Kejujuran terkadang terasa mahal karena membuat seseorang harus menanggung konsekuensi yang berat. Namun, kisah Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu membuktikan bahwa kejujuran adalah jalan menuju ampunan Allah dan kemuliaan di sisi-Nya. Dari kisah ini, kita belajar bahwa sesulit apa pun keadaan, berkata benar selalu berakhir dengan kebaikan Daftar Isi tutup 1. 4973. Bab: Hadits Tobat Ka’ab bin Malik dan Dua Sahabatnya 2. Pelajaran Penting Dalam Shahih Muslim disebutkan:4973. Bab: Hadits Tobat Ka’ab bin Malik dan Dua Sahabatnya2769. Telah menceritakan kepadaku Abu Ath-Thahir Ahmad bin ‘Amr bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin Sarh, maula Bani Umayyah. Ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Yunus, dari Ibnu Syihab, ia berkata:Kemudian Rasulullah ﷺ berangkat dalam Perang Tabuk. Beliau hendak menghadapi bangsa Romawi dan orang-orang Nasrani Arab yang berada di wilayah Syam.Ibnu Syihab berkata: Telah mengabarkan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’ab bin Malik, bahwa ‘Abdullah bin Ka’ab—yang ketika Ka’ab telah buta menjadi penuntunnya dari kalangan anak-anaknya—berkata:“Aku mendengar Ka’ab bin Malik menceritakan kisahnya ketika ia tidak ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk.”Ka’ab bin Malik berkata:“Aku tidak pernah tertinggal dari Rasulullah ﷺ dalam satu peperangan pun yang beliau ikuti, kecuali pada Perang Tabuk. Hanya saja, aku juga pernah tidak ikut dalam Perang Badar, namun ketika itu Rasulullah ﷺ tidak mencela seorang pun yang tidak ikut. Sebab, Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin saat itu sebenarnya hanya keluar untuk menghadang kafilah dagang Quraisy, hingga akhirnya Allah mempertemukan mereka dengan musuh tanpa ada perjanjian sebelumnya.Sungguh, aku juga pernah menghadiri malam Baiat Aqabah, ketika kami saling berjanji setia di atas Islam. Aku tidak ingin menukarnya dengan keikutsertaanku dalam Perang Badar, meskipun Perang Badar lebih dikenal oleh manusia daripada Baiat Aqabah.Kisahku ketika tidak ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk adalah bahwa saat itu aku tidak pernah berada dalam keadaan yang lebih kuat dan lebih lapang daripada ketika aku tidak ikut dalam peperangan tersebut. Demi Allah, sebelumnya aku tidak pernah memiliki dua ekor tunggangan sekaligus, hingga pada saat perang itu aku berhasil memilikinya.Rasulullah ﷺ berangkat dalam peperangan tersebut pada musim yang sangat panas. Beliau harus menempuh perjalanan yang sangat jauh melintasi padang pasir yang luas dan menghadapi musuh dalam jumlah besar. Karena itu, beliau menjelaskan secara terbuka kepada kaum muslimin tentang urusan mereka agar mereka benar-benar mempersiapkan perlengkapan perang. Beliau juga memberitahukan tujuan yang hendak dituju.Jumlah kaum muslimin yang berangkat bersama Rasulullah ﷺ sangat banyak. Mereka belum tercatat dalam suatu daftar yang dapat menghimpun nama-nama mereka.”Ka’ab berkata:“Karena itu, seseorang yang ingin tidak ikut berangkat mengira bahwa ketidakhadirannya akan luput dari perhatian, selama tidak turun wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla mengenai dirinya.Rasulullah ﷺ berangkat dalam peperangan itu ketika buah-buahan sedang masak dan pepohonan memberikan keteduhan yang menyejukkan. Sementara itu, hatiku justru lebih condong kepada kenikmatan tersebut.Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin pun mulai bersiap untuk berangkat. Aku juga setiap pagi keluar dengan niat hendak mempersiapkan diri bersama mereka. Namun, setiap kali pulang, aku belum juga menyelesaikan apa pun. Aku terus berkata dalam hati, ‘Aku mampu melakukannya kapan saja jika aku menghendaki.’Keadaan itu terus berlarut-larut hingga kaum muslimin benar-benar telah siap berangkat. Pada suatu pagi Rasulullah ﷺ berangkat bersama kaum muslimin, sedangkan aku belum menyiapkan sedikit pun perlengkapanku.Kemudian aku kembali keluar pada pagi berikutnya, lalu pulang lagi tanpa menyelesaikan apa pun. Keadaan itu terus berlangsung hingga pasukan berangkat semakin jauh meninggalkanku. Aku sempat berniat untuk segera menyusul mereka. Ah, seandainya saja aku benar-benar melakukannya! Namun, ternyata aku tidak diberi kemampuan untuk melaksanakannya.Sejak Rasulullah ﷺ berangkat, setiap kali aku keluar dan melihat orang-orang di Madinah, hatiku semakin sedih. Sebab, aku tidak melihat ada orang yang senasib denganku selain seseorang yang dicurigai sebagai orang munafik, atau orang-orang lemah yang memang telah diberi uzur oleh Allah.Rasulullah ﷺ sendiri tidak pernah menyinggung namaku hingga beliau tiba di Tabuk. Ketika beliau sedang duduk bersama para sahabat di Tabuk, beliau bertanya, “Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?”Seorang laki-laki dari Bani Salimah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia tertahan oleh dua pakaiannya dan sibuk mengagumi dirinya sendiri.”Mendengar itu, Mu’adz bin Jabal berkata, “Alangkah buruknya ucapanmu itu! Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui tentang dirinya selain kebaikan.”Maka Rasulullah ﷺ pun terdiam.Ketika beliau masih dalam keadaan demikian, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang berpakaian serba putih datang dari kejauhan, bayangannya tampak bergoyang di tengah fatamorgana. Rasulullah ﷺ bersabda, “Semoga dia adalah Abu Khaitsamah.”Ternyata benar, orang itu adalah Abu Khaitsamah Al-Anshari, yaitu sahabat yang dahulu bersedekah dengan satu sha’ kurma ketika orang-orang munafik mencelanya.Ka’ab bin Malik melanjutkan kisahnya,“Ketika sampai kepadaku kabar bahwa Rasulullah ﷺ telah meninggalkan Tabuk untuk kembali ke Madinah, aku mulai diliputi kegelisahan. Aku pun sibuk memikirkan berbagai alasan dusta. Aku berkata dalam hati, ‘Dengan alasan apa aku dapat menyelamatkan diri dari kemurkaan beliau besok?’ Aku bahkan meminta pertimbangan kepada setiap orang yang dianggap bijaksana dari keluargaku.Namun, ketika dikabarkan kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ telah semakin dekat tiba di Madinah, lenyaplah semua pikiran dusta itu dari benakku. Aku benar-benar yakin bahwa aku tidak akan pernah bisa selamat dengan kebohongan apa pun. Karena itu, aku memutuskan untuk berkata jujur.Keesokan paginya Rasulullah ﷺ tiba di Madinah. Setiap kali pulang dari perjalanan, beliau selalu memulai dengan mendatangi masjid, lalu mengerjakan shalat dua rakaat, kemudian duduk menemui orang-orang.Setelah beliau melakukan hal itu, datanglah orang-orang yang tidak ikut berperang. Mereka menyampaikan berbagai alasan dan bersumpah kepada beliau. Jumlah mereka sekitar delapan puluh orang lebih. Rasulullah ﷺ menerima alasan yang mereka tampakkan, membaiat mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, dan menyerahkan urusan hati mereka kepada Allah.Kemudian tibalah giliranku.Ketika aku mengucapkan salam kepada beliau, beliau tersenyum, namun senyum orang yang sedang marah. Lalu beliau bersabda, “Kemarilah.”Aku pun mendekat hingga duduk di hadapan beliau.Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu tidak ikut? Bukankah engkau telah membeli kendaraanmu?”Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, demi Allah, seandainya aku sekarang duduk di hadapan selain engkau, yaitu salah seorang pembesar dunia, niscaya aku yakin bisa keluar dari kemarahannya dengan berbagai alasan. Aku memang dikaruniai kemampuan berdebat.وَلَكِنِّي وَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُ لَئِنْ حَدَّثْتُكَ الْيَوْمَ حَدِيثَ كَذِبٍ تَرْضَىٰ بِهِ عَنِّي، لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يُسْخِطَكَ عَلَيَّ. وَلَئِنْ حَدَّثْتُكَ حَدِيثَ صِدْقٍ تَجِدُ عَلَيَّ فِيهِ، إِنِّي لَأَرْجُو فِيهِ عُقْبَى اللَّهِ. وَاللَّهِ مَا كَانَ لِي مِنْ عُذْرٍ، وَاللَّهِ مَا كُنْتُ قَطُّ أَقْوَىٰ وَلَا أَيْسَرَ مِنِّي حِينَ تَخَلَّفْتُ عَنْكَ.Namun, demi Allah, aku benar-benar mengetahui bahwa jika hari ini aku menyampaikan kepadamu alasan dusta hingga engkau ridha kepadaku, tidak lama kemudian Allah pasti akan membuatmu murka kepadaku.Sebaliknya, jika aku mengatakan yang sebenarnya, meskipun engkau akan marah kepadaku karenanya, aku tetap berharap akibat yang baik dari Allah.Demi Allah, aku sama sekali tidak memiliki uzur. Demi Allah, aku tidak pernah berada dalam keadaan lebih kuat dan lebih lapang daripada ketika aku tidak ikut bersamamu.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Adapun orang ini, ia telah berkata jujur. Berdirilah sekarang hingga Allah memberikan keputusan tentang dirimu.”Aku pun berdiri.Lalu beberapa orang dari Bani Salimah segera mengejarku. Mereka berkata, “Demi Allah, kami tidak pernah mengetahui engkau melakukan dosa sebelumnya seperti ini. Sungguh, mengapa engkau tidak mampu mengemukakan alasan kepada Rasulullah ﷺ sebagaimana alasan yang disampaikan oleh orang-orang lain yang tidak ikut berangkat? Bukankah dosamu sudah cukup dihapus dengan permohonan ampun Rasulullah ﷺ untukmu?”Ka’ab berkata, “Demi Allah, mereka terus-menerus mencelaku hingga aku hampir saja kembali menemui Rasulullah ﷺ untuk mendustakan diriku sendiri.”Kemudian aku bertanya kepada mereka, “Apakah ada orang lain yang mengalami hal yang sama denganku?”Mereka menjawab, “Ya, ada dua orang yang juga mengatakan hal yang sama seperti yang engkau katakan. Kepada keduanya pun disampaikan ucapan yang sama seperti yang disampaikan kepadamu.”Aku bertanya, “Siapa mereka?”Mereka menjawab, “Murarah bin Ar-Rabi’ Al-‘Amiri dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifi.”Ka’ab berkata, “Mereka menyebutkan kepadaku dua orang saleh yang pernah ikut dalam Perang Badar. Pada keduanya terdapat teladan bagiku. Karena itu, setelah mereka menyebutkan kedua nama tersebut, aku pun tetap melanjutkan langkahku.”Ka’ab melanjutkan, “Rasulullah ﷺ kemudian melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga, berbeda dengan orang-orang lain yang juga tidak ikut berangkat.Sejak saat itu, orang-orang menjauhi kami. Sikap mereka terhadap kami berubah. Hingga akhirnya bumi terasa asing bagiku. Seolah-olah bumi ini bukan lagi bumi yang selama ini kukenal.Keadaan itu berlangsung selama lima puluh malam.Adapun kedua sahabatku, mereka hanya berdiam diri di rumah masing-masing sambil terus menangis.Sedangkan aku adalah yang paling muda dan paling kuat di antara kami bertiga. Karena itu, aku tetap keluar rumah. Aku menghadiri shalat berjamaah bersama kaum muslimin, berkeliling di pasar, namun tidak seorang pun berbicara kepadaku.Aku juga mendatangi Rasulullah ﷺ. Aku mengucapkan salam kepada beliau ketika beliau sedang duduk di majelisnya setelah shalat. Dalam hati aku bertanya-tanya, ‘Apakah beliau menggerakkan kedua bibirnya untuk menjawab salamku atau tidak?’Kemudian aku shalat di dekat beliau sambil diam-diam mencuri pandang ke arah beliau. Jika aku sedang khusyuk menghadap shalat, beliau memandangku. Namun, ketika aku menoleh ke arah beliau, beliau segera memalingkan wajah dariku.Keadaan dijauhi oleh kaum muslimin itu berlangsung begitu lama hingga terasa sangat berat bagiku.Suatu hari aku berjalan menuju kebun milik Abu Qatadah, sepupuku sekaligus orang yang paling kucintai. Aku memanjat tembok kebunnya, lalu mengucapkan salam kepadanya.Demi Allah, ia sama sekali tidak menjawab salamku.Aku pun berkata, “Wahai Abu Qatadah, demi Allah aku bertanya kepadamu, apakah engkau mengetahui bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?”Namun, ia tetap diam.Aku mengulanginya untuk kedua kalinya, tetapi ia tetap diam.Aku mengulanginya lagi untuk ketiga kalinya.Lalu Abu Qatadah menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”Mendengar jawaban itu, kedua mataku pun bercucuran air mata. Aku segera berbalik dan memanjat kembali tembok kebun tersebut untuk keluar.Ketika aku sedang berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba ada seorang pedagang Nabath dari penduduk Syam yang datang membawa bahan makanan untuk dijual di Madinah. Ia bertanya, “Siapa yang bisa menunjukkan kepadaku Ka’ab bin Malik?”Orang-orang pun menunjuk ke arahku. Ia lalu mendatangiku dan menyerahkan sepucuk surat dari Raja Ghassan. Karena aku bisa membaca dan menulis, aku pun membacanya.Isinya sebagai berikut: “Amma ba’du. Telah sampai kepada kami berita bahwa sahabatmu telah menjauhimu. Allah tidak menjadikanmu berada dalam kehinaan dan keterlantaran. Karena itu, bergabunglah bersama kami. Kami akan memuliakanmu.”Ka’ab berkata, “Setelah membacanya, aku berkata dalam hati, ‘Ini pun termasuk ujian yang lain.’ Maka aku segera menuju tungku api, lalu membakar surat itu hingga habis.”Setelah empat puluh hari berlalu dari lima puluh hari masa boikot itu, sementara wahyu belum juga turun, tiba-tiba datang utusan Rasulullah ﷺ kepadaku.Ia berkata, “Rasulullah ﷺ memerintahkanmu agar menjauhi istrimu.”Aku bertanya, “Apakah aku harus menceraikannya atau bagaimana yang harus kulakukan?”Ia menjawab, “Bukan. Engkau hanya diperintahkan menjauhinya. Jangan mendekatinya.”Perintah yang sama juga disampaikan kepada kedua sahabatku.Aku pun berkata kepada istriku, “Pulanglah ke rumah keluargamu. Tinggallah bersama mereka sampai Allah memberikan keputusan dalam urusan ini.”Kemudian istri Hilal bin Umayyah datang menemui Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah adalah seorang laki-laki tua yang sudah lemah dan tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Ia tidak memiliki seorang pembantu. Apakah engkau keberatan jika aku tetap melayaninya?”Beliau menjawab, “Tidak. Namun, jangan sampai ia mendekatimu.”Wanita itu berkata, “Demi Allah, ia sudah tidak memiliki keinginan sedikit pun terhadap hal itu. Demi Allah, sejak peristiwa yang menimpanya hingga hari ini, ia tidak henti-hentinya menangis.”Sebagian keluargaku kemudian berkata kepadaku, “Mengapa engkau tidak meminta izin kepada Rasulullah ﷺ mengenai istrimu? Bukankah beliau telah mengizinkan istri Hilal bin Umayyah untuk tetap melayaninya?”Aku menjawab, “Aku tidak akan meminta izin kepada Rasulullah ﷺ mengenai istriku. Aku tidak tahu apa yang akan beliau katakan jika aku memintanya. Lagi pula, aku masih seorang yang muda.”Keadaan itu terus berlangsung selama sepuluh malam lagi, hingga genaplah lima puluh malam sejak kami dilarang berbicara dengan siapa pun.Ka’ab melanjutkan, “Pada pagi hari yang kelima puluh, setelah aku menunaikan shalat Shubuh di atas atap salah satu rumah kami, aku duduk dalam keadaan sebagaimana yang Allah gambarkan tentang kami: jiwaku terasa begitu sempit dan bumi yang luas ini terasa menyempit bagiku.Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang dari atas Bukit Sal’ yang berteriak sekeras-kerasnya,’Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!’Aku langsung tersungkur bersujud. Saat itu aku mengetahui bahwa pertolongan Allah akhirnya telah datang.Rasulullah ﷺ mengumumkan kepada orang-orang bahwa Allah telah menerima tobat kami setelah beliau selesai mengerjakan shalat Subuh.Maka orang-orang segera berangkat untuk menyampaikan kabar gembira kepada kami.Beberapa orang bergegas menuju kedua sahabatku. Sementara itu, ada seseorang yang menunggang kuda menuju tempatku. Ada pula seorang dari kabilah Aslam yang berlari mendahului semuanya hingga naik ke atas bukit. Ternyata suara teriakannya lebih cepat sampai kepadaku daripada penunggang kuda itu.Ketika orang yang suaranya kudengar tadi tiba di hadapanku untuk menyampaikan kabar gembira itu, aku langsung melepaskan kedua pakaianku lalu kuberikan kepadanya sebagai hadiah atas kabar gembira tersebut.Demi Allah, saat itu aku tidak memiliki pakaian selain dua helai itu.Aku kemudian meminjam dua helai pakaian, memakainya, lalu segera berangkat menemui Rasulullah ﷺ.Di sepanjang jalan, orang-orang datang berbondong-bondong menyambutku. Mereka mengucapkan selamat atas diterimanya tobatku seraya berkata,“Selamat! Semoga engkau berbahagia atas diterimanya tobatmu oleh Allah.”Hingga akhirnya aku memasuki masjid. Saat itu Rasulullah ﷺ sedang duduk di dalam masjid, dikelilingi oleh para sahabat.Tiba-tiba Thalhah bin ‘Ubaidillah berdiri dan berlari kecil menghampiriku. Ia menyalamiku dan mengucapkan selamat kepadaku.Ka’ab berkata, “Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kalangan Muhajirin yang berdiri menyambutku selain Thalhah. Aku tidak pernah melupakan kebaikan Thalhah itu.”Ka’ab melanjutkan, “Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ, wajah beliau bersinar karena kegembiraan. Beliau bersabda,‘Bergembiralah! Hari ini adalah hari terbaik yang pernah engkau alami sejak ibumu melahirkanmu.’Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kabar ini berasal darimu atau dari Allah?’Beliau menjawab, ‘Bukan dariku, tetapi dari Allah.’Apabila Rasulullah ﷺ merasa gembira, wajah beliau akan bersinar terang, seakan-akan wajah beliau adalah belahan rembulan. Kami semua mengenali keadaan itu.”Setelah aku duduk di hadapan beliau, aku berkata,“Wahai Rasulullah, sebagai bagian dari tobatku, aku ingin menyedekahkan seluruh hartaku kepada Allah dan Rasul-Nya.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Sisakanlah sebagian hartamu. Itu lebih baik bagimu.”Aku berkata, “Kalau begitu, aku akan mempertahankan bagian hartaku yang berada di Khaibar.”Kemudian aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkanku karena kejujuranku. Sebagai bagian dari tobatku pula, aku berjanji tidak akan pernah lagi mengucapkan sesuatu selain kebenaran selama aku masih hidup.”Ka’ab berkata, “Demi Allah, sejak aku mengucapkan janji itu kepada Rasulullah ﷺ hingga hari ini, aku tidak mengetahui ada seorang muslim pun yang diuji Allah dalam menjaga kejujuran lalu diberi taufik yang lebih baik daripada yang Allah berikan kepadaku.Demi Allah, sejak hari aku mengucapkan janji itu kepada Rasulullah ﷺ hingga hari ini, aku tidak pernah sengaja berdusta sedikit pun. Aku berharap Allah tetap menjagaku pada sisa umurku.”Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ…“Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Anshar yang mengikuti beliau pada masa-masa sulit, setelah hati sebagian dari mereka hampir berpaling. Kemudian Allah menerima tobat mereka. Sungguh, Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. Demikian pula terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobatnya), hingga ketika bumi yang luas terasa sempit bagi mereka dan jiwa mereka pun terasa sesak…”Hingga firman-Nya:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 117–119)Ka’ab berkata,“Demi Allah, setelah Allah memberiku hidayah kepada Islam, tidak ada nikmat yang lebih besar bagiku daripada nikmat dapat berkata jujur kepada Rasulullah ﷺ, sehingga aku tidak berdusta kepada beliau. Sebab, jika aku berdusta, tentu aku akan binasa sebagaimana binasanya orang-orang yang berdusta.Sesungguhnya Allah telah mengucapkan celaan yang sangat keras kepada orang-orang yang berdusta ketika menurunkan wahyu. Allah berfirman:سَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ إِذَا انْقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا عَنْهُمْ ۖ فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ ۖ إِنَّهُمْ رِجْسٌ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ ۖ فَإِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَىٰ عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ“Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah ketika kamu kembali kepada mereka, agar kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka. Sesungguhnya mereka itu najis, dan tempat tinggal mereka adalah Jahanam sebagai balasan atas apa yang selalu mereka kerjakan. Mereka bersumpah kepadamu agar kamu rela kepada mereka. Sekalipun kamu rela kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak akan pernah rela kepada kaum yang fasik.” (QS. At-Taubah: 95–96)Ka’ab berkata, “Kami bertiga ditangguhkan urusan kami, berbeda dengan orang-orang yang sebelumnya diterima alasannya oleh Rasulullah ﷺ ketika mereka bersumpah kepada beliau. Beliau menerima alasan yang mereka tampakkan, membaiat mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, sedangkan Rasulullah ﷺ menunda keputusan mengenai kami hingga Allah sendiri menetapkan hukumnya.Karena itulah Allah Ta’ala berfirman:وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا“Dan (Allah juga menerima tobat) terhadap tiga orang yang ditangguhkan itu.”Yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah bahwa kami tertinggal dari peperangan. Akan tetapi, yang dimaksud adalah bahwa Rasulullah ﷺ menangguhkan keputusan tentang kami dan menunda penyelesaian urusan kami, berbeda dengan orang-orang yang datang bersumpah dan menyampaikan alasan kepada beliau, lalu beliau menerima alasan mereka.”Hadis ini juga diriwayatkan kepadaku oleh Muhammad bin Rafi’. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hujain bin Al-Mutsanna. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dengan sanad yang sama seperti riwayat Yunus dari Az-Zuhri, dengan lafaz yang semakna.Hadis ini juga diriwayatkan kepadaku oleh ‘Abd bin Humaid. Ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Muslim—keponakan Az-Zuhri—dari pamannya, Muhammad bin Muslim Az-Zuhri. Ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’ab bin Malik, bahwa ‘Ubaidullah bin Ka’ab bin Malik—yang menjadi penuntun Ka’ab ketika beliau telah buta—berkata:“Aku mendengar Ka’ab bin Malik menceritakan kisahnya ketika ia tidak ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk.”Kemudian ia membawakan hadis tersebut secara lengkap.Dalam riwayat ini terdapat tambahan yang tidak disebutkan oleh Yunus, yaitu:“Rasulullah ﷺ hampir tidak pernah berangkat dalam suatu peperangan melainkan beliau menyamarkan tujuan sebenarnya dengan menyebutkan arah yang lain. Namun, pada Perang Tabuk ini beliau tidak melakukannya.” Sementara itu, dalam riwayat keponakan Az-Zuhri ini tidak disebutkan kisah Abu Khaitsamah yang menyusul Rasulullah ﷺ.Hadis ini juga diriwayatkan kepadaku oleh Salamah bin Syabib. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin A’yun. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ma’qil bin ‘Ubaidillah, dari Az-Zuhri. Ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’ab bin Malik, dari pamannya, ‘Ubaidullah bin Ka’ab—yang menjadi penuntun Ka’ab ketika penglihatannya hilang. Ia adalah orang yang paling berilmu di tengah kaumnya dan paling banyak menghafal hadis-hadis para sahabat Rasulullah ﷺ.Ia berkata:“Aku mendengar ayahku, Ka’ab bin Malik—salah seorang dari tiga orang yang diterima tobatnya oleh Allah—menceritakan bahwa ia tidak pernah tertinggal dari Rasulullah ﷺ dalam satu peperangan pun yang beliau ikuti, kecuali pada dua peperangan.”Kemudian ia membawakan hadis tersebut secara lengkap.Dalam riwayat ini disebutkan pula:“Rasulullah ﷺ berangkat dengan pasukan yang jumlahnya sangat banyak, lebih dari sepuluh ribu orang. Saat itu belum ada daftar administrasi yang menghimpun nama-nama mereka.” Pelajaran PentingKejujuran adalah jalan keselamatan, meskipun harus melewati ujian yang berat.Jangan menunda ketaatan, karena penundaan dapat berujung pada penyesalan.Orang beriman akan gelisah ketika berbuat dosa, bukan merasa tenang dengannya.Terimalah konsekuensi dari kesalahan sebagai bagian dari tobat yang tulus.Ujian sering datang bertubi-tubi, termasuk godaan untuk meninggalkan kebenaran.Pertolongan Allah datang setelah kesabaran dan keteguhan, bukan selalu seketika.Sahabat yang baik akan membela kehormatan saudaranya, bukan ikut menjatuhkannya.Hukuman yang mendidik dapat menjadi sarana memperbaiki diri, bukan sekadar balasan.Jangan mencari keselamatan dengan kebohongan, karena kebohongan hanya menunda hukuman.Nikmat terbesar setelah hidayah Islam adalah istiqamah dalam kejujuran.Allah menerima tobat hamba yang benar-benar jujur dan menyesal.Orang jujur akan mendapat kemuliaan di sisi Allah, meskipun sempat direndahkan di hadapan manusia.Lingkungan yang saleh membantu seseorang bertahan dalam ujian.Kejujuran lebih berharga daripada menjaga citra diri di hadapan manusia.Jadilah bersama orang-orang yang jujur, sebagaimana perintah Allah dalam QS. At-Taubah: 119. —- Selesai ditulis di perjalanan Jogja menuju Pondok Pesantren Darush Sholihin, 17 Juli 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam cara taubat hadis Muslim Ka'ab bin Malik kejujuran kisah sahabat perang tabuk rumaysho sahabat nabi Tafsir At-Taubah taubat tobat
Kejujuran terkadang terasa mahal karena membuat seseorang harus menanggung konsekuensi yang berat. Namun, kisah Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu membuktikan bahwa kejujuran adalah jalan menuju ampunan Allah dan kemuliaan di sisi-Nya. Dari kisah ini, kita belajar bahwa sesulit apa pun keadaan, berkata benar selalu berakhir dengan kebaikan Daftar Isi tutup 1. 4973. Bab: Hadits Tobat Ka’ab bin Malik dan Dua Sahabatnya 2. Pelajaran Penting Dalam Shahih Muslim disebutkan:4973. Bab: Hadits Tobat Ka’ab bin Malik dan Dua Sahabatnya2769. Telah menceritakan kepadaku Abu Ath-Thahir Ahmad bin ‘Amr bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin Sarh, maula Bani Umayyah. Ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Yunus, dari Ibnu Syihab, ia berkata:Kemudian Rasulullah ﷺ berangkat dalam Perang Tabuk. Beliau hendak menghadapi bangsa Romawi dan orang-orang Nasrani Arab yang berada di wilayah Syam.Ibnu Syihab berkata: Telah mengabarkan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’ab bin Malik, bahwa ‘Abdullah bin Ka’ab—yang ketika Ka’ab telah buta menjadi penuntunnya dari kalangan anak-anaknya—berkata:“Aku mendengar Ka’ab bin Malik menceritakan kisahnya ketika ia tidak ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk.”Ka’ab bin Malik berkata:“Aku tidak pernah tertinggal dari Rasulullah ﷺ dalam satu peperangan pun yang beliau ikuti, kecuali pada Perang Tabuk. Hanya saja, aku juga pernah tidak ikut dalam Perang Badar, namun ketika itu Rasulullah ﷺ tidak mencela seorang pun yang tidak ikut. Sebab, Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin saat itu sebenarnya hanya keluar untuk menghadang kafilah dagang Quraisy, hingga akhirnya Allah mempertemukan mereka dengan musuh tanpa ada perjanjian sebelumnya.Sungguh, aku juga pernah menghadiri malam Baiat Aqabah, ketika kami saling berjanji setia di atas Islam. Aku tidak ingin menukarnya dengan keikutsertaanku dalam Perang Badar, meskipun Perang Badar lebih dikenal oleh manusia daripada Baiat Aqabah.Kisahku ketika tidak ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk adalah bahwa saat itu aku tidak pernah berada dalam keadaan yang lebih kuat dan lebih lapang daripada ketika aku tidak ikut dalam peperangan tersebut. Demi Allah, sebelumnya aku tidak pernah memiliki dua ekor tunggangan sekaligus, hingga pada saat perang itu aku berhasil memilikinya.Rasulullah ﷺ berangkat dalam peperangan tersebut pada musim yang sangat panas. Beliau harus menempuh perjalanan yang sangat jauh melintasi padang pasir yang luas dan menghadapi musuh dalam jumlah besar. Karena itu, beliau menjelaskan secara terbuka kepada kaum muslimin tentang urusan mereka agar mereka benar-benar mempersiapkan perlengkapan perang. Beliau juga memberitahukan tujuan yang hendak dituju.Jumlah kaum muslimin yang berangkat bersama Rasulullah ﷺ sangat banyak. Mereka belum tercatat dalam suatu daftar yang dapat menghimpun nama-nama mereka.”Ka’ab berkata:“Karena itu, seseorang yang ingin tidak ikut berangkat mengira bahwa ketidakhadirannya akan luput dari perhatian, selama tidak turun wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla mengenai dirinya.Rasulullah ﷺ berangkat dalam peperangan itu ketika buah-buahan sedang masak dan pepohonan memberikan keteduhan yang menyejukkan. Sementara itu, hatiku justru lebih condong kepada kenikmatan tersebut.Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin pun mulai bersiap untuk berangkat. Aku juga setiap pagi keluar dengan niat hendak mempersiapkan diri bersama mereka. Namun, setiap kali pulang, aku belum juga menyelesaikan apa pun. Aku terus berkata dalam hati, ‘Aku mampu melakukannya kapan saja jika aku menghendaki.’Keadaan itu terus berlarut-larut hingga kaum muslimin benar-benar telah siap berangkat. Pada suatu pagi Rasulullah ﷺ berangkat bersama kaum muslimin, sedangkan aku belum menyiapkan sedikit pun perlengkapanku.Kemudian aku kembali keluar pada pagi berikutnya, lalu pulang lagi tanpa menyelesaikan apa pun. Keadaan itu terus berlangsung hingga pasukan berangkat semakin jauh meninggalkanku. Aku sempat berniat untuk segera menyusul mereka. Ah, seandainya saja aku benar-benar melakukannya! Namun, ternyata aku tidak diberi kemampuan untuk melaksanakannya.Sejak Rasulullah ﷺ berangkat, setiap kali aku keluar dan melihat orang-orang di Madinah, hatiku semakin sedih. Sebab, aku tidak melihat ada orang yang senasib denganku selain seseorang yang dicurigai sebagai orang munafik, atau orang-orang lemah yang memang telah diberi uzur oleh Allah.Rasulullah ﷺ sendiri tidak pernah menyinggung namaku hingga beliau tiba di Tabuk. Ketika beliau sedang duduk bersama para sahabat di Tabuk, beliau bertanya, “Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?”Seorang laki-laki dari Bani Salimah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia tertahan oleh dua pakaiannya dan sibuk mengagumi dirinya sendiri.”Mendengar itu, Mu’adz bin Jabal berkata, “Alangkah buruknya ucapanmu itu! Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui tentang dirinya selain kebaikan.”Maka Rasulullah ﷺ pun terdiam.Ketika beliau masih dalam keadaan demikian, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang berpakaian serba putih datang dari kejauhan, bayangannya tampak bergoyang di tengah fatamorgana. Rasulullah ﷺ bersabda, “Semoga dia adalah Abu Khaitsamah.”Ternyata benar, orang itu adalah Abu Khaitsamah Al-Anshari, yaitu sahabat yang dahulu bersedekah dengan satu sha’ kurma ketika orang-orang munafik mencelanya.Ka’ab bin Malik melanjutkan kisahnya,“Ketika sampai kepadaku kabar bahwa Rasulullah ﷺ telah meninggalkan Tabuk untuk kembali ke Madinah, aku mulai diliputi kegelisahan. Aku pun sibuk memikirkan berbagai alasan dusta. Aku berkata dalam hati, ‘Dengan alasan apa aku dapat menyelamatkan diri dari kemurkaan beliau besok?’ Aku bahkan meminta pertimbangan kepada setiap orang yang dianggap bijaksana dari keluargaku.Namun, ketika dikabarkan kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ telah semakin dekat tiba di Madinah, lenyaplah semua pikiran dusta itu dari benakku. Aku benar-benar yakin bahwa aku tidak akan pernah bisa selamat dengan kebohongan apa pun. Karena itu, aku memutuskan untuk berkata jujur.Keesokan paginya Rasulullah ﷺ tiba di Madinah. Setiap kali pulang dari perjalanan, beliau selalu memulai dengan mendatangi masjid, lalu mengerjakan shalat dua rakaat, kemudian duduk menemui orang-orang.Setelah beliau melakukan hal itu, datanglah orang-orang yang tidak ikut berperang. Mereka menyampaikan berbagai alasan dan bersumpah kepada beliau. Jumlah mereka sekitar delapan puluh orang lebih. Rasulullah ﷺ menerima alasan yang mereka tampakkan, membaiat mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, dan menyerahkan urusan hati mereka kepada Allah.Kemudian tibalah giliranku.Ketika aku mengucapkan salam kepada beliau, beliau tersenyum, namun senyum orang yang sedang marah. Lalu beliau bersabda, “Kemarilah.”Aku pun mendekat hingga duduk di hadapan beliau.Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu tidak ikut? Bukankah engkau telah membeli kendaraanmu?”Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, demi Allah, seandainya aku sekarang duduk di hadapan selain engkau, yaitu salah seorang pembesar dunia, niscaya aku yakin bisa keluar dari kemarahannya dengan berbagai alasan. Aku memang dikaruniai kemampuan berdebat.وَلَكِنِّي وَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُ لَئِنْ حَدَّثْتُكَ الْيَوْمَ حَدِيثَ كَذِبٍ تَرْضَىٰ بِهِ عَنِّي، لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يُسْخِطَكَ عَلَيَّ. وَلَئِنْ حَدَّثْتُكَ حَدِيثَ صِدْقٍ تَجِدُ عَلَيَّ فِيهِ، إِنِّي لَأَرْجُو فِيهِ عُقْبَى اللَّهِ. وَاللَّهِ مَا كَانَ لِي مِنْ عُذْرٍ، وَاللَّهِ مَا كُنْتُ قَطُّ أَقْوَىٰ وَلَا أَيْسَرَ مِنِّي حِينَ تَخَلَّفْتُ عَنْكَ.Namun, demi Allah, aku benar-benar mengetahui bahwa jika hari ini aku menyampaikan kepadamu alasan dusta hingga engkau ridha kepadaku, tidak lama kemudian Allah pasti akan membuatmu murka kepadaku.Sebaliknya, jika aku mengatakan yang sebenarnya, meskipun engkau akan marah kepadaku karenanya, aku tetap berharap akibat yang baik dari Allah.Demi Allah, aku sama sekali tidak memiliki uzur. Demi Allah, aku tidak pernah berada dalam keadaan lebih kuat dan lebih lapang daripada ketika aku tidak ikut bersamamu.”Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Adapun orang ini, ia telah berkata jujur. Berdirilah sekarang hingga Allah memberikan keputusan tentang dirimu.”Aku pun berdiri.Lalu beberapa orang dari Bani Salimah segera mengejarku. Mereka berkata, “Demi Allah, kami tidak pernah mengetahui engkau melakukan dosa sebelumnya seperti ini. Sungguh, mengapa engkau tidak mampu mengemukakan alasan kepada Rasulullah ﷺ sebagaimana alasan yang disampaikan oleh orang-orang lain yang tidak ikut berangkat? Bukankah dosamu sudah cukup dihapus dengan permohonan ampun Rasulullah ﷺ untukmu?”Ka’ab berkata, “Demi Allah, mereka terus-menerus mencelaku hingga aku hampir saja kembali menemui Rasulullah ﷺ untuk mendustakan diriku sendiri.”Kemudian aku bertanya kepada mereka, “Apakah ada orang lain yang mengalami hal yang sama denganku?”Mereka menjawab, “Ya, ada dua orang yang juga mengatakan hal yang sama seperti yang engkau katakan. Kepada keduanya pun disampaikan ucapan yang sama seperti yang disampaikan kepadamu.”Aku bertanya, “Siapa mereka?”Mereka menjawab, “Murarah bin Ar-Rabi’ Al-‘Amiri dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifi.”Ka’ab berkata, “Mereka menyebutkan kepadaku dua orang saleh yang pernah ikut dalam Perang Badar. Pada keduanya terdapat teladan bagiku. Karena itu, setelah mereka menyebutkan kedua nama tersebut, aku pun tetap melanjutkan langkahku.”Ka’ab melanjutkan, “Rasulullah ﷺ kemudian melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga, berbeda dengan orang-orang lain yang juga tidak ikut berangkat.Sejak saat itu, orang-orang menjauhi kami. Sikap mereka terhadap kami berubah. Hingga akhirnya bumi terasa asing bagiku. Seolah-olah bumi ini bukan lagi bumi yang selama ini kukenal.Keadaan itu berlangsung selama lima puluh malam.Adapun kedua sahabatku, mereka hanya berdiam diri di rumah masing-masing sambil terus menangis.Sedangkan aku adalah yang paling muda dan paling kuat di antara kami bertiga. Karena itu, aku tetap keluar rumah. Aku menghadiri shalat berjamaah bersama kaum muslimin, berkeliling di pasar, namun tidak seorang pun berbicara kepadaku.Aku juga mendatangi Rasulullah ﷺ. Aku mengucapkan salam kepada beliau ketika beliau sedang duduk di majelisnya setelah shalat. Dalam hati aku bertanya-tanya, ‘Apakah beliau menggerakkan kedua bibirnya untuk menjawab salamku atau tidak?’Kemudian aku shalat di dekat beliau sambil diam-diam mencuri pandang ke arah beliau. Jika aku sedang khusyuk menghadap shalat, beliau memandangku. Namun, ketika aku menoleh ke arah beliau, beliau segera memalingkan wajah dariku.Keadaan dijauhi oleh kaum muslimin itu berlangsung begitu lama hingga terasa sangat berat bagiku.Suatu hari aku berjalan menuju kebun milik Abu Qatadah, sepupuku sekaligus orang yang paling kucintai. Aku memanjat tembok kebunnya, lalu mengucapkan salam kepadanya.Demi Allah, ia sama sekali tidak menjawab salamku.Aku pun berkata, “Wahai Abu Qatadah, demi Allah aku bertanya kepadamu, apakah engkau mengetahui bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?”Namun, ia tetap diam.Aku mengulanginya untuk kedua kalinya, tetapi ia tetap diam.Aku mengulanginya lagi untuk ketiga kalinya.Lalu Abu Qatadah menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”Mendengar jawaban itu, kedua mataku pun bercucuran air mata. Aku segera berbalik dan memanjat kembali tembok kebun tersebut untuk keluar.Ketika aku sedang berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba ada seorang pedagang Nabath dari penduduk Syam yang datang membawa bahan makanan untuk dijual di Madinah. Ia bertanya, “Siapa yang bisa menunjukkan kepadaku Ka’ab bin Malik?”Orang-orang pun menunjuk ke arahku. Ia lalu mendatangiku dan menyerahkan sepucuk surat dari Raja Ghassan. Karena aku bisa membaca dan menulis, aku pun membacanya.Isinya sebagai berikut: “Amma ba’du. Telah sampai kepada kami berita bahwa sahabatmu telah menjauhimu. Allah tidak menjadikanmu berada dalam kehinaan dan keterlantaran. Karena itu, bergabunglah bersama kami. Kami akan memuliakanmu.”Ka’ab berkata, “Setelah membacanya, aku berkata dalam hati, ‘Ini pun termasuk ujian yang lain.’ Maka aku segera menuju tungku api, lalu membakar surat itu hingga habis.”Setelah empat puluh hari berlalu dari lima puluh hari masa boikot itu, sementara wahyu belum juga turun, tiba-tiba datang utusan Rasulullah ﷺ kepadaku.Ia berkata, “Rasulullah ﷺ memerintahkanmu agar menjauhi istrimu.”Aku bertanya, “Apakah aku harus menceraikannya atau bagaimana yang harus kulakukan?”Ia menjawab, “Bukan. Engkau hanya diperintahkan menjauhinya. Jangan mendekatinya.”Perintah yang sama juga disampaikan kepada kedua sahabatku.Aku pun berkata kepada istriku, “Pulanglah ke rumah keluargamu. Tinggallah bersama mereka sampai Allah memberikan keputusan dalam urusan ini.”Kemudian istri Hilal bin Umayyah datang menemui Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah adalah seorang laki-laki tua yang sudah lemah dan tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Ia tidak memiliki seorang pembantu. Apakah engkau keberatan jika aku tetap melayaninya?”Beliau menjawab, “Tidak. Namun, jangan sampai ia mendekatimu.”Wanita itu berkata, “Demi Allah, ia sudah tidak memiliki keinginan sedikit pun terhadap hal itu. Demi Allah, sejak peristiwa yang menimpanya hingga hari ini, ia tidak henti-hentinya menangis.”Sebagian keluargaku kemudian berkata kepadaku, “Mengapa engkau tidak meminta izin kepada Rasulullah ﷺ mengenai istrimu? Bukankah beliau telah mengizinkan istri Hilal bin Umayyah untuk tetap melayaninya?”Aku menjawab, “Aku tidak akan meminta izin kepada Rasulullah ﷺ mengenai istriku. Aku tidak tahu apa yang akan beliau katakan jika aku memintanya. Lagi pula, aku masih seorang yang muda.”Keadaan itu terus berlangsung selama sepuluh malam lagi, hingga genaplah lima puluh malam sejak kami dilarang berbicara dengan siapa pun.Ka’ab melanjutkan, “Pada pagi hari yang kelima puluh, setelah aku menunaikan shalat Shubuh di atas atap salah satu rumah kami, aku duduk dalam keadaan sebagaimana yang Allah gambarkan tentang kami: jiwaku terasa begitu sempit dan bumi yang luas ini terasa menyempit bagiku.Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang dari atas Bukit Sal’ yang berteriak sekeras-kerasnya,’Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!’Aku langsung tersungkur bersujud. Saat itu aku mengetahui bahwa pertolongan Allah akhirnya telah datang.Rasulullah ﷺ mengumumkan kepada orang-orang bahwa Allah telah menerima tobat kami setelah beliau selesai mengerjakan shalat Subuh.Maka orang-orang segera berangkat untuk menyampaikan kabar gembira kepada kami.Beberapa orang bergegas menuju kedua sahabatku. Sementara itu, ada seseorang yang menunggang kuda menuju tempatku. Ada pula seorang dari kabilah Aslam yang berlari mendahului semuanya hingga naik ke atas bukit. Ternyata suara teriakannya lebih cepat sampai kepadaku daripada penunggang kuda itu.Ketika orang yang suaranya kudengar tadi tiba di hadapanku untuk menyampaikan kabar gembira itu, aku langsung melepaskan kedua pakaianku lalu kuberikan kepadanya sebagai hadiah atas kabar gembira tersebut.Demi Allah, saat itu aku tidak memiliki pakaian selain dua helai itu.Aku kemudian meminjam dua helai pakaian, memakainya, lalu segera berangkat menemui Rasulullah ﷺ.Di sepanjang jalan, orang-orang datang berbondong-bondong menyambutku. Mereka mengucapkan selamat atas diterimanya tobatku seraya berkata,“Selamat! Semoga engkau berbahagia atas diterimanya tobatmu oleh Allah.”Hingga akhirnya aku memasuki masjid. Saat itu Rasulullah ﷺ sedang duduk di dalam masjid, dikelilingi oleh para sahabat.Tiba-tiba Thalhah bin ‘Ubaidillah berdiri dan berlari kecil menghampiriku. Ia menyalamiku dan mengucapkan selamat kepadaku.Ka’ab berkata, “Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kalangan Muhajirin yang berdiri menyambutku selain Thalhah. Aku tidak pernah melupakan kebaikan Thalhah itu.”Ka’ab melanjutkan, “Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ, wajah beliau bersinar karena kegembiraan. Beliau bersabda,‘Bergembiralah! Hari ini adalah hari terbaik yang pernah engkau alami sejak ibumu melahirkanmu.’Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kabar ini berasal darimu atau dari Allah?’Beliau menjawab, ‘Bukan dariku, tetapi dari Allah.’Apabila Rasulullah ﷺ merasa gembira, wajah beliau akan bersinar terang, seakan-akan wajah beliau adalah belahan rembulan. Kami semua mengenali keadaan itu.”Setelah aku duduk di hadapan beliau, aku berkata,“Wahai Rasulullah, sebagai bagian dari tobatku, aku ingin menyedekahkan seluruh hartaku kepada Allah dan Rasul-Nya.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Sisakanlah sebagian hartamu. Itu lebih baik bagimu.”Aku berkata, “Kalau begitu, aku akan mempertahankan bagian hartaku yang berada di Khaibar.”Kemudian aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkanku karena kejujuranku. Sebagai bagian dari tobatku pula, aku berjanji tidak akan pernah lagi mengucapkan sesuatu selain kebenaran selama aku masih hidup.”Ka’ab berkata, “Demi Allah, sejak aku mengucapkan janji itu kepada Rasulullah ﷺ hingga hari ini, aku tidak mengetahui ada seorang muslim pun yang diuji Allah dalam menjaga kejujuran lalu diberi taufik yang lebih baik daripada yang Allah berikan kepadaku.Demi Allah, sejak hari aku mengucapkan janji itu kepada Rasulullah ﷺ hingga hari ini, aku tidak pernah sengaja berdusta sedikit pun. Aku berharap Allah tetap menjagaku pada sisa umurku.”Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ…“Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Anshar yang mengikuti beliau pada masa-masa sulit, setelah hati sebagian dari mereka hampir berpaling. Kemudian Allah menerima tobat mereka. Sungguh, Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. Demikian pula terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobatnya), hingga ketika bumi yang luas terasa sempit bagi mereka dan jiwa mereka pun terasa sesak…”Hingga firman-Nya:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 117–119)Ka’ab berkata,“Demi Allah, setelah Allah memberiku hidayah kepada Islam, tidak ada nikmat yang lebih besar bagiku daripada nikmat dapat berkata jujur kepada Rasulullah ﷺ, sehingga aku tidak berdusta kepada beliau. Sebab, jika aku berdusta, tentu aku akan binasa sebagaimana binasanya orang-orang yang berdusta.Sesungguhnya Allah telah mengucapkan celaan yang sangat keras kepada orang-orang yang berdusta ketika menurunkan wahyu. Allah berfirman:سَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ إِذَا انْقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا عَنْهُمْ ۖ فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ ۖ إِنَّهُمْ رِجْسٌ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ ۖ فَإِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَىٰ عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ“Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah ketika kamu kembali kepada mereka, agar kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka. Sesungguhnya mereka itu najis, dan tempat tinggal mereka adalah Jahanam sebagai balasan atas apa yang selalu mereka kerjakan. Mereka bersumpah kepadamu agar kamu rela kepada mereka. Sekalipun kamu rela kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak akan pernah rela kepada kaum yang fasik.” (QS. At-Taubah: 95–96)Ka’ab berkata, “Kami bertiga ditangguhkan urusan kami, berbeda dengan orang-orang yang sebelumnya diterima alasannya oleh Rasulullah ﷺ ketika mereka bersumpah kepada beliau. Beliau menerima alasan yang mereka tampakkan, membaiat mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, sedangkan Rasulullah ﷺ menunda keputusan mengenai kami hingga Allah sendiri menetapkan hukumnya.Karena itulah Allah Ta’ala berfirman:وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا“Dan (Allah juga menerima tobat) terhadap tiga orang yang ditangguhkan itu.”Yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah bahwa kami tertinggal dari peperangan. Akan tetapi, yang dimaksud adalah bahwa Rasulullah ﷺ menangguhkan keputusan tentang kami dan menunda penyelesaian urusan kami, berbeda dengan orang-orang yang datang bersumpah dan menyampaikan alasan kepada beliau, lalu beliau menerima alasan mereka.”Hadis ini juga diriwayatkan kepadaku oleh Muhammad bin Rafi’. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hujain bin Al-Mutsanna. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dengan sanad yang sama seperti riwayat Yunus dari Az-Zuhri, dengan lafaz yang semakna.Hadis ini juga diriwayatkan kepadaku oleh ‘Abd bin Humaid. Ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Muslim—keponakan Az-Zuhri—dari pamannya, Muhammad bin Muslim Az-Zuhri. Ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’ab bin Malik, bahwa ‘Ubaidullah bin Ka’ab bin Malik—yang menjadi penuntun Ka’ab ketika beliau telah buta—berkata:“Aku mendengar Ka’ab bin Malik menceritakan kisahnya ketika ia tidak ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk.”Kemudian ia membawakan hadis tersebut secara lengkap.Dalam riwayat ini terdapat tambahan yang tidak disebutkan oleh Yunus, yaitu:“Rasulullah ﷺ hampir tidak pernah berangkat dalam suatu peperangan melainkan beliau menyamarkan tujuan sebenarnya dengan menyebutkan arah yang lain. Namun, pada Perang Tabuk ini beliau tidak melakukannya.” Sementara itu, dalam riwayat keponakan Az-Zuhri ini tidak disebutkan kisah Abu Khaitsamah yang menyusul Rasulullah ﷺ.Hadis ini juga diriwayatkan kepadaku oleh Salamah bin Syabib. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin A’yun. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ma’qil bin ‘Ubaidillah, dari Az-Zuhri. Ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’ab bin Malik, dari pamannya, ‘Ubaidullah bin Ka’ab—yang menjadi penuntun Ka’ab ketika penglihatannya hilang. Ia adalah orang yang paling berilmu di tengah kaumnya dan paling banyak menghafal hadis-hadis para sahabat Rasulullah ﷺ.Ia berkata:“Aku mendengar ayahku, Ka’ab bin Malik—salah seorang dari tiga orang yang diterima tobatnya oleh Allah—menceritakan bahwa ia tidak pernah tertinggal dari Rasulullah ﷺ dalam satu peperangan pun yang beliau ikuti, kecuali pada dua peperangan.”Kemudian ia membawakan hadis tersebut secara lengkap.Dalam riwayat ini disebutkan pula:“Rasulullah ﷺ berangkat dengan pasukan yang jumlahnya sangat banyak, lebih dari sepuluh ribu orang. Saat itu belum ada daftar administrasi yang menghimpun nama-nama mereka.” Pelajaran PentingKejujuran adalah jalan keselamatan, meskipun harus melewati ujian yang berat.Jangan menunda ketaatan, karena penundaan dapat berujung pada penyesalan.Orang beriman akan gelisah ketika berbuat dosa, bukan merasa tenang dengannya.Terimalah konsekuensi dari kesalahan sebagai bagian dari tobat yang tulus.Ujian sering datang bertubi-tubi, termasuk godaan untuk meninggalkan kebenaran.Pertolongan Allah datang setelah kesabaran dan keteguhan, bukan selalu seketika.Sahabat yang baik akan membela kehormatan saudaranya, bukan ikut menjatuhkannya.Hukuman yang mendidik dapat menjadi sarana memperbaiki diri, bukan sekadar balasan.Jangan mencari keselamatan dengan kebohongan, karena kebohongan hanya menunda hukuman.Nikmat terbesar setelah hidayah Islam adalah istiqamah dalam kejujuran.Allah menerima tobat hamba yang benar-benar jujur dan menyesal.Orang jujur akan mendapat kemuliaan di sisi Allah, meskipun sempat direndahkan di hadapan manusia.Lingkungan yang saleh membantu seseorang bertahan dalam ujian.Kejujuran lebih berharga daripada menjaga citra diri di hadapan manusia.Jadilah bersama orang-orang yang jujur, sebagaimana perintah Allah dalam QS. At-Taubah: 119. —- Selesai ditulis di perjalanan Jogja menuju Pondok Pesantren Darush Sholihin, 17 Juli 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam cara taubat hadis Muslim Ka'ab bin Malik kejujuran kisah sahabat perang tabuk rumaysho sahabat nabi Tafsir At-Taubah taubat tobat