Tafsir Surah Al-Balad: Jalan Sulit Menuju Kebahagiaan Sejati

Surah Al-Balad mengajarkan bahwa kehidupan manusia penuh dengan ujian dan kesulitan. Namun, Allah juga menunjukkan jalan keluar menuju kebahagiaan melalui iman dan amal saleh. Siapa yang memilih jalan tersebut akan selamat, sedangkan yang mengikuti hawa nafsu akan berakhir dalam penyesalan.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Kota Mekah 2. Asal Usul Manusia dan Hakikat Kehidupan 3. Kesombongan Manusia dan Tipu Daya Harta 4. Nikmat Besar: Indra dan Petunjuk Hidup 5. Jalan Terjal yang Tidak Ditempuh 6. Amal-Amal yang Mengantarkan Keselamatan 7. Iman, Sabar, dan Kasih Sayang 8. Golongan Kanan: Tanda Kebahagiaan 9. Golongan Kiri dan Azab yang Mengurung 10. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Kota MekahAllah Ta’ala berfirman,لَآ أُقْسِمُ بِهَٰذَا ٱلْبَلَدِ“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah).” (QS. Al-Balad: 1)Allah bersumpah dengan negeri yang aman ini, yaitu Mekah, negeri yang paling utama secara mutlak, terlebih ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di dalamnya.وَأَنتَ حِلٌّۢ بِهَٰذَا ٱلْبَلَدِ “dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini.” (QS. Al-Balad: 2) Asal Usul Manusia dan Hakikat KehidupanAllah Ta’ala berfirman,وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ“dan demi bapak dan anaknya.”  (QS. Al-Balad: 3)Maksudnya adalah Adam dan keturunannya.لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”  (QS. Al-Balad: 4)Yang menjadi isi sumpah ini adalah firman-Nya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”Maknanya bisa jadi bahwa manusia menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan di dunia, di alam barzakh, dan pada hari ketika semua makhluk dibangkitkan. Karena itu, seharusnya manusia berusaha melakukan amal yang dapat menyelamatkannya dari kesulitan-kesulitan tersebut dan mendatangkan kebahagiaan serta kegembiraan yang abadi.Jika tidak, maka ia akan terus menghadapi azab yang berat selama-lamanya.Makna lain, manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna dan seimbang, mampu melakukan berbagai pekerjaan dan usaha yang berat. Namun, ia tidak bersyukur atas nikmat besar ini, bahkan justru sombong dan melampaui batas terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezalimannya, ia mengira bahwa keadaan ini akan terus berlangsung dan kekuasaannya tidak akan hilang.Baca juga: Dunia ini Negeri Ujian dan Kesulitan Kesombongan Manusia dan Tipu Daya HartaAllah Ta’ala berfirman,أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ“Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya?” (QS. Al-Balad: 5)Apakah ia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menguasainya? Lalu ia pun berbuat melampaui batas dan membanggakan harta yang ia habiskan untuk memenuhi hawa nafsunya.يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا“Dan mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”.”  (QS. Al-Balad: 6)Ia berkata, “Aku telah menghabiskan harta yang banyak,” yaitu harta yang sangat banyak, bertumpuk-tumpuk.Allah menyebut pengeluaran untuk syahwat dan kemaksiatan sebagai “kehancuran”, karena orang yang menginfakkan hartanya untuk itu tidak mendapatkan manfaat dari apa yang ia keluarkan. Ia tidak memperoleh dari pengeluarannya kecuali penyesalan, kerugian, kelelahan, dan berkurangnya harta.Berbeda dengan orang yang menginfakkan hartanya di jalan yang diridhai Allah, maka ia telah berdagang dengan Allah dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda dari apa yang ia keluarkan.أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ“Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya?”  (QS. Al-Balad: 7)Allah berfirman sebagai ancaman bagi orang yang membanggakan hartanya untuk syahwat: apakah ia mengira bahwa Allah tidak melihatnya dan tidak akan menghisabnya atas perkara kecil maupun besar?Padahal Allah telah melihatnya, mencatat amal-amalnya, dan menugaskan malaikat pencatat yang mulia untuk mencatat setiap perbuatannya, baik atau buruk. Nikmat Besar: Indra dan Petunjuk HidupAllah Ta’ala berfirman,أَلَمْ نَجْعَل لَّهُۥ عَيْنَيْنِ“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata.” (QS. Al-Balad: 8)Kemudian Allah mengingatkan manusia dengan nikmat-nikmat-Nya, dengan berfirman: bukankah Kami telah memberinya dua mata.وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ“lidah dan dua buah bibir.”  (QS. Al-Balad: 9)Serta lidah dan dua bibir, untuk keindahan, penglihatan, berbicara, dan berbagai manfaat penting lainnya. Ini semua adalah nikmat dunia.وَهَدَيْنَٰهُ ٱلنَّجْدَيْنِ“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al-Balad: 10)Kemudian Allah menyebut nikmat dalam agama: “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan,” yaitu jalan kebaikan dan jalan keburukan. Allah telah menjelaskan kepadanya petunjuk dari kesesatan, serta jalan yang lurus dari jalan yang menyimpang.Nikmat-nikmat yang besar ini seharusnya membuat seorang hamba menunaikan hak-hak Allah, bersyukur atas nikmat-Nya, dan tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya. Namun manusia tidak melakukan hal itu. Jalan Terjal yang Tidak DitempuhAllah Ta’ala berfirman,فَلَا ٱقْتَحَمَ ٱلْعَقَبَةَ“Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.”  (QS. Al-Balad: 11)Artinya, ia tidak menempuh jalan itu dan tidak melaluinya, karena ia mengikuti hawa nafsunya.Baca juga: Menuruti Hawa Nafsuوَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلْعَقَبَةُ“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?”  (QS. Al-Balad: 12) Amal-Amal yang Mengantarkan KeselamatanAllah Ta’ala berfirman,فَكُّ رَقَبَةٍ“(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan.” (QS. Al-Balad: 13)Jalan yang sukar itu adalah membebaskan budak, yaitu memerdekakannya atau membantu agar ia bisa membayar tebusannya. Bahkan lebih utama lagi adalah membebaskan tawanan muslim dari tangan orang kafir.أَوْ إِطْعَٰمٌ فِى يَوْمٍ ذِى مَسْغَبَةٍ“atau memberi makan pada hari kelaparan.” (QS. Al-Balad: 14)Yaitu pada masa kelaparan yang sangat berat, dengan memberi makan kepada orang yang sangat membutuhkan.يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ“(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat.” (QS. Al-Balad: 15)Yaitu anak yatim yang sekaligus miskin dan memiliki hubungan kekerabatan.أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ“atau kepada orang miskin yang sangat fakir.”  (QS. Al-Balad: 16)Yaitu orang miskin yang sangat membutuhkan hingga seolah-olah menempel di tanah karena kemiskinannya. Iman, Sabar, dan Kasih SayangAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْمَرْحَمَةِ“Dan dia (juga) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”  (QS. Al-Balad: 17)Yaitu orang-orang yang beriman dengan hati mereka terhadap apa yang wajib diimani, serta beramal saleh dengan anggota badan mereka, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang wajib maupun yang sunnah. Mereka saling berpesan untuk bersabar dalam ketaatan kepada Allah, menjauhi maksiat, dan menghadapi takdir yang menyakitkan, dengan saling mendorong untuk menjalankannya dengan lapang dada dan hati yang tenang.Mereka juga saling berpesan untuk berkasih sayang kepada sesama makhluk, dengan membantu yang membutuhkan, mengajarkan yang tidak tahu, memenuhi kebutuhan mereka dalam berbagai hal, serta menolong mereka dalam urusan agama dan dunia. Mereka mencintai untuk orang lain apa yang mereka cintai untuk diri mereka sendiri, dan membenci untuk orang lain apa yang mereka benci untuk diri mereka sendiri. Golongan Kanan: Tanda KebahagiaanAllah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْمَيْمَنَةِ“Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.”  (QS. Al-Balad: 18)Mereka adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut dan diberi taufik oleh Allah untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah golongan kanan, karena mereka telah menunaikan hak Allah dan hak sesama manusia, serta meninggalkan apa yang dilarang. Ini adalah tanda dan ciri kebahagiaan. Golongan Kiri dan Azab yang MengurungAllah Ta’ala berfirman,وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا هُمْ أَصْحَٰبُ ٱلْمَشْـَٔمَةِ“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri.”  (QS. Al-Balad: 19)Yaitu orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, meninggalkan semua hal tersebut, tidak beriman kepada Allah, tidak beramal saleh, dan tidak menyayangi hamba-hamba-Nya. Mereka itulah golongan kiri.عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌۢ“Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.”  (QS. Al-Balad: 20)Yaitu neraka yang tertutup rapat atas mereka, dengan pintu-pintu yang terkunci dan tiang-tiang yang dipanjangkan dari belakangnya, sehingga tidak dapat terbuka, dan mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan penderitaan. Segala puji bagi Allah. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak manusia tertipu dengan harta dan kesenangan, hingga lupa bahwa semua itu akan dipertanggungjawabkan. Padahal, jalan menuju keselamatan memang tidak mudah, tetapi itulah jalan yang diridhai Allah. Jangan sampai nikmat yang diberikan justru digunakan untuk bermaksiat kepada-Nya. Mari kita biasakan hidup dengan iman, sabar, dan peduli terhadap sesama.اللَّهُمَّ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَصْحَابِ الْمَيْمَنَةِ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ وَالصَّبْرَ وَالرَّحْمَةَAllāhumma ihdinā aṣ-ṣirāṭal-mustaqīm, waj‘alnā min aṣḥābil-maymanah, warzuqnā al-ikhlāṣa waṣ-ṣabra war-raḥmah.Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, jadikanlah kami termasuk golongan kanan, dan karuniakan kepada kami keikhlasan, kesabaran, serta kasih sayang.Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Jumat, 1 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh harta dalam Islam iman dan sabar jalan menuju surga kehidupan dunia ujian renungan ayat sedekah dalam Islam surah Al-Balad tafsir Al-Balad tafsir as-sa'di tafsir juz amma

Tafsir Surah Al-Balad: Jalan Sulit Menuju Kebahagiaan Sejati

Surah Al-Balad mengajarkan bahwa kehidupan manusia penuh dengan ujian dan kesulitan. Namun, Allah juga menunjukkan jalan keluar menuju kebahagiaan melalui iman dan amal saleh. Siapa yang memilih jalan tersebut akan selamat, sedangkan yang mengikuti hawa nafsu akan berakhir dalam penyesalan.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Kota Mekah 2. Asal Usul Manusia dan Hakikat Kehidupan 3. Kesombongan Manusia dan Tipu Daya Harta 4. Nikmat Besar: Indra dan Petunjuk Hidup 5. Jalan Terjal yang Tidak Ditempuh 6. Amal-Amal yang Mengantarkan Keselamatan 7. Iman, Sabar, dan Kasih Sayang 8. Golongan Kanan: Tanda Kebahagiaan 9. Golongan Kiri dan Azab yang Mengurung 10. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Kota MekahAllah Ta’ala berfirman,لَآ أُقْسِمُ بِهَٰذَا ٱلْبَلَدِ“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah).” (QS. Al-Balad: 1)Allah bersumpah dengan negeri yang aman ini, yaitu Mekah, negeri yang paling utama secara mutlak, terlebih ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di dalamnya.وَأَنتَ حِلٌّۢ بِهَٰذَا ٱلْبَلَدِ “dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini.” (QS. Al-Balad: 2) Asal Usul Manusia dan Hakikat KehidupanAllah Ta’ala berfirman,وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ“dan demi bapak dan anaknya.”  (QS. Al-Balad: 3)Maksudnya adalah Adam dan keturunannya.لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”  (QS. Al-Balad: 4)Yang menjadi isi sumpah ini adalah firman-Nya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”Maknanya bisa jadi bahwa manusia menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan di dunia, di alam barzakh, dan pada hari ketika semua makhluk dibangkitkan. Karena itu, seharusnya manusia berusaha melakukan amal yang dapat menyelamatkannya dari kesulitan-kesulitan tersebut dan mendatangkan kebahagiaan serta kegembiraan yang abadi.Jika tidak, maka ia akan terus menghadapi azab yang berat selama-lamanya.Makna lain, manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna dan seimbang, mampu melakukan berbagai pekerjaan dan usaha yang berat. Namun, ia tidak bersyukur atas nikmat besar ini, bahkan justru sombong dan melampaui batas terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezalimannya, ia mengira bahwa keadaan ini akan terus berlangsung dan kekuasaannya tidak akan hilang.Baca juga: Dunia ini Negeri Ujian dan Kesulitan Kesombongan Manusia dan Tipu Daya HartaAllah Ta’ala berfirman,أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ“Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya?” (QS. Al-Balad: 5)Apakah ia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menguasainya? Lalu ia pun berbuat melampaui batas dan membanggakan harta yang ia habiskan untuk memenuhi hawa nafsunya.يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا“Dan mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”.”  (QS. Al-Balad: 6)Ia berkata, “Aku telah menghabiskan harta yang banyak,” yaitu harta yang sangat banyak, bertumpuk-tumpuk.Allah menyebut pengeluaran untuk syahwat dan kemaksiatan sebagai “kehancuran”, karena orang yang menginfakkan hartanya untuk itu tidak mendapatkan manfaat dari apa yang ia keluarkan. Ia tidak memperoleh dari pengeluarannya kecuali penyesalan, kerugian, kelelahan, dan berkurangnya harta.Berbeda dengan orang yang menginfakkan hartanya di jalan yang diridhai Allah, maka ia telah berdagang dengan Allah dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda dari apa yang ia keluarkan.أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ“Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya?”  (QS. Al-Balad: 7)Allah berfirman sebagai ancaman bagi orang yang membanggakan hartanya untuk syahwat: apakah ia mengira bahwa Allah tidak melihatnya dan tidak akan menghisabnya atas perkara kecil maupun besar?Padahal Allah telah melihatnya, mencatat amal-amalnya, dan menugaskan malaikat pencatat yang mulia untuk mencatat setiap perbuatannya, baik atau buruk. Nikmat Besar: Indra dan Petunjuk HidupAllah Ta’ala berfirman,أَلَمْ نَجْعَل لَّهُۥ عَيْنَيْنِ“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata.” (QS. Al-Balad: 8)Kemudian Allah mengingatkan manusia dengan nikmat-nikmat-Nya, dengan berfirman: bukankah Kami telah memberinya dua mata.وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ“lidah dan dua buah bibir.”  (QS. Al-Balad: 9)Serta lidah dan dua bibir, untuk keindahan, penglihatan, berbicara, dan berbagai manfaat penting lainnya. Ini semua adalah nikmat dunia.وَهَدَيْنَٰهُ ٱلنَّجْدَيْنِ“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al-Balad: 10)Kemudian Allah menyebut nikmat dalam agama: “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan,” yaitu jalan kebaikan dan jalan keburukan. Allah telah menjelaskan kepadanya petunjuk dari kesesatan, serta jalan yang lurus dari jalan yang menyimpang.Nikmat-nikmat yang besar ini seharusnya membuat seorang hamba menunaikan hak-hak Allah, bersyukur atas nikmat-Nya, dan tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya. Namun manusia tidak melakukan hal itu. Jalan Terjal yang Tidak DitempuhAllah Ta’ala berfirman,فَلَا ٱقْتَحَمَ ٱلْعَقَبَةَ“Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.”  (QS. Al-Balad: 11)Artinya, ia tidak menempuh jalan itu dan tidak melaluinya, karena ia mengikuti hawa nafsunya.Baca juga: Menuruti Hawa Nafsuوَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلْعَقَبَةُ“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?”  (QS. Al-Balad: 12) Amal-Amal yang Mengantarkan KeselamatanAllah Ta’ala berfirman,فَكُّ رَقَبَةٍ“(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan.” (QS. Al-Balad: 13)Jalan yang sukar itu adalah membebaskan budak, yaitu memerdekakannya atau membantu agar ia bisa membayar tebusannya. Bahkan lebih utama lagi adalah membebaskan tawanan muslim dari tangan orang kafir.أَوْ إِطْعَٰمٌ فِى يَوْمٍ ذِى مَسْغَبَةٍ“atau memberi makan pada hari kelaparan.” (QS. Al-Balad: 14)Yaitu pada masa kelaparan yang sangat berat, dengan memberi makan kepada orang yang sangat membutuhkan.يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ“(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat.” (QS. Al-Balad: 15)Yaitu anak yatim yang sekaligus miskin dan memiliki hubungan kekerabatan.أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ“atau kepada orang miskin yang sangat fakir.”  (QS. Al-Balad: 16)Yaitu orang miskin yang sangat membutuhkan hingga seolah-olah menempel di tanah karena kemiskinannya. Iman, Sabar, dan Kasih SayangAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْمَرْحَمَةِ“Dan dia (juga) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”  (QS. Al-Balad: 17)Yaitu orang-orang yang beriman dengan hati mereka terhadap apa yang wajib diimani, serta beramal saleh dengan anggota badan mereka, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang wajib maupun yang sunnah. Mereka saling berpesan untuk bersabar dalam ketaatan kepada Allah, menjauhi maksiat, dan menghadapi takdir yang menyakitkan, dengan saling mendorong untuk menjalankannya dengan lapang dada dan hati yang tenang.Mereka juga saling berpesan untuk berkasih sayang kepada sesama makhluk, dengan membantu yang membutuhkan, mengajarkan yang tidak tahu, memenuhi kebutuhan mereka dalam berbagai hal, serta menolong mereka dalam urusan agama dan dunia. Mereka mencintai untuk orang lain apa yang mereka cintai untuk diri mereka sendiri, dan membenci untuk orang lain apa yang mereka benci untuk diri mereka sendiri. Golongan Kanan: Tanda KebahagiaanAllah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْمَيْمَنَةِ“Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.”  (QS. Al-Balad: 18)Mereka adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut dan diberi taufik oleh Allah untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah golongan kanan, karena mereka telah menunaikan hak Allah dan hak sesama manusia, serta meninggalkan apa yang dilarang. Ini adalah tanda dan ciri kebahagiaan. Golongan Kiri dan Azab yang MengurungAllah Ta’ala berfirman,وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا هُمْ أَصْحَٰبُ ٱلْمَشْـَٔمَةِ“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri.”  (QS. Al-Balad: 19)Yaitu orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, meninggalkan semua hal tersebut, tidak beriman kepada Allah, tidak beramal saleh, dan tidak menyayangi hamba-hamba-Nya. Mereka itulah golongan kiri.عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌۢ“Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.”  (QS. Al-Balad: 20)Yaitu neraka yang tertutup rapat atas mereka, dengan pintu-pintu yang terkunci dan tiang-tiang yang dipanjangkan dari belakangnya, sehingga tidak dapat terbuka, dan mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan penderitaan. Segala puji bagi Allah. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak manusia tertipu dengan harta dan kesenangan, hingga lupa bahwa semua itu akan dipertanggungjawabkan. Padahal, jalan menuju keselamatan memang tidak mudah, tetapi itulah jalan yang diridhai Allah. Jangan sampai nikmat yang diberikan justru digunakan untuk bermaksiat kepada-Nya. Mari kita biasakan hidup dengan iman, sabar, dan peduli terhadap sesama.اللَّهُمَّ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَصْحَابِ الْمَيْمَنَةِ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ وَالصَّبْرَ وَالرَّحْمَةَAllāhumma ihdinā aṣ-ṣirāṭal-mustaqīm, waj‘alnā min aṣḥābil-maymanah, warzuqnā al-ikhlāṣa waṣ-ṣabra war-raḥmah.Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, jadikanlah kami termasuk golongan kanan, dan karuniakan kepada kami keikhlasan, kesabaran, serta kasih sayang.Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Jumat, 1 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh harta dalam Islam iman dan sabar jalan menuju surga kehidupan dunia ujian renungan ayat sedekah dalam Islam surah Al-Balad tafsir Al-Balad tafsir as-sa'di tafsir juz amma
Surah Al-Balad mengajarkan bahwa kehidupan manusia penuh dengan ujian dan kesulitan. Namun, Allah juga menunjukkan jalan keluar menuju kebahagiaan melalui iman dan amal saleh. Siapa yang memilih jalan tersebut akan selamat, sedangkan yang mengikuti hawa nafsu akan berakhir dalam penyesalan.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Kota Mekah 2. Asal Usul Manusia dan Hakikat Kehidupan 3. Kesombongan Manusia dan Tipu Daya Harta 4. Nikmat Besar: Indra dan Petunjuk Hidup 5. Jalan Terjal yang Tidak Ditempuh 6. Amal-Amal yang Mengantarkan Keselamatan 7. Iman, Sabar, dan Kasih Sayang 8. Golongan Kanan: Tanda Kebahagiaan 9. Golongan Kiri dan Azab yang Mengurung 10. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Kota MekahAllah Ta’ala berfirman,لَآ أُقْسِمُ بِهَٰذَا ٱلْبَلَدِ“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah).” (QS. Al-Balad: 1)Allah bersumpah dengan negeri yang aman ini, yaitu Mekah, negeri yang paling utama secara mutlak, terlebih ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di dalamnya.وَأَنتَ حِلٌّۢ بِهَٰذَا ٱلْبَلَدِ “dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini.” (QS. Al-Balad: 2) Asal Usul Manusia dan Hakikat KehidupanAllah Ta’ala berfirman,وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ“dan demi bapak dan anaknya.”  (QS. Al-Balad: 3)Maksudnya adalah Adam dan keturunannya.لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”  (QS. Al-Balad: 4)Yang menjadi isi sumpah ini adalah firman-Nya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”Maknanya bisa jadi bahwa manusia menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan di dunia, di alam barzakh, dan pada hari ketika semua makhluk dibangkitkan. Karena itu, seharusnya manusia berusaha melakukan amal yang dapat menyelamatkannya dari kesulitan-kesulitan tersebut dan mendatangkan kebahagiaan serta kegembiraan yang abadi.Jika tidak, maka ia akan terus menghadapi azab yang berat selama-lamanya.Makna lain, manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna dan seimbang, mampu melakukan berbagai pekerjaan dan usaha yang berat. Namun, ia tidak bersyukur atas nikmat besar ini, bahkan justru sombong dan melampaui batas terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezalimannya, ia mengira bahwa keadaan ini akan terus berlangsung dan kekuasaannya tidak akan hilang.Baca juga: Dunia ini Negeri Ujian dan Kesulitan Kesombongan Manusia dan Tipu Daya HartaAllah Ta’ala berfirman,أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ“Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya?” (QS. Al-Balad: 5)Apakah ia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menguasainya? Lalu ia pun berbuat melampaui batas dan membanggakan harta yang ia habiskan untuk memenuhi hawa nafsunya.يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا“Dan mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”.”  (QS. Al-Balad: 6)Ia berkata, “Aku telah menghabiskan harta yang banyak,” yaitu harta yang sangat banyak, bertumpuk-tumpuk.Allah menyebut pengeluaran untuk syahwat dan kemaksiatan sebagai “kehancuran”, karena orang yang menginfakkan hartanya untuk itu tidak mendapatkan manfaat dari apa yang ia keluarkan. Ia tidak memperoleh dari pengeluarannya kecuali penyesalan, kerugian, kelelahan, dan berkurangnya harta.Berbeda dengan orang yang menginfakkan hartanya di jalan yang diridhai Allah, maka ia telah berdagang dengan Allah dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda dari apa yang ia keluarkan.أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ“Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya?”  (QS. Al-Balad: 7)Allah berfirman sebagai ancaman bagi orang yang membanggakan hartanya untuk syahwat: apakah ia mengira bahwa Allah tidak melihatnya dan tidak akan menghisabnya atas perkara kecil maupun besar?Padahal Allah telah melihatnya, mencatat amal-amalnya, dan menugaskan malaikat pencatat yang mulia untuk mencatat setiap perbuatannya, baik atau buruk. Nikmat Besar: Indra dan Petunjuk HidupAllah Ta’ala berfirman,أَلَمْ نَجْعَل لَّهُۥ عَيْنَيْنِ“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata.” (QS. Al-Balad: 8)Kemudian Allah mengingatkan manusia dengan nikmat-nikmat-Nya, dengan berfirman: bukankah Kami telah memberinya dua mata.وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ“lidah dan dua buah bibir.”  (QS. Al-Balad: 9)Serta lidah dan dua bibir, untuk keindahan, penglihatan, berbicara, dan berbagai manfaat penting lainnya. Ini semua adalah nikmat dunia.وَهَدَيْنَٰهُ ٱلنَّجْدَيْنِ“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al-Balad: 10)Kemudian Allah menyebut nikmat dalam agama: “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan,” yaitu jalan kebaikan dan jalan keburukan. Allah telah menjelaskan kepadanya petunjuk dari kesesatan, serta jalan yang lurus dari jalan yang menyimpang.Nikmat-nikmat yang besar ini seharusnya membuat seorang hamba menunaikan hak-hak Allah, bersyukur atas nikmat-Nya, dan tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya. Namun manusia tidak melakukan hal itu. Jalan Terjal yang Tidak DitempuhAllah Ta’ala berfirman,فَلَا ٱقْتَحَمَ ٱلْعَقَبَةَ“Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.”  (QS. Al-Balad: 11)Artinya, ia tidak menempuh jalan itu dan tidak melaluinya, karena ia mengikuti hawa nafsunya.Baca juga: Menuruti Hawa Nafsuوَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلْعَقَبَةُ“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?”  (QS. Al-Balad: 12) Amal-Amal yang Mengantarkan KeselamatanAllah Ta’ala berfirman,فَكُّ رَقَبَةٍ“(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan.” (QS. Al-Balad: 13)Jalan yang sukar itu adalah membebaskan budak, yaitu memerdekakannya atau membantu agar ia bisa membayar tebusannya. Bahkan lebih utama lagi adalah membebaskan tawanan muslim dari tangan orang kafir.أَوْ إِطْعَٰمٌ فِى يَوْمٍ ذِى مَسْغَبَةٍ“atau memberi makan pada hari kelaparan.” (QS. Al-Balad: 14)Yaitu pada masa kelaparan yang sangat berat, dengan memberi makan kepada orang yang sangat membutuhkan.يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ“(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat.” (QS. Al-Balad: 15)Yaitu anak yatim yang sekaligus miskin dan memiliki hubungan kekerabatan.أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ“atau kepada orang miskin yang sangat fakir.”  (QS. Al-Balad: 16)Yaitu orang miskin yang sangat membutuhkan hingga seolah-olah menempel di tanah karena kemiskinannya. Iman, Sabar, dan Kasih SayangAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْمَرْحَمَةِ“Dan dia (juga) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”  (QS. Al-Balad: 17)Yaitu orang-orang yang beriman dengan hati mereka terhadap apa yang wajib diimani, serta beramal saleh dengan anggota badan mereka, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang wajib maupun yang sunnah. Mereka saling berpesan untuk bersabar dalam ketaatan kepada Allah, menjauhi maksiat, dan menghadapi takdir yang menyakitkan, dengan saling mendorong untuk menjalankannya dengan lapang dada dan hati yang tenang.Mereka juga saling berpesan untuk berkasih sayang kepada sesama makhluk, dengan membantu yang membutuhkan, mengajarkan yang tidak tahu, memenuhi kebutuhan mereka dalam berbagai hal, serta menolong mereka dalam urusan agama dan dunia. Mereka mencintai untuk orang lain apa yang mereka cintai untuk diri mereka sendiri, dan membenci untuk orang lain apa yang mereka benci untuk diri mereka sendiri. Golongan Kanan: Tanda KebahagiaanAllah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْمَيْمَنَةِ“Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.”  (QS. Al-Balad: 18)Mereka adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut dan diberi taufik oleh Allah untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah golongan kanan, karena mereka telah menunaikan hak Allah dan hak sesama manusia, serta meninggalkan apa yang dilarang. Ini adalah tanda dan ciri kebahagiaan. Golongan Kiri dan Azab yang MengurungAllah Ta’ala berfirman,وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا هُمْ أَصْحَٰبُ ٱلْمَشْـَٔمَةِ“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri.”  (QS. Al-Balad: 19)Yaitu orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, meninggalkan semua hal tersebut, tidak beriman kepada Allah, tidak beramal saleh, dan tidak menyayangi hamba-hamba-Nya. Mereka itulah golongan kiri.عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌۢ“Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.”  (QS. Al-Balad: 20)Yaitu neraka yang tertutup rapat atas mereka, dengan pintu-pintu yang terkunci dan tiang-tiang yang dipanjangkan dari belakangnya, sehingga tidak dapat terbuka, dan mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan penderitaan. Segala puji bagi Allah. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak manusia tertipu dengan harta dan kesenangan, hingga lupa bahwa semua itu akan dipertanggungjawabkan. Padahal, jalan menuju keselamatan memang tidak mudah, tetapi itulah jalan yang diridhai Allah. Jangan sampai nikmat yang diberikan justru digunakan untuk bermaksiat kepada-Nya. Mari kita biasakan hidup dengan iman, sabar, dan peduli terhadap sesama.اللَّهُمَّ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَصْحَابِ الْمَيْمَنَةِ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ وَالصَّبْرَ وَالرَّحْمَةَAllāhumma ihdinā aṣ-ṣirāṭal-mustaqīm, waj‘alnā min aṣḥābil-maymanah, warzuqnā al-ikhlāṣa waṣ-ṣabra war-raḥmah.Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, jadikanlah kami termasuk golongan kanan, dan karuniakan kepada kami keikhlasan, kesabaran, serta kasih sayang.Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Jumat, 1 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh harta dalam Islam iman dan sabar jalan menuju surga kehidupan dunia ujian renungan ayat sedekah dalam Islam surah Al-Balad tafsir Al-Balad tafsir as-sa'di tafsir juz amma


Surah Al-Balad mengajarkan bahwa kehidupan manusia penuh dengan ujian dan kesulitan. Namun, Allah juga menunjukkan jalan keluar menuju kebahagiaan melalui iman dan amal saleh. Siapa yang memilih jalan tersebut akan selamat, sedangkan yang mengikuti hawa nafsu akan berakhir dalam penyesalan.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Kota Mekah 2. Asal Usul Manusia dan Hakikat Kehidupan 3. Kesombongan Manusia dan Tipu Daya Harta 4. Nikmat Besar: Indra dan Petunjuk Hidup 5. Jalan Terjal yang Tidak Ditempuh 6. Amal-Amal yang Mengantarkan Keselamatan 7. Iman, Sabar, dan Kasih Sayang 8. Golongan Kanan: Tanda Kebahagiaan 9. Golongan Kiri dan Azab yang Mengurung 10. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Kota MekahAllah Ta’ala berfirman,لَآ أُقْسِمُ بِهَٰذَا ٱلْبَلَدِ“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah).” (QS. Al-Balad: 1)Allah bersumpah dengan negeri yang aman ini, yaitu Mekah, negeri yang paling utama secara mutlak, terlebih ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di dalamnya.وَأَنتَ حِلٌّۢ بِهَٰذَا ٱلْبَلَدِ “dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini.” (QS. Al-Balad: 2) Asal Usul Manusia dan Hakikat KehidupanAllah Ta’ala berfirman,وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ“dan demi bapak dan anaknya.”  (QS. Al-Balad: 3)Maksudnya adalah Adam dan keturunannya.لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”  (QS. Al-Balad: 4)Yang menjadi isi sumpah ini adalah firman-Nya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”Maknanya bisa jadi bahwa manusia menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan di dunia, di alam barzakh, dan pada hari ketika semua makhluk dibangkitkan. Karena itu, seharusnya manusia berusaha melakukan amal yang dapat menyelamatkannya dari kesulitan-kesulitan tersebut dan mendatangkan kebahagiaan serta kegembiraan yang abadi.Jika tidak, maka ia akan terus menghadapi azab yang berat selama-lamanya.Makna lain, manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna dan seimbang, mampu melakukan berbagai pekerjaan dan usaha yang berat. Namun, ia tidak bersyukur atas nikmat besar ini, bahkan justru sombong dan melampaui batas terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezalimannya, ia mengira bahwa keadaan ini akan terus berlangsung dan kekuasaannya tidak akan hilang.Baca juga: Dunia ini Negeri Ujian dan Kesulitan Kesombongan Manusia dan Tipu Daya HartaAllah Ta’ala berfirman,أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ“Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya?” (QS. Al-Balad: 5)Apakah ia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menguasainya? Lalu ia pun berbuat melampaui batas dan membanggakan harta yang ia habiskan untuk memenuhi hawa nafsunya.يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا“Dan mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”.”  (QS. Al-Balad: 6)Ia berkata, “Aku telah menghabiskan harta yang banyak,” yaitu harta yang sangat banyak, bertumpuk-tumpuk.Allah menyebut pengeluaran untuk syahwat dan kemaksiatan sebagai “kehancuran”, karena orang yang menginfakkan hartanya untuk itu tidak mendapatkan manfaat dari apa yang ia keluarkan. Ia tidak memperoleh dari pengeluarannya kecuali penyesalan, kerugian, kelelahan, dan berkurangnya harta.Berbeda dengan orang yang menginfakkan hartanya di jalan yang diridhai Allah, maka ia telah berdagang dengan Allah dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda dari apa yang ia keluarkan.أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ“Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya?”  (QS. Al-Balad: 7)Allah berfirman sebagai ancaman bagi orang yang membanggakan hartanya untuk syahwat: apakah ia mengira bahwa Allah tidak melihatnya dan tidak akan menghisabnya atas perkara kecil maupun besar?Padahal Allah telah melihatnya, mencatat amal-amalnya, dan menugaskan malaikat pencatat yang mulia untuk mencatat setiap perbuatannya, baik atau buruk. Nikmat Besar: Indra dan Petunjuk HidupAllah Ta’ala berfirman,أَلَمْ نَجْعَل لَّهُۥ عَيْنَيْنِ“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata.” (QS. Al-Balad: 8)Kemudian Allah mengingatkan manusia dengan nikmat-nikmat-Nya, dengan berfirman: bukankah Kami telah memberinya dua mata.وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ“lidah dan dua buah bibir.”  (QS. Al-Balad: 9)Serta lidah dan dua bibir, untuk keindahan, penglihatan, berbicara, dan berbagai manfaat penting lainnya. Ini semua adalah nikmat dunia.وَهَدَيْنَٰهُ ٱلنَّجْدَيْنِ“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al-Balad: 10)Kemudian Allah menyebut nikmat dalam agama: “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan,” yaitu jalan kebaikan dan jalan keburukan. Allah telah menjelaskan kepadanya petunjuk dari kesesatan, serta jalan yang lurus dari jalan yang menyimpang.Nikmat-nikmat yang besar ini seharusnya membuat seorang hamba menunaikan hak-hak Allah, bersyukur atas nikmat-Nya, dan tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya. Namun manusia tidak melakukan hal itu. Jalan Terjal yang Tidak DitempuhAllah Ta’ala berfirman,فَلَا ٱقْتَحَمَ ٱلْعَقَبَةَ“Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.”  (QS. Al-Balad: 11)Artinya, ia tidak menempuh jalan itu dan tidak melaluinya, karena ia mengikuti hawa nafsunya.Baca juga: Menuruti Hawa Nafsuوَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلْعَقَبَةُ“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?”  (QS. Al-Balad: 12) Amal-Amal yang Mengantarkan KeselamatanAllah Ta’ala berfirman,فَكُّ رَقَبَةٍ“(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan.” (QS. Al-Balad: 13)Jalan yang sukar itu adalah membebaskan budak, yaitu memerdekakannya atau membantu agar ia bisa membayar tebusannya. Bahkan lebih utama lagi adalah membebaskan tawanan muslim dari tangan orang kafir.أَوْ إِطْعَٰمٌ فِى يَوْمٍ ذِى مَسْغَبَةٍ“atau memberi makan pada hari kelaparan.” (QS. Al-Balad: 14)Yaitu pada masa kelaparan yang sangat berat, dengan memberi makan kepada orang yang sangat membutuhkan.يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ“(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat.” (QS. Al-Balad: 15)Yaitu anak yatim yang sekaligus miskin dan memiliki hubungan kekerabatan.أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ“atau kepada orang miskin yang sangat fakir.”  (QS. Al-Balad: 16)Yaitu orang miskin yang sangat membutuhkan hingga seolah-olah menempel di tanah karena kemiskinannya. Iman, Sabar, dan Kasih SayangAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْمَرْحَمَةِ“Dan dia (juga) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”  (QS. Al-Balad: 17)Yaitu orang-orang yang beriman dengan hati mereka terhadap apa yang wajib diimani, serta beramal saleh dengan anggota badan mereka, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang wajib maupun yang sunnah. Mereka saling berpesan untuk bersabar dalam ketaatan kepada Allah, menjauhi maksiat, dan menghadapi takdir yang menyakitkan, dengan saling mendorong untuk menjalankannya dengan lapang dada dan hati yang tenang.Mereka juga saling berpesan untuk berkasih sayang kepada sesama makhluk, dengan membantu yang membutuhkan, mengajarkan yang tidak tahu, memenuhi kebutuhan mereka dalam berbagai hal, serta menolong mereka dalam urusan agama dan dunia. Mereka mencintai untuk orang lain apa yang mereka cintai untuk diri mereka sendiri, dan membenci untuk orang lain apa yang mereka benci untuk diri mereka sendiri. Golongan Kanan: Tanda KebahagiaanAllah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْمَيْمَنَةِ“Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.”  (QS. Al-Balad: 18)Mereka adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut dan diberi taufik oleh Allah untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah golongan kanan, karena mereka telah menunaikan hak Allah dan hak sesama manusia, serta meninggalkan apa yang dilarang. Ini adalah tanda dan ciri kebahagiaan. Golongan Kiri dan Azab yang MengurungAllah Ta’ala berfirman,وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا هُمْ أَصْحَٰبُ ٱلْمَشْـَٔمَةِ“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri.”  (QS. Al-Balad: 19)Yaitu orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, meninggalkan semua hal tersebut, tidak beriman kepada Allah, tidak beramal saleh, dan tidak menyayangi hamba-hamba-Nya. Mereka itulah golongan kiri.عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌۢ“Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.”  (QS. Al-Balad: 20)Yaitu neraka yang tertutup rapat atas mereka, dengan pintu-pintu yang terkunci dan tiang-tiang yang dipanjangkan dari belakangnya, sehingga tidak dapat terbuka, dan mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan penderitaan. Segala puji bagi Allah. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak manusia tertipu dengan harta dan kesenangan, hingga lupa bahwa semua itu akan dipertanggungjawabkan. Padahal, jalan menuju keselamatan memang tidak mudah, tetapi itulah jalan yang diridhai Allah. Jangan sampai nikmat yang diberikan justru digunakan untuk bermaksiat kepada-Nya. Mari kita biasakan hidup dengan iman, sabar, dan peduli terhadap sesama.اللَّهُمَّ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَصْحَابِ الْمَيْمَنَةِ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ وَالصَّبْرَ وَالرَّحْمَةَAllāhumma ihdinā aṣ-ṣirāṭal-mustaqīm, waj‘alnā min aṣḥābil-maymanah, warzuqnā al-ikhlāṣa waṣ-ṣabra war-raḥmah.Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, jadikanlah kami termasuk golongan kanan, dan karuniakan kepada kami keikhlasan, kesabaran, serta kasih sayang.Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Jumat, 1 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh harta dalam Islam iman dan sabar jalan menuju surga kehidupan dunia ujian renungan ayat sedekah dalam Islam surah Al-Balad tafsir Al-Balad tafsir as-sa'di tafsir juz amma

Tafsir Surah Asy-Syams: Jalan Sukses dan Jalan Kehancuran Jiwa

Surah Asy-Syams mengajarkan bahwa manusia berada di antara dua jalan: menyucikan jiwa atau mengotorinya. Allah bersumpah dengan makhluk-Nya yang agung untuk menunjukkan pentingnya perkara ini. Siapa yang menjaga jiwanya akan beruntung, sedangkan yang merusaknya akan binasa, sebagaimana yang terjadi pada kaum Tsamud.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Matahari, Bulan, Siang, dan Malam 2. Sumpah dengan Langit dan Bumi 3. Penciptaan Jiwa dan Ilham Baik-Buruk 4. Keberuntungan Orang yang Mensucikan Jiwa 5. Kerugian Orang yang Mengotori Jiwa 6. Kedustaan Kaum Tsamud dan Peringatan Nabi Shalih 7. Azab bagi Tsamud dan Kekuasaan Allah yang Sempurna 8. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Matahari, Bulan, Siang, dan MalamAllah Ta’ala berfirman,وَٱلشَّمْسِ وَضُحَىٰهَا“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari.” (QS. Asy-Syams: 1)Maksudnya adalah cahaya matahari dan manfaat yang terpancar darinya.وَٱلْقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا “dan bulan apabila mengiringinya.” (QS. Asy-Syams: 2)Maksudnya, bulan mengikuti matahari dalam peredaran dan cahayanya.وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا“dan siang apabila menampakkannya.” (QS. Asy-Syams: 3)Maksudnya, siang hari menampakkan apa yang ada di permukaan bumi dan menjadikannya jelas.وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰهَا“dan malam apabila menutupinya.” (QS. Asy-Syams: 4)Maksudnya, malam menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap.Pergantian antara gelap dan terang, antara matahari dan bulan, yang berlangsung secara teratur dan sempurna untuk kemaslahatan manusia, adalah bukti terbesar bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Dialah satu-satunya yang berhak disembah, sedangkan semua sesembahan selain-Nya adalah batil. Sumpah dengan Langit dan BumiAllah Ta’ala berfirman,وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا“dan langit serta pembinaannya.” (QS. Asy-Syams: 5)Maknanya bisa: Allah bersumpah dengan langit dan Penciptanya, yaitu Allah Tabaraka wa Ta‘ala; atau bersumpah dengan langit dan bangunannya yang sangat sempurna dan rapi.وَٱلْأَرْضِ وَمَا طَحَىٰهَا“dan bumi serta penghamparannya.” (QS. Asy-Syams: 6)Maksudnya, bumi dibentangkan dan diluaskan, sehingga makhluk dapat memanfaatkannya dengan berbagai cara. Penciptaan Jiwa dan Ilham Baik-BurukAllah Ta’ala berfirman,وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّىٰهَا“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya).” (QS. Asy-Syams: 7)Maknanya bisa mencakup seluruh jiwa makhluk hidup, dan bisa juga khusus jiwa manusia yang dibebani syariat. Jiwa adalah tanda kebesaran Allah yang agung. Ia sangat halus, cepat berubah, berpindah, dan dipengaruhi oleh berbagai keadaan seperti keinginan, niat, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, tubuh hanyalah seperti benda mati yang tidak memiliki manfaat. Penyempurnaannya dalam bentuk seperti ini adalah tanda kebesaran Allah.فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams: 8) Keberuntungan Orang yang Mensucikan JiwaAllah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا“sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.” (QS. Asy-Syams: 9)Maksudnya, orang yang membersihkan jiwanya dari dosa, menyucikannya dari kekurangan, serta meninggikannya dengan ketaatan kepada Allah, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh. Kerugian Orang yang Mengotori JiwaAllah Ta’ala berfirman,وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا“dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 10)Maksudnya, orang yang merendahkan jiwanya yang mulia dengan mengotorinya melalui akhlak buruk, dosa, dan meninggalkan hal-hal yang dapat menyempurnakan dan mengembangkannya, serta melakukan hal-hal yang merusak dan menghinakannya. Kedustaan Kaum Tsamud dan Peringatan Nabi ShalihAllah Ta’ala berfirman,كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَىٰهَآ“(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas.” (QS. Asy-Syams: 11)Maksudnya, mereka mendustakan karena kesombongan dan sikap melampaui batas, serta pembangkangan mereka terhadap para rasul Allah.إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشْقَىٰهَا“ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka.” (QS. Asy-Syams: 12)Maksudnya, orang yang paling celaka di antara mereka, yaitu Qadar bin Salif, yang menyembelih unta itu ketika mereka telah sepakat dan memerintahkannya, lalu ia pun melaksanakan perintah tersebut.فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ ٱللَّهِ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقْيَٰهَا“lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya.” (QS. Asy-Syams: 13)Maksudnya, Nabi Shalih ‘alaihis salam memperingatkan mereka: “Berhati-hatilah terhadap unta Allah itu, yang Allah jadikan sebagai tanda yang besar bagi kalian. Jangan kalian balas nikmat Allah—berupa air susunya—dengan menyembelihnya.” Namun mereka tetap mendustakan Nabi Shalih. Azab bagi Tsamud dan Kekuasaan Allah yang SempurnaAllah Ta’ala berfirman,فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمْ فَسَوَّىٰهَا“Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah).” (QS. Asy-Syams: 14)Maksudnya, mereka benar-benar menyembelih unta tersebut, lalu Allah menimpakan azab kepada mereka secara menyeluruh karena dosa mereka. Allah mengirimkan suara keras dari atas dan gempa dari bawah, hingga mereka menjadi mayat yang bergelimpangan, tidak ada yang bisa bergerak atau menjawab. Makna “menyamaratakan” adalah bahwa Allah menyamaratakan azab kepada seluruh mereka.وَلَا يَخَافُ عُقْبَٰهَا“dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.” (QS. Asy-Syams: 15)Maksudnya, Allah tidak takut terhadap akibat dari tindakan-Nya. Bagaimana mungkin Dia takut, padahal Dia Maha Menguasai, tidak ada satu makhluk pun yang keluar dari kekuasaan dan pengaturan-Nya, dan Dia Maha Bijaksana dalam setiap ketetapan dan syariat-Nya.Selesai, segala puji bagi Allah.Baca juga: Kisah Kaum Tsamud: Peradaban yang Hilang Karena Azab Allah Nasihat PenutupHari ini, banyak manusia sibuk memperbaiki dunia, tetapi lalai memperbaiki jiwa. Padahal, kebahagiaan sejati bukan pada harta dan kedudukan, tetapi pada hati yang bersih dan dekat dengan Allah. Jangan sampai kita termasuk orang yang merusak jiwa dengan dosa dan kesombongan. Ambillah pelajaran dari kisah Tsamud sebelum datang penyesalan yang tidak berguna.اللَّهُمَّ زَكِّ نُفُوسَنَا وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا وَاهْدِنَا لِلتَّقْوَىAllāhumma zakkī nufūsanā wa ṭahhir qulūbanā wahdinā lit-taqwā.“Ya Allah, sucikanlah jiwa kami, bersihkanlah hati kami, dan tunjukilah kami kepada ketakwaan.”  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Jumat, 1 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan maksiat kajian islam khutbah jumat kisah Tsamud Nabi Shalih penyucian jiwa renungan ayat renungan quran rumaysho tafsir Asy-Syams tafsir juz amma tafsir surah asy syams tazkiyatun nafs

Tafsir Surah Asy-Syams: Jalan Sukses dan Jalan Kehancuran Jiwa

Surah Asy-Syams mengajarkan bahwa manusia berada di antara dua jalan: menyucikan jiwa atau mengotorinya. Allah bersumpah dengan makhluk-Nya yang agung untuk menunjukkan pentingnya perkara ini. Siapa yang menjaga jiwanya akan beruntung, sedangkan yang merusaknya akan binasa, sebagaimana yang terjadi pada kaum Tsamud.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Matahari, Bulan, Siang, dan Malam 2. Sumpah dengan Langit dan Bumi 3. Penciptaan Jiwa dan Ilham Baik-Buruk 4. Keberuntungan Orang yang Mensucikan Jiwa 5. Kerugian Orang yang Mengotori Jiwa 6. Kedustaan Kaum Tsamud dan Peringatan Nabi Shalih 7. Azab bagi Tsamud dan Kekuasaan Allah yang Sempurna 8. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Matahari, Bulan, Siang, dan MalamAllah Ta’ala berfirman,وَٱلشَّمْسِ وَضُحَىٰهَا“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari.” (QS. Asy-Syams: 1)Maksudnya adalah cahaya matahari dan manfaat yang terpancar darinya.وَٱلْقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا “dan bulan apabila mengiringinya.” (QS. Asy-Syams: 2)Maksudnya, bulan mengikuti matahari dalam peredaran dan cahayanya.وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا“dan siang apabila menampakkannya.” (QS. Asy-Syams: 3)Maksudnya, siang hari menampakkan apa yang ada di permukaan bumi dan menjadikannya jelas.وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰهَا“dan malam apabila menutupinya.” (QS. Asy-Syams: 4)Maksudnya, malam menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap.Pergantian antara gelap dan terang, antara matahari dan bulan, yang berlangsung secara teratur dan sempurna untuk kemaslahatan manusia, adalah bukti terbesar bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Dialah satu-satunya yang berhak disembah, sedangkan semua sesembahan selain-Nya adalah batil. Sumpah dengan Langit dan BumiAllah Ta’ala berfirman,وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا“dan langit serta pembinaannya.” (QS. Asy-Syams: 5)Maknanya bisa: Allah bersumpah dengan langit dan Penciptanya, yaitu Allah Tabaraka wa Ta‘ala; atau bersumpah dengan langit dan bangunannya yang sangat sempurna dan rapi.وَٱلْأَرْضِ وَمَا طَحَىٰهَا“dan bumi serta penghamparannya.” (QS. Asy-Syams: 6)Maksudnya, bumi dibentangkan dan diluaskan, sehingga makhluk dapat memanfaatkannya dengan berbagai cara. Penciptaan Jiwa dan Ilham Baik-BurukAllah Ta’ala berfirman,وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّىٰهَا“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya).” (QS. Asy-Syams: 7)Maknanya bisa mencakup seluruh jiwa makhluk hidup, dan bisa juga khusus jiwa manusia yang dibebani syariat. Jiwa adalah tanda kebesaran Allah yang agung. Ia sangat halus, cepat berubah, berpindah, dan dipengaruhi oleh berbagai keadaan seperti keinginan, niat, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, tubuh hanyalah seperti benda mati yang tidak memiliki manfaat. Penyempurnaannya dalam bentuk seperti ini adalah tanda kebesaran Allah.فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams: 8) Keberuntungan Orang yang Mensucikan JiwaAllah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا“sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.” (QS. Asy-Syams: 9)Maksudnya, orang yang membersihkan jiwanya dari dosa, menyucikannya dari kekurangan, serta meninggikannya dengan ketaatan kepada Allah, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh. Kerugian Orang yang Mengotori JiwaAllah Ta’ala berfirman,وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا“dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 10)Maksudnya, orang yang merendahkan jiwanya yang mulia dengan mengotorinya melalui akhlak buruk, dosa, dan meninggalkan hal-hal yang dapat menyempurnakan dan mengembangkannya, serta melakukan hal-hal yang merusak dan menghinakannya. Kedustaan Kaum Tsamud dan Peringatan Nabi ShalihAllah Ta’ala berfirman,كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَىٰهَآ“(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas.” (QS. Asy-Syams: 11)Maksudnya, mereka mendustakan karena kesombongan dan sikap melampaui batas, serta pembangkangan mereka terhadap para rasul Allah.إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشْقَىٰهَا“ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka.” (QS. Asy-Syams: 12)Maksudnya, orang yang paling celaka di antara mereka, yaitu Qadar bin Salif, yang menyembelih unta itu ketika mereka telah sepakat dan memerintahkannya, lalu ia pun melaksanakan perintah tersebut.فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ ٱللَّهِ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقْيَٰهَا“lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya.” (QS. Asy-Syams: 13)Maksudnya, Nabi Shalih ‘alaihis salam memperingatkan mereka: “Berhati-hatilah terhadap unta Allah itu, yang Allah jadikan sebagai tanda yang besar bagi kalian. Jangan kalian balas nikmat Allah—berupa air susunya—dengan menyembelihnya.” Namun mereka tetap mendustakan Nabi Shalih. Azab bagi Tsamud dan Kekuasaan Allah yang SempurnaAllah Ta’ala berfirman,فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمْ فَسَوَّىٰهَا“Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah).” (QS. Asy-Syams: 14)Maksudnya, mereka benar-benar menyembelih unta tersebut, lalu Allah menimpakan azab kepada mereka secara menyeluruh karena dosa mereka. Allah mengirimkan suara keras dari atas dan gempa dari bawah, hingga mereka menjadi mayat yang bergelimpangan, tidak ada yang bisa bergerak atau menjawab. Makna “menyamaratakan” adalah bahwa Allah menyamaratakan azab kepada seluruh mereka.وَلَا يَخَافُ عُقْبَٰهَا“dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.” (QS. Asy-Syams: 15)Maksudnya, Allah tidak takut terhadap akibat dari tindakan-Nya. Bagaimana mungkin Dia takut, padahal Dia Maha Menguasai, tidak ada satu makhluk pun yang keluar dari kekuasaan dan pengaturan-Nya, dan Dia Maha Bijaksana dalam setiap ketetapan dan syariat-Nya.Selesai, segala puji bagi Allah.Baca juga: Kisah Kaum Tsamud: Peradaban yang Hilang Karena Azab Allah Nasihat PenutupHari ini, banyak manusia sibuk memperbaiki dunia, tetapi lalai memperbaiki jiwa. Padahal, kebahagiaan sejati bukan pada harta dan kedudukan, tetapi pada hati yang bersih dan dekat dengan Allah. Jangan sampai kita termasuk orang yang merusak jiwa dengan dosa dan kesombongan. Ambillah pelajaran dari kisah Tsamud sebelum datang penyesalan yang tidak berguna.اللَّهُمَّ زَكِّ نُفُوسَنَا وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا وَاهْدِنَا لِلتَّقْوَىAllāhumma zakkī nufūsanā wa ṭahhir qulūbanā wahdinā lit-taqwā.“Ya Allah, sucikanlah jiwa kami, bersihkanlah hati kami, dan tunjukilah kami kepada ketakwaan.”  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Jumat, 1 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan maksiat kajian islam khutbah jumat kisah Tsamud Nabi Shalih penyucian jiwa renungan ayat renungan quran rumaysho tafsir Asy-Syams tafsir juz amma tafsir surah asy syams tazkiyatun nafs
Surah Asy-Syams mengajarkan bahwa manusia berada di antara dua jalan: menyucikan jiwa atau mengotorinya. Allah bersumpah dengan makhluk-Nya yang agung untuk menunjukkan pentingnya perkara ini. Siapa yang menjaga jiwanya akan beruntung, sedangkan yang merusaknya akan binasa, sebagaimana yang terjadi pada kaum Tsamud.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Matahari, Bulan, Siang, dan Malam 2. Sumpah dengan Langit dan Bumi 3. Penciptaan Jiwa dan Ilham Baik-Buruk 4. Keberuntungan Orang yang Mensucikan Jiwa 5. Kerugian Orang yang Mengotori Jiwa 6. Kedustaan Kaum Tsamud dan Peringatan Nabi Shalih 7. Azab bagi Tsamud dan Kekuasaan Allah yang Sempurna 8. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Matahari, Bulan, Siang, dan MalamAllah Ta’ala berfirman,وَٱلشَّمْسِ وَضُحَىٰهَا“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari.” (QS. Asy-Syams: 1)Maksudnya adalah cahaya matahari dan manfaat yang terpancar darinya.وَٱلْقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا “dan bulan apabila mengiringinya.” (QS. Asy-Syams: 2)Maksudnya, bulan mengikuti matahari dalam peredaran dan cahayanya.وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا“dan siang apabila menampakkannya.” (QS. Asy-Syams: 3)Maksudnya, siang hari menampakkan apa yang ada di permukaan bumi dan menjadikannya jelas.وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰهَا“dan malam apabila menutupinya.” (QS. Asy-Syams: 4)Maksudnya, malam menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap.Pergantian antara gelap dan terang, antara matahari dan bulan, yang berlangsung secara teratur dan sempurna untuk kemaslahatan manusia, adalah bukti terbesar bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Dialah satu-satunya yang berhak disembah, sedangkan semua sesembahan selain-Nya adalah batil. Sumpah dengan Langit dan BumiAllah Ta’ala berfirman,وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا“dan langit serta pembinaannya.” (QS. Asy-Syams: 5)Maknanya bisa: Allah bersumpah dengan langit dan Penciptanya, yaitu Allah Tabaraka wa Ta‘ala; atau bersumpah dengan langit dan bangunannya yang sangat sempurna dan rapi.وَٱلْأَرْضِ وَمَا طَحَىٰهَا“dan bumi serta penghamparannya.” (QS. Asy-Syams: 6)Maksudnya, bumi dibentangkan dan diluaskan, sehingga makhluk dapat memanfaatkannya dengan berbagai cara. Penciptaan Jiwa dan Ilham Baik-BurukAllah Ta’ala berfirman,وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّىٰهَا“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya).” (QS. Asy-Syams: 7)Maknanya bisa mencakup seluruh jiwa makhluk hidup, dan bisa juga khusus jiwa manusia yang dibebani syariat. Jiwa adalah tanda kebesaran Allah yang agung. Ia sangat halus, cepat berubah, berpindah, dan dipengaruhi oleh berbagai keadaan seperti keinginan, niat, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, tubuh hanyalah seperti benda mati yang tidak memiliki manfaat. Penyempurnaannya dalam bentuk seperti ini adalah tanda kebesaran Allah.فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams: 8) Keberuntungan Orang yang Mensucikan JiwaAllah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا“sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.” (QS. Asy-Syams: 9)Maksudnya, orang yang membersihkan jiwanya dari dosa, menyucikannya dari kekurangan, serta meninggikannya dengan ketaatan kepada Allah, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh. Kerugian Orang yang Mengotori JiwaAllah Ta’ala berfirman,وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا“dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 10)Maksudnya, orang yang merendahkan jiwanya yang mulia dengan mengotorinya melalui akhlak buruk, dosa, dan meninggalkan hal-hal yang dapat menyempurnakan dan mengembangkannya, serta melakukan hal-hal yang merusak dan menghinakannya. Kedustaan Kaum Tsamud dan Peringatan Nabi ShalihAllah Ta’ala berfirman,كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَىٰهَآ“(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas.” (QS. Asy-Syams: 11)Maksudnya, mereka mendustakan karena kesombongan dan sikap melampaui batas, serta pembangkangan mereka terhadap para rasul Allah.إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشْقَىٰهَا“ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka.” (QS. Asy-Syams: 12)Maksudnya, orang yang paling celaka di antara mereka, yaitu Qadar bin Salif, yang menyembelih unta itu ketika mereka telah sepakat dan memerintahkannya, lalu ia pun melaksanakan perintah tersebut.فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ ٱللَّهِ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقْيَٰهَا“lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya.” (QS. Asy-Syams: 13)Maksudnya, Nabi Shalih ‘alaihis salam memperingatkan mereka: “Berhati-hatilah terhadap unta Allah itu, yang Allah jadikan sebagai tanda yang besar bagi kalian. Jangan kalian balas nikmat Allah—berupa air susunya—dengan menyembelihnya.” Namun mereka tetap mendustakan Nabi Shalih. Azab bagi Tsamud dan Kekuasaan Allah yang SempurnaAllah Ta’ala berfirman,فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمْ فَسَوَّىٰهَا“Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah).” (QS. Asy-Syams: 14)Maksudnya, mereka benar-benar menyembelih unta tersebut, lalu Allah menimpakan azab kepada mereka secara menyeluruh karena dosa mereka. Allah mengirimkan suara keras dari atas dan gempa dari bawah, hingga mereka menjadi mayat yang bergelimpangan, tidak ada yang bisa bergerak atau menjawab. Makna “menyamaratakan” adalah bahwa Allah menyamaratakan azab kepada seluruh mereka.وَلَا يَخَافُ عُقْبَٰهَا“dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.” (QS. Asy-Syams: 15)Maksudnya, Allah tidak takut terhadap akibat dari tindakan-Nya. Bagaimana mungkin Dia takut, padahal Dia Maha Menguasai, tidak ada satu makhluk pun yang keluar dari kekuasaan dan pengaturan-Nya, dan Dia Maha Bijaksana dalam setiap ketetapan dan syariat-Nya.Selesai, segala puji bagi Allah.Baca juga: Kisah Kaum Tsamud: Peradaban yang Hilang Karena Azab Allah Nasihat PenutupHari ini, banyak manusia sibuk memperbaiki dunia, tetapi lalai memperbaiki jiwa. Padahal, kebahagiaan sejati bukan pada harta dan kedudukan, tetapi pada hati yang bersih dan dekat dengan Allah. Jangan sampai kita termasuk orang yang merusak jiwa dengan dosa dan kesombongan. Ambillah pelajaran dari kisah Tsamud sebelum datang penyesalan yang tidak berguna.اللَّهُمَّ زَكِّ نُفُوسَنَا وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا وَاهْدِنَا لِلتَّقْوَىAllāhumma zakkī nufūsanā wa ṭahhir qulūbanā wahdinā lit-taqwā.“Ya Allah, sucikanlah jiwa kami, bersihkanlah hati kami, dan tunjukilah kami kepada ketakwaan.”  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Jumat, 1 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan maksiat kajian islam khutbah jumat kisah Tsamud Nabi Shalih penyucian jiwa renungan ayat renungan quran rumaysho tafsir Asy-Syams tafsir juz amma tafsir surah asy syams tazkiyatun nafs


Surah Asy-Syams mengajarkan bahwa manusia berada di antara dua jalan: menyucikan jiwa atau mengotorinya. Allah bersumpah dengan makhluk-Nya yang agung untuk menunjukkan pentingnya perkara ini. Siapa yang menjaga jiwanya akan beruntung, sedangkan yang merusaknya akan binasa, sebagaimana yang terjadi pada kaum Tsamud.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Matahari, Bulan, Siang, dan Malam 2. Sumpah dengan Langit dan Bumi 3. Penciptaan Jiwa dan Ilham Baik-Buruk 4. Keberuntungan Orang yang Mensucikan Jiwa 5. Kerugian Orang yang Mengotori Jiwa 6. Kedustaan Kaum Tsamud dan Peringatan Nabi Shalih 7. Azab bagi Tsamud dan Kekuasaan Allah yang Sempurna 8. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Matahari, Bulan, Siang, dan MalamAllah Ta’ala berfirman,وَٱلشَّمْسِ وَضُحَىٰهَا“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari.” (QS. Asy-Syams: 1)Maksudnya adalah cahaya matahari dan manfaat yang terpancar darinya.وَٱلْقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا “dan bulan apabila mengiringinya.” (QS. Asy-Syams: 2)Maksudnya, bulan mengikuti matahari dalam peredaran dan cahayanya.وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا“dan siang apabila menampakkannya.” (QS. Asy-Syams: 3)Maksudnya, siang hari menampakkan apa yang ada di permukaan bumi dan menjadikannya jelas.وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰهَا“dan malam apabila menutupinya.” (QS. Asy-Syams: 4)Maksudnya, malam menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap.Pergantian antara gelap dan terang, antara matahari dan bulan, yang berlangsung secara teratur dan sempurna untuk kemaslahatan manusia, adalah bukti terbesar bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Dialah satu-satunya yang berhak disembah, sedangkan semua sesembahan selain-Nya adalah batil. Sumpah dengan Langit dan BumiAllah Ta’ala berfirman,وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا“dan langit serta pembinaannya.” (QS. Asy-Syams: 5)Maknanya bisa: Allah bersumpah dengan langit dan Penciptanya, yaitu Allah Tabaraka wa Ta‘ala; atau bersumpah dengan langit dan bangunannya yang sangat sempurna dan rapi.وَٱلْأَرْضِ وَمَا طَحَىٰهَا“dan bumi serta penghamparannya.” (QS. Asy-Syams: 6)Maksudnya, bumi dibentangkan dan diluaskan, sehingga makhluk dapat memanfaatkannya dengan berbagai cara. Penciptaan Jiwa dan Ilham Baik-BurukAllah Ta’ala berfirman,وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّىٰهَا“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya).” (QS. Asy-Syams: 7)Maknanya bisa mencakup seluruh jiwa makhluk hidup, dan bisa juga khusus jiwa manusia yang dibebani syariat. Jiwa adalah tanda kebesaran Allah yang agung. Ia sangat halus, cepat berubah, berpindah, dan dipengaruhi oleh berbagai keadaan seperti keinginan, niat, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, tubuh hanyalah seperti benda mati yang tidak memiliki manfaat. Penyempurnaannya dalam bentuk seperti ini adalah tanda kebesaran Allah.فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams: 8) Keberuntungan Orang yang Mensucikan JiwaAllah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا“sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.” (QS. Asy-Syams: 9)Maksudnya, orang yang membersihkan jiwanya dari dosa, menyucikannya dari kekurangan, serta meninggikannya dengan ketaatan kepada Allah, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh. Kerugian Orang yang Mengotori JiwaAllah Ta’ala berfirman,وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا“dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 10)Maksudnya, orang yang merendahkan jiwanya yang mulia dengan mengotorinya melalui akhlak buruk, dosa, dan meninggalkan hal-hal yang dapat menyempurnakan dan mengembangkannya, serta melakukan hal-hal yang merusak dan menghinakannya. Kedustaan Kaum Tsamud dan Peringatan Nabi ShalihAllah Ta’ala berfirman,كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَىٰهَآ“(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas.” (QS. Asy-Syams: 11)Maksudnya, mereka mendustakan karena kesombongan dan sikap melampaui batas, serta pembangkangan mereka terhadap para rasul Allah.إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشْقَىٰهَا“ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka.” (QS. Asy-Syams: 12)Maksudnya, orang yang paling celaka di antara mereka, yaitu Qadar bin Salif, yang menyembelih unta itu ketika mereka telah sepakat dan memerintahkannya, lalu ia pun melaksanakan perintah tersebut.فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ ٱللَّهِ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقْيَٰهَا“lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya.” (QS. Asy-Syams: 13)Maksudnya, Nabi Shalih ‘alaihis salam memperingatkan mereka: “Berhati-hatilah terhadap unta Allah itu, yang Allah jadikan sebagai tanda yang besar bagi kalian. Jangan kalian balas nikmat Allah—berupa air susunya—dengan menyembelihnya.” Namun mereka tetap mendustakan Nabi Shalih. Azab bagi Tsamud dan Kekuasaan Allah yang SempurnaAllah Ta’ala berfirman,فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمْ فَسَوَّىٰهَا“Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah).” (QS. Asy-Syams: 14)Maksudnya, mereka benar-benar menyembelih unta tersebut, lalu Allah menimpakan azab kepada mereka secara menyeluruh karena dosa mereka. Allah mengirimkan suara keras dari atas dan gempa dari bawah, hingga mereka menjadi mayat yang bergelimpangan, tidak ada yang bisa bergerak atau menjawab. Makna “menyamaratakan” adalah bahwa Allah menyamaratakan azab kepada seluruh mereka.وَلَا يَخَافُ عُقْبَٰهَا“dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.” (QS. Asy-Syams: 15)Maksudnya, Allah tidak takut terhadap akibat dari tindakan-Nya. Bagaimana mungkin Dia takut, padahal Dia Maha Menguasai, tidak ada satu makhluk pun yang keluar dari kekuasaan dan pengaturan-Nya, dan Dia Maha Bijaksana dalam setiap ketetapan dan syariat-Nya.Selesai, segala puji bagi Allah.Baca juga: Kisah Kaum Tsamud: Peradaban yang Hilang Karena Azab Allah Nasihat PenutupHari ini, banyak manusia sibuk memperbaiki dunia, tetapi lalai memperbaiki jiwa. Padahal, kebahagiaan sejati bukan pada harta dan kedudukan, tetapi pada hati yang bersih dan dekat dengan Allah. Jangan sampai kita termasuk orang yang merusak jiwa dengan dosa dan kesombongan. Ambillah pelajaran dari kisah Tsamud sebelum datang penyesalan yang tidak berguna.اللَّهُمَّ زَكِّ نُفُوسَنَا وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا وَاهْدِنَا لِلتَّقْوَىAllāhumma zakkī nufūsanā wa ṭahhir qulūbanā wahdinā lit-taqwā.“Ya Allah, sucikanlah jiwa kami, bersihkanlah hati kami, dan tunjukilah kami kepada ketakwaan.”  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Jumat, 1 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan maksiat kajian islam khutbah jumat kisah Tsamud Nabi Shalih penyucian jiwa renungan ayat renungan quran rumaysho tafsir Asy-Syams tafsir juz amma tafsir surah asy syams tazkiyatun nafs

Tafsir Surah Al-Lail: Jalan Menuju Kemudahan atau Kesulitan

Surah Al-Lail menjelaskan bahwa kehidupan manusia berjalan di dua arah yang sangat berbeda: menuju kemudahan atau menuju kesulitan. Perbedaan ini ditentukan oleh iman, amal, dan tujuan hidup seseorang. Siapa yang memilih kebaikan akan dimudahkan menuju kebaikan, dan siapa yang memilih keburukan akan dimudahkan menuju keburukan.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Malam dan Siang 2. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan Perempuan 3. Usaha Manusia yang Berbeda-Beda 4. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan Kebaikan 5. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih Kebaikan 6. Ciri Orang yang Memilih Jalan Keburukan 7. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan Sendiri 8. Takdir dan Kemudahan Beramal 9. Harta Tidak Berguna Tanpa Amal 10. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan Akhirat 11. Ancaman Neraka bagi Orang yang Celaka 12. Sifat Orang Bertakwa yang Selamat 13. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari Manusia 14. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Malam dan SiangAllah Ta’ala berfirman,وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).” (QS. Al-Lail: 1)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah sumpah dari Allah dengan waktu, yaitu waktu yang di dalamnya manusia melakukan berbagai aktivitas dengan keadaan yang berbeda-beda. Firman-Nya, “demi malam apabila menutupi”, maksudnya malam menyelimuti seluruh makhluk dengan kegelapannya. Ketika itu, setiap orang kembali ke tempat tinggalnya, dan manusia beristirahat dari keletihan serta kepayahan. وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ“dan siang apabila terang benderang.” (QS. Al-Lail: 2)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan demi siang ketika tampak jelas bagi manusia, sehingga mereka mendapatkan cahaya dari sinarnya dan bertebaran untuk mengurus berbagai keperluan mereka. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan PerempuanAllah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰٓ“dan penciptaan laki-laki dan perempuan.” (QS. Al-Lail: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Firman-Nya, “dan (demi) yang menciptakan laki-laki dan perempuan”, jika kata mā dimaknai sebagai kata sambung (maushulah), maka ini adalah sumpah dengan Dzat Allah yang mulia, yaitu Dia yang menciptakan laki-laki dan perempuan. Jika dimaknai sebagai kata dasar (mashdariyah), maka ini adalah sumpah dengan penciptaan laki-laki dan perempuan itu sendiri.Di antara kesempurnaan hikmah-Nya adalah bahwa Allah menciptakan dari setiap jenis makhluk hidup yang Dia kehendaki kelangsungannya, pasangan laki-laki dan perempuan, agar jenis tersebut tetap lestari dan tidak punah. Allah juga menautkan keduanya dengan dorongan syahwat, serta menjadikan masing-masing sesuai dan saling melengkapi. Maka Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta. Usaha Manusia yang Berbeda-BedaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ“sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” (QS. Al-Lail: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah isi sumpah tersebut, yaitu bahwa usaha kalian, wahai manusia yang dibebani syariat, benar-benar berbeda dengan perbedaan yang besar. Hal ini tergantung pada jenis amal yang dilakukan, banyak atau sedikitnya, serta kesungguhan dalam melaksanakannya. Juga tergantung pada tujuan dari amal tersebut: apakah ditujukan untuk mencari wajah Allah Yang Mahatinggi dan kekal, sehingga amal itu pun kekal dan pelakunya mendapatkan manfaat darinya; ataukah tujuannya sesuatu yang fana dan akan lenyap, sehingga amal itu pun menjadi sia-sia dan hilang bersama hilangnya tujuan tersebut. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَٱتَّقَىٰ“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa.” (QS. Al-Lail: 5)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang beramal dan menyebutkan amalan mereka. Adapun orang yang memberi, yaitu menunaikan apa yang diperintahkan berupa ibadah harta, seperti zakat, kafarat, nafkah, sedekah, dan berbagai bentuk infak di jalan kebaikan. Juga ibadah badan seperti shalat, puasa, dan yang semisalnya. Serta ibadah yang menggabungkan keduanya, seperti haji dan umrah. Dan ia bertakwa, yaitu meninggalkan apa yang dilarang berupa berbagai macam perbuatan haram dan maksiat.وَصَدَّقَ بِٱلْحُسْنَىٰ“dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga).” (QS. Al-Lail: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu membenarkan kalimat lā ilāha illallāh dan apa yang dikandungnya, berupa seluruh keyakinan agama, serta apa yang menjadi konsekuensinya berupa balasan di akhirat. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ“maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 7)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, Kami akan memudahkan urusannya, menjadikannya dimudahkan untuk melakukan setiap kebaikan, dan dimudahkan untuk meninggalkan setiap keburukan. Karena ia telah menempuh sebab-sebab kemudahan, maka Allah pun memudahkan baginya hal tersebut.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dari ayat disimpulkan perkataan salaf berikut.وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ عُقُوبَةِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا.Sebagian ulama salaf mengatakan: di antara balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya, dan di antara balasan keburukan adalah keburukan setelahnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir) Ciri Orang yang Memilih Jalan KeburukanAllah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسْتَغْنَىٰ“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup.” (QS. Al-Lail: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang kikir terhadap apa yang diperintahkan, sehingga ia meninggalkan infak yang wajib maupun yang dianjurkan, dan jiwanya tidak mau menunaikan kewajiban kepada Allah. Ia juga merasa tidak membutuhkan Allah, sehingga meninggalkan penghambaan kepada-Nya, dan tidak merasa dirinya sangat bergantung kepada Rabb-nya, padahal tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kesuksesan kecuali dengan menjadikan Allah sebagai yang dicintai dan disembah, yang menjadi tujuan dan tempat bergantung.وَكَذَّبَ بِٱلْحُسْنَىٰ“serta mendustakan pahala terbaik.” (QS. Al-Lail: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu mendustakan apa yang Allah wajibkan untuk diimani oleh para hamba berupa keyakinan yang benar. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan SendiriAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْعُسْرَىٰ“maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, menuju keadaan yang sulit dan sifat-sifat yang buruk. Ia akan dimudahkan untuk melakukan keburukan di mana pun berada, dan diserahkan kepada perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah keselamatan.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan surah Al-Lail ayat 10 sebagai berikut.“maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Artinya, menuju jalan keburukan. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:وَنُقَلِّبُ أَفْـِٔدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ“Dan Kami bolak-balikkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka tidak beriman kepadanya pada permulaan, dan Kami biarkan mereka dalam kesesatan mereka meraba-raba.” (QS. Al-An‘am: 110)Ayat-ayat dengan makna seperti ini sangat banyak, yang menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla membalas orang yang menginginkan kebaikan dengan memberikan taufik kepadanya, dan membalas orang yang menginginkan keburukan dengan membiarkannya (tidak diberi taufik). Semua itu terjadi dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Hadits-hadits yang menunjukkan makna ini juga banyak. Takdir dan Kemudahan BeramalDi antaranya riwayat dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy, telah menceritakan kepadaku Al-‘Aththaf bin Khalid, telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari penduduk Bashrah, dari Thalhah bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abi Bakar Ash-Shiddiq, dari ayahnya, ia berkata: aku mendengar ayahku menyebutkan bahwa ayahnya mendengar Abu Bakar berkata:Aku berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah kita beramal berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan atau berdasarkan sesuatu yang baru dimulai?”Beliau bersabda:بَلْ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ فُرِغَ مِنْهُ“Bahkan berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan.”Aku bertanya lagi, “Lalu untuk apa kita beramal, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda:كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu:Imam Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Nu‘aim, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A‘mash, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman As-Sulami, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata:Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Baqi‘ Al-Gharqad dalam suatu pemakaman. Lalu beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ“Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di surga dan tempat duduknya di neraka.”Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja (kepada takdir)?”Beliau bersabda:اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Sementara orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7)sampai firman-Nya:لِلْعُسْرَىٰ“(ke jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Hadis ini juga diriwayatkan melalui jalur Syu‘bah dan Waki‘ dari Al-A‘mash dengan makna yang serupa.Kemudian diriwayatkan pula dari ‘Utsman bin Abi Syaibah, dari Jarir, dari Manshur, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Kami berada dalam suatu pemakaman di Baqi‘ Al-Gharqad. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, kemudian duduk, dan kami pun duduk di sekeliling beliau. Di tangan beliau ada tongkat kecil, lalu beliau menundukkan kepala dan menggoreskan tongkatnya ke tanah. Kemudian beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ – أَوْ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ – إِلَّا كُتِبَ مَكَانُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَإِلَّا قَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً“Tidak ada seorang pun di antara kalian—atau tidak ada satu jiwa pun—kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga atau di neraka, dan telah ditetapkan apakah ia celaka atau bahagia.”Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja dan meninggalkan amal? Jika kami termasuk orang yang bahagia, kami akan menuju kepada kebahagiaan, dan jika kami termasuk orang yang celaka, kami akan menuju kepada kecelakaan.”Beliau bersabda:أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ“Adapun orang-orang yang bahagia, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang bahagia. Dan adapun orang-orang yang celaka, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang celaka.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7) Harta Tidak Berguna Tanpa AmalAllah Ta’ala berfirman,وَمَا يُغْنِى عَنْهُ مَالُهُۥٓ إِذَا تَرَدَّىٰٓ“Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS. Al-Lail: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan tidaklah berguna baginya harta yang membuatnya melampaui batas, yang membuatnya merasa cukup, serta yang ia tahan (tidak ia infakkan), ketika ia telah binasa dan mati. Karena yang menyertainya hanyalah amal salehnya. Adapun hartanya yang tidak ia keluarkan kewajibannya, maka itu akan menjadi bencana baginya, karena ia tidak menyiapkan apa pun darinya untuk akhirat. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan AkhiratAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ“Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk.” (QS. Al-Lail: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, jalan petunjuk yang lurus itu berada di bawah penjelasan dan bimbingan Kami. Jalan tersebut mengantarkan kepada Allah dan mendekatkan kepada keridaan-Nya. Adapun kesesatan adalah jalan-jalan yang tertutup dari Allah, tidak mengantarkan pelakunya kecuali kepada azab yang berat.وَإِنَّ لَنَا لَلْءَاخِرَةَ وَٱلْأُولَىٰ“dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.” (QS. Al-Lail: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, keduanya—akhirat dan dunia—adalah milik Allah dalam kekuasaan dan pengaturan, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Maka hendaklah orang yang menginginkan sesuatu memohon hanya kepada-Nya, dan memutuskan harapannya dari makhluk. Ancaman Neraka bagi Orang yang CelakaAllah Ta’ala berfirman,فَأَنذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّىٰ“Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Lail: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu neraka yang berkobar dan menyala dengan dahsyat.لَا يَصْلَىٰهَآ إِلَّا ٱلْأَشْقَى“Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka.” (QS. Al-Lail: 15)ٱلَّذِى كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ“yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).” (QS. Al-Lail: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari perintah. Sifat Orang Bertakwa yang SelamatAllah Ta’ala berfirman,وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلْأَتْقَى“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.” (QS. Al-Lail: 17)ٱلَّذِى يُؤْتِى مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ“yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.” (QS. Al-Lail: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang memberikan hartanya dengan tujuan menyucikan dirinya dan membersihkannya dari dosa dan kekurangan, dengan mengharap wajah Allah Ta‘ala. Ini menunjukkan bahwa jika infak sunnah menyebabkan ditinggalkannya kewajiban, seperti membayar utang, menafkahi yang wajib, dan semisalnya, maka hal itu tidak disyariatkan. Bahkan pemberiannya tertolak menurut banyak ulama, karena seseorang tidak dianggap menyucikan diri dengan melakukan amalan sunnah yang menyebabkan ia meninggalkan kewajiban. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari ManusiaAllah Ta’ala berfirman,وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰٓ“padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya.” (QS. Al-Lail: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, tidak ada seorang pun dari makhluk yang memiliki jasa atau nikmat atas orang yang paling bertakwa ini yang harus ia balas, kecuali ia telah membalasnya. Bahkan mungkin ia masih memiliki keutamaan atas manusia. Dengan demikian, ia menjadi hamba yang murni hanya untuk Allah, karena ia sepenuhnya tunduk kepada kebaikan-Nya saja.Adapun orang yang masih memiliki utang budi kepada manusia yang belum ia balas, maka pasti ia akan melakukan sesuatu untuk mereka yang dapat mengurangi keikhlasannya.Ayat ini, meskipun mencakup Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu—bahkan disebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan beliau—karena tidak ada seorang pun yang memiliki jasa kepadanya yang belum ia balas, bahkan termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali nikmat kerasulan yang tidak mungkin dibalas, yaitu nikmat berupa dakwah kepada agama Islam, pengajaran petunjuk, dan agama yang benar. Karena sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya memiliki karunia atas setiap manusia, suatu karunia yang tidak mungkin dibalas atau disamai. Namun ayat ini juga mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, yaitu tidak ada lagi hak manusia yang tersisa atas dirinya, sehingga amalnya menjadi murni hanya untuk Allah Ta‘ala.إِلَّا ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِ ٱلْأَعْلَىٰ“tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.” (QS. Al-Lail: 20)وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ“Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al-Lail: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Orang yang paling bertakwa ini akan merasa puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya berupa berbagai kemuliaan dan pahala. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengejar kemudahan dunia, tetapi lupa bahwa kemudahan sejati adalah dimudahkan dalam ketaatan. Hati yang condong pada kebaikan akan semakin mudah melakukan kebaikan, sedangkan hati yang terbiasa dengan maksiat akan semakin berat kembali kepada kebenaran. Karena itu, jagalah niat, luruskan tujuan, dan biasakan diri dengan amal saleh sekecil apa pun. Jangan menunda kebaikan, karena setiap langkah kecil bisa membuka pintu kemudahan yang besar.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لَنَا خَيْرًاALLĀHUMMA INNĀ NAS’ALUKA AN TAJ‘ALA KULLA QAḌĀ’IN QAḌAYTAHU LANĀ KHAYRĀ“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar setiap ketetapan yang Engkau tetapkan untuk kami menjadi kebaikan bagi kami.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal shalih jalan kebaikan jalan keburukan juz amma keikhlasan renungan ayat renungan quran surah al lail tafsir al lail tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir juz amma takdir dan usaha taufik dan hidayah

Tafsir Surah Al-Lail: Jalan Menuju Kemudahan atau Kesulitan

Surah Al-Lail menjelaskan bahwa kehidupan manusia berjalan di dua arah yang sangat berbeda: menuju kemudahan atau menuju kesulitan. Perbedaan ini ditentukan oleh iman, amal, dan tujuan hidup seseorang. Siapa yang memilih kebaikan akan dimudahkan menuju kebaikan, dan siapa yang memilih keburukan akan dimudahkan menuju keburukan.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Malam dan Siang 2. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan Perempuan 3. Usaha Manusia yang Berbeda-Beda 4. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan Kebaikan 5. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih Kebaikan 6. Ciri Orang yang Memilih Jalan Keburukan 7. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan Sendiri 8. Takdir dan Kemudahan Beramal 9. Harta Tidak Berguna Tanpa Amal 10. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan Akhirat 11. Ancaman Neraka bagi Orang yang Celaka 12. Sifat Orang Bertakwa yang Selamat 13. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari Manusia 14. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Malam dan SiangAllah Ta’ala berfirman,وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).” (QS. Al-Lail: 1)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah sumpah dari Allah dengan waktu, yaitu waktu yang di dalamnya manusia melakukan berbagai aktivitas dengan keadaan yang berbeda-beda. Firman-Nya, “demi malam apabila menutupi”, maksudnya malam menyelimuti seluruh makhluk dengan kegelapannya. Ketika itu, setiap orang kembali ke tempat tinggalnya, dan manusia beristirahat dari keletihan serta kepayahan. وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ“dan siang apabila terang benderang.” (QS. Al-Lail: 2)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan demi siang ketika tampak jelas bagi manusia, sehingga mereka mendapatkan cahaya dari sinarnya dan bertebaran untuk mengurus berbagai keperluan mereka. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan PerempuanAllah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰٓ“dan penciptaan laki-laki dan perempuan.” (QS. Al-Lail: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Firman-Nya, “dan (demi) yang menciptakan laki-laki dan perempuan”, jika kata mā dimaknai sebagai kata sambung (maushulah), maka ini adalah sumpah dengan Dzat Allah yang mulia, yaitu Dia yang menciptakan laki-laki dan perempuan. Jika dimaknai sebagai kata dasar (mashdariyah), maka ini adalah sumpah dengan penciptaan laki-laki dan perempuan itu sendiri.Di antara kesempurnaan hikmah-Nya adalah bahwa Allah menciptakan dari setiap jenis makhluk hidup yang Dia kehendaki kelangsungannya, pasangan laki-laki dan perempuan, agar jenis tersebut tetap lestari dan tidak punah. Allah juga menautkan keduanya dengan dorongan syahwat, serta menjadikan masing-masing sesuai dan saling melengkapi. Maka Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta. Usaha Manusia yang Berbeda-BedaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ“sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” (QS. Al-Lail: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah isi sumpah tersebut, yaitu bahwa usaha kalian, wahai manusia yang dibebani syariat, benar-benar berbeda dengan perbedaan yang besar. Hal ini tergantung pada jenis amal yang dilakukan, banyak atau sedikitnya, serta kesungguhan dalam melaksanakannya. Juga tergantung pada tujuan dari amal tersebut: apakah ditujukan untuk mencari wajah Allah Yang Mahatinggi dan kekal, sehingga amal itu pun kekal dan pelakunya mendapatkan manfaat darinya; ataukah tujuannya sesuatu yang fana dan akan lenyap, sehingga amal itu pun menjadi sia-sia dan hilang bersama hilangnya tujuan tersebut. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَٱتَّقَىٰ“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa.” (QS. Al-Lail: 5)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang beramal dan menyebutkan amalan mereka. Adapun orang yang memberi, yaitu menunaikan apa yang diperintahkan berupa ibadah harta, seperti zakat, kafarat, nafkah, sedekah, dan berbagai bentuk infak di jalan kebaikan. Juga ibadah badan seperti shalat, puasa, dan yang semisalnya. Serta ibadah yang menggabungkan keduanya, seperti haji dan umrah. Dan ia bertakwa, yaitu meninggalkan apa yang dilarang berupa berbagai macam perbuatan haram dan maksiat.وَصَدَّقَ بِٱلْحُسْنَىٰ“dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga).” (QS. Al-Lail: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu membenarkan kalimat lā ilāha illallāh dan apa yang dikandungnya, berupa seluruh keyakinan agama, serta apa yang menjadi konsekuensinya berupa balasan di akhirat. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ“maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 7)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, Kami akan memudahkan urusannya, menjadikannya dimudahkan untuk melakukan setiap kebaikan, dan dimudahkan untuk meninggalkan setiap keburukan. Karena ia telah menempuh sebab-sebab kemudahan, maka Allah pun memudahkan baginya hal tersebut.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dari ayat disimpulkan perkataan salaf berikut.وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ عُقُوبَةِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا.Sebagian ulama salaf mengatakan: di antara balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya, dan di antara balasan keburukan adalah keburukan setelahnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir) Ciri Orang yang Memilih Jalan KeburukanAllah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسْتَغْنَىٰ“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup.” (QS. Al-Lail: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang kikir terhadap apa yang diperintahkan, sehingga ia meninggalkan infak yang wajib maupun yang dianjurkan, dan jiwanya tidak mau menunaikan kewajiban kepada Allah. Ia juga merasa tidak membutuhkan Allah, sehingga meninggalkan penghambaan kepada-Nya, dan tidak merasa dirinya sangat bergantung kepada Rabb-nya, padahal tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kesuksesan kecuali dengan menjadikan Allah sebagai yang dicintai dan disembah, yang menjadi tujuan dan tempat bergantung.وَكَذَّبَ بِٱلْحُسْنَىٰ“serta mendustakan pahala terbaik.” (QS. Al-Lail: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu mendustakan apa yang Allah wajibkan untuk diimani oleh para hamba berupa keyakinan yang benar. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan SendiriAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْعُسْرَىٰ“maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, menuju keadaan yang sulit dan sifat-sifat yang buruk. Ia akan dimudahkan untuk melakukan keburukan di mana pun berada, dan diserahkan kepada perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah keselamatan.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan surah Al-Lail ayat 10 sebagai berikut.“maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Artinya, menuju jalan keburukan. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:وَنُقَلِّبُ أَفْـِٔدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ“Dan Kami bolak-balikkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka tidak beriman kepadanya pada permulaan, dan Kami biarkan mereka dalam kesesatan mereka meraba-raba.” (QS. Al-An‘am: 110)Ayat-ayat dengan makna seperti ini sangat banyak, yang menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla membalas orang yang menginginkan kebaikan dengan memberikan taufik kepadanya, dan membalas orang yang menginginkan keburukan dengan membiarkannya (tidak diberi taufik). Semua itu terjadi dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Hadits-hadits yang menunjukkan makna ini juga banyak. Takdir dan Kemudahan BeramalDi antaranya riwayat dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy, telah menceritakan kepadaku Al-‘Aththaf bin Khalid, telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari penduduk Bashrah, dari Thalhah bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abi Bakar Ash-Shiddiq, dari ayahnya, ia berkata: aku mendengar ayahku menyebutkan bahwa ayahnya mendengar Abu Bakar berkata:Aku berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah kita beramal berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan atau berdasarkan sesuatu yang baru dimulai?”Beliau bersabda:بَلْ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ فُرِغَ مِنْهُ“Bahkan berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan.”Aku bertanya lagi, “Lalu untuk apa kita beramal, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda:كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu:Imam Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Nu‘aim, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A‘mash, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman As-Sulami, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata:Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Baqi‘ Al-Gharqad dalam suatu pemakaman. Lalu beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ“Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di surga dan tempat duduknya di neraka.”Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja (kepada takdir)?”Beliau bersabda:اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Sementara orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7)sampai firman-Nya:لِلْعُسْرَىٰ“(ke jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Hadis ini juga diriwayatkan melalui jalur Syu‘bah dan Waki‘ dari Al-A‘mash dengan makna yang serupa.Kemudian diriwayatkan pula dari ‘Utsman bin Abi Syaibah, dari Jarir, dari Manshur, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Kami berada dalam suatu pemakaman di Baqi‘ Al-Gharqad. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, kemudian duduk, dan kami pun duduk di sekeliling beliau. Di tangan beliau ada tongkat kecil, lalu beliau menundukkan kepala dan menggoreskan tongkatnya ke tanah. Kemudian beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ – أَوْ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ – إِلَّا كُتِبَ مَكَانُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَإِلَّا قَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً“Tidak ada seorang pun di antara kalian—atau tidak ada satu jiwa pun—kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga atau di neraka, dan telah ditetapkan apakah ia celaka atau bahagia.”Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja dan meninggalkan amal? Jika kami termasuk orang yang bahagia, kami akan menuju kepada kebahagiaan, dan jika kami termasuk orang yang celaka, kami akan menuju kepada kecelakaan.”Beliau bersabda:أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ“Adapun orang-orang yang bahagia, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang bahagia. Dan adapun orang-orang yang celaka, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang celaka.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7) Harta Tidak Berguna Tanpa AmalAllah Ta’ala berfirman,وَمَا يُغْنِى عَنْهُ مَالُهُۥٓ إِذَا تَرَدَّىٰٓ“Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS. Al-Lail: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan tidaklah berguna baginya harta yang membuatnya melampaui batas, yang membuatnya merasa cukup, serta yang ia tahan (tidak ia infakkan), ketika ia telah binasa dan mati. Karena yang menyertainya hanyalah amal salehnya. Adapun hartanya yang tidak ia keluarkan kewajibannya, maka itu akan menjadi bencana baginya, karena ia tidak menyiapkan apa pun darinya untuk akhirat. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan AkhiratAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ“Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk.” (QS. Al-Lail: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, jalan petunjuk yang lurus itu berada di bawah penjelasan dan bimbingan Kami. Jalan tersebut mengantarkan kepada Allah dan mendekatkan kepada keridaan-Nya. Adapun kesesatan adalah jalan-jalan yang tertutup dari Allah, tidak mengantarkan pelakunya kecuali kepada azab yang berat.وَإِنَّ لَنَا لَلْءَاخِرَةَ وَٱلْأُولَىٰ“dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.” (QS. Al-Lail: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, keduanya—akhirat dan dunia—adalah milik Allah dalam kekuasaan dan pengaturan, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Maka hendaklah orang yang menginginkan sesuatu memohon hanya kepada-Nya, dan memutuskan harapannya dari makhluk. Ancaman Neraka bagi Orang yang CelakaAllah Ta’ala berfirman,فَأَنذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّىٰ“Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Lail: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu neraka yang berkobar dan menyala dengan dahsyat.لَا يَصْلَىٰهَآ إِلَّا ٱلْأَشْقَى“Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka.” (QS. Al-Lail: 15)ٱلَّذِى كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ“yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).” (QS. Al-Lail: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari perintah. Sifat Orang Bertakwa yang SelamatAllah Ta’ala berfirman,وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلْأَتْقَى“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.” (QS. Al-Lail: 17)ٱلَّذِى يُؤْتِى مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ“yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.” (QS. Al-Lail: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang memberikan hartanya dengan tujuan menyucikan dirinya dan membersihkannya dari dosa dan kekurangan, dengan mengharap wajah Allah Ta‘ala. Ini menunjukkan bahwa jika infak sunnah menyebabkan ditinggalkannya kewajiban, seperti membayar utang, menafkahi yang wajib, dan semisalnya, maka hal itu tidak disyariatkan. Bahkan pemberiannya tertolak menurut banyak ulama, karena seseorang tidak dianggap menyucikan diri dengan melakukan amalan sunnah yang menyebabkan ia meninggalkan kewajiban. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari ManusiaAllah Ta’ala berfirman,وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰٓ“padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya.” (QS. Al-Lail: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, tidak ada seorang pun dari makhluk yang memiliki jasa atau nikmat atas orang yang paling bertakwa ini yang harus ia balas, kecuali ia telah membalasnya. Bahkan mungkin ia masih memiliki keutamaan atas manusia. Dengan demikian, ia menjadi hamba yang murni hanya untuk Allah, karena ia sepenuhnya tunduk kepada kebaikan-Nya saja.Adapun orang yang masih memiliki utang budi kepada manusia yang belum ia balas, maka pasti ia akan melakukan sesuatu untuk mereka yang dapat mengurangi keikhlasannya.Ayat ini, meskipun mencakup Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu—bahkan disebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan beliau—karena tidak ada seorang pun yang memiliki jasa kepadanya yang belum ia balas, bahkan termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali nikmat kerasulan yang tidak mungkin dibalas, yaitu nikmat berupa dakwah kepada agama Islam, pengajaran petunjuk, dan agama yang benar. Karena sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya memiliki karunia atas setiap manusia, suatu karunia yang tidak mungkin dibalas atau disamai. Namun ayat ini juga mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, yaitu tidak ada lagi hak manusia yang tersisa atas dirinya, sehingga amalnya menjadi murni hanya untuk Allah Ta‘ala.إِلَّا ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِ ٱلْأَعْلَىٰ“tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.” (QS. Al-Lail: 20)وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ“Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al-Lail: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Orang yang paling bertakwa ini akan merasa puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya berupa berbagai kemuliaan dan pahala. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengejar kemudahan dunia, tetapi lupa bahwa kemudahan sejati adalah dimudahkan dalam ketaatan. Hati yang condong pada kebaikan akan semakin mudah melakukan kebaikan, sedangkan hati yang terbiasa dengan maksiat akan semakin berat kembali kepada kebenaran. Karena itu, jagalah niat, luruskan tujuan, dan biasakan diri dengan amal saleh sekecil apa pun. Jangan menunda kebaikan, karena setiap langkah kecil bisa membuka pintu kemudahan yang besar.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لَنَا خَيْرًاALLĀHUMMA INNĀ NAS’ALUKA AN TAJ‘ALA KULLA QAḌĀ’IN QAḌAYTAHU LANĀ KHAYRĀ“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar setiap ketetapan yang Engkau tetapkan untuk kami menjadi kebaikan bagi kami.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal shalih jalan kebaikan jalan keburukan juz amma keikhlasan renungan ayat renungan quran surah al lail tafsir al lail tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir juz amma takdir dan usaha taufik dan hidayah
Surah Al-Lail menjelaskan bahwa kehidupan manusia berjalan di dua arah yang sangat berbeda: menuju kemudahan atau menuju kesulitan. Perbedaan ini ditentukan oleh iman, amal, dan tujuan hidup seseorang. Siapa yang memilih kebaikan akan dimudahkan menuju kebaikan, dan siapa yang memilih keburukan akan dimudahkan menuju keburukan.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Malam dan Siang 2. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan Perempuan 3. Usaha Manusia yang Berbeda-Beda 4. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan Kebaikan 5. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih Kebaikan 6. Ciri Orang yang Memilih Jalan Keburukan 7. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan Sendiri 8. Takdir dan Kemudahan Beramal 9. Harta Tidak Berguna Tanpa Amal 10. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan Akhirat 11. Ancaman Neraka bagi Orang yang Celaka 12. Sifat Orang Bertakwa yang Selamat 13. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari Manusia 14. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Malam dan SiangAllah Ta’ala berfirman,وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).” (QS. Al-Lail: 1)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah sumpah dari Allah dengan waktu, yaitu waktu yang di dalamnya manusia melakukan berbagai aktivitas dengan keadaan yang berbeda-beda. Firman-Nya, “demi malam apabila menutupi”, maksudnya malam menyelimuti seluruh makhluk dengan kegelapannya. Ketika itu, setiap orang kembali ke tempat tinggalnya, dan manusia beristirahat dari keletihan serta kepayahan. وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ“dan siang apabila terang benderang.” (QS. Al-Lail: 2)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan demi siang ketika tampak jelas bagi manusia, sehingga mereka mendapatkan cahaya dari sinarnya dan bertebaran untuk mengurus berbagai keperluan mereka. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan PerempuanAllah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰٓ“dan penciptaan laki-laki dan perempuan.” (QS. Al-Lail: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Firman-Nya, “dan (demi) yang menciptakan laki-laki dan perempuan”, jika kata mā dimaknai sebagai kata sambung (maushulah), maka ini adalah sumpah dengan Dzat Allah yang mulia, yaitu Dia yang menciptakan laki-laki dan perempuan. Jika dimaknai sebagai kata dasar (mashdariyah), maka ini adalah sumpah dengan penciptaan laki-laki dan perempuan itu sendiri.Di antara kesempurnaan hikmah-Nya adalah bahwa Allah menciptakan dari setiap jenis makhluk hidup yang Dia kehendaki kelangsungannya, pasangan laki-laki dan perempuan, agar jenis tersebut tetap lestari dan tidak punah. Allah juga menautkan keduanya dengan dorongan syahwat, serta menjadikan masing-masing sesuai dan saling melengkapi. Maka Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta. Usaha Manusia yang Berbeda-BedaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ“sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” (QS. Al-Lail: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah isi sumpah tersebut, yaitu bahwa usaha kalian, wahai manusia yang dibebani syariat, benar-benar berbeda dengan perbedaan yang besar. Hal ini tergantung pada jenis amal yang dilakukan, banyak atau sedikitnya, serta kesungguhan dalam melaksanakannya. Juga tergantung pada tujuan dari amal tersebut: apakah ditujukan untuk mencari wajah Allah Yang Mahatinggi dan kekal, sehingga amal itu pun kekal dan pelakunya mendapatkan manfaat darinya; ataukah tujuannya sesuatu yang fana dan akan lenyap, sehingga amal itu pun menjadi sia-sia dan hilang bersama hilangnya tujuan tersebut. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَٱتَّقَىٰ“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa.” (QS. Al-Lail: 5)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang beramal dan menyebutkan amalan mereka. Adapun orang yang memberi, yaitu menunaikan apa yang diperintahkan berupa ibadah harta, seperti zakat, kafarat, nafkah, sedekah, dan berbagai bentuk infak di jalan kebaikan. Juga ibadah badan seperti shalat, puasa, dan yang semisalnya. Serta ibadah yang menggabungkan keduanya, seperti haji dan umrah. Dan ia bertakwa, yaitu meninggalkan apa yang dilarang berupa berbagai macam perbuatan haram dan maksiat.وَصَدَّقَ بِٱلْحُسْنَىٰ“dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga).” (QS. Al-Lail: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu membenarkan kalimat lā ilāha illallāh dan apa yang dikandungnya, berupa seluruh keyakinan agama, serta apa yang menjadi konsekuensinya berupa balasan di akhirat. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ“maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 7)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, Kami akan memudahkan urusannya, menjadikannya dimudahkan untuk melakukan setiap kebaikan, dan dimudahkan untuk meninggalkan setiap keburukan. Karena ia telah menempuh sebab-sebab kemudahan, maka Allah pun memudahkan baginya hal tersebut.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dari ayat disimpulkan perkataan salaf berikut.وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ عُقُوبَةِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا.Sebagian ulama salaf mengatakan: di antara balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya, dan di antara balasan keburukan adalah keburukan setelahnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir) Ciri Orang yang Memilih Jalan KeburukanAllah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسْتَغْنَىٰ“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup.” (QS. Al-Lail: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang kikir terhadap apa yang diperintahkan, sehingga ia meninggalkan infak yang wajib maupun yang dianjurkan, dan jiwanya tidak mau menunaikan kewajiban kepada Allah. Ia juga merasa tidak membutuhkan Allah, sehingga meninggalkan penghambaan kepada-Nya, dan tidak merasa dirinya sangat bergantung kepada Rabb-nya, padahal tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kesuksesan kecuali dengan menjadikan Allah sebagai yang dicintai dan disembah, yang menjadi tujuan dan tempat bergantung.وَكَذَّبَ بِٱلْحُسْنَىٰ“serta mendustakan pahala terbaik.” (QS. Al-Lail: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu mendustakan apa yang Allah wajibkan untuk diimani oleh para hamba berupa keyakinan yang benar. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan SendiriAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْعُسْرَىٰ“maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, menuju keadaan yang sulit dan sifat-sifat yang buruk. Ia akan dimudahkan untuk melakukan keburukan di mana pun berada, dan diserahkan kepada perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah keselamatan.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan surah Al-Lail ayat 10 sebagai berikut.“maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Artinya, menuju jalan keburukan. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:وَنُقَلِّبُ أَفْـِٔدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ“Dan Kami bolak-balikkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka tidak beriman kepadanya pada permulaan, dan Kami biarkan mereka dalam kesesatan mereka meraba-raba.” (QS. Al-An‘am: 110)Ayat-ayat dengan makna seperti ini sangat banyak, yang menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla membalas orang yang menginginkan kebaikan dengan memberikan taufik kepadanya, dan membalas orang yang menginginkan keburukan dengan membiarkannya (tidak diberi taufik). Semua itu terjadi dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Hadits-hadits yang menunjukkan makna ini juga banyak. Takdir dan Kemudahan BeramalDi antaranya riwayat dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy, telah menceritakan kepadaku Al-‘Aththaf bin Khalid, telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari penduduk Bashrah, dari Thalhah bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abi Bakar Ash-Shiddiq, dari ayahnya, ia berkata: aku mendengar ayahku menyebutkan bahwa ayahnya mendengar Abu Bakar berkata:Aku berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah kita beramal berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan atau berdasarkan sesuatu yang baru dimulai?”Beliau bersabda:بَلْ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ فُرِغَ مِنْهُ“Bahkan berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan.”Aku bertanya lagi, “Lalu untuk apa kita beramal, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda:كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu:Imam Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Nu‘aim, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A‘mash, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman As-Sulami, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata:Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Baqi‘ Al-Gharqad dalam suatu pemakaman. Lalu beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ“Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di surga dan tempat duduknya di neraka.”Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja (kepada takdir)?”Beliau bersabda:اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Sementara orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7)sampai firman-Nya:لِلْعُسْرَىٰ“(ke jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Hadis ini juga diriwayatkan melalui jalur Syu‘bah dan Waki‘ dari Al-A‘mash dengan makna yang serupa.Kemudian diriwayatkan pula dari ‘Utsman bin Abi Syaibah, dari Jarir, dari Manshur, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Kami berada dalam suatu pemakaman di Baqi‘ Al-Gharqad. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, kemudian duduk, dan kami pun duduk di sekeliling beliau. Di tangan beliau ada tongkat kecil, lalu beliau menundukkan kepala dan menggoreskan tongkatnya ke tanah. Kemudian beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ – أَوْ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ – إِلَّا كُتِبَ مَكَانُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَإِلَّا قَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً“Tidak ada seorang pun di antara kalian—atau tidak ada satu jiwa pun—kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga atau di neraka, dan telah ditetapkan apakah ia celaka atau bahagia.”Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja dan meninggalkan amal? Jika kami termasuk orang yang bahagia, kami akan menuju kepada kebahagiaan, dan jika kami termasuk orang yang celaka, kami akan menuju kepada kecelakaan.”Beliau bersabda:أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ“Adapun orang-orang yang bahagia, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang bahagia. Dan adapun orang-orang yang celaka, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang celaka.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7) Harta Tidak Berguna Tanpa AmalAllah Ta’ala berfirman,وَمَا يُغْنِى عَنْهُ مَالُهُۥٓ إِذَا تَرَدَّىٰٓ“Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS. Al-Lail: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan tidaklah berguna baginya harta yang membuatnya melampaui batas, yang membuatnya merasa cukup, serta yang ia tahan (tidak ia infakkan), ketika ia telah binasa dan mati. Karena yang menyertainya hanyalah amal salehnya. Adapun hartanya yang tidak ia keluarkan kewajibannya, maka itu akan menjadi bencana baginya, karena ia tidak menyiapkan apa pun darinya untuk akhirat. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan AkhiratAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ“Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk.” (QS. Al-Lail: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, jalan petunjuk yang lurus itu berada di bawah penjelasan dan bimbingan Kami. Jalan tersebut mengantarkan kepada Allah dan mendekatkan kepada keridaan-Nya. Adapun kesesatan adalah jalan-jalan yang tertutup dari Allah, tidak mengantarkan pelakunya kecuali kepada azab yang berat.وَإِنَّ لَنَا لَلْءَاخِرَةَ وَٱلْأُولَىٰ“dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.” (QS. Al-Lail: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, keduanya—akhirat dan dunia—adalah milik Allah dalam kekuasaan dan pengaturan, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Maka hendaklah orang yang menginginkan sesuatu memohon hanya kepada-Nya, dan memutuskan harapannya dari makhluk. Ancaman Neraka bagi Orang yang CelakaAllah Ta’ala berfirman,فَأَنذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّىٰ“Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Lail: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu neraka yang berkobar dan menyala dengan dahsyat.لَا يَصْلَىٰهَآ إِلَّا ٱلْأَشْقَى“Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka.” (QS. Al-Lail: 15)ٱلَّذِى كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ“yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).” (QS. Al-Lail: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari perintah. Sifat Orang Bertakwa yang SelamatAllah Ta’ala berfirman,وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلْأَتْقَى“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.” (QS. Al-Lail: 17)ٱلَّذِى يُؤْتِى مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ“yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.” (QS. Al-Lail: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang memberikan hartanya dengan tujuan menyucikan dirinya dan membersihkannya dari dosa dan kekurangan, dengan mengharap wajah Allah Ta‘ala. Ini menunjukkan bahwa jika infak sunnah menyebabkan ditinggalkannya kewajiban, seperti membayar utang, menafkahi yang wajib, dan semisalnya, maka hal itu tidak disyariatkan. Bahkan pemberiannya tertolak menurut banyak ulama, karena seseorang tidak dianggap menyucikan diri dengan melakukan amalan sunnah yang menyebabkan ia meninggalkan kewajiban. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari ManusiaAllah Ta’ala berfirman,وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰٓ“padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya.” (QS. Al-Lail: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, tidak ada seorang pun dari makhluk yang memiliki jasa atau nikmat atas orang yang paling bertakwa ini yang harus ia balas, kecuali ia telah membalasnya. Bahkan mungkin ia masih memiliki keutamaan atas manusia. Dengan demikian, ia menjadi hamba yang murni hanya untuk Allah, karena ia sepenuhnya tunduk kepada kebaikan-Nya saja.Adapun orang yang masih memiliki utang budi kepada manusia yang belum ia balas, maka pasti ia akan melakukan sesuatu untuk mereka yang dapat mengurangi keikhlasannya.Ayat ini, meskipun mencakup Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu—bahkan disebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan beliau—karena tidak ada seorang pun yang memiliki jasa kepadanya yang belum ia balas, bahkan termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali nikmat kerasulan yang tidak mungkin dibalas, yaitu nikmat berupa dakwah kepada agama Islam, pengajaran petunjuk, dan agama yang benar. Karena sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya memiliki karunia atas setiap manusia, suatu karunia yang tidak mungkin dibalas atau disamai. Namun ayat ini juga mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, yaitu tidak ada lagi hak manusia yang tersisa atas dirinya, sehingga amalnya menjadi murni hanya untuk Allah Ta‘ala.إِلَّا ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِ ٱلْأَعْلَىٰ“tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.” (QS. Al-Lail: 20)وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ“Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al-Lail: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Orang yang paling bertakwa ini akan merasa puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya berupa berbagai kemuliaan dan pahala. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengejar kemudahan dunia, tetapi lupa bahwa kemudahan sejati adalah dimudahkan dalam ketaatan. Hati yang condong pada kebaikan akan semakin mudah melakukan kebaikan, sedangkan hati yang terbiasa dengan maksiat akan semakin berat kembali kepada kebenaran. Karena itu, jagalah niat, luruskan tujuan, dan biasakan diri dengan amal saleh sekecil apa pun. Jangan menunda kebaikan, karena setiap langkah kecil bisa membuka pintu kemudahan yang besar.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لَنَا خَيْرًاALLĀHUMMA INNĀ NAS’ALUKA AN TAJ‘ALA KULLA QAḌĀ’IN QAḌAYTAHU LANĀ KHAYRĀ“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar setiap ketetapan yang Engkau tetapkan untuk kami menjadi kebaikan bagi kami.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal shalih jalan kebaikan jalan keburukan juz amma keikhlasan renungan ayat renungan quran surah al lail tafsir al lail tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir juz amma takdir dan usaha taufik dan hidayah


Surah Al-Lail menjelaskan bahwa kehidupan manusia berjalan di dua arah yang sangat berbeda: menuju kemudahan atau menuju kesulitan. Perbedaan ini ditentukan oleh iman, amal, dan tujuan hidup seseorang. Siapa yang memilih kebaikan akan dimudahkan menuju kebaikan, dan siapa yang memilih keburukan akan dimudahkan menuju keburukan.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Malam dan Siang 2. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan Perempuan 3. Usaha Manusia yang Berbeda-Beda 4. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan Kebaikan 5. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih Kebaikan 6. Ciri Orang yang Memilih Jalan Keburukan 7. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan Sendiri 8. Takdir dan Kemudahan Beramal 9. Harta Tidak Berguna Tanpa Amal 10. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan Akhirat 11. Ancaman Neraka bagi Orang yang Celaka 12. Sifat Orang Bertakwa yang Selamat 13. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari Manusia 14. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Malam dan SiangAllah Ta’ala berfirman,وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).” (QS. Al-Lail: 1)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah sumpah dari Allah dengan waktu, yaitu waktu yang di dalamnya manusia melakukan berbagai aktivitas dengan keadaan yang berbeda-beda. Firman-Nya, “demi malam apabila menutupi”, maksudnya malam menyelimuti seluruh makhluk dengan kegelapannya. Ketika itu, setiap orang kembali ke tempat tinggalnya, dan manusia beristirahat dari keletihan serta kepayahan. وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ“dan siang apabila terang benderang.” (QS. Al-Lail: 2)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan demi siang ketika tampak jelas bagi manusia, sehingga mereka mendapatkan cahaya dari sinarnya dan bertebaran untuk mengurus berbagai keperluan mereka. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan PerempuanAllah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰٓ“dan penciptaan laki-laki dan perempuan.” (QS. Al-Lail: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Firman-Nya, “dan (demi) yang menciptakan laki-laki dan perempuan”, jika kata mā dimaknai sebagai kata sambung (maushulah), maka ini adalah sumpah dengan Dzat Allah yang mulia, yaitu Dia yang menciptakan laki-laki dan perempuan. Jika dimaknai sebagai kata dasar (mashdariyah), maka ini adalah sumpah dengan penciptaan laki-laki dan perempuan itu sendiri.Di antara kesempurnaan hikmah-Nya adalah bahwa Allah menciptakan dari setiap jenis makhluk hidup yang Dia kehendaki kelangsungannya, pasangan laki-laki dan perempuan, agar jenis tersebut tetap lestari dan tidak punah. Allah juga menautkan keduanya dengan dorongan syahwat, serta menjadikan masing-masing sesuai dan saling melengkapi. Maka Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta. Usaha Manusia yang Berbeda-BedaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ“sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” (QS. Al-Lail: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah isi sumpah tersebut, yaitu bahwa usaha kalian, wahai manusia yang dibebani syariat, benar-benar berbeda dengan perbedaan yang besar. Hal ini tergantung pada jenis amal yang dilakukan, banyak atau sedikitnya, serta kesungguhan dalam melaksanakannya. Juga tergantung pada tujuan dari amal tersebut: apakah ditujukan untuk mencari wajah Allah Yang Mahatinggi dan kekal, sehingga amal itu pun kekal dan pelakunya mendapatkan manfaat darinya; ataukah tujuannya sesuatu yang fana dan akan lenyap, sehingga amal itu pun menjadi sia-sia dan hilang bersama hilangnya tujuan tersebut. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَٱتَّقَىٰ“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa.” (QS. Al-Lail: 5)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang beramal dan menyebutkan amalan mereka. Adapun orang yang memberi, yaitu menunaikan apa yang diperintahkan berupa ibadah harta, seperti zakat, kafarat, nafkah, sedekah, dan berbagai bentuk infak di jalan kebaikan. Juga ibadah badan seperti shalat, puasa, dan yang semisalnya. Serta ibadah yang menggabungkan keduanya, seperti haji dan umrah. Dan ia bertakwa, yaitu meninggalkan apa yang dilarang berupa berbagai macam perbuatan haram dan maksiat.وَصَدَّقَ بِٱلْحُسْنَىٰ“dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga).” (QS. Al-Lail: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu membenarkan kalimat lā ilāha illallāh dan apa yang dikandungnya, berupa seluruh keyakinan agama, serta apa yang menjadi konsekuensinya berupa balasan di akhirat. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ“maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 7)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, Kami akan memudahkan urusannya, menjadikannya dimudahkan untuk melakukan setiap kebaikan, dan dimudahkan untuk meninggalkan setiap keburukan. Karena ia telah menempuh sebab-sebab kemudahan, maka Allah pun memudahkan baginya hal tersebut.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dari ayat disimpulkan perkataan salaf berikut.وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ عُقُوبَةِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا.Sebagian ulama salaf mengatakan: di antara balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya, dan di antara balasan keburukan adalah keburukan setelahnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir) Ciri Orang yang Memilih Jalan KeburukanAllah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسْتَغْنَىٰ“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup.” (QS. Al-Lail: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang kikir terhadap apa yang diperintahkan, sehingga ia meninggalkan infak yang wajib maupun yang dianjurkan, dan jiwanya tidak mau menunaikan kewajiban kepada Allah. Ia juga merasa tidak membutuhkan Allah, sehingga meninggalkan penghambaan kepada-Nya, dan tidak merasa dirinya sangat bergantung kepada Rabb-nya, padahal tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kesuksesan kecuali dengan menjadikan Allah sebagai yang dicintai dan disembah, yang menjadi tujuan dan tempat bergantung.وَكَذَّبَ بِٱلْحُسْنَىٰ“serta mendustakan pahala terbaik.” (QS. Al-Lail: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu mendustakan apa yang Allah wajibkan untuk diimani oleh para hamba berupa keyakinan yang benar. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan SendiriAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْعُسْرَىٰ“maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, menuju keadaan yang sulit dan sifat-sifat yang buruk. Ia akan dimudahkan untuk melakukan keburukan di mana pun berada, dan diserahkan kepada perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah keselamatan.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan surah Al-Lail ayat 10 sebagai berikut.“maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Artinya, menuju jalan keburukan. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:وَنُقَلِّبُ أَفْـِٔدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ“Dan Kami bolak-balikkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka tidak beriman kepadanya pada permulaan, dan Kami biarkan mereka dalam kesesatan mereka meraba-raba.” (QS. Al-An‘am: 110)Ayat-ayat dengan makna seperti ini sangat banyak, yang menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla membalas orang yang menginginkan kebaikan dengan memberikan taufik kepadanya, dan membalas orang yang menginginkan keburukan dengan membiarkannya (tidak diberi taufik). Semua itu terjadi dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Hadits-hadits yang menunjukkan makna ini juga banyak. Takdir dan Kemudahan BeramalDi antaranya riwayat dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy, telah menceritakan kepadaku Al-‘Aththaf bin Khalid, telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari penduduk Bashrah, dari Thalhah bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abi Bakar Ash-Shiddiq, dari ayahnya, ia berkata: aku mendengar ayahku menyebutkan bahwa ayahnya mendengar Abu Bakar berkata:Aku berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah kita beramal berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan atau berdasarkan sesuatu yang baru dimulai?”Beliau bersabda:بَلْ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ فُرِغَ مِنْهُ“Bahkan berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan.”Aku bertanya lagi, “Lalu untuk apa kita beramal, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda:كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu:Imam Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Nu‘aim, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A‘mash, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman As-Sulami, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata:Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Baqi‘ Al-Gharqad dalam suatu pemakaman. Lalu beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ“Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di surga dan tempat duduknya di neraka.”Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja (kepada takdir)?”Beliau bersabda:اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Sementara orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7)sampai firman-Nya:لِلْعُسْرَىٰ“(ke jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Hadis ini juga diriwayatkan melalui jalur Syu‘bah dan Waki‘ dari Al-A‘mash dengan makna yang serupa.Kemudian diriwayatkan pula dari ‘Utsman bin Abi Syaibah, dari Jarir, dari Manshur, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Kami berada dalam suatu pemakaman di Baqi‘ Al-Gharqad. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, kemudian duduk, dan kami pun duduk di sekeliling beliau. Di tangan beliau ada tongkat kecil, lalu beliau menundukkan kepala dan menggoreskan tongkatnya ke tanah. Kemudian beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ – أَوْ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ – إِلَّا كُتِبَ مَكَانُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَإِلَّا قَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً“Tidak ada seorang pun di antara kalian—atau tidak ada satu jiwa pun—kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga atau di neraka, dan telah ditetapkan apakah ia celaka atau bahagia.”Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja dan meninggalkan amal? Jika kami termasuk orang yang bahagia, kami akan menuju kepada kebahagiaan, dan jika kami termasuk orang yang celaka, kami akan menuju kepada kecelakaan.”Beliau bersabda:أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ“Adapun orang-orang yang bahagia, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang bahagia. Dan adapun orang-orang yang celaka, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang celaka.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7) Harta Tidak Berguna Tanpa AmalAllah Ta’ala berfirman,وَمَا يُغْنِى عَنْهُ مَالُهُۥٓ إِذَا تَرَدَّىٰٓ“Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS. Al-Lail: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan tidaklah berguna baginya harta yang membuatnya melampaui batas, yang membuatnya merasa cukup, serta yang ia tahan (tidak ia infakkan), ketika ia telah binasa dan mati. Karena yang menyertainya hanyalah amal salehnya. Adapun hartanya yang tidak ia keluarkan kewajibannya, maka itu akan menjadi bencana baginya, karena ia tidak menyiapkan apa pun darinya untuk akhirat. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan AkhiratAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ“Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk.” (QS. Al-Lail: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, jalan petunjuk yang lurus itu berada di bawah penjelasan dan bimbingan Kami. Jalan tersebut mengantarkan kepada Allah dan mendekatkan kepada keridaan-Nya. Adapun kesesatan adalah jalan-jalan yang tertutup dari Allah, tidak mengantarkan pelakunya kecuali kepada azab yang berat.وَإِنَّ لَنَا لَلْءَاخِرَةَ وَٱلْأُولَىٰ“dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.” (QS. Al-Lail: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, keduanya—akhirat dan dunia—adalah milik Allah dalam kekuasaan dan pengaturan, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Maka hendaklah orang yang menginginkan sesuatu memohon hanya kepada-Nya, dan memutuskan harapannya dari makhluk. Ancaman Neraka bagi Orang yang CelakaAllah Ta’ala berfirman,فَأَنذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّىٰ“Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Lail: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu neraka yang berkobar dan menyala dengan dahsyat.لَا يَصْلَىٰهَآ إِلَّا ٱلْأَشْقَى“Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka.” (QS. Al-Lail: 15)ٱلَّذِى كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ“yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).” (QS. Al-Lail: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari perintah. Sifat Orang Bertakwa yang SelamatAllah Ta’ala berfirman,وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلْأَتْقَى“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.” (QS. Al-Lail: 17)ٱلَّذِى يُؤْتِى مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ“yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.” (QS. Al-Lail: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang memberikan hartanya dengan tujuan menyucikan dirinya dan membersihkannya dari dosa dan kekurangan, dengan mengharap wajah Allah Ta‘ala. Ini menunjukkan bahwa jika infak sunnah menyebabkan ditinggalkannya kewajiban, seperti membayar utang, menafkahi yang wajib, dan semisalnya, maka hal itu tidak disyariatkan. Bahkan pemberiannya tertolak menurut banyak ulama, karena seseorang tidak dianggap menyucikan diri dengan melakukan amalan sunnah yang menyebabkan ia meninggalkan kewajiban. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari ManusiaAllah Ta’ala berfirman,وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰٓ“padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya.” (QS. Al-Lail: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, tidak ada seorang pun dari makhluk yang memiliki jasa atau nikmat atas orang yang paling bertakwa ini yang harus ia balas, kecuali ia telah membalasnya. Bahkan mungkin ia masih memiliki keutamaan atas manusia. Dengan demikian, ia menjadi hamba yang murni hanya untuk Allah, karena ia sepenuhnya tunduk kepada kebaikan-Nya saja.Adapun orang yang masih memiliki utang budi kepada manusia yang belum ia balas, maka pasti ia akan melakukan sesuatu untuk mereka yang dapat mengurangi keikhlasannya.Ayat ini, meskipun mencakup Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu—bahkan disebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan beliau—karena tidak ada seorang pun yang memiliki jasa kepadanya yang belum ia balas, bahkan termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali nikmat kerasulan yang tidak mungkin dibalas, yaitu nikmat berupa dakwah kepada agama Islam, pengajaran petunjuk, dan agama yang benar. Karena sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya memiliki karunia atas setiap manusia, suatu karunia yang tidak mungkin dibalas atau disamai. Namun ayat ini juga mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, yaitu tidak ada lagi hak manusia yang tersisa atas dirinya, sehingga amalnya menjadi murni hanya untuk Allah Ta‘ala.إِلَّا ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِ ٱلْأَعْلَىٰ“tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.” (QS. Al-Lail: 20)وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ“Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al-Lail: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Orang yang paling bertakwa ini akan merasa puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya berupa berbagai kemuliaan dan pahala. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengejar kemudahan dunia, tetapi lupa bahwa kemudahan sejati adalah dimudahkan dalam ketaatan. Hati yang condong pada kebaikan akan semakin mudah melakukan kebaikan, sedangkan hati yang terbiasa dengan maksiat akan semakin berat kembali kepada kebenaran. Karena itu, jagalah niat, luruskan tujuan, dan biasakan diri dengan amal saleh sekecil apa pun. Jangan menunda kebaikan, karena setiap langkah kecil bisa membuka pintu kemudahan yang besar.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لَنَا خَيْرًاALLĀHUMMA INNĀ NAS’ALUKA AN TAJ‘ALA KULLA QAḌĀ’IN QAḌAYTAHU LANĀ KHAYRĀ“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar setiap ketetapan yang Engkau tetapkan untuk kami menjadi kebaikan bagi kami.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal shalih jalan kebaikan jalan keburukan juz amma keikhlasan renungan ayat renungan quran surah al lail tafsir al lail tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir juz amma takdir dan usaha taufik dan hidayah

Fikih Riba (Bag. 10): Memahami ‘Illat dalam Riba (1)

Daftar Isi ToggleKesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat riba‘Illat riba pada emas dan perakPendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranPendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Pendapat terkuat‘Illat sejatinya adalah sebuah “alasan” atau motif di balik penetapan suatu hukum. Dengan memahami ‘illat, akan terlihat bagaimana para ulama dalam menetapkan suatu hukum tidaklah serta merta ditetapkan begitu saja. Akan tetapi, dengan ditimbang dan dilihat terlebih dahulu dari sisi ‘illat nya, kemudian bisa ditentukan hukum setelahnya, apakah termasuk dari kategori riba atau bukan termasuk dari riba.Oleh karena itu, riba tidak sesederhana yang dibayangkan. Riba bukan hanya persoalan pinjam meminjam, utang piutang, bukan hanya bicara soal bunga tambahan dari sebuah pinjaman. Menukar dua buah emas dengan karat yang berbeda pun bisa masuk dalam kategori riba, atau menukar dua jenis kurma dengan kualitas yang berbeda juga termasuk riba.Secara garis besar, pembahasan kali ini akan membahas tentang ‘illat riba yang ada pada enam komoditas ribawi. Dengan mengetahui ‘illat riba, nantinya dapat dipahami mengapa para ulama mengkategorikan suatu barang tertentu termasuk dari komoditas ribawi.Kesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat ribaSebelum lebih jauh, pada hal ini terdapat landasan yang harus dipahami; yaitu, para ulama sepakat bahwa ‘illat pada emas dan perak hanyalah satu saja (sama) dan ‘illat pada empat komoditas ribawi lainnya pun hanya satu saja (sama). Namun, mereka berselisih dalam menentukan kedua ‘illat tersebut.Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,وَاتَّفَقَ الْمُعَلِّلُونَ ‌عَلَى ‌أَنَّ ‌عِلَّةَ ‌الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَاحِدَةٌ، وَعِلَّةَ الْأَعْيَانِ الْأَرْبَعَةِ وَاحِدَةٌ، ثُمَّ اخْتَلَفُوا فِي عِلَّةِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا“Para (ulama) ahli ‘illat telah bersepakat bahwa ‘illat (penyebab hukum) pada emas dan perak adalah satu (sama), dan ‘illat pada empat jenis benda lainnya (gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam) juga satu (sama). Namun kemudian, mereka berbeda pendapat mengenai apa sebenarnya masing-masing ‘illat tersebut.” [1]Dari perkataan Ibnu Qudamah di atas dapat dipahami:– Para ulama sepakat bahwa emas dan perak berada dalam satu “kotak” yang sama. Segala ketentuan yang berlaku pada emas, berlaku pula pada perak, dan sebaliknya. Dikarenakan ‘illat keduanya dianggap serupa.– Para ulama sepakat bahwa gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam berada dalam satu “kotak” yang sama. Dikarenakan ‘illat pada keempat komoditas tersebut dianggap serupa.– Perbedaan para ulama terletak dalam menentukan ‘illat pada masing-masing “kotak” tersebut. Sehingga terdapat dua kotak yang masing-masing berbeda pada ‘illat-nya. Emas dan perak berada pada satu kotak, keempat komoditas sisanya berada di kotak yang lain.‘Illat riba pada emas dan perakPara ulama dalam menentukan ‘illat riba pada emas dan perak berselisih setidaknya pada tiga pendapat [2]:Pendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Ini merupakan pendapat dari mazhab Hanafi dan Hanbali. Mereka berdalil dengan hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma,اسْتَعْمَلَ رَجُلًا عَلَى خَيْبَرَ فَجَاءَ بِتَمْرٍ جَنِيبٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَكُلُّ تَمْرِ خَيْبَرَ هَكَذَا؟» فَقَالَ الرَّجُلُ: «لَا وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ! إِنَّا نَشْتَرِي الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ مِنَ الْجَمْعِ»، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: لَا تَفْعَلُوا، وَلَكِنْ مِثْلًا بِمِثْلٍ، أَوْ بِيعُوا هَذَا وَاشْتَرُوا بِثَمَنِهِ مِنْ هَذَا، وَكَذَلِكَ الْمِيزَانُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan seseorang dari Khaibar, lalu orang itu datang membawa kurma berkualitas tinggi (janib). Rasulullah kemudian bertanya, ‘Apakah semua kurma Khaibar seperti ini?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami menukar satu sha’ (kurma ini) dengan dua sha’ kurma campuran (jam’).’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jangan kalian lakukan itu! Akan tetapi, (tukarlah) kurma yang serupa dengan serupa, atau juallah kurma ini (yang rendah kualitasnya), lalu belilah dengan hasil penjualannya kurma yang itu (kualitas tinggi). Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” (HR. Muslim no.1593)Sisi pendalilan dari hadis ini:Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Menunjukkan bahwasanya riba berlaku pada setiap barang yang ditimbang dari jenis yang sama, seperti: besi, timah, emas, perak, daging, gula, dan segala jenis yang ditimbang.Konsekuensi dari pendapat ini:– Jika dikatakan ‘illat pada emas dan perak adalah timbangan, maka segala barang yang ditimbang masuk dalam kategori komoditas ribawi.– Konsekuensi berikutya, jika jenisnya sama (misal: besi dengan besi), maka harus sama beratnya, tidak boleh ada selisih berat dan harus tunai.– Jika jenisnya berbeda tapi ‘illat-nya sama (misal: besi dengan timah), maka: boleh berbeda beratnya, tetapi harus dilakukan serah terima secara langsung di tempat (taqabudh).Sanggahan terhadap sisi pendalilan di atas:– Ucapan, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Adalah ucapan dari Abu Sa’id Al-Khudri sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Imam Al-Baihaqi dalam Sunan-nya. [3]– Lafaz hadis di atas bersifat umum yang maksud dan tujuannya tidak tampak secara zahirnya; maka sejatinya, hadis tersebut diarahkan kepada emas dan perak karena memang itulah maksudnya.Sehingga maksudnya adalah, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang saat menjual emas dan perak.” Hal ini dalam rangka menggabungkan antara hadis ini dengan hadis ‘Ubadah dan lainnya, yaitu: tidak sah menjual emas dengan emas atau perak dengan perak kecuali dengan timbangan berat yang sama agar tercapai keselarasan yang diisyaratkan dalam hadis-hadis tersebut. [4]Sanggahan untuk pendapat ini:Berikut ini adalah sanggahan dari pendapat yang mengatakan ‘illat emas dan perak adalah al-wazn (timbangan) dan al-jins (kesamaan jenis).– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak tidak ada keselasaran yang kuat. Karena sejatinya, ia tidak berlaku pada setiap jenis barang yang ditimbang. Sehingga, menjadikan timbangan sebagai ‘illat dalam hal ini bukanlah penetapan hukum berdasarkan suatu sifat yang layak menjadi faktor yang mempengaruhi hukum.– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak juga lemah, karena hal ini tidak berlaku secara konsisten pada semua barang yang ditimbang. Terdapat ijmak (kesepakatan ulama) tentang bolehnya akad salam seperti menukarkan emas atau perak dengan barang-barang yang ditimbang secara tempo, seperti akad salam pada besi, timah, atau semisalnya. Demikian pula bolehnya menjual besi dan sejenisnya dengan pembayaran dirham (perak) secara tempo.Hal ini menunjukkan bahwa timbangan bukanlah ‘illat-nya. Karena jika berat benar-benar menjadi ‘illat, tentu tidak akan dibolehkan adanya nasa’ (penundaan) atau akad salam pada barang-barang yang ditimbang dan harus diberikan secara tunai.Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranYakni: emas dan perak secara umum merupakan jenis alat tukar atau pembayaran. Ini merupakan ‘illat yang terbatas, yang tidak melampaui keduanya (emas dan perak), hanya sebatas pada penggunaan emas dan perak dalam fungsi alat tukar atau pembayaran. Pendapat ini merupakan pendapat dari mazhab Maliki, Syafi’i, dan sebagian riwayat dari mazhab Hanbali.Alasan dari pendapat ini:Bahwasanya emas dan perak adalah dua substansi dari barang berharga yang digunakan untuk menakar nilai harta. Melalui keduanya, seseorang dapat memperoleh segala sesuatu. Emas dan perak umumnya digunakan sebagai “harga” dalam transaksi jual beli, juga menjadi standar dalam menilai barang-barang yang rusak, dan digunakan sebagai diyat (ganti rugi pidana). Keduanya laku (diterima) di seluruh kalangan manusia; karena adanya karakteristik dan keistimewaan yang dianggap hanya ada pada keduanya.Namun, jika dianggap demikian, maka ‘illat-nya hanya terkurung pada keduanya saja dan tidak dapat mencakup barang yang lain. Artinya, mata uang, uang logam, uang kertas, atau yang sejenisnya tidak berlaku “hukum riba” padanya. Mengingat penggunaan ‘illat pada emas dan perak hanya ada pada penggunaan keduanya sebatas alat tukar saja. Adapun mata uang atau yang sejenisnya, maka tidak berlaku “hukum riba” padanya, karena alat tukar hanya terbatas pada emas dan perak saja.Sanggahan untuk pendapat ini:– Penetapan ‘illat ini terbantahkan secara penggunaannya dan juga secara kebalikannya. Dapat terbantahkan dari sisi penggunaannya seperti pada uang logam selain emas dan perak, karena uang logam pun merupakan alat tukar (terdapat harga dan nominal) padanya. Namun, menurut pendapat ini, tidak terdapat “hukum riba” padanya. Mengapa? Karena menurut pendapat ini alat tukar hanya sebatas pada emas dan perak saja.Begitu pula dapat terbantahkan dari sisi kebalikannya, contohnya pada bejana-bejana dari emas. Menurut pendapat ini, bejana emas berlaku riba, padahal bejana tersebut bukan alat tukar menurut mereka.– Bahwasanya hikmah pada pengharaman riba di antaranya adalah disebabkan kezaliman, dan hal itu tidak hanya terbatas pada emas dan perak saja. Hal itu juga mencakup yang lainnya selain dari emas dan perak sebagai alat tukar, seperti uang logam atau uang kertas. Maka, sebagaimana unsur kezaliman (riba) sangat diperhatikan pada emas dan perak, alat-alat tukar selain emas dan perak pun tentunya harus diperhatikan pula.Sehingga membatasi ‘illat emas dan perak hanya sebatas alat tukar saja tentu akan meniadakan hukum-hukum lainnya yang seharusnya berlaku “hukum riba” padanya.Pendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Artinya, segala sesuatu yang berfungsi sebagai harga (alat tukar), maka hukum riba berlaku padanya. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, juga merupakan pendapat Malikiyah, dan dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah serta Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.Berdasarkan pendapat ini, maka hukum tersebut tidak terbatas pada emas dan perak, tetapi meluas kepada uang logam selain emas dan perak, uang kertas, serta segala sesuatu yang dijadikan oleh manusia sebagai harga.Mereka berdalil dengan dua hal:– Bahwa hikmah diharamkannya riba pada mata uang adalah menjaga kestabilan mata uang itu sendiri dan mempertahankan kedudukannya sebagai standar dalam transaksi. Mata uang harus menjadi standar ukuran nilai dalam muamalah, sehingga nilainya tetap stabil dan terjaga, tidak naik dan turun sebagaimana barang dagangan.Apabila mata uang dijadikan komoditas untuk mencari keuntungan, maka ia tidak lagi berfungsi sebagai standar nilai. Hal itu akan menimbulkan kekacauan dalam transaksi, karena manusia tidak lagi memiliki harga yang dijadikan patokan dalam jual beli. Bahkan seluruh barang akan menjadi komoditas yang nilainya naik turun secara tidak teratur (fluktuatif).Akibatnya, penilaian harga tidak lagi dapat dilakukan dengan standar yang stabil, karena tidak adanya ukuran yang pasti. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang merusak mata uang yang berlaku di tengah kaum muslimin.– Penyebutan secara khusus emas dan perak (dalam dalil) termasuk dalam kategori penyebutan yang mewakili hal serupa lainnya. Sebab, tidak ada sifat khusus yang membedakan keduanya dari yang lain, kecuali keduanya merupakan standar dalam transaksi pada zaman kenabian.Sifat ini (sebagai alat tukar) terdapat pada segala sesuatu yang dijadikan manusia sebagai mata uang. Ketika mata uang tersebut telah beredar luas dan menjadi standar penilaian harga, maka berlaku padanya hukum-hukum yang berlaku pada emas dan perak dalam hal riba.Hal ini dikarenakan mata uang tersebut memiliki makna dan menjalankan fungsi yang sama dengan emas dan perak. Selain itu, kezaliman yang menjadi alasan diharamkannya riba pada emas dan perak juga dapat terjadi pada segala sesuatu yang menggantikan posisi keduanya.Pendapat terkuatPendapat yang kuat dan juga dirajihkan oleh Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musayqih adalah pendapat yang ketiga, yaitu “’Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah”, yang berarti fungsi sebagai alat tukar secara mutlak.Sehingga di antara konsekuensi pendapat ini, segala macam bentuk alat tukar dan bagaimanapun perubahannya, maka ia tetap terkena hukum sebagaimana hukum emas dan perak. Baik dari segi tukar menukarnya, dan praktik-praktik lainnya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 9***Depok, 14 Ramadan 1447/ 3 Maret 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mughni, 4: 5.[2] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Al-Mughni (4: 5-6), Fiqhul Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Muyassar (hal. 139-142), Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 175-179), dan Syarah Ar-Raudhul Murbi’ (6: 456-460).[3] As-Sunan Al-Kubra, 5: 469.[4] Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzzab, 9: 393-394.Referensi:– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Ibn Qudamah, Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad. Al-Mughni. Jilid 4. Cetakan ke-1. Mesir: Maktabah Al-Qahirah, 1388 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali. As-Sunan al-Kubra. Jilid 5. Cetakan ke-3. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1424 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– An-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab. Jilid 9. Mesir: Idarah ath-Thiba‘ah al-Minbariyyah, 1344 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).

Fikih Riba (Bag. 10): Memahami ‘Illat dalam Riba (1)

Daftar Isi ToggleKesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat riba‘Illat riba pada emas dan perakPendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranPendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Pendapat terkuat‘Illat sejatinya adalah sebuah “alasan” atau motif di balik penetapan suatu hukum. Dengan memahami ‘illat, akan terlihat bagaimana para ulama dalam menetapkan suatu hukum tidaklah serta merta ditetapkan begitu saja. Akan tetapi, dengan ditimbang dan dilihat terlebih dahulu dari sisi ‘illat nya, kemudian bisa ditentukan hukum setelahnya, apakah termasuk dari kategori riba atau bukan termasuk dari riba.Oleh karena itu, riba tidak sesederhana yang dibayangkan. Riba bukan hanya persoalan pinjam meminjam, utang piutang, bukan hanya bicara soal bunga tambahan dari sebuah pinjaman. Menukar dua buah emas dengan karat yang berbeda pun bisa masuk dalam kategori riba, atau menukar dua jenis kurma dengan kualitas yang berbeda juga termasuk riba.Secara garis besar, pembahasan kali ini akan membahas tentang ‘illat riba yang ada pada enam komoditas ribawi. Dengan mengetahui ‘illat riba, nantinya dapat dipahami mengapa para ulama mengkategorikan suatu barang tertentu termasuk dari komoditas ribawi.Kesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat ribaSebelum lebih jauh, pada hal ini terdapat landasan yang harus dipahami; yaitu, para ulama sepakat bahwa ‘illat pada emas dan perak hanyalah satu saja (sama) dan ‘illat pada empat komoditas ribawi lainnya pun hanya satu saja (sama). Namun, mereka berselisih dalam menentukan kedua ‘illat tersebut.Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,وَاتَّفَقَ الْمُعَلِّلُونَ ‌عَلَى ‌أَنَّ ‌عِلَّةَ ‌الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَاحِدَةٌ، وَعِلَّةَ الْأَعْيَانِ الْأَرْبَعَةِ وَاحِدَةٌ، ثُمَّ اخْتَلَفُوا فِي عِلَّةِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا“Para (ulama) ahli ‘illat telah bersepakat bahwa ‘illat (penyebab hukum) pada emas dan perak adalah satu (sama), dan ‘illat pada empat jenis benda lainnya (gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam) juga satu (sama). Namun kemudian, mereka berbeda pendapat mengenai apa sebenarnya masing-masing ‘illat tersebut.” [1]Dari perkataan Ibnu Qudamah di atas dapat dipahami:– Para ulama sepakat bahwa emas dan perak berada dalam satu “kotak” yang sama. Segala ketentuan yang berlaku pada emas, berlaku pula pada perak, dan sebaliknya. Dikarenakan ‘illat keduanya dianggap serupa.– Para ulama sepakat bahwa gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam berada dalam satu “kotak” yang sama. Dikarenakan ‘illat pada keempat komoditas tersebut dianggap serupa.– Perbedaan para ulama terletak dalam menentukan ‘illat pada masing-masing “kotak” tersebut. Sehingga terdapat dua kotak yang masing-masing berbeda pada ‘illat-nya. Emas dan perak berada pada satu kotak, keempat komoditas sisanya berada di kotak yang lain.‘Illat riba pada emas dan perakPara ulama dalam menentukan ‘illat riba pada emas dan perak berselisih setidaknya pada tiga pendapat [2]:Pendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Ini merupakan pendapat dari mazhab Hanafi dan Hanbali. Mereka berdalil dengan hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma,اسْتَعْمَلَ رَجُلًا عَلَى خَيْبَرَ فَجَاءَ بِتَمْرٍ جَنِيبٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَكُلُّ تَمْرِ خَيْبَرَ هَكَذَا؟» فَقَالَ الرَّجُلُ: «لَا وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ! إِنَّا نَشْتَرِي الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ مِنَ الْجَمْعِ»، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: لَا تَفْعَلُوا، وَلَكِنْ مِثْلًا بِمِثْلٍ، أَوْ بِيعُوا هَذَا وَاشْتَرُوا بِثَمَنِهِ مِنْ هَذَا، وَكَذَلِكَ الْمِيزَانُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan seseorang dari Khaibar, lalu orang itu datang membawa kurma berkualitas tinggi (janib). Rasulullah kemudian bertanya, ‘Apakah semua kurma Khaibar seperti ini?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami menukar satu sha’ (kurma ini) dengan dua sha’ kurma campuran (jam’).’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jangan kalian lakukan itu! Akan tetapi, (tukarlah) kurma yang serupa dengan serupa, atau juallah kurma ini (yang rendah kualitasnya), lalu belilah dengan hasil penjualannya kurma yang itu (kualitas tinggi). Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” (HR. Muslim no.1593)Sisi pendalilan dari hadis ini:Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Menunjukkan bahwasanya riba berlaku pada setiap barang yang ditimbang dari jenis yang sama, seperti: besi, timah, emas, perak, daging, gula, dan segala jenis yang ditimbang.Konsekuensi dari pendapat ini:– Jika dikatakan ‘illat pada emas dan perak adalah timbangan, maka segala barang yang ditimbang masuk dalam kategori komoditas ribawi.– Konsekuensi berikutya, jika jenisnya sama (misal: besi dengan besi), maka harus sama beratnya, tidak boleh ada selisih berat dan harus tunai.– Jika jenisnya berbeda tapi ‘illat-nya sama (misal: besi dengan timah), maka: boleh berbeda beratnya, tetapi harus dilakukan serah terima secara langsung di tempat (taqabudh).Sanggahan terhadap sisi pendalilan di atas:– Ucapan, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Adalah ucapan dari Abu Sa’id Al-Khudri sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Imam Al-Baihaqi dalam Sunan-nya. [3]– Lafaz hadis di atas bersifat umum yang maksud dan tujuannya tidak tampak secara zahirnya; maka sejatinya, hadis tersebut diarahkan kepada emas dan perak karena memang itulah maksudnya.Sehingga maksudnya adalah, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang saat menjual emas dan perak.” Hal ini dalam rangka menggabungkan antara hadis ini dengan hadis ‘Ubadah dan lainnya, yaitu: tidak sah menjual emas dengan emas atau perak dengan perak kecuali dengan timbangan berat yang sama agar tercapai keselarasan yang diisyaratkan dalam hadis-hadis tersebut. [4]Sanggahan untuk pendapat ini:Berikut ini adalah sanggahan dari pendapat yang mengatakan ‘illat emas dan perak adalah al-wazn (timbangan) dan al-jins (kesamaan jenis).– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak tidak ada keselasaran yang kuat. Karena sejatinya, ia tidak berlaku pada setiap jenis barang yang ditimbang. Sehingga, menjadikan timbangan sebagai ‘illat dalam hal ini bukanlah penetapan hukum berdasarkan suatu sifat yang layak menjadi faktor yang mempengaruhi hukum.– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak juga lemah, karena hal ini tidak berlaku secara konsisten pada semua barang yang ditimbang. Terdapat ijmak (kesepakatan ulama) tentang bolehnya akad salam seperti menukarkan emas atau perak dengan barang-barang yang ditimbang secara tempo, seperti akad salam pada besi, timah, atau semisalnya. Demikian pula bolehnya menjual besi dan sejenisnya dengan pembayaran dirham (perak) secara tempo.Hal ini menunjukkan bahwa timbangan bukanlah ‘illat-nya. Karena jika berat benar-benar menjadi ‘illat, tentu tidak akan dibolehkan adanya nasa’ (penundaan) atau akad salam pada barang-barang yang ditimbang dan harus diberikan secara tunai.Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranYakni: emas dan perak secara umum merupakan jenis alat tukar atau pembayaran. Ini merupakan ‘illat yang terbatas, yang tidak melampaui keduanya (emas dan perak), hanya sebatas pada penggunaan emas dan perak dalam fungsi alat tukar atau pembayaran. Pendapat ini merupakan pendapat dari mazhab Maliki, Syafi’i, dan sebagian riwayat dari mazhab Hanbali.Alasan dari pendapat ini:Bahwasanya emas dan perak adalah dua substansi dari barang berharga yang digunakan untuk menakar nilai harta. Melalui keduanya, seseorang dapat memperoleh segala sesuatu. Emas dan perak umumnya digunakan sebagai “harga” dalam transaksi jual beli, juga menjadi standar dalam menilai barang-barang yang rusak, dan digunakan sebagai diyat (ganti rugi pidana). Keduanya laku (diterima) di seluruh kalangan manusia; karena adanya karakteristik dan keistimewaan yang dianggap hanya ada pada keduanya.Namun, jika dianggap demikian, maka ‘illat-nya hanya terkurung pada keduanya saja dan tidak dapat mencakup barang yang lain. Artinya, mata uang, uang logam, uang kertas, atau yang sejenisnya tidak berlaku “hukum riba” padanya. Mengingat penggunaan ‘illat pada emas dan perak hanya ada pada penggunaan keduanya sebatas alat tukar saja. Adapun mata uang atau yang sejenisnya, maka tidak berlaku “hukum riba” padanya, karena alat tukar hanya terbatas pada emas dan perak saja.Sanggahan untuk pendapat ini:– Penetapan ‘illat ini terbantahkan secara penggunaannya dan juga secara kebalikannya. Dapat terbantahkan dari sisi penggunaannya seperti pada uang logam selain emas dan perak, karena uang logam pun merupakan alat tukar (terdapat harga dan nominal) padanya. Namun, menurut pendapat ini, tidak terdapat “hukum riba” padanya. Mengapa? Karena menurut pendapat ini alat tukar hanya sebatas pada emas dan perak saja.Begitu pula dapat terbantahkan dari sisi kebalikannya, contohnya pada bejana-bejana dari emas. Menurut pendapat ini, bejana emas berlaku riba, padahal bejana tersebut bukan alat tukar menurut mereka.– Bahwasanya hikmah pada pengharaman riba di antaranya adalah disebabkan kezaliman, dan hal itu tidak hanya terbatas pada emas dan perak saja. Hal itu juga mencakup yang lainnya selain dari emas dan perak sebagai alat tukar, seperti uang logam atau uang kertas. Maka, sebagaimana unsur kezaliman (riba) sangat diperhatikan pada emas dan perak, alat-alat tukar selain emas dan perak pun tentunya harus diperhatikan pula.Sehingga membatasi ‘illat emas dan perak hanya sebatas alat tukar saja tentu akan meniadakan hukum-hukum lainnya yang seharusnya berlaku “hukum riba” padanya.Pendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Artinya, segala sesuatu yang berfungsi sebagai harga (alat tukar), maka hukum riba berlaku padanya. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, juga merupakan pendapat Malikiyah, dan dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah serta Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.Berdasarkan pendapat ini, maka hukum tersebut tidak terbatas pada emas dan perak, tetapi meluas kepada uang logam selain emas dan perak, uang kertas, serta segala sesuatu yang dijadikan oleh manusia sebagai harga.Mereka berdalil dengan dua hal:– Bahwa hikmah diharamkannya riba pada mata uang adalah menjaga kestabilan mata uang itu sendiri dan mempertahankan kedudukannya sebagai standar dalam transaksi. Mata uang harus menjadi standar ukuran nilai dalam muamalah, sehingga nilainya tetap stabil dan terjaga, tidak naik dan turun sebagaimana barang dagangan.Apabila mata uang dijadikan komoditas untuk mencari keuntungan, maka ia tidak lagi berfungsi sebagai standar nilai. Hal itu akan menimbulkan kekacauan dalam transaksi, karena manusia tidak lagi memiliki harga yang dijadikan patokan dalam jual beli. Bahkan seluruh barang akan menjadi komoditas yang nilainya naik turun secara tidak teratur (fluktuatif).Akibatnya, penilaian harga tidak lagi dapat dilakukan dengan standar yang stabil, karena tidak adanya ukuran yang pasti. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang merusak mata uang yang berlaku di tengah kaum muslimin.– Penyebutan secara khusus emas dan perak (dalam dalil) termasuk dalam kategori penyebutan yang mewakili hal serupa lainnya. Sebab, tidak ada sifat khusus yang membedakan keduanya dari yang lain, kecuali keduanya merupakan standar dalam transaksi pada zaman kenabian.Sifat ini (sebagai alat tukar) terdapat pada segala sesuatu yang dijadikan manusia sebagai mata uang. Ketika mata uang tersebut telah beredar luas dan menjadi standar penilaian harga, maka berlaku padanya hukum-hukum yang berlaku pada emas dan perak dalam hal riba.Hal ini dikarenakan mata uang tersebut memiliki makna dan menjalankan fungsi yang sama dengan emas dan perak. Selain itu, kezaliman yang menjadi alasan diharamkannya riba pada emas dan perak juga dapat terjadi pada segala sesuatu yang menggantikan posisi keduanya.Pendapat terkuatPendapat yang kuat dan juga dirajihkan oleh Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musayqih adalah pendapat yang ketiga, yaitu “’Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah”, yang berarti fungsi sebagai alat tukar secara mutlak.Sehingga di antara konsekuensi pendapat ini, segala macam bentuk alat tukar dan bagaimanapun perubahannya, maka ia tetap terkena hukum sebagaimana hukum emas dan perak. Baik dari segi tukar menukarnya, dan praktik-praktik lainnya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 9***Depok, 14 Ramadan 1447/ 3 Maret 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mughni, 4: 5.[2] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Al-Mughni (4: 5-6), Fiqhul Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Muyassar (hal. 139-142), Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 175-179), dan Syarah Ar-Raudhul Murbi’ (6: 456-460).[3] As-Sunan Al-Kubra, 5: 469.[4] Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzzab, 9: 393-394.Referensi:– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Ibn Qudamah, Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad. Al-Mughni. Jilid 4. Cetakan ke-1. Mesir: Maktabah Al-Qahirah, 1388 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali. As-Sunan al-Kubra. Jilid 5. Cetakan ke-3. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1424 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– An-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab. Jilid 9. Mesir: Idarah ath-Thiba‘ah al-Minbariyyah, 1344 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).
Daftar Isi ToggleKesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat riba‘Illat riba pada emas dan perakPendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranPendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Pendapat terkuat‘Illat sejatinya adalah sebuah “alasan” atau motif di balik penetapan suatu hukum. Dengan memahami ‘illat, akan terlihat bagaimana para ulama dalam menetapkan suatu hukum tidaklah serta merta ditetapkan begitu saja. Akan tetapi, dengan ditimbang dan dilihat terlebih dahulu dari sisi ‘illat nya, kemudian bisa ditentukan hukum setelahnya, apakah termasuk dari kategori riba atau bukan termasuk dari riba.Oleh karena itu, riba tidak sesederhana yang dibayangkan. Riba bukan hanya persoalan pinjam meminjam, utang piutang, bukan hanya bicara soal bunga tambahan dari sebuah pinjaman. Menukar dua buah emas dengan karat yang berbeda pun bisa masuk dalam kategori riba, atau menukar dua jenis kurma dengan kualitas yang berbeda juga termasuk riba.Secara garis besar, pembahasan kali ini akan membahas tentang ‘illat riba yang ada pada enam komoditas ribawi. Dengan mengetahui ‘illat riba, nantinya dapat dipahami mengapa para ulama mengkategorikan suatu barang tertentu termasuk dari komoditas ribawi.Kesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat ribaSebelum lebih jauh, pada hal ini terdapat landasan yang harus dipahami; yaitu, para ulama sepakat bahwa ‘illat pada emas dan perak hanyalah satu saja (sama) dan ‘illat pada empat komoditas ribawi lainnya pun hanya satu saja (sama). Namun, mereka berselisih dalam menentukan kedua ‘illat tersebut.Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,وَاتَّفَقَ الْمُعَلِّلُونَ ‌عَلَى ‌أَنَّ ‌عِلَّةَ ‌الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَاحِدَةٌ، وَعِلَّةَ الْأَعْيَانِ الْأَرْبَعَةِ وَاحِدَةٌ، ثُمَّ اخْتَلَفُوا فِي عِلَّةِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا“Para (ulama) ahli ‘illat telah bersepakat bahwa ‘illat (penyebab hukum) pada emas dan perak adalah satu (sama), dan ‘illat pada empat jenis benda lainnya (gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam) juga satu (sama). Namun kemudian, mereka berbeda pendapat mengenai apa sebenarnya masing-masing ‘illat tersebut.” [1]Dari perkataan Ibnu Qudamah di atas dapat dipahami:– Para ulama sepakat bahwa emas dan perak berada dalam satu “kotak” yang sama. Segala ketentuan yang berlaku pada emas, berlaku pula pada perak, dan sebaliknya. Dikarenakan ‘illat keduanya dianggap serupa.– Para ulama sepakat bahwa gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam berada dalam satu “kotak” yang sama. Dikarenakan ‘illat pada keempat komoditas tersebut dianggap serupa.– Perbedaan para ulama terletak dalam menentukan ‘illat pada masing-masing “kotak” tersebut. Sehingga terdapat dua kotak yang masing-masing berbeda pada ‘illat-nya. Emas dan perak berada pada satu kotak, keempat komoditas sisanya berada di kotak yang lain.‘Illat riba pada emas dan perakPara ulama dalam menentukan ‘illat riba pada emas dan perak berselisih setidaknya pada tiga pendapat [2]:Pendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Ini merupakan pendapat dari mazhab Hanafi dan Hanbali. Mereka berdalil dengan hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma,اسْتَعْمَلَ رَجُلًا عَلَى خَيْبَرَ فَجَاءَ بِتَمْرٍ جَنِيبٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَكُلُّ تَمْرِ خَيْبَرَ هَكَذَا؟» فَقَالَ الرَّجُلُ: «لَا وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ! إِنَّا نَشْتَرِي الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ مِنَ الْجَمْعِ»، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: لَا تَفْعَلُوا، وَلَكِنْ مِثْلًا بِمِثْلٍ، أَوْ بِيعُوا هَذَا وَاشْتَرُوا بِثَمَنِهِ مِنْ هَذَا، وَكَذَلِكَ الْمِيزَانُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan seseorang dari Khaibar, lalu orang itu datang membawa kurma berkualitas tinggi (janib). Rasulullah kemudian bertanya, ‘Apakah semua kurma Khaibar seperti ini?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami menukar satu sha’ (kurma ini) dengan dua sha’ kurma campuran (jam’).’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jangan kalian lakukan itu! Akan tetapi, (tukarlah) kurma yang serupa dengan serupa, atau juallah kurma ini (yang rendah kualitasnya), lalu belilah dengan hasil penjualannya kurma yang itu (kualitas tinggi). Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” (HR. Muslim no.1593)Sisi pendalilan dari hadis ini:Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Menunjukkan bahwasanya riba berlaku pada setiap barang yang ditimbang dari jenis yang sama, seperti: besi, timah, emas, perak, daging, gula, dan segala jenis yang ditimbang.Konsekuensi dari pendapat ini:– Jika dikatakan ‘illat pada emas dan perak adalah timbangan, maka segala barang yang ditimbang masuk dalam kategori komoditas ribawi.– Konsekuensi berikutya, jika jenisnya sama (misal: besi dengan besi), maka harus sama beratnya, tidak boleh ada selisih berat dan harus tunai.– Jika jenisnya berbeda tapi ‘illat-nya sama (misal: besi dengan timah), maka: boleh berbeda beratnya, tetapi harus dilakukan serah terima secara langsung di tempat (taqabudh).Sanggahan terhadap sisi pendalilan di atas:– Ucapan, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Adalah ucapan dari Abu Sa’id Al-Khudri sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Imam Al-Baihaqi dalam Sunan-nya. [3]– Lafaz hadis di atas bersifat umum yang maksud dan tujuannya tidak tampak secara zahirnya; maka sejatinya, hadis tersebut diarahkan kepada emas dan perak karena memang itulah maksudnya.Sehingga maksudnya adalah, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang saat menjual emas dan perak.” Hal ini dalam rangka menggabungkan antara hadis ini dengan hadis ‘Ubadah dan lainnya, yaitu: tidak sah menjual emas dengan emas atau perak dengan perak kecuali dengan timbangan berat yang sama agar tercapai keselarasan yang diisyaratkan dalam hadis-hadis tersebut. [4]Sanggahan untuk pendapat ini:Berikut ini adalah sanggahan dari pendapat yang mengatakan ‘illat emas dan perak adalah al-wazn (timbangan) dan al-jins (kesamaan jenis).– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak tidak ada keselasaran yang kuat. Karena sejatinya, ia tidak berlaku pada setiap jenis barang yang ditimbang. Sehingga, menjadikan timbangan sebagai ‘illat dalam hal ini bukanlah penetapan hukum berdasarkan suatu sifat yang layak menjadi faktor yang mempengaruhi hukum.– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak juga lemah, karena hal ini tidak berlaku secara konsisten pada semua barang yang ditimbang. Terdapat ijmak (kesepakatan ulama) tentang bolehnya akad salam seperti menukarkan emas atau perak dengan barang-barang yang ditimbang secara tempo, seperti akad salam pada besi, timah, atau semisalnya. Demikian pula bolehnya menjual besi dan sejenisnya dengan pembayaran dirham (perak) secara tempo.Hal ini menunjukkan bahwa timbangan bukanlah ‘illat-nya. Karena jika berat benar-benar menjadi ‘illat, tentu tidak akan dibolehkan adanya nasa’ (penundaan) atau akad salam pada barang-barang yang ditimbang dan harus diberikan secara tunai.Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranYakni: emas dan perak secara umum merupakan jenis alat tukar atau pembayaran. Ini merupakan ‘illat yang terbatas, yang tidak melampaui keduanya (emas dan perak), hanya sebatas pada penggunaan emas dan perak dalam fungsi alat tukar atau pembayaran. Pendapat ini merupakan pendapat dari mazhab Maliki, Syafi’i, dan sebagian riwayat dari mazhab Hanbali.Alasan dari pendapat ini:Bahwasanya emas dan perak adalah dua substansi dari barang berharga yang digunakan untuk menakar nilai harta. Melalui keduanya, seseorang dapat memperoleh segala sesuatu. Emas dan perak umumnya digunakan sebagai “harga” dalam transaksi jual beli, juga menjadi standar dalam menilai barang-barang yang rusak, dan digunakan sebagai diyat (ganti rugi pidana). Keduanya laku (diterima) di seluruh kalangan manusia; karena adanya karakteristik dan keistimewaan yang dianggap hanya ada pada keduanya.Namun, jika dianggap demikian, maka ‘illat-nya hanya terkurung pada keduanya saja dan tidak dapat mencakup barang yang lain. Artinya, mata uang, uang logam, uang kertas, atau yang sejenisnya tidak berlaku “hukum riba” padanya. Mengingat penggunaan ‘illat pada emas dan perak hanya ada pada penggunaan keduanya sebatas alat tukar saja. Adapun mata uang atau yang sejenisnya, maka tidak berlaku “hukum riba” padanya, karena alat tukar hanya terbatas pada emas dan perak saja.Sanggahan untuk pendapat ini:– Penetapan ‘illat ini terbantahkan secara penggunaannya dan juga secara kebalikannya. Dapat terbantahkan dari sisi penggunaannya seperti pada uang logam selain emas dan perak, karena uang logam pun merupakan alat tukar (terdapat harga dan nominal) padanya. Namun, menurut pendapat ini, tidak terdapat “hukum riba” padanya. Mengapa? Karena menurut pendapat ini alat tukar hanya sebatas pada emas dan perak saja.Begitu pula dapat terbantahkan dari sisi kebalikannya, contohnya pada bejana-bejana dari emas. Menurut pendapat ini, bejana emas berlaku riba, padahal bejana tersebut bukan alat tukar menurut mereka.– Bahwasanya hikmah pada pengharaman riba di antaranya adalah disebabkan kezaliman, dan hal itu tidak hanya terbatas pada emas dan perak saja. Hal itu juga mencakup yang lainnya selain dari emas dan perak sebagai alat tukar, seperti uang logam atau uang kertas. Maka, sebagaimana unsur kezaliman (riba) sangat diperhatikan pada emas dan perak, alat-alat tukar selain emas dan perak pun tentunya harus diperhatikan pula.Sehingga membatasi ‘illat emas dan perak hanya sebatas alat tukar saja tentu akan meniadakan hukum-hukum lainnya yang seharusnya berlaku “hukum riba” padanya.Pendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Artinya, segala sesuatu yang berfungsi sebagai harga (alat tukar), maka hukum riba berlaku padanya. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, juga merupakan pendapat Malikiyah, dan dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah serta Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.Berdasarkan pendapat ini, maka hukum tersebut tidak terbatas pada emas dan perak, tetapi meluas kepada uang logam selain emas dan perak, uang kertas, serta segala sesuatu yang dijadikan oleh manusia sebagai harga.Mereka berdalil dengan dua hal:– Bahwa hikmah diharamkannya riba pada mata uang adalah menjaga kestabilan mata uang itu sendiri dan mempertahankan kedudukannya sebagai standar dalam transaksi. Mata uang harus menjadi standar ukuran nilai dalam muamalah, sehingga nilainya tetap stabil dan terjaga, tidak naik dan turun sebagaimana barang dagangan.Apabila mata uang dijadikan komoditas untuk mencari keuntungan, maka ia tidak lagi berfungsi sebagai standar nilai. Hal itu akan menimbulkan kekacauan dalam transaksi, karena manusia tidak lagi memiliki harga yang dijadikan patokan dalam jual beli. Bahkan seluruh barang akan menjadi komoditas yang nilainya naik turun secara tidak teratur (fluktuatif).Akibatnya, penilaian harga tidak lagi dapat dilakukan dengan standar yang stabil, karena tidak adanya ukuran yang pasti. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang merusak mata uang yang berlaku di tengah kaum muslimin.– Penyebutan secara khusus emas dan perak (dalam dalil) termasuk dalam kategori penyebutan yang mewakili hal serupa lainnya. Sebab, tidak ada sifat khusus yang membedakan keduanya dari yang lain, kecuali keduanya merupakan standar dalam transaksi pada zaman kenabian.Sifat ini (sebagai alat tukar) terdapat pada segala sesuatu yang dijadikan manusia sebagai mata uang. Ketika mata uang tersebut telah beredar luas dan menjadi standar penilaian harga, maka berlaku padanya hukum-hukum yang berlaku pada emas dan perak dalam hal riba.Hal ini dikarenakan mata uang tersebut memiliki makna dan menjalankan fungsi yang sama dengan emas dan perak. Selain itu, kezaliman yang menjadi alasan diharamkannya riba pada emas dan perak juga dapat terjadi pada segala sesuatu yang menggantikan posisi keduanya.Pendapat terkuatPendapat yang kuat dan juga dirajihkan oleh Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musayqih adalah pendapat yang ketiga, yaitu “’Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah”, yang berarti fungsi sebagai alat tukar secara mutlak.Sehingga di antara konsekuensi pendapat ini, segala macam bentuk alat tukar dan bagaimanapun perubahannya, maka ia tetap terkena hukum sebagaimana hukum emas dan perak. Baik dari segi tukar menukarnya, dan praktik-praktik lainnya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 9***Depok, 14 Ramadan 1447/ 3 Maret 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mughni, 4: 5.[2] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Al-Mughni (4: 5-6), Fiqhul Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Muyassar (hal. 139-142), Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 175-179), dan Syarah Ar-Raudhul Murbi’ (6: 456-460).[3] As-Sunan Al-Kubra, 5: 469.[4] Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzzab, 9: 393-394.Referensi:– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Ibn Qudamah, Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad. Al-Mughni. Jilid 4. Cetakan ke-1. Mesir: Maktabah Al-Qahirah, 1388 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali. As-Sunan al-Kubra. Jilid 5. Cetakan ke-3. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1424 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– An-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab. Jilid 9. Mesir: Idarah ath-Thiba‘ah al-Minbariyyah, 1344 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).


Daftar Isi ToggleKesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat riba‘Illat riba pada emas dan perakPendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranPendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Pendapat terkuat‘Illat sejatinya adalah sebuah “alasan” atau motif di balik penetapan suatu hukum. Dengan memahami ‘illat, akan terlihat bagaimana para ulama dalam menetapkan suatu hukum tidaklah serta merta ditetapkan begitu saja. Akan tetapi, dengan ditimbang dan dilihat terlebih dahulu dari sisi ‘illat nya, kemudian bisa ditentukan hukum setelahnya, apakah termasuk dari kategori riba atau bukan termasuk dari riba.Oleh karena itu, riba tidak sesederhana yang dibayangkan. Riba bukan hanya persoalan pinjam meminjam, utang piutang, bukan hanya bicara soal bunga tambahan dari sebuah pinjaman. Menukar dua buah emas dengan karat yang berbeda pun bisa masuk dalam kategori riba, atau menukar dua jenis kurma dengan kualitas yang berbeda juga termasuk riba.Secara garis besar, pembahasan kali ini akan membahas tentang ‘illat riba yang ada pada enam komoditas ribawi. Dengan mengetahui ‘illat riba, nantinya dapat dipahami mengapa para ulama mengkategorikan suatu barang tertentu termasuk dari komoditas ribawi.Kesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat ribaSebelum lebih jauh, pada hal ini terdapat landasan yang harus dipahami; yaitu, para ulama sepakat bahwa ‘illat pada emas dan perak hanyalah satu saja (sama) dan ‘illat pada empat komoditas ribawi lainnya pun hanya satu saja (sama). Namun, mereka berselisih dalam menentukan kedua ‘illat tersebut.Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,وَاتَّفَقَ الْمُعَلِّلُونَ ‌عَلَى ‌أَنَّ ‌عِلَّةَ ‌الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَاحِدَةٌ، وَعِلَّةَ الْأَعْيَانِ الْأَرْبَعَةِ وَاحِدَةٌ، ثُمَّ اخْتَلَفُوا فِي عِلَّةِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا“Para (ulama) ahli ‘illat telah bersepakat bahwa ‘illat (penyebab hukum) pada emas dan perak adalah satu (sama), dan ‘illat pada empat jenis benda lainnya (gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam) juga satu (sama). Namun kemudian, mereka berbeda pendapat mengenai apa sebenarnya masing-masing ‘illat tersebut.” [1]Dari perkataan Ibnu Qudamah di atas dapat dipahami:– Para ulama sepakat bahwa emas dan perak berada dalam satu “kotak” yang sama. Segala ketentuan yang berlaku pada emas, berlaku pula pada perak, dan sebaliknya. Dikarenakan ‘illat keduanya dianggap serupa.– Para ulama sepakat bahwa gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam berada dalam satu “kotak” yang sama. Dikarenakan ‘illat pada keempat komoditas tersebut dianggap serupa.– Perbedaan para ulama terletak dalam menentukan ‘illat pada masing-masing “kotak” tersebut. Sehingga terdapat dua kotak yang masing-masing berbeda pada ‘illat-nya. Emas dan perak berada pada satu kotak, keempat komoditas sisanya berada di kotak yang lain.‘Illat riba pada emas dan perakPara ulama dalam menentukan ‘illat riba pada emas dan perak berselisih setidaknya pada tiga pendapat [2]:Pendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Ini merupakan pendapat dari mazhab Hanafi dan Hanbali. Mereka berdalil dengan hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma,اسْتَعْمَلَ رَجُلًا عَلَى خَيْبَرَ فَجَاءَ بِتَمْرٍ جَنِيبٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَكُلُّ تَمْرِ خَيْبَرَ هَكَذَا؟» فَقَالَ الرَّجُلُ: «لَا وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ! إِنَّا نَشْتَرِي الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ مِنَ الْجَمْعِ»، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: لَا تَفْعَلُوا، وَلَكِنْ مِثْلًا بِمِثْلٍ، أَوْ بِيعُوا هَذَا وَاشْتَرُوا بِثَمَنِهِ مِنْ هَذَا، وَكَذَلِكَ الْمِيزَانُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan seseorang dari Khaibar, lalu orang itu datang membawa kurma berkualitas tinggi (janib). Rasulullah kemudian bertanya, ‘Apakah semua kurma Khaibar seperti ini?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami menukar satu sha’ (kurma ini) dengan dua sha’ kurma campuran (jam’).’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jangan kalian lakukan itu! Akan tetapi, (tukarlah) kurma yang serupa dengan serupa, atau juallah kurma ini (yang rendah kualitasnya), lalu belilah dengan hasil penjualannya kurma yang itu (kualitas tinggi). Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” (HR. Muslim no.1593)Sisi pendalilan dari hadis ini:Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Menunjukkan bahwasanya riba berlaku pada setiap barang yang ditimbang dari jenis yang sama, seperti: besi, timah, emas, perak, daging, gula, dan segala jenis yang ditimbang.Konsekuensi dari pendapat ini:– Jika dikatakan ‘illat pada emas dan perak adalah timbangan, maka segala barang yang ditimbang masuk dalam kategori komoditas ribawi.– Konsekuensi berikutya, jika jenisnya sama (misal: besi dengan besi), maka harus sama beratnya, tidak boleh ada selisih berat dan harus tunai.– Jika jenisnya berbeda tapi ‘illat-nya sama (misal: besi dengan timah), maka: boleh berbeda beratnya, tetapi harus dilakukan serah terima secara langsung di tempat (taqabudh).Sanggahan terhadap sisi pendalilan di atas:– Ucapan, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Adalah ucapan dari Abu Sa’id Al-Khudri sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Imam Al-Baihaqi dalam Sunan-nya. [3]– Lafaz hadis di atas bersifat umum yang maksud dan tujuannya tidak tampak secara zahirnya; maka sejatinya, hadis tersebut diarahkan kepada emas dan perak karena memang itulah maksudnya.Sehingga maksudnya adalah, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang saat menjual emas dan perak.” Hal ini dalam rangka menggabungkan antara hadis ini dengan hadis ‘Ubadah dan lainnya, yaitu: tidak sah menjual emas dengan emas atau perak dengan perak kecuali dengan timbangan berat yang sama agar tercapai keselarasan yang diisyaratkan dalam hadis-hadis tersebut. [4]Sanggahan untuk pendapat ini:Berikut ini adalah sanggahan dari pendapat yang mengatakan ‘illat emas dan perak adalah al-wazn (timbangan) dan al-jins (kesamaan jenis).– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak tidak ada keselasaran yang kuat. Karena sejatinya, ia tidak berlaku pada setiap jenis barang yang ditimbang. Sehingga, menjadikan timbangan sebagai ‘illat dalam hal ini bukanlah penetapan hukum berdasarkan suatu sifat yang layak menjadi faktor yang mempengaruhi hukum.– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak juga lemah, karena hal ini tidak berlaku secara konsisten pada semua barang yang ditimbang. Terdapat ijmak (kesepakatan ulama) tentang bolehnya akad salam seperti menukarkan emas atau perak dengan barang-barang yang ditimbang secara tempo, seperti akad salam pada besi, timah, atau semisalnya. Demikian pula bolehnya menjual besi dan sejenisnya dengan pembayaran dirham (perak) secara tempo.Hal ini menunjukkan bahwa timbangan bukanlah ‘illat-nya. Karena jika berat benar-benar menjadi ‘illat, tentu tidak akan dibolehkan adanya nasa’ (penundaan) atau akad salam pada barang-barang yang ditimbang dan harus diberikan secara tunai.Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranYakni: emas dan perak secara umum merupakan jenis alat tukar atau pembayaran. Ini merupakan ‘illat yang terbatas, yang tidak melampaui keduanya (emas dan perak), hanya sebatas pada penggunaan emas dan perak dalam fungsi alat tukar atau pembayaran. Pendapat ini merupakan pendapat dari mazhab Maliki, Syafi’i, dan sebagian riwayat dari mazhab Hanbali.Alasan dari pendapat ini:Bahwasanya emas dan perak adalah dua substansi dari barang berharga yang digunakan untuk menakar nilai harta. Melalui keduanya, seseorang dapat memperoleh segala sesuatu. Emas dan perak umumnya digunakan sebagai “harga” dalam transaksi jual beli, juga menjadi standar dalam menilai barang-barang yang rusak, dan digunakan sebagai diyat (ganti rugi pidana). Keduanya laku (diterima) di seluruh kalangan manusia; karena adanya karakteristik dan keistimewaan yang dianggap hanya ada pada keduanya.Namun, jika dianggap demikian, maka ‘illat-nya hanya terkurung pada keduanya saja dan tidak dapat mencakup barang yang lain. Artinya, mata uang, uang logam, uang kertas, atau yang sejenisnya tidak berlaku “hukum riba” padanya. Mengingat penggunaan ‘illat pada emas dan perak hanya ada pada penggunaan keduanya sebatas alat tukar saja. Adapun mata uang atau yang sejenisnya, maka tidak berlaku “hukum riba” padanya, karena alat tukar hanya terbatas pada emas dan perak saja.Sanggahan untuk pendapat ini:– Penetapan ‘illat ini terbantahkan secara penggunaannya dan juga secara kebalikannya. Dapat terbantahkan dari sisi penggunaannya seperti pada uang logam selain emas dan perak, karena uang logam pun merupakan alat tukar (terdapat harga dan nominal) padanya. Namun, menurut pendapat ini, tidak terdapat “hukum riba” padanya. Mengapa? Karena menurut pendapat ini alat tukar hanya sebatas pada emas dan perak saja.Begitu pula dapat terbantahkan dari sisi kebalikannya, contohnya pada bejana-bejana dari emas. Menurut pendapat ini, bejana emas berlaku riba, padahal bejana tersebut bukan alat tukar menurut mereka.– Bahwasanya hikmah pada pengharaman riba di antaranya adalah disebabkan kezaliman, dan hal itu tidak hanya terbatas pada emas dan perak saja. Hal itu juga mencakup yang lainnya selain dari emas dan perak sebagai alat tukar, seperti uang logam atau uang kertas. Maka, sebagaimana unsur kezaliman (riba) sangat diperhatikan pada emas dan perak, alat-alat tukar selain emas dan perak pun tentunya harus diperhatikan pula.Sehingga membatasi ‘illat emas dan perak hanya sebatas alat tukar saja tentu akan meniadakan hukum-hukum lainnya yang seharusnya berlaku “hukum riba” padanya.Pendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Artinya, segala sesuatu yang berfungsi sebagai harga (alat tukar), maka hukum riba berlaku padanya. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, juga merupakan pendapat Malikiyah, dan dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah serta Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.Berdasarkan pendapat ini, maka hukum tersebut tidak terbatas pada emas dan perak, tetapi meluas kepada uang logam selain emas dan perak, uang kertas, serta segala sesuatu yang dijadikan oleh manusia sebagai harga.Mereka berdalil dengan dua hal:– Bahwa hikmah diharamkannya riba pada mata uang adalah menjaga kestabilan mata uang itu sendiri dan mempertahankan kedudukannya sebagai standar dalam transaksi. Mata uang harus menjadi standar ukuran nilai dalam muamalah, sehingga nilainya tetap stabil dan terjaga, tidak naik dan turun sebagaimana barang dagangan.Apabila mata uang dijadikan komoditas untuk mencari keuntungan, maka ia tidak lagi berfungsi sebagai standar nilai. Hal itu akan menimbulkan kekacauan dalam transaksi, karena manusia tidak lagi memiliki harga yang dijadikan patokan dalam jual beli. Bahkan seluruh barang akan menjadi komoditas yang nilainya naik turun secara tidak teratur (fluktuatif).Akibatnya, penilaian harga tidak lagi dapat dilakukan dengan standar yang stabil, karena tidak adanya ukuran yang pasti. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang merusak mata uang yang berlaku di tengah kaum muslimin.– Penyebutan secara khusus emas dan perak (dalam dalil) termasuk dalam kategori penyebutan yang mewakili hal serupa lainnya. Sebab, tidak ada sifat khusus yang membedakan keduanya dari yang lain, kecuali keduanya merupakan standar dalam transaksi pada zaman kenabian.Sifat ini (sebagai alat tukar) terdapat pada segala sesuatu yang dijadikan manusia sebagai mata uang. Ketika mata uang tersebut telah beredar luas dan menjadi standar penilaian harga, maka berlaku padanya hukum-hukum yang berlaku pada emas dan perak dalam hal riba.Hal ini dikarenakan mata uang tersebut memiliki makna dan menjalankan fungsi yang sama dengan emas dan perak. Selain itu, kezaliman yang menjadi alasan diharamkannya riba pada emas dan perak juga dapat terjadi pada segala sesuatu yang menggantikan posisi keduanya.Pendapat terkuatPendapat yang kuat dan juga dirajihkan oleh Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musayqih adalah pendapat yang ketiga, yaitu “’Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah”, yang berarti fungsi sebagai alat tukar secara mutlak.Sehingga di antara konsekuensi pendapat ini, segala macam bentuk alat tukar dan bagaimanapun perubahannya, maka ia tetap terkena hukum sebagaimana hukum emas dan perak. Baik dari segi tukar menukarnya, dan praktik-praktik lainnya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 9***Depok, 14 Ramadan 1447/ 3 Maret 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mughni, 4: 5.[2] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Al-Mughni (4: 5-6), Fiqhul Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Muyassar (hal. 139-142), Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 175-179), dan Syarah Ar-Raudhul Murbi’ (6: 456-460).[3] As-Sunan Al-Kubra, 5: 469.[4] Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzzab, 9: 393-394.Referensi:– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Ibn Qudamah, Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad. Al-Mughni. Jilid 4. Cetakan ke-1. Mesir: Maktabah Al-Qahirah, 1388 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali. As-Sunan al-Kubra. Jilid 5. Cetakan ke-3. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1424 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– An-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab. Jilid 9. Mesir: Idarah ath-Thiba‘ah al-Minbariyyah, 1344 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).

Witir Cuma Satu Rakaat, Sah atau Tidak? Simak Penjelasan Lengkapnya di Sini

https://youtu.be/iAZjDtGq0ko Berkaitan dengan orang yang mengerjakan Shalat Witir hanya satu rakaat, apakah kita katakan bahwa tindakannya itu sesuai dengan yang disyariatkan? Atau pendapat yang benar adalah minimal dilakukan sebanyak tiga rakaat? Shalat Witir hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan), dan batasan minimalnya satu rakaat. Jadi, orang yang mengerjakannya satu rakaat, berarti telah menunaikan batas minimal dari Shalat Witir. Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda: “Shalat Witir itu satu rakaat pada akhir malam.” (HR. Muslim). Ini menjadi dalil bahwa jumlah minimalnya adalah satu rakaat. Namun, hendaknya seorang muslim bersemangat untuk mendirikan Shalat Witir tidak kurang dari 3 rakaat. Jika ia menambahnya menjadi 5, 7, 9, atau 11 rakaat, maka ini jauh lebih sempurna dan lebih utama. Shalat Malam tidak memiliki batasan maksimal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat Malam itu dua rakaat dua rakaat kemudian jika salah seorang dari kalian khawatir waktu subuh segera tiba, hendaklah ia menutupnya dengan witir satu rakaat.” (HR. Bukhari & Muslim). ===== بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يُوتِرُ بِرَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ هَلْ هَذَا نَقُولُ إِنَّهُ فَعَلَ مَشْرُوعًا أَوْ أَنَّ الصَّحِيحَ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ أَقَلِّ شَيْءٍ الْوِتْرُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَأَقَلُّهُ رَكْعَةٌ فَمَنْ أَتَى بِرَكْعَةٍ فَقَدْ أَتَى بِالْحَدِّ الْأَدْنَى مِنَ الْوِتْرِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ أَقَلَّهُ رَكْعَةٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ تَسْمُوَ نَفْسُ الْمُسْلِمِ يَعْنِي أَلَّا تَقِلَّ عَنْ ثَلَاثٍ وَإِنْ زَادَهَا وَجَعَلَهَا خَمْسًا أَوْ سَبْعًا أَوْ تِسْعًا أَوْ إِحْدَى عَشْرَةَ كَانَ هَذَا أَكْمَلَ وَأَفْضَلَ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ لَيْسَ لَهَا حَدٌّ مَحْدُودٌ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ فَلْيُوتِرْ بِوَاحِدَةٍ

Witir Cuma Satu Rakaat, Sah atau Tidak? Simak Penjelasan Lengkapnya di Sini

https://youtu.be/iAZjDtGq0ko Berkaitan dengan orang yang mengerjakan Shalat Witir hanya satu rakaat, apakah kita katakan bahwa tindakannya itu sesuai dengan yang disyariatkan? Atau pendapat yang benar adalah minimal dilakukan sebanyak tiga rakaat? Shalat Witir hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan), dan batasan minimalnya satu rakaat. Jadi, orang yang mengerjakannya satu rakaat, berarti telah menunaikan batas minimal dari Shalat Witir. Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda: “Shalat Witir itu satu rakaat pada akhir malam.” (HR. Muslim). Ini menjadi dalil bahwa jumlah minimalnya adalah satu rakaat. Namun, hendaknya seorang muslim bersemangat untuk mendirikan Shalat Witir tidak kurang dari 3 rakaat. Jika ia menambahnya menjadi 5, 7, 9, atau 11 rakaat, maka ini jauh lebih sempurna dan lebih utama. Shalat Malam tidak memiliki batasan maksimal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat Malam itu dua rakaat dua rakaat kemudian jika salah seorang dari kalian khawatir waktu subuh segera tiba, hendaklah ia menutupnya dengan witir satu rakaat.” (HR. Bukhari & Muslim). ===== بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يُوتِرُ بِرَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ هَلْ هَذَا نَقُولُ إِنَّهُ فَعَلَ مَشْرُوعًا أَوْ أَنَّ الصَّحِيحَ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ أَقَلِّ شَيْءٍ الْوِتْرُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَأَقَلُّهُ رَكْعَةٌ فَمَنْ أَتَى بِرَكْعَةٍ فَقَدْ أَتَى بِالْحَدِّ الْأَدْنَى مِنَ الْوِتْرِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ أَقَلَّهُ رَكْعَةٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ تَسْمُوَ نَفْسُ الْمُسْلِمِ يَعْنِي أَلَّا تَقِلَّ عَنْ ثَلَاثٍ وَإِنْ زَادَهَا وَجَعَلَهَا خَمْسًا أَوْ سَبْعًا أَوْ تِسْعًا أَوْ إِحْدَى عَشْرَةَ كَانَ هَذَا أَكْمَلَ وَأَفْضَلَ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ لَيْسَ لَهَا حَدٌّ مَحْدُودٌ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ فَلْيُوتِرْ بِوَاحِدَةٍ
https://youtu.be/iAZjDtGq0ko Berkaitan dengan orang yang mengerjakan Shalat Witir hanya satu rakaat, apakah kita katakan bahwa tindakannya itu sesuai dengan yang disyariatkan? Atau pendapat yang benar adalah minimal dilakukan sebanyak tiga rakaat? Shalat Witir hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan), dan batasan minimalnya satu rakaat. Jadi, orang yang mengerjakannya satu rakaat, berarti telah menunaikan batas minimal dari Shalat Witir. Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda: “Shalat Witir itu satu rakaat pada akhir malam.” (HR. Muslim). Ini menjadi dalil bahwa jumlah minimalnya adalah satu rakaat. Namun, hendaknya seorang muslim bersemangat untuk mendirikan Shalat Witir tidak kurang dari 3 rakaat. Jika ia menambahnya menjadi 5, 7, 9, atau 11 rakaat, maka ini jauh lebih sempurna dan lebih utama. Shalat Malam tidak memiliki batasan maksimal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat Malam itu dua rakaat dua rakaat kemudian jika salah seorang dari kalian khawatir waktu subuh segera tiba, hendaklah ia menutupnya dengan witir satu rakaat.” (HR. Bukhari & Muslim). ===== بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يُوتِرُ بِرَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ هَلْ هَذَا نَقُولُ إِنَّهُ فَعَلَ مَشْرُوعًا أَوْ أَنَّ الصَّحِيحَ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ أَقَلِّ شَيْءٍ الْوِتْرُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَأَقَلُّهُ رَكْعَةٌ فَمَنْ أَتَى بِرَكْعَةٍ فَقَدْ أَتَى بِالْحَدِّ الْأَدْنَى مِنَ الْوِتْرِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ أَقَلَّهُ رَكْعَةٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ تَسْمُوَ نَفْسُ الْمُسْلِمِ يَعْنِي أَلَّا تَقِلَّ عَنْ ثَلَاثٍ وَإِنْ زَادَهَا وَجَعَلَهَا خَمْسًا أَوْ سَبْعًا أَوْ تِسْعًا أَوْ إِحْدَى عَشْرَةَ كَانَ هَذَا أَكْمَلَ وَأَفْضَلَ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ لَيْسَ لَهَا حَدٌّ مَحْدُودٌ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ فَلْيُوتِرْ بِوَاحِدَةٍ


https://youtu.be/iAZjDtGq0ko Berkaitan dengan orang yang mengerjakan Shalat Witir hanya satu rakaat, apakah kita katakan bahwa tindakannya itu sesuai dengan yang disyariatkan? Atau pendapat yang benar adalah minimal dilakukan sebanyak tiga rakaat? Shalat Witir hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan), dan batasan minimalnya satu rakaat. Jadi, orang yang mengerjakannya satu rakaat, berarti telah menunaikan batas minimal dari Shalat Witir. Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda: “Shalat Witir itu satu rakaat pada akhir malam.” (HR. Muslim). Ini menjadi dalil bahwa jumlah minimalnya adalah satu rakaat. Namun, hendaknya seorang muslim bersemangat untuk mendirikan Shalat Witir tidak kurang dari 3 rakaat. Jika ia menambahnya menjadi 5, 7, 9, atau 11 rakaat, maka ini jauh lebih sempurna dan lebih utama. Shalat Malam tidak memiliki batasan maksimal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat Malam itu dua rakaat dua rakaat kemudian jika salah seorang dari kalian khawatir waktu subuh segera tiba, hendaklah ia menutupnya dengan witir satu rakaat.” (HR. Bukhari & Muslim). ===== بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يُوتِرُ بِرَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ هَلْ هَذَا نَقُولُ إِنَّهُ فَعَلَ مَشْرُوعًا أَوْ أَنَّ الصَّحِيحَ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ أَقَلِّ شَيْءٍ الْوِتْرُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَأَقَلُّهُ رَكْعَةٌ فَمَنْ أَتَى بِرَكْعَةٍ فَقَدْ أَتَى بِالْحَدِّ الْأَدْنَى مِنَ الْوِتْرِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ أَقَلَّهُ رَكْعَةٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ تَسْمُوَ نَفْسُ الْمُسْلِمِ يَعْنِي أَلَّا تَقِلَّ عَنْ ثَلَاثٍ وَإِنْ زَادَهَا وَجَعَلَهَا خَمْسًا أَوْ سَبْعًا أَوْ تِسْعًا أَوْ إِحْدَى عَشْرَةَ كَانَ هَذَا أَكْمَلَ وَأَفْضَلَ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ لَيْسَ لَهَا حَدٌّ مَحْدُودٌ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ فَلْيُوتِرْ بِوَاحِدَةٍ

Khutbah Idulfitri | Tanda Amal Diterima Allah dan Penyebab Amal Tertolak

Setiap Muslim tentu berharap amal ibadahnya diterima oleh Allah, terutama setelah menjalani Ramadan dengan puasa, qiyam, tilawah, dan sedekah. Namun, para ulama menjelaskan bahwa yang paling penting bukan sekadar banyaknya amal, tetapi apakah amal itu diterima oleh Allah atau justru tertolak. Karena itu, seorang mukmin perlu mengenal tanda-tanda diterimanya amal sekaligus sebab-sebab yang bisa menggugurkannya.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang Bertakwa 3. Diterimanya Amal vs Banyak Beramal 4. Yang Menyebabkan Amalan Tidak Diterima 4.1. Pertama: Tidak beriman kepada Allah 4.2. Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhirat 4.3. Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺ 4.4. Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap mereka 4.5. Kelima: Kemunafikan 5. Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail 6. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Allah Ta’ala memerintahkan shalat Idulfitri dan zakat fitrah sebagai bentuk penyucian jiwa.قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS. Al-A’laa: 14-15) Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang BertakwaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)Maksud dari ayat ini adalah bahwa siapa pun yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal tertentu—yakni ia melakukannya dengan benar, memenuhi syarat-syaratnya seperti iman, ikhlas, dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—maka Allah akan menerima amal tersebut darinya. Tidak disyaratkan ia harus bertakwa dalam seluruh aspek hidupnya. Jika ia bertakwa dalam amal tersebut dan melaksanakannya dengan baik, maka Allah akan menerimanya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,وَعِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يُتَقَبَّلُ الْعَمَلُ مِمَّنِ اتَّقَى اللَّهَ فِيهِ، فَعَمِلَهُ خَالِصًا لِلَّهِ، مُوَافِقًا لِأَمْرِ اللَّهِ، فَمَنْ اتَّقَاهُ فِي عَمَلٍ تَقَبَّلَهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ عَاصِيًا فِي غَيْرِهِ. وَمَنْ لَمْ يَتَّقِهِ فِيهِ، لَمْ يَتَقَبَّلْهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ مُطِيعًا فِي غَيْرِهِ.“Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, Allah menerima amal dari orang yang bertakwa dalam amal itu, yaitu ia mengerjakannya dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan perintah-Nya. Maka siapa yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal, Allah akan menerimanya, meskipun ia melakukan maksiat dalam perkara lain. Siapa yang tidak bertakwa kepada Allah dalam amal itu, Allah tidak akan menerimanya, meskipun ia taat dalam perkara lain.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:322)Jadi, amal yang tidak diterima oleh Allah adalah amal yang dilakukan tanpa takwa kepada-Nya, tanpa ikhlas, dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Manusia tidak tahu amal mana yang diterima dan mana yang tidak. Oleh karena itu, ia berada antara harap dan takut. Ia berusaha menyempurnakan amalnya, lalu memohon kepada Allah agar amal itu diterima, karena diterimanya amal adalah semata-mata karunia dari Allah. Ia pun khawatir amalnya ditolak, atau bahkan batal karena ada cacat tersembunyi yang membuatnya tidak diterima.Ada tanda bahwa amal diterima, yaitu ketika amal itu membuahkan ketaatan lain. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf,مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ، الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا.“Termasuk balasan dari satu kebaikan adalah kebaikan berikutnya.”Orang-orang saleh bersungguh-sungguh dalam amal mereka, tetapi tetap menganggap amalnya kecil jika dibandingkan dengan hak Allah atas dirinya. Merasa kecil terhadap amal sendiri dan merendahkan diri adalah tanda bahwa amal diterima.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,عَلَامَةُ قَبُولِ الْعَمَلِ احْتِقَارُهُ وَاسْتِقْلَالُهُ، وَصِغَرُهُ فِي قَلْبِكَ. حَتَّى إِنَّ الْعَارِفَ لَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَقِيبَ طَاعَتِهِ. وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ ثَلَاثًا.Tanda diterimanya amal adalah jika seseorang menganggap amalnya kecil dan remeh dalam hatinya. Bahkan orang yang mengenal Allah sering beristighfar setelah beramal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, setelah selesai shalat, beristighfar sebanyak tiga kali. (Madarij As-Salikin baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, 2:162, Islamweb) Diterimanya Amal vs Banyak BeramalPerhatian para salafus shalih terhadap diterimanya ibadah jauh lebih besar daripada perhatian mereka terhadap pelaksanaan ibadah itu sendiri, karena mereka tidak tahu apakah amal mereka diterima atau tidak. Maka kegelisahan akan diterimanya amal benar-benar menguasai hati mereka.Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tentang firman Allah: ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sedang hati mereka takut…’, apakah maksudnya orang yang mencuri, berzina, dan minum khamr, lalu tetap takut kepada Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,لَا يا ابْنَة أبي بَكْرٍ -أو: يَا ابْنَةَ الصّدِيقِ-، وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَيخافُ أنْ لا يُقْبَل مِنْهُ“Bukan, wahai putri Abu Bakar (atau: wahai putri Ash-Shiddiq), tetapi ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, lalu ia takut amalnya tidak diterima.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim – dan beliau mensahihkannya –, serta Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hendaklah kalian lebih mencemaskan apakah amal kalian diterima, daripada sekadar beramal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar firman Allah: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Ma’idah: 27) (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam al-Ikhlas wa an-Niyyah)Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, pada malam terakhir bulan Ramadan, berkata: “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalnya, agar kita ucapkan selamat kepadanya? Dan siapa pula yang tertolak dan terhalang, agar kita berbelasungkawa kepadanya? Wahai orang yang diterima amalnya, selamat atasmu! Wahai orang yang ditolak, semoga Allah menghiburmu atas musibah ini!” (Diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam Qiyam al-Lail, juga oleh Ibnu asy-Syajari dan Abu al-Fath al-Maqdisi dalam Amali mereka)Abdul Aziz bin Abi Rawwad berkata,أَدْرَكْتُهُمْ يَجْتَهِدُونَ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ، فَإِذَا فَعَلُوهُ وَقَعَ عَلَيْهِمُ الْهَمُّ؛ أَيُقْبَلُ مِنْهُمْ أَمْ لَا؟“Aku dapati para salaf sangat bersungguh-sungguh dalam amal saleh, namun setelah melakukannya, mereka justru diliputi kekhawatiran: apakah amal itu diterima atau tidak?” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Muhasabah An-Nafs)Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini,كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم“Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)Kegelisahan hati ini pun membuat lisan banyak berdoa agar amal ibadah diterima. Karena lisan adalah penerjemah dari isi hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:فَإِنَّمَا يُعَبِّرُ عَنِ الْقَلْبِ اللِّسَانُ“Sesungguhnya yang mengungkapkan isi hati adalah lisan.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, ath-Thabarani dalam Musnad asy-Syamiyyin, dan dari jalurnya oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, dari hadits Qabisah bin Dzu’aib radhiyallahu ‘anhu)Maka jika seseorang merasakan kegelisahan dalam hati tentang apakah amalnya diterima, ia pun mengekspresikannya dengan doa, memohon kepada Allah agar amalnya diterima. Dan Allah tidak akan menolak siapa pun yang berdoa kepada-Nya.Dari penjelasan ini, kita dapat memahami jawaban atas pertanyaan: mengapa para salaf lebih mencemaskan diterimanya amal, daripada amal itu sendiri.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Yang Menyebabkan Amalan Tidak DiterimaPertama: Tidak beriman kepada AllahInilah penghalang utama yang menyebabkan amal tidak diterima. Jika seorang hamba melakukan berbagai amal kebaikan—seperti shalat, puasa, dan lainnya—namun dalam keadaan musyrik kepada Allah dengan syirik akbar, yaitu mempersembahkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah, maka seluruh amal salehnya tidak akan memberi manfaat apa pun di sisi Allah.Karena mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik serta para pelakunya merupakan syarat paling agung agar seseorang bisa mendapatkan manfaat dari amal dan ucapan lainnya. Tanpa tauhid, seluruh amal akan batal dan sia-sia.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)Dalam ayat lain disebutkan,وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88)Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhiratSeorang hamba bisa saja beriman kepada Allah Ta’ala, namun terjatuh dalam syirik tersembunyi, yaitu riya, tanpa ia sadari. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari bahaya ini, dan menyampaikan bahwa syirik ini lebih samar daripada langkah semut.Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu ‘Ali – seorang laki-laki dari Bani Kahil – ia berkata:Abu Musa Al-Asy‘ari pernah berkhutbah kepada kami, lalu berkata:“Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.”Lalu Abdullah bin Hazan dan Qais bin Al-Mudharib berdiri dan berkata:“Demi Allah, engkau harus menjelaskan apa maksudmu tadi, atau kami akan menghadap Umar, baik dengan izin maupun tanpa izin.”Abu Musa menjawab:“Baiklah, aku akan menjelaskannya. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami dan bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ، فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ‘Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.’”، فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ: وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟Lalu ada seseorang yang dikehendaki oleh Allah berkata:“Wahai Rasulullah, bagaimana kami bisa menjauhinya padahal ia lebih samar daripada langkah semut?” قَالَ: “قُولُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُBeliau menjawab:“Katakanlah: Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak kami ketahui.” (HR. Ahmad, 4:408, juga dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 716. Disebutkan dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:121, Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 15)Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini: Sesungguhnya orang-orang yang riya (pamer dalam ibadah) akan diberikan balasan atas amal baik mereka di dunia. Mereka tidak dizalimi sedikit pun.Artinya: barang siapa yang melakukan amal saleh—seperti puasa, shalat, atau shalat malam—namun tujuannya hanya untuk mendapatkan dunia, bukan mencari rida Allah, maka Allah akan memberinya apa yang ia cari di dunia. Namun amalnya gugur dan sia-sia di sisi Allah, karena niatnya bukan untuk akhirat.Dan ia termasuk orang yang merugi di akhirat.Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺKetahuilah bahwa salah satu syarat agar amal dan usaha seseorang memberi manfaat di sisi Allah adalah: amal tersebut harus sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hasil bid’ah atau perubahan dalam agama.Inilah yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah saat menafsirkan ayat dalam Surah Al-Isra,وَمَنْ أَرَادَ ٱلْءَاخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra: 19)Yakni: ia mencarinya melalui jalannya, yaitu dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Di antara dalil yang paling jelas bahwa amal yang tidak mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberi manfaat di sisi Allah adalah perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‌مَنْ ‌عَمِلَ ‌عَمَلًا ‌لَيْسَ ‌عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَأَمْرُهُ رَدٌّ“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap merekaDi antara penghalang diterimanya amal adalah kezaliman terhadap orang lain, baik dalam bentuk mengambil hak mereka ataupun merusak kehormatan mereka.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ * ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) akan mati, dan mereka pun akan mati. Kemudian sesungguhnya pada hari Kiamat kalian akan saling bersengketa di hadapan Rabb kalian.” (QS. Az-Zumar: 30–31)Pertengkaran yang dimaksud dalam ayat ini adalah saling menuntut antara sesama manusia atas kezaliman yang terjadi di dunia.Dari Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Ketika ayat ini turun, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Wahai Rasulullah, apakah urusan-urusan yang terjadi antara kami di dunia akan diulang kembali (diadili) pada hari Kiamat, bahkan sampai dosa-dosa kecil?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,نَعَمْ، لَيُكَرَّرَنَّ عَلَيْكُمْ حَتَّى يُؤَدَّى إِلَى كُلِّ ذِي حَقٍّ حَقُّهُ»، قَالَ الزُّبَيْرُ: وَاللَّهِ إِنَّ الْأَمْرَ لَشَدِيدٌ.“Ya, semua akan diulang sampai setiap orang yang memiliki hak akan diberi haknya.” Az-Zubair pun berkata: “Demi Allah, sungguh ini adalah perkara yang sangat berat.”Di antara hadits paling terkenal dalam hal ini adalah hadits tentang orang yang bangkrut (muflis). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,((أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟))، قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: ((إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ)“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di tengah kami adalah yang tidak punya uang dan tidak punya harta.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa dosa: telah mencela orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang lainnya. Maka pahala kebaikannya akan diberikan kepada orang-orang yang ia zalimi. Jika pahalanya habis sebelum semua hak mereka terpenuhi, maka dosa-dosa mereka akan dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, No. 2581)Kelima: KemunafikanTermasuk penghalang diterimanya amal adalah nifak (kemunafikan). Kata nifak berasal dari nafaq, yaitu lubang atau jalan bawah tanah yang digunakan untuk bersembunyi. Dinamakan demikian karena orang munafik menyembunyikan kekufurannya, sebagaimana dijelaskan oleh Abu ‘Ubaid.Secara syar’i, nifak adalah menampakkan keislaman, namun menyembunyikan kekufuran.Istilah ini adalah istilah khas dalam Islam, yang sebelumnya tidak dikenal bangsa Arab dengan makna khusus seperti ini, walaupun akar katanya dikenal dalam bahasa mereka.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)Dalam ayat ini, Allah memberitakan bahwa orang munafik juga melaksanakan salat dan mengeluarkan zakat, tetapi Allah tidak menerima amal tersebut dari mereka.Demikian pula dalam firman-Nya:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَٰتُهُمْ إِلَّآ أَنَّهُمْ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ وَلَا يَأْتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَٰرِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. At-Taubah: 54)Di antara sifat orang munafik adalah:Mereka rela melakukan penipuan terhadap Allah dan manusia.Mereka malas saat hendak melaksanakan salat.Mereka berbuat riya (pamer) dalam ibadahnya.Mereka sedikit mengingat Allah.Ini semua adalah sifat tercela dan menjadi peringatan bagi setiap mukmin untuk menjauhinya.Seorang mukmin tidak boleh bersikap pura-pura, tapi harus jujur dan terbuka.Ia harus shalat dengan semangat, bukan dengan malas dan berat hati.Ia harus menjauhi riya dan mengikhlaskan amal untuk Allah semata.Ia juga harus banyak mengingat Allah, karena lalai dari zikir adalah tanda kemunafikan.Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa nafkah dan salat orang munafik tidak diterima, dan Allah juga menyebutkan sebabnya, yaitu karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini menunjukkan bahwa amal lahiriah saja tidak cukup, selama hati masih menyimpan kekufuran atau tidak ikhlas karena Allah.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan IsmailKita berdoa kepada Allah agar amalan-amalan kita diterima di bulan Ramadhan setelah berlalu.رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُRABBANAA TAQABBAL MINNAA, INNAKA ANTAS-SAMII’UL-‘ALIIM. WA TUB ‘ALAINAA, INNAKA ANTAT-TAWWAABUR-RAHIIM.“Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 127–128, potongan dari doa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam)Semoga Allah menerima taubat kita.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim: 8)قال القُرَظِيُّ: يَجْمَعُهَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ، وَالإِقْلَاعُ بِالأَبْدَانِ، وَإِضْمَارُ تَرْكِ العَوْدِ بِالجَنَانِ، وَمُهَاجَرَةُ سَيِّءِ الإِخْوَانِ.Al-Qurazhi berkata: Taubat nasuha mencakup empat hal:memohon ampun dengan lisan,meninggalkan dosa dengan anggota badan,berniat kuat dalam hati untuk tidak mengulangi, danmenjauhi teman-teman yang buruk.(Tafsir al-Baghawi: 4/430–431)اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …Semoga Allah menerima amalan kita semuanya di bulan Ramadhan dan kita diperpanjang umur oleh Allah untuk diperjumpakan dengan bulan Ramadhan berikutnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.  —– Ini khutbah Idulfitri 1446 H (2025)@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com   Tagsamal diterima amal tertolak Idulfitri ikhlas khutbah hari raya khutbah idul fitri mengikuti sunnah muhasabah diri riya syirik takwa tanda amal diterima

Khutbah Idulfitri | Tanda Amal Diterima Allah dan Penyebab Amal Tertolak

Setiap Muslim tentu berharap amal ibadahnya diterima oleh Allah, terutama setelah menjalani Ramadan dengan puasa, qiyam, tilawah, dan sedekah. Namun, para ulama menjelaskan bahwa yang paling penting bukan sekadar banyaknya amal, tetapi apakah amal itu diterima oleh Allah atau justru tertolak. Karena itu, seorang mukmin perlu mengenal tanda-tanda diterimanya amal sekaligus sebab-sebab yang bisa menggugurkannya.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang Bertakwa 3. Diterimanya Amal vs Banyak Beramal 4. Yang Menyebabkan Amalan Tidak Diterima 4.1. Pertama: Tidak beriman kepada Allah 4.2. Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhirat 4.3. Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺ 4.4. Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap mereka 4.5. Kelima: Kemunafikan 5. Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail 6. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Allah Ta’ala memerintahkan shalat Idulfitri dan zakat fitrah sebagai bentuk penyucian jiwa.قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS. Al-A’laa: 14-15) Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang BertakwaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)Maksud dari ayat ini adalah bahwa siapa pun yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal tertentu—yakni ia melakukannya dengan benar, memenuhi syarat-syaratnya seperti iman, ikhlas, dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—maka Allah akan menerima amal tersebut darinya. Tidak disyaratkan ia harus bertakwa dalam seluruh aspek hidupnya. Jika ia bertakwa dalam amal tersebut dan melaksanakannya dengan baik, maka Allah akan menerimanya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,وَعِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يُتَقَبَّلُ الْعَمَلُ مِمَّنِ اتَّقَى اللَّهَ فِيهِ، فَعَمِلَهُ خَالِصًا لِلَّهِ، مُوَافِقًا لِأَمْرِ اللَّهِ، فَمَنْ اتَّقَاهُ فِي عَمَلٍ تَقَبَّلَهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ عَاصِيًا فِي غَيْرِهِ. وَمَنْ لَمْ يَتَّقِهِ فِيهِ، لَمْ يَتَقَبَّلْهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ مُطِيعًا فِي غَيْرِهِ.“Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, Allah menerima amal dari orang yang bertakwa dalam amal itu, yaitu ia mengerjakannya dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan perintah-Nya. Maka siapa yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal, Allah akan menerimanya, meskipun ia melakukan maksiat dalam perkara lain. Siapa yang tidak bertakwa kepada Allah dalam amal itu, Allah tidak akan menerimanya, meskipun ia taat dalam perkara lain.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:322)Jadi, amal yang tidak diterima oleh Allah adalah amal yang dilakukan tanpa takwa kepada-Nya, tanpa ikhlas, dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Manusia tidak tahu amal mana yang diterima dan mana yang tidak. Oleh karena itu, ia berada antara harap dan takut. Ia berusaha menyempurnakan amalnya, lalu memohon kepada Allah agar amal itu diterima, karena diterimanya amal adalah semata-mata karunia dari Allah. Ia pun khawatir amalnya ditolak, atau bahkan batal karena ada cacat tersembunyi yang membuatnya tidak diterima.Ada tanda bahwa amal diterima, yaitu ketika amal itu membuahkan ketaatan lain. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf,مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ، الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا.“Termasuk balasan dari satu kebaikan adalah kebaikan berikutnya.”Orang-orang saleh bersungguh-sungguh dalam amal mereka, tetapi tetap menganggap amalnya kecil jika dibandingkan dengan hak Allah atas dirinya. Merasa kecil terhadap amal sendiri dan merendahkan diri adalah tanda bahwa amal diterima.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,عَلَامَةُ قَبُولِ الْعَمَلِ احْتِقَارُهُ وَاسْتِقْلَالُهُ، وَصِغَرُهُ فِي قَلْبِكَ. حَتَّى إِنَّ الْعَارِفَ لَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَقِيبَ طَاعَتِهِ. وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ ثَلَاثًا.Tanda diterimanya amal adalah jika seseorang menganggap amalnya kecil dan remeh dalam hatinya. Bahkan orang yang mengenal Allah sering beristighfar setelah beramal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, setelah selesai shalat, beristighfar sebanyak tiga kali. (Madarij As-Salikin baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, 2:162, Islamweb) Diterimanya Amal vs Banyak BeramalPerhatian para salafus shalih terhadap diterimanya ibadah jauh lebih besar daripada perhatian mereka terhadap pelaksanaan ibadah itu sendiri, karena mereka tidak tahu apakah amal mereka diterima atau tidak. Maka kegelisahan akan diterimanya amal benar-benar menguasai hati mereka.Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tentang firman Allah: ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sedang hati mereka takut…’, apakah maksudnya orang yang mencuri, berzina, dan minum khamr, lalu tetap takut kepada Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,لَا يا ابْنَة أبي بَكْرٍ -أو: يَا ابْنَةَ الصّدِيقِ-، وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَيخافُ أنْ لا يُقْبَل مِنْهُ“Bukan, wahai putri Abu Bakar (atau: wahai putri Ash-Shiddiq), tetapi ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, lalu ia takut amalnya tidak diterima.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim – dan beliau mensahihkannya –, serta Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hendaklah kalian lebih mencemaskan apakah amal kalian diterima, daripada sekadar beramal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar firman Allah: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Ma’idah: 27) (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam al-Ikhlas wa an-Niyyah)Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, pada malam terakhir bulan Ramadan, berkata: “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalnya, agar kita ucapkan selamat kepadanya? Dan siapa pula yang tertolak dan terhalang, agar kita berbelasungkawa kepadanya? Wahai orang yang diterima amalnya, selamat atasmu! Wahai orang yang ditolak, semoga Allah menghiburmu atas musibah ini!” (Diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam Qiyam al-Lail, juga oleh Ibnu asy-Syajari dan Abu al-Fath al-Maqdisi dalam Amali mereka)Abdul Aziz bin Abi Rawwad berkata,أَدْرَكْتُهُمْ يَجْتَهِدُونَ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ، فَإِذَا فَعَلُوهُ وَقَعَ عَلَيْهِمُ الْهَمُّ؛ أَيُقْبَلُ مِنْهُمْ أَمْ لَا؟“Aku dapati para salaf sangat bersungguh-sungguh dalam amal saleh, namun setelah melakukannya, mereka justru diliputi kekhawatiran: apakah amal itu diterima atau tidak?” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Muhasabah An-Nafs)Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini,كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم“Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)Kegelisahan hati ini pun membuat lisan banyak berdoa agar amal ibadah diterima. Karena lisan adalah penerjemah dari isi hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:فَإِنَّمَا يُعَبِّرُ عَنِ الْقَلْبِ اللِّسَانُ“Sesungguhnya yang mengungkapkan isi hati adalah lisan.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, ath-Thabarani dalam Musnad asy-Syamiyyin, dan dari jalurnya oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, dari hadits Qabisah bin Dzu’aib radhiyallahu ‘anhu)Maka jika seseorang merasakan kegelisahan dalam hati tentang apakah amalnya diterima, ia pun mengekspresikannya dengan doa, memohon kepada Allah agar amalnya diterima. Dan Allah tidak akan menolak siapa pun yang berdoa kepada-Nya.Dari penjelasan ini, kita dapat memahami jawaban atas pertanyaan: mengapa para salaf lebih mencemaskan diterimanya amal, daripada amal itu sendiri.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Yang Menyebabkan Amalan Tidak DiterimaPertama: Tidak beriman kepada AllahInilah penghalang utama yang menyebabkan amal tidak diterima. Jika seorang hamba melakukan berbagai amal kebaikan—seperti shalat, puasa, dan lainnya—namun dalam keadaan musyrik kepada Allah dengan syirik akbar, yaitu mempersembahkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah, maka seluruh amal salehnya tidak akan memberi manfaat apa pun di sisi Allah.Karena mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik serta para pelakunya merupakan syarat paling agung agar seseorang bisa mendapatkan manfaat dari amal dan ucapan lainnya. Tanpa tauhid, seluruh amal akan batal dan sia-sia.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)Dalam ayat lain disebutkan,وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88)Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhiratSeorang hamba bisa saja beriman kepada Allah Ta’ala, namun terjatuh dalam syirik tersembunyi, yaitu riya, tanpa ia sadari. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari bahaya ini, dan menyampaikan bahwa syirik ini lebih samar daripada langkah semut.Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu ‘Ali – seorang laki-laki dari Bani Kahil – ia berkata:Abu Musa Al-Asy‘ari pernah berkhutbah kepada kami, lalu berkata:“Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.”Lalu Abdullah bin Hazan dan Qais bin Al-Mudharib berdiri dan berkata:“Demi Allah, engkau harus menjelaskan apa maksudmu tadi, atau kami akan menghadap Umar, baik dengan izin maupun tanpa izin.”Abu Musa menjawab:“Baiklah, aku akan menjelaskannya. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami dan bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ، فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ‘Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.’”، فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ: وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟Lalu ada seseorang yang dikehendaki oleh Allah berkata:“Wahai Rasulullah, bagaimana kami bisa menjauhinya padahal ia lebih samar daripada langkah semut?” قَالَ: “قُولُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُBeliau menjawab:“Katakanlah: Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak kami ketahui.” (HR. Ahmad, 4:408, juga dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 716. Disebutkan dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:121, Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 15)Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini: Sesungguhnya orang-orang yang riya (pamer dalam ibadah) akan diberikan balasan atas amal baik mereka di dunia. Mereka tidak dizalimi sedikit pun.Artinya: barang siapa yang melakukan amal saleh—seperti puasa, shalat, atau shalat malam—namun tujuannya hanya untuk mendapatkan dunia, bukan mencari rida Allah, maka Allah akan memberinya apa yang ia cari di dunia. Namun amalnya gugur dan sia-sia di sisi Allah, karena niatnya bukan untuk akhirat.Dan ia termasuk orang yang merugi di akhirat.Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺKetahuilah bahwa salah satu syarat agar amal dan usaha seseorang memberi manfaat di sisi Allah adalah: amal tersebut harus sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hasil bid’ah atau perubahan dalam agama.Inilah yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah saat menafsirkan ayat dalam Surah Al-Isra,وَمَنْ أَرَادَ ٱلْءَاخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra: 19)Yakni: ia mencarinya melalui jalannya, yaitu dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Di antara dalil yang paling jelas bahwa amal yang tidak mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberi manfaat di sisi Allah adalah perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‌مَنْ ‌عَمِلَ ‌عَمَلًا ‌لَيْسَ ‌عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَأَمْرُهُ رَدٌّ“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap merekaDi antara penghalang diterimanya amal adalah kezaliman terhadap orang lain, baik dalam bentuk mengambil hak mereka ataupun merusak kehormatan mereka.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ * ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) akan mati, dan mereka pun akan mati. Kemudian sesungguhnya pada hari Kiamat kalian akan saling bersengketa di hadapan Rabb kalian.” (QS. Az-Zumar: 30–31)Pertengkaran yang dimaksud dalam ayat ini adalah saling menuntut antara sesama manusia atas kezaliman yang terjadi di dunia.Dari Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Ketika ayat ini turun, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Wahai Rasulullah, apakah urusan-urusan yang terjadi antara kami di dunia akan diulang kembali (diadili) pada hari Kiamat, bahkan sampai dosa-dosa kecil?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,نَعَمْ، لَيُكَرَّرَنَّ عَلَيْكُمْ حَتَّى يُؤَدَّى إِلَى كُلِّ ذِي حَقٍّ حَقُّهُ»، قَالَ الزُّبَيْرُ: وَاللَّهِ إِنَّ الْأَمْرَ لَشَدِيدٌ.“Ya, semua akan diulang sampai setiap orang yang memiliki hak akan diberi haknya.” Az-Zubair pun berkata: “Demi Allah, sungguh ini adalah perkara yang sangat berat.”Di antara hadits paling terkenal dalam hal ini adalah hadits tentang orang yang bangkrut (muflis). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,((أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟))، قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: ((إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ)“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di tengah kami adalah yang tidak punya uang dan tidak punya harta.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa dosa: telah mencela orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang lainnya. Maka pahala kebaikannya akan diberikan kepada orang-orang yang ia zalimi. Jika pahalanya habis sebelum semua hak mereka terpenuhi, maka dosa-dosa mereka akan dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, No. 2581)Kelima: KemunafikanTermasuk penghalang diterimanya amal adalah nifak (kemunafikan). Kata nifak berasal dari nafaq, yaitu lubang atau jalan bawah tanah yang digunakan untuk bersembunyi. Dinamakan demikian karena orang munafik menyembunyikan kekufurannya, sebagaimana dijelaskan oleh Abu ‘Ubaid.Secara syar’i, nifak adalah menampakkan keislaman, namun menyembunyikan kekufuran.Istilah ini adalah istilah khas dalam Islam, yang sebelumnya tidak dikenal bangsa Arab dengan makna khusus seperti ini, walaupun akar katanya dikenal dalam bahasa mereka.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)Dalam ayat ini, Allah memberitakan bahwa orang munafik juga melaksanakan salat dan mengeluarkan zakat, tetapi Allah tidak menerima amal tersebut dari mereka.Demikian pula dalam firman-Nya:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَٰتُهُمْ إِلَّآ أَنَّهُمْ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ وَلَا يَأْتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَٰرِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. At-Taubah: 54)Di antara sifat orang munafik adalah:Mereka rela melakukan penipuan terhadap Allah dan manusia.Mereka malas saat hendak melaksanakan salat.Mereka berbuat riya (pamer) dalam ibadahnya.Mereka sedikit mengingat Allah.Ini semua adalah sifat tercela dan menjadi peringatan bagi setiap mukmin untuk menjauhinya.Seorang mukmin tidak boleh bersikap pura-pura, tapi harus jujur dan terbuka.Ia harus shalat dengan semangat, bukan dengan malas dan berat hati.Ia harus menjauhi riya dan mengikhlaskan amal untuk Allah semata.Ia juga harus banyak mengingat Allah, karena lalai dari zikir adalah tanda kemunafikan.Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa nafkah dan salat orang munafik tidak diterima, dan Allah juga menyebutkan sebabnya, yaitu karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini menunjukkan bahwa amal lahiriah saja tidak cukup, selama hati masih menyimpan kekufuran atau tidak ikhlas karena Allah.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan IsmailKita berdoa kepada Allah agar amalan-amalan kita diterima di bulan Ramadhan setelah berlalu.رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُRABBANAA TAQABBAL MINNAA, INNAKA ANTAS-SAMII’UL-‘ALIIM. WA TUB ‘ALAINAA, INNAKA ANTAT-TAWWAABUR-RAHIIM.“Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 127–128, potongan dari doa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam)Semoga Allah menerima taubat kita.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim: 8)قال القُرَظِيُّ: يَجْمَعُهَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ، وَالإِقْلَاعُ بِالأَبْدَانِ، وَإِضْمَارُ تَرْكِ العَوْدِ بِالجَنَانِ، وَمُهَاجَرَةُ سَيِّءِ الإِخْوَانِ.Al-Qurazhi berkata: Taubat nasuha mencakup empat hal:memohon ampun dengan lisan,meninggalkan dosa dengan anggota badan,berniat kuat dalam hati untuk tidak mengulangi, danmenjauhi teman-teman yang buruk.(Tafsir al-Baghawi: 4/430–431)اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …Semoga Allah menerima amalan kita semuanya di bulan Ramadhan dan kita diperpanjang umur oleh Allah untuk diperjumpakan dengan bulan Ramadhan berikutnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.  —– Ini khutbah Idulfitri 1446 H (2025)@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com   Tagsamal diterima amal tertolak Idulfitri ikhlas khutbah hari raya khutbah idul fitri mengikuti sunnah muhasabah diri riya syirik takwa tanda amal diterima
Setiap Muslim tentu berharap amal ibadahnya diterima oleh Allah, terutama setelah menjalani Ramadan dengan puasa, qiyam, tilawah, dan sedekah. Namun, para ulama menjelaskan bahwa yang paling penting bukan sekadar banyaknya amal, tetapi apakah amal itu diterima oleh Allah atau justru tertolak. Karena itu, seorang mukmin perlu mengenal tanda-tanda diterimanya amal sekaligus sebab-sebab yang bisa menggugurkannya.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang Bertakwa 3. Diterimanya Amal vs Banyak Beramal 4. Yang Menyebabkan Amalan Tidak Diterima 4.1. Pertama: Tidak beriman kepada Allah 4.2. Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhirat 4.3. Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺ 4.4. Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap mereka 4.5. Kelima: Kemunafikan 5. Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail 6. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Allah Ta’ala memerintahkan shalat Idulfitri dan zakat fitrah sebagai bentuk penyucian jiwa.قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS. Al-A’laa: 14-15) Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang BertakwaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)Maksud dari ayat ini adalah bahwa siapa pun yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal tertentu—yakni ia melakukannya dengan benar, memenuhi syarat-syaratnya seperti iman, ikhlas, dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—maka Allah akan menerima amal tersebut darinya. Tidak disyaratkan ia harus bertakwa dalam seluruh aspek hidupnya. Jika ia bertakwa dalam amal tersebut dan melaksanakannya dengan baik, maka Allah akan menerimanya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,وَعِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يُتَقَبَّلُ الْعَمَلُ مِمَّنِ اتَّقَى اللَّهَ فِيهِ، فَعَمِلَهُ خَالِصًا لِلَّهِ، مُوَافِقًا لِأَمْرِ اللَّهِ، فَمَنْ اتَّقَاهُ فِي عَمَلٍ تَقَبَّلَهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ عَاصِيًا فِي غَيْرِهِ. وَمَنْ لَمْ يَتَّقِهِ فِيهِ، لَمْ يَتَقَبَّلْهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ مُطِيعًا فِي غَيْرِهِ.“Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, Allah menerima amal dari orang yang bertakwa dalam amal itu, yaitu ia mengerjakannya dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan perintah-Nya. Maka siapa yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal, Allah akan menerimanya, meskipun ia melakukan maksiat dalam perkara lain. Siapa yang tidak bertakwa kepada Allah dalam amal itu, Allah tidak akan menerimanya, meskipun ia taat dalam perkara lain.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:322)Jadi, amal yang tidak diterima oleh Allah adalah amal yang dilakukan tanpa takwa kepada-Nya, tanpa ikhlas, dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Manusia tidak tahu amal mana yang diterima dan mana yang tidak. Oleh karena itu, ia berada antara harap dan takut. Ia berusaha menyempurnakan amalnya, lalu memohon kepada Allah agar amal itu diterima, karena diterimanya amal adalah semata-mata karunia dari Allah. Ia pun khawatir amalnya ditolak, atau bahkan batal karena ada cacat tersembunyi yang membuatnya tidak diterima.Ada tanda bahwa amal diterima, yaitu ketika amal itu membuahkan ketaatan lain. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf,مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ، الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا.“Termasuk balasan dari satu kebaikan adalah kebaikan berikutnya.”Orang-orang saleh bersungguh-sungguh dalam amal mereka, tetapi tetap menganggap amalnya kecil jika dibandingkan dengan hak Allah atas dirinya. Merasa kecil terhadap amal sendiri dan merendahkan diri adalah tanda bahwa amal diterima.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,عَلَامَةُ قَبُولِ الْعَمَلِ احْتِقَارُهُ وَاسْتِقْلَالُهُ، وَصِغَرُهُ فِي قَلْبِكَ. حَتَّى إِنَّ الْعَارِفَ لَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَقِيبَ طَاعَتِهِ. وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ ثَلَاثًا.Tanda diterimanya amal adalah jika seseorang menganggap amalnya kecil dan remeh dalam hatinya. Bahkan orang yang mengenal Allah sering beristighfar setelah beramal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, setelah selesai shalat, beristighfar sebanyak tiga kali. (Madarij As-Salikin baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, 2:162, Islamweb) Diterimanya Amal vs Banyak BeramalPerhatian para salafus shalih terhadap diterimanya ibadah jauh lebih besar daripada perhatian mereka terhadap pelaksanaan ibadah itu sendiri, karena mereka tidak tahu apakah amal mereka diterima atau tidak. Maka kegelisahan akan diterimanya amal benar-benar menguasai hati mereka.Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tentang firman Allah: ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sedang hati mereka takut…’, apakah maksudnya orang yang mencuri, berzina, dan minum khamr, lalu tetap takut kepada Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,لَا يا ابْنَة أبي بَكْرٍ -أو: يَا ابْنَةَ الصّدِيقِ-، وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَيخافُ أنْ لا يُقْبَل مِنْهُ“Bukan, wahai putri Abu Bakar (atau: wahai putri Ash-Shiddiq), tetapi ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, lalu ia takut amalnya tidak diterima.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim – dan beliau mensahihkannya –, serta Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hendaklah kalian lebih mencemaskan apakah amal kalian diterima, daripada sekadar beramal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar firman Allah: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Ma’idah: 27) (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam al-Ikhlas wa an-Niyyah)Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, pada malam terakhir bulan Ramadan, berkata: “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalnya, agar kita ucapkan selamat kepadanya? Dan siapa pula yang tertolak dan terhalang, agar kita berbelasungkawa kepadanya? Wahai orang yang diterima amalnya, selamat atasmu! Wahai orang yang ditolak, semoga Allah menghiburmu atas musibah ini!” (Diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam Qiyam al-Lail, juga oleh Ibnu asy-Syajari dan Abu al-Fath al-Maqdisi dalam Amali mereka)Abdul Aziz bin Abi Rawwad berkata,أَدْرَكْتُهُمْ يَجْتَهِدُونَ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ، فَإِذَا فَعَلُوهُ وَقَعَ عَلَيْهِمُ الْهَمُّ؛ أَيُقْبَلُ مِنْهُمْ أَمْ لَا؟“Aku dapati para salaf sangat bersungguh-sungguh dalam amal saleh, namun setelah melakukannya, mereka justru diliputi kekhawatiran: apakah amal itu diterima atau tidak?” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Muhasabah An-Nafs)Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini,كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم“Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)Kegelisahan hati ini pun membuat lisan banyak berdoa agar amal ibadah diterima. Karena lisan adalah penerjemah dari isi hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:فَإِنَّمَا يُعَبِّرُ عَنِ الْقَلْبِ اللِّسَانُ“Sesungguhnya yang mengungkapkan isi hati adalah lisan.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, ath-Thabarani dalam Musnad asy-Syamiyyin, dan dari jalurnya oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, dari hadits Qabisah bin Dzu’aib radhiyallahu ‘anhu)Maka jika seseorang merasakan kegelisahan dalam hati tentang apakah amalnya diterima, ia pun mengekspresikannya dengan doa, memohon kepada Allah agar amalnya diterima. Dan Allah tidak akan menolak siapa pun yang berdoa kepada-Nya.Dari penjelasan ini, kita dapat memahami jawaban atas pertanyaan: mengapa para salaf lebih mencemaskan diterimanya amal, daripada amal itu sendiri.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Yang Menyebabkan Amalan Tidak DiterimaPertama: Tidak beriman kepada AllahInilah penghalang utama yang menyebabkan amal tidak diterima. Jika seorang hamba melakukan berbagai amal kebaikan—seperti shalat, puasa, dan lainnya—namun dalam keadaan musyrik kepada Allah dengan syirik akbar, yaitu mempersembahkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah, maka seluruh amal salehnya tidak akan memberi manfaat apa pun di sisi Allah.Karena mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik serta para pelakunya merupakan syarat paling agung agar seseorang bisa mendapatkan manfaat dari amal dan ucapan lainnya. Tanpa tauhid, seluruh amal akan batal dan sia-sia.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)Dalam ayat lain disebutkan,وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88)Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhiratSeorang hamba bisa saja beriman kepada Allah Ta’ala, namun terjatuh dalam syirik tersembunyi, yaitu riya, tanpa ia sadari. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari bahaya ini, dan menyampaikan bahwa syirik ini lebih samar daripada langkah semut.Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu ‘Ali – seorang laki-laki dari Bani Kahil – ia berkata:Abu Musa Al-Asy‘ari pernah berkhutbah kepada kami, lalu berkata:“Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.”Lalu Abdullah bin Hazan dan Qais bin Al-Mudharib berdiri dan berkata:“Demi Allah, engkau harus menjelaskan apa maksudmu tadi, atau kami akan menghadap Umar, baik dengan izin maupun tanpa izin.”Abu Musa menjawab:“Baiklah, aku akan menjelaskannya. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami dan bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ، فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ‘Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.’”، فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ: وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟Lalu ada seseorang yang dikehendaki oleh Allah berkata:“Wahai Rasulullah, bagaimana kami bisa menjauhinya padahal ia lebih samar daripada langkah semut?” قَالَ: “قُولُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُBeliau menjawab:“Katakanlah: Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak kami ketahui.” (HR. Ahmad, 4:408, juga dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 716. Disebutkan dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:121, Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 15)Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini: Sesungguhnya orang-orang yang riya (pamer dalam ibadah) akan diberikan balasan atas amal baik mereka di dunia. Mereka tidak dizalimi sedikit pun.Artinya: barang siapa yang melakukan amal saleh—seperti puasa, shalat, atau shalat malam—namun tujuannya hanya untuk mendapatkan dunia, bukan mencari rida Allah, maka Allah akan memberinya apa yang ia cari di dunia. Namun amalnya gugur dan sia-sia di sisi Allah, karena niatnya bukan untuk akhirat.Dan ia termasuk orang yang merugi di akhirat.Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺKetahuilah bahwa salah satu syarat agar amal dan usaha seseorang memberi manfaat di sisi Allah adalah: amal tersebut harus sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hasil bid’ah atau perubahan dalam agama.Inilah yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah saat menafsirkan ayat dalam Surah Al-Isra,وَمَنْ أَرَادَ ٱلْءَاخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra: 19)Yakni: ia mencarinya melalui jalannya, yaitu dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Di antara dalil yang paling jelas bahwa amal yang tidak mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberi manfaat di sisi Allah adalah perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‌مَنْ ‌عَمِلَ ‌عَمَلًا ‌لَيْسَ ‌عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَأَمْرُهُ رَدٌّ“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap merekaDi antara penghalang diterimanya amal adalah kezaliman terhadap orang lain, baik dalam bentuk mengambil hak mereka ataupun merusak kehormatan mereka.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ * ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) akan mati, dan mereka pun akan mati. Kemudian sesungguhnya pada hari Kiamat kalian akan saling bersengketa di hadapan Rabb kalian.” (QS. Az-Zumar: 30–31)Pertengkaran yang dimaksud dalam ayat ini adalah saling menuntut antara sesama manusia atas kezaliman yang terjadi di dunia.Dari Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Ketika ayat ini turun, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Wahai Rasulullah, apakah urusan-urusan yang terjadi antara kami di dunia akan diulang kembali (diadili) pada hari Kiamat, bahkan sampai dosa-dosa kecil?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,نَعَمْ، لَيُكَرَّرَنَّ عَلَيْكُمْ حَتَّى يُؤَدَّى إِلَى كُلِّ ذِي حَقٍّ حَقُّهُ»، قَالَ الزُّبَيْرُ: وَاللَّهِ إِنَّ الْأَمْرَ لَشَدِيدٌ.“Ya, semua akan diulang sampai setiap orang yang memiliki hak akan diberi haknya.” Az-Zubair pun berkata: “Demi Allah, sungguh ini adalah perkara yang sangat berat.”Di antara hadits paling terkenal dalam hal ini adalah hadits tentang orang yang bangkrut (muflis). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,((أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟))، قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: ((إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ)“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di tengah kami adalah yang tidak punya uang dan tidak punya harta.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa dosa: telah mencela orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang lainnya. Maka pahala kebaikannya akan diberikan kepada orang-orang yang ia zalimi. Jika pahalanya habis sebelum semua hak mereka terpenuhi, maka dosa-dosa mereka akan dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, No. 2581)Kelima: KemunafikanTermasuk penghalang diterimanya amal adalah nifak (kemunafikan). Kata nifak berasal dari nafaq, yaitu lubang atau jalan bawah tanah yang digunakan untuk bersembunyi. Dinamakan demikian karena orang munafik menyembunyikan kekufurannya, sebagaimana dijelaskan oleh Abu ‘Ubaid.Secara syar’i, nifak adalah menampakkan keislaman, namun menyembunyikan kekufuran.Istilah ini adalah istilah khas dalam Islam, yang sebelumnya tidak dikenal bangsa Arab dengan makna khusus seperti ini, walaupun akar katanya dikenal dalam bahasa mereka.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)Dalam ayat ini, Allah memberitakan bahwa orang munafik juga melaksanakan salat dan mengeluarkan zakat, tetapi Allah tidak menerima amal tersebut dari mereka.Demikian pula dalam firman-Nya:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَٰتُهُمْ إِلَّآ أَنَّهُمْ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ وَلَا يَأْتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَٰرِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. At-Taubah: 54)Di antara sifat orang munafik adalah:Mereka rela melakukan penipuan terhadap Allah dan manusia.Mereka malas saat hendak melaksanakan salat.Mereka berbuat riya (pamer) dalam ibadahnya.Mereka sedikit mengingat Allah.Ini semua adalah sifat tercela dan menjadi peringatan bagi setiap mukmin untuk menjauhinya.Seorang mukmin tidak boleh bersikap pura-pura, tapi harus jujur dan terbuka.Ia harus shalat dengan semangat, bukan dengan malas dan berat hati.Ia harus menjauhi riya dan mengikhlaskan amal untuk Allah semata.Ia juga harus banyak mengingat Allah, karena lalai dari zikir adalah tanda kemunafikan.Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa nafkah dan salat orang munafik tidak diterima, dan Allah juga menyebutkan sebabnya, yaitu karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini menunjukkan bahwa amal lahiriah saja tidak cukup, selama hati masih menyimpan kekufuran atau tidak ikhlas karena Allah.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan IsmailKita berdoa kepada Allah agar amalan-amalan kita diterima di bulan Ramadhan setelah berlalu.رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُRABBANAA TAQABBAL MINNAA, INNAKA ANTAS-SAMII’UL-‘ALIIM. WA TUB ‘ALAINAA, INNAKA ANTAT-TAWWAABUR-RAHIIM.“Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 127–128, potongan dari doa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam)Semoga Allah menerima taubat kita.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim: 8)قال القُرَظِيُّ: يَجْمَعُهَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ، وَالإِقْلَاعُ بِالأَبْدَانِ، وَإِضْمَارُ تَرْكِ العَوْدِ بِالجَنَانِ، وَمُهَاجَرَةُ سَيِّءِ الإِخْوَانِ.Al-Qurazhi berkata: Taubat nasuha mencakup empat hal:memohon ampun dengan lisan,meninggalkan dosa dengan anggota badan,berniat kuat dalam hati untuk tidak mengulangi, danmenjauhi teman-teman yang buruk.(Tafsir al-Baghawi: 4/430–431)اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …Semoga Allah menerima amalan kita semuanya di bulan Ramadhan dan kita diperpanjang umur oleh Allah untuk diperjumpakan dengan bulan Ramadhan berikutnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.  —– Ini khutbah Idulfitri 1446 H (2025)@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com   Tagsamal diterima amal tertolak Idulfitri ikhlas khutbah hari raya khutbah idul fitri mengikuti sunnah muhasabah diri riya syirik takwa tanda amal diterima


Setiap Muslim tentu berharap amal ibadahnya diterima oleh Allah, terutama setelah menjalani Ramadan dengan puasa, qiyam, tilawah, dan sedekah. Namun, para ulama menjelaskan bahwa yang paling penting bukan sekadar banyaknya amal, tetapi apakah amal itu diterima oleh Allah atau justru tertolak. Karena itu, seorang mukmin perlu mengenal tanda-tanda diterimanya amal sekaligus sebab-sebab yang bisa menggugurkannya.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang Bertakwa 3. Diterimanya Amal vs Banyak Beramal 4. Yang Menyebabkan Amalan Tidak Diterima 4.1. Pertama: Tidak beriman kepada Allah 4.2. Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhirat 4.3. Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺ 4.4. Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap mereka 4.5. Kelima: Kemunafikan 5. Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail 6. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Allah Ta’ala memerintahkan shalat Idulfitri dan zakat fitrah sebagai bentuk penyucian jiwa.قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS. Al-A’laa: 14-15) Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang BertakwaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)Maksud dari ayat ini adalah bahwa siapa pun yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal tertentu—yakni ia melakukannya dengan benar, memenuhi syarat-syaratnya seperti iman, ikhlas, dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—maka Allah akan menerima amal tersebut darinya. Tidak disyaratkan ia harus bertakwa dalam seluruh aspek hidupnya. Jika ia bertakwa dalam amal tersebut dan melaksanakannya dengan baik, maka Allah akan menerimanya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,وَعِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يُتَقَبَّلُ الْعَمَلُ مِمَّنِ اتَّقَى اللَّهَ فِيهِ، فَعَمِلَهُ خَالِصًا لِلَّهِ، مُوَافِقًا لِأَمْرِ اللَّهِ، فَمَنْ اتَّقَاهُ فِي عَمَلٍ تَقَبَّلَهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ عَاصِيًا فِي غَيْرِهِ. وَمَنْ لَمْ يَتَّقِهِ فِيهِ، لَمْ يَتَقَبَّلْهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ مُطِيعًا فِي غَيْرِهِ.“Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, Allah menerima amal dari orang yang bertakwa dalam amal itu, yaitu ia mengerjakannya dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan perintah-Nya. Maka siapa yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal, Allah akan menerimanya, meskipun ia melakukan maksiat dalam perkara lain. Siapa yang tidak bertakwa kepada Allah dalam amal itu, Allah tidak akan menerimanya, meskipun ia taat dalam perkara lain.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:322)Jadi, amal yang tidak diterima oleh Allah adalah amal yang dilakukan tanpa takwa kepada-Nya, tanpa ikhlas, dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Manusia tidak tahu amal mana yang diterima dan mana yang tidak. Oleh karena itu, ia berada antara harap dan takut. Ia berusaha menyempurnakan amalnya, lalu memohon kepada Allah agar amal itu diterima, karena diterimanya amal adalah semata-mata karunia dari Allah. Ia pun khawatir amalnya ditolak, atau bahkan batal karena ada cacat tersembunyi yang membuatnya tidak diterima.Ada tanda bahwa amal diterima, yaitu ketika amal itu membuahkan ketaatan lain. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf,مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ، الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا.“Termasuk balasan dari satu kebaikan adalah kebaikan berikutnya.”Orang-orang saleh bersungguh-sungguh dalam amal mereka, tetapi tetap menganggap amalnya kecil jika dibandingkan dengan hak Allah atas dirinya. Merasa kecil terhadap amal sendiri dan merendahkan diri adalah tanda bahwa amal diterima.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,عَلَامَةُ قَبُولِ الْعَمَلِ احْتِقَارُهُ وَاسْتِقْلَالُهُ، وَصِغَرُهُ فِي قَلْبِكَ. حَتَّى إِنَّ الْعَارِفَ لَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَقِيبَ طَاعَتِهِ. وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ ثَلَاثًا.Tanda diterimanya amal adalah jika seseorang menganggap amalnya kecil dan remeh dalam hatinya. Bahkan orang yang mengenal Allah sering beristighfar setelah beramal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, setelah selesai shalat, beristighfar sebanyak tiga kali. (Madarij As-Salikin baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, 2:162, Islamweb) Diterimanya Amal vs Banyak BeramalPerhatian para salafus shalih terhadap diterimanya ibadah jauh lebih besar daripada perhatian mereka terhadap pelaksanaan ibadah itu sendiri, karena mereka tidak tahu apakah amal mereka diterima atau tidak. Maka kegelisahan akan diterimanya amal benar-benar menguasai hati mereka.Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tentang firman Allah: ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sedang hati mereka takut…’, apakah maksudnya orang yang mencuri, berzina, dan minum khamr, lalu tetap takut kepada Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,لَا يا ابْنَة أبي بَكْرٍ -أو: يَا ابْنَةَ الصّدِيقِ-، وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَيخافُ أنْ لا يُقْبَل مِنْهُ“Bukan, wahai putri Abu Bakar (atau: wahai putri Ash-Shiddiq), tetapi ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, lalu ia takut amalnya tidak diterima.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim – dan beliau mensahihkannya –, serta Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hendaklah kalian lebih mencemaskan apakah amal kalian diterima, daripada sekadar beramal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar firman Allah: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Ma’idah: 27) (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam al-Ikhlas wa an-Niyyah)Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, pada malam terakhir bulan Ramadan, berkata: “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalnya, agar kita ucapkan selamat kepadanya? Dan siapa pula yang tertolak dan terhalang, agar kita berbelasungkawa kepadanya? Wahai orang yang diterima amalnya, selamat atasmu! Wahai orang yang ditolak, semoga Allah menghiburmu atas musibah ini!” (Diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam Qiyam al-Lail, juga oleh Ibnu asy-Syajari dan Abu al-Fath al-Maqdisi dalam Amali mereka)Abdul Aziz bin Abi Rawwad berkata,أَدْرَكْتُهُمْ يَجْتَهِدُونَ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ، فَإِذَا فَعَلُوهُ وَقَعَ عَلَيْهِمُ الْهَمُّ؛ أَيُقْبَلُ مِنْهُمْ أَمْ لَا؟“Aku dapati para salaf sangat bersungguh-sungguh dalam amal saleh, namun setelah melakukannya, mereka justru diliputi kekhawatiran: apakah amal itu diterima atau tidak?” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Muhasabah An-Nafs)Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini,كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم“Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)Kegelisahan hati ini pun membuat lisan banyak berdoa agar amal ibadah diterima. Karena lisan adalah penerjemah dari isi hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:فَإِنَّمَا يُعَبِّرُ عَنِ الْقَلْبِ اللِّسَانُ“Sesungguhnya yang mengungkapkan isi hati adalah lisan.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, ath-Thabarani dalam Musnad asy-Syamiyyin, dan dari jalurnya oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, dari hadits Qabisah bin Dzu’aib radhiyallahu ‘anhu)Maka jika seseorang merasakan kegelisahan dalam hati tentang apakah amalnya diterima, ia pun mengekspresikannya dengan doa, memohon kepada Allah agar amalnya diterima. Dan Allah tidak akan menolak siapa pun yang berdoa kepada-Nya.Dari penjelasan ini, kita dapat memahami jawaban atas pertanyaan: mengapa para salaf lebih mencemaskan diterimanya amal, daripada amal itu sendiri.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Yang Menyebabkan Amalan Tidak DiterimaPertama: Tidak beriman kepada AllahInilah penghalang utama yang menyebabkan amal tidak diterima. Jika seorang hamba melakukan berbagai amal kebaikan—seperti shalat, puasa, dan lainnya—namun dalam keadaan musyrik kepada Allah dengan syirik akbar, yaitu mempersembahkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah, maka seluruh amal salehnya tidak akan memberi manfaat apa pun di sisi Allah.Karena mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik serta para pelakunya merupakan syarat paling agung agar seseorang bisa mendapatkan manfaat dari amal dan ucapan lainnya. Tanpa tauhid, seluruh amal akan batal dan sia-sia.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)Dalam ayat lain disebutkan,وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88)Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhiratSeorang hamba bisa saja beriman kepada Allah Ta’ala, namun terjatuh dalam syirik tersembunyi, yaitu riya, tanpa ia sadari. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari bahaya ini, dan menyampaikan bahwa syirik ini lebih samar daripada langkah semut.Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu ‘Ali – seorang laki-laki dari Bani Kahil – ia berkata:Abu Musa Al-Asy‘ari pernah berkhutbah kepada kami, lalu berkata:“Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.”Lalu Abdullah bin Hazan dan Qais bin Al-Mudharib berdiri dan berkata:“Demi Allah, engkau harus menjelaskan apa maksudmu tadi, atau kami akan menghadap Umar, baik dengan izin maupun tanpa izin.”Abu Musa menjawab:“Baiklah, aku akan menjelaskannya. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami dan bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ، فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ‘Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.’”، فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ: وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟Lalu ada seseorang yang dikehendaki oleh Allah berkata:“Wahai Rasulullah, bagaimana kami bisa menjauhinya padahal ia lebih samar daripada langkah semut?” قَالَ: “قُولُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُBeliau menjawab:“Katakanlah: Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak kami ketahui.” (HR. Ahmad, 4:408, juga dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 716. Disebutkan dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:121, Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 15)Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini: Sesungguhnya orang-orang yang riya (pamer dalam ibadah) akan diberikan balasan atas amal baik mereka di dunia. Mereka tidak dizalimi sedikit pun.Artinya: barang siapa yang melakukan amal saleh—seperti puasa, shalat, atau shalat malam—namun tujuannya hanya untuk mendapatkan dunia, bukan mencari rida Allah, maka Allah akan memberinya apa yang ia cari di dunia. Namun amalnya gugur dan sia-sia di sisi Allah, karena niatnya bukan untuk akhirat.Dan ia termasuk orang yang merugi di akhirat.Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺKetahuilah bahwa salah satu syarat agar amal dan usaha seseorang memberi manfaat di sisi Allah adalah: amal tersebut harus sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hasil bid’ah atau perubahan dalam agama.Inilah yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah saat menafsirkan ayat dalam Surah Al-Isra,وَمَنْ أَرَادَ ٱلْءَاخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra: 19)Yakni: ia mencarinya melalui jalannya, yaitu dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Di antara dalil yang paling jelas bahwa amal yang tidak mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberi manfaat di sisi Allah adalah perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‌مَنْ ‌عَمِلَ ‌عَمَلًا ‌لَيْسَ ‌عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَأَمْرُهُ رَدٌّ“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap merekaDi antara penghalang diterimanya amal adalah kezaliman terhadap orang lain, baik dalam bentuk mengambil hak mereka ataupun merusak kehormatan mereka.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ * ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) akan mati, dan mereka pun akan mati. Kemudian sesungguhnya pada hari Kiamat kalian akan saling bersengketa di hadapan Rabb kalian.” (QS. Az-Zumar: 30–31)Pertengkaran yang dimaksud dalam ayat ini adalah saling menuntut antara sesama manusia atas kezaliman yang terjadi di dunia.Dari Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Ketika ayat ini turun, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Wahai Rasulullah, apakah urusan-urusan yang terjadi antara kami di dunia akan diulang kembali (diadili) pada hari Kiamat, bahkan sampai dosa-dosa kecil?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,نَعَمْ، لَيُكَرَّرَنَّ عَلَيْكُمْ حَتَّى يُؤَدَّى إِلَى كُلِّ ذِي حَقٍّ حَقُّهُ»، قَالَ الزُّبَيْرُ: وَاللَّهِ إِنَّ الْأَمْرَ لَشَدِيدٌ.“Ya, semua akan diulang sampai setiap orang yang memiliki hak akan diberi haknya.” Az-Zubair pun berkata: “Demi Allah, sungguh ini adalah perkara yang sangat berat.”Di antara hadits paling terkenal dalam hal ini adalah hadits tentang orang yang bangkrut (muflis). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,((أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟))، قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: ((إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ)“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di tengah kami adalah yang tidak punya uang dan tidak punya harta.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa dosa: telah mencela orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang lainnya. Maka pahala kebaikannya akan diberikan kepada orang-orang yang ia zalimi. Jika pahalanya habis sebelum semua hak mereka terpenuhi, maka dosa-dosa mereka akan dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, No. 2581)Kelima: KemunafikanTermasuk penghalang diterimanya amal adalah nifak (kemunafikan). Kata nifak berasal dari nafaq, yaitu lubang atau jalan bawah tanah yang digunakan untuk bersembunyi. Dinamakan demikian karena orang munafik menyembunyikan kekufurannya, sebagaimana dijelaskan oleh Abu ‘Ubaid.Secara syar’i, nifak adalah menampakkan keislaman, namun menyembunyikan kekufuran.Istilah ini adalah istilah khas dalam Islam, yang sebelumnya tidak dikenal bangsa Arab dengan makna khusus seperti ini, walaupun akar katanya dikenal dalam bahasa mereka.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)Dalam ayat ini, Allah memberitakan bahwa orang munafik juga melaksanakan salat dan mengeluarkan zakat, tetapi Allah tidak menerima amal tersebut dari mereka.Demikian pula dalam firman-Nya:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَٰتُهُمْ إِلَّآ أَنَّهُمْ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ وَلَا يَأْتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَٰرِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. At-Taubah: 54)Di antara sifat orang munafik adalah:Mereka rela melakukan penipuan terhadap Allah dan manusia.Mereka malas saat hendak melaksanakan salat.Mereka berbuat riya (pamer) dalam ibadahnya.Mereka sedikit mengingat Allah.Ini semua adalah sifat tercela dan menjadi peringatan bagi setiap mukmin untuk menjauhinya.Seorang mukmin tidak boleh bersikap pura-pura, tapi harus jujur dan terbuka.Ia harus shalat dengan semangat, bukan dengan malas dan berat hati.Ia harus menjauhi riya dan mengikhlaskan amal untuk Allah semata.Ia juga harus banyak mengingat Allah, karena lalai dari zikir adalah tanda kemunafikan.Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa nafkah dan salat orang munafik tidak diterima, dan Allah juga menyebutkan sebabnya, yaitu karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini menunjukkan bahwa amal lahiriah saja tidak cukup, selama hati masih menyimpan kekufuran atau tidak ikhlas karena Allah.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan IsmailKita berdoa kepada Allah agar amalan-amalan kita diterima di bulan Ramadhan setelah berlalu.رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُRABBANAA TAQABBAL MINNAA, INNAKA ANTAS-SAMII’UL-‘ALIIM. WA TUB ‘ALAINAA, INNAKA ANTAT-TAWWAABUR-RAHIIM.“Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 127–128, potongan dari doa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam)Semoga Allah menerima taubat kita.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim: 8)قال القُرَظِيُّ: يَجْمَعُهَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ، وَالإِقْلَاعُ بِالأَبْدَانِ، وَإِضْمَارُ تَرْكِ العَوْدِ بِالجَنَانِ، وَمُهَاجَرَةُ سَيِّءِ الإِخْوَانِ.Al-Qurazhi berkata: Taubat nasuha mencakup empat hal:memohon ampun dengan lisan,meninggalkan dosa dengan anggota badan,berniat kuat dalam hati untuk tidak mengulangi, danmenjauhi teman-teman yang buruk.(Tafsir al-Baghawi: 4/430–431)اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …Semoga Allah menerima amalan kita semuanya di bulan Ramadhan dan kita diperpanjang umur oleh Allah untuk diperjumpakan dengan bulan Ramadhan berikutnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.  —– Ini khutbah Idulfitri 1446 H (2025)@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com   Tagsamal diterima amal tertolak Idulfitri ikhlas khutbah hari raya khutbah idul fitri mengikuti sunnah muhasabah diri riya syirik takwa tanda amal diterima

Khutbah Idulfitri | 8 Kiat Menjadi Hamba yang Sabar dan Bersyukur (Selamat dari Sifat Halu’a)

Manusia secara tabiat memiliki sifat mudah gelisah saat susah dan kikir saat senang. Inilah yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai sifat halu’. Namun, Allah tidak hanya menyebutkan sifat tersebut, tetapi juga memberikan jalan keluar agar seorang hamba menjadi pribadi yang sabar dan bersyukur.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Hakikat Manusia: Sifat Halu’ 3. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’ 3.1. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsisten 3.2. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagi 3.3. Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasan 3.4. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allah 3.5. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diri 3.6. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janji 3.7. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksian 3.8. Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurna 4. Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Ini 5. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan bagi kita ibadah Ramadan dan mempertemukan kita dengan hari kemenangan, Idulfitri. Hari ini bukan sekadar hari bergembira, tetapi hari untuk menguji apakah kita benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Di antara perubahan terbesar yang harus kita raih adalah keluar dari sifat halu’—tidak sabar saat susah dan tidak bersyukur saat senang—menuju sifat orang-orang beriman yang sabar, bersyukur, dan istiqamah dalam ketaatan.  اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُHakikat Manusia: Sifat Halu’Allah Ta’ala berfirman,۞ إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19)“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah.” (QS. Al-Ma’arij: 19)Sifat ini menggambarkan manusia dari sisi tabiat asalnya, yaitu memiliki sifat mudah gelisah dan tidak sabar.إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20)“Apabila ia ditimpa kesusahan, ia menjadi sangat gelisah.” (QS. Al-Ma’arij: 20)Sifat “halu’” itu dijelaskan, yaitu ketika seseorang tertimpa keburukan, ia menjadi gelisah. Ia tidak tahan jika terkena kemiskinan, sakit, atau kehilangan sesuatu yang dicintainya, seperti harta, keluarga, atau anak. Dalam keadaan itu, ia tidak menggunakan kesabaran dan tidak ridha terhadap ketetapan Allah.وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21)“Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia sangat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 21)Artinya, ia tidak mau menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan kepadanya, dan tidak bersyukur atas nikmat dan kebaikan Allah. Haluu’ berarti gelisah saat susah, dan kikir saat senang. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22)“kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat.” (QS. Al-Ma’arij: 22)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat berikut.Jika mereka mendapatkan kebaikan, mereka bersyukur kepada Allah dan menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan.Jika mereka tertimpa kesusahan, mereka bersabar dan mengharapkan pahala. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsistenالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23)“(yaitu) orang-orang yang tetap mengerjakan shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 23)Mereka senantiasa menjaga shalat pada waktunya, dengan memenuhi syarat-syaratnya dan menyempurnakannya. Mereka tidak seperti orang yang meninggalkannya, atau melakukannya hanya sesekali (shalatnya bolong-bolong), atau melakukannya dengan cara yang tidak sempurna. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagiوَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24)“Dan orang-orang yang dalam hartanya terdapat bagian tertentu.” (QS. Al-Ma’arij: 24)Yaitu bagian dari zakat dan sedekah.لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (25)“bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’arij: 25)Yang dimaksud dengan “orang yang meminta” adalah orang yang datang meminta bantuan. Adapun “orang yang tidak mau meminta” adalah orang miskin yang tidak meminta-minta kepada orang lain, sehingga ia tidak diberi, dan keadaannya pun tidak disadari sehingga tidak ada yang bersedekah kepadanya.” Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasanوَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (26)“Dan orang-orang yang membenarkan hari pembalasan.” (QS. Al-Ma’arij: 26)Yaitu mereka beriman kepada apa yang Allah kabarkan dan disampaikan oleh para rasul tentang hari pembalasan dan kebangkitan. Mereka meyakini hal itu dengan penuh keyakinan, sehingga mereka mempersiapkan diri untuk akhirat dan berusaha untuknya. Membenarkan hari pembalasan mengharuskan membenarkan para rasul dan apa yang mereka bawa berupa kitab-kitab. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allahوَالَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ (27)“Dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabbnya.” (QS. Al-Ma’arij: 27)Yaitu mereka merasa takut dan khawatir, sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada azab Allah.إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ (28)“Sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat merasa aman darinya.” (QS. Al-Ma’arij: 28)Artinya, azab itu adalah sesuatu yang harus ditakuti dan diwaspadai. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diriوَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29)“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.” (QS. Al-Ma’arij: 29)Maksud ayat ini adalah:Mereka tidak melakukan hubungan intim yang diharamkan, seperti zina, liwath (homoseksual), menyetubuhi dari belakang, atau saat haid, dan semisalnya.Mereka tidak memandang dan menyentuh kemaluan orang lain yang tidak halal.Mereka meninggalkan segala sebab yang mengantarkan pada perbuatan zina.إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30)“kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela.” (QS. Al-Ma’arij: 30)Artinya, mereka tidak tercela jika menyalurkan kebutuhan tersebut kepada istri atau budak yang mereka miliki, pada tempat yang memang diperbolehkan.فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (31)“Barang siapa mencari selain itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 31)Artinya, siapa yang mencari selain istri dan hamba sahaya, maka ia telah melampaui batas dari yang dihalalkan menuju yang diharamkan. Ayat ini menunjukkan haramnya nikah mut’ah (kawin kontrak ala kaum Syi’ah), karena tidak termasuk istri yang dimaksud dan bukan pula hamba sahaya. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janjiوَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (32)“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.” (QS. Al-Ma’arij: 32)Mereka menjaga dan bersungguh-sungguh menunaikannya serta menepatinya. Ini mencakup seluruh amanat antara hamba dengan Allah, seperti kewajiban yang tersembunyi yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, dan amanat antara hamba dengan manusia, seperti dalam harta dan rahasia. Begitu pula janji, baik janji kepada Allah maupun kepada manusia, karena semua itu akan dimintai pertanggungjawaban, apakah ditunaikan atau dikhianati. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksianوَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ (33)“Dan orang-orang yang memberikan kesaksian mereka.” (QS. Al-Ma’arij: 33)Mereka tidak bersaksi kecuali dengan apa yang mereka ketahui, tanpa menambah, mengurangi, atau menyembunyikan. Mereka tidak memihak kepada kerabat atau teman, dan tujuan mereka adalah karena Allah.Allah Ta‘ālā berfirman,وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ“Dan tegakkanlah kesaksian itu karena Allah.” (QS. Ath-Thalaq: 2)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap kedua orang tua dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa’: 135) Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurnaوَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (34)“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 34)Yaitu dengan terus menjaganya dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Iniأُولَٰئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُّكْرَمُونَ (35)“Mereka itu dimuliakan di dalam surga.” (QS. Al-Ma’arij: 35)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut akan dimuliakan oleh Allah dengan berbagai kenikmatan yang kekal, yang diinginkan oleh jiwa dan menyenangkan pandangan, dan mereka kekal di dalamnya.Kesimpulannya, Allah menyifati orang-orang yang berbahagia dan baik dengan sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia.Mereka memiliki ibadah badan, seperti shalat dan terus menjaganya; amal hati, seperti rasa takut kepada Allah yang mendorong kepada setiap kebaikan; ibadah harta; keyakinan yang benar; serta akhlak yang luhur.Mereka juga berinteraksi dengan Allah dan dengan sesama manusia dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan bersikap adil, menjaga janji dan rahasia, serta memiliki kehormatan diri yang sempurna dengan menjaga kemaluan dari segala yang dibenci oleh Allah Ta‘ālā. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa‘asyiral muslimin rahimakumullah, itulah sifat manusia dan jalan keselamatan yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an. Siapa yang ingin selamat dari sifat gelisah dan kikir, maka perbaikilah shalatnya, kuatkan imannya, dan jaga amanah serta akhlaknya.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar saat diuji dan bersyukur saat diberi nikmat.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَىٰ وَالتُّقَىٰ وَالْعَفَافَ وَالْغِنَىٰ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Naskah ini yang dipakai untuk Khutbah Idulfitri 1447 HRabu sore, 29 Ramadhan 1447 H, 18 Maret 2026@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam halu’ iman akhirat khutbah hari raya khutbah idul fitri renungan ayat renungan quran sabar shalat sifat manusia syukur tafsir al ma’arij Tafsir juz 29 tafsir surah al ma'arij Zakat

Khutbah Idulfitri | 8 Kiat Menjadi Hamba yang Sabar dan Bersyukur (Selamat dari Sifat Halu’a)

Manusia secara tabiat memiliki sifat mudah gelisah saat susah dan kikir saat senang. Inilah yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai sifat halu’. Namun, Allah tidak hanya menyebutkan sifat tersebut, tetapi juga memberikan jalan keluar agar seorang hamba menjadi pribadi yang sabar dan bersyukur.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Hakikat Manusia: Sifat Halu’ 3. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’ 3.1. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsisten 3.2. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagi 3.3. Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasan 3.4. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allah 3.5. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diri 3.6. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janji 3.7. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksian 3.8. Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurna 4. Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Ini 5. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan bagi kita ibadah Ramadan dan mempertemukan kita dengan hari kemenangan, Idulfitri. Hari ini bukan sekadar hari bergembira, tetapi hari untuk menguji apakah kita benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Di antara perubahan terbesar yang harus kita raih adalah keluar dari sifat halu’—tidak sabar saat susah dan tidak bersyukur saat senang—menuju sifat orang-orang beriman yang sabar, bersyukur, dan istiqamah dalam ketaatan.  اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُHakikat Manusia: Sifat Halu’Allah Ta’ala berfirman,۞ إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19)“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah.” (QS. Al-Ma’arij: 19)Sifat ini menggambarkan manusia dari sisi tabiat asalnya, yaitu memiliki sifat mudah gelisah dan tidak sabar.إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20)“Apabila ia ditimpa kesusahan, ia menjadi sangat gelisah.” (QS. Al-Ma’arij: 20)Sifat “halu’” itu dijelaskan, yaitu ketika seseorang tertimpa keburukan, ia menjadi gelisah. Ia tidak tahan jika terkena kemiskinan, sakit, atau kehilangan sesuatu yang dicintainya, seperti harta, keluarga, atau anak. Dalam keadaan itu, ia tidak menggunakan kesabaran dan tidak ridha terhadap ketetapan Allah.وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21)“Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia sangat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 21)Artinya, ia tidak mau menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan kepadanya, dan tidak bersyukur atas nikmat dan kebaikan Allah. Haluu’ berarti gelisah saat susah, dan kikir saat senang. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22)“kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat.” (QS. Al-Ma’arij: 22)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat berikut.Jika mereka mendapatkan kebaikan, mereka bersyukur kepada Allah dan menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan.Jika mereka tertimpa kesusahan, mereka bersabar dan mengharapkan pahala. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsistenالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23)“(yaitu) orang-orang yang tetap mengerjakan shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 23)Mereka senantiasa menjaga shalat pada waktunya, dengan memenuhi syarat-syaratnya dan menyempurnakannya. Mereka tidak seperti orang yang meninggalkannya, atau melakukannya hanya sesekali (shalatnya bolong-bolong), atau melakukannya dengan cara yang tidak sempurna. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagiوَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24)“Dan orang-orang yang dalam hartanya terdapat bagian tertentu.” (QS. Al-Ma’arij: 24)Yaitu bagian dari zakat dan sedekah.لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (25)“bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’arij: 25)Yang dimaksud dengan “orang yang meminta” adalah orang yang datang meminta bantuan. Adapun “orang yang tidak mau meminta” adalah orang miskin yang tidak meminta-minta kepada orang lain, sehingga ia tidak diberi, dan keadaannya pun tidak disadari sehingga tidak ada yang bersedekah kepadanya.” Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasanوَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (26)“Dan orang-orang yang membenarkan hari pembalasan.” (QS. Al-Ma’arij: 26)Yaitu mereka beriman kepada apa yang Allah kabarkan dan disampaikan oleh para rasul tentang hari pembalasan dan kebangkitan. Mereka meyakini hal itu dengan penuh keyakinan, sehingga mereka mempersiapkan diri untuk akhirat dan berusaha untuknya. Membenarkan hari pembalasan mengharuskan membenarkan para rasul dan apa yang mereka bawa berupa kitab-kitab. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allahوَالَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ (27)“Dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabbnya.” (QS. Al-Ma’arij: 27)Yaitu mereka merasa takut dan khawatir, sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada azab Allah.إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ (28)“Sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat merasa aman darinya.” (QS. Al-Ma’arij: 28)Artinya, azab itu adalah sesuatu yang harus ditakuti dan diwaspadai. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diriوَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29)“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.” (QS. Al-Ma’arij: 29)Maksud ayat ini adalah:Mereka tidak melakukan hubungan intim yang diharamkan, seperti zina, liwath (homoseksual), menyetubuhi dari belakang, atau saat haid, dan semisalnya.Mereka tidak memandang dan menyentuh kemaluan orang lain yang tidak halal.Mereka meninggalkan segala sebab yang mengantarkan pada perbuatan zina.إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30)“kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela.” (QS. Al-Ma’arij: 30)Artinya, mereka tidak tercela jika menyalurkan kebutuhan tersebut kepada istri atau budak yang mereka miliki, pada tempat yang memang diperbolehkan.فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (31)“Barang siapa mencari selain itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 31)Artinya, siapa yang mencari selain istri dan hamba sahaya, maka ia telah melampaui batas dari yang dihalalkan menuju yang diharamkan. Ayat ini menunjukkan haramnya nikah mut’ah (kawin kontrak ala kaum Syi’ah), karena tidak termasuk istri yang dimaksud dan bukan pula hamba sahaya. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janjiوَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (32)“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.” (QS. Al-Ma’arij: 32)Mereka menjaga dan bersungguh-sungguh menunaikannya serta menepatinya. Ini mencakup seluruh amanat antara hamba dengan Allah, seperti kewajiban yang tersembunyi yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, dan amanat antara hamba dengan manusia, seperti dalam harta dan rahasia. Begitu pula janji, baik janji kepada Allah maupun kepada manusia, karena semua itu akan dimintai pertanggungjawaban, apakah ditunaikan atau dikhianati. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksianوَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ (33)“Dan orang-orang yang memberikan kesaksian mereka.” (QS. Al-Ma’arij: 33)Mereka tidak bersaksi kecuali dengan apa yang mereka ketahui, tanpa menambah, mengurangi, atau menyembunyikan. Mereka tidak memihak kepada kerabat atau teman, dan tujuan mereka adalah karena Allah.Allah Ta‘ālā berfirman,وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ“Dan tegakkanlah kesaksian itu karena Allah.” (QS. Ath-Thalaq: 2)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap kedua orang tua dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa’: 135) Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurnaوَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (34)“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 34)Yaitu dengan terus menjaganya dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Iniأُولَٰئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُّكْرَمُونَ (35)“Mereka itu dimuliakan di dalam surga.” (QS. Al-Ma’arij: 35)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut akan dimuliakan oleh Allah dengan berbagai kenikmatan yang kekal, yang diinginkan oleh jiwa dan menyenangkan pandangan, dan mereka kekal di dalamnya.Kesimpulannya, Allah menyifati orang-orang yang berbahagia dan baik dengan sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia.Mereka memiliki ibadah badan, seperti shalat dan terus menjaganya; amal hati, seperti rasa takut kepada Allah yang mendorong kepada setiap kebaikan; ibadah harta; keyakinan yang benar; serta akhlak yang luhur.Mereka juga berinteraksi dengan Allah dan dengan sesama manusia dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan bersikap adil, menjaga janji dan rahasia, serta memiliki kehormatan diri yang sempurna dengan menjaga kemaluan dari segala yang dibenci oleh Allah Ta‘ālā. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa‘asyiral muslimin rahimakumullah, itulah sifat manusia dan jalan keselamatan yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an. Siapa yang ingin selamat dari sifat gelisah dan kikir, maka perbaikilah shalatnya, kuatkan imannya, dan jaga amanah serta akhlaknya.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar saat diuji dan bersyukur saat diberi nikmat.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَىٰ وَالتُّقَىٰ وَالْعَفَافَ وَالْغِنَىٰ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Naskah ini yang dipakai untuk Khutbah Idulfitri 1447 HRabu sore, 29 Ramadhan 1447 H, 18 Maret 2026@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam halu’ iman akhirat khutbah hari raya khutbah idul fitri renungan ayat renungan quran sabar shalat sifat manusia syukur tafsir al ma’arij Tafsir juz 29 tafsir surah al ma'arij Zakat
Manusia secara tabiat memiliki sifat mudah gelisah saat susah dan kikir saat senang. Inilah yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai sifat halu’. Namun, Allah tidak hanya menyebutkan sifat tersebut, tetapi juga memberikan jalan keluar agar seorang hamba menjadi pribadi yang sabar dan bersyukur.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Hakikat Manusia: Sifat Halu’ 3. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’ 3.1. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsisten 3.2. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagi 3.3. Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasan 3.4. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allah 3.5. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diri 3.6. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janji 3.7. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksian 3.8. Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurna 4. Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Ini 5. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan bagi kita ibadah Ramadan dan mempertemukan kita dengan hari kemenangan, Idulfitri. Hari ini bukan sekadar hari bergembira, tetapi hari untuk menguji apakah kita benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Di antara perubahan terbesar yang harus kita raih adalah keluar dari sifat halu’—tidak sabar saat susah dan tidak bersyukur saat senang—menuju sifat orang-orang beriman yang sabar, bersyukur, dan istiqamah dalam ketaatan.  اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُHakikat Manusia: Sifat Halu’Allah Ta’ala berfirman,۞ إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19)“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah.” (QS. Al-Ma’arij: 19)Sifat ini menggambarkan manusia dari sisi tabiat asalnya, yaitu memiliki sifat mudah gelisah dan tidak sabar.إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20)“Apabila ia ditimpa kesusahan, ia menjadi sangat gelisah.” (QS. Al-Ma’arij: 20)Sifat “halu’” itu dijelaskan, yaitu ketika seseorang tertimpa keburukan, ia menjadi gelisah. Ia tidak tahan jika terkena kemiskinan, sakit, atau kehilangan sesuatu yang dicintainya, seperti harta, keluarga, atau anak. Dalam keadaan itu, ia tidak menggunakan kesabaran dan tidak ridha terhadap ketetapan Allah.وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21)“Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia sangat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 21)Artinya, ia tidak mau menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan kepadanya, dan tidak bersyukur atas nikmat dan kebaikan Allah. Haluu’ berarti gelisah saat susah, dan kikir saat senang. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22)“kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat.” (QS. Al-Ma’arij: 22)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat berikut.Jika mereka mendapatkan kebaikan, mereka bersyukur kepada Allah dan menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan.Jika mereka tertimpa kesusahan, mereka bersabar dan mengharapkan pahala. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsistenالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23)“(yaitu) orang-orang yang tetap mengerjakan shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 23)Mereka senantiasa menjaga shalat pada waktunya, dengan memenuhi syarat-syaratnya dan menyempurnakannya. Mereka tidak seperti orang yang meninggalkannya, atau melakukannya hanya sesekali (shalatnya bolong-bolong), atau melakukannya dengan cara yang tidak sempurna. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagiوَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24)“Dan orang-orang yang dalam hartanya terdapat bagian tertentu.” (QS. Al-Ma’arij: 24)Yaitu bagian dari zakat dan sedekah.لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (25)“bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’arij: 25)Yang dimaksud dengan “orang yang meminta” adalah orang yang datang meminta bantuan. Adapun “orang yang tidak mau meminta” adalah orang miskin yang tidak meminta-minta kepada orang lain, sehingga ia tidak diberi, dan keadaannya pun tidak disadari sehingga tidak ada yang bersedekah kepadanya.” Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasanوَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (26)“Dan orang-orang yang membenarkan hari pembalasan.” (QS. Al-Ma’arij: 26)Yaitu mereka beriman kepada apa yang Allah kabarkan dan disampaikan oleh para rasul tentang hari pembalasan dan kebangkitan. Mereka meyakini hal itu dengan penuh keyakinan, sehingga mereka mempersiapkan diri untuk akhirat dan berusaha untuknya. Membenarkan hari pembalasan mengharuskan membenarkan para rasul dan apa yang mereka bawa berupa kitab-kitab. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allahوَالَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ (27)“Dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabbnya.” (QS. Al-Ma’arij: 27)Yaitu mereka merasa takut dan khawatir, sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada azab Allah.إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ (28)“Sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat merasa aman darinya.” (QS. Al-Ma’arij: 28)Artinya, azab itu adalah sesuatu yang harus ditakuti dan diwaspadai. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diriوَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29)“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.” (QS. Al-Ma’arij: 29)Maksud ayat ini adalah:Mereka tidak melakukan hubungan intim yang diharamkan, seperti zina, liwath (homoseksual), menyetubuhi dari belakang, atau saat haid, dan semisalnya.Mereka tidak memandang dan menyentuh kemaluan orang lain yang tidak halal.Mereka meninggalkan segala sebab yang mengantarkan pada perbuatan zina.إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30)“kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela.” (QS. Al-Ma’arij: 30)Artinya, mereka tidak tercela jika menyalurkan kebutuhan tersebut kepada istri atau budak yang mereka miliki, pada tempat yang memang diperbolehkan.فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (31)“Barang siapa mencari selain itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 31)Artinya, siapa yang mencari selain istri dan hamba sahaya, maka ia telah melampaui batas dari yang dihalalkan menuju yang diharamkan. Ayat ini menunjukkan haramnya nikah mut’ah (kawin kontrak ala kaum Syi’ah), karena tidak termasuk istri yang dimaksud dan bukan pula hamba sahaya. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janjiوَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (32)“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.” (QS. Al-Ma’arij: 32)Mereka menjaga dan bersungguh-sungguh menunaikannya serta menepatinya. Ini mencakup seluruh amanat antara hamba dengan Allah, seperti kewajiban yang tersembunyi yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, dan amanat antara hamba dengan manusia, seperti dalam harta dan rahasia. Begitu pula janji, baik janji kepada Allah maupun kepada manusia, karena semua itu akan dimintai pertanggungjawaban, apakah ditunaikan atau dikhianati. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksianوَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ (33)“Dan orang-orang yang memberikan kesaksian mereka.” (QS. Al-Ma’arij: 33)Mereka tidak bersaksi kecuali dengan apa yang mereka ketahui, tanpa menambah, mengurangi, atau menyembunyikan. Mereka tidak memihak kepada kerabat atau teman, dan tujuan mereka adalah karena Allah.Allah Ta‘ālā berfirman,وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ“Dan tegakkanlah kesaksian itu karena Allah.” (QS. Ath-Thalaq: 2)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap kedua orang tua dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa’: 135) Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurnaوَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (34)“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 34)Yaitu dengan terus menjaganya dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Iniأُولَٰئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُّكْرَمُونَ (35)“Mereka itu dimuliakan di dalam surga.” (QS. Al-Ma’arij: 35)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut akan dimuliakan oleh Allah dengan berbagai kenikmatan yang kekal, yang diinginkan oleh jiwa dan menyenangkan pandangan, dan mereka kekal di dalamnya.Kesimpulannya, Allah menyifati orang-orang yang berbahagia dan baik dengan sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia.Mereka memiliki ibadah badan, seperti shalat dan terus menjaganya; amal hati, seperti rasa takut kepada Allah yang mendorong kepada setiap kebaikan; ibadah harta; keyakinan yang benar; serta akhlak yang luhur.Mereka juga berinteraksi dengan Allah dan dengan sesama manusia dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan bersikap adil, menjaga janji dan rahasia, serta memiliki kehormatan diri yang sempurna dengan menjaga kemaluan dari segala yang dibenci oleh Allah Ta‘ālā. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa‘asyiral muslimin rahimakumullah, itulah sifat manusia dan jalan keselamatan yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an. Siapa yang ingin selamat dari sifat gelisah dan kikir, maka perbaikilah shalatnya, kuatkan imannya, dan jaga amanah serta akhlaknya.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar saat diuji dan bersyukur saat diberi nikmat.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَىٰ وَالتُّقَىٰ وَالْعَفَافَ وَالْغِنَىٰ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Naskah ini yang dipakai untuk Khutbah Idulfitri 1447 HRabu sore, 29 Ramadhan 1447 H, 18 Maret 2026@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam halu’ iman akhirat khutbah hari raya khutbah idul fitri renungan ayat renungan quran sabar shalat sifat manusia syukur tafsir al ma’arij Tafsir juz 29 tafsir surah al ma'arij Zakat


Manusia secara tabiat memiliki sifat mudah gelisah saat susah dan kikir saat senang. Inilah yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai sifat halu’. Namun, Allah tidak hanya menyebutkan sifat tersebut, tetapi juga memberikan jalan keluar agar seorang hamba menjadi pribadi yang sabar dan bersyukur.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Hakikat Manusia: Sifat Halu’ 3. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’ 3.1. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsisten 3.2. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagi 3.3. Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasan 3.4. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allah 3.5. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diri 3.6. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janji 3.7. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksian 3.8. Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurna 4. Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Ini 5. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan bagi kita ibadah Ramadan dan mempertemukan kita dengan hari kemenangan, Idulfitri. Hari ini bukan sekadar hari bergembira, tetapi hari untuk menguji apakah kita benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Di antara perubahan terbesar yang harus kita raih adalah keluar dari sifat halu’—tidak sabar saat susah dan tidak bersyukur saat senang—menuju sifat orang-orang beriman yang sabar, bersyukur, dan istiqamah dalam ketaatan.  اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُHakikat Manusia: Sifat Halu’Allah Ta’ala berfirman,۞ إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19)“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah.” (QS. Al-Ma’arij: 19)Sifat ini menggambarkan manusia dari sisi tabiat asalnya, yaitu memiliki sifat mudah gelisah dan tidak sabar.إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20)“Apabila ia ditimpa kesusahan, ia menjadi sangat gelisah.” (QS. Al-Ma’arij: 20)Sifat “halu’” itu dijelaskan, yaitu ketika seseorang tertimpa keburukan, ia menjadi gelisah. Ia tidak tahan jika terkena kemiskinan, sakit, atau kehilangan sesuatu yang dicintainya, seperti harta, keluarga, atau anak. Dalam keadaan itu, ia tidak menggunakan kesabaran dan tidak ridha terhadap ketetapan Allah.وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21)“Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia sangat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 21)Artinya, ia tidak mau menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan kepadanya, dan tidak bersyukur atas nikmat dan kebaikan Allah. Haluu’ berarti gelisah saat susah, dan kikir saat senang. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22)“kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat.” (QS. Al-Ma’arij: 22)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat berikut.Jika mereka mendapatkan kebaikan, mereka bersyukur kepada Allah dan menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan.Jika mereka tertimpa kesusahan, mereka bersabar dan mengharapkan pahala. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsistenالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23)“(yaitu) orang-orang yang tetap mengerjakan shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 23)Mereka senantiasa menjaga shalat pada waktunya, dengan memenuhi syarat-syaratnya dan menyempurnakannya. Mereka tidak seperti orang yang meninggalkannya, atau melakukannya hanya sesekali (shalatnya bolong-bolong), atau melakukannya dengan cara yang tidak sempurna. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagiوَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24)“Dan orang-orang yang dalam hartanya terdapat bagian tertentu.” (QS. Al-Ma’arij: 24)Yaitu bagian dari zakat dan sedekah.لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (25)“bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’arij: 25)Yang dimaksud dengan “orang yang meminta” adalah orang yang datang meminta bantuan. Adapun “orang yang tidak mau meminta” adalah orang miskin yang tidak meminta-minta kepada orang lain, sehingga ia tidak diberi, dan keadaannya pun tidak disadari sehingga tidak ada yang bersedekah kepadanya.” Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasanوَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (26)“Dan orang-orang yang membenarkan hari pembalasan.” (QS. Al-Ma’arij: 26)Yaitu mereka beriman kepada apa yang Allah kabarkan dan disampaikan oleh para rasul tentang hari pembalasan dan kebangkitan. Mereka meyakini hal itu dengan penuh keyakinan, sehingga mereka mempersiapkan diri untuk akhirat dan berusaha untuknya. Membenarkan hari pembalasan mengharuskan membenarkan para rasul dan apa yang mereka bawa berupa kitab-kitab. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allahوَالَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ (27)“Dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabbnya.” (QS. Al-Ma’arij: 27)Yaitu mereka merasa takut dan khawatir, sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada azab Allah.إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ (28)“Sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat merasa aman darinya.” (QS. Al-Ma’arij: 28)Artinya, azab itu adalah sesuatu yang harus ditakuti dan diwaspadai. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diriوَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29)“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.” (QS. Al-Ma’arij: 29)Maksud ayat ini adalah:Mereka tidak melakukan hubungan intim yang diharamkan, seperti zina, liwath (homoseksual), menyetubuhi dari belakang, atau saat haid, dan semisalnya.Mereka tidak memandang dan menyentuh kemaluan orang lain yang tidak halal.Mereka meninggalkan segala sebab yang mengantarkan pada perbuatan zina.إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30)“kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela.” (QS. Al-Ma’arij: 30)Artinya, mereka tidak tercela jika menyalurkan kebutuhan tersebut kepada istri atau budak yang mereka miliki, pada tempat yang memang diperbolehkan.فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (31)“Barang siapa mencari selain itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 31)Artinya, siapa yang mencari selain istri dan hamba sahaya, maka ia telah melampaui batas dari yang dihalalkan menuju yang diharamkan. Ayat ini menunjukkan haramnya nikah mut’ah (kawin kontrak ala kaum Syi’ah), karena tidak termasuk istri yang dimaksud dan bukan pula hamba sahaya. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janjiوَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (32)“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.” (QS. Al-Ma’arij: 32)Mereka menjaga dan bersungguh-sungguh menunaikannya serta menepatinya. Ini mencakup seluruh amanat antara hamba dengan Allah, seperti kewajiban yang tersembunyi yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, dan amanat antara hamba dengan manusia, seperti dalam harta dan rahasia. Begitu pula janji, baik janji kepada Allah maupun kepada manusia, karena semua itu akan dimintai pertanggungjawaban, apakah ditunaikan atau dikhianati. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksianوَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ (33)“Dan orang-orang yang memberikan kesaksian mereka.” (QS. Al-Ma’arij: 33)Mereka tidak bersaksi kecuali dengan apa yang mereka ketahui, tanpa menambah, mengurangi, atau menyembunyikan. Mereka tidak memihak kepada kerabat atau teman, dan tujuan mereka adalah karena Allah.Allah Ta‘ālā berfirman,وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ“Dan tegakkanlah kesaksian itu karena Allah.” (QS. Ath-Thalaq: 2)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap kedua orang tua dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa’: 135) Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurnaوَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (34)“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 34)Yaitu dengan terus menjaganya dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Iniأُولَٰئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُّكْرَمُونَ (35)“Mereka itu dimuliakan di dalam surga.” (QS. Al-Ma’arij: 35)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut akan dimuliakan oleh Allah dengan berbagai kenikmatan yang kekal, yang diinginkan oleh jiwa dan menyenangkan pandangan, dan mereka kekal di dalamnya.Kesimpulannya, Allah menyifati orang-orang yang berbahagia dan baik dengan sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia.Mereka memiliki ibadah badan, seperti shalat dan terus menjaganya; amal hati, seperti rasa takut kepada Allah yang mendorong kepada setiap kebaikan; ibadah harta; keyakinan yang benar; serta akhlak yang luhur.Mereka juga berinteraksi dengan Allah dan dengan sesama manusia dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan bersikap adil, menjaga janji dan rahasia, serta memiliki kehormatan diri yang sempurna dengan menjaga kemaluan dari segala yang dibenci oleh Allah Ta‘ālā. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa‘asyiral muslimin rahimakumullah, itulah sifat manusia dan jalan keselamatan yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an. Siapa yang ingin selamat dari sifat gelisah dan kikir, maka perbaikilah shalatnya, kuatkan imannya, dan jaga amanah serta akhlaknya.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar saat diuji dan bersyukur saat diberi nikmat.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَىٰ وَالتُّقَىٰ وَالْعَفَافَ وَالْغِنَىٰ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Naskah ini yang dipakai untuk Khutbah Idulfitri 1447 HRabu sore, 29 Ramadhan 1447 H, 18 Maret 2026@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam halu’ iman akhirat khutbah hari raya khutbah idul fitri renungan ayat renungan quran sabar shalat sifat manusia syukur tafsir al ma’arij Tafsir juz 29 tafsir surah al ma'arij Zakat

Tafsir Surah ‘Abasa: Cara Islam Mengajarkan Kesetaraan Manusia

Surah ‘Abasa mengisahkan peristiwa ketika seorang sahabat yang buta datang kepada Nabi ﷺ untuk belajar, sementara pada saat yang sama beliau sedang berbicara dengan seorang tokoh kaya Quraisy. Nabi ﷺ lebih memberi perhatian kepada orang kaya itu dengan harapan ia mendapat hidayah. Melalui ayat-ayat ini, Allah menegur dengan lembut dan mengajarkan bahwa orang yang sungguh-sungguh mencari petunjuk lebih layak didahulukan daripada orang yang merasa tidak membutuhkan.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari Ilmu 2. Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu? 2.1. Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘Abasa 2.2. Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi Maktum 2.3. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam Dakwah 2.4. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas 3. Al-Qur’an untuk Memberi Peringatan 4. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur? 5. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai! 6. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!  Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari IlmuAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.” (QS. ‘Abasa: 1)أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ“karena telah datang seorang buta kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ“Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).” (QS. ‘Abasa: 3)أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكْرَىٰٓ“atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” (QS. ‘Abasa: 4)أَمَّا مَنِ ٱسْتَغْنَىٰ“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup.” (QS. ‘Abasa: 5)فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ“maka kamu melayaninya.” (QS. ‘Abasa: 6)وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ“Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).” (QS. ‘Abasa: 7)وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسْعَىٰ“Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran).” (QS. ‘Abasa: 8)وَهُوَ يَخْشَىٰ“sedang ia takut kepada (Allah).” (QS. ‘Abasa: 9)فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ“maka kamu mengabaikannya.” (QS. ‘Abasa: 10)Baca juga: Ibnu Ummi Maktum: Sahabat Nabi yang Buta tetapi Tetap Berjuang untuk Islam Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu?Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan:Beberapa ahli tafsir menyebutkan bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan salah seorang tokoh besar Quraisy. Beliau sangat berharap orang tersebut masuk Islam.Ketika beliau sedang berbicara dan berdialog dengannya, datanglah Ibnu Ummi Maktum—seorang sahabat yang telah lebih dahulu masuk Islam. Ia mulai bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang suatu hal dan terus meminta penjelasan.Saat itu Nabi ﷺ berharap Ibnu Ummi Maktum berhenti sejenak agar beliau dapat melanjutkan pembicaraan dengan orang tersebut, karena beliau sangat berharap orang itu mendapatkan hidayah. Maka Nabi ﷺ pun bermuka masam kepada Ibnu Ummi Maktum, berpaling darinya, dan kembali memperhatikan orang yang sedang beliau ajak bicara.Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.” Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘AbasaAl-Hafizh Abu Ya‘la meriwayatkan dalam Musnad-nya:Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma‘mar, dari Qatadah, dari Anas mengenai firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.”Disebutkan bahwa Ibnu Ummi Maktum datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan Ubay bin Khalaf. Nabi pun berpaling darinya, lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.”Setelah itu Nabi ﷺ selalu memuliakan Ibnu Ummi Maktum.Qatadah berkata:Anas bin Malik mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku pernah melihat Ibnu Ummi Maktum pada hari perang Qadisiyah. Ia mengenakan baju besi dan membawa bendera hitam.Abu Ya‘la dan Ibnu Jarir juga meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Sa‘id bin Yahya Al-Umawi, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.Ia berkata: Ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta. Ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Tunjukkanlah aku jalan yang benar.”Saat itu di sisi Rasulullah ﷺ ada beberapa tokoh besar dari kalangan musyrikin. Nabi pun berpaling darinya dan lebih memperhatikan orang-orang tersebut. Beliau berkata kepada mereka, “Apakah menurut kalian apa yang aku katakan ini salah?”Mereka menjawab, “Tidak.”Maka dalam peristiwa inilah turun ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىAt-Tirmidzi meriwayatkan hadis ini melalui sanad Sa‘id bin Yahya Al-Umawi dengan sanad yang sama. Ia berkata: Sebagian perawi meriwayatkannya dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya, bahwa ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun tentang Ibnu Ummi Maktum tanpa menyebutkan riwayat dari ‘Aisyah.Aku (Ibnu Katsir) mengatakan: Demikian pula riwayat tersebut terdapat dalam kitab Al-Muwaththa’.Kemudian Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Al-‘Aufi, dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa berkata: Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan ‘Utbah bin Rabi‘ah, Abu Jahl bin Hisyam, dan Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib. Beliau sering menemui mereka dan sangat berharap agar mereka beriman.Tiba-tiba datang seorang lelaki buta bernama ‘Abdullah bin Ummi Maktum. Ia berjalan mendekati Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan mereka. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sebagian dari apa yang Allah ajarkan kepadamu.”Nabi ﷺ berpaling darinya, bermuka masam, dan tidak menyukai pembicaraannya saat itu, lalu beliau kembali memusatkan perhatian kepada para tokoh tersebut.Ketika Rasulullah ﷺ telah selesai berbicara dengan mereka dan hendak pulang kepada keluarganya, Allah menahan sebagian penglihatannya. Kepala beliau pun tertunduk. Lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىأَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىوَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىأَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.Tahukah engkau, barangkali ia ingin membersihkan dirinya.Atau ia ingin mendapatkan pelajaran, lalu pelajaran itu memberi manfaat baginya.” Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi MaktumSetelah ayat ini turun, Rasulullah ﷺ memuliakan Ibnu Ummi Maktum. Beliau sering menyapanya dan berkata kepadanya, “Apa yang engkau butuhkan? Apakah engkau memerlukan sesuatu?”Ketika Ibnu Ummi Maktum hendak pergi, beliau juga berkata, “Apakah engkau memiliki kebutuhan yang bisa aku bantu?”Hal itu terjadi setelah Allah menurunkan firman-Nya:أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىوَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى“Adapun orang yang merasa dirinya cukup, engkau justru memberi perhatian kepadanya. Padahal tidak ada tanggung jawab atasmu jika ia tidak membersihkan dirinya.”Namun dalam riwayat ini terdapat keanehan dan kemungkaran, dan para ulama telah membicarakan sanadnya.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab.Ia berkata: Salim bin ‘Abdullah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari. Maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar azan Ibnu Ummi Maktum.”Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta, yang disebut dalam ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa biasa mengumandangkan azan bersama Bilal. Salim berkata: Ia adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan azan sampai orang-orang berkata kepadanya ketika mereka melihat terbitnya fajar, “Sekarang sudah fajar, kumandangkanlah azan.”Demikian pula disebutkan oleh ‘Urwah bin Az-Zubair, Mujahid, Abu Malik, Qatadah, Adh-Dhahhak, Ibnu Zaid, dan banyak ulama salaf maupun khalaf bahwa ayat ini turun tentang Ibnu Ummi Maktum.Yang paling masyhur, namanya adalah ‘Abdullah, dan ada pula yang mengatakan ‘Amr. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam DakwahAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ (1)Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah ketika datang seorang laki-laki mukmin yang buta kepada Nabi ﷺ untuk bertanya dan belajar dari beliau.Pada saat yang sama datang pula seorang lelaki kaya. Nabi ﷺ sangat bersemangat untuk memberi hidayah kepada manusia, sehingga beliau lebih condong dan memberi perhatian kepada orang kaya tersebut, sementara beliau berpaling dari orang buta yang miskin itu.Beliau berharap orang kaya tersebut mendapatkan hidayah dan menjadi baik. Maka Allah menegur beliau dengan teguran yang lembut, dengan firman-Nya:“Dia bermuka masam dan berpaling.”Maksudnya, beliau bermuka masam kepada orang buta itu dan memalingkan badannya darinya.أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ (2)Karena orang buta itu datang kepadanya.وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ (3)Kemudian Allah menjelaskan manfaat jika memperhatikannya, yaitu:“Dan tahukah engkau, barangkali dia ingin membersihkan dirinya.”Maksudnya, barangkali orang buta itu ingin menyucikan dirinya dari akhlak yang buruk dan menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik.أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ (4)“Atau dia ingin mendapatkan pelajaran, lalu peringatan itu memberi manfaat baginya.”Maksudnya, ia mengingat sesuatu yang bermanfaat baginya sehingga ia dapat mengamalkan peringatan tersebut.أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ (5)Di sini terdapat pelajaran yang sangat besar, yaitu tujuan utama diutusnya para rasul, disampaikannya nasihat oleh para pemberi nasihat, dan diingatkannya manusia oleh para pengingat.Memberi perhatian kepada orang yang datang sendiri dalam keadaan membutuhkan ilmu darimu adalah sikap yang lebih pantas dan lebih wajib.Adapun memusatkan perhatian kepada orang kaya yang merasa cukup, yang tidak bertanya dan tidak meminta nasihat karena tidak berminat pada kebaikan, sementara orang yang lebih membutuhkan justru ditinggalkan, maka hal itu tidak pantas dilakukan.Karena jika orang kaya itu tidak mau memperbaiki dirinya, maka engkau tidak menanggung dosa atas keburukan yang ia lakukan.Dari ayat ini dipahami sebuah kaidah yang terkenal:لَا يُتْرَكُ أَمْرٌ مَعْلُومٌ لِأَمْرٍ مَوْهُومٍ، وَلَا مَصْلَحَةٌ مُتَحَقِّقَةٌ لِمَصْلَحَةٍ مُتَوَهَّمَةٍ“Tidak boleh meninggalkan sesuatu yang jelas demi sesuatu yang masih dugaan, dan tidak boleh meninggalkan kemaslahatan yang nyata demi kemaslahatan yang hanya diperkirakan.”Karena itu, seharusnya seseorang lebih memberi perhatian kepada penuntut ilmu yang benar-benar membutuhkan, sangat memerlukannya, dan memiliki semangat untuk mempelajarinya dibandingkan yang lainnya. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas Berikut tiga contoh penerapan kaidah ini dalam kehidupan saat ini:1. Dalam dakwah dan pengajaranSeorang dai meninggalkan majelis kecil yang serius belajar agama demi mengejar audiens besar yang belum tentu mau mendengar. Padahal orang yang hadir di majelis sudah jelas ingin belajar. Yang tepat adalah tetap memprioritaskan orang yang benar-benar datang untuk menuntut ilmu.2. Dalam mendidik anakOrang tua terlalu sibuk mengejar kesuksesan dunia anak (kursus, prestasi, lomba) tetapi mengabaikan pendidikan agama yang jelas manfaatnya bagi akhirat. Padahal membangun iman dan akhlak anak adalah maslahat yang pasti, sementara prestasi dunia belum tentu membawa kebaikan.3. Dalam ibadahSeseorang meninggalkan shalat berjamaah yang jelas pahalanya demi melakukan aktivitas lain yang belum tentu bernilai ibadah, seperti terlalu lama bermain gawai atau mengejar kesibukan dunia yang tidak mendesak.Intinya, kaidah ini mengajarkan agar tidak meninggalkan kebaikan yang pasti demi sesuatu yang masih sekadar harapan atau dugaan.Baca juga: Cara Dakwah Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an: Dekat, Peduli, dan Penyayang Al-Qur’an untuk Memberi PeringatanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ“Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” (QS. ‘Abasa: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Maksudnya, peringatan ini benar-benar merupakan nasihat dari Allah. Dengan itu Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya dan menjelaskan dalam kitab-Nya apa yang mereka butuhkan, serta membedakan antara petunjuk dan kesesatan.Allah Ta’ala berfirman,فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ“maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (QS. ‘Abasa: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Jika hal itu telah jelas, maka siapa saja yang mau, ia akan mengambil pelajaran dan mengamalkannya. Sebagaimana firman Allah:وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ“Katakanlah, ‘Kebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka siapa yang menghendaki, hendaklah dia beriman, dan siapa yang menghendaki, hendaklah dia kafir.’” (QS. Al-Kahfi: 29)Allah Ta’ala berfirman,فِى صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ“di dalam kitab-kitab yang dimuliakan.” (QS. ‘Abasa: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Kemudian Allah menyebutkan tempat peringatan ini, keagungannya, dan tingginya kedudukannya, yaitu berada dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan.Allah Ta’ala berfirman,مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍۭ“yang ditinggikan lagi disucikan.” (QS. ‘Abasa: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Lembaran itu tinggi kedudukan dan derajatnya, serta disucikan dari segala kekurangan, dan tidak dapat dijangkau oleh tangan-tangan setan ataupun dicuri oleh mereka.Allah Ta’ala berfirman,بِأَيْدِى سَفَرَةٍ“di tangan para penulis (malaikat).” (QS. ‘Abasa: 15)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Yaitu di tangan para malaikat yang menjadi perantara antara Allah dan para hamba-Nya.Allah Ta’ala berfirman,كِرَامٍۭ بَرَرَةٍ“yang mulia lagi berbakti.” (QS. ‘Abasa: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Mereka adalah malaikat yang banyak kebaikannya, penuh keberkahan, serta hati dan amal mereka sangat baik.Semua ini merupakan penjagaan dari Allah terhadap kitab-Nya. Allah menjadikan para malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa sebagai perantara untuk menyampaikannya kepada para rasul, dan tidak memberikan jalan bagi setan untuk mengganggunya. Hal ini semestinya mendorong untuk beriman dan menerima Al-Qur’an dengan penuh penerimaan. Namun demikian, manusia tetap saja enggan dan memilih kekafiran. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur?Allah Ta’ala berfirman:قُتِلَ الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ (١٧)“Celakalah manusia! Alangkah sangat kufurnya dia!” (QS. ‘Abasa: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, manusia sangat kufur terhadap nikmat Allah dan sangat keras penolakannya terhadap kebenaran setelah jelas baginya, padahal ia hanyalah makhluk yang lemah.مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ (١٨)“Dari apakah Dia menciptakannya?” (QS. ‘Abasa: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia diciptakan dari sesuatu yang sangat lemah.مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ (١٩)“Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya.” (QS. ‘Abasa: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah menciptakannya dari air yang hina, kemudian menentukan penciptaannya, menjadikannya manusia yang sempurna, serta menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya.ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ (٢٠)“Kemudian Dia memudahkan jalannya.” (QS. ‘Abasa: 20)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memudahkan baginya jalan, baik urusan agama maupun dunia, menunjukkan jalan itu, serta mengujinya dengan perintah dan larangan.ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ (٢١)“Kemudian Dia mematikannya lalu memasukkannya ke dalam kubur.” (QS. ‘Abasa: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memuliakannya dengan dikuburkan, tidak menjadikannya seperti hewan yang bangkainya dibiarkan di permukaan bumi.ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ (٢٢)“Kemudian apabila Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali.” (QS. ‘Abasa: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Allah akan membangkitkannya setelah mati untuk diberi balasan. Allah semata yang mengatur manusia dan mengubah keadaannya dalam seluruh proses ini, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai!Allah Ta’ala berfirman,كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ أَمَرَهُۥ“Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 23)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Namun manusia—dengan keadaan seperti ini—tidak menjalankan apa yang Allah perintahkan. Ia belum menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya, bahkan terus berada dalam kekurangan dalam melaksanakan perintah tersebut. فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ“maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. ‘Abasa: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah mengarahkan manusia untuk memperhatikan dan merenungkan makanannya, bagaimana makanan itu sampai kepadanya setelah melalui berbagai tahapan yang berulang, dan bagaimana Allah memudahkannya untuk mendapatkannya.أَنَّا صَبَبْنَا ٱلْمَآءَ صَبًّا“Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit).” (QS. ‘Abasa: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Kami menurunkan hujan ke bumi dengan deras.ثُمَّ شَقَقْنَا ٱلْأَرْضَ شَقًّا“kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. ‘Abasa: 26)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni Kami membelah bumi untuk tumbuhnya tanaman.فَأَنۢبَتْنَا فِيهَا حَبًّا“lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu.” (QS. ‘Abasa: 27)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni berbagai jenis makanan yang beragam dan lezat, serta sumber makanan yang baik, mencakup seluruh jenis biji-bijian dengan berbagai macamnya.وَعِنَبًا وَقَضْبًا“anggur dan sayur-sayuran.” (QS. ‘Abasa: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:(Qadb adalah sayuran yang dimakan segar.)وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا“zaitun dan kurma.” (QS. ‘Abasa: 29)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Disebutkan khusus karena banyaknya manfaat dan kegunaannya.وَحَدَآئِقَ غُلْبًا“kebun-kebun (yang) lebat.” (QS. ‘Abasa: 30)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni kebun-kebun yang dipenuhi pepohonan yang rimbun.وَفَٰكِهَةً وَأَبًّا“dan buah-buahan serta rumput-rumputan.” (QS. ‘Abasa: 31)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Buah-buahan adalah segala yang dinikmati manusia, seperti tin, anggur, persik, delima, dan lainnya.مَّتَٰعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَٰمِكُمْ“untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS. ‘Abasa: 32)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun rumput-rumputan adalah makanan bagi hewan ternak. Karena itu Allah berfirman bahwa semua itu adalah kenikmatan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian yang Allah ciptakan dan tundukkan untuk kalian.Barang siapa memperhatikan nikmat-nikmat ini, maka hal itu akan mendorongnya untuk bersyukur kepada Rabb-nya, bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya, menghadap kepada ketaatan-Nya, dan membenarkan berita-berita-Nya. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua).” (QS. ‘Abasa: 33)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yaitu ketika datang teriakan hari kiamat, yang karena dahsyatnya membuat telinga menjadi tuli, dan hati menjadi terguncang, karena apa yang disaksikan manusia berupa kengerian dan kebutuhan yang sangat terhadap amal-amal yang telah lalu.Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَفِرُّ ٱلْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ“pada hari ketika manusia lari dari saudaranya.” (QS. ‘Abasa: 34)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Manusia lari dari orang-orang yang paling ia cintai dan paling ia sayangi, yaitu dari saudaranya,Allah Ta’ala berfirman,وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ“dari ibu dan bapaknya.” (QS. ‘Abasa: 35)وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ“dari istri dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 36)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia lari dari orang-orang yang paling dekat dengannya: saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya, dan anak-anaknya.Allah Ta’ala berfirman,لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa: 37)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri, memikirkan keselamatannya, dan tidak memperhatikan orang lain. Pada saat itu manusia terbagi menjadi dua golongan: orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka.Allah Ta’ala berfirman,وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ“Banyak muka pada hari itu berseri-seri.” (QS. ‘Abasa: 38)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang bahagia, wajah mereka tampak bersinar, terlihat kegembiraan dan kebahagiaan, karena mereka mengetahui keselamatan mereka dan keberhasilan meraih kenikmatan.Allah Ta’ala berfirman,ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ“tertawa dan bergembira ria” (QS. ‘Abasa: 39)وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ“dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu.” (QS. ‘Abasa: 40)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang celaka, wajah mereka pada hari itu tertutup debu.Allah Ta’ala berfirman,تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ“dan ditutup lagi oleh kegelapan.” (QS. ‘Abasa: 41)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Wajah mereka diliputi kegelapan, menjadi hitam dan suram, mereka telah putus asa dari segala kebaikan, dan mengetahui kesengsaraan serta kebinasaan mereka.Allah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَفَرَةُ ٱلْفَجَرَةُ“Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (QS. ‘Abasa: 42)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Mereka adalah orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat-Nya, dan berani melanggar larangan-Nya.Kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Malam Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara dakwah Dakwah Nabi dakwah nabi penuh cinta dakwah para nabi kisah dakwah Rasulullah tafsir juz amma

Tafsir Surah ‘Abasa: Cara Islam Mengajarkan Kesetaraan Manusia

Surah ‘Abasa mengisahkan peristiwa ketika seorang sahabat yang buta datang kepada Nabi ﷺ untuk belajar, sementara pada saat yang sama beliau sedang berbicara dengan seorang tokoh kaya Quraisy. Nabi ﷺ lebih memberi perhatian kepada orang kaya itu dengan harapan ia mendapat hidayah. Melalui ayat-ayat ini, Allah menegur dengan lembut dan mengajarkan bahwa orang yang sungguh-sungguh mencari petunjuk lebih layak didahulukan daripada orang yang merasa tidak membutuhkan.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari Ilmu 2. Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu? 2.1. Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘Abasa 2.2. Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi Maktum 2.3. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam Dakwah 2.4. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas 3. Al-Qur’an untuk Memberi Peringatan 4. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur? 5. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai! 6. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!  Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari IlmuAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.” (QS. ‘Abasa: 1)أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ“karena telah datang seorang buta kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ“Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).” (QS. ‘Abasa: 3)أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكْرَىٰٓ“atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” (QS. ‘Abasa: 4)أَمَّا مَنِ ٱسْتَغْنَىٰ“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup.” (QS. ‘Abasa: 5)فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ“maka kamu melayaninya.” (QS. ‘Abasa: 6)وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ“Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).” (QS. ‘Abasa: 7)وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسْعَىٰ“Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran).” (QS. ‘Abasa: 8)وَهُوَ يَخْشَىٰ“sedang ia takut kepada (Allah).” (QS. ‘Abasa: 9)فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ“maka kamu mengabaikannya.” (QS. ‘Abasa: 10)Baca juga: Ibnu Ummi Maktum: Sahabat Nabi yang Buta tetapi Tetap Berjuang untuk Islam Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu?Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan:Beberapa ahli tafsir menyebutkan bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan salah seorang tokoh besar Quraisy. Beliau sangat berharap orang tersebut masuk Islam.Ketika beliau sedang berbicara dan berdialog dengannya, datanglah Ibnu Ummi Maktum—seorang sahabat yang telah lebih dahulu masuk Islam. Ia mulai bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang suatu hal dan terus meminta penjelasan.Saat itu Nabi ﷺ berharap Ibnu Ummi Maktum berhenti sejenak agar beliau dapat melanjutkan pembicaraan dengan orang tersebut, karena beliau sangat berharap orang itu mendapatkan hidayah. Maka Nabi ﷺ pun bermuka masam kepada Ibnu Ummi Maktum, berpaling darinya, dan kembali memperhatikan orang yang sedang beliau ajak bicara.Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.” Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘AbasaAl-Hafizh Abu Ya‘la meriwayatkan dalam Musnad-nya:Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma‘mar, dari Qatadah, dari Anas mengenai firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.”Disebutkan bahwa Ibnu Ummi Maktum datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan Ubay bin Khalaf. Nabi pun berpaling darinya, lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.”Setelah itu Nabi ﷺ selalu memuliakan Ibnu Ummi Maktum.Qatadah berkata:Anas bin Malik mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku pernah melihat Ibnu Ummi Maktum pada hari perang Qadisiyah. Ia mengenakan baju besi dan membawa bendera hitam.Abu Ya‘la dan Ibnu Jarir juga meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Sa‘id bin Yahya Al-Umawi, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.Ia berkata: Ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta. Ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Tunjukkanlah aku jalan yang benar.”Saat itu di sisi Rasulullah ﷺ ada beberapa tokoh besar dari kalangan musyrikin. Nabi pun berpaling darinya dan lebih memperhatikan orang-orang tersebut. Beliau berkata kepada mereka, “Apakah menurut kalian apa yang aku katakan ini salah?”Mereka menjawab, “Tidak.”Maka dalam peristiwa inilah turun ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىAt-Tirmidzi meriwayatkan hadis ini melalui sanad Sa‘id bin Yahya Al-Umawi dengan sanad yang sama. Ia berkata: Sebagian perawi meriwayatkannya dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya, bahwa ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun tentang Ibnu Ummi Maktum tanpa menyebutkan riwayat dari ‘Aisyah.Aku (Ibnu Katsir) mengatakan: Demikian pula riwayat tersebut terdapat dalam kitab Al-Muwaththa’.Kemudian Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Al-‘Aufi, dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa berkata: Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan ‘Utbah bin Rabi‘ah, Abu Jahl bin Hisyam, dan Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib. Beliau sering menemui mereka dan sangat berharap agar mereka beriman.Tiba-tiba datang seorang lelaki buta bernama ‘Abdullah bin Ummi Maktum. Ia berjalan mendekati Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan mereka. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sebagian dari apa yang Allah ajarkan kepadamu.”Nabi ﷺ berpaling darinya, bermuka masam, dan tidak menyukai pembicaraannya saat itu, lalu beliau kembali memusatkan perhatian kepada para tokoh tersebut.Ketika Rasulullah ﷺ telah selesai berbicara dengan mereka dan hendak pulang kepada keluarganya, Allah menahan sebagian penglihatannya. Kepala beliau pun tertunduk. Lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىأَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىوَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىأَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.Tahukah engkau, barangkali ia ingin membersihkan dirinya.Atau ia ingin mendapatkan pelajaran, lalu pelajaran itu memberi manfaat baginya.” Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi MaktumSetelah ayat ini turun, Rasulullah ﷺ memuliakan Ibnu Ummi Maktum. Beliau sering menyapanya dan berkata kepadanya, “Apa yang engkau butuhkan? Apakah engkau memerlukan sesuatu?”Ketika Ibnu Ummi Maktum hendak pergi, beliau juga berkata, “Apakah engkau memiliki kebutuhan yang bisa aku bantu?”Hal itu terjadi setelah Allah menurunkan firman-Nya:أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىوَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى“Adapun orang yang merasa dirinya cukup, engkau justru memberi perhatian kepadanya. Padahal tidak ada tanggung jawab atasmu jika ia tidak membersihkan dirinya.”Namun dalam riwayat ini terdapat keanehan dan kemungkaran, dan para ulama telah membicarakan sanadnya.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab.Ia berkata: Salim bin ‘Abdullah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari. Maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar azan Ibnu Ummi Maktum.”Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta, yang disebut dalam ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa biasa mengumandangkan azan bersama Bilal. Salim berkata: Ia adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan azan sampai orang-orang berkata kepadanya ketika mereka melihat terbitnya fajar, “Sekarang sudah fajar, kumandangkanlah azan.”Demikian pula disebutkan oleh ‘Urwah bin Az-Zubair, Mujahid, Abu Malik, Qatadah, Adh-Dhahhak, Ibnu Zaid, dan banyak ulama salaf maupun khalaf bahwa ayat ini turun tentang Ibnu Ummi Maktum.Yang paling masyhur, namanya adalah ‘Abdullah, dan ada pula yang mengatakan ‘Amr. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam DakwahAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ (1)Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah ketika datang seorang laki-laki mukmin yang buta kepada Nabi ﷺ untuk bertanya dan belajar dari beliau.Pada saat yang sama datang pula seorang lelaki kaya. Nabi ﷺ sangat bersemangat untuk memberi hidayah kepada manusia, sehingga beliau lebih condong dan memberi perhatian kepada orang kaya tersebut, sementara beliau berpaling dari orang buta yang miskin itu.Beliau berharap orang kaya tersebut mendapatkan hidayah dan menjadi baik. Maka Allah menegur beliau dengan teguran yang lembut, dengan firman-Nya:“Dia bermuka masam dan berpaling.”Maksudnya, beliau bermuka masam kepada orang buta itu dan memalingkan badannya darinya.أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ (2)Karena orang buta itu datang kepadanya.وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ (3)Kemudian Allah menjelaskan manfaat jika memperhatikannya, yaitu:“Dan tahukah engkau, barangkali dia ingin membersihkan dirinya.”Maksudnya, barangkali orang buta itu ingin menyucikan dirinya dari akhlak yang buruk dan menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik.أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ (4)“Atau dia ingin mendapatkan pelajaran, lalu peringatan itu memberi manfaat baginya.”Maksudnya, ia mengingat sesuatu yang bermanfaat baginya sehingga ia dapat mengamalkan peringatan tersebut.أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ (5)Di sini terdapat pelajaran yang sangat besar, yaitu tujuan utama diutusnya para rasul, disampaikannya nasihat oleh para pemberi nasihat, dan diingatkannya manusia oleh para pengingat.Memberi perhatian kepada orang yang datang sendiri dalam keadaan membutuhkan ilmu darimu adalah sikap yang lebih pantas dan lebih wajib.Adapun memusatkan perhatian kepada orang kaya yang merasa cukup, yang tidak bertanya dan tidak meminta nasihat karena tidak berminat pada kebaikan, sementara orang yang lebih membutuhkan justru ditinggalkan, maka hal itu tidak pantas dilakukan.Karena jika orang kaya itu tidak mau memperbaiki dirinya, maka engkau tidak menanggung dosa atas keburukan yang ia lakukan.Dari ayat ini dipahami sebuah kaidah yang terkenal:لَا يُتْرَكُ أَمْرٌ مَعْلُومٌ لِأَمْرٍ مَوْهُومٍ، وَلَا مَصْلَحَةٌ مُتَحَقِّقَةٌ لِمَصْلَحَةٍ مُتَوَهَّمَةٍ“Tidak boleh meninggalkan sesuatu yang jelas demi sesuatu yang masih dugaan, dan tidak boleh meninggalkan kemaslahatan yang nyata demi kemaslahatan yang hanya diperkirakan.”Karena itu, seharusnya seseorang lebih memberi perhatian kepada penuntut ilmu yang benar-benar membutuhkan, sangat memerlukannya, dan memiliki semangat untuk mempelajarinya dibandingkan yang lainnya. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas Berikut tiga contoh penerapan kaidah ini dalam kehidupan saat ini:1. Dalam dakwah dan pengajaranSeorang dai meninggalkan majelis kecil yang serius belajar agama demi mengejar audiens besar yang belum tentu mau mendengar. Padahal orang yang hadir di majelis sudah jelas ingin belajar. Yang tepat adalah tetap memprioritaskan orang yang benar-benar datang untuk menuntut ilmu.2. Dalam mendidik anakOrang tua terlalu sibuk mengejar kesuksesan dunia anak (kursus, prestasi, lomba) tetapi mengabaikan pendidikan agama yang jelas manfaatnya bagi akhirat. Padahal membangun iman dan akhlak anak adalah maslahat yang pasti, sementara prestasi dunia belum tentu membawa kebaikan.3. Dalam ibadahSeseorang meninggalkan shalat berjamaah yang jelas pahalanya demi melakukan aktivitas lain yang belum tentu bernilai ibadah, seperti terlalu lama bermain gawai atau mengejar kesibukan dunia yang tidak mendesak.Intinya, kaidah ini mengajarkan agar tidak meninggalkan kebaikan yang pasti demi sesuatu yang masih sekadar harapan atau dugaan.Baca juga: Cara Dakwah Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an: Dekat, Peduli, dan Penyayang Al-Qur’an untuk Memberi PeringatanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ“Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” (QS. ‘Abasa: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Maksudnya, peringatan ini benar-benar merupakan nasihat dari Allah. Dengan itu Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya dan menjelaskan dalam kitab-Nya apa yang mereka butuhkan, serta membedakan antara petunjuk dan kesesatan.Allah Ta’ala berfirman,فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ“maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (QS. ‘Abasa: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Jika hal itu telah jelas, maka siapa saja yang mau, ia akan mengambil pelajaran dan mengamalkannya. Sebagaimana firman Allah:وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ“Katakanlah, ‘Kebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka siapa yang menghendaki, hendaklah dia beriman, dan siapa yang menghendaki, hendaklah dia kafir.’” (QS. Al-Kahfi: 29)Allah Ta’ala berfirman,فِى صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ“di dalam kitab-kitab yang dimuliakan.” (QS. ‘Abasa: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Kemudian Allah menyebutkan tempat peringatan ini, keagungannya, dan tingginya kedudukannya, yaitu berada dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan.Allah Ta’ala berfirman,مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍۭ“yang ditinggikan lagi disucikan.” (QS. ‘Abasa: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Lembaran itu tinggi kedudukan dan derajatnya, serta disucikan dari segala kekurangan, dan tidak dapat dijangkau oleh tangan-tangan setan ataupun dicuri oleh mereka.Allah Ta’ala berfirman,بِأَيْدِى سَفَرَةٍ“di tangan para penulis (malaikat).” (QS. ‘Abasa: 15)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Yaitu di tangan para malaikat yang menjadi perantara antara Allah dan para hamba-Nya.Allah Ta’ala berfirman,كِرَامٍۭ بَرَرَةٍ“yang mulia lagi berbakti.” (QS. ‘Abasa: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Mereka adalah malaikat yang banyak kebaikannya, penuh keberkahan, serta hati dan amal mereka sangat baik.Semua ini merupakan penjagaan dari Allah terhadap kitab-Nya. Allah menjadikan para malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa sebagai perantara untuk menyampaikannya kepada para rasul, dan tidak memberikan jalan bagi setan untuk mengganggunya. Hal ini semestinya mendorong untuk beriman dan menerima Al-Qur’an dengan penuh penerimaan. Namun demikian, manusia tetap saja enggan dan memilih kekafiran. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur?Allah Ta’ala berfirman:قُتِلَ الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ (١٧)“Celakalah manusia! Alangkah sangat kufurnya dia!” (QS. ‘Abasa: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, manusia sangat kufur terhadap nikmat Allah dan sangat keras penolakannya terhadap kebenaran setelah jelas baginya, padahal ia hanyalah makhluk yang lemah.مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ (١٨)“Dari apakah Dia menciptakannya?” (QS. ‘Abasa: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia diciptakan dari sesuatu yang sangat lemah.مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ (١٩)“Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya.” (QS. ‘Abasa: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah menciptakannya dari air yang hina, kemudian menentukan penciptaannya, menjadikannya manusia yang sempurna, serta menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya.ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ (٢٠)“Kemudian Dia memudahkan jalannya.” (QS. ‘Abasa: 20)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memudahkan baginya jalan, baik urusan agama maupun dunia, menunjukkan jalan itu, serta mengujinya dengan perintah dan larangan.ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ (٢١)“Kemudian Dia mematikannya lalu memasukkannya ke dalam kubur.” (QS. ‘Abasa: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memuliakannya dengan dikuburkan, tidak menjadikannya seperti hewan yang bangkainya dibiarkan di permukaan bumi.ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ (٢٢)“Kemudian apabila Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali.” (QS. ‘Abasa: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Allah akan membangkitkannya setelah mati untuk diberi balasan. Allah semata yang mengatur manusia dan mengubah keadaannya dalam seluruh proses ini, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai!Allah Ta’ala berfirman,كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ أَمَرَهُۥ“Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 23)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Namun manusia—dengan keadaan seperti ini—tidak menjalankan apa yang Allah perintahkan. Ia belum menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya, bahkan terus berada dalam kekurangan dalam melaksanakan perintah tersebut. فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ“maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. ‘Abasa: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah mengarahkan manusia untuk memperhatikan dan merenungkan makanannya, bagaimana makanan itu sampai kepadanya setelah melalui berbagai tahapan yang berulang, dan bagaimana Allah memudahkannya untuk mendapatkannya.أَنَّا صَبَبْنَا ٱلْمَآءَ صَبًّا“Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit).” (QS. ‘Abasa: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Kami menurunkan hujan ke bumi dengan deras.ثُمَّ شَقَقْنَا ٱلْأَرْضَ شَقًّا“kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. ‘Abasa: 26)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni Kami membelah bumi untuk tumbuhnya tanaman.فَأَنۢبَتْنَا فِيهَا حَبًّا“lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu.” (QS. ‘Abasa: 27)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni berbagai jenis makanan yang beragam dan lezat, serta sumber makanan yang baik, mencakup seluruh jenis biji-bijian dengan berbagai macamnya.وَعِنَبًا وَقَضْبًا“anggur dan sayur-sayuran.” (QS. ‘Abasa: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:(Qadb adalah sayuran yang dimakan segar.)وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا“zaitun dan kurma.” (QS. ‘Abasa: 29)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Disebutkan khusus karena banyaknya manfaat dan kegunaannya.وَحَدَآئِقَ غُلْبًا“kebun-kebun (yang) lebat.” (QS. ‘Abasa: 30)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni kebun-kebun yang dipenuhi pepohonan yang rimbun.وَفَٰكِهَةً وَأَبًّا“dan buah-buahan serta rumput-rumputan.” (QS. ‘Abasa: 31)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Buah-buahan adalah segala yang dinikmati manusia, seperti tin, anggur, persik, delima, dan lainnya.مَّتَٰعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَٰمِكُمْ“untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS. ‘Abasa: 32)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun rumput-rumputan adalah makanan bagi hewan ternak. Karena itu Allah berfirman bahwa semua itu adalah kenikmatan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian yang Allah ciptakan dan tundukkan untuk kalian.Barang siapa memperhatikan nikmat-nikmat ini, maka hal itu akan mendorongnya untuk bersyukur kepada Rabb-nya, bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya, menghadap kepada ketaatan-Nya, dan membenarkan berita-berita-Nya. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua).” (QS. ‘Abasa: 33)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yaitu ketika datang teriakan hari kiamat, yang karena dahsyatnya membuat telinga menjadi tuli, dan hati menjadi terguncang, karena apa yang disaksikan manusia berupa kengerian dan kebutuhan yang sangat terhadap amal-amal yang telah lalu.Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَفِرُّ ٱلْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ“pada hari ketika manusia lari dari saudaranya.” (QS. ‘Abasa: 34)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Manusia lari dari orang-orang yang paling ia cintai dan paling ia sayangi, yaitu dari saudaranya,Allah Ta’ala berfirman,وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ“dari ibu dan bapaknya.” (QS. ‘Abasa: 35)وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ“dari istri dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 36)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia lari dari orang-orang yang paling dekat dengannya: saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya, dan anak-anaknya.Allah Ta’ala berfirman,لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa: 37)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri, memikirkan keselamatannya, dan tidak memperhatikan orang lain. Pada saat itu manusia terbagi menjadi dua golongan: orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka.Allah Ta’ala berfirman,وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ“Banyak muka pada hari itu berseri-seri.” (QS. ‘Abasa: 38)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang bahagia, wajah mereka tampak bersinar, terlihat kegembiraan dan kebahagiaan, karena mereka mengetahui keselamatan mereka dan keberhasilan meraih kenikmatan.Allah Ta’ala berfirman,ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ“tertawa dan bergembira ria” (QS. ‘Abasa: 39)وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ“dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu.” (QS. ‘Abasa: 40)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang celaka, wajah mereka pada hari itu tertutup debu.Allah Ta’ala berfirman,تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ“dan ditutup lagi oleh kegelapan.” (QS. ‘Abasa: 41)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Wajah mereka diliputi kegelapan, menjadi hitam dan suram, mereka telah putus asa dari segala kebaikan, dan mengetahui kesengsaraan serta kebinasaan mereka.Allah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَفَرَةُ ٱلْفَجَرَةُ“Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (QS. ‘Abasa: 42)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Mereka adalah orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat-Nya, dan berani melanggar larangan-Nya.Kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Malam Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara dakwah Dakwah Nabi dakwah nabi penuh cinta dakwah para nabi kisah dakwah Rasulullah tafsir juz amma
Surah ‘Abasa mengisahkan peristiwa ketika seorang sahabat yang buta datang kepada Nabi ﷺ untuk belajar, sementara pada saat yang sama beliau sedang berbicara dengan seorang tokoh kaya Quraisy. Nabi ﷺ lebih memberi perhatian kepada orang kaya itu dengan harapan ia mendapat hidayah. Melalui ayat-ayat ini, Allah menegur dengan lembut dan mengajarkan bahwa orang yang sungguh-sungguh mencari petunjuk lebih layak didahulukan daripada orang yang merasa tidak membutuhkan.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari Ilmu 2. Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu? 2.1. Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘Abasa 2.2. Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi Maktum 2.3. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam Dakwah 2.4. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas 3. Al-Qur’an untuk Memberi Peringatan 4. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur? 5. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai! 6. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!  Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari IlmuAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.” (QS. ‘Abasa: 1)أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ“karena telah datang seorang buta kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ“Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).” (QS. ‘Abasa: 3)أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكْرَىٰٓ“atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” (QS. ‘Abasa: 4)أَمَّا مَنِ ٱسْتَغْنَىٰ“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup.” (QS. ‘Abasa: 5)فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ“maka kamu melayaninya.” (QS. ‘Abasa: 6)وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ“Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).” (QS. ‘Abasa: 7)وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسْعَىٰ“Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran).” (QS. ‘Abasa: 8)وَهُوَ يَخْشَىٰ“sedang ia takut kepada (Allah).” (QS. ‘Abasa: 9)فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ“maka kamu mengabaikannya.” (QS. ‘Abasa: 10)Baca juga: Ibnu Ummi Maktum: Sahabat Nabi yang Buta tetapi Tetap Berjuang untuk Islam Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu?Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan:Beberapa ahli tafsir menyebutkan bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan salah seorang tokoh besar Quraisy. Beliau sangat berharap orang tersebut masuk Islam.Ketika beliau sedang berbicara dan berdialog dengannya, datanglah Ibnu Ummi Maktum—seorang sahabat yang telah lebih dahulu masuk Islam. Ia mulai bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang suatu hal dan terus meminta penjelasan.Saat itu Nabi ﷺ berharap Ibnu Ummi Maktum berhenti sejenak agar beliau dapat melanjutkan pembicaraan dengan orang tersebut, karena beliau sangat berharap orang itu mendapatkan hidayah. Maka Nabi ﷺ pun bermuka masam kepada Ibnu Ummi Maktum, berpaling darinya, dan kembali memperhatikan orang yang sedang beliau ajak bicara.Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.” Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘AbasaAl-Hafizh Abu Ya‘la meriwayatkan dalam Musnad-nya:Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma‘mar, dari Qatadah, dari Anas mengenai firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.”Disebutkan bahwa Ibnu Ummi Maktum datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan Ubay bin Khalaf. Nabi pun berpaling darinya, lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.”Setelah itu Nabi ﷺ selalu memuliakan Ibnu Ummi Maktum.Qatadah berkata:Anas bin Malik mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku pernah melihat Ibnu Ummi Maktum pada hari perang Qadisiyah. Ia mengenakan baju besi dan membawa bendera hitam.Abu Ya‘la dan Ibnu Jarir juga meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Sa‘id bin Yahya Al-Umawi, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.Ia berkata: Ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta. Ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Tunjukkanlah aku jalan yang benar.”Saat itu di sisi Rasulullah ﷺ ada beberapa tokoh besar dari kalangan musyrikin. Nabi pun berpaling darinya dan lebih memperhatikan orang-orang tersebut. Beliau berkata kepada mereka, “Apakah menurut kalian apa yang aku katakan ini salah?”Mereka menjawab, “Tidak.”Maka dalam peristiwa inilah turun ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىAt-Tirmidzi meriwayatkan hadis ini melalui sanad Sa‘id bin Yahya Al-Umawi dengan sanad yang sama. Ia berkata: Sebagian perawi meriwayatkannya dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya, bahwa ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun tentang Ibnu Ummi Maktum tanpa menyebutkan riwayat dari ‘Aisyah.Aku (Ibnu Katsir) mengatakan: Demikian pula riwayat tersebut terdapat dalam kitab Al-Muwaththa’.Kemudian Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Al-‘Aufi, dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa berkata: Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan ‘Utbah bin Rabi‘ah, Abu Jahl bin Hisyam, dan Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib. Beliau sering menemui mereka dan sangat berharap agar mereka beriman.Tiba-tiba datang seorang lelaki buta bernama ‘Abdullah bin Ummi Maktum. Ia berjalan mendekati Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan mereka. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sebagian dari apa yang Allah ajarkan kepadamu.”Nabi ﷺ berpaling darinya, bermuka masam, dan tidak menyukai pembicaraannya saat itu, lalu beliau kembali memusatkan perhatian kepada para tokoh tersebut.Ketika Rasulullah ﷺ telah selesai berbicara dengan mereka dan hendak pulang kepada keluarganya, Allah menahan sebagian penglihatannya. Kepala beliau pun tertunduk. Lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىأَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىوَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىأَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.Tahukah engkau, barangkali ia ingin membersihkan dirinya.Atau ia ingin mendapatkan pelajaran, lalu pelajaran itu memberi manfaat baginya.” Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi MaktumSetelah ayat ini turun, Rasulullah ﷺ memuliakan Ibnu Ummi Maktum. Beliau sering menyapanya dan berkata kepadanya, “Apa yang engkau butuhkan? Apakah engkau memerlukan sesuatu?”Ketika Ibnu Ummi Maktum hendak pergi, beliau juga berkata, “Apakah engkau memiliki kebutuhan yang bisa aku bantu?”Hal itu terjadi setelah Allah menurunkan firman-Nya:أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىوَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى“Adapun orang yang merasa dirinya cukup, engkau justru memberi perhatian kepadanya. Padahal tidak ada tanggung jawab atasmu jika ia tidak membersihkan dirinya.”Namun dalam riwayat ini terdapat keanehan dan kemungkaran, dan para ulama telah membicarakan sanadnya.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab.Ia berkata: Salim bin ‘Abdullah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari. Maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar azan Ibnu Ummi Maktum.”Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta, yang disebut dalam ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa biasa mengumandangkan azan bersama Bilal. Salim berkata: Ia adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan azan sampai orang-orang berkata kepadanya ketika mereka melihat terbitnya fajar, “Sekarang sudah fajar, kumandangkanlah azan.”Demikian pula disebutkan oleh ‘Urwah bin Az-Zubair, Mujahid, Abu Malik, Qatadah, Adh-Dhahhak, Ibnu Zaid, dan banyak ulama salaf maupun khalaf bahwa ayat ini turun tentang Ibnu Ummi Maktum.Yang paling masyhur, namanya adalah ‘Abdullah, dan ada pula yang mengatakan ‘Amr. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam DakwahAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ (1)Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah ketika datang seorang laki-laki mukmin yang buta kepada Nabi ﷺ untuk bertanya dan belajar dari beliau.Pada saat yang sama datang pula seorang lelaki kaya. Nabi ﷺ sangat bersemangat untuk memberi hidayah kepada manusia, sehingga beliau lebih condong dan memberi perhatian kepada orang kaya tersebut, sementara beliau berpaling dari orang buta yang miskin itu.Beliau berharap orang kaya tersebut mendapatkan hidayah dan menjadi baik. Maka Allah menegur beliau dengan teguran yang lembut, dengan firman-Nya:“Dia bermuka masam dan berpaling.”Maksudnya, beliau bermuka masam kepada orang buta itu dan memalingkan badannya darinya.أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ (2)Karena orang buta itu datang kepadanya.وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ (3)Kemudian Allah menjelaskan manfaat jika memperhatikannya, yaitu:“Dan tahukah engkau, barangkali dia ingin membersihkan dirinya.”Maksudnya, barangkali orang buta itu ingin menyucikan dirinya dari akhlak yang buruk dan menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik.أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ (4)“Atau dia ingin mendapatkan pelajaran, lalu peringatan itu memberi manfaat baginya.”Maksudnya, ia mengingat sesuatu yang bermanfaat baginya sehingga ia dapat mengamalkan peringatan tersebut.أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ (5)Di sini terdapat pelajaran yang sangat besar, yaitu tujuan utama diutusnya para rasul, disampaikannya nasihat oleh para pemberi nasihat, dan diingatkannya manusia oleh para pengingat.Memberi perhatian kepada orang yang datang sendiri dalam keadaan membutuhkan ilmu darimu adalah sikap yang lebih pantas dan lebih wajib.Adapun memusatkan perhatian kepada orang kaya yang merasa cukup, yang tidak bertanya dan tidak meminta nasihat karena tidak berminat pada kebaikan, sementara orang yang lebih membutuhkan justru ditinggalkan, maka hal itu tidak pantas dilakukan.Karena jika orang kaya itu tidak mau memperbaiki dirinya, maka engkau tidak menanggung dosa atas keburukan yang ia lakukan.Dari ayat ini dipahami sebuah kaidah yang terkenal:لَا يُتْرَكُ أَمْرٌ مَعْلُومٌ لِأَمْرٍ مَوْهُومٍ، وَلَا مَصْلَحَةٌ مُتَحَقِّقَةٌ لِمَصْلَحَةٍ مُتَوَهَّمَةٍ“Tidak boleh meninggalkan sesuatu yang jelas demi sesuatu yang masih dugaan, dan tidak boleh meninggalkan kemaslahatan yang nyata demi kemaslahatan yang hanya diperkirakan.”Karena itu, seharusnya seseorang lebih memberi perhatian kepada penuntut ilmu yang benar-benar membutuhkan, sangat memerlukannya, dan memiliki semangat untuk mempelajarinya dibandingkan yang lainnya. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas Berikut tiga contoh penerapan kaidah ini dalam kehidupan saat ini:1. Dalam dakwah dan pengajaranSeorang dai meninggalkan majelis kecil yang serius belajar agama demi mengejar audiens besar yang belum tentu mau mendengar. Padahal orang yang hadir di majelis sudah jelas ingin belajar. Yang tepat adalah tetap memprioritaskan orang yang benar-benar datang untuk menuntut ilmu.2. Dalam mendidik anakOrang tua terlalu sibuk mengejar kesuksesan dunia anak (kursus, prestasi, lomba) tetapi mengabaikan pendidikan agama yang jelas manfaatnya bagi akhirat. Padahal membangun iman dan akhlak anak adalah maslahat yang pasti, sementara prestasi dunia belum tentu membawa kebaikan.3. Dalam ibadahSeseorang meninggalkan shalat berjamaah yang jelas pahalanya demi melakukan aktivitas lain yang belum tentu bernilai ibadah, seperti terlalu lama bermain gawai atau mengejar kesibukan dunia yang tidak mendesak.Intinya, kaidah ini mengajarkan agar tidak meninggalkan kebaikan yang pasti demi sesuatu yang masih sekadar harapan atau dugaan.Baca juga: Cara Dakwah Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an: Dekat, Peduli, dan Penyayang Al-Qur’an untuk Memberi PeringatanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ“Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” (QS. ‘Abasa: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Maksudnya, peringatan ini benar-benar merupakan nasihat dari Allah. Dengan itu Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya dan menjelaskan dalam kitab-Nya apa yang mereka butuhkan, serta membedakan antara petunjuk dan kesesatan.Allah Ta’ala berfirman,فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ“maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (QS. ‘Abasa: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Jika hal itu telah jelas, maka siapa saja yang mau, ia akan mengambil pelajaran dan mengamalkannya. Sebagaimana firman Allah:وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ“Katakanlah, ‘Kebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka siapa yang menghendaki, hendaklah dia beriman, dan siapa yang menghendaki, hendaklah dia kafir.’” (QS. Al-Kahfi: 29)Allah Ta’ala berfirman,فِى صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ“di dalam kitab-kitab yang dimuliakan.” (QS. ‘Abasa: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Kemudian Allah menyebutkan tempat peringatan ini, keagungannya, dan tingginya kedudukannya, yaitu berada dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan.Allah Ta’ala berfirman,مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍۭ“yang ditinggikan lagi disucikan.” (QS. ‘Abasa: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Lembaran itu tinggi kedudukan dan derajatnya, serta disucikan dari segala kekurangan, dan tidak dapat dijangkau oleh tangan-tangan setan ataupun dicuri oleh mereka.Allah Ta’ala berfirman,بِأَيْدِى سَفَرَةٍ“di tangan para penulis (malaikat).” (QS. ‘Abasa: 15)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Yaitu di tangan para malaikat yang menjadi perantara antara Allah dan para hamba-Nya.Allah Ta’ala berfirman,كِرَامٍۭ بَرَرَةٍ“yang mulia lagi berbakti.” (QS. ‘Abasa: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Mereka adalah malaikat yang banyak kebaikannya, penuh keberkahan, serta hati dan amal mereka sangat baik.Semua ini merupakan penjagaan dari Allah terhadap kitab-Nya. Allah menjadikan para malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa sebagai perantara untuk menyampaikannya kepada para rasul, dan tidak memberikan jalan bagi setan untuk mengganggunya. Hal ini semestinya mendorong untuk beriman dan menerima Al-Qur’an dengan penuh penerimaan. Namun demikian, manusia tetap saja enggan dan memilih kekafiran. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur?Allah Ta’ala berfirman:قُتِلَ الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ (١٧)“Celakalah manusia! Alangkah sangat kufurnya dia!” (QS. ‘Abasa: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, manusia sangat kufur terhadap nikmat Allah dan sangat keras penolakannya terhadap kebenaran setelah jelas baginya, padahal ia hanyalah makhluk yang lemah.مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ (١٨)“Dari apakah Dia menciptakannya?” (QS. ‘Abasa: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia diciptakan dari sesuatu yang sangat lemah.مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ (١٩)“Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya.” (QS. ‘Abasa: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah menciptakannya dari air yang hina, kemudian menentukan penciptaannya, menjadikannya manusia yang sempurna, serta menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya.ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ (٢٠)“Kemudian Dia memudahkan jalannya.” (QS. ‘Abasa: 20)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memudahkan baginya jalan, baik urusan agama maupun dunia, menunjukkan jalan itu, serta mengujinya dengan perintah dan larangan.ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ (٢١)“Kemudian Dia mematikannya lalu memasukkannya ke dalam kubur.” (QS. ‘Abasa: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memuliakannya dengan dikuburkan, tidak menjadikannya seperti hewan yang bangkainya dibiarkan di permukaan bumi.ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ (٢٢)“Kemudian apabila Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali.” (QS. ‘Abasa: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Allah akan membangkitkannya setelah mati untuk diberi balasan. Allah semata yang mengatur manusia dan mengubah keadaannya dalam seluruh proses ini, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai!Allah Ta’ala berfirman,كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ أَمَرَهُۥ“Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 23)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Namun manusia—dengan keadaan seperti ini—tidak menjalankan apa yang Allah perintahkan. Ia belum menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya, bahkan terus berada dalam kekurangan dalam melaksanakan perintah tersebut. فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ“maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. ‘Abasa: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah mengarahkan manusia untuk memperhatikan dan merenungkan makanannya, bagaimana makanan itu sampai kepadanya setelah melalui berbagai tahapan yang berulang, dan bagaimana Allah memudahkannya untuk mendapatkannya.أَنَّا صَبَبْنَا ٱلْمَآءَ صَبًّا“Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit).” (QS. ‘Abasa: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Kami menurunkan hujan ke bumi dengan deras.ثُمَّ شَقَقْنَا ٱلْأَرْضَ شَقًّا“kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. ‘Abasa: 26)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni Kami membelah bumi untuk tumbuhnya tanaman.فَأَنۢبَتْنَا فِيهَا حَبًّا“lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu.” (QS. ‘Abasa: 27)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni berbagai jenis makanan yang beragam dan lezat, serta sumber makanan yang baik, mencakup seluruh jenis biji-bijian dengan berbagai macamnya.وَعِنَبًا وَقَضْبًا“anggur dan sayur-sayuran.” (QS. ‘Abasa: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:(Qadb adalah sayuran yang dimakan segar.)وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا“zaitun dan kurma.” (QS. ‘Abasa: 29)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Disebutkan khusus karena banyaknya manfaat dan kegunaannya.وَحَدَآئِقَ غُلْبًا“kebun-kebun (yang) lebat.” (QS. ‘Abasa: 30)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni kebun-kebun yang dipenuhi pepohonan yang rimbun.وَفَٰكِهَةً وَأَبًّا“dan buah-buahan serta rumput-rumputan.” (QS. ‘Abasa: 31)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Buah-buahan adalah segala yang dinikmati manusia, seperti tin, anggur, persik, delima, dan lainnya.مَّتَٰعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَٰمِكُمْ“untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS. ‘Abasa: 32)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun rumput-rumputan adalah makanan bagi hewan ternak. Karena itu Allah berfirman bahwa semua itu adalah kenikmatan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian yang Allah ciptakan dan tundukkan untuk kalian.Barang siapa memperhatikan nikmat-nikmat ini, maka hal itu akan mendorongnya untuk bersyukur kepada Rabb-nya, bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya, menghadap kepada ketaatan-Nya, dan membenarkan berita-berita-Nya. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua).” (QS. ‘Abasa: 33)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yaitu ketika datang teriakan hari kiamat, yang karena dahsyatnya membuat telinga menjadi tuli, dan hati menjadi terguncang, karena apa yang disaksikan manusia berupa kengerian dan kebutuhan yang sangat terhadap amal-amal yang telah lalu.Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَفِرُّ ٱلْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ“pada hari ketika manusia lari dari saudaranya.” (QS. ‘Abasa: 34)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Manusia lari dari orang-orang yang paling ia cintai dan paling ia sayangi, yaitu dari saudaranya,Allah Ta’ala berfirman,وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ“dari ibu dan bapaknya.” (QS. ‘Abasa: 35)وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ“dari istri dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 36)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia lari dari orang-orang yang paling dekat dengannya: saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya, dan anak-anaknya.Allah Ta’ala berfirman,لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa: 37)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri, memikirkan keselamatannya, dan tidak memperhatikan orang lain. Pada saat itu manusia terbagi menjadi dua golongan: orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka.Allah Ta’ala berfirman,وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ“Banyak muka pada hari itu berseri-seri.” (QS. ‘Abasa: 38)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang bahagia, wajah mereka tampak bersinar, terlihat kegembiraan dan kebahagiaan, karena mereka mengetahui keselamatan mereka dan keberhasilan meraih kenikmatan.Allah Ta’ala berfirman,ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ“tertawa dan bergembira ria” (QS. ‘Abasa: 39)وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ“dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu.” (QS. ‘Abasa: 40)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang celaka, wajah mereka pada hari itu tertutup debu.Allah Ta’ala berfirman,تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ“dan ditutup lagi oleh kegelapan.” (QS. ‘Abasa: 41)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Wajah mereka diliputi kegelapan, menjadi hitam dan suram, mereka telah putus asa dari segala kebaikan, dan mengetahui kesengsaraan serta kebinasaan mereka.Allah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَفَرَةُ ٱلْفَجَرَةُ“Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (QS. ‘Abasa: 42)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Mereka adalah orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat-Nya, dan berani melanggar larangan-Nya.Kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Malam Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara dakwah Dakwah Nabi dakwah nabi penuh cinta dakwah para nabi kisah dakwah Rasulullah tafsir juz amma


Surah ‘Abasa mengisahkan peristiwa ketika seorang sahabat yang buta datang kepada Nabi ﷺ untuk belajar, sementara pada saat yang sama beliau sedang berbicara dengan seorang tokoh kaya Quraisy. Nabi ﷺ lebih memberi perhatian kepada orang kaya itu dengan harapan ia mendapat hidayah. Melalui ayat-ayat ini, Allah menegur dengan lembut dan mengajarkan bahwa orang yang sungguh-sungguh mencari petunjuk lebih layak didahulukan daripada orang yang merasa tidak membutuhkan.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari Ilmu 2. Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu? 2.1. Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘Abasa 2.2. Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi Maktum 2.3. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam Dakwah 2.4. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas 3. Al-Qur’an untuk Memberi Peringatan 4. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur? 5. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai! 6. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!  Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari IlmuAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.” (QS. ‘Abasa: 1)أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ“karena telah datang seorang buta kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ“Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).” (QS. ‘Abasa: 3)أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكْرَىٰٓ“atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” (QS. ‘Abasa: 4)أَمَّا مَنِ ٱسْتَغْنَىٰ“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup.” (QS. ‘Abasa: 5)فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ“maka kamu melayaninya.” (QS. ‘Abasa: 6)وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ“Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).” (QS. ‘Abasa: 7)وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسْعَىٰ“Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran).” (QS. ‘Abasa: 8)وَهُوَ يَخْشَىٰ“sedang ia takut kepada (Allah).” (QS. ‘Abasa: 9)فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ“maka kamu mengabaikannya.” (QS. ‘Abasa: 10)Baca juga: Ibnu Ummi Maktum: Sahabat Nabi yang Buta tetapi Tetap Berjuang untuk Islam Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu?Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan:Beberapa ahli tafsir menyebutkan bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan salah seorang tokoh besar Quraisy. Beliau sangat berharap orang tersebut masuk Islam.Ketika beliau sedang berbicara dan berdialog dengannya, datanglah Ibnu Ummi Maktum—seorang sahabat yang telah lebih dahulu masuk Islam. Ia mulai bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang suatu hal dan terus meminta penjelasan.Saat itu Nabi ﷺ berharap Ibnu Ummi Maktum berhenti sejenak agar beliau dapat melanjutkan pembicaraan dengan orang tersebut, karena beliau sangat berharap orang itu mendapatkan hidayah. Maka Nabi ﷺ pun bermuka masam kepada Ibnu Ummi Maktum, berpaling darinya, dan kembali memperhatikan orang yang sedang beliau ajak bicara.Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.” Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘AbasaAl-Hafizh Abu Ya‘la meriwayatkan dalam Musnad-nya:Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma‘mar, dari Qatadah, dari Anas mengenai firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.”Disebutkan bahwa Ibnu Ummi Maktum datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan Ubay bin Khalaf. Nabi pun berpaling darinya, lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.”Setelah itu Nabi ﷺ selalu memuliakan Ibnu Ummi Maktum.Qatadah berkata:Anas bin Malik mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku pernah melihat Ibnu Ummi Maktum pada hari perang Qadisiyah. Ia mengenakan baju besi dan membawa bendera hitam.Abu Ya‘la dan Ibnu Jarir juga meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Sa‘id bin Yahya Al-Umawi, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.Ia berkata: Ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta. Ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Tunjukkanlah aku jalan yang benar.”Saat itu di sisi Rasulullah ﷺ ada beberapa tokoh besar dari kalangan musyrikin. Nabi pun berpaling darinya dan lebih memperhatikan orang-orang tersebut. Beliau berkata kepada mereka, “Apakah menurut kalian apa yang aku katakan ini salah?”Mereka menjawab, “Tidak.”Maka dalam peristiwa inilah turun ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىAt-Tirmidzi meriwayatkan hadis ini melalui sanad Sa‘id bin Yahya Al-Umawi dengan sanad yang sama. Ia berkata: Sebagian perawi meriwayatkannya dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya, bahwa ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun tentang Ibnu Ummi Maktum tanpa menyebutkan riwayat dari ‘Aisyah.Aku (Ibnu Katsir) mengatakan: Demikian pula riwayat tersebut terdapat dalam kitab Al-Muwaththa’.Kemudian Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Al-‘Aufi, dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa berkata: Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan ‘Utbah bin Rabi‘ah, Abu Jahl bin Hisyam, dan Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib. Beliau sering menemui mereka dan sangat berharap agar mereka beriman.Tiba-tiba datang seorang lelaki buta bernama ‘Abdullah bin Ummi Maktum. Ia berjalan mendekati Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan mereka. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sebagian dari apa yang Allah ajarkan kepadamu.”Nabi ﷺ berpaling darinya, bermuka masam, dan tidak menyukai pembicaraannya saat itu, lalu beliau kembali memusatkan perhatian kepada para tokoh tersebut.Ketika Rasulullah ﷺ telah selesai berbicara dengan mereka dan hendak pulang kepada keluarganya, Allah menahan sebagian penglihatannya. Kepala beliau pun tertunduk. Lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىأَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىوَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىأَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.Tahukah engkau, barangkali ia ingin membersihkan dirinya.Atau ia ingin mendapatkan pelajaran, lalu pelajaran itu memberi manfaat baginya.” Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi MaktumSetelah ayat ini turun, Rasulullah ﷺ memuliakan Ibnu Ummi Maktum. Beliau sering menyapanya dan berkata kepadanya, “Apa yang engkau butuhkan? Apakah engkau memerlukan sesuatu?”Ketika Ibnu Ummi Maktum hendak pergi, beliau juga berkata, “Apakah engkau memiliki kebutuhan yang bisa aku bantu?”Hal itu terjadi setelah Allah menurunkan firman-Nya:أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىوَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى“Adapun orang yang merasa dirinya cukup, engkau justru memberi perhatian kepadanya. Padahal tidak ada tanggung jawab atasmu jika ia tidak membersihkan dirinya.”Namun dalam riwayat ini terdapat keanehan dan kemungkaran, dan para ulama telah membicarakan sanadnya.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab.Ia berkata: Salim bin ‘Abdullah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari. Maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar azan Ibnu Ummi Maktum.”Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta, yang disebut dalam ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa biasa mengumandangkan azan bersama Bilal. Salim berkata: Ia adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan azan sampai orang-orang berkata kepadanya ketika mereka melihat terbitnya fajar, “Sekarang sudah fajar, kumandangkanlah azan.”Demikian pula disebutkan oleh ‘Urwah bin Az-Zubair, Mujahid, Abu Malik, Qatadah, Adh-Dhahhak, Ibnu Zaid, dan banyak ulama salaf maupun khalaf bahwa ayat ini turun tentang Ibnu Ummi Maktum.Yang paling masyhur, namanya adalah ‘Abdullah, dan ada pula yang mengatakan ‘Amr. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam DakwahAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ (1)Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah ketika datang seorang laki-laki mukmin yang buta kepada Nabi ﷺ untuk bertanya dan belajar dari beliau.Pada saat yang sama datang pula seorang lelaki kaya. Nabi ﷺ sangat bersemangat untuk memberi hidayah kepada manusia, sehingga beliau lebih condong dan memberi perhatian kepada orang kaya tersebut, sementara beliau berpaling dari orang buta yang miskin itu.Beliau berharap orang kaya tersebut mendapatkan hidayah dan menjadi baik. Maka Allah menegur beliau dengan teguran yang lembut, dengan firman-Nya:“Dia bermuka masam dan berpaling.”Maksudnya, beliau bermuka masam kepada orang buta itu dan memalingkan badannya darinya.أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ (2)Karena orang buta itu datang kepadanya.وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ (3)Kemudian Allah menjelaskan manfaat jika memperhatikannya, yaitu:“Dan tahukah engkau, barangkali dia ingin membersihkan dirinya.”Maksudnya, barangkali orang buta itu ingin menyucikan dirinya dari akhlak yang buruk dan menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik.أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ (4)“Atau dia ingin mendapatkan pelajaran, lalu peringatan itu memberi manfaat baginya.”Maksudnya, ia mengingat sesuatu yang bermanfaat baginya sehingga ia dapat mengamalkan peringatan tersebut.أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ (5)Di sini terdapat pelajaran yang sangat besar, yaitu tujuan utama diutusnya para rasul, disampaikannya nasihat oleh para pemberi nasihat, dan diingatkannya manusia oleh para pengingat.Memberi perhatian kepada orang yang datang sendiri dalam keadaan membutuhkan ilmu darimu adalah sikap yang lebih pantas dan lebih wajib.Adapun memusatkan perhatian kepada orang kaya yang merasa cukup, yang tidak bertanya dan tidak meminta nasihat karena tidak berminat pada kebaikan, sementara orang yang lebih membutuhkan justru ditinggalkan, maka hal itu tidak pantas dilakukan.Karena jika orang kaya itu tidak mau memperbaiki dirinya, maka engkau tidak menanggung dosa atas keburukan yang ia lakukan.Dari ayat ini dipahami sebuah kaidah yang terkenal:لَا يُتْرَكُ أَمْرٌ مَعْلُومٌ لِأَمْرٍ مَوْهُومٍ، وَلَا مَصْلَحَةٌ مُتَحَقِّقَةٌ لِمَصْلَحَةٍ مُتَوَهَّمَةٍ“Tidak boleh meninggalkan sesuatu yang jelas demi sesuatu yang masih dugaan, dan tidak boleh meninggalkan kemaslahatan yang nyata demi kemaslahatan yang hanya diperkirakan.”Karena itu, seharusnya seseorang lebih memberi perhatian kepada penuntut ilmu yang benar-benar membutuhkan, sangat memerlukannya, dan memiliki semangat untuk mempelajarinya dibandingkan yang lainnya. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas Berikut tiga contoh penerapan kaidah ini dalam kehidupan saat ini:1. Dalam dakwah dan pengajaranSeorang dai meninggalkan majelis kecil yang serius belajar agama demi mengejar audiens besar yang belum tentu mau mendengar. Padahal orang yang hadir di majelis sudah jelas ingin belajar. Yang tepat adalah tetap memprioritaskan orang yang benar-benar datang untuk menuntut ilmu.2. Dalam mendidik anakOrang tua terlalu sibuk mengejar kesuksesan dunia anak (kursus, prestasi, lomba) tetapi mengabaikan pendidikan agama yang jelas manfaatnya bagi akhirat. Padahal membangun iman dan akhlak anak adalah maslahat yang pasti, sementara prestasi dunia belum tentu membawa kebaikan.3. Dalam ibadahSeseorang meninggalkan shalat berjamaah yang jelas pahalanya demi melakukan aktivitas lain yang belum tentu bernilai ibadah, seperti terlalu lama bermain gawai atau mengejar kesibukan dunia yang tidak mendesak.Intinya, kaidah ini mengajarkan agar tidak meninggalkan kebaikan yang pasti demi sesuatu yang masih sekadar harapan atau dugaan.Baca juga: Cara Dakwah Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an: Dekat, Peduli, dan Penyayang Al-Qur’an untuk Memberi PeringatanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ“Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” (QS. ‘Abasa: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Maksudnya, peringatan ini benar-benar merupakan nasihat dari Allah. Dengan itu Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya dan menjelaskan dalam kitab-Nya apa yang mereka butuhkan, serta membedakan antara petunjuk dan kesesatan.Allah Ta’ala berfirman,فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ“maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (QS. ‘Abasa: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Jika hal itu telah jelas, maka siapa saja yang mau, ia akan mengambil pelajaran dan mengamalkannya. Sebagaimana firman Allah:وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ“Katakanlah, ‘Kebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka siapa yang menghendaki, hendaklah dia beriman, dan siapa yang menghendaki, hendaklah dia kafir.’” (QS. Al-Kahfi: 29)Allah Ta’ala berfirman,فِى صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ“di dalam kitab-kitab yang dimuliakan.” (QS. ‘Abasa: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Kemudian Allah menyebutkan tempat peringatan ini, keagungannya, dan tingginya kedudukannya, yaitu berada dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan.Allah Ta’ala berfirman,مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍۭ“yang ditinggikan lagi disucikan.” (QS. ‘Abasa: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Lembaran itu tinggi kedudukan dan derajatnya, serta disucikan dari segala kekurangan, dan tidak dapat dijangkau oleh tangan-tangan setan ataupun dicuri oleh mereka.Allah Ta’ala berfirman,بِأَيْدِى سَفَرَةٍ“di tangan para penulis (malaikat).” (QS. ‘Abasa: 15)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Yaitu di tangan para malaikat yang menjadi perantara antara Allah dan para hamba-Nya.Allah Ta’ala berfirman,كِرَامٍۭ بَرَرَةٍ“yang mulia lagi berbakti.” (QS. ‘Abasa: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Mereka adalah malaikat yang banyak kebaikannya, penuh keberkahan, serta hati dan amal mereka sangat baik.Semua ini merupakan penjagaan dari Allah terhadap kitab-Nya. Allah menjadikan para malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa sebagai perantara untuk menyampaikannya kepada para rasul, dan tidak memberikan jalan bagi setan untuk mengganggunya. Hal ini semestinya mendorong untuk beriman dan menerima Al-Qur’an dengan penuh penerimaan. Namun demikian, manusia tetap saja enggan dan memilih kekafiran. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur?Allah Ta’ala berfirman:قُتِلَ الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ (١٧)“Celakalah manusia! Alangkah sangat kufurnya dia!” (QS. ‘Abasa: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, manusia sangat kufur terhadap nikmat Allah dan sangat keras penolakannya terhadap kebenaran setelah jelas baginya, padahal ia hanyalah makhluk yang lemah.مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ (١٨)“Dari apakah Dia menciptakannya?” (QS. ‘Abasa: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia diciptakan dari sesuatu yang sangat lemah.مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ (١٩)“Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya.” (QS. ‘Abasa: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah menciptakannya dari air yang hina, kemudian menentukan penciptaannya, menjadikannya manusia yang sempurna, serta menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya.ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ (٢٠)“Kemudian Dia memudahkan jalannya.” (QS. ‘Abasa: 20)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memudahkan baginya jalan, baik urusan agama maupun dunia, menunjukkan jalan itu, serta mengujinya dengan perintah dan larangan.ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ (٢١)“Kemudian Dia mematikannya lalu memasukkannya ke dalam kubur.” (QS. ‘Abasa: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memuliakannya dengan dikuburkan, tidak menjadikannya seperti hewan yang bangkainya dibiarkan di permukaan bumi.ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ (٢٢)“Kemudian apabila Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali.” (QS. ‘Abasa: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Allah akan membangkitkannya setelah mati untuk diberi balasan. Allah semata yang mengatur manusia dan mengubah keadaannya dalam seluruh proses ini, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai!Allah Ta’ala berfirman,كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ أَمَرَهُۥ“Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 23)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Namun manusia—dengan keadaan seperti ini—tidak menjalankan apa yang Allah perintahkan. Ia belum menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya, bahkan terus berada dalam kekurangan dalam melaksanakan perintah tersebut. فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ“maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. ‘Abasa: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah mengarahkan manusia untuk memperhatikan dan merenungkan makanannya, bagaimana makanan itu sampai kepadanya setelah melalui berbagai tahapan yang berulang, dan bagaimana Allah memudahkannya untuk mendapatkannya.أَنَّا صَبَبْنَا ٱلْمَآءَ صَبًّا“Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit).” (QS. ‘Abasa: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Kami menurunkan hujan ke bumi dengan deras.ثُمَّ شَقَقْنَا ٱلْأَرْضَ شَقًّا“kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. ‘Abasa: 26)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni Kami membelah bumi untuk tumbuhnya tanaman.فَأَنۢبَتْنَا فِيهَا حَبًّا“lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu.” (QS. ‘Abasa: 27)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni berbagai jenis makanan yang beragam dan lezat, serta sumber makanan yang baik, mencakup seluruh jenis biji-bijian dengan berbagai macamnya.وَعِنَبًا وَقَضْبًا“anggur dan sayur-sayuran.” (QS. ‘Abasa: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:(Qadb adalah sayuran yang dimakan segar.)وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا“zaitun dan kurma.” (QS. ‘Abasa: 29)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Disebutkan khusus karena banyaknya manfaat dan kegunaannya.وَحَدَآئِقَ غُلْبًا“kebun-kebun (yang) lebat.” (QS. ‘Abasa: 30)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni kebun-kebun yang dipenuhi pepohonan yang rimbun.وَفَٰكِهَةً وَأَبًّا“dan buah-buahan serta rumput-rumputan.” (QS. ‘Abasa: 31)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Buah-buahan adalah segala yang dinikmati manusia, seperti tin, anggur, persik, delima, dan lainnya.مَّتَٰعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَٰمِكُمْ“untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS. ‘Abasa: 32)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun rumput-rumputan adalah makanan bagi hewan ternak. Karena itu Allah berfirman bahwa semua itu adalah kenikmatan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian yang Allah ciptakan dan tundukkan untuk kalian.Barang siapa memperhatikan nikmat-nikmat ini, maka hal itu akan mendorongnya untuk bersyukur kepada Rabb-nya, bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya, menghadap kepada ketaatan-Nya, dan membenarkan berita-berita-Nya. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua).” (QS. ‘Abasa: 33)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yaitu ketika datang teriakan hari kiamat, yang karena dahsyatnya membuat telinga menjadi tuli, dan hati menjadi terguncang, karena apa yang disaksikan manusia berupa kengerian dan kebutuhan yang sangat terhadap amal-amal yang telah lalu.Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَفِرُّ ٱلْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ“pada hari ketika manusia lari dari saudaranya.” (QS. ‘Abasa: 34)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Manusia lari dari orang-orang yang paling ia cintai dan paling ia sayangi, yaitu dari saudaranya,Allah Ta’ala berfirman,وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ“dari ibu dan bapaknya.” (QS. ‘Abasa: 35)وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ“dari istri dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 36)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia lari dari orang-orang yang paling dekat dengannya: saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya, dan anak-anaknya.Allah Ta’ala berfirman,لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa: 37)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri, memikirkan keselamatannya, dan tidak memperhatikan orang lain. Pada saat itu manusia terbagi menjadi dua golongan: orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka.Allah Ta’ala berfirman,وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ“Banyak muka pada hari itu berseri-seri.” (QS. ‘Abasa: 38)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang bahagia, wajah mereka tampak bersinar, terlihat kegembiraan dan kebahagiaan, karena mereka mengetahui keselamatan mereka dan keberhasilan meraih kenikmatan.Allah Ta’ala berfirman,ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ“tertawa dan bergembira ria” (QS. ‘Abasa: 39)وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ“dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu.” (QS. ‘Abasa: 40)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang celaka, wajah mereka pada hari itu tertutup debu.Allah Ta’ala berfirman,تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ“dan ditutup lagi oleh kegelapan.” (QS. ‘Abasa: 41)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Wajah mereka diliputi kegelapan, menjadi hitam dan suram, mereka telah putus asa dari segala kebaikan, dan mengetahui kesengsaraan serta kebinasaan mereka.Allah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَفَرَةُ ٱلْفَجَرَةُ“Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (QS. ‘Abasa: 42)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Mereka adalah orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat-Nya, dan berani melanggar larangan-Nya.Kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Malam Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara dakwah Dakwah Nabi dakwah nabi penuh cinta dakwah para nabi kisah dakwah Rasulullah tafsir juz amma

Lupa Bayar Zakat Fitrah Sampai Lebaran Usai? Jangan Panik, Ini Solusinya! – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

https://youtu.be/PYSUhanYzFs Apabila seseorang lupa menunaikan Zakat Fitrah hingga batas waktunya berlalu, apakah ia dimaafkan karena lupa? Dan apakah ia wajib mengqadhanya? Ya, ia wajib mengqadhanya (membayarnya) seketika saat ia teringat. Kapan pun ia teringat tentang Zakat Fitrah itu, ia harus segera mengqadhanya. Bahkan jika ia teringat setelah hari raya, Zakat fitrah yang telah terlewat waktunya harus tetap diqadha. Sebagai contoh, jika seseorang lupa membayar Zakat Fitrah pada tahun lalu, dan baru teringat sekarang, ia baru teringat bahwa ia belum menunaikan Zakat Fitrah tersebut, maka ia wajib membayar Zakat Fitrah tersebut sekarang juga, dan ia dimaafkan atas kelalaiannya tersebut. ===== إِذَا نَسِيَ إِخْرَاجَ زَكَاةِ الْفِطْرِ بَعْدَ وَقْتِهَا هَلْ يُعْذَرُ بِالنِّسْيَانِ؟ وَهَلْ يَقْضِي؟ نَعَمْ يَقْضِي مِنْ حِينِ الذِّكْرِ مَتَى مَا تَذَكَّرَ زَكَاةَ الْفِطْرِ قَضَاهَا حَتَّى لَوْ كَانَ ذَلِكَ بَعْدَ يَوْمِ الْعِيْدِفَزَكَاةُ الفِطْرِ إِذَا فَاتَتْ تُقْضَى مَثَلًا لَوْ أَنَّ شَخْصًا نَسِيَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنَ الْعَامِ الْمَاضِي وَتَذَكَّرَهَا الْآنَ تَذَكَّرَ الْآنَ أَنَّهُ لَمْ يُخْرِجْ زَكَاةَ الْفِطْرِ فَيُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ الْآنَ وَهُوَ مَعْذُورٌ بِالنِّسْيَانِ

Lupa Bayar Zakat Fitrah Sampai Lebaran Usai? Jangan Panik, Ini Solusinya! – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

https://youtu.be/PYSUhanYzFs Apabila seseorang lupa menunaikan Zakat Fitrah hingga batas waktunya berlalu, apakah ia dimaafkan karena lupa? Dan apakah ia wajib mengqadhanya? Ya, ia wajib mengqadhanya (membayarnya) seketika saat ia teringat. Kapan pun ia teringat tentang Zakat Fitrah itu, ia harus segera mengqadhanya. Bahkan jika ia teringat setelah hari raya, Zakat fitrah yang telah terlewat waktunya harus tetap diqadha. Sebagai contoh, jika seseorang lupa membayar Zakat Fitrah pada tahun lalu, dan baru teringat sekarang, ia baru teringat bahwa ia belum menunaikan Zakat Fitrah tersebut, maka ia wajib membayar Zakat Fitrah tersebut sekarang juga, dan ia dimaafkan atas kelalaiannya tersebut. ===== إِذَا نَسِيَ إِخْرَاجَ زَكَاةِ الْفِطْرِ بَعْدَ وَقْتِهَا هَلْ يُعْذَرُ بِالنِّسْيَانِ؟ وَهَلْ يَقْضِي؟ نَعَمْ يَقْضِي مِنْ حِينِ الذِّكْرِ مَتَى مَا تَذَكَّرَ زَكَاةَ الْفِطْرِ قَضَاهَا حَتَّى لَوْ كَانَ ذَلِكَ بَعْدَ يَوْمِ الْعِيْدِفَزَكَاةُ الفِطْرِ إِذَا فَاتَتْ تُقْضَى مَثَلًا لَوْ أَنَّ شَخْصًا نَسِيَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنَ الْعَامِ الْمَاضِي وَتَذَكَّرَهَا الْآنَ تَذَكَّرَ الْآنَ أَنَّهُ لَمْ يُخْرِجْ زَكَاةَ الْفِطْرِ فَيُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ الْآنَ وَهُوَ مَعْذُورٌ بِالنِّسْيَانِ
https://youtu.be/PYSUhanYzFs Apabila seseorang lupa menunaikan Zakat Fitrah hingga batas waktunya berlalu, apakah ia dimaafkan karena lupa? Dan apakah ia wajib mengqadhanya? Ya, ia wajib mengqadhanya (membayarnya) seketika saat ia teringat. Kapan pun ia teringat tentang Zakat Fitrah itu, ia harus segera mengqadhanya. Bahkan jika ia teringat setelah hari raya, Zakat fitrah yang telah terlewat waktunya harus tetap diqadha. Sebagai contoh, jika seseorang lupa membayar Zakat Fitrah pada tahun lalu, dan baru teringat sekarang, ia baru teringat bahwa ia belum menunaikan Zakat Fitrah tersebut, maka ia wajib membayar Zakat Fitrah tersebut sekarang juga, dan ia dimaafkan atas kelalaiannya tersebut. ===== إِذَا نَسِيَ إِخْرَاجَ زَكَاةِ الْفِطْرِ بَعْدَ وَقْتِهَا هَلْ يُعْذَرُ بِالنِّسْيَانِ؟ وَهَلْ يَقْضِي؟ نَعَمْ يَقْضِي مِنْ حِينِ الذِّكْرِ مَتَى مَا تَذَكَّرَ زَكَاةَ الْفِطْرِ قَضَاهَا حَتَّى لَوْ كَانَ ذَلِكَ بَعْدَ يَوْمِ الْعِيْدِفَزَكَاةُ الفِطْرِ إِذَا فَاتَتْ تُقْضَى مَثَلًا لَوْ أَنَّ شَخْصًا نَسِيَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنَ الْعَامِ الْمَاضِي وَتَذَكَّرَهَا الْآنَ تَذَكَّرَ الْآنَ أَنَّهُ لَمْ يُخْرِجْ زَكَاةَ الْفِطْرِ فَيُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ الْآنَ وَهُوَ مَعْذُورٌ بِالنِّسْيَانِ


https://youtu.be/PYSUhanYzFs Apabila seseorang lupa menunaikan Zakat Fitrah hingga batas waktunya berlalu, apakah ia dimaafkan karena lupa? Dan apakah ia wajib mengqadhanya? Ya, ia wajib mengqadhanya (membayarnya) seketika saat ia teringat. Kapan pun ia teringat tentang Zakat Fitrah itu, ia harus segera mengqadhanya. Bahkan jika ia teringat setelah hari raya, Zakat fitrah yang telah terlewat waktunya harus tetap diqadha. Sebagai contoh, jika seseorang lupa membayar Zakat Fitrah pada tahun lalu, dan baru teringat sekarang, ia baru teringat bahwa ia belum menunaikan Zakat Fitrah tersebut, maka ia wajib membayar Zakat Fitrah tersebut sekarang juga, dan ia dimaafkan atas kelalaiannya tersebut. ===== إِذَا نَسِيَ إِخْرَاجَ زَكَاةِ الْفِطْرِ بَعْدَ وَقْتِهَا هَلْ يُعْذَرُ بِالنِّسْيَانِ؟ وَهَلْ يَقْضِي؟ نَعَمْ يَقْضِي مِنْ حِينِ الذِّكْرِ مَتَى مَا تَذَكَّرَ زَكَاةَ الْفِطْرِ قَضَاهَا حَتَّى لَوْ كَانَ ذَلِكَ بَعْدَ يَوْمِ الْعِيْدِفَزَكَاةُ الفِطْرِ إِذَا فَاتَتْ تُقْضَى مَثَلًا لَوْ أَنَّ شَخْصًا نَسِيَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنَ الْعَامِ الْمَاضِي وَتَذَكَّرَهَا الْآنَ تَذَكَّرَ الْآنَ أَنَّهُ لَمْ يُخْرِجْ زَكَاةَ الْفِطْرِ فَيُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ الْآنَ وَهُوَ مَعْذُورٌ بِالنِّسْيَانِ

Derajat Hadis Membaca Doa Melihat Kakbah

Daftar Isi ToggleRiwayat hadisPertama, hadis MakhulKedua, hadis Ibnu JuraijBerdoa pada saat melihat KakbahKesimpulanMengunjungi Baitullah al-Haram, Kakbah, merupakan impian setiap Muslim. Di antara penyempurna rukun dari agama Islam adalah ibadah haji. Sebagian ulama juga berpendapat bahwa umrah menjadi kewajiban bagi muslim yang mampu. Dengan begitu, kita seyogyanya mempelajari ibadah-ibadah apa saja yang dapat kita lakukan ketika melakukan ibadah haji dan umrah.Di antara yang menjadi pembahasan belakangan ini adalah hadis tentang doa ketika melihat Kakbah. Bagaimana derajat hadis tersebut di kalangan para ulama? Untuk menjawab hal ini, kita perlu terlebih dahulu mengetahui lafaz hadis yang sering dinukil dalam masalah ini. Di antara lafaz yang paling masyhur adalah diambil dari hadis,كان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذا رأَى البَيتَ قال: اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّا“Ya Allah, tambahkanlah untuk rumah ini kemuliaan, keagungan, penghormatan, dan kewibawaan. Tambahkan pula bagi orang yang memuliakan dan memuliakannya dengan berhaji atau berumrah. Tambahkanlah kemuliaan, penghormatan, keagungan, kewibawaan, serta kebaikan.” [1]Doa ini sering disebut sebagai doa yang dibaca ketika pertama kali melihat Kakbah. Bahkan, sebagian jamaah haji dan umrah menganggapnya sebagai bagian dari sunah yang dianjurkan secara khusus. Namun, benarkah doa ini berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bagaimanakah riwayat hadis ini?Riwayat hadisPertama, hadis Makhul Hadis ini diriwayatkan dari Makhul rahimahullah. Riwayat tersebut disebutkan oleh Ibn Abi Shaybah dalam al-Mushannaf [2]. Beliau meriwayatkan dari Waki‘, dari Sufyan, dari seorang laki-laki dari penduduk Syam, dari Makhul, bahwa apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Kakbah, beliau membaca,اللهم زد هذا البيت تشريفًا وتعظيمًا ومهابة، وزد من حجه أو اعتمره تشريفًا وتعظيمًا وتكريمًا وبرًّاRiwayat ini dha’if karena dua sebab:Makhul adalah seorang tabi’in, sementara beliau meriwayatkan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tanpa perantara sahabat). Dengan demikian, riwayat ini termasuk hadis mursal, dan hadis mursal adalah bagian dari hadis dha’if.Dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak dikenal, yaitu “seorang laki-laki dari penduduk Syam”, sehingga menambah kelemahan riwayat tersebut. Riwayat ini juga disebutkan oleh Al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubra [3]. Dalam sanadnya terdapat Abu Sa‘id asy-Syami. Akan tetapi, Abu Sa‘id asy-Syami dinilai sebagai pendusta. Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani berkata dalam at-Talkhis al-Habir [4]: “Kadzab (pendusta).” Dengan demikian, jalur Makhul ini tidak bisa dijadikan hujjah.Kedua, hadis Ibnu Juraij Hadis ini diriwayatkan dari Ibn Juraij rahimahullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat tersebut disebutkan dalam Musnad Syafi’i melalui susunan Abu Said Sanjar bin Abdullah al-Nashiri al-Jawli [5], dari Sa‘id bin Salim, dari Ibnu Juraij. Riwayat ini juga dibawakan oleh al-Baihaqi rahimahullah dalam al-Sunan al-Kubra [6]. Sanad ini sahih sampai kepada Ibnu Juraij. Sa‘id bin Salim dinilai tsiqah oleh Yahya bin Ma‘in dan dinilai “la ba’sa bihi” oleh an-Nasa’i. Namun, cacatnya terletak pada riwayat Ibnu Juraij dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Juraij adalah seorang tabi’in, sehingga riwayatnya langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk hadis mu’dhal, yaitu hadis yang gugur dua perawi atau lebih secara berurutan dalam sanadnya. Dan hadis mu’dhal termasuk hadis dha’if. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam at-Talkhis al-Habir,وهو معضل فيما بين ابن جريج والنبي صلى الله عليه وسلم“Riwayat ini mu’dhal antara Ibnu Juraij dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [7]Al-Baihaqi juga menyatakan bahwa riwayat tersebut terputus (munqathi‘). Dengan demikian, jalur Ibnu Juraij juga tidak dapat dijadikan dalil.Berdoa pada saat melihat KakbahLalu, setelah mengetahui bahwa doa melihat Kakbah mempunyai derajat yang mursal dan mu’dhal atau dha’if yang tidak bisa menjadi sebuah rujukan, bagaimana dengan hukum berdoa ketika melihat Kakbah?Berdoa pada saat melihat Kakbah pernah dilakukan oleh Nabi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam hadis yang panjang diceritakan bahwa,فَلَمَّا فَرَغَ مِن طَوَافِهِ أَتَى الصَّفَا، فَعَلَا عليه حتَّى نَظَرَ إلى البَيْتِ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيَدْعُو بما شَاءَ أَنْ يَدْعُوَ“Ketika beliau selesai dari thawaf, beliau mendatangi Shafa, lalu naik ke atasnya hingga melihat Kakbah. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya, lalu memuji Allah dan berdoa dengan doa apa saja yang beliau kehendaki.” [8]Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memang berdoa ketika melihat Kakbah. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa kejadian tersebut bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, melainkan ketika beliau berada di atas Shafa setelah menyelesaikan thawaf. Oleh karena itu, hadis ini tidak bisa dijadikan dalil adanya doa khusus ketika pertama kali melihat Kakbah.Namun, dari hadis ini dapat diambil faidah penting bahwa berdoa ketika melihat Kakbah secara umum adalah sesuatu yang diperbolehkan. Bahkan, tempat dan momen tersebut termasuk di antara waktu dan kondisi yang memiliki peluang besar untuk dikabulkannya doa.Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Fatawa Syabakah Islamiyyah,يدعو بما شاء، فالله سبحانه وتعالى قد أمر عباده بدعائه ووعدهم بالإجابة، وهذا المشهد – وهو مشاهدة الكعبة- من أفضل أماكن الدعاء“Seseorang boleh berdoa dengan doa apa saja yang ia kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan Dia pun menjanjikan akan mengabulkannya. Dan momen ini (yaitu saat memandang Kakbah) termasuk salah satu tempat dan waktu terbaik untuk berdoa.” [9]Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman juga menyebutkan dalam Syarh Fath al-Majid,ليس لزيارة البيت الحرام أدعية معينة تحفظ، وقد جاء في رؤية البيت دعاء في حديث سنده ضعيف، وعلى الإنسان أن يجتهد في الدعاء الذي يناسبه ويحتاجه لنفسه فيدعو الله به“Tidak ada doa-doa khusus yang harus dihafal ketika mengunjungi Baitul Haram. Memang ada riwayat tentang doa ketika pertama kali melihat Kakbah, namun sanad hadis tersebut lemah. Oleh karena itu, seseorang hendaknya bersungguh-sungguh memanjatkan doa sesuai dengan kebutuhan dan keadaan dirinya, memohon kepada Allah dengan doa yang ia rasa paling ia perlukan.” [10]Kesimpulan Pertama, doa yang populer dibaca ketika melihat Kakbah tidaklah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Riwayat-riwayat yang menyebutkan doa tersebut berputar pada jalur Makhul dan Ibnu Juraij, yang keduanya tidak tersambung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (mursal dan mu’dhal), bahkan sebagian jalurnya mengandung perawi yang lemah dan tertuduh. Oleh karena itu, doa tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sunah khusus yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, berdoa ketika melihat Kakbah pada asalnya tidak mengapa. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa ketika melihat Kakbah dari atas Shafa. Meskipun bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, hadis ini menunjukkan bolehnya berdoa secara umum. Maka, seorang muslim boleh berdoa dengan doa apa saja sesuai kebutuhan dan hajatnya, tanpa mengkhususkan lafaz tertentu atau meyakini adanya tuntunan khusus dalam momen tersebut.Ketiga, apabila seseorang ingin membaca doa yang diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi’i karena maknanya yang baik dan sesuai dengan keagungan Kakbah, yang berbunyi,اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّاmaka hal itu tidak mengapa. Namun, yang perlu ditekankan adalah tidak boleh meyakini bahwa doa tersebut merupakan sunah khusus ketika melihat Kakbah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau memiliki keutamaan tertentu yang tidak didasarkan pada dalil yang sahih.Baca juga: Mengenal Baitul Makmur: Ka’bah Penduduk Langit***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Imam al-Bayhaqi, as-Sunan as-Shaghir, 2: 171.[2] Imam Ibn Abi Shaybah, al-Mushannaf, no. 30240, 15: 317.[3] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[4] Imam Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 242.[5] Imam Abu Said Sanjar, Musnad al-Imam al-Shafi’i (Tartib Sanjar), hal. 125.[6] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[7] Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 526.[8] Muslim, Shahih Muslim, no. 1780.[9] Lajnah al-Fatwa bi al-Shabakah al-Islamiyyah, Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah, 10: 900.[10] Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman, Sharh Fath al-Majid, 4: 141.Daftar Pustaka Ibn Abi Shaybah. al-Mushannaf. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ibn Hajar al-Asqalani. at-Talkhis al-Habir. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Imam Abu Said Sanjar. Musnad al-Imam al-Shafi‘i. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. al-Sunan al-Kubra. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. as-Sunan as-Saghir. Tahqiq ‘Abd al-Mu‘ti Amin Qal‘aji. Cet. 1. 4 jilid. Karachi: Jami‘ah ad-Dirasat al-Islamiyyah, 1410/ 1989.Abd Allah ibn Muhammad al-Ghunayman. Sharh Fath al-Majid. Transkrip pelajaran audio oleh Islamweb.Islamweb. Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah. Disusun oleh Lajnah al-Fatwa. Diakses melalui http://www.islamweb.net .

Derajat Hadis Membaca Doa Melihat Kakbah

Daftar Isi ToggleRiwayat hadisPertama, hadis MakhulKedua, hadis Ibnu JuraijBerdoa pada saat melihat KakbahKesimpulanMengunjungi Baitullah al-Haram, Kakbah, merupakan impian setiap Muslim. Di antara penyempurna rukun dari agama Islam adalah ibadah haji. Sebagian ulama juga berpendapat bahwa umrah menjadi kewajiban bagi muslim yang mampu. Dengan begitu, kita seyogyanya mempelajari ibadah-ibadah apa saja yang dapat kita lakukan ketika melakukan ibadah haji dan umrah.Di antara yang menjadi pembahasan belakangan ini adalah hadis tentang doa ketika melihat Kakbah. Bagaimana derajat hadis tersebut di kalangan para ulama? Untuk menjawab hal ini, kita perlu terlebih dahulu mengetahui lafaz hadis yang sering dinukil dalam masalah ini. Di antara lafaz yang paling masyhur adalah diambil dari hadis,كان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذا رأَى البَيتَ قال: اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّا“Ya Allah, tambahkanlah untuk rumah ini kemuliaan, keagungan, penghormatan, dan kewibawaan. Tambahkan pula bagi orang yang memuliakan dan memuliakannya dengan berhaji atau berumrah. Tambahkanlah kemuliaan, penghormatan, keagungan, kewibawaan, serta kebaikan.” [1]Doa ini sering disebut sebagai doa yang dibaca ketika pertama kali melihat Kakbah. Bahkan, sebagian jamaah haji dan umrah menganggapnya sebagai bagian dari sunah yang dianjurkan secara khusus. Namun, benarkah doa ini berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bagaimanakah riwayat hadis ini?Riwayat hadisPertama, hadis Makhul Hadis ini diriwayatkan dari Makhul rahimahullah. Riwayat tersebut disebutkan oleh Ibn Abi Shaybah dalam al-Mushannaf [2]. Beliau meriwayatkan dari Waki‘, dari Sufyan, dari seorang laki-laki dari penduduk Syam, dari Makhul, bahwa apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Kakbah, beliau membaca,اللهم زد هذا البيت تشريفًا وتعظيمًا ومهابة، وزد من حجه أو اعتمره تشريفًا وتعظيمًا وتكريمًا وبرًّاRiwayat ini dha’if karena dua sebab:Makhul adalah seorang tabi’in, sementara beliau meriwayatkan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tanpa perantara sahabat). Dengan demikian, riwayat ini termasuk hadis mursal, dan hadis mursal adalah bagian dari hadis dha’if.Dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak dikenal, yaitu “seorang laki-laki dari penduduk Syam”, sehingga menambah kelemahan riwayat tersebut. Riwayat ini juga disebutkan oleh Al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubra [3]. Dalam sanadnya terdapat Abu Sa‘id asy-Syami. Akan tetapi, Abu Sa‘id asy-Syami dinilai sebagai pendusta. Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani berkata dalam at-Talkhis al-Habir [4]: “Kadzab (pendusta).” Dengan demikian, jalur Makhul ini tidak bisa dijadikan hujjah.Kedua, hadis Ibnu Juraij Hadis ini diriwayatkan dari Ibn Juraij rahimahullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat tersebut disebutkan dalam Musnad Syafi’i melalui susunan Abu Said Sanjar bin Abdullah al-Nashiri al-Jawli [5], dari Sa‘id bin Salim, dari Ibnu Juraij. Riwayat ini juga dibawakan oleh al-Baihaqi rahimahullah dalam al-Sunan al-Kubra [6]. Sanad ini sahih sampai kepada Ibnu Juraij. Sa‘id bin Salim dinilai tsiqah oleh Yahya bin Ma‘in dan dinilai “la ba’sa bihi” oleh an-Nasa’i. Namun, cacatnya terletak pada riwayat Ibnu Juraij dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Juraij adalah seorang tabi’in, sehingga riwayatnya langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk hadis mu’dhal, yaitu hadis yang gugur dua perawi atau lebih secara berurutan dalam sanadnya. Dan hadis mu’dhal termasuk hadis dha’if. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam at-Talkhis al-Habir,وهو معضل فيما بين ابن جريج والنبي صلى الله عليه وسلم“Riwayat ini mu’dhal antara Ibnu Juraij dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [7]Al-Baihaqi juga menyatakan bahwa riwayat tersebut terputus (munqathi‘). Dengan demikian, jalur Ibnu Juraij juga tidak dapat dijadikan dalil.Berdoa pada saat melihat KakbahLalu, setelah mengetahui bahwa doa melihat Kakbah mempunyai derajat yang mursal dan mu’dhal atau dha’if yang tidak bisa menjadi sebuah rujukan, bagaimana dengan hukum berdoa ketika melihat Kakbah?Berdoa pada saat melihat Kakbah pernah dilakukan oleh Nabi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam hadis yang panjang diceritakan bahwa,فَلَمَّا فَرَغَ مِن طَوَافِهِ أَتَى الصَّفَا، فَعَلَا عليه حتَّى نَظَرَ إلى البَيْتِ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيَدْعُو بما شَاءَ أَنْ يَدْعُوَ“Ketika beliau selesai dari thawaf, beliau mendatangi Shafa, lalu naik ke atasnya hingga melihat Kakbah. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya, lalu memuji Allah dan berdoa dengan doa apa saja yang beliau kehendaki.” [8]Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memang berdoa ketika melihat Kakbah. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa kejadian tersebut bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, melainkan ketika beliau berada di atas Shafa setelah menyelesaikan thawaf. Oleh karena itu, hadis ini tidak bisa dijadikan dalil adanya doa khusus ketika pertama kali melihat Kakbah.Namun, dari hadis ini dapat diambil faidah penting bahwa berdoa ketika melihat Kakbah secara umum adalah sesuatu yang diperbolehkan. Bahkan, tempat dan momen tersebut termasuk di antara waktu dan kondisi yang memiliki peluang besar untuk dikabulkannya doa.Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Fatawa Syabakah Islamiyyah,يدعو بما شاء، فالله سبحانه وتعالى قد أمر عباده بدعائه ووعدهم بالإجابة، وهذا المشهد – وهو مشاهدة الكعبة- من أفضل أماكن الدعاء“Seseorang boleh berdoa dengan doa apa saja yang ia kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan Dia pun menjanjikan akan mengabulkannya. Dan momen ini (yaitu saat memandang Kakbah) termasuk salah satu tempat dan waktu terbaik untuk berdoa.” [9]Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman juga menyebutkan dalam Syarh Fath al-Majid,ليس لزيارة البيت الحرام أدعية معينة تحفظ، وقد جاء في رؤية البيت دعاء في حديث سنده ضعيف، وعلى الإنسان أن يجتهد في الدعاء الذي يناسبه ويحتاجه لنفسه فيدعو الله به“Tidak ada doa-doa khusus yang harus dihafal ketika mengunjungi Baitul Haram. Memang ada riwayat tentang doa ketika pertama kali melihat Kakbah, namun sanad hadis tersebut lemah. Oleh karena itu, seseorang hendaknya bersungguh-sungguh memanjatkan doa sesuai dengan kebutuhan dan keadaan dirinya, memohon kepada Allah dengan doa yang ia rasa paling ia perlukan.” [10]Kesimpulan Pertama, doa yang populer dibaca ketika melihat Kakbah tidaklah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Riwayat-riwayat yang menyebutkan doa tersebut berputar pada jalur Makhul dan Ibnu Juraij, yang keduanya tidak tersambung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (mursal dan mu’dhal), bahkan sebagian jalurnya mengandung perawi yang lemah dan tertuduh. Oleh karena itu, doa tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sunah khusus yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, berdoa ketika melihat Kakbah pada asalnya tidak mengapa. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa ketika melihat Kakbah dari atas Shafa. Meskipun bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, hadis ini menunjukkan bolehnya berdoa secara umum. Maka, seorang muslim boleh berdoa dengan doa apa saja sesuai kebutuhan dan hajatnya, tanpa mengkhususkan lafaz tertentu atau meyakini adanya tuntunan khusus dalam momen tersebut.Ketiga, apabila seseorang ingin membaca doa yang diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi’i karena maknanya yang baik dan sesuai dengan keagungan Kakbah, yang berbunyi,اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّاmaka hal itu tidak mengapa. Namun, yang perlu ditekankan adalah tidak boleh meyakini bahwa doa tersebut merupakan sunah khusus ketika melihat Kakbah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau memiliki keutamaan tertentu yang tidak didasarkan pada dalil yang sahih.Baca juga: Mengenal Baitul Makmur: Ka’bah Penduduk Langit***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Imam al-Bayhaqi, as-Sunan as-Shaghir, 2: 171.[2] Imam Ibn Abi Shaybah, al-Mushannaf, no. 30240, 15: 317.[3] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[4] Imam Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 242.[5] Imam Abu Said Sanjar, Musnad al-Imam al-Shafi’i (Tartib Sanjar), hal. 125.[6] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[7] Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 526.[8] Muslim, Shahih Muslim, no. 1780.[9] Lajnah al-Fatwa bi al-Shabakah al-Islamiyyah, Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah, 10: 900.[10] Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman, Sharh Fath al-Majid, 4: 141.Daftar Pustaka Ibn Abi Shaybah. al-Mushannaf. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ibn Hajar al-Asqalani. at-Talkhis al-Habir. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Imam Abu Said Sanjar. Musnad al-Imam al-Shafi‘i. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. al-Sunan al-Kubra. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. as-Sunan as-Saghir. Tahqiq ‘Abd al-Mu‘ti Amin Qal‘aji. Cet. 1. 4 jilid. Karachi: Jami‘ah ad-Dirasat al-Islamiyyah, 1410/ 1989.Abd Allah ibn Muhammad al-Ghunayman. Sharh Fath al-Majid. Transkrip pelajaran audio oleh Islamweb.Islamweb. Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah. Disusun oleh Lajnah al-Fatwa. Diakses melalui http://www.islamweb.net .
Daftar Isi ToggleRiwayat hadisPertama, hadis MakhulKedua, hadis Ibnu JuraijBerdoa pada saat melihat KakbahKesimpulanMengunjungi Baitullah al-Haram, Kakbah, merupakan impian setiap Muslim. Di antara penyempurna rukun dari agama Islam adalah ibadah haji. Sebagian ulama juga berpendapat bahwa umrah menjadi kewajiban bagi muslim yang mampu. Dengan begitu, kita seyogyanya mempelajari ibadah-ibadah apa saja yang dapat kita lakukan ketika melakukan ibadah haji dan umrah.Di antara yang menjadi pembahasan belakangan ini adalah hadis tentang doa ketika melihat Kakbah. Bagaimana derajat hadis tersebut di kalangan para ulama? Untuk menjawab hal ini, kita perlu terlebih dahulu mengetahui lafaz hadis yang sering dinukil dalam masalah ini. Di antara lafaz yang paling masyhur adalah diambil dari hadis,كان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذا رأَى البَيتَ قال: اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّا“Ya Allah, tambahkanlah untuk rumah ini kemuliaan, keagungan, penghormatan, dan kewibawaan. Tambahkan pula bagi orang yang memuliakan dan memuliakannya dengan berhaji atau berumrah. Tambahkanlah kemuliaan, penghormatan, keagungan, kewibawaan, serta kebaikan.” [1]Doa ini sering disebut sebagai doa yang dibaca ketika pertama kali melihat Kakbah. Bahkan, sebagian jamaah haji dan umrah menganggapnya sebagai bagian dari sunah yang dianjurkan secara khusus. Namun, benarkah doa ini berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bagaimanakah riwayat hadis ini?Riwayat hadisPertama, hadis Makhul Hadis ini diriwayatkan dari Makhul rahimahullah. Riwayat tersebut disebutkan oleh Ibn Abi Shaybah dalam al-Mushannaf [2]. Beliau meriwayatkan dari Waki‘, dari Sufyan, dari seorang laki-laki dari penduduk Syam, dari Makhul, bahwa apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Kakbah, beliau membaca,اللهم زد هذا البيت تشريفًا وتعظيمًا ومهابة، وزد من حجه أو اعتمره تشريفًا وتعظيمًا وتكريمًا وبرًّاRiwayat ini dha’if karena dua sebab:Makhul adalah seorang tabi’in, sementara beliau meriwayatkan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tanpa perantara sahabat). Dengan demikian, riwayat ini termasuk hadis mursal, dan hadis mursal adalah bagian dari hadis dha’if.Dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak dikenal, yaitu “seorang laki-laki dari penduduk Syam”, sehingga menambah kelemahan riwayat tersebut. Riwayat ini juga disebutkan oleh Al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubra [3]. Dalam sanadnya terdapat Abu Sa‘id asy-Syami. Akan tetapi, Abu Sa‘id asy-Syami dinilai sebagai pendusta. Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani berkata dalam at-Talkhis al-Habir [4]: “Kadzab (pendusta).” Dengan demikian, jalur Makhul ini tidak bisa dijadikan hujjah.Kedua, hadis Ibnu Juraij Hadis ini diriwayatkan dari Ibn Juraij rahimahullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat tersebut disebutkan dalam Musnad Syafi’i melalui susunan Abu Said Sanjar bin Abdullah al-Nashiri al-Jawli [5], dari Sa‘id bin Salim, dari Ibnu Juraij. Riwayat ini juga dibawakan oleh al-Baihaqi rahimahullah dalam al-Sunan al-Kubra [6]. Sanad ini sahih sampai kepada Ibnu Juraij. Sa‘id bin Salim dinilai tsiqah oleh Yahya bin Ma‘in dan dinilai “la ba’sa bihi” oleh an-Nasa’i. Namun, cacatnya terletak pada riwayat Ibnu Juraij dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Juraij adalah seorang tabi’in, sehingga riwayatnya langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk hadis mu’dhal, yaitu hadis yang gugur dua perawi atau lebih secara berurutan dalam sanadnya. Dan hadis mu’dhal termasuk hadis dha’if. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam at-Talkhis al-Habir,وهو معضل فيما بين ابن جريج والنبي صلى الله عليه وسلم“Riwayat ini mu’dhal antara Ibnu Juraij dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [7]Al-Baihaqi juga menyatakan bahwa riwayat tersebut terputus (munqathi‘). Dengan demikian, jalur Ibnu Juraij juga tidak dapat dijadikan dalil.Berdoa pada saat melihat KakbahLalu, setelah mengetahui bahwa doa melihat Kakbah mempunyai derajat yang mursal dan mu’dhal atau dha’if yang tidak bisa menjadi sebuah rujukan, bagaimana dengan hukum berdoa ketika melihat Kakbah?Berdoa pada saat melihat Kakbah pernah dilakukan oleh Nabi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam hadis yang panjang diceritakan bahwa,فَلَمَّا فَرَغَ مِن طَوَافِهِ أَتَى الصَّفَا، فَعَلَا عليه حتَّى نَظَرَ إلى البَيْتِ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيَدْعُو بما شَاءَ أَنْ يَدْعُوَ“Ketika beliau selesai dari thawaf, beliau mendatangi Shafa, lalu naik ke atasnya hingga melihat Kakbah. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya, lalu memuji Allah dan berdoa dengan doa apa saja yang beliau kehendaki.” [8]Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memang berdoa ketika melihat Kakbah. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa kejadian tersebut bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, melainkan ketika beliau berada di atas Shafa setelah menyelesaikan thawaf. Oleh karena itu, hadis ini tidak bisa dijadikan dalil adanya doa khusus ketika pertama kali melihat Kakbah.Namun, dari hadis ini dapat diambil faidah penting bahwa berdoa ketika melihat Kakbah secara umum adalah sesuatu yang diperbolehkan. Bahkan, tempat dan momen tersebut termasuk di antara waktu dan kondisi yang memiliki peluang besar untuk dikabulkannya doa.Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Fatawa Syabakah Islamiyyah,يدعو بما شاء، فالله سبحانه وتعالى قد أمر عباده بدعائه ووعدهم بالإجابة، وهذا المشهد – وهو مشاهدة الكعبة- من أفضل أماكن الدعاء“Seseorang boleh berdoa dengan doa apa saja yang ia kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan Dia pun menjanjikan akan mengabulkannya. Dan momen ini (yaitu saat memandang Kakbah) termasuk salah satu tempat dan waktu terbaik untuk berdoa.” [9]Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman juga menyebutkan dalam Syarh Fath al-Majid,ليس لزيارة البيت الحرام أدعية معينة تحفظ، وقد جاء في رؤية البيت دعاء في حديث سنده ضعيف، وعلى الإنسان أن يجتهد في الدعاء الذي يناسبه ويحتاجه لنفسه فيدعو الله به“Tidak ada doa-doa khusus yang harus dihafal ketika mengunjungi Baitul Haram. Memang ada riwayat tentang doa ketika pertama kali melihat Kakbah, namun sanad hadis tersebut lemah. Oleh karena itu, seseorang hendaknya bersungguh-sungguh memanjatkan doa sesuai dengan kebutuhan dan keadaan dirinya, memohon kepada Allah dengan doa yang ia rasa paling ia perlukan.” [10]Kesimpulan Pertama, doa yang populer dibaca ketika melihat Kakbah tidaklah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Riwayat-riwayat yang menyebutkan doa tersebut berputar pada jalur Makhul dan Ibnu Juraij, yang keduanya tidak tersambung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (mursal dan mu’dhal), bahkan sebagian jalurnya mengandung perawi yang lemah dan tertuduh. Oleh karena itu, doa tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sunah khusus yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, berdoa ketika melihat Kakbah pada asalnya tidak mengapa. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa ketika melihat Kakbah dari atas Shafa. Meskipun bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, hadis ini menunjukkan bolehnya berdoa secara umum. Maka, seorang muslim boleh berdoa dengan doa apa saja sesuai kebutuhan dan hajatnya, tanpa mengkhususkan lafaz tertentu atau meyakini adanya tuntunan khusus dalam momen tersebut.Ketiga, apabila seseorang ingin membaca doa yang diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi’i karena maknanya yang baik dan sesuai dengan keagungan Kakbah, yang berbunyi,اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّاmaka hal itu tidak mengapa. Namun, yang perlu ditekankan adalah tidak boleh meyakini bahwa doa tersebut merupakan sunah khusus ketika melihat Kakbah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau memiliki keutamaan tertentu yang tidak didasarkan pada dalil yang sahih.Baca juga: Mengenal Baitul Makmur: Ka’bah Penduduk Langit***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Imam al-Bayhaqi, as-Sunan as-Shaghir, 2: 171.[2] Imam Ibn Abi Shaybah, al-Mushannaf, no. 30240, 15: 317.[3] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[4] Imam Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 242.[5] Imam Abu Said Sanjar, Musnad al-Imam al-Shafi’i (Tartib Sanjar), hal. 125.[6] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[7] Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 526.[8] Muslim, Shahih Muslim, no. 1780.[9] Lajnah al-Fatwa bi al-Shabakah al-Islamiyyah, Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah, 10: 900.[10] Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman, Sharh Fath al-Majid, 4: 141.Daftar Pustaka Ibn Abi Shaybah. al-Mushannaf. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ibn Hajar al-Asqalani. at-Talkhis al-Habir. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Imam Abu Said Sanjar. Musnad al-Imam al-Shafi‘i. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. al-Sunan al-Kubra. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. as-Sunan as-Saghir. Tahqiq ‘Abd al-Mu‘ti Amin Qal‘aji. Cet. 1. 4 jilid. Karachi: Jami‘ah ad-Dirasat al-Islamiyyah, 1410/ 1989.Abd Allah ibn Muhammad al-Ghunayman. Sharh Fath al-Majid. Transkrip pelajaran audio oleh Islamweb.Islamweb. Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah. Disusun oleh Lajnah al-Fatwa. Diakses melalui http://www.islamweb.net .


Daftar Isi ToggleRiwayat hadisPertama, hadis MakhulKedua, hadis Ibnu JuraijBerdoa pada saat melihat KakbahKesimpulanMengunjungi Baitullah al-Haram, Kakbah, merupakan impian setiap Muslim. Di antara penyempurna rukun dari agama Islam adalah ibadah haji. Sebagian ulama juga berpendapat bahwa umrah menjadi kewajiban bagi muslim yang mampu. Dengan begitu, kita seyogyanya mempelajari ibadah-ibadah apa saja yang dapat kita lakukan ketika melakukan ibadah haji dan umrah.Di antara yang menjadi pembahasan belakangan ini adalah hadis tentang doa ketika melihat Kakbah. Bagaimana derajat hadis tersebut di kalangan para ulama? Untuk menjawab hal ini, kita perlu terlebih dahulu mengetahui lafaz hadis yang sering dinukil dalam masalah ini. Di antara lafaz yang paling masyhur adalah diambil dari hadis,كان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذا رأَى البَيتَ قال: اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّا“Ya Allah, tambahkanlah untuk rumah ini kemuliaan, keagungan, penghormatan, dan kewibawaan. Tambahkan pula bagi orang yang memuliakan dan memuliakannya dengan berhaji atau berumrah. Tambahkanlah kemuliaan, penghormatan, keagungan, kewibawaan, serta kebaikan.” [1]Doa ini sering disebut sebagai doa yang dibaca ketika pertama kali melihat Kakbah. Bahkan, sebagian jamaah haji dan umrah menganggapnya sebagai bagian dari sunah yang dianjurkan secara khusus. Namun, benarkah doa ini berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bagaimanakah riwayat hadis ini?Riwayat hadisPertama, hadis Makhul Hadis ini diriwayatkan dari Makhul rahimahullah. Riwayat tersebut disebutkan oleh Ibn Abi Shaybah dalam al-Mushannaf [2]. Beliau meriwayatkan dari Waki‘, dari Sufyan, dari seorang laki-laki dari penduduk Syam, dari Makhul, bahwa apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Kakbah, beliau membaca,اللهم زد هذا البيت تشريفًا وتعظيمًا ومهابة، وزد من حجه أو اعتمره تشريفًا وتعظيمًا وتكريمًا وبرًّاRiwayat ini dha’if karena dua sebab:Makhul adalah seorang tabi’in, sementara beliau meriwayatkan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tanpa perantara sahabat). Dengan demikian, riwayat ini termasuk hadis mursal, dan hadis mursal adalah bagian dari hadis dha’if.Dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak dikenal, yaitu “seorang laki-laki dari penduduk Syam”, sehingga menambah kelemahan riwayat tersebut. Riwayat ini juga disebutkan oleh Al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubra [3]. Dalam sanadnya terdapat Abu Sa‘id asy-Syami. Akan tetapi, Abu Sa‘id asy-Syami dinilai sebagai pendusta. Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani berkata dalam at-Talkhis al-Habir [4]: “Kadzab (pendusta).” Dengan demikian, jalur Makhul ini tidak bisa dijadikan hujjah.Kedua, hadis Ibnu Juraij Hadis ini diriwayatkan dari Ibn Juraij rahimahullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat tersebut disebutkan dalam Musnad Syafi’i melalui susunan Abu Said Sanjar bin Abdullah al-Nashiri al-Jawli [5], dari Sa‘id bin Salim, dari Ibnu Juraij. Riwayat ini juga dibawakan oleh al-Baihaqi rahimahullah dalam al-Sunan al-Kubra [6]. Sanad ini sahih sampai kepada Ibnu Juraij. Sa‘id bin Salim dinilai tsiqah oleh Yahya bin Ma‘in dan dinilai “la ba’sa bihi” oleh an-Nasa’i. Namun, cacatnya terletak pada riwayat Ibnu Juraij dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Juraij adalah seorang tabi’in, sehingga riwayatnya langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk hadis mu’dhal, yaitu hadis yang gugur dua perawi atau lebih secara berurutan dalam sanadnya. Dan hadis mu’dhal termasuk hadis dha’if. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam at-Talkhis al-Habir,وهو معضل فيما بين ابن جريج والنبي صلى الله عليه وسلم“Riwayat ini mu’dhal antara Ibnu Juraij dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [7]Al-Baihaqi juga menyatakan bahwa riwayat tersebut terputus (munqathi‘). Dengan demikian, jalur Ibnu Juraij juga tidak dapat dijadikan dalil.Berdoa pada saat melihat KakbahLalu, setelah mengetahui bahwa doa melihat Kakbah mempunyai derajat yang mursal dan mu’dhal atau dha’if yang tidak bisa menjadi sebuah rujukan, bagaimana dengan hukum berdoa ketika melihat Kakbah?Berdoa pada saat melihat Kakbah pernah dilakukan oleh Nabi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam hadis yang panjang diceritakan bahwa,فَلَمَّا فَرَغَ مِن طَوَافِهِ أَتَى الصَّفَا، فَعَلَا عليه حتَّى نَظَرَ إلى البَيْتِ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيَدْعُو بما شَاءَ أَنْ يَدْعُوَ“Ketika beliau selesai dari thawaf, beliau mendatangi Shafa, lalu naik ke atasnya hingga melihat Kakbah. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya, lalu memuji Allah dan berdoa dengan doa apa saja yang beliau kehendaki.” [8]Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memang berdoa ketika melihat Kakbah. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa kejadian tersebut bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, melainkan ketika beliau berada di atas Shafa setelah menyelesaikan thawaf. Oleh karena itu, hadis ini tidak bisa dijadikan dalil adanya doa khusus ketika pertama kali melihat Kakbah.Namun, dari hadis ini dapat diambil faidah penting bahwa berdoa ketika melihat Kakbah secara umum adalah sesuatu yang diperbolehkan. Bahkan, tempat dan momen tersebut termasuk di antara waktu dan kondisi yang memiliki peluang besar untuk dikabulkannya doa.Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Fatawa Syabakah Islamiyyah,يدعو بما شاء، فالله سبحانه وتعالى قد أمر عباده بدعائه ووعدهم بالإجابة، وهذا المشهد – وهو مشاهدة الكعبة- من أفضل أماكن الدعاء“Seseorang boleh berdoa dengan doa apa saja yang ia kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan Dia pun menjanjikan akan mengabulkannya. Dan momen ini (yaitu saat memandang Kakbah) termasuk salah satu tempat dan waktu terbaik untuk berdoa.” [9]Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman juga menyebutkan dalam Syarh Fath al-Majid,ليس لزيارة البيت الحرام أدعية معينة تحفظ، وقد جاء في رؤية البيت دعاء في حديث سنده ضعيف، وعلى الإنسان أن يجتهد في الدعاء الذي يناسبه ويحتاجه لنفسه فيدعو الله به“Tidak ada doa-doa khusus yang harus dihafal ketika mengunjungi Baitul Haram. Memang ada riwayat tentang doa ketika pertama kali melihat Kakbah, namun sanad hadis tersebut lemah. Oleh karena itu, seseorang hendaknya bersungguh-sungguh memanjatkan doa sesuai dengan kebutuhan dan keadaan dirinya, memohon kepada Allah dengan doa yang ia rasa paling ia perlukan.” [10]Kesimpulan Pertama, doa yang populer dibaca ketika melihat Kakbah tidaklah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Riwayat-riwayat yang menyebutkan doa tersebut berputar pada jalur Makhul dan Ibnu Juraij, yang keduanya tidak tersambung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (mursal dan mu’dhal), bahkan sebagian jalurnya mengandung perawi yang lemah dan tertuduh. Oleh karena itu, doa tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sunah khusus yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, berdoa ketika melihat Kakbah pada asalnya tidak mengapa. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa ketika melihat Kakbah dari atas Shafa. Meskipun bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, hadis ini menunjukkan bolehnya berdoa secara umum. Maka, seorang muslim boleh berdoa dengan doa apa saja sesuai kebutuhan dan hajatnya, tanpa mengkhususkan lafaz tertentu atau meyakini adanya tuntunan khusus dalam momen tersebut.Ketiga, apabila seseorang ingin membaca doa yang diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi’i karena maknanya yang baik dan sesuai dengan keagungan Kakbah, yang berbunyi,اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّاmaka hal itu tidak mengapa. Namun, yang perlu ditekankan adalah tidak boleh meyakini bahwa doa tersebut merupakan sunah khusus ketika melihat Kakbah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau memiliki keutamaan tertentu yang tidak didasarkan pada dalil yang sahih.Baca juga: Mengenal Baitul Makmur: Ka’bah Penduduk Langit***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Imam al-Bayhaqi, as-Sunan as-Shaghir, 2: 171.[2] Imam Ibn Abi Shaybah, al-Mushannaf, no. 30240, 15: 317.[3] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[4] Imam Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 242.[5] Imam Abu Said Sanjar, Musnad al-Imam al-Shafi’i (Tartib Sanjar), hal. 125.[6] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[7] Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 526.[8] Muslim, Shahih Muslim, no. 1780.[9] Lajnah al-Fatwa bi al-Shabakah al-Islamiyyah, Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah, 10: 900.[10] Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman, Sharh Fath al-Majid, 4: 141.Daftar Pustaka Ibn Abi Shaybah. al-Mushannaf. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ibn Hajar al-Asqalani. at-Talkhis al-Habir. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Imam Abu Said Sanjar. Musnad al-Imam al-Shafi‘i. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. al-Sunan al-Kubra. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. as-Sunan as-Saghir. Tahqiq ‘Abd al-Mu‘ti Amin Qal‘aji. Cet. 1. 4 jilid. Karachi: Jami‘ah ad-Dirasat al-Islamiyyah, 1410/ 1989.Abd Allah ibn Muhammad al-Ghunayman. Sharh Fath al-Majid. Transkrip pelajaran audio oleh Islamweb.Islamweb. Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah. Disusun oleh Lajnah al-Fatwa. Diakses melalui http://www.islamweb.net .

Rezeki Lapang Bisa Menipu, Rezeki Sempit Bisa Menyelamatkan

Banyak orang mengira bahwa rezeki yang lapang adalah tanda kemuliaan, dan rezeki yang sempit adalah tanda kehinaan. Padahal, Al-Qur’an menjelaskan bahwa ukuran kemuliaan bukan pada banyaknya dunia yang dimiliki. Tulisan ini mengajak kita memahami bagaimana Allah mengatur rezeki dengan penuh hikmah dan kasih sayang. Ini adalah penenungan ayat dari juz ke-25, surah Az-Zukhruf.  Daftar Isi tutup 1. Dunia Tidak Bernilai di Sisi Allah 2. Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan Sementara 3. Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan Hamba 4. Nasihat Penutup  Dunia Tidak Bernilai di Sisi AllahAllah Ta’ala berfirman,وَلَوْلَآ أَن يَكُونَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً لَّجَعَلْنَا لِمَن يَكْفُرُ بِٱلرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ“Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.” (QS. Az-Zukhruf: 33)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Ayat ini menjelaskan bahwa dunia sama sekali tidak bernilai di sisi Allah. Kalaulah bukan karena kelembutan dan kasih sayang-Nya kepada para hamba, yang selalu Dia dahulukan, niscaya Allah akan melapangkan dunia dengan sangat luas bagi orang-orang kafir. Bahkan, Allah akan menjadikan atap-atap rumah mereka dari perak, dan juga tangga-tangga dari perak yang mereka gunakan untuk naik ke bagian atas rumah mereka.Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Merasa Miskin Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan SementaraAllah Ta’ala berfirman,وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَٰبًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِـُٔونَ“Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya.”  (QS. Az-Zukhruf: 34)وَزُخْرُفًا ۚ وَإِن كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَٱلْءَاخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ“Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 35)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Dan Allah juga akan menjadikan bagi mereka berbagai perhiasan (kemewahan), yaitu menghiasi dunia mereka dengan berbagai bentuk hiasan, serta memberikan apa saja yang mereka inginkan.Namun, Allah menahan semua itu karena rahmat-Nya kepada para hamba. Dia khawatir jika dunia dilapangkan secara berlebihan, manusia akan semakin cepat terjerumus dalam kekufuran dan semakin banyak melakukan maksiat karena terlalu mencintai dunia.Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa Allah terkadang menahan sebagian kenikmatan dunia dari hamba-Nya, baik secara umum maupun khusus, demi kebaikan mereka.Ini juga menunjukkan bahwa dunia tidak bernilai di sisi Allah, bahkan tidak sebanding dengan sayap seekor nyamuk. Semua yang disebutkan itu hanyalah kenikmatan sementara, yang penuh kekurangan, mengganggu, dan pasti akan lenyap.Adapun akhirat di sisi Allah jauh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena kenikmatan di akhirat itu sempurna dari segala sisi. Di dalam surga terdapat segala yang diinginkan oleh jiwa dan yang menyenangkan mata, dan mereka kekal di dalamnya.Betapa besar perbedaan antara kehidupan dunia dan akhirat.Baca juga: Orang Kafir Tidak Diberi Rezeki, Namun? Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan HambaKetika menjelaskan ayat berikut ini,{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: وَأَهْلُ التَّقْوَى يَرْزُقُهُمْ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُونَ وَلَا يَكُونُ رِزْقُهُمْ بِأَسْبَابِ مُحَرَّمَةٍ وَلَا يَكُونُ خَبِيثًا وَالتَّقِيُّ لَا يُحْرَمُ مَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ مِنْ الرِّزْقِ Orang-orang yang bertakwa akan diberi rezeki oleh Allah dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Rezeki mereka bukan berasal dari sebab-sebab yang haram, dan bukan pula rezeki yang buruk. Orang yang bertakwa tidak akan dihalangi dari rezeki yang benar-benar ia butuhkan. وَإِنَّمَا يُحْمَى مِنْ فُضُولِ الدُّنْيَا رَحْمَةً بِهِ وَإِحْسَانًا إلَيْهِ؛ فَإِنَّ تَوْسِيعَ الرِّزْقِ قَدْ يَكُونُ مَضَرَّةً عَلَى صَاحِبِهِ وَتَقْدِيرَهُ يَكُونُ رَحْمَةً لِصَاحِبِهِ.Hanya saja, terkadang ia dijauhkan dari kelebihan dunia, sebagai bentuk rahmat dan kebaikan Allah kepadanya. Sebab, dilapangkannya rezeki bisa jadi justru membahayakan pemiliknya, sedangkan disempitkannya rezeki bisa jadi merupakan rahmat bagi dirinya.Allah Ta’ala berfirman:{فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ} {وَأَمَّا إذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ} {كُلًّا}“Maka adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr: 15–17)Maksudnya, persoalannya tidak seperti itu. Tidak setiap orang yang dilapangkan rezekinya berarti dimuliakan, dan tidak setiap orang yang disempitkan rezekinya berarti dihinakan.بَلْ قَدْ يُوَسَّعُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ إمْلَاءً وَاسْتِدْرَاجًا وَقَدْ يُقَدَّرُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ حِمَايَةً وَصِيَانَةً لَهُBisa jadi seseorang dilapangkan rezekinya sebagai bentuk penangguhan dan istidraj. Sebaliknya, bisa jadi seseorang disempitkan rezekinya sebagai bentuk perlindungan dan penjagaan untuk dirinya.وَضِيقُ الرِّزْقِ عَلَى عَبْدٍ مِنْ أَهْلِ الدِّينِ قَدْ يَكُونُ لِمَا لَهُ مِنْ ذُنُوبٍ وَخَطَايَاSempitnya rezeki yang dialami seorang hamba yang taat beragama terkadang juga disebabkan oleh dosa-dosa dan kesalahannya.Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama salaf,إنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar bisa terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya.”Dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan:مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Siapa yang memperbanyak istigfar, Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesusahan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 16:53)Baca juga: Istidraj: Jebakan Berupa Limpahan Rezeki Karena Bermaksiat Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengukur keberhasilan hanya dari banyaknya harta dan kemewahan, padahal itu bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah. Jangan mudah iri dengan rezeki orang lain, karena bisa jadi itu ujian yang berat baginya. Sebaliknya, jangan pula merasa rendah diri saat rezeki terasa sempit, karena bisa jadi itu bentuk penjagaan dari Allah. Fokuslah memperbaiki takwa dan memperbanyak istighfar, karena di situlah kunci keberkahan hidup.اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَاكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَAllāhumma-rzuqnā rizqan ṭayyiban mubārakan, wakfinā biḥalālika ‘an ḥarāmika, wa aghninā bifaḍlika ‘amman siwāk.Ya Allah, karuniakan kepada kami rezeki yang baik dan penuh berkah, cukupkan kami dengan yang halal sehingga kami terhindar dari yang haram, dan jadikan kami merasa cukup dengan karunia-Mu dari selain-Mu. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Ibn Taymiyyah, A. ibn T. (2004). Majmū‘ al-fatāwā (A. ibn M. ibn Qāsim, Ed.; M. ibn ‘Abd al-Raḥmān ibn Qāsim, Assisting ed.). Majma‘ al-Malik Fahd li-Ṭibā‘at al-Muṣḥaf al-Sharīf. —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal fajr ath thalaq az zukhruf cinta dunia dunia vs akhirat istidraj istigfar pembuka pintu rezeki renungan ayat renungan quran rezeki tafsir quran takwa ujian hidup

Rezeki Lapang Bisa Menipu, Rezeki Sempit Bisa Menyelamatkan

Banyak orang mengira bahwa rezeki yang lapang adalah tanda kemuliaan, dan rezeki yang sempit adalah tanda kehinaan. Padahal, Al-Qur’an menjelaskan bahwa ukuran kemuliaan bukan pada banyaknya dunia yang dimiliki. Tulisan ini mengajak kita memahami bagaimana Allah mengatur rezeki dengan penuh hikmah dan kasih sayang. Ini adalah penenungan ayat dari juz ke-25, surah Az-Zukhruf.  Daftar Isi tutup 1. Dunia Tidak Bernilai di Sisi Allah 2. Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan Sementara 3. Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan Hamba 4. Nasihat Penutup  Dunia Tidak Bernilai di Sisi AllahAllah Ta’ala berfirman,وَلَوْلَآ أَن يَكُونَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً لَّجَعَلْنَا لِمَن يَكْفُرُ بِٱلرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ“Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.” (QS. Az-Zukhruf: 33)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Ayat ini menjelaskan bahwa dunia sama sekali tidak bernilai di sisi Allah. Kalaulah bukan karena kelembutan dan kasih sayang-Nya kepada para hamba, yang selalu Dia dahulukan, niscaya Allah akan melapangkan dunia dengan sangat luas bagi orang-orang kafir. Bahkan, Allah akan menjadikan atap-atap rumah mereka dari perak, dan juga tangga-tangga dari perak yang mereka gunakan untuk naik ke bagian atas rumah mereka.Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Merasa Miskin Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan SementaraAllah Ta’ala berfirman,وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَٰبًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِـُٔونَ“Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya.”  (QS. Az-Zukhruf: 34)وَزُخْرُفًا ۚ وَإِن كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَٱلْءَاخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ“Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 35)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Dan Allah juga akan menjadikan bagi mereka berbagai perhiasan (kemewahan), yaitu menghiasi dunia mereka dengan berbagai bentuk hiasan, serta memberikan apa saja yang mereka inginkan.Namun, Allah menahan semua itu karena rahmat-Nya kepada para hamba. Dia khawatir jika dunia dilapangkan secara berlebihan, manusia akan semakin cepat terjerumus dalam kekufuran dan semakin banyak melakukan maksiat karena terlalu mencintai dunia.Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa Allah terkadang menahan sebagian kenikmatan dunia dari hamba-Nya, baik secara umum maupun khusus, demi kebaikan mereka.Ini juga menunjukkan bahwa dunia tidak bernilai di sisi Allah, bahkan tidak sebanding dengan sayap seekor nyamuk. Semua yang disebutkan itu hanyalah kenikmatan sementara, yang penuh kekurangan, mengganggu, dan pasti akan lenyap.Adapun akhirat di sisi Allah jauh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena kenikmatan di akhirat itu sempurna dari segala sisi. Di dalam surga terdapat segala yang diinginkan oleh jiwa dan yang menyenangkan mata, dan mereka kekal di dalamnya.Betapa besar perbedaan antara kehidupan dunia dan akhirat.Baca juga: Orang Kafir Tidak Diberi Rezeki, Namun? Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan HambaKetika menjelaskan ayat berikut ini,{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: وَأَهْلُ التَّقْوَى يَرْزُقُهُمْ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُونَ وَلَا يَكُونُ رِزْقُهُمْ بِأَسْبَابِ مُحَرَّمَةٍ وَلَا يَكُونُ خَبِيثًا وَالتَّقِيُّ لَا يُحْرَمُ مَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ مِنْ الرِّزْقِ Orang-orang yang bertakwa akan diberi rezeki oleh Allah dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Rezeki mereka bukan berasal dari sebab-sebab yang haram, dan bukan pula rezeki yang buruk. Orang yang bertakwa tidak akan dihalangi dari rezeki yang benar-benar ia butuhkan. وَإِنَّمَا يُحْمَى مِنْ فُضُولِ الدُّنْيَا رَحْمَةً بِهِ وَإِحْسَانًا إلَيْهِ؛ فَإِنَّ تَوْسِيعَ الرِّزْقِ قَدْ يَكُونُ مَضَرَّةً عَلَى صَاحِبِهِ وَتَقْدِيرَهُ يَكُونُ رَحْمَةً لِصَاحِبِهِ.Hanya saja, terkadang ia dijauhkan dari kelebihan dunia, sebagai bentuk rahmat dan kebaikan Allah kepadanya. Sebab, dilapangkannya rezeki bisa jadi justru membahayakan pemiliknya, sedangkan disempitkannya rezeki bisa jadi merupakan rahmat bagi dirinya.Allah Ta’ala berfirman:{فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ} {وَأَمَّا إذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ} {كُلًّا}“Maka adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr: 15–17)Maksudnya, persoalannya tidak seperti itu. Tidak setiap orang yang dilapangkan rezekinya berarti dimuliakan, dan tidak setiap orang yang disempitkan rezekinya berarti dihinakan.بَلْ قَدْ يُوَسَّعُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ إمْلَاءً وَاسْتِدْرَاجًا وَقَدْ يُقَدَّرُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ حِمَايَةً وَصِيَانَةً لَهُBisa jadi seseorang dilapangkan rezekinya sebagai bentuk penangguhan dan istidraj. Sebaliknya, bisa jadi seseorang disempitkan rezekinya sebagai bentuk perlindungan dan penjagaan untuk dirinya.وَضِيقُ الرِّزْقِ عَلَى عَبْدٍ مِنْ أَهْلِ الدِّينِ قَدْ يَكُونُ لِمَا لَهُ مِنْ ذُنُوبٍ وَخَطَايَاSempitnya rezeki yang dialami seorang hamba yang taat beragama terkadang juga disebabkan oleh dosa-dosa dan kesalahannya.Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama salaf,إنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar bisa terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya.”Dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan:مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Siapa yang memperbanyak istigfar, Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesusahan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 16:53)Baca juga: Istidraj: Jebakan Berupa Limpahan Rezeki Karena Bermaksiat Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengukur keberhasilan hanya dari banyaknya harta dan kemewahan, padahal itu bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah. Jangan mudah iri dengan rezeki orang lain, karena bisa jadi itu ujian yang berat baginya. Sebaliknya, jangan pula merasa rendah diri saat rezeki terasa sempit, karena bisa jadi itu bentuk penjagaan dari Allah. Fokuslah memperbaiki takwa dan memperbanyak istighfar, karena di situlah kunci keberkahan hidup.اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَاكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَAllāhumma-rzuqnā rizqan ṭayyiban mubārakan, wakfinā biḥalālika ‘an ḥarāmika, wa aghninā bifaḍlika ‘amman siwāk.Ya Allah, karuniakan kepada kami rezeki yang baik dan penuh berkah, cukupkan kami dengan yang halal sehingga kami terhindar dari yang haram, dan jadikan kami merasa cukup dengan karunia-Mu dari selain-Mu. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Ibn Taymiyyah, A. ibn T. (2004). Majmū‘ al-fatāwā (A. ibn M. ibn Qāsim, Ed.; M. ibn ‘Abd al-Raḥmān ibn Qāsim, Assisting ed.). Majma‘ al-Malik Fahd li-Ṭibā‘at al-Muṣḥaf al-Sharīf. —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal fajr ath thalaq az zukhruf cinta dunia dunia vs akhirat istidraj istigfar pembuka pintu rezeki renungan ayat renungan quran rezeki tafsir quran takwa ujian hidup
Banyak orang mengira bahwa rezeki yang lapang adalah tanda kemuliaan, dan rezeki yang sempit adalah tanda kehinaan. Padahal, Al-Qur’an menjelaskan bahwa ukuran kemuliaan bukan pada banyaknya dunia yang dimiliki. Tulisan ini mengajak kita memahami bagaimana Allah mengatur rezeki dengan penuh hikmah dan kasih sayang. Ini adalah penenungan ayat dari juz ke-25, surah Az-Zukhruf.  Daftar Isi tutup 1. Dunia Tidak Bernilai di Sisi Allah 2. Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan Sementara 3. Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan Hamba 4. Nasihat Penutup  Dunia Tidak Bernilai di Sisi AllahAllah Ta’ala berfirman,وَلَوْلَآ أَن يَكُونَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً لَّجَعَلْنَا لِمَن يَكْفُرُ بِٱلرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ“Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.” (QS. Az-Zukhruf: 33)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Ayat ini menjelaskan bahwa dunia sama sekali tidak bernilai di sisi Allah. Kalaulah bukan karena kelembutan dan kasih sayang-Nya kepada para hamba, yang selalu Dia dahulukan, niscaya Allah akan melapangkan dunia dengan sangat luas bagi orang-orang kafir. Bahkan, Allah akan menjadikan atap-atap rumah mereka dari perak, dan juga tangga-tangga dari perak yang mereka gunakan untuk naik ke bagian atas rumah mereka.Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Merasa Miskin Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan SementaraAllah Ta’ala berfirman,وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَٰبًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِـُٔونَ“Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya.”  (QS. Az-Zukhruf: 34)وَزُخْرُفًا ۚ وَإِن كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَٱلْءَاخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ“Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 35)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Dan Allah juga akan menjadikan bagi mereka berbagai perhiasan (kemewahan), yaitu menghiasi dunia mereka dengan berbagai bentuk hiasan, serta memberikan apa saja yang mereka inginkan.Namun, Allah menahan semua itu karena rahmat-Nya kepada para hamba. Dia khawatir jika dunia dilapangkan secara berlebihan, manusia akan semakin cepat terjerumus dalam kekufuran dan semakin banyak melakukan maksiat karena terlalu mencintai dunia.Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa Allah terkadang menahan sebagian kenikmatan dunia dari hamba-Nya, baik secara umum maupun khusus, demi kebaikan mereka.Ini juga menunjukkan bahwa dunia tidak bernilai di sisi Allah, bahkan tidak sebanding dengan sayap seekor nyamuk. Semua yang disebutkan itu hanyalah kenikmatan sementara, yang penuh kekurangan, mengganggu, dan pasti akan lenyap.Adapun akhirat di sisi Allah jauh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena kenikmatan di akhirat itu sempurna dari segala sisi. Di dalam surga terdapat segala yang diinginkan oleh jiwa dan yang menyenangkan mata, dan mereka kekal di dalamnya.Betapa besar perbedaan antara kehidupan dunia dan akhirat.Baca juga: Orang Kafir Tidak Diberi Rezeki, Namun? Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan HambaKetika menjelaskan ayat berikut ini,{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: وَأَهْلُ التَّقْوَى يَرْزُقُهُمْ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُونَ وَلَا يَكُونُ رِزْقُهُمْ بِأَسْبَابِ مُحَرَّمَةٍ وَلَا يَكُونُ خَبِيثًا وَالتَّقِيُّ لَا يُحْرَمُ مَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ مِنْ الرِّزْقِ Orang-orang yang bertakwa akan diberi rezeki oleh Allah dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Rezeki mereka bukan berasal dari sebab-sebab yang haram, dan bukan pula rezeki yang buruk. Orang yang bertakwa tidak akan dihalangi dari rezeki yang benar-benar ia butuhkan. وَإِنَّمَا يُحْمَى مِنْ فُضُولِ الدُّنْيَا رَحْمَةً بِهِ وَإِحْسَانًا إلَيْهِ؛ فَإِنَّ تَوْسِيعَ الرِّزْقِ قَدْ يَكُونُ مَضَرَّةً عَلَى صَاحِبِهِ وَتَقْدِيرَهُ يَكُونُ رَحْمَةً لِصَاحِبِهِ.Hanya saja, terkadang ia dijauhkan dari kelebihan dunia, sebagai bentuk rahmat dan kebaikan Allah kepadanya. Sebab, dilapangkannya rezeki bisa jadi justru membahayakan pemiliknya, sedangkan disempitkannya rezeki bisa jadi merupakan rahmat bagi dirinya.Allah Ta’ala berfirman:{فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ} {وَأَمَّا إذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ} {كُلًّا}“Maka adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr: 15–17)Maksudnya, persoalannya tidak seperti itu. Tidak setiap orang yang dilapangkan rezekinya berarti dimuliakan, dan tidak setiap orang yang disempitkan rezekinya berarti dihinakan.بَلْ قَدْ يُوَسَّعُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ إمْلَاءً وَاسْتِدْرَاجًا وَقَدْ يُقَدَّرُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ حِمَايَةً وَصِيَانَةً لَهُBisa jadi seseorang dilapangkan rezekinya sebagai bentuk penangguhan dan istidraj. Sebaliknya, bisa jadi seseorang disempitkan rezekinya sebagai bentuk perlindungan dan penjagaan untuk dirinya.وَضِيقُ الرِّزْقِ عَلَى عَبْدٍ مِنْ أَهْلِ الدِّينِ قَدْ يَكُونُ لِمَا لَهُ مِنْ ذُنُوبٍ وَخَطَايَاSempitnya rezeki yang dialami seorang hamba yang taat beragama terkadang juga disebabkan oleh dosa-dosa dan kesalahannya.Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama salaf,إنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar bisa terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya.”Dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan:مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Siapa yang memperbanyak istigfar, Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesusahan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 16:53)Baca juga: Istidraj: Jebakan Berupa Limpahan Rezeki Karena Bermaksiat Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengukur keberhasilan hanya dari banyaknya harta dan kemewahan, padahal itu bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah. Jangan mudah iri dengan rezeki orang lain, karena bisa jadi itu ujian yang berat baginya. Sebaliknya, jangan pula merasa rendah diri saat rezeki terasa sempit, karena bisa jadi itu bentuk penjagaan dari Allah. Fokuslah memperbaiki takwa dan memperbanyak istighfar, karena di situlah kunci keberkahan hidup.اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَاكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَAllāhumma-rzuqnā rizqan ṭayyiban mubārakan, wakfinā biḥalālika ‘an ḥarāmika, wa aghninā bifaḍlika ‘amman siwāk.Ya Allah, karuniakan kepada kami rezeki yang baik dan penuh berkah, cukupkan kami dengan yang halal sehingga kami terhindar dari yang haram, dan jadikan kami merasa cukup dengan karunia-Mu dari selain-Mu. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Ibn Taymiyyah, A. ibn T. (2004). Majmū‘ al-fatāwā (A. ibn M. ibn Qāsim, Ed.; M. ibn ‘Abd al-Raḥmān ibn Qāsim, Assisting ed.). Majma‘ al-Malik Fahd li-Ṭibā‘at al-Muṣḥaf al-Sharīf. —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal fajr ath thalaq az zukhruf cinta dunia dunia vs akhirat istidraj istigfar pembuka pintu rezeki renungan ayat renungan quran rezeki tafsir quran takwa ujian hidup


Banyak orang mengira bahwa rezeki yang lapang adalah tanda kemuliaan, dan rezeki yang sempit adalah tanda kehinaan. Padahal, Al-Qur’an menjelaskan bahwa ukuran kemuliaan bukan pada banyaknya dunia yang dimiliki. Tulisan ini mengajak kita memahami bagaimana Allah mengatur rezeki dengan penuh hikmah dan kasih sayang. Ini adalah penenungan ayat dari juz ke-25, surah Az-Zukhruf.  Daftar Isi tutup 1. Dunia Tidak Bernilai di Sisi Allah 2. Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan Sementara 3. Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan Hamba 4. Nasihat Penutup  Dunia Tidak Bernilai di Sisi AllahAllah Ta’ala berfirman,وَلَوْلَآ أَن يَكُونَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً لَّجَعَلْنَا لِمَن يَكْفُرُ بِٱلرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ“Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.” (QS. Az-Zukhruf: 33)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Ayat ini menjelaskan bahwa dunia sama sekali tidak bernilai di sisi Allah. Kalaulah bukan karena kelembutan dan kasih sayang-Nya kepada para hamba, yang selalu Dia dahulukan, niscaya Allah akan melapangkan dunia dengan sangat luas bagi orang-orang kafir. Bahkan, Allah akan menjadikan atap-atap rumah mereka dari perak, dan juga tangga-tangga dari perak yang mereka gunakan untuk naik ke bagian atas rumah mereka.Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Merasa Miskin Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan SementaraAllah Ta’ala berfirman,وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَٰبًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِـُٔونَ“Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya.”  (QS. Az-Zukhruf: 34)وَزُخْرُفًا ۚ وَإِن كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَٱلْءَاخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ“Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 35)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Dan Allah juga akan menjadikan bagi mereka berbagai perhiasan (kemewahan), yaitu menghiasi dunia mereka dengan berbagai bentuk hiasan, serta memberikan apa saja yang mereka inginkan.Namun, Allah menahan semua itu karena rahmat-Nya kepada para hamba. Dia khawatir jika dunia dilapangkan secara berlebihan, manusia akan semakin cepat terjerumus dalam kekufuran dan semakin banyak melakukan maksiat karena terlalu mencintai dunia.Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa Allah terkadang menahan sebagian kenikmatan dunia dari hamba-Nya, baik secara umum maupun khusus, demi kebaikan mereka.Ini juga menunjukkan bahwa dunia tidak bernilai di sisi Allah, bahkan tidak sebanding dengan sayap seekor nyamuk. Semua yang disebutkan itu hanyalah kenikmatan sementara, yang penuh kekurangan, mengganggu, dan pasti akan lenyap.Adapun akhirat di sisi Allah jauh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena kenikmatan di akhirat itu sempurna dari segala sisi. Di dalam surga terdapat segala yang diinginkan oleh jiwa dan yang menyenangkan mata, dan mereka kekal di dalamnya.Betapa besar perbedaan antara kehidupan dunia dan akhirat.Baca juga: Orang Kafir Tidak Diberi Rezeki, Namun? Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan HambaKetika menjelaskan ayat berikut ini,{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: وَأَهْلُ التَّقْوَى يَرْزُقُهُمْ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُونَ وَلَا يَكُونُ رِزْقُهُمْ بِأَسْبَابِ مُحَرَّمَةٍ وَلَا يَكُونُ خَبِيثًا وَالتَّقِيُّ لَا يُحْرَمُ مَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ مِنْ الرِّزْقِ Orang-orang yang bertakwa akan diberi rezeki oleh Allah dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Rezeki mereka bukan berasal dari sebab-sebab yang haram, dan bukan pula rezeki yang buruk. Orang yang bertakwa tidak akan dihalangi dari rezeki yang benar-benar ia butuhkan. وَإِنَّمَا يُحْمَى مِنْ فُضُولِ الدُّنْيَا رَحْمَةً بِهِ وَإِحْسَانًا إلَيْهِ؛ فَإِنَّ تَوْسِيعَ الرِّزْقِ قَدْ يَكُونُ مَضَرَّةً عَلَى صَاحِبِهِ وَتَقْدِيرَهُ يَكُونُ رَحْمَةً لِصَاحِبِهِ.Hanya saja, terkadang ia dijauhkan dari kelebihan dunia, sebagai bentuk rahmat dan kebaikan Allah kepadanya. Sebab, dilapangkannya rezeki bisa jadi justru membahayakan pemiliknya, sedangkan disempitkannya rezeki bisa jadi merupakan rahmat bagi dirinya.Allah Ta’ala berfirman:{فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ} {وَأَمَّا إذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ} {كُلًّا}“Maka adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr: 15–17)Maksudnya, persoalannya tidak seperti itu. Tidak setiap orang yang dilapangkan rezekinya berarti dimuliakan, dan tidak setiap orang yang disempitkan rezekinya berarti dihinakan.بَلْ قَدْ يُوَسَّعُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ إمْلَاءً وَاسْتِدْرَاجًا وَقَدْ يُقَدَّرُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ حِمَايَةً وَصِيَانَةً لَهُBisa jadi seseorang dilapangkan rezekinya sebagai bentuk penangguhan dan istidraj. Sebaliknya, bisa jadi seseorang disempitkan rezekinya sebagai bentuk perlindungan dan penjagaan untuk dirinya.وَضِيقُ الرِّزْقِ عَلَى عَبْدٍ مِنْ أَهْلِ الدِّينِ قَدْ يَكُونُ لِمَا لَهُ مِنْ ذُنُوبٍ وَخَطَايَاSempitnya rezeki yang dialami seorang hamba yang taat beragama terkadang juga disebabkan oleh dosa-dosa dan kesalahannya.Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama salaf,إنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar bisa terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya.”Dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan:مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Siapa yang memperbanyak istigfar, Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesusahan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 16:53)Baca juga: Istidraj: Jebakan Berupa Limpahan Rezeki Karena Bermaksiat Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengukur keberhasilan hanya dari banyaknya harta dan kemewahan, padahal itu bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah. Jangan mudah iri dengan rezeki orang lain, karena bisa jadi itu ujian yang berat baginya. Sebaliknya, jangan pula merasa rendah diri saat rezeki terasa sempit, karena bisa jadi itu bentuk penjagaan dari Allah. Fokuslah memperbaiki takwa dan memperbanyak istighfar, karena di situlah kunci keberkahan hidup.اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَاكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَAllāhumma-rzuqnā rizqan ṭayyiban mubārakan, wakfinā biḥalālika ‘an ḥarāmika, wa aghninā bifaḍlika ‘amman siwāk.Ya Allah, karuniakan kepada kami rezeki yang baik dan penuh berkah, cukupkan kami dengan yang halal sehingga kami terhindar dari yang haram, dan jadikan kami merasa cukup dengan karunia-Mu dari selain-Mu. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Ibn Taymiyyah, A. ibn T. (2004). Majmū‘ al-fatāwā (A. ibn M. ibn Qāsim, Ed.; M. ibn ‘Abd al-Raḥmān ibn Qāsim, Assisting ed.). Majma‘ al-Malik Fahd li-Ṭibā‘at al-Muṣḥaf al-Sharīf. —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal fajr ath thalaq az zukhruf cinta dunia dunia vs akhirat istidraj istigfar pembuka pintu rezeki renungan ayat renungan quran rezeki tafsir quran takwa ujian hidup

Cahaya Orang Beriman di Hari Kiamat dan Sebab Padamnya Cahaya Munafik

Hari kiamat adalah hari ketika iman dan amal tampak nyata, bahkan dalam bentuk cahaya yang menerangi jalan seorang hamba. Orang-orang beriman mendapatkan cahaya sesuai kadar iman, takwa, dan amal mereka, sedangkan orang-orang munafik kehilangan cahaya itu pada saat yang paling genting. Dari ayat-ayat Surah Al-Hadid dan At-Tahrim ini (juz 27 dan 28), kita belajar pentingnya menjaga keikhlasan, menjauhi syahwat, meninggalkan keraguan, dan tidak tertipu oleh angan-angan kosong.  Daftar Isi tutup 1. Cahaya Orang Beriman di Hari Kiamat 2. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat) 3. Cahaya itu Murni Karunia Allah 4. Saat Orang Munafik Kehilangan Cahaya 5. Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang Beriman 5.1. Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamat 6. Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!  Cahaya Orang Beriman di Hari KiamatAllah Ta‘ālā berfirman:يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Ḥadīd: 12)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala mengabarkan tentang orang-orang beriman yang gemar bersedekah, bahwa pada hari kiamat cahaya mereka berjalan di hadapan mereka di padang mahsyar, sesuai dengan kadar amal mereka. Sebagaimana disebutkan oleh Abdullah bin Mas‘ud tentang firman-Nya,يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ، قَالَ: عَلَىٰ قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ يَمُرُّونَ عَلَى الصِّرَاطِ، مِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الْجَبَلِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ النَّخْلَةِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الرَّجُلِ الْقَائِمِ، وَأَدْنَاهُمْ نُورًا مَنْ نُورُهُ فِي إِبْهَامِهِ يَتَّقِدُ مَرَّةً وَيَطْفَأُ مَرَّةً.“Cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, ia berkata: mereka melintasi shirath sesuai dengan amal mereka. Ada yang cahayanya seperti gunung, ada yang seperti pohon kurma, ada yang seperti seorang laki-laki yang berdiri, dan yang paling sedikit cahayanya adalah yang cahayanya berada di ibu jari kakinya, kadang menyala dan kadang padam. (HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir)Qatadah berkata: disebutkan kepada kami bahwa Nabi ﷺ bersabda,مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَىٰ عَدَنَ أَبْيَنَ وَصَنْعَاءَ فَدُونَ ذَلِكَ، حَتَّىٰ إِنَّ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مَوْضِعَ قَدَمَيْهِ.“Di antara orang-orang beriman ada yang cahayanya menerangi dari Madinah hingga ‘Adn Abyan dan Shan‘a, dan ada pula yang kurang dari itu, hingga di antara mereka ada yang cahayanya hanya menerangi tempat kedua telapak kakinya.”Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Husain, dari Mujahid, dari Junadah bin Umayyah, ia berkata: sesungguhnya kalian telah dicatat di sisi Allah dengan nama-nama kalian, tanda-tanda kalian, perhiasan kalian, rahasia kalian, dan majelis kalian. Maka ketika hari kiamat tiba, dikatakan: “Wahai fulan, ini adalah cahayamu.” Dan kepada yang lain dikatakan: “Wahai fulan, tidak ada cahaya bagimu.” Lalu ia membaca ayat, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka.”Adh-Dhahhak berkata: setiap orang akan diberi cahaya pada hari kiamat. Ketika mereka sampai di atas shirath, padamlah cahaya orang-orang munafik. Ketika orang-orang beriman melihat hal itu, mereka merasa takut jika cahaya mereka juga padam sebagaimana padamnya cahaya orang-orang munafik. Maka mereka berkata:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.”Al-Hasan berkata tentang firman-Nya, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, maksudnya adalah di atas shirath.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Abu Darda’ dan Abu Dzar mengabarkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Aku adalah orang pertama yang diizinkan bersujud pada hari kiamat dan orang pertama yang diizinkan mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، كَيْفَ تَعْرِفُ أُمَّتَكَ مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ مَا بَيْنَ نُوحٍ إِلَىٰ أُمَّتِكَ؟Seseorang bertanya: “Wahai Nabi Allah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat dari zaman Nuh hingga umatmu?”قَالَ: «أَعْرِفُهُمْ، مُحَجَّلُونَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ، وَلَا يَكُونُ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَذُرِّيَّتِهِمْ».Beliau menjawab: “Aku mengenali mereka dengan wajah yang bercahaya karena bekas wudhu, yang tidak dimiliki oleh umat lain. Aku mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Aku mengenali mereka dari tanda-tanda di wajah mereka, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang bersinar di hadapan mereka dan pada anak keturunan mereka.”Firman-Nya, “dan di sebelah kanan mereka”, Adh-Dhahhak berkata: yaitu catatan amal mereka berada di tangan kanan mereka, sebagaimana firman Allah, “Barang siapa yang diberikan kitabnya di tangan kanannya.”Firman-Nya, “(dikatakan kepada mereka): ‘Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai’”, maksudnya dikatakan kepada mereka: pada hari ini kalian mendapat kabar gembira berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.“Mereka kekal di dalamnya”, yaitu mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya.“Itulah kemenangan yang besar.”Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala menjelaskan tentang keutamaan iman dan kebahagiaan para pemiliknya pada hari kiamat: “(Yaitu) pada hari ketika engkau melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, cahaya mereka bersinar di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka.”Artinya, ketika hari kiamat terjadi, matahari digulung, bulan menjadi gelap, dan manusia berada dalam kegelapan, serta shirath dibentangkan di atas neraka Jahannam, maka pada saat itulah engkau melihat orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, cahaya mereka berjalan di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Mereka berjalan dengan cahaya dan catatan amal mereka di tangan kanan, dalam keadaan yang sangat dahsyat dan sulit itu, masing-masing sesuai dengan kadar imannya.Pada saat itu, mereka diberi kabar gembira yang paling agung. Dikatakan kepada mereka:“Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian, yaitu surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kalian kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”Sungguh, betapa indah kabar gembira ini di dalam hati mereka, dan betapa nikmat bagi jiwa mereka, karena mereka mendapatkan semua yang diinginkan dan dicintai, serta selamat dari segala keburukan dan hal yang ditakuti. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat)Allah Ta‘ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ḥadīd: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Ayat ini kemungkinan merupakan seruan kepada Ahli Kitab yang telah beriman kepada Musa dan Isa ‘alaihimas salam, agar mereka mengamalkan konsekuensi dari iman mereka, yaitu dengan bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan maksiat, serta beriman kepada Rasul-Nya, Muhammad ﷺ. Jika mereka melakukan hal itu, maka Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yaitu dua bagian pahala: satu pahala atas iman mereka kepada para nabi terdahulu, dan satu pahala atas iman mereka kepada Muhammad ﷺ.Kemungkinan lain, ayat ini bersifat umum mencakup Ahli Kitab dan selain mereka, dan inilah yang lebih tampak. Allah memerintahkan mereka untuk beriman dan bertakwa, yang mencakup seluruh ajaran agama, baik lahir maupun batin, pokok maupun cabangnya. Jika mereka melaksanakan perintah yang agung ini, Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yang hakikat dan besarnya hanya diketahui oleh Allah Ta‘ala. Bisa bermakna pahala atas iman dan pahala atas takwa, atau pahala atas melaksanakan perintah dan pahala atas menjauhi larangan, atau makna dua itu menunjukkan pemberian yang berulang-ulang.“Dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu Allah memberi kalian ilmu, petunjuk, dan cahaya yang kalian gunakan untuk berjalan di tengah kegelapan kebodohan, serta Dia mengampuni dosa-dosa kalian.“Dan Allah memiliki karunia yang besar,” sehingga pahala ini tidaklah dianggap besar bagi Zat Yang memiliki karunia yang agung, yang karunia-Nya meliputi seluruh penduduk langit dan bumi. Tidak ada satu makhluk pun yang lepas dari karunia-Nya walau sekejap mata, bahkan lebih kecil dari itu.Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Telah disebutkan dalam riwayat An-Nasa’i dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau memahami ayat ini tentang orang-orang beriman dari kalangan Ahli Kitab, dan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, sebagaimana disebutkan dalam ayat di surah Al-Qashash, dan sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Sya‘bi, dari Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy‘ari, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:ثَلَاثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَآمَنَ بِي فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَدَّى حَقَّ اللَّهِ وَحَقَّ مَوَالِيهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ أَدَّبَ أَمَتَهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ“Tiga golongan yang mendapatkan pahala dua kali: seorang dari Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepadaku, maka ia mendapat dua pahala; seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya, maka ia mendapat dua pahala; dan seorang yang mendidik budak wanitanya dengan baik, lalu memerdekakannya dan menikahinya, maka ia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pendapat ini juga disepakati oleh Adh-Dhahhak, ‘Utbah bin Abi Hakim, dan selain keduanya, serta dipilih oleh Ibnu Jarir.Sa‘id bin Jubair berkata: ketika Ahli Kitab membanggakan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, maka Allah menurunkan ayat ini untuk umat ini:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya, menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan, dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Maksudnya, dua bagian tersebut adalah dua kali lipat. Allah juga menambahkan bagi mereka, “dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu petunjuk yang dengannya seseorang dapat melihat jalan di tengah kebutaan dan kebodohan, serta mengampuni kalian. Allah melebihkan mereka dengan cahaya dan ampunan. Riwayat ini juga dibawakan oleh Ibnu Jarir.Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta‘ala:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian pembeda (antara yang benar dan yang batil), menghapus kesalahan-kesalahan kalian, dan mengampuni kalian. Dan Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)Sa‘id bin ‘Abdul ‘Aziz berkata: Umar bin Al-Khaththab pernah bertanya kepada seorang alim dari kalangan Yahudi: “Berapa kali lipat paling besar pahala kebaikan yang diberikan kepada kalian?” Ia menjawab: “Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi tiga ratus lima puluh kebaikan.” Maka Umar memuji Allah karena Dia telah memberikan kepada kita dua bagian (pahala). Kemudian Sa‘id menyebutkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ“Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya.”Sa‘id berkata: dua bagian itu pada hari Jumat seperti itu juga. Riwayat ini dibawakan oleh Ibnu Jarir.Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَثَلُكُمْ وَمَثَلُ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَعْمَلَ عُمَّالًا فَقَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ الْيَهُودُ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَىٰ صَلَاةِ الْعَصْرِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ النَّصَارَى، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَىٰ غُرُوبِ الشَّمْسِ عَلَىٰ قِيرَاطَيْنِ قِيرَاطَيْنِ؟ أَلَا فَأَنْتُمُ الَّذِينَ عَمِلْتُمْ، فَغَضِبَتِ النَّصَارَى وَالْيَهُودُ، وَقَالُوا: نَحْنُ أَكْثَرُ عَمَلًا وَأَقَلُّ عَطَاءً، قَالَ: هَلْ ظَلَمْتُكُمْ مِنْ أَجْرِكُمْ شَيْئًا؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: فَإِنَّمَا هُوَ فَضْلِي أُؤْتِيهِ مَنْ أَشَاءُ“Perumpamaan kalian dengan Yahudi dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang mempekerjakan para pekerja. Ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Shubuh hingga tengah hari dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Yahudi bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari tengah hari hingga Ashar dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Nasrani bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Ashar hingga terbenam matahari dengan upah dua qirath dua qirath?’ Maka kalianlah yang bekerja. Lalu orang-orang Nasrani dan Yahudi marah dan berkata: ‘Kami bekerja lebih banyak, tetapi mendapatkan upah lebih sedikit.’ Ia berkata: ‘Apakah aku mengurangi sedikit pun dari upah kalian?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Ia berkata: ‘Itu adalah karunia-Ku, Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki.’”Ahmad berkata: hadits ini juga diriwayatkan kepada kami oleh Mu’ammal, dari Sufyan, dari ‘Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, semisal hadits Nafi‘ darinya.Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari, dari Sulaiman bin Harb, dari Hammad, dari Ayyub, dari Nafi‘ dengan sanad tersebut, dan juga dari Qutaibah, dari Al-Laits, dari Nafi‘ dengan lafaz yang semisal.Al-Bukhari juga berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-‘Ala’, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:مَثَلُ الْمُسْلِمِينَ وَالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَأْجَرَ قَوْمًا يَعْمَلُونَ لَهُ عَمَلًا يَوْمًا إِلَى اللَّيْلِ عَلَىٰ أَجْرٍ مَعْلُومٍ، فَعَمِلُوا إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ فَقَالُوا: لَا حَاجَةَ لَنَا فِي أَجْرِكَ الَّذِي شَرَطْتَ لَنَا، وَمَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، فَقَالَ لَهُمْ: لَا تَفْعَلُوا، أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ وَخُذُوا أَجْرَكُمْ كَامِلًا، فَأَبَوْا وَتَرَكُوا، وَاسْتَأْجَرَ آخَرِينَ بَعْدَهُمْ فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِكُمْ وَلَكُمُ الَّذِي شَرَطْتُ لَهُمْ مِنَ الْأَجْرِ، فَعَمِلُوا، حَتَّىٰ إِذَا كَانَ حِينَ صَلَوْا الْعَصْرَ قَالُوا: مَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، وَلَكَ الْأَجْرُ الَّذِي جَعَلْتَ لَنَا فِيهِ، فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ؛ فَإِنَّ مَا بَقِيَ مِنَ النَّهَارِ شَيْءٌ يَسِيرٌ، فَأَبَوْا، فَاسْتَأْجَرَ قَوْمًا أَنْ يَعْمَلُوا لَهُ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، فَعَمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِهِ حَتَّىٰ غَابَتِ الشَّمْسُ، فَاسْتَكْمَلُوا أَجْرَ الْفَرِيقَيْنِ كِلَيْهِمَا، فَذَلِكَ مَثَلُهُمْ وَمَثَلُ مَا قَبِلُوا مِنْ هَذَا النُّورِ“Perumpamaan kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang menyewa suatu kaum untuk bekerja sehari penuh sampai malam dengan upah tertentu. Mereka bekerja sampai tengah hari, lalu berkata: ‘Kami tidak butuh upah yang engkau janjikan, dan apa yang kami kerjakan sia-sia.’ Ia berkata: ‘Jangan lakukan itu, selesaikan sisa pekerjaan kalian dan ambil upah kalian secara penuh.’ Namun mereka menolak dan pergi. Lalu ia menyewa orang lain setelah mereka dan berkata: ‘Selesaikan sisa hari kalian dan kalian akan mendapatkan upah seperti yang aku janjikan kepada mereka.’ Mereka bekerja, hingga ketika waktu Ashar, mereka berkata: ‘Apa yang kami kerjakan sia-sia, dan upah itu untukmu.’ Ia berkata: ‘Selesaikan sisa pekerjaan kalian, karena yang tersisa dari hari itu hanya sedikit.’ Namun mereka menolak. Lalu ia menyewa suatu kaum untuk menyelesaikan sisa hari itu, maka mereka bekerja hingga matahari terbenam, dan mereka mendapatkan upah kedua kelompok sebelumnya secara penuh. Itulah perumpamaan mereka dan perumpamaan apa yang mereka terima dari cahaya ini.”Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari. Cahaya itu Murni Karunia AllahAllah Ta‘ālā berfirman,﴿نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.” (QS. At-Taḥrīm: 8)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’”Mujahid, Adh-Dhahhak, Al-Hasan Al-Bashri, dan selain mereka berkata: ucapan ini diucapkan oleh orang-orang beriman ketika mereka melihat pada hari kiamat cahaya orang-orang munafik telah padam.Muhammad bin Nashr Al-Marwazi berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi‘ah, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Habib, dari ‘Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, bahwa ia mendengar Abu Dzar dan Abu Darda’ berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ فِي السُّجُودِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ بِرَفْعِ رَأْسِهِ، فَأَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيَّ فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ يَمِينِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ شِمَالِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ“Akulah orang pertama yang diizinkan untuk sujud pada hari kiamat, dan orang pertama yang diizinkan untuk mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke hadapanku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kananku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kiriku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”Seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat?” Beliau menjawab:غُرٌّ مُحَجَّلُونَ مِنْ آثَارِ الطُّهُورِ، وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ مِنَ الْأُمَمِ كَذَلِكَ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ أَنَّهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ“Mereka memiliki wajah dan anggota tubuh yang bercahaya karena bekas wudhu, dan tidak ada umat lain yang memiliki hal itu selain mereka. Aku juga mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal mereka dengan tangan kanan, aku mengenali mereka dari tanda di wajah mereka akibat sujud, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang berjalan di hadapan mereka.”Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ishaq Ath-Thalqani, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, dari Yahya bin Hassan, dari seorang laki-laki dari Bani Kinanah, ia berkata: aku shalat di belakang Rasulullah ﷺ pada tahun penaklukan Makkah, lalu aku mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ لَا تُخْزِنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ya Allah, janganlah Engkau hinakan aku pada hari kiamat.” Saat Orang Munafik Kehilangan CahayaAllah Ta‘ālā berfirman,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al-Ḥadīd: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Ketika orang-orang munafik melihat cahaya orang-orang beriman yang mereka gunakan untuk berjalan, sementara cahaya mereka sendiri telah padam dan mereka berada dalam kegelapan dalam keadaan bingung, mereka berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.”Maksudnya, berilah kami kesempatan agar kami mendapatkan cahaya yang bisa kami gunakan untuk berjalan, sehingga kami selamat dari azab.Maka dikatakan kepada mereka:ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Maksudnya, jika hal itu mungkin dilakukan. Padahal kenyataannya hal itu tidak mungkin, bahkan termasuk sesuatu yang mustahil.Lalu dipisahkan antara orang-orang beriman dan orang-orang munafik dengan sebuah dinding:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Yaitu sebuah dinding yang kokoh dan benteng yang kuat. Bagian dalam yang menghadap orang-orang beriman berisi rahmat, sedangkan bagian luar yang menghadap orang-orang munafik berisi azab. Lalu orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’”Ini adalah pemberitahuan dari Allah tentang apa yang terjadi pada hari kiamat di padang mahsyar berupa berbagai kengerian yang mengguncangkan, gempa yang dahsyat, dan peristiwa-peristiwa yang menakutkan. Pada hari itu, tidak ada yang selamat kecuali orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengamalkan apa yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah menceritakan kepada kami Shafwan bin ‘Amr, telah menceritakan kepadaku Sulaim bin ‘Amir, ia berkata: kami keluar mengiringi jenazah di pintu Damaskus bersama Abu Umamah Al-Bahili. Setelah beliau menyalati jenazah dan mereka mulai menguburkannya, Abu Umamah berkata:“Wahai manusia, kalian sekarang berada di suatu tempat yang di dalamnya kalian membagi-bagi kebaikan dan keburukan. Kalian hampir akan berpindah darinya menuju tempat lain, yaitu ini”—sambil menunjuk ke kubur—“rumah kesendirian, rumah kegelapan, rumah ulat, dan rumah kesempitan, kecuali yang dilapangkan oleh Allah. Kemudian kalian akan berpindah darinya menuju berbagai tempat pada hari kiamat. Pada sebagian tempat itu, manusia akan diliputi oleh suatu perkara dari Allah, sehingga ada wajah yang menjadi putih dan ada wajah yang menjadi hitam.Kemudian kalian berpindah lagi ke tempat lain, lalu manusia diliputi oleh kegelapan yang sangat. Setelah itu, cahaya dibagikan. Orang beriman diberi cahaya, sedangkan orang kafir dan munafik tidak diberi apa pun. Inilah perumpamaan yang Allah sebutkan dalam Kitab-Nya:أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ“Atau seperti kegelapan di lautan yang dalam, yang diliputi ombak di atasnya ombak (pula), di atasnya lagi awan; kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir dia tidak dapat melihatnya. Barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidak ada baginya cahaya.” (QS. An-Nur: 40)Maka orang kafir dan munafik tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang beriman, sebagaimana orang buta tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang yang melihat. Lalu orang-orang munafik berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.” Lalu dikatakan kepada mereka: “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Itulah tipu daya Allah terhadap orang-orang munafik, sebagaimana firman-Nya:يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ“Mereka menipu Allah, dan Allah membalas tipu daya mereka.” (QS. An-Nisa: 142)Maka mereka kembali ke tempat pembagian cahaya, tetapi mereka tidak mendapatkan apa pun. Lalu mereka kembali kepada orang-orang beriman, namun telah dipisahkan antara mereka dengan sebuah dinding yang memiliki pintu:بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Sulaim bin ‘Amir berkata: orang munafik terus tertipu hingga cahaya dibagikan, lalu Allah membedakan antara orang beriman dan orang munafik.Ada lagi tambahan dari Ibnu Katsir sebagai berikut.Abu Al-Qasim Ath-Thabrani berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Alwiyah Al-Qaththan, telah menceritakan kepada kami Isma‘il bin ‘Isa Al-‘Aththar, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Bisyir Abu Hudzaifah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَدْعُو النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِهِمْ سِتْرًا مِنْهُ عَلَىٰ عِبَادِهِ، وَأَمَّا عِنْدَ الصِّرَاطِ فَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي كُلَّ مُؤْمِنٍ نُورًا، وَكُلَّ مُنَافِقٍ نُورًا، فَإِذَا اسْتَوَوْا عَلَى الصِّرَاطِ سَلَبَ اللَّهُ نُورَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ، فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ: ﴿انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ﴾، وَقَالَ الْمُؤْمِنُونَ: ﴿رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا﴾، فَلَا يُذْكَرُ عِنْدَ ذَلِكَ أَحَدٌ أَحَدًا“Sesungguhnya Allah memanggil manusia pada hari kiamat dengan nama-nama mereka sebagai bentuk penutupan (aib) dari-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Adapun di dekat shirath, Allah memberikan kepada setiap orang beriman cahaya, dan kepada setiap orang munafik juga cahaya. Ketika mereka telah berada di atas shirath, Allah mencabut cahaya orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. Maka orang-orang munafik berkata: ‘Tunggulah kami agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’ Dan orang-orang beriman berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.’ Maka pada saat itu, tidak ada seorang pun yang mengingat orang lain.”Firman-Nya:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Al-Hasan dan Qatadah berkata: dinding itu adalah pemisah antara surga dan neraka.‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: itulah yang disebut oleh Allah Ta‘ala dalam firman-Nya:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ“Dan di antara keduanya ada batas.” (QS. Al-A‘raf: 46)Demikian pula diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah dan selainnya, dan inilah pendapat yang benar.Baca juga: Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang BerimanAllah Ta‘ālā berfirman,يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (QS. Al-Ḥadīd: 14)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini sebagai berikut.“Mereka memanggil mereka, ‘Bukankah kami dahulu bersama kalian?’” maksudnya, orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman: bukankah kami dahulu bersama kalian di dunia, menghadiri shalat Jumat bersama kalian, shalat berjamaah bersama kalian, wukuf di Arafah bersama kalian, ikut dalam peperangan bersama kalian, dan menjalankan berbagai kewajiban bersama kalian?“Mereka menjawab, ‘Benar,’” yaitu orang-orang beriman menjawab: benar, kalian dahulu bersama kami.“Namun kalian mencelakakan diri kalian sendiri, menunggu-nunggu, ragu-ragu, dan kalian ditipu oleh angan-angan kosong.” Sebagian ulama salaf berkata: maksudnya kalian mencelakakan diri dengan kenikmatan, maksiat, dan syahwat.“Dan kalian menunggu-nunggu,” maksudnya kalian menunda tobat dari waktu ke waktu.Qatadah berkata: “Dan kalian menunggu-nunggu” yaitu terhadap kebenaran dan para pengikutnya. “Dan kalian ragu-ragu,” yaitu terhadap kebangkitan setelah kematian. “Dan kalian ditipu oleh angan-angan,” yaitu kalian berkata: Allah akan mengampuni kami. Ada juga yang mengatakan: kalian tertipu oleh dunia.“Hingga datang ketetapan Allah,” maksudnya kalian terus dalam keadaan itu hingga datang kematian.“Dan setan telah menipu kalian tentang Allah,” maksudnya setan.Qatadah berkata: mereka terus berada dalam tipuan setan, hingga akhirnya Allah melemparkan mereka ke dalam neraka.Makna ucapan orang-orang beriman kepada orang-orang munafik ini adalah: kalian dahulu bersama kami secara lahiriah, tetapi tanpa niat dan tanpa hati. Kalian berada dalam kebingungan dan keraguan, kalian hanya berbuat untuk dilihat manusia, dan kalian tidak mengingat Allah kecuali sedikit.Mujahid berkata: orang-orang munafik dahulu hidup bersama orang-orang beriman, mereka menikah dengan mereka, bergaul, dan hidup bersama mereka. Namun mereka mati dalam keadaan terpisah. Pada hari kiamat, mereka semua diberi cahaya, tetapi cahaya orang-orang munafik dipadamkan ketika sampai di dekat dinding, lalu dipisahkan antara mereka.Ucapan orang-orang beriman ini tidak bertentangan dengan firman Allah yang mengabarkan tentang mereka:كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ۝ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ ۝ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ عَنِ الْمُجْرِمِينَ ۝ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ۝ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ۝ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ۝ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ ۝ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ ۝ حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ“Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan. Mereka berada di dalam surga, saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa: ‘Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam (neraka) Saqar?’ Mereka menjawab: ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, serta kami membicarakan yang batil bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.’” (QS. Al-Muddatstsir: 38–47)Ucapan itu keluar dari orang-orang beriman sebagai bentuk celaan dan teguran keras kepada mereka. Kemudian Allah Ta‘ala berfirman:فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ“Maka tidak berguna bagi mereka syafaat para pemberi syafaat.” (QS. Al-Muddatstsir: 48) Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamatBerdasarkan Al-Hadid ayat 14, sebab tercabutnya cahaya pada hari kiamat dapat diringkas menjadi empat hal:1. Mencelakakan diri dengan maksiat dan syahwat(فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ)2. Menunda tobat dan menunggu-nunggu kebenaran(وَتَرَبَّصْتُمْ)3. Ragu terhadap iman dan hari akhir(وَارْتَبْتُمْ)4. Tertipu oleh angan-angan dan tipuan setan(وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ … وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ) Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!Di zaman sekarang, seseorang bisa tampak dekat dengan agama secara lahiriah, tetapi yang paling menentukan tetaplah keadaan hati di sisi Allah. Banyak orang rajin hadir dalam majelis ilmu, aktif dalam amal, dan terlihat baik di hadapan manusia, namun yang menyelamatkan adalah iman yang jujur dan hati yang bersih. Karena itu, jangan hanya sibuk memperbaiki penampilan ibadah, tetapi perbaikilah juga niat, tobat, keyakinan, dan rasa takut kepada Allah. Semoga Allah menjaga cahaya iman kita, meneguhkan kita di atas kebenaran, dan tidak menjadikan kita termasuk orang yang kehilangan cahaya pada hari kiamat.اللَّهُمَّ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَىٰ طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِينَAllāhumma atmim lanā nūranā, waghfir lanā, wa tsabbit qulūbanā ‘alā ṭā‘atika, waj‘alnā min ‘ibādikal-mukhliṣīn.“Ya Allah, sempurnakanlah cahaya kami, ampunilah kami, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscahaya iman hari akhir hari kiamat iman dan amal munafik nasihat akhirat orang munafik renungan ayat renungan quran rumaysho shirath tafsir Al-Hadid tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran takwa tazkiyatun nafs

Cahaya Orang Beriman di Hari Kiamat dan Sebab Padamnya Cahaya Munafik

Hari kiamat adalah hari ketika iman dan amal tampak nyata, bahkan dalam bentuk cahaya yang menerangi jalan seorang hamba. Orang-orang beriman mendapatkan cahaya sesuai kadar iman, takwa, dan amal mereka, sedangkan orang-orang munafik kehilangan cahaya itu pada saat yang paling genting. Dari ayat-ayat Surah Al-Hadid dan At-Tahrim ini (juz 27 dan 28), kita belajar pentingnya menjaga keikhlasan, menjauhi syahwat, meninggalkan keraguan, dan tidak tertipu oleh angan-angan kosong.  Daftar Isi tutup 1. Cahaya Orang Beriman di Hari Kiamat 2. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat) 3. Cahaya itu Murni Karunia Allah 4. Saat Orang Munafik Kehilangan Cahaya 5. Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang Beriman 5.1. Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamat 6. Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!  Cahaya Orang Beriman di Hari KiamatAllah Ta‘ālā berfirman:يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Ḥadīd: 12)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala mengabarkan tentang orang-orang beriman yang gemar bersedekah, bahwa pada hari kiamat cahaya mereka berjalan di hadapan mereka di padang mahsyar, sesuai dengan kadar amal mereka. Sebagaimana disebutkan oleh Abdullah bin Mas‘ud tentang firman-Nya,يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ، قَالَ: عَلَىٰ قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ يَمُرُّونَ عَلَى الصِّرَاطِ، مِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الْجَبَلِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ النَّخْلَةِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الرَّجُلِ الْقَائِمِ، وَأَدْنَاهُمْ نُورًا مَنْ نُورُهُ فِي إِبْهَامِهِ يَتَّقِدُ مَرَّةً وَيَطْفَأُ مَرَّةً.“Cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, ia berkata: mereka melintasi shirath sesuai dengan amal mereka. Ada yang cahayanya seperti gunung, ada yang seperti pohon kurma, ada yang seperti seorang laki-laki yang berdiri, dan yang paling sedikit cahayanya adalah yang cahayanya berada di ibu jari kakinya, kadang menyala dan kadang padam. (HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir)Qatadah berkata: disebutkan kepada kami bahwa Nabi ﷺ bersabda,مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَىٰ عَدَنَ أَبْيَنَ وَصَنْعَاءَ فَدُونَ ذَلِكَ، حَتَّىٰ إِنَّ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مَوْضِعَ قَدَمَيْهِ.“Di antara orang-orang beriman ada yang cahayanya menerangi dari Madinah hingga ‘Adn Abyan dan Shan‘a, dan ada pula yang kurang dari itu, hingga di antara mereka ada yang cahayanya hanya menerangi tempat kedua telapak kakinya.”Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Husain, dari Mujahid, dari Junadah bin Umayyah, ia berkata: sesungguhnya kalian telah dicatat di sisi Allah dengan nama-nama kalian, tanda-tanda kalian, perhiasan kalian, rahasia kalian, dan majelis kalian. Maka ketika hari kiamat tiba, dikatakan: “Wahai fulan, ini adalah cahayamu.” Dan kepada yang lain dikatakan: “Wahai fulan, tidak ada cahaya bagimu.” Lalu ia membaca ayat, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka.”Adh-Dhahhak berkata: setiap orang akan diberi cahaya pada hari kiamat. Ketika mereka sampai di atas shirath, padamlah cahaya orang-orang munafik. Ketika orang-orang beriman melihat hal itu, mereka merasa takut jika cahaya mereka juga padam sebagaimana padamnya cahaya orang-orang munafik. Maka mereka berkata:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.”Al-Hasan berkata tentang firman-Nya, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, maksudnya adalah di atas shirath.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Abu Darda’ dan Abu Dzar mengabarkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Aku adalah orang pertama yang diizinkan bersujud pada hari kiamat dan orang pertama yang diizinkan mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، كَيْفَ تَعْرِفُ أُمَّتَكَ مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ مَا بَيْنَ نُوحٍ إِلَىٰ أُمَّتِكَ؟Seseorang bertanya: “Wahai Nabi Allah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat dari zaman Nuh hingga umatmu?”قَالَ: «أَعْرِفُهُمْ، مُحَجَّلُونَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ، وَلَا يَكُونُ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَذُرِّيَّتِهِمْ».Beliau menjawab: “Aku mengenali mereka dengan wajah yang bercahaya karena bekas wudhu, yang tidak dimiliki oleh umat lain. Aku mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Aku mengenali mereka dari tanda-tanda di wajah mereka, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang bersinar di hadapan mereka dan pada anak keturunan mereka.”Firman-Nya, “dan di sebelah kanan mereka”, Adh-Dhahhak berkata: yaitu catatan amal mereka berada di tangan kanan mereka, sebagaimana firman Allah, “Barang siapa yang diberikan kitabnya di tangan kanannya.”Firman-Nya, “(dikatakan kepada mereka): ‘Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai’”, maksudnya dikatakan kepada mereka: pada hari ini kalian mendapat kabar gembira berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.“Mereka kekal di dalamnya”, yaitu mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya.“Itulah kemenangan yang besar.”Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala menjelaskan tentang keutamaan iman dan kebahagiaan para pemiliknya pada hari kiamat: “(Yaitu) pada hari ketika engkau melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, cahaya mereka bersinar di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka.”Artinya, ketika hari kiamat terjadi, matahari digulung, bulan menjadi gelap, dan manusia berada dalam kegelapan, serta shirath dibentangkan di atas neraka Jahannam, maka pada saat itulah engkau melihat orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, cahaya mereka berjalan di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Mereka berjalan dengan cahaya dan catatan amal mereka di tangan kanan, dalam keadaan yang sangat dahsyat dan sulit itu, masing-masing sesuai dengan kadar imannya.Pada saat itu, mereka diberi kabar gembira yang paling agung. Dikatakan kepada mereka:“Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian, yaitu surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kalian kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”Sungguh, betapa indah kabar gembira ini di dalam hati mereka, dan betapa nikmat bagi jiwa mereka, karena mereka mendapatkan semua yang diinginkan dan dicintai, serta selamat dari segala keburukan dan hal yang ditakuti. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat)Allah Ta‘ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ḥadīd: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Ayat ini kemungkinan merupakan seruan kepada Ahli Kitab yang telah beriman kepada Musa dan Isa ‘alaihimas salam, agar mereka mengamalkan konsekuensi dari iman mereka, yaitu dengan bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan maksiat, serta beriman kepada Rasul-Nya, Muhammad ﷺ. Jika mereka melakukan hal itu, maka Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yaitu dua bagian pahala: satu pahala atas iman mereka kepada para nabi terdahulu, dan satu pahala atas iman mereka kepada Muhammad ﷺ.Kemungkinan lain, ayat ini bersifat umum mencakup Ahli Kitab dan selain mereka, dan inilah yang lebih tampak. Allah memerintahkan mereka untuk beriman dan bertakwa, yang mencakup seluruh ajaran agama, baik lahir maupun batin, pokok maupun cabangnya. Jika mereka melaksanakan perintah yang agung ini, Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yang hakikat dan besarnya hanya diketahui oleh Allah Ta‘ala. Bisa bermakna pahala atas iman dan pahala atas takwa, atau pahala atas melaksanakan perintah dan pahala atas menjauhi larangan, atau makna dua itu menunjukkan pemberian yang berulang-ulang.“Dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu Allah memberi kalian ilmu, petunjuk, dan cahaya yang kalian gunakan untuk berjalan di tengah kegelapan kebodohan, serta Dia mengampuni dosa-dosa kalian.“Dan Allah memiliki karunia yang besar,” sehingga pahala ini tidaklah dianggap besar bagi Zat Yang memiliki karunia yang agung, yang karunia-Nya meliputi seluruh penduduk langit dan bumi. Tidak ada satu makhluk pun yang lepas dari karunia-Nya walau sekejap mata, bahkan lebih kecil dari itu.Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Telah disebutkan dalam riwayat An-Nasa’i dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau memahami ayat ini tentang orang-orang beriman dari kalangan Ahli Kitab, dan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, sebagaimana disebutkan dalam ayat di surah Al-Qashash, dan sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Sya‘bi, dari Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy‘ari, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:ثَلَاثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَآمَنَ بِي فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَدَّى حَقَّ اللَّهِ وَحَقَّ مَوَالِيهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ أَدَّبَ أَمَتَهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ“Tiga golongan yang mendapatkan pahala dua kali: seorang dari Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepadaku, maka ia mendapat dua pahala; seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya, maka ia mendapat dua pahala; dan seorang yang mendidik budak wanitanya dengan baik, lalu memerdekakannya dan menikahinya, maka ia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pendapat ini juga disepakati oleh Adh-Dhahhak, ‘Utbah bin Abi Hakim, dan selain keduanya, serta dipilih oleh Ibnu Jarir.Sa‘id bin Jubair berkata: ketika Ahli Kitab membanggakan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, maka Allah menurunkan ayat ini untuk umat ini:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya, menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan, dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Maksudnya, dua bagian tersebut adalah dua kali lipat. Allah juga menambahkan bagi mereka, “dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu petunjuk yang dengannya seseorang dapat melihat jalan di tengah kebutaan dan kebodohan, serta mengampuni kalian. Allah melebihkan mereka dengan cahaya dan ampunan. Riwayat ini juga dibawakan oleh Ibnu Jarir.Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta‘ala:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian pembeda (antara yang benar dan yang batil), menghapus kesalahan-kesalahan kalian, dan mengampuni kalian. Dan Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)Sa‘id bin ‘Abdul ‘Aziz berkata: Umar bin Al-Khaththab pernah bertanya kepada seorang alim dari kalangan Yahudi: “Berapa kali lipat paling besar pahala kebaikan yang diberikan kepada kalian?” Ia menjawab: “Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi tiga ratus lima puluh kebaikan.” Maka Umar memuji Allah karena Dia telah memberikan kepada kita dua bagian (pahala). Kemudian Sa‘id menyebutkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ“Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya.”Sa‘id berkata: dua bagian itu pada hari Jumat seperti itu juga. Riwayat ini dibawakan oleh Ibnu Jarir.Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَثَلُكُمْ وَمَثَلُ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَعْمَلَ عُمَّالًا فَقَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ الْيَهُودُ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَىٰ صَلَاةِ الْعَصْرِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ النَّصَارَى، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَىٰ غُرُوبِ الشَّمْسِ عَلَىٰ قِيرَاطَيْنِ قِيرَاطَيْنِ؟ أَلَا فَأَنْتُمُ الَّذِينَ عَمِلْتُمْ، فَغَضِبَتِ النَّصَارَى وَالْيَهُودُ، وَقَالُوا: نَحْنُ أَكْثَرُ عَمَلًا وَأَقَلُّ عَطَاءً، قَالَ: هَلْ ظَلَمْتُكُمْ مِنْ أَجْرِكُمْ شَيْئًا؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: فَإِنَّمَا هُوَ فَضْلِي أُؤْتِيهِ مَنْ أَشَاءُ“Perumpamaan kalian dengan Yahudi dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang mempekerjakan para pekerja. Ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Shubuh hingga tengah hari dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Yahudi bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari tengah hari hingga Ashar dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Nasrani bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Ashar hingga terbenam matahari dengan upah dua qirath dua qirath?’ Maka kalianlah yang bekerja. Lalu orang-orang Nasrani dan Yahudi marah dan berkata: ‘Kami bekerja lebih banyak, tetapi mendapatkan upah lebih sedikit.’ Ia berkata: ‘Apakah aku mengurangi sedikit pun dari upah kalian?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Ia berkata: ‘Itu adalah karunia-Ku, Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki.’”Ahmad berkata: hadits ini juga diriwayatkan kepada kami oleh Mu’ammal, dari Sufyan, dari ‘Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, semisal hadits Nafi‘ darinya.Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari, dari Sulaiman bin Harb, dari Hammad, dari Ayyub, dari Nafi‘ dengan sanad tersebut, dan juga dari Qutaibah, dari Al-Laits, dari Nafi‘ dengan lafaz yang semisal.Al-Bukhari juga berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-‘Ala’, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:مَثَلُ الْمُسْلِمِينَ وَالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَأْجَرَ قَوْمًا يَعْمَلُونَ لَهُ عَمَلًا يَوْمًا إِلَى اللَّيْلِ عَلَىٰ أَجْرٍ مَعْلُومٍ، فَعَمِلُوا إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ فَقَالُوا: لَا حَاجَةَ لَنَا فِي أَجْرِكَ الَّذِي شَرَطْتَ لَنَا، وَمَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، فَقَالَ لَهُمْ: لَا تَفْعَلُوا، أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ وَخُذُوا أَجْرَكُمْ كَامِلًا، فَأَبَوْا وَتَرَكُوا، وَاسْتَأْجَرَ آخَرِينَ بَعْدَهُمْ فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِكُمْ وَلَكُمُ الَّذِي شَرَطْتُ لَهُمْ مِنَ الْأَجْرِ، فَعَمِلُوا، حَتَّىٰ إِذَا كَانَ حِينَ صَلَوْا الْعَصْرَ قَالُوا: مَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، وَلَكَ الْأَجْرُ الَّذِي جَعَلْتَ لَنَا فِيهِ، فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ؛ فَإِنَّ مَا بَقِيَ مِنَ النَّهَارِ شَيْءٌ يَسِيرٌ، فَأَبَوْا، فَاسْتَأْجَرَ قَوْمًا أَنْ يَعْمَلُوا لَهُ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، فَعَمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِهِ حَتَّىٰ غَابَتِ الشَّمْسُ، فَاسْتَكْمَلُوا أَجْرَ الْفَرِيقَيْنِ كِلَيْهِمَا، فَذَلِكَ مَثَلُهُمْ وَمَثَلُ مَا قَبِلُوا مِنْ هَذَا النُّورِ“Perumpamaan kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang menyewa suatu kaum untuk bekerja sehari penuh sampai malam dengan upah tertentu. Mereka bekerja sampai tengah hari, lalu berkata: ‘Kami tidak butuh upah yang engkau janjikan, dan apa yang kami kerjakan sia-sia.’ Ia berkata: ‘Jangan lakukan itu, selesaikan sisa pekerjaan kalian dan ambil upah kalian secara penuh.’ Namun mereka menolak dan pergi. Lalu ia menyewa orang lain setelah mereka dan berkata: ‘Selesaikan sisa hari kalian dan kalian akan mendapatkan upah seperti yang aku janjikan kepada mereka.’ Mereka bekerja, hingga ketika waktu Ashar, mereka berkata: ‘Apa yang kami kerjakan sia-sia, dan upah itu untukmu.’ Ia berkata: ‘Selesaikan sisa pekerjaan kalian, karena yang tersisa dari hari itu hanya sedikit.’ Namun mereka menolak. Lalu ia menyewa suatu kaum untuk menyelesaikan sisa hari itu, maka mereka bekerja hingga matahari terbenam, dan mereka mendapatkan upah kedua kelompok sebelumnya secara penuh. Itulah perumpamaan mereka dan perumpamaan apa yang mereka terima dari cahaya ini.”Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari. Cahaya itu Murni Karunia AllahAllah Ta‘ālā berfirman,﴿نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.” (QS. At-Taḥrīm: 8)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’”Mujahid, Adh-Dhahhak, Al-Hasan Al-Bashri, dan selain mereka berkata: ucapan ini diucapkan oleh orang-orang beriman ketika mereka melihat pada hari kiamat cahaya orang-orang munafik telah padam.Muhammad bin Nashr Al-Marwazi berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi‘ah, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Habib, dari ‘Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, bahwa ia mendengar Abu Dzar dan Abu Darda’ berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ فِي السُّجُودِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ بِرَفْعِ رَأْسِهِ، فَأَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيَّ فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ يَمِينِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ شِمَالِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ“Akulah orang pertama yang diizinkan untuk sujud pada hari kiamat, dan orang pertama yang diizinkan untuk mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke hadapanku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kananku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kiriku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”Seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat?” Beliau menjawab:غُرٌّ مُحَجَّلُونَ مِنْ آثَارِ الطُّهُورِ، وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ مِنَ الْأُمَمِ كَذَلِكَ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ أَنَّهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ“Mereka memiliki wajah dan anggota tubuh yang bercahaya karena bekas wudhu, dan tidak ada umat lain yang memiliki hal itu selain mereka. Aku juga mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal mereka dengan tangan kanan, aku mengenali mereka dari tanda di wajah mereka akibat sujud, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang berjalan di hadapan mereka.”Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ishaq Ath-Thalqani, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, dari Yahya bin Hassan, dari seorang laki-laki dari Bani Kinanah, ia berkata: aku shalat di belakang Rasulullah ﷺ pada tahun penaklukan Makkah, lalu aku mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ لَا تُخْزِنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ya Allah, janganlah Engkau hinakan aku pada hari kiamat.” Saat Orang Munafik Kehilangan CahayaAllah Ta‘ālā berfirman,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al-Ḥadīd: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Ketika orang-orang munafik melihat cahaya orang-orang beriman yang mereka gunakan untuk berjalan, sementara cahaya mereka sendiri telah padam dan mereka berada dalam kegelapan dalam keadaan bingung, mereka berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.”Maksudnya, berilah kami kesempatan agar kami mendapatkan cahaya yang bisa kami gunakan untuk berjalan, sehingga kami selamat dari azab.Maka dikatakan kepada mereka:ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Maksudnya, jika hal itu mungkin dilakukan. Padahal kenyataannya hal itu tidak mungkin, bahkan termasuk sesuatu yang mustahil.Lalu dipisahkan antara orang-orang beriman dan orang-orang munafik dengan sebuah dinding:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Yaitu sebuah dinding yang kokoh dan benteng yang kuat. Bagian dalam yang menghadap orang-orang beriman berisi rahmat, sedangkan bagian luar yang menghadap orang-orang munafik berisi azab. Lalu orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’”Ini adalah pemberitahuan dari Allah tentang apa yang terjadi pada hari kiamat di padang mahsyar berupa berbagai kengerian yang mengguncangkan, gempa yang dahsyat, dan peristiwa-peristiwa yang menakutkan. Pada hari itu, tidak ada yang selamat kecuali orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengamalkan apa yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah menceritakan kepada kami Shafwan bin ‘Amr, telah menceritakan kepadaku Sulaim bin ‘Amir, ia berkata: kami keluar mengiringi jenazah di pintu Damaskus bersama Abu Umamah Al-Bahili. Setelah beliau menyalati jenazah dan mereka mulai menguburkannya, Abu Umamah berkata:“Wahai manusia, kalian sekarang berada di suatu tempat yang di dalamnya kalian membagi-bagi kebaikan dan keburukan. Kalian hampir akan berpindah darinya menuju tempat lain, yaitu ini”—sambil menunjuk ke kubur—“rumah kesendirian, rumah kegelapan, rumah ulat, dan rumah kesempitan, kecuali yang dilapangkan oleh Allah. Kemudian kalian akan berpindah darinya menuju berbagai tempat pada hari kiamat. Pada sebagian tempat itu, manusia akan diliputi oleh suatu perkara dari Allah, sehingga ada wajah yang menjadi putih dan ada wajah yang menjadi hitam.Kemudian kalian berpindah lagi ke tempat lain, lalu manusia diliputi oleh kegelapan yang sangat. Setelah itu, cahaya dibagikan. Orang beriman diberi cahaya, sedangkan orang kafir dan munafik tidak diberi apa pun. Inilah perumpamaan yang Allah sebutkan dalam Kitab-Nya:أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ“Atau seperti kegelapan di lautan yang dalam, yang diliputi ombak di atasnya ombak (pula), di atasnya lagi awan; kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir dia tidak dapat melihatnya. Barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidak ada baginya cahaya.” (QS. An-Nur: 40)Maka orang kafir dan munafik tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang beriman, sebagaimana orang buta tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang yang melihat. Lalu orang-orang munafik berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.” Lalu dikatakan kepada mereka: “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Itulah tipu daya Allah terhadap orang-orang munafik, sebagaimana firman-Nya:يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ“Mereka menipu Allah, dan Allah membalas tipu daya mereka.” (QS. An-Nisa: 142)Maka mereka kembali ke tempat pembagian cahaya, tetapi mereka tidak mendapatkan apa pun. Lalu mereka kembali kepada orang-orang beriman, namun telah dipisahkan antara mereka dengan sebuah dinding yang memiliki pintu:بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Sulaim bin ‘Amir berkata: orang munafik terus tertipu hingga cahaya dibagikan, lalu Allah membedakan antara orang beriman dan orang munafik.Ada lagi tambahan dari Ibnu Katsir sebagai berikut.Abu Al-Qasim Ath-Thabrani berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Alwiyah Al-Qaththan, telah menceritakan kepada kami Isma‘il bin ‘Isa Al-‘Aththar, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Bisyir Abu Hudzaifah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَدْعُو النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِهِمْ سِتْرًا مِنْهُ عَلَىٰ عِبَادِهِ، وَأَمَّا عِنْدَ الصِّرَاطِ فَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي كُلَّ مُؤْمِنٍ نُورًا، وَكُلَّ مُنَافِقٍ نُورًا، فَإِذَا اسْتَوَوْا عَلَى الصِّرَاطِ سَلَبَ اللَّهُ نُورَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ، فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ: ﴿انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ﴾، وَقَالَ الْمُؤْمِنُونَ: ﴿رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا﴾، فَلَا يُذْكَرُ عِنْدَ ذَلِكَ أَحَدٌ أَحَدًا“Sesungguhnya Allah memanggil manusia pada hari kiamat dengan nama-nama mereka sebagai bentuk penutupan (aib) dari-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Adapun di dekat shirath, Allah memberikan kepada setiap orang beriman cahaya, dan kepada setiap orang munafik juga cahaya. Ketika mereka telah berada di atas shirath, Allah mencabut cahaya orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. Maka orang-orang munafik berkata: ‘Tunggulah kami agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’ Dan orang-orang beriman berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.’ Maka pada saat itu, tidak ada seorang pun yang mengingat orang lain.”Firman-Nya:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Al-Hasan dan Qatadah berkata: dinding itu adalah pemisah antara surga dan neraka.‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: itulah yang disebut oleh Allah Ta‘ala dalam firman-Nya:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ“Dan di antara keduanya ada batas.” (QS. Al-A‘raf: 46)Demikian pula diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah dan selainnya, dan inilah pendapat yang benar.Baca juga: Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang BerimanAllah Ta‘ālā berfirman,يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (QS. Al-Ḥadīd: 14)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini sebagai berikut.“Mereka memanggil mereka, ‘Bukankah kami dahulu bersama kalian?’” maksudnya, orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman: bukankah kami dahulu bersama kalian di dunia, menghadiri shalat Jumat bersama kalian, shalat berjamaah bersama kalian, wukuf di Arafah bersama kalian, ikut dalam peperangan bersama kalian, dan menjalankan berbagai kewajiban bersama kalian?“Mereka menjawab, ‘Benar,’” yaitu orang-orang beriman menjawab: benar, kalian dahulu bersama kami.“Namun kalian mencelakakan diri kalian sendiri, menunggu-nunggu, ragu-ragu, dan kalian ditipu oleh angan-angan kosong.” Sebagian ulama salaf berkata: maksudnya kalian mencelakakan diri dengan kenikmatan, maksiat, dan syahwat.“Dan kalian menunggu-nunggu,” maksudnya kalian menunda tobat dari waktu ke waktu.Qatadah berkata: “Dan kalian menunggu-nunggu” yaitu terhadap kebenaran dan para pengikutnya. “Dan kalian ragu-ragu,” yaitu terhadap kebangkitan setelah kematian. “Dan kalian ditipu oleh angan-angan,” yaitu kalian berkata: Allah akan mengampuni kami. Ada juga yang mengatakan: kalian tertipu oleh dunia.“Hingga datang ketetapan Allah,” maksudnya kalian terus dalam keadaan itu hingga datang kematian.“Dan setan telah menipu kalian tentang Allah,” maksudnya setan.Qatadah berkata: mereka terus berada dalam tipuan setan, hingga akhirnya Allah melemparkan mereka ke dalam neraka.Makna ucapan orang-orang beriman kepada orang-orang munafik ini adalah: kalian dahulu bersama kami secara lahiriah, tetapi tanpa niat dan tanpa hati. Kalian berada dalam kebingungan dan keraguan, kalian hanya berbuat untuk dilihat manusia, dan kalian tidak mengingat Allah kecuali sedikit.Mujahid berkata: orang-orang munafik dahulu hidup bersama orang-orang beriman, mereka menikah dengan mereka, bergaul, dan hidup bersama mereka. Namun mereka mati dalam keadaan terpisah. Pada hari kiamat, mereka semua diberi cahaya, tetapi cahaya orang-orang munafik dipadamkan ketika sampai di dekat dinding, lalu dipisahkan antara mereka.Ucapan orang-orang beriman ini tidak bertentangan dengan firman Allah yang mengabarkan tentang mereka:كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ۝ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ ۝ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ عَنِ الْمُجْرِمِينَ ۝ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ۝ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ۝ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ۝ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ ۝ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ ۝ حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ“Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan. Mereka berada di dalam surga, saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa: ‘Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam (neraka) Saqar?’ Mereka menjawab: ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, serta kami membicarakan yang batil bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.’” (QS. Al-Muddatstsir: 38–47)Ucapan itu keluar dari orang-orang beriman sebagai bentuk celaan dan teguran keras kepada mereka. Kemudian Allah Ta‘ala berfirman:فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ“Maka tidak berguna bagi mereka syafaat para pemberi syafaat.” (QS. Al-Muddatstsir: 48) Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamatBerdasarkan Al-Hadid ayat 14, sebab tercabutnya cahaya pada hari kiamat dapat diringkas menjadi empat hal:1. Mencelakakan diri dengan maksiat dan syahwat(فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ)2. Menunda tobat dan menunggu-nunggu kebenaran(وَتَرَبَّصْتُمْ)3. Ragu terhadap iman dan hari akhir(وَارْتَبْتُمْ)4. Tertipu oleh angan-angan dan tipuan setan(وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ … وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ) Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!Di zaman sekarang, seseorang bisa tampak dekat dengan agama secara lahiriah, tetapi yang paling menentukan tetaplah keadaan hati di sisi Allah. Banyak orang rajin hadir dalam majelis ilmu, aktif dalam amal, dan terlihat baik di hadapan manusia, namun yang menyelamatkan adalah iman yang jujur dan hati yang bersih. Karena itu, jangan hanya sibuk memperbaiki penampilan ibadah, tetapi perbaikilah juga niat, tobat, keyakinan, dan rasa takut kepada Allah. Semoga Allah menjaga cahaya iman kita, meneguhkan kita di atas kebenaran, dan tidak menjadikan kita termasuk orang yang kehilangan cahaya pada hari kiamat.اللَّهُمَّ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَىٰ طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِينَAllāhumma atmim lanā nūranā, waghfir lanā, wa tsabbit qulūbanā ‘alā ṭā‘atika, waj‘alnā min ‘ibādikal-mukhliṣīn.“Ya Allah, sempurnakanlah cahaya kami, ampunilah kami, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscahaya iman hari akhir hari kiamat iman dan amal munafik nasihat akhirat orang munafik renungan ayat renungan quran rumaysho shirath tafsir Al-Hadid tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran takwa tazkiyatun nafs
Hari kiamat adalah hari ketika iman dan amal tampak nyata, bahkan dalam bentuk cahaya yang menerangi jalan seorang hamba. Orang-orang beriman mendapatkan cahaya sesuai kadar iman, takwa, dan amal mereka, sedangkan orang-orang munafik kehilangan cahaya itu pada saat yang paling genting. Dari ayat-ayat Surah Al-Hadid dan At-Tahrim ini (juz 27 dan 28), kita belajar pentingnya menjaga keikhlasan, menjauhi syahwat, meninggalkan keraguan, dan tidak tertipu oleh angan-angan kosong.  Daftar Isi tutup 1. Cahaya Orang Beriman di Hari Kiamat 2. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat) 3. Cahaya itu Murni Karunia Allah 4. Saat Orang Munafik Kehilangan Cahaya 5. Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang Beriman 5.1. Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamat 6. Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!  Cahaya Orang Beriman di Hari KiamatAllah Ta‘ālā berfirman:يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Ḥadīd: 12)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala mengabarkan tentang orang-orang beriman yang gemar bersedekah, bahwa pada hari kiamat cahaya mereka berjalan di hadapan mereka di padang mahsyar, sesuai dengan kadar amal mereka. Sebagaimana disebutkan oleh Abdullah bin Mas‘ud tentang firman-Nya,يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ، قَالَ: عَلَىٰ قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ يَمُرُّونَ عَلَى الصِّرَاطِ، مِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الْجَبَلِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ النَّخْلَةِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الرَّجُلِ الْقَائِمِ، وَأَدْنَاهُمْ نُورًا مَنْ نُورُهُ فِي إِبْهَامِهِ يَتَّقِدُ مَرَّةً وَيَطْفَأُ مَرَّةً.“Cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, ia berkata: mereka melintasi shirath sesuai dengan amal mereka. Ada yang cahayanya seperti gunung, ada yang seperti pohon kurma, ada yang seperti seorang laki-laki yang berdiri, dan yang paling sedikit cahayanya adalah yang cahayanya berada di ibu jari kakinya, kadang menyala dan kadang padam. (HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir)Qatadah berkata: disebutkan kepada kami bahwa Nabi ﷺ bersabda,مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَىٰ عَدَنَ أَبْيَنَ وَصَنْعَاءَ فَدُونَ ذَلِكَ، حَتَّىٰ إِنَّ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مَوْضِعَ قَدَمَيْهِ.“Di antara orang-orang beriman ada yang cahayanya menerangi dari Madinah hingga ‘Adn Abyan dan Shan‘a, dan ada pula yang kurang dari itu, hingga di antara mereka ada yang cahayanya hanya menerangi tempat kedua telapak kakinya.”Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Husain, dari Mujahid, dari Junadah bin Umayyah, ia berkata: sesungguhnya kalian telah dicatat di sisi Allah dengan nama-nama kalian, tanda-tanda kalian, perhiasan kalian, rahasia kalian, dan majelis kalian. Maka ketika hari kiamat tiba, dikatakan: “Wahai fulan, ini adalah cahayamu.” Dan kepada yang lain dikatakan: “Wahai fulan, tidak ada cahaya bagimu.” Lalu ia membaca ayat, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka.”Adh-Dhahhak berkata: setiap orang akan diberi cahaya pada hari kiamat. Ketika mereka sampai di atas shirath, padamlah cahaya orang-orang munafik. Ketika orang-orang beriman melihat hal itu, mereka merasa takut jika cahaya mereka juga padam sebagaimana padamnya cahaya orang-orang munafik. Maka mereka berkata:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.”Al-Hasan berkata tentang firman-Nya, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, maksudnya adalah di atas shirath.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Abu Darda’ dan Abu Dzar mengabarkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Aku adalah orang pertama yang diizinkan bersujud pada hari kiamat dan orang pertama yang diizinkan mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، كَيْفَ تَعْرِفُ أُمَّتَكَ مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ مَا بَيْنَ نُوحٍ إِلَىٰ أُمَّتِكَ؟Seseorang bertanya: “Wahai Nabi Allah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat dari zaman Nuh hingga umatmu?”قَالَ: «أَعْرِفُهُمْ، مُحَجَّلُونَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ، وَلَا يَكُونُ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَذُرِّيَّتِهِمْ».Beliau menjawab: “Aku mengenali mereka dengan wajah yang bercahaya karena bekas wudhu, yang tidak dimiliki oleh umat lain. Aku mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Aku mengenali mereka dari tanda-tanda di wajah mereka, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang bersinar di hadapan mereka dan pada anak keturunan mereka.”Firman-Nya, “dan di sebelah kanan mereka”, Adh-Dhahhak berkata: yaitu catatan amal mereka berada di tangan kanan mereka, sebagaimana firman Allah, “Barang siapa yang diberikan kitabnya di tangan kanannya.”Firman-Nya, “(dikatakan kepada mereka): ‘Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai’”, maksudnya dikatakan kepada mereka: pada hari ini kalian mendapat kabar gembira berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.“Mereka kekal di dalamnya”, yaitu mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya.“Itulah kemenangan yang besar.”Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala menjelaskan tentang keutamaan iman dan kebahagiaan para pemiliknya pada hari kiamat: “(Yaitu) pada hari ketika engkau melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, cahaya mereka bersinar di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka.”Artinya, ketika hari kiamat terjadi, matahari digulung, bulan menjadi gelap, dan manusia berada dalam kegelapan, serta shirath dibentangkan di atas neraka Jahannam, maka pada saat itulah engkau melihat orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, cahaya mereka berjalan di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Mereka berjalan dengan cahaya dan catatan amal mereka di tangan kanan, dalam keadaan yang sangat dahsyat dan sulit itu, masing-masing sesuai dengan kadar imannya.Pada saat itu, mereka diberi kabar gembira yang paling agung. Dikatakan kepada mereka:“Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian, yaitu surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kalian kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”Sungguh, betapa indah kabar gembira ini di dalam hati mereka, dan betapa nikmat bagi jiwa mereka, karena mereka mendapatkan semua yang diinginkan dan dicintai, serta selamat dari segala keburukan dan hal yang ditakuti. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat)Allah Ta‘ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ḥadīd: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Ayat ini kemungkinan merupakan seruan kepada Ahli Kitab yang telah beriman kepada Musa dan Isa ‘alaihimas salam, agar mereka mengamalkan konsekuensi dari iman mereka, yaitu dengan bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan maksiat, serta beriman kepada Rasul-Nya, Muhammad ﷺ. Jika mereka melakukan hal itu, maka Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yaitu dua bagian pahala: satu pahala atas iman mereka kepada para nabi terdahulu, dan satu pahala atas iman mereka kepada Muhammad ﷺ.Kemungkinan lain, ayat ini bersifat umum mencakup Ahli Kitab dan selain mereka, dan inilah yang lebih tampak. Allah memerintahkan mereka untuk beriman dan bertakwa, yang mencakup seluruh ajaran agama, baik lahir maupun batin, pokok maupun cabangnya. Jika mereka melaksanakan perintah yang agung ini, Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yang hakikat dan besarnya hanya diketahui oleh Allah Ta‘ala. Bisa bermakna pahala atas iman dan pahala atas takwa, atau pahala atas melaksanakan perintah dan pahala atas menjauhi larangan, atau makna dua itu menunjukkan pemberian yang berulang-ulang.“Dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu Allah memberi kalian ilmu, petunjuk, dan cahaya yang kalian gunakan untuk berjalan di tengah kegelapan kebodohan, serta Dia mengampuni dosa-dosa kalian.“Dan Allah memiliki karunia yang besar,” sehingga pahala ini tidaklah dianggap besar bagi Zat Yang memiliki karunia yang agung, yang karunia-Nya meliputi seluruh penduduk langit dan bumi. Tidak ada satu makhluk pun yang lepas dari karunia-Nya walau sekejap mata, bahkan lebih kecil dari itu.Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Telah disebutkan dalam riwayat An-Nasa’i dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau memahami ayat ini tentang orang-orang beriman dari kalangan Ahli Kitab, dan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, sebagaimana disebutkan dalam ayat di surah Al-Qashash, dan sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Sya‘bi, dari Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy‘ari, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:ثَلَاثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَآمَنَ بِي فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَدَّى حَقَّ اللَّهِ وَحَقَّ مَوَالِيهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ أَدَّبَ أَمَتَهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ“Tiga golongan yang mendapatkan pahala dua kali: seorang dari Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepadaku, maka ia mendapat dua pahala; seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya, maka ia mendapat dua pahala; dan seorang yang mendidik budak wanitanya dengan baik, lalu memerdekakannya dan menikahinya, maka ia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pendapat ini juga disepakati oleh Adh-Dhahhak, ‘Utbah bin Abi Hakim, dan selain keduanya, serta dipilih oleh Ibnu Jarir.Sa‘id bin Jubair berkata: ketika Ahli Kitab membanggakan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, maka Allah menurunkan ayat ini untuk umat ini:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya, menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan, dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Maksudnya, dua bagian tersebut adalah dua kali lipat. Allah juga menambahkan bagi mereka, “dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu petunjuk yang dengannya seseorang dapat melihat jalan di tengah kebutaan dan kebodohan, serta mengampuni kalian. Allah melebihkan mereka dengan cahaya dan ampunan. Riwayat ini juga dibawakan oleh Ibnu Jarir.Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta‘ala:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian pembeda (antara yang benar dan yang batil), menghapus kesalahan-kesalahan kalian, dan mengampuni kalian. Dan Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)Sa‘id bin ‘Abdul ‘Aziz berkata: Umar bin Al-Khaththab pernah bertanya kepada seorang alim dari kalangan Yahudi: “Berapa kali lipat paling besar pahala kebaikan yang diberikan kepada kalian?” Ia menjawab: “Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi tiga ratus lima puluh kebaikan.” Maka Umar memuji Allah karena Dia telah memberikan kepada kita dua bagian (pahala). Kemudian Sa‘id menyebutkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ“Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya.”Sa‘id berkata: dua bagian itu pada hari Jumat seperti itu juga. Riwayat ini dibawakan oleh Ibnu Jarir.Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَثَلُكُمْ وَمَثَلُ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَعْمَلَ عُمَّالًا فَقَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ الْيَهُودُ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَىٰ صَلَاةِ الْعَصْرِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ النَّصَارَى، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَىٰ غُرُوبِ الشَّمْسِ عَلَىٰ قِيرَاطَيْنِ قِيرَاطَيْنِ؟ أَلَا فَأَنْتُمُ الَّذِينَ عَمِلْتُمْ، فَغَضِبَتِ النَّصَارَى وَالْيَهُودُ، وَقَالُوا: نَحْنُ أَكْثَرُ عَمَلًا وَأَقَلُّ عَطَاءً، قَالَ: هَلْ ظَلَمْتُكُمْ مِنْ أَجْرِكُمْ شَيْئًا؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: فَإِنَّمَا هُوَ فَضْلِي أُؤْتِيهِ مَنْ أَشَاءُ“Perumpamaan kalian dengan Yahudi dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang mempekerjakan para pekerja. Ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Shubuh hingga tengah hari dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Yahudi bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari tengah hari hingga Ashar dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Nasrani bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Ashar hingga terbenam matahari dengan upah dua qirath dua qirath?’ Maka kalianlah yang bekerja. Lalu orang-orang Nasrani dan Yahudi marah dan berkata: ‘Kami bekerja lebih banyak, tetapi mendapatkan upah lebih sedikit.’ Ia berkata: ‘Apakah aku mengurangi sedikit pun dari upah kalian?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Ia berkata: ‘Itu adalah karunia-Ku, Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki.’”Ahmad berkata: hadits ini juga diriwayatkan kepada kami oleh Mu’ammal, dari Sufyan, dari ‘Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, semisal hadits Nafi‘ darinya.Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari, dari Sulaiman bin Harb, dari Hammad, dari Ayyub, dari Nafi‘ dengan sanad tersebut, dan juga dari Qutaibah, dari Al-Laits, dari Nafi‘ dengan lafaz yang semisal.Al-Bukhari juga berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-‘Ala’, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:مَثَلُ الْمُسْلِمِينَ وَالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَأْجَرَ قَوْمًا يَعْمَلُونَ لَهُ عَمَلًا يَوْمًا إِلَى اللَّيْلِ عَلَىٰ أَجْرٍ مَعْلُومٍ، فَعَمِلُوا إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ فَقَالُوا: لَا حَاجَةَ لَنَا فِي أَجْرِكَ الَّذِي شَرَطْتَ لَنَا، وَمَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، فَقَالَ لَهُمْ: لَا تَفْعَلُوا، أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ وَخُذُوا أَجْرَكُمْ كَامِلًا، فَأَبَوْا وَتَرَكُوا، وَاسْتَأْجَرَ آخَرِينَ بَعْدَهُمْ فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِكُمْ وَلَكُمُ الَّذِي شَرَطْتُ لَهُمْ مِنَ الْأَجْرِ، فَعَمِلُوا، حَتَّىٰ إِذَا كَانَ حِينَ صَلَوْا الْعَصْرَ قَالُوا: مَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، وَلَكَ الْأَجْرُ الَّذِي جَعَلْتَ لَنَا فِيهِ، فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ؛ فَإِنَّ مَا بَقِيَ مِنَ النَّهَارِ شَيْءٌ يَسِيرٌ، فَأَبَوْا، فَاسْتَأْجَرَ قَوْمًا أَنْ يَعْمَلُوا لَهُ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، فَعَمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِهِ حَتَّىٰ غَابَتِ الشَّمْسُ، فَاسْتَكْمَلُوا أَجْرَ الْفَرِيقَيْنِ كِلَيْهِمَا، فَذَلِكَ مَثَلُهُمْ وَمَثَلُ مَا قَبِلُوا مِنْ هَذَا النُّورِ“Perumpamaan kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang menyewa suatu kaum untuk bekerja sehari penuh sampai malam dengan upah tertentu. Mereka bekerja sampai tengah hari, lalu berkata: ‘Kami tidak butuh upah yang engkau janjikan, dan apa yang kami kerjakan sia-sia.’ Ia berkata: ‘Jangan lakukan itu, selesaikan sisa pekerjaan kalian dan ambil upah kalian secara penuh.’ Namun mereka menolak dan pergi. Lalu ia menyewa orang lain setelah mereka dan berkata: ‘Selesaikan sisa hari kalian dan kalian akan mendapatkan upah seperti yang aku janjikan kepada mereka.’ Mereka bekerja, hingga ketika waktu Ashar, mereka berkata: ‘Apa yang kami kerjakan sia-sia, dan upah itu untukmu.’ Ia berkata: ‘Selesaikan sisa pekerjaan kalian, karena yang tersisa dari hari itu hanya sedikit.’ Namun mereka menolak. Lalu ia menyewa suatu kaum untuk menyelesaikan sisa hari itu, maka mereka bekerja hingga matahari terbenam, dan mereka mendapatkan upah kedua kelompok sebelumnya secara penuh. Itulah perumpamaan mereka dan perumpamaan apa yang mereka terima dari cahaya ini.”Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari. Cahaya itu Murni Karunia AllahAllah Ta‘ālā berfirman,﴿نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.” (QS. At-Taḥrīm: 8)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’”Mujahid, Adh-Dhahhak, Al-Hasan Al-Bashri, dan selain mereka berkata: ucapan ini diucapkan oleh orang-orang beriman ketika mereka melihat pada hari kiamat cahaya orang-orang munafik telah padam.Muhammad bin Nashr Al-Marwazi berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi‘ah, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Habib, dari ‘Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, bahwa ia mendengar Abu Dzar dan Abu Darda’ berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ فِي السُّجُودِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ بِرَفْعِ رَأْسِهِ، فَأَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيَّ فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ يَمِينِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ شِمَالِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ“Akulah orang pertama yang diizinkan untuk sujud pada hari kiamat, dan orang pertama yang diizinkan untuk mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke hadapanku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kananku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kiriku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”Seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat?” Beliau menjawab:غُرٌّ مُحَجَّلُونَ مِنْ آثَارِ الطُّهُورِ، وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ مِنَ الْأُمَمِ كَذَلِكَ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ أَنَّهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ“Mereka memiliki wajah dan anggota tubuh yang bercahaya karena bekas wudhu, dan tidak ada umat lain yang memiliki hal itu selain mereka. Aku juga mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal mereka dengan tangan kanan, aku mengenali mereka dari tanda di wajah mereka akibat sujud, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang berjalan di hadapan mereka.”Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ishaq Ath-Thalqani, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, dari Yahya bin Hassan, dari seorang laki-laki dari Bani Kinanah, ia berkata: aku shalat di belakang Rasulullah ﷺ pada tahun penaklukan Makkah, lalu aku mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ لَا تُخْزِنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ya Allah, janganlah Engkau hinakan aku pada hari kiamat.” Saat Orang Munafik Kehilangan CahayaAllah Ta‘ālā berfirman,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al-Ḥadīd: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Ketika orang-orang munafik melihat cahaya orang-orang beriman yang mereka gunakan untuk berjalan, sementara cahaya mereka sendiri telah padam dan mereka berada dalam kegelapan dalam keadaan bingung, mereka berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.”Maksudnya, berilah kami kesempatan agar kami mendapatkan cahaya yang bisa kami gunakan untuk berjalan, sehingga kami selamat dari azab.Maka dikatakan kepada mereka:ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Maksudnya, jika hal itu mungkin dilakukan. Padahal kenyataannya hal itu tidak mungkin, bahkan termasuk sesuatu yang mustahil.Lalu dipisahkan antara orang-orang beriman dan orang-orang munafik dengan sebuah dinding:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Yaitu sebuah dinding yang kokoh dan benteng yang kuat. Bagian dalam yang menghadap orang-orang beriman berisi rahmat, sedangkan bagian luar yang menghadap orang-orang munafik berisi azab. Lalu orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’”Ini adalah pemberitahuan dari Allah tentang apa yang terjadi pada hari kiamat di padang mahsyar berupa berbagai kengerian yang mengguncangkan, gempa yang dahsyat, dan peristiwa-peristiwa yang menakutkan. Pada hari itu, tidak ada yang selamat kecuali orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengamalkan apa yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah menceritakan kepada kami Shafwan bin ‘Amr, telah menceritakan kepadaku Sulaim bin ‘Amir, ia berkata: kami keluar mengiringi jenazah di pintu Damaskus bersama Abu Umamah Al-Bahili. Setelah beliau menyalati jenazah dan mereka mulai menguburkannya, Abu Umamah berkata:“Wahai manusia, kalian sekarang berada di suatu tempat yang di dalamnya kalian membagi-bagi kebaikan dan keburukan. Kalian hampir akan berpindah darinya menuju tempat lain, yaitu ini”—sambil menunjuk ke kubur—“rumah kesendirian, rumah kegelapan, rumah ulat, dan rumah kesempitan, kecuali yang dilapangkan oleh Allah. Kemudian kalian akan berpindah darinya menuju berbagai tempat pada hari kiamat. Pada sebagian tempat itu, manusia akan diliputi oleh suatu perkara dari Allah, sehingga ada wajah yang menjadi putih dan ada wajah yang menjadi hitam.Kemudian kalian berpindah lagi ke tempat lain, lalu manusia diliputi oleh kegelapan yang sangat. Setelah itu, cahaya dibagikan. Orang beriman diberi cahaya, sedangkan orang kafir dan munafik tidak diberi apa pun. Inilah perumpamaan yang Allah sebutkan dalam Kitab-Nya:أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ“Atau seperti kegelapan di lautan yang dalam, yang diliputi ombak di atasnya ombak (pula), di atasnya lagi awan; kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir dia tidak dapat melihatnya. Barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidak ada baginya cahaya.” (QS. An-Nur: 40)Maka orang kafir dan munafik tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang beriman, sebagaimana orang buta tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang yang melihat. Lalu orang-orang munafik berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.” Lalu dikatakan kepada mereka: “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Itulah tipu daya Allah terhadap orang-orang munafik, sebagaimana firman-Nya:يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ“Mereka menipu Allah, dan Allah membalas tipu daya mereka.” (QS. An-Nisa: 142)Maka mereka kembali ke tempat pembagian cahaya, tetapi mereka tidak mendapatkan apa pun. Lalu mereka kembali kepada orang-orang beriman, namun telah dipisahkan antara mereka dengan sebuah dinding yang memiliki pintu:بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Sulaim bin ‘Amir berkata: orang munafik terus tertipu hingga cahaya dibagikan, lalu Allah membedakan antara orang beriman dan orang munafik.Ada lagi tambahan dari Ibnu Katsir sebagai berikut.Abu Al-Qasim Ath-Thabrani berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Alwiyah Al-Qaththan, telah menceritakan kepada kami Isma‘il bin ‘Isa Al-‘Aththar, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Bisyir Abu Hudzaifah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَدْعُو النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِهِمْ سِتْرًا مِنْهُ عَلَىٰ عِبَادِهِ، وَأَمَّا عِنْدَ الصِّرَاطِ فَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي كُلَّ مُؤْمِنٍ نُورًا، وَكُلَّ مُنَافِقٍ نُورًا، فَإِذَا اسْتَوَوْا عَلَى الصِّرَاطِ سَلَبَ اللَّهُ نُورَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ، فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ: ﴿انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ﴾، وَقَالَ الْمُؤْمِنُونَ: ﴿رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا﴾، فَلَا يُذْكَرُ عِنْدَ ذَلِكَ أَحَدٌ أَحَدًا“Sesungguhnya Allah memanggil manusia pada hari kiamat dengan nama-nama mereka sebagai bentuk penutupan (aib) dari-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Adapun di dekat shirath, Allah memberikan kepada setiap orang beriman cahaya, dan kepada setiap orang munafik juga cahaya. Ketika mereka telah berada di atas shirath, Allah mencabut cahaya orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. Maka orang-orang munafik berkata: ‘Tunggulah kami agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’ Dan orang-orang beriman berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.’ Maka pada saat itu, tidak ada seorang pun yang mengingat orang lain.”Firman-Nya:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Al-Hasan dan Qatadah berkata: dinding itu adalah pemisah antara surga dan neraka.‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: itulah yang disebut oleh Allah Ta‘ala dalam firman-Nya:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ“Dan di antara keduanya ada batas.” (QS. Al-A‘raf: 46)Demikian pula diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah dan selainnya, dan inilah pendapat yang benar.Baca juga: Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang BerimanAllah Ta‘ālā berfirman,يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (QS. Al-Ḥadīd: 14)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini sebagai berikut.“Mereka memanggil mereka, ‘Bukankah kami dahulu bersama kalian?’” maksudnya, orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman: bukankah kami dahulu bersama kalian di dunia, menghadiri shalat Jumat bersama kalian, shalat berjamaah bersama kalian, wukuf di Arafah bersama kalian, ikut dalam peperangan bersama kalian, dan menjalankan berbagai kewajiban bersama kalian?“Mereka menjawab, ‘Benar,’” yaitu orang-orang beriman menjawab: benar, kalian dahulu bersama kami.“Namun kalian mencelakakan diri kalian sendiri, menunggu-nunggu, ragu-ragu, dan kalian ditipu oleh angan-angan kosong.” Sebagian ulama salaf berkata: maksudnya kalian mencelakakan diri dengan kenikmatan, maksiat, dan syahwat.“Dan kalian menunggu-nunggu,” maksudnya kalian menunda tobat dari waktu ke waktu.Qatadah berkata: “Dan kalian menunggu-nunggu” yaitu terhadap kebenaran dan para pengikutnya. “Dan kalian ragu-ragu,” yaitu terhadap kebangkitan setelah kematian. “Dan kalian ditipu oleh angan-angan,” yaitu kalian berkata: Allah akan mengampuni kami. Ada juga yang mengatakan: kalian tertipu oleh dunia.“Hingga datang ketetapan Allah,” maksudnya kalian terus dalam keadaan itu hingga datang kematian.“Dan setan telah menipu kalian tentang Allah,” maksudnya setan.Qatadah berkata: mereka terus berada dalam tipuan setan, hingga akhirnya Allah melemparkan mereka ke dalam neraka.Makna ucapan orang-orang beriman kepada orang-orang munafik ini adalah: kalian dahulu bersama kami secara lahiriah, tetapi tanpa niat dan tanpa hati. Kalian berada dalam kebingungan dan keraguan, kalian hanya berbuat untuk dilihat manusia, dan kalian tidak mengingat Allah kecuali sedikit.Mujahid berkata: orang-orang munafik dahulu hidup bersama orang-orang beriman, mereka menikah dengan mereka, bergaul, dan hidup bersama mereka. Namun mereka mati dalam keadaan terpisah. Pada hari kiamat, mereka semua diberi cahaya, tetapi cahaya orang-orang munafik dipadamkan ketika sampai di dekat dinding, lalu dipisahkan antara mereka.Ucapan orang-orang beriman ini tidak bertentangan dengan firman Allah yang mengabarkan tentang mereka:كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ۝ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ ۝ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ عَنِ الْمُجْرِمِينَ ۝ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ۝ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ۝ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ۝ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ ۝ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ ۝ حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ“Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan. Mereka berada di dalam surga, saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa: ‘Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam (neraka) Saqar?’ Mereka menjawab: ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, serta kami membicarakan yang batil bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.’” (QS. Al-Muddatstsir: 38–47)Ucapan itu keluar dari orang-orang beriman sebagai bentuk celaan dan teguran keras kepada mereka. Kemudian Allah Ta‘ala berfirman:فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ“Maka tidak berguna bagi mereka syafaat para pemberi syafaat.” (QS. Al-Muddatstsir: 48) Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamatBerdasarkan Al-Hadid ayat 14, sebab tercabutnya cahaya pada hari kiamat dapat diringkas menjadi empat hal:1. Mencelakakan diri dengan maksiat dan syahwat(فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ)2. Menunda tobat dan menunggu-nunggu kebenaran(وَتَرَبَّصْتُمْ)3. Ragu terhadap iman dan hari akhir(وَارْتَبْتُمْ)4. Tertipu oleh angan-angan dan tipuan setan(وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ … وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ) Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!Di zaman sekarang, seseorang bisa tampak dekat dengan agama secara lahiriah, tetapi yang paling menentukan tetaplah keadaan hati di sisi Allah. Banyak orang rajin hadir dalam majelis ilmu, aktif dalam amal, dan terlihat baik di hadapan manusia, namun yang menyelamatkan adalah iman yang jujur dan hati yang bersih. Karena itu, jangan hanya sibuk memperbaiki penampilan ibadah, tetapi perbaikilah juga niat, tobat, keyakinan, dan rasa takut kepada Allah. Semoga Allah menjaga cahaya iman kita, meneguhkan kita di atas kebenaran, dan tidak menjadikan kita termasuk orang yang kehilangan cahaya pada hari kiamat.اللَّهُمَّ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَىٰ طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِينَAllāhumma atmim lanā nūranā, waghfir lanā, wa tsabbit qulūbanā ‘alā ṭā‘atika, waj‘alnā min ‘ibādikal-mukhliṣīn.“Ya Allah, sempurnakanlah cahaya kami, ampunilah kami, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscahaya iman hari akhir hari kiamat iman dan amal munafik nasihat akhirat orang munafik renungan ayat renungan quran rumaysho shirath tafsir Al-Hadid tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran takwa tazkiyatun nafs


Hari kiamat adalah hari ketika iman dan amal tampak nyata, bahkan dalam bentuk cahaya yang menerangi jalan seorang hamba. Orang-orang beriman mendapatkan cahaya sesuai kadar iman, takwa, dan amal mereka, sedangkan orang-orang munafik kehilangan cahaya itu pada saat yang paling genting. Dari ayat-ayat Surah Al-Hadid dan At-Tahrim ini (juz 27 dan 28), kita belajar pentingnya menjaga keikhlasan, menjauhi syahwat, meninggalkan keraguan, dan tidak tertipu oleh angan-angan kosong.  Daftar Isi tutup 1. Cahaya Orang Beriman di Hari Kiamat 2. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat) 3. Cahaya itu Murni Karunia Allah 4. Saat Orang Munafik Kehilangan Cahaya 5. Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang Beriman 5.1. Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamat 6. Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!  Cahaya Orang Beriman di Hari KiamatAllah Ta‘ālā berfirman:يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Ḥadīd: 12)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala mengabarkan tentang orang-orang beriman yang gemar bersedekah, bahwa pada hari kiamat cahaya mereka berjalan di hadapan mereka di padang mahsyar, sesuai dengan kadar amal mereka. Sebagaimana disebutkan oleh Abdullah bin Mas‘ud tentang firman-Nya,يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ، قَالَ: عَلَىٰ قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ يَمُرُّونَ عَلَى الصِّرَاطِ، مِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الْجَبَلِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ النَّخْلَةِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الرَّجُلِ الْقَائِمِ، وَأَدْنَاهُمْ نُورًا مَنْ نُورُهُ فِي إِبْهَامِهِ يَتَّقِدُ مَرَّةً وَيَطْفَأُ مَرَّةً.“Cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, ia berkata: mereka melintasi shirath sesuai dengan amal mereka. Ada yang cahayanya seperti gunung, ada yang seperti pohon kurma, ada yang seperti seorang laki-laki yang berdiri, dan yang paling sedikit cahayanya adalah yang cahayanya berada di ibu jari kakinya, kadang menyala dan kadang padam. (HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir)Qatadah berkata: disebutkan kepada kami bahwa Nabi ﷺ bersabda,مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَىٰ عَدَنَ أَبْيَنَ وَصَنْعَاءَ فَدُونَ ذَلِكَ، حَتَّىٰ إِنَّ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مَوْضِعَ قَدَمَيْهِ.“Di antara orang-orang beriman ada yang cahayanya menerangi dari Madinah hingga ‘Adn Abyan dan Shan‘a, dan ada pula yang kurang dari itu, hingga di antara mereka ada yang cahayanya hanya menerangi tempat kedua telapak kakinya.”Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Husain, dari Mujahid, dari Junadah bin Umayyah, ia berkata: sesungguhnya kalian telah dicatat di sisi Allah dengan nama-nama kalian, tanda-tanda kalian, perhiasan kalian, rahasia kalian, dan majelis kalian. Maka ketika hari kiamat tiba, dikatakan: “Wahai fulan, ini adalah cahayamu.” Dan kepada yang lain dikatakan: “Wahai fulan, tidak ada cahaya bagimu.” Lalu ia membaca ayat, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka.”Adh-Dhahhak berkata: setiap orang akan diberi cahaya pada hari kiamat. Ketika mereka sampai di atas shirath, padamlah cahaya orang-orang munafik. Ketika orang-orang beriman melihat hal itu, mereka merasa takut jika cahaya mereka juga padam sebagaimana padamnya cahaya orang-orang munafik. Maka mereka berkata:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.”Al-Hasan berkata tentang firman-Nya, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, maksudnya adalah di atas shirath.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Abu Darda’ dan Abu Dzar mengabarkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Aku adalah orang pertama yang diizinkan bersujud pada hari kiamat dan orang pertama yang diizinkan mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، كَيْفَ تَعْرِفُ أُمَّتَكَ مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ مَا بَيْنَ نُوحٍ إِلَىٰ أُمَّتِكَ؟Seseorang bertanya: “Wahai Nabi Allah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat dari zaman Nuh hingga umatmu?”قَالَ: «أَعْرِفُهُمْ، مُحَجَّلُونَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ، وَلَا يَكُونُ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَذُرِّيَّتِهِمْ».Beliau menjawab: “Aku mengenali mereka dengan wajah yang bercahaya karena bekas wudhu, yang tidak dimiliki oleh umat lain. Aku mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Aku mengenali mereka dari tanda-tanda di wajah mereka, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang bersinar di hadapan mereka dan pada anak keturunan mereka.”Firman-Nya, “dan di sebelah kanan mereka”, Adh-Dhahhak berkata: yaitu catatan amal mereka berada di tangan kanan mereka, sebagaimana firman Allah, “Barang siapa yang diberikan kitabnya di tangan kanannya.”Firman-Nya, “(dikatakan kepada mereka): ‘Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai’”, maksudnya dikatakan kepada mereka: pada hari ini kalian mendapat kabar gembira berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.“Mereka kekal di dalamnya”, yaitu mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya.“Itulah kemenangan yang besar.”Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala menjelaskan tentang keutamaan iman dan kebahagiaan para pemiliknya pada hari kiamat: “(Yaitu) pada hari ketika engkau melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, cahaya mereka bersinar di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka.”Artinya, ketika hari kiamat terjadi, matahari digulung, bulan menjadi gelap, dan manusia berada dalam kegelapan, serta shirath dibentangkan di atas neraka Jahannam, maka pada saat itulah engkau melihat orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, cahaya mereka berjalan di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Mereka berjalan dengan cahaya dan catatan amal mereka di tangan kanan, dalam keadaan yang sangat dahsyat dan sulit itu, masing-masing sesuai dengan kadar imannya.Pada saat itu, mereka diberi kabar gembira yang paling agung. Dikatakan kepada mereka:“Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian, yaitu surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kalian kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”Sungguh, betapa indah kabar gembira ini di dalam hati mereka, dan betapa nikmat bagi jiwa mereka, karena mereka mendapatkan semua yang diinginkan dan dicintai, serta selamat dari segala keburukan dan hal yang ditakuti. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat)Allah Ta‘ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ḥadīd: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Ayat ini kemungkinan merupakan seruan kepada Ahli Kitab yang telah beriman kepada Musa dan Isa ‘alaihimas salam, agar mereka mengamalkan konsekuensi dari iman mereka, yaitu dengan bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan maksiat, serta beriman kepada Rasul-Nya, Muhammad ﷺ. Jika mereka melakukan hal itu, maka Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yaitu dua bagian pahala: satu pahala atas iman mereka kepada para nabi terdahulu, dan satu pahala atas iman mereka kepada Muhammad ﷺ.Kemungkinan lain, ayat ini bersifat umum mencakup Ahli Kitab dan selain mereka, dan inilah yang lebih tampak. Allah memerintahkan mereka untuk beriman dan bertakwa, yang mencakup seluruh ajaran agama, baik lahir maupun batin, pokok maupun cabangnya. Jika mereka melaksanakan perintah yang agung ini, Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yang hakikat dan besarnya hanya diketahui oleh Allah Ta‘ala. Bisa bermakna pahala atas iman dan pahala atas takwa, atau pahala atas melaksanakan perintah dan pahala atas menjauhi larangan, atau makna dua itu menunjukkan pemberian yang berulang-ulang.“Dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu Allah memberi kalian ilmu, petunjuk, dan cahaya yang kalian gunakan untuk berjalan di tengah kegelapan kebodohan, serta Dia mengampuni dosa-dosa kalian.“Dan Allah memiliki karunia yang besar,” sehingga pahala ini tidaklah dianggap besar bagi Zat Yang memiliki karunia yang agung, yang karunia-Nya meliputi seluruh penduduk langit dan bumi. Tidak ada satu makhluk pun yang lepas dari karunia-Nya walau sekejap mata, bahkan lebih kecil dari itu.Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Telah disebutkan dalam riwayat An-Nasa’i dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau memahami ayat ini tentang orang-orang beriman dari kalangan Ahli Kitab, dan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, sebagaimana disebutkan dalam ayat di surah Al-Qashash, dan sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Sya‘bi, dari Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy‘ari, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:ثَلَاثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَآمَنَ بِي فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَدَّى حَقَّ اللَّهِ وَحَقَّ مَوَالِيهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ أَدَّبَ أَمَتَهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ“Tiga golongan yang mendapatkan pahala dua kali: seorang dari Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepadaku, maka ia mendapat dua pahala; seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya, maka ia mendapat dua pahala; dan seorang yang mendidik budak wanitanya dengan baik, lalu memerdekakannya dan menikahinya, maka ia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pendapat ini juga disepakati oleh Adh-Dhahhak, ‘Utbah bin Abi Hakim, dan selain keduanya, serta dipilih oleh Ibnu Jarir.Sa‘id bin Jubair berkata: ketika Ahli Kitab membanggakan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, maka Allah menurunkan ayat ini untuk umat ini:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya, menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan, dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Maksudnya, dua bagian tersebut adalah dua kali lipat. Allah juga menambahkan bagi mereka, “dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu petunjuk yang dengannya seseorang dapat melihat jalan di tengah kebutaan dan kebodohan, serta mengampuni kalian. Allah melebihkan mereka dengan cahaya dan ampunan. Riwayat ini juga dibawakan oleh Ibnu Jarir.Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta‘ala:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian pembeda (antara yang benar dan yang batil), menghapus kesalahan-kesalahan kalian, dan mengampuni kalian. Dan Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)Sa‘id bin ‘Abdul ‘Aziz berkata: Umar bin Al-Khaththab pernah bertanya kepada seorang alim dari kalangan Yahudi: “Berapa kali lipat paling besar pahala kebaikan yang diberikan kepada kalian?” Ia menjawab: “Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi tiga ratus lima puluh kebaikan.” Maka Umar memuji Allah karena Dia telah memberikan kepada kita dua bagian (pahala). Kemudian Sa‘id menyebutkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ“Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya.”Sa‘id berkata: dua bagian itu pada hari Jumat seperti itu juga. Riwayat ini dibawakan oleh Ibnu Jarir.Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَثَلُكُمْ وَمَثَلُ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَعْمَلَ عُمَّالًا فَقَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ الْيَهُودُ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَىٰ صَلَاةِ الْعَصْرِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ النَّصَارَى، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَىٰ غُرُوبِ الشَّمْسِ عَلَىٰ قِيرَاطَيْنِ قِيرَاطَيْنِ؟ أَلَا فَأَنْتُمُ الَّذِينَ عَمِلْتُمْ، فَغَضِبَتِ النَّصَارَى وَالْيَهُودُ، وَقَالُوا: نَحْنُ أَكْثَرُ عَمَلًا وَأَقَلُّ عَطَاءً، قَالَ: هَلْ ظَلَمْتُكُمْ مِنْ أَجْرِكُمْ شَيْئًا؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: فَإِنَّمَا هُوَ فَضْلِي أُؤْتِيهِ مَنْ أَشَاءُ“Perumpamaan kalian dengan Yahudi dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang mempekerjakan para pekerja. Ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Shubuh hingga tengah hari dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Yahudi bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari tengah hari hingga Ashar dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Nasrani bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Ashar hingga terbenam matahari dengan upah dua qirath dua qirath?’ Maka kalianlah yang bekerja. Lalu orang-orang Nasrani dan Yahudi marah dan berkata: ‘Kami bekerja lebih banyak, tetapi mendapatkan upah lebih sedikit.’ Ia berkata: ‘Apakah aku mengurangi sedikit pun dari upah kalian?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Ia berkata: ‘Itu adalah karunia-Ku, Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki.’”Ahmad berkata: hadits ini juga diriwayatkan kepada kami oleh Mu’ammal, dari Sufyan, dari ‘Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, semisal hadits Nafi‘ darinya.Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari, dari Sulaiman bin Harb, dari Hammad, dari Ayyub, dari Nafi‘ dengan sanad tersebut, dan juga dari Qutaibah, dari Al-Laits, dari Nafi‘ dengan lafaz yang semisal.Al-Bukhari juga berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-‘Ala’, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:مَثَلُ الْمُسْلِمِينَ وَالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَأْجَرَ قَوْمًا يَعْمَلُونَ لَهُ عَمَلًا يَوْمًا إِلَى اللَّيْلِ عَلَىٰ أَجْرٍ مَعْلُومٍ، فَعَمِلُوا إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ فَقَالُوا: لَا حَاجَةَ لَنَا فِي أَجْرِكَ الَّذِي شَرَطْتَ لَنَا، وَمَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، فَقَالَ لَهُمْ: لَا تَفْعَلُوا، أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ وَخُذُوا أَجْرَكُمْ كَامِلًا، فَأَبَوْا وَتَرَكُوا، وَاسْتَأْجَرَ آخَرِينَ بَعْدَهُمْ فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِكُمْ وَلَكُمُ الَّذِي شَرَطْتُ لَهُمْ مِنَ الْأَجْرِ، فَعَمِلُوا، حَتَّىٰ إِذَا كَانَ حِينَ صَلَوْا الْعَصْرَ قَالُوا: مَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، وَلَكَ الْأَجْرُ الَّذِي جَعَلْتَ لَنَا فِيهِ، فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ؛ فَإِنَّ مَا بَقِيَ مِنَ النَّهَارِ شَيْءٌ يَسِيرٌ، فَأَبَوْا، فَاسْتَأْجَرَ قَوْمًا أَنْ يَعْمَلُوا لَهُ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، فَعَمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِهِ حَتَّىٰ غَابَتِ الشَّمْسُ، فَاسْتَكْمَلُوا أَجْرَ الْفَرِيقَيْنِ كِلَيْهِمَا، فَذَلِكَ مَثَلُهُمْ وَمَثَلُ مَا قَبِلُوا مِنْ هَذَا النُّورِ“Perumpamaan kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang menyewa suatu kaum untuk bekerja sehari penuh sampai malam dengan upah tertentu. Mereka bekerja sampai tengah hari, lalu berkata: ‘Kami tidak butuh upah yang engkau janjikan, dan apa yang kami kerjakan sia-sia.’ Ia berkata: ‘Jangan lakukan itu, selesaikan sisa pekerjaan kalian dan ambil upah kalian secara penuh.’ Namun mereka menolak dan pergi. Lalu ia menyewa orang lain setelah mereka dan berkata: ‘Selesaikan sisa hari kalian dan kalian akan mendapatkan upah seperti yang aku janjikan kepada mereka.’ Mereka bekerja, hingga ketika waktu Ashar, mereka berkata: ‘Apa yang kami kerjakan sia-sia, dan upah itu untukmu.’ Ia berkata: ‘Selesaikan sisa pekerjaan kalian, karena yang tersisa dari hari itu hanya sedikit.’ Namun mereka menolak. Lalu ia menyewa suatu kaum untuk menyelesaikan sisa hari itu, maka mereka bekerja hingga matahari terbenam, dan mereka mendapatkan upah kedua kelompok sebelumnya secara penuh. Itulah perumpamaan mereka dan perumpamaan apa yang mereka terima dari cahaya ini.”Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari. Cahaya itu Murni Karunia AllahAllah Ta‘ālā berfirman,﴿نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.” (QS. At-Taḥrīm: 8)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’”Mujahid, Adh-Dhahhak, Al-Hasan Al-Bashri, dan selain mereka berkata: ucapan ini diucapkan oleh orang-orang beriman ketika mereka melihat pada hari kiamat cahaya orang-orang munafik telah padam.Muhammad bin Nashr Al-Marwazi berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi‘ah, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Habib, dari ‘Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, bahwa ia mendengar Abu Dzar dan Abu Darda’ berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ فِي السُّجُودِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ بِرَفْعِ رَأْسِهِ، فَأَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيَّ فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ يَمِينِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ شِمَالِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ“Akulah orang pertama yang diizinkan untuk sujud pada hari kiamat, dan orang pertama yang diizinkan untuk mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke hadapanku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kananku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kiriku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”Seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat?” Beliau menjawab:غُرٌّ مُحَجَّلُونَ مِنْ آثَارِ الطُّهُورِ، وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ مِنَ الْأُمَمِ كَذَلِكَ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ أَنَّهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ“Mereka memiliki wajah dan anggota tubuh yang bercahaya karena bekas wudhu, dan tidak ada umat lain yang memiliki hal itu selain mereka. Aku juga mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal mereka dengan tangan kanan, aku mengenali mereka dari tanda di wajah mereka akibat sujud, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang berjalan di hadapan mereka.”Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ishaq Ath-Thalqani, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, dari Yahya bin Hassan, dari seorang laki-laki dari Bani Kinanah, ia berkata: aku shalat di belakang Rasulullah ﷺ pada tahun penaklukan Makkah, lalu aku mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ لَا تُخْزِنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ya Allah, janganlah Engkau hinakan aku pada hari kiamat.” Saat Orang Munafik Kehilangan CahayaAllah Ta‘ālā berfirman,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al-Ḥadīd: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Ketika orang-orang munafik melihat cahaya orang-orang beriman yang mereka gunakan untuk berjalan, sementara cahaya mereka sendiri telah padam dan mereka berada dalam kegelapan dalam keadaan bingung, mereka berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.”Maksudnya, berilah kami kesempatan agar kami mendapatkan cahaya yang bisa kami gunakan untuk berjalan, sehingga kami selamat dari azab.Maka dikatakan kepada mereka:ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Maksudnya, jika hal itu mungkin dilakukan. Padahal kenyataannya hal itu tidak mungkin, bahkan termasuk sesuatu yang mustahil.Lalu dipisahkan antara orang-orang beriman dan orang-orang munafik dengan sebuah dinding:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Yaitu sebuah dinding yang kokoh dan benteng yang kuat. Bagian dalam yang menghadap orang-orang beriman berisi rahmat, sedangkan bagian luar yang menghadap orang-orang munafik berisi azab. Lalu orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’”Ini adalah pemberitahuan dari Allah tentang apa yang terjadi pada hari kiamat di padang mahsyar berupa berbagai kengerian yang mengguncangkan, gempa yang dahsyat, dan peristiwa-peristiwa yang menakutkan. Pada hari itu, tidak ada yang selamat kecuali orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengamalkan apa yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah menceritakan kepada kami Shafwan bin ‘Amr, telah menceritakan kepadaku Sulaim bin ‘Amir, ia berkata: kami keluar mengiringi jenazah di pintu Damaskus bersama Abu Umamah Al-Bahili. Setelah beliau menyalati jenazah dan mereka mulai menguburkannya, Abu Umamah berkata:“Wahai manusia, kalian sekarang berada di suatu tempat yang di dalamnya kalian membagi-bagi kebaikan dan keburukan. Kalian hampir akan berpindah darinya menuju tempat lain, yaitu ini”—sambil menunjuk ke kubur—“rumah kesendirian, rumah kegelapan, rumah ulat, dan rumah kesempitan, kecuali yang dilapangkan oleh Allah. Kemudian kalian akan berpindah darinya menuju berbagai tempat pada hari kiamat. Pada sebagian tempat itu, manusia akan diliputi oleh suatu perkara dari Allah, sehingga ada wajah yang menjadi putih dan ada wajah yang menjadi hitam.Kemudian kalian berpindah lagi ke tempat lain, lalu manusia diliputi oleh kegelapan yang sangat. Setelah itu, cahaya dibagikan. Orang beriman diberi cahaya, sedangkan orang kafir dan munafik tidak diberi apa pun. Inilah perumpamaan yang Allah sebutkan dalam Kitab-Nya:أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ“Atau seperti kegelapan di lautan yang dalam, yang diliputi ombak di atasnya ombak (pula), di atasnya lagi awan; kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir dia tidak dapat melihatnya. Barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidak ada baginya cahaya.” (QS. An-Nur: 40)Maka orang kafir dan munafik tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang beriman, sebagaimana orang buta tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang yang melihat. Lalu orang-orang munafik berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.” Lalu dikatakan kepada mereka: “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Itulah tipu daya Allah terhadap orang-orang munafik, sebagaimana firman-Nya:يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ“Mereka menipu Allah, dan Allah membalas tipu daya mereka.” (QS. An-Nisa: 142)Maka mereka kembali ke tempat pembagian cahaya, tetapi mereka tidak mendapatkan apa pun. Lalu mereka kembali kepada orang-orang beriman, namun telah dipisahkan antara mereka dengan sebuah dinding yang memiliki pintu:بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Sulaim bin ‘Amir berkata: orang munafik terus tertipu hingga cahaya dibagikan, lalu Allah membedakan antara orang beriman dan orang munafik.Ada lagi tambahan dari Ibnu Katsir sebagai berikut.Abu Al-Qasim Ath-Thabrani berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Alwiyah Al-Qaththan, telah menceritakan kepada kami Isma‘il bin ‘Isa Al-‘Aththar, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Bisyir Abu Hudzaifah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَدْعُو النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِهِمْ سِتْرًا مِنْهُ عَلَىٰ عِبَادِهِ، وَأَمَّا عِنْدَ الصِّرَاطِ فَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي كُلَّ مُؤْمِنٍ نُورًا، وَكُلَّ مُنَافِقٍ نُورًا، فَإِذَا اسْتَوَوْا عَلَى الصِّرَاطِ سَلَبَ اللَّهُ نُورَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ، فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ: ﴿انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ﴾، وَقَالَ الْمُؤْمِنُونَ: ﴿رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا﴾، فَلَا يُذْكَرُ عِنْدَ ذَلِكَ أَحَدٌ أَحَدًا“Sesungguhnya Allah memanggil manusia pada hari kiamat dengan nama-nama mereka sebagai bentuk penutupan (aib) dari-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Adapun di dekat shirath, Allah memberikan kepada setiap orang beriman cahaya, dan kepada setiap orang munafik juga cahaya. Ketika mereka telah berada di atas shirath, Allah mencabut cahaya orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. Maka orang-orang munafik berkata: ‘Tunggulah kami agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’ Dan orang-orang beriman berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.’ Maka pada saat itu, tidak ada seorang pun yang mengingat orang lain.”Firman-Nya:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Al-Hasan dan Qatadah berkata: dinding itu adalah pemisah antara surga dan neraka.‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: itulah yang disebut oleh Allah Ta‘ala dalam firman-Nya:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ“Dan di antara keduanya ada batas.” (QS. Al-A‘raf: 46)Demikian pula diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah dan selainnya, dan inilah pendapat yang benar.Baca juga: Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang BerimanAllah Ta‘ālā berfirman,يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (QS. Al-Ḥadīd: 14)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini sebagai berikut.“Mereka memanggil mereka, ‘Bukankah kami dahulu bersama kalian?’” maksudnya, orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman: bukankah kami dahulu bersama kalian di dunia, menghadiri shalat Jumat bersama kalian, shalat berjamaah bersama kalian, wukuf di Arafah bersama kalian, ikut dalam peperangan bersama kalian, dan menjalankan berbagai kewajiban bersama kalian?“Mereka menjawab, ‘Benar,’” yaitu orang-orang beriman menjawab: benar, kalian dahulu bersama kami.“Namun kalian mencelakakan diri kalian sendiri, menunggu-nunggu, ragu-ragu, dan kalian ditipu oleh angan-angan kosong.” Sebagian ulama salaf berkata: maksudnya kalian mencelakakan diri dengan kenikmatan, maksiat, dan syahwat.“Dan kalian menunggu-nunggu,” maksudnya kalian menunda tobat dari waktu ke waktu.Qatadah berkata: “Dan kalian menunggu-nunggu” yaitu terhadap kebenaran dan para pengikutnya. “Dan kalian ragu-ragu,” yaitu terhadap kebangkitan setelah kematian. “Dan kalian ditipu oleh angan-angan,” yaitu kalian berkata: Allah akan mengampuni kami. Ada juga yang mengatakan: kalian tertipu oleh dunia.“Hingga datang ketetapan Allah,” maksudnya kalian terus dalam keadaan itu hingga datang kematian.“Dan setan telah menipu kalian tentang Allah,” maksudnya setan.Qatadah berkata: mereka terus berada dalam tipuan setan, hingga akhirnya Allah melemparkan mereka ke dalam neraka.Makna ucapan orang-orang beriman kepada orang-orang munafik ini adalah: kalian dahulu bersama kami secara lahiriah, tetapi tanpa niat dan tanpa hati. Kalian berada dalam kebingungan dan keraguan, kalian hanya berbuat untuk dilihat manusia, dan kalian tidak mengingat Allah kecuali sedikit.Mujahid berkata: orang-orang munafik dahulu hidup bersama orang-orang beriman, mereka menikah dengan mereka, bergaul, dan hidup bersama mereka. Namun mereka mati dalam keadaan terpisah. Pada hari kiamat, mereka semua diberi cahaya, tetapi cahaya orang-orang munafik dipadamkan ketika sampai di dekat dinding, lalu dipisahkan antara mereka.Ucapan orang-orang beriman ini tidak bertentangan dengan firman Allah yang mengabarkan tentang mereka:كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ۝ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ ۝ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ عَنِ الْمُجْرِمِينَ ۝ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ۝ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ۝ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ۝ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ ۝ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ ۝ حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ“Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan. Mereka berada di dalam surga, saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa: ‘Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam (neraka) Saqar?’ Mereka menjawab: ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, serta kami membicarakan yang batil bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.’” (QS. Al-Muddatstsir: 38–47)Ucapan itu keluar dari orang-orang beriman sebagai bentuk celaan dan teguran keras kepada mereka. Kemudian Allah Ta‘ala berfirman:فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ“Maka tidak berguna bagi mereka syafaat para pemberi syafaat.” (QS. Al-Muddatstsir: 48) Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamatBerdasarkan Al-Hadid ayat 14, sebab tercabutnya cahaya pada hari kiamat dapat diringkas menjadi empat hal:1. Mencelakakan diri dengan maksiat dan syahwat(فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ)2. Menunda tobat dan menunggu-nunggu kebenaran(وَتَرَبَّصْتُمْ)3. Ragu terhadap iman dan hari akhir(وَارْتَبْتُمْ)4. Tertipu oleh angan-angan dan tipuan setan(وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ … وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ) Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!Di zaman sekarang, seseorang bisa tampak dekat dengan agama secara lahiriah, tetapi yang paling menentukan tetaplah keadaan hati di sisi Allah. Banyak orang rajin hadir dalam majelis ilmu, aktif dalam amal, dan terlihat baik di hadapan manusia, namun yang menyelamatkan adalah iman yang jujur dan hati yang bersih. Karena itu, jangan hanya sibuk memperbaiki penampilan ibadah, tetapi perbaikilah juga niat, tobat, keyakinan, dan rasa takut kepada Allah. Semoga Allah menjaga cahaya iman kita, meneguhkan kita di atas kebenaran, dan tidak menjadikan kita termasuk orang yang kehilangan cahaya pada hari kiamat.اللَّهُمَّ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَىٰ طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِينَAllāhumma atmim lanā nūranā, waghfir lanā, wa tsabbit qulūbanā ‘alā ṭā‘atika, waj‘alnā min ‘ibādikal-mukhliṣīn.“Ya Allah, sempurnakanlah cahaya kami, ampunilah kami, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscahaya iman hari akhir hari kiamat iman dan amal munafik nasihat akhirat orang munafik renungan ayat renungan quran rumaysho shirath tafsir Al-Hadid tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran takwa tazkiyatun nafs

Rahasia Ibadah yang Paling Banyak Pahalanya – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad

https://youtu.be/Rp92ghldYJw Seseorang yang di tengah menjalankan ibadah puasanya memperbanyak membaca Al-Qur’an serta menadaburi petunjuk-petunjuk di dalamnya, apakah pahalanya setara dengan orang yang lebih banyak menghabiskan waktu puasanya dengan tidur? Keduanya sama-sama sedang berpuasa. Keduanya pun sama-sama telah menunaikan kewajiban. Namun, apakah keduanya mendapatkan nilai pahala yang sama? Terkait hal ini, terdapat sebuah hadis yang dinilai hasan oleh sebagian ulama, sebagaimana dikutip oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau, Al-Wabil Ash-Shayyib. Beliau menyimpulkan sebuah kaidah yang sangat agung dari hadis tersebut mengenai tingkatan keutamaan dan perbandingan pahala dalam suatu amalan. Dikisahkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Lalu ditanyakan, “Siapakah jemaah haji yang paling agung pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Ditanyakan lagi, “Siapakah jemaah umrah yang paling besar pahalanya?” Beliau kembali menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Ibnul Qayyim merumuskan sebuah kaidah umum dari hadis ini dengan menyatakan, “Orang yang paling agung pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah saat menjalaninya.” Orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan adalah mereka yang paling banyak berzikir di dalam amalan tersebut. Maka, orang yang paling agung pahalanya dalam ibadah shalat adalah yang paling banyak zikirnya. “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14). Demikian pula dalam ibadah haji, pahala yang paling besar adalah bagi mereka yang paling banyak berzikir selama manasik haji. Beliau menjelaskan bahwa disyariatkannya tawaf di Baitullah, melempar jamrah, serta sai antara Shafa dan Marwah, tujuannya adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah. Semata-mata untuk senantiasa mengingat Allah. Maka orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan-ketaatan tersebut adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya. Demikian pula orang-orang yang berpuasa, yang paling besar pahalanya adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah dalam puasa mereka. Hendaknya seseorang bersemangat untuk memiliki porsi rutin dalam membaca Al-Qur’an, menjaga lisannya agar senantiasa basah dengan zikir kepada Ar-Rahman, serta antusias dalam berdoa, juga meluangkan waktu untuk menuntut ilmu serta mendalami agamanya. Semua ini termasuk bentuk penjagaan terhadap puasa. ===== مَنْ فِي أَثْنَاءِ صِيَامِهِ يُكْثِرُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّدَبُّرِ فِي هِدَايَاتِهِ هَلْ أَجْرُهُ مُمَاثِلٌ لِمَنْ يُكْثِرُ فِي صِيَامِهِ مِنَ النَّوْمِ؟ هَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ لَكِنْ هَلْ هُمَا سَوَاءٌ فِي الْأَجْرِ؟ وَلِهَذَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ يُحَسِّنُهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَوْرَدَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ وَاسْتَخْلَصَ مِنْهُ قَاعِدَةً عَظِيمَةً فِي التَّفْضِيلِ وَالْمُفَاضَلَةِ فِي الْأَعْمَالِ وَهُوَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْحُجَّاجِ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْعُمَّارِ أَكْثَر أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ابْنُ الْقَيِّمِ أَخَذَ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ قَاعِدَةً جَامِعَةً قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلَاةِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي وَالْحَجُّ أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِيهِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِي الْحَجِّ قَالَ: إِنَّمَا شُرِعَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ مَاذَا؟ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي هَذِهِ الطَّاعَاتِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فِيهَا وَهَكَذَا الصُّوَّامُ، أَعْظَمُهُمْ أَجْرًا فِي صِيَامِهِمْ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فَيَحْرِصِ الْمَرْءُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وِرْدٌ فِي الْقُرْآنِ وَأَنْ يَكُونَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ الرَّحْمنِ وَأَنْ يَحْرِصَ عَلَى الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ لَهُ وَقْتًا أَيْضًا فِي الْعِلْمِ وَالتَّفَقُّهِ فِي دِينِهِ فَهَذَا كُلُّهُ دَاخِلٌ فِي حِفْظِ الصِّيَامِ

Rahasia Ibadah yang Paling Banyak Pahalanya – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad

https://youtu.be/Rp92ghldYJw Seseorang yang di tengah menjalankan ibadah puasanya memperbanyak membaca Al-Qur’an serta menadaburi petunjuk-petunjuk di dalamnya, apakah pahalanya setara dengan orang yang lebih banyak menghabiskan waktu puasanya dengan tidur? Keduanya sama-sama sedang berpuasa. Keduanya pun sama-sama telah menunaikan kewajiban. Namun, apakah keduanya mendapatkan nilai pahala yang sama? Terkait hal ini, terdapat sebuah hadis yang dinilai hasan oleh sebagian ulama, sebagaimana dikutip oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau, Al-Wabil Ash-Shayyib. Beliau menyimpulkan sebuah kaidah yang sangat agung dari hadis tersebut mengenai tingkatan keutamaan dan perbandingan pahala dalam suatu amalan. Dikisahkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Lalu ditanyakan, “Siapakah jemaah haji yang paling agung pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Ditanyakan lagi, “Siapakah jemaah umrah yang paling besar pahalanya?” Beliau kembali menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Ibnul Qayyim merumuskan sebuah kaidah umum dari hadis ini dengan menyatakan, “Orang yang paling agung pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah saat menjalaninya.” Orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan adalah mereka yang paling banyak berzikir di dalam amalan tersebut. Maka, orang yang paling agung pahalanya dalam ibadah shalat adalah yang paling banyak zikirnya. “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14). Demikian pula dalam ibadah haji, pahala yang paling besar adalah bagi mereka yang paling banyak berzikir selama manasik haji. Beliau menjelaskan bahwa disyariatkannya tawaf di Baitullah, melempar jamrah, serta sai antara Shafa dan Marwah, tujuannya adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah. Semata-mata untuk senantiasa mengingat Allah. Maka orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan-ketaatan tersebut adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya. Demikian pula orang-orang yang berpuasa, yang paling besar pahalanya adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah dalam puasa mereka. Hendaknya seseorang bersemangat untuk memiliki porsi rutin dalam membaca Al-Qur’an, menjaga lisannya agar senantiasa basah dengan zikir kepada Ar-Rahman, serta antusias dalam berdoa, juga meluangkan waktu untuk menuntut ilmu serta mendalami agamanya. Semua ini termasuk bentuk penjagaan terhadap puasa. ===== مَنْ فِي أَثْنَاءِ صِيَامِهِ يُكْثِرُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّدَبُّرِ فِي هِدَايَاتِهِ هَلْ أَجْرُهُ مُمَاثِلٌ لِمَنْ يُكْثِرُ فِي صِيَامِهِ مِنَ النَّوْمِ؟ هَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ لَكِنْ هَلْ هُمَا سَوَاءٌ فِي الْأَجْرِ؟ وَلِهَذَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ يُحَسِّنُهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَوْرَدَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ وَاسْتَخْلَصَ مِنْهُ قَاعِدَةً عَظِيمَةً فِي التَّفْضِيلِ وَالْمُفَاضَلَةِ فِي الْأَعْمَالِ وَهُوَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْحُجَّاجِ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْعُمَّارِ أَكْثَر أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ابْنُ الْقَيِّمِ أَخَذَ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ قَاعِدَةً جَامِعَةً قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلَاةِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي وَالْحَجُّ أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِيهِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِي الْحَجِّ قَالَ: إِنَّمَا شُرِعَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ مَاذَا؟ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي هَذِهِ الطَّاعَاتِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فِيهَا وَهَكَذَا الصُّوَّامُ، أَعْظَمُهُمْ أَجْرًا فِي صِيَامِهِمْ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فَيَحْرِصِ الْمَرْءُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وِرْدٌ فِي الْقُرْآنِ وَأَنْ يَكُونَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ الرَّحْمنِ وَأَنْ يَحْرِصَ عَلَى الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ لَهُ وَقْتًا أَيْضًا فِي الْعِلْمِ وَالتَّفَقُّهِ فِي دِينِهِ فَهَذَا كُلُّهُ دَاخِلٌ فِي حِفْظِ الصِّيَامِ
https://youtu.be/Rp92ghldYJw Seseorang yang di tengah menjalankan ibadah puasanya memperbanyak membaca Al-Qur’an serta menadaburi petunjuk-petunjuk di dalamnya, apakah pahalanya setara dengan orang yang lebih banyak menghabiskan waktu puasanya dengan tidur? Keduanya sama-sama sedang berpuasa. Keduanya pun sama-sama telah menunaikan kewajiban. Namun, apakah keduanya mendapatkan nilai pahala yang sama? Terkait hal ini, terdapat sebuah hadis yang dinilai hasan oleh sebagian ulama, sebagaimana dikutip oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau, Al-Wabil Ash-Shayyib. Beliau menyimpulkan sebuah kaidah yang sangat agung dari hadis tersebut mengenai tingkatan keutamaan dan perbandingan pahala dalam suatu amalan. Dikisahkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Lalu ditanyakan, “Siapakah jemaah haji yang paling agung pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Ditanyakan lagi, “Siapakah jemaah umrah yang paling besar pahalanya?” Beliau kembali menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Ibnul Qayyim merumuskan sebuah kaidah umum dari hadis ini dengan menyatakan, “Orang yang paling agung pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah saat menjalaninya.” Orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan adalah mereka yang paling banyak berzikir di dalam amalan tersebut. Maka, orang yang paling agung pahalanya dalam ibadah shalat adalah yang paling banyak zikirnya. “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14). Demikian pula dalam ibadah haji, pahala yang paling besar adalah bagi mereka yang paling banyak berzikir selama manasik haji. Beliau menjelaskan bahwa disyariatkannya tawaf di Baitullah, melempar jamrah, serta sai antara Shafa dan Marwah, tujuannya adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah. Semata-mata untuk senantiasa mengingat Allah. Maka orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan-ketaatan tersebut adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya. Demikian pula orang-orang yang berpuasa, yang paling besar pahalanya adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah dalam puasa mereka. Hendaknya seseorang bersemangat untuk memiliki porsi rutin dalam membaca Al-Qur’an, menjaga lisannya agar senantiasa basah dengan zikir kepada Ar-Rahman, serta antusias dalam berdoa, juga meluangkan waktu untuk menuntut ilmu serta mendalami agamanya. Semua ini termasuk bentuk penjagaan terhadap puasa. ===== مَنْ فِي أَثْنَاءِ صِيَامِهِ يُكْثِرُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّدَبُّرِ فِي هِدَايَاتِهِ هَلْ أَجْرُهُ مُمَاثِلٌ لِمَنْ يُكْثِرُ فِي صِيَامِهِ مِنَ النَّوْمِ؟ هَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ لَكِنْ هَلْ هُمَا سَوَاءٌ فِي الْأَجْرِ؟ وَلِهَذَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ يُحَسِّنُهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَوْرَدَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ وَاسْتَخْلَصَ مِنْهُ قَاعِدَةً عَظِيمَةً فِي التَّفْضِيلِ وَالْمُفَاضَلَةِ فِي الْأَعْمَالِ وَهُوَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْحُجَّاجِ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْعُمَّارِ أَكْثَر أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ابْنُ الْقَيِّمِ أَخَذَ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ قَاعِدَةً جَامِعَةً قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلَاةِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي وَالْحَجُّ أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِيهِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِي الْحَجِّ قَالَ: إِنَّمَا شُرِعَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ مَاذَا؟ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي هَذِهِ الطَّاعَاتِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فِيهَا وَهَكَذَا الصُّوَّامُ، أَعْظَمُهُمْ أَجْرًا فِي صِيَامِهِمْ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فَيَحْرِصِ الْمَرْءُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وِرْدٌ فِي الْقُرْآنِ وَأَنْ يَكُونَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ الرَّحْمنِ وَأَنْ يَحْرِصَ عَلَى الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ لَهُ وَقْتًا أَيْضًا فِي الْعِلْمِ وَالتَّفَقُّهِ فِي دِينِهِ فَهَذَا كُلُّهُ دَاخِلٌ فِي حِفْظِ الصِّيَامِ


https://youtu.be/Rp92ghldYJw Seseorang yang di tengah menjalankan ibadah puasanya memperbanyak membaca Al-Qur’an serta menadaburi petunjuk-petunjuk di dalamnya, apakah pahalanya setara dengan orang yang lebih banyak menghabiskan waktu puasanya dengan tidur? Keduanya sama-sama sedang berpuasa. Keduanya pun sama-sama telah menunaikan kewajiban. Namun, apakah keduanya mendapatkan nilai pahala yang sama? Terkait hal ini, terdapat sebuah hadis yang dinilai hasan oleh sebagian ulama, sebagaimana dikutip oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau, Al-Wabil Ash-Shayyib. Beliau menyimpulkan sebuah kaidah yang sangat agung dari hadis tersebut mengenai tingkatan keutamaan dan perbandingan pahala dalam suatu amalan. Dikisahkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Lalu ditanyakan, “Siapakah jemaah haji yang paling agung pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Ditanyakan lagi, “Siapakah jemaah umrah yang paling besar pahalanya?” Beliau kembali menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Ibnul Qayyim merumuskan sebuah kaidah umum dari hadis ini dengan menyatakan, “Orang yang paling agung pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah saat menjalaninya.” Orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan adalah mereka yang paling banyak berzikir di dalam amalan tersebut. Maka, orang yang paling agung pahalanya dalam ibadah shalat adalah yang paling banyak zikirnya. “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14). Demikian pula dalam ibadah haji, pahala yang paling besar adalah bagi mereka yang paling banyak berzikir selama manasik haji. Beliau menjelaskan bahwa disyariatkannya tawaf di Baitullah, melempar jamrah, serta sai antara Shafa dan Marwah, tujuannya adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah. Semata-mata untuk senantiasa mengingat Allah. Maka orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan-ketaatan tersebut adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya. Demikian pula orang-orang yang berpuasa, yang paling besar pahalanya adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah dalam puasa mereka. Hendaknya seseorang bersemangat untuk memiliki porsi rutin dalam membaca Al-Qur’an, menjaga lisannya agar senantiasa basah dengan zikir kepada Ar-Rahman, serta antusias dalam berdoa, juga meluangkan waktu untuk menuntut ilmu serta mendalami agamanya. Semua ini termasuk bentuk penjagaan terhadap puasa. ===== مَنْ فِي أَثْنَاءِ صِيَامِهِ يُكْثِرُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّدَبُّرِ فِي هِدَايَاتِهِ هَلْ أَجْرُهُ مُمَاثِلٌ لِمَنْ يُكْثِرُ فِي صِيَامِهِ مِنَ النَّوْمِ؟ هَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ لَكِنْ هَلْ هُمَا سَوَاءٌ فِي الْأَجْرِ؟ وَلِهَذَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ يُحَسِّنُهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَوْرَدَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ وَاسْتَخْلَصَ مِنْهُ قَاعِدَةً عَظِيمَةً فِي التَّفْضِيلِ وَالْمُفَاضَلَةِ فِي الْأَعْمَالِ وَهُوَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْحُجَّاجِ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْعُمَّارِ أَكْثَر أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ابْنُ الْقَيِّمِ أَخَذَ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ قَاعِدَةً جَامِعَةً قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلَاةِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي وَالْحَجُّ أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِيهِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِي الْحَجِّ قَالَ: إِنَّمَا شُرِعَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ مَاذَا؟ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي هَذِهِ الطَّاعَاتِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فِيهَا وَهَكَذَا الصُّوَّامُ، أَعْظَمُهُمْ أَجْرًا فِي صِيَامِهِمْ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فَيَحْرِصِ الْمَرْءُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وِرْدٌ فِي الْقُرْآنِ وَأَنْ يَكُونَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ الرَّحْمنِ وَأَنْ يَحْرِصَ عَلَى الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ لَهُ وَقْتًا أَيْضًا فِي الْعِلْمِ وَالتَّفَقُّهِ فِي دِينِهِ فَهَذَا كُلُّهُ دَاخِلٌ فِي حِفْظِ الصِّيَامِ

Kapan Transfer Uang di Masjid Menjadi Haram? Simak Penjelasan Tuntas Syaikh!

https://youtu.be/hwTDgWc5ZLQ Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Penanya bertanya: “Apa hukum mentransfer uang melalui m-banking di dalam masjid?” Demi Allah, wahai saudara-saudaraku! Kita sedang berada di zaman yang sangat mengherankan. Banyak orang masuk ke masjid, tapi seolah-olah mereka tidak sedang berada di dalam masjid. Bahkan, saya pernah melihat sendiri, ada orang yang membuka klip-klip video yang ia tonton dari YouTube di dalam masjid. Ia mencari hiburan di antara waktu azan dan iqamah dengan menonton klip-klip film. Video tersebut bukan penjelasan suatu pelajaran atau semacamnya, melainkan murni klip-klip film. Anda juga dapat menyaksikan sebagian orang di masjid sibuk mengikuti berita-berita dunia. Hal ini sama sekali tidak pantas bagi masjid, dan tidak layak dilakukan oleh seorang mukmin saat berada di dalamnya. Sebagian orang zaman sekarang juga melakukan transaksi keuangan di dalam masjid. Ia menjual, membeli, membayar, hingga mentransfer uang. Semua ini tidak diperbolehkan. Sebab, masjid tidak dibangun untuk tujuan tersebut, yakni untuk dijadikan tempat melakukan transaksi keuangan, segala transaksi itu dilarang jika dilakukan di dalam masjid. Namun, jika seseorang melakukan transfer uang untuk saudaranya, bukan transaksi keuangan (jual beli), seperti mengirim uang dari rekening pribadi ke saudara atau ibunya, atau ia sekadar mengirim uang pembayaran sedangkan akad transaksinya telah selesai di luar masjid, atau ia sedang menerima barang padahal kesepakatan jual belinya terjadi di luar masjid, maka hal ini tidak bisa kita katakan hukumnya haram. Tetapi, selayaknya masjid dijaga kesuciannya dari hal-hal duniawi semacam itu. Sepatutnya perbuatan itu tidak dilakukan di dalam masjid. Lagipula, waktu seseorang tidaklah sesempit itu, sampai-sampai ia harus melakukan ini semua di dalam masjid. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ مَا حُكْمُ تَحْوِيلِ الْمَالِ لِشَخْصٍ عَبْرَ الْبَنْكِ دَاخِلَ الْمَسْجِدِ وَاللَّهِ يَا إِخْوَةُ نَحْنُ فِي زَمَنٍ عَجِيبٍ النَّاسُ يَدْخُلُونَ الْمَسْجِدَ مَا كَأَنَّهُمْ دَخَلُوا الْمَسْجِدَ حَتَّى رَأَيْتُ مَرَّةً مَنْ يَفْتَحُ مَقَاطِعَ يُشَاهِدُهَا فِي هَذَا الَّذِي يُسَمُّونَهُ الْيُوتِيُوبَ فِي الْمَسْجِدِ يَتَسَلَّى بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ بِمَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةٍ لَيْسَتْ شَرْحًا لِدَرْسٍ أَوْ كَذَا لَا مَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةً وَتَرَى يَعْنِي بَعْضَ النَّاسِ فِي الْمَسْجِدِ يَتَتَبَّعُونَ أَخْبَارَ الدُّنْيَا هَذَا مَا يَلِيقُ بِالْمَسَاجِدِ وَلَا يَلِيقُ بِالْمُؤْمِنِ فِي الْمَسْجِدِ وَبَعْضُ النَّاسِ الْآنَ صَارَ يُجْرِي مُعَامَلَاتِهِ الْمَالِيَّةَ فِي الْمَسْجِدِ فَيَبِيعُ وَيَشْتَرِي وَيَدْفَعُ وَيُحَوِّلُ وَكُلُّ هَذَا لَا يَجُوزُ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا أَنْ تُجْرَى الْمُعَامَلَاتُ الْمَالِيَّةُ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ لَا يَجُوزُ لَكِنْ إِذَا كَانَ يُحَوِّلُ لِأَخِيهِ لَيْسَتْ مُعَامَلَةً مَالِيَّةً يُحَوِّلُ مِنْ حِسَابِهِ إِلَى أَخِيهِ أَوْ إِلَى أُمِّهِ أَوْ يَدْفَعُ الثَّمَنَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ وَقَعَتْ خَارِجَ الْمَسْجِدِ أَوْ يَقْبِضُ السِّلْعَةَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ كَانَتْ فِي خَارِجِ الْمَسْجِدِ فَهَذَا لَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ إِنَّهُ حَرَامٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ وَمَا ضَاقَ الْوَقْتُ بِالْإِنسَانِ حَتَّى يُجْرِيَ هَذِهِ الْأَشْيَاءَ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ

Kapan Transfer Uang di Masjid Menjadi Haram? Simak Penjelasan Tuntas Syaikh!

https://youtu.be/hwTDgWc5ZLQ Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Penanya bertanya: “Apa hukum mentransfer uang melalui m-banking di dalam masjid?” Demi Allah, wahai saudara-saudaraku! Kita sedang berada di zaman yang sangat mengherankan. Banyak orang masuk ke masjid, tapi seolah-olah mereka tidak sedang berada di dalam masjid. Bahkan, saya pernah melihat sendiri, ada orang yang membuka klip-klip video yang ia tonton dari YouTube di dalam masjid. Ia mencari hiburan di antara waktu azan dan iqamah dengan menonton klip-klip film. Video tersebut bukan penjelasan suatu pelajaran atau semacamnya, melainkan murni klip-klip film. Anda juga dapat menyaksikan sebagian orang di masjid sibuk mengikuti berita-berita dunia. Hal ini sama sekali tidak pantas bagi masjid, dan tidak layak dilakukan oleh seorang mukmin saat berada di dalamnya. Sebagian orang zaman sekarang juga melakukan transaksi keuangan di dalam masjid. Ia menjual, membeli, membayar, hingga mentransfer uang. Semua ini tidak diperbolehkan. Sebab, masjid tidak dibangun untuk tujuan tersebut, yakni untuk dijadikan tempat melakukan transaksi keuangan, segala transaksi itu dilarang jika dilakukan di dalam masjid. Namun, jika seseorang melakukan transfer uang untuk saudaranya, bukan transaksi keuangan (jual beli), seperti mengirim uang dari rekening pribadi ke saudara atau ibunya, atau ia sekadar mengirim uang pembayaran sedangkan akad transaksinya telah selesai di luar masjid, atau ia sedang menerima barang padahal kesepakatan jual belinya terjadi di luar masjid, maka hal ini tidak bisa kita katakan hukumnya haram. Tetapi, selayaknya masjid dijaga kesuciannya dari hal-hal duniawi semacam itu. Sepatutnya perbuatan itu tidak dilakukan di dalam masjid. Lagipula, waktu seseorang tidaklah sesempit itu, sampai-sampai ia harus melakukan ini semua di dalam masjid. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ مَا حُكْمُ تَحْوِيلِ الْمَالِ لِشَخْصٍ عَبْرَ الْبَنْكِ دَاخِلَ الْمَسْجِدِ وَاللَّهِ يَا إِخْوَةُ نَحْنُ فِي زَمَنٍ عَجِيبٍ النَّاسُ يَدْخُلُونَ الْمَسْجِدَ مَا كَأَنَّهُمْ دَخَلُوا الْمَسْجِدَ حَتَّى رَأَيْتُ مَرَّةً مَنْ يَفْتَحُ مَقَاطِعَ يُشَاهِدُهَا فِي هَذَا الَّذِي يُسَمُّونَهُ الْيُوتِيُوبَ فِي الْمَسْجِدِ يَتَسَلَّى بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ بِمَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةٍ لَيْسَتْ شَرْحًا لِدَرْسٍ أَوْ كَذَا لَا مَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةً وَتَرَى يَعْنِي بَعْضَ النَّاسِ فِي الْمَسْجِدِ يَتَتَبَّعُونَ أَخْبَارَ الدُّنْيَا هَذَا مَا يَلِيقُ بِالْمَسَاجِدِ وَلَا يَلِيقُ بِالْمُؤْمِنِ فِي الْمَسْجِدِ وَبَعْضُ النَّاسِ الْآنَ صَارَ يُجْرِي مُعَامَلَاتِهِ الْمَالِيَّةَ فِي الْمَسْجِدِ فَيَبِيعُ وَيَشْتَرِي وَيَدْفَعُ وَيُحَوِّلُ وَكُلُّ هَذَا لَا يَجُوزُ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا أَنْ تُجْرَى الْمُعَامَلَاتُ الْمَالِيَّةُ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ لَا يَجُوزُ لَكِنْ إِذَا كَانَ يُحَوِّلُ لِأَخِيهِ لَيْسَتْ مُعَامَلَةً مَالِيَّةً يُحَوِّلُ مِنْ حِسَابِهِ إِلَى أَخِيهِ أَوْ إِلَى أُمِّهِ أَوْ يَدْفَعُ الثَّمَنَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ وَقَعَتْ خَارِجَ الْمَسْجِدِ أَوْ يَقْبِضُ السِّلْعَةَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ كَانَتْ فِي خَارِجِ الْمَسْجِدِ فَهَذَا لَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ إِنَّهُ حَرَامٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ وَمَا ضَاقَ الْوَقْتُ بِالْإِنسَانِ حَتَّى يُجْرِيَ هَذِهِ الْأَشْيَاءَ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ
https://youtu.be/hwTDgWc5ZLQ Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Penanya bertanya: “Apa hukum mentransfer uang melalui m-banking di dalam masjid?” Demi Allah, wahai saudara-saudaraku! Kita sedang berada di zaman yang sangat mengherankan. Banyak orang masuk ke masjid, tapi seolah-olah mereka tidak sedang berada di dalam masjid. Bahkan, saya pernah melihat sendiri, ada orang yang membuka klip-klip video yang ia tonton dari YouTube di dalam masjid. Ia mencari hiburan di antara waktu azan dan iqamah dengan menonton klip-klip film. Video tersebut bukan penjelasan suatu pelajaran atau semacamnya, melainkan murni klip-klip film. Anda juga dapat menyaksikan sebagian orang di masjid sibuk mengikuti berita-berita dunia. Hal ini sama sekali tidak pantas bagi masjid, dan tidak layak dilakukan oleh seorang mukmin saat berada di dalamnya. Sebagian orang zaman sekarang juga melakukan transaksi keuangan di dalam masjid. Ia menjual, membeli, membayar, hingga mentransfer uang. Semua ini tidak diperbolehkan. Sebab, masjid tidak dibangun untuk tujuan tersebut, yakni untuk dijadikan tempat melakukan transaksi keuangan, segala transaksi itu dilarang jika dilakukan di dalam masjid. Namun, jika seseorang melakukan transfer uang untuk saudaranya, bukan transaksi keuangan (jual beli), seperti mengirim uang dari rekening pribadi ke saudara atau ibunya, atau ia sekadar mengirim uang pembayaran sedangkan akad transaksinya telah selesai di luar masjid, atau ia sedang menerima barang padahal kesepakatan jual belinya terjadi di luar masjid, maka hal ini tidak bisa kita katakan hukumnya haram. Tetapi, selayaknya masjid dijaga kesuciannya dari hal-hal duniawi semacam itu. Sepatutnya perbuatan itu tidak dilakukan di dalam masjid. Lagipula, waktu seseorang tidaklah sesempit itu, sampai-sampai ia harus melakukan ini semua di dalam masjid. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ مَا حُكْمُ تَحْوِيلِ الْمَالِ لِشَخْصٍ عَبْرَ الْبَنْكِ دَاخِلَ الْمَسْجِدِ وَاللَّهِ يَا إِخْوَةُ نَحْنُ فِي زَمَنٍ عَجِيبٍ النَّاسُ يَدْخُلُونَ الْمَسْجِدَ مَا كَأَنَّهُمْ دَخَلُوا الْمَسْجِدَ حَتَّى رَأَيْتُ مَرَّةً مَنْ يَفْتَحُ مَقَاطِعَ يُشَاهِدُهَا فِي هَذَا الَّذِي يُسَمُّونَهُ الْيُوتِيُوبَ فِي الْمَسْجِدِ يَتَسَلَّى بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ بِمَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةٍ لَيْسَتْ شَرْحًا لِدَرْسٍ أَوْ كَذَا لَا مَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةً وَتَرَى يَعْنِي بَعْضَ النَّاسِ فِي الْمَسْجِدِ يَتَتَبَّعُونَ أَخْبَارَ الدُّنْيَا هَذَا مَا يَلِيقُ بِالْمَسَاجِدِ وَلَا يَلِيقُ بِالْمُؤْمِنِ فِي الْمَسْجِدِ وَبَعْضُ النَّاسِ الْآنَ صَارَ يُجْرِي مُعَامَلَاتِهِ الْمَالِيَّةَ فِي الْمَسْجِدِ فَيَبِيعُ وَيَشْتَرِي وَيَدْفَعُ وَيُحَوِّلُ وَكُلُّ هَذَا لَا يَجُوزُ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا أَنْ تُجْرَى الْمُعَامَلَاتُ الْمَالِيَّةُ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ لَا يَجُوزُ لَكِنْ إِذَا كَانَ يُحَوِّلُ لِأَخِيهِ لَيْسَتْ مُعَامَلَةً مَالِيَّةً يُحَوِّلُ مِنْ حِسَابِهِ إِلَى أَخِيهِ أَوْ إِلَى أُمِّهِ أَوْ يَدْفَعُ الثَّمَنَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ وَقَعَتْ خَارِجَ الْمَسْجِدِ أَوْ يَقْبِضُ السِّلْعَةَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ كَانَتْ فِي خَارِجِ الْمَسْجِدِ فَهَذَا لَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ إِنَّهُ حَرَامٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ وَمَا ضَاقَ الْوَقْتُ بِالْإِنسَانِ حَتَّى يُجْرِيَ هَذِهِ الْأَشْيَاءَ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ


https://youtu.be/hwTDgWc5ZLQ Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Penanya bertanya: “Apa hukum mentransfer uang melalui m-banking di dalam masjid?” Demi Allah, wahai saudara-saudaraku! Kita sedang berada di zaman yang sangat mengherankan. Banyak orang masuk ke masjid, tapi seolah-olah mereka tidak sedang berada di dalam masjid. Bahkan, saya pernah melihat sendiri, ada orang yang membuka klip-klip video yang ia tonton dari YouTube di dalam masjid. Ia mencari hiburan di antara waktu azan dan iqamah dengan menonton klip-klip film. Video tersebut bukan penjelasan suatu pelajaran atau semacamnya, melainkan murni klip-klip film. Anda juga dapat menyaksikan sebagian orang di masjid sibuk mengikuti berita-berita dunia. Hal ini sama sekali tidak pantas bagi masjid, dan tidak layak dilakukan oleh seorang mukmin saat berada di dalamnya. Sebagian orang zaman sekarang juga melakukan transaksi keuangan di dalam masjid. Ia menjual, membeli, membayar, hingga mentransfer uang. Semua ini tidak diperbolehkan. Sebab, masjid tidak dibangun untuk tujuan tersebut, yakni untuk dijadikan tempat melakukan transaksi keuangan, segala transaksi itu dilarang jika dilakukan di dalam masjid. Namun, jika seseorang melakukan transfer uang untuk saudaranya, bukan transaksi keuangan (jual beli), seperti mengirim uang dari rekening pribadi ke saudara atau ibunya, atau ia sekadar mengirim uang pembayaran sedangkan akad transaksinya telah selesai di luar masjid, atau ia sedang menerima barang padahal kesepakatan jual belinya terjadi di luar masjid, maka hal ini tidak bisa kita katakan hukumnya haram. Tetapi, selayaknya masjid dijaga kesuciannya dari hal-hal duniawi semacam itu. Sepatutnya perbuatan itu tidak dilakukan di dalam masjid. Lagipula, waktu seseorang tidaklah sesempit itu, sampai-sampai ia harus melakukan ini semua di dalam masjid. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ مَا حُكْمُ تَحْوِيلِ الْمَالِ لِشَخْصٍ عَبْرَ الْبَنْكِ دَاخِلَ الْمَسْجِدِ وَاللَّهِ يَا إِخْوَةُ نَحْنُ فِي زَمَنٍ عَجِيبٍ النَّاسُ يَدْخُلُونَ الْمَسْجِدَ مَا كَأَنَّهُمْ دَخَلُوا الْمَسْجِدَ حَتَّى رَأَيْتُ مَرَّةً مَنْ يَفْتَحُ مَقَاطِعَ يُشَاهِدُهَا فِي هَذَا الَّذِي يُسَمُّونَهُ الْيُوتِيُوبَ فِي الْمَسْجِدِ يَتَسَلَّى بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ بِمَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةٍ لَيْسَتْ شَرْحًا لِدَرْسٍ أَوْ كَذَا لَا مَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةً وَتَرَى يَعْنِي بَعْضَ النَّاسِ فِي الْمَسْجِدِ يَتَتَبَّعُونَ أَخْبَارَ الدُّنْيَا هَذَا مَا يَلِيقُ بِالْمَسَاجِدِ وَلَا يَلِيقُ بِالْمُؤْمِنِ فِي الْمَسْجِدِ وَبَعْضُ النَّاسِ الْآنَ صَارَ يُجْرِي مُعَامَلَاتِهِ الْمَالِيَّةَ فِي الْمَسْجِدِ فَيَبِيعُ وَيَشْتَرِي وَيَدْفَعُ وَيُحَوِّلُ وَكُلُّ هَذَا لَا يَجُوزُ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا أَنْ تُجْرَى الْمُعَامَلَاتُ الْمَالِيَّةُ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ لَا يَجُوزُ لَكِنْ إِذَا كَانَ يُحَوِّلُ لِأَخِيهِ لَيْسَتْ مُعَامَلَةً مَالِيَّةً يُحَوِّلُ مِنْ حِسَابِهِ إِلَى أَخِيهِ أَوْ إِلَى أُمِّهِ أَوْ يَدْفَعُ الثَّمَنَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ وَقَعَتْ خَارِجَ الْمَسْجِدِ أَوْ يَقْبِضُ السِّلْعَةَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ كَانَتْ فِي خَارِجِ الْمَسْجِدِ فَهَذَا لَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ إِنَّهُ حَرَامٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ وَمَا ضَاقَ الْوَقْتُ بِالْإِنسَانِ حَتَّى يُجْرِيَ هَذِهِ الْأَشْيَاءَ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ
Prev     Next