Perang Tabuk: Ujian Keimanan dan Pengorbanan Terbesar di Masa Nabi ﷺ

Perang Tabuk bukanlah peperangan biasa. Perang ini terjadi ketika cuaca sangat panas, perjalanan sangat jauh, dan manusia sedang menikmati kenyamanan hidup serta masa panen yang menggiurkan. Justru dalam kondisi seperti itulah tampak siapa yang benar-benar beriman, siapa yang munafik, dan siapa yang rela mengorbankan seluruh hartanya demi agama Allah.  Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabatnya untuk bersiap pada bulan Rajab tahun kesembilan Hijriah guna menghadapi Romawi. Hal itu terjadi pada masa yang penuh kesulitan bagi manusia, saat cuaca sangat panas, negeri mengalami kekeringan, dan buah-buahan di Madinah sedang mulai matang. Pada saat seperti itu, manusia biasanya senang tinggal di kebun-kebun mereka dan berteduh di bawah naungannya. Jiwa manusia memang cenderung menyukai keadaan yang nyaman seperti itu.Biasanya Rasulullah ﷺ apabila hendak berangkat dalam suatu peperangan, beliau menyamarkan tujuan sebenarnya dan memberi kesan akan menuju tempat lain. Namun pada Perang Tabuk, beliau tidak melakukannya. Beliau menjelaskan tujuan yang sebenarnya kepada para sahabat karena jarak yang sangat jauh, beratnya perjalanan, kondisi yang sulit, dan besarnya kekuatan musuh. Beliau ingin agar mereka benar-benar bersiap. Karena itu beliau memerintahkan mereka untuk mempersiapkan perlengkapan perang dan memberitahukan bahwa yang akan dihadapi adalah bangsa Romawi. (Lihat: Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyyah yang dicetak bersama Ar-Raudh Al-Unuf, 4:137)Perang ini merupakan peperangan terakhir yang diikuti oleh Rasulullah ﷺ. (HR. Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain, 3:254, no. 6046. Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Hakim dan tidak dikritik oleh Adz-Dzahabi dalam ringkasannya)Adapun sebab terjadinya Perang Tabuk, para ulama sirah dan sejarah menyebutkan beberapa sebab. Di antara pendapat yang disebutkan adalah bahwa Rasulullah ﷺ menerima laporan dari para pedagang minyak Nabath yang datang ke Madinah bahwa pasukan Romawi telah berkumpul di wilayah Syam bersama Heraklius untuk memerangi kaum Muslimin. (Fath Al-Bari, 8:111). Pendapat ini dikuatkan oleh hadits Umar radhiyallahu ‘anhu tentang peristiwa ketika Rasulullah ﷺ memisahkan diri dari istri-istrinya.Baca juga: Heraklius (Kaisar Romawi) Bertanya Tentang Ajaran NabiDalam hadis tersebut Umar berkata, “Aku mempunyai seorang tetangga dari kaum Anshar dari Bani Umayyah bin Zaid yang tinggal di daerah pinggiran Madinah. Kami bergantian menghadiri majelis Nabi ﷺ. Suatu hari ia datang dan aku tidak, lalu pada hari yang lain aku datang dan ia tidak. Jika aku datang, aku menyampaikan kepadanya berita hari itu dan hal-hal lainnya. Jika ia datang, ia melakukan hal yang sama. Saat itu kami sering membicarakan bahwa Ghassan (suku Arab Nasrani yang tinggal di wilayah Syam) sedang menyiapkan kuda-kudanya untuk menyerang kami. Suatu malam, pada hari gilirannya, temanku pulang setelah Isya lalu mengetuk pintuku dengan keras. Ia berkata, ‘Apakah dia ada di dalam?’ Aku terkejut lalu keluar menemuinya. Ia berkata, ‘Peristiwa besar telah terjadi!’ Aku bertanya, ‘Apa itu? Apakah Ghassan sudah datang?’ Ia menjawab, ‘Tidak. Bahkan yang lebih besar dan lebih menggemparkan daripada itu sampai Rasulullah ﷺ bisa menceraikan istri-istrinya.’” (HR. Bukhari, no. 2468 dan Muslim, no. 1479)Ada pula pendapat lain. Peneliti kitab Adz-Dzahab Al-Masbuk fi Tahqiq Riwayat Ghazwah Tabuk berpendapat bahwa keluarnya Nabi ﷺ menuju Tabuk merupakan bagian dari misi ilahi yang lebih luas. Setelah peperangan-peperangan internal di Jazirah Arab berakhir, perhatian harus diarahkan ke luar Jazirah Arab untuk menyampaikan risalah Islam yang agung ini.Pendapat tersebut didasarkan pada firman Allah Ta’ala:قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir, yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya, serta tidak memeluk agama yang benar, yaitu dari kalangan Ahli Kitab, hingga mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At-Taubah: 29)Inilah perintah ilahi yang menjadi sebab utama terjadinya Perang Tabuk. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Mujahid, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Qatadah, Adh-Dhahhak bin Muzahim Al-Hilali, dan ulama lainnya rahimahumullah. (Abdul Qadir As-Sindi, Adz-Dzahab Al-Masbuk fi Tahqiq Riwayat Ghazwah Tabuk An-Nabawiyyah, hlm. 4. Asalnya merupakan tesis magister yang diterbitkan oleh Mathabi‘ Ar-Rasyid). Wallahu a‘lam.Rasulullah ﷺ mendorong kaum Muslimin untuk berinfak dan berkorban di jalan Allah. Orang-orang yang berbuat baik pun berlomba-lomba dalam kesempatan tersebut.Umar radhiyallahu ‘anhu ingin mengungguli Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dalam sedekah. Ia datang membawa setengah hartanya. Rasulullah ﷺ bertanya,“Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”Umar menjawab,“Yang semisal dengan ini.”Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu datang dengan membawa seluruh hartanya. Rasulullah ﷺ bertanya,“Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”Ia menjawab,“Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”Maka Umar berkata,“Aku tidak akan pernah dapat mengunggulimu dalam suatu perkara selamanya.”Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:“Aku tidak akan pernah dapat mengunggulimu dalam suatu perkara selamanya.”Utsman radhiyallahu ‘anhu menyumbangkan seribu dinar yang dituangkannya ke pangkuan Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ membolak-balik dinar-dinar itu dengan tangannya seraya bersabda,“Tidak akan membahayakan Utsman apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Beliau mengulang-ulang ucapan tersebut beberapa kali.Utsman juga menyumbangkan tiga ratus ekor unta lengkap dengan pelana dan perlengkapannya untuk Perang Tabuk.Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu datang membawa delapan ribu dirham. Yang lainnya pun datang membawa harta yang banyak. Bahkan para wanita mengirimkan perhiasan yang mereka mampu sumbangkan.Sekelompok sahabat datang menemui Rasulullah ﷺ. Mereka berjumlah tujuh orang. Mereka meminta kendaraan agar dapat ikut berangkat bersama beliau. Namun beliau tidak menemukan kendaraan untuk mereka. Akhirnya mereka kembali dalam keadaan sedih.Tentang mereka turun firman Allah Ta’ala,لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ۝ وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ“Tidak ada dosa atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang tidak mempunyai biaya untuk berinfak, apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan tidak pula berdosa atas orang-orang yang datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian.’ Mereka pun kembali, sementara mata mereka bercucuran air mata karena sedih tidak mendapatkan biaya untuk ikut berperang.” (QS. At-Taubah: 91–92)Ketika Rasulullah ﷺ bersiap untuk berangkat, sebagian orang munafik berkata, “Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.”Lalu Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ“Orang-orang yang ditinggalkan itu merasa gembira karena tetap tinggal di belakang Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan mereka berkata, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Katakanlah, ‘Api Jahannam itu jauh lebih panas,’ seandainya mereka memahami.” (QS. At-Taubah: 81)Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ketika kami diperintahkan untuk bersedekah, kami bekerja sebagai pengangkut barang. Lalu Abu ‘Aqil datang membawa setengah sha‘ makanan. Ada orang lain yang datang membawa sedekah lebih banyak darinya. Maka orang-orang munafik berkata, ‘Allah tidak membutuhkan sedekah orang ini. Adapun yang satunya lagi, ia tidak melakukannya kecuali karena riya.’”Lalu turun firman Allah Ta’ala:الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Orang-orang yang mencela kaum mukmin yang dengan sukarela bersedekah, dan juga mencela orang-orang yang tidak memperoleh apa-apa untuk disedekahkan kecuali sekadar kemampuan yang mereka miliki, lalu mereka memperolok-olok mereka; Allah akan membalas ejekan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 79)Ibnu Sa‘d rahimahullah berkata, “Beberapa orang munafik datang meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk tidak ikut berangkat tanpa alasan yang benar. Beliau memberi izin kepada mereka. Jumlah mereka sekitar delapan puluh orang. Kemudian datang pula orang-orang Arab Badui yang mempunyai uzur. Mereka menyampaikan alasan mereka agar diberi izin, tetapi beliau tidak memberi uzur kepada mereka. Jumlah mereka delapan puluh dua orang.”Allah Ta’ala berfirman,لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَّٱتَّبَعُوكَ وَلَٰكِنۢ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ ٱلشُّقَّةُ ۚ وَسَيَحْلِفُونَ بِٱللَّهِ لَوِ ٱسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَٰذِبُونَعَفَا ٱللَّهُ عَنكَ لِمَ أَذِنتَ لَهُمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَتَعْلَمَ ٱلْكَٰذِبِينَلَا يَسْتَـْٔذِنُكَ ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ أَن يُجَٰهِدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلْمُتَّقِينَإِنَّمَا يَسْتَـْٔذِنُكَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱرْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِى رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (QS. At-Taubah: 42-45)Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala ini berbicara tentang orang-orang munafik yang tidak ikut bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Tabuk. Mereka memilih tetap tinggal setelah sebelumnya meminta izin kepada beliau. Mereka menampilkan diri seolah-olah memiliki uzur, padahal kenyataannya tidak demikian.”Di antara orang-orang yang datang mengajukan alasan itu adalah Al-Jadd bin Qais dari Bani Salamah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Wahai Jadd, apakah tahun ini engkau bersedia ikut berperang menghadapi Bani Ashfar (Romawi)?”Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk tidak ikut dan janganlah engkau menjadikanku terkena fitnah. Aku khawatir akan tergoda jika melihat wanita-wanita Bani Ashfar.”Maka berkenaan dengannya Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ“Di antara mereka ada yang berkata, ‘Berilah aku izin (untuk tidak ikut berperang) dan janganlah engkau menjadikanku terjerumus ke dalam fitnah.’ Ketahuilah, justru mereka telah jatuh ke dalam fitnah. Sungguh, neraka Jahanam benar-benar mengepung orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 49)Sebagian orang munafik tidak hanya merasa cukup dengan tidak ikut berperang. Bahkan ada di antara mereka yang berusaha melemahkan semangat kaum mukminin dan menakut-nakuti mereka. Mereka berkata, “Pasukan Bani Ashfar akan menghancurkan orang-orang Arab satu demi satu. Demi Allah, besok kita semua akan terikat dengan tali sebagai tawanan.”Ucapan itu mereka lontarkan untuk menyebarkan ketakutan dan melemahkan semangat kaum mukminin.Ibnu Hisyam rahimahullah berkata, “Ada sekelompok orang munafik berkata kepada sebagian yang lain, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Mereka tidak bersemangat berjihad, ragu terhadap kebenaran, dan berusaha mengguncangkan kepercayaan kepada Rasulullah ﷺ. Lalu Allah Tabaraka wa Ta‘ala menurunkan firman-Nya tentang mereka,فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ ۝ فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ“Orang-orang yang ditinggalkan itu merasa gembira karena tetap tinggal di belakang Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan mereka berkata, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Katakanlah, ‘Api Neraka Jahanam jauh lebih panas,’ sekiranya mereka memahami. Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak sebagai balasan atas apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah: 81–82)Ada pula kelompok lain yang mengejek kaum mukminin. Dalam Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah disebutkan, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Pada Perang Tabuk, ada seseorang berkata dalam suatu majelis, ‘Kami tidak pernah melihat orang seperti para pembaca Al-Qur’an ini; mereka paling rakus perutnya, paling dusta lisannya, dan paling pengecut ketika bertemu musuh.’Lalu seseorang yang berada di masjid berkata, ‘Engkau dusta, bahkan engkau munafik. Aku akan menyampaikan ucapanmu itu kepada Rasulullah ﷺ.’Ucapan itu pun sampai kepada Rasulullah ﷺ, lalu turunlah Al-Qur’an. Abdullah bin Umar berkata, ‘Aku melihat orang itu bergantung pada tali pelana unta Rasulullah ﷺ sementara batu-batu menghantam kakinya. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, kami hanya bercanda dan bermain-main.” Sedangkan Rasulullah ﷺ terus membacakan firman Allah,أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Janganlah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” (QS. At-Taubah: 65–66)Rasulullah ﷺ juga meninggalkan Ali radhiyallahu ‘anhu sebagai pengganti beliau. Ali berkata, “Apakah engkau meninggalkanku bersama anak-anak dan kaum wanita?” Beliau bersabda, “Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?”Ada pula beberapa kaum muslimin yang tidak ikut berangkat bukan karena ragu atau kemunafikan, tetapi karena menunda-nunda hingga akhirnya kehilangan kesempatan untuk berangkat bersama pasukan. Di antara mereka adalah Ka‘ab bin Malik, Murarah bin Ar-Rabi‘, dan Hilal bin Umayyah radhiyallahu ‘anhum.Baca juga: Jujur yang Menyelamatkan, Pelajaran Besar dari Tobat Ka’ab bin MalikAbu Dzar dan Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhuma juga sempat tertinggal. Namun, keduanya kemudian menyusul Rasulullah ﷺ.Adapun Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, beliau menceritakan tentang dirinya, “Aku tertinggal dari Rasulullah ﷺ pada Perang Tabuk. Setelah Rasulullah ﷺ berangkat, aku masuk ke kebunku. Aku melihat sebuah gubuk yang telah diperciki air agar sejuk, lalu aku melihat istriku. Aku berkata, ‘Apa ini? Sungguh tidak adil. Rasulullah ﷺ berada di tengah terik matahari dan panas yang menyengat, sedangkan aku berada di tempat yang teduh dan penuh kenikmatan.’Lalu aku menuju seekor unta muda, aku pelana dan menyiapkannya. Aku juga mengambil beberapa butir kurma sebagai bekal. Setelah itu aku berangkat untuk menyusul Rasulullah ﷺ.Ketika aku telah mendekati pasukan, orang-orang melihatku. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Jadilah dia Abu Khaitsamah.’Ketika aku telah dekat, aku berkata, ‘Benarlah, wahai Rasulullah, aku memang Abu Khaitsamah.’Lalu aku menceritakan apa yang telah terjadi kepadaku. Rasulullah ﷺ pun bersabda, ‘Semoga itu menjadi kebaikan,’ kemudian beliau mendoakanku.”Adapun Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, untanya berjalan sangat lambat sehingga menghambat perjalanannya. Ia pun mengambil barang-barangnya dari atas unta, memanggulnya di punggungnya, lalu berjalan kaki mengikuti Rasulullah ﷺ.Suatu ketika Rasulullah ﷺ singgah di salah satu tempat. Beliau memandang ke arah kaum muslimin, lalu melihat seseorang berjalan kaki di kejauhan. Beliau bersabda, “Semoga dia adalah Abu Dzar.”Ketika orang-orang memperhatikan lebih saksama, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, dia memang Abu Dzar.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Ia berjalan seorang diri, akan meninggal seorang diri, dan akan dibangkitkan seorang diri.” Pelajaran yang Dipetik dari Perang TabukPertama: Perang Tabuk merupakan pengumpulan pasukan terbesar dalam peperangan yang dipimpin Rasulullah ﷺ. Peperangan ini juga merupakan peperangan terakhir yang beliau ikuti. Seakan-akan perang ini menjadi isyarat bahwa setelah beliau ﷺ, kaum Muslimin akan bergerak keluar Jazirah Arab untuk menyebarkan Islam, setelah agama ini kokoh di Jazirah Arab, seluruh kekuatan besar di dalamnya berhasil ditaklukkan, dan manusia dari berbagai penjuru masuk Islam.Maka yang tersisa adalah para dai mengajak manusia kepada Allah dan pasukan jihad bergerak keluar Jazirah Arab. Rasulullah ﷺ memang diutus untuk seluruh manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Saba’: 28)Dan firman-Nya:وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)Kedua: Allah menghendaki agar perang ini terjadi dalam tiga keadaan yang berkumpul sekaligus, yang masing-masing merupakan ujian berat bagi kaum mukminin dan sarana penyaringan keimanan mereka:Keadaan sulit, sempit, dan kekurangan harta.Buah-buahan sedang matang, tempat tinggal terasa nyaman, sementara cuaca sangat panas bagi para musafir.Jarak perjalanan yang sangat jauh dan penuh kesulitan. Tabuk berjarak lebih dari tujuh ratus mil dari Madinah melalui jalan berpasir yang tidak berpenghuni. Perjalanan di sana sangat berat dan rasa haus sangat menyiksa manusia maupun hewan.Karena itu, dorongan untuk tetap tinggal sangat besar, sedangkan tantangan untuk keluar berjihad juga sangat berat. Jarak yang jauh juga mengharuskan pasukan meninggalkan Madinah dalam waktu yang lama. Ini menjadi kesulitan tambahan di samping kesulitan-kesulitan sebelumnya. Pasukan yang menempuh perjalanan sejauh itu tentu tidak diperkirakan akan segera kembali. Dan memang demikian yang terjadi. Rasulullah ﷺ bersama pasukan besar tersebut meninggalkan Madinah selama dua bulan, sejak awal Rajab hingga awal Ramadan.Catatan: Jarak Madinah ke Tabuk sekitar 631 KM.Ketiga: Perang ini menjadi ujian besar bagi masyarakat Muslim. Orang-orang beriman yang terbaik tampak jelas keutamaannya. Mereka berlomba-lomba berinfak dan mengorbankan harta mereka seolah-olah telah menjual seluruh dunia dan membeli akhirat sebagai gantinya.Sebaliknya, kemunafikan pun tersingkap. Surah At-Taubah turun membongkar keadaan mereka dan menyingkap rahasia-rahasia mereka. Ayat-ayat terus turun dengan ungkapan, “Di antara mereka ada yang…”, “Dan di antara mereka ada yang…”, serta “Sebagian mereka…”.Hal ini menunjukkan bahwa kemunafikan di Madinah bertambah seiring bertambahnya kekuatan kaum mukminin, baik karena rasa takut maupun karena ambisi tertentu.Karena itu, mereka perlu dijelaskan kepada umat. Sebab, golongan seperti ini tidak akan pernah hilang dari setiap zaman dan tempat. Hanya saja jumlah mereka bertambah atau berkurang sesuai dengan kuat dan lemahnya kaum Muslimin.Maka tampaklah teladan yang baik dari masyarakat Muslim yang segera menyambut perintah Allah. Di saat yang sama, umat diperingatkan dari kelompok yang rusak tersebut dengan berbagai sifat yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, agar siapa pun yang memiliki sifat-sifat itu mendapatkan hukum yang sama.Keempat: Disyariatkannya berjihad dengan harta. Bahkan jihad dengan harta sering disebutkan lebih dahulu daripada jihad dengan jiwa dalam banyak ayat Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 15)Yang menguatkan makna ini dan menjelaskannya adalah sabda Rasulullah ﷺ kepada Utsman radhiyallahu ‘anhu:«مَا ضَرَّ ابْنَ عَفَّانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ»“Tidak akan membahayakan Ibnu Affan (Utsman) apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Beliau mengulang-ulang ucapan tersebut beberapa kali.Sabda ini menunjukkan besarnya keutamaan berjihad dengan harta. Rasulullah ﷺ mengucapkannya kepada Utsman ketika beliau berjihad dengan hartanya. Ini merupakan peluang besar bagi orang-orang kaya untuk berjihad di jalan Allah dengan harta mereka melalui berbagai bentuk jihad. Jihad tidak hanya terbatas pada peperangan atau sekadar menyiapkan perlengkapan perang.Kelima: Disyariatkannya berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita melihat bahwa ketika Rasulullah ﷺ mengajak kaum Muslimin untuk bersedekah dan berinfak dalam Perang Tabuk, Umar radhiyallahu ‘anhu segera berusaha menyaingi dan mendahului Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Umar bersedekah dengan setengah hartanya karena mengira kali ini ia dapat mendahului Abu Bakar. Namun ternyata Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengunggulinya dengan menyedekahkan seluruh hartanya.Keenam: Tampak jelas keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang datang membawa seluruh hartanya untuk berjihad di jalan Allah. Hal ini menunjukkan kuatnya tawakal beliau kepada Allah dan kokohnya keimanannya.Demikian pula tampak keutamaan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang datang dengan setengah hartanya.Begitu juga keutamaan Utsman radhiyallahu ‘anhu yang menyedekahkan harta yang sangat besar, hingga Rasulullah ﷺ bersabda tentang dirinya: “Tidak akan membahayakan Ibnu Affan (Utsman) apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Ketujuh: Kita dapat memperhatikan bahwa Rasulullah ﷺ berkhutbah dan mendorong manusia untuk bersedekah. Lalu Utsman radhiyallahu ‘anhu berdiri dan mengumumkan sedekahnya di hadapan orang banyak. Hal ini mengarahkan perhatian kita kepada satu pembahasan penting, yaitu: manakah yang lebih utama, menampakkan sedekah atau menyembunyikannya?Tampaknya, hal itu berbeda-beda sesuai tujuan dan maslahat sedekah tersebut. Jika sedekah itu untuk kepentingan umum dan dengan diumumkan dapat mendorong orang lain untuk meneladani pemberi sedekah, maka menampakkannya lebih maslahat. Namun jika sedekah itu diberikan kepada orang tertentu, maka menyembunyikannya lebih utama sebagai bentuk menjaga perasaan orang tersebut agar tidak tersinggung karena sedekahnya diumumkan.Hal ini dipahami dari firman Allah Ta’ala:إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Jika kalian menampakkan sedekah-sedekah kalian, maka itu adalah sesuatu yang baik. Namun jika kalian menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagi kalian. Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahan kalian. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271)Syaikh As-Sa‘di rahimahullah berkata: “Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa sedekah yang dirahasiakan kepada orang fakir lebih utama daripada sedekah yang diumumkan. Adapun jika sedekah tersebut tidak diberikan kepada orang fakir, maka makna ayat menunjukkan bahwa merahasiakannya tidak selalu lebih baik daripada menampakkannya. Dalam kondisi seperti itu, pertimbangannya kembali kepada maslahat. Jika dengan menampakkannya dapat menampakkan syiar agama dan mendorong orang lain untuk meneladani, maka hal itu lebih utama daripada merahasiakannya.”Karena itu, dalam sebagian kegiatan lembaga sosial atau penggalangan dana untuk korban bencana dan proyek-proyek kebaikan lainnya, pengumuman nama para donatur terkadang perlu dilakukan dengan memperhatikan maslahat ini. Wallahu a‘lam.Kedelapan: Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu datang membawa seluruh hartanya kepada Rasulullah ﷺ lalu beliau menerimanya.Dalam Sunan Abi Dawud disebutkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ membawa emas sebesar telur. Ia berkata,“Wahai Rasulullah, aku memperoleh emas ini dari hasil tambang. Ambillah sebagai sedekah. Aku tidak memiliki selain ini.”Namun Rasulullah ﷺ berpaling darinya. Orang itu mendatangi beliau dari arah kanan, lalu beliau berpaling. Ia datang lagi dari arah kiri, lalu beliau berpaling. Kemudian ia datang dari belakang beliau, lalu Rasulullah ﷺ mengambil emas itu dan melemparkannya kepadanya. Seandainya mengenai wajah atau kepalanya, tentu akan melukainya.Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,“Datang salah seorang di antara kalian membawa seluruh hartanya lalu berkata, ‘Ini sedekah.’ Setelah itu ia duduk meminta-minta kepada manusia. Sedekah yang terbaik adalah sedekah yang diberikan dari harta yang masih menyisakan kecukupan.”Ketika taubat Ka‘ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu diterima, ia berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Sebagai bentuk taubatku, aku ingin menyedekahkan seluruh hartaku kepada Allah dan Rasul-Nya.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda,«أَمْسِكْ عَلَيْكَ بَعْضَ مَالِكَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ»“Pertahankan sebagian hartamu, itu lebih baik bagimu.”³Padahal Rasulullah ﷺ menerima sedekah seluruh harta dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, sementara beliau menolak orang yang ingin menyedekahkan seluruh hartanya dan menasihati Ka‘ab radhiyallahu ‘anhu agar menyisakan sebagian hartanya.Rasulullah ﷺ memperlakukan setiap orang sesuai dengan kondisi yang paling baik bagi dirinya. Beliau tidak mengingkari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu karena mengetahui kuatnya kesabaran, keyakinan, dan tawakal beliau.Adapun orang yang tidak mampu menanggung akibat menyedekahkan seluruh hartanya, maka perlakuannya berbeda. Seseorang tidak dianjurkan menyedekahkan seluruh hartanya jika dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah bagi dirinya atau ia tidak mampu bersabar menghadapi kemiskinan.Inilah salah satu bentuk hikmah dalam berdakwah kepada Allah, yaitu memperhatikan perbedaan karakter manusia, tingkat keimanan mereka, kemampuan mereka dalam menanggung kesulitan, dan memperlakukan setiap orang sesuai keadaannya.Kesembilan: Pada Perang Tabuk tampak jelas keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ketika Rasulullah ﷺ meninggalkannya sebagai pengganti beliau di Madinah. Beliau bersabda kepadanya, “Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?”Kesepuluh: Sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah orang-orang miskin. Namun demikian, mereka tetap ikut berinfak. Di antara mereka ada yang menyumbangkan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum. Bagi sebagian mereka, itulah separuh dari seluruh harta yang dimilikinya. Seseorang datang membawa satu sha’, sementara satu sha’ lagi ia tinggalkan untuk keluarganya, padahal ia akan meninggalkan mereka dalam perjalanan yang panjang ini.Jadi, yang menjadi tolok ukur bukanlah besarnya nilai harta yang disedekahkan, tetapi nilai pengorbanan diri dan kesediaan mengeluarkan apa yang dimiliki. Satu sha’ yang disedekahkan oleh orang seperti ini pada hakikatnya sebanding dengan setengah harta orang kaya. Pengorbanan dalam keadaan seperti itu sangat besar, dan pahalanya pun sangat agung.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,«سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ». قَالُوا: وَكَيْفَ؟ قَالَ: «كَانَ لِرَجُلٍ دِرْهَمَانِ، فَتَصَدَّقَ بِأَحَدِهِمَا، وَانْطَلَقَ رَجُلٌ إِلَى عُرْضِ مَالِهِ، فَأَخَذَ مِنْهُ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ، فَتَصَدَّقَ بِهَا».“Satu dirham mampu mengungguli pahala seratus ribu dirham.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana bisa?”Beliau menjawab, “Ada seseorang yang hanya memiliki dua dirham, lalu ia menyedekahkan satu dirham darinya. Sedangkan orang lain memiliki harta yang sangat banyak, lalu ia mengambil seratus ribu dirham dari hartanya dan menyedekahkannya.” (HR. An-Nasa’i, no. 2527 dan Ahmad, no. 8929. Hadits ini hasan).Karena itu, ketika seorang muslim diuji dengan hartanya, baik sedikit maupun banyak, yang terpenting adalah pengorbanan diri, mendahulukan apa yang Allah cintai daripada kepentingan dirinya sendiri, serta tidak meninggalkan kesempatan untuk berlomba-lomba menuju keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Kesebelas: Sekelompok orang datang kepada Rasulullah ﷺ meminta agar beliau menyediakan kendaraan untuk mereka. Namun, beliau tidak menemukan kendaraan yang dapat diberikan kepada mereka. Mereka pun pulang dengan hati sedih karena tidak memiliki bekal untuk berangkat. Tentang mereka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya,لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ۝ وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ“Tidak ada dosa atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang tidak mempunyai sesuatu untuk mereka infakkan, apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Demikian pula tidak ada dosa atas orang-orang yang ketika datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian,’ kemudian mereka kembali dengan mata bercucuran air mata karena sedih tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan.” (QS. At-Taubah: 91–92)Bukankah seorang muslim yang hidup pada masa penuh kelemahan seperti sekarang patut meneladani orang-orang lemah tersebut? Mereka benar-benar tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika tidak memiliki sesuatu yang dapat mereka persembahkan, mata mereka bercucuran air mata karena sedih tidak mampu memberikan sesuatu yang dapat menolong Islam dan kaum muslimin. Allah Yang Mahamulia tidak mencela mereka, bahkan memuji mereka, sebagaimana dipahami dari ayat-ayat tersebut. Wallahu a’lam.Maka, ketika seorang muslim melihat adanya pelecehan terhadap agama Allah, terhadap Allah, Rasul-Nya, dan syariat-Nya, sementara ia tidak memiliki kemampuan untuk berbuat banyak, hendaklah ia tetap memiliki ketulusan kepada Allah dan Rasul-Nya di dalam hatinya serta tekad yang jujur. Seandainya ia memiliki kemampuan, niscaya ia akan membela agama Allah dan menolongnya.Merekalah orang-orang yang sesuai dengan penjelasan As-Sa’di rahimahullah dalam menafsirkan ayat tersebut: mereka tidak berdosa selama mereka benar-benar tulus kepada Allah dan Rasul-Nya, memiliki keimanan yang jujur, berniat kuat bahwa seandainya mampu mereka pasti berjihad, serta melakukan segala bentuk dorongan, anjuran, dan motivasi untuk berjihad sesuai kemampuan mereka.Apabila seorang hamba telah melakukan yang terbaik sesuai kemampuannya, maka gugurlah kewajiban yang tidak sanggup ia lakukan. Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang mengampuni orang-orang yang tidak mampu, merahmati mereka, dan memberikan kepada mereka pahala yang sama seperti orang-orang yang mampu dan benar-benar melakukannya.Ketika gugur kewajiban dari mereka, hukum kembali kepada asalnya, yaitu berniat melakukan kebaikan. Jika niat itu disertai dengan kesungguhan berusaha semampunya, tetapi ia tetap tidak mampu melaksanakannya, maka ia memperoleh kedudukan seperti orang yang benar-benar mengerjakannya.Inilah salah satu karunia Allah kepada hamba-hamba-Nya pada masa-masa kaum muslimin berada dalam keadaan lemah, ketika kekuatan-kekuatan keburukan dan permusuhan bersatu menyerang mereka, sementara kaum muslimin tidak memiliki kekuatan dan daya untuk menghadapinya. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menempuh jalan ini, yaitu membenarkan Allah dengan sepenuh hati. Hati mereka bersedih, mata mereka bercucuran air mata, doa terus dipanjatkan, dan kesedihan mereka diterima di sisi Allah. Allah Yang Mahamulia mengetahui keadaan mereka. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Pahala mereka tetap terjaga, dan pertolongan Allah, dengan izin-Nya, akan segera datang.Ini juga merupakan bentuk keringanan syariat. Namun, di sisi lain tetap ada tuntutan, yaitu harus memiliki ketulusan kepada Allah dan Rasul-Nya.إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ“Apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya.”Karena itu, tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk bermalas-malasan dalam perkara yang masih mampu ia lakukan. Seorang mukmin juga tidak boleh hidup dengan hati yang mati, tidak peduli terhadap penderitaan kaum muslimin hanya dengan alasan dirinya tidak mampu berbuat banyak. Masih ada kemampuan yang tidak pernah gugur dari seorang muslim dan tidak ada uzur untuk meninggalkannya, yaitu hati yang sedih, mata yang menangis, ikut merasakan penderitaan mereka, dan mendoakan kaum muslimin, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Wallahu a’lam.Kedua belas: Ketika kaum mukminin berlomba-lomba bersedekah sesuai kemampuan masing-masing, orang yang kaya bersedekah dengan jumlah yang banyak, sedangkan yang miskin bersedekah dengan sedikit. Namun, orang-orang munafik tidak pernah membiarkan seorang pun. Jika mereka melihat orang kaya bersedekah dalam jumlah besar, mereka berkata, “Ini hanya ingin pamer.” Sebaliknya, jika mereka melihat orang miskin bersedekah sedikit, mereka berkata, “Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan sedekah orang kaya ini.”Golongan seperti ini selalu ada di setiap masyarakat kaum muslimin. Karena itu, hendaknya seorang mukmin segera melakukan amal-amal saleh dan tidak memedulikan perkataan orang-orang yang hanya gemar mencela di tengah masyarakat muslim, yang pekerjaan mereka hanyalah mengkritik si fulan dan menuduh si fulan.Ketiga belas: ‘Ulbah bin Zaid radhiyallahu ’anhu, seorang sahabat yang miskin, ketika tidak memiliki sesuatu yang dapat diinfakkan di jalan Allah, menghabiskan malamnya dengan memohon maaf kepada Rabbnya. Ia juga menyedekahkan kepada kaum muslimin setiap kezaliman yang pernah mereka lakukan terhadap dirinya, baik yang berkaitan dengan harta, kehormatan, maupun tubuhnya.Keesokan paginya, ketika Rasulullah ﷺ bersama para sahabat, beliau bersabda, “Siapakah yang bersedekah tadi malam?”Setelah Rasulullah ﷺ mengulang pertanyaan itu, ‘Ulbah radhiyallahu ’anhu berdiri dan memberitahukannya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Bergembiralah, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh sedekahmu telah dicatat sebagai sedekah yang diterima.”Kecintaan kepada jihad telah memenuhi hati para sahabat yang mulia hingga mereka menghabiskan malam dalam kesedihan karena tidak memiliki kendaraan yang dapat mengantarkan mereka berjihad. Mereka juga tidak memiliki harta untuk disumbangkan di jalan Allah. Akhirnya, yang mereka miliki hanyalah kezaliman yang pernah dilakukan kaum muslimin terhadap diri mereka, lalu mereka jadikan itu sebagai sedekah.Yang terpenting adalah hidupnya hati dan perasaan bahwa dirinya merupakan bagian dari masyarakat muslim. Karena itu, setiap muslim harus memiliki andil sesuai kemampuannya, meskipun yang dapat ia berikan hanyalah kehormatan dirinya, hartanya, atau tenaganya.Beginilah kehidupan yang dahulu membuat kaum muslimin mampu menaklukkan berbagai negeri, mengajak manusia kepada Allah, dan menyebarkan agama-Nya.Keempat belas: Waspadalah terhadap irjaf (menebarkan ketakutan dan keresahan), yaitu menakut-nakuti kaum muslimin dengan membesar-besarkan kekuatan musuh, meremehkan kekuatan kaum muslimin, serta menggambarkan bahwa kekalahan pasukan kaum muslimin sudah di ambang pintu, dengan tujuan melemahkan semangat mereka.Sebagian orang munafik pernah berkata pada Perang Tabuk, “Apakah kalian mengira memerangi Bani Ashfar (Romawi) seperti orang-orang Arab saling berperang? Demi Allah, besok kalian pasti akan terbelenggu dengan rantai.”Allah Ta’ala berfirman,لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا ۝ مَلْعُونِينَ ۖ أَيْنَمَا ثُقِفُوا أُخِذُوا وَقُتِّلُوا تَقْتِيلًا ۝ سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا“Sungguh, jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya, dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari perbuatannya), niscaya Kami perintahkan engkau (memerangi) mereka, kemudian mereka tidak lagi menjadi tetanggamu (di Madinah), kecuali sebentar. Mereka dalam keadaan terlaknat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka akan ditangkap dan dibunuh tanpa ampun. Sebagai sunah Allah yang berlaku terhadap orang-orang terdahulu. Dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunah Allah.” (QS. Al-Ahzab: 60–62)As-Sa’di rahimahullah berkata tentang firman Allah, “dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah,” yaitu orang-orang yang menakut-nakuti kaum muslimin dengan membesar-besarkan musuh, menyebut banyaknya jumlah dan kekuatan mereka, serta kelemahan kaum muslimin. Mereka tidak menyebutkan hal-hal yang seharusnya dapat meringankan keadaan tersebut. Bahkan mereka menyebarkan segala sesuatu yang menimbulkan rasa takut, mengajak kepada keburukan berupa melemahkan Islam dan kaum muslimin, serta menebarkan keresahan dan meruntuhkan semangat mereka.Perbuatan menyebarkan keresahan seperti ini juga dapat terjadi pada sebagian orang di tengah masyarakat Islam tanpa mereka sadari. Hal itu terjadi karena mereka mengikuti berita-berita musuh lalu menyebarkannya begitu saja tanpa melakukan tabayun terlebih dahulu, padahal di dalamnya terdapat hal-hal yang tidak boleh disampaikan kepada masyarakat karena dapat menimbulkan ketakutan di hati mereka. Dengan demikian, tanpa disadari ia telah melakukan irjaf. Seorang muslim harus berhati-hati agar tidak menjadi corong musuh atau membantu musuh tanpa disadarinya, terutama pada masa-masa krisis dan kesulitan.Kelima belas: Kelompok lain dari orang-orang munafik selalu mencari-cari alasan, atau bahkan menciptakan alasan untuk tidak ikut berangkat. Mereka berkata,لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ“Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.”Mencari-cari alasan adalah kebiasaan orang-orang yang malas dan suka hidup nyaman. Ketika musim panas tiba, mereka beralasan karena teriknya matahari. Ketika musim dingin datang, mereka beralasan karena dinginnya udara. Begitulah sepanjang hidup mereka berpindah dari satu alasan ke alasan yang lain demi mencari kenyamanan.Janganlah menyia-nyiakan waktu. Jika engkau merasakan panasnya matahari, ingatlah panasnya Neraka Jahanam. Allah telah menjawab berbagai alasan mereka melalui firman-Nya,إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia.”Bahkan ada sebagian orang yang menjadikan penampilan seolah-olah bertakwa dan saleh sebagai alasan, atau berdalih takut terjatuh ke dalam fitnah.Di antara mereka ada yang berkata,ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ“Berilah aku izin (untuk tidak ikut berperang) dan janganlah engkau menjadikanku terjerumus ke dalam fitnah. Ketahuilah, sesungguhnya mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sungguh, Neraka Jahanam benar-benar mengepung orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 49)Walaupun alasan tersebut keluar dari seorang munafik, pada kenyataannya itu merupakan salah satu pintu masuk setan kepada anak Adam. Setan mendatangi manusia melalui berbagai cara, salah satunya dengan membuat seseorang berpura-pura bertakwa seraya berkata, “Aku takut kepada Allah.” Padahal, seandainya ia benar-benar takut kepada Allah Ta’ala, tentu ia tidak akan meninggalkan amal hanya karena alasan-alasan yang lemah. Masih bersambung Insya-Allah … Referensi: Fiqh As-Sirah. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Daar Tadmuriyyah.Baca Juga: Ketika Bekal Sedikit Jadi Banyak: Kisah Berkah di Perang Tabuk dan Rahasia Tauhid—- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 21 Juni 2026,  26 Dzulhijjah 1447 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq faedah sirah nabi Ghazwah Tabuk Infak di Jalan Allah Jihad dengan Harta kisah sahabat peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang tabuk sirah nabawiyah sirah nabi Surah At-Taubah umar bin khaththab utsman bin affan

Perang Tabuk: Ujian Keimanan dan Pengorbanan Terbesar di Masa Nabi ﷺ

Perang Tabuk bukanlah peperangan biasa. Perang ini terjadi ketika cuaca sangat panas, perjalanan sangat jauh, dan manusia sedang menikmati kenyamanan hidup serta masa panen yang menggiurkan. Justru dalam kondisi seperti itulah tampak siapa yang benar-benar beriman, siapa yang munafik, dan siapa yang rela mengorbankan seluruh hartanya demi agama Allah.  Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabatnya untuk bersiap pada bulan Rajab tahun kesembilan Hijriah guna menghadapi Romawi. Hal itu terjadi pada masa yang penuh kesulitan bagi manusia, saat cuaca sangat panas, negeri mengalami kekeringan, dan buah-buahan di Madinah sedang mulai matang. Pada saat seperti itu, manusia biasanya senang tinggal di kebun-kebun mereka dan berteduh di bawah naungannya. Jiwa manusia memang cenderung menyukai keadaan yang nyaman seperti itu.Biasanya Rasulullah ﷺ apabila hendak berangkat dalam suatu peperangan, beliau menyamarkan tujuan sebenarnya dan memberi kesan akan menuju tempat lain. Namun pada Perang Tabuk, beliau tidak melakukannya. Beliau menjelaskan tujuan yang sebenarnya kepada para sahabat karena jarak yang sangat jauh, beratnya perjalanan, kondisi yang sulit, dan besarnya kekuatan musuh. Beliau ingin agar mereka benar-benar bersiap. Karena itu beliau memerintahkan mereka untuk mempersiapkan perlengkapan perang dan memberitahukan bahwa yang akan dihadapi adalah bangsa Romawi. (Lihat: Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyyah yang dicetak bersama Ar-Raudh Al-Unuf, 4:137)Perang ini merupakan peperangan terakhir yang diikuti oleh Rasulullah ﷺ. (HR. Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain, 3:254, no. 6046. Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Hakim dan tidak dikritik oleh Adz-Dzahabi dalam ringkasannya)Adapun sebab terjadinya Perang Tabuk, para ulama sirah dan sejarah menyebutkan beberapa sebab. Di antara pendapat yang disebutkan adalah bahwa Rasulullah ﷺ menerima laporan dari para pedagang minyak Nabath yang datang ke Madinah bahwa pasukan Romawi telah berkumpul di wilayah Syam bersama Heraklius untuk memerangi kaum Muslimin. (Fath Al-Bari, 8:111). Pendapat ini dikuatkan oleh hadits Umar radhiyallahu ‘anhu tentang peristiwa ketika Rasulullah ﷺ memisahkan diri dari istri-istrinya.Baca juga: Heraklius (Kaisar Romawi) Bertanya Tentang Ajaran NabiDalam hadis tersebut Umar berkata, “Aku mempunyai seorang tetangga dari kaum Anshar dari Bani Umayyah bin Zaid yang tinggal di daerah pinggiran Madinah. Kami bergantian menghadiri majelis Nabi ﷺ. Suatu hari ia datang dan aku tidak, lalu pada hari yang lain aku datang dan ia tidak. Jika aku datang, aku menyampaikan kepadanya berita hari itu dan hal-hal lainnya. Jika ia datang, ia melakukan hal yang sama. Saat itu kami sering membicarakan bahwa Ghassan (suku Arab Nasrani yang tinggal di wilayah Syam) sedang menyiapkan kuda-kudanya untuk menyerang kami. Suatu malam, pada hari gilirannya, temanku pulang setelah Isya lalu mengetuk pintuku dengan keras. Ia berkata, ‘Apakah dia ada di dalam?’ Aku terkejut lalu keluar menemuinya. Ia berkata, ‘Peristiwa besar telah terjadi!’ Aku bertanya, ‘Apa itu? Apakah Ghassan sudah datang?’ Ia menjawab, ‘Tidak. Bahkan yang lebih besar dan lebih menggemparkan daripada itu sampai Rasulullah ﷺ bisa menceraikan istri-istrinya.’” (HR. Bukhari, no. 2468 dan Muslim, no. 1479)Ada pula pendapat lain. Peneliti kitab Adz-Dzahab Al-Masbuk fi Tahqiq Riwayat Ghazwah Tabuk berpendapat bahwa keluarnya Nabi ﷺ menuju Tabuk merupakan bagian dari misi ilahi yang lebih luas. Setelah peperangan-peperangan internal di Jazirah Arab berakhir, perhatian harus diarahkan ke luar Jazirah Arab untuk menyampaikan risalah Islam yang agung ini.Pendapat tersebut didasarkan pada firman Allah Ta’ala:قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir, yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya, serta tidak memeluk agama yang benar, yaitu dari kalangan Ahli Kitab, hingga mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At-Taubah: 29)Inilah perintah ilahi yang menjadi sebab utama terjadinya Perang Tabuk. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Mujahid, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Qatadah, Adh-Dhahhak bin Muzahim Al-Hilali, dan ulama lainnya rahimahumullah. (Abdul Qadir As-Sindi, Adz-Dzahab Al-Masbuk fi Tahqiq Riwayat Ghazwah Tabuk An-Nabawiyyah, hlm. 4. Asalnya merupakan tesis magister yang diterbitkan oleh Mathabi‘ Ar-Rasyid). Wallahu a‘lam.Rasulullah ﷺ mendorong kaum Muslimin untuk berinfak dan berkorban di jalan Allah. Orang-orang yang berbuat baik pun berlomba-lomba dalam kesempatan tersebut.Umar radhiyallahu ‘anhu ingin mengungguli Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dalam sedekah. Ia datang membawa setengah hartanya. Rasulullah ﷺ bertanya,“Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”Umar menjawab,“Yang semisal dengan ini.”Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu datang dengan membawa seluruh hartanya. Rasulullah ﷺ bertanya,“Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”Ia menjawab,“Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”Maka Umar berkata,“Aku tidak akan pernah dapat mengunggulimu dalam suatu perkara selamanya.”Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:“Aku tidak akan pernah dapat mengunggulimu dalam suatu perkara selamanya.”Utsman radhiyallahu ‘anhu menyumbangkan seribu dinar yang dituangkannya ke pangkuan Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ membolak-balik dinar-dinar itu dengan tangannya seraya bersabda,“Tidak akan membahayakan Utsman apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Beliau mengulang-ulang ucapan tersebut beberapa kali.Utsman juga menyumbangkan tiga ratus ekor unta lengkap dengan pelana dan perlengkapannya untuk Perang Tabuk.Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu datang membawa delapan ribu dirham. Yang lainnya pun datang membawa harta yang banyak. Bahkan para wanita mengirimkan perhiasan yang mereka mampu sumbangkan.Sekelompok sahabat datang menemui Rasulullah ﷺ. Mereka berjumlah tujuh orang. Mereka meminta kendaraan agar dapat ikut berangkat bersama beliau. Namun beliau tidak menemukan kendaraan untuk mereka. Akhirnya mereka kembali dalam keadaan sedih.Tentang mereka turun firman Allah Ta’ala,لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ۝ وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ“Tidak ada dosa atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang tidak mempunyai biaya untuk berinfak, apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan tidak pula berdosa atas orang-orang yang datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian.’ Mereka pun kembali, sementara mata mereka bercucuran air mata karena sedih tidak mendapatkan biaya untuk ikut berperang.” (QS. At-Taubah: 91–92)Ketika Rasulullah ﷺ bersiap untuk berangkat, sebagian orang munafik berkata, “Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.”Lalu Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ“Orang-orang yang ditinggalkan itu merasa gembira karena tetap tinggal di belakang Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan mereka berkata, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Katakanlah, ‘Api Jahannam itu jauh lebih panas,’ seandainya mereka memahami.” (QS. At-Taubah: 81)Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ketika kami diperintahkan untuk bersedekah, kami bekerja sebagai pengangkut barang. Lalu Abu ‘Aqil datang membawa setengah sha‘ makanan. Ada orang lain yang datang membawa sedekah lebih banyak darinya. Maka orang-orang munafik berkata, ‘Allah tidak membutuhkan sedekah orang ini. Adapun yang satunya lagi, ia tidak melakukannya kecuali karena riya.’”Lalu turun firman Allah Ta’ala:الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Orang-orang yang mencela kaum mukmin yang dengan sukarela bersedekah, dan juga mencela orang-orang yang tidak memperoleh apa-apa untuk disedekahkan kecuali sekadar kemampuan yang mereka miliki, lalu mereka memperolok-olok mereka; Allah akan membalas ejekan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 79)Ibnu Sa‘d rahimahullah berkata, “Beberapa orang munafik datang meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk tidak ikut berangkat tanpa alasan yang benar. Beliau memberi izin kepada mereka. Jumlah mereka sekitar delapan puluh orang. Kemudian datang pula orang-orang Arab Badui yang mempunyai uzur. Mereka menyampaikan alasan mereka agar diberi izin, tetapi beliau tidak memberi uzur kepada mereka. Jumlah mereka delapan puluh dua orang.”Allah Ta’ala berfirman,لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَّٱتَّبَعُوكَ وَلَٰكِنۢ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ ٱلشُّقَّةُ ۚ وَسَيَحْلِفُونَ بِٱللَّهِ لَوِ ٱسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَٰذِبُونَعَفَا ٱللَّهُ عَنكَ لِمَ أَذِنتَ لَهُمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَتَعْلَمَ ٱلْكَٰذِبِينَلَا يَسْتَـْٔذِنُكَ ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ أَن يُجَٰهِدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلْمُتَّقِينَإِنَّمَا يَسْتَـْٔذِنُكَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱرْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِى رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (QS. At-Taubah: 42-45)Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala ini berbicara tentang orang-orang munafik yang tidak ikut bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Tabuk. Mereka memilih tetap tinggal setelah sebelumnya meminta izin kepada beliau. Mereka menampilkan diri seolah-olah memiliki uzur, padahal kenyataannya tidak demikian.”Di antara orang-orang yang datang mengajukan alasan itu adalah Al-Jadd bin Qais dari Bani Salamah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Wahai Jadd, apakah tahun ini engkau bersedia ikut berperang menghadapi Bani Ashfar (Romawi)?”Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk tidak ikut dan janganlah engkau menjadikanku terkena fitnah. Aku khawatir akan tergoda jika melihat wanita-wanita Bani Ashfar.”Maka berkenaan dengannya Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ“Di antara mereka ada yang berkata, ‘Berilah aku izin (untuk tidak ikut berperang) dan janganlah engkau menjadikanku terjerumus ke dalam fitnah.’ Ketahuilah, justru mereka telah jatuh ke dalam fitnah. Sungguh, neraka Jahanam benar-benar mengepung orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 49)Sebagian orang munafik tidak hanya merasa cukup dengan tidak ikut berperang. Bahkan ada di antara mereka yang berusaha melemahkan semangat kaum mukminin dan menakut-nakuti mereka. Mereka berkata, “Pasukan Bani Ashfar akan menghancurkan orang-orang Arab satu demi satu. Demi Allah, besok kita semua akan terikat dengan tali sebagai tawanan.”Ucapan itu mereka lontarkan untuk menyebarkan ketakutan dan melemahkan semangat kaum mukminin.Ibnu Hisyam rahimahullah berkata, “Ada sekelompok orang munafik berkata kepada sebagian yang lain, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Mereka tidak bersemangat berjihad, ragu terhadap kebenaran, dan berusaha mengguncangkan kepercayaan kepada Rasulullah ﷺ. Lalu Allah Tabaraka wa Ta‘ala menurunkan firman-Nya tentang mereka,فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ ۝ فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ“Orang-orang yang ditinggalkan itu merasa gembira karena tetap tinggal di belakang Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan mereka berkata, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Katakanlah, ‘Api Neraka Jahanam jauh lebih panas,’ sekiranya mereka memahami. Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak sebagai balasan atas apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah: 81–82)Ada pula kelompok lain yang mengejek kaum mukminin. Dalam Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah disebutkan, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Pada Perang Tabuk, ada seseorang berkata dalam suatu majelis, ‘Kami tidak pernah melihat orang seperti para pembaca Al-Qur’an ini; mereka paling rakus perutnya, paling dusta lisannya, dan paling pengecut ketika bertemu musuh.’Lalu seseorang yang berada di masjid berkata, ‘Engkau dusta, bahkan engkau munafik. Aku akan menyampaikan ucapanmu itu kepada Rasulullah ﷺ.’Ucapan itu pun sampai kepada Rasulullah ﷺ, lalu turunlah Al-Qur’an. Abdullah bin Umar berkata, ‘Aku melihat orang itu bergantung pada tali pelana unta Rasulullah ﷺ sementara batu-batu menghantam kakinya. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, kami hanya bercanda dan bermain-main.” Sedangkan Rasulullah ﷺ terus membacakan firman Allah,أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Janganlah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” (QS. At-Taubah: 65–66)Rasulullah ﷺ juga meninggalkan Ali radhiyallahu ‘anhu sebagai pengganti beliau. Ali berkata, “Apakah engkau meninggalkanku bersama anak-anak dan kaum wanita?” Beliau bersabda, “Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?”Ada pula beberapa kaum muslimin yang tidak ikut berangkat bukan karena ragu atau kemunafikan, tetapi karena menunda-nunda hingga akhirnya kehilangan kesempatan untuk berangkat bersama pasukan. Di antara mereka adalah Ka‘ab bin Malik, Murarah bin Ar-Rabi‘, dan Hilal bin Umayyah radhiyallahu ‘anhum.Baca juga: Jujur yang Menyelamatkan, Pelajaran Besar dari Tobat Ka’ab bin MalikAbu Dzar dan Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhuma juga sempat tertinggal. Namun, keduanya kemudian menyusul Rasulullah ﷺ.Adapun Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, beliau menceritakan tentang dirinya, “Aku tertinggal dari Rasulullah ﷺ pada Perang Tabuk. Setelah Rasulullah ﷺ berangkat, aku masuk ke kebunku. Aku melihat sebuah gubuk yang telah diperciki air agar sejuk, lalu aku melihat istriku. Aku berkata, ‘Apa ini? Sungguh tidak adil. Rasulullah ﷺ berada di tengah terik matahari dan panas yang menyengat, sedangkan aku berada di tempat yang teduh dan penuh kenikmatan.’Lalu aku menuju seekor unta muda, aku pelana dan menyiapkannya. Aku juga mengambil beberapa butir kurma sebagai bekal. Setelah itu aku berangkat untuk menyusul Rasulullah ﷺ.Ketika aku telah mendekati pasukan, orang-orang melihatku. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Jadilah dia Abu Khaitsamah.’Ketika aku telah dekat, aku berkata, ‘Benarlah, wahai Rasulullah, aku memang Abu Khaitsamah.’Lalu aku menceritakan apa yang telah terjadi kepadaku. Rasulullah ﷺ pun bersabda, ‘Semoga itu menjadi kebaikan,’ kemudian beliau mendoakanku.”Adapun Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, untanya berjalan sangat lambat sehingga menghambat perjalanannya. Ia pun mengambil barang-barangnya dari atas unta, memanggulnya di punggungnya, lalu berjalan kaki mengikuti Rasulullah ﷺ.Suatu ketika Rasulullah ﷺ singgah di salah satu tempat. Beliau memandang ke arah kaum muslimin, lalu melihat seseorang berjalan kaki di kejauhan. Beliau bersabda, “Semoga dia adalah Abu Dzar.”Ketika orang-orang memperhatikan lebih saksama, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, dia memang Abu Dzar.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Ia berjalan seorang diri, akan meninggal seorang diri, dan akan dibangkitkan seorang diri.” Pelajaran yang Dipetik dari Perang TabukPertama: Perang Tabuk merupakan pengumpulan pasukan terbesar dalam peperangan yang dipimpin Rasulullah ﷺ. Peperangan ini juga merupakan peperangan terakhir yang beliau ikuti. Seakan-akan perang ini menjadi isyarat bahwa setelah beliau ﷺ, kaum Muslimin akan bergerak keluar Jazirah Arab untuk menyebarkan Islam, setelah agama ini kokoh di Jazirah Arab, seluruh kekuatan besar di dalamnya berhasil ditaklukkan, dan manusia dari berbagai penjuru masuk Islam.Maka yang tersisa adalah para dai mengajak manusia kepada Allah dan pasukan jihad bergerak keluar Jazirah Arab. Rasulullah ﷺ memang diutus untuk seluruh manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Saba’: 28)Dan firman-Nya:وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)Kedua: Allah menghendaki agar perang ini terjadi dalam tiga keadaan yang berkumpul sekaligus, yang masing-masing merupakan ujian berat bagi kaum mukminin dan sarana penyaringan keimanan mereka:Keadaan sulit, sempit, dan kekurangan harta.Buah-buahan sedang matang, tempat tinggal terasa nyaman, sementara cuaca sangat panas bagi para musafir.Jarak perjalanan yang sangat jauh dan penuh kesulitan. Tabuk berjarak lebih dari tujuh ratus mil dari Madinah melalui jalan berpasir yang tidak berpenghuni. Perjalanan di sana sangat berat dan rasa haus sangat menyiksa manusia maupun hewan.Karena itu, dorongan untuk tetap tinggal sangat besar, sedangkan tantangan untuk keluar berjihad juga sangat berat. Jarak yang jauh juga mengharuskan pasukan meninggalkan Madinah dalam waktu yang lama. Ini menjadi kesulitan tambahan di samping kesulitan-kesulitan sebelumnya. Pasukan yang menempuh perjalanan sejauh itu tentu tidak diperkirakan akan segera kembali. Dan memang demikian yang terjadi. Rasulullah ﷺ bersama pasukan besar tersebut meninggalkan Madinah selama dua bulan, sejak awal Rajab hingga awal Ramadan.Catatan: Jarak Madinah ke Tabuk sekitar 631 KM.Ketiga: Perang ini menjadi ujian besar bagi masyarakat Muslim. Orang-orang beriman yang terbaik tampak jelas keutamaannya. Mereka berlomba-lomba berinfak dan mengorbankan harta mereka seolah-olah telah menjual seluruh dunia dan membeli akhirat sebagai gantinya.Sebaliknya, kemunafikan pun tersingkap. Surah At-Taubah turun membongkar keadaan mereka dan menyingkap rahasia-rahasia mereka. Ayat-ayat terus turun dengan ungkapan, “Di antara mereka ada yang…”, “Dan di antara mereka ada yang…”, serta “Sebagian mereka…”.Hal ini menunjukkan bahwa kemunafikan di Madinah bertambah seiring bertambahnya kekuatan kaum mukminin, baik karena rasa takut maupun karena ambisi tertentu.Karena itu, mereka perlu dijelaskan kepada umat. Sebab, golongan seperti ini tidak akan pernah hilang dari setiap zaman dan tempat. Hanya saja jumlah mereka bertambah atau berkurang sesuai dengan kuat dan lemahnya kaum Muslimin.Maka tampaklah teladan yang baik dari masyarakat Muslim yang segera menyambut perintah Allah. Di saat yang sama, umat diperingatkan dari kelompok yang rusak tersebut dengan berbagai sifat yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, agar siapa pun yang memiliki sifat-sifat itu mendapatkan hukum yang sama.Keempat: Disyariatkannya berjihad dengan harta. Bahkan jihad dengan harta sering disebutkan lebih dahulu daripada jihad dengan jiwa dalam banyak ayat Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 15)Yang menguatkan makna ini dan menjelaskannya adalah sabda Rasulullah ﷺ kepada Utsman radhiyallahu ‘anhu:«مَا ضَرَّ ابْنَ عَفَّانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ»“Tidak akan membahayakan Ibnu Affan (Utsman) apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Beliau mengulang-ulang ucapan tersebut beberapa kali.Sabda ini menunjukkan besarnya keutamaan berjihad dengan harta. Rasulullah ﷺ mengucapkannya kepada Utsman ketika beliau berjihad dengan hartanya. Ini merupakan peluang besar bagi orang-orang kaya untuk berjihad di jalan Allah dengan harta mereka melalui berbagai bentuk jihad. Jihad tidak hanya terbatas pada peperangan atau sekadar menyiapkan perlengkapan perang.Kelima: Disyariatkannya berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita melihat bahwa ketika Rasulullah ﷺ mengajak kaum Muslimin untuk bersedekah dan berinfak dalam Perang Tabuk, Umar radhiyallahu ‘anhu segera berusaha menyaingi dan mendahului Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Umar bersedekah dengan setengah hartanya karena mengira kali ini ia dapat mendahului Abu Bakar. Namun ternyata Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengunggulinya dengan menyedekahkan seluruh hartanya.Keenam: Tampak jelas keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang datang membawa seluruh hartanya untuk berjihad di jalan Allah. Hal ini menunjukkan kuatnya tawakal beliau kepada Allah dan kokohnya keimanannya.Demikian pula tampak keutamaan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang datang dengan setengah hartanya.Begitu juga keutamaan Utsman radhiyallahu ‘anhu yang menyedekahkan harta yang sangat besar, hingga Rasulullah ﷺ bersabda tentang dirinya: “Tidak akan membahayakan Ibnu Affan (Utsman) apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Ketujuh: Kita dapat memperhatikan bahwa Rasulullah ﷺ berkhutbah dan mendorong manusia untuk bersedekah. Lalu Utsman radhiyallahu ‘anhu berdiri dan mengumumkan sedekahnya di hadapan orang banyak. Hal ini mengarahkan perhatian kita kepada satu pembahasan penting, yaitu: manakah yang lebih utama, menampakkan sedekah atau menyembunyikannya?Tampaknya, hal itu berbeda-beda sesuai tujuan dan maslahat sedekah tersebut. Jika sedekah itu untuk kepentingan umum dan dengan diumumkan dapat mendorong orang lain untuk meneladani pemberi sedekah, maka menampakkannya lebih maslahat. Namun jika sedekah itu diberikan kepada orang tertentu, maka menyembunyikannya lebih utama sebagai bentuk menjaga perasaan orang tersebut agar tidak tersinggung karena sedekahnya diumumkan.Hal ini dipahami dari firman Allah Ta’ala:إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Jika kalian menampakkan sedekah-sedekah kalian, maka itu adalah sesuatu yang baik. Namun jika kalian menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagi kalian. Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahan kalian. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271)Syaikh As-Sa‘di rahimahullah berkata: “Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa sedekah yang dirahasiakan kepada orang fakir lebih utama daripada sedekah yang diumumkan. Adapun jika sedekah tersebut tidak diberikan kepada orang fakir, maka makna ayat menunjukkan bahwa merahasiakannya tidak selalu lebih baik daripada menampakkannya. Dalam kondisi seperti itu, pertimbangannya kembali kepada maslahat. Jika dengan menampakkannya dapat menampakkan syiar agama dan mendorong orang lain untuk meneladani, maka hal itu lebih utama daripada merahasiakannya.”Karena itu, dalam sebagian kegiatan lembaga sosial atau penggalangan dana untuk korban bencana dan proyek-proyek kebaikan lainnya, pengumuman nama para donatur terkadang perlu dilakukan dengan memperhatikan maslahat ini. Wallahu a‘lam.Kedelapan: Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu datang membawa seluruh hartanya kepada Rasulullah ﷺ lalu beliau menerimanya.Dalam Sunan Abi Dawud disebutkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ membawa emas sebesar telur. Ia berkata,“Wahai Rasulullah, aku memperoleh emas ini dari hasil tambang. Ambillah sebagai sedekah. Aku tidak memiliki selain ini.”Namun Rasulullah ﷺ berpaling darinya. Orang itu mendatangi beliau dari arah kanan, lalu beliau berpaling. Ia datang lagi dari arah kiri, lalu beliau berpaling. Kemudian ia datang dari belakang beliau, lalu Rasulullah ﷺ mengambil emas itu dan melemparkannya kepadanya. Seandainya mengenai wajah atau kepalanya, tentu akan melukainya.Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,“Datang salah seorang di antara kalian membawa seluruh hartanya lalu berkata, ‘Ini sedekah.’ Setelah itu ia duduk meminta-minta kepada manusia. Sedekah yang terbaik adalah sedekah yang diberikan dari harta yang masih menyisakan kecukupan.”Ketika taubat Ka‘ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu diterima, ia berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Sebagai bentuk taubatku, aku ingin menyedekahkan seluruh hartaku kepada Allah dan Rasul-Nya.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda,«أَمْسِكْ عَلَيْكَ بَعْضَ مَالِكَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ»“Pertahankan sebagian hartamu, itu lebih baik bagimu.”³Padahal Rasulullah ﷺ menerima sedekah seluruh harta dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, sementara beliau menolak orang yang ingin menyedekahkan seluruh hartanya dan menasihati Ka‘ab radhiyallahu ‘anhu agar menyisakan sebagian hartanya.Rasulullah ﷺ memperlakukan setiap orang sesuai dengan kondisi yang paling baik bagi dirinya. Beliau tidak mengingkari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu karena mengetahui kuatnya kesabaran, keyakinan, dan tawakal beliau.Adapun orang yang tidak mampu menanggung akibat menyedekahkan seluruh hartanya, maka perlakuannya berbeda. Seseorang tidak dianjurkan menyedekahkan seluruh hartanya jika dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah bagi dirinya atau ia tidak mampu bersabar menghadapi kemiskinan.Inilah salah satu bentuk hikmah dalam berdakwah kepada Allah, yaitu memperhatikan perbedaan karakter manusia, tingkat keimanan mereka, kemampuan mereka dalam menanggung kesulitan, dan memperlakukan setiap orang sesuai keadaannya.Kesembilan: Pada Perang Tabuk tampak jelas keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ketika Rasulullah ﷺ meninggalkannya sebagai pengganti beliau di Madinah. Beliau bersabda kepadanya, “Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?”Kesepuluh: Sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah orang-orang miskin. Namun demikian, mereka tetap ikut berinfak. Di antara mereka ada yang menyumbangkan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum. Bagi sebagian mereka, itulah separuh dari seluruh harta yang dimilikinya. Seseorang datang membawa satu sha’, sementara satu sha’ lagi ia tinggalkan untuk keluarganya, padahal ia akan meninggalkan mereka dalam perjalanan yang panjang ini.Jadi, yang menjadi tolok ukur bukanlah besarnya nilai harta yang disedekahkan, tetapi nilai pengorbanan diri dan kesediaan mengeluarkan apa yang dimiliki. Satu sha’ yang disedekahkan oleh orang seperti ini pada hakikatnya sebanding dengan setengah harta orang kaya. Pengorbanan dalam keadaan seperti itu sangat besar, dan pahalanya pun sangat agung.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,«سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ». قَالُوا: وَكَيْفَ؟ قَالَ: «كَانَ لِرَجُلٍ دِرْهَمَانِ، فَتَصَدَّقَ بِأَحَدِهِمَا، وَانْطَلَقَ رَجُلٌ إِلَى عُرْضِ مَالِهِ، فَأَخَذَ مِنْهُ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ، فَتَصَدَّقَ بِهَا».“Satu dirham mampu mengungguli pahala seratus ribu dirham.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana bisa?”Beliau menjawab, “Ada seseorang yang hanya memiliki dua dirham, lalu ia menyedekahkan satu dirham darinya. Sedangkan orang lain memiliki harta yang sangat banyak, lalu ia mengambil seratus ribu dirham dari hartanya dan menyedekahkannya.” (HR. An-Nasa’i, no. 2527 dan Ahmad, no. 8929. Hadits ini hasan).Karena itu, ketika seorang muslim diuji dengan hartanya, baik sedikit maupun banyak, yang terpenting adalah pengorbanan diri, mendahulukan apa yang Allah cintai daripada kepentingan dirinya sendiri, serta tidak meninggalkan kesempatan untuk berlomba-lomba menuju keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Kesebelas: Sekelompok orang datang kepada Rasulullah ﷺ meminta agar beliau menyediakan kendaraan untuk mereka. Namun, beliau tidak menemukan kendaraan yang dapat diberikan kepada mereka. Mereka pun pulang dengan hati sedih karena tidak memiliki bekal untuk berangkat. Tentang mereka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya,لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ۝ وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ“Tidak ada dosa atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang tidak mempunyai sesuatu untuk mereka infakkan, apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Demikian pula tidak ada dosa atas orang-orang yang ketika datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian,’ kemudian mereka kembali dengan mata bercucuran air mata karena sedih tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan.” (QS. At-Taubah: 91–92)Bukankah seorang muslim yang hidup pada masa penuh kelemahan seperti sekarang patut meneladani orang-orang lemah tersebut? Mereka benar-benar tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika tidak memiliki sesuatu yang dapat mereka persembahkan, mata mereka bercucuran air mata karena sedih tidak mampu memberikan sesuatu yang dapat menolong Islam dan kaum muslimin. Allah Yang Mahamulia tidak mencela mereka, bahkan memuji mereka, sebagaimana dipahami dari ayat-ayat tersebut. Wallahu a’lam.Maka, ketika seorang muslim melihat adanya pelecehan terhadap agama Allah, terhadap Allah, Rasul-Nya, dan syariat-Nya, sementara ia tidak memiliki kemampuan untuk berbuat banyak, hendaklah ia tetap memiliki ketulusan kepada Allah dan Rasul-Nya di dalam hatinya serta tekad yang jujur. Seandainya ia memiliki kemampuan, niscaya ia akan membela agama Allah dan menolongnya.Merekalah orang-orang yang sesuai dengan penjelasan As-Sa’di rahimahullah dalam menafsirkan ayat tersebut: mereka tidak berdosa selama mereka benar-benar tulus kepada Allah dan Rasul-Nya, memiliki keimanan yang jujur, berniat kuat bahwa seandainya mampu mereka pasti berjihad, serta melakukan segala bentuk dorongan, anjuran, dan motivasi untuk berjihad sesuai kemampuan mereka.Apabila seorang hamba telah melakukan yang terbaik sesuai kemampuannya, maka gugurlah kewajiban yang tidak sanggup ia lakukan. Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang mengampuni orang-orang yang tidak mampu, merahmati mereka, dan memberikan kepada mereka pahala yang sama seperti orang-orang yang mampu dan benar-benar melakukannya.Ketika gugur kewajiban dari mereka, hukum kembali kepada asalnya, yaitu berniat melakukan kebaikan. Jika niat itu disertai dengan kesungguhan berusaha semampunya, tetapi ia tetap tidak mampu melaksanakannya, maka ia memperoleh kedudukan seperti orang yang benar-benar mengerjakannya.Inilah salah satu karunia Allah kepada hamba-hamba-Nya pada masa-masa kaum muslimin berada dalam keadaan lemah, ketika kekuatan-kekuatan keburukan dan permusuhan bersatu menyerang mereka, sementara kaum muslimin tidak memiliki kekuatan dan daya untuk menghadapinya. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menempuh jalan ini, yaitu membenarkan Allah dengan sepenuh hati. Hati mereka bersedih, mata mereka bercucuran air mata, doa terus dipanjatkan, dan kesedihan mereka diterima di sisi Allah. Allah Yang Mahamulia mengetahui keadaan mereka. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Pahala mereka tetap terjaga, dan pertolongan Allah, dengan izin-Nya, akan segera datang.Ini juga merupakan bentuk keringanan syariat. Namun, di sisi lain tetap ada tuntutan, yaitu harus memiliki ketulusan kepada Allah dan Rasul-Nya.إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ“Apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya.”Karena itu, tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk bermalas-malasan dalam perkara yang masih mampu ia lakukan. Seorang mukmin juga tidak boleh hidup dengan hati yang mati, tidak peduli terhadap penderitaan kaum muslimin hanya dengan alasan dirinya tidak mampu berbuat banyak. Masih ada kemampuan yang tidak pernah gugur dari seorang muslim dan tidak ada uzur untuk meninggalkannya, yaitu hati yang sedih, mata yang menangis, ikut merasakan penderitaan mereka, dan mendoakan kaum muslimin, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Wallahu a’lam.Kedua belas: Ketika kaum mukminin berlomba-lomba bersedekah sesuai kemampuan masing-masing, orang yang kaya bersedekah dengan jumlah yang banyak, sedangkan yang miskin bersedekah dengan sedikit. Namun, orang-orang munafik tidak pernah membiarkan seorang pun. Jika mereka melihat orang kaya bersedekah dalam jumlah besar, mereka berkata, “Ini hanya ingin pamer.” Sebaliknya, jika mereka melihat orang miskin bersedekah sedikit, mereka berkata, “Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan sedekah orang kaya ini.”Golongan seperti ini selalu ada di setiap masyarakat kaum muslimin. Karena itu, hendaknya seorang mukmin segera melakukan amal-amal saleh dan tidak memedulikan perkataan orang-orang yang hanya gemar mencela di tengah masyarakat muslim, yang pekerjaan mereka hanyalah mengkritik si fulan dan menuduh si fulan.Ketiga belas: ‘Ulbah bin Zaid radhiyallahu ’anhu, seorang sahabat yang miskin, ketika tidak memiliki sesuatu yang dapat diinfakkan di jalan Allah, menghabiskan malamnya dengan memohon maaf kepada Rabbnya. Ia juga menyedekahkan kepada kaum muslimin setiap kezaliman yang pernah mereka lakukan terhadap dirinya, baik yang berkaitan dengan harta, kehormatan, maupun tubuhnya.Keesokan paginya, ketika Rasulullah ﷺ bersama para sahabat, beliau bersabda, “Siapakah yang bersedekah tadi malam?”Setelah Rasulullah ﷺ mengulang pertanyaan itu, ‘Ulbah radhiyallahu ’anhu berdiri dan memberitahukannya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Bergembiralah, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh sedekahmu telah dicatat sebagai sedekah yang diterima.”Kecintaan kepada jihad telah memenuhi hati para sahabat yang mulia hingga mereka menghabiskan malam dalam kesedihan karena tidak memiliki kendaraan yang dapat mengantarkan mereka berjihad. Mereka juga tidak memiliki harta untuk disumbangkan di jalan Allah. Akhirnya, yang mereka miliki hanyalah kezaliman yang pernah dilakukan kaum muslimin terhadap diri mereka, lalu mereka jadikan itu sebagai sedekah.Yang terpenting adalah hidupnya hati dan perasaan bahwa dirinya merupakan bagian dari masyarakat muslim. Karena itu, setiap muslim harus memiliki andil sesuai kemampuannya, meskipun yang dapat ia berikan hanyalah kehormatan dirinya, hartanya, atau tenaganya.Beginilah kehidupan yang dahulu membuat kaum muslimin mampu menaklukkan berbagai negeri, mengajak manusia kepada Allah, dan menyebarkan agama-Nya.Keempat belas: Waspadalah terhadap irjaf (menebarkan ketakutan dan keresahan), yaitu menakut-nakuti kaum muslimin dengan membesar-besarkan kekuatan musuh, meremehkan kekuatan kaum muslimin, serta menggambarkan bahwa kekalahan pasukan kaum muslimin sudah di ambang pintu, dengan tujuan melemahkan semangat mereka.Sebagian orang munafik pernah berkata pada Perang Tabuk, “Apakah kalian mengira memerangi Bani Ashfar (Romawi) seperti orang-orang Arab saling berperang? Demi Allah, besok kalian pasti akan terbelenggu dengan rantai.”Allah Ta’ala berfirman,لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا ۝ مَلْعُونِينَ ۖ أَيْنَمَا ثُقِفُوا أُخِذُوا وَقُتِّلُوا تَقْتِيلًا ۝ سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا“Sungguh, jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya, dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari perbuatannya), niscaya Kami perintahkan engkau (memerangi) mereka, kemudian mereka tidak lagi menjadi tetanggamu (di Madinah), kecuali sebentar. Mereka dalam keadaan terlaknat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka akan ditangkap dan dibunuh tanpa ampun. Sebagai sunah Allah yang berlaku terhadap orang-orang terdahulu. Dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunah Allah.” (QS. Al-Ahzab: 60–62)As-Sa’di rahimahullah berkata tentang firman Allah, “dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah,” yaitu orang-orang yang menakut-nakuti kaum muslimin dengan membesar-besarkan musuh, menyebut banyaknya jumlah dan kekuatan mereka, serta kelemahan kaum muslimin. Mereka tidak menyebutkan hal-hal yang seharusnya dapat meringankan keadaan tersebut. Bahkan mereka menyebarkan segala sesuatu yang menimbulkan rasa takut, mengajak kepada keburukan berupa melemahkan Islam dan kaum muslimin, serta menebarkan keresahan dan meruntuhkan semangat mereka.Perbuatan menyebarkan keresahan seperti ini juga dapat terjadi pada sebagian orang di tengah masyarakat Islam tanpa mereka sadari. Hal itu terjadi karena mereka mengikuti berita-berita musuh lalu menyebarkannya begitu saja tanpa melakukan tabayun terlebih dahulu, padahal di dalamnya terdapat hal-hal yang tidak boleh disampaikan kepada masyarakat karena dapat menimbulkan ketakutan di hati mereka. Dengan demikian, tanpa disadari ia telah melakukan irjaf. Seorang muslim harus berhati-hati agar tidak menjadi corong musuh atau membantu musuh tanpa disadarinya, terutama pada masa-masa krisis dan kesulitan.Kelima belas: Kelompok lain dari orang-orang munafik selalu mencari-cari alasan, atau bahkan menciptakan alasan untuk tidak ikut berangkat. Mereka berkata,لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ“Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.”Mencari-cari alasan adalah kebiasaan orang-orang yang malas dan suka hidup nyaman. Ketika musim panas tiba, mereka beralasan karena teriknya matahari. Ketika musim dingin datang, mereka beralasan karena dinginnya udara. Begitulah sepanjang hidup mereka berpindah dari satu alasan ke alasan yang lain demi mencari kenyamanan.Janganlah menyia-nyiakan waktu. Jika engkau merasakan panasnya matahari, ingatlah panasnya Neraka Jahanam. Allah telah menjawab berbagai alasan mereka melalui firman-Nya,إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia.”Bahkan ada sebagian orang yang menjadikan penampilan seolah-olah bertakwa dan saleh sebagai alasan, atau berdalih takut terjatuh ke dalam fitnah.Di antara mereka ada yang berkata,ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ“Berilah aku izin (untuk tidak ikut berperang) dan janganlah engkau menjadikanku terjerumus ke dalam fitnah. Ketahuilah, sesungguhnya mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sungguh, Neraka Jahanam benar-benar mengepung orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 49)Walaupun alasan tersebut keluar dari seorang munafik, pada kenyataannya itu merupakan salah satu pintu masuk setan kepada anak Adam. Setan mendatangi manusia melalui berbagai cara, salah satunya dengan membuat seseorang berpura-pura bertakwa seraya berkata, “Aku takut kepada Allah.” Padahal, seandainya ia benar-benar takut kepada Allah Ta’ala, tentu ia tidak akan meninggalkan amal hanya karena alasan-alasan yang lemah. Masih bersambung Insya-Allah … Referensi: Fiqh As-Sirah. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Daar Tadmuriyyah.Baca Juga: Ketika Bekal Sedikit Jadi Banyak: Kisah Berkah di Perang Tabuk dan Rahasia Tauhid—- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 21 Juni 2026,  26 Dzulhijjah 1447 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq faedah sirah nabi Ghazwah Tabuk Infak di Jalan Allah Jihad dengan Harta kisah sahabat peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang tabuk sirah nabawiyah sirah nabi Surah At-Taubah umar bin khaththab utsman bin affan
Perang Tabuk bukanlah peperangan biasa. Perang ini terjadi ketika cuaca sangat panas, perjalanan sangat jauh, dan manusia sedang menikmati kenyamanan hidup serta masa panen yang menggiurkan. Justru dalam kondisi seperti itulah tampak siapa yang benar-benar beriman, siapa yang munafik, dan siapa yang rela mengorbankan seluruh hartanya demi agama Allah.  Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabatnya untuk bersiap pada bulan Rajab tahun kesembilan Hijriah guna menghadapi Romawi. Hal itu terjadi pada masa yang penuh kesulitan bagi manusia, saat cuaca sangat panas, negeri mengalami kekeringan, dan buah-buahan di Madinah sedang mulai matang. Pada saat seperti itu, manusia biasanya senang tinggal di kebun-kebun mereka dan berteduh di bawah naungannya. Jiwa manusia memang cenderung menyukai keadaan yang nyaman seperti itu.Biasanya Rasulullah ﷺ apabila hendak berangkat dalam suatu peperangan, beliau menyamarkan tujuan sebenarnya dan memberi kesan akan menuju tempat lain. Namun pada Perang Tabuk, beliau tidak melakukannya. Beliau menjelaskan tujuan yang sebenarnya kepada para sahabat karena jarak yang sangat jauh, beratnya perjalanan, kondisi yang sulit, dan besarnya kekuatan musuh. Beliau ingin agar mereka benar-benar bersiap. Karena itu beliau memerintahkan mereka untuk mempersiapkan perlengkapan perang dan memberitahukan bahwa yang akan dihadapi adalah bangsa Romawi. (Lihat: Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyyah yang dicetak bersama Ar-Raudh Al-Unuf, 4:137)Perang ini merupakan peperangan terakhir yang diikuti oleh Rasulullah ﷺ. (HR. Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain, 3:254, no. 6046. Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Hakim dan tidak dikritik oleh Adz-Dzahabi dalam ringkasannya)Adapun sebab terjadinya Perang Tabuk, para ulama sirah dan sejarah menyebutkan beberapa sebab. Di antara pendapat yang disebutkan adalah bahwa Rasulullah ﷺ menerima laporan dari para pedagang minyak Nabath yang datang ke Madinah bahwa pasukan Romawi telah berkumpul di wilayah Syam bersama Heraklius untuk memerangi kaum Muslimin. (Fath Al-Bari, 8:111). Pendapat ini dikuatkan oleh hadits Umar radhiyallahu ‘anhu tentang peristiwa ketika Rasulullah ﷺ memisahkan diri dari istri-istrinya.Baca juga: Heraklius (Kaisar Romawi) Bertanya Tentang Ajaran NabiDalam hadis tersebut Umar berkata, “Aku mempunyai seorang tetangga dari kaum Anshar dari Bani Umayyah bin Zaid yang tinggal di daerah pinggiran Madinah. Kami bergantian menghadiri majelis Nabi ﷺ. Suatu hari ia datang dan aku tidak, lalu pada hari yang lain aku datang dan ia tidak. Jika aku datang, aku menyampaikan kepadanya berita hari itu dan hal-hal lainnya. Jika ia datang, ia melakukan hal yang sama. Saat itu kami sering membicarakan bahwa Ghassan (suku Arab Nasrani yang tinggal di wilayah Syam) sedang menyiapkan kuda-kudanya untuk menyerang kami. Suatu malam, pada hari gilirannya, temanku pulang setelah Isya lalu mengetuk pintuku dengan keras. Ia berkata, ‘Apakah dia ada di dalam?’ Aku terkejut lalu keluar menemuinya. Ia berkata, ‘Peristiwa besar telah terjadi!’ Aku bertanya, ‘Apa itu? Apakah Ghassan sudah datang?’ Ia menjawab, ‘Tidak. Bahkan yang lebih besar dan lebih menggemparkan daripada itu sampai Rasulullah ﷺ bisa menceraikan istri-istrinya.’” (HR. Bukhari, no. 2468 dan Muslim, no. 1479)Ada pula pendapat lain. Peneliti kitab Adz-Dzahab Al-Masbuk fi Tahqiq Riwayat Ghazwah Tabuk berpendapat bahwa keluarnya Nabi ﷺ menuju Tabuk merupakan bagian dari misi ilahi yang lebih luas. Setelah peperangan-peperangan internal di Jazirah Arab berakhir, perhatian harus diarahkan ke luar Jazirah Arab untuk menyampaikan risalah Islam yang agung ini.Pendapat tersebut didasarkan pada firman Allah Ta’ala:قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir, yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya, serta tidak memeluk agama yang benar, yaitu dari kalangan Ahli Kitab, hingga mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At-Taubah: 29)Inilah perintah ilahi yang menjadi sebab utama terjadinya Perang Tabuk. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Mujahid, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Qatadah, Adh-Dhahhak bin Muzahim Al-Hilali, dan ulama lainnya rahimahumullah. (Abdul Qadir As-Sindi, Adz-Dzahab Al-Masbuk fi Tahqiq Riwayat Ghazwah Tabuk An-Nabawiyyah, hlm. 4. Asalnya merupakan tesis magister yang diterbitkan oleh Mathabi‘ Ar-Rasyid). Wallahu a‘lam.Rasulullah ﷺ mendorong kaum Muslimin untuk berinfak dan berkorban di jalan Allah. Orang-orang yang berbuat baik pun berlomba-lomba dalam kesempatan tersebut.Umar radhiyallahu ‘anhu ingin mengungguli Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dalam sedekah. Ia datang membawa setengah hartanya. Rasulullah ﷺ bertanya,“Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”Umar menjawab,“Yang semisal dengan ini.”Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu datang dengan membawa seluruh hartanya. Rasulullah ﷺ bertanya,“Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”Ia menjawab,“Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”Maka Umar berkata,“Aku tidak akan pernah dapat mengunggulimu dalam suatu perkara selamanya.”Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:“Aku tidak akan pernah dapat mengunggulimu dalam suatu perkara selamanya.”Utsman radhiyallahu ‘anhu menyumbangkan seribu dinar yang dituangkannya ke pangkuan Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ membolak-balik dinar-dinar itu dengan tangannya seraya bersabda,“Tidak akan membahayakan Utsman apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Beliau mengulang-ulang ucapan tersebut beberapa kali.Utsman juga menyumbangkan tiga ratus ekor unta lengkap dengan pelana dan perlengkapannya untuk Perang Tabuk.Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu datang membawa delapan ribu dirham. Yang lainnya pun datang membawa harta yang banyak. Bahkan para wanita mengirimkan perhiasan yang mereka mampu sumbangkan.Sekelompok sahabat datang menemui Rasulullah ﷺ. Mereka berjumlah tujuh orang. Mereka meminta kendaraan agar dapat ikut berangkat bersama beliau. Namun beliau tidak menemukan kendaraan untuk mereka. Akhirnya mereka kembali dalam keadaan sedih.Tentang mereka turun firman Allah Ta’ala,لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ۝ وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ“Tidak ada dosa atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang tidak mempunyai biaya untuk berinfak, apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan tidak pula berdosa atas orang-orang yang datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian.’ Mereka pun kembali, sementara mata mereka bercucuran air mata karena sedih tidak mendapatkan biaya untuk ikut berperang.” (QS. At-Taubah: 91–92)Ketika Rasulullah ﷺ bersiap untuk berangkat, sebagian orang munafik berkata, “Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.”Lalu Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ“Orang-orang yang ditinggalkan itu merasa gembira karena tetap tinggal di belakang Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan mereka berkata, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Katakanlah, ‘Api Jahannam itu jauh lebih panas,’ seandainya mereka memahami.” (QS. At-Taubah: 81)Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ketika kami diperintahkan untuk bersedekah, kami bekerja sebagai pengangkut barang. Lalu Abu ‘Aqil datang membawa setengah sha‘ makanan. Ada orang lain yang datang membawa sedekah lebih banyak darinya. Maka orang-orang munafik berkata, ‘Allah tidak membutuhkan sedekah orang ini. Adapun yang satunya lagi, ia tidak melakukannya kecuali karena riya.’”Lalu turun firman Allah Ta’ala:الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Orang-orang yang mencela kaum mukmin yang dengan sukarela bersedekah, dan juga mencela orang-orang yang tidak memperoleh apa-apa untuk disedekahkan kecuali sekadar kemampuan yang mereka miliki, lalu mereka memperolok-olok mereka; Allah akan membalas ejekan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 79)Ibnu Sa‘d rahimahullah berkata, “Beberapa orang munafik datang meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk tidak ikut berangkat tanpa alasan yang benar. Beliau memberi izin kepada mereka. Jumlah mereka sekitar delapan puluh orang. Kemudian datang pula orang-orang Arab Badui yang mempunyai uzur. Mereka menyampaikan alasan mereka agar diberi izin, tetapi beliau tidak memberi uzur kepada mereka. Jumlah mereka delapan puluh dua orang.”Allah Ta’ala berfirman,لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَّٱتَّبَعُوكَ وَلَٰكِنۢ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ ٱلشُّقَّةُ ۚ وَسَيَحْلِفُونَ بِٱللَّهِ لَوِ ٱسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَٰذِبُونَعَفَا ٱللَّهُ عَنكَ لِمَ أَذِنتَ لَهُمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَتَعْلَمَ ٱلْكَٰذِبِينَلَا يَسْتَـْٔذِنُكَ ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ أَن يُجَٰهِدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلْمُتَّقِينَإِنَّمَا يَسْتَـْٔذِنُكَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱرْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِى رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (QS. At-Taubah: 42-45)Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala ini berbicara tentang orang-orang munafik yang tidak ikut bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Tabuk. Mereka memilih tetap tinggal setelah sebelumnya meminta izin kepada beliau. Mereka menampilkan diri seolah-olah memiliki uzur, padahal kenyataannya tidak demikian.”Di antara orang-orang yang datang mengajukan alasan itu adalah Al-Jadd bin Qais dari Bani Salamah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Wahai Jadd, apakah tahun ini engkau bersedia ikut berperang menghadapi Bani Ashfar (Romawi)?”Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk tidak ikut dan janganlah engkau menjadikanku terkena fitnah. Aku khawatir akan tergoda jika melihat wanita-wanita Bani Ashfar.”Maka berkenaan dengannya Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ“Di antara mereka ada yang berkata, ‘Berilah aku izin (untuk tidak ikut berperang) dan janganlah engkau menjadikanku terjerumus ke dalam fitnah.’ Ketahuilah, justru mereka telah jatuh ke dalam fitnah. Sungguh, neraka Jahanam benar-benar mengepung orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 49)Sebagian orang munafik tidak hanya merasa cukup dengan tidak ikut berperang. Bahkan ada di antara mereka yang berusaha melemahkan semangat kaum mukminin dan menakut-nakuti mereka. Mereka berkata, “Pasukan Bani Ashfar akan menghancurkan orang-orang Arab satu demi satu. Demi Allah, besok kita semua akan terikat dengan tali sebagai tawanan.”Ucapan itu mereka lontarkan untuk menyebarkan ketakutan dan melemahkan semangat kaum mukminin.Ibnu Hisyam rahimahullah berkata, “Ada sekelompok orang munafik berkata kepada sebagian yang lain, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Mereka tidak bersemangat berjihad, ragu terhadap kebenaran, dan berusaha mengguncangkan kepercayaan kepada Rasulullah ﷺ. Lalu Allah Tabaraka wa Ta‘ala menurunkan firman-Nya tentang mereka,فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ ۝ فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ“Orang-orang yang ditinggalkan itu merasa gembira karena tetap tinggal di belakang Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan mereka berkata, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Katakanlah, ‘Api Neraka Jahanam jauh lebih panas,’ sekiranya mereka memahami. Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak sebagai balasan atas apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah: 81–82)Ada pula kelompok lain yang mengejek kaum mukminin. Dalam Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah disebutkan, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Pada Perang Tabuk, ada seseorang berkata dalam suatu majelis, ‘Kami tidak pernah melihat orang seperti para pembaca Al-Qur’an ini; mereka paling rakus perutnya, paling dusta lisannya, dan paling pengecut ketika bertemu musuh.’Lalu seseorang yang berada di masjid berkata, ‘Engkau dusta, bahkan engkau munafik. Aku akan menyampaikan ucapanmu itu kepada Rasulullah ﷺ.’Ucapan itu pun sampai kepada Rasulullah ﷺ, lalu turunlah Al-Qur’an. Abdullah bin Umar berkata, ‘Aku melihat orang itu bergantung pada tali pelana unta Rasulullah ﷺ sementara batu-batu menghantam kakinya. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, kami hanya bercanda dan bermain-main.” Sedangkan Rasulullah ﷺ terus membacakan firman Allah,أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Janganlah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” (QS. At-Taubah: 65–66)Rasulullah ﷺ juga meninggalkan Ali radhiyallahu ‘anhu sebagai pengganti beliau. Ali berkata, “Apakah engkau meninggalkanku bersama anak-anak dan kaum wanita?” Beliau bersabda, “Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?”Ada pula beberapa kaum muslimin yang tidak ikut berangkat bukan karena ragu atau kemunafikan, tetapi karena menunda-nunda hingga akhirnya kehilangan kesempatan untuk berangkat bersama pasukan. Di antara mereka adalah Ka‘ab bin Malik, Murarah bin Ar-Rabi‘, dan Hilal bin Umayyah radhiyallahu ‘anhum.Baca juga: Jujur yang Menyelamatkan, Pelajaran Besar dari Tobat Ka’ab bin MalikAbu Dzar dan Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhuma juga sempat tertinggal. Namun, keduanya kemudian menyusul Rasulullah ﷺ.Adapun Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, beliau menceritakan tentang dirinya, “Aku tertinggal dari Rasulullah ﷺ pada Perang Tabuk. Setelah Rasulullah ﷺ berangkat, aku masuk ke kebunku. Aku melihat sebuah gubuk yang telah diperciki air agar sejuk, lalu aku melihat istriku. Aku berkata, ‘Apa ini? Sungguh tidak adil. Rasulullah ﷺ berada di tengah terik matahari dan panas yang menyengat, sedangkan aku berada di tempat yang teduh dan penuh kenikmatan.’Lalu aku menuju seekor unta muda, aku pelana dan menyiapkannya. Aku juga mengambil beberapa butir kurma sebagai bekal. Setelah itu aku berangkat untuk menyusul Rasulullah ﷺ.Ketika aku telah mendekati pasukan, orang-orang melihatku. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Jadilah dia Abu Khaitsamah.’Ketika aku telah dekat, aku berkata, ‘Benarlah, wahai Rasulullah, aku memang Abu Khaitsamah.’Lalu aku menceritakan apa yang telah terjadi kepadaku. Rasulullah ﷺ pun bersabda, ‘Semoga itu menjadi kebaikan,’ kemudian beliau mendoakanku.”Adapun Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, untanya berjalan sangat lambat sehingga menghambat perjalanannya. Ia pun mengambil barang-barangnya dari atas unta, memanggulnya di punggungnya, lalu berjalan kaki mengikuti Rasulullah ﷺ.Suatu ketika Rasulullah ﷺ singgah di salah satu tempat. Beliau memandang ke arah kaum muslimin, lalu melihat seseorang berjalan kaki di kejauhan. Beliau bersabda, “Semoga dia adalah Abu Dzar.”Ketika orang-orang memperhatikan lebih saksama, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, dia memang Abu Dzar.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Ia berjalan seorang diri, akan meninggal seorang diri, dan akan dibangkitkan seorang diri.” Pelajaran yang Dipetik dari Perang TabukPertama: Perang Tabuk merupakan pengumpulan pasukan terbesar dalam peperangan yang dipimpin Rasulullah ﷺ. Peperangan ini juga merupakan peperangan terakhir yang beliau ikuti. Seakan-akan perang ini menjadi isyarat bahwa setelah beliau ﷺ, kaum Muslimin akan bergerak keluar Jazirah Arab untuk menyebarkan Islam, setelah agama ini kokoh di Jazirah Arab, seluruh kekuatan besar di dalamnya berhasil ditaklukkan, dan manusia dari berbagai penjuru masuk Islam.Maka yang tersisa adalah para dai mengajak manusia kepada Allah dan pasukan jihad bergerak keluar Jazirah Arab. Rasulullah ﷺ memang diutus untuk seluruh manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Saba’: 28)Dan firman-Nya:وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)Kedua: Allah menghendaki agar perang ini terjadi dalam tiga keadaan yang berkumpul sekaligus, yang masing-masing merupakan ujian berat bagi kaum mukminin dan sarana penyaringan keimanan mereka:Keadaan sulit, sempit, dan kekurangan harta.Buah-buahan sedang matang, tempat tinggal terasa nyaman, sementara cuaca sangat panas bagi para musafir.Jarak perjalanan yang sangat jauh dan penuh kesulitan. Tabuk berjarak lebih dari tujuh ratus mil dari Madinah melalui jalan berpasir yang tidak berpenghuni. Perjalanan di sana sangat berat dan rasa haus sangat menyiksa manusia maupun hewan.Karena itu, dorongan untuk tetap tinggal sangat besar, sedangkan tantangan untuk keluar berjihad juga sangat berat. Jarak yang jauh juga mengharuskan pasukan meninggalkan Madinah dalam waktu yang lama. Ini menjadi kesulitan tambahan di samping kesulitan-kesulitan sebelumnya. Pasukan yang menempuh perjalanan sejauh itu tentu tidak diperkirakan akan segera kembali. Dan memang demikian yang terjadi. Rasulullah ﷺ bersama pasukan besar tersebut meninggalkan Madinah selama dua bulan, sejak awal Rajab hingga awal Ramadan.Catatan: Jarak Madinah ke Tabuk sekitar 631 KM.Ketiga: Perang ini menjadi ujian besar bagi masyarakat Muslim. Orang-orang beriman yang terbaik tampak jelas keutamaannya. Mereka berlomba-lomba berinfak dan mengorbankan harta mereka seolah-olah telah menjual seluruh dunia dan membeli akhirat sebagai gantinya.Sebaliknya, kemunafikan pun tersingkap. Surah At-Taubah turun membongkar keadaan mereka dan menyingkap rahasia-rahasia mereka. Ayat-ayat terus turun dengan ungkapan, “Di antara mereka ada yang…”, “Dan di antara mereka ada yang…”, serta “Sebagian mereka…”.Hal ini menunjukkan bahwa kemunafikan di Madinah bertambah seiring bertambahnya kekuatan kaum mukminin, baik karena rasa takut maupun karena ambisi tertentu.Karena itu, mereka perlu dijelaskan kepada umat. Sebab, golongan seperti ini tidak akan pernah hilang dari setiap zaman dan tempat. Hanya saja jumlah mereka bertambah atau berkurang sesuai dengan kuat dan lemahnya kaum Muslimin.Maka tampaklah teladan yang baik dari masyarakat Muslim yang segera menyambut perintah Allah. Di saat yang sama, umat diperingatkan dari kelompok yang rusak tersebut dengan berbagai sifat yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, agar siapa pun yang memiliki sifat-sifat itu mendapatkan hukum yang sama.Keempat: Disyariatkannya berjihad dengan harta. Bahkan jihad dengan harta sering disebutkan lebih dahulu daripada jihad dengan jiwa dalam banyak ayat Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 15)Yang menguatkan makna ini dan menjelaskannya adalah sabda Rasulullah ﷺ kepada Utsman radhiyallahu ‘anhu:«مَا ضَرَّ ابْنَ عَفَّانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ»“Tidak akan membahayakan Ibnu Affan (Utsman) apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Beliau mengulang-ulang ucapan tersebut beberapa kali.Sabda ini menunjukkan besarnya keutamaan berjihad dengan harta. Rasulullah ﷺ mengucapkannya kepada Utsman ketika beliau berjihad dengan hartanya. Ini merupakan peluang besar bagi orang-orang kaya untuk berjihad di jalan Allah dengan harta mereka melalui berbagai bentuk jihad. Jihad tidak hanya terbatas pada peperangan atau sekadar menyiapkan perlengkapan perang.Kelima: Disyariatkannya berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita melihat bahwa ketika Rasulullah ﷺ mengajak kaum Muslimin untuk bersedekah dan berinfak dalam Perang Tabuk, Umar radhiyallahu ‘anhu segera berusaha menyaingi dan mendahului Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Umar bersedekah dengan setengah hartanya karena mengira kali ini ia dapat mendahului Abu Bakar. Namun ternyata Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengunggulinya dengan menyedekahkan seluruh hartanya.Keenam: Tampak jelas keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang datang membawa seluruh hartanya untuk berjihad di jalan Allah. Hal ini menunjukkan kuatnya tawakal beliau kepada Allah dan kokohnya keimanannya.Demikian pula tampak keutamaan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang datang dengan setengah hartanya.Begitu juga keutamaan Utsman radhiyallahu ‘anhu yang menyedekahkan harta yang sangat besar, hingga Rasulullah ﷺ bersabda tentang dirinya: “Tidak akan membahayakan Ibnu Affan (Utsman) apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Ketujuh: Kita dapat memperhatikan bahwa Rasulullah ﷺ berkhutbah dan mendorong manusia untuk bersedekah. Lalu Utsman radhiyallahu ‘anhu berdiri dan mengumumkan sedekahnya di hadapan orang banyak. Hal ini mengarahkan perhatian kita kepada satu pembahasan penting, yaitu: manakah yang lebih utama, menampakkan sedekah atau menyembunyikannya?Tampaknya, hal itu berbeda-beda sesuai tujuan dan maslahat sedekah tersebut. Jika sedekah itu untuk kepentingan umum dan dengan diumumkan dapat mendorong orang lain untuk meneladani pemberi sedekah, maka menampakkannya lebih maslahat. Namun jika sedekah itu diberikan kepada orang tertentu, maka menyembunyikannya lebih utama sebagai bentuk menjaga perasaan orang tersebut agar tidak tersinggung karena sedekahnya diumumkan.Hal ini dipahami dari firman Allah Ta’ala:إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Jika kalian menampakkan sedekah-sedekah kalian, maka itu adalah sesuatu yang baik. Namun jika kalian menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagi kalian. Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahan kalian. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271)Syaikh As-Sa‘di rahimahullah berkata: “Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa sedekah yang dirahasiakan kepada orang fakir lebih utama daripada sedekah yang diumumkan. Adapun jika sedekah tersebut tidak diberikan kepada orang fakir, maka makna ayat menunjukkan bahwa merahasiakannya tidak selalu lebih baik daripada menampakkannya. Dalam kondisi seperti itu, pertimbangannya kembali kepada maslahat. Jika dengan menampakkannya dapat menampakkan syiar agama dan mendorong orang lain untuk meneladani, maka hal itu lebih utama daripada merahasiakannya.”Karena itu, dalam sebagian kegiatan lembaga sosial atau penggalangan dana untuk korban bencana dan proyek-proyek kebaikan lainnya, pengumuman nama para donatur terkadang perlu dilakukan dengan memperhatikan maslahat ini. Wallahu a‘lam.Kedelapan: Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu datang membawa seluruh hartanya kepada Rasulullah ﷺ lalu beliau menerimanya.Dalam Sunan Abi Dawud disebutkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ membawa emas sebesar telur. Ia berkata,“Wahai Rasulullah, aku memperoleh emas ini dari hasil tambang. Ambillah sebagai sedekah. Aku tidak memiliki selain ini.”Namun Rasulullah ﷺ berpaling darinya. Orang itu mendatangi beliau dari arah kanan, lalu beliau berpaling. Ia datang lagi dari arah kiri, lalu beliau berpaling. Kemudian ia datang dari belakang beliau, lalu Rasulullah ﷺ mengambil emas itu dan melemparkannya kepadanya. Seandainya mengenai wajah atau kepalanya, tentu akan melukainya.Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,“Datang salah seorang di antara kalian membawa seluruh hartanya lalu berkata, ‘Ini sedekah.’ Setelah itu ia duduk meminta-minta kepada manusia. Sedekah yang terbaik adalah sedekah yang diberikan dari harta yang masih menyisakan kecukupan.”Ketika taubat Ka‘ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu diterima, ia berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Sebagai bentuk taubatku, aku ingin menyedekahkan seluruh hartaku kepada Allah dan Rasul-Nya.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda,«أَمْسِكْ عَلَيْكَ بَعْضَ مَالِكَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ»“Pertahankan sebagian hartamu, itu lebih baik bagimu.”³Padahal Rasulullah ﷺ menerima sedekah seluruh harta dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, sementara beliau menolak orang yang ingin menyedekahkan seluruh hartanya dan menasihati Ka‘ab radhiyallahu ‘anhu agar menyisakan sebagian hartanya.Rasulullah ﷺ memperlakukan setiap orang sesuai dengan kondisi yang paling baik bagi dirinya. Beliau tidak mengingkari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu karena mengetahui kuatnya kesabaran, keyakinan, dan tawakal beliau.Adapun orang yang tidak mampu menanggung akibat menyedekahkan seluruh hartanya, maka perlakuannya berbeda. Seseorang tidak dianjurkan menyedekahkan seluruh hartanya jika dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah bagi dirinya atau ia tidak mampu bersabar menghadapi kemiskinan.Inilah salah satu bentuk hikmah dalam berdakwah kepada Allah, yaitu memperhatikan perbedaan karakter manusia, tingkat keimanan mereka, kemampuan mereka dalam menanggung kesulitan, dan memperlakukan setiap orang sesuai keadaannya.Kesembilan: Pada Perang Tabuk tampak jelas keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ketika Rasulullah ﷺ meninggalkannya sebagai pengganti beliau di Madinah. Beliau bersabda kepadanya, “Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?”Kesepuluh: Sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah orang-orang miskin. Namun demikian, mereka tetap ikut berinfak. Di antara mereka ada yang menyumbangkan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum. Bagi sebagian mereka, itulah separuh dari seluruh harta yang dimilikinya. Seseorang datang membawa satu sha’, sementara satu sha’ lagi ia tinggalkan untuk keluarganya, padahal ia akan meninggalkan mereka dalam perjalanan yang panjang ini.Jadi, yang menjadi tolok ukur bukanlah besarnya nilai harta yang disedekahkan, tetapi nilai pengorbanan diri dan kesediaan mengeluarkan apa yang dimiliki. Satu sha’ yang disedekahkan oleh orang seperti ini pada hakikatnya sebanding dengan setengah harta orang kaya. Pengorbanan dalam keadaan seperti itu sangat besar, dan pahalanya pun sangat agung.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,«سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ». قَالُوا: وَكَيْفَ؟ قَالَ: «كَانَ لِرَجُلٍ دِرْهَمَانِ، فَتَصَدَّقَ بِأَحَدِهِمَا، وَانْطَلَقَ رَجُلٌ إِلَى عُرْضِ مَالِهِ، فَأَخَذَ مِنْهُ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ، فَتَصَدَّقَ بِهَا».“Satu dirham mampu mengungguli pahala seratus ribu dirham.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana bisa?”Beliau menjawab, “Ada seseorang yang hanya memiliki dua dirham, lalu ia menyedekahkan satu dirham darinya. Sedangkan orang lain memiliki harta yang sangat banyak, lalu ia mengambil seratus ribu dirham dari hartanya dan menyedekahkannya.” (HR. An-Nasa’i, no. 2527 dan Ahmad, no. 8929. Hadits ini hasan).Karena itu, ketika seorang muslim diuji dengan hartanya, baik sedikit maupun banyak, yang terpenting adalah pengorbanan diri, mendahulukan apa yang Allah cintai daripada kepentingan dirinya sendiri, serta tidak meninggalkan kesempatan untuk berlomba-lomba menuju keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Kesebelas: Sekelompok orang datang kepada Rasulullah ﷺ meminta agar beliau menyediakan kendaraan untuk mereka. Namun, beliau tidak menemukan kendaraan yang dapat diberikan kepada mereka. Mereka pun pulang dengan hati sedih karena tidak memiliki bekal untuk berangkat. Tentang mereka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya,لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ۝ وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ“Tidak ada dosa atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang tidak mempunyai sesuatu untuk mereka infakkan, apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Demikian pula tidak ada dosa atas orang-orang yang ketika datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian,’ kemudian mereka kembali dengan mata bercucuran air mata karena sedih tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan.” (QS. At-Taubah: 91–92)Bukankah seorang muslim yang hidup pada masa penuh kelemahan seperti sekarang patut meneladani orang-orang lemah tersebut? Mereka benar-benar tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika tidak memiliki sesuatu yang dapat mereka persembahkan, mata mereka bercucuran air mata karena sedih tidak mampu memberikan sesuatu yang dapat menolong Islam dan kaum muslimin. Allah Yang Mahamulia tidak mencela mereka, bahkan memuji mereka, sebagaimana dipahami dari ayat-ayat tersebut. Wallahu a’lam.Maka, ketika seorang muslim melihat adanya pelecehan terhadap agama Allah, terhadap Allah, Rasul-Nya, dan syariat-Nya, sementara ia tidak memiliki kemampuan untuk berbuat banyak, hendaklah ia tetap memiliki ketulusan kepada Allah dan Rasul-Nya di dalam hatinya serta tekad yang jujur. Seandainya ia memiliki kemampuan, niscaya ia akan membela agama Allah dan menolongnya.Merekalah orang-orang yang sesuai dengan penjelasan As-Sa’di rahimahullah dalam menafsirkan ayat tersebut: mereka tidak berdosa selama mereka benar-benar tulus kepada Allah dan Rasul-Nya, memiliki keimanan yang jujur, berniat kuat bahwa seandainya mampu mereka pasti berjihad, serta melakukan segala bentuk dorongan, anjuran, dan motivasi untuk berjihad sesuai kemampuan mereka.Apabila seorang hamba telah melakukan yang terbaik sesuai kemampuannya, maka gugurlah kewajiban yang tidak sanggup ia lakukan. Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang mengampuni orang-orang yang tidak mampu, merahmati mereka, dan memberikan kepada mereka pahala yang sama seperti orang-orang yang mampu dan benar-benar melakukannya.Ketika gugur kewajiban dari mereka, hukum kembali kepada asalnya, yaitu berniat melakukan kebaikan. Jika niat itu disertai dengan kesungguhan berusaha semampunya, tetapi ia tetap tidak mampu melaksanakannya, maka ia memperoleh kedudukan seperti orang yang benar-benar mengerjakannya.Inilah salah satu karunia Allah kepada hamba-hamba-Nya pada masa-masa kaum muslimin berada dalam keadaan lemah, ketika kekuatan-kekuatan keburukan dan permusuhan bersatu menyerang mereka, sementara kaum muslimin tidak memiliki kekuatan dan daya untuk menghadapinya. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menempuh jalan ini, yaitu membenarkan Allah dengan sepenuh hati. Hati mereka bersedih, mata mereka bercucuran air mata, doa terus dipanjatkan, dan kesedihan mereka diterima di sisi Allah. Allah Yang Mahamulia mengetahui keadaan mereka. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Pahala mereka tetap terjaga, dan pertolongan Allah, dengan izin-Nya, akan segera datang.Ini juga merupakan bentuk keringanan syariat. Namun, di sisi lain tetap ada tuntutan, yaitu harus memiliki ketulusan kepada Allah dan Rasul-Nya.إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ“Apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya.”Karena itu, tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk bermalas-malasan dalam perkara yang masih mampu ia lakukan. Seorang mukmin juga tidak boleh hidup dengan hati yang mati, tidak peduli terhadap penderitaan kaum muslimin hanya dengan alasan dirinya tidak mampu berbuat banyak. Masih ada kemampuan yang tidak pernah gugur dari seorang muslim dan tidak ada uzur untuk meninggalkannya, yaitu hati yang sedih, mata yang menangis, ikut merasakan penderitaan mereka, dan mendoakan kaum muslimin, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Wallahu a’lam.Kedua belas: Ketika kaum mukminin berlomba-lomba bersedekah sesuai kemampuan masing-masing, orang yang kaya bersedekah dengan jumlah yang banyak, sedangkan yang miskin bersedekah dengan sedikit. Namun, orang-orang munafik tidak pernah membiarkan seorang pun. Jika mereka melihat orang kaya bersedekah dalam jumlah besar, mereka berkata, “Ini hanya ingin pamer.” Sebaliknya, jika mereka melihat orang miskin bersedekah sedikit, mereka berkata, “Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan sedekah orang kaya ini.”Golongan seperti ini selalu ada di setiap masyarakat kaum muslimin. Karena itu, hendaknya seorang mukmin segera melakukan amal-amal saleh dan tidak memedulikan perkataan orang-orang yang hanya gemar mencela di tengah masyarakat muslim, yang pekerjaan mereka hanyalah mengkritik si fulan dan menuduh si fulan.Ketiga belas: ‘Ulbah bin Zaid radhiyallahu ’anhu, seorang sahabat yang miskin, ketika tidak memiliki sesuatu yang dapat diinfakkan di jalan Allah, menghabiskan malamnya dengan memohon maaf kepada Rabbnya. Ia juga menyedekahkan kepada kaum muslimin setiap kezaliman yang pernah mereka lakukan terhadap dirinya, baik yang berkaitan dengan harta, kehormatan, maupun tubuhnya.Keesokan paginya, ketika Rasulullah ﷺ bersama para sahabat, beliau bersabda, “Siapakah yang bersedekah tadi malam?”Setelah Rasulullah ﷺ mengulang pertanyaan itu, ‘Ulbah radhiyallahu ’anhu berdiri dan memberitahukannya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Bergembiralah, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh sedekahmu telah dicatat sebagai sedekah yang diterima.”Kecintaan kepada jihad telah memenuhi hati para sahabat yang mulia hingga mereka menghabiskan malam dalam kesedihan karena tidak memiliki kendaraan yang dapat mengantarkan mereka berjihad. Mereka juga tidak memiliki harta untuk disumbangkan di jalan Allah. Akhirnya, yang mereka miliki hanyalah kezaliman yang pernah dilakukan kaum muslimin terhadap diri mereka, lalu mereka jadikan itu sebagai sedekah.Yang terpenting adalah hidupnya hati dan perasaan bahwa dirinya merupakan bagian dari masyarakat muslim. Karena itu, setiap muslim harus memiliki andil sesuai kemampuannya, meskipun yang dapat ia berikan hanyalah kehormatan dirinya, hartanya, atau tenaganya.Beginilah kehidupan yang dahulu membuat kaum muslimin mampu menaklukkan berbagai negeri, mengajak manusia kepada Allah, dan menyebarkan agama-Nya.Keempat belas: Waspadalah terhadap irjaf (menebarkan ketakutan dan keresahan), yaitu menakut-nakuti kaum muslimin dengan membesar-besarkan kekuatan musuh, meremehkan kekuatan kaum muslimin, serta menggambarkan bahwa kekalahan pasukan kaum muslimin sudah di ambang pintu, dengan tujuan melemahkan semangat mereka.Sebagian orang munafik pernah berkata pada Perang Tabuk, “Apakah kalian mengira memerangi Bani Ashfar (Romawi) seperti orang-orang Arab saling berperang? Demi Allah, besok kalian pasti akan terbelenggu dengan rantai.”Allah Ta’ala berfirman,لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا ۝ مَلْعُونِينَ ۖ أَيْنَمَا ثُقِفُوا أُخِذُوا وَقُتِّلُوا تَقْتِيلًا ۝ سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا“Sungguh, jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya, dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari perbuatannya), niscaya Kami perintahkan engkau (memerangi) mereka, kemudian mereka tidak lagi menjadi tetanggamu (di Madinah), kecuali sebentar. Mereka dalam keadaan terlaknat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka akan ditangkap dan dibunuh tanpa ampun. Sebagai sunah Allah yang berlaku terhadap orang-orang terdahulu. Dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunah Allah.” (QS. Al-Ahzab: 60–62)As-Sa’di rahimahullah berkata tentang firman Allah, “dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah,” yaitu orang-orang yang menakut-nakuti kaum muslimin dengan membesar-besarkan musuh, menyebut banyaknya jumlah dan kekuatan mereka, serta kelemahan kaum muslimin. Mereka tidak menyebutkan hal-hal yang seharusnya dapat meringankan keadaan tersebut. Bahkan mereka menyebarkan segala sesuatu yang menimbulkan rasa takut, mengajak kepada keburukan berupa melemahkan Islam dan kaum muslimin, serta menebarkan keresahan dan meruntuhkan semangat mereka.Perbuatan menyebarkan keresahan seperti ini juga dapat terjadi pada sebagian orang di tengah masyarakat Islam tanpa mereka sadari. Hal itu terjadi karena mereka mengikuti berita-berita musuh lalu menyebarkannya begitu saja tanpa melakukan tabayun terlebih dahulu, padahal di dalamnya terdapat hal-hal yang tidak boleh disampaikan kepada masyarakat karena dapat menimbulkan ketakutan di hati mereka. Dengan demikian, tanpa disadari ia telah melakukan irjaf. Seorang muslim harus berhati-hati agar tidak menjadi corong musuh atau membantu musuh tanpa disadarinya, terutama pada masa-masa krisis dan kesulitan.Kelima belas: Kelompok lain dari orang-orang munafik selalu mencari-cari alasan, atau bahkan menciptakan alasan untuk tidak ikut berangkat. Mereka berkata,لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ“Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.”Mencari-cari alasan adalah kebiasaan orang-orang yang malas dan suka hidup nyaman. Ketika musim panas tiba, mereka beralasan karena teriknya matahari. Ketika musim dingin datang, mereka beralasan karena dinginnya udara. Begitulah sepanjang hidup mereka berpindah dari satu alasan ke alasan yang lain demi mencari kenyamanan.Janganlah menyia-nyiakan waktu. Jika engkau merasakan panasnya matahari, ingatlah panasnya Neraka Jahanam. Allah telah menjawab berbagai alasan mereka melalui firman-Nya,إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia.”Bahkan ada sebagian orang yang menjadikan penampilan seolah-olah bertakwa dan saleh sebagai alasan, atau berdalih takut terjatuh ke dalam fitnah.Di antara mereka ada yang berkata,ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ“Berilah aku izin (untuk tidak ikut berperang) dan janganlah engkau menjadikanku terjerumus ke dalam fitnah. Ketahuilah, sesungguhnya mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sungguh, Neraka Jahanam benar-benar mengepung orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 49)Walaupun alasan tersebut keluar dari seorang munafik, pada kenyataannya itu merupakan salah satu pintu masuk setan kepada anak Adam. Setan mendatangi manusia melalui berbagai cara, salah satunya dengan membuat seseorang berpura-pura bertakwa seraya berkata, “Aku takut kepada Allah.” Padahal, seandainya ia benar-benar takut kepada Allah Ta’ala, tentu ia tidak akan meninggalkan amal hanya karena alasan-alasan yang lemah. Masih bersambung Insya-Allah … Referensi: Fiqh As-Sirah. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Daar Tadmuriyyah.Baca Juga: Ketika Bekal Sedikit Jadi Banyak: Kisah Berkah di Perang Tabuk dan Rahasia Tauhid—- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 21 Juni 2026,  26 Dzulhijjah 1447 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq faedah sirah nabi Ghazwah Tabuk Infak di Jalan Allah Jihad dengan Harta kisah sahabat peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang tabuk sirah nabawiyah sirah nabi Surah At-Taubah umar bin khaththab utsman bin affan


Perang Tabuk bukanlah peperangan biasa. Perang ini terjadi ketika cuaca sangat panas, perjalanan sangat jauh, dan manusia sedang menikmati kenyamanan hidup serta masa panen yang menggiurkan. Justru dalam kondisi seperti itulah tampak siapa yang benar-benar beriman, siapa yang munafik, dan siapa yang rela mengorbankan seluruh hartanya demi agama Allah.  Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabatnya untuk bersiap pada bulan Rajab tahun kesembilan Hijriah guna menghadapi Romawi. Hal itu terjadi pada masa yang penuh kesulitan bagi manusia, saat cuaca sangat panas, negeri mengalami kekeringan, dan buah-buahan di Madinah sedang mulai matang. Pada saat seperti itu, manusia biasanya senang tinggal di kebun-kebun mereka dan berteduh di bawah naungannya. Jiwa manusia memang cenderung menyukai keadaan yang nyaman seperti itu.Biasanya Rasulullah ﷺ apabila hendak berangkat dalam suatu peperangan, beliau menyamarkan tujuan sebenarnya dan memberi kesan akan menuju tempat lain. Namun pada Perang Tabuk, beliau tidak melakukannya. Beliau menjelaskan tujuan yang sebenarnya kepada para sahabat karena jarak yang sangat jauh, beratnya perjalanan, kondisi yang sulit, dan besarnya kekuatan musuh. Beliau ingin agar mereka benar-benar bersiap. Karena itu beliau memerintahkan mereka untuk mempersiapkan perlengkapan perang dan memberitahukan bahwa yang akan dihadapi adalah bangsa Romawi. (Lihat: Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyyah yang dicetak bersama Ar-Raudh Al-Unuf, 4:137)Perang ini merupakan peperangan terakhir yang diikuti oleh Rasulullah ﷺ. (HR. Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain, 3:254, no. 6046. Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Hakim dan tidak dikritik oleh Adz-Dzahabi dalam ringkasannya)Adapun sebab terjadinya Perang Tabuk, para ulama sirah dan sejarah menyebutkan beberapa sebab. Di antara pendapat yang disebutkan adalah bahwa Rasulullah ﷺ menerima laporan dari para pedagang minyak Nabath yang datang ke Madinah bahwa pasukan Romawi telah berkumpul di wilayah Syam bersama Heraklius untuk memerangi kaum Muslimin. (Fath Al-Bari, 8:111). Pendapat ini dikuatkan oleh hadits Umar radhiyallahu ‘anhu tentang peristiwa ketika Rasulullah ﷺ memisahkan diri dari istri-istrinya.Baca juga: Heraklius (Kaisar Romawi) Bertanya Tentang Ajaran NabiDalam hadis tersebut Umar berkata, “Aku mempunyai seorang tetangga dari kaum Anshar dari Bani Umayyah bin Zaid yang tinggal di daerah pinggiran Madinah. Kami bergantian menghadiri majelis Nabi ﷺ. Suatu hari ia datang dan aku tidak, lalu pada hari yang lain aku datang dan ia tidak. Jika aku datang, aku menyampaikan kepadanya berita hari itu dan hal-hal lainnya. Jika ia datang, ia melakukan hal yang sama. Saat itu kami sering membicarakan bahwa Ghassan (suku Arab Nasrani yang tinggal di wilayah Syam) sedang menyiapkan kuda-kudanya untuk menyerang kami. Suatu malam, pada hari gilirannya, temanku pulang setelah Isya lalu mengetuk pintuku dengan keras. Ia berkata, ‘Apakah dia ada di dalam?’ Aku terkejut lalu keluar menemuinya. Ia berkata, ‘Peristiwa besar telah terjadi!’ Aku bertanya, ‘Apa itu? Apakah Ghassan sudah datang?’ Ia menjawab, ‘Tidak. Bahkan yang lebih besar dan lebih menggemparkan daripada itu sampai Rasulullah ﷺ bisa menceraikan istri-istrinya.’” (HR. Bukhari, no. 2468 dan Muslim, no. 1479)Ada pula pendapat lain. Peneliti kitab Adz-Dzahab Al-Masbuk fi Tahqiq Riwayat Ghazwah Tabuk berpendapat bahwa keluarnya Nabi ﷺ menuju Tabuk merupakan bagian dari misi ilahi yang lebih luas. Setelah peperangan-peperangan internal di Jazirah Arab berakhir, perhatian harus diarahkan ke luar Jazirah Arab untuk menyampaikan risalah Islam yang agung ini.Pendapat tersebut didasarkan pada firman Allah Ta’ala:قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir, yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya, serta tidak memeluk agama yang benar, yaitu dari kalangan Ahli Kitab, hingga mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At-Taubah: 29)Inilah perintah ilahi yang menjadi sebab utama terjadinya Perang Tabuk. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Mujahid, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Qatadah, Adh-Dhahhak bin Muzahim Al-Hilali, dan ulama lainnya rahimahumullah. (Abdul Qadir As-Sindi, Adz-Dzahab Al-Masbuk fi Tahqiq Riwayat Ghazwah Tabuk An-Nabawiyyah, hlm. 4. Asalnya merupakan tesis magister yang diterbitkan oleh Mathabi‘ Ar-Rasyid). Wallahu a‘lam.Rasulullah ﷺ mendorong kaum Muslimin untuk berinfak dan berkorban di jalan Allah. Orang-orang yang berbuat baik pun berlomba-lomba dalam kesempatan tersebut.Umar radhiyallahu ‘anhu ingin mengungguli Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dalam sedekah. Ia datang membawa setengah hartanya. Rasulullah ﷺ bertanya,“Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”Umar menjawab,“Yang semisal dengan ini.”Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu datang dengan membawa seluruh hartanya. Rasulullah ﷺ bertanya,“Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”Ia menjawab,“Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”Maka Umar berkata,“Aku tidak akan pernah dapat mengunggulimu dalam suatu perkara selamanya.”Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:“Aku tidak akan pernah dapat mengunggulimu dalam suatu perkara selamanya.”Utsman radhiyallahu ‘anhu menyumbangkan seribu dinar yang dituangkannya ke pangkuan Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ membolak-balik dinar-dinar itu dengan tangannya seraya bersabda,“Tidak akan membahayakan Utsman apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Beliau mengulang-ulang ucapan tersebut beberapa kali.Utsman juga menyumbangkan tiga ratus ekor unta lengkap dengan pelana dan perlengkapannya untuk Perang Tabuk.Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu datang membawa delapan ribu dirham. Yang lainnya pun datang membawa harta yang banyak. Bahkan para wanita mengirimkan perhiasan yang mereka mampu sumbangkan.Sekelompok sahabat datang menemui Rasulullah ﷺ. Mereka berjumlah tujuh orang. Mereka meminta kendaraan agar dapat ikut berangkat bersama beliau. Namun beliau tidak menemukan kendaraan untuk mereka. Akhirnya mereka kembali dalam keadaan sedih.Tentang mereka turun firman Allah Ta’ala,لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ۝ وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ“Tidak ada dosa atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang tidak mempunyai biaya untuk berinfak, apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan tidak pula berdosa atas orang-orang yang datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian.’ Mereka pun kembali, sementara mata mereka bercucuran air mata karena sedih tidak mendapatkan biaya untuk ikut berperang.” (QS. At-Taubah: 91–92)Ketika Rasulullah ﷺ bersiap untuk berangkat, sebagian orang munafik berkata, “Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.”Lalu Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ“Orang-orang yang ditinggalkan itu merasa gembira karena tetap tinggal di belakang Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan mereka berkata, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Katakanlah, ‘Api Jahannam itu jauh lebih panas,’ seandainya mereka memahami.” (QS. At-Taubah: 81)Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ketika kami diperintahkan untuk bersedekah, kami bekerja sebagai pengangkut barang. Lalu Abu ‘Aqil datang membawa setengah sha‘ makanan. Ada orang lain yang datang membawa sedekah lebih banyak darinya. Maka orang-orang munafik berkata, ‘Allah tidak membutuhkan sedekah orang ini. Adapun yang satunya lagi, ia tidak melakukannya kecuali karena riya.’”Lalu turun firman Allah Ta’ala:الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Orang-orang yang mencela kaum mukmin yang dengan sukarela bersedekah, dan juga mencela orang-orang yang tidak memperoleh apa-apa untuk disedekahkan kecuali sekadar kemampuan yang mereka miliki, lalu mereka memperolok-olok mereka; Allah akan membalas ejekan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 79)Ibnu Sa‘d rahimahullah berkata, “Beberapa orang munafik datang meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk tidak ikut berangkat tanpa alasan yang benar. Beliau memberi izin kepada mereka. Jumlah mereka sekitar delapan puluh orang. Kemudian datang pula orang-orang Arab Badui yang mempunyai uzur. Mereka menyampaikan alasan mereka agar diberi izin, tetapi beliau tidak memberi uzur kepada mereka. Jumlah mereka delapan puluh dua orang.”Allah Ta’ala berfirman,لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَّٱتَّبَعُوكَ وَلَٰكِنۢ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ ٱلشُّقَّةُ ۚ وَسَيَحْلِفُونَ بِٱللَّهِ لَوِ ٱسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَٰذِبُونَعَفَا ٱللَّهُ عَنكَ لِمَ أَذِنتَ لَهُمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَتَعْلَمَ ٱلْكَٰذِبِينَلَا يَسْتَـْٔذِنُكَ ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ أَن يُجَٰهِدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلْمُتَّقِينَإِنَّمَا يَسْتَـْٔذِنُكَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱرْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِى رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (QS. At-Taubah: 42-45)Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala ini berbicara tentang orang-orang munafik yang tidak ikut bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Tabuk. Mereka memilih tetap tinggal setelah sebelumnya meminta izin kepada beliau. Mereka menampilkan diri seolah-olah memiliki uzur, padahal kenyataannya tidak demikian.”Di antara orang-orang yang datang mengajukan alasan itu adalah Al-Jadd bin Qais dari Bani Salamah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Wahai Jadd, apakah tahun ini engkau bersedia ikut berperang menghadapi Bani Ashfar (Romawi)?”Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk tidak ikut dan janganlah engkau menjadikanku terkena fitnah. Aku khawatir akan tergoda jika melihat wanita-wanita Bani Ashfar.”Maka berkenaan dengannya Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ“Di antara mereka ada yang berkata, ‘Berilah aku izin (untuk tidak ikut berperang) dan janganlah engkau menjadikanku terjerumus ke dalam fitnah.’ Ketahuilah, justru mereka telah jatuh ke dalam fitnah. Sungguh, neraka Jahanam benar-benar mengepung orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 49)Sebagian orang munafik tidak hanya merasa cukup dengan tidak ikut berperang. Bahkan ada di antara mereka yang berusaha melemahkan semangat kaum mukminin dan menakut-nakuti mereka. Mereka berkata, “Pasukan Bani Ashfar akan menghancurkan orang-orang Arab satu demi satu. Demi Allah, besok kita semua akan terikat dengan tali sebagai tawanan.”Ucapan itu mereka lontarkan untuk menyebarkan ketakutan dan melemahkan semangat kaum mukminin.Ibnu Hisyam rahimahullah berkata, “Ada sekelompok orang munafik berkata kepada sebagian yang lain, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Mereka tidak bersemangat berjihad, ragu terhadap kebenaran, dan berusaha mengguncangkan kepercayaan kepada Rasulullah ﷺ. Lalu Allah Tabaraka wa Ta‘ala menurunkan firman-Nya tentang mereka,فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ ۝ فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ“Orang-orang yang ditinggalkan itu merasa gembira karena tetap tinggal di belakang Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan mereka berkata, ‘Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.’ Katakanlah, ‘Api Neraka Jahanam jauh lebih panas,’ sekiranya mereka memahami. Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak sebagai balasan atas apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah: 81–82)Ada pula kelompok lain yang mengejek kaum mukminin. Dalam Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah disebutkan, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Pada Perang Tabuk, ada seseorang berkata dalam suatu majelis, ‘Kami tidak pernah melihat orang seperti para pembaca Al-Qur’an ini; mereka paling rakus perutnya, paling dusta lisannya, dan paling pengecut ketika bertemu musuh.’Lalu seseorang yang berada di masjid berkata, ‘Engkau dusta, bahkan engkau munafik. Aku akan menyampaikan ucapanmu itu kepada Rasulullah ﷺ.’Ucapan itu pun sampai kepada Rasulullah ﷺ, lalu turunlah Al-Qur’an. Abdullah bin Umar berkata, ‘Aku melihat orang itu bergantung pada tali pelana unta Rasulullah ﷺ sementara batu-batu menghantam kakinya. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, kami hanya bercanda dan bermain-main.” Sedangkan Rasulullah ﷺ terus membacakan firman Allah,أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Janganlah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” (QS. At-Taubah: 65–66)Rasulullah ﷺ juga meninggalkan Ali radhiyallahu ‘anhu sebagai pengganti beliau. Ali berkata, “Apakah engkau meninggalkanku bersama anak-anak dan kaum wanita?” Beliau bersabda, “Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?”Ada pula beberapa kaum muslimin yang tidak ikut berangkat bukan karena ragu atau kemunafikan, tetapi karena menunda-nunda hingga akhirnya kehilangan kesempatan untuk berangkat bersama pasukan. Di antara mereka adalah Ka‘ab bin Malik, Murarah bin Ar-Rabi‘, dan Hilal bin Umayyah radhiyallahu ‘anhum.Baca juga: Jujur yang Menyelamatkan, Pelajaran Besar dari Tobat Ka’ab bin MalikAbu Dzar dan Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhuma juga sempat tertinggal. Namun, keduanya kemudian menyusul Rasulullah ﷺ.Adapun Abu Khaitsamah radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, beliau menceritakan tentang dirinya, “Aku tertinggal dari Rasulullah ﷺ pada Perang Tabuk. Setelah Rasulullah ﷺ berangkat, aku masuk ke kebunku. Aku melihat sebuah gubuk yang telah diperciki air agar sejuk, lalu aku melihat istriku. Aku berkata, ‘Apa ini? Sungguh tidak adil. Rasulullah ﷺ berada di tengah terik matahari dan panas yang menyengat, sedangkan aku berada di tempat yang teduh dan penuh kenikmatan.’Lalu aku menuju seekor unta muda, aku pelana dan menyiapkannya. Aku juga mengambil beberapa butir kurma sebagai bekal. Setelah itu aku berangkat untuk menyusul Rasulullah ﷺ.Ketika aku telah mendekati pasukan, orang-orang melihatku. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Jadilah dia Abu Khaitsamah.’Ketika aku telah dekat, aku berkata, ‘Benarlah, wahai Rasulullah, aku memang Abu Khaitsamah.’Lalu aku menceritakan apa yang telah terjadi kepadaku. Rasulullah ﷺ pun bersabda, ‘Semoga itu menjadi kebaikan,’ kemudian beliau mendoakanku.”Adapun Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, untanya berjalan sangat lambat sehingga menghambat perjalanannya. Ia pun mengambil barang-barangnya dari atas unta, memanggulnya di punggungnya, lalu berjalan kaki mengikuti Rasulullah ﷺ.Suatu ketika Rasulullah ﷺ singgah di salah satu tempat. Beliau memandang ke arah kaum muslimin, lalu melihat seseorang berjalan kaki di kejauhan. Beliau bersabda, “Semoga dia adalah Abu Dzar.”Ketika orang-orang memperhatikan lebih saksama, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, dia memang Abu Dzar.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Ia berjalan seorang diri, akan meninggal seorang diri, dan akan dibangkitkan seorang diri.” Pelajaran yang Dipetik dari Perang TabukPertama: Perang Tabuk merupakan pengumpulan pasukan terbesar dalam peperangan yang dipimpin Rasulullah ﷺ. Peperangan ini juga merupakan peperangan terakhir yang beliau ikuti. Seakan-akan perang ini menjadi isyarat bahwa setelah beliau ﷺ, kaum Muslimin akan bergerak keluar Jazirah Arab untuk menyebarkan Islam, setelah agama ini kokoh di Jazirah Arab, seluruh kekuatan besar di dalamnya berhasil ditaklukkan, dan manusia dari berbagai penjuru masuk Islam.Maka yang tersisa adalah para dai mengajak manusia kepada Allah dan pasukan jihad bergerak keluar Jazirah Arab. Rasulullah ﷺ memang diutus untuk seluruh manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala:وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Saba’: 28)Dan firman-Nya:وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)Kedua: Allah menghendaki agar perang ini terjadi dalam tiga keadaan yang berkumpul sekaligus, yang masing-masing merupakan ujian berat bagi kaum mukminin dan sarana penyaringan keimanan mereka:Keadaan sulit, sempit, dan kekurangan harta.Buah-buahan sedang matang, tempat tinggal terasa nyaman, sementara cuaca sangat panas bagi para musafir.Jarak perjalanan yang sangat jauh dan penuh kesulitan. Tabuk berjarak lebih dari tujuh ratus mil dari Madinah melalui jalan berpasir yang tidak berpenghuni. Perjalanan di sana sangat berat dan rasa haus sangat menyiksa manusia maupun hewan.Karena itu, dorongan untuk tetap tinggal sangat besar, sedangkan tantangan untuk keluar berjihad juga sangat berat. Jarak yang jauh juga mengharuskan pasukan meninggalkan Madinah dalam waktu yang lama. Ini menjadi kesulitan tambahan di samping kesulitan-kesulitan sebelumnya. Pasukan yang menempuh perjalanan sejauh itu tentu tidak diperkirakan akan segera kembali. Dan memang demikian yang terjadi. Rasulullah ﷺ bersama pasukan besar tersebut meninggalkan Madinah selama dua bulan, sejak awal Rajab hingga awal Ramadan.Catatan: Jarak Madinah ke Tabuk sekitar 631 KM.Ketiga: Perang ini menjadi ujian besar bagi masyarakat Muslim. Orang-orang beriman yang terbaik tampak jelas keutamaannya. Mereka berlomba-lomba berinfak dan mengorbankan harta mereka seolah-olah telah menjual seluruh dunia dan membeli akhirat sebagai gantinya.Sebaliknya, kemunafikan pun tersingkap. Surah At-Taubah turun membongkar keadaan mereka dan menyingkap rahasia-rahasia mereka. Ayat-ayat terus turun dengan ungkapan, “Di antara mereka ada yang…”, “Dan di antara mereka ada yang…”, serta “Sebagian mereka…”.Hal ini menunjukkan bahwa kemunafikan di Madinah bertambah seiring bertambahnya kekuatan kaum mukminin, baik karena rasa takut maupun karena ambisi tertentu.Karena itu, mereka perlu dijelaskan kepada umat. Sebab, golongan seperti ini tidak akan pernah hilang dari setiap zaman dan tempat. Hanya saja jumlah mereka bertambah atau berkurang sesuai dengan kuat dan lemahnya kaum Muslimin.Maka tampaklah teladan yang baik dari masyarakat Muslim yang segera menyambut perintah Allah. Di saat yang sama, umat diperingatkan dari kelompok yang rusak tersebut dengan berbagai sifat yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, agar siapa pun yang memiliki sifat-sifat itu mendapatkan hukum yang sama.Keempat: Disyariatkannya berjihad dengan harta. Bahkan jihad dengan harta sering disebutkan lebih dahulu daripada jihad dengan jiwa dalam banyak ayat Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 15)Yang menguatkan makna ini dan menjelaskannya adalah sabda Rasulullah ﷺ kepada Utsman radhiyallahu ‘anhu:«مَا ضَرَّ ابْنَ عَفَّانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ»“Tidak akan membahayakan Ibnu Affan (Utsman) apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Beliau mengulang-ulang ucapan tersebut beberapa kali.Sabda ini menunjukkan besarnya keutamaan berjihad dengan harta. Rasulullah ﷺ mengucapkannya kepada Utsman ketika beliau berjihad dengan hartanya. Ini merupakan peluang besar bagi orang-orang kaya untuk berjihad di jalan Allah dengan harta mereka melalui berbagai bentuk jihad. Jihad tidak hanya terbatas pada peperangan atau sekadar menyiapkan perlengkapan perang.Kelima: Disyariatkannya berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita melihat bahwa ketika Rasulullah ﷺ mengajak kaum Muslimin untuk bersedekah dan berinfak dalam Perang Tabuk, Umar radhiyallahu ‘anhu segera berusaha menyaingi dan mendahului Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Umar bersedekah dengan setengah hartanya karena mengira kali ini ia dapat mendahului Abu Bakar. Namun ternyata Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengunggulinya dengan menyedekahkan seluruh hartanya.Keenam: Tampak jelas keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang datang membawa seluruh hartanya untuk berjihad di jalan Allah. Hal ini menunjukkan kuatnya tawakal beliau kepada Allah dan kokohnya keimanannya.Demikian pula tampak keutamaan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang datang dengan setengah hartanya.Begitu juga keutamaan Utsman radhiyallahu ‘anhu yang menyedekahkan harta yang sangat besar, hingga Rasulullah ﷺ bersabda tentang dirinya: “Tidak akan membahayakan Ibnu Affan (Utsman) apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”Ketujuh: Kita dapat memperhatikan bahwa Rasulullah ﷺ berkhutbah dan mendorong manusia untuk bersedekah. Lalu Utsman radhiyallahu ‘anhu berdiri dan mengumumkan sedekahnya di hadapan orang banyak. Hal ini mengarahkan perhatian kita kepada satu pembahasan penting, yaitu: manakah yang lebih utama, menampakkan sedekah atau menyembunyikannya?Tampaknya, hal itu berbeda-beda sesuai tujuan dan maslahat sedekah tersebut. Jika sedekah itu untuk kepentingan umum dan dengan diumumkan dapat mendorong orang lain untuk meneladani pemberi sedekah, maka menampakkannya lebih maslahat. Namun jika sedekah itu diberikan kepada orang tertentu, maka menyembunyikannya lebih utama sebagai bentuk menjaga perasaan orang tersebut agar tidak tersinggung karena sedekahnya diumumkan.Hal ini dipahami dari firman Allah Ta’ala:إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Jika kalian menampakkan sedekah-sedekah kalian, maka itu adalah sesuatu yang baik. Namun jika kalian menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagi kalian. Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahan kalian. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271)Syaikh As-Sa‘di rahimahullah berkata: “Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa sedekah yang dirahasiakan kepada orang fakir lebih utama daripada sedekah yang diumumkan. Adapun jika sedekah tersebut tidak diberikan kepada orang fakir, maka makna ayat menunjukkan bahwa merahasiakannya tidak selalu lebih baik daripada menampakkannya. Dalam kondisi seperti itu, pertimbangannya kembali kepada maslahat. Jika dengan menampakkannya dapat menampakkan syiar agama dan mendorong orang lain untuk meneladani, maka hal itu lebih utama daripada merahasiakannya.”Karena itu, dalam sebagian kegiatan lembaga sosial atau penggalangan dana untuk korban bencana dan proyek-proyek kebaikan lainnya, pengumuman nama para donatur terkadang perlu dilakukan dengan memperhatikan maslahat ini. Wallahu a‘lam.Kedelapan: Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu datang membawa seluruh hartanya kepada Rasulullah ﷺ lalu beliau menerimanya.Dalam Sunan Abi Dawud disebutkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ membawa emas sebesar telur. Ia berkata,“Wahai Rasulullah, aku memperoleh emas ini dari hasil tambang. Ambillah sebagai sedekah. Aku tidak memiliki selain ini.”Namun Rasulullah ﷺ berpaling darinya. Orang itu mendatangi beliau dari arah kanan, lalu beliau berpaling. Ia datang lagi dari arah kiri, lalu beliau berpaling. Kemudian ia datang dari belakang beliau, lalu Rasulullah ﷺ mengambil emas itu dan melemparkannya kepadanya. Seandainya mengenai wajah atau kepalanya, tentu akan melukainya.Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,“Datang salah seorang di antara kalian membawa seluruh hartanya lalu berkata, ‘Ini sedekah.’ Setelah itu ia duduk meminta-minta kepada manusia. Sedekah yang terbaik adalah sedekah yang diberikan dari harta yang masih menyisakan kecukupan.”Ketika taubat Ka‘ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu diterima, ia berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Sebagai bentuk taubatku, aku ingin menyedekahkan seluruh hartaku kepada Allah dan Rasul-Nya.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda,«أَمْسِكْ عَلَيْكَ بَعْضَ مَالِكَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ»“Pertahankan sebagian hartamu, itu lebih baik bagimu.”³Padahal Rasulullah ﷺ menerima sedekah seluruh harta dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, sementara beliau menolak orang yang ingin menyedekahkan seluruh hartanya dan menasihati Ka‘ab radhiyallahu ‘anhu agar menyisakan sebagian hartanya.Rasulullah ﷺ memperlakukan setiap orang sesuai dengan kondisi yang paling baik bagi dirinya. Beliau tidak mengingkari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu karena mengetahui kuatnya kesabaran, keyakinan, dan tawakal beliau.Adapun orang yang tidak mampu menanggung akibat menyedekahkan seluruh hartanya, maka perlakuannya berbeda. Seseorang tidak dianjurkan menyedekahkan seluruh hartanya jika dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah bagi dirinya atau ia tidak mampu bersabar menghadapi kemiskinan.Inilah salah satu bentuk hikmah dalam berdakwah kepada Allah, yaitu memperhatikan perbedaan karakter manusia, tingkat keimanan mereka, kemampuan mereka dalam menanggung kesulitan, dan memperlakukan setiap orang sesuai keadaannya.Kesembilan: Pada Perang Tabuk tampak jelas keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ketika Rasulullah ﷺ meninggalkannya sebagai pengganti beliau di Madinah. Beliau bersabda kepadanya, “Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?”Kesepuluh: Sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah orang-orang miskin. Namun demikian, mereka tetap ikut berinfak. Di antara mereka ada yang menyumbangkan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum. Bagi sebagian mereka, itulah separuh dari seluruh harta yang dimilikinya. Seseorang datang membawa satu sha’, sementara satu sha’ lagi ia tinggalkan untuk keluarganya, padahal ia akan meninggalkan mereka dalam perjalanan yang panjang ini.Jadi, yang menjadi tolok ukur bukanlah besarnya nilai harta yang disedekahkan, tetapi nilai pengorbanan diri dan kesediaan mengeluarkan apa yang dimiliki. Satu sha’ yang disedekahkan oleh orang seperti ini pada hakikatnya sebanding dengan setengah harta orang kaya. Pengorbanan dalam keadaan seperti itu sangat besar, dan pahalanya pun sangat agung.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,«سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ». قَالُوا: وَكَيْفَ؟ قَالَ: «كَانَ لِرَجُلٍ دِرْهَمَانِ، فَتَصَدَّقَ بِأَحَدِهِمَا، وَانْطَلَقَ رَجُلٌ إِلَى عُرْضِ مَالِهِ، فَأَخَذَ مِنْهُ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ، فَتَصَدَّقَ بِهَا».“Satu dirham mampu mengungguli pahala seratus ribu dirham.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana bisa?”Beliau menjawab, “Ada seseorang yang hanya memiliki dua dirham, lalu ia menyedekahkan satu dirham darinya. Sedangkan orang lain memiliki harta yang sangat banyak, lalu ia mengambil seratus ribu dirham dari hartanya dan menyedekahkannya.” (HR. An-Nasa’i, no. 2527 dan Ahmad, no. 8929. Hadits ini hasan).Karena itu, ketika seorang muslim diuji dengan hartanya, baik sedikit maupun banyak, yang terpenting adalah pengorbanan diri, mendahulukan apa yang Allah cintai daripada kepentingan dirinya sendiri, serta tidak meninggalkan kesempatan untuk berlomba-lomba menuju keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Kesebelas: Sekelompok orang datang kepada Rasulullah ﷺ meminta agar beliau menyediakan kendaraan untuk mereka. Namun, beliau tidak menemukan kendaraan yang dapat diberikan kepada mereka. Mereka pun pulang dengan hati sedih karena tidak memiliki bekal untuk berangkat. Tentang mereka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya,لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ۝ وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ“Tidak ada dosa atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang tidak mempunyai sesuatu untuk mereka infakkan, apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Demikian pula tidak ada dosa atas orang-orang yang ketika datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian,’ kemudian mereka kembali dengan mata bercucuran air mata karena sedih tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan.” (QS. At-Taubah: 91–92)Bukankah seorang muslim yang hidup pada masa penuh kelemahan seperti sekarang patut meneladani orang-orang lemah tersebut? Mereka benar-benar tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika tidak memiliki sesuatu yang dapat mereka persembahkan, mata mereka bercucuran air mata karena sedih tidak mampu memberikan sesuatu yang dapat menolong Islam dan kaum muslimin. Allah Yang Mahamulia tidak mencela mereka, bahkan memuji mereka, sebagaimana dipahami dari ayat-ayat tersebut. Wallahu a’lam.Maka, ketika seorang muslim melihat adanya pelecehan terhadap agama Allah, terhadap Allah, Rasul-Nya, dan syariat-Nya, sementara ia tidak memiliki kemampuan untuk berbuat banyak, hendaklah ia tetap memiliki ketulusan kepada Allah dan Rasul-Nya di dalam hatinya serta tekad yang jujur. Seandainya ia memiliki kemampuan, niscaya ia akan membela agama Allah dan menolongnya.Merekalah orang-orang yang sesuai dengan penjelasan As-Sa’di rahimahullah dalam menafsirkan ayat tersebut: mereka tidak berdosa selama mereka benar-benar tulus kepada Allah dan Rasul-Nya, memiliki keimanan yang jujur, berniat kuat bahwa seandainya mampu mereka pasti berjihad, serta melakukan segala bentuk dorongan, anjuran, dan motivasi untuk berjihad sesuai kemampuan mereka.Apabila seorang hamba telah melakukan yang terbaik sesuai kemampuannya, maka gugurlah kewajiban yang tidak sanggup ia lakukan. Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang mengampuni orang-orang yang tidak mampu, merahmati mereka, dan memberikan kepada mereka pahala yang sama seperti orang-orang yang mampu dan benar-benar melakukannya.Ketika gugur kewajiban dari mereka, hukum kembali kepada asalnya, yaitu berniat melakukan kebaikan. Jika niat itu disertai dengan kesungguhan berusaha semampunya, tetapi ia tetap tidak mampu melaksanakannya, maka ia memperoleh kedudukan seperti orang yang benar-benar mengerjakannya.Inilah salah satu karunia Allah kepada hamba-hamba-Nya pada masa-masa kaum muslimin berada dalam keadaan lemah, ketika kekuatan-kekuatan keburukan dan permusuhan bersatu menyerang mereka, sementara kaum muslimin tidak memiliki kekuatan dan daya untuk menghadapinya. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menempuh jalan ini, yaitu membenarkan Allah dengan sepenuh hati. Hati mereka bersedih, mata mereka bercucuran air mata, doa terus dipanjatkan, dan kesedihan mereka diterima di sisi Allah. Allah Yang Mahamulia mengetahui keadaan mereka. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Pahala mereka tetap terjaga, dan pertolongan Allah, dengan izin-Nya, akan segera datang.Ini juga merupakan bentuk keringanan syariat. Namun, di sisi lain tetap ada tuntutan, yaitu harus memiliki ketulusan kepada Allah dan Rasul-Nya.إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ“Apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya.”Karena itu, tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk bermalas-malasan dalam perkara yang masih mampu ia lakukan. Seorang mukmin juga tidak boleh hidup dengan hati yang mati, tidak peduli terhadap penderitaan kaum muslimin hanya dengan alasan dirinya tidak mampu berbuat banyak. Masih ada kemampuan yang tidak pernah gugur dari seorang muslim dan tidak ada uzur untuk meninggalkannya, yaitu hati yang sedih, mata yang menangis, ikut merasakan penderitaan mereka, dan mendoakan kaum muslimin, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Wallahu a’lam.Kedua belas: Ketika kaum mukminin berlomba-lomba bersedekah sesuai kemampuan masing-masing, orang yang kaya bersedekah dengan jumlah yang banyak, sedangkan yang miskin bersedekah dengan sedikit. Namun, orang-orang munafik tidak pernah membiarkan seorang pun. Jika mereka melihat orang kaya bersedekah dalam jumlah besar, mereka berkata, “Ini hanya ingin pamer.” Sebaliknya, jika mereka melihat orang miskin bersedekah sedikit, mereka berkata, “Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan sedekah orang kaya ini.”Golongan seperti ini selalu ada di setiap masyarakat kaum muslimin. Karena itu, hendaknya seorang mukmin segera melakukan amal-amal saleh dan tidak memedulikan perkataan orang-orang yang hanya gemar mencela di tengah masyarakat muslim, yang pekerjaan mereka hanyalah mengkritik si fulan dan menuduh si fulan.Ketiga belas: ‘Ulbah bin Zaid radhiyallahu ’anhu, seorang sahabat yang miskin, ketika tidak memiliki sesuatu yang dapat diinfakkan di jalan Allah, menghabiskan malamnya dengan memohon maaf kepada Rabbnya. Ia juga menyedekahkan kepada kaum muslimin setiap kezaliman yang pernah mereka lakukan terhadap dirinya, baik yang berkaitan dengan harta, kehormatan, maupun tubuhnya.Keesokan paginya, ketika Rasulullah ﷺ bersama para sahabat, beliau bersabda, “Siapakah yang bersedekah tadi malam?”Setelah Rasulullah ﷺ mengulang pertanyaan itu, ‘Ulbah radhiyallahu ’anhu berdiri dan memberitahukannya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Bergembiralah, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh sedekahmu telah dicatat sebagai sedekah yang diterima.”Kecintaan kepada jihad telah memenuhi hati para sahabat yang mulia hingga mereka menghabiskan malam dalam kesedihan karena tidak memiliki kendaraan yang dapat mengantarkan mereka berjihad. Mereka juga tidak memiliki harta untuk disumbangkan di jalan Allah. Akhirnya, yang mereka miliki hanyalah kezaliman yang pernah dilakukan kaum muslimin terhadap diri mereka, lalu mereka jadikan itu sebagai sedekah.Yang terpenting adalah hidupnya hati dan perasaan bahwa dirinya merupakan bagian dari masyarakat muslim. Karena itu, setiap muslim harus memiliki andil sesuai kemampuannya, meskipun yang dapat ia berikan hanyalah kehormatan dirinya, hartanya, atau tenaganya.Beginilah kehidupan yang dahulu membuat kaum muslimin mampu menaklukkan berbagai negeri, mengajak manusia kepada Allah, dan menyebarkan agama-Nya.Keempat belas: Waspadalah terhadap irjaf (menebarkan ketakutan dan keresahan), yaitu menakut-nakuti kaum muslimin dengan membesar-besarkan kekuatan musuh, meremehkan kekuatan kaum muslimin, serta menggambarkan bahwa kekalahan pasukan kaum muslimin sudah di ambang pintu, dengan tujuan melemahkan semangat mereka.Sebagian orang munafik pernah berkata pada Perang Tabuk, “Apakah kalian mengira memerangi Bani Ashfar (Romawi) seperti orang-orang Arab saling berperang? Demi Allah, besok kalian pasti akan terbelenggu dengan rantai.”Allah Ta’ala berfirman,لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا ۝ مَلْعُونِينَ ۖ أَيْنَمَا ثُقِفُوا أُخِذُوا وَقُتِّلُوا تَقْتِيلًا ۝ سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا“Sungguh, jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya, dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari perbuatannya), niscaya Kami perintahkan engkau (memerangi) mereka, kemudian mereka tidak lagi menjadi tetanggamu (di Madinah), kecuali sebentar. Mereka dalam keadaan terlaknat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka akan ditangkap dan dibunuh tanpa ampun. Sebagai sunah Allah yang berlaku terhadap orang-orang terdahulu. Dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunah Allah.” (QS. Al-Ahzab: 60–62)As-Sa’di rahimahullah berkata tentang firman Allah, “dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah,” yaitu orang-orang yang menakut-nakuti kaum muslimin dengan membesar-besarkan musuh, menyebut banyaknya jumlah dan kekuatan mereka, serta kelemahan kaum muslimin. Mereka tidak menyebutkan hal-hal yang seharusnya dapat meringankan keadaan tersebut. Bahkan mereka menyebarkan segala sesuatu yang menimbulkan rasa takut, mengajak kepada keburukan berupa melemahkan Islam dan kaum muslimin, serta menebarkan keresahan dan meruntuhkan semangat mereka.Perbuatan menyebarkan keresahan seperti ini juga dapat terjadi pada sebagian orang di tengah masyarakat Islam tanpa mereka sadari. Hal itu terjadi karena mereka mengikuti berita-berita musuh lalu menyebarkannya begitu saja tanpa melakukan tabayun terlebih dahulu, padahal di dalamnya terdapat hal-hal yang tidak boleh disampaikan kepada masyarakat karena dapat menimbulkan ketakutan di hati mereka. Dengan demikian, tanpa disadari ia telah melakukan irjaf. Seorang muslim harus berhati-hati agar tidak menjadi corong musuh atau membantu musuh tanpa disadarinya, terutama pada masa-masa krisis dan kesulitan.Kelima belas: Kelompok lain dari orang-orang munafik selalu mencari-cari alasan, atau bahkan menciptakan alasan untuk tidak ikut berangkat. Mereka berkata,لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ“Janganlah kalian berangkat dalam cuaca panas.”Mencari-cari alasan adalah kebiasaan orang-orang yang malas dan suka hidup nyaman. Ketika musim panas tiba, mereka beralasan karena teriknya matahari. Ketika musim dingin datang, mereka beralasan karena dinginnya udara. Begitulah sepanjang hidup mereka berpindah dari satu alasan ke alasan yang lain demi mencari kenyamanan.Janganlah menyia-nyiakan waktu. Jika engkau merasakan panasnya matahari, ingatlah panasnya Neraka Jahanam. Allah telah menjawab berbagai alasan mereka melalui firman-Nya,إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia.”Bahkan ada sebagian orang yang menjadikan penampilan seolah-olah bertakwa dan saleh sebagai alasan, atau berdalih takut terjatuh ke dalam fitnah.Di antara mereka ada yang berkata,ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ“Berilah aku izin (untuk tidak ikut berperang) dan janganlah engkau menjadikanku terjerumus ke dalam fitnah. Ketahuilah, sesungguhnya mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sungguh, Neraka Jahanam benar-benar mengepung orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 49)Walaupun alasan tersebut keluar dari seorang munafik, pada kenyataannya itu merupakan salah satu pintu masuk setan kepada anak Adam. Setan mendatangi manusia melalui berbagai cara, salah satunya dengan membuat seseorang berpura-pura bertakwa seraya berkata, “Aku takut kepada Allah.” Padahal, seandainya ia benar-benar takut kepada Allah Ta’ala, tentu ia tidak akan meninggalkan amal hanya karena alasan-alasan yang lemah. Masih bersambung Insya-Allah … Referensi: Fiqh As-Sirah. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Daar Tadmuriyyah.Baca Juga: Ketika Bekal Sedikit Jadi Banyak: Kisah Berkah di Perang Tabuk dan Rahasia Tauhid—- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 21 Juni 2026,  26 Dzulhijjah 1447 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq faedah sirah nabi Ghazwah Tabuk Infak di Jalan Allah Jihad dengan Harta kisah sahabat peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang tabuk sirah nabawiyah sirah nabi Surah At-Taubah umar bin khaththab utsman bin affan

Biografi Al-Hasan Al-Bashri (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleNama dan nasabKelahiran Al-Hasan Al-BashriSifat dan penampilan fisik Al-HasanKeberkahan rumah kenabian bagi Al-Hasan Al-BashriDisusui oleh Ummu Salamah dan doa para sahabatMasuk ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamGuru-guruMurid-muridKedudukan ilmiah Al-Hasan Al-BashriKemuliaan akhlak Al-Hasan Al-BashriNama dan nasabBeliau adalah Al-Hasan bin Abi Al-Hasan Al-Bashri. Nama ayahnya adalah Yasar, seorang maula (bekas budak yang telah dimerdekakan) milik Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Beliau termasuk salah satu imam besar dan tokoh terkemuka dalam Islam, serta dikenal sebagai salah satu penghafal Al-Qur’an. Kun-yah (nama panggilan kehormatan) beliau adalah Abu Sa‘id.Kelahiran Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله lahir di Madinah pada tahun 21 H, dua tahun sebelum berakhirnya masa kekhalifahan Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه.Beliau pernah menghadiri salat Jumat bersama Khalifah Utsman bin Affan رضي الله عنه dan mendengar khotbahnya. Ia juga menyaksikan peristiwa “Yaum Ad-Dar” (peristiwa pengepungan rumah Utsman). Saat itu usianya sekitar empat belas tahun.Sifat dan penampilan fisik Al-HasanImam Muhammad bin Sa‘d رحمه الله berkata tentangnya,كان الحسن جامعًا، عالِمًا، عاليًا، رفيعًا، فقيهًا، ثقةً، مأمونًا، عابدًا، ناسكًا، كبير العلم، فصيحًا، جميلًا وسيمًا“Al-Hasan adalah seorang yang memiliki banyak keutamaan; berilmu, berkedudukan tinggi, mulia, faqih, terpercaya, amanah, ahli ibadah, zuhud, luas ilmunya, fasih berbicara, serta berwajah tampan dan rupawan.”Seorang wanita bernama Amat Al-Hakam berkata,ان الحسن يجيء إلى حِطَّانَ الرَّقَاشيِّ، فما رأيت شابًّا قط كان أحسن وجهًا منه“Al-Hasan biasa datang menemui Hittan Ar-Raqasyi. Aku belum pernah melihat seorang pemuda yang lebih tampan wajahnya daripada dia.”Hammad bin Salamah berkata,رأيت الحسن يُصفِّر لحيته“Aku melihat Al-Hasan mewarnai janggutnya dengan warna kekuningan.”Amir Asy-Sya‘bi berkata kepada seseorang yang hendak pergi ke Bashrah,إذا نظرتَ إلى رجلٍ أجمل أهل البصرة وأهيبهم، فهو الحسن، فأقرِئه مني السلام“Jika engkau melihat seorang lelaki yang paling tampan dan paling berwibawa di Bashrah, maka dialah Al-Hasan. Sampaikan salamku kepadanya.”Keberkahan rumah kenabian bagi Al-Hasan Al-BashriDisusui oleh Ummu Salamah dan doa para sahabatIbu Al-Hasan Al-Bashri bernama Khairah. Ia adalah pelayan Ummul Mukminin Ummu Salamah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Suatu ketika, ibunya sedang keluar untuk suatu keperluan dan Al-Hasan masih bayi, lalu Ummu Salamah menggendongnya dan menyusuinya. Air susunya pun mengalir, lalu Al-Hasan menyusu darinya. Oleh karena itu, para ulama berpendapat bahwa hikmah dan ilmu yang dianugerahkan kepada Al-Hasan itu berasal dari keberkahan susuan tersebut.Ibunya juga sering membawa Al-Hasan yang masih kecil menemui para sahabat agar mereka mendoakannya. Di antara yang mendoakan beliau adalah Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه, yang berdoa,اللهم فقِّهه في الدين، وحبِّبه إلى الناس“Ya Allah, pahamkanlah dia dalam agama dan jadikanlah dia dicintai oleh manusia.”Masuk ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamIbnu Sa‘d meriwayatkan bahwa Al-Hasan berkata,كنتُ أدخُلُ بيوت أزواج النبي صلى الله عليه وسلم في خلافةِ عثمان بن عفان، فأتناول سقف البيت بيدي“Aku pernah masuk ke rumah-rumah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, dan aku dapat menyentuh atap rumah itu dengan tanganku.”Hal ini menunjukkan bahwa sejak kecil, beliau tumbuh dekat dengan lingkungan para sahabat dan rumah tangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tentu memberi pengaruh besar terhadap pembentukan keilmuan dan kepribadiannya.Guru-guruAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله belajar dan meriwayatkan hadis dari banyak sahabat Nabi ﷺ. Di antara mereka adalah Imran bin Husain, Al-Mughirah bin Syu‘bah, Abdurrahman bin Samurah, Samurah bin Jundub, Abu Bakrah Ats-Tsaqafi, An-Nu‘man bin Basyir, Jabir bin Abdullah, Jundub Al-Bajali, Abdullah bin Abbas, Amr bin Taghlib, Ma‘qil bin Yasar, Al-Aswad bin Sari‘, dan Anas bin Malik, serta sahabat lainnya. Beliau juga membaca dan mempelajari Al-Qur’an kepada Hitthan bin Abdullah Ar-Raqasyi. Selain meriwayatkan dari para sahabat, beliau pun mengambil ilmu dari banyak tabi‘in, sehingga sanad keilmuannya sangat luas dan kuat.Murid-muridBanyak ulama besar yang menjadi murid Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله dan meriwayatkan ilmu darinya. Di antara mereka adalah Ayyub As-Sakhtiyani, Syaiban An-Nahwi, Yunus bin Ubaid, Ibnu ‘Aun, Humaid Ath-Thawil, Tsabit Al-Bunani, Malik bin Dinar, Hisyam bin Hassan, Jarir bin Hazim, Ar-Rabi‘ bin Shabih, Yazid bin Ibrahim At-Tustari, Mubarak bin Fudhalah, Aban bin Yazid Al-‘Aththar, Qurrah bin Khalid, Hazm Al-Qath‘i, Sallam bin Miskin, Syumait bin Ajlan, dan Shalih Abu ‘Amir Al-Khazzaz, serta banyak lagi lainnya. Hal ini menunjukkan betapa luasnya pengaruh dan kedudukan beliau dalam dunia ilmu, hingga menjadi rujukan bagi banyak tokoh besar generasi setelahnya.Kedudukan ilmiah Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله memiliki kedudukan ilmiah yang sangat tinggi di kalangan para sahabat dan tabi‘in. Banyak ulama besar yang mengakui keutamaannya dalam ilmu dan pemahaman agama.Ibnu Sa‘d رحمه الله berkata,كان الحسن البصري جامعًا، عالِمًا، عاليًا، رفيعًا، فقيهًا، ثقةً، مأمونًا، عابدًا، ناسكًا، كبيرَ العلم، فصيحًا، جميلًا وسيمًا، وكان ما أسند مِن حديثه وروى عمَّن سمع منه فحسنٌ حجَّةٌ، وما أرسل مِن الحديث، فليس بحجة، وقدِم مكةَ فأجلَسوه على سريرٍ، واجتمع الناس إليه فحدَّثهم، وكان فيمَن أتاه: مجاهدٌ، وعطاء، وطاوس، وعمرو بن شُعَيب، فقال بعضهم: لم نرَ مثلَ هذا قط“Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang yang memiliki banyak keutamaan; berilmu, berkedudukan tinggi, mulia, faqih (ahli fikih), terpercaya, amanah, ahli ibadah, zuhud, luas ilmunya, fasih berbicara, serta berwajah tampan dan rupawan. Hadis-hadis yang ia riwayatkan dengan sanad yang bersambung dari orang yang ia dengar darinya adalah hadis yang baik dan dapat dijadikan hujah. Adapun hadis yang ia riwayatkan secara mursal (tanpa menyebut sahabat), maka tidak dijadikan hujah.Beliau pernah datang ke Makkah, lalu orang-orang mempersilahkannya duduk di atas sebuah tempat tinggi (seperti kursi kehormatan). Manusia pun berkumpul mengelilinginya untuk mendengarkan hadis darinya. Di antara yang hadir saat itu adalah Mujahid, ‘Atha’, Thawus, dan ‘Amr bin Syu‘aib. Sebagian dari mereka berkata, ‘Kami belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.’”Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Khalid bin Riyah bahwa suatu ketika, Anas bin Malik رضي الله عنه ditanya tentang suatu masalah. Maka beliau berkata,عليكم مولانا الحسن، فسَلُوه“Datangilah Al-Hasan dan tanyakan kepadanya.”Orang-orang pun berkata, “Wahai Abu Hamzah, kami bertanya kepadamu, tetapi engkau menyuruh kami bertanya kepada Al-Hasan?”Anas menjawab,إنا سمِعنا وسمِع، فحفِظ ونسينا“Kami dahulu mendengar (ilmu) dan dia juga mendengar. Namun dia menghafal, sedangkan kami lupa.”Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Humaid bin Hilal, ia berkata, “Abu Qatadah رضي الله عنه pernah berkata kepada kami,عليكم بهذا الشيخ – يعني الحسنَ بن أبي الحسن – فإني واللهِ ما رأيتُ رجلًا قط أشبهَ رأيًا بعمر بن الخطاب منه“Ikutilah syekh ini, maksudnya Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun yang pendapat dan cara berpikirnya lebih mirip dengan Umar bin Al-Khattab daripada dia.”Yunus bin ‘Ubaid berkata,كان الحسنُ – واللهِ – مِن رؤوس العلماء في الفتنِ والدماء“Demi Allah, Al-Hasan termasuk pemimpin para ulama dalam menghadapi persoalan fitnah dan urusan darah (perkara besar seperti konflik dan pertumpahan darah).”Qatadah bin Di‘amah berkata,كان الحسنُ مِن أعلم الناس بالحلال والحرام“Al-Hasan termasuk orang yang paling berilmu tentang halal dan haram.”Qatadah juga berkata,ما جمعتُ علمَ الحسن إلى أحد من العلماء، إلا وجدتُ له فضلًا عليه، غيرَ أنه إذا أشكل عليه شيء كتب فيه إلى سعيد بن المسيب يسأله، وما جالستُ فقيهًا قط إلا رأيت فضل الحسن“Setiap kali aku membandingkan ilmu Al-Hasan dengan ilmu seorang ulama lainnya, pasti aku melihat kelebihannya atas ulama tersebut. Hanya saja, jika ada suatu masalah yang sulit baginya, ia menuliskannya kepada Sa‘id bin Al-Musayyib untuk bertanya. Dan aku tidak pernah duduk bersama seorang ahli fikih pun kecuali aku melihat keunggulan Al-Hasan atasnya.”Imam Adz-Dzahabi رحمه الله berkata, “Apabila Al-Hasan Al-Bashri meriwayatkan hadis ini (tentang batang pohon kurma yang merintih karena rindu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), beliau menangis. Kemudian beliau berkata,يا عباد الله، الخشبةُ تحنُّ إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، شوقًا إليه، فأنتم أحقُّ أن تشتاقوا إلى لقائه“Wahai hamba-hamba Allah, sebatang kayu saja merindukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menangis karena ingin bertemu dengannya. Maka kalian lebih berhak untuk merindukan pertemuan dengan beliau.”Kemuliaan akhlak Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena kemuliaan akhlaknya. Ilmu yang beliau miliki benar-benar tampak dalam sikap, tutur kata, dan kehidupannya sehari-hari.Jarir bin Hazim berkata, “Kami sedang duduk bersama Al-Hasan, sementara hari sudah lewat tengah hari dan semakin siang. Lalu putranya berkata, ‘Ringankanlah beban syekh, karena kalian telah memberatkannya. Ia belum makan dan belum minum.’Al-Hasan pun berkata, ‘Sudahlah!’ sambil menegurnya, ‘Biarkan mereka. Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mataku daripada melihat mereka atau bersama mereka. Sesungguhnya jika seorang muslim mengunjungi saudaranya, lalu keduanya berbincang, saling mengingatkan, dan memuji Rabb mereka, hingga waktu istirahat siang pun terlewatkan, maka itu (adalah kebaikan).’”‘Ubais Abu ‘Ubaidah berkata,كان الحسن البصري إذا اشترى شيئًا، وكان في ثمنه كسرٌ، جَبَره لصاحبه“Apabila Al-Hasan Al-Bashri membeli sesuatu, dan pada harganya ada pecahan (kekurangan kecil), maka ia membulatkannya untuk penjual.”Kultsum bin Jausyan berkata, “Ada seseorang meminta bantuan kepada Al-Hasan untuk suatu keperluan. Maka Al-Hasan pun langsung keluar bersamanya. Orang itu berkata, ‘Aku tadi juga meminta bantuan kepada Ibnu Sirin dan Farqad, tetapi mereka berkata, “Tunggu sampai kami menghadiri jenazah, nanti setelah itu kami akan keluar bersamamu.”’Maka Al-Hasan berkata,أمَا إنهما لو مشَيَا معك لكان خيرًا‘Ketahuilah, seandainya mereka langsung berjalan bersamamu (untuk membantumu), itu tentu lebih baik.’”[Bersambung]***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Biografi Al-Hasan Al-Bashri (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleNama dan nasabKelahiran Al-Hasan Al-BashriSifat dan penampilan fisik Al-HasanKeberkahan rumah kenabian bagi Al-Hasan Al-BashriDisusui oleh Ummu Salamah dan doa para sahabatMasuk ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamGuru-guruMurid-muridKedudukan ilmiah Al-Hasan Al-BashriKemuliaan akhlak Al-Hasan Al-BashriNama dan nasabBeliau adalah Al-Hasan bin Abi Al-Hasan Al-Bashri. Nama ayahnya adalah Yasar, seorang maula (bekas budak yang telah dimerdekakan) milik Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Beliau termasuk salah satu imam besar dan tokoh terkemuka dalam Islam, serta dikenal sebagai salah satu penghafal Al-Qur’an. Kun-yah (nama panggilan kehormatan) beliau adalah Abu Sa‘id.Kelahiran Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله lahir di Madinah pada tahun 21 H, dua tahun sebelum berakhirnya masa kekhalifahan Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه.Beliau pernah menghadiri salat Jumat bersama Khalifah Utsman bin Affan رضي الله عنه dan mendengar khotbahnya. Ia juga menyaksikan peristiwa “Yaum Ad-Dar” (peristiwa pengepungan rumah Utsman). Saat itu usianya sekitar empat belas tahun.Sifat dan penampilan fisik Al-HasanImam Muhammad bin Sa‘d رحمه الله berkata tentangnya,كان الحسن جامعًا، عالِمًا، عاليًا، رفيعًا، فقيهًا، ثقةً، مأمونًا، عابدًا، ناسكًا، كبير العلم، فصيحًا، جميلًا وسيمًا“Al-Hasan adalah seorang yang memiliki banyak keutamaan; berilmu, berkedudukan tinggi, mulia, faqih, terpercaya, amanah, ahli ibadah, zuhud, luas ilmunya, fasih berbicara, serta berwajah tampan dan rupawan.”Seorang wanita bernama Amat Al-Hakam berkata,ان الحسن يجيء إلى حِطَّانَ الرَّقَاشيِّ، فما رأيت شابًّا قط كان أحسن وجهًا منه“Al-Hasan biasa datang menemui Hittan Ar-Raqasyi. Aku belum pernah melihat seorang pemuda yang lebih tampan wajahnya daripada dia.”Hammad bin Salamah berkata,رأيت الحسن يُصفِّر لحيته“Aku melihat Al-Hasan mewarnai janggutnya dengan warna kekuningan.”Amir Asy-Sya‘bi berkata kepada seseorang yang hendak pergi ke Bashrah,إذا نظرتَ إلى رجلٍ أجمل أهل البصرة وأهيبهم، فهو الحسن، فأقرِئه مني السلام“Jika engkau melihat seorang lelaki yang paling tampan dan paling berwibawa di Bashrah, maka dialah Al-Hasan. Sampaikan salamku kepadanya.”Keberkahan rumah kenabian bagi Al-Hasan Al-BashriDisusui oleh Ummu Salamah dan doa para sahabatIbu Al-Hasan Al-Bashri bernama Khairah. Ia adalah pelayan Ummul Mukminin Ummu Salamah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Suatu ketika, ibunya sedang keluar untuk suatu keperluan dan Al-Hasan masih bayi, lalu Ummu Salamah menggendongnya dan menyusuinya. Air susunya pun mengalir, lalu Al-Hasan menyusu darinya. Oleh karena itu, para ulama berpendapat bahwa hikmah dan ilmu yang dianugerahkan kepada Al-Hasan itu berasal dari keberkahan susuan tersebut.Ibunya juga sering membawa Al-Hasan yang masih kecil menemui para sahabat agar mereka mendoakannya. Di antara yang mendoakan beliau adalah Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه, yang berdoa,اللهم فقِّهه في الدين، وحبِّبه إلى الناس“Ya Allah, pahamkanlah dia dalam agama dan jadikanlah dia dicintai oleh manusia.”Masuk ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamIbnu Sa‘d meriwayatkan bahwa Al-Hasan berkata,كنتُ أدخُلُ بيوت أزواج النبي صلى الله عليه وسلم في خلافةِ عثمان بن عفان، فأتناول سقف البيت بيدي“Aku pernah masuk ke rumah-rumah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, dan aku dapat menyentuh atap rumah itu dengan tanganku.”Hal ini menunjukkan bahwa sejak kecil, beliau tumbuh dekat dengan lingkungan para sahabat dan rumah tangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tentu memberi pengaruh besar terhadap pembentukan keilmuan dan kepribadiannya.Guru-guruAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله belajar dan meriwayatkan hadis dari banyak sahabat Nabi ﷺ. Di antara mereka adalah Imran bin Husain, Al-Mughirah bin Syu‘bah, Abdurrahman bin Samurah, Samurah bin Jundub, Abu Bakrah Ats-Tsaqafi, An-Nu‘man bin Basyir, Jabir bin Abdullah, Jundub Al-Bajali, Abdullah bin Abbas, Amr bin Taghlib, Ma‘qil bin Yasar, Al-Aswad bin Sari‘, dan Anas bin Malik, serta sahabat lainnya. Beliau juga membaca dan mempelajari Al-Qur’an kepada Hitthan bin Abdullah Ar-Raqasyi. Selain meriwayatkan dari para sahabat, beliau pun mengambil ilmu dari banyak tabi‘in, sehingga sanad keilmuannya sangat luas dan kuat.Murid-muridBanyak ulama besar yang menjadi murid Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله dan meriwayatkan ilmu darinya. Di antara mereka adalah Ayyub As-Sakhtiyani, Syaiban An-Nahwi, Yunus bin Ubaid, Ibnu ‘Aun, Humaid Ath-Thawil, Tsabit Al-Bunani, Malik bin Dinar, Hisyam bin Hassan, Jarir bin Hazim, Ar-Rabi‘ bin Shabih, Yazid bin Ibrahim At-Tustari, Mubarak bin Fudhalah, Aban bin Yazid Al-‘Aththar, Qurrah bin Khalid, Hazm Al-Qath‘i, Sallam bin Miskin, Syumait bin Ajlan, dan Shalih Abu ‘Amir Al-Khazzaz, serta banyak lagi lainnya. Hal ini menunjukkan betapa luasnya pengaruh dan kedudukan beliau dalam dunia ilmu, hingga menjadi rujukan bagi banyak tokoh besar generasi setelahnya.Kedudukan ilmiah Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله memiliki kedudukan ilmiah yang sangat tinggi di kalangan para sahabat dan tabi‘in. Banyak ulama besar yang mengakui keutamaannya dalam ilmu dan pemahaman agama.Ibnu Sa‘d رحمه الله berkata,كان الحسن البصري جامعًا، عالِمًا، عاليًا، رفيعًا، فقيهًا، ثقةً، مأمونًا، عابدًا، ناسكًا، كبيرَ العلم، فصيحًا، جميلًا وسيمًا، وكان ما أسند مِن حديثه وروى عمَّن سمع منه فحسنٌ حجَّةٌ، وما أرسل مِن الحديث، فليس بحجة، وقدِم مكةَ فأجلَسوه على سريرٍ، واجتمع الناس إليه فحدَّثهم، وكان فيمَن أتاه: مجاهدٌ، وعطاء، وطاوس، وعمرو بن شُعَيب، فقال بعضهم: لم نرَ مثلَ هذا قط“Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang yang memiliki banyak keutamaan; berilmu, berkedudukan tinggi, mulia, faqih (ahli fikih), terpercaya, amanah, ahli ibadah, zuhud, luas ilmunya, fasih berbicara, serta berwajah tampan dan rupawan. Hadis-hadis yang ia riwayatkan dengan sanad yang bersambung dari orang yang ia dengar darinya adalah hadis yang baik dan dapat dijadikan hujah. Adapun hadis yang ia riwayatkan secara mursal (tanpa menyebut sahabat), maka tidak dijadikan hujah.Beliau pernah datang ke Makkah, lalu orang-orang mempersilahkannya duduk di atas sebuah tempat tinggi (seperti kursi kehormatan). Manusia pun berkumpul mengelilinginya untuk mendengarkan hadis darinya. Di antara yang hadir saat itu adalah Mujahid, ‘Atha’, Thawus, dan ‘Amr bin Syu‘aib. Sebagian dari mereka berkata, ‘Kami belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.’”Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Khalid bin Riyah bahwa suatu ketika, Anas bin Malik رضي الله عنه ditanya tentang suatu masalah. Maka beliau berkata,عليكم مولانا الحسن، فسَلُوه“Datangilah Al-Hasan dan tanyakan kepadanya.”Orang-orang pun berkata, “Wahai Abu Hamzah, kami bertanya kepadamu, tetapi engkau menyuruh kami bertanya kepada Al-Hasan?”Anas menjawab,إنا سمِعنا وسمِع، فحفِظ ونسينا“Kami dahulu mendengar (ilmu) dan dia juga mendengar. Namun dia menghafal, sedangkan kami lupa.”Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Humaid bin Hilal, ia berkata, “Abu Qatadah رضي الله عنه pernah berkata kepada kami,عليكم بهذا الشيخ – يعني الحسنَ بن أبي الحسن – فإني واللهِ ما رأيتُ رجلًا قط أشبهَ رأيًا بعمر بن الخطاب منه“Ikutilah syekh ini, maksudnya Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun yang pendapat dan cara berpikirnya lebih mirip dengan Umar bin Al-Khattab daripada dia.”Yunus bin ‘Ubaid berkata,كان الحسنُ – واللهِ – مِن رؤوس العلماء في الفتنِ والدماء“Demi Allah, Al-Hasan termasuk pemimpin para ulama dalam menghadapi persoalan fitnah dan urusan darah (perkara besar seperti konflik dan pertumpahan darah).”Qatadah bin Di‘amah berkata,كان الحسنُ مِن أعلم الناس بالحلال والحرام“Al-Hasan termasuk orang yang paling berilmu tentang halal dan haram.”Qatadah juga berkata,ما جمعتُ علمَ الحسن إلى أحد من العلماء، إلا وجدتُ له فضلًا عليه، غيرَ أنه إذا أشكل عليه شيء كتب فيه إلى سعيد بن المسيب يسأله، وما جالستُ فقيهًا قط إلا رأيت فضل الحسن“Setiap kali aku membandingkan ilmu Al-Hasan dengan ilmu seorang ulama lainnya, pasti aku melihat kelebihannya atas ulama tersebut. Hanya saja, jika ada suatu masalah yang sulit baginya, ia menuliskannya kepada Sa‘id bin Al-Musayyib untuk bertanya. Dan aku tidak pernah duduk bersama seorang ahli fikih pun kecuali aku melihat keunggulan Al-Hasan atasnya.”Imam Adz-Dzahabi رحمه الله berkata, “Apabila Al-Hasan Al-Bashri meriwayatkan hadis ini (tentang batang pohon kurma yang merintih karena rindu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), beliau menangis. Kemudian beliau berkata,يا عباد الله، الخشبةُ تحنُّ إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، شوقًا إليه، فأنتم أحقُّ أن تشتاقوا إلى لقائه“Wahai hamba-hamba Allah, sebatang kayu saja merindukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menangis karena ingin bertemu dengannya. Maka kalian lebih berhak untuk merindukan pertemuan dengan beliau.”Kemuliaan akhlak Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena kemuliaan akhlaknya. Ilmu yang beliau miliki benar-benar tampak dalam sikap, tutur kata, dan kehidupannya sehari-hari.Jarir bin Hazim berkata, “Kami sedang duduk bersama Al-Hasan, sementara hari sudah lewat tengah hari dan semakin siang. Lalu putranya berkata, ‘Ringankanlah beban syekh, karena kalian telah memberatkannya. Ia belum makan dan belum minum.’Al-Hasan pun berkata, ‘Sudahlah!’ sambil menegurnya, ‘Biarkan mereka. Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mataku daripada melihat mereka atau bersama mereka. Sesungguhnya jika seorang muslim mengunjungi saudaranya, lalu keduanya berbincang, saling mengingatkan, dan memuji Rabb mereka, hingga waktu istirahat siang pun terlewatkan, maka itu (adalah kebaikan).’”‘Ubais Abu ‘Ubaidah berkata,كان الحسن البصري إذا اشترى شيئًا، وكان في ثمنه كسرٌ، جَبَره لصاحبه“Apabila Al-Hasan Al-Bashri membeli sesuatu, dan pada harganya ada pecahan (kekurangan kecil), maka ia membulatkannya untuk penjual.”Kultsum bin Jausyan berkata, “Ada seseorang meminta bantuan kepada Al-Hasan untuk suatu keperluan. Maka Al-Hasan pun langsung keluar bersamanya. Orang itu berkata, ‘Aku tadi juga meminta bantuan kepada Ibnu Sirin dan Farqad, tetapi mereka berkata, “Tunggu sampai kami menghadiri jenazah, nanti setelah itu kami akan keluar bersamamu.”’Maka Al-Hasan berkata,أمَا إنهما لو مشَيَا معك لكان خيرًا‘Ketahuilah, seandainya mereka langsung berjalan bersamamu (untuk membantumu), itu tentu lebih baik.’”[Bersambung]***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleNama dan nasabKelahiran Al-Hasan Al-BashriSifat dan penampilan fisik Al-HasanKeberkahan rumah kenabian bagi Al-Hasan Al-BashriDisusui oleh Ummu Salamah dan doa para sahabatMasuk ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamGuru-guruMurid-muridKedudukan ilmiah Al-Hasan Al-BashriKemuliaan akhlak Al-Hasan Al-BashriNama dan nasabBeliau adalah Al-Hasan bin Abi Al-Hasan Al-Bashri. Nama ayahnya adalah Yasar, seorang maula (bekas budak yang telah dimerdekakan) milik Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Beliau termasuk salah satu imam besar dan tokoh terkemuka dalam Islam, serta dikenal sebagai salah satu penghafal Al-Qur’an. Kun-yah (nama panggilan kehormatan) beliau adalah Abu Sa‘id.Kelahiran Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله lahir di Madinah pada tahun 21 H, dua tahun sebelum berakhirnya masa kekhalifahan Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه.Beliau pernah menghadiri salat Jumat bersama Khalifah Utsman bin Affan رضي الله عنه dan mendengar khotbahnya. Ia juga menyaksikan peristiwa “Yaum Ad-Dar” (peristiwa pengepungan rumah Utsman). Saat itu usianya sekitar empat belas tahun.Sifat dan penampilan fisik Al-HasanImam Muhammad bin Sa‘d رحمه الله berkata tentangnya,كان الحسن جامعًا، عالِمًا، عاليًا، رفيعًا، فقيهًا، ثقةً، مأمونًا، عابدًا، ناسكًا، كبير العلم، فصيحًا، جميلًا وسيمًا“Al-Hasan adalah seorang yang memiliki banyak keutamaan; berilmu, berkedudukan tinggi, mulia, faqih, terpercaya, amanah, ahli ibadah, zuhud, luas ilmunya, fasih berbicara, serta berwajah tampan dan rupawan.”Seorang wanita bernama Amat Al-Hakam berkata,ان الحسن يجيء إلى حِطَّانَ الرَّقَاشيِّ، فما رأيت شابًّا قط كان أحسن وجهًا منه“Al-Hasan biasa datang menemui Hittan Ar-Raqasyi. Aku belum pernah melihat seorang pemuda yang lebih tampan wajahnya daripada dia.”Hammad bin Salamah berkata,رأيت الحسن يُصفِّر لحيته“Aku melihat Al-Hasan mewarnai janggutnya dengan warna kekuningan.”Amir Asy-Sya‘bi berkata kepada seseorang yang hendak pergi ke Bashrah,إذا نظرتَ إلى رجلٍ أجمل أهل البصرة وأهيبهم، فهو الحسن، فأقرِئه مني السلام“Jika engkau melihat seorang lelaki yang paling tampan dan paling berwibawa di Bashrah, maka dialah Al-Hasan. Sampaikan salamku kepadanya.”Keberkahan rumah kenabian bagi Al-Hasan Al-BashriDisusui oleh Ummu Salamah dan doa para sahabatIbu Al-Hasan Al-Bashri bernama Khairah. Ia adalah pelayan Ummul Mukminin Ummu Salamah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Suatu ketika, ibunya sedang keluar untuk suatu keperluan dan Al-Hasan masih bayi, lalu Ummu Salamah menggendongnya dan menyusuinya. Air susunya pun mengalir, lalu Al-Hasan menyusu darinya. Oleh karena itu, para ulama berpendapat bahwa hikmah dan ilmu yang dianugerahkan kepada Al-Hasan itu berasal dari keberkahan susuan tersebut.Ibunya juga sering membawa Al-Hasan yang masih kecil menemui para sahabat agar mereka mendoakannya. Di antara yang mendoakan beliau adalah Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه, yang berdoa,اللهم فقِّهه في الدين، وحبِّبه إلى الناس“Ya Allah, pahamkanlah dia dalam agama dan jadikanlah dia dicintai oleh manusia.”Masuk ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamIbnu Sa‘d meriwayatkan bahwa Al-Hasan berkata,كنتُ أدخُلُ بيوت أزواج النبي صلى الله عليه وسلم في خلافةِ عثمان بن عفان، فأتناول سقف البيت بيدي“Aku pernah masuk ke rumah-rumah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, dan aku dapat menyentuh atap rumah itu dengan tanganku.”Hal ini menunjukkan bahwa sejak kecil, beliau tumbuh dekat dengan lingkungan para sahabat dan rumah tangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tentu memberi pengaruh besar terhadap pembentukan keilmuan dan kepribadiannya.Guru-guruAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله belajar dan meriwayatkan hadis dari banyak sahabat Nabi ﷺ. Di antara mereka adalah Imran bin Husain, Al-Mughirah bin Syu‘bah, Abdurrahman bin Samurah, Samurah bin Jundub, Abu Bakrah Ats-Tsaqafi, An-Nu‘man bin Basyir, Jabir bin Abdullah, Jundub Al-Bajali, Abdullah bin Abbas, Amr bin Taghlib, Ma‘qil bin Yasar, Al-Aswad bin Sari‘, dan Anas bin Malik, serta sahabat lainnya. Beliau juga membaca dan mempelajari Al-Qur’an kepada Hitthan bin Abdullah Ar-Raqasyi. Selain meriwayatkan dari para sahabat, beliau pun mengambil ilmu dari banyak tabi‘in, sehingga sanad keilmuannya sangat luas dan kuat.Murid-muridBanyak ulama besar yang menjadi murid Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله dan meriwayatkan ilmu darinya. Di antara mereka adalah Ayyub As-Sakhtiyani, Syaiban An-Nahwi, Yunus bin Ubaid, Ibnu ‘Aun, Humaid Ath-Thawil, Tsabit Al-Bunani, Malik bin Dinar, Hisyam bin Hassan, Jarir bin Hazim, Ar-Rabi‘ bin Shabih, Yazid bin Ibrahim At-Tustari, Mubarak bin Fudhalah, Aban bin Yazid Al-‘Aththar, Qurrah bin Khalid, Hazm Al-Qath‘i, Sallam bin Miskin, Syumait bin Ajlan, dan Shalih Abu ‘Amir Al-Khazzaz, serta banyak lagi lainnya. Hal ini menunjukkan betapa luasnya pengaruh dan kedudukan beliau dalam dunia ilmu, hingga menjadi rujukan bagi banyak tokoh besar generasi setelahnya.Kedudukan ilmiah Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله memiliki kedudukan ilmiah yang sangat tinggi di kalangan para sahabat dan tabi‘in. Banyak ulama besar yang mengakui keutamaannya dalam ilmu dan pemahaman agama.Ibnu Sa‘d رحمه الله berkata,كان الحسن البصري جامعًا، عالِمًا، عاليًا، رفيعًا، فقيهًا، ثقةً، مأمونًا، عابدًا، ناسكًا، كبيرَ العلم، فصيحًا، جميلًا وسيمًا، وكان ما أسند مِن حديثه وروى عمَّن سمع منه فحسنٌ حجَّةٌ، وما أرسل مِن الحديث، فليس بحجة، وقدِم مكةَ فأجلَسوه على سريرٍ، واجتمع الناس إليه فحدَّثهم، وكان فيمَن أتاه: مجاهدٌ، وعطاء، وطاوس، وعمرو بن شُعَيب، فقال بعضهم: لم نرَ مثلَ هذا قط“Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang yang memiliki banyak keutamaan; berilmu, berkedudukan tinggi, mulia, faqih (ahli fikih), terpercaya, amanah, ahli ibadah, zuhud, luas ilmunya, fasih berbicara, serta berwajah tampan dan rupawan. Hadis-hadis yang ia riwayatkan dengan sanad yang bersambung dari orang yang ia dengar darinya adalah hadis yang baik dan dapat dijadikan hujah. Adapun hadis yang ia riwayatkan secara mursal (tanpa menyebut sahabat), maka tidak dijadikan hujah.Beliau pernah datang ke Makkah, lalu orang-orang mempersilahkannya duduk di atas sebuah tempat tinggi (seperti kursi kehormatan). Manusia pun berkumpul mengelilinginya untuk mendengarkan hadis darinya. Di antara yang hadir saat itu adalah Mujahid, ‘Atha’, Thawus, dan ‘Amr bin Syu‘aib. Sebagian dari mereka berkata, ‘Kami belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.’”Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Khalid bin Riyah bahwa suatu ketika, Anas bin Malik رضي الله عنه ditanya tentang suatu masalah. Maka beliau berkata,عليكم مولانا الحسن، فسَلُوه“Datangilah Al-Hasan dan tanyakan kepadanya.”Orang-orang pun berkata, “Wahai Abu Hamzah, kami bertanya kepadamu, tetapi engkau menyuruh kami bertanya kepada Al-Hasan?”Anas menjawab,إنا سمِعنا وسمِع، فحفِظ ونسينا“Kami dahulu mendengar (ilmu) dan dia juga mendengar. Namun dia menghafal, sedangkan kami lupa.”Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Humaid bin Hilal, ia berkata, “Abu Qatadah رضي الله عنه pernah berkata kepada kami,عليكم بهذا الشيخ – يعني الحسنَ بن أبي الحسن – فإني واللهِ ما رأيتُ رجلًا قط أشبهَ رأيًا بعمر بن الخطاب منه“Ikutilah syekh ini, maksudnya Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun yang pendapat dan cara berpikirnya lebih mirip dengan Umar bin Al-Khattab daripada dia.”Yunus bin ‘Ubaid berkata,كان الحسنُ – واللهِ – مِن رؤوس العلماء في الفتنِ والدماء“Demi Allah, Al-Hasan termasuk pemimpin para ulama dalam menghadapi persoalan fitnah dan urusan darah (perkara besar seperti konflik dan pertumpahan darah).”Qatadah bin Di‘amah berkata,كان الحسنُ مِن أعلم الناس بالحلال والحرام“Al-Hasan termasuk orang yang paling berilmu tentang halal dan haram.”Qatadah juga berkata,ما جمعتُ علمَ الحسن إلى أحد من العلماء، إلا وجدتُ له فضلًا عليه، غيرَ أنه إذا أشكل عليه شيء كتب فيه إلى سعيد بن المسيب يسأله، وما جالستُ فقيهًا قط إلا رأيت فضل الحسن“Setiap kali aku membandingkan ilmu Al-Hasan dengan ilmu seorang ulama lainnya, pasti aku melihat kelebihannya atas ulama tersebut. Hanya saja, jika ada suatu masalah yang sulit baginya, ia menuliskannya kepada Sa‘id bin Al-Musayyib untuk bertanya. Dan aku tidak pernah duduk bersama seorang ahli fikih pun kecuali aku melihat keunggulan Al-Hasan atasnya.”Imam Adz-Dzahabi رحمه الله berkata, “Apabila Al-Hasan Al-Bashri meriwayatkan hadis ini (tentang batang pohon kurma yang merintih karena rindu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), beliau menangis. Kemudian beliau berkata,يا عباد الله، الخشبةُ تحنُّ إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، شوقًا إليه، فأنتم أحقُّ أن تشتاقوا إلى لقائه“Wahai hamba-hamba Allah, sebatang kayu saja merindukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menangis karena ingin bertemu dengannya. Maka kalian lebih berhak untuk merindukan pertemuan dengan beliau.”Kemuliaan akhlak Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena kemuliaan akhlaknya. Ilmu yang beliau miliki benar-benar tampak dalam sikap, tutur kata, dan kehidupannya sehari-hari.Jarir bin Hazim berkata, “Kami sedang duduk bersama Al-Hasan, sementara hari sudah lewat tengah hari dan semakin siang. Lalu putranya berkata, ‘Ringankanlah beban syekh, karena kalian telah memberatkannya. Ia belum makan dan belum minum.’Al-Hasan pun berkata, ‘Sudahlah!’ sambil menegurnya, ‘Biarkan mereka. Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mataku daripada melihat mereka atau bersama mereka. Sesungguhnya jika seorang muslim mengunjungi saudaranya, lalu keduanya berbincang, saling mengingatkan, dan memuji Rabb mereka, hingga waktu istirahat siang pun terlewatkan, maka itu (adalah kebaikan).’”‘Ubais Abu ‘Ubaidah berkata,كان الحسن البصري إذا اشترى شيئًا، وكان في ثمنه كسرٌ، جَبَره لصاحبه“Apabila Al-Hasan Al-Bashri membeli sesuatu, dan pada harganya ada pecahan (kekurangan kecil), maka ia membulatkannya untuk penjual.”Kultsum bin Jausyan berkata, “Ada seseorang meminta bantuan kepada Al-Hasan untuk suatu keperluan. Maka Al-Hasan pun langsung keluar bersamanya. Orang itu berkata, ‘Aku tadi juga meminta bantuan kepada Ibnu Sirin dan Farqad, tetapi mereka berkata, “Tunggu sampai kami menghadiri jenazah, nanti setelah itu kami akan keluar bersamamu.”’Maka Al-Hasan berkata,أمَا إنهما لو مشَيَا معك لكان خيرًا‘Ketahuilah, seandainya mereka langsung berjalan bersamamu (untuk membantumu), itu tentu lebih baik.’”[Bersambung]***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleNama dan nasabKelahiran Al-Hasan Al-BashriSifat dan penampilan fisik Al-HasanKeberkahan rumah kenabian bagi Al-Hasan Al-BashriDisusui oleh Ummu Salamah dan doa para sahabatMasuk ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamGuru-guruMurid-muridKedudukan ilmiah Al-Hasan Al-BashriKemuliaan akhlak Al-Hasan Al-BashriNama dan nasabBeliau adalah Al-Hasan bin Abi Al-Hasan Al-Bashri. Nama ayahnya adalah Yasar, seorang maula (bekas budak yang telah dimerdekakan) milik Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Beliau termasuk salah satu imam besar dan tokoh terkemuka dalam Islam, serta dikenal sebagai salah satu penghafal Al-Qur’an. Kun-yah (nama panggilan kehormatan) beliau adalah Abu Sa‘id.Kelahiran Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله lahir di Madinah pada tahun 21 H, dua tahun sebelum berakhirnya masa kekhalifahan Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه.Beliau pernah menghadiri salat Jumat bersama Khalifah Utsman bin Affan رضي الله عنه dan mendengar khotbahnya. Ia juga menyaksikan peristiwa “Yaum Ad-Dar” (peristiwa pengepungan rumah Utsman). Saat itu usianya sekitar empat belas tahun.Sifat dan penampilan fisik Al-HasanImam Muhammad bin Sa‘d رحمه الله berkata tentangnya,كان الحسن جامعًا، عالِمًا، عاليًا، رفيعًا، فقيهًا، ثقةً، مأمونًا، عابدًا، ناسكًا، كبير العلم، فصيحًا، جميلًا وسيمًا“Al-Hasan adalah seorang yang memiliki banyak keutamaan; berilmu, berkedudukan tinggi, mulia, faqih, terpercaya, amanah, ahli ibadah, zuhud, luas ilmunya, fasih berbicara, serta berwajah tampan dan rupawan.”Seorang wanita bernama Amat Al-Hakam berkata,ان الحسن يجيء إلى حِطَّانَ الرَّقَاشيِّ، فما رأيت شابًّا قط كان أحسن وجهًا منه“Al-Hasan biasa datang menemui Hittan Ar-Raqasyi. Aku belum pernah melihat seorang pemuda yang lebih tampan wajahnya daripada dia.”Hammad bin Salamah berkata,رأيت الحسن يُصفِّر لحيته“Aku melihat Al-Hasan mewarnai janggutnya dengan warna kekuningan.”Amir Asy-Sya‘bi berkata kepada seseorang yang hendak pergi ke Bashrah,إذا نظرتَ إلى رجلٍ أجمل أهل البصرة وأهيبهم، فهو الحسن، فأقرِئه مني السلام“Jika engkau melihat seorang lelaki yang paling tampan dan paling berwibawa di Bashrah, maka dialah Al-Hasan. Sampaikan salamku kepadanya.”Keberkahan rumah kenabian bagi Al-Hasan Al-BashriDisusui oleh Ummu Salamah dan doa para sahabatIbu Al-Hasan Al-Bashri bernama Khairah. Ia adalah pelayan Ummul Mukminin Ummu Salamah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Suatu ketika, ibunya sedang keluar untuk suatu keperluan dan Al-Hasan masih bayi, lalu Ummu Salamah menggendongnya dan menyusuinya. Air susunya pun mengalir, lalu Al-Hasan menyusu darinya. Oleh karena itu, para ulama berpendapat bahwa hikmah dan ilmu yang dianugerahkan kepada Al-Hasan itu berasal dari keberkahan susuan tersebut.Ibunya juga sering membawa Al-Hasan yang masih kecil menemui para sahabat agar mereka mendoakannya. Di antara yang mendoakan beliau adalah Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه, yang berdoa,اللهم فقِّهه في الدين، وحبِّبه إلى الناس“Ya Allah, pahamkanlah dia dalam agama dan jadikanlah dia dicintai oleh manusia.”Masuk ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamIbnu Sa‘d meriwayatkan bahwa Al-Hasan berkata,كنتُ أدخُلُ بيوت أزواج النبي صلى الله عليه وسلم في خلافةِ عثمان بن عفان، فأتناول سقف البيت بيدي“Aku pernah masuk ke rumah-rumah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, dan aku dapat menyentuh atap rumah itu dengan tanganku.”Hal ini menunjukkan bahwa sejak kecil, beliau tumbuh dekat dengan lingkungan para sahabat dan rumah tangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tentu memberi pengaruh besar terhadap pembentukan keilmuan dan kepribadiannya.Guru-guruAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله belajar dan meriwayatkan hadis dari banyak sahabat Nabi ﷺ. Di antara mereka adalah Imran bin Husain, Al-Mughirah bin Syu‘bah, Abdurrahman bin Samurah, Samurah bin Jundub, Abu Bakrah Ats-Tsaqafi, An-Nu‘man bin Basyir, Jabir bin Abdullah, Jundub Al-Bajali, Abdullah bin Abbas, Amr bin Taghlib, Ma‘qil bin Yasar, Al-Aswad bin Sari‘, dan Anas bin Malik, serta sahabat lainnya. Beliau juga membaca dan mempelajari Al-Qur’an kepada Hitthan bin Abdullah Ar-Raqasyi. Selain meriwayatkan dari para sahabat, beliau pun mengambil ilmu dari banyak tabi‘in, sehingga sanad keilmuannya sangat luas dan kuat.Murid-muridBanyak ulama besar yang menjadi murid Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله dan meriwayatkan ilmu darinya. Di antara mereka adalah Ayyub As-Sakhtiyani, Syaiban An-Nahwi, Yunus bin Ubaid, Ibnu ‘Aun, Humaid Ath-Thawil, Tsabit Al-Bunani, Malik bin Dinar, Hisyam bin Hassan, Jarir bin Hazim, Ar-Rabi‘ bin Shabih, Yazid bin Ibrahim At-Tustari, Mubarak bin Fudhalah, Aban bin Yazid Al-‘Aththar, Qurrah bin Khalid, Hazm Al-Qath‘i, Sallam bin Miskin, Syumait bin Ajlan, dan Shalih Abu ‘Amir Al-Khazzaz, serta banyak lagi lainnya. Hal ini menunjukkan betapa luasnya pengaruh dan kedudukan beliau dalam dunia ilmu, hingga menjadi rujukan bagi banyak tokoh besar generasi setelahnya.Kedudukan ilmiah Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله memiliki kedudukan ilmiah yang sangat tinggi di kalangan para sahabat dan tabi‘in. Banyak ulama besar yang mengakui keutamaannya dalam ilmu dan pemahaman agama.Ibnu Sa‘d رحمه الله berkata,كان الحسن البصري جامعًا، عالِمًا، عاليًا، رفيعًا، فقيهًا، ثقةً، مأمونًا، عابدًا، ناسكًا، كبيرَ العلم، فصيحًا، جميلًا وسيمًا، وكان ما أسند مِن حديثه وروى عمَّن سمع منه فحسنٌ حجَّةٌ، وما أرسل مِن الحديث، فليس بحجة، وقدِم مكةَ فأجلَسوه على سريرٍ، واجتمع الناس إليه فحدَّثهم، وكان فيمَن أتاه: مجاهدٌ، وعطاء، وطاوس، وعمرو بن شُعَيب، فقال بعضهم: لم نرَ مثلَ هذا قط“Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang yang memiliki banyak keutamaan; berilmu, berkedudukan tinggi, mulia, faqih (ahli fikih), terpercaya, amanah, ahli ibadah, zuhud, luas ilmunya, fasih berbicara, serta berwajah tampan dan rupawan. Hadis-hadis yang ia riwayatkan dengan sanad yang bersambung dari orang yang ia dengar darinya adalah hadis yang baik dan dapat dijadikan hujah. Adapun hadis yang ia riwayatkan secara mursal (tanpa menyebut sahabat), maka tidak dijadikan hujah.Beliau pernah datang ke Makkah, lalu orang-orang mempersilahkannya duduk di atas sebuah tempat tinggi (seperti kursi kehormatan). Manusia pun berkumpul mengelilinginya untuk mendengarkan hadis darinya. Di antara yang hadir saat itu adalah Mujahid, ‘Atha’, Thawus, dan ‘Amr bin Syu‘aib. Sebagian dari mereka berkata, ‘Kami belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.’”Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Khalid bin Riyah bahwa suatu ketika, Anas bin Malik رضي الله عنه ditanya tentang suatu masalah. Maka beliau berkata,عليكم مولانا الحسن، فسَلُوه“Datangilah Al-Hasan dan tanyakan kepadanya.”Orang-orang pun berkata, “Wahai Abu Hamzah, kami bertanya kepadamu, tetapi engkau menyuruh kami bertanya kepada Al-Hasan?”Anas menjawab,إنا سمِعنا وسمِع، فحفِظ ونسينا“Kami dahulu mendengar (ilmu) dan dia juga mendengar. Namun dia menghafal, sedangkan kami lupa.”Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Humaid bin Hilal, ia berkata, “Abu Qatadah رضي الله عنه pernah berkata kepada kami,عليكم بهذا الشيخ – يعني الحسنَ بن أبي الحسن – فإني واللهِ ما رأيتُ رجلًا قط أشبهَ رأيًا بعمر بن الخطاب منه“Ikutilah syekh ini, maksudnya Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun yang pendapat dan cara berpikirnya lebih mirip dengan Umar bin Al-Khattab daripada dia.”Yunus bin ‘Ubaid berkata,كان الحسنُ – واللهِ – مِن رؤوس العلماء في الفتنِ والدماء“Demi Allah, Al-Hasan termasuk pemimpin para ulama dalam menghadapi persoalan fitnah dan urusan darah (perkara besar seperti konflik dan pertumpahan darah).”Qatadah bin Di‘amah berkata,كان الحسنُ مِن أعلم الناس بالحلال والحرام“Al-Hasan termasuk orang yang paling berilmu tentang halal dan haram.”Qatadah juga berkata,ما جمعتُ علمَ الحسن إلى أحد من العلماء، إلا وجدتُ له فضلًا عليه، غيرَ أنه إذا أشكل عليه شيء كتب فيه إلى سعيد بن المسيب يسأله، وما جالستُ فقيهًا قط إلا رأيت فضل الحسن“Setiap kali aku membandingkan ilmu Al-Hasan dengan ilmu seorang ulama lainnya, pasti aku melihat kelebihannya atas ulama tersebut. Hanya saja, jika ada suatu masalah yang sulit baginya, ia menuliskannya kepada Sa‘id bin Al-Musayyib untuk bertanya. Dan aku tidak pernah duduk bersama seorang ahli fikih pun kecuali aku melihat keunggulan Al-Hasan atasnya.”Imam Adz-Dzahabi رحمه الله berkata, “Apabila Al-Hasan Al-Bashri meriwayatkan hadis ini (tentang batang pohon kurma yang merintih karena rindu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), beliau menangis. Kemudian beliau berkata,يا عباد الله، الخشبةُ تحنُّ إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، شوقًا إليه، فأنتم أحقُّ أن تشتاقوا إلى لقائه“Wahai hamba-hamba Allah, sebatang kayu saja merindukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menangis karena ingin bertemu dengannya. Maka kalian lebih berhak untuk merindukan pertemuan dengan beliau.”Kemuliaan akhlak Al-Hasan Al-BashriAl-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena kemuliaan akhlaknya. Ilmu yang beliau miliki benar-benar tampak dalam sikap, tutur kata, dan kehidupannya sehari-hari.Jarir bin Hazim berkata, “Kami sedang duduk bersama Al-Hasan, sementara hari sudah lewat tengah hari dan semakin siang. Lalu putranya berkata, ‘Ringankanlah beban syekh, karena kalian telah memberatkannya. Ia belum makan dan belum minum.’Al-Hasan pun berkata, ‘Sudahlah!’ sambil menegurnya, ‘Biarkan mereka. Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mataku daripada melihat mereka atau bersama mereka. Sesungguhnya jika seorang muslim mengunjungi saudaranya, lalu keduanya berbincang, saling mengingatkan, dan memuji Rabb mereka, hingga waktu istirahat siang pun terlewatkan, maka itu (adalah kebaikan).’”‘Ubais Abu ‘Ubaidah berkata,كان الحسن البصري إذا اشترى شيئًا، وكان في ثمنه كسرٌ، جَبَره لصاحبه“Apabila Al-Hasan Al-Bashri membeli sesuatu, dan pada harganya ada pecahan (kekurangan kecil), maka ia membulatkannya untuk penjual.”Kultsum bin Jausyan berkata, “Ada seseorang meminta bantuan kepada Al-Hasan untuk suatu keperluan. Maka Al-Hasan pun langsung keluar bersamanya. Orang itu berkata, ‘Aku tadi juga meminta bantuan kepada Ibnu Sirin dan Farqad, tetapi mereka berkata, “Tunggu sampai kami menghadiri jenazah, nanti setelah itu kami akan keluar bersamamu.”’Maka Al-Hasan berkata,أمَا إنهما لو مشَيَا معك لكان خيرًا‘Ketahuilah, seandainya mereka langsung berjalan bersamamu (untuk membantumu), itu tentu lebih baik.’”[Bersambung]***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

4 Kesalahan dalam Memahami Tawakal yang Harus Kita Waspada – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Apa itu tawakal kepada Allah? Hakikat tawakal kepada Allah tersusun dari dua perkara: Pertama, hati bersandar dan menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang bersandar dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua, mengerahkan sebab-sebab yang memungkinkan untuk ditempuh. Ketika seseorang menggabungkan kedua perkara ini: bersandar kepada Allah, percaya kepada Allah, dan menyerahkan urusan kepada Allah, sekaligus menempuh sebab-sebab yang disyariatkan dan dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka saat itulah ia telah bertawakal dengan tawakal yang syar’i. Karena itu, sebagian ulama mendefinisikan tawakal dengan mengatakan, “Tawakal adalah memalingkan perhatian dari sebab-sebab setelah sebab-sebab itu dipersiapkan.” Kapan perhatian kepada sebab-sebab itu dipalingkan? Setelah sebab-sebab tersebut ditempuh. Atau sebagaimana dinukil Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij As-Salikin. Beliau menukil perkataan indah dari sebagian ulama: “Tawakal adalah gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak.” “Gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak.” Apa maksudnya? Gerak berarti anggota badan terus bergerak dan berusaha. Sedangkan diam adalah ketenangan dan kepercayaan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tanpa gejolak hati, keraguan, ataupun keputusasaan. Jadi, apa itu tawakal? Gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak. Dengan inilah seseorang benar-benar bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Renungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan adanya keyakinan dan penyerahan diri kepada Allah, sekaligus menempuh sebab. Sebab, burung itu tidak hanya duduk diam. Apa yang dilakukan burung itu? Ia pergi pada pagi hari mencari rezeki. Kemudian ia kembali setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan rezeki kepadanya. Demikianlah tawakal yang syar’i. Manusia terjerumus dalam beberapa kesalahan dalam memahami tawakal. Di antara kesalahan yang paling penting untuk diperhatikan adalah: Kesalahan pertama, seseorang bertawakal kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla dalam perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini terjadi pada orang yang tidak mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana mestinya dan berbuat syirik kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini banyak terjadi pada para penyembah kubur. Hati mereka bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menghilangkan kesusahan, melapangkan kegundahan, mengampuni dosa, dan menyingkirkan berbagai rintangan. Bahkan, hampir seluruh urusannya ia serahkan kepada orang yang ia jadikan sesembahan, baik masih hidup maupun telah meninggal. Ini adalah perkara yang sangat besar. Karena itu, sebagian orang sering melantunkan bait-bait syair yang menunjukkan penyerahan diri yang mengandung kesyirikan ini. Mereka bersyair, “Jika pada hari kembaliku kelak engkau tidak menggandeng tanganku sebagai karunia, maka sungguh celakalah aku karena tergelincir.” Ucapan ini ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menurut keyakinannya, kepercayaan dan penyerahan urusannya tertuju kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak demikian, menurutnya kebinasaan akan terjadi di akhirat. Ia bertawakal kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam urusan keselamatan di akhirat! Tidak diragukan lagi, ini adalah tawakal yang mengandung kesyirikan. Semoga Allah melindungi saya dan kalian darinya. Maka waspadalah terhadap perkara ini, semoga Allah menjagamu. Kesalahan kedua, sebagian orang terjerumus dalam syirik kecil, yaitu ketika hatinya berpaling kepada makhluk dan menggantungkan sebagian sandarannya kepada makhluk dalam suatu urusan dunia. Maksudnya, terkadang seseorang sedang memerlukan sesuatu. Jika engkau memerlukan bantuan seseorang dan terpaksa meminta kepadanya, dalam perkara yang memang berada dalam kemampuannya, ia mampu membantumu, menjadi perantara bagimu, atau menyampaikan permohonan untukmu, maka perhatikanlah bahwa kebolehan meminta bantuan di sini disyaratkan agar hatimu tetap bersandar hanya kepada Allah.Yang meminta hanyalah anggota badanmu, sedangkan hatimu tetap percaya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bukan kepada makhluk. Kita telah mengetahui sebelumnya bahwa tawakal adalah memalingkan perhatian dari sebab-sebab setelah menempuh sebab-sebab tersebut. Maka siapa yang hatinya berpaling kepada makhluk dalam memperoleh manfaat atau menolak bahaya, ia telah terjerumus ke dalam jenis syirik kecil. Ini ibarat lautan yang tidak bertepi. Betapa banyak orang yang keliru di dalamnya! Kita memohon kepada Allah agar memberi kita keselamatan dan mengampuni kita. Kesalahan ketiga, sebagian orang dalam perkara tawakal justru lalai menempuh sebab-sebab. Ia mengira bahwa tawakal yang benar adalah meninggalkan sebab. Ia tidak melakukan apa-apa, hanya duduk seraya berkata, “Jika Allah menghendaki memberiku ini dan menjadikan untukku begini dan begitu, tentu hal itu akan terjadi.”Ia berkata demikian tanpa bergerak dan tanpa mengerahkan kemampuan. Hakikatnya, ini adalah tawakul, bukan tawakal. Sebagaimana telah kita ketahui, tawakal harus menghimpun dua perkara: kepercayaan dan penyerahan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla, disertai dengan menempuh sebab. “Niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, penghulu orang-orang yang bertawakal, tidak meninggalkan sebab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan dua lapis baju besi pada Perang Uhud. Dalam peperangan, beliau juga mengenakan mighfar, yaitu pelindung kepala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menempuh sebab untuk menghalangi kaum musyrikin mencapai Madinah, yaitu dengan menggali parit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyimpan persediaan makanan untuk keluarganya selama setahun. Jadi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun beliau adalah orang yang paling sempurna tawakalnya, tapi beliau tidak meninggalkan sebab. Maka menempuh sebab sama sekali tidak mencederai tawakal. Menempuh sebab tidak mencederai tawakal. Justru meninggalkan sebablah yang mencederai tawakal. Sebagian orang melakukan kesalahan besar dalam perkara ini. Anehnya, orang yang mengaku meninggalkan sebab karena bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebenarnya telah keliru sekaligus berdusta.Ia pendusta! Mustahil seseorang sama sekali tidak melakukan sebab apa pun. Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan kisah seseorang yang mengaku bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla sehingga ia sama sekali tidak mau menempuh sebab apa pun. Ia bepergian melintasi padang tandus dari satu tempat ke tempat lain tanpa membawa bekal. Namun ia berkata, “Aku tetap harus membawa tiga benda: wadah untuk berwudu, jarum, dan benang.” Ia berkata, “Barangkali pakaianku robek, maka aku perlu menjahitnya agar auratku tidak tersingkap sehingga salatku batal. Aku juga harus membawa wadah untuk menaruh air ketika hendak berwudu.” Jadi, apa yang ternyata tidak mampu dilakukan orang ini? Meninggalkan sebab! Bahkan, perpindahannya dari satu tempat ke tempat lain untuk tujuan apa pun, pada hakikatnya sudah merupakan bentuk menempuh sebab. Jadi, tidak seorang pun mampu meninggalkan seluruh sebab secara mutlak. Tidak seorang pun dapat mengklaim hal seperti itu. Kesalahan keempat, dan ini sangat penting: sebagian orang ketika mendengar pembahasan tawakal, pikirannya hanya tertuju kepada urusan dunia. Ia mengira bahwa tawakal hanya terbatas pada perkara rezeki dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Seolah-olah hanya itulah tawakal! Padahal ini merupakan kekeliruan dan kekurangan. Ada tawakal yang jauh lebih agung daripada itu, yaitu bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menaati-Nya Jalla wa ‘Ala, dalam menuntut ilmu, dan dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini jauh lebih agung! Demi Allah, engkau tidak akan mampu melakukan satu pun dari perkara-perkara itu kecuali dengan pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, tingkatan tekad manusia dalam perkara ini berbeda-beda. Jauh sekali perbedaan antara orang yang tawakalnya hanya untuk memperoleh sepotong roti, dengan orang yang seluruh tawakalnya ia arahkan untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menunaikan ibadah kepada-Nya. Jadi, jika bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam urusan rezeki, pekerjaan, dan semisalnya merupakan perkara yang dianjurkan, dan memang termasuk perkara baik yang dianjurkan,maka bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memohon pertolongan kepada-Nya, menyerahkan urusan kepada-Nya, serta bersandar kepada-Nya Jalla wa ‘Ala dalam menaati-Nya, jauh lebih utama dan lebih penting. Karena itu, apa yang diucapkan seorang muslim ketika mendengar hai’alatain dalam azan (“Hayya ‘alash-sholah” dan “Hayya ‘alal-falah”)? Apa yang dia ucapkan? Ia mengucapkan, “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” — tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Engkau baru saja dipanggil menuju salat: “Marilah menuju salat, marilah menuju keberuntungan.” Jawabanmu adalah dengan menyerahkan urusan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan menyatakan bahwa engkau bersandar kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Pada dirimu sendiri tidak ada daya apa pun, engkau tidak mampu bergerak ataupun melakukan sesuatu hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan dan menguatkanmu dengan pertolongan serta taufik-Nya Jalla wa ‘Ala. Maka perhatikanlah, semoga Allah menjagamu. Dalam setiap urusan dunia, dan yang lebih penting lagi dalam setiap urusan agama, bertawakallah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Jangan mengandalkan dirimu sendiri. Jangan mengandalkan imanmu, kesungguhanmu, kecerdasanmu, ataupun merasa yakin karena dahulu engkau telah melakukan berbagai amal. Boleh jadi engkau tidak diberi pertolongan justru karena terlalu mengandalkan diri sendiri. Yang semestinya menjadi sikapmu dalam setiap keadaan adalah bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== التَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ مَا هُوَ؟ التَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ حَقِيقَةٌ مُرَكَّبَةٌ مِنْ أَمْرَيْنِ اعْتِمَادٌ وَتَفْوِيضٌ قَلْبِيٌّ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَعْتَمِدُ الْإِنْسَانُ وَيُفَوِّضُ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْأَمْرُ الثَّانِي: بَذْلُ الْأَسْبَابِ الْمُمْكِنَةِ فَمَتَى مَا جَمَعَ الْإِنْسَانُ بَيْنَ هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ: اعْتَمَدَ عَلَى اللهِ وَوَثِقَ بِاللهِ، فَوَّضَ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ مَعَ كَوْنِهِ قَدْ قَامَ بِالْأَسْبَابِ الَّتِي شَرَعَهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَحَلَّهَا، فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ يَكُونُ قَدْ تَوَكَّلَ التَّوَكُّلَ الشَّرْعِيَّ وَلِذَا عَرَّفَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ التَّوَكُّلَ بِقَوْلِهِ: هُوَ قَطْعُ النَّظَرِ إِلَى الْأَسْبَابِ بَعْدَ تَهْيِئَةِ الْأَسْبَابِ قَطْعُ النَّظَرِ إِلَى الْأَسْبَابِ مَتَى؟ بَعْدَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ أَوْ كَمَا نَقَلَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي “مَدَارِجِ السَّالِكِينَ”، نَقَلَ كَلِمَةً جَمِيلَةً عَنْ بَعْضِهِمْ، أَلَا وَهِيَ أَنَّ التَّوَكُّلَ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ، مَا مَعْنَى هَذَا الْكَلَامِ؟ اضْطِرَابٌ يَعْنِي حَرَكَةً بِلَا سُكُونٍ، وَذَلِكَ بِالْجَوَارِحِ وَسُكُونٌ طُمَأْنِينَةٌ وَثِقَةٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالْقَلْبِ، بِدُونِ اضْطِرَابٍ، بِدُونِ حَرَكَةِ قَلْبٍ وَلَا شَكٍّ وَلَا يَأْسٍ إِذًا التَّوَكُّلُ هُوَ مَاذَا؟ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ. بِهَذَا يَكُونُ الْإِنْسَانُ قَدْ تَوَكَّلَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ التَّوَكُّلِ تَأَمَّلْ فِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا هَذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى حُصُولِ يَقِينٍ وَتَفْوِيضٍ، وَعَلَى بَذْلِ سَبَبٍ؛ لِأَنَّ الطَّيْرَ مَا جَلَسَتْ الطَّيْرُ مَاذَا فَعَلَتْ؟ ذَهَبَتْ وَغَدَتْ تَبْحَثُ عَنِ الرِّزْقِ، ثُمَّ عَادَتْ وَقَدْ مَنَّ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَيْهَا بِالرِّزْقِ. إِذًا هَكَذَا يَكُونُ التَّوَكُّلُ الشَّرْعِيُّ يَقَعُ النَّاسُ فِي أَخْطَاءٍ فِي هَذَا الْبَابِ، أَهَمُّ تِلْكَ الْأَخْطَاءِ مَا يَأْتِي أَوَّلًا، أَنْ يَتَوَكَّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى غَيْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فِيمَا لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلَّا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا يَقَعُ فِي حَالِ مَنْ لَمْ يَقْدِرِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ قَدْرِهِ، وَمَنْ أَشْرَكَ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَكْثُرُ هَذَا فِي عُبَّادِ الْقُبُورِ، يَكُونُ قَلْبُهُ مُعَلَّقًا بِغَيْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي تَفْرِيجِ الْكُرُوبِ، وَتَنْفِيسِ الْهُمُومِ، وَمَغْفِرَةِ الذُّنُوبِ، وَإِزَالَةِ الْعَقَبَاتِ بَلْ يَكَادُ أَنْ يَكُونَ قَدْ فَوَّضَ كُلَّ شَيْءٍ إِلَى سَيِّدِهِ الَّذِي يَعْبُدُهُ، حَيًّا كَانَ أَوْ مَيِّتًا. وَهَذَا أَمْرٌ عَظِيمٌ وَلِذَا كَمْ يَتَدَاوَلُ بَعْضُ النَّاسِ أَبْيَاتًا تَدُلُّ عَلَى هَذَا التَّفْوِيضِ الشِّرْكِيِّ. تَجِدُ أَنَّهُمْ يُنْشِدُونَ إِنْ لَمْ تَكُنْ فِي مَعَادِي آخِذًا بِيَدِي فَضْلًا، وَإِلَّا فَقُلْ يَا زَلَّةَ الْقَدَمِ. يُخَاطِبُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا عِنْدَهُ أَنَّ ثِقَتَهُ وَتَفْوِيضَهُ إِنَّمَا هِيَ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِلَّا فَالْهَلَاكُ حَاصِلٌ فِي الْآخِرَةِ تَوَكَّلَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَأْنِ النَّجَاةِ فِي الْآخِرَةِ! وَلَا شَكَّ أَنَّ هَذَا تَوَكُّلٌ شِرْكِيٌّ، عَافَانِيَ اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنْ ذَلِكَ. إِذًا تَنَبَّهْ يَا رَعَاكَ اللهُ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ الأَمْرُ الثَّانِي: بَعْضُ النَّاسِ يَقَعُ فِي شِرْكٍ أَصْغَرَ، وَذَلِكَ بِأَنَّهُ يُلَاحِظُ الْمَخْلُوقَ بِقَلْبِهِ وَيَعْتَمِدُ عَلَيْهِ بَعْضَ الِاعْتِمَادِ فِي شَأْنٍ مِنَ الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يَكُونُ فِي حَاجَةٍ إِلَى شَيْءٍ مَا. الَّذِي يَنْبَغِي عَلَيْكَ أَنَّكَ إِذَا احْتَجْتَ إِلَى أَحَدٍ، وَاضْطَرَرْتَ إِلَى سُؤَالِ أَحَدٍ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ، يَقْدِرُ عَلَى إِعَانَتِكَ، يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَتَوَسَّطَ لَكَ أَوْ يَشْفَعَ لَكَ فَإِنَّكَ يَنْبَغِي أَنْ تُلَاحِظَ أَنَّ الْجَوَازَ هَا هُنَا مَشْرُوطٌ بِكَوْنِ قَلْبِكَ مُعْتَمِدًا عَلَى اللهِ فَقَطْ إِنَّمَا أَنْتَ تَطْلُبُ بِجَوَارِحِكَ، أَمَّا قَلْبُكَ فَإِنَّهُ وَاثِقٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا بِالْمَخْلُوقِ وَنَحْنُ قَدْ عَلِمْنَا قَبْلَ قَلِيلٍ أَنَّ التَّوَكُّلَ هُوَ قَطْعُ النَّظَرِ فِي الْأَسْبَابِ بَعْدَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ الْتِفَاتٌ فِي قَلْبِهِ إِلَى مَخْلُوقٍ فِي تَحْصِيلِ مَنْفَعَةٍ أَوْ دَفْعِ مَضَرَّةٍ، فَإِنَّهُ يَكُونُ قَدْ وَقَعَ فِي جِنْسِ الشِّرْكِ الْأَصْغَرِ وَهَذَا بَحْرٌ لَا سَاحِلَ لَهُ، وَمَا أَكْثَرَ الْمُخْطِئِينَ فِيهِ! نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يُعَافِيَنَا وَأَنْ يَغْفِرَ لَنَا الْأَمْرُ الثَّالِثُ: أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ فِي مَسْأَلَةِ التَّوَكُّلِ يَغْفَلُ عَنِ اتِّخَاذِ الْأَسْبَابِ يَظُنُّ أَنَّ التَّوَكُّلَ الصَّحِيحَ هُوَ أَنْ يَتْرُكَ الْإِنْسَانُ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ لَا يَفْعَلُ شَيْئًا، يَجْلِسُ، وَيَقُولُ: إِنْ شَاءَ اللهُ أَنْ يُعْطِيَنِي وَأَنْ يَصْنَعَ لِي كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ سَيَكُونُ دُونَ أَنْ يَتَحَرَّكَ وَدُونَ أَنْ يَبْذُلَ الْمُسْتَطَاعَ، وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ تَوَاكُلٌ لَا تَوَكُّلٌ التَّوَكُّلُ كَمَا قَدْ عَلِمْنَا لَا بُدَّ أَنْ يَجْتَمِعَ فِيهِ الْأَمْرَانِ: يَجْتَمِعُ الثِّقَةُ بِالْقَلْبِ وَالتَّفْوِيضُ مِنَ الْقَلْبِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، مَعَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَعُودُ بِطَانًا هَذَا النَّبِيُّ الْكَرِيمُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي هُوَ سَيِّدُ الْمُتَوَكِّلِينَ، مَا تَرَكَ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ فِي أُحُدٍ دِرْعَيْنِ، كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُ فِي الْحُرُوبِ الْمِغْفَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخَذَ سَبَبًا يَمْنَعُ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الْوُصُولِ إِلَى الْمَدِينَةِ، أَلَا وَهُوَ حَفْرُ الْخَنْدَقِ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْتَفِظُ بِقُوتِ أَهْلِهِ مُدَّةَ سَنَةٍ إِذًا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ أَنَّهُ أَعْظَمُ النَّاسِ تَوَكُّلًا لَا يَتْرُكُ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ إِذًا اتِّخَاذُ الْأَسْبَابِ لَيْسَ قَدْحًا فِي التَّوَكُّلِ. اتِّخَاذُ الْأَسْبَابِ لَيْسَ قَدْحًا فِي التَّوَكُّلِ بَلْ تَرْكُ الْأَسْبَابِ هُوَ الْقَدْحُ فِي التَّوَكُّلِ وَبَعْضُ النَّاسِ يُخْطِئُ فِي هَذَا الْبَابِ خَطَأً عَظِيمًا وَالْعَجِيبُ أَنَّ الَّذِي يَدَّعِي أَنَّهُ يَتْرُكُ اتِّخَاذَ السَّبَبِ تَوَكُّلًا عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَخْطَأَ وَكَذَبَ فِي نَفْسِ الْوَقْتِ هُوَ كَاذِبٌ، مُسْتَحِيلٌ أَنَّ إِنْسَانًا يَمْتَنِعُ عَنْ فِعْلِ أَيِّ سَبَبٍ عَلَى الْإِطْلَاقِ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ ذَكَرَ قِصَّةً عَنْ أَحَدِهِمْ وَهِيَ أَنَّهُ ادَّعَى أَنَّهُ مُتَوَكِّلٌ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَبِالتَّالِي فَإِنَّهُ لَا يَتَّخِذُ أَيَّ سَبَبٍ عَلَى الْإِطْلَاقِ فَكَانَ يُسَافِرُ وَيَتَنَقَّلُ فِي الْقِفَارِ مِنْ مَكَانٍ إِلَى آخَرَ دُونَ أَنْ يَحْمِلَ زَادًا مَعَهُ. لَكِنَّهُ يَقُولُ: لَا بُدَّ أَنْ أَحْمِلَ مَعِي ثَلَاثَةَ أَشْيَاءَ إِنَاءً لِلْوُضُوءِ، وَإِبْرَةً، وَخَيْطًا. يَقُولُ: رُبَّمَا يَنْقَطِعُ ثَوْبِي فَأَنَا بِحَاجَةٍ إِلَى أَنْ أَخِيطَ ثَوْبِي حَتَّى لَا تَظْهَرَ عَوْرَتِي فَتَبْطُلَ صَلَاتِي وَلَا بُدَّ لِي مِنْ إِنَاءٍ أَضَعُ فِيهِ الْمَاءَ إِذَا أَرَدْتُ الْوُضُوءَ. إِذًا هَذَا الرَّجُلُ مَا اسْتَطَاعَ مَاذَا؟ أَنْ يَتْرُكَ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ بَلْ حَتَّى خُرُوجُهُ مِنْ مَكَانٍ إِلَى آخَرَ لِأَيِّ هَدَفٍ كَانَ، هُوَ فِي الْحَقِيقَةِ اتِّخَاذٌ لِلسَّبَبِ إِذًا لَا يَسْتَطِيعُ إِنْسَانٌ أَنْ يَكُونَ تَارِكًا لِفِعْلِ الْأَسْبَابِ مُطْلَقًا، هَذَا أَمْرٌ لَا يُمْكِنُ لِأَحَدٍ أَنْ يَدَّعِيَهُ الْأَمْرُ الرَّابِعُ، وَهِيَ مَسْأَلَةٌ مُهِمَّةٌ: أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ إِذَا سَمِعَ مَا يَتَعَلَّقُ بِالتَّوَكُّلِ لَا يَنْصَرِفُ ذِهْنُهُ إِلَّا إِلَى الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ يَعْنِي يَظُنُّ أَنَّ التَّوَكُّلَ مَحْصُورٌ فِي مَسْأَلَةِ الرِّزْقِ وَمَا يَدُورُ فِي فَلَكِ هَذَا الْأَمْرِ فَقَطْ، هَذَا هُوَ التَّوَكُّلُ وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ خَطَأٌ، وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ نَقْصٌ. بَلْ ثَمَّ تَوَكُّلٌ أَعْظَمُ مِنْ هَذَا وَهُوَ أَنْ تَتَوَكَّلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي شَأْنِ طَاعَتِهِ جَلَّ وَعَلَا، وَفِي شَأْنِ طَلَبِ الْعِلْمِ، وَفِي شَأْنِ الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذَا أَعْظَمُ بِكَثِيرٍ! وَاللهِ إِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَفْعَلَ شَيْئًا مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ إِلَّا بِإِعَانَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَا هِمَمُ النَّاسِ فِي هَذَا الْبَابِ مُتَفَاوِتَةٌ. شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَكُونُ تَوَكُّلُهُ فِي حُصُولِ رَغِيفٍ وَمَنْ يَكُونُ تَوَكُّلُهُ فِي طَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَدَاءِ عِبَادَتِهِ إِذًا إِذَا كَانَ مِمَّا يُطْلَبُ وَهَذَا مِنَ الْأَمْرِ الْحَسَنِ الْمَطْلُوبِ أَنْ يَتَوَكَّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي شَأْنِ الرِّزْقِ وَالْأَعْمَالِ وَمَا إِلَيْهَا فَإِنَّ التَّوَكُّلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَالِاسْتِعَانَةَ بِهِ، وَتَفْوِيضَ الْأَمْرِ إِلَيْهِ، وَالِاعْتِمَادَ عَلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا فِي طَاعَتِهِ هَذَا أَوْلَى وَأَوْلَى وَأَهَمُّ وَلِذَا مَاذَا يَقُولُ الْمُسْلِمُ إِذَا سَمِعَ الْحَيْعَلَتَيْنِ فِي الْأَذَانِ؟ يَقُولُ مَاذَا؟ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ أَنْتَ دُعِيتَ الْآنَ إِلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، جَوَابُكَ بِأَنْ تُفَوِّضَ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتُعْلِنَ اعْتِمَادَكَ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّكَ لَا شَيْءَ، لَا يُمْكِنُ أَنْ تَتَحَرَّكَ وَلَا تَفْعَلَ شَيْئًا حَتَّى يَأْذَنَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَيُمِدَّكَ بِعَوْنِهِ وَتَوْفِيقِهِ جَلَّ وَعَلَا إِذًا لَاحِظْ يَا رَعَاكَ اللهُ، فِي كُلِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا وَأَهَمُّ مِنْهَا فِي كُلِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِ الدِّينِ، أَنْ تَتَوَكَّلَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِيَّاكَ أَنْ تَثِقَ بِنَفْسِكَ، تَثِقَ بِإِيمَانِكَ، تَثِقَ بِاجْتِهَادِكَ، تَثِقَ بِذَكَائِكَ، تَثِقَ بِأَنَّكَ فَعَلْتَ وَفَعَلْتَ فِي السَّابِقِ رُبَّمَا تُخْذَلُ بِسَبَبِ هَذِهِ الثِّقَةِ فِي النَّفْسِ الْوَاجِبُ أَنْ يَكُونَ شَأْنُكَ فِي كُلِّ حَالِهِ هُوَ الثِّقَةُ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

4 Kesalahan dalam Memahami Tawakal yang Harus Kita Waspada – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Apa itu tawakal kepada Allah? Hakikat tawakal kepada Allah tersusun dari dua perkara: Pertama, hati bersandar dan menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang bersandar dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua, mengerahkan sebab-sebab yang memungkinkan untuk ditempuh. Ketika seseorang menggabungkan kedua perkara ini: bersandar kepada Allah, percaya kepada Allah, dan menyerahkan urusan kepada Allah, sekaligus menempuh sebab-sebab yang disyariatkan dan dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka saat itulah ia telah bertawakal dengan tawakal yang syar’i. Karena itu, sebagian ulama mendefinisikan tawakal dengan mengatakan, “Tawakal adalah memalingkan perhatian dari sebab-sebab setelah sebab-sebab itu dipersiapkan.” Kapan perhatian kepada sebab-sebab itu dipalingkan? Setelah sebab-sebab tersebut ditempuh. Atau sebagaimana dinukil Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij As-Salikin. Beliau menukil perkataan indah dari sebagian ulama: “Tawakal adalah gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak.” “Gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak.” Apa maksudnya? Gerak berarti anggota badan terus bergerak dan berusaha. Sedangkan diam adalah ketenangan dan kepercayaan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tanpa gejolak hati, keraguan, ataupun keputusasaan. Jadi, apa itu tawakal? Gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak. Dengan inilah seseorang benar-benar bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Renungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan adanya keyakinan dan penyerahan diri kepada Allah, sekaligus menempuh sebab. Sebab, burung itu tidak hanya duduk diam. Apa yang dilakukan burung itu? Ia pergi pada pagi hari mencari rezeki. Kemudian ia kembali setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan rezeki kepadanya. Demikianlah tawakal yang syar’i. Manusia terjerumus dalam beberapa kesalahan dalam memahami tawakal. Di antara kesalahan yang paling penting untuk diperhatikan adalah: Kesalahan pertama, seseorang bertawakal kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla dalam perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini terjadi pada orang yang tidak mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana mestinya dan berbuat syirik kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini banyak terjadi pada para penyembah kubur. Hati mereka bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menghilangkan kesusahan, melapangkan kegundahan, mengampuni dosa, dan menyingkirkan berbagai rintangan. Bahkan, hampir seluruh urusannya ia serahkan kepada orang yang ia jadikan sesembahan, baik masih hidup maupun telah meninggal. Ini adalah perkara yang sangat besar. Karena itu, sebagian orang sering melantunkan bait-bait syair yang menunjukkan penyerahan diri yang mengandung kesyirikan ini. Mereka bersyair, “Jika pada hari kembaliku kelak engkau tidak menggandeng tanganku sebagai karunia, maka sungguh celakalah aku karena tergelincir.” Ucapan ini ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menurut keyakinannya, kepercayaan dan penyerahan urusannya tertuju kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak demikian, menurutnya kebinasaan akan terjadi di akhirat. Ia bertawakal kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam urusan keselamatan di akhirat! Tidak diragukan lagi, ini adalah tawakal yang mengandung kesyirikan. Semoga Allah melindungi saya dan kalian darinya. Maka waspadalah terhadap perkara ini, semoga Allah menjagamu. Kesalahan kedua, sebagian orang terjerumus dalam syirik kecil, yaitu ketika hatinya berpaling kepada makhluk dan menggantungkan sebagian sandarannya kepada makhluk dalam suatu urusan dunia. Maksudnya, terkadang seseorang sedang memerlukan sesuatu. Jika engkau memerlukan bantuan seseorang dan terpaksa meminta kepadanya, dalam perkara yang memang berada dalam kemampuannya, ia mampu membantumu, menjadi perantara bagimu, atau menyampaikan permohonan untukmu, maka perhatikanlah bahwa kebolehan meminta bantuan di sini disyaratkan agar hatimu tetap bersandar hanya kepada Allah.Yang meminta hanyalah anggota badanmu, sedangkan hatimu tetap percaya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bukan kepada makhluk. Kita telah mengetahui sebelumnya bahwa tawakal adalah memalingkan perhatian dari sebab-sebab setelah menempuh sebab-sebab tersebut. Maka siapa yang hatinya berpaling kepada makhluk dalam memperoleh manfaat atau menolak bahaya, ia telah terjerumus ke dalam jenis syirik kecil. Ini ibarat lautan yang tidak bertepi. Betapa banyak orang yang keliru di dalamnya! Kita memohon kepada Allah agar memberi kita keselamatan dan mengampuni kita. Kesalahan ketiga, sebagian orang dalam perkara tawakal justru lalai menempuh sebab-sebab. Ia mengira bahwa tawakal yang benar adalah meninggalkan sebab. Ia tidak melakukan apa-apa, hanya duduk seraya berkata, “Jika Allah menghendaki memberiku ini dan menjadikan untukku begini dan begitu, tentu hal itu akan terjadi.”Ia berkata demikian tanpa bergerak dan tanpa mengerahkan kemampuan. Hakikatnya, ini adalah tawakul, bukan tawakal. Sebagaimana telah kita ketahui, tawakal harus menghimpun dua perkara: kepercayaan dan penyerahan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla, disertai dengan menempuh sebab. “Niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, penghulu orang-orang yang bertawakal, tidak meninggalkan sebab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan dua lapis baju besi pada Perang Uhud. Dalam peperangan, beliau juga mengenakan mighfar, yaitu pelindung kepala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menempuh sebab untuk menghalangi kaum musyrikin mencapai Madinah, yaitu dengan menggali parit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyimpan persediaan makanan untuk keluarganya selama setahun. Jadi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun beliau adalah orang yang paling sempurna tawakalnya, tapi beliau tidak meninggalkan sebab. Maka menempuh sebab sama sekali tidak mencederai tawakal. Menempuh sebab tidak mencederai tawakal. Justru meninggalkan sebablah yang mencederai tawakal. Sebagian orang melakukan kesalahan besar dalam perkara ini. Anehnya, orang yang mengaku meninggalkan sebab karena bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebenarnya telah keliru sekaligus berdusta.Ia pendusta! Mustahil seseorang sama sekali tidak melakukan sebab apa pun. Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan kisah seseorang yang mengaku bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla sehingga ia sama sekali tidak mau menempuh sebab apa pun. Ia bepergian melintasi padang tandus dari satu tempat ke tempat lain tanpa membawa bekal. Namun ia berkata, “Aku tetap harus membawa tiga benda: wadah untuk berwudu, jarum, dan benang.” Ia berkata, “Barangkali pakaianku robek, maka aku perlu menjahitnya agar auratku tidak tersingkap sehingga salatku batal. Aku juga harus membawa wadah untuk menaruh air ketika hendak berwudu.” Jadi, apa yang ternyata tidak mampu dilakukan orang ini? Meninggalkan sebab! Bahkan, perpindahannya dari satu tempat ke tempat lain untuk tujuan apa pun, pada hakikatnya sudah merupakan bentuk menempuh sebab. Jadi, tidak seorang pun mampu meninggalkan seluruh sebab secara mutlak. Tidak seorang pun dapat mengklaim hal seperti itu. Kesalahan keempat, dan ini sangat penting: sebagian orang ketika mendengar pembahasan tawakal, pikirannya hanya tertuju kepada urusan dunia. Ia mengira bahwa tawakal hanya terbatas pada perkara rezeki dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Seolah-olah hanya itulah tawakal! Padahal ini merupakan kekeliruan dan kekurangan. Ada tawakal yang jauh lebih agung daripada itu, yaitu bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menaati-Nya Jalla wa ‘Ala, dalam menuntut ilmu, dan dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini jauh lebih agung! Demi Allah, engkau tidak akan mampu melakukan satu pun dari perkara-perkara itu kecuali dengan pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, tingkatan tekad manusia dalam perkara ini berbeda-beda. Jauh sekali perbedaan antara orang yang tawakalnya hanya untuk memperoleh sepotong roti, dengan orang yang seluruh tawakalnya ia arahkan untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menunaikan ibadah kepada-Nya. Jadi, jika bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam urusan rezeki, pekerjaan, dan semisalnya merupakan perkara yang dianjurkan, dan memang termasuk perkara baik yang dianjurkan,maka bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memohon pertolongan kepada-Nya, menyerahkan urusan kepada-Nya, serta bersandar kepada-Nya Jalla wa ‘Ala dalam menaati-Nya, jauh lebih utama dan lebih penting. Karena itu, apa yang diucapkan seorang muslim ketika mendengar hai’alatain dalam azan (“Hayya ‘alash-sholah” dan “Hayya ‘alal-falah”)? Apa yang dia ucapkan? Ia mengucapkan, “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” — tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Engkau baru saja dipanggil menuju salat: “Marilah menuju salat, marilah menuju keberuntungan.” Jawabanmu adalah dengan menyerahkan urusan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan menyatakan bahwa engkau bersandar kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Pada dirimu sendiri tidak ada daya apa pun, engkau tidak mampu bergerak ataupun melakukan sesuatu hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan dan menguatkanmu dengan pertolongan serta taufik-Nya Jalla wa ‘Ala. Maka perhatikanlah, semoga Allah menjagamu. Dalam setiap urusan dunia, dan yang lebih penting lagi dalam setiap urusan agama, bertawakallah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Jangan mengandalkan dirimu sendiri. Jangan mengandalkan imanmu, kesungguhanmu, kecerdasanmu, ataupun merasa yakin karena dahulu engkau telah melakukan berbagai amal. Boleh jadi engkau tidak diberi pertolongan justru karena terlalu mengandalkan diri sendiri. Yang semestinya menjadi sikapmu dalam setiap keadaan adalah bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== التَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ مَا هُوَ؟ التَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ حَقِيقَةٌ مُرَكَّبَةٌ مِنْ أَمْرَيْنِ اعْتِمَادٌ وَتَفْوِيضٌ قَلْبِيٌّ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَعْتَمِدُ الْإِنْسَانُ وَيُفَوِّضُ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْأَمْرُ الثَّانِي: بَذْلُ الْأَسْبَابِ الْمُمْكِنَةِ فَمَتَى مَا جَمَعَ الْإِنْسَانُ بَيْنَ هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ: اعْتَمَدَ عَلَى اللهِ وَوَثِقَ بِاللهِ، فَوَّضَ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ مَعَ كَوْنِهِ قَدْ قَامَ بِالْأَسْبَابِ الَّتِي شَرَعَهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَحَلَّهَا، فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ يَكُونُ قَدْ تَوَكَّلَ التَّوَكُّلَ الشَّرْعِيَّ وَلِذَا عَرَّفَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ التَّوَكُّلَ بِقَوْلِهِ: هُوَ قَطْعُ النَّظَرِ إِلَى الْأَسْبَابِ بَعْدَ تَهْيِئَةِ الْأَسْبَابِ قَطْعُ النَّظَرِ إِلَى الْأَسْبَابِ مَتَى؟ بَعْدَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ أَوْ كَمَا نَقَلَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي “مَدَارِجِ السَّالِكِينَ”، نَقَلَ كَلِمَةً جَمِيلَةً عَنْ بَعْضِهِمْ، أَلَا وَهِيَ أَنَّ التَّوَكُّلَ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ، مَا مَعْنَى هَذَا الْكَلَامِ؟ اضْطِرَابٌ يَعْنِي حَرَكَةً بِلَا سُكُونٍ، وَذَلِكَ بِالْجَوَارِحِ وَسُكُونٌ طُمَأْنِينَةٌ وَثِقَةٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالْقَلْبِ، بِدُونِ اضْطِرَابٍ، بِدُونِ حَرَكَةِ قَلْبٍ وَلَا شَكٍّ وَلَا يَأْسٍ إِذًا التَّوَكُّلُ هُوَ مَاذَا؟ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ. بِهَذَا يَكُونُ الْإِنْسَانُ قَدْ تَوَكَّلَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ التَّوَكُّلِ تَأَمَّلْ فِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا هَذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى حُصُولِ يَقِينٍ وَتَفْوِيضٍ، وَعَلَى بَذْلِ سَبَبٍ؛ لِأَنَّ الطَّيْرَ مَا جَلَسَتْ الطَّيْرُ مَاذَا فَعَلَتْ؟ ذَهَبَتْ وَغَدَتْ تَبْحَثُ عَنِ الرِّزْقِ، ثُمَّ عَادَتْ وَقَدْ مَنَّ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَيْهَا بِالرِّزْقِ. إِذًا هَكَذَا يَكُونُ التَّوَكُّلُ الشَّرْعِيُّ يَقَعُ النَّاسُ فِي أَخْطَاءٍ فِي هَذَا الْبَابِ، أَهَمُّ تِلْكَ الْأَخْطَاءِ مَا يَأْتِي أَوَّلًا، أَنْ يَتَوَكَّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى غَيْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فِيمَا لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلَّا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا يَقَعُ فِي حَالِ مَنْ لَمْ يَقْدِرِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ قَدْرِهِ، وَمَنْ أَشْرَكَ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَكْثُرُ هَذَا فِي عُبَّادِ الْقُبُورِ، يَكُونُ قَلْبُهُ مُعَلَّقًا بِغَيْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي تَفْرِيجِ الْكُرُوبِ، وَتَنْفِيسِ الْهُمُومِ، وَمَغْفِرَةِ الذُّنُوبِ، وَإِزَالَةِ الْعَقَبَاتِ بَلْ يَكَادُ أَنْ يَكُونَ قَدْ فَوَّضَ كُلَّ شَيْءٍ إِلَى سَيِّدِهِ الَّذِي يَعْبُدُهُ، حَيًّا كَانَ أَوْ مَيِّتًا. وَهَذَا أَمْرٌ عَظِيمٌ وَلِذَا كَمْ يَتَدَاوَلُ بَعْضُ النَّاسِ أَبْيَاتًا تَدُلُّ عَلَى هَذَا التَّفْوِيضِ الشِّرْكِيِّ. تَجِدُ أَنَّهُمْ يُنْشِدُونَ إِنْ لَمْ تَكُنْ فِي مَعَادِي آخِذًا بِيَدِي فَضْلًا، وَإِلَّا فَقُلْ يَا زَلَّةَ الْقَدَمِ. يُخَاطِبُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا عِنْدَهُ أَنَّ ثِقَتَهُ وَتَفْوِيضَهُ إِنَّمَا هِيَ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِلَّا فَالْهَلَاكُ حَاصِلٌ فِي الْآخِرَةِ تَوَكَّلَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَأْنِ النَّجَاةِ فِي الْآخِرَةِ! وَلَا شَكَّ أَنَّ هَذَا تَوَكُّلٌ شِرْكِيٌّ، عَافَانِيَ اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنْ ذَلِكَ. إِذًا تَنَبَّهْ يَا رَعَاكَ اللهُ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ الأَمْرُ الثَّانِي: بَعْضُ النَّاسِ يَقَعُ فِي شِرْكٍ أَصْغَرَ، وَذَلِكَ بِأَنَّهُ يُلَاحِظُ الْمَخْلُوقَ بِقَلْبِهِ وَيَعْتَمِدُ عَلَيْهِ بَعْضَ الِاعْتِمَادِ فِي شَأْنٍ مِنَ الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يَكُونُ فِي حَاجَةٍ إِلَى شَيْءٍ مَا. الَّذِي يَنْبَغِي عَلَيْكَ أَنَّكَ إِذَا احْتَجْتَ إِلَى أَحَدٍ، وَاضْطَرَرْتَ إِلَى سُؤَالِ أَحَدٍ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ، يَقْدِرُ عَلَى إِعَانَتِكَ، يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَتَوَسَّطَ لَكَ أَوْ يَشْفَعَ لَكَ فَإِنَّكَ يَنْبَغِي أَنْ تُلَاحِظَ أَنَّ الْجَوَازَ هَا هُنَا مَشْرُوطٌ بِكَوْنِ قَلْبِكَ مُعْتَمِدًا عَلَى اللهِ فَقَطْ إِنَّمَا أَنْتَ تَطْلُبُ بِجَوَارِحِكَ، أَمَّا قَلْبُكَ فَإِنَّهُ وَاثِقٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا بِالْمَخْلُوقِ وَنَحْنُ قَدْ عَلِمْنَا قَبْلَ قَلِيلٍ أَنَّ التَّوَكُّلَ هُوَ قَطْعُ النَّظَرِ فِي الْأَسْبَابِ بَعْدَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ الْتِفَاتٌ فِي قَلْبِهِ إِلَى مَخْلُوقٍ فِي تَحْصِيلِ مَنْفَعَةٍ أَوْ دَفْعِ مَضَرَّةٍ، فَإِنَّهُ يَكُونُ قَدْ وَقَعَ فِي جِنْسِ الشِّرْكِ الْأَصْغَرِ وَهَذَا بَحْرٌ لَا سَاحِلَ لَهُ، وَمَا أَكْثَرَ الْمُخْطِئِينَ فِيهِ! نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يُعَافِيَنَا وَأَنْ يَغْفِرَ لَنَا الْأَمْرُ الثَّالِثُ: أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ فِي مَسْأَلَةِ التَّوَكُّلِ يَغْفَلُ عَنِ اتِّخَاذِ الْأَسْبَابِ يَظُنُّ أَنَّ التَّوَكُّلَ الصَّحِيحَ هُوَ أَنْ يَتْرُكَ الْإِنْسَانُ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ لَا يَفْعَلُ شَيْئًا، يَجْلِسُ، وَيَقُولُ: إِنْ شَاءَ اللهُ أَنْ يُعْطِيَنِي وَأَنْ يَصْنَعَ لِي كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ سَيَكُونُ دُونَ أَنْ يَتَحَرَّكَ وَدُونَ أَنْ يَبْذُلَ الْمُسْتَطَاعَ، وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ تَوَاكُلٌ لَا تَوَكُّلٌ التَّوَكُّلُ كَمَا قَدْ عَلِمْنَا لَا بُدَّ أَنْ يَجْتَمِعَ فِيهِ الْأَمْرَانِ: يَجْتَمِعُ الثِّقَةُ بِالْقَلْبِ وَالتَّفْوِيضُ مِنَ الْقَلْبِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، مَعَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَعُودُ بِطَانًا هَذَا النَّبِيُّ الْكَرِيمُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي هُوَ سَيِّدُ الْمُتَوَكِّلِينَ، مَا تَرَكَ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ فِي أُحُدٍ دِرْعَيْنِ، كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُ فِي الْحُرُوبِ الْمِغْفَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخَذَ سَبَبًا يَمْنَعُ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الْوُصُولِ إِلَى الْمَدِينَةِ، أَلَا وَهُوَ حَفْرُ الْخَنْدَقِ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْتَفِظُ بِقُوتِ أَهْلِهِ مُدَّةَ سَنَةٍ إِذًا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ أَنَّهُ أَعْظَمُ النَّاسِ تَوَكُّلًا لَا يَتْرُكُ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ إِذًا اتِّخَاذُ الْأَسْبَابِ لَيْسَ قَدْحًا فِي التَّوَكُّلِ. اتِّخَاذُ الْأَسْبَابِ لَيْسَ قَدْحًا فِي التَّوَكُّلِ بَلْ تَرْكُ الْأَسْبَابِ هُوَ الْقَدْحُ فِي التَّوَكُّلِ وَبَعْضُ النَّاسِ يُخْطِئُ فِي هَذَا الْبَابِ خَطَأً عَظِيمًا وَالْعَجِيبُ أَنَّ الَّذِي يَدَّعِي أَنَّهُ يَتْرُكُ اتِّخَاذَ السَّبَبِ تَوَكُّلًا عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَخْطَأَ وَكَذَبَ فِي نَفْسِ الْوَقْتِ هُوَ كَاذِبٌ، مُسْتَحِيلٌ أَنَّ إِنْسَانًا يَمْتَنِعُ عَنْ فِعْلِ أَيِّ سَبَبٍ عَلَى الْإِطْلَاقِ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ ذَكَرَ قِصَّةً عَنْ أَحَدِهِمْ وَهِيَ أَنَّهُ ادَّعَى أَنَّهُ مُتَوَكِّلٌ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَبِالتَّالِي فَإِنَّهُ لَا يَتَّخِذُ أَيَّ سَبَبٍ عَلَى الْإِطْلَاقِ فَكَانَ يُسَافِرُ وَيَتَنَقَّلُ فِي الْقِفَارِ مِنْ مَكَانٍ إِلَى آخَرَ دُونَ أَنْ يَحْمِلَ زَادًا مَعَهُ. لَكِنَّهُ يَقُولُ: لَا بُدَّ أَنْ أَحْمِلَ مَعِي ثَلَاثَةَ أَشْيَاءَ إِنَاءً لِلْوُضُوءِ، وَإِبْرَةً، وَخَيْطًا. يَقُولُ: رُبَّمَا يَنْقَطِعُ ثَوْبِي فَأَنَا بِحَاجَةٍ إِلَى أَنْ أَخِيطَ ثَوْبِي حَتَّى لَا تَظْهَرَ عَوْرَتِي فَتَبْطُلَ صَلَاتِي وَلَا بُدَّ لِي مِنْ إِنَاءٍ أَضَعُ فِيهِ الْمَاءَ إِذَا أَرَدْتُ الْوُضُوءَ. إِذًا هَذَا الرَّجُلُ مَا اسْتَطَاعَ مَاذَا؟ أَنْ يَتْرُكَ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ بَلْ حَتَّى خُرُوجُهُ مِنْ مَكَانٍ إِلَى آخَرَ لِأَيِّ هَدَفٍ كَانَ، هُوَ فِي الْحَقِيقَةِ اتِّخَاذٌ لِلسَّبَبِ إِذًا لَا يَسْتَطِيعُ إِنْسَانٌ أَنْ يَكُونَ تَارِكًا لِفِعْلِ الْأَسْبَابِ مُطْلَقًا، هَذَا أَمْرٌ لَا يُمْكِنُ لِأَحَدٍ أَنْ يَدَّعِيَهُ الْأَمْرُ الرَّابِعُ، وَهِيَ مَسْأَلَةٌ مُهِمَّةٌ: أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ إِذَا سَمِعَ مَا يَتَعَلَّقُ بِالتَّوَكُّلِ لَا يَنْصَرِفُ ذِهْنُهُ إِلَّا إِلَى الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ يَعْنِي يَظُنُّ أَنَّ التَّوَكُّلَ مَحْصُورٌ فِي مَسْأَلَةِ الرِّزْقِ وَمَا يَدُورُ فِي فَلَكِ هَذَا الْأَمْرِ فَقَطْ، هَذَا هُوَ التَّوَكُّلُ وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ خَطَأٌ، وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ نَقْصٌ. بَلْ ثَمَّ تَوَكُّلٌ أَعْظَمُ مِنْ هَذَا وَهُوَ أَنْ تَتَوَكَّلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي شَأْنِ طَاعَتِهِ جَلَّ وَعَلَا، وَفِي شَأْنِ طَلَبِ الْعِلْمِ، وَفِي شَأْنِ الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذَا أَعْظَمُ بِكَثِيرٍ! وَاللهِ إِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَفْعَلَ شَيْئًا مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ إِلَّا بِإِعَانَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَا هِمَمُ النَّاسِ فِي هَذَا الْبَابِ مُتَفَاوِتَةٌ. شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَكُونُ تَوَكُّلُهُ فِي حُصُولِ رَغِيفٍ وَمَنْ يَكُونُ تَوَكُّلُهُ فِي طَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَدَاءِ عِبَادَتِهِ إِذًا إِذَا كَانَ مِمَّا يُطْلَبُ وَهَذَا مِنَ الْأَمْرِ الْحَسَنِ الْمَطْلُوبِ أَنْ يَتَوَكَّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي شَأْنِ الرِّزْقِ وَالْأَعْمَالِ وَمَا إِلَيْهَا فَإِنَّ التَّوَكُّلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَالِاسْتِعَانَةَ بِهِ، وَتَفْوِيضَ الْأَمْرِ إِلَيْهِ، وَالِاعْتِمَادَ عَلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا فِي طَاعَتِهِ هَذَا أَوْلَى وَأَوْلَى وَأَهَمُّ وَلِذَا مَاذَا يَقُولُ الْمُسْلِمُ إِذَا سَمِعَ الْحَيْعَلَتَيْنِ فِي الْأَذَانِ؟ يَقُولُ مَاذَا؟ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ أَنْتَ دُعِيتَ الْآنَ إِلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، جَوَابُكَ بِأَنْ تُفَوِّضَ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتُعْلِنَ اعْتِمَادَكَ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّكَ لَا شَيْءَ، لَا يُمْكِنُ أَنْ تَتَحَرَّكَ وَلَا تَفْعَلَ شَيْئًا حَتَّى يَأْذَنَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَيُمِدَّكَ بِعَوْنِهِ وَتَوْفِيقِهِ جَلَّ وَعَلَا إِذًا لَاحِظْ يَا رَعَاكَ اللهُ، فِي كُلِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا وَأَهَمُّ مِنْهَا فِي كُلِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِ الدِّينِ، أَنْ تَتَوَكَّلَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِيَّاكَ أَنْ تَثِقَ بِنَفْسِكَ، تَثِقَ بِإِيمَانِكَ، تَثِقَ بِاجْتِهَادِكَ، تَثِقَ بِذَكَائِكَ، تَثِقَ بِأَنَّكَ فَعَلْتَ وَفَعَلْتَ فِي السَّابِقِ رُبَّمَا تُخْذَلُ بِسَبَبِ هَذِهِ الثِّقَةِ فِي النَّفْسِ الْوَاجِبُ أَنْ يَكُونَ شَأْنُكَ فِي كُلِّ حَالِهِ هُوَ الثِّقَةُ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Apa itu tawakal kepada Allah? Hakikat tawakal kepada Allah tersusun dari dua perkara: Pertama, hati bersandar dan menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang bersandar dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua, mengerahkan sebab-sebab yang memungkinkan untuk ditempuh. Ketika seseorang menggabungkan kedua perkara ini: bersandar kepada Allah, percaya kepada Allah, dan menyerahkan urusan kepada Allah, sekaligus menempuh sebab-sebab yang disyariatkan dan dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka saat itulah ia telah bertawakal dengan tawakal yang syar’i. Karena itu, sebagian ulama mendefinisikan tawakal dengan mengatakan, “Tawakal adalah memalingkan perhatian dari sebab-sebab setelah sebab-sebab itu dipersiapkan.” Kapan perhatian kepada sebab-sebab itu dipalingkan? Setelah sebab-sebab tersebut ditempuh. Atau sebagaimana dinukil Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij As-Salikin. Beliau menukil perkataan indah dari sebagian ulama: “Tawakal adalah gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak.” “Gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak.” Apa maksudnya? Gerak berarti anggota badan terus bergerak dan berusaha. Sedangkan diam adalah ketenangan dan kepercayaan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tanpa gejolak hati, keraguan, ataupun keputusasaan. Jadi, apa itu tawakal? Gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak. Dengan inilah seseorang benar-benar bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Renungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan adanya keyakinan dan penyerahan diri kepada Allah, sekaligus menempuh sebab. Sebab, burung itu tidak hanya duduk diam. Apa yang dilakukan burung itu? Ia pergi pada pagi hari mencari rezeki. Kemudian ia kembali setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan rezeki kepadanya. Demikianlah tawakal yang syar’i. Manusia terjerumus dalam beberapa kesalahan dalam memahami tawakal. Di antara kesalahan yang paling penting untuk diperhatikan adalah: Kesalahan pertama, seseorang bertawakal kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla dalam perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini terjadi pada orang yang tidak mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana mestinya dan berbuat syirik kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini banyak terjadi pada para penyembah kubur. Hati mereka bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menghilangkan kesusahan, melapangkan kegundahan, mengampuni dosa, dan menyingkirkan berbagai rintangan. Bahkan, hampir seluruh urusannya ia serahkan kepada orang yang ia jadikan sesembahan, baik masih hidup maupun telah meninggal. Ini adalah perkara yang sangat besar. Karena itu, sebagian orang sering melantunkan bait-bait syair yang menunjukkan penyerahan diri yang mengandung kesyirikan ini. Mereka bersyair, “Jika pada hari kembaliku kelak engkau tidak menggandeng tanganku sebagai karunia, maka sungguh celakalah aku karena tergelincir.” Ucapan ini ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menurut keyakinannya, kepercayaan dan penyerahan urusannya tertuju kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak demikian, menurutnya kebinasaan akan terjadi di akhirat. Ia bertawakal kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam urusan keselamatan di akhirat! Tidak diragukan lagi, ini adalah tawakal yang mengandung kesyirikan. Semoga Allah melindungi saya dan kalian darinya. Maka waspadalah terhadap perkara ini, semoga Allah menjagamu. Kesalahan kedua, sebagian orang terjerumus dalam syirik kecil, yaitu ketika hatinya berpaling kepada makhluk dan menggantungkan sebagian sandarannya kepada makhluk dalam suatu urusan dunia. Maksudnya, terkadang seseorang sedang memerlukan sesuatu. Jika engkau memerlukan bantuan seseorang dan terpaksa meminta kepadanya, dalam perkara yang memang berada dalam kemampuannya, ia mampu membantumu, menjadi perantara bagimu, atau menyampaikan permohonan untukmu, maka perhatikanlah bahwa kebolehan meminta bantuan di sini disyaratkan agar hatimu tetap bersandar hanya kepada Allah.Yang meminta hanyalah anggota badanmu, sedangkan hatimu tetap percaya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bukan kepada makhluk. Kita telah mengetahui sebelumnya bahwa tawakal adalah memalingkan perhatian dari sebab-sebab setelah menempuh sebab-sebab tersebut. Maka siapa yang hatinya berpaling kepada makhluk dalam memperoleh manfaat atau menolak bahaya, ia telah terjerumus ke dalam jenis syirik kecil. Ini ibarat lautan yang tidak bertepi. Betapa banyak orang yang keliru di dalamnya! Kita memohon kepada Allah agar memberi kita keselamatan dan mengampuni kita. Kesalahan ketiga, sebagian orang dalam perkara tawakal justru lalai menempuh sebab-sebab. Ia mengira bahwa tawakal yang benar adalah meninggalkan sebab. Ia tidak melakukan apa-apa, hanya duduk seraya berkata, “Jika Allah menghendaki memberiku ini dan menjadikan untukku begini dan begitu, tentu hal itu akan terjadi.”Ia berkata demikian tanpa bergerak dan tanpa mengerahkan kemampuan. Hakikatnya, ini adalah tawakul, bukan tawakal. Sebagaimana telah kita ketahui, tawakal harus menghimpun dua perkara: kepercayaan dan penyerahan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla, disertai dengan menempuh sebab. “Niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, penghulu orang-orang yang bertawakal, tidak meninggalkan sebab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan dua lapis baju besi pada Perang Uhud. Dalam peperangan, beliau juga mengenakan mighfar, yaitu pelindung kepala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menempuh sebab untuk menghalangi kaum musyrikin mencapai Madinah, yaitu dengan menggali parit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyimpan persediaan makanan untuk keluarganya selama setahun. Jadi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun beliau adalah orang yang paling sempurna tawakalnya, tapi beliau tidak meninggalkan sebab. Maka menempuh sebab sama sekali tidak mencederai tawakal. Menempuh sebab tidak mencederai tawakal. Justru meninggalkan sebablah yang mencederai tawakal. Sebagian orang melakukan kesalahan besar dalam perkara ini. Anehnya, orang yang mengaku meninggalkan sebab karena bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebenarnya telah keliru sekaligus berdusta.Ia pendusta! Mustahil seseorang sama sekali tidak melakukan sebab apa pun. Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan kisah seseorang yang mengaku bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla sehingga ia sama sekali tidak mau menempuh sebab apa pun. Ia bepergian melintasi padang tandus dari satu tempat ke tempat lain tanpa membawa bekal. Namun ia berkata, “Aku tetap harus membawa tiga benda: wadah untuk berwudu, jarum, dan benang.” Ia berkata, “Barangkali pakaianku robek, maka aku perlu menjahitnya agar auratku tidak tersingkap sehingga salatku batal. Aku juga harus membawa wadah untuk menaruh air ketika hendak berwudu.” Jadi, apa yang ternyata tidak mampu dilakukan orang ini? Meninggalkan sebab! Bahkan, perpindahannya dari satu tempat ke tempat lain untuk tujuan apa pun, pada hakikatnya sudah merupakan bentuk menempuh sebab. Jadi, tidak seorang pun mampu meninggalkan seluruh sebab secara mutlak. Tidak seorang pun dapat mengklaim hal seperti itu. Kesalahan keempat, dan ini sangat penting: sebagian orang ketika mendengar pembahasan tawakal, pikirannya hanya tertuju kepada urusan dunia. Ia mengira bahwa tawakal hanya terbatas pada perkara rezeki dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Seolah-olah hanya itulah tawakal! Padahal ini merupakan kekeliruan dan kekurangan. Ada tawakal yang jauh lebih agung daripada itu, yaitu bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menaati-Nya Jalla wa ‘Ala, dalam menuntut ilmu, dan dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini jauh lebih agung! Demi Allah, engkau tidak akan mampu melakukan satu pun dari perkara-perkara itu kecuali dengan pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, tingkatan tekad manusia dalam perkara ini berbeda-beda. Jauh sekali perbedaan antara orang yang tawakalnya hanya untuk memperoleh sepotong roti, dengan orang yang seluruh tawakalnya ia arahkan untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menunaikan ibadah kepada-Nya. Jadi, jika bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam urusan rezeki, pekerjaan, dan semisalnya merupakan perkara yang dianjurkan, dan memang termasuk perkara baik yang dianjurkan,maka bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memohon pertolongan kepada-Nya, menyerahkan urusan kepada-Nya, serta bersandar kepada-Nya Jalla wa ‘Ala dalam menaati-Nya, jauh lebih utama dan lebih penting. Karena itu, apa yang diucapkan seorang muslim ketika mendengar hai’alatain dalam azan (“Hayya ‘alash-sholah” dan “Hayya ‘alal-falah”)? Apa yang dia ucapkan? Ia mengucapkan, “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” — tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Engkau baru saja dipanggil menuju salat: “Marilah menuju salat, marilah menuju keberuntungan.” Jawabanmu adalah dengan menyerahkan urusan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan menyatakan bahwa engkau bersandar kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Pada dirimu sendiri tidak ada daya apa pun, engkau tidak mampu bergerak ataupun melakukan sesuatu hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan dan menguatkanmu dengan pertolongan serta taufik-Nya Jalla wa ‘Ala. Maka perhatikanlah, semoga Allah menjagamu. Dalam setiap urusan dunia, dan yang lebih penting lagi dalam setiap urusan agama, bertawakallah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Jangan mengandalkan dirimu sendiri. Jangan mengandalkan imanmu, kesungguhanmu, kecerdasanmu, ataupun merasa yakin karena dahulu engkau telah melakukan berbagai amal. Boleh jadi engkau tidak diberi pertolongan justru karena terlalu mengandalkan diri sendiri. Yang semestinya menjadi sikapmu dalam setiap keadaan adalah bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== التَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ مَا هُوَ؟ التَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ حَقِيقَةٌ مُرَكَّبَةٌ مِنْ أَمْرَيْنِ اعْتِمَادٌ وَتَفْوِيضٌ قَلْبِيٌّ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَعْتَمِدُ الْإِنْسَانُ وَيُفَوِّضُ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْأَمْرُ الثَّانِي: بَذْلُ الْأَسْبَابِ الْمُمْكِنَةِ فَمَتَى مَا جَمَعَ الْإِنْسَانُ بَيْنَ هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ: اعْتَمَدَ عَلَى اللهِ وَوَثِقَ بِاللهِ، فَوَّضَ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ مَعَ كَوْنِهِ قَدْ قَامَ بِالْأَسْبَابِ الَّتِي شَرَعَهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَحَلَّهَا، فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ يَكُونُ قَدْ تَوَكَّلَ التَّوَكُّلَ الشَّرْعِيَّ وَلِذَا عَرَّفَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ التَّوَكُّلَ بِقَوْلِهِ: هُوَ قَطْعُ النَّظَرِ إِلَى الْأَسْبَابِ بَعْدَ تَهْيِئَةِ الْأَسْبَابِ قَطْعُ النَّظَرِ إِلَى الْأَسْبَابِ مَتَى؟ بَعْدَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ أَوْ كَمَا نَقَلَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي “مَدَارِجِ السَّالِكِينَ”، نَقَلَ كَلِمَةً جَمِيلَةً عَنْ بَعْضِهِمْ، أَلَا وَهِيَ أَنَّ التَّوَكُّلَ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ، مَا مَعْنَى هَذَا الْكَلَامِ؟ اضْطِرَابٌ يَعْنِي حَرَكَةً بِلَا سُكُونٍ، وَذَلِكَ بِالْجَوَارِحِ وَسُكُونٌ طُمَأْنِينَةٌ وَثِقَةٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالْقَلْبِ، بِدُونِ اضْطِرَابٍ، بِدُونِ حَرَكَةِ قَلْبٍ وَلَا شَكٍّ وَلَا يَأْسٍ إِذًا التَّوَكُّلُ هُوَ مَاذَا؟ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ. بِهَذَا يَكُونُ الْإِنْسَانُ قَدْ تَوَكَّلَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ التَّوَكُّلِ تَأَمَّلْ فِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا هَذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى حُصُولِ يَقِينٍ وَتَفْوِيضٍ، وَعَلَى بَذْلِ سَبَبٍ؛ لِأَنَّ الطَّيْرَ مَا جَلَسَتْ الطَّيْرُ مَاذَا فَعَلَتْ؟ ذَهَبَتْ وَغَدَتْ تَبْحَثُ عَنِ الرِّزْقِ، ثُمَّ عَادَتْ وَقَدْ مَنَّ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَيْهَا بِالرِّزْقِ. إِذًا هَكَذَا يَكُونُ التَّوَكُّلُ الشَّرْعِيُّ يَقَعُ النَّاسُ فِي أَخْطَاءٍ فِي هَذَا الْبَابِ، أَهَمُّ تِلْكَ الْأَخْطَاءِ مَا يَأْتِي أَوَّلًا، أَنْ يَتَوَكَّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى غَيْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فِيمَا لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلَّا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا يَقَعُ فِي حَالِ مَنْ لَمْ يَقْدِرِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ قَدْرِهِ، وَمَنْ أَشْرَكَ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَكْثُرُ هَذَا فِي عُبَّادِ الْقُبُورِ، يَكُونُ قَلْبُهُ مُعَلَّقًا بِغَيْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي تَفْرِيجِ الْكُرُوبِ، وَتَنْفِيسِ الْهُمُومِ، وَمَغْفِرَةِ الذُّنُوبِ، وَإِزَالَةِ الْعَقَبَاتِ بَلْ يَكَادُ أَنْ يَكُونَ قَدْ فَوَّضَ كُلَّ شَيْءٍ إِلَى سَيِّدِهِ الَّذِي يَعْبُدُهُ، حَيًّا كَانَ أَوْ مَيِّتًا. وَهَذَا أَمْرٌ عَظِيمٌ وَلِذَا كَمْ يَتَدَاوَلُ بَعْضُ النَّاسِ أَبْيَاتًا تَدُلُّ عَلَى هَذَا التَّفْوِيضِ الشِّرْكِيِّ. تَجِدُ أَنَّهُمْ يُنْشِدُونَ إِنْ لَمْ تَكُنْ فِي مَعَادِي آخِذًا بِيَدِي فَضْلًا، وَإِلَّا فَقُلْ يَا زَلَّةَ الْقَدَمِ. يُخَاطِبُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا عِنْدَهُ أَنَّ ثِقَتَهُ وَتَفْوِيضَهُ إِنَّمَا هِيَ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِلَّا فَالْهَلَاكُ حَاصِلٌ فِي الْآخِرَةِ تَوَكَّلَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَأْنِ النَّجَاةِ فِي الْآخِرَةِ! وَلَا شَكَّ أَنَّ هَذَا تَوَكُّلٌ شِرْكِيٌّ، عَافَانِيَ اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنْ ذَلِكَ. إِذًا تَنَبَّهْ يَا رَعَاكَ اللهُ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ الأَمْرُ الثَّانِي: بَعْضُ النَّاسِ يَقَعُ فِي شِرْكٍ أَصْغَرَ، وَذَلِكَ بِأَنَّهُ يُلَاحِظُ الْمَخْلُوقَ بِقَلْبِهِ وَيَعْتَمِدُ عَلَيْهِ بَعْضَ الِاعْتِمَادِ فِي شَأْنٍ مِنَ الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يَكُونُ فِي حَاجَةٍ إِلَى شَيْءٍ مَا. الَّذِي يَنْبَغِي عَلَيْكَ أَنَّكَ إِذَا احْتَجْتَ إِلَى أَحَدٍ، وَاضْطَرَرْتَ إِلَى سُؤَالِ أَحَدٍ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ، يَقْدِرُ عَلَى إِعَانَتِكَ، يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَتَوَسَّطَ لَكَ أَوْ يَشْفَعَ لَكَ فَإِنَّكَ يَنْبَغِي أَنْ تُلَاحِظَ أَنَّ الْجَوَازَ هَا هُنَا مَشْرُوطٌ بِكَوْنِ قَلْبِكَ مُعْتَمِدًا عَلَى اللهِ فَقَطْ إِنَّمَا أَنْتَ تَطْلُبُ بِجَوَارِحِكَ، أَمَّا قَلْبُكَ فَإِنَّهُ وَاثِقٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا بِالْمَخْلُوقِ وَنَحْنُ قَدْ عَلِمْنَا قَبْلَ قَلِيلٍ أَنَّ التَّوَكُّلَ هُوَ قَطْعُ النَّظَرِ فِي الْأَسْبَابِ بَعْدَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ الْتِفَاتٌ فِي قَلْبِهِ إِلَى مَخْلُوقٍ فِي تَحْصِيلِ مَنْفَعَةٍ أَوْ دَفْعِ مَضَرَّةٍ، فَإِنَّهُ يَكُونُ قَدْ وَقَعَ فِي جِنْسِ الشِّرْكِ الْأَصْغَرِ وَهَذَا بَحْرٌ لَا سَاحِلَ لَهُ، وَمَا أَكْثَرَ الْمُخْطِئِينَ فِيهِ! نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يُعَافِيَنَا وَأَنْ يَغْفِرَ لَنَا الْأَمْرُ الثَّالِثُ: أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ فِي مَسْأَلَةِ التَّوَكُّلِ يَغْفَلُ عَنِ اتِّخَاذِ الْأَسْبَابِ يَظُنُّ أَنَّ التَّوَكُّلَ الصَّحِيحَ هُوَ أَنْ يَتْرُكَ الْإِنْسَانُ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ لَا يَفْعَلُ شَيْئًا، يَجْلِسُ، وَيَقُولُ: إِنْ شَاءَ اللهُ أَنْ يُعْطِيَنِي وَأَنْ يَصْنَعَ لِي كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ سَيَكُونُ دُونَ أَنْ يَتَحَرَّكَ وَدُونَ أَنْ يَبْذُلَ الْمُسْتَطَاعَ، وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ تَوَاكُلٌ لَا تَوَكُّلٌ التَّوَكُّلُ كَمَا قَدْ عَلِمْنَا لَا بُدَّ أَنْ يَجْتَمِعَ فِيهِ الْأَمْرَانِ: يَجْتَمِعُ الثِّقَةُ بِالْقَلْبِ وَالتَّفْوِيضُ مِنَ الْقَلْبِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، مَعَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَعُودُ بِطَانًا هَذَا النَّبِيُّ الْكَرِيمُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي هُوَ سَيِّدُ الْمُتَوَكِّلِينَ، مَا تَرَكَ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ فِي أُحُدٍ دِرْعَيْنِ، كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُ فِي الْحُرُوبِ الْمِغْفَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخَذَ سَبَبًا يَمْنَعُ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الْوُصُولِ إِلَى الْمَدِينَةِ، أَلَا وَهُوَ حَفْرُ الْخَنْدَقِ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْتَفِظُ بِقُوتِ أَهْلِهِ مُدَّةَ سَنَةٍ إِذًا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ أَنَّهُ أَعْظَمُ النَّاسِ تَوَكُّلًا لَا يَتْرُكُ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ إِذًا اتِّخَاذُ الْأَسْبَابِ لَيْسَ قَدْحًا فِي التَّوَكُّلِ. اتِّخَاذُ الْأَسْبَابِ لَيْسَ قَدْحًا فِي التَّوَكُّلِ بَلْ تَرْكُ الْأَسْبَابِ هُوَ الْقَدْحُ فِي التَّوَكُّلِ وَبَعْضُ النَّاسِ يُخْطِئُ فِي هَذَا الْبَابِ خَطَأً عَظِيمًا وَالْعَجِيبُ أَنَّ الَّذِي يَدَّعِي أَنَّهُ يَتْرُكُ اتِّخَاذَ السَّبَبِ تَوَكُّلًا عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَخْطَأَ وَكَذَبَ فِي نَفْسِ الْوَقْتِ هُوَ كَاذِبٌ، مُسْتَحِيلٌ أَنَّ إِنْسَانًا يَمْتَنِعُ عَنْ فِعْلِ أَيِّ سَبَبٍ عَلَى الْإِطْلَاقِ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ ذَكَرَ قِصَّةً عَنْ أَحَدِهِمْ وَهِيَ أَنَّهُ ادَّعَى أَنَّهُ مُتَوَكِّلٌ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَبِالتَّالِي فَإِنَّهُ لَا يَتَّخِذُ أَيَّ سَبَبٍ عَلَى الْإِطْلَاقِ فَكَانَ يُسَافِرُ وَيَتَنَقَّلُ فِي الْقِفَارِ مِنْ مَكَانٍ إِلَى آخَرَ دُونَ أَنْ يَحْمِلَ زَادًا مَعَهُ. لَكِنَّهُ يَقُولُ: لَا بُدَّ أَنْ أَحْمِلَ مَعِي ثَلَاثَةَ أَشْيَاءَ إِنَاءً لِلْوُضُوءِ، وَإِبْرَةً، وَخَيْطًا. يَقُولُ: رُبَّمَا يَنْقَطِعُ ثَوْبِي فَأَنَا بِحَاجَةٍ إِلَى أَنْ أَخِيطَ ثَوْبِي حَتَّى لَا تَظْهَرَ عَوْرَتِي فَتَبْطُلَ صَلَاتِي وَلَا بُدَّ لِي مِنْ إِنَاءٍ أَضَعُ فِيهِ الْمَاءَ إِذَا أَرَدْتُ الْوُضُوءَ. إِذًا هَذَا الرَّجُلُ مَا اسْتَطَاعَ مَاذَا؟ أَنْ يَتْرُكَ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ بَلْ حَتَّى خُرُوجُهُ مِنْ مَكَانٍ إِلَى آخَرَ لِأَيِّ هَدَفٍ كَانَ، هُوَ فِي الْحَقِيقَةِ اتِّخَاذٌ لِلسَّبَبِ إِذًا لَا يَسْتَطِيعُ إِنْسَانٌ أَنْ يَكُونَ تَارِكًا لِفِعْلِ الْأَسْبَابِ مُطْلَقًا، هَذَا أَمْرٌ لَا يُمْكِنُ لِأَحَدٍ أَنْ يَدَّعِيَهُ الْأَمْرُ الرَّابِعُ، وَهِيَ مَسْأَلَةٌ مُهِمَّةٌ: أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ إِذَا سَمِعَ مَا يَتَعَلَّقُ بِالتَّوَكُّلِ لَا يَنْصَرِفُ ذِهْنُهُ إِلَّا إِلَى الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ يَعْنِي يَظُنُّ أَنَّ التَّوَكُّلَ مَحْصُورٌ فِي مَسْأَلَةِ الرِّزْقِ وَمَا يَدُورُ فِي فَلَكِ هَذَا الْأَمْرِ فَقَطْ، هَذَا هُوَ التَّوَكُّلُ وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ خَطَأٌ، وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ نَقْصٌ. بَلْ ثَمَّ تَوَكُّلٌ أَعْظَمُ مِنْ هَذَا وَهُوَ أَنْ تَتَوَكَّلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي شَأْنِ طَاعَتِهِ جَلَّ وَعَلَا، وَفِي شَأْنِ طَلَبِ الْعِلْمِ، وَفِي شَأْنِ الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذَا أَعْظَمُ بِكَثِيرٍ! وَاللهِ إِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَفْعَلَ شَيْئًا مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ إِلَّا بِإِعَانَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَا هِمَمُ النَّاسِ فِي هَذَا الْبَابِ مُتَفَاوِتَةٌ. شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَكُونُ تَوَكُّلُهُ فِي حُصُولِ رَغِيفٍ وَمَنْ يَكُونُ تَوَكُّلُهُ فِي طَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَدَاءِ عِبَادَتِهِ إِذًا إِذَا كَانَ مِمَّا يُطْلَبُ وَهَذَا مِنَ الْأَمْرِ الْحَسَنِ الْمَطْلُوبِ أَنْ يَتَوَكَّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي شَأْنِ الرِّزْقِ وَالْأَعْمَالِ وَمَا إِلَيْهَا فَإِنَّ التَّوَكُّلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَالِاسْتِعَانَةَ بِهِ، وَتَفْوِيضَ الْأَمْرِ إِلَيْهِ، وَالِاعْتِمَادَ عَلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا فِي طَاعَتِهِ هَذَا أَوْلَى وَأَوْلَى وَأَهَمُّ وَلِذَا مَاذَا يَقُولُ الْمُسْلِمُ إِذَا سَمِعَ الْحَيْعَلَتَيْنِ فِي الْأَذَانِ؟ يَقُولُ مَاذَا؟ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ أَنْتَ دُعِيتَ الْآنَ إِلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، جَوَابُكَ بِأَنْ تُفَوِّضَ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتُعْلِنَ اعْتِمَادَكَ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّكَ لَا شَيْءَ، لَا يُمْكِنُ أَنْ تَتَحَرَّكَ وَلَا تَفْعَلَ شَيْئًا حَتَّى يَأْذَنَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَيُمِدَّكَ بِعَوْنِهِ وَتَوْفِيقِهِ جَلَّ وَعَلَا إِذًا لَاحِظْ يَا رَعَاكَ اللهُ، فِي كُلِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا وَأَهَمُّ مِنْهَا فِي كُلِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِ الدِّينِ، أَنْ تَتَوَكَّلَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِيَّاكَ أَنْ تَثِقَ بِنَفْسِكَ، تَثِقَ بِإِيمَانِكَ، تَثِقَ بِاجْتِهَادِكَ، تَثِقَ بِذَكَائِكَ، تَثِقَ بِأَنَّكَ فَعَلْتَ وَفَعَلْتَ فِي السَّابِقِ رُبَّمَا تُخْذَلُ بِسَبَبِ هَذِهِ الثِّقَةِ فِي النَّفْسِ الْوَاجِبُ أَنْ يَكُونَ شَأْنُكَ فِي كُلِّ حَالِهِ هُوَ الثِّقَةُ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى


Apa itu tawakal kepada Allah? Hakikat tawakal kepada Allah tersusun dari dua perkara: Pertama, hati bersandar dan menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang bersandar dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua, mengerahkan sebab-sebab yang memungkinkan untuk ditempuh. Ketika seseorang menggabungkan kedua perkara ini: bersandar kepada Allah, percaya kepada Allah, dan menyerahkan urusan kepada Allah, sekaligus menempuh sebab-sebab yang disyariatkan dan dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka saat itulah ia telah bertawakal dengan tawakal yang syar’i. Karena itu, sebagian ulama mendefinisikan tawakal dengan mengatakan, “Tawakal adalah memalingkan perhatian dari sebab-sebab setelah sebab-sebab itu dipersiapkan.” Kapan perhatian kepada sebab-sebab itu dipalingkan? Setelah sebab-sebab tersebut ditempuh. Atau sebagaimana dinukil Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij As-Salikin. Beliau menukil perkataan indah dari sebagian ulama: “Tawakal adalah gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak.” “Gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak.” Apa maksudnya? Gerak berarti anggota badan terus bergerak dan berusaha. Sedangkan diam adalah ketenangan dan kepercayaan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tanpa gejolak hati, keraguan, ataupun keputusasaan. Jadi, apa itu tawakal? Gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak. Dengan inilah seseorang benar-benar bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Renungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan adanya keyakinan dan penyerahan diri kepada Allah, sekaligus menempuh sebab. Sebab, burung itu tidak hanya duduk diam. Apa yang dilakukan burung itu? Ia pergi pada pagi hari mencari rezeki. Kemudian ia kembali setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan rezeki kepadanya. Demikianlah tawakal yang syar’i. Manusia terjerumus dalam beberapa kesalahan dalam memahami tawakal. Di antara kesalahan yang paling penting untuk diperhatikan adalah: Kesalahan pertama, seseorang bertawakal kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla dalam perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini terjadi pada orang yang tidak mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana mestinya dan berbuat syirik kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini banyak terjadi pada para penyembah kubur. Hati mereka bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menghilangkan kesusahan, melapangkan kegundahan, mengampuni dosa, dan menyingkirkan berbagai rintangan. Bahkan, hampir seluruh urusannya ia serahkan kepada orang yang ia jadikan sesembahan, baik masih hidup maupun telah meninggal. Ini adalah perkara yang sangat besar. Karena itu, sebagian orang sering melantunkan bait-bait syair yang menunjukkan penyerahan diri yang mengandung kesyirikan ini. Mereka bersyair, “Jika pada hari kembaliku kelak engkau tidak menggandeng tanganku sebagai karunia, maka sungguh celakalah aku karena tergelincir.” Ucapan ini ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menurut keyakinannya, kepercayaan dan penyerahan urusannya tertuju kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak demikian, menurutnya kebinasaan akan terjadi di akhirat. Ia bertawakal kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam urusan keselamatan di akhirat! Tidak diragukan lagi, ini adalah tawakal yang mengandung kesyirikan. Semoga Allah melindungi saya dan kalian darinya. Maka waspadalah terhadap perkara ini, semoga Allah menjagamu. Kesalahan kedua, sebagian orang terjerumus dalam syirik kecil, yaitu ketika hatinya berpaling kepada makhluk dan menggantungkan sebagian sandarannya kepada makhluk dalam suatu urusan dunia. Maksudnya, terkadang seseorang sedang memerlukan sesuatu. Jika engkau memerlukan bantuan seseorang dan terpaksa meminta kepadanya, dalam perkara yang memang berada dalam kemampuannya, ia mampu membantumu, menjadi perantara bagimu, atau menyampaikan permohonan untukmu, maka perhatikanlah bahwa kebolehan meminta bantuan di sini disyaratkan agar hatimu tetap bersandar hanya kepada Allah.Yang meminta hanyalah anggota badanmu, sedangkan hatimu tetap percaya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bukan kepada makhluk. Kita telah mengetahui sebelumnya bahwa tawakal adalah memalingkan perhatian dari sebab-sebab setelah menempuh sebab-sebab tersebut. Maka siapa yang hatinya berpaling kepada makhluk dalam memperoleh manfaat atau menolak bahaya, ia telah terjerumus ke dalam jenis syirik kecil. Ini ibarat lautan yang tidak bertepi. Betapa banyak orang yang keliru di dalamnya! Kita memohon kepada Allah agar memberi kita keselamatan dan mengampuni kita. Kesalahan ketiga, sebagian orang dalam perkara tawakal justru lalai menempuh sebab-sebab. Ia mengira bahwa tawakal yang benar adalah meninggalkan sebab. Ia tidak melakukan apa-apa, hanya duduk seraya berkata, “Jika Allah menghendaki memberiku ini dan menjadikan untukku begini dan begitu, tentu hal itu akan terjadi.”Ia berkata demikian tanpa bergerak dan tanpa mengerahkan kemampuan. Hakikatnya, ini adalah tawakul, bukan tawakal. Sebagaimana telah kita ketahui, tawakal harus menghimpun dua perkara: kepercayaan dan penyerahan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla, disertai dengan menempuh sebab. “Niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, penghulu orang-orang yang bertawakal, tidak meninggalkan sebab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan dua lapis baju besi pada Perang Uhud. Dalam peperangan, beliau juga mengenakan mighfar, yaitu pelindung kepala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menempuh sebab untuk menghalangi kaum musyrikin mencapai Madinah, yaitu dengan menggali parit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyimpan persediaan makanan untuk keluarganya selama setahun. Jadi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun beliau adalah orang yang paling sempurna tawakalnya, tapi beliau tidak meninggalkan sebab. Maka menempuh sebab sama sekali tidak mencederai tawakal. Menempuh sebab tidak mencederai tawakal. Justru meninggalkan sebablah yang mencederai tawakal. Sebagian orang melakukan kesalahan besar dalam perkara ini. Anehnya, orang yang mengaku meninggalkan sebab karena bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebenarnya telah keliru sekaligus berdusta.Ia pendusta! Mustahil seseorang sama sekali tidak melakukan sebab apa pun. Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan kisah seseorang yang mengaku bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla sehingga ia sama sekali tidak mau menempuh sebab apa pun. Ia bepergian melintasi padang tandus dari satu tempat ke tempat lain tanpa membawa bekal. Namun ia berkata, “Aku tetap harus membawa tiga benda: wadah untuk berwudu, jarum, dan benang.” Ia berkata, “Barangkali pakaianku robek, maka aku perlu menjahitnya agar auratku tidak tersingkap sehingga salatku batal. Aku juga harus membawa wadah untuk menaruh air ketika hendak berwudu.” Jadi, apa yang ternyata tidak mampu dilakukan orang ini? Meninggalkan sebab! Bahkan, perpindahannya dari satu tempat ke tempat lain untuk tujuan apa pun, pada hakikatnya sudah merupakan bentuk menempuh sebab. Jadi, tidak seorang pun mampu meninggalkan seluruh sebab secara mutlak. Tidak seorang pun dapat mengklaim hal seperti itu. Kesalahan keempat, dan ini sangat penting: sebagian orang ketika mendengar pembahasan tawakal, pikirannya hanya tertuju kepada urusan dunia. Ia mengira bahwa tawakal hanya terbatas pada perkara rezeki dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Seolah-olah hanya itulah tawakal! Padahal ini merupakan kekeliruan dan kekurangan. Ada tawakal yang jauh lebih agung daripada itu, yaitu bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menaati-Nya Jalla wa ‘Ala, dalam menuntut ilmu, dan dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini jauh lebih agung! Demi Allah, engkau tidak akan mampu melakukan satu pun dari perkara-perkara itu kecuali dengan pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, tingkatan tekad manusia dalam perkara ini berbeda-beda. Jauh sekali perbedaan antara orang yang tawakalnya hanya untuk memperoleh sepotong roti, dengan orang yang seluruh tawakalnya ia arahkan untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menunaikan ibadah kepada-Nya. Jadi, jika bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam urusan rezeki, pekerjaan, dan semisalnya merupakan perkara yang dianjurkan, dan memang termasuk perkara baik yang dianjurkan,maka bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memohon pertolongan kepada-Nya, menyerahkan urusan kepada-Nya, serta bersandar kepada-Nya Jalla wa ‘Ala dalam menaati-Nya, jauh lebih utama dan lebih penting. Karena itu, apa yang diucapkan seorang muslim ketika mendengar hai’alatain dalam azan (“Hayya ‘alash-sholah” dan “Hayya ‘alal-falah”)? Apa yang dia ucapkan? Ia mengucapkan, “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” — tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Engkau baru saja dipanggil menuju salat: “Marilah menuju salat, marilah menuju keberuntungan.” Jawabanmu adalah dengan menyerahkan urusan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan menyatakan bahwa engkau bersandar kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Pada dirimu sendiri tidak ada daya apa pun, engkau tidak mampu bergerak ataupun melakukan sesuatu hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan dan menguatkanmu dengan pertolongan serta taufik-Nya Jalla wa ‘Ala. Maka perhatikanlah, semoga Allah menjagamu. Dalam setiap urusan dunia, dan yang lebih penting lagi dalam setiap urusan agama, bertawakallah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Jangan mengandalkan dirimu sendiri. Jangan mengandalkan imanmu, kesungguhanmu, kecerdasanmu, ataupun merasa yakin karena dahulu engkau telah melakukan berbagai amal. Boleh jadi engkau tidak diberi pertolongan justru karena terlalu mengandalkan diri sendiri. Yang semestinya menjadi sikapmu dalam setiap keadaan adalah bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== التَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ مَا هُوَ؟ التَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ حَقِيقَةٌ مُرَكَّبَةٌ مِنْ أَمْرَيْنِ اعْتِمَادٌ وَتَفْوِيضٌ قَلْبِيٌّ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَعْتَمِدُ الْإِنْسَانُ وَيُفَوِّضُ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْأَمْرُ الثَّانِي: بَذْلُ الْأَسْبَابِ الْمُمْكِنَةِ فَمَتَى مَا جَمَعَ الْإِنْسَانُ بَيْنَ هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ: اعْتَمَدَ عَلَى اللهِ وَوَثِقَ بِاللهِ، فَوَّضَ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ مَعَ كَوْنِهِ قَدْ قَامَ بِالْأَسْبَابِ الَّتِي شَرَعَهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَحَلَّهَا، فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ يَكُونُ قَدْ تَوَكَّلَ التَّوَكُّلَ الشَّرْعِيَّ وَلِذَا عَرَّفَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ التَّوَكُّلَ بِقَوْلِهِ: هُوَ قَطْعُ النَّظَرِ إِلَى الْأَسْبَابِ بَعْدَ تَهْيِئَةِ الْأَسْبَابِ قَطْعُ النَّظَرِ إِلَى الْأَسْبَابِ مَتَى؟ بَعْدَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ أَوْ كَمَا نَقَلَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي “مَدَارِجِ السَّالِكِينَ”، نَقَلَ كَلِمَةً جَمِيلَةً عَنْ بَعْضِهِمْ، أَلَا وَهِيَ أَنَّ التَّوَكُّلَ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ، مَا مَعْنَى هَذَا الْكَلَامِ؟ اضْطِرَابٌ يَعْنِي حَرَكَةً بِلَا سُكُونٍ، وَذَلِكَ بِالْجَوَارِحِ وَسُكُونٌ طُمَأْنِينَةٌ وَثِقَةٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالْقَلْبِ، بِدُونِ اضْطِرَابٍ، بِدُونِ حَرَكَةِ قَلْبٍ وَلَا شَكٍّ وَلَا يَأْسٍ إِذًا التَّوَكُّلُ هُوَ مَاذَا؟ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ. بِهَذَا يَكُونُ الْإِنْسَانُ قَدْ تَوَكَّلَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ التَّوَكُّلِ تَأَمَّلْ فِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا هَذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى حُصُولِ يَقِينٍ وَتَفْوِيضٍ، وَعَلَى بَذْلِ سَبَبٍ؛ لِأَنَّ الطَّيْرَ مَا جَلَسَتْ الطَّيْرُ مَاذَا فَعَلَتْ؟ ذَهَبَتْ وَغَدَتْ تَبْحَثُ عَنِ الرِّزْقِ، ثُمَّ عَادَتْ وَقَدْ مَنَّ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَيْهَا بِالرِّزْقِ. إِذًا هَكَذَا يَكُونُ التَّوَكُّلُ الشَّرْعِيُّ يَقَعُ النَّاسُ فِي أَخْطَاءٍ فِي هَذَا الْبَابِ، أَهَمُّ تِلْكَ الْأَخْطَاءِ مَا يَأْتِي أَوَّلًا، أَنْ يَتَوَكَّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى غَيْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فِيمَا لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلَّا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا يَقَعُ فِي حَالِ مَنْ لَمْ يَقْدِرِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ قَدْرِهِ، وَمَنْ أَشْرَكَ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَكْثُرُ هَذَا فِي عُبَّادِ الْقُبُورِ، يَكُونُ قَلْبُهُ مُعَلَّقًا بِغَيْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي تَفْرِيجِ الْكُرُوبِ، وَتَنْفِيسِ الْهُمُومِ، وَمَغْفِرَةِ الذُّنُوبِ، وَإِزَالَةِ الْعَقَبَاتِ بَلْ يَكَادُ أَنْ يَكُونَ قَدْ فَوَّضَ كُلَّ شَيْءٍ إِلَى سَيِّدِهِ الَّذِي يَعْبُدُهُ، حَيًّا كَانَ أَوْ مَيِّتًا. وَهَذَا أَمْرٌ عَظِيمٌ وَلِذَا كَمْ يَتَدَاوَلُ بَعْضُ النَّاسِ أَبْيَاتًا تَدُلُّ عَلَى هَذَا التَّفْوِيضِ الشِّرْكِيِّ. تَجِدُ أَنَّهُمْ يُنْشِدُونَ إِنْ لَمْ تَكُنْ فِي مَعَادِي آخِذًا بِيَدِي فَضْلًا، وَإِلَّا فَقُلْ يَا زَلَّةَ الْقَدَمِ. يُخَاطِبُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا عِنْدَهُ أَنَّ ثِقَتَهُ وَتَفْوِيضَهُ إِنَّمَا هِيَ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِلَّا فَالْهَلَاكُ حَاصِلٌ فِي الْآخِرَةِ تَوَكَّلَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَأْنِ النَّجَاةِ فِي الْآخِرَةِ! وَلَا شَكَّ أَنَّ هَذَا تَوَكُّلٌ شِرْكِيٌّ، عَافَانِيَ اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنْ ذَلِكَ. إِذًا تَنَبَّهْ يَا رَعَاكَ اللهُ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ الأَمْرُ الثَّانِي: بَعْضُ النَّاسِ يَقَعُ فِي شِرْكٍ أَصْغَرَ، وَذَلِكَ بِأَنَّهُ يُلَاحِظُ الْمَخْلُوقَ بِقَلْبِهِ وَيَعْتَمِدُ عَلَيْهِ بَعْضَ الِاعْتِمَادِ فِي شَأْنٍ مِنَ الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يَكُونُ فِي حَاجَةٍ إِلَى شَيْءٍ مَا. الَّذِي يَنْبَغِي عَلَيْكَ أَنَّكَ إِذَا احْتَجْتَ إِلَى أَحَدٍ، وَاضْطَرَرْتَ إِلَى سُؤَالِ أَحَدٍ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ، يَقْدِرُ عَلَى إِعَانَتِكَ، يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَتَوَسَّطَ لَكَ أَوْ يَشْفَعَ لَكَ فَإِنَّكَ يَنْبَغِي أَنْ تُلَاحِظَ أَنَّ الْجَوَازَ هَا هُنَا مَشْرُوطٌ بِكَوْنِ قَلْبِكَ مُعْتَمِدًا عَلَى اللهِ فَقَطْ إِنَّمَا أَنْتَ تَطْلُبُ بِجَوَارِحِكَ، أَمَّا قَلْبُكَ فَإِنَّهُ وَاثِقٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا بِالْمَخْلُوقِ وَنَحْنُ قَدْ عَلِمْنَا قَبْلَ قَلِيلٍ أَنَّ التَّوَكُّلَ هُوَ قَطْعُ النَّظَرِ فِي الْأَسْبَابِ بَعْدَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ الْتِفَاتٌ فِي قَلْبِهِ إِلَى مَخْلُوقٍ فِي تَحْصِيلِ مَنْفَعَةٍ أَوْ دَفْعِ مَضَرَّةٍ، فَإِنَّهُ يَكُونُ قَدْ وَقَعَ فِي جِنْسِ الشِّرْكِ الْأَصْغَرِ وَهَذَا بَحْرٌ لَا سَاحِلَ لَهُ، وَمَا أَكْثَرَ الْمُخْطِئِينَ فِيهِ! نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يُعَافِيَنَا وَأَنْ يَغْفِرَ لَنَا الْأَمْرُ الثَّالِثُ: أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ فِي مَسْأَلَةِ التَّوَكُّلِ يَغْفَلُ عَنِ اتِّخَاذِ الْأَسْبَابِ يَظُنُّ أَنَّ التَّوَكُّلَ الصَّحِيحَ هُوَ أَنْ يَتْرُكَ الْإِنْسَانُ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ لَا يَفْعَلُ شَيْئًا، يَجْلِسُ، وَيَقُولُ: إِنْ شَاءَ اللهُ أَنْ يُعْطِيَنِي وَأَنْ يَصْنَعَ لِي كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ سَيَكُونُ دُونَ أَنْ يَتَحَرَّكَ وَدُونَ أَنْ يَبْذُلَ الْمُسْتَطَاعَ، وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ تَوَاكُلٌ لَا تَوَكُّلٌ التَّوَكُّلُ كَمَا قَدْ عَلِمْنَا لَا بُدَّ أَنْ يَجْتَمِعَ فِيهِ الْأَمْرَانِ: يَجْتَمِعُ الثِّقَةُ بِالْقَلْبِ وَالتَّفْوِيضُ مِنَ الْقَلْبِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، مَعَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَعُودُ بِطَانًا هَذَا النَّبِيُّ الْكَرِيمُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي هُوَ سَيِّدُ الْمُتَوَكِّلِينَ، مَا تَرَكَ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ فِي أُحُدٍ دِرْعَيْنِ، كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُ فِي الْحُرُوبِ الْمِغْفَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخَذَ سَبَبًا يَمْنَعُ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الْوُصُولِ إِلَى الْمَدِينَةِ، أَلَا وَهُوَ حَفْرُ الْخَنْدَقِ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْتَفِظُ بِقُوتِ أَهْلِهِ مُدَّةَ سَنَةٍ إِذًا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ أَنَّهُ أَعْظَمُ النَّاسِ تَوَكُّلًا لَا يَتْرُكُ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ إِذًا اتِّخَاذُ الْأَسْبَابِ لَيْسَ قَدْحًا فِي التَّوَكُّلِ. اتِّخَاذُ الْأَسْبَابِ لَيْسَ قَدْحًا فِي التَّوَكُّلِ بَلْ تَرْكُ الْأَسْبَابِ هُوَ الْقَدْحُ فِي التَّوَكُّلِ وَبَعْضُ النَّاسِ يُخْطِئُ فِي هَذَا الْبَابِ خَطَأً عَظِيمًا وَالْعَجِيبُ أَنَّ الَّذِي يَدَّعِي أَنَّهُ يَتْرُكُ اتِّخَاذَ السَّبَبِ تَوَكُّلًا عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَخْطَأَ وَكَذَبَ فِي نَفْسِ الْوَقْتِ هُوَ كَاذِبٌ، مُسْتَحِيلٌ أَنَّ إِنْسَانًا يَمْتَنِعُ عَنْ فِعْلِ أَيِّ سَبَبٍ عَلَى الْإِطْلَاقِ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ ذَكَرَ قِصَّةً عَنْ أَحَدِهِمْ وَهِيَ أَنَّهُ ادَّعَى أَنَّهُ مُتَوَكِّلٌ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَبِالتَّالِي فَإِنَّهُ لَا يَتَّخِذُ أَيَّ سَبَبٍ عَلَى الْإِطْلَاقِ فَكَانَ يُسَافِرُ وَيَتَنَقَّلُ فِي الْقِفَارِ مِنْ مَكَانٍ إِلَى آخَرَ دُونَ أَنْ يَحْمِلَ زَادًا مَعَهُ. لَكِنَّهُ يَقُولُ: لَا بُدَّ أَنْ أَحْمِلَ مَعِي ثَلَاثَةَ أَشْيَاءَ إِنَاءً لِلْوُضُوءِ، وَإِبْرَةً، وَخَيْطًا. يَقُولُ: رُبَّمَا يَنْقَطِعُ ثَوْبِي فَأَنَا بِحَاجَةٍ إِلَى أَنْ أَخِيطَ ثَوْبِي حَتَّى لَا تَظْهَرَ عَوْرَتِي فَتَبْطُلَ صَلَاتِي وَلَا بُدَّ لِي مِنْ إِنَاءٍ أَضَعُ فِيهِ الْمَاءَ إِذَا أَرَدْتُ الْوُضُوءَ. إِذًا هَذَا الرَّجُلُ مَا اسْتَطَاعَ مَاذَا؟ أَنْ يَتْرُكَ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ بَلْ حَتَّى خُرُوجُهُ مِنْ مَكَانٍ إِلَى آخَرَ لِأَيِّ هَدَفٍ كَانَ، هُوَ فِي الْحَقِيقَةِ اتِّخَاذٌ لِلسَّبَبِ إِذًا لَا يَسْتَطِيعُ إِنْسَانٌ أَنْ يَكُونَ تَارِكًا لِفِعْلِ الْأَسْبَابِ مُطْلَقًا، هَذَا أَمْرٌ لَا يُمْكِنُ لِأَحَدٍ أَنْ يَدَّعِيَهُ الْأَمْرُ الرَّابِعُ، وَهِيَ مَسْأَلَةٌ مُهِمَّةٌ: أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ إِذَا سَمِعَ مَا يَتَعَلَّقُ بِالتَّوَكُّلِ لَا يَنْصَرِفُ ذِهْنُهُ إِلَّا إِلَى الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ يَعْنِي يَظُنُّ أَنَّ التَّوَكُّلَ مَحْصُورٌ فِي مَسْأَلَةِ الرِّزْقِ وَمَا يَدُورُ فِي فَلَكِ هَذَا الْأَمْرِ فَقَطْ، هَذَا هُوَ التَّوَكُّلُ وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ خَطَأٌ، وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ نَقْصٌ. بَلْ ثَمَّ تَوَكُّلٌ أَعْظَمُ مِنْ هَذَا وَهُوَ أَنْ تَتَوَكَّلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي شَأْنِ طَاعَتِهِ جَلَّ وَعَلَا، وَفِي شَأْنِ طَلَبِ الْعِلْمِ، وَفِي شَأْنِ الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذَا أَعْظَمُ بِكَثِيرٍ! وَاللهِ إِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَفْعَلَ شَيْئًا مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ إِلَّا بِإِعَانَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَا هِمَمُ النَّاسِ فِي هَذَا الْبَابِ مُتَفَاوِتَةٌ. شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَكُونُ تَوَكُّلُهُ فِي حُصُولِ رَغِيفٍ وَمَنْ يَكُونُ تَوَكُّلُهُ فِي طَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَدَاءِ عِبَادَتِهِ إِذًا إِذَا كَانَ مِمَّا يُطْلَبُ وَهَذَا مِنَ الْأَمْرِ الْحَسَنِ الْمَطْلُوبِ أَنْ يَتَوَكَّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي شَأْنِ الرِّزْقِ وَالْأَعْمَالِ وَمَا إِلَيْهَا فَإِنَّ التَّوَكُّلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَالِاسْتِعَانَةَ بِهِ، وَتَفْوِيضَ الْأَمْرِ إِلَيْهِ، وَالِاعْتِمَادَ عَلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا فِي طَاعَتِهِ هَذَا أَوْلَى وَأَوْلَى وَأَهَمُّ وَلِذَا مَاذَا يَقُولُ الْمُسْلِمُ إِذَا سَمِعَ الْحَيْعَلَتَيْنِ فِي الْأَذَانِ؟ يَقُولُ مَاذَا؟ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ أَنْتَ دُعِيتَ الْآنَ إِلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، جَوَابُكَ بِأَنْ تُفَوِّضَ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتُعْلِنَ اعْتِمَادَكَ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّكَ لَا شَيْءَ، لَا يُمْكِنُ أَنْ تَتَحَرَّكَ وَلَا تَفْعَلَ شَيْئًا حَتَّى يَأْذَنَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَيُمِدَّكَ بِعَوْنِهِ وَتَوْفِيقِهِ جَلَّ وَعَلَا إِذًا لَاحِظْ يَا رَعَاكَ اللهُ، فِي كُلِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا وَأَهَمُّ مِنْهَا فِي كُلِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِ الدِّينِ، أَنْ تَتَوَكَّلَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِيَّاكَ أَنْ تَثِقَ بِنَفْسِكَ، تَثِقَ بِإِيمَانِكَ، تَثِقَ بِاجْتِهَادِكَ، تَثِقَ بِذَكَائِكَ، تَثِقَ بِأَنَّكَ فَعَلْتَ وَفَعَلْتَ فِي السَّابِقِ رُبَّمَا تُخْذَلُ بِسَبَبِ هَذِهِ الثِّقَةِ فِي النَّفْسِ الْوَاجِبُ أَنْ يَكُونَ شَأْنُكَ فِي كُلِّ حَالِهِ هُوَ الثِّقَةُ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Tafsir Surah Abasa (Bag. 3): Takut dan Berlarian di Hari Kiamat

Setelah Allah menceritakan tentang kufurnya sebagian manusia, mereka tidak beriman kepada Allah, padahal Allah telah memberikan berbagai kenikmatan pada dirinya yang dapat dia saksikan sendiri, maka setelahnya Allah menjelaskan tentang nikmat-nikmat yang ada di alam semesta ini sebagai bukti bahwa Dia adalah Sang Maha Pencipta.Setelah itu, Allah menjelaskan tentang keadaan manusia di hari kiamat, dimana mereka berlari kencang dan menjauh dari orang-orang dekat mereka di dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓ “Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. Abasa: 24)Allah memerintahkan kita semua untuk merenungi berbagai makanan yang manusia makan sehari-hari. Bukan sekedar melihat lalu mengetahui ini makanan enak, ini rasanya manis, yang ini pahit, dan sebagainya. Bukan hanya itu yang Allah inginkan; akan tetapi lebih jauh, Allah ingin kita merenung bagaimana makanan ini bisa ada, siapa yang menciptakannya, bagaimana bisa makanan ini cocok dengan manusia, nikmat, dan menjadi sebab manusia tetap hidup.Semua makanan tidak terjadi dengan tiba-tiba, akan tetapi mereka telah didesain oleh Allah agar cocok bagi manusia. Merenungi bahwa ada Dzat yang Maha Tahu akan siklus dan sistem tubuh manusia, menumbuhkan berbagai tumbuhan yang dekat dengan manusia, mengajari manusia cara bercocok tanam, serta mempermudah manusia dengan memberikan kemampuan memasak agar bisa menikmati hasilnya.Dengan merengungi adanya nikmat makanan, yang secara umum berasal dari tanah, maka manusia bisa merenungkan bahwa Allah mampu menumbuhkan sesuatu dari tanah yang kosong dan tandus, maka Allah juga mampu menumbuhkan kembali manusia di hari kiamat nanti.Allah kemudian menjelaskan secara umum bagaimana makanan bisa ada di tengah-tengah kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَنَّا صَبَبْنَا الْمَاۤءَ صَبًّاۙ , ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّا“Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) dengan berlimpah. Kemudian, Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. Abasa: 26-27)Allah menurunkan hujan dari awan yang ada di langit dengan bentuk hujan yang bermanfaat, bukan dengan sekali siraman yang akan merusak bumi, akan tetapi dengan rintikan yang lembut dan bermanfaat. Air tersebut kemudian Allah alirkan dan simpan ke berbagai lapisan bumi, sebagiannya merendam biji-biji yang ada di tanah, sebagiannya mengalir sebagai sungai, dan sebagiannya menguap menjadi awan kembali.Setelah biji mendapatkan airnya sebagai “starter” pertumbuhan, Allah bantu tumbuhan muda yang lemah ini dengan cara membelah lapisan tanah yang ada di atasnya, agar tumbuhan ini segera bisa muncul ke atas tanah, lalu dapat menjalankan proses fotosintesis dan membuat makanan bagi dirinya sendiri.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ , وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ , وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًاۙ , وَّحَدَاۤىِٕقَ غُلْبًا“Lalu, Kami tumbuhkan padanya biji-bijian, anggur, sayur-sayuran, zaitun, pohon kurma, kebun-kebun (yang) rindang, buah-buahan, dan rerumputan.” (QS. Abasa: 27-31)Kemudian tumbuhlah berbagai tumbuhan dengan bermacam-macam kegunaanya bagi manusia, sebagian sebagai makanan pokok, sebagian sebagai buah yang segar, sebagian sebagai obat, sebagian sebagai bahan perabot rumah, sebagian sebagai makanan bagi hewan ternak, dan berbagai kegunaan lainnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْ“(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu.” (QS. Abasa: 32)Sebuah ayat yang seharusnya kita renungi dalam-dalam, kemudian berlinanglah air mata kita, karena begitu besar nikmat yang Allah berikan kepada manusia. Allah berikan berbagai fasilitas hidup bagi segala makhluk yang ada di bumi ini semuanya untuk kebutuhan manusia. Kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya serta memiliki keturunan. Setelah itu, seharusnya manusia sadar bahwa satu-satunya yang berhak disembah adalah Allah, yang telah merancang sistem hidup seindah ini.Allah sebutkan berbagai kenikmatan dunia ini, selanjutnya manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana nikmat-nikmat ini digunakan, apakah untuk taat kepada Allah atau malah menggunakannya untuk menentang Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ “Maka, apabila datang suara yang memekakkan (dari tiupan sangkakala).” (QS. Abasa: 33)Suara yang sangat keras dan memekakkan telinga ini adalah tiupan sangkakala ketika kiamat tiba. Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan,قال البغوي: الصاخة: يعني صيحة يوم القيامة، سميت بذلك؛ لأنها تصخّ الأسماع وتصمّ الآذان لشدتها، أي تبالغ في إسماعها حتى تكاد تصمّها“As-Shakhkhah bermakna pekikan (suara dahsyat) hari kiamat. Ia dinamakan demikian karena suaranya yang memekakkan pendengaran dan menulikan telinga karena saking dahsyatnya. Artinya, suara tersebut sangat mengerikan dan keras menusuk pendengaran hingga hampir-hampir membuatnya tuli.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ , وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ , وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ , لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ“Pada hari itu, manusia lari dari saudaranya, (dari) ibu dan bapaknya, serta (dari) istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 34-37)Ketika telah ditiupkan sangkakala yang kedua kalinya, manusia muncul kembali dari kuburnya, Allah mampu untuk menyatukan kembali jasad yang telah hancur dan remuk, menyatukan anggota tubuh yang telah tercerai-berai ribuan kilo, menjadi satu jasad utuh yang sama dengan jasad yang digunakan di dunia. Allah satukan kembali dan Allah tumbuhkan jasad tersebut, kemudian Allah kembalikan ruh kepada jasadnya masing-masing tanpa ada yang tersesat menggunakan jasad orang lain.Allah mampu melakukannya sebagaimana awal potongan surat, mampu untuk menumbuhkan biji dari dalam tanah yang gersang dan tandus.Setelah ruh jiwa kembali kepada jasadnya, semua orang merasa takut dan berlarian, lari dengan kencang karena saking ketakutannya bahwa hari kiamat benar-benar datang. Kaum kafir yang mengingkari kiamat merasa amat takut karena ternyata yang dikabarkan telah datang, tinggal menunggu penyiksaan tiada henti di neraka.Kaum muslimin yang meyakini hari kiamat juga merasa takut, mereka takut harus mempertanggungjawabkan semua hal yang telah dikerjakan di dunia, takut karena belum menjalankan dengan baik amanah dari Allah, takut karena ada nikmat yang harus diaudit oleh Rabb semesta alam.Lebih mengerikan lagi, semua orang takut dan lari dari orang-orang terdekat mereka. Saudara lari dari saudaranya yang lain, anak berlari menghindari ibunya, suami berlari menghindari istrinya, orang tua juga berlari menghindari anak-anaknya. Mengapa? Karena mereka takut dituntut, takut diperberat hisabnya karena melalaikan hak orang-orang terdekat.Semakin sering seseorang bergaul dengan seseorang, kemungkinan untuk saling melakukan kezaliman semakin besar, maka semakin takutlah seseorang bertemu orang dekatnya.Kemudian Allah sebutkan dari urutan dengan tingkat kedekatan yang jauh dahulu, baru yang lebih dekat. Memberikan kesan bahwa tanggungjawab akan semakin berat dengan semakin dekatnya hubungan. Seakan-akan dikatakan bahwa kita akan lari dari saudara kita karena pernah manzalimi, maka lebih lagi kita akan berlari dari orang tua kita, lebih lagi kita akan berlari dari istri kita, dan lebih lagi kita berlari dari anak kita. Karena kita semakin takut akan tuntutan yang mereka layangkan kepada kita.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 37)Semua manusia sibuk merenungi amalnya, merenungi nasibnya, kemana kehidupan setelah ini? Apakah kesengsaraan yang tiada akhir, ataukah kenikmatan yang kekal abadi?.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ مُّسْفِرَةٌۙ , ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ ۚ“Pada hari itu, ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa lagi gembira ria.” (QS. Abasa: 38-39)Pada hari ini, hari kiamat, manusia akan melihat bagaimana nasibya. Ada wajah-wajah yang berseri-seri dan gembira, mereka adalah kaum mukminin yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka juga beramal kebaikan yang ikhlas di dunia.Maka sekaranglah saatnya untuk istirahat, menemukan kenikmatan abadi dan kekal, ditambah kenikmatan untuk melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sang Pancipta kita, yang kita senantiasa rindukan. Hari itu datang, hari keabadian dalam kenikmatan, maka akan abadi wajah berseri dan gembira ini.Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah ditanya, kapan waktu kita beristirahat? Beliau menjawab ketika kita telah melangkahkan kedua kaki kita di surga. Kepada semua pembaca tulisan ini, semoga Allah pertemukan kita di surga-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌۙ , تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ ۗ , اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ ࣖ“Pada hari itu, ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram) dan tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan). Mereka itulah orang-orang kafir lagi para pendurhaka.” (QS. Abasa: 40-42)Namun, ada juga manusia yang wajahnya tertutup dengan debu dan kegelapan. Mereka adalah orang-orang kafir dan fasik, menggabungkan sikap tidak beriman kepada Allah dan kezaliman pada sesama makhluk. Mereka sudah mengetahui kesudahan mereka adalah neraka, selama-lamanya merasakan kesengsaraan.Semoga Allah lindungi kita semua dari kekafiran, dari kefasikan, serta dari azab neraka.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Tafsir Surah Abasa (Bag. 3): Takut dan Berlarian di Hari Kiamat

Setelah Allah menceritakan tentang kufurnya sebagian manusia, mereka tidak beriman kepada Allah, padahal Allah telah memberikan berbagai kenikmatan pada dirinya yang dapat dia saksikan sendiri, maka setelahnya Allah menjelaskan tentang nikmat-nikmat yang ada di alam semesta ini sebagai bukti bahwa Dia adalah Sang Maha Pencipta.Setelah itu, Allah menjelaskan tentang keadaan manusia di hari kiamat, dimana mereka berlari kencang dan menjauh dari orang-orang dekat mereka di dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓ “Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. Abasa: 24)Allah memerintahkan kita semua untuk merenungi berbagai makanan yang manusia makan sehari-hari. Bukan sekedar melihat lalu mengetahui ini makanan enak, ini rasanya manis, yang ini pahit, dan sebagainya. Bukan hanya itu yang Allah inginkan; akan tetapi lebih jauh, Allah ingin kita merenung bagaimana makanan ini bisa ada, siapa yang menciptakannya, bagaimana bisa makanan ini cocok dengan manusia, nikmat, dan menjadi sebab manusia tetap hidup.Semua makanan tidak terjadi dengan tiba-tiba, akan tetapi mereka telah didesain oleh Allah agar cocok bagi manusia. Merenungi bahwa ada Dzat yang Maha Tahu akan siklus dan sistem tubuh manusia, menumbuhkan berbagai tumbuhan yang dekat dengan manusia, mengajari manusia cara bercocok tanam, serta mempermudah manusia dengan memberikan kemampuan memasak agar bisa menikmati hasilnya.Dengan merengungi adanya nikmat makanan, yang secara umum berasal dari tanah, maka manusia bisa merenungkan bahwa Allah mampu menumbuhkan sesuatu dari tanah yang kosong dan tandus, maka Allah juga mampu menumbuhkan kembali manusia di hari kiamat nanti.Allah kemudian menjelaskan secara umum bagaimana makanan bisa ada di tengah-tengah kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَنَّا صَبَبْنَا الْمَاۤءَ صَبًّاۙ , ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّا“Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) dengan berlimpah. Kemudian, Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. Abasa: 26-27)Allah menurunkan hujan dari awan yang ada di langit dengan bentuk hujan yang bermanfaat, bukan dengan sekali siraman yang akan merusak bumi, akan tetapi dengan rintikan yang lembut dan bermanfaat. Air tersebut kemudian Allah alirkan dan simpan ke berbagai lapisan bumi, sebagiannya merendam biji-biji yang ada di tanah, sebagiannya mengalir sebagai sungai, dan sebagiannya menguap menjadi awan kembali.Setelah biji mendapatkan airnya sebagai “starter” pertumbuhan, Allah bantu tumbuhan muda yang lemah ini dengan cara membelah lapisan tanah yang ada di atasnya, agar tumbuhan ini segera bisa muncul ke atas tanah, lalu dapat menjalankan proses fotosintesis dan membuat makanan bagi dirinya sendiri.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ , وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ , وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًاۙ , وَّحَدَاۤىِٕقَ غُلْبًا“Lalu, Kami tumbuhkan padanya biji-bijian, anggur, sayur-sayuran, zaitun, pohon kurma, kebun-kebun (yang) rindang, buah-buahan, dan rerumputan.” (QS. Abasa: 27-31)Kemudian tumbuhlah berbagai tumbuhan dengan bermacam-macam kegunaanya bagi manusia, sebagian sebagai makanan pokok, sebagian sebagai buah yang segar, sebagian sebagai obat, sebagian sebagai bahan perabot rumah, sebagian sebagai makanan bagi hewan ternak, dan berbagai kegunaan lainnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْ“(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu.” (QS. Abasa: 32)Sebuah ayat yang seharusnya kita renungi dalam-dalam, kemudian berlinanglah air mata kita, karena begitu besar nikmat yang Allah berikan kepada manusia. Allah berikan berbagai fasilitas hidup bagi segala makhluk yang ada di bumi ini semuanya untuk kebutuhan manusia. Kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya serta memiliki keturunan. Setelah itu, seharusnya manusia sadar bahwa satu-satunya yang berhak disembah adalah Allah, yang telah merancang sistem hidup seindah ini.Allah sebutkan berbagai kenikmatan dunia ini, selanjutnya manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana nikmat-nikmat ini digunakan, apakah untuk taat kepada Allah atau malah menggunakannya untuk menentang Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ “Maka, apabila datang suara yang memekakkan (dari tiupan sangkakala).” (QS. Abasa: 33)Suara yang sangat keras dan memekakkan telinga ini adalah tiupan sangkakala ketika kiamat tiba. Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan,قال البغوي: الصاخة: يعني صيحة يوم القيامة، سميت بذلك؛ لأنها تصخّ الأسماع وتصمّ الآذان لشدتها، أي تبالغ في إسماعها حتى تكاد تصمّها“As-Shakhkhah bermakna pekikan (suara dahsyat) hari kiamat. Ia dinamakan demikian karena suaranya yang memekakkan pendengaran dan menulikan telinga karena saking dahsyatnya. Artinya, suara tersebut sangat mengerikan dan keras menusuk pendengaran hingga hampir-hampir membuatnya tuli.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ , وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ , وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ , لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ“Pada hari itu, manusia lari dari saudaranya, (dari) ibu dan bapaknya, serta (dari) istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 34-37)Ketika telah ditiupkan sangkakala yang kedua kalinya, manusia muncul kembali dari kuburnya, Allah mampu untuk menyatukan kembali jasad yang telah hancur dan remuk, menyatukan anggota tubuh yang telah tercerai-berai ribuan kilo, menjadi satu jasad utuh yang sama dengan jasad yang digunakan di dunia. Allah satukan kembali dan Allah tumbuhkan jasad tersebut, kemudian Allah kembalikan ruh kepada jasadnya masing-masing tanpa ada yang tersesat menggunakan jasad orang lain.Allah mampu melakukannya sebagaimana awal potongan surat, mampu untuk menumbuhkan biji dari dalam tanah yang gersang dan tandus.Setelah ruh jiwa kembali kepada jasadnya, semua orang merasa takut dan berlarian, lari dengan kencang karena saking ketakutannya bahwa hari kiamat benar-benar datang. Kaum kafir yang mengingkari kiamat merasa amat takut karena ternyata yang dikabarkan telah datang, tinggal menunggu penyiksaan tiada henti di neraka.Kaum muslimin yang meyakini hari kiamat juga merasa takut, mereka takut harus mempertanggungjawabkan semua hal yang telah dikerjakan di dunia, takut karena belum menjalankan dengan baik amanah dari Allah, takut karena ada nikmat yang harus diaudit oleh Rabb semesta alam.Lebih mengerikan lagi, semua orang takut dan lari dari orang-orang terdekat mereka. Saudara lari dari saudaranya yang lain, anak berlari menghindari ibunya, suami berlari menghindari istrinya, orang tua juga berlari menghindari anak-anaknya. Mengapa? Karena mereka takut dituntut, takut diperberat hisabnya karena melalaikan hak orang-orang terdekat.Semakin sering seseorang bergaul dengan seseorang, kemungkinan untuk saling melakukan kezaliman semakin besar, maka semakin takutlah seseorang bertemu orang dekatnya.Kemudian Allah sebutkan dari urutan dengan tingkat kedekatan yang jauh dahulu, baru yang lebih dekat. Memberikan kesan bahwa tanggungjawab akan semakin berat dengan semakin dekatnya hubungan. Seakan-akan dikatakan bahwa kita akan lari dari saudara kita karena pernah manzalimi, maka lebih lagi kita akan berlari dari orang tua kita, lebih lagi kita akan berlari dari istri kita, dan lebih lagi kita berlari dari anak kita. Karena kita semakin takut akan tuntutan yang mereka layangkan kepada kita.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 37)Semua manusia sibuk merenungi amalnya, merenungi nasibnya, kemana kehidupan setelah ini? Apakah kesengsaraan yang tiada akhir, ataukah kenikmatan yang kekal abadi?.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ مُّسْفِرَةٌۙ , ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ ۚ“Pada hari itu, ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa lagi gembira ria.” (QS. Abasa: 38-39)Pada hari ini, hari kiamat, manusia akan melihat bagaimana nasibya. Ada wajah-wajah yang berseri-seri dan gembira, mereka adalah kaum mukminin yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka juga beramal kebaikan yang ikhlas di dunia.Maka sekaranglah saatnya untuk istirahat, menemukan kenikmatan abadi dan kekal, ditambah kenikmatan untuk melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sang Pancipta kita, yang kita senantiasa rindukan. Hari itu datang, hari keabadian dalam kenikmatan, maka akan abadi wajah berseri dan gembira ini.Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah ditanya, kapan waktu kita beristirahat? Beliau menjawab ketika kita telah melangkahkan kedua kaki kita di surga. Kepada semua pembaca tulisan ini, semoga Allah pertemukan kita di surga-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌۙ , تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ ۗ , اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ ࣖ“Pada hari itu, ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram) dan tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan). Mereka itulah orang-orang kafir lagi para pendurhaka.” (QS. Abasa: 40-42)Namun, ada juga manusia yang wajahnya tertutup dengan debu dan kegelapan. Mereka adalah orang-orang kafir dan fasik, menggabungkan sikap tidak beriman kepada Allah dan kezaliman pada sesama makhluk. Mereka sudah mengetahui kesudahan mereka adalah neraka, selama-lamanya merasakan kesengsaraan.Semoga Allah lindungi kita semua dari kekafiran, dari kefasikan, serta dari azab neraka.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
Setelah Allah menceritakan tentang kufurnya sebagian manusia, mereka tidak beriman kepada Allah, padahal Allah telah memberikan berbagai kenikmatan pada dirinya yang dapat dia saksikan sendiri, maka setelahnya Allah menjelaskan tentang nikmat-nikmat yang ada di alam semesta ini sebagai bukti bahwa Dia adalah Sang Maha Pencipta.Setelah itu, Allah menjelaskan tentang keadaan manusia di hari kiamat, dimana mereka berlari kencang dan menjauh dari orang-orang dekat mereka di dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓ “Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. Abasa: 24)Allah memerintahkan kita semua untuk merenungi berbagai makanan yang manusia makan sehari-hari. Bukan sekedar melihat lalu mengetahui ini makanan enak, ini rasanya manis, yang ini pahit, dan sebagainya. Bukan hanya itu yang Allah inginkan; akan tetapi lebih jauh, Allah ingin kita merenung bagaimana makanan ini bisa ada, siapa yang menciptakannya, bagaimana bisa makanan ini cocok dengan manusia, nikmat, dan menjadi sebab manusia tetap hidup.Semua makanan tidak terjadi dengan tiba-tiba, akan tetapi mereka telah didesain oleh Allah agar cocok bagi manusia. Merenungi bahwa ada Dzat yang Maha Tahu akan siklus dan sistem tubuh manusia, menumbuhkan berbagai tumbuhan yang dekat dengan manusia, mengajari manusia cara bercocok tanam, serta mempermudah manusia dengan memberikan kemampuan memasak agar bisa menikmati hasilnya.Dengan merengungi adanya nikmat makanan, yang secara umum berasal dari tanah, maka manusia bisa merenungkan bahwa Allah mampu menumbuhkan sesuatu dari tanah yang kosong dan tandus, maka Allah juga mampu menumbuhkan kembali manusia di hari kiamat nanti.Allah kemudian menjelaskan secara umum bagaimana makanan bisa ada di tengah-tengah kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَنَّا صَبَبْنَا الْمَاۤءَ صَبًّاۙ , ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّا“Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) dengan berlimpah. Kemudian, Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. Abasa: 26-27)Allah menurunkan hujan dari awan yang ada di langit dengan bentuk hujan yang bermanfaat, bukan dengan sekali siraman yang akan merusak bumi, akan tetapi dengan rintikan yang lembut dan bermanfaat. Air tersebut kemudian Allah alirkan dan simpan ke berbagai lapisan bumi, sebagiannya merendam biji-biji yang ada di tanah, sebagiannya mengalir sebagai sungai, dan sebagiannya menguap menjadi awan kembali.Setelah biji mendapatkan airnya sebagai “starter” pertumbuhan, Allah bantu tumbuhan muda yang lemah ini dengan cara membelah lapisan tanah yang ada di atasnya, agar tumbuhan ini segera bisa muncul ke atas tanah, lalu dapat menjalankan proses fotosintesis dan membuat makanan bagi dirinya sendiri.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ , وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ , وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًاۙ , وَّحَدَاۤىِٕقَ غُلْبًا“Lalu, Kami tumbuhkan padanya biji-bijian, anggur, sayur-sayuran, zaitun, pohon kurma, kebun-kebun (yang) rindang, buah-buahan, dan rerumputan.” (QS. Abasa: 27-31)Kemudian tumbuhlah berbagai tumbuhan dengan bermacam-macam kegunaanya bagi manusia, sebagian sebagai makanan pokok, sebagian sebagai buah yang segar, sebagian sebagai obat, sebagian sebagai bahan perabot rumah, sebagian sebagai makanan bagi hewan ternak, dan berbagai kegunaan lainnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْ“(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu.” (QS. Abasa: 32)Sebuah ayat yang seharusnya kita renungi dalam-dalam, kemudian berlinanglah air mata kita, karena begitu besar nikmat yang Allah berikan kepada manusia. Allah berikan berbagai fasilitas hidup bagi segala makhluk yang ada di bumi ini semuanya untuk kebutuhan manusia. Kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya serta memiliki keturunan. Setelah itu, seharusnya manusia sadar bahwa satu-satunya yang berhak disembah adalah Allah, yang telah merancang sistem hidup seindah ini.Allah sebutkan berbagai kenikmatan dunia ini, selanjutnya manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana nikmat-nikmat ini digunakan, apakah untuk taat kepada Allah atau malah menggunakannya untuk menentang Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ “Maka, apabila datang suara yang memekakkan (dari tiupan sangkakala).” (QS. Abasa: 33)Suara yang sangat keras dan memekakkan telinga ini adalah tiupan sangkakala ketika kiamat tiba. Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan,قال البغوي: الصاخة: يعني صيحة يوم القيامة، سميت بذلك؛ لأنها تصخّ الأسماع وتصمّ الآذان لشدتها، أي تبالغ في إسماعها حتى تكاد تصمّها“As-Shakhkhah bermakna pekikan (suara dahsyat) hari kiamat. Ia dinamakan demikian karena suaranya yang memekakkan pendengaran dan menulikan telinga karena saking dahsyatnya. Artinya, suara tersebut sangat mengerikan dan keras menusuk pendengaran hingga hampir-hampir membuatnya tuli.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ , وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ , وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ , لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ“Pada hari itu, manusia lari dari saudaranya, (dari) ibu dan bapaknya, serta (dari) istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 34-37)Ketika telah ditiupkan sangkakala yang kedua kalinya, manusia muncul kembali dari kuburnya, Allah mampu untuk menyatukan kembali jasad yang telah hancur dan remuk, menyatukan anggota tubuh yang telah tercerai-berai ribuan kilo, menjadi satu jasad utuh yang sama dengan jasad yang digunakan di dunia. Allah satukan kembali dan Allah tumbuhkan jasad tersebut, kemudian Allah kembalikan ruh kepada jasadnya masing-masing tanpa ada yang tersesat menggunakan jasad orang lain.Allah mampu melakukannya sebagaimana awal potongan surat, mampu untuk menumbuhkan biji dari dalam tanah yang gersang dan tandus.Setelah ruh jiwa kembali kepada jasadnya, semua orang merasa takut dan berlarian, lari dengan kencang karena saking ketakutannya bahwa hari kiamat benar-benar datang. Kaum kafir yang mengingkari kiamat merasa amat takut karena ternyata yang dikabarkan telah datang, tinggal menunggu penyiksaan tiada henti di neraka.Kaum muslimin yang meyakini hari kiamat juga merasa takut, mereka takut harus mempertanggungjawabkan semua hal yang telah dikerjakan di dunia, takut karena belum menjalankan dengan baik amanah dari Allah, takut karena ada nikmat yang harus diaudit oleh Rabb semesta alam.Lebih mengerikan lagi, semua orang takut dan lari dari orang-orang terdekat mereka. Saudara lari dari saudaranya yang lain, anak berlari menghindari ibunya, suami berlari menghindari istrinya, orang tua juga berlari menghindari anak-anaknya. Mengapa? Karena mereka takut dituntut, takut diperberat hisabnya karena melalaikan hak orang-orang terdekat.Semakin sering seseorang bergaul dengan seseorang, kemungkinan untuk saling melakukan kezaliman semakin besar, maka semakin takutlah seseorang bertemu orang dekatnya.Kemudian Allah sebutkan dari urutan dengan tingkat kedekatan yang jauh dahulu, baru yang lebih dekat. Memberikan kesan bahwa tanggungjawab akan semakin berat dengan semakin dekatnya hubungan. Seakan-akan dikatakan bahwa kita akan lari dari saudara kita karena pernah manzalimi, maka lebih lagi kita akan berlari dari orang tua kita, lebih lagi kita akan berlari dari istri kita, dan lebih lagi kita berlari dari anak kita. Karena kita semakin takut akan tuntutan yang mereka layangkan kepada kita.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 37)Semua manusia sibuk merenungi amalnya, merenungi nasibnya, kemana kehidupan setelah ini? Apakah kesengsaraan yang tiada akhir, ataukah kenikmatan yang kekal abadi?.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ مُّسْفِرَةٌۙ , ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ ۚ“Pada hari itu, ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa lagi gembira ria.” (QS. Abasa: 38-39)Pada hari ini, hari kiamat, manusia akan melihat bagaimana nasibya. Ada wajah-wajah yang berseri-seri dan gembira, mereka adalah kaum mukminin yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka juga beramal kebaikan yang ikhlas di dunia.Maka sekaranglah saatnya untuk istirahat, menemukan kenikmatan abadi dan kekal, ditambah kenikmatan untuk melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sang Pancipta kita, yang kita senantiasa rindukan. Hari itu datang, hari keabadian dalam kenikmatan, maka akan abadi wajah berseri dan gembira ini.Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah ditanya, kapan waktu kita beristirahat? Beliau menjawab ketika kita telah melangkahkan kedua kaki kita di surga. Kepada semua pembaca tulisan ini, semoga Allah pertemukan kita di surga-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌۙ , تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ ۗ , اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ ࣖ“Pada hari itu, ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram) dan tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan). Mereka itulah orang-orang kafir lagi para pendurhaka.” (QS. Abasa: 40-42)Namun, ada juga manusia yang wajahnya tertutup dengan debu dan kegelapan. Mereka adalah orang-orang kafir dan fasik, menggabungkan sikap tidak beriman kepada Allah dan kezaliman pada sesama makhluk. Mereka sudah mengetahui kesudahan mereka adalah neraka, selama-lamanya merasakan kesengsaraan.Semoga Allah lindungi kita semua dari kekafiran, dari kefasikan, serta dari azab neraka.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/


Setelah Allah menceritakan tentang kufurnya sebagian manusia, mereka tidak beriman kepada Allah, padahal Allah telah memberikan berbagai kenikmatan pada dirinya yang dapat dia saksikan sendiri, maka setelahnya Allah menjelaskan tentang nikmat-nikmat yang ada di alam semesta ini sebagai bukti bahwa Dia adalah Sang Maha Pencipta.Setelah itu, Allah menjelaskan tentang keadaan manusia di hari kiamat, dimana mereka berlari kencang dan menjauh dari orang-orang dekat mereka di dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓ “Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. Abasa: 24)Allah memerintahkan kita semua untuk merenungi berbagai makanan yang manusia makan sehari-hari. Bukan sekedar melihat lalu mengetahui ini makanan enak, ini rasanya manis, yang ini pahit, dan sebagainya. Bukan hanya itu yang Allah inginkan; akan tetapi lebih jauh, Allah ingin kita merenung bagaimana makanan ini bisa ada, siapa yang menciptakannya, bagaimana bisa makanan ini cocok dengan manusia, nikmat, dan menjadi sebab manusia tetap hidup.Semua makanan tidak terjadi dengan tiba-tiba, akan tetapi mereka telah didesain oleh Allah agar cocok bagi manusia. Merenungi bahwa ada Dzat yang Maha Tahu akan siklus dan sistem tubuh manusia, menumbuhkan berbagai tumbuhan yang dekat dengan manusia, mengajari manusia cara bercocok tanam, serta mempermudah manusia dengan memberikan kemampuan memasak agar bisa menikmati hasilnya.Dengan merengungi adanya nikmat makanan, yang secara umum berasal dari tanah, maka manusia bisa merenungkan bahwa Allah mampu menumbuhkan sesuatu dari tanah yang kosong dan tandus, maka Allah juga mampu menumbuhkan kembali manusia di hari kiamat nanti.Allah kemudian menjelaskan secara umum bagaimana makanan bisa ada di tengah-tengah kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَنَّا صَبَبْنَا الْمَاۤءَ صَبًّاۙ , ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّا“Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) dengan berlimpah. Kemudian, Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. Abasa: 26-27)Allah menurunkan hujan dari awan yang ada di langit dengan bentuk hujan yang bermanfaat, bukan dengan sekali siraman yang akan merusak bumi, akan tetapi dengan rintikan yang lembut dan bermanfaat. Air tersebut kemudian Allah alirkan dan simpan ke berbagai lapisan bumi, sebagiannya merendam biji-biji yang ada di tanah, sebagiannya mengalir sebagai sungai, dan sebagiannya menguap menjadi awan kembali.Setelah biji mendapatkan airnya sebagai “starter” pertumbuhan, Allah bantu tumbuhan muda yang lemah ini dengan cara membelah lapisan tanah yang ada di atasnya, agar tumbuhan ini segera bisa muncul ke atas tanah, lalu dapat menjalankan proses fotosintesis dan membuat makanan bagi dirinya sendiri.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ , وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ , وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًاۙ , وَّحَدَاۤىِٕقَ غُلْبًا“Lalu, Kami tumbuhkan padanya biji-bijian, anggur, sayur-sayuran, zaitun, pohon kurma, kebun-kebun (yang) rindang, buah-buahan, dan rerumputan.” (QS. Abasa: 27-31)Kemudian tumbuhlah berbagai tumbuhan dengan bermacam-macam kegunaanya bagi manusia, sebagian sebagai makanan pokok, sebagian sebagai buah yang segar, sebagian sebagai obat, sebagian sebagai bahan perabot rumah, sebagian sebagai makanan bagi hewan ternak, dan berbagai kegunaan lainnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْ“(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu.” (QS. Abasa: 32)Sebuah ayat yang seharusnya kita renungi dalam-dalam, kemudian berlinanglah air mata kita, karena begitu besar nikmat yang Allah berikan kepada manusia. Allah berikan berbagai fasilitas hidup bagi segala makhluk yang ada di bumi ini semuanya untuk kebutuhan manusia. Kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya serta memiliki keturunan. Setelah itu, seharusnya manusia sadar bahwa satu-satunya yang berhak disembah adalah Allah, yang telah merancang sistem hidup seindah ini.Allah sebutkan berbagai kenikmatan dunia ini, selanjutnya manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana nikmat-nikmat ini digunakan, apakah untuk taat kepada Allah atau malah menggunakannya untuk menentang Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ “Maka, apabila datang suara yang memekakkan (dari tiupan sangkakala).” (QS. Abasa: 33)Suara yang sangat keras dan memekakkan telinga ini adalah tiupan sangkakala ketika kiamat tiba. Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan,قال البغوي: الصاخة: يعني صيحة يوم القيامة، سميت بذلك؛ لأنها تصخّ الأسماع وتصمّ الآذان لشدتها، أي تبالغ في إسماعها حتى تكاد تصمّها“As-Shakhkhah bermakna pekikan (suara dahsyat) hari kiamat. Ia dinamakan demikian karena suaranya yang memekakkan pendengaran dan menulikan telinga karena saking dahsyatnya. Artinya, suara tersebut sangat mengerikan dan keras menusuk pendengaran hingga hampir-hampir membuatnya tuli.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ , وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ , وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ , لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ“Pada hari itu, manusia lari dari saudaranya, (dari) ibu dan bapaknya, serta (dari) istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 34-37)Ketika telah ditiupkan sangkakala yang kedua kalinya, manusia muncul kembali dari kuburnya, Allah mampu untuk menyatukan kembali jasad yang telah hancur dan remuk, menyatukan anggota tubuh yang telah tercerai-berai ribuan kilo, menjadi satu jasad utuh yang sama dengan jasad yang digunakan di dunia. Allah satukan kembali dan Allah tumbuhkan jasad tersebut, kemudian Allah kembalikan ruh kepada jasadnya masing-masing tanpa ada yang tersesat menggunakan jasad orang lain.Allah mampu melakukannya sebagaimana awal potongan surat, mampu untuk menumbuhkan biji dari dalam tanah yang gersang dan tandus.Setelah ruh jiwa kembali kepada jasadnya, semua orang merasa takut dan berlarian, lari dengan kencang karena saking ketakutannya bahwa hari kiamat benar-benar datang. Kaum kafir yang mengingkari kiamat merasa amat takut karena ternyata yang dikabarkan telah datang, tinggal menunggu penyiksaan tiada henti di neraka.Kaum muslimin yang meyakini hari kiamat juga merasa takut, mereka takut harus mempertanggungjawabkan semua hal yang telah dikerjakan di dunia, takut karena belum menjalankan dengan baik amanah dari Allah, takut karena ada nikmat yang harus diaudit oleh Rabb semesta alam.Lebih mengerikan lagi, semua orang takut dan lari dari orang-orang terdekat mereka. Saudara lari dari saudaranya yang lain, anak berlari menghindari ibunya, suami berlari menghindari istrinya, orang tua juga berlari menghindari anak-anaknya. Mengapa? Karena mereka takut dituntut, takut diperberat hisabnya karena melalaikan hak orang-orang terdekat.Semakin sering seseorang bergaul dengan seseorang, kemungkinan untuk saling melakukan kezaliman semakin besar, maka semakin takutlah seseorang bertemu orang dekatnya.Kemudian Allah sebutkan dari urutan dengan tingkat kedekatan yang jauh dahulu, baru yang lebih dekat. Memberikan kesan bahwa tanggungjawab akan semakin berat dengan semakin dekatnya hubungan. Seakan-akan dikatakan bahwa kita akan lari dari saudara kita karena pernah manzalimi, maka lebih lagi kita akan berlari dari orang tua kita, lebih lagi kita akan berlari dari istri kita, dan lebih lagi kita berlari dari anak kita. Karena kita semakin takut akan tuntutan yang mereka layangkan kepada kita.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 37)Semua manusia sibuk merenungi amalnya, merenungi nasibnya, kemana kehidupan setelah ini? Apakah kesengsaraan yang tiada akhir, ataukah kenikmatan yang kekal abadi?.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ مُّسْفِرَةٌۙ , ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ ۚ“Pada hari itu, ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa lagi gembira ria.” (QS. Abasa: 38-39)Pada hari ini, hari kiamat, manusia akan melihat bagaimana nasibya. Ada wajah-wajah yang berseri-seri dan gembira, mereka adalah kaum mukminin yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka juga beramal kebaikan yang ikhlas di dunia.Maka sekaranglah saatnya untuk istirahat, menemukan kenikmatan abadi dan kekal, ditambah kenikmatan untuk melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sang Pancipta kita, yang kita senantiasa rindukan. Hari itu datang, hari keabadian dalam kenikmatan, maka akan abadi wajah berseri dan gembira ini.Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah ditanya, kapan waktu kita beristirahat? Beliau menjawab ketika kita telah melangkahkan kedua kaki kita di surga. Kepada semua pembaca tulisan ini, semoga Allah pertemukan kita di surga-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌۙ , تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ ۗ , اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ ࣖ“Pada hari itu, ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram) dan tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan). Mereka itulah orang-orang kafir lagi para pendurhaka.” (QS. Abasa: 40-42)Namun, ada juga manusia yang wajahnya tertutup dengan debu dan kegelapan. Mereka adalah orang-orang kafir dan fasik, menggabungkan sikap tidak beriman kepada Allah dan kezaliman pada sesama makhluk. Mereka sudah mengetahui kesudahan mereka adalah neraka, selama-lamanya merasakan kesengsaraan.Semoga Allah lindungi kita semua dari kekafiran, dari kefasikan, serta dari azab neraka.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Mana yang Lebih Utama: Shalat, Membaca Al-Qur’an, Dzikir, atau Doa?

Sering kali kita bertanya, mana yang lebih utama: membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau berdoa? Jawabannya ternyata tidak sesederhana memilih satu amalan yang paling mulia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan sebuah kaidah penting yang membantu seorang muslim menyusun prioritas ibadah sesuai tuntunan syariat, sehingga setiap amal dikerjakan pada waktu yang paling tepat dan paling bernilai di sisi Allah. Ada pertanyaan pada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,وَسُئِلَ عَنْ رَجُلٍ أَرَادَ تَحْصِيلَ الثَّوَابِ: هَلِ الْأَفْضَلُ لَهُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ، أَوِ الذِّكْرُ وَالتَّسْبِيحُ؟Ada seseorang yang ingin memperoleh pahala sebanyak-banyaknya: manakah yang lebih utama baginya, membaca Al-Qur’an atau memperbanyak dzikir dan tasbih?Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjawab, قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ أَفْضَلُ مِنَ الذِّكْرِ، وَالذِّكْرُ أَفْضَلُ مِنَ الدُّعَاءِ مِنْ حَيْثُ الْجُمْلَةِ؛ لَكِنْ قَدْ يَكُونُ الْمَفْضُولُ أَفْضَلَ مِنَ الْفَاضِلِ فِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ، كَمَا أَنَّ الصَّلَاةَ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ كُلِّهِ. وَمَعَ هَذَا، فَالْقِرَاءَةُ وَالذِّكْرُ وَالدُّعَاءُ فِي أَوْقَاتِ النَّهْيِ عَنِ الصَّلَاةِ، كَالْأَوْقَاتِ الْخَمْسَةِ وَوَقْتِ الْخُطْبَةِ، هِيَ أَفْضَلُ مِنَ الصَّلَاةِ، وَالتَّسْبِيحُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ أَفْضَلُ مِنَ الْقِرَاءَةِ، وَالتَّشَهُّدُ الْأَخِيرُ أَفْضَلُ مِنَ الذِّكْرِ.وَقَدْ يَكُونُ بَعْضُ النَّاسِ انْتِفَاعُهُ بِالْمَفْضُولِ أَكْثَرَ بِحَسَبِ حَالِهِ، إِمَّا لِاجْتِمَاعِ قَلْبِهِ عَلَيْهِ، وَانْشِرَاحِ صَدْرِهِ لَهُ، وَوُجُودِ قُوَّتِهِ لَهُ، مِثْلُ مَنْ يَجِدُ ذَلِكَ فِي الذِّكْرِ أَحْيَانًا دُونَ الْقِرَاءَةِ، فَيَكُونُ الْعَمَلُ الَّذِي أَتَى بِهِ عَلَى الْوَجْهِ الْكَامِلِ أَفْضَلَ فِي حَقِّهِ مِنَ الْعَمَلِ الَّذِي يَأْتِي بِهِ عَلَى الْوَجْهِ النَّاقِصِ، وَإِنْ كَانَ جِنْسُ هَذَا أَفْضَلَ. وَقَدْ يَكُونُ الرَّجُلُ عَاجِزًا عَنِ الْأَفْضَلِ، فَيَكُونُ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ فِي حَقِّهِ أَفْضَلَ لَهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.Beliau menjawab, “Membaca Al-Qur’an lebih utama daripada dzikir, dan dzikir lebih utama daripada doa secara umum. Namun, dalam kondisi tertentu, amalan yang pada asalnya kurang utama bisa menjadi lebih utama daripada amalan yang lebih utama. Demikian pula, shalat lebih utama daripada seluruh amalan tersebut.” Meskipun demikian, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa pada waktu-waktu yang dilarang untuk melaksanakan shalat—seperti lima waktu larangan shalat dan ketika khatib sedang berkhutbah—lebih utama daripada mengerjakan shalat.Demikian pula, bertasbih ketika rukuk dan sujud lebih utama daripada membaca Al-Qur’an, dan membaca tasyahud akhir lebih utama daripada dzikir secara umum.Bisa jadi ada seseorang yang justru memperoleh manfaat lebih besar dari amalan yang secara umum kurang utama, sesuai dengan keadaan dirinya. Hal itu karena hatinya lebih hadir ketika melakukannya, dadanya lebih lapang, dan ia lebih mampu melaksanakannya dengan baik. Misalnya, ada orang yang lebih mudah menghadirkan kekhusyukan ketika berdzikir daripada ketika membaca Al-Qur’an.Dalam keadaan seperti itu, amalan yang ia lakukan dengan sempurna lebih utama baginya daripada amalan yang secara umum lebih utama tetapi ia kerjakan dengan kualitas yang kurang baik. Meskipun secara jenis, amalan yang kedua memang lebih utama.Demikian pula, bisa saja seseorang tidak mampu mengerjakan amalan yang paling utama. Dalam kondisi seperti itu, amalan yang mampu ia lakukan justru menjadi yang paling utama baginya.Wallahu a’lam. (Majmu’ Al-Fatawa, 23:63) Dalam fatwa lain, Ibnu Taimiyyah menjelaskan kaidah yang sangat penting:الشَّيْءُ إِذَا كَانَ أَفْضَلَ مِنْ حَيْثُ الْجُمْلَةِ لَمْ يَجِبْ أَنْ يَكُونَ أَفْضَلَ فِي كُلِّ حَالٍ…“Sesuatu yang lebih utama secara umum tidak berarti selalu menjadi yang paling utama dalam setiap keadaan….”Lalu beliau memberi contoh:tasbih ketika rukuk dan sujud lebih utama daripada membaca Al-Qur’an,tasyahud dan doa di akhir shalat lebih utama daripada membaca Al-Qur’an.Baca juga: Amalan yang Utama Dilihat dari Waktu dan Tugas KaidahSecara umum dilihat dari jinsul ‘ibadah (jenis ibadah), urutan ibadah yang afdal adalah:Shalat adalah ibadah paling utama setelah syahadat.Tilawah Al-Qur’an adalah dzikir yang paling utama.Dzikir lebih utama daripada doa.Doa tetap merupakan ibadah yang sangat agung, tetapi dalam penilaian jenis ibadah secara umum berada setelah dzikir.Namun, sesuai waktu dan tempat yang disyariatkan, urutannya bisa berubah. Misalnya:Menjawab azan lebih utama daripada terus membaca Al-Qur’an ketika azan berkumandang.Dzikir pagi dan petang lebih utama daripada tilawah pada waktunya.Tasbih saat rukuk dan sujud lebih utama daripada membaca Al-Qur’an.Doa pada Arafah, antara azan dan iqamah, atau pada sepertiga malam terakhir menjadi amalan yang paling utama pada waktu-waktu tersebut.Kaidah ini sangat berguna ketika menyusun materi tentang keutamaan ibadah atau cara menenangkan hati, karena menunjukkan bahwa seorang muslim hendaknya mendahulukan ibadah yang paling utama sesuai kondisi dan waktunya, bukan hanya berdasarkan keutamaan secara umum. —– Malam Rabu, 28 Juli 2026Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal quran amal saleh doa Dzikir fikih ibadah ibnu taimiyah Keutamaan Ibadah. rumaysho shalat sunnah nabi urutan ibadah

Mana yang Lebih Utama: Shalat, Membaca Al-Qur’an, Dzikir, atau Doa?

Sering kali kita bertanya, mana yang lebih utama: membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau berdoa? Jawabannya ternyata tidak sesederhana memilih satu amalan yang paling mulia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan sebuah kaidah penting yang membantu seorang muslim menyusun prioritas ibadah sesuai tuntunan syariat, sehingga setiap amal dikerjakan pada waktu yang paling tepat dan paling bernilai di sisi Allah. Ada pertanyaan pada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,وَسُئِلَ عَنْ رَجُلٍ أَرَادَ تَحْصِيلَ الثَّوَابِ: هَلِ الْأَفْضَلُ لَهُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ، أَوِ الذِّكْرُ وَالتَّسْبِيحُ؟Ada seseorang yang ingin memperoleh pahala sebanyak-banyaknya: manakah yang lebih utama baginya, membaca Al-Qur’an atau memperbanyak dzikir dan tasbih?Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjawab, قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ أَفْضَلُ مِنَ الذِّكْرِ، وَالذِّكْرُ أَفْضَلُ مِنَ الدُّعَاءِ مِنْ حَيْثُ الْجُمْلَةِ؛ لَكِنْ قَدْ يَكُونُ الْمَفْضُولُ أَفْضَلَ مِنَ الْفَاضِلِ فِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ، كَمَا أَنَّ الصَّلَاةَ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ كُلِّهِ. وَمَعَ هَذَا، فَالْقِرَاءَةُ وَالذِّكْرُ وَالدُّعَاءُ فِي أَوْقَاتِ النَّهْيِ عَنِ الصَّلَاةِ، كَالْأَوْقَاتِ الْخَمْسَةِ وَوَقْتِ الْخُطْبَةِ، هِيَ أَفْضَلُ مِنَ الصَّلَاةِ، وَالتَّسْبِيحُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ أَفْضَلُ مِنَ الْقِرَاءَةِ، وَالتَّشَهُّدُ الْأَخِيرُ أَفْضَلُ مِنَ الذِّكْرِ.وَقَدْ يَكُونُ بَعْضُ النَّاسِ انْتِفَاعُهُ بِالْمَفْضُولِ أَكْثَرَ بِحَسَبِ حَالِهِ، إِمَّا لِاجْتِمَاعِ قَلْبِهِ عَلَيْهِ، وَانْشِرَاحِ صَدْرِهِ لَهُ، وَوُجُودِ قُوَّتِهِ لَهُ، مِثْلُ مَنْ يَجِدُ ذَلِكَ فِي الذِّكْرِ أَحْيَانًا دُونَ الْقِرَاءَةِ، فَيَكُونُ الْعَمَلُ الَّذِي أَتَى بِهِ عَلَى الْوَجْهِ الْكَامِلِ أَفْضَلَ فِي حَقِّهِ مِنَ الْعَمَلِ الَّذِي يَأْتِي بِهِ عَلَى الْوَجْهِ النَّاقِصِ، وَإِنْ كَانَ جِنْسُ هَذَا أَفْضَلَ. وَقَدْ يَكُونُ الرَّجُلُ عَاجِزًا عَنِ الْأَفْضَلِ، فَيَكُونُ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ فِي حَقِّهِ أَفْضَلَ لَهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.Beliau menjawab, “Membaca Al-Qur’an lebih utama daripada dzikir, dan dzikir lebih utama daripada doa secara umum. Namun, dalam kondisi tertentu, amalan yang pada asalnya kurang utama bisa menjadi lebih utama daripada amalan yang lebih utama. Demikian pula, shalat lebih utama daripada seluruh amalan tersebut.” Meskipun demikian, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa pada waktu-waktu yang dilarang untuk melaksanakan shalat—seperti lima waktu larangan shalat dan ketika khatib sedang berkhutbah—lebih utama daripada mengerjakan shalat.Demikian pula, bertasbih ketika rukuk dan sujud lebih utama daripada membaca Al-Qur’an, dan membaca tasyahud akhir lebih utama daripada dzikir secara umum.Bisa jadi ada seseorang yang justru memperoleh manfaat lebih besar dari amalan yang secara umum kurang utama, sesuai dengan keadaan dirinya. Hal itu karena hatinya lebih hadir ketika melakukannya, dadanya lebih lapang, dan ia lebih mampu melaksanakannya dengan baik. Misalnya, ada orang yang lebih mudah menghadirkan kekhusyukan ketika berdzikir daripada ketika membaca Al-Qur’an.Dalam keadaan seperti itu, amalan yang ia lakukan dengan sempurna lebih utama baginya daripada amalan yang secara umum lebih utama tetapi ia kerjakan dengan kualitas yang kurang baik. Meskipun secara jenis, amalan yang kedua memang lebih utama.Demikian pula, bisa saja seseorang tidak mampu mengerjakan amalan yang paling utama. Dalam kondisi seperti itu, amalan yang mampu ia lakukan justru menjadi yang paling utama baginya.Wallahu a’lam. (Majmu’ Al-Fatawa, 23:63) Dalam fatwa lain, Ibnu Taimiyyah menjelaskan kaidah yang sangat penting:الشَّيْءُ إِذَا كَانَ أَفْضَلَ مِنْ حَيْثُ الْجُمْلَةِ لَمْ يَجِبْ أَنْ يَكُونَ أَفْضَلَ فِي كُلِّ حَالٍ…“Sesuatu yang lebih utama secara umum tidak berarti selalu menjadi yang paling utama dalam setiap keadaan….”Lalu beliau memberi contoh:tasbih ketika rukuk dan sujud lebih utama daripada membaca Al-Qur’an,tasyahud dan doa di akhir shalat lebih utama daripada membaca Al-Qur’an.Baca juga: Amalan yang Utama Dilihat dari Waktu dan Tugas KaidahSecara umum dilihat dari jinsul ‘ibadah (jenis ibadah), urutan ibadah yang afdal adalah:Shalat adalah ibadah paling utama setelah syahadat.Tilawah Al-Qur’an adalah dzikir yang paling utama.Dzikir lebih utama daripada doa.Doa tetap merupakan ibadah yang sangat agung, tetapi dalam penilaian jenis ibadah secara umum berada setelah dzikir.Namun, sesuai waktu dan tempat yang disyariatkan, urutannya bisa berubah. Misalnya:Menjawab azan lebih utama daripada terus membaca Al-Qur’an ketika azan berkumandang.Dzikir pagi dan petang lebih utama daripada tilawah pada waktunya.Tasbih saat rukuk dan sujud lebih utama daripada membaca Al-Qur’an.Doa pada Arafah, antara azan dan iqamah, atau pada sepertiga malam terakhir menjadi amalan yang paling utama pada waktu-waktu tersebut.Kaidah ini sangat berguna ketika menyusun materi tentang keutamaan ibadah atau cara menenangkan hati, karena menunjukkan bahwa seorang muslim hendaknya mendahulukan ibadah yang paling utama sesuai kondisi dan waktunya, bukan hanya berdasarkan keutamaan secara umum. —– Malam Rabu, 28 Juli 2026Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal quran amal saleh doa Dzikir fikih ibadah ibnu taimiyah Keutamaan Ibadah. rumaysho shalat sunnah nabi urutan ibadah
Sering kali kita bertanya, mana yang lebih utama: membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau berdoa? Jawabannya ternyata tidak sesederhana memilih satu amalan yang paling mulia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan sebuah kaidah penting yang membantu seorang muslim menyusun prioritas ibadah sesuai tuntunan syariat, sehingga setiap amal dikerjakan pada waktu yang paling tepat dan paling bernilai di sisi Allah. Ada pertanyaan pada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,وَسُئِلَ عَنْ رَجُلٍ أَرَادَ تَحْصِيلَ الثَّوَابِ: هَلِ الْأَفْضَلُ لَهُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ، أَوِ الذِّكْرُ وَالتَّسْبِيحُ؟Ada seseorang yang ingin memperoleh pahala sebanyak-banyaknya: manakah yang lebih utama baginya, membaca Al-Qur’an atau memperbanyak dzikir dan tasbih?Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjawab, قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ أَفْضَلُ مِنَ الذِّكْرِ، وَالذِّكْرُ أَفْضَلُ مِنَ الدُّعَاءِ مِنْ حَيْثُ الْجُمْلَةِ؛ لَكِنْ قَدْ يَكُونُ الْمَفْضُولُ أَفْضَلَ مِنَ الْفَاضِلِ فِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ، كَمَا أَنَّ الصَّلَاةَ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ كُلِّهِ. وَمَعَ هَذَا، فَالْقِرَاءَةُ وَالذِّكْرُ وَالدُّعَاءُ فِي أَوْقَاتِ النَّهْيِ عَنِ الصَّلَاةِ، كَالْأَوْقَاتِ الْخَمْسَةِ وَوَقْتِ الْخُطْبَةِ، هِيَ أَفْضَلُ مِنَ الصَّلَاةِ، وَالتَّسْبِيحُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ أَفْضَلُ مِنَ الْقِرَاءَةِ، وَالتَّشَهُّدُ الْأَخِيرُ أَفْضَلُ مِنَ الذِّكْرِ.وَقَدْ يَكُونُ بَعْضُ النَّاسِ انْتِفَاعُهُ بِالْمَفْضُولِ أَكْثَرَ بِحَسَبِ حَالِهِ، إِمَّا لِاجْتِمَاعِ قَلْبِهِ عَلَيْهِ، وَانْشِرَاحِ صَدْرِهِ لَهُ، وَوُجُودِ قُوَّتِهِ لَهُ، مِثْلُ مَنْ يَجِدُ ذَلِكَ فِي الذِّكْرِ أَحْيَانًا دُونَ الْقِرَاءَةِ، فَيَكُونُ الْعَمَلُ الَّذِي أَتَى بِهِ عَلَى الْوَجْهِ الْكَامِلِ أَفْضَلَ فِي حَقِّهِ مِنَ الْعَمَلِ الَّذِي يَأْتِي بِهِ عَلَى الْوَجْهِ النَّاقِصِ، وَإِنْ كَانَ جِنْسُ هَذَا أَفْضَلَ. وَقَدْ يَكُونُ الرَّجُلُ عَاجِزًا عَنِ الْأَفْضَلِ، فَيَكُونُ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ فِي حَقِّهِ أَفْضَلَ لَهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.Beliau menjawab, “Membaca Al-Qur’an lebih utama daripada dzikir, dan dzikir lebih utama daripada doa secara umum. Namun, dalam kondisi tertentu, amalan yang pada asalnya kurang utama bisa menjadi lebih utama daripada amalan yang lebih utama. Demikian pula, shalat lebih utama daripada seluruh amalan tersebut.” Meskipun demikian, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa pada waktu-waktu yang dilarang untuk melaksanakan shalat—seperti lima waktu larangan shalat dan ketika khatib sedang berkhutbah—lebih utama daripada mengerjakan shalat.Demikian pula, bertasbih ketika rukuk dan sujud lebih utama daripada membaca Al-Qur’an, dan membaca tasyahud akhir lebih utama daripada dzikir secara umum.Bisa jadi ada seseorang yang justru memperoleh manfaat lebih besar dari amalan yang secara umum kurang utama, sesuai dengan keadaan dirinya. Hal itu karena hatinya lebih hadir ketika melakukannya, dadanya lebih lapang, dan ia lebih mampu melaksanakannya dengan baik. Misalnya, ada orang yang lebih mudah menghadirkan kekhusyukan ketika berdzikir daripada ketika membaca Al-Qur’an.Dalam keadaan seperti itu, amalan yang ia lakukan dengan sempurna lebih utama baginya daripada amalan yang secara umum lebih utama tetapi ia kerjakan dengan kualitas yang kurang baik. Meskipun secara jenis, amalan yang kedua memang lebih utama.Demikian pula, bisa saja seseorang tidak mampu mengerjakan amalan yang paling utama. Dalam kondisi seperti itu, amalan yang mampu ia lakukan justru menjadi yang paling utama baginya.Wallahu a’lam. (Majmu’ Al-Fatawa, 23:63) Dalam fatwa lain, Ibnu Taimiyyah menjelaskan kaidah yang sangat penting:الشَّيْءُ إِذَا كَانَ أَفْضَلَ مِنْ حَيْثُ الْجُمْلَةِ لَمْ يَجِبْ أَنْ يَكُونَ أَفْضَلَ فِي كُلِّ حَالٍ…“Sesuatu yang lebih utama secara umum tidak berarti selalu menjadi yang paling utama dalam setiap keadaan….”Lalu beliau memberi contoh:tasbih ketika rukuk dan sujud lebih utama daripada membaca Al-Qur’an,tasyahud dan doa di akhir shalat lebih utama daripada membaca Al-Qur’an.Baca juga: Amalan yang Utama Dilihat dari Waktu dan Tugas KaidahSecara umum dilihat dari jinsul ‘ibadah (jenis ibadah), urutan ibadah yang afdal adalah:Shalat adalah ibadah paling utama setelah syahadat.Tilawah Al-Qur’an adalah dzikir yang paling utama.Dzikir lebih utama daripada doa.Doa tetap merupakan ibadah yang sangat agung, tetapi dalam penilaian jenis ibadah secara umum berada setelah dzikir.Namun, sesuai waktu dan tempat yang disyariatkan, urutannya bisa berubah. Misalnya:Menjawab azan lebih utama daripada terus membaca Al-Qur’an ketika azan berkumandang.Dzikir pagi dan petang lebih utama daripada tilawah pada waktunya.Tasbih saat rukuk dan sujud lebih utama daripada membaca Al-Qur’an.Doa pada Arafah, antara azan dan iqamah, atau pada sepertiga malam terakhir menjadi amalan yang paling utama pada waktu-waktu tersebut.Kaidah ini sangat berguna ketika menyusun materi tentang keutamaan ibadah atau cara menenangkan hati, karena menunjukkan bahwa seorang muslim hendaknya mendahulukan ibadah yang paling utama sesuai kondisi dan waktunya, bukan hanya berdasarkan keutamaan secara umum. —– Malam Rabu, 28 Juli 2026Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal quran amal saleh doa Dzikir fikih ibadah ibnu taimiyah Keutamaan Ibadah. rumaysho shalat sunnah nabi urutan ibadah


Sering kali kita bertanya, mana yang lebih utama: membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau berdoa? Jawabannya ternyata tidak sesederhana memilih satu amalan yang paling mulia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan sebuah kaidah penting yang membantu seorang muslim menyusun prioritas ibadah sesuai tuntunan syariat, sehingga setiap amal dikerjakan pada waktu yang paling tepat dan paling bernilai di sisi Allah. Ada pertanyaan pada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,وَسُئِلَ عَنْ رَجُلٍ أَرَادَ تَحْصِيلَ الثَّوَابِ: هَلِ الْأَفْضَلُ لَهُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ، أَوِ الذِّكْرُ وَالتَّسْبِيحُ؟Ada seseorang yang ingin memperoleh pahala sebanyak-banyaknya: manakah yang lebih utama baginya, membaca Al-Qur’an atau memperbanyak dzikir dan tasbih?Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjawab, قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ أَفْضَلُ مِنَ الذِّكْرِ، وَالذِّكْرُ أَفْضَلُ مِنَ الدُّعَاءِ مِنْ حَيْثُ الْجُمْلَةِ؛ لَكِنْ قَدْ يَكُونُ الْمَفْضُولُ أَفْضَلَ مِنَ الْفَاضِلِ فِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ، كَمَا أَنَّ الصَّلَاةَ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ كُلِّهِ. وَمَعَ هَذَا، فَالْقِرَاءَةُ وَالذِّكْرُ وَالدُّعَاءُ فِي أَوْقَاتِ النَّهْيِ عَنِ الصَّلَاةِ، كَالْأَوْقَاتِ الْخَمْسَةِ وَوَقْتِ الْخُطْبَةِ، هِيَ أَفْضَلُ مِنَ الصَّلَاةِ، وَالتَّسْبِيحُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ أَفْضَلُ مِنَ الْقِرَاءَةِ، وَالتَّشَهُّدُ الْأَخِيرُ أَفْضَلُ مِنَ الذِّكْرِ.وَقَدْ يَكُونُ بَعْضُ النَّاسِ انْتِفَاعُهُ بِالْمَفْضُولِ أَكْثَرَ بِحَسَبِ حَالِهِ، إِمَّا لِاجْتِمَاعِ قَلْبِهِ عَلَيْهِ، وَانْشِرَاحِ صَدْرِهِ لَهُ، وَوُجُودِ قُوَّتِهِ لَهُ، مِثْلُ مَنْ يَجِدُ ذَلِكَ فِي الذِّكْرِ أَحْيَانًا دُونَ الْقِرَاءَةِ، فَيَكُونُ الْعَمَلُ الَّذِي أَتَى بِهِ عَلَى الْوَجْهِ الْكَامِلِ أَفْضَلَ فِي حَقِّهِ مِنَ الْعَمَلِ الَّذِي يَأْتِي بِهِ عَلَى الْوَجْهِ النَّاقِصِ، وَإِنْ كَانَ جِنْسُ هَذَا أَفْضَلَ. وَقَدْ يَكُونُ الرَّجُلُ عَاجِزًا عَنِ الْأَفْضَلِ، فَيَكُونُ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ فِي حَقِّهِ أَفْضَلَ لَهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.Beliau menjawab, “Membaca Al-Qur’an lebih utama daripada dzikir, dan dzikir lebih utama daripada doa secara umum. Namun, dalam kondisi tertentu, amalan yang pada asalnya kurang utama bisa menjadi lebih utama daripada amalan yang lebih utama. Demikian pula, shalat lebih utama daripada seluruh amalan tersebut.” Meskipun demikian, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa pada waktu-waktu yang dilarang untuk melaksanakan shalat—seperti lima waktu larangan shalat dan ketika khatib sedang berkhutbah—lebih utama daripada mengerjakan shalat.Demikian pula, bertasbih ketika rukuk dan sujud lebih utama daripada membaca Al-Qur’an, dan membaca tasyahud akhir lebih utama daripada dzikir secara umum.Bisa jadi ada seseorang yang justru memperoleh manfaat lebih besar dari amalan yang secara umum kurang utama, sesuai dengan keadaan dirinya. Hal itu karena hatinya lebih hadir ketika melakukannya, dadanya lebih lapang, dan ia lebih mampu melaksanakannya dengan baik. Misalnya, ada orang yang lebih mudah menghadirkan kekhusyukan ketika berdzikir daripada ketika membaca Al-Qur’an.Dalam keadaan seperti itu, amalan yang ia lakukan dengan sempurna lebih utama baginya daripada amalan yang secara umum lebih utama tetapi ia kerjakan dengan kualitas yang kurang baik. Meskipun secara jenis, amalan yang kedua memang lebih utama.Demikian pula, bisa saja seseorang tidak mampu mengerjakan amalan yang paling utama. Dalam kondisi seperti itu, amalan yang mampu ia lakukan justru menjadi yang paling utama baginya.Wallahu a’lam. (Majmu’ Al-Fatawa, 23:63) Dalam fatwa lain, Ibnu Taimiyyah menjelaskan kaidah yang sangat penting:الشَّيْءُ إِذَا كَانَ أَفْضَلَ مِنْ حَيْثُ الْجُمْلَةِ لَمْ يَجِبْ أَنْ يَكُونَ أَفْضَلَ فِي كُلِّ حَالٍ…“Sesuatu yang lebih utama secara umum tidak berarti selalu menjadi yang paling utama dalam setiap keadaan….”Lalu beliau memberi contoh:tasbih ketika rukuk dan sujud lebih utama daripada membaca Al-Qur’an,tasyahud dan doa di akhir shalat lebih utama daripada membaca Al-Qur’an.Baca juga: Amalan yang Utama Dilihat dari Waktu dan Tugas KaidahSecara umum dilihat dari jinsul ‘ibadah (jenis ibadah), urutan ibadah yang afdal adalah:Shalat adalah ibadah paling utama setelah syahadat.Tilawah Al-Qur’an adalah dzikir yang paling utama.Dzikir lebih utama daripada doa.Doa tetap merupakan ibadah yang sangat agung, tetapi dalam penilaian jenis ibadah secara umum berada setelah dzikir.Namun, sesuai waktu dan tempat yang disyariatkan, urutannya bisa berubah. Misalnya:Menjawab azan lebih utama daripada terus membaca Al-Qur’an ketika azan berkumandang.Dzikir pagi dan petang lebih utama daripada tilawah pada waktunya.Tasbih saat rukuk dan sujud lebih utama daripada membaca Al-Qur’an.Doa pada Arafah, antara azan dan iqamah, atau pada sepertiga malam terakhir menjadi amalan yang paling utama pada waktu-waktu tersebut.Kaidah ini sangat berguna ketika menyusun materi tentang keutamaan ibadah atau cara menenangkan hati, karena menunjukkan bahwa seorang muslim hendaknya mendahulukan ibadah yang paling utama sesuai kondisi dan waktunya, bukan hanya berdasarkan keutamaan secara umum. —– Malam Rabu, 28 Juli 2026Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal quran amal saleh doa Dzikir fikih ibadah ibnu taimiyah Keutamaan Ibadah. rumaysho shalat sunnah nabi urutan ibadah

Cara Menyelesaikan Masalah: 8 Langkah Problem Solving Islami

Semua orang pasti pernah menghadapi masalah, baik berupa utang, konflik keluarga, perselisihan bisnis, maupun musibah lainnya. Sayangnya, banyak orang terburu-buru mencari jalan keluar sebelum mampu memahami letak persoalan yang sebenarnya. Islam mengajarkan bahwa penyelesaian masalah tidak hanya membutuhkan kecerdasan berpikir, tetapi juga ketenangan hati, kejujuran, muhasabah, ikhtiar yang benar, dan tawakal kepada Allah. Inilah delapan langkah problem solving Islami yang dapat menjadi panduan seorang muslim dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Langkah Pertama: Tenangkan Hati Sebelum Mencari Solusi 2. Langkah Kedua: Uraikan Masalah dengan Jujur 3. Langkah Ketiga: Muhasabah dan Mengoreksi Diri 4. Langkah Keempat: Cari Akar Masalah, Jangan Hanya Mengobati Akibatnya 5. Langkah Kelima: Bermusyawarah dengan Orang yang Tepat 6. Langkah Keenam: Tempuh Semua Sebab yang Dibenarkan Syariat 7. Langkah Ketujuh: Bersabar dan Istiqamah Menjalankan Solusi 8. Langkah Kedelapan: Serahkan Hasilnya kepada Allah 9. Penutup  Langkah Pertama: Tenangkan Hati Sebelum Mencari SolusiInilah langkah pertama yang sering dilupakan.Orang yang sedang marah, panik, takut, atau sedih biasanya tidak mampu melihat masalah dengan jernih.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Allah Ta’ala juga berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Maka sebelum memikirkan solusi, tenangkan hati terlebih dahulu dengan shalat, tilawah Al-Qur’an, dzikir, doa, dan tawakal.Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan,التَّوَكُّلُ جَامِعٌ لِمَقَامِ التَّفْوِيضِ وَالِاسْتِعَانَةِ وَالرِّضَا، لَا يَتَصَوَّرُ وُجُودُهُ بِدُونِهَا.“Hakikat tawakal merupakan perpaduan antara menyerahkan seluruh urusan kepada Allah, memohon pertolongan hanya kepada-Nya, dan menerima dengan lapang dada segala keputusan-Nya. Tanpa ketiga hal ini, tawakal yang sesungguhnya tidak akan terwujud.” (Sumber: Islamweb)Dałam tawakal berarti ada tiga hal:التَّفْوِيض (at-tafwīḍ): menyerahkan seluruh urusan dan hasil akhirnya kepada Allah.الِاسْتِعَانَة (al-isti‘ānah): memohon pertolongan kepada Allah dalam setiap ikhtiar.الرِّضَا (ar-riḍā): menerima dengan lapang dada segala ketetapan Allah setelah berusaha.Kalimat ini menunjukkan bahwa tawakal bukan sekadar pasrah, tetapi merupakan gabungan dari tiga amalan hati: berserah diri kepada Allah, bergantung kepada pertolongan-Nya, dan ridha terhadap apa pun keputusan-Nya setelah menempuh sebab-sebab yang dibenarkan syariat. Langkah Kedua: Uraikan Masalah dengan JujurSering kali yang kita hadapi bukan masalah sebenarnya.Misalnya berkata, “Saya hancur.”Padahal yang benar adalah:Saya memiliki utang Rp500 juta.Saya berselisih dengan saudara.Bisnis saya rugi.Semakin jelas masalah, semakin dekat kepada solusi.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ“Wahai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119)Kejujuran kepada diri sendiri merupakan awal dari setiap perbaikan.Baca juga: Jujur yang Menyelamatkan, Pelajaran Besar dari Tobat Ka’ab bin Malik Langkah Ketiga: Muhasabah dan Mengoreksi DiriAllah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ“Musibah yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan tangan kalian sendiri.” (QS. Asy-Syura: 30)Bukan berarti setiap musibah pasti hukuman, tetapi ayat ini mengajarkan agar kita terlebih dahulu mengoreksi diri.Tanyakan:Apa kesalahan saya?Apa sebab yang mengantarkan masalah ini?Apa yang harus saya perbaiki?Muhasabah membantu seorang muslim memperbaiki dirinya sebelum sibuk menyalahkan orang lain.Baca juga: Musibah Datang Karena Maksiat dan Dosa Langkah Keempat: Cari Akar Masalah, Jangan Hanya Mengobati AkibatnyaMisalnya: Utang bukan selalu masalah utama.Bisa jadi penyebabnya adalah:boros,kurang ilmu,salah memilih partner,malas bekerja,atau bahkan maksiat yang menghilangkan keberkahan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit.وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86). Bahasan ini bisa diperoleh dari buku Dosa itu Candu (Penerbit Rumaysho). Islam mengajarkan agar seorang muslim memperbaiki sebab sebelum sibuk mengatasi akibat. Langkah Kelima: Bermusyawarah dengan Orang yang TepatAllah Ta’ala berfirman,وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ“Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)Tidak semua masalah harus dipikul sendirian. Mintalah nasihat kepada orang tua, guru, ulama, atau ahli yang amanah sesuai bidangnya. Musyawarah membuka peluang untuk melihat solusi yang mungkin luput dari pandangan kita.Baca juga: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Masih Menerima Masukan Pemilihan Tempat Saat Perang Badar dari Al-Hubab bin Al-Mundzir Langkah Keenam: Tempuh Semua Sebab yang Dibenarkan SyariatInilah inti terbesar problem solving dalam Islam.Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ“Apabila engkau telah bertekad maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159)Perhatikan. Tawakal datang setelah ikhtiar.Nabi ﷺ juga bersabda,اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ“Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,وَلَا بُدَّ مَعَ هَذَا الِاعْتِمَادِ مِنْ مُبَاشَرَةِ الْأَسْبَابِ، وَإِلَّا كَانَ مُعَطِّلًا لِلْأَمْرِ وَالْحِكْمَةِ وَالشَّرْعِ، فَلَا يَجْعَلِ الْعَبْدُ عَجْزَهُ تَوَكُّلًا، وَلَا تَوَكُّلَهُ عَجْزًا. “Harus disertai dengan mengambil sebab-sebab. Jika tidak, berarti ia telah menelantarkan perintah, hikmah, dan syariat. Janganlah seseorang menjadikan kelemahannya sebagai tawakal, dan jangan pula menjadikan tawakalnya sebagai alasan untuk tidak berusaha.” Langkah Ketujuh: Bersabar dan Istiqamah Menjalankan SolusiBanyak orang memiliki rencana bagus, tetapi berhenti di tengah jalan.Allah Ta’ala berfirman,وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ“Bersabarlah, dan kesabaranmu hanyalah dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)Problem solving bukan selesai saat menemukan solusi. Tetapi saat solusi dijalankan dengan istiqamah. Langkah Kedelapan: Serahkan Hasilnya kepada AllahSetelah semua sebab ditempuh, hasilnya diserahkan kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Ingatlah bahwa hasil tidak selalu langsung sesuai keinginan manusia. Yang dituntut adalah kesempurnaan ikhtiar dan ketulusan tawakal; adapun hasil akhirnya berada di bawah hikmah dan ketetapan Allah. PenutupDi era serba instan, banyak orang menginginkan jalan keluar yang cepat, tetapi enggan memperbaiki akar persoalannya. Padahal Islam mengajarkan bahwa penyelesaian masalah dimulai dari memperbaiki hati, memperbaiki diri, kemudian memperbaiki ikhtiar. Jangan biarkan emosi mengalahkan hikmah, dan jangan pula menjadikan tawakal sebagai alasan untuk berhenti berusaha. Semoga setiap masalah yang Allah takdirkan menjadi jalan untuk semakin mengenal-Nya, memperbaiki diri, dan menguatkan keimanan. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.Allāhumma aṣliḥ lanā dīnanā alladzī huwa ‘iṣmatu amrinā, wa aṣliḥ lanā dunyānā allatī fīhā ma’āsyunā, wa aṣliḥ lanā ākhiratanā allatī fīhā ma’ādunā, waj’alil-ḥayāta ziyādatan lanā fī kulli khair, waj’alil-mauta rāḥatan lanā min kulli syarr.Ya Allah, perbaikilah agama kami, karena agama itulah yang menjaga seluruh urusan kami. Perbaikilah kehidupan dunia kami, tempat kami menjalani kehidupan. Perbaikilah akhirat kami, tempat kami kembali. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagi kami dari segala keburukan. —– Malam Rabu, 28 Juli 2026Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdoa Dzikir ikhtiar menyelesaikan masalah motivasi Islam muhasabah musyawarah problem solving islami sabar tawakal

Cara Menyelesaikan Masalah: 8 Langkah Problem Solving Islami

Semua orang pasti pernah menghadapi masalah, baik berupa utang, konflik keluarga, perselisihan bisnis, maupun musibah lainnya. Sayangnya, banyak orang terburu-buru mencari jalan keluar sebelum mampu memahami letak persoalan yang sebenarnya. Islam mengajarkan bahwa penyelesaian masalah tidak hanya membutuhkan kecerdasan berpikir, tetapi juga ketenangan hati, kejujuran, muhasabah, ikhtiar yang benar, dan tawakal kepada Allah. Inilah delapan langkah problem solving Islami yang dapat menjadi panduan seorang muslim dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Langkah Pertama: Tenangkan Hati Sebelum Mencari Solusi 2. Langkah Kedua: Uraikan Masalah dengan Jujur 3. Langkah Ketiga: Muhasabah dan Mengoreksi Diri 4. Langkah Keempat: Cari Akar Masalah, Jangan Hanya Mengobati Akibatnya 5. Langkah Kelima: Bermusyawarah dengan Orang yang Tepat 6. Langkah Keenam: Tempuh Semua Sebab yang Dibenarkan Syariat 7. Langkah Ketujuh: Bersabar dan Istiqamah Menjalankan Solusi 8. Langkah Kedelapan: Serahkan Hasilnya kepada Allah 9. Penutup  Langkah Pertama: Tenangkan Hati Sebelum Mencari SolusiInilah langkah pertama yang sering dilupakan.Orang yang sedang marah, panik, takut, atau sedih biasanya tidak mampu melihat masalah dengan jernih.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Allah Ta’ala juga berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Maka sebelum memikirkan solusi, tenangkan hati terlebih dahulu dengan shalat, tilawah Al-Qur’an, dzikir, doa, dan tawakal.Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan,التَّوَكُّلُ جَامِعٌ لِمَقَامِ التَّفْوِيضِ وَالِاسْتِعَانَةِ وَالرِّضَا، لَا يَتَصَوَّرُ وُجُودُهُ بِدُونِهَا.“Hakikat tawakal merupakan perpaduan antara menyerahkan seluruh urusan kepada Allah, memohon pertolongan hanya kepada-Nya, dan menerima dengan lapang dada segala keputusan-Nya. Tanpa ketiga hal ini, tawakal yang sesungguhnya tidak akan terwujud.” (Sumber: Islamweb)Dałam tawakal berarti ada tiga hal:التَّفْوِيض (at-tafwīḍ): menyerahkan seluruh urusan dan hasil akhirnya kepada Allah.الِاسْتِعَانَة (al-isti‘ānah): memohon pertolongan kepada Allah dalam setiap ikhtiar.الرِّضَا (ar-riḍā): menerima dengan lapang dada segala ketetapan Allah setelah berusaha.Kalimat ini menunjukkan bahwa tawakal bukan sekadar pasrah, tetapi merupakan gabungan dari tiga amalan hati: berserah diri kepada Allah, bergantung kepada pertolongan-Nya, dan ridha terhadap apa pun keputusan-Nya setelah menempuh sebab-sebab yang dibenarkan syariat. Langkah Kedua: Uraikan Masalah dengan JujurSering kali yang kita hadapi bukan masalah sebenarnya.Misalnya berkata, “Saya hancur.”Padahal yang benar adalah:Saya memiliki utang Rp500 juta.Saya berselisih dengan saudara.Bisnis saya rugi.Semakin jelas masalah, semakin dekat kepada solusi.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ“Wahai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119)Kejujuran kepada diri sendiri merupakan awal dari setiap perbaikan.Baca juga: Jujur yang Menyelamatkan, Pelajaran Besar dari Tobat Ka’ab bin Malik Langkah Ketiga: Muhasabah dan Mengoreksi DiriAllah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ“Musibah yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan tangan kalian sendiri.” (QS. Asy-Syura: 30)Bukan berarti setiap musibah pasti hukuman, tetapi ayat ini mengajarkan agar kita terlebih dahulu mengoreksi diri.Tanyakan:Apa kesalahan saya?Apa sebab yang mengantarkan masalah ini?Apa yang harus saya perbaiki?Muhasabah membantu seorang muslim memperbaiki dirinya sebelum sibuk menyalahkan orang lain.Baca juga: Musibah Datang Karena Maksiat dan Dosa Langkah Keempat: Cari Akar Masalah, Jangan Hanya Mengobati AkibatnyaMisalnya: Utang bukan selalu masalah utama.Bisa jadi penyebabnya adalah:boros,kurang ilmu,salah memilih partner,malas bekerja,atau bahkan maksiat yang menghilangkan keberkahan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit.وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86). Bahasan ini bisa diperoleh dari buku Dosa itu Candu (Penerbit Rumaysho). Islam mengajarkan agar seorang muslim memperbaiki sebab sebelum sibuk mengatasi akibat. Langkah Kelima: Bermusyawarah dengan Orang yang TepatAllah Ta’ala berfirman,وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ“Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)Tidak semua masalah harus dipikul sendirian. Mintalah nasihat kepada orang tua, guru, ulama, atau ahli yang amanah sesuai bidangnya. Musyawarah membuka peluang untuk melihat solusi yang mungkin luput dari pandangan kita.Baca juga: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Masih Menerima Masukan Pemilihan Tempat Saat Perang Badar dari Al-Hubab bin Al-Mundzir Langkah Keenam: Tempuh Semua Sebab yang Dibenarkan SyariatInilah inti terbesar problem solving dalam Islam.Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ“Apabila engkau telah bertekad maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159)Perhatikan. Tawakal datang setelah ikhtiar.Nabi ﷺ juga bersabda,اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ“Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,وَلَا بُدَّ مَعَ هَذَا الِاعْتِمَادِ مِنْ مُبَاشَرَةِ الْأَسْبَابِ، وَإِلَّا كَانَ مُعَطِّلًا لِلْأَمْرِ وَالْحِكْمَةِ وَالشَّرْعِ، فَلَا يَجْعَلِ الْعَبْدُ عَجْزَهُ تَوَكُّلًا، وَلَا تَوَكُّلَهُ عَجْزًا. “Harus disertai dengan mengambil sebab-sebab. Jika tidak, berarti ia telah menelantarkan perintah, hikmah, dan syariat. Janganlah seseorang menjadikan kelemahannya sebagai tawakal, dan jangan pula menjadikan tawakalnya sebagai alasan untuk tidak berusaha.” Langkah Ketujuh: Bersabar dan Istiqamah Menjalankan SolusiBanyak orang memiliki rencana bagus, tetapi berhenti di tengah jalan.Allah Ta’ala berfirman,وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ“Bersabarlah, dan kesabaranmu hanyalah dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)Problem solving bukan selesai saat menemukan solusi. Tetapi saat solusi dijalankan dengan istiqamah. Langkah Kedelapan: Serahkan Hasilnya kepada AllahSetelah semua sebab ditempuh, hasilnya diserahkan kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Ingatlah bahwa hasil tidak selalu langsung sesuai keinginan manusia. Yang dituntut adalah kesempurnaan ikhtiar dan ketulusan tawakal; adapun hasil akhirnya berada di bawah hikmah dan ketetapan Allah. PenutupDi era serba instan, banyak orang menginginkan jalan keluar yang cepat, tetapi enggan memperbaiki akar persoalannya. Padahal Islam mengajarkan bahwa penyelesaian masalah dimulai dari memperbaiki hati, memperbaiki diri, kemudian memperbaiki ikhtiar. Jangan biarkan emosi mengalahkan hikmah, dan jangan pula menjadikan tawakal sebagai alasan untuk berhenti berusaha. Semoga setiap masalah yang Allah takdirkan menjadi jalan untuk semakin mengenal-Nya, memperbaiki diri, dan menguatkan keimanan. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.Allāhumma aṣliḥ lanā dīnanā alladzī huwa ‘iṣmatu amrinā, wa aṣliḥ lanā dunyānā allatī fīhā ma’āsyunā, wa aṣliḥ lanā ākhiratanā allatī fīhā ma’ādunā, waj’alil-ḥayāta ziyādatan lanā fī kulli khair, waj’alil-mauta rāḥatan lanā min kulli syarr.Ya Allah, perbaikilah agama kami, karena agama itulah yang menjaga seluruh urusan kami. Perbaikilah kehidupan dunia kami, tempat kami menjalani kehidupan. Perbaikilah akhirat kami, tempat kami kembali. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagi kami dari segala keburukan. —– Malam Rabu, 28 Juli 2026Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdoa Dzikir ikhtiar menyelesaikan masalah motivasi Islam muhasabah musyawarah problem solving islami sabar tawakal
Semua orang pasti pernah menghadapi masalah, baik berupa utang, konflik keluarga, perselisihan bisnis, maupun musibah lainnya. Sayangnya, banyak orang terburu-buru mencari jalan keluar sebelum mampu memahami letak persoalan yang sebenarnya. Islam mengajarkan bahwa penyelesaian masalah tidak hanya membutuhkan kecerdasan berpikir, tetapi juga ketenangan hati, kejujuran, muhasabah, ikhtiar yang benar, dan tawakal kepada Allah. Inilah delapan langkah problem solving Islami yang dapat menjadi panduan seorang muslim dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Langkah Pertama: Tenangkan Hati Sebelum Mencari Solusi 2. Langkah Kedua: Uraikan Masalah dengan Jujur 3. Langkah Ketiga: Muhasabah dan Mengoreksi Diri 4. Langkah Keempat: Cari Akar Masalah, Jangan Hanya Mengobati Akibatnya 5. Langkah Kelima: Bermusyawarah dengan Orang yang Tepat 6. Langkah Keenam: Tempuh Semua Sebab yang Dibenarkan Syariat 7. Langkah Ketujuh: Bersabar dan Istiqamah Menjalankan Solusi 8. Langkah Kedelapan: Serahkan Hasilnya kepada Allah 9. Penutup  Langkah Pertama: Tenangkan Hati Sebelum Mencari SolusiInilah langkah pertama yang sering dilupakan.Orang yang sedang marah, panik, takut, atau sedih biasanya tidak mampu melihat masalah dengan jernih.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Allah Ta’ala juga berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Maka sebelum memikirkan solusi, tenangkan hati terlebih dahulu dengan shalat, tilawah Al-Qur’an, dzikir, doa, dan tawakal.Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan,التَّوَكُّلُ جَامِعٌ لِمَقَامِ التَّفْوِيضِ وَالِاسْتِعَانَةِ وَالرِّضَا، لَا يَتَصَوَّرُ وُجُودُهُ بِدُونِهَا.“Hakikat tawakal merupakan perpaduan antara menyerahkan seluruh urusan kepada Allah, memohon pertolongan hanya kepada-Nya, dan menerima dengan lapang dada segala keputusan-Nya. Tanpa ketiga hal ini, tawakal yang sesungguhnya tidak akan terwujud.” (Sumber: Islamweb)Dałam tawakal berarti ada tiga hal:التَّفْوِيض (at-tafwīḍ): menyerahkan seluruh urusan dan hasil akhirnya kepada Allah.الِاسْتِعَانَة (al-isti‘ānah): memohon pertolongan kepada Allah dalam setiap ikhtiar.الرِّضَا (ar-riḍā): menerima dengan lapang dada segala ketetapan Allah setelah berusaha.Kalimat ini menunjukkan bahwa tawakal bukan sekadar pasrah, tetapi merupakan gabungan dari tiga amalan hati: berserah diri kepada Allah, bergantung kepada pertolongan-Nya, dan ridha terhadap apa pun keputusan-Nya setelah menempuh sebab-sebab yang dibenarkan syariat. Langkah Kedua: Uraikan Masalah dengan JujurSering kali yang kita hadapi bukan masalah sebenarnya.Misalnya berkata, “Saya hancur.”Padahal yang benar adalah:Saya memiliki utang Rp500 juta.Saya berselisih dengan saudara.Bisnis saya rugi.Semakin jelas masalah, semakin dekat kepada solusi.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ“Wahai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119)Kejujuran kepada diri sendiri merupakan awal dari setiap perbaikan.Baca juga: Jujur yang Menyelamatkan, Pelajaran Besar dari Tobat Ka’ab bin Malik Langkah Ketiga: Muhasabah dan Mengoreksi DiriAllah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ“Musibah yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan tangan kalian sendiri.” (QS. Asy-Syura: 30)Bukan berarti setiap musibah pasti hukuman, tetapi ayat ini mengajarkan agar kita terlebih dahulu mengoreksi diri.Tanyakan:Apa kesalahan saya?Apa sebab yang mengantarkan masalah ini?Apa yang harus saya perbaiki?Muhasabah membantu seorang muslim memperbaiki dirinya sebelum sibuk menyalahkan orang lain.Baca juga: Musibah Datang Karena Maksiat dan Dosa Langkah Keempat: Cari Akar Masalah, Jangan Hanya Mengobati AkibatnyaMisalnya: Utang bukan selalu masalah utama.Bisa jadi penyebabnya adalah:boros,kurang ilmu,salah memilih partner,malas bekerja,atau bahkan maksiat yang menghilangkan keberkahan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit.وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86). Bahasan ini bisa diperoleh dari buku Dosa itu Candu (Penerbit Rumaysho). Islam mengajarkan agar seorang muslim memperbaiki sebab sebelum sibuk mengatasi akibat. Langkah Kelima: Bermusyawarah dengan Orang yang TepatAllah Ta’ala berfirman,وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ“Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)Tidak semua masalah harus dipikul sendirian. Mintalah nasihat kepada orang tua, guru, ulama, atau ahli yang amanah sesuai bidangnya. Musyawarah membuka peluang untuk melihat solusi yang mungkin luput dari pandangan kita.Baca juga: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Masih Menerima Masukan Pemilihan Tempat Saat Perang Badar dari Al-Hubab bin Al-Mundzir Langkah Keenam: Tempuh Semua Sebab yang Dibenarkan SyariatInilah inti terbesar problem solving dalam Islam.Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ“Apabila engkau telah bertekad maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159)Perhatikan. Tawakal datang setelah ikhtiar.Nabi ﷺ juga bersabda,اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ“Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,وَلَا بُدَّ مَعَ هَذَا الِاعْتِمَادِ مِنْ مُبَاشَرَةِ الْأَسْبَابِ، وَإِلَّا كَانَ مُعَطِّلًا لِلْأَمْرِ وَالْحِكْمَةِ وَالشَّرْعِ، فَلَا يَجْعَلِ الْعَبْدُ عَجْزَهُ تَوَكُّلًا، وَلَا تَوَكُّلَهُ عَجْزًا. “Harus disertai dengan mengambil sebab-sebab. Jika tidak, berarti ia telah menelantarkan perintah, hikmah, dan syariat. Janganlah seseorang menjadikan kelemahannya sebagai tawakal, dan jangan pula menjadikan tawakalnya sebagai alasan untuk tidak berusaha.” Langkah Ketujuh: Bersabar dan Istiqamah Menjalankan SolusiBanyak orang memiliki rencana bagus, tetapi berhenti di tengah jalan.Allah Ta’ala berfirman,وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ“Bersabarlah, dan kesabaranmu hanyalah dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)Problem solving bukan selesai saat menemukan solusi. Tetapi saat solusi dijalankan dengan istiqamah. Langkah Kedelapan: Serahkan Hasilnya kepada AllahSetelah semua sebab ditempuh, hasilnya diserahkan kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Ingatlah bahwa hasil tidak selalu langsung sesuai keinginan manusia. Yang dituntut adalah kesempurnaan ikhtiar dan ketulusan tawakal; adapun hasil akhirnya berada di bawah hikmah dan ketetapan Allah. PenutupDi era serba instan, banyak orang menginginkan jalan keluar yang cepat, tetapi enggan memperbaiki akar persoalannya. Padahal Islam mengajarkan bahwa penyelesaian masalah dimulai dari memperbaiki hati, memperbaiki diri, kemudian memperbaiki ikhtiar. Jangan biarkan emosi mengalahkan hikmah, dan jangan pula menjadikan tawakal sebagai alasan untuk berhenti berusaha. Semoga setiap masalah yang Allah takdirkan menjadi jalan untuk semakin mengenal-Nya, memperbaiki diri, dan menguatkan keimanan. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.Allāhumma aṣliḥ lanā dīnanā alladzī huwa ‘iṣmatu amrinā, wa aṣliḥ lanā dunyānā allatī fīhā ma’āsyunā, wa aṣliḥ lanā ākhiratanā allatī fīhā ma’ādunā, waj’alil-ḥayāta ziyādatan lanā fī kulli khair, waj’alil-mauta rāḥatan lanā min kulli syarr.Ya Allah, perbaikilah agama kami, karena agama itulah yang menjaga seluruh urusan kami. Perbaikilah kehidupan dunia kami, tempat kami menjalani kehidupan. Perbaikilah akhirat kami, tempat kami kembali. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagi kami dari segala keburukan. —– Malam Rabu, 28 Juli 2026Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdoa Dzikir ikhtiar menyelesaikan masalah motivasi Islam muhasabah musyawarah problem solving islami sabar tawakal


Semua orang pasti pernah menghadapi masalah, baik berupa utang, konflik keluarga, perselisihan bisnis, maupun musibah lainnya. Sayangnya, banyak orang terburu-buru mencari jalan keluar sebelum mampu memahami letak persoalan yang sebenarnya. Islam mengajarkan bahwa penyelesaian masalah tidak hanya membutuhkan kecerdasan berpikir, tetapi juga ketenangan hati, kejujuran, muhasabah, ikhtiar yang benar, dan tawakal kepada Allah. Inilah delapan langkah problem solving Islami yang dapat menjadi panduan seorang muslim dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Langkah Pertama: Tenangkan Hati Sebelum Mencari Solusi 2. Langkah Kedua: Uraikan Masalah dengan Jujur 3. Langkah Ketiga: Muhasabah dan Mengoreksi Diri 4. Langkah Keempat: Cari Akar Masalah, Jangan Hanya Mengobati Akibatnya 5. Langkah Kelima: Bermusyawarah dengan Orang yang Tepat 6. Langkah Keenam: Tempuh Semua Sebab yang Dibenarkan Syariat 7. Langkah Ketujuh: Bersabar dan Istiqamah Menjalankan Solusi 8. Langkah Kedelapan: Serahkan Hasilnya kepada Allah 9. Penutup  Langkah Pertama: Tenangkan Hati Sebelum Mencari SolusiInilah langkah pertama yang sering dilupakan.Orang yang sedang marah, panik, takut, atau sedih biasanya tidak mampu melihat masalah dengan jernih.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Allah Ta’ala juga berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Maka sebelum memikirkan solusi, tenangkan hati terlebih dahulu dengan shalat, tilawah Al-Qur’an, dzikir, doa, dan tawakal.Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan,التَّوَكُّلُ جَامِعٌ لِمَقَامِ التَّفْوِيضِ وَالِاسْتِعَانَةِ وَالرِّضَا، لَا يَتَصَوَّرُ وُجُودُهُ بِدُونِهَا.“Hakikat tawakal merupakan perpaduan antara menyerahkan seluruh urusan kepada Allah, memohon pertolongan hanya kepada-Nya, dan menerima dengan lapang dada segala keputusan-Nya. Tanpa ketiga hal ini, tawakal yang sesungguhnya tidak akan terwujud.” (Sumber: Islamweb)Dałam tawakal berarti ada tiga hal:التَّفْوِيض (at-tafwīḍ): menyerahkan seluruh urusan dan hasil akhirnya kepada Allah.الِاسْتِعَانَة (al-isti‘ānah): memohon pertolongan kepada Allah dalam setiap ikhtiar.الرِّضَا (ar-riḍā): menerima dengan lapang dada segala ketetapan Allah setelah berusaha.Kalimat ini menunjukkan bahwa tawakal bukan sekadar pasrah, tetapi merupakan gabungan dari tiga amalan hati: berserah diri kepada Allah, bergantung kepada pertolongan-Nya, dan ridha terhadap apa pun keputusan-Nya setelah menempuh sebab-sebab yang dibenarkan syariat. Langkah Kedua: Uraikan Masalah dengan JujurSering kali yang kita hadapi bukan masalah sebenarnya.Misalnya berkata, “Saya hancur.”Padahal yang benar adalah:Saya memiliki utang Rp500 juta.Saya berselisih dengan saudara.Bisnis saya rugi.Semakin jelas masalah, semakin dekat kepada solusi.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ“Wahai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119)Kejujuran kepada diri sendiri merupakan awal dari setiap perbaikan.Baca juga: Jujur yang Menyelamatkan, Pelajaran Besar dari Tobat Ka’ab bin Malik Langkah Ketiga: Muhasabah dan Mengoreksi DiriAllah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ“Musibah yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan tangan kalian sendiri.” (QS. Asy-Syura: 30)Bukan berarti setiap musibah pasti hukuman, tetapi ayat ini mengajarkan agar kita terlebih dahulu mengoreksi diri.Tanyakan:Apa kesalahan saya?Apa sebab yang mengantarkan masalah ini?Apa yang harus saya perbaiki?Muhasabah membantu seorang muslim memperbaiki dirinya sebelum sibuk menyalahkan orang lain.Baca juga: Musibah Datang Karena Maksiat dan Dosa Langkah Keempat: Cari Akar Masalah, Jangan Hanya Mengobati AkibatnyaMisalnya: Utang bukan selalu masalah utama.Bisa jadi penyebabnya adalah:boros,kurang ilmu,salah memilih partner,malas bekerja,atau bahkan maksiat yang menghilangkan keberkahan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit.وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86). Bahasan ini bisa diperoleh dari buku Dosa itu Candu (Penerbit Rumaysho). Islam mengajarkan agar seorang muslim memperbaiki sebab sebelum sibuk mengatasi akibat. Langkah Kelima: Bermusyawarah dengan Orang yang TepatAllah Ta’ala berfirman,وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ“Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)Tidak semua masalah harus dipikul sendirian. Mintalah nasihat kepada orang tua, guru, ulama, atau ahli yang amanah sesuai bidangnya. Musyawarah membuka peluang untuk melihat solusi yang mungkin luput dari pandangan kita.Baca juga: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Masih Menerima Masukan Pemilihan Tempat Saat Perang Badar dari Al-Hubab bin Al-Mundzir Langkah Keenam: Tempuh Semua Sebab yang Dibenarkan SyariatInilah inti terbesar problem solving dalam Islam.Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ“Apabila engkau telah bertekad maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159)Perhatikan. Tawakal datang setelah ikhtiar.Nabi ﷺ juga bersabda,اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ“Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,وَلَا بُدَّ مَعَ هَذَا الِاعْتِمَادِ مِنْ مُبَاشَرَةِ الْأَسْبَابِ، وَإِلَّا كَانَ مُعَطِّلًا لِلْأَمْرِ وَالْحِكْمَةِ وَالشَّرْعِ، فَلَا يَجْعَلِ الْعَبْدُ عَجْزَهُ تَوَكُّلًا، وَلَا تَوَكُّلَهُ عَجْزًا. “Harus disertai dengan mengambil sebab-sebab. Jika tidak, berarti ia telah menelantarkan perintah, hikmah, dan syariat. Janganlah seseorang menjadikan kelemahannya sebagai tawakal, dan jangan pula menjadikan tawakalnya sebagai alasan untuk tidak berusaha.” Langkah Ketujuh: Bersabar dan Istiqamah Menjalankan SolusiBanyak orang memiliki rencana bagus, tetapi berhenti di tengah jalan.Allah Ta’ala berfirman,وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ“Bersabarlah, dan kesabaranmu hanyalah dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)Problem solving bukan selesai saat menemukan solusi. Tetapi saat solusi dijalankan dengan istiqamah. Langkah Kedelapan: Serahkan Hasilnya kepada AllahSetelah semua sebab ditempuh, hasilnya diserahkan kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Ingatlah bahwa hasil tidak selalu langsung sesuai keinginan manusia. Yang dituntut adalah kesempurnaan ikhtiar dan ketulusan tawakal; adapun hasil akhirnya berada di bawah hikmah dan ketetapan Allah. PenutupDi era serba instan, banyak orang menginginkan jalan keluar yang cepat, tetapi enggan memperbaiki akar persoalannya. Padahal Islam mengajarkan bahwa penyelesaian masalah dimulai dari memperbaiki hati, memperbaiki diri, kemudian memperbaiki ikhtiar. Jangan biarkan emosi mengalahkan hikmah, dan jangan pula menjadikan tawakal sebagai alasan untuk berhenti berusaha. Semoga setiap masalah yang Allah takdirkan menjadi jalan untuk semakin mengenal-Nya, memperbaiki diri, dan menguatkan keimanan. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.Allāhumma aṣliḥ lanā dīnanā alladzī huwa ‘iṣmatu amrinā, wa aṣliḥ lanā dunyānā allatī fīhā ma’āsyunā, wa aṣliḥ lanā ākhiratanā allatī fīhā ma’ādunā, waj’alil-ḥayāta ziyādatan lanā fī kulli khair, waj’alil-mauta rāḥatan lanā min kulli syarr.Ya Allah, perbaikilah agama kami, karena agama itulah yang menjaga seluruh urusan kami. Perbaikilah kehidupan dunia kami, tempat kami menjalani kehidupan. Perbaikilah akhirat kami, tempat kami kembali. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagi kami dari segala keburukan. —– Malam Rabu, 28 Juli 2026Perjalanan dari @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdoa Dzikir ikhtiar menyelesaikan masalah motivasi Islam muhasabah musyawarah problem solving islami sabar tawakal

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleMengapa mereka disebut Al-Jama’ah?Ciri-ciri Ahlus Sunnah wal Jama’ahBersikap pertengahan (wasathiyyah)Sabar dan teguh di atas kebenaranAhlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka disebut Al-Jama’ah karena bersatu di atas kebenaran, bukan karena banyaknya jumlah atau fanatisme kepada golongan tertentu.Mengapa mereka disebut Al-Jama’ah?Mereka disebut Al-Jama’ah karena bersatu di atas kebenaran. Salah satu karakteristik mereka adalah tetap bersatu di atas kebenaran. Mereka menjadikan kebenaran sebagai pegangan dan tidak berpaling kepada selainnya. Oleh karena itu, ketika terjadi perbedaan pendapat dan perselisihan, mereka kembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk mengetahui pendapat yang benar, lalu mengikutinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا“Kemudian jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)Apabila terjadi perselisihan di antara mereka, mereka tidak bersikeras mempertahankan pendapat masing-masing dan tidak pula fanatik terhadap pandangannya. Sebaliknya, mereka mengembalikan perkara yang diperselisihkan tersebut kepada Al-Qur’an dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Apa yang terbukti sejalan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan mereka ikuti, meskipun bertentangan dengan pendapat mereka. Sebaliknya, apa yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah mereka tinggalkan dan tolak, meskipun sesuai dengan keinginan atau hawa nafsu mereka. Inilah jalan dan manhaj yang ditempuh oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.Adapun orang-orang yang enggan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena masih fanatik pada pendapatnya, atau lebih memilih mengikuti pendapat kelompoknya meskipun menyelisihi kebenaran, atau menuruti hawa nafsunya, lalu mengaku berada di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka hakikatnya ia tidak berada di atas manhaj tersebut, meskipun ia mengaku demikian.Karena Ahlus Sunnah adalah mereka yang bersatu dalam Al-Jama’ah, bukan persatuan di atas berbagai macam kelompok atau golongan dengan segala pemikirannya untuk menyelisihi kebenaran. Maka, yang dimaksud dengan Al-Jama’ah bukanlah dari banyaknya jumlah mereka, tetapi yang dimaksud adalah orang yang berada di atas kebenaran, meskipun hanya seorang diri.Jadi, orang yang berada di atas kebenaran itulah yang pantas disebut sebagai Al-Jama’ah dan termasuk juga Ahlus Sunnah. Siapa pun yang berada di atas kebenaran berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, baik jumlahnya sedikit maupun banyak, maka merekalah yang termasuk Al-Jama’ah.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ“Dan jika engkau menuruti kebanyakan orang yang ada di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, dan mereka hanyalah membuat dugaan-dugaan.” (QS. Al-An’am: 116)Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu diukur dengan banyaknya pengikut. Yang menjadi ukuran kebenaran adalah kesesuaiannya dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.Ciri-ciri Ahlus Sunnah wal Jama’ahDi antara ciri-ciri yang paling menonjol dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari berbagai golongan ataupun kelompak yang ada yaitu:Bersikap pertengahan (wasathiyyah)Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah golongan yang selamat yang Allah ‘Azza wa Jalla istimewakan di antara berbagai golongan yang ada. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa umat Islam merupakan umat yang pertengahan di antara berbagai umat yang ada, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا“Dan demikianlah Kami telah menjadikan kalian sebagai umat yang pertengahan.” (QS. Al-Baqarah: 143)Dan Ahlus-Sunnah wal Jama’ah bersikap pertengahan di antara tujuh puluh tiga golongan yang ada. Mereka berada di posisi pertengahan di antara berbagai golongan di dalam umat ini, karena mereka tetap berpegang teguh kepada apa yang diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.Sikap pertengahan ini tampak dalam segala aspek ajaran Islam. Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak bersikap berlebihan dalam beragama dan tidak pula meremehkannya. Mereka senantiasa berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum, sehingga tetap berada di atas jalan yang lurus. Mereka menjadikan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan dalam beragama, bukan berdasarkan hawa nafsu, akal semata, maupun fanatik terhadap golongan tertentu.Sabar dan teguh di atas kebenaranAhlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang memiliki kesabaran dan keteguhan yang luar biasa di atas kebenaran. Mereka tidak tergoyahkan meskipun banyak fitnah, ujian, dan cobaan yang datang silih berganti. Mereka tetap kokoh di atas manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ، قيل: يا رسول الله أجر خمسين رجلًا منا أو منهم؟ قال: بَلْ أَجْرُ خَمْسِينَ رَجُلًا مِنْكُمْ“‘Sesungguhnya setelah kalian akan datang masa-masa yang penuh dengan kesabaran. Pada masa itu, orang yang berpegang teguh kepada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api. Orang yang tetap beramal pada masa tersebut akan mendapatkan pahala seperti pahala lima puluh orang yang melakukan amalan seperti kalian.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari kami atau dari mereka?’ Beliau menjawab, ‘Bahkan pahala lima puluh orang dari kalian.’” (HR. At-Tirmidzi no. 3058)Berpegang teguh kepada sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa-masa fitnah dan banyaknya penyimpangan memiliki keutamaan yang besar, karena beratnya ujian yang ia hadapi berupa kesulitan, celaan, ancaman, hujatan, ejekan, dan perendahan diri. Ditambah lagi sedikitnya orang yang mau mendukung kebenaran, serta banyaknya musuh dan orang-orang yang menentang kebenaran.Oleh sebab itu, seseorang harus bersabar dalam menempuh manhaj as-Salafus-Shalih, meskipun harus menghadapi berbagai bentuk gangguan, baik berupa celaan maupun tekanan yang lebih berat dari itu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awal mulanya. Maka beruntunglah Al-Ghuraba.” (HR. Muslim no. 145)Pertanyaannya adalah siapakah Al-Ghuraba? Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ“Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berbuat kebajikan ketika manusia rusak.” (HR. Ahmad no. 16690)Dalam riwayat lain disebutkan,الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ“Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2630)Oleh karena itu, mereka disebut Al-Ghuraba atau asing karena mereka teguh di atas manhaj yang benar meskipun jumlah mereka sedikit dibandingkan kebanyakan manusia sehingga mereka membutuhkan kesabaran, ketenangan dalam bersikap, dan mengharap pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla semata. Oleh karena itulah, tidak banyak orang yang mampu bertahan di atasnya, kecuali mereka yang diberi taufik oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah jalan yang harus ditempuh oleh setiap muslim yang menginginkan keselamatan dan keberuntungan di dunia maupun di akhirat.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 13-16.

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleMengapa mereka disebut Al-Jama’ah?Ciri-ciri Ahlus Sunnah wal Jama’ahBersikap pertengahan (wasathiyyah)Sabar dan teguh di atas kebenaranAhlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka disebut Al-Jama’ah karena bersatu di atas kebenaran, bukan karena banyaknya jumlah atau fanatisme kepada golongan tertentu.Mengapa mereka disebut Al-Jama’ah?Mereka disebut Al-Jama’ah karena bersatu di atas kebenaran. Salah satu karakteristik mereka adalah tetap bersatu di atas kebenaran. Mereka menjadikan kebenaran sebagai pegangan dan tidak berpaling kepada selainnya. Oleh karena itu, ketika terjadi perbedaan pendapat dan perselisihan, mereka kembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk mengetahui pendapat yang benar, lalu mengikutinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا“Kemudian jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)Apabila terjadi perselisihan di antara mereka, mereka tidak bersikeras mempertahankan pendapat masing-masing dan tidak pula fanatik terhadap pandangannya. Sebaliknya, mereka mengembalikan perkara yang diperselisihkan tersebut kepada Al-Qur’an dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Apa yang terbukti sejalan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan mereka ikuti, meskipun bertentangan dengan pendapat mereka. Sebaliknya, apa yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah mereka tinggalkan dan tolak, meskipun sesuai dengan keinginan atau hawa nafsu mereka. Inilah jalan dan manhaj yang ditempuh oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.Adapun orang-orang yang enggan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena masih fanatik pada pendapatnya, atau lebih memilih mengikuti pendapat kelompoknya meskipun menyelisihi kebenaran, atau menuruti hawa nafsunya, lalu mengaku berada di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka hakikatnya ia tidak berada di atas manhaj tersebut, meskipun ia mengaku demikian.Karena Ahlus Sunnah adalah mereka yang bersatu dalam Al-Jama’ah, bukan persatuan di atas berbagai macam kelompok atau golongan dengan segala pemikirannya untuk menyelisihi kebenaran. Maka, yang dimaksud dengan Al-Jama’ah bukanlah dari banyaknya jumlah mereka, tetapi yang dimaksud adalah orang yang berada di atas kebenaran, meskipun hanya seorang diri.Jadi, orang yang berada di atas kebenaran itulah yang pantas disebut sebagai Al-Jama’ah dan termasuk juga Ahlus Sunnah. Siapa pun yang berada di atas kebenaran berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, baik jumlahnya sedikit maupun banyak, maka merekalah yang termasuk Al-Jama’ah.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ“Dan jika engkau menuruti kebanyakan orang yang ada di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, dan mereka hanyalah membuat dugaan-dugaan.” (QS. Al-An’am: 116)Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu diukur dengan banyaknya pengikut. Yang menjadi ukuran kebenaran adalah kesesuaiannya dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.Ciri-ciri Ahlus Sunnah wal Jama’ahDi antara ciri-ciri yang paling menonjol dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari berbagai golongan ataupun kelompak yang ada yaitu:Bersikap pertengahan (wasathiyyah)Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah golongan yang selamat yang Allah ‘Azza wa Jalla istimewakan di antara berbagai golongan yang ada. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa umat Islam merupakan umat yang pertengahan di antara berbagai umat yang ada, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا“Dan demikianlah Kami telah menjadikan kalian sebagai umat yang pertengahan.” (QS. Al-Baqarah: 143)Dan Ahlus-Sunnah wal Jama’ah bersikap pertengahan di antara tujuh puluh tiga golongan yang ada. Mereka berada di posisi pertengahan di antara berbagai golongan di dalam umat ini, karena mereka tetap berpegang teguh kepada apa yang diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.Sikap pertengahan ini tampak dalam segala aspek ajaran Islam. Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak bersikap berlebihan dalam beragama dan tidak pula meremehkannya. Mereka senantiasa berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum, sehingga tetap berada di atas jalan yang lurus. Mereka menjadikan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan dalam beragama, bukan berdasarkan hawa nafsu, akal semata, maupun fanatik terhadap golongan tertentu.Sabar dan teguh di atas kebenaranAhlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang memiliki kesabaran dan keteguhan yang luar biasa di atas kebenaran. Mereka tidak tergoyahkan meskipun banyak fitnah, ujian, dan cobaan yang datang silih berganti. Mereka tetap kokoh di atas manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ، قيل: يا رسول الله أجر خمسين رجلًا منا أو منهم؟ قال: بَلْ أَجْرُ خَمْسِينَ رَجُلًا مِنْكُمْ“‘Sesungguhnya setelah kalian akan datang masa-masa yang penuh dengan kesabaran. Pada masa itu, orang yang berpegang teguh kepada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api. Orang yang tetap beramal pada masa tersebut akan mendapatkan pahala seperti pahala lima puluh orang yang melakukan amalan seperti kalian.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari kami atau dari mereka?’ Beliau menjawab, ‘Bahkan pahala lima puluh orang dari kalian.’” (HR. At-Tirmidzi no. 3058)Berpegang teguh kepada sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa-masa fitnah dan banyaknya penyimpangan memiliki keutamaan yang besar, karena beratnya ujian yang ia hadapi berupa kesulitan, celaan, ancaman, hujatan, ejekan, dan perendahan diri. Ditambah lagi sedikitnya orang yang mau mendukung kebenaran, serta banyaknya musuh dan orang-orang yang menentang kebenaran.Oleh sebab itu, seseorang harus bersabar dalam menempuh manhaj as-Salafus-Shalih, meskipun harus menghadapi berbagai bentuk gangguan, baik berupa celaan maupun tekanan yang lebih berat dari itu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awal mulanya. Maka beruntunglah Al-Ghuraba.” (HR. Muslim no. 145)Pertanyaannya adalah siapakah Al-Ghuraba? Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ“Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berbuat kebajikan ketika manusia rusak.” (HR. Ahmad no. 16690)Dalam riwayat lain disebutkan,الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ“Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2630)Oleh karena itu, mereka disebut Al-Ghuraba atau asing karena mereka teguh di atas manhaj yang benar meskipun jumlah mereka sedikit dibandingkan kebanyakan manusia sehingga mereka membutuhkan kesabaran, ketenangan dalam bersikap, dan mengharap pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla semata. Oleh karena itulah, tidak banyak orang yang mampu bertahan di atasnya, kecuali mereka yang diberi taufik oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah jalan yang harus ditempuh oleh setiap muslim yang menginginkan keselamatan dan keberuntungan di dunia maupun di akhirat.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 13-16.
Daftar Isi ToggleMengapa mereka disebut Al-Jama’ah?Ciri-ciri Ahlus Sunnah wal Jama’ahBersikap pertengahan (wasathiyyah)Sabar dan teguh di atas kebenaranAhlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka disebut Al-Jama’ah karena bersatu di atas kebenaran, bukan karena banyaknya jumlah atau fanatisme kepada golongan tertentu.Mengapa mereka disebut Al-Jama’ah?Mereka disebut Al-Jama’ah karena bersatu di atas kebenaran. Salah satu karakteristik mereka adalah tetap bersatu di atas kebenaran. Mereka menjadikan kebenaran sebagai pegangan dan tidak berpaling kepada selainnya. Oleh karena itu, ketika terjadi perbedaan pendapat dan perselisihan, mereka kembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk mengetahui pendapat yang benar, lalu mengikutinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا“Kemudian jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)Apabila terjadi perselisihan di antara mereka, mereka tidak bersikeras mempertahankan pendapat masing-masing dan tidak pula fanatik terhadap pandangannya. Sebaliknya, mereka mengembalikan perkara yang diperselisihkan tersebut kepada Al-Qur’an dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Apa yang terbukti sejalan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan mereka ikuti, meskipun bertentangan dengan pendapat mereka. Sebaliknya, apa yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah mereka tinggalkan dan tolak, meskipun sesuai dengan keinginan atau hawa nafsu mereka. Inilah jalan dan manhaj yang ditempuh oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.Adapun orang-orang yang enggan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena masih fanatik pada pendapatnya, atau lebih memilih mengikuti pendapat kelompoknya meskipun menyelisihi kebenaran, atau menuruti hawa nafsunya, lalu mengaku berada di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka hakikatnya ia tidak berada di atas manhaj tersebut, meskipun ia mengaku demikian.Karena Ahlus Sunnah adalah mereka yang bersatu dalam Al-Jama’ah, bukan persatuan di atas berbagai macam kelompok atau golongan dengan segala pemikirannya untuk menyelisihi kebenaran. Maka, yang dimaksud dengan Al-Jama’ah bukanlah dari banyaknya jumlah mereka, tetapi yang dimaksud adalah orang yang berada di atas kebenaran, meskipun hanya seorang diri.Jadi, orang yang berada di atas kebenaran itulah yang pantas disebut sebagai Al-Jama’ah dan termasuk juga Ahlus Sunnah. Siapa pun yang berada di atas kebenaran berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, baik jumlahnya sedikit maupun banyak, maka merekalah yang termasuk Al-Jama’ah.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ“Dan jika engkau menuruti kebanyakan orang yang ada di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, dan mereka hanyalah membuat dugaan-dugaan.” (QS. Al-An’am: 116)Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu diukur dengan banyaknya pengikut. Yang menjadi ukuran kebenaran adalah kesesuaiannya dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.Ciri-ciri Ahlus Sunnah wal Jama’ahDi antara ciri-ciri yang paling menonjol dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari berbagai golongan ataupun kelompak yang ada yaitu:Bersikap pertengahan (wasathiyyah)Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah golongan yang selamat yang Allah ‘Azza wa Jalla istimewakan di antara berbagai golongan yang ada. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa umat Islam merupakan umat yang pertengahan di antara berbagai umat yang ada, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا“Dan demikianlah Kami telah menjadikan kalian sebagai umat yang pertengahan.” (QS. Al-Baqarah: 143)Dan Ahlus-Sunnah wal Jama’ah bersikap pertengahan di antara tujuh puluh tiga golongan yang ada. Mereka berada di posisi pertengahan di antara berbagai golongan di dalam umat ini, karena mereka tetap berpegang teguh kepada apa yang diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.Sikap pertengahan ini tampak dalam segala aspek ajaran Islam. Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak bersikap berlebihan dalam beragama dan tidak pula meremehkannya. Mereka senantiasa berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum, sehingga tetap berada di atas jalan yang lurus. Mereka menjadikan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan dalam beragama, bukan berdasarkan hawa nafsu, akal semata, maupun fanatik terhadap golongan tertentu.Sabar dan teguh di atas kebenaranAhlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang memiliki kesabaran dan keteguhan yang luar biasa di atas kebenaran. Mereka tidak tergoyahkan meskipun banyak fitnah, ujian, dan cobaan yang datang silih berganti. Mereka tetap kokoh di atas manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ، قيل: يا رسول الله أجر خمسين رجلًا منا أو منهم؟ قال: بَلْ أَجْرُ خَمْسِينَ رَجُلًا مِنْكُمْ“‘Sesungguhnya setelah kalian akan datang masa-masa yang penuh dengan kesabaran. Pada masa itu, orang yang berpegang teguh kepada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api. Orang yang tetap beramal pada masa tersebut akan mendapatkan pahala seperti pahala lima puluh orang yang melakukan amalan seperti kalian.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari kami atau dari mereka?’ Beliau menjawab, ‘Bahkan pahala lima puluh orang dari kalian.’” (HR. At-Tirmidzi no. 3058)Berpegang teguh kepada sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa-masa fitnah dan banyaknya penyimpangan memiliki keutamaan yang besar, karena beratnya ujian yang ia hadapi berupa kesulitan, celaan, ancaman, hujatan, ejekan, dan perendahan diri. Ditambah lagi sedikitnya orang yang mau mendukung kebenaran, serta banyaknya musuh dan orang-orang yang menentang kebenaran.Oleh sebab itu, seseorang harus bersabar dalam menempuh manhaj as-Salafus-Shalih, meskipun harus menghadapi berbagai bentuk gangguan, baik berupa celaan maupun tekanan yang lebih berat dari itu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awal mulanya. Maka beruntunglah Al-Ghuraba.” (HR. Muslim no. 145)Pertanyaannya adalah siapakah Al-Ghuraba? Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ“Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berbuat kebajikan ketika manusia rusak.” (HR. Ahmad no. 16690)Dalam riwayat lain disebutkan,الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ“Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2630)Oleh karena itu, mereka disebut Al-Ghuraba atau asing karena mereka teguh di atas manhaj yang benar meskipun jumlah mereka sedikit dibandingkan kebanyakan manusia sehingga mereka membutuhkan kesabaran, ketenangan dalam bersikap, dan mengharap pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla semata. Oleh karena itulah, tidak banyak orang yang mampu bertahan di atasnya, kecuali mereka yang diberi taufik oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah jalan yang harus ditempuh oleh setiap muslim yang menginginkan keselamatan dan keberuntungan di dunia maupun di akhirat.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 13-16.


Daftar Isi ToggleMengapa mereka disebut Al-Jama’ah?Ciri-ciri Ahlus Sunnah wal Jama’ahBersikap pertengahan (wasathiyyah)Sabar dan teguh di atas kebenaranAhlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka disebut Al-Jama’ah karena bersatu di atas kebenaran, bukan karena banyaknya jumlah atau fanatisme kepada golongan tertentu.Mengapa mereka disebut Al-Jama’ah?Mereka disebut Al-Jama’ah karena bersatu di atas kebenaran. Salah satu karakteristik mereka adalah tetap bersatu di atas kebenaran. Mereka menjadikan kebenaran sebagai pegangan dan tidak berpaling kepada selainnya. Oleh karena itu, ketika terjadi perbedaan pendapat dan perselisihan, mereka kembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk mengetahui pendapat yang benar, lalu mengikutinya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا“Kemudian jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)Apabila terjadi perselisihan di antara mereka, mereka tidak bersikeras mempertahankan pendapat masing-masing dan tidak pula fanatik terhadap pandangannya. Sebaliknya, mereka mengembalikan perkara yang diperselisihkan tersebut kepada Al-Qur’an dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Apa yang terbukti sejalan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan mereka ikuti, meskipun bertentangan dengan pendapat mereka. Sebaliknya, apa yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah mereka tinggalkan dan tolak, meskipun sesuai dengan keinginan atau hawa nafsu mereka. Inilah jalan dan manhaj yang ditempuh oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.Adapun orang-orang yang enggan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena masih fanatik pada pendapatnya, atau lebih memilih mengikuti pendapat kelompoknya meskipun menyelisihi kebenaran, atau menuruti hawa nafsunya, lalu mengaku berada di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka hakikatnya ia tidak berada di atas manhaj tersebut, meskipun ia mengaku demikian.Karena Ahlus Sunnah adalah mereka yang bersatu dalam Al-Jama’ah, bukan persatuan di atas berbagai macam kelompok atau golongan dengan segala pemikirannya untuk menyelisihi kebenaran. Maka, yang dimaksud dengan Al-Jama’ah bukanlah dari banyaknya jumlah mereka, tetapi yang dimaksud adalah orang yang berada di atas kebenaran, meskipun hanya seorang diri.Jadi, orang yang berada di atas kebenaran itulah yang pantas disebut sebagai Al-Jama’ah dan termasuk juga Ahlus Sunnah. Siapa pun yang berada di atas kebenaran berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, baik jumlahnya sedikit maupun banyak, maka merekalah yang termasuk Al-Jama’ah.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ“Dan jika engkau menuruti kebanyakan orang yang ada di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, dan mereka hanyalah membuat dugaan-dugaan.” (QS. Al-An’am: 116)Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu diukur dengan banyaknya pengikut. Yang menjadi ukuran kebenaran adalah kesesuaiannya dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.Ciri-ciri Ahlus Sunnah wal Jama’ahDi antara ciri-ciri yang paling menonjol dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari berbagai golongan ataupun kelompak yang ada yaitu:Bersikap pertengahan (wasathiyyah)Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah golongan yang selamat yang Allah ‘Azza wa Jalla istimewakan di antara berbagai golongan yang ada. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa umat Islam merupakan umat yang pertengahan di antara berbagai umat yang ada, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا“Dan demikianlah Kami telah menjadikan kalian sebagai umat yang pertengahan.” (QS. Al-Baqarah: 143)Dan Ahlus-Sunnah wal Jama’ah bersikap pertengahan di antara tujuh puluh tiga golongan yang ada. Mereka berada di posisi pertengahan di antara berbagai golongan di dalam umat ini, karena mereka tetap berpegang teguh kepada apa yang diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.Sikap pertengahan ini tampak dalam segala aspek ajaran Islam. Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak bersikap berlebihan dalam beragama dan tidak pula meremehkannya. Mereka senantiasa berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum, sehingga tetap berada di atas jalan yang lurus. Mereka menjadikan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan dalam beragama, bukan berdasarkan hawa nafsu, akal semata, maupun fanatik terhadap golongan tertentu.Sabar dan teguh di atas kebenaranAhlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang memiliki kesabaran dan keteguhan yang luar biasa di atas kebenaran. Mereka tidak tergoyahkan meskipun banyak fitnah, ujian, dan cobaan yang datang silih berganti. Mereka tetap kokoh di atas manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ، قيل: يا رسول الله أجر خمسين رجلًا منا أو منهم؟ قال: بَلْ أَجْرُ خَمْسِينَ رَجُلًا مِنْكُمْ“‘Sesungguhnya setelah kalian akan datang masa-masa yang penuh dengan kesabaran. Pada masa itu, orang yang berpegang teguh kepada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api. Orang yang tetap beramal pada masa tersebut akan mendapatkan pahala seperti pahala lima puluh orang yang melakukan amalan seperti kalian.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari kami atau dari mereka?’ Beliau menjawab, ‘Bahkan pahala lima puluh orang dari kalian.’” (HR. At-Tirmidzi no. 3058)Berpegang teguh kepada sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa-masa fitnah dan banyaknya penyimpangan memiliki keutamaan yang besar, karena beratnya ujian yang ia hadapi berupa kesulitan, celaan, ancaman, hujatan, ejekan, dan perendahan diri. Ditambah lagi sedikitnya orang yang mau mendukung kebenaran, serta banyaknya musuh dan orang-orang yang menentang kebenaran.Oleh sebab itu, seseorang harus bersabar dalam menempuh manhaj as-Salafus-Shalih, meskipun harus menghadapi berbagai bentuk gangguan, baik berupa celaan maupun tekanan yang lebih berat dari itu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awal mulanya. Maka beruntunglah Al-Ghuraba.” (HR. Muslim no. 145)Pertanyaannya adalah siapakah Al-Ghuraba? Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ“Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berbuat kebajikan ketika manusia rusak.” (HR. Ahmad no. 16690)Dalam riwayat lain disebutkan,الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ“Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2630)Oleh karena itu, mereka disebut Al-Ghuraba atau asing karena mereka teguh di atas manhaj yang benar meskipun jumlah mereka sedikit dibandingkan kebanyakan manusia sehingga mereka membutuhkan kesabaran, ketenangan dalam bersikap, dan mengharap pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla semata. Oleh karena itulah, tidak banyak orang yang mampu bertahan di atasnya, kecuali mereka yang diberi taufik oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah jalan yang harus ditempuh oleh setiap muslim yang menginginkan keselamatan dan keberuntungan di dunia maupun di akhirat.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 13-16.

Pintu Terdekat Menuju Allah: Semakin Fakir Kepada-Nya, Semakin Bahagia – Syaikh Shalih As-Sindi

Poin kelima: Pintu terdekat yang mengantarkan seseorang kepada Allah Jalla wa ‘Ala adalah menampakkan kefakirannya kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu engkau menampakkan kefakiran dan ketergantunganmu kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Demi Allah, inilah hakikat kebahagiaan seorang hamba. Inilah keadaan hamba-hamba Allah Jalla wa ‘Ala yang tulus: engkau menampakkan kefakiranmu kepada Allah dengan hati, lisan, dan anggota badanmu. Menampakkan kefakiran ini termasuk perkara terbesar yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, ucapan seorang hamba, “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah,” merupakan salah satu perbendaharaan surga, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah kalimat yang agung. Di dalamnya seorang hamba menyatakan dengan jelas kefakirannya kepada Allah Jalla wa ‘Ala, dan bahwa Rabbnya adalah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Selama engkau menyadari kefakiranmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketahuilah bahwa engkau berada dalam kebaikan yang besar. Engkau merasa fakir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, bahkan menampakkan kefakiran itu dengan seluruh relung jiwa dan anggota badanmu. Hatimu menyuarakan kefakirannya kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Hatimu meyakini bahwa manusia tidak memiliki sesuatu pun dari dirinya sendiri dan tidak ada sesuatu pun yang bergantung kepadanya. Segala urusan terlaksana dengan pertolongan Allah dan seluruhnya harus ditujukan kepada Allah. Inilah yang harus tertanam dalam hatimu pada setiap saat dalam hidupmu. Demikian pula, engkau menampakkan kefakiran itu dengan lisanmu. Karena itu, di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dan selainnya, dan ini termasuk doa orang yang sedang ditimpa kesusahan, seorang hamba berdoa, “Ya Allah, rahmat-Mu yang kuharapkan. Janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata. Perbaikilah seluruh urusanku. Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.” (Lihat HR. Abu Daud no. 5090, dengan lafaz yang berbeda). Mengapa? Karena jika manusia diserahkan kepada dirinya sendiri, niscaya ia akan tersesat. Ia akan terombang-ambing dalam kegelapan yang pekat. Sama sekali tidak ada harapan baginya untuk selamat, kecuali jika Allah mengurusnya dan ia berada dalam penjagaan, perlindungan, pemeliharaan, serta petunjuk-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Maka lisanmu senantiasa mengucapkannya. Lisanmu terus melantunkan hauqalah: “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” — tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Engkau menyatakan kepada Allah bahwa engkau berlepas dari daya dan kekuatanmu sendiri, lalu bersandar kepada daya dan kekuatan-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Engkau menyatakan bahwa dirimu tidak memiliki apa pun bagi dirimu sendiri, dan bahwa seluruh urusan adalah milik Allah. Demikian pula engkau menampakkan kefakiran kepada Allah Jalla wa ‘Ala melalui anggota badanmu, yaitu dengan bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara bentuk terbesar dalam menampakkan kefakiran adalah salat, terutama rukuk, dan yang lebih agung lagi adalah sujud. Rukuk adalah pengagungan kepada Allah, sedangkan sujud adalah ketundukan dan kerendahan diri di hadapan-Nya. Keduanya merupakan wujud kefakiran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka perbanyaklah salat, perbanyaklah rukuk, dan perbanyaklah sujud. Sebab, ini merupakan sarana yang mendatangkan rida Rabbmu Subhanahu wa Ta’ala kepadamu. Wallahul musta’an. ===== الْمَسْأَلَةُ الْخَامِسَةُ: أَقْرَبُ الْأَبْوَابِ الْمُوصِلَةِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا إِظْهَارُ الِافْتِقَارِ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ تُظْهِرَ فَقْرَكَ وَحَاجَتَكَ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا وَاللهِ عَيْنُ سَعَادَةِ الْعَبْدِ وَهَذَا شَأْنُ الْخُلَّصِ مِنْ عِبَادِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا أَنْ تُظْهِرَ افْتِقَارَكَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا بِقَلْبِكَ وَلِسَانِكَ وَجَوَارِحِكَ هَذَا الْإِظْهَارُ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُحِبُّهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِذَا كَانَ قَوْلُ الْعَبْدِ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، كَانَ كَنْزًا مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ، كَمَا أَخْبَرَ بِهَذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ كَلِمَةٌ عَظِيمَةٌ فِيهَا تَصْرِيحُ الْعَبْدِ بِافْتِقَارِهِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا، وَأَنَّ رَبَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ فَمَهْمَا كُنْتَ مُفْتَقِرًا إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، فَاعْلَمْ أَنَّكَ عَلَى خَيْرٍ عَظِيمٍ تَفْتَقِرُ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا، بَلْ تُظْهِرُ هَذَا الِافْتِقَارَ بِكُلِّ حَنَايَاكَ وَجَوَارِحِكَ فَقَلْبُكَ يَنْطِقُ بِالِافْتِقَارِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا هُوَ مُنْعَقِدٌ عَلَى أَنَّ الْإِنْسَانَ لَيْسَ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَا إِلَيْهِ شَيْءٌ وَأَنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ بِاللهِ وَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ لِلهِ. هَذَا مَا يَجِبُ أَنْ يَنْعَقِدَ عَلَيْهِ قَلْبُكَ فِي كُلِّ لَحْظَةٍ مِنْ لَحَظَاتِ حَيَاتِكَ وَكَذَلِكَ أَنْ تُظْهِرَ هَذَا الِافْتِقَارَ بِلِسَانِكَ وَلِذَا كَانَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ وَهُوَ مِنْ دُعَاءِ الْمَكْرُوبِ أَنْ يَقُولَ الْعَبْدُ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍوَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ لَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ لَوْ وُكِلَ إِلَى نَفْسِهِ فَإِنَّهُ سَيَضِيعُ سَيَتِيهُ فِي ظَلَامٍ دَامِسٍ، فَلَيْسَ لَهُ أَمَلٌ فِي النَّجَاةِ قَطُّ إِلَّا بِأَنْ يَتَوَلَّاهُ اللهُ، وَأَنْ يَكُونَ فِي حِفْظِهِ وَكَلَاءَتِهِ وَرِعَايَتِهِ وَهِدَايَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَلْهَجُ لِسَانُكَ بِهَذَا، يَلْهَجُ لِسَانُكَ بِالْحَوْقَلَةِ. تَقُولُ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ تَبْرَأُ إِلَى اللهِ مِنْ حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ إِلَى حَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى تُعْلِنُ أَنَّكَ لَا تَمْلِكُ شَيْئًا لِنَفْسِكَ، وَأَنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلهِ وَأَيْضًا أَنْ تُظْهِرَ الِافْتِقَارَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا بِجَوَارِحِكَ، وَذَلِكَ بِأَنْ تَجْتَهِدَ فِي عِبَادَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمِنْ أَعْظَمِ مَا يُظْهِرُ الِافْتِقَارَ عِبَادَةُ الصَّلَاةِ، وَلَا سِيَّمَا الرُّكُوعُ، وَأَعْظَمُ مِنْهُ السُّجُودُ فَالرُّكُوعُ تَعْظِيمٌ لِلهِ، وَالسُّجُودُ ذُلٌّ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَكِلَاهُمَا افْتِقَارٌ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَكْثِرْ مِنَ الصَّلَاةِ، وَأَكْثِرْ مِنَ الرُّكُوعِ، وَأَكْثِرْ مِنَ السُّجُودِ فَإِنَّ هَذَا وَسِيلَةٌ مُرْضِيَةٌ لِرَبِّكَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْكَ. وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ

Pintu Terdekat Menuju Allah: Semakin Fakir Kepada-Nya, Semakin Bahagia – Syaikh Shalih As-Sindi

Poin kelima: Pintu terdekat yang mengantarkan seseorang kepada Allah Jalla wa ‘Ala adalah menampakkan kefakirannya kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu engkau menampakkan kefakiran dan ketergantunganmu kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Demi Allah, inilah hakikat kebahagiaan seorang hamba. Inilah keadaan hamba-hamba Allah Jalla wa ‘Ala yang tulus: engkau menampakkan kefakiranmu kepada Allah dengan hati, lisan, dan anggota badanmu. Menampakkan kefakiran ini termasuk perkara terbesar yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, ucapan seorang hamba, “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah,” merupakan salah satu perbendaharaan surga, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah kalimat yang agung. Di dalamnya seorang hamba menyatakan dengan jelas kefakirannya kepada Allah Jalla wa ‘Ala, dan bahwa Rabbnya adalah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Selama engkau menyadari kefakiranmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketahuilah bahwa engkau berada dalam kebaikan yang besar. Engkau merasa fakir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, bahkan menampakkan kefakiran itu dengan seluruh relung jiwa dan anggota badanmu. Hatimu menyuarakan kefakirannya kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Hatimu meyakini bahwa manusia tidak memiliki sesuatu pun dari dirinya sendiri dan tidak ada sesuatu pun yang bergantung kepadanya. Segala urusan terlaksana dengan pertolongan Allah dan seluruhnya harus ditujukan kepada Allah. Inilah yang harus tertanam dalam hatimu pada setiap saat dalam hidupmu. Demikian pula, engkau menampakkan kefakiran itu dengan lisanmu. Karena itu, di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dan selainnya, dan ini termasuk doa orang yang sedang ditimpa kesusahan, seorang hamba berdoa, “Ya Allah, rahmat-Mu yang kuharapkan. Janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata. Perbaikilah seluruh urusanku. Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.” (Lihat HR. Abu Daud no. 5090, dengan lafaz yang berbeda). Mengapa? Karena jika manusia diserahkan kepada dirinya sendiri, niscaya ia akan tersesat. Ia akan terombang-ambing dalam kegelapan yang pekat. Sama sekali tidak ada harapan baginya untuk selamat, kecuali jika Allah mengurusnya dan ia berada dalam penjagaan, perlindungan, pemeliharaan, serta petunjuk-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Maka lisanmu senantiasa mengucapkannya. Lisanmu terus melantunkan hauqalah: “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” — tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Engkau menyatakan kepada Allah bahwa engkau berlepas dari daya dan kekuatanmu sendiri, lalu bersandar kepada daya dan kekuatan-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Engkau menyatakan bahwa dirimu tidak memiliki apa pun bagi dirimu sendiri, dan bahwa seluruh urusan adalah milik Allah. Demikian pula engkau menampakkan kefakiran kepada Allah Jalla wa ‘Ala melalui anggota badanmu, yaitu dengan bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara bentuk terbesar dalam menampakkan kefakiran adalah salat, terutama rukuk, dan yang lebih agung lagi adalah sujud. Rukuk adalah pengagungan kepada Allah, sedangkan sujud adalah ketundukan dan kerendahan diri di hadapan-Nya. Keduanya merupakan wujud kefakiran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka perbanyaklah salat, perbanyaklah rukuk, dan perbanyaklah sujud. Sebab, ini merupakan sarana yang mendatangkan rida Rabbmu Subhanahu wa Ta’ala kepadamu. Wallahul musta’an. ===== الْمَسْأَلَةُ الْخَامِسَةُ: أَقْرَبُ الْأَبْوَابِ الْمُوصِلَةِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا إِظْهَارُ الِافْتِقَارِ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ تُظْهِرَ فَقْرَكَ وَحَاجَتَكَ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا وَاللهِ عَيْنُ سَعَادَةِ الْعَبْدِ وَهَذَا شَأْنُ الْخُلَّصِ مِنْ عِبَادِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا أَنْ تُظْهِرَ افْتِقَارَكَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا بِقَلْبِكَ وَلِسَانِكَ وَجَوَارِحِكَ هَذَا الْإِظْهَارُ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُحِبُّهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِذَا كَانَ قَوْلُ الْعَبْدِ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، كَانَ كَنْزًا مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ، كَمَا أَخْبَرَ بِهَذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ كَلِمَةٌ عَظِيمَةٌ فِيهَا تَصْرِيحُ الْعَبْدِ بِافْتِقَارِهِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا، وَأَنَّ رَبَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ فَمَهْمَا كُنْتَ مُفْتَقِرًا إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، فَاعْلَمْ أَنَّكَ عَلَى خَيْرٍ عَظِيمٍ تَفْتَقِرُ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا، بَلْ تُظْهِرُ هَذَا الِافْتِقَارَ بِكُلِّ حَنَايَاكَ وَجَوَارِحِكَ فَقَلْبُكَ يَنْطِقُ بِالِافْتِقَارِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا هُوَ مُنْعَقِدٌ عَلَى أَنَّ الْإِنْسَانَ لَيْسَ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَا إِلَيْهِ شَيْءٌ وَأَنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ بِاللهِ وَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ لِلهِ. هَذَا مَا يَجِبُ أَنْ يَنْعَقِدَ عَلَيْهِ قَلْبُكَ فِي كُلِّ لَحْظَةٍ مِنْ لَحَظَاتِ حَيَاتِكَ وَكَذَلِكَ أَنْ تُظْهِرَ هَذَا الِافْتِقَارَ بِلِسَانِكَ وَلِذَا كَانَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ وَهُوَ مِنْ دُعَاءِ الْمَكْرُوبِ أَنْ يَقُولَ الْعَبْدُ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍوَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ لَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ لَوْ وُكِلَ إِلَى نَفْسِهِ فَإِنَّهُ سَيَضِيعُ سَيَتِيهُ فِي ظَلَامٍ دَامِسٍ، فَلَيْسَ لَهُ أَمَلٌ فِي النَّجَاةِ قَطُّ إِلَّا بِأَنْ يَتَوَلَّاهُ اللهُ، وَأَنْ يَكُونَ فِي حِفْظِهِ وَكَلَاءَتِهِ وَرِعَايَتِهِ وَهِدَايَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَلْهَجُ لِسَانُكَ بِهَذَا، يَلْهَجُ لِسَانُكَ بِالْحَوْقَلَةِ. تَقُولُ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ تَبْرَأُ إِلَى اللهِ مِنْ حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ إِلَى حَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى تُعْلِنُ أَنَّكَ لَا تَمْلِكُ شَيْئًا لِنَفْسِكَ، وَأَنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلهِ وَأَيْضًا أَنْ تُظْهِرَ الِافْتِقَارَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا بِجَوَارِحِكَ، وَذَلِكَ بِأَنْ تَجْتَهِدَ فِي عِبَادَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمِنْ أَعْظَمِ مَا يُظْهِرُ الِافْتِقَارَ عِبَادَةُ الصَّلَاةِ، وَلَا سِيَّمَا الرُّكُوعُ، وَأَعْظَمُ مِنْهُ السُّجُودُ فَالرُّكُوعُ تَعْظِيمٌ لِلهِ، وَالسُّجُودُ ذُلٌّ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَكِلَاهُمَا افْتِقَارٌ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَكْثِرْ مِنَ الصَّلَاةِ، وَأَكْثِرْ مِنَ الرُّكُوعِ، وَأَكْثِرْ مِنَ السُّجُودِ فَإِنَّ هَذَا وَسِيلَةٌ مُرْضِيَةٌ لِرَبِّكَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْكَ. وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ
Poin kelima: Pintu terdekat yang mengantarkan seseorang kepada Allah Jalla wa ‘Ala adalah menampakkan kefakirannya kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu engkau menampakkan kefakiran dan ketergantunganmu kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Demi Allah, inilah hakikat kebahagiaan seorang hamba. Inilah keadaan hamba-hamba Allah Jalla wa ‘Ala yang tulus: engkau menampakkan kefakiranmu kepada Allah dengan hati, lisan, dan anggota badanmu. Menampakkan kefakiran ini termasuk perkara terbesar yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, ucapan seorang hamba, “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah,” merupakan salah satu perbendaharaan surga, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah kalimat yang agung. Di dalamnya seorang hamba menyatakan dengan jelas kefakirannya kepada Allah Jalla wa ‘Ala, dan bahwa Rabbnya adalah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Selama engkau menyadari kefakiranmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketahuilah bahwa engkau berada dalam kebaikan yang besar. Engkau merasa fakir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, bahkan menampakkan kefakiran itu dengan seluruh relung jiwa dan anggota badanmu. Hatimu menyuarakan kefakirannya kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Hatimu meyakini bahwa manusia tidak memiliki sesuatu pun dari dirinya sendiri dan tidak ada sesuatu pun yang bergantung kepadanya. Segala urusan terlaksana dengan pertolongan Allah dan seluruhnya harus ditujukan kepada Allah. Inilah yang harus tertanam dalam hatimu pada setiap saat dalam hidupmu. Demikian pula, engkau menampakkan kefakiran itu dengan lisanmu. Karena itu, di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dan selainnya, dan ini termasuk doa orang yang sedang ditimpa kesusahan, seorang hamba berdoa, “Ya Allah, rahmat-Mu yang kuharapkan. Janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata. Perbaikilah seluruh urusanku. Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.” (Lihat HR. Abu Daud no. 5090, dengan lafaz yang berbeda). Mengapa? Karena jika manusia diserahkan kepada dirinya sendiri, niscaya ia akan tersesat. Ia akan terombang-ambing dalam kegelapan yang pekat. Sama sekali tidak ada harapan baginya untuk selamat, kecuali jika Allah mengurusnya dan ia berada dalam penjagaan, perlindungan, pemeliharaan, serta petunjuk-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Maka lisanmu senantiasa mengucapkannya. Lisanmu terus melantunkan hauqalah: “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” — tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Engkau menyatakan kepada Allah bahwa engkau berlepas dari daya dan kekuatanmu sendiri, lalu bersandar kepada daya dan kekuatan-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Engkau menyatakan bahwa dirimu tidak memiliki apa pun bagi dirimu sendiri, dan bahwa seluruh urusan adalah milik Allah. Demikian pula engkau menampakkan kefakiran kepada Allah Jalla wa ‘Ala melalui anggota badanmu, yaitu dengan bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara bentuk terbesar dalam menampakkan kefakiran adalah salat, terutama rukuk, dan yang lebih agung lagi adalah sujud. Rukuk adalah pengagungan kepada Allah, sedangkan sujud adalah ketundukan dan kerendahan diri di hadapan-Nya. Keduanya merupakan wujud kefakiran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka perbanyaklah salat, perbanyaklah rukuk, dan perbanyaklah sujud. Sebab, ini merupakan sarana yang mendatangkan rida Rabbmu Subhanahu wa Ta’ala kepadamu. Wallahul musta’an. ===== الْمَسْأَلَةُ الْخَامِسَةُ: أَقْرَبُ الْأَبْوَابِ الْمُوصِلَةِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا إِظْهَارُ الِافْتِقَارِ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ تُظْهِرَ فَقْرَكَ وَحَاجَتَكَ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا وَاللهِ عَيْنُ سَعَادَةِ الْعَبْدِ وَهَذَا شَأْنُ الْخُلَّصِ مِنْ عِبَادِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا أَنْ تُظْهِرَ افْتِقَارَكَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا بِقَلْبِكَ وَلِسَانِكَ وَجَوَارِحِكَ هَذَا الْإِظْهَارُ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُحِبُّهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِذَا كَانَ قَوْلُ الْعَبْدِ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، كَانَ كَنْزًا مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ، كَمَا أَخْبَرَ بِهَذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ كَلِمَةٌ عَظِيمَةٌ فِيهَا تَصْرِيحُ الْعَبْدِ بِافْتِقَارِهِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا، وَأَنَّ رَبَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ فَمَهْمَا كُنْتَ مُفْتَقِرًا إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، فَاعْلَمْ أَنَّكَ عَلَى خَيْرٍ عَظِيمٍ تَفْتَقِرُ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا، بَلْ تُظْهِرُ هَذَا الِافْتِقَارَ بِكُلِّ حَنَايَاكَ وَجَوَارِحِكَ فَقَلْبُكَ يَنْطِقُ بِالِافْتِقَارِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا هُوَ مُنْعَقِدٌ عَلَى أَنَّ الْإِنْسَانَ لَيْسَ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَا إِلَيْهِ شَيْءٌ وَأَنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ بِاللهِ وَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ لِلهِ. هَذَا مَا يَجِبُ أَنْ يَنْعَقِدَ عَلَيْهِ قَلْبُكَ فِي كُلِّ لَحْظَةٍ مِنْ لَحَظَاتِ حَيَاتِكَ وَكَذَلِكَ أَنْ تُظْهِرَ هَذَا الِافْتِقَارَ بِلِسَانِكَ وَلِذَا كَانَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ وَهُوَ مِنْ دُعَاءِ الْمَكْرُوبِ أَنْ يَقُولَ الْعَبْدُ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍوَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ لَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ لَوْ وُكِلَ إِلَى نَفْسِهِ فَإِنَّهُ سَيَضِيعُ سَيَتِيهُ فِي ظَلَامٍ دَامِسٍ، فَلَيْسَ لَهُ أَمَلٌ فِي النَّجَاةِ قَطُّ إِلَّا بِأَنْ يَتَوَلَّاهُ اللهُ، وَأَنْ يَكُونَ فِي حِفْظِهِ وَكَلَاءَتِهِ وَرِعَايَتِهِ وَهِدَايَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَلْهَجُ لِسَانُكَ بِهَذَا، يَلْهَجُ لِسَانُكَ بِالْحَوْقَلَةِ. تَقُولُ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ تَبْرَأُ إِلَى اللهِ مِنْ حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ إِلَى حَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى تُعْلِنُ أَنَّكَ لَا تَمْلِكُ شَيْئًا لِنَفْسِكَ، وَأَنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلهِ وَأَيْضًا أَنْ تُظْهِرَ الِافْتِقَارَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا بِجَوَارِحِكَ، وَذَلِكَ بِأَنْ تَجْتَهِدَ فِي عِبَادَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمِنْ أَعْظَمِ مَا يُظْهِرُ الِافْتِقَارَ عِبَادَةُ الصَّلَاةِ، وَلَا سِيَّمَا الرُّكُوعُ، وَأَعْظَمُ مِنْهُ السُّجُودُ فَالرُّكُوعُ تَعْظِيمٌ لِلهِ، وَالسُّجُودُ ذُلٌّ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَكِلَاهُمَا افْتِقَارٌ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَكْثِرْ مِنَ الصَّلَاةِ، وَأَكْثِرْ مِنَ الرُّكُوعِ، وَأَكْثِرْ مِنَ السُّجُودِ فَإِنَّ هَذَا وَسِيلَةٌ مُرْضِيَةٌ لِرَبِّكَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْكَ. وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ


Poin kelima: Pintu terdekat yang mengantarkan seseorang kepada Allah Jalla wa ‘Ala adalah menampakkan kefakirannya kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu engkau menampakkan kefakiran dan ketergantunganmu kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Demi Allah, inilah hakikat kebahagiaan seorang hamba. Inilah keadaan hamba-hamba Allah Jalla wa ‘Ala yang tulus: engkau menampakkan kefakiranmu kepada Allah dengan hati, lisan, dan anggota badanmu. Menampakkan kefakiran ini termasuk perkara terbesar yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, ucapan seorang hamba, “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah,” merupakan salah satu perbendaharaan surga, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah kalimat yang agung. Di dalamnya seorang hamba menyatakan dengan jelas kefakirannya kepada Allah Jalla wa ‘Ala, dan bahwa Rabbnya adalah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Selama engkau menyadari kefakiranmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketahuilah bahwa engkau berada dalam kebaikan yang besar. Engkau merasa fakir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, bahkan menampakkan kefakiran itu dengan seluruh relung jiwa dan anggota badanmu. Hatimu menyuarakan kefakirannya kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Hatimu meyakini bahwa manusia tidak memiliki sesuatu pun dari dirinya sendiri dan tidak ada sesuatu pun yang bergantung kepadanya. Segala urusan terlaksana dengan pertolongan Allah dan seluruhnya harus ditujukan kepada Allah. Inilah yang harus tertanam dalam hatimu pada setiap saat dalam hidupmu. Demikian pula, engkau menampakkan kefakiran itu dengan lisanmu. Karena itu, di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dan selainnya, dan ini termasuk doa orang yang sedang ditimpa kesusahan, seorang hamba berdoa, “Ya Allah, rahmat-Mu yang kuharapkan. Janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata. Perbaikilah seluruh urusanku. Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.” (Lihat HR. Abu Daud no. 5090, dengan lafaz yang berbeda). Mengapa? Karena jika manusia diserahkan kepada dirinya sendiri, niscaya ia akan tersesat. Ia akan terombang-ambing dalam kegelapan yang pekat. Sama sekali tidak ada harapan baginya untuk selamat, kecuali jika Allah mengurusnya dan ia berada dalam penjagaan, perlindungan, pemeliharaan, serta petunjuk-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Maka lisanmu senantiasa mengucapkannya. Lisanmu terus melantunkan hauqalah: “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” — tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Engkau menyatakan kepada Allah bahwa engkau berlepas dari daya dan kekuatanmu sendiri, lalu bersandar kepada daya dan kekuatan-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Engkau menyatakan bahwa dirimu tidak memiliki apa pun bagi dirimu sendiri, dan bahwa seluruh urusan adalah milik Allah. Demikian pula engkau menampakkan kefakiran kepada Allah Jalla wa ‘Ala melalui anggota badanmu, yaitu dengan bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara bentuk terbesar dalam menampakkan kefakiran adalah salat, terutama rukuk, dan yang lebih agung lagi adalah sujud. Rukuk adalah pengagungan kepada Allah, sedangkan sujud adalah ketundukan dan kerendahan diri di hadapan-Nya. Keduanya merupakan wujud kefakiran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka perbanyaklah salat, perbanyaklah rukuk, dan perbanyaklah sujud. Sebab, ini merupakan sarana yang mendatangkan rida Rabbmu Subhanahu wa Ta’ala kepadamu. Wallahul musta’an. ===== الْمَسْأَلَةُ الْخَامِسَةُ: أَقْرَبُ الْأَبْوَابِ الْمُوصِلَةِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا إِظْهَارُ الِافْتِقَارِ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ تُظْهِرَ فَقْرَكَ وَحَاجَتَكَ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا وَاللهِ عَيْنُ سَعَادَةِ الْعَبْدِ وَهَذَا شَأْنُ الْخُلَّصِ مِنْ عِبَادِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا أَنْ تُظْهِرَ افْتِقَارَكَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا بِقَلْبِكَ وَلِسَانِكَ وَجَوَارِحِكَ هَذَا الْإِظْهَارُ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُحِبُّهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِذَا كَانَ قَوْلُ الْعَبْدِ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، كَانَ كَنْزًا مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ، كَمَا أَخْبَرَ بِهَذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ كَلِمَةٌ عَظِيمَةٌ فِيهَا تَصْرِيحُ الْعَبْدِ بِافْتِقَارِهِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا، وَأَنَّ رَبَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ فَمَهْمَا كُنْتَ مُفْتَقِرًا إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، فَاعْلَمْ أَنَّكَ عَلَى خَيْرٍ عَظِيمٍ تَفْتَقِرُ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا، بَلْ تُظْهِرُ هَذَا الِافْتِقَارَ بِكُلِّ حَنَايَاكَ وَجَوَارِحِكَ فَقَلْبُكَ يَنْطِقُ بِالِافْتِقَارِ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا هُوَ مُنْعَقِدٌ عَلَى أَنَّ الْإِنْسَانَ لَيْسَ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَا إِلَيْهِ شَيْءٌ وَأَنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ بِاللهِ وَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ لِلهِ. هَذَا مَا يَجِبُ أَنْ يَنْعَقِدَ عَلَيْهِ قَلْبُكَ فِي كُلِّ لَحْظَةٍ مِنْ لَحَظَاتِ حَيَاتِكَ وَكَذَلِكَ أَنْ تُظْهِرَ هَذَا الِافْتِقَارَ بِلِسَانِكَ وَلِذَا كَانَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ وَهُوَ مِنْ دُعَاءِ الْمَكْرُوبِ أَنْ يَقُولَ الْعَبْدُ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍوَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ لَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ لَوْ وُكِلَ إِلَى نَفْسِهِ فَإِنَّهُ سَيَضِيعُ سَيَتِيهُ فِي ظَلَامٍ دَامِسٍ، فَلَيْسَ لَهُ أَمَلٌ فِي النَّجَاةِ قَطُّ إِلَّا بِأَنْ يَتَوَلَّاهُ اللهُ، وَأَنْ يَكُونَ فِي حِفْظِهِ وَكَلَاءَتِهِ وَرِعَايَتِهِ وَهِدَايَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَلْهَجُ لِسَانُكَ بِهَذَا، يَلْهَجُ لِسَانُكَ بِالْحَوْقَلَةِ. تَقُولُ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ تَبْرَأُ إِلَى اللهِ مِنْ حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ إِلَى حَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى تُعْلِنُ أَنَّكَ لَا تَمْلِكُ شَيْئًا لِنَفْسِكَ، وَأَنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلهِ وَأَيْضًا أَنْ تُظْهِرَ الِافْتِقَارَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا بِجَوَارِحِكَ، وَذَلِكَ بِأَنْ تَجْتَهِدَ فِي عِبَادَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمِنْ أَعْظَمِ مَا يُظْهِرُ الِافْتِقَارَ عِبَادَةُ الصَّلَاةِ، وَلَا سِيَّمَا الرُّكُوعُ، وَأَعْظَمُ مِنْهُ السُّجُودُ فَالرُّكُوعُ تَعْظِيمٌ لِلهِ، وَالسُّجُودُ ذُلٌّ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَكِلَاهُمَا افْتِقَارٌ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَكْثِرْ مِنَ الصَّلَاةِ، وَأَكْثِرْ مِنَ الرُّكُوعِ، وَأَكْثِرْ مِنَ السُّجُودِ فَإِنَّ هَذَا وَسِيلَةٌ مُرْضِيَةٌ لِرَبِّكَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْكَ. وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ

Cara Berdakwah kepada Teman Kerja Tanpa Menggurui – Syaikh Shalih Alu Syaikh #NasehatUlama

Adapun di tempat kerja, medannya sangat berbeda dengan rumah. Membina orang-orang di rumah lebih mudah daripada membina rekan-rekan kerja. Mengapa? Karena mereka sudah dewasa. Mereka memiliki keyakinan dan karakter masing-masing. Namun tidak diragukan, keadaan mereka berbeda-beda. Karena itu, jangan memandang mereka semua dengan cara pandang yang sama. Setiap orang memiliki keadaan, cara berpikir, dan perasaan yang berbeda. Di antara cara terbaik untuk memberi pengaruh kepada rekan kerja adalah adanya dua atau tiga orang yang berinisiatif mengadakan pertemuan rutin. Tiga kali dalam sebulan, mereka berkumpul dan berbincang santai tentang apa saja. Lalu sekali dalam sebulan, seorang ahli ilmu datang dan berdiskusi bersama mereka sekitar satu jam tentang suatu pembahasan. Ini salah satu cara membangun kedekatan, tanpa memaksakan figur tertentu kepada mereka. Sebab, di antara mereka ada yang tidak menerima jika setiap kali selalu didatangkan seseorang untuk berbicara tentang masalah agama. Namun jika pada awalnya dilakukan sekali dalam dua bulan atau sekali sebulan, itu masih bisa diterima. Ini salah satu sarana dakwah. Sarana kedua: menyebarkan materi bermanfaat di tempat kerja, seperti fatwa sebagian ulama, baik secara langsung maupun tidak langsung, menyebarkan rekaman kajian yang bermanfaat dan memberi pengaruh, atau menjalin pertemanan secara khusus, membantu sebagian mereka, menjadi perantara kebaikan bagi mereka, serta berusaha memberi manfaat melalui akhlak yang telah kita sebutkan. Maksudnya, ketika berinteraksi di tempat kerja, orang lain melihat darinya perhatian dan pengorbanan yang tidak mereka dapatkan dari orang lain. Ini sarana yang penting, karena dapat memasukkan kebaikan ke dalam hati, meskipun hasilnya baru tampak setelah sekian lama. Demikian pula jika ada orang yang bertanggung jawab di tempat kerja. Ketika kita mengatakan “penanggung jawab”, jangan dibayangkan hanya sebagai jabatan struktural resmi tertentu. Jika penanggung jawab itu orang yang baik dan saleh, dapat diadakan pertemuan bagi seluruh karyawan, yang melalui pertemuan itu mereka dapat diarahkan kepada kebaikan. Artinya, di hadapanmu ada banyak peluang untuk melakukan upaya dakwah secara pribadi di tempat kerja, yang dapat menghasilkan berbagai kebaikan. Tentu kita tidak bisa membahas seluruh caranya. Namun siapa yang telah mencobanya, hendaknya ia berbagi pengalamannya dengan orang lain. Jika seseorang baru hendak memulainya, hendaknya ia bermusyawarah dengan saudara-saudaranya. Tentu ada banyak pengalaman berharga dalam bidang ini. ===== بِالنِّسْبَةِ لِلْعَمَلِ، الْعَمَلُ مَيْدَانٌ آخَرُ مُخْتَلِفٌ تَمَامًا عَنِ الْبَيْتِ مُعَالَجَةُ الْبُيُوتِ أَسْهَلُ مِنْ مُعَالَجَةِ زُمَلَاءِ الْعَمَلِ لِيش؟ لِأَنَّ هَؤُلَاءِ قَدْ بَلَغُوا مِنَ الْعُمْرِ مَا بَلَغُوا، لَهُمْ قَنَاعَاتُهُمْ، وَلَهُمْ شَخْصِيَّاتُهُمْ لَكِنَّ هَؤُلَاءِ لَا شَكَّ أَنَّهُمْ دَرَجَاتٌ يَخْتَلِفُونَ هَؤُلَاءِ لَا تَنْظُرْ إِلَيْهِمْ نَظَرًا وَاحِدًا بَلْ كُلُّ وَاحِدٍ لَهُ وَضْعُهُ، لَهُ تَفْكِيرُهُ، وَلَهُ عَوَاطِفُهُ الَّتِي فِي دَاخِلِهِ زُمَلَاءُ الْعَمَلِ مِنْ أَحْسَنِ مَا يُؤَثَّرُ بِهِ عَلَيْهِمْ، أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ اثْنَانِ أَوْ ثَلَاثَةٌ يَبْتَدِئُونَ بِوَضْعِ شَيْءٍ مِمَّا يُسَمِّيهِ بَعْضُ النَّاسِ دَوْرِيَّةً، وَيَكُونُ فِيهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فِي الشَّهْرِ جَلْسَةٌ عَامَّةٌ يَتَحَدَّثُونَ كَمَا يَشَاؤُونَ وَمَرَّةً فِي الشَّهْرِ يَأْتِيهِمْ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ، وَيَتَنَاقَشُونَ مَعَهُ فِي سَاعَةٍ مِنَ الزَّمَانِ فِي أَمْرٍ مِنَ الْأُمُورِ هَذَا نَوْعٌ مِنَ الرَّبْطِ، الرَّبْطُ الَّذِي مَعَهُ عَدَمُ فَرْضِ الشَّخْصِيَّاتِ عَلَى أُولَئِكَ لِأَنَّ مِنْهُمْ مَنْ لَا يَقْبَلُ أَنْ يَأْتِيَ كُلَّ مَرَّةٍ وَاحِدٌ يَتَحَدَّثُ لَهُمْ فِي هَذِهِ الْمَجَالَاتِ، يَعْنِي الْمَجَالَاتِ الدِّينِيَّةِ لَكِنْ إِذَا كَانَ مَرَّةً فِي الشَّهْرَيْنِ أَوْ مَرَّةً فِي الشَّهْرِ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ، هَذَا مَقْبُولٌ. هَذِهِ وَسِيلَةٌ مِنَ الْوَسَائِلِ الْوَسِيلَةُ الثَّانِيَةُ: نَشْرُ أَشْيَاءَ فِي الْعَمَلِ، مِنْ جِهَةِ فَتَاوَى لِبَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ بِطَرِيقَةٍ مُبَاشِرَةٍ أَوْ غَيْرِ مُبَاشِرَةٍ مِنْ نَشْرِ أَشْرِطَةٍ نَافِعَةٍ يَكُونُ فِيهَا الْأَثَرُ، مِنْ قَبِيلِ صُحْبَةٍ خَاصَّةٍ نَفْعٍ لِبَعْضِهِمْ، التَّوَسُّطِ لِبَعْضِهِمْ، السَّعْيِ فِي نَفْعِهِمْ بِالْأَخْلَاقِيَّاتِ الَّتِي ذَكَرْنَا يَعْنِي أَنْ يَكُونَ الْمَرْءُ فِي عَمَلِهِ الَّذِي يُخَاطِبُ الْآخَرِينَ يَكُونُ رَأَى مِنْهُ ذَاكَ، أَنَّهُ يَبْذُلُ لَهُ مَا لَا يَبْذُلُهُ غَيْرُهُ وَهَذِهِ وَسِيلَةٌ مُهِمَّةٌ لِأَنَّهَا تُدْخِلُ الْخَيْرَ فِي النُّفُوسِ وَلَوْ بَعْدَ زَمَنٍ كَذَلِكَ إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَسْؤُولُ الْعَمَلِ يَعْنِي وَإِذَا قُلْنَا مَسْؤُولَ عَمَلٍ، لَا يُتَصَوَّرُ أَنَّهُ مَثَلًا وَظِيفَةٌ رَسْمِيَّةٌ فِي أَيِّ مَجَالٍ مِنْ مَجَالَاتِ الْعَمَلِ إِذَا كَانَ مَسْؤُولُ الْعَمَلِ رَجُلًا جَيِّدًا وَصَالِحًا يُمْكِنُ أَنْ تُعْقَدَ لِقَاءَاتٍ لِكُلِّ الْعَامِلِينَ وَيُؤَثَّرَ عَلَيْهِمْ عَنْ طَرِيقِهَا يَعْنِي أَمَامَكَ مَجَالَاتٌ لِجُهْدٍ فَرْدِيٍّ فِي الْعَمَلِ يُمْكِنُ أَنْ تَبْذُلَهُ، وَيَكُونَ مَعَهُ أَشْيَاءُ مِنَ الْخَيْرِ وَلَا يُمْكِنُ طَرْقُ جَمِيعِ الْجَوَانِبِ، لَكِنْ إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَنْ سَعَى فِي ذَلِكَ فَيَجُودُ بِخِبْرَتِهِ عَلَى الْآخَرِينَ أَوْ إِذَا رَأَى الْمَرْءُ أَنَّهُ سَيَبْدَأُ فِي ذَلِكَ، يُشَاوِرُ إِخْوَانَهُ وَلَا بُدَّ أَنَّ هُنَاكَ تَجَارِبَ كَثِيرَةً فِي هَذَا الْمَجَالِ

Cara Berdakwah kepada Teman Kerja Tanpa Menggurui – Syaikh Shalih Alu Syaikh #NasehatUlama

Adapun di tempat kerja, medannya sangat berbeda dengan rumah. Membina orang-orang di rumah lebih mudah daripada membina rekan-rekan kerja. Mengapa? Karena mereka sudah dewasa. Mereka memiliki keyakinan dan karakter masing-masing. Namun tidak diragukan, keadaan mereka berbeda-beda. Karena itu, jangan memandang mereka semua dengan cara pandang yang sama. Setiap orang memiliki keadaan, cara berpikir, dan perasaan yang berbeda. Di antara cara terbaik untuk memberi pengaruh kepada rekan kerja adalah adanya dua atau tiga orang yang berinisiatif mengadakan pertemuan rutin. Tiga kali dalam sebulan, mereka berkumpul dan berbincang santai tentang apa saja. Lalu sekali dalam sebulan, seorang ahli ilmu datang dan berdiskusi bersama mereka sekitar satu jam tentang suatu pembahasan. Ini salah satu cara membangun kedekatan, tanpa memaksakan figur tertentu kepada mereka. Sebab, di antara mereka ada yang tidak menerima jika setiap kali selalu didatangkan seseorang untuk berbicara tentang masalah agama. Namun jika pada awalnya dilakukan sekali dalam dua bulan atau sekali sebulan, itu masih bisa diterima. Ini salah satu sarana dakwah. Sarana kedua: menyebarkan materi bermanfaat di tempat kerja, seperti fatwa sebagian ulama, baik secara langsung maupun tidak langsung, menyebarkan rekaman kajian yang bermanfaat dan memberi pengaruh, atau menjalin pertemanan secara khusus, membantu sebagian mereka, menjadi perantara kebaikan bagi mereka, serta berusaha memberi manfaat melalui akhlak yang telah kita sebutkan. Maksudnya, ketika berinteraksi di tempat kerja, orang lain melihat darinya perhatian dan pengorbanan yang tidak mereka dapatkan dari orang lain. Ini sarana yang penting, karena dapat memasukkan kebaikan ke dalam hati, meskipun hasilnya baru tampak setelah sekian lama. Demikian pula jika ada orang yang bertanggung jawab di tempat kerja. Ketika kita mengatakan “penanggung jawab”, jangan dibayangkan hanya sebagai jabatan struktural resmi tertentu. Jika penanggung jawab itu orang yang baik dan saleh, dapat diadakan pertemuan bagi seluruh karyawan, yang melalui pertemuan itu mereka dapat diarahkan kepada kebaikan. Artinya, di hadapanmu ada banyak peluang untuk melakukan upaya dakwah secara pribadi di tempat kerja, yang dapat menghasilkan berbagai kebaikan. Tentu kita tidak bisa membahas seluruh caranya. Namun siapa yang telah mencobanya, hendaknya ia berbagi pengalamannya dengan orang lain. Jika seseorang baru hendak memulainya, hendaknya ia bermusyawarah dengan saudara-saudaranya. Tentu ada banyak pengalaman berharga dalam bidang ini. ===== بِالنِّسْبَةِ لِلْعَمَلِ، الْعَمَلُ مَيْدَانٌ آخَرُ مُخْتَلِفٌ تَمَامًا عَنِ الْبَيْتِ مُعَالَجَةُ الْبُيُوتِ أَسْهَلُ مِنْ مُعَالَجَةِ زُمَلَاءِ الْعَمَلِ لِيش؟ لِأَنَّ هَؤُلَاءِ قَدْ بَلَغُوا مِنَ الْعُمْرِ مَا بَلَغُوا، لَهُمْ قَنَاعَاتُهُمْ، وَلَهُمْ شَخْصِيَّاتُهُمْ لَكِنَّ هَؤُلَاءِ لَا شَكَّ أَنَّهُمْ دَرَجَاتٌ يَخْتَلِفُونَ هَؤُلَاءِ لَا تَنْظُرْ إِلَيْهِمْ نَظَرًا وَاحِدًا بَلْ كُلُّ وَاحِدٍ لَهُ وَضْعُهُ، لَهُ تَفْكِيرُهُ، وَلَهُ عَوَاطِفُهُ الَّتِي فِي دَاخِلِهِ زُمَلَاءُ الْعَمَلِ مِنْ أَحْسَنِ مَا يُؤَثَّرُ بِهِ عَلَيْهِمْ، أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ اثْنَانِ أَوْ ثَلَاثَةٌ يَبْتَدِئُونَ بِوَضْعِ شَيْءٍ مِمَّا يُسَمِّيهِ بَعْضُ النَّاسِ دَوْرِيَّةً، وَيَكُونُ فِيهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فِي الشَّهْرِ جَلْسَةٌ عَامَّةٌ يَتَحَدَّثُونَ كَمَا يَشَاؤُونَ وَمَرَّةً فِي الشَّهْرِ يَأْتِيهِمْ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ، وَيَتَنَاقَشُونَ مَعَهُ فِي سَاعَةٍ مِنَ الزَّمَانِ فِي أَمْرٍ مِنَ الْأُمُورِ هَذَا نَوْعٌ مِنَ الرَّبْطِ، الرَّبْطُ الَّذِي مَعَهُ عَدَمُ فَرْضِ الشَّخْصِيَّاتِ عَلَى أُولَئِكَ لِأَنَّ مِنْهُمْ مَنْ لَا يَقْبَلُ أَنْ يَأْتِيَ كُلَّ مَرَّةٍ وَاحِدٌ يَتَحَدَّثُ لَهُمْ فِي هَذِهِ الْمَجَالَاتِ، يَعْنِي الْمَجَالَاتِ الدِّينِيَّةِ لَكِنْ إِذَا كَانَ مَرَّةً فِي الشَّهْرَيْنِ أَوْ مَرَّةً فِي الشَّهْرِ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ، هَذَا مَقْبُولٌ. هَذِهِ وَسِيلَةٌ مِنَ الْوَسَائِلِ الْوَسِيلَةُ الثَّانِيَةُ: نَشْرُ أَشْيَاءَ فِي الْعَمَلِ، مِنْ جِهَةِ فَتَاوَى لِبَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ بِطَرِيقَةٍ مُبَاشِرَةٍ أَوْ غَيْرِ مُبَاشِرَةٍ مِنْ نَشْرِ أَشْرِطَةٍ نَافِعَةٍ يَكُونُ فِيهَا الْأَثَرُ، مِنْ قَبِيلِ صُحْبَةٍ خَاصَّةٍ نَفْعٍ لِبَعْضِهِمْ، التَّوَسُّطِ لِبَعْضِهِمْ، السَّعْيِ فِي نَفْعِهِمْ بِالْأَخْلَاقِيَّاتِ الَّتِي ذَكَرْنَا يَعْنِي أَنْ يَكُونَ الْمَرْءُ فِي عَمَلِهِ الَّذِي يُخَاطِبُ الْآخَرِينَ يَكُونُ رَأَى مِنْهُ ذَاكَ، أَنَّهُ يَبْذُلُ لَهُ مَا لَا يَبْذُلُهُ غَيْرُهُ وَهَذِهِ وَسِيلَةٌ مُهِمَّةٌ لِأَنَّهَا تُدْخِلُ الْخَيْرَ فِي النُّفُوسِ وَلَوْ بَعْدَ زَمَنٍ كَذَلِكَ إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَسْؤُولُ الْعَمَلِ يَعْنِي وَإِذَا قُلْنَا مَسْؤُولَ عَمَلٍ، لَا يُتَصَوَّرُ أَنَّهُ مَثَلًا وَظِيفَةٌ رَسْمِيَّةٌ فِي أَيِّ مَجَالٍ مِنْ مَجَالَاتِ الْعَمَلِ إِذَا كَانَ مَسْؤُولُ الْعَمَلِ رَجُلًا جَيِّدًا وَصَالِحًا يُمْكِنُ أَنْ تُعْقَدَ لِقَاءَاتٍ لِكُلِّ الْعَامِلِينَ وَيُؤَثَّرَ عَلَيْهِمْ عَنْ طَرِيقِهَا يَعْنِي أَمَامَكَ مَجَالَاتٌ لِجُهْدٍ فَرْدِيٍّ فِي الْعَمَلِ يُمْكِنُ أَنْ تَبْذُلَهُ، وَيَكُونَ مَعَهُ أَشْيَاءُ مِنَ الْخَيْرِ وَلَا يُمْكِنُ طَرْقُ جَمِيعِ الْجَوَانِبِ، لَكِنْ إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَنْ سَعَى فِي ذَلِكَ فَيَجُودُ بِخِبْرَتِهِ عَلَى الْآخَرِينَ أَوْ إِذَا رَأَى الْمَرْءُ أَنَّهُ سَيَبْدَأُ فِي ذَلِكَ، يُشَاوِرُ إِخْوَانَهُ وَلَا بُدَّ أَنَّ هُنَاكَ تَجَارِبَ كَثِيرَةً فِي هَذَا الْمَجَالِ
Adapun di tempat kerja, medannya sangat berbeda dengan rumah. Membina orang-orang di rumah lebih mudah daripada membina rekan-rekan kerja. Mengapa? Karena mereka sudah dewasa. Mereka memiliki keyakinan dan karakter masing-masing. Namun tidak diragukan, keadaan mereka berbeda-beda. Karena itu, jangan memandang mereka semua dengan cara pandang yang sama. Setiap orang memiliki keadaan, cara berpikir, dan perasaan yang berbeda. Di antara cara terbaik untuk memberi pengaruh kepada rekan kerja adalah adanya dua atau tiga orang yang berinisiatif mengadakan pertemuan rutin. Tiga kali dalam sebulan, mereka berkumpul dan berbincang santai tentang apa saja. Lalu sekali dalam sebulan, seorang ahli ilmu datang dan berdiskusi bersama mereka sekitar satu jam tentang suatu pembahasan. Ini salah satu cara membangun kedekatan, tanpa memaksakan figur tertentu kepada mereka. Sebab, di antara mereka ada yang tidak menerima jika setiap kali selalu didatangkan seseorang untuk berbicara tentang masalah agama. Namun jika pada awalnya dilakukan sekali dalam dua bulan atau sekali sebulan, itu masih bisa diterima. Ini salah satu sarana dakwah. Sarana kedua: menyebarkan materi bermanfaat di tempat kerja, seperti fatwa sebagian ulama, baik secara langsung maupun tidak langsung, menyebarkan rekaman kajian yang bermanfaat dan memberi pengaruh, atau menjalin pertemanan secara khusus, membantu sebagian mereka, menjadi perantara kebaikan bagi mereka, serta berusaha memberi manfaat melalui akhlak yang telah kita sebutkan. Maksudnya, ketika berinteraksi di tempat kerja, orang lain melihat darinya perhatian dan pengorbanan yang tidak mereka dapatkan dari orang lain. Ini sarana yang penting, karena dapat memasukkan kebaikan ke dalam hati, meskipun hasilnya baru tampak setelah sekian lama. Demikian pula jika ada orang yang bertanggung jawab di tempat kerja. Ketika kita mengatakan “penanggung jawab”, jangan dibayangkan hanya sebagai jabatan struktural resmi tertentu. Jika penanggung jawab itu orang yang baik dan saleh, dapat diadakan pertemuan bagi seluruh karyawan, yang melalui pertemuan itu mereka dapat diarahkan kepada kebaikan. Artinya, di hadapanmu ada banyak peluang untuk melakukan upaya dakwah secara pribadi di tempat kerja, yang dapat menghasilkan berbagai kebaikan. Tentu kita tidak bisa membahas seluruh caranya. Namun siapa yang telah mencobanya, hendaknya ia berbagi pengalamannya dengan orang lain. Jika seseorang baru hendak memulainya, hendaknya ia bermusyawarah dengan saudara-saudaranya. Tentu ada banyak pengalaman berharga dalam bidang ini. ===== بِالنِّسْبَةِ لِلْعَمَلِ، الْعَمَلُ مَيْدَانٌ آخَرُ مُخْتَلِفٌ تَمَامًا عَنِ الْبَيْتِ مُعَالَجَةُ الْبُيُوتِ أَسْهَلُ مِنْ مُعَالَجَةِ زُمَلَاءِ الْعَمَلِ لِيش؟ لِأَنَّ هَؤُلَاءِ قَدْ بَلَغُوا مِنَ الْعُمْرِ مَا بَلَغُوا، لَهُمْ قَنَاعَاتُهُمْ، وَلَهُمْ شَخْصِيَّاتُهُمْ لَكِنَّ هَؤُلَاءِ لَا شَكَّ أَنَّهُمْ دَرَجَاتٌ يَخْتَلِفُونَ هَؤُلَاءِ لَا تَنْظُرْ إِلَيْهِمْ نَظَرًا وَاحِدًا بَلْ كُلُّ وَاحِدٍ لَهُ وَضْعُهُ، لَهُ تَفْكِيرُهُ، وَلَهُ عَوَاطِفُهُ الَّتِي فِي دَاخِلِهِ زُمَلَاءُ الْعَمَلِ مِنْ أَحْسَنِ مَا يُؤَثَّرُ بِهِ عَلَيْهِمْ، أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ اثْنَانِ أَوْ ثَلَاثَةٌ يَبْتَدِئُونَ بِوَضْعِ شَيْءٍ مِمَّا يُسَمِّيهِ بَعْضُ النَّاسِ دَوْرِيَّةً، وَيَكُونُ فِيهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فِي الشَّهْرِ جَلْسَةٌ عَامَّةٌ يَتَحَدَّثُونَ كَمَا يَشَاؤُونَ وَمَرَّةً فِي الشَّهْرِ يَأْتِيهِمْ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ، وَيَتَنَاقَشُونَ مَعَهُ فِي سَاعَةٍ مِنَ الزَّمَانِ فِي أَمْرٍ مِنَ الْأُمُورِ هَذَا نَوْعٌ مِنَ الرَّبْطِ، الرَّبْطُ الَّذِي مَعَهُ عَدَمُ فَرْضِ الشَّخْصِيَّاتِ عَلَى أُولَئِكَ لِأَنَّ مِنْهُمْ مَنْ لَا يَقْبَلُ أَنْ يَأْتِيَ كُلَّ مَرَّةٍ وَاحِدٌ يَتَحَدَّثُ لَهُمْ فِي هَذِهِ الْمَجَالَاتِ، يَعْنِي الْمَجَالَاتِ الدِّينِيَّةِ لَكِنْ إِذَا كَانَ مَرَّةً فِي الشَّهْرَيْنِ أَوْ مَرَّةً فِي الشَّهْرِ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ، هَذَا مَقْبُولٌ. هَذِهِ وَسِيلَةٌ مِنَ الْوَسَائِلِ الْوَسِيلَةُ الثَّانِيَةُ: نَشْرُ أَشْيَاءَ فِي الْعَمَلِ، مِنْ جِهَةِ فَتَاوَى لِبَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ بِطَرِيقَةٍ مُبَاشِرَةٍ أَوْ غَيْرِ مُبَاشِرَةٍ مِنْ نَشْرِ أَشْرِطَةٍ نَافِعَةٍ يَكُونُ فِيهَا الْأَثَرُ، مِنْ قَبِيلِ صُحْبَةٍ خَاصَّةٍ نَفْعٍ لِبَعْضِهِمْ، التَّوَسُّطِ لِبَعْضِهِمْ، السَّعْيِ فِي نَفْعِهِمْ بِالْأَخْلَاقِيَّاتِ الَّتِي ذَكَرْنَا يَعْنِي أَنْ يَكُونَ الْمَرْءُ فِي عَمَلِهِ الَّذِي يُخَاطِبُ الْآخَرِينَ يَكُونُ رَأَى مِنْهُ ذَاكَ، أَنَّهُ يَبْذُلُ لَهُ مَا لَا يَبْذُلُهُ غَيْرُهُ وَهَذِهِ وَسِيلَةٌ مُهِمَّةٌ لِأَنَّهَا تُدْخِلُ الْخَيْرَ فِي النُّفُوسِ وَلَوْ بَعْدَ زَمَنٍ كَذَلِكَ إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَسْؤُولُ الْعَمَلِ يَعْنِي وَإِذَا قُلْنَا مَسْؤُولَ عَمَلٍ، لَا يُتَصَوَّرُ أَنَّهُ مَثَلًا وَظِيفَةٌ رَسْمِيَّةٌ فِي أَيِّ مَجَالٍ مِنْ مَجَالَاتِ الْعَمَلِ إِذَا كَانَ مَسْؤُولُ الْعَمَلِ رَجُلًا جَيِّدًا وَصَالِحًا يُمْكِنُ أَنْ تُعْقَدَ لِقَاءَاتٍ لِكُلِّ الْعَامِلِينَ وَيُؤَثَّرَ عَلَيْهِمْ عَنْ طَرِيقِهَا يَعْنِي أَمَامَكَ مَجَالَاتٌ لِجُهْدٍ فَرْدِيٍّ فِي الْعَمَلِ يُمْكِنُ أَنْ تَبْذُلَهُ، وَيَكُونَ مَعَهُ أَشْيَاءُ مِنَ الْخَيْرِ وَلَا يُمْكِنُ طَرْقُ جَمِيعِ الْجَوَانِبِ، لَكِنْ إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَنْ سَعَى فِي ذَلِكَ فَيَجُودُ بِخِبْرَتِهِ عَلَى الْآخَرِينَ أَوْ إِذَا رَأَى الْمَرْءُ أَنَّهُ سَيَبْدَأُ فِي ذَلِكَ، يُشَاوِرُ إِخْوَانَهُ وَلَا بُدَّ أَنَّ هُنَاكَ تَجَارِبَ كَثِيرَةً فِي هَذَا الْمَجَالِ


Adapun di tempat kerja, medannya sangat berbeda dengan rumah. Membina orang-orang di rumah lebih mudah daripada membina rekan-rekan kerja. Mengapa? Karena mereka sudah dewasa. Mereka memiliki keyakinan dan karakter masing-masing. Namun tidak diragukan, keadaan mereka berbeda-beda. Karena itu, jangan memandang mereka semua dengan cara pandang yang sama. Setiap orang memiliki keadaan, cara berpikir, dan perasaan yang berbeda. Di antara cara terbaik untuk memberi pengaruh kepada rekan kerja adalah adanya dua atau tiga orang yang berinisiatif mengadakan pertemuan rutin. Tiga kali dalam sebulan, mereka berkumpul dan berbincang santai tentang apa saja. Lalu sekali dalam sebulan, seorang ahli ilmu datang dan berdiskusi bersama mereka sekitar satu jam tentang suatu pembahasan. Ini salah satu cara membangun kedekatan, tanpa memaksakan figur tertentu kepada mereka. Sebab, di antara mereka ada yang tidak menerima jika setiap kali selalu didatangkan seseorang untuk berbicara tentang masalah agama. Namun jika pada awalnya dilakukan sekali dalam dua bulan atau sekali sebulan, itu masih bisa diterima. Ini salah satu sarana dakwah. Sarana kedua: menyebarkan materi bermanfaat di tempat kerja, seperti fatwa sebagian ulama, baik secara langsung maupun tidak langsung, menyebarkan rekaman kajian yang bermanfaat dan memberi pengaruh, atau menjalin pertemanan secara khusus, membantu sebagian mereka, menjadi perantara kebaikan bagi mereka, serta berusaha memberi manfaat melalui akhlak yang telah kita sebutkan. Maksudnya, ketika berinteraksi di tempat kerja, orang lain melihat darinya perhatian dan pengorbanan yang tidak mereka dapatkan dari orang lain. Ini sarana yang penting, karena dapat memasukkan kebaikan ke dalam hati, meskipun hasilnya baru tampak setelah sekian lama. Demikian pula jika ada orang yang bertanggung jawab di tempat kerja. Ketika kita mengatakan “penanggung jawab”, jangan dibayangkan hanya sebagai jabatan struktural resmi tertentu. Jika penanggung jawab itu orang yang baik dan saleh, dapat diadakan pertemuan bagi seluruh karyawan, yang melalui pertemuan itu mereka dapat diarahkan kepada kebaikan. Artinya, di hadapanmu ada banyak peluang untuk melakukan upaya dakwah secara pribadi di tempat kerja, yang dapat menghasilkan berbagai kebaikan. Tentu kita tidak bisa membahas seluruh caranya. Namun siapa yang telah mencobanya, hendaknya ia berbagi pengalamannya dengan orang lain. Jika seseorang baru hendak memulainya, hendaknya ia bermusyawarah dengan saudara-saudaranya. Tentu ada banyak pengalaman berharga dalam bidang ini. ===== بِالنِّسْبَةِ لِلْعَمَلِ، الْعَمَلُ مَيْدَانٌ آخَرُ مُخْتَلِفٌ تَمَامًا عَنِ الْبَيْتِ مُعَالَجَةُ الْبُيُوتِ أَسْهَلُ مِنْ مُعَالَجَةِ زُمَلَاءِ الْعَمَلِ لِيش؟ لِأَنَّ هَؤُلَاءِ قَدْ بَلَغُوا مِنَ الْعُمْرِ مَا بَلَغُوا، لَهُمْ قَنَاعَاتُهُمْ، وَلَهُمْ شَخْصِيَّاتُهُمْ لَكِنَّ هَؤُلَاءِ لَا شَكَّ أَنَّهُمْ دَرَجَاتٌ يَخْتَلِفُونَ هَؤُلَاءِ لَا تَنْظُرْ إِلَيْهِمْ نَظَرًا وَاحِدًا بَلْ كُلُّ وَاحِدٍ لَهُ وَضْعُهُ، لَهُ تَفْكِيرُهُ، وَلَهُ عَوَاطِفُهُ الَّتِي فِي دَاخِلِهِ زُمَلَاءُ الْعَمَلِ مِنْ أَحْسَنِ مَا يُؤَثَّرُ بِهِ عَلَيْهِمْ، أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ اثْنَانِ أَوْ ثَلَاثَةٌ يَبْتَدِئُونَ بِوَضْعِ شَيْءٍ مِمَّا يُسَمِّيهِ بَعْضُ النَّاسِ دَوْرِيَّةً، وَيَكُونُ فِيهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فِي الشَّهْرِ جَلْسَةٌ عَامَّةٌ يَتَحَدَّثُونَ كَمَا يَشَاؤُونَ وَمَرَّةً فِي الشَّهْرِ يَأْتِيهِمْ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ، وَيَتَنَاقَشُونَ مَعَهُ فِي سَاعَةٍ مِنَ الزَّمَانِ فِي أَمْرٍ مِنَ الْأُمُورِ هَذَا نَوْعٌ مِنَ الرَّبْطِ، الرَّبْطُ الَّذِي مَعَهُ عَدَمُ فَرْضِ الشَّخْصِيَّاتِ عَلَى أُولَئِكَ لِأَنَّ مِنْهُمْ مَنْ لَا يَقْبَلُ أَنْ يَأْتِيَ كُلَّ مَرَّةٍ وَاحِدٌ يَتَحَدَّثُ لَهُمْ فِي هَذِهِ الْمَجَالَاتِ، يَعْنِي الْمَجَالَاتِ الدِّينِيَّةِ لَكِنْ إِذَا كَانَ مَرَّةً فِي الشَّهْرَيْنِ أَوْ مَرَّةً فِي الشَّهْرِ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ، هَذَا مَقْبُولٌ. هَذِهِ وَسِيلَةٌ مِنَ الْوَسَائِلِ الْوَسِيلَةُ الثَّانِيَةُ: نَشْرُ أَشْيَاءَ فِي الْعَمَلِ، مِنْ جِهَةِ فَتَاوَى لِبَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ بِطَرِيقَةٍ مُبَاشِرَةٍ أَوْ غَيْرِ مُبَاشِرَةٍ مِنْ نَشْرِ أَشْرِطَةٍ نَافِعَةٍ يَكُونُ فِيهَا الْأَثَرُ، مِنْ قَبِيلِ صُحْبَةٍ خَاصَّةٍ نَفْعٍ لِبَعْضِهِمْ، التَّوَسُّطِ لِبَعْضِهِمْ، السَّعْيِ فِي نَفْعِهِمْ بِالْأَخْلَاقِيَّاتِ الَّتِي ذَكَرْنَا يَعْنِي أَنْ يَكُونَ الْمَرْءُ فِي عَمَلِهِ الَّذِي يُخَاطِبُ الْآخَرِينَ يَكُونُ رَأَى مِنْهُ ذَاكَ، أَنَّهُ يَبْذُلُ لَهُ مَا لَا يَبْذُلُهُ غَيْرُهُ وَهَذِهِ وَسِيلَةٌ مُهِمَّةٌ لِأَنَّهَا تُدْخِلُ الْخَيْرَ فِي النُّفُوسِ وَلَوْ بَعْدَ زَمَنٍ كَذَلِكَ إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَسْؤُولُ الْعَمَلِ يَعْنِي وَإِذَا قُلْنَا مَسْؤُولَ عَمَلٍ، لَا يُتَصَوَّرُ أَنَّهُ مَثَلًا وَظِيفَةٌ رَسْمِيَّةٌ فِي أَيِّ مَجَالٍ مِنْ مَجَالَاتِ الْعَمَلِ إِذَا كَانَ مَسْؤُولُ الْعَمَلِ رَجُلًا جَيِّدًا وَصَالِحًا يُمْكِنُ أَنْ تُعْقَدَ لِقَاءَاتٍ لِكُلِّ الْعَامِلِينَ وَيُؤَثَّرَ عَلَيْهِمْ عَنْ طَرِيقِهَا يَعْنِي أَمَامَكَ مَجَالَاتٌ لِجُهْدٍ فَرْدِيٍّ فِي الْعَمَلِ يُمْكِنُ أَنْ تَبْذُلَهُ، وَيَكُونَ مَعَهُ أَشْيَاءُ مِنَ الْخَيْرِ وَلَا يُمْكِنُ طَرْقُ جَمِيعِ الْجَوَانِبِ، لَكِنْ إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَنْ سَعَى فِي ذَلِكَ فَيَجُودُ بِخِبْرَتِهِ عَلَى الْآخَرِينَ أَوْ إِذَا رَأَى الْمَرْءُ أَنَّهُ سَيَبْدَأُ فِي ذَلِكَ، يُشَاوِرُ إِخْوَانَهُ وَلَا بُدَّ أَنَّ هُنَاكَ تَجَارِبَ كَثِيرَةً فِي هَذَا الْمَجَالِ

Allah Memasukkan Manusia ke Surga dan Neraka dengan Keadilan-Nya (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleBantahan keras dari Allah ﷻ atas potensi perbuatan tersebutAllah memasukkan manusia ke surga dan neraka dengan keadilan-NyaTerdapat sebuah pertanyaan: mungkinkah Allah ﷻ menghukum orang yang taat luar biasa kepada-Nya di neraka dan orang yang mendurhakai-Nya diberi nikmat di surga? Pertanyaan ini muncul dari kajian pemikiran atau penalaran sebagian orang yang sibuk menguji konsep ketuhanan. Lantas, bagaimana perspektif ahlus sunah dalam hal ini?Ibnul Qayyim rahimahullah sudah menjawab hal ini dalam kitabnya, Ad-Daa wa Ad-Dawaa,لَمْ يَقْدِرْهُ حَقَّ قَدْرِهِ مَنْ قَالَ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يُعَذِّبَ أَوْلِيَاءَهُ، وَمَنْ لَمْ يَعْصِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَيُدْخِلَهُمْ دَارَ الْجَحِيمِ، وَيُنَعِّمَ أَعْدَاءَهُ وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَيُدْخِلَهُمْ دَارَ النَّعِيمِ“Tidaklah mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya orang yang mengatakan bahwa mungkin saja bagi Allah mengazab para wali-Nya dan orang-orang yang tidak pernah bermaksiat kepada-Nya, lalu memasukkan mereka ke dalam neraka Jahanam, serta memberikan nikmat kepada para musuh-Nya dan orang-orang yang tidak pernah beriman kepada-Nya, kemudian memasukkan mereka ke dalam surga.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 141; cet. Darul Marifah)Syubhatnya adalah bahwa Allah ﷻ itu maha kuasa untuk melakukan sesuatu. Daya-Nya tiada batas sehingga Dia berhak melakukan apa saja, termasuk menenggelamkan wali-Nya ke neraka dan memasukkan orang paling bejat ke surga. Dua tindakan ini, di sisi mereka sama saja dari segi potensi. Namun, menurut mereka, Allah ﷻ melakukan itu sebagai suatu bentuk ketetapan saja, tanpa menyelisihi sikap hikmah dan keadilan-Nya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah,وَأَنَّ كِلَا الْأَمْرَيْنِ بِالنِّسْبَةِ إِلَيْهِ سَوَاءٌ، وَإِنَّمَا الْخَبَرُ الْمَحْضُ جَاءَ عَنْهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ، فَمَعْنَاهُ لِلْخَبَرِ لَا لِمُخَالَفَةِ حِكْمَتِهِ وَعَدْلِهِ“Menurut orang ini, dua perkara itu sama di sisi-Nya. Kabar dari-Nya yang bertentangan dengan hal itu hanya pengabaran belaka. Dengan kata lain, tujuannya hanya pengabaran, tidak menyelisihi hikmah dan keadilan-Nya.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 141; cet. Darul Marifah)Bantahan keras dari Allah ﷻ atas potensi perbuatan tersebutNamun, sungguh Allah mengingkari hal ini dengan pengingkaran yang serius. Allah ﷻ menyebutkan praktik memasukkan wali-Nya ke neraka dan sebaliknya sebagai tindakan yang terburuk. Maha suci Allah ﷻ dari perbuatan semacam itu. Allah ﷻ berfirman,أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ“Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat.” (QS. Shad: 27-28)Allah ﷻ secara tegas mengatakan dengan kalimat pertanyaan, namun dengan maksud sebagai bentuk bantahan bahwa tindakan itu tidak pantas dilakukan oleh Allah ﷻ.Allah ﷻ mulai argumen ini dengan menyatakan bahwa penciptaan langit dan bumi itu tidaklah sia-sia. Pasti ada tujuan dan hikmah di baliknya.وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia.”Dalam bagian ayat ini, terdapat tiga penetapan:1) Allah ﷻ memiliki tujuan dalam perbuatan-Nya;2) Allah ﷻ memiliki sifat hikmah;3) Penciptaan langit dan bumi memiliki tujuan sesuai hikmah Allah ﷻ.Allah ﷻ menegaskan dugaan bahwa penciptaan langit dan bumi itu tidak ada tujuannya adalah pemikiran orang kafir. Atas dasar keyakinan ini, mereka pun masuk neraka. Allah ﷻ berfirman,ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ“Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (QS. Shad: 27-28)Maka, berbagai isme yang memiliki keyakinan semacam ini, mulai dari sebutan mazhab rasionalisme, materialisme, hingga ateisme, semuanya mendapatkan ancaman ini.Allah memasukkan manusia ke surga dan neraka dengan keadilan-NyaKonstruksi argumen keadilan Allah ﷻ juga disebutkan dalam QS. Al-Jatsiyah, di mana tujuan keadilan itu lebih tegas dinyatakan. Allah ﷻ berfirman,أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ – وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.” (QS. Al-Jatsiyah: 21-22)Dalam ayat ini, Allah ﷻ menggunakan susunan argumen yang sama dengan QS. Shad yang disebutkan, yaitu:1) Menafikan sangkaan bahwa Allah ﷻ akan menyamakan tindakan mukmin dan kafir;2) Menegaskan bahwa Allah ﷻ menciptakan langit dan bumi dengan tujuan.Apa tujuan itu? Tujuan utamanya yakni menjadi arena ujian untuk memisahkan hamba yang pantas masuk surga dan yang cocoknya menjadi penghuni neraka. Di ayat ke-22, Allah ﷻ menegaskan bahwa penciptaan alam semesta dilakukan bil haqq. Maksudnya, menurut Ibnu Katsir rahimahullah, adalah Allah ﷻ menciptakan alam semesta dengan keadilan. Yakni, adil dalam membalas perbuatan setiap orang tanpa menzalimi mereka sedikitpun.Firman Allah ﷻ ini sama seperti apa yang diungkapkan dalam firman-Nya yang lain,لَا يَسْتَوِىٓ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ وَأَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ ۚ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ“Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 20)Ibnu Katsir rahimahullah, tokoh otoritatif ahlus sunah, berkata dalam tafsirnya,سَاءَ مَا ظَنُّوا بِنَا وَبِعَدْلِنَا أَنْ نُسَاوي بَيْنَ الْأَبْرَارِ وَالْفُجَّارِ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ، وَفِي هَذِهِ الدَّارِ“Betapa buruknya dugaan mereka terhadap Allah ﷻ, padahal mustahil Allah ﷻ menyamakan di antara orang-orang yang bertakwa dengan orang-orang yang pendurhaka dalam kehidupan di negeri akhirat nanti dan juga dalam kehidupan di dunia ini.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Jatsiyah: 21, tafsir.app)Dugaan orang kafir yang diterangkan Ibnu Katsir rahimahullah ini jelas bertentangan dengan realita. Nyatanya, kehidupan orang yang saleh secara hakiki akan mendapatkan nikmat di dunia, apalagi di akhirat sebagai kampung sejati. Demikian pula kesudahan orang yang membangkang pasti tersiksa. Ini adalah sesuatu yang pasti terjadi. Adapun kita mendapati orang saleh mengalami kesulitan di dunia, hakikatnya tetaplah iman memberikan rasa lapang di hatinya. Atau sebaliknya, ketika orang kafir seakan mendapatkan nikmat di dunia, sejatinya jiwanya kosong dari rasa bahagia. Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menyatakan ini menyelisihi akal yang lurus. Demikian pula dalam tafsirnya, beliau menyatakan,بل الحكم الواقع القطعيُّ أنَّ المؤمنين العاملين الصالحات، لهم النَّصر والفلاح والسعادة والثواب في العاجل والآجل؛ كلٌّ على قدر إحسانه، وأنَّ المسيئين لهم الغضبُ والإهانةُ والعذاب والشقاء في الدُّنيا والآخرة.“Bahkan keputusan yang benar dan pasti adalah bahwa orang-orang beriman yang beramal saleh akan memperoleh pertolongan, keberuntungan, kebahagiaan, dan pahala di dunia maupun di akhirat, masing-masing sesuai kadar kebaikan yang mereka lakukan. Adapun orang-orang yang berbuat keburukan, bagi mereka kemurkaan, kehinaan, azab, dan kesengsaraan di dunia dan di akhirat.’ (Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, hal. 825; cet. Ar-Risalah)Dasarnya adalah karena Allah ﷻ mengharamkan diri-Nya dari kezaliman. Allah ﷻ berfirman melalui lisan Nabi ﷺ dalam hadis qudsi,يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.” (HR. Muslim no. 6737 dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu)Allah ﷻ mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan menetapkan sifat hikmah. Allah ﷻ tidak mungkin melakukan dan memutuskan perkara yang menyelisihi keadilan, sedangkan menghukum orang saleh dan mengganjar pahala bagi orang kafir adalah salah satu bentuk kezaliman.[Bersambung]***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Allah Memasukkan Manusia ke Surga dan Neraka dengan Keadilan-Nya (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleBantahan keras dari Allah ﷻ atas potensi perbuatan tersebutAllah memasukkan manusia ke surga dan neraka dengan keadilan-NyaTerdapat sebuah pertanyaan: mungkinkah Allah ﷻ menghukum orang yang taat luar biasa kepada-Nya di neraka dan orang yang mendurhakai-Nya diberi nikmat di surga? Pertanyaan ini muncul dari kajian pemikiran atau penalaran sebagian orang yang sibuk menguji konsep ketuhanan. Lantas, bagaimana perspektif ahlus sunah dalam hal ini?Ibnul Qayyim rahimahullah sudah menjawab hal ini dalam kitabnya, Ad-Daa wa Ad-Dawaa,لَمْ يَقْدِرْهُ حَقَّ قَدْرِهِ مَنْ قَالَ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يُعَذِّبَ أَوْلِيَاءَهُ، وَمَنْ لَمْ يَعْصِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَيُدْخِلَهُمْ دَارَ الْجَحِيمِ، وَيُنَعِّمَ أَعْدَاءَهُ وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَيُدْخِلَهُمْ دَارَ النَّعِيمِ“Tidaklah mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya orang yang mengatakan bahwa mungkin saja bagi Allah mengazab para wali-Nya dan orang-orang yang tidak pernah bermaksiat kepada-Nya, lalu memasukkan mereka ke dalam neraka Jahanam, serta memberikan nikmat kepada para musuh-Nya dan orang-orang yang tidak pernah beriman kepada-Nya, kemudian memasukkan mereka ke dalam surga.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 141; cet. Darul Marifah)Syubhatnya adalah bahwa Allah ﷻ itu maha kuasa untuk melakukan sesuatu. Daya-Nya tiada batas sehingga Dia berhak melakukan apa saja, termasuk menenggelamkan wali-Nya ke neraka dan memasukkan orang paling bejat ke surga. Dua tindakan ini, di sisi mereka sama saja dari segi potensi. Namun, menurut mereka, Allah ﷻ melakukan itu sebagai suatu bentuk ketetapan saja, tanpa menyelisihi sikap hikmah dan keadilan-Nya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah,وَأَنَّ كِلَا الْأَمْرَيْنِ بِالنِّسْبَةِ إِلَيْهِ سَوَاءٌ، وَإِنَّمَا الْخَبَرُ الْمَحْضُ جَاءَ عَنْهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ، فَمَعْنَاهُ لِلْخَبَرِ لَا لِمُخَالَفَةِ حِكْمَتِهِ وَعَدْلِهِ“Menurut orang ini, dua perkara itu sama di sisi-Nya. Kabar dari-Nya yang bertentangan dengan hal itu hanya pengabaran belaka. Dengan kata lain, tujuannya hanya pengabaran, tidak menyelisihi hikmah dan keadilan-Nya.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 141; cet. Darul Marifah)Bantahan keras dari Allah ﷻ atas potensi perbuatan tersebutNamun, sungguh Allah mengingkari hal ini dengan pengingkaran yang serius. Allah ﷻ menyebutkan praktik memasukkan wali-Nya ke neraka dan sebaliknya sebagai tindakan yang terburuk. Maha suci Allah ﷻ dari perbuatan semacam itu. Allah ﷻ berfirman,أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ“Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat.” (QS. Shad: 27-28)Allah ﷻ secara tegas mengatakan dengan kalimat pertanyaan, namun dengan maksud sebagai bentuk bantahan bahwa tindakan itu tidak pantas dilakukan oleh Allah ﷻ.Allah ﷻ mulai argumen ini dengan menyatakan bahwa penciptaan langit dan bumi itu tidaklah sia-sia. Pasti ada tujuan dan hikmah di baliknya.وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia.”Dalam bagian ayat ini, terdapat tiga penetapan:1) Allah ﷻ memiliki tujuan dalam perbuatan-Nya;2) Allah ﷻ memiliki sifat hikmah;3) Penciptaan langit dan bumi memiliki tujuan sesuai hikmah Allah ﷻ.Allah ﷻ menegaskan dugaan bahwa penciptaan langit dan bumi itu tidak ada tujuannya adalah pemikiran orang kafir. Atas dasar keyakinan ini, mereka pun masuk neraka. Allah ﷻ berfirman,ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ“Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (QS. Shad: 27-28)Maka, berbagai isme yang memiliki keyakinan semacam ini, mulai dari sebutan mazhab rasionalisme, materialisme, hingga ateisme, semuanya mendapatkan ancaman ini.Allah memasukkan manusia ke surga dan neraka dengan keadilan-NyaKonstruksi argumen keadilan Allah ﷻ juga disebutkan dalam QS. Al-Jatsiyah, di mana tujuan keadilan itu lebih tegas dinyatakan. Allah ﷻ berfirman,أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ – وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.” (QS. Al-Jatsiyah: 21-22)Dalam ayat ini, Allah ﷻ menggunakan susunan argumen yang sama dengan QS. Shad yang disebutkan, yaitu:1) Menafikan sangkaan bahwa Allah ﷻ akan menyamakan tindakan mukmin dan kafir;2) Menegaskan bahwa Allah ﷻ menciptakan langit dan bumi dengan tujuan.Apa tujuan itu? Tujuan utamanya yakni menjadi arena ujian untuk memisahkan hamba yang pantas masuk surga dan yang cocoknya menjadi penghuni neraka. Di ayat ke-22, Allah ﷻ menegaskan bahwa penciptaan alam semesta dilakukan bil haqq. Maksudnya, menurut Ibnu Katsir rahimahullah, adalah Allah ﷻ menciptakan alam semesta dengan keadilan. Yakni, adil dalam membalas perbuatan setiap orang tanpa menzalimi mereka sedikitpun.Firman Allah ﷻ ini sama seperti apa yang diungkapkan dalam firman-Nya yang lain,لَا يَسْتَوِىٓ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ وَأَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ ۚ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ“Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 20)Ibnu Katsir rahimahullah, tokoh otoritatif ahlus sunah, berkata dalam tafsirnya,سَاءَ مَا ظَنُّوا بِنَا وَبِعَدْلِنَا أَنْ نُسَاوي بَيْنَ الْأَبْرَارِ وَالْفُجَّارِ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ، وَفِي هَذِهِ الدَّارِ“Betapa buruknya dugaan mereka terhadap Allah ﷻ, padahal mustahil Allah ﷻ menyamakan di antara orang-orang yang bertakwa dengan orang-orang yang pendurhaka dalam kehidupan di negeri akhirat nanti dan juga dalam kehidupan di dunia ini.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Jatsiyah: 21, tafsir.app)Dugaan orang kafir yang diterangkan Ibnu Katsir rahimahullah ini jelas bertentangan dengan realita. Nyatanya, kehidupan orang yang saleh secara hakiki akan mendapatkan nikmat di dunia, apalagi di akhirat sebagai kampung sejati. Demikian pula kesudahan orang yang membangkang pasti tersiksa. Ini adalah sesuatu yang pasti terjadi. Adapun kita mendapati orang saleh mengalami kesulitan di dunia, hakikatnya tetaplah iman memberikan rasa lapang di hatinya. Atau sebaliknya, ketika orang kafir seakan mendapatkan nikmat di dunia, sejatinya jiwanya kosong dari rasa bahagia. Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menyatakan ini menyelisihi akal yang lurus. Demikian pula dalam tafsirnya, beliau menyatakan,بل الحكم الواقع القطعيُّ أنَّ المؤمنين العاملين الصالحات، لهم النَّصر والفلاح والسعادة والثواب في العاجل والآجل؛ كلٌّ على قدر إحسانه، وأنَّ المسيئين لهم الغضبُ والإهانةُ والعذاب والشقاء في الدُّنيا والآخرة.“Bahkan keputusan yang benar dan pasti adalah bahwa orang-orang beriman yang beramal saleh akan memperoleh pertolongan, keberuntungan, kebahagiaan, dan pahala di dunia maupun di akhirat, masing-masing sesuai kadar kebaikan yang mereka lakukan. Adapun orang-orang yang berbuat keburukan, bagi mereka kemurkaan, kehinaan, azab, dan kesengsaraan di dunia dan di akhirat.’ (Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, hal. 825; cet. Ar-Risalah)Dasarnya adalah karena Allah ﷻ mengharamkan diri-Nya dari kezaliman. Allah ﷻ berfirman melalui lisan Nabi ﷺ dalam hadis qudsi,يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.” (HR. Muslim no. 6737 dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu)Allah ﷻ mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan menetapkan sifat hikmah. Allah ﷻ tidak mungkin melakukan dan memutuskan perkara yang menyelisihi keadilan, sedangkan menghukum orang saleh dan mengganjar pahala bagi orang kafir adalah salah satu bentuk kezaliman.[Bersambung]***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleBantahan keras dari Allah ﷻ atas potensi perbuatan tersebutAllah memasukkan manusia ke surga dan neraka dengan keadilan-NyaTerdapat sebuah pertanyaan: mungkinkah Allah ﷻ menghukum orang yang taat luar biasa kepada-Nya di neraka dan orang yang mendurhakai-Nya diberi nikmat di surga? Pertanyaan ini muncul dari kajian pemikiran atau penalaran sebagian orang yang sibuk menguji konsep ketuhanan. Lantas, bagaimana perspektif ahlus sunah dalam hal ini?Ibnul Qayyim rahimahullah sudah menjawab hal ini dalam kitabnya, Ad-Daa wa Ad-Dawaa,لَمْ يَقْدِرْهُ حَقَّ قَدْرِهِ مَنْ قَالَ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يُعَذِّبَ أَوْلِيَاءَهُ، وَمَنْ لَمْ يَعْصِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَيُدْخِلَهُمْ دَارَ الْجَحِيمِ، وَيُنَعِّمَ أَعْدَاءَهُ وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَيُدْخِلَهُمْ دَارَ النَّعِيمِ“Tidaklah mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya orang yang mengatakan bahwa mungkin saja bagi Allah mengazab para wali-Nya dan orang-orang yang tidak pernah bermaksiat kepada-Nya, lalu memasukkan mereka ke dalam neraka Jahanam, serta memberikan nikmat kepada para musuh-Nya dan orang-orang yang tidak pernah beriman kepada-Nya, kemudian memasukkan mereka ke dalam surga.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 141; cet. Darul Marifah)Syubhatnya adalah bahwa Allah ﷻ itu maha kuasa untuk melakukan sesuatu. Daya-Nya tiada batas sehingga Dia berhak melakukan apa saja, termasuk menenggelamkan wali-Nya ke neraka dan memasukkan orang paling bejat ke surga. Dua tindakan ini, di sisi mereka sama saja dari segi potensi. Namun, menurut mereka, Allah ﷻ melakukan itu sebagai suatu bentuk ketetapan saja, tanpa menyelisihi sikap hikmah dan keadilan-Nya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah,وَأَنَّ كِلَا الْأَمْرَيْنِ بِالنِّسْبَةِ إِلَيْهِ سَوَاءٌ، وَإِنَّمَا الْخَبَرُ الْمَحْضُ جَاءَ عَنْهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ، فَمَعْنَاهُ لِلْخَبَرِ لَا لِمُخَالَفَةِ حِكْمَتِهِ وَعَدْلِهِ“Menurut orang ini, dua perkara itu sama di sisi-Nya. Kabar dari-Nya yang bertentangan dengan hal itu hanya pengabaran belaka. Dengan kata lain, tujuannya hanya pengabaran, tidak menyelisihi hikmah dan keadilan-Nya.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 141; cet. Darul Marifah)Bantahan keras dari Allah ﷻ atas potensi perbuatan tersebutNamun, sungguh Allah mengingkari hal ini dengan pengingkaran yang serius. Allah ﷻ menyebutkan praktik memasukkan wali-Nya ke neraka dan sebaliknya sebagai tindakan yang terburuk. Maha suci Allah ﷻ dari perbuatan semacam itu. Allah ﷻ berfirman,أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ“Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat.” (QS. Shad: 27-28)Allah ﷻ secara tegas mengatakan dengan kalimat pertanyaan, namun dengan maksud sebagai bentuk bantahan bahwa tindakan itu tidak pantas dilakukan oleh Allah ﷻ.Allah ﷻ mulai argumen ini dengan menyatakan bahwa penciptaan langit dan bumi itu tidaklah sia-sia. Pasti ada tujuan dan hikmah di baliknya.وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia.”Dalam bagian ayat ini, terdapat tiga penetapan:1) Allah ﷻ memiliki tujuan dalam perbuatan-Nya;2) Allah ﷻ memiliki sifat hikmah;3) Penciptaan langit dan bumi memiliki tujuan sesuai hikmah Allah ﷻ.Allah ﷻ menegaskan dugaan bahwa penciptaan langit dan bumi itu tidak ada tujuannya adalah pemikiran orang kafir. Atas dasar keyakinan ini, mereka pun masuk neraka. Allah ﷻ berfirman,ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ“Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (QS. Shad: 27-28)Maka, berbagai isme yang memiliki keyakinan semacam ini, mulai dari sebutan mazhab rasionalisme, materialisme, hingga ateisme, semuanya mendapatkan ancaman ini.Allah memasukkan manusia ke surga dan neraka dengan keadilan-NyaKonstruksi argumen keadilan Allah ﷻ juga disebutkan dalam QS. Al-Jatsiyah, di mana tujuan keadilan itu lebih tegas dinyatakan. Allah ﷻ berfirman,أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ – وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.” (QS. Al-Jatsiyah: 21-22)Dalam ayat ini, Allah ﷻ menggunakan susunan argumen yang sama dengan QS. Shad yang disebutkan, yaitu:1) Menafikan sangkaan bahwa Allah ﷻ akan menyamakan tindakan mukmin dan kafir;2) Menegaskan bahwa Allah ﷻ menciptakan langit dan bumi dengan tujuan.Apa tujuan itu? Tujuan utamanya yakni menjadi arena ujian untuk memisahkan hamba yang pantas masuk surga dan yang cocoknya menjadi penghuni neraka. Di ayat ke-22, Allah ﷻ menegaskan bahwa penciptaan alam semesta dilakukan bil haqq. Maksudnya, menurut Ibnu Katsir rahimahullah, adalah Allah ﷻ menciptakan alam semesta dengan keadilan. Yakni, adil dalam membalas perbuatan setiap orang tanpa menzalimi mereka sedikitpun.Firman Allah ﷻ ini sama seperti apa yang diungkapkan dalam firman-Nya yang lain,لَا يَسْتَوِىٓ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ وَأَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ ۚ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ“Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 20)Ibnu Katsir rahimahullah, tokoh otoritatif ahlus sunah, berkata dalam tafsirnya,سَاءَ مَا ظَنُّوا بِنَا وَبِعَدْلِنَا أَنْ نُسَاوي بَيْنَ الْأَبْرَارِ وَالْفُجَّارِ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ، وَفِي هَذِهِ الدَّارِ“Betapa buruknya dugaan mereka terhadap Allah ﷻ, padahal mustahil Allah ﷻ menyamakan di antara orang-orang yang bertakwa dengan orang-orang yang pendurhaka dalam kehidupan di negeri akhirat nanti dan juga dalam kehidupan di dunia ini.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Jatsiyah: 21, tafsir.app)Dugaan orang kafir yang diterangkan Ibnu Katsir rahimahullah ini jelas bertentangan dengan realita. Nyatanya, kehidupan orang yang saleh secara hakiki akan mendapatkan nikmat di dunia, apalagi di akhirat sebagai kampung sejati. Demikian pula kesudahan orang yang membangkang pasti tersiksa. Ini adalah sesuatu yang pasti terjadi. Adapun kita mendapati orang saleh mengalami kesulitan di dunia, hakikatnya tetaplah iman memberikan rasa lapang di hatinya. Atau sebaliknya, ketika orang kafir seakan mendapatkan nikmat di dunia, sejatinya jiwanya kosong dari rasa bahagia. Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menyatakan ini menyelisihi akal yang lurus. Demikian pula dalam tafsirnya, beliau menyatakan,بل الحكم الواقع القطعيُّ أنَّ المؤمنين العاملين الصالحات، لهم النَّصر والفلاح والسعادة والثواب في العاجل والآجل؛ كلٌّ على قدر إحسانه، وأنَّ المسيئين لهم الغضبُ والإهانةُ والعذاب والشقاء في الدُّنيا والآخرة.“Bahkan keputusan yang benar dan pasti adalah bahwa orang-orang beriman yang beramal saleh akan memperoleh pertolongan, keberuntungan, kebahagiaan, dan pahala di dunia maupun di akhirat, masing-masing sesuai kadar kebaikan yang mereka lakukan. Adapun orang-orang yang berbuat keburukan, bagi mereka kemurkaan, kehinaan, azab, dan kesengsaraan di dunia dan di akhirat.’ (Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, hal. 825; cet. Ar-Risalah)Dasarnya adalah karena Allah ﷻ mengharamkan diri-Nya dari kezaliman. Allah ﷻ berfirman melalui lisan Nabi ﷺ dalam hadis qudsi,يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.” (HR. Muslim no. 6737 dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu)Allah ﷻ mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan menetapkan sifat hikmah. Allah ﷻ tidak mungkin melakukan dan memutuskan perkara yang menyelisihi keadilan, sedangkan menghukum orang saleh dan mengganjar pahala bagi orang kafir adalah salah satu bentuk kezaliman.[Bersambung]***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleBantahan keras dari Allah ﷻ atas potensi perbuatan tersebutAllah memasukkan manusia ke surga dan neraka dengan keadilan-NyaTerdapat sebuah pertanyaan: mungkinkah Allah ﷻ menghukum orang yang taat luar biasa kepada-Nya di neraka dan orang yang mendurhakai-Nya diberi nikmat di surga? Pertanyaan ini muncul dari kajian pemikiran atau penalaran sebagian orang yang sibuk menguji konsep ketuhanan. Lantas, bagaimana perspektif ahlus sunah dalam hal ini?Ibnul Qayyim rahimahullah sudah menjawab hal ini dalam kitabnya, Ad-Daa wa Ad-Dawaa,لَمْ يَقْدِرْهُ حَقَّ قَدْرِهِ مَنْ قَالَ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يُعَذِّبَ أَوْلِيَاءَهُ، وَمَنْ لَمْ يَعْصِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَيُدْخِلَهُمْ دَارَ الْجَحِيمِ، وَيُنَعِّمَ أَعْدَاءَهُ وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَيُدْخِلَهُمْ دَارَ النَّعِيمِ“Tidaklah mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya orang yang mengatakan bahwa mungkin saja bagi Allah mengazab para wali-Nya dan orang-orang yang tidak pernah bermaksiat kepada-Nya, lalu memasukkan mereka ke dalam neraka Jahanam, serta memberikan nikmat kepada para musuh-Nya dan orang-orang yang tidak pernah beriman kepada-Nya, kemudian memasukkan mereka ke dalam surga.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 141; cet. Darul Marifah)Syubhatnya adalah bahwa Allah ﷻ itu maha kuasa untuk melakukan sesuatu. Daya-Nya tiada batas sehingga Dia berhak melakukan apa saja, termasuk menenggelamkan wali-Nya ke neraka dan memasukkan orang paling bejat ke surga. Dua tindakan ini, di sisi mereka sama saja dari segi potensi. Namun, menurut mereka, Allah ﷻ melakukan itu sebagai suatu bentuk ketetapan saja, tanpa menyelisihi sikap hikmah dan keadilan-Nya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah,وَأَنَّ كِلَا الْأَمْرَيْنِ بِالنِّسْبَةِ إِلَيْهِ سَوَاءٌ، وَإِنَّمَا الْخَبَرُ الْمَحْضُ جَاءَ عَنْهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ، فَمَعْنَاهُ لِلْخَبَرِ لَا لِمُخَالَفَةِ حِكْمَتِهِ وَعَدْلِهِ“Menurut orang ini, dua perkara itu sama di sisi-Nya. Kabar dari-Nya yang bertentangan dengan hal itu hanya pengabaran belaka. Dengan kata lain, tujuannya hanya pengabaran, tidak menyelisihi hikmah dan keadilan-Nya.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 141; cet. Darul Marifah)Bantahan keras dari Allah ﷻ atas potensi perbuatan tersebutNamun, sungguh Allah mengingkari hal ini dengan pengingkaran yang serius. Allah ﷻ menyebutkan praktik memasukkan wali-Nya ke neraka dan sebaliknya sebagai tindakan yang terburuk. Maha suci Allah ﷻ dari perbuatan semacam itu. Allah ﷻ berfirman,أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ“Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat.” (QS. Shad: 27-28)Allah ﷻ secara tegas mengatakan dengan kalimat pertanyaan, namun dengan maksud sebagai bentuk bantahan bahwa tindakan itu tidak pantas dilakukan oleh Allah ﷻ.Allah ﷻ mulai argumen ini dengan menyatakan bahwa penciptaan langit dan bumi itu tidaklah sia-sia. Pasti ada tujuan dan hikmah di baliknya.وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia.”Dalam bagian ayat ini, terdapat tiga penetapan:1) Allah ﷻ memiliki tujuan dalam perbuatan-Nya;2) Allah ﷻ memiliki sifat hikmah;3) Penciptaan langit dan bumi memiliki tujuan sesuai hikmah Allah ﷻ.Allah ﷻ menegaskan dugaan bahwa penciptaan langit dan bumi itu tidak ada tujuannya adalah pemikiran orang kafir. Atas dasar keyakinan ini, mereka pun masuk neraka. Allah ﷻ berfirman,ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ“Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (QS. Shad: 27-28)Maka, berbagai isme yang memiliki keyakinan semacam ini, mulai dari sebutan mazhab rasionalisme, materialisme, hingga ateisme, semuanya mendapatkan ancaman ini.Allah memasukkan manusia ke surga dan neraka dengan keadilan-NyaKonstruksi argumen keadilan Allah ﷻ juga disebutkan dalam QS. Al-Jatsiyah, di mana tujuan keadilan itu lebih tegas dinyatakan. Allah ﷻ berfirman,أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ – وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.” (QS. Al-Jatsiyah: 21-22)Dalam ayat ini, Allah ﷻ menggunakan susunan argumen yang sama dengan QS. Shad yang disebutkan, yaitu:1) Menafikan sangkaan bahwa Allah ﷻ akan menyamakan tindakan mukmin dan kafir;2) Menegaskan bahwa Allah ﷻ menciptakan langit dan bumi dengan tujuan.Apa tujuan itu? Tujuan utamanya yakni menjadi arena ujian untuk memisahkan hamba yang pantas masuk surga dan yang cocoknya menjadi penghuni neraka. Di ayat ke-22, Allah ﷻ menegaskan bahwa penciptaan alam semesta dilakukan bil haqq. Maksudnya, menurut Ibnu Katsir rahimahullah, adalah Allah ﷻ menciptakan alam semesta dengan keadilan. Yakni, adil dalam membalas perbuatan setiap orang tanpa menzalimi mereka sedikitpun.Firman Allah ﷻ ini sama seperti apa yang diungkapkan dalam firman-Nya yang lain,لَا يَسْتَوِىٓ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ وَأَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ ۚ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ“Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 20)Ibnu Katsir rahimahullah, tokoh otoritatif ahlus sunah, berkata dalam tafsirnya,سَاءَ مَا ظَنُّوا بِنَا وَبِعَدْلِنَا أَنْ نُسَاوي بَيْنَ الْأَبْرَارِ وَالْفُجَّارِ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ، وَفِي هَذِهِ الدَّارِ“Betapa buruknya dugaan mereka terhadap Allah ﷻ, padahal mustahil Allah ﷻ menyamakan di antara orang-orang yang bertakwa dengan orang-orang yang pendurhaka dalam kehidupan di negeri akhirat nanti dan juga dalam kehidupan di dunia ini.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Jatsiyah: 21, tafsir.app)Dugaan orang kafir yang diterangkan Ibnu Katsir rahimahullah ini jelas bertentangan dengan realita. Nyatanya, kehidupan orang yang saleh secara hakiki akan mendapatkan nikmat di dunia, apalagi di akhirat sebagai kampung sejati. Demikian pula kesudahan orang yang membangkang pasti tersiksa. Ini adalah sesuatu yang pasti terjadi. Adapun kita mendapati orang saleh mengalami kesulitan di dunia, hakikatnya tetaplah iman memberikan rasa lapang di hatinya. Atau sebaliknya, ketika orang kafir seakan mendapatkan nikmat di dunia, sejatinya jiwanya kosong dari rasa bahagia. Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menyatakan ini menyelisihi akal yang lurus. Demikian pula dalam tafsirnya, beliau menyatakan,بل الحكم الواقع القطعيُّ أنَّ المؤمنين العاملين الصالحات، لهم النَّصر والفلاح والسعادة والثواب في العاجل والآجل؛ كلٌّ على قدر إحسانه، وأنَّ المسيئين لهم الغضبُ والإهانةُ والعذاب والشقاء في الدُّنيا والآخرة.“Bahkan keputusan yang benar dan pasti adalah bahwa orang-orang beriman yang beramal saleh akan memperoleh pertolongan, keberuntungan, kebahagiaan, dan pahala di dunia maupun di akhirat, masing-masing sesuai kadar kebaikan yang mereka lakukan. Adapun orang-orang yang berbuat keburukan, bagi mereka kemurkaan, kehinaan, azab, dan kesengsaraan di dunia dan di akhirat.’ (Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, hal. 825; cet. Ar-Risalah)Dasarnya adalah karena Allah ﷻ mengharamkan diri-Nya dari kezaliman. Allah ﷻ berfirman melalui lisan Nabi ﷺ dalam hadis qudsi,يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.” (HR. Muslim no. 6737 dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu)Allah ﷻ mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan menetapkan sifat hikmah. Allah ﷻ tidak mungkin melakukan dan memutuskan perkara yang menyelisihi keadilan, sedangkan menghukum orang saleh dan mengganjar pahala bagi orang kafir adalah salah satu bentuk kezaliman.[Bersambung]***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Apa Arti Doa ‘Afiyah? ‘Afiyah Mencakup Apa Saja? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Al-‘Abbas, paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ajarilah aku doa untuk memohon kepada Allah dengan doa itu.” Beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Wahai Paman, mintalah ‘afiyah kepada Allah.” Beberapa hari pun berlalu. Kemudian Al-‘Abbas datang lagi seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ajarilah aku doa untuk memohon (kepada Allah) dengan doa itu.” Beliau bersabda, “Wahai Paman, mintalah ‘afiyah kepada Allah di dunia dan akhirat.” Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ahmad. At-Tirmidzi berkata, “Hadis ini sahih.” Imam Ahmad juga meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah berkhotbah di hadapan manusia. Beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhotbah di tempatku ini.” Kemudian Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menangis, lalu berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Mintalah ‘afiyah kepada Allah. Sebab, tidaklah seorang hamba diberi sesuatu, setelah keyakinan, yang lebih utama daripada ‘afiyah.’” Maka, meminta ‘afiyah kepada Allah termasuk doa yang agung, yang semestinya dijaga oleh seorang muslim setiap hari. Yaitu dengan membaca, “Aku memohon ‘afiyah di dunia dan akhirat kepada Allah.” Apa itu ‘afiyah? ‘Afiyah adalah keselamatan dari setiap perkara buruk yang menimpa seseorang dalam urusan agama maupun dunianya. ‘Afiyah dalam agama adalah Allah Ta’ala menyelamatkan agamamu, dari fitnah syubhat, dan fitnah syahwat, serta menjadikanmu tetap teguh di atas agama Allah ‘Azza wa Jalla hingga engkau berjumpa dengan-Nya. Adapun ‘afiyah di dunia, pertama-tama mencakup kesehatan badan. Yaitu Allah Ta’ala menjadikanmu sehat dan diberi keselamatan. ‘Afiyah juga mencakup keselamatan dari kegelisahan, kesempitan hati, kesedihan, dan semisalnya. ‘Afiyah juga mencakup keselamatan bagi keluargamu. Yaitu Allah ‘Azza wa Jalla menjaga agama mereka dan menjaga urusan dunia mereka. ‘Afiyah juga mencakup harta, yaitu Allah menjaga hartamu, dan hal-hal semisal itu. Karena itulah, di antara zikir pagi dan petang adalah: ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL ‘AAFIYAH FID DUN YAA WAL ‘AAKHIROH ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL ‘AAFIYAH FII DIINII WA DUN YAAYA WA AHLII WA MAALII“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ‘afiyah kepada-Mu di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan dan ‘afiyah kepada-Mu pada agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku.” (HR. Abu Dawud). ===== جَاءَ الْعَبَّاسُ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ، عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو اللهَ بِهِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: يَا عَمُّ، سَلِ اللهَ الْعَافِيَةَ ثُمَّ مَكَثَ أَيَّامًا، ثُمَّ جَاءَ مَرَّةً أُخْرَى فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ قَالَ: يَا عَمُّ، سَلِ اللهَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَأَحْمَدُ، وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ: هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ وَأَخْرَجَ أَحْمَدُ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ خَطَبَ النَّاسَ فَقَالَ: خَطَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَقَامِي هَذَا ثُمَّ بَكَى أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَلُوا اللهَ الْعَافِيَةَ فَإِنَّهُ مَا أُعْطِيَ الْعَبْدُ شَيْئًا بَعْدَ الْيَقِينِ، أَفْضَلَ مِنَ الْعَافِيَةِ فَسُؤَالُ اللهِ الْعَافِيَةَ مِنَ الْأَدْعِيَةِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهَا الْمُسْلِمُ كُلَّ يَوْمٍ أَنْ تَقُولَ: أَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ مَا هِيَ الْعَافِيَةُ؟ الْعَافِيَةُ هِيَ السَّلَامَةُ مِنْ كُلِّ مَكْرُوهٍ يُصِيبُ الْإِنْسَانَ فِي أُمُورِ دِينِهِ أَوْ دُنْيَاهُ الْعَافِيَةُ فِي الدِّينِ: أَنَّ اللهَ تَعَالَى يُسَلِّمُ لَكَ دِينَكَ مِنْ فِتَنِ الشُّبُهَاتِ وَفِتَنِ الشَّهَوَاتِ وَتَبْقَى ثَابِتًا عَلَى دِينِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى تَلْقَاهُ وَالْعَافِيَةُ فِي الدُّنْيَا تَشْمَلُ أَوَّلًا الصِّحَّةَ فِي الْبَدَنِ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَجْعَلُكَ صَحِيحًا مُعَافًى وَتَشْمَلُ كَذَلِكَ السَّلَامَةَ مِنَ الْهُمُومِ وَالْغُمُومِ وَالْأَحْزَانِ وَنَحْوِهَا وَتَشْمَلُ كَذَلِكَ الْعَافِيَةَ فِي أَهْلِكَ بِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَحْفَظُ عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ وَيَحْفَظُهُمْ فِي دُنْيَاهُمْ وَتَشْمَلُ كَذَلِكَ الْمَالَ بِأَنَّ اللهَ يَحْفَظُ عَلَيْكَ مَالَكَ، وَنَحْوَ ذَلِكَ وَلِهَذَا كَانَ مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي

Apa Arti Doa ‘Afiyah? ‘Afiyah Mencakup Apa Saja? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Al-‘Abbas, paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ajarilah aku doa untuk memohon kepada Allah dengan doa itu.” Beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Wahai Paman, mintalah ‘afiyah kepada Allah.” Beberapa hari pun berlalu. Kemudian Al-‘Abbas datang lagi seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ajarilah aku doa untuk memohon (kepada Allah) dengan doa itu.” Beliau bersabda, “Wahai Paman, mintalah ‘afiyah kepada Allah di dunia dan akhirat.” Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ahmad. At-Tirmidzi berkata, “Hadis ini sahih.” Imam Ahmad juga meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah berkhotbah di hadapan manusia. Beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhotbah di tempatku ini.” Kemudian Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menangis, lalu berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Mintalah ‘afiyah kepada Allah. Sebab, tidaklah seorang hamba diberi sesuatu, setelah keyakinan, yang lebih utama daripada ‘afiyah.’” Maka, meminta ‘afiyah kepada Allah termasuk doa yang agung, yang semestinya dijaga oleh seorang muslim setiap hari. Yaitu dengan membaca, “Aku memohon ‘afiyah di dunia dan akhirat kepada Allah.” Apa itu ‘afiyah? ‘Afiyah adalah keselamatan dari setiap perkara buruk yang menimpa seseorang dalam urusan agama maupun dunianya. ‘Afiyah dalam agama adalah Allah Ta’ala menyelamatkan agamamu, dari fitnah syubhat, dan fitnah syahwat, serta menjadikanmu tetap teguh di atas agama Allah ‘Azza wa Jalla hingga engkau berjumpa dengan-Nya. Adapun ‘afiyah di dunia, pertama-tama mencakup kesehatan badan. Yaitu Allah Ta’ala menjadikanmu sehat dan diberi keselamatan. ‘Afiyah juga mencakup keselamatan dari kegelisahan, kesempitan hati, kesedihan, dan semisalnya. ‘Afiyah juga mencakup keselamatan bagi keluargamu. Yaitu Allah ‘Azza wa Jalla menjaga agama mereka dan menjaga urusan dunia mereka. ‘Afiyah juga mencakup harta, yaitu Allah menjaga hartamu, dan hal-hal semisal itu. Karena itulah, di antara zikir pagi dan petang adalah: ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL ‘AAFIYAH FID DUN YAA WAL ‘AAKHIROH ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL ‘AAFIYAH FII DIINII WA DUN YAAYA WA AHLII WA MAALII“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ‘afiyah kepada-Mu di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan dan ‘afiyah kepada-Mu pada agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku.” (HR. Abu Dawud). ===== جَاءَ الْعَبَّاسُ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ، عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو اللهَ بِهِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: يَا عَمُّ، سَلِ اللهَ الْعَافِيَةَ ثُمَّ مَكَثَ أَيَّامًا، ثُمَّ جَاءَ مَرَّةً أُخْرَى فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ قَالَ: يَا عَمُّ، سَلِ اللهَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَأَحْمَدُ، وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ: هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ وَأَخْرَجَ أَحْمَدُ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ خَطَبَ النَّاسَ فَقَالَ: خَطَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَقَامِي هَذَا ثُمَّ بَكَى أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَلُوا اللهَ الْعَافِيَةَ فَإِنَّهُ مَا أُعْطِيَ الْعَبْدُ شَيْئًا بَعْدَ الْيَقِينِ، أَفْضَلَ مِنَ الْعَافِيَةِ فَسُؤَالُ اللهِ الْعَافِيَةَ مِنَ الْأَدْعِيَةِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهَا الْمُسْلِمُ كُلَّ يَوْمٍ أَنْ تَقُولَ: أَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ مَا هِيَ الْعَافِيَةُ؟ الْعَافِيَةُ هِيَ السَّلَامَةُ مِنْ كُلِّ مَكْرُوهٍ يُصِيبُ الْإِنْسَانَ فِي أُمُورِ دِينِهِ أَوْ دُنْيَاهُ الْعَافِيَةُ فِي الدِّينِ: أَنَّ اللهَ تَعَالَى يُسَلِّمُ لَكَ دِينَكَ مِنْ فِتَنِ الشُّبُهَاتِ وَفِتَنِ الشَّهَوَاتِ وَتَبْقَى ثَابِتًا عَلَى دِينِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى تَلْقَاهُ وَالْعَافِيَةُ فِي الدُّنْيَا تَشْمَلُ أَوَّلًا الصِّحَّةَ فِي الْبَدَنِ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَجْعَلُكَ صَحِيحًا مُعَافًى وَتَشْمَلُ كَذَلِكَ السَّلَامَةَ مِنَ الْهُمُومِ وَالْغُمُومِ وَالْأَحْزَانِ وَنَحْوِهَا وَتَشْمَلُ كَذَلِكَ الْعَافِيَةَ فِي أَهْلِكَ بِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَحْفَظُ عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ وَيَحْفَظُهُمْ فِي دُنْيَاهُمْ وَتَشْمَلُ كَذَلِكَ الْمَالَ بِأَنَّ اللهَ يَحْفَظُ عَلَيْكَ مَالَكَ، وَنَحْوَ ذَلِكَ وَلِهَذَا كَانَ مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي
Al-‘Abbas, paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ajarilah aku doa untuk memohon kepada Allah dengan doa itu.” Beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Wahai Paman, mintalah ‘afiyah kepada Allah.” Beberapa hari pun berlalu. Kemudian Al-‘Abbas datang lagi seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ajarilah aku doa untuk memohon (kepada Allah) dengan doa itu.” Beliau bersabda, “Wahai Paman, mintalah ‘afiyah kepada Allah di dunia dan akhirat.” Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ahmad. At-Tirmidzi berkata, “Hadis ini sahih.” Imam Ahmad juga meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah berkhotbah di hadapan manusia. Beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhotbah di tempatku ini.” Kemudian Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menangis, lalu berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Mintalah ‘afiyah kepada Allah. Sebab, tidaklah seorang hamba diberi sesuatu, setelah keyakinan, yang lebih utama daripada ‘afiyah.’” Maka, meminta ‘afiyah kepada Allah termasuk doa yang agung, yang semestinya dijaga oleh seorang muslim setiap hari. Yaitu dengan membaca, “Aku memohon ‘afiyah di dunia dan akhirat kepada Allah.” Apa itu ‘afiyah? ‘Afiyah adalah keselamatan dari setiap perkara buruk yang menimpa seseorang dalam urusan agama maupun dunianya. ‘Afiyah dalam agama adalah Allah Ta’ala menyelamatkan agamamu, dari fitnah syubhat, dan fitnah syahwat, serta menjadikanmu tetap teguh di atas agama Allah ‘Azza wa Jalla hingga engkau berjumpa dengan-Nya. Adapun ‘afiyah di dunia, pertama-tama mencakup kesehatan badan. Yaitu Allah Ta’ala menjadikanmu sehat dan diberi keselamatan. ‘Afiyah juga mencakup keselamatan dari kegelisahan, kesempitan hati, kesedihan, dan semisalnya. ‘Afiyah juga mencakup keselamatan bagi keluargamu. Yaitu Allah ‘Azza wa Jalla menjaga agama mereka dan menjaga urusan dunia mereka. ‘Afiyah juga mencakup harta, yaitu Allah menjaga hartamu, dan hal-hal semisal itu. Karena itulah, di antara zikir pagi dan petang adalah: ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL ‘AAFIYAH FID DUN YAA WAL ‘AAKHIROH ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL ‘AAFIYAH FII DIINII WA DUN YAAYA WA AHLII WA MAALII“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ‘afiyah kepada-Mu di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan dan ‘afiyah kepada-Mu pada agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku.” (HR. Abu Dawud). ===== جَاءَ الْعَبَّاسُ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ، عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو اللهَ بِهِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: يَا عَمُّ، سَلِ اللهَ الْعَافِيَةَ ثُمَّ مَكَثَ أَيَّامًا، ثُمَّ جَاءَ مَرَّةً أُخْرَى فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ قَالَ: يَا عَمُّ، سَلِ اللهَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَأَحْمَدُ، وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ: هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ وَأَخْرَجَ أَحْمَدُ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ خَطَبَ النَّاسَ فَقَالَ: خَطَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَقَامِي هَذَا ثُمَّ بَكَى أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَلُوا اللهَ الْعَافِيَةَ فَإِنَّهُ مَا أُعْطِيَ الْعَبْدُ شَيْئًا بَعْدَ الْيَقِينِ، أَفْضَلَ مِنَ الْعَافِيَةِ فَسُؤَالُ اللهِ الْعَافِيَةَ مِنَ الْأَدْعِيَةِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهَا الْمُسْلِمُ كُلَّ يَوْمٍ أَنْ تَقُولَ: أَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ مَا هِيَ الْعَافِيَةُ؟ الْعَافِيَةُ هِيَ السَّلَامَةُ مِنْ كُلِّ مَكْرُوهٍ يُصِيبُ الْإِنْسَانَ فِي أُمُورِ دِينِهِ أَوْ دُنْيَاهُ الْعَافِيَةُ فِي الدِّينِ: أَنَّ اللهَ تَعَالَى يُسَلِّمُ لَكَ دِينَكَ مِنْ فِتَنِ الشُّبُهَاتِ وَفِتَنِ الشَّهَوَاتِ وَتَبْقَى ثَابِتًا عَلَى دِينِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى تَلْقَاهُ وَالْعَافِيَةُ فِي الدُّنْيَا تَشْمَلُ أَوَّلًا الصِّحَّةَ فِي الْبَدَنِ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَجْعَلُكَ صَحِيحًا مُعَافًى وَتَشْمَلُ كَذَلِكَ السَّلَامَةَ مِنَ الْهُمُومِ وَالْغُمُومِ وَالْأَحْزَانِ وَنَحْوِهَا وَتَشْمَلُ كَذَلِكَ الْعَافِيَةَ فِي أَهْلِكَ بِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَحْفَظُ عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ وَيَحْفَظُهُمْ فِي دُنْيَاهُمْ وَتَشْمَلُ كَذَلِكَ الْمَالَ بِأَنَّ اللهَ يَحْفَظُ عَلَيْكَ مَالَكَ، وَنَحْوَ ذَلِكَ وَلِهَذَا كَانَ مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي


Al-‘Abbas, paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ajarilah aku doa untuk memohon kepada Allah dengan doa itu.” Beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Wahai Paman, mintalah ‘afiyah kepada Allah.” Beberapa hari pun berlalu. Kemudian Al-‘Abbas datang lagi seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ajarilah aku doa untuk memohon (kepada Allah) dengan doa itu.” Beliau bersabda, “Wahai Paman, mintalah ‘afiyah kepada Allah di dunia dan akhirat.” Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ahmad. At-Tirmidzi berkata, “Hadis ini sahih.” Imam Ahmad juga meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah berkhotbah di hadapan manusia. Beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhotbah di tempatku ini.” Kemudian Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menangis, lalu berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Mintalah ‘afiyah kepada Allah. Sebab, tidaklah seorang hamba diberi sesuatu, setelah keyakinan, yang lebih utama daripada ‘afiyah.’” Maka, meminta ‘afiyah kepada Allah termasuk doa yang agung, yang semestinya dijaga oleh seorang muslim setiap hari. Yaitu dengan membaca, “Aku memohon ‘afiyah di dunia dan akhirat kepada Allah.” Apa itu ‘afiyah? ‘Afiyah adalah keselamatan dari setiap perkara buruk yang menimpa seseorang dalam urusan agama maupun dunianya. ‘Afiyah dalam agama adalah Allah Ta’ala menyelamatkan agamamu, dari fitnah syubhat, dan fitnah syahwat, serta menjadikanmu tetap teguh di atas agama Allah ‘Azza wa Jalla hingga engkau berjumpa dengan-Nya. Adapun ‘afiyah di dunia, pertama-tama mencakup kesehatan badan. Yaitu Allah Ta’ala menjadikanmu sehat dan diberi keselamatan. ‘Afiyah juga mencakup keselamatan dari kegelisahan, kesempitan hati, kesedihan, dan semisalnya. ‘Afiyah juga mencakup keselamatan bagi keluargamu. Yaitu Allah ‘Azza wa Jalla menjaga agama mereka dan menjaga urusan dunia mereka. ‘Afiyah juga mencakup harta, yaitu Allah menjaga hartamu, dan hal-hal semisal itu. Karena itulah, di antara zikir pagi dan petang adalah: ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL ‘AAFIYAH FID DUN YAA WAL ‘AAKHIROH ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL ‘AAFIYAH FII DIINII WA DUN YAAYA WA AHLII WA MAALII“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ‘afiyah kepada-Mu di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan dan ‘afiyah kepada-Mu pada agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku.” (HR. Abu Dawud). ===== جَاءَ الْعَبَّاسُ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ، عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو اللهَ بِهِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: يَا عَمُّ، سَلِ اللهَ الْعَافِيَةَ ثُمَّ مَكَثَ أَيَّامًا، ثُمَّ جَاءَ مَرَّةً أُخْرَى فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ قَالَ: يَا عَمُّ، سَلِ اللهَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَأَحْمَدُ، وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ: هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ وَأَخْرَجَ أَحْمَدُ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ خَطَبَ النَّاسَ فَقَالَ: خَطَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَقَامِي هَذَا ثُمَّ بَكَى أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَلُوا اللهَ الْعَافِيَةَ فَإِنَّهُ مَا أُعْطِيَ الْعَبْدُ شَيْئًا بَعْدَ الْيَقِينِ، أَفْضَلَ مِنَ الْعَافِيَةِ فَسُؤَالُ اللهِ الْعَافِيَةَ مِنَ الْأَدْعِيَةِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهَا الْمُسْلِمُ كُلَّ يَوْمٍ أَنْ تَقُولَ: أَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ مَا هِيَ الْعَافِيَةُ؟ الْعَافِيَةُ هِيَ السَّلَامَةُ مِنْ كُلِّ مَكْرُوهٍ يُصِيبُ الْإِنْسَانَ فِي أُمُورِ دِينِهِ أَوْ دُنْيَاهُ الْعَافِيَةُ فِي الدِّينِ: أَنَّ اللهَ تَعَالَى يُسَلِّمُ لَكَ دِينَكَ مِنْ فِتَنِ الشُّبُهَاتِ وَفِتَنِ الشَّهَوَاتِ وَتَبْقَى ثَابِتًا عَلَى دِينِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى تَلْقَاهُ وَالْعَافِيَةُ فِي الدُّنْيَا تَشْمَلُ أَوَّلًا الصِّحَّةَ فِي الْبَدَنِ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَجْعَلُكَ صَحِيحًا مُعَافًى وَتَشْمَلُ كَذَلِكَ السَّلَامَةَ مِنَ الْهُمُومِ وَالْغُمُومِ وَالْأَحْزَانِ وَنَحْوِهَا وَتَشْمَلُ كَذَلِكَ الْعَافِيَةَ فِي أَهْلِكَ بِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَحْفَظُ عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ وَيَحْفَظُهُمْ فِي دُنْيَاهُمْ وَتَشْمَلُ كَذَلِكَ الْمَالَ بِأَنَّ اللهَ يَحْفَظُ عَلَيْكَ مَالَكَ، وَنَحْوَ ذَلِكَ وَلِهَذَا كَانَ مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي

Saat Tak Ada yang Melihat

Daftar Isi ToggleSepi yang tidak pernah hampaMengapa musuh lebih suka kita sendirian?Anti-klimaks imanParadoks sepiPernahkah kita berhenti sejenak dan merasakan betapa nikmatnya momen saat pintu kamar tertutup rapat? Di ruang itu, tidak ada atasan yang mengawasi kinerja, tidak ada tetangga yang mengomentari penampilan, dan tidak ada kawan yang siap melontarkan kritik. Hanya ada kita, helaan napas, dan mungkin selimut yang hangat. Di sanalah kita merasa menjadi raja atas diri sendiri. Semua topeng sosial yang kita kenakan seharian seolah luruh satu per satu. Kita merasa aman. Merdeka. Seolah beban dunia tak mampu mengetuk pintu.Namun, di balik rasa aman yang semu itu, seringkali kita justru lengah terhadap satu kenyataan pahit. Dan justru di ruang kosong tanpa saksi mata inilah, ujian paling fundamental bagi keimanan seorang muslim dimulai. Kita kerap menganggap remeh kesendirian. Padahal, ia adalah medan perang bisu antara suara hati nurani melawan gemuruh hawa nafsu yang tak terkendali. Jika di keramaian kita tertahan oleh malu dan takut celaan manusia, di dalam sunyi tidak ada lagi tembok penghalang semacam itu. Semua pagar telah runtuh, menyisakan diri kita yang telanjang di hadapan pilihan: taat dalam diam, atau bermaksiat dalam gelap.Kita sering berasumsi bahwa “sendirian” berarti kosong melompong tanpa teman. Anggapan itu keliru besar. Dalam kacamata akidah Islam, tidak ada ruang yang benar-benar hampa dari penghuni. Ketika seluruh manusia berpaling dari kita, di situlah makhluk lain mendekat untuk mengisi kekosongan jiwa. Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan yang sangat gamblang tentang dinamika ini. Dari ‘Abdullah bin ‘amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda,الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ، وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ، وَالثَّلاَثَةُ رَكْبٌ“Sesungguhnya orang yang berkendaraan (sendirian) itu (ditemani) setan. Dua orang yang berkendaraan itu (ditemani) dua setan. Adapun tiga orang, maka itu adalah rombongan (yang selamat dari setan).”  (HR. Abu Dawud no. 2607, At-Tirmidzi no. 1674, dan dinilai hasan shahih oleh At-Tirmidzi, serta disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2797)Hadis ini membongkar ilusi kita tentang sepi. Ternyata, kursi kosong di samping kita saat menyetir sendiri, atau sudut kamar yang gelap saat kita terjaga di malam hari, berpotensi menjadi singgasana bagi musuh abadi kita, yaitu Iblis dan bala tentaranya.Sepi yang tidak pernah hampaMungkin dalam persepsi awam, kesendirian sering dinilai sebagai kondisi netral; ibarat kanvas kosong yang bisa diisi apa saja. Namun, syariat justru memandangnya sebagai kondisi yang sangat rawan dan kritis. Mengapa demikian? Karena ketika seorang hamba menjauh dari interaksi sosial yang positif, pintu al-khatharat (bisikan-bisikan jiwa) akan terbuka lebar. Pikiran yang biasanya sibuk dengan urusan duniawi, tiba-tiba memiliki ruang kosong untuk mengembara ke lorong-lorong masa lalu yang kelam atau fantasi masa depan yang tak halal. Di sinilah, dalam terminologi Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah, terjadi al-khalwah al-murdiyah—kesendirian yang justru menjerumuskan.Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan (1: 62) mengibaratkan hati yang kosong dari zikrullah sebagai rumah kosong tak berpenghuni. Rumah itu akan segera ditempati oleh para penyamun. Beliau berkata, “Hati yang kosong dari mengingat Allah, setan akan menempatinya. Ia akan menjadikannya sebagai sarang dan tempat menetap. Maka, tidaklah hati itu kosong dari zikir, kecuali akan ditempati oleh bisikan-bisikan buruk.”Oleh karenanya, kesendirian tanpa kehadiran hati bersama Allah adalah celah selebar-lebarnya bagi musuh untuk menyusup. Tidak perlu paksaan fisik, cukup dengan sugesti halus yang dibungkus dengan logika menipu, “Ah, cuma lihat sebentar, nggak ada yang tahu” atau “Sekali ini saja, habis itu tobat.”Proses ini berlangsung secara gradual, mengikuti langkah-langkah setan yang Allah Ta’ala abadikan dalam firman-Nya,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka ketahuilah, ia menyuruh kepada perbuatan yang keji dan mungkar.” (QS. An-Nur [24]: 21)Setan tidak langsung mengajak pada puncak kemungkaran. Ia memulai dengan langkah-langkah kecil, mulai dari rasa penasaran, pandangan sekilas, atau lamunan kosong. Langkah-langkah itu paling efektif dijejakkan saat kita merasa tidak ada yang mengawasi. Maka, kondisi sendiri jangan pernah anggap remeh. Takutilah kondisi ini, karena kesendirian bisa mengakibatkan kehancuran bilamana tidak ada kekuatan iman yang menahannya, jiwa akan tertarik jatuh ke jurang kemaksiatanMengapa musuh lebih suka kita sendirian?Pertanyaan ini sederhana, namun jawabannya menelanjangi kelemahan fitrah kita. Setan menyukai orang yang sendirian karena tidak ada penghalang (mani’) yang menghambat aksesnya. Saat kita duduk bersama orang-orang saleh, atau bahkan sekadar ditemani anggota keluarga yang menjaga pandangan, terdapat semacam kontrol sosial alami. Ada rasa malu jika ketahuan melakukan aib. Ada kemungkinan ditegur jika mulai menyimpang. Ada pihak ketiga yang bisa memutus aliran bisikan jahat. Inilah yang dalam kaidah fikih disebut الاجتماع على الخير (berkumpul di atas kebaikan) sebagai benteng pertahanan.Sebaliknya, dalam kesendirian, semua mekanisme pertahanan itu lenyap. Tidak ada yang akan menegur, tidak ada yang akan mengingatkan, dan tidak ada yang akan tahu persis apa yang dilakukan oleh jemari atau dijelajahi oleh mata. Setan memanfaatkan ilusi “tidak ada yang tahu” ini untuk mengendurkan ikatan iman di hati.Ibnul Jauzi rahimahullah dalam Talbis Iblis menegaskan bahwa tipu daya Iblis yang paling hebat adalah membuat manusia merasa aman dari makar Allah. Beliau menulis, “Khalwat (menyendiri) adalah pintu masuknya segala keburukan bagi orang yang tidak mengawalinya dengan zikir dan tilawah. Setan mengincar orang yang menyendiri dari ketaatan kepada Allah, lalu menggiringnya menuju kemaksiatan.”[1]Situasi ini semakin runyam jika kita refleksikan dengan kondisi zaman ini. Dahulu, “sendiri” berarti benar-benar terisolasi secara fisik. Sekarang, “sendiri” seringkali berarti hanya berdua dengan gawai yang terkoneksi internet. Sebuah paradoks yang mengerikan! Karena tubuh kita sendiri di kamar, namun jiwa kita “ditemani” jutaan konten dan interaksi maya yang seringkali justru menjadi corong setan. Layar gawai menjelma menjadi teman yang tidak pernah menegur maksiat, melainkan justru memfasilitasinya dengan sekali sentuh. Allah Ta’ala telah mengingatkan tentang pengetahuan-Nya yang mutlak menembus sekat ini,يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ“Dia (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir [40]: 19)Lisan kita mungkin diam, mulut tak berucap, namun pandangan mata yang liar saat sendiri, dan pikiran kotor yang bersemayam di dada, semuanya tercatat rapi di sisi-Nya tanpa ada yang terlewat. Setan membisiki bahwa tidak ada manusia yang melihat, tapi ia sengaja menutupi fakta bahwa Ar-Raqib (Yang Maha Mengawasi) tidak pernah berkedip.Anti-klimaks imanSatu hal yang wajib kita pahami tentang skenario setan adalah bahwa ia tidak pernah terburu-buru. Ia adalah perencana jangka panjang yang sangat sabar. Tidak ada pelaku dosa besar yang tiba-tiba melompat dari ketaatan sempurna ke jurang kemaksiatan kelas kakap. Semua bermula dari استصغار الذنب (istishghar adz-dzanb)—menganggap remeh dosa kecil. Dan laboratorium paling ideal untuk eksperimen dosa-dosa kecil ini adalah di ruang-ruang sunyi yang kita anggap privat.Mungkin awalnya hanya “sekadar” melihat foto yang tidak seharusnya. Hanya “sekadar” penasaran dengan tautan yang mencurigakan. Hanya “sekadar” membuka obrolan yang tak perlu. Atau hanya “sekadar” menggunjing tanpa suara melalui pesan teks. Skala perbuatan itu memang tampak mini. Tapi esensi pembangkangannya kepada Allah di saat sepi justru sangat besar. Mengapa? Karena ia menunjukkan bahwa rasa takut kita kepada makhluk lebih besar daripada rasa takut kita kepada Al-Khaliq. Rasulullah ﷺ mengilustrasikan akumulasi dosa-dosa kecil ini dengan perumpamaan yang sangat mengena,إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ“Jauhilah oleh kalian dosa-dosa yang dianggap remeh (kecil). Karena sesungguhnya dosa-dosa itu akan berkumpul pada diri seseorang hingga membinasakannya.” (HR. Ahmad no. 22808 dari Sahl bin Sa’d, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2687)Perhatikan diksi hadis ini: يَجْتَمِعْنَ (berkumpul). Prosesnya seperti tumpukan debu halus yang lama-kelamaan menjadi gundukan tanah yang mengubur pelakunya hidup-hidup. Di tempat sunyi, tanpa saksi manusia, kita merasa satu dosa kecil tidak akan berpengaruh apa-apa. Kita lupa bahwa Allah Ta’ala tidak melihat besar kecilnya wujud dosa, tetapi Dia melihat kepada siapa dosa itu ditujukan. Kemaksiatan di saat sendiri adalah bentuk paling vulgar dari sikap tidak peduli terhadap pengawasan Allah. Kemaksiatan adalah deklarasi pemberontakan diam-diam, “Aku tahu Engkau melihat, ya Allah, tapi aku tidak peduli karena aku lebih menikmati kenikmatan yang Engkau larang ini.” Wal’iyadzu billah. Dari titik inilah hati mulai mengeras, dari kesendirian yang kotor menuju kebinasaan yang abadi.Paradoks sepiKita tidak boleh terjebak dalam sikap paranoid yang menganggap bahwa setiap bentuk kesendirian itu pasti buruk dan harus dihindari. Justru, dalam ajaran Islam, terdapat satu bentuk kesendirian yang memiliki nilai sangat tinggi di sisi Allah. Inilah yang disebut dengan الخلوة بالله (Al-Khalwah billah)—menyendiri bersama Allah. Jika saat sendiri kita memilih berteman dengan setan melalui kemaksiatan, maka itu adalah kehinaan. Namun, jika saat sendiri kita memilih “berteman” dengan Allah melalui ketaatan, maka itu adalah kemuliaan yang tiada tara.Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa salah satu dari tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah pada hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya adalah,وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ“Dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam keadaan sendiri, lalu kedua matanya meneteskan air mata.” (HR. Al-Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)Inilah bedanya. Ketika orang lain menggunakan kesendirian untuk menyalurkan syahwat yang haram, seorang mukmin sejati justru menggunakan kesendiriannya untuk mencurahkan isi hati hanya kepada Tuhannya. Saat tak ada manusia yang melihat, ia justru menangis karena takut kepada-Nya. Tangisan itu bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti autentik keimanan. Dalam momen inilah, kesendirian berubah fungsi dari selokan dosa menjadi taman surga. Al-Qur’an seringkali menggambarkan para Nabi dan orang saleh yang melakukan ibadah di keheningan malam, seperti firman Allah tentang Nabi Zakariyya,إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam [19]: 3)Doa yang tersembunyi, tangis yang tak diperdengarkan kepada manusia, sujud panjang di sepertiga malam terakhir—inilah harta karun yang hanya bisa digali saat kita sedang sendiri. Maka, paradoks ini harus kita renungkan: tempat yang sama bisa menjadi sebab datangnya azab, dan bisa juga menjadi sebab turunnya rahmat. Pembedanya hanyalah satu, yaitu: Siapa yang kita pilih untuk menemani? Apakah kita lebih suka ditemani bisikan setan yang menipu, ataukah kita lebih merindukan kehadiran Al-Malik (Sang Raja) yang mengawasi dengan penuh kasih? Jawaban dari pertanyaan inilah yang akan membentuk perjalanan spiritual kita kelak di akhirat.Wallahu a’lam bish-shawab.***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Lihat Talbis Iblis, hal. 331

Saat Tak Ada yang Melihat

Daftar Isi ToggleSepi yang tidak pernah hampaMengapa musuh lebih suka kita sendirian?Anti-klimaks imanParadoks sepiPernahkah kita berhenti sejenak dan merasakan betapa nikmatnya momen saat pintu kamar tertutup rapat? Di ruang itu, tidak ada atasan yang mengawasi kinerja, tidak ada tetangga yang mengomentari penampilan, dan tidak ada kawan yang siap melontarkan kritik. Hanya ada kita, helaan napas, dan mungkin selimut yang hangat. Di sanalah kita merasa menjadi raja atas diri sendiri. Semua topeng sosial yang kita kenakan seharian seolah luruh satu per satu. Kita merasa aman. Merdeka. Seolah beban dunia tak mampu mengetuk pintu.Namun, di balik rasa aman yang semu itu, seringkali kita justru lengah terhadap satu kenyataan pahit. Dan justru di ruang kosong tanpa saksi mata inilah, ujian paling fundamental bagi keimanan seorang muslim dimulai. Kita kerap menganggap remeh kesendirian. Padahal, ia adalah medan perang bisu antara suara hati nurani melawan gemuruh hawa nafsu yang tak terkendali. Jika di keramaian kita tertahan oleh malu dan takut celaan manusia, di dalam sunyi tidak ada lagi tembok penghalang semacam itu. Semua pagar telah runtuh, menyisakan diri kita yang telanjang di hadapan pilihan: taat dalam diam, atau bermaksiat dalam gelap.Kita sering berasumsi bahwa “sendirian” berarti kosong melompong tanpa teman. Anggapan itu keliru besar. Dalam kacamata akidah Islam, tidak ada ruang yang benar-benar hampa dari penghuni. Ketika seluruh manusia berpaling dari kita, di situlah makhluk lain mendekat untuk mengisi kekosongan jiwa. Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan yang sangat gamblang tentang dinamika ini. Dari ‘Abdullah bin ‘amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda,الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ، وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ، وَالثَّلاَثَةُ رَكْبٌ“Sesungguhnya orang yang berkendaraan (sendirian) itu (ditemani) setan. Dua orang yang berkendaraan itu (ditemani) dua setan. Adapun tiga orang, maka itu adalah rombongan (yang selamat dari setan).”  (HR. Abu Dawud no. 2607, At-Tirmidzi no. 1674, dan dinilai hasan shahih oleh At-Tirmidzi, serta disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2797)Hadis ini membongkar ilusi kita tentang sepi. Ternyata, kursi kosong di samping kita saat menyetir sendiri, atau sudut kamar yang gelap saat kita terjaga di malam hari, berpotensi menjadi singgasana bagi musuh abadi kita, yaitu Iblis dan bala tentaranya.Sepi yang tidak pernah hampaMungkin dalam persepsi awam, kesendirian sering dinilai sebagai kondisi netral; ibarat kanvas kosong yang bisa diisi apa saja. Namun, syariat justru memandangnya sebagai kondisi yang sangat rawan dan kritis. Mengapa demikian? Karena ketika seorang hamba menjauh dari interaksi sosial yang positif, pintu al-khatharat (bisikan-bisikan jiwa) akan terbuka lebar. Pikiran yang biasanya sibuk dengan urusan duniawi, tiba-tiba memiliki ruang kosong untuk mengembara ke lorong-lorong masa lalu yang kelam atau fantasi masa depan yang tak halal. Di sinilah, dalam terminologi Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah, terjadi al-khalwah al-murdiyah—kesendirian yang justru menjerumuskan.Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan (1: 62) mengibaratkan hati yang kosong dari zikrullah sebagai rumah kosong tak berpenghuni. Rumah itu akan segera ditempati oleh para penyamun. Beliau berkata, “Hati yang kosong dari mengingat Allah, setan akan menempatinya. Ia akan menjadikannya sebagai sarang dan tempat menetap. Maka, tidaklah hati itu kosong dari zikir, kecuali akan ditempati oleh bisikan-bisikan buruk.”Oleh karenanya, kesendirian tanpa kehadiran hati bersama Allah adalah celah selebar-lebarnya bagi musuh untuk menyusup. Tidak perlu paksaan fisik, cukup dengan sugesti halus yang dibungkus dengan logika menipu, “Ah, cuma lihat sebentar, nggak ada yang tahu” atau “Sekali ini saja, habis itu tobat.”Proses ini berlangsung secara gradual, mengikuti langkah-langkah setan yang Allah Ta’ala abadikan dalam firman-Nya,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka ketahuilah, ia menyuruh kepada perbuatan yang keji dan mungkar.” (QS. An-Nur [24]: 21)Setan tidak langsung mengajak pada puncak kemungkaran. Ia memulai dengan langkah-langkah kecil, mulai dari rasa penasaran, pandangan sekilas, atau lamunan kosong. Langkah-langkah itu paling efektif dijejakkan saat kita merasa tidak ada yang mengawasi. Maka, kondisi sendiri jangan pernah anggap remeh. Takutilah kondisi ini, karena kesendirian bisa mengakibatkan kehancuran bilamana tidak ada kekuatan iman yang menahannya, jiwa akan tertarik jatuh ke jurang kemaksiatanMengapa musuh lebih suka kita sendirian?Pertanyaan ini sederhana, namun jawabannya menelanjangi kelemahan fitrah kita. Setan menyukai orang yang sendirian karena tidak ada penghalang (mani’) yang menghambat aksesnya. Saat kita duduk bersama orang-orang saleh, atau bahkan sekadar ditemani anggota keluarga yang menjaga pandangan, terdapat semacam kontrol sosial alami. Ada rasa malu jika ketahuan melakukan aib. Ada kemungkinan ditegur jika mulai menyimpang. Ada pihak ketiga yang bisa memutus aliran bisikan jahat. Inilah yang dalam kaidah fikih disebut الاجتماع على الخير (berkumpul di atas kebaikan) sebagai benteng pertahanan.Sebaliknya, dalam kesendirian, semua mekanisme pertahanan itu lenyap. Tidak ada yang akan menegur, tidak ada yang akan mengingatkan, dan tidak ada yang akan tahu persis apa yang dilakukan oleh jemari atau dijelajahi oleh mata. Setan memanfaatkan ilusi “tidak ada yang tahu” ini untuk mengendurkan ikatan iman di hati.Ibnul Jauzi rahimahullah dalam Talbis Iblis menegaskan bahwa tipu daya Iblis yang paling hebat adalah membuat manusia merasa aman dari makar Allah. Beliau menulis, “Khalwat (menyendiri) adalah pintu masuknya segala keburukan bagi orang yang tidak mengawalinya dengan zikir dan tilawah. Setan mengincar orang yang menyendiri dari ketaatan kepada Allah, lalu menggiringnya menuju kemaksiatan.”[1]Situasi ini semakin runyam jika kita refleksikan dengan kondisi zaman ini. Dahulu, “sendiri” berarti benar-benar terisolasi secara fisik. Sekarang, “sendiri” seringkali berarti hanya berdua dengan gawai yang terkoneksi internet. Sebuah paradoks yang mengerikan! Karena tubuh kita sendiri di kamar, namun jiwa kita “ditemani” jutaan konten dan interaksi maya yang seringkali justru menjadi corong setan. Layar gawai menjelma menjadi teman yang tidak pernah menegur maksiat, melainkan justru memfasilitasinya dengan sekali sentuh. Allah Ta’ala telah mengingatkan tentang pengetahuan-Nya yang mutlak menembus sekat ini,يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ“Dia (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir [40]: 19)Lisan kita mungkin diam, mulut tak berucap, namun pandangan mata yang liar saat sendiri, dan pikiran kotor yang bersemayam di dada, semuanya tercatat rapi di sisi-Nya tanpa ada yang terlewat. Setan membisiki bahwa tidak ada manusia yang melihat, tapi ia sengaja menutupi fakta bahwa Ar-Raqib (Yang Maha Mengawasi) tidak pernah berkedip.Anti-klimaks imanSatu hal yang wajib kita pahami tentang skenario setan adalah bahwa ia tidak pernah terburu-buru. Ia adalah perencana jangka panjang yang sangat sabar. Tidak ada pelaku dosa besar yang tiba-tiba melompat dari ketaatan sempurna ke jurang kemaksiatan kelas kakap. Semua bermula dari استصغار الذنب (istishghar adz-dzanb)—menganggap remeh dosa kecil. Dan laboratorium paling ideal untuk eksperimen dosa-dosa kecil ini adalah di ruang-ruang sunyi yang kita anggap privat.Mungkin awalnya hanya “sekadar” melihat foto yang tidak seharusnya. Hanya “sekadar” penasaran dengan tautan yang mencurigakan. Hanya “sekadar” membuka obrolan yang tak perlu. Atau hanya “sekadar” menggunjing tanpa suara melalui pesan teks. Skala perbuatan itu memang tampak mini. Tapi esensi pembangkangannya kepada Allah di saat sepi justru sangat besar. Mengapa? Karena ia menunjukkan bahwa rasa takut kita kepada makhluk lebih besar daripada rasa takut kita kepada Al-Khaliq. Rasulullah ﷺ mengilustrasikan akumulasi dosa-dosa kecil ini dengan perumpamaan yang sangat mengena,إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ“Jauhilah oleh kalian dosa-dosa yang dianggap remeh (kecil). Karena sesungguhnya dosa-dosa itu akan berkumpul pada diri seseorang hingga membinasakannya.” (HR. Ahmad no. 22808 dari Sahl bin Sa’d, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2687)Perhatikan diksi hadis ini: يَجْتَمِعْنَ (berkumpul). Prosesnya seperti tumpukan debu halus yang lama-kelamaan menjadi gundukan tanah yang mengubur pelakunya hidup-hidup. Di tempat sunyi, tanpa saksi manusia, kita merasa satu dosa kecil tidak akan berpengaruh apa-apa. Kita lupa bahwa Allah Ta’ala tidak melihat besar kecilnya wujud dosa, tetapi Dia melihat kepada siapa dosa itu ditujukan. Kemaksiatan di saat sendiri adalah bentuk paling vulgar dari sikap tidak peduli terhadap pengawasan Allah. Kemaksiatan adalah deklarasi pemberontakan diam-diam, “Aku tahu Engkau melihat, ya Allah, tapi aku tidak peduli karena aku lebih menikmati kenikmatan yang Engkau larang ini.” Wal’iyadzu billah. Dari titik inilah hati mulai mengeras, dari kesendirian yang kotor menuju kebinasaan yang abadi.Paradoks sepiKita tidak boleh terjebak dalam sikap paranoid yang menganggap bahwa setiap bentuk kesendirian itu pasti buruk dan harus dihindari. Justru, dalam ajaran Islam, terdapat satu bentuk kesendirian yang memiliki nilai sangat tinggi di sisi Allah. Inilah yang disebut dengan الخلوة بالله (Al-Khalwah billah)—menyendiri bersama Allah. Jika saat sendiri kita memilih berteman dengan setan melalui kemaksiatan, maka itu adalah kehinaan. Namun, jika saat sendiri kita memilih “berteman” dengan Allah melalui ketaatan, maka itu adalah kemuliaan yang tiada tara.Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa salah satu dari tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah pada hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya adalah,وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ“Dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam keadaan sendiri, lalu kedua matanya meneteskan air mata.” (HR. Al-Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)Inilah bedanya. Ketika orang lain menggunakan kesendirian untuk menyalurkan syahwat yang haram, seorang mukmin sejati justru menggunakan kesendiriannya untuk mencurahkan isi hati hanya kepada Tuhannya. Saat tak ada manusia yang melihat, ia justru menangis karena takut kepada-Nya. Tangisan itu bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti autentik keimanan. Dalam momen inilah, kesendirian berubah fungsi dari selokan dosa menjadi taman surga. Al-Qur’an seringkali menggambarkan para Nabi dan orang saleh yang melakukan ibadah di keheningan malam, seperti firman Allah tentang Nabi Zakariyya,إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam [19]: 3)Doa yang tersembunyi, tangis yang tak diperdengarkan kepada manusia, sujud panjang di sepertiga malam terakhir—inilah harta karun yang hanya bisa digali saat kita sedang sendiri. Maka, paradoks ini harus kita renungkan: tempat yang sama bisa menjadi sebab datangnya azab, dan bisa juga menjadi sebab turunnya rahmat. Pembedanya hanyalah satu, yaitu: Siapa yang kita pilih untuk menemani? Apakah kita lebih suka ditemani bisikan setan yang menipu, ataukah kita lebih merindukan kehadiran Al-Malik (Sang Raja) yang mengawasi dengan penuh kasih? Jawaban dari pertanyaan inilah yang akan membentuk perjalanan spiritual kita kelak di akhirat.Wallahu a’lam bish-shawab.***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Lihat Talbis Iblis, hal. 331
Daftar Isi ToggleSepi yang tidak pernah hampaMengapa musuh lebih suka kita sendirian?Anti-klimaks imanParadoks sepiPernahkah kita berhenti sejenak dan merasakan betapa nikmatnya momen saat pintu kamar tertutup rapat? Di ruang itu, tidak ada atasan yang mengawasi kinerja, tidak ada tetangga yang mengomentari penampilan, dan tidak ada kawan yang siap melontarkan kritik. Hanya ada kita, helaan napas, dan mungkin selimut yang hangat. Di sanalah kita merasa menjadi raja atas diri sendiri. Semua topeng sosial yang kita kenakan seharian seolah luruh satu per satu. Kita merasa aman. Merdeka. Seolah beban dunia tak mampu mengetuk pintu.Namun, di balik rasa aman yang semu itu, seringkali kita justru lengah terhadap satu kenyataan pahit. Dan justru di ruang kosong tanpa saksi mata inilah, ujian paling fundamental bagi keimanan seorang muslim dimulai. Kita kerap menganggap remeh kesendirian. Padahal, ia adalah medan perang bisu antara suara hati nurani melawan gemuruh hawa nafsu yang tak terkendali. Jika di keramaian kita tertahan oleh malu dan takut celaan manusia, di dalam sunyi tidak ada lagi tembok penghalang semacam itu. Semua pagar telah runtuh, menyisakan diri kita yang telanjang di hadapan pilihan: taat dalam diam, atau bermaksiat dalam gelap.Kita sering berasumsi bahwa “sendirian” berarti kosong melompong tanpa teman. Anggapan itu keliru besar. Dalam kacamata akidah Islam, tidak ada ruang yang benar-benar hampa dari penghuni. Ketika seluruh manusia berpaling dari kita, di situlah makhluk lain mendekat untuk mengisi kekosongan jiwa. Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan yang sangat gamblang tentang dinamika ini. Dari ‘Abdullah bin ‘amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda,الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ، وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ، وَالثَّلاَثَةُ رَكْبٌ“Sesungguhnya orang yang berkendaraan (sendirian) itu (ditemani) setan. Dua orang yang berkendaraan itu (ditemani) dua setan. Adapun tiga orang, maka itu adalah rombongan (yang selamat dari setan).”  (HR. Abu Dawud no. 2607, At-Tirmidzi no. 1674, dan dinilai hasan shahih oleh At-Tirmidzi, serta disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2797)Hadis ini membongkar ilusi kita tentang sepi. Ternyata, kursi kosong di samping kita saat menyetir sendiri, atau sudut kamar yang gelap saat kita terjaga di malam hari, berpotensi menjadi singgasana bagi musuh abadi kita, yaitu Iblis dan bala tentaranya.Sepi yang tidak pernah hampaMungkin dalam persepsi awam, kesendirian sering dinilai sebagai kondisi netral; ibarat kanvas kosong yang bisa diisi apa saja. Namun, syariat justru memandangnya sebagai kondisi yang sangat rawan dan kritis. Mengapa demikian? Karena ketika seorang hamba menjauh dari interaksi sosial yang positif, pintu al-khatharat (bisikan-bisikan jiwa) akan terbuka lebar. Pikiran yang biasanya sibuk dengan urusan duniawi, tiba-tiba memiliki ruang kosong untuk mengembara ke lorong-lorong masa lalu yang kelam atau fantasi masa depan yang tak halal. Di sinilah, dalam terminologi Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah, terjadi al-khalwah al-murdiyah—kesendirian yang justru menjerumuskan.Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan (1: 62) mengibaratkan hati yang kosong dari zikrullah sebagai rumah kosong tak berpenghuni. Rumah itu akan segera ditempati oleh para penyamun. Beliau berkata, “Hati yang kosong dari mengingat Allah, setan akan menempatinya. Ia akan menjadikannya sebagai sarang dan tempat menetap. Maka, tidaklah hati itu kosong dari zikir, kecuali akan ditempati oleh bisikan-bisikan buruk.”Oleh karenanya, kesendirian tanpa kehadiran hati bersama Allah adalah celah selebar-lebarnya bagi musuh untuk menyusup. Tidak perlu paksaan fisik, cukup dengan sugesti halus yang dibungkus dengan logika menipu, “Ah, cuma lihat sebentar, nggak ada yang tahu” atau “Sekali ini saja, habis itu tobat.”Proses ini berlangsung secara gradual, mengikuti langkah-langkah setan yang Allah Ta’ala abadikan dalam firman-Nya,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka ketahuilah, ia menyuruh kepada perbuatan yang keji dan mungkar.” (QS. An-Nur [24]: 21)Setan tidak langsung mengajak pada puncak kemungkaran. Ia memulai dengan langkah-langkah kecil, mulai dari rasa penasaran, pandangan sekilas, atau lamunan kosong. Langkah-langkah itu paling efektif dijejakkan saat kita merasa tidak ada yang mengawasi. Maka, kondisi sendiri jangan pernah anggap remeh. Takutilah kondisi ini, karena kesendirian bisa mengakibatkan kehancuran bilamana tidak ada kekuatan iman yang menahannya, jiwa akan tertarik jatuh ke jurang kemaksiatanMengapa musuh lebih suka kita sendirian?Pertanyaan ini sederhana, namun jawabannya menelanjangi kelemahan fitrah kita. Setan menyukai orang yang sendirian karena tidak ada penghalang (mani’) yang menghambat aksesnya. Saat kita duduk bersama orang-orang saleh, atau bahkan sekadar ditemani anggota keluarga yang menjaga pandangan, terdapat semacam kontrol sosial alami. Ada rasa malu jika ketahuan melakukan aib. Ada kemungkinan ditegur jika mulai menyimpang. Ada pihak ketiga yang bisa memutus aliran bisikan jahat. Inilah yang dalam kaidah fikih disebut الاجتماع على الخير (berkumpul di atas kebaikan) sebagai benteng pertahanan.Sebaliknya, dalam kesendirian, semua mekanisme pertahanan itu lenyap. Tidak ada yang akan menegur, tidak ada yang akan mengingatkan, dan tidak ada yang akan tahu persis apa yang dilakukan oleh jemari atau dijelajahi oleh mata. Setan memanfaatkan ilusi “tidak ada yang tahu” ini untuk mengendurkan ikatan iman di hati.Ibnul Jauzi rahimahullah dalam Talbis Iblis menegaskan bahwa tipu daya Iblis yang paling hebat adalah membuat manusia merasa aman dari makar Allah. Beliau menulis, “Khalwat (menyendiri) adalah pintu masuknya segala keburukan bagi orang yang tidak mengawalinya dengan zikir dan tilawah. Setan mengincar orang yang menyendiri dari ketaatan kepada Allah, lalu menggiringnya menuju kemaksiatan.”[1]Situasi ini semakin runyam jika kita refleksikan dengan kondisi zaman ini. Dahulu, “sendiri” berarti benar-benar terisolasi secara fisik. Sekarang, “sendiri” seringkali berarti hanya berdua dengan gawai yang terkoneksi internet. Sebuah paradoks yang mengerikan! Karena tubuh kita sendiri di kamar, namun jiwa kita “ditemani” jutaan konten dan interaksi maya yang seringkali justru menjadi corong setan. Layar gawai menjelma menjadi teman yang tidak pernah menegur maksiat, melainkan justru memfasilitasinya dengan sekali sentuh. Allah Ta’ala telah mengingatkan tentang pengetahuan-Nya yang mutlak menembus sekat ini,يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ“Dia (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir [40]: 19)Lisan kita mungkin diam, mulut tak berucap, namun pandangan mata yang liar saat sendiri, dan pikiran kotor yang bersemayam di dada, semuanya tercatat rapi di sisi-Nya tanpa ada yang terlewat. Setan membisiki bahwa tidak ada manusia yang melihat, tapi ia sengaja menutupi fakta bahwa Ar-Raqib (Yang Maha Mengawasi) tidak pernah berkedip.Anti-klimaks imanSatu hal yang wajib kita pahami tentang skenario setan adalah bahwa ia tidak pernah terburu-buru. Ia adalah perencana jangka panjang yang sangat sabar. Tidak ada pelaku dosa besar yang tiba-tiba melompat dari ketaatan sempurna ke jurang kemaksiatan kelas kakap. Semua bermula dari استصغار الذنب (istishghar adz-dzanb)—menganggap remeh dosa kecil. Dan laboratorium paling ideal untuk eksperimen dosa-dosa kecil ini adalah di ruang-ruang sunyi yang kita anggap privat.Mungkin awalnya hanya “sekadar” melihat foto yang tidak seharusnya. Hanya “sekadar” penasaran dengan tautan yang mencurigakan. Hanya “sekadar” membuka obrolan yang tak perlu. Atau hanya “sekadar” menggunjing tanpa suara melalui pesan teks. Skala perbuatan itu memang tampak mini. Tapi esensi pembangkangannya kepada Allah di saat sepi justru sangat besar. Mengapa? Karena ia menunjukkan bahwa rasa takut kita kepada makhluk lebih besar daripada rasa takut kita kepada Al-Khaliq. Rasulullah ﷺ mengilustrasikan akumulasi dosa-dosa kecil ini dengan perumpamaan yang sangat mengena,إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ“Jauhilah oleh kalian dosa-dosa yang dianggap remeh (kecil). Karena sesungguhnya dosa-dosa itu akan berkumpul pada diri seseorang hingga membinasakannya.” (HR. Ahmad no. 22808 dari Sahl bin Sa’d, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2687)Perhatikan diksi hadis ini: يَجْتَمِعْنَ (berkumpul). Prosesnya seperti tumpukan debu halus yang lama-kelamaan menjadi gundukan tanah yang mengubur pelakunya hidup-hidup. Di tempat sunyi, tanpa saksi manusia, kita merasa satu dosa kecil tidak akan berpengaruh apa-apa. Kita lupa bahwa Allah Ta’ala tidak melihat besar kecilnya wujud dosa, tetapi Dia melihat kepada siapa dosa itu ditujukan. Kemaksiatan di saat sendiri adalah bentuk paling vulgar dari sikap tidak peduli terhadap pengawasan Allah. Kemaksiatan adalah deklarasi pemberontakan diam-diam, “Aku tahu Engkau melihat, ya Allah, tapi aku tidak peduli karena aku lebih menikmati kenikmatan yang Engkau larang ini.” Wal’iyadzu billah. Dari titik inilah hati mulai mengeras, dari kesendirian yang kotor menuju kebinasaan yang abadi.Paradoks sepiKita tidak boleh terjebak dalam sikap paranoid yang menganggap bahwa setiap bentuk kesendirian itu pasti buruk dan harus dihindari. Justru, dalam ajaran Islam, terdapat satu bentuk kesendirian yang memiliki nilai sangat tinggi di sisi Allah. Inilah yang disebut dengan الخلوة بالله (Al-Khalwah billah)—menyendiri bersama Allah. Jika saat sendiri kita memilih berteman dengan setan melalui kemaksiatan, maka itu adalah kehinaan. Namun, jika saat sendiri kita memilih “berteman” dengan Allah melalui ketaatan, maka itu adalah kemuliaan yang tiada tara.Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa salah satu dari tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah pada hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya adalah,وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ“Dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam keadaan sendiri, lalu kedua matanya meneteskan air mata.” (HR. Al-Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)Inilah bedanya. Ketika orang lain menggunakan kesendirian untuk menyalurkan syahwat yang haram, seorang mukmin sejati justru menggunakan kesendiriannya untuk mencurahkan isi hati hanya kepada Tuhannya. Saat tak ada manusia yang melihat, ia justru menangis karena takut kepada-Nya. Tangisan itu bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti autentik keimanan. Dalam momen inilah, kesendirian berubah fungsi dari selokan dosa menjadi taman surga. Al-Qur’an seringkali menggambarkan para Nabi dan orang saleh yang melakukan ibadah di keheningan malam, seperti firman Allah tentang Nabi Zakariyya,إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam [19]: 3)Doa yang tersembunyi, tangis yang tak diperdengarkan kepada manusia, sujud panjang di sepertiga malam terakhir—inilah harta karun yang hanya bisa digali saat kita sedang sendiri. Maka, paradoks ini harus kita renungkan: tempat yang sama bisa menjadi sebab datangnya azab, dan bisa juga menjadi sebab turunnya rahmat. Pembedanya hanyalah satu, yaitu: Siapa yang kita pilih untuk menemani? Apakah kita lebih suka ditemani bisikan setan yang menipu, ataukah kita lebih merindukan kehadiran Al-Malik (Sang Raja) yang mengawasi dengan penuh kasih? Jawaban dari pertanyaan inilah yang akan membentuk perjalanan spiritual kita kelak di akhirat.Wallahu a’lam bish-shawab.***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Lihat Talbis Iblis, hal. 331


Daftar Isi ToggleSepi yang tidak pernah hampaMengapa musuh lebih suka kita sendirian?Anti-klimaks imanParadoks sepiPernahkah kita berhenti sejenak dan merasakan betapa nikmatnya momen saat pintu kamar tertutup rapat? Di ruang itu, tidak ada atasan yang mengawasi kinerja, tidak ada tetangga yang mengomentari penampilan, dan tidak ada kawan yang siap melontarkan kritik. Hanya ada kita, helaan napas, dan mungkin selimut yang hangat. Di sanalah kita merasa menjadi raja atas diri sendiri. Semua topeng sosial yang kita kenakan seharian seolah luruh satu per satu. Kita merasa aman. Merdeka. Seolah beban dunia tak mampu mengetuk pintu.Namun, di balik rasa aman yang semu itu, seringkali kita justru lengah terhadap satu kenyataan pahit. Dan justru di ruang kosong tanpa saksi mata inilah, ujian paling fundamental bagi keimanan seorang muslim dimulai. Kita kerap menganggap remeh kesendirian. Padahal, ia adalah medan perang bisu antara suara hati nurani melawan gemuruh hawa nafsu yang tak terkendali. Jika di keramaian kita tertahan oleh malu dan takut celaan manusia, di dalam sunyi tidak ada lagi tembok penghalang semacam itu. Semua pagar telah runtuh, menyisakan diri kita yang telanjang di hadapan pilihan: taat dalam diam, atau bermaksiat dalam gelap.Kita sering berasumsi bahwa “sendirian” berarti kosong melompong tanpa teman. Anggapan itu keliru besar. Dalam kacamata akidah Islam, tidak ada ruang yang benar-benar hampa dari penghuni. Ketika seluruh manusia berpaling dari kita, di situlah makhluk lain mendekat untuk mengisi kekosongan jiwa. Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan yang sangat gamblang tentang dinamika ini. Dari ‘Abdullah bin ‘amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda,الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ، وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ، وَالثَّلاَثَةُ رَكْبٌ“Sesungguhnya orang yang berkendaraan (sendirian) itu (ditemani) setan. Dua orang yang berkendaraan itu (ditemani) dua setan. Adapun tiga orang, maka itu adalah rombongan (yang selamat dari setan).”  (HR. Abu Dawud no. 2607, At-Tirmidzi no. 1674, dan dinilai hasan shahih oleh At-Tirmidzi, serta disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2797)Hadis ini membongkar ilusi kita tentang sepi. Ternyata, kursi kosong di samping kita saat menyetir sendiri, atau sudut kamar yang gelap saat kita terjaga di malam hari, berpotensi menjadi singgasana bagi musuh abadi kita, yaitu Iblis dan bala tentaranya.Sepi yang tidak pernah hampaMungkin dalam persepsi awam, kesendirian sering dinilai sebagai kondisi netral; ibarat kanvas kosong yang bisa diisi apa saja. Namun, syariat justru memandangnya sebagai kondisi yang sangat rawan dan kritis. Mengapa demikian? Karena ketika seorang hamba menjauh dari interaksi sosial yang positif, pintu al-khatharat (bisikan-bisikan jiwa) akan terbuka lebar. Pikiran yang biasanya sibuk dengan urusan duniawi, tiba-tiba memiliki ruang kosong untuk mengembara ke lorong-lorong masa lalu yang kelam atau fantasi masa depan yang tak halal. Di sinilah, dalam terminologi Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah, terjadi al-khalwah al-murdiyah—kesendirian yang justru menjerumuskan.Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan (1: 62) mengibaratkan hati yang kosong dari zikrullah sebagai rumah kosong tak berpenghuni. Rumah itu akan segera ditempati oleh para penyamun. Beliau berkata, “Hati yang kosong dari mengingat Allah, setan akan menempatinya. Ia akan menjadikannya sebagai sarang dan tempat menetap. Maka, tidaklah hati itu kosong dari zikir, kecuali akan ditempati oleh bisikan-bisikan buruk.”Oleh karenanya, kesendirian tanpa kehadiran hati bersama Allah adalah celah selebar-lebarnya bagi musuh untuk menyusup. Tidak perlu paksaan fisik, cukup dengan sugesti halus yang dibungkus dengan logika menipu, “Ah, cuma lihat sebentar, nggak ada yang tahu” atau “Sekali ini saja, habis itu tobat.”Proses ini berlangsung secara gradual, mengikuti langkah-langkah setan yang Allah Ta’ala abadikan dalam firman-Nya,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka ketahuilah, ia menyuruh kepada perbuatan yang keji dan mungkar.” (QS. An-Nur [24]: 21)Setan tidak langsung mengajak pada puncak kemungkaran. Ia memulai dengan langkah-langkah kecil, mulai dari rasa penasaran, pandangan sekilas, atau lamunan kosong. Langkah-langkah itu paling efektif dijejakkan saat kita merasa tidak ada yang mengawasi. Maka, kondisi sendiri jangan pernah anggap remeh. Takutilah kondisi ini, karena kesendirian bisa mengakibatkan kehancuran bilamana tidak ada kekuatan iman yang menahannya, jiwa akan tertarik jatuh ke jurang kemaksiatanMengapa musuh lebih suka kita sendirian?Pertanyaan ini sederhana, namun jawabannya menelanjangi kelemahan fitrah kita. Setan menyukai orang yang sendirian karena tidak ada penghalang (mani’) yang menghambat aksesnya. Saat kita duduk bersama orang-orang saleh, atau bahkan sekadar ditemani anggota keluarga yang menjaga pandangan, terdapat semacam kontrol sosial alami. Ada rasa malu jika ketahuan melakukan aib. Ada kemungkinan ditegur jika mulai menyimpang. Ada pihak ketiga yang bisa memutus aliran bisikan jahat. Inilah yang dalam kaidah fikih disebut الاجتماع على الخير (berkumpul di atas kebaikan) sebagai benteng pertahanan.Sebaliknya, dalam kesendirian, semua mekanisme pertahanan itu lenyap. Tidak ada yang akan menegur, tidak ada yang akan mengingatkan, dan tidak ada yang akan tahu persis apa yang dilakukan oleh jemari atau dijelajahi oleh mata. Setan memanfaatkan ilusi “tidak ada yang tahu” ini untuk mengendurkan ikatan iman di hati.Ibnul Jauzi rahimahullah dalam Talbis Iblis menegaskan bahwa tipu daya Iblis yang paling hebat adalah membuat manusia merasa aman dari makar Allah. Beliau menulis, “Khalwat (menyendiri) adalah pintu masuknya segala keburukan bagi orang yang tidak mengawalinya dengan zikir dan tilawah. Setan mengincar orang yang menyendiri dari ketaatan kepada Allah, lalu menggiringnya menuju kemaksiatan.”[1]Situasi ini semakin runyam jika kita refleksikan dengan kondisi zaman ini. Dahulu, “sendiri” berarti benar-benar terisolasi secara fisik. Sekarang, “sendiri” seringkali berarti hanya berdua dengan gawai yang terkoneksi internet. Sebuah paradoks yang mengerikan! Karena tubuh kita sendiri di kamar, namun jiwa kita “ditemani” jutaan konten dan interaksi maya yang seringkali justru menjadi corong setan. Layar gawai menjelma menjadi teman yang tidak pernah menegur maksiat, melainkan justru memfasilitasinya dengan sekali sentuh. Allah Ta’ala telah mengingatkan tentang pengetahuan-Nya yang mutlak menembus sekat ini,يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ“Dia (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir [40]: 19)Lisan kita mungkin diam, mulut tak berucap, namun pandangan mata yang liar saat sendiri, dan pikiran kotor yang bersemayam di dada, semuanya tercatat rapi di sisi-Nya tanpa ada yang terlewat. Setan membisiki bahwa tidak ada manusia yang melihat, tapi ia sengaja menutupi fakta bahwa Ar-Raqib (Yang Maha Mengawasi) tidak pernah berkedip.Anti-klimaks imanSatu hal yang wajib kita pahami tentang skenario setan adalah bahwa ia tidak pernah terburu-buru. Ia adalah perencana jangka panjang yang sangat sabar. Tidak ada pelaku dosa besar yang tiba-tiba melompat dari ketaatan sempurna ke jurang kemaksiatan kelas kakap. Semua bermula dari استصغار الذنب (istishghar adz-dzanb)—menganggap remeh dosa kecil. Dan laboratorium paling ideal untuk eksperimen dosa-dosa kecil ini adalah di ruang-ruang sunyi yang kita anggap privat.Mungkin awalnya hanya “sekadar” melihat foto yang tidak seharusnya. Hanya “sekadar” penasaran dengan tautan yang mencurigakan. Hanya “sekadar” membuka obrolan yang tak perlu. Atau hanya “sekadar” menggunjing tanpa suara melalui pesan teks. Skala perbuatan itu memang tampak mini. Tapi esensi pembangkangannya kepada Allah di saat sepi justru sangat besar. Mengapa? Karena ia menunjukkan bahwa rasa takut kita kepada makhluk lebih besar daripada rasa takut kita kepada Al-Khaliq. Rasulullah ﷺ mengilustrasikan akumulasi dosa-dosa kecil ini dengan perumpamaan yang sangat mengena,إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ“Jauhilah oleh kalian dosa-dosa yang dianggap remeh (kecil). Karena sesungguhnya dosa-dosa itu akan berkumpul pada diri seseorang hingga membinasakannya.” (HR. Ahmad no. 22808 dari Sahl bin Sa’d, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2687)Perhatikan diksi hadis ini: يَجْتَمِعْنَ (berkumpul). Prosesnya seperti tumpukan debu halus yang lama-kelamaan menjadi gundukan tanah yang mengubur pelakunya hidup-hidup. Di tempat sunyi, tanpa saksi manusia, kita merasa satu dosa kecil tidak akan berpengaruh apa-apa. Kita lupa bahwa Allah Ta’ala tidak melihat besar kecilnya wujud dosa, tetapi Dia melihat kepada siapa dosa itu ditujukan. Kemaksiatan di saat sendiri adalah bentuk paling vulgar dari sikap tidak peduli terhadap pengawasan Allah. Kemaksiatan adalah deklarasi pemberontakan diam-diam, “Aku tahu Engkau melihat, ya Allah, tapi aku tidak peduli karena aku lebih menikmati kenikmatan yang Engkau larang ini.” Wal’iyadzu billah. Dari titik inilah hati mulai mengeras, dari kesendirian yang kotor menuju kebinasaan yang abadi.Paradoks sepiKita tidak boleh terjebak dalam sikap paranoid yang menganggap bahwa setiap bentuk kesendirian itu pasti buruk dan harus dihindari. Justru, dalam ajaran Islam, terdapat satu bentuk kesendirian yang memiliki nilai sangat tinggi di sisi Allah. Inilah yang disebut dengan الخلوة بالله (Al-Khalwah billah)—menyendiri bersama Allah. Jika saat sendiri kita memilih berteman dengan setan melalui kemaksiatan, maka itu adalah kehinaan. Namun, jika saat sendiri kita memilih “berteman” dengan Allah melalui ketaatan, maka itu adalah kemuliaan yang tiada tara.Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa salah satu dari tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah pada hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya adalah,وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ“Dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam keadaan sendiri, lalu kedua matanya meneteskan air mata.” (HR. Al-Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)Inilah bedanya. Ketika orang lain menggunakan kesendirian untuk menyalurkan syahwat yang haram, seorang mukmin sejati justru menggunakan kesendiriannya untuk mencurahkan isi hati hanya kepada Tuhannya. Saat tak ada manusia yang melihat, ia justru menangis karena takut kepada-Nya. Tangisan itu bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti autentik keimanan. Dalam momen inilah, kesendirian berubah fungsi dari selokan dosa menjadi taman surga. Al-Qur’an seringkali menggambarkan para Nabi dan orang saleh yang melakukan ibadah di keheningan malam, seperti firman Allah tentang Nabi Zakariyya,إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam [19]: 3)Doa yang tersembunyi, tangis yang tak diperdengarkan kepada manusia, sujud panjang di sepertiga malam terakhir—inilah harta karun yang hanya bisa digali saat kita sedang sendiri. Maka, paradoks ini harus kita renungkan: tempat yang sama bisa menjadi sebab datangnya azab, dan bisa juga menjadi sebab turunnya rahmat. Pembedanya hanyalah satu, yaitu: Siapa yang kita pilih untuk menemani? Apakah kita lebih suka ditemani bisikan setan yang menipu, ataukah kita lebih merindukan kehadiran Al-Malik (Sang Raja) yang mengawasi dengan penuh kasih? Jawaban dari pertanyaan inilah yang akan membentuk perjalanan spiritual kita kelak di akhirat.Wallahu a’lam bish-shawab.***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Lihat Talbis Iblis, hal. 331

4 Amalan yang Memberatkan Timbangan di Hari KIamat – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Sesungguhnya, di antara amal ada yang memiliki keistimewaan khusus dalam memberatkan timbangan. Karena itu, orang-orang yang cerdas dan berakal semestinya benar-benar memperhatikan amalan-amalan ini, dan bersungguh-sungguh untuk meraihnya. Sebab, akhir keadaanmu, wahai hamba Allah, pada hari kiamat — apakah mendapat nikmat atau azab —bergantung pada hasilmu di tempat yang agung ini, yaitu saat amal ditimbang. “Adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka ia berada dalam kehidupan yang menyenangkan. Adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah Hawiyah.” (QS. Al-Qari’ah: 6–9) Maka bersemangatlah, bersemangatlah. Bersungguh-sungguhlah dalam meraih amal saleh, terutama amalan yang paling memberatkan timbangan. Sebab, siapa tahu? Bisa jadi satu kebaikan saja menjadi sebab keselamatanmu pada hari kiamat. [PERTAMA] Saya ulangi. Di antara kebaikan itu adalah kalimat tauhid (La ilaha illallah), yang diucapkan seorang hamba dengan ilmu, keyakinan, dan keikhlasan. Betapa beratnya kalimat itu dalam timbangan seorang hamba. Bahkan, tidak ada sesuatu pun yang lebih berat darinya, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis bithaqah yang masyhur. [KEDUA] Demikian pula ucapan “Alhamdulillah” yang diucapkan dengan lisan yang selaras dengan hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sebagaimana dalam Shahih Muslim, “Alhamdulillah memenuhi timbangan.” (HR. Muslim). [KETIGA]Yang ketiga: akhlak mulia. Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang hamba pada hari kiamat daripada akhlak yang mulia.” (Lihat HR. Abu Dawud no. 4799, dengan perbedaan lafaz). [KEEMPAT]Di antaranya juga, hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh menakjubkan lima perkara ini. Betapa beratnya dalam timbangan: Subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, dan Allahu akbar. Serta anak saleh yang meninggal dunia, lalu ayahnya bersabar dan mengharap pahala.” (Lihat HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra no. 9923; HR. Ahmad no. 15662, dengan perbedaan lafaz). Ini termasuk perkara-perkara agung yang dengannya timbangan seorang hamba menjadi berat pada hari kiamat.Maka carilah amalan-amalan itu, wahai orang yang diberi taufik. Dan bersemangatlah untuk mengamalkannya. ==== فَأَنَّ مِنَ الْأَعْمَالِ مَا لَهُ مَزِيدُ اخْتِصَاصٍ بِثِقَلِ الْمِيزَانِ وَيَنْبَغِي عَلَى الْفُطَنَاءِ وَالْأَذْكِيَاءِ أَنْ يَحْرِصُوا عَلَى هَذِهِ الْأَعْمَالِ، وَأَنْ يَجْتَهِدُوا فِي تَحْصِيلِهَا فَإِنَّ نَتِيجَتَكَ يَا عَبْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حَيْثُ النَّعِيمُ أَوِ الْعَذَابُ بِحَسَبِ نَتِيجَتِكَ فِي هَذَا الْمَقَامِ الْعَظِيمِ، وَهُوَ الْوَزْنُ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ، وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ فَالْحِرْصَ الْحِرْصَ، وَالِاجْتِهَادَ الِاجْتِهَادَ فِي تَحْصِيلِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ، وَلَا سِيَّمَا مَا يَثْقُلُ بِهِ الْمِيزَانُ أَكْثَرَ فَمَا يُدْرِيكَ؟ لَرُبَّمَا كَانَتْ حَسَنَةٌ وَاحِدَةٌ سَبَبًا لِنَجَاتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعُودُ فَأَقُولُ: مِنْ تِلْكَ الْحَسَنَاتِ كَلِمَةُ التَّوْحِيدِ الَّتِي يَقُولُهَا الْعَبْدُ عَنْ عِلْمٍ وَيَقِينٍ وَإِخْلَاصٍ فَمَا أَثْقَلَهَا فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ، بَلْ لَا شَيْءَ أَثْقَلُ مِنْهَا، كَمَا دَلَّ عَلَى هَذَا حَدِيثُ الْبِطَاقَةِ الْمَشْهُورُ كَذَلِكَ قَوْلُ: الْحَمْدُ لِلهِ، قَوْلًا يَتَوَاطَأُ فِيهِ اللِّسَانُ مَعَ الْقَلْبِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا عِنْدَ مُسْلِمٍ: وَالْحَمْدُ لِلهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ الثَّالِثُ: حُسْنُ الْخُلُقِ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَمِنْ ذَلِكَ أَيْضًا مَا أَخْرَجَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَخٍ بَخٍ لَخَمْسٌ، مَا أَثْقَلَهُنَّ فِي الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ وَالْوَلَدُ الصَّالِحُ يَمُوتُ، فَيَحْتَسِبُهُ وَالِدُهُ هَذِهِ مِنَ الْأُمُورِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي يَثْقُلُ بِهَا مِيزَانُ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَتَتَبَّعْهَا يَا أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ، وَاحْرِصْ عَلَى الْعَمَلِ بِهَا

4 Amalan yang Memberatkan Timbangan di Hari KIamat – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Sesungguhnya, di antara amal ada yang memiliki keistimewaan khusus dalam memberatkan timbangan. Karena itu, orang-orang yang cerdas dan berakal semestinya benar-benar memperhatikan amalan-amalan ini, dan bersungguh-sungguh untuk meraihnya. Sebab, akhir keadaanmu, wahai hamba Allah, pada hari kiamat — apakah mendapat nikmat atau azab —bergantung pada hasilmu di tempat yang agung ini, yaitu saat amal ditimbang. “Adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka ia berada dalam kehidupan yang menyenangkan. Adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah Hawiyah.” (QS. Al-Qari’ah: 6–9) Maka bersemangatlah, bersemangatlah. Bersungguh-sungguhlah dalam meraih amal saleh, terutama amalan yang paling memberatkan timbangan. Sebab, siapa tahu? Bisa jadi satu kebaikan saja menjadi sebab keselamatanmu pada hari kiamat. [PERTAMA] Saya ulangi. Di antara kebaikan itu adalah kalimat tauhid (La ilaha illallah), yang diucapkan seorang hamba dengan ilmu, keyakinan, dan keikhlasan. Betapa beratnya kalimat itu dalam timbangan seorang hamba. Bahkan, tidak ada sesuatu pun yang lebih berat darinya, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis bithaqah yang masyhur. [KEDUA] Demikian pula ucapan “Alhamdulillah” yang diucapkan dengan lisan yang selaras dengan hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sebagaimana dalam Shahih Muslim, “Alhamdulillah memenuhi timbangan.” (HR. Muslim). [KETIGA]Yang ketiga: akhlak mulia. Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang hamba pada hari kiamat daripada akhlak yang mulia.” (Lihat HR. Abu Dawud no. 4799, dengan perbedaan lafaz). [KEEMPAT]Di antaranya juga, hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh menakjubkan lima perkara ini. Betapa beratnya dalam timbangan: Subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, dan Allahu akbar. Serta anak saleh yang meninggal dunia, lalu ayahnya bersabar dan mengharap pahala.” (Lihat HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra no. 9923; HR. Ahmad no. 15662, dengan perbedaan lafaz). Ini termasuk perkara-perkara agung yang dengannya timbangan seorang hamba menjadi berat pada hari kiamat.Maka carilah amalan-amalan itu, wahai orang yang diberi taufik. Dan bersemangatlah untuk mengamalkannya. ==== فَأَنَّ مِنَ الْأَعْمَالِ مَا لَهُ مَزِيدُ اخْتِصَاصٍ بِثِقَلِ الْمِيزَانِ وَيَنْبَغِي عَلَى الْفُطَنَاءِ وَالْأَذْكِيَاءِ أَنْ يَحْرِصُوا عَلَى هَذِهِ الْأَعْمَالِ، وَأَنْ يَجْتَهِدُوا فِي تَحْصِيلِهَا فَإِنَّ نَتِيجَتَكَ يَا عَبْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حَيْثُ النَّعِيمُ أَوِ الْعَذَابُ بِحَسَبِ نَتِيجَتِكَ فِي هَذَا الْمَقَامِ الْعَظِيمِ، وَهُوَ الْوَزْنُ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ، وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ فَالْحِرْصَ الْحِرْصَ، وَالِاجْتِهَادَ الِاجْتِهَادَ فِي تَحْصِيلِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ، وَلَا سِيَّمَا مَا يَثْقُلُ بِهِ الْمِيزَانُ أَكْثَرَ فَمَا يُدْرِيكَ؟ لَرُبَّمَا كَانَتْ حَسَنَةٌ وَاحِدَةٌ سَبَبًا لِنَجَاتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعُودُ فَأَقُولُ: مِنْ تِلْكَ الْحَسَنَاتِ كَلِمَةُ التَّوْحِيدِ الَّتِي يَقُولُهَا الْعَبْدُ عَنْ عِلْمٍ وَيَقِينٍ وَإِخْلَاصٍ فَمَا أَثْقَلَهَا فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ، بَلْ لَا شَيْءَ أَثْقَلُ مِنْهَا، كَمَا دَلَّ عَلَى هَذَا حَدِيثُ الْبِطَاقَةِ الْمَشْهُورُ كَذَلِكَ قَوْلُ: الْحَمْدُ لِلهِ، قَوْلًا يَتَوَاطَأُ فِيهِ اللِّسَانُ مَعَ الْقَلْبِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا عِنْدَ مُسْلِمٍ: وَالْحَمْدُ لِلهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ الثَّالِثُ: حُسْنُ الْخُلُقِ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَمِنْ ذَلِكَ أَيْضًا مَا أَخْرَجَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَخٍ بَخٍ لَخَمْسٌ، مَا أَثْقَلَهُنَّ فِي الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ وَالْوَلَدُ الصَّالِحُ يَمُوتُ، فَيَحْتَسِبُهُ وَالِدُهُ هَذِهِ مِنَ الْأُمُورِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي يَثْقُلُ بِهَا مِيزَانُ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَتَتَبَّعْهَا يَا أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ، وَاحْرِصْ عَلَى الْعَمَلِ بِهَا
Sesungguhnya, di antara amal ada yang memiliki keistimewaan khusus dalam memberatkan timbangan. Karena itu, orang-orang yang cerdas dan berakal semestinya benar-benar memperhatikan amalan-amalan ini, dan bersungguh-sungguh untuk meraihnya. Sebab, akhir keadaanmu, wahai hamba Allah, pada hari kiamat — apakah mendapat nikmat atau azab —bergantung pada hasilmu di tempat yang agung ini, yaitu saat amal ditimbang. “Adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka ia berada dalam kehidupan yang menyenangkan. Adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah Hawiyah.” (QS. Al-Qari’ah: 6–9) Maka bersemangatlah, bersemangatlah. Bersungguh-sungguhlah dalam meraih amal saleh, terutama amalan yang paling memberatkan timbangan. Sebab, siapa tahu? Bisa jadi satu kebaikan saja menjadi sebab keselamatanmu pada hari kiamat. [PERTAMA] Saya ulangi. Di antara kebaikan itu adalah kalimat tauhid (La ilaha illallah), yang diucapkan seorang hamba dengan ilmu, keyakinan, dan keikhlasan. Betapa beratnya kalimat itu dalam timbangan seorang hamba. Bahkan, tidak ada sesuatu pun yang lebih berat darinya, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis bithaqah yang masyhur. [KEDUA] Demikian pula ucapan “Alhamdulillah” yang diucapkan dengan lisan yang selaras dengan hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sebagaimana dalam Shahih Muslim, “Alhamdulillah memenuhi timbangan.” (HR. Muslim). [KETIGA]Yang ketiga: akhlak mulia. Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang hamba pada hari kiamat daripada akhlak yang mulia.” (Lihat HR. Abu Dawud no. 4799, dengan perbedaan lafaz). [KEEMPAT]Di antaranya juga, hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh menakjubkan lima perkara ini. Betapa beratnya dalam timbangan: Subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, dan Allahu akbar. Serta anak saleh yang meninggal dunia, lalu ayahnya bersabar dan mengharap pahala.” (Lihat HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra no. 9923; HR. Ahmad no. 15662, dengan perbedaan lafaz). Ini termasuk perkara-perkara agung yang dengannya timbangan seorang hamba menjadi berat pada hari kiamat.Maka carilah amalan-amalan itu, wahai orang yang diberi taufik. Dan bersemangatlah untuk mengamalkannya. ==== فَأَنَّ مِنَ الْأَعْمَالِ مَا لَهُ مَزِيدُ اخْتِصَاصٍ بِثِقَلِ الْمِيزَانِ وَيَنْبَغِي عَلَى الْفُطَنَاءِ وَالْأَذْكِيَاءِ أَنْ يَحْرِصُوا عَلَى هَذِهِ الْأَعْمَالِ، وَأَنْ يَجْتَهِدُوا فِي تَحْصِيلِهَا فَإِنَّ نَتِيجَتَكَ يَا عَبْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حَيْثُ النَّعِيمُ أَوِ الْعَذَابُ بِحَسَبِ نَتِيجَتِكَ فِي هَذَا الْمَقَامِ الْعَظِيمِ، وَهُوَ الْوَزْنُ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ، وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ فَالْحِرْصَ الْحِرْصَ، وَالِاجْتِهَادَ الِاجْتِهَادَ فِي تَحْصِيلِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ، وَلَا سِيَّمَا مَا يَثْقُلُ بِهِ الْمِيزَانُ أَكْثَرَ فَمَا يُدْرِيكَ؟ لَرُبَّمَا كَانَتْ حَسَنَةٌ وَاحِدَةٌ سَبَبًا لِنَجَاتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعُودُ فَأَقُولُ: مِنْ تِلْكَ الْحَسَنَاتِ كَلِمَةُ التَّوْحِيدِ الَّتِي يَقُولُهَا الْعَبْدُ عَنْ عِلْمٍ وَيَقِينٍ وَإِخْلَاصٍ فَمَا أَثْقَلَهَا فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ، بَلْ لَا شَيْءَ أَثْقَلُ مِنْهَا، كَمَا دَلَّ عَلَى هَذَا حَدِيثُ الْبِطَاقَةِ الْمَشْهُورُ كَذَلِكَ قَوْلُ: الْحَمْدُ لِلهِ، قَوْلًا يَتَوَاطَأُ فِيهِ اللِّسَانُ مَعَ الْقَلْبِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا عِنْدَ مُسْلِمٍ: وَالْحَمْدُ لِلهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ الثَّالِثُ: حُسْنُ الْخُلُقِ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَمِنْ ذَلِكَ أَيْضًا مَا أَخْرَجَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَخٍ بَخٍ لَخَمْسٌ، مَا أَثْقَلَهُنَّ فِي الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ وَالْوَلَدُ الصَّالِحُ يَمُوتُ، فَيَحْتَسِبُهُ وَالِدُهُ هَذِهِ مِنَ الْأُمُورِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي يَثْقُلُ بِهَا مِيزَانُ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَتَتَبَّعْهَا يَا أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ، وَاحْرِصْ عَلَى الْعَمَلِ بِهَا


Sesungguhnya, di antara amal ada yang memiliki keistimewaan khusus dalam memberatkan timbangan. Karena itu, orang-orang yang cerdas dan berakal semestinya benar-benar memperhatikan amalan-amalan ini, dan bersungguh-sungguh untuk meraihnya. Sebab, akhir keadaanmu, wahai hamba Allah, pada hari kiamat — apakah mendapat nikmat atau azab —bergantung pada hasilmu di tempat yang agung ini, yaitu saat amal ditimbang. “Adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka ia berada dalam kehidupan yang menyenangkan. Adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah Hawiyah.” (QS. Al-Qari’ah: 6–9) Maka bersemangatlah, bersemangatlah. Bersungguh-sungguhlah dalam meraih amal saleh, terutama amalan yang paling memberatkan timbangan. Sebab, siapa tahu? Bisa jadi satu kebaikan saja menjadi sebab keselamatanmu pada hari kiamat. [PERTAMA] Saya ulangi. Di antara kebaikan itu adalah kalimat tauhid (La ilaha illallah), yang diucapkan seorang hamba dengan ilmu, keyakinan, dan keikhlasan. Betapa beratnya kalimat itu dalam timbangan seorang hamba. Bahkan, tidak ada sesuatu pun yang lebih berat darinya, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis bithaqah yang masyhur. [KEDUA] Demikian pula ucapan “Alhamdulillah” yang diucapkan dengan lisan yang selaras dengan hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sebagaimana dalam Shahih Muslim, “Alhamdulillah memenuhi timbangan.” (HR. Muslim). [KETIGA]Yang ketiga: akhlak mulia. Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang hamba pada hari kiamat daripada akhlak yang mulia.” (Lihat HR. Abu Dawud no. 4799, dengan perbedaan lafaz). [KEEMPAT]Di antaranya juga, hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh menakjubkan lima perkara ini. Betapa beratnya dalam timbangan: Subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, dan Allahu akbar. Serta anak saleh yang meninggal dunia, lalu ayahnya bersabar dan mengharap pahala.” (Lihat HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra no. 9923; HR. Ahmad no. 15662, dengan perbedaan lafaz). Ini termasuk perkara-perkara agung yang dengannya timbangan seorang hamba menjadi berat pada hari kiamat.Maka carilah amalan-amalan itu, wahai orang yang diberi taufik. Dan bersemangatlah untuk mengamalkannya. ==== فَأَنَّ مِنَ الْأَعْمَالِ مَا لَهُ مَزِيدُ اخْتِصَاصٍ بِثِقَلِ الْمِيزَانِ وَيَنْبَغِي عَلَى الْفُطَنَاءِ وَالْأَذْكِيَاءِ أَنْ يَحْرِصُوا عَلَى هَذِهِ الْأَعْمَالِ، وَأَنْ يَجْتَهِدُوا فِي تَحْصِيلِهَا فَإِنَّ نَتِيجَتَكَ يَا عَبْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حَيْثُ النَّعِيمُ أَوِ الْعَذَابُ بِحَسَبِ نَتِيجَتِكَ فِي هَذَا الْمَقَامِ الْعَظِيمِ، وَهُوَ الْوَزْنُ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ، وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ فَالْحِرْصَ الْحِرْصَ، وَالِاجْتِهَادَ الِاجْتِهَادَ فِي تَحْصِيلِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ، وَلَا سِيَّمَا مَا يَثْقُلُ بِهِ الْمِيزَانُ أَكْثَرَ فَمَا يُدْرِيكَ؟ لَرُبَّمَا كَانَتْ حَسَنَةٌ وَاحِدَةٌ سَبَبًا لِنَجَاتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعُودُ فَأَقُولُ: مِنْ تِلْكَ الْحَسَنَاتِ كَلِمَةُ التَّوْحِيدِ الَّتِي يَقُولُهَا الْعَبْدُ عَنْ عِلْمٍ وَيَقِينٍ وَإِخْلَاصٍ فَمَا أَثْقَلَهَا فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ، بَلْ لَا شَيْءَ أَثْقَلُ مِنْهَا، كَمَا دَلَّ عَلَى هَذَا حَدِيثُ الْبِطَاقَةِ الْمَشْهُورُ كَذَلِكَ قَوْلُ: الْحَمْدُ لِلهِ، قَوْلًا يَتَوَاطَأُ فِيهِ اللِّسَانُ مَعَ الْقَلْبِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا عِنْدَ مُسْلِمٍ: وَالْحَمْدُ لِلهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ الثَّالِثُ: حُسْنُ الْخُلُقِ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَمِنْ ذَلِكَ أَيْضًا مَا أَخْرَجَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَخٍ بَخٍ لَخَمْسٌ، مَا أَثْقَلَهُنَّ فِي الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ وَالْوَلَدُ الصَّالِحُ يَمُوتُ، فَيَحْتَسِبُهُ وَالِدُهُ هَذِهِ مِنَ الْأُمُورِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي يَثْقُلُ بِهَا مِيزَانُ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَتَتَبَّعْهَا يَا أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ، وَاحْرِصْ عَلَى الْعَمَلِ بِهَا

Hati yang Bergantung pada Manusia Akan Selalu Miskin – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Adapun orang-orang yang mendapat hidayah, ahli iman dan tauhid, mereka merasa cukup dengan Allah, bukan merasa cukup tanpa Allah.Ahli iman dan tauhid meyakini bahwa Allah lebih baik dan lebih kekal. Mereka merasa cukup dengan Allah. Merasa cukup dengan Allah adalah hakikat merasa fakir kepada-Nya. Siapa yang benar-benar merasa fakir kepada Allah, sungguh ia telah merasa cukup dengan Allah. Siapa yang merasa cukup dengan Allah, Allah akan mencukupinya dari bergantung kepada makhluk. Maka hakikat kefakiran yang tercela adalah fakir kepada makhluk. Sedangkan hakikat kefakiran yang terpuji adalah fakir kepada Al-Haqq, yaitu Allah. Dan hakikat kekayaan yang terpuji adalah kaya dengan Allah Tabaraka wa Ta’ala. Penjelasan yang tepat adalah, kekayaan yang diminta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Rabbnya adalah kekayaan hati dengan Allah Tabaraka wa Ta’ala. Adapun kaya dengan harta, itu bisa dimiliki orang saleh maupun orang buruk. Harta itu, dari sisi zatnya, tidak dipuji dan tidak pula dicela. Yang terpuji secara mutlak adalah hati yang kaya dengan Allah Tabaraka wa Ta’ala, sekaligus fakir kepada-Nya. Sedangkan yang tercela adalah ketika manusia merasa fakir kepada selain Allah Tabaraka wa Ta’ala. Hakikat yang tidak boleh dilalaikan seorang muslim adalah bahwa tidak ada kecukupan tanpa Allah Tabaraka wa Ta’ala, sebagaimana tidak ada keberadaan tanpa-Nya Tabaraka wa Ta’ala. Jika engkau ingin menjadi orang yang benar-benar kaya, maksudku menjadi orang yang benar-benar fakir kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, maka engkau harus bersungguh-sungguh melawan dirimu, dengan engkau melihat setiap bagian terkecil dalam dirimu, lahir maupun batin, semuanya fakir kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Baik dari sisi bahwa Dia adalah Rabb, maupun dari sisi bahwa Dia adalah Ilah yang berhak diibadahi. Hal ini hanya terwujud dengan dua sebab. Pertama, mengenal hakikat rububiyah dan uluhiyah. Kedua, mengenal hakikat diri dan penghambaan. Siapa yang bersungguh-sungguh melawan dirinya untuk mewujudkan dua perkara ini dan mencapainya, maka bergembiralah. Dengan taufik Allah ‘Azza wa Jalla dan karunia-Nya, ia telah sampai kepada keadaan fakir kepada Allah. Maksudku, kepada keadaan merasa cukup dengan-Nya. Wallahu Jalla wa ‘Ala a’lam. ===== أَمَّا أَهْلُ الْهِدَايَةِ، أَهْلُ الْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ، فَإِنَّهُمْ مُسْتَغْنُونَ بِاللهِ لَا عَنْهُ أَهْلُ الْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ يَعْتَقِدُونَ أَنَّ اللهَ خَيْرٌ وَأَبْقَى، يَسْتَغْنُونَ بِاللهِ وَالِاسْتِغْنَاءُ بِاللهِ هُوَ عَيْنُ الِافْتِقَارِ إِلَيْهِ، فَمَنِ افْتَقَرَ إِلَى اللهِ فَقَدِ اسْتَغْنَى بِاللهِ وَمَنِ اسْتَغْنَى بِاللهِ أَغْنَاهُ اللهُ عَنْ خَلْقِهِ. فَحَقِيقَةُ الْفَقْرِ الْمَمْقُوتِ الْمَذْمُومِ هُوَ الْفَقْرُ إِلَى الْخَلْقِ وَحَقِيقَةُ الْفَقْرِ الْمَمْدُوحِ هُوَ الْفَقْرُ إِلَى الْحَقِّ، وَحَقِيقَةُ الْغِنَى الْمَمْدُوحِ هُوَ الْغِنَى بِاللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَالتَّحْقِيقُ أَنَّ الْغِنَى الَّذِي سَأَلَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَبَّهُ إِنَّمَا هُوَ غِنَى الْقَلْبِ بِاللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَمَّا الْغِنَى بِالْمَالِ، فَإِنَّهُ قَدْ يَكُونُ عِنْدَ الصَّالِحِ وَالطَّالِحِ، وَهَذَا مِنْ حَيْثُ هُوَ لَا يُمْدَحُ وَلَا يُذَمُّ إِنَّمَا الْمَمْدُوحُ مُطْلَقًا هُوَ غِنَى الْقَلْبِ بِاللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَفَقْرُهُ إِلَيْهِ، وَالْمَذْمُومُ أَنْ يَفْتَقِرَ الْإِنْسَانُ إِلَى غَيْرِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْحَقِيقَةُ الَّتِي لَا يَجُوزُ أَنْ يَغْفَلَ عَنْهَا مُسْلِمٌ أَنَّهُ لَا غِنَى عَنِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، كَمَا أَنَّهُ لَا وُجُودَ بِغَيْرِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْغِنَى، أَعْنِي أَنْ تَكُونَ مِنْ أَهْلِ الِافْتِقَارِ الصَّادِقِ إِلَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَعَلَيْكَ أَنْ تُجَاهِدَ نَفْسَكَ بِأَنْ تَرَى كُلَّ ذَرَّةٍ فِيكَ ظَاهِرَةً أَوْ بَاطِنَةً مُفْتَقِرَةً إِلَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مِنْ حَيْثُ كَوْنُهُ رَبًّا، وَمِنْ حَيْثُ كَوْنُهُ إِلَهًا مَعْبُودًا وَهَذَا إِنَّمَا يَتَحَقَّقُ بِسَبَبَيْنِ: الْأَوَّلُ مَعْرِفَةُ حَقِيقَةِ الرُّبُوبِيَّةِ وَالْأُلُوهِيَّةِ، وَالثَّانِي مَعْرِفَةُ حَقِيقَةِ النَّفْسِ وَالْعُبُودِيَّةِ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي تَحْقِيقِ هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ وَالْوُصُولِ إِلَيْهِمَا، فَلْيُبْشِرْ بِأَنَّهُ قَدْ وَصَلَ بِتَوْفِيقِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنْعَامِهِ إِلَى الِافْتِقَارِ إِلَى اللهِ، أَعْنِي إِلَى الِاسْتِغْنَاءِ بِهِ. وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا أَعْلَمُ

Hati yang Bergantung pada Manusia Akan Selalu Miskin – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Adapun orang-orang yang mendapat hidayah, ahli iman dan tauhid, mereka merasa cukup dengan Allah, bukan merasa cukup tanpa Allah.Ahli iman dan tauhid meyakini bahwa Allah lebih baik dan lebih kekal. Mereka merasa cukup dengan Allah. Merasa cukup dengan Allah adalah hakikat merasa fakir kepada-Nya. Siapa yang benar-benar merasa fakir kepada Allah, sungguh ia telah merasa cukup dengan Allah. Siapa yang merasa cukup dengan Allah, Allah akan mencukupinya dari bergantung kepada makhluk. Maka hakikat kefakiran yang tercela adalah fakir kepada makhluk. Sedangkan hakikat kefakiran yang terpuji adalah fakir kepada Al-Haqq, yaitu Allah. Dan hakikat kekayaan yang terpuji adalah kaya dengan Allah Tabaraka wa Ta’ala. Penjelasan yang tepat adalah, kekayaan yang diminta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Rabbnya adalah kekayaan hati dengan Allah Tabaraka wa Ta’ala. Adapun kaya dengan harta, itu bisa dimiliki orang saleh maupun orang buruk. Harta itu, dari sisi zatnya, tidak dipuji dan tidak pula dicela. Yang terpuji secara mutlak adalah hati yang kaya dengan Allah Tabaraka wa Ta’ala, sekaligus fakir kepada-Nya. Sedangkan yang tercela adalah ketika manusia merasa fakir kepada selain Allah Tabaraka wa Ta’ala. Hakikat yang tidak boleh dilalaikan seorang muslim adalah bahwa tidak ada kecukupan tanpa Allah Tabaraka wa Ta’ala, sebagaimana tidak ada keberadaan tanpa-Nya Tabaraka wa Ta’ala. Jika engkau ingin menjadi orang yang benar-benar kaya, maksudku menjadi orang yang benar-benar fakir kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, maka engkau harus bersungguh-sungguh melawan dirimu, dengan engkau melihat setiap bagian terkecil dalam dirimu, lahir maupun batin, semuanya fakir kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Baik dari sisi bahwa Dia adalah Rabb, maupun dari sisi bahwa Dia adalah Ilah yang berhak diibadahi. Hal ini hanya terwujud dengan dua sebab. Pertama, mengenal hakikat rububiyah dan uluhiyah. Kedua, mengenal hakikat diri dan penghambaan. Siapa yang bersungguh-sungguh melawan dirinya untuk mewujudkan dua perkara ini dan mencapainya, maka bergembiralah. Dengan taufik Allah ‘Azza wa Jalla dan karunia-Nya, ia telah sampai kepada keadaan fakir kepada Allah. Maksudku, kepada keadaan merasa cukup dengan-Nya. Wallahu Jalla wa ‘Ala a’lam. ===== أَمَّا أَهْلُ الْهِدَايَةِ، أَهْلُ الْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ، فَإِنَّهُمْ مُسْتَغْنُونَ بِاللهِ لَا عَنْهُ أَهْلُ الْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ يَعْتَقِدُونَ أَنَّ اللهَ خَيْرٌ وَأَبْقَى، يَسْتَغْنُونَ بِاللهِ وَالِاسْتِغْنَاءُ بِاللهِ هُوَ عَيْنُ الِافْتِقَارِ إِلَيْهِ، فَمَنِ افْتَقَرَ إِلَى اللهِ فَقَدِ اسْتَغْنَى بِاللهِ وَمَنِ اسْتَغْنَى بِاللهِ أَغْنَاهُ اللهُ عَنْ خَلْقِهِ. فَحَقِيقَةُ الْفَقْرِ الْمَمْقُوتِ الْمَذْمُومِ هُوَ الْفَقْرُ إِلَى الْخَلْقِ وَحَقِيقَةُ الْفَقْرِ الْمَمْدُوحِ هُوَ الْفَقْرُ إِلَى الْحَقِّ، وَحَقِيقَةُ الْغِنَى الْمَمْدُوحِ هُوَ الْغِنَى بِاللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَالتَّحْقِيقُ أَنَّ الْغِنَى الَّذِي سَأَلَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَبَّهُ إِنَّمَا هُوَ غِنَى الْقَلْبِ بِاللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَمَّا الْغِنَى بِالْمَالِ، فَإِنَّهُ قَدْ يَكُونُ عِنْدَ الصَّالِحِ وَالطَّالِحِ، وَهَذَا مِنْ حَيْثُ هُوَ لَا يُمْدَحُ وَلَا يُذَمُّ إِنَّمَا الْمَمْدُوحُ مُطْلَقًا هُوَ غِنَى الْقَلْبِ بِاللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَفَقْرُهُ إِلَيْهِ، وَالْمَذْمُومُ أَنْ يَفْتَقِرَ الْإِنْسَانُ إِلَى غَيْرِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْحَقِيقَةُ الَّتِي لَا يَجُوزُ أَنْ يَغْفَلَ عَنْهَا مُسْلِمٌ أَنَّهُ لَا غِنَى عَنِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، كَمَا أَنَّهُ لَا وُجُودَ بِغَيْرِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْغِنَى، أَعْنِي أَنْ تَكُونَ مِنْ أَهْلِ الِافْتِقَارِ الصَّادِقِ إِلَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَعَلَيْكَ أَنْ تُجَاهِدَ نَفْسَكَ بِأَنْ تَرَى كُلَّ ذَرَّةٍ فِيكَ ظَاهِرَةً أَوْ بَاطِنَةً مُفْتَقِرَةً إِلَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مِنْ حَيْثُ كَوْنُهُ رَبًّا، وَمِنْ حَيْثُ كَوْنُهُ إِلَهًا مَعْبُودًا وَهَذَا إِنَّمَا يَتَحَقَّقُ بِسَبَبَيْنِ: الْأَوَّلُ مَعْرِفَةُ حَقِيقَةِ الرُّبُوبِيَّةِ وَالْأُلُوهِيَّةِ، وَالثَّانِي مَعْرِفَةُ حَقِيقَةِ النَّفْسِ وَالْعُبُودِيَّةِ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي تَحْقِيقِ هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ وَالْوُصُولِ إِلَيْهِمَا، فَلْيُبْشِرْ بِأَنَّهُ قَدْ وَصَلَ بِتَوْفِيقِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنْعَامِهِ إِلَى الِافْتِقَارِ إِلَى اللهِ، أَعْنِي إِلَى الِاسْتِغْنَاءِ بِهِ. وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا أَعْلَمُ
Adapun orang-orang yang mendapat hidayah, ahli iman dan tauhid, mereka merasa cukup dengan Allah, bukan merasa cukup tanpa Allah.Ahli iman dan tauhid meyakini bahwa Allah lebih baik dan lebih kekal. Mereka merasa cukup dengan Allah. Merasa cukup dengan Allah adalah hakikat merasa fakir kepada-Nya. Siapa yang benar-benar merasa fakir kepada Allah, sungguh ia telah merasa cukup dengan Allah. Siapa yang merasa cukup dengan Allah, Allah akan mencukupinya dari bergantung kepada makhluk. Maka hakikat kefakiran yang tercela adalah fakir kepada makhluk. Sedangkan hakikat kefakiran yang terpuji adalah fakir kepada Al-Haqq, yaitu Allah. Dan hakikat kekayaan yang terpuji adalah kaya dengan Allah Tabaraka wa Ta’ala. Penjelasan yang tepat adalah, kekayaan yang diminta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Rabbnya adalah kekayaan hati dengan Allah Tabaraka wa Ta’ala. Adapun kaya dengan harta, itu bisa dimiliki orang saleh maupun orang buruk. Harta itu, dari sisi zatnya, tidak dipuji dan tidak pula dicela. Yang terpuji secara mutlak adalah hati yang kaya dengan Allah Tabaraka wa Ta’ala, sekaligus fakir kepada-Nya. Sedangkan yang tercela adalah ketika manusia merasa fakir kepada selain Allah Tabaraka wa Ta’ala. Hakikat yang tidak boleh dilalaikan seorang muslim adalah bahwa tidak ada kecukupan tanpa Allah Tabaraka wa Ta’ala, sebagaimana tidak ada keberadaan tanpa-Nya Tabaraka wa Ta’ala. Jika engkau ingin menjadi orang yang benar-benar kaya, maksudku menjadi orang yang benar-benar fakir kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, maka engkau harus bersungguh-sungguh melawan dirimu, dengan engkau melihat setiap bagian terkecil dalam dirimu, lahir maupun batin, semuanya fakir kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Baik dari sisi bahwa Dia adalah Rabb, maupun dari sisi bahwa Dia adalah Ilah yang berhak diibadahi. Hal ini hanya terwujud dengan dua sebab. Pertama, mengenal hakikat rububiyah dan uluhiyah. Kedua, mengenal hakikat diri dan penghambaan. Siapa yang bersungguh-sungguh melawan dirinya untuk mewujudkan dua perkara ini dan mencapainya, maka bergembiralah. Dengan taufik Allah ‘Azza wa Jalla dan karunia-Nya, ia telah sampai kepada keadaan fakir kepada Allah. Maksudku, kepada keadaan merasa cukup dengan-Nya. Wallahu Jalla wa ‘Ala a’lam. ===== أَمَّا أَهْلُ الْهِدَايَةِ، أَهْلُ الْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ، فَإِنَّهُمْ مُسْتَغْنُونَ بِاللهِ لَا عَنْهُ أَهْلُ الْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ يَعْتَقِدُونَ أَنَّ اللهَ خَيْرٌ وَأَبْقَى، يَسْتَغْنُونَ بِاللهِ وَالِاسْتِغْنَاءُ بِاللهِ هُوَ عَيْنُ الِافْتِقَارِ إِلَيْهِ، فَمَنِ افْتَقَرَ إِلَى اللهِ فَقَدِ اسْتَغْنَى بِاللهِ وَمَنِ اسْتَغْنَى بِاللهِ أَغْنَاهُ اللهُ عَنْ خَلْقِهِ. فَحَقِيقَةُ الْفَقْرِ الْمَمْقُوتِ الْمَذْمُومِ هُوَ الْفَقْرُ إِلَى الْخَلْقِ وَحَقِيقَةُ الْفَقْرِ الْمَمْدُوحِ هُوَ الْفَقْرُ إِلَى الْحَقِّ، وَحَقِيقَةُ الْغِنَى الْمَمْدُوحِ هُوَ الْغِنَى بِاللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَالتَّحْقِيقُ أَنَّ الْغِنَى الَّذِي سَأَلَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَبَّهُ إِنَّمَا هُوَ غِنَى الْقَلْبِ بِاللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَمَّا الْغِنَى بِالْمَالِ، فَإِنَّهُ قَدْ يَكُونُ عِنْدَ الصَّالِحِ وَالطَّالِحِ، وَهَذَا مِنْ حَيْثُ هُوَ لَا يُمْدَحُ وَلَا يُذَمُّ إِنَّمَا الْمَمْدُوحُ مُطْلَقًا هُوَ غِنَى الْقَلْبِ بِاللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَفَقْرُهُ إِلَيْهِ، وَالْمَذْمُومُ أَنْ يَفْتَقِرَ الْإِنْسَانُ إِلَى غَيْرِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْحَقِيقَةُ الَّتِي لَا يَجُوزُ أَنْ يَغْفَلَ عَنْهَا مُسْلِمٌ أَنَّهُ لَا غِنَى عَنِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، كَمَا أَنَّهُ لَا وُجُودَ بِغَيْرِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْغِنَى، أَعْنِي أَنْ تَكُونَ مِنْ أَهْلِ الِافْتِقَارِ الصَّادِقِ إِلَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَعَلَيْكَ أَنْ تُجَاهِدَ نَفْسَكَ بِأَنْ تَرَى كُلَّ ذَرَّةٍ فِيكَ ظَاهِرَةً أَوْ بَاطِنَةً مُفْتَقِرَةً إِلَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مِنْ حَيْثُ كَوْنُهُ رَبًّا، وَمِنْ حَيْثُ كَوْنُهُ إِلَهًا مَعْبُودًا وَهَذَا إِنَّمَا يَتَحَقَّقُ بِسَبَبَيْنِ: الْأَوَّلُ مَعْرِفَةُ حَقِيقَةِ الرُّبُوبِيَّةِ وَالْأُلُوهِيَّةِ، وَالثَّانِي مَعْرِفَةُ حَقِيقَةِ النَّفْسِ وَالْعُبُودِيَّةِ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي تَحْقِيقِ هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ وَالْوُصُولِ إِلَيْهِمَا، فَلْيُبْشِرْ بِأَنَّهُ قَدْ وَصَلَ بِتَوْفِيقِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنْعَامِهِ إِلَى الِافْتِقَارِ إِلَى اللهِ، أَعْنِي إِلَى الِاسْتِغْنَاءِ بِهِ. وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا أَعْلَمُ


Adapun orang-orang yang mendapat hidayah, ahli iman dan tauhid, mereka merasa cukup dengan Allah, bukan merasa cukup tanpa Allah.Ahli iman dan tauhid meyakini bahwa Allah lebih baik dan lebih kekal. Mereka merasa cukup dengan Allah. Merasa cukup dengan Allah adalah hakikat merasa fakir kepada-Nya. Siapa yang benar-benar merasa fakir kepada Allah, sungguh ia telah merasa cukup dengan Allah. Siapa yang merasa cukup dengan Allah, Allah akan mencukupinya dari bergantung kepada makhluk. Maka hakikat kefakiran yang tercela adalah fakir kepada makhluk. Sedangkan hakikat kefakiran yang terpuji adalah fakir kepada Al-Haqq, yaitu Allah. Dan hakikat kekayaan yang terpuji adalah kaya dengan Allah Tabaraka wa Ta’ala. Penjelasan yang tepat adalah, kekayaan yang diminta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Rabbnya adalah kekayaan hati dengan Allah Tabaraka wa Ta’ala. Adapun kaya dengan harta, itu bisa dimiliki orang saleh maupun orang buruk. Harta itu, dari sisi zatnya, tidak dipuji dan tidak pula dicela. Yang terpuji secara mutlak adalah hati yang kaya dengan Allah Tabaraka wa Ta’ala, sekaligus fakir kepada-Nya. Sedangkan yang tercela adalah ketika manusia merasa fakir kepada selain Allah Tabaraka wa Ta’ala. Hakikat yang tidak boleh dilalaikan seorang muslim adalah bahwa tidak ada kecukupan tanpa Allah Tabaraka wa Ta’ala, sebagaimana tidak ada keberadaan tanpa-Nya Tabaraka wa Ta’ala. Jika engkau ingin menjadi orang yang benar-benar kaya, maksudku menjadi orang yang benar-benar fakir kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, maka engkau harus bersungguh-sungguh melawan dirimu, dengan engkau melihat setiap bagian terkecil dalam dirimu, lahir maupun batin, semuanya fakir kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Baik dari sisi bahwa Dia adalah Rabb, maupun dari sisi bahwa Dia adalah Ilah yang berhak diibadahi. Hal ini hanya terwujud dengan dua sebab. Pertama, mengenal hakikat rububiyah dan uluhiyah. Kedua, mengenal hakikat diri dan penghambaan. Siapa yang bersungguh-sungguh melawan dirinya untuk mewujudkan dua perkara ini dan mencapainya, maka bergembiralah. Dengan taufik Allah ‘Azza wa Jalla dan karunia-Nya, ia telah sampai kepada keadaan fakir kepada Allah. Maksudku, kepada keadaan merasa cukup dengan-Nya. Wallahu Jalla wa ‘Ala a’lam. ===== أَمَّا أَهْلُ الْهِدَايَةِ، أَهْلُ الْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ، فَإِنَّهُمْ مُسْتَغْنُونَ بِاللهِ لَا عَنْهُ أَهْلُ الْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ يَعْتَقِدُونَ أَنَّ اللهَ خَيْرٌ وَأَبْقَى، يَسْتَغْنُونَ بِاللهِ وَالِاسْتِغْنَاءُ بِاللهِ هُوَ عَيْنُ الِافْتِقَارِ إِلَيْهِ، فَمَنِ افْتَقَرَ إِلَى اللهِ فَقَدِ اسْتَغْنَى بِاللهِ وَمَنِ اسْتَغْنَى بِاللهِ أَغْنَاهُ اللهُ عَنْ خَلْقِهِ. فَحَقِيقَةُ الْفَقْرِ الْمَمْقُوتِ الْمَذْمُومِ هُوَ الْفَقْرُ إِلَى الْخَلْقِ وَحَقِيقَةُ الْفَقْرِ الْمَمْدُوحِ هُوَ الْفَقْرُ إِلَى الْحَقِّ، وَحَقِيقَةُ الْغِنَى الْمَمْدُوحِ هُوَ الْغِنَى بِاللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَالتَّحْقِيقُ أَنَّ الْغِنَى الَّذِي سَأَلَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَبَّهُ إِنَّمَا هُوَ غِنَى الْقَلْبِ بِاللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَمَّا الْغِنَى بِالْمَالِ، فَإِنَّهُ قَدْ يَكُونُ عِنْدَ الصَّالِحِ وَالطَّالِحِ، وَهَذَا مِنْ حَيْثُ هُوَ لَا يُمْدَحُ وَلَا يُذَمُّ إِنَّمَا الْمَمْدُوحُ مُطْلَقًا هُوَ غِنَى الْقَلْبِ بِاللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَفَقْرُهُ إِلَيْهِ، وَالْمَذْمُومُ أَنْ يَفْتَقِرَ الْإِنْسَانُ إِلَى غَيْرِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْحَقِيقَةُ الَّتِي لَا يَجُوزُ أَنْ يَغْفَلَ عَنْهَا مُسْلِمٌ أَنَّهُ لَا غِنَى عَنِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، كَمَا أَنَّهُ لَا وُجُودَ بِغَيْرِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْغِنَى، أَعْنِي أَنْ تَكُونَ مِنْ أَهْلِ الِافْتِقَارِ الصَّادِقِ إِلَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَعَلَيْكَ أَنْ تُجَاهِدَ نَفْسَكَ بِأَنْ تَرَى كُلَّ ذَرَّةٍ فِيكَ ظَاهِرَةً أَوْ بَاطِنَةً مُفْتَقِرَةً إِلَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مِنْ حَيْثُ كَوْنُهُ رَبًّا، وَمِنْ حَيْثُ كَوْنُهُ إِلَهًا مَعْبُودًا وَهَذَا إِنَّمَا يَتَحَقَّقُ بِسَبَبَيْنِ: الْأَوَّلُ مَعْرِفَةُ حَقِيقَةِ الرُّبُوبِيَّةِ وَالْأُلُوهِيَّةِ، وَالثَّانِي مَعْرِفَةُ حَقِيقَةِ النَّفْسِ وَالْعُبُودِيَّةِ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي تَحْقِيقِ هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ وَالْوُصُولِ إِلَيْهِمَا، فَلْيُبْشِرْ بِأَنَّهُ قَدْ وَصَلَ بِتَوْفِيقِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنْعَامِهِ إِلَى الِافْتِقَارِ إِلَى اللهِ، أَعْنِي إِلَى الِاسْتِغْنَاءِ بِهِ. وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا أَعْلَمُ
Prev     Next