Tafsir Surah Al-Mutaffifin (Bag. 3): Berlombalah, Raih Kenikmatan Surga Allah

Pada bagian kedua tadabbur surah ini, kita telah membaca bagaimana akhir kisah dari orang-orang yang durhaka, durhaka kepada Allah dengan tidak beriman kepada hari kiamat serta apa yang dibawa pada Rasul, serta berbuat zalim dengan berlaku curang dalam timbangan. Pada tulisan ketiga ini, Allah berbicara kepada kita tentang kebalikannya, yaitu kisah kesudahan orang-orang yang taat kepada-Nya, menjalankan segala apa yang datang dari syariat-Nya, berbuat kebaikan dan ihsan kepada sesama makhluk. Allah tampakkan di sini berbagai kenikmatan yang dirasakan, selama-lamanya di surga. Dimana hal ini menjadi motivasi, agar kita berlomba mencari kehidupan nikmat abadi di surga kelak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْاَبْرَارِ لَفِيْ عِلِّيِّيْنَۗ“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyun.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 18)Allah membuka ayat ini dengan kalimat كَلَّآ yang bisa dimaknai dengan dua makna. Makna pertama adalah “Benar, sungguh benar”. Jika ini kita ambil, maka maknanya adalah penegasan bahwa kitab catatan amal orang-orang saleh berada pada Illiyun. Makna kedua adalah “Sekali-kali tidak”; inilah makna yang diambil oleh Kemenag RI dalam terjemahannya. Berdasarkan makna kedua ini, ayat ini menghancurkan tuduhan orang-orang musyrik bahwa kitab catatan amal orang-orang saleh juga berada di Sijjin.Sesungguhnya catatan amal orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, yang berbuat baik dan tidak melakukan kecurangan dalam kehidupan sosialnya, berada pada Illiyun. Kemudian, apa itu Illiyun?Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا عِلِّيُّوْنَۗ , كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۙ“Tahukah engkau, apakah ‘Illiyyun itu? (Itulah) kitab yang berisi catatan (amal).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 19-20)Allah Ta’ala melanjutkan dengan meletakkan kalimat tanya tentang apa itu Illiyun, apakah engkau wahai Rasulullah mengetahuinya? Bentuk pertanyaan ini disampaikan sebagai bentuk pengagungan terhadap perkara yang sedang dibahas, serta agar manusia yang menyimak menjadi lebih serius karena mereka benar-benar tidak tahu apa itu Illiyun.Perbedaan pendapat mufassirun (ahli tafsir) berkaitan Illiyun adalah seperti perbedaan mereka dalam menafsirkan Sijjin yang dibahas di potongan ayat sebelumnya. Apakah كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۙ merupakan tafsir dan penjelasan atas عِلِّيُّوْنَۗ atau bukan? Maka, ulama berbeda pendapat atasnya.Dalam At-Tashil, Imam Ibnu Juzay berpendapat bahwa Illiyun adalah bentuk mubalaghah dari kata al-uluw yang bermakna tinggi. Hal ini dikarenakan dengan catatan amal yang baik dan berada pada Illiyun, menjadi sebab orang saleh ini naik dan meninggi derajatnya di surga. Beliau juga memberikan tafsiran lain, yaitu bahwa Illiyun adalah suatu tempat di surga yang sangat tinggi, bahkan sampai-sampai tempat itu berada di bawah Arsy Allah Ta’ala. Dalam Tafsir Mahasinut Ta’wil dijelaskan bahwa Illiyun adalah suatu kitab yang berisi amal-amal kebajikan dari orang-orang saleh yang jiwanya dipenuhi dengan cahaya hidayah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَّشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُوْنَۗ“Yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 21)Kitab Illiyun ini berisi catatan amal kebaikan yang disaksikan, yaitu dijaga oleh para malaikat muqorrobun. Ketika Allah Ta’ala memerintahkan malaikat ini untuk menjaga lauhul mahfuzh atau lembara-lembaran yang terjaga, Allah juga perintahkan mereka untuk menjaga kitab Illiyun ini.Amal-amal kebaikan hamba yang tadinya berada pada catatan setiap malaikat yang mengawasi individu tertentu, kemudian akan dipindahkan ke kitab Illiyun ini, sehingga menjadi saksi yang meringankan hisab mereka di hari kiamat.Tafsir lain menjelaskan bahwa ketika ruh seorang mukmin dicabut dari jasadnya, akan dibawa membumbung tinggi menuju arsy Allah Ta’ala sebagai bentuk perhormatan. Kemudian dikeluarkan lembaran-lembaran suci untuknya, di sana dituliskan ketetapan dan tanda keselamatan baginya, yang mempermudah dirinya untuk melanjutkan perjalanan di kubur, padang mahsyar, hisab, sampai akhirnya menginjakkan kakinya di surga. Semua ini disaksikan langsung oleh para malaikat muqorrobun.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍۙ , عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۙ“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan (sambil) melepas pandangan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 22-23)Orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka berada dalam kenikmatan yang besar dan abadi di surga kelak. Mereka diberikan fasilitas kemewahan, salah satunya berupa dipan atau ranjang yang penuh kenikmatan. Mereka bebas memandang ke segala sisi, dan yang bisa mereka lihat hanyalah kenikmatan dan kebahagiaan. Seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan kerja keras dan kecapekan, kemudian pulang ke rumah, berbaring di sebuah ranjang yang empuk, melepaskan lelah dan peluh kesusahan, kemudian terlepas dari lisannya kalimat semisal, “Ah, nikmatnya.” Segala lelah dan beratnya hidup di dunia terbayarkan dengan surga Allah yang sangat luas.Allah benar-benar menggunakan gambaran yang sangat faktual atas kenikmatan ini. Penyebutan ranjang dan dipan bukanlah kebetulan, akan tetapi benar-benar pilihan Allah untuk semakin mengaduk-aduk rasa bahagia seorang hamba yang membaca ayat ini. Semakin memotivasi mereka untuk beramal agar mendapatkan nikmat ini. Memberikan mukjizat visual yang dapat terbayangkan betapa nikmatnya, bersenderan beristirahat di ranjang empuk setelah sebelumnya “bekerja keras” di dunia mencari keridaan Allah.Kenikmatan yang didapatkan bukan hanya berupa kenikmatan fisik berupa makanan yang enak, minuman enak, pasangan yang baik, akan tetapi juga kenikmatan-kenikmatan jiwa yang sifatnya lebih abstrak seperti rida dari Allah, serta bahwa Allah tidak akan pernah lagi marah kepada mereka, dan paling tinggi dari itu semua adalah nikmat bertemu dan melihat Allah di surga kelak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,تَعْرِفُ فِيْ وُجُوْهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيْمِۚ“Engkau dapat mengetahui pada wajah mereka gemerlapnya kenikmatan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 24)Jika sesama penghuni surga saling memandang penghuni surga yang lain, akan sangat kentara dan terlihat bekas-bekas gemerlapnya kenikmatan yang mereka rasakan. Air muka pernuh kebahagiaan, senyuman-senyuman yang sangat indah dipandang, semua itu dari Allah Ta’ala. Allah tambahkan kepada wajah dan fisik mereka bentuk keindahan yang tidak dapat digambarkan indahnya dengan sekedar kata-kata.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يُسْقَوْنَ مِنْ رَّحِيْقٍ مَّخْتُوْمٍۙ , خِتٰمُهٗ مِسْكٌ ۗوَفِيْ ذٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنٰفِسُوْنَۗ“Mereka diberi minum dari khamr murni (tidak memabukkan) yang (tempatnya) masih diberi lak (sebagai jaminan keasliannya). Laknya terbuat dari kasturi. Untuk (mendapatkan) yang demikian itu, hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 25-26)Allah Ta’ala berikan merek minuman kenikmatan, yaitu salah satunya adalah khamr murni yang tidak memabukkan, tidak membuat pusing, tidak menghilangkan fungsi akal, dan tidak merusak sendi-sendi kehidupan moral bersosial. Khamr ini ditutup dan disegel dengan lak atau lakeri, yaitu sebuah tutup dan perekat yang biasanya terbuat dari lilin dan damar yang dicairkan, digunakan untuk menyegel suatu wadah minuman agar terjaga keasliannya. Lak dari khamr ini adalah kasturi yang sangat wangi, masih terjaga keasliannya dari pertama Allah ciptakan. Penghuni surgalah yang pertama kali membuka tutup ini sehingga masih sangat segar untuk diminum. Itulah ar-rahiqul makhtum, suatu miuman khamr murni yang tidak memabukkan dan disegel sehingga sangat segar.Khamr yang disajikan di atas dipan-dipan ini adalah khamr yang berbeda dengan sungai khamr yang ada di surga. Serta setelah meminum khamr ini sampai kenyang, wangi yang dihasilkan juga adalah kasturi yang sangat wangi. Berbeda dengan khamr dunia yang membuat peminumnya berbau busuk.Maka, dengan berbagai kenikmatan ini, berlomba-lombalah wahai orang-orang yang beriman untuk mendapatkannya. Surga adalah “barang dagangan” Allah yang sangat berharga dan mahal. Segeralah berlari, kejar dengan kecepatan penuh kenikmatan abadi ini. Allah memotivasi kita untuk berlomba karena sejatinya manusia adalah makhluk yang suka berlomba dan mengungguli orang lain. Jadikanlah lomba paling besar kita adalah lomba menuju Allah Ta’ala, bukan perlombaan dunia yang tidak ada hasilnya di akhirat, lebih-lebih lagi berlomba untuk siapa cepat menuju neraka, Sekali-kali jangan.Dalam hadis riwayat Imam Abu Dawud dan Tirmidzi, dari sahabat Abu Said Al-Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan,أيُّما مسلمٍ كسا مسلمًا ثوبًا على عُريٍ كساه اللهُ من خُضَرِ الجنَّةِ، وأيُّما مسلمٍ أطعم مسلمًا على جوعٍ أطعمه اللهُ من ثمارِ الجنَّةِ، وأيُّما مسلمٍ سقَى مسلمًا على ظمأٍ سقاه اللهُ عزَّ وجلَّ من الرحيقِ المختومِ“Seorang muslim yang memberikan pakaian kepada muslim lain yang tidak berpakaian, maka Allah akan berikan kepadanya jubah hijau sutra surga. Seorang muslim yang memberi makan muslim lain yang kelaparan, maka Allah akan menjamunya dengan buah-buahan surga. Seorang muslim yang memberi minum kepada muslim lain yang kehausan, maka Allah akan berikan kepadanya minuman ar-rahiqul makhtum.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمِزَاجُهٗ مِنْ تَسْنِيْمٍۙ , عَيْنًا يَّشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُوْنَۗ“Campurannya terbuat dari tasnīm, (yaitu) mata air yang diminum oleh mereka yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 27-28)Belum selesai sampai situ, setelah Allah memotivasi untuk berlomba dalam kebaikan, Allah tambah lagi kenikmatan minuman penghuni surga ini. Campuran dari ar-rahiqul makhtum ini adalah tasnim, yaitu minuman dari mata air yang mengalir turun dari surga bagian atas. Ini adalah minuman paling mulia di surga. Semoga Allah berikan rahmat-Nya, serta memberikan izin kepada kita untuk minum dari mata air yang mulia ini.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Tafsir Surah Al-Mutaffifin (Bag. 3): Berlombalah, Raih Kenikmatan Surga Allah

Pada bagian kedua tadabbur surah ini, kita telah membaca bagaimana akhir kisah dari orang-orang yang durhaka, durhaka kepada Allah dengan tidak beriman kepada hari kiamat serta apa yang dibawa pada Rasul, serta berbuat zalim dengan berlaku curang dalam timbangan. Pada tulisan ketiga ini, Allah berbicara kepada kita tentang kebalikannya, yaitu kisah kesudahan orang-orang yang taat kepada-Nya, menjalankan segala apa yang datang dari syariat-Nya, berbuat kebaikan dan ihsan kepada sesama makhluk. Allah tampakkan di sini berbagai kenikmatan yang dirasakan, selama-lamanya di surga. Dimana hal ini menjadi motivasi, agar kita berlomba mencari kehidupan nikmat abadi di surga kelak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْاَبْرَارِ لَفِيْ عِلِّيِّيْنَۗ“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyun.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 18)Allah membuka ayat ini dengan kalimat كَلَّآ yang bisa dimaknai dengan dua makna. Makna pertama adalah “Benar, sungguh benar”. Jika ini kita ambil, maka maknanya adalah penegasan bahwa kitab catatan amal orang-orang saleh berada pada Illiyun. Makna kedua adalah “Sekali-kali tidak”; inilah makna yang diambil oleh Kemenag RI dalam terjemahannya. Berdasarkan makna kedua ini, ayat ini menghancurkan tuduhan orang-orang musyrik bahwa kitab catatan amal orang-orang saleh juga berada di Sijjin.Sesungguhnya catatan amal orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, yang berbuat baik dan tidak melakukan kecurangan dalam kehidupan sosialnya, berada pada Illiyun. Kemudian, apa itu Illiyun?Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا عِلِّيُّوْنَۗ , كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۙ“Tahukah engkau, apakah ‘Illiyyun itu? (Itulah) kitab yang berisi catatan (amal).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 19-20)Allah Ta’ala melanjutkan dengan meletakkan kalimat tanya tentang apa itu Illiyun, apakah engkau wahai Rasulullah mengetahuinya? Bentuk pertanyaan ini disampaikan sebagai bentuk pengagungan terhadap perkara yang sedang dibahas, serta agar manusia yang menyimak menjadi lebih serius karena mereka benar-benar tidak tahu apa itu Illiyun.Perbedaan pendapat mufassirun (ahli tafsir) berkaitan Illiyun adalah seperti perbedaan mereka dalam menafsirkan Sijjin yang dibahas di potongan ayat sebelumnya. Apakah كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۙ merupakan tafsir dan penjelasan atas عِلِّيُّوْنَۗ atau bukan? Maka, ulama berbeda pendapat atasnya.Dalam At-Tashil, Imam Ibnu Juzay berpendapat bahwa Illiyun adalah bentuk mubalaghah dari kata al-uluw yang bermakna tinggi. Hal ini dikarenakan dengan catatan amal yang baik dan berada pada Illiyun, menjadi sebab orang saleh ini naik dan meninggi derajatnya di surga. Beliau juga memberikan tafsiran lain, yaitu bahwa Illiyun adalah suatu tempat di surga yang sangat tinggi, bahkan sampai-sampai tempat itu berada di bawah Arsy Allah Ta’ala. Dalam Tafsir Mahasinut Ta’wil dijelaskan bahwa Illiyun adalah suatu kitab yang berisi amal-amal kebajikan dari orang-orang saleh yang jiwanya dipenuhi dengan cahaya hidayah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَّشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُوْنَۗ“Yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 21)Kitab Illiyun ini berisi catatan amal kebaikan yang disaksikan, yaitu dijaga oleh para malaikat muqorrobun. Ketika Allah Ta’ala memerintahkan malaikat ini untuk menjaga lauhul mahfuzh atau lembara-lembaran yang terjaga, Allah juga perintahkan mereka untuk menjaga kitab Illiyun ini.Amal-amal kebaikan hamba yang tadinya berada pada catatan setiap malaikat yang mengawasi individu tertentu, kemudian akan dipindahkan ke kitab Illiyun ini, sehingga menjadi saksi yang meringankan hisab mereka di hari kiamat.Tafsir lain menjelaskan bahwa ketika ruh seorang mukmin dicabut dari jasadnya, akan dibawa membumbung tinggi menuju arsy Allah Ta’ala sebagai bentuk perhormatan. Kemudian dikeluarkan lembaran-lembaran suci untuknya, di sana dituliskan ketetapan dan tanda keselamatan baginya, yang mempermudah dirinya untuk melanjutkan perjalanan di kubur, padang mahsyar, hisab, sampai akhirnya menginjakkan kakinya di surga. Semua ini disaksikan langsung oleh para malaikat muqorrobun.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍۙ , عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۙ“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan (sambil) melepas pandangan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 22-23)Orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka berada dalam kenikmatan yang besar dan abadi di surga kelak. Mereka diberikan fasilitas kemewahan, salah satunya berupa dipan atau ranjang yang penuh kenikmatan. Mereka bebas memandang ke segala sisi, dan yang bisa mereka lihat hanyalah kenikmatan dan kebahagiaan. Seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan kerja keras dan kecapekan, kemudian pulang ke rumah, berbaring di sebuah ranjang yang empuk, melepaskan lelah dan peluh kesusahan, kemudian terlepas dari lisannya kalimat semisal, “Ah, nikmatnya.” Segala lelah dan beratnya hidup di dunia terbayarkan dengan surga Allah yang sangat luas.Allah benar-benar menggunakan gambaran yang sangat faktual atas kenikmatan ini. Penyebutan ranjang dan dipan bukanlah kebetulan, akan tetapi benar-benar pilihan Allah untuk semakin mengaduk-aduk rasa bahagia seorang hamba yang membaca ayat ini. Semakin memotivasi mereka untuk beramal agar mendapatkan nikmat ini. Memberikan mukjizat visual yang dapat terbayangkan betapa nikmatnya, bersenderan beristirahat di ranjang empuk setelah sebelumnya “bekerja keras” di dunia mencari keridaan Allah.Kenikmatan yang didapatkan bukan hanya berupa kenikmatan fisik berupa makanan yang enak, minuman enak, pasangan yang baik, akan tetapi juga kenikmatan-kenikmatan jiwa yang sifatnya lebih abstrak seperti rida dari Allah, serta bahwa Allah tidak akan pernah lagi marah kepada mereka, dan paling tinggi dari itu semua adalah nikmat bertemu dan melihat Allah di surga kelak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,تَعْرِفُ فِيْ وُجُوْهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيْمِۚ“Engkau dapat mengetahui pada wajah mereka gemerlapnya kenikmatan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 24)Jika sesama penghuni surga saling memandang penghuni surga yang lain, akan sangat kentara dan terlihat bekas-bekas gemerlapnya kenikmatan yang mereka rasakan. Air muka pernuh kebahagiaan, senyuman-senyuman yang sangat indah dipandang, semua itu dari Allah Ta’ala. Allah tambahkan kepada wajah dan fisik mereka bentuk keindahan yang tidak dapat digambarkan indahnya dengan sekedar kata-kata.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يُسْقَوْنَ مِنْ رَّحِيْقٍ مَّخْتُوْمٍۙ , خِتٰمُهٗ مِسْكٌ ۗوَفِيْ ذٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنٰفِسُوْنَۗ“Mereka diberi minum dari khamr murni (tidak memabukkan) yang (tempatnya) masih diberi lak (sebagai jaminan keasliannya). Laknya terbuat dari kasturi. Untuk (mendapatkan) yang demikian itu, hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 25-26)Allah Ta’ala berikan merek minuman kenikmatan, yaitu salah satunya adalah khamr murni yang tidak memabukkan, tidak membuat pusing, tidak menghilangkan fungsi akal, dan tidak merusak sendi-sendi kehidupan moral bersosial. Khamr ini ditutup dan disegel dengan lak atau lakeri, yaitu sebuah tutup dan perekat yang biasanya terbuat dari lilin dan damar yang dicairkan, digunakan untuk menyegel suatu wadah minuman agar terjaga keasliannya. Lak dari khamr ini adalah kasturi yang sangat wangi, masih terjaga keasliannya dari pertama Allah ciptakan. Penghuni surgalah yang pertama kali membuka tutup ini sehingga masih sangat segar untuk diminum. Itulah ar-rahiqul makhtum, suatu miuman khamr murni yang tidak memabukkan dan disegel sehingga sangat segar.Khamr yang disajikan di atas dipan-dipan ini adalah khamr yang berbeda dengan sungai khamr yang ada di surga. Serta setelah meminum khamr ini sampai kenyang, wangi yang dihasilkan juga adalah kasturi yang sangat wangi. Berbeda dengan khamr dunia yang membuat peminumnya berbau busuk.Maka, dengan berbagai kenikmatan ini, berlomba-lombalah wahai orang-orang yang beriman untuk mendapatkannya. Surga adalah “barang dagangan” Allah yang sangat berharga dan mahal. Segeralah berlari, kejar dengan kecepatan penuh kenikmatan abadi ini. Allah memotivasi kita untuk berlomba karena sejatinya manusia adalah makhluk yang suka berlomba dan mengungguli orang lain. Jadikanlah lomba paling besar kita adalah lomba menuju Allah Ta’ala, bukan perlombaan dunia yang tidak ada hasilnya di akhirat, lebih-lebih lagi berlomba untuk siapa cepat menuju neraka, Sekali-kali jangan.Dalam hadis riwayat Imam Abu Dawud dan Tirmidzi, dari sahabat Abu Said Al-Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan,أيُّما مسلمٍ كسا مسلمًا ثوبًا على عُريٍ كساه اللهُ من خُضَرِ الجنَّةِ، وأيُّما مسلمٍ أطعم مسلمًا على جوعٍ أطعمه اللهُ من ثمارِ الجنَّةِ، وأيُّما مسلمٍ سقَى مسلمًا على ظمأٍ سقاه اللهُ عزَّ وجلَّ من الرحيقِ المختومِ“Seorang muslim yang memberikan pakaian kepada muslim lain yang tidak berpakaian, maka Allah akan berikan kepadanya jubah hijau sutra surga. Seorang muslim yang memberi makan muslim lain yang kelaparan, maka Allah akan menjamunya dengan buah-buahan surga. Seorang muslim yang memberi minum kepada muslim lain yang kehausan, maka Allah akan berikan kepadanya minuman ar-rahiqul makhtum.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمِزَاجُهٗ مِنْ تَسْنِيْمٍۙ , عَيْنًا يَّشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُوْنَۗ“Campurannya terbuat dari tasnīm, (yaitu) mata air yang diminum oleh mereka yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 27-28)Belum selesai sampai situ, setelah Allah memotivasi untuk berlomba dalam kebaikan, Allah tambah lagi kenikmatan minuman penghuni surga ini. Campuran dari ar-rahiqul makhtum ini adalah tasnim, yaitu minuman dari mata air yang mengalir turun dari surga bagian atas. Ini adalah minuman paling mulia di surga. Semoga Allah berikan rahmat-Nya, serta memberikan izin kepada kita untuk minum dari mata air yang mulia ini.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
Pada bagian kedua tadabbur surah ini, kita telah membaca bagaimana akhir kisah dari orang-orang yang durhaka, durhaka kepada Allah dengan tidak beriman kepada hari kiamat serta apa yang dibawa pada Rasul, serta berbuat zalim dengan berlaku curang dalam timbangan. Pada tulisan ketiga ini, Allah berbicara kepada kita tentang kebalikannya, yaitu kisah kesudahan orang-orang yang taat kepada-Nya, menjalankan segala apa yang datang dari syariat-Nya, berbuat kebaikan dan ihsan kepada sesama makhluk. Allah tampakkan di sini berbagai kenikmatan yang dirasakan, selama-lamanya di surga. Dimana hal ini menjadi motivasi, agar kita berlomba mencari kehidupan nikmat abadi di surga kelak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْاَبْرَارِ لَفِيْ عِلِّيِّيْنَۗ“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyun.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 18)Allah membuka ayat ini dengan kalimat كَلَّآ yang bisa dimaknai dengan dua makna. Makna pertama adalah “Benar, sungguh benar”. Jika ini kita ambil, maka maknanya adalah penegasan bahwa kitab catatan amal orang-orang saleh berada pada Illiyun. Makna kedua adalah “Sekali-kali tidak”; inilah makna yang diambil oleh Kemenag RI dalam terjemahannya. Berdasarkan makna kedua ini, ayat ini menghancurkan tuduhan orang-orang musyrik bahwa kitab catatan amal orang-orang saleh juga berada di Sijjin.Sesungguhnya catatan amal orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, yang berbuat baik dan tidak melakukan kecurangan dalam kehidupan sosialnya, berada pada Illiyun. Kemudian, apa itu Illiyun?Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا عِلِّيُّوْنَۗ , كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۙ“Tahukah engkau, apakah ‘Illiyyun itu? (Itulah) kitab yang berisi catatan (amal).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 19-20)Allah Ta’ala melanjutkan dengan meletakkan kalimat tanya tentang apa itu Illiyun, apakah engkau wahai Rasulullah mengetahuinya? Bentuk pertanyaan ini disampaikan sebagai bentuk pengagungan terhadap perkara yang sedang dibahas, serta agar manusia yang menyimak menjadi lebih serius karena mereka benar-benar tidak tahu apa itu Illiyun.Perbedaan pendapat mufassirun (ahli tafsir) berkaitan Illiyun adalah seperti perbedaan mereka dalam menafsirkan Sijjin yang dibahas di potongan ayat sebelumnya. Apakah كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۙ merupakan tafsir dan penjelasan atas عِلِّيُّوْنَۗ atau bukan? Maka, ulama berbeda pendapat atasnya.Dalam At-Tashil, Imam Ibnu Juzay berpendapat bahwa Illiyun adalah bentuk mubalaghah dari kata al-uluw yang bermakna tinggi. Hal ini dikarenakan dengan catatan amal yang baik dan berada pada Illiyun, menjadi sebab orang saleh ini naik dan meninggi derajatnya di surga. Beliau juga memberikan tafsiran lain, yaitu bahwa Illiyun adalah suatu tempat di surga yang sangat tinggi, bahkan sampai-sampai tempat itu berada di bawah Arsy Allah Ta’ala. Dalam Tafsir Mahasinut Ta’wil dijelaskan bahwa Illiyun adalah suatu kitab yang berisi amal-amal kebajikan dari orang-orang saleh yang jiwanya dipenuhi dengan cahaya hidayah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَّشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُوْنَۗ“Yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 21)Kitab Illiyun ini berisi catatan amal kebaikan yang disaksikan, yaitu dijaga oleh para malaikat muqorrobun. Ketika Allah Ta’ala memerintahkan malaikat ini untuk menjaga lauhul mahfuzh atau lembara-lembaran yang terjaga, Allah juga perintahkan mereka untuk menjaga kitab Illiyun ini.Amal-amal kebaikan hamba yang tadinya berada pada catatan setiap malaikat yang mengawasi individu tertentu, kemudian akan dipindahkan ke kitab Illiyun ini, sehingga menjadi saksi yang meringankan hisab mereka di hari kiamat.Tafsir lain menjelaskan bahwa ketika ruh seorang mukmin dicabut dari jasadnya, akan dibawa membumbung tinggi menuju arsy Allah Ta’ala sebagai bentuk perhormatan. Kemudian dikeluarkan lembaran-lembaran suci untuknya, di sana dituliskan ketetapan dan tanda keselamatan baginya, yang mempermudah dirinya untuk melanjutkan perjalanan di kubur, padang mahsyar, hisab, sampai akhirnya menginjakkan kakinya di surga. Semua ini disaksikan langsung oleh para malaikat muqorrobun.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍۙ , عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۙ“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan (sambil) melepas pandangan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 22-23)Orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka berada dalam kenikmatan yang besar dan abadi di surga kelak. Mereka diberikan fasilitas kemewahan, salah satunya berupa dipan atau ranjang yang penuh kenikmatan. Mereka bebas memandang ke segala sisi, dan yang bisa mereka lihat hanyalah kenikmatan dan kebahagiaan. Seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan kerja keras dan kecapekan, kemudian pulang ke rumah, berbaring di sebuah ranjang yang empuk, melepaskan lelah dan peluh kesusahan, kemudian terlepas dari lisannya kalimat semisal, “Ah, nikmatnya.” Segala lelah dan beratnya hidup di dunia terbayarkan dengan surga Allah yang sangat luas.Allah benar-benar menggunakan gambaran yang sangat faktual atas kenikmatan ini. Penyebutan ranjang dan dipan bukanlah kebetulan, akan tetapi benar-benar pilihan Allah untuk semakin mengaduk-aduk rasa bahagia seorang hamba yang membaca ayat ini. Semakin memotivasi mereka untuk beramal agar mendapatkan nikmat ini. Memberikan mukjizat visual yang dapat terbayangkan betapa nikmatnya, bersenderan beristirahat di ranjang empuk setelah sebelumnya “bekerja keras” di dunia mencari keridaan Allah.Kenikmatan yang didapatkan bukan hanya berupa kenikmatan fisik berupa makanan yang enak, minuman enak, pasangan yang baik, akan tetapi juga kenikmatan-kenikmatan jiwa yang sifatnya lebih abstrak seperti rida dari Allah, serta bahwa Allah tidak akan pernah lagi marah kepada mereka, dan paling tinggi dari itu semua adalah nikmat bertemu dan melihat Allah di surga kelak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,تَعْرِفُ فِيْ وُجُوْهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيْمِۚ“Engkau dapat mengetahui pada wajah mereka gemerlapnya kenikmatan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 24)Jika sesama penghuni surga saling memandang penghuni surga yang lain, akan sangat kentara dan terlihat bekas-bekas gemerlapnya kenikmatan yang mereka rasakan. Air muka pernuh kebahagiaan, senyuman-senyuman yang sangat indah dipandang, semua itu dari Allah Ta’ala. Allah tambahkan kepada wajah dan fisik mereka bentuk keindahan yang tidak dapat digambarkan indahnya dengan sekedar kata-kata.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يُسْقَوْنَ مِنْ رَّحِيْقٍ مَّخْتُوْمٍۙ , خِتٰمُهٗ مِسْكٌ ۗوَفِيْ ذٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنٰفِسُوْنَۗ“Mereka diberi minum dari khamr murni (tidak memabukkan) yang (tempatnya) masih diberi lak (sebagai jaminan keasliannya). Laknya terbuat dari kasturi. Untuk (mendapatkan) yang demikian itu, hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 25-26)Allah Ta’ala berikan merek minuman kenikmatan, yaitu salah satunya adalah khamr murni yang tidak memabukkan, tidak membuat pusing, tidak menghilangkan fungsi akal, dan tidak merusak sendi-sendi kehidupan moral bersosial. Khamr ini ditutup dan disegel dengan lak atau lakeri, yaitu sebuah tutup dan perekat yang biasanya terbuat dari lilin dan damar yang dicairkan, digunakan untuk menyegel suatu wadah minuman agar terjaga keasliannya. Lak dari khamr ini adalah kasturi yang sangat wangi, masih terjaga keasliannya dari pertama Allah ciptakan. Penghuni surgalah yang pertama kali membuka tutup ini sehingga masih sangat segar untuk diminum. Itulah ar-rahiqul makhtum, suatu miuman khamr murni yang tidak memabukkan dan disegel sehingga sangat segar.Khamr yang disajikan di atas dipan-dipan ini adalah khamr yang berbeda dengan sungai khamr yang ada di surga. Serta setelah meminum khamr ini sampai kenyang, wangi yang dihasilkan juga adalah kasturi yang sangat wangi. Berbeda dengan khamr dunia yang membuat peminumnya berbau busuk.Maka, dengan berbagai kenikmatan ini, berlomba-lombalah wahai orang-orang yang beriman untuk mendapatkannya. Surga adalah “barang dagangan” Allah yang sangat berharga dan mahal. Segeralah berlari, kejar dengan kecepatan penuh kenikmatan abadi ini. Allah memotivasi kita untuk berlomba karena sejatinya manusia adalah makhluk yang suka berlomba dan mengungguli orang lain. Jadikanlah lomba paling besar kita adalah lomba menuju Allah Ta’ala, bukan perlombaan dunia yang tidak ada hasilnya di akhirat, lebih-lebih lagi berlomba untuk siapa cepat menuju neraka, Sekali-kali jangan.Dalam hadis riwayat Imam Abu Dawud dan Tirmidzi, dari sahabat Abu Said Al-Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan,أيُّما مسلمٍ كسا مسلمًا ثوبًا على عُريٍ كساه اللهُ من خُضَرِ الجنَّةِ، وأيُّما مسلمٍ أطعم مسلمًا على جوعٍ أطعمه اللهُ من ثمارِ الجنَّةِ، وأيُّما مسلمٍ سقَى مسلمًا على ظمأٍ سقاه اللهُ عزَّ وجلَّ من الرحيقِ المختومِ“Seorang muslim yang memberikan pakaian kepada muslim lain yang tidak berpakaian, maka Allah akan berikan kepadanya jubah hijau sutra surga. Seorang muslim yang memberi makan muslim lain yang kelaparan, maka Allah akan menjamunya dengan buah-buahan surga. Seorang muslim yang memberi minum kepada muslim lain yang kehausan, maka Allah akan berikan kepadanya minuman ar-rahiqul makhtum.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمِزَاجُهٗ مِنْ تَسْنِيْمٍۙ , عَيْنًا يَّشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُوْنَۗ“Campurannya terbuat dari tasnīm, (yaitu) mata air yang diminum oleh mereka yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 27-28)Belum selesai sampai situ, setelah Allah memotivasi untuk berlomba dalam kebaikan, Allah tambah lagi kenikmatan minuman penghuni surga ini. Campuran dari ar-rahiqul makhtum ini adalah tasnim, yaitu minuman dari mata air yang mengalir turun dari surga bagian atas. Ini adalah minuman paling mulia di surga. Semoga Allah berikan rahmat-Nya, serta memberikan izin kepada kita untuk minum dari mata air yang mulia ini.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/


Pada bagian kedua tadabbur surah ini, kita telah membaca bagaimana akhir kisah dari orang-orang yang durhaka, durhaka kepada Allah dengan tidak beriman kepada hari kiamat serta apa yang dibawa pada Rasul, serta berbuat zalim dengan berlaku curang dalam timbangan. Pada tulisan ketiga ini, Allah berbicara kepada kita tentang kebalikannya, yaitu kisah kesudahan orang-orang yang taat kepada-Nya, menjalankan segala apa yang datang dari syariat-Nya, berbuat kebaikan dan ihsan kepada sesama makhluk. Allah tampakkan di sini berbagai kenikmatan yang dirasakan, selama-lamanya di surga. Dimana hal ini menjadi motivasi, agar kita berlomba mencari kehidupan nikmat abadi di surga kelak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْاَبْرَارِ لَفِيْ عِلِّيِّيْنَۗ“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyun.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 18)Allah membuka ayat ini dengan kalimat كَلَّآ yang bisa dimaknai dengan dua makna. Makna pertama adalah “Benar, sungguh benar”. Jika ini kita ambil, maka maknanya adalah penegasan bahwa kitab catatan amal orang-orang saleh berada pada Illiyun. Makna kedua adalah “Sekali-kali tidak”; inilah makna yang diambil oleh Kemenag RI dalam terjemahannya. Berdasarkan makna kedua ini, ayat ini menghancurkan tuduhan orang-orang musyrik bahwa kitab catatan amal orang-orang saleh juga berada di Sijjin.Sesungguhnya catatan amal orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, yang berbuat baik dan tidak melakukan kecurangan dalam kehidupan sosialnya, berada pada Illiyun. Kemudian, apa itu Illiyun?Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا عِلِّيُّوْنَۗ , كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۙ“Tahukah engkau, apakah ‘Illiyyun itu? (Itulah) kitab yang berisi catatan (amal).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 19-20)Allah Ta’ala melanjutkan dengan meletakkan kalimat tanya tentang apa itu Illiyun, apakah engkau wahai Rasulullah mengetahuinya? Bentuk pertanyaan ini disampaikan sebagai bentuk pengagungan terhadap perkara yang sedang dibahas, serta agar manusia yang menyimak menjadi lebih serius karena mereka benar-benar tidak tahu apa itu Illiyun.Perbedaan pendapat mufassirun (ahli tafsir) berkaitan Illiyun adalah seperti perbedaan mereka dalam menafsirkan Sijjin yang dibahas di potongan ayat sebelumnya. Apakah كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۙ merupakan tafsir dan penjelasan atas عِلِّيُّوْنَۗ atau bukan? Maka, ulama berbeda pendapat atasnya.Dalam At-Tashil, Imam Ibnu Juzay berpendapat bahwa Illiyun adalah bentuk mubalaghah dari kata al-uluw yang bermakna tinggi. Hal ini dikarenakan dengan catatan amal yang baik dan berada pada Illiyun, menjadi sebab orang saleh ini naik dan meninggi derajatnya di surga. Beliau juga memberikan tafsiran lain, yaitu bahwa Illiyun adalah suatu tempat di surga yang sangat tinggi, bahkan sampai-sampai tempat itu berada di bawah Arsy Allah Ta’ala. Dalam Tafsir Mahasinut Ta’wil dijelaskan bahwa Illiyun adalah suatu kitab yang berisi amal-amal kebajikan dari orang-orang saleh yang jiwanya dipenuhi dengan cahaya hidayah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَّشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُوْنَۗ“Yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 21)Kitab Illiyun ini berisi catatan amal kebaikan yang disaksikan, yaitu dijaga oleh para malaikat muqorrobun. Ketika Allah Ta’ala memerintahkan malaikat ini untuk menjaga lauhul mahfuzh atau lembara-lembaran yang terjaga, Allah juga perintahkan mereka untuk menjaga kitab Illiyun ini.Amal-amal kebaikan hamba yang tadinya berada pada catatan setiap malaikat yang mengawasi individu tertentu, kemudian akan dipindahkan ke kitab Illiyun ini, sehingga menjadi saksi yang meringankan hisab mereka di hari kiamat.Tafsir lain menjelaskan bahwa ketika ruh seorang mukmin dicabut dari jasadnya, akan dibawa membumbung tinggi menuju arsy Allah Ta’ala sebagai bentuk perhormatan. Kemudian dikeluarkan lembaran-lembaran suci untuknya, di sana dituliskan ketetapan dan tanda keselamatan baginya, yang mempermudah dirinya untuk melanjutkan perjalanan di kubur, padang mahsyar, hisab, sampai akhirnya menginjakkan kakinya di surga. Semua ini disaksikan langsung oleh para malaikat muqorrobun.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍۙ , عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۙ“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan (sambil) melepas pandangan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 22-23)Orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka berada dalam kenikmatan yang besar dan abadi di surga kelak. Mereka diberikan fasilitas kemewahan, salah satunya berupa dipan atau ranjang yang penuh kenikmatan. Mereka bebas memandang ke segala sisi, dan yang bisa mereka lihat hanyalah kenikmatan dan kebahagiaan. Seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan kerja keras dan kecapekan, kemudian pulang ke rumah, berbaring di sebuah ranjang yang empuk, melepaskan lelah dan peluh kesusahan, kemudian terlepas dari lisannya kalimat semisal, “Ah, nikmatnya.” Segala lelah dan beratnya hidup di dunia terbayarkan dengan surga Allah yang sangat luas.Allah benar-benar menggunakan gambaran yang sangat faktual atas kenikmatan ini. Penyebutan ranjang dan dipan bukanlah kebetulan, akan tetapi benar-benar pilihan Allah untuk semakin mengaduk-aduk rasa bahagia seorang hamba yang membaca ayat ini. Semakin memotivasi mereka untuk beramal agar mendapatkan nikmat ini. Memberikan mukjizat visual yang dapat terbayangkan betapa nikmatnya, bersenderan beristirahat di ranjang empuk setelah sebelumnya “bekerja keras” di dunia mencari keridaan Allah.Kenikmatan yang didapatkan bukan hanya berupa kenikmatan fisik berupa makanan yang enak, minuman enak, pasangan yang baik, akan tetapi juga kenikmatan-kenikmatan jiwa yang sifatnya lebih abstrak seperti rida dari Allah, serta bahwa Allah tidak akan pernah lagi marah kepada mereka, dan paling tinggi dari itu semua adalah nikmat bertemu dan melihat Allah di surga kelak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,تَعْرِفُ فِيْ وُجُوْهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيْمِۚ“Engkau dapat mengetahui pada wajah mereka gemerlapnya kenikmatan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 24)Jika sesama penghuni surga saling memandang penghuni surga yang lain, akan sangat kentara dan terlihat bekas-bekas gemerlapnya kenikmatan yang mereka rasakan. Air muka pernuh kebahagiaan, senyuman-senyuman yang sangat indah dipandang, semua itu dari Allah Ta’ala. Allah tambahkan kepada wajah dan fisik mereka bentuk keindahan yang tidak dapat digambarkan indahnya dengan sekedar kata-kata.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يُسْقَوْنَ مِنْ رَّحِيْقٍ مَّخْتُوْمٍۙ , خِتٰمُهٗ مِسْكٌ ۗوَفِيْ ذٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنٰفِسُوْنَۗ“Mereka diberi minum dari khamr murni (tidak memabukkan) yang (tempatnya) masih diberi lak (sebagai jaminan keasliannya). Laknya terbuat dari kasturi. Untuk (mendapatkan) yang demikian itu, hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 25-26)Allah Ta’ala berikan merek minuman kenikmatan, yaitu salah satunya adalah khamr murni yang tidak memabukkan, tidak membuat pusing, tidak menghilangkan fungsi akal, dan tidak merusak sendi-sendi kehidupan moral bersosial. Khamr ini ditutup dan disegel dengan lak atau lakeri, yaitu sebuah tutup dan perekat yang biasanya terbuat dari lilin dan damar yang dicairkan, digunakan untuk menyegel suatu wadah minuman agar terjaga keasliannya. Lak dari khamr ini adalah kasturi yang sangat wangi, masih terjaga keasliannya dari pertama Allah ciptakan. Penghuni surgalah yang pertama kali membuka tutup ini sehingga masih sangat segar untuk diminum. Itulah ar-rahiqul makhtum, suatu miuman khamr murni yang tidak memabukkan dan disegel sehingga sangat segar.Khamr yang disajikan di atas dipan-dipan ini adalah khamr yang berbeda dengan sungai khamr yang ada di surga. Serta setelah meminum khamr ini sampai kenyang, wangi yang dihasilkan juga adalah kasturi yang sangat wangi. Berbeda dengan khamr dunia yang membuat peminumnya berbau busuk.Maka, dengan berbagai kenikmatan ini, berlomba-lombalah wahai orang-orang yang beriman untuk mendapatkannya. Surga adalah “barang dagangan” Allah yang sangat berharga dan mahal. Segeralah berlari, kejar dengan kecepatan penuh kenikmatan abadi ini. Allah memotivasi kita untuk berlomba karena sejatinya manusia adalah makhluk yang suka berlomba dan mengungguli orang lain. Jadikanlah lomba paling besar kita adalah lomba menuju Allah Ta’ala, bukan perlombaan dunia yang tidak ada hasilnya di akhirat, lebih-lebih lagi berlomba untuk siapa cepat menuju neraka, Sekali-kali jangan.Dalam hadis riwayat Imam Abu Dawud dan Tirmidzi, dari sahabat Abu Said Al-Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan,أيُّما مسلمٍ كسا مسلمًا ثوبًا على عُريٍ كساه اللهُ من خُضَرِ الجنَّةِ، وأيُّما مسلمٍ أطعم مسلمًا على جوعٍ أطعمه اللهُ من ثمارِ الجنَّةِ، وأيُّما مسلمٍ سقَى مسلمًا على ظمأٍ سقاه اللهُ عزَّ وجلَّ من الرحيقِ المختومِ“Seorang muslim yang memberikan pakaian kepada muslim lain yang tidak berpakaian, maka Allah akan berikan kepadanya jubah hijau sutra surga. Seorang muslim yang memberi makan muslim lain yang kelaparan, maka Allah akan menjamunya dengan buah-buahan surga. Seorang muslim yang memberi minum kepada muslim lain yang kehausan, maka Allah akan berikan kepadanya minuman ar-rahiqul makhtum.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمِزَاجُهٗ مِنْ تَسْنِيْمٍۙ , عَيْنًا يَّشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُوْنَۗ“Campurannya terbuat dari tasnīm, (yaitu) mata air yang diminum oleh mereka yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 27-28)Belum selesai sampai situ, setelah Allah memotivasi untuk berlomba dalam kebaikan, Allah tambah lagi kenikmatan minuman penghuni surga ini. Campuran dari ar-rahiqul makhtum ini adalah tasnim, yaitu minuman dari mata air yang mengalir turun dari surga bagian atas. Ini adalah minuman paling mulia di surga. Semoga Allah berikan rahmat-Nya, serta memberikan izin kepada kita untuk minum dari mata air yang mulia ini.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Kaidah Fikih: Hukum Asal Setiap Manusia Terlepas dari Tanggungan

Daftar Isi ToggleTentang kaidah iniLafaz kaidahMakna kaidahPertama, makna kata per kataKedua, makna secara umumContoh penerapan kaidahKasus perselisihan nilai barang yang dirusakKasus perselisihan jumlah luka di kepalaMengapa kaidah ini penting?Kaidah ini berbicara tentang hak seorang manusia. Tatkala berbicara tentang hak manusia, seringkali mengharuskan kita untuk berbicara soal adil dan tidaknya. Pada kaidah ini, terdapat poin-poin yang sangat penting untuk menjunjung tinggi suatu keadilan pada hak-hak manusia, terlebih tatkala terjadi sengketa atau pemasalahan di antara mereka.Seringkali terjadi pertikaian, sengketa, dan permusuhan dalam masalah muamalah yang berangkat dari kesalahpahaman antara kedua belah pihak. Seperti masalah transaksi, utang-piutang, peradilan, tuduh-menuduh, dan lain sebagainya. Dalam masalah-masalah seperti ini, kaidah ini dijadikan standar dalam melerai dan menyelesaikan permasalahan tersebut.Penting untuk diketahui bahwa bukanlah maksud dari kaidah ini artinya seseorang terlepas dari segala tanggungan (kewajiban) yang ada dalam hal ibadah dan sebagainya, bukan! Jangan sampai kaidah ini disalahpahami sehingga nantinya ada yang enggan untuk melaksanakan salat karena beralasan dengan kaidah ini, ”Kan hukum asal manusia terlepas dari tanggungan.” Tentunya ini keliru dan tidak tepat, karena kewajiban salat itu sudah menjadi tanggungan semenjak seseorang menginjak usia baligh.Perlu diluruskan bahwasanya kaidah ini berbicara tentang hak-hak manusia, tidak terkait secara khusus tentang ibadah. Dan kaidah ini merupakan cabang dari kaidah kubra yang telah dibahas sebelumnya, yaitu:اليَقِيْنُ لَا يَزُوْلُ بِالشَّكِ“Keyakinan tidak dapat dihilangkan oleh keraguan.” Kaidah ini berbunyi,الأَصْلُ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ“Hukum asal pada setiap manusia adalah terlepas dari tanggungan (kewajiban).” Tentang kaidah iniSyekh ’Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Kaidah ini merupakan asas penting yang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam telah mengingatkan dalam sabdanya, البَيِّنَةُ عَلَى المُدَّعِي وَاليَمِيْنُ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ“Bukti atau penjelasan kewajiban atas penggugat, yang mengingkari tuduhan tersebut (terggugat) wajib bersumpah.” (Muttafaqun ’alaih) Para ahli ilmu telah bersepakat atas asas (kaidah) ini. Para qadhi (hakim) dan mufti (pemberi fatwa) butuh terhadap kaidah ini, bahkan untuk setiap individu.” [1]Syekh Musallam bin Muhammad berkata, “Sisi pendalilan dari hadis Nabi di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bukti yang merupakan petunjuk atas adanya tanggungan beban hukum kepada pihak penggugat, karena ia mengklaim sesuatu yang menyalahi kondisi asal yang tampak. Beliau tidak menuntut dari yang tergugat selain sumpah. Hal ini menunjukkan bahwa hukum asalnya adalah bebasnya tanggungan. Fungsi sumpah di sini adalah untuk mempertahankan kondisi asal yang sudah tetap tersebut.” [2]Allah Ta’ala berfirman,وَاٰتَيۡنٰهُ الۡحِكۡمَةَ وَفَصۡلَ الۡخِطَابِ‏”Kami berikan hikmah kepadanya serta kebijaksanaan dalam memutuskan perkara.” (QS. Sad: 20)Syekh rahimahullah menuturkan, “Terdapat sebuah penafsiran (dari ayat di atas) bahwasanya yang dimaksud dengan ’memutuskan perkara’ adalah ’penjelasan’ atas penggugat dan sumpah atas yang tergugat. Karena dengan hal tersebut, segala kerancuan dan segala pertikaian akan terpecahkan dan terleraikan. Tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut termasuk ke dalam firman Allah ’memutuskan perkara’.” [3]Lafaz kaidahSebagaimana yang telah disebutkan di atas, lafaz kaidah ini berbunyi,الأَصْلُ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ“Hukum asal pada setiap manusia adalah terlepas dari tanggungan (kewajiban).” Terdapat lafaz lainnya, disebutkan oleh salah seorang ulama mazhab Hanafi, Abul Hasan Al-Karkhi rahimahullah, الأَصْلُ أَنَّ مَنْ سَاعَدَهُ الظَّاهِرُ فَالْقَوْلُ قَوْلُهُ وَالْبَيِّنَةُ عَلَى مَنْ يَدَّعِي خِلَافَ الظَّاهِرِ“Pada dasarnya, siapa yang didukung oleh keadaan yang tampak (zahir), maka perkataannyalah yang dipegang (diterima), dan bukti dibebankan kepada siapa yang mengklaim sesuatu yang bertentangan dengan keadaan yang tampak itu.” [4]Makna kaidahPertama, makna kata per kata(الأَصْلُ)Artinya adalah ”kaidah yang tetap dalam syariat.”(البراءة)Artinya adalah “selamat dan terlepas dari beban dan tanggung jawab.”(الذمة)Artinya adalah ”zat dan diri manusia.” Kedua, makna secara umumSyekh Musallam bin Muhammad berkata,أَنَّ الْقَاعِدَةَ الْمُسْتَمِرَّةَ فِي الشَّرْعِ أَنَّ الْإِنْسَانَ غَيْرُ مُكَلَّفٍ بِشَيْءٍ مِنَ الْحُقُوقِ، لِذَا فَإِنَّ تَكْلِيفَهُ بِحَقٍّ مِنَ الْحُقُوقِ مُخَالِفٌ لِلْأَصْلِ فَلَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ ثُبُوتُ تَكْلِيفِهِ بِدَلِيلٍ“Bahwa kaidah yang berlaku tetap (konsisten) dalam syariat adalah: seseorang tidak dibebani dengan suatu hak (kewajiban) apa pun. Oleh karena itu, pembebanan atasnya dengan salah satu hak (kewajiban) itu bertentangan dengan hukum asal, sehingga penetapan pembebanan tersebut harus disertai dalil (bukti).” [5]Contoh penerapan kaidahTerdapat banyak sekali contoh kasus dalam penerapan kaidah ini. Berikut di antaranya [6]:Kasus perselisihan nilai barang yang dirusakJika seseorang merusak barang milik orang lain, kemudian pihak yang merusak (al-mutlif) dan pemilik barang berselisih tentang nilai barang yang dirusak tersebut, sementara tidak ada bukti (bayyinah), maka perkataan yang diterima di sini adalah perkataan pihak yang merusak (yang menanggung ganti rugi), disertai sumpahnya. Hal ini karena hukum asalnya adalah bebasnya tanggungannya (kewajibannya) dari kelebihan nilai yang diklaim oleh pemilik barang.Kasus perselisihan jumlah luka di kepalaSeseorang melukai kepala orang lain, kemudian pihak yang terluka (al-majni ‘alaih) mengklaim dan berkata, ‘Pelaku telah melukai saya dengan dua luka, dan sayalah yang menghilangkan sekat (pembatas) di antara kedua luka itu (sehingga tampak seperti satu luka), maka saya ingin diyat untuk dua luka.’ Namun, pelaku mengingkarinya, dan tidak ada bukti. Dalam kasus ini, perkataan yang diterima di sini adalah perkataan pelaku, disertai sumpahnya. Karena pada asalnya, pelaku bebas tanggungannya dari diyat luka tambahan (yang diklaim).Mengapa kaidah ini penting? Beberapa poin yang menunjukkan pentingnya kaidah ini di antaranya:Kaidah ini dapat melindungi seseorang dari tuduhan sembarangan;Kaidah ini dapat menjadi pedoman muamalah dalam kehidupan sehari-hari;Kaidah ini relevan dapat digunakan dalam peradilan.Namun, kaidah ini bukan berarti diartikan secara mutlak begitu saja bahwa seseorang terlepas dari tanggungan, tuntutan, tuduhan, dan lain sebagainya. Jika memang terdapat bukti yang kuat, seperti pengakuan, saksi yang terpercaya, atau dokumen penguat yang sifatnya tertulis, tentu hukum itu akan tetap baginya, dan ia harus menjalankan konsekuensinya.Pelajaran yang berharga, bahwasanya Islam mengatur manusia sedemikian rupa. Bahkan sampai dalam kondisi manusia berselisih pun, Islam mengaturnya. Dapat diketahui dari sini tentang betapa sistematisnya fikih Islam. Islam menempatkan manusia terlebih dahulu hukum asalnya adil, bersih, dan baik. Tidak dibebani sedikit pun oleh prasangka maupun tuduhan tanpa dasar.Karena jiwa seorang manusia begitu berharga di dalam Islam, tidak boleh direndahkan, dihinakan, terlebih jika kesalahan tersebut tidak ada buktinya. Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ. وَكُونُوا -عِبَادَ اللَّهِ!- إِخْوَانًا؛ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ؛ لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ.“Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling melakukan najasy (pura-pura menawar tinggi untuk menjebak pembeli lain), janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi (memutus hubungan), dan janganlah sebagian dari kalian menjual atas jualan sebagian yang lain (menyaingi transaksi jual beli yang sedang berlangsung). Jadilah kalian, wahai hamba-hamba Allah, saling bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya; tidak boleh menzaliminya, tidak boleh membiarkannya (dalam kesulitan tanpa membantu), dan tidak boleh menghinanya.” (HR. Muslim)Hal ini berkaitan dengan satu manusia, seorang muslim. Lalu bagaimana jika yang dizalimi, dituduh, dihinakan itu lebih dari satu orang muslim?Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.Baca juga: Mengenal 6 Kaidah Dasar Masalah Fiqih***Penulis: Muhammad Zia AbdurrafiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah, 7: 29.[2] Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah, hal. 116.[3] Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah, 7: 29.[4] Al-Wajiz fi Idaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, hal. 180.[5] Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah, hal. 115.[6] Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah, hal. 116; Al-Wajiz fi Idaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, hal. 181-182; Al-Qawa’id Al-Umm lil Fiqhi, hal. 570. Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.Al-Ghazziy, Muhammad Shidqi bin Ahmad. Al-Wajiz fi Idaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah. Beirut: Dar Ar-Risalah Al-Alamiyah, 1422 H/2002M.As-Sa’di, Abdurrahman bin Nashir. Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah wat Taqasim Al-Badi’ah An-Nafi’ah. Dalam Majmu’ah Muallafat Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Jilid 7. Cetakan pertama, Qatar: Wizaratul Awqaf Was Syu’un Al-Islamiyah, 1432 H/2011 M.Murad, Fadl bin Abdullah. Al-Qawa’id Al-Umm lil Fiqh wa Atsaruha fi Ash-Shina’ah Al-Fiqhiyyah Al-Mutaqaddimah wal Mu’ashirah. Damaskus: Dar Ibn Katsir, 1446 H/2025 M.

Kaidah Fikih: Hukum Asal Setiap Manusia Terlepas dari Tanggungan

Daftar Isi ToggleTentang kaidah iniLafaz kaidahMakna kaidahPertama, makna kata per kataKedua, makna secara umumContoh penerapan kaidahKasus perselisihan nilai barang yang dirusakKasus perselisihan jumlah luka di kepalaMengapa kaidah ini penting?Kaidah ini berbicara tentang hak seorang manusia. Tatkala berbicara tentang hak manusia, seringkali mengharuskan kita untuk berbicara soal adil dan tidaknya. Pada kaidah ini, terdapat poin-poin yang sangat penting untuk menjunjung tinggi suatu keadilan pada hak-hak manusia, terlebih tatkala terjadi sengketa atau pemasalahan di antara mereka.Seringkali terjadi pertikaian, sengketa, dan permusuhan dalam masalah muamalah yang berangkat dari kesalahpahaman antara kedua belah pihak. Seperti masalah transaksi, utang-piutang, peradilan, tuduh-menuduh, dan lain sebagainya. Dalam masalah-masalah seperti ini, kaidah ini dijadikan standar dalam melerai dan menyelesaikan permasalahan tersebut.Penting untuk diketahui bahwa bukanlah maksud dari kaidah ini artinya seseorang terlepas dari segala tanggungan (kewajiban) yang ada dalam hal ibadah dan sebagainya, bukan! Jangan sampai kaidah ini disalahpahami sehingga nantinya ada yang enggan untuk melaksanakan salat karena beralasan dengan kaidah ini, ”Kan hukum asal manusia terlepas dari tanggungan.” Tentunya ini keliru dan tidak tepat, karena kewajiban salat itu sudah menjadi tanggungan semenjak seseorang menginjak usia baligh.Perlu diluruskan bahwasanya kaidah ini berbicara tentang hak-hak manusia, tidak terkait secara khusus tentang ibadah. Dan kaidah ini merupakan cabang dari kaidah kubra yang telah dibahas sebelumnya, yaitu:اليَقِيْنُ لَا يَزُوْلُ بِالشَّكِ“Keyakinan tidak dapat dihilangkan oleh keraguan.” Kaidah ini berbunyi,الأَصْلُ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ“Hukum asal pada setiap manusia adalah terlepas dari tanggungan (kewajiban).” Tentang kaidah iniSyekh ’Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Kaidah ini merupakan asas penting yang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam telah mengingatkan dalam sabdanya, البَيِّنَةُ عَلَى المُدَّعِي وَاليَمِيْنُ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ“Bukti atau penjelasan kewajiban atas penggugat, yang mengingkari tuduhan tersebut (terggugat) wajib bersumpah.” (Muttafaqun ’alaih) Para ahli ilmu telah bersepakat atas asas (kaidah) ini. Para qadhi (hakim) dan mufti (pemberi fatwa) butuh terhadap kaidah ini, bahkan untuk setiap individu.” [1]Syekh Musallam bin Muhammad berkata, “Sisi pendalilan dari hadis Nabi di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bukti yang merupakan petunjuk atas adanya tanggungan beban hukum kepada pihak penggugat, karena ia mengklaim sesuatu yang menyalahi kondisi asal yang tampak. Beliau tidak menuntut dari yang tergugat selain sumpah. Hal ini menunjukkan bahwa hukum asalnya adalah bebasnya tanggungan. Fungsi sumpah di sini adalah untuk mempertahankan kondisi asal yang sudah tetap tersebut.” [2]Allah Ta’ala berfirman,وَاٰتَيۡنٰهُ الۡحِكۡمَةَ وَفَصۡلَ الۡخِطَابِ‏”Kami berikan hikmah kepadanya serta kebijaksanaan dalam memutuskan perkara.” (QS. Sad: 20)Syekh rahimahullah menuturkan, “Terdapat sebuah penafsiran (dari ayat di atas) bahwasanya yang dimaksud dengan ’memutuskan perkara’ adalah ’penjelasan’ atas penggugat dan sumpah atas yang tergugat. Karena dengan hal tersebut, segala kerancuan dan segala pertikaian akan terpecahkan dan terleraikan. Tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut termasuk ke dalam firman Allah ’memutuskan perkara’.” [3]Lafaz kaidahSebagaimana yang telah disebutkan di atas, lafaz kaidah ini berbunyi,الأَصْلُ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ“Hukum asal pada setiap manusia adalah terlepas dari tanggungan (kewajiban).” Terdapat lafaz lainnya, disebutkan oleh salah seorang ulama mazhab Hanafi, Abul Hasan Al-Karkhi rahimahullah, الأَصْلُ أَنَّ مَنْ سَاعَدَهُ الظَّاهِرُ فَالْقَوْلُ قَوْلُهُ وَالْبَيِّنَةُ عَلَى مَنْ يَدَّعِي خِلَافَ الظَّاهِرِ“Pada dasarnya, siapa yang didukung oleh keadaan yang tampak (zahir), maka perkataannyalah yang dipegang (diterima), dan bukti dibebankan kepada siapa yang mengklaim sesuatu yang bertentangan dengan keadaan yang tampak itu.” [4]Makna kaidahPertama, makna kata per kata(الأَصْلُ)Artinya adalah ”kaidah yang tetap dalam syariat.”(البراءة)Artinya adalah “selamat dan terlepas dari beban dan tanggung jawab.”(الذمة)Artinya adalah ”zat dan diri manusia.” Kedua, makna secara umumSyekh Musallam bin Muhammad berkata,أَنَّ الْقَاعِدَةَ الْمُسْتَمِرَّةَ فِي الشَّرْعِ أَنَّ الْإِنْسَانَ غَيْرُ مُكَلَّفٍ بِشَيْءٍ مِنَ الْحُقُوقِ، لِذَا فَإِنَّ تَكْلِيفَهُ بِحَقٍّ مِنَ الْحُقُوقِ مُخَالِفٌ لِلْأَصْلِ فَلَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ ثُبُوتُ تَكْلِيفِهِ بِدَلِيلٍ“Bahwa kaidah yang berlaku tetap (konsisten) dalam syariat adalah: seseorang tidak dibebani dengan suatu hak (kewajiban) apa pun. Oleh karena itu, pembebanan atasnya dengan salah satu hak (kewajiban) itu bertentangan dengan hukum asal, sehingga penetapan pembebanan tersebut harus disertai dalil (bukti).” [5]Contoh penerapan kaidahTerdapat banyak sekali contoh kasus dalam penerapan kaidah ini. Berikut di antaranya [6]:Kasus perselisihan nilai barang yang dirusakJika seseorang merusak barang milik orang lain, kemudian pihak yang merusak (al-mutlif) dan pemilik barang berselisih tentang nilai barang yang dirusak tersebut, sementara tidak ada bukti (bayyinah), maka perkataan yang diterima di sini adalah perkataan pihak yang merusak (yang menanggung ganti rugi), disertai sumpahnya. Hal ini karena hukum asalnya adalah bebasnya tanggungannya (kewajibannya) dari kelebihan nilai yang diklaim oleh pemilik barang.Kasus perselisihan jumlah luka di kepalaSeseorang melukai kepala orang lain, kemudian pihak yang terluka (al-majni ‘alaih) mengklaim dan berkata, ‘Pelaku telah melukai saya dengan dua luka, dan sayalah yang menghilangkan sekat (pembatas) di antara kedua luka itu (sehingga tampak seperti satu luka), maka saya ingin diyat untuk dua luka.’ Namun, pelaku mengingkarinya, dan tidak ada bukti. Dalam kasus ini, perkataan yang diterima di sini adalah perkataan pelaku, disertai sumpahnya. Karena pada asalnya, pelaku bebas tanggungannya dari diyat luka tambahan (yang diklaim).Mengapa kaidah ini penting? Beberapa poin yang menunjukkan pentingnya kaidah ini di antaranya:Kaidah ini dapat melindungi seseorang dari tuduhan sembarangan;Kaidah ini dapat menjadi pedoman muamalah dalam kehidupan sehari-hari;Kaidah ini relevan dapat digunakan dalam peradilan.Namun, kaidah ini bukan berarti diartikan secara mutlak begitu saja bahwa seseorang terlepas dari tanggungan, tuntutan, tuduhan, dan lain sebagainya. Jika memang terdapat bukti yang kuat, seperti pengakuan, saksi yang terpercaya, atau dokumen penguat yang sifatnya tertulis, tentu hukum itu akan tetap baginya, dan ia harus menjalankan konsekuensinya.Pelajaran yang berharga, bahwasanya Islam mengatur manusia sedemikian rupa. Bahkan sampai dalam kondisi manusia berselisih pun, Islam mengaturnya. Dapat diketahui dari sini tentang betapa sistematisnya fikih Islam. Islam menempatkan manusia terlebih dahulu hukum asalnya adil, bersih, dan baik. Tidak dibebani sedikit pun oleh prasangka maupun tuduhan tanpa dasar.Karena jiwa seorang manusia begitu berharga di dalam Islam, tidak boleh direndahkan, dihinakan, terlebih jika kesalahan tersebut tidak ada buktinya. Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ. وَكُونُوا -عِبَادَ اللَّهِ!- إِخْوَانًا؛ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ؛ لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ.“Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling melakukan najasy (pura-pura menawar tinggi untuk menjebak pembeli lain), janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi (memutus hubungan), dan janganlah sebagian dari kalian menjual atas jualan sebagian yang lain (menyaingi transaksi jual beli yang sedang berlangsung). Jadilah kalian, wahai hamba-hamba Allah, saling bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya; tidak boleh menzaliminya, tidak boleh membiarkannya (dalam kesulitan tanpa membantu), dan tidak boleh menghinanya.” (HR. Muslim)Hal ini berkaitan dengan satu manusia, seorang muslim. Lalu bagaimana jika yang dizalimi, dituduh, dihinakan itu lebih dari satu orang muslim?Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.Baca juga: Mengenal 6 Kaidah Dasar Masalah Fiqih***Penulis: Muhammad Zia AbdurrafiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah, 7: 29.[2] Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah, hal. 116.[3] Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah, 7: 29.[4] Al-Wajiz fi Idaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, hal. 180.[5] Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah, hal. 115.[6] Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah, hal. 116; Al-Wajiz fi Idaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, hal. 181-182; Al-Qawa’id Al-Umm lil Fiqhi, hal. 570. Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.Al-Ghazziy, Muhammad Shidqi bin Ahmad. Al-Wajiz fi Idaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah. Beirut: Dar Ar-Risalah Al-Alamiyah, 1422 H/2002M.As-Sa’di, Abdurrahman bin Nashir. Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah wat Taqasim Al-Badi’ah An-Nafi’ah. Dalam Majmu’ah Muallafat Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Jilid 7. Cetakan pertama, Qatar: Wizaratul Awqaf Was Syu’un Al-Islamiyah, 1432 H/2011 M.Murad, Fadl bin Abdullah. Al-Qawa’id Al-Umm lil Fiqh wa Atsaruha fi Ash-Shina’ah Al-Fiqhiyyah Al-Mutaqaddimah wal Mu’ashirah. Damaskus: Dar Ibn Katsir, 1446 H/2025 M.
Daftar Isi ToggleTentang kaidah iniLafaz kaidahMakna kaidahPertama, makna kata per kataKedua, makna secara umumContoh penerapan kaidahKasus perselisihan nilai barang yang dirusakKasus perselisihan jumlah luka di kepalaMengapa kaidah ini penting?Kaidah ini berbicara tentang hak seorang manusia. Tatkala berbicara tentang hak manusia, seringkali mengharuskan kita untuk berbicara soal adil dan tidaknya. Pada kaidah ini, terdapat poin-poin yang sangat penting untuk menjunjung tinggi suatu keadilan pada hak-hak manusia, terlebih tatkala terjadi sengketa atau pemasalahan di antara mereka.Seringkali terjadi pertikaian, sengketa, dan permusuhan dalam masalah muamalah yang berangkat dari kesalahpahaman antara kedua belah pihak. Seperti masalah transaksi, utang-piutang, peradilan, tuduh-menuduh, dan lain sebagainya. Dalam masalah-masalah seperti ini, kaidah ini dijadikan standar dalam melerai dan menyelesaikan permasalahan tersebut.Penting untuk diketahui bahwa bukanlah maksud dari kaidah ini artinya seseorang terlepas dari segala tanggungan (kewajiban) yang ada dalam hal ibadah dan sebagainya, bukan! Jangan sampai kaidah ini disalahpahami sehingga nantinya ada yang enggan untuk melaksanakan salat karena beralasan dengan kaidah ini, ”Kan hukum asal manusia terlepas dari tanggungan.” Tentunya ini keliru dan tidak tepat, karena kewajiban salat itu sudah menjadi tanggungan semenjak seseorang menginjak usia baligh.Perlu diluruskan bahwasanya kaidah ini berbicara tentang hak-hak manusia, tidak terkait secara khusus tentang ibadah. Dan kaidah ini merupakan cabang dari kaidah kubra yang telah dibahas sebelumnya, yaitu:اليَقِيْنُ لَا يَزُوْلُ بِالشَّكِ“Keyakinan tidak dapat dihilangkan oleh keraguan.” Kaidah ini berbunyi,الأَصْلُ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ“Hukum asal pada setiap manusia adalah terlepas dari tanggungan (kewajiban).” Tentang kaidah iniSyekh ’Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Kaidah ini merupakan asas penting yang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam telah mengingatkan dalam sabdanya, البَيِّنَةُ عَلَى المُدَّعِي وَاليَمِيْنُ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ“Bukti atau penjelasan kewajiban atas penggugat, yang mengingkari tuduhan tersebut (terggugat) wajib bersumpah.” (Muttafaqun ’alaih) Para ahli ilmu telah bersepakat atas asas (kaidah) ini. Para qadhi (hakim) dan mufti (pemberi fatwa) butuh terhadap kaidah ini, bahkan untuk setiap individu.” [1]Syekh Musallam bin Muhammad berkata, “Sisi pendalilan dari hadis Nabi di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bukti yang merupakan petunjuk atas adanya tanggungan beban hukum kepada pihak penggugat, karena ia mengklaim sesuatu yang menyalahi kondisi asal yang tampak. Beliau tidak menuntut dari yang tergugat selain sumpah. Hal ini menunjukkan bahwa hukum asalnya adalah bebasnya tanggungan. Fungsi sumpah di sini adalah untuk mempertahankan kondisi asal yang sudah tetap tersebut.” [2]Allah Ta’ala berfirman,وَاٰتَيۡنٰهُ الۡحِكۡمَةَ وَفَصۡلَ الۡخِطَابِ‏”Kami berikan hikmah kepadanya serta kebijaksanaan dalam memutuskan perkara.” (QS. Sad: 20)Syekh rahimahullah menuturkan, “Terdapat sebuah penafsiran (dari ayat di atas) bahwasanya yang dimaksud dengan ’memutuskan perkara’ adalah ’penjelasan’ atas penggugat dan sumpah atas yang tergugat. Karena dengan hal tersebut, segala kerancuan dan segala pertikaian akan terpecahkan dan terleraikan. Tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut termasuk ke dalam firman Allah ’memutuskan perkara’.” [3]Lafaz kaidahSebagaimana yang telah disebutkan di atas, lafaz kaidah ini berbunyi,الأَصْلُ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ“Hukum asal pada setiap manusia adalah terlepas dari tanggungan (kewajiban).” Terdapat lafaz lainnya, disebutkan oleh salah seorang ulama mazhab Hanafi, Abul Hasan Al-Karkhi rahimahullah, الأَصْلُ أَنَّ مَنْ سَاعَدَهُ الظَّاهِرُ فَالْقَوْلُ قَوْلُهُ وَالْبَيِّنَةُ عَلَى مَنْ يَدَّعِي خِلَافَ الظَّاهِرِ“Pada dasarnya, siapa yang didukung oleh keadaan yang tampak (zahir), maka perkataannyalah yang dipegang (diterima), dan bukti dibebankan kepada siapa yang mengklaim sesuatu yang bertentangan dengan keadaan yang tampak itu.” [4]Makna kaidahPertama, makna kata per kata(الأَصْلُ)Artinya adalah ”kaidah yang tetap dalam syariat.”(البراءة)Artinya adalah “selamat dan terlepas dari beban dan tanggung jawab.”(الذمة)Artinya adalah ”zat dan diri manusia.” Kedua, makna secara umumSyekh Musallam bin Muhammad berkata,أَنَّ الْقَاعِدَةَ الْمُسْتَمِرَّةَ فِي الشَّرْعِ أَنَّ الْإِنْسَانَ غَيْرُ مُكَلَّفٍ بِشَيْءٍ مِنَ الْحُقُوقِ، لِذَا فَإِنَّ تَكْلِيفَهُ بِحَقٍّ مِنَ الْحُقُوقِ مُخَالِفٌ لِلْأَصْلِ فَلَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ ثُبُوتُ تَكْلِيفِهِ بِدَلِيلٍ“Bahwa kaidah yang berlaku tetap (konsisten) dalam syariat adalah: seseorang tidak dibebani dengan suatu hak (kewajiban) apa pun. Oleh karena itu, pembebanan atasnya dengan salah satu hak (kewajiban) itu bertentangan dengan hukum asal, sehingga penetapan pembebanan tersebut harus disertai dalil (bukti).” [5]Contoh penerapan kaidahTerdapat banyak sekali contoh kasus dalam penerapan kaidah ini. Berikut di antaranya [6]:Kasus perselisihan nilai barang yang dirusakJika seseorang merusak barang milik orang lain, kemudian pihak yang merusak (al-mutlif) dan pemilik barang berselisih tentang nilai barang yang dirusak tersebut, sementara tidak ada bukti (bayyinah), maka perkataan yang diterima di sini adalah perkataan pihak yang merusak (yang menanggung ganti rugi), disertai sumpahnya. Hal ini karena hukum asalnya adalah bebasnya tanggungannya (kewajibannya) dari kelebihan nilai yang diklaim oleh pemilik barang.Kasus perselisihan jumlah luka di kepalaSeseorang melukai kepala orang lain, kemudian pihak yang terluka (al-majni ‘alaih) mengklaim dan berkata, ‘Pelaku telah melukai saya dengan dua luka, dan sayalah yang menghilangkan sekat (pembatas) di antara kedua luka itu (sehingga tampak seperti satu luka), maka saya ingin diyat untuk dua luka.’ Namun, pelaku mengingkarinya, dan tidak ada bukti. Dalam kasus ini, perkataan yang diterima di sini adalah perkataan pelaku, disertai sumpahnya. Karena pada asalnya, pelaku bebas tanggungannya dari diyat luka tambahan (yang diklaim).Mengapa kaidah ini penting? Beberapa poin yang menunjukkan pentingnya kaidah ini di antaranya:Kaidah ini dapat melindungi seseorang dari tuduhan sembarangan;Kaidah ini dapat menjadi pedoman muamalah dalam kehidupan sehari-hari;Kaidah ini relevan dapat digunakan dalam peradilan.Namun, kaidah ini bukan berarti diartikan secara mutlak begitu saja bahwa seseorang terlepas dari tanggungan, tuntutan, tuduhan, dan lain sebagainya. Jika memang terdapat bukti yang kuat, seperti pengakuan, saksi yang terpercaya, atau dokumen penguat yang sifatnya tertulis, tentu hukum itu akan tetap baginya, dan ia harus menjalankan konsekuensinya.Pelajaran yang berharga, bahwasanya Islam mengatur manusia sedemikian rupa. Bahkan sampai dalam kondisi manusia berselisih pun, Islam mengaturnya. Dapat diketahui dari sini tentang betapa sistematisnya fikih Islam. Islam menempatkan manusia terlebih dahulu hukum asalnya adil, bersih, dan baik. Tidak dibebani sedikit pun oleh prasangka maupun tuduhan tanpa dasar.Karena jiwa seorang manusia begitu berharga di dalam Islam, tidak boleh direndahkan, dihinakan, terlebih jika kesalahan tersebut tidak ada buktinya. Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ. وَكُونُوا -عِبَادَ اللَّهِ!- إِخْوَانًا؛ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ؛ لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ.“Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling melakukan najasy (pura-pura menawar tinggi untuk menjebak pembeli lain), janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi (memutus hubungan), dan janganlah sebagian dari kalian menjual atas jualan sebagian yang lain (menyaingi transaksi jual beli yang sedang berlangsung). Jadilah kalian, wahai hamba-hamba Allah, saling bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya; tidak boleh menzaliminya, tidak boleh membiarkannya (dalam kesulitan tanpa membantu), dan tidak boleh menghinanya.” (HR. Muslim)Hal ini berkaitan dengan satu manusia, seorang muslim. Lalu bagaimana jika yang dizalimi, dituduh, dihinakan itu lebih dari satu orang muslim?Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.Baca juga: Mengenal 6 Kaidah Dasar Masalah Fiqih***Penulis: Muhammad Zia AbdurrafiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah, 7: 29.[2] Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah, hal. 116.[3] Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah, 7: 29.[4] Al-Wajiz fi Idaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, hal. 180.[5] Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah, hal. 115.[6] Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah, hal. 116; Al-Wajiz fi Idaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, hal. 181-182; Al-Qawa’id Al-Umm lil Fiqhi, hal. 570. Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.Al-Ghazziy, Muhammad Shidqi bin Ahmad. Al-Wajiz fi Idaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah. Beirut: Dar Ar-Risalah Al-Alamiyah, 1422 H/2002M.As-Sa’di, Abdurrahman bin Nashir. Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah wat Taqasim Al-Badi’ah An-Nafi’ah. Dalam Majmu’ah Muallafat Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Jilid 7. Cetakan pertama, Qatar: Wizaratul Awqaf Was Syu’un Al-Islamiyah, 1432 H/2011 M.Murad, Fadl bin Abdullah. Al-Qawa’id Al-Umm lil Fiqh wa Atsaruha fi Ash-Shina’ah Al-Fiqhiyyah Al-Mutaqaddimah wal Mu’ashirah. Damaskus: Dar Ibn Katsir, 1446 H/2025 M.


Daftar Isi ToggleTentang kaidah iniLafaz kaidahMakna kaidahPertama, makna kata per kataKedua, makna secara umumContoh penerapan kaidahKasus perselisihan nilai barang yang dirusakKasus perselisihan jumlah luka di kepalaMengapa kaidah ini penting?Kaidah ini berbicara tentang hak seorang manusia. Tatkala berbicara tentang hak manusia, seringkali mengharuskan kita untuk berbicara soal adil dan tidaknya. Pada kaidah ini, terdapat poin-poin yang sangat penting untuk menjunjung tinggi suatu keadilan pada hak-hak manusia, terlebih tatkala terjadi sengketa atau pemasalahan di antara mereka.Seringkali terjadi pertikaian, sengketa, dan permusuhan dalam masalah muamalah yang berangkat dari kesalahpahaman antara kedua belah pihak. Seperti masalah transaksi, utang-piutang, peradilan, tuduh-menuduh, dan lain sebagainya. Dalam masalah-masalah seperti ini, kaidah ini dijadikan standar dalam melerai dan menyelesaikan permasalahan tersebut.Penting untuk diketahui bahwa bukanlah maksud dari kaidah ini artinya seseorang terlepas dari segala tanggungan (kewajiban) yang ada dalam hal ibadah dan sebagainya, bukan! Jangan sampai kaidah ini disalahpahami sehingga nantinya ada yang enggan untuk melaksanakan salat karena beralasan dengan kaidah ini, ”Kan hukum asal manusia terlepas dari tanggungan.” Tentunya ini keliru dan tidak tepat, karena kewajiban salat itu sudah menjadi tanggungan semenjak seseorang menginjak usia baligh.Perlu diluruskan bahwasanya kaidah ini berbicara tentang hak-hak manusia, tidak terkait secara khusus tentang ibadah. Dan kaidah ini merupakan cabang dari kaidah kubra yang telah dibahas sebelumnya, yaitu:اليَقِيْنُ لَا يَزُوْلُ بِالشَّكِ“Keyakinan tidak dapat dihilangkan oleh keraguan.” Kaidah ini berbunyi,الأَصْلُ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ“Hukum asal pada setiap manusia adalah terlepas dari tanggungan (kewajiban).” Tentang kaidah iniSyekh ’Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Kaidah ini merupakan asas penting yang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam telah mengingatkan dalam sabdanya, البَيِّنَةُ عَلَى المُدَّعِي وَاليَمِيْنُ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ“Bukti atau penjelasan kewajiban atas penggugat, yang mengingkari tuduhan tersebut (terggugat) wajib bersumpah.” (Muttafaqun ’alaih) Para ahli ilmu telah bersepakat atas asas (kaidah) ini. Para qadhi (hakim) dan mufti (pemberi fatwa) butuh terhadap kaidah ini, bahkan untuk setiap individu.” [1]Syekh Musallam bin Muhammad berkata, “Sisi pendalilan dari hadis Nabi di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bukti yang merupakan petunjuk atas adanya tanggungan beban hukum kepada pihak penggugat, karena ia mengklaim sesuatu yang menyalahi kondisi asal yang tampak. Beliau tidak menuntut dari yang tergugat selain sumpah. Hal ini menunjukkan bahwa hukum asalnya adalah bebasnya tanggungan. Fungsi sumpah di sini adalah untuk mempertahankan kondisi asal yang sudah tetap tersebut.” [2]Allah Ta’ala berfirman,وَاٰتَيۡنٰهُ الۡحِكۡمَةَ وَفَصۡلَ الۡخِطَابِ‏”Kami berikan hikmah kepadanya serta kebijaksanaan dalam memutuskan perkara.” (QS. Sad: 20)Syekh rahimahullah menuturkan, “Terdapat sebuah penafsiran (dari ayat di atas) bahwasanya yang dimaksud dengan ’memutuskan perkara’ adalah ’penjelasan’ atas penggugat dan sumpah atas yang tergugat. Karena dengan hal tersebut, segala kerancuan dan segala pertikaian akan terpecahkan dan terleraikan. Tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut termasuk ke dalam firman Allah ’memutuskan perkara’.” [3]Lafaz kaidahSebagaimana yang telah disebutkan di atas, lafaz kaidah ini berbunyi,الأَصْلُ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ“Hukum asal pada setiap manusia adalah terlepas dari tanggungan (kewajiban).” Terdapat lafaz lainnya, disebutkan oleh salah seorang ulama mazhab Hanafi, Abul Hasan Al-Karkhi rahimahullah, الأَصْلُ أَنَّ مَنْ سَاعَدَهُ الظَّاهِرُ فَالْقَوْلُ قَوْلُهُ وَالْبَيِّنَةُ عَلَى مَنْ يَدَّعِي خِلَافَ الظَّاهِرِ“Pada dasarnya, siapa yang didukung oleh keadaan yang tampak (zahir), maka perkataannyalah yang dipegang (diterima), dan bukti dibebankan kepada siapa yang mengklaim sesuatu yang bertentangan dengan keadaan yang tampak itu.” [4]Makna kaidahPertama, makna kata per kata(الأَصْلُ)Artinya adalah ”kaidah yang tetap dalam syariat.”(البراءة)Artinya adalah “selamat dan terlepas dari beban dan tanggung jawab.”(الذمة)Artinya adalah ”zat dan diri manusia.” Kedua, makna secara umumSyekh Musallam bin Muhammad berkata,أَنَّ الْقَاعِدَةَ الْمُسْتَمِرَّةَ فِي الشَّرْعِ أَنَّ الْإِنْسَانَ غَيْرُ مُكَلَّفٍ بِشَيْءٍ مِنَ الْحُقُوقِ، لِذَا فَإِنَّ تَكْلِيفَهُ بِحَقٍّ مِنَ الْحُقُوقِ مُخَالِفٌ لِلْأَصْلِ فَلَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ ثُبُوتُ تَكْلِيفِهِ بِدَلِيلٍ“Bahwa kaidah yang berlaku tetap (konsisten) dalam syariat adalah: seseorang tidak dibebani dengan suatu hak (kewajiban) apa pun. Oleh karena itu, pembebanan atasnya dengan salah satu hak (kewajiban) itu bertentangan dengan hukum asal, sehingga penetapan pembebanan tersebut harus disertai dalil (bukti).” [5]Contoh penerapan kaidahTerdapat banyak sekali contoh kasus dalam penerapan kaidah ini. Berikut di antaranya [6]:Kasus perselisihan nilai barang yang dirusakJika seseorang merusak barang milik orang lain, kemudian pihak yang merusak (al-mutlif) dan pemilik barang berselisih tentang nilai barang yang dirusak tersebut, sementara tidak ada bukti (bayyinah), maka perkataan yang diterima di sini adalah perkataan pihak yang merusak (yang menanggung ganti rugi), disertai sumpahnya. Hal ini karena hukum asalnya adalah bebasnya tanggungannya (kewajibannya) dari kelebihan nilai yang diklaim oleh pemilik barang.Kasus perselisihan jumlah luka di kepalaSeseorang melukai kepala orang lain, kemudian pihak yang terluka (al-majni ‘alaih) mengklaim dan berkata, ‘Pelaku telah melukai saya dengan dua luka, dan sayalah yang menghilangkan sekat (pembatas) di antara kedua luka itu (sehingga tampak seperti satu luka), maka saya ingin diyat untuk dua luka.’ Namun, pelaku mengingkarinya, dan tidak ada bukti. Dalam kasus ini, perkataan yang diterima di sini adalah perkataan pelaku, disertai sumpahnya. Karena pada asalnya, pelaku bebas tanggungannya dari diyat luka tambahan (yang diklaim).Mengapa kaidah ini penting? Beberapa poin yang menunjukkan pentingnya kaidah ini di antaranya:Kaidah ini dapat melindungi seseorang dari tuduhan sembarangan;Kaidah ini dapat menjadi pedoman muamalah dalam kehidupan sehari-hari;Kaidah ini relevan dapat digunakan dalam peradilan.Namun, kaidah ini bukan berarti diartikan secara mutlak begitu saja bahwa seseorang terlepas dari tanggungan, tuntutan, tuduhan, dan lain sebagainya. Jika memang terdapat bukti yang kuat, seperti pengakuan, saksi yang terpercaya, atau dokumen penguat yang sifatnya tertulis, tentu hukum itu akan tetap baginya, dan ia harus menjalankan konsekuensinya.Pelajaran yang berharga, bahwasanya Islam mengatur manusia sedemikian rupa. Bahkan sampai dalam kondisi manusia berselisih pun, Islam mengaturnya. Dapat diketahui dari sini tentang betapa sistematisnya fikih Islam. Islam menempatkan manusia terlebih dahulu hukum asalnya adil, bersih, dan baik. Tidak dibebani sedikit pun oleh prasangka maupun tuduhan tanpa dasar.Karena jiwa seorang manusia begitu berharga di dalam Islam, tidak boleh direndahkan, dihinakan, terlebih jika kesalahan tersebut tidak ada buktinya. Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ. وَكُونُوا -عِبَادَ اللَّهِ!- إِخْوَانًا؛ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ؛ لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ.“Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling melakukan najasy (pura-pura menawar tinggi untuk menjebak pembeli lain), janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi (memutus hubungan), dan janganlah sebagian dari kalian menjual atas jualan sebagian yang lain (menyaingi transaksi jual beli yang sedang berlangsung). Jadilah kalian, wahai hamba-hamba Allah, saling bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya; tidak boleh menzaliminya, tidak boleh membiarkannya (dalam kesulitan tanpa membantu), dan tidak boleh menghinanya.” (HR. Muslim)Hal ini berkaitan dengan satu manusia, seorang muslim. Lalu bagaimana jika yang dizalimi, dituduh, dihinakan itu lebih dari satu orang muslim?Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.Baca juga: Mengenal 6 Kaidah Dasar Masalah Fiqih***Penulis: Muhammad Zia AbdurrafiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah, 7: 29.[2] Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah, hal. 116.[3] Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah, 7: 29.[4] Al-Wajiz fi Idaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, hal. 180.[5] Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah, hal. 115.[6] Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah, hal. 116; Al-Wajiz fi Idaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, hal. 181-182; Al-Qawa’id Al-Umm lil Fiqhi, hal. 570. Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.Al-Ghazziy, Muhammad Shidqi bin Ahmad. Al-Wajiz fi Idaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah. Beirut: Dar Ar-Risalah Al-Alamiyah, 1422 H/2002M.As-Sa’di, Abdurrahman bin Nashir. Al-Qawa’id wal Ushul Al-Jami’ah wat Taqasim Al-Badi’ah An-Nafi’ah. Dalam Majmu’ah Muallafat Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Jilid 7. Cetakan pertama, Qatar: Wizaratul Awqaf Was Syu’un Al-Islamiyah, 1432 H/2011 M.Murad, Fadl bin Abdullah. Al-Qawa’id Al-Umm lil Fiqh wa Atsaruha fi Ash-Shina’ah Al-Fiqhiyyah Al-Mutaqaddimah wal Mu’ashirah. Damaskus: Dar Ibn Katsir, 1446 H/2025 M.

Mengenal Cincin Rasulullah

Daftar Isi ToggleAlasan Rasulullah mengenakan cincinBahan cincin RasulullahUkiran pada cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamRasulullah melepas cincin ketika buang hajatCincin Rasulullah setelah wafatnya beliauTahukah Anda bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan cincin? Pernahkah terpikirkan cincin seperti apa yang Rasulullah kenakan? Mari kita pelajari tentang cincin Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pada artikel ini.Alasan Rasulullah mengenakan cincinSyekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr menjelaskan dalam kitab Syarah Syamail Nabi bahwa Rasulullah baru sering mengenakan cincin pada akhir-akhir masa setelah hijrahnya Rasulullah ke Madinah, tepatnya pada akhir tahun ke-6 setelah hijrah.Mengapa Rasulullah mengenakan cincin pada tahun-tahun tersebut? Pada waktu itu, Islam sudah mulai berkembang dan akan memulai berdakwah kepada wilayah kerajaan di sekitar jazirah Arab. Oleh karena itu, Rasulullah pun mengirim surat kepada para Raja yang ada di sekitar, seperti Raja Romawi Bizantium dan juga Raja Persia. Hal tersebut bertujuan untuk mendakwahi pimpinan suatu kaum; karena jika pemimpinnya bisa menerima dakwah, maka rakyatnya pun akan mengikuti.Ternyata, agar surat yang Rasulullah tulis kepada para raja yang ada di sekitar Arab tersebut dibaca, maka diperlukan stempel. Cincin pada waktu itu juga befungsi sebagai stempel, sehingga para raja yang menerima surat tersebut mau membaca surat dari Rasulullah. Oleh karena itu, Rasulullah pun mengenakan cincin sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik,أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَتَبَ إِلَى كِسْرَى وَقَيْصَرَ وَالنَّجَاشِيِّ، فَقِيلَ لَهُ‏:‏ إِنَّهُمْ لا يَقْبَلُونَ كِتَابًا، إِلا بِخَاتَمٍ، فَصَاغَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، خَاتَمًا حَلْقَتُهُ فِضَّةٌ، وَنُقِشَ فِيهِ‏:‏ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis surat kepada Kisra, Kaisar, dan Najasyi. Kemudian dikatakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya mereka tidak menerima surat kecuali dengan stempel.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah cincin yang lingkarannya terbuat dari perak dan diukir padanya: ‘Muhammad Rasulullah’.” (HR. Tirmidzi)Dalam hadis lain juga disebutkan,لَمَّا أَرَادَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَكْتُبَ إِلَى الْعَجَمِ قِيلَ لَهُ‏:‏ إِنَّ الْعَجَمَ لا يَقْبَلُونَ إِلا كِتَابًا عَلَيْهِ خَاتَمٌ، فَاصْطَنَعَ خَاتَمًا، فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِهِ فِي كَفِّهِ“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menulis surat kepada orang-orang non-Arab, dikatakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya orang-orang non-Arab tidak menerima surat kecuali surat yang dibubuhi stempel.’ Maka beliau membuat sebuah cincin. Seakan-akan aku masih melihat putihnya cincin tersebut di telapak tangan beliau.” (HR. Tirmidzi)Dari hadis-hadis tentang Rasulullah mengenakan cincin ini, Syekh Abdurrazaq mengatakan bahwa para ulama merinci tentang hukum mengenakan cincin. Jika mengenakan cincin tersebut dikarenakan adanya hajat seperti yang dialami oleh Rasulullah atau semisalnya, maka hukumnya sunah. Adapun jika menggunakan cincin tanpa adanya hajat khusus, maka hukumnya mubah.Baca juga: Surat Rasulullah Kepada HerakliusBahan cincin RasulullahCincin bisa terbuat dari berbagai macam bahan, mulai dari emas yang tentunya haram bagi laki-laki, perak, hingga bahan lainnya. Lalu, cincin Rasulullah terbuat dari apa?Cincin tersebut terbuat dari perak sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai hadis berikut. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كَانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مِنْ وَرِقٍ، وَكَانَ فَصُّهُ حَبَشِيًّا“Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbuat dari perak, sedangkan mata cincinnya berasal dari Habasyah.” (HR. Tirmidzi)Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم اتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ، فَكَانَ يَخْتِمُ بِهِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah cincin dari perak. Beliau menggunakannya untuk membubuhkan stempel.” (HR. Tirmidzi)Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, كَانَ خَاتَمُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ فِضَّةٍ، فَصُّهُ مِنْهُ“Cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbuat dari perak, dan mata cincinnya juga berasal dari perak.” (HR. Tirmidzi)Ukiran pada cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamTujuan Rasulullah mengenakan cincin tentunya sebagai stempel yang pastinya ada ukiran pada mata cincin yang dikenakan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, apa tulisan yang terukir pada cincin tersebut?Tulisan yang terukir pada cincin tersebut adalah Muhammad Rasulullah sebagaimana dalam hadis,أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَتَبَ إِلَى كِسْرَى وَقَيْصَرَ وَالنَّجَاشِيِّ، فَقِيلَ لَهُ‏:‏ إِنَّهُمْ لا يَقْبَلُونَ كِتَابًا، إِلا بِخَاتَمٍ، فَصَاغَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، خَاتَمًا حَلْقَتُهُ فِضَّةٌ، وَنُقِشَ فِيهِ‏:‏ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis surat kepada Kisra, Kaisar, dan Najasyi. Kemudian dikatakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya mereka tidak menerima surat kecuali dengan stempel.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah cincin yang lingkarannya terbuat dari perak dan diukir padanya: ‘Muhammad Rasulullah’.” (HR. Tirmidzi)Lalu, bagaimana ukiran tulisan “Muhammad Rasulullah” yang terukir pada cincin Rasulullah? Dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,كَانَ نَقْشُ خَاتَمِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مُحَمَّدٌ سَطْرٌ، وَرَسُولٌ سَطْرٌ، وَاللهُ سَطْرٌ“Tulisan yang terukir pada cincin Rasulullah ﷺ adalah: ‘Muhammad’ satu baris, ‘Rasul’ satu baris, dan ‘Allah’ satu baris.” (HR. Tirmidzi)Dari hadis di atas, kita bisa simpulkan bahwa tulisan “Muhammad Rasulullah” pada cincin tersebut terukir pada tiga baris tulisan, yaitu محمد pada baris pertama, رسول pada baris kedua, dan الله pada baris ketiga.Rasulullah melepas cincin ketika buang hajatKetika Rasulullah memasuki tempat buang hajat, beliau melepaskan cincinnya, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis,أن النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم كان إذا دخل الخلاءَ وضع خاتَمَهُ. وإنما وضعَه لأنه كان عليه: مُحَمَّدٌ رسولُ اللهِ“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki tempat buang hajat, beliau melepas cincinnya, dikarenakan padanya terdapat tulisan: Muhammad Rasulullah.” (HR. Abu Dawud)Dari hadis ini kita bisa lihat bahwa Rasulullah melepaskan cincin beliau ketika memasuki tempat buang hajat. Akan tetapi, bukan berarti kita harus melepas cincin ketika ingin buang hajat. Alasan Rasulullah melepas cincin bukan karena cincinnya, tetapi karena adanya tulisan Muhammad Rasulullah.Cincin Rasulullah setelah wafatnya beliauSetelah Rasulullah wafat, kemanakah cincin yang dikenakan Rasulullah tersebut? Hal tersebut disebutkan dalam sebuah hadis,كَانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي يَدِهِ، وَفِي يَدِ أَبِي بَكْرٍ بَعْدَهُ، وَفِي يَدِ عُمَرَ بَعْدَ أَبِي بَكْرٍ، فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ جَلَسَ عَلَى بِئْرِ أَرِيسَ، قَالَ: فَأَخْرَجَ الْخَاتَمَ فَجَعَلَ يَعْبَثُ بِهِ فَسَقَطَ، قَالَ: فَاخْتَلَفْنَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مَعَ عُثْمَانَ، فَنَزَحَ الْبِئْرَ فَلَمْ يَجِدْهُ“Cincin Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berada di tangan beliau. Kemudian setelah beliau meninggal dunia, cincin itu berada di tangan Abu Bakar. Setelah Abu Bakar, cincin itu berada di tangan Umar.Ketika Utsman (menjadi khalifah), ia duduk di sumur Aris. Perawi berkata, ‘Kemudian ia mengeluarkan cincin tersebut dan mulai memainkan-mainkannya, lalu cincin itu terjatuh.’Perawi berkata, ‘Kami bersama Utsman berusaha mencarinya selama tiga hari. Sumur tersebut kemudian dikuras, tetapi cincin itu tidak ditemukan.’” (Diriwayatkan Imam Bukhari dalam Khalqu Af‘ālil-‘Ibād)Baca juga: Perlengkapan Jihad Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam***Penulis: Firdian IkhwanysahArtikel Muslim.or.id Sumber: Syarah Syamail Nabi, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Mengenal Cincin Rasulullah

Daftar Isi ToggleAlasan Rasulullah mengenakan cincinBahan cincin RasulullahUkiran pada cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamRasulullah melepas cincin ketika buang hajatCincin Rasulullah setelah wafatnya beliauTahukah Anda bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan cincin? Pernahkah terpikirkan cincin seperti apa yang Rasulullah kenakan? Mari kita pelajari tentang cincin Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pada artikel ini.Alasan Rasulullah mengenakan cincinSyekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr menjelaskan dalam kitab Syarah Syamail Nabi bahwa Rasulullah baru sering mengenakan cincin pada akhir-akhir masa setelah hijrahnya Rasulullah ke Madinah, tepatnya pada akhir tahun ke-6 setelah hijrah.Mengapa Rasulullah mengenakan cincin pada tahun-tahun tersebut? Pada waktu itu, Islam sudah mulai berkembang dan akan memulai berdakwah kepada wilayah kerajaan di sekitar jazirah Arab. Oleh karena itu, Rasulullah pun mengirim surat kepada para Raja yang ada di sekitar, seperti Raja Romawi Bizantium dan juga Raja Persia. Hal tersebut bertujuan untuk mendakwahi pimpinan suatu kaum; karena jika pemimpinnya bisa menerima dakwah, maka rakyatnya pun akan mengikuti.Ternyata, agar surat yang Rasulullah tulis kepada para raja yang ada di sekitar Arab tersebut dibaca, maka diperlukan stempel. Cincin pada waktu itu juga befungsi sebagai stempel, sehingga para raja yang menerima surat tersebut mau membaca surat dari Rasulullah. Oleh karena itu, Rasulullah pun mengenakan cincin sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik,أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَتَبَ إِلَى كِسْرَى وَقَيْصَرَ وَالنَّجَاشِيِّ، فَقِيلَ لَهُ‏:‏ إِنَّهُمْ لا يَقْبَلُونَ كِتَابًا، إِلا بِخَاتَمٍ، فَصَاغَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، خَاتَمًا حَلْقَتُهُ فِضَّةٌ، وَنُقِشَ فِيهِ‏:‏ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis surat kepada Kisra, Kaisar, dan Najasyi. Kemudian dikatakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya mereka tidak menerima surat kecuali dengan stempel.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah cincin yang lingkarannya terbuat dari perak dan diukir padanya: ‘Muhammad Rasulullah’.” (HR. Tirmidzi)Dalam hadis lain juga disebutkan,لَمَّا أَرَادَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَكْتُبَ إِلَى الْعَجَمِ قِيلَ لَهُ‏:‏ إِنَّ الْعَجَمَ لا يَقْبَلُونَ إِلا كِتَابًا عَلَيْهِ خَاتَمٌ، فَاصْطَنَعَ خَاتَمًا، فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِهِ فِي كَفِّهِ“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menulis surat kepada orang-orang non-Arab, dikatakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya orang-orang non-Arab tidak menerima surat kecuali surat yang dibubuhi stempel.’ Maka beliau membuat sebuah cincin. Seakan-akan aku masih melihat putihnya cincin tersebut di telapak tangan beliau.” (HR. Tirmidzi)Dari hadis-hadis tentang Rasulullah mengenakan cincin ini, Syekh Abdurrazaq mengatakan bahwa para ulama merinci tentang hukum mengenakan cincin. Jika mengenakan cincin tersebut dikarenakan adanya hajat seperti yang dialami oleh Rasulullah atau semisalnya, maka hukumnya sunah. Adapun jika menggunakan cincin tanpa adanya hajat khusus, maka hukumnya mubah.Baca juga: Surat Rasulullah Kepada HerakliusBahan cincin RasulullahCincin bisa terbuat dari berbagai macam bahan, mulai dari emas yang tentunya haram bagi laki-laki, perak, hingga bahan lainnya. Lalu, cincin Rasulullah terbuat dari apa?Cincin tersebut terbuat dari perak sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai hadis berikut. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كَانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مِنْ وَرِقٍ، وَكَانَ فَصُّهُ حَبَشِيًّا“Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbuat dari perak, sedangkan mata cincinnya berasal dari Habasyah.” (HR. Tirmidzi)Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم اتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ، فَكَانَ يَخْتِمُ بِهِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah cincin dari perak. Beliau menggunakannya untuk membubuhkan stempel.” (HR. Tirmidzi)Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, كَانَ خَاتَمُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ فِضَّةٍ، فَصُّهُ مِنْهُ“Cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbuat dari perak, dan mata cincinnya juga berasal dari perak.” (HR. Tirmidzi)Ukiran pada cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamTujuan Rasulullah mengenakan cincin tentunya sebagai stempel yang pastinya ada ukiran pada mata cincin yang dikenakan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, apa tulisan yang terukir pada cincin tersebut?Tulisan yang terukir pada cincin tersebut adalah Muhammad Rasulullah sebagaimana dalam hadis,أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَتَبَ إِلَى كِسْرَى وَقَيْصَرَ وَالنَّجَاشِيِّ، فَقِيلَ لَهُ‏:‏ إِنَّهُمْ لا يَقْبَلُونَ كِتَابًا، إِلا بِخَاتَمٍ، فَصَاغَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، خَاتَمًا حَلْقَتُهُ فِضَّةٌ، وَنُقِشَ فِيهِ‏:‏ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis surat kepada Kisra, Kaisar, dan Najasyi. Kemudian dikatakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya mereka tidak menerima surat kecuali dengan stempel.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah cincin yang lingkarannya terbuat dari perak dan diukir padanya: ‘Muhammad Rasulullah’.” (HR. Tirmidzi)Lalu, bagaimana ukiran tulisan “Muhammad Rasulullah” yang terukir pada cincin Rasulullah? Dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,كَانَ نَقْشُ خَاتَمِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مُحَمَّدٌ سَطْرٌ، وَرَسُولٌ سَطْرٌ، وَاللهُ سَطْرٌ“Tulisan yang terukir pada cincin Rasulullah ﷺ adalah: ‘Muhammad’ satu baris, ‘Rasul’ satu baris, dan ‘Allah’ satu baris.” (HR. Tirmidzi)Dari hadis di atas, kita bisa simpulkan bahwa tulisan “Muhammad Rasulullah” pada cincin tersebut terukir pada tiga baris tulisan, yaitu محمد pada baris pertama, رسول pada baris kedua, dan الله pada baris ketiga.Rasulullah melepas cincin ketika buang hajatKetika Rasulullah memasuki tempat buang hajat, beliau melepaskan cincinnya, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis,أن النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم كان إذا دخل الخلاءَ وضع خاتَمَهُ. وإنما وضعَه لأنه كان عليه: مُحَمَّدٌ رسولُ اللهِ“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki tempat buang hajat, beliau melepas cincinnya, dikarenakan padanya terdapat tulisan: Muhammad Rasulullah.” (HR. Abu Dawud)Dari hadis ini kita bisa lihat bahwa Rasulullah melepaskan cincin beliau ketika memasuki tempat buang hajat. Akan tetapi, bukan berarti kita harus melepas cincin ketika ingin buang hajat. Alasan Rasulullah melepas cincin bukan karena cincinnya, tetapi karena adanya tulisan Muhammad Rasulullah.Cincin Rasulullah setelah wafatnya beliauSetelah Rasulullah wafat, kemanakah cincin yang dikenakan Rasulullah tersebut? Hal tersebut disebutkan dalam sebuah hadis,كَانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي يَدِهِ، وَفِي يَدِ أَبِي بَكْرٍ بَعْدَهُ، وَفِي يَدِ عُمَرَ بَعْدَ أَبِي بَكْرٍ، فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ جَلَسَ عَلَى بِئْرِ أَرِيسَ، قَالَ: فَأَخْرَجَ الْخَاتَمَ فَجَعَلَ يَعْبَثُ بِهِ فَسَقَطَ، قَالَ: فَاخْتَلَفْنَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مَعَ عُثْمَانَ، فَنَزَحَ الْبِئْرَ فَلَمْ يَجِدْهُ“Cincin Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berada di tangan beliau. Kemudian setelah beliau meninggal dunia, cincin itu berada di tangan Abu Bakar. Setelah Abu Bakar, cincin itu berada di tangan Umar.Ketika Utsman (menjadi khalifah), ia duduk di sumur Aris. Perawi berkata, ‘Kemudian ia mengeluarkan cincin tersebut dan mulai memainkan-mainkannya, lalu cincin itu terjatuh.’Perawi berkata, ‘Kami bersama Utsman berusaha mencarinya selama tiga hari. Sumur tersebut kemudian dikuras, tetapi cincin itu tidak ditemukan.’” (Diriwayatkan Imam Bukhari dalam Khalqu Af‘ālil-‘Ibād)Baca juga: Perlengkapan Jihad Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam***Penulis: Firdian IkhwanysahArtikel Muslim.or.id Sumber: Syarah Syamail Nabi, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.
Daftar Isi ToggleAlasan Rasulullah mengenakan cincinBahan cincin RasulullahUkiran pada cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamRasulullah melepas cincin ketika buang hajatCincin Rasulullah setelah wafatnya beliauTahukah Anda bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan cincin? Pernahkah terpikirkan cincin seperti apa yang Rasulullah kenakan? Mari kita pelajari tentang cincin Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pada artikel ini.Alasan Rasulullah mengenakan cincinSyekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr menjelaskan dalam kitab Syarah Syamail Nabi bahwa Rasulullah baru sering mengenakan cincin pada akhir-akhir masa setelah hijrahnya Rasulullah ke Madinah, tepatnya pada akhir tahun ke-6 setelah hijrah.Mengapa Rasulullah mengenakan cincin pada tahun-tahun tersebut? Pada waktu itu, Islam sudah mulai berkembang dan akan memulai berdakwah kepada wilayah kerajaan di sekitar jazirah Arab. Oleh karena itu, Rasulullah pun mengirim surat kepada para Raja yang ada di sekitar, seperti Raja Romawi Bizantium dan juga Raja Persia. Hal tersebut bertujuan untuk mendakwahi pimpinan suatu kaum; karena jika pemimpinnya bisa menerima dakwah, maka rakyatnya pun akan mengikuti.Ternyata, agar surat yang Rasulullah tulis kepada para raja yang ada di sekitar Arab tersebut dibaca, maka diperlukan stempel. Cincin pada waktu itu juga befungsi sebagai stempel, sehingga para raja yang menerima surat tersebut mau membaca surat dari Rasulullah. Oleh karena itu, Rasulullah pun mengenakan cincin sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik,أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَتَبَ إِلَى كِسْرَى وَقَيْصَرَ وَالنَّجَاشِيِّ، فَقِيلَ لَهُ‏:‏ إِنَّهُمْ لا يَقْبَلُونَ كِتَابًا، إِلا بِخَاتَمٍ، فَصَاغَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، خَاتَمًا حَلْقَتُهُ فِضَّةٌ، وَنُقِشَ فِيهِ‏:‏ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis surat kepada Kisra, Kaisar, dan Najasyi. Kemudian dikatakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya mereka tidak menerima surat kecuali dengan stempel.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah cincin yang lingkarannya terbuat dari perak dan diukir padanya: ‘Muhammad Rasulullah’.” (HR. Tirmidzi)Dalam hadis lain juga disebutkan,لَمَّا أَرَادَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَكْتُبَ إِلَى الْعَجَمِ قِيلَ لَهُ‏:‏ إِنَّ الْعَجَمَ لا يَقْبَلُونَ إِلا كِتَابًا عَلَيْهِ خَاتَمٌ، فَاصْطَنَعَ خَاتَمًا، فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِهِ فِي كَفِّهِ“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menulis surat kepada orang-orang non-Arab, dikatakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya orang-orang non-Arab tidak menerima surat kecuali surat yang dibubuhi stempel.’ Maka beliau membuat sebuah cincin. Seakan-akan aku masih melihat putihnya cincin tersebut di telapak tangan beliau.” (HR. Tirmidzi)Dari hadis-hadis tentang Rasulullah mengenakan cincin ini, Syekh Abdurrazaq mengatakan bahwa para ulama merinci tentang hukum mengenakan cincin. Jika mengenakan cincin tersebut dikarenakan adanya hajat seperti yang dialami oleh Rasulullah atau semisalnya, maka hukumnya sunah. Adapun jika menggunakan cincin tanpa adanya hajat khusus, maka hukumnya mubah.Baca juga: Surat Rasulullah Kepada HerakliusBahan cincin RasulullahCincin bisa terbuat dari berbagai macam bahan, mulai dari emas yang tentunya haram bagi laki-laki, perak, hingga bahan lainnya. Lalu, cincin Rasulullah terbuat dari apa?Cincin tersebut terbuat dari perak sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai hadis berikut. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كَانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مِنْ وَرِقٍ، وَكَانَ فَصُّهُ حَبَشِيًّا“Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbuat dari perak, sedangkan mata cincinnya berasal dari Habasyah.” (HR. Tirmidzi)Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم اتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ، فَكَانَ يَخْتِمُ بِهِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah cincin dari perak. Beliau menggunakannya untuk membubuhkan stempel.” (HR. Tirmidzi)Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, كَانَ خَاتَمُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ فِضَّةٍ، فَصُّهُ مِنْهُ“Cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbuat dari perak, dan mata cincinnya juga berasal dari perak.” (HR. Tirmidzi)Ukiran pada cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamTujuan Rasulullah mengenakan cincin tentunya sebagai stempel yang pastinya ada ukiran pada mata cincin yang dikenakan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, apa tulisan yang terukir pada cincin tersebut?Tulisan yang terukir pada cincin tersebut adalah Muhammad Rasulullah sebagaimana dalam hadis,أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَتَبَ إِلَى كِسْرَى وَقَيْصَرَ وَالنَّجَاشِيِّ، فَقِيلَ لَهُ‏:‏ إِنَّهُمْ لا يَقْبَلُونَ كِتَابًا، إِلا بِخَاتَمٍ، فَصَاغَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، خَاتَمًا حَلْقَتُهُ فِضَّةٌ، وَنُقِشَ فِيهِ‏:‏ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis surat kepada Kisra, Kaisar, dan Najasyi. Kemudian dikatakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya mereka tidak menerima surat kecuali dengan stempel.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah cincin yang lingkarannya terbuat dari perak dan diukir padanya: ‘Muhammad Rasulullah’.” (HR. Tirmidzi)Lalu, bagaimana ukiran tulisan “Muhammad Rasulullah” yang terukir pada cincin Rasulullah? Dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,كَانَ نَقْشُ خَاتَمِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مُحَمَّدٌ سَطْرٌ، وَرَسُولٌ سَطْرٌ، وَاللهُ سَطْرٌ“Tulisan yang terukir pada cincin Rasulullah ﷺ adalah: ‘Muhammad’ satu baris, ‘Rasul’ satu baris, dan ‘Allah’ satu baris.” (HR. Tirmidzi)Dari hadis di atas, kita bisa simpulkan bahwa tulisan “Muhammad Rasulullah” pada cincin tersebut terukir pada tiga baris tulisan, yaitu محمد pada baris pertama, رسول pada baris kedua, dan الله pada baris ketiga.Rasulullah melepas cincin ketika buang hajatKetika Rasulullah memasuki tempat buang hajat, beliau melepaskan cincinnya, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis,أن النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم كان إذا دخل الخلاءَ وضع خاتَمَهُ. وإنما وضعَه لأنه كان عليه: مُحَمَّدٌ رسولُ اللهِ“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki tempat buang hajat, beliau melepas cincinnya, dikarenakan padanya terdapat tulisan: Muhammad Rasulullah.” (HR. Abu Dawud)Dari hadis ini kita bisa lihat bahwa Rasulullah melepaskan cincin beliau ketika memasuki tempat buang hajat. Akan tetapi, bukan berarti kita harus melepas cincin ketika ingin buang hajat. Alasan Rasulullah melepas cincin bukan karena cincinnya, tetapi karena adanya tulisan Muhammad Rasulullah.Cincin Rasulullah setelah wafatnya beliauSetelah Rasulullah wafat, kemanakah cincin yang dikenakan Rasulullah tersebut? Hal tersebut disebutkan dalam sebuah hadis,كَانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي يَدِهِ، وَفِي يَدِ أَبِي بَكْرٍ بَعْدَهُ، وَفِي يَدِ عُمَرَ بَعْدَ أَبِي بَكْرٍ، فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ جَلَسَ عَلَى بِئْرِ أَرِيسَ، قَالَ: فَأَخْرَجَ الْخَاتَمَ فَجَعَلَ يَعْبَثُ بِهِ فَسَقَطَ، قَالَ: فَاخْتَلَفْنَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مَعَ عُثْمَانَ، فَنَزَحَ الْبِئْرَ فَلَمْ يَجِدْهُ“Cincin Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berada di tangan beliau. Kemudian setelah beliau meninggal dunia, cincin itu berada di tangan Abu Bakar. Setelah Abu Bakar, cincin itu berada di tangan Umar.Ketika Utsman (menjadi khalifah), ia duduk di sumur Aris. Perawi berkata, ‘Kemudian ia mengeluarkan cincin tersebut dan mulai memainkan-mainkannya, lalu cincin itu terjatuh.’Perawi berkata, ‘Kami bersama Utsman berusaha mencarinya selama tiga hari. Sumur tersebut kemudian dikuras, tetapi cincin itu tidak ditemukan.’” (Diriwayatkan Imam Bukhari dalam Khalqu Af‘ālil-‘Ibād)Baca juga: Perlengkapan Jihad Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam***Penulis: Firdian IkhwanysahArtikel Muslim.or.id Sumber: Syarah Syamail Nabi, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.


Daftar Isi ToggleAlasan Rasulullah mengenakan cincinBahan cincin RasulullahUkiran pada cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamRasulullah melepas cincin ketika buang hajatCincin Rasulullah setelah wafatnya beliauTahukah Anda bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan cincin? Pernahkah terpikirkan cincin seperti apa yang Rasulullah kenakan? Mari kita pelajari tentang cincin Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pada artikel ini.Alasan Rasulullah mengenakan cincinSyekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr menjelaskan dalam kitab Syarah Syamail Nabi bahwa Rasulullah baru sering mengenakan cincin pada akhir-akhir masa setelah hijrahnya Rasulullah ke Madinah, tepatnya pada akhir tahun ke-6 setelah hijrah.Mengapa Rasulullah mengenakan cincin pada tahun-tahun tersebut? Pada waktu itu, Islam sudah mulai berkembang dan akan memulai berdakwah kepada wilayah kerajaan di sekitar jazirah Arab. Oleh karena itu, Rasulullah pun mengirim surat kepada para Raja yang ada di sekitar, seperti Raja Romawi Bizantium dan juga Raja Persia. Hal tersebut bertujuan untuk mendakwahi pimpinan suatu kaum; karena jika pemimpinnya bisa menerima dakwah, maka rakyatnya pun akan mengikuti.Ternyata, agar surat yang Rasulullah tulis kepada para raja yang ada di sekitar Arab tersebut dibaca, maka diperlukan stempel. Cincin pada waktu itu juga befungsi sebagai stempel, sehingga para raja yang menerima surat tersebut mau membaca surat dari Rasulullah. Oleh karena itu, Rasulullah pun mengenakan cincin sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik,أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَتَبَ إِلَى كِسْرَى وَقَيْصَرَ وَالنَّجَاشِيِّ، فَقِيلَ لَهُ‏:‏ إِنَّهُمْ لا يَقْبَلُونَ كِتَابًا، إِلا بِخَاتَمٍ، فَصَاغَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، خَاتَمًا حَلْقَتُهُ فِضَّةٌ، وَنُقِشَ فِيهِ‏:‏ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis surat kepada Kisra, Kaisar, dan Najasyi. Kemudian dikatakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya mereka tidak menerima surat kecuali dengan stempel.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah cincin yang lingkarannya terbuat dari perak dan diukir padanya: ‘Muhammad Rasulullah’.” (HR. Tirmidzi)Dalam hadis lain juga disebutkan,لَمَّا أَرَادَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَكْتُبَ إِلَى الْعَجَمِ قِيلَ لَهُ‏:‏ إِنَّ الْعَجَمَ لا يَقْبَلُونَ إِلا كِتَابًا عَلَيْهِ خَاتَمٌ، فَاصْطَنَعَ خَاتَمًا، فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِهِ فِي كَفِّهِ“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menulis surat kepada orang-orang non-Arab, dikatakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya orang-orang non-Arab tidak menerima surat kecuali surat yang dibubuhi stempel.’ Maka beliau membuat sebuah cincin. Seakan-akan aku masih melihat putihnya cincin tersebut di telapak tangan beliau.” (HR. Tirmidzi)Dari hadis-hadis tentang Rasulullah mengenakan cincin ini, Syekh Abdurrazaq mengatakan bahwa para ulama merinci tentang hukum mengenakan cincin. Jika mengenakan cincin tersebut dikarenakan adanya hajat seperti yang dialami oleh Rasulullah atau semisalnya, maka hukumnya sunah. Adapun jika menggunakan cincin tanpa adanya hajat khusus, maka hukumnya mubah.Baca juga: Surat Rasulullah Kepada HerakliusBahan cincin RasulullahCincin bisa terbuat dari berbagai macam bahan, mulai dari emas yang tentunya haram bagi laki-laki, perak, hingga bahan lainnya. Lalu, cincin Rasulullah terbuat dari apa?Cincin tersebut terbuat dari perak sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai hadis berikut. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كَانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مِنْ وَرِقٍ، وَكَانَ فَصُّهُ حَبَشِيًّا“Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbuat dari perak, sedangkan mata cincinnya berasal dari Habasyah.” (HR. Tirmidzi)Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم اتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ، فَكَانَ يَخْتِمُ بِهِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah cincin dari perak. Beliau menggunakannya untuk membubuhkan stempel.” (HR. Tirmidzi)Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, كَانَ خَاتَمُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ فِضَّةٍ، فَصُّهُ مِنْهُ“Cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbuat dari perak, dan mata cincinnya juga berasal dari perak.” (HR. Tirmidzi)Ukiran pada cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamTujuan Rasulullah mengenakan cincin tentunya sebagai stempel yang pastinya ada ukiran pada mata cincin yang dikenakan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, apa tulisan yang terukir pada cincin tersebut?Tulisan yang terukir pada cincin tersebut adalah Muhammad Rasulullah sebagaimana dalam hadis,أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَتَبَ إِلَى كِسْرَى وَقَيْصَرَ وَالنَّجَاشِيِّ، فَقِيلَ لَهُ‏:‏ إِنَّهُمْ لا يَقْبَلُونَ كِتَابًا، إِلا بِخَاتَمٍ، فَصَاغَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، خَاتَمًا حَلْقَتُهُ فِضَّةٌ، وَنُقِشَ فِيهِ‏:‏ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis surat kepada Kisra, Kaisar, dan Najasyi. Kemudian dikatakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya mereka tidak menerima surat kecuali dengan stempel.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah cincin yang lingkarannya terbuat dari perak dan diukir padanya: ‘Muhammad Rasulullah’.” (HR. Tirmidzi)Lalu, bagaimana ukiran tulisan “Muhammad Rasulullah” yang terukir pada cincin Rasulullah? Dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,كَانَ نَقْشُ خَاتَمِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مُحَمَّدٌ سَطْرٌ، وَرَسُولٌ سَطْرٌ، وَاللهُ سَطْرٌ“Tulisan yang terukir pada cincin Rasulullah ﷺ adalah: ‘Muhammad’ satu baris, ‘Rasul’ satu baris, dan ‘Allah’ satu baris.” (HR. Tirmidzi)Dari hadis di atas, kita bisa simpulkan bahwa tulisan “Muhammad Rasulullah” pada cincin tersebut terukir pada tiga baris tulisan, yaitu محمد pada baris pertama, رسول pada baris kedua, dan الله pada baris ketiga.Rasulullah melepas cincin ketika buang hajatKetika Rasulullah memasuki tempat buang hajat, beliau melepaskan cincinnya, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis,أن النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم كان إذا دخل الخلاءَ وضع خاتَمَهُ. وإنما وضعَه لأنه كان عليه: مُحَمَّدٌ رسولُ اللهِ“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki tempat buang hajat, beliau melepas cincinnya, dikarenakan padanya terdapat tulisan: Muhammad Rasulullah.” (HR. Abu Dawud)Dari hadis ini kita bisa lihat bahwa Rasulullah melepaskan cincin beliau ketika memasuki tempat buang hajat. Akan tetapi, bukan berarti kita harus melepas cincin ketika ingin buang hajat. Alasan Rasulullah melepas cincin bukan karena cincinnya, tetapi karena adanya tulisan Muhammad Rasulullah.Cincin Rasulullah setelah wafatnya beliauSetelah Rasulullah wafat, kemanakah cincin yang dikenakan Rasulullah tersebut? Hal tersebut disebutkan dalam sebuah hadis,كَانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي يَدِهِ، وَفِي يَدِ أَبِي بَكْرٍ بَعْدَهُ، وَفِي يَدِ عُمَرَ بَعْدَ أَبِي بَكْرٍ، فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ جَلَسَ عَلَى بِئْرِ أَرِيسَ، قَالَ: فَأَخْرَجَ الْخَاتَمَ فَجَعَلَ يَعْبَثُ بِهِ فَسَقَطَ، قَالَ: فَاخْتَلَفْنَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مَعَ عُثْمَانَ، فَنَزَحَ الْبِئْرَ فَلَمْ يَجِدْهُ“Cincin Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berada di tangan beliau. Kemudian setelah beliau meninggal dunia, cincin itu berada di tangan Abu Bakar. Setelah Abu Bakar, cincin itu berada di tangan Umar.Ketika Utsman (menjadi khalifah), ia duduk di sumur Aris. Perawi berkata, ‘Kemudian ia mengeluarkan cincin tersebut dan mulai memainkan-mainkannya, lalu cincin itu terjatuh.’Perawi berkata, ‘Kami bersama Utsman berusaha mencarinya selama tiga hari. Sumur tersebut kemudian dikuras, tetapi cincin itu tidak ditemukan.’” (Diriwayatkan Imam Bukhari dalam Khalqu Af‘ālil-‘Ibād)Baca juga: Perlengkapan Jihad Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam***Penulis: Firdian IkhwanysahArtikel Muslim.or.id Sumber: Syarah Syamail Nabi, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

UCAPKAN DOA INI AGAR KUAT DAN BERSEMANGAT BERIBADAH – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa, beliau mengucapkan: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk.” Doa ini termasuk doa yang paling agung dan paling bermanfaat. Doa ini diriwayatkan dalam hadis Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila orang-orang menyimpan emas dan perak, maka jadikanlah kalimat-kalimat ini sebagai simpananmu: ALLAAHUMMA INNII AS ALUKATS TSABAATA FIL AMRI WAL ‘AZIIMATA ‘ALAR RUSYDI WA AS ALUKA SYUKRO NI’MATIK WA HUSNA ‘IBAADATIK WA AS ALUKA QOLBAN SALIIMAA WA LISAANAN SHOODIQOO WA AS ALUKA MIN KHOIRI MAA TA’LAM WA A ‘UUDZUBIKA MIN SYARRI MAA TA’LAM WA ASTAGHFIRUKA LIMAA TA’LAM Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam menjalankan agama, dan tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk. Aku memohon kepada-Mu agar dapat mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya. Aku memohon kepada-Mu hati yang selamat, dan lisan yang jujur. Aku memohon kepada-Mu segala kebaikan yang Engkau ketahui, aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang Engkau ketahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang Engkau ketahui.” (HR. Ibnu Hibban). Ini adalah doa yang sangat agung. Nabi ‘alaihish shalatu was salam menjadikannya sebagai harta simpanan yang semestinya dihafalkan oleh seorang muslim. Doa ini memuat kalimat-kalimat tersebut, di antaranya: “Aku memohon kepada-Mu tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk.” Apabila seseorang diberi tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk, hal itu akan memberikan pengaruh yang sangat besar dalam perjalanannya menuju Allah ‘Azza wa Jalla dan dalam menguatkan ibadahnya. Karena itulah, semakin seseorang banyak beribadah kepada Allah, semakin kuat pula tekadnya. Siapakah manusia yang paling banyak beribadah kepada Allah? Para nabi dan rasul. Lima rasul Ulul ‘Azmi. Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad ‘alaihimush shalatu was salam. Mengapa mereka dinamakan rasul-rasul Ulul ‘Azmi? Mengapa Allah Ta’ala menamai kelima rasul tersebut sebagai Ulul ‘Azmi? Karena mereka memiliki tekad yang sangat kuat untuk mengikuti petunjuk. Mereka adalah orang-orang yang memiliki tekad kuat dan keteguhan hati. Karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla menamai mereka rasul-rasul Ulul ‘Azmi. Allah ‘Azza wa Jalla menamai mereka rasul-rasul Ulul ‘Azmi. Jadi, apabila seseorang dianugerahi tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk, maka itu akan memberinya kekuatan yang besar untuk beribadah. Karena itulah, banyak orang mengetahui jalan yang benar, mengetahui kebaikan dan dapat membedakan yang hak dari yang batil, tetapi tidak memiliki tekad. Misalnya, ada orang berkata, “Aku tahu bahwa menjaga salat, seperti Salat Subuh berjamaah di masjid, merupakan jalan yang benar dan padanya terdapat kebaikan yang sangat besar.” Namun, ia tidak punya tekad untuk melakukannya. Jadi, ia tahu jalan yang benar, tetapi tidak punya tekad. Sebaliknya, bisa jadi seseorang memiliki tekad, tetapi tanpa petunjuk. Tekadnya justru berada dalam kebatilan. Karena itu, di antara doa yang agung adalah engkau mengucapkan, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk.” Sungguh, doa ini termasuk doa yang paling bermanfaat dan paling agung. ===== وَلِهَذَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَهَذَا الدُّعَاءُ مِنْ أَعْظَمِ وَأَنْفَعِ الْأَدْعِيَةِ وَهَذَا الدُّعَاءُ وَرَدَ فِي حَدِيثِ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَنَزَ النَّاسُ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ فَاكْنُزْ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا صَادِقًا وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ هَذَا الدُّعَاءُ دُعَاءٌ عَظِيمٌ جَعَلَهُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَنْزًا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْفَظَهُ مُشْتَمِلٌ عَلَى هَذِهِ الْكَلِمَاتِ وَمِنْهَا أَسْأَلُكَ الْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ فَإِنَّ الْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ إِذَا رُزِقَ الْإِنْسَانُ إِيَّاهَا يَكُونُ لَهَا أَثَرٌ عَظِيمٌ فِي سَيْرِهِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَفِي قُوَّةِ عِبَادَتِهِ وَلِهَذَا كُلَّمَا كَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ عِبَادَةً لِلَّهِ كَانَ أَقْوَى عَزِيمَةً مَنْ هُمْ أَكْثَرُ الْبَشَرِ عِبَادَةً لِلَّهِ؟ الْأَنْبِيَاءُ وَالرُّسُلُ مَنْ أَفْضَلُ الْأَنْبِيَاءِ وَالرُّسُلِ؟ أُولُو الْعَزْمِ الْخَمْسَةُ نُوحٌ وَإِبْرَاهِيمُ وَمُوسَى وَعِيسَى وَمُحَمَّدٌ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِمَاذَا سُمُّوا أُولِي الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ؟ لِمَاذَا سَمَّى اللهُ تَعَالَى هَؤُلَاءِ الْخَمْسَةَ سَمَّاهُمْ بِأُولِي الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ؟ لِأَنَّ عِنْدَهُمْ قُوَّةَ عَزِيمَةٍ عَلَى الرُّشْدِ فَهُمْ أَصْحَابُ عَزْمٍ وَحَزْمٍ فَسَمَّاهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أُولِي الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ سَمَّاهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أُولِي الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ فَالْعَزِيمَةُ عَلَى الرُّشْدِ إِذَا رُزِقَ الْإِنْسَانُ إِيَّاهَا فَإِنَّهَا تُعْطِيهِ قُوَّةً عَظِيمَةً عَلَى الْعِبَادَةِ وَلِهَذَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَعْرِفُ الرُّشْدَ يَعْرِفُ الْخَيْرَ وَيَعْرِفُ الْحَقَّ مِنَ الْبَاطِلِ لَكِنْ مَا عِنْدَهُ عَزِيمَةٌ بَعْضُ النَّاسِ يَقُولُ: أَنَا أَعْرِفُ أَنَّ الْمُحَافَظَةَ مَثَلًا عَلَى الصَّلَاةِ صَلَاةِ الْفَجْرِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَنَّهَا رُشْدٌ وَأَنَّ فِيهَا خَيْرًا عَظِيمًا لَكِنْ لَيْسَ عِنْدَهُ عَزِيمَةٌ فَعِنْدَهُ رُشْدٌ وَلَيْسَ عِنْدَهُ عَزِيمَةٌ وَقَدْ يَكُونُ عِنْدَهُ عَزِيمَةٌ لَكِنْ بِدُونِ رُشْدٍ عَزِيمَةٌ فِي الْبَاطِلِ وَلِذَلِكَ فَمِنَ الْأَدْعِيَةِ الْعَظِيمَةِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ فَإِنَّ هَذَا مِنْ أَنْفَعِ وَأَعْظَمِ الْأَدْعِيَةِ

UCAPKAN DOA INI AGAR KUAT DAN BERSEMANGAT BERIBADAH – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa, beliau mengucapkan: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk.” Doa ini termasuk doa yang paling agung dan paling bermanfaat. Doa ini diriwayatkan dalam hadis Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila orang-orang menyimpan emas dan perak, maka jadikanlah kalimat-kalimat ini sebagai simpananmu: ALLAAHUMMA INNII AS ALUKATS TSABAATA FIL AMRI WAL ‘AZIIMATA ‘ALAR RUSYDI WA AS ALUKA SYUKRO NI’MATIK WA HUSNA ‘IBAADATIK WA AS ALUKA QOLBAN SALIIMAA WA LISAANAN SHOODIQOO WA AS ALUKA MIN KHOIRI MAA TA’LAM WA A ‘UUDZUBIKA MIN SYARRI MAA TA’LAM WA ASTAGHFIRUKA LIMAA TA’LAM Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam menjalankan agama, dan tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk. Aku memohon kepada-Mu agar dapat mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya. Aku memohon kepada-Mu hati yang selamat, dan lisan yang jujur. Aku memohon kepada-Mu segala kebaikan yang Engkau ketahui, aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang Engkau ketahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang Engkau ketahui.” (HR. Ibnu Hibban). Ini adalah doa yang sangat agung. Nabi ‘alaihish shalatu was salam menjadikannya sebagai harta simpanan yang semestinya dihafalkan oleh seorang muslim. Doa ini memuat kalimat-kalimat tersebut, di antaranya: “Aku memohon kepada-Mu tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk.” Apabila seseorang diberi tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk, hal itu akan memberikan pengaruh yang sangat besar dalam perjalanannya menuju Allah ‘Azza wa Jalla dan dalam menguatkan ibadahnya. Karena itulah, semakin seseorang banyak beribadah kepada Allah, semakin kuat pula tekadnya. Siapakah manusia yang paling banyak beribadah kepada Allah? Para nabi dan rasul. Lima rasul Ulul ‘Azmi. Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad ‘alaihimush shalatu was salam. Mengapa mereka dinamakan rasul-rasul Ulul ‘Azmi? Mengapa Allah Ta’ala menamai kelima rasul tersebut sebagai Ulul ‘Azmi? Karena mereka memiliki tekad yang sangat kuat untuk mengikuti petunjuk. Mereka adalah orang-orang yang memiliki tekad kuat dan keteguhan hati. Karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla menamai mereka rasul-rasul Ulul ‘Azmi. Allah ‘Azza wa Jalla menamai mereka rasul-rasul Ulul ‘Azmi. Jadi, apabila seseorang dianugerahi tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk, maka itu akan memberinya kekuatan yang besar untuk beribadah. Karena itulah, banyak orang mengetahui jalan yang benar, mengetahui kebaikan dan dapat membedakan yang hak dari yang batil, tetapi tidak memiliki tekad. Misalnya, ada orang berkata, “Aku tahu bahwa menjaga salat, seperti Salat Subuh berjamaah di masjid, merupakan jalan yang benar dan padanya terdapat kebaikan yang sangat besar.” Namun, ia tidak punya tekad untuk melakukannya. Jadi, ia tahu jalan yang benar, tetapi tidak punya tekad. Sebaliknya, bisa jadi seseorang memiliki tekad, tetapi tanpa petunjuk. Tekadnya justru berada dalam kebatilan. Karena itu, di antara doa yang agung adalah engkau mengucapkan, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk.” Sungguh, doa ini termasuk doa yang paling bermanfaat dan paling agung. ===== وَلِهَذَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَهَذَا الدُّعَاءُ مِنْ أَعْظَمِ وَأَنْفَعِ الْأَدْعِيَةِ وَهَذَا الدُّعَاءُ وَرَدَ فِي حَدِيثِ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَنَزَ النَّاسُ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ فَاكْنُزْ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا صَادِقًا وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ هَذَا الدُّعَاءُ دُعَاءٌ عَظِيمٌ جَعَلَهُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَنْزًا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْفَظَهُ مُشْتَمِلٌ عَلَى هَذِهِ الْكَلِمَاتِ وَمِنْهَا أَسْأَلُكَ الْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ فَإِنَّ الْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ إِذَا رُزِقَ الْإِنْسَانُ إِيَّاهَا يَكُونُ لَهَا أَثَرٌ عَظِيمٌ فِي سَيْرِهِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَفِي قُوَّةِ عِبَادَتِهِ وَلِهَذَا كُلَّمَا كَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ عِبَادَةً لِلَّهِ كَانَ أَقْوَى عَزِيمَةً مَنْ هُمْ أَكْثَرُ الْبَشَرِ عِبَادَةً لِلَّهِ؟ الْأَنْبِيَاءُ وَالرُّسُلُ مَنْ أَفْضَلُ الْأَنْبِيَاءِ وَالرُّسُلِ؟ أُولُو الْعَزْمِ الْخَمْسَةُ نُوحٌ وَإِبْرَاهِيمُ وَمُوسَى وَعِيسَى وَمُحَمَّدٌ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِمَاذَا سُمُّوا أُولِي الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ؟ لِمَاذَا سَمَّى اللهُ تَعَالَى هَؤُلَاءِ الْخَمْسَةَ سَمَّاهُمْ بِأُولِي الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ؟ لِأَنَّ عِنْدَهُمْ قُوَّةَ عَزِيمَةٍ عَلَى الرُّشْدِ فَهُمْ أَصْحَابُ عَزْمٍ وَحَزْمٍ فَسَمَّاهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أُولِي الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ سَمَّاهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أُولِي الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ فَالْعَزِيمَةُ عَلَى الرُّشْدِ إِذَا رُزِقَ الْإِنْسَانُ إِيَّاهَا فَإِنَّهَا تُعْطِيهِ قُوَّةً عَظِيمَةً عَلَى الْعِبَادَةِ وَلِهَذَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَعْرِفُ الرُّشْدَ يَعْرِفُ الْخَيْرَ وَيَعْرِفُ الْحَقَّ مِنَ الْبَاطِلِ لَكِنْ مَا عِنْدَهُ عَزِيمَةٌ بَعْضُ النَّاسِ يَقُولُ: أَنَا أَعْرِفُ أَنَّ الْمُحَافَظَةَ مَثَلًا عَلَى الصَّلَاةِ صَلَاةِ الْفَجْرِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَنَّهَا رُشْدٌ وَأَنَّ فِيهَا خَيْرًا عَظِيمًا لَكِنْ لَيْسَ عِنْدَهُ عَزِيمَةٌ فَعِنْدَهُ رُشْدٌ وَلَيْسَ عِنْدَهُ عَزِيمَةٌ وَقَدْ يَكُونُ عِنْدَهُ عَزِيمَةٌ لَكِنْ بِدُونِ رُشْدٍ عَزِيمَةٌ فِي الْبَاطِلِ وَلِذَلِكَ فَمِنَ الْأَدْعِيَةِ الْعَظِيمَةِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ فَإِنَّ هَذَا مِنْ أَنْفَعِ وَأَعْظَمِ الْأَدْعِيَةِ
Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa, beliau mengucapkan: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk.” Doa ini termasuk doa yang paling agung dan paling bermanfaat. Doa ini diriwayatkan dalam hadis Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila orang-orang menyimpan emas dan perak, maka jadikanlah kalimat-kalimat ini sebagai simpananmu: ALLAAHUMMA INNII AS ALUKATS TSABAATA FIL AMRI WAL ‘AZIIMATA ‘ALAR RUSYDI WA AS ALUKA SYUKRO NI’MATIK WA HUSNA ‘IBAADATIK WA AS ALUKA QOLBAN SALIIMAA WA LISAANAN SHOODIQOO WA AS ALUKA MIN KHOIRI MAA TA’LAM WA A ‘UUDZUBIKA MIN SYARRI MAA TA’LAM WA ASTAGHFIRUKA LIMAA TA’LAM Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam menjalankan agama, dan tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk. Aku memohon kepada-Mu agar dapat mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya. Aku memohon kepada-Mu hati yang selamat, dan lisan yang jujur. Aku memohon kepada-Mu segala kebaikan yang Engkau ketahui, aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang Engkau ketahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang Engkau ketahui.” (HR. Ibnu Hibban). Ini adalah doa yang sangat agung. Nabi ‘alaihish shalatu was salam menjadikannya sebagai harta simpanan yang semestinya dihafalkan oleh seorang muslim. Doa ini memuat kalimat-kalimat tersebut, di antaranya: “Aku memohon kepada-Mu tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk.” Apabila seseorang diberi tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk, hal itu akan memberikan pengaruh yang sangat besar dalam perjalanannya menuju Allah ‘Azza wa Jalla dan dalam menguatkan ibadahnya. Karena itulah, semakin seseorang banyak beribadah kepada Allah, semakin kuat pula tekadnya. Siapakah manusia yang paling banyak beribadah kepada Allah? Para nabi dan rasul. Lima rasul Ulul ‘Azmi. Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad ‘alaihimush shalatu was salam. Mengapa mereka dinamakan rasul-rasul Ulul ‘Azmi? Mengapa Allah Ta’ala menamai kelima rasul tersebut sebagai Ulul ‘Azmi? Karena mereka memiliki tekad yang sangat kuat untuk mengikuti petunjuk. Mereka adalah orang-orang yang memiliki tekad kuat dan keteguhan hati. Karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla menamai mereka rasul-rasul Ulul ‘Azmi. Allah ‘Azza wa Jalla menamai mereka rasul-rasul Ulul ‘Azmi. Jadi, apabila seseorang dianugerahi tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk, maka itu akan memberinya kekuatan yang besar untuk beribadah. Karena itulah, banyak orang mengetahui jalan yang benar, mengetahui kebaikan dan dapat membedakan yang hak dari yang batil, tetapi tidak memiliki tekad. Misalnya, ada orang berkata, “Aku tahu bahwa menjaga salat, seperti Salat Subuh berjamaah di masjid, merupakan jalan yang benar dan padanya terdapat kebaikan yang sangat besar.” Namun, ia tidak punya tekad untuk melakukannya. Jadi, ia tahu jalan yang benar, tetapi tidak punya tekad. Sebaliknya, bisa jadi seseorang memiliki tekad, tetapi tanpa petunjuk. Tekadnya justru berada dalam kebatilan. Karena itu, di antara doa yang agung adalah engkau mengucapkan, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk.” Sungguh, doa ini termasuk doa yang paling bermanfaat dan paling agung. ===== وَلِهَذَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَهَذَا الدُّعَاءُ مِنْ أَعْظَمِ وَأَنْفَعِ الْأَدْعِيَةِ وَهَذَا الدُّعَاءُ وَرَدَ فِي حَدِيثِ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَنَزَ النَّاسُ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ فَاكْنُزْ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا صَادِقًا وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ هَذَا الدُّعَاءُ دُعَاءٌ عَظِيمٌ جَعَلَهُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَنْزًا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْفَظَهُ مُشْتَمِلٌ عَلَى هَذِهِ الْكَلِمَاتِ وَمِنْهَا أَسْأَلُكَ الْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ فَإِنَّ الْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ إِذَا رُزِقَ الْإِنْسَانُ إِيَّاهَا يَكُونُ لَهَا أَثَرٌ عَظِيمٌ فِي سَيْرِهِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَفِي قُوَّةِ عِبَادَتِهِ وَلِهَذَا كُلَّمَا كَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ عِبَادَةً لِلَّهِ كَانَ أَقْوَى عَزِيمَةً مَنْ هُمْ أَكْثَرُ الْبَشَرِ عِبَادَةً لِلَّهِ؟ الْأَنْبِيَاءُ وَالرُّسُلُ مَنْ أَفْضَلُ الْأَنْبِيَاءِ وَالرُّسُلِ؟ أُولُو الْعَزْمِ الْخَمْسَةُ نُوحٌ وَإِبْرَاهِيمُ وَمُوسَى وَعِيسَى وَمُحَمَّدٌ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِمَاذَا سُمُّوا أُولِي الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ؟ لِمَاذَا سَمَّى اللهُ تَعَالَى هَؤُلَاءِ الْخَمْسَةَ سَمَّاهُمْ بِأُولِي الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ؟ لِأَنَّ عِنْدَهُمْ قُوَّةَ عَزِيمَةٍ عَلَى الرُّشْدِ فَهُمْ أَصْحَابُ عَزْمٍ وَحَزْمٍ فَسَمَّاهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أُولِي الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ سَمَّاهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أُولِي الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ فَالْعَزِيمَةُ عَلَى الرُّشْدِ إِذَا رُزِقَ الْإِنْسَانُ إِيَّاهَا فَإِنَّهَا تُعْطِيهِ قُوَّةً عَظِيمَةً عَلَى الْعِبَادَةِ وَلِهَذَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَعْرِفُ الرُّشْدَ يَعْرِفُ الْخَيْرَ وَيَعْرِفُ الْحَقَّ مِنَ الْبَاطِلِ لَكِنْ مَا عِنْدَهُ عَزِيمَةٌ بَعْضُ النَّاسِ يَقُولُ: أَنَا أَعْرِفُ أَنَّ الْمُحَافَظَةَ مَثَلًا عَلَى الصَّلَاةِ صَلَاةِ الْفَجْرِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَنَّهَا رُشْدٌ وَأَنَّ فِيهَا خَيْرًا عَظِيمًا لَكِنْ لَيْسَ عِنْدَهُ عَزِيمَةٌ فَعِنْدَهُ رُشْدٌ وَلَيْسَ عِنْدَهُ عَزِيمَةٌ وَقَدْ يَكُونُ عِنْدَهُ عَزِيمَةٌ لَكِنْ بِدُونِ رُشْدٍ عَزِيمَةٌ فِي الْبَاطِلِ وَلِذَلِكَ فَمِنَ الْأَدْعِيَةِ الْعَظِيمَةِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ فَإِنَّ هَذَا مِنْ أَنْفَعِ وَأَعْظَمِ الْأَدْعِيَةِ


Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa, beliau mengucapkan: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk.” Doa ini termasuk doa yang paling agung dan paling bermanfaat. Doa ini diriwayatkan dalam hadis Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila orang-orang menyimpan emas dan perak, maka jadikanlah kalimat-kalimat ini sebagai simpananmu: ALLAAHUMMA INNII AS ALUKATS TSABAATA FIL AMRI WAL ‘AZIIMATA ‘ALAR RUSYDI WA AS ALUKA SYUKRO NI’MATIK WA HUSNA ‘IBAADATIK WA AS ALUKA QOLBAN SALIIMAA WA LISAANAN SHOODIQOO WA AS ALUKA MIN KHOIRI MAA TA’LAM WA A ‘UUDZUBIKA MIN SYARRI MAA TA’LAM WA ASTAGHFIRUKA LIMAA TA’LAM Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam menjalankan agama, dan tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk. Aku memohon kepada-Mu agar dapat mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya. Aku memohon kepada-Mu hati yang selamat, dan lisan yang jujur. Aku memohon kepada-Mu segala kebaikan yang Engkau ketahui, aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang Engkau ketahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang Engkau ketahui.” (HR. Ibnu Hibban). Ini adalah doa yang sangat agung. Nabi ‘alaihish shalatu was salam menjadikannya sebagai harta simpanan yang semestinya dihafalkan oleh seorang muslim. Doa ini memuat kalimat-kalimat tersebut, di antaranya: “Aku memohon kepada-Mu tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk.” Apabila seseorang diberi tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk, hal itu akan memberikan pengaruh yang sangat besar dalam perjalanannya menuju Allah ‘Azza wa Jalla dan dalam menguatkan ibadahnya. Karena itulah, semakin seseorang banyak beribadah kepada Allah, semakin kuat pula tekadnya. Siapakah manusia yang paling banyak beribadah kepada Allah? Para nabi dan rasul. Lima rasul Ulul ‘Azmi. Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad ‘alaihimush shalatu was salam. Mengapa mereka dinamakan rasul-rasul Ulul ‘Azmi? Mengapa Allah Ta’ala menamai kelima rasul tersebut sebagai Ulul ‘Azmi? Karena mereka memiliki tekad yang sangat kuat untuk mengikuti petunjuk. Mereka adalah orang-orang yang memiliki tekad kuat dan keteguhan hati. Karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla menamai mereka rasul-rasul Ulul ‘Azmi. Allah ‘Azza wa Jalla menamai mereka rasul-rasul Ulul ‘Azmi. Jadi, apabila seseorang dianugerahi tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk, maka itu akan memberinya kekuatan yang besar untuk beribadah. Karena itulah, banyak orang mengetahui jalan yang benar, mengetahui kebaikan dan dapat membedakan yang hak dari yang batil, tetapi tidak memiliki tekad. Misalnya, ada orang berkata, “Aku tahu bahwa menjaga salat, seperti Salat Subuh berjamaah di masjid, merupakan jalan yang benar dan padanya terdapat kebaikan yang sangat besar.” Namun, ia tidak punya tekad untuk melakukannya. Jadi, ia tahu jalan yang benar, tetapi tidak punya tekad. Sebaliknya, bisa jadi seseorang memiliki tekad, tetapi tanpa petunjuk. Tekadnya justru berada dalam kebatilan. Karena itu, di antara doa yang agung adalah engkau mengucapkan, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu tekad yang kuat untuk mengikuti petunjuk.” Sungguh, doa ini termasuk doa yang paling bermanfaat dan paling agung. ===== وَلِهَذَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَهَذَا الدُّعَاءُ مِنْ أَعْظَمِ وَأَنْفَعِ الْأَدْعِيَةِ وَهَذَا الدُّعَاءُ وَرَدَ فِي حَدِيثِ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَنَزَ النَّاسُ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ فَاكْنُزْ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا صَادِقًا وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ هَذَا الدُّعَاءُ دُعَاءٌ عَظِيمٌ جَعَلَهُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَنْزًا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْفَظَهُ مُشْتَمِلٌ عَلَى هَذِهِ الْكَلِمَاتِ وَمِنْهَا أَسْأَلُكَ الْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ فَإِنَّ الْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ إِذَا رُزِقَ الْإِنْسَانُ إِيَّاهَا يَكُونُ لَهَا أَثَرٌ عَظِيمٌ فِي سَيْرِهِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَفِي قُوَّةِ عِبَادَتِهِ وَلِهَذَا كُلَّمَا كَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ عِبَادَةً لِلَّهِ كَانَ أَقْوَى عَزِيمَةً مَنْ هُمْ أَكْثَرُ الْبَشَرِ عِبَادَةً لِلَّهِ؟ الْأَنْبِيَاءُ وَالرُّسُلُ مَنْ أَفْضَلُ الْأَنْبِيَاءِ وَالرُّسُلِ؟ أُولُو الْعَزْمِ الْخَمْسَةُ نُوحٌ وَإِبْرَاهِيمُ وَمُوسَى وَعِيسَى وَمُحَمَّدٌ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِمَاذَا سُمُّوا أُولِي الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ؟ لِمَاذَا سَمَّى اللهُ تَعَالَى هَؤُلَاءِ الْخَمْسَةَ سَمَّاهُمْ بِأُولِي الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ؟ لِأَنَّ عِنْدَهُمْ قُوَّةَ عَزِيمَةٍ عَلَى الرُّشْدِ فَهُمْ أَصْحَابُ عَزْمٍ وَحَزْمٍ فَسَمَّاهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أُولِي الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ سَمَّاهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أُولِي الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ فَالْعَزِيمَةُ عَلَى الرُّشْدِ إِذَا رُزِقَ الْإِنْسَانُ إِيَّاهَا فَإِنَّهَا تُعْطِيهِ قُوَّةً عَظِيمَةً عَلَى الْعِبَادَةِ وَلِهَذَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَعْرِفُ الرُّشْدَ يَعْرِفُ الْخَيْرَ وَيَعْرِفُ الْحَقَّ مِنَ الْبَاطِلِ لَكِنْ مَا عِنْدَهُ عَزِيمَةٌ بَعْضُ النَّاسِ يَقُولُ: أَنَا أَعْرِفُ أَنَّ الْمُحَافَظَةَ مَثَلًا عَلَى الصَّلَاةِ صَلَاةِ الْفَجْرِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَنَّهَا رُشْدٌ وَأَنَّ فِيهَا خَيْرًا عَظِيمًا لَكِنْ لَيْسَ عِنْدَهُ عَزِيمَةٌ فَعِنْدَهُ رُشْدٌ وَلَيْسَ عِنْدَهُ عَزِيمَةٌ وَقَدْ يَكُونُ عِنْدَهُ عَزِيمَةٌ لَكِنْ بِدُونِ رُشْدٍ عَزِيمَةٌ فِي الْبَاطِلِ وَلِذَلِكَ فَمِنَ الْأَدْعِيَةِ الْعَظِيمَةِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ فَإِنَّ هَذَا مِنْ أَنْفَعِ وَأَعْظَمِ الْأَدْعِيَةِ

3 PILAR IBADAH HATI: CINTA, TAKUT, DAN HARAP KEPADA ALLAH – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala berkata, “Dan merekalah orang-orang yang membangun persinggahan-persinggahan dalam perjalanan mereka, di antara rasa harap dan takut kepada Ad-Dayyan, Allah Yang Maha Membalas.” Ya. Orang yang jujur dalam perjalanannya menuju Allah, yang menempuh perjalanan menuju Rabb-nya dengan benar, harus memiliki tiga perkara yang tegak dalam hatinya. Yang pertama, cinta yang sempurna kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Yang kedua, rasa takut kepada Allah. Dan yang ketiga, rasa harap kepada Allah. Ketiga perkara ini, sebagaimana dikatakan para ulama, merupakan pilar-pilar ibadah hati. Ketiganya wajib ada dalam hati, agar ibadah menjadi benar. Rasa cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla mendorong seorang hamba untuk terus berjalan, agar ia tidak berhenti, dan tidak terputus dari perjalanannya. Sebab, telah dimaklumi bahwa siapa yang mencintai sesuatu akan bergegas menuju kepadanya. Siapa yang mencintai sesuatu, pasti akan bergegas menuju kepadanya. Begitulah keadaan manusia dalam setiap perkara yang dicintainya. Maka apabila seorang hamba mencintai Rabb-nya dengan cinta yang jujur dan sempurna, cinta itu akan mendorongnya untuk bergegas menuju Rabb-nya, dan menempuh perjalanan dengan cepat menuju keridaan Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun rasa takut akan menjaga seorang hamba dari penyimpangan dari jalan Allah yang lurus. Karena itu, para ulama mengatakan, “Rasa takut kepada Allah adalah pagar di sepanjang jalan Allah.” “Rasa takut kepada Allah adalah pagar di sepanjang jalan Allah, yang mencegah seorang hamba menyimpang dari jalan tersebut, baik ke kanan maupun ke kiri.” Adapun rasa harap akan membuat seorang hamba bersegera, berlomba-lomba, dan bersemangat. Ketika seseorang mengharapkan apa yang ada di sisi Allah, ia akan berusaha mendahului orang lain untuk meraihnya.

3 PILAR IBADAH HATI: CINTA, TAKUT, DAN HARAP KEPADA ALLAH – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala berkata, “Dan merekalah orang-orang yang membangun persinggahan-persinggahan dalam perjalanan mereka, di antara rasa harap dan takut kepada Ad-Dayyan, Allah Yang Maha Membalas.” Ya. Orang yang jujur dalam perjalanannya menuju Allah, yang menempuh perjalanan menuju Rabb-nya dengan benar, harus memiliki tiga perkara yang tegak dalam hatinya. Yang pertama, cinta yang sempurna kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Yang kedua, rasa takut kepada Allah. Dan yang ketiga, rasa harap kepada Allah. Ketiga perkara ini, sebagaimana dikatakan para ulama, merupakan pilar-pilar ibadah hati. Ketiganya wajib ada dalam hati, agar ibadah menjadi benar. Rasa cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla mendorong seorang hamba untuk terus berjalan, agar ia tidak berhenti, dan tidak terputus dari perjalanannya. Sebab, telah dimaklumi bahwa siapa yang mencintai sesuatu akan bergegas menuju kepadanya. Siapa yang mencintai sesuatu, pasti akan bergegas menuju kepadanya. Begitulah keadaan manusia dalam setiap perkara yang dicintainya. Maka apabila seorang hamba mencintai Rabb-nya dengan cinta yang jujur dan sempurna, cinta itu akan mendorongnya untuk bergegas menuju Rabb-nya, dan menempuh perjalanan dengan cepat menuju keridaan Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun rasa takut akan menjaga seorang hamba dari penyimpangan dari jalan Allah yang lurus. Karena itu, para ulama mengatakan, “Rasa takut kepada Allah adalah pagar di sepanjang jalan Allah.” “Rasa takut kepada Allah adalah pagar di sepanjang jalan Allah, yang mencegah seorang hamba menyimpang dari jalan tersebut, baik ke kanan maupun ke kiri.” Adapun rasa harap akan membuat seorang hamba bersegera, berlomba-lomba, dan bersemangat. Ketika seseorang mengharapkan apa yang ada di sisi Allah, ia akan berusaha mendahului orang lain untuk meraihnya.
Al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala berkata, “Dan merekalah orang-orang yang membangun persinggahan-persinggahan dalam perjalanan mereka, di antara rasa harap dan takut kepada Ad-Dayyan, Allah Yang Maha Membalas.” Ya. Orang yang jujur dalam perjalanannya menuju Allah, yang menempuh perjalanan menuju Rabb-nya dengan benar, harus memiliki tiga perkara yang tegak dalam hatinya. Yang pertama, cinta yang sempurna kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Yang kedua, rasa takut kepada Allah. Dan yang ketiga, rasa harap kepada Allah. Ketiga perkara ini, sebagaimana dikatakan para ulama, merupakan pilar-pilar ibadah hati. Ketiganya wajib ada dalam hati, agar ibadah menjadi benar. Rasa cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla mendorong seorang hamba untuk terus berjalan, agar ia tidak berhenti, dan tidak terputus dari perjalanannya. Sebab, telah dimaklumi bahwa siapa yang mencintai sesuatu akan bergegas menuju kepadanya. Siapa yang mencintai sesuatu, pasti akan bergegas menuju kepadanya. Begitulah keadaan manusia dalam setiap perkara yang dicintainya. Maka apabila seorang hamba mencintai Rabb-nya dengan cinta yang jujur dan sempurna, cinta itu akan mendorongnya untuk bergegas menuju Rabb-nya, dan menempuh perjalanan dengan cepat menuju keridaan Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun rasa takut akan menjaga seorang hamba dari penyimpangan dari jalan Allah yang lurus. Karena itu, para ulama mengatakan, “Rasa takut kepada Allah adalah pagar di sepanjang jalan Allah.” “Rasa takut kepada Allah adalah pagar di sepanjang jalan Allah, yang mencegah seorang hamba menyimpang dari jalan tersebut, baik ke kanan maupun ke kiri.” Adapun rasa harap akan membuat seorang hamba bersegera, berlomba-lomba, dan bersemangat. Ketika seseorang mengharapkan apa yang ada di sisi Allah, ia akan berusaha mendahului orang lain untuk meraihnya.


Al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala berkata, “Dan merekalah orang-orang yang membangun persinggahan-persinggahan dalam perjalanan mereka, di antara rasa harap dan takut kepada Ad-Dayyan, Allah Yang Maha Membalas.” Ya. Orang yang jujur dalam perjalanannya menuju Allah, yang menempuh perjalanan menuju Rabb-nya dengan benar, harus memiliki tiga perkara yang tegak dalam hatinya. Yang pertama, cinta yang sempurna kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Yang kedua, rasa takut kepada Allah. Dan yang ketiga, rasa harap kepada Allah. Ketiga perkara ini, sebagaimana dikatakan para ulama, merupakan pilar-pilar ibadah hati. Ketiganya wajib ada dalam hati, agar ibadah menjadi benar. Rasa cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla mendorong seorang hamba untuk terus berjalan, agar ia tidak berhenti, dan tidak terputus dari perjalanannya. Sebab, telah dimaklumi bahwa siapa yang mencintai sesuatu akan bergegas menuju kepadanya. Siapa yang mencintai sesuatu, pasti akan bergegas menuju kepadanya. Begitulah keadaan manusia dalam setiap perkara yang dicintainya. Maka apabila seorang hamba mencintai Rabb-nya dengan cinta yang jujur dan sempurna, cinta itu akan mendorongnya untuk bergegas menuju Rabb-nya, dan menempuh perjalanan dengan cepat menuju keridaan Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun rasa takut akan menjaga seorang hamba dari penyimpangan dari jalan Allah yang lurus. Karena itu, para ulama mengatakan, “Rasa takut kepada Allah adalah pagar di sepanjang jalan Allah.” “Rasa takut kepada Allah adalah pagar di sepanjang jalan Allah, yang mencegah seorang hamba menyimpang dari jalan tersebut, baik ke kanan maupun ke kiri.” Adapun rasa harap akan membuat seorang hamba bersegera, berlomba-lomba, dan bersemangat. Ketika seseorang mengharapkan apa yang ada di sisi Allah, ia akan berusaha mendahului orang lain untuk meraihnya.

Fikih Riba (Bag. 17): Hilangnya Kesamarataan Dalam Transaksi Barang Ribawi (2)

Pada seri sebelumnya, telah dibahas terkait dengan adanya penambahan atau pengurangan pada salah satu dari dua barang ribawi yang sejenis beserta dengan keadaannya. Dalam seri kali ini, akan dijelaskan tentang beberapa keadaan hilangnya kesamarataan dalam transaksi jual beli barang ribawi yang selanjutnya, yaitu:Adanya penambahan atau pengurangan pada salah satu dari dua barang ribawi yang tidak sejenisPembahasan ini kategorinya adalah barang ribawi yang ”tidak” sejenis. Ketika terjadi penambahan atau pengurangan di antara salah satu barang ribawi, maka perlu dilihat apakah barang itu sejenis atau tidak sejenis? Jika sejenis, maka masuk pada pembahasan sebelumnya; dan jika tidak sejenis, maka masuk dalam pembahasan ini. [1]Misalnya, menukar emas dengan perak, gandum dengan kurma, kurma dengan garam, dan seterusnya. Dalam keadaan-keadaan seperti ini, maka jenisnya berbeda sehingga boleh jika terdapat penambahan dalam nominal, berat, takaran, dan sebagainya.Jika emas satu gram ditukar dengan perak dua gram, apakah diperbolehkan? Jawabnya, boleh dengan syarat harus dibayar tunai. Mengapa diperbolehkan? Karena emas dan perak jenisnya berbeda, namun sama dari segi ’illat-nya.Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,فَإِذَا اخْتَلَفَ الصِّنْفَانِ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika jenis barangnya berbeda, maka juallah sesuka kalian apabila dilakukan secara tunai.” (HR. Muslim)Maka di sini terdapat pengecualian dari hukum asal. Hukum asal menukar barang ribawi dengan barang ribawi adalah tidak diperbolehkan adanya penambahan. Namun, terdapat pengecualian pada hukum asal ini.Perlu diketahui bahwa setiap kaidah ada pengecualian. Sering dikatakan dalam pembahasan kaidah fikih,كُلُّ قَاعِدَةٍ لَهَا مُسْتَثْنَيَات“Setiap kaidah memiliki pengecualian-pengecualian.” Sehingga yang hukum asalnya tidak diperbolehkan adanya penambahan atau pengurangan dalam transaksi barang ribawi, dikecualikan pada kasus yang berbeda jenisnya.Disebutkan dalam kitab Al-Mufaṣṣal fī al-Fiqh al-Ḥanafī, كَأَنْ يَبِيعَ الْحِنْطَةَ بِالشَّعِيرِ، وَالشَّعِيرَ بِالتَّمْرِ، وَالتَّمْرَ بِالْمِلْحِ؛ فِي هَذِهِ الْحَالِ يُمْكِنُ أَنْ تَخْتَلِفَ الْكَمِّيَّةُ، فَيَبِيعَ صَاعَ حِنْطَةٍ بِصَاعَيْنِ مِنَ الشَّعِيرِ، أَوْ كَيْلَ تَمْرٍ بِكَيْلَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ مِنَ الْمِلْحِ“Seperti halnya seseorang menjual gandum halus (al-hinthah) dengan jelai (asy-sya’ir), jelai dengan kurma, atau kurma dengan garam. Dalam keadaan seperti ini, takaran/jumlahnya boleh berbeda. Maka ia boleh menjual satu sha’ gandum halus dengan dua sha’ jelai, atau satu takaran (kayl) kurma dengan dua atau tiga takaran garam.” [2]Ketika terjadi transaksi model seperti ini, yaitu antara dua barang ribawi yang tidak sejenis, maka syaratnya adalah transaksi tersebut harus dilakukan secara tunai. Tidak boleh ada penundaan penyerahan pada salah satu barang yang ingin ditukar.وَلَكِنْ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ الْبَدَلَانِ مُعَجَّلَيْنِ لَيْسَ فِي أَحَدِهِمَا التَّأْجِيلُ، فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَبِيعَ كَيْلَ تَمْرٍ بِكَيْلَيْ مِلْحٍ مُؤَجَّلٍ لِمُدَّةِ سِتَّةِ أَشْهُرٍ.“Akan tetapi, kedua barang yang dipertukarkan wajib diserahkan secara kontan (langsung atau tunai), tidak boleh ada penundaan (tempo) pada salah satunya. Maka, seseorang tidak boleh menjual satu takaran kurma dengan dua takaran garam yang ditunda pembayarannya (secara tempo) selama enam bulan.” [3]Contoh lainnya adalah membeli emas dengan uang. A ingin membeli emas dua gram dari B seharga tiga juta rupiah. Maka A harus menyerahkan uang tiga juta kepada B ketika B menyerahkan emas tersebut. A tidak diperbolehkan untuk menunda penyerahan uangnya. Karena yang demikian sudah menjadi ketentuan dari syari’at, yaitu pembayaran harus dilakukan secara tunai.Sehingga kurang tepat jika dikatakan boleh mencicil emas dengan dalih bahwasanya emas itu bukan lagi menjadi alat tukar, melainkan sudah menjadi barang yang diperjualbelikan. Kenyataannya, ’illat emas masih eksis sampai saat ini. Penggunaan emas dengan cara ditabung kemudian diperjualbelikan ketika dibutuhkan dan bernilai harganya menunjukkan bahwa emas masih eksis penggunaannya sebagai alat tukar, kendati bukanlah yang utama.Berangkat dari hal tersebut, hukum emas tentu tidak hilang dan sirna begitu saja. Ia tetap menjadi komoditas ribawi yang berjalan hukum-hukum riba padanya. Hal ini sebagaimana fatwa dari Lajnah Da’imah, هَلْ يَجُوزُ شِرَاءُ الذَّهَبِ بِالنُّقُودِ الَّتِي تُضْرَبُ فِي كُلِّ بَلَدٍ بِالتَّقْسِيطِ كَبَاقِي السِّلَعِ الْعَادِيَّةِ، أَمْ لَا بُدَّ مِنَ الْقَبْضِ فِي الْمَجْلِسِ دُونَ تَأْخِيرٍ، وَمَا الدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ بِالْإِيجَابِ أَوِ النَّفْيِ، أَوِ الْإِجَازَةِ، أَوِ التَّحْرِيمِ، حَيْثُ إِنَّ النَّاسَ يَشْتَرُونَ مِنَ الْجَوَاهِرْجِيِّ حُلِيَّهُمْ بِالتَّقْسِيطِ؟“Apakah boleh membeli emas menggunakan mata uang yang dicetak di masing-masing negara secara kredit (angsuran) layaknya barang komoditas biasa lainnya, ataukah wajib serah terima langsung di majelis akad tanpa penundaan? Serta apa dalil mengenai hal tersebut, baik dalil yang membolehkan maupun yang melarangnya, mengingat masyarakat saat ini terbiasa membeli perhiasan mereka dari toko emas secara kredit (mencicil)?”Jawabannya,لَا يَجُوزُ بَيْعُ الذَّهَبِ بِالنُّقُودِ، وَإِنْ كَانَتْ لَيْسَتْ مِنْ جِنْسِهِ إِلَّا بِشَرْطِ التَّقَابُضِ فِي الْمَجْلِسِ؛ لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَمَّا ذَكَرَ الْأَجْنَاسَ الَّتِي يَدْخُلُهَا الرِّبَا ثُمَّ قَالَ: «فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَجْنَاسُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ.““Tidak boleh menjual emas dengan mata uang, meskipun mata uang tersebut bukan sejenis dengannya, kecuali dengan syarat serah terima langsung di majelis akad. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebutkan komoditas-komoditas yang terkena hukum riba, lalu beliau bersabda, ‘Maka apabila jenis-jenis barang ini berbeda, juallah sesuka kalian asalkan dilakukan secara kontan (dari tangan ke tangan).'” [4]Demikianlah terkait adanya penambahan dan pengurangan dalam transaksi barang ribawi, baik yang sejenis maupun yang tidak sejenis. Silahkan para pembaca bisa mengategorikan kasus lain yang sama dengan pembahasan ini. Sehingga dapat membantu menjawab permasalahan-permasalahan fikih yang sering terjadi di tengah masyarakat.Di antara yang sering terjadi di tengah masyarakat adalah penukaran uang di musim lebaran. Seringkali adanya penambahan yang dikenakan kepada pihak penukar dengan berbagai macam nama dan istilah.Karenanya, langkah pertama yang harus dilakukan tatkala melihat akad seperti itu, tentukan terlebih dahulu, termasuk kategori yang manakah akad tersebut?Jika dilihat penukaran uang dengan uang, tentu ini masuk dalam kategori penukaran yang sejenis dan sama ’illat-nya. Maka syarat yang harus terpenuhi adalah,1) Tamatsul (sama rata), dan2) Taqabudh (serah terima tunai).Sehingga jika ada penambahan atau pengurangan dari salah satu pihak, dapat terjawab secara langsung hukumnya, yaitu tidak diperbolehkan dan termasuk kategori riba.Riba yang manakah? Mudahnya,Jika tidak ada sama rata, maka termasuk dalam kategori riba fadhl.Jika tidak ada serah terima tunai, maka termasuk dalam kategori riba nasi’ah.Sebagaimana yang telah dijelaskan pada pembahasan-pembahasan sebelumnya.Wallahu’alam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 16***Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 197), Fiqh Ar-Riba (hal. 262), dan Al-Mufasshal fil Fiqhil Hanafi (hal. 192).[2] Al-Mufasshal fil Fiqhil Hanafi, hal. 192.[3] Al-Mufasshal fil Fiqhil Hanafi, hal. 192.[4] Fatwa Lajnah Ad-Daimah No. 20790, bisa diakses di situs berikut: https://shamela.ws/book/21772/7483 Referensi:Abu Mālik Kamāl bin Sayyid Sālim. Ṣhaḥīḥ Fiqh as-Sunnah/Kaysful Akinnah. Jilid 5. Cet. ke-2. Mesir: Maktabah at-Taufīqiyyah, 2016.Abū Zayd, ʿAbd al-ʿAẓīm Jalāl. Fiqh ar-Ribā: Dirāsah Muqāranah wa Shāmilah li at-Taṭbīqāt al-Muʿāṣirah. Cet. ke-1. Beirut: Muʾassasah ar-Risālah, 1425 H/2004 M.Muḥammad Mājid. Al-Mufaṣṣal fī al-Fiqh al-Ḥanafī: al-Amwāl wa al-Muʿāmalāt al-Māliyyah. Cet. ke-1. Beirut: Dār al-Mustaqbal, 1426 H/2005 M.

Fikih Riba (Bag. 17): Hilangnya Kesamarataan Dalam Transaksi Barang Ribawi (2)

Pada seri sebelumnya, telah dibahas terkait dengan adanya penambahan atau pengurangan pada salah satu dari dua barang ribawi yang sejenis beserta dengan keadaannya. Dalam seri kali ini, akan dijelaskan tentang beberapa keadaan hilangnya kesamarataan dalam transaksi jual beli barang ribawi yang selanjutnya, yaitu:Adanya penambahan atau pengurangan pada salah satu dari dua barang ribawi yang tidak sejenisPembahasan ini kategorinya adalah barang ribawi yang ”tidak” sejenis. Ketika terjadi penambahan atau pengurangan di antara salah satu barang ribawi, maka perlu dilihat apakah barang itu sejenis atau tidak sejenis? Jika sejenis, maka masuk pada pembahasan sebelumnya; dan jika tidak sejenis, maka masuk dalam pembahasan ini. [1]Misalnya, menukar emas dengan perak, gandum dengan kurma, kurma dengan garam, dan seterusnya. Dalam keadaan-keadaan seperti ini, maka jenisnya berbeda sehingga boleh jika terdapat penambahan dalam nominal, berat, takaran, dan sebagainya.Jika emas satu gram ditukar dengan perak dua gram, apakah diperbolehkan? Jawabnya, boleh dengan syarat harus dibayar tunai. Mengapa diperbolehkan? Karena emas dan perak jenisnya berbeda, namun sama dari segi ’illat-nya.Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,فَإِذَا اخْتَلَفَ الصِّنْفَانِ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika jenis barangnya berbeda, maka juallah sesuka kalian apabila dilakukan secara tunai.” (HR. Muslim)Maka di sini terdapat pengecualian dari hukum asal. Hukum asal menukar barang ribawi dengan barang ribawi adalah tidak diperbolehkan adanya penambahan. Namun, terdapat pengecualian pada hukum asal ini.Perlu diketahui bahwa setiap kaidah ada pengecualian. Sering dikatakan dalam pembahasan kaidah fikih,كُلُّ قَاعِدَةٍ لَهَا مُسْتَثْنَيَات“Setiap kaidah memiliki pengecualian-pengecualian.” Sehingga yang hukum asalnya tidak diperbolehkan adanya penambahan atau pengurangan dalam transaksi barang ribawi, dikecualikan pada kasus yang berbeda jenisnya.Disebutkan dalam kitab Al-Mufaṣṣal fī al-Fiqh al-Ḥanafī, كَأَنْ يَبِيعَ الْحِنْطَةَ بِالشَّعِيرِ، وَالشَّعِيرَ بِالتَّمْرِ، وَالتَّمْرَ بِالْمِلْحِ؛ فِي هَذِهِ الْحَالِ يُمْكِنُ أَنْ تَخْتَلِفَ الْكَمِّيَّةُ، فَيَبِيعَ صَاعَ حِنْطَةٍ بِصَاعَيْنِ مِنَ الشَّعِيرِ، أَوْ كَيْلَ تَمْرٍ بِكَيْلَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ مِنَ الْمِلْحِ“Seperti halnya seseorang menjual gandum halus (al-hinthah) dengan jelai (asy-sya’ir), jelai dengan kurma, atau kurma dengan garam. Dalam keadaan seperti ini, takaran/jumlahnya boleh berbeda. Maka ia boleh menjual satu sha’ gandum halus dengan dua sha’ jelai, atau satu takaran (kayl) kurma dengan dua atau tiga takaran garam.” [2]Ketika terjadi transaksi model seperti ini, yaitu antara dua barang ribawi yang tidak sejenis, maka syaratnya adalah transaksi tersebut harus dilakukan secara tunai. Tidak boleh ada penundaan penyerahan pada salah satu barang yang ingin ditukar.وَلَكِنْ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ الْبَدَلَانِ مُعَجَّلَيْنِ لَيْسَ فِي أَحَدِهِمَا التَّأْجِيلُ، فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَبِيعَ كَيْلَ تَمْرٍ بِكَيْلَيْ مِلْحٍ مُؤَجَّلٍ لِمُدَّةِ سِتَّةِ أَشْهُرٍ.“Akan tetapi, kedua barang yang dipertukarkan wajib diserahkan secara kontan (langsung atau tunai), tidak boleh ada penundaan (tempo) pada salah satunya. Maka, seseorang tidak boleh menjual satu takaran kurma dengan dua takaran garam yang ditunda pembayarannya (secara tempo) selama enam bulan.” [3]Contoh lainnya adalah membeli emas dengan uang. A ingin membeli emas dua gram dari B seharga tiga juta rupiah. Maka A harus menyerahkan uang tiga juta kepada B ketika B menyerahkan emas tersebut. A tidak diperbolehkan untuk menunda penyerahan uangnya. Karena yang demikian sudah menjadi ketentuan dari syari’at, yaitu pembayaran harus dilakukan secara tunai.Sehingga kurang tepat jika dikatakan boleh mencicil emas dengan dalih bahwasanya emas itu bukan lagi menjadi alat tukar, melainkan sudah menjadi barang yang diperjualbelikan. Kenyataannya, ’illat emas masih eksis sampai saat ini. Penggunaan emas dengan cara ditabung kemudian diperjualbelikan ketika dibutuhkan dan bernilai harganya menunjukkan bahwa emas masih eksis penggunaannya sebagai alat tukar, kendati bukanlah yang utama.Berangkat dari hal tersebut, hukum emas tentu tidak hilang dan sirna begitu saja. Ia tetap menjadi komoditas ribawi yang berjalan hukum-hukum riba padanya. Hal ini sebagaimana fatwa dari Lajnah Da’imah, هَلْ يَجُوزُ شِرَاءُ الذَّهَبِ بِالنُّقُودِ الَّتِي تُضْرَبُ فِي كُلِّ بَلَدٍ بِالتَّقْسِيطِ كَبَاقِي السِّلَعِ الْعَادِيَّةِ، أَمْ لَا بُدَّ مِنَ الْقَبْضِ فِي الْمَجْلِسِ دُونَ تَأْخِيرٍ، وَمَا الدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ بِالْإِيجَابِ أَوِ النَّفْيِ، أَوِ الْإِجَازَةِ، أَوِ التَّحْرِيمِ، حَيْثُ إِنَّ النَّاسَ يَشْتَرُونَ مِنَ الْجَوَاهِرْجِيِّ حُلِيَّهُمْ بِالتَّقْسِيطِ؟“Apakah boleh membeli emas menggunakan mata uang yang dicetak di masing-masing negara secara kredit (angsuran) layaknya barang komoditas biasa lainnya, ataukah wajib serah terima langsung di majelis akad tanpa penundaan? Serta apa dalil mengenai hal tersebut, baik dalil yang membolehkan maupun yang melarangnya, mengingat masyarakat saat ini terbiasa membeli perhiasan mereka dari toko emas secara kredit (mencicil)?”Jawabannya,لَا يَجُوزُ بَيْعُ الذَّهَبِ بِالنُّقُودِ، وَإِنْ كَانَتْ لَيْسَتْ مِنْ جِنْسِهِ إِلَّا بِشَرْطِ التَّقَابُضِ فِي الْمَجْلِسِ؛ لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَمَّا ذَكَرَ الْأَجْنَاسَ الَّتِي يَدْخُلُهَا الرِّبَا ثُمَّ قَالَ: «فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَجْنَاسُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ.““Tidak boleh menjual emas dengan mata uang, meskipun mata uang tersebut bukan sejenis dengannya, kecuali dengan syarat serah terima langsung di majelis akad. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebutkan komoditas-komoditas yang terkena hukum riba, lalu beliau bersabda, ‘Maka apabila jenis-jenis barang ini berbeda, juallah sesuka kalian asalkan dilakukan secara kontan (dari tangan ke tangan).'” [4]Demikianlah terkait adanya penambahan dan pengurangan dalam transaksi barang ribawi, baik yang sejenis maupun yang tidak sejenis. Silahkan para pembaca bisa mengategorikan kasus lain yang sama dengan pembahasan ini. Sehingga dapat membantu menjawab permasalahan-permasalahan fikih yang sering terjadi di tengah masyarakat.Di antara yang sering terjadi di tengah masyarakat adalah penukaran uang di musim lebaran. Seringkali adanya penambahan yang dikenakan kepada pihak penukar dengan berbagai macam nama dan istilah.Karenanya, langkah pertama yang harus dilakukan tatkala melihat akad seperti itu, tentukan terlebih dahulu, termasuk kategori yang manakah akad tersebut?Jika dilihat penukaran uang dengan uang, tentu ini masuk dalam kategori penukaran yang sejenis dan sama ’illat-nya. Maka syarat yang harus terpenuhi adalah,1) Tamatsul (sama rata), dan2) Taqabudh (serah terima tunai).Sehingga jika ada penambahan atau pengurangan dari salah satu pihak, dapat terjawab secara langsung hukumnya, yaitu tidak diperbolehkan dan termasuk kategori riba.Riba yang manakah? Mudahnya,Jika tidak ada sama rata, maka termasuk dalam kategori riba fadhl.Jika tidak ada serah terima tunai, maka termasuk dalam kategori riba nasi’ah.Sebagaimana yang telah dijelaskan pada pembahasan-pembahasan sebelumnya.Wallahu’alam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 16***Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 197), Fiqh Ar-Riba (hal. 262), dan Al-Mufasshal fil Fiqhil Hanafi (hal. 192).[2] Al-Mufasshal fil Fiqhil Hanafi, hal. 192.[3] Al-Mufasshal fil Fiqhil Hanafi, hal. 192.[4] Fatwa Lajnah Ad-Daimah No. 20790, bisa diakses di situs berikut: https://shamela.ws/book/21772/7483 Referensi:Abu Mālik Kamāl bin Sayyid Sālim. Ṣhaḥīḥ Fiqh as-Sunnah/Kaysful Akinnah. Jilid 5. Cet. ke-2. Mesir: Maktabah at-Taufīqiyyah, 2016.Abū Zayd, ʿAbd al-ʿAẓīm Jalāl. Fiqh ar-Ribā: Dirāsah Muqāranah wa Shāmilah li at-Taṭbīqāt al-Muʿāṣirah. Cet. ke-1. Beirut: Muʾassasah ar-Risālah, 1425 H/2004 M.Muḥammad Mājid. Al-Mufaṣṣal fī al-Fiqh al-Ḥanafī: al-Amwāl wa al-Muʿāmalāt al-Māliyyah. Cet. ke-1. Beirut: Dār al-Mustaqbal, 1426 H/2005 M.
Pada seri sebelumnya, telah dibahas terkait dengan adanya penambahan atau pengurangan pada salah satu dari dua barang ribawi yang sejenis beserta dengan keadaannya. Dalam seri kali ini, akan dijelaskan tentang beberapa keadaan hilangnya kesamarataan dalam transaksi jual beli barang ribawi yang selanjutnya, yaitu:Adanya penambahan atau pengurangan pada salah satu dari dua barang ribawi yang tidak sejenisPembahasan ini kategorinya adalah barang ribawi yang ”tidak” sejenis. Ketika terjadi penambahan atau pengurangan di antara salah satu barang ribawi, maka perlu dilihat apakah barang itu sejenis atau tidak sejenis? Jika sejenis, maka masuk pada pembahasan sebelumnya; dan jika tidak sejenis, maka masuk dalam pembahasan ini. [1]Misalnya, menukar emas dengan perak, gandum dengan kurma, kurma dengan garam, dan seterusnya. Dalam keadaan-keadaan seperti ini, maka jenisnya berbeda sehingga boleh jika terdapat penambahan dalam nominal, berat, takaran, dan sebagainya.Jika emas satu gram ditukar dengan perak dua gram, apakah diperbolehkan? Jawabnya, boleh dengan syarat harus dibayar tunai. Mengapa diperbolehkan? Karena emas dan perak jenisnya berbeda, namun sama dari segi ’illat-nya.Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,فَإِذَا اخْتَلَفَ الصِّنْفَانِ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika jenis barangnya berbeda, maka juallah sesuka kalian apabila dilakukan secara tunai.” (HR. Muslim)Maka di sini terdapat pengecualian dari hukum asal. Hukum asal menukar barang ribawi dengan barang ribawi adalah tidak diperbolehkan adanya penambahan. Namun, terdapat pengecualian pada hukum asal ini.Perlu diketahui bahwa setiap kaidah ada pengecualian. Sering dikatakan dalam pembahasan kaidah fikih,كُلُّ قَاعِدَةٍ لَهَا مُسْتَثْنَيَات“Setiap kaidah memiliki pengecualian-pengecualian.” Sehingga yang hukum asalnya tidak diperbolehkan adanya penambahan atau pengurangan dalam transaksi barang ribawi, dikecualikan pada kasus yang berbeda jenisnya.Disebutkan dalam kitab Al-Mufaṣṣal fī al-Fiqh al-Ḥanafī, كَأَنْ يَبِيعَ الْحِنْطَةَ بِالشَّعِيرِ، وَالشَّعِيرَ بِالتَّمْرِ، وَالتَّمْرَ بِالْمِلْحِ؛ فِي هَذِهِ الْحَالِ يُمْكِنُ أَنْ تَخْتَلِفَ الْكَمِّيَّةُ، فَيَبِيعَ صَاعَ حِنْطَةٍ بِصَاعَيْنِ مِنَ الشَّعِيرِ، أَوْ كَيْلَ تَمْرٍ بِكَيْلَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ مِنَ الْمِلْحِ“Seperti halnya seseorang menjual gandum halus (al-hinthah) dengan jelai (asy-sya’ir), jelai dengan kurma, atau kurma dengan garam. Dalam keadaan seperti ini, takaran/jumlahnya boleh berbeda. Maka ia boleh menjual satu sha’ gandum halus dengan dua sha’ jelai, atau satu takaran (kayl) kurma dengan dua atau tiga takaran garam.” [2]Ketika terjadi transaksi model seperti ini, yaitu antara dua barang ribawi yang tidak sejenis, maka syaratnya adalah transaksi tersebut harus dilakukan secara tunai. Tidak boleh ada penundaan penyerahan pada salah satu barang yang ingin ditukar.وَلَكِنْ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ الْبَدَلَانِ مُعَجَّلَيْنِ لَيْسَ فِي أَحَدِهِمَا التَّأْجِيلُ، فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَبِيعَ كَيْلَ تَمْرٍ بِكَيْلَيْ مِلْحٍ مُؤَجَّلٍ لِمُدَّةِ سِتَّةِ أَشْهُرٍ.“Akan tetapi, kedua barang yang dipertukarkan wajib diserahkan secara kontan (langsung atau tunai), tidak boleh ada penundaan (tempo) pada salah satunya. Maka, seseorang tidak boleh menjual satu takaran kurma dengan dua takaran garam yang ditunda pembayarannya (secara tempo) selama enam bulan.” [3]Contoh lainnya adalah membeli emas dengan uang. A ingin membeli emas dua gram dari B seharga tiga juta rupiah. Maka A harus menyerahkan uang tiga juta kepada B ketika B menyerahkan emas tersebut. A tidak diperbolehkan untuk menunda penyerahan uangnya. Karena yang demikian sudah menjadi ketentuan dari syari’at, yaitu pembayaran harus dilakukan secara tunai.Sehingga kurang tepat jika dikatakan boleh mencicil emas dengan dalih bahwasanya emas itu bukan lagi menjadi alat tukar, melainkan sudah menjadi barang yang diperjualbelikan. Kenyataannya, ’illat emas masih eksis sampai saat ini. Penggunaan emas dengan cara ditabung kemudian diperjualbelikan ketika dibutuhkan dan bernilai harganya menunjukkan bahwa emas masih eksis penggunaannya sebagai alat tukar, kendati bukanlah yang utama.Berangkat dari hal tersebut, hukum emas tentu tidak hilang dan sirna begitu saja. Ia tetap menjadi komoditas ribawi yang berjalan hukum-hukum riba padanya. Hal ini sebagaimana fatwa dari Lajnah Da’imah, هَلْ يَجُوزُ شِرَاءُ الذَّهَبِ بِالنُّقُودِ الَّتِي تُضْرَبُ فِي كُلِّ بَلَدٍ بِالتَّقْسِيطِ كَبَاقِي السِّلَعِ الْعَادِيَّةِ، أَمْ لَا بُدَّ مِنَ الْقَبْضِ فِي الْمَجْلِسِ دُونَ تَأْخِيرٍ، وَمَا الدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ بِالْإِيجَابِ أَوِ النَّفْيِ، أَوِ الْإِجَازَةِ، أَوِ التَّحْرِيمِ، حَيْثُ إِنَّ النَّاسَ يَشْتَرُونَ مِنَ الْجَوَاهِرْجِيِّ حُلِيَّهُمْ بِالتَّقْسِيطِ؟“Apakah boleh membeli emas menggunakan mata uang yang dicetak di masing-masing negara secara kredit (angsuran) layaknya barang komoditas biasa lainnya, ataukah wajib serah terima langsung di majelis akad tanpa penundaan? Serta apa dalil mengenai hal tersebut, baik dalil yang membolehkan maupun yang melarangnya, mengingat masyarakat saat ini terbiasa membeli perhiasan mereka dari toko emas secara kredit (mencicil)?”Jawabannya,لَا يَجُوزُ بَيْعُ الذَّهَبِ بِالنُّقُودِ، وَإِنْ كَانَتْ لَيْسَتْ مِنْ جِنْسِهِ إِلَّا بِشَرْطِ التَّقَابُضِ فِي الْمَجْلِسِ؛ لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَمَّا ذَكَرَ الْأَجْنَاسَ الَّتِي يَدْخُلُهَا الرِّبَا ثُمَّ قَالَ: «فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَجْنَاسُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ.““Tidak boleh menjual emas dengan mata uang, meskipun mata uang tersebut bukan sejenis dengannya, kecuali dengan syarat serah terima langsung di majelis akad. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebutkan komoditas-komoditas yang terkena hukum riba, lalu beliau bersabda, ‘Maka apabila jenis-jenis barang ini berbeda, juallah sesuka kalian asalkan dilakukan secara kontan (dari tangan ke tangan).'” [4]Demikianlah terkait adanya penambahan dan pengurangan dalam transaksi barang ribawi, baik yang sejenis maupun yang tidak sejenis. Silahkan para pembaca bisa mengategorikan kasus lain yang sama dengan pembahasan ini. Sehingga dapat membantu menjawab permasalahan-permasalahan fikih yang sering terjadi di tengah masyarakat.Di antara yang sering terjadi di tengah masyarakat adalah penukaran uang di musim lebaran. Seringkali adanya penambahan yang dikenakan kepada pihak penukar dengan berbagai macam nama dan istilah.Karenanya, langkah pertama yang harus dilakukan tatkala melihat akad seperti itu, tentukan terlebih dahulu, termasuk kategori yang manakah akad tersebut?Jika dilihat penukaran uang dengan uang, tentu ini masuk dalam kategori penukaran yang sejenis dan sama ’illat-nya. Maka syarat yang harus terpenuhi adalah,1) Tamatsul (sama rata), dan2) Taqabudh (serah terima tunai).Sehingga jika ada penambahan atau pengurangan dari salah satu pihak, dapat terjawab secara langsung hukumnya, yaitu tidak diperbolehkan dan termasuk kategori riba.Riba yang manakah? Mudahnya,Jika tidak ada sama rata, maka termasuk dalam kategori riba fadhl.Jika tidak ada serah terima tunai, maka termasuk dalam kategori riba nasi’ah.Sebagaimana yang telah dijelaskan pada pembahasan-pembahasan sebelumnya.Wallahu’alam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 16***Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 197), Fiqh Ar-Riba (hal. 262), dan Al-Mufasshal fil Fiqhil Hanafi (hal. 192).[2] Al-Mufasshal fil Fiqhil Hanafi, hal. 192.[3] Al-Mufasshal fil Fiqhil Hanafi, hal. 192.[4] Fatwa Lajnah Ad-Daimah No. 20790, bisa diakses di situs berikut: https://shamela.ws/book/21772/7483 Referensi:Abu Mālik Kamāl bin Sayyid Sālim. Ṣhaḥīḥ Fiqh as-Sunnah/Kaysful Akinnah. Jilid 5. Cet. ke-2. Mesir: Maktabah at-Taufīqiyyah, 2016.Abū Zayd, ʿAbd al-ʿAẓīm Jalāl. Fiqh ar-Ribā: Dirāsah Muqāranah wa Shāmilah li at-Taṭbīqāt al-Muʿāṣirah. Cet. ke-1. Beirut: Muʾassasah ar-Risālah, 1425 H/2004 M.Muḥammad Mājid. Al-Mufaṣṣal fī al-Fiqh al-Ḥanafī: al-Amwāl wa al-Muʿāmalāt al-Māliyyah. Cet. ke-1. Beirut: Dār al-Mustaqbal, 1426 H/2005 M.


Pada seri sebelumnya, telah dibahas terkait dengan adanya penambahan atau pengurangan pada salah satu dari dua barang ribawi yang sejenis beserta dengan keadaannya. Dalam seri kali ini, akan dijelaskan tentang beberapa keadaan hilangnya kesamarataan dalam transaksi jual beli barang ribawi yang selanjutnya, yaitu:Adanya penambahan atau pengurangan pada salah satu dari dua barang ribawi yang tidak sejenisPembahasan ini kategorinya adalah barang ribawi yang ”tidak” sejenis. Ketika terjadi penambahan atau pengurangan di antara salah satu barang ribawi, maka perlu dilihat apakah barang itu sejenis atau tidak sejenis? Jika sejenis, maka masuk pada pembahasan sebelumnya; dan jika tidak sejenis, maka masuk dalam pembahasan ini. [1]Misalnya, menukar emas dengan perak, gandum dengan kurma, kurma dengan garam, dan seterusnya. Dalam keadaan-keadaan seperti ini, maka jenisnya berbeda sehingga boleh jika terdapat penambahan dalam nominal, berat, takaran, dan sebagainya.Jika emas satu gram ditukar dengan perak dua gram, apakah diperbolehkan? Jawabnya, boleh dengan syarat harus dibayar tunai. Mengapa diperbolehkan? Karena emas dan perak jenisnya berbeda, namun sama dari segi ’illat-nya.Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,فَإِذَا اخْتَلَفَ الصِّنْفَانِ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika jenis barangnya berbeda, maka juallah sesuka kalian apabila dilakukan secara tunai.” (HR. Muslim)Maka di sini terdapat pengecualian dari hukum asal. Hukum asal menukar barang ribawi dengan barang ribawi adalah tidak diperbolehkan adanya penambahan. Namun, terdapat pengecualian pada hukum asal ini.Perlu diketahui bahwa setiap kaidah ada pengecualian. Sering dikatakan dalam pembahasan kaidah fikih,كُلُّ قَاعِدَةٍ لَهَا مُسْتَثْنَيَات“Setiap kaidah memiliki pengecualian-pengecualian.” Sehingga yang hukum asalnya tidak diperbolehkan adanya penambahan atau pengurangan dalam transaksi barang ribawi, dikecualikan pada kasus yang berbeda jenisnya.Disebutkan dalam kitab Al-Mufaṣṣal fī al-Fiqh al-Ḥanafī, كَأَنْ يَبِيعَ الْحِنْطَةَ بِالشَّعِيرِ، وَالشَّعِيرَ بِالتَّمْرِ، وَالتَّمْرَ بِالْمِلْحِ؛ فِي هَذِهِ الْحَالِ يُمْكِنُ أَنْ تَخْتَلِفَ الْكَمِّيَّةُ، فَيَبِيعَ صَاعَ حِنْطَةٍ بِصَاعَيْنِ مِنَ الشَّعِيرِ، أَوْ كَيْلَ تَمْرٍ بِكَيْلَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ مِنَ الْمِلْحِ“Seperti halnya seseorang menjual gandum halus (al-hinthah) dengan jelai (asy-sya’ir), jelai dengan kurma, atau kurma dengan garam. Dalam keadaan seperti ini, takaran/jumlahnya boleh berbeda. Maka ia boleh menjual satu sha’ gandum halus dengan dua sha’ jelai, atau satu takaran (kayl) kurma dengan dua atau tiga takaran garam.” [2]Ketika terjadi transaksi model seperti ini, yaitu antara dua barang ribawi yang tidak sejenis, maka syaratnya adalah transaksi tersebut harus dilakukan secara tunai. Tidak boleh ada penundaan penyerahan pada salah satu barang yang ingin ditukar.وَلَكِنْ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ الْبَدَلَانِ مُعَجَّلَيْنِ لَيْسَ فِي أَحَدِهِمَا التَّأْجِيلُ، فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَبِيعَ كَيْلَ تَمْرٍ بِكَيْلَيْ مِلْحٍ مُؤَجَّلٍ لِمُدَّةِ سِتَّةِ أَشْهُرٍ.“Akan tetapi, kedua barang yang dipertukarkan wajib diserahkan secara kontan (langsung atau tunai), tidak boleh ada penundaan (tempo) pada salah satunya. Maka, seseorang tidak boleh menjual satu takaran kurma dengan dua takaran garam yang ditunda pembayarannya (secara tempo) selama enam bulan.” [3]Contoh lainnya adalah membeli emas dengan uang. A ingin membeli emas dua gram dari B seharga tiga juta rupiah. Maka A harus menyerahkan uang tiga juta kepada B ketika B menyerahkan emas tersebut. A tidak diperbolehkan untuk menunda penyerahan uangnya. Karena yang demikian sudah menjadi ketentuan dari syari’at, yaitu pembayaran harus dilakukan secara tunai.Sehingga kurang tepat jika dikatakan boleh mencicil emas dengan dalih bahwasanya emas itu bukan lagi menjadi alat tukar, melainkan sudah menjadi barang yang diperjualbelikan. Kenyataannya, ’illat emas masih eksis sampai saat ini. Penggunaan emas dengan cara ditabung kemudian diperjualbelikan ketika dibutuhkan dan bernilai harganya menunjukkan bahwa emas masih eksis penggunaannya sebagai alat tukar, kendati bukanlah yang utama.Berangkat dari hal tersebut, hukum emas tentu tidak hilang dan sirna begitu saja. Ia tetap menjadi komoditas ribawi yang berjalan hukum-hukum riba padanya. Hal ini sebagaimana fatwa dari Lajnah Da’imah, هَلْ يَجُوزُ شِرَاءُ الذَّهَبِ بِالنُّقُودِ الَّتِي تُضْرَبُ فِي كُلِّ بَلَدٍ بِالتَّقْسِيطِ كَبَاقِي السِّلَعِ الْعَادِيَّةِ، أَمْ لَا بُدَّ مِنَ الْقَبْضِ فِي الْمَجْلِسِ دُونَ تَأْخِيرٍ، وَمَا الدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ بِالْإِيجَابِ أَوِ النَّفْيِ، أَوِ الْإِجَازَةِ، أَوِ التَّحْرِيمِ، حَيْثُ إِنَّ النَّاسَ يَشْتَرُونَ مِنَ الْجَوَاهِرْجِيِّ حُلِيَّهُمْ بِالتَّقْسِيطِ؟“Apakah boleh membeli emas menggunakan mata uang yang dicetak di masing-masing negara secara kredit (angsuran) layaknya barang komoditas biasa lainnya, ataukah wajib serah terima langsung di majelis akad tanpa penundaan? Serta apa dalil mengenai hal tersebut, baik dalil yang membolehkan maupun yang melarangnya, mengingat masyarakat saat ini terbiasa membeli perhiasan mereka dari toko emas secara kredit (mencicil)?”Jawabannya,لَا يَجُوزُ بَيْعُ الذَّهَبِ بِالنُّقُودِ، وَإِنْ كَانَتْ لَيْسَتْ مِنْ جِنْسِهِ إِلَّا بِشَرْطِ التَّقَابُضِ فِي الْمَجْلِسِ؛ لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَمَّا ذَكَرَ الْأَجْنَاسَ الَّتِي يَدْخُلُهَا الرِّبَا ثُمَّ قَالَ: «فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَجْنَاسُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ.““Tidak boleh menjual emas dengan mata uang, meskipun mata uang tersebut bukan sejenis dengannya, kecuali dengan syarat serah terima langsung di majelis akad. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebutkan komoditas-komoditas yang terkena hukum riba, lalu beliau bersabda, ‘Maka apabila jenis-jenis barang ini berbeda, juallah sesuka kalian asalkan dilakukan secara kontan (dari tangan ke tangan).'” [4]Demikianlah terkait adanya penambahan dan pengurangan dalam transaksi barang ribawi, baik yang sejenis maupun yang tidak sejenis. Silahkan para pembaca bisa mengategorikan kasus lain yang sama dengan pembahasan ini. Sehingga dapat membantu menjawab permasalahan-permasalahan fikih yang sering terjadi di tengah masyarakat.Di antara yang sering terjadi di tengah masyarakat adalah penukaran uang di musim lebaran. Seringkali adanya penambahan yang dikenakan kepada pihak penukar dengan berbagai macam nama dan istilah.Karenanya, langkah pertama yang harus dilakukan tatkala melihat akad seperti itu, tentukan terlebih dahulu, termasuk kategori yang manakah akad tersebut?Jika dilihat penukaran uang dengan uang, tentu ini masuk dalam kategori penukaran yang sejenis dan sama ’illat-nya. Maka syarat yang harus terpenuhi adalah,1) Tamatsul (sama rata), dan2) Taqabudh (serah terima tunai).Sehingga jika ada penambahan atau pengurangan dari salah satu pihak, dapat terjawab secara langsung hukumnya, yaitu tidak diperbolehkan dan termasuk kategori riba.Riba yang manakah? Mudahnya,Jika tidak ada sama rata, maka termasuk dalam kategori riba fadhl.Jika tidak ada serah terima tunai, maka termasuk dalam kategori riba nasi’ah.Sebagaimana yang telah dijelaskan pada pembahasan-pembahasan sebelumnya.Wallahu’alam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 16***Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 197), Fiqh Ar-Riba (hal. 262), dan Al-Mufasshal fil Fiqhil Hanafi (hal. 192).[2] Al-Mufasshal fil Fiqhil Hanafi, hal. 192.[3] Al-Mufasshal fil Fiqhil Hanafi, hal. 192.[4] Fatwa Lajnah Ad-Daimah No. 20790, bisa diakses di situs berikut: https://shamela.ws/book/21772/7483 Referensi:Abu Mālik Kamāl bin Sayyid Sālim. Ṣhaḥīḥ Fiqh as-Sunnah/Kaysful Akinnah. Jilid 5. Cet. ke-2. Mesir: Maktabah at-Taufīqiyyah, 2016.Abū Zayd, ʿAbd al-ʿAẓīm Jalāl. Fiqh ar-Ribā: Dirāsah Muqāranah wa Shāmilah li at-Taṭbīqāt al-Muʿāṣirah. Cet. ke-1. Beirut: Muʾassasah ar-Risālah, 1425 H/2004 M.Muḥammad Mājid. Al-Mufaṣṣal fī al-Fiqh al-Ḥanafī: al-Amwāl wa al-Muʿāmalāt al-Māliyyah. Cet. ke-1. Beirut: Dār al-Mustaqbal, 1426 H/2005 M.

Ekonomi Umat yang Berdaya: Visi Islam untuk Kaum Muslimin yang Kuat dan Mandiri

Daftar Isi ToggleTugas manusia adalah beribadahMemperkuat pondasi ekonomi umat termasuk ibadahPara Rasul juga berdagangPara sahabat terbaik juga pedagangCatatan untuk para pekerjaDunia adalah wasilah, bukan tujuanPenutupTerdapat sebuah pemahaman keliru yang menyebar dan terkadang menjadi hal yang diperdebatkan di tengah umat, juga disalahpahami. Orang yang saleh dianggap semestinya menjauh dari urusan dunia, kerja keras dicurigai mengganggu ibadah, dan harta yang banyak dianggap sebagai tanda hati terikat pada dunia. Turunan dari pemahaman seperti ini di antaranya adalah kemiskinan dianggap bukti ketakwaan, sementara kekayaan dianggap pintu kemaksiatan.Pemahaman seperti ini akan membawa kepada kerusakan yang nyata. Karena, dakwah ini butuh pendanaan, fasilitas belajar butuh guru yang digaji, dan fasilitas kesehatan tidak mungkin berdiri begitu saja tanpa orang-orang yang berkecimpung dalamnya. Ketika semua keseriusan dalam mendalami urusan dunia ditinggalkan atas nama kesalehan, yang tersisa hanyalah niat baik tanpa kemampuan untuk mewujudkannya.Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menjadi lemah. Bahkan, ekonomi umat yang berdaya merupakan visi islam untuk kaum muslimin. Setiap Muslim harus paham bahwa aktivitas dunia yang benar dan diniatkan karena Allah dapat bernilai ibadah. Oleh karena itu, penguatan ekonomi umat termasuk menyiapkan kekuatan yang Allah perintahkan. Para sahabat Nabi pun memahami semua itu dalam kehidupan nyata mereka. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Tugas manusia adalah beribadahAllah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Biasanya yang terjadi begini. Ayat yang cakupannya selebar itu dipahami dengan makna yang sempit. Ibadah dipahami sebatas salat, puasa, dan zikir, sementara selebihnya dikategorikan sebagai urusan dunia yang harus disertai rasa bersalah.Padahal Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan “al-‘ibadah” dalam ayat ini dengan cakupan yang lebih luas dari yang dipahami kebanyakan orang, yakni meliputi seluruh aktivitas yang dicintai dan diridai Allah, termasuk di dalamnya mencari rezeki yang halal. [1] Konsekuensinya praktis sekali, dan orang yang pernah benar-benar kehabisan uang biasanya lebih paham dibanding kita yang hanya membacanya. Pikiran tentang kebutuhan keluarga itu tidak berhenti hanya karena seseorang sudah berdiri di dalam shaf, sementara zakat tidak mungkin keluar dari harta yang tidak dimiliki dan haji tidak bisa ditunaikan tanpa bekal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari no. 2072) [2]Yang dimaksud “makan dari hasil kerja tangan sendiri” adalah semisal yang ditunaikan Nabi Dawud ‘alaihis salam, seorang raja yang tetap memakan hasil usahanya sendiri. Bekerja dengan tangan bukan kompromi bagi orang yang imannya tipis, melainkan perkara yang mulia.Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah ditanya tentang jenis usaha yang paling baik. Tidak ada jenis ibadah sunah yang beliau sebut, yang beliau sebut adalah jenis transaksi. Beliau bersabda,عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ“Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih dari penipuan.” (HR. Ahmad, disahihkan al-Albani) [3]Seorang Muslim yang keluar rumah di pagi hari untuk bekerja, berdagang, atau mengembangkan keahlian, dengan niat yang benar dan cara yang halal, maka dia sedang beribadah, dan keringatnya terhitung pahala.Memperkuat pondasi ekonomi umat termasuk ibadahPembahasan pada bagian di atas masih berkaitan dengan kebutuhan pribadi. Namun, ibadah dalam konteks ekonomi tidak berhenti di situ. Terdapat dimensi yang lebih besar, yaitu memperkuat pondasi umat agar agama ini menjadi kekuatan yang berdaya dan disegani.Allah Ta’ala memerintahkan,وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi.” (QS. Al-Anfal: 60)Ayat ini ditujukan kepada pasukan yang akan berangkat menghadapi musuh, dan tidak ada pasukan yang bergerak tanpa bekal. Oleh karena itu, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa al-quwwah dalam ayat ini tidak terbatas pada kekuatan militer, melainkan mencakup segala bentuk kekuatan yang sanggup disiapkan oleh umat Islam, termasuk kekuatan ekonomi dan perbekalan. [4]Bekal tidak terwujud hanya dengan doa. Bekal lahir dari perencanaan dan pos-pos pembiayaan yang dijalankan bertahun-tahun sebelumnya. Ada perdagangan yang hasilnya menutup kebutuhan satu musim, dan ada pula tanah yang hasilnya ditahan agar mengalir setiap tahun, sehingga dari aliran itulah guru-guru bisa digaji dan mahasiswa dibiayai puluhan tahun tanpa harus meminta-minta. Kekuatan ekonomi kaum muslimin merupakan perkara yang wajib diperhatikan, karena banyak kewajiban yang bertumpu pada kekuatan ekonomi. Maka, kekuatan ekonomi bukanlah perkara tambahan (fadhlah) melainkan perkara inti (umdah).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan prinsip yang tegas dalam hal ini,الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim no. 2664) [5]Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa “kekuatan” dalam hadis ini bersifat umum, mencakup badan, ilmu, beserta harta. [6] Jadi, yang dimaksud bukan hanya fisik yang kuat atau hafalan ilmu yang banyak. Seorang Muslim yang bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya untuk menguatkan ekonomi diri dan umatnya sedang mewujudkan sifat yang dicintai Allah Ta’ala, bukan sedang mengejar dunia, melainkan sedang menyiapkan quwwah yang Rabb-nya perintahkan.Baca juga: Harta di Tangan Orang yang ShalihPara Rasul juga berdagangBila masih tersisa keraguan, cukup diperhatikan teladan para Rasul ‘alaihimush shalatu wassalam. Mereka manusia terbaik yang pernah hidup, dan tidak seorang pun dari mereka merasa rendah untuk bekerja.Ketika orang-orang musyrik Makkah mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka tidak mencela salat beliau. Mereka mencela beliau karena beliau makan makanan biasa dan berjalan di pasar, seolah-olah mencari nafkah menurunkan derajat seorang pemimpin. Allah Ta’ala tidak membela beliau dengan menyatakan bahwa beliau tidak berdagang. Allah justru menegaskan bahwa seluruh Rasul sebelum beliau juga melakukan hal yang sama,وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ“Kami tidak mengutus Rasul-Rasul sebelum engkau, kecuali mereka pasti memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar.” (QS. Al-Furqan: 20)Al-Qurthubi rahimahullah menyebut ayat ini sebagai landasan syar’i untuk menempuh sebab-sebab rezeki, baik melalui perdagangan, kerajinan, maupun berbagai bentuk usaha lainnya. [7] Berkerja di pasar bukanlah aib. Allah Ta’ala sendiri menjadikannya sebagai sifat para Rasul untuk membantah orang yang menganggapnya rendah.Bahkan sebagian sahabat pernah merasa berdosa karena berdagang di pasar-pasar yang dahulu dikenal sebagai pasar Jahiliah seperti ‘Ukazh dan Majannah, khawatir tersangkut bekas ritual kaum Jahiliah di sana. Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat yang menghapus kegelisahan mereka [8],لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ“Tidak ada dosa bagi kalian untuk mencari karunia dari Rabb kalian.” (QS. Al-Baqarah: 198)Perhatikan kata ‘fadhl’ (karunia) pada ayat ini. Allah tidak menamai keuntungan dagang sebagai urusan dunia yang hina dan sekadar dimaklumi, Allah menamainya karunia dari Rabb mereka.Para sahabat terbaik juga pedagangGenerasi terbaik umat ini memberikan penerapan yang paling jelas atas dalil-dalil di atas. Di antara mereka ada sahabat yang paling zuhud sekaligus pemilik usaha yang tangguh.Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu tiba di Madinah sebagai Muhajir (orang yang berhijrah) tanpa membawa harta. Beliau dipersaudarakan dengan Sa’d bin ar-Rabi’ al-Anshari radhiyallahu ‘anhu yang kaya raya. Sa’d menawarkan setengah hartanya, bahkan menawarkan menceraikan salah satu istrinya agar Abdurrahman menikahinya setelah masa iddah, dan beliau menolaknya dengan halus. Pertanyaan yang beliau ajukan justru terdengar sederhana sekali,هَلْ مِنْ سُوقٍ فِيهِ تِجَارَةٌ؟“Apakah ada pasar yang bisa dijadikan tempat berdagang?” Lalu ditunjukkanlah kepadanya pasar Bani Qainuqa’. (HR. Bukhari no. 2048) [9]Keesokan paginya, beliau berangkat ke pasar itu membawa susu kering dan keju, dua barang yang modalnya bisa dikumpulkan siapa saja. Keuntungan yang beliau bawa pulang masih kecil, lalu datang lagi di hari-hari berikutnya hingga Allah memberkahi usaha tersebut, sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bekas wewangian berwarna kuning pada dirinya beberapa hari kemudian sebagai tanda bahwa beliau baru saja menikah. Yang perlu digarisbawahi di sini bukan besarnya harta yang akhirnya beliau miliki, melainkan titik awalnya, yaitu sebuah pertanyaan tentang letak pasar dan keberanian berangkat keesokan harinya.Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pun demikian. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menceritakan,لَقَدْ خَرَجَ أَبُو بَكْرٍ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ تَاجِرًا إِلَى بُصْرَى“Abu Bakar pernah keluar berdagang ke Bushra di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir) [10]Peristiwa itu terjadi pada masa wahyu masih turun, di penghujung hayat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pada masa lalu yang sudah berlalu jauh sebelum risalah. Yang menemani perjalanan niaga beliau ke Syam juga bukan orang sembarangan, karena dalam riwayat lain disebutkan bersama Abu Bakar ada Nu’aiman dan Suwaibit bin Harmalah, dua orang yang pernah mengikuti Perang Badar. Tidak ada seorang pun dari mereka yang merasa sedang berpaling dari akhirat.Kecintaan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menghalangi aktivitas dagang, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak melarangnya. Sehingga tidak ada kontradiksi di mata mereka antara kedekatan dengan Rasulullah dan usaha yang mereka jalankan. Mereka tidak mempertentangkan dunia dan akhirat. Bagi mereka, keduanya bukan pilihan yang salah satunya harus ditinggalkan.Catatan untuk para pekerjaTanpa bagian ini, dalil-dalil di atas berpotensi disalahpahami sebagai pembenaran bagi para pengumpul harta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan dua gambaran yang kontras tentang nasib pedagang di akhirat. Salah satunya menjanjikan kedudukan yang luar biasa,التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ“Pedagang yang jujur dan amanah akan dikumpulkan bersama para Nabi, shiddiqin, dan syuhada.” (HR. at-Tirmidzi no. 1209) [11]Satunya lagi memperingatkan dengan keras,يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلَّا مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ“Wahai para pedagang, sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai pendosa, kecuali yang bertakwa, berbuat baik, dan jujur.” (HR. at-Tirmidzi no. 1210) [12]Dua hadis dengan satu objek yang sama, dan yang membedakan keduanya hanyalah kejujuran serta ketakwaan. Dua sifat inilah yang menentukan apakah seorang pedagang diangkat ke derajat para Nabi atau justru dibangkitkan sebagai pendosa.Islam menetapkan rambu yang jelas dalam transaksi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا“Dua orang yang berjual-beli memiliki hak khiyar selama belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (cacat barang), jual-beli mereka diberkahi. Jika keduanya menyembunyikan cacat dan berdusta, dihapuslah keberkahan jual-beli mereka.” (HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532) [13]Di antara rambu yang Islam tegaskan adalah riba. Riba adalah perkara haram jika dilakukan oleh kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 278)Penjelasan pada hadis ini bukan hanya berlaku untuk para pedagang, para pekerja yang menandatangani kotrak pun masuk ke dalamnya.Baca juga: Beginilah Indahnya Islam dalam Mengatur Hak-Hak Para PekerjaDunia adalah wasilah, bukan tujuanSeluruh pembahasan di atas harus diletakkan dalam kerangka yang benar agar tidak bergeser menjadi kultivasi kekayaan. Harta adalah wasilah dan bukan tujuan, ia sarana pembantu untuk beribadah, bukan tujuan atau tuhan yang harus disembah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan dengan kalimat yang menohok,لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ“Seandainya dunia ini senilai sayap nyamuk di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan memberi minum orang kafir walau seteguk air.” (HR. at-Tirmidzi no. 2320) [14]Pada saat yang sama, Allah Ta’ala mengajarkan keseimbangan dalam memakainya,وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, dan adalah pembelanjaan itu di tengah-tengah antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67)Tidak berlebihan, tidak pula kikir, dan berada di tengah-tengah. Kedua nash di atas tidak saling bertentangan; yang satu mematikan penyembahan terhadap harta, sementara yang lain mengatur peredarannya. Dunia tidak bernilai di sisi Allah, namun cara hamba memakainya tetap dihitung dan diminta pertanggungjawabannya. Prinsip inilah yang paling dasar dalam ekonomi Islam sekaligus paling berat dipraktikkan karena ia menyentuh angka pada rekening, bukan sekadar lisan.PenutupMencari rezeki yang halal adalah ibadah, dan ibadah jenis ini punya efek yang langsung terasa pada perut dan tempat tinggal. Memperkuat pondasi ekonomi umat termasuk menyiapkan kekuatan yang Allah perintahkan dalam surah Al-Anfal. Berdiri di atas kaki sendiri adalah kehormatan bagi seorang Muslim karena ia tidak membebani orang lain. Semua ini bukan teori yang mengawang-awang, sebab generasi terbaik umat ini telah mempraktikkannya.Dunia bukan musuh yang harus dijauhi dan bukan pula tujuan. Dunia adalah wasilah atau perantara, manusialah yang dapat meniatkan menjadi wasilah apa dari dunia yang ia usahakan. Setiap Muslim yang bekerja keras di bidangnya dengan niat yang benar dan cara yang halal sedang meletakkan satu batu bata pada bangunan yang lebih besar dari dirinya.Wallahu a’lam bish-shawab.***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 7: 425.[2] HR. Bukhari no. 2072.[3] HR. Ahmad no. 17265, dari Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu. Syekh Syu’aib al-Arna’uth menilai sanadnya hasan lighairihi karena ada kekeliruan pada salah satu perawinya, sementara al-Hakim mensahihkannya dan al-Albani mensahihkan lafaz semakna ini dalam Shahih at-Targhib no. 1690. Sebagian kitab muamalah mencantumkan riwayat ini dengan nomor at-Tirmidzi no. 1315.[4] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jil. 4.[5] HR. Muslim no. 2664 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Juga pada Ibnu Majah no. 79 dan Ahmad no. 8777 dengan lafaz yang semakna.[6] Imam an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16: 215.[7] Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 7: 502.[8] HR. Bukhari pada tafsir ayat ini, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, tentang keengganan sebagian sahabat berdagang di pasar Jahiliah. Al-Hakim meriwayatkannya dalam al-Mustadrak no. 2885, dan Adz-Dzahabi menyepakatinya.[9] HR. Bukhari no. 2048.[10] HR. ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, dan Ahmad no. 26729 dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Syekh Al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (6: 1036) dan Dha’if Ibni Majah no. 750 memiliki penilaian yang tidak sama pada jalur yang berbeda, jadi sebaiknya tidak menetapkan salah satu tanpa memeriksa kedua kitab itu.[11] HR. at-Tirmidzi no. 1209.[12] HR. at-Tirmidzi no. 1210.[13] HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532.[14] HR. at-Tirmidzi no. 2320 dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu.[15] HR. Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 1003.

Ekonomi Umat yang Berdaya: Visi Islam untuk Kaum Muslimin yang Kuat dan Mandiri

Daftar Isi ToggleTugas manusia adalah beribadahMemperkuat pondasi ekonomi umat termasuk ibadahPara Rasul juga berdagangPara sahabat terbaik juga pedagangCatatan untuk para pekerjaDunia adalah wasilah, bukan tujuanPenutupTerdapat sebuah pemahaman keliru yang menyebar dan terkadang menjadi hal yang diperdebatkan di tengah umat, juga disalahpahami. Orang yang saleh dianggap semestinya menjauh dari urusan dunia, kerja keras dicurigai mengganggu ibadah, dan harta yang banyak dianggap sebagai tanda hati terikat pada dunia. Turunan dari pemahaman seperti ini di antaranya adalah kemiskinan dianggap bukti ketakwaan, sementara kekayaan dianggap pintu kemaksiatan.Pemahaman seperti ini akan membawa kepada kerusakan yang nyata. Karena, dakwah ini butuh pendanaan, fasilitas belajar butuh guru yang digaji, dan fasilitas kesehatan tidak mungkin berdiri begitu saja tanpa orang-orang yang berkecimpung dalamnya. Ketika semua keseriusan dalam mendalami urusan dunia ditinggalkan atas nama kesalehan, yang tersisa hanyalah niat baik tanpa kemampuan untuk mewujudkannya.Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menjadi lemah. Bahkan, ekonomi umat yang berdaya merupakan visi islam untuk kaum muslimin. Setiap Muslim harus paham bahwa aktivitas dunia yang benar dan diniatkan karena Allah dapat bernilai ibadah. Oleh karena itu, penguatan ekonomi umat termasuk menyiapkan kekuatan yang Allah perintahkan. Para sahabat Nabi pun memahami semua itu dalam kehidupan nyata mereka. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Tugas manusia adalah beribadahAllah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Biasanya yang terjadi begini. Ayat yang cakupannya selebar itu dipahami dengan makna yang sempit. Ibadah dipahami sebatas salat, puasa, dan zikir, sementara selebihnya dikategorikan sebagai urusan dunia yang harus disertai rasa bersalah.Padahal Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan “al-‘ibadah” dalam ayat ini dengan cakupan yang lebih luas dari yang dipahami kebanyakan orang, yakni meliputi seluruh aktivitas yang dicintai dan diridai Allah, termasuk di dalamnya mencari rezeki yang halal. [1] Konsekuensinya praktis sekali, dan orang yang pernah benar-benar kehabisan uang biasanya lebih paham dibanding kita yang hanya membacanya. Pikiran tentang kebutuhan keluarga itu tidak berhenti hanya karena seseorang sudah berdiri di dalam shaf, sementara zakat tidak mungkin keluar dari harta yang tidak dimiliki dan haji tidak bisa ditunaikan tanpa bekal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari no. 2072) [2]Yang dimaksud “makan dari hasil kerja tangan sendiri” adalah semisal yang ditunaikan Nabi Dawud ‘alaihis salam, seorang raja yang tetap memakan hasil usahanya sendiri. Bekerja dengan tangan bukan kompromi bagi orang yang imannya tipis, melainkan perkara yang mulia.Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah ditanya tentang jenis usaha yang paling baik. Tidak ada jenis ibadah sunah yang beliau sebut, yang beliau sebut adalah jenis transaksi. Beliau bersabda,عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ“Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih dari penipuan.” (HR. Ahmad, disahihkan al-Albani) [3]Seorang Muslim yang keluar rumah di pagi hari untuk bekerja, berdagang, atau mengembangkan keahlian, dengan niat yang benar dan cara yang halal, maka dia sedang beribadah, dan keringatnya terhitung pahala.Memperkuat pondasi ekonomi umat termasuk ibadahPembahasan pada bagian di atas masih berkaitan dengan kebutuhan pribadi. Namun, ibadah dalam konteks ekonomi tidak berhenti di situ. Terdapat dimensi yang lebih besar, yaitu memperkuat pondasi umat agar agama ini menjadi kekuatan yang berdaya dan disegani.Allah Ta’ala memerintahkan,وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi.” (QS. Al-Anfal: 60)Ayat ini ditujukan kepada pasukan yang akan berangkat menghadapi musuh, dan tidak ada pasukan yang bergerak tanpa bekal. Oleh karena itu, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa al-quwwah dalam ayat ini tidak terbatas pada kekuatan militer, melainkan mencakup segala bentuk kekuatan yang sanggup disiapkan oleh umat Islam, termasuk kekuatan ekonomi dan perbekalan. [4]Bekal tidak terwujud hanya dengan doa. Bekal lahir dari perencanaan dan pos-pos pembiayaan yang dijalankan bertahun-tahun sebelumnya. Ada perdagangan yang hasilnya menutup kebutuhan satu musim, dan ada pula tanah yang hasilnya ditahan agar mengalir setiap tahun, sehingga dari aliran itulah guru-guru bisa digaji dan mahasiswa dibiayai puluhan tahun tanpa harus meminta-minta. Kekuatan ekonomi kaum muslimin merupakan perkara yang wajib diperhatikan, karena banyak kewajiban yang bertumpu pada kekuatan ekonomi. Maka, kekuatan ekonomi bukanlah perkara tambahan (fadhlah) melainkan perkara inti (umdah).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan prinsip yang tegas dalam hal ini,الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim no. 2664) [5]Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa “kekuatan” dalam hadis ini bersifat umum, mencakup badan, ilmu, beserta harta. [6] Jadi, yang dimaksud bukan hanya fisik yang kuat atau hafalan ilmu yang banyak. Seorang Muslim yang bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya untuk menguatkan ekonomi diri dan umatnya sedang mewujudkan sifat yang dicintai Allah Ta’ala, bukan sedang mengejar dunia, melainkan sedang menyiapkan quwwah yang Rabb-nya perintahkan.Baca juga: Harta di Tangan Orang yang ShalihPara Rasul juga berdagangBila masih tersisa keraguan, cukup diperhatikan teladan para Rasul ‘alaihimush shalatu wassalam. Mereka manusia terbaik yang pernah hidup, dan tidak seorang pun dari mereka merasa rendah untuk bekerja.Ketika orang-orang musyrik Makkah mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka tidak mencela salat beliau. Mereka mencela beliau karena beliau makan makanan biasa dan berjalan di pasar, seolah-olah mencari nafkah menurunkan derajat seorang pemimpin. Allah Ta’ala tidak membela beliau dengan menyatakan bahwa beliau tidak berdagang. Allah justru menegaskan bahwa seluruh Rasul sebelum beliau juga melakukan hal yang sama,وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ“Kami tidak mengutus Rasul-Rasul sebelum engkau, kecuali mereka pasti memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar.” (QS. Al-Furqan: 20)Al-Qurthubi rahimahullah menyebut ayat ini sebagai landasan syar’i untuk menempuh sebab-sebab rezeki, baik melalui perdagangan, kerajinan, maupun berbagai bentuk usaha lainnya. [7] Berkerja di pasar bukanlah aib. Allah Ta’ala sendiri menjadikannya sebagai sifat para Rasul untuk membantah orang yang menganggapnya rendah.Bahkan sebagian sahabat pernah merasa berdosa karena berdagang di pasar-pasar yang dahulu dikenal sebagai pasar Jahiliah seperti ‘Ukazh dan Majannah, khawatir tersangkut bekas ritual kaum Jahiliah di sana. Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat yang menghapus kegelisahan mereka [8],لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ“Tidak ada dosa bagi kalian untuk mencari karunia dari Rabb kalian.” (QS. Al-Baqarah: 198)Perhatikan kata ‘fadhl’ (karunia) pada ayat ini. Allah tidak menamai keuntungan dagang sebagai urusan dunia yang hina dan sekadar dimaklumi, Allah menamainya karunia dari Rabb mereka.Para sahabat terbaik juga pedagangGenerasi terbaik umat ini memberikan penerapan yang paling jelas atas dalil-dalil di atas. Di antara mereka ada sahabat yang paling zuhud sekaligus pemilik usaha yang tangguh.Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu tiba di Madinah sebagai Muhajir (orang yang berhijrah) tanpa membawa harta. Beliau dipersaudarakan dengan Sa’d bin ar-Rabi’ al-Anshari radhiyallahu ‘anhu yang kaya raya. Sa’d menawarkan setengah hartanya, bahkan menawarkan menceraikan salah satu istrinya agar Abdurrahman menikahinya setelah masa iddah, dan beliau menolaknya dengan halus. Pertanyaan yang beliau ajukan justru terdengar sederhana sekali,هَلْ مِنْ سُوقٍ فِيهِ تِجَارَةٌ؟“Apakah ada pasar yang bisa dijadikan tempat berdagang?” Lalu ditunjukkanlah kepadanya pasar Bani Qainuqa’. (HR. Bukhari no. 2048) [9]Keesokan paginya, beliau berangkat ke pasar itu membawa susu kering dan keju, dua barang yang modalnya bisa dikumpulkan siapa saja. Keuntungan yang beliau bawa pulang masih kecil, lalu datang lagi di hari-hari berikutnya hingga Allah memberkahi usaha tersebut, sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bekas wewangian berwarna kuning pada dirinya beberapa hari kemudian sebagai tanda bahwa beliau baru saja menikah. Yang perlu digarisbawahi di sini bukan besarnya harta yang akhirnya beliau miliki, melainkan titik awalnya, yaitu sebuah pertanyaan tentang letak pasar dan keberanian berangkat keesokan harinya.Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pun demikian. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menceritakan,لَقَدْ خَرَجَ أَبُو بَكْرٍ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ تَاجِرًا إِلَى بُصْرَى“Abu Bakar pernah keluar berdagang ke Bushra di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir) [10]Peristiwa itu terjadi pada masa wahyu masih turun, di penghujung hayat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pada masa lalu yang sudah berlalu jauh sebelum risalah. Yang menemani perjalanan niaga beliau ke Syam juga bukan orang sembarangan, karena dalam riwayat lain disebutkan bersama Abu Bakar ada Nu’aiman dan Suwaibit bin Harmalah, dua orang yang pernah mengikuti Perang Badar. Tidak ada seorang pun dari mereka yang merasa sedang berpaling dari akhirat.Kecintaan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menghalangi aktivitas dagang, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak melarangnya. Sehingga tidak ada kontradiksi di mata mereka antara kedekatan dengan Rasulullah dan usaha yang mereka jalankan. Mereka tidak mempertentangkan dunia dan akhirat. Bagi mereka, keduanya bukan pilihan yang salah satunya harus ditinggalkan.Catatan untuk para pekerjaTanpa bagian ini, dalil-dalil di atas berpotensi disalahpahami sebagai pembenaran bagi para pengumpul harta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan dua gambaran yang kontras tentang nasib pedagang di akhirat. Salah satunya menjanjikan kedudukan yang luar biasa,التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ“Pedagang yang jujur dan amanah akan dikumpulkan bersama para Nabi, shiddiqin, dan syuhada.” (HR. at-Tirmidzi no. 1209) [11]Satunya lagi memperingatkan dengan keras,يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلَّا مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ“Wahai para pedagang, sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai pendosa, kecuali yang bertakwa, berbuat baik, dan jujur.” (HR. at-Tirmidzi no. 1210) [12]Dua hadis dengan satu objek yang sama, dan yang membedakan keduanya hanyalah kejujuran serta ketakwaan. Dua sifat inilah yang menentukan apakah seorang pedagang diangkat ke derajat para Nabi atau justru dibangkitkan sebagai pendosa.Islam menetapkan rambu yang jelas dalam transaksi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا“Dua orang yang berjual-beli memiliki hak khiyar selama belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (cacat barang), jual-beli mereka diberkahi. Jika keduanya menyembunyikan cacat dan berdusta, dihapuslah keberkahan jual-beli mereka.” (HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532) [13]Di antara rambu yang Islam tegaskan adalah riba. Riba adalah perkara haram jika dilakukan oleh kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 278)Penjelasan pada hadis ini bukan hanya berlaku untuk para pedagang, para pekerja yang menandatangani kotrak pun masuk ke dalamnya.Baca juga: Beginilah Indahnya Islam dalam Mengatur Hak-Hak Para PekerjaDunia adalah wasilah, bukan tujuanSeluruh pembahasan di atas harus diletakkan dalam kerangka yang benar agar tidak bergeser menjadi kultivasi kekayaan. Harta adalah wasilah dan bukan tujuan, ia sarana pembantu untuk beribadah, bukan tujuan atau tuhan yang harus disembah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan dengan kalimat yang menohok,لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ“Seandainya dunia ini senilai sayap nyamuk di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan memberi minum orang kafir walau seteguk air.” (HR. at-Tirmidzi no. 2320) [14]Pada saat yang sama, Allah Ta’ala mengajarkan keseimbangan dalam memakainya,وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, dan adalah pembelanjaan itu di tengah-tengah antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67)Tidak berlebihan, tidak pula kikir, dan berada di tengah-tengah. Kedua nash di atas tidak saling bertentangan; yang satu mematikan penyembahan terhadap harta, sementara yang lain mengatur peredarannya. Dunia tidak bernilai di sisi Allah, namun cara hamba memakainya tetap dihitung dan diminta pertanggungjawabannya. Prinsip inilah yang paling dasar dalam ekonomi Islam sekaligus paling berat dipraktikkan karena ia menyentuh angka pada rekening, bukan sekadar lisan.PenutupMencari rezeki yang halal adalah ibadah, dan ibadah jenis ini punya efek yang langsung terasa pada perut dan tempat tinggal. Memperkuat pondasi ekonomi umat termasuk menyiapkan kekuatan yang Allah perintahkan dalam surah Al-Anfal. Berdiri di atas kaki sendiri adalah kehormatan bagi seorang Muslim karena ia tidak membebani orang lain. Semua ini bukan teori yang mengawang-awang, sebab generasi terbaik umat ini telah mempraktikkannya.Dunia bukan musuh yang harus dijauhi dan bukan pula tujuan. Dunia adalah wasilah atau perantara, manusialah yang dapat meniatkan menjadi wasilah apa dari dunia yang ia usahakan. Setiap Muslim yang bekerja keras di bidangnya dengan niat yang benar dan cara yang halal sedang meletakkan satu batu bata pada bangunan yang lebih besar dari dirinya.Wallahu a’lam bish-shawab.***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 7: 425.[2] HR. Bukhari no. 2072.[3] HR. Ahmad no. 17265, dari Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu. Syekh Syu’aib al-Arna’uth menilai sanadnya hasan lighairihi karena ada kekeliruan pada salah satu perawinya, sementara al-Hakim mensahihkannya dan al-Albani mensahihkan lafaz semakna ini dalam Shahih at-Targhib no. 1690. Sebagian kitab muamalah mencantumkan riwayat ini dengan nomor at-Tirmidzi no. 1315.[4] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jil. 4.[5] HR. Muslim no. 2664 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Juga pada Ibnu Majah no. 79 dan Ahmad no. 8777 dengan lafaz yang semakna.[6] Imam an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16: 215.[7] Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 7: 502.[8] HR. Bukhari pada tafsir ayat ini, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, tentang keengganan sebagian sahabat berdagang di pasar Jahiliah. Al-Hakim meriwayatkannya dalam al-Mustadrak no. 2885, dan Adz-Dzahabi menyepakatinya.[9] HR. Bukhari no. 2048.[10] HR. ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, dan Ahmad no. 26729 dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Syekh Al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (6: 1036) dan Dha’if Ibni Majah no. 750 memiliki penilaian yang tidak sama pada jalur yang berbeda, jadi sebaiknya tidak menetapkan salah satu tanpa memeriksa kedua kitab itu.[11] HR. at-Tirmidzi no. 1209.[12] HR. at-Tirmidzi no. 1210.[13] HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532.[14] HR. at-Tirmidzi no. 2320 dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu.[15] HR. Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 1003.
Daftar Isi ToggleTugas manusia adalah beribadahMemperkuat pondasi ekonomi umat termasuk ibadahPara Rasul juga berdagangPara sahabat terbaik juga pedagangCatatan untuk para pekerjaDunia adalah wasilah, bukan tujuanPenutupTerdapat sebuah pemahaman keliru yang menyebar dan terkadang menjadi hal yang diperdebatkan di tengah umat, juga disalahpahami. Orang yang saleh dianggap semestinya menjauh dari urusan dunia, kerja keras dicurigai mengganggu ibadah, dan harta yang banyak dianggap sebagai tanda hati terikat pada dunia. Turunan dari pemahaman seperti ini di antaranya adalah kemiskinan dianggap bukti ketakwaan, sementara kekayaan dianggap pintu kemaksiatan.Pemahaman seperti ini akan membawa kepada kerusakan yang nyata. Karena, dakwah ini butuh pendanaan, fasilitas belajar butuh guru yang digaji, dan fasilitas kesehatan tidak mungkin berdiri begitu saja tanpa orang-orang yang berkecimpung dalamnya. Ketika semua keseriusan dalam mendalami urusan dunia ditinggalkan atas nama kesalehan, yang tersisa hanyalah niat baik tanpa kemampuan untuk mewujudkannya.Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menjadi lemah. Bahkan, ekonomi umat yang berdaya merupakan visi islam untuk kaum muslimin. Setiap Muslim harus paham bahwa aktivitas dunia yang benar dan diniatkan karena Allah dapat bernilai ibadah. Oleh karena itu, penguatan ekonomi umat termasuk menyiapkan kekuatan yang Allah perintahkan. Para sahabat Nabi pun memahami semua itu dalam kehidupan nyata mereka. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Tugas manusia adalah beribadahAllah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Biasanya yang terjadi begini. Ayat yang cakupannya selebar itu dipahami dengan makna yang sempit. Ibadah dipahami sebatas salat, puasa, dan zikir, sementara selebihnya dikategorikan sebagai urusan dunia yang harus disertai rasa bersalah.Padahal Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan “al-‘ibadah” dalam ayat ini dengan cakupan yang lebih luas dari yang dipahami kebanyakan orang, yakni meliputi seluruh aktivitas yang dicintai dan diridai Allah, termasuk di dalamnya mencari rezeki yang halal. [1] Konsekuensinya praktis sekali, dan orang yang pernah benar-benar kehabisan uang biasanya lebih paham dibanding kita yang hanya membacanya. Pikiran tentang kebutuhan keluarga itu tidak berhenti hanya karena seseorang sudah berdiri di dalam shaf, sementara zakat tidak mungkin keluar dari harta yang tidak dimiliki dan haji tidak bisa ditunaikan tanpa bekal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari no. 2072) [2]Yang dimaksud “makan dari hasil kerja tangan sendiri” adalah semisal yang ditunaikan Nabi Dawud ‘alaihis salam, seorang raja yang tetap memakan hasil usahanya sendiri. Bekerja dengan tangan bukan kompromi bagi orang yang imannya tipis, melainkan perkara yang mulia.Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah ditanya tentang jenis usaha yang paling baik. Tidak ada jenis ibadah sunah yang beliau sebut, yang beliau sebut adalah jenis transaksi. Beliau bersabda,عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ“Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih dari penipuan.” (HR. Ahmad, disahihkan al-Albani) [3]Seorang Muslim yang keluar rumah di pagi hari untuk bekerja, berdagang, atau mengembangkan keahlian, dengan niat yang benar dan cara yang halal, maka dia sedang beribadah, dan keringatnya terhitung pahala.Memperkuat pondasi ekonomi umat termasuk ibadahPembahasan pada bagian di atas masih berkaitan dengan kebutuhan pribadi. Namun, ibadah dalam konteks ekonomi tidak berhenti di situ. Terdapat dimensi yang lebih besar, yaitu memperkuat pondasi umat agar agama ini menjadi kekuatan yang berdaya dan disegani.Allah Ta’ala memerintahkan,وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi.” (QS. Al-Anfal: 60)Ayat ini ditujukan kepada pasukan yang akan berangkat menghadapi musuh, dan tidak ada pasukan yang bergerak tanpa bekal. Oleh karena itu, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa al-quwwah dalam ayat ini tidak terbatas pada kekuatan militer, melainkan mencakup segala bentuk kekuatan yang sanggup disiapkan oleh umat Islam, termasuk kekuatan ekonomi dan perbekalan. [4]Bekal tidak terwujud hanya dengan doa. Bekal lahir dari perencanaan dan pos-pos pembiayaan yang dijalankan bertahun-tahun sebelumnya. Ada perdagangan yang hasilnya menutup kebutuhan satu musim, dan ada pula tanah yang hasilnya ditahan agar mengalir setiap tahun, sehingga dari aliran itulah guru-guru bisa digaji dan mahasiswa dibiayai puluhan tahun tanpa harus meminta-minta. Kekuatan ekonomi kaum muslimin merupakan perkara yang wajib diperhatikan, karena banyak kewajiban yang bertumpu pada kekuatan ekonomi. Maka, kekuatan ekonomi bukanlah perkara tambahan (fadhlah) melainkan perkara inti (umdah).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan prinsip yang tegas dalam hal ini,الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim no. 2664) [5]Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa “kekuatan” dalam hadis ini bersifat umum, mencakup badan, ilmu, beserta harta. [6] Jadi, yang dimaksud bukan hanya fisik yang kuat atau hafalan ilmu yang banyak. Seorang Muslim yang bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya untuk menguatkan ekonomi diri dan umatnya sedang mewujudkan sifat yang dicintai Allah Ta’ala, bukan sedang mengejar dunia, melainkan sedang menyiapkan quwwah yang Rabb-nya perintahkan.Baca juga: Harta di Tangan Orang yang ShalihPara Rasul juga berdagangBila masih tersisa keraguan, cukup diperhatikan teladan para Rasul ‘alaihimush shalatu wassalam. Mereka manusia terbaik yang pernah hidup, dan tidak seorang pun dari mereka merasa rendah untuk bekerja.Ketika orang-orang musyrik Makkah mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka tidak mencela salat beliau. Mereka mencela beliau karena beliau makan makanan biasa dan berjalan di pasar, seolah-olah mencari nafkah menurunkan derajat seorang pemimpin. Allah Ta’ala tidak membela beliau dengan menyatakan bahwa beliau tidak berdagang. Allah justru menegaskan bahwa seluruh Rasul sebelum beliau juga melakukan hal yang sama,وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ“Kami tidak mengutus Rasul-Rasul sebelum engkau, kecuali mereka pasti memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar.” (QS. Al-Furqan: 20)Al-Qurthubi rahimahullah menyebut ayat ini sebagai landasan syar’i untuk menempuh sebab-sebab rezeki, baik melalui perdagangan, kerajinan, maupun berbagai bentuk usaha lainnya. [7] Berkerja di pasar bukanlah aib. Allah Ta’ala sendiri menjadikannya sebagai sifat para Rasul untuk membantah orang yang menganggapnya rendah.Bahkan sebagian sahabat pernah merasa berdosa karena berdagang di pasar-pasar yang dahulu dikenal sebagai pasar Jahiliah seperti ‘Ukazh dan Majannah, khawatir tersangkut bekas ritual kaum Jahiliah di sana. Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat yang menghapus kegelisahan mereka [8],لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ“Tidak ada dosa bagi kalian untuk mencari karunia dari Rabb kalian.” (QS. Al-Baqarah: 198)Perhatikan kata ‘fadhl’ (karunia) pada ayat ini. Allah tidak menamai keuntungan dagang sebagai urusan dunia yang hina dan sekadar dimaklumi, Allah menamainya karunia dari Rabb mereka.Para sahabat terbaik juga pedagangGenerasi terbaik umat ini memberikan penerapan yang paling jelas atas dalil-dalil di atas. Di antara mereka ada sahabat yang paling zuhud sekaligus pemilik usaha yang tangguh.Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu tiba di Madinah sebagai Muhajir (orang yang berhijrah) tanpa membawa harta. Beliau dipersaudarakan dengan Sa’d bin ar-Rabi’ al-Anshari radhiyallahu ‘anhu yang kaya raya. Sa’d menawarkan setengah hartanya, bahkan menawarkan menceraikan salah satu istrinya agar Abdurrahman menikahinya setelah masa iddah, dan beliau menolaknya dengan halus. Pertanyaan yang beliau ajukan justru terdengar sederhana sekali,هَلْ مِنْ سُوقٍ فِيهِ تِجَارَةٌ؟“Apakah ada pasar yang bisa dijadikan tempat berdagang?” Lalu ditunjukkanlah kepadanya pasar Bani Qainuqa’. (HR. Bukhari no. 2048) [9]Keesokan paginya, beliau berangkat ke pasar itu membawa susu kering dan keju, dua barang yang modalnya bisa dikumpulkan siapa saja. Keuntungan yang beliau bawa pulang masih kecil, lalu datang lagi di hari-hari berikutnya hingga Allah memberkahi usaha tersebut, sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bekas wewangian berwarna kuning pada dirinya beberapa hari kemudian sebagai tanda bahwa beliau baru saja menikah. Yang perlu digarisbawahi di sini bukan besarnya harta yang akhirnya beliau miliki, melainkan titik awalnya, yaitu sebuah pertanyaan tentang letak pasar dan keberanian berangkat keesokan harinya.Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pun demikian. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menceritakan,لَقَدْ خَرَجَ أَبُو بَكْرٍ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ تَاجِرًا إِلَى بُصْرَى“Abu Bakar pernah keluar berdagang ke Bushra di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir) [10]Peristiwa itu terjadi pada masa wahyu masih turun, di penghujung hayat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pada masa lalu yang sudah berlalu jauh sebelum risalah. Yang menemani perjalanan niaga beliau ke Syam juga bukan orang sembarangan, karena dalam riwayat lain disebutkan bersama Abu Bakar ada Nu’aiman dan Suwaibit bin Harmalah, dua orang yang pernah mengikuti Perang Badar. Tidak ada seorang pun dari mereka yang merasa sedang berpaling dari akhirat.Kecintaan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menghalangi aktivitas dagang, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak melarangnya. Sehingga tidak ada kontradiksi di mata mereka antara kedekatan dengan Rasulullah dan usaha yang mereka jalankan. Mereka tidak mempertentangkan dunia dan akhirat. Bagi mereka, keduanya bukan pilihan yang salah satunya harus ditinggalkan.Catatan untuk para pekerjaTanpa bagian ini, dalil-dalil di atas berpotensi disalahpahami sebagai pembenaran bagi para pengumpul harta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan dua gambaran yang kontras tentang nasib pedagang di akhirat. Salah satunya menjanjikan kedudukan yang luar biasa,التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ“Pedagang yang jujur dan amanah akan dikumpulkan bersama para Nabi, shiddiqin, dan syuhada.” (HR. at-Tirmidzi no. 1209) [11]Satunya lagi memperingatkan dengan keras,يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلَّا مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ“Wahai para pedagang, sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai pendosa, kecuali yang bertakwa, berbuat baik, dan jujur.” (HR. at-Tirmidzi no. 1210) [12]Dua hadis dengan satu objek yang sama, dan yang membedakan keduanya hanyalah kejujuran serta ketakwaan. Dua sifat inilah yang menentukan apakah seorang pedagang diangkat ke derajat para Nabi atau justru dibangkitkan sebagai pendosa.Islam menetapkan rambu yang jelas dalam transaksi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا“Dua orang yang berjual-beli memiliki hak khiyar selama belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (cacat barang), jual-beli mereka diberkahi. Jika keduanya menyembunyikan cacat dan berdusta, dihapuslah keberkahan jual-beli mereka.” (HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532) [13]Di antara rambu yang Islam tegaskan adalah riba. Riba adalah perkara haram jika dilakukan oleh kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 278)Penjelasan pada hadis ini bukan hanya berlaku untuk para pedagang, para pekerja yang menandatangani kotrak pun masuk ke dalamnya.Baca juga: Beginilah Indahnya Islam dalam Mengatur Hak-Hak Para PekerjaDunia adalah wasilah, bukan tujuanSeluruh pembahasan di atas harus diletakkan dalam kerangka yang benar agar tidak bergeser menjadi kultivasi kekayaan. Harta adalah wasilah dan bukan tujuan, ia sarana pembantu untuk beribadah, bukan tujuan atau tuhan yang harus disembah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan dengan kalimat yang menohok,لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ“Seandainya dunia ini senilai sayap nyamuk di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan memberi minum orang kafir walau seteguk air.” (HR. at-Tirmidzi no. 2320) [14]Pada saat yang sama, Allah Ta’ala mengajarkan keseimbangan dalam memakainya,وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, dan adalah pembelanjaan itu di tengah-tengah antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67)Tidak berlebihan, tidak pula kikir, dan berada di tengah-tengah. Kedua nash di atas tidak saling bertentangan; yang satu mematikan penyembahan terhadap harta, sementara yang lain mengatur peredarannya. Dunia tidak bernilai di sisi Allah, namun cara hamba memakainya tetap dihitung dan diminta pertanggungjawabannya. Prinsip inilah yang paling dasar dalam ekonomi Islam sekaligus paling berat dipraktikkan karena ia menyentuh angka pada rekening, bukan sekadar lisan.PenutupMencari rezeki yang halal adalah ibadah, dan ibadah jenis ini punya efek yang langsung terasa pada perut dan tempat tinggal. Memperkuat pondasi ekonomi umat termasuk menyiapkan kekuatan yang Allah perintahkan dalam surah Al-Anfal. Berdiri di atas kaki sendiri adalah kehormatan bagi seorang Muslim karena ia tidak membebani orang lain. Semua ini bukan teori yang mengawang-awang, sebab generasi terbaik umat ini telah mempraktikkannya.Dunia bukan musuh yang harus dijauhi dan bukan pula tujuan. Dunia adalah wasilah atau perantara, manusialah yang dapat meniatkan menjadi wasilah apa dari dunia yang ia usahakan. Setiap Muslim yang bekerja keras di bidangnya dengan niat yang benar dan cara yang halal sedang meletakkan satu batu bata pada bangunan yang lebih besar dari dirinya.Wallahu a’lam bish-shawab.***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 7: 425.[2] HR. Bukhari no. 2072.[3] HR. Ahmad no. 17265, dari Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu. Syekh Syu’aib al-Arna’uth menilai sanadnya hasan lighairihi karena ada kekeliruan pada salah satu perawinya, sementara al-Hakim mensahihkannya dan al-Albani mensahihkan lafaz semakna ini dalam Shahih at-Targhib no. 1690. Sebagian kitab muamalah mencantumkan riwayat ini dengan nomor at-Tirmidzi no. 1315.[4] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jil. 4.[5] HR. Muslim no. 2664 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Juga pada Ibnu Majah no. 79 dan Ahmad no. 8777 dengan lafaz yang semakna.[6] Imam an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16: 215.[7] Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 7: 502.[8] HR. Bukhari pada tafsir ayat ini, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, tentang keengganan sebagian sahabat berdagang di pasar Jahiliah. Al-Hakim meriwayatkannya dalam al-Mustadrak no. 2885, dan Adz-Dzahabi menyepakatinya.[9] HR. Bukhari no. 2048.[10] HR. ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, dan Ahmad no. 26729 dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Syekh Al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (6: 1036) dan Dha’if Ibni Majah no. 750 memiliki penilaian yang tidak sama pada jalur yang berbeda, jadi sebaiknya tidak menetapkan salah satu tanpa memeriksa kedua kitab itu.[11] HR. at-Tirmidzi no. 1209.[12] HR. at-Tirmidzi no. 1210.[13] HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532.[14] HR. at-Tirmidzi no. 2320 dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu.[15] HR. Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 1003.


Daftar Isi ToggleTugas manusia adalah beribadahMemperkuat pondasi ekonomi umat termasuk ibadahPara Rasul juga berdagangPara sahabat terbaik juga pedagangCatatan untuk para pekerjaDunia adalah wasilah, bukan tujuanPenutupTerdapat sebuah pemahaman keliru yang menyebar dan terkadang menjadi hal yang diperdebatkan di tengah umat, juga disalahpahami. Orang yang saleh dianggap semestinya menjauh dari urusan dunia, kerja keras dicurigai mengganggu ibadah, dan harta yang banyak dianggap sebagai tanda hati terikat pada dunia. Turunan dari pemahaman seperti ini di antaranya adalah kemiskinan dianggap bukti ketakwaan, sementara kekayaan dianggap pintu kemaksiatan.Pemahaman seperti ini akan membawa kepada kerusakan yang nyata. Karena, dakwah ini butuh pendanaan, fasilitas belajar butuh guru yang digaji, dan fasilitas kesehatan tidak mungkin berdiri begitu saja tanpa orang-orang yang berkecimpung dalamnya. Ketika semua keseriusan dalam mendalami urusan dunia ditinggalkan atas nama kesalehan, yang tersisa hanyalah niat baik tanpa kemampuan untuk mewujudkannya.Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menjadi lemah. Bahkan, ekonomi umat yang berdaya merupakan visi islam untuk kaum muslimin. Setiap Muslim harus paham bahwa aktivitas dunia yang benar dan diniatkan karena Allah dapat bernilai ibadah. Oleh karena itu, penguatan ekonomi umat termasuk menyiapkan kekuatan yang Allah perintahkan. Para sahabat Nabi pun memahami semua itu dalam kehidupan nyata mereka. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Tugas manusia adalah beribadahAllah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Biasanya yang terjadi begini. Ayat yang cakupannya selebar itu dipahami dengan makna yang sempit. Ibadah dipahami sebatas salat, puasa, dan zikir, sementara selebihnya dikategorikan sebagai urusan dunia yang harus disertai rasa bersalah.Padahal Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan “al-‘ibadah” dalam ayat ini dengan cakupan yang lebih luas dari yang dipahami kebanyakan orang, yakni meliputi seluruh aktivitas yang dicintai dan diridai Allah, termasuk di dalamnya mencari rezeki yang halal. [1] Konsekuensinya praktis sekali, dan orang yang pernah benar-benar kehabisan uang biasanya lebih paham dibanding kita yang hanya membacanya. Pikiran tentang kebutuhan keluarga itu tidak berhenti hanya karena seseorang sudah berdiri di dalam shaf, sementara zakat tidak mungkin keluar dari harta yang tidak dimiliki dan haji tidak bisa ditunaikan tanpa bekal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari no. 2072) [2]Yang dimaksud “makan dari hasil kerja tangan sendiri” adalah semisal yang ditunaikan Nabi Dawud ‘alaihis salam, seorang raja yang tetap memakan hasil usahanya sendiri. Bekerja dengan tangan bukan kompromi bagi orang yang imannya tipis, melainkan perkara yang mulia.Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah ditanya tentang jenis usaha yang paling baik. Tidak ada jenis ibadah sunah yang beliau sebut, yang beliau sebut adalah jenis transaksi. Beliau bersabda,عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ“Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih dari penipuan.” (HR. Ahmad, disahihkan al-Albani) [3]Seorang Muslim yang keluar rumah di pagi hari untuk bekerja, berdagang, atau mengembangkan keahlian, dengan niat yang benar dan cara yang halal, maka dia sedang beribadah, dan keringatnya terhitung pahala.Memperkuat pondasi ekonomi umat termasuk ibadahPembahasan pada bagian di atas masih berkaitan dengan kebutuhan pribadi. Namun, ibadah dalam konteks ekonomi tidak berhenti di situ. Terdapat dimensi yang lebih besar, yaitu memperkuat pondasi umat agar agama ini menjadi kekuatan yang berdaya dan disegani.Allah Ta’ala memerintahkan,وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi.” (QS. Al-Anfal: 60)Ayat ini ditujukan kepada pasukan yang akan berangkat menghadapi musuh, dan tidak ada pasukan yang bergerak tanpa bekal. Oleh karena itu, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa al-quwwah dalam ayat ini tidak terbatas pada kekuatan militer, melainkan mencakup segala bentuk kekuatan yang sanggup disiapkan oleh umat Islam, termasuk kekuatan ekonomi dan perbekalan. [4]Bekal tidak terwujud hanya dengan doa. Bekal lahir dari perencanaan dan pos-pos pembiayaan yang dijalankan bertahun-tahun sebelumnya. Ada perdagangan yang hasilnya menutup kebutuhan satu musim, dan ada pula tanah yang hasilnya ditahan agar mengalir setiap tahun, sehingga dari aliran itulah guru-guru bisa digaji dan mahasiswa dibiayai puluhan tahun tanpa harus meminta-minta. Kekuatan ekonomi kaum muslimin merupakan perkara yang wajib diperhatikan, karena banyak kewajiban yang bertumpu pada kekuatan ekonomi. Maka, kekuatan ekonomi bukanlah perkara tambahan (fadhlah) melainkan perkara inti (umdah).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan prinsip yang tegas dalam hal ini,الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim no. 2664) [5]Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa “kekuatan” dalam hadis ini bersifat umum, mencakup badan, ilmu, beserta harta. [6] Jadi, yang dimaksud bukan hanya fisik yang kuat atau hafalan ilmu yang banyak. Seorang Muslim yang bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya untuk menguatkan ekonomi diri dan umatnya sedang mewujudkan sifat yang dicintai Allah Ta’ala, bukan sedang mengejar dunia, melainkan sedang menyiapkan quwwah yang Rabb-nya perintahkan.Baca juga: Harta di Tangan Orang yang ShalihPara Rasul juga berdagangBila masih tersisa keraguan, cukup diperhatikan teladan para Rasul ‘alaihimush shalatu wassalam. Mereka manusia terbaik yang pernah hidup, dan tidak seorang pun dari mereka merasa rendah untuk bekerja.Ketika orang-orang musyrik Makkah mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka tidak mencela salat beliau. Mereka mencela beliau karena beliau makan makanan biasa dan berjalan di pasar, seolah-olah mencari nafkah menurunkan derajat seorang pemimpin. Allah Ta’ala tidak membela beliau dengan menyatakan bahwa beliau tidak berdagang. Allah justru menegaskan bahwa seluruh Rasul sebelum beliau juga melakukan hal yang sama,وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ“Kami tidak mengutus Rasul-Rasul sebelum engkau, kecuali mereka pasti memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar.” (QS. Al-Furqan: 20)Al-Qurthubi rahimahullah menyebut ayat ini sebagai landasan syar’i untuk menempuh sebab-sebab rezeki, baik melalui perdagangan, kerajinan, maupun berbagai bentuk usaha lainnya. [7] Berkerja di pasar bukanlah aib. Allah Ta’ala sendiri menjadikannya sebagai sifat para Rasul untuk membantah orang yang menganggapnya rendah.Bahkan sebagian sahabat pernah merasa berdosa karena berdagang di pasar-pasar yang dahulu dikenal sebagai pasar Jahiliah seperti ‘Ukazh dan Majannah, khawatir tersangkut bekas ritual kaum Jahiliah di sana. Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat yang menghapus kegelisahan mereka [8],لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ“Tidak ada dosa bagi kalian untuk mencari karunia dari Rabb kalian.” (QS. Al-Baqarah: 198)Perhatikan kata ‘fadhl’ (karunia) pada ayat ini. Allah tidak menamai keuntungan dagang sebagai urusan dunia yang hina dan sekadar dimaklumi, Allah menamainya karunia dari Rabb mereka.Para sahabat terbaik juga pedagangGenerasi terbaik umat ini memberikan penerapan yang paling jelas atas dalil-dalil di atas. Di antara mereka ada sahabat yang paling zuhud sekaligus pemilik usaha yang tangguh.Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu tiba di Madinah sebagai Muhajir (orang yang berhijrah) tanpa membawa harta. Beliau dipersaudarakan dengan Sa’d bin ar-Rabi’ al-Anshari radhiyallahu ‘anhu yang kaya raya. Sa’d menawarkan setengah hartanya, bahkan menawarkan menceraikan salah satu istrinya agar Abdurrahman menikahinya setelah masa iddah, dan beliau menolaknya dengan halus. Pertanyaan yang beliau ajukan justru terdengar sederhana sekali,هَلْ مِنْ سُوقٍ فِيهِ تِجَارَةٌ؟“Apakah ada pasar yang bisa dijadikan tempat berdagang?” Lalu ditunjukkanlah kepadanya pasar Bani Qainuqa’. (HR. Bukhari no. 2048) [9]Keesokan paginya, beliau berangkat ke pasar itu membawa susu kering dan keju, dua barang yang modalnya bisa dikumpulkan siapa saja. Keuntungan yang beliau bawa pulang masih kecil, lalu datang lagi di hari-hari berikutnya hingga Allah memberkahi usaha tersebut, sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bekas wewangian berwarna kuning pada dirinya beberapa hari kemudian sebagai tanda bahwa beliau baru saja menikah. Yang perlu digarisbawahi di sini bukan besarnya harta yang akhirnya beliau miliki, melainkan titik awalnya, yaitu sebuah pertanyaan tentang letak pasar dan keberanian berangkat keesokan harinya.Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pun demikian. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menceritakan,لَقَدْ خَرَجَ أَبُو بَكْرٍ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ تَاجِرًا إِلَى بُصْرَى“Abu Bakar pernah keluar berdagang ke Bushra di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir) [10]Peristiwa itu terjadi pada masa wahyu masih turun, di penghujung hayat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pada masa lalu yang sudah berlalu jauh sebelum risalah. Yang menemani perjalanan niaga beliau ke Syam juga bukan orang sembarangan, karena dalam riwayat lain disebutkan bersama Abu Bakar ada Nu’aiman dan Suwaibit bin Harmalah, dua orang yang pernah mengikuti Perang Badar. Tidak ada seorang pun dari mereka yang merasa sedang berpaling dari akhirat.Kecintaan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menghalangi aktivitas dagang, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak melarangnya. Sehingga tidak ada kontradiksi di mata mereka antara kedekatan dengan Rasulullah dan usaha yang mereka jalankan. Mereka tidak mempertentangkan dunia dan akhirat. Bagi mereka, keduanya bukan pilihan yang salah satunya harus ditinggalkan.Catatan untuk para pekerjaTanpa bagian ini, dalil-dalil di atas berpotensi disalahpahami sebagai pembenaran bagi para pengumpul harta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan dua gambaran yang kontras tentang nasib pedagang di akhirat. Salah satunya menjanjikan kedudukan yang luar biasa,التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ“Pedagang yang jujur dan amanah akan dikumpulkan bersama para Nabi, shiddiqin, dan syuhada.” (HR. at-Tirmidzi no. 1209) [11]Satunya lagi memperingatkan dengan keras,يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلَّا مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ“Wahai para pedagang, sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai pendosa, kecuali yang bertakwa, berbuat baik, dan jujur.” (HR. at-Tirmidzi no. 1210) [12]Dua hadis dengan satu objek yang sama, dan yang membedakan keduanya hanyalah kejujuran serta ketakwaan. Dua sifat inilah yang menentukan apakah seorang pedagang diangkat ke derajat para Nabi atau justru dibangkitkan sebagai pendosa.Islam menetapkan rambu yang jelas dalam transaksi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا“Dua orang yang berjual-beli memiliki hak khiyar selama belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (cacat barang), jual-beli mereka diberkahi. Jika keduanya menyembunyikan cacat dan berdusta, dihapuslah keberkahan jual-beli mereka.” (HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532) [13]Di antara rambu yang Islam tegaskan adalah riba. Riba adalah perkara haram jika dilakukan oleh kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 278)Penjelasan pada hadis ini bukan hanya berlaku untuk para pedagang, para pekerja yang menandatangani kotrak pun masuk ke dalamnya.Baca juga: Beginilah Indahnya Islam dalam Mengatur Hak-Hak Para PekerjaDunia adalah wasilah, bukan tujuanSeluruh pembahasan di atas harus diletakkan dalam kerangka yang benar agar tidak bergeser menjadi kultivasi kekayaan. Harta adalah wasilah dan bukan tujuan, ia sarana pembantu untuk beribadah, bukan tujuan atau tuhan yang harus disembah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan dengan kalimat yang menohok,لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ“Seandainya dunia ini senilai sayap nyamuk di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan memberi minum orang kafir walau seteguk air.” (HR. at-Tirmidzi no. 2320) [14]Pada saat yang sama, Allah Ta’ala mengajarkan keseimbangan dalam memakainya,وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, dan adalah pembelanjaan itu di tengah-tengah antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67)Tidak berlebihan, tidak pula kikir, dan berada di tengah-tengah. Kedua nash di atas tidak saling bertentangan; yang satu mematikan penyembahan terhadap harta, sementara yang lain mengatur peredarannya. Dunia tidak bernilai di sisi Allah, namun cara hamba memakainya tetap dihitung dan diminta pertanggungjawabannya. Prinsip inilah yang paling dasar dalam ekonomi Islam sekaligus paling berat dipraktikkan karena ia menyentuh angka pada rekening, bukan sekadar lisan.PenutupMencari rezeki yang halal adalah ibadah, dan ibadah jenis ini punya efek yang langsung terasa pada perut dan tempat tinggal. Memperkuat pondasi ekonomi umat termasuk menyiapkan kekuatan yang Allah perintahkan dalam surah Al-Anfal. Berdiri di atas kaki sendiri adalah kehormatan bagi seorang Muslim karena ia tidak membebani orang lain. Semua ini bukan teori yang mengawang-awang, sebab generasi terbaik umat ini telah mempraktikkannya.Dunia bukan musuh yang harus dijauhi dan bukan pula tujuan. Dunia adalah wasilah atau perantara, manusialah yang dapat meniatkan menjadi wasilah apa dari dunia yang ia usahakan. Setiap Muslim yang bekerja keras di bidangnya dengan niat yang benar dan cara yang halal sedang meletakkan satu batu bata pada bangunan yang lebih besar dari dirinya.Wallahu a’lam bish-shawab.***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 7: 425.[2] HR. Bukhari no. 2072.[3] HR. Ahmad no. 17265, dari Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu. Syekh Syu’aib al-Arna’uth menilai sanadnya hasan lighairihi karena ada kekeliruan pada salah satu perawinya, sementara al-Hakim mensahihkannya dan al-Albani mensahihkan lafaz semakna ini dalam Shahih at-Targhib no. 1690. Sebagian kitab muamalah mencantumkan riwayat ini dengan nomor at-Tirmidzi no. 1315.[4] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jil. 4.[5] HR. Muslim no. 2664 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Juga pada Ibnu Majah no. 79 dan Ahmad no. 8777 dengan lafaz yang semakna.[6] Imam an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16: 215.[7] Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 7: 502.[8] HR. Bukhari pada tafsir ayat ini, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, tentang keengganan sebagian sahabat berdagang di pasar Jahiliah. Al-Hakim meriwayatkannya dalam al-Mustadrak no. 2885, dan Adz-Dzahabi menyepakatinya.[9] HR. Bukhari no. 2048.[10] HR. ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, dan Ahmad no. 26729 dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Syekh Al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (6: 1036) dan Dha’if Ibni Majah no. 750 memiliki penilaian yang tidak sama pada jalur yang berbeda, jadi sebaiknya tidak menetapkan salah satu tanpa memeriksa kedua kitab itu.[11] HR. at-Tirmidzi no. 1209.[12] HR. at-Tirmidzi no. 1210.[13] HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532.[14] HR. at-Tirmidzi no. 2320 dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu.[15] HR. Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 1003.

Tafsir Surah Al-Mutaffifin (Bag. 2): Akhir Kisah Para Fujjar, Orang-orang Durhaka

Pada tulisan kedua dari surah Al-Mutaffifin ini, Allah berbicara kepada kita tentang bagaimana akhir hidup para pendosa, orang-orang yang mendurhakai aturan Allah Ta’ala, menyebabkan kerusakan bagi banyak orang di muka bumi. Termasuk salah satu bentuk durhaka tersebut adalah mengurangi takaran dan timbangan. Mereka nekat melakukan yang demikian karena merasa tidak akan dibangkitkan di hari kiamat, merasa bisa selamat dari azab Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْفُجَّارِ لَفِيْ سِجِّيْنٍۗ“Jangan sekali-kali begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar (tersimpan) dalam Sijjīn.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 7)Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada kita tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang durhaka, yaitu amal keburukan dan kebusukan mereka tercatat rapi dalam sebuah catatan amal yang bernama Sijjin.Allah menggunakan kata كَلَّآ yang digunakan untuk mencegah atau melarang manusia dari perbuatan curang yang telah disebutkan pada ayat sebelumnya. Curang ini bisa terjadi kepada orang kafir maupun orang mukmin. Perbedaannya adalah orang kafir melakukan itu karena tidak percaya adanya hari kiamat; sedangkan orang mukmin percaya kepada hari kiamat, akan tetapi melakukannya karena sedang lalai dan lupa bahwa amal mereka akan dihisab pada hari akhir.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سِجِّيْنٌۗ , كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ“Tahukah engkau apakah Sijjīn itu? (Ia adalah) kitab yang berisi catatan (amal).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 8-9)Kemudian ayat berikutnya menjelaskan tentang Sijjin yang telah disebutkan pada ayat berikutnya. Allah membuka ayat ini dengan pertanyaan, namun bukan untuk menunggu jawaban dari hamba. Akan tetapi, pertanyaan ini dibuat dan diulang untuk menunjukkan betapa agungnya Sijjin ini dan memberikan rasa takut kepada para hamba, jangan sampai amalnya dicatat dalam lembaran-lembaran ini.Ulama sendiri berbeda pendapat tentang apa itu Sijiin, serta berbeda pendapat apakah ayat kesembilan merupakan penjelasan dari ayat sebelumnya; ataukah Sijjin dan kitab yang berisi catatan amal adalah dua hal yang berbeda.Sebagian ulama menjelaskan bahwa Sijjin adalah suatu tempat yang sangat dalam di neraka Jahanam, tempat orang-orang curang disiksa dan dibakar oleh para malaikat tanpa kenal ampun. Oleh karena itu, ayat kesembilan bukanlah merupakan penjelasan dari ayat sebelumya, akan tetapi dua hal yang berbeda. Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi menjelaskan bahwa  كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ bukan tafsir dari سِجِّيْنٌۗ; akan tetapi, كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ adalah kitab berisi nama-nama orang yang sudah digariskan dan ditakdirkan akan memasuki neraka Sijjin, neraka yang amat sangat dalam. Oleh karena itu, isi dari kitab ini permanen, tidak berubah, tidak akan ada jiwa yang ditambahkan di sana, juga tidak ada yang dikurangi.Sebagian ulama lain menjelaskan bahwa ayat kesembilan merupakan tafsir dari ayat kedelapan. Dalam kitab Mahasinut Tafsir dijelaskan bahwa jika Allah membuka dengan kalimat وَمَآ اَدْرٰىكَ, maka setelahnya adalah tafsir dan penjelasan. Akan tetapi, jika Allah menggunakan kata وما يُدْرِيكَ, maka Allah akan biarkan itu tetap mubham tanpa penjelasan, untuk menguji keimanan kita pada hal yang gaib. Oleh karena itu, dalam Al-Kasyaf disebutkan bahwa Sijjin adalah sebuah buku besar yang memuat semua bentuk kejahatan dan kemaksiatan. Allah Ta’ala mengumpulkan di sana segala bentuk perbuatan buruk iblis, setan, orang kafir, dan orang fasik, baik dari golongan jin atau manusia. Semua orang mengerti bahwa di dalamnya tidak ada catatan kebaikan sedikitpun. Dinamakan Sijjin yang berarti tertahan dan sempit, dikarenakan kitab itu adalah sebab seseorang dihimpit dan ditahan di neraka jahannam.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَۙ , الَّذِيْنَ يُكَذِّبُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۗ“Celakalah pada hari itu bagi para pendusta, yaitu orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 10-11)Allah telah menyiapkan azab yang sangat pedih bagi para pendusta, dimana mereka mendustakan hari kiamat, atau balasan di hari kiamat, atau mendustakan salah satu saja hal yang diyakini itu berasal dari para Nabi.Allah jelaskan siapa itu pendusta, yaitu mereka yang mendustakan hari pembalasan. Namun hal ini bukanlah bentuk penjelasan siapa itu pendusta, bukan juga pembatasan, akan tetapi sebagai bentuk celaan dan hinaan. Hal ini karena ancaman celaka bukan hanya berlaku bagi orang yang mendustakan hari kiamat saja, akan tetapi juga mendustakan salah satu saja ajaran para Nabi yang lain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا يُكَذِّبُ بِهٖٓ اِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ , اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ“Tidak ada yang mendustakannya, kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi sangat berdosa. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, “(Itu adalah) dongeng orang-orang dahulu.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 12-13)Kemudian Allah jelaskan sifat-sifat mereka nekat mengingkari adanya hari kiamat.Pertama, mereka memiliki sifat مُعْتَدٍ yaitu berbuat fajir dan melampaui batas dari apa yang telah digariskan Allah sebagai aturan manusia di muka bumi.Kedua, اَثِيْمٍۙ yaitu banyak dan sangat berdosa, seseorang yang tenggelam dalam gelapnya lautan dosa, senantiasa menjerang yang haram dan berlebih-lebihan dalam hal mubah.Ketiga, mereka menuduh Al-Qur’an adalah dongeng orang-orang terdahulu, mereka menuduh risalah ini adalah kebohongan yang hanya digunakan sekedar untuk menakut-nakuti manusia, dikatakan bahwa peristiwa dalam Al-Qur’an sejatinya tidak pernah terjadi, hanya suatu dongeng yang bertujuan manusia melakukan kebajikan dan mencegah dari keburukan.Pandangan yang menyatakan kisah dalam Al-Qur’an hanyalah dongeng, bukan kisah nyata yang pernah terjadi, dan hanya berfungsi sebagai kontrol sosial bukan hanya menjadi ucapan orang musyrik Quraisy, akan tetapi menjadi pemikiran yang masih hidup sampai zaman ini. Pandangan ini diucapkan oleh lisan-lisan busuk sebagian orientalis yang berusaha mereduksi kandungan Al-Qur’an. Di antaranya kita dapati nama-nama seperti J.J. Ten Berge, Theodor Nöldeke, John Wansbrough yang mencoba menghancurkan status Al-Qur’an sebagai kitab suci, mereka reduksi hanya sebagai kitab sejarah, dongeng orang terdahulu yang berfungsi sebagai kontrol sosial, dan semisalnya. Pandangan ini direspon oleh akademisi muslim dengan argumen yang kuat, di antaranya oleh Syekh Muhammad Musthafa Azami atau Aisyah bintu Syathi, dan semisal mereka, semoga Allah menjaga mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ“Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 14)Setelah menyebutkan sifat-sifat busuk para pendusta ajaran syariat yang mulia ini, Allah jelaskan apa sebab mereka nekat mendustakan hari kiamat. Yaitu mereka terus-menerus melakukan dosa dan kesalahan, dari yang kecil menuju yang besar, sesekali kemudian berkali-kali kemudian menjadi kebiasaan, kemudian jadilah mereka meremehkan syariat dan meremehkan segala ajaran dalam Al-Qur’an. Hati mereka gelap, tidak mampu lagi untuk kembali menuju cahaya hidayah, tertutup untuk mendapatkan hidayah Al-Qur’an. Mereka menunda-nunda tobat mereka ketika melakukan kesalahan, sehingga yang awalnya noda kecil dalam hati, kemudian menjadi noda besar, lalu menutup hati mereka seluruhnya.Dalam hadis yang diriwatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan pesan,إن العبد إذا أذنب ذنبا، نكتت في قلبه نكتة سوداء، فإن تاب ونزع واستغفر، صقل قلبه، وإن عاد زادت حتى تغلف قلبه، فذلك الران الذي ذكره الله سبحانه في القرآن“Jika seorang hamba melakukan dosa, maka akan tergoreslah setitik noda hitam dalam hatinya. Namun, jika dirinya segera bertobat, lari dari dosa terebut, serta beristigfar meminta ampun, maka akan kembali bersihlah hatinya. Sebaliknya, jika dia terus-menerus mengulangi dosanya, noda hitam tersebut akan menutup hatinya. Maka ini adalah ar-ran atau noda hitam yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَۗ , ثُمَّ اِنَّهُمْ لَصَالُوا الْجَحِيْمِۗ“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (rahmat) Tuhannya. Sesungguhnya mereka kemudian benar-benar masuk (neraka) Jahim.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 15-16)Allah mulai dengan kata كَلَّآ yang membantah klaim orang-orang musyrik bahwa seandainya mereka hidup lagi di akhirat, maka mereka akan mendapatkan kehidupan yang mudah dan menyenangkan seperti di dunia, maka tidak dan sekali-kali tidak demikian. Sebaliknya, orang-orang yang mengingkari kebenaran ini akan terhalang dari rahmat Allah, tidak akan dilihat oleh Allah untuk diberikan ampunan. Merekapun terhalang dari melihat Allah dan memandang kemuliaan Allah pada hari kiamat. Pekatnya dosa-dosa mereka telah membutakan pandangan mereka di hari kiamat, ketika di dunia mereka buta terhadap tauhid, maka di hari kiamat Allah butakan mereka tidak bisa melihat. Sebaliknya orang-orang mukmin yang penuh cahaya tauhid, penuh keimanan, melihat Allah dengan pandangan penuh kenikmatan.Orang-orang kafir digiring menuju neraka, neraka yang mereka dulu anggap hanya dongeng orang terdahulu untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak melawan orang tua mereka, cerita yang digunakan agar anak-anak tidak mencuri pohon mangga tetangga mereka, mereka katakan itu dengan lisan busuk mereka. Ternyata sekarang, mereka dapati neraka adalah kebenaran yang sangat nyata, mereka rasakan pedihnya siksaan nereka, mereka dibakar sampai hancur di neraka, setelah hancur mereka dibangkitkan kembali, bukan untuk istirahat namun untuk disiksa kembali, selama-lamanya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ يُقَالُ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَۗ“Lalu dikatakan (kepada mereka), “Inilah (azab) yang selalu kamu dustakan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 17)Malaikat Zabaniyah, para penjaga dan penyiksa di nereka mengatakan kepada mereka, “Rasakanlah, azab pedih yang dulu kalian dustakan, bahkan kalian olok-olok di dunia, sekarang kalian merasakannya tanpa pernah ada sedikitpun diringankan, bahkan setiap hari siksaannya akan bertambah sakit dan bertambah mengerikan.”Pernyataan ini sebagai bentuk siksaan pada psikis dan jiwa penghuni neraka. Bukan hanya sekedar badan dan fisik mereka yang disiksa, namun psikis mereka juga dihancurkan dengan cara diolok-olok oleh para malaikat penjaga Jahanam. Sehingga hancurlah fisik dan jiwa mereka. Semoga Allah melindungi kita semua dan dijauhkan sejauh-jauhnya dari murka Allah.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Tafsir Surah Al-Mutaffifin (Bag. 2): Akhir Kisah Para Fujjar, Orang-orang Durhaka

Pada tulisan kedua dari surah Al-Mutaffifin ini, Allah berbicara kepada kita tentang bagaimana akhir hidup para pendosa, orang-orang yang mendurhakai aturan Allah Ta’ala, menyebabkan kerusakan bagi banyak orang di muka bumi. Termasuk salah satu bentuk durhaka tersebut adalah mengurangi takaran dan timbangan. Mereka nekat melakukan yang demikian karena merasa tidak akan dibangkitkan di hari kiamat, merasa bisa selamat dari azab Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْفُجَّارِ لَفِيْ سِجِّيْنٍۗ“Jangan sekali-kali begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar (tersimpan) dalam Sijjīn.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 7)Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada kita tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang durhaka, yaitu amal keburukan dan kebusukan mereka tercatat rapi dalam sebuah catatan amal yang bernama Sijjin.Allah menggunakan kata كَلَّآ yang digunakan untuk mencegah atau melarang manusia dari perbuatan curang yang telah disebutkan pada ayat sebelumnya. Curang ini bisa terjadi kepada orang kafir maupun orang mukmin. Perbedaannya adalah orang kafir melakukan itu karena tidak percaya adanya hari kiamat; sedangkan orang mukmin percaya kepada hari kiamat, akan tetapi melakukannya karena sedang lalai dan lupa bahwa amal mereka akan dihisab pada hari akhir.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سِجِّيْنٌۗ , كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ“Tahukah engkau apakah Sijjīn itu? (Ia adalah) kitab yang berisi catatan (amal).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 8-9)Kemudian ayat berikutnya menjelaskan tentang Sijjin yang telah disebutkan pada ayat berikutnya. Allah membuka ayat ini dengan pertanyaan, namun bukan untuk menunggu jawaban dari hamba. Akan tetapi, pertanyaan ini dibuat dan diulang untuk menunjukkan betapa agungnya Sijjin ini dan memberikan rasa takut kepada para hamba, jangan sampai amalnya dicatat dalam lembaran-lembaran ini.Ulama sendiri berbeda pendapat tentang apa itu Sijiin, serta berbeda pendapat apakah ayat kesembilan merupakan penjelasan dari ayat sebelumnya; ataukah Sijjin dan kitab yang berisi catatan amal adalah dua hal yang berbeda.Sebagian ulama menjelaskan bahwa Sijjin adalah suatu tempat yang sangat dalam di neraka Jahanam, tempat orang-orang curang disiksa dan dibakar oleh para malaikat tanpa kenal ampun. Oleh karena itu, ayat kesembilan bukanlah merupakan penjelasan dari ayat sebelumya, akan tetapi dua hal yang berbeda. Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi menjelaskan bahwa  كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ bukan tafsir dari سِجِّيْنٌۗ; akan tetapi, كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ adalah kitab berisi nama-nama orang yang sudah digariskan dan ditakdirkan akan memasuki neraka Sijjin, neraka yang amat sangat dalam. Oleh karena itu, isi dari kitab ini permanen, tidak berubah, tidak akan ada jiwa yang ditambahkan di sana, juga tidak ada yang dikurangi.Sebagian ulama lain menjelaskan bahwa ayat kesembilan merupakan tafsir dari ayat kedelapan. Dalam kitab Mahasinut Tafsir dijelaskan bahwa jika Allah membuka dengan kalimat وَمَآ اَدْرٰىكَ, maka setelahnya adalah tafsir dan penjelasan. Akan tetapi, jika Allah menggunakan kata وما يُدْرِيكَ, maka Allah akan biarkan itu tetap mubham tanpa penjelasan, untuk menguji keimanan kita pada hal yang gaib. Oleh karena itu, dalam Al-Kasyaf disebutkan bahwa Sijjin adalah sebuah buku besar yang memuat semua bentuk kejahatan dan kemaksiatan. Allah Ta’ala mengumpulkan di sana segala bentuk perbuatan buruk iblis, setan, orang kafir, dan orang fasik, baik dari golongan jin atau manusia. Semua orang mengerti bahwa di dalamnya tidak ada catatan kebaikan sedikitpun. Dinamakan Sijjin yang berarti tertahan dan sempit, dikarenakan kitab itu adalah sebab seseorang dihimpit dan ditahan di neraka jahannam.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَۙ , الَّذِيْنَ يُكَذِّبُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۗ“Celakalah pada hari itu bagi para pendusta, yaitu orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 10-11)Allah telah menyiapkan azab yang sangat pedih bagi para pendusta, dimana mereka mendustakan hari kiamat, atau balasan di hari kiamat, atau mendustakan salah satu saja hal yang diyakini itu berasal dari para Nabi.Allah jelaskan siapa itu pendusta, yaitu mereka yang mendustakan hari pembalasan. Namun hal ini bukanlah bentuk penjelasan siapa itu pendusta, bukan juga pembatasan, akan tetapi sebagai bentuk celaan dan hinaan. Hal ini karena ancaman celaka bukan hanya berlaku bagi orang yang mendustakan hari kiamat saja, akan tetapi juga mendustakan salah satu saja ajaran para Nabi yang lain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا يُكَذِّبُ بِهٖٓ اِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ , اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ“Tidak ada yang mendustakannya, kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi sangat berdosa. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, “(Itu adalah) dongeng orang-orang dahulu.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 12-13)Kemudian Allah jelaskan sifat-sifat mereka nekat mengingkari adanya hari kiamat.Pertama, mereka memiliki sifat مُعْتَدٍ yaitu berbuat fajir dan melampaui batas dari apa yang telah digariskan Allah sebagai aturan manusia di muka bumi.Kedua, اَثِيْمٍۙ yaitu banyak dan sangat berdosa, seseorang yang tenggelam dalam gelapnya lautan dosa, senantiasa menjerang yang haram dan berlebih-lebihan dalam hal mubah.Ketiga, mereka menuduh Al-Qur’an adalah dongeng orang-orang terdahulu, mereka menuduh risalah ini adalah kebohongan yang hanya digunakan sekedar untuk menakut-nakuti manusia, dikatakan bahwa peristiwa dalam Al-Qur’an sejatinya tidak pernah terjadi, hanya suatu dongeng yang bertujuan manusia melakukan kebajikan dan mencegah dari keburukan.Pandangan yang menyatakan kisah dalam Al-Qur’an hanyalah dongeng, bukan kisah nyata yang pernah terjadi, dan hanya berfungsi sebagai kontrol sosial bukan hanya menjadi ucapan orang musyrik Quraisy, akan tetapi menjadi pemikiran yang masih hidup sampai zaman ini. Pandangan ini diucapkan oleh lisan-lisan busuk sebagian orientalis yang berusaha mereduksi kandungan Al-Qur’an. Di antaranya kita dapati nama-nama seperti J.J. Ten Berge, Theodor Nöldeke, John Wansbrough yang mencoba menghancurkan status Al-Qur’an sebagai kitab suci, mereka reduksi hanya sebagai kitab sejarah, dongeng orang terdahulu yang berfungsi sebagai kontrol sosial, dan semisalnya. Pandangan ini direspon oleh akademisi muslim dengan argumen yang kuat, di antaranya oleh Syekh Muhammad Musthafa Azami atau Aisyah bintu Syathi, dan semisal mereka, semoga Allah menjaga mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ“Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 14)Setelah menyebutkan sifat-sifat busuk para pendusta ajaran syariat yang mulia ini, Allah jelaskan apa sebab mereka nekat mendustakan hari kiamat. Yaitu mereka terus-menerus melakukan dosa dan kesalahan, dari yang kecil menuju yang besar, sesekali kemudian berkali-kali kemudian menjadi kebiasaan, kemudian jadilah mereka meremehkan syariat dan meremehkan segala ajaran dalam Al-Qur’an. Hati mereka gelap, tidak mampu lagi untuk kembali menuju cahaya hidayah, tertutup untuk mendapatkan hidayah Al-Qur’an. Mereka menunda-nunda tobat mereka ketika melakukan kesalahan, sehingga yang awalnya noda kecil dalam hati, kemudian menjadi noda besar, lalu menutup hati mereka seluruhnya.Dalam hadis yang diriwatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan pesan,إن العبد إذا أذنب ذنبا، نكتت في قلبه نكتة سوداء، فإن تاب ونزع واستغفر، صقل قلبه، وإن عاد زادت حتى تغلف قلبه، فذلك الران الذي ذكره الله سبحانه في القرآن“Jika seorang hamba melakukan dosa, maka akan tergoreslah setitik noda hitam dalam hatinya. Namun, jika dirinya segera bertobat, lari dari dosa terebut, serta beristigfar meminta ampun, maka akan kembali bersihlah hatinya. Sebaliknya, jika dia terus-menerus mengulangi dosanya, noda hitam tersebut akan menutup hatinya. Maka ini adalah ar-ran atau noda hitam yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَۗ , ثُمَّ اِنَّهُمْ لَصَالُوا الْجَحِيْمِۗ“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (rahmat) Tuhannya. Sesungguhnya mereka kemudian benar-benar masuk (neraka) Jahim.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 15-16)Allah mulai dengan kata كَلَّآ yang membantah klaim orang-orang musyrik bahwa seandainya mereka hidup lagi di akhirat, maka mereka akan mendapatkan kehidupan yang mudah dan menyenangkan seperti di dunia, maka tidak dan sekali-kali tidak demikian. Sebaliknya, orang-orang yang mengingkari kebenaran ini akan terhalang dari rahmat Allah, tidak akan dilihat oleh Allah untuk diberikan ampunan. Merekapun terhalang dari melihat Allah dan memandang kemuliaan Allah pada hari kiamat. Pekatnya dosa-dosa mereka telah membutakan pandangan mereka di hari kiamat, ketika di dunia mereka buta terhadap tauhid, maka di hari kiamat Allah butakan mereka tidak bisa melihat. Sebaliknya orang-orang mukmin yang penuh cahaya tauhid, penuh keimanan, melihat Allah dengan pandangan penuh kenikmatan.Orang-orang kafir digiring menuju neraka, neraka yang mereka dulu anggap hanya dongeng orang terdahulu untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak melawan orang tua mereka, cerita yang digunakan agar anak-anak tidak mencuri pohon mangga tetangga mereka, mereka katakan itu dengan lisan busuk mereka. Ternyata sekarang, mereka dapati neraka adalah kebenaran yang sangat nyata, mereka rasakan pedihnya siksaan nereka, mereka dibakar sampai hancur di neraka, setelah hancur mereka dibangkitkan kembali, bukan untuk istirahat namun untuk disiksa kembali, selama-lamanya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ يُقَالُ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَۗ“Lalu dikatakan (kepada mereka), “Inilah (azab) yang selalu kamu dustakan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 17)Malaikat Zabaniyah, para penjaga dan penyiksa di nereka mengatakan kepada mereka, “Rasakanlah, azab pedih yang dulu kalian dustakan, bahkan kalian olok-olok di dunia, sekarang kalian merasakannya tanpa pernah ada sedikitpun diringankan, bahkan setiap hari siksaannya akan bertambah sakit dan bertambah mengerikan.”Pernyataan ini sebagai bentuk siksaan pada psikis dan jiwa penghuni neraka. Bukan hanya sekedar badan dan fisik mereka yang disiksa, namun psikis mereka juga dihancurkan dengan cara diolok-olok oleh para malaikat penjaga Jahanam. Sehingga hancurlah fisik dan jiwa mereka. Semoga Allah melindungi kita semua dan dijauhkan sejauh-jauhnya dari murka Allah.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
Pada tulisan kedua dari surah Al-Mutaffifin ini, Allah berbicara kepada kita tentang bagaimana akhir hidup para pendosa, orang-orang yang mendurhakai aturan Allah Ta’ala, menyebabkan kerusakan bagi banyak orang di muka bumi. Termasuk salah satu bentuk durhaka tersebut adalah mengurangi takaran dan timbangan. Mereka nekat melakukan yang demikian karena merasa tidak akan dibangkitkan di hari kiamat, merasa bisa selamat dari azab Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْفُجَّارِ لَفِيْ سِجِّيْنٍۗ“Jangan sekali-kali begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar (tersimpan) dalam Sijjīn.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 7)Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada kita tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang durhaka, yaitu amal keburukan dan kebusukan mereka tercatat rapi dalam sebuah catatan amal yang bernama Sijjin.Allah menggunakan kata كَلَّآ yang digunakan untuk mencegah atau melarang manusia dari perbuatan curang yang telah disebutkan pada ayat sebelumnya. Curang ini bisa terjadi kepada orang kafir maupun orang mukmin. Perbedaannya adalah orang kafir melakukan itu karena tidak percaya adanya hari kiamat; sedangkan orang mukmin percaya kepada hari kiamat, akan tetapi melakukannya karena sedang lalai dan lupa bahwa amal mereka akan dihisab pada hari akhir.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سِجِّيْنٌۗ , كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ“Tahukah engkau apakah Sijjīn itu? (Ia adalah) kitab yang berisi catatan (amal).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 8-9)Kemudian ayat berikutnya menjelaskan tentang Sijjin yang telah disebutkan pada ayat berikutnya. Allah membuka ayat ini dengan pertanyaan, namun bukan untuk menunggu jawaban dari hamba. Akan tetapi, pertanyaan ini dibuat dan diulang untuk menunjukkan betapa agungnya Sijjin ini dan memberikan rasa takut kepada para hamba, jangan sampai amalnya dicatat dalam lembaran-lembaran ini.Ulama sendiri berbeda pendapat tentang apa itu Sijiin, serta berbeda pendapat apakah ayat kesembilan merupakan penjelasan dari ayat sebelumnya; ataukah Sijjin dan kitab yang berisi catatan amal adalah dua hal yang berbeda.Sebagian ulama menjelaskan bahwa Sijjin adalah suatu tempat yang sangat dalam di neraka Jahanam, tempat orang-orang curang disiksa dan dibakar oleh para malaikat tanpa kenal ampun. Oleh karena itu, ayat kesembilan bukanlah merupakan penjelasan dari ayat sebelumya, akan tetapi dua hal yang berbeda. Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi menjelaskan bahwa  كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ bukan tafsir dari سِجِّيْنٌۗ; akan tetapi, كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ adalah kitab berisi nama-nama orang yang sudah digariskan dan ditakdirkan akan memasuki neraka Sijjin, neraka yang amat sangat dalam. Oleh karena itu, isi dari kitab ini permanen, tidak berubah, tidak akan ada jiwa yang ditambahkan di sana, juga tidak ada yang dikurangi.Sebagian ulama lain menjelaskan bahwa ayat kesembilan merupakan tafsir dari ayat kedelapan. Dalam kitab Mahasinut Tafsir dijelaskan bahwa jika Allah membuka dengan kalimat وَمَآ اَدْرٰىكَ, maka setelahnya adalah tafsir dan penjelasan. Akan tetapi, jika Allah menggunakan kata وما يُدْرِيكَ, maka Allah akan biarkan itu tetap mubham tanpa penjelasan, untuk menguji keimanan kita pada hal yang gaib. Oleh karena itu, dalam Al-Kasyaf disebutkan bahwa Sijjin adalah sebuah buku besar yang memuat semua bentuk kejahatan dan kemaksiatan. Allah Ta’ala mengumpulkan di sana segala bentuk perbuatan buruk iblis, setan, orang kafir, dan orang fasik, baik dari golongan jin atau manusia. Semua orang mengerti bahwa di dalamnya tidak ada catatan kebaikan sedikitpun. Dinamakan Sijjin yang berarti tertahan dan sempit, dikarenakan kitab itu adalah sebab seseorang dihimpit dan ditahan di neraka jahannam.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَۙ , الَّذِيْنَ يُكَذِّبُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۗ“Celakalah pada hari itu bagi para pendusta, yaitu orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 10-11)Allah telah menyiapkan azab yang sangat pedih bagi para pendusta, dimana mereka mendustakan hari kiamat, atau balasan di hari kiamat, atau mendustakan salah satu saja hal yang diyakini itu berasal dari para Nabi.Allah jelaskan siapa itu pendusta, yaitu mereka yang mendustakan hari pembalasan. Namun hal ini bukanlah bentuk penjelasan siapa itu pendusta, bukan juga pembatasan, akan tetapi sebagai bentuk celaan dan hinaan. Hal ini karena ancaman celaka bukan hanya berlaku bagi orang yang mendustakan hari kiamat saja, akan tetapi juga mendustakan salah satu saja ajaran para Nabi yang lain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا يُكَذِّبُ بِهٖٓ اِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ , اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ“Tidak ada yang mendustakannya, kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi sangat berdosa. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, “(Itu adalah) dongeng orang-orang dahulu.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 12-13)Kemudian Allah jelaskan sifat-sifat mereka nekat mengingkari adanya hari kiamat.Pertama, mereka memiliki sifat مُعْتَدٍ yaitu berbuat fajir dan melampaui batas dari apa yang telah digariskan Allah sebagai aturan manusia di muka bumi.Kedua, اَثِيْمٍۙ yaitu banyak dan sangat berdosa, seseorang yang tenggelam dalam gelapnya lautan dosa, senantiasa menjerang yang haram dan berlebih-lebihan dalam hal mubah.Ketiga, mereka menuduh Al-Qur’an adalah dongeng orang-orang terdahulu, mereka menuduh risalah ini adalah kebohongan yang hanya digunakan sekedar untuk menakut-nakuti manusia, dikatakan bahwa peristiwa dalam Al-Qur’an sejatinya tidak pernah terjadi, hanya suatu dongeng yang bertujuan manusia melakukan kebajikan dan mencegah dari keburukan.Pandangan yang menyatakan kisah dalam Al-Qur’an hanyalah dongeng, bukan kisah nyata yang pernah terjadi, dan hanya berfungsi sebagai kontrol sosial bukan hanya menjadi ucapan orang musyrik Quraisy, akan tetapi menjadi pemikiran yang masih hidup sampai zaman ini. Pandangan ini diucapkan oleh lisan-lisan busuk sebagian orientalis yang berusaha mereduksi kandungan Al-Qur’an. Di antaranya kita dapati nama-nama seperti J.J. Ten Berge, Theodor Nöldeke, John Wansbrough yang mencoba menghancurkan status Al-Qur’an sebagai kitab suci, mereka reduksi hanya sebagai kitab sejarah, dongeng orang terdahulu yang berfungsi sebagai kontrol sosial, dan semisalnya. Pandangan ini direspon oleh akademisi muslim dengan argumen yang kuat, di antaranya oleh Syekh Muhammad Musthafa Azami atau Aisyah bintu Syathi, dan semisal mereka, semoga Allah menjaga mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ“Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 14)Setelah menyebutkan sifat-sifat busuk para pendusta ajaran syariat yang mulia ini, Allah jelaskan apa sebab mereka nekat mendustakan hari kiamat. Yaitu mereka terus-menerus melakukan dosa dan kesalahan, dari yang kecil menuju yang besar, sesekali kemudian berkali-kali kemudian menjadi kebiasaan, kemudian jadilah mereka meremehkan syariat dan meremehkan segala ajaran dalam Al-Qur’an. Hati mereka gelap, tidak mampu lagi untuk kembali menuju cahaya hidayah, tertutup untuk mendapatkan hidayah Al-Qur’an. Mereka menunda-nunda tobat mereka ketika melakukan kesalahan, sehingga yang awalnya noda kecil dalam hati, kemudian menjadi noda besar, lalu menutup hati mereka seluruhnya.Dalam hadis yang diriwatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan pesan,إن العبد إذا أذنب ذنبا، نكتت في قلبه نكتة سوداء، فإن تاب ونزع واستغفر، صقل قلبه، وإن عاد زادت حتى تغلف قلبه، فذلك الران الذي ذكره الله سبحانه في القرآن“Jika seorang hamba melakukan dosa, maka akan tergoreslah setitik noda hitam dalam hatinya. Namun, jika dirinya segera bertobat, lari dari dosa terebut, serta beristigfar meminta ampun, maka akan kembali bersihlah hatinya. Sebaliknya, jika dia terus-menerus mengulangi dosanya, noda hitam tersebut akan menutup hatinya. Maka ini adalah ar-ran atau noda hitam yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَۗ , ثُمَّ اِنَّهُمْ لَصَالُوا الْجَحِيْمِۗ“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (rahmat) Tuhannya. Sesungguhnya mereka kemudian benar-benar masuk (neraka) Jahim.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 15-16)Allah mulai dengan kata كَلَّآ yang membantah klaim orang-orang musyrik bahwa seandainya mereka hidup lagi di akhirat, maka mereka akan mendapatkan kehidupan yang mudah dan menyenangkan seperti di dunia, maka tidak dan sekali-kali tidak demikian. Sebaliknya, orang-orang yang mengingkari kebenaran ini akan terhalang dari rahmat Allah, tidak akan dilihat oleh Allah untuk diberikan ampunan. Merekapun terhalang dari melihat Allah dan memandang kemuliaan Allah pada hari kiamat. Pekatnya dosa-dosa mereka telah membutakan pandangan mereka di hari kiamat, ketika di dunia mereka buta terhadap tauhid, maka di hari kiamat Allah butakan mereka tidak bisa melihat. Sebaliknya orang-orang mukmin yang penuh cahaya tauhid, penuh keimanan, melihat Allah dengan pandangan penuh kenikmatan.Orang-orang kafir digiring menuju neraka, neraka yang mereka dulu anggap hanya dongeng orang terdahulu untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak melawan orang tua mereka, cerita yang digunakan agar anak-anak tidak mencuri pohon mangga tetangga mereka, mereka katakan itu dengan lisan busuk mereka. Ternyata sekarang, mereka dapati neraka adalah kebenaran yang sangat nyata, mereka rasakan pedihnya siksaan nereka, mereka dibakar sampai hancur di neraka, setelah hancur mereka dibangkitkan kembali, bukan untuk istirahat namun untuk disiksa kembali, selama-lamanya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ يُقَالُ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَۗ“Lalu dikatakan (kepada mereka), “Inilah (azab) yang selalu kamu dustakan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 17)Malaikat Zabaniyah, para penjaga dan penyiksa di nereka mengatakan kepada mereka, “Rasakanlah, azab pedih yang dulu kalian dustakan, bahkan kalian olok-olok di dunia, sekarang kalian merasakannya tanpa pernah ada sedikitpun diringankan, bahkan setiap hari siksaannya akan bertambah sakit dan bertambah mengerikan.”Pernyataan ini sebagai bentuk siksaan pada psikis dan jiwa penghuni neraka. Bukan hanya sekedar badan dan fisik mereka yang disiksa, namun psikis mereka juga dihancurkan dengan cara diolok-olok oleh para malaikat penjaga Jahanam. Sehingga hancurlah fisik dan jiwa mereka. Semoga Allah melindungi kita semua dan dijauhkan sejauh-jauhnya dari murka Allah.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/


Pada tulisan kedua dari surah Al-Mutaffifin ini, Allah berbicara kepada kita tentang bagaimana akhir hidup para pendosa, orang-orang yang mendurhakai aturan Allah Ta’ala, menyebabkan kerusakan bagi banyak orang di muka bumi. Termasuk salah satu bentuk durhaka tersebut adalah mengurangi takaran dan timbangan. Mereka nekat melakukan yang demikian karena merasa tidak akan dibangkitkan di hari kiamat, merasa bisa selamat dari azab Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْفُجَّارِ لَفِيْ سِجِّيْنٍۗ“Jangan sekali-kali begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar (tersimpan) dalam Sijjīn.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 7)Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada kita tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang durhaka, yaitu amal keburukan dan kebusukan mereka tercatat rapi dalam sebuah catatan amal yang bernama Sijjin.Allah menggunakan kata كَلَّآ yang digunakan untuk mencegah atau melarang manusia dari perbuatan curang yang telah disebutkan pada ayat sebelumnya. Curang ini bisa terjadi kepada orang kafir maupun orang mukmin. Perbedaannya adalah orang kafir melakukan itu karena tidak percaya adanya hari kiamat; sedangkan orang mukmin percaya kepada hari kiamat, akan tetapi melakukannya karena sedang lalai dan lupa bahwa amal mereka akan dihisab pada hari akhir.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سِجِّيْنٌۗ , كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ“Tahukah engkau apakah Sijjīn itu? (Ia adalah) kitab yang berisi catatan (amal).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 8-9)Kemudian ayat berikutnya menjelaskan tentang Sijjin yang telah disebutkan pada ayat berikutnya. Allah membuka ayat ini dengan pertanyaan, namun bukan untuk menunggu jawaban dari hamba. Akan tetapi, pertanyaan ini dibuat dan diulang untuk menunjukkan betapa agungnya Sijjin ini dan memberikan rasa takut kepada para hamba, jangan sampai amalnya dicatat dalam lembaran-lembaran ini.Ulama sendiri berbeda pendapat tentang apa itu Sijiin, serta berbeda pendapat apakah ayat kesembilan merupakan penjelasan dari ayat sebelumnya; ataukah Sijjin dan kitab yang berisi catatan amal adalah dua hal yang berbeda.Sebagian ulama menjelaskan bahwa Sijjin adalah suatu tempat yang sangat dalam di neraka Jahanam, tempat orang-orang curang disiksa dan dibakar oleh para malaikat tanpa kenal ampun. Oleh karena itu, ayat kesembilan bukanlah merupakan penjelasan dari ayat sebelumya, akan tetapi dua hal yang berbeda. Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi menjelaskan bahwa  كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ bukan tafsir dari سِجِّيْنٌۗ; akan tetapi, كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ adalah kitab berisi nama-nama orang yang sudah digariskan dan ditakdirkan akan memasuki neraka Sijjin, neraka yang amat sangat dalam. Oleh karena itu, isi dari kitab ini permanen, tidak berubah, tidak akan ada jiwa yang ditambahkan di sana, juga tidak ada yang dikurangi.Sebagian ulama lain menjelaskan bahwa ayat kesembilan merupakan tafsir dari ayat kedelapan. Dalam kitab Mahasinut Tafsir dijelaskan bahwa jika Allah membuka dengan kalimat وَمَآ اَدْرٰىكَ, maka setelahnya adalah tafsir dan penjelasan. Akan tetapi, jika Allah menggunakan kata وما يُدْرِيكَ, maka Allah akan biarkan itu tetap mubham tanpa penjelasan, untuk menguji keimanan kita pada hal yang gaib. Oleh karena itu, dalam Al-Kasyaf disebutkan bahwa Sijjin adalah sebuah buku besar yang memuat semua bentuk kejahatan dan kemaksiatan. Allah Ta’ala mengumpulkan di sana segala bentuk perbuatan buruk iblis, setan, orang kafir, dan orang fasik, baik dari golongan jin atau manusia. Semua orang mengerti bahwa di dalamnya tidak ada catatan kebaikan sedikitpun. Dinamakan Sijjin yang berarti tertahan dan sempit, dikarenakan kitab itu adalah sebab seseorang dihimpit dan ditahan di neraka jahannam.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَۙ , الَّذِيْنَ يُكَذِّبُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۗ“Celakalah pada hari itu bagi para pendusta, yaitu orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 10-11)Allah telah menyiapkan azab yang sangat pedih bagi para pendusta, dimana mereka mendustakan hari kiamat, atau balasan di hari kiamat, atau mendustakan salah satu saja hal yang diyakini itu berasal dari para Nabi.Allah jelaskan siapa itu pendusta, yaitu mereka yang mendustakan hari pembalasan. Namun hal ini bukanlah bentuk penjelasan siapa itu pendusta, bukan juga pembatasan, akan tetapi sebagai bentuk celaan dan hinaan. Hal ini karena ancaman celaka bukan hanya berlaku bagi orang yang mendustakan hari kiamat saja, akan tetapi juga mendustakan salah satu saja ajaran para Nabi yang lain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا يُكَذِّبُ بِهٖٓ اِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ , اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ“Tidak ada yang mendustakannya, kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi sangat berdosa. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, “(Itu adalah) dongeng orang-orang dahulu.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 12-13)Kemudian Allah jelaskan sifat-sifat mereka nekat mengingkari adanya hari kiamat.Pertama, mereka memiliki sifat مُعْتَدٍ yaitu berbuat fajir dan melampaui batas dari apa yang telah digariskan Allah sebagai aturan manusia di muka bumi.Kedua, اَثِيْمٍۙ yaitu banyak dan sangat berdosa, seseorang yang tenggelam dalam gelapnya lautan dosa, senantiasa menjerang yang haram dan berlebih-lebihan dalam hal mubah.Ketiga, mereka menuduh Al-Qur’an adalah dongeng orang-orang terdahulu, mereka menuduh risalah ini adalah kebohongan yang hanya digunakan sekedar untuk menakut-nakuti manusia, dikatakan bahwa peristiwa dalam Al-Qur’an sejatinya tidak pernah terjadi, hanya suatu dongeng yang bertujuan manusia melakukan kebajikan dan mencegah dari keburukan.Pandangan yang menyatakan kisah dalam Al-Qur’an hanyalah dongeng, bukan kisah nyata yang pernah terjadi, dan hanya berfungsi sebagai kontrol sosial bukan hanya menjadi ucapan orang musyrik Quraisy, akan tetapi menjadi pemikiran yang masih hidup sampai zaman ini. Pandangan ini diucapkan oleh lisan-lisan busuk sebagian orientalis yang berusaha mereduksi kandungan Al-Qur’an. Di antaranya kita dapati nama-nama seperti J.J. Ten Berge, Theodor Nöldeke, John Wansbrough yang mencoba menghancurkan status Al-Qur’an sebagai kitab suci, mereka reduksi hanya sebagai kitab sejarah, dongeng orang terdahulu yang berfungsi sebagai kontrol sosial, dan semisalnya. Pandangan ini direspon oleh akademisi muslim dengan argumen yang kuat, di antaranya oleh Syekh Muhammad Musthafa Azami atau Aisyah bintu Syathi, dan semisal mereka, semoga Allah menjaga mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ“Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 14)Setelah menyebutkan sifat-sifat busuk para pendusta ajaran syariat yang mulia ini, Allah jelaskan apa sebab mereka nekat mendustakan hari kiamat. Yaitu mereka terus-menerus melakukan dosa dan kesalahan, dari yang kecil menuju yang besar, sesekali kemudian berkali-kali kemudian menjadi kebiasaan, kemudian jadilah mereka meremehkan syariat dan meremehkan segala ajaran dalam Al-Qur’an. Hati mereka gelap, tidak mampu lagi untuk kembali menuju cahaya hidayah, tertutup untuk mendapatkan hidayah Al-Qur’an. Mereka menunda-nunda tobat mereka ketika melakukan kesalahan, sehingga yang awalnya noda kecil dalam hati, kemudian menjadi noda besar, lalu menutup hati mereka seluruhnya.Dalam hadis yang diriwatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan pesan,إن العبد إذا أذنب ذنبا، نكتت في قلبه نكتة سوداء، فإن تاب ونزع واستغفر، صقل قلبه، وإن عاد زادت حتى تغلف قلبه، فذلك الران الذي ذكره الله سبحانه في القرآن“Jika seorang hamba melakukan dosa, maka akan tergoreslah setitik noda hitam dalam hatinya. Namun, jika dirinya segera bertobat, lari dari dosa terebut, serta beristigfar meminta ampun, maka akan kembali bersihlah hatinya. Sebaliknya, jika dia terus-menerus mengulangi dosanya, noda hitam tersebut akan menutup hatinya. Maka ini adalah ar-ran atau noda hitam yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَۗ , ثُمَّ اِنَّهُمْ لَصَالُوا الْجَحِيْمِۗ“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (rahmat) Tuhannya. Sesungguhnya mereka kemudian benar-benar masuk (neraka) Jahim.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 15-16)Allah mulai dengan kata كَلَّآ yang membantah klaim orang-orang musyrik bahwa seandainya mereka hidup lagi di akhirat, maka mereka akan mendapatkan kehidupan yang mudah dan menyenangkan seperti di dunia, maka tidak dan sekali-kali tidak demikian. Sebaliknya, orang-orang yang mengingkari kebenaran ini akan terhalang dari rahmat Allah, tidak akan dilihat oleh Allah untuk diberikan ampunan. Merekapun terhalang dari melihat Allah dan memandang kemuliaan Allah pada hari kiamat. Pekatnya dosa-dosa mereka telah membutakan pandangan mereka di hari kiamat, ketika di dunia mereka buta terhadap tauhid, maka di hari kiamat Allah butakan mereka tidak bisa melihat. Sebaliknya orang-orang mukmin yang penuh cahaya tauhid, penuh keimanan, melihat Allah dengan pandangan penuh kenikmatan.Orang-orang kafir digiring menuju neraka, neraka yang mereka dulu anggap hanya dongeng orang terdahulu untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak melawan orang tua mereka, cerita yang digunakan agar anak-anak tidak mencuri pohon mangga tetangga mereka, mereka katakan itu dengan lisan busuk mereka. Ternyata sekarang, mereka dapati neraka adalah kebenaran yang sangat nyata, mereka rasakan pedihnya siksaan nereka, mereka dibakar sampai hancur di neraka, setelah hancur mereka dibangkitkan kembali, bukan untuk istirahat namun untuk disiksa kembali, selama-lamanya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ يُقَالُ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَۗ“Lalu dikatakan (kepada mereka), “Inilah (azab) yang selalu kamu dustakan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 17)Malaikat Zabaniyah, para penjaga dan penyiksa di nereka mengatakan kepada mereka, “Rasakanlah, azab pedih yang dulu kalian dustakan, bahkan kalian olok-olok di dunia, sekarang kalian merasakannya tanpa pernah ada sedikitpun diringankan, bahkan setiap hari siksaannya akan bertambah sakit dan bertambah mengerikan.”Pernyataan ini sebagai bentuk siksaan pada psikis dan jiwa penghuni neraka. Bukan hanya sekedar badan dan fisik mereka yang disiksa, namun psikis mereka juga dihancurkan dengan cara diolok-olok oleh para malaikat penjaga Jahanam. Sehingga hancurlah fisik dan jiwa mereka. Semoga Allah melindungi kita semua dan dijauhkan sejauh-jauhnya dari murka Allah.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

MENGAPA DOA ORANG YANG TERZALIMI DAN ORANG YANG TERDESAK MUDAH DIKABULKAN?

Mengapa doa orang yang terzalimi dikabulkan? Doa orang yang terzalimi dikabulkan karena ketika mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya, ia berdoa dengan sungguh-sungguh, penuh keikhlasan dan kejujuran. Selain itu, karena Allah tidak mencintai orang-orang yang zalim. Orang yang terzalimi ini telah mengalami suatu kezaliman, sedangkan Allah Ta’ala tidak mencintai orang-orang yang zalim. Orang yang terzalimi itu berdoa kepada Allah Ta’ala dengan hati yang penuh kepedihan, dengan ikhlas dan jujur, sehingga doanya dikabulkan. Oleh karena itu, orang yang tidak terzalimi pun, jika berdoa kepada Allah Ta’ala dengan keadaan hati seperti orang yang terzalimi, maka pada umumnya doanya juga akan dikabulkan. Karena itu pula, doa orang yang berada dalam keadaan terdesak dikabulkan. “Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang berada dalam kesulitan (terdesak) apabila ia berdoa kepada-Nya?” (QS. An-Naml: 62). Mengapa doa orang yang terdesak dikabulkan? Karena orang yang terdesak berdoa dengan keikhlasan yang sangat dalam, dan ia berdoa kepada Allah Ta’ala dengan hati yang sepenuhnya tertuju kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. Maka apabila keadaanmu ketika berdoa telah seperti keadaan orang yang terdesak dan orang yang terzalimi, maka doa itu akan dikabulkan. Bahkan sebab ini, yakni keikhlasan yang sangat dalam, rasa sangat memerlukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan ikhlas, kembali kepada-Nya, dan menghadapkan hati sepenuhnya kepada-Nya, menjadi begitu kuat hingga mengalahkan penghalang terkabulnya doa, meskipun penghalang itu berupa kesyirikan. Karena itu, Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang-orang musyrik, “Apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya. Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-’Ankabut: 65). Padahal mereka adalah orang-orang musyrik, sedangkan kesyirikan termasuk penghalang terkabulnya doa. Meski demikian, ketika mereka sampai pada keadaan yang sangat terdesak, mereka pun berdoa kepada Allah Ta’ala dalam keadaan benar-benar terdesak. Allah Ta’ala mengabulkan doa mereka dan menyelamatkan mereka dari kesulitan yang sedang mereka alami. “Apabila mereka naik kapal,” yakni ketika mereka ditimpa kesulitan, mereka pun berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya. “Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-’Ankabut: 65). ===== لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ؟ تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ لِأَنَّ الْمَظْلُومَ عِنْدَمَا يَدْعُو عَلَى ظَالِمِهِ يَدْعُو بِحَرَارَةٍ وَبِإِخْلَاصٍ وَبِصِدْقٍ وَكَذَلِكَ أَيْضًا لِأَنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ فَهَذَا الْمَظْلُومُ إِنْسَانٌ تَعَرَّضَ لِمَظْلَمَةٍ وَاللَّهُ تَعَالَى لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ وَهَذَا الْمَظْلُومُ يَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِحُرْقَةٍ وَبِإِخْلَاصٍ وَصِدْقٍ فَتُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ وَلِذَلِكَ غَيْرُ الْمَظْلُومِ إِذَا دَعَا اللَّهَ تَعَالَى بِنَفْسِ الْمَشَاعِرِ الَّتِي يَدْعُو بِهَا الْمَظْلُومُ فَإِنَّهُ أَيْضًا فِي الْغَالِبِ تُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ وَلِهَذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ؟ لِأَنَّ الْمُضْطَرَّ يَدْعُو بِإِخْلَاصٍ شَدِيدٍ وَيَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِقَلْبٍ مُقْبِلٍ عَلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِذَا وَصَلَتْ حَالَتُكَ مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ وَالْمَظْلُومِ عِنْدَ الدُّعَاءِ فَإِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ بَلْ إِنَّ هَذَا السَّبَبَ وَهُوَ يَعْنِي الْإِخْلَاصُ الشَّدِيدُ وَالِاضْطِرَارُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَدُعَاءُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِإِخْلَاصٍ وَبِإِنَابَةٍ وَبِإِقْبَالٍ يَقْوَى حَتَّى عَلَى دَفْعِ الْمَانِعِ مِنْ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَإِنْ كَانَ الْمَانِعُ شِرْكًا وَلِهَذَا أَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى عَنِ الْمُشْرِكِينَ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ مَعَ أَنَّهُمْ مُشْرِكُونَ وَالشِّرْكُ مِنْ مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ وَمَعَ ذَلِكَ إِذَا وَصَلُوا إِلَى حَالِ الِاضْطِرَارِ وَدَعَوُا اللَّهَ تَعَالَى وَهُمْ مُضْطَرُّونَ اسْتَجَابَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُمْ فَنَجَّاهُمْ مِمَّا هُمْ فِيهِ مِنَ الْكُرَبِ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ يَعْنِي وَأَصَابَتْهُمْ كُرْبَةٌ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

MENGAPA DOA ORANG YANG TERZALIMI DAN ORANG YANG TERDESAK MUDAH DIKABULKAN?

Mengapa doa orang yang terzalimi dikabulkan? Doa orang yang terzalimi dikabulkan karena ketika mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya, ia berdoa dengan sungguh-sungguh, penuh keikhlasan dan kejujuran. Selain itu, karena Allah tidak mencintai orang-orang yang zalim. Orang yang terzalimi ini telah mengalami suatu kezaliman, sedangkan Allah Ta’ala tidak mencintai orang-orang yang zalim. Orang yang terzalimi itu berdoa kepada Allah Ta’ala dengan hati yang penuh kepedihan, dengan ikhlas dan jujur, sehingga doanya dikabulkan. Oleh karena itu, orang yang tidak terzalimi pun, jika berdoa kepada Allah Ta’ala dengan keadaan hati seperti orang yang terzalimi, maka pada umumnya doanya juga akan dikabulkan. Karena itu pula, doa orang yang berada dalam keadaan terdesak dikabulkan. “Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang berada dalam kesulitan (terdesak) apabila ia berdoa kepada-Nya?” (QS. An-Naml: 62). Mengapa doa orang yang terdesak dikabulkan? Karena orang yang terdesak berdoa dengan keikhlasan yang sangat dalam, dan ia berdoa kepada Allah Ta’ala dengan hati yang sepenuhnya tertuju kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. Maka apabila keadaanmu ketika berdoa telah seperti keadaan orang yang terdesak dan orang yang terzalimi, maka doa itu akan dikabulkan. Bahkan sebab ini, yakni keikhlasan yang sangat dalam, rasa sangat memerlukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan ikhlas, kembali kepada-Nya, dan menghadapkan hati sepenuhnya kepada-Nya, menjadi begitu kuat hingga mengalahkan penghalang terkabulnya doa, meskipun penghalang itu berupa kesyirikan. Karena itu, Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang-orang musyrik, “Apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya. Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-’Ankabut: 65). Padahal mereka adalah orang-orang musyrik, sedangkan kesyirikan termasuk penghalang terkabulnya doa. Meski demikian, ketika mereka sampai pada keadaan yang sangat terdesak, mereka pun berdoa kepada Allah Ta’ala dalam keadaan benar-benar terdesak. Allah Ta’ala mengabulkan doa mereka dan menyelamatkan mereka dari kesulitan yang sedang mereka alami. “Apabila mereka naik kapal,” yakni ketika mereka ditimpa kesulitan, mereka pun berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya. “Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-’Ankabut: 65). ===== لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ؟ تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ لِأَنَّ الْمَظْلُومَ عِنْدَمَا يَدْعُو عَلَى ظَالِمِهِ يَدْعُو بِحَرَارَةٍ وَبِإِخْلَاصٍ وَبِصِدْقٍ وَكَذَلِكَ أَيْضًا لِأَنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ فَهَذَا الْمَظْلُومُ إِنْسَانٌ تَعَرَّضَ لِمَظْلَمَةٍ وَاللَّهُ تَعَالَى لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ وَهَذَا الْمَظْلُومُ يَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِحُرْقَةٍ وَبِإِخْلَاصٍ وَصِدْقٍ فَتُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ وَلِذَلِكَ غَيْرُ الْمَظْلُومِ إِذَا دَعَا اللَّهَ تَعَالَى بِنَفْسِ الْمَشَاعِرِ الَّتِي يَدْعُو بِهَا الْمَظْلُومُ فَإِنَّهُ أَيْضًا فِي الْغَالِبِ تُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ وَلِهَذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ؟ لِأَنَّ الْمُضْطَرَّ يَدْعُو بِإِخْلَاصٍ شَدِيدٍ وَيَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِقَلْبٍ مُقْبِلٍ عَلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِذَا وَصَلَتْ حَالَتُكَ مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ وَالْمَظْلُومِ عِنْدَ الدُّعَاءِ فَإِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ بَلْ إِنَّ هَذَا السَّبَبَ وَهُوَ يَعْنِي الْإِخْلَاصُ الشَّدِيدُ وَالِاضْطِرَارُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَدُعَاءُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِإِخْلَاصٍ وَبِإِنَابَةٍ وَبِإِقْبَالٍ يَقْوَى حَتَّى عَلَى دَفْعِ الْمَانِعِ مِنْ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَإِنْ كَانَ الْمَانِعُ شِرْكًا وَلِهَذَا أَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى عَنِ الْمُشْرِكِينَ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ مَعَ أَنَّهُمْ مُشْرِكُونَ وَالشِّرْكُ مِنْ مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ وَمَعَ ذَلِكَ إِذَا وَصَلُوا إِلَى حَالِ الِاضْطِرَارِ وَدَعَوُا اللَّهَ تَعَالَى وَهُمْ مُضْطَرُّونَ اسْتَجَابَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُمْ فَنَجَّاهُمْ مِمَّا هُمْ فِيهِ مِنَ الْكُرَبِ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ يَعْنِي وَأَصَابَتْهُمْ كُرْبَةٌ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
Mengapa doa orang yang terzalimi dikabulkan? Doa orang yang terzalimi dikabulkan karena ketika mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya, ia berdoa dengan sungguh-sungguh, penuh keikhlasan dan kejujuran. Selain itu, karena Allah tidak mencintai orang-orang yang zalim. Orang yang terzalimi ini telah mengalami suatu kezaliman, sedangkan Allah Ta’ala tidak mencintai orang-orang yang zalim. Orang yang terzalimi itu berdoa kepada Allah Ta’ala dengan hati yang penuh kepedihan, dengan ikhlas dan jujur, sehingga doanya dikabulkan. Oleh karena itu, orang yang tidak terzalimi pun, jika berdoa kepada Allah Ta’ala dengan keadaan hati seperti orang yang terzalimi, maka pada umumnya doanya juga akan dikabulkan. Karena itu pula, doa orang yang berada dalam keadaan terdesak dikabulkan. “Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang berada dalam kesulitan (terdesak) apabila ia berdoa kepada-Nya?” (QS. An-Naml: 62). Mengapa doa orang yang terdesak dikabulkan? Karena orang yang terdesak berdoa dengan keikhlasan yang sangat dalam, dan ia berdoa kepada Allah Ta’ala dengan hati yang sepenuhnya tertuju kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. Maka apabila keadaanmu ketika berdoa telah seperti keadaan orang yang terdesak dan orang yang terzalimi, maka doa itu akan dikabulkan. Bahkan sebab ini, yakni keikhlasan yang sangat dalam, rasa sangat memerlukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan ikhlas, kembali kepada-Nya, dan menghadapkan hati sepenuhnya kepada-Nya, menjadi begitu kuat hingga mengalahkan penghalang terkabulnya doa, meskipun penghalang itu berupa kesyirikan. Karena itu, Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang-orang musyrik, “Apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya. Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-’Ankabut: 65). Padahal mereka adalah orang-orang musyrik, sedangkan kesyirikan termasuk penghalang terkabulnya doa. Meski demikian, ketika mereka sampai pada keadaan yang sangat terdesak, mereka pun berdoa kepada Allah Ta’ala dalam keadaan benar-benar terdesak. Allah Ta’ala mengabulkan doa mereka dan menyelamatkan mereka dari kesulitan yang sedang mereka alami. “Apabila mereka naik kapal,” yakni ketika mereka ditimpa kesulitan, mereka pun berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya. “Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-’Ankabut: 65). ===== لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ؟ تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ لِأَنَّ الْمَظْلُومَ عِنْدَمَا يَدْعُو عَلَى ظَالِمِهِ يَدْعُو بِحَرَارَةٍ وَبِإِخْلَاصٍ وَبِصِدْقٍ وَكَذَلِكَ أَيْضًا لِأَنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ فَهَذَا الْمَظْلُومُ إِنْسَانٌ تَعَرَّضَ لِمَظْلَمَةٍ وَاللَّهُ تَعَالَى لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ وَهَذَا الْمَظْلُومُ يَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِحُرْقَةٍ وَبِإِخْلَاصٍ وَصِدْقٍ فَتُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ وَلِذَلِكَ غَيْرُ الْمَظْلُومِ إِذَا دَعَا اللَّهَ تَعَالَى بِنَفْسِ الْمَشَاعِرِ الَّتِي يَدْعُو بِهَا الْمَظْلُومُ فَإِنَّهُ أَيْضًا فِي الْغَالِبِ تُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ وَلِهَذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ؟ لِأَنَّ الْمُضْطَرَّ يَدْعُو بِإِخْلَاصٍ شَدِيدٍ وَيَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِقَلْبٍ مُقْبِلٍ عَلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِذَا وَصَلَتْ حَالَتُكَ مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ وَالْمَظْلُومِ عِنْدَ الدُّعَاءِ فَإِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ بَلْ إِنَّ هَذَا السَّبَبَ وَهُوَ يَعْنِي الْإِخْلَاصُ الشَّدِيدُ وَالِاضْطِرَارُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَدُعَاءُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِإِخْلَاصٍ وَبِإِنَابَةٍ وَبِإِقْبَالٍ يَقْوَى حَتَّى عَلَى دَفْعِ الْمَانِعِ مِنْ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَإِنْ كَانَ الْمَانِعُ شِرْكًا وَلِهَذَا أَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى عَنِ الْمُشْرِكِينَ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ مَعَ أَنَّهُمْ مُشْرِكُونَ وَالشِّرْكُ مِنْ مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ وَمَعَ ذَلِكَ إِذَا وَصَلُوا إِلَى حَالِ الِاضْطِرَارِ وَدَعَوُا اللَّهَ تَعَالَى وَهُمْ مُضْطَرُّونَ اسْتَجَابَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُمْ فَنَجَّاهُمْ مِمَّا هُمْ فِيهِ مِنَ الْكُرَبِ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ يَعْنِي وَأَصَابَتْهُمْ كُرْبَةٌ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ


Mengapa doa orang yang terzalimi dikabulkan? Doa orang yang terzalimi dikabulkan karena ketika mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya, ia berdoa dengan sungguh-sungguh, penuh keikhlasan dan kejujuran. Selain itu, karena Allah tidak mencintai orang-orang yang zalim. Orang yang terzalimi ini telah mengalami suatu kezaliman, sedangkan Allah Ta’ala tidak mencintai orang-orang yang zalim. Orang yang terzalimi itu berdoa kepada Allah Ta’ala dengan hati yang penuh kepedihan, dengan ikhlas dan jujur, sehingga doanya dikabulkan. Oleh karena itu, orang yang tidak terzalimi pun, jika berdoa kepada Allah Ta’ala dengan keadaan hati seperti orang yang terzalimi, maka pada umumnya doanya juga akan dikabulkan. Karena itu pula, doa orang yang berada dalam keadaan terdesak dikabulkan. “Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang berada dalam kesulitan (terdesak) apabila ia berdoa kepada-Nya?” (QS. An-Naml: 62). Mengapa doa orang yang terdesak dikabulkan? Karena orang yang terdesak berdoa dengan keikhlasan yang sangat dalam, dan ia berdoa kepada Allah Ta’ala dengan hati yang sepenuhnya tertuju kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. Maka apabila keadaanmu ketika berdoa telah seperti keadaan orang yang terdesak dan orang yang terzalimi, maka doa itu akan dikabulkan. Bahkan sebab ini, yakni keikhlasan yang sangat dalam, rasa sangat memerlukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan ikhlas, kembali kepada-Nya, dan menghadapkan hati sepenuhnya kepada-Nya, menjadi begitu kuat hingga mengalahkan penghalang terkabulnya doa, meskipun penghalang itu berupa kesyirikan. Karena itu, Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang-orang musyrik, “Apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya. Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-’Ankabut: 65). Padahal mereka adalah orang-orang musyrik, sedangkan kesyirikan termasuk penghalang terkabulnya doa. Meski demikian, ketika mereka sampai pada keadaan yang sangat terdesak, mereka pun berdoa kepada Allah Ta’ala dalam keadaan benar-benar terdesak. Allah Ta’ala mengabulkan doa mereka dan menyelamatkan mereka dari kesulitan yang sedang mereka alami. “Apabila mereka naik kapal,” yakni ketika mereka ditimpa kesulitan, mereka pun berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya. “Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-’Ankabut: 65). ===== لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ؟ تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ لِأَنَّ الْمَظْلُومَ عِنْدَمَا يَدْعُو عَلَى ظَالِمِهِ يَدْعُو بِحَرَارَةٍ وَبِإِخْلَاصٍ وَبِصِدْقٍ وَكَذَلِكَ أَيْضًا لِأَنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ فَهَذَا الْمَظْلُومُ إِنْسَانٌ تَعَرَّضَ لِمَظْلَمَةٍ وَاللَّهُ تَعَالَى لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ وَهَذَا الْمَظْلُومُ يَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِحُرْقَةٍ وَبِإِخْلَاصٍ وَصِدْقٍ فَتُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ وَلِذَلِكَ غَيْرُ الْمَظْلُومِ إِذَا دَعَا اللَّهَ تَعَالَى بِنَفْسِ الْمَشَاعِرِ الَّتِي يَدْعُو بِهَا الْمَظْلُومُ فَإِنَّهُ أَيْضًا فِي الْغَالِبِ تُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ وَلِهَذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ؟ لِأَنَّ الْمُضْطَرَّ يَدْعُو بِإِخْلَاصٍ شَدِيدٍ وَيَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِقَلْبٍ مُقْبِلٍ عَلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِذَا وَصَلَتْ حَالَتُكَ مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ وَالْمَظْلُومِ عِنْدَ الدُّعَاءِ فَإِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ بَلْ إِنَّ هَذَا السَّبَبَ وَهُوَ يَعْنِي الْإِخْلَاصُ الشَّدِيدُ وَالِاضْطِرَارُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَدُعَاءُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِإِخْلَاصٍ وَبِإِنَابَةٍ وَبِإِقْبَالٍ يَقْوَى حَتَّى عَلَى دَفْعِ الْمَانِعِ مِنْ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَإِنْ كَانَ الْمَانِعُ شِرْكًا وَلِهَذَا أَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى عَنِ الْمُشْرِكِينَ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ مَعَ أَنَّهُمْ مُشْرِكُونَ وَالشِّرْكُ مِنْ مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ وَمَعَ ذَلِكَ إِذَا وَصَلُوا إِلَى حَالِ الِاضْطِرَارِ وَدَعَوُا اللَّهَ تَعَالَى وَهُمْ مُضْطَرُّونَ اسْتَجَابَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُمْ فَنَجَّاهُمْ مِمَّا هُمْ فِيهِ مِنَ الْكُرَبِ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ يَعْنِي وَأَصَابَتْهُمْ كُرْبَةٌ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

10 Kiat Orang Tua Menjaga Anak dari Dampak Buruk Maksiat

Maksiat ternyata tidak selalu berhenti pada orang yang melakukannya; keburukannya dapat merembet kepada keluarga bahkan lingkungan di sekitarnya. Karena itu, tugas orang tua bukan hanya membuat anak pintar dan berhasil di dunia, tetapi juga menjaga agar dosa tidak tumbuh, dianggap biasa, lalu menjadi budaya di dalam rumah. Lantas, apa yang bisa dilakukan ayah dan ibu agar rumah menjadi tempat tumbuhnya ketaatan dan perbaikan?  Daftar Isi tutup 1. Dosa Bisa Berdampak kepada Makhluk Lain 2. Dosa Tidak Selalu Menjadi Urusan Pribadi 3. Agar Tak Terkena Musibah, Orang Tua Bertanggung Jawab Menjaga Keluarganya 3.1. 1. Orang Tua Harus Memulai dari Memperbaiki Dirinya 4. 2. Jadikan Shalat sebagai Perkara Besar di Rumah 4.1. 3. Jangan Menunggu Kesalahan Anak Menjadi Besar 4.2. 4. Jangan Justru Memberikan Sarana untuk Bermaksiat 4.3. 5. Kenali Teman dan Lingkungan Anak 4.4. 6. Jangan Membela Anak Ketika Anak Memang Salah 4.5. 7. Ayah dan Ibu Harus Sepakat dalam Batas Halal dan Haram 4.6. 8. Biasakan Anak Bertaubat dan Memperbaiki Kesalahan 4.7. 9. Jangan Membiarkan Maksiat Menjadi Budaya Rumah 4.8. 10. Jangan Hanya Mendidik Anak Menjadi Saleh, Didiklah Menjadi Muslih 5. Jangan Salah Memahami: Orang Saleh Tetap Bisa Mendapat Musibah 6. Tiga Benteng Keluarga  Dosa Bisa Berdampak kepada Makhluk LainIbnul Qayyim rahimahullah ketika menjelaskan dampak buruk dosa berkata,وَمِنْهَا: أَنَّ غَيْرَهُ مِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ يَعُودُ عَلَيْهِ شُؤْمُ ذَنْبِهِ، فَيَحْتَرِقُ هُوَ وَغَيْرُهُ بِشُؤْمِ الذُّنُوبِ وَالظُّلْمِ.“Di antara akibat dosa adalah dampak buruknya kembali mengenai manusia lain dan hewan-hewan. Pelaku dan selain dirinya dapat terkena akibat buruk dosa dan kezaliman.”Kemudian beliau menukil perkataan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,إِنَّ الْحُبَارَى لَتَمُوتَ فِي وَكْرِهَا مِنْ ظُلْمِ الظَّالِمِ.“Bahkan burung hubara dapat mati di sarangnya akibat kezaliman orang yang zalim.”Mujahid rahimahullah berkata,إِنَّ الْبَهَائِمَ تَلْعَنُ عُصَاةَ بَنِي آدَمَ إِذَا اشْتَدَّتِ السَّنَةُ، وَأُمْسِكَ الْمَطَرُ، وَتَقُولُ: هَذَا بِشُؤْمِ مَعْصِيَةِ ابْنِ آدَمَ.“Sesungguhnya hewan-hewan melaknat orang-orang yang bermaksiat dari kalangan anak Adam ketika paceklik semakin berat dan hujan tertahan. Mereka mengatakan, ‘Ini adalah akibat buruk maksiat anak Adam.’”‘Ikrimah rahimahullah juga berkata,دَوَابُّ الْأَرْضِ وَهَوَامُّهَا حَتَّى الْخَنَافِسُ وَالْعَقَارِبُ، يَقُولُونَ: مُنِعْنَا الْقَطْرَ بِذُنُوبِ بَنِي آدَمَ.“Hewan-hewan bumi dan binatang-binatang kecilnya, sampai kumbang dan kalajengking, berkata, ‘Kami terhalangi dari hujan karena dosa-dosa anak Adam.’”Ibnul Qayyim kemudian mengatakan,فَلَا يَكْفِيهِ عِقَابُ ذَنْبِهِ، حَتَّى يَلْعَنَهُ مَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ.“Tidak cukup baginya hukuman akibat dosanya, hingga makhluk yang tidak berdosa pun melaknatnya.”Lihat Al-Jawāb Al-Kāfī liman Sa’ala ‘an Ad-Dawā’ Asy-Syāfī atau yang populer dengan judul Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’. Bahasan dampak buruk dosa sudah kami sajikan di buku kami “Dosa itu Candu” diambil dari bahasan Ibnul Qayyim dalam Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’.  Dosa Tidak Selalu Menjadi Urusan PribadiNabi ﷺ memberikan gambaran yang sangat jelas tentang hal ini melalui perumpamaan sebuah kapal.Beliau ﷺ bersabda tentang sekelompok orang yang mendapatkan tempat di bagian atas dan bawah kapal. Orang-orang di bawah ingin melubangi bagian kapal mereka sendiri agar mudah mengambil air. Nabi ﷺ kemudian bersabda,فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا.“Jika mereka membiarkan orang-orang itu melakukan apa yang mereka kehendaki, semuanya akan binasa. Namun, jika mereka mencegahnya, mereka akan selamat dan semuanya pun selamat.” (HR. Bukhari, no. 2493)Baca juga: Mengingkari Kemungkaran Biar Selamat dari Tenggelamnya KapalOrang yang melubangi kapal mungkin berkata, “Saya hanya melubangi bagian saya sendiri.” Namun, air yang masuk tidak hanya menenggelamkan dirinya.Begitulah sebagian maksiat. Seseorang mungkin berkata, “Ini hidup saya”, “Ini HP saya”, atau “Ini urusan pribadi saya.” Padahal ketika dosa tumbuh dalam keluarga, dampaknya bisa mengenai pasangan, anak, saudara, bahkan generasi berikutnya. Agar Tak Terkena Musibah, Orang Tua Bertanggung Jawab Menjaga KeluarganyaAllah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Taḥrīm: 6)Nabi ﷺ juga bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ.“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)Seorang رَاعِي الغَنَمِ, penggembala kambing, tidak hanya berjalan di depan kambing. Ia mempunyai beberapa tugas sekaligus: menjaga kawanan agar tidak hilang, mencari tempat yang baik, melindungi dari bahaya, mengembalikan yang tersesat, memastikan kebutuhan kawanan terpenuhi, dan mempertanggungjawabkan kawanan yang dititipkan kepadanya.Dari analogi رَاعٍ (rā‘in) sebagai penggembala, dapat disimpulkan ada enam tugas utama kepala keluarga sebagai pemimpin:Menjaga keluarga agar tidak rusak atau “hilang” dari jalan yang benar.Mengarahkan kepada kebaikan, sebagaimana penggembala mencari tempat terbaik bagi gembalaannya.Melindungi dari bahaya, baik bahaya agama, akhlak, pergaulan, maupun bahaya duniawi.Mengembalikan ketika ada yang menyimpang, dengan nasihat, pendidikan, dan pembinaan.Memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk nafkah, pendidikan, perhatian, dan kebutuhan yang menjadi kewajibannya.Mempertanggungjawabkan amanah, karena seorang rā‘in akan ditanya tentang ra‘iyyah-nya.Jadi, makna kepala keluarga sebagai رَاعٍ bukan sekadar “orang yang berkuasa di rumah”, tetapi: menjaga, mengarahkan, melindungi, memperbaiki, memenuhi kebutuhan, dan mempertanggungjawabkan.Berarti ayah tidak cukup hanya berkata, “Saya sudah mencari nafkah.”Ibu pun tidak cukup berkata, “Saya sudah menyiapkan makanan dan mengurus sekolah anak.”Ada amanah yang lebih besar: ke mana agama anak-anak kita sedang berjalan?Baca juga: Kepala Keluarga Idaman (Materi Khutbah Jumat) 1. Orang Tua Harus Memulai dari Memperbaiki DirinyaSebelum bertanya, “Kenapa anak saya sulit dinasihati?”, orang tua perlu bertanya terlebih dahulu, “Apakah anak sedang meniru kesalahan saya?”Sulit meminta anak menjaga shalat jika orang tua sendiri meremehkannya. Sulit melarang anak berkata kasar jika setiap hari ia mendengar perkataan kasar di rumah. Sulit meminta anak meninggalkan gawai ketika ayah dan ibunya sendiri tidak bisa meletakkan HP ketika sedang berkumpul bersama keluarga.Pendidikan paling kuat sering kali bukan perkataan, tetapi keteladanan yang dilihat setiap hari.Karena itu, perbaikan anak dimulai dengan perbaikan orang tua.2. Jadikan Shalat sebagai Perkara Besar di RumahAllah Ta‘ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)Baca juga: Khutbah Jumat: Jangan Sibuk Mencari Rezeki, Lupa ShalatPerhatikan kata,وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam menjaganya.”Mendidik anak shalat memang memerlukan kesabaran dan pengulangan.Nabi ﷺ bersabda,– مُرُوا أولادَكُم بالصلاةِ وهُم أبناءُ سبعِ سنينَ ، واضرِبُوهُم عليهَا وهُمْ أبْنَاءُ عَشْرٍ وفرِّقُوا بينِهِم في المَضَاجِعِ “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun. Apabila pada usia sepuluh tahun mereka masih meninggalkan shalat, berikanlah tindakan disiplin kepada mereka. Dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud, no. 495; dinilai hasan sahih oleh Al-Albani)Hadits ini menunjukkan bahwa pendidikan shalat dilakukan secara bertahap sebelum anak mencapai usia balig, bukan baru dimulai ketika ia sudah dewasa.Praktiknya, ketika azan berkumandang, orang tua hendaknya tidak hanya berteriak dari jauh, “Ayo shalat!”, sementara dirinya masih asyik dengan HP.Berhentikan aktivitas. Ambil wudhu. Ajak anak shalat.Biarkan anak melihat bahwa shalat memang menjadi prioritas keluarga ini.3. Jangan Menunggu Kesalahan Anak Menjadi BesarHari ini anak berbohong kecil lalu dibiarkan. Besok kebohongan menjadi kebiasaan.Hari ini anak berkata kasar lalu ditertawakan. Besok ia kehilangan adab kepada orang tua.Hari ini anak melihat konten buruk lalu tidak ada yang menegur. Besok hatinya mulai terbiasa dengan kemungkaran.Nabi ﷺ bersabda,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ.“Siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu, dengan hatinya.” (HR. Muslim, no. 49)Dalam keluarga, orang tua memiliki tanggung jawab dan kewenangan pendidikan yang lebih besar. Karena itu, padamkan percikan sebelum menjadi kebakaran.4. Jangan Justru Memberikan Sarana untuk BermaksiatAllah Ta‘ala berfirman,وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ“Janganlah kalian saling membantu dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Mā’idah: 2)Di zaman sekarang, ayat ini perlu direnungkan oleh setiap orang tua.Orang tua membelikan HP, menyediakan Wi-Fi, memberi uang saku, membayar langganan aplikasi, dan menyediakan berbagai fasilitas. Namun setelah itu, jangan sampai orang tua sama sekali tidak mengetahui untuk apa semuanya digunakan.Bukan berarti anak harus dicurigai sepanjang waktu. Akan tetapi, fasilitas harus sebanding dengan kesiapan dan tanggung jawab anak.Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah anak saya sudah punya HP?” Namun, “Apakah ia sudah mampu menggunakan HP tanpa merusak agamanya?”5. Kenali Teman dan Lingkungan AnakAnak tidak hanya dididik oleh ayah dan ibunya.Ia juga “dididik” oleh teman-temannya, sekolahnya, tontonan yang dilihatnya, akun yang diikutinya, figur yang dikaguminya, serta berbagai konten yang masuk ke dalam pikirannya setiap hari.Karena itu, jangan sampai orang tua tahu nilai matematika anak sampai detail, tetapi tidak tahu siapa teman dekatnya.Ketahui dengan siapa anak sering pergi. Kenali teman-temannya. Bangun komunikasi sehingga anak nyaman bercerita, bukan hanya takut diperiksa.Semakin besar usia anak, pengawasan pun perlu berkembang: dari pengawasan langsung menuju pembentukan muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu mengetahui apa yang ia kerjakan.6. Jangan Membela Anak Ketika Anak Memang SalahCinta kepada anak bukan berarti selalu membelanya.Jika anak melakukan bullying, jangan salahkan korbannya hanya untuk menjaga nama baik anak. Jika anak mengambil milik orang lain, jangan menutupinya. Jika anak berbohong kepada guru, jangan orang tua malah membantu membuat alasan palsu.Ajarkan anak bahwa kesalahan mempunyai konsekuensi.Jika mengambil hak orang lain, kembalikan. Jika menyakiti orang, minta maaf. Jika merusak sesuatu, bertanggung jawablah.Karena membela anak dalam kezaliman bukanlah kasih sayang.Kasih sayang yang benar adalah menyelamatkan anak dari menjadi orang zalim.7. Ayah dan Ibu Harus Sepakat dalam Batas Halal dan HaramPendidikan menjadi sulit ketika ayah mengatakan “tidak boleh”, lalu anak datang kepada ibu dan mendapat jawaban “boleh”.Anak akhirnya belajar bukan tentang benar dan salah, tetapi belajar mencari orang tua mana yang paling mudah memberikan izin.Ayah dan ibu perlu memiliki kesepakatan dalam prinsip-prinsip utama rumah: shalat, adab, penggunaan gawai, tontonan, jam pulang, pergaulan, uang saku, dan batas halal-haram.Allah menceritakan nasihat Luqman kepada anaknya,يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ“Wahai anakku! Laksanakanlah shalat, perintahkanlah berbuat yang makruf, cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian termasuk perkara yang penting.”(QS. Luqmān: 17)Maka anak perlu mengetahui, “Keluarga kami mempunyai nilai yang tidak boleh dijual hanya karena mengikuti teman.”8. Biasakan Anak Bertaubat dan Memperbaiki KesalahanRumah yang saleh bukan rumah yang seluruh penghuninya tidak pernah berbuat salah.Tidak ada keluarga seperti itu.Rumah yang baik adalah rumah tempat orang-orang yang berbuat salah belajar segera kembali kepada Allah.Allah menceritakan dakwah Nabi Nuh ‘alaihis salam,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ“Aku berkata, ‘Mohonlah ampun kepada Rabb kalian. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian dan memperbanyak harta serta anak-anak kalian.’” (QS. Nūḥ: 10–12)Ajarkan pola sederhana kepada anak:berdosa → bertaubat,menyakiti → meminta maaf,mengambil hak → mengembalikan,meninggalkan kewajiban → segera memperbaiki.Dengan begitu, anak memahami bahwa istighfar bukan alasan untuk terus melakukan kesalahan.9. Jangan Membiarkan Maksiat Menjadi Budaya RumahZainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ,أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟“Apakah kami akan binasa sementara di tengah-tengah kami terdapat orang-orang saleh?”Nabi ﷺ menjawab,نَعَمْ، إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ.“Ya, apabila keburukan telah banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim)Perhatikan, masalahnya bukan bahwa manusia tidak pernah berbuat dosa. Semua manusia memiliki kekurangan.Masalah menjadi semakin berat ketika kesalahan dibiarkan, dianggap lucu, dibenarkan, lalu menjadi budaya.Karena itu, jangan biasakan rumah dengan ghibah. Jangan menganggap kebohongan kecil sesuatu yang lucu. Jangan membiarkan penghinaan antara kakak dan adik. Jangan menormalisasi tontonan haram hanya karena “semua teman anak juga menontonnya”.Rumah harus menjadi tempat yang membantu penghuninya mengingat Allah, bukan tempat yang membuat dosa terasa biasa.10. Jangan Hanya Mendidik Anak Menjadi Saleh, Didiklah Menjadi MuslihAllah Ta‘ala berfirman,وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ“Dan Rabbmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim sedangkan penduduknya adalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” (QS. Hūd: 117)Ada pelajaran indah dari kata,مُصْلِحُونَyaitu orang-orang yang melakukan perbaikan.Cita-cita orang tua jangan berhenti pada,“Semoga anak saya menjadi anak baik.”Naikkan cita-cita itu menjadi,“Semoga anak saya menjadi anak saleh yang menghadirkan kebaikan bagi orang lain.”Ia menjaga shalat dan mengingatkan saudaranya shalat. Ia tidak membully dan berani tidak ikut ketika teman-temannya membully. Ia tidak menyontek dan tidak membantu temannya menyontek. Ia menjaga lisannya dan tidak ikut menyebarkan aib di grup pertemanan.Inilah anak yang bukan hanya صَالِحٌ—baik untuk dirinya—tetapi juga berusaha menjadi مُصْلِحٌ—membawa perbaikan. Jangan Salah Memahami: Orang Saleh Tetap Bisa Mendapat MusibahPembahasan tentang dampak buruk maksiat jangan sampai membuat kita menyimpulkan bahwa setiap musibah pasti merupakan hukuman karena dosa tertentu.Kesimpulan seperti ini tidak benar.Nabi ﷺ justru ditanya,أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟“Siapakah manusia yang paling berat ujiannya?”Beliau ﷺ menjawab,الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ.“Para nabi, kemudian orang-orang yang paling baik setelah mereka, kemudian yang semisalnya.” (HR. Tirmidzi; hadits sahih)Maka ketaatan bukan jaminan bahwa sebuah keluarga tidak akan pernah mengalami sakit, kehilangan, kecelakaan, kesulitan ekonomi, atau musibah lainnya.Yang kita lakukan adalah menjauhi sebab-sebab datangnya murka Allah, memperbanyak sebab-sebab keberkahan, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Tiga Benteng KeluargaSeluruh pembahasan di atas dapat diringkas menjadi tiga benteng:صَلَاحُ الْوَالِدَيْنِOrang tua memperbaiki dirinya.تَرْبِيَةُ الْأَوْلَادِ عَلَى الطَّاعَةِOrang tua mendidik anak-anak dalam ketaatan.الْإِصْلَاحُ وَمَنْعُ الْمُنْكَرِ فِي الْبَيْتِOrang tua melakukan perbaikan dan tidak membiarkan kemungkaran tumbuh di rumah.Jangan hanya bertanya, “Apa yang sudah saya berikan kepada anak saya?”Tanyakan pula, “Dosa apa yang sedang saya cegah agar tidak tumbuh dalam diri anak saya?” Semoga Allah menjaga keluarga kita.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا ذُرِّيَّاتِنَا، وَاحْفَظْ أَهْلَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْمَعَاصِي، وَأَعِنَّا عَلَى طَاعَتِكَ وَحُسْنِ تَرْبِيَتِهِمْ، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتَ صَلَاحٍ وَإِصْلَاحٍ.Allāhumma aṣliḥ lanā dzurriyyātinā, waḥfaẓ ahlanā minal-fitani wal-ma‘āṣī, wa a‘innā ‘alā ṭā‘atika wa ḥusni tarbiyatihim, waj‘al buyūtanā buyūta ṣalāḥin wa iṣlāḥ.“Ya Allah, perbaikilah keturunan kami, jagalah keluarga kami dari berbagai fitnah dan kemaksiatan, bantulah kami untuk taat kepada-Mu dan mendidik mereka dengan baik, serta jadikanlah rumah-rumah kami sebagai rumah yang dipenuhi kesalehan dan perbaikan.” —- Perjalanan Banaran Playen menuju ke Majelis Shafiyah Shalehah @ Kotagede Jogja, 3 Rabiul Akhir 1448 H, 16 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAd-Daa wad Dawaa amar makruf nahi mungkar anak saleh dosa dosa itu candu faedah dari Ibnul Qayyim ibnul qayyim keluarga muslim maksiat nasihat ibnul qayyim orang tua parenting Islami pendidikan anak shalat taubat

10 Kiat Orang Tua Menjaga Anak dari Dampak Buruk Maksiat

Maksiat ternyata tidak selalu berhenti pada orang yang melakukannya; keburukannya dapat merembet kepada keluarga bahkan lingkungan di sekitarnya. Karena itu, tugas orang tua bukan hanya membuat anak pintar dan berhasil di dunia, tetapi juga menjaga agar dosa tidak tumbuh, dianggap biasa, lalu menjadi budaya di dalam rumah. Lantas, apa yang bisa dilakukan ayah dan ibu agar rumah menjadi tempat tumbuhnya ketaatan dan perbaikan?  Daftar Isi tutup 1. Dosa Bisa Berdampak kepada Makhluk Lain 2. Dosa Tidak Selalu Menjadi Urusan Pribadi 3. Agar Tak Terkena Musibah, Orang Tua Bertanggung Jawab Menjaga Keluarganya 3.1. 1. Orang Tua Harus Memulai dari Memperbaiki Dirinya 4. 2. Jadikan Shalat sebagai Perkara Besar di Rumah 4.1. 3. Jangan Menunggu Kesalahan Anak Menjadi Besar 4.2. 4. Jangan Justru Memberikan Sarana untuk Bermaksiat 4.3. 5. Kenali Teman dan Lingkungan Anak 4.4. 6. Jangan Membela Anak Ketika Anak Memang Salah 4.5. 7. Ayah dan Ibu Harus Sepakat dalam Batas Halal dan Haram 4.6. 8. Biasakan Anak Bertaubat dan Memperbaiki Kesalahan 4.7. 9. Jangan Membiarkan Maksiat Menjadi Budaya Rumah 4.8. 10. Jangan Hanya Mendidik Anak Menjadi Saleh, Didiklah Menjadi Muslih 5. Jangan Salah Memahami: Orang Saleh Tetap Bisa Mendapat Musibah 6. Tiga Benteng Keluarga  Dosa Bisa Berdampak kepada Makhluk LainIbnul Qayyim rahimahullah ketika menjelaskan dampak buruk dosa berkata,وَمِنْهَا: أَنَّ غَيْرَهُ مِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ يَعُودُ عَلَيْهِ شُؤْمُ ذَنْبِهِ، فَيَحْتَرِقُ هُوَ وَغَيْرُهُ بِشُؤْمِ الذُّنُوبِ وَالظُّلْمِ.“Di antara akibat dosa adalah dampak buruknya kembali mengenai manusia lain dan hewan-hewan. Pelaku dan selain dirinya dapat terkena akibat buruk dosa dan kezaliman.”Kemudian beliau menukil perkataan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,إِنَّ الْحُبَارَى لَتَمُوتَ فِي وَكْرِهَا مِنْ ظُلْمِ الظَّالِمِ.“Bahkan burung hubara dapat mati di sarangnya akibat kezaliman orang yang zalim.”Mujahid rahimahullah berkata,إِنَّ الْبَهَائِمَ تَلْعَنُ عُصَاةَ بَنِي آدَمَ إِذَا اشْتَدَّتِ السَّنَةُ، وَأُمْسِكَ الْمَطَرُ، وَتَقُولُ: هَذَا بِشُؤْمِ مَعْصِيَةِ ابْنِ آدَمَ.“Sesungguhnya hewan-hewan melaknat orang-orang yang bermaksiat dari kalangan anak Adam ketika paceklik semakin berat dan hujan tertahan. Mereka mengatakan, ‘Ini adalah akibat buruk maksiat anak Adam.’”‘Ikrimah rahimahullah juga berkata,دَوَابُّ الْأَرْضِ وَهَوَامُّهَا حَتَّى الْخَنَافِسُ وَالْعَقَارِبُ، يَقُولُونَ: مُنِعْنَا الْقَطْرَ بِذُنُوبِ بَنِي آدَمَ.“Hewan-hewan bumi dan binatang-binatang kecilnya, sampai kumbang dan kalajengking, berkata, ‘Kami terhalangi dari hujan karena dosa-dosa anak Adam.’”Ibnul Qayyim kemudian mengatakan,فَلَا يَكْفِيهِ عِقَابُ ذَنْبِهِ، حَتَّى يَلْعَنَهُ مَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ.“Tidak cukup baginya hukuman akibat dosanya, hingga makhluk yang tidak berdosa pun melaknatnya.”Lihat Al-Jawāb Al-Kāfī liman Sa’ala ‘an Ad-Dawā’ Asy-Syāfī atau yang populer dengan judul Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’. Bahasan dampak buruk dosa sudah kami sajikan di buku kami “Dosa itu Candu” diambil dari bahasan Ibnul Qayyim dalam Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’.  Dosa Tidak Selalu Menjadi Urusan PribadiNabi ﷺ memberikan gambaran yang sangat jelas tentang hal ini melalui perumpamaan sebuah kapal.Beliau ﷺ bersabda tentang sekelompok orang yang mendapatkan tempat di bagian atas dan bawah kapal. Orang-orang di bawah ingin melubangi bagian kapal mereka sendiri agar mudah mengambil air. Nabi ﷺ kemudian bersabda,فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا.“Jika mereka membiarkan orang-orang itu melakukan apa yang mereka kehendaki, semuanya akan binasa. Namun, jika mereka mencegahnya, mereka akan selamat dan semuanya pun selamat.” (HR. Bukhari, no. 2493)Baca juga: Mengingkari Kemungkaran Biar Selamat dari Tenggelamnya KapalOrang yang melubangi kapal mungkin berkata, “Saya hanya melubangi bagian saya sendiri.” Namun, air yang masuk tidak hanya menenggelamkan dirinya.Begitulah sebagian maksiat. Seseorang mungkin berkata, “Ini hidup saya”, “Ini HP saya”, atau “Ini urusan pribadi saya.” Padahal ketika dosa tumbuh dalam keluarga, dampaknya bisa mengenai pasangan, anak, saudara, bahkan generasi berikutnya. Agar Tak Terkena Musibah, Orang Tua Bertanggung Jawab Menjaga KeluarganyaAllah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Taḥrīm: 6)Nabi ﷺ juga bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ.“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)Seorang رَاعِي الغَنَمِ, penggembala kambing, tidak hanya berjalan di depan kambing. Ia mempunyai beberapa tugas sekaligus: menjaga kawanan agar tidak hilang, mencari tempat yang baik, melindungi dari bahaya, mengembalikan yang tersesat, memastikan kebutuhan kawanan terpenuhi, dan mempertanggungjawabkan kawanan yang dititipkan kepadanya.Dari analogi رَاعٍ (rā‘in) sebagai penggembala, dapat disimpulkan ada enam tugas utama kepala keluarga sebagai pemimpin:Menjaga keluarga agar tidak rusak atau “hilang” dari jalan yang benar.Mengarahkan kepada kebaikan, sebagaimana penggembala mencari tempat terbaik bagi gembalaannya.Melindungi dari bahaya, baik bahaya agama, akhlak, pergaulan, maupun bahaya duniawi.Mengembalikan ketika ada yang menyimpang, dengan nasihat, pendidikan, dan pembinaan.Memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk nafkah, pendidikan, perhatian, dan kebutuhan yang menjadi kewajibannya.Mempertanggungjawabkan amanah, karena seorang rā‘in akan ditanya tentang ra‘iyyah-nya.Jadi, makna kepala keluarga sebagai رَاعٍ bukan sekadar “orang yang berkuasa di rumah”, tetapi: menjaga, mengarahkan, melindungi, memperbaiki, memenuhi kebutuhan, dan mempertanggungjawabkan.Berarti ayah tidak cukup hanya berkata, “Saya sudah mencari nafkah.”Ibu pun tidak cukup berkata, “Saya sudah menyiapkan makanan dan mengurus sekolah anak.”Ada amanah yang lebih besar: ke mana agama anak-anak kita sedang berjalan?Baca juga: Kepala Keluarga Idaman (Materi Khutbah Jumat) 1. Orang Tua Harus Memulai dari Memperbaiki DirinyaSebelum bertanya, “Kenapa anak saya sulit dinasihati?”, orang tua perlu bertanya terlebih dahulu, “Apakah anak sedang meniru kesalahan saya?”Sulit meminta anak menjaga shalat jika orang tua sendiri meremehkannya. Sulit melarang anak berkata kasar jika setiap hari ia mendengar perkataan kasar di rumah. Sulit meminta anak meninggalkan gawai ketika ayah dan ibunya sendiri tidak bisa meletakkan HP ketika sedang berkumpul bersama keluarga.Pendidikan paling kuat sering kali bukan perkataan, tetapi keteladanan yang dilihat setiap hari.Karena itu, perbaikan anak dimulai dengan perbaikan orang tua.2. Jadikan Shalat sebagai Perkara Besar di RumahAllah Ta‘ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)Baca juga: Khutbah Jumat: Jangan Sibuk Mencari Rezeki, Lupa ShalatPerhatikan kata,وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam menjaganya.”Mendidik anak shalat memang memerlukan kesabaran dan pengulangan.Nabi ﷺ bersabda,– مُرُوا أولادَكُم بالصلاةِ وهُم أبناءُ سبعِ سنينَ ، واضرِبُوهُم عليهَا وهُمْ أبْنَاءُ عَشْرٍ وفرِّقُوا بينِهِم في المَضَاجِعِ “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun. Apabila pada usia sepuluh tahun mereka masih meninggalkan shalat, berikanlah tindakan disiplin kepada mereka. Dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud, no. 495; dinilai hasan sahih oleh Al-Albani)Hadits ini menunjukkan bahwa pendidikan shalat dilakukan secara bertahap sebelum anak mencapai usia balig, bukan baru dimulai ketika ia sudah dewasa.Praktiknya, ketika azan berkumandang, orang tua hendaknya tidak hanya berteriak dari jauh, “Ayo shalat!”, sementara dirinya masih asyik dengan HP.Berhentikan aktivitas. Ambil wudhu. Ajak anak shalat.Biarkan anak melihat bahwa shalat memang menjadi prioritas keluarga ini.3. Jangan Menunggu Kesalahan Anak Menjadi BesarHari ini anak berbohong kecil lalu dibiarkan. Besok kebohongan menjadi kebiasaan.Hari ini anak berkata kasar lalu ditertawakan. Besok ia kehilangan adab kepada orang tua.Hari ini anak melihat konten buruk lalu tidak ada yang menegur. Besok hatinya mulai terbiasa dengan kemungkaran.Nabi ﷺ bersabda,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ.“Siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu, dengan hatinya.” (HR. Muslim, no. 49)Dalam keluarga, orang tua memiliki tanggung jawab dan kewenangan pendidikan yang lebih besar. Karena itu, padamkan percikan sebelum menjadi kebakaran.4. Jangan Justru Memberikan Sarana untuk BermaksiatAllah Ta‘ala berfirman,وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ“Janganlah kalian saling membantu dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Mā’idah: 2)Di zaman sekarang, ayat ini perlu direnungkan oleh setiap orang tua.Orang tua membelikan HP, menyediakan Wi-Fi, memberi uang saku, membayar langganan aplikasi, dan menyediakan berbagai fasilitas. Namun setelah itu, jangan sampai orang tua sama sekali tidak mengetahui untuk apa semuanya digunakan.Bukan berarti anak harus dicurigai sepanjang waktu. Akan tetapi, fasilitas harus sebanding dengan kesiapan dan tanggung jawab anak.Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah anak saya sudah punya HP?” Namun, “Apakah ia sudah mampu menggunakan HP tanpa merusak agamanya?”5. Kenali Teman dan Lingkungan AnakAnak tidak hanya dididik oleh ayah dan ibunya.Ia juga “dididik” oleh teman-temannya, sekolahnya, tontonan yang dilihatnya, akun yang diikutinya, figur yang dikaguminya, serta berbagai konten yang masuk ke dalam pikirannya setiap hari.Karena itu, jangan sampai orang tua tahu nilai matematika anak sampai detail, tetapi tidak tahu siapa teman dekatnya.Ketahui dengan siapa anak sering pergi. Kenali teman-temannya. Bangun komunikasi sehingga anak nyaman bercerita, bukan hanya takut diperiksa.Semakin besar usia anak, pengawasan pun perlu berkembang: dari pengawasan langsung menuju pembentukan muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu mengetahui apa yang ia kerjakan.6. Jangan Membela Anak Ketika Anak Memang SalahCinta kepada anak bukan berarti selalu membelanya.Jika anak melakukan bullying, jangan salahkan korbannya hanya untuk menjaga nama baik anak. Jika anak mengambil milik orang lain, jangan menutupinya. Jika anak berbohong kepada guru, jangan orang tua malah membantu membuat alasan palsu.Ajarkan anak bahwa kesalahan mempunyai konsekuensi.Jika mengambil hak orang lain, kembalikan. Jika menyakiti orang, minta maaf. Jika merusak sesuatu, bertanggung jawablah.Karena membela anak dalam kezaliman bukanlah kasih sayang.Kasih sayang yang benar adalah menyelamatkan anak dari menjadi orang zalim.7. Ayah dan Ibu Harus Sepakat dalam Batas Halal dan HaramPendidikan menjadi sulit ketika ayah mengatakan “tidak boleh”, lalu anak datang kepada ibu dan mendapat jawaban “boleh”.Anak akhirnya belajar bukan tentang benar dan salah, tetapi belajar mencari orang tua mana yang paling mudah memberikan izin.Ayah dan ibu perlu memiliki kesepakatan dalam prinsip-prinsip utama rumah: shalat, adab, penggunaan gawai, tontonan, jam pulang, pergaulan, uang saku, dan batas halal-haram.Allah menceritakan nasihat Luqman kepada anaknya,يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ“Wahai anakku! Laksanakanlah shalat, perintahkanlah berbuat yang makruf, cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian termasuk perkara yang penting.”(QS. Luqmān: 17)Maka anak perlu mengetahui, “Keluarga kami mempunyai nilai yang tidak boleh dijual hanya karena mengikuti teman.”8. Biasakan Anak Bertaubat dan Memperbaiki KesalahanRumah yang saleh bukan rumah yang seluruh penghuninya tidak pernah berbuat salah.Tidak ada keluarga seperti itu.Rumah yang baik adalah rumah tempat orang-orang yang berbuat salah belajar segera kembali kepada Allah.Allah menceritakan dakwah Nabi Nuh ‘alaihis salam,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ“Aku berkata, ‘Mohonlah ampun kepada Rabb kalian. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian dan memperbanyak harta serta anak-anak kalian.’” (QS. Nūḥ: 10–12)Ajarkan pola sederhana kepada anak:berdosa → bertaubat,menyakiti → meminta maaf,mengambil hak → mengembalikan,meninggalkan kewajiban → segera memperbaiki.Dengan begitu, anak memahami bahwa istighfar bukan alasan untuk terus melakukan kesalahan.9. Jangan Membiarkan Maksiat Menjadi Budaya RumahZainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ,أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟“Apakah kami akan binasa sementara di tengah-tengah kami terdapat orang-orang saleh?”Nabi ﷺ menjawab,نَعَمْ، إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ.“Ya, apabila keburukan telah banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim)Perhatikan, masalahnya bukan bahwa manusia tidak pernah berbuat dosa. Semua manusia memiliki kekurangan.Masalah menjadi semakin berat ketika kesalahan dibiarkan, dianggap lucu, dibenarkan, lalu menjadi budaya.Karena itu, jangan biasakan rumah dengan ghibah. Jangan menganggap kebohongan kecil sesuatu yang lucu. Jangan membiarkan penghinaan antara kakak dan adik. Jangan menormalisasi tontonan haram hanya karena “semua teman anak juga menontonnya”.Rumah harus menjadi tempat yang membantu penghuninya mengingat Allah, bukan tempat yang membuat dosa terasa biasa.10. Jangan Hanya Mendidik Anak Menjadi Saleh, Didiklah Menjadi MuslihAllah Ta‘ala berfirman,وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ“Dan Rabbmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim sedangkan penduduknya adalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” (QS. Hūd: 117)Ada pelajaran indah dari kata,مُصْلِحُونَyaitu orang-orang yang melakukan perbaikan.Cita-cita orang tua jangan berhenti pada,“Semoga anak saya menjadi anak baik.”Naikkan cita-cita itu menjadi,“Semoga anak saya menjadi anak saleh yang menghadirkan kebaikan bagi orang lain.”Ia menjaga shalat dan mengingatkan saudaranya shalat. Ia tidak membully dan berani tidak ikut ketika teman-temannya membully. Ia tidak menyontek dan tidak membantu temannya menyontek. Ia menjaga lisannya dan tidak ikut menyebarkan aib di grup pertemanan.Inilah anak yang bukan hanya صَالِحٌ—baik untuk dirinya—tetapi juga berusaha menjadi مُصْلِحٌ—membawa perbaikan. Jangan Salah Memahami: Orang Saleh Tetap Bisa Mendapat MusibahPembahasan tentang dampak buruk maksiat jangan sampai membuat kita menyimpulkan bahwa setiap musibah pasti merupakan hukuman karena dosa tertentu.Kesimpulan seperti ini tidak benar.Nabi ﷺ justru ditanya,أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟“Siapakah manusia yang paling berat ujiannya?”Beliau ﷺ menjawab,الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ.“Para nabi, kemudian orang-orang yang paling baik setelah mereka, kemudian yang semisalnya.” (HR. Tirmidzi; hadits sahih)Maka ketaatan bukan jaminan bahwa sebuah keluarga tidak akan pernah mengalami sakit, kehilangan, kecelakaan, kesulitan ekonomi, atau musibah lainnya.Yang kita lakukan adalah menjauhi sebab-sebab datangnya murka Allah, memperbanyak sebab-sebab keberkahan, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Tiga Benteng KeluargaSeluruh pembahasan di atas dapat diringkas menjadi tiga benteng:صَلَاحُ الْوَالِدَيْنِOrang tua memperbaiki dirinya.تَرْبِيَةُ الْأَوْلَادِ عَلَى الطَّاعَةِOrang tua mendidik anak-anak dalam ketaatan.الْإِصْلَاحُ وَمَنْعُ الْمُنْكَرِ فِي الْبَيْتِOrang tua melakukan perbaikan dan tidak membiarkan kemungkaran tumbuh di rumah.Jangan hanya bertanya, “Apa yang sudah saya berikan kepada anak saya?”Tanyakan pula, “Dosa apa yang sedang saya cegah agar tidak tumbuh dalam diri anak saya?” Semoga Allah menjaga keluarga kita.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا ذُرِّيَّاتِنَا، وَاحْفَظْ أَهْلَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْمَعَاصِي، وَأَعِنَّا عَلَى طَاعَتِكَ وَحُسْنِ تَرْبِيَتِهِمْ، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتَ صَلَاحٍ وَإِصْلَاحٍ.Allāhumma aṣliḥ lanā dzurriyyātinā, waḥfaẓ ahlanā minal-fitani wal-ma‘āṣī, wa a‘innā ‘alā ṭā‘atika wa ḥusni tarbiyatihim, waj‘al buyūtanā buyūta ṣalāḥin wa iṣlāḥ.“Ya Allah, perbaikilah keturunan kami, jagalah keluarga kami dari berbagai fitnah dan kemaksiatan, bantulah kami untuk taat kepada-Mu dan mendidik mereka dengan baik, serta jadikanlah rumah-rumah kami sebagai rumah yang dipenuhi kesalehan dan perbaikan.” —- Perjalanan Banaran Playen menuju ke Majelis Shafiyah Shalehah @ Kotagede Jogja, 3 Rabiul Akhir 1448 H, 16 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAd-Daa wad Dawaa amar makruf nahi mungkar anak saleh dosa dosa itu candu faedah dari Ibnul Qayyim ibnul qayyim keluarga muslim maksiat nasihat ibnul qayyim orang tua parenting Islami pendidikan anak shalat taubat
Maksiat ternyata tidak selalu berhenti pada orang yang melakukannya; keburukannya dapat merembet kepada keluarga bahkan lingkungan di sekitarnya. Karena itu, tugas orang tua bukan hanya membuat anak pintar dan berhasil di dunia, tetapi juga menjaga agar dosa tidak tumbuh, dianggap biasa, lalu menjadi budaya di dalam rumah. Lantas, apa yang bisa dilakukan ayah dan ibu agar rumah menjadi tempat tumbuhnya ketaatan dan perbaikan?  Daftar Isi tutup 1. Dosa Bisa Berdampak kepada Makhluk Lain 2. Dosa Tidak Selalu Menjadi Urusan Pribadi 3. Agar Tak Terkena Musibah, Orang Tua Bertanggung Jawab Menjaga Keluarganya 3.1. 1. Orang Tua Harus Memulai dari Memperbaiki Dirinya 4. 2. Jadikan Shalat sebagai Perkara Besar di Rumah 4.1. 3. Jangan Menunggu Kesalahan Anak Menjadi Besar 4.2. 4. Jangan Justru Memberikan Sarana untuk Bermaksiat 4.3. 5. Kenali Teman dan Lingkungan Anak 4.4. 6. Jangan Membela Anak Ketika Anak Memang Salah 4.5. 7. Ayah dan Ibu Harus Sepakat dalam Batas Halal dan Haram 4.6. 8. Biasakan Anak Bertaubat dan Memperbaiki Kesalahan 4.7. 9. Jangan Membiarkan Maksiat Menjadi Budaya Rumah 4.8. 10. Jangan Hanya Mendidik Anak Menjadi Saleh, Didiklah Menjadi Muslih 5. Jangan Salah Memahami: Orang Saleh Tetap Bisa Mendapat Musibah 6. Tiga Benteng Keluarga  Dosa Bisa Berdampak kepada Makhluk LainIbnul Qayyim rahimahullah ketika menjelaskan dampak buruk dosa berkata,وَمِنْهَا: أَنَّ غَيْرَهُ مِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ يَعُودُ عَلَيْهِ شُؤْمُ ذَنْبِهِ، فَيَحْتَرِقُ هُوَ وَغَيْرُهُ بِشُؤْمِ الذُّنُوبِ وَالظُّلْمِ.“Di antara akibat dosa adalah dampak buruknya kembali mengenai manusia lain dan hewan-hewan. Pelaku dan selain dirinya dapat terkena akibat buruk dosa dan kezaliman.”Kemudian beliau menukil perkataan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,إِنَّ الْحُبَارَى لَتَمُوتَ فِي وَكْرِهَا مِنْ ظُلْمِ الظَّالِمِ.“Bahkan burung hubara dapat mati di sarangnya akibat kezaliman orang yang zalim.”Mujahid rahimahullah berkata,إِنَّ الْبَهَائِمَ تَلْعَنُ عُصَاةَ بَنِي آدَمَ إِذَا اشْتَدَّتِ السَّنَةُ، وَأُمْسِكَ الْمَطَرُ، وَتَقُولُ: هَذَا بِشُؤْمِ مَعْصِيَةِ ابْنِ آدَمَ.“Sesungguhnya hewan-hewan melaknat orang-orang yang bermaksiat dari kalangan anak Adam ketika paceklik semakin berat dan hujan tertahan. Mereka mengatakan, ‘Ini adalah akibat buruk maksiat anak Adam.’”‘Ikrimah rahimahullah juga berkata,دَوَابُّ الْأَرْضِ وَهَوَامُّهَا حَتَّى الْخَنَافِسُ وَالْعَقَارِبُ، يَقُولُونَ: مُنِعْنَا الْقَطْرَ بِذُنُوبِ بَنِي آدَمَ.“Hewan-hewan bumi dan binatang-binatang kecilnya, sampai kumbang dan kalajengking, berkata, ‘Kami terhalangi dari hujan karena dosa-dosa anak Adam.’”Ibnul Qayyim kemudian mengatakan,فَلَا يَكْفِيهِ عِقَابُ ذَنْبِهِ، حَتَّى يَلْعَنَهُ مَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ.“Tidak cukup baginya hukuman akibat dosanya, hingga makhluk yang tidak berdosa pun melaknatnya.”Lihat Al-Jawāb Al-Kāfī liman Sa’ala ‘an Ad-Dawā’ Asy-Syāfī atau yang populer dengan judul Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’. Bahasan dampak buruk dosa sudah kami sajikan di buku kami “Dosa itu Candu” diambil dari bahasan Ibnul Qayyim dalam Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’.  Dosa Tidak Selalu Menjadi Urusan PribadiNabi ﷺ memberikan gambaran yang sangat jelas tentang hal ini melalui perumpamaan sebuah kapal.Beliau ﷺ bersabda tentang sekelompok orang yang mendapatkan tempat di bagian atas dan bawah kapal. Orang-orang di bawah ingin melubangi bagian kapal mereka sendiri agar mudah mengambil air. Nabi ﷺ kemudian bersabda,فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا.“Jika mereka membiarkan orang-orang itu melakukan apa yang mereka kehendaki, semuanya akan binasa. Namun, jika mereka mencegahnya, mereka akan selamat dan semuanya pun selamat.” (HR. Bukhari, no. 2493)Baca juga: Mengingkari Kemungkaran Biar Selamat dari Tenggelamnya KapalOrang yang melubangi kapal mungkin berkata, “Saya hanya melubangi bagian saya sendiri.” Namun, air yang masuk tidak hanya menenggelamkan dirinya.Begitulah sebagian maksiat. Seseorang mungkin berkata, “Ini hidup saya”, “Ini HP saya”, atau “Ini urusan pribadi saya.” Padahal ketika dosa tumbuh dalam keluarga, dampaknya bisa mengenai pasangan, anak, saudara, bahkan generasi berikutnya. Agar Tak Terkena Musibah, Orang Tua Bertanggung Jawab Menjaga KeluarganyaAllah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Taḥrīm: 6)Nabi ﷺ juga bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ.“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)Seorang رَاعِي الغَنَمِ, penggembala kambing, tidak hanya berjalan di depan kambing. Ia mempunyai beberapa tugas sekaligus: menjaga kawanan agar tidak hilang, mencari tempat yang baik, melindungi dari bahaya, mengembalikan yang tersesat, memastikan kebutuhan kawanan terpenuhi, dan mempertanggungjawabkan kawanan yang dititipkan kepadanya.Dari analogi رَاعٍ (rā‘in) sebagai penggembala, dapat disimpulkan ada enam tugas utama kepala keluarga sebagai pemimpin:Menjaga keluarga agar tidak rusak atau “hilang” dari jalan yang benar.Mengarahkan kepada kebaikan, sebagaimana penggembala mencari tempat terbaik bagi gembalaannya.Melindungi dari bahaya, baik bahaya agama, akhlak, pergaulan, maupun bahaya duniawi.Mengembalikan ketika ada yang menyimpang, dengan nasihat, pendidikan, dan pembinaan.Memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk nafkah, pendidikan, perhatian, dan kebutuhan yang menjadi kewajibannya.Mempertanggungjawabkan amanah, karena seorang rā‘in akan ditanya tentang ra‘iyyah-nya.Jadi, makna kepala keluarga sebagai رَاعٍ bukan sekadar “orang yang berkuasa di rumah”, tetapi: menjaga, mengarahkan, melindungi, memperbaiki, memenuhi kebutuhan, dan mempertanggungjawabkan.Berarti ayah tidak cukup hanya berkata, “Saya sudah mencari nafkah.”Ibu pun tidak cukup berkata, “Saya sudah menyiapkan makanan dan mengurus sekolah anak.”Ada amanah yang lebih besar: ke mana agama anak-anak kita sedang berjalan?Baca juga: Kepala Keluarga Idaman (Materi Khutbah Jumat) 1. Orang Tua Harus Memulai dari Memperbaiki DirinyaSebelum bertanya, “Kenapa anak saya sulit dinasihati?”, orang tua perlu bertanya terlebih dahulu, “Apakah anak sedang meniru kesalahan saya?”Sulit meminta anak menjaga shalat jika orang tua sendiri meremehkannya. Sulit melarang anak berkata kasar jika setiap hari ia mendengar perkataan kasar di rumah. Sulit meminta anak meninggalkan gawai ketika ayah dan ibunya sendiri tidak bisa meletakkan HP ketika sedang berkumpul bersama keluarga.Pendidikan paling kuat sering kali bukan perkataan, tetapi keteladanan yang dilihat setiap hari.Karena itu, perbaikan anak dimulai dengan perbaikan orang tua.2. Jadikan Shalat sebagai Perkara Besar di RumahAllah Ta‘ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)Baca juga: Khutbah Jumat: Jangan Sibuk Mencari Rezeki, Lupa ShalatPerhatikan kata,وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam menjaganya.”Mendidik anak shalat memang memerlukan kesabaran dan pengulangan.Nabi ﷺ bersabda,– مُرُوا أولادَكُم بالصلاةِ وهُم أبناءُ سبعِ سنينَ ، واضرِبُوهُم عليهَا وهُمْ أبْنَاءُ عَشْرٍ وفرِّقُوا بينِهِم في المَضَاجِعِ “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun. Apabila pada usia sepuluh tahun mereka masih meninggalkan shalat, berikanlah tindakan disiplin kepada mereka. Dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud, no. 495; dinilai hasan sahih oleh Al-Albani)Hadits ini menunjukkan bahwa pendidikan shalat dilakukan secara bertahap sebelum anak mencapai usia balig, bukan baru dimulai ketika ia sudah dewasa.Praktiknya, ketika azan berkumandang, orang tua hendaknya tidak hanya berteriak dari jauh, “Ayo shalat!”, sementara dirinya masih asyik dengan HP.Berhentikan aktivitas. Ambil wudhu. Ajak anak shalat.Biarkan anak melihat bahwa shalat memang menjadi prioritas keluarga ini.3. Jangan Menunggu Kesalahan Anak Menjadi BesarHari ini anak berbohong kecil lalu dibiarkan. Besok kebohongan menjadi kebiasaan.Hari ini anak berkata kasar lalu ditertawakan. Besok ia kehilangan adab kepada orang tua.Hari ini anak melihat konten buruk lalu tidak ada yang menegur. Besok hatinya mulai terbiasa dengan kemungkaran.Nabi ﷺ bersabda,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ.“Siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu, dengan hatinya.” (HR. Muslim, no. 49)Dalam keluarga, orang tua memiliki tanggung jawab dan kewenangan pendidikan yang lebih besar. Karena itu, padamkan percikan sebelum menjadi kebakaran.4. Jangan Justru Memberikan Sarana untuk BermaksiatAllah Ta‘ala berfirman,وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ“Janganlah kalian saling membantu dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Mā’idah: 2)Di zaman sekarang, ayat ini perlu direnungkan oleh setiap orang tua.Orang tua membelikan HP, menyediakan Wi-Fi, memberi uang saku, membayar langganan aplikasi, dan menyediakan berbagai fasilitas. Namun setelah itu, jangan sampai orang tua sama sekali tidak mengetahui untuk apa semuanya digunakan.Bukan berarti anak harus dicurigai sepanjang waktu. Akan tetapi, fasilitas harus sebanding dengan kesiapan dan tanggung jawab anak.Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah anak saya sudah punya HP?” Namun, “Apakah ia sudah mampu menggunakan HP tanpa merusak agamanya?”5. Kenali Teman dan Lingkungan AnakAnak tidak hanya dididik oleh ayah dan ibunya.Ia juga “dididik” oleh teman-temannya, sekolahnya, tontonan yang dilihatnya, akun yang diikutinya, figur yang dikaguminya, serta berbagai konten yang masuk ke dalam pikirannya setiap hari.Karena itu, jangan sampai orang tua tahu nilai matematika anak sampai detail, tetapi tidak tahu siapa teman dekatnya.Ketahui dengan siapa anak sering pergi. Kenali teman-temannya. Bangun komunikasi sehingga anak nyaman bercerita, bukan hanya takut diperiksa.Semakin besar usia anak, pengawasan pun perlu berkembang: dari pengawasan langsung menuju pembentukan muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu mengetahui apa yang ia kerjakan.6. Jangan Membela Anak Ketika Anak Memang SalahCinta kepada anak bukan berarti selalu membelanya.Jika anak melakukan bullying, jangan salahkan korbannya hanya untuk menjaga nama baik anak. Jika anak mengambil milik orang lain, jangan menutupinya. Jika anak berbohong kepada guru, jangan orang tua malah membantu membuat alasan palsu.Ajarkan anak bahwa kesalahan mempunyai konsekuensi.Jika mengambil hak orang lain, kembalikan. Jika menyakiti orang, minta maaf. Jika merusak sesuatu, bertanggung jawablah.Karena membela anak dalam kezaliman bukanlah kasih sayang.Kasih sayang yang benar adalah menyelamatkan anak dari menjadi orang zalim.7. Ayah dan Ibu Harus Sepakat dalam Batas Halal dan HaramPendidikan menjadi sulit ketika ayah mengatakan “tidak boleh”, lalu anak datang kepada ibu dan mendapat jawaban “boleh”.Anak akhirnya belajar bukan tentang benar dan salah, tetapi belajar mencari orang tua mana yang paling mudah memberikan izin.Ayah dan ibu perlu memiliki kesepakatan dalam prinsip-prinsip utama rumah: shalat, adab, penggunaan gawai, tontonan, jam pulang, pergaulan, uang saku, dan batas halal-haram.Allah menceritakan nasihat Luqman kepada anaknya,يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ“Wahai anakku! Laksanakanlah shalat, perintahkanlah berbuat yang makruf, cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian termasuk perkara yang penting.”(QS. Luqmān: 17)Maka anak perlu mengetahui, “Keluarga kami mempunyai nilai yang tidak boleh dijual hanya karena mengikuti teman.”8. Biasakan Anak Bertaubat dan Memperbaiki KesalahanRumah yang saleh bukan rumah yang seluruh penghuninya tidak pernah berbuat salah.Tidak ada keluarga seperti itu.Rumah yang baik adalah rumah tempat orang-orang yang berbuat salah belajar segera kembali kepada Allah.Allah menceritakan dakwah Nabi Nuh ‘alaihis salam,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ“Aku berkata, ‘Mohonlah ampun kepada Rabb kalian. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian dan memperbanyak harta serta anak-anak kalian.’” (QS. Nūḥ: 10–12)Ajarkan pola sederhana kepada anak:berdosa → bertaubat,menyakiti → meminta maaf,mengambil hak → mengembalikan,meninggalkan kewajiban → segera memperbaiki.Dengan begitu, anak memahami bahwa istighfar bukan alasan untuk terus melakukan kesalahan.9. Jangan Membiarkan Maksiat Menjadi Budaya RumahZainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ,أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟“Apakah kami akan binasa sementara di tengah-tengah kami terdapat orang-orang saleh?”Nabi ﷺ menjawab,نَعَمْ، إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ.“Ya, apabila keburukan telah banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim)Perhatikan, masalahnya bukan bahwa manusia tidak pernah berbuat dosa. Semua manusia memiliki kekurangan.Masalah menjadi semakin berat ketika kesalahan dibiarkan, dianggap lucu, dibenarkan, lalu menjadi budaya.Karena itu, jangan biasakan rumah dengan ghibah. Jangan menganggap kebohongan kecil sesuatu yang lucu. Jangan membiarkan penghinaan antara kakak dan adik. Jangan menormalisasi tontonan haram hanya karena “semua teman anak juga menontonnya”.Rumah harus menjadi tempat yang membantu penghuninya mengingat Allah, bukan tempat yang membuat dosa terasa biasa.10. Jangan Hanya Mendidik Anak Menjadi Saleh, Didiklah Menjadi MuslihAllah Ta‘ala berfirman,وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ“Dan Rabbmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim sedangkan penduduknya adalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” (QS. Hūd: 117)Ada pelajaran indah dari kata,مُصْلِحُونَyaitu orang-orang yang melakukan perbaikan.Cita-cita orang tua jangan berhenti pada,“Semoga anak saya menjadi anak baik.”Naikkan cita-cita itu menjadi,“Semoga anak saya menjadi anak saleh yang menghadirkan kebaikan bagi orang lain.”Ia menjaga shalat dan mengingatkan saudaranya shalat. Ia tidak membully dan berani tidak ikut ketika teman-temannya membully. Ia tidak menyontek dan tidak membantu temannya menyontek. Ia menjaga lisannya dan tidak ikut menyebarkan aib di grup pertemanan.Inilah anak yang bukan hanya صَالِحٌ—baik untuk dirinya—tetapi juga berusaha menjadi مُصْلِحٌ—membawa perbaikan. Jangan Salah Memahami: Orang Saleh Tetap Bisa Mendapat MusibahPembahasan tentang dampak buruk maksiat jangan sampai membuat kita menyimpulkan bahwa setiap musibah pasti merupakan hukuman karena dosa tertentu.Kesimpulan seperti ini tidak benar.Nabi ﷺ justru ditanya,أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟“Siapakah manusia yang paling berat ujiannya?”Beliau ﷺ menjawab,الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ.“Para nabi, kemudian orang-orang yang paling baik setelah mereka, kemudian yang semisalnya.” (HR. Tirmidzi; hadits sahih)Maka ketaatan bukan jaminan bahwa sebuah keluarga tidak akan pernah mengalami sakit, kehilangan, kecelakaan, kesulitan ekonomi, atau musibah lainnya.Yang kita lakukan adalah menjauhi sebab-sebab datangnya murka Allah, memperbanyak sebab-sebab keberkahan, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Tiga Benteng KeluargaSeluruh pembahasan di atas dapat diringkas menjadi tiga benteng:صَلَاحُ الْوَالِدَيْنِOrang tua memperbaiki dirinya.تَرْبِيَةُ الْأَوْلَادِ عَلَى الطَّاعَةِOrang tua mendidik anak-anak dalam ketaatan.الْإِصْلَاحُ وَمَنْعُ الْمُنْكَرِ فِي الْبَيْتِOrang tua melakukan perbaikan dan tidak membiarkan kemungkaran tumbuh di rumah.Jangan hanya bertanya, “Apa yang sudah saya berikan kepada anak saya?”Tanyakan pula, “Dosa apa yang sedang saya cegah agar tidak tumbuh dalam diri anak saya?” Semoga Allah menjaga keluarga kita.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا ذُرِّيَّاتِنَا، وَاحْفَظْ أَهْلَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْمَعَاصِي، وَأَعِنَّا عَلَى طَاعَتِكَ وَحُسْنِ تَرْبِيَتِهِمْ، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتَ صَلَاحٍ وَإِصْلَاحٍ.Allāhumma aṣliḥ lanā dzurriyyātinā, waḥfaẓ ahlanā minal-fitani wal-ma‘āṣī, wa a‘innā ‘alā ṭā‘atika wa ḥusni tarbiyatihim, waj‘al buyūtanā buyūta ṣalāḥin wa iṣlāḥ.“Ya Allah, perbaikilah keturunan kami, jagalah keluarga kami dari berbagai fitnah dan kemaksiatan, bantulah kami untuk taat kepada-Mu dan mendidik mereka dengan baik, serta jadikanlah rumah-rumah kami sebagai rumah yang dipenuhi kesalehan dan perbaikan.” —- Perjalanan Banaran Playen menuju ke Majelis Shafiyah Shalehah @ Kotagede Jogja, 3 Rabiul Akhir 1448 H, 16 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAd-Daa wad Dawaa amar makruf nahi mungkar anak saleh dosa dosa itu candu faedah dari Ibnul Qayyim ibnul qayyim keluarga muslim maksiat nasihat ibnul qayyim orang tua parenting Islami pendidikan anak shalat taubat


Maksiat ternyata tidak selalu berhenti pada orang yang melakukannya; keburukannya dapat merembet kepada keluarga bahkan lingkungan di sekitarnya. Karena itu, tugas orang tua bukan hanya membuat anak pintar dan berhasil di dunia, tetapi juga menjaga agar dosa tidak tumbuh, dianggap biasa, lalu menjadi budaya di dalam rumah. Lantas, apa yang bisa dilakukan ayah dan ibu agar rumah menjadi tempat tumbuhnya ketaatan dan perbaikan?  Daftar Isi tutup 1. Dosa Bisa Berdampak kepada Makhluk Lain 2. Dosa Tidak Selalu Menjadi Urusan Pribadi 3. Agar Tak Terkena Musibah, Orang Tua Bertanggung Jawab Menjaga Keluarganya 3.1. 1. Orang Tua Harus Memulai dari Memperbaiki Dirinya 4. 2. Jadikan Shalat sebagai Perkara Besar di Rumah 4.1. 3. Jangan Menunggu Kesalahan Anak Menjadi Besar 4.2. 4. Jangan Justru Memberikan Sarana untuk Bermaksiat 4.3. 5. Kenali Teman dan Lingkungan Anak 4.4. 6. Jangan Membela Anak Ketika Anak Memang Salah 4.5. 7. Ayah dan Ibu Harus Sepakat dalam Batas Halal dan Haram 4.6. 8. Biasakan Anak Bertaubat dan Memperbaiki Kesalahan 4.7. 9. Jangan Membiarkan Maksiat Menjadi Budaya Rumah 4.8. 10. Jangan Hanya Mendidik Anak Menjadi Saleh, Didiklah Menjadi Muslih 5. Jangan Salah Memahami: Orang Saleh Tetap Bisa Mendapat Musibah 6. Tiga Benteng Keluarga  Dosa Bisa Berdampak kepada Makhluk LainIbnul Qayyim rahimahullah ketika menjelaskan dampak buruk dosa berkata,وَمِنْهَا: أَنَّ غَيْرَهُ مِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ يَعُودُ عَلَيْهِ شُؤْمُ ذَنْبِهِ، فَيَحْتَرِقُ هُوَ وَغَيْرُهُ بِشُؤْمِ الذُّنُوبِ وَالظُّلْمِ.“Di antara akibat dosa adalah dampak buruknya kembali mengenai manusia lain dan hewan-hewan. Pelaku dan selain dirinya dapat terkena akibat buruk dosa dan kezaliman.”Kemudian beliau menukil perkataan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,إِنَّ الْحُبَارَى لَتَمُوتَ فِي وَكْرِهَا مِنْ ظُلْمِ الظَّالِمِ.“Bahkan burung hubara dapat mati di sarangnya akibat kezaliman orang yang zalim.”Mujahid rahimahullah berkata,إِنَّ الْبَهَائِمَ تَلْعَنُ عُصَاةَ بَنِي آدَمَ إِذَا اشْتَدَّتِ السَّنَةُ، وَأُمْسِكَ الْمَطَرُ، وَتَقُولُ: هَذَا بِشُؤْمِ مَعْصِيَةِ ابْنِ آدَمَ.“Sesungguhnya hewan-hewan melaknat orang-orang yang bermaksiat dari kalangan anak Adam ketika paceklik semakin berat dan hujan tertahan. Mereka mengatakan, ‘Ini adalah akibat buruk maksiat anak Adam.’”‘Ikrimah rahimahullah juga berkata,دَوَابُّ الْأَرْضِ وَهَوَامُّهَا حَتَّى الْخَنَافِسُ وَالْعَقَارِبُ، يَقُولُونَ: مُنِعْنَا الْقَطْرَ بِذُنُوبِ بَنِي آدَمَ.“Hewan-hewan bumi dan binatang-binatang kecilnya, sampai kumbang dan kalajengking, berkata, ‘Kami terhalangi dari hujan karena dosa-dosa anak Adam.’”Ibnul Qayyim kemudian mengatakan,فَلَا يَكْفِيهِ عِقَابُ ذَنْبِهِ، حَتَّى يَلْعَنَهُ مَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ.“Tidak cukup baginya hukuman akibat dosanya, hingga makhluk yang tidak berdosa pun melaknatnya.”Lihat Al-Jawāb Al-Kāfī liman Sa’ala ‘an Ad-Dawā’ Asy-Syāfī atau yang populer dengan judul Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’. Bahasan dampak buruk dosa sudah kami sajikan di buku kami “Dosa itu Candu” diambil dari bahasan Ibnul Qayyim dalam Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’.  Dosa Tidak Selalu Menjadi Urusan PribadiNabi ﷺ memberikan gambaran yang sangat jelas tentang hal ini melalui perumpamaan sebuah kapal.Beliau ﷺ bersabda tentang sekelompok orang yang mendapatkan tempat di bagian atas dan bawah kapal. Orang-orang di bawah ingin melubangi bagian kapal mereka sendiri agar mudah mengambil air. Nabi ﷺ kemudian bersabda,فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا.“Jika mereka membiarkan orang-orang itu melakukan apa yang mereka kehendaki, semuanya akan binasa. Namun, jika mereka mencegahnya, mereka akan selamat dan semuanya pun selamat.” (HR. Bukhari, no. 2493)Baca juga: Mengingkari Kemungkaran Biar Selamat dari Tenggelamnya KapalOrang yang melubangi kapal mungkin berkata, “Saya hanya melubangi bagian saya sendiri.” Namun, air yang masuk tidak hanya menenggelamkan dirinya.Begitulah sebagian maksiat. Seseorang mungkin berkata, “Ini hidup saya”, “Ini HP saya”, atau “Ini urusan pribadi saya.” Padahal ketika dosa tumbuh dalam keluarga, dampaknya bisa mengenai pasangan, anak, saudara, bahkan generasi berikutnya. Agar Tak Terkena Musibah, Orang Tua Bertanggung Jawab Menjaga KeluarganyaAllah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Taḥrīm: 6)Nabi ﷺ juga bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ.“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)Seorang رَاعِي الغَنَمِ, penggembala kambing, tidak hanya berjalan di depan kambing. Ia mempunyai beberapa tugas sekaligus: menjaga kawanan agar tidak hilang, mencari tempat yang baik, melindungi dari bahaya, mengembalikan yang tersesat, memastikan kebutuhan kawanan terpenuhi, dan mempertanggungjawabkan kawanan yang dititipkan kepadanya.Dari analogi رَاعٍ (rā‘in) sebagai penggembala, dapat disimpulkan ada enam tugas utama kepala keluarga sebagai pemimpin:Menjaga keluarga agar tidak rusak atau “hilang” dari jalan yang benar.Mengarahkan kepada kebaikan, sebagaimana penggembala mencari tempat terbaik bagi gembalaannya.Melindungi dari bahaya, baik bahaya agama, akhlak, pergaulan, maupun bahaya duniawi.Mengembalikan ketika ada yang menyimpang, dengan nasihat, pendidikan, dan pembinaan.Memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk nafkah, pendidikan, perhatian, dan kebutuhan yang menjadi kewajibannya.Mempertanggungjawabkan amanah, karena seorang rā‘in akan ditanya tentang ra‘iyyah-nya.Jadi, makna kepala keluarga sebagai رَاعٍ bukan sekadar “orang yang berkuasa di rumah”, tetapi: menjaga, mengarahkan, melindungi, memperbaiki, memenuhi kebutuhan, dan mempertanggungjawabkan.Berarti ayah tidak cukup hanya berkata, “Saya sudah mencari nafkah.”Ibu pun tidak cukup berkata, “Saya sudah menyiapkan makanan dan mengurus sekolah anak.”Ada amanah yang lebih besar: ke mana agama anak-anak kita sedang berjalan?Baca juga: Kepala Keluarga Idaman (Materi Khutbah Jumat) 1. Orang Tua Harus Memulai dari Memperbaiki DirinyaSebelum bertanya, “Kenapa anak saya sulit dinasihati?”, orang tua perlu bertanya terlebih dahulu, “Apakah anak sedang meniru kesalahan saya?”Sulit meminta anak menjaga shalat jika orang tua sendiri meremehkannya. Sulit melarang anak berkata kasar jika setiap hari ia mendengar perkataan kasar di rumah. Sulit meminta anak meninggalkan gawai ketika ayah dan ibunya sendiri tidak bisa meletakkan HP ketika sedang berkumpul bersama keluarga.Pendidikan paling kuat sering kali bukan perkataan, tetapi keteladanan yang dilihat setiap hari.Karena itu, perbaikan anak dimulai dengan perbaikan orang tua.2. Jadikan Shalat sebagai Perkara Besar di RumahAllah Ta‘ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)Baca juga: Khutbah Jumat: Jangan Sibuk Mencari Rezeki, Lupa ShalatPerhatikan kata,وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam menjaganya.”Mendidik anak shalat memang memerlukan kesabaran dan pengulangan.Nabi ﷺ bersabda,– مُرُوا أولادَكُم بالصلاةِ وهُم أبناءُ سبعِ سنينَ ، واضرِبُوهُم عليهَا وهُمْ أبْنَاءُ عَشْرٍ وفرِّقُوا بينِهِم في المَضَاجِعِ “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun. Apabila pada usia sepuluh tahun mereka masih meninggalkan shalat, berikanlah tindakan disiplin kepada mereka. Dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud, no. 495; dinilai hasan sahih oleh Al-Albani)Hadits ini menunjukkan bahwa pendidikan shalat dilakukan secara bertahap sebelum anak mencapai usia balig, bukan baru dimulai ketika ia sudah dewasa.Praktiknya, ketika azan berkumandang, orang tua hendaknya tidak hanya berteriak dari jauh, “Ayo shalat!”, sementara dirinya masih asyik dengan HP.Berhentikan aktivitas. Ambil wudhu. Ajak anak shalat.Biarkan anak melihat bahwa shalat memang menjadi prioritas keluarga ini.3. Jangan Menunggu Kesalahan Anak Menjadi BesarHari ini anak berbohong kecil lalu dibiarkan. Besok kebohongan menjadi kebiasaan.Hari ini anak berkata kasar lalu ditertawakan. Besok ia kehilangan adab kepada orang tua.Hari ini anak melihat konten buruk lalu tidak ada yang menegur. Besok hatinya mulai terbiasa dengan kemungkaran.Nabi ﷺ bersabda,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ.“Siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu, dengan hatinya.” (HR. Muslim, no. 49)Dalam keluarga, orang tua memiliki tanggung jawab dan kewenangan pendidikan yang lebih besar. Karena itu, padamkan percikan sebelum menjadi kebakaran.4. Jangan Justru Memberikan Sarana untuk BermaksiatAllah Ta‘ala berfirman,وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ“Janganlah kalian saling membantu dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Mā’idah: 2)Di zaman sekarang, ayat ini perlu direnungkan oleh setiap orang tua.Orang tua membelikan HP, menyediakan Wi-Fi, memberi uang saku, membayar langganan aplikasi, dan menyediakan berbagai fasilitas. Namun setelah itu, jangan sampai orang tua sama sekali tidak mengetahui untuk apa semuanya digunakan.Bukan berarti anak harus dicurigai sepanjang waktu. Akan tetapi, fasilitas harus sebanding dengan kesiapan dan tanggung jawab anak.Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah anak saya sudah punya HP?” Namun, “Apakah ia sudah mampu menggunakan HP tanpa merusak agamanya?”5. Kenali Teman dan Lingkungan AnakAnak tidak hanya dididik oleh ayah dan ibunya.Ia juga “dididik” oleh teman-temannya, sekolahnya, tontonan yang dilihatnya, akun yang diikutinya, figur yang dikaguminya, serta berbagai konten yang masuk ke dalam pikirannya setiap hari.Karena itu, jangan sampai orang tua tahu nilai matematika anak sampai detail, tetapi tidak tahu siapa teman dekatnya.Ketahui dengan siapa anak sering pergi. Kenali teman-temannya. Bangun komunikasi sehingga anak nyaman bercerita, bukan hanya takut diperiksa.Semakin besar usia anak, pengawasan pun perlu berkembang: dari pengawasan langsung menuju pembentukan muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu mengetahui apa yang ia kerjakan.6. Jangan Membela Anak Ketika Anak Memang SalahCinta kepada anak bukan berarti selalu membelanya.Jika anak melakukan bullying, jangan salahkan korbannya hanya untuk menjaga nama baik anak. Jika anak mengambil milik orang lain, jangan menutupinya. Jika anak berbohong kepada guru, jangan orang tua malah membantu membuat alasan palsu.Ajarkan anak bahwa kesalahan mempunyai konsekuensi.Jika mengambil hak orang lain, kembalikan. Jika menyakiti orang, minta maaf. Jika merusak sesuatu, bertanggung jawablah.Karena membela anak dalam kezaliman bukanlah kasih sayang.Kasih sayang yang benar adalah menyelamatkan anak dari menjadi orang zalim.7. Ayah dan Ibu Harus Sepakat dalam Batas Halal dan HaramPendidikan menjadi sulit ketika ayah mengatakan “tidak boleh”, lalu anak datang kepada ibu dan mendapat jawaban “boleh”.Anak akhirnya belajar bukan tentang benar dan salah, tetapi belajar mencari orang tua mana yang paling mudah memberikan izin.Ayah dan ibu perlu memiliki kesepakatan dalam prinsip-prinsip utama rumah: shalat, adab, penggunaan gawai, tontonan, jam pulang, pergaulan, uang saku, dan batas halal-haram.Allah menceritakan nasihat Luqman kepada anaknya,يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ“Wahai anakku! Laksanakanlah shalat, perintahkanlah berbuat yang makruf, cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian termasuk perkara yang penting.”(QS. Luqmān: 17)Maka anak perlu mengetahui, “Keluarga kami mempunyai nilai yang tidak boleh dijual hanya karena mengikuti teman.”8. Biasakan Anak Bertaubat dan Memperbaiki KesalahanRumah yang saleh bukan rumah yang seluruh penghuninya tidak pernah berbuat salah.Tidak ada keluarga seperti itu.Rumah yang baik adalah rumah tempat orang-orang yang berbuat salah belajar segera kembali kepada Allah.Allah menceritakan dakwah Nabi Nuh ‘alaihis salam,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ“Aku berkata, ‘Mohonlah ampun kepada Rabb kalian. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian dan memperbanyak harta serta anak-anak kalian.’” (QS. Nūḥ: 10–12)Ajarkan pola sederhana kepada anak:berdosa → bertaubat,menyakiti → meminta maaf,mengambil hak → mengembalikan,meninggalkan kewajiban → segera memperbaiki.Dengan begitu, anak memahami bahwa istighfar bukan alasan untuk terus melakukan kesalahan.9. Jangan Membiarkan Maksiat Menjadi Budaya RumahZainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ,أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟“Apakah kami akan binasa sementara di tengah-tengah kami terdapat orang-orang saleh?”Nabi ﷺ menjawab,نَعَمْ، إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ.“Ya, apabila keburukan telah banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim)Perhatikan, masalahnya bukan bahwa manusia tidak pernah berbuat dosa. Semua manusia memiliki kekurangan.Masalah menjadi semakin berat ketika kesalahan dibiarkan, dianggap lucu, dibenarkan, lalu menjadi budaya.Karena itu, jangan biasakan rumah dengan ghibah. Jangan menganggap kebohongan kecil sesuatu yang lucu. Jangan membiarkan penghinaan antara kakak dan adik. Jangan menormalisasi tontonan haram hanya karena “semua teman anak juga menontonnya”.Rumah harus menjadi tempat yang membantu penghuninya mengingat Allah, bukan tempat yang membuat dosa terasa biasa.10. Jangan Hanya Mendidik Anak Menjadi Saleh, Didiklah Menjadi MuslihAllah Ta‘ala berfirman,وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ“Dan Rabbmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim sedangkan penduduknya adalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” (QS. Hūd: 117)Ada pelajaran indah dari kata,مُصْلِحُونَyaitu orang-orang yang melakukan perbaikan.Cita-cita orang tua jangan berhenti pada,“Semoga anak saya menjadi anak baik.”Naikkan cita-cita itu menjadi,“Semoga anak saya menjadi anak saleh yang menghadirkan kebaikan bagi orang lain.”Ia menjaga shalat dan mengingatkan saudaranya shalat. Ia tidak membully dan berani tidak ikut ketika teman-temannya membully. Ia tidak menyontek dan tidak membantu temannya menyontek. Ia menjaga lisannya dan tidak ikut menyebarkan aib di grup pertemanan.Inilah anak yang bukan hanya صَالِحٌ—baik untuk dirinya—tetapi juga berusaha menjadi مُصْلِحٌ—membawa perbaikan. Jangan Salah Memahami: Orang Saleh Tetap Bisa Mendapat MusibahPembahasan tentang dampak buruk maksiat jangan sampai membuat kita menyimpulkan bahwa setiap musibah pasti merupakan hukuman karena dosa tertentu.Kesimpulan seperti ini tidak benar.Nabi ﷺ justru ditanya,أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟“Siapakah manusia yang paling berat ujiannya?”Beliau ﷺ menjawab,الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ.“Para nabi, kemudian orang-orang yang paling baik setelah mereka, kemudian yang semisalnya.” (HR. Tirmidzi; hadits sahih)Maka ketaatan bukan jaminan bahwa sebuah keluarga tidak akan pernah mengalami sakit, kehilangan, kecelakaan, kesulitan ekonomi, atau musibah lainnya.Yang kita lakukan adalah menjauhi sebab-sebab datangnya murka Allah, memperbanyak sebab-sebab keberkahan, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Tiga Benteng KeluargaSeluruh pembahasan di atas dapat diringkas menjadi tiga benteng:صَلَاحُ الْوَالِدَيْنِOrang tua memperbaiki dirinya.تَرْبِيَةُ الْأَوْلَادِ عَلَى الطَّاعَةِOrang tua mendidik anak-anak dalam ketaatan.الْإِصْلَاحُ وَمَنْعُ الْمُنْكَرِ فِي الْبَيْتِOrang tua melakukan perbaikan dan tidak membiarkan kemungkaran tumbuh di rumah.Jangan hanya bertanya, “Apa yang sudah saya berikan kepada anak saya?”Tanyakan pula, “Dosa apa yang sedang saya cegah agar tidak tumbuh dalam diri anak saya?” Semoga Allah menjaga keluarga kita.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا ذُرِّيَّاتِنَا، وَاحْفَظْ أَهْلَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْمَعَاصِي، وَأَعِنَّا عَلَى طَاعَتِكَ وَحُسْنِ تَرْبِيَتِهِمْ، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتَ صَلَاحٍ وَإِصْلَاحٍ.Allāhumma aṣliḥ lanā dzurriyyātinā, waḥfaẓ ahlanā minal-fitani wal-ma‘āṣī, wa a‘innā ‘alā ṭā‘atika wa ḥusni tarbiyatihim, waj‘al buyūtanā buyūta ṣalāḥin wa iṣlāḥ.“Ya Allah, perbaikilah keturunan kami, jagalah keluarga kami dari berbagai fitnah dan kemaksiatan, bantulah kami untuk taat kepada-Mu dan mendidik mereka dengan baik, serta jadikanlah rumah-rumah kami sebagai rumah yang dipenuhi kesalehan dan perbaikan.” —- Perjalanan Banaran Playen menuju ke Majelis Shafiyah Shalehah @ Kotagede Jogja, 3 Rabiul Akhir 1448 H, 16 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAd-Daa wad Dawaa amar makruf nahi mungkar anak saleh dosa dosa itu candu faedah dari Ibnul Qayyim ibnul qayyim keluarga muslim maksiat nasihat ibnul qayyim orang tua parenting Islami pendidikan anak shalat taubat

Hartamu Habis di Mana? Nasihat Ibnul Qayyim tentang Harta

Harta bisa menjadi jalan menuju Allah, tetapi harta yang sama bisa berubah menjadi penghalang perjalanan menuju-Nya. Persoalan terbesarnya bukan sekadar berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi dari mana harta itu datang dan ke mana akhirnya pergi. Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan sejumlah kaidah yang membuat kita perlu bertanya kepada diri sendiri: selama ini, hartaku habis di mana?Bahasan ini diambil dari penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah ketika beliau menguraikan wasiat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad tentang ilmu yang lebih utama daripada harta.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Mengumpulkan Harta Menjadi Tujuan Hidup 2. Punya Harta atau Justru Dipunyai Harta? 3. Ketika Cinta Harta Menjadi Pintu Keburukan 4. Harta Bisa Menjadi Kendaraan Maksiat 5. Hartamu Diam-Diam Berdakwah 6. Harta Menjadi Mulia Justru Ketika Dilepas 7. Semakin Banyak Harta, Jangan Sampai Semakin Banyak Ketakutan 8. Harta Punya Tiga Ujian: Sebelum, Ketika, dan Setelah Dimiliki 9. Harta yang Hanya Ditumpuk Bisa Berubah Menjadi Beban 10. Harta Seharusnya Membantu Kita Pulang 11. Jadi, Hartamu Habis di Mana? 12. Sepuluh Kaidah Penting tentang Harta 13. Nasihat Terakhir  Ketika Mengumpulkan Harta Menjadi Tujuan HidupBekerja, berdagang, mengembangkan usaha, dan menyiapkan harta untuk masa depan bukan sesuatu yang tercela. Masalah muncul ketika mengumpulkan, mengembangkan, dan menyimpan harta berubah dari sarana menjadi pusat kehidupan.Ibnul Qayyim rahimahullah menggambarkan satu golongan manusia:الصِّنْفُ الرَّابِعُ: مَنْ حِرْصُهُ وَهِمَّتُهُ فِي جَمْعِ الْأَمْوَالِ وَتَثْمِيرِهَا وَادِّخَارِهَا، فَقَدْ صَارَتْ لَذَّتُهُ فِي ذَلِكَ، وَفَنِيَ بِهَا عَمَّا سِوَاهَا، فَلَا يَرَى شَيْئًا أَطْيَبَ لَهُ مِمَّا هُوَ فِيهِ، فَأَيْنَ هَذَا وَدَرَجَةُ الْعِلْمِ؟!“Golongan keempat adalah orang yang seluruh kerakusan dan ambisinya tertuju pada mengumpulkan harta, mengembangkannya, dan menyimpannya. Kenikmatannya telah berada pada semua itu sehingga ia tersita olehnya dari perkara-perkara lainnya. Ia tidak lagi memandang ada sesuatu yang lebih nikmat baginya daripada keadaan tersebut. Lalu, di manakah keadaan seperti ini dibandingkan dengan derajat ilmu?”Di sinilah kaidah pertama yang perlu direnungkan:Harta adalah alat untuk menjalani kehidupan; jangan sampai mengumpulkan harta berubah menjadi tujuan kehidupan.Orang bisa sangat sibuk mengembangkan aset, menghitung laba, memperbesar usaha, dan menambah simpanan. Semua itu bisa menjadi baik. Namun perlu diperiksa: apakah bertambahnya harta juga membuat bekal akhirat bertambah? Punya Harta atau Justru Dipunyai Harta?Harta awalnya berada di tangan manusia. Namun ketika hati sudah terikat dengannya, keadaan bisa berbalik: manusia justru menjadi hamba bagi hartanya.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ الْمَالَ يَسْتَعْبِدُ مُحِبَّهُ وَصَاحِبَهُ، فَيَجْعَلُهُ عَبْدًا لَهُ، كَمَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ…» الْحَدِيثَ، وَالْعِلْمُ يَسْتَعْبِدُهُ لِرَبِّهِ وَخَالِقِهِ، فَهُوَ لَا يَدْعُوهُ إِلَّا إِلَى عُبُودِيَّةِ اللَّهِ وَحْدَهُ.“Harta dapat memperbudak orang yang mencintai dan memilikinya, hingga menjadikannya sebagai budak harta tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Celakalah budak dinar dan dirham….’ Adapun ilmu menjadikan seseorang sebagai hamba bagi Rabb dan Penciptanya. Ilmu tidak mengajaknya kecuali kepada penghambaan kepada Allah semata.”Ini merupakan poin ke-12, “Ilmu Menjadikan Hamba Allah, Harta Menjadikan Budak Dunia”.Maka pertanyaannya bukan hanya, “Berapa harta yang kita miliki?” Namun juga, “Siapa sebenarnya yang menjadi tuan: kita atau harta kita?”Jika karena uang seseorang berani meninggalkan kewajiban, merusak hubungan keluarga, mengambil yang haram, mengorbankan agama, atau terus-menerus gelisah karena takut kehilangan, maka fungsi harta mulai terbalik.Bukan lagi ia yang menggunakan harta. Harta mulai mengendalikan dirinya. Ketika Cinta Harta Menjadi Pintu KeburukanIbnul Qayyim rahimahullah memberikan sebuah perbandingan yang sangat tajam:أَنَّ حُبَّ الْعِلْمِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ، وَحُبَّ الدُّنْيَا وَالْمَالِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ سَيِّئَةٍ.“Cinta kepada ilmu dan mencarinya adalah pangkal setiap ketaatan. Adapun cinta kepada dunia dan harta serta mengejarnya adalah pangkal setiap keburukan.”Ini terdapat pada poin ke-13, “Ilmu Menumbuhkan Ketaatan, Harta Menyulut Keburukan”.Yang tercela di sini tentu bukan sekadar memiliki kekayaan. Banyak orang saleh memiliki harta dan justru menjadikannya sarana kebaikan. Yang berbahaya adalah ḥubbud-dunyā, ketika dunia dan harta menjadi cinta dominan dalam hati.Maka kaidahnya:Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.Hati-hati pula ketika ukuran keberhasilan hidup berubah. Dahulu keberhasilan diukur dari iman, shalat, manfaat bagi orang lain, dan keselamatan akhirat. Kemudian semuanya perlahan diganti dengan saldo, omzet, rumah, kendaraan, aset, dan penampilan. Harta Bisa Menjadi Kendaraan MaksiatIbnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّهُ مَا أَطَاعَ اللَّهَ أَحَدٌ قَطُّ إِلَّا بِالْعِلْمِ، وَعَامَّةُ مَنْ يَعْصِيهِ إِنَّمَا يَعْصِيهِ بِالْمَالِ.“Tidak ada seorang pun yang menaati Allah kecuali dengan ilmu. Sementara kebanyakan orang yang bermaksiat kepada-Nya melakukan maksiat dengan harta.”Ini terdapat pada poin ke-17, “Ilmu Mengantarkan pada Ketaatan, Harta Menyeret kepada Maksiat”.Renungkanlah. Dengan harta seseorang bisa bersedekah, membantu orang tua, menafkahi keluarga, menuntut ilmu, membangun masjid, membantu dakwah, dan menolong orang miskin. Namun dengan harta pula seseorang bisa membeli yang haram, membiayai kemaksiatan, memperturutkan syahwat, melakukan riba, berjudi, atau memamerkan gaya hidup yang menjauhkan hati dari akhirat.Karena itu:Jangan hanya tanyakan berapa banyak hartamu. Tanyakan pula: ke mana hartamu membawamu?Harta tidak memiliki arah sendiri. Pemiliknyalah yang menentukan apakah ia menjadi kendaraan menuju surga atau kendaraan menuju dosa. Hartamu Diam-Diam BerdakwahCara seseorang menggunakan harta tidak hanya berdampak kepada dirinya. Ia dapat mengirimkan pesan kepada orang lain tentang apa yang dianggap bernilai dalam kehidupan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ الْعَالِمَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى اللَّهِ بِعِلْمِهِ وَحَالِهِ، وَجَامِعَ الْمَالِ يَدْعُوهُمْ إِلَى الدُّنْيَا بِحَالِهِ وَمَالِهِ.“Seorang alim mengajak manusia menuju Allah dengan ilmu dan keadaannya. Adapun pengumpul harta mengajak manusia kepada dunia melalui keadaan dan hartanya.”Ini dibahas pada poin ke-18, “Ilmu Mengarahkan Hati ke Akhirat, Harta Mengalihkan Hati ke Dunia”.Nasihat ini terasa semakin penting pada zaman media sosial. Rumah, kendaraan, pakaian, liburan, gadget, makanan, dan seluruh gaya hidup sekarang bukan sekadar dinikmati sendiri. Semuanya bisa dipertontonkan kepada ribuan bahkan jutaan orang.Tanpa mengucapkan satu kalimat pun, seseorang bisa membuat orang lain semakin kagum kepada dunia.Karena itu:Cara menggunakan dan menampilkan harta bisa menjadi dakwah kepada akhirat, tetapi bisa pula menjadi dakwah kepada dunia. Harta Menjadi Mulia Justru Ketika DilepasAda satu kaidah Ibnul Qayyim yang sangat indah:أَنَّ الْمَالَ إِنَّمَا يُمْدَحُ صَاحِبُهُ بِتَخَلِّيهِ مِنْهُ وَإِخْرَاجِهِ، وَالْعِلْمُ إِنَّمَا يُمْدَحُ بِتَحَلِّيهِ بِهِ وَاتِّصَافِهِ بِهِ.“Pemilik harta dipuji justru ketika ia mampu melepaskan dan mengeluarkan hartanya. Adapun ilmu dipuji ketika seseorang menghiasi dirinya dengannya dan memiliki sifat ilmu tersebut.”Ini adalah poin ke-23, “Ilmu Mulia Saat Melekat, Harta Mulia Saat Dilepas”.Kalimat ini dapat diringkas menjadi sebuah kaidah kehidupan:Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.Orang tidak dipuji hanya karena mempunyai banyak uang. Ia dipuji karena apa yang diperbuat dengan uang tersebut: nafkahnya, sedekahnya, bantuan kepada orang tua, pertolongan kepada orang kesusahan, dan berbagai manfaat yang lahir darinya.Maka, jangan hanya bangga ketika harta bertambah. Tanyakan pula:Berapa banyak manfaat yang keluar bersama bertambahnya harta itu? Semakin Banyak Harta, Jangan Sampai Semakin Banyak KetakutanIbnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ غِنَى الْمَالِ مَقْرُونٌ بِالْخَوْفِ وَالْحُزْنِ، فَهُوَ حَزِينٌ قَبْلَ حُصُولِهِ، خَائِفٌ بَعْدَ حُصُولِهِ، وَكُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ كَانَ الْخَوْفُ أَقْوَى، وَغِنَى الْعِلْمِ مَقْرُونٌ بِالْأَمْنِ وَالْفَرَحِ وَالسُّرُورِ.“Kekayaan harta disertai rasa takut dan sedih. Seseorang bersedih sebelum mendapatkannya dan takut setelah memperolehnya. Semakin banyak hartanya, semakin kuat pula rasa takutnya. Sedangkan kekayaan ilmu disertai rasa aman, kegembiraan, dan kebahagiaan.”Ini terdapat pada poin ke-24, “Ilmu Membawa Ketenangan, Harta Mengundang Ketakutan”.Ini bukan berarti setiap orang kaya pasti gelisah. Yang sedang dijelaskan adalah bahayanya ketika hati begitu melekat kepada harta: belum punya, ia sedih karena mengejarnya; sudah punya, ia takut kehilangan.Maka:Harta yang hanya berada di tangan bisa kita manfaatkan. Harta yang sudah menguasai hati akan menuntut kita untuk terus menjaganya. Harta Punya Tiga Ujian: Sebelum, Ketika, dan Setelah DimilikiInilah salah satu penjelasan Ibnul Qayyim yang paling cocok dengan tema “Hartamu Habis di Mana?”Beliau berkata:أَنَّ جَمْعَ الْمَالِ مَقْرُونٌ بِثَلَاثَةِ أَنْوَاعٍ مِنَ الْآفَاتِ وَالْمِحَنِ: نَوْعٌ قَبْلَهُ، وَنَوْعٌ عِنْدَ حُصُولِهِ، وَنَوْعٌ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ.فَأَمَّا النَّوْعُ الْأَوَّلُ: فَهُوَ الْمَشَاقُّ وَالْأَنْكَادُ وَالْآلَامُ الَّتِي لَا يَحْصُلُ إِلَّا بِهَا.وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّانِي: فَمَشَقَّةُ حِفْظِهِ وَحِرَاسَتِهِ وَتَعَلُّقِ الْقَلْبِ بِهِ، فَلَا يُصْبِحُ إِلَّا مَهْمُومًا، وَلَا يُمْسِي إِلَّا مَغْمُومًا.“Mengumpulkan harta disertai tiga macam ujian: ujian sebelum memperolehnya, ketika telah mendapatkannya, dan setelah berpisah dengannya.Adapun ujian pertama adalah berbagai kepayahan, kesusahan, dan rasa sakit yang harus dilalui untuk memperolehnya.Adapun ujian kedua adalah kesulitan menjaga dan mengamankannya serta keterikatan hati kepadanya. Ia memasuki pagi dalam keadaan memikirkan hartanya dan memasuki sore dalam keadaan disibukkan olehnya.”Kemudian Ibnul Qayyim menjelaskan ujian setelah harta itu pergi:وَالنَّوْعُ الثَّالِثُ مِنْ آفَاتِ الْغِنَى: مَا يَحْصُلُ لِلْعَبْدِ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ، مِنْ تَعَلُّقِ قَلْبِهِ بِهِ، وَكَوْنِهِ قَدْ حِيلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، وَالْمُطَالَبَةِ بِحُقُوقِهِ، وَالْمُحَاسَبَةِ عَلَى مَقْبُوضِهِ وَمَصْرُوفِهِ: مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِي مَاذَا أَنْفَقَهُ؟“Adapun jenis ketiga dari ujian kekayaan adalah apa yang menimpa seorang hamba setelah ia berpisah dari hartanya: hatinya masih terpaut kepadanya padahal ia telah terhalang darinya. Kemudian ia akan dituntut mengenai hak-hak hartanya serta dihisab atas apa yang ia terima dan apa yang ia keluarkan:Dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya?”Bahasan ini terdapat pada poin ke-33, “Ilmu Membahagiakan, Harta Melelahkan: Sebelum, Saat, dan Setelahnya”.Inilah dua pertanyaan besar tentang harta:Dari mana datangnya? Ke mana perginya?Kita sering sibuk menghitung pemasukan dan pengeluaran untuk kepentingan laporan keuangan dunia. Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa ada laporan yang jauh lebih penting: laporan harta di hadapan Allah.Mungkin hartanya habis. Namun persoalannya belum selesai.Habis untuk apa? Harta yang Hanya Ditumpuk Bisa Berubah Menjadi BebanIbnul Qayyim rahimahullah memberikan kaidah lain:أَنَّ الْقَلْبَ مَلِكُ الْبَدَنِ، وَالْعِلْمَ زِينَتُهُ وَعُدَّتُهُ وَمَالُهُ، وَبِهِ قِوَامُ مُلْكِهِ، وَالْمَلِكُ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ عَدَدٍ وَعُدَّةٍ وَمَالٍ وَزِينَةٍ؛ فَالْعِلْمُ هُوَ مَرْكَبُهُ وَعُدَّتُهُ وَجَمَالُهُ.وَأَمَّا الْمَالُ، فَغَايَتُهُ أَنْ يَكُونَ زِينَةً وَجَمَالًا لِلْبَدَنِ إِذَا أَنْفَقَهُ فِي ذٰلِكَ، فَإِذَا خَزَنَهُ وَلَمْ يُنْفِقْهُ لَمْ يَكُنْ زِينَةً وَلَا جَمَالًا، بَلْ نَقْصًا وَوَبَالًا.“Hati adalah raja bagi tubuh. Ilmu merupakan perhiasan, perlengkapan, dan kekayaannya; dengannya kerajaan hati dapat tegak. Seorang raja pasti membutuhkan pasukan, perlengkapan, kekayaan, dan perhiasan. Maka ilmu adalah kendaraan, perlengkapan, sekaligus keindahannya.Adapun harta, puncak manfaatnya hanyalah menjadi perhiasan dan keindahan bagi badan apabila digunakan untuk itu. Jika ia hanya menyimpannya dan tidak menggunakannya, harta tersebut tidak lagi menjadi perhiasan dan keindahan, bahkan dapat berubah menjadi kekurangan dan beban.”Ini terdapat pada poin ke-39, “Ilmu adalah Bekal Hati, Harta Hanya Perhiasan Jika Dibelanjakan”.Tentu ini bukan celaan terhadap tabungan, dana darurat, investasi, atau perencanaan keuangan yang benar. Yang dicela adalah ketika fungsi harta berhenti pada menimbun demi menimbun, sementara berbagai hak dan kemanfaatannya tidak ditunaikan.Maka kaidahnya:Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban. Harta Seharusnya Membantu Kita PulangPuncak nasihat Ibnul Qayyim tentang masalah ini terdapat di akhir pembahasan. Beliau berkata:أَنَّ الْقَدْرَ الْمَقْصُودَ مِنَ الْمَالِ هُوَ مَا يَكْفِي الْعَبْدَ وَيُقِيمُهُ وَيَدْفَعُ ضَرُورَتَهُ حَتَّى يَتَمَكَّنَ مِنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ، وَمِنَ التَّزَوُّدِ لِسَفَرِهِ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا زَادَ عَلَى ذٰلِكَ شَغَلَهُ وَقَطَعَهُ عَنِ السَّفَرِ إِلَى رَبِّهِ وَعَنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ وَتَعْبِيَةِ زَادِهِ؛ فَكَانَ ضَرَرُهُ عَلَيْهِ أَكْثَرَ مِنْ مَصْلَحَتِهِ، وَكُلَّمَا ازْدَادَ غِنَاهُ بِهِ ازْدَادَ تَثَبُّطًا وَتَخَلُّفًا عَنِ التَّجَهُّزِ لِمَا أَمَامَهُ.وَأَمَّا الْعِلْمُ النَّافِعُ، فَكُلَّمَا ازْدَادَ مِنْهُ ازْدَادَ فِي تَعْبِيَةِ الزَّادِ، وَقَضَاءِ الْجِهَازِ، وَإِعْدَادِ عُدَّةِ الْمَسِيرِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ وَبِهِ الِاسْتِعَانَةُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِهِ.فَعُدَّةُ هٰذَا السَّفَرِ هُوَ الْعِلْمُ وَالْعَمَلُ، وَعُدَّةُ الْإِقَامَةِ جَمْعُ الْأَمْوَالِ وَالِادِّخَارُ، وَمَنْ أَرَادَ شَيْئًا هَيَّأَ لَهُ عُدَّتَهُ.“Kadar harta yang menjadi tujuan adalah harta yang mencukupi seorang hamba, menopang kehidupannya, dan memenuhi kebutuhannya sehingga ia mampu mempersiapkan perlengkapan serta bekal perjalanan menuju Rabb-nya ‘Azza wa Jalla.Apabila tambahan harta justru menyibukkannya, memutusnya dari perjalanan menuju Rabb-nya, serta menghalanginya mempersiapkan bekal perjalanan tersebut, mudarat harta itu baginya menjadi lebih besar daripada manfaatnya. Semakin bertambah kekayaannya, semakin ia tertahan dan terlambat dalam menyiapkan apa yang ada di hadapannya.Adapun ilmu yang bermanfaat, semakin bertambah ilmu seseorang, semakin bertambah pula persiapan bekalnya, perlengkapannya, dan kesiapan untuk perjalanan. Allah-lah yang memberi taufik. Kepada-Nya kita meminta pertolongan. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.Maka bekal perjalanan ini adalah ilmu dan amal. Adapun bekal orang yang hendak menetap adalah mengumpulkan serta menyimpan harta. Siapa yang menginginkan sesuatu, ia akan menyiapkan bekal untuk mendapatkannya.”Ini merupakan poin ke-40, “Ilmu adalah Bekal Pulang, Harta Bisa Jadi Penghalang”, sekaligus penutup dari 40 perbandingan ilmu dan harta dalam buku tersebut. Kalimat ini sangat dalam:Harta seharusnya membantu kita pulang kepada Allah. Kalau harta justru membuat kita lupa bahwa kita akan pulang, fungsi harta telah terbalik. Jadi, Hartamu Habis di Mana?Pertanyaan ini tidak hanya penting ketika uang hampir habis di akhir bulan. Pertanyaan ini jauh lebih besar karena semua harta memang pada akhirnya akan meninggalkan kita.Ada harta yang habis untuk makan. Ada yang habis untuk rumah, kendaraan, pendidikan, dan keluarga. Ada yang habis untuk kesenangan. Ada pula yang berubah menjadi sedekah, nafkah, ilmu, dakwah, bantuan kepada orang lain, dan amal yang kelak ditemukan kembali di akhirat.Maka bukan semata “berapa banyak yang habis?”, tetapi:“Untuk apa ia habis?”Harta yang dikeluarkan tidak selalu berarti hilang. Ada harta yang keluar dari rekening, tetapi justru sedang dipindahkan menjadi bekal menuju Allah.Sebaliknya, ada harta yang terus tersimpan dan bertambah secara angka, tetapi membuat pemiliknya semakin jauh dari tujuan kehidupannya. Sepuluh Kaidah Penting tentang HartaDari seluruh penjelasan Ibnul Qayyim di atas, kita dapat merangkum sepuluh kaidah untuk kehidupan:Harta adalah alat kehidupan; jangan menjadikan mengumpulkan harta sebagai tujuan kehidupan.Masalahnya bukan hanya berapa banyak harta yang kita miliki, tetapi apakah kita memiliki harta atau harta yang memiliki kita.Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.Jangan hanya tanyakan berapa hartamu; tanyakan ke mana hartamu membawamu.Cara menggunakan dan menampilkan harta dapat menjadi dakwah kepada akhirat atau dakwah kepada dunia.Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.Harta yang berada di tangan dapat dimanfaatkan; harta yang menguasai hati akan menuntut untuk terus dijaga.Harta mempunyai dua pertanyaan besar: dari mana datangnya dan ke mana perginya.Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban.Harta yang benar adalah harta yang membantu perjalanan menuju Allah, bukan yang membuat kita lupa bahwa kita akan pulang kepada-Nya. Nasihat TerakhirHari ini kita dimudahkan melihat saldo, aset, omzet, investasi, dan pertumbuhan kekayaan hanya dari layar ponsel, tetapi jangan sampai kita lupa melihat ke mana semua itu sedang membawa hati kita. Jangan menunggu harta benar-benar habis untuk bertanya ke mana ia pergi, karena yang lebih penting adalah memastikan ia pergi ke tempat yang Allah ridhai. Harta terbaik bukan sekadar yang banyak ditinggalkan kepada ahli waris, tetapi yang telah lebih dahulu dikirim menjadi bekal akhirat. Gunakan dunia untuk perjalanan pulang, jangan sampai perjalanan pulang terhenti karena terlalu sibuk mengumpulkan dunia.Semoga Allah memberi kita harta yang halal, cukup, diberkahi, dan membantu kita taat kepada-Nya. Di antara doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى، وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ، وَالْغِنَى.Allāhumma innī as’alukal-hudā, wat-tuqā, wal-‘afāfa, wal-ghinā.“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri dari perkara yang haram, dan kecukupan.” —– Jumat Pagi, 18 September 2026 @ PalembangPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhirat cinta dunia faedah dari Ibnul Qayyim harta ibnul qayyim infak keberkahan kekayaan nasihat ibnul qayyim nasihat islam rezeki sedekah

Hartamu Habis di Mana? Nasihat Ibnul Qayyim tentang Harta

Harta bisa menjadi jalan menuju Allah, tetapi harta yang sama bisa berubah menjadi penghalang perjalanan menuju-Nya. Persoalan terbesarnya bukan sekadar berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi dari mana harta itu datang dan ke mana akhirnya pergi. Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan sejumlah kaidah yang membuat kita perlu bertanya kepada diri sendiri: selama ini, hartaku habis di mana?Bahasan ini diambil dari penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah ketika beliau menguraikan wasiat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad tentang ilmu yang lebih utama daripada harta.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Mengumpulkan Harta Menjadi Tujuan Hidup 2. Punya Harta atau Justru Dipunyai Harta? 3. Ketika Cinta Harta Menjadi Pintu Keburukan 4. Harta Bisa Menjadi Kendaraan Maksiat 5. Hartamu Diam-Diam Berdakwah 6. Harta Menjadi Mulia Justru Ketika Dilepas 7. Semakin Banyak Harta, Jangan Sampai Semakin Banyak Ketakutan 8. Harta Punya Tiga Ujian: Sebelum, Ketika, dan Setelah Dimiliki 9. Harta yang Hanya Ditumpuk Bisa Berubah Menjadi Beban 10. Harta Seharusnya Membantu Kita Pulang 11. Jadi, Hartamu Habis di Mana? 12. Sepuluh Kaidah Penting tentang Harta 13. Nasihat Terakhir  Ketika Mengumpulkan Harta Menjadi Tujuan HidupBekerja, berdagang, mengembangkan usaha, dan menyiapkan harta untuk masa depan bukan sesuatu yang tercela. Masalah muncul ketika mengumpulkan, mengembangkan, dan menyimpan harta berubah dari sarana menjadi pusat kehidupan.Ibnul Qayyim rahimahullah menggambarkan satu golongan manusia:الصِّنْفُ الرَّابِعُ: مَنْ حِرْصُهُ وَهِمَّتُهُ فِي جَمْعِ الْأَمْوَالِ وَتَثْمِيرِهَا وَادِّخَارِهَا، فَقَدْ صَارَتْ لَذَّتُهُ فِي ذَلِكَ، وَفَنِيَ بِهَا عَمَّا سِوَاهَا، فَلَا يَرَى شَيْئًا أَطْيَبَ لَهُ مِمَّا هُوَ فِيهِ، فَأَيْنَ هَذَا وَدَرَجَةُ الْعِلْمِ؟!“Golongan keempat adalah orang yang seluruh kerakusan dan ambisinya tertuju pada mengumpulkan harta, mengembangkannya, dan menyimpannya. Kenikmatannya telah berada pada semua itu sehingga ia tersita olehnya dari perkara-perkara lainnya. Ia tidak lagi memandang ada sesuatu yang lebih nikmat baginya daripada keadaan tersebut. Lalu, di manakah keadaan seperti ini dibandingkan dengan derajat ilmu?”Di sinilah kaidah pertama yang perlu direnungkan:Harta adalah alat untuk menjalani kehidupan; jangan sampai mengumpulkan harta berubah menjadi tujuan kehidupan.Orang bisa sangat sibuk mengembangkan aset, menghitung laba, memperbesar usaha, dan menambah simpanan. Semua itu bisa menjadi baik. Namun perlu diperiksa: apakah bertambahnya harta juga membuat bekal akhirat bertambah? Punya Harta atau Justru Dipunyai Harta?Harta awalnya berada di tangan manusia. Namun ketika hati sudah terikat dengannya, keadaan bisa berbalik: manusia justru menjadi hamba bagi hartanya.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ الْمَالَ يَسْتَعْبِدُ مُحِبَّهُ وَصَاحِبَهُ، فَيَجْعَلُهُ عَبْدًا لَهُ، كَمَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ…» الْحَدِيثَ، وَالْعِلْمُ يَسْتَعْبِدُهُ لِرَبِّهِ وَخَالِقِهِ، فَهُوَ لَا يَدْعُوهُ إِلَّا إِلَى عُبُودِيَّةِ اللَّهِ وَحْدَهُ.“Harta dapat memperbudak orang yang mencintai dan memilikinya, hingga menjadikannya sebagai budak harta tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Celakalah budak dinar dan dirham….’ Adapun ilmu menjadikan seseorang sebagai hamba bagi Rabb dan Penciptanya. Ilmu tidak mengajaknya kecuali kepada penghambaan kepada Allah semata.”Ini merupakan poin ke-12, “Ilmu Menjadikan Hamba Allah, Harta Menjadikan Budak Dunia”.Maka pertanyaannya bukan hanya, “Berapa harta yang kita miliki?” Namun juga, “Siapa sebenarnya yang menjadi tuan: kita atau harta kita?”Jika karena uang seseorang berani meninggalkan kewajiban, merusak hubungan keluarga, mengambil yang haram, mengorbankan agama, atau terus-menerus gelisah karena takut kehilangan, maka fungsi harta mulai terbalik.Bukan lagi ia yang menggunakan harta. Harta mulai mengendalikan dirinya. Ketika Cinta Harta Menjadi Pintu KeburukanIbnul Qayyim rahimahullah memberikan sebuah perbandingan yang sangat tajam:أَنَّ حُبَّ الْعِلْمِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ، وَحُبَّ الدُّنْيَا وَالْمَالِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ سَيِّئَةٍ.“Cinta kepada ilmu dan mencarinya adalah pangkal setiap ketaatan. Adapun cinta kepada dunia dan harta serta mengejarnya adalah pangkal setiap keburukan.”Ini terdapat pada poin ke-13, “Ilmu Menumbuhkan Ketaatan, Harta Menyulut Keburukan”.Yang tercela di sini tentu bukan sekadar memiliki kekayaan. Banyak orang saleh memiliki harta dan justru menjadikannya sarana kebaikan. Yang berbahaya adalah ḥubbud-dunyā, ketika dunia dan harta menjadi cinta dominan dalam hati.Maka kaidahnya:Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.Hati-hati pula ketika ukuran keberhasilan hidup berubah. Dahulu keberhasilan diukur dari iman, shalat, manfaat bagi orang lain, dan keselamatan akhirat. Kemudian semuanya perlahan diganti dengan saldo, omzet, rumah, kendaraan, aset, dan penampilan. Harta Bisa Menjadi Kendaraan MaksiatIbnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّهُ مَا أَطَاعَ اللَّهَ أَحَدٌ قَطُّ إِلَّا بِالْعِلْمِ، وَعَامَّةُ مَنْ يَعْصِيهِ إِنَّمَا يَعْصِيهِ بِالْمَالِ.“Tidak ada seorang pun yang menaati Allah kecuali dengan ilmu. Sementara kebanyakan orang yang bermaksiat kepada-Nya melakukan maksiat dengan harta.”Ini terdapat pada poin ke-17, “Ilmu Mengantarkan pada Ketaatan, Harta Menyeret kepada Maksiat”.Renungkanlah. Dengan harta seseorang bisa bersedekah, membantu orang tua, menafkahi keluarga, menuntut ilmu, membangun masjid, membantu dakwah, dan menolong orang miskin. Namun dengan harta pula seseorang bisa membeli yang haram, membiayai kemaksiatan, memperturutkan syahwat, melakukan riba, berjudi, atau memamerkan gaya hidup yang menjauhkan hati dari akhirat.Karena itu:Jangan hanya tanyakan berapa banyak hartamu. Tanyakan pula: ke mana hartamu membawamu?Harta tidak memiliki arah sendiri. Pemiliknyalah yang menentukan apakah ia menjadi kendaraan menuju surga atau kendaraan menuju dosa. Hartamu Diam-Diam BerdakwahCara seseorang menggunakan harta tidak hanya berdampak kepada dirinya. Ia dapat mengirimkan pesan kepada orang lain tentang apa yang dianggap bernilai dalam kehidupan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ الْعَالِمَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى اللَّهِ بِعِلْمِهِ وَحَالِهِ، وَجَامِعَ الْمَالِ يَدْعُوهُمْ إِلَى الدُّنْيَا بِحَالِهِ وَمَالِهِ.“Seorang alim mengajak manusia menuju Allah dengan ilmu dan keadaannya. Adapun pengumpul harta mengajak manusia kepada dunia melalui keadaan dan hartanya.”Ini dibahas pada poin ke-18, “Ilmu Mengarahkan Hati ke Akhirat, Harta Mengalihkan Hati ke Dunia”.Nasihat ini terasa semakin penting pada zaman media sosial. Rumah, kendaraan, pakaian, liburan, gadget, makanan, dan seluruh gaya hidup sekarang bukan sekadar dinikmati sendiri. Semuanya bisa dipertontonkan kepada ribuan bahkan jutaan orang.Tanpa mengucapkan satu kalimat pun, seseorang bisa membuat orang lain semakin kagum kepada dunia.Karena itu:Cara menggunakan dan menampilkan harta bisa menjadi dakwah kepada akhirat, tetapi bisa pula menjadi dakwah kepada dunia. Harta Menjadi Mulia Justru Ketika DilepasAda satu kaidah Ibnul Qayyim yang sangat indah:أَنَّ الْمَالَ إِنَّمَا يُمْدَحُ صَاحِبُهُ بِتَخَلِّيهِ مِنْهُ وَإِخْرَاجِهِ، وَالْعِلْمُ إِنَّمَا يُمْدَحُ بِتَحَلِّيهِ بِهِ وَاتِّصَافِهِ بِهِ.“Pemilik harta dipuji justru ketika ia mampu melepaskan dan mengeluarkan hartanya. Adapun ilmu dipuji ketika seseorang menghiasi dirinya dengannya dan memiliki sifat ilmu tersebut.”Ini adalah poin ke-23, “Ilmu Mulia Saat Melekat, Harta Mulia Saat Dilepas”.Kalimat ini dapat diringkas menjadi sebuah kaidah kehidupan:Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.Orang tidak dipuji hanya karena mempunyai banyak uang. Ia dipuji karena apa yang diperbuat dengan uang tersebut: nafkahnya, sedekahnya, bantuan kepada orang tua, pertolongan kepada orang kesusahan, dan berbagai manfaat yang lahir darinya.Maka, jangan hanya bangga ketika harta bertambah. Tanyakan pula:Berapa banyak manfaat yang keluar bersama bertambahnya harta itu? Semakin Banyak Harta, Jangan Sampai Semakin Banyak KetakutanIbnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ غِنَى الْمَالِ مَقْرُونٌ بِالْخَوْفِ وَالْحُزْنِ، فَهُوَ حَزِينٌ قَبْلَ حُصُولِهِ، خَائِفٌ بَعْدَ حُصُولِهِ، وَكُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ كَانَ الْخَوْفُ أَقْوَى، وَغِنَى الْعِلْمِ مَقْرُونٌ بِالْأَمْنِ وَالْفَرَحِ وَالسُّرُورِ.“Kekayaan harta disertai rasa takut dan sedih. Seseorang bersedih sebelum mendapatkannya dan takut setelah memperolehnya. Semakin banyak hartanya, semakin kuat pula rasa takutnya. Sedangkan kekayaan ilmu disertai rasa aman, kegembiraan, dan kebahagiaan.”Ini terdapat pada poin ke-24, “Ilmu Membawa Ketenangan, Harta Mengundang Ketakutan”.Ini bukan berarti setiap orang kaya pasti gelisah. Yang sedang dijelaskan adalah bahayanya ketika hati begitu melekat kepada harta: belum punya, ia sedih karena mengejarnya; sudah punya, ia takut kehilangan.Maka:Harta yang hanya berada di tangan bisa kita manfaatkan. Harta yang sudah menguasai hati akan menuntut kita untuk terus menjaganya. Harta Punya Tiga Ujian: Sebelum, Ketika, dan Setelah DimilikiInilah salah satu penjelasan Ibnul Qayyim yang paling cocok dengan tema “Hartamu Habis di Mana?”Beliau berkata:أَنَّ جَمْعَ الْمَالِ مَقْرُونٌ بِثَلَاثَةِ أَنْوَاعٍ مِنَ الْآفَاتِ وَالْمِحَنِ: نَوْعٌ قَبْلَهُ، وَنَوْعٌ عِنْدَ حُصُولِهِ، وَنَوْعٌ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ.فَأَمَّا النَّوْعُ الْأَوَّلُ: فَهُوَ الْمَشَاقُّ وَالْأَنْكَادُ وَالْآلَامُ الَّتِي لَا يَحْصُلُ إِلَّا بِهَا.وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّانِي: فَمَشَقَّةُ حِفْظِهِ وَحِرَاسَتِهِ وَتَعَلُّقِ الْقَلْبِ بِهِ، فَلَا يُصْبِحُ إِلَّا مَهْمُومًا، وَلَا يُمْسِي إِلَّا مَغْمُومًا.“Mengumpulkan harta disertai tiga macam ujian: ujian sebelum memperolehnya, ketika telah mendapatkannya, dan setelah berpisah dengannya.Adapun ujian pertama adalah berbagai kepayahan, kesusahan, dan rasa sakit yang harus dilalui untuk memperolehnya.Adapun ujian kedua adalah kesulitan menjaga dan mengamankannya serta keterikatan hati kepadanya. Ia memasuki pagi dalam keadaan memikirkan hartanya dan memasuki sore dalam keadaan disibukkan olehnya.”Kemudian Ibnul Qayyim menjelaskan ujian setelah harta itu pergi:وَالنَّوْعُ الثَّالِثُ مِنْ آفَاتِ الْغِنَى: مَا يَحْصُلُ لِلْعَبْدِ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ، مِنْ تَعَلُّقِ قَلْبِهِ بِهِ، وَكَوْنِهِ قَدْ حِيلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، وَالْمُطَالَبَةِ بِحُقُوقِهِ، وَالْمُحَاسَبَةِ عَلَى مَقْبُوضِهِ وَمَصْرُوفِهِ: مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِي مَاذَا أَنْفَقَهُ؟“Adapun jenis ketiga dari ujian kekayaan adalah apa yang menimpa seorang hamba setelah ia berpisah dari hartanya: hatinya masih terpaut kepadanya padahal ia telah terhalang darinya. Kemudian ia akan dituntut mengenai hak-hak hartanya serta dihisab atas apa yang ia terima dan apa yang ia keluarkan:Dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya?”Bahasan ini terdapat pada poin ke-33, “Ilmu Membahagiakan, Harta Melelahkan: Sebelum, Saat, dan Setelahnya”.Inilah dua pertanyaan besar tentang harta:Dari mana datangnya? Ke mana perginya?Kita sering sibuk menghitung pemasukan dan pengeluaran untuk kepentingan laporan keuangan dunia. Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa ada laporan yang jauh lebih penting: laporan harta di hadapan Allah.Mungkin hartanya habis. Namun persoalannya belum selesai.Habis untuk apa? Harta yang Hanya Ditumpuk Bisa Berubah Menjadi BebanIbnul Qayyim rahimahullah memberikan kaidah lain:أَنَّ الْقَلْبَ مَلِكُ الْبَدَنِ، وَالْعِلْمَ زِينَتُهُ وَعُدَّتُهُ وَمَالُهُ، وَبِهِ قِوَامُ مُلْكِهِ، وَالْمَلِكُ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ عَدَدٍ وَعُدَّةٍ وَمَالٍ وَزِينَةٍ؛ فَالْعِلْمُ هُوَ مَرْكَبُهُ وَعُدَّتُهُ وَجَمَالُهُ.وَأَمَّا الْمَالُ، فَغَايَتُهُ أَنْ يَكُونَ زِينَةً وَجَمَالًا لِلْبَدَنِ إِذَا أَنْفَقَهُ فِي ذٰلِكَ، فَإِذَا خَزَنَهُ وَلَمْ يُنْفِقْهُ لَمْ يَكُنْ زِينَةً وَلَا جَمَالًا، بَلْ نَقْصًا وَوَبَالًا.“Hati adalah raja bagi tubuh. Ilmu merupakan perhiasan, perlengkapan, dan kekayaannya; dengannya kerajaan hati dapat tegak. Seorang raja pasti membutuhkan pasukan, perlengkapan, kekayaan, dan perhiasan. Maka ilmu adalah kendaraan, perlengkapan, sekaligus keindahannya.Adapun harta, puncak manfaatnya hanyalah menjadi perhiasan dan keindahan bagi badan apabila digunakan untuk itu. Jika ia hanya menyimpannya dan tidak menggunakannya, harta tersebut tidak lagi menjadi perhiasan dan keindahan, bahkan dapat berubah menjadi kekurangan dan beban.”Ini terdapat pada poin ke-39, “Ilmu adalah Bekal Hati, Harta Hanya Perhiasan Jika Dibelanjakan”.Tentu ini bukan celaan terhadap tabungan, dana darurat, investasi, atau perencanaan keuangan yang benar. Yang dicela adalah ketika fungsi harta berhenti pada menimbun demi menimbun, sementara berbagai hak dan kemanfaatannya tidak ditunaikan.Maka kaidahnya:Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban. Harta Seharusnya Membantu Kita PulangPuncak nasihat Ibnul Qayyim tentang masalah ini terdapat di akhir pembahasan. Beliau berkata:أَنَّ الْقَدْرَ الْمَقْصُودَ مِنَ الْمَالِ هُوَ مَا يَكْفِي الْعَبْدَ وَيُقِيمُهُ وَيَدْفَعُ ضَرُورَتَهُ حَتَّى يَتَمَكَّنَ مِنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ، وَمِنَ التَّزَوُّدِ لِسَفَرِهِ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا زَادَ عَلَى ذٰلِكَ شَغَلَهُ وَقَطَعَهُ عَنِ السَّفَرِ إِلَى رَبِّهِ وَعَنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ وَتَعْبِيَةِ زَادِهِ؛ فَكَانَ ضَرَرُهُ عَلَيْهِ أَكْثَرَ مِنْ مَصْلَحَتِهِ، وَكُلَّمَا ازْدَادَ غِنَاهُ بِهِ ازْدَادَ تَثَبُّطًا وَتَخَلُّفًا عَنِ التَّجَهُّزِ لِمَا أَمَامَهُ.وَأَمَّا الْعِلْمُ النَّافِعُ، فَكُلَّمَا ازْدَادَ مِنْهُ ازْدَادَ فِي تَعْبِيَةِ الزَّادِ، وَقَضَاءِ الْجِهَازِ، وَإِعْدَادِ عُدَّةِ الْمَسِيرِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ وَبِهِ الِاسْتِعَانَةُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِهِ.فَعُدَّةُ هٰذَا السَّفَرِ هُوَ الْعِلْمُ وَالْعَمَلُ، وَعُدَّةُ الْإِقَامَةِ جَمْعُ الْأَمْوَالِ وَالِادِّخَارُ، وَمَنْ أَرَادَ شَيْئًا هَيَّأَ لَهُ عُدَّتَهُ.“Kadar harta yang menjadi tujuan adalah harta yang mencukupi seorang hamba, menopang kehidupannya, dan memenuhi kebutuhannya sehingga ia mampu mempersiapkan perlengkapan serta bekal perjalanan menuju Rabb-nya ‘Azza wa Jalla.Apabila tambahan harta justru menyibukkannya, memutusnya dari perjalanan menuju Rabb-nya, serta menghalanginya mempersiapkan bekal perjalanan tersebut, mudarat harta itu baginya menjadi lebih besar daripada manfaatnya. Semakin bertambah kekayaannya, semakin ia tertahan dan terlambat dalam menyiapkan apa yang ada di hadapannya.Adapun ilmu yang bermanfaat, semakin bertambah ilmu seseorang, semakin bertambah pula persiapan bekalnya, perlengkapannya, dan kesiapan untuk perjalanan. Allah-lah yang memberi taufik. Kepada-Nya kita meminta pertolongan. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.Maka bekal perjalanan ini adalah ilmu dan amal. Adapun bekal orang yang hendak menetap adalah mengumpulkan serta menyimpan harta. Siapa yang menginginkan sesuatu, ia akan menyiapkan bekal untuk mendapatkannya.”Ini merupakan poin ke-40, “Ilmu adalah Bekal Pulang, Harta Bisa Jadi Penghalang”, sekaligus penutup dari 40 perbandingan ilmu dan harta dalam buku tersebut. Kalimat ini sangat dalam:Harta seharusnya membantu kita pulang kepada Allah. Kalau harta justru membuat kita lupa bahwa kita akan pulang, fungsi harta telah terbalik. Jadi, Hartamu Habis di Mana?Pertanyaan ini tidak hanya penting ketika uang hampir habis di akhir bulan. Pertanyaan ini jauh lebih besar karena semua harta memang pada akhirnya akan meninggalkan kita.Ada harta yang habis untuk makan. Ada yang habis untuk rumah, kendaraan, pendidikan, dan keluarga. Ada yang habis untuk kesenangan. Ada pula yang berubah menjadi sedekah, nafkah, ilmu, dakwah, bantuan kepada orang lain, dan amal yang kelak ditemukan kembali di akhirat.Maka bukan semata “berapa banyak yang habis?”, tetapi:“Untuk apa ia habis?”Harta yang dikeluarkan tidak selalu berarti hilang. Ada harta yang keluar dari rekening, tetapi justru sedang dipindahkan menjadi bekal menuju Allah.Sebaliknya, ada harta yang terus tersimpan dan bertambah secara angka, tetapi membuat pemiliknya semakin jauh dari tujuan kehidupannya. Sepuluh Kaidah Penting tentang HartaDari seluruh penjelasan Ibnul Qayyim di atas, kita dapat merangkum sepuluh kaidah untuk kehidupan:Harta adalah alat kehidupan; jangan menjadikan mengumpulkan harta sebagai tujuan kehidupan.Masalahnya bukan hanya berapa banyak harta yang kita miliki, tetapi apakah kita memiliki harta atau harta yang memiliki kita.Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.Jangan hanya tanyakan berapa hartamu; tanyakan ke mana hartamu membawamu.Cara menggunakan dan menampilkan harta dapat menjadi dakwah kepada akhirat atau dakwah kepada dunia.Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.Harta yang berada di tangan dapat dimanfaatkan; harta yang menguasai hati akan menuntut untuk terus dijaga.Harta mempunyai dua pertanyaan besar: dari mana datangnya dan ke mana perginya.Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban.Harta yang benar adalah harta yang membantu perjalanan menuju Allah, bukan yang membuat kita lupa bahwa kita akan pulang kepada-Nya. Nasihat TerakhirHari ini kita dimudahkan melihat saldo, aset, omzet, investasi, dan pertumbuhan kekayaan hanya dari layar ponsel, tetapi jangan sampai kita lupa melihat ke mana semua itu sedang membawa hati kita. Jangan menunggu harta benar-benar habis untuk bertanya ke mana ia pergi, karena yang lebih penting adalah memastikan ia pergi ke tempat yang Allah ridhai. Harta terbaik bukan sekadar yang banyak ditinggalkan kepada ahli waris, tetapi yang telah lebih dahulu dikirim menjadi bekal akhirat. Gunakan dunia untuk perjalanan pulang, jangan sampai perjalanan pulang terhenti karena terlalu sibuk mengumpulkan dunia.Semoga Allah memberi kita harta yang halal, cukup, diberkahi, dan membantu kita taat kepada-Nya. Di antara doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى، وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ، وَالْغِنَى.Allāhumma innī as’alukal-hudā, wat-tuqā, wal-‘afāfa, wal-ghinā.“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri dari perkara yang haram, dan kecukupan.” —– Jumat Pagi, 18 September 2026 @ PalembangPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhirat cinta dunia faedah dari Ibnul Qayyim harta ibnul qayyim infak keberkahan kekayaan nasihat ibnul qayyim nasihat islam rezeki sedekah
Harta bisa menjadi jalan menuju Allah, tetapi harta yang sama bisa berubah menjadi penghalang perjalanan menuju-Nya. Persoalan terbesarnya bukan sekadar berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi dari mana harta itu datang dan ke mana akhirnya pergi. Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan sejumlah kaidah yang membuat kita perlu bertanya kepada diri sendiri: selama ini, hartaku habis di mana?Bahasan ini diambil dari penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah ketika beliau menguraikan wasiat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad tentang ilmu yang lebih utama daripada harta.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Mengumpulkan Harta Menjadi Tujuan Hidup 2. Punya Harta atau Justru Dipunyai Harta? 3. Ketika Cinta Harta Menjadi Pintu Keburukan 4. Harta Bisa Menjadi Kendaraan Maksiat 5. Hartamu Diam-Diam Berdakwah 6. Harta Menjadi Mulia Justru Ketika Dilepas 7. Semakin Banyak Harta, Jangan Sampai Semakin Banyak Ketakutan 8. Harta Punya Tiga Ujian: Sebelum, Ketika, dan Setelah Dimiliki 9. Harta yang Hanya Ditumpuk Bisa Berubah Menjadi Beban 10. Harta Seharusnya Membantu Kita Pulang 11. Jadi, Hartamu Habis di Mana? 12. Sepuluh Kaidah Penting tentang Harta 13. Nasihat Terakhir  Ketika Mengumpulkan Harta Menjadi Tujuan HidupBekerja, berdagang, mengembangkan usaha, dan menyiapkan harta untuk masa depan bukan sesuatu yang tercela. Masalah muncul ketika mengumpulkan, mengembangkan, dan menyimpan harta berubah dari sarana menjadi pusat kehidupan.Ibnul Qayyim rahimahullah menggambarkan satu golongan manusia:الصِّنْفُ الرَّابِعُ: مَنْ حِرْصُهُ وَهِمَّتُهُ فِي جَمْعِ الْأَمْوَالِ وَتَثْمِيرِهَا وَادِّخَارِهَا، فَقَدْ صَارَتْ لَذَّتُهُ فِي ذَلِكَ، وَفَنِيَ بِهَا عَمَّا سِوَاهَا، فَلَا يَرَى شَيْئًا أَطْيَبَ لَهُ مِمَّا هُوَ فِيهِ، فَأَيْنَ هَذَا وَدَرَجَةُ الْعِلْمِ؟!“Golongan keempat adalah orang yang seluruh kerakusan dan ambisinya tertuju pada mengumpulkan harta, mengembangkannya, dan menyimpannya. Kenikmatannya telah berada pada semua itu sehingga ia tersita olehnya dari perkara-perkara lainnya. Ia tidak lagi memandang ada sesuatu yang lebih nikmat baginya daripada keadaan tersebut. Lalu, di manakah keadaan seperti ini dibandingkan dengan derajat ilmu?”Di sinilah kaidah pertama yang perlu direnungkan:Harta adalah alat untuk menjalani kehidupan; jangan sampai mengumpulkan harta berubah menjadi tujuan kehidupan.Orang bisa sangat sibuk mengembangkan aset, menghitung laba, memperbesar usaha, dan menambah simpanan. Semua itu bisa menjadi baik. Namun perlu diperiksa: apakah bertambahnya harta juga membuat bekal akhirat bertambah? Punya Harta atau Justru Dipunyai Harta?Harta awalnya berada di tangan manusia. Namun ketika hati sudah terikat dengannya, keadaan bisa berbalik: manusia justru menjadi hamba bagi hartanya.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ الْمَالَ يَسْتَعْبِدُ مُحِبَّهُ وَصَاحِبَهُ، فَيَجْعَلُهُ عَبْدًا لَهُ، كَمَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ…» الْحَدِيثَ، وَالْعِلْمُ يَسْتَعْبِدُهُ لِرَبِّهِ وَخَالِقِهِ، فَهُوَ لَا يَدْعُوهُ إِلَّا إِلَى عُبُودِيَّةِ اللَّهِ وَحْدَهُ.“Harta dapat memperbudak orang yang mencintai dan memilikinya, hingga menjadikannya sebagai budak harta tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Celakalah budak dinar dan dirham….’ Adapun ilmu menjadikan seseorang sebagai hamba bagi Rabb dan Penciptanya. Ilmu tidak mengajaknya kecuali kepada penghambaan kepada Allah semata.”Ini merupakan poin ke-12, “Ilmu Menjadikan Hamba Allah, Harta Menjadikan Budak Dunia”.Maka pertanyaannya bukan hanya, “Berapa harta yang kita miliki?” Namun juga, “Siapa sebenarnya yang menjadi tuan: kita atau harta kita?”Jika karena uang seseorang berani meninggalkan kewajiban, merusak hubungan keluarga, mengambil yang haram, mengorbankan agama, atau terus-menerus gelisah karena takut kehilangan, maka fungsi harta mulai terbalik.Bukan lagi ia yang menggunakan harta. Harta mulai mengendalikan dirinya. Ketika Cinta Harta Menjadi Pintu KeburukanIbnul Qayyim rahimahullah memberikan sebuah perbandingan yang sangat tajam:أَنَّ حُبَّ الْعِلْمِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ، وَحُبَّ الدُّنْيَا وَالْمَالِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ سَيِّئَةٍ.“Cinta kepada ilmu dan mencarinya adalah pangkal setiap ketaatan. Adapun cinta kepada dunia dan harta serta mengejarnya adalah pangkal setiap keburukan.”Ini terdapat pada poin ke-13, “Ilmu Menumbuhkan Ketaatan, Harta Menyulut Keburukan”.Yang tercela di sini tentu bukan sekadar memiliki kekayaan. Banyak orang saleh memiliki harta dan justru menjadikannya sarana kebaikan. Yang berbahaya adalah ḥubbud-dunyā, ketika dunia dan harta menjadi cinta dominan dalam hati.Maka kaidahnya:Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.Hati-hati pula ketika ukuran keberhasilan hidup berubah. Dahulu keberhasilan diukur dari iman, shalat, manfaat bagi orang lain, dan keselamatan akhirat. Kemudian semuanya perlahan diganti dengan saldo, omzet, rumah, kendaraan, aset, dan penampilan. Harta Bisa Menjadi Kendaraan MaksiatIbnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّهُ مَا أَطَاعَ اللَّهَ أَحَدٌ قَطُّ إِلَّا بِالْعِلْمِ، وَعَامَّةُ مَنْ يَعْصِيهِ إِنَّمَا يَعْصِيهِ بِالْمَالِ.“Tidak ada seorang pun yang menaati Allah kecuali dengan ilmu. Sementara kebanyakan orang yang bermaksiat kepada-Nya melakukan maksiat dengan harta.”Ini terdapat pada poin ke-17, “Ilmu Mengantarkan pada Ketaatan, Harta Menyeret kepada Maksiat”.Renungkanlah. Dengan harta seseorang bisa bersedekah, membantu orang tua, menafkahi keluarga, menuntut ilmu, membangun masjid, membantu dakwah, dan menolong orang miskin. Namun dengan harta pula seseorang bisa membeli yang haram, membiayai kemaksiatan, memperturutkan syahwat, melakukan riba, berjudi, atau memamerkan gaya hidup yang menjauhkan hati dari akhirat.Karena itu:Jangan hanya tanyakan berapa banyak hartamu. Tanyakan pula: ke mana hartamu membawamu?Harta tidak memiliki arah sendiri. Pemiliknyalah yang menentukan apakah ia menjadi kendaraan menuju surga atau kendaraan menuju dosa. Hartamu Diam-Diam BerdakwahCara seseorang menggunakan harta tidak hanya berdampak kepada dirinya. Ia dapat mengirimkan pesan kepada orang lain tentang apa yang dianggap bernilai dalam kehidupan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ الْعَالِمَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى اللَّهِ بِعِلْمِهِ وَحَالِهِ، وَجَامِعَ الْمَالِ يَدْعُوهُمْ إِلَى الدُّنْيَا بِحَالِهِ وَمَالِهِ.“Seorang alim mengajak manusia menuju Allah dengan ilmu dan keadaannya. Adapun pengumpul harta mengajak manusia kepada dunia melalui keadaan dan hartanya.”Ini dibahas pada poin ke-18, “Ilmu Mengarahkan Hati ke Akhirat, Harta Mengalihkan Hati ke Dunia”.Nasihat ini terasa semakin penting pada zaman media sosial. Rumah, kendaraan, pakaian, liburan, gadget, makanan, dan seluruh gaya hidup sekarang bukan sekadar dinikmati sendiri. Semuanya bisa dipertontonkan kepada ribuan bahkan jutaan orang.Tanpa mengucapkan satu kalimat pun, seseorang bisa membuat orang lain semakin kagum kepada dunia.Karena itu:Cara menggunakan dan menampilkan harta bisa menjadi dakwah kepada akhirat, tetapi bisa pula menjadi dakwah kepada dunia. Harta Menjadi Mulia Justru Ketika DilepasAda satu kaidah Ibnul Qayyim yang sangat indah:أَنَّ الْمَالَ إِنَّمَا يُمْدَحُ صَاحِبُهُ بِتَخَلِّيهِ مِنْهُ وَإِخْرَاجِهِ، وَالْعِلْمُ إِنَّمَا يُمْدَحُ بِتَحَلِّيهِ بِهِ وَاتِّصَافِهِ بِهِ.“Pemilik harta dipuji justru ketika ia mampu melepaskan dan mengeluarkan hartanya. Adapun ilmu dipuji ketika seseorang menghiasi dirinya dengannya dan memiliki sifat ilmu tersebut.”Ini adalah poin ke-23, “Ilmu Mulia Saat Melekat, Harta Mulia Saat Dilepas”.Kalimat ini dapat diringkas menjadi sebuah kaidah kehidupan:Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.Orang tidak dipuji hanya karena mempunyai banyak uang. Ia dipuji karena apa yang diperbuat dengan uang tersebut: nafkahnya, sedekahnya, bantuan kepada orang tua, pertolongan kepada orang kesusahan, dan berbagai manfaat yang lahir darinya.Maka, jangan hanya bangga ketika harta bertambah. Tanyakan pula:Berapa banyak manfaat yang keluar bersama bertambahnya harta itu? Semakin Banyak Harta, Jangan Sampai Semakin Banyak KetakutanIbnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ غِنَى الْمَالِ مَقْرُونٌ بِالْخَوْفِ وَالْحُزْنِ، فَهُوَ حَزِينٌ قَبْلَ حُصُولِهِ، خَائِفٌ بَعْدَ حُصُولِهِ، وَكُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ كَانَ الْخَوْفُ أَقْوَى، وَغِنَى الْعِلْمِ مَقْرُونٌ بِالْأَمْنِ وَالْفَرَحِ وَالسُّرُورِ.“Kekayaan harta disertai rasa takut dan sedih. Seseorang bersedih sebelum mendapatkannya dan takut setelah memperolehnya. Semakin banyak hartanya, semakin kuat pula rasa takutnya. Sedangkan kekayaan ilmu disertai rasa aman, kegembiraan, dan kebahagiaan.”Ini terdapat pada poin ke-24, “Ilmu Membawa Ketenangan, Harta Mengundang Ketakutan”.Ini bukan berarti setiap orang kaya pasti gelisah. Yang sedang dijelaskan adalah bahayanya ketika hati begitu melekat kepada harta: belum punya, ia sedih karena mengejarnya; sudah punya, ia takut kehilangan.Maka:Harta yang hanya berada di tangan bisa kita manfaatkan. Harta yang sudah menguasai hati akan menuntut kita untuk terus menjaganya. Harta Punya Tiga Ujian: Sebelum, Ketika, dan Setelah DimilikiInilah salah satu penjelasan Ibnul Qayyim yang paling cocok dengan tema “Hartamu Habis di Mana?”Beliau berkata:أَنَّ جَمْعَ الْمَالِ مَقْرُونٌ بِثَلَاثَةِ أَنْوَاعٍ مِنَ الْآفَاتِ وَالْمِحَنِ: نَوْعٌ قَبْلَهُ، وَنَوْعٌ عِنْدَ حُصُولِهِ، وَنَوْعٌ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ.فَأَمَّا النَّوْعُ الْأَوَّلُ: فَهُوَ الْمَشَاقُّ وَالْأَنْكَادُ وَالْآلَامُ الَّتِي لَا يَحْصُلُ إِلَّا بِهَا.وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّانِي: فَمَشَقَّةُ حِفْظِهِ وَحِرَاسَتِهِ وَتَعَلُّقِ الْقَلْبِ بِهِ، فَلَا يُصْبِحُ إِلَّا مَهْمُومًا، وَلَا يُمْسِي إِلَّا مَغْمُومًا.“Mengumpulkan harta disertai tiga macam ujian: ujian sebelum memperolehnya, ketika telah mendapatkannya, dan setelah berpisah dengannya.Adapun ujian pertama adalah berbagai kepayahan, kesusahan, dan rasa sakit yang harus dilalui untuk memperolehnya.Adapun ujian kedua adalah kesulitan menjaga dan mengamankannya serta keterikatan hati kepadanya. Ia memasuki pagi dalam keadaan memikirkan hartanya dan memasuki sore dalam keadaan disibukkan olehnya.”Kemudian Ibnul Qayyim menjelaskan ujian setelah harta itu pergi:وَالنَّوْعُ الثَّالِثُ مِنْ آفَاتِ الْغِنَى: مَا يَحْصُلُ لِلْعَبْدِ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ، مِنْ تَعَلُّقِ قَلْبِهِ بِهِ، وَكَوْنِهِ قَدْ حِيلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، وَالْمُطَالَبَةِ بِحُقُوقِهِ، وَالْمُحَاسَبَةِ عَلَى مَقْبُوضِهِ وَمَصْرُوفِهِ: مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِي مَاذَا أَنْفَقَهُ؟“Adapun jenis ketiga dari ujian kekayaan adalah apa yang menimpa seorang hamba setelah ia berpisah dari hartanya: hatinya masih terpaut kepadanya padahal ia telah terhalang darinya. Kemudian ia akan dituntut mengenai hak-hak hartanya serta dihisab atas apa yang ia terima dan apa yang ia keluarkan:Dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya?”Bahasan ini terdapat pada poin ke-33, “Ilmu Membahagiakan, Harta Melelahkan: Sebelum, Saat, dan Setelahnya”.Inilah dua pertanyaan besar tentang harta:Dari mana datangnya? Ke mana perginya?Kita sering sibuk menghitung pemasukan dan pengeluaran untuk kepentingan laporan keuangan dunia. Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa ada laporan yang jauh lebih penting: laporan harta di hadapan Allah.Mungkin hartanya habis. Namun persoalannya belum selesai.Habis untuk apa? Harta yang Hanya Ditumpuk Bisa Berubah Menjadi BebanIbnul Qayyim rahimahullah memberikan kaidah lain:أَنَّ الْقَلْبَ مَلِكُ الْبَدَنِ، وَالْعِلْمَ زِينَتُهُ وَعُدَّتُهُ وَمَالُهُ، وَبِهِ قِوَامُ مُلْكِهِ، وَالْمَلِكُ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ عَدَدٍ وَعُدَّةٍ وَمَالٍ وَزِينَةٍ؛ فَالْعِلْمُ هُوَ مَرْكَبُهُ وَعُدَّتُهُ وَجَمَالُهُ.وَأَمَّا الْمَالُ، فَغَايَتُهُ أَنْ يَكُونَ زِينَةً وَجَمَالًا لِلْبَدَنِ إِذَا أَنْفَقَهُ فِي ذٰلِكَ، فَإِذَا خَزَنَهُ وَلَمْ يُنْفِقْهُ لَمْ يَكُنْ زِينَةً وَلَا جَمَالًا، بَلْ نَقْصًا وَوَبَالًا.“Hati adalah raja bagi tubuh. Ilmu merupakan perhiasan, perlengkapan, dan kekayaannya; dengannya kerajaan hati dapat tegak. Seorang raja pasti membutuhkan pasukan, perlengkapan, kekayaan, dan perhiasan. Maka ilmu adalah kendaraan, perlengkapan, sekaligus keindahannya.Adapun harta, puncak manfaatnya hanyalah menjadi perhiasan dan keindahan bagi badan apabila digunakan untuk itu. Jika ia hanya menyimpannya dan tidak menggunakannya, harta tersebut tidak lagi menjadi perhiasan dan keindahan, bahkan dapat berubah menjadi kekurangan dan beban.”Ini terdapat pada poin ke-39, “Ilmu adalah Bekal Hati, Harta Hanya Perhiasan Jika Dibelanjakan”.Tentu ini bukan celaan terhadap tabungan, dana darurat, investasi, atau perencanaan keuangan yang benar. Yang dicela adalah ketika fungsi harta berhenti pada menimbun demi menimbun, sementara berbagai hak dan kemanfaatannya tidak ditunaikan.Maka kaidahnya:Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban. Harta Seharusnya Membantu Kita PulangPuncak nasihat Ibnul Qayyim tentang masalah ini terdapat di akhir pembahasan. Beliau berkata:أَنَّ الْقَدْرَ الْمَقْصُودَ مِنَ الْمَالِ هُوَ مَا يَكْفِي الْعَبْدَ وَيُقِيمُهُ وَيَدْفَعُ ضَرُورَتَهُ حَتَّى يَتَمَكَّنَ مِنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ، وَمِنَ التَّزَوُّدِ لِسَفَرِهِ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا زَادَ عَلَى ذٰلِكَ شَغَلَهُ وَقَطَعَهُ عَنِ السَّفَرِ إِلَى رَبِّهِ وَعَنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ وَتَعْبِيَةِ زَادِهِ؛ فَكَانَ ضَرَرُهُ عَلَيْهِ أَكْثَرَ مِنْ مَصْلَحَتِهِ، وَكُلَّمَا ازْدَادَ غِنَاهُ بِهِ ازْدَادَ تَثَبُّطًا وَتَخَلُّفًا عَنِ التَّجَهُّزِ لِمَا أَمَامَهُ.وَأَمَّا الْعِلْمُ النَّافِعُ، فَكُلَّمَا ازْدَادَ مِنْهُ ازْدَادَ فِي تَعْبِيَةِ الزَّادِ، وَقَضَاءِ الْجِهَازِ، وَإِعْدَادِ عُدَّةِ الْمَسِيرِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ وَبِهِ الِاسْتِعَانَةُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِهِ.فَعُدَّةُ هٰذَا السَّفَرِ هُوَ الْعِلْمُ وَالْعَمَلُ، وَعُدَّةُ الْإِقَامَةِ جَمْعُ الْأَمْوَالِ وَالِادِّخَارُ، وَمَنْ أَرَادَ شَيْئًا هَيَّأَ لَهُ عُدَّتَهُ.“Kadar harta yang menjadi tujuan adalah harta yang mencukupi seorang hamba, menopang kehidupannya, dan memenuhi kebutuhannya sehingga ia mampu mempersiapkan perlengkapan serta bekal perjalanan menuju Rabb-nya ‘Azza wa Jalla.Apabila tambahan harta justru menyibukkannya, memutusnya dari perjalanan menuju Rabb-nya, serta menghalanginya mempersiapkan bekal perjalanan tersebut, mudarat harta itu baginya menjadi lebih besar daripada manfaatnya. Semakin bertambah kekayaannya, semakin ia tertahan dan terlambat dalam menyiapkan apa yang ada di hadapannya.Adapun ilmu yang bermanfaat, semakin bertambah ilmu seseorang, semakin bertambah pula persiapan bekalnya, perlengkapannya, dan kesiapan untuk perjalanan. Allah-lah yang memberi taufik. Kepada-Nya kita meminta pertolongan. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.Maka bekal perjalanan ini adalah ilmu dan amal. Adapun bekal orang yang hendak menetap adalah mengumpulkan serta menyimpan harta. Siapa yang menginginkan sesuatu, ia akan menyiapkan bekal untuk mendapatkannya.”Ini merupakan poin ke-40, “Ilmu adalah Bekal Pulang, Harta Bisa Jadi Penghalang”, sekaligus penutup dari 40 perbandingan ilmu dan harta dalam buku tersebut. Kalimat ini sangat dalam:Harta seharusnya membantu kita pulang kepada Allah. Kalau harta justru membuat kita lupa bahwa kita akan pulang, fungsi harta telah terbalik. Jadi, Hartamu Habis di Mana?Pertanyaan ini tidak hanya penting ketika uang hampir habis di akhir bulan. Pertanyaan ini jauh lebih besar karena semua harta memang pada akhirnya akan meninggalkan kita.Ada harta yang habis untuk makan. Ada yang habis untuk rumah, kendaraan, pendidikan, dan keluarga. Ada yang habis untuk kesenangan. Ada pula yang berubah menjadi sedekah, nafkah, ilmu, dakwah, bantuan kepada orang lain, dan amal yang kelak ditemukan kembali di akhirat.Maka bukan semata “berapa banyak yang habis?”, tetapi:“Untuk apa ia habis?”Harta yang dikeluarkan tidak selalu berarti hilang. Ada harta yang keluar dari rekening, tetapi justru sedang dipindahkan menjadi bekal menuju Allah.Sebaliknya, ada harta yang terus tersimpan dan bertambah secara angka, tetapi membuat pemiliknya semakin jauh dari tujuan kehidupannya. Sepuluh Kaidah Penting tentang HartaDari seluruh penjelasan Ibnul Qayyim di atas, kita dapat merangkum sepuluh kaidah untuk kehidupan:Harta adalah alat kehidupan; jangan menjadikan mengumpulkan harta sebagai tujuan kehidupan.Masalahnya bukan hanya berapa banyak harta yang kita miliki, tetapi apakah kita memiliki harta atau harta yang memiliki kita.Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.Jangan hanya tanyakan berapa hartamu; tanyakan ke mana hartamu membawamu.Cara menggunakan dan menampilkan harta dapat menjadi dakwah kepada akhirat atau dakwah kepada dunia.Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.Harta yang berada di tangan dapat dimanfaatkan; harta yang menguasai hati akan menuntut untuk terus dijaga.Harta mempunyai dua pertanyaan besar: dari mana datangnya dan ke mana perginya.Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban.Harta yang benar adalah harta yang membantu perjalanan menuju Allah, bukan yang membuat kita lupa bahwa kita akan pulang kepada-Nya. Nasihat TerakhirHari ini kita dimudahkan melihat saldo, aset, omzet, investasi, dan pertumbuhan kekayaan hanya dari layar ponsel, tetapi jangan sampai kita lupa melihat ke mana semua itu sedang membawa hati kita. Jangan menunggu harta benar-benar habis untuk bertanya ke mana ia pergi, karena yang lebih penting adalah memastikan ia pergi ke tempat yang Allah ridhai. Harta terbaik bukan sekadar yang banyak ditinggalkan kepada ahli waris, tetapi yang telah lebih dahulu dikirim menjadi bekal akhirat. Gunakan dunia untuk perjalanan pulang, jangan sampai perjalanan pulang terhenti karena terlalu sibuk mengumpulkan dunia.Semoga Allah memberi kita harta yang halal, cukup, diberkahi, dan membantu kita taat kepada-Nya. Di antara doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى، وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ، وَالْغِنَى.Allāhumma innī as’alukal-hudā, wat-tuqā, wal-‘afāfa, wal-ghinā.“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri dari perkara yang haram, dan kecukupan.” —– Jumat Pagi, 18 September 2026 @ PalembangPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhirat cinta dunia faedah dari Ibnul Qayyim harta ibnul qayyim infak keberkahan kekayaan nasihat ibnul qayyim nasihat islam rezeki sedekah


Harta bisa menjadi jalan menuju Allah, tetapi harta yang sama bisa berubah menjadi penghalang perjalanan menuju-Nya. Persoalan terbesarnya bukan sekadar berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi dari mana harta itu datang dan ke mana akhirnya pergi. Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan sejumlah kaidah yang membuat kita perlu bertanya kepada diri sendiri: selama ini, hartaku habis di mana?Bahasan ini diambil dari penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah ketika beliau menguraikan wasiat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad tentang ilmu yang lebih utama daripada harta.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Mengumpulkan Harta Menjadi Tujuan Hidup 2. Punya Harta atau Justru Dipunyai Harta? 3. Ketika Cinta Harta Menjadi Pintu Keburukan 4. Harta Bisa Menjadi Kendaraan Maksiat 5. Hartamu Diam-Diam Berdakwah 6. Harta Menjadi Mulia Justru Ketika Dilepas 7. Semakin Banyak Harta, Jangan Sampai Semakin Banyak Ketakutan 8. Harta Punya Tiga Ujian: Sebelum, Ketika, dan Setelah Dimiliki 9. Harta yang Hanya Ditumpuk Bisa Berubah Menjadi Beban 10. Harta Seharusnya Membantu Kita Pulang 11. Jadi, Hartamu Habis di Mana? 12. Sepuluh Kaidah Penting tentang Harta 13. Nasihat Terakhir  Ketika Mengumpulkan Harta Menjadi Tujuan HidupBekerja, berdagang, mengembangkan usaha, dan menyiapkan harta untuk masa depan bukan sesuatu yang tercela. Masalah muncul ketika mengumpulkan, mengembangkan, dan menyimpan harta berubah dari sarana menjadi pusat kehidupan.Ibnul Qayyim rahimahullah menggambarkan satu golongan manusia:الصِّنْفُ الرَّابِعُ: مَنْ حِرْصُهُ وَهِمَّتُهُ فِي جَمْعِ الْأَمْوَالِ وَتَثْمِيرِهَا وَادِّخَارِهَا، فَقَدْ صَارَتْ لَذَّتُهُ فِي ذَلِكَ، وَفَنِيَ بِهَا عَمَّا سِوَاهَا، فَلَا يَرَى شَيْئًا أَطْيَبَ لَهُ مِمَّا هُوَ فِيهِ، فَأَيْنَ هَذَا وَدَرَجَةُ الْعِلْمِ؟!“Golongan keempat adalah orang yang seluruh kerakusan dan ambisinya tertuju pada mengumpulkan harta, mengembangkannya, dan menyimpannya. Kenikmatannya telah berada pada semua itu sehingga ia tersita olehnya dari perkara-perkara lainnya. Ia tidak lagi memandang ada sesuatu yang lebih nikmat baginya daripada keadaan tersebut. Lalu, di manakah keadaan seperti ini dibandingkan dengan derajat ilmu?”Di sinilah kaidah pertama yang perlu direnungkan:Harta adalah alat untuk menjalani kehidupan; jangan sampai mengumpulkan harta berubah menjadi tujuan kehidupan.Orang bisa sangat sibuk mengembangkan aset, menghitung laba, memperbesar usaha, dan menambah simpanan. Semua itu bisa menjadi baik. Namun perlu diperiksa: apakah bertambahnya harta juga membuat bekal akhirat bertambah? Punya Harta atau Justru Dipunyai Harta?Harta awalnya berada di tangan manusia. Namun ketika hati sudah terikat dengannya, keadaan bisa berbalik: manusia justru menjadi hamba bagi hartanya.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ الْمَالَ يَسْتَعْبِدُ مُحِبَّهُ وَصَاحِبَهُ، فَيَجْعَلُهُ عَبْدًا لَهُ، كَمَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ…» الْحَدِيثَ، وَالْعِلْمُ يَسْتَعْبِدُهُ لِرَبِّهِ وَخَالِقِهِ، فَهُوَ لَا يَدْعُوهُ إِلَّا إِلَى عُبُودِيَّةِ اللَّهِ وَحْدَهُ.“Harta dapat memperbudak orang yang mencintai dan memilikinya, hingga menjadikannya sebagai budak harta tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Celakalah budak dinar dan dirham….’ Adapun ilmu menjadikan seseorang sebagai hamba bagi Rabb dan Penciptanya. Ilmu tidak mengajaknya kecuali kepada penghambaan kepada Allah semata.”Ini merupakan poin ke-12, “Ilmu Menjadikan Hamba Allah, Harta Menjadikan Budak Dunia”.Maka pertanyaannya bukan hanya, “Berapa harta yang kita miliki?” Namun juga, “Siapa sebenarnya yang menjadi tuan: kita atau harta kita?”Jika karena uang seseorang berani meninggalkan kewajiban, merusak hubungan keluarga, mengambil yang haram, mengorbankan agama, atau terus-menerus gelisah karena takut kehilangan, maka fungsi harta mulai terbalik.Bukan lagi ia yang menggunakan harta. Harta mulai mengendalikan dirinya. Ketika Cinta Harta Menjadi Pintu KeburukanIbnul Qayyim rahimahullah memberikan sebuah perbandingan yang sangat tajam:أَنَّ حُبَّ الْعِلْمِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ، وَحُبَّ الدُّنْيَا وَالْمَالِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ سَيِّئَةٍ.“Cinta kepada ilmu dan mencarinya adalah pangkal setiap ketaatan. Adapun cinta kepada dunia dan harta serta mengejarnya adalah pangkal setiap keburukan.”Ini terdapat pada poin ke-13, “Ilmu Menumbuhkan Ketaatan, Harta Menyulut Keburukan”.Yang tercela di sini tentu bukan sekadar memiliki kekayaan. Banyak orang saleh memiliki harta dan justru menjadikannya sarana kebaikan. Yang berbahaya adalah ḥubbud-dunyā, ketika dunia dan harta menjadi cinta dominan dalam hati.Maka kaidahnya:Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.Hati-hati pula ketika ukuran keberhasilan hidup berubah. Dahulu keberhasilan diukur dari iman, shalat, manfaat bagi orang lain, dan keselamatan akhirat. Kemudian semuanya perlahan diganti dengan saldo, omzet, rumah, kendaraan, aset, dan penampilan. Harta Bisa Menjadi Kendaraan MaksiatIbnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّهُ مَا أَطَاعَ اللَّهَ أَحَدٌ قَطُّ إِلَّا بِالْعِلْمِ، وَعَامَّةُ مَنْ يَعْصِيهِ إِنَّمَا يَعْصِيهِ بِالْمَالِ.“Tidak ada seorang pun yang menaati Allah kecuali dengan ilmu. Sementara kebanyakan orang yang bermaksiat kepada-Nya melakukan maksiat dengan harta.”Ini terdapat pada poin ke-17, “Ilmu Mengantarkan pada Ketaatan, Harta Menyeret kepada Maksiat”.Renungkanlah. Dengan harta seseorang bisa bersedekah, membantu orang tua, menafkahi keluarga, menuntut ilmu, membangun masjid, membantu dakwah, dan menolong orang miskin. Namun dengan harta pula seseorang bisa membeli yang haram, membiayai kemaksiatan, memperturutkan syahwat, melakukan riba, berjudi, atau memamerkan gaya hidup yang menjauhkan hati dari akhirat.Karena itu:Jangan hanya tanyakan berapa banyak hartamu. Tanyakan pula: ke mana hartamu membawamu?Harta tidak memiliki arah sendiri. Pemiliknyalah yang menentukan apakah ia menjadi kendaraan menuju surga atau kendaraan menuju dosa. Hartamu Diam-Diam BerdakwahCara seseorang menggunakan harta tidak hanya berdampak kepada dirinya. Ia dapat mengirimkan pesan kepada orang lain tentang apa yang dianggap bernilai dalam kehidupan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ الْعَالِمَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى اللَّهِ بِعِلْمِهِ وَحَالِهِ، وَجَامِعَ الْمَالِ يَدْعُوهُمْ إِلَى الدُّنْيَا بِحَالِهِ وَمَالِهِ.“Seorang alim mengajak manusia menuju Allah dengan ilmu dan keadaannya. Adapun pengumpul harta mengajak manusia kepada dunia melalui keadaan dan hartanya.”Ini dibahas pada poin ke-18, “Ilmu Mengarahkan Hati ke Akhirat, Harta Mengalihkan Hati ke Dunia”.Nasihat ini terasa semakin penting pada zaman media sosial. Rumah, kendaraan, pakaian, liburan, gadget, makanan, dan seluruh gaya hidup sekarang bukan sekadar dinikmati sendiri. Semuanya bisa dipertontonkan kepada ribuan bahkan jutaan orang.Tanpa mengucapkan satu kalimat pun, seseorang bisa membuat orang lain semakin kagum kepada dunia.Karena itu:Cara menggunakan dan menampilkan harta bisa menjadi dakwah kepada akhirat, tetapi bisa pula menjadi dakwah kepada dunia. Harta Menjadi Mulia Justru Ketika DilepasAda satu kaidah Ibnul Qayyim yang sangat indah:أَنَّ الْمَالَ إِنَّمَا يُمْدَحُ صَاحِبُهُ بِتَخَلِّيهِ مِنْهُ وَإِخْرَاجِهِ، وَالْعِلْمُ إِنَّمَا يُمْدَحُ بِتَحَلِّيهِ بِهِ وَاتِّصَافِهِ بِهِ.“Pemilik harta dipuji justru ketika ia mampu melepaskan dan mengeluarkan hartanya. Adapun ilmu dipuji ketika seseorang menghiasi dirinya dengannya dan memiliki sifat ilmu tersebut.”Ini adalah poin ke-23, “Ilmu Mulia Saat Melekat, Harta Mulia Saat Dilepas”.Kalimat ini dapat diringkas menjadi sebuah kaidah kehidupan:Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.Orang tidak dipuji hanya karena mempunyai banyak uang. Ia dipuji karena apa yang diperbuat dengan uang tersebut: nafkahnya, sedekahnya, bantuan kepada orang tua, pertolongan kepada orang kesusahan, dan berbagai manfaat yang lahir darinya.Maka, jangan hanya bangga ketika harta bertambah. Tanyakan pula:Berapa banyak manfaat yang keluar bersama bertambahnya harta itu? Semakin Banyak Harta, Jangan Sampai Semakin Banyak KetakutanIbnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ غِنَى الْمَالِ مَقْرُونٌ بِالْخَوْفِ وَالْحُزْنِ، فَهُوَ حَزِينٌ قَبْلَ حُصُولِهِ، خَائِفٌ بَعْدَ حُصُولِهِ، وَكُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ كَانَ الْخَوْفُ أَقْوَى، وَغِنَى الْعِلْمِ مَقْرُونٌ بِالْأَمْنِ وَالْفَرَحِ وَالسُّرُورِ.“Kekayaan harta disertai rasa takut dan sedih. Seseorang bersedih sebelum mendapatkannya dan takut setelah memperolehnya. Semakin banyak hartanya, semakin kuat pula rasa takutnya. Sedangkan kekayaan ilmu disertai rasa aman, kegembiraan, dan kebahagiaan.”Ini terdapat pada poin ke-24, “Ilmu Membawa Ketenangan, Harta Mengundang Ketakutan”.Ini bukan berarti setiap orang kaya pasti gelisah. Yang sedang dijelaskan adalah bahayanya ketika hati begitu melekat kepada harta: belum punya, ia sedih karena mengejarnya; sudah punya, ia takut kehilangan.Maka:Harta yang hanya berada di tangan bisa kita manfaatkan. Harta yang sudah menguasai hati akan menuntut kita untuk terus menjaganya. Harta Punya Tiga Ujian: Sebelum, Ketika, dan Setelah DimilikiInilah salah satu penjelasan Ibnul Qayyim yang paling cocok dengan tema “Hartamu Habis di Mana?”Beliau berkata:أَنَّ جَمْعَ الْمَالِ مَقْرُونٌ بِثَلَاثَةِ أَنْوَاعٍ مِنَ الْآفَاتِ وَالْمِحَنِ: نَوْعٌ قَبْلَهُ، وَنَوْعٌ عِنْدَ حُصُولِهِ، وَنَوْعٌ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ.فَأَمَّا النَّوْعُ الْأَوَّلُ: فَهُوَ الْمَشَاقُّ وَالْأَنْكَادُ وَالْآلَامُ الَّتِي لَا يَحْصُلُ إِلَّا بِهَا.وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّانِي: فَمَشَقَّةُ حِفْظِهِ وَحِرَاسَتِهِ وَتَعَلُّقِ الْقَلْبِ بِهِ، فَلَا يُصْبِحُ إِلَّا مَهْمُومًا، وَلَا يُمْسِي إِلَّا مَغْمُومًا.“Mengumpulkan harta disertai tiga macam ujian: ujian sebelum memperolehnya, ketika telah mendapatkannya, dan setelah berpisah dengannya.Adapun ujian pertama adalah berbagai kepayahan, kesusahan, dan rasa sakit yang harus dilalui untuk memperolehnya.Adapun ujian kedua adalah kesulitan menjaga dan mengamankannya serta keterikatan hati kepadanya. Ia memasuki pagi dalam keadaan memikirkan hartanya dan memasuki sore dalam keadaan disibukkan olehnya.”Kemudian Ibnul Qayyim menjelaskan ujian setelah harta itu pergi:وَالنَّوْعُ الثَّالِثُ مِنْ آفَاتِ الْغِنَى: مَا يَحْصُلُ لِلْعَبْدِ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ، مِنْ تَعَلُّقِ قَلْبِهِ بِهِ، وَكَوْنِهِ قَدْ حِيلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، وَالْمُطَالَبَةِ بِحُقُوقِهِ، وَالْمُحَاسَبَةِ عَلَى مَقْبُوضِهِ وَمَصْرُوفِهِ: مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِي مَاذَا أَنْفَقَهُ؟“Adapun jenis ketiga dari ujian kekayaan adalah apa yang menimpa seorang hamba setelah ia berpisah dari hartanya: hatinya masih terpaut kepadanya padahal ia telah terhalang darinya. Kemudian ia akan dituntut mengenai hak-hak hartanya serta dihisab atas apa yang ia terima dan apa yang ia keluarkan:Dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya?”Bahasan ini terdapat pada poin ke-33, “Ilmu Membahagiakan, Harta Melelahkan: Sebelum, Saat, dan Setelahnya”.Inilah dua pertanyaan besar tentang harta:Dari mana datangnya? Ke mana perginya?Kita sering sibuk menghitung pemasukan dan pengeluaran untuk kepentingan laporan keuangan dunia. Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa ada laporan yang jauh lebih penting: laporan harta di hadapan Allah.Mungkin hartanya habis. Namun persoalannya belum selesai.Habis untuk apa? Harta yang Hanya Ditumpuk Bisa Berubah Menjadi BebanIbnul Qayyim rahimahullah memberikan kaidah lain:أَنَّ الْقَلْبَ مَلِكُ الْبَدَنِ، وَالْعِلْمَ زِينَتُهُ وَعُدَّتُهُ وَمَالُهُ، وَبِهِ قِوَامُ مُلْكِهِ، وَالْمَلِكُ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ عَدَدٍ وَعُدَّةٍ وَمَالٍ وَزِينَةٍ؛ فَالْعِلْمُ هُوَ مَرْكَبُهُ وَعُدَّتُهُ وَجَمَالُهُ.وَأَمَّا الْمَالُ، فَغَايَتُهُ أَنْ يَكُونَ زِينَةً وَجَمَالًا لِلْبَدَنِ إِذَا أَنْفَقَهُ فِي ذٰلِكَ، فَإِذَا خَزَنَهُ وَلَمْ يُنْفِقْهُ لَمْ يَكُنْ زِينَةً وَلَا جَمَالًا، بَلْ نَقْصًا وَوَبَالًا.“Hati adalah raja bagi tubuh. Ilmu merupakan perhiasan, perlengkapan, dan kekayaannya; dengannya kerajaan hati dapat tegak. Seorang raja pasti membutuhkan pasukan, perlengkapan, kekayaan, dan perhiasan. Maka ilmu adalah kendaraan, perlengkapan, sekaligus keindahannya.Adapun harta, puncak manfaatnya hanyalah menjadi perhiasan dan keindahan bagi badan apabila digunakan untuk itu. Jika ia hanya menyimpannya dan tidak menggunakannya, harta tersebut tidak lagi menjadi perhiasan dan keindahan, bahkan dapat berubah menjadi kekurangan dan beban.”Ini terdapat pada poin ke-39, “Ilmu adalah Bekal Hati, Harta Hanya Perhiasan Jika Dibelanjakan”.Tentu ini bukan celaan terhadap tabungan, dana darurat, investasi, atau perencanaan keuangan yang benar. Yang dicela adalah ketika fungsi harta berhenti pada menimbun demi menimbun, sementara berbagai hak dan kemanfaatannya tidak ditunaikan.Maka kaidahnya:Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban. Harta Seharusnya Membantu Kita PulangPuncak nasihat Ibnul Qayyim tentang masalah ini terdapat di akhir pembahasan. Beliau berkata:أَنَّ الْقَدْرَ الْمَقْصُودَ مِنَ الْمَالِ هُوَ مَا يَكْفِي الْعَبْدَ وَيُقِيمُهُ وَيَدْفَعُ ضَرُورَتَهُ حَتَّى يَتَمَكَّنَ مِنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ، وَمِنَ التَّزَوُّدِ لِسَفَرِهِ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا زَادَ عَلَى ذٰلِكَ شَغَلَهُ وَقَطَعَهُ عَنِ السَّفَرِ إِلَى رَبِّهِ وَعَنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ وَتَعْبِيَةِ زَادِهِ؛ فَكَانَ ضَرَرُهُ عَلَيْهِ أَكْثَرَ مِنْ مَصْلَحَتِهِ، وَكُلَّمَا ازْدَادَ غِنَاهُ بِهِ ازْدَادَ تَثَبُّطًا وَتَخَلُّفًا عَنِ التَّجَهُّزِ لِمَا أَمَامَهُ.وَأَمَّا الْعِلْمُ النَّافِعُ، فَكُلَّمَا ازْدَادَ مِنْهُ ازْدَادَ فِي تَعْبِيَةِ الزَّادِ، وَقَضَاءِ الْجِهَازِ، وَإِعْدَادِ عُدَّةِ الْمَسِيرِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ وَبِهِ الِاسْتِعَانَةُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِهِ.فَعُدَّةُ هٰذَا السَّفَرِ هُوَ الْعِلْمُ وَالْعَمَلُ، وَعُدَّةُ الْإِقَامَةِ جَمْعُ الْأَمْوَالِ وَالِادِّخَارُ، وَمَنْ أَرَادَ شَيْئًا هَيَّأَ لَهُ عُدَّتَهُ.“Kadar harta yang menjadi tujuan adalah harta yang mencukupi seorang hamba, menopang kehidupannya, dan memenuhi kebutuhannya sehingga ia mampu mempersiapkan perlengkapan serta bekal perjalanan menuju Rabb-nya ‘Azza wa Jalla.Apabila tambahan harta justru menyibukkannya, memutusnya dari perjalanan menuju Rabb-nya, serta menghalanginya mempersiapkan bekal perjalanan tersebut, mudarat harta itu baginya menjadi lebih besar daripada manfaatnya. Semakin bertambah kekayaannya, semakin ia tertahan dan terlambat dalam menyiapkan apa yang ada di hadapannya.Adapun ilmu yang bermanfaat, semakin bertambah ilmu seseorang, semakin bertambah pula persiapan bekalnya, perlengkapannya, dan kesiapan untuk perjalanan. Allah-lah yang memberi taufik. Kepada-Nya kita meminta pertolongan. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.Maka bekal perjalanan ini adalah ilmu dan amal. Adapun bekal orang yang hendak menetap adalah mengumpulkan serta menyimpan harta. Siapa yang menginginkan sesuatu, ia akan menyiapkan bekal untuk mendapatkannya.”Ini merupakan poin ke-40, “Ilmu adalah Bekal Pulang, Harta Bisa Jadi Penghalang”, sekaligus penutup dari 40 perbandingan ilmu dan harta dalam buku tersebut. Kalimat ini sangat dalam:Harta seharusnya membantu kita pulang kepada Allah. Kalau harta justru membuat kita lupa bahwa kita akan pulang, fungsi harta telah terbalik. Jadi, Hartamu Habis di Mana?Pertanyaan ini tidak hanya penting ketika uang hampir habis di akhir bulan. Pertanyaan ini jauh lebih besar karena semua harta memang pada akhirnya akan meninggalkan kita.Ada harta yang habis untuk makan. Ada yang habis untuk rumah, kendaraan, pendidikan, dan keluarga. Ada yang habis untuk kesenangan. Ada pula yang berubah menjadi sedekah, nafkah, ilmu, dakwah, bantuan kepada orang lain, dan amal yang kelak ditemukan kembali di akhirat.Maka bukan semata “berapa banyak yang habis?”, tetapi:“Untuk apa ia habis?”Harta yang dikeluarkan tidak selalu berarti hilang. Ada harta yang keluar dari rekening, tetapi justru sedang dipindahkan menjadi bekal menuju Allah.Sebaliknya, ada harta yang terus tersimpan dan bertambah secara angka, tetapi membuat pemiliknya semakin jauh dari tujuan kehidupannya. Sepuluh Kaidah Penting tentang HartaDari seluruh penjelasan Ibnul Qayyim di atas, kita dapat merangkum sepuluh kaidah untuk kehidupan:Harta adalah alat kehidupan; jangan menjadikan mengumpulkan harta sebagai tujuan kehidupan.Masalahnya bukan hanya berapa banyak harta yang kita miliki, tetapi apakah kita memiliki harta atau harta yang memiliki kita.Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.Jangan hanya tanyakan berapa hartamu; tanyakan ke mana hartamu membawamu.Cara menggunakan dan menampilkan harta dapat menjadi dakwah kepada akhirat atau dakwah kepada dunia.Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.Harta yang berada di tangan dapat dimanfaatkan; harta yang menguasai hati akan menuntut untuk terus dijaga.Harta mempunyai dua pertanyaan besar: dari mana datangnya dan ke mana perginya.Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban.Harta yang benar adalah harta yang membantu perjalanan menuju Allah, bukan yang membuat kita lupa bahwa kita akan pulang kepada-Nya. Nasihat TerakhirHari ini kita dimudahkan melihat saldo, aset, omzet, investasi, dan pertumbuhan kekayaan hanya dari layar ponsel, tetapi jangan sampai kita lupa melihat ke mana semua itu sedang membawa hati kita. Jangan menunggu harta benar-benar habis untuk bertanya ke mana ia pergi, karena yang lebih penting adalah memastikan ia pergi ke tempat yang Allah ridhai. Harta terbaik bukan sekadar yang banyak ditinggalkan kepada ahli waris, tetapi yang telah lebih dahulu dikirim menjadi bekal akhirat. Gunakan dunia untuk perjalanan pulang, jangan sampai perjalanan pulang terhenti karena terlalu sibuk mengumpulkan dunia.Semoga Allah memberi kita harta yang halal, cukup, diberkahi, dan membantu kita taat kepada-Nya. Di antara doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى، وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ، وَالْغِنَى.Allāhumma innī as’alukal-hudā, wat-tuqā, wal-‘afāfa, wal-ghinā.“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri dari perkara yang haram, dan kecukupan.” —– Jumat Pagi, 18 September 2026 @ PalembangPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhirat cinta dunia faedah dari Ibnul Qayyim harta ibnul qayyim infak keberkahan kekayaan nasihat ibnul qayyim nasihat islam rezeki sedekah

Teman Baik dan Teman Buruk Menurut Ibnul Qayyim

Siapa yang paling sering bersama kita hari ini bisa ikut menentukan siapa diri kita di kemudian hari. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa maksiat dapat membuat seseorang menjauh dari orang-orang baik, lalu semakin dekat dengan lingkungan keburukan, bahkan hingga setan menjadi qarīn yang selalu menyertainya. Karena itu, memilih teman bukan sekadar memilih siapa yang nyaman diajak bersama, tetapi memilih ke arah mana hidup dan akhirat kita akan dibawa.  Daftar Isi tutup 1. Maksiat Bisa Menjauhkan Kita dari Orang Baik 2. Ada Pertemanan yang Tidak Membawa Apa-Apa Selain Aib 3. Ketika Teman Buruk Membuat Keburukan Terasa Biasa 4. Dari Berpaling dari Petunjuk hingga Mendapat Qarīn 5. Teman yang Menyenangkan di Dunia Bisa Disesali di Akhirat 6. Bersama-Sama dalam Azab Tidak Lagi Menghibur 7. Kaidah Penting dalam Memilih Teman 8. Jangan Salah Memilih Teman Perjalanan  Pembahasan ini terutama dikembangkan dari poin “Maksiat Membuat Pelakunya Jauh dari Orang Baik” serta pembahasan tentang butanya hati dan qarīn dalam buku Dosa Itu Candu, yang merujuk pada Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’ karya Ibnul Qayyim.  Maksiat Bisa Menjauhkan Kita dari Orang BaikIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan salah satu dampak maksiat:الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَا سِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ.Artinya, “Ada rasa keterasingan yang muncul antara pelaku maksiat dengan manusia, terutama dengan orang-orang baik. Ia merasakan adanya jarak antara dirinya dengan mereka. Semakin kuat keterasingan tersebut, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari majelis mereka. Ia pun terhalang dari keberkahan mengambil manfaat dari mereka, dan semakin dekat kepada kelompok setan sebanding dengan jauhnya ia dari kelompok Ar-Rahman. Keterasingan ini terus menguat hingga dapat terjadi antara dirinya dengan istrinya, anaknya, kerabatnya, bahkan antara dirinya dengan dirinya sendiri. Akhirnya, engkau melihatnya merasa asing terhadap dirinya sendiri.” (Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 85). Perhatikan kalimat Ibnul Qayyim:وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ“Ia terhalang dari keberkahan mengambil manfaat dari mereka, dan semakin dekat kepada kelompok setan sebanding dengan jauhnya ia dari kelompok Ar-Rahman.”Ini menunjukkan bahwa dosa tidak berhenti pada rusaknya hubungan seorang hamba dengan Allah. Dosa dapat mengubah selera pergaulannya. Majelis orang baik mulai terasa berat, nasihat terasa mengganggu, sedangkan lingkungan yang dahulu ia hindari perlahan terasa nyaman.Karena itu, bila seseorang mulai tidak betah bersama orang-orang saleh, jangan tergesa-gesa menyalahkan mereka. Bisa jadi yang perlu diperiksa terlebih dahulu adalah keadaan hatinya sendiri. Ada Pertemanan yang Tidak Membawa Apa-Apa Selain AibDalam penjelasan lainnya, Ibnul Qayyim menyebut manusia yang tidak memiliki bashirah dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Beliau berkata:الْقِسْمُ الثَّانِي: عَكْسُ هَؤُلَاءِ، مَنْ لَا بَصِيرَةَ لَهُ فِي الدِّينِ، وَلَا قُوَّةَ عَلَى تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَهُمْ أَكْثَرُ هَذَا الْخَلْقِ، وَهُمُ الَّذِينَ رُؤْيَتُهُمْ قَذَى الْعُيُونِ وَحُمَّى الْأَرْوَاحِ وَسَقَمُ الْقُلُوبِ، يُضَيِّقُونَ الدِّيَارَ وَيُغْلُونَ الْأَسْعَارَ، وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ.“Golongan kedua adalah kebalikan dari mereka, yaitu orang yang tidak memiliki pandangan hati dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Mereka adalah kebanyakan manusia. Melihat mereka menjadi duri bagi mata, demam bagi jiwa, dan penyakit bagi hati. Mereka membuat tempat terasa sempit dan harga-harga menjadi mahal. Tidak ada yang diperoleh dari pergaulan dengan mereka selain aib dan cela.”Kalimat terakhirnya patut direnungkan:وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ“Tidak ada yang diperoleh dari pergaulan dengan mereka selain aib dan cela.”Artinya, tidak setiap kebersamaan layak dipertahankan hanya karena sudah lama saling mengenal. Kita perlu menilai hasil dari sebuah pertemanan: apakah ia menambah ilmu, iman, akhlak, dan amal, atau justru membuat dosa semakin ringan dan rasa malu semakin hilang. Ketika Teman Buruk Membuat Keburukan Terasa BiasaPengaruh teman sering tidak datang dalam bentuk ajakan terang-terangan, “Mari bermaksiat.” Pengaruh itu bisa jauh lebih halus. Sesuatu yang dahulu dianggap buruk terus dilihat, didengar, dibicarakan, dan ditertawakan bersama sampai akhirnya terasa biasa.Di sinilah bahayanya sebuah lingkungan. Bahaya teman buruk bukan hanya karena ia mengajak berbuat dosa, tetapi karena bersamanya dosa tidak lagi terasa sebagai dosa.Seseorang mungkin pada awalnya merasa bersalah ketika meninggalkan shalat, membuka aurat, melihat yang haram, membicarakan aib orang lain, atau melakukan kemaksiatan lainnya. Namun ketika lingkungan menganggap semuanya biasa, sensitivitas hati perlahan berkurang.Sebaliknya, duduk bersama orang yang menjaga agamanya membuat seseorang lebih sering mendengar nasihat, melihat teladan, dan merasa malu ketika hendak melanggar batas Allah. Pertemanan akhirnya menjadi salah satu benteng penjaga hati. Dari Berpaling dari Petunjuk hingga Mendapat QarīnAllah Ta‘ala berfirman,وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ۝ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ ۝ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ ۝ وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ“Barang siapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan menguasainya, maka jadilah setan itu teman yang selalu menyertainya. Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Hingga apabila ia datang kepada Kami, ia berkata, ‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka engkau adalah seburuk-buruk teman.’ Pada hari ini tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 36–39)Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ مَنْ عَشِيَ عَنْ ذِكْرِهِ، وَهُوَ كِتَابُهُ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى رَسُولِهِ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ، وَعَمِيَ عَنْهُ، وَعَشَتْ بَصِيرَتُهُ عَنْ فَهْمِهِ وَتَدَبُّرِهِ وَمَعْرِفَةِ مُرَادِ اللَّهِ مِنْهُ، قَيَّضَ اللَّهُ لَهُ شَيْطَانًا عُقُوبَةً لَهُ بِإِعْرَاضِهِ عَنْ كِتَابِهِ، فَهُوَ قَرِينُهُ الَّذِي لَا يُفَارِقُهُ فِي الْإِقَامَةِ وَلَا فِي الْمَسِيرِ، وَمَوْلَاهُ وَعَشِيرُهُ الَّذِي هُوَ بِئْسَ الْمَوْلَى وَبِئْسَ الْعَشِيرُ.“Allah Mahasuci memberitakan bahwa siapa yang berpaling dari mengingat-Nya—yaitu kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya—lalu berpaling darinya, buta darinya, dan pandangan hatinya tertutup dari memahami, mentadabburi, dan mengetahui maksud Allah darinya, maka Allah menugaskan setan kepadanya sebagai hukuman atas sikap berpaling dari kitab-Nya. Setan itulah qarīn-nya yang tidak pernah berpisah, baik ketika menetap maupun dalam perjalanan. Ia menjadi pelindung dan teman dekatnya; sungguh ia adalah seburuk-buruk pelindung dan seburuk-buruk teman.” Perhatikan urutannya. Seseorang berpaling dari petunjuk, lalu mendapat qarīn yang buruk. Qarīn tersebut kemudian semakin menghalanginya dari petunjuk, tetapi orang itu justru menyangka dirinya masih berada di jalan yang benar.Ini jauh lebih menakutkan daripada sekadar melakukan kesalahan. Ia salah, tetapi tidak lagi merasa salah. Teman yang Menyenangkan di Dunia Bisa Disesali di AkhiratIbnul Qayyim melanjutkan,ثُمَّ أَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَصُدُّ قَرِينَهُ وَوَلِيَّهُ عَنْ سَبِيلِهِ الْمُوَصِّلِ إِلَيْهِ وَإِلَى جَنَّتِهِ، وَيَحْسَبُ هَذَا الضَّالُّ الْمَصْدُودُ أَنَّهُ عَلَى طَرِيقِ هُدًى، حَتَّى إِذَا جَاءَ الْقَرِينَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ: ﴿يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ﴾ كُنْتَ لِي فِي الدُّنْيَا، أَضْلَلْتَنِي عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي، وَصَدَدْتَنِي عَنِ الْحَقِّ وَأَغْوَيْتَنِي حَتَّى هَلَكْتُ، وَبِئْسَ الْقَرِينُ أَنْتَ لِي الْيَوْمَ.“Kemudian Allah Mahasuci memberitakan bahwa setan menghalangi teman dekat dan pengikutnya dari jalan yang mengantarkan kepada Allah dan menuju surga-Nya. Namun orang sesat yang dihalangi itu menyangka bahwa dirinya berada di jalan petunjuk. Hingga ketika kedua teman dekat itu datang pada hari Kiamat, salah satunya berkata kepada yang lain, ‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Sungguh buruk engkau sebagai teman.’ Engkau dahulu menjadi temanku di dunia. Engkau menyesatkanku dari petunjuk setelah petunjuk itu datang kepadaku, menghalangiku dari kebenaran, dan menyesatkanku hingga aku binasa. Sungguh buruk engkau sebagai teman bagiku hari ini.” Di dunia mungkin ia berkata, “Dia teman paling seru.” Namun di akhirat ia berkata, “Seandainya jarak antara aku dan engkau sejauh timur dan barat.”Karena itu, ukuran teman bukan hanya seberapa banyak ia membuat kita tertawa, membantu urusan dunia, atau menemani saat kesepian. Pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah lama bersamanya, ke mana agama kita bergerak? Bersama-Sama dalam Azab Tidak Lagi MenghiburAda orang yang merasa ringan melakukan keburukan karena banyak orang melakukan hal yang sama. “Teman-teman saya juga begitu,” katanya. Kebersamaan itu seolah menjadi pembenaran.Ibnul Qayyim menerangkan,وَلَمَّا كَانَ الْمُصَابُ إِذَا شَارَكَهُ غَيْرُهُ فِي مُصِيبَةٍ، حَصَلَ لَهُ بِالتَّأَسِّي نَوْعُ تَخْفِيفٍ وَتَسْلِيَةٍ، أَخْبَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنَّ هَذَا غَيْرُ مَوْجُودٍ وَغَيْرُ حَاصِلٍ فِي حَقِّ الْمُشْتَرِكِينَ فِي الْعَذَابِ، وَأَنَّ الْقَرِينَ لَا يَجِدُ رَاحَةً وَلَا أَدْنَى فَرَحٍ بِعَذَابِ قَرِينِهِ مَعَهُ، وَإِنْ كَانَتِ الْمَصَائِبُ فِي الدُّنْيَا إِذَا عَمَّتْ صَارَتْ مَسْلَاةً.“Orang yang tertimpa musibah, apabila ada orang lain yang mengalami musibah bersamanya, biasanya mendapatkan sedikit keringanan dan hiburan karena ada orang lain yang bernasib sama. Namun Allah Mahasuci memberitakan bahwa hal ini tidak ada bagi orang-orang yang bersama-sama dalam azab. Seorang qarīn tidak memperoleh kenyamanan, bahkan tidak sedikit pun kegembiraan, karena qarīn-nya juga diazab bersamanya, meskipun musibah dunia apabila menimpa banyak orang biasanya menjadi penghibur.”Kemudian Ibnul Qayyim berkata,فَمَنَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذَا الْقَدْرَ مِنَ الرَّاحَةِ عَلَى أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ:﴿وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“Maka Allah Mahasuci meniadakan bentuk keringanan ini dari penghuni neraka. Allah berfirman, ‘Pada hari ini tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.’” (QS. Az-Zukhruf: 39). Betapa penting pelajaran ini. Banyaknya orang yang melakukan kesalahan tidak pernah mengubah kesalahan menjadi kebenaran. Dan banyaknya teman dalam sebuah maksiat tidak akan membuat akibat maksiat menjadi lebih ringan di akhirat. Kaidah Penting dalam Memilih TemanDari penjelasan Ibnul Qayyim di atas, ada beberapa kaidah kehidupan yang layak terus diingat:Temanmu hari ini bisa menjadi arah hidupmu esok hari. Pertemanan tidak hanya mengisi waktu, tetapi perlahan membentuk selera, kebiasaan, cara berpikir, dan pilihan hidup.Teman yang baik bukan hanya membuatmu nyaman bersamanya, tetapi membuatmu nyaman dalam ketaatan. Ukur pertemanan dari pengaruhnya terhadap hubungan kita dengan Allah.Jika nasihat mulai terasa mengganggu dan lingkungan maksiat justru terasa nyaman, periksalah hatimu.Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa maksiat dapat menimbulkan wahsyah terhadap ahlul-khair.Apa yang terus dilihat akan terasa biasa, dan siapa yang terus ditemani akan ikut membentuk diri. Karena itu, lingkungan dapat mengubah standar tentang apa yang dianggap baik dan buruk.Bahaya teman buruk bukan hanya karena ia mengajak berbuat dosa, tetapi karena bersamanya dosa tidak lagi terasa buruk. Ketika rasa bersalah menghilang, benteng hati mulai runtuh.Teman sejati bukan selalu yang membenarkan kita, tetapi yang membantu kita kembali kepada kebenaran.Nasihat yang tidak enak didengar terkadang jauh lebih berharga daripada pujian yang menjerumuskan.Jangan hanya menjauhi teman buruk; carilah lingkungan baik sebagai penggantinya. Kosongnya lingkungan baik mudah memberi ruang kepada lingkungan yang buruk.Jangan hanya bertanya siapa yang membuat kita tertawa, tetapi siapa yang menjaga kita agar tidak menangis di akhirat. Kenyamanan dunia bukan ukuran terakhir sebuah persahabatan.Sebelum mencari teman yang membawa kita kepada kebaikan, jadilah teman yang membawa orang lain kepada kebaikan. Tanyakan: setelah orang lain berteman dengan kita, apakah agamanya menjadi lebih baik?Pertemanan layak dipertahankan selama tidak mengorbankan agama. Tidak semua yang disebut loyalitas adalah kebaikan jika akhirnya membuat seseorang semakin jauh dari Allah.Maka satu pertanyaan sederhana bisa menjadi alat evaluasi pertemanan: “Setelah sering bersamanya, saya semakin mudah taat atau semakin mudah bermaksiat?”Jawabannya sering kali sudah cukup untuk menunjukkan apakah sebuah pertemanan perlu didekatkan, dibatasi, atau diperbaiki. Jangan Salah Memilih Teman PerjalananKita hidup pada masa ketika “teman” tidak lagi hanya orang yang duduk bersama secara fisik; apa yang terus kita ikuti, tonton, dengarkan, dan baca setiap hari juga dapat membentuk hati sebagaimana lingkungan pergaulan. Karena itu, jangan merasa aman hanya karena tidak mempunyai teman buruk di sekitar kita, sementara hati setiap hari ditemani konten yang membuat dosa terasa ringan. Teman yang baik akan membantu kita pulang kepada Allah ketika mulai jauh, sedangkan teman yang buruk bisa membuat kita merasa baik-baik saja ketika sebenarnya sedang tersesat. Jangan hanya mencari teman yang membuat kita tertawa di dunia; carilah teman yang tidak membuat kita menyesal di akhirat.Semoga Allah memberi kita teman-teman yang menjadi sebab bertambahnya iman dan ketaatan. Kita dapat berdoa:اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صُحْبَةَ الصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّالِحِينَ، وَأَعِذْنَا مِنْ قُرَنَاءِ السُّوءِ، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.Allāhummarzuqnā ṣuḥbataṣ-ṣāliḥīn, waj‘alnā minaṣ-ṣāliḥīn, wa a‘idznā min quranā’is-sū’, wahdinā subulas-salām.“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami persahabatan dengan orang-orang saleh, jadikanlah kami termasuk orang-orang saleh, lindungilah kami dari teman-teman yang buruk, dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan.” —- @ Soekarno Hatta, 17 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa hati hijrah ibnul qayyim maksiat nasihat islam pergaulan sahabat teman baik teman buruk

Teman Baik dan Teman Buruk Menurut Ibnul Qayyim

Siapa yang paling sering bersama kita hari ini bisa ikut menentukan siapa diri kita di kemudian hari. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa maksiat dapat membuat seseorang menjauh dari orang-orang baik, lalu semakin dekat dengan lingkungan keburukan, bahkan hingga setan menjadi qarīn yang selalu menyertainya. Karena itu, memilih teman bukan sekadar memilih siapa yang nyaman diajak bersama, tetapi memilih ke arah mana hidup dan akhirat kita akan dibawa.  Daftar Isi tutup 1. Maksiat Bisa Menjauhkan Kita dari Orang Baik 2. Ada Pertemanan yang Tidak Membawa Apa-Apa Selain Aib 3. Ketika Teman Buruk Membuat Keburukan Terasa Biasa 4. Dari Berpaling dari Petunjuk hingga Mendapat Qarīn 5. Teman yang Menyenangkan di Dunia Bisa Disesali di Akhirat 6. Bersama-Sama dalam Azab Tidak Lagi Menghibur 7. Kaidah Penting dalam Memilih Teman 8. Jangan Salah Memilih Teman Perjalanan  Pembahasan ini terutama dikembangkan dari poin “Maksiat Membuat Pelakunya Jauh dari Orang Baik” serta pembahasan tentang butanya hati dan qarīn dalam buku Dosa Itu Candu, yang merujuk pada Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’ karya Ibnul Qayyim.  Maksiat Bisa Menjauhkan Kita dari Orang BaikIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan salah satu dampak maksiat:الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَا سِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ.Artinya, “Ada rasa keterasingan yang muncul antara pelaku maksiat dengan manusia, terutama dengan orang-orang baik. Ia merasakan adanya jarak antara dirinya dengan mereka. Semakin kuat keterasingan tersebut, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari majelis mereka. Ia pun terhalang dari keberkahan mengambil manfaat dari mereka, dan semakin dekat kepada kelompok setan sebanding dengan jauhnya ia dari kelompok Ar-Rahman. Keterasingan ini terus menguat hingga dapat terjadi antara dirinya dengan istrinya, anaknya, kerabatnya, bahkan antara dirinya dengan dirinya sendiri. Akhirnya, engkau melihatnya merasa asing terhadap dirinya sendiri.” (Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 85). Perhatikan kalimat Ibnul Qayyim:وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ“Ia terhalang dari keberkahan mengambil manfaat dari mereka, dan semakin dekat kepada kelompok setan sebanding dengan jauhnya ia dari kelompok Ar-Rahman.”Ini menunjukkan bahwa dosa tidak berhenti pada rusaknya hubungan seorang hamba dengan Allah. Dosa dapat mengubah selera pergaulannya. Majelis orang baik mulai terasa berat, nasihat terasa mengganggu, sedangkan lingkungan yang dahulu ia hindari perlahan terasa nyaman.Karena itu, bila seseorang mulai tidak betah bersama orang-orang saleh, jangan tergesa-gesa menyalahkan mereka. Bisa jadi yang perlu diperiksa terlebih dahulu adalah keadaan hatinya sendiri. Ada Pertemanan yang Tidak Membawa Apa-Apa Selain AibDalam penjelasan lainnya, Ibnul Qayyim menyebut manusia yang tidak memiliki bashirah dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Beliau berkata:الْقِسْمُ الثَّانِي: عَكْسُ هَؤُلَاءِ، مَنْ لَا بَصِيرَةَ لَهُ فِي الدِّينِ، وَلَا قُوَّةَ عَلَى تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَهُمْ أَكْثَرُ هَذَا الْخَلْقِ، وَهُمُ الَّذِينَ رُؤْيَتُهُمْ قَذَى الْعُيُونِ وَحُمَّى الْأَرْوَاحِ وَسَقَمُ الْقُلُوبِ، يُضَيِّقُونَ الدِّيَارَ وَيُغْلُونَ الْأَسْعَارَ، وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ.“Golongan kedua adalah kebalikan dari mereka, yaitu orang yang tidak memiliki pandangan hati dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Mereka adalah kebanyakan manusia. Melihat mereka menjadi duri bagi mata, demam bagi jiwa, dan penyakit bagi hati. Mereka membuat tempat terasa sempit dan harga-harga menjadi mahal. Tidak ada yang diperoleh dari pergaulan dengan mereka selain aib dan cela.”Kalimat terakhirnya patut direnungkan:وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ“Tidak ada yang diperoleh dari pergaulan dengan mereka selain aib dan cela.”Artinya, tidak setiap kebersamaan layak dipertahankan hanya karena sudah lama saling mengenal. Kita perlu menilai hasil dari sebuah pertemanan: apakah ia menambah ilmu, iman, akhlak, dan amal, atau justru membuat dosa semakin ringan dan rasa malu semakin hilang. Ketika Teman Buruk Membuat Keburukan Terasa BiasaPengaruh teman sering tidak datang dalam bentuk ajakan terang-terangan, “Mari bermaksiat.” Pengaruh itu bisa jauh lebih halus. Sesuatu yang dahulu dianggap buruk terus dilihat, didengar, dibicarakan, dan ditertawakan bersama sampai akhirnya terasa biasa.Di sinilah bahayanya sebuah lingkungan. Bahaya teman buruk bukan hanya karena ia mengajak berbuat dosa, tetapi karena bersamanya dosa tidak lagi terasa sebagai dosa.Seseorang mungkin pada awalnya merasa bersalah ketika meninggalkan shalat, membuka aurat, melihat yang haram, membicarakan aib orang lain, atau melakukan kemaksiatan lainnya. Namun ketika lingkungan menganggap semuanya biasa, sensitivitas hati perlahan berkurang.Sebaliknya, duduk bersama orang yang menjaga agamanya membuat seseorang lebih sering mendengar nasihat, melihat teladan, dan merasa malu ketika hendak melanggar batas Allah. Pertemanan akhirnya menjadi salah satu benteng penjaga hati. Dari Berpaling dari Petunjuk hingga Mendapat QarīnAllah Ta‘ala berfirman,وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ۝ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ ۝ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ ۝ وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ“Barang siapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan menguasainya, maka jadilah setan itu teman yang selalu menyertainya. Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Hingga apabila ia datang kepada Kami, ia berkata, ‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka engkau adalah seburuk-buruk teman.’ Pada hari ini tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 36–39)Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ مَنْ عَشِيَ عَنْ ذِكْرِهِ، وَهُوَ كِتَابُهُ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى رَسُولِهِ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ، وَعَمِيَ عَنْهُ، وَعَشَتْ بَصِيرَتُهُ عَنْ فَهْمِهِ وَتَدَبُّرِهِ وَمَعْرِفَةِ مُرَادِ اللَّهِ مِنْهُ، قَيَّضَ اللَّهُ لَهُ شَيْطَانًا عُقُوبَةً لَهُ بِإِعْرَاضِهِ عَنْ كِتَابِهِ، فَهُوَ قَرِينُهُ الَّذِي لَا يُفَارِقُهُ فِي الْإِقَامَةِ وَلَا فِي الْمَسِيرِ، وَمَوْلَاهُ وَعَشِيرُهُ الَّذِي هُوَ بِئْسَ الْمَوْلَى وَبِئْسَ الْعَشِيرُ.“Allah Mahasuci memberitakan bahwa siapa yang berpaling dari mengingat-Nya—yaitu kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya—lalu berpaling darinya, buta darinya, dan pandangan hatinya tertutup dari memahami, mentadabburi, dan mengetahui maksud Allah darinya, maka Allah menugaskan setan kepadanya sebagai hukuman atas sikap berpaling dari kitab-Nya. Setan itulah qarīn-nya yang tidak pernah berpisah, baik ketika menetap maupun dalam perjalanan. Ia menjadi pelindung dan teman dekatnya; sungguh ia adalah seburuk-buruk pelindung dan seburuk-buruk teman.” Perhatikan urutannya. Seseorang berpaling dari petunjuk, lalu mendapat qarīn yang buruk. Qarīn tersebut kemudian semakin menghalanginya dari petunjuk, tetapi orang itu justru menyangka dirinya masih berada di jalan yang benar.Ini jauh lebih menakutkan daripada sekadar melakukan kesalahan. Ia salah, tetapi tidak lagi merasa salah. Teman yang Menyenangkan di Dunia Bisa Disesali di AkhiratIbnul Qayyim melanjutkan,ثُمَّ أَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَصُدُّ قَرِينَهُ وَوَلِيَّهُ عَنْ سَبِيلِهِ الْمُوَصِّلِ إِلَيْهِ وَإِلَى جَنَّتِهِ، وَيَحْسَبُ هَذَا الضَّالُّ الْمَصْدُودُ أَنَّهُ عَلَى طَرِيقِ هُدًى، حَتَّى إِذَا جَاءَ الْقَرِينَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ: ﴿يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ﴾ كُنْتَ لِي فِي الدُّنْيَا، أَضْلَلْتَنِي عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي، وَصَدَدْتَنِي عَنِ الْحَقِّ وَأَغْوَيْتَنِي حَتَّى هَلَكْتُ، وَبِئْسَ الْقَرِينُ أَنْتَ لِي الْيَوْمَ.“Kemudian Allah Mahasuci memberitakan bahwa setan menghalangi teman dekat dan pengikutnya dari jalan yang mengantarkan kepada Allah dan menuju surga-Nya. Namun orang sesat yang dihalangi itu menyangka bahwa dirinya berada di jalan petunjuk. Hingga ketika kedua teman dekat itu datang pada hari Kiamat, salah satunya berkata kepada yang lain, ‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Sungguh buruk engkau sebagai teman.’ Engkau dahulu menjadi temanku di dunia. Engkau menyesatkanku dari petunjuk setelah petunjuk itu datang kepadaku, menghalangiku dari kebenaran, dan menyesatkanku hingga aku binasa. Sungguh buruk engkau sebagai teman bagiku hari ini.” Di dunia mungkin ia berkata, “Dia teman paling seru.” Namun di akhirat ia berkata, “Seandainya jarak antara aku dan engkau sejauh timur dan barat.”Karena itu, ukuran teman bukan hanya seberapa banyak ia membuat kita tertawa, membantu urusan dunia, atau menemani saat kesepian. Pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah lama bersamanya, ke mana agama kita bergerak? Bersama-Sama dalam Azab Tidak Lagi MenghiburAda orang yang merasa ringan melakukan keburukan karena banyak orang melakukan hal yang sama. “Teman-teman saya juga begitu,” katanya. Kebersamaan itu seolah menjadi pembenaran.Ibnul Qayyim menerangkan,وَلَمَّا كَانَ الْمُصَابُ إِذَا شَارَكَهُ غَيْرُهُ فِي مُصِيبَةٍ، حَصَلَ لَهُ بِالتَّأَسِّي نَوْعُ تَخْفِيفٍ وَتَسْلِيَةٍ، أَخْبَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنَّ هَذَا غَيْرُ مَوْجُودٍ وَغَيْرُ حَاصِلٍ فِي حَقِّ الْمُشْتَرِكِينَ فِي الْعَذَابِ، وَأَنَّ الْقَرِينَ لَا يَجِدُ رَاحَةً وَلَا أَدْنَى فَرَحٍ بِعَذَابِ قَرِينِهِ مَعَهُ، وَإِنْ كَانَتِ الْمَصَائِبُ فِي الدُّنْيَا إِذَا عَمَّتْ صَارَتْ مَسْلَاةً.“Orang yang tertimpa musibah, apabila ada orang lain yang mengalami musibah bersamanya, biasanya mendapatkan sedikit keringanan dan hiburan karena ada orang lain yang bernasib sama. Namun Allah Mahasuci memberitakan bahwa hal ini tidak ada bagi orang-orang yang bersama-sama dalam azab. Seorang qarīn tidak memperoleh kenyamanan, bahkan tidak sedikit pun kegembiraan, karena qarīn-nya juga diazab bersamanya, meskipun musibah dunia apabila menimpa banyak orang biasanya menjadi penghibur.”Kemudian Ibnul Qayyim berkata,فَمَنَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذَا الْقَدْرَ مِنَ الرَّاحَةِ عَلَى أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ:﴿وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“Maka Allah Mahasuci meniadakan bentuk keringanan ini dari penghuni neraka. Allah berfirman, ‘Pada hari ini tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.’” (QS. Az-Zukhruf: 39). Betapa penting pelajaran ini. Banyaknya orang yang melakukan kesalahan tidak pernah mengubah kesalahan menjadi kebenaran. Dan banyaknya teman dalam sebuah maksiat tidak akan membuat akibat maksiat menjadi lebih ringan di akhirat. Kaidah Penting dalam Memilih TemanDari penjelasan Ibnul Qayyim di atas, ada beberapa kaidah kehidupan yang layak terus diingat:Temanmu hari ini bisa menjadi arah hidupmu esok hari. Pertemanan tidak hanya mengisi waktu, tetapi perlahan membentuk selera, kebiasaan, cara berpikir, dan pilihan hidup.Teman yang baik bukan hanya membuatmu nyaman bersamanya, tetapi membuatmu nyaman dalam ketaatan. Ukur pertemanan dari pengaruhnya terhadap hubungan kita dengan Allah.Jika nasihat mulai terasa mengganggu dan lingkungan maksiat justru terasa nyaman, periksalah hatimu.Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa maksiat dapat menimbulkan wahsyah terhadap ahlul-khair.Apa yang terus dilihat akan terasa biasa, dan siapa yang terus ditemani akan ikut membentuk diri. Karena itu, lingkungan dapat mengubah standar tentang apa yang dianggap baik dan buruk.Bahaya teman buruk bukan hanya karena ia mengajak berbuat dosa, tetapi karena bersamanya dosa tidak lagi terasa buruk. Ketika rasa bersalah menghilang, benteng hati mulai runtuh.Teman sejati bukan selalu yang membenarkan kita, tetapi yang membantu kita kembali kepada kebenaran.Nasihat yang tidak enak didengar terkadang jauh lebih berharga daripada pujian yang menjerumuskan.Jangan hanya menjauhi teman buruk; carilah lingkungan baik sebagai penggantinya. Kosongnya lingkungan baik mudah memberi ruang kepada lingkungan yang buruk.Jangan hanya bertanya siapa yang membuat kita tertawa, tetapi siapa yang menjaga kita agar tidak menangis di akhirat. Kenyamanan dunia bukan ukuran terakhir sebuah persahabatan.Sebelum mencari teman yang membawa kita kepada kebaikan, jadilah teman yang membawa orang lain kepada kebaikan. Tanyakan: setelah orang lain berteman dengan kita, apakah agamanya menjadi lebih baik?Pertemanan layak dipertahankan selama tidak mengorbankan agama. Tidak semua yang disebut loyalitas adalah kebaikan jika akhirnya membuat seseorang semakin jauh dari Allah.Maka satu pertanyaan sederhana bisa menjadi alat evaluasi pertemanan: “Setelah sering bersamanya, saya semakin mudah taat atau semakin mudah bermaksiat?”Jawabannya sering kali sudah cukup untuk menunjukkan apakah sebuah pertemanan perlu didekatkan, dibatasi, atau diperbaiki. Jangan Salah Memilih Teman PerjalananKita hidup pada masa ketika “teman” tidak lagi hanya orang yang duduk bersama secara fisik; apa yang terus kita ikuti, tonton, dengarkan, dan baca setiap hari juga dapat membentuk hati sebagaimana lingkungan pergaulan. Karena itu, jangan merasa aman hanya karena tidak mempunyai teman buruk di sekitar kita, sementara hati setiap hari ditemani konten yang membuat dosa terasa ringan. Teman yang baik akan membantu kita pulang kepada Allah ketika mulai jauh, sedangkan teman yang buruk bisa membuat kita merasa baik-baik saja ketika sebenarnya sedang tersesat. Jangan hanya mencari teman yang membuat kita tertawa di dunia; carilah teman yang tidak membuat kita menyesal di akhirat.Semoga Allah memberi kita teman-teman yang menjadi sebab bertambahnya iman dan ketaatan. Kita dapat berdoa:اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صُحْبَةَ الصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّالِحِينَ، وَأَعِذْنَا مِنْ قُرَنَاءِ السُّوءِ، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.Allāhummarzuqnā ṣuḥbataṣ-ṣāliḥīn, waj‘alnā minaṣ-ṣāliḥīn, wa a‘idznā min quranā’is-sū’, wahdinā subulas-salām.“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami persahabatan dengan orang-orang saleh, jadikanlah kami termasuk orang-orang saleh, lindungilah kami dari teman-teman yang buruk, dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan.” —- @ Soekarno Hatta, 17 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa hati hijrah ibnul qayyim maksiat nasihat islam pergaulan sahabat teman baik teman buruk
Siapa yang paling sering bersama kita hari ini bisa ikut menentukan siapa diri kita di kemudian hari. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa maksiat dapat membuat seseorang menjauh dari orang-orang baik, lalu semakin dekat dengan lingkungan keburukan, bahkan hingga setan menjadi qarīn yang selalu menyertainya. Karena itu, memilih teman bukan sekadar memilih siapa yang nyaman diajak bersama, tetapi memilih ke arah mana hidup dan akhirat kita akan dibawa.  Daftar Isi tutup 1. Maksiat Bisa Menjauhkan Kita dari Orang Baik 2. Ada Pertemanan yang Tidak Membawa Apa-Apa Selain Aib 3. Ketika Teman Buruk Membuat Keburukan Terasa Biasa 4. Dari Berpaling dari Petunjuk hingga Mendapat Qarīn 5. Teman yang Menyenangkan di Dunia Bisa Disesali di Akhirat 6. Bersama-Sama dalam Azab Tidak Lagi Menghibur 7. Kaidah Penting dalam Memilih Teman 8. Jangan Salah Memilih Teman Perjalanan  Pembahasan ini terutama dikembangkan dari poin “Maksiat Membuat Pelakunya Jauh dari Orang Baik” serta pembahasan tentang butanya hati dan qarīn dalam buku Dosa Itu Candu, yang merujuk pada Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’ karya Ibnul Qayyim.  Maksiat Bisa Menjauhkan Kita dari Orang BaikIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan salah satu dampak maksiat:الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَا سِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ.Artinya, “Ada rasa keterasingan yang muncul antara pelaku maksiat dengan manusia, terutama dengan orang-orang baik. Ia merasakan adanya jarak antara dirinya dengan mereka. Semakin kuat keterasingan tersebut, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari majelis mereka. Ia pun terhalang dari keberkahan mengambil manfaat dari mereka, dan semakin dekat kepada kelompok setan sebanding dengan jauhnya ia dari kelompok Ar-Rahman. Keterasingan ini terus menguat hingga dapat terjadi antara dirinya dengan istrinya, anaknya, kerabatnya, bahkan antara dirinya dengan dirinya sendiri. Akhirnya, engkau melihatnya merasa asing terhadap dirinya sendiri.” (Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 85). Perhatikan kalimat Ibnul Qayyim:وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ“Ia terhalang dari keberkahan mengambil manfaat dari mereka, dan semakin dekat kepada kelompok setan sebanding dengan jauhnya ia dari kelompok Ar-Rahman.”Ini menunjukkan bahwa dosa tidak berhenti pada rusaknya hubungan seorang hamba dengan Allah. Dosa dapat mengubah selera pergaulannya. Majelis orang baik mulai terasa berat, nasihat terasa mengganggu, sedangkan lingkungan yang dahulu ia hindari perlahan terasa nyaman.Karena itu, bila seseorang mulai tidak betah bersama orang-orang saleh, jangan tergesa-gesa menyalahkan mereka. Bisa jadi yang perlu diperiksa terlebih dahulu adalah keadaan hatinya sendiri. Ada Pertemanan yang Tidak Membawa Apa-Apa Selain AibDalam penjelasan lainnya, Ibnul Qayyim menyebut manusia yang tidak memiliki bashirah dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Beliau berkata:الْقِسْمُ الثَّانِي: عَكْسُ هَؤُلَاءِ، مَنْ لَا بَصِيرَةَ لَهُ فِي الدِّينِ، وَلَا قُوَّةَ عَلَى تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَهُمْ أَكْثَرُ هَذَا الْخَلْقِ، وَهُمُ الَّذِينَ رُؤْيَتُهُمْ قَذَى الْعُيُونِ وَحُمَّى الْأَرْوَاحِ وَسَقَمُ الْقُلُوبِ، يُضَيِّقُونَ الدِّيَارَ وَيُغْلُونَ الْأَسْعَارَ، وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ.“Golongan kedua adalah kebalikan dari mereka, yaitu orang yang tidak memiliki pandangan hati dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Mereka adalah kebanyakan manusia. Melihat mereka menjadi duri bagi mata, demam bagi jiwa, dan penyakit bagi hati. Mereka membuat tempat terasa sempit dan harga-harga menjadi mahal. Tidak ada yang diperoleh dari pergaulan dengan mereka selain aib dan cela.”Kalimat terakhirnya patut direnungkan:وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ“Tidak ada yang diperoleh dari pergaulan dengan mereka selain aib dan cela.”Artinya, tidak setiap kebersamaan layak dipertahankan hanya karena sudah lama saling mengenal. Kita perlu menilai hasil dari sebuah pertemanan: apakah ia menambah ilmu, iman, akhlak, dan amal, atau justru membuat dosa semakin ringan dan rasa malu semakin hilang. Ketika Teman Buruk Membuat Keburukan Terasa BiasaPengaruh teman sering tidak datang dalam bentuk ajakan terang-terangan, “Mari bermaksiat.” Pengaruh itu bisa jauh lebih halus. Sesuatu yang dahulu dianggap buruk terus dilihat, didengar, dibicarakan, dan ditertawakan bersama sampai akhirnya terasa biasa.Di sinilah bahayanya sebuah lingkungan. Bahaya teman buruk bukan hanya karena ia mengajak berbuat dosa, tetapi karena bersamanya dosa tidak lagi terasa sebagai dosa.Seseorang mungkin pada awalnya merasa bersalah ketika meninggalkan shalat, membuka aurat, melihat yang haram, membicarakan aib orang lain, atau melakukan kemaksiatan lainnya. Namun ketika lingkungan menganggap semuanya biasa, sensitivitas hati perlahan berkurang.Sebaliknya, duduk bersama orang yang menjaga agamanya membuat seseorang lebih sering mendengar nasihat, melihat teladan, dan merasa malu ketika hendak melanggar batas Allah. Pertemanan akhirnya menjadi salah satu benteng penjaga hati. Dari Berpaling dari Petunjuk hingga Mendapat QarīnAllah Ta‘ala berfirman,وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ۝ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ ۝ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ ۝ وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ“Barang siapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan menguasainya, maka jadilah setan itu teman yang selalu menyertainya. Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Hingga apabila ia datang kepada Kami, ia berkata, ‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka engkau adalah seburuk-buruk teman.’ Pada hari ini tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 36–39)Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ مَنْ عَشِيَ عَنْ ذِكْرِهِ، وَهُوَ كِتَابُهُ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى رَسُولِهِ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ، وَعَمِيَ عَنْهُ، وَعَشَتْ بَصِيرَتُهُ عَنْ فَهْمِهِ وَتَدَبُّرِهِ وَمَعْرِفَةِ مُرَادِ اللَّهِ مِنْهُ، قَيَّضَ اللَّهُ لَهُ شَيْطَانًا عُقُوبَةً لَهُ بِإِعْرَاضِهِ عَنْ كِتَابِهِ، فَهُوَ قَرِينُهُ الَّذِي لَا يُفَارِقُهُ فِي الْإِقَامَةِ وَلَا فِي الْمَسِيرِ، وَمَوْلَاهُ وَعَشِيرُهُ الَّذِي هُوَ بِئْسَ الْمَوْلَى وَبِئْسَ الْعَشِيرُ.“Allah Mahasuci memberitakan bahwa siapa yang berpaling dari mengingat-Nya—yaitu kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya—lalu berpaling darinya, buta darinya, dan pandangan hatinya tertutup dari memahami, mentadabburi, dan mengetahui maksud Allah darinya, maka Allah menugaskan setan kepadanya sebagai hukuman atas sikap berpaling dari kitab-Nya. Setan itulah qarīn-nya yang tidak pernah berpisah, baik ketika menetap maupun dalam perjalanan. Ia menjadi pelindung dan teman dekatnya; sungguh ia adalah seburuk-buruk pelindung dan seburuk-buruk teman.” Perhatikan urutannya. Seseorang berpaling dari petunjuk, lalu mendapat qarīn yang buruk. Qarīn tersebut kemudian semakin menghalanginya dari petunjuk, tetapi orang itu justru menyangka dirinya masih berada di jalan yang benar.Ini jauh lebih menakutkan daripada sekadar melakukan kesalahan. Ia salah, tetapi tidak lagi merasa salah. Teman yang Menyenangkan di Dunia Bisa Disesali di AkhiratIbnul Qayyim melanjutkan,ثُمَّ أَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَصُدُّ قَرِينَهُ وَوَلِيَّهُ عَنْ سَبِيلِهِ الْمُوَصِّلِ إِلَيْهِ وَإِلَى جَنَّتِهِ، وَيَحْسَبُ هَذَا الضَّالُّ الْمَصْدُودُ أَنَّهُ عَلَى طَرِيقِ هُدًى، حَتَّى إِذَا جَاءَ الْقَرِينَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ: ﴿يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ﴾ كُنْتَ لِي فِي الدُّنْيَا، أَضْلَلْتَنِي عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي، وَصَدَدْتَنِي عَنِ الْحَقِّ وَأَغْوَيْتَنِي حَتَّى هَلَكْتُ، وَبِئْسَ الْقَرِينُ أَنْتَ لِي الْيَوْمَ.“Kemudian Allah Mahasuci memberitakan bahwa setan menghalangi teman dekat dan pengikutnya dari jalan yang mengantarkan kepada Allah dan menuju surga-Nya. Namun orang sesat yang dihalangi itu menyangka bahwa dirinya berada di jalan petunjuk. Hingga ketika kedua teman dekat itu datang pada hari Kiamat, salah satunya berkata kepada yang lain, ‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Sungguh buruk engkau sebagai teman.’ Engkau dahulu menjadi temanku di dunia. Engkau menyesatkanku dari petunjuk setelah petunjuk itu datang kepadaku, menghalangiku dari kebenaran, dan menyesatkanku hingga aku binasa. Sungguh buruk engkau sebagai teman bagiku hari ini.” Di dunia mungkin ia berkata, “Dia teman paling seru.” Namun di akhirat ia berkata, “Seandainya jarak antara aku dan engkau sejauh timur dan barat.”Karena itu, ukuran teman bukan hanya seberapa banyak ia membuat kita tertawa, membantu urusan dunia, atau menemani saat kesepian. Pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah lama bersamanya, ke mana agama kita bergerak? Bersama-Sama dalam Azab Tidak Lagi MenghiburAda orang yang merasa ringan melakukan keburukan karena banyak orang melakukan hal yang sama. “Teman-teman saya juga begitu,” katanya. Kebersamaan itu seolah menjadi pembenaran.Ibnul Qayyim menerangkan,وَلَمَّا كَانَ الْمُصَابُ إِذَا شَارَكَهُ غَيْرُهُ فِي مُصِيبَةٍ، حَصَلَ لَهُ بِالتَّأَسِّي نَوْعُ تَخْفِيفٍ وَتَسْلِيَةٍ، أَخْبَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنَّ هَذَا غَيْرُ مَوْجُودٍ وَغَيْرُ حَاصِلٍ فِي حَقِّ الْمُشْتَرِكِينَ فِي الْعَذَابِ، وَأَنَّ الْقَرِينَ لَا يَجِدُ رَاحَةً وَلَا أَدْنَى فَرَحٍ بِعَذَابِ قَرِينِهِ مَعَهُ، وَإِنْ كَانَتِ الْمَصَائِبُ فِي الدُّنْيَا إِذَا عَمَّتْ صَارَتْ مَسْلَاةً.“Orang yang tertimpa musibah, apabila ada orang lain yang mengalami musibah bersamanya, biasanya mendapatkan sedikit keringanan dan hiburan karena ada orang lain yang bernasib sama. Namun Allah Mahasuci memberitakan bahwa hal ini tidak ada bagi orang-orang yang bersama-sama dalam azab. Seorang qarīn tidak memperoleh kenyamanan, bahkan tidak sedikit pun kegembiraan, karena qarīn-nya juga diazab bersamanya, meskipun musibah dunia apabila menimpa banyak orang biasanya menjadi penghibur.”Kemudian Ibnul Qayyim berkata,فَمَنَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذَا الْقَدْرَ مِنَ الرَّاحَةِ عَلَى أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ:﴿وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“Maka Allah Mahasuci meniadakan bentuk keringanan ini dari penghuni neraka. Allah berfirman, ‘Pada hari ini tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.’” (QS. Az-Zukhruf: 39). Betapa penting pelajaran ini. Banyaknya orang yang melakukan kesalahan tidak pernah mengubah kesalahan menjadi kebenaran. Dan banyaknya teman dalam sebuah maksiat tidak akan membuat akibat maksiat menjadi lebih ringan di akhirat. Kaidah Penting dalam Memilih TemanDari penjelasan Ibnul Qayyim di atas, ada beberapa kaidah kehidupan yang layak terus diingat:Temanmu hari ini bisa menjadi arah hidupmu esok hari. Pertemanan tidak hanya mengisi waktu, tetapi perlahan membentuk selera, kebiasaan, cara berpikir, dan pilihan hidup.Teman yang baik bukan hanya membuatmu nyaman bersamanya, tetapi membuatmu nyaman dalam ketaatan. Ukur pertemanan dari pengaruhnya terhadap hubungan kita dengan Allah.Jika nasihat mulai terasa mengganggu dan lingkungan maksiat justru terasa nyaman, periksalah hatimu.Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa maksiat dapat menimbulkan wahsyah terhadap ahlul-khair.Apa yang terus dilihat akan terasa biasa, dan siapa yang terus ditemani akan ikut membentuk diri. Karena itu, lingkungan dapat mengubah standar tentang apa yang dianggap baik dan buruk.Bahaya teman buruk bukan hanya karena ia mengajak berbuat dosa, tetapi karena bersamanya dosa tidak lagi terasa buruk. Ketika rasa bersalah menghilang, benteng hati mulai runtuh.Teman sejati bukan selalu yang membenarkan kita, tetapi yang membantu kita kembali kepada kebenaran.Nasihat yang tidak enak didengar terkadang jauh lebih berharga daripada pujian yang menjerumuskan.Jangan hanya menjauhi teman buruk; carilah lingkungan baik sebagai penggantinya. Kosongnya lingkungan baik mudah memberi ruang kepada lingkungan yang buruk.Jangan hanya bertanya siapa yang membuat kita tertawa, tetapi siapa yang menjaga kita agar tidak menangis di akhirat. Kenyamanan dunia bukan ukuran terakhir sebuah persahabatan.Sebelum mencari teman yang membawa kita kepada kebaikan, jadilah teman yang membawa orang lain kepada kebaikan. Tanyakan: setelah orang lain berteman dengan kita, apakah agamanya menjadi lebih baik?Pertemanan layak dipertahankan selama tidak mengorbankan agama. Tidak semua yang disebut loyalitas adalah kebaikan jika akhirnya membuat seseorang semakin jauh dari Allah.Maka satu pertanyaan sederhana bisa menjadi alat evaluasi pertemanan: “Setelah sering bersamanya, saya semakin mudah taat atau semakin mudah bermaksiat?”Jawabannya sering kali sudah cukup untuk menunjukkan apakah sebuah pertemanan perlu didekatkan, dibatasi, atau diperbaiki. Jangan Salah Memilih Teman PerjalananKita hidup pada masa ketika “teman” tidak lagi hanya orang yang duduk bersama secara fisik; apa yang terus kita ikuti, tonton, dengarkan, dan baca setiap hari juga dapat membentuk hati sebagaimana lingkungan pergaulan. Karena itu, jangan merasa aman hanya karena tidak mempunyai teman buruk di sekitar kita, sementara hati setiap hari ditemani konten yang membuat dosa terasa ringan. Teman yang baik akan membantu kita pulang kepada Allah ketika mulai jauh, sedangkan teman yang buruk bisa membuat kita merasa baik-baik saja ketika sebenarnya sedang tersesat. Jangan hanya mencari teman yang membuat kita tertawa di dunia; carilah teman yang tidak membuat kita menyesal di akhirat.Semoga Allah memberi kita teman-teman yang menjadi sebab bertambahnya iman dan ketaatan. Kita dapat berdoa:اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صُحْبَةَ الصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّالِحِينَ، وَأَعِذْنَا مِنْ قُرَنَاءِ السُّوءِ، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.Allāhummarzuqnā ṣuḥbataṣ-ṣāliḥīn, waj‘alnā minaṣ-ṣāliḥīn, wa a‘idznā min quranā’is-sū’, wahdinā subulas-salām.“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami persahabatan dengan orang-orang saleh, jadikanlah kami termasuk orang-orang saleh, lindungilah kami dari teman-teman yang buruk, dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan.” —- @ Soekarno Hatta, 17 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa hati hijrah ibnul qayyim maksiat nasihat islam pergaulan sahabat teman baik teman buruk


Siapa yang paling sering bersama kita hari ini bisa ikut menentukan siapa diri kita di kemudian hari. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa maksiat dapat membuat seseorang menjauh dari orang-orang baik, lalu semakin dekat dengan lingkungan keburukan, bahkan hingga setan menjadi qarīn yang selalu menyertainya. Karena itu, memilih teman bukan sekadar memilih siapa yang nyaman diajak bersama, tetapi memilih ke arah mana hidup dan akhirat kita akan dibawa.  Daftar Isi tutup 1. Maksiat Bisa Menjauhkan Kita dari Orang Baik 2. Ada Pertemanan yang Tidak Membawa Apa-Apa Selain Aib 3. Ketika Teman Buruk Membuat Keburukan Terasa Biasa 4. Dari Berpaling dari Petunjuk hingga Mendapat Qarīn 5. Teman yang Menyenangkan di Dunia Bisa Disesali di Akhirat 6. Bersama-Sama dalam Azab Tidak Lagi Menghibur 7. Kaidah Penting dalam Memilih Teman 8. Jangan Salah Memilih Teman Perjalanan  Pembahasan ini terutama dikembangkan dari poin “Maksiat Membuat Pelakunya Jauh dari Orang Baik” serta pembahasan tentang butanya hati dan qarīn dalam buku Dosa Itu Candu, yang merujuk pada Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’ karya Ibnul Qayyim.  Maksiat Bisa Menjauhkan Kita dari Orang BaikIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan salah satu dampak maksiat:الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَا سِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ.Artinya, “Ada rasa keterasingan yang muncul antara pelaku maksiat dengan manusia, terutama dengan orang-orang baik. Ia merasakan adanya jarak antara dirinya dengan mereka. Semakin kuat keterasingan tersebut, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari majelis mereka. Ia pun terhalang dari keberkahan mengambil manfaat dari mereka, dan semakin dekat kepada kelompok setan sebanding dengan jauhnya ia dari kelompok Ar-Rahman. Keterasingan ini terus menguat hingga dapat terjadi antara dirinya dengan istrinya, anaknya, kerabatnya, bahkan antara dirinya dengan dirinya sendiri. Akhirnya, engkau melihatnya merasa asing terhadap dirinya sendiri.” (Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 85). Perhatikan kalimat Ibnul Qayyim:وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ“Ia terhalang dari keberkahan mengambil manfaat dari mereka, dan semakin dekat kepada kelompok setan sebanding dengan jauhnya ia dari kelompok Ar-Rahman.”Ini menunjukkan bahwa dosa tidak berhenti pada rusaknya hubungan seorang hamba dengan Allah. Dosa dapat mengubah selera pergaulannya. Majelis orang baik mulai terasa berat, nasihat terasa mengganggu, sedangkan lingkungan yang dahulu ia hindari perlahan terasa nyaman.Karena itu, bila seseorang mulai tidak betah bersama orang-orang saleh, jangan tergesa-gesa menyalahkan mereka. Bisa jadi yang perlu diperiksa terlebih dahulu adalah keadaan hatinya sendiri. Ada Pertemanan yang Tidak Membawa Apa-Apa Selain AibDalam penjelasan lainnya, Ibnul Qayyim menyebut manusia yang tidak memiliki bashirah dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Beliau berkata:الْقِسْمُ الثَّانِي: عَكْسُ هَؤُلَاءِ، مَنْ لَا بَصِيرَةَ لَهُ فِي الدِّينِ، وَلَا قُوَّةَ عَلَى تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَهُمْ أَكْثَرُ هَذَا الْخَلْقِ، وَهُمُ الَّذِينَ رُؤْيَتُهُمْ قَذَى الْعُيُونِ وَحُمَّى الْأَرْوَاحِ وَسَقَمُ الْقُلُوبِ، يُضَيِّقُونَ الدِّيَارَ وَيُغْلُونَ الْأَسْعَارَ، وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ.“Golongan kedua adalah kebalikan dari mereka, yaitu orang yang tidak memiliki pandangan hati dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Mereka adalah kebanyakan manusia. Melihat mereka menjadi duri bagi mata, demam bagi jiwa, dan penyakit bagi hati. Mereka membuat tempat terasa sempit dan harga-harga menjadi mahal. Tidak ada yang diperoleh dari pergaulan dengan mereka selain aib dan cela.”Kalimat terakhirnya patut direnungkan:وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ“Tidak ada yang diperoleh dari pergaulan dengan mereka selain aib dan cela.”Artinya, tidak setiap kebersamaan layak dipertahankan hanya karena sudah lama saling mengenal. Kita perlu menilai hasil dari sebuah pertemanan: apakah ia menambah ilmu, iman, akhlak, dan amal, atau justru membuat dosa semakin ringan dan rasa malu semakin hilang. Ketika Teman Buruk Membuat Keburukan Terasa BiasaPengaruh teman sering tidak datang dalam bentuk ajakan terang-terangan, “Mari bermaksiat.” Pengaruh itu bisa jauh lebih halus. Sesuatu yang dahulu dianggap buruk terus dilihat, didengar, dibicarakan, dan ditertawakan bersama sampai akhirnya terasa biasa.Di sinilah bahayanya sebuah lingkungan. Bahaya teman buruk bukan hanya karena ia mengajak berbuat dosa, tetapi karena bersamanya dosa tidak lagi terasa sebagai dosa.Seseorang mungkin pada awalnya merasa bersalah ketika meninggalkan shalat, membuka aurat, melihat yang haram, membicarakan aib orang lain, atau melakukan kemaksiatan lainnya. Namun ketika lingkungan menganggap semuanya biasa, sensitivitas hati perlahan berkurang.Sebaliknya, duduk bersama orang yang menjaga agamanya membuat seseorang lebih sering mendengar nasihat, melihat teladan, dan merasa malu ketika hendak melanggar batas Allah. Pertemanan akhirnya menjadi salah satu benteng penjaga hati. Dari Berpaling dari Petunjuk hingga Mendapat QarīnAllah Ta‘ala berfirman,وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ۝ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ ۝ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ ۝ وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ“Barang siapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan menguasainya, maka jadilah setan itu teman yang selalu menyertainya. Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Hingga apabila ia datang kepada Kami, ia berkata, ‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka engkau adalah seburuk-buruk teman.’ Pada hari ini tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 36–39)Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ مَنْ عَشِيَ عَنْ ذِكْرِهِ، وَهُوَ كِتَابُهُ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى رَسُولِهِ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ، وَعَمِيَ عَنْهُ، وَعَشَتْ بَصِيرَتُهُ عَنْ فَهْمِهِ وَتَدَبُّرِهِ وَمَعْرِفَةِ مُرَادِ اللَّهِ مِنْهُ، قَيَّضَ اللَّهُ لَهُ شَيْطَانًا عُقُوبَةً لَهُ بِإِعْرَاضِهِ عَنْ كِتَابِهِ، فَهُوَ قَرِينُهُ الَّذِي لَا يُفَارِقُهُ فِي الْإِقَامَةِ وَلَا فِي الْمَسِيرِ، وَمَوْلَاهُ وَعَشِيرُهُ الَّذِي هُوَ بِئْسَ الْمَوْلَى وَبِئْسَ الْعَشِيرُ.“Allah Mahasuci memberitakan bahwa siapa yang berpaling dari mengingat-Nya—yaitu kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya—lalu berpaling darinya, buta darinya, dan pandangan hatinya tertutup dari memahami, mentadabburi, dan mengetahui maksud Allah darinya, maka Allah menugaskan setan kepadanya sebagai hukuman atas sikap berpaling dari kitab-Nya. Setan itulah qarīn-nya yang tidak pernah berpisah, baik ketika menetap maupun dalam perjalanan. Ia menjadi pelindung dan teman dekatnya; sungguh ia adalah seburuk-buruk pelindung dan seburuk-buruk teman.” Perhatikan urutannya. Seseorang berpaling dari petunjuk, lalu mendapat qarīn yang buruk. Qarīn tersebut kemudian semakin menghalanginya dari petunjuk, tetapi orang itu justru menyangka dirinya masih berada di jalan yang benar.Ini jauh lebih menakutkan daripada sekadar melakukan kesalahan. Ia salah, tetapi tidak lagi merasa salah. Teman yang Menyenangkan di Dunia Bisa Disesali di AkhiratIbnul Qayyim melanjutkan,ثُمَّ أَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَصُدُّ قَرِينَهُ وَوَلِيَّهُ عَنْ سَبِيلِهِ الْمُوَصِّلِ إِلَيْهِ وَإِلَى جَنَّتِهِ، وَيَحْسَبُ هَذَا الضَّالُّ الْمَصْدُودُ أَنَّهُ عَلَى طَرِيقِ هُدًى، حَتَّى إِذَا جَاءَ الْقَرِينَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ: ﴿يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ﴾ كُنْتَ لِي فِي الدُّنْيَا، أَضْلَلْتَنِي عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي، وَصَدَدْتَنِي عَنِ الْحَقِّ وَأَغْوَيْتَنِي حَتَّى هَلَكْتُ، وَبِئْسَ الْقَرِينُ أَنْتَ لِي الْيَوْمَ.“Kemudian Allah Mahasuci memberitakan bahwa setan menghalangi teman dekat dan pengikutnya dari jalan yang mengantarkan kepada Allah dan menuju surga-Nya. Namun orang sesat yang dihalangi itu menyangka bahwa dirinya berada di jalan petunjuk. Hingga ketika kedua teman dekat itu datang pada hari Kiamat, salah satunya berkata kepada yang lain, ‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Sungguh buruk engkau sebagai teman.’ Engkau dahulu menjadi temanku di dunia. Engkau menyesatkanku dari petunjuk setelah petunjuk itu datang kepadaku, menghalangiku dari kebenaran, dan menyesatkanku hingga aku binasa. Sungguh buruk engkau sebagai teman bagiku hari ini.” Di dunia mungkin ia berkata, “Dia teman paling seru.” Namun di akhirat ia berkata, “Seandainya jarak antara aku dan engkau sejauh timur dan barat.”Karena itu, ukuran teman bukan hanya seberapa banyak ia membuat kita tertawa, membantu urusan dunia, atau menemani saat kesepian. Pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah lama bersamanya, ke mana agama kita bergerak? Bersama-Sama dalam Azab Tidak Lagi MenghiburAda orang yang merasa ringan melakukan keburukan karena banyak orang melakukan hal yang sama. “Teman-teman saya juga begitu,” katanya. Kebersamaan itu seolah menjadi pembenaran.Ibnul Qayyim menerangkan,وَلَمَّا كَانَ الْمُصَابُ إِذَا شَارَكَهُ غَيْرُهُ فِي مُصِيبَةٍ، حَصَلَ لَهُ بِالتَّأَسِّي نَوْعُ تَخْفِيفٍ وَتَسْلِيَةٍ، أَخْبَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنَّ هَذَا غَيْرُ مَوْجُودٍ وَغَيْرُ حَاصِلٍ فِي حَقِّ الْمُشْتَرِكِينَ فِي الْعَذَابِ، وَأَنَّ الْقَرِينَ لَا يَجِدُ رَاحَةً وَلَا أَدْنَى فَرَحٍ بِعَذَابِ قَرِينِهِ مَعَهُ، وَإِنْ كَانَتِ الْمَصَائِبُ فِي الدُّنْيَا إِذَا عَمَّتْ صَارَتْ مَسْلَاةً.“Orang yang tertimpa musibah, apabila ada orang lain yang mengalami musibah bersamanya, biasanya mendapatkan sedikit keringanan dan hiburan karena ada orang lain yang bernasib sama. Namun Allah Mahasuci memberitakan bahwa hal ini tidak ada bagi orang-orang yang bersama-sama dalam azab. Seorang qarīn tidak memperoleh kenyamanan, bahkan tidak sedikit pun kegembiraan, karena qarīn-nya juga diazab bersamanya, meskipun musibah dunia apabila menimpa banyak orang biasanya menjadi penghibur.”Kemudian Ibnul Qayyim berkata,فَمَنَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذَا الْقَدْرَ مِنَ الرَّاحَةِ عَلَى أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ:﴿وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“Maka Allah Mahasuci meniadakan bentuk keringanan ini dari penghuni neraka. Allah berfirman, ‘Pada hari ini tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.’” (QS. Az-Zukhruf: 39). Betapa penting pelajaran ini. Banyaknya orang yang melakukan kesalahan tidak pernah mengubah kesalahan menjadi kebenaran. Dan banyaknya teman dalam sebuah maksiat tidak akan membuat akibat maksiat menjadi lebih ringan di akhirat. Kaidah Penting dalam Memilih TemanDari penjelasan Ibnul Qayyim di atas, ada beberapa kaidah kehidupan yang layak terus diingat:Temanmu hari ini bisa menjadi arah hidupmu esok hari. Pertemanan tidak hanya mengisi waktu, tetapi perlahan membentuk selera, kebiasaan, cara berpikir, dan pilihan hidup.Teman yang baik bukan hanya membuatmu nyaman bersamanya, tetapi membuatmu nyaman dalam ketaatan. Ukur pertemanan dari pengaruhnya terhadap hubungan kita dengan Allah.Jika nasihat mulai terasa mengganggu dan lingkungan maksiat justru terasa nyaman, periksalah hatimu.Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa maksiat dapat menimbulkan wahsyah terhadap ahlul-khair.Apa yang terus dilihat akan terasa biasa, dan siapa yang terus ditemani akan ikut membentuk diri. Karena itu, lingkungan dapat mengubah standar tentang apa yang dianggap baik dan buruk.Bahaya teman buruk bukan hanya karena ia mengajak berbuat dosa, tetapi karena bersamanya dosa tidak lagi terasa buruk. Ketika rasa bersalah menghilang, benteng hati mulai runtuh.Teman sejati bukan selalu yang membenarkan kita, tetapi yang membantu kita kembali kepada kebenaran.Nasihat yang tidak enak didengar terkadang jauh lebih berharga daripada pujian yang menjerumuskan.Jangan hanya menjauhi teman buruk; carilah lingkungan baik sebagai penggantinya. Kosongnya lingkungan baik mudah memberi ruang kepada lingkungan yang buruk.Jangan hanya bertanya siapa yang membuat kita tertawa, tetapi siapa yang menjaga kita agar tidak menangis di akhirat. Kenyamanan dunia bukan ukuran terakhir sebuah persahabatan.Sebelum mencari teman yang membawa kita kepada kebaikan, jadilah teman yang membawa orang lain kepada kebaikan. Tanyakan: setelah orang lain berteman dengan kita, apakah agamanya menjadi lebih baik?Pertemanan layak dipertahankan selama tidak mengorbankan agama. Tidak semua yang disebut loyalitas adalah kebaikan jika akhirnya membuat seseorang semakin jauh dari Allah.Maka satu pertanyaan sederhana bisa menjadi alat evaluasi pertemanan: “Setelah sering bersamanya, saya semakin mudah taat atau semakin mudah bermaksiat?”Jawabannya sering kali sudah cukup untuk menunjukkan apakah sebuah pertemanan perlu didekatkan, dibatasi, atau diperbaiki. Jangan Salah Memilih Teman PerjalananKita hidup pada masa ketika “teman” tidak lagi hanya orang yang duduk bersama secara fisik; apa yang terus kita ikuti, tonton, dengarkan, dan baca setiap hari juga dapat membentuk hati sebagaimana lingkungan pergaulan. Karena itu, jangan merasa aman hanya karena tidak mempunyai teman buruk di sekitar kita, sementara hati setiap hari ditemani konten yang membuat dosa terasa ringan. Teman yang baik akan membantu kita pulang kepada Allah ketika mulai jauh, sedangkan teman yang buruk bisa membuat kita merasa baik-baik saja ketika sebenarnya sedang tersesat. Jangan hanya mencari teman yang membuat kita tertawa di dunia; carilah teman yang tidak membuat kita menyesal di akhirat.Semoga Allah memberi kita teman-teman yang menjadi sebab bertambahnya iman dan ketaatan. Kita dapat berdoa:اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صُحْبَةَ الصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّالِحِينَ، وَأَعِذْنَا مِنْ قُرَنَاءِ السُّوءِ، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.Allāhummarzuqnā ṣuḥbataṣ-ṣāliḥīn, waj‘alnā minaṣ-ṣāliḥīn, wa a‘idznā min quranā’is-sū’, wahdinā subulas-salām.“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami persahabatan dengan orang-orang saleh, jadikanlah kami termasuk orang-orang saleh, lindungilah kami dari teman-teman yang buruk, dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan.” —- @ Soekarno Hatta, 17 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa hati hijrah ibnul qayyim maksiat nasihat islam pergaulan sahabat teman baik teman buruk

Abdullah bin Abi Umayyah: Penentang Islam yang Akhirnya Syahid

Ada orang yang bertahun-tahun menentang Islam, bahkan pernah menjadi sebab orang lain semakin jauh dari kalimat tauhid, tetapi Allah kemudian membalikkan hatinya. Itulah kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah radhiyallahu ‘anhu, seorang yang dahulu keras memusuhi Rasulullah ﷺ, lalu mendapatkan hidayah menjelang Fathu Makkah. Tidak lama setelah masuk Islam, ia membuktikan keimanannya hingga akhirnya gugur dalam Perang Thaif.  Daftar Isi tutup 1. Siapakah ‘Abdullah bin Abi Umayyah? 2. Bersama Abu Jahal menghalangi Abu Thalib dari kalimat tauhid 3. Hidayah datang menjelang Fathu Makkah 4. Bukan sekadar masuk Islam, tetapi keislamannya menjadi baik 5. Dari penghalang hidayah menjadi pejuang Islam 6. Baru masuk Islam, kemudian gugur di Thaif 7. Pelajaran dari kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah 8. Jangan pernah memvonis akhir seseorang 9. Referensi  Siapakah ‘Abdullah bin Abi Umayyah?Nama lengkapnya adalah ‘Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Amr bin Makhzum Al-Makhzumi.Ia merupakan saudara Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah ﷺ. Ibunya bernama ‘Atikah binti ‘Abdul Muththalib, salah seorang bibi Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, ‘Abdullah bin Abi Umayyah juga memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan Nabi ﷺ.Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah menyebut tentang dirinya,وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ شَدِيدًا عَلَى الْمُسْلِمِينَ مُخَالِفًا مُبْغِضًا“‘Abdullah bin Abi Umayyah dahulu bersikap sangat keras terhadap kaum muslimin, menentang, dan membenci mereka.”Ia bukan sekadar belum menerima Islam. Pada masa awal dakwah, penentangannya terhadap Rasulullah ﷺ tergolong keras.Pernah menuntut mukjizat sebagai alasan untuk tidak berimanPara ulama sirah menyebut bahwa ‘Abdullah bin Abi Umayyah termasuk orang yang menuntut berbagai perkara luar biasa kepada Rasulullah ﷺ. Ia dikaitkan dengan ucapan yang disebutkan dalam Surah Al-Isra’,وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا“Mereka berkata, ‘Kami tidak akan percaya kepadamu (Muhammad) sebelum engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami.’” (QS. Al-Isra’: 90)Permintaan itu berlanjut dalam ayat berikutnya hingga permintaan agar Nabi ﷺ naik ke langit dan membawa kitab yang dapat mereka baca.Adz-Dzahabi ketika membahas ‘Abdullah bin Abi Umayyah menyebut bahwa ia dahulu sangat keras terhadap kaum muslimin dan disebut sebagai orang yang mengucapkan tuntutan tersebut. Namun, kehidupannya ternyata tidak berakhir dalam keadaan seperti itu. Bersama Abu Jahal menghalangi Abu Thalib dari kalimat tauhidSalah satu bagian paling terkenal dari kehidupan ‘Abdullah bin Abi Umayyah terjadi ketika Abu Thalib berada di penghujung hidupnya.Rasulullah ﷺ mendatangi Abu Thalib dan mengajaknya mengucapkan kalimat tauhid. Beliau bersabda,يَا عَمِّ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Wahai pamanku, ucapkanlah, ‘Laa ilaaha illallah.’”Namun, ketika itu Abu Jahal dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berada di samping Abu Thalib. Keduanya berkata,يَا أَبَا طَالِبٍ، أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ؟“Wahai Abu Thalib, apakah engkau hendak meninggalkan agama ‘Abdul Muththalib?”Rasulullah ﷺ terus menawarkan kalimat tauhid kepada pamannya, sementara keduanya terus mengulangi perkataan tersebut. Hingga akhirnya Abu Thalib meninggal tetap berada di atas agama ‘Abdul Muththalib dan tidak mengucapkan laa ilaaha illallah.Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.Allah kemudian menurunkan,إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)Menariknya, ayat ini bukan hanya mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak mampu memberikan hidayah taufik kepada Abu Thalib. Kisah selanjutnya menunjukkan bahwa ‘Abdullah bin Abi Umayyah yang ketika itu justru menghalangi Abu Thalib dari Islam, kelak malah mendapatkan hidayah dari Allah. Hidayah datang menjelang Fathu MakkahBertahun-tahun berlalu.Pada tahun 8 Hijriah, Rasulullah ﷺ bersama para sahabat bergerak menuju Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah.Ketika itulah terjadi perubahan besar pada kehidupan ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Ia bersama Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib menemui Rasulullah ﷺ di Tsaniyyatul ‘Uqab, suatu tempat antara Makkah dan Madinah. Keduanya meminta izin bertemu Nabi ﷺ.Akan tetapi, Rasulullah ﷺ pada awalnya enggan menerima mereka. Sebab, keduanya memiliki sejarah panjang menyakiti beliau.Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha lalu berbicara kepada Rasulullah ﷺ mengenai keduanya. Ia mengingatkan hubungan kekerabatan mereka dengan Nabi ﷺ.Rasulullah ﷺ menjelaskan alasan keberatan beliau. Tentang ‘Abdullah bin Abi Umayyah, beliau mengingat perkataan keras yang dahulu pernah diucapkannya di Makkah.Namun, akhirnya Rasulullah ﷺ melunakkan hati dan menerima keduanya. Mereka pun masuk Islam. Riwayat ini dibawakan secara panjang oleh Ibnu Ishaq dan dinukil pula oleh Al-Baihaqi serta IslamQA.Karena itu, waktu masuk Islamnya ‘Abdullah bin Abi Umayyah dapat disebut dengan lebih tepat:Ia masuk Islam pada tahun 8 H, sesaat sebelum Fathu Makkah, ketika Rasulullah ﷺ sedang dalam perjalanan menuju Makkah.Sebagian kitab menyebut secara ringkas bahwa ia “masuk Islam pada hari Fathu Makkah”, sedangkan sumber sirah yang lebih terperinci menerangkan bahwa ia telah menemui Nabi ﷺ dalam perjalanan sebelum beliau memasuki Makkah. Islamweb juga menyebut,ثُمَّ أَسْلَمَ قَبْلَ فَتْحِ مَكَّةَ بِيَسِيرٍ، وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ“Kemudian ia masuk Islam tidak lama sebelum Fathu Makkah, dan keislamannya menjadi baik.” Bukan sekadar masuk Islam, tetapi keislamannya menjadi baikInilah bagian indah dari kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Para ulama tidak hanya mencatat bahwa ia masuk Islam, tetapi mengatakan,وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ“Dan keislamannya menjadi baik.”Setelah bertahun-tahun menjadi penentang Rasulullah ﷺ, ia tidak menjadikan masa lalunya sebagai alasan untuk berada di pinggir perjuangan. Ia justru hadir bersama Rasulullah ﷺ dalam peristiwa-peristiwa besar setelah keislamannya.Ia mengikuti Fathu Makkah, Perang Hunain, dan pengepungan Thaif.Inilah bukti bahwa taubat yang jujur bukan hanya meninggalkan masa lalu, tetapi juga memperbaiki masa depan. Dari penghalang hidayah menjadi pejuang IslamPerubahan ‘Abdullah bin Abi Umayyah benar-benar besar.Dahulu, ketika Abu Thalib hampir mengucapkan kalimat tauhid, ia berada di sisi Abu Jahal dan terus mengingatkan Abu Thalib kepada agama ‘Abdul Muththalib.Namun, beberapa tahun kemudian, orang yang sama berjalan bersama Rasulullah ﷺ sebagai seorang muslim.Dahulu ia menuntut mukjizat sebagai alasan untuk tidak beriman.Kemudian ia sendiri datang mencari Rasulullah ﷺ untuk menyatakan keimanannya.Dahulu ia termasuk orang yang keras terhadap kaum muslimin.Kemudian ia berperang bersama kaum muslimin.Hati manusia benar-benar berada di tangan Allah.Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ“Sesungguhnya seluruh hati anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman seperti satu hati. Allah membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.” (HR. Muslim, no. 2654)Karena itulah kita tidak boleh terlalu cepat berputus asa terhadap seseorang hanya karena hari ini ia masih jauh dari kebaikan. Baru masuk Islam, kemudian gugur di ThaifSetelah Fathu Makkah dan Perang Hunain, Rasulullah ﷺ bergerak menuju Thaif.‘Abdullah bin Abi Umayyah ikut bersama beliau.Dalam pengepungan Thaif, ia terkena lemparan anak panah. Luka tersebut menyebabkan kematiannya. Ibnu Hisyam memasukkan namanya di antara para sahabat Rasulullah ﷺ yang gugur pada peristiwa Thaif.Ibnu Hajar rahimahullah menyebut,وَاسْتُشْهِدَ عَبْدُ اللَّهِ بِالطَّائِفِ، أَصَابَهُ سَهْمٌ فَقَتَلَهُ“‘Abdullah gugur sebagai syahid di Thaif. Ia terkena anak panah yang menyebabkan kematiannya.” Betapa cepat perubahan itu terjadi.Pada awal tahun 8 H, ia masih memiliki masa lalu panjang dalam permusuhan terhadap Islam. Menjelang Fathu Makkah, Allah membuka hatinya. Kemudian ia menyaksikan Fathu Makkah, ikut dalam Hunain, dan tidak lama setelah itu gugur di Thaif.Yang menentukan bukan bagaimana seseorang memulai kehidupannya, tetapi bagaimana Allah memberinya taufik untuk menutup kehidupannya. Pelajaran dari kisah ‘Abdullah bin Abi UmayyahPertama, hidayah benar-benar milik Allah. Orang yang dahulu sangat keras memusuhi Islam dapat berubah menjadi pembela Islam.Kedua, jangan berputus asa dari hidayah seseorang. Jika melihat keluarga, sahabat, atau orang yang kita kenal masih jauh dari agama, teruslah mendoakan dan mendakwahinya dengan cara yang baik.Ketiga, masa lalu yang buruk tidak menghalangi seseorang untuk memiliki akhir kehidupan yang baik. Ketika seseorang benar-benar bertaubat, pintu kebaikan tetap terbuka baginya.Keempat, taubat sejati perlu dibuktikan dengan amal. ‘Abdullah bin Abi Umayyah tidak sekadar mengucapkan syahadat. Ia hadir bersama Rasulullah ﷺ di medan perjuangan.Kelima, jangan merasa aman dengan keadaan iman kita saat ini. Orang yang hari ini terlihat baik tetap membutuhkan taufik Allah sampai akhir hayat, sedangkan orang yang hari ini terlihat jauh dari kebaikan bisa saja Allah bukakan hatinya esok hari. Jangan pernah memvonis akhir seseorangKita sering menilai manusia hanya dari satu potongan perjalanan hidupnya. Ada orang yang kita kenal dengan masa lalunya, lalu kita merasa mustahil ia akan berubah. Kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah mengajarkan bahwa selama seseorang masih hidup, pintu hidayah dan taubat belum tertutup. Karena itu, teruslah meminta keteguhan untuk diri sendiri dan jangan berhenti berharap kebaikan untuk orang lain.Di antara doa yang sering dipanjatkan Rasulullah ﷺ adalah,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَYā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”Semoga Allah memberikan kepada kita hidayah, menjaga hati kita tetap istiqamah, memberikan hidayah kepada orang-orang yang kita cintai, dan menganugerahkan kepada kita husnul khatimah.Aamiin. ReferensiAl-Baihaqi. Dalā’il An-Nubuwwah, bab masuk Islamnya Abu Sufyan bin Al-Harits.Ibnu ‘Abdil Barr. Al-Istī‘āb fī Ma‘rifat Al-Ashāb, biografi ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. Fath Al-Bārī, Kitab Al-Maghazi, bab Perang Thaif.Ibnu Hisyam. As-Sīrah An-Nabawiyyah, para syuhada kaum muslimin pada Perang Thaif.IslamQA. (2020). Syarh hadits: “Adapun anak pamanku telah merusak kehormatanku, sedangkan anak bibiku adalah orang yang dahulu berkata kepadaku di Makkah …”IslamQA. (2023). Bagaimana hubungan Nabi ﷺ dengan pamannya Abu Thalib?Rumaysho.Com. Syarhus Sunnah: Belajar Akidah, Agar Selamat dari Pemahaman Sesat.Rumaysho.Com. Faedah Sirah Nabi: Wafatnya Abu Thalib.  —– Malam Jumat, 17 September 2026 @ PalembangPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAbdullah bin Abi Umayyah abu thalib fathu makkah hidayah husnul khatimah kisah sahabat Perang Thaif sirah nabi taubat Ummu Salamah

Abdullah bin Abi Umayyah: Penentang Islam yang Akhirnya Syahid

Ada orang yang bertahun-tahun menentang Islam, bahkan pernah menjadi sebab orang lain semakin jauh dari kalimat tauhid, tetapi Allah kemudian membalikkan hatinya. Itulah kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah radhiyallahu ‘anhu, seorang yang dahulu keras memusuhi Rasulullah ﷺ, lalu mendapatkan hidayah menjelang Fathu Makkah. Tidak lama setelah masuk Islam, ia membuktikan keimanannya hingga akhirnya gugur dalam Perang Thaif.  Daftar Isi tutup 1. Siapakah ‘Abdullah bin Abi Umayyah? 2. Bersama Abu Jahal menghalangi Abu Thalib dari kalimat tauhid 3. Hidayah datang menjelang Fathu Makkah 4. Bukan sekadar masuk Islam, tetapi keislamannya menjadi baik 5. Dari penghalang hidayah menjadi pejuang Islam 6. Baru masuk Islam, kemudian gugur di Thaif 7. Pelajaran dari kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah 8. Jangan pernah memvonis akhir seseorang 9. Referensi  Siapakah ‘Abdullah bin Abi Umayyah?Nama lengkapnya adalah ‘Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Amr bin Makhzum Al-Makhzumi.Ia merupakan saudara Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah ﷺ. Ibunya bernama ‘Atikah binti ‘Abdul Muththalib, salah seorang bibi Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, ‘Abdullah bin Abi Umayyah juga memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan Nabi ﷺ.Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah menyebut tentang dirinya,وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ شَدِيدًا عَلَى الْمُسْلِمِينَ مُخَالِفًا مُبْغِضًا“‘Abdullah bin Abi Umayyah dahulu bersikap sangat keras terhadap kaum muslimin, menentang, dan membenci mereka.”Ia bukan sekadar belum menerima Islam. Pada masa awal dakwah, penentangannya terhadap Rasulullah ﷺ tergolong keras.Pernah menuntut mukjizat sebagai alasan untuk tidak berimanPara ulama sirah menyebut bahwa ‘Abdullah bin Abi Umayyah termasuk orang yang menuntut berbagai perkara luar biasa kepada Rasulullah ﷺ. Ia dikaitkan dengan ucapan yang disebutkan dalam Surah Al-Isra’,وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا“Mereka berkata, ‘Kami tidak akan percaya kepadamu (Muhammad) sebelum engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami.’” (QS. Al-Isra’: 90)Permintaan itu berlanjut dalam ayat berikutnya hingga permintaan agar Nabi ﷺ naik ke langit dan membawa kitab yang dapat mereka baca.Adz-Dzahabi ketika membahas ‘Abdullah bin Abi Umayyah menyebut bahwa ia dahulu sangat keras terhadap kaum muslimin dan disebut sebagai orang yang mengucapkan tuntutan tersebut. Namun, kehidupannya ternyata tidak berakhir dalam keadaan seperti itu. Bersama Abu Jahal menghalangi Abu Thalib dari kalimat tauhidSalah satu bagian paling terkenal dari kehidupan ‘Abdullah bin Abi Umayyah terjadi ketika Abu Thalib berada di penghujung hidupnya.Rasulullah ﷺ mendatangi Abu Thalib dan mengajaknya mengucapkan kalimat tauhid. Beliau bersabda,يَا عَمِّ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Wahai pamanku, ucapkanlah, ‘Laa ilaaha illallah.’”Namun, ketika itu Abu Jahal dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berada di samping Abu Thalib. Keduanya berkata,يَا أَبَا طَالِبٍ، أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ؟“Wahai Abu Thalib, apakah engkau hendak meninggalkan agama ‘Abdul Muththalib?”Rasulullah ﷺ terus menawarkan kalimat tauhid kepada pamannya, sementara keduanya terus mengulangi perkataan tersebut. Hingga akhirnya Abu Thalib meninggal tetap berada di atas agama ‘Abdul Muththalib dan tidak mengucapkan laa ilaaha illallah.Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.Allah kemudian menurunkan,إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)Menariknya, ayat ini bukan hanya mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak mampu memberikan hidayah taufik kepada Abu Thalib. Kisah selanjutnya menunjukkan bahwa ‘Abdullah bin Abi Umayyah yang ketika itu justru menghalangi Abu Thalib dari Islam, kelak malah mendapatkan hidayah dari Allah. Hidayah datang menjelang Fathu MakkahBertahun-tahun berlalu.Pada tahun 8 Hijriah, Rasulullah ﷺ bersama para sahabat bergerak menuju Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah.Ketika itulah terjadi perubahan besar pada kehidupan ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Ia bersama Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib menemui Rasulullah ﷺ di Tsaniyyatul ‘Uqab, suatu tempat antara Makkah dan Madinah. Keduanya meminta izin bertemu Nabi ﷺ.Akan tetapi, Rasulullah ﷺ pada awalnya enggan menerima mereka. Sebab, keduanya memiliki sejarah panjang menyakiti beliau.Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha lalu berbicara kepada Rasulullah ﷺ mengenai keduanya. Ia mengingatkan hubungan kekerabatan mereka dengan Nabi ﷺ.Rasulullah ﷺ menjelaskan alasan keberatan beliau. Tentang ‘Abdullah bin Abi Umayyah, beliau mengingat perkataan keras yang dahulu pernah diucapkannya di Makkah.Namun, akhirnya Rasulullah ﷺ melunakkan hati dan menerima keduanya. Mereka pun masuk Islam. Riwayat ini dibawakan secara panjang oleh Ibnu Ishaq dan dinukil pula oleh Al-Baihaqi serta IslamQA.Karena itu, waktu masuk Islamnya ‘Abdullah bin Abi Umayyah dapat disebut dengan lebih tepat:Ia masuk Islam pada tahun 8 H, sesaat sebelum Fathu Makkah, ketika Rasulullah ﷺ sedang dalam perjalanan menuju Makkah.Sebagian kitab menyebut secara ringkas bahwa ia “masuk Islam pada hari Fathu Makkah”, sedangkan sumber sirah yang lebih terperinci menerangkan bahwa ia telah menemui Nabi ﷺ dalam perjalanan sebelum beliau memasuki Makkah. Islamweb juga menyebut,ثُمَّ أَسْلَمَ قَبْلَ فَتْحِ مَكَّةَ بِيَسِيرٍ، وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ“Kemudian ia masuk Islam tidak lama sebelum Fathu Makkah, dan keislamannya menjadi baik.” Bukan sekadar masuk Islam, tetapi keislamannya menjadi baikInilah bagian indah dari kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Para ulama tidak hanya mencatat bahwa ia masuk Islam, tetapi mengatakan,وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ“Dan keislamannya menjadi baik.”Setelah bertahun-tahun menjadi penentang Rasulullah ﷺ, ia tidak menjadikan masa lalunya sebagai alasan untuk berada di pinggir perjuangan. Ia justru hadir bersama Rasulullah ﷺ dalam peristiwa-peristiwa besar setelah keislamannya.Ia mengikuti Fathu Makkah, Perang Hunain, dan pengepungan Thaif.Inilah bukti bahwa taubat yang jujur bukan hanya meninggalkan masa lalu, tetapi juga memperbaiki masa depan. Dari penghalang hidayah menjadi pejuang IslamPerubahan ‘Abdullah bin Abi Umayyah benar-benar besar.Dahulu, ketika Abu Thalib hampir mengucapkan kalimat tauhid, ia berada di sisi Abu Jahal dan terus mengingatkan Abu Thalib kepada agama ‘Abdul Muththalib.Namun, beberapa tahun kemudian, orang yang sama berjalan bersama Rasulullah ﷺ sebagai seorang muslim.Dahulu ia menuntut mukjizat sebagai alasan untuk tidak beriman.Kemudian ia sendiri datang mencari Rasulullah ﷺ untuk menyatakan keimanannya.Dahulu ia termasuk orang yang keras terhadap kaum muslimin.Kemudian ia berperang bersama kaum muslimin.Hati manusia benar-benar berada di tangan Allah.Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ“Sesungguhnya seluruh hati anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman seperti satu hati. Allah membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.” (HR. Muslim, no. 2654)Karena itulah kita tidak boleh terlalu cepat berputus asa terhadap seseorang hanya karena hari ini ia masih jauh dari kebaikan. Baru masuk Islam, kemudian gugur di ThaifSetelah Fathu Makkah dan Perang Hunain, Rasulullah ﷺ bergerak menuju Thaif.‘Abdullah bin Abi Umayyah ikut bersama beliau.Dalam pengepungan Thaif, ia terkena lemparan anak panah. Luka tersebut menyebabkan kematiannya. Ibnu Hisyam memasukkan namanya di antara para sahabat Rasulullah ﷺ yang gugur pada peristiwa Thaif.Ibnu Hajar rahimahullah menyebut,وَاسْتُشْهِدَ عَبْدُ اللَّهِ بِالطَّائِفِ، أَصَابَهُ سَهْمٌ فَقَتَلَهُ“‘Abdullah gugur sebagai syahid di Thaif. Ia terkena anak panah yang menyebabkan kematiannya.” Betapa cepat perubahan itu terjadi.Pada awal tahun 8 H, ia masih memiliki masa lalu panjang dalam permusuhan terhadap Islam. Menjelang Fathu Makkah, Allah membuka hatinya. Kemudian ia menyaksikan Fathu Makkah, ikut dalam Hunain, dan tidak lama setelah itu gugur di Thaif.Yang menentukan bukan bagaimana seseorang memulai kehidupannya, tetapi bagaimana Allah memberinya taufik untuk menutup kehidupannya. Pelajaran dari kisah ‘Abdullah bin Abi UmayyahPertama, hidayah benar-benar milik Allah. Orang yang dahulu sangat keras memusuhi Islam dapat berubah menjadi pembela Islam.Kedua, jangan berputus asa dari hidayah seseorang. Jika melihat keluarga, sahabat, atau orang yang kita kenal masih jauh dari agama, teruslah mendoakan dan mendakwahinya dengan cara yang baik.Ketiga, masa lalu yang buruk tidak menghalangi seseorang untuk memiliki akhir kehidupan yang baik. Ketika seseorang benar-benar bertaubat, pintu kebaikan tetap terbuka baginya.Keempat, taubat sejati perlu dibuktikan dengan amal. ‘Abdullah bin Abi Umayyah tidak sekadar mengucapkan syahadat. Ia hadir bersama Rasulullah ﷺ di medan perjuangan.Kelima, jangan merasa aman dengan keadaan iman kita saat ini. Orang yang hari ini terlihat baik tetap membutuhkan taufik Allah sampai akhir hayat, sedangkan orang yang hari ini terlihat jauh dari kebaikan bisa saja Allah bukakan hatinya esok hari. Jangan pernah memvonis akhir seseorangKita sering menilai manusia hanya dari satu potongan perjalanan hidupnya. Ada orang yang kita kenal dengan masa lalunya, lalu kita merasa mustahil ia akan berubah. Kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah mengajarkan bahwa selama seseorang masih hidup, pintu hidayah dan taubat belum tertutup. Karena itu, teruslah meminta keteguhan untuk diri sendiri dan jangan berhenti berharap kebaikan untuk orang lain.Di antara doa yang sering dipanjatkan Rasulullah ﷺ adalah,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَYā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”Semoga Allah memberikan kepada kita hidayah, menjaga hati kita tetap istiqamah, memberikan hidayah kepada orang-orang yang kita cintai, dan menganugerahkan kepada kita husnul khatimah.Aamiin. ReferensiAl-Baihaqi. Dalā’il An-Nubuwwah, bab masuk Islamnya Abu Sufyan bin Al-Harits.Ibnu ‘Abdil Barr. Al-Istī‘āb fī Ma‘rifat Al-Ashāb, biografi ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. Fath Al-Bārī, Kitab Al-Maghazi, bab Perang Thaif.Ibnu Hisyam. As-Sīrah An-Nabawiyyah, para syuhada kaum muslimin pada Perang Thaif.IslamQA. (2020). Syarh hadits: “Adapun anak pamanku telah merusak kehormatanku, sedangkan anak bibiku adalah orang yang dahulu berkata kepadaku di Makkah …”IslamQA. (2023). Bagaimana hubungan Nabi ﷺ dengan pamannya Abu Thalib?Rumaysho.Com. Syarhus Sunnah: Belajar Akidah, Agar Selamat dari Pemahaman Sesat.Rumaysho.Com. Faedah Sirah Nabi: Wafatnya Abu Thalib.  —– Malam Jumat, 17 September 2026 @ PalembangPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAbdullah bin Abi Umayyah abu thalib fathu makkah hidayah husnul khatimah kisah sahabat Perang Thaif sirah nabi taubat Ummu Salamah
Ada orang yang bertahun-tahun menentang Islam, bahkan pernah menjadi sebab orang lain semakin jauh dari kalimat tauhid, tetapi Allah kemudian membalikkan hatinya. Itulah kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah radhiyallahu ‘anhu, seorang yang dahulu keras memusuhi Rasulullah ﷺ, lalu mendapatkan hidayah menjelang Fathu Makkah. Tidak lama setelah masuk Islam, ia membuktikan keimanannya hingga akhirnya gugur dalam Perang Thaif.  Daftar Isi tutup 1. Siapakah ‘Abdullah bin Abi Umayyah? 2. Bersama Abu Jahal menghalangi Abu Thalib dari kalimat tauhid 3. Hidayah datang menjelang Fathu Makkah 4. Bukan sekadar masuk Islam, tetapi keislamannya menjadi baik 5. Dari penghalang hidayah menjadi pejuang Islam 6. Baru masuk Islam, kemudian gugur di Thaif 7. Pelajaran dari kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah 8. Jangan pernah memvonis akhir seseorang 9. Referensi  Siapakah ‘Abdullah bin Abi Umayyah?Nama lengkapnya adalah ‘Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Amr bin Makhzum Al-Makhzumi.Ia merupakan saudara Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah ﷺ. Ibunya bernama ‘Atikah binti ‘Abdul Muththalib, salah seorang bibi Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, ‘Abdullah bin Abi Umayyah juga memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan Nabi ﷺ.Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah menyebut tentang dirinya,وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ شَدِيدًا عَلَى الْمُسْلِمِينَ مُخَالِفًا مُبْغِضًا“‘Abdullah bin Abi Umayyah dahulu bersikap sangat keras terhadap kaum muslimin, menentang, dan membenci mereka.”Ia bukan sekadar belum menerima Islam. Pada masa awal dakwah, penentangannya terhadap Rasulullah ﷺ tergolong keras.Pernah menuntut mukjizat sebagai alasan untuk tidak berimanPara ulama sirah menyebut bahwa ‘Abdullah bin Abi Umayyah termasuk orang yang menuntut berbagai perkara luar biasa kepada Rasulullah ﷺ. Ia dikaitkan dengan ucapan yang disebutkan dalam Surah Al-Isra’,وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا“Mereka berkata, ‘Kami tidak akan percaya kepadamu (Muhammad) sebelum engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami.’” (QS. Al-Isra’: 90)Permintaan itu berlanjut dalam ayat berikutnya hingga permintaan agar Nabi ﷺ naik ke langit dan membawa kitab yang dapat mereka baca.Adz-Dzahabi ketika membahas ‘Abdullah bin Abi Umayyah menyebut bahwa ia dahulu sangat keras terhadap kaum muslimin dan disebut sebagai orang yang mengucapkan tuntutan tersebut. Namun, kehidupannya ternyata tidak berakhir dalam keadaan seperti itu. Bersama Abu Jahal menghalangi Abu Thalib dari kalimat tauhidSalah satu bagian paling terkenal dari kehidupan ‘Abdullah bin Abi Umayyah terjadi ketika Abu Thalib berada di penghujung hidupnya.Rasulullah ﷺ mendatangi Abu Thalib dan mengajaknya mengucapkan kalimat tauhid. Beliau bersabda,يَا عَمِّ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Wahai pamanku, ucapkanlah, ‘Laa ilaaha illallah.’”Namun, ketika itu Abu Jahal dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berada di samping Abu Thalib. Keduanya berkata,يَا أَبَا طَالِبٍ، أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ؟“Wahai Abu Thalib, apakah engkau hendak meninggalkan agama ‘Abdul Muththalib?”Rasulullah ﷺ terus menawarkan kalimat tauhid kepada pamannya, sementara keduanya terus mengulangi perkataan tersebut. Hingga akhirnya Abu Thalib meninggal tetap berada di atas agama ‘Abdul Muththalib dan tidak mengucapkan laa ilaaha illallah.Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.Allah kemudian menurunkan,إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)Menariknya, ayat ini bukan hanya mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak mampu memberikan hidayah taufik kepada Abu Thalib. Kisah selanjutnya menunjukkan bahwa ‘Abdullah bin Abi Umayyah yang ketika itu justru menghalangi Abu Thalib dari Islam, kelak malah mendapatkan hidayah dari Allah. Hidayah datang menjelang Fathu MakkahBertahun-tahun berlalu.Pada tahun 8 Hijriah, Rasulullah ﷺ bersama para sahabat bergerak menuju Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah.Ketika itulah terjadi perubahan besar pada kehidupan ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Ia bersama Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib menemui Rasulullah ﷺ di Tsaniyyatul ‘Uqab, suatu tempat antara Makkah dan Madinah. Keduanya meminta izin bertemu Nabi ﷺ.Akan tetapi, Rasulullah ﷺ pada awalnya enggan menerima mereka. Sebab, keduanya memiliki sejarah panjang menyakiti beliau.Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha lalu berbicara kepada Rasulullah ﷺ mengenai keduanya. Ia mengingatkan hubungan kekerabatan mereka dengan Nabi ﷺ.Rasulullah ﷺ menjelaskan alasan keberatan beliau. Tentang ‘Abdullah bin Abi Umayyah, beliau mengingat perkataan keras yang dahulu pernah diucapkannya di Makkah.Namun, akhirnya Rasulullah ﷺ melunakkan hati dan menerima keduanya. Mereka pun masuk Islam. Riwayat ini dibawakan secara panjang oleh Ibnu Ishaq dan dinukil pula oleh Al-Baihaqi serta IslamQA.Karena itu, waktu masuk Islamnya ‘Abdullah bin Abi Umayyah dapat disebut dengan lebih tepat:Ia masuk Islam pada tahun 8 H, sesaat sebelum Fathu Makkah, ketika Rasulullah ﷺ sedang dalam perjalanan menuju Makkah.Sebagian kitab menyebut secara ringkas bahwa ia “masuk Islam pada hari Fathu Makkah”, sedangkan sumber sirah yang lebih terperinci menerangkan bahwa ia telah menemui Nabi ﷺ dalam perjalanan sebelum beliau memasuki Makkah. Islamweb juga menyebut,ثُمَّ أَسْلَمَ قَبْلَ فَتْحِ مَكَّةَ بِيَسِيرٍ، وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ“Kemudian ia masuk Islam tidak lama sebelum Fathu Makkah, dan keislamannya menjadi baik.” Bukan sekadar masuk Islam, tetapi keislamannya menjadi baikInilah bagian indah dari kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Para ulama tidak hanya mencatat bahwa ia masuk Islam, tetapi mengatakan,وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ“Dan keislamannya menjadi baik.”Setelah bertahun-tahun menjadi penentang Rasulullah ﷺ, ia tidak menjadikan masa lalunya sebagai alasan untuk berada di pinggir perjuangan. Ia justru hadir bersama Rasulullah ﷺ dalam peristiwa-peristiwa besar setelah keislamannya.Ia mengikuti Fathu Makkah, Perang Hunain, dan pengepungan Thaif.Inilah bukti bahwa taubat yang jujur bukan hanya meninggalkan masa lalu, tetapi juga memperbaiki masa depan. Dari penghalang hidayah menjadi pejuang IslamPerubahan ‘Abdullah bin Abi Umayyah benar-benar besar.Dahulu, ketika Abu Thalib hampir mengucapkan kalimat tauhid, ia berada di sisi Abu Jahal dan terus mengingatkan Abu Thalib kepada agama ‘Abdul Muththalib.Namun, beberapa tahun kemudian, orang yang sama berjalan bersama Rasulullah ﷺ sebagai seorang muslim.Dahulu ia menuntut mukjizat sebagai alasan untuk tidak beriman.Kemudian ia sendiri datang mencari Rasulullah ﷺ untuk menyatakan keimanannya.Dahulu ia termasuk orang yang keras terhadap kaum muslimin.Kemudian ia berperang bersama kaum muslimin.Hati manusia benar-benar berada di tangan Allah.Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ“Sesungguhnya seluruh hati anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman seperti satu hati. Allah membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.” (HR. Muslim, no. 2654)Karena itulah kita tidak boleh terlalu cepat berputus asa terhadap seseorang hanya karena hari ini ia masih jauh dari kebaikan. Baru masuk Islam, kemudian gugur di ThaifSetelah Fathu Makkah dan Perang Hunain, Rasulullah ﷺ bergerak menuju Thaif.‘Abdullah bin Abi Umayyah ikut bersama beliau.Dalam pengepungan Thaif, ia terkena lemparan anak panah. Luka tersebut menyebabkan kematiannya. Ibnu Hisyam memasukkan namanya di antara para sahabat Rasulullah ﷺ yang gugur pada peristiwa Thaif.Ibnu Hajar rahimahullah menyebut,وَاسْتُشْهِدَ عَبْدُ اللَّهِ بِالطَّائِفِ، أَصَابَهُ سَهْمٌ فَقَتَلَهُ“‘Abdullah gugur sebagai syahid di Thaif. Ia terkena anak panah yang menyebabkan kematiannya.” Betapa cepat perubahan itu terjadi.Pada awal tahun 8 H, ia masih memiliki masa lalu panjang dalam permusuhan terhadap Islam. Menjelang Fathu Makkah, Allah membuka hatinya. Kemudian ia menyaksikan Fathu Makkah, ikut dalam Hunain, dan tidak lama setelah itu gugur di Thaif.Yang menentukan bukan bagaimana seseorang memulai kehidupannya, tetapi bagaimana Allah memberinya taufik untuk menutup kehidupannya. Pelajaran dari kisah ‘Abdullah bin Abi UmayyahPertama, hidayah benar-benar milik Allah. Orang yang dahulu sangat keras memusuhi Islam dapat berubah menjadi pembela Islam.Kedua, jangan berputus asa dari hidayah seseorang. Jika melihat keluarga, sahabat, atau orang yang kita kenal masih jauh dari agama, teruslah mendoakan dan mendakwahinya dengan cara yang baik.Ketiga, masa lalu yang buruk tidak menghalangi seseorang untuk memiliki akhir kehidupan yang baik. Ketika seseorang benar-benar bertaubat, pintu kebaikan tetap terbuka baginya.Keempat, taubat sejati perlu dibuktikan dengan amal. ‘Abdullah bin Abi Umayyah tidak sekadar mengucapkan syahadat. Ia hadir bersama Rasulullah ﷺ di medan perjuangan.Kelima, jangan merasa aman dengan keadaan iman kita saat ini. Orang yang hari ini terlihat baik tetap membutuhkan taufik Allah sampai akhir hayat, sedangkan orang yang hari ini terlihat jauh dari kebaikan bisa saja Allah bukakan hatinya esok hari. Jangan pernah memvonis akhir seseorangKita sering menilai manusia hanya dari satu potongan perjalanan hidupnya. Ada orang yang kita kenal dengan masa lalunya, lalu kita merasa mustahil ia akan berubah. Kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah mengajarkan bahwa selama seseorang masih hidup, pintu hidayah dan taubat belum tertutup. Karena itu, teruslah meminta keteguhan untuk diri sendiri dan jangan berhenti berharap kebaikan untuk orang lain.Di antara doa yang sering dipanjatkan Rasulullah ﷺ adalah,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَYā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”Semoga Allah memberikan kepada kita hidayah, menjaga hati kita tetap istiqamah, memberikan hidayah kepada orang-orang yang kita cintai, dan menganugerahkan kepada kita husnul khatimah.Aamiin. ReferensiAl-Baihaqi. Dalā’il An-Nubuwwah, bab masuk Islamnya Abu Sufyan bin Al-Harits.Ibnu ‘Abdil Barr. Al-Istī‘āb fī Ma‘rifat Al-Ashāb, biografi ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. Fath Al-Bārī, Kitab Al-Maghazi, bab Perang Thaif.Ibnu Hisyam. As-Sīrah An-Nabawiyyah, para syuhada kaum muslimin pada Perang Thaif.IslamQA. (2020). Syarh hadits: “Adapun anak pamanku telah merusak kehormatanku, sedangkan anak bibiku adalah orang yang dahulu berkata kepadaku di Makkah …”IslamQA. (2023). Bagaimana hubungan Nabi ﷺ dengan pamannya Abu Thalib?Rumaysho.Com. Syarhus Sunnah: Belajar Akidah, Agar Selamat dari Pemahaman Sesat.Rumaysho.Com. Faedah Sirah Nabi: Wafatnya Abu Thalib.  —– Malam Jumat, 17 September 2026 @ PalembangPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAbdullah bin Abi Umayyah abu thalib fathu makkah hidayah husnul khatimah kisah sahabat Perang Thaif sirah nabi taubat Ummu Salamah


Ada orang yang bertahun-tahun menentang Islam, bahkan pernah menjadi sebab orang lain semakin jauh dari kalimat tauhid, tetapi Allah kemudian membalikkan hatinya. Itulah kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah radhiyallahu ‘anhu, seorang yang dahulu keras memusuhi Rasulullah ﷺ, lalu mendapatkan hidayah menjelang Fathu Makkah. Tidak lama setelah masuk Islam, ia membuktikan keimanannya hingga akhirnya gugur dalam Perang Thaif.  Daftar Isi tutup 1. Siapakah ‘Abdullah bin Abi Umayyah? 2. Bersama Abu Jahal menghalangi Abu Thalib dari kalimat tauhid 3. Hidayah datang menjelang Fathu Makkah 4. Bukan sekadar masuk Islam, tetapi keislamannya menjadi baik 5. Dari penghalang hidayah menjadi pejuang Islam 6. Baru masuk Islam, kemudian gugur di Thaif 7. Pelajaran dari kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah 8. Jangan pernah memvonis akhir seseorang 9. Referensi  Siapakah ‘Abdullah bin Abi Umayyah?Nama lengkapnya adalah ‘Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Amr bin Makhzum Al-Makhzumi.Ia merupakan saudara Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah ﷺ. Ibunya bernama ‘Atikah binti ‘Abdul Muththalib, salah seorang bibi Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, ‘Abdullah bin Abi Umayyah juga memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan Nabi ﷺ.Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah menyebut tentang dirinya,وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ شَدِيدًا عَلَى الْمُسْلِمِينَ مُخَالِفًا مُبْغِضًا“‘Abdullah bin Abi Umayyah dahulu bersikap sangat keras terhadap kaum muslimin, menentang, dan membenci mereka.”Ia bukan sekadar belum menerima Islam. Pada masa awal dakwah, penentangannya terhadap Rasulullah ﷺ tergolong keras.Pernah menuntut mukjizat sebagai alasan untuk tidak berimanPara ulama sirah menyebut bahwa ‘Abdullah bin Abi Umayyah termasuk orang yang menuntut berbagai perkara luar biasa kepada Rasulullah ﷺ. Ia dikaitkan dengan ucapan yang disebutkan dalam Surah Al-Isra’,وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا“Mereka berkata, ‘Kami tidak akan percaya kepadamu (Muhammad) sebelum engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami.’” (QS. Al-Isra’: 90)Permintaan itu berlanjut dalam ayat berikutnya hingga permintaan agar Nabi ﷺ naik ke langit dan membawa kitab yang dapat mereka baca.Adz-Dzahabi ketika membahas ‘Abdullah bin Abi Umayyah menyebut bahwa ia dahulu sangat keras terhadap kaum muslimin dan disebut sebagai orang yang mengucapkan tuntutan tersebut. Namun, kehidupannya ternyata tidak berakhir dalam keadaan seperti itu. Bersama Abu Jahal menghalangi Abu Thalib dari kalimat tauhidSalah satu bagian paling terkenal dari kehidupan ‘Abdullah bin Abi Umayyah terjadi ketika Abu Thalib berada di penghujung hidupnya.Rasulullah ﷺ mendatangi Abu Thalib dan mengajaknya mengucapkan kalimat tauhid. Beliau bersabda,يَا عَمِّ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Wahai pamanku, ucapkanlah, ‘Laa ilaaha illallah.’”Namun, ketika itu Abu Jahal dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berada di samping Abu Thalib. Keduanya berkata,يَا أَبَا طَالِبٍ، أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ؟“Wahai Abu Thalib, apakah engkau hendak meninggalkan agama ‘Abdul Muththalib?”Rasulullah ﷺ terus menawarkan kalimat tauhid kepada pamannya, sementara keduanya terus mengulangi perkataan tersebut. Hingga akhirnya Abu Thalib meninggal tetap berada di atas agama ‘Abdul Muththalib dan tidak mengucapkan laa ilaaha illallah.Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.Allah kemudian menurunkan,إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)Menariknya, ayat ini bukan hanya mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak mampu memberikan hidayah taufik kepada Abu Thalib. Kisah selanjutnya menunjukkan bahwa ‘Abdullah bin Abi Umayyah yang ketika itu justru menghalangi Abu Thalib dari Islam, kelak malah mendapatkan hidayah dari Allah. Hidayah datang menjelang Fathu MakkahBertahun-tahun berlalu.Pada tahun 8 Hijriah, Rasulullah ﷺ bersama para sahabat bergerak menuju Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah.Ketika itulah terjadi perubahan besar pada kehidupan ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Ia bersama Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib menemui Rasulullah ﷺ di Tsaniyyatul ‘Uqab, suatu tempat antara Makkah dan Madinah. Keduanya meminta izin bertemu Nabi ﷺ.Akan tetapi, Rasulullah ﷺ pada awalnya enggan menerima mereka. Sebab, keduanya memiliki sejarah panjang menyakiti beliau.Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha lalu berbicara kepada Rasulullah ﷺ mengenai keduanya. Ia mengingatkan hubungan kekerabatan mereka dengan Nabi ﷺ.Rasulullah ﷺ menjelaskan alasan keberatan beliau. Tentang ‘Abdullah bin Abi Umayyah, beliau mengingat perkataan keras yang dahulu pernah diucapkannya di Makkah.Namun, akhirnya Rasulullah ﷺ melunakkan hati dan menerima keduanya. Mereka pun masuk Islam. Riwayat ini dibawakan secara panjang oleh Ibnu Ishaq dan dinukil pula oleh Al-Baihaqi serta IslamQA.Karena itu, waktu masuk Islamnya ‘Abdullah bin Abi Umayyah dapat disebut dengan lebih tepat:Ia masuk Islam pada tahun 8 H, sesaat sebelum Fathu Makkah, ketika Rasulullah ﷺ sedang dalam perjalanan menuju Makkah.Sebagian kitab menyebut secara ringkas bahwa ia “masuk Islam pada hari Fathu Makkah”, sedangkan sumber sirah yang lebih terperinci menerangkan bahwa ia telah menemui Nabi ﷺ dalam perjalanan sebelum beliau memasuki Makkah. Islamweb juga menyebut,ثُمَّ أَسْلَمَ قَبْلَ فَتْحِ مَكَّةَ بِيَسِيرٍ، وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ“Kemudian ia masuk Islam tidak lama sebelum Fathu Makkah, dan keislamannya menjadi baik.” Bukan sekadar masuk Islam, tetapi keislamannya menjadi baikInilah bagian indah dari kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Para ulama tidak hanya mencatat bahwa ia masuk Islam, tetapi mengatakan,وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ“Dan keislamannya menjadi baik.”Setelah bertahun-tahun menjadi penentang Rasulullah ﷺ, ia tidak menjadikan masa lalunya sebagai alasan untuk berada di pinggir perjuangan. Ia justru hadir bersama Rasulullah ﷺ dalam peristiwa-peristiwa besar setelah keislamannya.Ia mengikuti Fathu Makkah, Perang Hunain, dan pengepungan Thaif.Inilah bukti bahwa taubat yang jujur bukan hanya meninggalkan masa lalu, tetapi juga memperbaiki masa depan. Dari penghalang hidayah menjadi pejuang IslamPerubahan ‘Abdullah bin Abi Umayyah benar-benar besar.Dahulu, ketika Abu Thalib hampir mengucapkan kalimat tauhid, ia berada di sisi Abu Jahal dan terus mengingatkan Abu Thalib kepada agama ‘Abdul Muththalib.Namun, beberapa tahun kemudian, orang yang sama berjalan bersama Rasulullah ﷺ sebagai seorang muslim.Dahulu ia menuntut mukjizat sebagai alasan untuk tidak beriman.Kemudian ia sendiri datang mencari Rasulullah ﷺ untuk menyatakan keimanannya.Dahulu ia termasuk orang yang keras terhadap kaum muslimin.Kemudian ia berperang bersama kaum muslimin.Hati manusia benar-benar berada di tangan Allah.Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ“Sesungguhnya seluruh hati anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman seperti satu hati. Allah membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.” (HR. Muslim, no. 2654)Karena itulah kita tidak boleh terlalu cepat berputus asa terhadap seseorang hanya karena hari ini ia masih jauh dari kebaikan. Baru masuk Islam, kemudian gugur di ThaifSetelah Fathu Makkah dan Perang Hunain, Rasulullah ﷺ bergerak menuju Thaif.‘Abdullah bin Abi Umayyah ikut bersama beliau.Dalam pengepungan Thaif, ia terkena lemparan anak panah. Luka tersebut menyebabkan kematiannya. Ibnu Hisyam memasukkan namanya di antara para sahabat Rasulullah ﷺ yang gugur pada peristiwa Thaif.Ibnu Hajar rahimahullah menyebut,وَاسْتُشْهِدَ عَبْدُ اللَّهِ بِالطَّائِفِ، أَصَابَهُ سَهْمٌ فَقَتَلَهُ“‘Abdullah gugur sebagai syahid di Thaif. Ia terkena anak panah yang menyebabkan kematiannya.” Betapa cepat perubahan itu terjadi.Pada awal tahun 8 H, ia masih memiliki masa lalu panjang dalam permusuhan terhadap Islam. Menjelang Fathu Makkah, Allah membuka hatinya. Kemudian ia menyaksikan Fathu Makkah, ikut dalam Hunain, dan tidak lama setelah itu gugur di Thaif.Yang menentukan bukan bagaimana seseorang memulai kehidupannya, tetapi bagaimana Allah memberinya taufik untuk menutup kehidupannya. Pelajaran dari kisah ‘Abdullah bin Abi UmayyahPertama, hidayah benar-benar milik Allah. Orang yang dahulu sangat keras memusuhi Islam dapat berubah menjadi pembela Islam.Kedua, jangan berputus asa dari hidayah seseorang. Jika melihat keluarga, sahabat, atau orang yang kita kenal masih jauh dari agama, teruslah mendoakan dan mendakwahinya dengan cara yang baik.Ketiga, masa lalu yang buruk tidak menghalangi seseorang untuk memiliki akhir kehidupan yang baik. Ketika seseorang benar-benar bertaubat, pintu kebaikan tetap terbuka baginya.Keempat, taubat sejati perlu dibuktikan dengan amal. ‘Abdullah bin Abi Umayyah tidak sekadar mengucapkan syahadat. Ia hadir bersama Rasulullah ﷺ di medan perjuangan.Kelima, jangan merasa aman dengan keadaan iman kita saat ini. Orang yang hari ini terlihat baik tetap membutuhkan taufik Allah sampai akhir hayat, sedangkan orang yang hari ini terlihat jauh dari kebaikan bisa saja Allah bukakan hatinya esok hari. Jangan pernah memvonis akhir seseorangKita sering menilai manusia hanya dari satu potongan perjalanan hidupnya. Ada orang yang kita kenal dengan masa lalunya, lalu kita merasa mustahil ia akan berubah. Kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah mengajarkan bahwa selama seseorang masih hidup, pintu hidayah dan taubat belum tertutup. Karena itu, teruslah meminta keteguhan untuk diri sendiri dan jangan berhenti berharap kebaikan untuk orang lain.Di antara doa yang sering dipanjatkan Rasulullah ﷺ adalah,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَYā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”Semoga Allah memberikan kepada kita hidayah, menjaga hati kita tetap istiqamah, memberikan hidayah kepada orang-orang yang kita cintai, dan menganugerahkan kepada kita husnul khatimah.Aamiin. ReferensiAl-Baihaqi. Dalā’il An-Nubuwwah, bab masuk Islamnya Abu Sufyan bin Al-Harits.Ibnu ‘Abdil Barr. Al-Istī‘āb fī Ma‘rifat Al-Ashāb, biografi ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. Fath Al-Bārī, Kitab Al-Maghazi, bab Perang Thaif.Ibnu Hisyam. As-Sīrah An-Nabawiyyah, para syuhada kaum muslimin pada Perang Thaif.IslamQA. (2020). Syarh hadits: “Adapun anak pamanku telah merusak kehormatanku, sedangkan anak bibiku adalah orang yang dahulu berkata kepadaku di Makkah …”IslamQA. (2023). Bagaimana hubungan Nabi ﷺ dengan pamannya Abu Thalib?Rumaysho.Com. Syarhus Sunnah: Belajar Akidah, Agar Selamat dari Pemahaman Sesat.Rumaysho.Com. Faedah Sirah Nabi: Wafatnya Abu Thalib.  —– Malam Jumat, 17 September 2026 @ PalembangPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAbdullah bin Abi Umayyah abu thalib fathu makkah hidayah husnul khatimah kisah sahabat Perang Thaif sirah nabi taubat Ummu Salamah

Seni Memaafkan: Investasi Terbaik untuk Ketenangan Jiwa

Daftar Isi TogglePertama, memberi maafKedua, mengajak kebaikanKetiga, mengabaikan kebodohanTeladan memaafkan dari generasi terbaikDalam kehidupan sosial yang dinamis, konflik adalah sunnatullah dan suatu keniscayaan. Namun, kemampuan untuk memberi maaf bukan sekadar tindakan sosial, ia adalah mekanisme psikologis dan spiritual untuk menjaga kesehatan mental. Memberi maaf adalah kunci utama menuju ketenangan hati.Islam memberikan panduan komprehensif dalam berinteraksi dengan sesama, terutama saat kita disakiti. Salah satu landasan utamanya adalah firman Allah Ta’ala,خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)Ayat ini mengandung tiga pesan krusial:Pertama, memberi maafMemaafkan adalah langkah awal memutus rantai dendam yang membebani hati. Ketika seseorang menyakiti kita, secara naluriah hati ingin membalas. Kita ingin memberikan perlakuan yang sama. Kita ingin menunjukkan bahwa kita tidak lemah. Tetapi Islam mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi, lebih mulia.Tidak semua luka harus dibalas. Tidak semua kesalahan harus dibawa sepanjang hidup. Memaafkan berarti melepaskan sesuatu yang sebenarnya bisa terus kita genggam. Bayangkan seseorang melemparkan bara api kepada kita. Jika kita terus menggenggamnya karena ingin suatu hari melemparkannya kembali, siapa yang pertama kali terbakar? Tentu tangan kita sendiri!Kita mungkin mengira sedang menghukum orang lain dengan tidak memaafkannya. Padahal sering kali, yang paling lama tersiksa justru diri kita sendiri. Memaafkan berarti seseorang memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hatinya. Terlebih lagi jika orang tersebut telah tulus meminta maaf dan mencoba memperbaiki hubungan.Allah Ta’ala berfirman,وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin agar Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22)Kita semua adalah manusia yang berharap Allah Ta’ala mengampuni kesalahan kita.Kita memohon agar Allah Ta’ala menutup aib kita, menghapus dosa kita, dan memaafkan kekurangan kita. Maka bukankah indah jika kita juga belajar menjadi manusia yang mudah memaafkan?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا“Allah tidaklah menambah kepada seorang hamba dengan sikap memaafkan kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)Kedua, mengajak kebaikanSetelah Allah Ta’ala mengajarkan kita untuk memaafkan, kemudian Allah Ta’ala mengarahkan kita kepada kebaikan. Seakan ada pesan tersirat:“Jangan habiskan seluruh energimu untuk memikirkan orang yang menyakitimu. Gunakanlah energimu untuk melakukan dan mengajak kepada kebaikan.”Maka, jangan biarkan satu orang yang berbuat buruk mengambil seluruh ruang dalam pikiran kita. Karena hidup terlalu berharga untuk dihabiskan hanya demi memikirkan dan memendam kesalahan orang lain.Ketiga, mengabaikan kebodohanAda orang yang ketika kita jelaskan, ia semakin mencari masalah. Ketika kita diam, ia terus memancing. Ketika kita membalas, masalah justru semakin panjang.Dalam kondisi seperti ini, berpaling bukan berarti kalah. Berpaling bisa menjadi tanda bahwa kita sudah cukup dewasa untuk tidak ikut turun ke dalam keburukan.Allah Ta’ala juga memuji hamba-hamba-Nya yang ketika berhadapan dengan orang-orang jahil, mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan, sebagaimana firman-Nya,وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا“Apabila orang-orang yang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang buruk, mereka mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Jika perlu menjelaskan, jelaskan dengan baik. Jika perlu menasihati, nasihati dengan hikmah. Tetapi jika ternyata yang diinginkan hanyalah pertengkaran, berpalinglah.Hal ini bukan karena kita tidak mampu menjawab atau membantah, tetapi karena kita tahu ketenangan jauh lebih berharga.Teladan memaafkan dari generasi terbaikAbdullah bin Zubair berkata terkait ayat 199 surat Al-A’raf,ما أنزل الله هذه الآية إلا في أخلاق الناس“Tidaklah Allah menurunkannya kecuali mengenai akhlak manusia.” (HR. Al-Bukhari)Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa menjadi seorang yang pemaaf adalah merupakan salah satu akhlak yang mulia dalam Islam.Demikian pula dengan Umar bin Khatab radiyallahu ‘anhu, ketika seorang pria bernama ‘Uyainah masuk ke majelis beliau dan memaki beliau dengan tuduhan kejam. Umar yang dikenal tegas sempat hampir terpancing amarahnya sehingga ingin memukulnya. Namun, salah satu sahabat yang hadir bernama Al Hurr segera mengingatkan beliau,يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ ﷺ خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ وَإِنَّ هَذَا مِنَ الْجَاهِلِينَ“Wahai Amirul Mukminin! Allah berfirman kepada Nabi-Nya, ‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.’ (QS. Al-A’raf: 199). Dan ini (yaitu ‘Uyainah) termasuk orang-orang bodoh.”Begitu mendengar ayat itu, Umar langsung melunak dan menahan diri. (Lihat HR. Al-Bukhari no. 4642)Ini membuktikan bahwa kemuliaan seseorang justru terlihat saat ia mampu menahan diri dari kemarahan.Semoga Allah Ta’ala melapangkan hati kita untuk memaafkan, menguatkan kita untuk menahan diri dari membalas keburukan, dan mengisi sisa umur kita dengan kebaikan.***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi: Al-Adab Al-Mufrad, no. 244, Bab العفو والصفح عن الناس (Memaafkan dan berlapang dada terhadap manusia).

Seni Memaafkan: Investasi Terbaik untuk Ketenangan Jiwa

Daftar Isi TogglePertama, memberi maafKedua, mengajak kebaikanKetiga, mengabaikan kebodohanTeladan memaafkan dari generasi terbaikDalam kehidupan sosial yang dinamis, konflik adalah sunnatullah dan suatu keniscayaan. Namun, kemampuan untuk memberi maaf bukan sekadar tindakan sosial, ia adalah mekanisme psikologis dan spiritual untuk menjaga kesehatan mental. Memberi maaf adalah kunci utama menuju ketenangan hati.Islam memberikan panduan komprehensif dalam berinteraksi dengan sesama, terutama saat kita disakiti. Salah satu landasan utamanya adalah firman Allah Ta’ala,خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)Ayat ini mengandung tiga pesan krusial:Pertama, memberi maafMemaafkan adalah langkah awal memutus rantai dendam yang membebani hati. Ketika seseorang menyakiti kita, secara naluriah hati ingin membalas. Kita ingin memberikan perlakuan yang sama. Kita ingin menunjukkan bahwa kita tidak lemah. Tetapi Islam mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi, lebih mulia.Tidak semua luka harus dibalas. Tidak semua kesalahan harus dibawa sepanjang hidup. Memaafkan berarti melepaskan sesuatu yang sebenarnya bisa terus kita genggam. Bayangkan seseorang melemparkan bara api kepada kita. Jika kita terus menggenggamnya karena ingin suatu hari melemparkannya kembali, siapa yang pertama kali terbakar? Tentu tangan kita sendiri!Kita mungkin mengira sedang menghukum orang lain dengan tidak memaafkannya. Padahal sering kali, yang paling lama tersiksa justru diri kita sendiri. Memaafkan berarti seseorang memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hatinya. Terlebih lagi jika orang tersebut telah tulus meminta maaf dan mencoba memperbaiki hubungan.Allah Ta’ala berfirman,وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin agar Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22)Kita semua adalah manusia yang berharap Allah Ta’ala mengampuni kesalahan kita.Kita memohon agar Allah Ta’ala menutup aib kita, menghapus dosa kita, dan memaafkan kekurangan kita. Maka bukankah indah jika kita juga belajar menjadi manusia yang mudah memaafkan?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا“Allah tidaklah menambah kepada seorang hamba dengan sikap memaafkan kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)Kedua, mengajak kebaikanSetelah Allah Ta’ala mengajarkan kita untuk memaafkan, kemudian Allah Ta’ala mengarahkan kita kepada kebaikan. Seakan ada pesan tersirat:“Jangan habiskan seluruh energimu untuk memikirkan orang yang menyakitimu. Gunakanlah energimu untuk melakukan dan mengajak kepada kebaikan.”Maka, jangan biarkan satu orang yang berbuat buruk mengambil seluruh ruang dalam pikiran kita. Karena hidup terlalu berharga untuk dihabiskan hanya demi memikirkan dan memendam kesalahan orang lain.Ketiga, mengabaikan kebodohanAda orang yang ketika kita jelaskan, ia semakin mencari masalah. Ketika kita diam, ia terus memancing. Ketika kita membalas, masalah justru semakin panjang.Dalam kondisi seperti ini, berpaling bukan berarti kalah. Berpaling bisa menjadi tanda bahwa kita sudah cukup dewasa untuk tidak ikut turun ke dalam keburukan.Allah Ta’ala juga memuji hamba-hamba-Nya yang ketika berhadapan dengan orang-orang jahil, mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan, sebagaimana firman-Nya,وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا“Apabila orang-orang yang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang buruk, mereka mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Jika perlu menjelaskan, jelaskan dengan baik. Jika perlu menasihati, nasihati dengan hikmah. Tetapi jika ternyata yang diinginkan hanyalah pertengkaran, berpalinglah.Hal ini bukan karena kita tidak mampu menjawab atau membantah, tetapi karena kita tahu ketenangan jauh lebih berharga.Teladan memaafkan dari generasi terbaikAbdullah bin Zubair berkata terkait ayat 199 surat Al-A’raf,ما أنزل الله هذه الآية إلا في أخلاق الناس“Tidaklah Allah menurunkannya kecuali mengenai akhlak manusia.” (HR. Al-Bukhari)Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa menjadi seorang yang pemaaf adalah merupakan salah satu akhlak yang mulia dalam Islam.Demikian pula dengan Umar bin Khatab radiyallahu ‘anhu, ketika seorang pria bernama ‘Uyainah masuk ke majelis beliau dan memaki beliau dengan tuduhan kejam. Umar yang dikenal tegas sempat hampir terpancing amarahnya sehingga ingin memukulnya. Namun, salah satu sahabat yang hadir bernama Al Hurr segera mengingatkan beliau,يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ ﷺ خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ وَإِنَّ هَذَا مِنَ الْجَاهِلِينَ“Wahai Amirul Mukminin! Allah berfirman kepada Nabi-Nya, ‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.’ (QS. Al-A’raf: 199). Dan ini (yaitu ‘Uyainah) termasuk orang-orang bodoh.”Begitu mendengar ayat itu, Umar langsung melunak dan menahan diri. (Lihat HR. Al-Bukhari no. 4642)Ini membuktikan bahwa kemuliaan seseorang justru terlihat saat ia mampu menahan diri dari kemarahan.Semoga Allah Ta’ala melapangkan hati kita untuk memaafkan, menguatkan kita untuk menahan diri dari membalas keburukan, dan mengisi sisa umur kita dengan kebaikan.***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi: Al-Adab Al-Mufrad, no. 244, Bab العفو والصفح عن الناس (Memaafkan dan berlapang dada terhadap manusia).
Daftar Isi TogglePertama, memberi maafKedua, mengajak kebaikanKetiga, mengabaikan kebodohanTeladan memaafkan dari generasi terbaikDalam kehidupan sosial yang dinamis, konflik adalah sunnatullah dan suatu keniscayaan. Namun, kemampuan untuk memberi maaf bukan sekadar tindakan sosial, ia adalah mekanisme psikologis dan spiritual untuk menjaga kesehatan mental. Memberi maaf adalah kunci utama menuju ketenangan hati.Islam memberikan panduan komprehensif dalam berinteraksi dengan sesama, terutama saat kita disakiti. Salah satu landasan utamanya adalah firman Allah Ta’ala,خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)Ayat ini mengandung tiga pesan krusial:Pertama, memberi maafMemaafkan adalah langkah awal memutus rantai dendam yang membebani hati. Ketika seseorang menyakiti kita, secara naluriah hati ingin membalas. Kita ingin memberikan perlakuan yang sama. Kita ingin menunjukkan bahwa kita tidak lemah. Tetapi Islam mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi, lebih mulia.Tidak semua luka harus dibalas. Tidak semua kesalahan harus dibawa sepanjang hidup. Memaafkan berarti melepaskan sesuatu yang sebenarnya bisa terus kita genggam. Bayangkan seseorang melemparkan bara api kepada kita. Jika kita terus menggenggamnya karena ingin suatu hari melemparkannya kembali, siapa yang pertama kali terbakar? Tentu tangan kita sendiri!Kita mungkin mengira sedang menghukum orang lain dengan tidak memaafkannya. Padahal sering kali, yang paling lama tersiksa justru diri kita sendiri. Memaafkan berarti seseorang memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hatinya. Terlebih lagi jika orang tersebut telah tulus meminta maaf dan mencoba memperbaiki hubungan.Allah Ta’ala berfirman,وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin agar Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22)Kita semua adalah manusia yang berharap Allah Ta’ala mengampuni kesalahan kita.Kita memohon agar Allah Ta’ala menutup aib kita, menghapus dosa kita, dan memaafkan kekurangan kita. Maka bukankah indah jika kita juga belajar menjadi manusia yang mudah memaafkan?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا“Allah tidaklah menambah kepada seorang hamba dengan sikap memaafkan kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)Kedua, mengajak kebaikanSetelah Allah Ta’ala mengajarkan kita untuk memaafkan, kemudian Allah Ta’ala mengarahkan kita kepada kebaikan. Seakan ada pesan tersirat:“Jangan habiskan seluruh energimu untuk memikirkan orang yang menyakitimu. Gunakanlah energimu untuk melakukan dan mengajak kepada kebaikan.”Maka, jangan biarkan satu orang yang berbuat buruk mengambil seluruh ruang dalam pikiran kita. Karena hidup terlalu berharga untuk dihabiskan hanya demi memikirkan dan memendam kesalahan orang lain.Ketiga, mengabaikan kebodohanAda orang yang ketika kita jelaskan, ia semakin mencari masalah. Ketika kita diam, ia terus memancing. Ketika kita membalas, masalah justru semakin panjang.Dalam kondisi seperti ini, berpaling bukan berarti kalah. Berpaling bisa menjadi tanda bahwa kita sudah cukup dewasa untuk tidak ikut turun ke dalam keburukan.Allah Ta’ala juga memuji hamba-hamba-Nya yang ketika berhadapan dengan orang-orang jahil, mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan, sebagaimana firman-Nya,وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا“Apabila orang-orang yang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang buruk, mereka mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Jika perlu menjelaskan, jelaskan dengan baik. Jika perlu menasihati, nasihati dengan hikmah. Tetapi jika ternyata yang diinginkan hanyalah pertengkaran, berpalinglah.Hal ini bukan karena kita tidak mampu menjawab atau membantah, tetapi karena kita tahu ketenangan jauh lebih berharga.Teladan memaafkan dari generasi terbaikAbdullah bin Zubair berkata terkait ayat 199 surat Al-A’raf,ما أنزل الله هذه الآية إلا في أخلاق الناس“Tidaklah Allah menurunkannya kecuali mengenai akhlak manusia.” (HR. Al-Bukhari)Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa menjadi seorang yang pemaaf adalah merupakan salah satu akhlak yang mulia dalam Islam.Demikian pula dengan Umar bin Khatab radiyallahu ‘anhu, ketika seorang pria bernama ‘Uyainah masuk ke majelis beliau dan memaki beliau dengan tuduhan kejam. Umar yang dikenal tegas sempat hampir terpancing amarahnya sehingga ingin memukulnya. Namun, salah satu sahabat yang hadir bernama Al Hurr segera mengingatkan beliau,يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ ﷺ خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ وَإِنَّ هَذَا مِنَ الْجَاهِلِينَ“Wahai Amirul Mukminin! Allah berfirman kepada Nabi-Nya, ‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.’ (QS. Al-A’raf: 199). Dan ini (yaitu ‘Uyainah) termasuk orang-orang bodoh.”Begitu mendengar ayat itu, Umar langsung melunak dan menahan diri. (Lihat HR. Al-Bukhari no. 4642)Ini membuktikan bahwa kemuliaan seseorang justru terlihat saat ia mampu menahan diri dari kemarahan.Semoga Allah Ta’ala melapangkan hati kita untuk memaafkan, menguatkan kita untuk menahan diri dari membalas keburukan, dan mengisi sisa umur kita dengan kebaikan.***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi: Al-Adab Al-Mufrad, no. 244, Bab العفو والصفح عن الناس (Memaafkan dan berlapang dada terhadap manusia).


Daftar Isi TogglePertama, memberi maafKedua, mengajak kebaikanKetiga, mengabaikan kebodohanTeladan memaafkan dari generasi terbaikDalam kehidupan sosial yang dinamis, konflik adalah sunnatullah dan suatu keniscayaan. Namun, kemampuan untuk memberi maaf bukan sekadar tindakan sosial, ia adalah mekanisme psikologis dan spiritual untuk menjaga kesehatan mental. Memberi maaf adalah kunci utama menuju ketenangan hati.Islam memberikan panduan komprehensif dalam berinteraksi dengan sesama, terutama saat kita disakiti. Salah satu landasan utamanya adalah firman Allah Ta’ala,خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)Ayat ini mengandung tiga pesan krusial:Pertama, memberi maafMemaafkan adalah langkah awal memutus rantai dendam yang membebani hati. Ketika seseorang menyakiti kita, secara naluriah hati ingin membalas. Kita ingin memberikan perlakuan yang sama. Kita ingin menunjukkan bahwa kita tidak lemah. Tetapi Islam mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi, lebih mulia.Tidak semua luka harus dibalas. Tidak semua kesalahan harus dibawa sepanjang hidup. Memaafkan berarti melepaskan sesuatu yang sebenarnya bisa terus kita genggam. Bayangkan seseorang melemparkan bara api kepada kita. Jika kita terus menggenggamnya karena ingin suatu hari melemparkannya kembali, siapa yang pertama kali terbakar? Tentu tangan kita sendiri!Kita mungkin mengira sedang menghukum orang lain dengan tidak memaafkannya. Padahal sering kali, yang paling lama tersiksa justru diri kita sendiri. Memaafkan berarti seseorang memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hatinya. Terlebih lagi jika orang tersebut telah tulus meminta maaf dan mencoba memperbaiki hubungan.Allah Ta’ala berfirman,وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin agar Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22)Kita semua adalah manusia yang berharap Allah Ta’ala mengampuni kesalahan kita.Kita memohon agar Allah Ta’ala menutup aib kita, menghapus dosa kita, dan memaafkan kekurangan kita. Maka bukankah indah jika kita juga belajar menjadi manusia yang mudah memaafkan?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا“Allah tidaklah menambah kepada seorang hamba dengan sikap memaafkan kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)Kedua, mengajak kebaikanSetelah Allah Ta’ala mengajarkan kita untuk memaafkan, kemudian Allah Ta’ala mengarahkan kita kepada kebaikan. Seakan ada pesan tersirat:“Jangan habiskan seluruh energimu untuk memikirkan orang yang menyakitimu. Gunakanlah energimu untuk melakukan dan mengajak kepada kebaikan.”Maka, jangan biarkan satu orang yang berbuat buruk mengambil seluruh ruang dalam pikiran kita. Karena hidup terlalu berharga untuk dihabiskan hanya demi memikirkan dan memendam kesalahan orang lain.Ketiga, mengabaikan kebodohanAda orang yang ketika kita jelaskan, ia semakin mencari masalah. Ketika kita diam, ia terus memancing. Ketika kita membalas, masalah justru semakin panjang.Dalam kondisi seperti ini, berpaling bukan berarti kalah. Berpaling bisa menjadi tanda bahwa kita sudah cukup dewasa untuk tidak ikut turun ke dalam keburukan.Allah Ta’ala juga memuji hamba-hamba-Nya yang ketika berhadapan dengan orang-orang jahil, mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan, sebagaimana firman-Nya,وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا“Apabila orang-orang yang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang buruk, mereka mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Jika perlu menjelaskan, jelaskan dengan baik. Jika perlu menasihati, nasihati dengan hikmah. Tetapi jika ternyata yang diinginkan hanyalah pertengkaran, berpalinglah.Hal ini bukan karena kita tidak mampu menjawab atau membantah, tetapi karena kita tahu ketenangan jauh lebih berharga.Teladan memaafkan dari generasi terbaikAbdullah bin Zubair berkata terkait ayat 199 surat Al-A’raf,ما أنزل الله هذه الآية إلا في أخلاق الناس“Tidaklah Allah menurunkannya kecuali mengenai akhlak manusia.” (HR. Al-Bukhari)Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa menjadi seorang yang pemaaf adalah merupakan salah satu akhlak yang mulia dalam Islam.Demikian pula dengan Umar bin Khatab radiyallahu ‘anhu, ketika seorang pria bernama ‘Uyainah masuk ke majelis beliau dan memaki beliau dengan tuduhan kejam. Umar yang dikenal tegas sempat hampir terpancing amarahnya sehingga ingin memukulnya. Namun, salah satu sahabat yang hadir bernama Al Hurr segera mengingatkan beliau,يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ ﷺ خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ وَإِنَّ هَذَا مِنَ الْجَاهِلِينَ“Wahai Amirul Mukminin! Allah berfirman kepada Nabi-Nya, ‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.’ (QS. Al-A’raf: 199). Dan ini (yaitu ‘Uyainah) termasuk orang-orang bodoh.”Begitu mendengar ayat itu, Umar langsung melunak dan menahan diri. (Lihat HR. Al-Bukhari no. 4642)Ini membuktikan bahwa kemuliaan seseorang justru terlihat saat ia mampu menahan diri dari kemarahan.Semoga Allah Ta’ala melapangkan hati kita untuk memaafkan, menguatkan kita untuk menahan diri dari membalas keburukan, dan mengisi sisa umur kita dengan kebaikan.***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi: Al-Adab Al-Mufrad, no. 244, Bab العفو والصفح عن الناس (Memaafkan dan berlapang dada terhadap manusia).
Prev     Next