagai Dajjal. Apakah dia Dajjal atau bukan? Jika Ibnu Shayyad bukan Dajjal, apakah Dajjal sudah ada sebelum kemunculannya dengan fitnahnya, atau baru muncul kemudian (saat menjelang hari kiamat)?Mengenal Ibnu SayyadNama aslinya adalah Shaff (ada yang mengatakan Abdullah) bin Shayyad atau Shaid. Ia merupakan seorang Yahudi dari Madinah, ada juga yang mengatakan dari kalangan Anshar. Ia masih kecil ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah.Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad kemudian masuk Islam, dan anaknya, ‘Umarah, termasuk dari kalangan tabi’in yang terkemuka. Imam Malik dan lainnya meriwayatkan darinya.Adz-Dzhahabi menulis dalam bukunya Tajrid Asma’ as-Sahabah,عبد الله بن صيَّاد، أورده ابن شاهين، وقال: هو ابن صائد، كان أبوه يهوديًّا، فولد عبد الله أعور مختونًا، وهو الّذي قيل: إنّه الدَّجّال، ثمَّ أسلم، فهو تابعيٌّ، له رؤية“Abdullah bin Shayyad, disebut oleh Ibnu Shahin. Ayahnya seorang Yahudi, lahirlah Abdullah yang cacat mata dan disunat, dan orang mengatakan dialah Dajjal. Ia kemudian masuk Islam, sehingga termasuk tabi’in yang pernah bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Al-Hafizh Ibnu Hajar juga menulis dalam al-Isabah menekankan hal yang sama, dan menyebut anaknya ‘Umarah bin Abdullah bin Shayyad sebagai salah satu tabi’in yang terkemuka, yang meriwayatkan dari Imam Malik dan lainnya.Keadaan Ibnu ShayyadIbnu Shayyad dikenal sebagai seorang pendusta yang sering meramal. Terkadang ucapannya benar, dan terkadang salah. Karena sifatnya itu, berita tentang dirinya tersebar luas di tengah masyarakat, sampai muncul anggapan bahwa dialah Dajjal sebagaimana akan dijelaskan dalam kisah ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya.Baca juga: Beriman Terhadap Munculnya DajalUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadKetika kabar tentang Ibnu Shayyad semakin melebar, dan banyak orang percaya bahwa ia adalah Dajjal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memastikan kebenaran itu. Beliau mendatangi Ibnu Shayyad secara diam-diam agar tidak ketahuan, dengan harapan dapat mendengar sesuatu yang mengungkap hakikat dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuka jati diri Ibnu Shayyad.Dalam sebuah hadis, Ibnu Umar menceritakan bahwa Umar pernah pergi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Ibnu Shayyad. Mereka menemukan Ibnu Shayyad sedang bermain dengan anak-anak di dekat benteng Bani Maghalah, dan ia sudah hampir baligh. Tiba-tiba, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuknya dan bertanya,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?”Ibnu Shayyad menatap beliau dan menjawab,أشهد أنك رسول الأميين“Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul bagi orang-orang yang ummi.”Dan Ibnu Shayyad balik bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolaknya dan menjawab,آمنت بالله وبرسله“Aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,يأتيني صادق وكاذب“Datang kepadaku yang benar dan yang dusta.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,خلط عليك الأمر“Engkau telah bingung dan tercampur dalam urusanmu.”Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi,إنِّي خبأت لك خبيئًا؟“Aku menyembunyikan sesuatu untukmu, coba katakan apa itu?”Ibnu Shayyad menjawab,هو الدُّخ“Ad-dukh…”Ia bermaksud mengatakan ad-dukhān (asap), namun hanya mampu mengucapkan sebagian kata itu.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata,اخسأ فلن تعدو قدرك“Diam! Engkau tidak akan melampaui batasmu.”Umar kemudian berkata,دعني يا رسول الله أضرب عنقه“Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya!”Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن يكنه؛ فلن تسلط عليه، وإن لم يكنه؛ فلا خير لك في قتله“Jika memang dialah (Dajjal), engkau tidak akan mampu membunuhnya. Dan jika bukan dia, maka tidak ada gunanya engkau membunuhnya.” (HR. Bukhari)Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi kepadanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,أرى عرشًا على الماء“Aku melihat singgasana berada di atas air.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,ترى عرش إبليس على البحر، وما ترى؟“Engkau melihat singgasana Iblis di atas lautan. Apa lagi yang kau lihat?”Ia menjawab,أرى صادقين وكاذبًا، أو كاذبين وصادقًا.“Aku melihat dua yang benar dan satu yang dusta, atau dua yang dusta dan satu yang benar.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لُبِّسَ عليه، دعوه“Pikirannya telah dikacaukan. Biarkan saja dia.” (HR. Muslim)Ibnu Umar juga menceritakan bahwa setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Ubay bin Ka‘ab kembali mendatangi kebun kurma tempat Ibnu Shayyad berada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersembunyi di balik pohon-pohon dengan harapan bisa mendengar sesuatu darinya sebelum ia sadar kedatangan beliau. Saat itu, Ibnu Sayyad sedang berbaring dengan selimutnya. Ibu Ibnu Shayyad melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memanggil anaknya,يا صاف -وهو اسم ابن صياد-! هذا محمَّد صلى الله عليه وسلم.“Wahai Shaff! Itu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam!”Ibnu Shayyad pun terkejut dan bangun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,لو تركته بيَّن“Seandainya ibunya membiarkannya, pasti urusannya menjadi jelas.” (HR. Bukhari)Abu Dzar pernah ditugaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya kepada ibu Ibnu Shayyad,سلها كم حملت به؟“Berapa lama engkau mengandungnya?”Sang ibu menjawab,حملتُ به اثني عشر شهرًا.“Aku mengandungnya selama dua belas bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abu Dzar untuk bertanya lagi,سلها عن صيحته حين وقع؟“Bagaimana tangisannya saat ia lahir?”Sang ibu menjawab,صاح صيحة الصبي ابن شهر“Ia menangis seperti bayi berusia satu bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ibnu Shayyad,إنِّي قد خبأت لك خبئًا“Aku menyembunyikan sesuatu darimu. Apa itu?”Ibnu Sayyad menjawab,خبأت لي خطم شاة عفراء والدُّخان“Engkau menyembunyikan khitm (hidung) domba dan asap.”Ia ingin mengucapkan kata ad-dukhan (asap), tetapi ia hanya mampu mengucapkan,الدُّخ، الدُّخ“Ad-dukh… ad-dukh…”Ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kata “ad-dukhan” merujuk pada firman Allah,فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ“Tunggulah pada hari ketika langit menurunkan asap yang jelas.” (QS. Ad-Dukhan: 10)Dalam riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan ayat ini sebagai ujian bagi Ibnu Sayyad.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,ابن صياد كاشف على طريقة الكهَّان، بلسان الجان، وهم يقرطون -أي: يقطعون- العبارة، ولهذا قال: هو الدُّخ يعني: الدُّخان، فعندها عرف رسول الله صلى الله عليه وسلم مادته، وأنّها شيطانية، فقال له: (اخسأ؛ فلن تعدو قدرك)“Ibnu Shayyad memiliki kemampuan seperti para dukun yang dibantu jin, sehingga ucapannya terpotong-potong. Oleh karena itu, ia hanya mampu mengatakan ad-dukh. Saat itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa sumbernya adalah dari setan. Beliau pun berkata, ‘Diam! Engkau tidak akan melampaui batas.’”Ibnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKisah Ibnu Shayyad ini pun ada yang mengatakan adalah kisah mitos saja bukan kenyataan. Salah satu yang berpendapat mengenai hal ini adalah Abu Ubaydah. Dia berkata,شخصية ابن صياد خرافة جازت على بعض العقول، فعاشت قصتها في بعض الكتب منسوبة إلى الرسول، والرسول عليه صلوات الله لا يصدر عنه من القول والفعل إِلَّا ما هو لُباب الحق ومُصاصه، ولقد آن الأوان لنأخذ بعين الاعتبار والجد روح الحديث ومعناه، ودلالته ومرماه؛ كما نأخذ سنده وطريقه؛ لتنجو مداركنا الإِسلامية من الشطط والغلط“Kepribadian Ibnu Shayyad adalah mitos yang diterima oleh beberapa orang, sehingga kisahnya hidup dalam beberapa kitab dan dikaitkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berkata atau berbuat kecuali yang merupakan inti kebenaran dan esensinya. Sudah saatnya kita memperhatikan ruh hadis, maknanya, petunjuk, dan tujuannya, sebagaimana kita memperhatikan sanad dan jalurnya, agar akal keislaman kita selamat dari penyimpangan dan kesalahan.”Namun, hal ini dapat dijawab: hadis-hadis yang menyebut Ibnu Shayyad adalah sahih, tercantum dalam kitab-kitab hadis seperti Ash-Shahihain dan lainnya. Tidak ada yang bertentangan dengan ruh hadis atau inti kebenaran. Ibnu Shayyad, seperti telah disebutkan sebelumnya, memang membuat umat Islam bingung dan termasuk salah satu penipu (Dajjal) dari golongan penipu, dan Allah menampakkan kebohongannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat Muslim.Kematian Ibnu ShayyadJabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,فقدنا ابن صيَّاد يوم الحرَّة“Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada hari Harrah.” (HR. Abu Daud)Ibnu Hajar rahimahullah menilai riwayat ini sahih. Sementara pendapat yang menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad wafat di Madinah dan bahwa orang-orang membukakan wajahnya serta mensalatinya, dianggap lemah oleh Ibnu Hajar.[Bersambung]***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleMengenal Ibnu SayyadKeadaan Ibnu ShayyadUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadIbnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKematian Ibnu ShayyadAda pertanyaan yang muncul di benak kita mengenai siapa dan di mana keberadaan Dajjal. Apakah Dajjal hidup (saat ini)? Apakah ia sudah ada pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu kita ketahui dahulu tentang kisah Ibnu Shayyad. Pemuda Yahudi yang hidup di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dicurigai sebagai Dajjal. Apakah dia Dajjal atau bukan? Jika Ibnu Shayyad bukan Dajjal, apakah Dajjal sudah ada sebelum kemunculannya dengan fitnahnya, atau baru muncul kemudian (saat menjelang hari kiamat)?Mengenal Ibnu SayyadNama aslinya adalah Shaff (ada yang mengatakan Abdullah) bin Shayyad atau Shaid. Ia merupakan seorang Yahudi dari Madinah, ada juga yang mengatakan dari kalangan Anshar. Ia masih kecil ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah.Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad kemudian masuk Islam, dan anaknya, ‘Umarah, termasuk dari kalangan tabi’in yang terkemuka. Imam Malik dan lainnya meriwayatkan darinya.Adz-Dzhahabi menulis dalam bukunya Tajrid Asma’ as-Sahabah,عبد الله بن صيَّاد، أورده ابن شاهين، وقال: هو ابن صائد، كان أبوه يهوديًّا، فولد عبد الله أعور مختونًا، وهو الّذي قيل: إنّه الدَّجّال، ثمَّ أسلم، فهو تابعيٌّ، له رؤية“Abdullah bin Shayyad, disebut oleh Ibnu Shahin. Ayahnya seorang Yahudi, lahirlah Abdullah yang cacat mata dan disunat, dan orang mengatakan dialah Dajjal. Ia kemudian masuk Islam, sehingga termasuk tabi’in yang pernah bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Al-Hafizh Ibnu Hajar juga menulis dalam al-Isabah menekankan hal yang sama, dan menyebut anaknya ‘Umarah bin Abdullah bin Shayyad sebagai salah satu tabi’in yang terkemuka, yang meriwayatkan dari Imam Malik dan lainnya.Keadaan Ibnu ShayyadIbnu Shayyad dikenal sebagai seorang pendusta yang sering meramal. Terkadang ucapannya benar, dan terkadang salah. Karena sifatnya itu, berita tentang dirinya tersebar luas di tengah masyarakat, sampai muncul anggapan bahwa dialah Dajjal sebagaimana akan dijelaskan dalam kisah ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya.Baca juga: Beriman Terhadap Munculnya DajalUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadKetika kabar tentang Ibnu Shayyad semakin melebar, dan banyak orang percaya bahwa ia adalah Dajjal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memastikan kebenaran itu. Beliau mendatangi Ibnu Shayyad secara diam-diam agar tidak ketahuan, dengan harapan dapat mendengar sesuatu yang mengungkap hakikat dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuka jati diri Ibnu Shayyad.Dalam sebuah hadis, Ibnu Umar menceritakan bahwa Umar pernah pergi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Ibnu Shayyad. Mereka menemukan Ibnu Shayyad sedang bermain dengan anak-anak di dekat benteng Bani Maghalah, dan ia sudah hampir baligh. Tiba-tiba, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuknya dan bertanya,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?”Ibnu Shayyad menatap beliau dan menjawab,أشهد أنك رسول الأميين“Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul bagi orang-orang yang ummi.”Dan Ibnu Shayyad balik bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolaknya dan menjawab,آمنت بالله وبرسله“Aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,يأتيني صادق وكاذب“Datang kepadaku yang benar dan yang dusta.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,خلط عليك الأمر“Engkau telah bingung dan tercampur dalam urusanmu.”Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi,إنِّي خبأت لك خبيئًا؟“Aku menyembunyikan sesuatu untukmu, coba katakan apa itu?”Ibnu Shayyad menjawab,هو الدُّخ“Ad-dukh…”Ia bermaksud mengatakan ad-dukhān (asap), namun hanya mampu mengucapkan sebagian kata itu.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata,اخسأ فلن تعدو قدرك“Diam! Engkau tidak akan melampaui batasmu.”Umar kemudian berkata,دعني يا رسول الله أضرب عنقه“Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya!”Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن يكنه؛ فلن تسلط عليه، وإن لم يكنه؛ فلا خير لك في قتله“Jika memang dialah (Dajjal), engkau tidak akan mampu membunuhnya. Dan jika bukan dia, maka tidak ada gunanya engkau membunuhnya.” (HR. Bukhari)Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi kepadanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,أرى عرشًا على الماء“Aku melihat singgasana berada di atas air.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,ترى عرش إبليس على البحر، وما ترى؟“Engkau melihat singgasana Iblis di atas lautan. Apa lagi yang kau lihat?”Ia menjawab,أرى صادقين وكاذبًا، أو كاذبين وصادقًا.“Aku melihat dua yang benar dan satu yang dusta, atau dua yang dusta dan satu yang benar.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لُبِّسَ عليه، دعوه“Pikirannya telah dikacaukan. Biarkan saja dia.” (HR. Muslim)Ibnu Umar juga menceritakan bahwa setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Ubay bin Ka‘ab kembali mendatangi kebun kurma tempat Ibnu Shayyad berada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersembunyi di balik pohon-pohon dengan harapan bisa mendengar sesuatu darinya sebelum ia sadar kedatangan beliau. Saat itu, Ibnu Sayyad sedang berbaring dengan selimutnya. Ibu Ibnu Shayyad melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memanggil anaknya,يا صاف -وهو اسم ابن صياد-! هذا محمَّد صلى الله عليه وسلم.“Wahai Shaff! Itu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam!”Ibnu Shayyad pun terkejut dan bangun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,لو تركته بيَّن“Seandainya ibunya membiarkannya, pasti urusannya menjadi jelas.” (HR. Bukhari)Abu Dzar pernah ditugaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya kepada ibu Ibnu Shayyad,سلها كم حملت به؟“Berapa lama engkau mengandungnya?”Sang ibu menjawab,حملتُ به اثني عشر شهرًا.“Aku mengandungnya selama dua belas bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abu Dzar untuk bertanya lagi,سلها عن صيحته حين وقع؟“Bagaimana tangisannya saat ia lahir?”Sang ibu menjawab,صاح صيحة الصبي ابن شهر“Ia menangis seperti bayi berusia satu bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ibnu Shayyad,إنِّي قد خبأت لك خبئًا“Aku menyembunyikan sesuatu darimu. Apa itu?”Ibnu Sayyad menjawab,خبأت لي خطم شاة عفراء والدُّخان“Engkau menyembunyikan khitm (hidung) domba dan asap.”Ia ingin mengucapkan kata ad-dukhan (asap), tetapi ia hanya mampu mengucapkan,الدُّخ، الدُّخ“Ad-dukh… ad-dukh…”Ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kata “ad-dukhan” merujuk pada firman Allah,فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ“Tunggulah pada hari ketika langit menurunkan asap yang jelas.” (QS. Ad-Dukhan: 10)Dalam riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan ayat ini sebagai ujian bagi Ibnu Sayyad.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,ابن صياد كاشف على طريقة الكهَّان، بلسان الجان، وهم يقرطون -أي: يقطعون- العبارة، ولهذا قال: هو الدُّخ يعني: الدُّخان، فعندها عرف رسول الله صلى الله عليه وسلم مادته، وأنّها شيطانية، فقال له: (اخسأ؛ فلن تعدو قدرك)“Ibnu Shayyad memiliki kemampuan seperti para dukun yang dibantu jin, sehingga ucapannya terpotong-potong. Oleh karena itu, ia hanya mampu mengatakan ad-dukh. Saat itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa sumbernya adalah dari setan. Beliau pun berkata, ‘Diam! Engkau tidak akan melampaui batas.’”Ibnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKisah Ibnu Shayyad ini pun ada yang mengatakan adalah kisah mitos saja bukan kenyataan. Salah satu yang berpendapat mengenai hal ini adalah Abu Ubaydah. Dia berkata,شخصية ابن صياد خرافة جازت على بعض العقول، فعاشت قصتها في بعض الكتب منسوبة إلى الرسول، والرسول عليه صلوات الله لا يصدر عنه من القول والفعل إِلَّا ما هو لُباب الحق ومُصاصه، ولقد آن الأوان لنأخذ بعين الاعتبار والجد روح الحديث ومعناه، ودلالته ومرماه؛ كما نأخذ سنده وطريقه؛ لتنجو مداركنا الإِسلامية من الشطط والغلط“Kepribadian Ibnu Shayyad adalah mitos yang diterima oleh beberapa orang, sehingga kisahnya hidup dalam beberapa kitab dan dikaitkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berkata atau berbuat kecuali yang merupakan inti kebenaran dan esensinya. Sudah saatnya kita memperhatikan ruh hadis, maknanya, petunjuk, dan tujuannya, sebagaimana kita memperhatikan sanad dan jalurnya, agar akal keislaman kita selamat dari penyimpangan dan kesalahan.”Namun, hal ini dapat dijawab: hadis-hadis yang menyebut Ibnu Shayyad adalah sahih, tercantum dalam kitab-kitab hadis seperti Ash-Shahihain dan lainnya. Tidak ada yang bertentangan dengan ruh hadis atau inti kebenaran. Ibnu Shayyad, seperti telah disebutkan sebelumnya, memang membuat umat Islam bingung dan termasuk salah satu penipu (Dajjal) dari golongan penipu, dan Allah menampakkan kebohongannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat Muslim.Kematian Ibnu ShayyadJabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,فقدنا ابن صيَّاد يوم الحرَّة“Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada hari Harrah.” (HR. Abu Daud)Ibnu Hajar rahimahullah menilai riwayat ini sahih. Sementara pendapat yang menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad wafat di Madinah dan bahwa orang-orang membukakan wajahnya serta mensalatinya, dianggap lemah oleh Ibnu Hajar.[Bersambung]***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleMengenal Ibnu SayyadKeadaan Ibnu ShayyadUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadIbnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKematian Ibnu ShayyadAda pertanyaan yang muncul di benak kita mengenai siapa dan di mana keberadaan Dajjal. Apakah Dajjal hidup (saat ini)? Apakah ia sudah ada pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu kita ketahui dahulu tentang kisah Ibnu Shayyad. Pemuda Yahudi yang hidup di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dicurigai sebagai Dajjal. Apakah dia Dajjal atau bukan? Jika Ibnu Shayyad bukan Dajjal, apakah Dajjal sudah ada sebelum kemunculannya dengan fitnahnya, atau baru muncul kemudian (saat menjelang hari kiamat)?Mengenal Ibnu SayyadNama aslinya adalah Shaff (ada yang mengatakan Abdullah) bin Shayyad atau Shaid. Ia merupakan seorang Yahudi dari Madinah, ada juga yang mengatakan dari kalangan Anshar. Ia masih kecil ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah.Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad kemudian masuk Islam, dan anaknya, ‘Umarah, termasuk dari kalangan tabi’in yang terkemuka. Imam Malik dan lainnya meriwayatkan darinya.Adz-Dzhahabi menulis dalam bukunya Tajrid Asma’ as-Sahabah,عبد الله بن صيَّاد، أورده ابن شاهين، وقال: هو ابن صائد، كان أبوه يهوديًّا، فولد عبد الله أعور مختونًا، وهو الّذي قيل: إنّه الدَّجّال، ثمَّ أسلم، فهو تابعيٌّ، له رؤية“Abdullah bin Shayyad, disebut oleh Ibnu Shahin. Ayahnya seorang Yahudi, lahirlah Abdullah yang cacat mata dan disunat, dan orang mengatakan dialah Dajjal. Ia kemudian masuk Islam, sehingga termasuk tabi’in yang pernah bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Al-Hafizh Ibnu Hajar juga menulis dalam al-Isabah menekankan hal yang sama, dan menyebut anaknya ‘Umarah bin Abdullah bin Shayyad sebagai salah satu tabi’in yang terkemuka, yang meriwayatkan dari Imam Malik dan lainnya.Keadaan Ibnu ShayyadIbnu Shayyad dikenal sebagai seorang pendusta yang sering meramal. Terkadang ucapannya benar, dan terkadang salah. Karena sifatnya itu, berita tentang dirinya tersebar luas di tengah masyarakat, sampai muncul anggapan bahwa dialah Dajjal sebagaimana akan dijelaskan dalam kisah ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya.Baca juga: Beriman Terhadap Munculnya DajalUjian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu SayyadKetika kabar tentang Ibnu Shayyad semakin melebar, dan banyak orang percaya bahwa ia adalah Dajjal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memastikan kebenaran itu. Beliau mendatangi Ibnu Shayyad secara diam-diam agar tidak ketahuan, dengan harapan dapat mendengar sesuatu yang mengungkap hakikat dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuka jati diri Ibnu Shayyad.Dalam sebuah hadis, Ibnu Umar menceritakan bahwa Umar pernah pergi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Ibnu Shayyad. Mereka menemukan Ibnu Shayyad sedang bermain dengan anak-anak di dekat benteng Bani Maghalah, dan ia sudah hampir baligh. Tiba-tiba, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuknya dan bertanya,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?”Ibnu Shayyad menatap beliau dan menjawab,أشهد أنك رسول الأميين“Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul bagi orang-orang yang ummi.”Dan Ibnu Shayyad balik bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,أتشهد أني رسول الله؟“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolaknya dan menjawab,آمنت بالله وبرسله“Aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,يأتيني صادق وكاذب“Datang kepadaku yang benar dan yang dusta.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,خلط عليك الأمر“Engkau telah bingung dan tercampur dalam urusanmu.”Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi,إنِّي خبأت لك خبيئًا؟“Aku menyembunyikan sesuatu untukmu, coba katakan apa itu?”Ibnu Shayyad menjawab,هو الدُّخ“Ad-dukh…”Ia bermaksud mengatakan ad-dukhān (asap), namun hanya mampu mengucapkan sebagian kata itu.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata,اخسأ فلن تعدو قدرك“Diam! Engkau tidak akan melampaui batasmu.”Umar kemudian berkata,دعني يا رسول الله أضرب عنقه“Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya!”Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن يكنه؛ فلن تسلط عليه، وإن لم يكنه؛ فلا خير لك في قتله“Jika memang dialah (Dajjal), engkau tidak akan mampu membunuhnya. Dan jika bukan dia, maka tidak ada gunanya engkau membunuhnya.” (HR. Bukhari)Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi kepadanya,ما ترى؟“Apa yang engkau lihat?”Ibnu Shayyad menjawab,أرى عرشًا على الماء“Aku melihat singgasana berada di atas air.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,ترى عرش إبليس على البحر، وما ترى؟“Engkau melihat singgasana Iblis di atas lautan. Apa lagi yang kau lihat?”Ia menjawab,أرى صادقين وكاذبًا، أو كاذبين وصادقًا.“Aku melihat dua yang benar dan satu yang dusta, atau dua yang dusta dan satu yang benar.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لُبِّسَ عليه، دعوه“Pikirannya telah dikacaukan. Biarkan saja dia.” (HR. Muslim)Ibnu Umar juga menceritakan bahwa setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Ubay bin Ka‘ab kembali mendatangi kebun kurma tempat Ibnu Shayyad berada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersembunyi di balik pohon-pohon dengan harapan bisa mendengar sesuatu darinya sebelum ia sadar kedatangan beliau. Saat itu, Ibnu Sayyad sedang berbaring dengan selimutnya. Ibu Ibnu Shayyad melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memanggil anaknya,يا صاف -وهو اسم ابن صياد-! هذا محمَّد صلى الله عليه وسلم.“Wahai Shaff! Itu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam!”Ibnu Shayyad pun terkejut dan bangun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,لو تركته بيَّن“Seandainya ibunya membiarkannya, pasti urusannya menjadi jelas.” (HR. Bukhari)Abu Dzar pernah ditugaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya kepada ibu Ibnu Shayyad,سلها كم حملت به؟“Berapa lama engkau mengandungnya?”Sang ibu menjawab,حملتُ به اثني عشر شهرًا.“Aku mengandungnya selama dua belas bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abu Dzar untuk bertanya lagi,سلها عن صيحته حين وقع؟“Bagaimana tangisannya saat ia lahir?”Sang ibu menjawab,صاح صيحة الصبي ابن شهر“Ia menangis seperti bayi berusia satu bulan.”Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ibnu Shayyad,إنِّي قد خبأت لك خبئًا“Aku menyembunyikan sesuatu darimu. Apa itu?”Ibnu Sayyad menjawab,خبأت لي خطم شاة عفراء والدُّخان“Engkau menyembunyikan khitm (hidung) domba dan asap.”Ia ingin mengucapkan kata ad-dukhan (asap), tetapi ia hanya mampu mengucapkan,الدُّخ، الدُّخ“Ad-dukh… ad-dukh…”Ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kata “ad-dukhan” merujuk pada firman Allah,فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ“Tunggulah pada hari ketika langit menurunkan asap yang jelas.” (QS. Ad-Dukhan: 10)Dalam riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan ayat ini sebagai ujian bagi Ibnu Sayyad.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,ابن صياد كاشف على طريقة الكهَّان، بلسان الجان، وهم يقرطون -أي: يقطعون- العبارة، ولهذا قال: هو الدُّخ يعني: الدُّخان، فعندها عرف رسول الله صلى الله عليه وسلم مادته، وأنّها شيطانية، فقال له: (اخسأ؛ فلن تعدو قدرك)“Ibnu Shayyad memiliki kemampuan seperti para dukun yang dibantu jin, sehingga ucapannya terpotong-potong. Oleh karena itu, ia hanya mampu mengatakan ad-dukh. Saat itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa sumbernya adalah dari setan. Beliau pun berkata, ‘Diam! Engkau tidak akan melampaui batas.’”Ibnu Shayyad: Fakta, bukan mitosKisah Ibnu Shayyad ini pun ada yang mengatakan adalah kisah mitos saja bukan kenyataan. Salah satu yang berpendapat mengenai hal ini adalah Abu Ubaydah. Dia berkata,شخصية ابن صياد خرافة جازت على بعض العقول، فعاشت قصتها في بعض الكتب منسوبة إلى الرسول، والرسول عليه صلوات الله لا يصدر عنه من القول والفعل إِلَّا ما هو لُباب الحق ومُصاصه، ولقد آن الأوان لنأخذ بعين الاعتبار والجد روح الحديث ومعناه، ودلالته ومرماه؛ كما نأخذ سنده وطريقه؛ لتنجو مداركنا الإِسلامية من الشطط والغلط“Kepribadian Ibnu Shayyad adalah mitos yang diterima oleh beberapa orang, sehingga kisahnya hidup dalam beberapa kitab dan dikaitkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berkata atau berbuat kecuali yang merupakan inti kebenaran dan esensinya. Sudah saatnya kita memperhatikan ruh hadis, maknanya, petunjuk, dan tujuannya, sebagaimana kita memperhatikan sanad dan jalurnya, agar akal keislaman kita selamat dari penyimpangan dan kesalahan.”Namun, hal ini dapat dijawab: hadis-hadis yang menyebut Ibnu Shayyad adalah sahih, tercantum dalam kitab-kitab hadis seperti Ash-Shahihain dan lainnya. Tidak ada yang bertentangan dengan ruh hadis atau inti kebenaran. Ibnu Shayyad, seperti telah disebutkan sebelumnya, memang membuat umat Islam bingung dan termasuk salah satu penipu (Dajjal) dari golongan penipu, dan Allah menampakkan kebohongannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat Muslim.Kematian Ibnu ShayyadJabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,فقدنا ابن صيَّاد يوم الحرَّة“Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada hari Harrah.” (HR. Abu Daud)Ibnu Hajar rahimahullah menilai riwayat ini sahih. Sementara pendapat yang menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad wafat di Madinah dan bahwa orang-orang membukakan wajahnya serta mensalatinya, dianggap lemah oleh Ibnu Hajar.[Bersambung]***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Ternyata Maksiat Ini Tetap Mengurangi Pahala Puasa Meski Puasa Anda Sah – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang yang berpuasa, sebagaimana ia wajib menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri, dan segala pembatal puasa lainnya, maka ia pun wajib menjauhi segala kemaksiatan, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Nabi menyebutkan kemaksiatan lisan dengan sabda beliau: “Perkataan dusta.” Dan beliau menyebutkan kemaksiatan perbuatan dengan sabda beliau: “Serta mengamalkannya.” Maknanya, anggota tubuh orang yang berpuasa pun harus ikut berpuasa dari segala maksiat. Apabila anggota tubuhnya tidak ikut berpuasa dari kemaksiatan, maka setiap kemaksiatan yang ia lakukan akan mencederai puasanya dan mengurangi pahalanya. Jika kemaksiatan yang dilakukan semakin banyak, ia bisa sampai pada tingkatan yang disebutkan dalam hadis ini, yaitu: “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Yakni, ia tidak mendapatkan pahala atas puasanya tersebut. Meskipun secara hukum puasanya telah menggugurkan kewajiban, karena rukun dan syarat-syaratnya telah terpenuhi, tapi ia tidak mendapat pahala atas puasa itu. Ini serupa dengan shalat yang ia kerjakan, tapi pikirannya melantur ke mana-mana sejak takbiratul ihram hingga salam. Shalat itu sah dan telah menggugurkan kewajiban, karena terpenuhi rukun, syarat, dan wajib-wajibnya. Akan tetapi, ia tidak mendapatkan pahala kecuali sesuai dengan kadar kekhusyukannya. Begitu pula dengan puasa, ia dianggap sah dan menggugurkan kewajiban selama ia menjauhi pembatal-pembatal puasa yang bersifat fisik. Namun jika maksiatnya terlalu banyak, ia bisa sampai pada kondisi tidak mendapatkan pahala sama sekali. Jadi, setiap maksiat yang dilakukan akan terus mengurangi pahala orang yang berpuasa. Oleh sebab itu, banyak dari generasi salaf yang memilih berdiam di masjid saat berpuasa. Mereka berkata: “Kami ingin menjaga puasa kami dan tidak menggunjing siapa pun.” Jadi, puasa adalah madrasah bagi seorang muslim untuk mendidik diri agar memperbanyak ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Hendaknya setiap orang yang berpuasa meresapi makna ini. Jika ia meresapinya, maka saat hendak terjerumus ke dalam gibah, ia akan segera tersadar bahwa ia sedang berpuasa, dan ia sadar bahwa gibah akan menggerus pahalanya. Begitu pula ucapan kotor dan keji akan mengurangi pahalanya. Mencaci maki juga akan mengurangi pahalanya. Menghina dan merendahkan orang lain dapat mengurangi pahalanya. Bahkan mendengarkan musik akan mengurangi pahala puasanya. Melihat hal yang haram mengurangi pahala puasanya, dan seterusnya. Maka hadis ini merupakan hadis yang agung, “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Maksudnya, puasa yang pelakunya tidak menjaga adab dengan menjauhi maksiat, Allah tidak memerlukan puasa yang seperti itu. Puasa bukan sekadar menahan lapar, dahaga, dan syahwat belaka. Melainkan juga menahan diri dari segala kemaksiatan dan menghiasi diri dengan adab-adab puasa. ===== وَهَذَا الْحَدِيثُ يُبَيِّنُ فِيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الصَّائِمَ أَنَّ الصَّائِمَ كَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَجْتَنِبَ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَالْجِمَاعَ وَمَا كَانَ فِي مَعْنَاهَا فَيَجِبُ عَلَيْهِ كَذَلِكَ أَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ الْقَوْلِيَّةَ وَالْفِعْلِيَّةَ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْقَوْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ قَوْلَ الزُّورِ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْفِعْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَمَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ الصَّائِمَ تَصُومُ مَعَهُ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي وَإِلَّا إِذَا لَمْ تَصُمْ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي فَإِنَّ كُلَّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنْهُ تَخْدِشُ فِي صِيَامِهِ وَتُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ فَإِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنَ الصَّائِمِ فَقَدْ يَصِلُ لِلْمَرْحَلَةِ الَّتِي ذُكِرَتْ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَهِيَ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ أَيْ أَنَّهُ لَا يُؤْجَرُ وَلَا يُثَابُ عَلَى هَذَا الصِّيَامِ وَإِنْ كَانَ الصِّيَامُ تَقَعُ بِهِ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ لِأَنَّهُ قَدْ تَحَقَّقَتْ أَرْكَانُهُ وَشُرُوطُهُ لَكِنَّهُ لَا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ وَنَظِيرُ ذَلِكَ الصَّلَاةُ الَّتِي يُصَلِّيهَا وَهُوَ فِي هَوَاجِيسَ وَوَسَاوِسَ مِنْ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ إِلَى أَنْ يُسَلِّمَ هَذِهِ الصَّلَاةُ صَحِيحَةٌ مُبْرِئَةٌ لِلذِّمَّةِ لِأَنَّهَا مُكْتَمِلَةُ الْأَرْكَانِ وَالشُّرُوطِ وَالْوَاجِبَاتِ لَكِنَّهُ لَيْسَ لَهُ مِنْ أَجْرِ صَلَاتِهِ إِلَّا بِمِقْدَارِ مَا عَقَلَ مِنْهَا هُنَا أَيْضًا الصِّيَامُ هُوَ صَحِيحٌ مُبْرِئٌ لِلذِّمَّةِ لِكَوْنِهِ الْتَزَمَ بِالِاجْتِنَابِ لِلْمُفَطِّرَاتِ الْحِسِّيَّةِ لَكِنْ إِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنْهُ فَقَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ أَنَّهُ لَا يُثَابُ عَلَى الصِّيَامِ إِذًا كُلُّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنَ الصَّائِمِ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ وَلِهَذَا كَانَ كَثِيرٌ مِنَ السَّلَفِ إِذَا صَامُوا جَلَسُوا فِي الْمَسْجِدِ وَقَالُوا نَحْفَظُ صَوْمَنَا وَلَا نَغْتَابُ أَحَدًا فَالصِّيَامُ مَدْرَسَةٌ لِلْمُسْلِمِ يَتَرَبَّى فِيهَا عَلَى أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ فَلْيَسْتَحْضِرِ الصَّائِمُ هَذَا الْمَعْنَى لِأَنَّهُ إِنْ اسْتَحْضَرَ هَذَا الْمَعْنَى إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقَعَ فِي غِيبَةٍ تَذَكَّرَ أَنَّهُ صَائِمٌ وَأَنَّ الْغِيبَةَ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ أَيْضًا الْكَلَامَ السَّيِّءَ وَالْفُحْشَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ السَّبَّ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الْهَمْزَ وَاللَّمْزَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الِاسْتِمَاعَ لِلْمَعَازِفِ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ النَّظَرَ الْمُحَرَّمَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَهَكَذَا فَيَعْنِي هَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ عَظِيمٌ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ يَعْنِي هَذَا الصَّوْمُ الَّذِي لَمْ يَتَأَدَّبْ فِيهِ الصَّائِمُ بِاجْتِنَابِ مَعَاصٍ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي هَذَا الصَّوْمِ الصَّوْمُ لَيْسَ فَقَطْ إِمْسَاكًا عَنِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالشَّهْوةِ إِنَّمَا هُوَ أَيْضًا إِمْسَاكٌ عَنِ الْمَعَاصِي وَتَأَدُّبٌ بِآدَابِ الصِّيَامِ

Ternyata Maksiat Ini Tetap Mengurangi Pahala Puasa Meski Puasa Anda Sah – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang yang berpuasa, sebagaimana ia wajib menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri, dan segala pembatal puasa lainnya, maka ia pun wajib menjauhi segala kemaksiatan, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Nabi menyebutkan kemaksiatan lisan dengan sabda beliau: “Perkataan dusta.” Dan beliau menyebutkan kemaksiatan perbuatan dengan sabda beliau: “Serta mengamalkannya.” Maknanya, anggota tubuh orang yang berpuasa pun harus ikut berpuasa dari segala maksiat. Apabila anggota tubuhnya tidak ikut berpuasa dari kemaksiatan, maka setiap kemaksiatan yang ia lakukan akan mencederai puasanya dan mengurangi pahalanya. Jika kemaksiatan yang dilakukan semakin banyak, ia bisa sampai pada tingkatan yang disebutkan dalam hadis ini, yaitu: “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Yakni, ia tidak mendapatkan pahala atas puasanya tersebut. Meskipun secara hukum puasanya telah menggugurkan kewajiban, karena rukun dan syarat-syaratnya telah terpenuhi, tapi ia tidak mendapat pahala atas puasa itu. Ini serupa dengan shalat yang ia kerjakan, tapi pikirannya melantur ke mana-mana sejak takbiratul ihram hingga salam. Shalat itu sah dan telah menggugurkan kewajiban, karena terpenuhi rukun, syarat, dan wajib-wajibnya. Akan tetapi, ia tidak mendapatkan pahala kecuali sesuai dengan kadar kekhusyukannya. Begitu pula dengan puasa, ia dianggap sah dan menggugurkan kewajiban selama ia menjauhi pembatal-pembatal puasa yang bersifat fisik. Namun jika maksiatnya terlalu banyak, ia bisa sampai pada kondisi tidak mendapatkan pahala sama sekali. Jadi, setiap maksiat yang dilakukan akan terus mengurangi pahala orang yang berpuasa. Oleh sebab itu, banyak dari generasi salaf yang memilih berdiam di masjid saat berpuasa. Mereka berkata: “Kami ingin menjaga puasa kami dan tidak menggunjing siapa pun.” Jadi, puasa adalah madrasah bagi seorang muslim untuk mendidik diri agar memperbanyak ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Hendaknya setiap orang yang berpuasa meresapi makna ini. Jika ia meresapinya, maka saat hendak terjerumus ke dalam gibah, ia akan segera tersadar bahwa ia sedang berpuasa, dan ia sadar bahwa gibah akan menggerus pahalanya. Begitu pula ucapan kotor dan keji akan mengurangi pahalanya. Mencaci maki juga akan mengurangi pahalanya. Menghina dan merendahkan orang lain dapat mengurangi pahalanya. Bahkan mendengarkan musik akan mengurangi pahala puasanya. Melihat hal yang haram mengurangi pahala puasanya, dan seterusnya. Maka hadis ini merupakan hadis yang agung, “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Maksudnya, puasa yang pelakunya tidak menjaga adab dengan menjauhi maksiat, Allah tidak memerlukan puasa yang seperti itu. Puasa bukan sekadar menahan lapar, dahaga, dan syahwat belaka. Melainkan juga menahan diri dari segala kemaksiatan dan menghiasi diri dengan adab-adab puasa. ===== وَهَذَا الْحَدِيثُ يُبَيِّنُ فِيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الصَّائِمَ أَنَّ الصَّائِمَ كَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَجْتَنِبَ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَالْجِمَاعَ وَمَا كَانَ فِي مَعْنَاهَا فَيَجِبُ عَلَيْهِ كَذَلِكَ أَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ الْقَوْلِيَّةَ وَالْفِعْلِيَّةَ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْقَوْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ قَوْلَ الزُّورِ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْفِعْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَمَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ الصَّائِمَ تَصُومُ مَعَهُ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي وَإِلَّا إِذَا لَمْ تَصُمْ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي فَإِنَّ كُلَّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنْهُ تَخْدِشُ فِي صِيَامِهِ وَتُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ فَإِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنَ الصَّائِمِ فَقَدْ يَصِلُ لِلْمَرْحَلَةِ الَّتِي ذُكِرَتْ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَهِيَ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ أَيْ أَنَّهُ لَا يُؤْجَرُ وَلَا يُثَابُ عَلَى هَذَا الصِّيَامِ وَإِنْ كَانَ الصِّيَامُ تَقَعُ بِهِ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ لِأَنَّهُ قَدْ تَحَقَّقَتْ أَرْكَانُهُ وَشُرُوطُهُ لَكِنَّهُ لَا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ وَنَظِيرُ ذَلِكَ الصَّلَاةُ الَّتِي يُصَلِّيهَا وَهُوَ فِي هَوَاجِيسَ وَوَسَاوِسَ مِنْ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ إِلَى أَنْ يُسَلِّمَ هَذِهِ الصَّلَاةُ صَحِيحَةٌ مُبْرِئَةٌ لِلذِّمَّةِ لِأَنَّهَا مُكْتَمِلَةُ الْأَرْكَانِ وَالشُّرُوطِ وَالْوَاجِبَاتِ لَكِنَّهُ لَيْسَ لَهُ مِنْ أَجْرِ صَلَاتِهِ إِلَّا بِمِقْدَارِ مَا عَقَلَ مِنْهَا هُنَا أَيْضًا الصِّيَامُ هُوَ صَحِيحٌ مُبْرِئٌ لِلذِّمَّةِ لِكَوْنِهِ الْتَزَمَ بِالِاجْتِنَابِ لِلْمُفَطِّرَاتِ الْحِسِّيَّةِ لَكِنْ إِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنْهُ فَقَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ أَنَّهُ لَا يُثَابُ عَلَى الصِّيَامِ إِذًا كُلُّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنَ الصَّائِمِ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ وَلِهَذَا كَانَ كَثِيرٌ مِنَ السَّلَفِ إِذَا صَامُوا جَلَسُوا فِي الْمَسْجِدِ وَقَالُوا نَحْفَظُ صَوْمَنَا وَلَا نَغْتَابُ أَحَدًا فَالصِّيَامُ مَدْرَسَةٌ لِلْمُسْلِمِ يَتَرَبَّى فِيهَا عَلَى أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ فَلْيَسْتَحْضِرِ الصَّائِمُ هَذَا الْمَعْنَى لِأَنَّهُ إِنْ اسْتَحْضَرَ هَذَا الْمَعْنَى إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقَعَ فِي غِيبَةٍ تَذَكَّرَ أَنَّهُ صَائِمٌ وَأَنَّ الْغِيبَةَ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ أَيْضًا الْكَلَامَ السَّيِّءَ وَالْفُحْشَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ السَّبَّ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الْهَمْزَ وَاللَّمْزَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الِاسْتِمَاعَ لِلْمَعَازِفِ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ النَّظَرَ الْمُحَرَّمَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَهَكَذَا فَيَعْنِي هَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ عَظِيمٌ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ يَعْنِي هَذَا الصَّوْمُ الَّذِي لَمْ يَتَأَدَّبْ فِيهِ الصَّائِمُ بِاجْتِنَابِ مَعَاصٍ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي هَذَا الصَّوْمِ الصَّوْمُ لَيْسَ فَقَطْ إِمْسَاكًا عَنِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالشَّهْوةِ إِنَّمَا هُوَ أَيْضًا إِمْسَاكٌ عَنِ الْمَعَاصِي وَتَأَدُّبٌ بِآدَابِ الصِّيَامِ
Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang yang berpuasa, sebagaimana ia wajib menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri, dan segala pembatal puasa lainnya, maka ia pun wajib menjauhi segala kemaksiatan, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Nabi menyebutkan kemaksiatan lisan dengan sabda beliau: “Perkataan dusta.” Dan beliau menyebutkan kemaksiatan perbuatan dengan sabda beliau: “Serta mengamalkannya.” Maknanya, anggota tubuh orang yang berpuasa pun harus ikut berpuasa dari segala maksiat. Apabila anggota tubuhnya tidak ikut berpuasa dari kemaksiatan, maka setiap kemaksiatan yang ia lakukan akan mencederai puasanya dan mengurangi pahalanya. Jika kemaksiatan yang dilakukan semakin banyak, ia bisa sampai pada tingkatan yang disebutkan dalam hadis ini, yaitu: “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Yakni, ia tidak mendapatkan pahala atas puasanya tersebut. Meskipun secara hukum puasanya telah menggugurkan kewajiban, karena rukun dan syarat-syaratnya telah terpenuhi, tapi ia tidak mendapat pahala atas puasa itu. Ini serupa dengan shalat yang ia kerjakan, tapi pikirannya melantur ke mana-mana sejak takbiratul ihram hingga salam. Shalat itu sah dan telah menggugurkan kewajiban, karena terpenuhi rukun, syarat, dan wajib-wajibnya. Akan tetapi, ia tidak mendapatkan pahala kecuali sesuai dengan kadar kekhusyukannya. Begitu pula dengan puasa, ia dianggap sah dan menggugurkan kewajiban selama ia menjauhi pembatal-pembatal puasa yang bersifat fisik. Namun jika maksiatnya terlalu banyak, ia bisa sampai pada kondisi tidak mendapatkan pahala sama sekali. Jadi, setiap maksiat yang dilakukan akan terus mengurangi pahala orang yang berpuasa. Oleh sebab itu, banyak dari generasi salaf yang memilih berdiam di masjid saat berpuasa. Mereka berkata: “Kami ingin menjaga puasa kami dan tidak menggunjing siapa pun.” Jadi, puasa adalah madrasah bagi seorang muslim untuk mendidik diri agar memperbanyak ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Hendaknya setiap orang yang berpuasa meresapi makna ini. Jika ia meresapinya, maka saat hendak terjerumus ke dalam gibah, ia akan segera tersadar bahwa ia sedang berpuasa, dan ia sadar bahwa gibah akan menggerus pahalanya. Begitu pula ucapan kotor dan keji akan mengurangi pahalanya. Mencaci maki juga akan mengurangi pahalanya. Menghina dan merendahkan orang lain dapat mengurangi pahalanya. Bahkan mendengarkan musik akan mengurangi pahala puasanya. Melihat hal yang haram mengurangi pahala puasanya, dan seterusnya. Maka hadis ini merupakan hadis yang agung, “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Maksudnya, puasa yang pelakunya tidak menjaga adab dengan menjauhi maksiat, Allah tidak memerlukan puasa yang seperti itu. Puasa bukan sekadar menahan lapar, dahaga, dan syahwat belaka. Melainkan juga menahan diri dari segala kemaksiatan dan menghiasi diri dengan adab-adab puasa. ===== وَهَذَا الْحَدِيثُ يُبَيِّنُ فِيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الصَّائِمَ أَنَّ الصَّائِمَ كَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَجْتَنِبَ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَالْجِمَاعَ وَمَا كَانَ فِي مَعْنَاهَا فَيَجِبُ عَلَيْهِ كَذَلِكَ أَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ الْقَوْلِيَّةَ وَالْفِعْلِيَّةَ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْقَوْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ قَوْلَ الزُّورِ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْفِعْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَمَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ الصَّائِمَ تَصُومُ مَعَهُ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي وَإِلَّا إِذَا لَمْ تَصُمْ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي فَإِنَّ كُلَّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنْهُ تَخْدِشُ فِي صِيَامِهِ وَتُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ فَإِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنَ الصَّائِمِ فَقَدْ يَصِلُ لِلْمَرْحَلَةِ الَّتِي ذُكِرَتْ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَهِيَ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ أَيْ أَنَّهُ لَا يُؤْجَرُ وَلَا يُثَابُ عَلَى هَذَا الصِّيَامِ وَإِنْ كَانَ الصِّيَامُ تَقَعُ بِهِ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ لِأَنَّهُ قَدْ تَحَقَّقَتْ أَرْكَانُهُ وَشُرُوطُهُ لَكِنَّهُ لَا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ وَنَظِيرُ ذَلِكَ الصَّلَاةُ الَّتِي يُصَلِّيهَا وَهُوَ فِي هَوَاجِيسَ وَوَسَاوِسَ مِنْ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ إِلَى أَنْ يُسَلِّمَ هَذِهِ الصَّلَاةُ صَحِيحَةٌ مُبْرِئَةٌ لِلذِّمَّةِ لِأَنَّهَا مُكْتَمِلَةُ الْأَرْكَانِ وَالشُّرُوطِ وَالْوَاجِبَاتِ لَكِنَّهُ لَيْسَ لَهُ مِنْ أَجْرِ صَلَاتِهِ إِلَّا بِمِقْدَارِ مَا عَقَلَ مِنْهَا هُنَا أَيْضًا الصِّيَامُ هُوَ صَحِيحٌ مُبْرِئٌ لِلذِّمَّةِ لِكَوْنِهِ الْتَزَمَ بِالِاجْتِنَابِ لِلْمُفَطِّرَاتِ الْحِسِّيَّةِ لَكِنْ إِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنْهُ فَقَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ أَنَّهُ لَا يُثَابُ عَلَى الصِّيَامِ إِذًا كُلُّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنَ الصَّائِمِ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ وَلِهَذَا كَانَ كَثِيرٌ مِنَ السَّلَفِ إِذَا صَامُوا جَلَسُوا فِي الْمَسْجِدِ وَقَالُوا نَحْفَظُ صَوْمَنَا وَلَا نَغْتَابُ أَحَدًا فَالصِّيَامُ مَدْرَسَةٌ لِلْمُسْلِمِ يَتَرَبَّى فِيهَا عَلَى أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ فَلْيَسْتَحْضِرِ الصَّائِمُ هَذَا الْمَعْنَى لِأَنَّهُ إِنْ اسْتَحْضَرَ هَذَا الْمَعْنَى إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقَعَ فِي غِيبَةٍ تَذَكَّرَ أَنَّهُ صَائِمٌ وَأَنَّ الْغِيبَةَ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ أَيْضًا الْكَلَامَ السَّيِّءَ وَالْفُحْشَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ السَّبَّ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الْهَمْزَ وَاللَّمْزَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الِاسْتِمَاعَ لِلْمَعَازِفِ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ النَّظَرَ الْمُحَرَّمَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَهَكَذَا فَيَعْنِي هَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ عَظِيمٌ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ يَعْنِي هَذَا الصَّوْمُ الَّذِي لَمْ يَتَأَدَّبْ فِيهِ الصَّائِمُ بِاجْتِنَابِ مَعَاصٍ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي هَذَا الصَّوْمِ الصَّوْمُ لَيْسَ فَقَطْ إِمْسَاكًا عَنِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالشَّهْوةِ إِنَّمَا هُوَ أَيْضًا إِمْسَاكٌ عَنِ الْمَعَاصِي وَتَأَدُّبٌ بِآدَابِ الصِّيَامِ


Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang yang berpuasa, sebagaimana ia wajib menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri, dan segala pembatal puasa lainnya, maka ia pun wajib menjauhi segala kemaksiatan, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Nabi menyebutkan kemaksiatan lisan dengan sabda beliau: “Perkataan dusta.” Dan beliau menyebutkan kemaksiatan perbuatan dengan sabda beliau: “Serta mengamalkannya.” Maknanya, anggota tubuh orang yang berpuasa pun harus ikut berpuasa dari segala maksiat. Apabila anggota tubuhnya tidak ikut berpuasa dari kemaksiatan, maka setiap kemaksiatan yang ia lakukan akan mencederai puasanya dan mengurangi pahalanya. Jika kemaksiatan yang dilakukan semakin banyak, ia bisa sampai pada tingkatan yang disebutkan dalam hadis ini, yaitu: “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Yakni, ia tidak mendapatkan pahala atas puasanya tersebut. Meskipun secara hukum puasanya telah menggugurkan kewajiban, karena rukun dan syarat-syaratnya telah terpenuhi, tapi ia tidak mendapat pahala atas puasa itu. Ini serupa dengan shalat yang ia kerjakan, tapi pikirannya melantur ke mana-mana sejak takbiratul ihram hingga salam. Shalat itu sah dan telah menggugurkan kewajiban, karena terpenuhi rukun, syarat, dan wajib-wajibnya. Akan tetapi, ia tidak mendapatkan pahala kecuali sesuai dengan kadar kekhusyukannya. Begitu pula dengan puasa, ia dianggap sah dan menggugurkan kewajiban selama ia menjauhi pembatal-pembatal puasa yang bersifat fisik. Namun jika maksiatnya terlalu banyak, ia bisa sampai pada kondisi tidak mendapatkan pahala sama sekali. Jadi, setiap maksiat yang dilakukan akan terus mengurangi pahala orang yang berpuasa. Oleh sebab itu, banyak dari generasi salaf yang memilih berdiam di masjid saat berpuasa. Mereka berkata: “Kami ingin menjaga puasa kami dan tidak menggunjing siapa pun.” Jadi, puasa adalah madrasah bagi seorang muslim untuk mendidik diri agar memperbanyak ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Hendaknya setiap orang yang berpuasa meresapi makna ini. Jika ia meresapinya, maka saat hendak terjerumus ke dalam gibah, ia akan segera tersadar bahwa ia sedang berpuasa, dan ia sadar bahwa gibah akan menggerus pahalanya. Begitu pula ucapan kotor dan keji akan mengurangi pahalanya. Mencaci maki juga akan mengurangi pahalanya. Menghina dan merendahkan orang lain dapat mengurangi pahalanya. Bahkan mendengarkan musik akan mengurangi pahala puasanya. Melihat hal yang haram mengurangi pahala puasanya, dan seterusnya. Maka hadis ini merupakan hadis yang agung, “…Allah tidak memerlukan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” Maksudnya, puasa yang pelakunya tidak menjaga adab dengan menjauhi maksiat, Allah tidak memerlukan puasa yang seperti itu. Puasa bukan sekadar menahan lapar, dahaga, dan syahwat belaka. Melainkan juga menahan diri dari segala kemaksiatan dan menghiasi diri dengan adab-adab puasa. ===== وَهَذَا الْحَدِيثُ يُبَيِّنُ فِيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الصَّائِمَ أَنَّ الصَّائِمَ كَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَجْتَنِبَ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَالْجِمَاعَ وَمَا كَانَ فِي مَعْنَاهَا فَيَجِبُ عَلَيْهِ كَذَلِكَ أَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ الْقَوْلِيَّةَ وَالْفِعْلِيَّةَ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْقَوْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ قَوْلَ الزُّورِ وَعَبَّرَ عَنِ الْمَعَاصِي الْفِعْلِيَّةِ بِقَوْلِهِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَمَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ الصَّائِمَ تَصُومُ مَعَهُ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي وَإِلَّا إِذَا لَمْ تَصُمْ جَوَارِحُهُ عَنِ الْمَعَاصِي فَإِنَّ كُلَّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنْهُ تَخْدِشُ فِي صِيَامِهِ وَتُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ فَإِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنَ الصَّائِمِ فَقَدْ يَصِلُ لِلْمَرْحَلَةِ الَّتِي ذُكِرَتْ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَهِيَ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ أَيْ أَنَّهُ لَا يُؤْجَرُ وَلَا يُثَابُ عَلَى هَذَا الصِّيَامِ وَإِنْ كَانَ الصِّيَامُ تَقَعُ بِهِ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ لِأَنَّهُ قَدْ تَحَقَّقَتْ أَرْكَانُهُ وَشُرُوطُهُ لَكِنَّهُ لَا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ وَنَظِيرُ ذَلِكَ الصَّلَاةُ الَّتِي يُصَلِّيهَا وَهُوَ فِي هَوَاجِيسَ وَوَسَاوِسَ مِنْ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ إِلَى أَنْ يُسَلِّمَ هَذِهِ الصَّلَاةُ صَحِيحَةٌ مُبْرِئَةٌ لِلذِّمَّةِ لِأَنَّهَا مُكْتَمِلَةُ الْأَرْكَانِ وَالشُّرُوطِ وَالْوَاجِبَاتِ لَكِنَّهُ لَيْسَ لَهُ مِنْ أَجْرِ صَلَاتِهِ إِلَّا بِمِقْدَارِ مَا عَقَلَ مِنْهَا هُنَا أَيْضًا الصِّيَامُ هُوَ صَحِيحٌ مُبْرِئٌ لِلذِّمَّةِ لِكَوْنِهِ الْتَزَمَ بِالِاجْتِنَابِ لِلْمُفَطِّرَاتِ الْحِسِّيَّةِ لَكِنْ إِذَا كَثُرَتِ الْمَعَاصِي مِنْهُ فَقَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ أَنَّهُ لَا يُثَابُ عَلَى الصِّيَامِ إِذًا كُلُّ مَعْصِيَةٍ تَقَعُ مِنَ الصَّائِمِ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ وَلِهَذَا كَانَ كَثِيرٌ مِنَ السَّلَفِ إِذَا صَامُوا جَلَسُوا فِي الْمَسْجِدِ وَقَالُوا نَحْفَظُ صَوْمَنَا وَلَا نَغْتَابُ أَحَدًا فَالصِّيَامُ مَدْرَسَةٌ لِلْمُسْلِمِ يَتَرَبَّى فِيهَا عَلَى أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَنْ يَجْتَنِبَ الْمَعَاصِيَ فَلْيَسْتَحْضِرِ الصَّائِمُ هَذَا الْمَعْنَى لِأَنَّهُ إِنْ اسْتَحْضَرَ هَذَا الْمَعْنَى إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقَعَ فِي غِيبَةٍ تَذَكَّرَ أَنَّهُ صَائِمٌ وَأَنَّ الْغِيبَةَ تُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ أَيْضًا الْكَلَامَ السَّيِّءَ وَالْفُحْشَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ السَّبَّ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الْهَمْزَ وَاللَّمْزَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ الِاسْتِمَاعَ لِلْمَعَازِفِ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَأَنَّ النَّظَرَ الْمُحَرَّمَ يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِهِ وَهَكَذَا فَيَعْنِي هَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ عَظِيمٌ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ يَعْنِي هَذَا الصَّوْمُ الَّذِي لَمْ يَتَأَدَّبْ فِيهِ الصَّائِمُ بِاجْتِنَابِ مَعَاصٍ لَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي هَذَا الصَّوْمِ الصَّوْمُ لَيْسَ فَقَطْ إِمْسَاكًا عَنِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالشَّهْوةِ إِنَّمَا هُوَ أَيْضًا إِمْسَاكٌ عَنِ الْمَعَاصِي وَتَأَدُّبٌ بِآدَابِ الصِّيَامِ

Kisah Perang Khandaq dalam Surah Al-Ahzab: Pelajaran Tentang Pertolongan Allah

Surah Al-Ahzab merupakan salah satu surah Madaniyah yang sarat dengan pelajaran tentang keteguhan iman dan ujian mental. Nama “Al-Ahzab” sendiri merujuk pada pasukan sekutu (koalisi) kafir Quraisy bersama kabilah-kabilah lain yang mengepung Madinah dalam Perang Khandaq.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Perang Ahzab (Perang Khandaq) dan Pelajaran di Dalamnya  Daftar Isi tutup 1. 1. Pertolongan Allah dan Goncangan Ujian bagi Orang Beriman (Ayat 9–11) 2. 2. Mentalitas Pecundang dan Siasat Orang Munafik (Ayat 12–20) 3. 3. Keteladanan Rasulullah dan Keteguhan Iman Kaum Mukminin (Ayat 21–24) 4. 4. Akhir Perjuangan dan Kemenangan bagi Orang Bertakwa (Ayat 25–27)  Berikut adalah pengembangan empat bagian utama kisah Perang Ahzab dalam surah ini sebagai bahan tadabbur kita:1. Pertolongan Allah dan Goncangan Ujian bagi Orang Beriman (Ayat 9–11)Pada bagian awal, Allah mengingatkan kaum mukminin tentang besarnya nikmat pertolongan-Nya. Saat itu, pasukan musuh datang dari “atas” dan “bawah” Madinah, hingga mata kaum Muslimin terbelalak ketakutan dan hati mereka seolah menyesak sampai ke tenggorokan.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَآءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ahzab: 9)إِذْ جَآءُوكُم مِّن فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ ٱلْأَبْصَٰرُ وَبَلَغَتِ ٱلْقُلُوبُ ٱلْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِٱللَّهِ ٱلظُّنُونَا۠“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (QS. Al-Ahzab: 10)هُنَالِكَ ٱبْتُلِىَ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا۟ زِلْزَالًا شَدِيدًا“Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (QS. Al-Ahzab: 11)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman tentang nikmat-Nya kepada mereka dan mendorong mereka untuk mensyukurinya. Nikmat itu terjadi ketika pasukan-pasukan musuh datang menyerang mereka. Pasukan tersebut berasal dari penduduk Makkah dan wilayah Hijaz yang datang dari arah atas mereka, serta dari penduduk Najd yang datang dari arah bawah mereka. Mereka sepakat dan bersekutu untuk memusnahkan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Peristiwa ini dikenal sebagai Perang Khandaq.Kaum Yahudi yang tinggal di sekitar Madinah juga turut membantu mereka. Mereka bergabung dan mengerahkan pasukan yang besar serta berbagai kelompok manusia yang banyak.Rasulullah ﷺ kemudian menggali parit (khandaq) di sekitar Madinah sebagai strategi pertahanan. Pasukan musuh pun mengepung kota Madinah. Keadaan menjadi sangat genting. Rasa takut semakin memuncak hingga hati terasa naik ke tenggorokan. Sebagian manusia bahkan mulai berprasangka yang bermacam-macam karena melihat sebab-sebab yang tampak begitu kuat dan berbagai kesulitan yang sangat berat.Pengepungan terhadap Madinah berlangsung cukup lama. Keadaan saat itu sebagaimana yang Allah gambarkan dalam firman-Nya:وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَ“Dan (ingatlah) ketika pandangan menjadi liar dan hati menyesak sampai ke tenggorokan, dan kalian berprasangka yang bermacam-macam terhadap Allah.” (QS. Al-Ahzab: 10)Maksudnya, muncul berbagai prasangka buruk pada sebagian orang, seolah-olah Allah tidak akan menolong agama-Nya dan tidak akan menyempurnakan kalimat-Nya (agama Islam).“Di sanalah orang-orang mukmin diuji dan diguncangkan dengan guncangan yang sangat dahsyat.” (QS. Al-Ahzab: 11)Di saat itulah orang-orang beriman diuji dengan ujian yang sangat besar. Mereka diguncang dengan guncangan yang dahsyat berupa rasa takut, kecemasan, dan kelaparan. Semua itu terjadi agar tampak jelas keimanan mereka dan agar keyakinan mereka semakin bertambah kuat.Dalam peristiwa itu tampak—segala puji bagi Allah—betapa kuat iman dan keyakinan mereka, hingga mereka mencapai derajat keimanan yang sangat tinggi.Ketika kesulitan semakin berat dan berbagai penderitaan semakin memuncak, keimanan mereka pun berubah menjadi keyakinan yang nyata. Allah menggambarkan sikap mereka dalam firman-Nya:وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا“Dan ketika orang-orang mukmin melihat pasukan-pasukan itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami. Benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan keadaan itu tidaklah menambah bagi mereka selain iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)Pada saat yang sama, kemunafikan orang-orang munafik pun menjadi jelas. Apa yang selama ini mereka sembunyikan dalam hati akhirnya tampak nyata. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam ayat selanjutnya. Pelajaran Penting: Ujian berat adalah sunnatullah untuk menyaring siapa yang benar-benar beriman. Namun, bagi mereka yang bersabar, Allah mengirimkan “pasukan tak terlihat” berupa angin kencang dan malaikat untuk memukul mundur musuh.Pesan Utama: Jangan pernah meragukan pertolongan Allah saat kondisi terasa paling menghimpit sekalipun. 2. Mentalitas Pecundang dan Siasat Orang Munafik (Ayat 12–20)Al-Qur’an secara gamblang membongkar isi hati orang munafik saat krisis terjadi. Mereka berkata bahwa janji Allah dan Rasul-Nya hanyalah tipu daya. Mereka mencari-cari alasan (udzur) untuk meninggalkan medan perang dengan dalih “rumah kami tidak aman”, padahal mereka hanya ingin melarikan diri.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ يَقُولُ ٱلْمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ إِلَّا غُرُورًا“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”.” (QS. Al-Ahzab: 12)وَإِذْ قَالَت طَّآئِفَةٌ مِّنْهُمْ يَٰٓأَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَٱرْجِعُوا۟ ۚ وَيَسْتَـْٔذِنُ فَرِيقٌ مِّنْهُمُ ٱلنَّبِىَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِىَ بِعَوْرَةٍ ۖ إِن يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا“Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.” (QS. Al-Ahzab: 13)وَلَوْ دُخِلَتْ عَلَيْهِم مِّنْ أَقْطَارِهَا ثُمَّ سُئِلُوا۟ ٱلْفِتْنَةَ لَءَاتَوْهَا وَمَا تَلَبَّثُوا۟ بِهَآ إِلَّا يَسِيرًا“Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan bertangguh untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat.” (QS. Al-Ahzab: 14)وَلَقَدْ كَانُوا۟ عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ مِن قَبْلُ لَا يُوَلُّونَ ٱلْأَدْبَٰرَ ۚ وَكَانَ عَهْدُ ٱللَّهِ مَسْـُٔولًا“Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: “Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur)”. Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Ahzab: 15)قُل لَّن يَنفَعَكُمُ ٱلْفِرَارُ إِن فَرَرْتُم مِّنَ ٱلْمَوْتِ أَوِ ٱلْقَتْلِ وَإِذًا لَّا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلًا“Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja”. (QS. Al-Ahzab: 16)قُلْ مَن ذَا ٱلَّذِى يَعْصِمُكُم مِّنَ ٱللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوٓءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً ۚ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا“Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab: 17)۞ قَدْ يَعْلَمُ ٱللَّهُ ٱلْمُعَوِّقِينَ مِنكُمْ وَٱلْقَآئِلِينَ لِإِخْوَٰنِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا ۖ وَلَا يَأْتُونَ ٱلْبَأْسَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: “Marilah kepada kami”. Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar.” (QS. Al-Ahzab: 18)أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ ۖ فَإِذَا جَآءَ ٱلْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَٱلَّذِى يُغْشَىٰ عَلَيْهِ مِنَ ٱلْمَوْتِ ۖ فَإِذَا ذَهَبَ ٱلْخَوْفُ سَلَقُوكُم بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى ٱلْخَيْرِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا۟ فَأَحْبَطَ ٱللَّهُ أَعْمَٰلَهُمْ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرًا“Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 19)يَحْسَبُونَ ٱلْأَحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا۟ ۖ وَإِن يَأْتِ ٱلْأَحْزَابُ يَوَدُّوا۟ لَوْ أَنَّهُم بَادُونَ فِى ٱلْأَعْرَابِ يَسْـَٔلُونَ عَنْ أَنۢبَآئِكُمْ ۖ وَلَوْ كَانُوا۟ فِيكُم مَّا قَٰتَلُوٓا۟ إِلَّا قَلِيلًا“Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab: 20)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit berkata, ‘Tidaklah Allah dan Rasul-Nya menjanjikan kepada kami selain tipu daya belaka.’” (QS. Al-Ahzab: 12)Inilah kebiasaan orang munafik ketika menghadapi kesulitan dan ujian. Iman mereka tidak kokoh. Mereka menilai keadaan hanya dengan akal yang pendek dan pandangan yang sempit, lalu membenarkan prasangka buruk mereka sendiri.“Dan (ingatlah) ketika segolongan dari mereka berkata, ‘Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagi kalian (untuk bertahan di sini), maka kembalilah kalian.’ Dan sebagian dari mereka meminta izin kepada Nabi dengan berkata, ‘Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak terjaga).’ Padahal rumah-rumah itu tidaklah terbuka; mereka tidak menghendaki selain melarikan diri.” (QS. Al-Ahzab: 13)Sebagian orang munafik, ketika rasa takut meliputi mereka dan kesabaran mereka melemah, menjadi orang-orang yang gagal dan putus asa. Mereka bukan hanya tidak mampu bersabar sendiri, tetapi juga berusaha melemahkan orang lain.Mereka berkata, “Wahai penduduk Yatsrib!” maksudnya adalah penduduk Madinah. Mereka menyebut kota itu dengan nama lamanya (Yatsrib berarti cercaan), seakan-akan mereka tidak mempedulikan persaudaraan iman dan agama. Yang mendorong mereka hanyalah kelemahan dan ketakutan.Mereka berkata, “Tidak ada tempat bagi kalian di sini, maka kembalilah!” Maksudnya, kembalilah ke kota Madinah. Dengan ucapan ini mereka melemahkan semangat kaum Muslimin untuk berjihad dan menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kekuatan menghadapi musuh.Kelompok ini adalah kelompok yang paling buruk dan paling berbahaya. Ada pula kelompok lain yang lebih lemah dari mereka. Kelompok ini diliputi rasa takut dan ingin mundur dari barisan, sehingga mereka mencari-cari alasan yang tidak benar.Mereka berkata kepada Nabi ﷺ, “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka.” Maksudnya, rumah-rumah kami terancam bahaya dan kami khawatir musuh akan menyerangnya ketika kami tidak berada di sana, maka izinkanlah kami kembali untuk menjaganya.Padahal mereka berdusta. Allah menegaskan bahwa tujuan mereka hanyalah melarikan diri. Inilah keadaan orang-orang yang imannya lemah dan tidak kokoh ketika menghadapi ujian yang berat.Baca juga: Cinta Dunia dan Takut Mati“Seandainya kota itu diserang dari segala penjuru, kemudian mereka diminta untuk murtad (dari agama), niscaya mereka akan melakukannya, dan mereka tidak akan menundanya kecuali sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab: 14)Artinya, seandainya musuh berhasil memasuki Madinah dari berbagai penjuru dan menguasainya, lalu mereka diminta meninggalkan agama mereka dan kembali kepada agama orang-orang yang menang, niscaya mereka akan segera melakukannya. Mereka tidak memiliki keteguhan dalam mempertahankan agama.Baca juga: Diancam Murtad“Padahal sebelumnya mereka telah berjanji kepada Allah bahwa mereka tidak akan berpaling ke belakang. Dan janji kepada Allah itu pasti akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Ahzab: 15)Padahal sebelumnya mereka telah berjanji kepada Allah untuk tidak mundur dari medan perjuangan. Janji kepada Allah pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Mereka akan ditanya tentang janji tersebut, dan ternyata mereka telah melanggarnya.Baca juga: Bahaya Melanggar Perjanjian dengan Allah dan Dampaknya Bagi Hati“Katakanlah, ‘Melarikan diri tidak akan bermanfaat bagi kalian jika kalian lari dari kematian atau pembunuhan. Jika pun demikian, kalian hanya akan menikmati kehidupan sebentar saja.’” (QS. Al-Ahzab: 16)Katakanlah kepada mereka bahwa melarikan diri tidak akan memberi manfaat apa pun. Jika seseorang telah ditakdirkan mati atau terbunuh, maka hal itu pasti akan terjadi. Seandainya mereka tetap berada di rumah mereka, orang yang telah ditakdirkan mati tetap akan keluar menuju tempat kematiannya.Sebab-sebab memang dapat memberi manfaat selama tidak bertentangan dengan takdir Allah. Namun ketika takdir Allah telah datang, semua sebab akan hilang dan semua usaha manusia tidak lagi berguna.Kalaupun mereka melarikan diri untuk menikmati kehidupan dunia, kesenangan itu hanyalah sementara dan tidak sebanding dengan kenikmatan abadi yang mereka tinggalkan.Baca juga: Kematian yang Tidak Bisa Dihindari“Katakanlah, ‘Siapakah yang dapat melindungi kalian dari Allah jika Dia menghendaki keburukan bagi kalian atau menghendaki rahmat bagi kalian?’ Mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab: 17)Ayat ini menjelaskan bahwa semua sebab tidak dapat menyelamatkan manusia jika Allah menghendaki keburukan baginya. Allah adalah Dzat yang memberi dan menahan, yang mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Dia, dan tidak ada yang dapat menolak keburukan kecuali Dia.Karena itu hendaknya manusia menaati Allah, Dzat yang mengatur seluruh urusan, yang kehendak-Nya pasti terlaksana dan takdir-Nya pasti terjadi.“Sungguh Allah mengetahui orang-orang di antara kalian yang menghalang-halangi (orang lain) dan yang berkata kepada saudara-saudaranya, ‘Marilah kepada kami.’ Dan mereka tidak datang ke medan perang kecuali sedikit saja.” (QS. Al-Ahzab: 18)Allah mengetahui orang-orang yang menghalangi manusia dari berjihad dan berkata kepada saudara-saudara mereka, “Kembalilah kepada kami,” sebagaimana ucapan mereka sebelumnya, “Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagi kalian di sini, maka kembalilah.”Mereka sendiri hampir tidak pernah datang ke medan peperangan. Mereka sangat ingin tertinggal karena tidak ada dorongan iman dan kesabaran dalam diri mereka, sementara sebab-sebab yang mendorong rasa takut dan kemunafikan sangat kuat.“Mereka sangat kikir terhadap kalian. Ketika datang rasa takut, engkau melihat mereka memandang kepadamu dengan mata terbelalak seperti orang yang pingsan karena takut mati. Tetapi ketika rasa takut itu hilang, mereka mencela kalian dengan kata-kata yang tajam, dan mereka sangat kikir terhadap kebaikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak beriman, maka Allah menghapus amal-amal mereka. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 19)Mereka kikir dengan diri mereka dalam peperangan dan kikir dengan harta mereka untuk berinfak di jalan Allah. Ketika rasa takut datang, mereka memandang dengan mata yang berputar-putar seperti orang yang hampir mati karena ketakutan.Namun ketika keadaan kembali aman, mereka berbicara dengan kata-kata keras dan penuh klaim seolah-olah mereka adalah orang-orang yang berani.Sifat paling buruk dalam diri manusia adalah kikir terhadap kebaikan: kikir dengan hartanya untuk berinfak di jalan Allah, kikir dengan dirinya untuk berjihad dan berdakwah, kikir dengan kedudukannya, ilmunya, nasihatnya, dan pendapatnya.Orang-orang seperti ini tidak memiliki iman. Karena itu Allah menghapus amal-amal mereka, dan hal itu sangat mudah bagi Allah.Adapun orang-orang beriman, Allah menjaga mereka dari sifat kikir dan memberi taufik kepada mereka untuk mengorbankan diri, harta, kedudukan, dan ilmu mereka di jalan Allah.“Mereka mengira bahwa pasukan-pasukan sekutu itu belum pergi. Jika pasukan-pasukan itu datang lagi, mereka ingin berada di tengah orang-orang Badui di padang pasir sambil menanyakan kabar tentang kalian. Sekiranya mereka berada bersama kalian, mereka tidak akan berperang kecuali sedikit saja.” (QS. Al-Ahzab: 20)Orang-orang munafik itu mengira pasukan sekutu belum benar-benar pergi dan akan kembali menyerang hingga memusnahkan kaum Muslimin. Jika pasukan itu datang lagi, mereka berharap tidak berada di Madinah, tetapi tinggal bersama orang-orang Badui di padang pasir, hanya mendengar kabar dari jauh tentang apa yang terjadi pada kaum Muslimin.Walaupun mereka berada di tengah kaum Muslimin, mereka hampir tidak ikut berperang kecuali sedikit saja. Oleh karena itu, tidak perlu mempedulikan mereka dan tidak perlu bersedih atas ketidakhadiran mereka. Pelajaran Penting: Karakter orang munafik adalah bakhil (pelit) terhadap kebaikan dan sangat penakut. Ketika bahaya datang, mata mereka berputar-putar karena takut mati, namun ketika bahaya hilang, mereka mencela kaum mukminin dengan lisan yang tajam.Pesan Utama: Waspadai sifat mencari-cari alasan dalam beribadah atau berjihad, karena itu adalah salah satu ciri kemunafikan. 3. Keteladanan Rasulullah dan Keteguhan Iman Kaum Mukminin (Ayat 21–24)Di tengah kepungan musuh, Allah menetapkan Nabi Muhammad sebagai Uswatun Hasanah (suri teladan yang baik). Berbeda dengan orang munafik, kaum mukminin ketika melihat pasukan musuh justru berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.”Allah Ta’ala berfirman,لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)وَلَمَّا رَءَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلْأَحْزَابَ قَالُوا۟ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّآ إِيمَٰنًا وَتَسْلِيمًا“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا۟ مَا عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبْدِيلًا“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23)لِّيَجْزِىَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ إِن شَآءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا“supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 24)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Ayat ini menunjukkan bahwa pada diri Rasulullah ﷺ terdapat teladan yang sangat baik. Beliau sendiri hadir dalam medan peperangan, terjun langsung menghadapi pertempuran, padahal beliau adalah manusia yang paling mulia, paling sempurna, dan paling berani.Jika Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan begitu tinggi saja turun langsung menghadapi kesulitan dan bahaya, lalu bagaimana mungkin seseorang merasa enggan mengorbankan dirinya dalam perkara yang Rasulullah ﷺ sendiri telah melakukannya?Karena itu, hendaknya kaum Muslimin meneladani beliau dalam perkara ini dan dalam seluruh urusan lainnya.Para ulama usul fikih juga menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa perbuatan Rasulullah ﷺ dapat dijadikan hujah (landasan hukum). Pada dasarnya, umat beliau diperintahkan meneladani beliau dalam hukum-hukum syariat, kecuali jika ada dalil khusus yang menunjukkan bahwa suatu perkara hanya berlaku bagi beliau.Teladan itu ada dua macam:Pertama, teladan yang baik (uswah hasanah).Teladan yang baik terdapat pada diri Rasulullah ﷺ. Orang yang meneladani beliau berarti sedang menempuh jalan yang mengantarkannya kepada kemuliaan di sisi Allah, yaitu jalan yang lurus.Kedua, teladan yang buruk.Yaitu meneladani selain Rasulullah ﷺ ketika mereka menyelisihi beliau. Inilah teladan yang buruk, sebagaimana perkataan orang-orang kafir ketika para rasul mengajak mereka mengikuti kebenaran:إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami hanya mengikuti jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 22)Teladan yang baik ini hanya akan ditempuh dan dimudahkan bagi orang yang benar-benar berharap kepada Allah dan hari akhir. Keimanan, rasa takut kepada Allah, harapan terhadap pahala-Nya, serta rasa takut terhadap azab-Nya akan mendorong seseorang untuk meneladani Rasulullah ﷺ dalam seluruh kehidupannya.“Dan ketika orang-orang mukmin melihat pasukan-pasukan itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Keadaan itu tidak menambah bagi mereka selain iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)Setelah Allah menyebutkan keadaan orang-orang munafik ketika diliputi rasa takut, Allah kemudian menjelaskan keadaan orang-orang beriman.Ketika orang-orang beriman melihat pasukan-pasukan sekutu yang berkumpul dan telah mengambil posisi untuk menyerang, rasa takut memang muncul. Namun mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami.”Maksudnya adalah janji yang disebutkan dalam firman Allah:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian ujian seperti yang dialami orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa kesengsaraan dan penderitaan serta diguncang dengan berbagai cobaan, sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)Karena itu mereka berkata, “Benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Mereka benar-benar menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri apa yang sebelumnya telah diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya.Peristiwa besar itu justru tidak menambah bagi mereka selain bertambahnya iman di dalam hati mereka dan ketundukan pada anggota tubuh mereka, yaitu kepatuhan dan ketaatan terhadap perintah Allah.“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang telah gugur (menunaikan janjinya), dan di antara mereka ada pula yang masih menunggu. Dan mereka tidak mengubah (janji mereka) sedikit pun.” (QS. Al-Ahzab: 23)Setelah Allah menyebutkan bahwa orang-orang munafik telah berjanji kepada Allah untuk tidak mundur dari medan perjuangan, tetapi kemudian mereka melanggar janji itu, Allah lalu menyebutkan keadaan orang-orang beriman yang justru menepati janji mereka.Di antara orang-orang beriman terdapat para lelaki sejati yang benar dalam janji mereka kepada Allah. Mereka menepati, menyempurnakan, dan melaksanakan janji itu dengan sepenuh hati. Mereka mengorbankan jiwa mereka demi keridaan Allah dan menyerahkan diri mereka untuk ketaatan kepada-Nya.Sebagian dari mereka telah menunaikan janjinya, yaitu mereka telah mencapai apa yang mereka inginkan dan memenuhi kewajiban yang ada pada diri mereka. Mereka gugur di jalan Allah atau wafat setelah menunaikan kewajiban mereka tanpa mengurangi sedikit pun.Sebagian yang lain masih menunggu, yaitu mereka masih melanjutkan perjuangan untuk menyempurnakan janji mereka. Mereka terus berusaha dan bersungguh-sungguh untuk menunaikan apa yang menjadi kewajiban mereka kepada Allah.Mereka tidak pernah mengubah janji mereka sedikit pun, berbeda dengan orang lain yang mengkhianatinya. Mereka tetap teguh pada janji tersebut, tidak menyimpang dan tidak berubah.فَهَؤُلَاءِ الرِّجَالُ عَلَى الْحَقِيقَةِ، وَمَنْ عَدَاهُمْ فَصُوَرُهُمْ صُوَرُ رِجَالٍ، وَأَمَّا الصِّفَاتُ فَقَدْ قَصُرَتْ عَنْ صِفَاتِ الرِّجَالِ.Merekalah para lelaki sejati dalam makna yang sebenarnya. Adapun selain mereka, mungkin hanya memiliki rupa seperti lelaki, tetapi sifat-sifat mereka jauh dari sifat para lelaki yang sebenarnya.“Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur karena kejujuran mereka dan mengazab orang-orang munafik jika Dia menghendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 24) Maksudnya, Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur karena kejujuran mereka dalam ucapan, keadaan, dan hubungan mereka dengan Allah. Lahir dan batin mereka selaras, tidak ada perbedaan antara yang tampak dan yang tersembunyi.Allah Ta’ala juga berfirman:هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا“Ini adalah hari ketika orang-orang yang jujur mendapatkan manfaat dari kejujuran mereka. Bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (QS. Al-Ma’idah: 119)Artinya, Allah menetapkan berbagai ujian, kesulitan, dan guncangan itu agar tampak jelas siapa yang jujur dan siapa yang dusta. Dengan demikian Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur atas kejujuran mereka.Adapun orang-orang munafik, mereka disiksa karena hati dan perbuatan mereka berubah ketika datangnya ujian. Mereka tidak menepati janji yang telah mereka buat kepada Allah.Firman Allah “jika Dia menghendaki” maksudnya, jika Allah menghendaki untuk mengazab mereka, yaitu ketika Dia tidak menghendaki memberi mereka hidayah, karena Dia mengetahui bahwa tidak ada kebaikan pada diri mereka, sehingga mereka tidak diberi taufik.Atau Allah menerima tobat mereka, yaitu dengan memberi mereka taufik untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Inilah yang lebih sering terjadi karena keluasan kemurahan Allah.Karena itu ayat ini ditutup dengan dua nama Allah yang menunjukkan ampunan dan kasih sayang-Nya:إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًاAllah Maha Pengampun terhadap dosa orang-orang yang melampaui batas terhadap diri mereka, meskipun mereka banyak melakukan maksiat, selama mereka datang dengan tobat.Dan Allah Maha Penyayang kepada mereka, dengan memberi taufik untuk bertobat, kemudian menerima tobat tersebut, serta menutupi dosa-dosa yang pernah mereka lakukan. Pelajaran Penting: Ujian bagi orang mukmin tidak mengurangi iman, justru menambah ketundukan. Mereka adalah orang-orang yang menepati janji setianya kepada Allah; ada yang telah gugur dan ada yang masih menunggu gilirannya tanpa mengubah janji sedikit pun.Pesan Utama: Jadikan Rasulullah sebagai standar bersikap dalam menghadapi kesulitan hidup. 4. Akhir Perjuangan dan Kemenangan bagi Orang Bertakwa (Ayat 25–27)Bagian penutup menjelaskan hasil akhir dari peperangan. Allah memukul mundur pasukan kafir dengan kemarahan mereka sendiri tanpa membawa hasil (harta rampasan) sedikit pun. Allah juga memberikan hukuman bagi kaum Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang berkhianat dan membantu musuh dari dalam.Allah Ta’ala berfirman,وَرَدَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا۟ خَيْرًا ۚ وَكَفَى ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلْقِتَالَ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25)وَأَنزَلَ ٱلَّذِينَ ظَٰهَرُوهُم مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ مِن صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا“Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَٰرَهُمْ وَأَمْوَٰلَهُمْ وَأَرْضًا لَّمْ تَطَـُٔوهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرًا“Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 27)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Dan Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dengan penuh kemarahan mereka, mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah mencukupkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25)Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dalam keadaan kecewa dan marah. Mereka tidak mendapatkan apa pun dari tujuan yang mereka inginkan. Mereka datang dengan kemarahan besar, penuh ambisi, dan yakin akan memperoleh kemenangan. Mereka tertipu oleh banyaknya pasukan yang mereka kumpulkan, bangga dengan persatuan mereka, serta merasa kuat karena jumlah dan perlengkapan mereka.Namun Allah mengirimkan kepada mereka angin yang sangat kencang, yaitu angin ash-shabā. Angin itu mengguncang posisi mereka, merobohkan tenda-tenda mereka, menumpahkan periuk-periuk mereka, dan membuat mereka gelisah. Allah juga menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka sehingga mereka pulang dalam keadaan marah dan kecewa. Inilah salah satu bentuk pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.Allah pun mencukupkan orang-orang beriman dari peperangan melalui sebab-sebab yang Allah tetapkan, baik sebab yang tampak maupun sebab yang ditakdirkan-Nya. Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya kecuali pasti akan dikalahkan. Tidak ada yang meminta pertolongan kepada-Nya kecuali pasti akan dimenangkan. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya jika Dia menghendakinya. Kekuatan dan kemuliaan manusia tidak akan berguna jika Allah tidak menolong mereka dengan kekuatan dan kemuliaan-Nya.“Dan Dia menurunkan orang-orang dari Ahli Kitab yang membantu mereka dari benteng-benteng mereka, serta menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian dari mereka kalian bunuh dan sebagian yang lain kalian tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)Allah juga menurunkan orang-orang dari Ahli Kitab yang membantu pasukan sekutu, yaitu kaum Yahudi, dari benteng-benteng mereka. Mereka diturunkan dari benteng itu dalam keadaan dikalahkan dan berada di bawah kekuasaan kaum Muslimin.Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka sehingga mereka tidak mampu lagi melawan. Mereka menyerah, tunduk, dan terhina. Sebagian dari mereka dibunuh, yaitu para lelaki yang ikut berperang, sedangkan sebagian yang lain ditawan, yaitu perempuan dan anak-anak.وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَّمْ تَطَئُوهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا“Dan Dia mewariskan kepada kalian tanah-tanah mereka, rumah-rumah mereka, harta-harta mereka, serta tanah yang belum pernah kalian injak. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 27)Allah memberikan kepada kalian tanah mereka, rumah-rumah mereka, harta-harta mereka, serta tanah yang sebelumnya tidak pernah kalian injak. Tanah itu dahulu begitu terhormat dan kuat di mata pemiliknya sehingga kalian tidak mampu menguasainya. Namun Allah memberi kalian kekuasaan atasnya, menghinakan mereka, dan menjadikan kalian memperoleh harta mereka. Kalian membunuh sebagian dari mereka dan menawan sebagian yang lain.Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya. Termasuk dalam kekuasaan-Nya adalah apa yang Dia tetapkan untuk kalian.Kelompok Ahli Kitab yang dimaksud dalam ayat ini adalah Bani Quraizhah, salah satu kaum Yahudi yang tinggal di sebuah perkampungan di luar Madinah yang tidak jauh jaraknya.Baca juga: Perang Bani Quraizhah dan Pelajaran di DalamnyaKetika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, beliau membuat perjanjian damai dengan mereka. Mereka hidup dengan agama mereka sendiri, dan Nabi ﷺ tidak memerangi mereka serta tidak pula mengganggu mereka.Namun ketika terjadi Perang Khandaq dan mereka melihat pasukan sekutu yang sangat banyak berkumpul untuk memerangi Rasulullah ﷺ, sementara jumlah kaum Muslimin sedikit, mereka mengira bahwa Rasulullah dan kaum beriman akan dimusnahkan. Hal ini juga dipengaruhi oleh tipu daya sebagian pemimpin mereka.Akhirnya mereka melanggar perjanjian yang telah mereka buat dengan Rasulullah ﷺ dan membantu kaum musyrikin untuk memerangi beliau.Ketika Allah mengalahkan pasukan musyrik, Rasulullah ﷺ kemudian menghadapi Bani Quraizhah. Beliau mengepung mereka di benteng mereka hingga akhirnya mereka menyerah dan menerima keputusan hukum dari Sa’d bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu.Sa’d memutuskan bahwa para lelaki yang ikut berperang dibunuh, sedangkan perempuan dan anak-anak mereka ditawan, serta harta mereka dijadikan rampasan perang.Dengan demikian Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepada Rasul-Nya dan kaum beriman. Allah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka, menenangkan hati mereka dengan kekalahan musuh-musuh mereka, membunuh orang-orang yang terbunuh dari musuh itu, serta menawan orang-orang yang ditawan.Dan kelembutan serta pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman terus berlangsung. Pelajaran Penting: Kemenangan bukan semata karena strategi atau jumlah pasukan, melainkan karena Allah yang Mahakuat lagi Mahaperkasa. Pengkhianatan terhadap perjanjian (iman) akan berujung pada kehinaan di dunia dan akhirat.Pesan Utama: Istiqamah dalam kebenaran akan selalu berujung pada kemenangan yang manis, sementara pengkhianatan hanya akan membawa kerugian. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Rabu, 22 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsberperang hikmah perang peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang ahzab perang khandaq renungan renungan ayat renungan quran

Kisah Perang Khandaq dalam Surah Al-Ahzab: Pelajaran Tentang Pertolongan Allah

Surah Al-Ahzab merupakan salah satu surah Madaniyah yang sarat dengan pelajaran tentang keteguhan iman dan ujian mental. Nama “Al-Ahzab” sendiri merujuk pada pasukan sekutu (koalisi) kafir Quraisy bersama kabilah-kabilah lain yang mengepung Madinah dalam Perang Khandaq.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Perang Ahzab (Perang Khandaq) dan Pelajaran di Dalamnya  Daftar Isi tutup 1. 1. Pertolongan Allah dan Goncangan Ujian bagi Orang Beriman (Ayat 9–11) 2. 2. Mentalitas Pecundang dan Siasat Orang Munafik (Ayat 12–20) 3. 3. Keteladanan Rasulullah dan Keteguhan Iman Kaum Mukminin (Ayat 21–24) 4. 4. Akhir Perjuangan dan Kemenangan bagi Orang Bertakwa (Ayat 25–27)  Berikut adalah pengembangan empat bagian utama kisah Perang Ahzab dalam surah ini sebagai bahan tadabbur kita:1. Pertolongan Allah dan Goncangan Ujian bagi Orang Beriman (Ayat 9–11)Pada bagian awal, Allah mengingatkan kaum mukminin tentang besarnya nikmat pertolongan-Nya. Saat itu, pasukan musuh datang dari “atas” dan “bawah” Madinah, hingga mata kaum Muslimin terbelalak ketakutan dan hati mereka seolah menyesak sampai ke tenggorokan.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَآءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ahzab: 9)إِذْ جَآءُوكُم مِّن فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ ٱلْأَبْصَٰرُ وَبَلَغَتِ ٱلْقُلُوبُ ٱلْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِٱللَّهِ ٱلظُّنُونَا۠“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (QS. Al-Ahzab: 10)هُنَالِكَ ٱبْتُلِىَ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا۟ زِلْزَالًا شَدِيدًا“Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (QS. Al-Ahzab: 11)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman tentang nikmat-Nya kepada mereka dan mendorong mereka untuk mensyukurinya. Nikmat itu terjadi ketika pasukan-pasukan musuh datang menyerang mereka. Pasukan tersebut berasal dari penduduk Makkah dan wilayah Hijaz yang datang dari arah atas mereka, serta dari penduduk Najd yang datang dari arah bawah mereka. Mereka sepakat dan bersekutu untuk memusnahkan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Peristiwa ini dikenal sebagai Perang Khandaq.Kaum Yahudi yang tinggal di sekitar Madinah juga turut membantu mereka. Mereka bergabung dan mengerahkan pasukan yang besar serta berbagai kelompok manusia yang banyak.Rasulullah ﷺ kemudian menggali parit (khandaq) di sekitar Madinah sebagai strategi pertahanan. Pasukan musuh pun mengepung kota Madinah. Keadaan menjadi sangat genting. Rasa takut semakin memuncak hingga hati terasa naik ke tenggorokan. Sebagian manusia bahkan mulai berprasangka yang bermacam-macam karena melihat sebab-sebab yang tampak begitu kuat dan berbagai kesulitan yang sangat berat.Pengepungan terhadap Madinah berlangsung cukup lama. Keadaan saat itu sebagaimana yang Allah gambarkan dalam firman-Nya:وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَ“Dan (ingatlah) ketika pandangan menjadi liar dan hati menyesak sampai ke tenggorokan, dan kalian berprasangka yang bermacam-macam terhadap Allah.” (QS. Al-Ahzab: 10)Maksudnya, muncul berbagai prasangka buruk pada sebagian orang, seolah-olah Allah tidak akan menolong agama-Nya dan tidak akan menyempurnakan kalimat-Nya (agama Islam).“Di sanalah orang-orang mukmin diuji dan diguncangkan dengan guncangan yang sangat dahsyat.” (QS. Al-Ahzab: 11)Di saat itulah orang-orang beriman diuji dengan ujian yang sangat besar. Mereka diguncang dengan guncangan yang dahsyat berupa rasa takut, kecemasan, dan kelaparan. Semua itu terjadi agar tampak jelas keimanan mereka dan agar keyakinan mereka semakin bertambah kuat.Dalam peristiwa itu tampak—segala puji bagi Allah—betapa kuat iman dan keyakinan mereka, hingga mereka mencapai derajat keimanan yang sangat tinggi.Ketika kesulitan semakin berat dan berbagai penderitaan semakin memuncak, keimanan mereka pun berubah menjadi keyakinan yang nyata. Allah menggambarkan sikap mereka dalam firman-Nya:وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا“Dan ketika orang-orang mukmin melihat pasukan-pasukan itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami. Benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan keadaan itu tidaklah menambah bagi mereka selain iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)Pada saat yang sama, kemunafikan orang-orang munafik pun menjadi jelas. Apa yang selama ini mereka sembunyikan dalam hati akhirnya tampak nyata. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam ayat selanjutnya. Pelajaran Penting: Ujian berat adalah sunnatullah untuk menyaring siapa yang benar-benar beriman. Namun, bagi mereka yang bersabar, Allah mengirimkan “pasukan tak terlihat” berupa angin kencang dan malaikat untuk memukul mundur musuh.Pesan Utama: Jangan pernah meragukan pertolongan Allah saat kondisi terasa paling menghimpit sekalipun. 2. Mentalitas Pecundang dan Siasat Orang Munafik (Ayat 12–20)Al-Qur’an secara gamblang membongkar isi hati orang munafik saat krisis terjadi. Mereka berkata bahwa janji Allah dan Rasul-Nya hanyalah tipu daya. Mereka mencari-cari alasan (udzur) untuk meninggalkan medan perang dengan dalih “rumah kami tidak aman”, padahal mereka hanya ingin melarikan diri.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ يَقُولُ ٱلْمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ إِلَّا غُرُورًا“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”.” (QS. Al-Ahzab: 12)وَإِذْ قَالَت طَّآئِفَةٌ مِّنْهُمْ يَٰٓأَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَٱرْجِعُوا۟ ۚ وَيَسْتَـْٔذِنُ فَرِيقٌ مِّنْهُمُ ٱلنَّبِىَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِىَ بِعَوْرَةٍ ۖ إِن يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا“Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.” (QS. Al-Ahzab: 13)وَلَوْ دُخِلَتْ عَلَيْهِم مِّنْ أَقْطَارِهَا ثُمَّ سُئِلُوا۟ ٱلْفِتْنَةَ لَءَاتَوْهَا وَمَا تَلَبَّثُوا۟ بِهَآ إِلَّا يَسِيرًا“Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan bertangguh untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat.” (QS. Al-Ahzab: 14)وَلَقَدْ كَانُوا۟ عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ مِن قَبْلُ لَا يُوَلُّونَ ٱلْأَدْبَٰرَ ۚ وَكَانَ عَهْدُ ٱللَّهِ مَسْـُٔولًا“Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: “Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur)”. Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Ahzab: 15)قُل لَّن يَنفَعَكُمُ ٱلْفِرَارُ إِن فَرَرْتُم مِّنَ ٱلْمَوْتِ أَوِ ٱلْقَتْلِ وَإِذًا لَّا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلًا“Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja”. (QS. Al-Ahzab: 16)قُلْ مَن ذَا ٱلَّذِى يَعْصِمُكُم مِّنَ ٱللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوٓءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً ۚ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا“Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab: 17)۞ قَدْ يَعْلَمُ ٱللَّهُ ٱلْمُعَوِّقِينَ مِنكُمْ وَٱلْقَآئِلِينَ لِإِخْوَٰنِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا ۖ وَلَا يَأْتُونَ ٱلْبَأْسَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: “Marilah kepada kami”. Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar.” (QS. Al-Ahzab: 18)أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ ۖ فَإِذَا جَآءَ ٱلْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَٱلَّذِى يُغْشَىٰ عَلَيْهِ مِنَ ٱلْمَوْتِ ۖ فَإِذَا ذَهَبَ ٱلْخَوْفُ سَلَقُوكُم بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى ٱلْخَيْرِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا۟ فَأَحْبَطَ ٱللَّهُ أَعْمَٰلَهُمْ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرًا“Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 19)يَحْسَبُونَ ٱلْأَحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا۟ ۖ وَإِن يَأْتِ ٱلْأَحْزَابُ يَوَدُّوا۟ لَوْ أَنَّهُم بَادُونَ فِى ٱلْأَعْرَابِ يَسْـَٔلُونَ عَنْ أَنۢبَآئِكُمْ ۖ وَلَوْ كَانُوا۟ فِيكُم مَّا قَٰتَلُوٓا۟ إِلَّا قَلِيلًا“Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab: 20)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit berkata, ‘Tidaklah Allah dan Rasul-Nya menjanjikan kepada kami selain tipu daya belaka.’” (QS. Al-Ahzab: 12)Inilah kebiasaan orang munafik ketika menghadapi kesulitan dan ujian. Iman mereka tidak kokoh. Mereka menilai keadaan hanya dengan akal yang pendek dan pandangan yang sempit, lalu membenarkan prasangka buruk mereka sendiri.“Dan (ingatlah) ketika segolongan dari mereka berkata, ‘Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagi kalian (untuk bertahan di sini), maka kembalilah kalian.’ Dan sebagian dari mereka meminta izin kepada Nabi dengan berkata, ‘Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak terjaga).’ Padahal rumah-rumah itu tidaklah terbuka; mereka tidak menghendaki selain melarikan diri.” (QS. Al-Ahzab: 13)Sebagian orang munafik, ketika rasa takut meliputi mereka dan kesabaran mereka melemah, menjadi orang-orang yang gagal dan putus asa. Mereka bukan hanya tidak mampu bersabar sendiri, tetapi juga berusaha melemahkan orang lain.Mereka berkata, “Wahai penduduk Yatsrib!” maksudnya adalah penduduk Madinah. Mereka menyebut kota itu dengan nama lamanya (Yatsrib berarti cercaan), seakan-akan mereka tidak mempedulikan persaudaraan iman dan agama. Yang mendorong mereka hanyalah kelemahan dan ketakutan.Mereka berkata, “Tidak ada tempat bagi kalian di sini, maka kembalilah!” Maksudnya, kembalilah ke kota Madinah. Dengan ucapan ini mereka melemahkan semangat kaum Muslimin untuk berjihad dan menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kekuatan menghadapi musuh.Kelompok ini adalah kelompok yang paling buruk dan paling berbahaya. Ada pula kelompok lain yang lebih lemah dari mereka. Kelompok ini diliputi rasa takut dan ingin mundur dari barisan, sehingga mereka mencari-cari alasan yang tidak benar.Mereka berkata kepada Nabi ﷺ, “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka.” Maksudnya, rumah-rumah kami terancam bahaya dan kami khawatir musuh akan menyerangnya ketika kami tidak berada di sana, maka izinkanlah kami kembali untuk menjaganya.Padahal mereka berdusta. Allah menegaskan bahwa tujuan mereka hanyalah melarikan diri. Inilah keadaan orang-orang yang imannya lemah dan tidak kokoh ketika menghadapi ujian yang berat.Baca juga: Cinta Dunia dan Takut Mati“Seandainya kota itu diserang dari segala penjuru, kemudian mereka diminta untuk murtad (dari agama), niscaya mereka akan melakukannya, dan mereka tidak akan menundanya kecuali sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab: 14)Artinya, seandainya musuh berhasil memasuki Madinah dari berbagai penjuru dan menguasainya, lalu mereka diminta meninggalkan agama mereka dan kembali kepada agama orang-orang yang menang, niscaya mereka akan segera melakukannya. Mereka tidak memiliki keteguhan dalam mempertahankan agama.Baca juga: Diancam Murtad“Padahal sebelumnya mereka telah berjanji kepada Allah bahwa mereka tidak akan berpaling ke belakang. Dan janji kepada Allah itu pasti akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Ahzab: 15)Padahal sebelumnya mereka telah berjanji kepada Allah untuk tidak mundur dari medan perjuangan. Janji kepada Allah pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Mereka akan ditanya tentang janji tersebut, dan ternyata mereka telah melanggarnya.Baca juga: Bahaya Melanggar Perjanjian dengan Allah dan Dampaknya Bagi Hati“Katakanlah, ‘Melarikan diri tidak akan bermanfaat bagi kalian jika kalian lari dari kematian atau pembunuhan. Jika pun demikian, kalian hanya akan menikmati kehidupan sebentar saja.’” (QS. Al-Ahzab: 16)Katakanlah kepada mereka bahwa melarikan diri tidak akan memberi manfaat apa pun. Jika seseorang telah ditakdirkan mati atau terbunuh, maka hal itu pasti akan terjadi. Seandainya mereka tetap berada di rumah mereka, orang yang telah ditakdirkan mati tetap akan keluar menuju tempat kematiannya.Sebab-sebab memang dapat memberi manfaat selama tidak bertentangan dengan takdir Allah. Namun ketika takdir Allah telah datang, semua sebab akan hilang dan semua usaha manusia tidak lagi berguna.Kalaupun mereka melarikan diri untuk menikmati kehidupan dunia, kesenangan itu hanyalah sementara dan tidak sebanding dengan kenikmatan abadi yang mereka tinggalkan.Baca juga: Kematian yang Tidak Bisa Dihindari“Katakanlah, ‘Siapakah yang dapat melindungi kalian dari Allah jika Dia menghendaki keburukan bagi kalian atau menghendaki rahmat bagi kalian?’ Mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab: 17)Ayat ini menjelaskan bahwa semua sebab tidak dapat menyelamatkan manusia jika Allah menghendaki keburukan baginya. Allah adalah Dzat yang memberi dan menahan, yang mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Dia, dan tidak ada yang dapat menolak keburukan kecuali Dia.Karena itu hendaknya manusia menaati Allah, Dzat yang mengatur seluruh urusan, yang kehendak-Nya pasti terlaksana dan takdir-Nya pasti terjadi.“Sungguh Allah mengetahui orang-orang di antara kalian yang menghalang-halangi (orang lain) dan yang berkata kepada saudara-saudaranya, ‘Marilah kepada kami.’ Dan mereka tidak datang ke medan perang kecuali sedikit saja.” (QS. Al-Ahzab: 18)Allah mengetahui orang-orang yang menghalangi manusia dari berjihad dan berkata kepada saudara-saudara mereka, “Kembalilah kepada kami,” sebagaimana ucapan mereka sebelumnya, “Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagi kalian di sini, maka kembalilah.”Mereka sendiri hampir tidak pernah datang ke medan peperangan. Mereka sangat ingin tertinggal karena tidak ada dorongan iman dan kesabaran dalam diri mereka, sementara sebab-sebab yang mendorong rasa takut dan kemunafikan sangat kuat.“Mereka sangat kikir terhadap kalian. Ketika datang rasa takut, engkau melihat mereka memandang kepadamu dengan mata terbelalak seperti orang yang pingsan karena takut mati. Tetapi ketika rasa takut itu hilang, mereka mencela kalian dengan kata-kata yang tajam, dan mereka sangat kikir terhadap kebaikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak beriman, maka Allah menghapus amal-amal mereka. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 19)Mereka kikir dengan diri mereka dalam peperangan dan kikir dengan harta mereka untuk berinfak di jalan Allah. Ketika rasa takut datang, mereka memandang dengan mata yang berputar-putar seperti orang yang hampir mati karena ketakutan.Namun ketika keadaan kembali aman, mereka berbicara dengan kata-kata keras dan penuh klaim seolah-olah mereka adalah orang-orang yang berani.Sifat paling buruk dalam diri manusia adalah kikir terhadap kebaikan: kikir dengan hartanya untuk berinfak di jalan Allah, kikir dengan dirinya untuk berjihad dan berdakwah, kikir dengan kedudukannya, ilmunya, nasihatnya, dan pendapatnya.Orang-orang seperti ini tidak memiliki iman. Karena itu Allah menghapus amal-amal mereka, dan hal itu sangat mudah bagi Allah.Adapun orang-orang beriman, Allah menjaga mereka dari sifat kikir dan memberi taufik kepada mereka untuk mengorbankan diri, harta, kedudukan, dan ilmu mereka di jalan Allah.“Mereka mengira bahwa pasukan-pasukan sekutu itu belum pergi. Jika pasukan-pasukan itu datang lagi, mereka ingin berada di tengah orang-orang Badui di padang pasir sambil menanyakan kabar tentang kalian. Sekiranya mereka berada bersama kalian, mereka tidak akan berperang kecuali sedikit saja.” (QS. Al-Ahzab: 20)Orang-orang munafik itu mengira pasukan sekutu belum benar-benar pergi dan akan kembali menyerang hingga memusnahkan kaum Muslimin. Jika pasukan itu datang lagi, mereka berharap tidak berada di Madinah, tetapi tinggal bersama orang-orang Badui di padang pasir, hanya mendengar kabar dari jauh tentang apa yang terjadi pada kaum Muslimin.Walaupun mereka berada di tengah kaum Muslimin, mereka hampir tidak ikut berperang kecuali sedikit saja. Oleh karena itu, tidak perlu mempedulikan mereka dan tidak perlu bersedih atas ketidakhadiran mereka. Pelajaran Penting: Karakter orang munafik adalah bakhil (pelit) terhadap kebaikan dan sangat penakut. Ketika bahaya datang, mata mereka berputar-putar karena takut mati, namun ketika bahaya hilang, mereka mencela kaum mukminin dengan lisan yang tajam.Pesan Utama: Waspadai sifat mencari-cari alasan dalam beribadah atau berjihad, karena itu adalah salah satu ciri kemunafikan. 3. Keteladanan Rasulullah dan Keteguhan Iman Kaum Mukminin (Ayat 21–24)Di tengah kepungan musuh, Allah menetapkan Nabi Muhammad sebagai Uswatun Hasanah (suri teladan yang baik). Berbeda dengan orang munafik, kaum mukminin ketika melihat pasukan musuh justru berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.”Allah Ta’ala berfirman,لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)وَلَمَّا رَءَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلْأَحْزَابَ قَالُوا۟ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّآ إِيمَٰنًا وَتَسْلِيمًا“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا۟ مَا عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبْدِيلًا“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23)لِّيَجْزِىَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ إِن شَآءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا“supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 24)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Ayat ini menunjukkan bahwa pada diri Rasulullah ﷺ terdapat teladan yang sangat baik. Beliau sendiri hadir dalam medan peperangan, terjun langsung menghadapi pertempuran, padahal beliau adalah manusia yang paling mulia, paling sempurna, dan paling berani.Jika Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan begitu tinggi saja turun langsung menghadapi kesulitan dan bahaya, lalu bagaimana mungkin seseorang merasa enggan mengorbankan dirinya dalam perkara yang Rasulullah ﷺ sendiri telah melakukannya?Karena itu, hendaknya kaum Muslimin meneladani beliau dalam perkara ini dan dalam seluruh urusan lainnya.Para ulama usul fikih juga menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa perbuatan Rasulullah ﷺ dapat dijadikan hujah (landasan hukum). Pada dasarnya, umat beliau diperintahkan meneladani beliau dalam hukum-hukum syariat, kecuali jika ada dalil khusus yang menunjukkan bahwa suatu perkara hanya berlaku bagi beliau.Teladan itu ada dua macam:Pertama, teladan yang baik (uswah hasanah).Teladan yang baik terdapat pada diri Rasulullah ﷺ. Orang yang meneladani beliau berarti sedang menempuh jalan yang mengantarkannya kepada kemuliaan di sisi Allah, yaitu jalan yang lurus.Kedua, teladan yang buruk.Yaitu meneladani selain Rasulullah ﷺ ketika mereka menyelisihi beliau. Inilah teladan yang buruk, sebagaimana perkataan orang-orang kafir ketika para rasul mengajak mereka mengikuti kebenaran:إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami hanya mengikuti jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 22)Teladan yang baik ini hanya akan ditempuh dan dimudahkan bagi orang yang benar-benar berharap kepada Allah dan hari akhir. Keimanan, rasa takut kepada Allah, harapan terhadap pahala-Nya, serta rasa takut terhadap azab-Nya akan mendorong seseorang untuk meneladani Rasulullah ﷺ dalam seluruh kehidupannya.“Dan ketika orang-orang mukmin melihat pasukan-pasukan itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Keadaan itu tidak menambah bagi mereka selain iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)Setelah Allah menyebutkan keadaan orang-orang munafik ketika diliputi rasa takut, Allah kemudian menjelaskan keadaan orang-orang beriman.Ketika orang-orang beriman melihat pasukan-pasukan sekutu yang berkumpul dan telah mengambil posisi untuk menyerang, rasa takut memang muncul. Namun mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami.”Maksudnya adalah janji yang disebutkan dalam firman Allah:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian ujian seperti yang dialami orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa kesengsaraan dan penderitaan serta diguncang dengan berbagai cobaan, sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)Karena itu mereka berkata, “Benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Mereka benar-benar menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri apa yang sebelumnya telah diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya.Peristiwa besar itu justru tidak menambah bagi mereka selain bertambahnya iman di dalam hati mereka dan ketundukan pada anggota tubuh mereka, yaitu kepatuhan dan ketaatan terhadap perintah Allah.“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang telah gugur (menunaikan janjinya), dan di antara mereka ada pula yang masih menunggu. Dan mereka tidak mengubah (janji mereka) sedikit pun.” (QS. Al-Ahzab: 23)Setelah Allah menyebutkan bahwa orang-orang munafik telah berjanji kepada Allah untuk tidak mundur dari medan perjuangan, tetapi kemudian mereka melanggar janji itu, Allah lalu menyebutkan keadaan orang-orang beriman yang justru menepati janji mereka.Di antara orang-orang beriman terdapat para lelaki sejati yang benar dalam janji mereka kepada Allah. Mereka menepati, menyempurnakan, dan melaksanakan janji itu dengan sepenuh hati. Mereka mengorbankan jiwa mereka demi keridaan Allah dan menyerahkan diri mereka untuk ketaatan kepada-Nya.Sebagian dari mereka telah menunaikan janjinya, yaitu mereka telah mencapai apa yang mereka inginkan dan memenuhi kewajiban yang ada pada diri mereka. Mereka gugur di jalan Allah atau wafat setelah menunaikan kewajiban mereka tanpa mengurangi sedikit pun.Sebagian yang lain masih menunggu, yaitu mereka masih melanjutkan perjuangan untuk menyempurnakan janji mereka. Mereka terus berusaha dan bersungguh-sungguh untuk menunaikan apa yang menjadi kewajiban mereka kepada Allah.Mereka tidak pernah mengubah janji mereka sedikit pun, berbeda dengan orang lain yang mengkhianatinya. Mereka tetap teguh pada janji tersebut, tidak menyimpang dan tidak berubah.فَهَؤُلَاءِ الرِّجَالُ عَلَى الْحَقِيقَةِ، وَمَنْ عَدَاهُمْ فَصُوَرُهُمْ صُوَرُ رِجَالٍ، وَأَمَّا الصِّفَاتُ فَقَدْ قَصُرَتْ عَنْ صِفَاتِ الرِّجَالِ.Merekalah para lelaki sejati dalam makna yang sebenarnya. Adapun selain mereka, mungkin hanya memiliki rupa seperti lelaki, tetapi sifat-sifat mereka jauh dari sifat para lelaki yang sebenarnya.“Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur karena kejujuran mereka dan mengazab orang-orang munafik jika Dia menghendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 24) Maksudnya, Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur karena kejujuran mereka dalam ucapan, keadaan, dan hubungan mereka dengan Allah. Lahir dan batin mereka selaras, tidak ada perbedaan antara yang tampak dan yang tersembunyi.Allah Ta’ala juga berfirman:هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا“Ini adalah hari ketika orang-orang yang jujur mendapatkan manfaat dari kejujuran mereka. Bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (QS. Al-Ma’idah: 119)Artinya, Allah menetapkan berbagai ujian, kesulitan, dan guncangan itu agar tampak jelas siapa yang jujur dan siapa yang dusta. Dengan demikian Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur atas kejujuran mereka.Adapun orang-orang munafik, mereka disiksa karena hati dan perbuatan mereka berubah ketika datangnya ujian. Mereka tidak menepati janji yang telah mereka buat kepada Allah.Firman Allah “jika Dia menghendaki” maksudnya, jika Allah menghendaki untuk mengazab mereka, yaitu ketika Dia tidak menghendaki memberi mereka hidayah, karena Dia mengetahui bahwa tidak ada kebaikan pada diri mereka, sehingga mereka tidak diberi taufik.Atau Allah menerima tobat mereka, yaitu dengan memberi mereka taufik untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Inilah yang lebih sering terjadi karena keluasan kemurahan Allah.Karena itu ayat ini ditutup dengan dua nama Allah yang menunjukkan ampunan dan kasih sayang-Nya:إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًاAllah Maha Pengampun terhadap dosa orang-orang yang melampaui batas terhadap diri mereka, meskipun mereka banyak melakukan maksiat, selama mereka datang dengan tobat.Dan Allah Maha Penyayang kepada mereka, dengan memberi taufik untuk bertobat, kemudian menerima tobat tersebut, serta menutupi dosa-dosa yang pernah mereka lakukan. Pelajaran Penting: Ujian bagi orang mukmin tidak mengurangi iman, justru menambah ketundukan. Mereka adalah orang-orang yang menepati janji setianya kepada Allah; ada yang telah gugur dan ada yang masih menunggu gilirannya tanpa mengubah janji sedikit pun.Pesan Utama: Jadikan Rasulullah sebagai standar bersikap dalam menghadapi kesulitan hidup. 4. Akhir Perjuangan dan Kemenangan bagi Orang Bertakwa (Ayat 25–27)Bagian penutup menjelaskan hasil akhir dari peperangan. Allah memukul mundur pasukan kafir dengan kemarahan mereka sendiri tanpa membawa hasil (harta rampasan) sedikit pun. Allah juga memberikan hukuman bagi kaum Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang berkhianat dan membantu musuh dari dalam.Allah Ta’ala berfirman,وَرَدَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا۟ خَيْرًا ۚ وَكَفَى ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلْقِتَالَ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25)وَأَنزَلَ ٱلَّذِينَ ظَٰهَرُوهُم مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ مِن صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا“Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَٰرَهُمْ وَأَمْوَٰلَهُمْ وَأَرْضًا لَّمْ تَطَـُٔوهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرًا“Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 27)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Dan Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dengan penuh kemarahan mereka, mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah mencukupkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25)Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dalam keadaan kecewa dan marah. Mereka tidak mendapatkan apa pun dari tujuan yang mereka inginkan. Mereka datang dengan kemarahan besar, penuh ambisi, dan yakin akan memperoleh kemenangan. Mereka tertipu oleh banyaknya pasukan yang mereka kumpulkan, bangga dengan persatuan mereka, serta merasa kuat karena jumlah dan perlengkapan mereka.Namun Allah mengirimkan kepada mereka angin yang sangat kencang, yaitu angin ash-shabā. Angin itu mengguncang posisi mereka, merobohkan tenda-tenda mereka, menumpahkan periuk-periuk mereka, dan membuat mereka gelisah. Allah juga menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka sehingga mereka pulang dalam keadaan marah dan kecewa. Inilah salah satu bentuk pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.Allah pun mencukupkan orang-orang beriman dari peperangan melalui sebab-sebab yang Allah tetapkan, baik sebab yang tampak maupun sebab yang ditakdirkan-Nya. Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya kecuali pasti akan dikalahkan. Tidak ada yang meminta pertolongan kepada-Nya kecuali pasti akan dimenangkan. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya jika Dia menghendakinya. Kekuatan dan kemuliaan manusia tidak akan berguna jika Allah tidak menolong mereka dengan kekuatan dan kemuliaan-Nya.“Dan Dia menurunkan orang-orang dari Ahli Kitab yang membantu mereka dari benteng-benteng mereka, serta menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian dari mereka kalian bunuh dan sebagian yang lain kalian tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)Allah juga menurunkan orang-orang dari Ahli Kitab yang membantu pasukan sekutu, yaitu kaum Yahudi, dari benteng-benteng mereka. Mereka diturunkan dari benteng itu dalam keadaan dikalahkan dan berada di bawah kekuasaan kaum Muslimin.Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka sehingga mereka tidak mampu lagi melawan. Mereka menyerah, tunduk, dan terhina. Sebagian dari mereka dibunuh, yaitu para lelaki yang ikut berperang, sedangkan sebagian yang lain ditawan, yaitu perempuan dan anak-anak.وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَّمْ تَطَئُوهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا“Dan Dia mewariskan kepada kalian tanah-tanah mereka, rumah-rumah mereka, harta-harta mereka, serta tanah yang belum pernah kalian injak. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 27)Allah memberikan kepada kalian tanah mereka, rumah-rumah mereka, harta-harta mereka, serta tanah yang sebelumnya tidak pernah kalian injak. Tanah itu dahulu begitu terhormat dan kuat di mata pemiliknya sehingga kalian tidak mampu menguasainya. Namun Allah memberi kalian kekuasaan atasnya, menghinakan mereka, dan menjadikan kalian memperoleh harta mereka. Kalian membunuh sebagian dari mereka dan menawan sebagian yang lain.Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya. Termasuk dalam kekuasaan-Nya adalah apa yang Dia tetapkan untuk kalian.Kelompok Ahli Kitab yang dimaksud dalam ayat ini adalah Bani Quraizhah, salah satu kaum Yahudi yang tinggal di sebuah perkampungan di luar Madinah yang tidak jauh jaraknya.Baca juga: Perang Bani Quraizhah dan Pelajaran di DalamnyaKetika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, beliau membuat perjanjian damai dengan mereka. Mereka hidup dengan agama mereka sendiri, dan Nabi ﷺ tidak memerangi mereka serta tidak pula mengganggu mereka.Namun ketika terjadi Perang Khandaq dan mereka melihat pasukan sekutu yang sangat banyak berkumpul untuk memerangi Rasulullah ﷺ, sementara jumlah kaum Muslimin sedikit, mereka mengira bahwa Rasulullah dan kaum beriman akan dimusnahkan. Hal ini juga dipengaruhi oleh tipu daya sebagian pemimpin mereka.Akhirnya mereka melanggar perjanjian yang telah mereka buat dengan Rasulullah ﷺ dan membantu kaum musyrikin untuk memerangi beliau.Ketika Allah mengalahkan pasukan musyrik, Rasulullah ﷺ kemudian menghadapi Bani Quraizhah. Beliau mengepung mereka di benteng mereka hingga akhirnya mereka menyerah dan menerima keputusan hukum dari Sa’d bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu.Sa’d memutuskan bahwa para lelaki yang ikut berperang dibunuh, sedangkan perempuan dan anak-anak mereka ditawan, serta harta mereka dijadikan rampasan perang.Dengan demikian Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepada Rasul-Nya dan kaum beriman. Allah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka, menenangkan hati mereka dengan kekalahan musuh-musuh mereka, membunuh orang-orang yang terbunuh dari musuh itu, serta menawan orang-orang yang ditawan.Dan kelembutan serta pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman terus berlangsung. Pelajaran Penting: Kemenangan bukan semata karena strategi atau jumlah pasukan, melainkan karena Allah yang Mahakuat lagi Mahaperkasa. Pengkhianatan terhadap perjanjian (iman) akan berujung pada kehinaan di dunia dan akhirat.Pesan Utama: Istiqamah dalam kebenaran akan selalu berujung pada kemenangan yang manis, sementara pengkhianatan hanya akan membawa kerugian. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Rabu, 22 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsberperang hikmah perang peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang ahzab perang khandaq renungan renungan ayat renungan quran
Surah Al-Ahzab merupakan salah satu surah Madaniyah yang sarat dengan pelajaran tentang keteguhan iman dan ujian mental. Nama “Al-Ahzab” sendiri merujuk pada pasukan sekutu (koalisi) kafir Quraisy bersama kabilah-kabilah lain yang mengepung Madinah dalam Perang Khandaq.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Perang Ahzab (Perang Khandaq) dan Pelajaran di Dalamnya  Daftar Isi tutup 1. 1. Pertolongan Allah dan Goncangan Ujian bagi Orang Beriman (Ayat 9–11) 2. 2. Mentalitas Pecundang dan Siasat Orang Munafik (Ayat 12–20) 3. 3. Keteladanan Rasulullah dan Keteguhan Iman Kaum Mukminin (Ayat 21–24) 4. 4. Akhir Perjuangan dan Kemenangan bagi Orang Bertakwa (Ayat 25–27)  Berikut adalah pengembangan empat bagian utama kisah Perang Ahzab dalam surah ini sebagai bahan tadabbur kita:1. Pertolongan Allah dan Goncangan Ujian bagi Orang Beriman (Ayat 9–11)Pada bagian awal, Allah mengingatkan kaum mukminin tentang besarnya nikmat pertolongan-Nya. Saat itu, pasukan musuh datang dari “atas” dan “bawah” Madinah, hingga mata kaum Muslimin terbelalak ketakutan dan hati mereka seolah menyesak sampai ke tenggorokan.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَآءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ahzab: 9)إِذْ جَآءُوكُم مِّن فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ ٱلْأَبْصَٰرُ وَبَلَغَتِ ٱلْقُلُوبُ ٱلْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِٱللَّهِ ٱلظُّنُونَا۠“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (QS. Al-Ahzab: 10)هُنَالِكَ ٱبْتُلِىَ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا۟ زِلْزَالًا شَدِيدًا“Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (QS. Al-Ahzab: 11)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman tentang nikmat-Nya kepada mereka dan mendorong mereka untuk mensyukurinya. Nikmat itu terjadi ketika pasukan-pasukan musuh datang menyerang mereka. Pasukan tersebut berasal dari penduduk Makkah dan wilayah Hijaz yang datang dari arah atas mereka, serta dari penduduk Najd yang datang dari arah bawah mereka. Mereka sepakat dan bersekutu untuk memusnahkan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Peristiwa ini dikenal sebagai Perang Khandaq.Kaum Yahudi yang tinggal di sekitar Madinah juga turut membantu mereka. Mereka bergabung dan mengerahkan pasukan yang besar serta berbagai kelompok manusia yang banyak.Rasulullah ﷺ kemudian menggali parit (khandaq) di sekitar Madinah sebagai strategi pertahanan. Pasukan musuh pun mengepung kota Madinah. Keadaan menjadi sangat genting. Rasa takut semakin memuncak hingga hati terasa naik ke tenggorokan. Sebagian manusia bahkan mulai berprasangka yang bermacam-macam karena melihat sebab-sebab yang tampak begitu kuat dan berbagai kesulitan yang sangat berat.Pengepungan terhadap Madinah berlangsung cukup lama. Keadaan saat itu sebagaimana yang Allah gambarkan dalam firman-Nya:وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَ“Dan (ingatlah) ketika pandangan menjadi liar dan hati menyesak sampai ke tenggorokan, dan kalian berprasangka yang bermacam-macam terhadap Allah.” (QS. Al-Ahzab: 10)Maksudnya, muncul berbagai prasangka buruk pada sebagian orang, seolah-olah Allah tidak akan menolong agama-Nya dan tidak akan menyempurnakan kalimat-Nya (agama Islam).“Di sanalah orang-orang mukmin diuji dan diguncangkan dengan guncangan yang sangat dahsyat.” (QS. Al-Ahzab: 11)Di saat itulah orang-orang beriman diuji dengan ujian yang sangat besar. Mereka diguncang dengan guncangan yang dahsyat berupa rasa takut, kecemasan, dan kelaparan. Semua itu terjadi agar tampak jelas keimanan mereka dan agar keyakinan mereka semakin bertambah kuat.Dalam peristiwa itu tampak—segala puji bagi Allah—betapa kuat iman dan keyakinan mereka, hingga mereka mencapai derajat keimanan yang sangat tinggi.Ketika kesulitan semakin berat dan berbagai penderitaan semakin memuncak, keimanan mereka pun berubah menjadi keyakinan yang nyata. Allah menggambarkan sikap mereka dalam firman-Nya:وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا“Dan ketika orang-orang mukmin melihat pasukan-pasukan itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami. Benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan keadaan itu tidaklah menambah bagi mereka selain iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)Pada saat yang sama, kemunafikan orang-orang munafik pun menjadi jelas. Apa yang selama ini mereka sembunyikan dalam hati akhirnya tampak nyata. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam ayat selanjutnya. Pelajaran Penting: Ujian berat adalah sunnatullah untuk menyaring siapa yang benar-benar beriman. Namun, bagi mereka yang bersabar, Allah mengirimkan “pasukan tak terlihat” berupa angin kencang dan malaikat untuk memukul mundur musuh.Pesan Utama: Jangan pernah meragukan pertolongan Allah saat kondisi terasa paling menghimpit sekalipun. 2. Mentalitas Pecundang dan Siasat Orang Munafik (Ayat 12–20)Al-Qur’an secara gamblang membongkar isi hati orang munafik saat krisis terjadi. Mereka berkata bahwa janji Allah dan Rasul-Nya hanyalah tipu daya. Mereka mencari-cari alasan (udzur) untuk meninggalkan medan perang dengan dalih “rumah kami tidak aman”, padahal mereka hanya ingin melarikan diri.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ يَقُولُ ٱلْمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ إِلَّا غُرُورًا“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”.” (QS. Al-Ahzab: 12)وَإِذْ قَالَت طَّآئِفَةٌ مِّنْهُمْ يَٰٓأَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَٱرْجِعُوا۟ ۚ وَيَسْتَـْٔذِنُ فَرِيقٌ مِّنْهُمُ ٱلنَّبِىَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِىَ بِعَوْرَةٍ ۖ إِن يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا“Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.” (QS. Al-Ahzab: 13)وَلَوْ دُخِلَتْ عَلَيْهِم مِّنْ أَقْطَارِهَا ثُمَّ سُئِلُوا۟ ٱلْفِتْنَةَ لَءَاتَوْهَا وَمَا تَلَبَّثُوا۟ بِهَآ إِلَّا يَسِيرًا“Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan bertangguh untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat.” (QS. Al-Ahzab: 14)وَلَقَدْ كَانُوا۟ عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ مِن قَبْلُ لَا يُوَلُّونَ ٱلْأَدْبَٰرَ ۚ وَكَانَ عَهْدُ ٱللَّهِ مَسْـُٔولًا“Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: “Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur)”. Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Ahzab: 15)قُل لَّن يَنفَعَكُمُ ٱلْفِرَارُ إِن فَرَرْتُم مِّنَ ٱلْمَوْتِ أَوِ ٱلْقَتْلِ وَإِذًا لَّا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلًا“Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja”. (QS. Al-Ahzab: 16)قُلْ مَن ذَا ٱلَّذِى يَعْصِمُكُم مِّنَ ٱللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوٓءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً ۚ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا“Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab: 17)۞ قَدْ يَعْلَمُ ٱللَّهُ ٱلْمُعَوِّقِينَ مِنكُمْ وَٱلْقَآئِلِينَ لِإِخْوَٰنِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا ۖ وَلَا يَأْتُونَ ٱلْبَأْسَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: “Marilah kepada kami”. Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar.” (QS. Al-Ahzab: 18)أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ ۖ فَإِذَا جَآءَ ٱلْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَٱلَّذِى يُغْشَىٰ عَلَيْهِ مِنَ ٱلْمَوْتِ ۖ فَإِذَا ذَهَبَ ٱلْخَوْفُ سَلَقُوكُم بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى ٱلْخَيْرِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا۟ فَأَحْبَطَ ٱللَّهُ أَعْمَٰلَهُمْ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرًا“Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 19)يَحْسَبُونَ ٱلْأَحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا۟ ۖ وَإِن يَأْتِ ٱلْأَحْزَابُ يَوَدُّوا۟ لَوْ أَنَّهُم بَادُونَ فِى ٱلْأَعْرَابِ يَسْـَٔلُونَ عَنْ أَنۢبَآئِكُمْ ۖ وَلَوْ كَانُوا۟ فِيكُم مَّا قَٰتَلُوٓا۟ إِلَّا قَلِيلًا“Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab: 20)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit berkata, ‘Tidaklah Allah dan Rasul-Nya menjanjikan kepada kami selain tipu daya belaka.’” (QS. Al-Ahzab: 12)Inilah kebiasaan orang munafik ketika menghadapi kesulitan dan ujian. Iman mereka tidak kokoh. Mereka menilai keadaan hanya dengan akal yang pendek dan pandangan yang sempit, lalu membenarkan prasangka buruk mereka sendiri.“Dan (ingatlah) ketika segolongan dari mereka berkata, ‘Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagi kalian (untuk bertahan di sini), maka kembalilah kalian.’ Dan sebagian dari mereka meminta izin kepada Nabi dengan berkata, ‘Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak terjaga).’ Padahal rumah-rumah itu tidaklah terbuka; mereka tidak menghendaki selain melarikan diri.” (QS. Al-Ahzab: 13)Sebagian orang munafik, ketika rasa takut meliputi mereka dan kesabaran mereka melemah, menjadi orang-orang yang gagal dan putus asa. Mereka bukan hanya tidak mampu bersabar sendiri, tetapi juga berusaha melemahkan orang lain.Mereka berkata, “Wahai penduduk Yatsrib!” maksudnya adalah penduduk Madinah. Mereka menyebut kota itu dengan nama lamanya (Yatsrib berarti cercaan), seakan-akan mereka tidak mempedulikan persaudaraan iman dan agama. Yang mendorong mereka hanyalah kelemahan dan ketakutan.Mereka berkata, “Tidak ada tempat bagi kalian di sini, maka kembalilah!” Maksudnya, kembalilah ke kota Madinah. Dengan ucapan ini mereka melemahkan semangat kaum Muslimin untuk berjihad dan menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kekuatan menghadapi musuh.Kelompok ini adalah kelompok yang paling buruk dan paling berbahaya. Ada pula kelompok lain yang lebih lemah dari mereka. Kelompok ini diliputi rasa takut dan ingin mundur dari barisan, sehingga mereka mencari-cari alasan yang tidak benar.Mereka berkata kepada Nabi ﷺ, “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka.” Maksudnya, rumah-rumah kami terancam bahaya dan kami khawatir musuh akan menyerangnya ketika kami tidak berada di sana, maka izinkanlah kami kembali untuk menjaganya.Padahal mereka berdusta. Allah menegaskan bahwa tujuan mereka hanyalah melarikan diri. Inilah keadaan orang-orang yang imannya lemah dan tidak kokoh ketika menghadapi ujian yang berat.Baca juga: Cinta Dunia dan Takut Mati“Seandainya kota itu diserang dari segala penjuru, kemudian mereka diminta untuk murtad (dari agama), niscaya mereka akan melakukannya, dan mereka tidak akan menundanya kecuali sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab: 14)Artinya, seandainya musuh berhasil memasuki Madinah dari berbagai penjuru dan menguasainya, lalu mereka diminta meninggalkan agama mereka dan kembali kepada agama orang-orang yang menang, niscaya mereka akan segera melakukannya. Mereka tidak memiliki keteguhan dalam mempertahankan agama.Baca juga: Diancam Murtad“Padahal sebelumnya mereka telah berjanji kepada Allah bahwa mereka tidak akan berpaling ke belakang. Dan janji kepada Allah itu pasti akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Ahzab: 15)Padahal sebelumnya mereka telah berjanji kepada Allah untuk tidak mundur dari medan perjuangan. Janji kepada Allah pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Mereka akan ditanya tentang janji tersebut, dan ternyata mereka telah melanggarnya.Baca juga: Bahaya Melanggar Perjanjian dengan Allah dan Dampaknya Bagi Hati“Katakanlah, ‘Melarikan diri tidak akan bermanfaat bagi kalian jika kalian lari dari kematian atau pembunuhan. Jika pun demikian, kalian hanya akan menikmati kehidupan sebentar saja.’” (QS. Al-Ahzab: 16)Katakanlah kepada mereka bahwa melarikan diri tidak akan memberi manfaat apa pun. Jika seseorang telah ditakdirkan mati atau terbunuh, maka hal itu pasti akan terjadi. Seandainya mereka tetap berada di rumah mereka, orang yang telah ditakdirkan mati tetap akan keluar menuju tempat kematiannya.Sebab-sebab memang dapat memberi manfaat selama tidak bertentangan dengan takdir Allah. Namun ketika takdir Allah telah datang, semua sebab akan hilang dan semua usaha manusia tidak lagi berguna.Kalaupun mereka melarikan diri untuk menikmati kehidupan dunia, kesenangan itu hanyalah sementara dan tidak sebanding dengan kenikmatan abadi yang mereka tinggalkan.Baca juga: Kematian yang Tidak Bisa Dihindari“Katakanlah, ‘Siapakah yang dapat melindungi kalian dari Allah jika Dia menghendaki keburukan bagi kalian atau menghendaki rahmat bagi kalian?’ Mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab: 17)Ayat ini menjelaskan bahwa semua sebab tidak dapat menyelamatkan manusia jika Allah menghendaki keburukan baginya. Allah adalah Dzat yang memberi dan menahan, yang mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Dia, dan tidak ada yang dapat menolak keburukan kecuali Dia.Karena itu hendaknya manusia menaati Allah, Dzat yang mengatur seluruh urusan, yang kehendak-Nya pasti terlaksana dan takdir-Nya pasti terjadi.“Sungguh Allah mengetahui orang-orang di antara kalian yang menghalang-halangi (orang lain) dan yang berkata kepada saudara-saudaranya, ‘Marilah kepada kami.’ Dan mereka tidak datang ke medan perang kecuali sedikit saja.” (QS. Al-Ahzab: 18)Allah mengetahui orang-orang yang menghalangi manusia dari berjihad dan berkata kepada saudara-saudara mereka, “Kembalilah kepada kami,” sebagaimana ucapan mereka sebelumnya, “Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagi kalian di sini, maka kembalilah.”Mereka sendiri hampir tidak pernah datang ke medan peperangan. Mereka sangat ingin tertinggal karena tidak ada dorongan iman dan kesabaran dalam diri mereka, sementara sebab-sebab yang mendorong rasa takut dan kemunafikan sangat kuat.“Mereka sangat kikir terhadap kalian. Ketika datang rasa takut, engkau melihat mereka memandang kepadamu dengan mata terbelalak seperti orang yang pingsan karena takut mati. Tetapi ketika rasa takut itu hilang, mereka mencela kalian dengan kata-kata yang tajam, dan mereka sangat kikir terhadap kebaikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak beriman, maka Allah menghapus amal-amal mereka. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 19)Mereka kikir dengan diri mereka dalam peperangan dan kikir dengan harta mereka untuk berinfak di jalan Allah. Ketika rasa takut datang, mereka memandang dengan mata yang berputar-putar seperti orang yang hampir mati karena ketakutan.Namun ketika keadaan kembali aman, mereka berbicara dengan kata-kata keras dan penuh klaim seolah-olah mereka adalah orang-orang yang berani.Sifat paling buruk dalam diri manusia adalah kikir terhadap kebaikan: kikir dengan hartanya untuk berinfak di jalan Allah, kikir dengan dirinya untuk berjihad dan berdakwah, kikir dengan kedudukannya, ilmunya, nasihatnya, dan pendapatnya.Orang-orang seperti ini tidak memiliki iman. Karena itu Allah menghapus amal-amal mereka, dan hal itu sangat mudah bagi Allah.Adapun orang-orang beriman, Allah menjaga mereka dari sifat kikir dan memberi taufik kepada mereka untuk mengorbankan diri, harta, kedudukan, dan ilmu mereka di jalan Allah.“Mereka mengira bahwa pasukan-pasukan sekutu itu belum pergi. Jika pasukan-pasukan itu datang lagi, mereka ingin berada di tengah orang-orang Badui di padang pasir sambil menanyakan kabar tentang kalian. Sekiranya mereka berada bersama kalian, mereka tidak akan berperang kecuali sedikit saja.” (QS. Al-Ahzab: 20)Orang-orang munafik itu mengira pasukan sekutu belum benar-benar pergi dan akan kembali menyerang hingga memusnahkan kaum Muslimin. Jika pasukan itu datang lagi, mereka berharap tidak berada di Madinah, tetapi tinggal bersama orang-orang Badui di padang pasir, hanya mendengar kabar dari jauh tentang apa yang terjadi pada kaum Muslimin.Walaupun mereka berada di tengah kaum Muslimin, mereka hampir tidak ikut berperang kecuali sedikit saja. Oleh karena itu, tidak perlu mempedulikan mereka dan tidak perlu bersedih atas ketidakhadiran mereka. Pelajaran Penting: Karakter orang munafik adalah bakhil (pelit) terhadap kebaikan dan sangat penakut. Ketika bahaya datang, mata mereka berputar-putar karena takut mati, namun ketika bahaya hilang, mereka mencela kaum mukminin dengan lisan yang tajam.Pesan Utama: Waspadai sifat mencari-cari alasan dalam beribadah atau berjihad, karena itu adalah salah satu ciri kemunafikan. 3. Keteladanan Rasulullah dan Keteguhan Iman Kaum Mukminin (Ayat 21–24)Di tengah kepungan musuh, Allah menetapkan Nabi Muhammad sebagai Uswatun Hasanah (suri teladan yang baik). Berbeda dengan orang munafik, kaum mukminin ketika melihat pasukan musuh justru berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.”Allah Ta’ala berfirman,لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)وَلَمَّا رَءَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلْأَحْزَابَ قَالُوا۟ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّآ إِيمَٰنًا وَتَسْلِيمًا“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا۟ مَا عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبْدِيلًا“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23)لِّيَجْزِىَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ إِن شَآءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا“supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 24)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Ayat ini menunjukkan bahwa pada diri Rasulullah ﷺ terdapat teladan yang sangat baik. Beliau sendiri hadir dalam medan peperangan, terjun langsung menghadapi pertempuran, padahal beliau adalah manusia yang paling mulia, paling sempurna, dan paling berani.Jika Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan begitu tinggi saja turun langsung menghadapi kesulitan dan bahaya, lalu bagaimana mungkin seseorang merasa enggan mengorbankan dirinya dalam perkara yang Rasulullah ﷺ sendiri telah melakukannya?Karena itu, hendaknya kaum Muslimin meneladani beliau dalam perkara ini dan dalam seluruh urusan lainnya.Para ulama usul fikih juga menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa perbuatan Rasulullah ﷺ dapat dijadikan hujah (landasan hukum). Pada dasarnya, umat beliau diperintahkan meneladani beliau dalam hukum-hukum syariat, kecuali jika ada dalil khusus yang menunjukkan bahwa suatu perkara hanya berlaku bagi beliau.Teladan itu ada dua macam:Pertama, teladan yang baik (uswah hasanah).Teladan yang baik terdapat pada diri Rasulullah ﷺ. Orang yang meneladani beliau berarti sedang menempuh jalan yang mengantarkannya kepada kemuliaan di sisi Allah, yaitu jalan yang lurus.Kedua, teladan yang buruk.Yaitu meneladani selain Rasulullah ﷺ ketika mereka menyelisihi beliau. Inilah teladan yang buruk, sebagaimana perkataan orang-orang kafir ketika para rasul mengajak mereka mengikuti kebenaran:إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami hanya mengikuti jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 22)Teladan yang baik ini hanya akan ditempuh dan dimudahkan bagi orang yang benar-benar berharap kepada Allah dan hari akhir. Keimanan, rasa takut kepada Allah, harapan terhadap pahala-Nya, serta rasa takut terhadap azab-Nya akan mendorong seseorang untuk meneladani Rasulullah ﷺ dalam seluruh kehidupannya.“Dan ketika orang-orang mukmin melihat pasukan-pasukan itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Keadaan itu tidak menambah bagi mereka selain iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)Setelah Allah menyebutkan keadaan orang-orang munafik ketika diliputi rasa takut, Allah kemudian menjelaskan keadaan orang-orang beriman.Ketika orang-orang beriman melihat pasukan-pasukan sekutu yang berkumpul dan telah mengambil posisi untuk menyerang, rasa takut memang muncul. Namun mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami.”Maksudnya adalah janji yang disebutkan dalam firman Allah:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian ujian seperti yang dialami orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa kesengsaraan dan penderitaan serta diguncang dengan berbagai cobaan, sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)Karena itu mereka berkata, “Benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Mereka benar-benar menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri apa yang sebelumnya telah diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya.Peristiwa besar itu justru tidak menambah bagi mereka selain bertambahnya iman di dalam hati mereka dan ketundukan pada anggota tubuh mereka, yaitu kepatuhan dan ketaatan terhadap perintah Allah.“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang telah gugur (menunaikan janjinya), dan di antara mereka ada pula yang masih menunggu. Dan mereka tidak mengubah (janji mereka) sedikit pun.” (QS. Al-Ahzab: 23)Setelah Allah menyebutkan bahwa orang-orang munafik telah berjanji kepada Allah untuk tidak mundur dari medan perjuangan, tetapi kemudian mereka melanggar janji itu, Allah lalu menyebutkan keadaan orang-orang beriman yang justru menepati janji mereka.Di antara orang-orang beriman terdapat para lelaki sejati yang benar dalam janji mereka kepada Allah. Mereka menepati, menyempurnakan, dan melaksanakan janji itu dengan sepenuh hati. Mereka mengorbankan jiwa mereka demi keridaan Allah dan menyerahkan diri mereka untuk ketaatan kepada-Nya.Sebagian dari mereka telah menunaikan janjinya, yaitu mereka telah mencapai apa yang mereka inginkan dan memenuhi kewajiban yang ada pada diri mereka. Mereka gugur di jalan Allah atau wafat setelah menunaikan kewajiban mereka tanpa mengurangi sedikit pun.Sebagian yang lain masih menunggu, yaitu mereka masih melanjutkan perjuangan untuk menyempurnakan janji mereka. Mereka terus berusaha dan bersungguh-sungguh untuk menunaikan apa yang menjadi kewajiban mereka kepada Allah.Mereka tidak pernah mengubah janji mereka sedikit pun, berbeda dengan orang lain yang mengkhianatinya. Mereka tetap teguh pada janji tersebut, tidak menyimpang dan tidak berubah.فَهَؤُلَاءِ الرِّجَالُ عَلَى الْحَقِيقَةِ، وَمَنْ عَدَاهُمْ فَصُوَرُهُمْ صُوَرُ رِجَالٍ، وَأَمَّا الصِّفَاتُ فَقَدْ قَصُرَتْ عَنْ صِفَاتِ الرِّجَالِ.Merekalah para lelaki sejati dalam makna yang sebenarnya. Adapun selain mereka, mungkin hanya memiliki rupa seperti lelaki, tetapi sifat-sifat mereka jauh dari sifat para lelaki yang sebenarnya.“Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur karena kejujuran mereka dan mengazab orang-orang munafik jika Dia menghendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 24) Maksudnya, Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur karena kejujuran mereka dalam ucapan, keadaan, dan hubungan mereka dengan Allah. Lahir dan batin mereka selaras, tidak ada perbedaan antara yang tampak dan yang tersembunyi.Allah Ta’ala juga berfirman:هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا“Ini adalah hari ketika orang-orang yang jujur mendapatkan manfaat dari kejujuran mereka. Bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (QS. Al-Ma’idah: 119)Artinya, Allah menetapkan berbagai ujian, kesulitan, dan guncangan itu agar tampak jelas siapa yang jujur dan siapa yang dusta. Dengan demikian Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur atas kejujuran mereka.Adapun orang-orang munafik, mereka disiksa karena hati dan perbuatan mereka berubah ketika datangnya ujian. Mereka tidak menepati janji yang telah mereka buat kepada Allah.Firman Allah “jika Dia menghendaki” maksudnya, jika Allah menghendaki untuk mengazab mereka, yaitu ketika Dia tidak menghendaki memberi mereka hidayah, karena Dia mengetahui bahwa tidak ada kebaikan pada diri mereka, sehingga mereka tidak diberi taufik.Atau Allah menerima tobat mereka, yaitu dengan memberi mereka taufik untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Inilah yang lebih sering terjadi karena keluasan kemurahan Allah.Karena itu ayat ini ditutup dengan dua nama Allah yang menunjukkan ampunan dan kasih sayang-Nya:إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًاAllah Maha Pengampun terhadap dosa orang-orang yang melampaui batas terhadap diri mereka, meskipun mereka banyak melakukan maksiat, selama mereka datang dengan tobat.Dan Allah Maha Penyayang kepada mereka, dengan memberi taufik untuk bertobat, kemudian menerima tobat tersebut, serta menutupi dosa-dosa yang pernah mereka lakukan. Pelajaran Penting: Ujian bagi orang mukmin tidak mengurangi iman, justru menambah ketundukan. Mereka adalah orang-orang yang menepati janji setianya kepada Allah; ada yang telah gugur dan ada yang masih menunggu gilirannya tanpa mengubah janji sedikit pun.Pesan Utama: Jadikan Rasulullah sebagai standar bersikap dalam menghadapi kesulitan hidup. 4. Akhir Perjuangan dan Kemenangan bagi Orang Bertakwa (Ayat 25–27)Bagian penutup menjelaskan hasil akhir dari peperangan. Allah memukul mundur pasukan kafir dengan kemarahan mereka sendiri tanpa membawa hasil (harta rampasan) sedikit pun. Allah juga memberikan hukuman bagi kaum Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang berkhianat dan membantu musuh dari dalam.Allah Ta’ala berfirman,وَرَدَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا۟ خَيْرًا ۚ وَكَفَى ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلْقِتَالَ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25)وَأَنزَلَ ٱلَّذِينَ ظَٰهَرُوهُم مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ مِن صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا“Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَٰرَهُمْ وَأَمْوَٰلَهُمْ وَأَرْضًا لَّمْ تَطَـُٔوهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرًا“Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 27)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Dan Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dengan penuh kemarahan mereka, mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah mencukupkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25)Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dalam keadaan kecewa dan marah. Mereka tidak mendapatkan apa pun dari tujuan yang mereka inginkan. Mereka datang dengan kemarahan besar, penuh ambisi, dan yakin akan memperoleh kemenangan. Mereka tertipu oleh banyaknya pasukan yang mereka kumpulkan, bangga dengan persatuan mereka, serta merasa kuat karena jumlah dan perlengkapan mereka.Namun Allah mengirimkan kepada mereka angin yang sangat kencang, yaitu angin ash-shabā. Angin itu mengguncang posisi mereka, merobohkan tenda-tenda mereka, menumpahkan periuk-periuk mereka, dan membuat mereka gelisah. Allah juga menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka sehingga mereka pulang dalam keadaan marah dan kecewa. Inilah salah satu bentuk pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.Allah pun mencukupkan orang-orang beriman dari peperangan melalui sebab-sebab yang Allah tetapkan, baik sebab yang tampak maupun sebab yang ditakdirkan-Nya. Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya kecuali pasti akan dikalahkan. Tidak ada yang meminta pertolongan kepada-Nya kecuali pasti akan dimenangkan. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya jika Dia menghendakinya. Kekuatan dan kemuliaan manusia tidak akan berguna jika Allah tidak menolong mereka dengan kekuatan dan kemuliaan-Nya.“Dan Dia menurunkan orang-orang dari Ahli Kitab yang membantu mereka dari benteng-benteng mereka, serta menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian dari mereka kalian bunuh dan sebagian yang lain kalian tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)Allah juga menurunkan orang-orang dari Ahli Kitab yang membantu pasukan sekutu, yaitu kaum Yahudi, dari benteng-benteng mereka. Mereka diturunkan dari benteng itu dalam keadaan dikalahkan dan berada di bawah kekuasaan kaum Muslimin.Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka sehingga mereka tidak mampu lagi melawan. Mereka menyerah, tunduk, dan terhina. Sebagian dari mereka dibunuh, yaitu para lelaki yang ikut berperang, sedangkan sebagian yang lain ditawan, yaitu perempuan dan anak-anak.وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَّمْ تَطَئُوهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا“Dan Dia mewariskan kepada kalian tanah-tanah mereka, rumah-rumah mereka, harta-harta mereka, serta tanah yang belum pernah kalian injak. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 27)Allah memberikan kepada kalian tanah mereka, rumah-rumah mereka, harta-harta mereka, serta tanah yang sebelumnya tidak pernah kalian injak. Tanah itu dahulu begitu terhormat dan kuat di mata pemiliknya sehingga kalian tidak mampu menguasainya. Namun Allah memberi kalian kekuasaan atasnya, menghinakan mereka, dan menjadikan kalian memperoleh harta mereka. Kalian membunuh sebagian dari mereka dan menawan sebagian yang lain.Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya. Termasuk dalam kekuasaan-Nya adalah apa yang Dia tetapkan untuk kalian.Kelompok Ahli Kitab yang dimaksud dalam ayat ini adalah Bani Quraizhah, salah satu kaum Yahudi yang tinggal di sebuah perkampungan di luar Madinah yang tidak jauh jaraknya.Baca juga: Perang Bani Quraizhah dan Pelajaran di DalamnyaKetika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, beliau membuat perjanjian damai dengan mereka. Mereka hidup dengan agama mereka sendiri, dan Nabi ﷺ tidak memerangi mereka serta tidak pula mengganggu mereka.Namun ketika terjadi Perang Khandaq dan mereka melihat pasukan sekutu yang sangat banyak berkumpul untuk memerangi Rasulullah ﷺ, sementara jumlah kaum Muslimin sedikit, mereka mengira bahwa Rasulullah dan kaum beriman akan dimusnahkan. Hal ini juga dipengaruhi oleh tipu daya sebagian pemimpin mereka.Akhirnya mereka melanggar perjanjian yang telah mereka buat dengan Rasulullah ﷺ dan membantu kaum musyrikin untuk memerangi beliau.Ketika Allah mengalahkan pasukan musyrik, Rasulullah ﷺ kemudian menghadapi Bani Quraizhah. Beliau mengepung mereka di benteng mereka hingga akhirnya mereka menyerah dan menerima keputusan hukum dari Sa’d bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu.Sa’d memutuskan bahwa para lelaki yang ikut berperang dibunuh, sedangkan perempuan dan anak-anak mereka ditawan, serta harta mereka dijadikan rampasan perang.Dengan demikian Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepada Rasul-Nya dan kaum beriman. Allah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka, menenangkan hati mereka dengan kekalahan musuh-musuh mereka, membunuh orang-orang yang terbunuh dari musuh itu, serta menawan orang-orang yang ditawan.Dan kelembutan serta pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman terus berlangsung. Pelajaran Penting: Kemenangan bukan semata karena strategi atau jumlah pasukan, melainkan karena Allah yang Mahakuat lagi Mahaperkasa. Pengkhianatan terhadap perjanjian (iman) akan berujung pada kehinaan di dunia dan akhirat.Pesan Utama: Istiqamah dalam kebenaran akan selalu berujung pada kemenangan yang manis, sementara pengkhianatan hanya akan membawa kerugian. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Rabu, 22 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsberperang hikmah perang peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang ahzab perang khandaq renungan renungan ayat renungan quran


Surah Al-Ahzab merupakan salah satu surah Madaniyah yang sarat dengan pelajaran tentang keteguhan iman dan ujian mental. Nama “Al-Ahzab” sendiri merujuk pada pasukan sekutu (koalisi) kafir Quraisy bersama kabilah-kabilah lain yang mengepung Madinah dalam Perang Khandaq.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Perang Ahzab (Perang Khandaq) dan Pelajaran di Dalamnya  Daftar Isi tutup 1. 1. Pertolongan Allah dan Goncangan Ujian bagi Orang Beriman (Ayat 9–11) 2. 2. Mentalitas Pecundang dan Siasat Orang Munafik (Ayat 12–20) 3. 3. Keteladanan Rasulullah dan Keteguhan Iman Kaum Mukminin (Ayat 21–24) 4. 4. Akhir Perjuangan dan Kemenangan bagi Orang Bertakwa (Ayat 25–27)  Berikut adalah pengembangan empat bagian utama kisah Perang Ahzab dalam surah ini sebagai bahan tadabbur kita:1. Pertolongan Allah dan Goncangan Ujian bagi Orang Beriman (Ayat 9–11)Pada bagian awal, Allah mengingatkan kaum mukminin tentang besarnya nikmat pertolongan-Nya. Saat itu, pasukan musuh datang dari “atas” dan “bawah” Madinah, hingga mata kaum Muslimin terbelalak ketakutan dan hati mereka seolah menyesak sampai ke tenggorokan.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَآءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ahzab: 9)إِذْ جَآءُوكُم مِّن فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ ٱلْأَبْصَٰرُ وَبَلَغَتِ ٱلْقُلُوبُ ٱلْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِٱللَّهِ ٱلظُّنُونَا۠“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (QS. Al-Ahzab: 10)هُنَالِكَ ٱبْتُلِىَ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا۟ زِلْزَالًا شَدِيدًا“Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (QS. Al-Ahzab: 11)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman tentang nikmat-Nya kepada mereka dan mendorong mereka untuk mensyukurinya. Nikmat itu terjadi ketika pasukan-pasukan musuh datang menyerang mereka. Pasukan tersebut berasal dari penduduk Makkah dan wilayah Hijaz yang datang dari arah atas mereka, serta dari penduduk Najd yang datang dari arah bawah mereka. Mereka sepakat dan bersekutu untuk memusnahkan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Peristiwa ini dikenal sebagai Perang Khandaq.Kaum Yahudi yang tinggal di sekitar Madinah juga turut membantu mereka. Mereka bergabung dan mengerahkan pasukan yang besar serta berbagai kelompok manusia yang banyak.Rasulullah ﷺ kemudian menggali parit (khandaq) di sekitar Madinah sebagai strategi pertahanan. Pasukan musuh pun mengepung kota Madinah. Keadaan menjadi sangat genting. Rasa takut semakin memuncak hingga hati terasa naik ke tenggorokan. Sebagian manusia bahkan mulai berprasangka yang bermacam-macam karena melihat sebab-sebab yang tampak begitu kuat dan berbagai kesulitan yang sangat berat.Pengepungan terhadap Madinah berlangsung cukup lama. Keadaan saat itu sebagaimana yang Allah gambarkan dalam firman-Nya:وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَ“Dan (ingatlah) ketika pandangan menjadi liar dan hati menyesak sampai ke tenggorokan, dan kalian berprasangka yang bermacam-macam terhadap Allah.” (QS. Al-Ahzab: 10)Maksudnya, muncul berbagai prasangka buruk pada sebagian orang, seolah-olah Allah tidak akan menolong agama-Nya dan tidak akan menyempurnakan kalimat-Nya (agama Islam).“Di sanalah orang-orang mukmin diuji dan diguncangkan dengan guncangan yang sangat dahsyat.” (QS. Al-Ahzab: 11)Di saat itulah orang-orang beriman diuji dengan ujian yang sangat besar. Mereka diguncang dengan guncangan yang dahsyat berupa rasa takut, kecemasan, dan kelaparan. Semua itu terjadi agar tampak jelas keimanan mereka dan agar keyakinan mereka semakin bertambah kuat.Dalam peristiwa itu tampak—segala puji bagi Allah—betapa kuat iman dan keyakinan mereka, hingga mereka mencapai derajat keimanan yang sangat tinggi.Ketika kesulitan semakin berat dan berbagai penderitaan semakin memuncak, keimanan mereka pun berubah menjadi keyakinan yang nyata. Allah menggambarkan sikap mereka dalam firman-Nya:وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا“Dan ketika orang-orang mukmin melihat pasukan-pasukan itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami. Benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan keadaan itu tidaklah menambah bagi mereka selain iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)Pada saat yang sama, kemunafikan orang-orang munafik pun menjadi jelas. Apa yang selama ini mereka sembunyikan dalam hati akhirnya tampak nyata. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam ayat selanjutnya. Pelajaran Penting: Ujian berat adalah sunnatullah untuk menyaring siapa yang benar-benar beriman. Namun, bagi mereka yang bersabar, Allah mengirimkan “pasukan tak terlihat” berupa angin kencang dan malaikat untuk memukul mundur musuh.Pesan Utama: Jangan pernah meragukan pertolongan Allah saat kondisi terasa paling menghimpit sekalipun. 2. Mentalitas Pecundang dan Siasat Orang Munafik (Ayat 12–20)Al-Qur’an secara gamblang membongkar isi hati orang munafik saat krisis terjadi. Mereka berkata bahwa janji Allah dan Rasul-Nya hanyalah tipu daya. Mereka mencari-cari alasan (udzur) untuk meninggalkan medan perang dengan dalih “rumah kami tidak aman”, padahal mereka hanya ingin melarikan diri.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ يَقُولُ ٱلْمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ إِلَّا غُرُورًا“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”.” (QS. Al-Ahzab: 12)وَإِذْ قَالَت طَّآئِفَةٌ مِّنْهُمْ يَٰٓأَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَٱرْجِعُوا۟ ۚ وَيَسْتَـْٔذِنُ فَرِيقٌ مِّنْهُمُ ٱلنَّبِىَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِىَ بِعَوْرَةٍ ۖ إِن يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا“Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.” (QS. Al-Ahzab: 13)وَلَوْ دُخِلَتْ عَلَيْهِم مِّنْ أَقْطَارِهَا ثُمَّ سُئِلُوا۟ ٱلْفِتْنَةَ لَءَاتَوْهَا وَمَا تَلَبَّثُوا۟ بِهَآ إِلَّا يَسِيرًا“Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan bertangguh untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat.” (QS. Al-Ahzab: 14)وَلَقَدْ كَانُوا۟ عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ مِن قَبْلُ لَا يُوَلُّونَ ٱلْأَدْبَٰرَ ۚ وَكَانَ عَهْدُ ٱللَّهِ مَسْـُٔولًا“Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: “Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur)”. Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Ahzab: 15)قُل لَّن يَنفَعَكُمُ ٱلْفِرَارُ إِن فَرَرْتُم مِّنَ ٱلْمَوْتِ أَوِ ٱلْقَتْلِ وَإِذًا لَّا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلًا“Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja”. (QS. Al-Ahzab: 16)قُلْ مَن ذَا ٱلَّذِى يَعْصِمُكُم مِّنَ ٱللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوٓءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً ۚ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا“Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab: 17)۞ قَدْ يَعْلَمُ ٱللَّهُ ٱلْمُعَوِّقِينَ مِنكُمْ وَٱلْقَآئِلِينَ لِإِخْوَٰنِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا ۖ وَلَا يَأْتُونَ ٱلْبَأْسَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: “Marilah kepada kami”. Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar.” (QS. Al-Ahzab: 18)أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ ۖ فَإِذَا جَآءَ ٱلْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَٱلَّذِى يُغْشَىٰ عَلَيْهِ مِنَ ٱلْمَوْتِ ۖ فَإِذَا ذَهَبَ ٱلْخَوْفُ سَلَقُوكُم بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى ٱلْخَيْرِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا۟ فَأَحْبَطَ ٱللَّهُ أَعْمَٰلَهُمْ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرًا“Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 19)يَحْسَبُونَ ٱلْأَحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا۟ ۖ وَإِن يَأْتِ ٱلْأَحْزَابُ يَوَدُّوا۟ لَوْ أَنَّهُم بَادُونَ فِى ٱلْأَعْرَابِ يَسْـَٔلُونَ عَنْ أَنۢبَآئِكُمْ ۖ وَلَوْ كَانُوا۟ فِيكُم مَّا قَٰتَلُوٓا۟ إِلَّا قَلِيلًا“Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab: 20)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit berkata, ‘Tidaklah Allah dan Rasul-Nya menjanjikan kepada kami selain tipu daya belaka.’” (QS. Al-Ahzab: 12)Inilah kebiasaan orang munafik ketika menghadapi kesulitan dan ujian. Iman mereka tidak kokoh. Mereka menilai keadaan hanya dengan akal yang pendek dan pandangan yang sempit, lalu membenarkan prasangka buruk mereka sendiri.“Dan (ingatlah) ketika segolongan dari mereka berkata, ‘Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagi kalian (untuk bertahan di sini), maka kembalilah kalian.’ Dan sebagian dari mereka meminta izin kepada Nabi dengan berkata, ‘Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak terjaga).’ Padahal rumah-rumah itu tidaklah terbuka; mereka tidak menghendaki selain melarikan diri.” (QS. Al-Ahzab: 13)Sebagian orang munafik, ketika rasa takut meliputi mereka dan kesabaran mereka melemah, menjadi orang-orang yang gagal dan putus asa. Mereka bukan hanya tidak mampu bersabar sendiri, tetapi juga berusaha melemahkan orang lain.Mereka berkata, “Wahai penduduk Yatsrib!” maksudnya adalah penduduk Madinah. Mereka menyebut kota itu dengan nama lamanya (Yatsrib berarti cercaan), seakan-akan mereka tidak mempedulikan persaudaraan iman dan agama. Yang mendorong mereka hanyalah kelemahan dan ketakutan.Mereka berkata, “Tidak ada tempat bagi kalian di sini, maka kembalilah!” Maksudnya, kembalilah ke kota Madinah. Dengan ucapan ini mereka melemahkan semangat kaum Muslimin untuk berjihad dan menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kekuatan menghadapi musuh.Kelompok ini adalah kelompok yang paling buruk dan paling berbahaya. Ada pula kelompok lain yang lebih lemah dari mereka. Kelompok ini diliputi rasa takut dan ingin mundur dari barisan, sehingga mereka mencari-cari alasan yang tidak benar.Mereka berkata kepada Nabi ﷺ, “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka.” Maksudnya, rumah-rumah kami terancam bahaya dan kami khawatir musuh akan menyerangnya ketika kami tidak berada di sana, maka izinkanlah kami kembali untuk menjaganya.Padahal mereka berdusta. Allah menegaskan bahwa tujuan mereka hanyalah melarikan diri. Inilah keadaan orang-orang yang imannya lemah dan tidak kokoh ketika menghadapi ujian yang berat.Baca juga: Cinta Dunia dan Takut Mati“Seandainya kota itu diserang dari segala penjuru, kemudian mereka diminta untuk murtad (dari agama), niscaya mereka akan melakukannya, dan mereka tidak akan menundanya kecuali sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab: 14)Artinya, seandainya musuh berhasil memasuki Madinah dari berbagai penjuru dan menguasainya, lalu mereka diminta meninggalkan agama mereka dan kembali kepada agama orang-orang yang menang, niscaya mereka akan segera melakukannya. Mereka tidak memiliki keteguhan dalam mempertahankan agama.Baca juga: Diancam Murtad“Padahal sebelumnya mereka telah berjanji kepada Allah bahwa mereka tidak akan berpaling ke belakang. Dan janji kepada Allah itu pasti akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Ahzab: 15)Padahal sebelumnya mereka telah berjanji kepada Allah untuk tidak mundur dari medan perjuangan. Janji kepada Allah pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Mereka akan ditanya tentang janji tersebut, dan ternyata mereka telah melanggarnya.Baca juga: Bahaya Melanggar Perjanjian dengan Allah dan Dampaknya Bagi Hati“Katakanlah, ‘Melarikan diri tidak akan bermanfaat bagi kalian jika kalian lari dari kematian atau pembunuhan. Jika pun demikian, kalian hanya akan menikmati kehidupan sebentar saja.’” (QS. Al-Ahzab: 16)Katakanlah kepada mereka bahwa melarikan diri tidak akan memberi manfaat apa pun. Jika seseorang telah ditakdirkan mati atau terbunuh, maka hal itu pasti akan terjadi. Seandainya mereka tetap berada di rumah mereka, orang yang telah ditakdirkan mati tetap akan keluar menuju tempat kematiannya.Sebab-sebab memang dapat memberi manfaat selama tidak bertentangan dengan takdir Allah. Namun ketika takdir Allah telah datang, semua sebab akan hilang dan semua usaha manusia tidak lagi berguna.Kalaupun mereka melarikan diri untuk menikmati kehidupan dunia, kesenangan itu hanyalah sementara dan tidak sebanding dengan kenikmatan abadi yang mereka tinggalkan.Baca juga: Kematian yang Tidak Bisa Dihindari“Katakanlah, ‘Siapakah yang dapat melindungi kalian dari Allah jika Dia menghendaki keburukan bagi kalian atau menghendaki rahmat bagi kalian?’ Mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab: 17)Ayat ini menjelaskan bahwa semua sebab tidak dapat menyelamatkan manusia jika Allah menghendaki keburukan baginya. Allah adalah Dzat yang memberi dan menahan, yang mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Dia, dan tidak ada yang dapat menolak keburukan kecuali Dia.Karena itu hendaknya manusia menaati Allah, Dzat yang mengatur seluruh urusan, yang kehendak-Nya pasti terlaksana dan takdir-Nya pasti terjadi.“Sungguh Allah mengetahui orang-orang di antara kalian yang menghalang-halangi (orang lain) dan yang berkata kepada saudara-saudaranya, ‘Marilah kepada kami.’ Dan mereka tidak datang ke medan perang kecuali sedikit saja.” (QS. Al-Ahzab: 18)Allah mengetahui orang-orang yang menghalangi manusia dari berjihad dan berkata kepada saudara-saudara mereka, “Kembalilah kepada kami,” sebagaimana ucapan mereka sebelumnya, “Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagi kalian di sini, maka kembalilah.”Mereka sendiri hampir tidak pernah datang ke medan peperangan. Mereka sangat ingin tertinggal karena tidak ada dorongan iman dan kesabaran dalam diri mereka, sementara sebab-sebab yang mendorong rasa takut dan kemunafikan sangat kuat.“Mereka sangat kikir terhadap kalian. Ketika datang rasa takut, engkau melihat mereka memandang kepadamu dengan mata terbelalak seperti orang yang pingsan karena takut mati. Tetapi ketika rasa takut itu hilang, mereka mencela kalian dengan kata-kata yang tajam, dan mereka sangat kikir terhadap kebaikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak beriman, maka Allah menghapus amal-amal mereka. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 19)Mereka kikir dengan diri mereka dalam peperangan dan kikir dengan harta mereka untuk berinfak di jalan Allah. Ketika rasa takut datang, mereka memandang dengan mata yang berputar-putar seperti orang yang hampir mati karena ketakutan.Namun ketika keadaan kembali aman, mereka berbicara dengan kata-kata keras dan penuh klaim seolah-olah mereka adalah orang-orang yang berani.Sifat paling buruk dalam diri manusia adalah kikir terhadap kebaikan: kikir dengan hartanya untuk berinfak di jalan Allah, kikir dengan dirinya untuk berjihad dan berdakwah, kikir dengan kedudukannya, ilmunya, nasihatnya, dan pendapatnya.Orang-orang seperti ini tidak memiliki iman. Karena itu Allah menghapus amal-amal mereka, dan hal itu sangat mudah bagi Allah.Adapun orang-orang beriman, Allah menjaga mereka dari sifat kikir dan memberi taufik kepada mereka untuk mengorbankan diri, harta, kedudukan, dan ilmu mereka di jalan Allah.“Mereka mengira bahwa pasukan-pasukan sekutu itu belum pergi. Jika pasukan-pasukan itu datang lagi, mereka ingin berada di tengah orang-orang Badui di padang pasir sambil menanyakan kabar tentang kalian. Sekiranya mereka berada bersama kalian, mereka tidak akan berperang kecuali sedikit saja.” (QS. Al-Ahzab: 20)Orang-orang munafik itu mengira pasukan sekutu belum benar-benar pergi dan akan kembali menyerang hingga memusnahkan kaum Muslimin. Jika pasukan itu datang lagi, mereka berharap tidak berada di Madinah, tetapi tinggal bersama orang-orang Badui di padang pasir, hanya mendengar kabar dari jauh tentang apa yang terjadi pada kaum Muslimin.Walaupun mereka berada di tengah kaum Muslimin, mereka hampir tidak ikut berperang kecuali sedikit saja. Oleh karena itu, tidak perlu mempedulikan mereka dan tidak perlu bersedih atas ketidakhadiran mereka. Pelajaran Penting: Karakter orang munafik adalah bakhil (pelit) terhadap kebaikan dan sangat penakut. Ketika bahaya datang, mata mereka berputar-putar karena takut mati, namun ketika bahaya hilang, mereka mencela kaum mukminin dengan lisan yang tajam.Pesan Utama: Waspadai sifat mencari-cari alasan dalam beribadah atau berjihad, karena itu adalah salah satu ciri kemunafikan. 3. Keteladanan Rasulullah dan Keteguhan Iman Kaum Mukminin (Ayat 21–24)Di tengah kepungan musuh, Allah menetapkan Nabi Muhammad sebagai Uswatun Hasanah (suri teladan yang baik). Berbeda dengan orang munafik, kaum mukminin ketika melihat pasukan musuh justru berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.”Allah Ta’ala berfirman,لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)وَلَمَّا رَءَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلْأَحْزَابَ قَالُوا۟ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّآ إِيمَٰنًا وَتَسْلِيمًا“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا۟ مَا عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبْدِيلًا“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23)لِّيَجْزِىَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ إِن شَآءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا“supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 24)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Ayat ini menunjukkan bahwa pada diri Rasulullah ﷺ terdapat teladan yang sangat baik. Beliau sendiri hadir dalam medan peperangan, terjun langsung menghadapi pertempuran, padahal beliau adalah manusia yang paling mulia, paling sempurna, dan paling berani.Jika Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan begitu tinggi saja turun langsung menghadapi kesulitan dan bahaya, lalu bagaimana mungkin seseorang merasa enggan mengorbankan dirinya dalam perkara yang Rasulullah ﷺ sendiri telah melakukannya?Karena itu, hendaknya kaum Muslimin meneladani beliau dalam perkara ini dan dalam seluruh urusan lainnya.Para ulama usul fikih juga menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa perbuatan Rasulullah ﷺ dapat dijadikan hujah (landasan hukum). Pada dasarnya, umat beliau diperintahkan meneladani beliau dalam hukum-hukum syariat, kecuali jika ada dalil khusus yang menunjukkan bahwa suatu perkara hanya berlaku bagi beliau.Teladan itu ada dua macam:Pertama, teladan yang baik (uswah hasanah).Teladan yang baik terdapat pada diri Rasulullah ﷺ. Orang yang meneladani beliau berarti sedang menempuh jalan yang mengantarkannya kepada kemuliaan di sisi Allah, yaitu jalan yang lurus.Kedua, teladan yang buruk.Yaitu meneladani selain Rasulullah ﷺ ketika mereka menyelisihi beliau. Inilah teladan yang buruk, sebagaimana perkataan orang-orang kafir ketika para rasul mengajak mereka mengikuti kebenaran:إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami hanya mengikuti jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 22)Teladan yang baik ini hanya akan ditempuh dan dimudahkan bagi orang yang benar-benar berharap kepada Allah dan hari akhir. Keimanan, rasa takut kepada Allah, harapan terhadap pahala-Nya, serta rasa takut terhadap azab-Nya akan mendorong seseorang untuk meneladani Rasulullah ﷺ dalam seluruh kehidupannya.“Dan ketika orang-orang mukmin melihat pasukan-pasukan itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Keadaan itu tidak menambah bagi mereka selain iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)Setelah Allah menyebutkan keadaan orang-orang munafik ketika diliputi rasa takut, Allah kemudian menjelaskan keadaan orang-orang beriman.Ketika orang-orang beriman melihat pasukan-pasukan sekutu yang berkumpul dan telah mengambil posisi untuk menyerang, rasa takut memang muncul. Namun mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami.”Maksudnya adalah janji yang disebutkan dalam firman Allah:أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian ujian seperti yang dialami orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa kesengsaraan dan penderitaan serta diguncang dengan berbagai cobaan, sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)Karena itu mereka berkata, “Benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Mereka benar-benar menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri apa yang sebelumnya telah diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya.Peristiwa besar itu justru tidak menambah bagi mereka selain bertambahnya iman di dalam hati mereka dan ketundukan pada anggota tubuh mereka, yaitu kepatuhan dan ketaatan terhadap perintah Allah.“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang telah gugur (menunaikan janjinya), dan di antara mereka ada pula yang masih menunggu. Dan mereka tidak mengubah (janji mereka) sedikit pun.” (QS. Al-Ahzab: 23)Setelah Allah menyebutkan bahwa orang-orang munafik telah berjanji kepada Allah untuk tidak mundur dari medan perjuangan, tetapi kemudian mereka melanggar janji itu, Allah lalu menyebutkan keadaan orang-orang beriman yang justru menepati janji mereka.Di antara orang-orang beriman terdapat para lelaki sejati yang benar dalam janji mereka kepada Allah. Mereka menepati, menyempurnakan, dan melaksanakan janji itu dengan sepenuh hati. Mereka mengorbankan jiwa mereka demi keridaan Allah dan menyerahkan diri mereka untuk ketaatan kepada-Nya.Sebagian dari mereka telah menunaikan janjinya, yaitu mereka telah mencapai apa yang mereka inginkan dan memenuhi kewajiban yang ada pada diri mereka. Mereka gugur di jalan Allah atau wafat setelah menunaikan kewajiban mereka tanpa mengurangi sedikit pun.Sebagian yang lain masih menunggu, yaitu mereka masih melanjutkan perjuangan untuk menyempurnakan janji mereka. Mereka terus berusaha dan bersungguh-sungguh untuk menunaikan apa yang menjadi kewajiban mereka kepada Allah.Mereka tidak pernah mengubah janji mereka sedikit pun, berbeda dengan orang lain yang mengkhianatinya. Mereka tetap teguh pada janji tersebut, tidak menyimpang dan tidak berubah.فَهَؤُلَاءِ الرِّجَالُ عَلَى الْحَقِيقَةِ، وَمَنْ عَدَاهُمْ فَصُوَرُهُمْ صُوَرُ رِجَالٍ، وَأَمَّا الصِّفَاتُ فَقَدْ قَصُرَتْ عَنْ صِفَاتِ الرِّجَالِ.Merekalah para lelaki sejati dalam makna yang sebenarnya. Adapun selain mereka, mungkin hanya memiliki rupa seperti lelaki, tetapi sifat-sifat mereka jauh dari sifat para lelaki yang sebenarnya.“Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur karena kejujuran mereka dan mengazab orang-orang munafik jika Dia menghendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 24) Maksudnya, Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur karena kejujuran mereka dalam ucapan, keadaan, dan hubungan mereka dengan Allah. Lahir dan batin mereka selaras, tidak ada perbedaan antara yang tampak dan yang tersembunyi.Allah Ta’ala juga berfirman:هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا“Ini adalah hari ketika orang-orang yang jujur mendapatkan manfaat dari kejujuran mereka. Bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (QS. Al-Ma’idah: 119)Artinya, Allah menetapkan berbagai ujian, kesulitan, dan guncangan itu agar tampak jelas siapa yang jujur dan siapa yang dusta. Dengan demikian Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur atas kejujuran mereka.Adapun orang-orang munafik, mereka disiksa karena hati dan perbuatan mereka berubah ketika datangnya ujian. Mereka tidak menepati janji yang telah mereka buat kepada Allah.Firman Allah “jika Dia menghendaki” maksudnya, jika Allah menghendaki untuk mengazab mereka, yaitu ketika Dia tidak menghendaki memberi mereka hidayah, karena Dia mengetahui bahwa tidak ada kebaikan pada diri mereka, sehingga mereka tidak diberi taufik.Atau Allah menerima tobat mereka, yaitu dengan memberi mereka taufik untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Inilah yang lebih sering terjadi karena keluasan kemurahan Allah.Karena itu ayat ini ditutup dengan dua nama Allah yang menunjukkan ampunan dan kasih sayang-Nya:إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًاAllah Maha Pengampun terhadap dosa orang-orang yang melampaui batas terhadap diri mereka, meskipun mereka banyak melakukan maksiat, selama mereka datang dengan tobat.Dan Allah Maha Penyayang kepada mereka, dengan memberi taufik untuk bertobat, kemudian menerima tobat tersebut, serta menutupi dosa-dosa yang pernah mereka lakukan. Pelajaran Penting: Ujian bagi orang mukmin tidak mengurangi iman, justru menambah ketundukan. Mereka adalah orang-orang yang menepati janji setianya kepada Allah; ada yang telah gugur dan ada yang masih menunggu gilirannya tanpa mengubah janji sedikit pun.Pesan Utama: Jadikan Rasulullah sebagai standar bersikap dalam menghadapi kesulitan hidup. 4. Akhir Perjuangan dan Kemenangan bagi Orang Bertakwa (Ayat 25–27)Bagian penutup menjelaskan hasil akhir dari peperangan. Allah memukul mundur pasukan kafir dengan kemarahan mereka sendiri tanpa membawa hasil (harta rampasan) sedikit pun. Allah juga memberikan hukuman bagi kaum Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang berkhianat dan membantu musuh dari dalam.Allah Ta’ala berfirman,وَرَدَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا۟ خَيْرًا ۚ وَكَفَى ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلْقِتَالَ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25)وَأَنزَلَ ٱلَّذِينَ ظَٰهَرُوهُم مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ مِن صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا“Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَٰرَهُمْ وَأَمْوَٰلَهُمْ وَأَرْضًا لَّمْ تَطَـُٔوهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرًا“Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 27)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut.“Dan Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dengan penuh kemarahan mereka, mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah mencukupkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25)Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dalam keadaan kecewa dan marah. Mereka tidak mendapatkan apa pun dari tujuan yang mereka inginkan. Mereka datang dengan kemarahan besar, penuh ambisi, dan yakin akan memperoleh kemenangan. Mereka tertipu oleh banyaknya pasukan yang mereka kumpulkan, bangga dengan persatuan mereka, serta merasa kuat karena jumlah dan perlengkapan mereka.Namun Allah mengirimkan kepada mereka angin yang sangat kencang, yaitu angin ash-shabā. Angin itu mengguncang posisi mereka, merobohkan tenda-tenda mereka, menumpahkan periuk-periuk mereka, dan membuat mereka gelisah. Allah juga menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka sehingga mereka pulang dalam keadaan marah dan kecewa. Inilah salah satu bentuk pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.Allah pun mencukupkan orang-orang beriman dari peperangan melalui sebab-sebab yang Allah tetapkan, baik sebab yang tampak maupun sebab yang ditakdirkan-Nya. Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya kecuali pasti akan dikalahkan. Tidak ada yang meminta pertolongan kepada-Nya kecuali pasti akan dimenangkan. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya jika Dia menghendakinya. Kekuatan dan kemuliaan manusia tidak akan berguna jika Allah tidak menolong mereka dengan kekuatan dan kemuliaan-Nya.“Dan Dia menurunkan orang-orang dari Ahli Kitab yang membantu mereka dari benteng-benteng mereka, serta menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian dari mereka kalian bunuh dan sebagian yang lain kalian tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)Allah juga menurunkan orang-orang dari Ahli Kitab yang membantu pasukan sekutu, yaitu kaum Yahudi, dari benteng-benteng mereka. Mereka diturunkan dari benteng itu dalam keadaan dikalahkan dan berada di bawah kekuasaan kaum Muslimin.Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka sehingga mereka tidak mampu lagi melawan. Mereka menyerah, tunduk, dan terhina. Sebagian dari mereka dibunuh, yaitu para lelaki yang ikut berperang, sedangkan sebagian yang lain ditawan, yaitu perempuan dan anak-anak.وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَّمْ تَطَئُوهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا“Dan Dia mewariskan kepada kalian tanah-tanah mereka, rumah-rumah mereka, harta-harta mereka, serta tanah yang belum pernah kalian injak. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 27)Allah memberikan kepada kalian tanah mereka, rumah-rumah mereka, harta-harta mereka, serta tanah yang sebelumnya tidak pernah kalian injak. Tanah itu dahulu begitu terhormat dan kuat di mata pemiliknya sehingga kalian tidak mampu menguasainya. Namun Allah memberi kalian kekuasaan atasnya, menghinakan mereka, dan menjadikan kalian memperoleh harta mereka. Kalian membunuh sebagian dari mereka dan menawan sebagian yang lain.Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya. Termasuk dalam kekuasaan-Nya adalah apa yang Dia tetapkan untuk kalian.Kelompok Ahli Kitab yang dimaksud dalam ayat ini adalah Bani Quraizhah, salah satu kaum Yahudi yang tinggal di sebuah perkampungan di luar Madinah yang tidak jauh jaraknya.Baca juga: Perang Bani Quraizhah dan Pelajaran di DalamnyaKetika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, beliau membuat perjanjian damai dengan mereka. Mereka hidup dengan agama mereka sendiri, dan Nabi ﷺ tidak memerangi mereka serta tidak pula mengganggu mereka.Namun ketika terjadi Perang Khandaq dan mereka melihat pasukan sekutu yang sangat banyak berkumpul untuk memerangi Rasulullah ﷺ, sementara jumlah kaum Muslimin sedikit, mereka mengira bahwa Rasulullah dan kaum beriman akan dimusnahkan. Hal ini juga dipengaruhi oleh tipu daya sebagian pemimpin mereka.Akhirnya mereka melanggar perjanjian yang telah mereka buat dengan Rasulullah ﷺ dan membantu kaum musyrikin untuk memerangi beliau.Ketika Allah mengalahkan pasukan musyrik, Rasulullah ﷺ kemudian menghadapi Bani Quraizhah. Beliau mengepung mereka di benteng mereka hingga akhirnya mereka menyerah dan menerima keputusan hukum dari Sa’d bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu.Sa’d memutuskan bahwa para lelaki yang ikut berperang dibunuh, sedangkan perempuan dan anak-anak mereka ditawan, serta harta mereka dijadikan rampasan perang.Dengan demikian Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepada Rasul-Nya dan kaum beriman. Allah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka, menenangkan hati mereka dengan kekalahan musuh-musuh mereka, membunuh orang-orang yang terbunuh dari musuh itu, serta menawan orang-orang yang ditawan.Dan kelembutan serta pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman terus berlangsung. Pelajaran Penting: Kemenangan bukan semata karena strategi atau jumlah pasukan, melainkan karena Allah yang Mahakuat lagi Mahaperkasa. Pengkhianatan terhadap perjanjian (iman) akan berujung pada kehinaan di dunia dan akhirat.Pesan Utama: Istiqamah dalam kebenaran akan selalu berujung pada kemenangan yang manis, sementara pengkhianatan hanya akan membawa kerugian. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Rabu, 22 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsberperang hikmah perang peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang ahzab perang khandaq renungan renungan ayat renungan quran

3 Pilar Keluarga Sakinah dari Surah Al-Ahzab

Surah Al-Ahzab dalam Juz 22 memberikan panduan komprehensif bagi setiap Muslim untuk membangun rumah tangga yang penuh keberkahan. Keteladanan istri-istri Nabi ﷺ menjadi kunci utama dalam memahami bagaimana menjaga kesucian hati dan kehormatan keluarga. Dengan memahami tiga pilar utama dalam surah ini, kita dapat mewujudkan keluarga sakinah yang tidak hanya harmonis di dunia, tetapi juga selamat hingga akhirat.  Daftar Isi tutup 1. 1. Pilar Visi: Orientasi Akhirat di Atas Materi 1.1. Kisah Istri Nabi Meminta Tambahan Nafkah (Ayat Takhyir) 1.2. Pelajaran dari Kisah Ayat Takhyir 2. 2. Pilar Adab: Menjaga Kesucian Interaksi 3. 3. Pilar Aktivitas: Menghidupkan Ilmu dan Ibadah di Rumah 4. Kesimpulan  1. Pilar Visi: Orientasi Akhirat di Atas MateriPilar pertama dan yang paling fundamental adalah kesamaan visi antara suami dan istri. Keluarga sakinah tidak dibangun di atas tumpukan harta semata, melainkan di atas fondasi keridaan Allah Ta’ala.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 28-29:يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 28)وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ فَإِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَٰتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا “Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 29)Pelajaran dari Ayat Takhyir:Ayat ini dikenal sebagai ayat takhyir (pilihan). Ketika istri-istri Nabi ﷺ diminta memilih antara kemewahan dunia atau Allah dan Rasul-Nya, mereka dengan tegas memilih Allah dan kehidupan akhirat. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan rumah tangga dimulai dari hati yang tidak diperbudak oleh materi.Aplikasi Praktis:Rumah tangga akan terasa tenang jika suami dan istri tidak menjadikan standar “kebahagiaan” hanya pada pencapaian materi. Jika visi sudah searah menuju akhirat, maka ujian ekonomi atau kesederhanaan hidup tidak akan menggoyahkan keharmonisan dan rasa syukur di antara keduanya.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas sebagai berikut:“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah, akan aku beri kalian mut‘ah (pemberian), lalu aku ceraikan kalian dengan cara yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 28)Ketika para istri Rasulullah ﷺ berkumpul karena rasa cemburu, mereka meminta tambahan nafkah dan pakaian kepada beliau. Mereka meminta sesuatu yang tidak selalu mampu beliau penuhi setiap saat. Mereka terus menyampaikan permintaan tersebut secara bersama-sama dan bersikap keras dalam keinginan mereka. Hal ini terasa berat bagi Rasulullah ﷺ, hingga akhirnya beliau bersumpah untuk tidak mendatangi mereka selama satu bulan.Allah kemudian menghendaki untuk memudahkan urusan Rasul-Nya, sekaligus meninggikan kedudukan para istri beliau dan menjauhkan mereka dari sesuatu yang dapat mengurangi pahala mereka. Maka Allah memerintahkan Rasul-Nya agar memberikan pilihan kepada mereka.Allah berfirman,يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia…”Maksudnya, jika dunia menjadi tujuan utama kalian—kalian merasa puas ketika mendapatkannya dan marah ketika kehilangannya—maka aku tidak membutuhkan kebersamaan dengan kalian dalam keadaan seperti itu.فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ“Maka kemarilah, akan aku beri kalian suatu pemberian dari apa yang aku miliki di dunia ini.”وَأُسَرِّحْكُنَّ“Lalu aku akan melepaskan kalian,” yaitu menceraikan kalian.سَرَاحًا جَمِيلًا“Dengan cara yang baik,” tanpa kemarahan dan tanpa saling mencela, tetapi dengan kelapangan hati dan ketenangan jiwa, sebelum keadaan berkembang menjadi sesuatu yang tidak pantas terjadi.Allah Ta’ala berfirman,“Namun jika kalian menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sungguh Allah telah menyediakan bagi siapa saja di antara kalian yang berbuat baik pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 29)Maksudnya, jika yang kalian inginkan adalah Allah, Rasul-Nya, dan kehidupan akhirat—dan itu menjadi tujuan serta harapan terbesar kalian—maka apabila kalian telah mendapatkan Allah, Rasul-Nya, dan surga, kalian tidak akan mempermasalahkan apakah dunia itu sempit atau luas, mudah atau sulit. Kalian akan merasa cukup dengan apa yang dapat diberikan Rasulullah ﷺ dan tidak akan menuntut sesuatu yang memberatkan beliau.Karena itu Allah berfirman,فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah telah menyiapkan bagi perempuan-perempuan yang berbuat baik di antara kalian pahala yang besar.”Allah menggantungkan pahala tersebut pada sifat ihsan, karena itulah sebab yang mendatangkan pahala tersebut. Bukan semata-mata karena mereka adalah istri Rasulullah. Kedudukan sebagai istri Nabi saja tidak cukup dan tidak memberi manfaat jika tidak disertai dengan ihsan.Maka Rasulullah ﷺ memberikan pilihan tersebut kepada mereka. Ternyata seluruhnya memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat. Tidak ada satu pun dari mereka yang memilih selain itu. Semoga Allah meridhai mereka semua.Dalam pilihan ini terdapat banyak hikmah, di antaranya:Menunjukkan perhatian Allah kepada Rasul-Nya dan kecemburuan-Nya agar beliau tidak berada dalam keadaan yang berat karena banyaknya tuntutan dunia dari para istrinya.Rasulullah ﷺ menjadi terbebas dari beban tuntutan hak-hak duniawi para istri, sehingga beliau tetap memiliki kebebasan dalam dirinya; jika beliau ingin memberi maka beliau memberi, dan jika tidak maka beliau tidak memberi.Menjaga Rasulullah ﷺ dari kemungkinan adanya istri yang lebih mengutamakan dunia daripada Allah, Rasul-Nya, dan akhirat.Menjaga para istri beliau dari dosa dan dari kemungkinan mendapatkan murka Allah dan Rasul-Nya.Dengan pilihan ini Allah memutus sebab yang dapat menimbulkan ketidakpuasan kepada Rasulullah ﷺ—yang dapat menyebabkan kemurkaan beliau dan pada akhirnya mendatangkan kemurkaan Allah serta hukuman-Nya.Menampakkan kemuliaan dan tingginya derajat para istri Nabi, serta menunjukkan tingginya cita-cita mereka, karena yang mereka inginkan adalah Allah, Rasul-Nya, dan akhirat, bukan dunia dan segala kesenangannya.Pilihan mereka ini menjadi sebab bertambahnya pahala dan dilipatgandakannya balasan bagi mereka, serta menjadikan mereka berada pada kedudukan yang tidak dimiliki oleh wanita mana pun.Tampak kesesuaian antara Rasulullah ﷺ dan para istri beliau, karena beliau adalah manusia paling sempurna. Allah menghendaki agar para istrinya juga menjadi wanita-wanita yang baik dan menyempurnakan kebaikan.Sebagaimana firman Allah:وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ“Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik.” (QS. An-Nur: 26)Pilihan ini mendorong mereka untuk bersikap qana‘ah (merasa cukup). Dengan qana‘ah, hati menjadi tenang, dada menjadi lapang, dan hilanglah sifat tamak serta ketidakpuasan yang dapat membuat hati gelisah, penuh kegundahan, dan kesedihan.Pilihan mereka tersebut juga menjadi sebab bertambahnya pahala mereka dan menjadikan mereka berada pada kedudukan yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lainnya. Kisah Istri Nabi Meminta Tambahan Nafkah (Ayat Takhyir)Ada sebuah kisah masyhur yang melibatkan para istri Nabi ﷺ yang pernah berkumpul untuk meminta tambahan nafkah (fasilitas duniawi) kepada Rasulullah ﷺ. Kisah ini menjadi latar belakang turunnya Ayat Takhyir (Ayat Pilihan) dalam Surah Al-Ahzab.Kisah ini memberikan pelajaran mendalam bagi pasangan suami-istri, terutama di era sekarang, tentang bagaimana menyikapi tuntutan ekonomi dalam rumah tangga.Abu Bakar datang meminta izin untuk masuk menemui Rasulullah ﷺ. Saat itu ia mendapati banyak orang sedang duduk di depan pintu rumah beliau, dan tidak seorang pun diizinkan masuk. Namun Abu Bakar diberi izin, lalu ia pun masuk.Setelah itu Umar datang dan meminta izin, lalu ia pun diizinkan masuk. Umar mendapati Nabi ﷺ sedang duduk, sementara istri-istri beliau berada di sekelilingnya. Saat itu Rasulullah ﷺ tampak diam dan murung, tidak berbicara.Umar berkata dalam hati, “Aku akan mengatakan sesuatu agar Nabi ﷺ tersenyum.”Lalu ia berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَوْ رَأَيْتَ بِنْتَ خَارِجَةَ، سَأَلَتْنِي النَّفَقَةَ، فَقُمْتُ إِلَيْهَا، فَوَجَأْتُ عُنُقَهَا.“Wahai Rasulullah, seandainya engkau melihat putri Kharijah (istri Umar, Habibah binti Kharijah). Ia meminta nafkah kepadaku, lalu aku berdiri menghampirinya dan menegur keras.”Mendengar itu Rasulullah ﷺ tertawa, lalu bersabda,هُنَّ حَوْلِي كَمَا تَرَى، يَسْأَلْنَنِي النَّفَقَةَ.“Mereka ini, sebagaimana yang engkau lihat, berada di sekelilingku dan meminta (tambahan) nafkah dariku.”فَقَامَ أَبُو بَكْرٍ إِلَى عَائِشَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، فَقَامَ عُمَرُ إِلَى حَفْصَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، كِلَاهُمَا يَقُولُ: تَسْأَلْنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَيْسَ عِنْدَهُ؟!Mendengar hal itu, Abu Bakar berdiri menuju Aisyah dan menegur keras ia. Umar pun berdiri menuju Hafshah dan menegur keras ia. Keduanya berkata, “Kalian meminta kepada Rasulullah ﷺ sesuatu yang tidak beliau miliki?!”Maka para istri Nabi ﷺ berkata,وَاللَّهِ لَا نَسْأَلُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا أَبَدًا لَيْسَ عِنْدَهُ.“Demi Allah, kami tidak akan pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ sesuatu yang tidak beliau miliki.”Setelah kejadian itu, Rasulullah ﷺ mengasingkan diri dari para istri beliau selama satu bulan, atau dua puluh sembilan hari. Kemudian turunlah ayat berikut kepada beliau:﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا ۝ وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا﴾“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepada kalian kesenangan dunia dan aku ceraikan kalian dengan cara yang baik. Namun jika kalian menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sungguh Allah telah menyediakan pahala yang besar bagi siapa pun di antara kalian yang berbuat baik.” (QS. Al-Ahzab: 28–29)Rasulullah ﷺ memulai dari Aisyah. Beliau bersabda,يَا عَائِشَةُ، إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَعْرِضَ عَلَيْكِ أَمْرًا، أُحِبُّ أَنْ لَا تَعْجَلِي فِيهِ حَتَّى تَسْتَشِيرِي أَبَوَيْكِ.“Wahai Aisyah, aku ingin menyampaikan suatu perkara kepadamu. Aku berharap engkau tidak tergesa-gesa dalam menanggapinya sampai engkau bermusyawarah dengan kedua orang tuamu.”Aisyah bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulullah?”Maka Rasulullah ﷺ membacakan ayat tersebut kepadanya. Aisyah pun berkata,أَفِيكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَسْتَشِيرُ أَبَوَيَّ؟ بَلْ أَخْتَارُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ.وَأَسْأَلُكَ أَنْ لَا تُخْبِرَ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِكَ بِالَّذِي قُلْتُ.“Apakah dalam perkara tentang engkau ini aku harus meminta pendapat kedua orang tuaku, wahai Rasulullah? Bahkan aku memilih Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat.”Kemudian Aisyah berkata, “Aku memohon kepadamu agar engkau tidak memberitahukan kepada istri-istrimu yang lain tentang apa yang aku sampaikan ini.”Rasulullah ﷺ bersabda,لَا تَسْأَلُنِي امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ إِلَّا أَخْبَرْتُهَا، إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا، وَلَا مُتَعَنِّتًا، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا“Tidak ada seorang pun dari mereka yang bertanya kepadaku melainkan aku akan memberitahunya. Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang menyulitkan atau mencari-cari kesulitan, tetapi Dia mengutusku sebagai pendidik yang memudahkan.”(HR. Muslim no. 1478; juga diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra, dan Abu Ya’la dengan sedikit perbedaan lafaz. Hadits ini diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu). Pelajaran dari Kisah Ayat TakhyirValidasi Perasaan Manusiawi: Protes atau keinginan akan perbaikan ekonomi adalah hal yang manusiawi, bahkan pernah terjadi di rumah tangga termulia. Namun, syariat mengajarkan cara menyikapinya.Memilih Visi Akhirat: Para istri Nabi akhirnya serempak memilih Allah dan Rasul-Nya meskipun harus hidup sederhana. Ini adalah pengingat bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak selalu berbanding lurus dengan kemewahan.Keadilan dalam Nafkah: Rasulullah ﷺ tidak marah dengan kekerasan, melainkan memberikan pilihan yang adil secara hukum fikih (menetap dengan qanaah atau berpisah secara baik).Bahaya Membandingkan Hidup: Konflik tersebut dipicu karena para istri melihat “standar hidup” orang lain yang meningkat. Di era media sosial, ini adalah pengingat keras agar tidak silau dengan lifestyle orang lain sehingga menekan pasangan di luar kemampuannya. 2. Pilar Adab: Menjaga Kesucian InteraksiPilar kedua adalah penjagaan kehormatan (iffah). Surah Al-Ahzab sangat menekankan bagaimana interaksi dengan lawan jenis diatur secara ketat demi menjaga kesucian hati suami, istri, maupun orang lain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab pada ayat-ayat berikut ini ,يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِىِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ ٱلنِّسَآءِ ۚ إِنِ ٱتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِٱلْقَوْلِ فَيَطْمَعَ ٱلَّذِى فِى قَلْبِهِۦ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَدْخُلُوا۟ بُيُوتَ ٱلنَّبِىِّ إِلَّآ أَن يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَٰظِرِينَ إِنَىٰهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَٱدْخُلُوا۟ فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَٱنتَشِرُوا۟ وَلَا مُسْتَـْٔنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى ٱلنَّبِىَّ فَيَسْتَحْىِۦ مِنكُمْ ۖ وَٱللَّهُ لَا يَسْتَحْىِۦ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَٰعًا فَسْـَٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا۟ رَسُولَ ٱللَّهِ وَلَآ أَن تَنكِحُوٓا۟ أَزْوَٰجَهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦٓ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمًا“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 53)يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)Adab Lisan dan Hijab:Adab Lisan (Ayat 32): Istri-istri Nabi dilarang melembut-lembutkan suara kepada laki-laki asing agar tidak timbul fitnah bagi orang yang memiliki penyakit dalam hatinya.Adab Hijab (Ayat 53 & 59): Allah memerintahkan adanya batasan (hijab) dan mengenakan jilbab secara sempurna. Allah menegaskan bahwa cara ini “lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”.Aplikasi Praktis:Keluarga sakinah akan terjaga jika suami dan istri sama-sama menjaga adab pergaulan di luar rumah, termasuk dalam menjaga lisan dan pandangan di media sosial. Menutup pintu-pintu fitnah adalah kunci utama agar rasa percaya dan kasih sayang tetap murni.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 32 di atas sebagai berikut:“Wahai istri-istri Nabi, kalian tidak seperti wanita-wanita yang lain, jika kalian bertakwa. Maka janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi berkeinginan, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)Allah Ta’ala berfirman, “Wahai istri-istri Nabi,” yaitu seruan yang ditujukan kepada mereka semua.“Kalian tidak seperti wanita-wanita yang lain, jika kalian bertakwa kepada Allah.” Dengan ketakwaan itu, kedudukan kalian lebih tinggi daripada wanita-wanita lainnya, dan tidak ada wanita yang dapat menyamai kalian. Karena itu sempurnakanlah ketakwaan dengan semua sarana dan tujuannya.Oleh sebab itu Allah membimbing mereka untuk menutup jalan yang dapat mengantarkan kepada perbuatan yang diharamkan. Allah berfirman:“Maka janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara,” yaitu ketika berbicara dengan laki-laki atau ketika mereka dapat mendengar suara kalian. Jangan sampai kalian berbicara dengan nada yang lembut dan halus yang dapat mengundang dan menimbulkan keinginan.“Sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi berkeinginan,” yaitu penyakit syahwat zina. Orang seperti ini selalu siap terseret oleh hal yang paling kecil sekalipun yang dapat menggerakkan syahwatnya, karena hatinya tidak sehat. Adapun hati yang sehat tidak memiliki keinginan terhadap apa yang Allah haramkan. Sebab-sebab seperti itu hampir tidak mampu menggoyahkannya atau menggerakkannya karena hatinya sehat dan selamat dari penyakit.Berbeda dengan orang yang hatinya sakit. Ia tidak mampu menahan diri sebagaimana orang yang hatinya sehat, dan tidak mampu bersabar sebagaimana kesabaran orang yang sehat. Ketika ada sebab kecil yang mengajaknya kepada yang haram, ia segera memenuhi dorongan tersebut dan tidak mampu menolaknya.Ini menunjukkan bahwa sarana memiliki hukum yang sama dengan tujuannya. Melembutkan suara dalam berbicara pada asalnya adalah perkara yang mubah. Namun karena hal itu dapat menjadi sarana menuju yang haram, maka ia dilarang. Karena itu, seorang wanita ketika berbicara dengan laki-laki tidak boleh melembutkan ucapannya.Ketika Allah melarang mereka melembutkan suara dalam berbicara, mungkin ada yang menyangka bahwa mereka diperintahkan untuk berbicara dengan kasar. Maka Allah menolak anggapan ini dengan firman-Nya:“Dan ucapkanlah perkataan yang baik,” yaitu ucapan yang tidak kasar dan tidak kaku, namun juga tidak lembut dan merendahkan diri.Perhatikan bagaimana Allah berfirman:“Janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara,” dan tidak mengatakan, “janganlah kalian berbicara dengan lembut.”Sebab yang dilarang adalah kelembutan ucapan yang mengandung sikap tunduk dan merendahkan diri seorang wanita kepada laki-laki. Orang yang bersikap seperti ini biasanya menimbulkan keinginan pada pihak lain. Berbeda dengan ucapan yang lembut tetapi tidak mengandung ketundukan, bahkan terkadang mengandung wibawa atau ketegasan kepada lawan bicara. Dalam keadaan seperti ini, lawan bicara tidak akan berani berharap sesuatu darinya.Karena itu Allah memuji Rasul-Nya dengan kelembutan, sebagaimana firman-Nya:فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ“Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Ali Imran: 159)Allah juga berfirman kepada Musa dan Harun:اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى“Pergilah kalian berdua kepada Fir‘aun, karena sungguh ia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 43-44)Firman Allah: “Sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi berkeinginan,” bersama dengan perintah untuk menjaga kemaluan, pujian kepada orang-orang yang menjaga kemaluannya, serta larangan mendekati zina, menunjukkan bahwa seorang hamba jika melihat pada dirinya keadaan seperti ini—yaitu hatinya mudah tergoda melakukan yang haram ketika melihat atau mendengar ucapan dari orang yang ia sukai, dan ia merasakan dorongan untuk melakukan yang haram—maka hendaknya ia menyadari bahwa itu adalah penyakit.Karena itu hendaknya ia bersungguh-sungguh untuk melemahkan penyakit tersebut, memutus lintasan pikiran yang buruk, dan berjuang melawan dirinya agar hatinya selamat dari penyakit yang berbahaya ini. Ia juga hendaknya memohon kepada Allah agar diberi penjagaan dan taufik. Hal itu termasuk bagian dari menjaga kemaluan yang diperintahkan oleh Allah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 53 di atas sebagai berikut:Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar beradab kepada Rasulullah ﷺ ketika memasuki rumah beliau. Allah berfirman:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah Nabi kecuali jika kalian diizinkan untuk makan.”Maksudnya, janganlah kalian memasuki rumah beliau tanpa izin untuk masuk ke dalamnya karena suatu undangan makan. Kalian juga tidak boleh menunggu-nunggu masaknya makanan, yaitu duduk menunggu hingga makanan matang atau menunggu dengan berlama-lama setelah selesai makan.Maknanya, kalian tidak boleh memasuki rumah Nabi kecuali dengan dua syarat:pertama, kalian mendapatkan izin untuk masuk;kedua, kalian duduk hanya sekadar sesuai kebutuhan.Karena itu Allah berfirman:وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ“Akan tetapi jika kalian diundang maka masuklah. Setelah kalian selesai makan maka bertebaranlah, dan jangan berlama-lama untuk berbincang-bincang.”Maksudnya, jangan berlama-lama sebelum makan ataupun setelahnya.Kemudian Allah menjelaskan hikmah dan manfaat dari larangan tersebut. Allah berfirman:إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ“Sesungguhnya hal itu menyakiti Nabi.”Artinya, menunggu terlalu lama tanpa kebutuhan membuat Nabi merasa terbebani dan merasa berat karena kalian menahan beliau dari urusan rumah tangganya serta kesibukan beliau di dalamnya.فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ“Dan beliau merasa malu kepada kalian.”Beliau merasa malu untuk mengatakan kepada kalian, “Keluarlah.” Sebab biasanya manusia—terutama orang yang dermawan—merasa malu untuk mengusir orang dari rumah mereka.Namun Allah berfirman:وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ“Dan Allah tidak malu menyampaikan kebenaran.”Perintah syariat, meskipun kadang disangka bahwa meninggalkannya lebih menunjukkan adab atau rasa malu, tetap harus dijalankan. Sikap yang paling benar adalah mengikuti perintah syariat. Hendaknya diyakini bahwa apa pun yang menyelisihinya bukanlah adab yang benar. Allah tidak malu memerintahkan sesuatu yang membawa kebaikan bagi kalian dan memberikan kemudahan bagi Rasul-Nya.Ini adalah adab mereka ketika memasuki rumah Nabi. Adapun adab ketika berbicara dengan istri-istri beliau, maka terkadang ada kebutuhan untuk berbicara dengan mereka dan terkadang tidak.Jika tidak ada kebutuhan, maka tidak perlu berbicara dengan mereka, dan adab yang baik adalah meninggalkannya. Namun jika ada kebutuhan, misalnya meminta suatu barang atau peralatan rumah tangga dan sejenisnya, maka hendaklah mereka meminta:مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ“Dari balik tabir.”Artinya, ada penghalang antara kalian dan mereka yang menutupi pandangan, karena tidak ada kebutuhan untuk saling melihat.Dengan demikian, memandang mereka dilarang dalam segala keadaan. Adapun berbicara dengan mereka ada perinciannya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah.Kemudian Allah menyebutkan hikmahnya dengan firman-Nya:ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ“Yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.”Sebab hal itu lebih jauh dari kecurigaan dan sebab-sebab yang mengarah kepada keburukan. Semakin seseorang menjauh dari sebab-sebab yang mengajak kepada kejahatan, maka itu lebih selamat baginya dan lebih membersihkan hatinya.Karena itu termasuk aturan syariat yang dijelaskan Allah secara rinci adalah bahwa semua sarana, sebab, dan jalan menuju keburukan dilarang. Syariat juga menganjurkan untuk menjauhinya dengan berbagai cara.Kemudian Allah menyampaikan satu kaidah yang bersifat umum:وَمَا كَانَ لَكُمْ“Dan tidak pantas bagi kalian,” wahai kaum mukminin, yaitu sesuatu yang tidak layak dan tidak baik bagi kalian, bahkan termasuk perbuatan yang sangat buruk,أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ“Untuk menyakiti Rasulullah,” baik dengan ucapan maupun perbuatan, dalam segala hal yang berkaitan dengan beliau.وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا“Dan tidak pula menikahi istri-istrinya setelah beliau wafat selamanya.”Hal itu termasuk perbuatan yang menyakiti beliau. Rasulullah ﷺ memiliki kedudukan yang agung, tinggi, dan mulia. Menikahi istri-istrinya setelah beliau wafat akan merusak kehormatan kedudukan tersebut.Selain itu, mereka adalah istri-istri beliau di dunia dan di akhirat. Hubungan pernikahan tersebut tetap ada setelah wafatnya beliau. Oleh karena itu tidak halal bagi siapa pun dari umat ini untuk menikahi istri-istri beliau setelah beliau wafat.Allah berfirman:إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا“Sesungguhnya hal itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.”Umat ini telah menaati perintah tersebut dan menjauhi apa yang Allah larang dalam hal ini. Segala puji dan syukur hanya bagi Allah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 59 di atas sebagai berikut:“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan para wanita kaum mukminin agar mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)Ayat ini dikenal sebagai ayat hijab. Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menyuruh para wanita secara umum untuk berhijab, dan dimulai dari istri-istri beliau serta anak-anak perempuan beliau, karena mereka lebih ditekankan daripada yang lainnya. Selain itu, seseorang yang memerintahkan orang lain seharusnya memulai dari keluarganya terlebih dahulu sebelum orang lain.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”Perintah tersebut adalah agar para wanita mengulurkan jilbab mereka.Yang dimaksud dengan jilbab adalah pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian biasa, seperti selendang besar, kerudung, atau kain penutup dan sejenisnya. Maksudnya, mereka menutupi wajah dan dada mereka dengan jilbab tersebut.Kemudian Allah menjelaskan hikmahnya:ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ“Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali sehingga mereka tidak diganggu.”Ayat ini menunjukkan bahwa gangguan bisa terjadi jika mereka tidak menutup diri. Sebab jika mereka tidak berhijab, bisa saja orang mengira bahwa mereka bukan wanita yang menjaga kehormatan. Orang yang di dalam hatinya ada penyakit bisa saja mengganggu mereka. Bahkan mungkin mereka diremehkan dan disangka sebagai budak perempuan sehingga orang yang berniat buruk akan meremehkan mereka.Karena itu berhijab dapat memutus harapan orang-orang yang memiliki niat buruk terhadap mereka.Allah kemudian berfirman:وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا“Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Artinya, Allah mengampuni kesalahan yang telah lalu dan merahmati kalian dengan menjelaskan hukum-hukum kepada kalian serta menerangkan mana yang halal dan mana yang haram. Ini merupakan penutupan pintu keburukan dari sisi para wanita. 3. Pilar Aktivitas: Menghidupkan Ilmu dan Ibadah di RumahPilar ketiga adalah menjadikan rumah sebagai madrasah, bukan sekadar tempat singgah untuk beristirahat atau mencari hiburan kosong.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 33-34:وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)وَٱذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِى بُيُوتِكُنَّ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ وَٱلْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 34)Amal Saleh dan Dakwah di Rumah:Amal Saleh (Ayat 33): Perintah untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat disampaikan langsung dalam konteks kehidupan rumah tangga, menunjukkan bahwa ibadah adalah rutinitas utama penghuni rumah.Dakwah & Ilmu (Ayat 34): Istri Nabi diperintahkan untuk senantiasa mengingat dan mempelajari ayat-ayat Allah serta hikmah (Sunnah) yang dibacakan di rumah mereka.Aplikasi Praktis:Hidupkan suasana rumah dengan tilawah Al-Qur’an, rutin mengadakan kajian ilmu agama bersama pasangan, dan berjamaah dalam melakukan ketaatan. Rumah yang bercahaya dengan ilmu dan dzikir akan melahirkan ketenangan (sakinah) yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 33 di atas sebagai berikut:“Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah kalian, dan janganlah kalian berhias serta bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah dahulu. Dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)“Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah kalian,” yaitu menetaplah di dalam rumah, karena hal itu lebih aman dan lebih menjaga diri kalian.“Dan janganlah kalian berhias seperti berhiasnya orang-orang Jahiliah dahulu,” yaitu jangan sering keluar rumah dalam keadaan berhias atau memakai wewangian seperti kebiasaan masyarakat Jahiliah dahulu yang tidak memiliki ilmu dan tidak memiliki agama. Semua perintah ini bertujuan untuk menutup jalan menuju keburukan dan sebab-sebabnya.Ketika Allah memerintahkan mereka untuk bertakwa secara umum, dan juga menyebutkan beberapa bentuk ketakwaan secara khusus—karena kaum wanita sangat membutuhkan penjelasan tersebut—Allah juga memerintahkan mereka untuk taat, terutama dalam menegakkan shalat dan menunaikan zakat.Kedua ibadah ini sangat dibutuhkan oleh setiap orang dan menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan. Keduanya termasuk ibadah yang paling besar dan ketaatan yang paling agung. Dalam salat terdapat keikhlasan kepada Allah yang disembah, sedangkan dalam zakat terdapat kebaikan kepada sesama manusia.Kemudian Allah memerintahkan ketaatan secara umum dengan firman-Nya:وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.”Dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya termasuk semua perintah yang diberikan oleh keduanya, baik yang bersifat wajib maupun yang dianjurkan.Kemudian Allah berfirman:إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ“Sesungguhnya Allah menghendaki,” melalui perintah-perintah yang Dia berikan dan larangan-larangan yang Dia tetapkan kepada kalian,لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ“untuk menghilangkan dari kalian segala kotoran,” yaitu gangguan, keburukan, dan segala yang buruk,يَا أَهْلَ الْبَيْتِ“wahai Ahlul Bait,”وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا“dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya,” sehingga kalian menjadi orang-orang yang bersih dan disucikan.Karena itu hendaklah kalian memuji Rabb kalian dan bersyukur kepada-Nya atas perintah dan larangan ini. Allah telah menjelaskan kepada kalian bahwa semua itu adalah demi kebaikan kalian sendiri. Allah tidak bermaksud menjadikan hal itu sebagai kesulitan atau beban bagi kalian, tetapi agar jiwa kalian menjadi bersih, akhlak kalian menjadi suci, amal kalian menjadi baik, dan pahala kalian menjadi semakin besar.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 34 di atas sebagai berikut:“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 34)Setelah Allah memerintahkan mereka untuk beramal—yang mencakup melakukan perintah dan meninggalkan larangan—Allah juga memerintahkan mereka untuk menuntut ilmu serta menjelaskan jalan untuk mendapatkannya.Allah berfirman:وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah.”Yang dimaksud dengan ayat-ayat Allah adalah Al-Qur’an. Sedangkan hikmah adalah rahasia-rahasianya dan juga Sunnah Rasulullah ﷺ.Perintah untuk mengingatnya mencakup mengingat lafaznya dengan cara membacanya, mengingat maknanya dengan mentadabburi dan memikirkannya, menggali hukum-hukum serta hikmah yang terkandung di dalamnya, serta mengingat untuk mengamalkan dan menerapkannya.Baca juga: Empat Langkah Tadabbur Al-Qur’anKemudian Allah berfirman:إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا“Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.”Allah mengetahui rahasia segala perkara, apa yang tersembunyi di dalam hati, serta segala yang tersembunyi di langit dan di bumi, termasuk amal-amal yang tampak maupun yang tersembunyi.Kelembutan dan pengetahuan Allah menuntut agar mereka bersungguh-sungguh dalam berbuat ikhlas dan menyembunyikan amal-amal mereka, karena Allah akan membalas setiap amal tersebut.Di antara makna Al-Lathif adalah bahwa Allah menggiring hamba-Nya menuju kebaikan dan menjaganya dari keburukan melalui cara-cara yang halus dan tidak disadari oleh hamba tersebut. Allah juga mengalirkan rezeki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka, serta memperlihatkan kepadanya berbagai sebab yang kadang tidak disukai oleh jiwa, tetapi justru menjadi jalan baginya untuk mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia. KesimpulanMembangun keluarga sakinah menuntut kerja sama antara suami dan istri untuk menjaga visi akhirat, memelihara adab, dan terus belajar agama. Semoga Allah memudahkan kita semua untuk meneladani rumah tangga Rasulullah ﷺ.Baca juga: Rumah yang Seperti Kuburan Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Malam Kamis, 23 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih keluarga keluarga keluarga harmoni Masalah keluarga nafkah keluarga renungan ayat renungan quran

3 Pilar Keluarga Sakinah dari Surah Al-Ahzab

Surah Al-Ahzab dalam Juz 22 memberikan panduan komprehensif bagi setiap Muslim untuk membangun rumah tangga yang penuh keberkahan. Keteladanan istri-istri Nabi ﷺ menjadi kunci utama dalam memahami bagaimana menjaga kesucian hati dan kehormatan keluarga. Dengan memahami tiga pilar utama dalam surah ini, kita dapat mewujudkan keluarga sakinah yang tidak hanya harmonis di dunia, tetapi juga selamat hingga akhirat.  Daftar Isi tutup 1. 1. Pilar Visi: Orientasi Akhirat di Atas Materi 1.1. Kisah Istri Nabi Meminta Tambahan Nafkah (Ayat Takhyir) 1.2. Pelajaran dari Kisah Ayat Takhyir 2. 2. Pilar Adab: Menjaga Kesucian Interaksi 3. 3. Pilar Aktivitas: Menghidupkan Ilmu dan Ibadah di Rumah 4. Kesimpulan  1. Pilar Visi: Orientasi Akhirat di Atas MateriPilar pertama dan yang paling fundamental adalah kesamaan visi antara suami dan istri. Keluarga sakinah tidak dibangun di atas tumpukan harta semata, melainkan di atas fondasi keridaan Allah Ta’ala.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 28-29:يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 28)وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ فَإِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَٰتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا “Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 29)Pelajaran dari Ayat Takhyir:Ayat ini dikenal sebagai ayat takhyir (pilihan). Ketika istri-istri Nabi ﷺ diminta memilih antara kemewahan dunia atau Allah dan Rasul-Nya, mereka dengan tegas memilih Allah dan kehidupan akhirat. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan rumah tangga dimulai dari hati yang tidak diperbudak oleh materi.Aplikasi Praktis:Rumah tangga akan terasa tenang jika suami dan istri tidak menjadikan standar “kebahagiaan” hanya pada pencapaian materi. Jika visi sudah searah menuju akhirat, maka ujian ekonomi atau kesederhanaan hidup tidak akan menggoyahkan keharmonisan dan rasa syukur di antara keduanya.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas sebagai berikut:“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah, akan aku beri kalian mut‘ah (pemberian), lalu aku ceraikan kalian dengan cara yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 28)Ketika para istri Rasulullah ﷺ berkumpul karena rasa cemburu, mereka meminta tambahan nafkah dan pakaian kepada beliau. Mereka meminta sesuatu yang tidak selalu mampu beliau penuhi setiap saat. Mereka terus menyampaikan permintaan tersebut secara bersama-sama dan bersikap keras dalam keinginan mereka. Hal ini terasa berat bagi Rasulullah ﷺ, hingga akhirnya beliau bersumpah untuk tidak mendatangi mereka selama satu bulan.Allah kemudian menghendaki untuk memudahkan urusan Rasul-Nya, sekaligus meninggikan kedudukan para istri beliau dan menjauhkan mereka dari sesuatu yang dapat mengurangi pahala mereka. Maka Allah memerintahkan Rasul-Nya agar memberikan pilihan kepada mereka.Allah berfirman,يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia…”Maksudnya, jika dunia menjadi tujuan utama kalian—kalian merasa puas ketika mendapatkannya dan marah ketika kehilangannya—maka aku tidak membutuhkan kebersamaan dengan kalian dalam keadaan seperti itu.فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ“Maka kemarilah, akan aku beri kalian suatu pemberian dari apa yang aku miliki di dunia ini.”وَأُسَرِّحْكُنَّ“Lalu aku akan melepaskan kalian,” yaitu menceraikan kalian.سَرَاحًا جَمِيلًا“Dengan cara yang baik,” tanpa kemarahan dan tanpa saling mencela, tetapi dengan kelapangan hati dan ketenangan jiwa, sebelum keadaan berkembang menjadi sesuatu yang tidak pantas terjadi.Allah Ta’ala berfirman,“Namun jika kalian menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sungguh Allah telah menyediakan bagi siapa saja di antara kalian yang berbuat baik pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 29)Maksudnya, jika yang kalian inginkan adalah Allah, Rasul-Nya, dan kehidupan akhirat—dan itu menjadi tujuan serta harapan terbesar kalian—maka apabila kalian telah mendapatkan Allah, Rasul-Nya, dan surga, kalian tidak akan mempermasalahkan apakah dunia itu sempit atau luas, mudah atau sulit. Kalian akan merasa cukup dengan apa yang dapat diberikan Rasulullah ﷺ dan tidak akan menuntut sesuatu yang memberatkan beliau.Karena itu Allah berfirman,فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah telah menyiapkan bagi perempuan-perempuan yang berbuat baik di antara kalian pahala yang besar.”Allah menggantungkan pahala tersebut pada sifat ihsan, karena itulah sebab yang mendatangkan pahala tersebut. Bukan semata-mata karena mereka adalah istri Rasulullah. Kedudukan sebagai istri Nabi saja tidak cukup dan tidak memberi manfaat jika tidak disertai dengan ihsan.Maka Rasulullah ﷺ memberikan pilihan tersebut kepada mereka. Ternyata seluruhnya memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat. Tidak ada satu pun dari mereka yang memilih selain itu. Semoga Allah meridhai mereka semua.Dalam pilihan ini terdapat banyak hikmah, di antaranya:Menunjukkan perhatian Allah kepada Rasul-Nya dan kecemburuan-Nya agar beliau tidak berada dalam keadaan yang berat karena banyaknya tuntutan dunia dari para istrinya.Rasulullah ﷺ menjadi terbebas dari beban tuntutan hak-hak duniawi para istri, sehingga beliau tetap memiliki kebebasan dalam dirinya; jika beliau ingin memberi maka beliau memberi, dan jika tidak maka beliau tidak memberi.Menjaga Rasulullah ﷺ dari kemungkinan adanya istri yang lebih mengutamakan dunia daripada Allah, Rasul-Nya, dan akhirat.Menjaga para istri beliau dari dosa dan dari kemungkinan mendapatkan murka Allah dan Rasul-Nya.Dengan pilihan ini Allah memutus sebab yang dapat menimbulkan ketidakpuasan kepada Rasulullah ﷺ—yang dapat menyebabkan kemurkaan beliau dan pada akhirnya mendatangkan kemurkaan Allah serta hukuman-Nya.Menampakkan kemuliaan dan tingginya derajat para istri Nabi, serta menunjukkan tingginya cita-cita mereka, karena yang mereka inginkan adalah Allah, Rasul-Nya, dan akhirat, bukan dunia dan segala kesenangannya.Pilihan mereka ini menjadi sebab bertambahnya pahala dan dilipatgandakannya balasan bagi mereka, serta menjadikan mereka berada pada kedudukan yang tidak dimiliki oleh wanita mana pun.Tampak kesesuaian antara Rasulullah ﷺ dan para istri beliau, karena beliau adalah manusia paling sempurna. Allah menghendaki agar para istrinya juga menjadi wanita-wanita yang baik dan menyempurnakan kebaikan.Sebagaimana firman Allah:وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ“Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik.” (QS. An-Nur: 26)Pilihan ini mendorong mereka untuk bersikap qana‘ah (merasa cukup). Dengan qana‘ah, hati menjadi tenang, dada menjadi lapang, dan hilanglah sifat tamak serta ketidakpuasan yang dapat membuat hati gelisah, penuh kegundahan, dan kesedihan.Pilihan mereka tersebut juga menjadi sebab bertambahnya pahala mereka dan menjadikan mereka berada pada kedudukan yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lainnya. Kisah Istri Nabi Meminta Tambahan Nafkah (Ayat Takhyir)Ada sebuah kisah masyhur yang melibatkan para istri Nabi ﷺ yang pernah berkumpul untuk meminta tambahan nafkah (fasilitas duniawi) kepada Rasulullah ﷺ. Kisah ini menjadi latar belakang turunnya Ayat Takhyir (Ayat Pilihan) dalam Surah Al-Ahzab.Kisah ini memberikan pelajaran mendalam bagi pasangan suami-istri, terutama di era sekarang, tentang bagaimana menyikapi tuntutan ekonomi dalam rumah tangga.Abu Bakar datang meminta izin untuk masuk menemui Rasulullah ﷺ. Saat itu ia mendapati banyak orang sedang duduk di depan pintu rumah beliau, dan tidak seorang pun diizinkan masuk. Namun Abu Bakar diberi izin, lalu ia pun masuk.Setelah itu Umar datang dan meminta izin, lalu ia pun diizinkan masuk. Umar mendapati Nabi ﷺ sedang duduk, sementara istri-istri beliau berada di sekelilingnya. Saat itu Rasulullah ﷺ tampak diam dan murung, tidak berbicara.Umar berkata dalam hati, “Aku akan mengatakan sesuatu agar Nabi ﷺ tersenyum.”Lalu ia berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَوْ رَأَيْتَ بِنْتَ خَارِجَةَ، سَأَلَتْنِي النَّفَقَةَ، فَقُمْتُ إِلَيْهَا، فَوَجَأْتُ عُنُقَهَا.“Wahai Rasulullah, seandainya engkau melihat putri Kharijah (istri Umar, Habibah binti Kharijah). Ia meminta nafkah kepadaku, lalu aku berdiri menghampirinya dan menegur keras.”Mendengar itu Rasulullah ﷺ tertawa, lalu bersabda,هُنَّ حَوْلِي كَمَا تَرَى، يَسْأَلْنَنِي النَّفَقَةَ.“Mereka ini, sebagaimana yang engkau lihat, berada di sekelilingku dan meminta (tambahan) nafkah dariku.”فَقَامَ أَبُو بَكْرٍ إِلَى عَائِشَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، فَقَامَ عُمَرُ إِلَى حَفْصَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، كِلَاهُمَا يَقُولُ: تَسْأَلْنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَيْسَ عِنْدَهُ؟!Mendengar hal itu, Abu Bakar berdiri menuju Aisyah dan menegur keras ia. Umar pun berdiri menuju Hafshah dan menegur keras ia. Keduanya berkata, “Kalian meminta kepada Rasulullah ﷺ sesuatu yang tidak beliau miliki?!”Maka para istri Nabi ﷺ berkata,وَاللَّهِ لَا نَسْأَلُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا أَبَدًا لَيْسَ عِنْدَهُ.“Demi Allah, kami tidak akan pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ sesuatu yang tidak beliau miliki.”Setelah kejadian itu, Rasulullah ﷺ mengasingkan diri dari para istri beliau selama satu bulan, atau dua puluh sembilan hari. Kemudian turunlah ayat berikut kepada beliau:﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا ۝ وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا﴾“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepada kalian kesenangan dunia dan aku ceraikan kalian dengan cara yang baik. Namun jika kalian menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sungguh Allah telah menyediakan pahala yang besar bagi siapa pun di antara kalian yang berbuat baik.” (QS. Al-Ahzab: 28–29)Rasulullah ﷺ memulai dari Aisyah. Beliau bersabda,يَا عَائِشَةُ، إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَعْرِضَ عَلَيْكِ أَمْرًا، أُحِبُّ أَنْ لَا تَعْجَلِي فِيهِ حَتَّى تَسْتَشِيرِي أَبَوَيْكِ.“Wahai Aisyah, aku ingin menyampaikan suatu perkara kepadamu. Aku berharap engkau tidak tergesa-gesa dalam menanggapinya sampai engkau bermusyawarah dengan kedua orang tuamu.”Aisyah bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulullah?”Maka Rasulullah ﷺ membacakan ayat tersebut kepadanya. Aisyah pun berkata,أَفِيكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَسْتَشِيرُ أَبَوَيَّ؟ بَلْ أَخْتَارُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ.وَأَسْأَلُكَ أَنْ لَا تُخْبِرَ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِكَ بِالَّذِي قُلْتُ.“Apakah dalam perkara tentang engkau ini aku harus meminta pendapat kedua orang tuaku, wahai Rasulullah? Bahkan aku memilih Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat.”Kemudian Aisyah berkata, “Aku memohon kepadamu agar engkau tidak memberitahukan kepada istri-istrimu yang lain tentang apa yang aku sampaikan ini.”Rasulullah ﷺ bersabda,لَا تَسْأَلُنِي امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ إِلَّا أَخْبَرْتُهَا، إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا، وَلَا مُتَعَنِّتًا، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا“Tidak ada seorang pun dari mereka yang bertanya kepadaku melainkan aku akan memberitahunya. Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang menyulitkan atau mencari-cari kesulitan, tetapi Dia mengutusku sebagai pendidik yang memudahkan.”(HR. Muslim no. 1478; juga diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra, dan Abu Ya’la dengan sedikit perbedaan lafaz. Hadits ini diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu). Pelajaran dari Kisah Ayat TakhyirValidasi Perasaan Manusiawi: Protes atau keinginan akan perbaikan ekonomi adalah hal yang manusiawi, bahkan pernah terjadi di rumah tangga termulia. Namun, syariat mengajarkan cara menyikapinya.Memilih Visi Akhirat: Para istri Nabi akhirnya serempak memilih Allah dan Rasul-Nya meskipun harus hidup sederhana. Ini adalah pengingat bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak selalu berbanding lurus dengan kemewahan.Keadilan dalam Nafkah: Rasulullah ﷺ tidak marah dengan kekerasan, melainkan memberikan pilihan yang adil secara hukum fikih (menetap dengan qanaah atau berpisah secara baik).Bahaya Membandingkan Hidup: Konflik tersebut dipicu karena para istri melihat “standar hidup” orang lain yang meningkat. Di era media sosial, ini adalah pengingat keras agar tidak silau dengan lifestyle orang lain sehingga menekan pasangan di luar kemampuannya. 2. Pilar Adab: Menjaga Kesucian InteraksiPilar kedua adalah penjagaan kehormatan (iffah). Surah Al-Ahzab sangat menekankan bagaimana interaksi dengan lawan jenis diatur secara ketat demi menjaga kesucian hati suami, istri, maupun orang lain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab pada ayat-ayat berikut ini ,يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِىِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ ٱلنِّسَآءِ ۚ إِنِ ٱتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِٱلْقَوْلِ فَيَطْمَعَ ٱلَّذِى فِى قَلْبِهِۦ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَدْخُلُوا۟ بُيُوتَ ٱلنَّبِىِّ إِلَّآ أَن يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَٰظِرِينَ إِنَىٰهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَٱدْخُلُوا۟ فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَٱنتَشِرُوا۟ وَلَا مُسْتَـْٔنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى ٱلنَّبِىَّ فَيَسْتَحْىِۦ مِنكُمْ ۖ وَٱللَّهُ لَا يَسْتَحْىِۦ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَٰعًا فَسْـَٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا۟ رَسُولَ ٱللَّهِ وَلَآ أَن تَنكِحُوٓا۟ أَزْوَٰجَهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦٓ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمًا“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 53)يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)Adab Lisan dan Hijab:Adab Lisan (Ayat 32): Istri-istri Nabi dilarang melembut-lembutkan suara kepada laki-laki asing agar tidak timbul fitnah bagi orang yang memiliki penyakit dalam hatinya.Adab Hijab (Ayat 53 & 59): Allah memerintahkan adanya batasan (hijab) dan mengenakan jilbab secara sempurna. Allah menegaskan bahwa cara ini “lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”.Aplikasi Praktis:Keluarga sakinah akan terjaga jika suami dan istri sama-sama menjaga adab pergaulan di luar rumah, termasuk dalam menjaga lisan dan pandangan di media sosial. Menutup pintu-pintu fitnah adalah kunci utama agar rasa percaya dan kasih sayang tetap murni.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 32 di atas sebagai berikut:“Wahai istri-istri Nabi, kalian tidak seperti wanita-wanita yang lain, jika kalian bertakwa. Maka janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi berkeinginan, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)Allah Ta’ala berfirman, “Wahai istri-istri Nabi,” yaitu seruan yang ditujukan kepada mereka semua.“Kalian tidak seperti wanita-wanita yang lain, jika kalian bertakwa kepada Allah.” Dengan ketakwaan itu, kedudukan kalian lebih tinggi daripada wanita-wanita lainnya, dan tidak ada wanita yang dapat menyamai kalian. Karena itu sempurnakanlah ketakwaan dengan semua sarana dan tujuannya.Oleh sebab itu Allah membimbing mereka untuk menutup jalan yang dapat mengantarkan kepada perbuatan yang diharamkan. Allah berfirman:“Maka janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara,” yaitu ketika berbicara dengan laki-laki atau ketika mereka dapat mendengar suara kalian. Jangan sampai kalian berbicara dengan nada yang lembut dan halus yang dapat mengundang dan menimbulkan keinginan.“Sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi berkeinginan,” yaitu penyakit syahwat zina. Orang seperti ini selalu siap terseret oleh hal yang paling kecil sekalipun yang dapat menggerakkan syahwatnya, karena hatinya tidak sehat. Adapun hati yang sehat tidak memiliki keinginan terhadap apa yang Allah haramkan. Sebab-sebab seperti itu hampir tidak mampu menggoyahkannya atau menggerakkannya karena hatinya sehat dan selamat dari penyakit.Berbeda dengan orang yang hatinya sakit. Ia tidak mampu menahan diri sebagaimana orang yang hatinya sehat, dan tidak mampu bersabar sebagaimana kesabaran orang yang sehat. Ketika ada sebab kecil yang mengajaknya kepada yang haram, ia segera memenuhi dorongan tersebut dan tidak mampu menolaknya.Ini menunjukkan bahwa sarana memiliki hukum yang sama dengan tujuannya. Melembutkan suara dalam berbicara pada asalnya adalah perkara yang mubah. Namun karena hal itu dapat menjadi sarana menuju yang haram, maka ia dilarang. Karena itu, seorang wanita ketika berbicara dengan laki-laki tidak boleh melembutkan ucapannya.Ketika Allah melarang mereka melembutkan suara dalam berbicara, mungkin ada yang menyangka bahwa mereka diperintahkan untuk berbicara dengan kasar. Maka Allah menolak anggapan ini dengan firman-Nya:“Dan ucapkanlah perkataan yang baik,” yaitu ucapan yang tidak kasar dan tidak kaku, namun juga tidak lembut dan merendahkan diri.Perhatikan bagaimana Allah berfirman:“Janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara,” dan tidak mengatakan, “janganlah kalian berbicara dengan lembut.”Sebab yang dilarang adalah kelembutan ucapan yang mengandung sikap tunduk dan merendahkan diri seorang wanita kepada laki-laki. Orang yang bersikap seperti ini biasanya menimbulkan keinginan pada pihak lain. Berbeda dengan ucapan yang lembut tetapi tidak mengandung ketundukan, bahkan terkadang mengandung wibawa atau ketegasan kepada lawan bicara. Dalam keadaan seperti ini, lawan bicara tidak akan berani berharap sesuatu darinya.Karena itu Allah memuji Rasul-Nya dengan kelembutan, sebagaimana firman-Nya:فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ“Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Ali Imran: 159)Allah juga berfirman kepada Musa dan Harun:اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى“Pergilah kalian berdua kepada Fir‘aun, karena sungguh ia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 43-44)Firman Allah: “Sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi berkeinginan,” bersama dengan perintah untuk menjaga kemaluan, pujian kepada orang-orang yang menjaga kemaluannya, serta larangan mendekati zina, menunjukkan bahwa seorang hamba jika melihat pada dirinya keadaan seperti ini—yaitu hatinya mudah tergoda melakukan yang haram ketika melihat atau mendengar ucapan dari orang yang ia sukai, dan ia merasakan dorongan untuk melakukan yang haram—maka hendaknya ia menyadari bahwa itu adalah penyakit.Karena itu hendaknya ia bersungguh-sungguh untuk melemahkan penyakit tersebut, memutus lintasan pikiran yang buruk, dan berjuang melawan dirinya agar hatinya selamat dari penyakit yang berbahaya ini. Ia juga hendaknya memohon kepada Allah agar diberi penjagaan dan taufik. Hal itu termasuk bagian dari menjaga kemaluan yang diperintahkan oleh Allah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 53 di atas sebagai berikut:Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar beradab kepada Rasulullah ﷺ ketika memasuki rumah beliau. Allah berfirman:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah Nabi kecuali jika kalian diizinkan untuk makan.”Maksudnya, janganlah kalian memasuki rumah beliau tanpa izin untuk masuk ke dalamnya karena suatu undangan makan. Kalian juga tidak boleh menunggu-nunggu masaknya makanan, yaitu duduk menunggu hingga makanan matang atau menunggu dengan berlama-lama setelah selesai makan.Maknanya, kalian tidak boleh memasuki rumah Nabi kecuali dengan dua syarat:pertama, kalian mendapatkan izin untuk masuk;kedua, kalian duduk hanya sekadar sesuai kebutuhan.Karena itu Allah berfirman:وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ“Akan tetapi jika kalian diundang maka masuklah. Setelah kalian selesai makan maka bertebaranlah, dan jangan berlama-lama untuk berbincang-bincang.”Maksudnya, jangan berlama-lama sebelum makan ataupun setelahnya.Kemudian Allah menjelaskan hikmah dan manfaat dari larangan tersebut. Allah berfirman:إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ“Sesungguhnya hal itu menyakiti Nabi.”Artinya, menunggu terlalu lama tanpa kebutuhan membuat Nabi merasa terbebani dan merasa berat karena kalian menahan beliau dari urusan rumah tangganya serta kesibukan beliau di dalamnya.فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ“Dan beliau merasa malu kepada kalian.”Beliau merasa malu untuk mengatakan kepada kalian, “Keluarlah.” Sebab biasanya manusia—terutama orang yang dermawan—merasa malu untuk mengusir orang dari rumah mereka.Namun Allah berfirman:وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ“Dan Allah tidak malu menyampaikan kebenaran.”Perintah syariat, meskipun kadang disangka bahwa meninggalkannya lebih menunjukkan adab atau rasa malu, tetap harus dijalankan. Sikap yang paling benar adalah mengikuti perintah syariat. Hendaknya diyakini bahwa apa pun yang menyelisihinya bukanlah adab yang benar. Allah tidak malu memerintahkan sesuatu yang membawa kebaikan bagi kalian dan memberikan kemudahan bagi Rasul-Nya.Ini adalah adab mereka ketika memasuki rumah Nabi. Adapun adab ketika berbicara dengan istri-istri beliau, maka terkadang ada kebutuhan untuk berbicara dengan mereka dan terkadang tidak.Jika tidak ada kebutuhan, maka tidak perlu berbicara dengan mereka, dan adab yang baik adalah meninggalkannya. Namun jika ada kebutuhan, misalnya meminta suatu barang atau peralatan rumah tangga dan sejenisnya, maka hendaklah mereka meminta:مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ“Dari balik tabir.”Artinya, ada penghalang antara kalian dan mereka yang menutupi pandangan, karena tidak ada kebutuhan untuk saling melihat.Dengan demikian, memandang mereka dilarang dalam segala keadaan. Adapun berbicara dengan mereka ada perinciannya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah.Kemudian Allah menyebutkan hikmahnya dengan firman-Nya:ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ“Yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.”Sebab hal itu lebih jauh dari kecurigaan dan sebab-sebab yang mengarah kepada keburukan. Semakin seseorang menjauh dari sebab-sebab yang mengajak kepada kejahatan, maka itu lebih selamat baginya dan lebih membersihkan hatinya.Karena itu termasuk aturan syariat yang dijelaskan Allah secara rinci adalah bahwa semua sarana, sebab, dan jalan menuju keburukan dilarang. Syariat juga menganjurkan untuk menjauhinya dengan berbagai cara.Kemudian Allah menyampaikan satu kaidah yang bersifat umum:وَمَا كَانَ لَكُمْ“Dan tidak pantas bagi kalian,” wahai kaum mukminin, yaitu sesuatu yang tidak layak dan tidak baik bagi kalian, bahkan termasuk perbuatan yang sangat buruk,أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ“Untuk menyakiti Rasulullah,” baik dengan ucapan maupun perbuatan, dalam segala hal yang berkaitan dengan beliau.وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا“Dan tidak pula menikahi istri-istrinya setelah beliau wafat selamanya.”Hal itu termasuk perbuatan yang menyakiti beliau. Rasulullah ﷺ memiliki kedudukan yang agung, tinggi, dan mulia. Menikahi istri-istrinya setelah beliau wafat akan merusak kehormatan kedudukan tersebut.Selain itu, mereka adalah istri-istri beliau di dunia dan di akhirat. Hubungan pernikahan tersebut tetap ada setelah wafatnya beliau. Oleh karena itu tidak halal bagi siapa pun dari umat ini untuk menikahi istri-istri beliau setelah beliau wafat.Allah berfirman:إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا“Sesungguhnya hal itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.”Umat ini telah menaati perintah tersebut dan menjauhi apa yang Allah larang dalam hal ini. Segala puji dan syukur hanya bagi Allah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 59 di atas sebagai berikut:“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan para wanita kaum mukminin agar mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)Ayat ini dikenal sebagai ayat hijab. Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menyuruh para wanita secara umum untuk berhijab, dan dimulai dari istri-istri beliau serta anak-anak perempuan beliau, karena mereka lebih ditekankan daripada yang lainnya. Selain itu, seseorang yang memerintahkan orang lain seharusnya memulai dari keluarganya terlebih dahulu sebelum orang lain.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”Perintah tersebut adalah agar para wanita mengulurkan jilbab mereka.Yang dimaksud dengan jilbab adalah pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian biasa, seperti selendang besar, kerudung, atau kain penutup dan sejenisnya. Maksudnya, mereka menutupi wajah dan dada mereka dengan jilbab tersebut.Kemudian Allah menjelaskan hikmahnya:ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ“Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali sehingga mereka tidak diganggu.”Ayat ini menunjukkan bahwa gangguan bisa terjadi jika mereka tidak menutup diri. Sebab jika mereka tidak berhijab, bisa saja orang mengira bahwa mereka bukan wanita yang menjaga kehormatan. Orang yang di dalam hatinya ada penyakit bisa saja mengganggu mereka. Bahkan mungkin mereka diremehkan dan disangka sebagai budak perempuan sehingga orang yang berniat buruk akan meremehkan mereka.Karena itu berhijab dapat memutus harapan orang-orang yang memiliki niat buruk terhadap mereka.Allah kemudian berfirman:وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا“Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Artinya, Allah mengampuni kesalahan yang telah lalu dan merahmati kalian dengan menjelaskan hukum-hukum kepada kalian serta menerangkan mana yang halal dan mana yang haram. Ini merupakan penutupan pintu keburukan dari sisi para wanita. 3. Pilar Aktivitas: Menghidupkan Ilmu dan Ibadah di RumahPilar ketiga adalah menjadikan rumah sebagai madrasah, bukan sekadar tempat singgah untuk beristirahat atau mencari hiburan kosong.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 33-34:وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)وَٱذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِى بُيُوتِكُنَّ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ وَٱلْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 34)Amal Saleh dan Dakwah di Rumah:Amal Saleh (Ayat 33): Perintah untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat disampaikan langsung dalam konteks kehidupan rumah tangga, menunjukkan bahwa ibadah adalah rutinitas utama penghuni rumah.Dakwah & Ilmu (Ayat 34): Istri Nabi diperintahkan untuk senantiasa mengingat dan mempelajari ayat-ayat Allah serta hikmah (Sunnah) yang dibacakan di rumah mereka.Aplikasi Praktis:Hidupkan suasana rumah dengan tilawah Al-Qur’an, rutin mengadakan kajian ilmu agama bersama pasangan, dan berjamaah dalam melakukan ketaatan. Rumah yang bercahaya dengan ilmu dan dzikir akan melahirkan ketenangan (sakinah) yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 33 di atas sebagai berikut:“Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah kalian, dan janganlah kalian berhias serta bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah dahulu. Dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)“Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah kalian,” yaitu menetaplah di dalam rumah, karena hal itu lebih aman dan lebih menjaga diri kalian.“Dan janganlah kalian berhias seperti berhiasnya orang-orang Jahiliah dahulu,” yaitu jangan sering keluar rumah dalam keadaan berhias atau memakai wewangian seperti kebiasaan masyarakat Jahiliah dahulu yang tidak memiliki ilmu dan tidak memiliki agama. Semua perintah ini bertujuan untuk menutup jalan menuju keburukan dan sebab-sebabnya.Ketika Allah memerintahkan mereka untuk bertakwa secara umum, dan juga menyebutkan beberapa bentuk ketakwaan secara khusus—karena kaum wanita sangat membutuhkan penjelasan tersebut—Allah juga memerintahkan mereka untuk taat, terutama dalam menegakkan shalat dan menunaikan zakat.Kedua ibadah ini sangat dibutuhkan oleh setiap orang dan menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan. Keduanya termasuk ibadah yang paling besar dan ketaatan yang paling agung. Dalam salat terdapat keikhlasan kepada Allah yang disembah, sedangkan dalam zakat terdapat kebaikan kepada sesama manusia.Kemudian Allah memerintahkan ketaatan secara umum dengan firman-Nya:وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.”Dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya termasuk semua perintah yang diberikan oleh keduanya, baik yang bersifat wajib maupun yang dianjurkan.Kemudian Allah berfirman:إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ“Sesungguhnya Allah menghendaki,” melalui perintah-perintah yang Dia berikan dan larangan-larangan yang Dia tetapkan kepada kalian,لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ“untuk menghilangkan dari kalian segala kotoran,” yaitu gangguan, keburukan, dan segala yang buruk,يَا أَهْلَ الْبَيْتِ“wahai Ahlul Bait,”وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا“dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya,” sehingga kalian menjadi orang-orang yang bersih dan disucikan.Karena itu hendaklah kalian memuji Rabb kalian dan bersyukur kepada-Nya atas perintah dan larangan ini. Allah telah menjelaskan kepada kalian bahwa semua itu adalah demi kebaikan kalian sendiri. Allah tidak bermaksud menjadikan hal itu sebagai kesulitan atau beban bagi kalian, tetapi agar jiwa kalian menjadi bersih, akhlak kalian menjadi suci, amal kalian menjadi baik, dan pahala kalian menjadi semakin besar.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 34 di atas sebagai berikut:“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 34)Setelah Allah memerintahkan mereka untuk beramal—yang mencakup melakukan perintah dan meninggalkan larangan—Allah juga memerintahkan mereka untuk menuntut ilmu serta menjelaskan jalan untuk mendapatkannya.Allah berfirman:وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah.”Yang dimaksud dengan ayat-ayat Allah adalah Al-Qur’an. Sedangkan hikmah adalah rahasia-rahasianya dan juga Sunnah Rasulullah ﷺ.Perintah untuk mengingatnya mencakup mengingat lafaznya dengan cara membacanya, mengingat maknanya dengan mentadabburi dan memikirkannya, menggali hukum-hukum serta hikmah yang terkandung di dalamnya, serta mengingat untuk mengamalkan dan menerapkannya.Baca juga: Empat Langkah Tadabbur Al-Qur’anKemudian Allah berfirman:إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا“Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.”Allah mengetahui rahasia segala perkara, apa yang tersembunyi di dalam hati, serta segala yang tersembunyi di langit dan di bumi, termasuk amal-amal yang tampak maupun yang tersembunyi.Kelembutan dan pengetahuan Allah menuntut agar mereka bersungguh-sungguh dalam berbuat ikhlas dan menyembunyikan amal-amal mereka, karena Allah akan membalas setiap amal tersebut.Di antara makna Al-Lathif adalah bahwa Allah menggiring hamba-Nya menuju kebaikan dan menjaganya dari keburukan melalui cara-cara yang halus dan tidak disadari oleh hamba tersebut. Allah juga mengalirkan rezeki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka, serta memperlihatkan kepadanya berbagai sebab yang kadang tidak disukai oleh jiwa, tetapi justru menjadi jalan baginya untuk mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia. KesimpulanMembangun keluarga sakinah menuntut kerja sama antara suami dan istri untuk menjaga visi akhirat, memelihara adab, dan terus belajar agama. Semoga Allah memudahkan kita semua untuk meneladani rumah tangga Rasulullah ﷺ.Baca juga: Rumah yang Seperti Kuburan Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Malam Kamis, 23 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih keluarga keluarga keluarga harmoni Masalah keluarga nafkah keluarga renungan ayat renungan quran
Surah Al-Ahzab dalam Juz 22 memberikan panduan komprehensif bagi setiap Muslim untuk membangun rumah tangga yang penuh keberkahan. Keteladanan istri-istri Nabi ﷺ menjadi kunci utama dalam memahami bagaimana menjaga kesucian hati dan kehormatan keluarga. Dengan memahami tiga pilar utama dalam surah ini, kita dapat mewujudkan keluarga sakinah yang tidak hanya harmonis di dunia, tetapi juga selamat hingga akhirat.  Daftar Isi tutup 1. 1. Pilar Visi: Orientasi Akhirat di Atas Materi 1.1. Kisah Istri Nabi Meminta Tambahan Nafkah (Ayat Takhyir) 1.2. Pelajaran dari Kisah Ayat Takhyir 2. 2. Pilar Adab: Menjaga Kesucian Interaksi 3. 3. Pilar Aktivitas: Menghidupkan Ilmu dan Ibadah di Rumah 4. Kesimpulan  1. Pilar Visi: Orientasi Akhirat di Atas MateriPilar pertama dan yang paling fundamental adalah kesamaan visi antara suami dan istri. Keluarga sakinah tidak dibangun di atas tumpukan harta semata, melainkan di atas fondasi keridaan Allah Ta’ala.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 28-29:يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 28)وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ فَإِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَٰتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا “Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 29)Pelajaran dari Ayat Takhyir:Ayat ini dikenal sebagai ayat takhyir (pilihan). Ketika istri-istri Nabi ﷺ diminta memilih antara kemewahan dunia atau Allah dan Rasul-Nya, mereka dengan tegas memilih Allah dan kehidupan akhirat. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan rumah tangga dimulai dari hati yang tidak diperbudak oleh materi.Aplikasi Praktis:Rumah tangga akan terasa tenang jika suami dan istri tidak menjadikan standar “kebahagiaan” hanya pada pencapaian materi. Jika visi sudah searah menuju akhirat, maka ujian ekonomi atau kesederhanaan hidup tidak akan menggoyahkan keharmonisan dan rasa syukur di antara keduanya.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas sebagai berikut:“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah, akan aku beri kalian mut‘ah (pemberian), lalu aku ceraikan kalian dengan cara yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 28)Ketika para istri Rasulullah ﷺ berkumpul karena rasa cemburu, mereka meminta tambahan nafkah dan pakaian kepada beliau. Mereka meminta sesuatu yang tidak selalu mampu beliau penuhi setiap saat. Mereka terus menyampaikan permintaan tersebut secara bersama-sama dan bersikap keras dalam keinginan mereka. Hal ini terasa berat bagi Rasulullah ﷺ, hingga akhirnya beliau bersumpah untuk tidak mendatangi mereka selama satu bulan.Allah kemudian menghendaki untuk memudahkan urusan Rasul-Nya, sekaligus meninggikan kedudukan para istri beliau dan menjauhkan mereka dari sesuatu yang dapat mengurangi pahala mereka. Maka Allah memerintahkan Rasul-Nya agar memberikan pilihan kepada mereka.Allah berfirman,يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia…”Maksudnya, jika dunia menjadi tujuan utama kalian—kalian merasa puas ketika mendapatkannya dan marah ketika kehilangannya—maka aku tidak membutuhkan kebersamaan dengan kalian dalam keadaan seperti itu.فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ“Maka kemarilah, akan aku beri kalian suatu pemberian dari apa yang aku miliki di dunia ini.”وَأُسَرِّحْكُنَّ“Lalu aku akan melepaskan kalian,” yaitu menceraikan kalian.سَرَاحًا جَمِيلًا“Dengan cara yang baik,” tanpa kemarahan dan tanpa saling mencela, tetapi dengan kelapangan hati dan ketenangan jiwa, sebelum keadaan berkembang menjadi sesuatu yang tidak pantas terjadi.Allah Ta’ala berfirman,“Namun jika kalian menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sungguh Allah telah menyediakan bagi siapa saja di antara kalian yang berbuat baik pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 29)Maksudnya, jika yang kalian inginkan adalah Allah, Rasul-Nya, dan kehidupan akhirat—dan itu menjadi tujuan serta harapan terbesar kalian—maka apabila kalian telah mendapatkan Allah, Rasul-Nya, dan surga, kalian tidak akan mempermasalahkan apakah dunia itu sempit atau luas, mudah atau sulit. Kalian akan merasa cukup dengan apa yang dapat diberikan Rasulullah ﷺ dan tidak akan menuntut sesuatu yang memberatkan beliau.Karena itu Allah berfirman,فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah telah menyiapkan bagi perempuan-perempuan yang berbuat baik di antara kalian pahala yang besar.”Allah menggantungkan pahala tersebut pada sifat ihsan, karena itulah sebab yang mendatangkan pahala tersebut. Bukan semata-mata karena mereka adalah istri Rasulullah. Kedudukan sebagai istri Nabi saja tidak cukup dan tidak memberi manfaat jika tidak disertai dengan ihsan.Maka Rasulullah ﷺ memberikan pilihan tersebut kepada mereka. Ternyata seluruhnya memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat. Tidak ada satu pun dari mereka yang memilih selain itu. Semoga Allah meridhai mereka semua.Dalam pilihan ini terdapat banyak hikmah, di antaranya:Menunjukkan perhatian Allah kepada Rasul-Nya dan kecemburuan-Nya agar beliau tidak berada dalam keadaan yang berat karena banyaknya tuntutan dunia dari para istrinya.Rasulullah ﷺ menjadi terbebas dari beban tuntutan hak-hak duniawi para istri, sehingga beliau tetap memiliki kebebasan dalam dirinya; jika beliau ingin memberi maka beliau memberi, dan jika tidak maka beliau tidak memberi.Menjaga Rasulullah ﷺ dari kemungkinan adanya istri yang lebih mengutamakan dunia daripada Allah, Rasul-Nya, dan akhirat.Menjaga para istri beliau dari dosa dan dari kemungkinan mendapatkan murka Allah dan Rasul-Nya.Dengan pilihan ini Allah memutus sebab yang dapat menimbulkan ketidakpuasan kepada Rasulullah ﷺ—yang dapat menyebabkan kemurkaan beliau dan pada akhirnya mendatangkan kemurkaan Allah serta hukuman-Nya.Menampakkan kemuliaan dan tingginya derajat para istri Nabi, serta menunjukkan tingginya cita-cita mereka, karena yang mereka inginkan adalah Allah, Rasul-Nya, dan akhirat, bukan dunia dan segala kesenangannya.Pilihan mereka ini menjadi sebab bertambahnya pahala dan dilipatgandakannya balasan bagi mereka, serta menjadikan mereka berada pada kedudukan yang tidak dimiliki oleh wanita mana pun.Tampak kesesuaian antara Rasulullah ﷺ dan para istri beliau, karena beliau adalah manusia paling sempurna. Allah menghendaki agar para istrinya juga menjadi wanita-wanita yang baik dan menyempurnakan kebaikan.Sebagaimana firman Allah:وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ“Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik.” (QS. An-Nur: 26)Pilihan ini mendorong mereka untuk bersikap qana‘ah (merasa cukup). Dengan qana‘ah, hati menjadi tenang, dada menjadi lapang, dan hilanglah sifat tamak serta ketidakpuasan yang dapat membuat hati gelisah, penuh kegundahan, dan kesedihan.Pilihan mereka tersebut juga menjadi sebab bertambahnya pahala mereka dan menjadikan mereka berada pada kedudukan yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lainnya. Kisah Istri Nabi Meminta Tambahan Nafkah (Ayat Takhyir)Ada sebuah kisah masyhur yang melibatkan para istri Nabi ﷺ yang pernah berkumpul untuk meminta tambahan nafkah (fasilitas duniawi) kepada Rasulullah ﷺ. Kisah ini menjadi latar belakang turunnya Ayat Takhyir (Ayat Pilihan) dalam Surah Al-Ahzab.Kisah ini memberikan pelajaran mendalam bagi pasangan suami-istri, terutama di era sekarang, tentang bagaimana menyikapi tuntutan ekonomi dalam rumah tangga.Abu Bakar datang meminta izin untuk masuk menemui Rasulullah ﷺ. Saat itu ia mendapati banyak orang sedang duduk di depan pintu rumah beliau, dan tidak seorang pun diizinkan masuk. Namun Abu Bakar diberi izin, lalu ia pun masuk.Setelah itu Umar datang dan meminta izin, lalu ia pun diizinkan masuk. Umar mendapati Nabi ﷺ sedang duduk, sementara istri-istri beliau berada di sekelilingnya. Saat itu Rasulullah ﷺ tampak diam dan murung, tidak berbicara.Umar berkata dalam hati, “Aku akan mengatakan sesuatu agar Nabi ﷺ tersenyum.”Lalu ia berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَوْ رَأَيْتَ بِنْتَ خَارِجَةَ، سَأَلَتْنِي النَّفَقَةَ، فَقُمْتُ إِلَيْهَا، فَوَجَأْتُ عُنُقَهَا.“Wahai Rasulullah, seandainya engkau melihat putri Kharijah (istri Umar, Habibah binti Kharijah). Ia meminta nafkah kepadaku, lalu aku berdiri menghampirinya dan menegur keras.”Mendengar itu Rasulullah ﷺ tertawa, lalu bersabda,هُنَّ حَوْلِي كَمَا تَرَى، يَسْأَلْنَنِي النَّفَقَةَ.“Mereka ini, sebagaimana yang engkau lihat, berada di sekelilingku dan meminta (tambahan) nafkah dariku.”فَقَامَ أَبُو بَكْرٍ إِلَى عَائِشَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، فَقَامَ عُمَرُ إِلَى حَفْصَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، كِلَاهُمَا يَقُولُ: تَسْأَلْنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَيْسَ عِنْدَهُ؟!Mendengar hal itu, Abu Bakar berdiri menuju Aisyah dan menegur keras ia. Umar pun berdiri menuju Hafshah dan menegur keras ia. Keduanya berkata, “Kalian meminta kepada Rasulullah ﷺ sesuatu yang tidak beliau miliki?!”Maka para istri Nabi ﷺ berkata,وَاللَّهِ لَا نَسْأَلُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا أَبَدًا لَيْسَ عِنْدَهُ.“Demi Allah, kami tidak akan pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ sesuatu yang tidak beliau miliki.”Setelah kejadian itu, Rasulullah ﷺ mengasingkan diri dari para istri beliau selama satu bulan, atau dua puluh sembilan hari. Kemudian turunlah ayat berikut kepada beliau:﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا ۝ وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا﴾“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepada kalian kesenangan dunia dan aku ceraikan kalian dengan cara yang baik. Namun jika kalian menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sungguh Allah telah menyediakan pahala yang besar bagi siapa pun di antara kalian yang berbuat baik.” (QS. Al-Ahzab: 28–29)Rasulullah ﷺ memulai dari Aisyah. Beliau bersabda,يَا عَائِشَةُ، إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَعْرِضَ عَلَيْكِ أَمْرًا، أُحِبُّ أَنْ لَا تَعْجَلِي فِيهِ حَتَّى تَسْتَشِيرِي أَبَوَيْكِ.“Wahai Aisyah, aku ingin menyampaikan suatu perkara kepadamu. Aku berharap engkau tidak tergesa-gesa dalam menanggapinya sampai engkau bermusyawarah dengan kedua orang tuamu.”Aisyah bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulullah?”Maka Rasulullah ﷺ membacakan ayat tersebut kepadanya. Aisyah pun berkata,أَفِيكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَسْتَشِيرُ أَبَوَيَّ؟ بَلْ أَخْتَارُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ.وَأَسْأَلُكَ أَنْ لَا تُخْبِرَ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِكَ بِالَّذِي قُلْتُ.“Apakah dalam perkara tentang engkau ini aku harus meminta pendapat kedua orang tuaku, wahai Rasulullah? Bahkan aku memilih Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat.”Kemudian Aisyah berkata, “Aku memohon kepadamu agar engkau tidak memberitahukan kepada istri-istrimu yang lain tentang apa yang aku sampaikan ini.”Rasulullah ﷺ bersabda,لَا تَسْأَلُنِي امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ إِلَّا أَخْبَرْتُهَا، إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا، وَلَا مُتَعَنِّتًا، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا“Tidak ada seorang pun dari mereka yang bertanya kepadaku melainkan aku akan memberitahunya. Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang menyulitkan atau mencari-cari kesulitan, tetapi Dia mengutusku sebagai pendidik yang memudahkan.”(HR. Muslim no. 1478; juga diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra, dan Abu Ya’la dengan sedikit perbedaan lafaz. Hadits ini diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu). Pelajaran dari Kisah Ayat TakhyirValidasi Perasaan Manusiawi: Protes atau keinginan akan perbaikan ekonomi adalah hal yang manusiawi, bahkan pernah terjadi di rumah tangga termulia. Namun, syariat mengajarkan cara menyikapinya.Memilih Visi Akhirat: Para istri Nabi akhirnya serempak memilih Allah dan Rasul-Nya meskipun harus hidup sederhana. Ini adalah pengingat bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak selalu berbanding lurus dengan kemewahan.Keadilan dalam Nafkah: Rasulullah ﷺ tidak marah dengan kekerasan, melainkan memberikan pilihan yang adil secara hukum fikih (menetap dengan qanaah atau berpisah secara baik).Bahaya Membandingkan Hidup: Konflik tersebut dipicu karena para istri melihat “standar hidup” orang lain yang meningkat. Di era media sosial, ini adalah pengingat keras agar tidak silau dengan lifestyle orang lain sehingga menekan pasangan di luar kemampuannya. 2. Pilar Adab: Menjaga Kesucian InteraksiPilar kedua adalah penjagaan kehormatan (iffah). Surah Al-Ahzab sangat menekankan bagaimana interaksi dengan lawan jenis diatur secara ketat demi menjaga kesucian hati suami, istri, maupun orang lain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab pada ayat-ayat berikut ini ,يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِىِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ ٱلنِّسَآءِ ۚ إِنِ ٱتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِٱلْقَوْلِ فَيَطْمَعَ ٱلَّذِى فِى قَلْبِهِۦ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَدْخُلُوا۟ بُيُوتَ ٱلنَّبِىِّ إِلَّآ أَن يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَٰظِرِينَ إِنَىٰهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَٱدْخُلُوا۟ فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَٱنتَشِرُوا۟ وَلَا مُسْتَـْٔنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى ٱلنَّبِىَّ فَيَسْتَحْىِۦ مِنكُمْ ۖ وَٱللَّهُ لَا يَسْتَحْىِۦ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَٰعًا فَسْـَٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا۟ رَسُولَ ٱللَّهِ وَلَآ أَن تَنكِحُوٓا۟ أَزْوَٰجَهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦٓ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمًا“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 53)يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)Adab Lisan dan Hijab:Adab Lisan (Ayat 32): Istri-istri Nabi dilarang melembut-lembutkan suara kepada laki-laki asing agar tidak timbul fitnah bagi orang yang memiliki penyakit dalam hatinya.Adab Hijab (Ayat 53 & 59): Allah memerintahkan adanya batasan (hijab) dan mengenakan jilbab secara sempurna. Allah menegaskan bahwa cara ini “lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”.Aplikasi Praktis:Keluarga sakinah akan terjaga jika suami dan istri sama-sama menjaga adab pergaulan di luar rumah, termasuk dalam menjaga lisan dan pandangan di media sosial. Menutup pintu-pintu fitnah adalah kunci utama agar rasa percaya dan kasih sayang tetap murni.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 32 di atas sebagai berikut:“Wahai istri-istri Nabi, kalian tidak seperti wanita-wanita yang lain, jika kalian bertakwa. Maka janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi berkeinginan, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)Allah Ta’ala berfirman, “Wahai istri-istri Nabi,” yaitu seruan yang ditujukan kepada mereka semua.“Kalian tidak seperti wanita-wanita yang lain, jika kalian bertakwa kepada Allah.” Dengan ketakwaan itu, kedudukan kalian lebih tinggi daripada wanita-wanita lainnya, dan tidak ada wanita yang dapat menyamai kalian. Karena itu sempurnakanlah ketakwaan dengan semua sarana dan tujuannya.Oleh sebab itu Allah membimbing mereka untuk menutup jalan yang dapat mengantarkan kepada perbuatan yang diharamkan. Allah berfirman:“Maka janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara,” yaitu ketika berbicara dengan laki-laki atau ketika mereka dapat mendengar suara kalian. Jangan sampai kalian berbicara dengan nada yang lembut dan halus yang dapat mengundang dan menimbulkan keinginan.“Sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi berkeinginan,” yaitu penyakit syahwat zina. Orang seperti ini selalu siap terseret oleh hal yang paling kecil sekalipun yang dapat menggerakkan syahwatnya, karena hatinya tidak sehat. Adapun hati yang sehat tidak memiliki keinginan terhadap apa yang Allah haramkan. Sebab-sebab seperti itu hampir tidak mampu menggoyahkannya atau menggerakkannya karena hatinya sehat dan selamat dari penyakit.Berbeda dengan orang yang hatinya sakit. Ia tidak mampu menahan diri sebagaimana orang yang hatinya sehat, dan tidak mampu bersabar sebagaimana kesabaran orang yang sehat. Ketika ada sebab kecil yang mengajaknya kepada yang haram, ia segera memenuhi dorongan tersebut dan tidak mampu menolaknya.Ini menunjukkan bahwa sarana memiliki hukum yang sama dengan tujuannya. Melembutkan suara dalam berbicara pada asalnya adalah perkara yang mubah. Namun karena hal itu dapat menjadi sarana menuju yang haram, maka ia dilarang. Karena itu, seorang wanita ketika berbicara dengan laki-laki tidak boleh melembutkan ucapannya.Ketika Allah melarang mereka melembutkan suara dalam berbicara, mungkin ada yang menyangka bahwa mereka diperintahkan untuk berbicara dengan kasar. Maka Allah menolak anggapan ini dengan firman-Nya:“Dan ucapkanlah perkataan yang baik,” yaitu ucapan yang tidak kasar dan tidak kaku, namun juga tidak lembut dan merendahkan diri.Perhatikan bagaimana Allah berfirman:“Janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara,” dan tidak mengatakan, “janganlah kalian berbicara dengan lembut.”Sebab yang dilarang adalah kelembutan ucapan yang mengandung sikap tunduk dan merendahkan diri seorang wanita kepada laki-laki. Orang yang bersikap seperti ini biasanya menimbulkan keinginan pada pihak lain. Berbeda dengan ucapan yang lembut tetapi tidak mengandung ketundukan, bahkan terkadang mengandung wibawa atau ketegasan kepada lawan bicara. Dalam keadaan seperti ini, lawan bicara tidak akan berani berharap sesuatu darinya.Karena itu Allah memuji Rasul-Nya dengan kelembutan, sebagaimana firman-Nya:فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ“Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Ali Imran: 159)Allah juga berfirman kepada Musa dan Harun:اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى“Pergilah kalian berdua kepada Fir‘aun, karena sungguh ia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 43-44)Firman Allah: “Sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi berkeinginan,” bersama dengan perintah untuk menjaga kemaluan, pujian kepada orang-orang yang menjaga kemaluannya, serta larangan mendekati zina, menunjukkan bahwa seorang hamba jika melihat pada dirinya keadaan seperti ini—yaitu hatinya mudah tergoda melakukan yang haram ketika melihat atau mendengar ucapan dari orang yang ia sukai, dan ia merasakan dorongan untuk melakukan yang haram—maka hendaknya ia menyadari bahwa itu adalah penyakit.Karena itu hendaknya ia bersungguh-sungguh untuk melemahkan penyakit tersebut, memutus lintasan pikiran yang buruk, dan berjuang melawan dirinya agar hatinya selamat dari penyakit yang berbahaya ini. Ia juga hendaknya memohon kepada Allah agar diberi penjagaan dan taufik. Hal itu termasuk bagian dari menjaga kemaluan yang diperintahkan oleh Allah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 53 di atas sebagai berikut:Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar beradab kepada Rasulullah ﷺ ketika memasuki rumah beliau. Allah berfirman:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah Nabi kecuali jika kalian diizinkan untuk makan.”Maksudnya, janganlah kalian memasuki rumah beliau tanpa izin untuk masuk ke dalamnya karena suatu undangan makan. Kalian juga tidak boleh menunggu-nunggu masaknya makanan, yaitu duduk menunggu hingga makanan matang atau menunggu dengan berlama-lama setelah selesai makan.Maknanya, kalian tidak boleh memasuki rumah Nabi kecuali dengan dua syarat:pertama, kalian mendapatkan izin untuk masuk;kedua, kalian duduk hanya sekadar sesuai kebutuhan.Karena itu Allah berfirman:وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ“Akan tetapi jika kalian diundang maka masuklah. Setelah kalian selesai makan maka bertebaranlah, dan jangan berlama-lama untuk berbincang-bincang.”Maksudnya, jangan berlama-lama sebelum makan ataupun setelahnya.Kemudian Allah menjelaskan hikmah dan manfaat dari larangan tersebut. Allah berfirman:إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ“Sesungguhnya hal itu menyakiti Nabi.”Artinya, menunggu terlalu lama tanpa kebutuhan membuat Nabi merasa terbebani dan merasa berat karena kalian menahan beliau dari urusan rumah tangganya serta kesibukan beliau di dalamnya.فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ“Dan beliau merasa malu kepada kalian.”Beliau merasa malu untuk mengatakan kepada kalian, “Keluarlah.” Sebab biasanya manusia—terutama orang yang dermawan—merasa malu untuk mengusir orang dari rumah mereka.Namun Allah berfirman:وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ“Dan Allah tidak malu menyampaikan kebenaran.”Perintah syariat, meskipun kadang disangka bahwa meninggalkannya lebih menunjukkan adab atau rasa malu, tetap harus dijalankan. Sikap yang paling benar adalah mengikuti perintah syariat. Hendaknya diyakini bahwa apa pun yang menyelisihinya bukanlah adab yang benar. Allah tidak malu memerintahkan sesuatu yang membawa kebaikan bagi kalian dan memberikan kemudahan bagi Rasul-Nya.Ini adalah adab mereka ketika memasuki rumah Nabi. Adapun adab ketika berbicara dengan istri-istri beliau, maka terkadang ada kebutuhan untuk berbicara dengan mereka dan terkadang tidak.Jika tidak ada kebutuhan, maka tidak perlu berbicara dengan mereka, dan adab yang baik adalah meninggalkannya. Namun jika ada kebutuhan, misalnya meminta suatu barang atau peralatan rumah tangga dan sejenisnya, maka hendaklah mereka meminta:مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ“Dari balik tabir.”Artinya, ada penghalang antara kalian dan mereka yang menutupi pandangan, karena tidak ada kebutuhan untuk saling melihat.Dengan demikian, memandang mereka dilarang dalam segala keadaan. Adapun berbicara dengan mereka ada perinciannya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah.Kemudian Allah menyebutkan hikmahnya dengan firman-Nya:ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ“Yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.”Sebab hal itu lebih jauh dari kecurigaan dan sebab-sebab yang mengarah kepada keburukan. Semakin seseorang menjauh dari sebab-sebab yang mengajak kepada kejahatan, maka itu lebih selamat baginya dan lebih membersihkan hatinya.Karena itu termasuk aturan syariat yang dijelaskan Allah secara rinci adalah bahwa semua sarana, sebab, dan jalan menuju keburukan dilarang. Syariat juga menganjurkan untuk menjauhinya dengan berbagai cara.Kemudian Allah menyampaikan satu kaidah yang bersifat umum:وَمَا كَانَ لَكُمْ“Dan tidak pantas bagi kalian,” wahai kaum mukminin, yaitu sesuatu yang tidak layak dan tidak baik bagi kalian, bahkan termasuk perbuatan yang sangat buruk,أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ“Untuk menyakiti Rasulullah,” baik dengan ucapan maupun perbuatan, dalam segala hal yang berkaitan dengan beliau.وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا“Dan tidak pula menikahi istri-istrinya setelah beliau wafat selamanya.”Hal itu termasuk perbuatan yang menyakiti beliau. Rasulullah ﷺ memiliki kedudukan yang agung, tinggi, dan mulia. Menikahi istri-istrinya setelah beliau wafat akan merusak kehormatan kedudukan tersebut.Selain itu, mereka adalah istri-istri beliau di dunia dan di akhirat. Hubungan pernikahan tersebut tetap ada setelah wafatnya beliau. Oleh karena itu tidak halal bagi siapa pun dari umat ini untuk menikahi istri-istri beliau setelah beliau wafat.Allah berfirman:إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا“Sesungguhnya hal itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.”Umat ini telah menaati perintah tersebut dan menjauhi apa yang Allah larang dalam hal ini. Segala puji dan syukur hanya bagi Allah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 59 di atas sebagai berikut:“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan para wanita kaum mukminin agar mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)Ayat ini dikenal sebagai ayat hijab. Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menyuruh para wanita secara umum untuk berhijab, dan dimulai dari istri-istri beliau serta anak-anak perempuan beliau, karena mereka lebih ditekankan daripada yang lainnya. Selain itu, seseorang yang memerintahkan orang lain seharusnya memulai dari keluarganya terlebih dahulu sebelum orang lain.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”Perintah tersebut adalah agar para wanita mengulurkan jilbab mereka.Yang dimaksud dengan jilbab adalah pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian biasa, seperti selendang besar, kerudung, atau kain penutup dan sejenisnya. Maksudnya, mereka menutupi wajah dan dada mereka dengan jilbab tersebut.Kemudian Allah menjelaskan hikmahnya:ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ“Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali sehingga mereka tidak diganggu.”Ayat ini menunjukkan bahwa gangguan bisa terjadi jika mereka tidak menutup diri. Sebab jika mereka tidak berhijab, bisa saja orang mengira bahwa mereka bukan wanita yang menjaga kehormatan. Orang yang di dalam hatinya ada penyakit bisa saja mengganggu mereka. Bahkan mungkin mereka diremehkan dan disangka sebagai budak perempuan sehingga orang yang berniat buruk akan meremehkan mereka.Karena itu berhijab dapat memutus harapan orang-orang yang memiliki niat buruk terhadap mereka.Allah kemudian berfirman:وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا“Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Artinya, Allah mengampuni kesalahan yang telah lalu dan merahmati kalian dengan menjelaskan hukum-hukum kepada kalian serta menerangkan mana yang halal dan mana yang haram. Ini merupakan penutupan pintu keburukan dari sisi para wanita. 3. Pilar Aktivitas: Menghidupkan Ilmu dan Ibadah di RumahPilar ketiga adalah menjadikan rumah sebagai madrasah, bukan sekadar tempat singgah untuk beristirahat atau mencari hiburan kosong.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 33-34:وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)وَٱذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِى بُيُوتِكُنَّ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ وَٱلْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 34)Amal Saleh dan Dakwah di Rumah:Amal Saleh (Ayat 33): Perintah untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat disampaikan langsung dalam konteks kehidupan rumah tangga, menunjukkan bahwa ibadah adalah rutinitas utama penghuni rumah.Dakwah & Ilmu (Ayat 34): Istri Nabi diperintahkan untuk senantiasa mengingat dan mempelajari ayat-ayat Allah serta hikmah (Sunnah) yang dibacakan di rumah mereka.Aplikasi Praktis:Hidupkan suasana rumah dengan tilawah Al-Qur’an, rutin mengadakan kajian ilmu agama bersama pasangan, dan berjamaah dalam melakukan ketaatan. Rumah yang bercahaya dengan ilmu dan dzikir akan melahirkan ketenangan (sakinah) yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 33 di atas sebagai berikut:“Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah kalian, dan janganlah kalian berhias serta bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah dahulu. Dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)“Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah kalian,” yaitu menetaplah di dalam rumah, karena hal itu lebih aman dan lebih menjaga diri kalian.“Dan janganlah kalian berhias seperti berhiasnya orang-orang Jahiliah dahulu,” yaitu jangan sering keluar rumah dalam keadaan berhias atau memakai wewangian seperti kebiasaan masyarakat Jahiliah dahulu yang tidak memiliki ilmu dan tidak memiliki agama. Semua perintah ini bertujuan untuk menutup jalan menuju keburukan dan sebab-sebabnya.Ketika Allah memerintahkan mereka untuk bertakwa secara umum, dan juga menyebutkan beberapa bentuk ketakwaan secara khusus—karena kaum wanita sangat membutuhkan penjelasan tersebut—Allah juga memerintahkan mereka untuk taat, terutama dalam menegakkan shalat dan menunaikan zakat.Kedua ibadah ini sangat dibutuhkan oleh setiap orang dan menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan. Keduanya termasuk ibadah yang paling besar dan ketaatan yang paling agung. Dalam salat terdapat keikhlasan kepada Allah yang disembah, sedangkan dalam zakat terdapat kebaikan kepada sesama manusia.Kemudian Allah memerintahkan ketaatan secara umum dengan firman-Nya:وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.”Dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya termasuk semua perintah yang diberikan oleh keduanya, baik yang bersifat wajib maupun yang dianjurkan.Kemudian Allah berfirman:إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ“Sesungguhnya Allah menghendaki,” melalui perintah-perintah yang Dia berikan dan larangan-larangan yang Dia tetapkan kepada kalian,لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ“untuk menghilangkan dari kalian segala kotoran,” yaitu gangguan, keburukan, dan segala yang buruk,يَا أَهْلَ الْبَيْتِ“wahai Ahlul Bait,”وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا“dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya,” sehingga kalian menjadi orang-orang yang bersih dan disucikan.Karena itu hendaklah kalian memuji Rabb kalian dan bersyukur kepada-Nya atas perintah dan larangan ini. Allah telah menjelaskan kepada kalian bahwa semua itu adalah demi kebaikan kalian sendiri. Allah tidak bermaksud menjadikan hal itu sebagai kesulitan atau beban bagi kalian, tetapi agar jiwa kalian menjadi bersih, akhlak kalian menjadi suci, amal kalian menjadi baik, dan pahala kalian menjadi semakin besar.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 34 di atas sebagai berikut:“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 34)Setelah Allah memerintahkan mereka untuk beramal—yang mencakup melakukan perintah dan meninggalkan larangan—Allah juga memerintahkan mereka untuk menuntut ilmu serta menjelaskan jalan untuk mendapatkannya.Allah berfirman:وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah.”Yang dimaksud dengan ayat-ayat Allah adalah Al-Qur’an. Sedangkan hikmah adalah rahasia-rahasianya dan juga Sunnah Rasulullah ﷺ.Perintah untuk mengingatnya mencakup mengingat lafaznya dengan cara membacanya, mengingat maknanya dengan mentadabburi dan memikirkannya, menggali hukum-hukum serta hikmah yang terkandung di dalamnya, serta mengingat untuk mengamalkan dan menerapkannya.Baca juga: Empat Langkah Tadabbur Al-Qur’anKemudian Allah berfirman:إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا“Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.”Allah mengetahui rahasia segala perkara, apa yang tersembunyi di dalam hati, serta segala yang tersembunyi di langit dan di bumi, termasuk amal-amal yang tampak maupun yang tersembunyi.Kelembutan dan pengetahuan Allah menuntut agar mereka bersungguh-sungguh dalam berbuat ikhlas dan menyembunyikan amal-amal mereka, karena Allah akan membalas setiap amal tersebut.Di antara makna Al-Lathif adalah bahwa Allah menggiring hamba-Nya menuju kebaikan dan menjaganya dari keburukan melalui cara-cara yang halus dan tidak disadari oleh hamba tersebut. Allah juga mengalirkan rezeki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka, serta memperlihatkan kepadanya berbagai sebab yang kadang tidak disukai oleh jiwa, tetapi justru menjadi jalan baginya untuk mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia. KesimpulanMembangun keluarga sakinah menuntut kerja sama antara suami dan istri untuk menjaga visi akhirat, memelihara adab, dan terus belajar agama. Semoga Allah memudahkan kita semua untuk meneladani rumah tangga Rasulullah ﷺ.Baca juga: Rumah yang Seperti Kuburan Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Malam Kamis, 23 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih keluarga keluarga keluarga harmoni Masalah keluarga nafkah keluarga renungan ayat renungan quran


Surah Al-Ahzab dalam Juz 22 memberikan panduan komprehensif bagi setiap Muslim untuk membangun rumah tangga yang penuh keberkahan. Keteladanan istri-istri Nabi ﷺ menjadi kunci utama dalam memahami bagaimana menjaga kesucian hati dan kehormatan keluarga. Dengan memahami tiga pilar utama dalam surah ini, kita dapat mewujudkan keluarga sakinah yang tidak hanya harmonis di dunia, tetapi juga selamat hingga akhirat.  Daftar Isi tutup 1. 1. Pilar Visi: Orientasi Akhirat di Atas Materi 1.1. Kisah Istri Nabi Meminta Tambahan Nafkah (Ayat Takhyir) 1.2. Pelajaran dari Kisah Ayat Takhyir 2. 2. Pilar Adab: Menjaga Kesucian Interaksi 3. 3. Pilar Aktivitas: Menghidupkan Ilmu dan Ibadah di Rumah 4. Kesimpulan  1. Pilar Visi: Orientasi Akhirat di Atas MateriPilar pertama dan yang paling fundamental adalah kesamaan visi antara suami dan istri. Keluarga sakinah tidak dibangun di atas tumpukan harta semata, melainkan di atas fondasi keridaan Allah Ta’ala.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 28-29:يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 28)وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ فَإِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَٰتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا “Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 29)Pelajaran dari Ayat Takhyir:Ayat ini dikenal sebagai ayat takhyir (pilihan). Ketika istri-istri Nabi ﷺ diminta memilih antara kemewahan dunia atau Allah dan Rasul-Nya, mereka dengan tegas memilih Allah dan kehidupan akhirat. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan rumah tangga dimulai dari hati yang tidak diperbudak oleh materi.Aplikasi Praktis:Rumah tangga akan terasa tenang jika suami dan istri tidak menjadikan standar “kebahagiaan” hanya pada pencapaian materi. Jika visi sudah searah menuju akhirat, maka ujian ekonomi atau kesederhanaan hidup tidak akan menggoyahkan keharmonisan dan rasa syukur di antara keduanya.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas sebagai berikut:“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah, akan aku beri kalian mut‘ah (pemberian), lalu aku ceraikan kalian dengan cara yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 28)Ketika para istri Rasulullah ﷺ berkumpul karena rasa cemburu, mereka meminta tambahan nafkah dan pakaian kepada beliau. Mereka meminta sesuatu yang tidak selalu mampu beliau penuhi setiap saat. Mereka terus menyampaikan permintaan tersebut secara bersama-sama dan bersikap keras dalam keinginan mereka. Hal ini terasa berat bagi Rasulullah ﷺ, hingga akhirnya beliau bersumpah untuk tidak mendatangi mereka selama satu bulan.Allah kemudian menghendaki untuk memudahkan urusan Rasul-Nya, sekaligus meninggikan kedudukan para istri beliau dan menjauhkan mereka dari sesuatu yang dapat mengurangi pahala mereka. Maka Allah memerintahkan Rasul-Nya agar memberikan pilihan kepada mereka.Allah berfirman,يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia…”Maksudnya, jika dunia menjadi tujuan utama kalian—kalian merasa puas ketika mendapatkannya dan marah ketika kehilangannya—maka aku tidak membutuhkan kebersamaan dengan kalian dalam keadaan seperti itu.فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ“Maka kemarilah, akan aku beri kalian suatu pemberian dari apa yang aku miliki di dunia ini.”وَأُسَرِّحْكُنَّ“Lalu aku akan melepaskan kalian,” yaitu menceraikan kalian.سَرَاحًا جَمِيلًا“Dengan cara yang baik,” tanpa kemarahan dan tanpa saling mencela, tetapi dengan kelapangan hati dan ketenangan jiwa, sebelum keadaan berkembang menjadi sesuatu yang tidak pantas terjadi.Allah Ta’ala berfirman,“Namun jika kalian menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sungguh Allah telah menyediakan bagi siapa saja di antara kalian yang berbuat baik pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 29)Maksudnya, jika yang kalian inginkan adalah Allah, Rasul-Nya, dan kehidupan akhirat—dan itu menjadi tujuan serta harapan terbesar kalian—maka apabila kalian telah mendapatkan Allah, Rasul-Nya, dan surga, kalian tidak akan mempermasalahkan apakah dunia itu sempit atau luas, mudah atau sulit. Kalian akan merasa cukup dengan apa yang dapat diberikan Rasulullah ﷺ dan tidak akan menuntut sesuatu yang memberatkan beliau.Karena itu Allah berfirman,فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah telah menyiapkan bagi perempuan-perempuan yang berbuat baik di antara kalian pahala yang besar.”Allah menggantungkan pahala tersebut pada sifat ihsan, karena itulah sebab yang mendatangkan pahala tersebut. Bukan semata-mata karena mereka adalah istri Rasulullah. Kedudukan sebagai istri Nabi saja tidak cukup dan tidak memberi manfaat jika tidak disertai dengan ihsan.Maka Rasulullah ﷺ memberikan pilihan tersebut kepada mereka. Ternyata seluruhnya memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat. Tidak ada satu pun dari mereka yang memilih selain itu. Semoga Allah meridhai mereka semua.Dalam pilihan ini terdapat banyak hikmah, di antaranya:Menunjukkan perhatian Allah kepada Rasul-Nya dan kecemburuan-Nya agar beliau tidak berada dalam keadaan yang berat karena banyaknya tuntutan dunia dari para istrinya.Rasulullah ﷺ menjadi terbebas dari beban tuntutan hak-hak duniawi para istri, sehingga beliau tetap memiliki kebebasan dalam dirinya; jika beliau ingin memberi maka beliau memberi, dan jika tidak maka beliau tidak memberi.Menjaga Rasulullah ﷺ dari kemungkinan adanya istri yang lebih mengutamakan dunia daripada Allah, Rasul-Nya, dan akhirat.Menjaga para istri beliau dari dosa dan dari kemungkinan mendapatkan murka Allah dan Rasul-Nya.Dengan pilihan ini Allah memutus sebab yang dapat menimbulkan ketidakpuasan kepada Rasulullah ﷺ—yang dapat menyebabkan kemurkaan beliau dan pada akhirnya mendatangkan kemurkaan Allah serta hukuman-Nya.Menampakkan kemuliaan dan tingginya derajat para istri Nabi, serta menunjukkan tingginya cita-cita mereka, karena yang mereka inginkan adalah Allah, Rasul-Nya, dan akhirat, bukan dunia dan segala kesenangannya.Pilihan mereka ini menjadi sebab bertambahnya pahala dan dilipatgandakannya balasan bagi mereka, serta menjadikan mereka berada pada kedudukan yang tidak dimiliki oleh wanita mana pun.Tampak kesesuaian antara Rasulullah ﷺ dan para istri beliau, karena beliau adalah manusia paling sempurna. Allah menghendaki agar para istrinya juga menjadi wanita-wanita yang baik dan menyempurnakan kebaikan.Sebagaimana firman Allah:وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ“Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik.” (QS. An-Nur: 26)Pilihan ini mendorong mereka untuk bersikap qana‘ah (merasa cukup). Dengan qana‘ah, hati menjadi tenang, dada menjadi lapang, dan hilanglah sifat tamak serta ketidakpuasan yang dapat membuat hati gelisah, penuh kegundahan, dan kesedihan.Pilihan mereka tersebut juga menjadi sebab bertambahnya pahala mereka dan menjadikan mereka berada pada kedudukan yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lainnya. Kisah Istri Nabi Meminta Tambahan Nafkah (Ayat Takhyir)Ada sebuah kisah masyhur yang melibatkan para istri Nabi ﷺ yang pernah berkumpul untuk meminta tambahan nafkah (fasilitas duniawi) kepada Rasulullah ﷺ. Kisah ini menjadi latar belakang turunnya Ayat Takhyir (Ayat Pilihan) dalam Surah Al-Ahzab.Kisah ini memberikan pelajaran mendalam bagi pasangan suami-istri, terutama di era sekarang, tentang bagaimana menyikapi tuntutan ekonomi dalam rumah tangga.Abu Bakar datang meminta izin untuk masuk menemui Rasulullah ﷺ. Saat itu ia mendapati banyak orang sedang duduk di depan pintu rumah beliau, dan tidak seorang pun diizinkan masuk. Namun Abu Bakar diberi izin, lalu ia pun masuk.Setelah itu Umar datang dan meminta izin, lalu ia pun diizinkan masuk. Umar mendapati Nabi ﷺ sedang duduk, sementara istri-istri beliau berada di sekelilingnya. Saat itu Rasulullah ﷺ tampak diam dan murung, tidak berbicara.Umar berkata dalam hati, “Aku akan mengatakan sesuatu agar Nabi ﷺ tersenyum.”Lalu ia berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَوْ رَأَيْتَ بِنْتَ خَارِجَةَ، سَأَلَتْنِي النَّفَقَةَ، فَقُمْتُ إِلَيْهَا، فَوَجَأْتُ عُنُقَهَا.“Wahai Rasulullah, seandainya engkau melihat putri Kharijah (istri Umar, Habibah binti Kharijah). Ia meminta nafkah kepadaku, lalu aku berdiri menghampirinya dan menegur keras.”Mendengar itu Rasulullah ﷺ tertawa, lalu bersabda,هُنَّ حَوْلِي كَمَا تَرَى، يَسْأَلْنَنِي النَّفَقَةَ.“Mereka ini, sebagaimana yang engkau lihat, berada di sekelilingku dan meminta (tambahan) nafkah dariku.”فَقَامَ أَبُو بَكْرٍ إِلَى عَائِشَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، فَقَامَ عُمَرُ إِلَى حَفْصَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، كِلَاهُمَا يَقُولُ: تَسْأَلْنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَيْسَ عِنْدَهُ؟!Mendengar hal itu, Abu Bakar berdiri menuju Aisyah dan menegur keras ia. Umar pun berdiri menuju Hafshah dan menegur keras ia. Keduanya berkata, “Kalian meminta kepada Rasulullah ﷺ sesuatu yang tidak beliau miliki?!”Maka para istri Nabi ﷺ berkata,وَاللَّهِ لَا نَسْأَلُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا أَبَدًا لَيْسَ عِنْدَهُ.“Demi Allah, kami tidak akan pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ sesuatu yang tidak beliau miliki.”Setelah kejadian itu, Rasulullah ﷺ mengasingkan diri dari para istri beliau selama satu bulan, atau dua puluh sembilan hari. Kemudian turunlah ayat berikut kepada beliau:﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا ۝ وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا﴾“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepada kalian kesenangan dunia dan aku ceraikan kalian dengan cara yang baik. Namun jika kalian menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sungguh Allah telah menyediakan pahala yang besar bagi siapa pun di antara kalian yang berbuat baik.” (QS. Al-Ahzab: 28–29)Rasulullah ﷺ memulai dari Aisyah. Beliau bersabda,يَا عَائِشَةُ، إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَعْرِضَ عَلَيْكِ أَمْرًا، أُحِبُّ أَنْ لَا تَعْجَلِي فِيهِ حَتَّى تَسْتَشِيرِي أَبَوَيْكِ.“Wahai Aisyah, aku ingin menyampaikan suatu perkara kepadamu. Aku berharap engkau tidak tergesa-gesa dalam menanggapinya sampai engkau bermusyawarah dengan kedua orang tuamu.”Aisyah bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulullah?”Maka Rasulullah ﷺ membacakan ayat tersebut kepadanya. Aisyah pun berkata,أَفِيكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَسْتَشِيرُ أَبَوَيَّ؟ بَلْ أَخْتَارُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ.وَأَسْأَلُكَ أَنْ لَا تُخْبِرَ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِكَ بِالَّذِي قُلْتُ.“Apakah dalam perkara tentang engkau ini aku harus meminta pendapat kedua orang tuaku, wahai Rasulullah? Bahkan aku memilih Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat.”Kemudian Aisyah berkata, “Aku memohon kepadamu agar engkau tidak memberitahukan kepada istri-istrimu yang lain tentang apa yang aku sampaikan ini.”Rasulullah ﷺ bersabda,لَا تَسْأَلُنِي امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ إِلَّا أَخْبَرْتُهَا، إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا، وَلَا مُتَعَنِّتًا، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا“Tidak ada seorang pun dari mereka yang bertanya kepadaku melainkan aku akan memberitahunya. Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang menyulitkan atau mencari-cari kesulitan, tetapi Dia mengutusku sebagai pendidik yang memudahkan.”(HR. Muslim no. 1478; juga diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra, dan Abu Ya’la dengan sedikit perbedaan lafaz. Hadits ini diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu). Pelajaran dari Kisah Ayat TakhyirValidasi Perasaan Manusiawi: Protes atau keinginan akan perbaikan ekonomi adalah hal yang manusiawi, bahkan pernah terjadi di rumah tangga termulia. Namun, syariat mengajarkan cara menyikapinya.Memilih Visi Akhirat: Para istri Nabi akhirnya serempak memilih Allah dan Rasul-Nya meskipun harus hidup sederhana. Ini adalah pengingat bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak selalu berbanding lurus dengan kemewahan.Keadilan dalam Nafkah: Rasulullah ﷺ tidak marah dengan kekerasan, melainkan memberikan pilihan yang adil secara hukum fikih (menetap dengan qanaah atau berpisah secara baik).Bahaya Membandingkan Hidup: Konflik tersebut dipicu karena para istri melihat “standar hidup” orang lain yang meningkat. Di era media sosial, ini adalah pengingat keras agar tidak silau dengan lifestyle orang lain sehingga menekan pasangan di luar kemampuannya. 2. Pilar Adab: Menjaga Kesucian InteraksiPilar kedua adalah penjagaan kehormatan (iffah). Surah Al-Ahzab sangat menekankan bagaimana interaksi dengan lawan jenis diatur secara ketat demi menjaga kesucian hati suami, istri, maupun orang lain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab pada ayat-ayat berikut ini ,يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِىِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ ٱلنِّسَآءِ ۚ إِنِ ٱتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِٱلْقَوْلِ فَيَطْمَعَ ٱلَّذِى فِى قَلْبِهِۦ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَدْخُلُوا۟ بُيُوتَ ٱلنَّبِىِّ إِلَّآ أَن يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَٰظِرِينَ إِنَىٰهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَٱدْخُلُوا۟ فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَٱنتَشِرُوا۟ وَلَا مُسْتَـْٔنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى ٱلنَّبِىَّ فَيَسْتَحْىِۦ مِنكُمْ ۖ وَٱللَّهُ لَا يَسْتَحْىِۦ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَٰعًا فَسْـَٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا۟ رَسُولَ ٱللَّهِ وَلَآ أَن تَنكِحُوٓا۟ أَزْوَٰجَهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦٓ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمًا“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 53)يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)Adab Lisan dan Hijab:Adab Lisan (Ayat 32): Istri-istri Nabi dilarang melembut-lembutkan suara kepada laki-laki asing agar tidak timbul fitnah bagi orang yang memiliki penyakit dalam hatinya.Adab Hijab (Ayat 53 & 59): Allah memerintahkan adanya batasan (hijab) dan mengenakan jilbab secara sempurna. Allah menegaskan bahwa cara ini “lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”.Aplikasi Praktis:Keluarga sakinah akan terjaga jika suami dan istri sama-sama menjaga adab pergaulan di luar rumah, termasuk dalam menjaga lisan dan pandangan di media sosial. Menutup pintu-pintu fitnah adalah kunci utama agar rasa percaya dan kasih sayang tetap murni.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 32 di atas sebagai berikut:“Wahai istri-istri Nabi, kalian tidak seperti wanita-wanita yang lain, jika kalian bertakwa. Maka janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi berkeinginan, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)Allah Ta’ala berfirman, “Wahai istri-istri Nabi,” yaitu seruan yang ditujukan kepada mereka semua.“Kalian tidak seperti wanita-wanita yang lain, jika kalian bertakwa kepada Allah.” Dengan ketakwaan itu, kedudukan kalian lebih tinggi daripada wanita-wanita lainnya, dan tidak ada wanita yang dapat menyamai kalian. Karena itu sempurnakanlah ketakwaan dengan semua sarana dan tujuannya.Oleh sebab itu Allah membimbing mereka untuk menutup jalan yang dapat mengantarkan kepada perbuatan yang diharamkan. Allah berfirman:“Maka janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara,” yaitu ketika berbicara dengan laki-laki atau ketika mereka dapat mendengar suara kalian. Jangan sampai kalian berbicara dengan nada yang lembut dan halus yang dapat mengundang dan menimbulkan keinginan.“Sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi berkeinginan,” yaitu penyakit syahwat zina. Orang seperti ini selalu siap terseret oleh hal yang paling kecil sekalipun yang dapat menggerakkan syahwatnya, karena hatinya tidak sehat. Adapun hati yang sehat tidak memiliki keinginan terhadap apa yang Allah haramkan. Sebab-sebab seperti itu hampir tidak mampu menggoyahkannya atau menggerakkannya karena hatinya sehat dan selamat dari penyakit.Berbeda dengan orang yang hatinya sakit. Ia tidak mampu menahan diri sebagaimana orang yang hatinya sehat, dan tidak mampu bersabar sebagaimana kesabaran orang yang sehat. Ketika ada sebab kecil yang mengajaknya kepada yang haram, ia segera memenuhi dorongan tersebut dan tidak mampu menolaknya.Ini menunjukkan bahwa sarana memiliki hukum yang sama dengan tujuannya. Melembutkan suara dalam berbicara pada asalnya adalah perkara yang mubah. Namun karena hal itu dapat menjadi sarana menuju yang haram, maka ia dilarang. Karena itu, seorang wanita ketika berbicara dengan laki-laki tidak boleh melembutkan ucapannya.Ketika Allah melarang mereka melembutkan suara dalam berbicara, mungkin ada yang menyangka bahwa mereka diperintahkan untuk berbicara dengan kasar. Maka Allah menolak anggapan ini dengan firman-Nya:“Dan ucapkanlah perkataan yang baik,” yaitu ucapan yang tidak kasar dan tidak kaku, namun juga tidak lembut dan merendahkan diri.Perhatikan bagaimana Allah berfirman:“Janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara,” dan tidak mengatakan, “janganlah kalian berbicara dengan lembut.”Sebab yang dilarang adalah kelembutan ucapan yang mengandung sikap tunduk dan merendahkan diri seorang wanita kepada laki-laki. Orang yang bersikap seperti ini biasanya menimbulkan keinginan pada pihak lain. Berbeda dengan ucapan yang lembut tetapi tidak mengandung ketundukan, bahkan terkadang mengandung wibawa atau ketegasan kepada lawan bicara. Dalam keadaan seperti ini, lawan bicara tidak akan berani berharap sesuatu darinya.Karena itu Allah memuji Rasul-Nya dengan kelembutan, sebagaimana firman-Nya:فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ“Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Ali Imran: 159)Allah juga berfirman kepada Musa dan Harun:اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى“Pergilah kalian berdua kepada Fir‘aun, karena sungguh ia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 43-44)Firman Allah: “Sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi berkeinginan,” bersama dengan perintah untuk menjaga kemaluan, pujian kepada orang-orang yang menjaga kemaluannya, serta larangan mendekati zina, menunjukkan bahwa seorang hamba jika melihat pada dirinya keadaan seperti ini—yaitu hatinya mudah tergoda melakukan yang haram ketika melihat atau mendengar ucapan dari orang yang ia sukai, dan ia merasakan dorongan untuk melakukan yang haram—maka hendaknya ia menyadari bahwa itu adalah penyakit.Karena itu hendaknya ia bersungguh-sungguh untuk melemahkan penyakit tersebut, memutus lintasan pikiran yang buruk, dan berjuang melawan dirinya agar hatinya selamat dari penyakit yang berbahaya ini. Ia juga hendaknya memohon kepada Allah agar diberi penjagaan dan taufik. Hal itu termasuk bagian dari menjaga kemaluan yang diperintahkan oleh Allah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 53 di atas sebagai berikut:Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar beradab kepada Rasulullah ﷺ ketika memasuki rumah beliau. Allah berfirman:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah Nabi kecuali jika kalian diizinkan untuk makan.”Maksudnya, janganlah kalian memasuki rumah beliau tanpa izin untuk masuk ke dalamnya karena suatu undangan makan. Kalian juga tidak boleh menunggu-nunggu masaknya makanan, yaitu duduk menunggu hingga makanan matang atau menunggu dengan berlama-lama setelah selesai makan.Maknanya, kalian tidak boleh memasuki rumah Nabi kecuali dengan dua syarat:pertama, kalian mendapatkan izin untuk masuk;kedua, kalian duduk hanya sekadar sesuai kebutuhan.Karena itu Allah berfirman:وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ“Akan tetapi jika kalian diundang maka masuklah. Setelah kalian selesai makan maka bertebaranlah, dan jangan berlama-lama untuk berbincang-bincang.”Maksudnya, jangan berlama-lama sebelum makan ataupun setelahnya.Kemudian Allah menjelaskan hikmah dan manfaat dari larangan tersebut. Allah berfirman:إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ“Sesungguhnya hal itu menyakiti Nabi.”Artinya, menunggu terlalu lama tanpa kebutuhan membuat Nabi merasa terbebani dan merasa berat karena kalian menahan beliau dari urusan rumah tangganya serta kesibukan beliau di dalamnya.فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ“Dan beliau merasa malu kepada kalian.”Beliau merasa malu untuk mengatakan kepada kalian, “Keluarlah.” Sebab biasanya manusia—terutama orang yang dermawan—merasa malu untuk mengusir orang dari rumah mereka.Namun Allah berfirman:وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ“Dan Allah tidak malu menyampaikan kebenaran.”Perintah syariat, meskipun kadang disangka bahwa meninggalkannya lebih menunjukkan adab atau rasa malu, tetap harus dijalankan. Sikap yang paling benar adalah mengikuti perintah syariat. Hendaknya diyakini bahwa apa pun yang menyelisihinya bukanlah adab yang benar. Allah tidak malu memerintahkan sesuatu yang membawa kebaikan bagi kalian dan memberikan kemudahan bagi Rasul-Nya.Ini adalah adab mereka ketika memasuki rumah Nabi. Adapun adab ketika berbicara dengan istri-istri beliau, maka terkadang ada kebutuhan untuk berbicara dengan mereka dan terkadang tidak.Jika tidak ada kebutuhan, maka tidak perlu berbicara dengan mereka, dan adab yang baik adalah meninggalkannya. Namun jika ada kebutuhan, misalnya meminta suatu barang atau peralatan rumah tangga dan sejenisnya, maka hendaklah mereka meminta:مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ“Dari balik tabir.”Artinya, ada penghalang antara kalian dan mereka yang menutupi pandangan, karena tidak ada kebutuhan untuk saling melihat.Dengan demikian, memandang mereka dilarang dalam segala keadaan. Adapun berbicara dengan mereka ada perinciannya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah.Kemudian Allah menyebutkan hikmahnya dengan firman-Nya:ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ“Yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.”Sebab hal itu lebih jauh dari kecurigaan dan sebab-sebab yang mengarah kepada keburukan. Semakin seseorang menjauh dari sebab-sebab yang mengajak kepada kejahatan, maka itu lebih selamat baginya dan lebih membersihkan hatinya.Karena itu termasuk aturan syariat yang dijelaskan Allah secara rinci adalah bahwa semua sarana, sebab, dan jalan menuju keburukan dilarang. Syariat juga menganjurkan untuk menjauhinya dengan berbagai cara.Kemudian Allah menyampaikan satu kaidah yang bersifat umum:وَمَا كَانَ لَكُمْ“Dan tidak pantas bagi kalian,” wahai kaum mukminin, yaitu sesuatu yang tidak layak dan tidak baik bagi kalian, bahkan termasuk perbuatan yang sangat buruk,أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ“Untuk menyakiti Rasulullah,” baik dengan ucapan maupun perbuatan, dalam segala hal yang berkaitan dengan beliau.وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا“Dan tidak pula menikahi istri-istrinya setelah beliau wafat selamanya.”Hal itu termasuk perbuatan yang menyakiti beliau. Rasulullah ﷺ memiliki kedudukan yang agung, tinggi, dan mulia. Menikahi istri-istrinya setelah beliau wafat akan merusak kehormatan kedudukan tersebut.Selain itu, mereka adalah istri-istri beliau di dunia dan di akhirat. Hubungan pernikahan tersebut tetap ada setelah wafatnya beliau. Oleh karena itu tidak halal bagi siapa pun dari umat ini untuk menikahi istri-istri beliau setelah beliau wafat.Allah berfirman:إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا“Sesungguhnya hal itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.”Umat ini telah menaati perintah tersebut dan menjauhi apa yang Allah larang dalam hal ini. Segala puji dan syukur hanya bagi Allah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 59 di atas sebagai berikut:“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan para wanita kaum mukminin agar mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)Ayat ini dikenal sebagai ayat hijab. Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menyuruh para wanita secara umum untuk berhijab, dan dimulai dari istri-istri beliau serta anak-anak perempuan beliau, karena mereka lebih ditekankan daripada yang lainnya. Selain itu, seseorang yang memerintahkan orang lain seharusnya memulai dari keluarganya terlebih dahulu sebelum orang lain.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”Perintah tersebut adalah agar para wanita mengulurkan jilbab mereka.Yang dimaksud dengan jilbab adalah pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian biasa, seperti selendang besar, kerudung, atau kain penutup dan sejenisnya. Maksudnya, mereka menutupi wajah dan dada mereka dengan jilbab tersebut.Kemudian Allah menjelaskan hikmahnya:ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ“Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali sehingga mereka tidak diganggu.”Ayat ini menunjukkan bahwa gangguan bisa terjadi jika mereka tidak menutup diri. Sebab jika mereka tidak berhijab, bisa saja orang mengira bahwa mereka bukan wanita yang menjaga kehormatan. Orang yang di dalam hatinya ada penyakit bisa saja mengganggu mereka. Bahkan mungkin mereka diremehkan dan disangka sebagai budak perempuan sehingga orang yang berniat buruk akan meremehkan mereka.Karena itu berhijab dapat memutus harapan orang-orang yang memiliki niat buruk terhadap mereka.Allah kemudian berfirman:وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا“Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Artinya, Allah mengampuni kesalahan yang telah lalu dan merahmati kalian dengan menjelaskan hukum-hukum kepada kalian serta menerangkan mana yang halal dan mana yang haram. Ini merupakan penutupan pintu keburukan dari sisi para wanita. 3. Pilar Aktivitas: Menghidupkan Ilmu dan Ibadah di RumahPilar ketiga adalah menjadikan rumah sebagai madrasah, bukan sekadar tempat singgah untuk beristirahat atau mencari hiburan kosong.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 33-34:وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)وَٱذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِى بُيُوتِكُنَّ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ وَٱلْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 34)Amal Saleh dan Dakwah di Rumah:Amal Saleh (Ayat 33): Perintah untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat disampaikan langsung dalam konteks kehidupan rumah tangga, menunjukkan bahwa ibadah adalah rutinitas utama penghuni rumah.Dakwah & Ilmu (Ayat 34): Istri Nabi diperintahkan untuk senantiasa mengingat dan mempelajari ayat-ayat Allah serta hikmah (Sunnah) yang dibacakan di rumah mereka.Aplikasi Praktis:Hidupkan suasana rumah dengan tilawah Al-Qur’an, rutin mengadakan kajian ilmu agama bersama pasangan, dan berjamaah dalam melakukan ketaatan. Rumah yang bercahaya dengan ilmu dan dzikir akan melahirkan ketenangan (sakinah) yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 33 di atas sebagai berikut:“Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah kalian, dan janganlah kalian berhias serta bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah dahulu. Dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)“Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah kalian,” yaitu menetaplah di dalam rumah, karena hal itu lebih aman dan lebih menjaga diri kalian.“Dan janganlah kalian berhias seperti berhiasnya orang-orang Jahiliah dahulu,” yaitu jangan sering keluar rumah dalam keadaan berhias atau memakai wewangian seperti kebiasaan masyarakat Jahiliah dahulu yang tidak memiliki ilmu dan tidak memiliki agama. Semua perintah ini bertujuan untuk menutup jalan menuju keburukan dan sebab-sebabnya.Ketika Allah memerintahkan mereka untuk bertakwa secara umum, dan juga menyebutkan beberapa bentuk ketakwaan secara khusus—karena kaum wanita sangat membutuhkan penjelasan tersebut—Allah juga memerintahkan mereka untuk taat, terutama dalam menegakkan shalat dan menunaikan zakat.Kedua ibadah ini sangat dibutuhkan oleh setiap orang dan menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan. Keduanya termasuk ibadah yang paling besar dan ketaatan yang paling agung. Dalam salat terdapat keikhlasan kepada Allah yang disembah, sedangkan dalam zakat terdapat kebaikan kepada sesama manusia.Kemudian Allah memerintahkan ketaatan secara umum dengan firman-Nya:وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.”Dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya termasuk semua perintah yang diberikan oleh keduanya, baik yang bersifat wajib maupun yang dianjurkan.Kemudian Allah berfirman:إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ“Sesungguhnya Allah menghendaki,” melalui perintah-perintah yang Dia berikan dan larangan-larangan yang Dia tetapkan kepada kalian,لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ“untuk menghilangkan dari kalian segala kotoran,” yaitu gangguan, keburukan, dan segala yang buruk,يَا أَهْلَ الْبَيْتِ“wahai Ahlul Bait,”وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا“dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya,” sehingga kalian menjadi orang-orang yang bersih dan disucikan.Karena itu hendaklah kalian memuji Rabb kalian dan bersyukur kepada-Nya atas perintah dan larangan ini. Allah telah menjelaskan kepada kalian bahwa semua itu adalah demi kebaikan kalian sendiri. Allah tidak bermaksud menjadikan hal itu sebagai kesulitan atau beban bagi kalian, tetapi agar jiwa kalian menjadi bersih, akhlak kalian menjadi suci, amal kalian menjadi baik, dan pahala kalian menjadi semakin besar.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 34 di atas sebagai berikut:“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 34)Setelah Allah memerintahkan mereka untuk beramal—yang mencakup melakukan perintah dan meninggalkan larangan—Allah juga memerintahkan mereka untuk menuntut ilmu serta menjelaskan jalan untuk mendapatkannya.Allah berfirman:وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah.”Yang dimaksud dengan ayat-ayat Allah adalah Al-Qur’an. Sedangkan hikmah adalah rahasia-rahasianya dan juga Sunnah Rasulullah ﷺ.Perintah untuk mengingatnya mencakup mengingat lafaznya dengan cara membacanya, mengingat maknanya dengan mentadabburi dan memikirkannya, menggali hukum-hukum serta hikmah yang terkandung di dalamnya, serta mengingat untuk mengamalkan dan menerapkannya.Baca juga: Empat Langkah Tadabbur Al-Qur’anKemudian Allah berfirman:إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا“Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.”Allah mengetahui rahasia segala perkara, apa yang tersembunyi di dalam hati, serta segala yang tersembunyi di langit dan di bumi, termasuk amal-amal yang tampak maupun yang tersembunyi.Kelembutan dan pengetahuan Allah menuntut agar mereka bersungguh-sungguh dalam berbuat ikhlas dan menyembunyikan amal-amal mereka, karena Allah akan membalas setiap amal tersebut.Di antara makna Al-Lathif adalah bahwa Allah menggiring hamba-Nya menuju kebaikan dan menjaganya dari keburukan melalui cara-cara yang halus dan tidak disadari oleh hamba tersebut. Allah juga mengalirkan rezeki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka, serta memperlihatkan kepadanya berbagai sebab yang kadang tidak disukai oleh jiwa, tetapi justru menjadi jalan baginya untuk mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia. KesimpulanMembangun keluarga sakinah menuntut kerja sama antara suami dan istri untuk menjaga visi akhirat, memelihara adab, dan terus belajar agama. Semoga Allah memudahkan kita semua untuk meneladani rumah tangga Rasulullah ﷺ.Baca juga: Rumah yang Seperti Kuburan Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Malam Kamis, 23 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih keluarga keluarga keluarga harmoni Masalah keluarga nafkah keluarga renungan ayat renungan quran

Rahmat yang Paling Cepat Turun! Rahasia Besar di Balik Menyimak Al-Qur’an

Pahala menyimak bacaan Al-Qur’an sangatlah besar. Bahkan, sebagian ulama pensyarah hadits menyatakan bahwa pahala orang yang menyimak bacaan Al-Qur’an setara dengan pahala orang yang membacanya. Ibnu Baththal menyebutkan dalam Syarh Shahih Al-Bukhari, beliau berkata: “Tidak ada rahmat yang turunnya lebih cepat daripada rahmat yang turun kepada orang yang menyimak bacaan Al-Qur’an.” Sebab Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka simaklah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204). Kata “agar” (la’alla) dalam Al-Qur’an mengandung makna kepastian. Maka, Allah ‘Azza wa Jalla pasti akan merahmati orang yang menyimak Al-Qur’an. Makna “menyimak” adalah memfokuskan pendengaran dengan saksama, sedangkan makna “diam” adalah anggota badan tidak disibukkan dengan aktivitas lain. Tangannya tidak sibuk menulis atau mengerjakan suatu pekerjaan tertentu. Ia tidak sibuk dengan hal lain, tapi benar-benar memfokuskan pendengarannya dan menenangkan seluruh anggota badannya. Dengan menjadi penyimak yang diam dan khusyuk, pahalanya akan semakin agung dengan izin Allah. ===== وَأَجْرُ سَمَاعِ الْقُرْآنِ عَظِيمٌ جِدًّا حَتَّى قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ وَشُرَّاحِ الْحَدِيثِ أَنَّ أَجْرَ الْمُسْتَمِعِ لِلْقُرْآنِ كَأَجْرِ قَارِئِهِ وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ بَطَّالٍ فِي شَرْحِ الْبُخَارِيِّ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ: مَا مِنْ شَيْءٍ، مَا مِنْ رَحْمَةٍ أَسْرَعَ نُزُولاً مِنَ الرَّحْمَةِ الَّتِي تَنْزِلُ عَلَى مُسْتَمِعِ الْقُرْآنِ لِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ وَ”لَعَلَّ” فِي الْقُرْآنِ لِلْوُجُوبِ فَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَرْحَمُ الْمُسْتَمِعَ لِلْقُرْآنِ وَمَعْنَى الِاسْتِمَاعِ هُوَ إِرْخَاءُ السَّمْعِ وَالْإِنْصَاتُ عَدَمُ انْشِغَالِ الْجَوَارِحِ فَلَا يَنْشَغِلُ بِيَدَيْهِ بِكِتَابَةٍ وَلَا مِهْنَةٍ وَلَا يَنْشَغِلُ بِشَيْءٍ آخَرَ وَإِنَّمَا يُرْخِي سَمْعَهُ وَيُصْغِي بِجَوَارِحِهِ فَيَكُونُ مُسْتَمِعاً وَمُنْصِتاً لِيَعْظُمَ أَجْرُهُ بِإِذْنِ اللهِ

Rahmat yang Paling Cepat Turun! Rahasia Besar di Balik Menyimak Al-Qur’an

Pahala menyimak bacaan Al-Qur’an sangatlah besar. Bahkan, sebagian ulama pensyarah hadits menyatakan bahwa pahala orang yang menyimak bacaan Al-Qur’an setara dengan pahala orang yang membacanya. Ibnu Baththal menyebutkan dalam Syarh Shahih Al-Bukhari, beliau berkata: “Tidak ada rahmat yang turunnya lebih cepat daripada rahmat yang turun kepada orang yang menyimak bacaan Al-Qur’an.” Sebab Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka simaklah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204). Kata “agar” (la’alla) dalam Al-Qur’an mengandung makna kepastian. Maka, Allah ‘Azza wa Jalla pasti akan merahmati orang yang menyimak Al-Qur’an. Makna “menyimak” adalah memfokuskan pendengaran dengan saksama, sedangkan makna “diam” adalah anggota badan tidak disibukkan dengan aktivitas lain. Tangannya tidak sibuk menulis atau mengerjakan suatu pekerjaan tertentu. Ia tidak sibuk dengan hal lain, tapi benar-benar memfokuskan pendengarannya dan menenangkan seluruh anggota badannya. Dengan menjadi penyimak yang diam dan khusyuk, pahalanya akan semakin agung dengan izin Allah. ===== وَأَجْرُ سَمَاعِ الْقُرْآنِ عَظِيمٌ جِدًّا حَتَّى قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ وَشُرَّاحِ الْحَدِيثِ أَنَّ أَجْرَ الْمُسْتَمِعِ لِلْقُرْآنِ كَأَجْرِ قَارِئِهِ وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ بَطَّالٍ فِي شَرْحِ الْبُخَارِيِّ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ: مَا مِنْ شَيْءٍ، مَا مِنْ رَحْمَةٍ أَسْرَعَ نُزُولاً مِنَ الرَّحْمَةِ الَّتِي تَنْزِلُ عَلَى مُسْتَمِعِ الْقُرْآنِ لِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ وَ”لَعَلَّ” فِي الْقُرْآنِ لِلْوُجُوبِ فَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَرْحَمُ الْمُسْتَمِعَ لِلْقُرْآنِ وَمَعْنَى الِاسْتِمَاعِ هُوَ إِرْخَاءُ السَّمْعِ وَالْإِنْصَاتُ عَدَمُ انْشِغَالِ الْجَوَارِحِ فَلَا يَنْشَغِلُ بِيَدَيْهِ بِكِتَابَةٍ وَلَا مِهْنَةٍ وَلَا يَنْشَغِلُ بِشَيْءٍ آخَرَ وَإِنَّمَا يُرْخِي سَمْعَهُ وَيُصْغِي بِجَوَارِحِهِ فَيَكُونُ مُسْتَمِعاً وَمُنْصِتاً لِيَعْظُمَ أَجْرُهُ بِإِذْنِ اللهِ
Pahala menyimak bacaan Al-Qur’an sangatlah besar. Bahkan, sebagian ulama pensyarah hadits menyatakan bahwa pahala orang yang menyimak bacaan Al-Qur’an setara dengan pahala orang yang membacanya. Ibnu Baththal menyebutkan dalam Syarh Shahih Al-Bukhari, beliau berkata: “Tidak ada rahmat yang turunnya lebih cepat daripada rahmat yang turun kepada orang yang menyimak bacaan Al-Qur’an.” Sebab Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka simaklah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204). Kata “agar” (la’alla) dalam Al-Qur’an mengandung makna kepastian. Maka, Allah ‘Azza wa Jalla pasti akan merahmati orang yang menyimak Al-Qur’an. Makna “menyimak” adalah memfokuskan pendengaran dengan saksama, sedangkan makna “diam” adalah anggota badan tidak disibukkan dengan aktivitas lain. Tangannya tidak sibuk menulis atau mengerjakan suatu pekerjaan tertentu. Ia tidak sibuk dengan hal lain, tapi benar-benar memfokuskan pendengarannya dan menenangkan seluruh anggota badannya. Dengan menjadi penyimak yang diam dan khusyuk, pahalanya akan semakin agung dengan izin Allah. ===== وَأَجْرُ سَمَاعِ الْقُرْآنِ عَظِيمٌ جِدًّا حَتَّى قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ وَشُرَّاحِ الْحَدِيثِ أَنَّ أَجْرَ الْمُسْتَمِعِ لِلْقُرْآنِ كَأَجْرِ قَارِئِهِ وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ بَطَّالٍ فِي شَرْحِ الْبُخَارِيِّ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ: مَا مِنْ شَيْءٍ، مَا مِنْ رَحْمَةٍ أَسْرَعَ نُزُولاً مِنَ الرَّحْمَةِ الَّتِي تَنْزِلُ عَلَى مُسْتَمِعِ الْقُرْآنِ لِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ وَ”لَعَلَّ” فِي الْقُرْآنِ لِلْوُجُوبِ فَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَرْحَمُ الْمُسْتَمِعَ لِلْقُرْآنِ وَمَعْنَى الِاسْتِمَاعِ هُوَ إِرْخَاءُ السَّمْعِ وَالْإِنْصَاتُ عَدَمُ انْشِغَالِ الْجَوَارِحِ فَلَا يَنْشَغِلُ بِيَدَيْهِ بِكِتَابَةٍ وَلَا مِهْنَةٍ وَلَا يَنْشَغِلُ بِشَيْءٍ آخَرَ وَإِنَّمَا يُرْخِي سَمْعَهُ وَيُصْغِي بِجَوَارِحِهِ فَيَكُونُ مُسْتَمِعاً وَمُنْصِتاً لِيَعْظُمَ أَجْرُهُ بِإِذْنِ اللهِ


Pahala menyimak bacaan Al-Qur’an sangatlah besar. Bahkan, sebagian ulama pensyarah hadits menyatakan bahwa pahala orang yang menyimak bacaan Al-Qur’an setara dengan pahala orang yang membacanya. Ibnu Baththal menyebutkan dalam Syarh Shahih Al-Bukhari, beliau berkata: “Tidak ada rahmat yang turunnya lebih cepat daripada rahmat yang turun kepada orang yang menyimak bacaan Al-Qur’an.” Sebab Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka simaklah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204). Kata “agar” (la’alla) dalam Al-Qur’an mengandung makna kepastian. Maka, Allah ‘Azza wa Jalla pasti akan merahmati orang yang menyimak Al-Qur’an. Makna “menyimak” adalah memfokuskan pendengaran dengan saksama, sedangkan makna “diam” adalah anggota badan tidak disibukkan dengan aktivitas lain. Tangannya tidak sibuk menulis atau mengerjakan suatu pekerjaan tertentu. Ia tidak sibuk dengan hal lain, tapi benar-benar memfokuskan pendengarannya dan menenangkan seluruh anggota badannya. Dengan menjadi penyimak yang diam dan khusyuk, pahalanya akan semakin agung dengan izin Allah. ===== وَأَجْرُ سَمَاعِ الْقُرْآنِ عَظِيمٌ جِدًّا حَتَّى قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ وَشُرَّاحِ الْحَدِيثِ أَنَّ أَجْرَ الْمُسْتَمِعِ لِلْقُرْآنِ كَأَجْرِ قَارِئِهِ وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ بَطَّالٍ فِي شَرْحِ الْبُخَارِيِّ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ: مَا مِنْ شَيْءٍ، مَا مِنْ رَحْمَةٍ أَسْرَعَ نُزُولاً مِنَ الرَّحْمَةِ الَّتِي تَنْزِلُ عَلَى مُسْتَمِعِ الْقُرْآنِ لِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ وَ”لَعَلَّ” فِي الْقُرْآنِ لِلْوُجُوبِ فَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَرْحَمُ الْمُسْتَمِعَ لِلْقُرْآنِ وَمَعْنَى الِاسْتِمَاعِ هُوَ إِرْخَاءُ السَّمْعِ وَالْإِنْصَاتُ عَدَمُ انْشِغَالِ الْجَوَارِحِ فَلَا يَنْشَغِلُ بِيَدَيْهِ بِكِتَابَةٍ وَلَا مِهْنَةٍ وَلَا يَنْشَغِلُ بِشَيْءٍ آخَرَ وَإِنَّمَا يُرْخِي سَمْعَهُ وَيُصْغِي بِجَوَارِحِهِ فَيَكُونُ مُسْتَمِعاً وَمُنْصِتاً لِيَعْظُمَ أَجْرُهُ بِإِذْنِ اللهِ

Kaidah Fikih: Mengutamakan Maksud dan Makna di Atas Lafaz

Daftar Isi ToggleKaidah tentang akadLafaz kaidahMakna kaidahContoh penerapan kaidahKaitan kaidah ini dengan kaidah kubraTelah tuntas pada pembahasan sebelumnya tentang salah satu kaidah kubra yang berbunyi,الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهِا“Segala sesuatu tergantung niat (tujuan)nya.” Secara garis besar, kaidah tersebut membahas tentang niat dan pentingnya niat dalam segala hal. Baik dalam masalah ibadah maupun masalah muamalah sehari-hari.Tentunya di setiap kaidah kubra terdapat furu’ (cabang) dari setiap kaidah kubra itu sendiri. Dari kaidah kubra di atas yang berbicara tentang niat, terdapat pembahasan cabang dari kaidah tersebut yang berkaitan dengan akad, atau berkaitan dengan sumpah, dan lainnya. Hal ini mengingat berbicara tentang akad tidak lepas dari pembahasan tentang niat.Kaidah tentang akadPembahasan kali ini mengangkat salah satu furu’ dari kaidah kubra yang berkaitan tentang akad [1]. Yaitu kaidah yang berbunyi,العِبْرَةُ فِي العُقُوْدِ بالمَقَاصِدِ وَالمَعَانِي لَا بِالأَلْفَاظِ وَالمَبَانِي“Yang menjadi standar dalam (masalah) akad adalah tujuan dan makna (hakikat)nya, bukan dari lafaz (kata-kata) maupun struktur (kata)nya.” Artinya, setiap akad yang ada tidak lepas dari kaidah ini. Yaitu, yang menjadi utama dalam sebuah akad adalah tujuan dan makna hakikatnya, bukan dari lafaz maupun struktur katanya. Karena sering kali akad-akad yang ada sifatnya “menipu” dan “bias”. Sehingga dapat mengelabui salah satu pihak yang berakad jika memang tidak benar-benar ditelisik bagaimana akad yang sesungguhnya.Berangkat dari permainan kata-kata, yang tadinya haram menjadi halal dan yang makruh menjadi mubah. Sehingga kaidah ini penting untuk diketahui agar tidak mudah terkelabui dengan akad-akad batil yang disarungi oleh istilah-istilah Islami agar terlihat menjadi halal.Baca juga: Mengenal Istilah “Akad” dan Perspektif Islam TerhadapnyaLafaz kaidahLafaz kaidah yang disebutkan di atas, adalah lafaz yang disampaikan oleh mazhab Hanafi. Adapun mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali, mereka membawakan kaidah ini dengan lafaz yang bentuknya pertanyaan.Menurut Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary, hal ini menunjukkan adanya perbedaan pendapat tentang kaidah ini dalam lingkup internal ahli fikih di kalangan mereka. Berikut ini merupakan lafaz-lafaz kaidah dari setiap mazhab yang intinya adalah satu tujuan,– Mazhab Syafi’i yang dibawakan oleh Al-Imam As-Suyuthi rahimahullah,هَلْ العِبْرَةُ بِصِيَغِ العُقُوْدِ أَوْ بِمَعَانِيْهَا“Apakah yang menjadi standar adalah bentuk akad (secara zahir) atau dari makna (hakikat)nya?”– Mazhab Hanbali yang dibawakan oleh Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah,إِذَا وُصِلَ بِأَلْفَاظِ الْعُقُودِ مَا يُخْرِجُهَا عَنْ مَوْضُوعِهَا، فَهَلْ يَفْسُدُ الْعَقْدُ بِذَلِكَ، أَوْ يُجْعَلُ كِنَايَةً عَمَّا يُمْكِنُ صِحَّتُهُ عَلَى ذَلِكَ الْوَجْهِ؟ فِيهِ خِلَافٌ يُلْتَفَتُ إِلَى أَنَّ الْمُغَلَّبَ هَلْ هُوَ اللَّفْظُ أَوْ الْمَعْنَى؟“Jika lafaz-lafaz (kata-kata) akad disambung dengan sesuatu yang dapat mengeluarkannya dari tujuan asalnya, apakah akad tersebut menjadi batal (rusak) karenanya, ataukah ia dijadikan sebagai kinayah (kiasan) bagi sesuatu yang memungkinkan untuk sah dengan cara tersebut? Dalam masalah ini terdapat perselisihan (di kalangan ulama), yang berakar pada pertanyaan: ‘Manakah yang lebih dapat dijadikan standar utama, lafaz ataukah maknanya?” – Mazhab Mailiki yang dibawakan oleh Al-Imam Ahmad bin Yahya Al-Wansyurisi Al-Maliki rahimahullah,إِذَا تَعَارَضَ القَصْدَ وَاللَّفْظُ أَيُّهُمَا يُقَدَّم؟“Jika bersinggungan antara al-qashdu (tujuan atau niat) dengan al-lafzu (kata), manakah di antara keduanya yang didahulukan?” Jika dilihat konteks dari ketiga mazhab di atas, hal itu menunjukkan adanya perselisihan dalam menentukan kepastian sebuah akad. Apakah dilihat dari lafaznya, ataukah makna hakikatnya.Adapun para ulama dari kalangan mazhab Hanafi memberikan lafaz yang bentuknya jazm (pasti), bukan dalam bentuk pertanyaan. Sebagaimana yang telah disebutkan lafaznya di atas.Makna kaidahSejatinya, hukum-hukum yang berkaitan dengan akad, jika terdapat perbedaan antara lafaz dan niat dari yang mengucapkannya, maka hukum tidak dilihat dan tidak ditentukan dari lafaznya. Namun, hukum tersebut dilihat dan ditentukan dari niat dan tujuannya.Contoh penerapan kaidah – A berkata kepada B, “Mobil ini saya hibahkan untukmu, dengan syarat engkau memberikan mobilmu kepadaku.”Jika dilihat pada contoh di atas, secara lafaz atau perkataan adalah hibah. Namun, hakikatnya bukanlah hibah, melainkan jual beli. Sehingga hukum yang diambil dari ucapan di atas bukanlah hukum hibah, namun hukum jual beli. Karena yang dilihat adalah hakikatnya dan bukan lafaz semata.– A membeli barang berupa jam kepada B secara tunai, kemudian B berkata, “Ambillah jam ini sebagai amanah untukmu, sampai nanti pada waktunya saya akan berikan uang senilai dengan harga jam tersebut untuk engkau mengembalikannya kepadaku.”Pada contoh ini, sejatinya bukanlah jual beli atau mengamanahkan suatu barang. Namun hakikatnya adalah gadai, sehingga hukum gadai berlaku pada akad ini. Karena sejatinya A bukanlah membeli barang, namun memberikan pinjaman kepada B. B kemudian memberikan jamnya sebagai amanah yang akan dicicilnya sampai tuntas hutangnya, kemudian jamnya akan diberikan kembali oleh A.Dan contoh-contoh lainnya, yang tentunya hal ini banyak terjadi dalam muamalah sehari-hari.Perlu diketahui dari kedua contoh di atas, telah disebutkan bahwa para ulama dari kalangan mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali memandang bahwasanya akad itu terletak pada lafaznya, bukan pada hakikat maknanya. Sehingga konsekuensi dari pendapat tersebut adalah, contoh yang pertama dihukumi sebagai akad hibah dan contoh kedua dihukumi sebagai akad jual beli.Kaitan kaidah ini dengan kaidah kubraKaidah ini memiliki kaitan yang erat dengan kaidah kubra yang telah dibahas. Yaitu, hukum-hukum yang berkaitan dengan akad dikembalikan hukumnya kepada niat dan tujuan orang yang melaksanakan akad tersebut, bukan dikembalikan kepada lafaznya. Sebagaimana hal ini pun ada pada kaidah kubra, yaitu perbuatan seorang mukallaf berbeda hukumnya disebabkan karena adanya perbedaan niat dan tujuannya.Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Mengenal Fungsi Niat***Depok, 8 Ramadan 1447/ 25 Februari 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 78-81.Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.

Kaidah Fikih: Mengutamakan Maksud dan Makna di Atas Lafaz

Daftar Isi ToggleKaidah tentang akadLafaz kaidahMakna kaidahContoh penerapan kaidahKaitan kaidah ini dengan kaidah kubraTelah tuntas pada pembahasan sebelumnya tentang salah satu kaidah kubra yang berbunyi,الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهِا“Segala sesuatu tergantung niat (tujuan)nya.” Secara garis besar, kaidah tersebut membahas tentang niat dan pentingnya niat dalam segala hal. Baik dalam masalah ibadah maupun masalah muamalah sehari-hari.Tentunya di setiap kaidah kubra terdapat furu’ (cabang) dari setiap kaidah kubra itu sendiri. Dari kaidah kubra di atas yang berbicara tentang niat, terdapat pembahasan cabang dari kaidah tersebut yang berkaitan dengan akad, atau berkaitan dengan sumpah, dan lainnya. Hal ini mengingat berbicara tentang akad tidak lepas dari pembahasan tentang niat.Kaidah tentang akadPembahasan kali ini mengangkat salah satu furu’ dari kaidah kubra yang berkaitan tentang akad [1]. Yaitu kaidah yang berbunyi,العِبْرَةُ فِي العُقُوْدِ بالمَقَاصِدِ وَالمَعَانِي لَا بِالأَلْفَاظِ وَالمَبَانِي“Yang menjadi standar dalam (masalah) akad adalah tujuan dan makna (hakikat)nya, bukan dari lafaz (kata-kata) maupun struktur (kata)nya.” Artinya, setiap akad yang ada tidak lepas dari kaidah ini. Yaitu, yang menjadi utama dalam sebuah akad adalah tujuan dan makna hakikatnya, bukan dari lafaz maupun struktur katanya. Karena sering kali akad-akad yang ada sifatnya “menipu” dan “bias”. Sehingga dapat mengelabui salah satu pihak yang berakad jika memang tidak benar-benar ditelisik bagaimana akad yang sesungguhnya.Berangkat dari permainan kata-kata, yang tadinya haram menjadi halal dan yang makruh menjadi mubah. Sehingga kaidah ini penting untuk diketahui agar tidak mudah terkelabui dengan akad-akad batil yang disarungi oleh istilah-istilah Islami agar terlihat menjadi halal.Baca juga: Mengenal Istilah “Akad” dan Perspektif Islam TerhadapnyaLafaz kaidahLafaz kaidah yang disebutkan di atas, adalah lafaz yang disampaikan oleh mazhab Hanafi. Adapun mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali, mereka membawakan kaidah ini dengan lafaz yang bentuknya pertanyaan.Menurut Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary, hal ini menunjukkan adanya perbedaan pendapat tentang kaidah ini dalam lingkup internal ahli fikih di kalangan mereka. Berikut ini merupakan lafaz-lafaz kaidah dari setiap mazhab yang intinya adalah satu tujuan,– Mazhab Syafi’i yang dibawakan oleh Al-Imam As-Suyuthi rahimahullah,هَلْ العِبْرَةُ بِصِيَغِ العُقُوْدِ أَوْ بِمَعَانِيْهَا“Apakah yang menjadi standar adalah bentuk akad (secara zahir) atau dari makna (hakikat)nya?”– Mazhab Hanbali yang dibawakan oleh Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah,إِذَا وُصِلَ بِأَلْفَاظِ الْعُقُودِ مَا يُخْرِجُهَا عَنْ مَوْضُوعِهَا، فَهَلْ يَفْسُدُ الْعَقْدُ بِذَلِكَ، أَوْ يُجْعَلُ كِنَايَةً عَمَّا يُمْكِنُ صِحَّتُهُ عَلَى ذَلِكَ الْوَجْهِ؟ فِيهِ خِلَافٌ يُلْتَفَتُ إِلَى أَنَّ الْمُغَلَّبَ هَلْ هُوَ اللَّفْظُ أَوْ الْمَعْنَى؟“Jika lafaz-lafaz (kata-kata) akad disambung dengan sesuatu yang dapat mengeluarkannya dari tujuan asalnya, apakah akad tersebut menjadi batal (rusak) karenanya, ataukah ia dijadikan sebagai kinayah (kiasan) bagi sesuatu yang memungkinkan untuk sah dengan cara tersebut? Dalam masalah ini terdapat perselisihan (di kalangan ulama), yang berakar pada pertanyaan: ‘Manakah yang lebih dapat dijadikan standar utama, lafaz ataukah maknanya?” – Mazhab Mailiki yang dibawakan oleh Al-Imam Ahmad bin Yahya Al-Wansyurisi Al-Maliki rahimahullah,إِذَا تَعَارَضَ القَصْدَ وَاللَّفْظُ أَيُّهُمَا يُقَدَّم؟“Jika bersinggungan antara al-qashdu (tujuan atau niat) dengan al-lafzu (kata), manakah di antara keduanya yang didahulukan?” Jika dilihat konteks dari ketiga mazhab di atas, hal itu menunjukkan adanya perselisihan dalam menentukan kepastian sebuah akad. Apakah dilihat dari lafaznya, ataukah makna hakikatnya.Adapun para ulama dari kalangan mazhab Hanafi memberikan lafaz yang bentuknya jazm (pasti), bukan dalam bentuk pertanyaan. Sebagaimana yang telah disebutkan lafaznya di atas.Makna kaidahSejatinya, hukum-hukum yang berkaitan dengan akad, jika terdapat perbedaan antara lafaz dan niat dari yang mengucapkannya, maka hukum tidak dilihat dan tidak ditentukan dari lafaznya. Namun, hukum tersebut dilihat dan ditentukan dari niat dan tujuannya.Contoh penerapan kaidah – A berkata kepada B, “Mobil ini saya hibahkan untukmu, dengan syarat engkau memberikan mobilmu kepadaku.”Jika dilihat pada contoh di atas, secara lafaz atau perkataan adalah hibah. Namun, hakikatnya bukanlah hibah, melainkan jual beli. Sehingga hukum yang diambil dari ucapan di atas bukanlah hukum hibah, namun hukum jual beli. Karena yang dilihat adalah hakikatnya dan bukan lafaz semata.– A membeli barang berupa jam kepada B secara tunai, kemudian B berkata, “Ambillah jam ini sebagai amanah untukmu, sampai nanti pada waktunya saya akan berikan uang senilai dengan harga jam tersebut untuk engkau mengembalikannya kepadaku.”Pada contoh ini, sejatinya bukanlah jual beli atau mengamanahkan suatu barang. Namun hakikatnya adalah gadai, sehingga hukum gadai berlaku pada akad ini. Karena sejatinya A bukanlah membeli barang, namun memberikan pinjaman kepada B. B kemudian memberikan jamnya sebagai amanah yang akan dicicilnya sampai tuntas hutangnya, kemudian jamnya akan diberikan kembali oleh A.Dan contoh-contoh lainnya, yang tentunya hal ini banyak terjadi dalam muamalah sehari-hari.Perlu diketahui dari kedua contoh di atas, telah disebutkan bahwa para ulama dari kalangan mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali memandang bahwasanya akad itu terletak pada lafaznya, bukan pada hakikat maknanya. Sehingga konsekuensi dari pendapat tersebut adalah, contoh yang pertama dihukumi sebagai akad hibah dan contoh kedua dihukumi sebagai akad jual beli.Kaitan kaidah ini dengan kaidah kubraKaidah ini memiliki kaitan yang erat dengan kaidah kubra yang telah dibahas. Yaitu, hukum-hukum yang berkaitan dengan akad dikembalikan hukumnya kepada niat dan tujuan orang yang melaksanakan akad tersebut, bukan dikembalikan kepada lafaznya. Sebagaimana hal ini pun ada pada kaidah kubra, yaitu perbuatan seorang mukallaf berbeda hukumnya disebabkan karena adanya perbedaan niat dan tujuannya.Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Mengenal Fungsi Niat***Depok, 8 Ramadan 1447/ 25 Februari 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 78-81.Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.
Daftar Isi ToggleKaidah tentang akadLafaz kaidahMakna kaidahContoh penerapan kaidahKaitan kaidah ini dengan kaidah kubraTelah tuntas pada pembahasan sebelumnya tentang salah satu kaidah kubra yang berbunyi,الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهِا“Segala sesuatu tergantung niat (tujuan)nya.” Secara garis besar, kaidah tersebut membahas tentang niat dan pentingnya niat dalam segala hal. Baik dalam masalah ibadah maupun masalah muamalah sehari-hari.Tentunya di setiap kaidah kubra terdapat furu’ (cabang) dari setiap kaidah kubra itu sendiri. Dari kaidah kubra di atas yang berbicara tentang niat, terdapat pembahasan cabang dari kaidah tersebut yang berkaitan dengan akad, atau berkaitan dengan sumpah, dan lainnya. Hal ini mengingat berbicara tentang akad tidak lepas dari pembahasan tentang niat.Kaidah tentang akadPembahasan kali ini mengangkat salah satu furu’ dari kaidah kubra yang berkaitan tentang akad [1]. Yaitu kaidah yang berbunyi,العِبْرَةُ فِي العُقُوْدِ بالمَقَاصِدِ وَالمَعَانِي لَا بِالأَلْفَاظِ وَالمَبَانِي“Yang menjadi standar dalam (masalah) akad adalah tujuan dan makna (hakikat)nya, bukan dari lafaz (kata-kata) maupun struktur (kata)nya.” Artinya, setiap akad yang ada tidak lepas dari kaidah ini. Yaitu, yang menjadi utama dalam sebuah akad adalah tujuan dan makna hakikatnya, bukan dari lafaz maupun struktur katanya. Karena sering kali akad-akad yang ada sifatnya “menipu” dan “bias”. Sehingga dapat mengelabui salah satu pihak yang berakad jika memang tidak benar-benar ditelisik bagaimana akad yang sesungguhnya.Berangkat dari permainan kata-kata, yang tadinya haram menjadi halal dan yang makruh menjadi mubah. Sehingga kaidah ini penting untuk diketahui agar tidak mudah terkelabui dengan akad-akad batil yang disarungi oleh istilah-istilah Islami agar terlihat menjadi halal.Baca juga: Mengenal Istilah “Akad” dan Perspektif Islam TerhadapnyaLafaz kaidahLafaz kaidah yang disebutkan di atas, adalah lafaz yang disampaikan oleh mazhab Hanafi. Adapun mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali, mereka membawakan kaidah ini dengan lafaz yang bentuknya pertanyaan.Menurut Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary, hal ini menunjukkan adanya perbedaan pendapat tentang kaidah ini dalam lingkup internal ahli fikih di kalangan mereka. Berikut ini merupakan lafaz-lafaz kaidah dari setiap mazhab yang intinya adalah satu tujuan,– Mazhab Syafi’i yang dibawakan oleh Al-Imam As-Suyuthi rahimahullah,هَلْ العِبْرَةُ بِصِيَغِ العُقُوْدِ أَوْ بِمَعَانِيْهَا“Apakah yang menjadi standar adalah bentuk akad (secara zahir) atau dari makna (hakikat)nya?”– Mazhab Hanbali yang dibawakan oleh Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah,إِذَا وُصِلَ بِأَلْفَاظِ الْعُقُودِ مَا يُخْرِجُهَا عَنْ مَوْضُوعِهَا، فَهَلْ يَفْسُدُ الْعَقْدُ بِذَلِكَ، أَوْ يُجْعَلُ كِنَايَةً عَمَّا يُمْكِنُ صِحَّتُهُ عَلَى ذَلِكَ الْوَجْهِ؟ فِيهِ خِلَافٌ يُلْتَفَتُ إِلَى أَنَّ الْمُغَلَّبَ هَلْ هُوَ اللَّفْظُ أَوْ الْمَعْنَى؟“Jika lafaz-lafaz (kata-kata) akad disambung dengan sesuatu yang dapat mengeluarkannya dari tujuan asalnya, apakah akad tersebut menjadi batal (rusak) karenanya, ataukah ia dijadikan sebagai kinayah (kiasan) bagi sesuatu yang memungkinkan untuk sah dengan cara tersebut? Dalam masalah ini terdapat perselisihan (di kalangan ulama), yang berakar pada pertanyaan: ‘Manakah yang lebih dapat dijadikan standar utama, lafaz ataukah maknanya?” – Mazhab Mailiki yang dibawakan oleh Al-Imam Ahmad bin Yahya Al-Wansyurisi Al-Maliki rahimahullah,إِذَا تَعَارَضَ القَصْدَ وَاللَّفْظُ أَيُّهُمَا يُقَدَّم؟“Jika bersinggungan antara al-qashdu (tujuan atau niat) dengan al-lafzu (kata), manakah di antara keduanya yang didahulukan?” Jika dilihat konteks dari ketiga mazhab di atas, hal itu menunjukkan adanya perselisihan dalam menentukan kepastian sebuah akad. Apakah dilihat dari lafaznya, ataukah makna hakikatnya.Adapun para ulama dari kalangan mazhab Hanafi memberikan lafaz yang bentuknya jazm (pasti), bukan dalam bentuk pertanyaan. Sebagaimana yang telah disebutkan lafaznya di atas.Makna kaidahSejatinya, hukum-hukum yang berkaitan dengan akad, jika terdapat perbedaan antara lafaz dan niat dari yang mengucapkannya, maka hukum tidak dilihat dan tidak ditentukan dari lafaznya. Namun, hukum tersebut dilihat dan ditentukan dari niat dan tujuannya.Contoh penerapan kaidah – A berkata kepada B, “Mobil ini saya hibahkan untukmu, dengan syarat engkau memberikan mobilmu kepadaku.”Jika dilihat pada contoh di atas, secara lafaz atau perkataan adalah hibah. Namun, hakikatnya bukanlah hibah, melainkan jual beli. Sehingga hukum yang diambil dari ucapan di atas bukanlah hukum hibah, namun hukum jual beli. Karena yang dilihat adalah hakikatnya dan bukan lafaz semata.– A membeli barang berupa jam kepada B secara tunai, kemudian B berkata, “Ambillah jam ini sebagai amanah untukmu, sampai nanti pada waktunya saya akan berikan uang senilai dengan harga jam tersebut untuk engkau mengembalikannya kepadaku.”Pada contoh ini, sejatinya bukanlah jual beli atau mengamanahkan suatu barang. Namun hakikatnya adalah gadai, sehingga hukum gadai berlaku pada akad ini. Karena sejatinya A bukanlah membeli barang, namun memberikan pinjaman kepada B. B kemudian memberikan jamnya sebagai amanah yang akan dicicilnya sampai tuntas hutangnya, kemudian jamnya akan diberikan kembali oleh A.Dan contoh-contoh lainnya, yang tentunya hal ini banyak terjadi dalam muamalah sehari-hari.Perlu diketahui dari kedua contoh di atas, telah disebutkan bahwa para ulama dari kalangan mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali memandang bahwasanya akad itu terletak pada lafaznya, bukan pada hakikat maknanya. Sehingga konsekuensi dari pendapat tersebut adalah, contoh yang pertama dihukumi sebagai akad hibah dan contoh kedua dihukumi sebagai akad jual beli.Kaitan kaidah ini dengan kaidah kubraKaidah ini memiliki kaitan yang erat dengan kaidah kubra yang telah dibahas. Yaitu, hukum-hukum yang berkaitan dengan akad dikembalikan hukumnya kepada niat dan tujuan orang yang melaksanakan akad tersebut, bukan dikembalikan kepada lafaznya. Sebagaimana hal ini pun ada pada kaidah kubra, yaitu perbuatan seorang mukallaf berbeda hukumnya disebabkan karena adanya perbedaan niat dan tujuannya.Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Mengenal Fungsi Niat***Depok, 8 Ramadan 1447/ 25 Februari 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 78-81.Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.


Daftar Isi ToggleKaidah tentang akadLafaz kaidahMakna kaidahContoh penerapan kaidahKaitan kaidah ini dengan kaidah kubraTelah tuntas pada pembahasan sebelumnya tentang salah satu kaidah kubra yang berbunyi,الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهِا“Segala sesuatu tergantung niat (tujuan)nya.” Secara garis besar, kaidah tersebut membahas tentang niat dan pentingnya niat dalam segala hal. Baik dalam masalah ibadah maupun masalah muamalah sehari-hari.Tentunya di setiap kaidah kubra terdapat furu’ (cabang) dari setiap kaidah kubra itu sendiri. Dari kaidah kubra di atas yang berbicara tentang niat, terdapat pembahasan cabang dari kaidah tersebut yang berkaitan dengan akad, atau berkaitan dengan sumpah, dan lainnya. Hal ini mengingat berbicara tentang akad tidak lepas dari pembahasan tentang niat.Kaidah tentang akadPembahasan kali ini mengangkat salah satu furu’ dari kaidah kubra yang berkaitan tentang akad [1]. Yaitu kaidah yang berbunyi,العِبْرَةُ فِي العُقُوْدِ بالمَقَاصِدِ وَالمَعَانِي لَا بِالأَلْفَاظِ وَالمَبَانِي“Yang menjadi standar dalam (masalah) akad adalah tujuan dan makna (hakikat)nya, bukan dari lafaz (kata-kata) maupun struktur (kata)nya.” Artinya, setiap akad yang ada tidak lepas dari kaidah ini. Yaitu, yang menjadi utama dalam sebuah akad adalah tujuan dan makna hakikatnya, bukan dari lafaz maupun struktur katanya. Karena sering kali akad-akad yang ada sifatnya “menipu” dan “bias”. Sehingga dapat mengelabui salah satu pihak yang berakad jika memang tidak benar-benar ditelisik bagaimana akad yang sesungguhnya.Berangkat dari permainan kata-kata, yang tadinya haram menjadi halal dan yang makruh menjadi mubah. Sehingga kaidah ini penting untuk diketahui agar tidak mudah terkelabui dengan akad-akad batil yang disarungi oleh istilah-istilah Islami agar terlihat menjadi halal.Baca juga: Mengenal Istilah “Akad” dan Perspektif Islam TerhadapnyaLafaz kaidahLafaz kaidah yang disebutkan di atas, adalah lafaz yang disampaikan oleh mazhab Hanafi. Adapun mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali, mereka membawakan kaidah ini dengan lafaz yang bentuknya pertanyaan.Menurut Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary, hal ini menunjukkan adanya perbedaan pendapat tentang kaidah ini dalam lingkup internal ahli fikih di kalangan mereka. Berikut ini merupakan lafaz-lafaz kaidah dari setiap mazhab yang intinya adalah satu tujuan,– Mazhab Syafi’i yang dibawakan oleh Al-Imam As-Suyuthi rahimahullah,هَلْ العِبْرَةُ بِصِيَغِ العُقُوْدِ أَوْ بِمَعَانِيْهَا“Apakah yang menjadi standar adalah bentuk akad (secara zahir) atau dari makna (hakikat)nya?”– Mazhab Hanbali yang dibawakan oleh Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah,إِذَا وُصِلَ بِأَلْفَاظِ الْعُقُودِ مَا يُخْرِجُهَا عَنْ مَوْضُوعِهَا، فَهَلْ يَفْسُدُ الْعَقْدُ بِذَلِكَ، أَوْ يُجْعَلُ كِنَايَةً عَمَّا يُمْكِنُ صِحَّتُهُ عَلَى ذَلِكَ الْوَجْهِ؟ فِيهِ خِلَافٌ يُلْتَفَتُ إِلَى أَنَّ الْمُغَلَّبَ هَلْ هُوَ اللَّفْظُ أَوْ الْمَعْنَى؟“Jika lafaz-lafaz (kata-kata) akad disambung dengan sesuatu yang dapat mengeluarkannya dari tujuan asalnya, apakah akad tersebut menjadi batal (rusak) karenanya, ataukah ia dijadikan sebagai kinayah (kiasan) bagi sesuatu yang memungkinkan untuk sah dengan cara tersebut? Dalam masalah ini terdapat perselisihan (di kalangan ulama), yang berakar pada pertanyaan: ‘Manakah yang lebih dapat dijadikan standar utama, lafaz ataukah maknanya?” – Mazhab Mailiki yang dibawakan oleh Al-Imam Ahmad bin Yahya Al-Wansyurisi Al-Maliki rahimahullah,إِذَا تَعَارَضَ القَصْدَ وَاللَّفْظُ أَيُّهُمَا يُقَدَّم؟“Jika bersinggungan antara al-qashdu (tujuan atau niat) dengan al-lafzu (kata), manakah di antara keduanya yang didahulukan?” Jika dilihat konteks dari ketiga mazhab di atas, hal itu menunjukkan adanya perselisihan dalam menentukan kepastian sebuah akad. Apakah dilihat dari lafaznya, ataukah makna hakikatnya.Adapun para ulama dari kalangan mazhab Hanafi memberikan lafaz yang bentuknya jazm (pasti), bukan dalam bentuk pertanyaan. Sebagaimana yang telah disebutkan lafaznya di atas.Makna kaidahSejatinya, hukum-hukum yang berkaitan dengan akad, jika terdapat perbedaan antara lafaz dan niat dari yang mengucapkannya, maka hukum tidak dilihat dan tidak ditentukan dari lafaznya. Namun, hukum tersebut dilihat dan ditentukan dari niat dan tujuannya.Contoh penerapan kaidah – A berkata kepada B, “Mobil ini saya hibahkan untukmu, dengan syarat engkau memberikan mobilmu kepadaku.”Jika dilihat pada contoh di atas, secara lafaz atau perkataan adalah hibah. Namun, hakikatnya bukanlah hibah, melainkan jual beli. Sehingga hukum yang diambil dari ucapan di atas bukanlah hukum hibah, namun hukum jual beli. Karena yang dilihat adalah hakikatnya dan bukan lafaz semata.– A membeli barang berupa jam kepada B secara tunai, kemudian B berkata, “Ambillah jam ini sebagai amanah untukmu, sampai nanti pada waktunya saya akan berikan uang senilai dengan harga jam tersebut untuk engkau mengembalikannya kepadaku.”Pada contoh ini, sejatinya bukanlah jual beli atau mengamanahkan suatu barang. Namun hakikatnya adalah gadai, sehingga hukum gadai berlaku pada akad ini. Karena sejatinya A bukanlah membeli barang, namun memberikan pinjaman kepada B. B kemudian memberikan jamnya sebagai amanah yang akan dicicilnya sampai tuntas hutangnya, kemudian jamnya akan diberikan kembali oleh A.Dan contoh-contoh lainnya, yang tentunya hal ini banyak terjadi dalam muamalah sehari-hari.Perlu diketahui dari kedua contoh di atas, telah disebutkan bahwa para ulama dari kalangan mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali memandang bahwasanya akad itu terletak pada lafaznya, bukan pada hakikat maknanya. Sehingga konsekuensi dari pendapat tersebut adalah, contoh yang pertama dihukumi sebagai akad hibah dan contoh kedua dihukumi sebagai akad jual beli.Kaitan kaidah ini dengan kaidah kubraKaidah ini memiliki kaitan yang erat dengan kaidah kubra yang telah dibahas. Yaitu, hukum-hukum yang berkaitan dengan akad dikembalikan hukumnya kepada niat dan tujuan orang yang melaksanakan akad tersebut, bukan dikembalikan kepada lafaznya. Sebagaimana hal ini pun ada pada kaidah kubra, yaitu perbuatan seorang mukallaf berbeda hukumnya disebabkan karena adanya perbedaan niat dan tujuannya.Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Mengenal Fungsi Niat***Depok, 8 Ramadan 1447/ 25 Februari 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 78-81.Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.
Prev     Next