Tafsir Surah An-Nazi’at (Bag. 1): Allah Bersumpah dengan Para Malaikat

Daftar Isi ToggleMuqaddimah surahTafsir surah An-Nazi’atMuqaddimah surahSurah An-Naziat adalah surah ke-79 dalam Al-Qur’an. Surah ini adalah surah Makkiyah yang dominan isinya adalah akidah dan keyakinan seorang muslim. Nama An-Naziat diambil dari penggalan awal surat ini, yang bermakna, “Malaikat yang mencabut ruh dengan keras/kasar”.Surah ini memiliki beberapa tema utama.Pertama, penjelasan tentang sebagian malaikat dan tugas yang mereka emban.Kedua, menjelaskan tentang keadaan orang musyrik yang mengingkari hari kiamat.Ketiga, menceritakan kisah Fir’aun di zaman Nabi Musa, dimana Fir’aun dengan sombongnya mengaku sebagai tuhan, maka Allah hancurkan dengan ditenggelamkan ke dalam lautan.Keempat, menceritakan tentang kesombongan penduduk musyrik Makkah yang menentang dakwah Nabi.Kelima, ditutup dengan penjelasan bahwa hari kiamat akan datang, namun tidak ada yang tahu kapan datangnya.Tafsir surah An-Nazi’atAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالنّٰزِعٰتِ غَرْقًاۙ“Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa orang kafir) dengan keras.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 1)Allah bersumpah dengan menyebut malaikat An-Naziat. Mereka adalah malaikat yang mencabut nyawa orang kafir dengan pencabutan yang keras lagi kasar. Sebagai balasan keburukan mereka di dunia yang tidak taat kepada Allah. Permulaan kematian orang kafir saja sudah sebegitu mengerikannya, apalah lagi kehidupan setelahnya. (Shofwatut Tafasir, hal. 488)Ketika malaikat hendak mencabut nyawa orang kafir, mereka berkata, “Keluarlah wahai jiwa yang busuk, yang berada dalam jasad yang buruk, keluarlah kalian menuju kemarahan Allah.” Ketika dipanggil demikian, maka arwah mereka menolak, sangat takut, berpegangan erat kepada jasadnya, sehingga sulit untuk ditarik. Sehingga malaikat menarik mereka dengan keras dan kasar agar bisa terlepas, hingga jasad tersebut hampir terkoyak, robek, dan terbelah karena saking kerasnya tarikan tersebut. (Tafsir Juz Amma Syaikh Utsaimin, hal. 29)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّالنّٰشِطٰتِ نَشْطًاۙ“Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa orang mukmin) dengan lemah lembut.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 2)An-Nasyithoh adalah malaikat yang mencabut nyawa orang mukmin dengan lemah lembut dan hati-hati.Ketika malaikat ini hendak menyabut nyawa orang yang mukmin, mereka memberikan kabar gembira, “Wahai jiwa yang baik, yang berada dalam jasad yang baik, mari keluar menuju keridaan Allah Ta’ala.” Jiwa orang mukmin ini menyambut dengan penuh kegembiraan, sehingga keluarlah dari jasad dengan mudah. (Tafsir Juz Amma Syaikh Utsaimin, hal. 29)Dalam hadis dari ‘Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ . فَقُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ أَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ فَكُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ فَقَالَ « لَيْسَ كَذَلِكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللَّهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ فَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“Barangsiapa senang berjumpa dengan Allah, maka Allah juga mencintai perjumpaan dengannya. Sebaliknya, barangsiapa membenci perjumpaan dengan Allah, Allah juga membenci perjumpaan dengannya.”Kontan ‘Aisyah berkata, “Apakah yang dimaksud benci akan kematian, wahai Nabi Allah? Tentu kami semua takut akan kematian.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Bukan begitu maksudnya. Namun maksud yang benar, seorang mukmin jika diberi kabar gembira dengan rahmat, keridaan serta surga-Nya, ia suka bertemu Allah, maka Allah pun suka berjumpa dengan-Nya. Sedangkan orang kafir, jika diberi kabar dengan siksa dan murka Allah, ia pun khawatir berjumpa dengan Allah, lantas Allah pun tidak suka berjumpa dengan-Nya.” (HR. Muslim no. 2685)Seorang mukmin pasti kangen dan gembira dengan perjumpaannya dengan Allah, dan pintu pertama perjumpaan tersebut adalah kematian. Dengan gembiranya dirinya untuk bertemu Allah, membawa amal kebajikan, maka malaikat juga mudah untuk mencabut nyawanya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّالسّٰبِحٰتِ سَبْحًاۙ“Demi (malaikat) yang cepat (menunaikan tugasnya) dengan mudah.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 3)Malaikat yang turun dari langit membawa perintah dari Allah. Allah memberikan malaikat kekuatan yang sangat besar untuk menjalankan perintah-perintah tersebut, sehingga bisa menjalankannya dengan baik.Dalam Tafsir Juz Amma, Syekh Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa malaikat adalah makhluk Allah yang kekuatannya sangat besar, jauh lebih besar dari kekuatan jin, kemudian kekuatan jin itu lebih besar dari manusia.Dalam kejadian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam meminta didatangkan singgasana Ratu Balqis (atau Bilqis) dari negeri Yaman menuju negeri Syam, yang jaraknya lebih dari 2000 kilometer, salah satu pendapat mengatakan bahwa yang memindahkan singgasana tersebut sebelum Nabi Sulaiman ‘alaihissalam mengedipkan matanya adalah malaikat yang Allah tugaskan dan beri kekuatan untuk bisa memindahkan secepat itu. (Tafsir Juz Amma Syaikh Utsmainin, hal. 30)Demikianlah, dan berbagai kejadian lainnya yang menunjukkan bahwa Allah memberikan kekuatan luar biasa kepada malaikat. Namun, jangan lupa bahwa pemilik kekuatan dan kekuasaan sejati hanyalah Allah; semua makhluk tidak dapat melakukan apapun, bahkan sekedar mengedipkan mata, melainkan dengan izin dari Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَالسّٰبِقٰتِ سَبْقًاۙ“(Malaikat) yang bergegas (melaksanakan perintah Allah) dengan cepat.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 4)Salah satu pendapat menyebutkan bahwa yang dimaksudkan di sini adalah malaikat yang dengan cepat membawa ruh kaum muslimin menuju surga. (Shofwatut Tafasir, hal. 488)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَالْمُدَبِّرٰتِ اَمْرًاۘ“Dan (malaikat) yang mengatur urusan (dunia).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 5)Allah bersumpah dengan para malaikat yang mendapatkan tugas mengatur berbagai urusan dunia dan urusan langit seperti mengatur urusan ruh, hujan, rezeki, mencatat amal, dan selain hal-hal tersebut. Di antara malaikat yang mengemban tugas sangat penting adalah malaikat Jibril yang membawa wahyu, malaikat Mikail yang bertugas mengatur hujan dan pepohonan, malaikat Malik yang menjaga neraka, malaikat Ridwan yang menjaga surga, serta malaikat lainnya.Allah Ta’ala bersumpah dari ayat pertama sampai ayat kelima dengan para malaikat. Dalam sumpah, ada hal yang digunakan untuk bersumpah yang disebut muqsam bih dan ada hal yang ditegaskan dengan sumpah tersebut yang disebut dengan muqsam ‘alaih. Seperti seseorang bersumpah, “Demi Allah, besok hutangmu saya bayar”; maka kata “Allah” adalah muqsam bih yang digunakan bersumpah, dan kata “saya bayar hutangmu besok” adalah muqsam ‘alaih.Dalam ayat pertama sampai kelima dari surah An-Naziat, Allah hanya menyebutkan muqsam bih saja, tanpa menyebutkan muqsam ‘alaih atau perkara yang ingin ditegaskan dengan sumpah. Para ulama kemudian mencari apa muqsam ‘alaih yang Allah inginkan. Mereka menafsirkan bahwa muqsam ‘alaih-nya adalah “bahwasanya hari kiamat pasti akan datang.” Sehingga lengkapnya dari sumpah Allah tersebut adalah, “Demi para malaikat yang memiliki berbagai keistimewaan, pastilah hari kiamat akan datang kepada kalian.” (Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hal. 583)[Bersambung]***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id

Tafsir Surah An-Nazi’at (Bag. 1): Allah Bersumpah dengan Para Malaikat

Daftar Isi ToggleMuqaddimah surahTafsir surah An-Nazi’atMuqaddimah surahSurah An-Naziat adalah surah ke-79 dalam Al-Qur’an. Surah ini adalah surah Makkiyah yang dominan isinya adalah akidah dan keyakinan seorang muslim. Nama An-Naziat diambil dari penggalan awal surat ini, yang bermakna, “Malaikat yang mencabut ruh dengan keras/kasar”.Surah ini memiliki beberapa tema utama.Pertama, penjelasan tentang sebagian malaikat dan tugas yang mereka emban.Kedua, menjelaskan tentang keadaan orang musyrik yang mengingkari hari kiamat.Ketiga, menceritakan kisah Fir’aun di zaman Nabi Musa, dimana Fir’aun dengan sombongnya mengaku sebagai tuhan, maka Allah hancurkan dengan ditenggelamkan ke dalam lautan.Keempat, menceritakan tentang kesombongan penduduk musyrik Makkah yang menentang dakwah Nabi.Kelima, ditutup dengan penjelasan bahwa hari kiamat akan datang, namun tidak ada yang tahu kapan datangnya.Tafsir surah An-Nazi’atAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالنّٰزِعٰتِ غَرْقًاۙ“Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa orang kafir) dengan keras.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 1)Allah bersumpah dengan menyebut malaikat An-Naziat. Mereka adalah malaikat yang mencabut nyawa orang kafir dengan pencabutan yang keras lagi kasar. Sebagai balasan keburukan mereka di dunia yang tidak taat kepada Allah. Permulaan kematian orang kafir saja sudah sebegitu mengerikannya, apalah lagi kehidupan setelahnya. (Shofwatut Tafasir, hal. 488)Ketika malaikat hendak mencabut nyawa orang kafir, mereka berkata, “Keluarlah wahai jiwa yang busuk, yang berada dalam jasad yang buruk, keluarlah kalian menuju kemarahan Allah.” Ketika dipanggil demikian, maka arwah mereka menolak, sangat takut, berpegangan erat kepada jasadnya, sehingga sulit untuk ditarik. Sehingga malaikat menarik mereka dengan keras dan kasar agar bisa terlepas, hingga jasad tersebut hampir terkoyak, robek, dan terbelah karena saking kerasnya tarikan tersebut. (Tafsir Juz Amma Syaikh Utsaimin, hal. 29)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّالنّٰشِطٰتِ نَشْطًاۙ“Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa orang mukmin) dengan lemah lembut.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 2)An-Nasyithoh adalah malaikat yang mencabut nyawa orang mukmin dengan lemah lembut dan hati-hati.Ketika malaikat ini hendak menyabut nyawa orang yang mukmin, mereka memberikan kabar gembira, “Wahai jiwa yang baik, yang berada dalam jasad yang baik, mari keluar menuju keridaan Allah Ta’ala.” Jiwa orang mukmin ini menyambut dengan penuh kegembiraan, sehingga keluarlah dari jasad dengan mudah. (Tafsir Juz Amma Syaikh Utsaimin, hal. 29)Dalam hadis dari ‘Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ . فَقُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ أَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ فَكُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ فَقَالَ « لَيْسَ كَذَلِكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللَّهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ فَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“Barangsiapa senang berjumpa dengan Allah, maka Allah juga mencintai perjumpaan dengannya. Sebaliknya, barangsiapa membenci perjumpaan dengan Allah, Allah juga membenci perjumpaan dengannya.”Kontan ‘Aisyah berkata, “Apakah yang dimaksud benci akan kematian, wahai Nabi Allah? Tentu kami semua takut akan kematian.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Bukan begitu maksudnya. Namun maksud yang benar, seorang mukmin jika diberi kabar gembira dengan rahmat, keridaan serta surga-Nya, ia suka bertemu Allah, maka Allah pun suka berjumpa dengan-Nya. Sedangkan orang kafir, jika diberi kabar dengan siksa dan murka Allah, ia pun khawatir berjumpa dengan Allah, lantas Allah pun tidak suka berjumpa dengan-Nya.” (HR. Muslim no. 2685)Seorang mukmin pasti kangen dan gembira dengan perjumpaannya dengan Allah, dan pintu pertama perjumpaan tersebut adalah kematian. Dengan gembiranya dirinya untuk bertemu Allah, membawa amal kebajikan, maka malaikat juga mudah untuk mencabut nyawanya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّالسّٰبِحٰتِ سَبْحًاۙ“Demi (malaikat) yang cepat (menunaikan tugasnya) dengan mudah.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 3)Malaikat yang turun dari langit membawa perintah dari Allah. Allah memberikan malaikat kekuatan yang sangat besar untuk menjalankan perintah-perintah tersebut, sehingga bisa menjalankannya dengan baik.Dalam Tafsir Juz Amma, Syekh Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa malaikat adalah makhluk Allah yang kekuatannya sangat besar, jauh lebih besar dari kekuatan jin, kemudian kekuatan jin itu lebih besar dari manusia.Dalam kejadian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam meminta didatangkan singgasana Ratu Balqis (atau Bilqis) dari negeri Yaman menuju negeri Syam, yang jaraknya lebih dari 2000 kilometer, salah satu pendapat mengatakan bahwa yang memindahkan singgasana tersebut sebelum Nabi Sulaiman ‘alaihissalam mengedipkan matanya adalah malaikat yang Allah tugaskan dan beri kekuatan untuk bisa memindahkan secepat itu. (Tafsir Juz Amma Syaikh Utsmainin, hal. 30)Demikianlah, dan berbagai kejadian lainnya yang menunjukkan bahwa Allah memberikan kekuatan luar biasa kepada malaikat. Namun, jangan lupa bahwa pemilik kekuatan dan kekuasaan sejati hanyalah Allah; semua makhluk tidak dapat melakukan apapun, bahkan sekedar mengedipkan mata, melainkan dengan izin dari Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَالسّٰبِقٰتِ سَبْقًاۙ“(Malaikat) yang bergegas (melaksanakan perintah Allah) dengan cepat.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 4)Salah satu pendapat menyebutkan bahwa yang dimaksudkan di sini adalah malaikat yang dengan cepat membawa ruh kaum muslimin menuju surga. (Shofwatut Tafasir, hal. 488)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَالْمُدَبِّرٰتِ اَمْرًاۘ“Dan (malaikat) yang mengatur urusan (dunia).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 5)Allah bersumpah dengan para malaikat yang mendapatkan tugas mengatur berbagai urusan dunia dan urusan langit seperti mengatur urusan ruh, hujan, rezeki, mencatat amal, dan selain hal-hal tersebut. Di antara malaikat yang mengemban tugas sangat penting adalah malaikat Jibril yang membawa wahyu, malaikat Mikail yang bertugas mengatur hujan dan pepohonan, malaikat Malik yang menjaga neraka, malaikat Ridwan yang menjaga surga, serta malaikat lainnya.Allah Ta’ala bersumpah dari ayat pertama sampai ayat kelima dengan para malaikat. Dalam sumpah, ada hal yang digunakan untuk bersumpah yang disebut muqsam bih dan ada hal yang ditegaskan dengan sumpah tersebut yang disebut dengan muqsam ‘alaih. Seperti seseorang bersumpah, “Demi Allah, besok hutangmu saya bayar”; maka kata “Allah” adalah muqsam bih yang digunakan bersumpah, dan kata “saya bayar hutangmu besok” adalah muqsam ‘alaih.Dalam ayat pertama sampai kelima dari surah An-Naziat, Allah hanya menyebutkan muqsam bih saja, tanpa menyebutkan muqsam ‘alaih atau perkara yang ingin ditegaskan dengan sumpah. Para ulama kemudian mencari apa muqsam ‘alaih yang Allah inginkan. Mereka menafsirkan bahwa muqsam ‘alaih-nya adalah “bahwasanya hari kiamat pasti akan datang.” Sehingga lengkapnya dari sumpah Allah tersebut adalah, “Demi para malaikat yang memiliki berbagai keistimewaan, pastilah hari kiamat akan datang kepada kalian.” (Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hal. 583)[Bersambung]***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleMuqaddimah surahTafsir surah An-Nazi’atMuqaddimah surahSurah An-Naziat adalah surah ke-79 dalam Al-Qur’an. Surah ini adalah surah Makkiyah yang dominan isinya adalah akidah dan keyakinan seorang muslim. Nama An-Naziat diambil dari penggalan awal surat ini, yang bermakna, “Malaikat yang mencabut ruh dengan keras/kasar”.Surah ini memiliki beberapa tema utama.Pertama, penjelasan tentang sebagian malaikat dan tugas yang mereka emban.Kedua, menjelaskan tentang keadaan orang musyrik yang mengingkari hari kiamat.Ketiga, menceritakan kisah Fir’aun di zaman Nabi Musa, dimana Fir’aun dengan sombongnya mengaku sebagai tuhan, maka Allah hancurkan dengan ditenggelamkan ke dalam lautan.Keempat, menceritakan tentang kesombongan penduduk musyrik Makkah yang menentang dakwah Nabi.Kelima, ditutup dengan penjelasan bahwa hari kiamat akan datang, namun tidak ada yang tahu kapan datangnya.Tafsir surah An-Nazi’atAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالنّٰزِعٰتِ غَرْقًاۙ“Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa orang kafir) dengan keras.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 1)Allah bersumpah dengan menyebut malaikat An-Naziat. Mereka adalah malaikat yang mencabut nyawa orang kafir dengan pencabutan yang keras lagi kasar. Sebagai balasan keburukan mereka di dunia yang tidak taat kepada Allah. Permulaan kematian orang kafir saja sudah sebegitu mengerikannya, apalah lagi kehidupan setelahnya. (Shofwatut Tafasir, hal. 488)Ketika malaikat hendak mencabut nyawa orang kafir, mereka berkata, “Keluarlah wahai jiwa yang busuk, yang berada dalam jasad yang buruk, keluarlah kalian menuju kemarahan Allah.” Ketika dipanggil demikian, maka arwah mereka menolak, sangat takut, berpegangan erat kepada jasadnya, sehingga sulit untuk ditarik. Sehingga malaikat menarik mereka dengan keras dan kasar agar bisa terlepas, hingga jasad tersebut hampir terkoyak, robek, dan terbelah karena saking kerasnya tarikan tersebut. (Tafsir Juz Amma Syaikh Utsaimin, hal. 29)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّالنّٰشِطٰتِ نَشْطًاۙ“Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa orang mukmin) dengan lemah lembut.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 2)An-Nasyithoh adalah malaikat yang mencabut nyawa orang mukmin dengan lemah lembut dan hati-hati.Ketika malaikat ini hendak menyabut nyawa orang yang mukmin, mereka memberikan kabar gembira, “Wahai jiwa yang baik, yang berada dalam jasad yang baik, mari keluar menuju keridaan Allah Ta’ala.” Jiwa orang mukmin ini menyambut dengan penuh kegembiraan, sehingga keluarlah dari jasad dengan mudah. (Tafsir Juz Amma Syaikh Utsaimin, hal. 29)Dalam hadis dari ‘Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ . فَقُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ أَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ فَكُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ فَقَالَ « لَيْسَ كَذَلِكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللَّهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ فَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“Barangsiapa senang berjumpa dengan Allah, maka Allah juga mencintai perjumpaan dengannya. Sebaliknya, barangsiapa membenci perjumpaan dengan Allah, Allah juga membenci perjumpaan dengannya.”Kontan ‘Aisyah berkata, “Apakah yang dimaksud benci akan kematian, wahai Nabi Allah? Tentu kami semua takut akan kematian.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Bukan begitu maksudnya. Namun maksud yang benar, seorang mukmin jika diberi kabar gembira dengan rahmat, keridaan serta surga-Nya, ia suka bertemu Allah, maka Allah pun suka berjumpa dengan-Nya. Sedangkan orang kafir, jika diberi kabar dengan siksa dan murka Allah, ia pun khawatir berjumpa dengan Allah, lantas Allah pun tidak suka berjumpa dengan-Nya.” (HR. Muslim no. 2685)Seorang mukmin pasti kangen dan gembira dengan perjumpaannya dengan Allah, dan pintu pertama perjumpaan tersebut adalah kematian. Dengan gembiranya dirinya untuk bertemu Allah, membawa amal kebajikan, maka malaikat juga mudah untuk mencabut nyawanya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّالسّٰبِحٰتِ سَبْحًاۙ“Demi (malaikat) yang cepat (menunaikan tugasnya) dengan mudah.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 3)Malaikat yang turun dari langit membawa perintah dari Allah. Allah memberikan malaikat kekuatan yang sangat besar untuk menjalankan perintah-perintah tersebut, sehingga bisa menjalankannya dengan baik.Dalam Tafsir Juz Amma, Syekh Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa malaikat adalah makhluk Allah yang kekuatannya sangat besar, jauh lebih besar dari kekuatan jin, kemudian kekuatan jin itu lebih besar dari manusia.Dalam kejadian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam meminta didatangkan singgasana Ratu Balqis (atau Bilqis) dari negeri Yaman menuju negeri Syam, yang jaraknya lebih dari 2000 kilometer, salah satu pendapat mengatakan bahwa yang memindahkan singgasana tersebut sebelum Nabi Sulaiman ‘alaihissalam mengedipkan matanya adalah malaikat yang Allah tugaskan dan beri kekuatan untuk bisa memindahkan secepat itu. (Tafsir Juz Amma Syaikh Utsmainin, hal. 30)Demikianlah, dan berbagai kejadian lainnya yang menunjukkan bahwa Allah memberikan kekuatan luar biasa kepada malaikat. Namun, jangan lupa bahwa pemilik kekuatan dan kekuasaan sejati hanyalah Allah; semua makhluk tidak dapat melakukan apapun, bahkan sekedar mengedipkan mata, melainkan dengan izin dari Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَالسّٰبِقٰتِ سَبْقًاۙ“(Malaikat) yang bergegas (melaksanakan perintah Allah) dengan cepat.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 4)Salah satu pendapat menyebutkan bahwa yang dimaksudkan di sini adalah malaikat yang dengan cepat membawa ruh kaum muslimin menuju surga. (Shofwatut Tafasir, hal. 488)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَالْمُدَبِّرٰتِ اَمْرًاۘ“Dan (malaikat) yang mengatur urusan (dunia).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 5)Allah bersumpah dengan para malaikat yang mendapatkan tugas mengatur berbagai urusan dunia dan urusan langit seperti mengatur urusan ruh, hujan, rezeki, mencatat amal, dan selain hal-hal tersebut. Di antara malaikat yang mengemban tugas sangat penting adalah malaikat Jibril yang membawa wahyu, malaikat Mikail yang bertugas mengatur hujan dan pepohonan, malaikat Malik yang menjaga neraka, malaikat Ridwan yang menjaga surga, serta malaikat lainnya.Allah Ta’ala bersumpah dari ayat pertama sampai ayat kelima dengan para malaikat. Dalam sumpah, ada hal yang digunakan untuk bersumpah yang disebut muqsam bih dan ada hal yang ditegaskan dengan sumpah tersebut yang disebut dengan muqsam ‘alaih. Seperti seseorang bersumpah, “Demi Allah, besok hutangmu saya bayar”; maka kata “Allah” adalah muqsam bih yang digunakan bersumpah, dan kata “saya bayar hutangmu besok” adalah muqsam ‘alaih.Dalam ayat pertama sampai kelima dari surah An-Naziat, Allah hanya menyebutkan muqsam bih saja, tanpa menyebutkan muqsam ‘alaih atau perkara yang ingin ditegaskan dengan sumpah. Para ulama kemudian mencari apa muqsam ‘alaih yang Allah inginkan. Mereka menafsirkan bahwa muqsam ‘alaih-nya adalah “bahwasanya hari kiamat pasti akan datang.” Sehingga lengkapnya dari sumpah Allah tersebut adalah, “Demi para malaikat yang memiliki berbagai keistimewaan, pastilah hari kiamat akan datang kepada kalian.” (Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hal. 583)[Bersambung]***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleMuqaddimah surahTafsir surah An-Nazi’atMuqaddimah surahSurah An-Naziat adalah surah ke-79 dalam Al-Qur’an. Surah ini adalah surah Makkiyah yang dominan isinya adalah akidah dan keyakinan seorang muslim. Nama An-Naziat diambil dari penggalan awal surat ini, yang bermakna, “Malaikat yang mencabut ruh dengan keras/kasar”.Surah ini memiliki beberapa tema utama.Pertama, penjelasan tentang sebagian malaikat dan tugas yang mereka emban.Kedua, menjelaskan tentang keadaan orang musyrik yang mengingkari hari kiamat.Ketiga, menceritakan kisah Fir’aun di zaman Nabi Musa, dimana Fir’aun dengan sombongnya mengaku sebagai tuhan, maka Allah hancurkan dengan ditenggelamkan ke dalam lautan.Keempat, menceritakan tentang kesombongan penduduk musyrik Makkah yang menentang dakwah Nabi.Kelima, ditutup dengan penjelasan bahwa hari kiamat akan datang, namun tidak ada yang tahu kapan datangnya.Tafsir surah An-Nazi’atAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالنّٰزِعٰتِ غَرْقًاۙ“Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa orang kafir) dengan keras.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 1)Allah bersumpah dengan menyebut malaikat An-Naziat. Mereka adalah malaikat yang mencabut nyawa orang kafir dengan pencabutan yang keras lagi kasar. Sebagai balasan keburukan mereka di dunia yang tidak taat kepada Allah. Permulaan kematian orang kafir saja sudah sebegitu mengerikannya, apalah lagi kehidupan setelahnya. (Shofwatut Tafasir, hal. 488)Ketika malaikat hendak mencabut nyawa orang kafir, mereka berkata, “Keluarlah wahai jiwa yang busuk, yang berada dalam jasad yang buruk, keluarlah kalian menuju kemarahan Allah.” Ketika dipanggil demikian, maka arwah mereka menolak, sangat takut, berpegangan erat kepada jasadnya, sehingga sulit untuk ditarik. Sehingga malaikat menarik mereka dengan keras dan kasar agar bisa terlepas, hingga jasad tersebut hampir terkoyak, robek, dan terbelah karena saking kerasnya tarikan tersebut. (Tafsir Juz Amma Syaikh Utsaimin, hal. 29)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّالنّٰشِطٰتِ نَشْطًاۙ“Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa orang mukmin) dengan lemah lembut.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 2)An-Nasyithoh adalah malaikat yang mencabut nyawa orang mukmin dengan lemah lembut dan hati-hati.Ketika malaikat ini hendak menyabut nyawa orang yang mukmin, mereka memberikan kabar gembira, “Wahai jiwa yang baik, yang berada dalam jasad yang baik, mari keluar menuju keridaan Allah Ta’ala.” Jiwa orang mukmin ini menyambut dengan penuh kegembiraan, sehingga keluarlah dari jasad dengan mudah. (Tafsir Juz Amma Syaikh Utsaimin, hal. 29)Dalam hadis dari ‘Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ . فَقُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ أَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ فَكُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ فَقَالَ « لَيْسَ كَذَلِكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللَّهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ فَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“Barangsiapa senang berjumpa dengan Allah, maka Allah juga mencintai perjumpaan dengannya. Sebaliknya, barangsiapa membenci perjumpaan dengan Allah, Allah juga membenci perjumpaan dengannya.”Kontan ‘Aisyah berkata, “Apakah yang dimaksud benci akan kematian, wahai Nabi Allah? Tentu kami semua takut akan kematian.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Bukan begitu maksudnya. Namun maksud yang benar, seorang mukmin jika diberi kabar gembira dengan rahmat, keridaan serta surga-Nya, ia suka bertemu Allah, maka Allah pun suka berjumpa dengan-Nya. Sedangkan orang kafir, jika diberi kabar dengan siksa dan murka Allah, ia pun khawatir berjumpa dengan Allah, lantas Allah pun tidak suka berjumpa dengan-Nya.” (HR. Muslim no. 2685)Seorang mukmin pasti kangen dan gembira dengan perjumpaannya dengan Allah, dan pintu pertama perjumpaan tersebut adalah kematian. Dengan gembiranya dirinya untuk bertemu Allah, membawa amal kebajikan, maka malaikat juga mudah untuk mencabut nyawanya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَّالسّٰبِحٰتِ سَبْحًاۙ“Demi (malaikat) yang cepat (menunaikan tugasnya) dengan mudah.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 3)Malaikat yang turun dari langit membawa perintah dari Allah. Allah memberikan malaikat kekuatan yang sangat besar untuk menjalankan perintah-perintah tersebut, sehingga bisa menjalankannya dengan baik.Dalam Tafsir Juz Amma, Syekh Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa malaikat adalah makhluk Allah yang kekuatannya sangat besar, jauh lebih besar dari kekuatan jin, kemudian kekuatan jin itu lebih besar dari manusia.Dalam kejadian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam meminta didatangkan singgasana Ratu Balqis (atau Bilqis) dari negeri Yaman menuju negeri Syam, yang jaraknya lebih dari 2000 kilometer, salah satu pendapat mengatakan bahwa yang memindahkan singgasana tersebut sebelum Nabi Sulaiman ‘alaihissalam mengedipkan matanya adalah malaikat yang Allah tugaskan dan beri kekuatan untuk bisa memindahkan secepat itu. (Tafsir Juz Amma Syaikh Utsmainin, hal. 30)Demikianlah, dan berbagai kejadian lainnya yang menunjukkan bahwa Allah memberikan kekuatan luar biasa kepada malaikat. Namun, jangan lupa bahwa pemilik kekuatan dan kekuasaan sejati hanyalah Allah; semua makhluk tidak dapat melakukan apapun, bahkan sekedar mengedipkan mata, melainkan dengan izin dari Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَالسّٰبِقٰتِ سَبْقًاۙ“(Malaikat) yang bergegas (melaksanakan perintah Allah) dengan cepat.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 4)Salah satu pendapat menyebutkan bahwa yang dimaksudkan di sini adalah malaikat yang dengan cepat membawa ruh kaum muslimin menuju surga. (Shofwatut Tafasir, hal. 488)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَالْمُدَبِّرٰتِ اَمْرًاۘ“Dan (malaikat) yang mengatur urusan (dunia).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 5)Allah bersumpah dengan para malaikat yang mendapatkan tugas mengatur berbagai urusan dunia dan urusan langit seperti mengatur urusan ruh, hujan, rezeki, mencatat amal, dan selain hal-hal tersebut. Di antara malaikat yang mengemban tugas sangat penting adalah malaikat Jibril yang membawa wahyu, malaikat Mikail yang bertugas mengatur hujan dan pepohonan, malaikat Malik yang menjaga neraka, malaikat Ridwan yang menjaga surga, serta malaikat lainnya.Allah Ta’ala bersumpah dari ayat pertama sampai ayat kelima dengan para malaikat. Dalam sumpah, ada hal yang digunakan untuk bersumpah yang disebut muqsam bih dan ada hal yang ditegaskan dengan sumpah tersebut yang disebut dengan muqsam ‘alaih. Seperti seseorang bersumpah, “Demi Allah, besok hutangmu saya bayar”; maka kata “Allah” adalah muqsam bih yang digunakan bersumpah, dan kata “saya bayar hutangmu besok” adalah muqsam ‘alaih.Dalam ayat pertama sampai kelima dari surah An-Naziat, Allah hanya menyebutkan muqsam bih saja, tanpa menyebutkan muqsam ‘alaih atau perkara yang ingin ditegaskan dengan sumpah. Para ulama kemudian mencari apa muqsam ‘alaih yang Allah inginkan. Mereka menafsirkan bahwa muqsam ‘alaih-nya adalah “bahwasanya hari kiamat pasti akan datang.” Sehingga lengkapnya dari sumpah Allah tersebut adalah, “Demi para malaikat yang memiliki berbagai keistimewaan, pastilah hari kiamat akan datang kepada kalian.” (Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hal. 583)[Bersambung]***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id

Scrolling yang Melemahkan Akal dan Iman

Daftar Isi ToggleScrolling dan kerusakan akalDari scroll ke syahwatMental health, tidur, dan hilangnya kejernihan jiwaMenjaga akal, menjaga masa depanZaman ini tidak kekurangan ilmu, tetapi kekurangan akal yang fokus dan hati yang hidup. Di hadapan kita terbentang layar kecil yang setiap hari kita genggam, yang sekilas tampak netral, namun perlahan membentuk cara berpikir, merusak fokus, dan melemahkan daya tahan ruhani. Fenomena scrolling tanpa henti bukan lagi sekadar kebiasaan, tetapi telah berubah menjadi pola hidup yang berbahaya.Banyak orang merasa masih “baik-baik saja”. Masih salat, masih bekerja, masih belajar. Namun tanpa disadari, kemampuan berpikir mendalam, merenung, dan menahan diri semakin menipis. Akal menjadi dangkal, hati mudah tergelincir, dan waktu berlalu tanpa keberkahan. Inilah yang diperingatkan oleh para ulama: dosa dan kelalaian tidak selalu datang dalam bentuk besar, tetapi melalui kebiasaan kecil yang terus diulang.Islam tidak pernah anti teknologi. Namun, Islam sangat tegas dalam menjaga akal (hifzh al-‘aql) dan hati (qalb). Ketika sebuah sarana mulai merusak keduanya, maka ia bukan lagi sekadar alat, tetapi telah menjadi ujian besar bagi iman seorang Muslim.Scrolling dan kerusakan akalSecara ilmiah, penelitian neurosains menunjukkan bahwa paparan konten singkat dan terus-menerus melemahkan attention span dan jalur neuron yang berfungsi untuk fokus jangka panjang. Penelitian oleh University of California, San Francisco menunjukkan bahwa konsumsi digital berlebihan menurunkan kemampuan deep thinking dan pengambilan keputusan rasional (Rosen et al., Psychology of Popular Media, 2013).Fenomena ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh para ulama: akal yang terus dipenuhi hal remeh akan kehilangan ketajamannya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,فإذا كان القلب ممتلئاً بالباطل اعتقاداً ومحبةً؛ لم يبْقَ فيه لاعتقاد الحقِّ ومحبته موضع“Apabila hati telah dipenuhi dengan kebatilan—baik dalam keyakinan maupun kecintaan—maka tidak tersisa ruang di dalamnya untuk menerima keyakinan terhadap kebenaran dan mencintainya.” [1]Allah Ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang menggunakan akalnya untuk berpikir secara mendalam, merenungi tanda-tanda kebesaran-Nya, serta mengambil pelajaran dari apa yang mereka lihat dan alami, bukan sekadar memandang sepintas lalu kemudian berlalu tanpa bekas, tanpa makna, dan tanpa perubahan dalam sikap maupun amal. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ra’d: 3)Scrolling tanpa kontrol perlahan melatih akal untuk bersikap reaktif—cepat menanggapi, mudah terpicu, dan dangkal dalam menyimpulkan—bukan reflektif yang tenang dan mendalam. Padahal, iman tidak tumbuh dari kecepatan jari, melainkan dari perenungan hati dan kejernihan akal; dari berhenti sejenak untuk memahami, bukan terus bergerak tanpa arah.Dari scroll ke syahwatSalah satu bahaya terbesar dari scrolling bebas adalah pintu menuju syahwat. Awalnya gambar, lalu video, lalu konten yang semakin ekstrem. Ini bukan asumsi, tetapi fakta psikologis yang dikenal sebagai desensitisasi dopamin (Kühn & Gallinat, JAMA Psychiatry, 2014).Rasulullah ﷺ telah mengingatkan secara tegas,النَّظْرَةُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومَةٌ فَمَنْ تَرَكَهَا مِنْ خَوْفِ اللَّهِ أَثَابَهُ جَلَّ وَعَزَّ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ”Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya yang terasa manis baginya.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7875)Syahwat tidak pernah berhenti pada satu titik dan selalu meminta lebih. Banyak rumah tangga hancur, banyak jiwa rusak, bukan karena zina besar di awal, tetapi karena pandangan yang tidak dijaga. Zina mata adalah sebuah pintu, dan setiap pintu yang dibiarkan terbuka dalam waktu lama pada akhirnya akan dilewati; kebiasaan scrolling tanpa kendali menjadikan pintu itu terus terbuka, siang dan malam, tanpa jeda untuk menjaga hati dan pandangan.Mental health, tidur, dan hilangnya kejernihan jiwaDampak lain yang sering diremehkan adalah rusaknya kesehatan mental dan pola tidur. Penelitian dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa penggunaan gawai sebelum tidur menekan produksi melatonin, menyebabkan insomnia dan kelelahan kronis (Harvard Health Publishing, 2020).Rasulullah ﷺ adalah manusia paling sibuk, namun paling teratur tidurnya. Beliau membenci begadang tanpa kebutuhan. Tidur yang rusak bukan hanya urusan fisik, tetapi mempengaruhi kualitas ibadah, kesabaran, dan akhlak.Banyak anak muda bangun pagi dengan mata merah, hati berat, dan jiwa kosong. Bukan karena belajar, tetapi karena layar. Ini adalah kerugian besar yang sering disembunyikan oleh dalih “hiburan”.Islam mengajarkan keseimbangan. Hiburan yang halal boleh, tetapi ketika ia merusak kewajiban dan jiwa, maka ia berubah menjadi bahaya.Islam pun tidak memerintahkan kita hidup di gua. Media sosial bisa menjadi sarana dakwah, ilmu, dan kebaikan. Namun pengendalian adalah kunci. Para pakar merekomendasikan digital detox berkala. Bahkan para influencer sendiri mengakui manfaat istirahat 30 hari dari media sosial.Nabi ﷺ bersabda,إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ قِلَّةَ الْكَلاَمِ فِيمَا لاَ يَعْنِيهِ“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah mengurangi berbicara dalam hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Ahmad 1: 201. Syekh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan adanya syawahid –penguat-)Langkah praktis sangat dianjurkan: menjauhkan ponsel dari tempat tidur, membatasi waktu harian, dan mengisi waktu kosong dengan tilawah, membaca, dan aktivitas nyata. Jika jatuh, maka tobat dan bangkit kembali. Perjuangan ini berat, namun akan berbuah berpahala. Setiap usaha menjaga pandangan dan waktu dicatat sebagai jihad melawan hawa nafsu.Menjaga akal, menjaga masa depanGenerasi muda hari ini memiliki potensi luar biasa. Kreatif, cerdas, dan cepat belajar. Namun, semua itu akan sia-sia jika akal rusak dan hati mati. Scrolling tanpa kendali adalah pencuri perlahan yang merampas potensi tersebut.Islam datang untuk memuliakan manusia, bukan menjadikannya budak layar. Allah menghendaki kita menjadi hamba yang berpikir, bukan sekadar menonton. Menjadi pemimpin, bukan konsumen pasif.Mari mulai dari langkah kecil: mengurangi scrolling, menjaga pandangan, dan menghidupkan waktu dengan ketaatan. Karena iman, akal, dan waktu adalah nikmat yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala.***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] IslamWeb.net, Artikel: اشغلها بالحق… وإلا شغلتك بالباطل Nomor artikel: 232000Tautan: https://www.islamweb.net/ar/article/232000

Scrolling yang Melemahkan Akal dan Iman

Daftar Isi ToggleScrolling dan kerusakan akalDari scroll ke syahwatMental health, tidur, dan hilangnya kejernihan jiwaMenjaga akal, menjaga masa depanZaman ini tidak kekurangan ilmu, tetapi kekurangan akal yang fokus dan hati yang hidup. Di hadapan kita terbentang layar kecil yang setiap hari kita genggam, yang sekilas tampak netral, namun perlahan membentuk cara berpikir, merusak fokus, dan melemahkan daya tahan ruhani. Fenomena scrolling tanpa henti bukan lagi sekadar kebiasaan, tetapi telah berubah menjadi pola hidup yang berbahaya.Banyak orang merasa masih “baik-baik saja”. Masih salat, masih bekerja, masih belajar. Namun tanpa disadari, kemampuan berpikir mendalam, merenung, dan menahan diri semakin menipis. Akal menjadi dangkal, hati mudah tergelincir, dan waktu berlalu tanpa keberkahan. Inilah yang diperingatkan oleh para ulama: dosa dan kelalaian tidak selalu datang dalam bentuk besar, tetapi melalui kebiasaan kecil yang terus diulang.Islam tidak pernah anti teknologi. Namun, Islam sangat tegas dalam menjaga akal (hifzh al-‘aql) dan hati (qalb). Ketika sebuah sarana mulai merusak keduanya, maka ia bukan lagi sekadar alat, tetapi telah menjadi ujian besar bagi iman seorang Muslim.Scrolling dan kerusakan akalSecara ilmiah, penelitian neurosains menunjukkan bahwa paparan konten singkat dan terus-menerus melemahkan attention span dan jalur neuron yang berfungsi untuk fokus jangka panjang. Penelitian oleh University of California, San Francisco menunjukkan bahwa konsumsi digital berlebihan menurunkan kemampuan deep thinking dan pengambilan keputusan rasional (Rosen et al., Psychology of Popular Media, 2013).Fenomena ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh para ulama: akal yang terus dipenuhi hal remeh akan kehilangan ketajamannya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,فإذا كان القلب ممتلئاً بالباطل اعتقاداً ومحبةً؛ لم يبْقَ فيه لاعتقاد الحقِّ ومحبته موضع“Apabila hati telah dipenuhi dengan kebatilan—baik dalam keyakinan maupun kecintaan—maka tidak tersisa ruang di dalamnya untuk menerima keyakinan terhadap kebenaran dan mencintainya.” [1]Allah Ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang menggunakan akalnya untuk berpikir secara mendalam, merenungi tanda-tanda kebesaran-Nya, serta mengambil pelajaran dari apa yang mereka lihat dan alami, bukan sekadar memandang sepintas lalu kemudian berlalu tanpa bekas, tanpa makna, dan tanpa perubahan dalam sikap maupun amal. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ra’d: 3)Scrolling tanpa kontrol perlahan melatih akal untuk bersikap reaktif—cepat menanggapi, mudah terpicu, dan dangkal dalam menyimpulkan—bukan reflektif yang tenang dan mendalam. Padahal, iman tidak tumbuh dari kecepatan jari, melainkan dari perenungan hati dan kejernihan akal; dari berhenti sejenak untuk memahami, bukan terus bergerak tanpa arah.Dari scroll ke syahwatSalah satu bahaya terbesar dari scrolling bebas adalah pintu menuju syahwat. Awalnya gambar, lalu video, lalu konten yang semakin ekstrem. Ini bukan asumsi, tetapi fakta psikologis yang dikenal sebagai desensitisasi dopamin (Kühn & Gallinat, JAMA Psychiatry, 2014).Rasulullah ﷺ telah mengingatkan secara tegas,النَّظْرَةُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومَةٌ فَمَنْ تَرَكَهَا مِنْ خَوْفِ اللَّهِ أَثَابَهُ جَلَّ وَعَزَّ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ”Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya yang terasa manis baginya.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7875)Syahwat tidak pernah berhenti pada satu titik dan selalu meminta lebih. Banyak rumah tangga hancur, banyak jiwa rusak, bukan karena zina besar di awal, tetapi karena pandangan yang tidak dijaga. Zina mata adalah sebuah pintu, dan setiap pintu yang dibiarkan terbuka dalam waktu lama pada akhirnya akan dilewati; kebiasaan scrolling tanpa kendali menjadikan pintu itu terus terbuka, siang dan malam, tanpa jeda untuk menjaga hati dan pandangan.Mental health, tidur, dan hilangnya kejernihan jiwaDampak lain yang sering diremehkan adalah rusaknya kesehatan mental dan pola tidur. Penelitian dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa penggunaan gawai sebelum tidur menekan produksi melatonin, menyebabkan insomnia dan kelelahan kronis (Harvard Health Publishing, 2020).Rasulullah ﷺ adalah manusia paling sibuk, namun paling teratur tidurnya. Beliau membenci begadang tanpa kebutuhan. Tidur yang rusak bukan hanya urusan fisik, tetapi mempengaruhi kualitas ibadah, kesabaran, dan akhlak.Banyak anak muda bangun pagi dengan mata merah, hati berat, dan jiwa kosong. Bukan karena belajar, tetapi karena layar. Ini adalah kerugian besar yang sering disembunyikan oleh dalih “hiburan”.Islam mengajarkan keseimbangan. Hiburan yang halal boleh, tetapi ketika ia merusak kewajiban dan jiwa, maka ia berubah menjadi bahaya.Islam pun tidak memerintahkan kita hidup di gua. Media sosial bisa menjadi sarana dakwah, ilmu, dan kebaikan. Namun pengendalian adalah kunci. Para pakar merekomendasikan digital detox berkala. Bahkan para influencer sendiri mengakui manfaat istirahat 30 hari dari media sosial.Nabi ﷺ bersabda,إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ قِلَّةَ الْكَلاَمِ فِيمَا لاَ يَعْنِيهِ“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah mengurangi berbicara dalam hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Ahmad 1: 201. Syekh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan adanya syawahid –penguat-)Langkah praktis sangat dianjurkan: menjauhkan ponsel dari tempat tidur, membatasi waktu harian, dan mengisi waktu kosong dengan tilawah, membaca, dan aktivitas nyata. Jika jatuh, maka tobat dan bangkit kembali. Perjuangan ini berat, namun akan berbuah berpahala. Setiap usaha menjaga pandangan dan waktu dicatat sebagai jihad melawan hawa nafsu.Menjaga akal, menjaga masa depanGenerasi muda hari ini memiliki potensi luar biasa. Kreatif, cerdas, dan cepat belajar. Namun, semua itu akan sia-sia jika akal rusak dan hati mati. Scrolling tanpa kendali adalah pencuri perlahan yang merampas potensi tersebut.Islam datang untuk memuliakan manusia, bukan menjadikannya budak layar. Allah menghendaki kita menjadi hamba yang berpikir, bukan sekadar menonton. Menjadi pemimpin, bukan konsumen pasif.Mari mulai dari langkah kecil: mengurangi scrolling, menjaga pandangan, dan menghidupkan waktu dengan ketaatan. Karena iman, akal, dan waktu adalah nikmat yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala.***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] IslamWeb.net, Artikel: اشغلها بالحق… وإلا شغلتك بالباطل Nomor artikel: 232000Tautan: https://www.islamweb.net/ar/article/232000
Daftar Isi ToggleScrolling dan kerusakan akalDari scroll ke syahwatMental health, tidur, dan hilangnya kejernihan jiwaMenjaga akal, menjaga masa depanZaman ini tidak kekurangan ilmu, tetapi kekurangan akal yang fokus dan hati yang hidup. Di hadapan kita terbentang layar kecil yang setiap hari kita genggam, yang sekilas tampak netral, namun perlahan membentuk cara berpikir, merusak fokus, dan melemahkan daya tahan ruhani. Fenomena scrolling tanpa henti bukan lagi sekadar kebiasaan, tetapi telah berubah menjadi pola hidup yang berbahaya.Banyak orang merasa masih “baik-baik saja”. Masih salat, masih bekerja, masih belajar. Namun tanpa disadari, kemampuan berpikir mendalam, merenung, dan menahan diri semakin menipis. Akal menjadi dangkal, hati mudah tergelincir, dan waktu berlalu tanpa keberkahan. Inilah yang diperingatkan oleh para ulama: dosa dan kelalaian tidak selalu datang dalam bentuk besar, tetapi melalui kebiasaan kecil yang terus diulang.Islam tidak pernah anti teknologi. Namun, Islam sangat tegas dalam menjaga akal (hifzh al-‘aql) dan hati (qalb). Ketika sebuah sarana mulai merusak keduanya, maka ia bukan lagi sekadar alat, tetapi telah menjadi ujian besar bagi iman seorang Muslim.Scrolling dan kerusakan akalSecara ilmiah, penelitian neurosains menunjukkan bahwa paparan konten singkat dan terus-menerus melemahkan attention span dan jalur neuron yang berfungsi untuk fokus jangka panjang. Penelitian oleh University of California, San Francisco menunjukkan bahwa konsumsi digital berlebihan menurunkan kemampuan deep thinking dan pengambilan keputusan rasional (Rosen et al., Psychology of Popular Media, 2013).Fenomena ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh para ulama: akal yang terus dipenuhi hal remeh akan kehilangan ketajamannya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,فإذا كان القلب ممتلئاً بالباطل اعتقاداً ومحبةً؛ لم يبْقَ فيه لاعتقاد الحقِّ ومحبته موضع“Apabila hati telah dipenuhi dengan kebatilan—baik dalam keyakinan maupun kecintaan—maka tidak tersisa ruang di dalamnya untuk menerima keyakinan terhadap kebenaran dan mencintainya.” [1]Allah Ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang menggunakan akalnya untuk berpikir secara mendalam, merenungi tanda-tanda kebesaran-Nya, serta mengambil pelajaran dari apa yang mereka lihat dan alami, bukan sekadar memandang sepintas lalu kemudian berlalu tanpa bekas, tanpa makna, dan tanpa perubahan dalam sikap maupun amal. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ra’d: 3)Scrolling tanpa kontrol perlahan melatih akal untuk bersikap reaktif—cepat menanggapi, mudah terpicu, dan dangkal dalam menyimpulkan—bukan reflektif yang tenang dan mendalam. Padahal, iman tidak tumbuh dari kecepatan jari, melainkan dari perenungan hati dan kejernihan akal; dari berhenti sejenak untuk memahami, bukan terus bergerak tanpa arah.Dari scroll ke syahwatSalah satu bahaya terbesar dari scrolling bebas adalah pintu menuju syahwat. Awalnya gambar, lalu video, lalu konten yang semakin ekstrem. Ini bukan asumsi, tetapi fakta psikologis yang dikenal sebagai desensitisasi dopamin (Kühn & Gallinat, JAMA Psychiatry, 2014).Rasulullah ﷺ telah mengingatkan secara tegas,النَّظْرَةُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومَةٌ فَمَنْ تَرَكَهَا مِنْ خَوْفِ اللَّهِ أَثَابَهُ جَلَّ وَعَزَّ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ”Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya yang terasa manis baginya.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7875)Syahwat tidak pernah berhenti pada satu titik dan selalu meminta lebih. Banyak rumah tangga hancur, banyak jiwa rusak, bukan karena zina besar di awal, tetapi karena pandangan yang tidak dijaga. Zina mata adalah sebuah pintu, dan setiap pintu yang dibiarkan terbuka dalam waktu lama pada akhirnya akan dilewati; kebiasaan scrolling tanpa kendali menjadikan pintu itu terus terbuka, siang dan malam, tanpa jeda untuk menjaga hati dan pandangan.Mental health, tidur, dan hilangnya kejernihan jiwaDampak lain yang sering diremehkan adalah rusaknya kesehatan mental dan pola tidur. Penelitian dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa penggunaan gawai sebelum tidur menekan produksi melatonin, menyebabkan insomnia dan kelelahan kronis (Harvard Health Publishing, 2020).Rasulullah ﷺ adalah manusia paling sibuk, namun paling teratur tidurnya. Beliau membenci begadang tanpa kebutuhan. Tidur yang rusak bukan hanya urusan fisik, tetapi mempengaruhi kualitas ibadah, kesabaran, dan akhlak.Banyak anak muda bangun pagi dengan mata merah, hati berat, dan jiwa kosong. Bukan karena belajar, tetapi karena layar. Ini adalah kerugian besar yang sering disembunyikan oleh dalih “hiburan”.Islam mengajarkan keseimbangan. Hiburan yang halal boleh, tetapi ketika ia merusak kewajiban dan jiwa, maka ia berubah menjadi bahaya.Islam pun tidak memerintahkan kita hidup di gua. Media sosial bisa menjadi sarana dakwah, ilmu, dan kebaikan. Namun pengendalian adalah kunci. Para pakar merekomendasikan digital detox berkala. Bahkan para influencer sendiri mengakui manfaat istirahat 30 hari dari media sosial.Nabi ﷺ bersabda,إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ قِلَّةَ الْكَلاَمِ فِيمَا لاَ يَعْنِيهِ“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah mengurangi berbicara dalam hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Ahmad 1: 201. Syekh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan adanya syawahid –penguat-)Langkah praktis sangat dianjurkan: menjauhkan ponsel dari tempat tidur, membatasi waktu harian, dan mengisi waktu kosong dengan tilawah, membaca, dan aktivitas nyata. Jika jatuh, maka tobat dan bangkit kembali. Perjuangan ini berat, namun akan berbuah berpahala. Setiap usaha menjaga pandangan dan waktu dicatat sebagai jihad melawan hawa nafsu.Menjaga akal, menjaga masa depanGenerasi muda hari ini memiliki potensi luar biasa. Kreatif, cerdas, dan cepat belajar. Namun, semua itu akan sia-sia jika akal rusak dan hati mati. Scrolling tanpa kendali adalah pencuri perlahan yang merampas potensi tersebut.Islam datang untuk memuliakan manusia, bukan menjadikannya budak layar. Allah menghendaki kita menjadi hamba yang berpikir, bukan sekadar menonton. Menjadi pemimpin, bukan konsumen pasif.Mari mulai dari langkah kecil: mengurangi scrolling, menjaga pandangan, dan menghidupkan waktu dengan ketaatan. Karena iman, akal, dan waktu adalah nikmat yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala.***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] IslamWeb.net, Artikel: اشغلها بالحق… وإلا شغلتك بالباطل Nomor artikel: 232000Tautan: https://www.islamweb.net/ar/article/232000


Daftar Isi ToggleScrolling dan kerusakan akalDari scroll ke syahwatMental health, tidur, dan hilangnya kejernihan jiwaMenjaga akal, menjaga masa depanZaman ini tidak kekurangan ilmu, tetapi kekurangan akal yang fokus dan hati yang hidup. Di hadapan kita terbentang layar kecil yang setiap hari kita genggam, yang sekilas tampak netral, namun perlahan membentuk cara berpikir, merusak fokus, dan melemahkan daya tahan ruhani. Fenomena scrolling tanpa henti bukan lagi sekadar kebiasaan, tetapi telah berubah menjadi pola hidup yang berbahaya.Banyak orang merasa masih “baik-baik saja”. Masih salat, masih bekerja, masih belajar. Namun tanpa disadari, kemampuan berpikir mendalam, merenung, dan menahan diri semakin menipis. Akal menjadi dangkal, hati mudah tergelincir, dan waktu berlalu tanpa keberkahan. Inilah yang diperingatkan oleh para ulama: dosa dan kelalaian tidak selalu datang dalam bentuk besar, tetapi melalui kebiasaan kecil yang terus diulang.Islam tidak pernah anti teknologi. Namun, Islam sangat tegas dalam menjaga akal (hifzh al-‘aql) dan hati (qalb). Ketika sebuah sarana mulai merusak keduanya, maka ia bukan lagi sekadar alat, tetapi telah menjadi ujian besar bagi iman seorang Muslim.Scrolling dan kerusakan akalSecara ilmiah, penelitian neurosains menunjukkan bahwa paparan konten singkat dan terus-menerus melemahkan attention span dan jalur neuron yang berfungsi untuk fokus jangka panjang. Penelitian oleh University of California, San Francisco menunjukkan bahwa konsumsi digital berlebihan menurunkan kemampuan deep thinking dan pengambilan keputusan rasional (Rosen et al., Psychology of Popular Media, 2013).Fenomena ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh para ulama: akal yang terus dipenuhi hal remeh akan kehilangan ketajamannya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,فإذا كان القلب ممتلئاً بالباطل اعتقاداً ومحبةً؛ لم يبْقَ فيه لاعتقاد الحقِّ ومحبته موضع“Apabila hati telah dipenuhi dengan kebatilan—baik dalam keyakinan maupun kecintaan—maka tidak tersisa ruang di dalamnya untuk menerima keyakinan terhadap kebenaran dan mencintainya.” [1]Allah Ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang menggunakan akalnya untuk berpikir secara mendalam, merenungi tanda-tanda kebesaran-Nya, serta mengambil pelajaran dari apa yang mereka lihat dan alami, bukan sekadar memandang sepintas lalu kemudian berlalu tanpa bekas, tanpa makna, dan tanpa perubahan dalam sikap maupun amal. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ra’d: 3)Scrolling tanpa kontrol perlahan melatih akal untuk bersikap reaktif—cepat menanggapi, mudah terpicu, dan dangkal dalam menyimpulkan—bukan reflektif yang tenang dan mendalam. Padahal, iman tidak tumbuh dari kecepatan jari, melainkan dari perenungan hati dan kejernihan akal; dari berhenti sejenak untuk memahami, bukan terus bergerak tanpa arah.Dari scroll ke syahwatSalah satu bahaya terbesar dari scrolling bebas adalah pintu menuju syahwat. Awalnya gambar, lalu video, lalu konten yang semakin ekstrem. Ini bukan asumsi, tetapi fakta psikologis yang dikenal sebagai desensitisasi dopamin (Kühn & Gallinat, JAMA Psychiatry, 2014).Rasulullah ﷺ telah mengingatkan secara tegas,النَّظْرَةُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومَةٌ فَمَنْ تَرَكَهَا مِنْ خَوْفِ اللَّهِ أَثَابَهُ جَلَّ وَعَزَّ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ”Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya yang terasa manis baginya.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7875)Syahwat tidak pernah berhenti pada satu titik dan selalu meminta lebih. Banyak rumah tangga hancur, banyak jiwa rusak, bukan karena zina besar di awal, tetapi karena pandangan yang tidak dijaga. Zina mata adalah sebuah pintu, dan setiap pintu yang dibiarkan terbuka dalam waktu lama pada akhirnya akan dilewati; kebiasaan scrolling tanpa kendali menjadikan pintu itu terus terbuka, siang dan malam, tanpa jeda untuk menjaga hati dan pandangan.Mental health, tidur, dan hilangnya kejernihan jiwaDampak lain yang sering diremehkan adalah rusaknya kesehatan mental dan pola tidur. Penelitian dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa penggunaan gawai sebelum tidur menekan produksi melatonin, menyebabkan insomnia dan kelelahan kronis (Harvard Health Publishing, 2020).Rasulullah ﷺ adalah manusia paling sibuk, namun paling teratur tidurnya. Beliau membenci begadang tanpa kebutuhan. Tidur yang rusak bukan hanya urusan fisik, tetapi mempengaruhi kualitas ibadah, kesabaran, dan akhlak.Banyak anak muda bangun pagi dengan mata merah, hati berat, dan jiwa kosong. Bukan karena belajar, tetapi karena layar. Ini adalah kerugian besar yang sering disembunyikan oleh dalih “hiburan”.Islam mengajarkan keseimbangan. Hiburan yang halal boleh, tetapi ketika ia merusak kewajiban dan jiwa, maka ia berubah menjadi bahaya.Islam pun tidak memerintahkan kita hidup di gua. Media sosial bisa menjadi sarana dakwah, ilmu, dan kebaikan. Namun pengendalian adalah kunci. Para pakar merekomendasikan digital detox berkala. Bahkan para influencer sendiri mengakui manfaat istirahat 30 hari dari media sosial.Nabi ﷺ bersabda,إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ قِلَّةَ الْكَلاَمِ فِيمَا لاَ يَعْنِيهِ“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah mengurangi berbicara dalam hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Ahmad 1: 201. Syekh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan adanya syawahid –penguat-)Langkah praktis sangat dianjurkan: menjauhkan ponsel dari tempat tidur, membatasi waktu harian, dan mengisi waktu kosong dengan tilawah, membaca, dan aktivitas nyata. Jika jatuh, maka tobat dan bangkit kembali. Perjuangan ini berat, namun akan berbuah berpahala. Setiap usaha menjaga pandangan dan waktu dicatat sebagai jihad melawan hawa nafsu.Menjaga akal, menjaga masa depanGenerasi muda hari ini memiliki potensi luar biasa. Kreatif, cerdas, dan cepat belajar. Namun, semua itu akan sia-sia jika akal rusak dan hati mati. Scrolling tanpa kendali adalah pencuri perlahan yang merampas potensi tersebut.Islam datang untuk memuliakan manusia, bukan menjadikannya budak layar. Allah menghendaki kita menjadi hamba yang berpikir, bukan sekadar menonton. Menjadi pemimpin, bukan konsumen pasif.Mari mulai dari langkah kecil: mengurangi scrolling, menjaga pandangan, dan menghidupkan waktu dengan ketaatan. Karena iman, akal, dan waktu adalah nikmat yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala.***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] IslamWeb.net, Artikel: اشغلها بالحق… وإلا شغلتك بالباطل Nomor artikel: 232000Tautan: https://www.islamweb.net/ar/article/232000

Memaafkan Bisa, Melupakan Luka Butuh Proses (Belajar dari Kisah Wahsyi)

Apakah memaafkan berarti hati harus langsung pulih dan melupakan semua luka? Kisah Nabi ﷺ dengan Wahsyi memberi pelajaran yang sangat halus: beliau menerima taubat, tetapi tetap jujur dengan perasaan beliau sebagai manusia. Dari kisah ini, kita belajar bahwa Islam mengajarkan rahmat, keadilan, dan ketulusan hati secara seimbang.  Daftar Isi tutup 1. Rasullah ﷺ Apakah Memaafkan Pembunuh Hamzah? 2. Kesimpulan  Rasullah ﷺ Apakah Memaafkan Pembunuh Hamzah?Apakah Rasulullah ﷺ menolak bertemu dengan budak yang membunuh Hamzah, paman beliau, setelah ia masuk Islam?Jawaban:Nabi ﷺ pernah bertemu dengan Wahsyi—pembunuh Hamzah—ketika ia datang dalam keadaan telah masuk Islam. Peristiwa ini terjadi setelah penduduk Thaif masuk Islam.Wahsyi menceritakan:فَخَرَجْتُ مَعَهُمْ حَتَّى قَدِمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا رَآنِي قَالَ: أَنْتَ وَحْشِيٌّ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، “Aku keluar bersama mereka hingga tiba di hadapan Rasulullah ﷺ. Ketika beliau melihatku, beliau bertanya, ‘Apakah engkau Wahsyi?’Aku menjawab, ‘Ya.’قَالَ: أَنْتَ قَتَلْتَ حَمْزَةَ؟ قُلْتُ: قَدْ كَانَ مِنَ الْأَمْرِ مَا بَلَغَكَ، Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau yang membunuh Hamzah?’Aku menjawab, ‘Benar, sebagaimana yang telah sampai kepadamu.’قَالَ: فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تُغَيِّبَ وَجْهَكَ عَنِّي؟ قَالَ: فَخَرَجْتُ.Lalu beliau bersabda, ‘Apakah engkau bisa menjauhkan wajahmu dariku?’ Maka aku pun pergi (menjauh).”Wahsyi melanjutkan: “Ketika Rasulullah ﷺ telah wafat, muncul Musailamah Al-Kazzab. Aku berkata, ‘Aku akan keluar menghadapi Musailamah. Mudah-mudahan aku bisa membunuhnya sebagai balasan atas Hamzah.’Aku pun keluar bersama orang-orang. Terjadilah pertempuran sebagaimana yang terjadi. Tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki berdiri di celah dinding, seperti unta berwarna kelabu dengan rambut yang acak-acakan. Aku pun melemparnya dengan tombakku hingga menembus dadanya dan keluar dari punggungnya. Lalu seorang laki-laki dari kalangan Anshar melompat dan menebas kepalanya dengan pedang.”Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari.Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fathul Bari:Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika Wahsyi diperkenalkan kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,دَعُوهُ، فَلَإِسْلَامُ رَجُلٍ وَاحِدٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ قَتْلِ أَلْفِ كَافِرٍ.“Biarkan dia. Sungguh, masuk Islamnya satu orang lebih aku cintai daripada terbunuhnya seribu orang kafir.”Imam Ibnu Hajar memberikan beberapa kesimpulan:أَنَّ الْمَرْءَ يَكْرَهُ أَنْ يَرَى مَنْ أَوْصَلَ إِلَى قَرِيبِهِ أَوْ صَدِيقِهِ أَذًى، وَلَا يَلْزَمُ مِنْ ذَلِكَ وُقُوعُ الْهِجْرَةِ الْمَنْهِيِّ بَيْنَهُمَا، وَفِيهِ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا قَبْلَهُ. انْتَهَى.Dalam hadis ini terdapat pelajaran bahwa seseorang wajar merasa tidak suka melihat orang yang telah menyakiti kerabat atau orang yang ia cintai. Namun, hal itu tidak berarti terjadinya pemutusan hubungan yang terlarang di antara keduanya. Di dalamnya juga terdapat kaidah bahwa Islam menghapus dosa-dosa yang telah lalu. KesimpulanKisah Wahsyi mengajarkan satu pelajaran yang halus namun dalam: memaafkan tidak berarti luka harus langsung hilang, tetapi luka itu tidak boleh mendorong kita berbuat zalim atau menutup pintu taubat bagi orang lain.Nabi ﷺ menerima keislaman Wahsyi sepenuhnya — tidak membalas, tidak menghukumnya atas masa lalu — namun beliau juga jujur dengan perasaan beliau sebagai manusia. Di sinilah Islam tampak realistis: pemaafan itu mulia, dan perasaan manusiawi tetap diakui.Dari kisah ini kita belajar bahwa tingkatan memaafkan itu bertahap — dari sekadar tidak membalas, hingga berlapang dada, hingga menutup kesalahan sepenuhnya. Yang terpenting: teruslah bergerak naik menuju pemaafan yang lebih sempurna, sesuai kemampuan.Wallahu a’lam. Bahasan ini terdapat dalam buku kami yang baru “SENI MEMAAFKAN”. Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701 atau di Rumaysho Digital. ——- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 29 Syawal 1447 H, 17 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam Hamzah hati yang terluka kisah sahabat konflik keluarga maaf memaafkan memaafkan memaafkan dalam islam rumaysho seni memaafkan sifat Nabi taubat Wahsyi

Memaafkan Bisa, Melupakan Luka Butuh Proses (Belajar dari Kisah Wahsyi)

Apakah memaafkan berarti hati harus langsung pulih dan melupakan semua luka? Kisah Nabi ﷺ dengan Wahsyi memberi pelajaran yang sangat halus: beliau menerima taubat, tetapi tetap jujur dengan perasaan beliau sebagai manusia. Dari kisah ini, kita belajar bahwa Islam mengajarkan rahmat, keadilan, dan ketulusan hati secara seimbang.  Daftar Isi tutup 1. Rasullah ﷺ Apakah Memaafkan Pembunuh Hamzah? 2. Kesimpulan  Rasullah ﷺ Apakah Memaafkan Pembunuh Hamzah?Apakah Rasulullah ﷺ menolak bertemu dengan budak yang membunuh Hamzah, paman beliau, setelah ia masuk Islam?Jawaban:Nabi ﷺ pernah bertemu dengan Wahsyi—pembunuh Hamzah—ketika ia datang dalam keadaan telah masuk Islam. Peristiwa ini terjadi setelah penduduk Thaif masuk Islam.Wahsyi menceritakan:فَخَرَجْتُ مَعَهُمْ حَتَّى قَدِمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا رَآنِي قَالَ: أَنْتَ وَحْشِيٌّ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، “Aku keluar bersama mereka hingga tiba di hadapan Rasulullah ﷺ. Ketika beliau melihatku, beliau bertanya, ‘Apakah engkau Wahsyi?’Aku menjawab, ‘Ya.’قَالَ: أَنْتَ قَتَلْتَ حَمْزَةَ؟ قُلْتُ: قَدْ كَانَ مِنَ الْأَمْرِ مَا بَلَغَكَ، Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau yang membunuh Hamzah?’Aku menjawab, ‘Benar, sebagaimana yang telah sampai kepadamu.’قَالَ: فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تُغَيِّبَ وَجْهَكَ عَنِّي؟ قَالَ: فَخَرَجْتُ.Lalu beliau bersabda, ‘Apakah engkau bisa menjauhkan wajahmu dariku?’ Maka aku pun pergi (menjauh).”Wahsyi melanjutkan: “Ketika Rasulullah ﷺ telah wafat, muncul Musailamah Al-Kazzab. Aku berkata, ‘Aku akan keluar menghadapi Musailamah. Mudah-mudahan aku bisa membunuhnya sebagai balasan atas Hamzah.’Aku pun keluar bersama orang-orang. Terjadilah pertempuran sebagaimana yang terjadi. Tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki berdiri di celah dinding, seperti unta berwarna kelabu dengan rambut yang acak-acakan. Aku pun melemparnya dengan tombakku hingga menembus dadanya dan keluar dari punggungnya. Lalu seorang laki-laki dari kalangan Anshar melompat dan menebas kepalanya dengan pedang.”Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari.Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fathul Bari:Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika Wahsyi diperkenalkan kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,دَعُوهُ، فَلَإِسْلَامُ رَجُلٍ وَاحِدٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ قَتْلِ أَلْفِ كَافِرٍ.“Biarkan dia. Sungguh, masuk Islamnya satu orang lebih aku cintai daripada terbunuhnya seribu orang kafir.”Imam Ibnu Hajar memberikan beberapa kesimpulan:أَنَّ الْمَرْءَ يَكْرَهُ أَنْ يَرَى مَنْ أَوْصَلَ إِلَى قَرِيبِهِ أَوْ صَدِيقِهِ أَذًى، وَلَا يَلْزَمُ مِنْ ذَلِكَ وُقُوعُ الْهِجْرَةِ الْمَنْهِيِّ بَيْنَهُمَا، وَفِيهِ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا قَبْلَهُ. انْتَهَى.Dalam hadis ini terdapat pelajaran bahwa seseorang wajar merasa tidak suka melihat orang yang telah menyakiti kerabat atau orang yang ia cintai. Namun, hal itu tidak berarti terjadinya pemutusan hubungan yang terlarang di antara keduanya. Di dalamnya juga terdapat kaidah bahwa Islam menghapus dosa-dosa yang telah lalu. KesimpulanKisah Wahsyi mengajarkan satu pelajaran yang halus namun dalam: memaafkan tidak berarti luka harus langsung hilang, tetapi luka itu tidak boleh mendorong kita berbuat zalim atau menutup pintu taubat bagi orang lain.Nabi ﷺ menerima keislaman Wahsyi sepenuhnya — tidak membalas, tidak menghukumnya atas masa lalu — namun beliau juga jujur dengan perasaan beliau sebagai manusia. Di sinilah Islam tampak realistis: pemaafan itu mulia, dan perasaan manusiawi tetap diakui.Dari kisah ini kita belajar bahwa tingkatan memaafkan itu bertahap — dari sekadar tidak membalas, hingga berlapang dada, hingga menutup kesalahan sepenuhnya. Yang terpenting: teruslah bergerak naik menuju pemaafan yang lebih sempurna, sesuai kemampuan.Wallahu a’lam. Bahasan ini terdapat dalam buku kami yang baru “SENI MEMAAFKAN”. Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701 atau di Rumaysho Digital. ——- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 29 Syawal 1447 H, 17 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam Hamzah hati yang terluka kisah sahabat konflik keluarga maaf memaafkan memaafkan memaafkan dalam islam rumaysho seni memaafkan sifat Nabi taubat Wahsyi
Apakah memaafkan berarti hati harus langsung pulih dan melupakan semua luka? Kisah Nabi ﷺ dengan Wahsyi memberi pelajaran yang sangat halus: beliau menerima taubat, tetapi tetap jujur dengan perasaan beliau sebagai manusia. Dari kisah ini, kita belajar bahwa Islam mengajarkan rahmat, keadilan, dan ketulusan hati secara seimbang.  Daftar Isi tutup 1. Rasullah ﷺ Apakah Memaafkan Pembunuh Hamzah? 2. Kesimpulan  Rasullah ﷺ Apakah Memaafkan Pembunuh Hamzah?Apakah Rasulullah ﷺ menolak bertemu dengan budak yang membunuh Hamzah, paman beliau, setelah ia masuk Islam?Jawaban:Nabi ﷺ pernah bertemu dengan Wahsyi—pembunuh Hamzah—ketika ia datang dalam keadaan telah masuk Islam. Peristiwa ini terjadi setelah penduduk Thaif masuk Islam.Wahsyi menceritakan:فَخَرَجْتُ مَعَهُمْ حَتَّى قَدِمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا رَآنِي قَالَ: أَنْتَ وَحْشِيٌّ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، “Aku keluar bersama mereka hingga tiba di hadapan Rasulullah ﷺ. Ketika beliau melihatku, beliau bertanya, ‘Apakah engkau Wahsyi?’Aku menjawab, ‘Ya.’قَالَ: أَنْتَ قَتَلْتَ حَمْزَةَ؟ قُلْتُ: قَدْ كَانَ مِنَ الْأَمْرِ مَا بَلَغَكَ، Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau yang membunuh Hamzah?’Aku menjawab, ‘Benar, sebagaimana yang telah sampai kepadamu.’قَالَ: فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تُغَيِّبَ وَجْهَكَ عَنِّي؟ قَالَ: فَخَرَجْتُ.Lalu beliau bersabda, ‘Apakah engkau bisa menjauhkan wajahmu dariku?’ Maka aku pun pergi (menjauh).”Wahsyi melanjutkan: “Ketika Rasulullah ﷺ telah wafat, muncul Musailamah Al-Kazzab. Aku berkata, ‘Aku akan keluar menghadapi Musailamah. Mudah-mudahan aku bisa membunuhnya sebagai balasan atas Hamzah.’Aku pun keluar bersama orang-orang. Terjadilah pertempuran sebagaimana yang terjadi. Tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki berdiri di celah dinding, seperti unta berwarna kelabu dengan rambut yang acak-acakan. Aku pun melemparnya dengan tombakku hingga menembus dadanya dan keluar dari punggungnya. Lalu seorang laki-laki dari kalangan Anshar melompat dan menebas kepalanya dengan pedang.”Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari.Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fathul Bari:Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika Wahsyi diperkenalkan kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,دَعُوهُ، فَلَإِسْلَامُ رَجُلٍ وَاحِدٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ قَتْلِ أَلْفِ كَافِرٍ.“Biarkan dia. Sungguh, masuk Islamnya satu orang lebih aku cintai daripada terbunuhnya seribu orang kafir.”Imam Ibnu Hajar memberikan beberapa kesimpulan:أَنَّ الْمَرْءَ يَكْرَهُ أَنْ يَرَى مَنْ أَوْصَلَ إِلَى قَرِيبِهِ أَوْ صَدِيقِهِ أَذًى، وَلَا يَلْزَمُ مِنْ ذَلِكَ وُقُوعُ الْهِجْرَةِ الْمَنْهِيِّ بَيْنَهُمَا، وَفِيهِ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا قَبْلَهُ. انْتَهَى.Dalam hadis ini terdapat pelajaran bahwa seseorang wajar merasa tidak suka melihat orang yang telah menyakiti kerabat atau orang yang ia cintai. Namun, hal itu tidak berarti terjadinya pemutusan hubungan yang terlarang di antara keduanya. Di dalamnya juga terdapat kaidah bahwa Islam menghapus dosa-dosa yang telah lalu. KesimpulanKisah Wahsyi mengajarkan satu pelajaran yang halus namun dalam: memaafkan tidak berarti luka harus langsung hilang, tetapi luka itu tidak boleh mendorong kita berbuat zalim atau menutup pintu taubat bagi orang lain.Nabi ﷺ menerima keislaman Wahsyi sepenuhnya — tidak membalas, tidak menghukumnya atas masa lalu — namun beliau juga jujur dengan perasaan beliau sebagai manusia. Di sinilah Islam tampak realistis: pemaafan itu mulia, dan perasaan manusiawi tetap diakui.Dari kisah ini kita belajar bahwa tingkatan memaafkan itu bertahap — dari sekadar tidak membalas, hingga berlapang dada, hingga menutup kesalahan sepenuhnya. Yang terpenting: teruslah bergerak naik menuju pemaafan yang lebih sempurna, sesuai kemampuan.Wallahu a’lam. Bahasan ini terdapat dalam buku kami yang baru “SENI MEMAAFKAN”. Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701 atau di Rumaysho Digital. ——- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 29 Syawal 1447 H, 17 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam Hamzah hati yang terluka kisah sahabat konflik keluarga maaf memaafkan memaafkan memaafkan dalam islam rumaysho seni memaafkan sifat Nabi taubat Wahsyi


Apakah memaafkan berarti hati harus langsung pulih dan melupakan semua luka? Kisah Nabi ﷺ dengan Wahsyi memberi pelajaran yang sangat halus: beliau menerima taubat, tetapi tetap jujur dengan perasaan beliau sebagai manusia. Dari kisah ini, kita belajar bahwa Islam mengajarkan rahmat, keadilan, dan ketulusan hati secara seimbang.  Daftar Isi tutup 1. Rasullah ﷺ Apakah Memaafkan Pembunuh Hamzah? 2. Kesimpulan  Rasullah ﷺ Apakah Memaafkan Pembunuh Hamzah?Apakah Rasulullah ﷺ menolak bertemu dengan budak yang membunuh Hamzah, paman beliau, setelah ia masuk Islam?Jawaban:Nabi ﷺ pernah bertemu dengan Wahsyi—pembunuh Hamzah—ketika ia datang dalam keadaan telah masuk Islam. Peristiwa ini terjadi setelah penduduk Thaif masuk Islam.Wahsyi menceritakan:فَخَرَجْتُ مَعَهُمْ حَتَّى قَدِمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا رَآنِي قَالَ: أَنْتَ وَحْشِيٌّ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، “Aku keluar bersama mereka hingga tiba di hadapan Rasulullah ﷺ. Ketika beliau melihatku, beliau bertanya, ‘Apakah engkau Wahsyi?’Aku menjawab, ‘Ya.’قَالَ: أَنْتَ قَتَلْتَ حَمْزَةَ؟ قُلْتُ: قَدْ كَانَ مِنَ الْأَمْرِ مَا بَلَغَكَ، Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau yang membunuh Hamzah?’Aku menjawab, ‘Benar, sebagaimana yang telah sampai kepadamu.’قَالَ: فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تُغَيِّبَ وَجْهَكَ عَنِّي؟ قَالَ: فَخَرَجْتُ.Lalu beliau bersabda, ‘Apakah engkau bisa menjauhkan wajahmu dariku?’ Maka aku pun pergi (menjauh).”Wahsyi melanjutkan: “Ketika Rasulullah ﷺ telah wafat, muncul Musailamah Al-Kazzab. Aku berkata, ‘Aku akan keluar menghadapi Musailamah. Mudah-mudahan aku bisa membunuhnya sebagai balasan atas Hamzah.’Aku pun keluar bersama orang-orang. Terjadilah pertempuran sebagaimana yang terjadi. Tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki berdiri di celah dinding, seperti unta berwarna kelabu dengan rambut yang acak-acakan. Aku pun melemparnya dengan tombakku hingga menembus dadanya dan keluar dari punggungnya. Lalu seorang laki-laki dari kalangan Anshar melompat dan menebas kepalanya dengan pedang.”Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari.Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fathul Bari:Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika Wahsyi diperkenalkan kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,دَعُوهُ، فَلَإِسْلَامُ رَجُلٍ وَاحِدٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ قَتْلِ أَلْفِ كَافِرٍ.“Biarkan dia. Sungguh, masuk Islamnya satu orang lebih aku cintai daripada terbunuhnya seribu orang kafir.”Imam Ibnu Hajar memberikan beberapa kesimpulan:أَنَّ الْمَرْءَ يَكْرَهُ أَنْ يَرَى مَنْ أَوْصَلَ إِلَى قَرِيبِهِ أَوْ صَدِيقِهِ أَذًى، وَلَا يَلْزَمُ مِنْ ذَلِكَ وُقُوعُ الْهِجْرَةِ الْمَنْهِيِّ بَيْنَهُمَا، وَفِيهِ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا قَبْلَهُ. انْتَهَى.Dalam hadis ini terdapat pelajaran bahwa seseorang wajar merasa tidak suka melihat orang yang telah menyakiti kerabat atau orang yang ia cintai. Namun, hal itu tidak berarti terjadinya pemutusan hubungan yang terlarang di antara keduanya. Di dalamnya juga terdapat kaidah bahwa Islam menghapus dosa-dosa yang telah lalu. KesimpulanKisah Wahsyi mengajarkan satu pelajaran yang halus namun dalam: memaafkan tidak berarti luka harus langsung hilang, tetapi luka itu tidak boleh mendorong kita berbuat zalim atau menutup pintu taubat bagi orang lain.Nabi ﷺ menerima keislaman Wahsyi sepenuhnya — tidak membalas, tidak menghukumnya atas masa lalu — namun beliau juga jujur dengan perasaan beliau sebagai manusia. Di sinilah Islam tampak realistis: pemaafan itu mulia, dan perasaan manusiawi tetap diakui.Dari kisah ini kita belajar bahwa tingkatan memaafkan itu bertahap — dari sekadar tidak membalas, hingga berlapang dada, hingga menutup kesalahan sepenuhnya. Yang terpenting: teruslah bergerak naik menuju pemaafan yang lebih sempurna, sesuai kemampuan.Wallahu a’lam. Bahasan ini terdapat dalam buku kami yang baru “SENI MEMAAFKAN”. Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701 atau di Rumaysho Digital. ——- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 29 Syawal 1447 H, 17 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam Hamzah hati yang terluka kisah sahabat konflik keluarga maaf memaafkan memaafkan memaafkan dalam islam rumaysho seni memaafkan sifat Nabi taubat Wahsyi

Perang Hunain: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan

Perang Hunain merupakan salah satu peperangan besar dalam sirah Nabi ﷺ yang sarat dengan pelajaran iman dan tauhid. Pada awalnya kaum muslimin sempat terpukul mundur karena rasa bangga terhadap jumlah pasukan, hingga Allah ﷻ menegur mereka melalui peristiwa ini. Namun dengan keteguhan Rasulullah ﷺ dan pertolongan Allah, keadaan pun berbalik menjadi kemenangan yang nyata bagi kaum muslimin.Baca juga: Perang Hunain dalam Tafsir QS. At-Taubah 25–27: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan  Daftar Isi tutup 1. Jumlah Banyak Belum Tentu Menang 2. Allah Turunkan Sakinah pada Perang Hunain 3. Kaum Hawazin Masuk Islam 4. Kisah Dzul Khuwaishirah yang Menuntut Rasulullah untuk Adil 5. Pelajaran yang Dipetik dari Perang Hunain dan Pengepungan Thaif 5.1. Nasihat Mengenai Ngapal Berkah (Tabarruk)  Peperangan ini adalah Perang Hunain. Sebagian ulama menamakannya Perang Authas, dan sebagian lainnya menamakannya Perang Hawazin. Namun, penamaan yang digunakan dalam Al-Qur’an adalah Hunain.Perang Hunain dianggap sebagai kelanjutan dari penaklukan Mekah, dan merupakan salah satu dampaknya. Hal itu karena Perang Hunain terjadi sebagai konsekuensi dari penaklukan besar tersebut. Ketika suku Hawazin dan Tsaqif mengetahui apa yang menimpa Quraisy di Mekah, mereka pun mulai bersiap-siap dan mengumpulkan pasukan untuk memerangi Rasulullah ﷺ.Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui hal tersebut, sementara beliau masih berada di Mekah, beliau pun keluar untuk menemui mereka di Hunain. Keberangkatan beliau terjadi pada hari keenam bulan Syawal tahun kedelapan Hijriah.Rasulullah ﷺ menunjuk ‘Attab bin Asid radhiyallahu ‘anhu sebagai pemimpin di Mekah. Jumlah pasukan yang menyertai Rasulullah ﷺ adalah sepuluh ribu orang, ditambah dua ribu orang dari kalangan thulaqā’ (orang-orang Mekah yang dimaafkan). Pasukan kaum musyrikin dari Thaif berada di bawah pimpinan Malik bin ‘Auf An-Nadhri. Mereka bergabung dengan pasukan Hawazin dan Tsaqif seluruhnya, juga bergabung suku Nashr dan Jusham seluruhnya, serta Sa‘d bin Bakr dan sebagian orang dari Bani Hilal—jumlah mereka sedikit. Termasuk dari Bani Jusham adalah Duraid bin Ash-Shimmah, seorang syekh tua yang sudah sangat lanjut usia, yang sebenarnya tidak lagi memiliki kemampuan apa pun, kecuali sekadar dimintai pendapat karena pengalaman dan pengetahuannya tentang peperangan. Ia adalah seorang syekh yang telah banyak mengalami peperangan.Ketika Malik bin Auf mengumpulkan pasukan dan membawa mereka menuju Rasulullah ﷺ, ia juga mengikutsertakan harta benda, para wanita, dan anak-anak mereka. Ketika mereka singgah di Authas dan berkumpul di sana, Duraid bin Ash-Shimmah—yang berada di dalam sekedup (tandu) yang dibawanya—bertanya, “Di lembah apakah kita berada?” Mereka menjawab, “Di Authas.” Ia berkata, “Tempat yang bagus untuk medan pasukan berkuda. Tidak ada tanah keras yang melukai kaki, tidak pula tanah lunak yang membuat kuda terperosok. Namun, mengapa aku mendengar suara unta, ringkikan keledai, tangisan anak kecil, dan kambing yang mengembik?” Mereka menjawab, “Malik bin ‘Auf membawa serta harta, para wanita, dan anak-anak bersama pasukan.”Ia bertanya, “Di mana Malik?” Dijawab, “Ini Malik.” Malik pun dipanggil dan mendekat kepadanya. Duraid berkata, “Wahai Malik, sungguh engkau telah menjadi pemimpin kaummu. Hari ini adalah hari yang menentukan, dan setelah hari ini tidak ada hari lain bagimu. Mengapa aku mendengar suara unta, ringkikan keledai, tangisan anak kecil, dan kambing yang mengembik?” Malik menjawab, “Aku membawa mereka agar setiap orang berperang di belakang harta, wanita, dan anak-anak mereka.”Duraid berkata, “Celaka engkau! Apakah orang yang kalah bisa ditahan oleh sesuatu apa pun? Jika engkau menang, yang akan bermanfaat bagimu hanyalah seorang laki-laki dengan pedang dan tombaknya. Namun, jika engkau kalah, engkau akan dipermalukan bersama keluarga dan hartamu.” Malik berkata, “Demi Allah, aku tidak akan melakukan selain ini. Sungguh engkau telah tua dan akalmu pun telah melemah.”Duraid berkata, “Demi Allah, aku telah menyelamatkanmu dari kehinaan suku Hawazin. Seandainya aku masih mampu berdiri di atas kakiku, aku akan bertarung dengan pedang ini hingga keluar dari punggungku. Aku membenci jika Bani Jusham tidak memiliki pendapat atau pandangan dalam urusan ini.” Mereka berkata, “Berilah kami pendapatmu.” Maka Duraid bin Ash-Shimmah berkata, “Hari ini aku tidak melihat sesuatu yang aku persaksikan, dan aku tidak pula kehilangan akalku.”Jumlah orang yang berkumpul bersama Malik bin ‘Auf untuk memerangi Rasulullah ﷺ mencapai dua puluh ribu orang. Malik menempatkan mata-mata (pengintai)nya, lalu mata-mata itu datang kepadanya dalam keadaan kacau balau. Malik bertanya, “Celaka kalian, apa yang terjadi?” Mereka menjawab, “Kami melihat pasukan berkuda putih di atas kuda-kuda yang belang. Demi Allah, kami tidak mampu bertahan sejak pertama kali melihat mereka.” Malik tidak menghiraukan laporan itu dan tidak memedulikannya.Rasulullah ﷺ meminjam baju besi dan senjata dari Shafwan bin Umayyah, sementara Shafwan saat itu masih dalam keadaan musyrik. Shafwan berkata, “Apakah ini berarti engkau merampasnya, wahai Muhammad?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Bukan, ini pinjaman yang dijamin.” Maka Shafwan meminjamkan kepada Rasulullah ﷺ seratus baju besi.Pasukan ini merupakan pasukan Islam terbesar yang pernah keluar bersama Rasulullah ﷺ. Ketika sebagian kaum muslimin melihat banyaknya jumlah pasukan, ada seseorang yang berkata, “Hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah yang sedikit.” Perkataan itu memberatkan Rasulullah ﷺ. Lalu Allah Ta‘ala menurunkan firman-Nya:﴿لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ ۝ ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ﴾“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 25–26)Di tengah perjalanan, kaum muslimin melewati sebuah pohon milik kaum musyrikin yang disebut Dzat Anwath. Dari Abu Waaqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami keluar dari Mekah bersama Rasulullah ﷺ menuju Hunain. Orang-orang kafir memiliki sebuah pohon bidara tempat mereka berdiam dan menggantungkan senjata-senjata mereka, yang disebut Dzat Anwath.”Ia berkata, “Kami pun melewati sebuah pohon bidara yang hijau dan besar.” Maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzat Anwāṭ (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzat Anwāṭ.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Allāhu akbar! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian telah mengatakan seperti apa yang dikatakan kaum Musa.”ٱجْعَل لَّنَآ إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ ءَالِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ“Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)“.” (QS. Al-A‘rāf: 138)Rasulullah ﷺ melanjutkan, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian setahap demi setahap.”Rasulullah ﷺ kemudian mengutus ‘Abdullāh bin Abī Ḥadrad Al-Aslamī radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu. Dari ayahnya, ia berkata: “Ia datang membawa kabar tentang Hawāzin. Ia pun masuk ke tengah-tengah kaum itu dan mendapati mereka telah berkumpul seluruhnya untuk memerangi Rasulullah ﷺ. Ia lalu menyampaikan apa yang ia lihat kepada Rasulullah ﷺ.” Maka Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda, “Itu adalah rampasan kaum muslimin besok, insya Allah.”Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang akan mengawasi kita malam ini?”Anas bin Abī Murthid Al-Ghanawī radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu berkata, “Aku, wahai Rasulullah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Naiklah.” Maka ia pun menaiki kudanya dan segera datang menemui Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Hadapilah lembah ini hingga engkau berada di atasnya, dan jangan biarkan siapa pun mendatangi kita dari arahmu malam ini.”Ketika pagi tiba, Rasulullah ﷺ keluar menuju tempat salatnya dan melaksanakan dua rakaat. Setelah itu beliau bersabda, “Apakah kalian merasakan penjagaan sahabat kalian?”Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami tidak melihat sesuatu pun.”Maka Rasulullah ﷺ pun melaksanakan salat, dan beliau menoleh ke arah lembah itu hingga selesai salatnya. Kemudian beliau bersabda, “Bergembiralah, sungguh penjaga kalian telah datang.”Kami pun melihat ke arah lembah itu melalui sela-sela pepohonan. Ternyata ia telah datang, lalu berdiri di hadapan Rasulullah ﷺ dan memberi salam. Ia berkata, “Aku berangkat hingga aku berada di puncak lembah ini, tempat engkau memerintahkanku, wahai Rasulullah. Ketika dua lembah itu tampak jelas, aku pun melihat keduanya.”Kami memperhatikan, tetapi tidak melihat seorang pun. Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, “Apakah engkau turun pada malam hari?” Ia menjawab, “Tidak, kecuali hanya untuk melaksanakan salat atau menunaikan hajat.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Engkau telah menjalankan tugas dengan baik, maka jangan engkau lakukan apa pun setelah ini.”Kemudian Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanannya hingga sampai di Hunain. Sementara itu, Malik bin ‘Auf beserta pasukannya telah lebih dahulu tiba sebelum Rasulullah ﷺ. Mereka menyiapkan diri dan bersembunyi di celah-celah lembah serta di balik pepohonan. Rasulullah ﷺ datang bersama para sahabatnya hingga mereka turun ke lembah pada waktu subuh. Mereka tidak menyadari hal tersebut. Tiba-tiba Hawazin dan Tsaqif menyerang mereka dengan serangan serentak oleh satu orang, lalu orang-orang yang bersembunyi keluar dari celah-celah lembah dan tempat-tempat persembunyian mereka, serta menghujani kaum muslimin dengan anak panah. Urusan kaum muslimin pun menjadi kacau secara tiba-tiba.Mereka pun lari mundur dalam keadaan terpecah-belah, tidak menoleh ke arah mana pun. Namun Rasulullah ﷺ tetap teguh berdiri, bersama sebagian kecil kaum mukminin yang ada bersamanya. Rasulullah ﷺ berpaling ke arah kanan, lalu berseru, “Wahai manusia, kemarilah kepadaku! Aku adalah Rasulullah, aku adalah Muhammad bin ‘Abdullah.”Bersama beliau terdapat sekelompok orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar, sementara orang-orang yang tetap bertahan bersamanya tidak banyak. Di antara Ahlul Bait yang tetap bersamanya adalah Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Ali bin Abi Thalib, Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, putranya Al-Fadhl bin ‘Abbas, Abu Sufyan bin Al-Harits, Rabi‘ah bin Al-Harits, Aiman bin ‘Ubaid—yang merupakan putra Ummu Aiman—dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ta‘ala ‘anhum ajma‘in.Rasulullah ﷺ pun berseru, “Aku adalah Nabi, tidak ada dusta. Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.” Termasuk doa beliau saat itu adalah, “Ya Allah, jika Engkau menghendaki, maka Engkau tidak akan disembah setelah hari ini.”Dalam Shahih Muslim, dari Al-‘Abbas radhiyallahu ta‘ala ‘anhu, ia berkata: “Aku menyaksikan Perang Hunain bersama Rasulullah ﷺ. Aku dan Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib selalu bersama Rasulullah ﷺ dan tidak berpisah darinya. Rasulullah ﷺ berada di atas seekor bagal putih yang dihadiahkan oleh Farrukh bin Nafatsah Al-Judzami. Ketika kaum muslimin dan orang-orang kafir saling berhadapan, kaum muslimin pun mundur.”“Rasulullah ﷺ lalu memacu bagalnya ke arah orang-orang kafir. Aku memegang tali kekang bagal Rasulullah ﷺ, menahannya agar tidak melaju terlalu cepat, sementara Abu Sufyan memegang sanggurdi beliau. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Wahai ‘Abbas, panggillah para sahabat Samurah!’”Al-‘Abbas berkata: “Aku adalah seorang yang bersuara lantang. Aku pun berteriak sekeras-kerasnya, ‘Di mana para sahabat Samurah?’ Demi Allah, ketika mereka mendengar suaraku, suara itu terasa seperti suara sapi yang memanggil anaknya. Mereka pun menjawab, ‘Labbaik, labbaik!’ Lalu mereka bertempur melawan orang-orang kafir.”“Kemudian seruan dialihkan kepada kaum Anshar. Dikatakan, ‘Wahai kaum Anshar!’ Lalu seruan itu dikhususkan kepada Bani Al-Harits bin Al-Khazraj. Dikatakan, ‘Wahai Bani Al-Harits bin Al-Khazraj!’ Maka Rasulullah ﷺ memandang mereka, sementara beliau berada di atas bagalnya, seakan-akan beliau menjulang di atas mereka.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Sekaranglah panasnya peperangan.”Al-‘Abbas berkata: “Kemudian Rasulullah ﷺ mengambil segenggam kerikil dan melemparkannya ke wajah orang-orang kafir, lalu bersabda, ‘Hancurlah wajah-wajah itu!’ Aku pun pergi menyaksikan keadaan pertempuran, dan demi Allah, tidaklah beliau melempar mereka dengan kerikil itu, melainkan aku melihat mereka semua tercerai-berai dan urusan mereka pun kacau balau.” Jumlah Banyak Belum Tentu MenangAllah Ta’ala berfirman tentang Thalut,كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249)Baca juga: Kisah Thalut, Jalut, dan Nabi Daud: Ujian Kepemimpinan dan Kemenangan ImanNamun karena mereka bangga dengan jumlah yang banyak, Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِى مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)Ayat yang membicarakan kekalahan dalam perang Hunain terkait sejatinya dengan peringatan pada ayat sebelumnya,قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah:24)Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 27)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:Ibnu Juraij meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata: “Ini adalah ayat pertama yang turun dari Surah Barā’ah (At-Taubah).”Allah Ta‘ala menyebutkan kepada orang-orang beriman tentang karunia dan kebaikan-Nya kepada mereka, berupa pertolongan-Nya dalam banyak pertempuran yang mereka jalani bersama Rasul-Nya. Semua itu terjadi semata-mata dari sisi Allah Ta‘ala, dengan dukungan dan ketetapan-Nya, bukan karena jumlah mereka dan bukan pula karena banyaknya pasukan. Allah mengingatkan mereka bahwa kemenangan hanyalah dari sisi-Nya, baik jumlah kaum muslimin sedikit maupun banyak.Pada Perang Hunain, kaum muslimin sempat merasa kagum dengan banyaknya jumlah mereka. Namun ternyata, banyaknya jumlah itu sama sekali tidak memberi manfaat bagi mereka. Mereka pun berbalik melarikan diri, kecuali sedikit orang yang tetap bersama Rasulullah ﷺ. Setelah itu, Allah menurunkan pertolongan dan dukungan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada kaum mukminin yang bersamanya, sebagaimana akan dijelaskan secara terperinci—insyaallah—agar mereka mengetahui bahwa kemenangan itu benar-benar dari sisi Allah Ta‘ala semata, dengan pertolongan-Nya, meskipun jumlah pasukan sedikit.فكم من فئة قليلة غلبت فئة كثيرة بإذن الله ، والله مع الصابرين .Betapa sering kelompok yang sedikit mampu mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.Imam Ahmad berkata: “Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir, telah menceritakan kepada kami ayahku, aku mendengar Yunus menceritakan dari Az-Zuhri, dari ‘Ubaidullah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:خير الصحابة أربعة ، وخير السرايا أربعمائة ، وخير الجيوش أربعة آلاف ، ولن تغلب اثنا عشر ألفا من قلة .‘Sebaik-baik para sahabat itu berjumlah empat orang, sebaik-baik pasukan kecil (sariyyah) berjumlah empat ratus orang, dan sebaik-baik tentara berjumlah empat ribu orang. Dan dua belas ribu pasukan tidak akan terkalahkan karena sedikitnya jumlah.’”Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan gharib. Tidak ada seorang perawi besar pun yang meriwayatkannya secara bersambung kecuali Jarir bin Hazim. Riwayat yang masyhur dari Az-Zuhri adalah dari Nabi ﷺ secara mursal.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Al-Baihaqi, dan selain keduanya, dari Aktsam bin Al-Jaun, dari Rasulullah ﷺ dengan lafaz yang semakna. Dan Allah Maha Mengetahui.Peristiwa Perang Hunain terjadi setelah Fathu Makkah, tepatnya pada bulan Syawal tahun kedelapan Hijriah. Hal itu bermula ketika Rasulullah ﷺ telah selesai menaklukkan Makkah, urusan-urusannya telah tertata dengan baik, dan mayoritas penduduknya telah masuk Islam. Rasulullah ﷺ pun membebaskan mereka. Lalu sampai kepada beliau kabar bahwa suku Hawazin telah menghimpun kekuatan untuk memerangi beliau. Pemimpin mereka adalah Malik bin ‘Auf An-Nadhri, bersama seluruh kabilah Tsaqif, Bani Jusyam, Bani Sa‘d bin Bakr, sejumlah kelompok dari Bani Hilal—yang jumlahnya tidak banyak—serta sekelompok orang dari Bani ‘Amr bin ‘Amir dan ‘Auf bin ‘Amir.Mereka datang dengan membawa serta para wanita, anak-anak, kambing, dan unta, bahkan membawa seluruh harta dan keluarga mereka tanpa tersisa. Maka Rasulullah ﷺ keluar menemui mereka dengan pasukan yang beliau bawa saat Fathu Makkah, yaitu sepuluh ribu orang dari kalangan Muhajirin, Anshar, dan kabilah-kabilah Arab. Bersama beliau juga ikut orang-orang Makkah yang baru masuk Islam, yaitu para thulaqā’, yang jumlahnya sekitar dua ribu orang. Beliau pun bergerak bersama mereka menuju musuh.Kedua pasukan bertemu di sebuah lembah antara Makkah dan Thaif yang bernama Hunain. Pertempuran terjadi di sana pada awal pagi, saat suasana masih gelap menjelang subuh. Kaum muslimin menuruni lembah tersebut, sementara pasukan Hawazin telah bersembunyi di dalamnya. Ketika kedua pasukan saling berhadapan, kaum muslimin tiba-tiba diserbu. Mereka dihujani anak panah, pedang-pedang dihunus, dan pasukan musuh menyerang serentak sebagai satu kesatuan, sebagaimana perintah pemimpin mereka. Pada saat itulah kaum muslimin berbalik melarikan diri, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.Namun Rasulullah ﷺ tetap teguh berdiri. Saat itu beliau menaiki baghal (keledai besar) beliau yang berwarna putih keabu-abuan, mengarahkannya menuju pusat pasukan musuh. Paman beliau, Al-‘Abbas, memegang tali kekang sebelah kanan, dan Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib memegang sebelah kiri, keduanya menahan laju hewan itu agar tidak berjalan terlalu cepat. Rasulullah ﷺ menyerukan nama beliau dan mengajak kaum muslimin untuk kembali, seraya berkata,[ ويقول ] أين يا عباد الله ؟ إلي أنا رسول الله ، ويقول في تلك الحال “Ke mana kalian, wahai hamba-hamba Allah? Kembalilah kepadaku, aku adalah Rasulullah.” Pada saat itu beliau juga mengucapkan:أنا النبي لا كذب أنا ابن عبد المطلب“Aku adalah Nabi, tidak ada dusta.
Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.”وثبت معه من أصحابه قريب من مائة ، ومنهم من قال : ثمانون ، فمنهم : أبو بكر ، وعمر – رضي الله عنهما – والعباس وعلي ، والفضل بن عباس ، وأبو سفيان بن الحارث ، وأيمن بن أم أيمن ، وأسامة بن زيد ، وغيرهم – رضي الله عنهم –Bersama beliau saat itu tetap bertahan sekitar seratus orang dari para sahabat—ada pula yang mengatakan delapan puluh orang. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Al-‘Abbas, ‘Ali, Al-Fadhl bin Al-‘Abbas, Abu Sufyan bin Al-Harits, Aiman bin Ummu Aiman, Usamah bin Zaid, dan selain mereka radhiyallahu ‘anhum. ثم أمر – صلى الله عليه وسلم – عمه العباس – وكان جهير الصوت – أن ينادي بأعلى صوته : يا أصحاب الشجرة – يعني شجرة بيعة الرضوان ، التي بايعه المسلمون من المهاجرين والأنصار تحتها ، على ألا يفروا عنه – فجعل ينادي بهم : يا أصحاب السمرة ويقول تارة : يا أصحاب سورة البقرة ،Kemudian Rasulullah ﷺ memerintahkan pamannya, Al-‘Abbas—yang dikenal bersuara lantang—untuk menyeru dengan suara keras: “Wahai para pemilik pohon!” Maksudnya adalah pohon Bai‘at Ridwan, tempat kaum muslimin dari kalangan Muhajirin dan Anshar berbaiat di bawahnya untuk tidak lari meninggalkan beliau. Al-‘Abbas pun menyeru mereka dengan berkata: “Wahai para pemilik pohon samurah!” Terkadang ia juga berseru: “Wahai para pemilik Surah Al-Baqarah!” فجعلوا يقولون : يا لبيك ، يا لبيك ، وانعطف الناس فجعلوا يتراجعون إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – حتى إن الرجل منهم إذا لم يطاوعه بعيره على الرجوع ، لبس درعه ، ثم انحدر عنه ، وأرسله ، ورجع بنفسه إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – . فلما رجعت شرذمة منهم ، أمرهم عليه السلام أن يصدقوا الحملة ، وأخذ قبضة من التراب بعدما دعا ربه واستنصره ، وقال : Mereka pun menjawab, “Kami penuhi panggilanmu, kami penuhi panggilanmu.” Orang-orang mulai berbalik dan kembali menuju Rasulullah ﷺ. Bahkan ada di antara mereka yang, jika untanya tidak mau berbalik arah, ia mengenakan baju besinya, lalu turun dari untanya, melepaskannya, dan ia sendiri berlari kembali menuju Rasulullah ﷺ.Ketika sejumlah pasukan telah kembali, Rasulullah ﷺ memerintahkan mereka untuk melakukan serangan dengan sungguh-sungguh. Beliau lalu mengambil segenggam tanah setelah berdoa kepada Rabb-nya dan memohon pertolongan-Nya, seraya berkata:اللهم أنجز لي ما وعدتني “Ya Allah, penuhilah untukku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku.”ثم رمى القوم بها ، فما بقي إنسان منهم إلا أصابه منها في عينيه وفمه ما شغله عن القتال ، ثم انهزموا ، فاتبع المسلمون أقفاءهم يقتلون ويأسرون ، وما تراجع بقية الناس إلا والأسارى مجدلة بين يدي رسول الله – صلى الله عليه وسلم – Kemudian beliau melemparkan tanah itu ke arah musuh. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali tanah itu mengenai mata dan mulutnya, sehingga menyibukkan mereka dari pertempuran. Akhirnya mereka pun kalah dan melarikan diri.Kaum muslimin mengejar mereka, membunuh dan menawan. Tidaklah sisa pasukan kembali, melainkan para tawanan telah bergelimpangan di hadapan Rasulullah ﷺ.Dalam riwayat Imam Ahmad, dari Abu ‘Abdurrahman Al-Fihri—nama aslinya Yazid bin Usaid, ada pula yang mengatakan Yazid bin Anis, dan ada yang mengatakan Karz—ia berkata:‘Aku pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Hunain. Kami berjalan pada hari yang sangat terik dan panasnya amat menyengat. Kami pun singgah di bawah naungan pepohonan. Ketika matahari telah condong (ke barat), aku mengenakan baju besiku dan menaiki kudaku. Lalu aku berangkat menemui Rasulullah ﷺ, sementara beliau berada di dalam kemahnya. Aku berkata, “Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepadamu, wahai Rasulullah. Apakah sudah waktunya berangkat?” Beliau menjawab, “Ya.”Beliau lalu bersabda, “Wahai Bilal.” Maka Bilal segera bangkit dari bawah pohon samurah, seakan-akan naungannya adalah naungan seekor burung. Ia berkata, “Aku penuhi panggilanmu dan aku siap melayanimu, aku menebusmu dengan diriku.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Pelanakanlah kudaku.” Maka dikeluarkanlah sebuah pelana yang kedua sisinya terbuat dari serat, tidak ada kemewahan dan tidak ada kesombongan padanya.Pelana itu pun dipasangkan. Rasulullah ﷺ menaikinya, dan kami pun menaiki tunggangan kami. Kami berhadapan dengan musuh pada sore hari dan sepanjang malam. Kuda-kuda saling berhadapan, lalu kaum muslimin berbalik melarikan diri, sebagaimana yang difirmankan Allah ‘Azza wa Jalla: “Kemudian kalian berpaling melarikan diri.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Wahai hamba-hamba Allah, aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Wahai kaum Muhajirin, aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”Kemudian Rasulullah ﷺ meloncat turun dari kudanya, lalu mengambil segenggam tanah. Orang yang paling dekat denganku—yang melihat kejadian itu—mengabarkan kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ melemparkan tanah tersebut ke wajah mereka seraya bersabda, “Binasalah wajah-wajah itu.” Maka Allah ‘Azza wa Jalla pun mengalahkan mereka.Ya‘la bin ‘Atha’ berkata: “Anak-anak mereka menceritakan kepadaku, dari para ayah mereka, bahwa mereka berkata: ‘Tidak ada seorang pun dari kami yang tersisa, kecuali kedua matanya dan mulutnya penuh dengan tanah. Dan kami mendengar suara gemerincing antara langit dan bumi, seperti bunyi besi yang digesekkan pada bejana baru.’”Demikian pula hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hafizh Al-Baihaqi dalam kitab Dalā’il an-Nubuwwah, melalui riwayat Abu Dawud Ath-Thayalisi, dari Hammad bin Salamah, dengan sanad yang sama.Muhammad bin Ishaq berkata: “Telah menceritakan kepadaku ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah, dari ‘Abdurrahman bin Jabir, dari ayahnya, Jabir, dari ‘Abdullah,” ia berkata:Malik bin ‘Auf keluar bersama pasukannya menuju Hunain. Ia tiba lebih dahulu daripada Rasulullah ﷺ, lalu mereka menyiapkan diri dan bersiaga di tempat-tempat sempit serta lekuk-lekuk lembah. Rasulullah ﷺ pun datang bersama para sahabatnya, hingga mereka turun memasuki lembah pada saat pagi masih gelap. Ketika orang-orang mulai menuruni lembah itu, tiba-tiba pasukan berkuda musuh menyerbu ke arah mereka. Serangan itu terasa sangat berat, sehingga orang-orang pun berbalik lari tunggang-langgang, tidak ada seorang pun yang menoleh kepada yang lain.Rasulullah ﷺ pun bergerak ke arah kanan sambil berseru, “Wahai manusia, kemarilah kepadaku! Aku adalah Rasulullah! Aku adalah Rasulullah! Aku adalah Muhammad bin ‘Abdullah!” Namun tidak ada yang menyahut. Unta-unta pun saling bertubrukan satu sama lain. Ketika Rasulullah ﷺ melihat keadaan kaum muslimin seperti itu, beliau bersabda, “Wahai ‘Abbas, berserulah: Wahai kaum Anshar, wahai para pemilik pohon samurah!”Mereka pun menjawab, “Kami penuhi panggilanmu, kami penuhi panggilanmu.” Seseorang di antara mereka berusaha membelokkan untanya, namun tidak mampu. Maka ia pun melemparkan baju besinya ke lehernya, mengambil pedang dan busurnya, lalu menuju ke arah suara panggilan itu, hingga berkumpul di sekitar Rasulullah ﷺ sekitar seratus orang. Rasulullah ﷺ kemudian mengatur barisan mereka, lalu terjadilah pertempuran sengit.Pada awalnya seruan itu ditujukan kepada kaum Anshar, kemudian di akhir kepada kabilah Khazraj, dan mereka adalah orang-orang yang sangat tegar dalam peperangan. Rasulullah ﷺ pun menampakkan diri di atas tunggangannya dan melihat sengitnya pertempuran, lalu bersabda, “Sekarang benar-benar berkobarlah api peperangan.”Demi Allah, tidaklah orang-orang kembali, melainkan para tawanan telah tergeletak di hadapan Rasulullah ﷺ. Allah membinasakan siapa yang dibinasakan-Nya dari mereka, dan sebagian lainnya melarikan diri. Allah pun memberikan kepada Rasul-Nya harta dan anak-anak mereka sebagai rampasan.Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari hadits Syu‘bah, dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepadanya, “Wahai Abu ‘Umarah, apakah kalian lari meninggalkan Rasulullah ﷺ pada hari Hunain?” Ia menjawab, “Ya, tetapi Rasulullah ﷺ tidak lari. Sesungguhnya Hawazin adalah kaum pemanah. Ketika kami berjumpa dengan mereka dan menyerang mereka, mereka pun mundur. Lalu orang-orang sibuk mengumpulkan harta rampasan, maka pasukan Hawazin kembali menyerang kami dengan hujan anak panah, sehingga orang-orang pun berlarian. Sungguh aku melihat Rasulullah ﷺ, sementara Abu Sufyan bin Al-Harits memegang tali kekang baghal putih Rasulullah ﷺ, dan beliau berkata: ‘Aku adalah Nabi, tidak ada dusta. 
Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.’”Aku berkata: Ini merupakan puncak keberanian yang paling sempurna. Pada hari seperti itu, di tengah kancah pertempuran yang berkecamuk, ketika pasukannya telah tercerai-berai darinya, beliau tetap berada di atas seekor baghal yang bukan tunggangan cepat, tidak cocok untuk menyerang, mundur, ataupun melarikan diri. Namun dalam keadaan seperti itu, beliau justru mengarahkannya ke hadapan musuh dan menyebutkan nama beliau agar dikenal oleh siapa pun yang belum mengenalnya. Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau hingga hari kiamat.Semua itu tidak lain adalah karena keyakinan beliau kepada Allah, tawakal kepada-Nya, dan pengetahuan beliau bahwa Allah pasti akan menolongnya, menyempurnakan risalah yang diembankan kepadanya, dan memenangkan agamanya atas seluruh agama lainnya. Allah Turunkan Sakinah pada Perang HunainAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)Oleh karena itu, Allah Ta‘ālā berfirman:﴿ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ﴾Artinya, Allah menurunkan ketenangan dan keteguhan kepada Rasul-Nya.Dan firman-Nya:﴿وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ﴾Maksudnya, kepada orang-orang beriman yang bersama beliau.Dan firman-Nya:﴿وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا﴾Yaitu para malaikat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Abu Ja‘far bin Jarir.Ia berkata:Telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Al-Hasan bin ‘Arafah, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Al-Mu‘tamir bin Sulaiman, dari ‘Auf—yaitu Ibnu Abi Jamīlah Al-A‘rābi—ia berkata: aku mendengar ‘Abdurrahman, mantan budak Ibnu Baratsan, ia menceritakan kepadaku dari seorang lelaki yang berada di pihak orang-orang musyrik pada hari Perang Hunain. Lelaki itu berkata:“Ketika kami bertemu dengan para sahabat Rasulullah ﷺ pada hari Hunain, mereka sama sekali tidak mampu bertahan menghadapi kami, bahkan sekejap pun. Ketika kami berhasil memukul mundur mereka, kami terus mengejar mereka hingga akhirnya kami sampai kepada seorang laki-laki yang berada di atas seekor bagal putih. Ternyata dia adalah Rasulullah ﷺ.Di dekat beliau, kami disambut oleh orang-orang berpakaian putih, berwajah tampan. Mereka berkata kepada kami: ‘Semoga wajah-wajah kalian menjadi buruk! Kembalilah!’Maka kami pun langsung lari tunggang-langgang. Mereka menaiki tengkuk-tengkuk kami, dan kekalahan itu pun menimpa kami.”Al-Ḥāfiẓ Abu Bakr Al-Baihaqi berkata:Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Al-Ḥāfiẓ, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ahmad bin Bālawaih, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Al-Hasan Al-Harbi, telah menceritakan kepada kami ‘Affān bin Muslim, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wāḥid bin Ziyād, telah menceritakan kepada kami Al-Ḥārith bin Ḥuṣairah, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya, ia berkata:Ibnu Mas‘ūd radhiyallahu ‘anhu berkata:“Aku bersama Rasulullah ﷺ pada hari Perang Hunain. Ketika itu orang-orang tercerai-berai meninggalkan beliau, dan yang tersisa bersama beliau hanyalah delapan puluh orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Kami maju ke depan dan tidak membelakangi musuh. Merekalah orang-orang yang Allah turunkan kepada mereka ketenangan.Rasulullah ﷺ berada di atas bagalnya dan terus maju. Bagalnya sempat menyimpang sehingga beliau hampir miring dari pelana. Aku berkata: ‘Bangkitlah, semoga Allah meninggikanmu.’Beliau bersabda: ‘Berikan kepadaku segenggam tanah.’ Aku pun memberikannya. Lalu beliau melemparkan tanah itu ke wajah mereka, hingga mata-mata mereka penuh dengan debu.Kemudian beliau bersabda: ‘Di mana kaum Muhajirin dan Anshar?’Aku menjawab: ‘Mereka ada di sana.’Beliau bersabda: ‘Panggil mereka!’Aku pun memanggil mereka. Mereka datang dengan pedang-pedang terhunus di tangan kanan mereka, seakan-akan kilatan cahaya. Maka orang-orang musyrik pun membalikkan badan mereka dan lari.”Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari ‘Affān, dengan lafaz yang hampir sama.Al-Walīd bin Muslim berkata:Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullāh bin al-Mubārak, dari Abū Bakr al-Hudzalī, dari ‘Ikrimah—mantan budak Ibnu ‘Abbās—dari Syaibah bin ‘Utsmān, ia berkata:“Ketika aku melihat Rasulullah ﷺ pada hari Perang Hunain dalam keadaan terbuka (tidak terlindungi), aku teringat ayah dan pamanku yang terbunuh oleh ‘Ali dan Hamzah. Maka aku berkata dalam hatiku: ‘Hari ini aku akan menuntut balasku darinya.’Aku pun bergerak hendak mendatanginya dari sisi kanan. Namun tiba-tiba aku melihat al-‘Abbās bin ‘Abdul Muththalib berdiri, mengenakan baju besi putih seperti perak, debu pertempuran menyingkapinya. Aku berkata: ‘Itu pamannya, ia pasti tidak akan membiarkannya.’Lalu aku mendatanginya dari sisi kiri, ternyata di sana ada Abū Sufyān bin al-Ḥārith bin ‘Abdul Muththalib. Aku berkata: ‘Itu sepupunya, ia pun tidak akan membiarkannya.’Aku pun mendatanginya dari arah belakang. Tidak tersisa lagi bagiku kecuali mengayunkan pedang kepadanya. Tiba-tiba muncul di hadapanku nyala api di antara aku dan dia, seperti kilat. Aku takut api itu akan membakarku, maka aku menutup mataku dengan tanganku dan mundur perlahan.Rasulullah ﷺ lalu menoleh kepadaku dan bersabda: ‘Wahai Syaibah, wahai Syaibah, mendekatlah kepadaku. Ya Allah, hilangkanlah setan darinya.’Aku pun mengangkat pandanganku ke arah beliau. Saat itu, beliau menjadi lebih aku cintai daripada pendengaran dan penglihatanku sendiri. Lalu beliau bersabda: ‘Wahai Syaibah, perangilah orang-orang kafir.’”Karena itulah Allah Ta‘ālā berfirman:﴿ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ﴾“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26) Kaum Hawazin Masuk IslamAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 26)Allah benar-benar telah menerima tobat sisa kaum Hawāzin. Mereka masuk Islam dan datang menemui Rasulullah ﷺ dalam keadaan sebagai kaum muslimin. Mereka menyusul beliau ketika beliau telah mendekati Mekah, tepatnya di Ji‘rānah, sekitar dua puluh hari setelah peristiwa perang.Pada saat itu, Rasulullah ﷺ memberi mereka pilihan antara mengambil kembali para tawanan mereka atau mengambil kembali harta-harta mereka. Mereka memilih para tawanan mereka. Jumlah tawanan itu sekitar enam ribu orang, terdiri dari anak-anak dan para perempuan. Maka Rasulullah ﷺ mengembalikan seluruh tawanan itu kepada mereka.Adapun harta rampasan perang, beliau membagikannya kepada para prajurit yang ikut berperang. Beliau juga memberikan tambahan pemberian (nafal) kepada sebagian orang dari golongan ṭulaqā’ (orang-orang yang baru masuk Islam setelah Fathu Mekah), dengan tujuan melembutkan hati mereka agar semakin kokoh dalam Islam. Beliau memberi mereka masing-masing seratus ekor unta.Di antara orang yang diberi seratus ekor unta tersebut adalah Mālik bin ‘Auf an-Naḍrī. Rasulullah ﷺ bahkan mengangkatnya kembali sebagai pemimpin atas kaumnya sebagaimana sebelumnya. Karena itu, Mālik bin ‘Auf memuji Rasulullah ﷺ dengan sebuah qasidah yang di antaranya berbunyi:Aku tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar
di tengah seluruh manusia seseorang seperti Muhammad.Paling menepati janji dan paling banyak memberi,
bila diminta kebaikan; dan kapan pun engkau kehendaki,
ia mampu mengabarkan apa yang akan terjadi esok hari.Jika pasukan telah menampakkan taring-taringnya,
dengan tombak-tombak lurus dan pedang-pedang tajam,Maka ia laksana singa di tengah anak-anaknya,
tenang di tengah debu peperangan, siap mengintai musuh. Kisah Dzul Khuwaishirah yang Menuntut Rasulullah untuk AdilKemudian datanglah utusan dari Hawazin yang telah masuk Islam di Ji‘ranah. Mereka berbicara kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, kami memiliki keluarga dan kerabat. Kami telah tertimpa musibah yang tidak tersembunyi bagimu. Maka berilah kami sebagian dari apa yang Allah berikan kepadamu.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَبْنَاؤُكُمْ وَنِسَاؤُكُمْ أَحَبُّ إِلَيْكُمْ أَمْ أَمْوَالُكُمْ؟”“Anak-anak dan wanita kalian lebih kalian cintai atau harta kalian?”Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, engkau memberi kami pilihan antara harta dan keluarga kami, maka kami memilih agar wanita dan anak-anak kami dikembalikan kepada kami. Itu lebih kami cintai.”Beliau bersabda kepada mereka,“أَمَّا مَا كَانَ لِي وَلِبَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَهُوَ لَكُمْ”“Adapun yang menjadi bagianku dan bagian Bani Abdul Muththalib, maka itu untuk kalian.”Kemudian beliau berkata, “Jika aku telah selesai salat Zuhur bersama manusia, maka berdirilah kalian dan katakan: ‘Kami memohon syafaat kepada Rasulullah kepada kaum muslimin, dan kepada kaum muslimin agar membantu kami dalam urusan wanita dan anak-anak kami.’”Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai salat Zuhur bersama manusia, mereka pun berdiri dan menyampaikan apa yang diperintahkan kepada mereka. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَمَّا مَا كَانَ لِي وَلِبَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَهُوَ لَكُمْ”“Adapun yang menjadi bagianku dan bagian Bani Abdul Muththalib, maka itu untuk kalian.”Kaum Muhajirin berkata, “Apa yang menjadi bagian kami, maka itu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Al-Aqra‘ bin Habis berkata, “Adapun aku dan Bani Tamim, tidak.”‘Uyainah bin Hishn berkata, “Adapun aku dan Bani Fazarah, tidak.”Al-‘Abbas bin Mirdas berkata, “Adapun aku dan Bani Sulaim, tidak.”Namun Bani Sulaim berkata, “Bahkan, apa yang menjadi bagian kami, maka itu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَمَّا مَنْ تَمَسَّكَ مِنْكُمْ بِحَقِّهِ مِنْ هَذَا السَّبْيِ فَلَهُ بِكُلِّ إِنْسَانٍ سِتُّ فَرَائِضَ مِنْ أَوَّلِ سَبْيٍ أُصِيبَهُ”“Adapun siapa di antara kalian yang tetap mempertahankan haknya dari tawanan ini, maka baginya setiap satu orang (yang ia lepaskan) akan diganti dengan enam bagian dari tawanan pertama yang akan kami dapatkan.”Maka mereka pun mengembalikan anak-anak dan wanita kepada kaum tersebut.Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Ji‘ranah, sementara di tangan Bilal ada pakaian, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil darinya untuk dibagikan kepada manusia. Lalu orang itu berkata, “Wahai Muhammad, berlakulah adil!”Beliau bersabda,“وَيْلَكَ، وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ؟ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ”“Celakalah engkau! Siapa yang akan berlaku adil jika aku tidak berlaku adil? Sungguh engkau akan rugi dan merugi jika aku tidak berlaku adil.”Maka Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku membunuh orang munafik ini.”Beliau bersabda,“مَعَاذَ اللَّهِ، أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي”“Aku berlindung kepada Allah dari ucapan orang-orang bahwa aku membunuh para sahabatku.”Beliau melanjutkan,“إِنَّ هَذَا وَأَصْحَابَهُ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنْهُ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ”“Sesungguhnya orang ini dan pengikutnya membaca Al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari sasarannya.”Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan harta kepada orang-orang Quraisy dan kabilah Arab lainnya, sementara kaum Anshar tidak mendapatkan bagian, maka sebagian dari mereka merasakan sesuatu dalam hati mereka, hingga salah seorang dari mereka berkata, “Demi Allah, Rasulullah telah menemui kaumnya.”Maka Sa‘d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum Anshar merasakan sesuatu dalam hati mereka terhadap apa yang engkau lakukan, yaitu engkau membagi kepada kaummu dan memberikan pemberian besar kepada kabilah Arab, sementara kaum Anshar tidak mendapatkan bagian apa pun.”Beliau bersabda, “Di manakah posisi engkau dalam hal ini, wahai Sa‘d?”Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, aku hanyalah bagian dari kaumku.”Beliau bersabda, “Kumpulkanlah kaummu di tempat ini.”Maka Sa‘d mengumpulkan kaum Anshar di tempat tersebut. Setelah mereka berkumpul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di tengah mereka, memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu bersabda:“يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، مَا قَالَةٌ بَلَغَتْنِي عَنْكُمْ؟”“Wahai kaum Anshar, apa ucapan yang sampai kepadaku dari kalian?”Mereka menjawab, “Adapun orang-orang bijak di antara kami, wahai Rasulullah, mereka tidak mengatakan apa-apa. Namun sebagian dari kami yang masih muda berkata: ‘Semoga Allah mengampuni Rasulullah, beliau memberi kepada Quraisy dan meninggalkan kami, sementara pedang kami masih meneteskan darah mereka.’”Maka beliau bersabda,“أَلَمْ آتِكُمْ ضُلَّالًا فَهَدَاكُمُ اللَّهُ، وَعَالَةً فَأَغْنَاكُمُ اللَّهُ، وَأَعْدَاءً فَأَلَّفَ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ؟”“Bukankah dahulu kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi kalian petunjuk, kalian dalam keadaan miskin lalu Allah mencukupkan kalian, dan kalian saling bermusuhan lalu Allah menyatukan hati kalian?”Mereka menjawab, “Benar, Allah dan Rasul-Nya lebih banyak memberi karunia dan keutamaan.”Beliau bersabda,“أَلَا تُجِيبُونِي يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ؟”“Mengapa kalian tidak menjawabku, wahai kaum Anshar?”Mereka berkata, “Apa yang harus kami katakan, wahai Rasulullah? Bagi Allah dan Rasul-Nya segala karunia dan keutamaan.”Beliau bersabda,“أَمَا وَاللَّهِ لَوْ شِئْتُمْ لَقُلْتُمْ فَلَصَدَقْتُمْ وَلَصُدِّقْتُمْ: أَتَيْتَنَا مُكَذَّبًا فَصَدَّقْنَاكَ، وَمَخْذُولًا فَنَصَرْنَاكَ…”“Demi Allah, seandainya kalian mau, kalian bisa mengatakan—dan kalian benar—: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu; engkau datang dalam keadaan ditinggalkan, lalu kami menolongmu lalu kalian menolongku, aku datang dalam keadaan terusir lalu kalian melindungiku, dan dalam keadaan miskin lalu kalian mencukupkanku.”“Wahai kaum Anshar, apakah kalian merasakan sesuatu dalam hati kalian karena sedikit bagian dunia yang dengannya aku ingin melunakkan hati suatu kaum agar mereka masuk Islam, sementara aku menyerahkan keislaman kalian (tanpa diberi bagian dunia)? Tidakkah kalian ridha, wahai kaum Anshar, bahwa manusia kembali dengan kambing dan unta, sedangkan kalian kembali membawa Rasulullah ke tempat tinggal kalian?”“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya bukan karena hijrah, niscaya aku termasuk bagian dari kaum Anshar. Jika manusia menempuh suatu jalan dan kaum Anshar menempuh jalan lain, pasti aku akan menempuh jalan kaum Anshar. Ya Allah, rahmatilah kaum Anshar, anak-anak Anshar, dan cucu-cucu Anshar.”Maka kaum itu pun menangis hingga janggut mereka basah, dan mereka berkata, “Kami ridha dengan Rasulullah sebagai bagian kami dan pembagian yang kami terima.”Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pergi, dan mereka pun berpisah. Pelajaran yang Dipetik dari Perang Hunain dan Pengepungan ThaifPertama: Sesungguhnya Allah dengan taufik-Nya mengatur urusan hamba-hamba-Nya yang beriman, bersikap lembut kepada mereka, dan melindungi mereka dari tipu daya orang-orang kafir. Allah menjadikan apa yang Dia kehendaki sebagai harta rampasan bagi kaum muslimin.Tidaklah Rasulullah ﷺ keluar menghadapi kekuatan besar kaum Quraisy di Makkah, kecuali karena Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati kaum Hawazin, sehingga mereka berhenti bergerak untuk memerangi Rasulullah ﷺ. Bahkan Allah menjadikan mereka menghadapi Rasulullah ﷺ dengan membawa serta wanita-wanita dan harta-harta mereka berupa unta dan kambing yang jumlahnya hanya diketahui oleh Allah.Semua itu terjadi agar harta rampasan tersebut menjadi milik kaum muslimin, yang dengannya Rasulullah ﷺ dapat menggunakannya untuk melembutkan dan menautkan hati serta mengobati luka batin penduduk Makkah, setelah mereka mengalami kekalahan besar yang sangat melukai perasaan mereka.Pada fase dakwah ini, Rasulullah ﷺ sangat membutuhkan upaya penaklukan hati, sementara beliau sendiri tidak memiliki apa-apa, bahkan sampai harus meminjam baju besi dari Shafwan. Maka datanglah harta-harta rampasan dan kekayaan yang besar ini, lalu Rasulullah ﷺ menggunakannya untuk menundukkan hati para pemimpin yang sebelumnya telah “hilang akal sehatnya” (karena kebencian dan permusuhan).Mahasuci Allah, Sang Pengatur segala urusan dan Pembolak-balik hati sesuai kehendak-Nya. Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.Kedua: Peristiwa Rasulullah ﷺ meminjam baju besi dari Shafwan bin Umayyah mengandung beberapa pelajaran, di antaranya:Keterbatasan sarana material yang dimiliki pasukan Rasulullah ﷺ, hingga beliau harus meminjam senjata dari seorang musyrik.Bolehnya seorang imam atau pemimpin meminjam senjata milik orang musyrik untuk memerangi musuh. Peristiwa ini termasuk salah satu bentuk isti‘ānah (meminta bantuan).Barang pinjaman (al-‘āriyah) itu bersifat tanggungan, meskipun barang yang dipinjam tersebut adalah milik orang musyrik, meski dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha.Ketiga: Malik an-Nadhri mengutus seorang mata-mata sebagai pemimpin pasukan Tsaqif dan Hawazin agar ia mengamati langsung keadaan Rasulullah ﷺ dan berita tentang pasukan kaum muslimin.Ketika mata-mata itu kembali kepada Malik, terlihat jelas pada wajahnya tanda-tanda ketakutan dan kegentaran. Maka Malik bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami melihat para lelaki yang berpakaian putih, menaiki kuda-kuda hitam pekat. Demi Allah, kami sama sekali tidak mampu bertahan, dan apa yang kami alami benar-benar tidak terbayangkan.”Malik pun tidak mampu menolak atau menghalangi mereka dari tujuan dan niat tersebut.Peristiwa ini merupakan salah satu bentuk rasa takut (ar-ru‘b) yang Allah berikan sebagai pertolongan kepada Rasul-Nya ﷺ dan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا ﴾“Dan Dia menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka; sebagian mereka kalian bunuh dan sebagian yang lain kalian tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)Dan Allah Ta‘ala juga berfirman:﴿ سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا ۖ وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ ۖ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ ﴾“Akan Kami tanamkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan dalil tentang itu. Tempat mereka adalah neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang zalim.” (QS. Ali ‘Imran: 151)Dan Rasulullah ﷺ bersabda:«نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ»“Aku ditolong dengan rasa takut (yang ditanamkan ke dalam hati musuh).” (HR. Bukhari dan Muslim)Keempat: Ketika ada seorang laki-laki dari kaum muslimin berkata, “Kita tidak akan dikalahkan hari ini karena jumlah yang sedikit,” Rasulullah ﷺ tidak menyukai ucapan tersebut, karena beliau mengetahui akibat buruk dari perkataan semacam itu. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran sebagai berikut:1. Ucapan satu orang saja, sebagaimana disebutkan oleh para ahli sirah, bisa menjadi sebab datangnya musibah besar yang menimpa seluruh pasukan secara keseluruhan. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya waspada agar tidak mendatangkan bencana bagi komunitasnya atau keluarganya akibat keburukan yang muncul dari perbuatannya atau ucapannya.2. Meskipun hanya satu kalimat, namun dengan sebab itulah bencana terjadi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:«إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ» “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu kata, yang ia tidak memperhatikan akibatnya, lalu karena kata itu ia tergelincir ke dalam neraka sejauh jarak antara timur.” (HR. Bukhari dan Muslim)3. Ini menunjukkan kelemahan tabiat manusia dan cepatnya ia tertipu oleh rasa bangga. Seseorang bisa saja, ketika melihat banyaknya jumlah pasukan, merasa kagum, tertipu oleh kekuatan semu itu, lalu membesarkan dirinya dan merasa yakin akan kemenangan. Ia pun mengucapkan kalimat tersebut, yang muncul dari kelemahan manusiawi yang kadang menimpa seorang hamba dalam kondisi tertentu, ketika ia tidak selalu menghadirkan rasa takwa kepada Allah, pengawasan-Nya, ketundukan kepada-Nya, serta kesadaran atas nikmat-nikmat-Nya.4. Besarnya bahaya perkara ini, karena berkaitan langsung dengan akidah. Seorang muslim, di antara bentuk ibadah terbesar yang ia lakukan, adalah tunduk kepada Allah, bersyukur atas nikmat-Nya, dan waspada dari kelalaian dalam hal ini. Hendaknya ia menyadari bahwa rasa ujub (bangga diri) dan masuknya kesombongan ke dalam hati termasuk dosa-dosa besar yang dapat membinasakan.5. Besarnya bahaya perkara ini juga ditunjukkan oleh hukuman yang terjadi secara langsung, serta ayat-ayat yang turun untuk menegur umat agar mereka mengambil pelajaran untuk masa depan mereka. Karena itu, ucapan semacam ini tidak boleh dianggap remeh. Abu Bakar al-Jazā’irī rahimahullah berkata dalam penjelasannya: “Haramnya merasa kagum terhadap diri sendiri, terhadap amal, atau terhadap kekuatan. Sebab, akibat dari sikap tersebut adalah kekalahan kaum mukminin pada awal pertempuran mereka melawan musuh.”6. Pada peristiwa ini juga terdapat pelajaran akidah yang sangat penting. Jika Perang Badar telah menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang sedikit tidak membahayakan mereka di hadapan musuh-musuh mereka apabila mereka bersabar, bertakwa, dan hati mereka bergantung kepada Allah Ta’ala, maka Perang Hunain menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang banyak pun tidak akan memberi manfaat sedikit pun, apabila hati mereka tidak bergantung kepada Allah Ta’ala. Perang Hunain telah menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang banyak pun tidak akan memberi manfaat apa pun, apabila hati mereka tidak bergantung kepada Allah.Kelima: Dalam ucapan sebagian orang yang diucapkan di hadapan Rasulullah ﷺ: “Jadikanlah untuk kami dzātu anwāṭ sebagaimana mereka memiliki dzātu anwāṭ,” terdapat beberapa pelajaran penting, di antaranya:Orang-orang yang mengucapkan kalimat tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh perawi hadits Abu Wāqid al-Laitsī radhiyallāhu ‘anhu, adalah orang-orang yang baru saja keluar dari kekafiran. Mereka termasuk orang-orang yang baru masuk Islam setelah penaklukan Makkah atau sesudahnya, dan bukan dari kalangan sahabat yang telah lebih dahulu masuk Islam. Karena itu, perkara seperti ini tidak mungkin muncul dari para sahabat terdahulu, dan tidak pantas disangka atau dituduhkan kepada mereka. Semoga Allah Ta‘ālā meridai mereka semua.Kewajiban bersikap sangat waspada terhadap kesyirikan. Orang-orang tersebut tidak bermaksud menggantungkan diri kepada pohon sebagaimana praktik orang-orang musyrik, namun Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ucapan mereka serupa dengan ucapan para pengikut Nabi Musa, yaitu: “Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan.” Maka perhatikanlah bagaimana cara melakukan tabarruk (mencari berkah), memohon keberkahan, beribadah, dan mendekatkan diri kepada yang diberkahi. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam sebuah perjalanan, lalu kami kehabisan air. Rasulullah ﷺ bersabda:«اطْلُبُوا فَضْلَةً مِنْ مَاءٍ»“Carilah sisa air.”Lalu didatangkan sebuah bejana yang di dalamnya terdapat sedikit air. Rasulullah ﷺ memasukkan tangannya ke dalam bejana itu, kemudian bersabda:«حَيَّ عَلَى الطَّهُورِ الْمُبَارَكِ، وَالْبَرَكَةُ مِنَ اللَّهِ» “Marilah kepada air bersuci yang diberkahi, dan keberkahan itu berasal dari Allah.” Yakni, keberkahan tidak diminta kecuali dari Allah semata, tidak dari selain-Nya. Dialah Allah —dengan mematahkan anggapan keliru— tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia.Pintu tabarruk termasuk pintu terbesar yang melaluinya kesyirikan masuk ke tengah manusia. Awalnya, orang-orang mengagungkan para ulama dan orang-orang saleh, lalu meminta doa kepada mereka. Setelah itu, mereka mulai mengusap-usap (tabarruk) kepada mereka, dan meyakini bahwa para tokoh tersebut memiliki kemampuan memberi keberkahan karena kesalehan dan kedudukan mereka di sisi Allah. Ketika mereka terus-menerus meminta keberkahan kepada orang-orang tersebut, muncullah praktik tabarruk kepada para wali dan orang-orang saleh, kemudian tabarruk kepada kuburan, bahkan berkembang menjadi tabarruk kepada pepohonan dan batu-batuan. Semua ini merupakan penyimpangan yang besar.Meminta Keberkahan kepada Allah SemataKeberkahan diminta dari Zat yang memilikinya, bukan dari yang tidak memilikinya. Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau sangat mencintainya dan berharap keberkahan ada di dalamnya, lalu beliau berdoa kepada Allah Subḥānahu. Dalam hadits Abu Sa‘īd al-Khudrī radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:«اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ مَعَ الْبَرَكَةِ بَرَكَتَيْنِ» (1)“Ya Allah, berkahilah kota Madinah kami. Ya Allah, berkahilah sha‘ kami. Ya Allah, berkahilah mudd kami. Ya Allah, berkahilah kota Madinah kami. Ya Allah, jadikanlah keberkahan itu berlipat ganda.”Beliau berdoa agar Allah memberikan keberkahan pada Madinah, makanan pokok mereka, dan takaran mereka. Maka, jika Rasulullah ﷺ sendiri meminta keberkahan dari Allah, sudah seharusnya kita tidak meminta keberkahan kecuali kepada Allah.Adapun meminta keberkahan kepada selain-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang meminta keberkahan dengan menggantungkan senjata mereka pada pohon, maka perbuatan itu sama dengan ucapan “Jadikanlah untuk kami sesembahan”, dan berarti menjadikan tandingan bagi Allah.Maka orang-orang seperti ini harus diberi peringatan keras, diarahkan untuk kembali kepada Allah, dan dicegah dari mencari keberkahan dengan cara yang menyimpang, sebagaimana mereka juga dicegah dari penyimpangan dalam seluruh bentuk ibadah lainnya. Nasihat Mengenai Ngapal Berkah (Tabarruk)Maka seharusnya orang-orang seperti ini sadar dan kembali kepada Allah. Hendaknya mereka bersungguh-sungguh dalam mencari keberkahan hanya kepada-Nya, sebagaimana mereka bersungguh-sungguh dalam berbagai bentuk ibadah lainnya.1. Perhatikan apa yang diminta oleh mereka kepada Rasulullah ﷺ.Mereka berkata, “Jadikanlah untuk kami Dzātu Anwāṭ sebagaimana mereka memiliki Dzātu Anwāṭ.”Dalam Fathul Majīd dijelaskan bahwa maksudnya, mereka tidak meminta agar dibuatkan sesembahan selain Allah—karena mereka tentu lebih paham dan lebih mulia dari itu—tetapi mereka hanya meminta sebuah pohon yang diberi izin oleh Nabi untuk mereka bertabarruk (mengambil berkah darinya), dengan cara menggantungkan senjata-senjata mereka di sana, tanpa melakukan shalat atau sedekah untuknya.Namun Nabi ﷺ menjelaskan bahwa permintaan mereka untuk bertabarruk tersebut—meskipun tidak disertai shalat atau sedekah—tetap termasuk syirik itu sendiri. Di dalamnya terdapat bantahan terhadap syubhat kaum musyrik di zaman ini yang mengira bahwa apa yang mereka lakukan berupa tabarruk dan pengagungan adalah sesuatu yang tidak mengapa.2. Apa yang mereka minta bukanlah syirik kecil.Seandainya Nabi ﷺ mengabulkannya, tentu itu serupa dengan ucapan Bani Israil kepada Nabi mereka, “Jadikanlah untuk kami sesembahan.” Demi Allah, itu termasuk syirik besar. Namun Bani Israil tidak langsung dikafirkan karena permintaan tersebut, sebab mereka baru saja meninggalkan kekafiran dan masuk ke dalam Islam. Selain itu, mereka tidak sampai melakukannya dan tidak memaksakan permintaan tersebut, melainkan hanya sekadar meminta kepada Nabi ﷺ.3. Kaidah bahwa ibadah itu harus berdasarkan perintah syariat sudah tertanam dalam diri para sahabat.Para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang mengajukan permintaan tersebut tidak serta-merta melakukannya sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Mereka tidak langsung mengamalkannya, tetapi terlebih dahulu mendatangi Rasulullah ﷺ. Sebab mereka mengetahui bahwa setiap ibadah harus memiliki landasan syariat sebelum diamalkan, agar seseorang tidak terjatuh ke dalam perbuatan bid’ah, yaitu beribadah kepada Allah tanpa dasar yang telah Dia tetapkan.Keenam: Wajib berhati-hati dari menyerupai orang-orang kafir.Hal ini karena Rasulullah ﷺ telah menjelaskan hal tersebut dalam sabdanya:لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَذْوَ الْقُذَّةِ بِالْقُذَّةِ“Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, setahap demi setahap.”Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim waspada dan tidak meniru orang-orang kafir. Bahkan, yang menjadi kewajibannya adalah berhati-hati dari menyerupai mereka dalam seluruh urusan mereka, serta mewaspadai ajakan untuk mengikuti hawa nafsu dan penyimpangan umat-umat terdahulu.Menyerupai orang-orang kafir juga termasuk salah satu sebab terbesar munculnya berbagai bid’ah. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa sikap menyerupai orang kafir itulah yang mendorong Bani Israil untuk meminta kepada Nabi Musa agar dibuatkan bagi mereka sesembahan sebagaimana kaum kafir memiliki sesembahan yang mereka sembah.Demikian pula, sikap menyerupai orang kafir itulah yang mendorong sebagian sahabat Nabi Muhammad ﷺ—yang saat itu masih baru masuk Islam—untuk meminta agar dibuatkan bagi mereka sebuah pohon yang mereka jadikan tempat mencari berkah selain Allah.Dan inilah kenyataan yang terjadi pada hari ini. Sebagian kaum muslimin meniru orang-orang kafir dalam melakukan bid’ah dan perbuatan syirik. Salah satu sebab paling menonjol dari penyimpangan tersebut adalah sikap menyerupai orang-orang kafir. Ketujuh: Mengambil pelajaran tentang pentingnya optimisme (tafā’ul).Ketika Rasulullah ﷺ mengutus ‘Abdullah bin Abī Ḥadrad radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu dan ayahnya untuk mendatangi pasukan Tsaqīf, lalu ia kembali dan mengabarkan bahwa ia melihat kaum wanita, keluarga, anak-anak, serta hewan ternak mereka ikut bersama pasukan itu—yang maksud mereka adalah untuk menunjukkan keteguhan dan agar tidak lari saat pertempuran—maka hal itu tentu merupakan sesuatu yang menakutkan bagi pasukan yang menghadapinya.Namun Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda, “Itu adalah harta rampasan kaum muslimin esok hari, insya Allah.” Dari peristiwa ini kita mengambil pelajaran tentang sikap optimis.Sepanjang kehidupan Rasulullah ﷺ dipenuhi dengan optimisme. Dalam kondisi apa pun, beliau selalu melihat dari sisi yang membawa harapan. Beliau tidak terpengaruh oleh kumpulan pasukan Tsaqīf, bahkan mengucapkan kata-kata optimis yang didengar oleh para sahabat radhiyallāhu ‘anhum. Ucapan itu membangkitkan harapan, menyemangati jiwa, dan meneguhkan hati.Sebab jiwa manusia, ketika diingatkan pada kekuatan dan jumlah besar musuh, bisa saja merasa gentar. Namun ketika diberi harapan tentang kemenangan dan ganimah yang besar, maka ia akan berani dan maju. Apalagi ketika gambaran tentang harta rampasan itu seakan-akan sudah tampak di depan mata.Sikap seperti ini juga tampak pada peristiwa ketika Rasulullah ﷺ kembali dari mendatangi Banī Qurayẓah pada hari Perang Aḥzāb. Saat itu para sahabat—di antaranya Sa‘d bin Mu‘ādz, Sa‘d bin ‘Ubādah, ‘Abdullah bin Rawāḥah, dan Khawwāt bin Jubair radhiyallāhu ‘anhum—yang diutus untuk memastikan apakah Banī Qurayẓah telah melanggar perjanjian, kembali dan mengabarkan bahwa mereka benar-benar telah mengkhianati perjanjian.Maka Rasulullah ﷺ mengangkat kepalanya dan bersabda:«أَبْشِرُوا يَا مَعْشَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِنَصْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَعَوْنِهِ»“Bergembiralah wahai kaum mukminin, dengan pertolongan dan bantuan Allah Ta‘ālā.”Ketika keadaan semakin sulit dan musuh semakin berkumpul, hati pun semakin bergantung kepada Allah, dan pertolongan pun datang. Rasulullah ﷺ sangat perhatian pada hari itu untuk menebarkan ketenangan dan optimisme di hadapan para sahabat radhiyallāhu ‘anhum. Kedelapan: Di antara pelajaran dari serangan mendadak orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin, kekacauan barisan mereka, lalu kekalahan yang mereka alami — dan tidak ada yang tetap tegar bersama Rasulullah ﷺ kecuali sedikit dari kalangan mukminin — terdapat pelajaran praktis bagi kaum Muslimin di setiap zaman dan tempat: janganlah kalian tertipu oleh kekuatan kalian dan jangan pula oleh jumlah yang kalian miliki.Sebagian kaum Muslimin ketika itu berkata, “Hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah yang sedikit.” Namun ternyata mereka mengalami kekalahan pada awal pertemuan dengan musuh. Peristiwa ini menjadi pendidikan dan pembinaan bagi hati agar tidak berpaling kepada selain Allah. Jika hati berpaling kepada selain-Nya, maka akibatnya akan seperti yang terjadi pada pasukan Hunain di awal pertempuran.Allah Ta’ala berfirman:لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ“Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak medan peperangan, dan (ingatlah) pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak membuat kalian bangga, tetapi jumlah itu tidak memberi manfaat sedikit pun bagi kalian. Bumi yang luas terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berbalik ke belakang dengan lari tunggang-langgang.” (QS. At-Taubah: 25)Setelah pelajaran itu benar-benar terwujud dan pesan pun sampai, manusia memahami secara nyata bahwa kekuatan dan jumlah mereka tidak akan bermanfaat jika Allah tidak menolong mereka. Jika Allah Jalla Sya’nuhu tidak memberikan pertolongan, maka tidak akan turun kemenangan dari sisi-Nya.Allah — Mahatinggi dan Mahamulia — tidak akan menyia-nyiakan hamba-hamba-Nya yang beriman. Dialah yang berperang dengan pertolongan-Nya, anugerah-Nya, dan kebaikan-Nya.Sebagaimana firman-Nya:وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ“Dan menjadi kewajiban atas Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum: 47)Namun setelah Allah memperlihatkan kepada kaum mukminin secara nyata keadaan mereka tanpa pertolongan-Nya, barulah pertolongan itu datang dari sisi Allah. Allah Ta’ala berfirman:ثُمَّ أَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)Adapun keadaan kita hari ini — realitas kita tercerai-berai dan hati kita belum bergantung kepada Allah sebagaimana mestinya — maka kita perlu memahami pelajaran ini dengan baik agar keadaan kita menjadi lurus. Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.Kesembilan: Firman Allah Ta’ala: “Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak medan peperangan, dan (ingatlah) pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak membuat kalian bangga, tetapi jumlah itu tidak memberi manfaat sedikit pun bagi kalian. Bumi yang luas terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berbalik ke belakang dengan lari tunggang-langgang. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 25–26)Ath-Thahir bin ‘Asyur rahimahullah berkata, “Penyandaran pertolongan secara tegas kepada Allah Ta’ala bertujuan untuk menampakkan tanda kecintaan Allah, meskipun di dalamnya terdapat sebagian kepentingan dunia. Di dalamnya terdapat bagian akhirat, dan juga bagian dunia berupa kemenangan yang menguatkan persatuan, menghasilkan ghanimah, serta melindungi umat dari serangan musuh-musuhnya. Semua itu termasuk karunia Allah, karena mereka melihat kecintaan-Nya dalam urusan-urusan dunia mereka.”Beliau juga berkata, “Penyebutan secara khusus hari Hunain di antara hari-hari peperangan lainnya, karena kaum Muslimin sempat mengalami kekalahan pada awalnya, kemudian kemenangan kembali kepada mereka. Penyebutan ini mengandung pelajaran bahwa kemenangan diraih ketika menaati perintah Allah dan Rasul-Nya ﷺ, sedangkan kekalahan terjadi ketika lebih mengutamakan keuntungan dunia yang segera daripada ketaatan.”Kesepuluh: Seruan Al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhu kepada para sahabat Baiat Syajarah, juga kepada kaum Muhajirin dan Anshar, lalu kembalinya mereka.Tidak lama setelah peristiwa itu, para pasukan yang sempat mundur kembali berkumpul di sekitar Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa larinya mereka tidaklah jauh. Itu hanyalah kekacauan dan kepanikan sesaat. Mereka masih berada cukup dekat sehingga dapat mendengar suara panggilan.Kemudian terjadi pendidikan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, lalu datang keteguhan yang bersumber dari Allah dan pertolongan-Nya. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama mengatakan bahwa dalam hadis ini terdapat dalil bahwa mundurnya mereka tidaklah jauh dan tidak semua pasukan benar-benar melarikan diri. Yang mundur hanyalah orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, dari kalangan penduduk Makkah yang baru masuk Islam (mualaf) dan orang-orang musyrik Makkah yang belum benar-benar beriman.Kekalahan itu datang secara tiba-tiba. Mereka dihujani anak panah sekaligus dan bercampur dengan sebagian penduduk Makkah yang imannya belum kokoh. Di antara mereka ada wanita dan anak-anak yang ikut keluar untuk mencari harta rampasan, sehingga mereka berada di barisan depan. Ketika panah-panah beterbangan, mereka pun berbalik dan lari. Namun akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ketenangan kepada kaum mukminin, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.”Kesebelas: Ketika Al-‘Abbas memanggil para sahabat Baiat Syajarah dan menyeru kaum Anshar, mereka segera menyambut dan kembali kepada Rasulullah ﷺ. Bahkan sebagian mereka tidak mampu membalikkan unta yang ditungganginya, sehingga ia turun dan meninggalkannya, lalu kembali kepada Rasulullah ﷺ dengan senjatanya.Hal ini menegaskan kewajiban untuk segera menyambut seruan Rasulullah ﷺ dan mengingatkan kita pentingnya bersegera memenuhi perintah beliau begitu kita mendengar dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah.Kedua belas: Kita melihat bahwa Rasulullah ﷺ, yang sangat lembut dan penyayang terhadap orang-orang beriman, tidak mencela seorang pun dari mereka yang sempat mundur. Ketika Ummu Salim radhiyallahu ‘anha berkata tentang orang-orang yang lari, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mencukupi dan memperbaiki keadaan.”Artinya, beliau tidak menegur mereka dengan celaan, karena peristiwa itu telah berlalu dan tidak ada jalan untuk mengulanginya, terlebih dalam kondisi perang yang memang menimbulkan guncangan jiwa. Rasulullah ﷺ memuliakan para sahabatnya dengan tidak mengungkit kesalahan itu. Demikianlah sikap yang baik: memaafkan, melapangkan dada, dan tidak berlebihan dalam menyalahkan seorang Muslim atas kesalahan yang sudah tidak mungkin diperbaiki. Seorang Muslim hendaknya memberi ruang bagi sebagian uzur dalam hal semacam itu.Ketiga belas: Disyariatkannya doa dan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah yang dilakukan Rasulullah ﷺ, khususnya ketika keadaan menjadi genting. Pada Perang Hunain, beliau memohon pertolongan kepada Rabb-nya dan bersungguh-sungguh dalam doa agar kaum Muslimin diberi kemenangan atas orang-orang musyrik.Pertolongan itu datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kembalinya Rasulullah ﷺ kepada Rabb-nya dalam situasi yang sulit tersebut menjadi faktor paling kuat dalam mengubah jalannya pertempuran sehingga berpihak kepada kaum Muslimin.Keempat belas: Disyariatkannya berdoa dan mengarahkan diri kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ; beliau menempuh jalan tersebut, terlebih ketika keadaan menjadi sulit. Saat itu beliau memohon kepada Rabb-nya dan bersungguh-sungguh dalam doa agar kaum Muslimin memperoleh kemenangan atas kaum musyrikin.Pertolongan itu datang dari sisi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Ketika Rasulullah ﷺ menghadapkan diri kepada Rabb-nya dalam situasi yang berat tersebut, hal itu menjadi faktor paling kuat yang mengubah jalannya peperangan sehingga berpihak kepada kaum Muslimin.Kelima belas: Ketika Rasulullah ﷺ melihat seorang wanita yang terbunuh, beliau melarang pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak. Inilah salah satu prinsip peperangan dalam Islam. Ini juga termasuk wasiat Rasulullah ﷺ yang terus berlaku bagi pasukan kaum Muslimin.Sebagaimana disebutkan dalam Musnad Imam Aḥmad — semoga Allah merahmatinya — dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā, ia berkata:“Apabila Rasulullah ﷺ mengirim pasukan, beliau bersabda,‘Keluarlah kalian dengan menyebut nama Allah. Berperanglah di jalan Allah melawan orang yang kafir kepada Allah. Jangan berkhianat, jangan melampaui batas, jangan melakukan mutilasi, dan jangan membunuh anak-anak, serta jangan pula membunuh para penghuni tempat ibadah.’Ketika beliau mengutus pasukan untuk memerangi Ibnu Abī al-Ḥuqayq dan para sahabatnya di daerah Khaybar, az-Zuhrī berkata:Ibnu Ka‘b bin Mālik mengabarkan kepadaku dari pamannya — radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu — bahwa Nabi ﷺ ketika mengutus mereka kepada Ibnu Abī al-Ḥuqayq di Khaybar, beliau melarang mereka membunuh wanita dan anak-anak.Dengan demikian, peperangan dalam Islam adalah peperangan yang memiliki akhlak. Bahkan ketika menghadapi musuh yang memerangi kaum Muslimin, tetap tidak boleh ada kezaliman, tidak boleh melampaui batas, tidak boleh melakukan kerusakan, dan tidak boleh seseorang menanggung kesalahan orang lain.Hal ini juga menunjukkan tingginya kedudukan hak asasi manusia dalam Islam, meskipun orang tersebut adalah seorang kafir. Allah Ta‘ālā berfirman:۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’: 70)Islam menghormati manusia sebagai manusia, apa pun agama dan keyakinannya, bahkan dalam keadaan perang. Maka bagaimana lagi dalam keadaan damai dan kehidupan bermasyarakat?Peperangan dalam Islam adalah perang yang mulia. Seorang Muslim tidak meninggalkan prinsip-prinsip luhur tersebut. Oleh karena itu, wanita dan anak-anak tidak memiliki peran dalam peperangan, sehingga mereka harus dilindungi dan tidak boleh dibunuh, kecuali jika seorang wanita benar-benar ikut serta dalam peperangan. Ia juga tidak menanggung dosa orang lain.Barang siapa menjaga hak perempuan secara khusus dan hak manusia secara umum dalam keadaan perang dan pertempuran, tentu ia lebih layak lagi menjaga hak-hak manusia dalam keadaan damai.Islam telah mengangkat tinggi hak manusia hingga kita melihat dengan jelas bahwa hak-hak manusia dalam Islam merupakan salah satu poros tujuan syariat Islam. Sementara itu, seluruh dunia menyaksikan berbagai pelanggaran terhadap hak kaum Muslimin yang terjadi di berbagai tempat, bahkan di sebagian masyarakat yang mengaku modern: terjadi pembunuhan massal, penghancuran kota-kota dan rumah-rumah penduduk, tanpa membedakan antara wanita, anak-anak, orang tua, dan para pejuang yang terlibat dalam peperangan.Padahal Rasulullah ﷺ pernah melewati seorang wanita yang terbunuh pada waktu perang — hanya satu orang wanita saja — lalu beliau mengingkari perbuatan tersebut dan melarang pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak.Karena itu para ulama fikih menyatakan:“Diharamkan membunuh wanita dan anak-anak selama mereka tidak ikut berperang.”Keenam belas: Khalid bin Al-Walid radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu termasuk orang yang ikut serta dalam Perang Hunain. Ketika itu beliau berada di garis depan, namun ia mengalami luka. Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui hal itu, beliau segera menuju kemahnya untuk menanyakan keadaannya. Setelah menemukannya, beliau menanyakan kondisinya, melihat lukanya, dan mengobatinya.Padahal Rasulullah ﷺ memimpin pasukan yang besar, namun beliau tetap memeriksa keadaan para sahabatnya, menanyakan kabar mereka, dan memperhatikan mereka satu per satu.Kemudian Khalid — meskipun mengalami luka-luka — tetap ikut serta dalam Perang Thaif. Siapa pun yang membaca kisah ini akan merasa kagum melihat bagaimana Khalid radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu tetap melanjutkan perjalanan menuju Thaif dan turut serta dalam pengepungan kota tersebut. Ia tidak ingin kehilangan pahala jihad sedikit pun, meskipun ia mengalami luka yang sebenarnya bisa menjadi alasan baginya untuk tidak ikut.Hal ini mengingatkan kita pada peristiwa setelah salah satu peperangan, ketika Rasulullah ﷺ mengejar orang-orang kafir Quraisy hingga sampai di Hamrā’ al-Asad. Saat itu para sahabat radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhum juga mengalami luka yang besar, namun mereka tidak tertinggal dan tetap ikut bersama beliau. Tentang mereka turun firman Allah Ta‘ālā:ٱلَّذِينَ ٱسْتَجَابُوا۟ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ مِنۢ بَعْدِ مَآ أَصَابَهُمُ ٱلْقَرْحُ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ مِنْهُمْ وَٱتَّقَوْا۟ أَجْرٌ عَظِيمٌ“(Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.” (QS. Ali Imran: 172)Ketujuh belas: Ketika Rasulullah ﷺ tidak mampu menaklukkan benteng Thaif, dikatakan kepada beliau, “Doakanlah kebinasaan bagi mereka.” Namun beliau justru mendoakan agar mereka mendapat hidayah dan tidak mendoakan keburukan bagi mereka. Inilah bentuk sempurna dari kasih sayang dan rahmat beliau ﷺ.Baca juga: Sudahlah Maafkanlah Dia Agar Allah Memaafkan KitaPadahal penduduk Thaif telah menyakiti Rasulullah ﷺ dan mengusir beliau ketika datang mengajak mereka kepada Allah. Bahkan mereka melempari beliau dengan batu. Namun demikian, beliau tetap mendoakan agar mereka mendapat hidayah, padahal mereka adalah musuh-musuh Allah. Hal ini menunjukkan besarnya rasa sayang dan kepedulian beliau ﷺ kepada umatnya.Allah pun mengabulkan doa beliau. Setelah itu mereka datang dalam keadaan telah memeluk Islam tanpa melalui penderitaan atau kesulitan.Demikianlah seharusnya seorang muslim: ia menasihati karena Allah dan berusaha menjauhi sikap membalas dendam terhadap dirinya sendiri. Ia tidak mendoakan keburukan bagi orang yang memusuhinya, tetapi justru mendoakan agar musuhnya mendapat hidayah kepada Islam.Jika engkau berselisih dengan seseorang—baik orang dekat maupun jauh—maka yang lebih utama adalah mendoakan agar Allah memberinya hidayah. Dengan begitu engkau memperoleh pahala, mampu mengalahkan godaan setan, hawa nafsu, dan ego diri, serta kedudukanmu di sisi Allah akan terangkat. Perbuatan ini juga membersihkan hati dan memperbaiki batin. Namun sikap seperti ini sering kali jarang kita lakukan dalam banyak keadaan.Baca juga: Memaafkan Seperti Allah dengan Tetap MelupakanKedelapan belas: Jika ada seseorang yang berdalil dengan hadits ini ketika Rasulullah ﷺ diminta untuk mendoakan kebinasaan bagi kabilah Tsaqif, lalu beliau justru berkata:اللَّهُمَّ اهْدِ ثَقِيفًا“Ya Allah, berilah hidayah kepada Tsaqif.”Kemudian orang itu menyimpulkan bahwa tidak boleh mendoakan keburukan bagi orang kafir, karena Rasulullah ﷺ tidak mendoakan kebinasaan bagi Tsaqif dan malah mendoakan hidayah bagi mereka, serta tidak memenuhi permintaan sebagian sahabat—semoga Allah meridai mereka—yang meminta agar didoakan kebinasaan bagi mereka.Pendapat ini juga dikuatkan oleh hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata: Ath-Thufail bin ‘Amr datang bersama para sahabatnya dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kabilah Daus telah kafir dan menolak. Maka doakanlah kebinasaan bagi mereka.” Lalu dikatakan, “Binasalah Daus.” Namun Rasulullah ﷺ justru berdoa:اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ“Ya Allah, berilah hidayah kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka (kepada Islam).”Jawabannya adalah bahwa dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga terdapat hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ pernah berdoa:اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ، وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ“Ya Allah, perkeraslah hukuman-Mu atas kabilah Mudhar, dan jadikanlah bagi mereka tahun-tahun paceklik seperti tahun-tahun yang terjadi pada masa Nabi Yusuf.”Karena itu, yang benar adalah menggabungkan kedua jenis hadits tersebut. Imam Al-Bukhari memasukkan hadits tentang doa untuk kabilah Daus dalam Shahih-nya pada bab “Doa bagi orang-orang musyrik agar mendapatkan hidayah dan agar hati mereka dilunakkan.”Baca juga: Karamah Said bin Zaid yang Doanya Mustajab Hingga Seorang Wanita Zalim CelakaIbnu Hajar rahimahullah menjelaskan tentang judul bab tersebut: kata “liya’tilafahum” (agar hati mereka dilunakkan) menunjukkan bahwa Nabi ﷺ terkadang mendoakan keburukan bagi mereka dan terkadang mendoakan kebaikan bagi mereka. Keadaan pertama terjadi ketika kejahatan mereka semakin kuat dan gangguan mereka semakin besar. Adapun keadaan kedua adalah ketika diharapkan mereka akan mendapatkan hidayah dan hati mereka dapat dilunakkan, sebagaimana yang terjadi pada kisah kabilah Daus.Baca juga: Karamah Wali, Luar Biasanya Doa Sa’ad bin Abi WaqqashIbnu Al-Mulaqqin rahimahullah berkata: Nabi ﷺ sangat menyukai masuknya manusia ke dalam Islam. Karena itu beliau tidak tergesa-gesa mendoakan keburukan bagi mereka selama masih ada harapan mereka akan menerima Islam. Bahkan beliau mendoakan kebaikan bagi orang yang diharapkan mau menerima dakwah.Adapun terhadap orang yang tidak lagi diharapkan keislamannya dan dikhawatirkan bahaya serta kekuatannya, maka beliau mendoakan keburukan atasnya. Sebagaimana beliau pernah mendoakan agar mereka ditimpa tahun-tahun paceklik seperti masa Nabi Yusuf. Beliau juga mendoakan keburukan bagi para pemuka Quraisy karena banyaknya gangguan dan permusuhan mereka. Doa itu pun dikabulkan terhadap mereka, hingga mereka terbunuh dalam Perang Badar. Sebagaimana banyak pula orang yang dahulu beliau doakan agar mendapat hidayah, kemudian benar-benar masuk Islam.Hal ini memberi petunjuk kepada kita tentang satu prinsip penting dalam memahami sirah Nabi ﷺ. Agar kita dapat mengambil pelajaran yang benar dari peristiwa-peristiwa dalam sirah, kita perlu mengumpulkan berbagai kejadian, membandingkannya satu sama lain, lalu mengambil kesimpulan dari keseluruhannya.Sebab, sebagian peristiwa bisa saja berkaitan dengan keadaan tertentu, sementara yang lain berkaitan dengan keadaan yang berbeda. Ada yang bersifat khusus dan ada yang bersifat umum. Ada pula yang terjadi lebih dahulu dan ada yang terjadi kemudian, dan seterusnya.Kesembilan belas: Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hikmah ditundanya penaklukan Thaif:Hikmah Ilahi menghendaki agar penaklukan itu ditunda secara sengaja supaya mereka tidak langsung dibinasakan dengan peperangan. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa ketika Nabi ﷺ keluar dari Thaif—setelah beliau mengajak mereka kepada Allah dan meminta perlindungan agar dapat menyampaikan risalah Rabbnya—peristiwa itu terjadi setelah wafatnya pamannya, Abu Thalib. Namun mereka justru menolak dan mendustakan beliau.Beliau pun kembali dalam keadaan sangat sedih. Beliau tidak dapat beristirahat kecuali ketika sampai di Qarn Ats-Tsa‘alib. Di sana beliau diliputi awan. Kemudian Jibril memanggilnya bersama malaikat penjaga gunung. Malaikat itu berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Rabbmu menyampaikan salam kepadamu. Dia telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan bagaimana mereka menolakmu. Jika engkau menghendaki, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung ini.”Namun Rasulullah ﷺ menjawab, “Tidak. Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”Ucapan beliau ini menunjukkan bahwa beliau berharap benteng mereka tidak dibuka saat itu sehingga mereka tidak dibinasakan. Penaklukan itu ditunda agar mereka datang kemudian dalam keadaan telah memeluk Islam, yaitu pada bulan Ramadhan pada tahun berikutnya.Kedua puluh: Asy-Syami rahimahullah menjelaskan hikmah pemberian harta kepada orang-orang yang dilunakkan hatinya (al-mu’allafatu qulubuhum).Baca juga: Hukum Zakat untuk Non-Muslim: Bolehkah Disalurkan?Hikmah Allah Ta’ala menghendaki bahwa harta rampasan dari orang-orang kafir—setelah diperoleh—dibagikan kepada orang-orang yang iman belum benar-benar kokoh di dalam hati mereka. Hal ini dilakukan karena tabiat manusia memang mencintai harta. Dengan pemberian tersebut, hati mereka menjadi tenang dan kecintaan mereka terhadap Islam semakin kuat.Karena itulah Rasulullah ﷺ memberikan bagian yang besar kepada orang-orang yang baru masuk Islam atau kepada orang yang diharapkan akan masuk Islam. Sementara sebagian tokoh kaum Muhajirin dan pemimpin kaum Anshar tidak diberi bagian dari pemberian tersebut, meskipun mereka juga berhak mendapatkannya. Hal itu karena iman mereka sudah kuat dan tidak membutuhkan penguatan melalui pemberian harta.Jika mereka diberi bagian sebagaimana para mu’allaf itu, maka dikhawatirkan hati orang-orang yang baru masuk Islam tidak akan tertarik. Padahal pemberian tersebut bertujuan agar mereka semakin mantap dalam Islam dan agar orang lain mengikuti mereka untuk masuk Islam. Maka pemberian itu merupakan kemaslahatan yang besar.Kedua puluh satu: Dari peristiwa ini kita juga dapat mengambil pelajaran tentang ketajaman pandangan Rasulullah ﷺ dan kedalaman pemahaman beliau terhadap tabiat manusia serta hal-hal yang dapat memperbaikinya.Beliau memberikan hadiah-hadiah yang besar dan pemberian yang melimpah kepada orang-orang yang sebelumnya memusuhi beliau dan masih belum memeluk Islam. Beliau juga memberikan hadiah kepada orang-orang yang ingin beliau lunakkan hatinya agar mereka mendapat hidayah dan memeluk Islam.Baca juga: 21 Faedah tentang HadiahHasilnya pun sesuai dengan yang diharapkan oleh Rasulullah ﷺ. Orang-orang yang diberi pemberian itu akhirnya masuk Islam dan menjadi baik keislamannya. Bahkan mereka kemudian menjadi pembela Islam yang jujur dan kuat.Upaya melunakkan hati dengan harta tidak hanya dilakukan oleh pemimpin negara. Individu pun dapat melakukannya. Misalnya pemilik usaha yang memiliki pekerja nonmuslim, atau seseorang yang memiliki pembantu, sopir, atau pegawai yang belum masuk Islam. Ia dapat berusaha melunakkan hati mereka melalui kebaikan dan pemberian. Sebab manusia secara tabiat mencintai orang yang berbuat baik kepadanya. Jika seseorang mencintai orang lain, ia akan senang memenuhi keinginannya dan membuatnya bahagia. Karena itu ketika orang tersebut mengajaknya kepada Islam, ia akan lebih cepat menerima ajakan tersebut.Kedua puluh dua: Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu termasuk orang yang baru masuk Islam. Rasulullah ﷺ pernah memberinya seratus ekor unta. Lalu ia meminta lagi, maka Rasulullah ﷺ memberinya. Ia meminta lagi, lalu Rasulullah ﷺ kembali memberinya.Kemudian tertanam dalam hatinya kecintaan yang besar kepada Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ mengajarinya pelajaran tentang harta dengan cara yang sangat tepat dan menyentuh hatinya.Setelah itu, Hakim bersumpah kepada Rasulullah ﷺ bahwa ia tidak akan lagi mengambil harta dari siapa pun setelah hari itu. Artinya, ia tidak akan menerima pemberian dari siapa pun setelahnya, bahkan meskipun pemberian itu banyak.Ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memanggilnya setelah wafatnya Rasulullah ﷺ untuk memberinya bagian, ia menolak. Demikian pula ketika Umar radhiyallahu ‘anhu memanggilnya setelah itu, ia tetap menolak. Ia pun menjalani sisa hidupnya dengan sikap tersebut, hingga wafat pada masa Mu‘awiyah, tetap berpegang pada janjinya kepada Nabi ﷺ.Sungguh menakjubkan keadaan sahabat ini. Awalnya ia terus meminta kepada Rasulullah ﷺ berkali-kali, bahkan dengan desakan. Namun setelah itu, ia berubah total hingga tidak mau mengambil apa pun, meskipun diberi dalam jumlah besar.Dalam kisah ini tampak betapa agungnya sahabat tersebut, dan betapa teguhnya ia memegang prinsip. Sejak Fathu Makkah hingga beberapa tahun di masa Mu‘awiyah—lebih dari tiga puluh tahun—ia tetap konsisten tidak mengambil harta dari siapa pun.Baca juga: Memahami Arti Zuhud yang SebenarnyaDalam kisah ini juga terlihat bagaimana Rasulullah ﷺ memilih waktu yang tepat untuk memberikan nasihat. Beliau menasihati Hakim setelah memberinya beberapa kali, sehingga nasihat itu benar-benar berpengaruh dalam dirinya. Kepribadiannya berubah, dan cara pandangnya terhadap dunia pun berbeda dari sebelumnya.Jika nasihat itu disampaikan sebelum ia diberi, kemungkinan besar tidak akan memberikan pengaruh seperti setelah ia merasakan pemberian tersebut.Dalam kisah ini juga terdapat penjelasan bahwa dunia itu manis dan menipu. Siapa yang menjadikannya sebagai tujuan utama, ia tidak akan pernah merasa puas, meskipun telah mendapatkan banyak.Hal ini nyata dalam kehidupan sebagian orang. Meskipun harta mereka banyak, mereka tetap merasa kurang.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ. وَقَالَ لَنَا أَبُو الْوَلِيدِ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، عَنْ أُبَيٍّ، قَالَ: كُنَّا نَرَى هَذَا مِنَ الْقُرْآنِ، حَتَّى نَزَلَتْ: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Dan tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya kecuali tanah. Namun Allah menerima tobat orang yang bertobat.”Abu Al-Walid berkata kepada kami: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Anas, dari Ubay bin Ka‘ab, ia berkata: dahulu kami menganggap perkataan ini termasuk bagian dari Al-Qur’an, hingga turun firman Allah: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur: 1) (HR. Bukhari, no. 6439 dan Muslim, no. 1048)Adapun nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Hakim bin Hizam, kata Hakim:سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ قَالَ لِي: يَا حَكِيمُ، إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى. قَالَ حَكِيمٌ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَرْزَأُ أَحَدًا بَعْدَكَ شَيْئًا حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنْيَا. فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَدْعُو حَكِيمًا لِيُعْطِيَهُ الْعَطَاءَ فَيَأْبَى أَنْ يَقْبَلَ مِنْهُ شَيْئًا، ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ دَعَاهُ لِيُعْطِيَهُ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَ، فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، إِنِّي أَعْرِضُ عَلَيْهِ حَقَّهُ الَّذِي قَسَمَ اللَّهُ لَهُ مِنْ هَذَا الْفَيْءِ فَيَأْبَى أَنْ يَأْخُذَهُ. فَلَمْ يَرْزَأْ حَكِيمٌ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ شَيْئًا بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تُوُفِّيَ.Aku pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberiku. Kemudian aku meminta lagi, dan beliau pun memberiku. Lalu beliau berkata kepadaku:“Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini itu hijau lagi manis. Siapa yang mengambilnya dengan jiwa yang lapang (tidak tamak), maka harta itu akan diberkahi baginya. Namun siapa yang mengambilnya dengan penuh ambisi dan ketamakan, maka tidak ada keberkahan baginya. Ia seperti orang yang makan, tetapi tidak pernah merasa kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”Hakim berkata: Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan meminta sesuatu pun dari siapa pun setelah engkau hingga aku meninggal dunia.”Setelah itu, Abu Bakar pernah memanggil Hakim untuk memberinya bagian harta, namun ia menolak untuk menerimanya. Kemudian Umar juga memanggilnya untuk memberinya, tetapi ia tetap menolak. Maka Umar berkata, “Wahai kaum Muslimin, aku menawarkan kepadanya hak yang telah Allah tetapkan baginya dari harta fai’, tetapi ia menolak untuk mengambilnya.”Sejak wafatnya Nabi ﷺ, Hakim tidak pernah meminta apa pun kepada manusia hingga ia meninggal dunia. (HR. Bukhari, no. 3143)Sikap lapang terhadap harta menjadi sebab datangnya keberkahan, sedangkan kerakusan menjadi sebab hilangnya keberkahan.Diketahui bahwa harta yang sedikit tetapi diberkahi lebih baik daripada harta yang banyak namun tidak berkah. Karena tujuan bukan sekadar banyaknya harta, tetapi bagaimana harta itu membawa kebahagiaan.Harta pada hakikatnya hanyalah sarana, bukan tujuan. Ia tidak bisa dimakan, diminum, atau dimanfaatkan secara langsung. Seandainya seseorang berada di padang pasir dengan membawa harta yang banyak, tetapi tidak memiliki makanan, ia tetap akan mati karena lapar dan haus.Baca juga: Perkataan Ibnu Taimiyah, Sedikit Tetapi Halal Pasti Bawa BerkahJika harta tidak diberkahi, maka seseorang tidak akan bisa merasakan manfaatnya. Bisa jadi ia jatuh sakit sehingga hartanya habis untuk pengobatan, atau tidak mampu menikmati apa yang diinginkannya. Bahkan harta itu bisa menjadi sumber kegelisahan, karena ia takut kehilangan atau khawatir dicuri.Karena itu, rasa cukup terhadap yang sedikit menjadi sebab datangnya keberkahan dan manfaat. Jika Allah memberkahi harta seseorang, maka tidak ada batas bagi keberkahannya.Kedua puluh tiga: Jika kita melihat keseluruhan pemberian Rasulullah ﷺ pada Perang Hunain, kita akan dapati bahwa beliau memberikan kepada para pembesar kaum yang baru dilunakkan hatinya (muallafatu qulubuhum), padahal mereka adalah orang-orang kaya. Rasulullah ﷺ memberi mereka bukan karena kebutuhan mereka terhadap harta, tetapi demi kemaslahatan Islam, yaitu untuk melunakkan hati mereka agar menerima agama ini.Jika mereka telah masuk Islam, maka diharapkan orang-orang di belakang mereka akan ikut masuk Islam. Karena itu, pemberian demi maslahat lebih didahulukan daripada pemberian karena kebutuhan. Menyelamatkan manusia dari neraka lebih didahulukan daripada sekadar mengenyangkan perut orang fakir. Ini adalah kaidah penting dalam kehidupan, bahwa maslahat umum bagi Islam didahulukan daripada maslahat pribadi.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Ketika Perang Hunain, Nabi ﷺ membagi harta rampasan kepada orang-orang yang dilunakkan hatinya (muallafatu qulubuhum), seperti para pembesar dari Najd dan para tokoh Quraisy yang baru dibebaskan, seperti ‘Uyainah bin Hishn, Al-Aqra‘ bin Habis, dan yang semisal mereka. Juga kepada Suhail bin ‘Amr, Shafwan bin Umayyah, ‘Ikrimah bin Abu Jahl, Abu Sufyan bin Harb, serta Mu‘awiyah bin Abu Sufyan dan yang semisal mereka dari kalangan orang-orang yang baru masuk Islam.Mereka adalah orang-orang yang dibebaskan pada hari Fathu Makkah. Rasulullah ﷺ tidak memberikan apa pun kepada kaum Muhajirin dan Anshar. Beliau memberikan kepada mereka untuk melunakkan hati mereka agar tetap berada di atas Islam, dan karena itu menjadi maslahat umum bagi kaum Muslimin.Adapun orang-orang yang tidak diberi, mereka justru lebih utama di sisi beliau. Mereka adalah para wali Allah yang bertakwa dan hamba-hamba-Nya yang saleh, setelah para nabi dan rasul. Sedangkan orang-orang yang diberi, sebagian dari mereka ada yang kemudian murtad sebelum wafatnya Nabi ﷺ, sementara yang lain tetap hidup dalam keadaan kaya, bukan orang-orang fakir.Seandainya pemberian itu didasarkan pada kebutuhan semata, tentu Nabi ﷺ akan memberikan kepada para Muhajirin dan Anshar, yang lebih membutuhkan dan lebih utama. Namun karena pertimbangan maslahat umum lebih didahulukan daripada kebutuhan pribadi, maka pemberian diberikan kepada para pembesar yang baru masuk Islam tersebut.Baca juga: Berapa Jumlah Para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?Kedua puluh empat: Keberhasilan dalam memenangkan orang yang berbeda (pendapat) itulah keberhasilan yang sejati. Inilah hakikat seni dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Adapun memenangkan orang yang sudah sepakat, itu bukan sesuatu yang baru.Keberhasilan dalam dakwah adalah ketika orang yang awalnya membencimu, membenci dakwahmu, atau membenci agama yang engkau serukan, tidak beranjak darimu kecuali setelah agama yang engkau ajarkan menjadi agama yang paling ia cintai. Dan engkau pun menjadi orang yang paling ia cintai.Inilah yang kita lihat dalam sirah Nabi ﷺ. Beliau mampu menaklukkan hati manusia dan mengubah mereka dari musuh menjadi penolong. Ada orang kafir yang datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan sangat membencinya dan bahkan ingin membunuhnya. Namun setelah duduk bersamanya, kebencian itu berubah menjadi cinta kepada Rasulullah ﷺ.Hal ini terjadi pada sejumlah sahabat, seperti ‘Amr bin Al-‘Ash, Hakim bin Hizam, ‘Umair bin Wahb Al-Jumahi, dan ‘Adi bin Hatim Ath-Tha’i radhiyallahu ‘anhum. Mereka datang kepada Rasulullah ﷺ, sebagian di antara mereka bahkan ingin membunuh beliau, namun akhirnya pulang dalam keadaan Muslim. Bahkan mereka mengucapkan syahadat tauhid di majelis beliau sebelum bangkit dari tempat duduknya. Kebencian yang sebelumnya begitu kuat berubah menjadi cinta yang mendalam.Sebagian dari mereka datang karena urusan dunia, tetapi ketika pulang, mereka telah merendahkan dunia, memahami nilainya, dan bahkan bersumpah tidak akan meminta apa pun kepada manusia.Ini adalah pelajaran dalam berdakwah kepada Allah: kunci keberhasilannya adalah memenangkan hati manusia dan berbuat baik kepada orang yang berbeda dengan kita, apa pun bentuk perbedaannya.Sebaliknya, sebagian orang justru menjadikan perbedaan sebagai sebab buruknya sikap. Akibatnya, perbedaan itu berubah menjadi permusuhan yang semakin mengakar. Alih-alih memenangkan hati orang yang berbeda, justru semakin memperlebar jurang perbedaan dan menambah jarak di antara mereka. Ini bukanlah sikap seorang dai yang berhasil. Hanya Allah yang memberi taufik.Kedua puluh lima: Di dunia ini banyak orang yang digiring kepada kebenaran bukan karena pemahaman akal mereka, tetapi karena tertarik secara perlahan. Sebagaimana hewan ternak digiring dengan segenggam rumput hingga masuk ke kandangnya, demikian pula sebagian manusia membutuhkan pendekatan dan strategi agar hati mereka menjadi tenang dengan iman dan merasa nyaman dengannya. (Muhammad Al-Ghazali dalam Fiqh As-Sirah, hlm. 394).Kedua puluh enam: Allah Ta‘ala berfirman,ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ (٢٦) ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٢٧)“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kamu lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian Allah menerima tobat setelah itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 26–27)Ath-Thahir bin ‘Asyur rahimahullah berkata tentang firman Allah Ta‘ala:ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Kemudian Allah menerima tobat setelah itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Ini merupakan isyarat kepada masuk Islamnya kaum Hawazin setelah kekalahan tersebut. Mereka kemudian datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan telah menjadi Muslim dan bertobat.Kedua puluh tujuh: Ghanimah (harta rampasan perang) bukanlah tujuan utama dari jihad, tetapi yang lebih Allah cintai adalah masuknya manusia ke dalam Islam. Karena itu, Rasulullah ﷺ menunda pembagian ghanimah perang Hunain dengan harapan kaum Hawazin akan kembali kepada Islam. Beliau menunggu di Ji‘ranah selama sekitar dua puluh hari, dan itu adalah waktu yang cukup bagi para pemimpin Hawazin untuk berpikir, kembali kepada kebenaran, masuk Islam, serta meminta kembali harta, anak-anak, dan wanita mereka. Namun ketika mereka terlambat, sementara menunggu lebih lama lagi akan memberatkan pasukan tanpa ada harapan jelas, maka Rasulullah ﷺ pun membagikan harta tersebut.Meski demikian, ketika kaum Hawazin datang setelah pembagian itu, Rasulullah ﷺ menyambut mereka dengan gembira dan memberitahu bahwa beliau telah menunggu mereka. Namun karena keluarga dan harta mereka sudah terlanjur berpindah tangan kepada kaum muslimin, beliau memberi mereka pilihan antara mengambil kembali keluarga mereka atau harta mereka. Kemudian beliau membantu mereka dalam cara mendapatkan kembali apa yang telah dibagikan, bahkan beliau sendiri bersama Bani ‘Abdul Muththalib menjadi orang pertama yang mempraktikkan pengembalian tersebut.Para sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum tidaklah menyelisihi Rasulullah ﷺ dalam hal ini. Mereka mengikuti beliau dengan mengembalikan apa yang ada pada mereka. Namun sebagian orang Arab Badui tidak mengikuti hal tersebut, sehingga Rasulullah ﷺ menebus bagian mereka dan memerintahkan agar seluruh tawanan wanita dan anak-anak dikembalikan kepada Hawazin.Siapa yang memahami sejarah, pasti akan teringat bagaimana perlakuan penduduk Thaif terhadap Rasulullah ﷺ ketika beliau datang kepada mereka—tidak ada yang bersamanya kecuali Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu—mereka melempari beliau dengan batu dan mengejeknya. Namun setelah Allah menaklukkan Makkah dan kaum muslimin menang atas mereka, beliau justru bersikap lembut, pemaaf, dan mulia. Semua yang beliau lakukan adalah demi kemaslahatan Islam dan penyebarannya, dan beliau tidak pernah membalas untuk kepentingan pribadi sama sekali.Inilah akhlak seorang muslim sejati. Ia menjauh dari sikap egois, permusuhan, dan perselisihan dengan orang lain, serta tidak sibuk mencari-cari kesalahan mereka. Prinsipnya adalah kelapangan dada, pemaafan, perbaikan hubungan, dan bersatu di atas kemaslahatan agama ini serta meninggikan kalimat Allah. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Kedua puluh delapan: Termasuk inisiatif Rasulullah ﷺ dalam mengembalikan apa yang beliau miliki dan apa yang ada di tangan beliau dari harta rampasan kepada Bani ‘Abdil Muththalib dari tawanan perang Hawazin. Dari sini diambil teladan dalam berdakwah kepada Allah. Rasulullah ﷺ memulai sendiri dengan mengembalikan tawanan, agar beliau menjadi contoh dan diikuti oleh yang lain dalam mengembalikan apa yang ada di tangan mereka kepada Hawazin.Kedua puluh sembilan: Dari ucapan Dzul Khuwaishirah, kita mengetahui sejauh mana keburukan orang ini dan orang-orang semisalnya, serta besarnya kejahatan dan kesesatan mereka. Ia berani berbicara kepada Rasulullah ﷺ dengan ucapan yang menunjukkan keburukan hati, rusaknya keyakinan, kebodohan yang parah, dan sikap kasar dalam berinteraksi. Ia tidak memahami nash-nash, tidak mengenal hak Rasulullah ﷺ, serta berani berpendapat berdasarkan kebodohan, kebencian, kekerasan, dan kedengkian. Kita berlindung kepada Allah dari hal seperti ini.Ketiga puluh: Diambil pula pelajaran untuk mewaspadai sikap berlebihan dalam agama. Orang ini terdorong oleh sikap berlebihannya hingga keluar dari agama yang benar. Ia datang dengan mengaku berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya, namun justru membantah Rasulullah ﷺ dan menuntut keadilan dari beliau, serta menjadikan akal dan hawa nafsunya sebagai penentu makna keadilan. Ia telah menyimpang dari jalan mencari petunjuk.Keselamatan dari sikap berlebihan adalah dengan berpegang teguh pada nash-nash, memuliakan dan menghormatinya, berhenti pada batas-batasnya, serta mengagungkan Rasulullah ﷺ dan ajaran yang beliau bawa. Juga dengan mengetahui kedudukan para salaf dan pemahaman mereka, serta menempatkan para ulama pada posisi yang layak dan mengetahui hak-hak mereka. Inilah jalan yang aman dari penyimpangan. Adapun bersandar pada akal semata dan merendahkan para ulama, maka itu adalah penyimpangan dalam manhaj yang pasti akan menyeret kepada sikap berlebihan dalam agama, yang pada akhirnya membawa kepada kebinasaan, sebagaimana yang dilakukan oleh Dzul Khuwaishirah.Penyimpangan ini berawal dari sebuah ide kecil di dalam pikiran, lalu berkembang hingga berubah menjadi perilaku yang buruk, merusak yang hijau dan yang kering, serta membinasakan tanaman dan manusia. Kita berlindung kepada Allah.Kelompok seperti ini telah memberikan dampak buruk yang besar terhadap Islam dan kaum Muslimin sepanjang sejarah. Mereka telah menghalangi banyak orang untuk masuk Islam, dan memberi peluang kepada musuh untuk menjelekkan Islam dan kaum Muslimin.Ketiga puluh satu: dari kisah Dzul Khuwaishirah, kita mengambil pelajaran tentang kesabaran Rasulullah ﷺ dan kelembutan beliau terhadap orang-orang Arab Badui yang kasar dan keras. Beliau menahan diri terhadap ucapan yang dikatakan kepadanya secara terang-terangan di hadapan manusia, padahal saat itu beliau sedang membagi harta rampasan dalam jumlah besar. Beliau tidak menyisakan sedikit pun untuk dirinya sendiri. Tujuan beliau hanyalah melunakkan hati manusia agar mereka menerima agama ini. Namun orang Arab Badui itu justru datang dan menuduh beliau tidak adil dalam pembagian.Meski demikian, Rasulullah ﷺ tidak membalasnya. Bahkan beliau memberitahukan kepada manusia sebagai tanda dan bukti kenabian bahwa akan muncul dari keturunan orang ini orang-orang yang keluar dari Islam. Beliau memperingatkan umatnya dari mereka, sekaligus mengajarkan bagaimana cara menyikapi mereka.Ketiga puluh dua: dengan memperhatikan hal di atas, kita dapati bahwa Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menukil pendapat salah satu ulama yang berkata (dan sebagian guru kami berkata): “Pembagian ini hanyalah untuk mencari ridha Allah.” Adapun ucapannya, “Berlaku adillah,” maka Nabi ﷺ tidak memahaminya sebagai bentuk celaan dan tuduhan terhadap beliau. Namun beliau memandangnya sebagai kesalahan dalam berpendapat dan dalam urusan dunia, serta sebagai ijtihad dalam hal kemaslahatan menurut pandangan orang tersebut, meskipun keliru. Maka beliau tidak melihatnya sebagai kejahatan yang harus dibalas, tetapi sebagai gangguan yang layak dimaafkan dan disikapi dengan kesabaran. Karena itu, beliau tidak menghukumnya.Setelah menyebutkan beberapa pendapat, ia berkata: “Pendapat yang paling kuat dari sisi ini adalah bahwa hal tersebut dilakukan untuk tujuan melunakkan hati (isti’laf) dan bersikap bijak dalam mengajak manusia kepada agama agar mereka beriman.”Ketiga puluh tiga:  Termasuk sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Umar ketika ia meminta izin untuk membunuh seorang munafik. Maka beliau bersabda:«مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي»“Semoga Allah melindungi (aku) dari anggapan manusia bahwa aku membunuh para sahabatku.”Hal ini menunjukkan disyariatkannya menjaga kehormatan diri dan tidak membuka peluang tuduhan dari orang lain. Diriwayatkan pula:«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَقِفْ مَوَاقِفَ التُّهَمِ»“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menempatkan dirinya pada posisi yang menimbulkan tuduhan.” (Lihat Az-Zamakhsyari, Al-Kasyaf 3: 273)Karena itu, seorang Muslim hendaknya menjaga kehormatannya agar tidak menjadi bahan pembicaraan manusia. Ini termasuk bentuk perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak memberi peluang bagi orang lain untuk membicarakan keburukan dalam agama ini, sekaligus menerapkan kaidah:دَرْءُ الْمَفْسَدَةِ مُقَدَّمٌ عَلَىٰ جَلْبِ الْمَصْلَحَةِ“Menolak kerusakan didahulukan daripada menarik kemaslahatan.”Sebab, kerusakan yang timbul dari membunuh orang tersebut lebih besar daripada maslahat yang diharapkan dari pembunuhannya. Di antaranya, manusia akan membicarakan bahwa beliau membunuh para sahabatnya, padahal hakikat orang tersebut tidak tampak bagi kebanyakan manusia. Wallahu a‘lam.Ketiga puluh empat: Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata: Ditanyakan kepada Imam Malik rahimahullah tentang orang zindiq. Ia menjawab: Orang-orang munafik pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran, dan itulah yang disebut zindiq menurut kami saat ini.Lalu dikatakan kepada Imam Malik: Mengapa zindiq tidak dibunuh, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh orang-orang munafik meskipun beliau mengetahui mereka? Maka beliau menjawab: Seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membunuh mereka padahal mereka menampakkan keimanan, tentu hal itu akan menjadi sebab orang-orang berkata bahwa beliau membunuh mereka karena kedengkian atau sebab lainnya. Akibatnya, orang-orang akan enggan masuk Islam. Inilah makna sabda beliau. (Ibnu ‘Abdil Barr, 10: 154, dalam Ath-Thab’ah Al-Maghribiyyah)Hal ini juga dikuatkan oleh hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dinding (Hijr Ismail), apakah ia termasuk bagian dari Ka‘bah? Beliau menjawab: “Ya.” Aku bertanya: Mengapa mereka tidak memasukkannya ke dalam bangunan Ka‘bah? Beliau menjawab:«إِنَّ قَوْمَكِ قَصُرَتْ بِهِمُ النَّفَقَةُ»“Sesungguhnya kaummu kekurangan biaya.”Aku bertanya: Mengapa pintunya dibuat tinggi? Beliau menjawab:«فَعَلَ ذَلِكِ قَوْمُكِ لِيُدْخِلُوا مَنْ شَاءُوا وَيَمْنَعُوا مَنْ شَاءُوا، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُو عَهْدٍ بِالْجَاهِلِيَّةِ، فَأَخَافُ أَنْ تُنْكِرَ قُلُوبُهُمْ، لَأَدْخَلْتُ الْجِدْرَ فِي الْبَيْتِ، وَلَأَلْصَقْتُ بَابَهُ بِالْأَرْضِ»“Mereka melakukan itu agar bisa memasukkan siapa yang mereka kehendaki dan melarang siapa yang mereka kehendaki. Seandainya kaummu tidak baru saja meninggalkan masa jahiliah, dan aku khawatir hati mereka akan mengingkarinya, niscaya aku akan memasukkan dinding itu ke dalam bangunan Ka‘bah dan menjadikan pintunya rata dengan tanah.”Maka hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ini menunjukkan bahwa beliau mempertimbangkan mafsadah berupa keluarnya orang dari agama, dan hadits tentang Dzul Khuwaishirah menunjukkan pertimbangan mafsadah berupa orang tidak mau masuk ke dalam agama. Ini termasuk pemahaman mendalam dalam politik syariat.Ketiga puluh lima: Tidak diberikannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagian ghanimah kepada kaum Anshar adalah karena kepercayaan beliau terhadap kuatnya iman mereka dan kelapangan jiwa mereka. Ini merupakan pujian besar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mereka. Beliau memberikan harta ghanimah kepada orang-orang yang beliau khawatirkan keimanan mereka masih lemah, atau untuk melunakkan hati mereka agar condong kepada Islam. Beliau bersabda kepada kaum Anshar:«أَلَا تَرْضَوْنَ أَنْ أَرْجِعَ النَّاسُ بِالشَّاةِ وَالْبَعِيرِ، وَتَرْجِعُوا أَنْتُمْ بِرَسُولِ اللَّهِ؟»“Tidakkah kalian ridha jika manusia pulang membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah?”Coba renungkan, bagaimana keadaan orang yang mendapatkan ucapan seperti ini? Sungguh kaum Anshar menangis. Mereka berhak untuk merasa bahagia dan bangga dengan pembagian ini, serta dengan kedudukan yang mereka miliki di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demi Allah, seandainya seseorang mendapatkan ucapan ini saja, itu sudah cukup menjadi kebahagiaan dan kegembiraan baginya, melebihi segala sesuatu yang dimiliki orang lain. Lalu bagaimana jika yang mereka dapatkan adalah kebahagiaan yang membuat mereka menangis karena gembira, sementara orang lain mendapatkan kambing dan unta, sedangkan kaum Anshar mendapatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?Ketiga puluh enam: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan mereka dalam kebingungan, bahkan beliau memberikan jawaban kepada mereka. Beliau bersabda:«أَمَا وَاللَّهِ لَوْ شِئْتُمْ لَقُلْتُمْ فَلَصَدَقْتُمْ وَلَصُدِّقْتُمْ: أَتَيْتَنَا مُكَذَّبًا فَصَدَّقْنَاكَ، وَمَخْذُولًا فَنَصَرْنَاكَ، وَطَرِيدًا فَآوَيْنَاكَ، وَعَائِلًا فَآسَيْنَاكَ»“Demi Allah, seandainya kalian mau, kalian bisa mengatakan—dan kalian benar serta akan dibenarkan—: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu; engkau ditinggalkan, lalu kami menolongmu; engkau terusir, lalu kami melindungimu; dan engkau dalam keadaan kekurangan, lalu kami mencukupimu.’”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat untuk menghilangkan segala keraguan atau ganjalan dalam hati mereka, dengan menjelaskan sebab mengapa beliau memberikan harta ghanimah kepada orang-orang yang ingin dilunakkan hatinya, bukan kepada kaum Anshar.Ketiga puluh tujuh: Dari khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Anshar, diambil pelajaran tentang disyariatkannya berkhutbah dalam kondisi seperti ini. Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Dalam hal ini terdapat dalil tentang disyariatkannya khutbah ketika terjadi suatu peristiwa, baik bersifat khusus maupun umum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkhutbah kepada kaum Anshar dengan khutbah yang sangat menyentuh. Belum pernah terdengar dalam bab menenangkan hati yang lebih indah daripada khutbah ini, karena di dalamnya terkumpul antara kebenaran, kejelasan, kelembutan, dan kasih sayang. Shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau hingga hari kiamat.Ketiga puluh delapan: Dari khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Anshar, diambil pelajaran tentang menghibur diri atas sesuatu dari dunia yang terlewat, dengan melihat balasan di akhirat yang akan diperoleh.Ketiga puluh sembilan: Di dalamnya terdapat keutamaan kaum Anshar, yaitu cepatnya mereka kembali kepada kebenaran dan menerima penjelasan, segera setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada mereka. Ini juga menunjukkan baiknya nasihat mereka, adab mereka dalam berbicara dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta kesiapan mereka menjawab ketika beliau mengajukan pertanyaan kepada mereka. Telah disebutkan sebelumnya ucapan sebagian ulama: “Kembali kepada kebenaran adalah bagian dari agama.” Maka seorang mukmin tidak sepatutnya merasa berat untuk kembali kepada kebenaran ketika telah jelas baginya.Keempat puluh: Di dalamnya terdapat penekanan pentingnya menghilangkan syubhat dari orang yang mengalami keraguan, baik itu perkara umum maupun khusus. Jika bersifat umum, maka penjelasannya bersifat umum; jika bersifat khusus, maka penjelasannya pun khusus.Tidak ada yang lebih indah daripada kejujuran dan keterbukaan untuk menghilangkan apa yang ada di dalam hati berupa ganjalan. Seandainya manusia saling terbuka dan menjelaskan sebagian sikap yang menimbulkan kekecewaan, niscaya banyak masalah akan selesai.Sebagian orang berkata: “Jika aku benar dalam tindakanku, aku tidak peduli dengan ucapan manusia.” Maka dikatakan kepadanya: Ini keliru. Bahkan engkau harus menjelaskan kepada manusia alasan di balik tindakanmu, menghilangkan keraguan yang ada pada mereka, serta menjelaskan sudut pandang dan landasan tindakanmu. Dengan itu, engkau menjaga kehormatanmu, memperbaiki hati-hati manusia, dan mencegah prasangka buruk di tengah masyarakat.Keterbukaan seperti ini telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berkhutbah kepada kaum Anshar dalam khutbah yang agung tersebut. Juga dicontohkan oleh Sa‘d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu ketika ia menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pandangan kaum Anshar dan apa yang mereka rasakan.Di dalamnya juga terdapat pelajaran bahwa pendapat para pemuda tidaklah sama dengan pendapat para tokoh yang lebih tua. Telah diketahui bahwa umumnya pendapat orang yang lebih tua lebih matang dalam ilmu, amal, pengalaman, dan ketakwaan dibandingkan pendapat para pemuda.Keempat puluh satu: Dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:«إِنَّ قُرَيْشًا حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ وَمَعْصِيَةٍ، وَإِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَجْبُرَهُمْ وَأَتَأَلَّفَهُمْ»“Sesungguhnya Quraisy baru saja meninggalkan masa jahiliah dan kemaksiatan, dan aku ingin menguatkan serta melunakkan hati mereka.”Terdapat pelajaran besar dalam upaya menarik hati manusia serta mempertimbangkan kondisi jiwa mereka. Sesungguhnya kaum Quraisy mengalami guncangan besar dengan peristiwa penaklukan Makkah. Meskipun itu merupakan nikmat terbesar bagi mereka, dalam pandangan mereka hal itu terasa berat karena runtuhnya kebesaran dan kekuasaan mereka, serta terpecahnya tokoh-tokoh mereka yang tetap berada dalam kesyirikan.Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin mengobati keguncangan tersebut dan meringankan beban yang mereka rasakan dengan memberikan harta, agar hati mereka menjadi tenang. Ini merupakan tuntunan yang seharusnya diperhatikan dalam memperbaiki jiwa yang terluka, meskipun dengan harta, serta berusaha meringankan beban mereka. Ini adalah akhlak Islam yang tinggi, yang tidak akan dipahami kecuali oleh orang yang memiliki bagian besar dari kebaikan.Keempat puluh dua: Seseorang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Engkau telah memberi kepada ‘Uyainah dan Al-Aqra‘, sedangkan aku ditinggalkan, padahal aku lebih baik dari mereka.” Ia bermaksud mengingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dirinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan jawaban agung, yang menunjukkan bahwa beliau tidak merasa iri kepada siapa pun dalam perkara dunia, melainkan mengarahkan pandangan kepada Allah dan mencari kedudukan di sisi-Nya. Perhatikanlah jawaban beliau yang jujur lagi benar:«أَمَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَجَبِيلُ بْنُ سُرَاقَةَ خَيْرٌ مِنْ طِلَاعِ الْأَرْضِ كُلِّهِمْ مِثْلَ عُيَيْنَةَ بْنِ حِصْنٍ وَالْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ، وَلَكِنِّي أُؤَلِّفُهُمَا لِيُسْلِمَا، وَوَكَلْتُكَ إِلَى إِسْلَامِكَ»“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh Jabil bin Suraqah lebih baik daripada seluruh penduduk bumi seperti ‘Uyainah bin Hishn dan Al-Aqra‘ bin Habis. Akan tetapi aku memberi kepada mereka berdua untuk melunakkan hati mereka agar masuk Islam, sedangkan aku menyerahkanmu kepada keislamanmu.”Maka janganlah engkau tertipu oleh kedudukan dunia dan jabatan, karena itu hanyalah tipuan yang akan diikuti penyesalan. Mintalah kedudukan di sisi Allah Yang Maha Mulia. Betapa banyak di antara kita orang yang lebih baik daripada kebanyakan manusia, namun tidak mendapatkan kedudukan dunia, karena ia selamat dari fitnah jabatan.Kemudian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga menunjukkan bahwa hal tersebut tidak khusus untuk kaum Anshar saja, tetapi berlaku bagi siapa saja yang kuat imannya. Termasuk di dalamnya sahabat tersebut yang disebutkan, radhiyallahu ‘anhu.Keempat puluh tiga: Dalam janji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Malik bin ‘Auf An-Nadhri, bahwa jika ia datang sebagai seorang Muslim, maka beliau akan mengembalikan keluarganya, hartanya, dan memberinya seratus ekor unta, terdapat dua pelajaran:Pertama: Tujuan utama jihad adalah masuknya manusia ke dalam Islam, bukan semata-mata harta rampasan dan keuntungan materi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan kepada pemimpin Thaif tersebut bahwa jika ia masuk Islam, maka keluarganya dan hartanya akan dikembalikan, serta diberikan tambahan berupa seratus ekor unta sebagai bentuk penghargaan dan dorongan agar ia masuk Islam. Ini menunjukkan besarnya perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap keislaman seseorang, serta tidak adanya keinginan untuk menawan keluarganya atau merampas hartanya.Kedua: Ini merupakan metode dakwah yang agung yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menarik hati tokoh-tokoh besar, serta metode melunakkan hati. Hal ini tampak jelas dalam peristiwa Hunain, ketika beliau memberikan pemberian besar kepada para pemimpin Arab agar hati mereka condong kepada Islam, sehingga mereka masuk Islam dan kaum mereka pun mengikuti.Karena itu, seseorang hendaknya memperhatikan cara-cara pemberian yang dilakukan oleh pemimpin atau tokoh masyarakat dalam rangka mewujudkan kemaslahatan umum bagi kaum Muslimin, dan juga kemaslahatan khusus bagi suatu negeri.Keempat puluh empat: Ibnu Hajar rahimahullah berkata, demikian pula Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Di antara hikmah penaklukan Makkah adalah menjadi sebab masuknya banyak kabilah Arab ke dalam Islam. Dahulu mereka berkata: ‘Biarkan dia (Muhammad) bersama kaumnya. Jika ia menang atas mereka, berarti ia berada di atas kebenaran.’ Ketika Allah memberikan kemenangan kepadanya, sebagian mereka tetap berada dalam kesesatan, lalu mereka berkumpul dan bersiap untuk memeranginya. Maka termasuk hikmah dari hal itu adalah agar tampak bahwa Allah menolong Rasul-Nya bukan dengan banyaknya orang yang masuk Islam dari kalangan kabilah, dan bukan pula karena kaumnya menahan diri dari memeranginya.” Bersambung Insya-Allah …. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 29 Syawal 1447 H, 17 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang hunain sirah nabawiyah sirah nabi

Perang Hunain: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan

Perang Hunain merupakan salah satu peperangan besar dalam sirah Nabi ﷺ yang sarat dengan pelajaran iman dan tauhid. Pada awalnya kaum muslimin sempat terpukul mundur karena rasa bangga terhadap jumlah pasukan, hingga Allah ﷻ menegur mereka melalui peristiwa ini. Namun dengan keteguhan Rasulullah ﷺ dan pertolongan Allah, keadaan pun berbalik menjadi kemenangan yang nyata bagi kaum muslimin.Baca juga: Perang Hunain dalam Tafsir QS. At-Taubah 25–27: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan  Daftar Isi tutup 1. Jumlah Banyak Belum Tentu Menang 2. Allah Turunkan Sakinah pada Perang Hunain 3. Kaum Hawazin Masuk Islam 4. Kisah Dzul Khuwaishirah yang Menuntut Rasulullah untuk Adil 5. Pelajaran yang Dipetik dari Perang Hunain dan Pengepungan Thaif 5.1. Nasihat Mengenai Ngapal Berkah (Tabarruk)  Peperangan ini adalah Perang Hunain. Sebagian ulama menamakannya Perang Authas, dan sebagian lainnya menamakannya Perang Hawazin. Namun, penamaan yang digunakan dalam Al-Qur’an adalah Hunain.Perang Hunain dianggap sebagai kelanjutan dari penaklukan Mekah, dan merupakan salah satu dampaknya. Hal itu karena Perang Hunain terjadi sebagai konsekuensi dari penaklukan besar tersebut. Ketika suku Hawazin dan Tsaqif mengetahui apa yang menimpa Quraisy di Mekah, mereka pun mulai bersiap-siap dan mengumpulkan pasukan untuk memerangi Rasulullah ﷺ.Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui hal tersebut, sementara beliau masih berada di Mekah, beliau pun keluar untuk menemui mereka di Hunain. Keberangkatan beliau terjadi pada hari keenam bulan Syawal tahun kedelapan Hijriah.Rasulullah ﷺ menunjuk ‘Attab bin Asid radhiyallahu ‘anhu sebagai pemimpin di Mekah. Jumlah pasukan yang menyertai Rasulullah ﷺ adalah sepuluh ribu orang, ditambah dua ribu orang dari kalangan thulaqā’ (orang-orang Mekah yang dimaafkan). Pasukan kaum musyrikin dari Thaif berada di bawah pimpinan Malik bin ‘Auf An-Nadhri. Mereka bergabung dengan pasukan Hawazin dan Tsaqif seluruhnya, juga bergabung suku Nashr dan Jusham seluruhnya, serta Sa‘d bin Bakr dan sebagian orang dari Bani Hilal—jumlah mereka sedikit. Termasuk dari Bani Jusham adalah Duraid bin Ash-Shimmah, seorang syekh tua yang sudah sangat lanjut usia, yang sebenarnya tidak lagi memiliki kemampuan apa pun, kecuali sekadar dimintai pendapat karena pengalaman dan pengetahuannya tentang peperangan. Ia adalah seorang syekh yang telah banyak mengalami peperangan.Ketika Malik bin Auf mengumpulkan pasukan dan membawa mereka menuju Rasulullah ﷺ, ia juga mengikutsertakan harta benda, para wanita, dan anak-anak mereka. Ketika mereka singgah di Authas dan berkumpul di sana, Duraid bin Ash-Shimmah—yang berada di dalam sekedup (tandu) yang dibawanya—bertanya, “Di lembah apakah kita berada?” Mereka menjawab, “Di Authas.” Ia berkata, “Tempat yang bagus untuk medan pasukan berkuda. Tidak ada tanah keras yang melukai kaki, tidak pula tanah lunak yang membuat kuda terperosok. Namun, mengapa aku mendengar suara unta, ringkikan keledai, tangisan anak kecil, dan kambing yang mengembik?” Mereka menjawab, “Malik bin ‘Auf membawa serta harta, para wanita, dan anak-anak bersama pasukan.”Ia bertanya, “Di mana Malik?” Dijawab, “Ini Malik.” Malik pun dipanggil dan mendekat kepadanya. Duraid berkata, “Wahai Malik, sungguh engkau telah menjadi pemimpin kaummu. Hari ini adalah hari yang menentukan, dan setelah hari ini tidak ada hari lain bagimu. Mengapa aku mendengar suara unta, ringkikan keledai, tangisan anak kecil, dan kambing yang mengembik?” Malik menjawab, “Aku membawa mereka agar setiap orang berperang di belakang harta, wanita, dan anak-anak mereka.”Duraid berkata, “Celaka engkau! Apakah orang yang kalah bisa ditahan oleh sesuatu apa pun? Jika engkau menang, yang akan bermanfaat bagimu hanyalah seorang laki-laki dengan pedang dan tombaknya. Namun, jika engkau kalah, engkau akan dipermalukan bersama keluarga dan hartamu.” Malik berkata, “Demi Allah, aku tidak akan melakukan selain ini. Sungguh engkau telah tua dan akalmu pun telah melemah.”Duraid berkata, “Demi Allah, aku telah menyelamatkanmu dari kehinaan suku Hawazin. Seandainya aku masih mampu berdiri di atas kakiku, aku akan bertarung dengan pedang ini hingga keluar dari punggungku. Aku membenci jika Bani Jusham tidak memiliki pendapat atau pandangan dalam urusan ini.” Mereka berkata, “Berilah kami pendapatmu.” Maka Duraid bin Ash-Shimmah berkata, “Hari ini aku tidak melihat sesuatu yang aku persaksikan, dan aku tidak pula kehilangan akalku.”Jumlah orang yang berkumpul bersama Malik bin ‘Auf untuk memerangi Rasulullah ﷺ mencapai dua puluh ribu orang. Malik menempatkan mata-mata (pengintai)nya, lalu mata-mata itu datang kepadanya dalam keadaan kacau balau. Malik bertanya, “Celaka kalian, apa yang terjadi?” Mereka menjawab, “Kami melihat pasukan berkuda putih di atas kuda-kuda yang belang. Demi Allah, kami tidak mampu bertahan sejak pertama kali melihat mereka.” Malik tidak menghiraukan laporan itu dan tidak memedulikannya.Rasulullah ﷺ meminjam baju besi dan senjata dari Shafwan bin Umayyah, sementara Shafwan saat itu masih dalam keadaan musyrik. Shafwan berkata, “Apakah ini berarti engkau merampasnya, wahai Muhammad?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Bukan, ini pinjaman yang dijamin.” Maka Shafwan meminjamkan kepada Rasulullah ﷺ seratus baju besi.Pasukan ini merupakan pasukan Islam terbesar yang pernah keluar bersama Rasulullah ﷺ. Ketika sebagian kaum muslimin melihat banyaknya jumlah pasukan, ada seseorang yang berkata, “Hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah yang sedikit.” Perkataan itu memberatkan Rasulullah ﷺ. Lalu Allah Ta‘ala menurunkan firman-Nya:﴿لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ ۝ ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ﴾“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 25–26)Di tengah perjalanan, kaum muslimin melewati sebuah pohon milik kaum musyrikin yang disebut Dzat Anwath. Dari Abu Waaqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami keluar dari Mekah bersama Rasulullah ﷺ menuju Hunain. Orang-orang kafir memiliki sebuah pohon bidara tempat mereka berdiam dan menggantungkan senjata-senjata mereka, yang disebut Dzat Anwath.”Ia berkata, “Kami pun melewati sebuah pohon bidara yang hijau dan besar.” Maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzat Anwāṭ (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzat Anwāṭ.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Allāhu akbar! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian telah mengatakan seperti apa yang dikatakan kaum Musa.”ٱجْعَل لَّنَآ إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ ءَالِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ“Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)“.” (QS. Al-A‘rāf: 138)Rasulullah ﷺ melanjutkan, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian setahap demi setahap.”Rasulullah ﷺ kemudian mengutus ‘Abdullāh bin Abī Ḥadrad Al-Aslamī radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu. Dari ayahnya, ia berkata: “Ia datang membawa kabar tentang Hawāzin. Ia pun masuk ke tengah-tengah kaum itu dan mendapati mereka telah berkumpul seluruhnya untuk memerangi Rasulullah ﷺ. Ia lalu menyampaikan apa yang ia lihat kepada Rasulullah ﷺ.” Maka Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda, “Itu adalah rampasan kaum muslimin besok, insya Allah.”Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang akan mengawasi kita malam ini?”Anas bin Abī Murthid Al-Ghanawī radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu berkata, “Aku, wahai Rasulullah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Naiklah.” Maka ia pun menaiki kudanya dan segera datang menemui Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Hadapilah lembah ini hingga engkau berada di atasnya, dan jangan biarkan siapa pun mendatangi kita dari arahmu malam ini.”Ketika pagi tiba, Rasulullah ﷺ keluar menuju tempat salatnya dan melaksanakan dua rakaat. Setelah itu beliau bersabda, “Apakah kalian merasakan penjagaan sahabat kalian?”Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami tidak melihat sesuatu pun.”Maka Rasulullah ﷺ pun melaksanakan salat, dan beliau menoleh ke arah lembah itu hingga selesai salatnya. Kemudian beliau bersabda, “Bergembiralah, sungguh penjaga kalian telah datang.”Kami pun melihat ke arah lembah itu melalui sela-sela pepohonan. Ternyata ia telah datang, lalu berdiri di hadapan Rasulullah ﷺ dan memberi salam. Ia berkata, “Aku berangkat hingga aku berada di puncak lembah ini, tempat engkau memerintahkanku, wahai Rasulullah. Ketika dua lembah itu tampak jelas, aku pun melihat keduanya.”Kami memperhatikan, tetapi tidak melihat seorang pun. Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, “Apakah engkau turun pada malam hari?” Ia menjawab, “Tidak, kecuali hanya untuk melaksanakan salat atau menunaikan hajat.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Engkau telah menjalankan tugas dengan baik, maka jangan engkau lakukan apa pun setelah ini.”Kemudian Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanannya hingga sampai di Hunain. Sementara itu, Malik bin ‘Auf beserta pasukannya telah lebih dahulu tiba sebelum Rasulullah ﷺ. Mereka menyiapkan diri dan bersembunyi di celah-celah lembah serta di balik pepohonan. Rasulullah ﷺ datang bersama para sahabatnya hingga mereka turun ke lembah pada waktu subuh. Mereka tidak menyadari hal tersebut. Tiba-tiba Hawazin dan Tsaqif menyerang mereka dengan serangan serentak oleh satu orang, lalu orang-orang yang bersembunyi keluar dari celah-celah lembah dan tempat-tempat persembunyian mereka, serta menghujani kaum muslimin dengan anak panah. Urusan kaum muslimin pun menjadi kacau secara tiba-tiba.Mereka pun lari mundur dalam keadaan terpecah-belah, tidak menoleh ke arah mana pun. Namun Rasulullah ﷺ tetap teguh berdiri, bersama sebagian kecil kaum mukminin yang ada bersamanya. Rasulullah ﷺ berpaling ke arah kanan, lalu berseru, “Wahai manusia, kemarilah kepadaku! Aku adalah Rasulullah, aku adalah Muhammad bin ‘Abdullah.”Bersama beliau terdapat sekelompok orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar, sementara orang-orang yang tetap bertahan bersamanya tidak banyak. Di antara Ahlul Bait yang tetap bersamanya adalah Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Ali bin Abi Thalib, Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, putranya Al-Fadhl bin ‘Abbas, Abu Sufyan bin Al-Harits, Rabi‘ah bin Al-Harits, Aiman bin ‘Ubaid—yang merupakan putra Ummu Aiman—dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ta‘ala ‘anhum ajma‘in.Rasulullah ﷺ pun berseru, “Aku adalah Nabi, tidak ada dusta. Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.” Termasuk doa beliau saat itu adalah, “Ya Allah, jika Engkau menghendaki, maka Engkau tidak akan disembah setelah hari ini.”Dalam Shahih Muslim, dari Al-‘Abbas radhiyallahu ta‘ala ‘anhu, ia berkata: “Aku menyaksikan Perang Hunain bersama Rasulullah ﷺ. Aku dan Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib selalu bersama Rasulullah ﷺ dan tidak berpisah darinya. Rasulullah ﷺ berada di atas seekor bagal putih yang dihadiahkan oleh Farrukh bin Nafatsah Al-Judzami. Ketika kaum muslimin dan orang-orang kafir saling berhadapan, kaum muslimin pun mundur.”“Rasulullah ﷺ lalu memacu bagalnya ke arah orang-orang kafir. Aku memegang tali kekang bagal Rasulullah ﷺ, menahannya agar tidak melaju terlalu cepat, sementara Abu Sufyan memegang sanggurdi beliau. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Wahai ‘Abbas, panggillah para sahabat Samurah!’”Al-‘Abbas berkata: “Aku adalah seorang yang bersuara lantang. Aku pun berteriak sekeras-kerasnya, ‘Di mana para sahabat Samurah?’ Demi Allah, ketika mereka mendengar suaraku, suara itu terasa seperti suara sapi yang memanggil anaknya. Mereka pun menjawab, ‘Labbaik, labbaik!’ Lalu mereka bertempur melawan orang-orang kafir.”“Kemudian seruan dialihkan kepada kaum Anshar. Dikatakan, ‘Wahai kaum Anshar!’ Lalu seruan itu dikhususkan kepada Bani Al-Harits bin Al-Khazraj. Dikatakan, ‘Wahai Bani Al-Harits bin Al-Khazraj!’ Maka Rasulullah ﷺ memandang mereka, sementara beliau berada di atas bagalnya, seakan-akan beliau menjulang di atas mereka.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Sekaranglah panasnya peperangan.”Al-‘Abbas berkata: “Kemudian Rasulullah ﷺ mengambil segenggam kerikil dan melemparkannya ke wajah orang-orang kafir, lalu bersabda, ‘Hancurlah wajah-wajah itu!’ Aku pun pergi menyaksikan keadaan pertempuran, dan demi Allah, tidaklah beliau melempar mereka dengan kerikil itu, melainkan aku melihat mereka semua tercerai-berai dan urusan mereka pun kacau balau.” Jumlah Banyak Belum Tentu MenangAllah Ta’ala berfirman tentang Thalut,كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249)Baca juga: Kisah Thalut, Jalut, dan Nabi Daud: Ujian Kepemimpinan dan Kemenangan ImanNamun karena mereka bangga dengan jumlah yang banyak, Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِى مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)Ayat yang membicarakan kekalahan dalam perang Hunain terkait sejatinya dengan peringatan pada ayat sebelumnya,قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah:24)Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 27)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:Ibnu Juraij meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata: “Ini adalah ayat pertama yang turun dari Surah Barā’ah (At-Taubah).”Allah Ta‘ala menyebutkan kepada orang-orang beriman tentang karunia dan kebaikan-Nya kepada mereka, berupa pertolongan-Nya dalam banyak pertempuran yang mereka jalani bersama Rasul-Nya. Semua itu terjadi semata-mata dari sisi Allah Ta‘ala, dengan dukungan dan ketetapan-Nya, bukan karena jumlah mereka dan bukan pula karena banyaknya pasukan. Allah mengingatkan mereka bahwa kemenangan hanyalah dari sisi-Nya, baik jumlah kaum muslimin sedikit maupun banyak.Pada Perang Hunain, kaum muslimin sempat merasa kagum dengan banyaknya jumlah mereka. Namun ternyata, banyaknya jumlah itu sama sekali tidak memberi manfaat bagi mereka. Mereka pun berbalik melarikan diri, kecuali sedikit orang yang tetap bersama Rasulullah ﷺ. Setelah itu, Allah menurunkan pertolongan dan dukungan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada kaum mukminin yang bersamanya, sebagaimana akan dijelaskan secara terperinci—insyaallah—agar mereka mengetahui bahwa kemenangan itu benar-benar dari sisi Allah Ta‘ala semata, dengan pertolongan-Nya, meskipun jumlah pasukan sedikit.فكم من فئة قليلة غلبت فئة كثيرة بإذن الله ، والله مع الصابرين .Betapa sering kelompok yang sedikit mampu mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.Imam Ahmad berkata: “Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir, telah menceritakan kepada kami ayahku, aku mendengar Yunus menceritakan dari Az-Zuhri, dari ‘Ubaidullah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:خير الصحابة أربعة ، وخير السرايا أربعمائة ، وخير الجيوش أربعة آلاف ، ولن تغلب اثنا عشر ألفا من قلة .‘Sebaik-baik para sahabat itu berjumlah empat orang, sebaik-baik pasukan kecil (sariyyah) berjumlah empat ratus orang, dan sebaik-baik tentara berjumlah empat ribu orang. Dan dua belas ribu pasukan tidak akan terkalahkan karena sedikitnya jumlah.’”Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan gharib. Tidak ada seorang perawi besar pun yang meriwayatkannya secara bersambung kecuali Jarir bin Hazim. Riwayat yang masyhur dari Az-Zuhri adalah dari Nabi ﷺ secara mursal.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Al-Baihaqi, dan selain keduanya, dari Aktsam bin Al-Jaun, dari Rasulullah ﷺ dengan lafaz yang semakna. Dan Allah Maha Mengetahui.Peristiwa Perang Hunain terjadi setelah Fathu Makkah, tepatnya pada bulan Syawal tahun kedelapan Hijriah. Hal itu bermula ketika Rasulullah ﷺ telah selesai menaklukkan Makkah, urusan-urusannya telah tertata dengan baik, dan mayoritas penduduknya telah masuk Islam. Rasulullah ﷺ pun membebaskan mereka. Lalu sampai kepada beliau kabar bahwa suku Hawazin telah menghimpun kekuatan untuk memerangi beliau. Pemimpin mereka adalah Malik bin ‘Auf An-Nadhri, bersama seluruh kabilah Tsaqif, Bani Jusyam, Bani Sa‘d bin Bakr, sejumlah kelompok dari Bani Hilal—yang jumlahnya tidak banyak—serta sekelompok orang dari Bani ‘Amr bin ‘Amir dan ‘Auf bin ‘Amir.Mereka datang dengan membawa serta para wanita, anak-anak, kambing, dan unta, bahkan membawa seluruh harta dan keluarga mereka tanpa tersisa. Maka Rasulullah ﷺ keluar menemui mereka dengan pasukan yang beliau bawa saat Fathu Makkah, yaitu sepuluh ribu orang dari kalangan Muhajirin, Anshar, dan kabilah-kabilah Arab. Bersama beliau juga ikut orang-orang Makkah yang baru masuk Islam, yaitu para thulaqā’, yang jumlahnya sekitar dua ribu orang. Beliau pun bergerak bersama mereka menuju musuh.Kedua pasukan bertemu di sebuah lembah antara Makkah dan Thaif yang bernama Hunain. Pertempuran terjadi di sana pada awal pagi, saat suasana masih gelap menjelang subuh. Kaum muslimin menuruni lembah tersebut, sementara pasukan Hawazin telah bersembunyi di dalamnya. Ketika kedua pasukan saling berhadapan, kaum muslimin tiba-tiba diserbu. Mereka dihujani anak panah, pedang-pedang dihunus, dan pasukan musuh menyerang serentak sebagai satu kesatuan, sebagaimana perintah pemimpin mereka. Pada saat itulah kaum muslimin berbalik melarikan diri, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.Namun Rasulullah ﷺ tetap teguh berdiri. Saat itu beliau menaiki baghal (keledai besar) beliau yang berwarna putih keabu-abuan, mengarahkannya menuju pusat pasukan musuh. Paman beliau, Al-‘Abbas, memegang tali kekang sebelah kanan, dan Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib memegang sebelah kiri, keduanya menahan laju hewan itu agar tidak berjalan terlalu cepat. Rasulullah ﷺ menyerukan nama beliau dan mengajak kaum muslimin untuk kembali, seraya berkata,[ ويقول ] أين يا عباد الله ؟ إلي أنا رسول الله ، ويقول في تلك الحال “Ke mana kalian, wahai hamba-hamba Allah? Kembalilah kepadaku, aku adalah Rasulullah.” Pada saat itu beliau juga mengucapkan:أنا النبي لا كذب أنا ابن عبد المطلب“Aku adalah Nabi, tidak ada dusta.
Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.”وثبت معه من أصحابه قريب من مائة ، ومنهم من قال : ثمانون ، فمنهم : أبو بكر ، وعمر – رضي الله عنهما – والعباس وعلي ، والفضل بن عباس ، وأبو سفيان بن الحارث ، وأيمن بن أم أيمن ، وأسامة بن زيد ، وغيرهم – رضي الله عنهم –Bersama beliau saat itu tetap bertahan sekitar seratus orang dari para sahabat—ada pula yang mengatakan delapan puluh orang. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Al-‘Abbas, ‘Ali, Al-Fadhl bin Al-‘Abbas, Abu Sufyan bin Al-Harits, Aiman bin Ummu Aiman, Usamah bin Zaid, dan selain mereka radhiyallahu ‘anhum. ثم أمر – صلى الله عليه وسلم – عمه العباس – وكان جهير الصوت – أن ينادي بأعلى صوته : يا أصحاب الشجرة – يعني شجرة بيعة الرضوان ، التي بايعه المسلمون من المهاجرين والأنصار تحتها ، على ألا يفروا عنه – فجعل ينادي بهم : يا أصحاب السمرة ويقول تارة : يا أصحاب سورة البقرة ،Kemudian Rasulullah ﷺ memerintahkan pamannya, Al-‘Abbas—yang dikenal bersuara lantang—untuk menyeru dengan suara keras: “Wahai para pemilik pohon!” Maksudnya adalah pohon Bai‘at Ridwan, tempat kaum muslimin dari kalangan Muhajirin dan Anshar berbaiat di bawahnya untuk tidak lari meninggalkan beliau. Al-‘Abbas pun menyeru mereka dengan berkata: “Wahai para pemilik pohon samurah!” Terkadang ia juga berseru: “Wahai para pemilik Surah Al-Baqarah!” فجعلوا يقولون : يا لبيك ، يا لبيك ، وانعطف الناس فجعلوا يتراجعون إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – حتى إن الرجل منهم إذا لم يطاوعه بعيره على الرجوع ، لبس درعه ، ثم انحدر عنه ، وأرسله ، ورجع بنفسه إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – . فلما رجعت شرذمة منهم ، أمرهم عليه السلام أن يصدقوا الحملة ، وأخذ قبضة من التراب بعدما دعا ربه واستنصره ، وقال : Mereka pun menjawab, “Kami penuhi panggilanmu, kami penuhi panggilanmu.” Orang-orang mulai berbalik dan kembali menuju Rasulullah ﷺ. Bahkan ada di antara mereka yang, jika untanya tidak mau berbalik arah, ia mengenakan baju besinya, lalu turun dari untanya, melepaskannya, dan ia sendiri berlari kembali menuju Rasulullah ﷺ.Ketika sejumlah pasukan telah kembali, Rasulullah ﷺ memerintahkan mereka untuk melakukan serangan dengan sungguh-sungguh. Beliau lalu mengambil segenggam tanah setelah berdoa kepada Rabb-nya dan memohon pertolongan-Nya, seraya berkata:اللهم أنجز لي ما وعدتني “Ya Allah, penuhilah untukku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku.”ثم رمى القوم بها ، فما بقي إنسان منهم إلا أصابه منها في عينيه وفمه ما شغله عن القتال ، ثم انهزموا ، فاتبع المسلمون أقفاءهم يقتلون ويأسرون ، وما تراجع بقية الناس إلا والأسارى مجدلة بين يدي رسول الله – صلى الله عليه وسلم – Kemudian beliau melemparkan tanah itu ke arah musuh. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali tanah itu mengenai mata dan mulutnya, sehingga menyibukkan mereka dari pertempuran. Akhirnya mereka pun kalah dan melarikan diri.Kaum muslimin mengejar mereka, membunuh dan menawan. Tidaklah sisa pasukan kembali, melainkan para tawanan telah bergelimpangan di hadapan Rasulullah ﷺ.Dalam riwayat Imam Ahmad, dari Abu ‘Abdurrahman Al-Fihri—nama aslinya Yazid bin Usaid, ada pula yang mengatakan Yazid bin Anis, dan ada yang mengatakan Karz—ia berkata:‘Aku pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Hunain. Kami berjalan pada hari yang sangat terik dan panasnya amat menyengat. Kami pun singgah di bawah naungan pepohonan. Ketika matahari telah condong (ke barat), aku mengenakan baju besiku dan menaiki kudaku. Lalu aku berangkat menemui Rasulullah ﷺ, sementara beliau berada di dalam kemahnya. Aku berkata, “Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepadamu, wahai Rasulullah. Apakah sudah waktunya berangkat?” Beliau menjawab, “Ya.”Beliau lalu bersabda, “Wahai Bilal.” Maka Bilal segera bangkit dari bawah pohon samurah, seakan-akan naungannya adalah naungan seekor burung. Ia berkata, “Aku penuhi panggilanmu dan aku siap melayanimu, aku menebusmu dengan diriku.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Pelanakanlah kudaku.” Maka dikeluarkanlah sebuah pelana yang kedua sisinya terbuat dari serat, tidak ada kemewahan dan tidak ada kesombongan padanya.Pelana itu pun dipasangkan. Rasulullah ﷺ menaikinya, dan kami pun menaiki tunggangan kami. Kami berhadapan dengan musuh pada sore hari dan sepanjang malam. Kuda-kuda saling berhadapan, lalu kaum muslimin berbalik melarikan diri, sebagaimana yang difirmankan Allah ‘Azza wa Jalla: “Kemudian kalian berpaling melarikan diri.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Wahai hamba-hamba Allah, aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Wahai kaum Muhajirin, aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”Kemudian Rasulullah ﷺ meloncat turun dari kudanya, lalu mengambil segenggam tanah. Orang yang paling dekat denganku—yang melihat kejadian itu—mengabarkan kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ melemparkan tanah tersebut ke wajah mereka seraya bersabda, “Binasalah wajah-wajah itu.” Maka Allah ‘Azza wa Jalla pun mengalahkan mereka.Ya‘la bin ‘Atha’ berkata: “Anak-anak mereka menceritakan kepadaku, dari para ayah mereka, bahwa mereka berkata: ‘Tidak ada seorang pun dari kami yang tersisa, kecuali kedua matanya dan mulutnya penuh dengan tanah. Dan kami mendengar suara gemerincing antara langit dan bumi, seperti bunyi besi yang digesekkan pada bejana baru.’”Demikian pula hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hafizh Al-Baihaqi dalam kitab Dalā’il an-Nubuwwah, melalui riwayat Abu Dawud Ath-Thayalisi, dari Hammad bin Salamah, dengan sanad yang sama.Muhammad bin Ishaq berkata: “Telah menceritakan kepadaku ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah, dari ‘Abdurrahman bin Jabir, dari ayahnya, Jabir, dari ‘Abdullah,” ia berkata:Malik bin ‘Auf keluar bersama pasukannya menuju Hunain. Ia tiba lebih dahulu daripada Rasulullah ﷺ, lalu mereka menyiapkan diri dan bersiaga di tempat-tempat sempit serta lekuk-lekuk lembah. Rasulullah ﷺ pun datang bersama para sahabatnya, hingga mereka turun memasuki lembah pada saat pagi masih gelap. Ketika orang-orang mulai menuruni lembah itu, tiba-tiba pasukan berkuda musuh menyerbu ke arah mereka. Serangan itu terasa sangat berat, sehingga orang-orang pun berbalik lari tunggang-langgang, tidak ada seorang pun yang menoleh kepada yang lain.Rasulullah ﷺ pun bergerak ke arah kanan sambil berseru, “Wahai manusia, kemarilah kepadaku! Aku adalah Rasulullah! Aku adalah Rasulullah! Aku adalah Muhammad bin ‘Abdullah!” Namun tidak ada yang menyahut. Unta-unta pun saling bertubrukan satu sama lain. Ketika Rasulullah ﷺ melihat keadaan kaum muslimin seperti itu, beliau bersabda, “Wahai ‘Abbas, berserulah: Wahai kaum Anshar, wahai para pemilik pohon samurah!”Mereka pun menjawab, “Kami penuhi panggilanmu, kami penuhi panggilanmu.” Seseorang di antara mereka berusaha membelokkan untanya, namun tidak mampu. Maka ia pun melemparkan baju besinya ke lehernya, mengambil pedang dan busurnya, lalu menuju ke arah suara panggilan itu, hingga berkumpul di sekitar Rasulullah ﷺ sekitar seratus orang. Rasulullah ﷺ kemudian mengatur barisan mereka, lalu terjadilah pertempuran sengit.Pada awalnya seruan itu ditujukan kepada kaum Anshar, kemudian di akhir kepada kabilah Khazraj, dan mereka adalah orang-orang yang sangat tegar dalam peperangan. Rasulullah ﷺ pun menampakkan diri di atas tunggangannya dan melihat sengitnya pertempuran, lalu bersabda, “Sekarang benar-benar berkobarlah api peperangan.”Demi Allah, tidaklah orang-orang kembali, melainkan para tawanan telah tergeletak di hadapan Rasulullah ﷺ. Allah membinasakan siapa yang dibinasakan-Nya dari mereka, dan sebagian lainnya melarikan diri. Allah pun memberikan kepada Rasul-Nya harta dan anak-anak mereka sebagai rampasan.Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari hadits Syu‘bah, dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepadanya, “Wahai Abu ‘Umarah, apakah kalian lari meninggalkan Rasulullah ﷺ pada hari Hunain?” Ia menjawab, “Ya, tetapi Rasulullah ﷺ tidak lari. Sesungguhnya Hawazin adalah kaum pemanah. Ketika kami berjumpa dengan mereka dan menyerang mereka, mereka pun mundur. Lalu orang-orang sibuk mengumpulkan harta rampasan, maka pasukan Hawazin kembali menyerang kami dengan hujan anak panah, sehingga orang-orang pun berlarian. Sungguh aku melihat Rasulullah ﷺ, sementara Abu Sufyan bin Al-Harits memegang tali kekang baghal putih Rasulullah ﷺ, dan beliau berkata: ‘Aku adalah Nabi, tidak ada dusta. 
Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.’”Aku berkata: Ini merupakan puncak keberanian yang paling sempurna. Pada hari seperti itu, di tengah kancah pertempuran yang berkecamuk, ketika pasukannya telah tercerai-berai darinya, beliau tetap berada di atas seekor baghal yang bukan tunggangan cepat, tidak cocok untuk menyerang, mundur, ataupun melarikan diri. Namun dalam keadaan seperti itu, beliau justru mengarahkannya ke hadapan musuh dan menyebutkan nama beliau agar dikenal oleh siapa pun yang belum mengenalnya. Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau hingga hari kiamat.Semua itu tidak lain adalah karena keyakinan beliau kepada Allah, tawakal kepada-Nya, dan pengetahuan beliau bahwa Allah pasti akan menolongnya, menyempurnakan risalah yang diembankan kepadanya, dan memenangkan agamanya atas seluruh agama lainnya. Allah Turunkan Sakinah pada Perang HunainAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)Oleh karena itu, Allah Ta‘ālā berfirman:﴿ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ﴾Artinya, Allah menurunkan ketenangan dan keteguhan kepada Rasul-Nya.Dan firman-Nya:﴿وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ﴾Maksudnya, kepada orang-orang beriman yang bersama beliau.Dan firman-Nya:﴿وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا﴾Yaitu para malaikat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Abu Ja‘far bin Jarir.Ia berkata:Telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Al-Hasan bin ‘Arafah, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Al-Mu‘tamir bin Sulaiman, dari ‘Auf—yaitu Ibnu Abi Jamīlah Al-A‘rābi—ia berkata: aku mendengar ‘Abdurrahman, mantan budak Ibnu Baratsan, ia menceritakan kepadaku dari seorang lelaki yang berada di pihak orang-orang musyrik pada hari Perang Hunain. Lelaki itu berkata:“Ketika kami bertemu dengan para sahabat Rasulullah ﷺ pada hari Hunain, mereka sama sekali tidak mampu bertahan menghadapi kami, bahkan sekejap pun. Ketika kami berhasil memukul mundur mereka, kami terus mengejar mereka hingga akhirnya kami sampai kepada seorang laki-laki yang berada di atas seekor bagal putih. Ternyata dia adalah Rasulullah ﷺ.Di dekat beliau, kami disambut oleh orang-orang berpakaian putih, berwajah tampan. Mereka berkata kepada kami: ‘Semoga wajah-wajah kalian menjadi buruk! Kembalilah!’Maka kami pun langsung lari tunggang-langgang. Mereka menaiki tengkuk-tengkuk kami, dan kekalahan itu pun menimpa kami.”Al-Ḥāfiẓ Abu Bakr Al-Baihaqi berkata:Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Al-Ḥāfiẓ, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ahmad bin Bālawaih, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Al-Hasan Al-Harbi, telah menceritakan kepada kami ‘Affān bin Muslim, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wāḥid bin Ziyād, telah menceritakan kepada kami Al-Ḥārith bin Ḥuṣairah, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya, ia berkata:Ibnu Mas‘ūd radhiyallahu ‘anhu berkata:“Aku bersama Rasulullah ﷺ pada hari Perang Hunain. Ketika itu orang-orang tercerai-berai meninggalkan beliau, dan yang tersisa bersama beliau hanyalah delapan puluh orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Kami maju ke depan dan tidak membelakangi musuh. Merekalah orang-orang yang Allah turunkan kepada mereka ketenangan.Rasulullah ﷺ berada di atas bagalnya dan terus maju. Bagalnya sempat menyimpang sehingga beliau hampir miring dari pelana. Aku berkata: ‘Bangkitlah, semoga Allah meninggikanmu.’Beliau bersabda: ‘Berikan kepadaku segenggam tanah.’ Aku pun memberikannya. Lalu beliau melemparkan tanah itu ke wajah mereka, hingga mata-mata mereka penuh dengan debu.Kemudian beliau bersabda: ‘Di mana kaum Muhajirin dan Anshar?’Aku menjawab: ‘Mereka ada di sana.’Beliau bersabda: ‘Panggil mereka!’Aku pun memanggil mereka. Mereka datang dengan pedang-pedang terhunus di tangan kanan mereka, seakan-akan kilatan cahaya. Maka orang-orang musyrik pun membalikkan badan mereka dan lari.”Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari ‘Affān, dengan lafaz yang hampir sama.Al-Walīd bin Muslim berkata:Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullāh bin al-Mubārak, dari Abū Bakr al-Hudzalī, dari ‘Ikrimah—mantan budak Ibnu ‘Abbās—dari Syaibah bin ‘Utsmān, ia berkata:“Ketika aku melihat Rasulullah ﷺ pada hari Perang Hunain dalam keadaan terbuka (tidak terlindungi), aku teringat ayah dan pamanku yang terbunuh oleh ‘Ali dan Hamzah. Maka aku berkata dalam hatiku: ‘Hari ini aku akan menuntut balasku darinya.’Aku pun bergerak hendak mendatanginya dari sisi kanan. Namun tiba-tiba aku melihat al-‘Abbās bin ‘Abdul Muththalib berdiri, mengenakan baju besi putih seperti perak, debu pertempuran menyingkapinya. Aku berkata: ‘Itu pamannya, ia pasti tidak akan membiarkannya.’Lalu aku mendatanginya dari sisi kiri, ternyata di sana ada Abū Sufyān bin al-Ḥārith bin ‘Abdul Muththalib. Aku berkata: ‘Itu sepupunya, ia pun tidak akan membiarkannya.’Aku pun mendatanginya dari arah belakang. Tidak tersisa lagi bagiku kecuali mengayunkan pedang kepadanya. Tiba-tiba muncul di hadapanku nyala api di antara aku dan dia, seperti kilat. Aku takut api itu akan membakarku, maka aku menutup mataku dengan tanganku dan mundur perlahan.Rasulullah ﷺ lalu menoleh kepadaku dan bersabda: ‘Wahai Syaibah, wahai Syaibah, mendekatlah kepadaku. Ya Allah, hilangkanlah setan darinya.’Aku pun mengangkat pandanganku ke arah beliau. Saat itu, beliau menjadi lebih aku cintai daripada pendengaran dan penglihatanku sendiri. Lalu beliau bersabda: ‘Wahai Syaibah, perangilah orang-orang kafir.’”Karena itulah Allah Ta‘ālā berfirman:﴿ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ﴾“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26) Kaum Hawazin Masuk IslamAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 26)Allah benar-benar telah menerima tobat sisa kaum Hawāzin. Mereka masuk Islam dan datang menemui Rasulullah ﷺ dalam keadaan sebagai kaum muslimin. Mereka menyusul beliau ketika beliau telah mendekati Mekah, tepatnya di Ji‘rānah, sekitar dua puluh hari setelah peristiwa perang.Pada saat itu, Rasulullah ﷺ memberi mereka pilihan antara mengambil kembali para tawanan mereka atau mengambil kembali harta-harta mereka. Mereka memilih para tawanan mereka. Jumlah tawanan itu sekitar enam ribu orang, terdiri dari anak-anak dan para perempuan. Maka Rasulullah ﷺ mengembalikan seluruh tawanan itu kepada mereka.Adapun harta rampasan perang, beliau membagikannya kepada para prajurit yang ikut berperang. Beliau juga memberikan tambahan pemberian (nafal) kepada sebagian orang dari golongan ṭulaqā’ (orang-orang yang baru masuk Islam setelah Fathu Mekah), dengan tujuan melembutkan hati mereka agar semakin kokoh dalam Islam. Beliau memberi mereka masing-masing seratus ekor unta.Di antara orang yang diberi seratus ekor unta tersebut adalah Mālik bin ‘Auf an-Naḍrī. Rasulullah ﷺ bahkan mengangkatnya kembali sebagai pemimpin atas kaumnya sebagaimana sebelumnya. Karena itu, Mālik bin ‘Auf memuji Rasulullah ﷺ dengan sebuah qasidah yang di antaranya berbunyi:Aku tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar
di tengah seluruh manusia seseorang seperti Muhammad.Paling menepati janji dan paling banyak memberi,
bila diminta kebaikan; dan kapan pun engkau kehendaki,
ia mampu mengabarkan apa yang akan terjadi esok hari.Jika pasukan telah menampakkan taring-taringnya,
dengan tombak-tombak lurus dan pedang-pedang tajam,Maka ia laksana singa di tengah anak-anaknya,
tenang di tengah debu peperangan, siap mengintai musuh. Kisah Dzul Khuwaishirah yang Menuntut Rasulullah untuk AdilKemudian datanglah utusan dari Hawazin yang telah masuk Islam di Ji‘ranah. Mereka berbicara kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, kami memiliki keluarga dan kerabat. Kami telah tertimpa musibah yang tidak tersembunyi bagimu. Maka berilah kami sebagian dari apa yang Allah berikan kepadamu.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَبْنَاؤُكُمْ وَنِسَاؤُكُمْ أَحَبُّ إِلَيْكُمْ أَمْ أَمْوَالُكُمْ؟”“Anak-anak dan wanita kalian lebih kalian cintai atau harta kalian?”Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, engkau memberi kami pilihan antara harta dan keluarga kami, maka kami memilih agar wanita dan anak-anak kami dikembalikan kepada kami. Itu lebih kami cintai.”Beliau bersabda kepada mereka,“أَمَّا مَا كَانَ لِي وَلِبَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَهُوَ لَكُمْ”“Adapun yang menjadi bagianku dan bagian Bani Abdul Muththalib, maka itu untuk kalian.”Kemudian beliau berkata, “Jika aku telah selesai salat Zuhur bersama manusia, maka berdirilah kalian dan katakan: ‘Kami memohon syafaat kepada Rasulullah kepada kaum muslimin, dan kepada kaum muslimin agar membantu kami dalam urusan wanita dan anak-anak kami.’”Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai salat Zuhur bersama manusia, mereka pun berdiri dan menyampaikan apa yang diperintahkan kepada mereka. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَمَّا مَا كَانَ لِي وَلِبَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَهُوَ لَكُمْ”“Adapun yang menjadi bagianku dan bagian Bani Abdul Muththalib, maka itu untuk kalian.”Kaum Muhajirin berkata, “Apa yang menjadi bagian kami, maka itu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Al-Aqra‘ bin Habis berkata, “Adapun aku dan Bani Tamim, tidak.”‘Uyainah bin Hishn berkata, “Adapun aku dan Bani Fazarah, tidak.”Al-‘Abbas bin Mirdas berkata, “Adapun aku dan Bani Sulaim, tidak.”Namun Bani Sulaim berkata, “Bahkan, apa yang menjadi bagian kami, maka itu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَمَّا مَنْ تَمَسَّكَ مِنْكُمْ بِحَقِّهِ مِنْ هَذَا السَّبْيِ فَلَهُ بِكُلِّ إِنْسَانٍ سِتُّ فَرَائِضَ مِنْ أَوَّلِ سَبْيٍ أُصِيبَهُ”“Adapun siapa di antara kalian yang tetap mempertahankan haknya dari tawanan ini, maka baginya setiap satu orang (yang ia lepaskan) akan diganti dengan enam bagian dari tawanan pertama yang akan kami dapatkan.”Maka mereka pun mengembalikan anak-anak dan wanita kepada kaum tersebut.Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Ji‘ranah, sementara di tangan Bilal ada pakaian, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil darinya untuk dibagikan kepada manusia. Lalu orang itu berkata, “Wahai Muhammad, berlakulah adil!”Beliau bersabda,“وَيْلَكَ، وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ؟ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ”“Celakalah engkau! Siapa yang akan berlaku adil jika aku tidak berlaku adil? Sungguh engkau akan rugi dan merugi jika aku tidak berlaku adil.”Maka Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku membunuh orang munafik ini.”Beliau bersabda,“مَعَاذَ اللَّهِ، أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي”“Aku berlindung kepada Allah dari ucapan orang-orang bahwa aku membunuh para sahabatku.”Beliau melanjutkan,“إِنَّ هَذَا وَأَصْحَابَهُ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنْهُ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ”“Sesungguhnya orang ini dan pengikutnya membaca Al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari sasarannya.”Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan harta kepada orang-orang Quraisy dan kabilah Arab lainnya, sementara kaum Anshar tidak mendapatkan bagian, maka sebagian dari mereka merasakan sesuatu dalam hati mereka, hingga salah seorang dari mereka berkata, “Demi Allah, Rasulullah telah menemui kaumnya.”Maka Sa‘d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum Anshar merasakan sesuatu dalam hati mereka terhadap apa yang engkau lakukan, yaitu engkau membagi kepada kaummu dan memberikan pemberian besar kepada kabilah Arab, sementara kaum Anshar tidak mendapatkan bagian apa pun.”Beliau bersabda, “Di manakah posisi engkau dalam hal ini, wahai Sa‘d?”Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, aku hanyalah bagian dari kaumku.”Beliau bersabda, “Kumpulkanlah kaummu di tempat ini.”Maka Sa‘d mengumpulkan kaum Anshar di tempat tersebut. Setelah mereka berkumpul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di tengah mereka, memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu bersabda:“يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، مَا قَالَةٌ بَلَغَتْنِي عَنْكُمْ؟”“Wahai kaum Anshar, apa ucapan yang sampai kepadaku dari kalian?”Mereka menjawab, “Adapun orang-orang bijak di antara kami, wahai Rasulullah, mereka tidak mengatakan apa-apa. Namun sebagian dari kami yang masih muda berkata: ‘Semoga Allah mengampuni Rasulullah, beliau memberi kepada Quraisy dan meninggalkan kami, sementara pedang kami masih meneteskan darah mereka.’”Maka beliau bersabda,“أَلَمْ آتِكُمْ ضُلَّالًا فَهَدَاكُمُ اللَّهُ، وَعَالَةً فَأَغْنَاكُمُ اللَّهُ، وَأَعْدَاءً فَأَلَّفَ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ؟”“Bukankah dahulu kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi kalian petunjuk, kalian dalam keadaan miskin lalu Allah mencukupkan kalian, dan kalian saling bermusuhan lalu Allah menyatukan hati kalian?”Mereka menjawab, “Benar, Allah dan Rasul-Nya lebih banyak memberi karunia dan keutamaan.”Beliau bersabda,“أَلَا تُجِيبُونِي يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ؟”“Mengapa kalian tidak menjawabku, wahai kaum Anshar?”Mereka berkata, “Apa yang harus kami katakan, wahai Rasulullah? Bagi Allah dan Rasul-Nya segala karunia dan keutamaan.”Beliau bersabda,“أَمَا وَاللَّهِ لَوْ شِئْتُمْ لَقُلْتُمْ فَلَصَدَقْتُمْ وَلَصُدِّقْتُمْ: أَتَيْتَنَا مُكَذَّبًا فَصَدَّقْنَاكَ، وَمَخْذُولًا فَنَصَرْنَاكَ…”“Demi Allah, seandainya kalian mau, kalian bisa mengatakan—dan kalian benar—: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu; engkau datang dalam keadaan ditinggalkan, lalu kami menolongmu lalu kalian menolongku, aku datang dalam keadaan terusir lalu kalian melindungiku, dan dalam keadaan miskin lalu kalian mencukupkanku.”“Wahai kaum Anshar, apakah kalian merasakan sesuatu dalam hati kalian karena sedikit bagian dunia yang dengannya aku ingin melunakkan hati suatu kaum agar mereka masuk Islam, sementara aku menyerahkan keislaman kalian (tanpa diberi bagian dunia)? Tidakkah kalian ridha, wahai kaum Anshar, bahwa manusia kembali dengan kambing dan unta, sedangkan kalian kembali membawa Rasulullah ke tempat tinggal kalian?”“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya bukan karena hijrah, niscaya aku termasuk bagian dari kaum Anshar. Jika manusia menempuh suatu jalan dan kaum Anshar menempuh jalan lain, pasti aku akan menempuh jalan kaum Anshar. Ya Allah, rahmatilah kaum Anshar, anak-anak Anshar, dan cucu-cucu Anshar.”Maka kaum itu pun menangis hingga janggut mereka basah, dan mereka berkata, “Kami ridha dengan Rasulullah sebagai bagian kami dan pembagian yang kami terima.”Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pergi, dan mereka pun berpisah. Pelajaran yang Dipetik dari Perang Hunain dan Pengepungan ThaifPertama: Sesungguhnya Allah dengan taufik-Nya mengatur urusan hamba-hamba-Nya yang beriman, bersikap lembut kepada mereka, dan melindungi mereka dari tipu daya orang-orang kafir. Allah menjadikan apa yang Dia kehendaki sebagai harta rampasan bagi kaum muslimin.Tidaklah Rasulullah ﷺ keluar menghadapi kekuatan besar kaum Quraisy di Makkah, kecuali karena Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati kaum Hawazin, sehingga mereka berhenti bergerak untuk memerangi Rasulullah ﷺ. Bahkan Allah menjadikan mereka menghadapi Rasulullah ﷺ dengan membawa serta wanita-wanita dan harta-harta mereka berupa unta dan kambing yang jumlahnya hanya diketahui oleh Allah.Semua itu terjadi agar harta rampasan tersebut menjadi milik kaum muslimin, yang dengannya Rasulullah ﷺ dapat menggunakannya untuk melembutkan dan menautkan hati serta mengobati luka batin penduduk Makkah, setelah mereka mengalami kekalahan besar yang sangat melukai perasaan mereka.Pada fase dakwah ini, Rasulullah ﷺ sangat membutuhkan upaya penaklukan hati, sementara beliau sendiri tidak memiliki apa-apa, bahkan sampai harus meminjam baju besi dari Shafwan. Maka datanglah harta-harta rampasan dan kekayaan yang besar ini, lalu Rasulullah ﷺ menggunakannya untuk menundukkan hati para pemimpin yang sebelumnya telah “hilang akal sehatnya” (karena kebencian dan permusuhan).Mahasuci Allah, Sang Pengatur segala urusan dan Pembolak-balik hati sesuai kehendak-Nya. Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.Kedua: Peristiwa Rasulullah ﷺ meminjam baju besi dari Shafwan bin Umayyah mengandung beberapa pelajaran, di antaranya:Keterbatasan sarana material yang dimiliki pasukan Rasulullah ﷺ, hingga beliau harus meminjam senjata dari seorang musyrik.Bolehnya seorang imam atau pemimpin meminjam senjata milik orang musyrik untuk memerangi musuh. Peristiwa ini termasuk salah satu bentuk isti‘ānah (meminta bantuan).Barang pinjaman (al-‘āriyah) itu bersifat tanggungan, meskipun barang yang dipinjam tersebut adalah milik orang musyrik, meski dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha.Ketiga: Malik an-Nadhri mengutus seorang mata-mata sebagai pemimpin pasukan Tsaqif dan Hawazin agar ia mengamati langsung keadaan Rasulullah ﷺ dan berita tentang pasukan kaum muslimin.Ketika mata-mata itu kembali kepada Malik, terlihat jelas pada wajahnya tanda-tanda ketakutan dan kegentaran. Maka Malik bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami melihat para lelaki yang berpakaian putih, menaiki kuda-kuda hitam pekat. Demi Allah, kami sama sekali tidak mampu bertahan, dan apa yang kami alami benar-benar tidak terbayangkan.”Malik pun tidak mampu menolak atau menghalangi mereka dari tujuan dan niat tersebut.Peristiwa ini merupakan salah satu bentuk rasa takut (ar-ru‘b) yang Allah berikan sebagai pertolongan kepada Rasul-Nya ﷺ dan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا ﴾“Dan Dia menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka; sebagian mereka kalian bunuh dan sebagian yang lain kalian tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)Dan Allah Ta‘ala juga berfirman:﴿ سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا ۖ وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ ۖ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ ﴾“Akan Kami tanamkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan dalil tentang itu. Tempat mereka adalah neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang zalim.” (QS. Ali ‘Imran: 151)Dan Rasulullah ﷺ bersabda:«نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ»“Aku ditolong dengan rasa takut (yang ditanamkan ke dalam hati musuh).” (HR. Bukhari dan Muslim)Keempat: Ketika ada seorang laki-laki dari kaum muslimin berkata, “Kita tidak akan dikalahkan hari ini karena jumlah yang sedikit,” Rasulullah ﷺ tidak menyukai ucapan tersebut, karena beliau mengetahui akibat buruk dari perkataan semacam itu. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran sebagai berikut:1. Ucapan satu orang saja, sebagaimana disebutkan oleh para ahli sirah, bisa menjadi sebab datangnya musibah besar yang menimpa seluruh pasukan secara keseluruhan. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya waspada agar tidak mendatangkan bencana bagi komunitasnya atau keluarganya akibat keburukan yang muncul dari perbuatannya atau ucapannya.2. Meskipun hanya satu kalimat, namun dengan sebab itulah bencana terjadi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:«إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ» “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu kata, yang ia tidak memperhatikan akibatnya, lalu karena kata itu ia tergelincir ke dalam neraka sejauh jarak antara timur.” (HR. Bukhari dan Muslim)3. Ini menunjukkan kelemahan tabiat manusia dan cepatnya ia tertipu oleh rasa bangga. Seseorang bisa saja, ketika melihat banyaknya jumlah pasukan, merasa kagum, tertipu oleh kekuatan semu itu, lalu membesarkan dirinya dan merasa yakin akan kemenangan. Ia pun mengucapkan kalimat tersebut, yang muncul dari kelemahan manusiawi yang kadang menimpa seorang hamba dalam kondisi tertentu, ketika ia tidak selalu menghadirkan rasa takwa kepada Allah, pengawasan-Nya, ketundukan kepada-Nya, serta kesadaran atas nikmat-nikmat-Nya.4. Besarnya bahaya perkara ini, karena berkaitan langsung dengan akidah. Seorang muslim, di antara bentuk ibadah terbesar yang ia lakukan, adalah tunduk kepada Allah, bersyukur atas nikmat-Nya, dan waspada dari kelalaian dalam hal ini. Hendaknya ia menyadari bahwa rasa ujub (bangga diri) dan masuknya kesombongan ke dalam hati termasuk dosa-dosa besar yang dapat membinasakan.5. Besarnya bahaya perkara ini juga ditunjukkan oleh hukuman yang terjadi secara langsung, serta ayat-ayat yang turun untuk menegur umat agar mereka mengambil pelajaran untuk masa depan mereka. Karena itu, ucapan semacam ini tidak boleh dianggap remeh. Abu Bakar al-Jazā’irī rahimahullah berkata dalam penjelasannya: “Haramnya merasa kagum terhadap diri sendiri, terhadap amal, atau terhadap kekuatan. Sebab, akibat dari sikap tersebut adalah kekalahan kaum mukminin pada awal pertempuran mereka melawan musuh.”6. Pada peristiwa ini juga terdapat pelajaran akidah yang sangat penting. Jika Perang Badar telah menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang sedikit tidak membahayakan mereka di hadapan musuh-musuh mereka apabila mereka bersabar, bertakwa, dan hati mereka bergantung kepada Allah Ta’ala, maka Perang Hunain menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang banyak pun tidak akan memberi manfaat sedikit pun, apabila hati mereka tidak bergantung kepada Allah Ta’ala. Perang Hunain telah menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang banyak pun tidak akan memberi manfaat apa pun, apabila hati mereka tidak bergantung kepada Allah.Kelima: Dalam ucapan sebagian orang yang diucapkan di hadapan Rasulullah ﷺ: “Jadikanlah untuk kami dzātu anwāṭ sebagaimana mereka memiliki dzātu anwāṭ,” terdapat beberapa pelajaran penting, di antaranya:Orang-orang yang mengucapkan kalimat tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh perawi hadits Abu Wāqid al-Laitsī radhiyallāhu ‘anhu, adalah orang-orang yang baru saja keluar dari kekafiran. Mereka termasuk orang-orang yang baru masuk Islam setelah penaklukan Makkah atau sesudahnya, dan bukan dari kalangan sahabat yang telah lebih dahulu masuk Islam. Karena itu, perkara seperti ini tidak mungkin muncul dari para sahabat terdahulu, dan tidak pantas disangka atau dituduhkan kepada mereka. Semoga Allah Ta‘ālā meridai mereka semua.Kewajiban bersikap sangat waspada terhadap kesyirikan. Orang-orang tersebut tidak bermaksud menggantungkan diri kepada pohon sebagaimana praktik orang-orang musyrik, namun Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ucapan mereka serupa dengan ucapan para pengikut Nabi Musa, yaitu: “Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan.” Maka perhatikanlah bagaimana cara melakukan tabarruk (mencari berkah), memohon keberkahan, beribadah, dan mendekatkan diri kepada yang diberkahi. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam sebuah perjalanan, lalu kami kehabisan air. Rasulullah ﷺ bersabda:«اطْلُبُوا فَضْلَةً مِنْ مَاءٍ»“Carilah sisa air.”Lalu didatangkan sebuah bejana yang di dalamnya terdapat sedikit air. Rasulullah ﷺ memasukkan tangannya ke dalam bejana itu, kemudian bersabda:«حَيَّ عَلَى الطَّهُورِ الْمُبَارَكِ، وَالْبَرَكَةُ مِنَ اللَّهِ» “Marilah kepada air bersuci yang diberkahi, dan keberkahan itu berasal dari Allah.” Yakni, keberkahan tidak diminta kecuali dari Allah semata, tidak dari selain-Nya. Dialah Allah —dengan mematahkan anggapan keliru— tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia.Pintu tabarruk termasuk pintu terbesar yang melaluinya kesyirikan masuk ke tengah manusia. Awalnya, orang-orang mengagungkan para ulama dan orang-orang saleh, lalu meminta doa kepada mereka. Setelah itu, mereka mulai mengusap-usap (tabarruk) kepada mereka, dan meyakini bahwa para tokoh tersebut memiliki kemampuan memberi keberkahan karena kesalehan dan kedudukan mereka di sisi Allah. Ketika mereka terus-menerus meminta keberkahan kepada orang-orang tersebut, muncullah praktik tabarruk kepada para wali dan orang-orang saleh, kemudian tabarruk kepada kuburan, bahkan berkembang menjadi tabarruk kepada pepohonan dan batu-batuan. Semua ini merupakan penyimpangan yang besar.Meminta Keberkahan kepada Allah SemataKeberkahan diminta dari Zat yang memilikinya, bukan dari yang tidak memilikinya. Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau sangat mencintainya dan berharap keberkahan ada di dalamnya, lalu beliau berdoa kepada Allah Subḥānahu. Dalam hadits Abu Sa‘īd al-Khudrī radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:«اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ مَعَ الْبَرَكَةِ بَرَكَتَيْنِ» (1)“Ya Allah, berkahilah kota Madinah kami. Ya Allah, berkahilah sha‘ kami. Ya Allah, berkahilah mudd kami. Ya Allah, berkahilah kota Madinah kami. Ya Allah, jadikanlah keberkahan itu berlipat ganda.”Beliau berdoa agar Allah memberikan keberkahan pada Madinah, makanan pokok mereka, dan takaran mereka. Maka, jika Rasulullah ﷺ sendiri meminta keberkahan dari Allah, sudah seharusnya kita tidak meminta keberkahan kecuali kepada Allah.Adapun meminta keberkahan kepada selain-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang meminta keberkahan dengan menggantungkan senjata mereka pada pohon, maka perbuatan itu sama dengan ucapan “Jadikanlah untuk kami sesembahan”, dan berarti menjadikan tandingan bagi Allah.Maka orang-orang seperti ini harus diberi peringatan keras, diarahkan untuk kembali kepada Allah, dan dicegah dari mencari keberkahan dengan cara yang menyimpang, sebagaimana mereka juga dicegah dari penyimpangan dalam seluruh bentuk ibadah lainnya. Nasihat Mengenai Ngapal Berkah (Tabarruk)Maka seharusnya orang-orang seperti ini sadar dan kembali kepada Allah. Hendaknya mereka bersungguh-sungguh dalam mencari keberkahan hanya kepada-Nya, sebagaimana mereka bersungguh-sungguh dalam berbagai bentuk ibadah lainnya.1. Perhatikan apa yang diminta oleh mereka kepada Rasulullah ﷺ.Mereka berkata, “Jadikanlah untuk kami Dzātu Anwāṭ sebagaimana mereka memiliki Dzātu Anwāṭ.”Dalam Fathul Majīd dijelaskan bahwa maksudnya, mereka tidak meminta agar dibuatkan sesembahan selain Allah—karena mereka tentu lebih paham dan lebih mulia dari itu—tetapi mereka hanya meminta sebuah pohon yang diberi izin oleh Nabi untuk mereka bertabarruk (mengambil berkah darinya), dengan cara menggantungkan senjata-senjata mereka di sana, tanpa melakukan shalat atau sedekah untuknya.Namun Nabi ﷺ menjelaskan bahwa permintaan mereka untuk bertabarruk tersebut—meskipun tidak disertai shalat atau sedekah—tetap termasuk syirik itu sendiri. Di dalamnya terdapat bantahan terhadap syubhat kaum musyrik di zaman ini yang mengira bahwa apa yang mereka lakukan berupa tabarruk dan pengagungan adalah sesuatu yang tidak mengapa.2. Apa yang mereka minta bukanlah syirik kecil.Seandainya Nabi ﷺ mengabulkannya, tentu itu serupa dengan ucapan Bani Israil kepada Nabi mereka, “Jadikanlah untuk kami sesembahan.” Demi Allah, itu termasuk syirik besar. Namun Bani Israil tidak langsung dikafirkan karena permintaan tersebut, sebab mereka baru saja meninggalkan kekafiran dan masuk ke dalam Islam. Selain itu, mereka tidak sampai melakukannya dan tidak memaksakan permintaan tersebut, melainkan hanya sekadar meminta kepada Nabi ﷺ.3. Kaidah bahwa ibadah itu harus berdasarkan perintah syariat sudah tertanam dalam diri para sahabat.Para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang mengajukan permintaan tersebut tidak serta-merta melakukannya sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Mereka tidak langsung mengamalkannya, tetapi terlebih dahulu mendatangi Rasulullah ﷺ. Sebab mereka mengetahui bahwa setiap ibadah harus memiliki landasan syariat sebelum diamalkan, agar seseorang tidak terjatuh ke dalam perbuatan bid’ah, yaitu beribadah kepada Allah tanpa dasar yang telah Dia tetapkan.Keenam: Wajib berhati-hati dari menyerupai orang-orang kafir.Hal ini karena Rasulullah ﷺ telah menjelaskan hal tersebut dalam sabdanya:لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَذْوَ الْقُذَّةِ بِالْقُذَّةِ“Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, setahap demi setahap.”Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim waspada dan tidak meniru orang-orang kafir. Bahkan, yang menjadi kewajibannya adalah berhati-hati dari menyerupai mereka dalam seluruh urusan mereka, serta mewaspadai ajakan untuk mengikuti hawa nafsu dan penyimpangan umat-umat terdahulu.Menyerupai orang-orang kafir juga termasuk salah satu sebab terbesar munculnya berbagai bid’ah. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa sikap menyerupai orang kafir itulah yang mendorong Bani Israil untuk meminta kepada Nabi Musa agar dibuatkan bagi mereka sesembahan sebagaimana kaum kafir memiliki sesembahan yang mereka sembah.Demikian pula, sikap menyerupai orang kafir itulah yang mendorong sebagian sahabat Nabi Muhammad ﷺ—yang saat itu masih baru masuk Islam—untuk meminta agar dibuatkan bagi mereka sebuah pohon yang mereka jadikan tempat mencari berkah selain Allah.Dan inilah kenyataan yang terjadi pada hari ini. Sebagian kaum muslimin meniru orang-orang kafir dalam melakukan bid’ah dan perbuatan syirik. Salah satu sebab paling menonjol dari penyimpangan tersebut adalah sikap menyerupai orang-orang kafir. Ketujuh: Mengambil pelajaran tentang pentingnya optimisme (tafā’ul).Ketika Rasulullah ﷺ mengutus ‘Abdullah bin Abī Ḥadrad radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu dan ayahnya untuk mendatangi pasukan Tsaqīf, lalu ia kembali dan mengabarkan bahwa ia melihat kaum wanita, keluarga, anak-anak, serta hewan ternak mereka ikut bersama pasukan itu—yang maksud mereka adalah untuk menunjukkan keteguhan dan agar tidak lari saat pertempuran—maka hal itu tentu merupakan sesuatu yang menakutkan bagi pasukan yang menghadapinya.Namun Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda, “Itu adalah harta rampasan kaum muslimin esok hari, insya Allah.” Dari peristiwa ini kita mengambil pelajaran tentang sikap optimis.Sepanjang kehidupan Rasulullah ﷺ dipenuhi dengan optimisme. Dalam kondisi apa pun, beliau selalu melihat dari sisi yang membawa harapan. Beliau tidak terpengaruh oleh kumpulan pasukan Tsaqīf, bahkan mengucapkan kata-kata optimis yang didengar oleh para sahabat radhiyallāhu ‘anhum. Ucapan itu membangkitkan harapan, menyemangati jiwa, dan meneguhkan hati.Sebab jiwa manusia, ketika diingatkan pada kekuatan dan jumlah besar musuh, bisa saja merasa gentar. Namun ketika diberi harapan tentang kemenangan dan ganimah yang besar, maka ia akan berani dan maju. Apalagi ketika gambaran tentang harta rampasan itu seakan-akan sudah tampak di depan mata.Sikap seperti ini juga tampak pada peristiwa ketika Rasulullah ﷺ kembali dari mendatangi Banī Qurayẓah pada hari Perang Aḥzāb. Saat itu para sahabat—di antaranya Sa‘d bin Mu‘ādz, Sa‘d bin ‘Ubādah, ‘Abdullah bin Rawāḥah, dan Khawwāt bin Jubair radhiyallāhu ‘anhum—yang diutus untuk memastikan apakah Banī Qurayẓah telah melanggar perjanjian, kembali dan mengabarkan bahwa mereka benar-benar telah mengkhianati perjanjian.Maka Rasulullah ﷺ mengangkat kepalanya dan bersabda:«أَبْشِرُوا يَا مَعْشَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِنَصْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَعَوْنِهِ»“Bergembiralah wahai kaum mukminin, dengan pertolongan dan bantuan Allah Ta‘ālā.”Ketika keadaan semakin sulit dan musuh semakin berkumpul, hati pun semakin bergantung kepada Allah, dan pertolongan pun datang. Rasulullah ﷺ sangat perhatian pada hari itu untuk menebarkan ketenangan dan optimisme di hadapan para sahabat radhiyallāhu ‘anhum. Kedelapan: Di antara pelajaran dari serangan mendadak orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin, kekacauan barisan mereka, lalu kekalahan yang mereka alami — dan tidak ada yang tetap tegar bersama Rasulullah ﷺ kecuali sedikit dari kalangan mukminin — terdapat pelajaran praktis bagi kaum Muslimin di setiap zaman dan tempat: janganlah kalian tertipu oleh kekuatan kalian dan jangan pula oleh jumlah yang kalian miliki.Sebagian kaum Muslimin ketika itu berkata, “Hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah yang sedikit.” Namun ternyata mereka mengalami kekalahan pada awal pertemuan dengan musuh. Peristiwa ini menjadi pendidikan dan pembinaan bagi hati agar tidak berpaling kepada selain Allah. Jika hati berpaling kepada selain-Nya, maka akibatnya akan seperti yang terjadi pada pasukan Hunain di awal pertempuran.Allah Ta’ala berfirman:لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ“Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak medan peperangan, dan (ingatlah) pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak membuat kalian bangga, tetapi jumlah itu tidak memberi manfaat sedikit pun bagi kalian. Bumi yang luas terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berbalik ke belakang dengan lari tunggang-langgang.” (QS. At-Taubah: 25)Setelah pelajaran itu benar-benar terwujud dan pesan pun sampai, manusia memahami secara nyata bahwa kekuatan dan jumlah mereka tidak akan bermanfaat jika Allah tidak menolong mereka. Jika Allah Jalla Sya’nuhu tidak memberikan pertolongan, maka tidak akan turun kemenangan dari sisi-Nya.Allah — Mahatinggi dan Mahamulia — tidak akan menyia-nyiakan hamba-hamba-Nya yang beriman. Dialah yang berperang dengan pertolongan-Nya, anugerah-Nya, dan kebaikan-Nya.Sebagaimana firman-Nya:وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ“Dan menjadi kewajiban atas Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum: 47)Namun setelah Allah memperlihatkan kepada kaum mukminin secara nyata keadaan mereka tanpa pertolongan-Nya, barulah pertolongan itu datang dari sisi Allah. Allah Ta’ala berfirman:ثُمَّ أَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)Adapun keadaan kita hari ini — realitas kita tercerai-berai dan hati kita belum bergantung kepada Allah sebagaimana mestinya — maka kita perlu memahami pelajaran ini dengan baik agar keadaan kita menjadi lurus. Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.Kesembilan: Firman Allah Ta’ala: “Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak medan peperangan, dan (ingatlah) pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak membuat kalian bangga, tetapi jumlah itu tidak memberi manfaat sedikit pun bagi kalian. Bumi yang luas terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berbalik ke belakang dengan lari tunggang-langgang. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 25–26)Ath-Thahir bin ‘Asyur rahimahullah berkata, “Penyandaran pertolongan secara tegas kepada Allah Ta’ala bertujuan untuk menampakkan tanda kecintaan Allah, meskipun di dalamnya terdapat sebagian kepentingan dunia. Di dalamnya terdapat bagian akhirat, dan juga bagian dunia berupa kemenangan yang menguatkan persatuan, menghasilkan ghanimah, serta melindungi umat dari serangan musuh-musuhnya. Semua itu termasuk karunia Allah, karena mereka melihat kecintaan-Nya dalam urusan-urusan dunia mereka.”Beliau juga berkata, “Penyebutan secara khusus hari Hunain di antara hari-hari peperangan lainnya, karena kaum Muslimin sempat mengalami kekalahan pada awalnya, kemudian kemenangan kembali kepada mereka. Penyebutan ini mengandung pelajaran bahwa kemenangan diraih ketika menaati perintah Allah dan Rasul-Nya ﷺ, sedangkan kekalahan terjadi ketika lebih mengutamakan keuntungan dunia yang segera daripada ketaatan.”Kesepuluh: Seruan Al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhu kepada para sahabat Baiat Syajarah, juga kepada kaum Muhajirin dan Anshar, lalu kembalinya mereka.Tidak lama setelah peristiwa itu, para pasukan yang sempat mundur kembali berkumpul di sekitar Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa larinya mereka tidaklah jauh. Itu hanyalah kekacauan dan kepanikan sesaat. Mereka masih berada cukup dekat sehingga dapat mendengar suara panggilan.Kemudian terjadi pendidikan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, lalu datang keteguhan yang bersumber dari Allah dan pertolongan-Nya. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama mengatakan bahwa dalam hadis ini terdapat dalil bahwa mundurnya mereka tidaklah jauh dan tidak semua pasukan benar-benar melarikan diri. Yang mundur hanyalah orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, dari kalangan penduduk Makkah yang baru masuk Islam (mualaf) dan orang-orang musyrik Makkah yang belum benar-benar beriman.Kekalahan itu datang secara tiba-tiba. Mereka dihujani anak panah sekaligus dan bercampur dengan sebagian penduduk Makkah yang imannya belum kokoh. Di antara mereka ada wanita dan anak-anak yang ikut keluar untuk mencari harta rampasan, sehingga mereka berada di barisan depan. Ketika panah-panah beterbangan, mereka pun berbalik dan lari. Namun akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ketenangan kepada kaum mukminin, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.”Kesebelas: Ketika Al-‘Abbas memanggil para sahabat Baiat Syajarah dan menyeru kaum Anshar, mereka segera menyambut dan kembali kepada Rasulullah ﷺ. Bahkan sebagian mereka tidak mampu membalikkan unta yang ditungganginya, sehingga ia turun dan meninggalkannya, lalu kembali kepada Rasulullah ﷺ dengan senjatanya.Hal ini menegaskan kewajiban untuk segera menyambut seruan Rasulullah ﷺ dan mengingatkan kita pentingnya bersegera memenuhi perintah beliau begitu kita mendengar dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah.Kedua belas: Kita melihat bahwa Rasulullah ﷺ, yang sangat lembut dan penyayang terhadap orang-orang beriman, tidak mencela seorang pun dari mereka yang sempat mundur. Ketika Ummu Salim radhiyallahu ‘anha berkata tentang orang-orang yang lari, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mencukupi dan memperbaiki keadaan.”Artinya, beliau tidak menegur mereka dengan celaan, karena peristiwa itu telah berlalu dan tidak ada jalan untuk mengulanginya, terlebih dalam kondisi perang yang memang menimbulkan guncangan jiwa. Rasulullah ﷺ memuliakan para sahabatnya dengan tidak mengungkit kesalahan itu. Demikianlah sikap yang baik: memaafkan, melapangkan dada, dan tidak berlebihan dalam menyalahkan seorang Muslim atas kesalahan yang sudah tidak mungkin diperbaiki. Seorang Muslim hendaknya memberi ruang bagi sebagian uzur dalam hal semacam itu.Ketiga belas: Disyariatkannya doa dan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah yang dilakukan Rasulullah ﷺ, khususnya ketika keadaan menjadi genting. Pada Perang Hunain, beliau memohon pertolongan kepada Rabb-nya dan bersungguh-sungguh dalam doa agar kaum Muslimin diberi kemenangan atas orang-orang musyrik.Pertolongan itu datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kembalinya Rasulullah ﷺ kepada Rabb-nya dalam situasi yang sulit tersebut menjadi faktor paling kuat dalam mengubah jalannya pertempuran sehingga berpihak kepada kaum Muslimin.Keempat belas: Disyariatkannya berdoa dan mengarahkan diri kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ; beliau menempuh jalan tersebut, terlebih ketika keadaan menjadi sulit. Saat itu beliau memohon kepada Rabb-nya dan bersungguh-sungguh dalam doa agar kaum Muslimin memperoleh kemenangan atas kaum musyrikin.Pertolongan itu datang dari sisi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Ketika Rasulullah ﷺ menghadapkan diri kepada Rabb-nya dalam situasi yang berat tersebut, hal itu menjadi faktor paling kuat yang mengubah jalannya peperangan sehingga berpihak kepada kaum Muslimin.Kelima belas: Ketika Rasulullah ﷺ melihat seorang wanita yang terbunuh, beliau melarang pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak. Inilah salah satu prinsip peperangan dalam Islam. Ini juga termasuk wasiat Rasulullah ﷺ yang terus berlaku bagi pasukan kaum Muslimin.Sebagaimana disebutkan dalam Musnad Imam Aḥmad — semoga Allah merahmatinya — dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā, ia berkata:“Apabila Rasulullah ﷺ mengirim pasukan, beliau bersabda,‘Keluarlah kalian dengan menyebut nama Allah. Berperanglah di jalan Allah melawan orang yang kafir kepada Allah. Jangan berkhianat, jangan melampaui batas, jangan melakukan mutilasi, dan jangan membunuh anak-anak, serta jangan pula membunuh para penghuni tempat ibadah.’Ketika beliau mengutus pasukan untuk memerangi Ibnu Abī al-Ḥuqayq dan para sahabatnya di daerah Khaybar, az-Zuhrī berkata:Ibnu Ka‘b bin Mālik mengabarkan kepadaku dari pamannya — radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu — bahwa Nabi ﷺ ketika mengutus mereka kepada Ibnu Abī al-Ḥuqayq di Khaybar, beliau melarang mereka membunuh wanita dan anak-anak.Dengan demikian, peperangan dalam Islam adalah peperangan yang memiliki akhlak. Bahkan ketika menghadapi musuh yang memerangi kaum Muslimin, tetap tidak boleh ada kezaliman, tidak boleh melampaui batas, tidak boleh melakukan kerusakan, dan tidak boleh seseorang menanggung kesalahan orang lain.Hal ini juga menunjukkan tingginya kedudukan hak asasi manusia dalam Islam, meskipun orang tersebut adalah seorang kafir. Allah Ta‘ālā berfirman:۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’: 70)Islam menghormati manusia sebagai manusia, apa pun agama dan keyakinannya, bahkan dalam keadaan perang. Maka bagaimana lagi dalam keadaan damai dan kehidupan bermasyarakat?Peperangan dalam Islam adalah perang yang mulia. Seorang Muslim tidak meninggalkan prinsip-prinsip luhur tersebut. Oleh karena itu, wanita dan anak-anak tidak memiliki peran dalam peperangan, sehingga mereka harus dilindungi dan tidak boleh dibunuh, kecuali jika seorang wanita benar-benar ikut serta dalam peperangan. Ia juga tidak menanggung dosa orang lain.Barang siapa menjaga hak perempuan secara khusus dan hak manusia secara umum dalam keadaan perang dan pertempuran, tentu ia lebih layak lagi menjaga hak-hak manusia dalam keadaan damai.Islam telah mengangkat tinggi hak manusia hingga kita melihat dengan jelas bahwa hak-hak manusia dalam Islam merupakan salah satu poros tujuan syariat Islam. Sementara itu, seluruh dunia menyaksikan berbagai pelanggaran terhadap hak kaum Muslimin yang terjadi di berbagai tempat, bahkan di sebagian masyarakat yang mengaku modern: terjadi pembunuhan massal, penghancuran kota-kota dan rumah-rumah penduduk, tanpa membedakan antara wanita, anak-anak, orang tua, dan para pejuang yang terlibat dalam peperangan.Padahal Rasulullah ﷺ pernah melewati seorang wanita yang terbunuh pada waktu perang — hanya satu orang wanita saja — lalu beliau mengingkari perbuatan tersebut dan melarang pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak.Karena itu para ulama fikih menyatakan:“Diharamkan membunuh wanita dan anak-anak selama mereka tidak ikut berperang.”Keenam belas: Khalid bin Al-Walid radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu termasuk orang yang ikut serta dalam Perang Hunain. Ketika itu beliau berada di garis depan, namun ia mengalami luka. Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui hal itu, beliau segera menuju kemahnya untuk menanyakan keadaannya. Setelah menemukannya, beliau menanyakan kondisinya, melihat lukanya, dan mengobatinya.Padahal Rasulullah ﷺ memimpin pasukan yang besar, namun beliau tetap memeriksa keadaan para sahabatnya, menanyakan kabar mereka, dan memperhatikan mereka satu per satu.Kemudian Khalid — meskipun mengalami luka-luka — tetap ikut serta dalam Perang Thaif. Siapa pun yang membaca kisah ini akan merasa kagum melihat bagaimana Khalid radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu tetap melanjutkan perjalanan menuju Thaif dan turut serta dalam pengepungan kota tersebut. Ia tidak ingin kehilangan pahala jihad sedikit pun, meskipun ia mengalami luka yang sebenarnya bisa menjadi alasan baginya untuk tidak ikut.Hal ini mengingatkan kita pada peristiwa setelah salah satu peperangan, ketika Rasulullah ﷺ mengejar orang-orang kafir Quraisy hingga sampai di Hamrā’ al-Asad. Saat itu para sahabat radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhum juga mengalami luka yang besar, namun mereka tidak tertinggal dan tetap ikut bersama beliau. Tentang mereka turun firman Allah Ta‘ālā:ٱلَّذِينَ ٱسْتَجَابُوا۟ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ مِنۢ بَعْدِ مَآ أَصَابَهُمُ ٱلْقَرْحُ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ مِنْهُمْ وَٱتَّقَوْا۟ أَجْرٌ عَظِيمٌ“(Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.” (QS. Ali Imran: 172)Ketujuh belas: Ketika Rasulullah ﷺ tidak mampu menaklukkan benteng Thaif, dikatakan kepada beliau, “Doakanlah kebinasaan bagi mereka.” Namun beliau justru mendoakan agar mereka mendapat hidayah dan tidak mendoakan keburukan bagi mereka. Inilah bentuk sempurna dari kasih sayang dan rahmat beliau ﷺ.Baca juga: Sudahlah Maafkanlah Dia Agar Allah Memaafkan KitaPadahal penduduk Thaif telah menyakiti Rasulullah ﷺ dan mengusir beliau ketika datang mengajak mereka kepada Allah. Bahkan mereka melempari beliau dengan batu. Namun demikian, beliau tetap mendoakan agar mereka mendapat hidayah, padahal mereka adalah musuh-musuh Allah. Hal ini menunjukkan besarnya rasa sayang dan kepedulian beliau ﷺ kepada umatnya.Allah pun mengabulkan doa beliau. Setelah itu mereka datang dalam keadaan telah memeluk Islam tanpa melalui penderitaan atau kesulitan.Demikianlah seharusnya seorang muslim: ia menasihati karena Allah dan berusaha menjauhi sikap membalas dendam terhadap dirinya sendiri. Ia tidak mendoakan keburukan bagi orang yang memusuhinya, tetapi justru mendoakan agar musuhnya mendapat hidayah kepada Islam.Jika engkau berselisih dengan seseorang—baik orang dekat maupun jauh—maka yang lebih utama adalah mendoakan agar Allah memberinya hidayah. Dengan begitu engkau memperoleh pahala, mampu mengalahkan godaan setan, hawa nafsu, dan ego diri, serta kedudukanmu di sisi Allah akan terangkat. Perbuatan ini juga membersihkan hati dan memperbaiki batin. Namun sikap seperti ini sering kali jarang kita lakukan dalam banyak keadaan.Baca juga: Memaafkan Seperti Allah dengan Tetap MelupakanKedelapan belas: Jika ada seseorang yang berdalil dengan hadits ini ketika Rasulullah ﷺ diminta untuk mendoakan kebinasaan bagi kabilah Tsaqif, lalu beliau justru berkata:اللَّهُمَّ اهْدِ ثَقِيفًا“Ya Allah, berilah hidayah kepada Tsaqif.”Kemudian orang itu menyimpulkan bahwa tidak boleh mendoakan keburukan bagi orang kafir, karena Rasulullah ﷺ tidak mendoakan kebinasaan bagi Tsaqif dan malah mendoakan hidayah bagi mereka, serta tidak memenuhi permintaan sebagian sahabat—semoga Allah meridai mereka—yang meminta agar didoakan kebinasaan bagi mereka.Pendapat ini juga dikuatkan oleh hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata: Ath-Thufail bin ‘Amr datang bersama para sahabatnya dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kabilah Daus telah kafir dan menolak. Maka doakanlah kebinasaan bagi mereka.” Lalu dikatakan, “Binasalah Daus.” Namun Rasulullah ﷺ justru berdoa:اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ“Ya Allah, berilah hidayah kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka (kepada Islam).”Jawabannya adalah bahwa dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga terdapat hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ pernah berdoa:اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ، وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ“Ya Allah, perkeraslah hukuman-Mu atas kabilah Mudhar, dan jadikanlah bagi mereka tahun-tahun paceklik seperti tahun-tahun yang terjadi pada masa Nabi Yusuf.”Karena itu, yang benar adalah menggabungkan kedua jenis hadits tersebut. Imam Al-Bukhari memasukkan hadits tentang doa untuk kabilah Daus dalam Shahih-nya pada bab “Doa bagi orang-orang musyrik agar mendapatkan hidayah dan agar hati mereka dilunakkan.”Baca juga: Karamah Said bin Zaid yang Doanya Mustajab Hingga Seorang Wanita Zalim CelakaIbnu Hajar rahimahullah menjelaskan tentang judul bab tersebut: kata “liya’tilafahum” (agar hati mereka dilunakkan) menunjukkan bahwa Nabi ﷺ terkadang mendoakan keburukan bagi mereka dan terkadang mendoakan kebaikan bagi mereka. Keadaan pertama terjadi ketika kejahatan mereka semakin kuat dan gangguan mereka semakin besar. Adapun keadaan kedua adalah ketika diharapkan mereka akan mendapatkan hidayah dan hati mereka dapat dilunakkan, sebagaimana yang terjadi pada kisah kabilah Daus.Baca juga: Karamah Wali, Luar Biasanya Doa Sa’ad bin Abi WaqqashIbnu Al-Mulaqqin rahimahullah berkata: Nabi ﷺ sangat menyukai masuknya manusia ke dalam Islam. Karena itu beliau tidak tergesa-gesa mendoakan keburukan bagi mereka selama masih ada harapan mereka akan menerima Islam. Bahkan beliau mendoakan kebaikan bagi orang yang diharapkan mau menerima dakwah.Adapun terhadap orang yang tidak lagi diharapkan keislamannya dan dikhawatirkan bahaya serta kekuatannya, maka beliau mendoakan keburukan atasnya. Sebagaimana beliau pernah mendoakan agar mereka ditimpa tahun-tahun paceklik seperti masa Nabi Yusuf. Beliau juga mendoakan keburukan bagi para pemuka Quraisy karena banyaknya gangguan dan permusuhan mereka. Doa itu pun dikabulkan terhadap mereka, hingga mereka terbunuh dalam Perang Badar. Sebagaimana banyak pula orang yang dahulu beliau doakan agar mendapat hidayah, kemudian benar-benar masuk Islam.Hal ini memberi petunjuk kepada kita tentang satu prinsip penting dalam memahami sirah Nabi ﷺ. Agar kita dapat mengambil pelajaran yang benar dari peristiwa-peristiwa dalam sirah, kita perlu mengumpulkan berbagai kejadian, membandingkannya satu sama lain, lalu mengambil kesimpulan dari keseluruhannya.Sebab, sebagian peristiwa bisa saja berkaitan dengan keadaan tertentu, sementara yang lain berkaitan dengan keadaan yang berbeda. Ada yang bersifat khusus dan ada yang bersifat umum. Ada pula yang terjadi lebih dahulu dan ada yang terjadi kemudian, dan seterusnya.Kesembilan belas: Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hikmah ditundanya penaklukan Thaif:Hikmah Ilahi menghendaki agar penaklukan itu ditunda secara sengaja supaya mereka tidak langsung dibinasakan dengan peperangan. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa ketika Nabi ﷺ keluar dari Thaif—setelah beliau mengajak mereka kepada Allah dan meminta perlindungan agar dapat menyampaikan risalah Rabbnya—peristiwa itu terjadi setelah wafatnya pamannya, Abu Thalib. Namun mereka justru menolak dan mendustakan beliau.Beliau pun kembali dalam keadaan sangat sedih. Beliau tidak dapat beristirahat kecuali ketika sampai di Qarn Ats-Tsa‘alib. Di sana beliau diliputi awan. Kemudian Jibril memanggilnya bersama malaikat penjaga gunung. Malaikat itu berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Rabbmu menyampaikan salam kepadamu. Dia telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan bagaimana mereka menolakmu. Jika engkau menghendaki, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung ini.”Namun Rasulullah ﷺ menjawab, “Tidak. Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”Ucapan beliau ini menunjukkan bahwa beliau berharap benteng mereka tidak dibuka saat itu sehingga mereka tidak dibinasakan. Penaklukan itu ditunda agar mereka datang kemudian dalam keadaan telah memeluk Islam, yaitu pada bulan Ramadhan pada tahun berikutnya.Kedua puluh: Asy-Syami rahimahullah menjelaskan hikmah pemberian harta kepada orang-orang yang dilunakkan hatinya (al-mu’allafatu qulubuhum).Baca juga: Hukum Zakat untuk Non-Muslim: Bolehkah Disalurkan?Hikmah Allah Ta’ala menghendaki bahwa harta rampasan dari orang-orang kafir—setelah diperoleh—dibagikan kepada orang-orang yang iman belum benar-benar kokoh di dalam hati mereka. Hal ini dilakukan karena tabiat manusia memang mencintai harta. Dengan pemberian tersebut, hati mereka menjadi tenang dan kecintaan mereka terhadap Islam semakin kuat.Karena itulah Rasulullah ﷺ memberikan bagian yang besar kepada orang-orang yang baru masuk Islam atau kepada orang yang diharapkan akan masuk Islam. Sementara sebagian tokoh kaum Muhajirin dan pemimpin kaum Anshar tidak diberi bagian dari pemberian tersebut, meskipun mereka juga berhak mendapatkannya. Hal itu karena iman mereka sudah kuat dan tidak membutuhkan penguatan melalui pemberian harta.Jika mereka diberi bagian sebagaimana para mu’allaf itu, maka dikhawatirkan hati orang-orang yang baru masuk Islam tidak akan tertarik. Padahal pemberian tersebut bertujuan agar mereka semakin mantap dalam Islam dan agar orang lain mengikuti mereka untuk masuk Islam. Maka pemberian itu merupakan kemaslahatan yang besar.Kedua puluh satu: Dari peristiwa ini kita juga dapat mengambil pelajaran tentang ketajaman pandangan Rasulullah ﷺ dan kedalaman pemahaman beliau terhadap tabiat manusia serta hal-hal yang dapat memperbaikinya.Beliau memberikan hadiah-hadiah yang besar dan pemberian yang melimpah kepada orang-orang yang sebelumnya memusuhi beliau dan masih belum memeluk Islam. Beliau juga memberikan hadiah kepada orang-orang yang ingin beliau lunakkan hatinya agar mereka mendapat hidayah dan memeluk Islam.Baca juga: 21 Faedah tentang HadiahHasilnya pun sesuai dengan yang diharapkan oleh Rasulullah ﷺ. Orang-orang yang diberi pemberian itu akhirnya masuk Islam dan menjadi baik keislamannya. Bahkan mereka kemudian menjadi pembela Islam yang jujur dan kuat.Upaya melunakkan hati dengan harta tidak hanya dilakukan oleh pemimpin negara. Individu pun dapat melakukannya. Misalnya pemilik usaha yang memiliki pekerja nonmuslim, atau seseorang yang memiliki pembantu, sopir, atau pegawai yang belum masuk Islam. Ia dapat berusaha melunakkan hati mereka melalui kebaikan dan pemberian. Sebab manusia secara tabiat mencintai orang yang berbuat baik kepadanya. Jika seseorang mencintai orang lain, ia akan senang memenuhi keinginannya dan membuatnya bahagia. Karena itu ketika orang tersebut mengajaknya kepada Islam, ia akan lebih cepat menerima ajakan tersebut.Kedua puluh dua: Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu termasuk orang yang baru masuk Islam. Rasulullah ﷺ pernah memberinya seratus ekor unta. Lalu ia meminta lagi, maka Rasulullah ﷺ memberinya. Ia meminta lagi, lalu Rasulullah ﷺ kembali memberinya.Kemudian tertanam dalam hatinya kecintaan yang besar kepada Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ mengajarinya pelajaran tentang harta dengan cara yang sangat tepat dan menyentuh hatinya.Setelah itu, Hakim bersumpah kepada Rasulullah ﷺ bahwa ia tidak akan lagi mengambil harta dari siapa pun setelah hari itu. Artinya, ia tidak akan menerima pemberian dari siapa pun setelahnya, bahkan meskipun pemberian itu banyak.Ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memanggilnya setelah wafatnya Rasulullah ﷺ untuk memberinya bagian, ia menolak. Demikian pula ketika Umar radhiyallahu ‘anhu memanggilnya setelah itu, ia tetap menolak. Ia pun menjalani sisa hidupnya dengan sikap tersebut, hingga wafat pada masa Mu‘awiyah, tetap berpegang pada janjinya kepada Nabi ﷺ.Sungguh menakjubkan keadaan sahabat ini. Awalnya ia terus meminta kepada Rasulullah ﷺ berkali-kali, bahkan dengan desakan. Namun setelah itu, ia berubah total hingga tidak mau mengambil apa pun, meskipun diberi dalam jumlah besar.Dalam kisah ini tampak betapa agungnya sahabat tersebut, dan betapa teguhnya ia memegang prinsip. Sejak Fathu Makkah hingga beberapa tahun di masa Mu‘awiyah—lebih dari tiga puluh tahun—ia tetap konsisten tidak mengambil harta dari siapa pun.Baca juga: Memahami Arti Zuhud yang SebenarnyaDalam kisah ini juga terlihat bagaimana Rasulullah ﷺ memilih waktu yang tepat untuk memberikan nasihat. Beliau menasihati Hakim setelah memberinya beberapa kali, sehingga nasihat itu benar-benar berpengaruh dalam dirinya. Kepribadiannya berubah, dan cara pandangnya terhadap dunia pun berbeda dari sebelumnya.Jika nasihat itu disampaikan sebelum ia diberi, kemungkinan besar tidak akan memberikan pengaruh seperti setelah ia merasakan pemberian tersebut.Dalam kisah ini juga terdapat penjelasan bahwa dunia itu manis dan menipu. Siapa yang menjadikannya sebagai tujuan utama, ia tidak akan pernah merasa puas, meskipun telah mendapatkan banyak.Hal ini nyata dalam kehidupan sebagian orang. Meskipun harta mereka banyak, mereka tetap merasa kurang.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ. وَقَالَ لَنَا أَبُو الْوَلِيدِ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، عَنْ أُبَيٍّ، قَالَ: كُنَّا نَرَى هَذَا مِنَ الْقُرْآنِ، حَتَّى نَزَلَتْ: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Dan tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya kecuali tanah. Namun Allah menerima tobat orang yang bertobat.”Abu Al-Walid berkata kepada kami: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Anas, dari Ubay bin Ka‘ab, ia berkata: dahulu kami menganggap perkataan ini termasuk bagian dari Al-Qur’an, hingga turun firman Allah: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur: 1) (HR. Bukhari, no. 6439 dan Muslim, no. 1048)Adapun nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Hakim bin Hizam, kata Hakim:سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ قَالَ لِي: يَا حَكِيمُ، إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى. قَالَ حَكِيمٌ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَرْزَأُ أَحَدًا بَعْدَكَ شَيْئًا حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنْيَا. فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَدْعُو حَكِيمًا لِيُعْطِيَهُ الْعَطَاءَ فَيَأْبَى أَنْ يَقْبَلَ مِنْهُ شَيْئًا، ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ دَعَاهُ لِيُعْطِيَهُ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَ، فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، إِنِّي أَعْرِضُ عَلَيْهِ حَقَّهُ الَّذِي قَسَمَ اللَّهُ لَهُ مِنْ هَذَا الْفَيْءِ فَيَأْبَى أَنْ يَأْخُذَهُ. فَلَمْ يَرْزَأْ حَكِيمٌ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ شَيْئًا بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تُوُفِّيَ.Aku pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberiku. Kemudian aku meminta lagi, dan beliau pun memberiku. Lalu beliau berkata kepadaku:“Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini itu hijau lagi manis. Siapa yang mengambilnya dengan jiwa yang lapang (tidak tamak), maka harta itu akan diberkahi baginya. Namun siapa yang mengambilnya dengan penuh ambisi dan ketamakan, maka tidak ada keberkahan baginya. Ia seperti orang yang makan, tetapi tidak pernah merasa kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”Hakim berkata: Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan meminta sesuatu pun dari siapa pun setelah engkau hingga aku meninggal dunia.”Setelah itu, Abu Bakar pernah memanggil Hakim untuk memberinya bagian harta, namun ia menolak untuk menerimanya. Kemudian Umar juga memanggilnya untuk memberinya, tetapi ia tetap menolak. Maka Umar berkata, “Wahai kaum Muslimin, aku menawarkan kepadanya hak yang telah Allah tetapkan baginya dari harta fai’, tetapi ia menolak untuk mengambilnya.”Sejak wafatnya Nabi ﷺ, Hakim tidak pernah meminta apa pun kepada manusia hingga ia meninggal dunia. (HR. Bukhari, no. 3143)Sikap lapang terhadap harta menjadi sebab datangnya keberkahan, sedangkan kerakusan menjadi sebab hilangnya keberkahan.Diketahui bahwa harta yang sedikit tetapi diberkahi lebih baik daripada harta yang banyak namun tidak berkah. Karena tujuan bukan sekadar banyaknya harta, tetapi bagaimana harta itu membawa kebahagiaan.Harta pada hakikatnya hanyalah sarana, bukan tujuan. Ia tidak bisa dimakan, diminum, atau dimanfaatkan secara langsung. Seandainya seseorang berada di padang pasir dengan membawa harta yang banyak, tetapi tidak memiliki makanan, ia tetap akan mati karena lapar dan haus.Baca juga: Perkataan Ibnu Taimiyah, Sedikit Tetapi Halal Pasti Bawa BerkahJika harta tidak diberkahi, maka seseorang tidak akan bisa merasakan manfaatnya. Bisa jadi ia jatuh sakit sehingga hartanya habis untuk pengobatan, atau tidak mampu menikmati apa yang diinginkannya. Bahkan harta itu bisa menjadi sumber kegelisahan, karena ia takut kehilangan atau khawatir dicuri.Karena itu, rasa cukup terhadap yang sedikit menjadi sebab datangnya keberkahan dan manfaat. Jika Allah memberkahi harta seseorang, maka tidak ada batas bagi keberkahannya.Kedua puluh tiga: Jika kita melihat keseluruhan pemberian Rasulullah ﷺ pada Perang Hunain, kita akan dapati bahwa beliau memberikan kepada para pembesar kaum yang baru dilunakkan hatinya (muallafatu qulubuhum), padahal mereka adalah orang-orang kaya. Rasulullah ﷺ memberi mereka bukan karena kebutuhan mereka terhadap harta, tetapi demi kemaslahatan Islam, yaitu untuk melunakkan hati mereka agar menerima agama ini.Jika mereka telah masuk Islam, maka diharapkan orang-orang di belakang mereka akan ikut masuk Islam. Karena itu, pemberian demi maslahat lebih didahulukan daripada pemberian karena kebutuhan. Menyelamatkan manusia dari neraka lebih didahulukan daripada sekadar mengenyangkan perut orang fakir. Ini adalah kaidah penting dalam kehidupan, bahwa maslahat umum bagi Islam didahulukan daripada maslahat pribadi.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Ketika Perang Hunain, Nabi ﷺ membagi harta rampasan kepada orang-orang yang dilunakkan hatinya (muallafatu qulubuhum), seperti para pembesar dari Najd dan para tokoh Quraisy yang baru dibebaskan, seperti ‘Uyainah bin Hishn, Al-Aqra‘ bin Habis, dan yang semisal mereka. Juga kepada Suhail bin ‘Amr, Shafwan bin Umayyah, ‘Ikrimah bin Abu Jahl, Abu Sufyan bin Harb, serta Mu‘awiyah bin Abu Sufyan dan yang semisal mereka dari kalangan orang-orang yang baru masuk Islam.Mereka adalah orang-orang yang dibebaskan pada hari Fathu Makkah. Rasulullah ﷺ tidak memberikan apa pun kepada kaum Muhajirin dan Anshar. Beliau memberikan kepada mereka untuk melunakkan hati mereka agar tetap berada di atas Islam, dan karena itu menjadi maslahat umum bagi kaum Muslimin.Adapun orang-orang yang tidak diberi, mereka justru lebih utama di sisi beliau. Mereka adalah para wali Allah yang bertakwa dan hamba-hamba-Nya yang saleh, setelah para nabi dan rasul. Sedangkan orang-orang yang diberi, sebagian dari mereka ada yang kemudian murtad sebelum wafatnya Nabi ﷺ, sementara yang lain tetap hidup dalam keadaan kaya, bukan orang-orang fakir.Seandainya pemberian itu didasarkan pada kebutuhan semata, tentu Nabi ﷺ akan memberikan kepada para Muhajirin dan Anshar, yang lebih membutuhkan dan lebih utama. Namun karena pertimbangan maslahat umum lebih didahulukan daripada kebutuhan pribadi, maka pemberian diberikan kepada para pembesar yang baru masuk Islam tersebut.Baca juga: Berapa Jumlah Para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?Kedua puluh empat: Keberhasilan dalam memenangkan orang yang berbeda (pendapat) itulah keberhasilan yang sejati. Inilah hakikat seni dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Adapun memenangkan orang yang sudah sepakat, itu bukan sesuatu yang baru.Keberhasilan dalam dakwah adalah ketika orang yang awalnya membencimu, membenci dakwahmu, atau membenci agama yang engkau serukan, tidak beranjak darimu kecuali setelah agama yang engkau ajarkan menjadi agama yang paling ia cintai. Dan engkau pun menjadi orang yang paling ia cintai.Inilah yang kita lihat dalam sirah Nabi ﷺ. Beliau mampu menaklukkan hati manusia dan mengubah mereka dari musuh menjadi penolong. Ada orang kafir yang datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan sangat membencinya dan bahkan ingin membunuhnya. Namun setelah duduk bersamanya, kebencian itu berubah menjadi cinta kepada Rasulullah ﷺ.Hal ini terjadi pada sejumlah sahabat, seperti ‘Amr bin Al-‘Ash, Hakim bin Hizam, ‘Umair bin Wahb Al-Jumahi, dan ‘Adi bin Hatim Ath-Tha’i radhiyallahu ‘anhum. Mereka datang kepada Rasulullah ﷺ, sebagian di antara mereka bahkan ingin membunuh beliau, namun akhirnya pulang dalam keadaan Muslim. Bahkan mereka mengucapkan syahadat tauhid di majelis beliau sebelum bangkit dari tempat duduknya. Kebencian yang sebelumnya begitu kuat berubah menjadi cinta yang mendalam.Sebagian dari mereka datang karena urusan dunia, tetapi ketika pulang, mereka telah merendahkan dunia, memahami nilainya, dan bahkan bersumpah tidak akan meminta apa pun kepada manusia.Ini adalah pelajaran dalam berdakwah kepada Allah: kunci keberhasilannya adalah memenangkan hati manusia dan berbuat baik kepada orang yang berbeda dengan kita, apa pun bentuk perbedaannya.Sebaliknya, sebagian orang justru menjadikan perbedaan sebagai sebab buruknya sikap. Akibatnya, perbedaan itu berubah menjadi permusuhan yang semakin mengakar. Alih-alih memenangkan hati orang yang berbeda, justru semakin memperlebar jurang perbedaan dan menambah jarak di antara mereka. Ini bukanlah sikap seorang dai yang berhasil. Hanya Allah yang memberi taufik.Kedua puluh lima: Di dunia ini banyak orang yang digiring kepada kebenaran bukan karena pemahaman akal mereka, tetapi karena tertarik secara perlahan. Sebagaimana hewan ternak digiring dengan segenggam rumput hingga masuk ke kandangnya, demikian pula sebagian manusia membutuhkan pendekatan dan strategi agar hati mereka menjadi tenang dengan iman dan merasa nyaman dengannya. (Muhammad Al-Ghazali dalam Fiqh As-Sirah, hlm. 394).Kedua puluh enam: Allah Ta‘ala berfirman,ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ (٢٦) ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٢٧)“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kamu lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian Allah menerima tobat setelah itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 26–27)Ath-Thahir bin ‘Asyur rahimahullah berkata tentang firman Allah Ta‘ala:ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Kemudian Allah menerima tobat setelah itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Ini merupakan isyarat kepada masuk Islamnya kaum Hawazin setelah kekalahan tersebut. Mereka kemudian datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan telah menjadi Muslim dan bertobat.Kedua puluh tujuh: Ghanimah (harta rampasan perang) bukanlah tujuan utama dari jihad, tetapi yang lebih Allah cintai adalah masuknya manusia ke dalam Islam. Karena itu, Rasulullah ﷺ menunda pembagian ghanimah perang Hunain dengan harapan kaum Hawazin akan kembali kepada Islam. Beliau menunggu di Ji‘ranah selama sekitar dua puluh hari, dan itu adalah waktu yang cukup bagi para pemimpin Hawazin untuk berpikir, kembali kepada kebenaran, masuk Islam, serta meminta kembali harta, anak-anak, dan wanita mereka. Namun ketika mereka terlambat, sementara menunggu lebih lama lagi akan memberatkan pasukan tanpa ada harapan jelas, maka Rasulullah ﷺ pun membagikan harta tersebut.Meski demikian, ketika kaum Hawazin datang setelah pembagian itu, Rasulullah ﷺ menyambut mereka dengan gembira dan memberitahu bahwa beliau telah menunggu mereka. Namun karena keluarga dan harta mereka sudah terlanjur berpindah tangan kepada kaum muslimin, beliau memberi mereka pilihan antara mengambil kembali keluarga mereka atau harta mereka. Kemudian beliau membantu mereka dalam cara mendapatkan kembali apa yang telah dibagikan, bahkan beliau sendiri bersama Bani ‘Abdul Muththalib menjadi orang pertama yang mempraktikkan pengembalian tersebut.Para sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum tidaklah menyelisihi Rasulullah ﷺ dalam hal ini. Mereka mengikuti beliau dengan mengembalikan apa yang ada pada mereka. Namun sebagian orang Arab Badui tidak mengikuti hal tersebut, sehingga Rasulullah ﷺ menebus bagian mereka dan memerintahkan agar seluruh tawanan wanita dan anak-anak dikembalikan kepada Hawazin.Siapa yang memahami sejarah, pasti akan teringat bagaimana perlakuan penduduk Thaif terhadap Rasulullah ﷺ ketika beliau datang kepada mereka—tidak ada yang bersamanya kecuali Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu—mereka melempari beliau dengan batu dan mengejeknya. Namun setelah Allah menaklukkan Makkah dan kaum muslimin menang atas mereka, beliau justru bersikap lembut, pemaaf, dan mulia. Semua yang beliau lakukan adalah demi kemaslahatan Islam dan penyebarannya, dan beliau tidak pernah membalas untuk kepentingan pribadi sama sekali.Inilah akhlak seorang muslim sejati. Ia menjauh dari sikap egois, permusuhan, dan perselisihan dengan orang lain, serta tidak sibuk mencari-cari kesalahan mereka. Prinsipnya adalah kelapangan dada, pemaafan, perbaikan hubungan, dan bersatu di atas kemaslahatan agama ini serta meninggikan kalimat Allah. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Kedua puluh delapan: Termasuk inisiatif Rasulullah ﷺ dalam mengembalikan apa yang beliau miliki dan apa yang ada di tangan beliau dari harta rampasan kepada Bani ‘Abdil Muththalib dari tawanan perang Hawazin. Dari sini diambil teladan dalam berdakwah kepada Allah. Rasulullah ﷺ memulai sendiri dengan mengembalikan tawanan, agar beliau menjadi contoh dan diikuti oleh yang lain dalam mengembalikan apa yang ada di tangan mereka kepada Hawazin.Kedua puluh sembilan: Dari ucapan Dzul Khuwaishirah, kita mengetahui sejauh mana keburukan orang ini dan orang-orang semisalnya, serta besarnya kejahatan dan kesesatan mereka. Ia berani berbicara kepada Rasulullah ﷺ dengan ucapan yang menunjukkan keburukan hati, rusaknya keyakinan, kebodohan yang parah, dan sikap kasar dalam berinteraksi. Ia tidak memahami nash-nash, tidak mengenal hak Rasulullah ﷺ, serta berani berpendapat berdasarkan kebodohan, kebencian, kekerasan, dan kedengkian. Kita berlindung kepada Allah dari hal seperti ini.Ketiga puluh: Diambil pula pelajaran untuk mewaspadai sikap berlebihan dalam agama. Orang ini terdorong oleh sikap berlebihannya hingga keluar dari agama yang benar. Ia datang dengan mengaku berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya, namun justru membantah Rasulullah ﷺ dan menuntut keadilan dari beliau, serta menjadikan akal dan hawa nafsunya sebagai penentu makna keadilan. Ia telah menyimpang dari jalan mencari petunjuk.Keselamatan dari sikap berlebihan adalah dengan berpegang teguh pada nash-nash, memuliakan dan menghormatinya, berhenti pada batas-batasnya, serta mengagungkan Rasulullah ﷺ dan ajaran yang beliau bawa. Juga dengan mengetahui kedudukan para salaf dan pemahaman mereka, serta menempatkan para ulama pada posisi yang layak dan mengetahui hak-hak mereka. Inilah jalan yang aman dari penyimpangan. Adapun bersandar pada akal semata dan merendahkan para ulama, maka itu adalah penyimpangan dalam manhaj yang pasti akan menyeret kepada sikap berlebihan dalam agama, yang pada akhirnya membawa kepada kebinasaan, sebagaimana yang dilakukan oleh Dzul Khuwaishirah.Penyimpangan ini berawal dari sebuah ide kecil di dalam pikiran, lalu berkembang hingga berubah menjadi perilaku yang buruk, merusak yang hijau dan yang kering, serta membinasakan tanaman dan manusia. Kita berlindung kepada Allah.Kelompok seperti ini telah memberikan dampak buruk yang besar terhadap Islam dan kaum Muslimin sepanjang sejarah. Mereka telah menghalangi banyak orang untuk masuk Islam, dan memberi peluang kepada musuh untuk menjelekkan Islam dan kaum Muslimin.Ketiga puluh satu: dari kisah Dzul Khuwaishirah, kita mengambil pelajaran tentang kesabaran Rasulullah ﷺ dan kelembutan beliau terhadap orang-orang Arab Badui yang kasar dan keras. Beliau menahan diri terhadap ucapan yang dikatakan kepadanya secara terang-terangan di hadapan manusia, padahal saat itu beliau sedang membagi harta rampasan dalam jumlah besar. Beliau tidak menyisakan sedikit pun untuk dirinya sendiri. Tujuan beliau hanyalah melunakkan hati manusia agar mereka menerima agama ini. Namun orang Arab Badui itu justru datang dan menuduh beliau tidak adil dalam pembagian.Meski demikian, Rasulullah ﷺ tidak membalasnya. Bahkan beliau memberitahukan kepada manusia sebagai tanda dan bukti kenabian bahwa akan muncul dari keturunan orang ini orang-orang yang keluar dari Islam. Beliau memperingatkan umatnya dari mereka, sekaligus mengajarkan bagaimana cara menyikapi mereka.Ketiga puluh dua: dengan memperhatikan hal di atas, kita dapati bahwa Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menukil pendapat salah satu ulama yang berkata (dan sebagian guru kami berkata): “Pembagian ini hanyalah untuk mencari ridha Allah.” Adapun ucapannya, “Berlaku adillah,” maka Nabi ﷺ tidak memahaminya sebagai bentuk celaan dan tuduhan terhadap beliau. Namun beliau memandangnya sebagai kesalahan dalam berpendapat dan dalam urusan dunia, serta sebagai ijtihad dalam hal kemaslahatan menurut pandangan orang tersebut, meskipun keliru. Maka beliau tidak melihatnya sebagai kejahatan yang harus dibalas, tetapi sebagai gangguan yang layak dimaafkan dan disikapi dengan kesabaran. Karena itu, beliau tidak menghukumnya.Setelah menyebutkan beberapa pendapat, ia berkata: “Pendapat yang paling kuat dari sisi ini adalah bahwa hal tersebut dilakukan untuk tujuan melunakkan hati (isti’laf) dan bersikap bijak dalam mengajak manusia kepada agama agar mereka beriman.”Ketiga puluh tiga:  Termasuk sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Umar ketika ia meminta izin untuk membunuh seorang munafik. Maka beliau bersabda:«مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي»“Semoga Allah melindungi (aku) dari anggapan manusia bahwa aku membunuh para sahabatku.”Hal ini menunjukkan disyariatkannya menjaga kehormatan diri dan tidak membuka peluang tuduhan dari orang lain. Diriwayatkan pula:«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَقِفْ مَوَاقِفَ التُّهَمِ»“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menempatkan dirinya pada posisi yang menimbulkan tuduhan.” (Lihat Az-Zamakhsyari, Al-Kasyaf 3: 273)Karena itu, seorang Muslim hendaknya menjaga kehormatannya agar tidak menjadi bahan pembicaraan manusia. Ini termasuk bentuk perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak memberi peluang bagi orang lain untuk membicarakan keburukan dalam agama ini, sekaligus menerapkan kaidah:دَرْءُ الْمَفْسَدَةِ مُقَدَّمٌ عَلَىٰ جَلْبِ الْمَصْلَحَةِ“Menolak kerusakan didahulukan daripada menarik kemaslahatan.”Sebab, kerusakan yang timbul dari membunuh orang tersebut lebih besar daripada maslahat yang diharapkan dari pembunuhannya. Di antaranya, manusia akan membicarakan bahwa beliau membunuh para sahabatnya, padahal hakikat orang tersebut tidak tampak bagi kebanyakan manusia. Wallahu a‘lam.Ketiga puluh empat: Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata: Ditanyakan kepada Imam Malik rahimahullah tentang orang zindiq. Ia menjawab: Orang-orang munafik pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran, dan itulah yang disebut zindiq menurut kami saat ini.Lalu dikatakan kepada Imam Malik: Mengapa zindiq tidak dibunuh, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh orang-orang munafik meskipun beliau mengetahui mereka? Maka beliau menjawab: Seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membunuh mereka padahal mereka menampakkan keimanan, tentu hal itu akan menjadi sebab orang-orang berkata bahwa beliau membunuh mereka karena kedengkian atau sebab lainnya. Akibatnya, orang-orang akan enggan masuk Islam. Inilah makna sabda beliau. (Ibnu ‘Abdil Barr, 10: 154, dalam Ath-Thab’ah Al-Maghribiyyah)Hal ini juga dikuatkan oleh hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dinding (Hijr Ismail), apakah ia termasuk bagian dari Ka‘bah? Beliau menjawab: “Ya.” Aku bertanya: Mengapa mereka tidak memasukkannya ke dalam bangunan Ka‘bah? Beliau menjawab:«إِنَّ قَوْمَكِ قَصُرَتْ بِهِمُ النَّفَقَةُ»“Sesungguhnya kaummu kekurangan biaya.”Aku bertanya: Mengapa pintunya dibuat tinggi? Beliau menjawab:«فَعَلَ ذَلِكِ قَوْمُكِ لِيُدْخِلُوا مَنْ شَاءُوا وَيَمْنَعُوا مَنْ شَاءُوا، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُو عَهْدٍ بِالْجَاهِلِيَّةِ، فَأَخَافُ أَنْ تُنْكِرَ قُلُوبُهُمْ، لَأَدْخَلْتُ الْجِدْرَ فِي الْبَيْتِ، وَلَأَلْصَقْتُ بَابَهُ بِالْأَرْضِ»“Mereka melakukan itu agar bisa memasukkan siapa yang mereka kehendaki dan melarang siapa yang mereka kehendaki. Seandainya kaummu tidak baru saja meninggalkan masa jahiliah, dan aku khawatir hati mereka akan mengingkarinya, niscaya aku akan memasukkan dinding itu ke dalam bangunan Ka‘bah dan menjadikan pintunya rata dengan tanah.”Maka hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ini menunjukkan bahwa beliau mempertimbangkan mafsadah berupa keluarnya orang dari agama, dan hadits tentang Dzul Khuwaishirah menunjukkan pertimbangan mafsadah berupa orang tidak mau masuk ke dalam agama. Ini termasuk pemahaman mendalam dalam politik syariat.Ketiga puluh lima: Tidak diberikannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagian ghanimah kepada kaum Anshar adalah karena kepercayaan beliau terhadap kuatnya iman mereka dan kelapangan jiwa mereka. Ini merupakan pujian besar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mereka. Beliau memberikan harta ghanimah kepada orang-orang yang beliau khawatirkan keimanan mereka masih lemah, atau untuk melunakkan hati mereka agar condong kepada Islam. Beliau bersabda kepada kaum Anshar:«أَلَا تَرْضَوْنَ أَنْ أَرْجِعَ النَّاسُ بِالشَّاةِ وَالْبَعِيرِ، وَتَرْجِعُوا أَنْتُمْ بِرَسُولِ اللَّهِ؟»“Tidakkah kalian ridha jika manusia pulang membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah?”Coba renungkan, bagaimana keadaan orang yang mendapatkan ucapan seperti ini? Sungguh kaum Anshar menangis. Mereka berhak untuk merasa bahagia dan bangga dengan pembagian ini, serta dengan kedudukan yang mereka miliki di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demi Allah, seandainya seseorang mendapatkan ucapan ini saja, itu sudah cukup menjadi kebahagiaan dan kegembiraan baginya, melebihi segala sesuatu yang dimiliki orang lain. Lalu bagaimana jika yang mereka dapatkan adalah kebahagiaan yang membuat mereka menangis karena gembira, sementara orang lain mendapatkan kambing dan unta, sedangkan kaum Anshar mendapatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?Ketiga puluh enam: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan mereka dalam kebingungan, bahkan beliau memberikan jawaban kepada mereka. Beliau bersabda:«أَمَا وَاللَّهِ لَوْ شِئْتُمْ لَقُلْتُمْ فَلَصَدَقْتُمْ وَلَصُدِّقْتُمْ: أَتَيْتَنَا مُكَذَّبًا فَصَدَّقْنَاكَ، وَمَخْذُولًا فَنَصَرْنَاكَ، وَطَرِيدًا فَآوَيْنَاكَ، وَعَائِلًا فَآسَيْنَاكَ»“Demi Allah, seandainya kalian mau, kalian bisa mengatakan—dan kalian benar serta akan dibenarkan—: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu; engkau ditinggalkan, lalu kami menolongmu; engkau terusir, lalu kami melindungimu; dan engkau dalam keadaan kekurangan, lalu kami mencukupimu.’”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat untuk menghilangkan segala keraguan atau ganjalan dalam hati mereka, dengan menjelaskan sebab mengapa beliau memberikan harta ghanimah kepada orang-orang yang ingin dilunakkan hatinya, bukan kepada kaum Anshar.Ketiga puluh tujuh: Dari khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Anshar, diambil pelajaran tentang disyariatkannya berkhutbah dalam kondisi seperti ini. Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Dalam hal ini terdapat dalil tentang disyariatkannya khutbah ketika terjadi suatu peristiwa, baik bersifat khusus maupun umum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkhutbah kepada kaum Anshar dengan khutbah yang sangat menyentuh. Belum pernah terdengar dalam bab menenangkan hati yang lebih indah daripada khutbah ini, karena di dalamnya terkumpul antara kebenaran, kejelasan, kelembutan, dan kasih sayang. Shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau hingga hari kiamat.Ketiga puluh delapan: Dari khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Anshar, diambil pelajaran tentang menghibur diri atas sesuatu dari dunia yang terlewat, dengan melihat balasan di akhirat yang akan diperoleh.Ketiga puluh sembilan: Di dalamnya terdapat keutamaan kaum Anshar, yaitu cepatnya mereka kembali kepada kebenaran dan menerima penjelasan, segera setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada mereka. Ini juga menunjukkan baiknya nasihat mereka, adab mereka dalam berbicara dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta kesiapan mereka menjawab ketika beliau mengajukan pertanyaan kepada mereka. Telah disebutkan sebelumnya ucapan sebagian ulama: “Kembali kepada kebenaran adalah bagian dari agama.” Maka seorang mukmin tidak sepatutnya merasa berat untuk kembali kepada kebenaran ketika telah jelas baginya.Keempat puluh: Di dalamnya terdapat penekanan pentingnya menghilangkan syubhat dari orang yang mengalami keraguan, baik itu perkara umum maupun khusus. Jika bersifat umum, maka penjelasannya bersifat umum; jika bersifat khusus, maka penjelasannya pun khusus.Tidak ada yang lebih indah daripada kejujuran dan keterbukaan untuk menghilangkan apa yang ada di dalam hati berupa ganjalan. Seandainya manusia saling terbuka dan menjelaskan sebagian sikap yang menimbulkan kekecewaan, niscaya banyak masalah akan selesai.Sebagian orang berkata: “Jika aku benar dalam tindakanku, aku tidak peduli dengan ucapan manusia.” Maka dikatakan kepadanya: Ini keliru. Bahkan engkau harus menjelaskan kepada manusia alasan di balik tindakanmu, menghilangkan keraguan yang ada pada mereka, serta menjelaskan sudut pandang dan landasan tindakanmu. Dengan itu, engkau menjaga kehormatanmu, memperbaiki hati-hati manusia, dan mencegah prasangka buruk di tengah masyarakat.Keterbukaan seperti ini telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berkhutbah kepada kaum Anshar dalam khutbah yang agung tersebut. Juga dicontohkan oleh Sa‘d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu ketika ia menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pandangan kaum Anshar dan apa yang mereka rasakan.Di dalamnya juga terdapat pelajaran bahwa pendapat para pemuda tidaklah sama dengan pendapat para tokoh yang lebih tua. Telah diketahui bahwa umumnya pendapat orang yang lebih tua lebih matang dalam ilmu, amal, pengalaman, dan ketakwaan dibandingkan pendapat para pemuda.Keempat puluh satu: Dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:«إِنَّ قُرَيْشًا حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ وَمَعْصِيَةٍ، وَإِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَجْبُرَهُمْ وَأَتَأَلَّفَهُمْ»“Sesungguhnya Quraisy baru saja meninggalkan masa jahiliah dan kemaksiatan, dan aku ingin menguatkan serta melunakkan hati mereka.”Terdapat pelajaran besar dalam upaya menarik hati manusia serta mempertimbangkan kondisi jiwa mereka. Sesungguhnya kaum Quraisy mengalami guncangan besar dengan peristiwa penaklukan Makkah. Meskipun itu merupakan nikmat terbesar bagi mereka, dalam pandangan mereka hal itu terasa berat karena runtuhnya kebesaran dan kekuasaan mereka, serta terpecahnya tokoh-tokoh mereka yang tetap berada dalam kesyirikan.Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin mengobati keguncangan tersebut dan meringankan beban yang mereka rasakan dengan memberikan harta, agar hati mereka menjadi tenang. Ini merupakan tuntunan yang seharusnya diperhatikan dalam memperbaiki jiwa yang terluka, meskipun dengan harta, serta berusaha meringankan beban mereka. Ini adalah akhlak Islam yang tinggi, yang tidak akan dipahami kecuali oleh orang yang memiliki bagian besar dari kebaikan.Keempat puluh dua: Seseorang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Engkau telah memberi kepada ‘Uyainah dan Al-Aqra‘, sedangkan aku ditinggalkan, padahal aku lebih baik dari mereka.” Ia bermaksud mengingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dirinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan jawaban agung, yang menunjukkan bahwa beliau tidak merasa iri kepada siapa pun dalam perkara dunia, melainkan mengarahkan pandangan kepada Allah dan mencari kedudukan di sisi-Nya. Perhatikanlah jawaban beliau yang jujur lagi benar:«أَمَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَجَبِيلُ بْنُ سُرَاقَةَ خَيْرٌ مِنْ طِلَاعِ الْأَرْضِ كُلِّهِمْ مِثْلَ عُيَيْنَةَ بْنِ حِصْنٍ وَالْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ، وَلَكِنِّي أُؤَلِّفُهُمَا لِيُسْلِمَا، وَوَكَلْتُكَ إِلَى إِسْلَامِكَ»“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh Jabil bin Suraqah lebih baik daripada seluruh penduduk bumi seperti ‘Uyainah bin Hishn dan Al-Aqra‘ bin Habis. Akan tetapi aku memberi kepada mereka berdua untuk melunakkan hati mereka agar masuk Islam, sedangkan aku menyerahkanmu kepada keislamanmu.”Maka janganlah engkau tertipu oleh kedudukan dunia dan jabatan, karena itu hanyalah tipuan yang akan diikuti penyesalan. Mintalah kedudukan di sisi Allah Yang Maha Mulia. Betapa banyak di antara kita orang yang lebih baik daripada kebanyakan manusia, namun tidak mendapatkan kedudukan dunia, karena ia selamat dari fitnah jabatan.Kemudian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga menunjukkan bahwa hal tersebut tidak khusus untuk kaum Anshar saja, tetapi berlaku bagi siapa saja yang kuat imannya. Termasuk di dalamnya sahabat tersebut yang disebutkan, radhiyallahu ‘anhu.Keempat puluh tiga: Dalam janji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Malik bin ‘Auf An-Nadhri, bahwa jika ia datang sebagai seorang Muslim, maka beliau akan mengembalikan keluarganya, hartanya, dan memberinya seratus ekor unta, terdapat dua pelajaran:Pertama: Tujuan utama jihad adalah masuknya manusia ke dalam Islam, bukan semata-mata harta rampasan dan keuntungan materi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan kepada pemimpin Thaif tersebut bahwa jika ia masuk Islam, maka keluarganya dan hartanya akan dikembalikan, serta diberikan tambahan berupa seratus ekor unta sebagai bentuk penghargaan dan dorongan agar ia masuk Islam. Ini menunjukkan besarnya perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap keislaman seseorang, serta tidak adanya keinginan untuk menawan keluarganya atau merampas hartanya.Kedua: Ini merupakan metode dakwah yang agung yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menarik hati tokoh-tokoh besar, serta metode melunakkan hati. Hal ini tampak jelas dalam peristiwa Hunain, ketika beliau memberikan pemberian besar kepada para pemimpin Arab agar hati mereka condong kepada Islam, sehingga mereka masuk Islam dan kaum mereka pun mengikuti.Karena itu, seseorang hendaknya memperhatikan cara-cara pemberian yang dilakukan oleh pemimpin atau tokoh masyarakat dalam rangka mewujudkan kemaslahatan umum bagi kaum Muslimin, dan juga kemaslahatan khusus bagi suatu negeri.Keempat puluh empat: Ibnu Hajar rahimahullah berkata, demikian pula Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Di antara hikmah penaklukan Makkah adalah menjadi sebab masuknya banyak kabilah Arab ke dalam Islam. Dahulu mereka berkata: ‘Biarkan dia (Muhammad) bersama kaumnya. Jika ia menang atas mereka, berarti ia berada di atas kebenaran.’ Ketika Allah memberikan kemenangan kepadanya, sebagian mereka tetap berada dalam kesesatan, lalu mereka berkumpul dan bersiap untuk memeranginya. Maka termasuk hikmah dari hal itu adalah agar tampak bahwa Allah menolong Rasul-Nya bukan dengan banyaknya orang yang masuk Islam dari kalangan kabilah, dan bukan pula karena kaumnya menahan diri dari memeranginya.” Bersambung Insya-Allah …. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 29 Syawal 1447 H, 17 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang hunain sirah nabawiyah sirah nabi
Perang Hunain merupakan salah satu peperangan besar dalam sirah Nabi ﷺ yang sarat dengan pelajaran iman dan tauhid. Pada awalnya kaum muslimin sempat terpukul mundur karena rasa bangga terhadap jumlah pasukan, hingga Allah ﷻ menegur mereka melalui peristiwa ini. Namun dengan keteguhan Rasulullah ﷺ dan pertolongan Allah, keadaan pun berbalik menjadi kemenangan yang nyata bagi kaum muslimin.Baca juga: Perang Hunain dalam Tafsir QS. At-Taubah 25–27: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan  Daftar Isi tutup 1. Jumlah Banyak Belum Tentu Menang 2. Allah Turunkan Sakinah pada Perang Hunain 3. Kaum Hawazin Masuk Islam 4. Kisah Dzul Khuwaishirah yang Menuntut Rasulullah untuk Adil 5. Pelajaran yang Dipetik dari Perang Hunain dan Pengepungan Thaif 5.1. Nasihat Mengenai Ngapal Berkah (Tabarruk)  Peperangan ini adalah Perang Hunain. Sebagian ulama menamakannya Perang Authas, dan sebagian lainnya menamakannya Perang Hawazin. Namun, penamaan yang digunakan dalam Al-Qur’an adalah Hunain.Perang Hunain dianggap sebagai kelanjutan dari penaklukan Mekah, dan merupakan salah satu dampaknya. Hal itu karena Perang Hunain terjadi sebagai konsekuensi dari penaklukan besar tersebut. Ketika suku Hawazin dan Tsaqif mengetahui apa yang menimpa Quraisy di Mekah, mereka pun mulai bersiap-siap dan mengumpulkan pasukan untuk memerangi Rasulullah ﷺ.Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui hal tersebut, sementara beliau masih berada di Mekah, beliau pun keluar untuk menemui mereka di Hunain. Keberangkatan beliau terjadi pada hari keenam bulan Syawal tahun kedelapan Hijriah.Rasulullah ﷺ menunjuk ‘Attab bin Asid radhiyallahu ‘anhu sebagai pemimpin di Mekah. Jumlah pasukan yang menyertai Rasulullah ﷺ adalah sepuluh ribu orang, ditambah dua ribu orang dari kalangan thulaqā’ (orang-orang Mekah yang dimaafkan). Pasukan kaum musyrikin dari Thaif berada di bawah pimpinan Malik bin ‘Auf An-Nadhri. Mereka bergabung dengan pasukan Hawazin dan Tsaqif seluruhnya, juga bergabung suku Nashr dan Jusham seluruhnya, serta Sa‘d bin Bakr dan sebagian orang dari Bani Hilal—jumlah mereka sedikit. Termasuk dari Bani Jusham adalah Duraid bin Ash-Shimmah, seorang syekh tua yang sudah sangat lanjut usia, yang sebenarnya tidak lagi memiliki kemampuan apa pun, kecuali sekadar dimintai pendapat karena pengalaman dan pengetahuannya tentang peperangan. Ia adalah seorang syekh yang telah banyak mengalami peperangan.Ketika Malik bin Auf mengumpulkan pasukan dan membawa mereka menuju Rasulullah ﷺ, ia juga mengikutsertakan harta benda, para wanita, dan anak-anak mereka. Ketika mereka singgah di Authas dan berkumpul di sana, Duraid bin Ash-Shimmah—yang berada di dalam sekedup (tandu) yang dibawanya—bertanya, “Di lembah apakah kita berada?” Mereka menjawab, “Di Authas.” Ia berkata, “Tempat yang bagus untuk medan pasukan berkuda. Tidak ada tanah keras yang melukai kaki, tidak pula tanah lunak yang membuat kuda terperosok. Namun, mengapa aku mendengar suara unta, ringkikan keledai, tangisan anak kecil, dan kambing yang mengembik?” Mereka menjawab, “Malik bin ‘Auf membawa serta harta, para wanita, dan anak-anak bersama pasukan.”Ia bertanya, “Di mana Malik?” Dijawab, “Ini Malik.” Malik pun dipanggil dan mendekat kepadanya. Duraid berkata, “Wahai Malik, sungguh engkau telah menjadi pemimpin kaummu. Hari ini adalah hari yang menentukan, dan setelah hari ini tidak ada hari lain bagimu. Mengapa aku mendengar suara unta, ringkikan keledai, tangisan anak kecil, dan kambing yang mengembik?” Malik menjawab, “Aku membawa mereka agar setiap orang berperang di belakang harta, wanita, dan anak-anak mereka.”Duraid berkata, “Celaka engkau! Apakah orang yang kalah bisa ditahan oleh sesuatu apa pun? Jika engkau menang, yang akan bermanfaat bagimu hanyalah seorang laki-laki dengan pedang dan tombaknya. Namun, jika engkau kalah, engkau akan dipermalukan bersama keluarga dan hartamu.” Malik berkata, “Demi Allah, aku tidak akan melakukan selain ini. Sungguh engkau telah tua dan akalmu pun telah melemah.”Duraid berkata, “Demi Allah, aku telah menyelamatkanmu dari kehinaan suku Hawazin. Seandainya aku masih mampu berdiri di atas kakiku, aku akan bertarung dengan pedang ini hingga keluar dari punggungku. Aku membenci jika Bani Jusham tidak memiliki pendapat atau pandangan dalam urusan ini.” Mereka berkata, “Berilah kami pendapatmu.” Maka Duraid bin Ash-Shimmah berkata, “Hari ini aku tidak melihat sesuatu yang aku persaksikan, dan aku tidak pula kehilangan akalku.”Jumlah orang yang berkumpul bersama Malik bin ‘Auf untuk memerangi Rasulullah ﷺ mencapai dua puluh ribu orang. Malik menempatkan mata-mata (pengintai)nya, lalu mata-mata itu datang kepadanya dalam keadaan kacau balau. Malik bertanya, “Celaka kalian, apa yang terjadi?” Mereka menjawab, “Kami melihat pasukan berkuda putih di atas kuda-kuda yang belang. Demi Allah, kami tidak mampu bertahan sejak pertama kali melihat mereka.” Malik tidak menghiraukan laporan itu dan tidak memedulikannya.Rasulullah ﷺ meminjam baju besi dan senjata dari Shafwan bin Umayyah, sementara Shafwan saat itu masih dalam keadaan musyrik. Shafwan berkata, “Apakah ini berarti engkau merampasnya, wahai Muhammad?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Bukan, ini pinjaman yang dijamin.” Maka Shafwan meminjamkan kepada Rasulullah ﷺ seratus baju besi.Pasukan ini merupakan pasukan Islam terbesar yang pernah keluar bersama Rasulullah ﷺ. Ketika sebagian kaum muslimin melihat banyaknya jumlah pasukan, ada seseorang yang berkata, “Hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah yang sedikit.” Perkataan itu memberatkan Rasulullah ﷺ. Lalu Allah Ta‘ala menurunkan firman-Nya:﴿لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ ۝ ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ﴾“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 25–26)Di tengah perjalanan, kaum muslimin melewati sebuah pohon milik kaum musyrikin yang disebut Dzat Anwath. Dari Abu Waaqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami keluar dari Mekah bersama Rasulullah ﷺ menuju Hunain. Orang-orang kafir memiliki sebuah pohon bidara tempat mereka berdiam dan menggantungkan senjata-senjata mereka, yang disebut Dzat Anwath.”Ia berkata, “Kami pun melewati sebuah pohon bidara yang hijau dan besar.” Maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzat Anwāṭ (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzat Anwāṭ.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Allāhu akbar! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian telah mengatakan seperti apa yang dikatakan kaum Musa.”ٱجْعَل لَّنَآ إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ ءَالِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ“Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)“.” (QS. Al-A‘rāf: 138)Rasulullah ﷺ melanjutkan, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian setahap demi setahap.”Rasulullah ﷺ kemudian mengutus ‘Abdullāh bin Abī Ḥadrad Al-Aslamī radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu. Dari ayahnya, ia berkata: “Ia datang membawa kabar tentang Hawāzin. Ia pun masuk ke tengah-tengah kaum itu dan mendapati mereka telah berkumpul seluruhnya untuk memerangi Rasulullah ﷺ. Ia lalu menyampaikan apa yang ia lihat kepada Rasulullah ﷺ.” Maka Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda, “Itu adalah rampasan kaum muslimin besok, insya Allah.”Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang akan mengawasi kita malam ini?”Anas bin Abī Murthid Al-Ghanawī radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu berkata, “Aku, wahai Rasulullah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Naiklah.” Maka ia pun menaiki kudanya dan segera datang menemui Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Hadapilah lembah ini hingga engkau berada di atasnya, dan jangan biarkan siapa pun mendatangi kita dari arahmu malam ini.”Ketika pagi tiba, Rasulullah ﷺ keluar menuju tempat salatnya dan melaksanakan dua rakaat. Setelah itu beliau bersabda, “Apakah kalian merasakan penjagaan sahabat kalian?”Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami tidak melihat sesuatu pun.”Maka Rasulullah ﷺ pun melaksanakan salat, dan beliau menoleh ke arah lembah itu hingga selesai salatnya. Kemudian beliau bersabda, “Bergembiralah, sungguh penjaga kalian telah datang.”Kami pun melihat ke arah lembah itu melalui sela-sela pepohonan. Ternyata ia telah datang, lalu berdiri di hadapan Rasulullah ﷺ dan memberi salam. Ia berkata, “Aku berangkat hingga aku berada di puncak lembah ini, tempat engkau memerintahkanku, wahai Rasulullah. Ketika dua lembah itu tampak jelas, aku pun melihat keduanya.”Kami memperhatikan, tetapi tidak melihat seorang pun. Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, “Apakah engkau turun pada malam hari?” Ia menjawab, “Tidak, kecuali hanya untuk melaksanakan salat atau menunaikan hajat.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Engkau telah menjalankan tugas dengan baik, maka jangan engkau lakukan apa pun setelah ini.”Kemudian Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanannya hingga sampai di Hunain. Sementara itu, Malik bin ‘Auf beserta pasukannya telah lebih dahulu tiba sebelum Rasulullah ﷺ. Mereka menyiapkan diri dan bersembunyi di celah-celah lembah serta di balik pepohonan. Rasulullah ﷺ datang bersama para sahabatnya hingga mereka turun ke lembah pada waktu subuh. Mereka tidak menyadari hal tersebut. Tiba-tiba Hawazin dan Tsaqif menyerang mereka dengan serangan serentak oleh satu orang, lalu orang-orang yang bersembunyi keluar dari celah-celah lembah dan tempat-tempat persembunyian mereka, serta menghujani kaum muslimin dengan anak panah. Urusan kaum muslimin pun menjadi kacau secara tiba-tiba.Mereka pun lari mundur dalam keadaan terpecah-belah, tidak menoleh ke arah mana pun. Namun Rasulullah ﷺ tetap teguh berdiri, bersama sebagian kecil kaum mukminin yang ada bersamanya. Rasulullah ﷺ berpaling ke arah kanan, lalu berseru, “Wahai manusia, kemarilah kepadaku! Aku adalah Rasulullah, aku adalah Muhammad bin ‘Abdullah.”Bersama beliau terdapat sekelompok orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar, sementara orang-orang yang tetap bertahan bersamanya tidak banyak. Di antara Ahlul Bait yang tetap bersamanya adalah Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Ali bin Abi Thalib, Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, putranya Al-Fadhl bin ‘Abbas, Abu Sufyan bin Al-Harits, Rabi‘ah bin Al-Harits, Aiman bin ‘Ubaid—yang merupakan putra Ummu Aiman—dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ta‘ala ‘anhum ajma‘in.Rasulullah ﷺ pun berseru, “Aku adalah Nabi, tidak ada dusta. Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.” Termasuk doa beliau saat itu adalah, “Ya Allah, jika Engkau menghendaki, maka Engkau tidak akan disembah setelah hari ini.”Dalam Shahih Muslim, dari Al-‘Abbas radhiyallahu ta‘ala ‘anhu, ia berkata: “Aku menyaksikan Perang Hunain bersama Rasulullah ﷺ. Aku dan Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib selalu bersama Rasulullah ﷺ dan tidak berpisah darinya. Rasulullah ﷺ berada di atas seekor bagal putih yang dihadiahkan oleh Farrukh bin Nafatsah Al-Judzami. Ketika kaum muslimin dan orang-orang kafir saling berhadapan, kaum muslimin pun mundur.”“Rasulullah ﷺ lalu memacu bagalnya ke arah orang-orang kafir. Aku memegang tali kekang bagal Rasulullah ﷺ, menahannya agar tidak melaju terlalu cepat, sementara Abu Sufyan memegang sanggurdi beliau. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Wahai ‘Abbas, panggillah para sahabat Samurah!’”Al-‘Abbas berkata: “Aku adalah seorang yang bersuara lantang. Aku pun berteriak sekeras-kerasnya, ‘Di mana para sahabat Samurah?’ Demi Allah, ketika mereka mendengar suaraku, suara itu terasa seperti suara sapi yang memanggil anaknya. Mereka pun menjawab, ‘Labbaik, labbaik!’ Lalu mereka bertempur melawan orang-orang kafir.”“Kemudian seruan dialihkan kepada kaum Anshar. Dikatakan, ‘Wahai kaum Anshar!’ Lalu seruan itu dikhususkan kepada Bani Al-Harits bin Al-Khazraj. Dikatakan, ‘Wahai Bani Al-Harits bin Al-Khazraj!’ Maka Rasulullah ﷺ memandang mereka, sementara beliau berada di atas bagalnya, seakan-akan beliau menjulang di atas mereka.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Sekaranglah panasnya peperangan.”Al-‘Abbas berkata: “Kemudian Rasulullah ﷺ mengambil segenggam kerikil dan melemparkannya ke wajah orang-orang kafir, lalu bersabda, ‘Hancurlah wajah-wajah itu!’ Aku pun pergi menyaksikan keadaan pertempuran, dan demi Allah, tidaklah beliau melempar mereka dengan kerikil itu, melainkan aku melihat mereka semua tercerai-berai dan urusan mereka pun kacau balau.” Jumlah Banyak Belum Tentu MenangAllah Ta’ala berfirman tentang Thalut,كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249)Baca juga: Kisah Thalut, Jalut, dan Nabi Daud: Ujian Kepemimpinan dan Kemenangan ImanNamun karena mereka bangga dengan jumlah yang banyak, Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِى مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)Ayat yang membicarakan kekalahan dalam perang Hunain terkait sejatinya dengan peringatan pada ayat sebelumnya,قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah:24)Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 27)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:Ibnu Juraij meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata: “Ini adalah ayat pertama yang turun dari Surah Barā’ah (At-Taubah).”Allah Ta‘ala menyebutkan kepada orang-orang beriman tentang karunia dan kebaikan-Nya kepada mereka, berupa pertolongan-Nya dalam banyak pertempuran yang mereka jalani bersama Rasul-Nya. Semua itu terjadi semata-mata dari sisi Allah Ta‘ala, dengan dukungan dan ketetapan-Nya, bukan karena jumlah mereka dan bukan pula karena banyaknya pasukan. Allah mengingatkan mereka bahwa kemenangan hanyalah dari sisi-Nya, baik jumlah kaum muslimin sedikit maupun banyak.Pada Perang Hunain, kaum muslimin sempat merasa kagum dengan banyaknya jumlah mereka. Namun ternyata, banyaknya jumlah itu sama sekali tidak memberi manfaat bagi mereka. Mereka pun berbalik melarikan diri, kecuali sedikit orang yang tetap bersama Rasulullah ﷺ. Setelah itu, Allah menurunkan pertolongan dan dukungan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada kaum mukminin yang bersamanya, sebagaimana akan dijelaskan secara terperinci—insyaallah—agar mereka mengetahui bahwa kemenangan itu benar-benar dari sisi Allah Ta‘ala semata, dengan pertolongan-Nya, meskipun jumlah pasukan sedikit.فكم من فئة قليلة غلبت فئة كثيرة بإذن الله ، والله مع الصابرين .Betapa sering kelompok yang sedikit mampu mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.Imam Ahmad berkata: “Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir, telah menceritakan kepada kami ayahku, aku mendengar Yunus menceritakan dari Az-Zuhri, dari ‘Ubaidullah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:خير الصحابة أربعة ، وخير السرايا أربعمائة ، وخير الجيوش أربعة آلاف ، ولن تغلب اثنا عشر ألفا من قلة .‘Sebaik-baik para sahabat itu berjumlah empat orang, sebaik-baik pasukan kecil (sariyyah) berjumlah empat ratus orang, dan sebaik-baik tentara berjumlah empat ribu orang. Dan dua belas ribu pasukan tidak akan terkalahkan karena sedikitnya jumlah.’”Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan gharib. Tidak ada seorang perawi besar pun yang meriwayatkannya secara bersambung kecuali Jarir bin Hazim. Riwayat yang masyhur dari Az-Zuhri adalah dari Nabi ﷺ secara mursal.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Al-Baihaqi, dan selain keduanya, dari Aktsam bin Al-Jaun, dari Rasulullah ﷺ dengan lafaz yang semakna. Dan Allah Maha Mengetahui.Peristiwa Perang Hunain terjadi setelah Fathu Makkah, tepatnya pada bulan Syawal tahun kedelapan Hijriah. Hal itu bermula ketika Rasulullah ﷺ telah selesai menaklukkan Makkah, urusan-urusannya telah tertata dengan baik, dan mayoritas penduduknya telah masuk Islam. Rasulullah ﷺ pun membebaskan mereka. Lalu sampai kepada beliau kabar bahwa suku Hawazin telah menghimpun kekuatan untuk memerangi beliau. Pemimpin mereka adalah Malik bin ‘Auf An-Nadhri, bersama seluruh kabilah Tsaqif, Bani Jusyam, Bani Sa‘d bin Bakr, sejumlah kelompok dari Bani Hilal—yang jumlahnya tidak banyak—serta sekelompok orang dari Bani ‘Amr bin ‘Amir dan ‘Auf bin ‘Amir.Mereka datang dengan membawa serta para wanita, anak-anak, kambing, dan unta, bahkan membawa seluruh harta dan keluarga mereka tanpa tersisa. Maka Rasulullah ﷺ keluar menemui mereka dengan pasukan yang beliau bawa saat Fathu Makkah, yaitu sepuluh ribu orang dari kalangan Muhajirin, Anshar, dan kabilah-kabilah Arab. Bersama beliau juga ikut orang-orang Makkah yang baru masuk Islam, yaitu para thulaqā’, yang jumlahnya sekitar dua ribu orang. Beliau pun bergerak bersama mereka menuju musuh.Kedua pasukan bertemu di sebuah lembah antara Makkah dan Thaif yang bernama Hunain. Pertempuran terjadi di sana pada awal pagi, saat suasana masih gelap menjelang subuh. Kaum muslimin menuruni lembah tersebut, sementara pasukan Hawazin telah bersembunyi di dalamnya. Ketika kedua pasukan saling berhadapan, kaum muslimin tiba-tiba diserbu. Mereka dihujani anak panah, pedang-pedang dihunus, dan pasukan musuh menyerang serentak sebagai satu kesatuan, sebagaimana perintah pemimpin mereka. Pada saat itulah kaum muslimin berbalik melarikan diri, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.Namun Rasulullah ﷺ tetap teguh berdiri. Saat itu beliau menaiki baghal (keledai besar) beliau yang berwarna putih keabu-abuan, mengarahkannya menuju pusat pasukan musuh. Paman beliau, Al-‘Abbas, memegang tali kekang sebelah kanan, dan Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib memegang sebelah kiri, keduanya menahan laju hewan itu agar tidak berjalan terlalu cepat. Rasulullah ﷺ menyerukan nama beliau dan mengajak kaum muslimin untuk kembali, seraya berkata,[ ويقول ] أين يا عباد الله ؟ إلي أنا رسول الله ، ويقول في تلك الحال “Ke mana kalian, wahai hamba-hamba Allah? Kembalilah kepadaku, aku adalah Rasulullah.” Pada saat itu beliau juga mengucapkan:أنا النبي لا كذب أنا ابن عبد المطلب“Aku adalah Nabi, tidak ada dusta.
Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.”وثبت معه من أصحابه قريب من مائة ، ومنهم من قال : ثمانون ، فمنهم : أبو بكر ، وعمر – رضي الله عنهما – والعباس وعلي ، والفضل بن عباس ، وأبو سفيان بن الحارث ، وأيمن بن أم أيمن ، وأسامة بن زيد ، وغيرهم – رضي الله عنهم –Bersama beliau saat itu tetap bertahan sekitar seratus orang dari para sahabat—ada pula yang mengatakan delapan puluh orang. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Al-‘Abbas, ‘Ali, Al-Fadhl bin Al-‘Abbas, Abu Sufyan bin Al-Harits, Aiman bin Ummu Aiman, Usamah bin Zaid, dan selain mereka radhiyallahu ‘anhum. ثم أمر – صلى الله عليه وسلم – عمه العباس – وكان جهير الصوت – أن ينادي بأعلى صوته : يا أصحاب الشجرة – يعني شجرة بيعة الرضوان ، التي بايعه المسلمون من المهاجرين والأنصار تحتها ، على ألا يفروا عنه – فجعل ينادي بهم : يا أصحاب السمرة ويقول تارة : يا أصحاب سورة البقرة ،Kemudian Rasulullah ﷺ memerintahkan pamannya, Al-‘Abbas—yang dikenal bersuara lantang—untuk menyeru dengan suara keras: “Wahai para pemilik pohon!” Maksudnya adalah pohon Bai‘at Ridwan, tempat kaum muslimin dari kalangan Muhajirin dan Anshar berbaiat di bawahnya untuk tidak lari meninggalkan beliau. Al-‘Abbas pun menyeru mereka dengan berkata: “Wahai para pemilik pohon samurah!” Terkadang ia juga berseru: “Wahai para pemilik Surah Al-Baqarah!” فجعلوا يقولون : يا لبيك ، يا لبيك ، وانعطف الناس فجعلوا يتراجعون إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – حتى إن الرجل منهم إذا لم يطاوعه بعيره على الرجوع ، لبس درعه ، ثم انحدر عنه ، وأرسله ، ورجع بنفسه إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – . فلما رجعت شرذمة منهم ، أمرهم عليه السلام أن يصدقوا الحملة ، وأخذ قبضة من التراب بعدما دعا ربه واستنصره ، وقال : Mereka pun menjawab, “Kami penuhi panggilanmu, kami penuhi panggilanmu.” Orang-orang mulai berbalik dan kembali menuju Rasulullah ﷺ. Bahkan ada di antara mereka yang, jika untanya tidak mau berbalik arah, ia mengenakan baju besinya, lalu turun dari untanya, melepaskannya, dan ia sendiri berlari kembali menuju Rasulullah ﷺ.Ketika sejumlah pasukan telah kembali, Rasulullah ﷺ memerintahkan mereka untuk melakukan serangan dengan sungguh-sungguh. Beliau lalu mengambil segenggam tanah setelah berdoa kepada Rabb-nya dan memohon pertolongan-Nya, seraya berkata:اللهم أنجز لي ما وعدتني “Ya Allah, penuhilah untukku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku.”ثم رمى القوم بها ، فما بقي إنسان منهم إلا أصابه منها في عينيه وفمه ما شغله عن القتال ، ثم انهزموا ، فاتبع المسلمون أقفاءهم يقتلون ويأسرون ، وما تراجع بقية الناس إلا والأسارى مجدلة بين يدي رسول الله – صلى الله عليه وسلم – Kemudian beliau melemparkan tanah itu ke arah musuh. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali tanah itu mengenai mata dan mulutnya, sehingga menyibukkan mereka dari pertempuran. Akhirnya mereka pun kalah dan melarikan diri.Kaum muslimin mengejar mereka, membunuh dan menawan. Tidaklah sisa pasukan kembali, melainkan para tawanan telah bergelimpangan di hadapan Rasulullah ﷺ.Dalam riwayat Imam Ahmad, dari Abu ‘Abdurrahman Al-Fihri—nama aslinya Yazid bin Usaid, ada pula yang mengatakan Yazid bin Anis, dan ada yang mengatakan Karz—ia berkata:‘Aku pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Hunain. Kami berjalan pada hari yang sangat terik dan panasnya amat menyengat. Kami pun singgah di bawah naungan pepohonan. Ketika matahari telah condong (ke barat), aku mengenakan baju besiku dan menaiki kudaku. Lalu aku berangkat menemui Rasulullah ﷺ, sementara beliau berada di dalam kemahnya. Aku berkata, “Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepadamu, wahai Rasulullah. Apakah sudah waktunya berangkat?” Beliau menjawab, “Ya.”Beliau lalu bersabda, “Wahai Bilal.” Maka Bilal segera bangkit dari bawah pohon samurah, seakan-akan naungannya adalah naungan seekor burung. Ia berkata, “Aku penuhi panggilanmu dan aku siap melayanimu, aku menebusmu dengan diriku.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Pelanakanlah kudaku.” Maka dikeluarkanlah sebuah pelana yang kedua sisinya terbuat dari serat, tidak ada kemewahan dan tidak ada kesombongan padanya.Pelana itu pun dipasangkan. Rasulullah ﷺ menaikinya, dan kami pun menaiki tunggangan kami. Kami berhadapan dengan musuh pada sore hari dan sepanjang malam. Kuda-kuda saling berhadapan, lalu kaum muslimin berbalik melarikan diri, sebagaimana yang difirmankan Allah ‘Azza wa Jalla: “Kemudian kalian berpaling melarikan diri.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Wahai hamba-hamba Allah, aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Wahai kaum Muhajirin, aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”Kemudian Rasulullah ﷺ meloncat turun dari kudanya, lalu mengambil segenggam tanah. Orang yang paling dekat denganku—yang melihat kejadian itu—mengabarkan kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ melemparkan tanah tersebut ke wajah mereka seraya bersabda, “Binasalah wajah-wajah itu.” Maka Allah ‘Azza wa Jalla pun mengalahkan mereka.Ya‘la bin ‘Atha’ berkata: “Anak-anak mereka menceritakan kepadaku, dari para ayah mereka, bahwa mereka berkata: ‘Tidak ada seorang pun dari kami yang tersisa, kecuali kedua matanya dan mulutnya penuh dengan tanah. Dan kami mendengar suara gemerincing antara langit dan bumi, seperti bunyi besi yang digesekkan pada bejana baru.’”Demikian pula hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hafizh Al-Baihaqi dalam kitab Dalā’il an-Nubuwwah, melalui riwayat Abu Dawud Ath-Thayalisi, dari Hammad bin Salamah, dengan sanad yang sama.Muhammad bin Ishaq berkata: “Telah menceritakan kepadaku ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah, dari ‘Abdurrahman bin Jabir, dari ayahnya, Jabir, dari ‘Abdullah,” ia berkata:Malik bin ‘Auf keluar bersama pasukannya menuju Hunain. Ia tiba lebih dahulu daripada Rasulullah ﷺ, lalu mereka menyiapkan diri dan bersiaga di tempat-tempat sempit serta lekuk-lekuk lembah. Rasulullah ﷺ pun datang bersama para sahabatnya, hingga mereka turun memasuki lembah pada saat pagi masih gelap. Ketika orang-orang mulai menuruni lembah itu, tiba-tiba pasukan berkuda musuh menyerbu ke arah mereka. Serangan itu terasa sangat berat, sehingga orang-orang pun berbalik lari tunggang-langgang, tidak ada seorang pun yang menoleh kepada yang lain.Rasulullah ﷺ pun bergerak ke arah kanan sambil berseru, “Wahai manusia, kemarilah kepadaku! Aku adalah Rasulullah! Aku adalah Rasulullah! Aku adalah Muhammad bin ‘Abdullah!” Namun tidak ada yang menyahut. Unta-unta pun saling bertubrukan satu sama lain. Ketika Rasulullah ﷺ melihat keadaan kaum muslimin seperti itu, beliau bersabda, “Wahai ‘Abbas, berserulah: Wahai kaum Anshar, wahai para pemilik pohon samurah!”Mereka pun menjawab, “Kami penuhi panggilanmu, kami penuhi panggilanmu.” Seseorang di antara mereka berusaha membelokkan untanya, namun tidak mampu. Maka ia pun melemparkan baju besinya ke lehernya, mengambil pedang dan busurnya, lalu menuju ke arah suara panggilan itu, hingga berkumpul di sekitar Rasulullah ﷺ sekitar seratus orang. Rasulullah ﷺ kemudian mengatur barisan mereka, lalu terjadilah pertempuran sengit.Pada awalnya seruan itu ditujukan kepada kaum Anshar, kemudian di akhir kepada kabilah Khazraj, dan mereka adalah orang-orang yang sangat tegar dalam peperangan. Rasulullah ﷺ pun menampakkan diri di atas tunggangannya dan melihat sengitnya pertempuran, lalu bersabda, “Sekarang benar-benar berkobarlah api peperangan.”Demi Allah, tidaklah orang-orang kembali, melainkan para tawanan telah tergeletak di hadapan Rasulullah ﷺ. Allah membinasakan siapa yang dibinasakan-Nya dari mereka, dan sebagian lainnya melarikan diri. Allah pun memberikan kepada Rasul-Nya harta dan anak-anak mereka sebagai rampasan.Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari hadits Syu‘bah, dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepadanya, “Wahai Abu ‘Umarah, apakah kalian lari meninggalkan Rasulullah ﷺ pada hari Hunain?” Ia menjawab, “Ya, tetapi Rasulullah ﷺ tidak lari. Sesungguhnya Hawazin adalah kaum pemanah. Ketika kami berjumpa dengan mereka dan menyerang mereka, mereka pun mundur. Lalu orang-orang sibuk mengumpulkan harta rampasan, maka pasukan Hawazin kembali menyerang kami dengan hujan anak panah, sehingga orang-orang pun berlarian. Sungguh aku melihat Rasulullah ﷺ, sementara Abu Sufyan bin Al-Harits memegang tali kekang baghal putih Rasulullah ﷺ, dan beliau berkata: ‘Aku adalah Nabi, tidak ada dusta. 
Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.’”Aku berkata: Ini merupakan puncak keberanian yang paling sempurna. Pada hari seperti itu, di tengah kancah pertempuran yang berkecamuk, ketika pasukannya telah tercerai-berai darinya, beliau tetap berada di atas seekor baghal yang bukan tunggangan cepat, tidak cocok untuk menyerang, mundur, ataupun melarikan diri. Namun dalam keadaan seperti itu, beliau justru mengarahkannya ke hadapan musuh dan menyebutkan nama beliau agar dikenal oleh siapa pun yang belum mengenalnya. Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau hingga hari kiamat.Semua itu tidak lain adalah karena keyakinan beliau kepada Allah, tawakal kepada-Nya, dan pengetahuan beliau bahwa Allah pasti akan menolongnya, menyempurnakan risalah yang diembankan kepadanya, dan memenangkan agamanya atas seluruh agama lainnya. Allah Turunkan Sakinah pada Perang HunainAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)Oleh karena itu, Allah Ta‘ālā berfirman:﴿ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ﴾Artinya, Allah menurunkan ketenangan dan keteguhan kepada Rasul-Nya.Dan firman-Nya:﴿وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ﴾Maksudnya, kepada orang-orang beriman yang bersama beliau.Dan firman-Nya:﴿وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا﴾Yaitu para malaikat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Abu Ja‘far bin Jarir.Ia berkata:Telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Al-Hasan bin ‘Arafah, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Al-Mu‘tamir bin Sulaiman, dari ‘Auf—yaitu Ibnu Abi Jamīlah Al-A‘rābi—ia berkata: aku mendengar ‘Abdurrahman, mantan budak Ibnu Baratsan, ia menceritakan kepadaku dari seorang lelaki yang berada di pihak orang-orang musyrik pada hari Perang Hunain. Lelaki itu berkata:“Ketika kami bertemu dengan para sahabat Rasulullah ﷺ pada hari Hunain, mereka sama sekali tidak mampu bertahan menghadapi kami, bahkan sekejap pun. Ketika kami berhasil memukul mundur mereka, kami terus mengejar mereka hingga akhirnya kami sampai kepada seorang laki-laki yang berada di atas seekor bagal putih. Ternyata dia adalah Rasulullah ﷺ.Di dekat beliau, kami disambut oleh orang-orang berpakaian putih, berwajah tampan. Mereka berkata kepada kami: ‘Semoga wajah-wajah kalian menjadi buruk! Kembalilah!’Maka kami pun langsung lari tunggang-langgang. Mereka menaiki tengkuk-tengkuk kami, dan kekalahan itu pun menimpa kami.”Al-Ḥāfiẓ Abu Bakr Al-Baihaqi berkata:Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Al-Ḥāfiẓ, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ahmad bin Bālawaih, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Al-Hasan Al-Harbi, telah menceritakan kepada kami ‘Affān bin Muslim, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wāḥid bin Ziyād, telah menceritakan kepada kami Al-Ḥārith bin Ḥuṣairah, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya, ia berkata:Ibnu Mas‘ūd radhiyallahu ‘anhu berkata:“Aku bersama Rasulullah ﷺ pada hari Perang Hunain. Ketika itu orang-orang tercerai-berai meninggalkan beliau, dan yang tersisa bersama beliau hanyalah delapan puluh orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Kami maju ke depan dan tidak membelakangi musuh. Merekalah orang-orang yang Allah turunkan kepada mereka ketenangan.Rasulullah ﷺ berada di atas bagalnya dan terus maju. Bagalnya sempat menyimpang sehingga beliau hampir miring dari pelana. Aku berkata: ‘Bangkitlah, semoga Allah meninggikanmu.’Beliau bersabda: ‘Berikan kepadaku segenggam tanah.’ Aku pun memberikannya. Lalu beliau melemparkan tanah itu ke wajah mereka, hingga mata-mata mereka penuh dengan debu.Kemudian beliau bersabda: ‘Di mana kaum Muhajirin dan Anshar?’Aku menjawab: ‘Mereka ada di sana.’Beliau bersabda: ‘Panggil mereka!’Aku pun memanggil mereka. Mereka datang dengan pedang-pedang terhunus di tangan kanan mereka, seakan-akan kilatan cahaya. Maka orang-orang musyrik pun membalikkan badan mereka dan lari.”Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari ‘Affān, dengan lafaz yang hampir sama.Al-Walīd bin Muslim berkata:Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullāh bin al-Mubārak, dari Abū Bakr al-Hudzalī, dari ‘Ikrimah—mantan budak Ibnu ‘Abbās—dari Syaibah bin ‘Utsmān, ia berkata:“Ketika aku melihat Rasulullah ﷺ pada hari Perang Hunain dalam keadaan terbuka (tidak terlindungi), aku teringat ayah dan pamanku yang terbunuh oleh ‘Ali dan Hamzah. Maka aku berkata dalam hatiku: ‘Hari ini aku akan menuntut balasku darinya.’Aku pun bergerak hendak mendatanginya dari sisi kanan. Namun tiba-tiba aku melihat al-‘Abbās bin ‘Abdul Muththalib berdiri, mengenakan baju besi putih seperti perak, debu pertempuran menyingkapinya. Aku berkata: ‘Itu pamannya, ia pasti tidak akan membiarkannya.’Lalu aku mendatanginya dari sisi kiri, ternyata di sana ada Abū Sufyān bin al-Ḥārith bin ‘Abdul Muththalib. Aku berkata: ‘Itu sepupunya, ia pun tidak akan membiarkannya.’Aku pun mendatanginya dari arah belakang. Tidak tersisa lagi bagiku kecuali mengayunkan pedang kepadanya. Tiba-tiba muncul di hadapanku nyala api di antara aku dan dia, seperti kilat. Aku takut api itu akan membakarku, maka aku menutup mataku dengan tanganku dan mundur perlahan.Rasulullah ﷺ lalu menoleh kepadaku dan bersabda: ‘Wahai Syaibah, wahai Syaibah, mendekatlah kepadaku. Ya Allah, hilangkanlah setan darinya.’Aku pun mengangkat pandanganku ke arah beliau. Saat itu, beliau menjadi lebih aku cintai daripada pendengaran dan penglihatanku sendiri. Lalu beliau bersabda: ‘Wahai Syaibah, perangilah orang-orang kafir.’”Karena itulah Allah Ta‘ālā berfirman:﴿ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ﴾“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26) Kaum Hawazin Masuk IslamAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 26)Allah benar-benar telah menerima tobat sisa kaum Hawāzin. Mereka masuk Islam dan datang menemui Rasulullah ﷺ dalam keadaan sebagai kaum muslimin. Mereka menyusul beliau ketika beliau telah mendekati Mekah, tepatnya di Ji‘rānah, sekitar dua puluh hari setelah peristiwa perang.Pada saat itu, Rasulullah ﷺ memberi mereka pilihan antara mengambil kembali para tawanan mereka atau mengambil kembali harta-harta mereka. Mereka memilih para tawanan mereka. Jumlah tawanan itu sekitar enam ribu orang, terdiri dari anak-anak dan para perempuan. Maka Rasulullah ﷺ mengembalikan seluruh tawanan itu kepada mereka.Adapun harta rampasan perang, beliau membagikannya kepada para prajurit yang ikut berperang. Beliau juga memberikan tambahan pemberian (nafal) kepada sebagian orang dari golongan ṭulaqā’ (orang-orang yang baru masuk Islam setelah Fathu Mekah), dengan tujuan melembutkan hati mereka agar semakin kokoh dalam Islam. Beliau memberi mereka masing-masing seratus ekor unta.Di antara orang yang diberi seratus ekor unta tersebut adalah Mālik bin ‘Auf an-Naḍrī. Rasulullah ﷺ bahkan mengangkatnya kembali sebagai pemimpin atas kaumnya sebagaimana sebelumnya. Karena itu, Mālik bin ‘Auf memuji Rasulullah ﷺ dengan sebuah qasidah yang di antaranya berbunyi:Aku tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar
di tengah seluruh manusia seseorang seperti Muhammad.Paling menepati janji dan paling banyak memberi,
bila diminta kebaikan; dan kapan pun engkau kehendaki,
ia mampu mengabarkan apa yang akan terjadi esok hari.Jika pasukan telah menampakkan taring-taringnya,
dengan tombak-tombak lurus dan pedang-pedang tajam,Maka ia laksana singa di tengah anak-anaknya,
tenang di tengah debu peperangan, siap mengintai musuh. Kisah Dzul Khuwaishirah yang Menuntut Rasulullah untuk AdilKemudian datanglah utusan dari Hawazin yang telah masuk Islam di Ji‘ranah. Mereka berbicara kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, kami memiliki keluarga dan kerabat. Kami telah tertimpa musibah yang tidak tersembunyi bagimu. Maka berilah kami sebagian dari apa yang Allah berikan kepadamu.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَبْنَاؤُكُمْ وَنِسَاؤُكُمْ أَحَبُّ إِلَيْكُمْ أَمْ أَمْوَالُكُمْ؟”“Anak-anak dan wanita kalian lebih kalian cintai atau harta kalian?”Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, engkau memberi kami pilihan antara harta dan keluarga kami, maka kami memilih agar wanita dan anak-anak kami dikembalikan kepada kami. Itu lebih kami cintai.”Beliau bersabda kepada mereka,“أَمَّا مَا كَانَ لِي وَلِبَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَهُوَ لَكُمْ”“Adapun yang menjadi bagianku dan bagian Bani Abdul Muththalib, maka itu untuk kalian.”Kemudian beliau berkata, “Jika aku telah selesai salat Zuhur bersama manusia, maka berdirilah kalian dan katakan: ‘Kami memohon syafaat kepada Rasulullah kepada kaum muslimin, dan kepada kaum muslimin agar membantu kami dalam urusan wanita dan anak-anak kami.’”Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai salat Zuhur bersama manusia, mereka pun berdiri dan menyampaikan apa yang diperintahkan kepada mereka. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَمَّا مَا كَانَ لِي وَلِبَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَهُوَ لَكُمْ”“Adapun yang menjadi bagianku dan bagian Bani Abdul Muththalib, maka itu untuk kalian.”Kaum Muhajirin berkata, “Apa yang menjadi bagian kami, maka itu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Al-Aqra‘ bin Habis berkata, “Adapun aku dan Bani Tamim, tidak.”‘Uyainah bin Hishn berkata, “Adapun aku dan Bani Fazarah, tidak.”Al-‘Abbas bin Mirdas berkata, “Adapun aku dan Bani Sulaim, tidak.”Namun Bani Sulaim berkata, “Bahkan, apa yang menjadi bagian kami, maka itu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَمَّا مَنْ تَمَسَّكَ مِنْكُمْ بِحَقِّهِ مِنْ هَذَا السَّبْيِ فَلَهُ بِكُلِّ إِنْسَانٍ سِتُّ فَرَائِضَ مِنْ أَوَّلِ سَبْيٍ أُصِيبَهُ”“Adapun siapa di antara kalian yang tetap mempertahankan haknya dari tawanan ini, maka baginya setiap satu orang (yang ia lepaskan) akan diganti dengan enam bagian dari tawanan pertama yang akan kami dapatkan.”Maka mereka pun mengembalikan anak-anak dan wanita kepada kaum tersebut.Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Ji‘ranah, sementara di tangan Bilal ada pakaian, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil darinya untuk dibagikan kepada manusia. Lalu orang itu berkata, “Wahai Muhammad, berlakulah adil!”Beliau bersabda,“وَيْلَكَ، وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ؟ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ”“Celakalah engkau! Siapa yang akan berlaku adil jika aku tidak berlaku adil? Sungguh engkau akan rugi dan merugi jika aku tidak berlaku adil.”Maka Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku membunuh orang munafik ini.”Beliau bersabda,“مَعَاذَ اللَّهِ، أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي”“Aku berlindung kepada Allah dari ucapan orang-orang bahwa aku membunuh para sahabatku.”Beliau melanjutkan,“إِنَّ هَذَا وَأَصْحَابَهُ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنْهُ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ”“Sesungguhnya orang ini dan pengikutnya membaca Al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari sasarannya.”Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan harta kepada orang-orang Quraisy dan kabilah Arab lainnya, sementara kaum Anshar tidak mendapatkan bagian, maka sebagian dari mereka merasakan sesuatu dalam hati mereka, hingga salah seorang dari mereka berkata, “Demi Allah, Rasulullah telah menemui kaumnya.”Maka Sa‘d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum Anshar merasakan sesuatu dalam hati mereka terhadap apa yang engkau lakukan, yaitu engkau membagi kepada kaummu dan memberikan pemberian besar kepada kabilah Arab, sementara kaum Anshar tidak mendapatkan bagian apa pun.”Beliau bersabda, “Di manakah posisi engkau dalam hal ini, wahai Sa‘d?”Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, aku hanyalah bagian dari kaumku.”Beliau bersabda, “Kumpulkanlah kaummu di tempat ini.”Maka Sa‘d mengumpulkan kaum Anshar di tempat tersebut. Setelah mereka berkumpul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di tengah mereka, memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu bersabda:“يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، مَا قَالَةٌ بَلَغَتْنِي عَنْكُمْ؟”“Wahai kaum Anshar, apa ucapan yang sampai kepadaku dari kalian?”Mereka menjawab, “Adapun orang-orang bijak di antara kami, wahai Rasulullah, mereka tidak mengatakan apa-apa. Namun sebagian dari kami yang masih muda berkata: ‘Semoga Allah mengampuni Rasulullah, beliau memberi kepada Quraisy dan meninggalkan kami, sementara pedang kami masih meneteskan darah mereka.’”Maka beliau bersabda,“أَلَمْ آتِكُمْ ضُلَّالًا فَهَدَاكُمُ اللَّهُ، وَعَالَةً فَأَغْنَاكُمُ اللَّهُ، وَأَعْدَاءً فَأَلَّفَ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ؟”“Bukankah dahulu kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi kalian petunjuk, kalian dalam keadaan miskin lalu Allah mencukupkan kalian, dan kalian saling bermusuhan lalu Allah menyatukan hati kalian?”Mereka menjawab, “Benar, Allah dan Rasul-Nya lebih banyak memberi karunia dan keutamaan.”Beliau bersabda,“أَلَا تُجِيبُونِي يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ؟”“Mengapa kalian tidak menjawabku, wahai kaum Anshar?”Mereka berkata, “Apa yang harus kami katakan, wahai Rasulullah? Bagi Allah dan Rasul-Nya segala karunia dan keutamaan.”Beliau bersabda,“أَمَا وَاللَّهِ لَوْ شِئْتُمْ لَقُلْتُمْ فَلَصَدَقْتُمْ وَلَصُدِّقْتُمْ: أَتَيْتَنَا مُكَذَّبًا فَصَدَّقْنَاكَ، وَمَخْذُولًا فَنَصَرْنَاكَ…”“Demi Allah, seandainya kalian mau, kalian bisa mengatakan—dan kalian benar—: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu; engkau datang dalam keadaan ditinggalkan, lalu kami menolongmu lalu kalian menolongku, aku datang dalam keadaan terusir lalu kalian melindungiku, dan dalam keadaan miskin lalu kalian mencukupkanku.”“Wahai kaum Anshar, apakah kalian merasakan sesuatu dalam hati kalian karena sedikit bagian dunia yang dengannya aku ingin melunakkan hati suatu kaum agar mereka masuk Islam, sementara aku menyerahkan keislaman kalian (tanpa diberi bagian dunia)? Tidakkah kalian ridha, wahai kaum Anshar, bahwa manusia kembali dengan kambing dan unta, sedangkan kalian kembali membawa Rasulullah ke tempat tinggal kalian?”“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya bukan karena hijrah, niscaya aku termasuk bagian dari kaum Anshar. Jika manusia menempuh suatu jalan dan kaum Anshar menempuh jalan lain, pasti aku akan menempuh jalan kaum Anshar. Ya Allah, rahmatilah kaum Anshar, anak-anak Anshar, dan cucu-cucu Anshar.”Maka kaum itu pun menangis hingga janggut mereka basah, dan mereka berkata, “Kami ridha dengan Rasulullah sebagai bagian kami dan pembagian yang kami terima.”Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pergi, dan mereka pun berpisah. Pelajaran yang Dipetik dari Perang Hunain dan Pengepungan ThaifPertama: Sesungguhnya Allah dengan taufik-Nya mengatur urusan hamba-hamba-Nya yang beriman, bersikap lembut kepada mereka, dan melindungi mereka dari tipu daya orang-orang kafir. Allah menjadikan apa yang Dia kehendaki sebagai harta rampasan bagi kaum muslimin.Tidaklah Rasulullah ﷺ keluar menghadapi kekuatan besar kaum Quraisy di Makkah, kecuali karena Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati kaum Hawazin, sehingga mereka berhenti bergerak untuk memerangi Rasulullah ﷺ. Bahkan Allah menjadikan mereka menghadapi Rasulullah ﷺ dengan membawa serta wanita-wanita dan harta-harta mereka berupa unta dan kambing yang jumlahnya hanya diketahui oleh Allah.Semua itu terjadi agar harta rampasan tersebut menjadi milik kaum muslimin, yang dengannya Rasulullah ﷺ dapat menggunakannya untuk melembutkan dan menautkan hati serta mengobati luka batin penduduk Makkah, setelah mereka mengalami kekalahan besar yang sangat melukai perasaan mereka.Pada fase dakwah ini, Rasulullah ﷺ sangat membutuhkan upaya penaklukan hati, sementara beliau sendiri tidak memiliki apa-apa, bahkan sampai harus meminjam baju besi dari Shafwan. Maka datanglah harta-harta rampasan dan kekayaan yang besar ini, lalu Rasulullah ﷺ menggunakannya untuk menundukkan hati para pemimpin yang sebelumnya telah “hilang akal sehatnya” (karena kebencian dan permusuhan).Mahasuci Allah, Sang Pengatur segala urusan dan Pembolak-balik hati sesuai kehendak-Nya. Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.Kedua: Peristiwa Rasulullah ﷺ meminjam baju besi dari Shafwan bin Umayyah mengandung beberapa pelajaran, di antaranya:Keterbatasan sarana material yang dimiliki pasukan Rasulullah ﷺ, hingga beliau harus meminjam senjata dari seorang musyrik.Bolehnya seorang imam atau pemimpin meminjam senjata milik orang musyrik untuk memerangi musuh. Peristiwa ini termasuk salah satu bentuk isti‘ānah (meminta bantuan).Barang pinjaman (al-‘āriyah) itu bersifat tanggungan, meskipun barang yang dipinjam tersebut adalah milik orang musyrik, meski dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha.Ketiga: Malik an-Nadhri mengutus seorang mata-mata sebagai pemimpin pasukan Tsaqif dan Hawazin agar ia mengamati langsung keadaan Rasulullah ﷺ dan berita tentang pasukan kaum muslimin.Ketika mata-mata itu kembali kepada Malik, terlihat jelas pada wajahnya tanda-tanda ketakutan dan kegentaran. Maka Malik bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami melihat para lelaki yang berpakaian putih, menaiki kuda-kuda hitam pekat. Demi Allah, kami sama sekali tidak mampu bertahan, dan apa yang kami alami benar-benar tidak terbayangkan.”Malik pun tidak mampu menolak atau menghalangi mereka dari tujuan dan niat tersebut.Peristiwa ini merupakan salah satu bentuk rasa takut (ar-ru‘b) yang Allah berikan sebagai pertolongan kepada Rasul-Nya ﷺ dan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا ﴾“Dan Dia menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka; sebagian mereka kalian bunuh dan sebagian yang lain kalian tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)Dan Allah Ta‘ala juga berfirman:﴿ سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا ۖ وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ ۖ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ ﴾“Akan Kami tanamkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan dalil tentang itu. Tempat mereka adalah neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang zalim.” (QS. Ali ‘Imran: 151)Dan Rasulullah ﷺ bersabda:«نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ»“Aku ditolong dengan rasa takut (yang ditanamkan ke dalam hati musuh).” (HR. Bukhari dan Muslim)Keempat: Ketika ada seorang laki-laki dari kaum muslimin berkata, “Kita tidak akan dikalahkan hari ini karena jumlah yang sedikit,” Rasulullah ﷺ tidak menyukai ucapan tersebut, karena beliau mengetahui akibat buruk dari perkataan semacam itu. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran sebagai berikut:1. Ucapan satu orang saja, sebagaimana disebutkan oleh para ahli sirah, bisa menjadi sebab datangnya musibah besar yang menimpa seluruh pasukan secara keseluruhan. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya waspada agar tidak mendatangkan bencana bagi komunitasnya atau keluarganya akibat keburukan yang muncul dari perbuatannya atau ucapannya.2. Meskipun hanya satu kalimat, namun dengan sebab itulah bencana terjadi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:«إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ» “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu kata, yang ia tidak memperhatikan akibatnya, lalu karena kata itu ia tergelincir ke dalam neraka sejauh jarak antara timur.” (HR. Bukhari dan Muslim)3. Ini menunjukkan kelemahan tabiat manusia dan cepatnya ia tertipu oleh rasa bangga. Seseorang bisa saja, ketika melihat banyaknya jumlah pasukan, merasa kagum, tertipu oleh kekuatan semu itu, lalu membesarkan dirinya dan merasa yakin akan kemenangan. Ia pun mengucapkan kalimat tersebut, yang muncul dari kelemahan manusiawi yang kadang menimpa seorang hamba dalam kondisi tertentu, ketika ia tidak selalu menghadirkan rasa takwa kepada Allah, pengawasan-Nya, ketundukan kepada-Nya, serta kesadaran atas nikmat-nikmat-Nya.4. Besarnya bahaya perkara ini, karena berkaitan langsung dengan akidah. Seorang muslim, di antara bentuk ibadah terbesar yang ia lakukan, adalah tunduk kepada Allah, bersyukur atas nikmat-Nya, dan waspada dari kelalaian dalam hal ini. Hendaknya ia menyadari bahwa rasa ujub (bangga diri) dan masuknya kesombongan ke dalam hati termasuk dosa-dosa besar yang dapat membinasakan.5. Besarnya bahaya perkara ini juga ditunjukkan oleh hukuman yang terjadi secara langsung, serta ayat-ayat yang turun untuk menegur umat agar mereka mengambil pelajaran untuk masa depan mereka. Karena itu, ucapan semacam ini tidak boleh dianggap remeh. Abu Bakar al-Jazā’irī rahimahullah berkata dalam penjelasannya: “Haramnya merasa kagum terhadap diri sendiri, terhadap amal, atau terhadap kekuatan. Sebab, akibat dari sikap tersebut adalah kekalahan kaum mukminin pada awal pertempuran mereka melawan musuh.”6. Pada peristiwa ini juga terdapat pelajaran akidah yang sangat penting. Jika Perang Badar telah menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang sedikit tidak membahayakan mereka di hadapan musuh-musuh mereka apabila mereka bersabar, bertakwa, dan hati mereka bergantung kepada Allah Ta’ala, maka Perang Hunain menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang banyak pun tidak akan memberi manfaat sedikit pun, apabila hati mereka tidak bergantung kepada Allah Ta’ala. Perang Hunain telah menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang banyak pun tidak akan memberi manfaat apa pun, apabila hati mereka tidak bergantung kepada Allah.Kelima: Dalam ucapan sebagian orang yang diucapkan di hadapan Rasulullah ﷺ: “Jadikanlah untuk kami dzātu anwāṭ sebagaimana mereka memiliki dzātu anwāṭ,” terdapat beberapa pelajaran penting, di antaranya:Orang-orang yang mengucapkan kalimat tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh perawi hadits Abu Wāqid al-Laitsī radhiyallāhu ‘anhu, adalah orang-orang yang baru saja keluar dari kekafiran. Mereka termasuk orang-orang yang baru masuk Islam setelah penaklukan Makkah atau sesudahnya, dan bukan dari kalangan sahabat yang telah lebih dahulu masuk Islam. Karena itu, perkara seperti ini tidak mungkin muncul dari para sahabat terdahulu, dan tidak pantas disangka atau dituduhkan kepada mereka. Semoga Allah Ta‘ālā meridai mereka semua.Kewajiban bersikap sangat waspada terhadap kesyirikan. Orang-orang tersebut tidak bermaksud menggantungkan diri kepada pohon sebagaimana praktik orang-orang musyrik, namun Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ucapan mereka serupa dengan ucapan para pengikut Nabi Musa, yaitu: “Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan.” Maka perhatikanlah bagaimana cara melakukan tabarruk (mencari berkah), memohon keberkahan, beribadah, dan mendekatkan diri kepada yang diberkahi. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam sebuah perjalanan, lalu kami kehabisan air. Rasulullah ﷺ bersabda:«اطْلُبُوا فَضْلَةً مِنْ مَاءٍ»“Carilah sisa air.”Lalu didatangkan sebuah bejana yang di dalamnya terdapat sedikit air. Rasulullah ﷺ memasukkan tangannya ke dalam bejana itu, kemudian bersabda:«حَيَّ عَلَى الطَّهُورِ الْمُبَارَكِ، وَالْبَرَكَةُ مِنَ اللَّهِ» “Marilah kepada air bersuci yang diberkahi, dan keberkahan itu berasal dari Allah.” Yakni, keberkahan tidak diminta kecuali dari Allah semata, tidak dari selain-Nya. Dialah Allah —dengan mematahkan anggapan keliru— tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia.Pintu tabarruk termasuk pintu terbesar yang melaluinya kesyirikan masuk ke tengah manusia. Awalnya, orang-orang mengagungkan para ulama dan orang-orang saleh, lalu meminta doa kepada mereka. Setelah itu, mereka mulai mengusap-usap (tabarruk) kepada mereka, dan meyakini bahwa para tokoh tersebut memiliki kemampuan memberi keberkahan karena kesalehan dan kedudukan mereka di sisi Allah. Ketika mereka terus-menerus meminta keberkahan kepada orang-orang tersebut, muncullah praktik tabarruk kepada para wali dan orang-orang saleh, kemudian tabarruk kepada kuburan, bahkan berkembang menjadi tabarruk kepada pepohonan dan batu-batuan. Semua ini merupakan penyimpangan yang besar.Meminta Keberkahan kepada Allah SemataKeberkahan diminta dari Zat yang memilikinya, bukan dari yang tidak memilikinya. Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau sangat mencintainya dan berharap keberkahan ada di dalamnya, lalu beliau berdoa kepada Allah Subḥānahu. Dalam hadits Abu Sa‘īd al-Khudrī radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:«اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ مَعَ الْبَرَكَةِ بَرَكَتَيْنِ» (1)“Ya Allah, berkahilah kota Madinah kami. Ya Allah, berkahilah sha‘ kami. Ya Allah, berkahilah mudd kami. Ya Allah, berkahilah kota Madinah kami. Ya Allah, jadikanlah keberkahan itu berlipat ganda.”Beliau berdoa agar Allah memberikan keberkahan pada Madinah, makanan pokok mereka, dan takaran mereka. Maka, jika Rasulullah ﷺ sendiri meminta keberkahan dari Allah, sudah seharusnya kita tidak meminta keberkahan kecuali kepada Allah.Adapun meminta keberkahan kepada selain-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang meminta keberkahan dengan menggantungkan senjata mereka pada pohon, maka perbuatan itu sama dengan ucapan “Jadikanlah untuk kami sesembahan”, dan berarti menjadikan tandingan bagi Allah.Maka orang-orang seperti ini harus diberi peringatan keras, diarahkan untuk kembali kepada Allah, dan dicegah dari mencari keberkahan dengan cara yang menyimpang, sebagaimana mereka juga dicegah dari penyimpangan dalam seluruh bentuk ibadah lainnya. Nasihat Mengenai Ngapal Berkah (Tabarruk)Maka seharusnya orang-orang seperti ini sadar dan kembali kepada Allah. Hendaknya mereka bersungguh-sungguh dalam mencari keberkahan hanya kepada-Nya, sebagaimana mereka bersungguh-sungguh dalam berbagai bentuk ibadah lainnya.1. Perhatikan apa yang diminta oleh mereka kepada Rasulullah ﷺ.Mereka berkata, “Jadikanlah untuk kami Dzātu Anwāṭ sebagaimana mereka memiliki Dzātu Anwāṭ.”Dalam Fathul Majīd dijelaskan bahwa maksudnya, mereka tidak meminta agar dibuatkan sesembahan selain Allah—karena mereka tentu lebih paham dan lebih mulia dari itu—tetapi mereka hanya meminta sebuah pohon yang diberi izin oleh Nabi untuk mereka bertabarruk (mengambil berkah darinya), dengan cara menggantungkan senjata-senjata mereka di sana, tanpa melakukan shalat atau sedekah untuknya.Namun Nabi ﷺ menjelaskan bahwa permintaan mereka untuk bertabarruk tersebut—meskipun tidak disertai shalat atau sedekah—tetap termasuk syirik itu sendiri. Di dalamnya terdapat bantahan terhadap syubhat kaum musyrik di zaman ini yang mengira bahwa apa yang mereka lakukan berupa tabarruk dan pengagungan adalah sesuatu yang tidak mengapa.2. Apa yang mereka minta bukanlah syirik kecil.Seandainya Nabi ﷺ mengabulkannya, tentu itu serupa dengan ucapan Bani Israil kepada Nabi mereka, “Jadikanlah untuk kami sesembahan.” Demi Allah, itu termasuk syirik besar. Namun Bani Israil tidak langsung dikafirkan karena permintaan tersebut, sebab mereka baru saja meninggalkan kekafiran dan masuk ke dalam Islam. Selain itu, mereka tidak sampai melakukannya dan tidak memaksakan permintaan tersebut, melainkan hanya sekadar meminta kepada Nabi ﷺ.3. Kaidah bahwa ibadah itu harus berdasarkan perintah syariat sudah tertanam dalam diri para sahabat.Para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang mengajukan permintaan tersebut tidak serta-merta melakukannya sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Mereka tidak langsung mengamalkannya, tetapi terlebih dahulu mendatangi Rasulullah ﷺ. Sebab mereka mengetahui bahwa setiap ibadah harus memiliki landasan syariat sebelum diamalkan, agar seseorang tidak terjatuh ke dalam perbuatan bid’ah, yaitu beribadah kepada Allah tanpa dasar yang telah Dia tetapkan.Keenam: Wajib berhati-hati dari menyerupai orang-orang kafir.Hal ini karena Rasulullah ﷺ telah menjelaskan hal tersebut dalam sabdanya:لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَذْوَ الْقُذَّةِ بِالْقُذَّةِ“Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, setahap demi setahap.”Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim waspada dan tidak meniru orang-orang kafir. Bahkan, yang menjadi kewajibannya adalah berhati-hati dari menyerupai mereka dalam seluruh urusan mereka, serta mewaspadai ajakan untuk mengikuti hawa nafsu dan penyimpangan umat-umat terdahulu.Menyerupai orang-orang kafir juga termasuk salah satu sebab terbesar munculnya berbagai bid’ah. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa sikap menyerupai orang kafir itulah yang mendorong Bani Israil untuk meminta kepada Nabi Musa agar dibuatkan bagi mereka sesembahan sebagaimana kaum kafir memiliki sesembahan yang mereka sembah.Demikian pula, sikap menyerupai orang kafir itulah yang mendorong sebagian sahabat Nabi Muhammad ﷺ—yang saat itu masih baru masuk Islam—untuk meminta agar dibuatkan bagi mereka sebuah pohon yang mereka jadikan tempat mencari berkah selain Allah.Dan inilah kenyataan yang terjadi pada hari ini. Sebagian kaum muslimin meniru orang-orang kafir dalam melakukan bid’ah dan perbuatan syirik. Salah satu sebab paling menonjol dari penyimpangan tersebut adalah sikap menyerupai orang-orang kafir. Ketujuh: Mengambil pelajaran tentang pentingnya optimisme (tafā’ul).Ketika Rasulullah ﷺ mengutus ‘Abdullah bin Abī Ḥadrad radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu dan ayahnya untuk mendatangi pasukan Tsaqīf, lalu ia kembali dan mengabarkan bahwa ia melihat kaum wanita, keluarga, anak-anak, serta hewan ternak mereka ikut bersama pasukan itu—yang maksud mereka adalah untuk menunjukkan keteguhan dan agar tidak lari saat pertempuran—maka hal itu tentu merupakan sesuatu yang menakutkan bagi pasukan yang menghadapinya.Namun Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda, “Itu adalah harta rampasan kaum muslimin esok hari, insya Allah.” Dari peristiwa ini kita mengambil pelajaran tentang sikap optimis.Sepanjang kehidupan Rasulullah ﷺ dipenuhi dengan optimisme. Dalam kondisi apa pun, beliau selalu melihat dari sisi yang membawa harapan. Beliau tidak terpengaruh oleh kumpulan pasukan Tsaqīf, bahkan mengucapkan kata-kata optimis yang didengar oleh para sahabat radhiyallāhu ‘anhum. Ucapan itu membangkitkan harapan, menyemangati jiwa, dan meneguhkan hati.Sebab jiwa manusia, ketika diingatkan pada kekuatan dan jumlah besar musuh, bisa saja merasa gentar. Namun ketika diberi harapan tentang kemenangan dan ganimah yang besar, maka ia akan berani dan maju. Apalagi ketika gambaran tentang harta rampasan itu seakan-akan sudah tampak di depan mata.Sikap seperti ini juga tampak pada peristiwa ketika Rasulullah ﷺ kembali dari mendatangi Banī Qurayẓah pada hari Perang Aḥzāb. Saat itu para sahabat—di antaranya Sa‘d bin Mu‘ādz, Sa‘d bin ‘Ubādah, ‘Abdullah bin Rawāḥah, dan Khawwāt bin Jubair radhiyallāhu ‘anhum—yang diutus untuk memastikan apakah Banī Qurayẓah telah melanggar perjanjian, kembali dan mengabarkan bahwa mereka benar-benar telah mengkhianati perjanjian.Maka Rasulullah ﷺ mengangkat kepalanya dan bersabda:«أَبْشِرُوا يَا مَعْشَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِنَصْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَعَوْنِهِ»“Bergembiralah wahai kaum mukminin, dengan pertolongan dan bantuan Allah Ta‘ālā.”Ketika keadaan semakin sulit dan musuh semakin berkumpul, hati pun semakin bergantung kepada Allah, dan pertolongan pun datang. Rasulullah ﷺ sangat perhatian pada hari itu untuk menebarkan ketenangan dan optimisme di hadapan para sahabat radhiyallāhu ‘anhum. Kedelapan: Di antara pelajaran dari serangan mendadak orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin, kekacauan barisan mereka, lalu kekalahan yang mereka alami — dan tidak ada yang tetap tegar bersama Rasulullah ﷺ kecuali sedikit dari kalangan mukminin — terdapat pelajaran praktis bagi kaum Muslimin di setiap zaman dan tempat: janganlah kalian tertipu oleh kekuatan kalian dan jangan pula oleh jumlah yang kalian miliki.Sebagian kaum Muslimin ketika itu berkata, “Hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah yang sedikit.” Namun ternyata mereka mengalami kekalahan pada awal pertemuan dengan musuh. Peristiwa ini menjadi pendidikan dan pembinaan bagi hati agar tidak berpaling kepada selain Allah. Jika hati berpaling kepada selain-Nya, maka akibatnya akan seperti yang terjadi pada pasukan Hunain di awal pertempuran.Allah Ta’ala berfirman:لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ“Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak medan peperangan, dan (ingatlah) pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak membuat kalian bangga, tetapi jumlah itu tidak memberi manfaat sedikit pun bagi kalian. Bumi yang luas terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berbalik ke belakang dengan lari tunggang-langgang.” (QS. At-Taubah: 25)Setelah pelajaran itu benar-benar terwujud dan pesan pun sampai, manusia memahami secara nyata bahwa kekuatan dan jumlah mereka tidak akan bermanfaat jika Allah tidak menolong mereka. Jika Allah Jalla Sya’nuhu tidak memberikan pertolongan, maka tidak akan turun kemenangan dari sisi-Nya.Allah — Mahatinggi dan Mahamulia — tidak akan menyia-nyiakan hamba-hamba-Nya yang beriman. Dialah yang berperang dengan pertolongan-Nya, anugerah-Nya, dan kebaikan-Nya.Sebagaimana firman-Nya:وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ“Dan menjadi kewajiban atas Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum: 47)Namun setelah Allah memperlihatkan kepada kaum mukminin secara nyata keadaan mereka tanpa pertolongan-Nya, barulah pertolongan itu datang dari sisi Allah. Allah Ta’ala berfirman:ثُمَّ أَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)Adapun keadaan kita hari ini — realitas kita tercerai-berai dan hati kita belum bergantung kepada Allah sebagaimana mestinya — maka kita perlu memahami pelajaran ini dengan baik agar keadaan kita menjadi lurus. Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.Kesembilan: Firman Allah Ta’ala: “Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak medan peperangan, dan (ingatlah) pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak membuat kalian bangga, tetapi jumlah itu tidak memberi manfaat sedikit pun bagi kalian. Bumi yang luas terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berbalik ke belakang dengan lari tunggang-langgang. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 25–26)Ath-Thahir bin ‘Asyur rahimahullah berkata, “Penyandaran pertolongan secara tegas kepada Allah Ta’ala bertujuan untuk menampakkan tanda kecintaan Allah, meskipun di dalamnya terdapat sebagian kepentingan dunia. Di dalamnya terdapat bagian akhirat, dan juga bagian dunia berupa kemenangan yang menguatkan persatuan, menghasilkan ghanimah, serta melindungi umat dari serangan musuh-musuhnya. Semua itu termasuk karunia Allah, karena mereka melihat kecintaan-Nya dalam urusan-urusan dunia mereka.”Beliau juga berkata, “Penyebutan secara khusus hari Hunain di antara hari-hari peperangan lainnya, karena kaum Muslimin sempat mengalami kekalahan pada awalnya, kemudian kemenangan kembali kepada mereka. Penyebutan ini mengandung pelajaran bahwa kemenangan diraih ketika menaati perintah Allah dan Rasul-Nya ﷺ, sedangkan kekalahan terjadi ketika lebih mengutamakan keuntungan dunia yang segera daripada ketaatan.”Kesepuluh: Seruan Al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhu kepada para sahabat Baiat Syajarah, juga kepada kaum Muhajirin dan Anshar, lalu kembalinya mereka.Tidak lama setelah peristiwa itu, para pasukan yang sempat mundur kembali berkumpul di sekitar Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa larinya mereka tidaklah jauh. Itu hanyalah kekacauan dan kepanikan sesaat. Mereka masih berada cukup dekat sehingga dapat mendengar suara panggilan.Kemudian terjadi pendidikan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, lalu datang keteguhan yang bersumber dari Allah dan pertolongan-Nya. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama mengatakan bahwa dalam hadis ini terdapat dalil bahwa mundurnya mereka tidaklah jauh dan tidak semua pasukan benar-benar melarikan diri. Yang mundur hanyalah orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, dari kalangan penduduk Makkah yang baru masuk Islam (mualaf) dan orang-orang musyrik Makkah yang belum benar-benar beriman.Kekalahan itu datang secara tiba-tiba. Mereka dihujani anak panah sekaligus dan bercampur dengan sebagian penduduk Makkah yang imannya belum kokoh. Di antara mereka ada wanita dan anak-anak yang ikut keluar untuk mencari harta rampasan, sehingga mereka berada di barisan depan. Ketika panah-panah beterbangan, mereka pun berbalik dan lari. Namun akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ketenangan kepada kaum mukminin, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.”Kesebelas: Ketika Al-‘Abbas memanggil para sahabat Baiat Syajarah dan menyeru kaum Anshar, mereka segera menyambut dan kembali kepada Rasulullah ﷺ. Bahkan sebagian mereka tidak mampu membalikkan unta yang ditungganginya, sehingga ia turun dan meninggalkannya, lalu kembali kepada Rasulullah ﷺ dengan senjatanya.Hal ini menegaskan kewajiban untuk segera menyambut seruan Rasulullah ﷺ dan mengingatkan kita pentingnya bersegera memenuhi perintah beliau begitu kita mendengar dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah.Kedua belas: Kita melihat bahwa Rasulullah ﷺ, yang sangat lembut dan penyayang terhadap orang-orang beriman, tidak mencela seorang pun dari mereka yang sempat mundur. Ketika Ummu Salim radhiyallahu ‘anha berkata tentang orang-orang yang lari, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mencukupi dan memperbaiki keadaan.”Artinya, beliau tidak menegur mereka dengan celaan, karena peristiwa itu telah berlalu dan tidak ada jalan untuk mengulanginya, terlebih dalam kondisi perang yang memang menimbulkan guncangan jiwa. Rasulullah ﷺ memuliakan para sahabatnya dengan tidak mengungkit kesalahan itu. Demikianlah sikap yang baik: memaafkan, melapangkan dada, dan tidak berlebihan dalam menyalahkan seorang Muslim atas kesalahan yang sudah tidak mungkin diperbaiki. Seorang Muslim hendaknya memberi ruang bagi sebagian uzur dalam hal semacam itu.Ketiga belas: Disyariatkannya doa dan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah yang dilakukan Rasulullah ﷺ, khususnya ketika keadaan menjadi genting. Pada Perang Hunain, beliau memohon pertolongan kepada Rabb-nya dan bersungguh-sungguh dalam doa agar kaum Muslimin diberi kemenangan atas orang-orang musyrik.Pertolongan itu datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kembalinya Rasulullah ﷺ kepada Rabb-nya dalam situasi yang sulit tersebut menjadi faktor paling kuat dalam mengubah jalannya pertempuran sehingga berpihak kepada kaum Muslimin.Keempat belas: Disyariatkannya berdoa dan mengarahkan diri kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ; beliau menempuh jalan tersebut, terlebih ketika keadaan menjadi sulit. Saat itu beliau memohon kepada Rabb-nya dan bersungguh-sungguh dalam doa agar kaum Muslimin memperoleh kemenangan atas kaum musyrikin.Pertolongan itu datang dari sisi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Ketika Rasulullah ﷺ menghadapkan diri kepada Rabb-nya dalam situasi yang berat tersebut, hal itu menjadi faktor paling kuat yang mengubah jalannya peperangan sehingga berpihak kepada kaum Muslimin.Kelima belas: Ketika Rasulullah ﷺ melihat seorang wanita yang terbunuh, beliau melarang pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak. Inilah salah satu prinsip peperangan dalam Islam. Ini juga termasuk wasiat Rasulullah ﷺ yang terus berlaku bagi pasukan kaum Muslimin.Sebagaimana disebutkan dalam Musnad Imam Aḥmad — semoga Allah merahmatinya — dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā, ia berkata:“Apabila Rasulullah ﷺ mengirim pasukan, beliau bersabda,‘Keluarlah kalian dengan menyebut nama Allah. Berperanglah di jalan Allah melawan orang yang kafir kepada Allah. Jangan berkhianat, jangan melampaui batas, jangan melakukan mutilasi, dan jangan membunuh anak-anak, serta jangan pula membunuh para penghuni tempat ibadah.’Ketika beliau mengutus pasukan untuk memerangi Ibnu Abī al-Ḥuqayq dan para sahabatnya di daerah Khaybar, az-Zuhrī berkata:Ibnu Ka‘b bin Mālik mengabarkan kepadaku dari pamannya — radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu — bahwa Nabi ﷺ ketika mengutus mereka kepada Ibnu Abī al-Ḥuqayq di Khaybar, beliau melarang mereka membunuh wanita dan anak-anak.Dengan demikian, peperangan dalam Islam adalah peperangan yang memiliki akhlak. Bahkan ketika menghadapi musuh yang memerangi kaum Muslimin, tetap tidak boleh ada kezaliman, tidak boleh melampaui batas, tidak boleh melakukan kerusakan, dan tidak boleh seseorang menanggung kesalahan orang lain.Hal ini juga menunjukkan tingginya kedudukan hak asasi manusia dalam Islam, meskipun orang tersebut adalah seorang kafir. Allah Ta‘ālā berfirman:۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’: 70)Islam menghormati manusia sebagai manusia, apa pun agama dan keyakinannya, bahkan dalam keadaan perang. Maka bagaimana lagi dalam keadaan damai dan kehidupan bermasyarakat?Peperangan dalam Islam adalah perang yang mulia. Seorang Muslim tidak meninggalkan prinsip-prinsip luhur tersebut. Oleh karena itu, wanita dan anak-anak tidak memiliki peran dalam peperangan, sehingga mereka harus dilindungi dan tidak boleh dibunuh, kecuali jika seorang wanita benar-benar ikut serta dalam peperangan. Ia juga tidak menanggung dosa orang lain.Barang siapa menjaga hak perempuan secara khusus dan hak manusia secara umum dalam keadaan perang dan pertempuran, tentu ia lebih layak lagi menjaga hak-hak manusia dalam keadaan damai.Islam telah mengangkat tinggi hak manusia hingga kita melihat dengan jelas bahwa hak-hak manusia dalam Islam merupakan salah satu poros tujuan syariat Islam. Sementara itu, seluruh dunia menyaksikan berbagai pelanggaran terhadap hak kaum Muslimin yang terjadi di berbagai tempat, bahkan di sebagian masyarakat yang mengaku modern: terjadi pembunuhan massal, penghancuran kota-kota dan rumah-rumah penduduk, tanpa membedakan antara wanita, anak-anak, orang tua, dan para pejuang yang terlibat dalam peperangan.Padahal Rasulullah ﷺ pernah melewati seorang wanita yang terbunuh pada waktu perang — hanya satu orang wanita saja — lalu beliau mengingkari perbuatan tersebut dan melarang pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak.Karena itu para ulama fikih menyatakan:“Diharamkan membunuh wanita dan anak-anak selama mereka tidak ikut berperang.”Keenam belas: Khalid bin Al-Walid radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu termasuk orang yang ikut serta dalam Perang Hunain. Ketika itu beliau berada di garis depan, namun ia mengalami luka. Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui hal itu, beliau segera menuju kemahnya untuk menanyakan keadaannya. Setelah menemukannya, beliau menanyakan kondisinya, melihat lukanya, dan mengobatinya.Padahal Rasulullah ﷺ memimpin pasukan yang besar, namun beliau tetap memeriksa keadaan para sahabatnya, menanyakan kabar mereka, dan memperhatikan mereka satu per satu.Kemudian Khalid — meskipun mengalami luka-luka — tetap ikut serta dalam Perang Thaif. Siapa pun yang membaca kisah ini akan merasa kagum melihat bagaimana Khalid radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu tetap melanjutkan perjalanan menuju Thaif dan turut serta dalam pengepungan kota tersebut. Ia tidak ingin kehilangan pahala jihad sedikit pun, meskipun ia mengalami luka yang sebenarnya bisa menjadi alasan baginya untuk tidak ikut.Hal ini mengingatkan kita pada peristiwa setelah salah satu peperangan, ketika Rasulullah ﷺ mengejar orang-orang kafir Quraisy hingga sampai di Hamrā’ al-Asad. Saat itu para sahabat radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhum juga mengalami luka yang besar, namun mereka tidak tertinggal dan tetap ikut bersama beliau. Tentang mereka turun firman Allah Ta‘ālā:ٱلَّذِينَ ٱسْتَجَابُوا۟ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ مِنۢ بَعْدِ مَآ أَصَابَهُمُ ٱلْقَرْحُ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ مِنْهُمْ وَٱتَّقَوْا۟ أَجْرٌ عَظِيمٌ“(Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.” (QS. Ali Imran: 172)Ketujuh belas: Ketika Rasulullah ﷺ tidak mampu menaklukkan benteng Thaif, dikatakan kepada beliau, “Doakanlah kebinasaan bagi mereka.” Namun beliau justru mendoakan agar mereka mendapat hidayah dan tidak mendoakan keburukan bagi mereka. Inilah bentuk sempurna dari kasih sayang dan rahmat beliau ﷺ.Baca juga: Sudahlah Maafkanlah Dia Agar Allah Memaafkan KitaPadahal penduduk Thaif telah menyakiti Rasulullah ﷺ dan mengusir beliau ketika datang mengajak mereka kepada Allah. Bahkan mereka melempari beliau dengan batu. Namun demikian, beliau tetap mendoakan agar mereka mendapat hidayah, padahal mereka adalah musuh-musuh Allah. Hal ini menunjukkan besarnya rasa sayang dan kepedulian beliau ﷺ kepada umatnya.Allah pun mengabulkan doa beliau. Setelah itu mereka datang dalam keadaan telah memeluk Islam tanpa melalui penderitaan atau kesulitan.Demikianlah seharusnya seorang muslim: ia menasihati karena Allah dan berusaha menjauhi sikap membalas dendam terhadap dirinya sendiri. Ia tidak mendoakan keburukan bagi orang yang memusuhinya, tetapi justru mendoakan agar musuhnya mendapat hidayah kepada Islam.Jika engkau berselisih dengan seseorang—baik orang dekat maupun jauh—maka yang lebih utama adalah mendoakan agar Allah memberinya hidayah. Dengan begitu engkau memperoleh pahala, mampu mengalahkan godaan setan, hawa nafsu, dan ego diri, serta kedudukanmu di sisi Allah akan terangkat. Perbuatan ini juga membersihkan hati dan memperbaiki batin. Namun sikap seperti ini sering kali jarang kita lakukan dalam banyak keadaan.Baca juga: Memaafkan Seperti Allah dengan Tetap MelupakanKedelapan belas: Jika ada seseorang yang berdalil dengan hadits ini ketika Rasulullah ﷺ diminta untuk mendoakan kebinasaan bagi kabilah Tsaqif, lalu beliau justru berkata:اللَّهُمَّ اهْدِ ثَقِيفًا“Ya Allah, berilah hidayah kepada Tsaqif.”Kemudian orang itu menyimpulkan bahwa tidak boleh mendoakan keburukan bagi orang kafir, karena Rasulullah ﷺ tidak mendoakan kebinasaan bagi Tsaqif dan malah mendoakan hidayah bagi mereka, serta tidak memenuhi permintaan sebagian sahabat—semoga Allah meridai mereka—yang meminta agar didoakan kebinasaan bagi mereka.Pendapat ini juga dikuatkan oleh hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata: Ath-Thufail bin ‘Amr datang bersama para sahabatnya dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kabilah Daus telah kafir dan menolak. Maka doakanlah kebinasaan bagi mereka.” Lalu dikatakan, “Binasalah Daus.” Namun Rasulullah ﷺ justru berdoa:اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ“Ya Allah, berilah hidayah kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka (kepada Islam).”Jawabannya adalah bahwa dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga terdapat hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ pernah berdoa:اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ، وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ“Ya Allah, perkeraslah hukuman-Mu atas kabilah Mudhar, dan jadikanlah bagi mereka tahun-tahun paceklik seperti tahun-tahun yang terjadi pada masa Nabi Yusuf.”Karena itu, yang benar adalah menggabungkan kedua jenis hadits tersebut. Imam Al-Bukhari memasukkan hadits tentang doa untuk kabilah Daus dalam Shahih-nya pada bab “Doa bagi orang-orang musyrik agar mendapatkan hidayah dan agar hati mereka dilunakkan.”Baca juga: Karamah Said bin Zaid yang Doanya Mustajab Hingga Seorang Wanita Zalim CelakaIbnu Hajar rahimahullah menjelaskan tentang judul bab tersebut: kata “liya’tilafahum” (agar hati mereka dilunakkan) menunjukkan bahwa Nabi ﷺ terkadang mendoakan keburukan bagi mereka dan terkadang mendoakan kebaikan bagi mereka. Keadaan pertama terjadi ketika kejahatan mereka semakin kuat dan gangguan mereka semakin besar. Adapun keadaan kedua adalah ketika diharapkan mereka akan mendapatkan hidayah dan hati mereka dapat dilunakkan, sebagaimana yang terjadi pada kisah kabilah Daus.Baca juga: Karamah Wali, Luar Biasanya Doa Sa’ad bin Abi WaqqashIbnu Al-Mulaqqin rahimahullah berkata: Nabi ﷺ sangat menyukai masuknya manusia ke dalam Islam. Karena itu beliau tidak tergesa-gesa mendoakan keburukan bagi mereka selama masih ada harapan mereka akan menerima Islam. Bahkan beliau mendoakan kebaikan bagi orang yang diharapkan mau menerima dakwah.Adapun terhadap orang yang tidak lagi diharapkan keislamannya dan dikhawatirkan bahaya serta kekuatannya, maka beliau mendoakan keburukan atasnya. Sebagaimana beliau pernah mendoakan agar mereka ditimpa tahun-tahun paceklik seperti masa Nabi Yusuf. Beliau juga mendoakan keburukan bagi para pemuka Quraisy karena banyaknya gangguan dan permusuhan mereka. Doa itu pun dikabulkan terhadap mereka, hingga mereka terbunuh dalam Perang Badar. Sebagaimana banyak pula orang yang dahulu beliau doakan agar mendapat hidayah, kemudian benar-benar masuk Islam.Hal ini memberi petunjuk kepada kita tentang satu prinsip penting dalam memahami sirah Nabi ﷺ. Agar kita dapat mengambil pelajaran yang benar dari peristiwa-peristiwa dalam sirah, kita perlu mengumpulkan berbagai kejadian, membandingkannya satu sama lain, lalu mengambil kesimpulan dari keseluruhannya.Sebab, sebagian peristiwa bisa saja berkaitan dengan keadaan tertentu, sementara yang lain berkaitan dengan keadaan yang berbeda. Ada yang bersifat khusus dan ada yang bersifat umum. Ada pula yang terjadi lebih dahulu dan ada yang terjadi kemudian, dan seterusnya.Kesembilan belas: Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hikmah ditundanya penaklukan Thaif:Hikmah Ilahi menghendaki agar penaklukan itu ditunda secara sengaja supaya mereka tidak langsung dibinasakan dengan peperangan. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa ketika Nabi ﷺ keluar dari Thaif—setelah beliau mengajak mereka kepada Allah dan meminta perlindungan agar dapat menyampaikan risalah Rabbnya—peristiwa itu terjadi setelah wafatnya pamannya, Abu Thalib. Namun mereka justru menolak dan mendustakan beliau.Beliau pun kembali dalam keadaan sangat sedih. Beliau tidak dapat beristirahat kecuali ketika sampai di Qarn Ats-Tsa‘alib. Di sana beliau diliputi awan. Kemudian Jibril memanggilnya bersama malaikat penjaga gunung. Malaikat itu berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Rabbmu menyampaikan salam kepadamu. Dia telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan bagaimana mereka menolakmu. Jika engkau menghendaki, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung ini.”Namun Rasulullah ﷺ menjawab, “Tidak. Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”Ucapan beliau ini menunjukkan bahwa beliau berharap benteng mereka tidak dibuka saat itu sehingga mereka tidak dibinasakan. Penaklukan itu ditunda agar mereka datang kemudian dalam keadaan telah memeluk Islam, yaitu pada bulan Ramadhan pada tahun berikutnya.Kedua puluh: Asy-Syami rahimahullah menjelaskan hikmah pemberian harta kepada orang-orang yang dilunakkan hatinya (al-mu’allafatu qulubuhum).Baca juga: Hukum Zakat untuk Non-Muslim: Bolehkah Disalurkan?Hikmah Allah Ta’ala menghendaki bahwa harta rampasan dari orang-orang kafir—setelah diperoleh—dibagikan kepada orang-orang yang iman belum benar-benar kokoh di dalam hati mereka. Hal ini dilakukan karena tabiat manusia memang mencintai harta. Dengan pemberian tersebut, hati mereka menjadi tenang dan kecintaan mereka terhadap Islam semakin kuat.Karena itulah Rasulullah ﷺ memberikan bagian yang besar kepada orang-orang yang baru masuk Islam atau kepada orang yang diharapkan akan masuk Islam. Sementara sebagian tokoh kaum Muhajirin dan pemimpin kaum Anshar tidak diberi bagian dari pemberian tersebut, meskipun mereka juga berhak mendapatkannya. Hal itu karena iman mereka sudah kuat dan tidak membutuhkan penguatan melalui pemberian harta.Jika mereka diberi bagian sebagaimana para mu’allaf itu, maka dikhawatirkan hati orang-orang yang baru masuk Islam tidak akan tertarik. Padahal pemberian tersebut bertujuan agar mereka semakin mantap dalam Islam dan agar orang lain mengikuti mereka untuk masuk Islam. Maka pemberian itu merupakan kemaslahatan yang besar.Kedua puluh satu: Dari peristiwa ini kita juga dapat mengambil pelajaran tentang ketajaman pandangan Rasulullah ﷺ dan kedalaman pemahaman beliau terhadap tabiat manusia serta hal-hal yang dapat memperbaikinya.Beliau memberikan hadiah-hadiah yang besar dan pemberian yang melimpah kepada orang-orang yang sebelumnya memusuhi beliau dan masih belum memeluk Islam. Beliau juga memberikan hadiah kepada orang-orang yang ingin beliau lunakkan hatinya agar mereka mendapat hidayah dan memeluk Islam.Baca juga: 21 Faedah tentang HadiahHasilnya pun sesuai dengan yang diharapkan oleh Rasulullah ﷺ. Orang-orang yang diberi pemberian itu akhirnya masuk Islam dan menjadi baik keislamannya. Bahkan mereka kemudian menjadi pembela Islam yang jujur dan kuat.Upaya melunakkan hati dengan harta tidak hanya dilakukan oleh pemimpin negara. Individu pun dapat melakukannya. Misalnya pemilik usaha yang memiliki pekerja nonmuslim, atau seseorang yang memiliki pembantu, sopir, atau pegawai yang belum masuk Islam. Ia dapat berusaha melunakkan hati mereka melalui kebaikan dan pemberian. Sebab manusia secara tabiat mencintai orang yang berbuat baik kepadanya. Jika seseorang mencintai orang lain, ia akan senang memenuhi keinginannya dan membuatnya bahagia. Karena itu ketika orang tersebut mengajaknya kepada Islam, ia akan lebih cepat menerima ajakan tersebut.Kedua puluh dua: Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu termasuk orang yang baru masuk Islam. Rasulullah ﷺ pernah memberinya seratus ekor unta. Lalu ia meminta lagi, maka Rasulullah ﷺ memberinya. Ia meminta lagi, lalu Rasulullah ﷺ kembali memberinya.Kemudian tertanam dalam hatinya kecintaan yang besar kepada Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ mengajarinya pelajaran tentang harta dengan cara yang sangat tepat dan menyentuh hatinya.Setelah itu, Hakim bersumpah kepada Rasulullah ﷺ bahwa ia tidak akan lagi mengambil harta dari siapa pun setelah hari itu. Artinya, ia tidak akan menerima pemberian dari siapa pun setelahnya, bahkan meskipun pemberian itu banyak.Ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memanggilnya setelah wafatnya Rasulullah ﷺ untuk memberinya bagian, ia menolak. Demikian pula ketika Umar radhiyallahu ‘anhu memanggilnya setelah itu, ia tetap menolak. Ia pun menjalani sisa hidupnya dengan sikap tersebut, hingga wafat pada masa Mu‘awiyah, tetap berpegang pada janjinya kepada Nabi ﷺ.Sungguh menakjubkan keadaan sahabat ini. Awalnya ia terus meminta kepada Rasulullah ﷺ berkali-kali, bahkan dengan desakan. Namun setelah itu, ia berubah total hingga tidak mau mengambil apa pun, meskipun diberi dalam jumlah besar.Dalam kisah ini tampak betapa agungnya sahabat tersebut, dan betapa teguhnya ia memegang prinsip. Sejak Fathu Makkah hingga beberapa tahun di masa Mu‘awiyah—lebih dari tiga puluh tahun—ia tetap konsisten tidak mengambil harta dari siapa pun.Baca juga: Memahami Arti Zuhud yang SebenarnyaDalam kisah ini juga terlihat bagaimana Rasulullah ﷺ memilih waktu yang tepat untuk memberikan nasihat. Beliau menasihati Hakim setelah memberinya beberapa kali, sehingga nasihat itu benar-benar berpengaruh dalam dirinya. Kepribadiannya berubah, dan cara pandangnya terhadap dunia pun berbeda dari sebelumnya.Jika nasihat itu disampaikan sebelum ia diberi, kemungkinan besar tidak akan memberikan pengaruh seperti setelah ia merasakan pemberian tersebut.Dalam kisah ini juga terdapat penjelasan bahwa dunia itu manis dan menipu. Siapa yang menjadikannya sebagai tujuan utama, ia tidak akan pernah merasa puas, meskipun telah mendapatkan banyak.Hal ini nyata dalam kehidupan sebagian orang. Meskipun harta mereka banyak, mereka tetap merasa kurang.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ. وَقَالَ لَنَا أَبُو الْوَلِيدِ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، عَنْ أُبَيٍّ، قَالَ: كُنَّا نَرَى هَذَا مِنَ الْقُرْآنِ، حَتَّى نَزَلَتْ: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Dan tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya kecuali tanah. Namun Allah menerima tobat orang yang bertobat.”Abu Al-Walid berkata kepada kami: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Anas, dari Ubay bin Ka‘ab, ia berkata: dahulu kami menganggap perkataan ini termasuk bagian dari Al-Qur’an, hingga turun firman Allah: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur: 1) (HR. Bukhari, no. 6439 dan Muslim, no. 1048)Adapun nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Hakim bin Hizam, kata Hakim:سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ قَالَ لِي: يَا حَكِيمُ، إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى. قَالَ حَكِيمٌ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَرْزَأُ أَحَدًا بَعْدَكَ شَيْئًا حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنْيَا. فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَدْعُو حَكِيمًا لِيُعْطِيَهُ الْعَطَاءَ فَيَأْبَى أَنْ يَقْبَلَ مِنْهُ شَيْئًا، ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ دَعَاهُ لِيُعْطِيَهُ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَ، فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، إِنِّي أَعْرِضُ عَلَيْهِ حَقَّهُ الَّذِي قَسَمَ اللَّهُ لَهُ مِنْ هَذَا الْفَيْءِ فَيَأْبَى أَنْ يَأْخُذَهُ. فَلَمْ يَرْزَأْ حَكِيمٌ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ شَيْئًا بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تُوُفِّيَ.Aku pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberiku. Kemudian aku meminta lagi, dan beliau pun memberiku. Lalu beliau berkata kepadaku:“Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini itu hijau lagi manis. Siapa yang mengambilnya dengan jiwa yang lapang (tidak tamak), maka harta itu akan diberkahi baginya. Namun siapa yang mengambilnya dengan penuh ambisi dan ketamakan, maka tidak ada keberkahan baginya. Ia seperti orang yang makan, tetapi tidak pernah merasa kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”Hakim berkata: Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan meminta sesuatu pun dari siapa pun setelah engkau hingga aku meninggal dunia.”Setelah itu, Abu Bakar pernah memanggil Hakim untuk memberinya bagian harta, namun ia menolak untuk menerimanya. Kemudian Umar juga memanggilnya untuk memberinya, tetapi ia tetap menolak. Maka Umar berkata, “Wahai kaum Muslimin, aku menawarkan kepadanya hak yang telah Allah tetapkan baginya dari harta fai’, tetapi ia menolak untuk mengambilnya.”Sejak wafatnya Nabi ﷺ, Hakim tidak pernah meminta apa pun kepada manusia hingga ia meninggal dunia. (HR. Bukhari, no. 3143)Sikap lapang terhadap harta menjadi sebab datangnya keberkahan, sedangkan kerakusan menjadi sebab hilangnya keberkahan.Diketahui bahwa harta yang sedikit tetapi diberkahi lebih baik daripada harta yang banyak namun tidak berkah. Karena tujuan bukan sekadar banyaknya harta, tetapi bagaimana harta itu membawa kebahagiaan.Harta pada hakikatnya hanyalah sarana, bukan tujuan. Ia tidak bisa dimakan, diminum, atau dimanfaatkan secara langsung. Seandainya seseorang berada di padang pasir dengan membawa harta yang banyak, tetapi tidak memiliki makanan, ia tetap akan mati karena lapar dan haus.Baca juga: Perkataan Ibnu Taimiyah, Sedikit Tetapi Halal Pasti Bawa BerkahJika harta tidak diberkahi, maka seseorang tidak akan bisa merasakan manfaatnya. Bisa jadi ia jatuh sakit sehingga hartanya habis untuk pengobatan, atau tidak mampu menikmati apa yang diinginkannya. Bahkan harta itu bisa menjadi sumber kegelisahan, karena ia takut kehilangan atau khawatir dicuri.Karena itu, rasa cukup terhadap yang sedikit menjadi sebab datangnya keberkahan dan manfaat. Jika Allah memberkahi harta seseorang, maka tidak ada batas bagi keberkahannya.Kedua puluh tiga: Jika kita melihat keseluruhan pemberian Rasulullah ﷺ pada Perang Hunain, kita akan dapati bahwa beliau memberikan kepada para pembesar kaum yang baru dilunakkan hatinya (muallafatu qulubuhum), padahal mereka adalah orang-orang kaya. Rasulullah ﷺ memberi mereka bukan karena kebutuhan mereka terhadap harta, tetapi demi kemaslahatan Islam, yaitu untuk melunakkan hati mereka agar menerima agama ini.Jika mereka telah masuk Islam, maka diharapkan orang-orang di belakang mereka akan ikut masuk Islam. Karena itu, pemberian demi maslahat lebih didahulukan daripada pemberian karena kebutuhan. Menyelamatkan manusia dari neraka lebih didahulukan daripada sekadar mengenyangkan perut orang fakir. Ini adalah kaidah penting dalam kehidupan, bahwa maslahat umum bagi Islam didahulukan daripada maslahat pribadi.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Ketika Perang Hunain, Nabi ﷺ membagi harta rampasan kepada orang-orang yang dilunakkan hatinya (muallafatu qulubuhum), seperti para pembesar dari Najd dan para tokoh Quraisy yang baru dibebaskan, seperti ‘Uyainah bin Hishn, Al-Aqra‘ bin Habis, dan yang semisal mereka. Juga kepada Suhail bin ‘Amr, Shafwan bin Umayyah, ‘Ikrimah bin Abu Jahl, Abu Sufyan bin Harb, serta Mu‘awiyah bin Abu Sufyan dan yang semisal mereka dari kalangan orang-orang yang baru masuk Islam.Mereka adalah orang-orang yang dibebaskan pada hari Fathu Makkah. Rasulullah ﷺ tidak memberikan apa pun kepada kaum Muhajirin dan Anshar. Beliau memberikan kepada mereka untuk melunakkan hati mereka agar tetap berada di atas Islam, dan karena itu menjadi maslahat umum bagi kaum Muslimin.Adapun orang-orang yang tidak diberi, mereka justru lebih utama di sisi beliau. Mereka adalah para wali Allah yang bertakwa dan hamba-hamba-Nya yang saleh, setelah para nabi dan rasul. Sedangkan orang-orang yang diberi, sebagian dari mereka ada yang kemudian murtad sebelum wafatnya Nabi ﷺ, sementara yang lain tetap hidup dalam keadaan kaya, bukan orang-orang fakir.Seandainya pemberian itu didasarkan pada kebutuhan semata, tentu Nabi ﷺ akan memberikan kepada para Muhajirin dan Anshar, yang lebih membutuhkan dan lebih utama. Namun karena pertimbangan maslahat umum lebih didahulukan daripada kebutuhan pribadi, maka pemberian diberikan kepada para pembesar yang baru masuk Islam tersebut.Baca juga: Berapa Jumlah Para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?Kedua puluh empat: Keberhasilan dalam memenangkan orang yang berbeda (pendapat) itulah keberhasilan yang sejati. Inilah hakikat seni dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Adapun memenangkan orang yang sudah sepakat, itu bukan sesuatu yang baru.Keberhasilan dalam dakwah adalah ketika orang yang awalnya membencimu, membenci dakwahmu, atau membenci agama yang engkau serukan, tidak beranjak darimu kecuali setelah agama yang engkau ajarkan menjadi agama yang paling ia cintai. Dan engkau pun menjadi orang yang paling ia cintai.Inilah yang kita lihat dalam sirah Nabi ﷺ. Beliau mampu menaklukkan hati manusia dan mengubah mereka dari musuh menjadi penolong. Ada orang kafir yang datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan sangat membencinya dan bahkan ingin membunuhnya. Namun setelah duduk bersamanya, kebencian itu berubah menjadi cinta kepada Rasulullah ﷺ.Hal ini terjadi pada sejumlah sahabat, seperti ‘Amr bin Al-‘Ash, Hakim bin Hizam, ‘Umair bin Wahb Al-Jumahi, dan ‘Adi bin Hatim Ath-Tha’i radhiyallahu ‘anhum. Mereka datang kepada Rasulullah ﷺ, sebagian di antara mereka bahkan ingin membunuh beliau, namun akhirnya pulang dalam keadaan Muslim. Bahkan mereka mengucapkan syahadat tauhid di majelis beliau sebelum bangkit dari tempat duduknya. Kebencian yang sebelumnya begitu kuat berubah menjadi cinta yang mendalam.Sebagian dari mereka datang karena urusan dunia, tetapi ketika pulang, mereka telah merendahkan dunia, memahami nilainya, dan bahkan bersumpah tidak akan meminta apa pun kepada manusia.Ini adalah pelajaran dalam berdakwah kepada Allah: kunci keberhasilannya adalah memenangkan hati manusia dan berbuat baik kepada orang yang berbeda dengan kita, apa pun bentuk perbedaannya.Sebaliknya, sebagian orang justru menjadikan perbedaan sebagai sebab buruknya sikap. Akibatnya, perbedaan itu berubah menjadi permusuhan yang semakin mengakar. Alih-alih memenangkan hati orang yang berbeda, justru semakin memperlebar jurang perbedaan dan menambah jarak di antara mereka. Ini bukanlah sikap seorang dai yang berhasil. Hanya Allah yang memberi taufik.Kedua puluh lima: Di dunia ini banyak orang yang digiring kepada kebenaran bukan karena pemahaman akal mereka, tetapi karena tertarik secara perlahan. Sebagaimana hewan ternak digiring dengan segenggam rumput hingga masuk ke kandangnya, demikian pula sebagian manusia membutuhkan pendekatan dan strategi agar hati mereka menjadi tenang dengan iman dan merasa nyaman dengannya. (Muhammad Al-Ghazali dalam Fiqh As-Sirah, hlm. 394).Kedua puluh enam: Allah Ta‘ala berfirman,ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ (٢٦) ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٢٧)“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kamu lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian Allah menerima tobat setelah itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 26–27)Ath-Thahir bin ‘Asyur rahimahullah berkata tentang firman Allah Ta‘ala:ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Kemudian Allah menerima tobat setelah itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Ini merupakan isyarat kepada masuk Islamnya kaum Hawazin setelah kekalahan tersebut. Mereka kemudian datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan telah menjadi Muslim dan bertobat.Kedua puluh tujuh: Ghanimah (harta rampasan perang) bukanlah tujuan utama dari jihad, tetapi yang lebih Allah cintai adalah masuknya manusia ke dalam Islam. Karena itu, Rasulullah ﷺ menunda pembagian ghanimah perang Hunain dengan harapan kaum Hawazin akan kembali kepada Islam. Beliau menunggu di Ji‘ranah selama sekitar dua puluh hari, dan itu adalah waktu yang cukup bagi para pemimpin Hawazin untuk berpikir, kembali kepada kebenaran, masuk Islam, serta meminta kembali harta, anak-anak, dan wanita mereka. Namun ketika mereka terlambat, sementara menunggu lebih lama lagi akan memberatkan pasukan tanpa ada harapan jelas, maka Rasulullah ﷺ pun membagikan harta tersebut.Meski demikian, ketika kaum Hawazin datang setelah pembagian itu, Rasulullah ﷺ menyambut mereka dengan gembira dan memberitahu bahwa beliau telah menunggu mereka. Namun karena keluarga dan harta mereka sudah terlanjur berpindah tangan kepada kaum muslimin, beliau memberi mereka pilihan antara mengambil kembali keluarga mereka atau harta mereka. Kemudian beliau membantu mereka dalam cara mendapatkan kembali apa yang telah dibagikan, bahkan beliau sendiri bersama Bani ‘Abdul Muththalib menjadi orang pertama yang mempraktikkan pengembalian tersebut.Para sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum tidaklah menyelisihi Rasulullah ﷺ dalam hal ini. Mereka mengikuti beliau dengan mengembalikan apa yang ada pada mereka. Namun sebagian orang Arab Badui tidak mengikuti hal tersebut, sehingga Rasulullah ﷺ menebus bagian mereka dan memerintahkan agar seluruh tawanan wanita dan anak-anak dikembalikan kepada Hawazin.Siapa yang memahami sejarah, pasti akan teringat bagaimana perlakuan penduduk Thaif terhadap Rasulullah ﷺ ketika beliau datang kepada mereka—tidak ada yang bersamanya kecuali Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu—mereka melempari beliau dengan batu dan mengejeknya. Namun setelah Allah menaklukkan Makkah dan kaum muslimin menang atas mereka, beliau justru bersikap lembut, pemaaf, dan mulia. Semua yang beliau lakukan adalah demi kemaslahatan Islam dan penyebarannya, dan beliau tidak pernah membalas untuk kepentingan pribadi sama sekali.Inilah akhlak seorang muslim sejati. Ia menjauh dari sikap egois, permusuhan, dan perselisihan dengan orang lain, serta tidak sibuk mencari-cari kesalahan mereka. Prinsipnya adalah kelapangan dada, pemaafan, perbaikan hubungan, dan bersatu di atas kemaslahatan agama ini serta meninggikan kalimat Allah. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Kedua puluh delapan: Termasuk inisiatif Rasulullah ﷺ dalam mengembalikan apa yang beliau miliki dan apa yang ada di tangan beliau dari harta rampasan kepada Bani ‘Abdil Muththalib dari tawanan perang Hawazin. Dari sini diambil teladan dalam berdakwah kepada Allah. Rasulullah ﷺ memulai sendiri dengan mengembalikan tawanan, agar beliau menjadi contoh dan diikuti oleh yang lain dalam mengembalikan apa yang ada di tangan mereka kepada Hawazin.Kedua puluh sembilan: Dari ucapan Dzul Khuwaishirah, kita mengetahui sejauh mana keburukan orang ini dan orang-orang semisalnya, serta besarnya kejahatan dan kesesatan mereka. Ia berani berbicara kepada Rasulullah ﷺ dengan ucapan yang menunjukkan keburukan hati, rusaknya keyakinan, kebodohan yang parah, dan sikap kasar dalam berinteraksi. Ia tidak memahami nash-nash, tidak mengenal hak Rasulullah ﷺ, serta berani berpendapat berdasarkan kebodohan, kebencian, kekerasan, dan kedengkian. Kita berlindung kepada Allah dari hal seperti ini.Ketiga puluh: Diambil pula pelajaran untuk mewaspadai sikap berlebihan dalam agama. Orang ini terdorong oleh sikap berlebihannya hingga keluar dari agama yang benar. Ia datang dengan mengaku berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya, namun justru membantah Rasulullah ﷺ dan menuntut keadilan dari beliau, serta menjadikan akal dan hawa nafsunya sebagai penentu makna keadilan. Ia telah menyimpang dari jalan mencari petunjuk.Keselamatan dari sikap berlebihan adalah dengan berpegang teguh pada nash-nash, memuliakan dan menghormatinya, berhenti pada batas-batasnya, serta mengagungkan Rasulullah ﷺ dan ajaran yang beliau bawa. Juga dengan mengetahui kedudukan para salaf dan pemahaman mereka, serta menempatkan para ulama pada posisi yang layak dan mengetahui hak-hak mereka. Inilah jalan yang aman dari penyimpangan. Adapun bersandar pada akal semata dan merendahkan para ulama, maka itu adalah penyimpangan dalam manhaj yang pasti akan menyeret kepada sikap berlebihan dalam agama, yang pada akhirnya membawa kepada kebinasaan, sebagaimana yang dilakukan oleh Dzul Khuwaishirah.Penyimpangan ini berawal dari sebuah ide kecil di dalam pikiran, lalu berkembang hingga berubah menjadi perilaku yang buruk, merusak yang hijau dan yang kering, serta membinasakan tanaman dan manusia. Kita berlindung kepada Allah.Kelompok seperti ini telah memberikan dampak buruk yang besar terhadap Islam dan kaum Muslimin sepanjang sejarah. Mereka telah menghalangi banyak orang untuk masuk Islam, dan memberi peluang kepada musuh untuk menjelekkan Islam dan kaum Muslimin.Ketiga puluh satu: dari kisah Dzul Khuwaishirah, kita mengambil pelajaran tentang kesabaran Rasulullah ﷺ dan kelembutan beliau terhadap orang-orang Arab Badui yang kasar dan keras. Beliau menahan diri terhadap ucapan yang dikatakan kepadanya secara terang-terangan di hadapan manusia, padahal saat itu beliau sedang membagi harta rampasan dalam jumlah besar. Beliau tidak menyisakan sedikit pun untuk dirinya sendiri. Tujuan beliau hanyalah melunakkan hati manusia agar mereka menerima agama ini. Namun orang Arab Badui itu justru datang dan menuduh beliau tidak adil dalam pembagian.Meski demikian, Rasulullah ﷺ tidak membalasnya. Bahkan beliau memberitahukan kepada manusia sebagai tanda dan bukti kenabian bahwa akan muncul dari keturunan orang ini orang-orang yang keluar dari Islam. Beliau memperingatkan umatnya dari mereka, sekaligus mengajarkan bagaimana cara menyikapi mereka.Ketiga puluh dua: dengan memperhatikan hal di atas, kita dapati bahwa Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menukil pendapat salah satu ulama yang berkata (dan sebagian guru kami berkata): “Pembagian ini hanyalah untuk mencari ridha Allah.” Adapun ucapannya, “Berlaku adillah,” maka Nabi ﷺ tidak memahaminya sebagai bentuk celaan dan tuduhan terhadap beliau. Namun beliau memandangnya sebagai kesalahan dalam berpendapat dan dalam urusan dunia, serta sebagai ijtihad dalam hal kemaslahatan menurut pandangan orang tersebut, meskipun keliru. Maka beliau tidak melihatnya sebagai kejahatan yang harus dibalas, tetapi sebagai gangguan yang layak dimaafkan dan disikapi dengan kesabaran. Karena itu, beliau tidak menghukumnya.Setelah menyebutkan beberapa pendapat, ia berkata: “Pendapat yang paling kuat dari sisi ini adalah bahwa hal tersebut dilakukan untuk tujuan melunakkan hati (isti’laf) dan bersikap bijak dalam mengajak manusia kepada agama agar mereka beriman.”Ketiga puluh tiga:  Termasuk sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Umar ketika ia meminta izin untuk membunuh seorang munafik. Maka beliau bersabda:«مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي»“Semoga Allah melindungi (aku) dari anggapan manusia bahwa aku membunuh para sahabatku.”Hal ini menunjukkan disyariatkannya menjaga kehormatan diri dan tidak membuka peluang tuduhan dari orang lain. Diriwayatkan pula:«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَقِفْ مَوَاقِفَ التُّهَمِ»“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menempatkan dirinya pada posisi yang menimbulkan tuduhan.” (Lihat Az-Zamakhsyari, Al-Kasyaf 3: 273)Karena itu, seorang Muslim hendaknya menjaga kehormatannya agar tidak menjadi bahan pembicaraan manusia. Ini termasuk bentuk perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak memberi peluang bagi orang lain untuk membicarakan keburukan dalam agama ini, sekaligus menerapkan kaidah:دَرْءُ الْمَفْسَدَةِ مُقَدَّمٌ عَلَىٰ جَلْبِ الْمَصْلَحَةِ“Menolak kerusakan didahulukan daripada menarik kemaslahatan.”Sebab, kerusakan yang timbul dari membunuh orang tersebut lebih besar daripada maslahat yang diharapkan dari pembunuhannya. Di antaranya, manusia akan membicarakan bahwa beliau membunuh para sahabatnya, padahal hakikat orang tersebut tidak tampak bagi kebanyakan manusia. Wallahu a‘lam.Ketiga puluh empat: Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata: Ditanyakan kepada Imam Malik rahimahullah tentang orang zindiq. Ia menjawab: Orang-orang munafik pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran, dan itulah yang disebut zindiq menurut kami saat ini.Lalu dikatakan kepada Imam Malik: Mengapa zindiq tidak dibunuh, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh orang-orang munafik meskipun beliau mengetahui mereka? Maka beliau menjawab: Seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membunuh mereka padahal mereka menampakkan keimanan, tentu hal itu akan menjadi sebab orang-orang berkata bahwa beliau membunuh mereka karena kedengkian atau sebab lainnya. Akibatnya, orang-orang akan enggan masuk Islam. Inilah makna sabda beliau. (Ibnu ‘Abdil Barr, 10: 154, dalam Ath-Thab’ah Al-Maghribiyyah)Hal ini juga dikuatkan oleh hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dinding (Hijr Ismail), apakah ia termasuk bagian dari Ka‘bah? Beliau menjawab: “Ya.” Aku bertanya: Mengapa mereka tidak memasukkannya ke dalam bangunan Ka‘bah? Beliau menjawab:«إِنَّ قَوْمَكِ قَصُرَتْ بِهِمُ النَّفَقَةُ»“Sesungguhnya kaummu kekurangan biaya.”Aku bertanya: Mengapa pintunya dibuat tinggi? Beliau menjawab:«فَعَلَ ذَلِكِ قَوْمُكِ لِيُدْخِلُوا مَنْ شَاءُوا وَيَمْنَعُوا مَنْ شَاءُوا، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُو عَهْدٍ بِالْجَاهِلِيَّةِ، فَأَخَافُ أَنْ تُنْكِرَ قُلُوبُهُمْ، لَأَدْخَلْتُ الْجِدْرَ فِي الْبَيْتِ، وَلَأَلْصَقْتُ بَابَهُ بِالْأَرْضِ»“Mereka melakukan itu agar bisa memasukkan siapa yang mereka kehendaki dan melarang siapa yang mereka kehendaki. Seandainya kaummu tidak baru saja meninggalkan masa jahiliah, dan aku khawatir hati mereka akan mengingkarinya, niscaya aku akan memasukkan dinding itu ke dalam bangunan Ka‘bah dan menjadikan pintunya rata dengan tanah.”Maka hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ini menunjukkan bahwa beliau mempertimbangkan mafsadah berupa keluarnya orang dari agama, dan hadits tentang Dzul Khuwaishirah menunjukkan pertimbangan mafsadah berupa orang tidak mau masuk ke dalam agama. Ini termasuk pemahaman mendalam dalam politik syariat.Ketiga puluh lima: Tidak diberikannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagian ghanimah kepada kaum Anshar adalah karena kepercayaan beliau terhadap kuatnya iman mereka dan kelapangan jiwa mereka. Ini merupakan pujian besar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mereka. Beliau memberikan harta ghanimah kepada orang-orang yang beliau khawatirkan keimanan mereka masih lemah, atau untuk melunakkan hati mereka agar condong kepada Islam. Beliau bersabda kepada kaum Anshar:«أَلَا تَرْضَوْنَ أَنْ أَرْجِعَ النَّاسُ بِالشَّاةِ وَالْبَعِيرِ، وَتَرْجِعُوا أَنْتُمْ بِرَسُولِ اللَّهِ؟»“Tidakkah kalian ridha jika manusia pulang membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah?”Coba renungkan, bagaimana keadaan orang yang mendapatkan ucapan seperti ini? Sungguh kaum Anshar menangis. Mereka berhak untuk merasa bahagia dan bangga dengan pembagian ini, serta dengan kedudukan yang mereka miliki di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demi Allah, seandainya seseorang mendapatkan ucapan ini saja, itu sudah cukup menjadi kebahagiaan dan kegembiraan baginya, melebihi segala sesuatu yang dimiliki orang lain. Lalu bagaimana jika yang mereka dapatkan adalah kebahagiaan yang membuat mereka menangis karena gembira, sementara orang lain mendapatkan kambing dan unta, sedangkan kaum Anshar mendapatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?Ketiga puluh enam: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan mereka dalam kebingungan, bahkan beliau memberikan jawaban kepada mereka. Beliau bersabda:«أَمَا وَاللَّهِ لَوْ شِئْتُمْ لَقُلْتُمْ فَلَصَدَقْتُمْ وَلَصُدِّقْتُمْ: أَتَيْتَنَا مُكَذَّبًا فَصَدَّقْنَاكَ، وَمَخْذُولًا فَنَصَرْنَاكَ، وَطَرِيدًا فَآوَيْنَاكَ، وَعَائِلًا فَآسَيْنَاكَ»“Demi Allah, seandainya kalian mau, kalian bisa mengatakan—dan kalian benar serta akan dibenarkan—: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu; engkau ditinggalkan, lalu kami menolongmu; engkau terusir, lalu kami melindungimu; dan engkau dalam keadaan kekurangan, lalu kami mencukupimu.’”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat untuk menghilangkan segala keraguan atau ganjalan dalam hati mereka, dengan menjelaskan sebab mengapa beliau memberikan harta ghanimah kepada orang-orang yang ingin dilunakkan hatinya, bukan kepada kaum Anshar.Ketiga puluh tujuh: Dari khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Anshar, diambil pelajaran tentang disyariatkannya berkhutbah dalam kondisi seperti ini. Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Dalam hal ini terdapat dalil tentang disyariatkannya khutbah ketika terjadi suatu peristiwa, baik bersifat khusus maupun umum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkhutbah kepada kaum Anshar dengan khutbah yang sangat menyentuh. Belum pernah terdengar dalam bab menenangkan hati yang lebih indah daripada khutbah ini, karena di dalamnya terkumpul antara kebenaran, kejelasan, kelembutan, dan kasih sayang. Shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau hingga hari kiamat.Ketiga puluh delapan: Dari khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Anshar, diambil pelajaran tentang menghibur diri atas sesuatu dari dunia yang terlewat, dengan melihat balasan di akhirat yang akan diperoleh.Ketiga puluh sembilan: Di dalamnya terdapat keutamaan kaum Anshar, yaitu cepatnya mereka kembali kepada kebenaran dan menerima penjelasan, segera setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada mereka. Ini juga menunjukkan baiknya nasihat mereka, adab mereka dalam berbicara dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta kesiapan mereka menjawab ketika beliau mengajukan pertanyaan kepada mereka. Telah disebutkan sebelumnya ucapan sebagian ulama: “Kembali kepada kebenaran adalah bagian dari agama.” Maka seorang mukmin tidak sepatutnya merasa berat untuk kembali kepada kebenaran ketika telah jelas baginya.Keempat puluh: Di dalamnya terdapat penekanan pentingnya menghilangkan syubhat dari orang yang mengalami keraguan, baik itu perkara umum maupun khusus. Jika bersifat umum, maka penjelasannya bersifat umum; jika bersifat khusus, maka penjelasannya pun khusus.Tidak ada yang lebih indah daripada kejujuran dan keterbukaan untuk menghilangkan apa yang ada di dalam hati berupa ganjalan. Seandainya manusia saling terbuka dan menjelaskan sebagian sikap yang menimbulkan kekecewaan, niscaya banyak masalah akan selesai.Sebagian orang berkata: “Jika aku benar dalam tindakanku, aku tidak peduli dengan ucapan manusia.” Maka dikatakan kepadanya: Ini keliru. Bahkan engkau harus menjelaskan kepada manusia alasan di balik tindakanmu, menghilangkan keraguan yang ada pada mereka, serta menjelaskan sudut pandang dan landasan tindakanmu. Dengan itu, engkau menjaga kehormatanmu, memperbaiki hati-hati manusia, dan mencegah prasangka buruk di tengah masyarakat.Keterbukaan seperti ini telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berkhutbah kepada kaum Anshar dalam khutbah yang agung tersebut. Juga dicontohkan oleh Sa‘d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu ketika ia menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pandangan kaum Anshar dan apa yang mereka rasakan.Di dalamnya juga terdapat pelajaran bahwa pendapat para pemuda tidaklah sama dengan pendapat para tokoh yang lebih tua. Telah diketahui bahwa umumnya pendapat orang yang lebih tua lebih matang dalam ilmu, amal, pengalaman, dan ketakwaan dibandingkan pendapat para pemuda.Keempat puluh satu: Dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:«إِنَّ قُرَيْشًا حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ وَمَعْصِيَةٍ، وَإِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَجْبُرَهُمْ وَأَتَأَلَّفَهُمْ»“Sesungguhnya Quraisy baru saja meninggalkan masa jahiliah dan kemaksiatan, dan aku ingin menguatkan serta melunakkan hati mereka.”Terdapat pelajaran besar dalam upaya menarik hati manusia serta mempertimbangkan kondisi jiwa mereka. Sesungguhnya kaum Quraisy mengalami guncangan besar dengan peristiwa penaklukan Makkah. Meskipun itu merupakan nikmat terbesar bagi mereka, dalam pandangan mereka hal itu terasa berat karena runtuhnya kebesaran dan kekuasaan mereka, serta terpecahnya tokoh-tokoh mereka yang tetap berada dalam kesyirikan.Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin mengobati keguncangan tersebut dan meringankan beban yang mereka rasakan dengan memberikan harta, agar hati mereka menjadi tenang. Ini merupakan tuntunan yang seharusnya diperhatikan dalam memperbaiki jiwa yang terluka, meskipun dengan harta, serta berusaha meringankan beban mereka. Ini adalah akhlak Islam yang tinggi, yang tidak akan dipahami kecuali oleh orang yang memiliki bagian besar dari kebaikan.Keempat puluh dua: Seseorang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Engkau telah memberi kepada ‘Uyainah dan Al-Aqra‘, sedangkan aku ditinggalkan, padahal aku lebih baik dari mereka.” Ia bermaksud mengingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dirinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan jawaban agung, yang menunjukkan bahwa beliau tidak merasa iri kepada siapa pun dalam perkara dunia, melainkan mengarahkan pandangan kepada Allah dan mencari kedudukan di sisi-Nya. Perhatikanlah jawaban beliau yang jujur lagi benar:«أَمَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَجَبِيلُ بْنُ سُرَاقَةَ خَيْرٌ مِنْ طِلَاعِ الْأَرْضِ كُلِّهِمْ مِثْلَ عُيَيْنَةَ بْنِ حِصْنٍ وَالْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ، وَلَكِنِّي أُؤَلِّفُهُمَا لِيُسْلِمَا، وَوَكَلْتُكَ إِلَى إِسْلَامِكَ»“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh Jabil bin Suraqah lebih baik daripada seluruh penduduk bumi seperti ‘Uyainah bin Hishn dan Al-Aqra‘ bin Habis. Akan tetapi aku memberi kepada mereka berdua untuk melunakkan hati mereka agar masuk Islam, sedangkan aku menyerahkanmu kepada keislamanmu.”Maka janganlah engkau tertipu oleh kedudukan dunia dan jabatan, karena itu hanyalah tipuan yang akan diikuti penyesalan. Mintalah kedudukan di sisi Allah Yang Maha Mulia. Betapa banyak di antara kita orang yang lebih baik daripada kebanyakan manusia, namun tidak mendapatkan kedudukan dunia, karena ia selamat dari fitnah jabatan.Kemudian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga menunjukkan bahwa hal tersebut tidak khusus untuk kaum Anshar saja, tetapi berlaku bagi siapa saja yang kuat imannya. Termasuk di dalamnya sahabat tersebut yang disebutkan, radhiyallahu ‘anhu.Keempat puluh tiga: Dalam janji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Malik bin ‘Auf An-Nadhri, bahwa jika ia datang sebagai seorang Muslim, maka beliau akan mengembalikan keluarganya, hartanya, dan memberinya seratus ekor unta, terdapat dua pelajaran:Pertama: Tujuan utama jihad adalah masuknya manusia ke dalam Islam, bukan semata-mata harta rampasan dan keuntungan materi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan kepada pemimpin Thaif tersebut bahwa jika ia masuk Islam, maka keluarganya dan hartanya akan dikembalikan, serta diberikan tambahan berupa seratus ekor unta sebagai bentuk penghargaan dan dorongan agar ia masuk Islam. Ini menunjukkan besarnya perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap keislaman seseorang, serta tidak adanya keinginan untuk menawan keluarganya atau merampas hartanya.Kedua: Ini merupakan metode dakwah yang agung yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menarik hati tokoh-tokoh besar, serta metode melunakkan hati. Hal ini tampak jelas dalam peristiwa Hunain, ketika beliau memberikan pemberian besar kepada para pemimpin Arab agar hati mereka condong kepada Islam, sehingga mereka masuk Islam dan kaum mereka pun mengikuti.Karena itu, seseorang hendaknya memperhatikan cara-cara pemberian yang dilakukan oleh pemimpin atau tokoh masyarakat dalam rangka mewujudkan kemaslahatan umum bagi kaum Muslimin, dan juga kemaslahatan khusus bagi suatu negeri.Keempat puluh empat: Ibnu Hajar rahimahullah berkata, demikian pula Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Di antara hikmah penaklukan Makkah adalah menjadi sebab masuknya banyak kabilah Arab ke dalam Islam. Dahulu mereka berkata: ‘Biarkan dia (Muhammad) bersama kaumnya. Jika ia menang atas mereka, berarti ia berada di atas kebenaran.’ Ketika Allah memberikan kemenangan kepadanya, sebagian mereka tetap berada dalam kesesatan, lalu mereka berkumpul dan bersiap untuk memeranginya. Maka termasuk hikmah dari hal itu adalah agar tampak bahwa Allah menolong Rasul-Nya bukan dengan banyaknya orang yang masuk Islam dari kalangan kabilah, dan bukan pula karena kaumnya menahan diri dari memeranginya.” Bersambung Insya-Allah …. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 29 Syawal 1447 H, 17 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang hunain sirah nabawiyah sirah nabi


Perang Hunain merupakan salah satu peperangan besar dalam sirah Nabi ﷺ yang sarat dengan pelajaran iman dan tauhid. Pada awalnya kaum muslimin sempat terpukul mundur karena rasa bangga terhadap jumlah pasukan, hingga Allah ﷻ menegur mereka melalui peristiwa ini. Namun dengan keteguhan Rasulullah ﷺ dan pertolongan Allah, keadaan pun berbalik menjadi kemenangan yang nyata bagi kaum muslimin.Baca juga: Perang Hunain dalam Tafsir QS. At-Taubah 25–27: Ketika Jumlah Besar Tidak Menjamin Kemenangan  Daftar Isi tutup 1. Jumlah Banyak Belum Tentu Menang 2. Allah Turunkan Sakinah pada Perang Hunain 3. Kaum Hawazin Masuk Islam 4. Kisah Dzul Khuwaishirah yang Menuntut Rasulullah untuk Adil 5. Pelajaran yang Dipetik dari Perang Hunain dan Pengepungan Thaif 5.1. Nasihat Mengenai Ngapal Berkah (Tabarruk)  Peperangan ini adalah Perang Hunain. Sebagian ulama menamakannya Perang Authas, dan sebagian lainnya menamakannya Perang Hawazin. Namun, penamaan yang digunakan dalam Al-Qur’an adalah Hunain.Perang Hunain dianggap sebagai kelanjutan dari penaklukan Mekah, dan merupakan salah satu dampaknya. Hal itu karena Perang Hunain terjadi sebagai konsekuensi dari penaklukan besar tersebut. Ketika suku Hawazin dan Tsaqif mengetahui apa yang menimpa Quraisy di Mekah, mereka pun mulai bersiap-siap dan mengumpulkan pasukan untuk memerangi Rasulullah ﷺ.Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui hal tersebut, sementara beliau masih berada di Mekah, beliau pun keluar untuk menemui mereka di Hunain. Keberangkatan beliau terjadi pada hari keenam bulan Syawal tahun kedelapan Hijriah.Rasulullah ﷺ menunjuk ‘Attab bin Asid radhiyallahu ‘anhu sebagai pemimpin di Mekah. Jumlah pasukan yang menyertai Rasulullah ﷺ adalah sepuluh ribu orang, ditambah dua ribu orang dari kalangan thulaqā’ (orang-orang Mekah yang dimaafkan). Pasukan kaum musyrikin dari Thaif berada di bawah pimpinan Malik bin ‘Auf An-Nadhri. Mereka bergabung dengan pasukan Hawazin dan Tsaqif seluruhnya, juga bergabung suku Nashr dan Jusham seluruhnya, serta Sa‘d bin Bakr dan sebagian orang dari Bani Hilal—jumlah mereka sedikit. Termasuk dari Bani Jusham adalah Duraid bin Ash-Shimmah, seorang syekh tua yang sudah sangat lanjut usia, yang sebenarnya tidak lagi memiliki kemampuan apa pun, kecuali sekadar dimintai pendapat karena pengalaman dan pengetahuannya tentang peperangan. Ia adalah seorang syekh yang telah banyak mengalami peperangan.Ketika Malik bin Auf mengumpulkan pasukan dan membawa mereka menuju Rasulullah ﷺ, ia juga mengikutsertakan harta benda, para wanita, dan anak-anak mereka. Ketika mereka singgah di Authas dan berkumpul di sana, Duraid bin Ash-Shimmah—yang berada di dalam sekedup (tandu) yang dibawanya—bertanya, “Di lembah apakah kita berada?” Mereka menjawab, “Di Authas.” Ia berkata, “Tempat yang bagus untuk medan pasukan berkuda. Tidak ada tanah keras yang melukai kaki, tidak pula tanah lunak yang membuat kuda terperosok. Namun, mengapa aku mendengar suara unta, ringkikan keledai, tangisan anak kecil, dan kambing yang mengembik?” Mereka menjawab, “Malik bin ‘Auf membawa serta harta, para wanita, dan anak-anak bersama pasukan.”Ia bertanya, “Di mana Malik?” Dijawab, “Ini Malik.” Malik pun dipanggil dan mendekat kepadanya. Duraid berkata, “Wahai Malik, sungguh engkau telah menjadi pemimpin kaummu. Hari ini adalah hari yang menentukan, dan setelah hari ini tidak ada hari lain bagimu. Mengapa aku mendengar suara unta, ringkikan keledai, tangisan anak kecil, dan kambing yang mengembik?” Malik menjawab, “Aku membawa mereka agar setiap orang berperang di belakang harta, wanita, dan anak-anak mereka.”Duraid berkata, “Celaka engkau! Apakah orang yang kalah bisa ditahan oleh sesuatu apa pun? Jika engkau menang, yang akan bermanfaat bagimu hanyalah seorang laki-laki dengan pedang dan tombaknya. Namun, jika engkau kalah, engkau akan dipermalukan bersama keluarga dan hartamu.” Malik berkata, “Demi Allah, aku tidak akan melakukan selain ini. Sungguh engkau telah tua dan akalmu pun telah melemah.”Duraid berkata, “Demi Allah, aku telah menyelamatkanmu dari kehinaan suku Hawazin. Seandainya aku masih mampu berdiri di atas kakiku, aku akan bertarung dengan pedang ini hingga keluar dari punggungku. Aku membenci jika Bani Jusham tidak memiliki pendapat atau pandangan dalam urusan ini.” Mereka berkata, “Berilah kami pendapatmu.” Maka Duraid bin Ash-Shimmah berkata, “Hari ini aku tidak melihat sesuatu yang aku persaksikan, dan aku tidak pula kehilangan akalku.”Jumlah orang yang berkumpul bersama Malik bin ‘Auf untuk memerangi Rasulullah ﷺ mencapai dua puluh ribu orang. Malik menempatkan mata-mata (pengintai)nya, lalu mata-mata itu datang kepadanya dalam keadaan kacau balau. Malik bertanya, “Celaka kalian, apa yang terjadi?” Mereka menjawab, “Kami melihat pasukan berkuda putih di atas kuda-kuda yang belang. Demi Allah, kami tidak mampu bertahan sejak pertama kali melihat mereka.” Malik tidak menghiraukan laporan itu dan tidak memedulikannya.Rasulullah ﷺ meminjam baju besi dan senjata dari Shafwan bin Umayyah, sementara Shafwan saat itu masih dalam keadaan musyrik. Shafwan berkata, “Apakah ini berarti engkau merampasnya, wahai Muhammad?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Bukan, ini pinjaman yang dijamin.” Maka Shafwan meminjamkan kepada Rasulullah ﷺ seratus baju besi.Pasukan ini merupakan pasukan Islam terbesar yang pernah keluar bersama Rasulullah ﷺ. Ketika sebagian kaum muslimin melihat banyaknya jumlah pasukan, ada seseorang yang berkata, “Hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah yang sedikit.” Perkataan itu memberatkan Rasulullah ﷺ. Lalu Allah Ta‘ala menurunkan firman-Nya:﴿لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ ۝ ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ﴾“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 25–26)Di tengah perjalanan, kaum muslimin melewati sebuah pohon milik kaum musyrikin yang disebut Dzat Anwath. Dari Abu Waaqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami keluar dari Mekah bersama Rasulullah ﷺ menuju Hunain. Orang-orang kafir memiliki sebuah pohon bidara tempat mereka berdiam dan menggantungkan senjata-senjata mereka, yang disebut Dzat Anwath.”Ia berkata, “Kami pun melewati sebuah pohon bidara yang hijau dan besar.” Maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzat Anwāṭ (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzat Anwāṭ.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Allāhu akbar! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian telah mengatakan seperti apa yang dikatakan kaum Musa.”ٱجْعَل لَّنَآ إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ ءَالِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ“Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)“.” (QS. Al-A‘rāf: 138)Rasulullah ﷺ melanjutkan, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian setahap demi setahap.”Rasulullah ﷺ kemudian mengutus ‘Abdullāh bin Abī Ḥadrad Al-Aslamī radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu. Dari ayahnya, ia berkata: “Ia datang membawa kabar tentang Hawāzin. Ia pun masuk ke tengah-tengah kaum itu dan mendapati mereka telah berkumpul seluruhnya untuk memerangi Rasulullah ﷺ. Ia lalu menyampaikan apa yang ia lihat kepada Rasulullah ﷺ.” Maka Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda, “Itu adalah rampasan kaum muslimin besok, insya Allah.”Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang akan mengawasi kita malam ini?”Anas bin Abī Murthid Al-Ghanawī radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu berkata, “Aku, wahai Rasulullah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Naiklah.” Maka ia pun menaiki kudanya dan segera datang menemui Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Hadapilah lembah ini hingga engkau berada di atasnya, dan jangan biarkan siapa pun mendatangi kita dari arahmu malam ini.”Ketika pagi tiba, Rasulullah ﷺ keluar menuju tempat salatnya dan melaksanakan dua rakaat. Setelah itu beliau bersabda, “Apakah kalian merasakan penjagaan sahabat kalian?”Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami tidak melihat sesuatu pun.”Maka Rasulullah ﷺ pun melaksanakan salat, dan beliau menoleh ke arah lembah itu hingga selesai salatnya. Kemudian beliau bersabda, “Bergembiralah, sungguh penjaga kalian telah datang.”Kami pun melihat ke arah lembah itu melalui sela-sela pepohonan. Ternyata ia telah datang, lalu berdiri di hadapan Rasulullah ﷺ dan memberi salam. Ia berkata, “Aku berangkat hingga aku berada di puncak lembah ini, tempat engkau memerintahkanku, wahai Rasulullah. Ketika dua lembah itu tampak jelas, aku pun melihat keduanya.”Kami memperhatikan, tetapi tidak melihat seorang pun. Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, “Apakah engkau turun pada malam hari?” Ia menjawab, “Tidak, kecuali hanya untuk melaksanakan salat atau menunaikan hajat.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Engkau telah menjalankan tugas dengan baik, maka jangan engkau lakukan apa pun setelah ini.”Kemudian Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanannya hingga sampai di Hunain. Sementara itu, Malik bin ‘Auf beserta pasukannya telah lebih dahulu tiba sebelum Rasulullah ﷺ. Mereka menyiapkan diri dan bersembunyi di celah-celah lembah serta di balik pepohonan. Rasulullah ﷺ datang bersama para sahabatnya hingga mereka turun ke lembah pada waktu subuh. Mereka tidak menyadari hal tersebut. Tiba-tiba Hawazin dan Tsaqif menyerang mereka dengan serangan serentak oleh satu orang, lalu orang-orang yang bersembunyi keluar dari celah-celah lembah dan tempat-tempat persembunyian mereka, serta menghujani kaum muslimin dengan anak panah. Urusan kaum muslimin pun menjadi kacau secara tiba-tiba.Mereka pun lari mundur dalam keadaan terpecah-belah, tidak menoleh ke arah mana pun. Namun Rasulullah ﷺ tetap teguh berdiri, bersama sebagian kecil kaum mukminin yang ada bersamanya. Rasulullah ﷺ berpaling ke arah kanan, lalu berseru, “Wahai manusia, kemarilah kepadaku! Aku adalah Rasulullah, aku adalah Muhammad bin ‘Abdullah.”Bersama beliau terdapat sekelompok orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar, sementara orang-orang yang tetap bertahan bersamanya tidak banyak. Di antara Ahlul Bait yang tetap bersamanya adalah Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Ali bin Abi Thalib, Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, putranya Al-Fadhl bin ‘Abbas, Abu Sufyan bin Al-Harits, Rabi‘ah bin Al-Harits, Aiman bin ‘Ubaid—yang merupakan putra Ummu Aiman—dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ta‘ala ‘anhum ajma‘in.Rasulullah ﷺ pun berseru, “Aku adalah Nabi, tidak ada dusta. Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.” Termasuk doa beliau saat itu adalah, “Ya Allah, jika Engkau menghendaki, maka Engkau tidak akan disembah setelah hari ini.”Dalam Shahih Muslim, dari Al-‘Abbas radhiyallahu ta‘ala ‘anhu, ia berkata: “Aku menyaksikan Perang Hunain bersama Rasulullah ﷺ. Aku dan Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib selalu bersama Rasulullah ﷺ dan tidak berpisah darinya. Rasulullah ﷺ berada di atas seekor bagal putih yang dihadiahkan oleh Farrukh bin Nafatsah Al-Judzami. Ketika kaum muslimin dan orang-orang kafir saling berhadapan, kaum muslimin pun mundur.”“Rasulullah ﷺ lalu memacu bagalnya ke arah orang-orang kafir. Aku memegang tali kekang bagal Rasulullah ﷺ, menahannya agar tidak melaju terlalu cepat, sementara Abu Sufyan memegang sanggurdi beliau. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Wahai ‘Abbas, panggillah para sahabat Samurah!’”Al-‘Abbas berkata: “Aku adalah seorang yang bersuara lantang. Aku pun berteriak sekeras-kerasnya, ‘Di mana para sahabat Samurah?’ Demi Allah, ketika mereka mendengar suaraku, suara itu terasa seperti suara sapi yang memanggil anaknya. Mereka pun menjawab, ‘Labbaik, labbaik!’ Lalu mereka bertempur melawan orang-orang kafir.”“Kemudian seruan dialihkan kepada kaum Anshar. Dikatakan, ‘Wahai kaum Anshar!’ Lalu seruan itu dikhususkan kepada Bani Al-Harits bin Al-Khazraj. Dikatakan, ‘Wahai Bani Al-Harits bin Al-Khazraj!’ Maka Rasulullah ﷺ memandang mereka, sementara beliau berada di atas bagalnya, seakan-akan beliau menjulang di atas mereka.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Sekaranglah panasnya peperangan.”Al-‘Abbas berkata: “Kemudian Rasulullah ﷺ mengambil segenggam kerikil dan melemparkannya ke wajah orang-orang kafir, lalu bersabda, ‘Hancurlah wajah-wajah itu!’ Aku pun pergi menyaksikan keadaan pertempuran, dan demi Allah, tidaklah beliau melempar mereka dengan kerikil itu, melainkan aku melihat mereka semua tercerai-berai dan urusan mereka pun kacau balau.” Jumlah Banyak Belum Tentu MenangAllah Ta’ala berfirman tentang Thalut,كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249)Baca juga: Kisah Thalut, Jalut, dan Nabi Daud: Ujian Kepemimpinan dan Kemenangan ImanNamun karena mereka bangga dengan jumlah yang banyak, Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِى مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)Ayat yang membicarakan kekalahan dalam perang Hunain terkait sejatinya dengan peringatan pada ayat sebelumnya,قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah:24)Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 27)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:Ibnu Juraij meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata: “Ini adalah ayat pertama yang turun dari Surah Barā’ah (At-Taubah).”Allah Ta‘ala menyebutkan kepada orang-orang beriman tentang karunia dan kebaikan-Nya kepada mereka, berupa pertolongan-Nya dalam banyak pertempuran yang mereka jalani bersama Rasul-Nya. Semua itu terjadi semata-mata dari sisi Allah Ta‘ala, dengan dukungan dan ketetapan-Nya, bukan karena jumlah mereka dan bukan pula karena banyaknya pasukan. Allah mengingatkan mereka bahwa kemenangan hanyalah dari sisi-Nya, baik jumlah kaum muslimin sedikit maupun banyak.Pada Perang Hunain, kaum muslimin sempat merasa kagum dengan banyaknya jumlah mereka. Namun ternyata, banyaknya jumlah itu sama sekali tidak memberi manfaat bagi mereka. Mereka pun berbalik melarikan diri, kecuali sedikit orang yang tetap bersama Rasulullah ﷺ. Setelah itu, Allah menurunkan pertolongan dan dukungan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada kaum mukminin yang bersamanya, sebagaimana akan dijelaskan secara terperinci—insyaallah—agar mereka mengetahui bahwa kemenangan itu benar-benar dari sisi Allah Ta‘ala semata, dengan pertolongan-Nya, meskipun jumlah pasukan sedikit.فكم من فئة قليلة غلبت فئة كثيرة بإذن الله ، والله مع الصابرين .Betapa sering kelompok yang sedikit mampu mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.Imam Ahmad berkata: “Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir, telah menceritakan kepada kami ayahku, aku mendengar Yunus menceritakan dari Az-Zuhri, dari ‘Ubaidullah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:خير الصحابة أربعة ، وخير السرايا أربعمائة ، وخير الجيوش أربعة آلاف ، ولن تغلب اثنا عشر ألفا من قلة .‘Sebaik-baik para sahabat itu berjumlah empat orang, sebaik-baik pasukan kecil (sariyyah) berjumlah empat ratus orang, dan sebaik-baik tentara berjumlah empat ribu orang. Dan dua belas ribu pasukan tidak akan terkalahkan karena sedikitnya jumlah.’”Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan gharib. Tidak ada seorang perawi besar pun yang meriwayatkannya secara bersambung kecuali Jarir bin Hazim. Riwayat yang masyhur dari Az-Zuhri adalah dari Nabi ﷺ secara mursal.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Al-Baihaqi, dan selain keduanya, dari Aktsam bin Al-Jaun, dari Rasulullah ﷺ dengan lafaz yang semakna. Dan Allah Maha Mengetahui.Peristiwa Perang Hunain terjadi setelah Fathu Makkah, tepatnya pada bulan Syawal tahun kedelapan Hijriah. Hal itu bermula ketika Rasulullah ﷺ telah selesai menaklukkan Makkah, urusan-urusannya telah tertata dengan baik, dan mayoritas penduduknya telah masuk Islam. Rasulullah ﷺ pun membebaskan mereka. Lalu sampai kepada beliau kabar bahwa suku Hawazin telah menghimpun kekuatan untuk memerangi beliau. Pemimpin mereka adalah Malik bin ‘Auf An-Nadhri, bersama seluruh kabilah Tsaqif, Bani Jusyam, Bani Sa‘d bin Bakr, sejumlah kelompok dari Bani Hilal—yang jumlahnya tidak banyak—serta sekelompok orang dari Bani ‘Amr bin ‘Amir dan ‘Auf bin ‘Amir.Mereka datang dengan membawa serta para wanita, anak-anak, kambing, dan unta, bahkan membawa seluruh harta dan keluarga mereka tanpa tersisa. Maka Rasulullah ﷺ keluar menemui mereka dengan pasukan yang beliau bawa saat Fathu Makkah, yaitu sepuluh ribu orang dari kalangan Muhajirin, Anshar, dan kabilah-kabilah Arab. Bersama beliau juga ikut orang-orang Makkah yang baru masuk Islam, yaitu para thulaqā’, yang jumlahnya sekitar dua ribu orang. Beliau pun bergerak bersama mereka menuju musuh.Kedua pasukan bertemu di sebuah lembah antara Makkah dan Thaif yang bernama Hunain. Pertempuran terjadi di sana pada awal pagi, saat suasana masih gelap menjelang subuh. Kaum muslimin menuruni lembah tersebut, sementara pasukan Hawazin telah bersembunyi di dalamnya. Ketika kedua pasukan saling berhadapan, kaum muslimin tiba-tiba diserbu. Mereka dihujani anak panah, pedang-pedang dihunus, dan pasukan musuh menyerang serentak sebagai satu kesatuan, sebagaimana perintah pemimpin mereka. Pada saat itulah kaum muslimin berbalik melarikan diri, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.Namun Rasulullah ﷺ tetap teguh berdiri. Saat itu beliau menaiki baghal (keledai besar) beliau yang berwarna putih keabu-abuan, mengarahkannya menuju pusat pasukan musuh. Paman beliau, Al-‘Abbas, memegang tali kekang sebelah kanan, dan Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib memegang sebelah kiri, keduanya menahan laju hewan itu agar tidak berjalan terlalu cepat. Rasulullah ﷺ menyerukan nama beliau dan mengajak kaum muslimin untuk kembali, seraya berkata,[ ويقول ] أين يا عباد الله ؟ إلي أنا رسول الله ، ويقول في تلك الحال “Ke mana kalian, wahai hamba-hamba Allah? Kembalilah kepadaku, aku adalah Rasulullah.” Pada saat itu beliau juga mengucapkan:أنا النبي لا كذب أنا ابن عبد المطلب“Aku adalah Nabi, tidak ada dusta.
Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.”وثبت معه من أصحابه قريب من مائة ، ومنهم من قال : ثمانون ، فمنهم : أبو بكر ، وعمر – رضي الله عنهما – والعباس وعلي ، والفضل بن عباس ، وأبو سفيان بن الحارث ، وأيمن بن أم أيمن ، وأسامة بن زيد ، وغيرهم – رضي الله عنهم –Bersama beliau saat itu tetap bertahan sekitar seratus orang dari para sahabat—ada pula yang mengatakan delapan puluh orang. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Al-‘Abbas, ‘Ali, Al-Fadhl bin Al-‘Abbas, Abu Sufyan bin Al-Harits, Aiman bin Ummu Aiman, Usamah bin Zaid, dan selain mereka radhiyallahu ‘anhum. ثم أمر – صلى الله عليه وسلم – عمه العباس – وكان جهير الصوت – أن ينادي بأعلى صوته : يا أصحاب الشجرة – يعني شجرة بيعة الرضوان ، التي بايعه المسلمون من المهاجرين والأنصار تحتها ، على ألا يفروا عنه – فجعل ينادي بهم : يا أصحاب السمرة ويقول تارة : يا أصحاب سورة البقرة ،Kemudian Rasulullah ﷺ memerintahkan pamannya, Al-‘Abbas—yang dikenal bersuara lantang—untuk menyeru dengan suara keras: “Wahai para pemilik pohon!” Maksudnya adalah pohon Bai‘at Ridwan, tempat kaum muslimin dari kalangan Muhajirin dan Anshar berbaiat di bawahnya untuk tidak lari meninggalkan beliau. Al-‘Abbas pun menyeru mereka dengan berkata: “Wahai para pemilik pohon samurah!” Terkadang ia juga berseru: “Wahai para pemilik Surah Al-Baqarah!” فجعلوا يقولون : يا لبيك ، يا لبيك ، وانعطف الناس فجعلوا يتراجعون إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – حتى إن الرجل منهم إذا لم يطاوعه بعيره على الرجوع ، لبس درعه ، ثم انحدر عنه ، وأرسله ، ورجع بنفسه إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – . فلما رجعت شرذمة منهم ، أمرهم عليه السلام أن يصدقوا الحملة ، وأخذ قبضة من التراب بعدما دعا ربه واستنصره ، وقال : Mereka pun menjawab, “Kami penuhi panggilanmu, kami penuhi panggilanmu.” Orang-orang mulai berbalik dan kembali menuju Rasulullah ﷺ. Bahkan ada di antara mereka yang, jika untanya tidak mau berbalik arah, ia mengenakan baju besinya, lalu turun dari untanya, melepaskannya, dan ia sendiri berlari kembali menuju Rasulullah ﷺ.Ketika sejumlah pasukan telah kembali, Rasulullah ﷺ memerintahkan mereka untuk melakukan serangan dengan sungguh-sungguh. Beliau lalu mengambil segenggam tanah setelah berdoa kepada Rabb-nya dan memohon pertolongan-Nya, seraya berkata:اللهم أنجز لي ما وعدتني “Ya Allah, penuhilah untukku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku.”ثم رمى القوم بها ، فما بقي إنسان منهم إلا أصابه منها في عينيه وفمه ما شغله عن القتال ، ثم انهزموا ، فاتبع المسلمون أقفاءهم يقتلون ويأسرون ، وما تراجع بقية الناس إلا والأسارى مجدلة بين يدي رسول الله – صلى الله عليه وسلم – Kemudian beliau melemparkan tanah itu ke arah musuh. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali tanah itu mengenai mata dan mulutnya, sehingga menyibukkan mereka dari pertempuran. Akhirnya mereka pun kalah dan melarikan diri.Kaum muslimin mengejar mereka, membunuh dan menawan. Tidaklah sisa pasukan kembali, melainkan para tawanan telah bergelimpangan di hadapan Rasulullah ﷺ.Dalam riwayat Imam Ahmad, dari Abu ‘Abdurrahman Al-Fihri—nama aslinya Yazid bin Usaid, ada pula yang mengatakan Yazid bin Anis, dan ada yang mengatakan Karz—ia berkata:‘Aku pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Hunain. Kami berjalan pada hari yang sangat terik dan panasnya amat menyengat. Kami pun singgah di bawah naungan pepohonan. Ketika matahari telah condong (ke barat), aku mengenakan baju besiku dan menaiki kudaku. Lalu aku berangkat menemui Rasulullah ﷺ, sementara beliau berada di dalam kemahnya. Aku berkata, “Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepadamu, wahai Rasulullah. Apakah sudah waktunya berangkat?” Beliau menjawab, “Ya.”Beliau lalu bersabda, “Wahai Bilal.” Maka Bilal segera bangkit dari bawah pohon samurah, seakan-akan naungannya adalah naungan seekor burung. Ia berkata, “Aku penuhi panggilanmu dan aku siap melayanimu, aku menebusmu dengan diriku.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Pelanakanlah kudaku.” Maka dikeluarkanlah sebuah pelana yang kedua sisinya terbuat dari serat, tidak ada kemewahan dan tidak ada kesombongan padanya.Pelana itu pun dipasangkan. Rasulullah ﷺ menaikinya, dan kami pun menaiki tunggangan kami. Kami berhadapan dengan musuh pada sore hari dan sepanjang malam. Kuda-kuda saling berhadapan, lalu kaum muslimin berbalik melarikan diri, sebagaimana yang difirmankan Allah ‘Azza wa Jalla: “Kemudian kalian berpaling melarikan diri.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Wahai hamba-hamba Allah, aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Wahai kaum Muhajirin, aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”Kemudian Rasulullah ﷺ meloncat turun dari kudanya, lalu mengambil segenggam tanah. Orang yang paling dekat denganku—yang melihat kejadian itu—mengabarkan kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ melemparkan tanah tersebut ke wajah mereka seraya bersabda, “Binasalah wajah-wajah itu.” Maka Allah ‘Azza wa Jalla pun mengalahkan mereka.Ya‘la bin ‘Atha’ berkata: “Anak-anak mereka menceritakan kepadaku, dari para ayah mereka, bahwa mereka berkata: ‘Tidak ada seorang pun dari kami yang tersisa, kecuali kedua matanya dan mulutnya penuh dengan tanah. Dan kami mendengar suara gemerincing antara langit dan bumi, seperti bunyi besi yang digesekkan pada bejana baru.’”Demikian pula hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hafizh Al-Baihaqi dalam kitab Dalā’il an-Nubuwwah, melalui riwayat Abu Dawud Ath-Thayalisi, dari Hammad bin Salamah, dengan sanad yang sama.Muhammad bin Ishaq berkata: “Telah menceritakan kepadaku ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah, dari ‘Abdurrahman bin Jabir, dari ayahnya, Jabir, dari ‘Abdullah,” ia berkata:Malik bin ‘Auf keluar bersama pasukannya menuju Hunain. Ia tiba lebih dahulu daripada Rasulullah ﷺ, lalu mereka menyiapkan diri dan bersiaga di tempat-tempat sempit serta lekuk-lekuk lembah. Rasulullah ﷺ pun datang bersama para sahabatnya, hingga mereka turun memasuki lembah pada saat pagi masih gelap. Ketika orang-orang mulai menuruni lembah itu, tiba-tiba pasukan berkuda musuh menyerbu ke arah mereka. Serangan itu terasa sangat berat, sehingga orang-orang pun berbalik lari tunggang-langgang, tidak ada seorang pun yang menoleh kepada yang lain.Rasulullah ﷺ pun bergerak ke arah kanan sambil berseru, “Wahai manusia, kemarilah kepadaku! Aku adalah Rasulullah! Aku adalah Rasulullah! Aku adalah Muhammad bin ‘Abdullah!” Namun tidak ada yang menyahut. Unta-unta pun saling bertubrukan satu sama lain. Ketika Rasulullah ﷺ melihat keadaan kaum muslimin seperti itu, beliau bersabda, “Wahai ‘Abbas, berserulah: Wahai kaum Anshar, wahai para pemilik pohon samurah!”Mereka pun menjawab, “Kami penuhi panggilanmu, kami penuhi panggilanmu.” Seseorang di antara mereka berusaha membelokkan untanya, namun tidak mampu. Maka ia pun melemparkan baju besinya ke lehernya, mengambil pedang dan busurnya, lalu menuju ke arah suara panggilan itu, hingga berkumpul di sekitar Rasulullah ﷺ sekitar seratus orang. Rasulullah ﷺ kemudian mengatur barisan mereka, lalu terjadilah pertempuran sengit.Pada awalnya seruan itu ditujukan kepada kaum Anshar, kemudian di akhir kepada kabilah Khazraj, dan mereka adalah orang-orang yang sangat tegar dalam peperangan. Rasulullah ﷺ pun menampakkan diri di atas tunggangannya dan melihat sengitnya pertempuran, lalu bersabda, “Sekarang benar-benar berkobarlah api peperangan.”Demi Allah, tidaklah orang-orang kembali, melainkan para tawanan telah tergeletak di hadapan Rasulullah ﷺ. Allah membinasakan siapa yang dibinasakan-Nya dari mereka, dan sebagian lainnya melarikan diri. Allah pun memberikan kepada Rasul-Nya harta dan anak-anak mereka sebagai rampasan.Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari hadits Syu‘bah, dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepadanya, “Wahai Abu ‘Umarah, apakah kalian lari meninggalkan Rasulullah ﷺ pada hari Hunain?” Ia menjawab, “Ya, tetapi Rasulullah ﷺ tidak lari. Sesungguhnya Hawazin adalah kaum pemanah. Ketika kami berjumpa dengan mereka dan menyerang mereka, mereka pun mundur. Lalu orang-orang sibuk mengumpulkan harta rampasan, maka pasukan Hawazin kembali menyerang kami dengan hujan anak panah, sehingga orang-orang pun berlarian. Sungguh aku melihat Rasulullah ﷺ, sementara Abu Sufyan bin Al-Harits memegang tali kekang baghal putih Rasulullah ﷺ, dan beliau berkata: ‘Aku adalah Nabi, tidak ada dusta. 
Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.’”Aku berkata: Ini merupakan puncak keberanian yang paling sempurna. Pada hari seperti itu, di tengah kancah pertempuran yang berkecamuk, ketika pasukannya telah tercerai-berai darinya, beliau tetap berada di atas seekor baghal yang bukan tunggangan cepat, tidak cocok untuk menyerang, mundur, ataupun melarikan diri. Namun dalam keadaan seperti itu, beliau justru mengarahkannya ke hadapan musuh dan menyebutkan nama beliau agar dikenal oleh siapa pun yang belum mengenalnya. Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau hingga hari kiamat.Semua itu tidak lain adalah karena keyakinan beliau kepada Allah, tawakal kepada-Nya, dan pengetahuan beliau bahwa Allah pasti akan menolongnya, menyempurnakan risalah yang diembankan kepadanya, dan memenangkan agamanya atas seluruh agama lainnya. Allah Turunkan Sakinah pada Perang HunainAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)Oleh karena itu, Allah Ta‘ālā berfirman:﴿ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ﴾Artinya, Allah menurunkan ketenangan dan keteguhan kepada Rasul-Nya.Dan firman-Nya:﴿وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ﴾Maksudnya, kepada orang-orang beriman yang bersama beliau.Dan firman-Nya:﴿وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا﴾Yaitu para malaikat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Abu Ja‘far bin Jarir.Ia berkata:Telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Al-Hasan bin ‘Arafah, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Al-Mu‘tamir bin Sulaiman, dari ‘Auf—yaitu Ibnu Abi Jamīlah Al-A‘rābi—ia berkata: aku mendengar ‘Abdurrahman, mantan budak Ibnu Baratsan, ia menceritakan kepadaku dari seorang lelaki yang berada di pihak orang-orang musyrik pada hari Perang Hunain. Lelaki itu berkata:“Ketika kami bertemu dengan para sahabat Rasulullah ﷺ pada hari Hunain, mereka sama sekali tidak mampu bertahan menghadapi kami, bahkan sekejap pun. Ketika kami berhasil memukul mundur mereka, kami terus mengejar mereka hingga akhirnya kami sampai kepada seorang laki-laki yang berada di atas seekor bagal putih. Ternyata dia adalah Rasulullah ﷺ.Di dekat beliau, kami disambut oleh orang-orang berpakaian putih, berwajah tampan. Mereka berkata kepada kami: ‘Semoga wajah-wajah kalian menjadi buruk! Kembalilah!’Maka kami pun langsung lari tunggang-langgang. Mereka menaiki tengkuk-tengkuk kami, dan kekalahan itu pun menimpa kami.”Al-Ḥāfiẓ Abu Bakr Al-Baihaqi berkata:Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Al-Ḥāfiẓ, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ahmad bin Bālawaih, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Al-Hasan Al-Harbi, telah menceritakan kepada kami ‘Affān bin Muslim, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wāḥid bin Ziyād, telah menceritakan kepada kami Al-Ḥārith bin Ḥuṣairah, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya, ia berkata:Ibnu Mas‘ūd radhiyallahu ‘anhu berkata:“Aku bersama Rasulullah ﷺ pada hari Perang Hunain. Ketika itu orang-orang tercerai-berai meninggalkan beliau, dan yang tersisa bersama beliau hanyalah delapan puluh orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Kami maju ke depan dan tidak membelakangi musuh. Merekalah orang-orang yang Allah turunkan kepada mereka ketenangan.Rasulullah ﷺ berada di atas bagalnya dan terus maju. Bagalnya sempat menyimpang sehingga beliau hampir miring dari pelana. Aku berkata: ‘Bangkitlah, semoga Allah meninggikanmu.’Beliau bersabda: ‘Berikan kepadaku segenggam tanah.’ Aku pun memberikannya. Lalu beliau melemparkan tanah itu ke wajah mereka, hingga mata-mata mereka penuh dengan debu.Kemudian beliau bersabda: ‘Di mana kaum Muhajirin dan Anshar?’Aku menjawab: ‘Mereka ada di sana.’Beliau bersabda: ‘Panggil mereka!’Aku pun memanggil mereka. Mereka datang dengan pedang-pedang terhunus di tangan kanan mereka, seakan-akan kilatan cahaya. Maka orang-orang musyrik pun membalikkan badan mereka dan lari.”Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari ‘Affān, dengan lafaz yang hampir sama.Al-Walīd bin Muslim berkata:Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullāh bin al-Mubārak, dari Abū Bakr al-Hudzalī, dari ‘Ikrimah—mantan budak Ibnu ‘Abbās—dari Syaibah bin ‘Utsmān, ia berkata:“Ketika aku melihat Rasulullah ﷺ pada hari Perang Hunain dalam keadaan terbuka (tidak terlindungi), aku teringat ayah dan pamanku yang terbunuh oleh ‘Ali dan Hamzah. Maka aku berkata dalam hatiku: ‘Hari ini aku akan menuntut balasku darinya.’Aku pun bergerak hendak mendatanginya dari sisi kanan. Namun tiba-tiba aku melihat al-‘Abbās bin ‘Abdul Muththalib berdiri, mengenakan baju besi putih seperti perak, debu pertempuran menyingkapinya. Aku berkata: ‘Itu pamannya, ia pasti tidak akan membiarkannya.’Lalu aku mendatanginya dari sisi kiri, ternyata di sana ada Abū Sufyān bin al-Ḥārith bin ‘Abdul Muththalib. Aku berkata: ‘Itu sepupunya, ia pun tidak akan membiarkannya.’Aku pun mendatanginya dari arah belakang. Tidak tersisa lagi bagiku kecuali mengayunkan pedang kepadanya. Tiba-tiba muncul di hadapanku nyala api di antara aku dan dia, seperti kilat. Aku takut api itu akan membakarku, maka aku menutup mataku dengan tanganku dan mundur perlahan.Rasulullah ﷺ lalu menoleh kepadaku dan bersabda: ‘Wahai Syaibah, wahai Syaibah, mendekatlah kepadaku. Ya Allah, hilangkanlah setan darinya.’Aku pun mengangkat pandanganku ke arah beliau. Saat itu, beliau menjadi lebih aku cintai daripada pendengaran dan penglihatanku sendiri. Lalu beliau bersabda: ‘Wahai Syaibah, perangilah orang-orang kafir.’”Karena itulah Allah Ta‘ālā berfirman:﴿ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ﴾“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26) Kaum Hawazin Masuk IslamAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 26)Allah benar-benar telah menerima tobat sisa kaum Hawāzin. Mereka masuk Islam dan datang menemui Rasulullah ﷺ dalam keadaan sebagai kaum muslimin. Mereka menyusul beliau ketika beliau telah mendekati Mekah, tepatnya di Ji‘rānah, sekitar dua puluh hari setelah peristiwa perang.Pada saat itu, Rasulullah ﷺ memberi mereka pilihan antara mengambil kembali para tawanan mereka atau mengambil kembali harta-harta mereka. Mereka memilih para tawanan mereka. Jumlah tawanan itu sekitar enam ribu orang, terdiri dari anak-anak dan para perempuan. Maka Rasulullah ﷺ mengembalikan seluruh tawanan itu kepada mereka.Adapun harta rampasan perang, beliau membagikannya kepada para prajurit yang ikut berperang. Beliau juga memberikan tambahan pemberian (nafal) kepada sebagian orang dari golongan ṭulaqā’ (orang-orang yang baru masuk Islam setelah Fathu Mekah), dengan tujuan melembutkan hati mereka agar semakin kokoh dalam Islam. Beliau memberi mereka masing-masing seratus ekor unta.Di antara orang yang diberi seratus ekor unta tersebut adalah Mālik bin ‘Auf an-Naḍrī. Rasulullah ﷺ bahkan mengangkatnya kembali sebagai pemimpin atas kaumnya sebagaimana sebelumnya. Karena itu, Mālik bin ‘Auf memuji Rasulullah ﷺ dengan sebuah qasidah yang di antaranya berbunyi:Aku tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar
di tengah seluruh manusia seseorang seperti Muhammad.Paling menepati janji dan paling banyak memberi,
bila diminta kebaikan; dan kapan pun engkau kehendaki,
ia mampu mengabarkan apa yang akan terjadi esok hari.Jika pasukan telah menampakkan taring-taringnya,
dengan tombak-tombak lurus dan pedang-pedang tajam,Maka ia laksana singa di tengah anak-anaknya,
tenang di tengah debu peperangan, siap mengintai musuh. Kisah Dzul Khuwaishirah yang Menuntut Rasulullah untuk AdilKemudian datanglah utusan dari Hawazin yang telah masuk Islam di Ji‘ranah. Mereka berbicara kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, kami memiliki keluarga dan kerabat. Kami telah tertimpa musibah yang tidak tersembunyi bagimu. Maka berilah kami sebagian dari apa yang Allah berikan kepadamu.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَبْنَاؤُكُمْ وَنِسَاؤُكُمْ أَحَبُّ إِلَيْكُمْ أَمْ أَمْوَالُكُمْ؟”“Anak-anak dan wanita kalian lebih kalian cintai atau harta kalian?”Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, engkau memberi kami pilihan antara harta dan keluarga kami, maka kami memilih agar wanita dan anak-anak kami dikembalikan kepada kami. Itu lebih kami cintai.”Beliau bersabda kepada mereka,“أَمَّا مَا كَانَ لِي وَلِبَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَهُوَ لَكُمْ”“Adapun yang menjadi bagianku dan bagian Bani Abdul Muththalib, maka itu untuk kalian.”Kemudian beliau berkata, “Jika aku telah selesai salat Zuhur bersama manusia, maka berdirilah kalian dan katakan: ‘Kami memohon syafaat kepada Rasulullah kepada kaum muslimin, dan kepada kaum muslimin agar membantu kami dalam urusan wanita dan anak-anak kami.’”Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai salat Zuhur bersama manusia, mereka pun berdiri dan menyampaikan apa yang diperintahkan kepada mereka. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَمَّا مَا كَانَ لِي وَلِبَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَهُوَ لَكُمْ”“Adapun yang menjadi bagianku dan bagian Bani Abdul Muththalib, maka itu untuk kalian.”Kaum Muhajirin berkata, “Apa yang menjadi bagian kami, maka itu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Al-Aqra‘ bin Habis berkata, “Adapun aku dan Bani Tamim, tidak.”‘Uyainah bin Hishn berkata, “Adapun aku dan Bani Fazarah, tidak.”Al-‘Abbas bin Mirdas berkata, “Adapun aku dan Bani Sulaim, tidak.”Namun Bani Sulaim berkata, “Bahkan, apa yang menjadi bagian kami, maka itu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“أَمَّا مَنْ تَمَسَّكَ مِنْكُمْ بِحَقِّهِ مِنْ هَذَا السَّبْيِ فَلَهُ بِكُلِّ إِنْسَانٍ سِتُّ فَرَائِضَ مِنْ أَوَّلِ سَبْيٍ أُصِيبَهُ”“Adapun siapa di antara kalian yang tetap mempertahankan haknya dari tawanan ini, maka baginya setiap satu orang (yang ia lepaskan) akan diganti dengan enam bagian dari tawanan pertama yang akan kami dapatkan.”Maka mereka pun mengembalikan anak-anak dan wanita kepada kaum tersebut.Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Ji‘ranah, sementara di tangan Bilal ada pakaian, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil darinya untuk dibagikan kepada manusia. Lalu orang itu berkata, “Wahai Muhammad, berlakulah adil!”Beliau bersabda,“وَيْلَكَ، وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ؟ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ”“Celakalah engkau! Siapa yang akan berlaku adil jika aku tidak berlaku adil? Sungguh engkau akan rugi dan merugi jika aku tidak berlaku adil.”Maka Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku membunuh orang munafik ini.”Beliau bersabda,“مَعَاذَ اللَّهِ، أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي”“Aku berlindung kepada Allah dari ucapan orang-orang bahwa aku membunuh para sahabatku.”Beliau melanjutkan,“إِنَّ هَذَا وَأَصْحَابَهُ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنْهُ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ”“Sesungguhnya orang ini dan pengikutnya membaca Al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari sasarannya.”Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan harta kepada orang-orang Quraisy dan kabilah Arab lainnya, sementara kaum Anshar tidak mendapatkan bagian, maka sebagian dari mereka merasakan sesuatu dalam hati mereka, hingga salah seorang dari mereka berkata, “Demi Allah, Rasulullah telah menemui kaumnya.”Maka Sa‘d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum Anshar merasakan sesuatu dalam hati mereka terhadap apa yang engkau lakukan, yaitu engkau membagi kepada kaummu dan memberikan pemberian besar kepada kabilah Arab, sementara kaum Anshar tidak mendapatkan bagian apa pun.”Beliau bersabda, “Di manakah posisi engkau dalam hal ini, wahai Sa‘d?”Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, aku hanyalah bagian dari kaumku.”Beliau bersabda, “Kumpulkanlah kaummu di tempat ini.”Maka Sa‘d mengumpulkan kaum Anshar di tempat tersebut. Setelah mereka berkumpul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di tengah mereka, memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu bersabda:“يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، مَا قَالَةٌ بَلَغَتْنِي عَنْكُمْ؟”“Wahai kaum Anshar, apa ucapan yang sampai kepadaku dari kalian?”Mereka menjawab, “Adapun orang-orang bijak di antara kami, wahai Rasulullah, mereka tidak mengatakan apa-apa. Namun sebagian dari kami yang masih muda berkata: ‘Semoga Allah mengampuni Rasulullah, beliau memberi kepada Quraisy dan meninggalkan kami, sementara pedang kami masih meneteskan darah mereka.’”Maka beliau bersabda,“أَلَمْ آتِكُمْ ضُلَّالًا فَهَدَاكُمُ اللَّهُ، وَعَالَةً فَأَغْنَاكُمُ اللَّهُ، وَأَعْدَاءً فَأَلَّفَ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ؟”“Bukankah dahulu kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi kalian petunjuk, kalian dalam keadaan miskin lalu Allah mencukupkan kalian, dan kalian saling bermusuhan lalu Allah menyatukan hati kalian?”Mereka menjawab, “Benar, Allah dan Rasul-Nya lebih banyak memberi karunia dan keutamaan.”Beliau bersabda,“أَلَا تُجِيبُونِي يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ؟”“Mengapa kalian tidak menjawabku, wahai kaum Anshar?”Mereka berkata, “Apa yang harus kami katakan, wahai Rasulullah? Bagi Allah dan Rasul-Nya segala karunia dan keutamaan.”Beliau bersabda,“أَمَا وَاللَّهِ لَوْ شِئْتُمْ لَقُلْتُمْ فَلَصَدَقْتُمْ وَلَصُدِّقْتُمْ: أَتَيْتَنَا مُكَذَّبًا فَصَدَّقْنَاكَ، وَمَخْذُولًا فَنَصَرْنَاكَ…”“Demi Allah, seandainya kalian mau, kalian bisa mengatakan—dan kalian benar—: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu; engkau datang dalam keadaan ditinggalkan, lalu kami menolongmu lalu kalian menolongku, aku datang dalam keadaan terusir lalu kalian melindungiku, dan dalam keadaan miskin lalu kalian mencukupkanku.”“Wahai kaum Anshar, apakah kalian merasakan sesuatu dalam hati kalian karena sedikit bagian dunia yang dengannya aku ingin melunakkan hati suatu kaum agar mereka masuk Islam, sementara aku menyerahkan keislaman kalian (tanpa diberi bagian dunia)? Tidakkah kalian ridha, wahai kaum Anshar, bahwa manusia kembali dengan kambing dan unta, sedangkan kalian kembali membawa Rasulullah ke tempat tinggal kalian?”“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya bukan karena hijrah, niscaya aku termasuk bagian dari kaum Anshar. Jika manusia menempuh suatu jalan dan kaum Anshar menempuh jalan lain, pasti aku akan menempuh jalan kaum Anshar. Ya Allah, rahmatilah kaum Anshar, anak-anak Anshar, dan cucu-cucu Anshar.”Maka kaum itu pun menangis hingga janggut mereka basah, dan mereka berkata, “Kami ridha dengan Rasulullah sebagai bagian kami dan pembagian yang kami terima.”Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pergi, dan mereka pun berpisah. Pelajaran yang Dipetik dari Perang Hunain dan Pengepungan ThaifPertama: Sesungguhnya Allah dengan taufik-Nya mengatur urusan hamba-hamba-Nya yang beriman, bersikap lembut kepada mereka, dan melindungi mereka dari tipu daya orang-orang kafir. Allah menjadikan apa yang Dia kehendaki sebagai harta rampasan bagi kaum muslimin.Tidaklah Rasulullah ﷺ keluar menghadapi kekuatan besar kaum Quraisy di Makkah, kecuali karena Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati kaum Hawazin, sehingga mereka berhenti bergerak untuk memerangi Rasulullah ﷺ. Bahkan Allah menjadikan mereka menghadapi Rasulullah ﷺ dengan membawa serta wanita-wanita dan harta-harta mereka berupa unta dan kambing yang jumlahnya hanya diketahui oleh Allah.Semua itu terjadi agar harta rampasan tersebut menjadi milik kaum muslimin, yang dengannya Rasulullah ﷺ dapat menggunakannya untuk melembutkan dan menautkan hati serta mengobati luka batin penduduk Makkah, setelah mereka mengalami kekalahan besar yang sangat melukai perasaan mereka.Pada fase dakwah ini, Rasulullah ﷺ sangat membutuhkan upaya penaklukan hati, sementara beliau sendiri tidak memiliki apa-apa, bahkan sampai harus meminjam baju besi dari Shafwan. Maka datanglah harta-harta rampasan dan kekayaan yang besar ini, lalu Rasulullah ﷺ menggunakannya untuk menundukkan hati para pemimpin yang sebelumnya telah “hilang akal sehatnya” (karena kebencian dan permusuhan).Mahasuci Allah, Sang Pengatur segala urusan dan Pembolak-balik hati sesuai kehendak-Nya. Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.Kedua: Peristiwa Rasulullah ﷺ meminjam baju besi dari Shafwan bin Umayyah mengandung beberapa pelajaran, di antaranya:Keterbatasan sarana material yang dimiliki pasukan Rasulullah ﷺ, hingga beliau harus meminjam senjata dari seorang musyrik.Bolehnya seorang imam atau pemimpin meminjam senjata milik orang musyrik untuk memerangi musuh. Peristiwa ini termasuk salah satu bentuk isti‘ānah (meminta bantuan).Barang pinjaman (al-‘āriyah) itu bersifat tanggungan, meskipun barang yang dipinjam tersebut adalah milik orang musyrik, meski dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha.Ketiga: Malik an-Nadhri mengutus seorang mata-mata sebagai pemimpin pasukan Tsaqif dan Hawazin agar ia mengamati langsung keadaan Rasulullah ﷺ dan berita tentang pasukan kaum muslimin.Ketika mata-mata itu kembali kepada Malik, terlihat jelas pada wajahnya tanda-tanda ketakutan dan kegentaran. Maka Malik bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami melihat para lelaki yang berpakaian putih, menaiki kuda-kuda hitam pekat. Demi Allah, kami sama sekali tidak mampu bertahan, dan apa yang kami alami benar-benar tidak terbayangkan.”Malik pun tidak mampu menolak atau menghalangi mereka dari tujuan dan niat tersebut.Peristiwa ini merupakan salah satu bentuk rasa takut (ar-ru‘b) yang Allah berikan sebagai pertolongan kepada Rasul-Nya ﷺ dan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا ﴾“Dan Dia menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka; sebagian mereka kalian bunuh dan sebagian yang lain kalian tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)Dan Allah Ta‘ala juga berfirman:﴿ سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا ۖ وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ ۖ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ ﴾“Akan Kami tanamkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan dalil tentang itu. Tempat mereka adalah neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang zalim.” (QS. Ali ‘Imran: 151)Dan Rasulullah ﷺ bersabda:«نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ»“Aku ditolong dengan rasa takut (yang ditanamkan ke dalam hati musuh).” (HR. Bukhari dan Muslim)Keempat: Ketika ada seorang laki-laki dari kaum muslimin berkata, “Kita tidak akan dikalahkan hari ini karena jumlah yang sedikit,” Rasulullah ﷺ tidak menyukai ucapan tersebut, karena beliau mengetahui akibat buruk dari perkataan semacam itu. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran sebagai berikut:1. Ucapan satu orang saja, sebagaimana disebutkan oleh para ahli sirah, bisa menjadi sebab datangnya musibah besar yang menimpa seluruh pasukan secara keseluruhan. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya waspada agar tidak mendatangkan bencana bagi komunitasnya atau keluarganya akibat keburukan yang muncul dari perbuatannya atau ucapannya.2. Meskipun hanya satu kalimat, namun dengan sebab itulah bencana terjadi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:«إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ» “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu kata, yang ia tidak memperhatikan akibatnya, lalu karena kata itu ia tergelincir ke dalam neraka sejauh jarak antara timur.” (HR. Bukhari dan Muslim)3. Ini menunjukkan kelemahan tabiat manusia dan cepatnya ia tertipu oleh rasa bangga. Seseorang bisa saja, ketika melihat banyaknya jumlah pasukan, merasa kagum, tertipu oleh kekuatan semu itu, lalu membesarkan dirinya dan merasa yakin akan kemenangan. Ia pun mengucapkan kalimat tersebut, yang muncul dari kelemahan manusiawi yang kadang menimpa seorang hamba dalam kondisi tertentu, ketika ia tidak selalu menghadirkan rasa takwa kepada Allah, pengawasan-Nya, ketundukan kepada-Nya, serta kesadaran atas nikmat-nikmat-Nya.4. Besarnya bahaya perkara ini, karena berkaitan langsung dengan akidah. Seorang muslim, di antara bentuk ibadah terbesar yang ia lakukan, adalah tunduk kepada Allah, bersyukur atas nikmat-Nya, dan waspada dari kelalaian dalam hal ini. Hendaknya ia menyadari bahwa rasa ujub (bangga diri) dan masuknya kesombongan ke dalam hati termasuk dosa-dosa besar yang dapat membinasakan.5. Besarnya bahaya perkara ini juga ditunjukkan oleh hukuman yang terjadi secara langsung, serta ayat-ayat yang turun untuk menegur umat agar mereka mengambil pelajaran untuk masa depan mereka. Karena itu, ucapan semacam ini tidak boleh dianggap remeh. Abu Bakar al-Jazā’irī rahimahullah berkata dalam penjelasannya: “Haramnya merasa kagum terhadap diri sendiri, terhadap amal, atau terhadap kekuatan. Sebab, akibat dari sikap tersebut adalah kekalahan kaum mukminin pada awal pertempuran mereka melawan musuh.”6. Pada peristiwa ini juga terdapat pelajaran akidah yang sangat penting. Jika Perang Badar telah menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang sedikit tidak membahayakan mereka di hadapan musuh-musuh mereka apabila mereka bersabar, bertakwa, dan hati mereka bergantung kepada Allah Ta’ala, maka Perang Hunain menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang banyak pun tidak akan memberi manfaat sedikit pun, apabila hati mereka tidak bergantung kepada Allah Ta’ala. Perang Hunain telah menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang banyak pun tidak akan memberi manfaat apa pun, apabila hati mereka tidak bergantung kepada Allah.Kelima: Dalam ucapan sebagian orang yang diucapkan di hadapan Rasulullah ﷺ: “Jadikanlah untuk kami dzātu anwāṭ sebagaimana mereka memiliki dzātu anwāṭ,” terdapat beberapa pelajaran penting, di antaranya:Orang-orang yang mengucapkan kalimat tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh perawi hadits Abu Wāqid al-Laitsī radhiyallāhu ‘anhu, adalah orang-orang yang baru saja keluar dari kekafiran. Mereka termasuk orang-orang yang baru masuk Islam setelah penaklukan Makkah atau sesudahnya, dan bukan dari kalangan sahabat yang telah lebih dahulu masuk Islam. Karena itu, perkara seperti ini tidak mungkin muncul dari para sahabat terdahulu, dan tidak pantas disangka atau dituduhkan kepada mereka. Semoga Allah Ta‘ālā meridai mereka semua.Kewajiban bersikap sangat waspada terhadap kesyirikan. Orang-orang tersebut tidak bermaksud menggantungkan diri kepada pohon sebagaimana praktik orang-orang musyrik, namun Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ucapan mereka serupa dengan ucapan para pengikut Nabi Musa, yaitu: “Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan.” Maka perhatikanlah bagaimana cara melakukan tabarruk (mencari berkah), memohon keberkahan, beribadah, dan mendekatkan diri kepada yang diberkahi. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam sebuah perjalanan, lalu kami kehabisan air. Rasulullah ﷺ bersabda:«اطْلُبُوا فَضْلَةً مِنْ مَاءٍ»“Carilah sisa air.”Lalu didatangkan sebuah bejana yang di dalamnya terdapat sedikit air. Rasulullah ﷺ memasukkan tangannya ke dalam bejana itu, kemudian bersabda:«حَيَّ عَلَى الطَّهُورِ الْمُبَارَكِ، وَالْبَرَكَةُ مِنَ اللَّهِ» “Marilah kepada air bersuci yang diberkahi, dan keberkahan itu berasal dari Allah.” Yakni, keberkahan tidak diminta kecuali dari Allah semata, tidak dari selain-Nya. Dialah Allah —dengan mematahkan anggapan keliru— tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia.Pintu tabarruk termasuk pintu terbesar yang melaluinya kesyirikan masuk ke tengah manusia. Awalnya, orang-orang mengagungkan para ulama dan orang-orang saleh, lalu meminta doa kepada mereka. Setelah itu, mereka mulai mengusap-usap (tabarruk) kepada mereka, dan meyakini bahwa para tokoh tersebut memiliki kemampuan memberi keberkahan karena kesalehan dan kedudukan mereka di sisi Allah. Ketika mereka terus-menerus meminta keberkahan kepada orang-orang tersebut, muncullah praktik tabarruk kepada para wali dan orang-orang saleh, kemudian tabarruk kepada kuburan, bahkan berkembang menjadi tabarruk kepada pepohonan dan batu-batuan. Semua ini merupakan penyimpangan yang besar.Meminta Keberkahan kepada Allah SemataKeberkahan diminta dari Zat yang memilikinya, bukan dari yang tidak memilikinya. Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau sangat mencintainya dan berharap keberkahan ada di dalamnya, lalu beliau berdoa kepada Allah Subḥānahu. Dalam hadits Abu Sa‘īd al-Khudrī radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:«اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْ مَعَ الْبَرَكَةِ بَرَكَتَيْنِ» (1)“Ya Allah, berkahilah kota Madinah kami. Ya Allah, berkahilah sha‘ kami. Ya Allah, berkahilah mudd kami. Ya Allah, berkahilah kota Madinah kami. Ya Allah, jadikanlah keberkahan itu berlipat ganda.”Beliau berdoa agar Allah memberikan keberkahan pada Madinah, makanan pokok mereka, dan takaran mereka. Maka, jika Rasulullah ﷺ sendiri meminta keberkahan dari Allah, sudah seharusnya kita tidak meminta keberkahan kecuali kepada Allah.Adapun meminta keberkahan kepada selain-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang meminta keberkahan dengan menggantungkan senjata mereka pada pohon, maka perbuatan itu sama dengan ucapan “Jadikanlah untuk kami sesembahan”, dan berarti menjadikan tandingan bagi Allah.Maka orang-orang seperti ini harus diberi peringatan keras, diarahkan untuk kembali kepada Allah, dan dicegah dari mencari keberkahan dengan cara yang menyimpang, sebagaimana mereka juga dicegah dari penyimpangan dalam seluruh bentuk ibadah lainnya. Nasihat Mengenai Ngapal Berkah (Tabarruk)Maka seharusnya orang-orang seperti ini sadar dan kembali kepada Allah. Hendaknya mereka bersungguh-sungguh dalam mencari keberkahan hanya kepada-Nya, sebagaimana mereka bersungguh-sungguh dalam berbagai bentuk ibadah lainnya.1. Perhatikan apa yang diminta oleh mereka kepada Rasulullah ﷺ.Mereka berkata, “Jadikanlah untuk kami Dzātu Anwāṭ sebagaimana mereka memiliki Dzātu Anwāṭ.”Dalam Fathul Majīd dijelaskan bahwa maksudnya, mereka tidak meminta agar dibuatkan sesembahan selain Allah—karena mereka tentu lebih paham dan lebih mulia dari itu—tetapi mereka hanya meminta sebuah pohon yang diberi izin oleh Nabi untuk mereka bertabarruk (mengambil berkah darinya), dengan cara menggantungkan senjata-senjata mereka di sana, tanpa melakukan shalat atau sedekah untuknya.Namun Nabi ﷺ menjelaskan bahwa permintaan mereka untuk bertabarruk tersebut—meskipun tidak disertai shalat atau sedekah—tetap termasuk syirik itu sendiri. Di dalamnya terdapat bantahan terhadap syubhat kaum musyrik di zaman ini yang mengira bahwa apa yang mereka lakukan berupa tabarruk dan pengagungan adalah sesuatu yang tidak mengapa.2. Apa yang mereka minta bukanlah syirik kecil.Seandainya Nabi ﷺ mengabulkannya, tentu itu serupa dengan ucapan Bani Israil kepada Nabi mereka, “Jadikanlah untuk kami sesembahan.” Demi Allah, itu termasuk syirik besar. Namun Bani Israil tidak langsung dikafirkan karena permintaan tersebut, sebab mereka baru saja meninggalkan kekafiran dan masuk ke dalam Islam. Selain itu, mereka tidak sampai melakukannya dan tidak memaksakan permintaan tersebut, melainkan hanya sekadar meminta kepada Nabi ﷺ.3. Kaidah bahwa ibadah itu harus berdasarkan perintah syariat sudah tertanam dalam diri para sahabat.Para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang mengajukan permintaan tersebut tidak serta-merta melakukannya sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Mereka tidak langsung mengamalkannya, tetapi terlebih dahulu mendatangi Rasulullah ﷺ. Sebab mereka mengetahui bahwa setiap ibadah harus memiliki landasan syariat sebelum diamalkan, agar seseorang tidak terjatuh ke dalam perbuatan bid’ah, yaitu beribadah kepada Allah tanpa dasar yang telah Dia tetapkan.Keenam: Wajib berhati-hati dari menyerupai orang-orang kafir.Hal ini karena Rasulullah ﷺ telah menjelaskan hal tersebut dalam sabdanya:لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَذْوَ الْقُذَّةِ بِالْقُذَّةِ“Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, setahap demi setahap.”Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim waspada dan tidak meniru orang-orang kafir. Bahkan, yang menjadi kewajibannya adalah berhati-hati dari menyerupai mereka dalam seluruh urusan mereka, serta mewaspadai ajakan untuk mengikuti hawa nafsu dan penyimpangan umat-umat terdahulu.Menyerupai orang-orang kafir juga termasuk salah satu sebab terbesar munculnya berbagai bid’ah. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa sikap menyerupai orang kafir itulah yang mendorong Bani Israil untuk meminta kepada Nabi Musa agar dibuatkan bagi mereka sesembahan sebagaimana kaum kafir memiliki sesembahan yang mereka sembah.Demikian pula, sikap menyerupai orang kafir itulah yang mendorong sebagian sahabat Nabi Muhammad ﷺ—yang saat itu masih baru masuk Islam—untuk meminta agar dibuatkan bagi mereka sebuah pohon yang mereka jadikan tempat mencari berkah selain Allah.Dan inilah kenyataan yang terjadi pada hari ini. Sebagian kaum muslimin meniru orang-orang kafir dalam melakukan bid’ah dan perbuatan syirik. Salah satu sebab paling menonjol dari penyimpangan tersebut adalah sikap menyerupai orang-orang kafir. Ketujuh: Mengambil pelajaran tentang pentingnya optimisme (tafā’ul).Ketika Rasulullah ﷺ mengutus ‘Abdullah bin Abī Ḥadrad radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu dan ayahnya untuk mendatangi pasukan Tsaqīf, lalu ia kembali dan mengabarkan bahwa ia melihat kaum wanita, keluarga, anak-anak, serta hewan ternak mereka ikut bersama pasukan itu—yang maksud mereka adalah untuk menunjukkan keteguhan dan agar tidak lari saat pertempuran—maka hal itu tentu merupakan sesuatu yang menakutkan bagi pasukan yang menghadapinya.Namun Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda, “Itu adalah harta rampasan kaum muslimin esok hari, insya Allah.” Dari peristiwa ini kita mengambil pelajaran tentang sikap optimis.Sepanjang kehidupan Rasulullah ﷺ dipenuhi dengan optimisme. Dalam kondisi apa pun, beliau selalu melihat dari sisi yang membawa harapan. Beliau tidak terpengaruh oleh kumpulan pasukan Tsaqīf, bahkan mengucapkan kata-kata optimis yang didengar oleh para sahabat radhiyallāhu ‘anhum. Ucapan itu membangkitkan harapan, menyemangati jiwa, dan meneguhkan hati.Sebab jiwa manusia, ketika diingatkan pada kekuatan dan jumlah besar musuh, bisa saja merasa gentar. Namun ketika diberi harapan tentang kemenangan dan ganimah yang besar, maka ia akan berani dan maju. Apalagi ketika gambaran tentang harta rampasan itu seakan-akan sudah tampak di depan mata.Sikap seperti ini juga tampak pada peristiwa ketika Rasulullah ﷺ kembali dari mendatangi Banī Qurayẓah pada hari Perang Aḥzāb. Saat itu para sahabat—di antaranya Sa‘d bin Mu‘ādz, Sa‘d bin ‘Ubādah, ‘Abdullah bin Rawāḥah, dan Khawwāt bin Jubair radhiyallāhu ‘anhum—yang diutus untuk memastikan apakah Banī Qurayẓah telah melanggar perjanjian, kembali dan mengabarkan bahwa mereka benar-benar telah mengkhianati perjanjian.Maka Rasulullah ﷺ mengangkat kepalanya dan bersabda:«أَبْشِرُوا يَا مَعْشَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِنَصْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَعَوْنِهِ»“Bergembiralah wahai kaum mukminin, dengan pertolongan dan bantuan Allah Ta‘ālā.”Ketika keadaan semakin sulit dan musuh semakin berkumpul, hati pun semakin bergantung kepada Allah, dan pertolongan pun datang. Rasulullah ﷺ sangat perhatian pada hari itu untuk menebarkan ketenangan dan optimisme di hadapan para sahabat radhiyallāhu ‘anhum. Kedelapan: Di antara pelajaran dari serangan mendadak orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin, kekacauan barisan mereka, lalu kekalahan yang mereka alami — dan tidak ada yang tetap tegar bersama Rasulullah ﷺ kecuali sedikit dari kalangan mukminin — terdapat pelajaran praktis bagi kaum Muslimin di setiap zaman dan tempat: janganlah kalian tertipu oleh kekuatan kalian dan jangan pula oleh jumlah yang kalian miliki.Sebagian kaum Muslimin ketika itu berkata, “Hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah yang sedikit.” Namun ternyata mereka mengalami kekalahan pada awal pertemuan dengan musuh. Peristiwa ini menjadi pendidikan dan pembinaan bagi hati agar tidak berpaling kepada selain Allah. Jika hati berpaling kepada selain-Nya, maka akibatnya akan seperti yang terjadi pada pasukan Hunain di awal pertempuran.Allah Ta’ala berfirman:لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ“Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak medan peperangan, dan (ingatlah) pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak membuat kalian bangga, tetapi jumlah itu tidak memberi manfaat sedikit pun bagi kalian. Bumi yang luas terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berbalik ke belakang dengan lari tunggang-langgang.” (QS. At-Taubah: 25)Setelah pelajaran itu benar-benar terwujud dan pesan pun sampai, manusia memahami secara nyata bahwa kekuatan dan jumlah mereka tidak akan bermanfaat jika Allah tidak menolong mereka. Jika Allah Jalla Sya’nuhu tidak memberikan pertolongan, maka tidak akan turun kemenangan dari sisi-Nya.Allah — Mahatinggi dan Mahamulia — tidak akan menyia-nyiakan hamba-hamba-Nya yang beriman. Dialah yang berperang dengan pertolongan-Nya, anugerah-Nya, dan kebaikan-Nya.Sebagaimana firman-Nya:وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ“Dan menjadi kewajiban atas Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum: 47)Namun setelah Allah memperlihatkan kepada kaum mukminin secara nyata keadaan mereka tanpa pertolongan-Nya, barulah pertolongan itu datang dari sisi Allah. Allah Ta’ala berfirman:ثُمَّ أَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 26)Adapun keadaan kita hari ini — realitas kita tercerai-berai dan hati kita belum bergantung kepada Allah sebagaimana mestinya — maka kita perlu memahami pelajaran ini dengan baik agar keadaan kita menjadi lurus. Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.Kesembilan: Firman Allah Ta’ala: “Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak medan peperangan, dan (ingatlah) pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak membuat kalian bangga, tetapi jumlah itu tidak memberi manfaat sedikit pun bagi kalian. Bumi yang luas terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berbalik ke belakang dengan lari tunggang-langgang. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 25–26)Ath-Thahir bin ‘Asyur rahimahullah berkata, “Penyandaran pertolongan secara tegas kepada Allah Ta’ala bertujuan untuk menampakkan tanda kecintaan Allah, meskipun di dalamnya terdapat sebagian kepentingan dunia. Di dalamnya terdapat bagian akhirat, dan juga bagian dunia berupa kemenangan yang menguatkan persatuan, menghasilkan ghanimah, serta melindungi umat dari serangan musuh-musuhnya. Semua itu termasuk karunia Allah, karena mereka melihat kecintaan-Nya dalam urusan-urusan dunia mereka.”Beliau juga berkata, “Penyebutan secara khusus hari Hunain di antara hari-hari peperangan lainnya, karena kaum Muslimin sempat mengalami kekalahan pada awalnya, kemudian kemenangan kembali kepada mereka. Penyebutan ini mengandung pelajaran bahwa kemenangan diraih ketika menaati perintah Allah dan Rasul-Nya ﷺ, sedangkan kekalahan terjadi ketika lebih mengutamakan keuntungan dunia yang segera daripada ketaatan.”Kesepuluh: Seruan Al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhu kepada para sahabat Baiat Syajarah, juga kepada kaum Muhajirin dan Anshar, lalu kembalinya mereka.Tidak lama setelah peristiwa itu, para pasukan yang sempat mundur kembali berkumpul di sekitar Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa larinya mereka tidaklah jauh. Itu hanyalah kekacauan dan kepanikan sesaat. Mereka masih berada cukup dekat sehingga dapat mendengar suara panggilan.Kemudian terjadi pendidikan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, lalu datang keteguhan yang bersumber dari Allah dan pertolongan-Nya. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama mengatakan bahwa dalam hadis ini terdapat dalil bahwa mundurnya mereka tidaklah jauh dan tidak semua pasukan benar-benar melarikan diri. Yang mundur hanyalah orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, dari kalangan penduduk Makkah yang baru masuk Islam (mualaf) dan orang-orang musyrik Makkah yang belum benar-benar beriman.Kekalahan itu datang secara tiba-tiba. Mereka dihujani anak panah sekaligus dan bercampur dengan sebagian penduduk Makkah yang imannya belum kokoh. Di antara mereka ada wanita dan anak-anak yang ikut keluar untuk mencari harta rampasan, sehingga mereka berada di barisan depan. Ketika panah-panah beterbangan, mereka pun berbalik dan lari. Namun akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ketenangan kepada kaum mukminin, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.”Kesebelas: Ketika Al-‘Abbas memanggil para sahabat Baiat Syajarah dan menyeru kaum Anshar, mereka segera menyambut dan kembali kepada Rasulullah ﷺ. Bahkan sebagian mereka tidak mampu membalikkan unta yang ditungganginya, sehingga ia turun dan meninggalkannya, lalu kembali kepada Rasulullah ﷺ dengan senjatanya.Hal ini menegaskan kewajiban untuk segera menyambut seruan Rasulullah ﷺ dan mengingatkan kita pentingnya bersegera memenuhi perintah beliau begitu kita mendengar dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah.Kedua belas: Kita melihat bahwa Rasulullah ﷺ, yang sangat lembut dan penyayang terhadap orang-orang beriman, tidak mencela seorang pun dari mereka yang sempat mundur. Ketika Ummu Salim radhiyallahu ‘anha berkata tentang orang-orang yang lari, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mencukupi dan memperbaiki keadaan.”Artinya, beliau tidak menegur mereka dengan celaan, karena peristiwa itu telah berlalu dan tidak ada jalan untuk mengulanginya, terlebih dalam kondisi perang yang memang menimbulkan guncangan jiwa. Rasulullah ﷺ memuliakan para sahabatnya dengan tidak mengungkit kesalahan itu. Demikianlah sikap yang baik: memaafkan, melapangkan dada, dan tidak berlebihan dalam menyalahkan seorang Muslim atas kesalahan yang sudah tidak mungkin diperbaiki. Seorang Muslim hendaknya memberi ruang bagi sebagian uzur dalam hal semacam itu.Ketiga belas: Disyariatkannya doa dan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah yang dilakukan Rasulullah ﷺ, khususnya ketika keadaan menjadi genting. Pada Perang Hunain, beliau memohon pertolongan kepada Rabb-nya dan bersungguh-sungguh dalam doa agar kaum Muslimin diberi kemenangan atas orang-orang musyrik.Pertolongan itu datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kembalinya Rasulullah ﷺ kepada Rabb-nya dalam situasi yang sulit tersebut menjadi faktor paling kuat dalam mengubah jalannya pertempuran sehingga berpihak kepada kaum Muslimin.Keempat belas: Disyariatkannya berdoa dan mengarahkan diri kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ; beliau menempuh jalan tersebut, terlebih ketika keadaan menjadi sulit. Saat itu beliau memohon kepada Rabb-nya dan bersungguh-sungguh dalam doa agar kaum Muslimin memperoleh kemenangan atas kaum musyrikin.Pertolongan itu datang dari sisi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Ketika Rasulullah ﷺ menghadapkan diri kepada Rabb-nya dalam situasi yang berat tersebut, hal itu menjadi faktor paling kuat yang mengubah jalannya peperangan sehingga berpihak kepada kaum Muslimin.Kelima belas: Ketika Rasulullah ﷺ melihat seorang wanita yang terbunuh, beliau melarang pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak. Inilah salah satu prinsip peperangan dalam Islam. Ini juga termasuk wasiat Rasulullah ﷺ yang terus berlaku bagi pasukan kaum Muslimin.Sebagaimana disebutkan dalam Musnad Imam Aḥmad — semoga Allah merahmatinya — dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā, ia berkata:“Apabila Rasulullah ﷺ mengirim pasukan, beliau bersabda,‘Keluarlah kalian dengan menyebut nama Allah. Berperanglah di jalan Allah melawan orang yang kafir kepada Allah. Jangan berkhianat, jangan melampaui batas, jangan melakukan mutilasi, dan jangan membunuh anak-anak, serta jangan pula membunuh para penghuni tempat ibadah.’Ketika beliau mengutus pasukan untuk memerangi Ibnu Abī al-Ḥuqayq dan para sahabatnya di daerah Khaybar, az-Zuhrī berkata:Ibnu Ka‘b bin Mālik mengabarkan kepadaku dari pamannya — radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu — bahwa Nabi ﷺ ketika mengutus mereka kepada Ibnu Abī al-Ḥuqayq di Khaybar, beliau melarang mereka membunuh wanita dan anak-anak.Dengan demikian, peperangan dalam Islam adalah peperangan yang memiliki akhlak. Bahkan ketika menghadapi musuh yang memerangi kaum Muslimin, tetap tidak boleh ada kezaliman, tidak boleh melampaui batas, tidak boleh melakukan kerusakan, dan tidak boleh seseorang menanggung kesalahan orang lain.Hal ini juga menunjukkan tingginya kedudukan hak asasi manusia dalam Islam, meskipun orang tersebut adalah seorang kafir. Allah Ta‘ālā berfirman:۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’: 70)Islam menghormati manusia sebagai manusia, apa pun agama dan keyakinannya, bahkan dalam keadaan perang. Maka bagaimana lagi dalam keadaan damai dan kehidupan bermasyarakat?Peperangan dalam Islam adalah perang yang mulia. Seorang Muslim tidak meninggalkan prinsip-prinsip luhur tersebut. Oleh karena itu, wanita dan anak-anak tidak memiliki peran dalam peperangan, sehingga mereka harus dilindungi dan tidak boleh dibunuh, kecuali jika seorang wanita benar-benar ikut serta dalam peperangan. Ia juga tidak menanggung dosa orang lain.Barang siapa menjaga hak perempuan secara khusus dan hak manusia secara umum dalam keadaan perang dan pertempuran, tentu ia lebih layak lagi menjaga hak-hak manusia dalam keadaan damai.Islam telah mengangkat tinggi hak manusia hingga kita melihat dengan jelas bahwa hak-hak manusia dalam Islam merupakan salah satu poros tujuan syariat Islam. Sementara itu, seluruh dunia menyaksikan berbagai pelanggaran terhadap hak kaum Muslimin yang terjadi di berbagai tempat, bahkan di sebagian masyarakat yang mengaku modern: terjadi pembunuhan massal, penghancuran kota-kota dan rumah-rumah penduduk, tanpa membedakan antara wanita, anak-anak, orang tua, dan para pejuang yang terlibat dalam peperangan.Padahal Rasulullah ﷺ pernah melewati seorang wanita yang terbunuh pada waktu perang — hanya satu orang wanita saja — lalu beliau mengingkari perbuatan tersebut dan melarang pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak.Karena itu para ulama fikih menyatakan:“Diharamkan membunuh wanita dan anak-anak selama mereka tidak ikut berperang.”Keenam belas: Khalid bin Al-Walid radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu termasuk orang yang ikut serta dalam Perang Hunain. Ketika itu beliau berada di garis depan, namun ia mengalami luka. Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui hal itu, beliau segera menuju kemahnya untuk menanyakan keadaannya. Setelah menemukannya, beliau menanyakan kondisinya, melihat lukanya, dan mengobatinya.Padahal Rasulullah ﷺ memimpin pasukan yang besar, namun beliau tetap memeriksa keadaan para sahabatnya, menanyakan kabar mereka, dan memperhatikan mereka satu per satu.Kemudian Khalid — meskipun mengalami luka-luka — tetap ikut serta dalam Perang Thaif. Siapa pun yang membaca kisah ini akan merasa kagum melihat bagaimana Khalid radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu tetap melanjutkan perjalanan menuju Thaif dan turut serta dalam pengepungan kota tersebut. Ia tidak ingin kehilangan pahala jihad sedikit pun, meskipun ia mengalami luka yang sebenarnya bisa menjadi alasan baginya untuk tidak ikut.Hal ini mengingatkan kita pada peristiwa setelah salah satu peperangan, ketika Rasulullah ﷺ mengejar orang-orang kafir Quraisy hingga sampai di Hamrā’ al-Asad. Saat itu para sahabat radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhum juga mengalami luka yang besar, namun mereka tidak tertinggal dan tetap ikut bersama beliau. Tentang mereka turun firman Allah Ta‘ālā:ٱلَّذِينَ ٱسْتَجَابُوا۟ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ مِنۢ بَعْدِ مَآ أَصَابَهُمُ ٱلْقَرْحُ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ مِنْهُمْ وَٱتَّقَوْا۟ أَجْرٌ عَظِيمٌ“(Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.” (QS. Ali Imran: 172)Ketujuh belas: Ketika Rasulullah ﷺ tidak mampu menaklukkan benteng Thaif, dikatakan kepada beliau, “Doakanlah kebinasaan bagi mereka.” Namun beliau justru mendoakan agar mereka mendapat hidayah dan tidak mendoakan keburukan bagi mereka. Inilah bentuk sempurna dari kasih sayang dan rahmat beliau ﷺ.Baca juga: Sudahlah Maafkanlah Dia Agar Allah Memaafkan KitaPadahal penduduk Thaif telah menyakiti Rasulullah ﷺ dan mengusir beliau ketika datang mengajak mereka kepada Allah. Bahkan mereka melempari beliau dengan batu. Namun demikian, beliau tetap mendoakan agar mereka mendapat hidayah, padahal mereka adalah musuh-musuh Allah. Hal ini menunjukkan besarnya rasa sayang dan kepedulian beliau ﷺ kepada umatnya.Allah pun mengabulkan doa beliau. Setelah itu mereka datang dalam keadaan telah memeluk Islam tanpa melalui penderitaan atau kesulitan.Demikianlah seharusnya seorang muslim: ia menasihati karena Allah dan berusaha menjauhi sikap membalas dendam terhadap dirinya sendiri. Ia tidak mendoakan keburukan bagi orang yang memusuhinya, tetapi justru mendoakan agar musuhnya mendapat hidayah kepada Islam.Jika engkau berselisih dengan seseorang—baik orang dekat maupun jauh—maka yang lebih utama adalah mendoakan agar Allah memberinya hidayah. Dengan begitu engkau memperoleh pahala, mampu mengalahkan godaan setan, hawa nafsu, dan ego diri, serta kedudukanmu di sisi Allah akan terangkat. Perbuatan ini juga membersihkan hati dan memperbaiki batin. Namun sikap seperti ini sering kali jarang kita lakukan dalam banyak keadaan.Baca juga: Memaafkan Seperti Allah dengan Tetap MelupakanKedelapan belas: Jika ada seseorang yang berdalil dengan hadits ini ketika Rasulullah ﷺ diminta untuk mendoakan kebinasaan bagi kabilah Tsaqif, lalu beliau justru berkata:اللَّهُمَّ اهْدِ ثَقِيفًا“Ya Allah, berilah hidayah kepada Tsaqif.”Kemudian orang itu menyimpulkan bahwa tidak boleh mendoakan keburukan bagi orang kafir, karena Rasulullah ﷺ tidak mendoakan kebinasaan bagi Tsaqif dan malah mendoakan hidayah bagi mereka, serta tidak memenuhi permintaan sebagian sahabat—semoga Allah meridai mereka—yang meminta agar didoakan kebinasaan bagi mereka.Pendapat ini juga dikuatkan oleh hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata: Ath-Thufail bin ‘Amr datang bersama para sahabatnya dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kabilah Daus telah kafir dan menolak. Maka doakanlah kebinasaan bagi mereka.” Lalu dikatakan, “Binasalah Daus.” Namun Rasulullah ﷺ justru berdoa:اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ“Ya Allah, berilah hidayah kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka (kepada Islam).”Jawabannya adalah bahwa dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga terdapat hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ pernah berdoa:اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ، وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ“Ya Allah, perkeraslah hukuman-Mu atas kabilah Mudhar, dan jadikanlah bagi mereka tahun-tahun paceklik seperti tahun-tahun yang terjadi pada masa Nabi Yusuf.”Karena itu, yang benar adalah menggabungkan kedua jenis hadits tersebut. Imam Al-Bukhari memasukkan hadits tentang doa untuk kabilah Daus dalam Shahih-nya pada bab “Doa bagi orang-orang musyrik agar mendapatkan hidayah dan agar hati mereka dilunakkan.”Baca juga: Karamah Said bin Zaid yang Doanya Mustajab Hingga Seorang Wanita Zalim CelakaIbnu Hajar rahimahullah menjelaskan tentang judul bab tersebut: kata “liya’tilafahum” (agar hati mereka dilunakkan) menunjukkan bahwa Nabi ﷺ terkadang mendoakan keburukan bagi mereka dan terkadang mendoakan kebaikan bagi mereka. Keadaan pertama terjadi ketika kejahatan mereka semakin kuat dan gangguan mereka semakin besar. Adapun keadaan kedua adalah ketika diharapkan mereka akan mendapatkan hidayah dan hati mereka dapat dilunakkan, sebagaimana yang terjadi pada kisah kabilah Daus.Baca juga: Karamah Wali, Luar Biasanya Doa Sa’ad bin Abi WaqqashIbnu Al-Mulaqqin rahimahullah berkata: Nabi ﷺ sangat menyukai masuknya manusia ke dalam Islam. Karena itu beliau tidak tergesa-gesa mendoakan keburukan bagi mereka selama masih ada harapan mereka akan menerima Islam. Bahkan beliau mendoakan kebaikan bagi orang yang diharapkan mau menerima dakwah.Adapun terhadap orang yang tidak lagi diharapkan keislamannya dan dikhawatirkan bahaya serta kekuatannya, maka beliau mendoakan keburukan atasnya. Sebagaimana beliau pernah mendoakan agar mereka ditimpa tahun-tahun paceklik seperti masa Nabi Yusuf. Beliau juga mendoakan keburukan bagi para pemuka Quraisy karena banyaknya gangguan dan permusuhan mereka. Doa itu pun dikabulkan terhadap mereka, hingga mereka terbunuh dalam Perang Badar. Sebagaimana banyak pula orang yang dahulu beliau doakan agar mendapat hidayah, kemudian benar-benar masuk Islam.Hal ini memberi petunjuk kepada kita tentang satu prinsip penting dalam memahami sirah Nabi ﷺ. Agar kita dapat mengambil pelajaran yang benar dari peristiwa-peristiwa dalam sirah, kita perlu mengumpulkan berbagai kejadian, membandingkannya satu sama lain, lalu mengambil kesimpulan dari keseluruhannya.Sebab, sebagian peristiwa bisa saja berkaitan dengan keadaan tertentu, sementara yang lain berkaitan dengan keadaan yang berbeda. Ada yang bersifat khusus dan ada yang bersifat umum. Ada pula yang terjadi lebih dahulu dan ada yang terjadi kemudian, dan seterusnya.Kesembilan belas: Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hikmah ditundanya penaklukan Thaif:Hikmah Ilahi menghendaki agar penaklukan itu ditunda secara sengaja supaya mereka tidak langsung dibinasakan dengan peperangan. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa ketika Nabi ﷺ keluar dari Thaif—setelah beliau mengajak mereka kepada Allah dan meminta perlindungan agar dapat menyampaikan risalah Rabbnya—peristiwa itu terjadi setelah wafatnya pamannya, Abu Thalib. Namun mereka justru menolak dan mendustakan beliau.Beliau pun kembali dalam keadaan sangat sedih. Beliau tidak dapat beristirahat kecuali ketika sampai di Qarn Ats-Tsa‘alib. Di sana beliau diliputi awan. Kemudian Jibril memanggilnya bersama malaikat penjaga gunung. Malaikat itu berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Rabbmu menyampaikan salam kepadamu. Dia telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan bagaimana mereka menolakmu. Jika engkau menghendaki, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung ini.”Namun Rasulullah ﷺ menjawab, “Tidak. Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”Ucapan beliau ini menunjukkan bahwa beliau berharap benteng mereka tidak dibuka saat itu sehingga mereka tidak dibinasakan. Penaklukan itu ditunda agar mereka datang kemudian dalam keadaan telah memeluk Islam, yaitu pada bulan Ramadhan pada tahun berikutnya.Kedua puluh: Asy-Syami rahimahullah menjelaskan hikmah pemberian harta kepada orang-orang yang dilunakkan hatinya (al-mu’allafatu qulubuhum).Baca juga: Hukum Zakat untuk Non-Muslim: Bolehkah Disalurkan?Hikmah Allah Ta’ala menghendaki bahwa harta rampasan dari orang-orang kafir—setelah diperoleh—dibagikan kepada orang-orang yang iman belum benar-benar kokoh di dalam hati mereka. Hal ini dilakukan karena tabiat manusia memang mencintai harta. Dengan pemberian tersebut, hati mereka menjadi tenang dan kecintaan mereka terhadap Islam semakin kuat.Karena itulah Rasulullah ﷺ memberikan bagian yang besar kepada orang-orang yang baru masuk Islam atau kepada orang yang diharapkan akan masuk Islam. Sementara sebagian tokoh kaum Muhajirin dan pemimpin kaum Anshar tidak diberi bagian dari pemberian tersebut, meskipun mereka juga berhak mendapatkannya. Hal itu karena iman mereka sudah kuat dan tidak membutuhkan penguatan melalui pemberian harta.Jika mereka diberi bagian sebagaimana para mu’allaf itu, maka dikhawatirkan hati orang-orang yang baru masuk Islam tidak akan tertarik. Padahal pemberian tersebut bertujuan agar mereka semakin mantap dalam Islam dan agar orang lain mengikuti mereka untuk masuk Islam. Maka pemberian itu merupakan kemaslahatan yang besar.Kedua puluh satu: Dari peristiwa ini kita juga dapat mengambil pelajaran tentang ketajaman pandangan Rasulullah ﷺ dan kedalaman pemahaman beliau terhadap tabiat manusia serta hal-hal yang dapat memperbaikinya.Beliau memberikan hadiah-hadiah yang besar dan pemberian yang melimpah kepada orang-orang yang sebelumnya memusuhi beliau dan masih belum memeluk Islam. Beliau juga memberikan hadiah kepada orang-orang yang ingin beliau lunakkan hatinya agar mereka mendapat hidayah dan memeluk Islam.Baca juga: 21 Faedah tentang HadiahHasilnya pun sesuai dengan yang diharapkan oleh Rasulullah ﷺ. Orang-orang yang diberi pemberian itu akhirnya masuk Islam dan menjadi baik keislamannya. Bahkan mereka kemudian menjadi pembela Islam yang jujur dan kuat.Upaya melunakkan hati dengan harta tidak hanya dilakukan oleh pemimpin negara. Individu pun dapat melakukannya. Misalnya pemilik usaha yang memiliki pekerja nonmuslim, atau seseorang yang memiliki pembantu, sopir, atau pegawai yang belum masuk Islam. Ia dapat berusaha melunakkan hati mereka melalui kebaikan dan pemberian. Sebab manusia secara tabiat mencintai orang yang berbuat baik kepadanya. Jika seseorang mencintai orang lain, ia akan senang memenuhi keinginannya dan membuatnya bahagia. Karena itu ketika orang tersebut mengajaknya kepada Islam, ia akan lebih cepat menerima ajakan tersebut.Kedua puluh dua: Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu termasuk orang yang baru masuk Islam. Rasulullah ﷺ pernah memberinya seratus ekor unta. Lalu ia meminta lagi, maka Rasulullah ﷺ memberinya. Ia meminta lagi, lalu Rasulullah ﷺ kembali memberinya.Kemudian tertanam dalam hatinya kecintaan yang besar kepada Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ mengajarinya pelajaran tentang harta dengan cara yang sangat tepat dan menyentuh hatinya.Setelah itu, Hakim bersumpah kepada Rasulullah ﷺ bahwa ia tidak akan lagi mengambil harta dari siapa pun setelah hari itu. Artinya, ia tidak akan menerima pemberian dari siapa pun setelahnya, bahkan meskipun pemberian itu banyak.Ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memanggilnya setelah wafatnya Rasulullah ﷺ untuk memberinya bagian, ia menolak. Demikian pula ketika Umar radhiyallahu ‘anhu memanggilnya setelah itu, ia tetap menolak. Ia pun menjalani sisa hidupnya dengan sikap tersebut, hingga wafat pada masa Mu‘awiyah, tetap berpegang pada janjinya kepada Nabi ﷺ.Sungguh menakjubkan keadaan sahabat ini. Awalnya ia terus meminta kepada Rasulullah ﷺ berkali-kali, bahkan dengan desakan. Namun setelah itu, ia berubah total hingga tidak mau mengambil apa pun, meskipun diberi dalam jumlah besar.Dalam kisah ini tampak betapa agungnya sahabat tersebut, dan betapa teguhnya ia memegang prinsip. Sejak Fathu Makkah hingga beberapa tahun di masa Mu‘awiyah—lebih dari tiga puluh tahun—ia tetap konsisten tidak mengambil harta dari siapa pun.Baca juga: Memahami Arti Zuhud yang SebenarnyaDalam kisah ini juga terlihat bagaimana Rasulullah ﷺ memilih waktu yang tepat untuk memberikan nasihat. Beliau menasihati Hakim setelah memberinya beberapa kali, sehingga nasihat itu benar-benar berpengaruh dalam dirinya. Kepribadiannya berubah, dan cara pandangnya terhadap dunia pun berbeda dari sebelumnya.Jika nasihat itu disampaikan sebelum ia diberi, kemungkinan besar tidak akan memberikan pengaruh seperti setelah ia merasakan pemberian tersebut.Dalam kisah ini juga terdapat penjelasan bahwa dunia itu manis dan menipu. Siapa yang menjadikannya sebagai tujuan utama, ia tidak akan pernah merasa puas, meskipun telah mendapatkan banyak.Hal ini nyata dalam kehidupan sebagian orang. Meskipun harta mereka banyak, mereka tetap merasa kurang.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ. وَقَالَ لَنَا أَبُو الْوَلِيدِ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، عَنْ أُبَيٍّ، قَالَ: كُنَّا نَرَى هَذَا مِنَ الْقُرْآنِ، حَتَّى نَزَلَتْ: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Dan tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya kecuali tanah. Namun Allah menerima tobat orang yang bertobat.”Abu Al-Walid berkata kepada kami: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Anas, dari Ubay bin Ka‘ab, ia berkata: dahulu kami menganggap perkataan ini termasuk bagian dari Al-Qur’an, hingga turun firman Allah: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur: 1) (HR. Bukhari, no. 6439 dan Muslim, no. 1048)Adapun nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Hakim bin Hizam, kata Hakim:سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ قَالَ لِي: يَا حَكِيمُ، إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى. قَالَ حَكِيمٌ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَرْزَأُ أَحَدًا بَعْدَكَ شَيْئًا حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنْيَا. فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَدْعُو حَكِيمًا لِيُعْطِيَهُ الْعَطَاءَ فَيَأْبَى أَنْ يَقْبَلَ مِنْهُ شَيْئًا، ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ دَعَاهُ لِيُعْطِيَهُ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَ، فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، إِنِّي أَعْرِضُ عَلَيْهِ حَقَّهُ الَّذِي قَسَمَ اللَّهُ لَهُ مِنْ هَذَا الْفَيْءِ فَيَأْبَى أَنْ يَأْخُذَهُ. فَلَمْ يَرْزَأْ حَكِيمٌ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ شَيْئًا بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تُوُفِّيَ.Aku pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberiku. Kemudian aku meminta lagi, dan beliau pun memberiku. Lalu beliau berkata kepadaku:“Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini itu hijau lagi manis. Siapa yang mengambilnya dengan jiwa yang lapang (tidak tamak), maka harta itu akan diberkahi baginya. Namun siapa yang mengambilnya dengan penuh ambisi dan ketamakan, maka tidak ada keberkahan baginya. Ia seperti orang yang makan, tetapi tidak pernah merasa kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”Hakim berkata: Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan meminta sesuatu pun dari siapa pun setelah engkau hingga aku meninggal dunia.”Setelah itu, Abu Bakar pernah memanggil Hakim untuk memberinya bagian harta, namun ia menolak untuk menerimanya. Kemudian Umar juga memanggilnya untuk memberinya, tetapi ia tetap menolak. Maka Umar berkata, “Wahai kaum Muslimin, aku menawarkan kepadanya hak yang telah Allah tetapkan baginya dari harta fai’, tetapi ia menolak untuk mengambilnya.”Sejak wafatnya Nabi ﷺ, Hakim tidak pernah meminta apa pun kepada manusia hingga ia meninggal dunia. (HR. Bukhari, no. 3143)Sikap lapang terhadap harta menjadi sebab datangnya keberkahan, sedangkan kerakusan menjadi sebab hilangnya keberkahan.Diketahui bahwa harta yang sedikit tetapi diberkahi lebih baik daripada harta yang banyak namun tidak berkah. Karena tujuan bukan sekadar banyaknya harta, tetapi bagaimana harta itu membawa kebahagiaan.Harta pada hakikatnya hanyalah sarana, bukan tujuan. Ia tidak bisa dimakan, diminum, atau dimanfaatkan secara langsung. Seandainya seseorang berada di padang pasir dengan membawa harta yang banyak, tetapi tidak memiliki makanan, ia tetap akan mati karena lapar dan haus.Baca juga: Perkataan Ibnu Taimiyah, Sedikit Tetapi Halal Pasti Bawa BerkahJika harta tidak diberkahi, maka seseorang tidak akan bisa merasakan manfaatnya. Bisa jadi ia jatuh sakit sehingga hartanya habis untuk pengobatan, atau tidak mampu menikmati apa yang diinginkannya. Bahkan harta itu bisa menjadi sumber kegelisahan, karena ia takut kehilangan atau khawatir dicuri.Karena itu, rasa cukup terhadap yang sedikit menjadi sebab datangnya keberkahan dan manfaat. Jika Allah memberkahi harta seseorang, maka tidak ada batas bagi keberkahannya.Kedua puluh tiga: Jika kita melihat keseluruhan pemberian Rasulullah ﷺ pada Perang Hunain, kita akan dapati bahwa beliau memberikan kepada para pembesar kaum yang baru dilunakkan hatinya (muallafatu qulubuhum), padahal mereka adalah orang-orang kaya. Rasulullah ﷺ memberi mereka bukan karena kebutuhan mereka terhadap harta, tetapi demi kemaslahatan Islam, yaitu untuk melunakkan hati mereka agar menerima agama ini.Jika mereka telah masuk Islam, maka diharapkan orang-orang di belakang mereka akan ikut masuk Islam. Karena itu, pemberian demi maslahat lebih didahulukan daripada pemberian karena kebutuhan. Menyelamatkan manusia dari neraka lebih didahulukan daripada sekadar mengenyangkan perut orang fakir. Ini adalah kaidah penting dalam kehidupan, bahwa maslahat umum bagi Islam didahulukan daripada maslahat pribadi.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Ketika Perang Hunain, Nabi ﷺ membagi harta rampasan kepada orang-orang yang dilunakkan hatinya (muallafatu qulubuhum), seperti para pembesar dari Najd dan para tokoh Quraisy yang baru dibebaskan, seperti ‘Uyainah bin Hishn, Al-Aqra‘ bin Habis, dan yang semisal mereka. Juga kepada Suhail bin ‘Amr, Shafwan bin Umayyah, ‘Ikrimah bin Abu Jahl, Abu Sufyan bin Harb, serta Mu‘awiyah bin Abu Sufyan dan yang semisal mereka dari kalangan orang-orang yang baru masuk Islam.Mereka adalah orang-orang yang dibebaskan pada hari Fathu Makkah. Rasulullah ﷺ tidak memberikan apa pun kepada kaum Muhajirin dan Anshar. Beliau memberikan kepada mereka untuk melunakkan hati mereka agar tetap berada di atas Islam, dan karena itu menjadi maslahat umum bagi kaum Muslimin.Adapun orang-orang yang tidak diberi, mereka justru lebih utama di sisi beliau. Mereka adalah para wali Allah yang bertakwa dan hamba-hamba-Nya yang saleh, setelah para nabi dan rasul. Sedangkan orang-orang yang diberi, sebagian dari mereka ada yang kemudian murtad sebelum wafatnya Nabi ﷺ, sementara yang lain tetap hidup dalam keadaan kaya, bukan orang-orang fakir.Seandainya pemberian itu didasarkan pada kebutuhan semata, tentu Nabi ﷺ akan memberikan kepada para Muhajirin dan Anshar, yang lebih membutuhkan dan lebih utama. Namun karena pertimbangan maslahat umum lebih didahulukan daripada kebutuhan pribadi, maka pemberian diberikan kepada para pembesar yang baru masuk Islam tersebut.Baca juga: Berapa Jumlah Para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?Kedua puluh empat: Keberhasilan dalam memenangkan orang yang berbeda (pendapat) itulah keberhasilan yang sejati. Inilah hakikat seni dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Adapun memenangkan orang yang sudah sepakat, itu bukan sesuatu yang baru.Keberhasilan dalam dakwah adalah ketika orang yang awalnya membencimu, membenci dakwahmu, atau membenci agama yang engkau serukan, tidak beranjak darimu kecuali setelah agama yang engkau ajarkan menjadi agama yang paling ia cintai. Dan engkau pun menjadi orang yang paling ia cintai.Inilah yang kita lihat dalam sirah Nabi ﷺ. Beliau mampu menaklukkan hati manusia dan mengubah mereka dari musuh menjadi penolong. Ada orang kafir yang datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan sangat membencinya dan bahkan ingin membunuhnya. Namun setelah duduk bersamanya, kebencian itu berubah menjadi cinta kepada Rasulullah ﷺ.Hal ini terjadi pada sejumlah sahabat, seperti ‘Amr bin Al-‘Ash, Hakim bin Hizam, ‘Umair bin Wahb Al-Jumahi, dan ‘Adi bin Hatim Ath-Tha’i radhiyallahu ‘anhum. Mereka datang kepada Rasulullah ﷺ, sebagian di antara mereka bahkan ingin membunuh beliau, namun akhirnya pulang dalam keadaan Muslim. Bahkan mereka mengucapkan syahadat tauhid di majelis beliau sebelum bangkit dari tempat duduknya. Kebencian yang sebelumnya begitu kuat berubah menjadi cinta yang mendalam.Sebagian dari mereka datang karena urusan dunia, tetapi ketika pulang, mereka telah merendahkan dunia, memahami nilainya, dan bahkan bersumpah tidak akan meminta apa pun kepada manusia.Ini adalah pelajaran dalam berdakwah kepada Allah: kunci keberhasilannya adalah memenangkan hati manusia dan berbuat baik kepada orang yang berbeda dengan kita, apa pun bentuk perbedaannya.Sebaliknya, sebagian orang justru menjadikan perbedaan sebagai sebab buruknya sikap. Akibatnya, perbedaan itu berubah menjadi permusuhan yang semakin mengakar. Alih-alih memenangkan hati orang yang berbeda, justru semakin memperlebar jurang perbedaan dan menambah jarak di antara mereka. Ini bukanlah sikap seorang dai yang berhasil. Hanya Allah yang memberi taufik.Kedua puluh lima: Di dunia ini banyak orang yang digiring kepada kebenaran bukan karena pemahaman akal mereka, tetapi karena tertarik secara perlahan. Sebagaimana hewan ternak digiring dengan segenggam rumput hingga masuk ke kandangnya, demikian pula sebagian manusia membutuhkan pendekatan dan strategi agar hati mereka menjadi tenang dengan iman dan merasa nyaman dengannya. (Muhammad Al-Ghazali dalam Fiqh As-Sirah, hlm. 394).Kedua puluh enam: Allah Ta‘ala berfirman,ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ (٢٦) ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٢٧)“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta menurunkan bala tentara yang tidak kamu lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian Allah menerima tobat setelah itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 26–27)Ath-Thahir bin ‘Asyur rahimahullah berkata tentang firman Allah Ta‘ala:ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Kemudian Allah menerima tobat setelah itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Ini merupakan isyarat kepada masuk Islamnya kaum Hawazin setelah kekalahan tersebut. Mereka kemudian datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan telah menjadi Muslim dan bertobat.Kedua puluh tujuh: Ghanimah (harta rampasan perang) bukanlah tujuan utama dari jihad, tetapi yang lebih Allah cintai adalah masuknya manusia ke dalam Islam. Karena itu, Rasulullah ﷺ menunda pembagian ghanimah perang Hunain dengan harapan kaum Hawazin akan kembali kepada Islam. Beliau menunggu di Ji‘ranah selama sekitar dua puluh hari, dan itu adalah waktu yang cukup bagi para pemimpin Hawazin untuk berpikir, kembali kepada kebenaran, masuk Islam, serta meminta kembali harta, anak-anak, dan wanita mereka. Namun ketika mereka terlambat, sementara menunggu lebih lama lagi akan memberatkan pasukan tanpa ada harapan jelas, maka Rasulullah ﷺ pun membagikan harta tersebut.Meski demikian, ketika kaum Hawazin datang setelah pembagian itu, Rasulullah ﷺ menyambut mereka dengan gembira dan memberitahu bahwa beliau telah menunggu mereka. Namun karena keluarga dan harta mereka sudah terlanjur berpindah tangan kepada kaum muslimin, beliau memberi mereka pilihan antara mengambil kembali keluarga mereka atau harta mereka. Kemudian beliau membantu mereka dalam cara mendapatkan kembali apa yang telah dibagikan, bahkan beliau sendiri bersama Bani ‘Abdul Muththalib menjadi orang pertama yang mempraktikkan pengembalian tersebut.Para sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum tidaklah menyelisihi Rasulullah ﷺ dalam hal ini. Mereka mengikuti beliau dengan mengembalikan apa yang ada pada mereka. Namun sebagian orang Arab Badui tidak mengikuti hal tersebut, sehingga Rasulullah ﷺ menebus bagian mereka dan memerintahkan agar seluruh tawanan wanita dan anak-anak dikembalikan kepada Hawazin.Siapa yang memahami sejarah, pasti akan teringat bagaimana perlakuan penduduk Thaif terhadap Rasulullah ﷺ ketika beliau datang kepada mereka—tidak ada yang bersamanya kecuali Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu—mereka melempari beliau dengan batu dan mengejeknya. Namun setelah Allah menaklukkan Makkah dan kaum muslimin menang atas mereka, beliau justru bersikap lembut, pemaaf, dan mulia. Semua yang beliau lakukan adalah demi kemaslahatan Islam dan penyebarannya, dan beliau tidak pernah membalas untuk kepentingan pribadi sama sekali.Inilah akhlak seorang muslim sejati. Ia menjauh dari sikap egois, permusuhan, dan perselisihan dengan orang lain, serta tidak sibuk mencari-cari kesalahan mereka. Prinsipnya adalah kelapangan dada, pemaafan, perbaikan hubungan, dan bersatu di atas kemaslahatan agama ini serta meninggikan kalimat Allah. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Kedua puluh delapan: Termasuk inisiatif Rasulullah ﷺ dalam mengembalikan apa yang beliau miliki dan apa yang ada di tangan beliau dari harta rampasan kepada Bani ‘Abdil Muththalib dari tawanan perang Hawazin. Dari sini diambil teladan dalam berdakwah kepada Allah. Rasulullah ﷺ memulai sendiri dengan mengembalikan tawanan, agar beliau menjadi contoh dan diikuti oleh yang lain dalam mengembalikan apa yang ada di tangan mereka kepada Hawazin.Kedua puluh sembilan: Dari ucapan Dzul Khuwaishirah, kita mengetahui sejauh mana keburukan orang ini dan orang-orang semisalnya, serta besarnya kejahatan dan kesesatan mereka. Ia berani berbicara kepada Rasulullah ﷺ dengan ucapan yang menunjukkan keburukan hati, rusaknya keyakinan, kebodohan yang parah, dan sikap kasar dalam berinteraksi. Ia tidak memahami nash-nash, tidak mengenal hak Rasulullah ﷺ, serta berani berpendapat berdasarkan kebodohan, kebencian, kekerasan, dan kedengkian. Kita berlindung kepada Allah dari hal seperti ini.Ketiga puluh: Diambil pula pelajaran untuk mewaspadai sikap berlebihan dalam agama. Orang ini terdorong oleh sikap berlebihannya hingga keluar dari agama yang benar. Ia datang dengan mengaku berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya, namun justru membantah Rasulullah ﷺ dan menuntut keadilan dari beliau, serta menjadikan akal dan hawa nafsunya sebagai penentu makna keadilan. Ia telah menyimpang dari jalan mencari petunjuk.Keselamatan dari sikap berlebihan adalah dengan berpegang teguh pada nash-nash, memuliakan dan menghormatinya, berhenti pada batas-batasnya, serta mengagungkan Rasulullah ﷺ dan ajaran yang beliau bawa. Juga dengan mengetahui kedudukan para salaf dan pemahaman mereka, serta menempatkan para ulama pada posisi yang layak dan mengetahui hak-hak mereka. Inilah jalan yang aman dari penyimpangan. Adapun bersandar pada akal semata dan merendahkan para ulama, maka itu adalah penyimpangan dalam manhaj yang pasti akan menyeret kepada sikap berlebihan dalam agama, yang pada akhirnya membawa kepada kebinasaan, sebagaimana yang dilakukan oleh Dzul Khuwaishirah.Penyimpangan ini berawal dari sebuah ide kecil di dalam pikiran, lalu berkembang hingga berubah menjadi perilaku yang buruk, merusak yang hijau dan yang kering, serta membinasakan tanaman dan manusia. Kita berlindung kepada Allah.Kelompok seperti ini telah memberikan dampak buruk yang besar terhadap Islam dan kaum Muslimin sepanjang sejarah. Mereka telah menghalangi banyak orang untuk masuk Islam, dan memberi peluang kepada musuh untuk menjelekkan Islam dan kaum Muslimin.Ketiga puluh satu: dari kisah Dzul Khuwaishirah, kita mengambil pelajaran tentang kesabaran Rasulullah ﷺ dan kelembutan beliau terhadap orang-orang Arab Badui yang kasar dan keras. Beliau menahan diri terhadap ucapan yang dikatakan kepadanya secara terang-terangan di hadapan manusia, padahal saat itu beliau sedang membagi harta rampasan dalam jumlah besar. Beliau tidak menyisakan sedikit pun untuk dirinya sendiri. Tujuan beliau hanyalah melunakkan hati manusia agar mereka menerima agama ini. Namun orang Arab Badui itu justru datang dan menuduh beliau tidak adil dalam pembagian.Meski demikian, Rasulullah ﷺ tidak membalasnya. Bahkan beliau memberitahukan kepada manusia sebagai tanda dan bukti kenabian bahwa akan muncul dari keturunan orang ini orang-orang yang keluar dari Islam. Beliau memperingatkan umatnya dari mereka, sekaligus mengajarkan bagaimana cara menyikapi mereka.Ketiga puluh dua: dengan memperhatikan hal di atas, kita dapati bahwa Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menukil pendapat salah satu ulama yang berkata (dan sebagian guru kami berkata): “Pembagian ini hanyalah untuk mencari ridha Allah.” Adapun ucapannya, “Berlaku adillah,” maka Nabi ﷺ tidak memahaminya sebagai bentuk celaan dan tuduhan terhadap beliau. Namun beliau memandangnya sebagai kesalahan dalam berpendapat dan dalam urusan dunia, serta sebagai ijtihad dalam hal kemaslahatan menurut pandangan orang tersebut, meskipun keliru. Maka beliau tidak melihatnya sebagai kejahatan yang harus dibalas, tetapi sebagai gangguan yang layak dimaafkan dan disikapi dengan kesabaran. Karena itu, beliau tidak menghukumnya.Setelah menyebutkan beberapa pendapat, ia berkata: “Pendapat yang paling kuat dari sisi ini adalah bahwa hal tersebut dilakukan untuk tujuan melunakkan hati (isti’laf) dan bersikap bijak dalam mengajak manusia kepada agama agar mereka beriman.”Ketiga puluh tiga:  Termasuk sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Umar ketika ia meminta izin untuk membunuh seorang munafik. Maka beliau bersabda:«مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي»“Semoga Allah melindungi (aku) dari anggapan manusia bahwa aku membunuh para sahabatku.”Hal ini menunjukkan disyariatkannya menjaga kehormatan diri dan tidak membuka peluang tuduhan dari orang lain. Diriwayatkan pula:«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَقِفْ مَوَاقِفَ التُّهَمِ»“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menempatkan dirinya pada posisi yang menimbulkan tuduhan.” (Lihat Az-Zamakhsyari, Al-Kasyaf 3: 273)Karena itu, seorang Muslim hendaknya menjaga kehormatannya agar tidak menjadi bahan pembicaraan manusia. Ini termasuk bentuk perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak memberi peluang bagi orang lain untuk membicarakan keburukan dalam agama ini, sekaligus menerapkan kaidah:دَرْءُ الْمَفْسَدَةِ مُقَدَّمٌ عَلَىٰ جَلْبِ الْمَصْلَحَةِ“Menolak kerusakan didahulukan daripada menarik kemaslahatan.”Sebab, kerusakan yang timbul dari membunuh orang tersebut lebih besar daripada maslahat yang diharapkan dari pembunuhannya. Di antaranya, manusia akan membicarakan bahwa beliau membunuh para sahabatnya, padahal hakikat orang tersebut tidak tampak bagi kebanyakan manusia. Wallahu a‘lam.Ketiga puluh empat: Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata: Ditanyakan kepada Imam Malik rahimahullah tentang orang zindiq. Ia menjawab: Orang-orang munafik pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran, dan itulah yang disebut zindiq menurut kami saat ini.Lalu dikatakan kepada Imam Malik: Mengapa zindiq tidak dibunuh, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh orang-orang munafik meskipun beliau mengetahui mereka? Maka beliau menjawab: Seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membunuh mereka padahal mereka menampakkan keimanan, tentu hal itu akan menjadi sebab orang-orang berkata bahwa beliau membunuh mereka karena kedengkian atau sebab lainnya. Akibatnya, orang-orang akan enggan masuk Islam. Inilah makna sabda beliau. (Ibnu ‘Abdil Barr, 10: 154, dalam Ath-Thab’ah Al-Maghribiyyah)Hal ini juga dikuatkan oleh hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dinding (Hijr Ismail), apakah ia termasuk bagian dari Ka‘bah? Beliau menjawab: “Ya.” Aku bertanya: Mengapa mereka tidak memasukkannya ke dalam bangunan Ka‘bah? Beliau menjawab:«إِنَّ قَوْمَكِ قَصُرَتْ بِهِمُ النَّفَقَةُ»“Sesungguhnya kaummu kekurangan biaya.”Aku bertanya: Mengapa pintunya dibuat tinggi? Beliau menjawab:«فَعَلَ ذَلِكِ قَوْمُكِ لِيُدْخِلُوا مَنْ شَاءُوا وَيَمْنَعُوا مَنْ شَاءُوا، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُو عَهْدٍ بِالْجَاهِلِيَّةِ، فَأَخَافُ أَنْ تُنْكِرَ قُلُوبُهُمْ، لَأَدْخَلْتُ الْجِدْرَ فِي الْبَيْتِ، وَلَأَلْصَقْتُ بَابَهُ بِالْأَرْضِ»“Mereka melakukan itu agar bisa memasukkan siapa yang mereka kehendaki dan melarang siapa yang mereka kehendaki. Seandainya kaummu tidak baru saja meninggalkan masa jahiliah, dan aku khawatir hati mereka akan mengingkarinya, niscaya aku akan memasukkan dinding itu ke dalam bangunan Ka‘bah dan menjadikan pintunya rata dengan tanah.”Maka hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ini menunjukkan bahwa beliau mempertimbangkan mafsadah berupa keluarnya orang dari agama, dan hadits tentang Dzul Khuwaishirah menunjukkan pertimbangan mafsadah berupa orang tidak mau masuk ke dalam agama. Ini termasuk pemahaman mendalam dalam politik syariat.Ketiga puluh lima: Tidak diberikannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagian ghanimah kepada kaum Anshar adalah karena kepercayaan beliau terhadap kuatnya iman mereka dan kelapangan jiwa mereka. Ini merupakan pujian besar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mereka. Beliau memberikan harta ghanimah kepada orang-orang yang beliau khawatirkan keimanan mereka masih lemah, atau untuk melunakkan hati mereka agar condong kepada Islam. Beliau bersabda kepada kaum Anshar:«أَلَا تَرْضَوْنَ أَنْ أَرْجِعَ النَّاسُ بِالشَّاةِ وَالْبَعِيرِ، وَتَرْجِعُوا أَنْتُمْ بِرَسُولِ اللَّهِ؟»“Tidakkah kalian ridha jika manusia pulang membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah?”Coba renungkan, bagaimana keadaan orang yang mendapatkan ucapan seperti ini? Sungguh kaum Anshar menangis. Mereka berhak untuk merasa bahagia dan bangga dengan pembagian ini, serta dengan kedudukan yang mereka miliki di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demi Allah, seandainya seseorang mendapatkan ucapan ini saja, itu sudah cukup menjadi kebahagiaan dan kegembiraan baginya, melebihi segala sesuatu yang dimiliki orang lain. Lalu bagaimana jika yang mereka dapatkan adalah kebahagiaan yang membuat mereka menangis karena gembira, sementara orang lain mendapatkan kambing dan unta, sedangkan kaum Anshar mendapatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?Ketiga puluh enam: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan mereka dalam kebingungan, bahkan beliau memberikan jawaban kepada mereka. Beliau bersabda:«أَمَا وَاللَّهِ لَوْ شِئْتُمْ لَقُلْتُمْ فَلَصَدَقْتُمْ وَلَصُدِّقْتُمْ: أَتَيْتَنَا مُكَذَّبًا فَصَدَّقْنَاكَ، وَمَخْذُولًا فَنَصَرْنَاكَ، وَطَرِيدًا فَآوَيْنَاكَ، وَعَائِلًا فَآسَيْنَاكَ»“Demi Allah, seandainya kalian mau, kalian bisa mengatakan—dan kalian benar serta akan dibenarkan—: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu; engkau ditinggalkan, lalu kami menolongmu; engkau terusir, lalu kami melindungimu; dan engkau dalam keadaan kekurangan, lalu kami mencukupimu.’”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat untuk menghilangkan segala keraguan atau ganjalan dalam hati mereka, dengan menjelaskan sebab mengapa beliau memberikan harta ghanimah kepada orang-orang yang ingin dilunakkan hatinya, bukan kepada kaum Anshar.Ketiga puluh tujuh: Dari khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Anshar, diambil pelajaran tentang disyariatkannya berkhutbah dalam kondisi seperti ini. Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Dalam hal ini terdapat dalil tentang disyariatkannya khutbah ketika terjadi suatu peristiwa, baik bersifat khusus maupun umum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkhutbah kepada kaum Anshar dengan khutbah yang sangat menyentuh. Belum pernah terdengar dalam bab menenangkan hati yang lebih indah daripada khutbah ini, karena di dalamnya terkumpul antara kebenaran, kejelasan, kelembutan, dan kasih sayang. Shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau hingga hari kiamat.Ketiga puluh delapan: Dari khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Anshar, diambil pelajaran tentang menghibur diri atas sesuatu dari dunia yang terlewat, dengan melihat balasan di akhirat yang akan diperoleh.Ketiga puluh sembilan: Di dalamnya terdapat keutamaan kaum Anshar, yaitu cepatnya mereka kembali kepada kebenaran dan menerima penjelasan, segera setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada mereka. Ini juga menunjukkan baiknya nasihat mereka, adab mereka dalam berbicara dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta kesiapan mereka menjawab ketika beliau mengajukan pertanyaan kepada mereka. Telah disebutkan sebelumnya ucapan sebagian ulama: “Kembali kepada kebenaran adalah bagian dari agama.” Maka seorang mukmin tidak sepatutnya merasa berat untuk kembali kepada kebenaran ketika telah jelas baginya.Keempat puluh: Di dalamnya terdapat penekanan pentingnya menghilangkan syubhat dari orang yang mengalami keraguan, baik itu perkara umum maupun khusus. Jika bersifat umum, maka penjelasannya bersifat umum; jika bersifat khusus, maka penjelasannya pun khusus.Tidak ada yang lebih indah daripada kejujuran dan keterbukaan untuk menghilangkan apa yang ada di dalam hati berupa ganjalan. Seandainya manusia saling terbuka dan menjelaskan sebagian sikap yang menimbulkan kekecewaan, niscaya banyak masalah akan selesai.Sebagian orang berkata: “Jika aku benar dalam tindakanku, aku tidak peduli dengan ucapan manusia.” Maka dikatakan kepadanya: Ini keliru. Bahkan engkau harus menjelaskan kepada manusia alasan di balik tindakanmu, menghilangkan keraguan yang ada pada mereka, serta menjelaskan sudut pandang dan landasan tindakanmu. Dengan itu, engkau menjaga kehormatanmu, memperbaiki hati-hati manusia, dan mencegah prasangka buruk di tengah masyarakat.Keterbukaan seperti ini telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berkhutbah kepada kaum Anshar dalam khutbah yang agung tersebut. Juga dicontohkan oleh Sa‘d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu ketika ia menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pandangan kaum Anshar dan apa yang mereka rasakan.Di dalamnya juga terdapat pelajaran bahwa pendapat para pemuda tidaklah sama dengan pendapat para tokoh yang lebih tua. Telah diketahui bahwa umumnya pendapat orang yang lebih tua lebih matang dalam ilmu, amal, pengalaman, dan ketakwaan dibandingkan pendapat para pemuda.Keempat puluh satu: Dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:«إِنَّ قُرَيْشًا حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ وَمَعْصِيَةٍ، وَإِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَجْبُرَهُمْ وَأَتَأَلَّفَهُمْ»“Sesungguhnya Quraisy baru saja meninggalkan masa jahiliah dan kemaksiatan, dan aku ingin menguatkan serta melunakkan hati mereka.”Terdapat pelajaran besar dalam upaya menarik hati manusia serta mempertimbangkan kondisi jiwa mereka. Sesungguhnya kaum Quraisy mengalami guncangan besar dengan peristiwa penaklukan Makkah. Meskipun itu merupakan nikmat terbesar bagi mereka, dalam pandangan mereka hal itu terasa berat karena runtuhnya kebesaran dan kekuasaan mereka, serta terpecahnya tokoh-tokoh mereka yang tetap berada dalam kesyirikan.Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin mengobati keguncangan tersebut dan meringankan beban yang mereka rasakan dengan memberikan harta, agar hati mereka menjadi tenang. Ini merupakan tuntunan yang seharusnya diperhatikan dalam memperbaiki jiwa yang terluka, meskipun dengan harta, serta berusaha meringankan beban mereka. Ini adalah akhlak Islam yang tinggi, yang tidak akan dipahami kecuali oleh orang yang memiliki bagian besar dari kebaikan.Keempat puluh dua: Seseorang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Engkau telah memberi kepada ‘Uyainah dan Al-Aqra‘, sedangkan aku ditinggalkan, padahal aku lebih baik dari mereka.” Ia bermaksud mengingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dirinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan jawaban agung, yang menunjukkan bahwa beliau tidak merasa iri kepada siapa pun dalam perkara dunia, melainkan mengarahkan pandangan kepada Allah dan mencari kedudukan di sisi-Nya. Perhatikanlah jawaban beliau yang jujur lagi benar:«أَمَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَجَبِيلُ بْنُ سُرَاقَةَ خَيْرٌ مِنْ طِلَاعِ الْأَرْضِ كُلِّهِمْ مِثْلَ عُيَيْنَةَ بْنِ حِصْنٍ وَالْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ، وَلَكِنِّي أُؤَلِّفُهُمَا لِيُسْلِمَا، وَوَكَلْتُكَ إِلَى إِسْلَامِكَ»“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh Jabil bin Suraqah lebih baik daripada seluruh penduduk bumi seperti ‘Uyainah bin Hishn dan Al-Aqra‘ bin Habis. Akan tetapi aku memberi kepada mereka berdua untuk melunakkan hati mereka agar masuk Islam, sedangkan aku menyerahkanmu kepada keislamanmu.”Maka janganlah engkau tertipu oleh kedudukan dunia dan jabatan, karena itu hanyalah tipuan yang akan diikuti penyesalan. Mintalah kedudukan di sisi Allah Yang Maha Mulia. Betapa banyak di antara kita orang yang lebih baik daripada kebanyakan manusia, namun tidak mendapatkan kedudukan dunia, karena ia selamat dari fitnah jabatan.Kemudian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga menunjukkan bahwa hal tersebut tidak khusus untuk kaum Anshar saja, tetapi berlaku bagi siapa saja yang kuat imannya. Termasuk di dalamnya sahabat tersebut yang disebutkan, radhiyallahu ‘anhu.Keempat puluh tiga: Dalam janji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Malik bin ‘Auf An-Nadhri, bahwa jika ia datang sebagai seorang Muslim, maka beliau akan mengembalikan keluarganya, hartanya, dan memberinya seratus ekor unta, terdapat dua pelajaran:Pertama: Tujuan utama jihad adalah masuknya manusia ke dalam Islam, bukan semata-mata harta rampasan dan keuntungan materi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan kepada pemimpin Thaif tersebut bahwa jika ia masuk Islam, maka keluarganya dan hartanya akan dikembalikan, serta diberikan tambahan berupa seratus ekor unta sebagai bentuk penghargaan dan dorongan agar ia masuk Islam. Ini menunjukkan besarnya perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap keislaman seseorang, serta tidak adanya keinginan untuk menawan keluarganya atau merampas hartanya.Kedua: Ini merupakan metode dakwah yang agung yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menarik hati tokoh-tokoh besar, serta metode melunakkan hati. Hal ini tampak jelas dalam peristiwa Hunain, ketika beliau memberikan pemberian besar kepada para pemimpin Arab agar hati mereka condong kepada Islam, sehingga mereka masuk Islam dan kaum mereka pun mengikuti.Karena itu, seseorang hendaknya memperhatikan cara-cara pemberian yang dilakukan oleh pemimpin atau tokoh masyarakat dalam rangka mewujudkan kemaslahatan umum bagi kaum Muslimin, dan juga kemaslahatan khusus bagi suatu negeri.Keempat puluh empat: Ibnu Hajar rahimahullah berkata, demikian pula Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Di antara hikmah penaklukan Makkah adalah menjadi sebab masuknya banyak kabilah Arab ke dalam Islam. Dahulu mereka berkata: ‘Biarkan dia (Muhammad) bersama kaumnya. Jika ia menang atas mereka, berarti ia berada di atas kebenaran.’ Ketika Allah memberikan kemenangan kepadanya, sebagian mereka tetap berada dalam kesesatan, lalu mereka berkumpul dan bersiap untuk memeranginya. Maka termasuk hikmah dari hal itu adalah agar tampak bahwa Allah menolong Rasul-Nya bukan dengan banyaknya orang yang masuk Islam dari kalangan kabilah, dan bukan pula karena kaumnya menahan diri dari memeranginya.” Bersambung Insya-Allah …. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 29 Syawal 1447 H, 17 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi peperangan dalam islam peperangan di masa Rasulullah perang hunain sirah nabawiyah sirah nabi

Jangan Sampai Lalai! Nasihat Syaikh Utsaimin Agar Tetap Dekat dengan Al-Qur’an

Pada bulan Ramadhan, banyak orang yang membaca Kitab Allah ‘Azza wa Jalla. Tentu ini bagus, keutamaannya amat besar dan agung. Namun, setelah Ramadhan berlalu, sering kali Al-Qur’an kembali ditinggalkan hingga datang Ramadhan berikutnya, hanya tersimpan di rak-rak buku. Apa nasihat Anda bagi kami dan segenap kaum muslimin dalam menghadapi hal ini? Kami menasihatkan kepada seluruh kaum muslimin, terutama para penghafal Al-Qur’an, agar senantiasa membaca Al-Qur’an. Tujuannya agar mereka meraih pahala dan hubungan dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla tetap kuat. Hendaknya pula mereka tidak membiarkan waktu berlalu begitu saja, kecuali dalam kebaikan, baik ucapan maupun perbuatan.Saya sangat menganjurkan bagi saudara-saudaraku, para penghafal Al-Qur’an, untuk untuk menjaga hafalannya. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan hal tersebut. Beliau bersabda: “Jagalah Al-Qur’an! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh hafalan Al-Qur’an itu lebih cepat hilangnya daripada seekor unta yang lepas dari ikatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Atau beliau bersabda dengan redaksi: “…lebih cepat lepas daripada unta dari ikatannya.”Maka para penghafal Al-Qur’an sepatutnya tidak mengabaikannya. Sebab, sikap abai dan berpaling dari Al-Qur’an hingga hafalannya hilang dapat berkonsekuensi dosa besar. Ada satu perkara penting di sini yang ingin saya ingatkan, karena ada sebagian pemuda yang takut menghafal Al-Qur’an. Mereka berkata: “Saya tidak mau menghafal Al-Qur’an karena khawatir nanti akan lupa, sehingga saya berdosa karenanya.” Ini tidak diragukan lagi adalah bentuk bisikan setan dan upaya setan dalam menghalanginya dari kebaikan. Wahai Saudaraku, selagi Anda masih muda, hafalkanlah Al-Qur’an. Jagalah hafalan Al-Qur’an dan mohonlah pertolongan kepada Allah agar dimudahkan. Teruslah tekun agar ayat-ayat tersebut tetap teguh di dalam hati Anda. Apabila Anda lupa suatu ayat, padahal Anda sudah berusaha, maka Anda sama sekali tidak berdosa. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengimami shalat pada suatu malam, dan beliau terlupa satu ayat saat membacanya. Lalu Ubay bin Ka’ab mengingatkan beliau setelah shalat selesai. Beliau bertanya: “Mengapa tadi engkau tidak segera mengingatkanku?” Di lain waktu, beliau melewati seseorang yang sedang membaca Al-Qur’an, lalu beliau bersabda: “Semoga Allah merahmati si Fulan, ia telah mengingatkanku pada suatu ayat yang sempat aku dilupakan darinya.” Kesimpulannya, jika seseorang sudah bertekad kuat menghafal Al-Qur’an dan rajin mengulangnya, lalu lupa beberapa darinya, maka tidak diragukan bahwa ia tidaklah berdosa. Maka bagi Anda, wahai para pemuda, hendaknya memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Mintalah pula pertolongan kepada-Nya ‘Azza wa Jalla dalam menghafalkan Kitab suci-Nya. Mulailah langkah Anda untuk menghafal Al-Qur’an sekarang juga. Jagalah pula waktu Anda agar tidak terbuang sia-sia tanpa memberikan manfaat. Alhamdulillah, di negeri kita ini banyak halaqah Al-Qur’an. Mulai dari halaqah hafalan hingga kelas khusus untuk kelancaran membaca Al-Qur’an. Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar ini juga tersebar di seluruh negeri muslim dan bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. ======= تَقُولُ فِي رَمَضَانَ يَكْثُرُ الْقُرَّاءُ لِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهَذَا طَيِّبٌ وَفَضْلُهُ كَبِيرٌ وَعَظِيمٌ وَلَكِنْ بَعْدَ رَمَضَانَ قَدْ يُهْجَرُ هَذَا الْقُرْآنُ حَتَّى يَأْتِيَ رَمَضَانُ الْآخَرُ وَيَبْقَى عَلَى الرُّفُوفِ فَمَاذَا تَنْصَحُونَنَا َتَنْصَحُونَ الْمُسْلِمِينَ بِهَذَا ننْصَحُ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِينَ وَلَا سِيَّمَا حَفَظَةُ الْقُرْآنِ أَنْ يَتَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ بِالتِّلَاوَةِ لِيَنَالُوا الْأَجْرَ وَيَكُوْنَ بِارْتِبَاطٍ مَعَ كَلَامِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَلَّا يَدَعُوا وَقْتًا مِنْ أَوْقَاتِهِمْ إِلَّا وَلَهُمْ فِيهِ خَيْرٌ مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَحُثُّ إِخْوَانِي حُفَّاظَ الْقُرْآنِ عَلَى تَعَاهُدِهِ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِذَلِكَ فَقَالَ تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا أَوْ قَالَ تَفَصِّيًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا فَيَنْبَغِي لِحَفَظَةِ الْقُرْآنِ أَلَّا يُهْمِلُوهُ لِأَنَّ إِهْمَالَهُ وَالْإِعْرَاضَ عَنْهُ حَتَّى يُنْسَى قَدْ يَكُونُ فِيهِ إِثْمٌ كَبِيرٌ وَهُنَا مَسْأَلَةٌ أُحِبُّ أَنْ أُنَبِّهَ عَلَيْهَا وَهِيَ أَنَّ بَعْضَ الشَّبَابِ يَتَهَيَّبُ مِنْ حِفْظِ الْقُرْآنِ وَيَقُولُ أَنَا لَا أَحْفَظُهُ أَخْشَى أَنْ أَنْسَاهُ فَأَكُونَ عَلَى إِثْمٍ وَهَذَا لَا شَكَّ مِنْ وَسَاوِسِ الشَّيْطَانِ وَتَثْبِيْطِهِ عَنِ الْخَيْرِ فَأَنْتَ يَا أَخِي مَا دُمْتَ فِي زَمَنِ الشَّبَابِ احْفَظِ الْقُرْآنَوَتَعَاهَدْهُ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ عَلَيْهِ وَاحْرِصْ عَلَى ثَبَاتِهِ فِي قَلْبِكَ وَإِذَا نَسِيتَ آيَةً مَعَ الِاجْتِهَادِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْكَ إِطْلَاقًا فَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ يَوْمٍ بَلْ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ وَقَرَأَ وَنَسِيَ آيَةً مِنَ الْقُرْآنِ فَذَكَّرَهُ بِهَا أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَقَالَ هَلَّا كُنْتَ ذَكَّرْتَنِيهَا وَمَرَّ بِرَجُلٍ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ فَقَالَ يَرْحَمُ اللَّهُ فُلَانًا لَقَدْ ذَكَّرَنِي آيَةً كُنْتُ نُسِيتُهَا فَالْحَاصِلُ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا اجْتَهَدَ وَحَفِظَ الْقُرْآنَ وَتَعَاهَدَهُ ثُمَّ نَسِيَ مِنْهُ مَا نَسِيَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لَا شَكَّ فَعَلَيْكَ أَيُّهَا الشَّابُّ أَنْ تَتَعَوَّذَ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَأَنْ تَسْتَعِينَ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى حِفْظِ كِتَابِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنْ تَبْدَأَ بِحِفْظِ الْقُرْآنِ وَأَنْ تَحْفَظَ أَوْقَاتَكَ مِنْ إِضَاعَتِهَا بِلَا فَائِدَةٍ وَفِي بِلَادِنَا وَلِلَّهِ الْحَمْدُ حَلَقَاتٌ كَثِيرَةٌ مِنْ حِلَقِ تَعْلِيمِ الْقُرْآنِ حِفْظًا وَنَظَرًا فَنَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يَعُمَّ بِهَا جَمِيعَ بِلَادِ الْإِسْلَامِ وَأَنْ يَنْفَعَ بِهَا عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ

Jangan Sampai Lalai! Nasihat Syaikh Utsaimin Agar Tetap Dekat dengan Al-Qur’an

Pada bulan Ramadhan, banyak orang yang membaca Kitab Allah ‘Azza wa Jalla. Tentu ini bagus, keutamaannya amat besar dan agung. Namun, setelah Ramadhan berlalu, sering kali Al-Qur’an kembali ditinggalkan hingga datang Ramadhan berikutnya, hanya tersimpan di rak-rak buku. Apa nasihat Anda bagi kami dan segenap kaum muslimin dalam menghadapi hal ini? Kami menasihatkan kepada seluruh kaum muslimin, terutama para penghafal Al-Qur’an, agar senantiasa membaca Al-Qur’an. Tujuannya agar mereka meraih pahala dan hubungan dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla tetap kuat. Hendaknya pula mereka tidak membiarkan waktu berlalu begitu saja, kecuali dalam kebaikan, baik ucapan maupun perbuatan.Saya sangat menganjurkan bagi saudara-saudaraku, para penghafal Al-Qur’an, untuk untuk menjaga hafalannya. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan hal tersebut. Beliau bersabda: “Jagalah Al-Qur’an! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh hafalan Al-Qur’an itu lebih cepat hilangnya daripada seekor unta yang lepas dari ikatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Atau beliau bersabda dengan redaksi: “…lebih cepat lepas daripada unta dari ikatannya.”Maka para penghafal Al-Qur’an sepatutnya tidak mengabaikannya. Sebab, sikap abai dan berpaling dari Al-Qur’an hingga hafalannya hilang dapat berkonsekuensi dosa besar. Ada satu perkara penting di sini yang ingin saya ingatkan, karena ada sebagian pemuda yang takut menghafal Al-Qur’an. Mereka berkata: “Saya tidak mau menghafal Al-Qur’an karena khawatir nanti akan lupa, sehingga saya berdosa karenanya.” Ini tidak diragukan lagi adalah bentuk bisikan setan dan upaya setan dalam menghalanginya dari kebaikan. Wahai Saudaraku, selagi Anda masih muda, hafalkanlah Al-Qur’an. Jagalah hafalan Al-Qur’an dan mohonlah pertolongan kepada Allah agar dimudahkan. Teruslah tekun agar ayat-ayat tersebut tetap teguh di dalam hati Anda. Apabila Anda lupa suatu ayat, padahal Anda sudah berusaha, maka Anda sama sekali tidak berdosa. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengimami shalat pada suatu malam, dan beliau terlupa satu ayat saat membacanya. Lalu Ubay bin Ka’ab mengingatkan beliau setelah shalat selesai. Beliau bertanya: “Mengapa tadi engkau tidak segera mengingatkanku?” Di lain waktu, beliau melewati seseorang yang sedang membaca Al-Qur’an, lalu beliau bersabda: “Semoga Allah merahmati si Fulan, ia telah mengingatkanku pada suatu ayat yang sempat aku dilupakan darinya.” Kesimpulannya, jika seseorang sudah bertekad kuat menghafal Al-Qur’an dan rajin mengulangnya, lalu lupa beberapa darinya, maka tidak diragukan bahwa ia tidaklah berdosa. Maka bagi Anda, wahai para pemuda, hendaknya memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Mintalah pula pertolongan kepada-Nya ‘Azza wa Jalla dalam menghafalkan Kitab suci-Nya. Mulailah langkah Anda untuk menghafal Al-Qur’an sekarang juga. Jagalah pula waktu Anda agar tidak terbuang sia-sia tanpa memberikan manfaat. Alhamdulillah, di negeri kita ini banyak halaqah Al-Qur’an. Mulai dari halaqah hafalan hingga kelas khusus untuk kelancaran membaca Al-Qur’an. Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar ini juga tersebar di seluruh negeri muslim dan bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. ======= تَقُولُ فِي رَمَضَانَ يَكْثُرُ الْقُرَّاءُ لِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهَذَا طَيِّبٌ وَفَضْلُهُ كَبِيرٌ وَعَظِيمٌ وَلَكِنْ بَعْدَ رَمَضَانَ قَدْ يُهْجَرُ هَذَا الْقُرْآنُ حَتَّى يَأْتِيَ رَمَضَانُ الْآخَرُ وَيَبْقَى عَلَى الرُّفُوفِ فَمَاذَا تَنْصَحُونَنَا َتَنْصَحُونَ الْمُسْلِمِينَ بِهَذَا ننْصَحُ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِينَ وَلَا سِيَّمَا حَفَظَةُ الْقُرْآنِ أَنْ يَتَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ بِالتِّلَاوَةِ لِيَنَالُوا الْأَجْرَ وَيَكُوْنَ بِارْتِبَاطٍ مَعَ كَلَامِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَلَّا يَدَعُوا وَقْتًا مِنْ أَوْقَاتِهِمْ إِلَّا وَلَهُمْ فِيهِ خَيْرٌ مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَحُثُّ إِخْوَانِي حُفَّاظَ الْقُرْآنِ عَلَى تَعَاهُدِهِ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِذَلِكَ فَقَالَ تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا أَوْ قَالَ تَفَصِّيًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا فَيَنْبَغِي لِحَفَظَةِ الْقُرْآنِ أَلَّا يُهْمِلُوهُ لِأَنَّ إِهْمَالَهُ وَالْإِعْرَاضَ عَنْهُ حَتَّى يُنْسَى قَدْ يَكُونُ فِيهِ إِثْمٌ كَبِيرٌ وَهُنَا مَسْأَلَةٌ أُحِبُّ أَنْ أُنَبِّهَ عَلَيْهَا وَهِيَ أَنَّ بَعْضَ الشَّبَابِ يَتَهَيَّبُ مِنْ حِفْظِ الْقُرْآنِ وَيَقُولُ أَنَا لَا أَحْفَظُهُ أَخْشَى أَنْ أَنْسَاهُ فَأَكُونَ عَلَى إِثْمٍ وَهَذَا لَا شَكَّ مِنْ وَسَاوِسِ الشَّيْطَانِ وَتَثْبِيْطِهِ عَنِ الْخَيْرِ فَأَنْتَ يَا أَخِي مَا دُمْتَ فِي زَمَنِ الشَّبَابِ احْفَظِ الْقُرْآنَوَتَعَاهَدْهُ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ عَلَيْهِ وَاحْرِصْ عَلَى ثَبَاتِهِ فِي قَلْبِكَ وَإِذَا نَسِيتَ آيَةً مَعَ الِاجْتِهَادِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْكَ إِطْلَاقًا فَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ يَوْمٍ بَلْ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ وَقَرَأَ وَنَسِيَ آيَةً مِنَ الْقُرْآنِ فَذَكَّرَهُ بِهَا أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَقَالَ هَلَّا كُنْتَ ذَكَّرْتَنِيهَا وَمَرَّ بِرَجُلٍ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ فَقَالَ يَرْحَمُ اللَّهُ فُلَانًا لَقَدْ ذَكَّرَنِي آيَةً كُنْتُ نُسِيتُهَا فَالْحَاصِلُ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا اجْتَهَدَ وَحَفِظَ الْقُرْآنَ وَتَعَاهَدَهُ ثُمَّ نَسِيَ مِنْهُ مَا نَسِيَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لَا شَكَّ فَعَلَيْكَ أَيُّهَا الشَّابُّ أَنْ تَتَعَوَّذَ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَأَنْ تَسْتَعِينَ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى حِفْظِ كِتَابِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنْ تَبْدَأَ بِحِفْظِ الْقُرْآنِ وَأَنْ تَحْفَظَ أَوْقَاتَكَ مِنْ إِضَاعَتِهَا بِلَا فَائِدَةٍ وَفِي بِلَادِنَا وَلِلَّهِ الْحَمْدُ حَلَقَاتٌ كَثِيرَةٌ مِنْ حِلَقِ تَعْلِيمِ الْقُرْآنِ حِفْظًا وَنَظَرًا فَنَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يَعُمَّ بِهَا جَمِيعَ بِلَادِ الْإِسْلَامِ وَأَنْ يَنْفَعَ بِهَا عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ
Pada bulan Ramadhan, banyak orang yang membaca Kitab Allah ‘Azza wa Jalla. Tentu ini bagus, keutamaannya amat besar dan agung. Namun, setelah Ramadhan berlalu, sering kali Al-Qur’an kembali ditinggalkan hingga datang Ramadhan berikutnya, hanya tersimpan di rak-rak buku. Apa nasihat Anda bagi kami dan segenap kaum muslimin dalam menghadapi hal ini? Kami menasihatkan kepada seluruh kaum muslimin, terutama para penghafal Al-Qur’an, agar senantiasa membaca Al-Qur’an. Tujuannya agar mereka meraih pahala dan hubungan dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla tetap kuat. Hendaknya pula mereka tidak membiarkan waktu berlalu begitu saja, kecuali dalam kebaikan, baik ucapan maupun perbuatan.Saya sangat menganjurkan bagi saudara-saudaraku, para penghafal Al-Qur’an, untuk untuk menjaga hafalannya. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan hal tersebut. Beliau bersabda: “Jagalah Al-Qur’an! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh hafalan Al-Qur’an itu lebih cepat hilangnya daripada seekor unta yang lepas dari ikatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Atau beliau bersabda dengan redaksi: “…lebih cepat lepas daripada unta dari ikatannya.”Maka para penghafal Al-Qur’an sepatutnya tidak mengabaikannya. Sebab, sikap abai dan berpaling dari Al-Qur’an hingga hafalannya hilang dapat berkonsekuensi dosa besar. Ada satu perkara penting di sini yang ingin saya ingatkan, karena ada sebagian pemuda yang takut menghafal Al-Qur’an. Mereka berkata: “Saya tidak mau menghafal Al-Qur’an karena khawatir nanti akan lupa, sehingga saya berdosa karenanya.” Ini tidak diragukan lagi adalah bentuk bisikan setan dan upaya setan dalam menghalanginya dari kebaikan. Wahai Saudaraku, selagi Anda masih muda, hafalkanlah Al-Qur’an. Jagalah hafalan Al-Qur’an dan mohonlah pertolongan kepada Allah agar dimudahkan. Teruslah tekun agar ayat-ayat tersebut tetap teguh di dalam hati Anda. Apabila Anda lupa suatu ayat, padahal Anda sudah berusaha, maka Anda sama sekali tidak berdosa. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengimami shalat pada suatu malam, dan beliau terlupa satu ayat saat membacanya. Lalu Ubay bin Ka’ab mengingatkan beliau setelah shalat selesai. Beliau bertanya: “Mengapa tadi engkau tidak segera mengingatkanku?” Di lain waktu, beliau melewati seseorang yang sedang membaca Al-Qur’an, lalu beliau bersabda: “Semoga Allah merahmati si Fulan, ia telah mengingatkanku pada suatu ayat yang sempat aku dilupakan darinya.” Kesimpulannya, jika seseorang sudah bertekad kuat menghafal Al-Qur’an dan rajin mengulangnya, lalu lupa beberapa darinya, maka tidak diragukan bahwa ia tidaklah berdosa. Maka bagi Anda, wahai para pemuda, hendaknya memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Mintalah pula pertolongan kepada-Nya ‘Azza wa Jalla dalam menghafalkan Kitab suci-Nya. Mulailah langkah Anda untuk menghafal Al-Qur’an sekarang juga. Jagalah pula waktu Anda agar tidak terbuang sia-sia tanpa memberikan manfaat. Alhamdulillah, di negeri kita ini banyak halaqah Al-Qur’an. Mulai dari halaqah hafalan hingga kelas khusus untuk kelancaran membaca Al-Qur’an. Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar ini juga tersebar di seluruh negeri muslim dan bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. ======= تَقُولُ فِي رَمَضَانَ يَكْثُرُ الْقُرَّاءُ لِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهَذَا طَيِّبٌ وَفَضْلُهُ كَبِيرٌ وَعَظِيمٌ وَلَكِنْ بَعْدَ رَمَضَانَ قَدْ يُهْجَرُ هَذَا الْقُرْآنُ حَتَّى يَأْتِيَ رَمَضَانُ الْآخَرُ وَيَبْقَى عَلَى الرُّفُوفِ فَمَاذَا تَنْصَحُونَنَا َتَنْصَحُونَ الْمُسْلِمِينَ بِهَذَا ننْصَحُ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِينَ وَلَا سِيَّمَا حَفَظَةُ الْقُرْآنِ أَنْ يَتَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ بِالتِّلَاوَةِ لِيَنَالُوا الْأَجْرَ وَيَكُوْنَ بِارْتِبَاطٍ مَعَ كَلَامِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَلَّا يَدَعُوا وَقْتًا مِنْ أَوْقَاتِهِمْ إِلَّا وَلَهُمْ فِيهِ خَيْرٌ مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَحُثُّ إِخْوَانِي حُفَّاظَ الْقُرْآنِ عَلَى تَعَاهُدِهِ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِذَلِكَ فَقَالَ تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا أَوْ قَالَ تَفَصِّيًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا فَيَنْبَغِي لِحَفَظَةِ الْقُرْآنِ أَلَّا يُهْمِلُوهُ لِأَنَّ إِهْمَالَهُ وَالْإِعْرَاضَ عَنْهُ حَتَّى يُنْسَى قَدْ يَكُونُ فِيهِ إِثْمٌ كَبِيرٌ وَهُنَا مَسْأَلَةٌ أُحِبُّ أَنْ أُنَبِّهَ عَلَيْهَا وَهِيَ أَنَّ بَعْضَ الشَّبَابِ يَتَهَيَّبُ مِنْ حِفْظِ الْقُرْآنِ وَيَقُولُ أَنَا لَا أَحْفَظُهُ أَخْشَى أَنْ أَنْسَاهُ فَأَكُونَ عَلَى إِثْمٍ وَهَذَا لَا شَكَّ مِنْ وَسَاوِسِ الشَّيْطَانِ وَتَثْبِيْطِهِ عَنِ الْخَيْرِ فَأَنْتَ يَا أَخِي مَا دُمْتَ فِي زَمَنِ الشَّبَابِ احْفَظِ الْقُرْآنَوَتَعَاهَدْهُ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ عَلَيْهِ وَاحْرِصْ عَلَى ثَبَاتِهِ فِي قَلْبِكَ وَإِذَا نَسِيتَ آيَةً مَعَ الِاجْتِهَادِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْكَ إِطْلَاقًا فَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ يَوْمٍ بَلْ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ وَقَرَأَ وَنَسِيَ آيَةً مِنَ الْقُرْآنِ فَذَكَّرَهُ بِهَا أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَقَالَ هَلَّا كُنْتَ ذَكَّرْتَنِيهَا وَمَرَّ بِرَجُلٍ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ فَقَالَ يَرْحَمُ اللَّهُ فُلَانًا لَقَدْ ذَكَّرَنِي آيَةً كُنْتُ نُسِيتُهَا فَالْحَاصِلُ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا اجْتَهَدَ وَحَفِظَ الْقُرْآنَ وَتَعَاهَدَهُ ثُمَّ نَسِيَ مِنْهُ مَا نَسِيَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لَا شَكَّ فَعَلَيْكَ أَيُّهَا الشَّابُّ أَنْ تَتَعَوَّذَ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَأَنْ تَسْتَعِينَ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى حِفْظِ كِتَابِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنْ تَبْدَأَ بِحِفْظِ الْقُرْآنِ وَأَنْ تَحْفَظَ أَوْقَاتَكَ مِنْ إِضَاعَتِهَا بِلَا فَائِدَةٍ وَفِي بِلَادِنَا وَلِلَّهِ الْحَمْدُ حَلَقَاتٌ كَثِيرَةٌ مِنْ حِلَقِ تَعْلِيمِ الْقُرْآنِ حِفْظًا وَنَظَرًا فَنَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يَعُمَّ بِهَا جَمِيعَ بِلَادِ الْإِسْلَامِ وَأَنْ يَنْفَعَ بِهَا عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ


Pada bulan Ramadhan, banyak orang yang membaca Kitab Allah ‘Azza wa Jalla. Tentu ini bagus, keutamaannya amat besar dan agung. Namun, setelah Ramadhan berlalu, sering kali Al-Qur’an kembali ditinggalkan hingga datang Ramadhan berikutnya, hanya tersimpan di rak-rak buku. Apa nasihat Anda bagi kami dan segenap kaum muslimin dalam menghadapi hal ini? Kami menasihatkan kepada seluruh kaum muslimin, terutama para penghafal Al-Qur’an, agar senantiasa membaca Al-Qur’an. Tujuannya agar mereka meraih pahala dan hubungan dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla tetap kuat. Hendaknya pula mereka tidak membiarkan waktu berlalu begitu saja, kecuali dalam kebaikan, baik ucapan maupun perbuatan.Saya sangat menganjurkan bagi saudara-saudaraku, para penghafal Al-Qur’an, untuk untuk menjaga hafalannya. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan hal tersebut. Beliau bersabda: “Jagalah Al-Qur’an! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh hafalan Al-Qur’an itu lebih cepat hilangnya daripada seekor unta yang lepas dari ikatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Atau beliau bersabda dengan redaksi: “…lebih cepat lepas daripada unta dari ikatannya.”Maka para penghafal Al-Qur’an sepatutnya tidak mengabaikannya. Sebab, sikap abai dan berpaling dari Al-Qur’an hingga hafalannya hilang dapat berkonsekuensi dosa besar. Ada satu perkara penting di sini yang ingin saya ingatkan, karena ada sebagian pemuda yang takut menghafal Al-Qur’an. Mereka berkata: “Saya tidak mau menghafal Al-Qur’an karena khawatir nanti akan lupa, sehingga saya berdosa karenanya.” Ini tidak diragukan lagi adalah bentuk bisikan setan dan upaya setan dalam menghalanginya dari kebaikan. Wahai Saudaraku, selagi Anda masih muda, hafalkanlah Al-Qur’an. Jagalah hafalan Al-Qur’an dan mohonlah pertolongan kepada Allah agar dimudahkan. Teruslah tekun agar ayat-ayat tersebut tetap teguh di dalam hati Anda. Apabila Anda lupa suatu ayat, padahal Anda sudah berusaha, maka Anda sama sekali tidak berdosa. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengimami shalat pada suatu malam, dan beliau terlupa satu ayat saat membacanya. Lalu Ubay bin Ka’ab mengingatkan beliau setelah shalat selesai. Beliau bertanya: “Mengapa tadi engkau tidak segera mengingatkanku?” Di lain waktu, beliau melewati seseorang yang sedang membaca Al-Qur’an, lalu beliau bersabda: “Semoga Allah merahmati si Fulan, ia telah mengingatkanku pada suatu ayat yang sempat aku dilupakan darinya.” Kesimpulannya, jika seseorang sudah bertekad kuat menghafal Al-Qur’an dan rajin mengulangnya, lalu lupa beberapa darinya, maka tidak diragukan bahwa ia tidaklah berdosa. Maka bagi Anda, wahai para pemuda, hendaknya memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Mintalah pula pertolongan kepada-Nya ‘Azza wa Jalla dalam menghafalkan Kitab suci-Nya. Mulailah langkah Anda untuk menghafal Al-Qur’an sekarang juga. Jagalah pula waktu Anda agar tidak terbuang sia-sia tanpa memberikan manfaat. Alhamdulillah, di negeri kita ini banyak halaqah Al-Qur’an. Mulai dari halaqah hafalan hingga kelas khusus untuk kelancaran membaca Al-Qur’an. Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar ini juga tersebar di seluruh negeri muslim dan bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. ======= تَقُولُ فِي رَمَضَانَ يَكْثُرُ الْقُرَّاءُ لِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهَذَا طَيِّبٌ وَفَضْلُهُ كَبِيرٌ وَعَظِيمٌ وَلَكِنْ بَعْدَ رَمَضَانَ قَدْ يُهْجَرُ هَذَا الْقُرْآنُ حَتَّى يَأْتِيَ رَمَضَانُ الْآخَرُ وَيَبْقَى عَلَى الرُّفُوفِ فَمَاذَا تَنْصَحُونَنَا َتَنْصَحُونَ الْمُسْلِمِينَ بِهَذَا ننْصَحُ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِينَ وَلَا سِيَّمَا حَفَظَةُ الْقُرْآنِ أَنْ يَتَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ بِالتِّلَاوَةِ لِيَنَالُوا الْأَجْرَ وَيَكُوْنَ بِارْتِبَاطٍ مَعَ كَلَامِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَلَّا يَدَعُوا وَقْتًا مِنْ أَوْقَاتِهِمْ إِلَّا وَلَهُمْ فِيهِ خَيْرٌ مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَحُثُّ إِخْوَانِي حُفَّاظَ الْقُرْآنِ عَلَى تَعَاهُدِهِ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِذَلِكَ فَقَالَ تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا أَوْ قَالَ تَفَصِّيًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا فَيَنْبَغِي لِحَفَظَةِ الْقُرْآنِ أَلَّا يُهْمِلُوهُ لِأَنَّ إِهْمَالَهُ وَالْإِعْرَاضَ عَنْهُ حَتَّى يُنْسَى قَدْ يَكُونُ فِيهِ إِثْمٌ كَبِيرٌ وَهُنَا مَسْأَلَةٌ أُحِبُّ أَنْ أُنَبِّهَ عَلَيْهَا وَهِيَ أَنَّ بَعْضَ الشَّبَابِ يَتَهَيَّبُ مِنْ حِفْظِ الْقُرْآنِ وَيَقُولُ أَنَا لَا أَحْفَظُهُ أَخْشَى أَنْ أَنْسَاهُ فَأَكُونَ عَلَى إِثْمٍ وَهَذَا لَا شَكَّ مِنْ وَسَاوِسِ الشَّيْطَانِ وَتَثْبِيْطِهِ عَنِ الْخَيْرِ فَأَنْتَ يَا أَخِي مَا دُمْتَ فِي زَمَنِ الشَّبَابِ احْفَظِ الْقُرْآنَوَتَعَاهَدْهُ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ عَلَيْهِ وَاحْرِصْ عَلَى ثَبَاتِهِ فِي قَلْبِكَ وَإِذَا نَسِيتَ آيَةً مَعَ الِاجْتِهَادِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْكَ إِطْلَاقًا فَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ يَوْمٍ بَلْ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ وَقَرَأَ وَنَسِيَ آيَةً مِنَ الْقُرْآنِ فَذَكَّرَهُ بِهَا أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَقَالَ هَلَّا كُنْتَ ذَكَّرْتَنِيهَا وَمَرَّ بِرَجُلٍ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ فَقَالَ يَرْحَمُ اللَّهُ فُلَانًا لَقَدْ ذَكَّرَنِي آيَةً كُنْتُ نُسِيتُهَا فَالْحَاصِلُ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا اجْتَهَدَ وَحَفِظَ الْقُرْآنَ وَتَعَاهَدَهُ ثُمَّ نَسِيَ مِنْهُ مَا نَسِيَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لَا شَكَّ فَعَلَيْكَ أَيُّهَا الشَّابُّ أَنْ تَتَعَوَّذَ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَأَنْ تَسْتَعِينَ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى حِفْظِ كِتَابِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنْ تَبْدَأَ بِحِفْظِ الْقُرْآنِ وَأَنْ تَحْفَظَ أَوْقَاتَكَ مِنْ إِضَاعَتِهَا بِلَا فَائِدَةٍ وَفِي بِلَادِنَا وَلِلَّهِ الْحَمْدُ حَلَقَاتٌ كَثِيرَةٌ مِنْ حِلَقِ تَعْلِيمِ الْقُرْآنِ حِفْظًا وَنَظَرًا فَنَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يَعُمَّ بِهَا جَمِيعَ بِلَادِ الْإِسْلَامِ وَأَنْ يَنْفَعَ بِهَا عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ

Perbedaan Khawarij dengan Bughat

Daftar Isi ToggleApa itu khawarij?Asal mula khawarijApa itu bughat?Dari mana pembahasan bughat berasal?Letak perbedaan antara khawarij dan bughatBahaya khawarij lebih besarSikap ahlus sunnahKesimpulanDalam pembahasan syariat, ada istilah-istilah yang sekilas tampak mirip, padahal tidak sama. Di antara istilah itu adalah khawarij dan bughat. Keduanya memang sama-sama berkaitan dengan sikap keluar dari ketaatan kepada imam kaum muslimin. Oleh karena itu, sebagian orang menyamakan keduanya. Padahal, para ulama membedakan antara khawarij dan bughat dari sisi hakikat, sebab munculnya, dan hukum yang berkaitan dengannya.Masalah ini penting untuk dipahami. Sebab, kalau dua istilah ini dicampuradukkan, seseorang bisa salah menempatkan hukum. Ada yang terlalu mudah memberi label khawarij kepada setiap bentuk pembangkangan. Sebaliknya, ada juga yang meremehkan penyimpangan khawarij, lalu menganggap mereka tidak lebih dari bughat biasa. Padahal, nash-nash syariat menunjukkan bahwa keduanya tidak sama. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ“Jika ada dua golongan dari kaum mukminin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat bughat terhadap yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat bughat itu sampai mereka kembali kepada perintah Allah.” (QS. al-Hujurat: 9)Di ayat tersebut, Allah tetap menyebut dua kelompok yang berperang itu sebagai kaum mukminin. Adapun tentang khawarij, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ“Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari buruannya.” [1]Dari dua dalil ini saja sudah terlihat bahwa bughat dan khawarij bukan satu pembahasan yang sama.Apa itu khawarij?Khawarij adalah bentuk jamak dari خارجي, dari kata خرج yang berarti keluar. Mereka disebut khawarij karena keluar dari ketaatan kepada imam kaum muslimin. Namun, para ulama tidak sekadar melihat sisi keluarnya. Mereka juga melihat kerusakan keyakinan yang ada pada kelompok ini. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,والخوارج هم أول من كفّر المسلمين بالذنوب، وكفّروا من خالفهم في بدعتهم، واستحلوا دمه وماله“Khawarij adalah kelompok pertama yang mengkafirkan kaum muslimin karena dosa-dosa. Mereka juga mengkafirkan orang yang menyelisihi bid’ah mereka, lalu menghalalkan darah dan hartanya.” [2]Ini menunjukkan bahwa khawarij bukan sekadar kelompok pembangkang. Mereka adalah kelompok yang punya ushul pemikiran yang rusak. Di antara ciri paling menonjol dari mereka adalah mengkafirkan kaum muslimin tanpa hak dan menghalalkan darah mereka.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan sifat mereka dalam hadis yang sangat terkenal,يَخْرُجُ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلاَتَكُمْ مَعَ صَلاَتِهِمْ، وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ، وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ“Akan keluar pada umat ini suatu kaum. Kalian akan meremehkan salat kalian dibanding salat mereka, puasa kalian dibanding puasa mereka, dan amalan kalian dibanding amalan mereka. Mereka membaca Al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari buruannya.” [3]Hadis ini menunjukkan bahwa khawarij sering menampakkan ibadah dan semangat agama. Akan tetapi, semangat itu tidak dibangun di atas pemahaman yang benar.Asal mula khawarijBenih khawarij sudah muncul sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini tampak dalam kisah Dzul Khuwaishirah at-Tamimi. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi harta, ia berkata, “Berbuat adillah, wahai Muhammad.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ“Celaka engkau. Siapa lagi yang akan berbuat adil jika aku tidak adil?” [4]Dalam lanjutan riwayat tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa dari jenis orang seperti ini, akan muncul suatu kaum yang rajin beribadah, tetapi keluar dari agama. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa akar pemikiran khawarij adalah buruk sangka, merasa paling benar, lalu berani memvonis dengan pemahaman yang rusak.Adapun kemunculan mereka sebagai kelompok yang besar terjadi pada masa Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu setelah peristiwa tahkim. Mereka keluar dari barisan ‘Ali, lalu mengkafirkan ‘Ali dan pihak-pihak yang menerima tahkim. Dari sinilah mereka dikenal sebagai khawarij.Ahmad bin Ali az-Zamili ‘Asiri rahimahullah berkata,الخوارج؛ لأنهم يغلون في الدين ويكفرون المسلمين بالذنوب التي لم يجعلها الإسلام مكفرة، وقد خرجوا في زمن علي بن أبي طالب“Khawarij adalah kelompok yang bersikap berlebihan dalam beragama. Mereka mengkafirkan kaum muslimin karena dosa-dosa yang dalam ajaran Islam tidak menjadikan pelakunya kafir. Kelompok ini mulai muncul pada masa pemerintahan ‘Ali bin Abi Thalib.” [5]Apa itu bughat?Bughat adalah bentuk jamak dari باغٍ. Kata ini berasal dari البغي yang berarti melampaui batas atau berbuat zalim.Dalam istilah fikih, bughat adalah kaum muslimin yang memiliki kekuatan, lalu keluar dari ketaatan kepada imam dengan sebab takwil yang mereka anggap benar. Menurut Syekh Yaser bin Ahmad bin Badr an-Najjar ad-Dimyathi dalam Mausu‘ah al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba‘ah,وقالَ الحَنابلةُ: البُغاةُ: قومٌ مِنْ أهلِ الحَقِّ يَخرجونَ عن قَبضةِ الإمامِ ويَرومونَ خَلْعَه لتأويلٍ سائغٍ“Kalangan Hanabilah berpendapat, ‘Bughat adalah suatu kaum dari kalangan ahlul haq yang keluar dari kekuasaan imam dan ingin melepaskannya karena suatu takwil yang dianggap benar.’” [6]Definisi ini penting. Sebab, dari sini tampak bahwa bughat pada asalnya tetap dihukumi sebagai kaum muslimin. Mereka tidak otomatis keluar dari Islam hanya karena pembangkangan dan peperangan mereka. Dalilnya adalah firman Allah dalam surah al-Hujurat ayat 9 di atas. Allah tetap menyebut kedua kelompok yang berperang itu sebagai kaum mukminin. An-Nawawi rahimahullah berkata,وَلَا يُكَفَّرُونَ بِالْبَغْيِ“Mereka tidak dikafirkan karena tindakan bughat.” [7]Jadi, bughat adalah kaum muslimin yang melakukan pembangkangan, tetapi tidak dibangun di atas akidah khawarij.Dari mana pembahasan bughat berasal?Pembahasan bughat berangkat dari Al-Qur’an dan praktik para sahabat dalam menyikapi kelompok muslim yang mengangkat senjata. Karena tidak semua orang yang keluar kepada imam dihukumi sama. Ada yang perampok, ada yang khawarij, dan ada pula yang bughat.Oleh karena itu, para fuqaha membuat bab khusus tentang ahkam al-bughat. Mereka membahas hukum-hukum yang berkaitan dengan kelompok bughat, kapan dinasihati, kapan diperangi, dan bagaimana perlakuan terhadap mereka. Syekh Sulaiman bin Muhammad rahimahullah berkata dalam kitabnya Durus Fiqhiyyah (al-Fiqh Kamilan),البغاة جمع باغ، وهو لغة: الظلم ومجاوزة الحد، سموا بذلك لظلمهم وعدولهم عن الحق. واصطلاحاً: هم الخارجون على الإمام بتأويل سائغ ولهم شوكة“Bughat adalah bentuk jamak dari bāghī. Secara bahasa, kata ini berarti kezaliman dan melampaui batas. Mereka disebut demikian karena menyimpang dari kebenaran. Adapun secara istilah, bughat adalah kelompok yang keluar memberontak terhadap penguasa yang sah dengan suatu penafsiran yang dianggap memiliki dasar, serta didukung oleh kekuatan.” [8]Dari sini terlihat bahwa bughat lebih banyak dibahas dalam kitab-kitab fikih. Adapun khawarij, mereka banyak dibahas dalam kitab-kitab akidah. Ini sendiri sudah menunjukkan bahwa keduanya tidak sama.Letak perbedaan antara khawarij dan bughatPerbedaan yang paling jelas adalah bahwa khawarij punya penyimpangan akidah, sedangkan bughat tidak mesti demikian. Khawarij keluar kepada imam sambil membawa keyakinan yang rusak. Mereka mengkafirkan kaum muslimin tanpa hak, menganggap dosa besar sebagai kekafiran, dan menghalalkan darah kaum muslimin. Adapun bughat, mereka keluar karena takwil, syubhat, atau tuntutan tertentu, tetapi tidak dibangun di atas keyakinan takfir seperti khawarij.Oleh karena itu, para ulama menjadikan khawarij sebagai pembahasan dalam bab firqah dan akidah, sedangkan bughat umumnya dibahas dalam bab fikih.Perbedaan berikutnya terlihat dari hukum mereka. Bughat tetap dihukumi sebagai kaum mukminin, sebagaimana yang ditegaskan dalam surah al-Hujurat ayat 9. Adapun khawarij, para ulama memang berbeda pendapat apakah mereka kafir atau tidak. Namun, jumhur ulama berpendapat bahwa mereka tidak kafir secara mutlak, walaupun mereka adalah ahlul bid‘ah yang sangat sesat. Syekh Abdul Aziz bin Abdullah ar-Rajihi berkata,إن الخوارج ليسوا كفاراً“Khawarij tidak dihukumi kafir (menurut jumhur ulama).” [9]Akan tetapi, walaupun jumhur ulama tidak mengkafirkan mereka secara mutlak, bahaya mereka tetap sangat besar. Sebab, mereka merusak agama sekaligus merusak keamanan kaum muslimin. Perbedaan yang lain terlihat dari sikap mereka terhadap kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأَوْثَانِ“Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala.” [10]Ini adalah ciri besar khawarij. Mereka keras kepada kaum muslimin, tetapi justru tidak proporsional terhadap musuh-musuh Islam yang nyata. Adapun bughat, walaupun mereka bisa memerangi imam atau kelompok muslim lainnya, mereka tidak dibangun di atas prinsip takfir dan penghalalan darah kaum muslimin.Perbedaan yang lain lagi adalah bahwa tidak setiap orang yang keluar kepada penguasa otomatis disebut khawarij. Bisa jadi dia bughat, bisa jadi perampok, bisa jadi pelaku kejahatan biasa. Oleh karena itu, istilah khawarij tidak boleh dipakai serampangan.Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika membedakan khawarij dengan kelompok pembangkang lain menjelaskan bahwa khawarij adalah orang-orang yang keluar dari sunah dan jemaah, serta mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka. [11] Ini menunjukkan bahwa khawarij memiliki ciri khusus yang tidak otomatis ada pada setiap bughat.Bahaya khawarij lebih besarBahaya khawarij lebih besar daripada bughat. Sebab, mereka tidak hanya menimbulkan kekacauan, tetapi juga membawa syubhat agama. Mereka berbicara atas nama ibadah, semangat agama, dan penegakan hukum Allah. Padahal, di balik itu ada pemahaman yang rusak.Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan yang sangat keras terhadap mereka. Beliau bersabda,لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ“Jika aku mendapati mereka, sungguh aku akan memerangi mereka sebagaimana dibinasakannya kaum ‘Ad.” [12]Hadis ini menunjukkan bahwa khawarij bukan sekadar kelompok pembangkang biasa.Sikap ahlus sunnahAhlus sunnah berada di tengah dalam masalah ini. Mereka tidak membenarkan kezaliman. Namun mereka juga tidak menempuh jalan khawarij dalam menyikapi kezaliman penguasa. Ahlus sunnah memerintahkan untuk menasihati penguasa dengan cara yang syar’i, bersabar atas kezaliman yang tidak sampai kufur bawwah (kekufuran yang nyata), menjaga darah kaum muslimin, dan tidak memberontak kecuali bila tampak kekafiran yang nyata dengan bukti dari Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ فِيهِ مِنَ اللَّهِ بُرْهَانٌ“Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata, yang kalian memiliki bukti dari Allah padanya.” [13]Oleh karena itu, jalan ahlus sunnah bukan jalan pembangkangan yang dibangun di atas emosi, dan bukan pula jalan meremehkan darah kaum muslimin.KesimpulanDari pembahasan di atas, dapat dipahami bahwa khawarij dan bughat bukanlah dua istilah yang sama, walaupun keduanya bisa bertemu dalam bentuk keluar dari ketaatan kepada imam kaum muslimin.Khawarij adalah kelompok yang keluar kepada imam dengan membawa keyakinan yang rusak, terutama dalam masalah takfir terhadap kaum muslimin dan penghalalan darah mereka. Oleh karena itu, khawarij adalah penyimpangan dalam akidah dan manhaj sekaligus.Adapun bughat adalah kaum muslimin yang memberontak kepada imam karena syubhat atau takwil tertentu. Mereka tetap dihukumi sebagai orang-orang beriman, walaupun telah melakukan pembangkangan dan kezaliman. Oleh karena itu, membedakan antara keduanya adalah hal yang penting. Supaya seseorang tidak salah memberi label, tidak meremehkan bahaya khawarij, dan tetap menempatkan hukum sesuai dengan penjelasan syariat.Wallahu a‘lam bish-shawab.***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6930; Muslim, Shahih Muslim, no. 1064.[2] Ibnu Taimiyah, Majmu‘ al-Fatawa, 5: 199.[3] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6930; Muslim, Shahih Muslim, no. 1064.[4] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6933; Muslim, Shahih Muslim, no. 1064.[5] Ahmad bin Ali az-Zamili ‘Asiri, Manhaj asy-Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi wa Juhuduhu fi Taqrir al-‘Aqidah wa ar-Radd ‘ala al-Mukhalifin, hal. 614..[6] Syekh Yaser bin Ahmad bin Badr an-Najjar ad-Dimyathi, Mausu‘ah al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba‘ah, 6: 21.[7] An-Nawawi, Raudhat at-Thalibin wa ‘Umdat al-Muftin, 10: 50.[8] Syekh Sulaiman bin Muhammad al-Luhaimid, Durus Fiqhiyyah (al-Fiqh Kamilan), 5: 193.[9] Syekh Abdul Aziz bin Abdullah ar-Rajihi, Syarh Kitab as-Sunnah lil-Barbahari, 10: 38.[10] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 3344; Muslim, Shahih Muslim, no. 1064.[11] Ibnu Taimiyah, Majmu‘ al-Fatawa, 28: 497-500.[12] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 3344; Muslim, Shahih Muslim, no. 1064.[13] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 7056; Muslim, Shahih Muslim, no. 1709. Daftar Pustakaal-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari.an-Najjar ad-Dimyathi, Yaser bin Ahmad bin Badr. Mausu‘ah al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba‘ah. Kairo: Dar at-Taqwa, 1444 H / 2023 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)an-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Raudhat at-Thalibin wa ‘Umdat al-Muftin. Beirut: al-Maktab al-Islami, 1412 H / 1991 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)ar-Rajihi, Abdul Aziz bin Abdullah. Syarh Kitab as-Sunnah lil-Barbahari. http://www.islamweb.net.az-Zamili ‘Asiri, Ahmad bin Ali. Manhaj asy-Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi wa Juhuduhu fi Taqrir al-‘Aqidah wa ar-Radd ‘ala al-Mukhalifin. Tesis Magister, Universitas Imam Muhammad bin Saud Islamiyah, 1431 H.Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. Majmu‘ al-Fatawa. Madinah: Majma‘ al-Malik Fahd li Thiba‘at al-Mushaf asy-Syarif. (diakses melalui Maktabah Syamilah)Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim.al-Luhaimid, Sulaiman bin Muhammad. Durus Fiqhiyyah (al-Fiqh Kamilan). (diakses melalui Maktabah Syamilah)

Perbedaan Khawarij dengan Bughat

Daftar Isi ToggleApa itu khawarij?Asal mula khawarijApa itu bughat?Dari mana pembahasan bughat berasal?Letak perbedaan antara khawarij dan bughatBahaya khawarij lebih besarSikap ahlus sunnahKesimpulanDalam pembahasan syariat, ada istilah-istilah yang sekilas tampak mirip, padahal tidak sama. Di antara istilah itu adalah khawarij dan bughat. Keduanya memang sama-sama berkaitan dengan sikap keluar dari ketaatan kepada imam kaum muslimin. Oleh karena itu, sebagian orang menyamakan keduanya. Padahal, para ulama membedakan antara khawarij dan bughat dari sisi hakikat, sebab munculnya, dan hukum yang berkaitan dengannya.Masalah ini penting untuk dipahami. Sebab, kalau dua istilah ini dicampuradukkan, seseorang bisa salah menempatkan hukum. Ada yang terlalu mudah memberi label khawarij kepada setiap bentuk pembangkangan. Sebaliknya, ada juga yang meremehkan penyimpangan khawarij, lalu menganggap mereka tidak lebih dari bughat biasa. Padahal, nash-nash syariat menunjukkan bahwa keduanya tidak sama. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ“Jika ada dua golongan dari kaum mukminin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat bughat terhadap yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat bughat itu sampai mereka kembali kepada perintah Allah.” (QS. al-Hujurat: 9)Di ayat tersebut, Allah tetap menyebut dua kelompok yang berperang itu sebagai kaum mukminin. Adapun tentang khawarij, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ“Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari buruannya.” [1]Dari dua dalil ini saja sudah terlihat bahwa bughat dan khawarij bukan satu pembahasan yang sama.Apa itu khawarij?Khawarij adalah bentuk jamak dari خارجي, dari kata خرج yang berarti keluar. Mereka disebut khawarij karena keluar dari ketaatan kepada imam kaum muslimin. Namun, para ulama tidak sekadar melihat sisi keluarnya. Mereka juga melihat kerusakan keyakinan yang ada pada kelompok ini. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,والخوارج هم أول من كفّر المسلمين بالذنوب، وكفّروا من خالفهم في بدعتهم، واستحلوا دمه وماله“Khawarij adalah kelompok pertama yang mengkafirkan kaum muslimin karena dosa-dosa. Mereka juga mengkafirkan orang yang menyelisihi bid’ah mereka, lalu menghalalkan darah dan hartanya.” [2]Ini menunjukkan bahwa khawarij bukan sekadar kelompok pembangkang. Mereka adalah kelompok yang punya ushul pemikiran yang rusak. Di antara ciri paling menonjol dari mereka adalah mengkafirkan kaum muslimin tanpa hak dan menghalalkan darah mereka.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan sifat mereka dalam hadis yang sangat terkenal,يَخْرُجُ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلاَتَكُمْ مَعَ صَلاَتِهِمْ، وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ، وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ“Akan keluar pada umat ini suatu kaum. Kalian akan meremehkan salat kalian dibanding salat mereka, puasa kalian dibanding puasa mereka, dan amalan kalian dibanding amalan mereka. Mereka membaca Al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari buruannya.” [3]Hadis ini menunjukkan bahwa khawarij sering menampakkan ibadah dan semangat agama. Akan tetapi, semangat itu tidak dibangun di atas pemahaman yang benar.Asal mula khawarijBenih khawarij sudah muncul sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini tampak dalam kisah Dzul Khuwaishirah at-Tamimi. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi harta, ia berkata, “Berbuat adillah, wahai Muhammad.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ“Celaka engkau. Siapa lagi yang akan berbuat adil jika aku tidak adil?” [4]Dalam lanjutan riwayat tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa dari jenis orang seperti ini, akan muncul suatu kaum yang rajin beribadah, tetapi keluar dari agama. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa akar pemikiran khawarij adalah buruk sangka, merasa paling benar, lalu berani memvonis dengan pemahaman yang rusak.Adapun kemunculan mereka sebagai kelompok yang besar terjadi pada masa Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu setelah peristiwa tahkim. Mereka keluar dari barisan ‘Ali, lalu mengkafirkan ‘Ali dan pihak-pihak yang menerima tahkim. Dari sinilah mereka dikenal sebagai khawarij.Ahmad bin Ali az-Zamili ‘Asiri rahimahullah berkata,الخوارج؛ لأنهم يغلون في الدين ويكفرون المسلمين بالذنوب التي لم يجعلها الإسلام مكفرة، وقد خرجوا في زمن علي بن أبي طالب“Khawarij adalah kelompok yang bersikap berlebihan dalam beragama. Mereka mengkafirkan kaum muslimin karena dosa-dosa yang dalam ajaran Islam tidak menjadikan pelakunya kafir. Kelompok ini mulai muncul pada masa pemerintahan ‘Ali bin Abi Thalib.” [5]Apa itu bughat?Bughat adalah bentuk jamak dari باغٍ. Kata ini berasal dari البغي yang berarti melampaui batas atau berbuat zalim.Dalam istilah fikih, bughat adalah kaum muslimin yang memiliki kekuatan, lalu keluar dari ketaatan kepada imam dengan sebab takwil yang mereka anggap benar. Menurut Syekh Yaser bin Ahmad bin Badr an-Najjar ad-Dimyathi dalam Mausu‘ah al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba‘ah,وقالَ الحَنابلةُ: البُغاةُ: قومٌ مِنْ أهلِ الحَقِّ يَخرجونَ عن قَبضةِ الإمامِ ويَرومونَ خَلْعَه لتأويلٍ سائغٍ“Kalangan Hanabilah berpendapat, ‘Bughat adalah suatu kaum dari kalangan ahlul haq yang keluar dari kekuasaan imam dan ingin melepaskannya karena suatu takwil yang dianggap benar.’” [6]Definisi ini penting. Sebab, dari sini tampak bahwa bughat pada asalnya tetap dihukumi sebagai kaum muslimin. Mereka tidak otomatis keluar dari Islam hanya karena pembangkangan dan peperangan mereka. Dalilnya adalah firman Allah dalam surah al-Hujurat ayat 9 di atas. Allah tetap menyebut kedua kelompok yang berperang itu sebagai kaum mukminin. An-Nawawi rahimahullah berkata,وَلَا يُكَفَّرُونَ بِالْبَغْيِ“Mereka tidak dikafirkan karena tindakan bughat.” [7]Jadi, bughat adalah kaum muslimin yang melakukan pembangkangan, tetapi tidak dibangun di atas akidah khawarij.Dari mana pembahasan bughat berasal?Pembahasan bughat berangkat dari Al-Qur’an dan praktik para sahabat dalam menyikapi kelompok muslim yang mengangkat senjata. Karena tidak semua orang yang keluar kepada imam dihukumi sama. Ada yang perampok, ada yang khawarij, dan ada pula yang bughat.Oleh karena itu, para fuqaha membuat bab khusus tentang ahkam al-bughat. Mereka membahas hukum-hukum yang berkaitan dengan kelompok bughat, kapan dinasihati, kapan diperangi, dan bagaimana perlakuan terhadap mereka. Syekh Sulaiman bin Muhammad rahimahullah berkata dalam kitabnya Durus Fiqhiyyah (al-Fiqh Kamilan),البغاة جمع باغ، وهو لغة: الظلم ومجاوزة الحد، سموا بذلك لظلمهم وعدولهم عن الحق. واصطلاحاً: هم الخارجون على الإمام بتأويل سائغ ولهم شوكة“Bughat adalah bentuk jamak dari bāghī. Secara bahasa, kata ini berarti kezaliman dan melampaui batas. Mereka disebut demikian karena menyimpang dari kebenaran. Adapun secara istilah, bughat adalah kelompok yang keluar memberontak terhadap penguasa yang sah dengan suatu penafsiran yang dianggap memiliki dasar, serta didukung oleh kekuatan.” [8]Dari sini terlihat bahwa bughat lebih banyak dibahas dalam kitab-kitab fikih. Adapun khawarij, mereka banyak dibahas dalam kitab-kitab akidah. Ini sendiri sudah menunjukkan bahwa keduanya tidak sama.Letak perbedaan antara khawarij dan bughatPerbedaan yang paling jelas adalah bahwa khawarij punya penyimpangan akidah, sedangkan bughat tidak mesti demikian. Khawarij keluar kepada imam sambil membawa keyakinan yang rusak. Mereka mengkafirkan kaum muslimin tanpa hak, menganggap dosa besar sebagai kekafiran, dan menghalalkan darah kaum muslimin. Adapun bughat, mereka keluar karena takwil, syubhat, atau tuntutan tertentu, tetapi tidak dibangun di atas keyakinan takfir seperti khawarij.Oleh karena itu, para ulama menjadikan khawarij sebagai pembahasan dalam bab firqah dan akidah, sedangkan bughat umumnya dibahas dalam bab fikih.Perbedaan berikutnya terlihat dari hukum mereka. Bughat tetap dihukumi sebagai kaum mukminin, sebagaimana yang ditegaskan dalam surah al-Hujurat ayat 9. Adapun khawarij, para ulama memang berbeda pendapat apakah mereka kafir atau tidak. Namun, jumhur ulama berpendapat bahwa mereka tidak kafir secara mutlak, walaupun mereka adalah ahlul bid‘ah yang sangat sesat. Syekh Abdul Aziz bin Abdullah ar-Rajihi berkata,إن الخوارج ليسوا كفاراً“Khawarij tidak dihukumi kafir (menurut jumhur ulama).” [9]Akan tetapi, walaupun jumhur ulama tidak mengkafirkan mereka secara mutlak, bahaya mereka tetap sangat besar. Sebab, mereka merusak agama sekaligus merusak keamanan kaum muslimin. Perbedaan yang lain terlihat dari sikap mereka terhadap kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأَوْثَانِ“Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala.” [10]Ini adalah ciri besar khawarij. Mereka keras kepada kaum muslimin, tetapi justru tidak proporsional terhadap musuh-musuh Islam yang nyata. Adapun bughat, walaupun mereka bisa memerangi imam atau kelompok muslim lainnya, mereka tidak dibangun di atas prinsip takfir dan penghalalan darah kaum muslimin.Perbedaan yang lain lagi adalah bahwa tidak setiap orang yang keluar kepada penguasa otomatis disebut khawarij. Bisa jadi dia bughat, bisa jadi perampok, bisa jadi pelaku kejahatan biasa. Oleh karena itu, istilah khawarij tidak boleh dipakai serampangan.Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika membedakan khawarij dengan kelompok pembangkang lain menjelaskan bahwa khawarij adalah orang-orang yang keluar dari sunah dan jemaah, serta mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka. [11] Ini menunjukkan bahwa khawarij memiliki ciri khusus yang tidak otomatis ada pada setiap bughat.Bahaya khawarij lebih besarBahaya khawarij lebih besar daripada bughat. Sebab, mereka tidak hanya menimbulkan kekacauan, tetapi juga membawa syubhat agama. Mereka berbicara atas nama ibadah, semangat agama, dan penegakan hukum Allah. Padahal, di balik itu ada pemahaman yang rusak.Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan yang sangat keras terhadap mereka. Beliau bersabda,لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ“Jika aku mendapati mereka, sungguh aku akan memerangi mereka sebagaimana dibinasakannya kaum ‘Ad.” [12]Hadis ini menunjukkan bahwa khawarij bukan sekadar kelompok pembangkang biasa.Sikap ahlus sunnahAhlus sunnah berada di tengah dalam masalah ini. Mereka tidak membenarkan kezaliman. Namun mereka juga tidak menempuh jalan khawarij dalam menyikapi kezaliman penguasa. Ahlus sunnah memerintahkan untuk menasihati penguasa dengan cara yang syar’i, bersabar atas kezaliman yang tidak sampai kufur bawwah (kekufuran yang nyata), menjaga darah kaum muslimin, dan tidak memberontak kecuali bila tampak kekafiran yang nyata dengan bukti dari Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ فِيهِ مِنَ اللَّهِ بُرْهَانٌ“Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata, yang kalian memiliki bukti dari Allah padanya.” [13]Oleh karena itu, jalan ahlus sunnah bukan jalan pembangkangan yang dibangun di atas emosi, dan bukan pula jalan meremehkan darah kaum muslimin.KesimpulanDari pembahasan di atas, dapat dipahami bahwa khawarij dan bughat bukanlah dua istilah yang sama, walaupun keduanya bisa bertemu dalam bentuk keluar dari ketaatan kepada imam kaum muslimin.Khawarij adalah kelompok yang keluar kepada imam dengan membawa keyakinan yang rusak, terutama dalam masalah takfir terhadap kaum muslimin dan penghalalan darah mereka. Oleh karena itu, khawarij adalah penyimpangan dalam akidah dan manhaj sekaligus.Adapun bughat adalah kaum muslimin yang memberontak kepada imam karena syubhat atau takwil tertentu. Mereka tetap dihukumi sebagai orang-orang beriman, walaupun telah melakukan pembangkangan dan kezaliman. Oleh karena itu, membedakan antara keduanya adalah hal yang penting. Supaya seseorang tidak salah memberi label, tidak meremehkan bahaya khawarij, dan tetap menempatkan hukum sesuai dengan penjelasan syariat.Wallahu a‘lam bish-shawab.***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6930; Muslim, Shahih Muslim, no. 1064.[2] Ibnu Taimiyah, Majmu‘ al-Fatawa, 5: 199.[3] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6930; Muslim, Shahih Muslim, no. 1064.[4] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6933; Muslim, Shahih Muslim, no. 1064.[5] Ahmad bin Ali az-Zamili ‘Asiri, Manhaj asy-Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi wa Juhuduhu fi Taqrir al-‘Aqidah wa ar-Radd ‘ala al-Mukhalifin, hal. 614..[6] Syekh Yaser bin Ahmad bin Badr an-Najjar ad-Dimyathi, Mausu‘ah al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba‘ah, 6: 21.[7] An-Nawawi, Raudhat at-Thalibin wa ‘Umdat al-Muftin, 10: 50.[8] Syekh Sulaiman bin Muhammad al-Luhaimid, Durus Fiqhiyyah (al-Fiqh Kamilan), 5: 193.[9] Syekh Abdul Aziz bin Abdullah ar-Rajihi, Syarh Kitab as-Sunnah lil-Barbahari, 10: 38.[10] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 3344; Muslim, Shahih Muslim, no. 1064.[11] Ibnu Taimiyah, Majmu‘ al-Fatawa, 28: 497-500.[12] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 3344; Muslim, Shahih Muslim, no. 1064.[13] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 7056; Muslim, Shahih Muslim, no. 1709. Daftar Pustakaal-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari.an-Najjar ad-Dimyathi, Yaser bin Ahmad bin Badr. Mausu‘ah al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba‘ah. Kairo: Dar at-Taqwa, 1444 H / 2023 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)an-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Raudhat at-Thalibin wa ‘Umdat al-Muftin. Beirut: al-Maktab al-Islami, 1412 H / 1991 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)ar-Rajihi, Abdul Aziz bin Abdullah. Syarh Kitab as-Sunnah lil-Barbahari. http://www.islamweb.net.az-Zamili ‘Asiri, Ahmad bin Ali. Manhaj asy-Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi wa Juhuduhu fi Taqrir al-‘Aqidah wa ar-Radd ‘ala al-Mukhalifin. Tesis Magister, Universitas Imam Muhammad bin Saud Islamiyah, 1431 H.Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. Majmu‘ al-Fatawa. Madinah: Majma‘ al-Malik Fahd li Thiba‘at al-Mushaf asy-Syarif. (diakses melalui Maktabah Syamilah)Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim.al-Luhaimid, Sulaiman bin Muhammad. Durus Fiqhiyyah (al-Fiqh Kamilan). (diakses melalui Maktabah Syamilah)
Daftar Isi ToggleApa itu khawarij?Asal mula khawarijApa itu bughat?Dari mana pembahasan bughat berasal?Letak perbedaan antara khawarij dan bughatBahaya khawarij lebih besarSikap ahlus sunnahKesimpulanDalam pembahasan syariat, ada istilah-istilah yang sekilas tampak mirip, padahal tidak sama. Di antara istilah itu adalah khawarij dan bughat. Keduanya memang sama-sama berkaitan dengan sikap keluar dari ketaatan kepada imam kaum muslimin. Oleh karena itu, sebagian orang menyamakan keduanya. Padahal, para ulama membedakan antara khawarij dan bughat dari sisi hakikat, sebab munculnya, dan hukum yang berkaitan dengannya.Masalah ini penting untuk dipahami. Sebab, kalau dua istilah ini dicampuradukkan, seseorang bisa salah menempatkan hukum. Ada yang terlalu mudah memberi label khawarij kepada setiap bentuk pembangkangan. Sebaliknya, ada juga yang meremehkan penyimpangan khawarij, lalu menganggap mereka tidak lebih dari bughat biasa. Padahal, nash-nash syariat menunjukkan bahwa keduanya tidak sama. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ“Jika ada dua golongan dari kaum mukminin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat bughat terhadap yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat bughat itu sampai mereka kembali kepada perintah Allah.” (QS. al-Hujurat: 9)Di ayat tersebut, Allah tetap menyebut dua kelompok yang berperang itu sebagai kaum mukminin. Adapun tentang khawarij, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ“Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari buruannya.” [1]Dari dua dalil ini saja sudah terlihat bahwa bughat dan khawarij bukan satu pembahasan yang sama.Apa itu khawarij?Khawarij adalah bentuk jamak dari خارجي, dari kata خرج yang berarti keluar. Mereka disebut khawarij karena keluar dari ketaatan kepada imam kaum muslimin. Namun, para ulama tidak sekadar melihat sisi keluarnya. Mereka juga melihat kerusakan keyakinan yang ada pada kelompok ini. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,والخوارج هم أول من كفّر المسلمين بالذنوب، وكفّروا من خالفهم في بدعتهم، واستحلوا دمه وماله“Khawarij adalah kelompok pertama yang mengkafirkan kaum muslimin karena dosa-dosa. Mereka juga mengkafirkan orang yang menyelisihi bid’ah mereka, lalu menghalalkan darah dan hartanya.” [2]Ini menunjukkan bahwa khawarij bukan sekadar kelompok pembangkang. Mereka adalah kelompok yang punya ushul pemikiran yang rusak. Di antara ciri paling menonjol dari mereka adalah mengkafirkan kaum muslimin tanpa hak dan menghalalkan darah mereka.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan sifat mereka dalam hadis yang sangat terkenal,يَخْرُجُ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلاَتَكُمْ مَعَ صَلاَتِهِمْ، وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ، وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ“Akan keluar pada umat ini suatu kaum. Kalian akan meremehkan salat kalian dibanding salat mereka, puasa kalian dibanding puasa mereka, dan amalan kalian dibanding amalan mereka. Mereka membaca Al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari buruannya.” [3]Hadis ini menunjukkan bahwa khawarij sering menampakkan ibadah dan semangat agama. Akan tetapi, semangat itu tidak dibangun di atas pemahaman yang benar.Asal mula khawarijBenih khawarij sudah muncul sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini tampak dalam kisah Dzul Khuwaishirah at-Tamimi. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi harta, ia berkata, “Berbuat adillah, wahai Muhammad.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ“Celaka engkau. Siapa lagi yang akan berbuat adil jika aku tidak adil?” [4]Dalam lanjutan riwayat tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa dari jenis orang seperti ini, akan muncul suatu kaum yang rajin beribadah, tetapi keluar dari agama. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa akar pemikiran khawarij adalah buruk sangka, merasa paling benar, lalu berani memvonis dengan pemahaman yang rusak.Adapun kemunculan mereka sebagai kelompok yang besar terjadi pada masa Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu setelah peristiwa tahkim. Mereka keluar dari barisan ‘Ali, lalu mengkafirkan ‘Ali dan pihak-pihak yang menerima tahkim. Dari sinilah mereka dikenal sebagai khawarij.Ahmad bin Ali az-Zamili ‘Asiri rahimahullah berkata,الخوارج؛ لأنهم يغلون في الدين ويكفرون المسلمين بالذنوب التي لم يجعلها الإسلام مكفرة، وقد خرجوا في زمن علي بن أبي طالب“Khawarij adalah kelompok yang bersikap berlebihan dalam beragama. Mereka mengkafirkan kaum muslimin karena dosa-dosa yang dalam ajaran Islam tidak menjadikan pelakunya kafir. Kelompok ini mulai muncul pada masa pemerintahan ‘Ali bin Abi Thalib.” [5]Apa itu bughat?Bughat adalah bentuk jamak dari باغٍ. Kata ini berasal dari البغي yang berarti melampaui batas atau berbuat zalim.Dalam istilah fikih, bughat adalah kaum muslimin yang memiliki kekuatan, lalu keluar dari ketaatan kepada imam dengan sebab takwil yang mereka anggap benar. Menurut Syekh Yaser bin Ahmad bin Badr an-Najjar ad-Dimyathi dalam Mausu‘ah al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba‘ah,وقالَ الحَنابلةُ: البُغاةُ: قومٌ مِنْ أهلِ الحَقِّ يَخرجونَ عن قَبضةِ الإمامِ ويَرومونَ خَلْعَه لتأويلٍ سائغٍ“Kalangan Hanabilah berpendapat, ‘Bughat adalah suatu kaum dari kalangan ahlul haq yang keluar dari kekuasaan imam dan ingin melepaskannya karena suatu takwil yang dianggap benar.’” [6]Definisi ini penting. Sebab, dari sini tampak bahwa bughat pada asalnya tetap dihukumi sebagai kaum muslimin. Mereka tidak otomatis keluar dari Islam hanya karena pembangkangan dan peperangan mereka. Dalilnya adalah firman Allah dalam surah al-Hujurat ayat 9 di atas. Allah tetap menyebut kedua kelompok yang berperang itu sebagai kaum mukminin. An-Nawawi rahimahullah berkata,وَلَا يُكَفَّرُونَ بِالْبَغْيِ“Mereka tidak dikafirkan karena tindakan bughat.” [7]Jadi, bughat adalah kaum muslimin yang melakukan pembangkangan, tetapi tidak dibangun di atas akidah khawarij.Dari mana pembahasan bughat berasal?Pembahasan bughat berangkat dari Al-Qur’an dan praktik para sahabat dalam menyikapi kelompok muslim yang mengangkat senjata. Karena tidak semua orang yang keluar kepada imam dihukumi sama. Ada yang perampok, ada yang khawarij, dan ada pula yang bughat.Oleh karena itu, para fuqaha membuat bab khusus tentang ahkam al-bughat. Mereka membahas hukum-hukum yang berkaitan dengan kelompok bughat, kapan dinasihati, kapan diperangi, dan bagaimana perlakuan terhadap mereka. Syekh Sulaiman bin Muhammad rahimahullah berkata dalam kitabnya Durus Fiqhiyyah (al-Fiqh Kamilan),البغاة جمع باغ، وهو لغة: الظلم ومجاوزة الحد، سموا بذلك لظلمهم وعدولهم عن الحق. واصطلاحاً: هم الخارجون على الإمام بتأويل سائغ ولهم شوكة“Bughat adalah bentuk jamak dari bāghī. Secara bahasa, kata ini berarti kezaliman dan melampaui batas. Mereka disebut demikian karena menyimpang dari kebenaran. Adapun secara istilah, bughat adalah kelompok yang keluar memberontak terhadap penguasa yang sah dengan suatu penafsiran yang dianggap memiliki dasar, serta didukung oleh kekuatan.” [8]Dari sini terlihat bahwa bughat lebih banyak dibahas dalam kitab-kitab fikih. Adapun khawarij, mereka banyak dibahas dalam kitab-kitab akidah. Ini sendiri sudah menunjukkan bahwa keduanya tidak sama.Letak perbedaan antara khawarij dan bughatPerbedaan yang paling jelas adalah bahwa khawarij punya penyimpangan akidah, sedangkan bughat tidak mesti demikian. Khawarij keluar kepada imam sambil membawa keyakinan yang rusak. Mereka mengkafirkan kaum muslimin tanpa hak, menganggap dosa besar sebagai kekafiran, dan menghalalkan darah kaum muslimin. Adapun bughat, mereka keluar karena takwil, syubhat, atau tuntutan tertentu, tetapi tidak dibangun di atas keyakinan takfir seperti khawarij.Oleh karena itu, para ulama menjadikan khawarij sebagai pembahasan dalam bab firqah dan akidah, sedangkan bughat umumnya dibahas dalam bab fikih.Perbedaan berikutnya terlihat dari hukum mereka. Bughat tetap dihukumi sebagai kaum mukminin, sebagaimana yang ditegaskan dalam surah al-Hujurat ayat 9. Adapun khawarij, para ulama memang berbeda pendapat apakah mereka kafir atau tidak. Namun, jumhur ulama berpendapat bahwa mereka tidak kafir secara mutlak, walaupun mereka adalah ahlul bid‘ah yang sangat sesat. Syekh Abdul Aziz bin Abdullah ar-Rajihi berkata,إن الخوارج ليسوا كفاراً“Khawarij tidak dihukumi kafir (menurut jumhur ulama).” [9]Akan tetapi, walaupun jumhur ulama tidak mengkafirkan mereka secara mutlak, bahaya mereka tetap sangat besar. Sebab, mereka merusak agama sekaligus merusak keamanan kaum muslimin. Perbedaan yang lain terlihat dari sikap mereka terhadap kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأَوْثَانِ“Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala.” [10]Ini adalah ciri besar khawarij. Mereka keras kepada kaum muslimin, tetapi justru tidak proporsional terhadap musuh-musuh Islam yang nyata. Adapun bughat, walaupun mereka bisa memerangi imam atau kelompok muslim lainnya, mereka tidak dibangun di atas prinsip takfir dan penghalalan darah kaum muslimin.Perbedaan yang lain lagi adalah bahwa tidak setiap orang yang keluar kepada penguasa otomatis disebut khawarij. Bisa jadi dia bughat, bisa jadi perampok, bisa jadi pelaku kejahatan biasa. Oleh karena itu, istilah khawarij tidak boleh dipakai serampangan.Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika membedakan khawarij dengan kelompok pembangkang lain menjelaskan bahwa khawarij adalah orang-orang yang keluar dari sunah dan jemaah, serta mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka. [11] Ini menunjukkan bahwa khawarij memiliki ciri khusus yang tidak otomatis ada pada setiap bughat.Bahaya khawarij lebih besarBahaya khawarij lebih besar daripada bughat. Sebab, mereka tidak hanya menimbulkan kekacauan, tetapi juga membawa syubhat agama. Mereka berbicara atas nama ibadah, semangat agama, dan penegakan hukum Allah. Padahal, di balik itu ada pemahaman yang rusak.Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan yang sangat keras terhadap mereka. Beliau bersabda,لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ“Jika aku mendapati mereka, sungguh aku akan memerangi mereka sebagaimana dibinasakannya kaum ‘Ad.” [12]Hadis ini menunjukkan bahwa khawarij bukan sekadar kelompok pembangkang biasa.Sikap ahlus sunnahAhlus sunnah berada di tengah dalam masalah ini. Mereka tidak membenarkan kezaliman. Namun mereka juga tidak menempuh jalan khawarij dalam menyikapi kezaliman penguasa. Ahlus sunnah memerintahkan untuk menasihati penguasa dengan cara yang syar’i, bersabar atas kezaliman yang tidak sampai kufur bawwah (kekufuran yang nyata), menjaga darah kaum muslimin, dan tidak memberontak kecuali bila tampak kekafiran yang nyata dengan bukti dari Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ فِيهِ مِنَ اللَّهِ بُرْهَانٌ“Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata, yang kalian memiliki bukti dari Allah padanya.” [13]Oleh karena itu, jalan ahlus sunnah bukan jalan pembangkangan yang dibangun di atas emosi, dan bukan pula jalan meremehkan darah kaum muslimin.KesimpulanDari pembahasan di atas, dapat dipahami bahwa khawarij dan bughat bukanlah dua istilah yang sama, walaupun keduanya bisa bertemu dalam bentuk keluar dari ketaatan kepada imam kaum muslimin.Khawarij adalah kelompok yang keluar kepada imam dengan membawa keyakinan yang rusak, terutama dalam masalah takfir terhadap kaum muslimin dan penghalalan darah mereka. Oleh karena itu, khawarij adalah penyimpangan dalam akidah dan manhaj sekaligus.Adapun bughat adalah kaum muslimin yang memberontak kepada imam karena syubhat atau takwil tertentu. Mereka tetap dihukumi sebagai orang-orang beriman, walaupun telah melakukan pembangkangan dan kezaliman. Oleh karena itu, membedakan antara keduanya adalah hal yang penting. Supaya seseorang tidak salah memberi label, tidak meremehkan bahaya khawarij, dan tetap menempatkan hukum sesuai dengan penjelasan syariat.Wallahu a‘lam bish-shawab.***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6930; Muslim, Shahih Muslim, no. 1064.[2] Ibnu Taimiyah, Majmu‘ al-Fatawa, 5: 199.[3] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6930; Muslim, Shahih Muslim, no. 1064.[4] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6933; Muslim, Shahih Muslim, no. 1064.[5] Ahmad bin Ali az-Zamili ‘Asiri, Manhaj asy-Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi wa Juhuduhu fi Taqrir al-‘Aqidah wa ar-Radd ‘ala al-Mukhalifin, hal. 614..[6] Syekh Yaser bin Ahmad bin Badr an-Najjar ad-Dimyathi, Mausu‘ah al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba‘ah, 6: 21.[7] An-Nawawi, Raudhat at-Thalibin wa ‘Umdat al-Muftin, 10: 50.[8] Syekh Sulaiman bin Muhammad al-Luhaimid, Durus Fiqhiyyah (al-Fiqh Kamilan), 5: 193.[9] Syekh Abdul Aziz bin Abdullah ar-Rajihi, Syarh Kitab as-Sunnah lil-Barbahari, 10: 38.[10] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 3344; Muslim, Shahih Muslim, no. 1064.[11] Ibnu Taimiyah, Majmu‘ al-Fatawa, 28: 497-500.[12] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 3344; Muslim, Shahih Muslim, no. 1064.[13] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 7056; Muslim, Shahih Muslim, no. 1709. Daftar Pustakaal-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari.an-Najjar ad-Dimyathi, Yaser bin Ahmad bin Badr. Mausu‘ah al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba‘ah. Kairo: Dar at-Taqwa, 1444 H / 2023 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)an-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Raudhat at-Thalibin wa ‘Umdat al-Muftin. Beirut: al-Maktab al-Islami, 1412 H / 1991 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)ar-Rajihi, Abdul Aziz bin Abdullah. Syarh Kitab as-Sunnah lil-Barbahari. http://www.islamweb.net.az-Zamili ‘Asiri, Ahmad bin Ali. Manhaj asy-Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi wa Juhuduhu fi Taqrir al-‘Aqidah wa ar-Radd ‘ala al-Mukhalifin. Tesis Magister, Universitas Imam Muhammad bin Saud Islamiyah, 1431 H.Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. Majmu‘ al-Fatawa. Madinah: Majma‘ al-Malik Fahd li Thiba‘at al-Mushaf asy-Syarif. (diakses melalui Maktabah Syamilah)Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim.al-Luhaimid, Sulaiman bin Muhammad. Durus Fiqhiyyah (al-Fiqh Kamilan). (diakses melalui Maktabah Syamilah)


Daftar Isi ToggleApa itu khawarij?Asal mula khawarijApa itu bughat?Dari mana pembahasan bughat berasal?Letak perbedaan antara khawarij dan bughatBahaya khawarij lebih besarSikap ahlus sunnahKesimpulanDalam pembahasan syariat, ada istilah-istilah yang sekilas tampak mirip, padahal tidak sama. Di antara istilah itu adalah khawarij dan bughat. Keduanya memang sama-sama berkaitan dengan sikap keluar dari ketaatan kepada imam kaum muslimin. Oleh karena itu, sebagian orang menyamakan keduanya. Padahal, para ulama membedakan antara khawarij dan bughat dari sisi hakikat, sebab munculnya, dan hukum yang berkaitan dengannya.Masalah ini penting untuk dipahami. Sebab, kalau dua istilah ini dicampuradukkan, seseorang bisa salah menempatkan hukum. Ada yang terlalu mudah memberi label khawarij kepada setiap bentuk pembangkangan. Sebaliknya, ada juga yang meremehkan penyimpangan khawarij, lalu menganggap mereka tidak lebih dari bughat biasa. Padahal, nash-nash syariat menunjukkan bahwa keduanya tidak sama. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ“Jika ada dua golongan dari kaum mukminin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat bughat terhadap yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat bughat itu sampai mereka kembali kepada perintah Allah.” (QS. al-Hujurat: 9)Di ayat tersebut, Allah tetap menyebut dua kelompok yang berperang itu sebagai kaum mukminin. Adapun tentang khawarij, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ“Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari buruannya.” [1]Dari dua dalil ini saja sudah terlihat bahwa bughat dan khawarij bukan satu pembahasan yang sama.Apa itu khawarij?Khawarij adalah bentuk jamak dari خارجي, dari kata خرج yang berarti keluar. Mereka disebut khawarij karena keluar dari ketaatan kepada imam kaum muslimin. Namun, para ulama tidak sekadar melihat sisi keluarnya. Mereka juga melihat kerusakan keyakinan yang ada pada kelompok ini. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,والخوارج هم أول من كفّر المسلمين بالذنوب، وكفّروا من خالفهم في بدعتهم، واستحلوا دمه وماله“Khawarij adalah kelompok pertama yang mengkafirkan kaum muslimin karena dosa-dosa. Mereka juga mengkafirkan orang yang menyelisihi bid’ah mereka, lalu menghalalkan darah dan hartanya.” [2]Ini menunjukkan bahwa khawarij bukan sekadar kelompok pembangkang. Mereka adalah kelompok yang punya ushul pemikiran yang rusak. Di antara ciri paling menonjol dari mereka adalah mengkafirkan kaum muslimin tanpa hak dan menghalalkan darah mereka.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan sifat mereka dalam hadis yang sangat terkenal,يَخْرُجُ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلاَتَكُمْ مَعَ صَلاَتِهِمْ، وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ، وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ“Akan keluar pada umat ini suatu kaum. Kalian akan meremehkan salat kalian dibanding salat mereka, puasa kalian dibanding puasa mereka, dan amalan kalian dibanding amalan mereka. Mereka membaca Al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari buruannya.” [3]Hadis ini menunjukkan bahwa khawarij sering menampakkan ibadah dan semangat agama. Akan tetapi, semangat itu tidak dibangun di atas pemahaman yang benar.Asal mula khawarijBenih khawarij sudah muncul sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini tampak dalam kisah Dzul Khuwaishirah at-Tamimi. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi harta, ia berkata, “Berbuat adillah, wahai Muhammad.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ“Celaka engkau. Siapa lagi yang akan berbuat adil jika aku tidak adil?” [4]Dalam lanjutan riwayat tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa dari jenis orang seperti ini, akan muncul suatu kaum yang rajin beribadah, tetapi keluar dari agama. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa akar pemikiran khawarij adalah buruk sangka, merasa paling benar, lalu berani memvonis dengan pemahaman yang rusak.Adapun kemunculan mereka sebagai kelompok yang besar terjadi pada masa Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu setelah peristiwa tahkim. Mereka keluar dari barisan ‘Ali, lalu mengkafirkan ‘Ali dan pihak-pihak yang menerima tahkim. Dari sinilah mereka dikenal sebagai khawarij.Ahmad bin Ali az-Zamili ‘Asiri rahimahullah berkata,الخوارج؛ لأنهم يغلون في الدين ويكفرون المسلمين بالذنوب التي لم يجعلها الإسلام مكفرة، وقد خرجوا في زمن علي بن أبي طالب“Khawarij adalah kelompok yang bersikap berlebihan dalam beragama. Mereka mengkafirkan kaum muslimin karena dosa-dosa yang dalam ajaran Islam tidak menjadikan pelakunya kafir. Kelompok ini mulai muncul pada masa pemerintahan ‘Ali bin Abi Thalib.” [5]Apa itu bughat?Bughat adalah bentuk jamak dari باغٍ. Kata ini berasal dari البغي yang berarti melampaui batas atau berbuat zalim.Dalam istilah fikih, bughat adalah kaum muslimin yang memiliki kekuatan, lalu keluar dari ketaatan kepada imam dengan sebab takwil yang mereka anggap benar. Menurut Syekh Yaser bin Ahmad bin Badr an-Najjar ad-Dimyathi dalam Mausu‘ah al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba‘ah,وقالَ الحَنابلةُ: البُغاةُ: قومٌ مِنْ أهلِ الحَقِّ يَخرجونَ عن قَبضةِ الإمامِ ويَرومونَ خَلْعَه لتأويلٍ سائغٍ“Kalangan Hanabilah berpendapat, ‘Bughat adalah suatu kaum dari kalangan ahlul haq yang keluar dari kekuasaan imam dan ingin melepaskannya karena suatu takwil yang dianggap benar.’” [6]Definisi ini penting. Sebab, dari sini tampak bahwa bughat pada asalnya tetap dihukumi sebagai kaum muslimin. Mereka tidak otomatis keluar dari Islam hanya karena pembangkangan dan peperangan mereka. Dalilnya adalah firman Allah dalam surah al-Hujurat ayat 9 di atas. Allah tetap menyebut kedua kelompok yang berperang itu sebagai kaum mukminin. An-Nawawi rahimahullah berkata,وَلَا يُكَفَّرُونَ بِالْبَغْيِ“Mereka tidak dikafirkan karena tindakan bughat.” [7]Jadi, bughat adalah kaum muslimin yang melakukan pembangkangan, tetapi tidak dibangun di atas akidah khawarij.Dari mana pembahasan bughat berasal?Pembahasan bughat berangkat dari Al-Qur’an dan praktik para sahabat dalam menyikapi kelompok muslim yang mengangkat senjata. Karena tidak semua orang yang keluar kepada imam dihukumi sama. Ada yang perampok, ada yang khawarij, dan ada pula yang bughat.Oleh karena itu, para fuqaha membuat bab khusus tentang ahkam al-bughat. Mereka membahas hukum-hukum yang berkaitan dengan kelompok bughat, kapan dinasihati, kapan diperangi, dan bagaimana perlakuan terhadap mereka. Syekh Sulaiman bin Muhammad rahimahullah berkata dalam kitabnya Durus Fiqhiyyah (al-Fiqh Kamilan),البغاة جمع باغ، وهو لغة: الظلم ومجاوزة الحد، سموا بذلك لظلمهم وعدولهم عن الحق. واصطلاحاً: هم الخارجون على الإمام بتأويل سائغ ولهم شوكة“Bughat adalah bentuk jamak dari bāghī. Secara bahasa, kata ini berarti kezaliman dan melampaui batas. Mereka disebut demikian karena menyimpang dari kebenaran. Adapun secara istilah, bughat adalah kelompok yang keluar memberontak terhadap penguasa yang sah dengan suatu penafsiran yang dianggap memiliki dasar, serta didukung oleh kekuatan.” [8]Dari sini terlihat bahwa bughat lebih banyak dibahas dalam kitab-kitab fikih. Adapun khawarij, mereka banyak dibahas dalam kitab-kitab akidah. Ini sendiri sudah menunjukkan bahwa keduanya tidak sama.Letak perbedaan antara khawarij dan bughatPerbedaan yang paling jelas adalah bahwa khawarij punya penyimpangan akidah, sedangkan bughat tidak mesti demikian. Khawarij keluar kepada imam sambil membawa keyakinan yang rusak. Mereka mengkafirkan kaum muslimin tanpa hak, menganggap dosa besar sebagai kekafiran, dan menghalalkan darah kaum muslimin. Adapun bughat, mereka keluar karena takwil, syubhat, atau tuntutan tertentu, tetapi tidak dibangun di atas keyakinan takfir seperti khawarij.Oleh karena itu, para ulama menjadikan khawarij sebagai pembahasan dalam bab firqah dan akidah, sedangkan bughat umumnya dibahas dalam bab fikih.Perbedaan berikutnya terlihat dari hukum mereka. Bughat tetap dihukumi sebagai kaum mukminin, sebagaimana yang ditegaskan dalam surah al-Hujurat ayat 9. Adapun khawarij, para ulama memang berbeda pendapat apakah mereka kafir atau tidak. Namun, jumhur ulama berpendapat bahwa mereka tidak kafir secara mutlak, walaupun mereka adalah ahlul bid‘ah yang sangat sesat. Syekh Abdul Aziz bin Abdullah ar-Rajihi berkata,إن الخوارج ليسوا كفاراً“Khawarij tidak dihukumi kafir (menurut jumhur ulama).” [9]Akan tetapi, walaupun jumhur ulama tidak mengkafirkan mereka secara mutlak, bahaya mereka tetap sangat besar. Sebab, mereka merusak agama sekaligus merusak keamanan kaum muslimin. Perbedaan yang lain terlihat dari sikap mereka terhadap kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأَوْثَانِ“Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala.” [10]Ini adalah ciri besar khawarij. Mereka keras kepada kaum muslimin, tetapi justru tidak proporsional terhadap musuh-musuh Islam yang nyata. Adapun bughat, walaupun mereka bisa memerangi imam atau kelompok muslim lainnya, mereka tidak dibangun di atas prinsip takfir dan penghalalan darah kaum muslimin.Perbedaan yang lain lagi adalah bahwa tidak setiap orang yang keluar kepada penguasa otomatis disebut khawarij. Bisa jadi dia bughat, bisa jadi perampok, bisa jadi pelaku kejahatan biasa. Oleh karena itu, istilah khawarij tidak boleh dipakai serampangan.Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika membedakan khawarij dengan kelompok pembangkang lain menjelaskan bahwa khawarij adalah orang-orang yang keluar dari sunah dan jemaah, serta mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka. [11] Ini menunjukkan bahwa khawarij memiliki ciri khusus yang tidak otomatis ada pada setiap bughat.Bahaya khawarij lebih besarBahaya khawarij lebih besar daripada bughat. Sebab, mereka tidak hanya menimbulkan kekacauan, tetapi juga membawa syubhat agama. Mereka berbicara atas nama ibadah, semangat agama, dan penegakan hukum Allah. Padahal, di balik itu ada pemahaman yang rusak.Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan yang sangat keras terhadap mereka. Beliau bersabda,لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ“Jika aku mendapati mereka, sungguh aku akan memerangi mereka sebagaimana dibinasakannya kaum ‘Ad.” [12]Hadis ini menunjukkan bahwa khawarij bukan sekadar kelompok pembangkang biasa.Sikap ahlus sunnahAhlus sunnah berada di tengah dalam masalah ini. Mereka tidak membenarkan kezaliman. Namun mereka juga tidak menempuh jalan khawarij dalam menyikapi kezaliman penguasa. Ahlus sunnah memerintahkan untuk menasihati penguasa dengan cara yang syar’i, bersabar atas kezaliman yang tidak sampai kufur bawwah (kekufuran yang nyata), menjaga darah kaum muslimin, dan tidak memberontak kecuali bila tampak kekafiran yang nyata dengan bukti dari Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ فِيهِ مِنَ اللَّهِ بُرْهَانٌ“Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata, yang kalian memiliki bukti dari Allah padanya.” [13]Oleh karena itu, jalan ahlus sunnah bukan jalan pembangkangan yang dibangun di atas emosi, dan bukan pula jalan meremehkan darah kaum muslimin.KesimpulanDari pembahasan di atas, dapat dipahami bahwa khawarij dan bughat bukanlah dua istilah yang sama, walaupun keduanya bisa bertemu dalam bentuk keluar dari ketaatan kepada imam kaum muslimin.Khawarij adalah kelompok yang keluar kepada imam dengan membawa keyakinan yang rusak, terutama dalam masalah takfir terhadap kaum muslimin dan penghalalan darah mereka. Oleh karena itu, khawarij adalah penyimpangan dalam akidah dan manhaj sekaligus.Adapun bughat adalah kaum muslimin yang memberontak kepada imam karena syubhat atau takwil tertentu. Mereka tetap dihukumi sebagai orang-orang beriman, walaupun telah melakukan pembangkangan dan kezaliman. Oleh karena itu, membedakan antara keduanya adalah hal yang penting. Supaya seseorang tidak salah memberi label, tidak meremehkan bahaya khawarij, dan tetap menempatkan hukum sesuai dengan penjelasan syariat.Wallahu a‘lam bish-shawab.***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6930; Muslim, Shahih Muslim, no. 1064.[2] Ibnu Taimiyah, Majmu‘ al-Fatawa, 5: 199.[3] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6930; Muslim, Shahih Muslim, no. 1064.[4] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6933; Muslim, Shahih Muslim, no. 1064.[5] Ahmad bin Ali az-Zamili ‘Asiri, Manhaj asy-Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi wa Juhuduhu fi Taqrir al-‘Aqidah wa ar-Radd ‘ala al-Mukhalifin, hal. 614..[6] Syekh Yaser bin Ahmad bin Badr an-Najjar ad-Dimyathi, Mausu‘ah al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba‘ah, 6: 21.[7] An-Nawawi, Raudhat at-Thalibin wa ‘Umdat al-Muftin, 10: 50.[8] Syekh Sulaiman bin Muhammad al-Luhaimid, Durus Fiqhiyyah (al-Fiqh Kamilan), 5: 193.[9] Syekh Abdul Aziz bin Abdullah ar-Rajihi, Syarh Kitab as-Sunnah lil-Barbahari, 10: 38.[10] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 3344; Muslim, Shahih Muslim, no. 1064.[11] Ibnu Taimiyah, Majmu‘ al-Fatawa, 28: 497-500.[12] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 3344; Muslim, Shahih Muslim, no. 1064.[13] HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 7056; Muslim, Shahih Muslim, no. 1709. Daftar Pustakaal-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari.an-Najjar ad-Dimyathi, Yaser bin Ahmad bin Badr. Mausu‘ah al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba‘ah. Kairo: Dar at-Taqwa, 1444 H / 2023 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)an-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Raudhat at-Thalibin wa ‘Umdat al-Muftin. Beirut: al-Maktab al-Islami, 1412 H / 1991 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)ar-Rajihi, Abdul Aziz bin Abdullah. Syarh Kitab as-Sunnah lil-Barbahari. http://www.islamweb.net.az-Zamili ‘Asiri, Ahmad bin Ali. Manhaj asy-Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi wa Juhuduhu fi Taqrir al-‘Aqidah wa ar-Radd ‘ala al-Mukhalifin. Tesis Magister, Universitas Imam Muhammad bin Saud Islamiyah, 1431 H.Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. Majmu‘ al-Fatawa. Madinah: Majma‘ al-Malik Fahd li Thiba‘at al-Mushaf asy-Syarif. (diakses melalui Maktabah Syamilah)Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim.al-Luhaimid, Sulaiman bin Muhammad. Durus Fiqhiyyah (al-Fiqh Kamilan). (diakses melalui Maktabah Syamilah)

Panduan Lengkap Shalat Id dan Takbir Hari Raya

Banyak kaum muslimin merayakan Id, tetapi belum memahami tata cara shalat dan takbirnya secara benar. Padahal, ada tuntunan rinci dari para ulama tentang jumlah takbir, waktu pelaksanaan, hingga khutbahnya. Artikel ini merangkum panduan lengkap shalat Id dan takbir hari raya secara ringkas dan mudah dipahami.  Daftar Isi tutup 1. Hukum dan Siapa yang Disunnahkan Shalat Id 2. Tata Cara Shalat Id 3. Khutbah Setelah Shalat Id 4. Pembagian Takbir Id  Al-Qadhi Abu Syuja’ dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib berkata:وَصَلَاةُ الْعِيدَيْنِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، وَهِيَ رَكْعَتَانِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى سَبْعًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ، وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْقِيَامِ، وَيَخْطُبُ بَعْدَهَا خُطْبَتَيْنِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى تِسْعًا، وَفِي الثَّانِيَةِ سَبْعًا، وَيُكَبِّرُ مِنْ غُرُوبِ الشَّمْسِ مِنْ لَيْلَةِ الْعِيدِ إِلَى أَنْ يَدْخُلَ الْإِمَامُ فِي الصَّلَاةِ، وَفِي الْأَضْحَى خَلْفَ الصَّلَوَاتِ الْمَفْرُوضَاتِ مِنْ صُبْحِ يَوْمِ عَرَفَةَ إِلَى الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ.Hukum Shalat IdShalat Id (Idulfitri dan Iduladha) hukumnya adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Shalat ini dilakukan dua rakaat. Pada rakaat pertama, bertakbir sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram. Pada rakaat kedua, bertakbir sebanyak lima kali selain takbir ketika bangkit berdiri.Khutbah Setelah Shalat Id Setelah shalat Id, disunnahkan menyampaikan dua khutbah. Pada khutbah pertama, imam bertakbir sebanyak sembilan kali, dan pada khutbah kedua bertakbir sebanyak tujuh kali.Waktu Takbir IdulfitriDisunnahkan bertakbir mulai dari terbenamnya matahari pada malam Id (malam 1 Syawal) hingga imam masuk untuk melaksanakan shalat Id.Waktu Takbir IduladhaPada Iduladha, disunnahkan bertakbir setelah shalat-shalat fardhu, dimulai dari shalat Shubuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat Ashar pada hari terakhir dari hari-hari tasyriq. Penjelasan:Hukum dan Siapa yang Disunnahkan Shalat IdShalat Id (Idulfitri dan Iduladha) hukumnya adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Shalat ini disyariatkan untuk dilakukan secara berjamaah, dan juga boleh dilakukan oleh orang yang shalat sendirian maupun musafir, baik laki-laki merdeka maupun budak, juga bagi khuntsa (yang berkelamin ganda) dan wanita. Namun, wanita yang cantik dan yang berhias tidak dianjurkan untuk keluar. Adapun wanita tua, ia boleh menghadiri shalat Id dengan pakaian rumahnya tanpa memakai wewangian.Waktu pelaksanaan shalat Id adalah sejak terbit matahari hingga sebelum tergelincirnya matahari (Zuhur). Tata Cara Shalat IdShalat Id terdiri dari dua rakaat. Shalat ini diawali dengan niat untuk shalat Idulfitri atau Iduladha, lalu membaca doa iftitah.Pada rakaat pertama, bertakbir sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca Surah ق (Qaf) dengan suara keras.Pada rakaat kedua, bertakbir sebanyak lima kali selain takbir ketika bangkit berdiri, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca Al-Fatihah dan Surah اقْتَرَبَتِ (Al-Qamar) dengan suara keras.Baca juga: Panduan Shalat Idul Fithri dan Idul Adha Khutbah Setelah Shalat IdDisunnahkan menyampaikan dua khutbah setelah shalat Id. Pada awal khutbah pertama, imam bertakbir sebanyak sembilan kali secara berurutan. Pada awal khutbah kedua, bertakbir sebanyak tujuh kali secara berurutan.Jika di antara takbir-takbir tersebut diselingi dengan pujian kepada Allah, tahlil, dan sanjungan, maka hal itu termasuk sesuatu yang baik. Pembagian Takbir IdTakbir pada hari raya terbagi menjadi dua jenis: takbir mursal dan takbir muqayyad.Takbir mursal adalah takbir yang tidak terkait dengan selesai shalat. Sedangkan takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah shalat. Takbir pada IdulfitriPenulis memulai dengan takbir mursal, yaitu disunnahkan bertakbir bagi setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, orang yang mukim maupun musafir. Takbir ini dilakukan di rumah, di jalan, di masjid, maupun di pasar. Waktunya dimulai sejak terbenamnya matahari pada malam Idulfitri, dan terus berlangsung hingga imam masuk untuk melaksanakan shalat Id.Adapun bertakbir setelah shalat pada malam Idulfitri, hal itu tidak disunnahkan. Namun, Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar memilih pendapat bahwa hal tersebut tetap disunnahkan. Waktu Takbir Muqayyad pada IduladhaKemudian penulis menjelaskan takbir muqayyad, yaitu takbir yang dibaca setelah shalat. Takbir ini dilakukan pada Iduladha setelah shalat-shalat wajib, baik yang dikerjakan tepat waktu maupun yang diqadha. Demikian pula dibaca setelah shalat sunnah rawatib, shalat sunnah mutlak, dan shalat jenazah.Waktunya dimulai dari shalat Shubuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat Ashar pada hari terakhir dari hari-hari tasyriq. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib Baca juga:Inilah Lafaz Takbir Hari Raya (Tinjauan Madzhab Syafii)Memahami Lebih Dalam Takbir Mutlak dan Muqayyad pada Hari Raya—- 28  Syawal 1447 H, 16 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfiqih shalat id iduladha Idulfitri khutbah id matan taqrib matan taqrib kitab shalat panduan shalat id shalat id sunnah hari raya takbir hari raya takbir muqayyad takbir mursal

Panduan Lengkap Shalat Id dan Takbir Hari Raya

Banyak kaum muslimin merayakan Id, tetapi belum memahami tata cara shalat dan takbirnya secara benar. Padahal, ada tuntunan rinci dari para ulama tentang jumlah takbir, waktu pelaksanaan, hingga khutbahnya. Artikel ini merangkum panduan lengkap shalat Id dan takbir hari raya secara ringkas dan mudah dipahami.  Daftar Isi tutup 1. Hukum dan Siapa yang Disunnahkan Shalat Id 2. Tata Cara Shalat Id 3. Khutbah Setelah Shalat Id 4. Pembagian Takbir Id  Al-Qadhi Abu Syuja’ dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib berkata:وَصَلَاةُ الْعِيدَيْنِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، وَهِيَ رَكْعَتَانِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى سَبْعًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ، وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْقِيَامِ، وَيَخْطُبُ بَعْدَهَا خُطْبَتَيْنِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى تِسْعًا، وَفِي الثَّانِيَةِ سَبْعًا، وَيُكَبِّرُ مِنْ غُرُوبِ الشَّمْسِ مِنْ لَيْلَةِ الْعِيدِ إِلَى أَنْ يَدْخُلَ الْإِمَامُ فِي الصَّلَاةِ، وَفِي الْأَضْحَى خَلْفَ الصَّلَوَاتِ الْمَفْرُوضَاتِ مِنْ صُبْحِ يَوْمِ عَرَفَةَ إِلَى الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ.Hukum Shalat IdShalat Id (Idulfitri dan Iduladha) hukumnya adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Shalat ini dilakukan dua rakaat. Pada rakaat pertama, bertakbir sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram. Pada rakaat kedua, bertakbir sebanyak lima kali selain takbir ketika bangkit berdiri.Khutbah Setelah Shalat Id Setelah shalat Id, disunnahkan menyampaikan dua khutbah. Pada khutbah pertama, imam bertakbir sebanyak sembilan kali, dan pada khutbah kedua bertakbir sebanyak tujuh kali.Waktu Takbir IdulfitriDisunnahkan bertakbir mulai dari terbenamnya matahari pada malam Id (malam 1 Syawal) hingga imam masuk untuk melaksanakan shalat Id.Waktu Takbir IduladhaPada Iduladha, disunnahkan bertakbir setelah shalat-shalat fardhu, dimulai dari shalat Shubuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat Ashar pada hari terakhir dari hari-hari tasyriq. Penjelasan:Hukum dan Siapa yang Disunnahkan Shalat IdShalat Id (Idulfitri dan Iduladha) hukumnya adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Shalat ini disyariatkan untuk dilakukan secara berjamaah, dan juga boleh dilakukan oleh orang yang shalat sendirian maupun musafir, baik laki-laki merdeka maupun budak, juga bagi khuntsa (yang berkelamin ganda) dan wanita. Namun, wanita yang cantik dan yang berhias tidak dianjurkan untuk keluar. Adapun wanita tua, ia boleh menghadiri shalat Id dengan pakaian rumahnya tanpa memakai wewangian.Waktu pelaksanaan shalat Id adalah sejak terbit matahari hingga sebelum tergelincirnya matahari (Zuhur). Tata Cara Shalat IdShalat Id terdiri dari dua rakaat. Shalat ini diawali dengan niat untuk shalat Idulfitri atau Iduladha, lalu membaca doa iftitah.Pada rakaat pertama, bertakbir sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca Surah ق (Qaf) dengan suara keras.Pada rakaat kedua, bertakbir sebanyak lima kali selain takbir ketika bangkit berdiri, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca Al-Fatihah dan Surah اقْتَرَبَتِ (Al-Qamar) dengan suara keras.Baca juga: Panduan Shalat Idul Fithri dan Idul Adha Khutbah Setelah Shalat IdDisunnahkan menyampaikan dua khutbah setelah shalat Id. Pada awal khutbah pertama, imam bertakbir sebanyak sembilan kali secara berurutan. Pada awal khutbah kedua, bertakbir sebanyak tujuh kali secara berurutan.Jika di antara takbir-takbir tersebut diselingi dengan pujian kepada Allah, tahlil, dan sanjungan, maka hal itu termasuk sesuatu yang baik. Pembagian Takbir IdTakbir pada hari raya terbagi menjadi dua jenis: takbir mursal dan takbir muqayyad.Takbir mursal adalah takbir yang tidak terkait dengan selesai shalat. Sedangkan takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah shalat. Takbir pada IdulfitriPenulis memulai dengan takbir mursal, yaitu disunnahkan bertakbir bagi setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, orang yang mukim maupun musafir. Takbir ini dilakukan di rumah, di jalan, di masjid, maupun di pasar. Waktunya dimulai sejak terbenamnya matahari pada malam Idulfitri, dan terus berlangsung hingga imam masuk untuk melaksanakan shalat Id.Adapun bertakbir setelah shalat pada malam Idulfitri, hal itu tidak disunnahkan. Namun, Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar memilih pendapat bahwa hal tersebut tetap disunnahkan. Waktu Takbir Muqayyad pada IduladhaKemudian penulis menjelaskan takbir muqayyad, yaitu takbir yang dibaca setelah shalat. Takbir ini dilakukan pada Iduladha setelah shalat-shalat wajib, baik yang dikerjakan tepat waktu maupun yang diqadha. Demikian pula dibaca setelah shalat sunnah rawatib, shalat sunnah mutlak, dan shalat jenazah.Waktunya dimulai dari shalat Shubuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat Ashar pada hari terakhir dari hari-hari tasyriq. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib Baca juga:Inilah Lafaz Takbir Hari Raya (Tinjauan Madzhab Syafii)Memahami Lebih Dalam Takbir Mutlak dan Muqayyad pada Hari Raya—- 28  Syawal 1447 H, 16 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfiqih shalat id iduladha Idulfitri khutbah id matan taqrib matan taqrib kitab shalat panduan shalat id shalat id sunnah hari raya takbir hari raya takbir muqayyad takbir mursal
Banyak kaum muslimin merayakan Id, tetapi belum memahami tata cara shalat dan takbirnya secara benar. Padahal, ada tuntunan rinci dari para ulama tentang jumlah takbir, waktu pelaksanaan, hingga khutbahnya. Artikel ini merangkum panduan lengkap shalat Id dan takbir hari raya secara ringkas dan mudah dipahami.  Daftar Isi tutup 1. Hukum dan Siapa yang Disunnahkan Shalat Id 2. Tata Cara Shalat Id 3. Khutbah Setelah Shalat Id 4. Pembagian Takbir Id  Al-Qadhi Abu Syuja’ dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib berkata:وَصَلَاةُ الْعِيدَيْنِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، وَهِيَ رَكْعَتَانِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى سَبْعًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ، وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْقِيَامِ، وَيَخْطُبُ بَعْدَهَا خُطْبَتَيْنِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى تِسْعًا، وَفِي الثَّانِيَةِ سَبْعًا، وَيُكَبِّرُ مِنْ غُرُوبِ الشَّمْسِ مِنْ لَيْلَةِ الْعِيدِ إِلَى أَنْ يَدْخُلَ الْإِمَامُ فِي الصَّلَاةِ، وَفِي الْأَضْحَى خَلْفَ الصَّلَوَاتِ الْمَفْرُوضَاتِ مِنْ صُبْحِ يَوْمِ عَرَفَةَ إِلَى الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ.Hukum Shalat IdShalat Id (Idulfitri dan Iduladha) hukumnya adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Shalat ini dilakukan dua rakaat. Pada rakaat pertama, bertakbir sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram. Pada rakaat kedua, bertakbir sebanyak lima kali selain takbir ketika bangkit berdiri.Khutbah Setelah Shalat Id Setelah shalat Id, disunnahkan menyampaikan dua khutbah. Pada khutbah pertama, imam bertakbir sebanyak sembilan kali, dan pada khutbah kedua bertakbir sebanyak tujuh kali.Waktu Takbir IdulfitriDisunnahkan bertakbir mulai dari terbenamnya matahari pada malam Id (malam 1 Syawal) hingga imam masuk untuk melaksanakan shalat Id.Waktu Takbir IduladhaPada Iduladha, disunnahkan bertakbir setelah shalat-shalat fardhu, dimulai dari shalat Shubuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat Ashar pada hari terakhir dari hari-hari tasyriq. Penjelasan:Hukum dan Siapa yang Disunnahkan Shalat IdShalat Id (Idulfitri dan Iduladha) hukumnya adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Shalat ini disyariatkan untuk dilakukan secara berjamaah, dan juga boleh dilakukan oleh orang yang shalat sendirian maupun musafir, baik laki-laki merdeka maupun budak, juga bagi khuntsa (yang berkelamin ganda) dan wanita. Namun, wanita yang cantik dan yang berhias tidak dianjurkan untuk keluar. Adapun wanita tua, ia boleh menghadiri shalat Id dengan pakaian rumahnya tanpa memakai wewangian.Waktu pelaksanaan shalat Id adalah sejak terbit matahari hingga sebelum tergelincirnya matahari (Zuhur). Tata Cara Shalat IdShalat Id terdiri dari dua rakaat. Shalat ini diawali dengan niat untuk shalat Idulfitri atau Iduladha, lalu membaca doa iftitah.Pada rakaat pertama, bertakbir sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca Surah ق (Qaf) dengan suara keras.Pada rakaat kedua, bertakbir sebanyak lima kali selain takbir ketika bangkit berdiri, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca Al-Fatihah dan Surah اقْتَرَبَتِ (Al-Qamar) dengan suara keras.Baca juga: Panduan Shalat Idul Fithri dan Idul Adha Khutbah Setelah Shalat IdDisunnahkan menyampaikan dua khutbah setelah shalat Id. Pada awal khutbah pertama, imam bertakbir sebanyak sembilan kali secara berurutan. Pada awal khutbah kedua, bertakbir sebanyak tujuh kali secara berurutan.Jika di antara takbir-takbir tersebut diselingi dengan pujian kepada Allah, tahlil, dan sanjungan, maka hal itu termasuk sesuatu yang baik. Pembagian Takbir IdTakbir pada hari raya terbagi menjadi dua jenis: takbir mursal dan takbir muqayyad.Takbir mursal adalah takbir yang tidak terkait dengan selesai shalat. Sedangkan takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah shalat. Takbir pada IdulfitriPenulis memulai dengan takbir mursal, yaitu disunnahkan bertakbir bagi setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, orang yang mukim maupun musafir. Takbir ini dilakukan di rumah, di jalan, di masjid, maupun di pasar. Waktunya dimulai sejak terbenamnya matahari pada malam Idulfitri, dan terus berlangsung hingga imam masuk untuk melaksanakan shalat Id.Adapun bertakbir setelah shalat pada malam Idulfitri, hal itu tidak disunnahkan. Namun, Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar memilih pendapat bahwa hal tersebut tetap disunnahkan. Waktu Takbir Muqayyad pada IduladhaKemudian penulis menjelaskan takbir muqayyad, yaitu takbir yang dibaca setelah shalat. Takbir ini dilakukan pada Iduladha setelah shalat-shalat wajib, baik yang dikerjakan tepat waktu maupun yang diqadha. Demikian pula dibaca setelah shalat sunnah rawatib, shalat sunnah mutlak, dan shalat jenazah.Waktunya dimulai dari shalat Shubuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat Ashar pada hari terakhir dari hari-hari tasyriq. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib Baca juga:Inilah Lafaz Takbir Hari Raya (Tinjauan Madzhab Syafii)Memahami Lebih Dalam Takbir Mutlak dan Muqayyad pada Hari Raya—- 28  Syawal 1447 H, 16 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfiqih shalat id iduladha Idulfitri khutbah id matan taqrib matan taqrib kitab shalat panduan shalat id shalat id sunnah hari raya takbir hari raya takbir muqayyad takbir mursal


Banyak kaum muslimin merayakan Id, tetapi belum memahami tata cara shalat dan takbirnya secara benar. Padahal, ada tuntunan rinci dari para ulama tentang jumlah takbir, waktu pelaksanaan, hingga khutbahnya. Artikel ini merangkum panduan lengkap shalat Id dan takbir hari raya secara ringkas dan mudah dipahami.  Daftar Isi tutup 1. Hukum dan Siapa yang Disunnahkan Shalat Id 2. Tata Cara Shalat Id 3. Khutbah Setelah Shalat Id 4. Pembagian Takbir Id  Al-Qadhi Abu Syuja’ dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib berkata:وَصَلَاةُ الْعِيدَيْنِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، وَهِيَ رَكْعَتَانِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى سَبْعًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ، وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْقِيَامِ، وَيَخْطُبُ بَعْدَهَا خُطْبَتَيْنِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى تِسْعًا، وَفِي الثَّانِيَةِ سَبْعًا، وَيُكَبِّرُ مِنْ غُرُوبِ الشَّمْسِ مِنْ لَيْلَةِ الْعِيدِ إِلَى أَنْ يَدْخُلَ الْإِمَامُ فِي الصَّلَاةِ، وَفِي الْأَضْحَى خَلْفَ الصَّلَوَاتِ الْمَفْرُوضَاتِ مِنْ صُبْحِ يَوْمِ عَرَفَةَ إِلَى الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ.Hukum Shalat IdShalat Id (Idulfitri dan Iduladha) hukumnya adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Shalat ini dilakukan dua rakaat. Pada rakaat pertama, bertakbir sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram. Pada rakaat kedua, bertakbir sebanyak lima kali selain takbir ketika bangkit berdiri.Khutbah Setelah Shalat Id Setelah shalat Id, disunnahkan menyampaikan dua khutbah. Pada khutbah pertama, imam bertakbir sebanyak sembilan kali, dan pada khutbah kedua bertakbir sebanyak tujuh kali.Waktu Takbir IdulfitriDisunnahkan bertakbir mulai dari terbenamnya matahari pada malam Id (malam 1 Syawal) hingga imam masuk untuk melaksanakan shalat Id.Waktu Takbir IduladhaPada Iduladha, disunnahkan bertakbir setelah shalat-shalat fardhu, dimulai dari shalat Shubuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat Ashar pada hari terakhir dari hari-hari tasyriq. Penjelasan:Hukum dan Siapa yang Disunnahkan Shalat IdShalat Id (Idulfitri dan Iduladha) hukumnya adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Shalat ini disyariatkan untuk dilakukan secara berjamaah, dan juga boleh dilakukan oleh orang yang shalat sendirian maupun musafir, baik laki-laki merdeka maupun budak, juga bagi khuntsa (yang berkelamin ganda) dan wanita. Namun, wanita yang cantik dan yang berhias tidak dianjurkan untuk keluar. Adapun wanita tua, ia boleh menghadiri shalat Id dengan pakaian rumahnya tanpa memakai wewangian.Waktu pelaksanaan shalat Id adalah sejak terbit matahari hingga sebelum tergelincirnya matahari (Zuhur). Tata Cara Shalat IdShalat Id terdiri dari dua rakaat. Shalat ini diawali dengan niat untuk shalat Idulfitri atau Iduladha, lalu membaca doa iftitah.Pada rakaat pertama, bertakbir sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca Surah ق (Qaf) dengan suara keras.Pada rakaat kedua, bertakbir sebanyak lima kali selain takbir ketika bangkit berdiri, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca Al-Fatihah dan Surah اقْتَرَبَتِ (Al-Qamar) dengan suara keras.Baca juga: Panduan Shalat Idul Fithri dan Idul Adha Khutbah Setelah Shalat IdDisunnahkan menyampaikan dua khutbah setelah shalat Id. Pada awal khutbah pertama, imam bertakbir sebanyak sembilan kali secara berurutan. Pada awal khutbah kedua, bertakbir sebanyak tujuh kali secara berurutan.Jika di antara takbir-takbir tersebut diselingi dengan pujian kepada Allah, tahlil, dan sanjungan, maka hal itu termasuk sesuatu yang baik. Pembagian Takbir IdTakbir pada hari raya terbagi menjadi dua jenis: takbir mursal dan takbir muqayyad.Takbir mursal adalah takbir yang tidak terkait dengan selesai shalat. Sedangkan takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah shalat. Takbir pada IdulfitriPenulis memulai dengan takbir mursal, yaitu disunnahkan bertakbir bagi setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, orang yang mukim maupun musafir. Takbir ini dilakukan di rumah, di jalan, di masjid, maupun di pasar. Waktunya dimulai sejak terbenamnya matahari pada malam Idulfitri, dan terus berlangsung hingga imam masuk untuk melaksanakan shalat Id.Adapun bertakbir setelah shalat pada malam Idulfitri, hal itu tidak disunnahkan. Namun, Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar memilih pendapat bahwa hal tersebut tetap disunnahkan. Waktu Takbir Muqayyad pada IduladhaKemudian penulis menjelaskan takbir muqayyad, yaitu takbir yang dibaca setelah shalat. Takbir ini dilakukan pada Iduladha setelah shalat-shalat wajib, baik yang dikerjakan tepat waktu maupun yang diqadha. Demikian pula dibaca setelah shalat sunnah rawatib, shalat sunnah mutlak, dan shalat jenazah.Waktunya dimulai dari shalat Shubuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat Ashar pada hari terakhir dari hari-hari tasyriq. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib Baca juga:Inilah Lafaz Takbir Hari Raya (Tinjauan Madzhab Syafii)Memahami Lebih Dalam Takbir Mutlak dan Muqayyad pada Hari Raya—- 28  Syawal 1447 H, 16 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfiqih shalat id iduladha Idulfitri khutbah id matan taqrib matan taqrib kitab shalat panduan shalat id shalat id sunnah hari raya takbir hari raya takbir muqayyad takbir mursal

Mengenal Nama Allah “Al-Qaabidh” dan “Al-Baasith”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Kandungan makna nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Makna bahasa dari Al-Qaabidh Al-BaasithPenyebutan “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara berpasanganMakna “Al-Qaabidh Al-Baasith” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi hambaBeriman bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk bagian dari Al-Asmaul HusnaMenguatkan ketergantungan kepada Allah serta bersungguh-sungguh dalam berdoa dan menempuh sebab yang benarBersyukur ketika dilapangkan dan kembali kepada Allah ketika disempitkanSemakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin kuat tawakalnya, semakin tenang hatinya dalam menghadapi takdir, dan semakin yakin bahwa segala sesuatu berada di bawah pengaturan Allah. Di antara nama Allah yang menunjukkan kesempurnaan pengaturan-Nya terhadap makhluk adalah Al-Qaabidh Al-Baasith —Yang Maha Menyempitkan lagi Yang Maha Melapangkan— dua nama yang saling berkaitan dan menunjukkan kesempurnaan hikmah Allah dalam memberi dan menahan.Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga hal utama: dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Al-Qaabidh Al-Baasith merupakan nama Allah, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta konsekuensi penting yang berkaitan dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Di antara dalil penetapan nama ini adalah hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,غَلَا السِّعْرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، سَعِّرْ لَنَافَقَالَ:  «إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ، الْقَابِضُ، الْبَاسِطُ، الرَّزَّاق“Harga-harga naik pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, tetapkanlah harga untuk kami.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, Yang Menyempitkan (Al-Qaabidh), Yang Melapangkan (Al-Baasith), Yang Maha Memberi rezeki…’” (HR. Abu Dawud no. 3451, At-Tirmidzi no. 1314; dinilai sahih oleh Al-Albani)Adapun disebutkan dalam bentuk fi‘il, maka Allah berfirman dalam Al-Qur’an,وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ“Dan Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya kalian dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)Demikian pula dalam hadis,إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ…“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat buruk di siang hari bertobat…” (HR. Muslim) [1]Banyak dari para ulama yang memasukkan Al-Qaabidh Al-Baasith ke dalam Al-Asmaul Husna, di antaranya Ibn Mandah, Al-Ashbahani, Ibn Hazm, Ibnul ‘Arabi, Al-Baihaqi, dan Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah. [2]Kandungan makna nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari Al-Qaabidh Al-BaasithKata Al-Qaabidh merupakan isim fa’il (pelaku) dari kata (قبض – يقبِض). Tentang makna kata (قَبَضَ), Ibnu Faris rahimahullah mengatakan,الْقَافُ وَالْبَاءُ وَالضَّادُ أَصْلٌ وَاحِدٌ صَحِيحٌ يَدُلُّ عَلَى شَيْءٍ مَأْخُوذٍ، وَتَجَمُّعٍ فِي شَيْءٍ“Akar kata qāf, bā’, dan ḍād merupakan satu asal makna yang sahih, yang menunjukkan sesuatu yang diambil serta terkumpul dalam suatu tempat.” [3]Adapun Al-Baasith merupakan fa’il (pelaku) dari kata (بسط – يبسُط). Tentang makna kata (بَسَطَ), Ibnu Faris mengatakan,الْبَاءُ وَالسِّينُ وَالطَّاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ امْتِدَادُ الشَّيْءِ، فِي عِرَضٍ أَوْ غَيْرِ عِرَضٍ“Akar kata bā’, sīn, dan ṭā’ merupakan satu asal makna, yaitu membentang atau meluasnya sesuatu, baik pada arah lebar maupun selainnya.” [4]Penyebutan “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara berpasanganKedua nama ini sangat dianjurkan untuk disebutkan secara berpasangan, karena kesempurnaan maknanya terletak pada penggabungan keduanya.Al-Khaththabi rahimahullah mengatakan, “Dalam dua nama seperti ini, adalah baik jika salah satunya disebutkan bersamaan dengan yang lain dan dihubungkan dengannya, karena hal itu lebih menunjukkan kekuasaan dan lebih menampakkan hikmah. Seperti firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Dan Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya kalian dikembalikan.’ (QS. Al-Baqarah: 245)Apabila engkau menyebut Al-Qaabidh (Yang Menyempitkan) secara terpisah dari Al-Baasith (Yang Melapangkan), seakan-akan engkau membatasi sifat tersebut hanya pada makna menahan dan menghalangi. Namun jika engkau menggabungkan keduanya, maka engkau telah menghimpun dua sifat yang menunjukkan sisi hikmah di dalamnya.” [5]Makna “Al-Qaabidh Al-Baasith” dalam konteks AllahTentang makna kedua nama ini, Al-Khaththabi rahimahullah melanjutkan, “Al-Qaabidh dan Al-Baasith adalah Dzat yang melapangkan rezeki dan juga menyempitkannya. Dia melapangkannya dengan kedermawanan dan rahmat-Nya, serta menyempitkannya dengan hikmah-Nya, dengan mempertimbangkan keadaan hamba-Nya. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya), ‘Seandainya Allah melapangkan rezeki bagi hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Dia menurunkannya sesuai kadar yang Dia kehendaki.’ (QS. Asy-Syura: 27).Apabila Allah menambah (rezeki seseorang), maka itu bukan berarti Dia menjadikannya berlebih-lebihan dan melampaui batas. Dan apabila Dia menguranginya, maka bukan berarti karena ketiadaan atau kebakhilan. Ada pula yang mengatakan bahwa Al-Qaabidh adalah Dzat yang mencabut ruh-ruh dengan kematian yang telah Dia tetapkan atas para hamba.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,القابض الباسط يقبض الأرزاق والأرواح، ويبسط الأرزاق والقلوب، وذلك تبع لحكمته ورحمته“Al-Qaabidh Al-Baasith adalah Dzat yang menyempitkan rezeki dan mencabut ruh, serta melapangkan rezeki dan hati, semuanya sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya.” [7]Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafidzahullah mengatakan, “Telah disebutkan makna melapangkan (al-basth) dan menyempitkan (al-qabdh) yang disandarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam banyak nash dari Al-Qur’an dan sunah.” Setelah itu, beliau menyebutkan contoh ayat-ayat. Kemudian beliau mengatakan,فدلت هذه النصوص ونظائرها أن القبض والبسط كله بيد الله تبارك وتعالى، وبتصريفه وتدبيره سبحانه يبسط لمن يشاء في ماله أو عافيته أو عمره أو علمه أو حياته، ويقبض وهو الحكيم الخبير“Nash-nash ini dan yang semisalnya menunjukkan bahwa seluruh bentuk penyempitan dan pelapangan berada di tangan Allah Tabaraka wa Ta‘ala. Dengan pengaturan dan tadbir-Nya, Dia melapangkan bagi siapa yang Dia kehendaki pada hartanya, kesehatannya, umurnya, ilmunya, atau kehidupannya, dan Dia menyempitkannya, sedangkan Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” [8]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi hambaPenetapan nama “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk bagian dari Al-Asmaul HusnaSeorang hamba meyakini bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk nama-nama Allah yang paling baik, berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan, meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menetapkannya sebagai bagian dari Al-Asmaul Husna. [9]Menguatkan ketergantungan kepada Allah serta bersungguh-sungguh dalam berdoa dan menempuh sebab yang benarDi antara buah iman terhadap dua nama ini adalah seorang hamba menggantungkan hatinya kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, dengan senantiasa memohon agar Allah melapangkan baginya kebaikan, rahmat, dan karunia-Nya, serta melindunginya dari berbagai keburukan. Ia tidak hanya berhenti pada doa, tetapi juga menempuh sebab-sebab yang disyariatkan yang menjadi jalan datangnya kelapangan dan terhindarnya dari kesempitan, seperti menjaga ketaatan dan menyambung silaturahim. Dengan demikian, terkumpul pada dirinya antara ketergantungan hati kepada Allah dan usaha yang benar dalam meraih kebaikan. [10]Bersyukur ketika dilapangkan dan kembali kepada Allah ketika disempitkanDalam konteks ini, terdapat peringatan penting bagi seorang hamba. Ketika Allah melapangkan baginya dalam harta, ilmu, atau kedudukan, maka hendaknya ia menginfakkan dari apa yang Allah berikan kepadanya, serta berbuat baik kepada hamba-hamba Allah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya. Sebaliknya, jika Allah menyempitkan baginya, maka hendaknya ia kembali kepada Allah semata, memohon pertolongan, karunia, dan keluasan dari-Nya, dengan keyakinan penuh bahwa tidak ada yang mampu melapangkan apa yang Allah sempitkan, dan tidak ada yang mampu menyempitkan apa yang Allah lapangkan.Sebagaimana disebutkan dalam doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,اللهم لا قابض لما بسطت، ولا باسط لما قبضت، ولا هادي لما أضللت، ولا مضل لمن هديت، ولا معطي لما منعت، ولا مانع لما أعطيت“Ya Allah, tidak ada yang dapat menyempitkan apa yang Engkau lapangkan, dan tidak ada yang dapat melapangkan apa yang Engkau sempitkan. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk terhadap siapa yang Engkau sesatkan, dan tidak ada yang dapat menyesatkan siapa yang Engkau beri petunjuk. Tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau tahan, dan tidak ada yang dapat menahan apa yang Engkau beri…” (HR. Ahmad no. 15492 dan Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 538, dan disahihkan oleh Al-Albani)Doa ini menunjukkan bahwa seluruh urusan berada di tangan Allah semata. Oleh karena itu, seorang hamba hendaknya bersyukur ketika diberi kelapangan, dan tidak berputus asa ketika diuji dengan kesempitan, karena keduanya adalah bagian dari hikmah dan pengaturan Allah yang sempurna. [11]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang rida terhadap setiap ketetapan-Nya, bersabar ketika disempitkan, dan bersyukur ketika dilapangkan. Aamiin.***Rumdin PPIA Sragen, 11 Syawal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi UtamaIbn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi.Al-Musai’id, Mubarak Abdullah. At-Ta‘liq al-Asna ‘ala Manzhumat Asma’ Allah al-Husna li Ibni ‘Utsaimin wa Mukhtashariha. Cetakan Pertama. Dammam: Dar Ibn al-Jauzi, 1444 H.Catatan kaki:[1] Lihat An-Nahjul Asma, hal. 628-629.[2] Lihat Asma’ullah al-Husna karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 333.[3] Maqāyīs al-Lughah, hal. 759.[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 92.[5] Sya’n ad-Du‘ā’ (1: 57). Lihat juga Tawḍīḥ al-Kāfiyah asy-Syāfiyah fī al-Intiṣār li al-Firqah an-Nājiyah karya Ibnu Si’diy, hal. 204-205.[6] Sya’n ad-Du‘ā’ karya Al-Khaththabi, 1: 57.[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 948.[8] Fiqhul Asmaail Husna, hal. 332.[9] Lihat Asma’ullah al-Husna karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 333.[10] At-Ta‘līq al-Asnā, hal. 226.[11] Fiqhul Asmaail Husna, hal. 331–332.

Mengenal Nama Allah “Al-Qaabidh” dan “Al-Baasith”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Kandungan makna nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Makna bahasa dari Al-Qaabidh Al-BaasithPenyebutan “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara berpasanganMakna “Al-Qaabidh Al-Baasith” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi hambaBeriman bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk bagian dari Al-Asmaul HusnaMenguatkan ketergantungan kepada Allah serta bersungguh-sungguh dalam berdoa dan menempuh sebab yang benarBersyukur ketika dilapangkan dan kembali kepada Allah ketika disempitkanSemakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin kuat tawakalnya, semakin tenang hatinya dalam menghadapi takdir, dan semakin yakin bahwa segala sesuatu berada di bawah pengaturan Allah. Di antara nama Allah yang menunjukkan kesempurnaan pengaturan-Nya terhadap makhluk adalah Al-Qaabidh Al-Baasith —Yang Maha Menyempitkan lagi Yang Maha Melapangkan— dua nama yang saling berkaitan dan menunjukkan kesempurnaan hikmah Allah dalam memberi dan menahan.Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga hal utama: dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Al-Qaabidh Al-Baasith merupakan nama Allah, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta konsekuensi penting yang berkaitan dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Di antara dalil penetapan nama ini adalah hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,غَلَا السِّعْرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، سَعِّرْ لَنَافَقَالَ:  «إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ، الْقَابِضُ، الْبَاسِطُ، الرَّزَّاق“Harga-harga naik pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, tetapkanlah harga untuk kami.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, Yang Menyempitkan (Al-Qaabidh), Yang Melapangkan (Al-Baasith), Yang Maha Memberi rezeki…’” (HR. Abu Dawud no. 3451, At-Tirmidzi no. 1314; dinilai sahih oleh Al-Albani)Adapun disebutkan dalam bentuk fi‘il, maka Allah berfirman dalam Al-Qur’an,وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ“Dan Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya kalian dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)Demikian pula dalam hadis,إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ…“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat buruk di siang hari bertobat…” (HR. Muslim) [1]Banyak dari para ulama yang memasukkan Al-Qaabidh Al-Baasith ke dalam Al-Asmaul Husna, di antaranya Ibn Mandah, Al-Ashbahani, Ibn Hazm, Ibnul ‘Arabi, Al-Baihaqi, dan Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah. [2]Kandungan makna nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari Al-Qaabidh Al-BaasithKata Al-Qaabidh merupakan isim fa’il (pelaku) dari kata (قبض – يقبِض). Tentang makna kata (قَبَضَ), Ibnu Faris rahimahullah mengatakan,الْقَافُ وَالْبَاءُ وَالضَّادُ أَصْلٌ وَاحِدٌ صَحِيحٌ يَدُلُّ عَلَى شَيْءٍ مَأْخُوذٍ، وَتَجَمُّعٍ فِي شَيْءٍ“Akar kata qāf, bā’, dan ḍād merupakan satu asal makna yang sahih, yang menunjukkan sesuatu yang diambil serta terkumpul dalam suatu tempat.” [3]Adapun Al-Baasith merupakan fa’il (pelaku) dari kata (بسط – يبسُط). Tentang makna kata (بَسَطَ), Ibnu Faris mengatakan,الْبَاءُ وَالسِّينُ وَالطَّاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ امْتِدَادُ الشَّيْءِ، فِي عِرَضٍ أَوْ غَيْرِ عِرَضٍ“Akar kata bā’, sīn, dan ṭā’ merupakan satu asal makna, yaitu membentang atau meluasnya sesuatu, baik pada arah lebar maupun selainnya.” [4]Penyebutan “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara berpasanganKedua nama ini sangat dianjurkan untuk disebutkan secara berpasangan, karena kesempurnaan maknanya terletak pada penggabungan keduanya.Al-Khaththabi rahimahullah mengatakan, “Dalam dua nama seperti ini, adalah baik jika salah satunya disebutkan bersamaan dengan yang lain dan dihubungkan dengannya, karena hal itu lebih menunjukkan kekuasaan dan lebih menampakkan hikmah. Seperti firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Dan Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya kalian dikembalikan.’ (QS. Al-Baqarah: 245)Apabila engkau menyebut Al-Qaabidh (Yang Menyempitkan) secara terpisah dari Al-Baasith (Yang Melapangkan), seakan-akan engkau membatasi sifat tersebut hanya pada makna menahan dan menghalangi. Namun jika engkau menggabungkan keduanya, maka engkau telah menghimpun dua sifat yang menunjukkan sisi hikmah di dalamnya.” [5]Makna “Al-Qaabidh Al-Baasith” dalam konteks AllahTentang makna kedua nama ini, Al-Khaththabi rahimahullah melanjutkan, “Al-Qaabidh dan Al-Baasith adalah Dzat yang melapangkan rezeki dan juga menyempitkannya. Dia melapangkannya dengan kedermawanan dan rahmat-Nya, serta menyempitkannya dengan hikmah-Nya, dengan mempertimbangkan keadaan hamba-Nya. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya), ‘Seandainya Allah melapangkan rezeki bagi hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Dia menurunkannya sesuai kadar yang Dia kehendaki.’ (QS. Asy-Syura: 27).Apabila Allah menambah (rezeki seseorang), maka itu bukan berarti Dia menjadikannya berlebih-lebihan dan melampaui batas. Dan apabila Dia menguranginya, maka bukan berarti karena ketiadaan atau kebakhilan. Ada pula yang mengatakan bahwa Al-Qaabidh adalah Dzat yang mencabut ruh-ruh dengan kematian yang telah Dia tetapkan atas para hamba.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,القابض الباسط يقبض الأرزاق والأرواح، ويبسط الأرزاق والقلوب، وذلك تبع لحكمته ورحمته“Al-Qaabidh Al-Baasith adalah Dzat yang menyempitkan rezeki dan mencabut ruh, serta melapangkan rezeki dan hati, semuanya sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya.” [7]Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafidzahullah mengatakan, “Telah disebutkan makna melapangkan (al-basth) dan menyempitkan (al-qabdh) yang disandarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam banyak nash dari Al-Qur’an dan sunah.” Setelah itu, beliau menyebutkan contoh ayat-ayat. Kemudian beliau mengatakan,فدلت هذه النصوص ونظائرها أن القبض والبسط كله بيد الله تبارك وتعالى، وبتصريفه وتدبيره سبحانه يبسط لمن يشاء في ماله أو عافيته أو عمره أو علمه أو حياته، ويقبض وهو الحكيم الخبير“Nash-nash ini dan yang semisalnya menunjukkan bahwa seluruh bentuk penyempitan dan pelapangan berada di tangan Allah Tabaraka wa Ta‘ala. Dengan pengaturan dan tadbir-Nya, Dia melapangkan bagi siapa yang Dia kehendaki pada hartanya, kesehatannya, umurnya, ilmunya, atau kehidupannya, dan Dia menyempitkannya, sedangkan Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” [8]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi hambaPenetapan nama “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk bagian dari Al-Asmaul HusnaSeorang hamba meyakini bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk nama-nama Allah yang paling baik, berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan, meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menetapkannya sebagai bagian dari Al-Asmaul Husna. [9]Menguatkan ketergantungan kepada Allah serta bersungguh-sungguh dalam berdoa dan menempuh sebab yang benarDi antara buah iman terhadap dua nama ini adalah seorang hamba menggantungkan hatinya kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, dengan senantiasa memohon agar Allah melapangkan baginya kebaikan, rahmat, dan karunia-Nya, serta melindunginya dari berbagai keburukan. Ia tidak hanya berhenti pada doa, tetapi juga menempuh sebab-sebab yang disyariatkan yang menjadi jalan datangnya kelapangan dan terhindarnya dari kesempitan, seperti menjaga ketaatan dan menyambung silaturahim. Dengan demikian, terkumpul pada dirinya antara ketergantungan hati kepada Allah dan usaha yang benar dalam meraih kebaikan. [10]Bersyukur ketika dilapangkan dan kembali kepada Allah ketika disempitkanDalam konteks ini, terdapat peringatan penting bagi seorang hamba. Ketika Allah melapangkan baginya dalam harta, ilmu, atau kedudukan, maka hendaknya ia menginfakkan dari apa yang Allah berikan kepadanya, serta berbuat baik kepada hamba-hamba Allah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya. Sebaliknya, jika Allah menyempitkan baginya, maka hendaknya ia kembali kepada Allah semata, memohon pertolongan, karunia, dan keluasan dari-Nya, dengan keyakinan penuh bahwa tidak ada yang mampu melapangkan apa yang Allah sempitkan, dan tidak ada yang mampu menyempitkan apa yang Allah lapangkan.Sebagaimana disebutkan dalam doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,اللهم لا قابض لما بسطت، ولا باسط لما قبضت، ولا هادي لما أضللت، ولا مضل لمن هديت، ولا معطي لما منعت، ولا مانع لما أعطيت“Ya Allah, tidak ada yang dapat menyempitkan apa yang Engkau lapangkan, dan tidak ada yang dapat melapangkan apa yang Engkau sempitkan. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk terhadap siapa yang Engkau sesatkan, dan tidak ada yang dapat menyesatkan siapa yang Engkau beri petunjuk. Tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau tahan, dan tidak ada yang dapat menahan apa yang Engkau beri…” (HR. Ahmad no. 15492 dan Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 538, dan disahihkan oleh Al-Albani)Doa ini menunjukkan bahwa seluruh urusan berada di tangan Allah semata. Oleh karena itu, seorang hamba hendaknya bersyukur ketika diberi kelapangan, dan tidak berputus asa ketika diuji dengan kesempitan, karena keduanya adalah bagian dari hikmah dan pengaturan Allah yang sempurna. [11]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang rida terhadap setiap ketetapan-Nya, bersabar ketika disempitkan, dan bersyukur ketika dilapangkan. Aamiin.***Rumdin PPIA Sragen, 11 Syawal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi UtamaIbn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi.Al-Musai’id, Mubarak Abdullah. At-Ta‘liq al-Asna ‘ala Manzhumat Asma’ Allah al-Husna li Ibni ‘Utsaimin wa Mukhtashariha. Cetakan Pertama. Dammam: Dar Ibn al-Jauzi, 1444 H.Catatan kaki:[1] Lihat An-Nahjul Asma, hal. 628-629.[2] Lihat Asma’ullah al-Husna karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 333.[3] Maqāyīs al-Lughah, hal. 759.[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 92.[5] Sya’n ad-Du‘ā’ (1: 57). Lihat juga Tawḍīḥ al-Kāfiyah asy-Syāfiyah fī al-Intiṣār li al-Firqah an-Nājiyah karya Ibnu Si’diy, hal. 204-205.[6] Sya’n ad-Du‘ā’ karya Al-Khaththabi, 1: 57.[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 948.[8] Fiqhul Asmaail Husna, hal. 332.[9] Lihat Asma’ullah al-Husna karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 333.[10] At-Ta‘līq al-Asnā, hal. 226.[11] Fiqhul Asmaail Husna, hal. 331–332.
Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Kandungan makna nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Makna bahasa dari Al-Qaabidh Al-BaasithPenyebutan “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara berpasanganMakna “Al-Qaabidh Al-Baasith” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi hambaBeriman bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk bagian dari Al-Asmaul HusnaMenguatkan ketergantungan kepada Allah serta bersungguh-sungguh dalam berdoa dan menempuh sebab yang benarBersyukur ketika dilapangkan dan kembali kepada Allah ketika disempitkanSemakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin kuat tawakalnya, semakin tenang hatinya dalam menghadapi takdir, dan semakin yakin bahwa segala sesuatu berada di bawah pengaturan Allah. Di antara nama Allah yang menunjukkan kesempurnaan pengaturan-Nya terhadap makhluk adalah Al-Qaabidh Al-Baasith —Yang Maha Menyempitkan lagi Yang Maha Melapangkan— dua nama yang saling berkaitan dan menunjukkan kesempurnaan hikmah Allah dalam memberi dan menahan.Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga hal utama: dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Al-Qaabidh Al-Baasith merupakan nama Allah, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta konsekuensi penting yang berkaitan dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Di antara dalil penetapan nama ini adalah hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,غَلَا السِّعْرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، سَعِّرْ لَنَافَقَالَ:  «إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ، الْقَابِضُ، الْبَاسِطُ، الرَّزَّاق“Harga-harga naik pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, tetapkanlah harga untuk kami.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, Yang Menyempitkan (Al-Qaabidh), Yang Melapangkan (Al-Baasith), Yang Maha Memberi rezeki…’” (HR. Abu Dawud no. 3451, At-Tirmidzi no. 1314; dinilai sahih oleh Al-Albani)Adapun disebutkan dalam bentuk fi‘il, maka Allah berfirman dalam Al-Qur’an,وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ“Dan Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya kalian dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)Demikian pula dalam hadis,إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ…“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat buruk di siang hari bertobat…” (HR. Muslim) [1]Banyak dari para ulama yang memasukkan Al-Qaabidh Al-Baasith ke dalam Al-Asmaul Husna, di antaranya Ibn Mandah, Al-Ashbahani, Ibn Hazm, Ibnul ‘Arabi, Al-Baihaqi, dan Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah. [2]Kandungan makna nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari Al-Qaabidh Al-BaasithKata Al-Qaabidh merupakan isim fa’il (pelaku) dari kata (قبض – يقبِض). Tentang makna kata (قَبَضَ), Ibnu Faris rahimahullah mengatakan,الْقَافُ وَالْبَاءُ وَالضَّادُ أَصْلٌ وَاحِدٌ صَحِيحٌ يَدُلُّ عَلَى شَيْءٍ مَأْخُوذٍ، وَتَجَمُّعٍ فِي شَيْءٍ“Akar kata qāf, bā’, dan ḍād merupakan satu asal makna yang sahih, yang menunjukkan sesuatu yang diambil serta terkumpul dalam suatu tempat.” [3]Adapun Al-Baasith merupakan fa’il (pelaku) dari kata (بسط – يبسُط). Tentang makna kata (بَسَطَ), Ibnu Faris mengatakan,الْبَاءُ وَالسِّينُ وَالطَّاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ امْتِدَادُ الشَّيْءِ، فِي عِرَضٍ أَوْ غَيْرِ عِرَضٍ“Akar kata bā’, sīn, dan ṭā’ merupakan satu asal makna, yaitu membentang atau meluasnya sesuatu, baik pada arah lebar maupun selainnya.” [4]Penyebutan “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara berpasanganKedua nama ini sangat dianjurkan untuk disebutkan secara berpasangan, karena kesempurnaan maknanya terletak pada penggabungan keduanya.Al-Khaththabi rahimahullah mengatakan, “Dalam dua nama seperti ini, adalah baik jika salah satunya disebutkan bersamaan dengan yang lain dan dihubungkan dengannya, karena hal itu lebih menunjukkan kekuasaan dan lebih menampakkan hikmah. Seperti firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Dan Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya kalian dikembalikan.’ (QS. Al-Baqarah: 245)Apabila engkau menyebut Al-Qaabidh (Yang Menyempitkan) secara terpisah dari Al-Baasith (Yang Melapangkan), seakan-akan engkau membatasi sifat tersebut hanya pada makna menahan dan menghalangi. Namun jika engkau menggabungkan keduanya, maka engkau telah menghimpun dua sifat yang menunjukkan sisi hikmah di dalamnya.” [5]Makna “Al-Qaabidh Al-Baasith” dalam konteks AllahTentang makna kedua nama ini, Al-Khaththabi rahimahullah melanjutkan, “Al-Qaabidh dan Al-Baasith adalah Dzat yang melapangkan rezeki dan juga menyempitkannya. Dia melapangkannya dengan kedermawanan dan rahmat-Nya, serta menyempitkannya dengan hikmah-Nya, dengan mempertimbangkan keadaan hamba-Nya. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya), ‘Seandainya Allah melapangkan rezeki bagi hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Dia menurunkannya sesuai kadar yang Dia kehendaki.’ (QS. Asy-Syura: 27).Apabila Allah menambah (rezeki seseorang), maka itu bukan berarti Dia menjadikannya berlebih-lebihan dan melampaui batas. Dan apabila Dia menguranginya, maka bukan berarti karena ketiadaan atau kebakhilan. Ada pula yang mengatakan bahwa Al-Qaabidh adalah Dzat yang mencabut ruh-ruh dengan kematian yang telah Dia tetapkan atas para hamba.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,القابض الباسط يقبض الأرزاق والأرواح، ويبسط الأرزاق والقلوب، وذلك تبع لحكمته ورحمته“Al-Qaabidh Al-Baasith adalah Dzat yang menyempitkan rezeki dan mencabut ruh, serta melapangkan rezeki dan hati, semuanya sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya.” [7]Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafidzahullah mengatakan, “Telah disebutkan makna melapangkan (al-basth) dan menyempitkan (al-qabdh) yang disandarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam banyak nash dari Al-Qur’an dan sunah.” Setelah itu, beliau menyebutkan contoh ayat-ayat. Kemudian beliau mengatakan,فدلت هذه النصوص ونظائرها أن القبض والبسط كله بيد الله تبارك وتعالى، وبتصريفه وتدبيره سبحانه يبسط لمن يشاء في ماله أو عافيته أو عمره أو علمه أو حياته، ويقبض وهو الحكيم الخبير“Nash-nash ini dan yang semisalnya menunjukkan bahwa seluruh bentuk penyempitan dan pelapangan berada di tangan Allah Tabaraka wa Ta‘ala. Dengan pengaturan dan tadbir-Nya, Dia melapangkan bagi siapa yang Dia kehendaki pada hartanya, kesehatannya, umurnya, ilmunya, atau kehidupannya, dan Dia menyempitkannya, sedangkan Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” [8]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi hambaPenetapan nama “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk bagian dari Al-Asmaul HusnaSeorang hamba meyakini bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk nama-nama Allah yang paling baik, berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan, meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menetapkannya sebagai bagian dari Al-Asmaul Husna. [9]Menguatkan ketergantungan kepada Allah serta bersungguh-sungguh dalam berdoa dan menempuh sebab yang benarDi antara buah iman terhadap dua nama ini adalah seorang hamba menggantungkan hatinya kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, dengan senantiasa memohon agar Allah melapangkan baginya kebaikan, rahmat, dan karunia-Nya, serta melindunginya dari berbagai keburukan. Ia tidak hanya berhenti pada doa, tetapi juga menempuh sebab-sebab yang disyariatkan yang menjadi jalan datangnya kelapangan dan terhindarnya dari kesempitan, seperti menjaga ketaatan dan menyambung silaturahim. Dengan demikian, terkumpul pada dirinya antara ketergantungan hati kepada Allah dan usaha yang benar dalam meraih kebaikan. [10]Bersyukur ketika dilapangkan dan kembali kepada Allah ketika disempitkanDalam konteks ini, terdapat peringatan penting bagi seorang hamba. Ketika Allah melapangkan baginya dalam harta, ilmu, atau kedudukan, maka hendaknya ia menginfakkan dari apa yang Allah berikan kepadanya, serta berbuat baik kepada hamba-hamba Allah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya. Sebaliknya, jika Allah menyempitkan baginya, maka hendaknya ia kembali kepada Allah semata, memohon pertolongan, karunia, dan keluasan dari-Nya, dengan keyakinan penuh bahwa tidak ada yang mampu melapangkan apa yang Allah sempitkan, dan tidak ada yang mampu menyempitkan apa yang Allah lapangkan.Sebagaimana disebutkan dalam doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,اللهم لا قابض لما بسطت، ولا باسط لما قبضت، ولا هادي لما أضللت، ولا مضل لمن هديت، ولا معطي لما منعت، ولا مانع لما أعطيت“Ya Allah, tidak ada yang dapat menyempitkan apa yang Engkau lapangkan, dan tidak ada yang dapat melapangkan apa yang Engkau sempitkan. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk terhadap siapa yang Engkau sesatkan, dan tidak ada yang dapat menyesatkan siapa yang Engkau beri petunjuk. Tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau tahan, dan tidak ada yang dapat menahan apa yang Engkau beri…” (HR. Ahmad no. 15492 dan Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 538, dan disahihkan oleh Al-Albani)Doa ini menunjukkan bahwa seluruh urusan berada di tangan Allah semata. Oleh karena itu, seorang hamba hendaknya bersyukur ketika diberi kelapangan, dan tidak berputus asa ketika diuji dengan kesempitan, karena keduanya adalah bagian dari hikmah dan pengaturan Allah yang sempurna. [11]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang rida terhadap setiap ketetapan-Nya, bersabar ketika disempitkan, dan bersyukur ketika dilapangkan. Aamiin.***Rumdin PPIA Sragen, 11 Syawal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi UtamaIbn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi.Al-Musai’id, Mubarak Abdullah. At-Ta‘liq al-Asna ‘ala Manzhumat Asma’ Allah al-Husna li Ibni ‘Utsaimin wa Mukhtashariha. Cetakan Pertama. Dammam: Dar Ibn al-Jauzi, 1444 H.Catatan kaki:[1] Lihat An-Nahjul Asma, hal. 628-629.[2] Lihat Asma’ullah al-Husna karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 333.[3] Maqāyīs al-Lughah, hal. 759.[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 92.[5] Sya’n ad-Du‘ā’ (1: 57). Lihat juga Tawḍīḥ al-Kāfiyah asy-Syāfiyah fī al-Intiṣār li al-Firqah an-Nājiyah karya Ibnu Si’diy, hal. 204-205.[6] Sya’n ad-Du‘ā’ karya Al-Khaththabi, 1: 57.[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 948.[8] Fiqhul Asmaail Husna, hal. 332.[9] Lihat Asma’ullah al-Husna karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 333.[10] At-Ta‘līq al-Asnā, hal. 226.[11] Fiqhul Asmaail Husna, hal. 331–332.


Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Kandungan makna nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Makna bahasa dari Al-Qaabidh Al-BaasithPenyebutan “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara berpasanganMakna “Al-Qaabidh Al-Baasith” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi hambaBeriman bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk bagian dari Al-Asmaul HusnaMenguatkan ketergantungan kepada Allah serta bersungguh-sungguh dalam berdoa dan menempuh sebab yang benarBersyukur ketika dilapangkan dan kembali kepada Allah ketika disempitkanSemakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin kuat tawakalnya, semakin tenang hatinya dalam menghadapi takdir, dan semakin yakin bahwa segala sesuatu berada di bawah pengaturan Allah. Di antara nama Allah yang menunjukkan kesempurnaan pengaturan-Nya terhadap makhluk adalah Al-Qaabidh Al-Baasith —Yang Maha Menyempitkan lagi Yang Maha Melapangkan— dua nama yang saling berkaitan dan menunjukkan kesempurnaan hikmah Allah dalam memberi dan menahan.Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga hal utama: dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Al-Qaabidh Al-Baasith merupakan nama Allah, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta konsekuensi penting yang berkaitan dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Di antara dalil penetapan nama ini adalah hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,غَلَا السِّعْرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، سَعِّرْ لَنَافَقَالَ:  «إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ، الْقَابِضُ، الْبَاسِطُ، الرَّزَّاق“Harga-harga naik pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, tetapkanlah harga untuk kami.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, Yang Menyempitkan (Al-Qaabidh), Yang Melapangkan (Al-Baasith), Yang Maha Memberi rezeki…’” (HR. Abu Dawud no. 3451, At-Tirmidzi no. 1314; dinilai sahih oleh Al-Albani)Adapun disebutkan dalam bentuk fi‘il, maka Allah berfirman dalam Al-Qur’an,وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ“Dan Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya kalian dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)Demikian pula dalam hadis,إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ…“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat buruk di siang hari bertobat…” (HR. Muslim) [1]Banyak dari para ulama yang memasukkan Al-Qaabidh Al-Baasith ke dalam Al-Asmaul Husna, di antaranya Ibn Mandah, Al-Ashbahani, Ibn Hazm, Ibnul ‘Arabi, Al-Baihaqi, dan Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah. [2]Kandungan makna nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari Al-Qaabidh Al-BaasithKata Al-Qaabidh merupakan isim fa’il (pelaku) dari kata (قبض – يقبِض). Tentang makna kata (قَبَضَ), Ibnu Faris rahimahullah mengatakan,الْقَافُ وَالْبَاءُ وَالضَّادُ أَصْلٌ وَاحِدٌ صَحِيحٌ يَدُلُّ عَلَى شَيْءٍ مَأْخُوذٍ، وَتَجَمُّعٍ فِي شَيْءٍ“Akar kata qāf, bā’, dan ḍād merupakan satu asal makna yang sahih, yang menunjukkan sesuatu yang diambil serta terkumpul dalam suatu tempat.” [3]Adapun Al-Baasith merupakan fa’il (pelaku) dari kata (بسط – يبسُط). Tentang makna kata (بَسَطَ), Ibnu Faris mengatakan,الْبَاءُ وَالسِّينُ وَالطَّاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ امْتِدَادُ الشَّيْءِ، فِي عِرَضٍ أَوْ غَيْرِ عِرَضٍ“Akar kata bā’, sīn, dan ṭā’ merupakan satu asal makna, yaitu membentang atau meluasnya sesuatu, baik pada arah lebar maupun selainnya.” [4]Penyebutan “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara berpasanganKedua nama ini sangat dianjurkan untuk disebutkan secara berpasangan, karena kesempurnaan maknanya terletak pada penggabungan keduanya.Al-Khaththabi rahimahullah mengatakan, “Dalam dua nama seperti ini, adalah baik jika salah satunya disebutkan bersamaan dengan yang lain dan dihubungkan dengannya, karena hal itu lebih menunjukkan kekuasaan dan lebih menampakkan hikmah. Seperti firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Dan Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya kalian dikembalikan.’ (QS. Al-Baqarah: 245)Apabila engkau menyebut Al-Qaabidh (Yang Menyempitkan) secara terpisah dari Al-Baasith (Yang Melapangkan), seakan-akan engkau membatasi sifat tersebut hanya pada makna menahan dan menghalangi. Namun jika engkau menggabungkan keduanya, maka engkau telah menghimpun dua sifat yang menunjukkan sisi hikmah di dalamnya.” [5]Makna “Al-Qaabidh Al-Baasith” dalam konteks AllahTentang makna kedua nama ini, Al-Khaththabi rahimahullah melanjutkan, “Al-Qaabidh dan Al-Baasith adalah Dzat yang melapangkan rezeki dan juga menyempitkannya. Dia melapangkannya dengan kedermawanan dan rahmat-Nya, serta menyempitkannya dengan hikmah-Nya, dengan mempertimbangkan keadaan hamba-Nya. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya), ‘Seandainya Allah melapangkan rezeki bagi hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Dia menurunkannya sesuai kadar yang Dia kehendaki.’ (QS. Asy-Syura: 27).Apabila Allah menambah (rezeki seseorang), maka itu bukan berarti Dia menjadikannya berlebih-lebihan dan melampaui batas. Dan apabila Dia menguranginya, maka bukan berarti karena ketiadaan atau kebakhilan. Ada pula yang mengatakan bahwa Al-Qaabidh adalah Dzat yang mencabut ruh-ruh dengan kematian yang telah Dia tetapkan atas para hamba.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,القابض الباسط يقبض الأرزاق والأرواح، ويبسط الأرزاق والقلوب، وذلك تبع لحكمته ورحمته“Al-Qaabidh Al-Baasith adalah Dzat yang menyempitkan rezeki dan mencabut ruh, serta melapangkan rezeki dan hati, semuanya sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya.” [7]Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafidzahullah mengatakan, “Telah disebutkan makna melapangkan (al-basth) dan menyempitkan (al-qabdh) yang disandarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam banyak nash dari Al-Qur’an dan sunah.” Setelah itu, beliau menyebutkan contoh ayat-ayat. Kemudian beliau mengatakan,فدلت هذه النصوص ونظائرها أن القبض والبسط كله بيد الله تبارك وتعالى، وبتصريفه وتدبيره سبحانه يبسط لمن يشاء في ماله أو عافيته أو عمره أو علمه أو حياته، ويقبض وهو الحكيم الخبير“Nash-nash ini dan yang semisalnya menunjukkan bahwa seluruh bentuk penyempitan dan pelapangan berada di tangan Allah Tabaraka wa Ta‘ala. Dengan pengaturan dan tadbir-Nya, Dia melapangkan bagi siapa yang Dia kehendaki pada hartanya, kesehatannya, umurnya, ilmunya, atau kehidupannya, dan Dia menyempitkannya, sedangkan Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” [8]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi hambaPenetapan nama “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk bagian dari Al-Asmaul HusnaSeorang hamba meyakini bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk nama-nama Allah yang paling baik, berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan, meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menetapkannya sebagai bagian dari Al-Asmaul Husna. [9]Menguatkan ketergantungan kepada Allah serta bersungguh-sungguh dalam berdoa dan menempuh sebab yang benarDi antara buah iman terhadap dua nama ini adalah seorang hamba menggantungkan hatinya kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, dengan senantiasa memohon agar Allah melapangkan baginya kebaikan, rahmat, dan karunia-Nya, serta melindunginya dari berbagai keburukan. Ia tidak hanya berhenti pada doa, tetapi juga menempuh sebab-sebab yang disyariatkan yang menjadi jalan datangnya kelapangan dan terhindarnya dari kesempitan, seperti menjaga ketaatan dan menyambung silaturahim. Dengan demikian, terkumpul pada dirinya antara ketergantungan hati kepada Allah dan usaha yang benar dalam meraih kebaikan. [10]Bersyukur ketika dilapangkan dan kembali kepada Allah ketika disempitkanDalam konteks ini, terdapat peringatan penting bagi seorang hamba. Ketika Allah melapangkan baginya dalam harta, ilmu, atau kedudukan, maka hendaknya ia menginfakkan dari apa yang Allah berikan kepadanya, serta berbuat baik kepada hamba-hamba Allah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya. Sebaliknya, jika Allah menyempitkan baginya, maka hendaknya ia kembali kepada Allah semata, memohon pertolongan, karunia, dan keluasan dari-Nya, dengan keyakinan penuh bahwa tidak ada yang mampu melapangkan apa yang Allah sempitkan, dan tidak ada yang mampu menyempitkan apa yang Allah lapangkan.Sebagaimana disebutkan dalam doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,اللهم لا قابض لما بسطت، ولا باسط لما قبضت، ولا هادي لما أضللت، ولا مضل لمن هديت، ولا معطي لما منعت، ولا مانع لما أعطيت“Ya Allah, tidak ada yang dapat menyempitkan apa yang Engkau lapangkan, dan tidak ada yang dapat melapangkan apa yang Engkau sempitkan. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk terhadap siapa yang Engkau sesatkan, dan tidak ada yang dapat menyesatkan siapa yang Engkau beri petunjuk. Tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau tahan, dan tidak ada yang dapat menahan apa yang Engkau beri…” (HR. Ahmad no. 15492 dan Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 538, dan disahihkan oleh Al-Albani)Doa ini menunjukkan bahwa seluruh urusan berada di tangan Allah semata. Oleh karena itu, seorang hamba hendaknya bersyukur ketika diberi kelapangan, dan tidak berputus asa ketika diuji dengan kesempitan, karena keduanya adalah bagian dari hikmah dan pengaturan Allah yang sempurna. [11]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang rida terhadap setiap ketetapan-Nya, bersabar ketika disempitkan, dan bersyukur ketika dilapangkan. Aamiin.***Rumdin PPIA Sragen, 11 Syawal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi UtamaIbn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi.Al-Musai’id, Mubarak Abdullah. At-Ta‘liq al-Asna ‘ala Manzhumat Asma’ Allah al-Husna li Ibni ‘Utsaimin wa Mukhtashariha. Cetakan Pertama. Dammam: Dar Ibn al-Jauzi, 1444 H.Catatan kaki:[1] Lihat An-Nahjul Asma, hal. 628-629.[2] Lihat Asma’ullah al-Husna karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 333.[3] Maqāyīs al-Lughah, hal. 759.[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 92.[5] Sya’n ad-Du‘ā’ (1: 57). Lihat juga Tawḍīḥ al-Kāfiyah asy-Syāfiyah fī al-Intiṣār li al-Firqah an-Nājiyah karya Ibnu Si’diy, hal. 204-205.[6] Sya’n ad-Du‘ā’ karya Al-Khaththabi, 1: 57.[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 948.[8] Fiqhul Asmaail Husna, hal. 332.[9] Lihat Asma’ullah al-Husna karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 333.[10] At-Ta‘līq al-Asnā, hal. 226.[11] Fiqhul Asmaail Husna, hal. 331–332.

Istikamah hingga Wafat: Disambut Malaikat dan Dijanjikan Surga

Banyak orang mengaku beriman, tetapi tidak semuanya mampu bertahan di atas jalan itu hingga akhir hayat. Padahal, janji besar menanti mereka yang istiqamah: disambut malaikat, dihilangkan rasa takut, dan diberi kabar gembira dengan surga. Lalu, seperti apa hakikat istiqamah yang benar hingga seseorang mendapatkan kemuliaan ini?  Daftar Isi tutup 1. Tafsir Ayat: Istikamah sebagai Puncak Keimanan 1.1. Istikamah Bukan Sekadar Ucapan 1.2. Para Sahabat Memaknai Istikamah 1.3. Ayat Paling Lapang Bagi Manusia 1.4. Istikamah Menurut Umar dan Para Ulama 1.5. Wasiat Nabi: Cukup Dua Kata, Jaga Lisanmu 1.6. Malaikat Turun Membawa Kabar Gembira 1.7. Kabar Gembira di Tiga Momen Agung  Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ berkata:وَلَا يَزَالُ الْمَلَكُ يَقْرُبُ مِنَ الْعَبْدِ حَتَّى يَصِيرَ الْحُكْمُ وَالطَّاعَةُ وَالْغَلَبَةُ لَهُ، فَتَتَوَلَّاهُ الْمَلَائِكَةُ فِي حَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَعِنْدَ بَعْثِهِ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:Malaikat terus-menerus mendekat kepada hamba, hingga pada akhirnya keputusan, ketaatan, dan dominasinya ada di pihak malaikat. Maka malaikat pun mengurusi hamba itu sepanjang hidupnya, saat kematiannya, dan ketika ia dibangkitkan kembali. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ – نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ}“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka: ‘Janganlah kalian takut dan jangan bersedih; bergembiralah dengan surga yang dijanjikan untuk kalian. Kamilah para wali kalian di kehidupan dunia dan di akhirat.’” (QS. Fushshilat: 30–31) وَإِذَا تَوَلَّاهُ الْمَلَكُ تَوَلَّاهُ أَنْصَحُ الْخَلْقِ وَأَنْفَعُهُمْ وَأَبَرُّهُمْ، فَثَبَّتَهُ وَعَلَّمَهُ، وَقَوَّى جَنَانَهُ، وَأَيَّدَهُ اللَّهُ تَعَالَى: {إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا} [سُورَةُ الْأَنْفَالِ: ١٢] .Apabila malaikat telah menjadi wali seorang hamba, maka ia akan berada di bawah pengayoman makhluk yang paling tulus, paling bermanfaat, dan paling baik baginya. Malaikat akan meneguhkannya, mengajarinya, menguatkan hatinya, dan Allah Ta‘ala akan menolongnya dengan firman-Nya:{إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا}“(Ingatlah) ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-Anfāl: 12)فَيَقُولُ الْمَلَكُ عِنْدَ الْمَوْتِ: لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ وَأَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، وَيُثَبِّتُهُ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَيْهِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَعِنْدَ الْمَوْتِ، وَفِي الْقَبْرِ عِنْدَ الْمَسْأَلَةِ.Maka malaikat berkata kepada seorang mukmin ketika menjelang kematiannya:“Jangan engkau takut, jangan bersedih, dan bergembiralah dengan kabar yang membahagiakanmu.”Ia meneguhkan hamba itu dengan qawl tsābit (ucapan yang teguh dan benar) pada saat yang paling ia butuhkan: saat di dunia, ketika sakratul maut, dan di dalam kubur ketika ditanyai.فَلَيْسَ أَحَدٌ أَنْفَعَ لِلْعَبْدِ مِنْ صُحْبَةِ الْمَلَكِ لَهُ، وَهُوَ وَلِيُّهُ فِي يَقَظَتِهِ وَمَنَامِهِ، وَحَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَفِي قَبْرِهِ، وَمُؤْنِسُهُ فِي وَحْشَتِهِ، وَصَاحِبُهُ فِي خَلْوَتِهِ، وَمُحَدِّثُهُ فِي سِرِّهِ، وَيُحَارِبُ عَنْهُ عَدُوَّهُ، وَيُدَافِعُ عَنْهُ وَيُعِينُهُ عَلَيْهِ، وَيَعِدُهُ بِالْخَيْرِ وَيُبَشِّرُهُ بِهِ، وَيُحِثُّهُ عَلَى التَّصْدِيقِ بِالْحَقِّ،Tidak ada seorang pun yang lebih bermanfaat bagi hamba melebihi kedekatan dan pendampingan malaikat. Dialah wali yang menyertainya ketika terjaga maupun tidur, saat hidup, ketika menghadapi kematian, dan di alam kuburnya. Malaikat adalah penghiburnya dalam kesepian, sahabatnya dalam kesendirian, penuntunnya dalam bisikan hati, pelindung yang memerangi musuhnya, membela dan menolongnya, memberi janji kebaikan dan menyampaikan kabar gembira, serta mendorongnya untuk membenarkan kebenaran.Perkataan ini dicantumkan dalam buku yang kami susun yang membahas 55 dampak maksiat “Dosa itu Candu” yang diterbitkan oleh Penerbit Rumaysho. Tafsir Ayat: Istikamah sebagai Puncak KeimananAllah Ta’ala berfirman:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.‘” (QS. Fushshilat: 30)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Allah Ta’ala berfirman tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya:أَخْلَصُوا الْعَمَلَ لِلَّهِ، وَعَمِلُوا بِطَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى مَا شَرَعَ اللَّهُ لَهُمْmereka yang mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, dan mengerjakan ketaatan kepada Allah Ta’ala sesuai dengan apa yang telah Allah syariatkan. Istikamah Bukan Sekadar UcapanAl-Hafizh Abu Ya’la al-Maushili meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami al-Jarrah, telah menceritakan kepada kami Salm bin Qutaibah Abu Qutaibah asy-Syu’airi, telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abi Hazm, telah menceritakan kepada kami Tsabit, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ membacakan kepada kami ayat ini:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُواKemudian beliau bersabda: “Sungguh, banyak orang yang telah mengucapkan kalimat ini, lalu sebagian besar dari mereka murtad. Maka barang siapa yang mengucapkannya hingga ia meninggal dunia, dialah yang benar-benar istikamah di atasnya.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam kitab tafsirnya, al-Bazzar, dan Ibnu Jarir — dari Amr bin Ali al-Fallaas, dari Salm bin Qutaibah. Ibnu Abi Hatim pun meriwayatkannya dari ayahnya, dari al-Fallaas. Para Sahabat Memaknai IstikamahKemudian Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Amir bin Sa’d, dari Sa’id bin Nimran, ia berkata: Aku membacakan di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq ayat ini:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُواMaka Abu Bakar berkata: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.”Kemudian diriwayatkan pula dari hadits al-Aswad bin Hilal, ia berkata: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada para sahabat: “Apa pendapat kalian tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا)?”Para sahabat menjawab: “(Maksudnya) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu istikamah dari dosa.”Abu Bakar pun berkata: “Sungguh, kalian telah membawa ayat ini bukan pada tempat yang semestinya. (Maksudnya adalah) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu mereka tidak menoleh kepada tuhan selain-Nya.”Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Mujahid, Ikrimah, as-Suddi, dan para ulama lainnya. Ayat Paling Lapang Bagi ManusiaIbnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah azh-Zhahrani, telah mengabarkan kepada kami Hafsh bin Umar al-‘Adni, dari al-Hakam bin Aban, dari Ikrimah, ia berkata: Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya: “Ayat mana dalam Kitabullah yang paling memberikan keringanan (bagi manusia)?”Ibnu Abbas menjawab: “Firman Allah: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah di atas persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah.” Istikamah Menurut Umar dan Para UlamaAz-Zuhri berkata: Umar radhiyallahu ‘anhu membacakan ayat ini di atas mimbar, lalu berkata:اسْتَقَامُوا – وَاللَّهِ – لِلَّهِ بِطَاعَتِهِ، وَلَمْ يَرُوغُوا رَوَغَانَ الثَّعَالِبِ.“Mereka istikamah — demi Allah — dalam ketaatan kepada Allah, dan mereka tidak berbelok-belok seperti kebiasaan rubah.”Catatan:Rubah dijadikan perumpamaan karena:Ia tidak berjalan lurus, tapi sering zig-zag dan memutarGerakannya diam-diam dan penuh tipu dayaTujuannya menghindari bahaya atau mengecoh lawanMaka makna ucapan Umar bin Khattab: Orang yang istikamah itu lurus dalam ketaatan, tidak seperti rubah yang berkelok-kelok, plin-plan, dan mencari jalan untuk menghindari kebenaran.Secara maknawi:Tidak “main aman” saat berat menjalankan syariatTidak mencari-cari alasan untuk menyimpangTidak taat hanya ketika mudahJadi inti perumpamaan ini:Istikamah = lurus, tegas, konsistenRoghan ats-tsa‘ālib (gaya rubah) = licik, berkelok, tidak konsistenAli bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas: (قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah dalam menunaikan segala kewajiban. Pendapat yang sama disampaikan oleh Qatadah.Al-Hasan al-Bashri biasa berdoa:اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّنَا، فَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَAllāhumma anta rabbunā, farzuqnā al-istiqāmah.“Ya Allah, Engkau adalah Tuhan kami, maka anugerahkanlah kepada kami istikamah.”Abu al-‘Aliyah berkata: (ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya, mereka mengikhlaskan amal dan agama hanya untuk-Nya. Wasiat Nabi: Cukup Dua Kata, Jaga LisanmuImam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah menceritakan kepada kami Ya’la bin ‘Atha, dari Abdullah bin Sufyan ats-Tsaqafi, dari ayahnya; bahwa seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku suatu perkara dalam Islam yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.”Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikamahlah.” Aku bertanya: “Lalu apa yang paling aku hindari?” Maka beliau mengisyaratkan ke arah lisannya.Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari hadits Syu’bah, dari Ya’la bin ‘Atha.Kemudian Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa’d, telah menceritakan kepadaku Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Ma’iz al-Ghamidi, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku suatu perkara yang aku berpegang teguh dengannya.”Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Tuhanku adalah Allah,’ lalu istikalahlah.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan terhadapku?” Maka Rasulullah ﷺ memegang ujung lisannya sendiri, lalu bersabda: “Ini.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits az-Zuhri. At-Tirmidzi berkata: “Hasan sahih.” Muslim dalam Shahih-nya dan an-Nasa’i pun mengeluarkannya dari hadits Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam suatu perkataan yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.” Beliau bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikalahlah.” Dan disebutkan kelanjutan hadits tersebut. Malaikat Turun Membawa Kabar GembiraAdapun firman Allah: (تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ), Mujahid, as-Suddi, Zaid bin Aslam, dan putranya berkata: Maksudnya adalah ketika menjelang kematian, dengan perkataan: (أَلَّا تَخَافُوا).Mujahid, Ikrimah, dan Zaid bin Aslam berkata: Maksudnya adalah janganlah kalian takut terhadap apa yang akan kalian hadapi dari urusan akhirat. (وَلَا تَحْزَنُوا) — janganlah kalian bersedih atas apa yang kalian tinggalkan dari urusan dunia, berupa anak, keluarga, harta, atau utang, karena kami yang akan mengurus semuanya. (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ) — maka para malaikat membawa kabar gembira dengan hilangnya keburukan dan datangnya kebaikan.Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya para malaikat berkata kepada ruh seorang mukmin: ‘Keluarlah, wahai ruh yang baik yang berada dalam jasad yang baik yang selama ini kamu huni. Keluarlah menuju kelapangan, wewangian, dan Tuhan yang tidak murka.'” Kabar Gembira di Tiga Momen AgungAda pula pendapat yang menyatakan bahwa para malaikat turun kepada mereka pada hari mereka keluar dari kubur. Hal ini dikutip oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas dan as-Suddi.Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, telah menceritakan kepada kami Abdussalam bin Muththahhar, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman: Aku mendengar Tsabit membacakan surah Hâ Mîm as-Sajdah hingga sampai pada ayat:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُLalu ia berhenti dan berkata: “Telah sampai kepada kami bahwa seorang hamba yang beriman, ketika Allah membangkitkannya dari kuburnya, ia disambut oleh dua malaikat yang selama ini menemaninya di dunia. Keduanya berkata kepadanya: ‘Jangan takut dan jangan bersedih, (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ).’ Maka Allah menghilangkan rasa takutnya dan menyejukkan pandangan matanya. Tidaklah ada perkara besar yang ditakuti manusia pada hari kiamat, melainkan hal itu justru menjadi penyejuk mata bagi orang mukmin — berkat hidayah yang Allah berikan kepadanya dan berkat amal yang selalu ia kerjakan di dunia.”Zaid bin Aslam berkata: “Para malaikat memberi kabar gembira kepadanya ketika ia meninggal dunia, di dalam kuburnya, dan ketika ia dibangkitkan.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.Pendapat inilah yang menghimpun seluruh pendapat yang ada, dan ini adalah pendapat yang sangat bagus — dan itulah yang memang terjadi. Pembahasan tafsir dua ayat ini diambil dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir rahimahullah. Amalkan doa ini,اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَALLĀHUMMA LAKA ASLAMTU WA BIKA ĀMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU WA ILAIKA ANABTU WA BIKA KHĀṢAMTU. ALLĀHUMMA INNĪ A’ŪDZU BI ‘IZZATIKA LĀ ILĀHA ILLĀ ANTA AN TUḌILLANĪ. ANTAL ḤAYYU ALLAŻĪ LĀ YAMŪTU, WAL JINNU WAL INSU YAMŪTŪN.Artinya: “Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku bertobat kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu—tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau—dari segala hal yang bisa menyesatkanku. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati.”[1][1] HR. Muslim, no. 2717, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.(Doa ini diambil dari kumpulan buku “50 Doa Mengatasi Problem Hidup” karya Muhammad Abduh Tuasikal) Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701 Baca Juga:15 Kiat Istiqamah di Jalan Allah: Tetap Lurus Meski Banyak GodaanKiat Agar Tetap Istiqomah (seri 1) —- Selesai disusun di Sekar Kedhaton, 27  Syawal 1447 H, 15 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhir hayat dampak maksiat dosa itu candu ibnul qayyim iman istikamah malaikat nasihat ibnul qayyim nasihat Islami QS Fussilat sakaratul maut surga tafsir Ibnu Katsir tauhid

Istikamah hingga Wafat: Disambut Malaikat dan Dijanjikan Surga

Banyak orang mengaku beriman, tetapi tidak semuanya mampu bertahan di atas jalan itu hingga akhir hayat. Padahal, janji besar menanti mereka yang istiqamah: disambut malaikat, dihilangkan rasa takut, dan diberi kabar gembira dengan surga. Lalu, seperti apa hakikat istiqamah yang benar hingga seseorang mendapatkan kemuliaan ini?  Daftar Isi tutup 1. Tafsir Ayat: Istikamah sebagai Puncak Keimanan 1.1. Istikamah Bukan Sekadar Ucapan 1.2. Para Sahabat Memaknai Istikamah 1.3. Ayat Paling Lapang Bagi Manusia 1.4. Istikamah Menurut Umar dan Para Ulama 1.5. Wasiat Nabi: Cukup Dua Kata, Jaga Lisanmu 1.6. Malaikat Turun Membawa Kabar Gembira 1.7. Kabar Gembira di Tiga Momen Agung  Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ berkata:وَلَا يَزَالُ الْمَلَكُ يَقْرُبُ مِنَ الْعَبْدِ حَتَّى يَصِيرَ الْحُكْمُ وَالطَّاعَةُ وَالْغَلَبَةُ لَهُ، فَتَتَوَلَّاهُ الْمَلَائِكَةُ فِي حَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَعِنْدَ بَعْثِهِ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:Malaikat terus-menerus mendekat kepada hamba, hingga pada akhirnya keputusan, ketaatan, dan dominasinya ada di pihak malaikat. Maka malaikat pun mengurusi hamba itu sepanjang hidupnya, saat kematiannya, dan ketika ia dibangkitkan kembali. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ – نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ}“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka: ‘Janganlah kalian takut dan jangan bersedih; bergembiralah dengan surga yang dijanjikan untuk kalian. Kamilah para wali kalian di kehidupan dunia dan di akhirat.’” (QS. Fushshilat: 30–31) وَإِذَا تَوَلَّاهُ الْمَلَكُ تَوَلَّاهُ أَنْصَحُ الْخَلْقِ وَأَنْفَعُهُمْ وَأَبَرُّهُمْ، فَثَبَّتَهُ وَعَلَّمَهُ، وَقَوَّى جَنَانَهُ، وَأَيَّدَهُ اللَّهُ تَعَالَى: {إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا} [سُورَةُ الْأَنْفَالِ: ١٢] .Apabila malaikat telah menjadi wali seorang hamba, maka ia akan berada di bawah pengayoman makhluk yang paling tulus, paling bermanfaat, dan paling baik baginya. Malaikat akan meneguhkannya, mengajarinya, menguatkan hatinya, dan Allah Ta‘ala akan menolongnya dengan firman-Nya:{إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا}“(Ingatlah) ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-Anfāl: 12)فَيَقُولُ الْمَلَكُ عِنْدَ الْمَوْتِ: لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ وَأَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، وَيُثَبِّتُهُ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَيْهِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَعِنْدَ الْمَوْتِ، وَفِي الْقَبْرِ عِنْدَ الْمَسْأَلَةِ.Maka malaikat berkata kepada seorang mukmin ketika menjelang kematiannya:“Jangan engkau takut, jangan bersedih, dan bergembiralah dengan kabar yang membahagiakanmu.”Ia meneguhkan hamba itu dengan qawl tsābit (ucapan yang teguh dan benar) pada saat yang paling ia butuhkan: saat di dunia, ketika sakratul maut, dan di dalam kubur ketika ditanyai.فَلَيْسَ أَحَدٌ أَنْفَعَ لِلْعَبْدِ مِنْ صُحْبَةِ الْمَلَكِ لَهُ، وَهُوَ وَلِيُّهُ فِي يَقَظَتِهِ وَمَنَامِهِ، وَحَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَفِي قَبْرِهِ، وَمُؤْنِسُهُ فِي وَحْشَتِهِ، وَصَاحِبُهُ فِي خَلْوَتِهِ، وَمُحَدِّثُهُ فِي سِرِّهِ، وَيُحَارِبُ عَنْهُ عَدُوَّهُ، وَيُدَافِعُ عَنْهُ وَيُعِينُهُ عَلَيْهِ، وَيَعِدُهُ بِالْخَيْرِ وَيُبَشِّرُهُ بِهِ، وَيُحِثُّهُ عَلَى التَّصْدِيقِ بِالْحَقِّ،Tidak ada seorang pun yang lebih bermanfaat bagi hamba melebihi kedekatan dan pendampingan malaikat. Dialah wali yang menyertainya ketika terjaga maupun tidur, saat hidup, ketika menghadapi kematian, dan di alam kuburnya. Malaikat adalah penghiburnya dalam kesepian, sahabatnya dalam kesendirian, penuntunnya dalam bisikan hati, pelindung yang memerangi musuhnya, membela dan menolongnya, memberi janji kebaikan dan menyampaikan kabar gembira, serta mendorongnya untuk membenarkan kebenaran.Perkataan ini dicantumkan dalam buku yang kami susun yang membahas 55 dampak maksiat “Dosa itu Candu” yang diterbitkan oleh Penerbit Rumaysho. Tafsir Ayat: Istikamah sebagai Puncak KeimananAllah Ta’ala berfirman:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.‘” (QS. Fushshilat: 30)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Allah Ta’ala berfirman tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya:أَخْلَصُوا الْعَمَلَ لِلَّهِ، وَعَمِلُوا بِطَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى مَا شَرَعَ اللَّهُ لَهُمْmereka yang mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, dan mengerjakan ketaatan kepada Allah Ta’ala sesuai dengan apa yang telah Allah syariatkan. Istikamah Bukan Sekadar UcapanAl-Hafizh Abu Ya’la al-Maushili meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami al-Jarrah, telah menceritakan kepada kami Salm bin Qutaibah Abu Qutaibah asy-Syu’airi, telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abi Hazm, telah menceritakan kepada kami Tsabit, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ membacakan kepada kami ayat ini:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُواKemudian beliau bersabda: “Sungguh, banyak orang yang telah mengucapkan kalimat ini, lalu sebagian besar dari mereka murtad. Maka barang siapa yang mengucapkannya hingga ia meninggal dunia, dialah yang benar-benar istikamah di atasnya.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam kitab tafsirnya, al-Bazzar, dan Ibnu Jarir — dari Amr bin Ali al-Fallaas, dari Salm bin Qutaibah. Ibnu Abi Hatim pun meriwayatkannya dari ayahnya, dari al-Fallaas. Para Sahabat Memaknai IstikamahKemudian Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Amir bin Sa’d, dari Sa’id bin Nimran, ia berkata: Aku membacakan di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq ayat ini:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُواMaka Abu Bakar berkata: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.”Kemudian diriwayatkan pula dari hadits al-Aswad bin Hilal, ia berkata: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada para sahabat: “Apa pendapat kalian tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا)?”Para sahabat menjawab: “(Maksudnya) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu istikamah dari dosa.”Abu Bakar pun berkata: “Sungguh, kalian telah membawa ayat ini bukan pada tempat yang semestinya. (Maksudnya adalah) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu mereka tidak menoleh kepada tuhan selain-Nya.”Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Mujahid, Ikrimah, as-Suddi, dan para ulama lainnya. Ayat Paling Lapang Bagi ManusiaIbnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah azh-Zhahrani, telah mengabarkan kepada kami Hafsh bin Umar al-‘Adni, dari al-Hakam bin Aban, dari Ikrimah, ia berkata: Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya: “Ayat mana dalam Kitabullah yang paling memberikan keringanan (bagi manusia)?”Ibnu Abbas menjawab: “Firman Allah: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah di atas persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah.” Istikamah Menurut Umar dan Para UlamaAz-Zuhri berkata: Umar radhiyallahu ‘anhu membacakan ayat ini di atas mimbar, lalu berkata:اسْتَقَامُوا – وَاللَّهِ – لِلَّهِ بِطَاعَتِهِ، وَلَمْ يَرُوغُوا رَوَغَانَ الثَّعَالِبِ.“Mereka istikamah — demi Allah — dalam ketaatan kepada Allah, dan mereka tidak berbelok-belok seperti kebiasaan rubah.”Catatan:Rubah dijadikan perumpamaan karena:Ia tidak berjalan lurus, tapi sering zig-zag dan memutarGerakannya diam-diam dan penuh tipu dayaTujuannya menghindari bahaya atau mengecoh lawanMaka makna ucapan Umar bin Khattab: Orang yang istikamah itu lurus dalam ketaatan, tidak seperti rubah yang berkelok-kelok, plin-plan, dan mencari jalan untuk menghindari kebenaran.Secara maknawi:Tidak “main aman” saat berat menjalankan syariatTidak mencari-cari alasan untuk menyimpangTidak taat hanya ketika mudahJadi inti perumpamaan ini:Istikamah = lurus, tegas, konsistenRoghan ats-tsa‘ālib (gaya rubah) = licik, berkelok, tidak konsistenAli bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas: (قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah dalam menunaikan segala kewajiban. Pendapat yang sama disampaikan oleh Qatadah.Al-Hasan al-Bashri biasa berdoa:اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّنَا، فَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَAllāhumma anta rabbunā, farzuqnā al-istiqāmah.“Ya Allah, Engkau adalah Tuhan kami, maka anugerahkanlah kepada kami istikamah.”Abu al-‘Aliyah berkata: (ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya, mereka mengikhlaskan amal dan agama hanya untuk-Nya. Wasiat Nabi: Cukup Dua Kata, Jaga LisanmuImam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah menceritakan kepada kami Ya’la bin ‘Atha, dari Abdullah bin Sufyan ats-Tsaqafi, dari ayahnya; bahwa seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku suatu perkara dalam Islam yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.”Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikamahlah.” Aku bertanya: “Lalu apa yang paling aku hindari?” Maka beliau mengisyaratkan ke arah lisannya.Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari hadits Syu’bah, dari Ya’la bin ‘Atha.Kemudian Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa’d, telah menceritakan kepadaku Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Ma’iz al-Ghamidi, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku suatu perkara yang aku berpegang teguh dengannya.”Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Tuhanku adalah Allah,’ lalu istikalahlah.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan terhadapku?” Maka Rasulullah ﷺ memegang ujung lisannya sendiri, lalu bersabda: “Ini.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits az-Zuhri. At-Tirmidzi berkata: “Hasan sahih.” Muslim dalam Shahih-nya dan an-Nasa’i pun mengeluarkannya dari hadits Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam suatu perkataan yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.” Beliau bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikalahlah.” Dan disebutkan kelanjutan hadits tersebut. Malaikat Turun Membawa Kabar GembiraAdapun firman Allah: (تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ), Mujahid, as-Suddi, Zaid bin Aslam, dan putranya berkata: Maksudnya adalah ketika menjelang kematian, dengan perkataan: (أَلَّا تَخَافُوا).Mujahid, Ikrimah, dan Zaid bin Aslam berkata: Maksudnya adalah janganlah kalian takut terhadap apa yang akan kalian hadapi dari urusan akhirat. (وَلَا تَحْزَنُوا) — janganlah kalian bersedih atas apa yang kalian tinggalkan dari urusan dunia, berupa anak, keluarga, harta, atau utang, karena kami yang akan mengurus semuanya. (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ) — maka para malaikat membawa kabar gembira dengan hilangnya keburukan dan datangnya kebaikan.Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya para malaikat berkata kepada ruh seorang mukmin: ‘Keluarlah, wahai ruh yang baik yang berada dalam jasad yang baik yang selama ini kamu huni. Keluarlah menuju kelapangan, wewangian, dan Tuhan yang tidak murka.'” Kabar Gembira di Tiga Momen AgungAda pula pendapat yang menyatakan bahwa para malaikat turun kepada mereka pada hari mereka keluar dari kubur. Hal ini dikutip oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas dan as-Suddi.Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, telah menceritakan kepada kami Abdussalam bin Muththahhar, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman: Aku mendengar Tsabit membacakan surah Hâ Mîm as-Sajdah hingga sampai pada ayat:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُLalu ia berhenti dan berkata: “Telah sampai kepada kami bahwa seorang hamba yang beriman, ketika Allah membangkitkannya dari kuburnya, ia disambut oleh dua malaikat yang selama ini menemaninya di dunia. Keduanya berkata kepadanya: ‘Jangan takut dan jangan bersedih, (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ).’ Maka Allah menghilangkan rasa takutnya dan menyejukkan pandangan matanya. Tidaklah ada perkara besar yang ditakuti manusia pada hari kiamat, melainkan hal itu justru menjadi penyejuk mata bagi orang mukmin — berkat hidayah yang Allah berikan kepadanya dan berkat amal yang selalu ia kerjakan di dunia.”Zaid bin Aslam berkata: “Para malaikat memberi kabar gembira kepadanya ketika ia meninggal dunia, di dalam kuburnya, dan ketika ia dibangkitkan.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.Pendapat inilah yang menghimpun seluruh pendapat yang ada, dan ini adalah pendapat yang sangat bagus — dan itulah yang memang terjadi. Pembahasan tafsir dua ayat ini diambil dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir rahimahullah. Amalkan doa ini,اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَALLĀHUMMA LAKA ASLAMTU WA BIKA ĀMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU WA ILAIKA ANABTU WA BIKA KHĀṢAMTU. ALLĀHUMMA INNĪ A’ŪDZU BI ‘IZZATIKA LĀ ILĀHA ILLĀ ANTA AN TUḌILLANĪ. ANTAL ḤAYYU ALLAŻĪ LĀ YAMŪTU, WAL JINNU WAL INSU YAMŪTŪN.Artinya: “Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku bertobat kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu—tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau—dari segala hal yang bisa menyesatkanku. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati.”[1][1] HR. Muslim, no. 2717, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.(Doa ini diambil dari kumpulan buku “50 Doa Mengatasi Problem Hidup” karya Muhammad Abduh Tuasikal) Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701 Baca Juga:15 Kiat Istiqamah di Jalan Allah: Tetap Lurus Meski Banyak GodaanKiat Agar Tetap Istiqomah (seri 1) —- Selesai disusun di Sekar Kedhaton, 27  Syawal 1447 H, 15 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhir hayat dampak maksiat dosa itu candu ibnul qayyim iman istikamah malaikat nasihat ibnul qayyim nasihat Islami QS Fussilat sakaratul maut surga tafsir Ibnu Katsir tauhid
Banyak orang mengaku beriman, tetapi tidak semuanya mampu bertahan di atas jalan itu hingga akhir hayat. Padahal, janji besar menanti mereka yang istiqamah: disambut malaikat, dihilangkan rasa takut, dan diberi kabar gembira dengan surga. Lalu, seperti apa hakikat istiqamah yang benar hingga seseorang mendapatkan kemuliaan ini?  Daftar Isi tutup 1. Tafsir Ayat: Istikamah sebagai Puncak Keimanan 1.1. Istikamah Bukan Sekadar Ucapan 1.2. Para Sahabat Memaknai Istikamah 1.3. Ayat Paling Lapang Bagi Manusia 1.4. Istikamah Menurut Umar dan Para Ulama 1.5. Wasiat Nabi: Cukup Dua Kata, Jaga Lisanmu 1.6. Malaikat Turun Membawa Kabar Gembira 1.7. Kabar Gembira di Tiga Momen Agung  Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ berkata:وَلَا يَزَالُ الْمَلَكُ يَقْرُبُ مِنَ الْعَبْدِ حَتَّى يَصِيرَ الْحُكْمُ وَالطَّاعَةُ وَالْغَلَبَةُ لَهُ، فَتَتَوَلَّاهُ الْمَلَائِكَةُ فِي حَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَعِنْدَ بَعْثِهِ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:Malaikat terus-menerus mendekat kepada hamba, hingga pada akhirnya keputusan, ketaatan, dan dominasinya ada di pihak malaikat. Maka malaikat pun mengurusi hamba itu sepanjang hidupnya, saat kematiannya, dan ketika ia dibangkitkan kembali. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ – نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ}“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka: ‘Janganlah kalian takut dan jangan bersedih; bergembiralah dengan surga yang dijanjikan untuk kalian. Kamilah para wali kalian di kehidupan dunia dan di akhirat.’” (QS. Fushshilat: 30–31) وَإِذَا تَوَلَّاهُ الْمَلَكُ تَوَلَّاهُ أَنْصَحُ الْخَلْقِ وَأَنْفَعُهُمْ وَأَبَرُّهُمْ، فَثَبَّتَهُ وَعَلَّمَهُ، وَقَوَّى جَنَانَهُ، وَأَيَّدَهُ اللَّهُ تَعَالَى: {إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا} [سُورَةُ الْأَنْفَالِ: ١٢] .Apabila malaikat telah menjadi wali seorang hamba, maka ia akan berada di bawah pengayoman makhluk yang paling tulus, paling bermanfaat, dan paling baik baginya. Malaikat akan meneguhkannya, mengajarinya, menguatkan hatinya, dan Allah Ta‘ala akan menolongnya dengan firman-Nya:{إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا}“(Ingatlah) ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-Anfāl: 12)فَيَقُولُ الْمَلَكُ عِنْدَ الْمَوْتِ: لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ وَأَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، وَيُثَبِّتُهُ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَيْهِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَعِنْدَ الْمَوْتِ، وَفِي الْقَبْرِ عِنْدَ الْمَسْأَلَةِ.Maka malaikat berkata kepada seorang mukmin ketika menjelang kematiannya:“Jangan engkau takut, jangan bersedih, dan bergembiralah dengan kabar yang membahagiakanmu.”Ia meneguhkan hamba itu dengan qawl tsābit (ucapan yang teguh dan benar) pada saat yang paling ia butuhkan: saat di dunia, ketika sakratul maut, dan di dalam kubur ketika ditanyai.فَلَيْسَ أَحَدٌ أَنْفَعَ لِلْعَبْدِ مِنْ صُحْبَةِ الْمَلَكِ لَهُ، وَهُوَ وَلِيُّهُ فِي يَقَظَتِهِ وَمَنَامِهِ، وَحَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَفِي قَبْرِهِ، وَمُؤْنِسُهُ فِي وَحْشَتِهِ، وَصَاحِبُهُ فِي خَلْوَتِهِ، وَمُحَدِّثُهُ فِي سِرِّهِ، وَيُحَارِبُ عَنْهُ عَدُوَّهُ، وَيُدَافِعُ عَنْهُ وَيُعِينُهُ عَلَيْهِ، وَيَعِدُهُ بِالْخَيْرِ وَيُبَشِّرُهُ بِهِ، وَيُحِثُّهُ عَلَى التَّصْدِيقِ بِالْحَقِّ،Tidak ada seorang pun yang lebih bermanfaat bagi hamba melebihi kedekatan dan pendampingan malaikat. Dialah wali yang menyertainya ketika terjaga maupun tidur, saat hidup, ketika menghadapi kematian, dan di alam kuburnya. Malaikat adalah penghiburnya dalam kesepian, sahabatnya dalam kesendirian, penuntunnya dalam bisikan hati, pelindung yang memerangi musuhnya, membela dan menolongnya, memberi janji kebaikan dan menyampaikan kabar gembira, serta mendorongnya untuk membenarkan kebenaran.Perkataan ini dicantumkan dalam buku yang kami susun yang membahas 55 dampak maksiat “Dosa itu Candu” yang diterbitkan oleh Penerbit Rumaysho. Tafsir Ayat: Istikamah sebagai Puncak KeimananAllah Ta’ala berfirman:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.‘” (QS. Fushshilat: 30)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Allah Ta’ala berfirman tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya:أَخْلَصُوا الْعَمَلَ لِلَّهِ، وَعَمِلُوا بِطَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى مَا شَرَعَ اللَّهُ لَهُمْmereka yang mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, dan mengerjakan ketaatan kepada Allah Ta’ala sesuai dengan apa yang telah Allah syariatkan. Istikamah Bukan Sekadar UcapanAl-Hafizh Abu Ya’la al-Maushili meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami al-Jarrah, telah menceritakan kepada kami Salm bin Qutaibah Abu Qutaibah asy-Syu’airi, telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abi Hazm, telah menceritakan kepada kami Tsabit, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ membacakan kepada kami ayat ini:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُواKemudian beliau bersabda: “Sungguh, banyak orang yang telah mengucapkan kalimat ini, lalu sebagian besar dari mereka murtad. Maka barang siapa yang mengucapkannya hingga ia meninggal dunia, dialah yang benar-benar istikamah di atasnya.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam kitab tafsirnya, al-Bazzar, dan Ibnu Jarir — dari Amr bin Ali al-Fallaas, dari Salm bin Qutaibah. Ibnu Abi Hatim pun meriwayatkannya dari ayahnya, dari al-Fallaas. Para Sahabat Memaknai IstikamahKemudian Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Amir bin Sa’d, dari Sa’id bin Nimran, ia berkata: Aku membacakan di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq ayat ini:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُواMaka Abu Bakar berkata: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.”Kemudian diriwayatkan pula dari hadits al-Aswad bin Hilal, ia berkata: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada para sahabat: “Apa pendapat kalian tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا)?”Para sahabat menjawab: “(Maksudnya) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu istikamah dari dosa.”Abu Bakar pun berkata: “Sungguh, kalian telah membawa ayat ini bukan pada tempat yang semestinya. (Maksudnya adalah) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu mereka tidak menoleh kepada tuhan selain-Nya.”Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Mujahid, Ikrimah, as-Suddi, dan para ulama lainnya. Ayat Paling Lapang Bagi ManusiaIbnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah azh-Zhahrani, telah mengabarkan kepada kami Hafsh bin Umar al-‘Adni, dari al-Hakam bin Aban, dari Ikrimah, ia berkata: Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya: “Ayat mana dalam Kitabullah yang paling memberikan keringanan (bagi manusia)?”Ibnu Abbas menjawab: “Firman Allah: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah di atas persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah.” Istikamah Menurut Umar dan Para UlamaAz-Zuhri berkata: Umar radhiyallahu ‘anhu membacakan ayat ini di atas mimbar, lalu berkata:اسْتَقَامُوا – وَاللَّهِ – لِلَّهِ بِطَاعَتِهِ، وَلَمْ يَرُوغُوا رَوَغَانَ الثَّعَالِبِ.“Mereka istikamah — demi Allah — dalam ketaatan kepada Allah, dan mereka tidak berbelok-belok seperti kebiasaan rubah.”Catatan:Rubah dijadikan perumpamaan karena:Ia tidak berjalan lurus, tapi sering zig-zag dan memutarGerakannya diam-diam dan penuh tipu dayaTujuannya menghindari bahaya atau mengecoh lawanMaka makna ucapan Umar bin Khattab: Orang yang istikamah itu lurus dalam ketaatan, tidak seperti rubah yang berkelok-kelok, plin-plan, dan mencari jalan untuk menghindari kebenaran.Secara maknawi:Tidak “main aman” saat berat menjalankan syariatTidak mencari-cari alasan untuk menyimpangTidak taat hanya ketika mudahJadi inti perumpamaan ini:Istikamah = lurus, tegas, konsistenRoghan ats-tsa‘ālib (gaya rubah) = licik, berkelok, tidak konsistenAli bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas: (قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah dalam menunaikan segala kewajiban. Pendapat yang sama disampaikan oleh Qatadah.Al-Hasan al-Bashri biasa berdoa:اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّنَا، فَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَAllāhumma anta rabbunā, farzuqnā al-istiqāmah.“Ya Allah, Engkau adalah Tuhan kami, maka anugerahkanlah kepada kami istikamah.”Abu al-‘Aliyah berkata: (ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya, mereka mengikhlaskan amal dan agama hanya untuk-Nya. Wasiat Nabi: Cukup Dua Kata, Jaga LisanmuImam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah menceritakan kepada kami Ya’la bin ‘Atha, dari Abdullah bin Sufyan ats-Tsaqafi, dari ayahnya; bahwa seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku suatu perkara dalam Islam yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.”Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikamahlah.” Aku bertanya: “Lalu apa yang paling aku hindari?” Maka beliau mengisyaratkan ke arah lisannya.Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari hadits Syu’bah, dari Ya’la bin ‘Atha.Kemudian Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa’d, telah menceritakan kepadaku Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Ma’iz al-Ghamidi, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku suatu perkara yang aku berpegang teguh dengannya.”Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Tuhanku adalah Allah,’ lalu istikalahlah.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan terhadapku?” Maka Rasulullah ﷺ memegang ujung lisannya sendiri, lalu bersabda: “Ini.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits az-Zuhri. At-Tirmidzi berkata: “Hasan sahih.” Muslim dalam Shahih-nya dan an-Nasa’i pun mengeluarkannya dari hadits Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam suatu perkataan yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.” Beliau bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikalahlah.” Dan disebutkan kelanjutan hadits tersebut. Malaikat Turun Membawa Kabar GembiraAdapun firman Allah: (تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ), Mujahid, as-Suddi, Zaid bin Aslam, dan putranya berkata: Maksudnya adalah ketika menjelang kematian, dengan perkataan: (أَلَّا تَخَافُوا).Mujahid, Ikrimah, dan Zaid bin Aslam berkata: Maksudnya adalah janganlah kalian takut terhadap apa yang akan kalian hadapi dari urusan akhirat. (وَلَا تَحْزَنُوا) — janganlah kalian bersedih atas apa yang kalian tinggalkan dari urusan dunia, berupa anak, keluarga, harta, atau utang, karena kami yang akan mengurus semuanya. (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ) — maka para malaikat membawa kabar gembira dengan hilangnya keburukan dan datangnya kebaikan.Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya para malaikat berkata kepada ruh seorang mukmin: ‘Keluarlah, wahai ruh yang baik yang berada dalam jasad yang baik yang selama ini kamu huni. Keluarlah menuju kelapangan, wewangian, dan Tuhan yang tidak murka.'” Kabar Gembira di Tiga Momen AgungAda pula pendapat yang menyatakan bahwa para malaikat turun kepada mereka pada hari mereka keluar dari kubur. Hal ini dikutip oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas dan as-Suddi.Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, telah menceritakan kepada kami Abdussalam bin Muththahhar, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman: Aku mendengar Tsabit membacakan surah Hâ Mîm as-Sajdah hingga sampai pada ayat:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُLalu ia berhenti dan berkata: “Telah sampai kepada kami bahwa seorang hamba yang beriman, ketika Allah membangkitkannya dari kuburnya, ia disambut oleh dua malaikat yang selama ini menemaninya di dunia. Keduanya berkata kepadanya: ‘Jangan takut dan jangan bersedih, (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ).’ Maka Allah menghilangkan rasa takutnya dan menyejukkan pandangan matanya. Tidaklah ada perkara besar yang ditakuti manusia pada hari kiamat, melainkan hal itu justru menjadi penyejuk mata bagi orang mukmin — berkat hidayah yang Allah berikan kepadanya dan berkat amal yang selalu ia kerjakan di dunia.”Zaid bin Aslam berkata: “Para malaikat memberi kabar gembira kepadanya ketika ia meninggal dunia, di dalam kuburnya, dan ketika ia dibangkitkan.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.Pendapat inilah yang menghimpun seluruh pendapat yang ada, dan ini adalah pendapat yang sangat bagus — dan itulah yang memang terjadi. Pembahasan tafsir dua ayat ini diambil dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir rahimahullah. Amalkan doa ini,اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَALLĀHUMMA LAKA ASLAMTU WA BIKA ĀMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU WA ILAIKA ANABTU WA BIKA KHĀṢAMTU. ALLĀHUMMA INNĪ A’ŪDZU BI ‘IZZATIKA LĀ ILĀHA ILLĀ ANTA AN TUḌILLANĪ. ANTAL ḤAYYU ALLAŻĪ LĀ YAMŪTU, WAL JINNU WAL INSU YAMŪTŪN.Artinya: “Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku bertobat kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu—tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau—dari segala hal yang bisa menyesatkanku. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati.”[1][1] HR. Muslim, no. 2717, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.(Doa ini diambil dari kumpulan buku “50 Doa Mengatasi Problem Hidup” karya Muhammad Abduh Tuasikal) Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701 Baca Juga:15 Kiat Istiqamah di Jalan Allah: Tetap Lurus Meski Banyak GodaanKiat Agar Tetap Istiqomah (seri 1) —- Selesai disusun di Sekar Kedhaton, 27  Syawal 1447 H, 15 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhir hayat dampak maksiat dosa itu candu ibnul qayyim iman istikamah malaikat nasihat ibnul qayyim nasihat Islami QS Fussilat sakaratul maut surga tafsir Ibnu Katsir tauhid


Banyak orang mengaku beriman, tetapi tidak semuanya mampu bertahan di atas jalan itu hingga akhir hayat. Padahal, janji besar menanti mereka yang istiqamah: disambut malaikat, dihilangkan rasa takut, dan diberi kabar gembira dengan surga. Lalu, seperti apa hakikat istiqamah yang benar hingga seseorang mendapatkan kemuliaan ini?  Daftar Isi tutup 1. Tafsir Ayat: Istikamah sebagai Puncak Keimanan 1.1. Istikamah Bukan Sekadar Ucapan 1.2. Para Sahabat Memaknai Istikamah 1.3. Ayat Paling Lapang Bagi Manusia 1.4. Istikamah Menurut Umar dan Para Ulama 1.5. Wasiat Nabi: Cukup Dua Kata, Jaga Lisanmu 1.6. Malaikat Turun Membawa Kabar Gembira 1.7. Kabar Gembira di Tiga Momen Agung  Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ berkata:وَلَا يَزَالُ الْمَلَكُ يَقْرُبُ مِنَ الْعَبْدِ حَتَّى يَصِيرَ الْحُكْمُ وَالطَّاعَةُ وَالْغَلَبَةُ لَهُ، فَتَتَوَلَّاهُ الْمَلَائِكَةُ فِي حَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَعِنْدَ بَعْثِهِ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:Malaikat terus-menerus mendekat kepada hamba, hingga pada akhirnya keputusan, ketaatan, dan dominasinya ada di pihak malaikat. Maka malaikat pun mengurusi hamba itu sepanjang hidupnya, saat kematiannya, dan ketika ia dibangkitkan kembali. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ – نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ}“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka: ‘Janganlah kalian takut dan jangan bersedih; bergembiralah dengan surga yang dijanjikan untuk kalian. Kamilah para wali kalian di kehidupan dunia dan di akhirat.’” (QS. Fushshilat: 30–31) وَإِذَا تَوَلَّاهُ الْمَلَكُ تَوَلَّاهُ أَنْصَحُ الْخَلْقِ وَأَنْفَعُهُمْ وَأَبَرُّهُمْ، فَثَبَّتَهُ وَعَلَّمَهُ، وَقَوَّى جَنَانَهُ، وَأَيَّدَهُ اللَّهُ تَعَالَى: {إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا} [سُورَةُ الْأَنْفَالِ: ١٢] .Apabila malaikat telah menjadi wali seorang hamba, maka ia akan berada di bawah pengayoman makhluk yang paling tulus, paling bermanfaat, dan paling baik baginya. Malaikat akan meneguhkannya, mengajarinya, menguatkan hatinya, dan Allah Ta‘ala akan menolongnya dengan firman-Nya:{إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا}“(Ingatlah) ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-Anfāl: 12)فَيَقُولُ الْمَلَكُ عِنْدَ الْمَوْتِ: لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ وَأَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، وَيُثَبِّتُهُ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَيْهِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَعِنْدَ الْمَوْتِ، وَفِي الْقَبْرِ عِنْدَ الْمَسْأَلَةِ.Maka malaikat berkata kepada seorang mukmin ketika menjelang kematiannya:“Jangan engkau takut, jangan bersedih, dan bergembiralah dengan kabar yang membahagiakanmu.”Ia meneguhkan hamba itu dengan qawl tsābit (ucapan yang teguh dan benar) pada saat yang paling ia butuhkan: saat di dunia, ketika sakratul maut, dan di dalam kubur ketika ditanyai.فَلَيْسَ أَحَدٌ أَنْفَعَ لِلْعَبْدِ مِنْ صُحْبَةِ الْمَلَكِ لَهُ، وَهُوَ وَلِيُّهُ فِي يَقَظَتِهِ وَمَنَامِهِ، وَحَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَفِي قَبْرِهِ، وَمُؤْنِسُهُ فِي وَحْشَتِهِ، وَصَاحِبُهُ فِي خَلْوَتِهِ، وَمُحَدِّثُهُ فِي سِرِّهِ، وَيُحَارِبُ عَنْهُ عَدُوَّهُ، وَيُدَافِعُ عَنْهُ وَيُعِينُهُ عَلَيْهِ، وَيَعِدُهُ بِالْخَيْرِ وَيُبَشِّرُهُ بِهِ، وَيُحِثُّهُ عَلَى التَّصْدِيقِ بِالْحَقِّ،Tidak ada seorang pun yang lebih bermanfaat bagi hamba melebihi kedekatan dan pendampingan malaikat. Dialah wali yang menyertainya ketika terjaga maupun tidur, saat hidup, ketika menghadapi kematian, dan di alam kuburnya. Malaikat adalah penghiburnya dalam kesepian, sahabatnya dalam kesendirian, penuntunnya dalam bisikan hati, pelindung yang memerangi musuhnya, membela dan menolongnya, memberi janji kebaikan dan menyampaikan kabar gembira, serta mendorongnya untuk membenarkan kebenaran.Perkataan ini dicantumkan dalam buku yang kami susun yang membahas 55 dampak maksiat “Dosa itu Candu” yang diterbitkan oleh Penerbit Rumaysho. Tafsir Ayat: Istikamah sebagai Puncak KeimananAllah Ta’ala berfirman:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.‘” (QS. Fushshilat: 30)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Allah Ta’ala berfirman tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya:أَخْلَصُوا الْعَمَلَ لِلَّهِ، وَعَمِلُوا بِطَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى مَا شَرَعَ اللَّهُ لَهُمْmereka yang mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, dan mengerjakan ketaatan kepada Allah Ta’ala sesuai dengan apa yang telah Allah syariatkan. Istikamah Bukan Sekadar UcapanAl-Hafizh Abu Ya’la al-Maushili meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami al-Jarrah, telah menceritakan kepada kami Salm bin Qutaibah Abu Qutaibah asy-Syu’airi, telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abi Hazm, telah menceritakan kepada kami Tsabit, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ membacakan kepada kami ayat ini:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُواKemudian beliau bersabda: “Sungguh, banyak orang yang telah mengucapkan kalimat ini, lalu sebagian besar dari mereka murtad. Maka barang siapa yang mengucapkannya hingga ia meninggal dunia, dialah yang benar-benar istikamah di atasnya.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam kitab tafsirnya, al-Bazzar, dan Ibnu Jarir — dari Amr bin Ali al-Fallaas, dari Salm bin Qutaibah. Ibnu Abi Hatim pun meriwayatkannya dari ayahnya, dari al-Fallaas. Para Sahabat Memaknai IstikamahKemudian Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Amir bin Sa’d, dari Sa’id bin Nimran, ia berkata: Aku membacakan di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq ayat ini:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُواMaka Abu Bakar berkata: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.”Kemudian diriwayatkan pula dari hadits al-Aswad bin Hilal, ia berkata: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada para sahabat: “Apa pendapat kalian tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا)?”Para sahabat menjawab: “(Maksudnya) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu istikamah dari dosa.”Abu Bakar pun berkata: “Sungguh, kalian telah membawa ayat ini bukan pada tempat yang semestinya. (Maksudnya adalah) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu mereka tidak menoleh kepada tuhan selain-Nya.”Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Mujahid, Ikrimah, as-Suddi, dan para ulama lainnya. Ayat Paling Lapang Bagi ManusiaIbnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah azh-Zhahrani, telah mengabarkan kepada kami Hafsh bin Umar al-‘Adni, dari al-Hakam bin Aban, dari Ikrimah, ia berkata: Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya: “Ayat mana dalam Kitabullah yang paling memberikan keringanan (bagi manusia)?”Ibnu Abbas menjawab: “Firman Allah: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah di atas persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah.” Istikamah Menurut Umar dan Para UlamaAz-Zuhri berkata: Umar radhiyallahu ‘anhu membacakan ayat ini di atas mimbar, lalu berkata:اسْتَقَامُوا – وَاللَّهِ – لِلَّهِ بِطَاعَتِهِ، وَلَمْ يَرُوغُوا رَوَغَانَ الثَّعَالِبِ.“Mereka istikamah — demi Allah — dalam ketaatan kepada Allah, dan mereka tidak berbelok-belok seperti kebiasaan rubah.”Catatan:Rubah dijadikan perumpamaan karena:Ia tidak berjalan lurus, tapi sering zig-zag dan memutarGerakannya diam-diam dan penuh tipu dayaTujuannya menghindari bahaya atau mengecoh lawanMaka makna ucapan Umar bin Khattab: Orang yang istikamah itu lurus dalam ketaatan, tidak seperti rubah yang berkelok-kelok, plin-plan, dan mencari jalan untuk menghindari kebenaran.Secara maknawi:Tidak “main aman” saat berat menjalankan syariatTidak mencari-cari alasan untuk menyimpangTidak taat hanya ketika mudahJadi inti perumpamaan ini:Istikamah = lurus, tegas, konsistenRoghan ats-tsa‘ālib (gaya rubah) = licik, berkelok, tidak konsistenAli bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas: (قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah dalam menunaikan segala kewajiban. Pendapat yang sama disampaikan oleh Qatadah.Al-Hasan al-Bashri biasa berdoa:اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّنَا، فَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَAllāhumma anta rabbunā, farzuqnā al-istiqāmah.“Ya Allah, Engkau adalah Tuhan kami, maka anugerahkanlah kepada kami istikamah.”Abu al-‘Aliyah berkata: (ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya, mereka mengikhlaskan amal dan agama hanya untuk-Nya. Wasiat Nabi: Cukup Dua Kata, Jaga LisanmuImam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah menceritakan kepada kami Ya’la bin ‘Atha, dari Abdullah bin Sufyan ats-Tsaqafi, dari ayahnya; bahwa seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku suatu perkara dalam Islam yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.”Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikamahlah.” Aku bertanya: “Lalu apa yang paling aku hindari?” Maka beliau mengisyaratkan ke arah lisannya.Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari hadits Syu’bah, dari Ya’la bin ‘Atha.Kemudian Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa’d, telah menceritakan kepadaku Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Ma’iz al-Ghamidi, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku suatu perkara yang aku berpegang teguh dengannya.”Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Tuhanku adalah Allah,’ lalu istikalahlah.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan terhadapku?” Maka Rasulullah ﷺ memegang ujung lisannya sendiri, lalu bersabda: “Ini.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits az-Zuhri. At-Tirmidzi berkata: “Hasan sahih.” Muslim dalam Shahih-nya dan an-Nasa’i pun mengeluarkannya dari hadits Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam suatu perkataan yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.” Beliau bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikalahlah.” Dan disebutkan kelanjutan hadits tersebut. Malaikat Turun Membawa Kabar GembiraAdapun firman Allah: (تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ), Mujahid, as-Suddi, Zaid bin Aslam, dan putranya berkata: Maksudnya adalah ketika menjelang kematian, dengan perkataan: (أَلَّا تَخَافُوا).Mujahid, Ikrimah, dan Zaid bin Aslam berkata: Maksudnya adalah janganlah kalian takut terhadap apa yang akan kalian hadapi dari urusan akhirat. (وَلَا تَحْزَنُوا) — janganlah kalian bersedih atas apa yang kalian tinggalkan dari urusan dunia, berupa anak, keluarga, harta, atau utang, karena kami yang akan mengurus semuanya. (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ) — maka para malaikat membawa kabar gembira dengan hilangnya keburukan dan datangnya kebaikan.Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya para malaikat berkata kepada ruh seorang mukmin: ‘Keluarlah, wahai ruh yang baik yang berada dalam jasad yang baik yang selama ini kamu huni. Keluarlah menuju kelapangan, wewangian, dan Tuhan yang tidak murka.'” Kabar Gembira di Tiga Momen AgungAda pula pendapat yang menyatakan bahwa para malaikat turun kepada mereka pada hari mereka keluar dari kubur. Hal ini dikutip oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas dan as-Suddi.Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, telah menceritakan kepada kami Abdussalam bin Muththahhar, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman: Aku mendengar Tsabit membacakan surah Hâ Mîm as-Sajdah hingga sampai pada ayat:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُLalu ia berhenti dan berkata: “Telah sampai kepada kami bahwa seorang hamba yang beriman, ketika Allah membangkitkannya dari kuburnya, ia disambut oleh dua malaikat yang selama ini menemaninya di dunia. Keduanya berkata kepadanya: ‘Jangan takut dan jangan bersedih, (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ).’ Maka Allah menghilangkan rasa takutnya dan menyejukkan pandangan matanya. Tidaklah ada perkara besar yang ditakuti manusia pada hari kiamat, melainkan hal itu justru menjadi penyejuk mata bagi orang mukmin — berkat hidayah yang Allah berikan kepadanya dan berkat amal yang selalu ia kerjakan di dunia.”Zaid bin Aslam berkata: “Para malaikat memberi kabar gembira kepadanya ketika ia meninggal dunia, di dalam kuburnya, dan ketika ia dibangkitkan.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.Pendapat inilah yang menghimpun seluruh pendapat yang ada, dan ini adalah pendapat yang sangat bagus — dan itulah yang memang terjadi. Pembahasan tafsir dua ayat ini diambil dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir rahimahullah. Amalkan doa ini,اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَALLĀHUMMA LAKA ASLAMTU WA BIKA ĀMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU WA ILAIKA ANABTU WA BIKA KHĀṢAMTU. ALLĀHUMMA INNĪ A’ŪDZU BI ‘IZZATIKA LĀ ILĀHA ILLĀ ANTA AN TUḌILLANĪ. ANTAL ḤAYYU ALLAŻĪ LĀ YAMŪTU, WAL JINNU WAL INSU YAMŪTŪN.Artinya: “Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku bertobat kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu—tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau—dari segala hal yang bisa menyesatkanku. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati.”[1][1] HR. Muslim, no. 2717, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.(Doa ini diambil dari kumpulan buku “50 Doa Mengatasi Problem Hidup” karya Muhammad Abduh Tuasikal) Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701 Baca Juga:15 Kiat Istiqamah di Jalan Allah: Tetap Lurus Meski Banyak GodaanKiat Agar Tetap Istiqomah (seri 1) —- Selesai disusun di Sekar Kedhaton, 27  Syawal 1447 H, 15 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhir hayat dampak maksiat dosa itu candu ibnul qayyim iman istikamah malaikat nasihat ibnul qayyim nasihat Islami QS Fussilat sakaratul maut surga tafsir Ibnu Katsir tauhid

Laporan Produksi Yufid Bulan Maret 2026

Laporan Produksi Yufid Bulan Maret 2026 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 24.541 video dengan total 6.894.462 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.180 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 954.929.133 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 20.259 video Total Subscribers: 4.210.327 subscribers Total Tayangan Video: 751.146.736 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Maret 2026: 132 video Tayangan Video Maret 2026: 2.933.187 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 244.239 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +3.658 Selama bulan Maret 2026 tim Yufid menyiarkan 76 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.303 video Total Subscribers: 336.766 Total Tayangan Video: 23.425.057 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Maret 2026: 29 video Tayangan Video Maret 2026: 76.790 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 4.481 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +518 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 95 video Total Subscribers: 558.713 Total Tayangan Video: 176.243.686 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Maret 2026: 0 video Tayangan Video Maret 2026: 1.532.322 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 79.060 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +2.122 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.021 Total Tayangan Video: 483.335 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Maret 2026: 645 views Jam Tayang Video Maret 2026: 89 Jam Penambahan Subscribers Maret 2026: 3 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.700 Total Tayangan Video: 3.630.319 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Maret 2026: 0 video Tayangan Video Maret 2026: 32.198 views Penambahan Subscribers Maret 2026: +300 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 5.048 Postingan Total Pengikut: 1.201.455 followers Konten Bulan Maret 2026: 67 Views Konten Maret: 5.555.333 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Maret 2026: +8.681 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.958 Postingan Total Pengikut: 523.480 Konten Bulan Maret 2026: 67 Views Konten Maret: 4.203.191 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Maret 2026: +3.619 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 35 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 22 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.192 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.147 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 791 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.331 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 0 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 37.461 file mp3 dengan total ukuran 528 Gb dan pada bulan Maret 2026 ini telah mempublikasikan 913 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Maret 2026 ini saja telah didengarkan 13.029 kali dan telah di download sebanyak 135 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.843.551 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.817 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, project terjemahan ini telah menerjemahkan 60.658 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.847 artikel dengan total durasi audio 272 jam dengan rata-rata perekaman 27 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 5 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Maret 2026. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Arwah Orang Meninggal Sebelum 40 Hari Menurut Islam, Niat Mandi Nifas Dan Wiladah, Jilbab Di Wc, Cara Jin Wanita Meniduri Laki Laki, Haram Valentine Visited 10 times, 1 visit(s) today Post Views: 17 QRIS donasi Yufid

Laporan Produksi Yufid Bulan Maret 2026

Laporan Produksi Yufid Bulan Maret 2026 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 24.541 video dengan total 6.894.462 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.180 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 954.929.133 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 20.259 video Total Subscribers: 4.210.327 subscribers Total Tayangan Video: 751.146.736 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Maret 2026: 132 video Tayangan Video Maret 2026: 2.933.187 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 244.239 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +3.658 Selama bulan Maret 2026 tim Yufid menyiarkan 76 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.303 video Total Subscribers: 336.766 Total Tayangan Video: 23.425.057 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Maret 2026: 29 video Tayangan Video Maret 2026: 76.790 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 4.481 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +518 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 95 video Total Subscribers: 558.713 Total Tayangan Video: 176.243.686 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Maret 2026: 0 video Tayangan Video Maret 2026: 1.532.322 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 79.060 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +2.122 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.021 Total Tayangan Video: 483.335 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Maret 2026: 645 views Jam Tayang Video Maret 2026: 89 Jam Penambahan Subscribers Maret 2026: 3 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.700 Total Tayangan Video: 3.630.319 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Maret 2026: 0 video Tayangan Video Maret 2026: 32.198 views Penambahan Subscribers Maret 2026: +300 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 5.048 Postingan Total Pengikut: 1.201.455 followers Konten Bulan Maret 2026: 67 Views Konten Maret: 5.555.333 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Maret 2026: +8.681 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.958 Postingan Total Pengikut: 523.480 Konten Bulan Maret 2026: 67 Views Konten Maret: 4.203.191 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Maret 2026: +3.619 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 35 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 22 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.192 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.147 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 791 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.331 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 0 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 37.461 file mp3 dengan total ukuran 528 Gb dan pada bulan Maret 2026 ini telah mempublikasikan 913 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Maret 2026 ini saja telah didengarkan 13.029 kali dan telah di download sebanyak 135 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.843.551 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.817 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, project terjemahan ini telah menerjemahkan 60.658 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.847 artikel dengan total durasi audio 272 jam dengan rata-rata perekaman 27 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 5 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Maret 2026. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Arwah Orang Meninggal Sebelum 40 Hari Menurut Islam, Niat Mandi Nifas Dan Wiladah, Jilbab Di Wc, Cara Jin Wanita Meniduri Laki Laki, Haram Valentine Visited 10 times, 1 visit(s) today Post Views: 17 QRIS donasi Yufid
Laporan Produksi Yufid Bulan Maret 2026 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 24.541 video dengan total 6.894.462 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.180 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 954.929.133 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 20.259 video Total Subscribers: 4.210.327 subscribers Total Tayangan Video: 751.146.736 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Maret 2026: 132 video Tayangan Video Maret 2026: 2.933.187 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 244.239 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +3.658 Selama bulan Maret 2026 tim Yufid menyiarkan 76 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.303 video Total Subscribers: 336.766 Total Tayangan Video: 23.425.057 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Maret 2026: 29 video Tayangan Video Maret 2026: 76.790 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 4.481 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +518 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 95 video Total Subscribers: 558.713 Total Tayangan Video: 176.243.686 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Maret 2026: 0 video Tayangan Video Maret 2026: 1.532.322 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 79.060 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +2.122 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.021 Total Tayangan Video: 483.335 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Maret 2026: 645 views Jam Tayang Video Maret 2026: 89 Jam Penambahan Subscribers Maret 2026: 3 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.700 Total Tayangan Video: 3.630.319 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Maret 2026: 0 video Tayangan Video Maret 2026: 32.198 views Penambahan Subscribers Maret 2026: +300 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 5.048 Postingan Total Pengikut: 1.201.455 followers Konten Bulan Maret 2026: 67 Views Konten Maret: 5.555.333 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Maret 2026: +8.681 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.958 Postingan Total Pengikut: 523.480 Konten Bulan Maret 2026: 67 Views Konten Maret: 4.203.191 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Maret 2026: +3.619 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 35 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 22 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.192 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.147 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 791 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.331 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 0 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 37.461 file mp3 dengan total ukuran 528 Gb dan pada bulan Maret 2026 ini telah mempublikasikan 913 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Maret 2026 ini saja telah didengarkan 13.029 kali dan telah di download sebanyak 135 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.843.551 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.817 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, project terjemahan ini telah menerjemahkan 60.658 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.847 artikel dengan total durasi audio 272 jam dengan rata-rata perekaman 27 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 5 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Maret 2026. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Arwah Orang Meninggal Sebelum 40 Hari Menurut Islam, Niat Mandi Nifas Dan Wiladah, Jilbab Di Wc, Cara Jin Wanita Meniduri Laki Laki, Haram Valentine Visited 10 times, 1 visit(s) today Post Views: 17 QRIS donasi Yufid


Laporan Produksi Yufid Bulan Maret 2026 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 24.541 video dengan total 6.894.462 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.180 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 954.929.133 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2026/04/image-7.png" alt="" class="wp-image-574"/> Total Video Yufid.TV: 20.259 video Total Subscribers: 4.210.327 subscribers Total Tayangan Video: 751.146.736 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Maret 2026: 132 video Tayangan Video Maret 2026: 2.933.187 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 244.239 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +3.658 Selama bulan Maret 2026 tim Yufid menyiarkan 76 video live. Channel YouTube YUFID EDU <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2026/04/image-8.png" alt="" class="wp-image-575"/> Total Video Yufid Edu: 3.303 video Total Subscribers: 336.766 Total Tayangan Video: 23.425.057 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Maret 2026: 29 video Tayangan Video Maret 2026: 76.790 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 4.481 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +518 Channel YouTube YUFID KIDS <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2026/04/image-10.png" alt="" class="wp-image-577"/> Total Video Yufid Kids: 95 video Total Subscribers: 558.713 Total Tayangan Video: 176.243.686 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Maret 2026: 0 video Tayangan Video Maret 2026: 1.532.322 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 79.060 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +2.122 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.021 Total Tayangan Video: 483.335 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Maret 2026: 645 views Jam Tayang Video Maret 2026: 89 Jam Penambahan Subscribers Maret 2026: 3 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.700 Total Tayangan Video: 3.630.319 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Maret 2026: 0 video Tayangan Video Maret 2026: 32.198 views Penambahan Subscribers Maret 2026: +300 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2026/04/image-11.png" alt="" class="wp-image-578"/> Instagram Yufid.TV Total Konten: 5.048 Postingan Total Pengikut: 1.201.455 followers Konten Bulan Maret 2026: 67 Views Konten Maret: 5.555.333 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Maret 2026: +8.681 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.958 Postingan Total Pengikut: 523.480 Konten Bulan Maret 2026: 67 Views Konten Maret: 4.203.191 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Maret 2026: +3.619 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2026/04/image-6.png" alt="" class="wp-image-573"/>Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 35 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2026/04/image-9.png" alt="" class="wp-image-576"/>Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 22 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.192 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.147 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 791 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.331 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 0 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 37.461 file mp3 dengan total ukuran 528 Gb dan pada bulan Maret 2026 ini telah mempublikasikan 913 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Maret 2026 ini saja telah didengarkan 13.029 kali dan telah di download sebanyak 135 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.843.551 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.817 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, project terjemahan ini telah menerjemahkan 60.658 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.847 artikel dengan total durasi audio 272 jam dengan rata-rata perekaman 27 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 5 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Maret 2026. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Arwah Orang Meninggal Sebelum 40 Hari Menurut Islam, Niat Mandi Nifas Dan Wiladah, Jilbab Di Wc, Cara Jin Wanita Meniduri Laki Laki, Haram Valentine Visited 10 times, 1 visit(s) today Post Views: 17 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Belum Punya Anak? Simak Nasihat Syaikh yang Akan Membuat Hatimu Kembali Tenang

Qurratu ‘ain bermakna ketetapan hati, kedamaian, dan ketenangan batin. Jadi, Anda memohon kepada Allah agar menganugerahkan ketenangan hati tersebut melalui pasangan Anda. Permohonan ini mencakup pasangan hidup di dunia maupun di akhirat kelak. Adapun di akhirat, seseorang tidak mungkin berpasangan kecuali jika ia berada di surga. Sebab di surgalah ia akan memiliki pasangan. Sedangkan di dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salehah. Diriwayatkan secara shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada tiga hal yang termasuk dalam kebahagiaan…” Nabi menyebutkan salah satunya adalah ketika seseorang dianugerahi istri yang salehah selama hidup di dunia. Maka dari itu, wahai saudaraku muslim, hendaklah Anda memohon kepada Allah agar dikaruniai istri yang benar-benar menjadi penyejuk pandangan bagi Anda. Lihat, inilah kesempurnaan dalam berdoa! Jangan hanya sekadar meminta kecantikan. Jangan sekadar meminta harta. Jangan sekadar meminta kriteria-kriteria tertentu yang bersifat materi. Pasrahkanlah urusan itu sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mintalah agar Anda mendapat istri yang salehah, dan ia menjadi penyejuk pandangan bagi Anda. Allah ‘Azza wa Jalla jauh lebih mengetahui apa yang terbaik bagi Anda daripada diri Anda sendiri. Terkadang di waktu tertentu ada hal yang mengganggu dan tidak baik padanya. Namun, yang menjadi tolak ukur sebenarnya adalah akhir dan penutup dari segala urusan. “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk pandangan bagi kami.” (QS. Al-Furqan: 74). Saat Anda merenungkan ketika meminta kepada Allah ‘Azza wa Jalla penyejuk pandangan pada keturunan, ketahuilah bahwa terkadang bentuk “penyejuk” itu justru berupa tidak diberinya keturunan. Saya mulai dengan membahas kondisi “tidak diberi” ini sebelum membahas kondisi “diberi”. Sebab, di antara bentuk nikmat Allah ‘Azza wa Jalla atas sebagian hamba-Nya adalah ketika Allah tidak memberinya keturunan. sebab di antara keturunan ada yang bisa menjadi sebab kebinasaan bagi orang tuanya. Bukankah ada kisah Musa bersama Khidir, dan mereka berdua adalah Nabi ‘alaihimassalam. Nabi Khidir membunuh seorang anak karena khawatir anak itu menjadi sebab kebinasaan kedua orang tuanya. Jadi, sebagian keturunan bisa saja menjadi penyebab hancurnya hidup orang tua, baik di dunia maupun di akhirat. Hancur di dunia karena terus-menerus didera kegundahan dan kesedihan karena ulah sang anak, serta berbagai kesulitan hidup lainnya yang menyengsarakan. Hingga hancur di akhirat, karena sang anak justru menjadi sebab bagi kesesatan orang tuanya. ===== قُرَّةُ الْعَيْنِ هِيَ اسْتِقْرَارُهَا وَطُمَأْنِينَتُهَا فَأَنْتَ تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهَبَ لَكَ مِنْ أَزْوَاجِكَ فَيَشْمَلُ ذَلِكَ أَزْوَاجَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ أَمَّا الْآخِرَةُ فَلَا يَكُونُ لِلْمَرْءِ أَزْوَاجًا إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي الْجَنَّةِ فَإِنَّهُ يَكُونُ لَهُ زَوْجٌ وَأَمَّا فِي الدُّنْيَا فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَثَبَتَ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ ثَلَاثٌ مِنَ السَّعَادَةِ وَذَكَرَ مِنْ هَذِهِ السَّعَادَةِ أَنْ يُرْزَقَ الْمَرْءُ زَوْجَةً صَالِحَةً فِي الدُّنْيَا إِذًا أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنْتَ تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهَبَ لَكَ الزَّوْجَةَ الَّتِي تَقَرُّ عَيْنُكَ بِهَا انْظُرْ هَذَا هُوَ كَمَالُ الدُّعَاءِ لَا تَسْأَلْ جَمَالًا لَا تَسْأَلْ مَالًا لَا تَسْأَلْ تَفْصِيلًا مُعَيَّنًا كِلِ الْأَمْرَ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاسْأَلْهُ أَنْ تَكُونَ امْرَأَةً صَالِحَةً وَأَنْ تَكُونَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَكَ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَعْلَمُ بِكَ مِنْ نَفْسِكَ قَدْ يَكُونُ فِي بَعْضِ أَوْقَاتِهَا ضَيْرٌ وَسُوءٌ لَكِنَّ الْعِبْرَةَ بِالْخَوَاتِيمِ وَأَوَاخِرِ الْأَمْرِ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ عِنْدَمَا تَتَأَمَّلُ أَنَّكَ حِينَمَا تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالذُّرِّيَّةِ إِنَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالذُّرِّيَّةِ تَارَةً تَكُونُ بِالْحِرْمَانِ وَأَبْدَأُ بِالْحِرْمَانِ قَبْلَ الْإِعْطَاءِ إِنَّ مِنْ نِعْمَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى بَعْضِ النَّاسِ أَنْ يَحْرِمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الذُّرِّيَّةَ إِذْ مِنَ الذُّرِّيَّةِ مَنْ يَكُونُ هَلَاكُ الْمَرْءِ بِهِمْ لَمْ تَكُ قِصَّةُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مَعَ الْخَضِرِ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَقَدْ كَانَا نَبِيَّيْنِ عَلَيْهِمَا الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَقَتَلَ رَجُلًا لِكَوْنِهِ خَشِيَ أَنْ يَكُونَ مُهْلِكًا لِوَالِدَيْهِ إِذًا قَدْ يَكُونُ بَعْضُ الذُّرِّيَّةِ سَبَبًا لِهَلَاكِ وَالِدَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ هَلَاكِ الدُّنْيَا بِالْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الشَّدِيدَةِ وَفِي الْآخِرَةِ بِأَنْ يَكُونَ سَبَبًا فِي إِضْلَالِهِمَا

Belum Punya Anak? Simak Nasihat Syaikh yang Akan Membuat Hatimu Kembali Tenang

Qurratu ‘ain bermakna ketetapan hati, kedamaian, dan ketenangan batin. Jadi, Anda memohon kepada Allah agar menganugerahkan ketenangan hati tersebut melalui pasangan Anda. Permohonan ini mencakup pasangan hidup di dunia maupun di akhirat kelak. Adapun di akhirat, seseorang tidak mungkin berpasangan kecuali jika ia berada di surga. Sebab di surgalah ia akan memiliki pasangan. Sedangkan di dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salehah. Diriwayatkan secara shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada tiga hal yang termasuk dalam kebahagiaan…” Nabi menyebutkan salah satunya adalah ketika seseorang dianugerahi istri yang salehah selama hidup di dunia. Maka dari itu, wahai saudaraku muslim, hendaklah Anda memohon kepada Allah agar dikaruniai istri yang benar-benar menjadi penyejuk pandangan bagi Anda. Lihat, inilah kesempurnaan dalam berdoa! Jangan hanya sekadar meminta kecantikan. Jangan sekadar meminta harta. Jangan sekadar meminta kriteria-kriteria tertentu yang bersifat materi. Pasrahkanlah urusan itu sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mintalah agar Anda mendapat istri yang salehah, dan ia menjadi penyejuk pandangan bagi Anda. Allah ‘Azza wa Jalla jauh lebih mengetahui apa yang terbaik bagi Anda daripada diri Anda sendiri. Terkadang di waktu tertentu ada hal yang mengganggu dan tidak baik padanya. Namun, yang menjadi tolak ukur sebenarnya adalah akhir dan penutup dari segala urusan. “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk pandangan bagi kami.” (QS. Al-Furqan: 74). Saat Anda merenungkan ketika meminta kepada Allah ‘Azza wa Jalla penyejuk pandangan pada keturunan, ketahuilah bahwa terkadang bentuk “penyejuk” itu justru berupa tidak diberinya keturunan. Saya mulai dengan membahas kondisi “tidak diberi” ini sebelum membahas kondisi “diberi”. Sebab, di antara bentuk nikmat Allah ‘Azza wa Jalla atas sebagian hamba-Nya adalah ketika Allah tidak memberinya keturunan. sebab di antara keturunan ada yang bisa menjadi sebab kebinasaan bagi orang tuanya. Bukankah ada kisah Musa bersama Khidir, dan mereka berdua adalah Nabi ‘alaihimassalam. Nabi Khidir membunuh seorang anak karena khawatir anak itu menjadi sebab kebinasaan kedua orang tuanya. Jadi, sebagian keturunan bisa saja menjadi penyebab hancurnya hidup orang tua, baik di dunia maupun di akhirat. Hancur di dunia karena terus-menerus didera kegundahan dan kesedihan karena ulah sang anak, serta berbagai kesulitan hidup lainnya yang menyengsarakan. Hingga hancur di akhirat, karena sang anak justru menjadi sebab bagi kesesatan orang tuanya. ===== قُرَّةُ الْعَيْنِ هِيَ اسْتِقْرَارُهَا وَطُمَأْنِينَتُهَا فَأَنْتَ تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهَبَ لَكَ مِنْ أَزْوَاجِكَ فَيَشْمَلُ ذَلِكَ أَزْوَاجَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ أَمَّا الْآخِرَةُ فَلَا يَكُونُ لِلْمَرْءِ أَزْوَاجًا إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي الْجَنَّةِ فَإِنَّهُ يَكُونُ لَهُ زَوْجٌ وَأَمَّا فِي الدُّنْيَا فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَثَبَتَ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ ثَلَاثٌ مِنَ السَّعَادَةِ وَذَكَرَ مِنْ هَذِهِ السَّعَادَةِ أَنْ يُرْزَقَ الْمَرْءُ زَوْجَةً صَالِحَةً فِي الدُّنْيَا إِذًا أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنْتَ تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهَبَ لَكَ الزَّوْجَةَ الَّتِي تَقَرُّ عَيْنُكَ بِهَا انْظُرْ هَذَا هُوَ كَمَالُ الدُّعَاءِ لَا تَسْأَلْ جَمَالًا لَا تَسْأَلْ مَالًا لَا تَسْأَلْ تَفْصِيلًا مُعَيَّنًا كِلِ الْأَمْرَ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاسْأَلْهُ أَنْ تَكُونَ امْرَأَةً صَالِحَةً وَأَنْ تَكُونَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَكَ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَعْلَمُ بِكَ مِنْ نَفْسِكَ قَدْ يَكُونُ فِي بَعْضِ أَوْقَاتِهَا ضَيْرٌ وَسُوءٌ لَكِنَّ الْعِبْرَةَ بِالْخَوَاتِيمِ وَأَوَاخِرِ الْأَمْرِ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ عِنْدَمَا تَتَأَمَّلُ أَنَّكَ حِينَمَا تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالذُّرِّيَّةِ إِنَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالذُّرِّيَّةِ تَارَةً تَكُونُ بِالْحِرْمَانِ وَأَبْدَأُ بِالْحِرْمَانِ قَبْلَ الْإِعْطَاءِ إِنَّ مِنْ نِعْمَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى بَعْضِ النَّاسِ أَنْ يَحْرِمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الذُّرِّيَّةَ إِذْ مِنَ الذُّرِّيَّةِ مَنْ يَكُونُ هَلَاكُ الْمَرْءِ بِهِمْ لَمْ تَكُ قِصَّةُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مَعَ الْخَضِرِ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَقَدْ كَانَا نَبِيَّيْنِ عَلَيْهِمَا الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَقَتَلَ رَجُلًا لِكَوْنِهِ خَشِيَ أَنْ يَكُونَ مُهْلِكًا لِوَالِدَيْهِ إِذًا قَدْ يَكُونُ بَعْضُ الذُّرِّيَّةِ سَبَبًا لِهَلَاكِ وَالِدَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ هَلَاكِ الدُّنْيَا بِالْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الشَّدِيدَةِ وَفِي الْآخِرَةِ بِأَنْ يَكُونَ سَبَبًا فِي إِضْلَالِهِمَا
Qurratu ‘ain bermakna ketetapan hati, kedamaian, dan ketenangan batin. Jadi, Anda memohon kepada Allah agar menganugerahkan ketenangan hati tersebut melalui pasangan Anda. Permohonan ini mencakup pasangan hidup di dunia maupun di akhirat kelak. Adapun di akhirat, seseorang tidak mungkin berpasangan kecuali jika ia berada di surga. Sebab di surgalah ia akan memiliki pasangan. Sedangkan di dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salehah. Diriwayatkan secara shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada tiga hal yang termasuk dalam kebahagiaan…” Nabi menyebutkan salah satunya adalah ketika seseorang dianugerahi istri yang salehah selama hidup di dunia. Maka dari itu, wahai saudaraku muslim, hendaklah Anda memohon kepada Allah agar dikaruniai istri yang benar-benar menjadi penyejuk pandangan bagi Anda. Lihat, inilah kesempurnaan dalam berdoa! Jangan hanya sekadar meminta kecantikan. Jangan sekadar meminta harta. Jangan sekadar meminta kriteria-kriteria tertentu yang bersifat materi. Pasrahkanlah urusan itu sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mintalah agar Anda mendapat istri yang salehah, dan ia menjadi penyejuk pandangan bagi Anda. Allah ‘Azza wa Jalla jauh lebih mengetahui apa yang terbaik bagi Anda daripada diri Anda sendiri. Terkadang di waktu tertentu ada hal yang mengganggu dan tidak baik padanya. Namun, yang menjadi tolak ukur sebenarnya adalah akhir dan penutup dari segala urusan. “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk pandangan bagi kami.” (QS. Al-Furqan: 74). Saat Anda merenungkan ketika meminta kepada Allah ‘Azza wa Jalla penyejuk pandangan pada keturunan, ketahuilah bahwa terkadang bentuk “penyejuk” itu justru berupa tidak diberinya keturunan. Saya mulai dengan membahas kondisi “tidak diberi” ini sebelum membahas kondisi “diberi”. Sebab, di antara bentuk nikmat Allah ‘Azza wa Jalla atas sebagian hamba-Nya adalah ketika Allah tidak memberinya keturunan. sebab di antara keturunan ada yang bisa menjadi sebab kebinasaan bagi orang tuanya. Bukankah ada kisah Musa bersama Khidir, dan mereka berdua adalah Nabi ‘alaihimassalam. Nabi Khidir membunuh seorang anak karena khawatir anak itu menjadi sebab kebinasaan kedua orang tuanya. Jadi, sebagian keturunan bisa saja menjadi penyebab hancurnya hidup orang tua, baik di dunia maupun di akhirat. Hancur di dunia karena terus-menerus didera kegundahan dan kesedihan karena ulah sang anak, serta berbagai kesulitan hidup lainnya yang menyengsarakan. Hingga hancur di akhirat, karena sang anak justru menjadi sebab bagi kesesatan orang tuanya. ===== قُرَّةُ الْعَيْنِ هِيَ اسْتِقْرَارُهَا وَطُمَأْنِينَتُهَا فَأَنْتَ تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهَبَ لَكَ مِنْ أَزْوَاجِكَ فَيَشْمَلُ ذَلِكَ أَزْوَاجَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ أَمَّا الْآخِرَةُ فَلَا يَكُونُ لِلْمَرْءِ أَزْوَاجًا إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي الْجَنَّةِ فَإِنَّهُ يَكُونُ لَهُ زَوْجٌ وَأَمَّا فِي الدُّنْيَا فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَثَبَتَ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ ثَلَاثٌ مِنَ السَّعَادَةِ وَذَكَرَ مِنْ هَذِهِ السَّعَادَةِ أَنْ يُرْزَقَ الْمَرْءُ زَوْجَةً صَالِحَةً فِي الدُّنْيَا إِذًا أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنْتَ تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهَبَ لَكَ الزَّوْجَةَ الَّتِي تَقَرُّ عَيْنُكَ بِهَا انْظُرْ هَذَا هُوَ كَمَالُ الدُّعَاءِ لَا تَسْأَلْ جَمَالًا لَا تَسْأَلْ مَالًا لَا تَسْأَلْ تَفْصِيلًا مُعَيَّنًا كِلِ الْأَمْرَ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاسْأَلْهُ أَنْ تَكُونَ امْرَأَةً صَالِحَةً وَأَنْ تَكُونَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَكَ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَعْلَمُ بِكَ مِنْ نَفْسِكَ قَدْ يَكُونُ فِي بَعْضِ أَوْقَاتِهَا ضَيْرٌ وَسُوءٌ لَكِنَّ الْعِبْرَةَ بِالْخَوَاتِيمِ وَأَوَاخِرِ الْأَمْرِ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ عِنْدَمَا تَتَأَمَّلُ أَنَّكَ حِينَمَا تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالذُّرِّيَّةِ إِنَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالذُّرِّيَّةِ تَارَةً تَكُونُ بِالْحِرْمَانِ وَأَبْدَأُ بِالْحِرْمَانِ قَبْلَ الْإِعْطَاءِ إِنَّ مِنْ نِعْمَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى بَعْضِ النَّاسِ أَنْ يَحْرِمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الذُّرِّيَّةَ إِذْ مِنَ الذُّرِّيَّةِ مَنْ يَكُونُ هَلَاكُ الْمَرْءِ بِهِمْ لَمْ تَكُ قِصَّةُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مَعَ الْخَضِرِ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَقَدْ كَانَا نَبِيَّيْنِ عَلَيْهِمَا الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَقَتَلَ رَجُلًا لِكَوْنِهِ خَشِيَ أَنْ يَكُونَ مُهْلِكًا لِوَالِدَيْهِ إِذًا قَدْ يَكُونُ بَعْضُ الذُّرِّيَّةِ سَبَبًا لِهَلَاكِ وَالِدَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ هَلَاكِ الدُّنْيَا بِالْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الشَّدِيدَةِ وَفِي الْآخِرَةِ بِأَنْ يَكُونَ سَبَبًا فِي إِضْلَالِهِمَا


Qurratu ‘ain bermakna ketetapan hati, kedamaian, dan ketenangan batin. Jadi, Anda memohon kepada Allah agar menganugerahkan ketenangan hati tersebut melalui pasangan Anda. Permohonan ini mencakup pasangan hidup di dunia maupun di akhirat kelak. Adapun di akhirat, seseorang tidak mungkin berpasangan kecuali jika ia berada di surga. Sebab di surgalah ia akan memiliki pasangan. Sedangkan di dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salehah. Diriwayatkan secara shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada tiga hal yang termasuk dalam kebahagiaan…” Nabi menyebutkan salah satunya adalah ketika seseorang dianugerahi istri yang salehah selama hidup di dunia. Maka dari itu, wahai saudaraku muslim, hendaklah Anda memohon kepada Allah agar dikaruniai istri yang benar-benar menjadi penyejuk pandangan bagi Anda. Lihat, inilah kesempurnaan dalam berdoa! Jangan hanya sekadar meminta kecantikan. Jangan sekadar meminta harta. Jangan sekadar meminta kriteria-kriteria tertentu yang bersifat materi. Pasrahkanlah urusan itu sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mintalah agar Anda mendapat istri yang salehah, dan ia menjadi penyejuk pandangan bagi Anda. Allah ‘Azza wa Jalla jauh lebih mengetahui apa yang terbaik bagi Anda daripada diri Anda sendiri. Terkadang di waktu tertentu ada hal yang mengganggu dan tidak baik padanya. Namun, yang menjadi tolak ukur sebenarnya adalah akhir dan penutup dari segala urusan. “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk pandangan bagi kami.” (QS. Al-Furqan: 74). Saat Anda merenungkan ketika meminta kepada Allah ‘Azza wa Jalla penyejuk pandangan pada keturunan, ketahuilah bahwa terkadang bentuk “penyejuk” itu justru berupa tidak diberinya keturunan. Saya mulai dengan membahas kondisi “tidak diberi” ini sebelum membahas kondisi “diberi”. Sebab, di antara bentuk nikmat Allah ‘Azza wa Jalla atas sebagian hamba-Nya adalah ketika Allah tidak memberinya keturunan. sebab di antara keturunan ada yang bisa menjadi sebab kebinasaan bagi orang tuanya. Bukankah ada kisah Musa bersama Khidir, dan mereka berdua adalah Nabi ‘alaihimassalam. Nabi Khidir membunuh seorang anak karena khawatir anak itu menjadi sebab kebinasaan kedua orang tuanya. Jadi, sebagian keturunan bisa saja menjadi penyebab hancurnya hidup orang tua, baik di dunia maupun di akhirat. Hancur di dunia karena terus-menerus didera kegundahan dan kesedihan karena ulah sang anak, serta berbagai kesulitan hidup lainnya yang menyengsarakan. Hingga hancur di akhirat, karena sang anak justru menjadi sebab bagi kesesatan orang tuanya. ===== قُرَّةُ الْعَيْنِ هِيَ اسْتِقْرَارُهَا وَطُمَأْنِينَتُهَا فَأَنْتَ تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهَبَ لَكَ مِنْ أَزْوَاجِكَ فَيَشْمَلُ ذَلِكَ أَزْوَاجَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ أَمَّا الْآخِرَةُ فَلَا يَكُونُ لِلْمَرْءِ أَزْوَاجًا إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي الْجَنَّةِ فَإِنَّهُ يَكُونُ لَهُ زَوْجٌ وَأَمَّا فِي الدُّنْيَا فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَثَبَتَ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ ثَلَاثٌ مِنَ السَّعَادَةِ وَذَكَرَ مِنْ هَذِهِ السَّعَادَةِ أَنْ يُرْزَقَ الْمَرْءُ زَوْجَةً صَالِحَةً فِي الدُّنْيَا إِذًا أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنْتَ تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهَبَ لَكَ الزَّوْجَةَ الَّتِي تَقَرُّ عَيْنُكَ بِهَا انْظُرْ هَذَا هُوَ كَمَالُ الدُّعَاءِ لَا تَسْأَلْ جَمَالًا لَا تَسْأَلْ مَالًا لَا تَسْأَلْ تَفْصِيلًا مُعَيَّنًا كِلِ الْأَمْرَ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاسْأَلْهُ أَنْ تَكُونَ امْرَأَةً صَالِحَةً وَأَنْ تَكُونَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَكَ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَعْلَمُ بِكَ مِنْ نَفْسِكَ قَدْ يَكُونُ فِي بَعْضِ أَوْقَاتِهَا ضَيْرٌ وَسُوءٌ لَكِنَّ الْعِبْرَةَ بِالْخَوَاتِيمِ وَأَوَاخِرِ الْأَمْرِ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ عِنْدَمَا تَتَأَمَّلُ أَنَّكَ حِينَمَا تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالذُّرِّيَّةِ إِنَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالذُّرِّيَّةِ تَارَةً تَكُونُ بِالْحِرْمَانِ وَأَبْدَأُ بِالْحِرْمَانِ قَبْلَ الْإِعْطَاءِ إِنَّ مِنْ نِعْمَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى بَعْضِ النَّاسِ أَنْ يَحْرِمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الذُّرِّيَّةَ إِذْ مِنَ الذُّرِّيَّةِ مَنْ يَكُونُ هَلَاكُ الْمَرْءِ بِهِمْ لَمْ تَكُ قِصَّةُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مَعَ الْخَضِرِ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَقَدْ كَانَا نَبِيَّيْنِ عَلَيْهِمَا الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَقَتَلَ رَجُلًا لِكَوْنِهِ خَشِيَ أَنْ يَكُونَ مُهْلِكًا لِوَالِدَيْهِ إِذًا قَدْ يَكُونُ بَعْضُ الذُّرِّيَّةِ سَبَبًا لِهَلَاكِ وَالِدَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ هَلَاكِ الدُّنْيَا بِالْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الشَّدِيدَةِ وَفِي الْآخِرَةِ بِأَنْ يَكُونَ سَبَبًا فِي إِضْلَالِهِمَا

Mengenal Nama Allah “Al-Jaliil”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Jaliil”Kandungan makna nama Allah “Al-Jaliil”Makna bahasa dari “Al-Jaliil”Makna “Al-Jaliil” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Al-Jaliil” bagi hambaBeriman dan menetapkan nama ini bagi AllahMenetapkan sifat keagungan bagi AllahBeradab dalam penggunaan nama iniSemakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin tumbuh rasa pengagungan di dalam hatinya, semakin tunduk ia kepada-Nya, dan semakin kecil dunia di hadapannya. Di antara nama Allah yang menunjukkan keagungan dan kemuliaan-Nya adalah Al-Jaliil —Yang Maha Agung lagi Maha Mulia— yang mengandung makna kebesaran, keagungan, dan kemuliaan yang sempurna.Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga hal utama: dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Al-Jaliil merupakan nama Allah, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta konsekuensi penting yang berkaitan dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Jaliil”Nama Al-Jaliil tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an dalam bentuk nama, namun asal katanya (الجلال) disebutkan dalam beberapa ayat.Allah Ta’ala berfirman,وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)Dan firman-Nya,تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Maha Suci nama Rabbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 78)Demikian pula dalam sunah yang sahih, nama ini tidak disebutkan secara tegas. [1]Hanya saja, ada beberapa riwayat dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Di antaranya adalah dalam Sunan At-Tirmidzi,إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةً غَيْرَ وَاحِدٍ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ المَلِكُ … الحَسِيبُ الجَلِيلُ الكَرِيمُ …“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghitungnya (menghafal, memahami, dan mengamalkannya), maka ia akan masuk surga. Dialah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Raja … Yang Maha Menghisab, Yang Maha Agung (Al-Jaliil), lagi Maha Mulia (Al-Kariim) …” (HR. At-Tirmidzi, 5: 530, dinilai lemah oleh Al-Albani rahimahullah) [2]Terdapat perbedaan di kalangan para ulama, tentang apakah Al-Jaliil termasuk Al-Asmaaul Husnaa atau tidak. Di antara ulama yang memasukkan Al-Jaliil ke dalam Al-Asmaul Husna adalah Al-Baihaqi, Ibnul ‘Arabi, Al-Khaththabi, Ibnus Sa‘di, dan Al-Lajnah Ad-Da’imah rahimahumullah. [3]Kandungan makna nama Allah “Al-Jaliil”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Jaliil” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Jaliil”Kata Al-Jaliil berasal dari akar kata (ج ل ل) yang menunjukkan makna besar dan agung.Ibnu Fāris berkata,(جَلَّ) الْجِيمُ وَاللَّامُ أُصُولٌ ثَلَاثَةٌ: جَلَّ الشَّيْءُ: عَظُمَ، وَجُلُّ الشَّيْءِ مُعْظَمُهُ، وَجَلَالُ اللَّهِ: عَظَمَتُهُ“Akar kata jīm–lām–lām memiliki tiga makna dasar:sesuatu itu menjadi besar (agung). ‘Jull asy-syai’ berarti sebagian besar dari sesuatu. Dan ‘jalālullāh’ berarti keagungan Allah.sesuatu yang meliputi atau menutupi sesuatu yang lain. Seperti ‘jull al-faras’ (penutup tubuh kuda), dan seperti hujan yang menyelimuti bumi dengan air dan tumbuhan.berkaitan dengan suara; dikatakan ‘sahābun mujaljil’ (awan yang bergemuruh) apabila ia mengeluarkan suara.” [4]Dalam al-Miṣbāḥ al-Munīr, Al-Fayyumiy mengatakan,(جَلَّ الشَّيْءُ) يَجِلُّ: عَظُمَ“Sesuatu dikatakan jalla apabila ia menjadi besar (agung).” [5]Makna “Al-Jaliil” dalam konteks AllahKetika disandarkan kepada Allah Ta’ala, maka Al-Jaliil menunjukkan bahwa Dia adalah Dzat yang memiliki keagungan dan kebesaran yang sempurna.ِAl-Khaththabi rahimahullah mengatakan,الجَلِيل: هُوَ مِنَ الجَلَالِ، والعَظَمَةِ، وَمَعْنَاهُ مُنْصَرِفٌ إِلَى جَلَالِ القُدْرَةِ وَعِظَمِ الشَّأْنِ، فَهُوَ الجَلِيلُ الَّذِي يَصْغُرُ لَدَيْهِ كُلُّ جَلِيلٍ، وَيَتَضَاءَلُ مَعَهُ كُلُّ عَظِيمٍ“Al-Jaliil adalah Dzat yang memiliki keagungan dan kebesaran. Maknanya kembali kepada keagungan kekuasaan dan besarnya kedudukan-Nya. Dialah Yang di hadapan-Nya segala yang besar menjadi kecil, dan segala yang agung menjadi hina.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,المجيد، الكبير، العظيم، الجليل وهو الموصوف بصفات المجد، والكبرياء، والعظمة، والجلال، الذي هو أكبر من كل شيء، وأعظم من كل شيء، وأجل وأعلى“Al-Majiid, Al-Kabiir, Al-‘Azhiim, Al-Jaliil adalah nama-nama yang menunjukkan sifat kemuliaan, kebesaran, dan keagungan. Dia lebih besar dari segala sesuatu, lebih agung dari segala sesuatu, dan lebih tinggi dari segala sesuatu.” [7]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Jaliil” bagi hambaPenetapan nama “Al-Jaliil” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman dan menetapkan nama ini bagi AllahTelah berlalu pembahasan tentang dalil dari Al-Quran dan hadis, atas penetapan nama Allah Al-Jaliil sebagai bagian dari Al-Asmaaul Husnaa, dimana terdapat silang pendapat tentang hal ini. Bagi yang menganggap kuatnya dalil-dalil tersebut, maka konsekuensinya adalah menetapkan nama Al-Jaliil bagi Allah Ta’ala. [8]Menetapkan sifat keagungan bagi AllahSeorang hamba hendaknya meyakini bahwa Allah memiliki sifat jalāl (keagungan) dan berhak disifati dengan sifat tersebut, sebagaimana ditunjukkan dalam firman-Nya,ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)Ibnu Katsir rahimahullah berkata,أَيْ: هُوَ أَهْلٌ أَنْ يُجَلَّ فَلَا يُعْصَى، وَأَنْ يُطَاعَ فَلَا يُخَالَفُ“Artinya: Dia adalah Dzat yang layak untuk diagungkan, sehingga tidak boleh didurhakai, dan layak ditaati sehingga tidak boleh diselisihi.” [9]Beradab dalam penggunaan nama iniNama Al-Jaliil termasuk nama yang menunjukkan kesempurnaan sifat. Oleh karena itu:tidak digunakan untuk selain Allah dalam bentuk ma‘rifah (dengan “Al”);adapun tanpa “Al” (seperti “Jalil”), maka diperbolehkan jika hanya sebagai nama tanpa maksud penyifatan sempurna.Selain itu, diperbolehkan penggunaan nama Abdul Jalil, baik bagi yang menganggap Al-Jalil sebagai bagian dari Al-Asmaaul Husna, maupun yang tidak. [10]Selain itu, di antara konsekuensi mengenal nama Al-Jaliil adalah: khusyuk dalam ibadah, tunduk dalam ketaatan, merasa kecil di hadapan Allah; sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir di atas. Wallaahu a’lam.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mengagungkan-Nya dengan sebenar-benarnya pengagungan, tunduk kepada-Nya, dan hidup dalam naungan keagungan-Nya. Aamiin.***Rumdin PPIA Sragen, 11 Syawal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utamaIbn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. al-Mishbāḥ al-Munīr fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah. Catatan kaki:[1] Lihat: Nabulsi.com[2] Lihat Fiqhul Asmaail Husna, hal. 73-77 dan Ifrad Ahadits Asma’ Allah wa Shifatih fi al-Kutub as-Sittah, hal. 44-57.[3] Asma’ullah al-Husna, karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 335.[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 152.[5] al-Mishbāḥ al-Munīr, hal. 111.[6] Sya’n ad-Du‘ā’ karya Al-Khaththabi, 1: 70.[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 946.[8] Lihat Asma’ Allah al-Husna, hal. 335.[9] Tafsir Ibnu Katsir, 7: 494.[10] Lihat: Islamqa.info

Mengenal Nama Allah “Al-Jaliil”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Jaliil”Kandungan makna nama Allah “Al-Jaliil”Makna bahasa dari “Al-Jaliil”Makna “Al-Jaliil” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Al-Jaliil” bagi hambaBeriman dan menetapkan nama ini bagi AllahMenetapkan sifat keagungan bagi AllahBeradab dalam penggunaan nama iniSemakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin tumbuh rasa pengagungan di dalam hatinya, semakin tunduk ia kepada-Nya, dan semakin kecil dunia di hadapannya. Di antara nama Allah yang menunjukkan keagungan dan kemuliaan-Nya adalah Al-Jaliil —Yang Maha Agung lagi Maha Mulia— yang mengandung makna kebesaran, keagungan, dan kemuliaan yang sempurna.Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga hal utama: dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Al-Jaliil merupakan nama Allah, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta konsekuensi penting yang berkaitan dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Jaliil”Nama Al-Jaliil tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an dalam bentuk nama, namun asal katanya (الجلال) disebutkan dalam beberapa ayat.Allah Ta’ala berfirman,وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)Dan firman-Nya,تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Maha Suci nama Rabbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 78)Demikian pula dalam sunah yang sahih, nama ini tidak disebutkan secara tegas. [1]Hanya saja, ada beberapa riwayat dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Di antaranya adalah dalam Sunan At-Tirmidzi,إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةً غَيْرَ وَاحِدٍ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ المَلِكُ … الحَسِيبُ الجَلِيلُ الكَرِيمُ …“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghitungnya (menghafal, memahami, dan mengamalkannya), maka ia akan masuk surga. Dialah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Raja … Yang Maha Menghisab, Yang Maha Agung (Al-Jaliil), lagi Maha Mulia (Al-Kariim) …” (HR. At-Tirmidzi, 5: 530, dinilai lemah oleh Al-Albani rahimahullah) [2]Terdapat perbedaan di kalangan para ulama, tentang apakah Al-Jaliil termasuk Al-Asmaaul Husnaa atau tidak. Di antara ulama yang memasukkan Al-Jaliil ke dalam Al-Asmaul Husna adalah Al-Baihaqi, Ibnul ‘Arabi, Al-Khaththabi, Ibnus Sa‘di, dan Al-Lajnah Ad-Da’imah rahimahumullah. [3]Kandungan makna nama Allah “Al-Jaliil”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Jaliil” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Jaliil”Kata Al-Jaliil berasal dari akar kata (ج ل ل) yang menunjukkan makna besar dan agung.Ibnu Fāris berkata,(جَلَّ) الْجِيمُ وَاللَّامُ أُصُولٌ ثَلَاثَةٌ: جَلَّ الشَّيْءُ: عَظُمَ، وَجُلُّ الشَّيْءِ مُعْظَمُهُ، وَجَلَالُ اللَّهِ: عَظَمَتُهُ“Akar kata jīm–lām–lām memiliki tiga makna dasar:sesuatu itu menjadi besar (agung). ‘Jull asy-syai’ berarti sebagian besar dari sesuatu. Dan ‘jalālullāh’ berarti keagungan Allah.sesuatu yang meliputi atau menutupi sesuatu yang lain. Seperti ‘jull al-faras’ (penutup tubuh kuda), dan seperti hujan yang menyelimuti bumi dengan air dan tumbuhan.berkaitan dengan suara; dikatakan ‘sahābun mujaljil’ (awan yang bergemuruh) apabila ia mengeluarkan suara.” [4]Dalam al-Miṣbāḥ al-Munīr, Al-Fayyumiy mengatakan,(جَلَّ الشَّيْءُ) يَجِلُّ: عَظُمَ“Sesuatu dikatakan jalla apabila ia menjadi besar (agung).” [5]Makna “Al-Jaliil” dalam konteks AllahKetika disandarkan kepada Allah Ta’ala, maka Al-Jaliil menunjukkan bahwa Dia adalah Dzat yang memiliki keagungan dan kebesaran yang sempurna.ِAl-Khaththabi rahimahullah mengatakan,الجَلِيل: هُوَ مِنَ الجَلَالِ، والعَظَمَةِ، وَمَعْنَاهُ مُنْصَرِفٌ إِلَى جَلَالِ القُدْرَةِ وَعِظَمِ الشَّأْنِ، فَهُوَ الجَلِيلُ الَّذِي يَصْغُرُ لَدَيْهِ كُلُّ جَلِيلٍ، وَيَتَضَاءَلُ مَعَهُ كُلُّ عَظِيمٍ“Al-Jaliil adalah Dzat yang memiliki keagungan dan kebesaran. Maknanya kembali kepada keagungan kekuasaan dan besarnya kedudukan-Nya. Dialah Yang di hadapan-Nya segala yang besar menjadi kecil, dan segala yang agung menjadi hina.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,المجيد، الكبير، العظيم، الجليل وهو الموصوف بصفات المجد، والكبرياء، والعظمة، والجلال، الذي هو أكبر من كل شيء، وأعظم من كل شيء، وأجل وأعلى“Al-Majiid, Al-Kabiir, Al-‘Azhiim, Al-Jaliil adalah nama-nama yang menunjukkan sifat kemuliaan, kebesaran, dan keagungan. Dia lebih besar dari segala sesuatu, lebih agung dari segala sesuatu, dan lebih tinggi dari segala sesuatu.” [7]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Jaliil” bagi hambaPenetapan nama “Al-Jaliil” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman dan menetapkan nama ini bagi AllahTelah berlalu pembahasan tentang dalil dari Al-Quran dan hadis, atas penetapan nama Allah Al-Jaliil sebagai bagian dari Al-Asmaaul Husnaa, dimana terdapat silang pendapat tentang hal ini. Bagi yang menganggap kuatnya dalil-dalil tersebut, maka konsekuensinya adalah menetapkan nama Al-Jaliil bagi Allah Ta’ala. [8]Menetapkan sifat keagungan bagi AllahSeorang hamba hendaknya meyakini bahwa Allah memiliki sifat jalāl (keagungan) dan berhak disifati dengan sifat tersebut, sebagaimana ditunjukkan dalam firman-Nya,ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)Ibnu Katsir rahimahullah berkata,أَيْ: هُوَ أَهْلٌ أَنْ يُجَلَّ فَلَا يُعْصَى، وَأَنْ يُطَاعَ فَلَا يُخَالَفُ“Artinya: Dia adalah Dzat yang layak untuk diagungkan, sehingga tidak boleh didurhakai, dan layak ditaati sehingga tidak boleh diselisihi.” [9]Beradab dalam penggunaan nama iniNama Al-Jaliil termasuk nama yang menunjukkan kesempurnaan sifat. Oleh karena itu:tidak digunakan untuk selain Allah dalam bentuk ma‘rifah (dengan “Al”);adapun tanpa “Al” (seperti “Jalil”), maka diperbolehkan jika hanya sebagai nama tanpa maksud penyifatan sempurna.Selain itu, diperbolehkan penggunaan nama Abdul Jalil, baik bagi yang menganggap Al-Jalil sebagai bagian dari Al-Asmaaul Husna, maupun yang tidak. [10]Selain itu, di antara konsekuensi mengenal nama Al-Jaliil adalah: khusyuk dalam ibadah, tunduk dalam ketaatan, merasa kecil di hadapan Allah; sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir di atas. Wallaahu a’lam.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mengagungkan-Nya dengan sebenar-benarnya pengagungan, tunduk kepada-Nya, dan hidup dalam naungan keagungan-Nya. Aamiin.***Rumdin PPIA Sragen, 11 Syawal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utamaIbn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. al-Mishbāḥ al-Munīr fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah. Catatan kaki:[1] Lihat: Nabulsi.com[2] Lihat Fiqhul Asmaail Husna, hal. 73-77 dan Ifrad Ahadits Asma’ Allah wa Shifatih fi al-Kutub as-Sittah, hal. 44-57.[3] Asma’ullah al-Husna, karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 335.[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 152.[5] al-Mishbāḥ al-Munīr, hal. 111.[6] Sya’n ad-Du‘ā’ karya Al-Khaththabi, 1: 70.[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 946.[8] Lihat Asma’ Allah al-Husna, hal. 335.[9] Tafsir Ibnu Katsir, 7: 494.[10] Lihat: Islamqa.info
Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Jaliil”Kandungan makna nama Allah “Al-Jaliil”Makna bahasa dari “Al-Jaliil”Makna “Al-Jaliil” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Al-Jaliil” bagi hambaBeriman dan menetapkan nama ini bagi AllahMenetapkan sifat keagungan bagi AllahBeradab dalam penggunaan nama iniSemakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin tumbuh rasa pengagungan di dalam hatinya, semakin tunduk ia kepada-Nya, dan semakin kecil dunia di hadapannya. Di antara nama Allah yang menunjukkan keagungan dan kemuliaan-Nya adalah Al-Jaliil —Yang Maha Agung lagi Maha Mulia— yang mengandung makna kebesaran, keagungan, dan kemuliaan yang sempurna.Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga hal utama: dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Al-Jaliil merupakan nama Allah, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta konsekuensi penting yang berkaitan dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Jaliil”Nama Al-Jaliil tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an dalam bentuk nama, namun asal katanya (الجلال) disebutkan dalam beberapa ayat.Allah Ta’ala berfirman,وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)Dan firman-Nya,تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Maha Suci nama Rabbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 78)Demikian pula dalam sunah yang sahih, nama ini tidak disebutkan secara tegas. [1]Hanya saja, ada beberapa riwayat dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Di antaranya adalah dalam Sunan At-Tirmidzi,إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةً غَيْرَ وَاحِدٍ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ المَلِكُ … الحَسِيبُ الجَلِيلُ الكَرِيمُ …“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghitungnya (menghafal, memahami, dan mengamalkannya), maka ia akan masuk surga. Dialah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Raja … Yang Maha Menghisab, Yang Maha Agung (Al-Jaliil), lagi Maha Mulia (Al-Kariim) …” (HR. At-Tirmidzi, 5: 530, dinilai lemah oleh Al-Albani rahimahullah) [2]Terdapat perbedaan di kalangan para ulama, tentang apakah Al-Jaliil termasuk Al-Asmaaul Husnaa atau tidak. Di antara ulama yang memasukkan Al-Jaliil ke dalam Al-Asmaul Husna adalah Al-Baihaqi, Ibnul ‘Arabi, Al-Khaththabi, Ibnus Sa‘di, dan Al-Lajnah Ad-Da’imah rahimahumullah. [3]Kandungan makna nama Allah “Al-Jaliil”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Jaliil” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Jaliil”Kata Al-Jaliil berasal dari akar kata (ج ل ل) yang menunjukkan makna besar dan agung.Ibnu Fāris berkata,(جَلَّ) الْجِيمُ وَاللَّامُ أُصُولٌ ثَلَاثَةٌ: جَلَّ الشَّيْءُ: عَظُمَ، وَجُلُّ الشَّيْءِ مُعْظَمُهُ، وَجَلَالُ اللَّهِ: عَظَمَتُهُ“Akar kata jīm–lām–lām memiliki tiga makna dasar:sesuatu itu menjadi besar (agung). ‘Jull asy-syai’ berarti sebagian besar dari sesuatu. Dan ‘jalālullāh’ berarti keagungan Allah.sesuatu yang meliputi atau menutupi sesuatu yang lain. Seperti ‘jull al-faras’ (penutup tubuh kuda), dan seperti hujan yang menyelimuti bumi dengan air dan tumbuhan.berkaitan dengan suara; dikatakan ‘sahābun mujaljil’ (awan yang bergemuruh) apabila ia mengeluarkan suara.” [4]Dalam al-Miṣbāḥ al-Munīr, Al-Fayyumiy mengatakan,(جَلَّ الشَّيْءُ) يَجِلُّ: عَظُمَ“Sesuatu dikatakan jalla apabila ia menjadi besar (agung).” [5]Makna “Al-Jaliil” dalam konteks AllahKetika disandarkan kepada Allah Ta’ala, maka Al-Jaliil menunjukkan bahwa Dia adalah Dzat yang memiliki keagungan dan kebesaran yang sempurna.ِAl-Khaththabi rahimahullah mengatakan,الجَلِيل: هُوَ مِنَ الجَلَالِ، والعَظَمَةِ، وَمَعْنَاهُ مُنْصَرِفٌ إِلَى جَلَالِ القُدْرَةِ وَعِظَمِ الشَّأْنِ، فَهُوَ الجَلِيلُ الَّذِي يَصْغُرُ لَدَيْهِ كُلُّ جَلِيلٍ، وَيَتَضَاءَلُ مَعَهُ كُلُّ عَظِيمٍ“Al-Jaliil adalah Dzat yang memiliki keagungan dan kebesaran. Maknanya kembali kepada keagungan kekuasaan dan besarnya kedudukan-Nya. Dialah Yang di hadapan-Nya segala yang besar menjadi kecil, dan segala yang agung menjadi hina.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,المجيد، الكبير، العظيم، الجليل وهو الموصوف بصفات المجد، والكبرياء، والعظمة، والجلال، الذي هو أكبر من كل شيء، وأعظم من كل شيء، وأجل وأعلى“Al-Majiid, Al-Kabiir, Al-‘Azhiim, Al-Jaliil adalah nama-nama yang menunjukkan sifat kemuliaan, kebesaran, dan keagungan. Dia lebih besar dari segala sesuatu, lebih agung dari segala sesuatu, dan lebih tinggi dari segala sesuatu.” [7]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Jaliil” bagi hambaPenetapan nama “Al-Jaliil” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman dan menetapkan nama ini bagi AllahTelah berlalu pembahasan tentang dalil dari Al-Quran dan hadis, atas penetapan nama Allah Al-Jaliil sebagai bagian dari Al-Asmaaul Husnaa, dimana terdapat silang pendapat tentang hal ini. Bagi yang menganggap kuatnya dalil-dalil tersebut, maka konsekuensinya adalah menetapkan nama Al-Jaliil bagi Allah Ta’ala. [8]Menetapkan sifat keagungan bagi AllahSeorang hamba hendaknya meyakini bahwa Allah memiliki sifat jalāl (keagungan) dan berhak disifati dengan sifat tersebut, sebagaimana ditunjukkan dalam firman-Nya,ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)Ibnu Katsir rahimahullah berkata,أَيْ: هُوَ أَهْلٌ أَنْ يُجَلَّ فَلَا يُعْصَى، وَأَنْ يُطَاعَ فَلَا يُخَالَفُ“Artinya: Dia adalah Dzat yang layak untuk diagungkan, sehingga tidak boleh didurhakai, dan layak ditaati sehingga tidak boleh diselisihi.” [9]Beradab dalam penggunaan nama iniNama Al-Jaliil termasuk nama yang menunjukkan kesempurnaan sifat. Oleh karena itu:tidak digunakan untuk selain Allah dalam bentuk ma‘rifah (dengan “Al”);adapun tanpa “Al” (seperti “Jalil”), maka diperbolehkan jika hanya sebagai nama tanpa maksud penyifatan sempurna.Selain itu, diperbolehkan penggunaan nama Abdul Jalil, baik bagi yang menganggap Al-Jalil sebagai bagian dari Al-Asmaaul Husna, maupun yang tidak. [10]Selain itu, di antara konsekuensi mengenal nama Al-Jaliil adalah: khusyuk dalam ibadah, tunduk dalam ketaatan, merasa kecil di hadapan Allah; sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir di atas. Wallaahu a’lam.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mengagungkan-Nya dengan sebenar-benarnya pengagungan, tunduk kepada-Nya, dan hidup dalam naungan keagungan-Nya. Aamiin.***Rumdin PPIA Sragen, 11 Syawal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utamaIbn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. al-Mishbāḥ al-Munīr fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah. Catatan kaki:[1] Lihat: Nabulsi.com[2] Lihat Fiqhul Asmaail Husna, hal. 73-77 dan Ifrad Ahadits Asma’ Allah wa Shifatih fi al-Kutub as-Sittah, hal. 44-57.[3] Asma’ullah al-Husna, karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 335.[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 152.[5] al-Mishbāḥ al-Munīr, hal. 111.[6] Sya’n ad-Du‘ā’ karya Al-Khaththabi, 1: 70.[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 946.[8] Lihat Asma’ Allah al-Husna, hal. 335.[9] Tafsir Ibnu Katsir, 7: 494.[10] Lihat: Islamqa.info


Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Jaliil”Kandungan makna nama Allah “Al-Jaliil”Makna bahasa dari “Al-Jaliil”Makna “Al-Jaliil” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Al-Jaliil” bagi hambaBeriman dan menetapkan nama ini bagi AllahMenetapkan sifat keagungan bagi AllahBeradab dalam penggunaan nama iniSemakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin tumbuh rasa pengagungan di dalam hatinya, semakin tunduk ia kepada-Nya, dan semakin kecil dunia di hadapannya. Di antara nama Allah yang menunjukkan keagungan dan kemuliaan-Nya adalah Al-Jaliil —Yang Maha Agung lagi Maha Mulia— yang mengandung makna kebesaran, keagungan, dan kemuliaan yang sempurna.Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga hal utama: dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Al-Jaliil merupakan nama Allah, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta konsekuensi penting yang berkaitan dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Jaliil”Nama Al-Jaliil tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an dalam bentuk nama, namun asal katanya (الجلال) disebutkan dalam beberapa ayat.Allah Ta’ala berfirman,وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)Dan firman-Nya,تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Maha Suci nama Rabbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 78)Demikian pula dalam sunah yang sahih, nama ini tidak disebutkan secara tegas. [1]Hanya saja, ada beberapa riwayat dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Di antaranya adalah dalam Sunan At-Tirmidzi,إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةً غَيْرَ وَاحِدٍ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ المَلِكُ … الحَسِيبُ الجَلِيلُ الكَرِيمُ …“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghitungnya (menghafal, memahami, dan mengamalkannya), maka ia akan masuk surga. Dialah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Raja … Yang Maha Menghisab, Yang Maha Agung (Al-Jaliil), lagi Maha Mulia (Al-Kariim) …” (HR. At-Tirmidzi, 5: 530, dinilai lemah oleh Al-Albani rahimahullah) [2]Terdapat perbedaan di kalangan para ulama, tentang apakah Al-Jaliil termasuk Al-Asmaaul Husnaa atau tidak. Di antara ulama yang memasukkan Al-Jaliil ke dalam Al-Asmaul Husna adalah Al-Baihaqi, Ibnul ‘Arabi, Al-Khaththabi, Ibnus Sa‘di, dan Al-Lajnah Ad-Da’imah rahimahumullah. [3]Kandungan makna nama Allah “Al-Jaliil”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Jaliil” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Jaliil”Kata Al-Jaliil berasal dari akar kata (ج ل ل) yang menunjukkan makna besar dan agung.Ibnu Fāris berkata,(جَلَّ) الْجِيمُ وَاللَّامُ أُصُولٌ ثَلَاثَةٌ: جَلَّ الشَّيْءُ: عَظُمَ، وَجُلُّ الشَّيْءِ مُعْظَمُهُ، وَجَلَالُ اللَّهِ: عَظَمَتُهُ“Akar kata jīm–lām–lām memiliki tiga makna dasar:sesuatu itu menjadi besar (agung). ‘Jull asy-syai’ berarti sebagian besar dari sesuatu. Dan ‘jalālullāh’ berarti keagungan Allah.sesuatu yang meliputi atau menutupi sesuatu yang lain. Seperti ‘jull al-faras’ (penutup tubuh kuda), dan seperti hujan yang menyelimuti bumi dengan air dan tumbuhan.berkaitan dengan suara; dikatakan ‘sahābun mujaljil’ (awan yang bergemuruh) apabila ia mengeluarkan suara.” [4]Dalam al-Miṣbāḥ al-Munīr, Al-Fayyumiy mengatakan,(جَلَّ الشَّيْءُ) يَجِلُّ: عَظُمَ“Sesuatu dikatakan jalla apabila ia menjadi besar (agung).” [5]Makna “Al-Jaliil” dalam konteks AllahKetika disandarkan kepada Allah Ta’ala, maka Al-Jaliil menunjukkan bahwa Dia adalah Dzat yang memiliki keagungan dan kebesaran yang sempurna.ِAl-Khaththabi rahimahullah mengatakan,الجَلِيل: هُوَ مِنَ الجَلَالِ، والعَظَمَةِ، وَمَعْنَاهُ مُنْصَرِفٌ إِلَى جَلَالِ القُدْرَةِ وَعِظَمِ الشَّأْنِ، فَهُوَ الجَلِيلُ الَّذِي يَصْغُرُ لَدَيْهِ كُلُّ جَلِيلٍ، وَيَتَضَاءَلُ مَعَهُ كُلُّ عَظِيمٍ“Al-Jaliil adalah Dzat yang memiliki keagungan dan kebesaran. Maknanya kembali kepada keagungan kekuasaan dan besarnya kedudukan-Nya. Dialah Yang di hadapan-Nya segala yang besar menjadi kecil, dan segala yang agung menjadi hina.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,المجيد، الكبير، العظيم، الجليل وهو الموصوف بصفات المجد، والكبرياء، والعظمة، والجلال، الذي هو أكبر من كل شيء، وأعظم من كل شيء، وأجل وأعلى“Al-Majiid, Al-Kabiir, Al-‘Azhiim, Al-Jaliil adalah nama-nama yang menunjukkan sifat kemuliaan, kebesaran, dan keagungan. Dia lebih besar dari segala sesuatu, lebih agung dari segala sesuatu, dan lebih tinggi dari segala sesuatu.” [7]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Jaliil” bagi hambaPenetapan nama “Al-Jaliil” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman dan menetapkan nama ini bagi AllahTelah berlalu pembahasan tentang dalil dari Al-Quran dan hadis, atas penetapan nama Allah Al-Jaliil sebagai bagian dari Al-Asmaaul Husnaa, dimana terdapat silang pendapat tentang hal ini. Bagi yang menganggap kuatnya dalil-dalil tersebut, maka konsekuensinya adalah menetapkan nama Al-Jaliil bagi Allah Ta’ala. [8]Menetapkan sifat keagungan bagi AllahSeorang hamba hendaknya meyakini bahwa Allah memiliki sifat jalāl (keagungan) dan berhak disifati dengan sifat tersebut, sebagaimana ditunjukkan dalam firman-Nya,ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)Ibnu Katsir rahimahullah berkata,أَيْ: هُوَ أَهْلٌ أَنْ يُجَلَّ فَلَا يُعْصَى، وَأَنْ يُطَاعَ فَلَا يُخَالَفُ“Artinya: Dia adalah Dzat yang layak untuk diagungkan, sehingga tidak boleh didurhakai, dan layak ditaati sehingga tidak boleh diselisihi.” [9]Beradab dalam penggunaan nama iniNama Al-Jaliil termasuk nama yang menunjukkan kesempurnaan sifat. Oleh karena itu:tidak digunakan untuk selain Allah dalam bentuk ma‘rifah (dengan “Al”);adapun tanpa “Al” (seperti “Jalil”), maka diperbolehkan jika hanya sebagai nama tanpa maksud penyifatan sempurna.Selain itu, diperbolehkan penggunaan nama Abdul Jalil, baik bagi yang menganggap Al-Jalil sebagai bagian dari Al-Asmaaul Husna, maupun yang tidak. [10]Selain itu, di antara konsekuensi mengenal nama Al-Jaliil adalah: khusyuk dalam ibadah, tunduk dalam ketaatan, merasa kecil di hadapan Allah; sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir di atas. Wallaahu a’lam.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mengagungkan-Nya dengan sebenar-benarnya pengagungan, tunduk kepada-Nya, dan hidup dalam naungan keagungan-Nya. Aamiin.***Rumdin PPIA Sragen, 11 Syawal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utamaIbn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. al-Mishbāḥ al-Munīr fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah. Catatan kaki:[1] Lihat: Nabulsi.com[2] Lihat Fiqhul Asmaail Husna, hal. 73-77 dan Ifrad Ahadits Asma’ Allah wa Shifatih fi al-Kutub as-Sittah, hal. 44-57.[3] Asma’ullah al-Husna, karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 335.[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 152.[5] al-Mishbāḥ al-Munīr, hal. 111.[6] Sya’n ad-Du‘ā’ karya Al-Khaththabi, 1: 70.[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 946.[8] Lihat Asma’ Allah al-Husna, hal. 335.[9] Tafsir Ibnu Katsir, 7: 494.[10] Lihat: Islamqa.info

Libur Beramal Agar Ibadah Semakin Bernilai

Daftar Isi ToggleTeguran Nabi ﷺ untuk yang terus-menerus beramal tanpa liburTujuan libur beramalPertama: Meneladani Nabi ﷺKedua: Menjaga hak keluarga dan diri sendiriKetiga: Agar esensi amal dapat diraihKeempat: Mengembalikan semangat beramalSebaik-baik amalan adalah yang kontinu, apakah kontradiksi?Nabi ﷺ adalah suri teladan terbaik sebagaimana syariat yang dibawanya pun demikian. Allah ﷻ menjadikan syariat sebagai jalan untuk mendapatkan kenikmatan tiada tara di surga nantinya. Meskipun demikian, Allah ﷻ sejatinya tidak membutuhkan banyaknya amalan yang kita lakukan. Akan tetapi, justru kita sebagai hamba yang butuh kepada amal tersebut yang dapat mengundang rida dan rahmat Allah ﷻ kepada kita. Oleh karena itu, amal sebagai bentuk taqarrub ilallah hendaknya sesuai dengan apa yang diperintahkannya. Percuma melakukan amalan yang banyak, tetapi Allah ﷻ dan Rasul-Nya tidak rida dengan hal tersebut.Salah satu bentuk mencocoki syariat adalah dengan berselang-seling atau libur beramal. Hal ini merupakan salah satu bentuk keunikan syariat kita, yakni ketika tidak beramal pun dapat bernilai pahala. Nabi ﷺ memberikan teladan ini dan banyak diriwayatkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menjelaskan sifat puasa Nabi ﷺ di luar puasa wajibnya,فأما صيامه من السنة فكان يسرد الصوم أحيانا والفطر أحيانا فيصوم حتى يقال: لا يفطر ويفطر حتى يقال: لا يصوم“Adapun puasa Nabi ﷺ sepanjang tahun, beliau kadang-kadang berpuasa terus-menerus dan kadang-kadang tidak berpuasa terus-menerus. Bahkan beliau berpuasa hingga dikatakan, “Beliau tidak pernah berbuka puasa.” Namun, apabila sedang tidak puasa, orang-orang mengatakan, “Beliau tidak pernah berpuasa.” (Lathaiful Maarif, hal. 123)[1]Hal ini dirangkum dari Ash-Shahihain dimana terdapat riwayat Ibunda Aisyah serta Anas pelayan Nabi ﷺ.Teguran Nabi ﷺ untuk yang terus-menerus beramal tanpa liburBahkan Nabi ﷺ menegur seseorang yang berpuasa terus-menerus serta amalan lainnya yang tidak diselingi jeda istirahat sebagai bentuk penyelisihan terhadap sunahnya.عن عبد الله بن عمرو: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال له: “أتصوم النهار وتقوم الليل”؟ قال: نعم فقال النبي صلى الله عليه وسلم: لكني أصوم وأفطر وأصلي وأنام وأمس النساء فمن رغب عن سنتي فليس منيDalam Ash-Shahîhain disebutkan dari Abdullah bin Amru bahwa Nabi bersabda kepadanya, “Apakah kamu senantiasa berpuasa di siang hari dan salat di malam hari?” Abdullah menjawab, “Ya.” Nabi lantas bersabda, “Ketahuilah, aku berpuasa dan juga berbuka. Aku salat dan juga tidur. Aku juga menggauli perempuan. Barangsiapa membenci sunahku, dia bukan termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)وفيهما عن أنس: أن نفرا من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قال بعضهم: لا أتزوج النساء وقال بعضهم: لا آكل اللحم وقال بعضهم: لا أنام على فراش فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه وسلم فخطب وقال: ما بال أقوام يقولون كذا وكذا لكني أصلي وأنام وأصوم وأفطر وأتزوج النساء فمن رغب عن سنتي فليس منيMasih dalam Ash-Shahîhain dari Anas, bahwa ada beberapa sahabat Nabi saling bercerita satu sama lain. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku tidak akan menikahi wanita.” Sahabat lain berkata, “Aku tidak akan memakan daging.” Dan sahabat lainnya berkata, “Aku tidak akan tidur di atas kasur.” Percakapan mereka ini sampai ke telinga Nabi ﷺ. Saat berkhotbah, beliau pun bersabda, “Mengapa orang-orang ada yang mengatakan begini dan begitu? Sedangkan aku salat dan tidur, aku puasa dan berbuka, serta aku menikahi wanita. Siapa yang membenci sunahku, maka dia bukan termasuk dari golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)Tujuan libur beramalPertama: Meneladani Nabi ﷺHadis-hadis ini mengingatkan bahwasanya tidak boleh berlebihan dalam beramal sampai tidak membiarkan waktu jeda. Sementara jeda dalam beramal itu adalah petunjuk Nabi ﷺ. Dalam riwayat semisal, terdapat ucapan Nabi ﷺ yang menegaskan bahwa memberikan jeda dalam amal itu adalah bagian yang diteladankan Nabi ﷺ, dan insyaAllah bernilai pahala jika diniatkan dalam rangka ittiba’ lirasulillah.فمن اقتدى بي فهو مني ومن رغب عن سنتي فليس مني“Barangsiapa mengikuti teladanku, maka ia termasuk golonganku; dan barangsiapa berpaling dari sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, 5: 409)Kedua: Menjaga hak keluarga dan diri sendiriKetika sahabat Nabi ﷺ terus beramal tanpa ada libur bahkan menghabiskan seluruh waktunya, Nabi ﷺ mengingatkannya bahwa ada hak diri sendiri dan orang lain yang harus dipenuhi. Bahkan meski sahabat, yakni Usman bin Madzun, kemudian beralasan bahwa ia melakukan itu karena bersemangat mengikuti sunah Nabi ﷺ, Nabi ﷺ bersabda,فاتق الله يا عثمان فإن لأهلك عليك حقا وإن لضيفك عليك حقا وإن لنفسك عليك حقا فصم وافطر وصل ونم“Bertakwalah, wahai Usman (bin Madzun)! Sungguh keluargamu memiliki hak yang harus kau tunaikan, tamumu punya hak yang harus kau tunaikan, dan dirimu punya hak yang harus kau tunaikan. Berpuasa dan berbukalah, salatlah dan tidurlah!” (HR. Abu Daud no. 1369)Ungkapan tambahan yang diberikan Salman radhiyallahu ‘anhu kepada Abu Darda radhiyallahu ‘anhu yang dibenarkan Nabi ﷺ adalah,فأعط كل ذي حق حقه“Berikanlah setiap yang punya hak itu haknya.” (HR. Bukhari no. 6139)Ketiga: Agar esensi amal dapat diraihNabi ﷺ melarang salah seorang sahabat yang melakukan puasa dahr (puasa yang dilakukan sepanjang tahun).[2] Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,وقد ورد النهي عن صيام الدهر والتشديد فيه وهذا كله يدل على أن أفضل الصيام أن لا يستدام“Terdapat banyak riwayat yang menyatakan bahwa terdapat larangan melakukan puasa dahr (terus-menerus) dan terdapat larangan yang sangat keras terhadapnya. Semua ini menunjukkan bahwa puasa terbaik bukanlah puasa terus-menerus, melainkan puasa berselang-seling antara berpuasa dan tidak puasa.”Ibnu Rajab rahimahullah menukilkan bahwa ini adalah pandangan yang benar dari para ulama, dan ini juga pandangan Ahmad dan lainnya. Terdapat riwayat ketika Umar menerima laporan bahwa seseorang berpuasa terus-menerus. Lalu Umar memukul kepalanya dengan tongkat yang dimilikinya dan berkata, “Makanlah, wahai dahr! Makanlah, wahai dahr!” (Mushannaf Abdurrazzaq no. 7871)Nabi ﷺ pun melarang Abdullah bin Amr Al-Ash untuk terus berpuasa dan juga memberikan solusinya, yakni berpuasa Daud yang mekanismenya sehari berpuasa sehari berbuka (tidak berpuasa). Nabi ﷺ menyatakan bahwa model puasa ini adalah puasa terbaik yang tidak ada yang lebih baik darinya.Alasan Nabi ﷺ melarang hal ini adaalah karena hilangnya esensi dari momen puasa ketika puasa itu telah menjadi keseharian semata. Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan,قوله صلى الله عليه وسلم في صيام الدهر: “لا صام ولا أفطر” يعني أنه لا يجد مشقة الصيام ولا فقد الطعام والشراب والشهوة لأنه صار الصيام له عادة مألوفة“Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang puasa dahr, “Dia tidak berpuasa dan tidak pula berbuka”; artinya seseorang yang terus-menerus puasa tidak mengalami kesulitan berpuasa, tidak pula merasakan beratnya untuk jauh dari makanan, minuman, atau syahwat, karena puasa telah menjadi kebiasaan yang melekat padanya.فإذا صام تارة وأفطر أخرى حصل له بالصيام مقصوده بترك هذه الشهوات وفي نفسه داعية إليها وذلك أفضل من أن يتركها ونفسه لا تتوق إليهاJika ia berpuasa pada suatu waktu dan tidak puasa pada waktu lain, ia akan dapat mencapai tujuannya untuk menjauhi hasrat jiwa tersebut meskipun masih memiliki kecenderungan terhadapnya, dan itu lebih baik daripada menjauhi keinginan-keinginan tersebut sementara jiwanya sudah tidak menginginkannya.” (Lathaiful Maarif, hal.124)Ketika seseorang meninggalkan suatu perkara padahal jiwanya masih berhasrat untuknya, maka nilai pahalanya jauh lebih besar karena beratnya perjuangan tersebut. Ini adalah bentuk kebaikan Allah ﷻ kepada hamba-Nya. Sehingga seseorang mendapatkan pahala lebih dari amalan yang sejenis.Keempat: Mengembalikan semangat beramalTerkadang libur beramal bisa menguatkan kembali semangat untuk beramal. Inilah yang dilakukan oleh para ulama terdahulu, seperti Ibnul Jauzi yang mengkhususkan waktu untuk berjalan di kota sejenak sebagai jeda dalam proses produktif ilmunya.Kami pernah mendengar kisah seorang alim yang mengajar murid-muridnya dengan serius, lalu menyelinginya dengan pelajaran ringan penuh hikmah. Beliau adalah Imam Syuraih yang mengajak muridnya untuk melihat unta.[3]أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى ٱلْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan?” (QS. Al-Ghasyiyah: 17)Lihatlah amalan sederhana ini. Bukan berarti benar-benar berlibur sehingga kosong dari amalan, tetapi megandung praktik amalan lainnya sebagai variasi.Sebaik-baik amalan adalah yang kontinu, apakah kontradiksi?Dari ’Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu, walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. (HR. Muslim no. 783)Jawabannya tidak. Karena yang dimaksudkan berlibur adalah membuat jeda dan memvariasikan amal. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan bahwa,من عمل طاعة من الطاعات وفرغ منها فعلامة قبولها أن يصلها بطاعة أخرى“Barangsiapa melaksanakan kebaikan, lalu melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama.” (Lathaiful Maarif, hal. 224)Apa yang diisyaratkan dari ucapan ini adalah bahwa yang dimaksudkan dari kebaikan selanjutnya adalah kebaikan yang lainnya. Dan ragam kebaikan itu banyak. Nabi ﷺ banyak meriwayatkan doa istiftah yang bermanfaat untuk memberikan variasi kepada kita semua.Ingatlah akan perkataan ini,كثرة المساس تميت الاحساس“Banyaknya interaksi mematikan sensitifitas.”Terkadang kita merasakan kajian yang kita hadiri terasa hambar, salat kita terasa biasa saja, bacaan Al-Quran terasa tiada nyawanya. Tentu faktornya adalah setan dan lemahnya iman. Namun, segala faktor tersebut dapat terhubung pada ibadah yang secara tidak sengaja menjadi rutinitas semata, tanpa ada maknanya. Maka, salah satu jalannya adalah dengan memberi jeda, bukan maksudnya memberikan alasan kepada kita untuk memutilasi konsistensi amal kita, tetapi sebagai wawasan baru bahwasanya libur pun merupakan jalan kebaikan jika kita jalani dengan ilmu.***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Shamela.ws[2] Puasa dahr adalah puasa yang dilakukan sepanjang tahun dan tidak berbuka. Ada yang memaksudkan termasuk hari tasyrik dan ini jelas diharamkan. Ada yang memaknai maksudnya adalah sepanjang tahun selain lima hari yang diharamkan. Dalam makna demikian terdapat perbedaan pendapat ulama, tetapi pendapat Ibnu Rajab sepertinya cenderung kepada melarang atau tidak menyukainya.[3] Youtube.com

Libur Beramal Agar Ibadah Semakin Bernilai

Daftar Isi ToggleTeguran Nabi ﷺ untuk yang terus-menerus beramal tanpa liburTujuan libur beramalPertama: Meneladani Nabi ﷺKedua: Menjaga hak keluarga dan diri sendiriKetiga: Agar esensi amal dapat diraihKeempat: Mengembalikan semangat beramalSebaik-baik amalan adalah yang kontinu, apakah kontradiksi?Nabi ﷺ adalah suri teladan terbaik sebagaimana syariat yang dibawanya pun demikian. Allah ﷻ menjadikan syariat sebagai jalan untuk mendapatkan kenikmatan tiada tara di surga nantinya. Meskipun demikian, Allah ﷻ sejatinya tidak membutuhkan banyaknya amalan yang kita lakukan. Akan tetapi, justru kita sebagai hamba yang butuh kepada amal tersebut yang dapat mengundang rida dan rahmat Allah ﷻ kepada kita. Oleh karena itu, amal sebagai bentuk taqarrub ilallah hendaknya sesuai dengan apa yang diperintahkannya. Percuma melakukan amalan yang banyak, tetapi Allah ﷻ dan Rasul-Nya tidak rida dengan hal tersebut.Salah satu bentuk mencocoki syariat adalah dengan berselang-seling atau libur beramal. Hal ini merupakan salah satu bentuk keunikan syariat kita, yakni ketika tidak beramal pun dapat bernilai pahala. Nabi ﷺ memberikan teladan ini dan banyak diriwayatkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menjelaskan sifat puasa Nabi ﷺ di luar puasa wajibnya,فأما صيامه من السنة فكان يسرد الصوم أحيانا والفطر أحيانا فيصوم حتى يقال: لا يفطر ويفطر حتى يقال: لا يصوم“Adapun puasa Nabi ﷺ sepanjang tahun, beliau kadang-kadang berpuasa terus-menerus dan kadang-kadang tidak berpuasa terus-menerus. Bahkan beliau berpuasa hingga dikatakan, “Beliau tidak pernah berbuka puasa.” Namun, apabila sedang tidak puasa, orang-orang mengatakan, “Beliau tidak pernah berpuasa.” (Lathaiful Maarif, hal. 123)[1]Hal ini dirangkum dari Ash-Shahihain dimana terdapat riwayat Ibunda Aisyah serta Anas pelayan Nabi ﷺ.Teguran Nabi ﷺ untuk yang terus-menerus beramal tanpa liburBahkan Nabi ﷺ menegur seseorang yang berpuasa terus-menerus serta amalan lainnya yang tidak diselingi jeda istirahat sebagai bentuk penyelisihan terhadap sunahnya.عن عبد الله بن عمرو: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال له: “أتصوم النهار وتقوم الليل”؟ قال: نعم فقال النبي صلى الله عليه وسلم: لكني أصوم وأفطر وأصلي وأنام وأمس النساء فمن رغب عن سنتي فليس منيDalam Ash-Shahîhain disebutkan dari Abdullah bin Amru bahwa Nabi bersabda kepadanya, “Apakah kamu senantiasa berpuasa di siang hari dan salat di malam hari?” Abdullah menjawab, “Ya.” Nabi lantas bersabda, “Ketahuilah, aku berpuasa dan juga berbuka. Aku salat dan juga tidur. Aku juga menggauli perempuan. Barangsiapa membenci sunahku, dia bukan termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)وفيهما عن أنس: أن نفرا من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قال بعضهم: لا أتزوج النساء وقال بعضهم: لا آكل اللحم وقال بعضهم: لا أنام على فراش فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه وسلم فخطب وقال: ما بال أقوام يقولون كذا وكذا لكني أصلي وأنام وأصوم وأفطر وأتزوج النساء فمن رغب عن سنتي فليس منيMasih dalam Ash-Shahîhain dari Anas, bahwa ada beberapa sahabat Nabi saling bercerita satu sama lain. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku tidak akan menikahi wanita.” Sahabat lain berkata, “Aku tidak akan memakan daging.” Dan sahabat lainnya berkata, “Aku tidak akan tidur di atas kasur.” Percakapan mereka ini sampai ke telinga Nabi ﷺ. Saat berkhotbah, beliau pun bersabda, “Mengapa orang-orang ada yang mengatakan begini dan begitu? Sedangkan aku salat dan tidur, aku puasa dan berbuka, serta aku menikahi wanita. Siapa yang membenci sunahku, maka dia bukan termasuk dari golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)Tujuan libur beramalPertama: Meneladani Nabi ﷺHadis-hadis ini mengingatkan bahwasanya tidak boleh berlebihan dalam beramal sampai tidak membiarkan waktu jeda. Sementara jeda dalam beramal itu adalah petunjuk Nabi ﷺ. Dalam riwayat semisal, terdapat ucapan Nabi ﷺ yang menegaskan bahwa memberikan jeda dalam amal itu adalah bagian yang diteladankan Nabi ﷺ, dan insyaAllah bernilai pahala jika diniatkan dalam rangka ittiba’ lirasulillah.فمن اقتدى بي فهو مني ومن رغب عن سنتي فليس مني“Barangsiapa mengikuti teladanku, maka ia termasuk golonganku; dan barangsiapa berpaling dari sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, 5: 409)Kedua: Menjaga hak keluarga dan diri sendiriKetika sahabat Nabi ﷺ terus beramal tanpa ada libur bahkan menghabiskan seluruh waktunya, Nabi ﷺ mengingatkannya bahwa ada hak diri sendiri dan orang lain yang harus dipenuhi. Bahkan meski sahabat, yakni Usman bin Madzun, kemudian beralasan bahwa ia melakukan itu karena bersemangat mengikuti sunah Nabi ﷺ, Nabi ﷺ bersabda,فاتق الله يا عثمان فإن لأهلك عليك حقا وإن لضيفك عليك حقا وإن لنفسك عليك حقا فصم وافطر وصل ونم“Bertakwalah, wahai Usman (bin Madzun)! Sungguh keluargamu memiliki hak yang harus kau tunaikan, tamumu punya hak yang harus kau tunaikan, dan dirimu punya hak yang harus kau tunaikan. Berpuasa dan berbukalah, salatlah dan tidurlah!” (HR. Abu Daud no. 1369)Ungkapan tambahan yang diberikan Salman radhiyallahu ‘anhu kepada Abu Darda radhiyallahu ‘anhu yang dibenarkan Nabi ﷺ adalah,فأعط كل ذي حق حقه“Berikanlah setiap yang punya hak itu haknya.” (HR. Bukhari no. 6139)Ketiga: Agar esensi amal dapat diraihNabi ﷺ melarang salah seorang sahabat yang melakukan puasa dahr (puasa yang dilakukan sepanjang tahun).[2] Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,وقد ورد النهي عن صيام الدهر والتشديد فيه وهذا كله يدل على أن أفضل الصيام أن لا يستدام“Terdapat banyak riwayat yang menyatakan bahwa terdapat larangan melakukan puasa dahr (terus-menerus) dan terdapat larangan yang sangat keras terhadapnya. Semua ini menunjukkan bahwa puasa terbaik bukanlah puasa terus-menerus, melainkan puasa berselang-seling antara berpuasa dan tidak puasa.”Ibnu Rajab rahimahullah menukilkan bahwa ini adalah pandangan yang benar dari para ulama, dan ini juga pandangan Ahmad dan lainnya. Terdapat riwayat ketika Umar menerima laporan bahwa seseorang berpuasa terus-menerus. Lalu Umar memukul kepalanya dengan tongkat yang dimilikinya dan berkata, “Makanlah, wahai dahr! Makanlah, wahai dahr!” (Mushannaf Abdurrazzaq no. 7871)Nabi ﷺ pun melarang Abdullah bin Amr Al-Ash untuk terus berpuasa dan juga memberikan solusinya, yakni berpuasa Daud yang mekanismenya sehari berpuasa sehari berbuka (tidak berpuasa). Nabi ﷺ menyatakan bahwa model puasa ini adalah puasa terbaik yang tidak ada yang lebih baik darinya.Alasan Nabi ﷺ melarang hal ini adaalah karena hilangnya esensi dari momen puasa ketika puasa itu telah menjadi keseharian semata. Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan,قوله صلى الله عليه وسلم في صيام الدهر: “لا صام ولا أفطر” يعني أنه لا يجد مشقة الصيام ولا فقد الطعام والشراب والشهوة لأنه صار الصيام له عادة مألوفة“Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang puasa dahr, “Dia tidak berpuasa dan tidak pula berbuka”; artinya seseorang yang terus-menerus puasa tidak mengalami kesulitan berpuasa, tidak pula merasakan beratnya untuk jauh dari makanan, minuman, atau syahwat, karena puasa telah menjadi kebiasaan yang melekat padanya.فإذا صام تارة وأفطر أخرى حصل له بالصيام مقصوده بترك هذه الشهوات وفي نفسه داعية إليها وذلك أفضل من أن يتركها ونفسه لا تتوق إليهاJika ia berpuasa pada suatu waktu dan tidak puasa pada waktu lain, ia akan dapat mencapai tujuannya untuk menjauhi hasrat jiwa tersebut meskipun masih memiliki kecenderungan terhadapnya, dan itu lebih baik daripada menjauhi keinginan-keinginan tersebut sementara jiwanya sudah tidak menginginkannya.” (Lathaiful Maarif, hal.124)Ketika seseorang meninggalkan suatu perkara padahal jiwanya masih berhasrat untuknya, maka nilai pahalanya jauh lebih besar karena beratnya perjuangan tersebut. Ini adalah bentuk kebaikan Allah ﷻ kepada hamba-Nya. Sehingga seseorang mendapatkan pahala lebih dari amalan yang sejenis.Keempat: Mengembalikan semangat beramalTerkadang libur beramal bisa menguatkan kembali semangat untuk beramal. Inilah yang dilakukan oleh para ulama terdahulu, seperti Ibnul Jauzi yang mengkhususkan waktu untuk berjalan di kota sejenak sebagai jeda dalam proses produktif ilmunya.Kami pernah mendengar kisah seorang alim yang mengajar murid-muridnya dengan serius, lalu menyelinginya dengan pelajaran ringan penuh hikmah. Beliau adalah Imam Syuraih yang mengajak muridnya untuk melihat unta.[3]أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى ٱلْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan?” (QS. Al-Ghasyiyah: 17)Lihatlah amalan sederhana ini. Bukan berarti benar-benar berlibur sehingga kosong dari amalan, tetapi megandung praktik amalan lainnya sebagai variasi.Sebaik-baik amalan adalah yang kontinu, apakah kontradiksi?Dari ’Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu, walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. (HR. Muslim no. 783)Jawabannya tidak. Karena yang dimaksudkan berlibur adalah membuat jeda dan memvariasikan amal. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan bahwa,من عمل طاعة من الطاعات وفرغ منها فعلامة قبولها أن يصلها بطاعة أخرى“Barangsiapa melaksanakan kebaikan, lalu melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama.” (Lathaiful Maarif, hal. 224)Apa yang diisyaratkan dari ucapan ini adalah bahwa yang dimaksudkan dari kebaikan selanjutnya adalah kebaikan yang lainnya. Dan ragam kebaikan itu banyak. Nabi ﷺ banyak meriwayatkan doa istiftah yang bermanfaat untuk memberikan variasi kepada kita semua.Ingatlah akan perkataan ini,كثرة المساس تميت الاحساس“Banyaknya interaksi mematikan sensitifitas.”Terkadang kita merasakan kajian yang kita hadiri terasa hambar, salat kita terasa biasa saja, bacaan Al-Quran terasa tiada nyawanya. Tentu faktornya adalah setan dan lemahnya iman. Namun, segala faktor tersebut dapat terhubung pada ibadah yang secara tidak sengaja menjadi rutinitas semata, tanpa ada maknanya. Maka, salah satu jalannya adalah dengan memberi jeda, bukan maksudnya memberikan alasan kepada kita untuk memutilasi konsistensi amal kita, tetapi sebagai wawasan baru bahwasanya libur pun merupakan jalan kebaikan jika kita jalani dengan ilmu.***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Shamela.ws[2] Puasa dahr adalah puasa yang dilakukan sepanjang tahun dan tidak berbuka. Ada yang memaksudkan termasuk hari tasyrik dan ini jelas diharamkan. Ada yang memaknai maksudnya adalah sepanjang tahun selain lima hari yang diharamkan. Dalam makna demikian terdapat perbedaan pendapat ulama, tetapi pendapat Ibnu Rajab sepertinya cenderung kepada melarang atau tidak menyukainya.[3] Youtube.com
Daftar Isi ToggleTeguran Nabi ﷺ untuk yang terus-menerus beramal tanpa liburTujuan libur beramalPertama: Meneladani Nabi ﷺKedua: Menjaga hak keluarga dan diri sendiriKetiga: Agar esensi amal dapat diraihKeempat: Mengembalikan semangat beramalSebaik-baik amalan adalah yang kontinu, apakah kontradiksi?Nabi ﷺ adalah suri teladan terbaik sebagaimana syariat yang dibawanya pun demikian. Allah ﷻ menjadikan syariat sebagai jalan untuk mendapatkan kenikmatan tiada tara di surga nantinya. Meskipun demikian, Allah ﷻ sejatinya tidak membutuhkan banyaknya amalan yang kita lakukan. Akan tetapi, justru kita sebagai hamba yang butuh kepada amal tersebut yang dapat mengundang rida dan rahmat Allah ﷻ kepada kita. Oleh karena itu, amal sebagai bentuk taqarrub ilallah hendaknya sesuai dengan apa yang diperintahkannya. Percuma melakukan amalan yang banyak, tetapi Allah ﷻ dan Rasul-Nya tidak rida dengan hal tersebut.Salah satu bentuk mencocoki syariat adalah dengan berselang-seling atau libur beramal. Hal ini merupakan salah satu bentuk keunikan syariat kita, yakni ketika tidak beramal pun dapat bernilai pahala. Nabi ﷺ memberikan teladan ini dan banyak diriwayatkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menjelaskan sifat puasa Nabi ﷺ di luar puasa wajibnya,فأما صيامه من السنة فكان يسرد الصوم أحيانا والفطر أحيانا فيصوم حتى يقال: لا يفطر ويفطر حتى يقال: لا يصوم“Adapun puasa Nabi ﷺ sepanjang tahun, beliau kadang-kadang berpuasa terus-menerus dan kadang-kadang tidak berpuasa terus-menerus. Bahkan beliau berpuasa hingga dikatakan, “Beliau tidak pernah berbuka puasa.” Namun, apabila sedang tidak puasa, orang-orang mengatakan, “Beliau tidak pernah berpuasa.” (Lathaiful Maarif, hal. 123)[1]Hal ini dirangkum dari Ash-Shahihain dimana terdapat riwayat Ibunda Aisyah serta Anas pelayan Nabi ﷺ.Teguran Nabi ﷺ untuk yang terus-menerus beramal tanpa liburBahkan Nabi ﷺ menegur seseorang yang berpuasa terus-menerus serta amalan lainnya yang tidak diselingi jeda istirahat sebagai bentuk penyelisihan terhadap sunahnya.عن عبد الله بن عمرو: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال له: “أتصوم النهار وتقوم الليل”؟ قال: نعم فقال النبي صلى الله عليه وسلم: لكني أصوم وأفطر وأصلي وأنام وأمس النساء فمن رغب عن سنتي فليس منيDalam Ash-Shahîhain disebutkan dari Abdullah bin Amru bahwa Nabi bersabda kepadanya, “Apakah kamu senantiasa berpuasa di siang hari dan salat di malam hari?” Abdullah menjawab, “Ya.” Nabi lantas bersabda, “Ketahuilah, aku berpuasa dan juga berbuka. Aku salat dan juga tidur. Aku juga menggauli perempuan. Barangsiapa membenci sunahku, dia bukan termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)وفيهما عن أنس: أن نفرا من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قال بعضهم: لا أتزوج النساء وقال بعضهم: لا آكل اللحم وقال بعضهم: لا أنام على فراش فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه وسلم فخطب وقال: ما بال أقوام يقولون كذا وكذا لكني أصلي وأنام وأصوم وأفطر وأتزوج النساء فمن رغب عن سنتي فليس منيMasih dalam Ash-Shahîhain dari Anas, bahwa ada beberapa sahabat Nabi saling bercerita satu sama lain. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku tidak akan menikahi wanita.” Sahabat lain berkata, “Aku tidak akan memakan daging.” Dan sahabat lainnya berkata, “Aku tidak akan tidur di atas kasur.” Percakapan mereka ini sampai ke telinga Nabi ﷺ. Saat berkhotbah, beliau pun bersabda, “Mengapa orang-orang ada yang mengatakan begini dan begitu? Sedangkan aku salat dan tidur, aku puasa dan berbuka, serta aku menikahi wanita. Siapa yang membenci sunahku, maka dia bukan termasuk dari golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)Tujuan libur beramalPertama: Meneladani Nabi ﷺHadis-hadis ini mengingatkan bahwasanya tidak boleh berlebihan dalam beramal sampai tidak membiarkan waktu jeda. Sementara jeda dalam beramal itu adalah petunjuk Nabi ﷺ. Dalam riwayat semisal, terdapat ucapan Nabi ﷺ yang menegaskan bahwa memberikan jeda dalam amal itu adalah bagian yang diteladankan Nabi ﷺ, dan insyaAllah bernilai pahala jika diniatkan dalam rangka ittiba’ lirasulillah.فمن اقتدى بي فهو مني ومن رغب عن سنتي فليس مني“Barangsiapa mengikuti teladanku, maka ia termasuk golonganku; dan barangsiapa berpaling dari sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, 5: 409)Kedua: Menjaga hak keluarga dan diri sendiriKetika sahabat Nabi ﷺ terus beramal tanpa ada libur bahkan menghabiskan seluruh waktunya, Nabi ﷺ mengingatkannya bahwa ada hak diri sendiri dan orang lain yang harus dipenuhi. Bahkan meski sahabat, yakni Usman bin Madzun, kemudian beralasan bahwa ia melakukan itu karena bersemangat mengikuti sunah Nabi ﷺ, Nabi ﷺ bersabda,فاتق الله يا عثمان فإن لأهلك عليك حقا وإن لضيفك عليك حقا وإن لنفسك عليك حقا فصم وافطر وصل ونم“Bertakwalah, wahai Usman (bin Madzun)! Sungguh keluargamu memiliki hak yang harus kau tunaikan, tamumu punya hak yang harus kau tunaikan, dan dirimu punya hak yang harus kau tunaikan. Berpuasa dan berbukalah, salatlah dan tidurlah!” (HR. Abu Daud no. 1369)Ungkapan tambahan yang diberikan Salman radhiyallahu ‘anhu kepada Abu Darda radhiyallahu ‘anhu yang dibenarkan Nabi ﷺ adalah,فأعط كل ذي حق حقه“Berikanlah setiap yang punya hak itu haknya.” (HR. Bukhari no. 6139)Ketiga: Agar esensi amal dapat diraihNabi ﷺ melarang salah seorang sahabat yang melakukan puasa dahr (puasa yang dilakukan sepanjang tahun).[2] Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,وقد ورد النهي عن صيام الدهر والتشديد فيه وهذا كله يدل على أن أفضل الصيام أن لا يستدام“Terdapat banyak riwayat yang menyatakan bahwa terdapat larangan melakukan puasa dahr (terus-menerus) dan terdapat larangan yang sangat keras terhadapnya. Semua ini menunjukkan bahwa puasa terbaik bukanlah puasa terus-menerus, melainkan puasa berselang-seling antara berpuasa dan tidak puasa.”Ibnu Rajab rahimahullah menukilkan bahwa ini adalah pandangan yang benar dari para ulama, dan ini juga pandangan Ahmad dan lainnya. Terdapat riwayat ketika Umar menerima laporan bahwa seseorang berpuasa terus-menerus. Lalu Umar memukul kepalanya dengan tongkat yang dimilikinya dan berkata, “Makanlah, wahai dahr! Makanlah, wahai dahr!” (Mushannaf Abdurrazzaq no. 7871)Nabi ﷺ pun melarang Abdullah bin Amr Al-Ash untuk terus berpuasa dan juga memberikan solusinya, yakni berpuasa Daud yang mekanismenya sehari berpuasa sehari berbuka (tidak berpuasa). Nabi ﷺ menyatakan bahwa model puasa ini adalah puasa terbaik yang tidak ada yang lebih baik darinya.Alasan Nabi ﷺ melarang hal ini adaalah karena hilangnya esensi dari momen puasa ketika puasa itu telah menjadi keseharian semata. Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan,قوله صلى الله عليه وسلم في صيام الدهر: “لا صام ولا أفطر” يعني أنه لا يجد مشقة الصيام ولا فقد الطعام والشراب والشهوة لأنه صار الصيام له عادة مألوفة“Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang puasa dahr, “Dia tidak berpuasa dan tidak pula berbuka”; artinya seseorang yang terus-menerus puasa tidak mengalami kesulitan berpuasa, tidak pula merasakan beratnya untuk jauh dari makanan, minuman, atau syahwat, karena puasa telah menjadi kebiasaan yang melekat padanya.فإذا صام تارة وأفطر أخرى حصل له بالصيام مقصوده بترك هذه الشهوات وفي نفسه داعية إليها وذلك أفضل من أن يتركها ونفسه لا تتوق إليهاJika ia berpuasa pada suatu waktu dan tidak puasa pada waktu lain, ia akan dapat mencapai tujuannya untuk menjauhi hasrat jiwa tersebut meskipun masih memiliki kecenderungan terhadapnya, dan itu lebih baik daripada menjauhi keinginan-keinginan tersebut sementara jiwanya sudah tidak menginginkannya.” (Lathaiful Maarif, hal.124)Ketika seseorang meninggalkan suatu perkara padahal jiwanya masih berhasrat untuknya, maka nilai pahalanya jauh lebih besar karena beratnya perjuangan tersebut. Ini adalah bentuk kebaikan Allah ﷻ kepada hamba-Nya. Sehingga seseorang mendapatkan pahala lebih dari amalan yang sejenis.Keempat: Mengembalikan semangat beramalTerkadang libur beramal bisa menguatkan kembali semangat untuk beramal. Inilah yang dilakukan oleh para ulama terdahulu, seperti Ibnul Jauzi yang mengkhususkan waktu untuk berjalan di kota sejenak sebagai jeda dalam proses produktif ilmunya.Kami pernah mendengar kisah seorang alim yang mengajar murid-muridnya dengan serius, lalu menyelinginya dengan pelajaran ringan penuh hikmah. Beliau adalah Imam Syuraih yang mengajak muridnya untuk melihat unta.[3]أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى ٱلْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan?” (QS. Al-Ghasyiyah: 17)Lihatlah amalan sederhana ini. Bukan berarti benar-benar berlibur sehingga kosong dari amalan, tetapi megandung praktik amalan lainnya sebagai variasi.Sebaik-baik amalan adalah yang kontinu, apakah kontradiksi?Dari ’Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu, walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. (HR. Muslim no. 783)Jawabannya tidak. Karena yang dimaksudkan berlibur adalah membuat jeda dan memvariasikan amal. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan bahwa,من عمل طاعة من الطاعات وفرغ منها فعلامة قبولها أن يصلها بطاعة أخرى“Barangsiapa melaksanakan kebaikan, lalu melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama.” (Lathaiful Maarif, hal. 224)Apa yang diisyaratkan dari ucapan ini adalah bahwa yang dimaksudkan dari kebaikan selanjutnya adalah kebaikan yang lainnya. Dan ragam kebaikan itu banyak. Nabi ﷺ banyak meriwayatkan doa istiftah yang bermanfaat untuk memberikan variasi kepada kita semua.Ingatlah akan perkataan ini,كثرة المساس تميت الاحساس“Banyaknya interaksi mematikan sensitifitas.”Terkadang kita merasakan kajian yang kita hadiri terasa hambar, salat kita terasa biasa saja, bacaan Al-Quran terasa tiada nyawanya. Tentu faktornya adalah setan dan lemahnya iman. Namun, segala faktor tersebut dapat terhubung pada ibadah yang secara tidak sengaja menjadi rutinitas semata, tanpa ada maknanya. Maka, salah satu jalannya adalah dengan memberi jeda, bukan maksudnya memberikan alasan kepada kita untuk memutilasi konsistensi amal kita, tetapi sebagai wawasan baru bahwasanya libur pun merupakan jalan kebaikan jika kita jalani dengan ilmu.***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Shamela.ws[2] Puasa dahr adalah puasa yang dilakukan sepanjang tahun dan tidak berbuka. Ada yang memaksudkan termasuk hari tasyrik dan ini jelas diharamkan. Ada yang memaknai maksudnya adalah sepanjang tahun selain lima hari yang diharamkan. Dalam makna demikian terdapat perbedaan pendapat ulama, tetapi pendapat Ibnu Rajab sepertinya cenderung kepada melarang atau tidak menyukainya.[3] Youtube.com


Daftar Isi ToggleTeguran Nabi ﷺ untuk yang terus-menerus beramal tanpa liburTujuan libur beramalPertama: Meneladani Nabi ﷺKedua: Menjaga hak keluarga dan diri sendiriKetiga: Agar esensi amal dapat diraihKeempat: Mengembalikan semangat beramalSebaik-baik amalan adalah yang kontinu, apakah kontradiksi?Nabi ﷺ adalah suri teladan terbaik sebagaimana syariat yang dibawanya pun demikian. Allah ﷻ menjadikan syariat sebagai jalan untuk mendapatkan kenikmatan tiada tara di surga nantinya. Meskipun demikian, Allah ﷻ sejatinya tidak membutuhkan banyaknya amalan yang kita lakukan. Akan tetapi, justru kita sebagai hamba yang butuh kepada amal tersebut yang dapat mengundang rida dan rahmat Allah ﷻ kepada kita. Oleh karena itu, amal sebagai bentuk taqarrub ilallah hendaknya sesuai dengan apa yang diperintahkannya. Percuma melakukan amalan yang banyak, tetapi Allah ﷻ dan Rasul-Nya tidak rida dengan hal tersebut.Salah satu bentuk mencocoki syariat adalah dengan berselang-seling atau libur beramal. Hal ini merupakan salah satu bentuk keunikan syariat kita, yakni ketika tidak beramal pun dapat bernilai pahala. Nabi ﷺ memberikan teladan ini dan banyak diriwayatkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menjelaskan sifat puasa Nabi ﷺ di luar puasa wajibnya,فأما صيامه من السنة فكان يسرد الصوم أحيانا والفطر أحيانا فيصوم حتى يقال: لا يفطر ويفطر حتى يقال: لا يصوم“Adapun puasa Nabi ﷺ sepanjang tahun, beliau kadang-kadang berpuasa terus-menerus dan kadang-kadang tidak berpuasa terus-menerus. Bahkan beliau berpuasa hingga dikatakan, “Beliau tidak pernah berbuka puasa.” Namun, apabila sedang tidak puasa, orang-orang mengatakan, “Beliau tidak pernah berpuasa.” (Lathaiful Maarif, hal. 123)[1]Hal ini dirangkum dari Ash-Shahihain dimana terdapat riwayat Ibunda Aisyah serta Anas pelayan Nabi ﷺ.Teguran Nabi ﷺ untuk yang terus-menerus beramal tanpa liburBahkan Nabi ﷺ menegur seseorang yang berpuasa terus-menerus serta amalan lainnya yang tidak diselingi jeda istirahat sebagai bentuk penyelisihan terhadap sunahnya.عن عبد الله بن عمرو: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال له: “أتصوم النهار وتقوم الليل”؟ قال: نعم فقال النبي صلى الله عليه وسلم: لكني أصوم وأفطر وأصلي وأنام وأمس النساء فمن رغب عن سنتي فليس منيDalam Ash-Shahîhain disebutkan dari Abdullah bin Amru bahwa Nabi bersabda kepadanya, “Apakah kamu senantiasa berpuasa di siang hari dan salat di malam hari?” Abdullah menjawab, “Ya.” Nabi lantas bersabda, “Ketahuilah, aku berpuasa dan juga berbuka. Aku salat dan juga tidur. Aku juga menggauli perempuan. Barangsiapa membenci sunahku, dia bukan termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)وفيهما عن أنس: أن نفرا من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قال بعضهم: لا أتزوج النساء وقال بعضهم: لا آكل اللحم وقال بعضهم: لا أنام على فراش فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه وسلم فخطب وقال: ما بال أقوام يقولون كذا وكذا لكني أصلي وأنام وأصوم وأفطر وأتزوج النساء فمن رغب عن سنتي فليس منيMasih dalam Ash-Shahîhain dari Anas, bahwa ada beberapa sahabat Nabi saling bercerita satu sama lain. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku tidak akan menikahi wanita.” Sahabat lain berkata, “Aku tidak akan memakan daging.” Dan sahabat lainnya berkata, “Aku tidak akan tidur di atas kasur.” Percakapan mereka ini sampai ke telinga Nabi ﷺ. Saat berkhotbah, beliau pun bersabda, “Mengapa orang-orang ada yang mengatakan begini dan begitu? Sedangkan aku salat dan tidur, aku puasa dan berbuka, serta aku menikahi wanita. Siapa yang membenci sunahku, maka dia bukan termasuk dari golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)Tujuan libur beramalPertama: Meneladani Nabi ﷺHadis-hadis ini mengingatkan bahwasanya tidak boleh berlebihan dalam beramal sampai tidak membiarkan waktu jeda. Sementara jeda dalam beramal itu adalah petunjuk Nabi ﷺ. Dalam riwayat semisal, terdapat ucapan Nabi ﷺ yang menegaskan bahwa memberikan jeda dalam amal itu adalah bagian yang diteladankan Nabi ﷺ, dan insyaAllah bernilai pahala jika diniatkan dalam rangka ittiba’ lirasulillah.فمن اقتدى بي فهو مني ومن رغب عن سنتي فليس مني“Barangsiapa mengikuti teladanku, maka ia termasuk golonganku; dan barangsiapa berpaling dari sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, 5: 409)Kedua: Menjaga hak keluarga dan diri sendiriKetika sahabat Nabi ﷺ terus beramal tanpa ada libur bahkan menghabiskan seluruh waktunya, Nabi ﷺ mengingatkannya bahwa ada hak diri sendiri dan orang lain yang harus dipenuhi. Bahkan meski sahabat, yakni Usman bin Madzun, kemudian beralasan bahwa ia melakukan itu karena bersemangat mengikuti sunah Nabi ﷺ, Nabi ﷺ bersabda,فاتق الله يا عثمان فإن لأهلك عليك حقا وإن لضيفك عليك حقا وإن لنفسك عليك حقا فصم وافطر وصل ونم“Bertakwalah, wahai Usman (bin Madzun)! Sungguh keluargamu memiliki hak yang harus kau tunaikan, tamumu punya hak yang harus kau tunaikan, dan dirimu punya hak yang harus kau tunaikan. Berpuasa dan berbukalah, salatlah dan tidurlah!” (HR. Abu Daud no. 1369)Ungkapan tambahan yang diberikan Salman radhiyallahu ‘anhu kepada Abu Darda radhiyallahu ‘anhu yang dibenarkan Nabi ﷺ adalah,فأعط كل ذي حق حقه“Berikanlah setiap yang punya hak itu haknya.” (HR. Bukhari no. 6139)Ketiga: Agar esensi amal dapat diraihNabi ﷺ melarang salah seorang sahabat yang melakukan puasa dahr (puasa yang dilakukan sepanjang tahun).[2] Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,وقد ورد النهي عن صيام الدهر والتشديد فيه وهذا كله يدل على أن أفضل الصيام أن لا يستدام“Terdapat banyak riwayat yang menyatakan bahwa terdapat larangan melakukan puasa dahr (terus-menerus) dan terdapat larangan yang sangat keras terhadapnya. Semua ini menunjukkan bahwa puasa terbaik bukanlah puasa terus-menerus, melainkan puasa berselang-seling antara berpuasa dan tidak puasa.”Ibnu Rajab rahimahullah menukilkan bahwa ini adalah pandangan yang benar dari para ulama, dan ini juga pandangan Ahmad dan lainnya. Terdapat riwayat ketika Umar menerima laporan bahwa seseorang berpuasa terus-menerus. Lalu Umar memukul kepalanya dengan tongkat yang dimilikinya dan berkata, “Makanlah, wahai dahr! Makanlah, wahai dahr!” (Mushannaf Abdurrazzaq no. 7871)Nabi ﷺ pun melarang Abdullah bin Amr Al-Ash untuk terus berpuasa dan juga memberikan solusinya, yakni berpuasa Daud yang mekanismenya sehari berpuasa sehari berbuka (tidak berpuasa). Nabi ﷺ menyatakan bahwa model puasa ini adalah puasa terbaik yang tidak ada yang lebih baik darinya.Alasan Nabi ﷺ melarang hal ini adaalah karena hilangnya esensi dari momen puasa ketika puasa itu telah menjadi keseharian semata. Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan,قوله صلى الله عليه وسلم في صيام الدهر: “لا صام ولا أفطر” يعني أنه لا يجد مشقة الصيام ولا فقد الطعام والشراب والشهوة لأنه صار الصيام له عادة مألوفة“Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang puasa dahr, “Dia tidak berpuasa dan tidak pula berbuka”; artinya seseorang yang terus-menerus puasa tidak mengalami kesulitan berpuasa, tidak pula merasakan beratnya untuk jauh dari makanan, minuman, atau syahwat, karena puasa telah menjadi kebiasaan yang melekat padanya.فإذا صام تارة وأفطر أخرى حصل له بالصيام مقصوده بترك هذه الشهوات وفي نفسه داعية إليها وذلك أفضل من أن يتركها ونفسه لا تتوق إليهاJika ia berpuasa pada suatu waktu dan tidak puasa pada waktu lain, ia akan dapat mencapai tujuannya untuk menjauhi hasrat jiwa tersebut meskipun masih memiliki kecenderungan terhadapnya, dan itu lebih baik daripada menjauhi keinginan-keinginan tersebut sementara jiwanya sudah tidak menginginkannya.” (Lathaiful Maarif, hal.124)Ketika seseorang meninggalkan suatu perkara padahal jiwanya masih berhasrat untuknya, maka nilai pahalanya jauh lebih besar karena beratnya perjuangan tersebut. Ini adalah bentuk kebaikan Allah ﷻ kepada hamba-Nya. Sehingga seseorang mendapatkan pahala lebih dari amalan yang sejenis.Keempat: Mengembalikan semangat beramalTerkadang libur beramal bisa menguatkan kembali semangat untuk beramal. Inilah yang dilakukan oleh para ulama terdahulu, seperti Ibnul Jauzi yang mengkhususkan waktu untuk berjalan di kota sejenak sebagai jeda dalam proses produktif ilmunya.Kami pernah mendengar kisah seorang alim yang mengajar murid-muridnya dengan serius, lalu menyelinginya dengan pelajaran ringan penuh hikmah. Beliau adalah Imam Syuraih yang mengajak muridnya untuk melihat unta.[3]أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى ٱلْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan?” (QS. Al-Ghasyiyah: 17)Lihatlah amalan sederhana ini. Bukan berarti benar-benar berlibur sehingga kosong dari amalan, tetapi megandung praktik amalan lainnya sebagai variasi.Sebaik-baik amalan adalah yang kontinu, apakah kontradiksi?Dari ’Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu, walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. (HR. Muslim no. 783)Jawabannya tidak. Karena yang dimaksudkan berlibur adalah membuat jeda dan memvariasikan amal. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan bahwa,من عمل طاعة من الطاعات وفرغ منها فعلامة قبولها أن يصلها بطاعة أخرى“Barangsiapa melaksanakan kebaikan, lalu melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama.” (Lathaiful Maarif, hal. 224)Apa yang diisyaratkan dari ucapan ini adalah bahwa yang dimaksudkan dari kebaikan selanjutnya adalah kebaikan yang lainnya. Dan ragam kebaikan itu banyak. Nabi ﷺ banyak meriwayatkan doa istiftah yang bermanfaat untuk memberikan variasi kepada kita semua.Ingatlah akan perkataan ini,كثرة المساس تميت الاحساس“Banyaknya interaksi mematikan sensitifitas.”Terkadang kita merasakan kajian yang kita hadiri terasa hambar, salat kita terasa biasa saja, bacaan Al-Quran terasa tiada nyawanya. Tentu faktornya adalah setan dan lemahnya iman. Namun, segala faktor tersebut dapat terhubung pada ibadah yang secara tidak sengaja menjadi rutinitas semata, tanpa ada maknanya. Maka, salah satu jalannya adalah dengan memberi jeda, bukan maksudnya memberikan alasan kepada kita untuk memutilasi konsistensi amal kita, tetapi sebagai wawasan baru bahwasanya libur pun merupakan jalan kebaikan jika kita jalani dengan ilmu.***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Shamela.ws[2] Puasa dahr adalah puasa yang dilakukan sepanjang tahun dan tidak berbuka. Ada yang memaksudkan termasuk hari tasyrik dan ini jelas diharamkan. Ada yang memaknai maksudnya adalah sepanjang tahun selain lima hari yang diharamkan. Dalam makna demikian terdapat perbedaan pendapat ulama, tetapi pendapat Ibnu Rajab sepertinya cenderung kepada melarang atau tidak menyukainya.[3] Youtube.com

Iman Lagi Drop? Lakukan 4 Langkah Ini Agar Ibadah Kembali Bersemangat! – Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri

Ummu Nauf bertanya: “Mengenai rasa lesu (futur) yang dialami seseorang dalam beribadah, bagaimana ia dapat mengetahui bahwa itu hal yang manusiawi, hukuman atas dosa, atau disebabkan mata jahat (ain) dan dengki?” Sebenarnya pertanyaan seperti ini tidak perlu diperuncing, tapi yang tepat adalah seseorang menanyakan bagaimana cara mengobati kelesuan dalam ibadah? Inilah pertanyaan yang bermanfaat baginya. Jawabannya, kelesuan ibadah ini dapat diatasi dengan empat langkah: Pertama, dengan sepenuhnya menghadap kepada Allah Jalla wa ‘Ala, seraya memohon keteguhan tekad dan pertolongan-Nya. Sebagaimana pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, agar senantiasa berdoa di setiap akhir shalat: “Allaahumma a-‘innii ‘alaa syukrika wa dzikrika wa husni ‘ibaadatika” (Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa bersyukur, berzikir, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya). Inilah implementasi dari firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6). Langkah kedua: Variasikanlah jenis ibadah yang Anda kerjakan. Apabila seseorang merasa lesu dalam satu jenis ibadah, cobalah untuk membuka pintu ibadah yang lainnya. Dengan begitu, ia dapat mengusir rasa bosan atau kelesuan yang tengah menghinggapi jiwa, dalam beramal saleh. Langkah ketiga: Mengondisikan lingkungan yang mendukungnya untuk tetap taat. Hendaknya ia mencari teman-teman yang baik, yang dikenal konsisten menjalankan ketaatan, agar mereka dapat memacu kembali semangatnya dalam ketaatan. Langkah keempat untuk mengobati kelesuan ibadah: Dengan memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, termasuk merutinkan zikir pagi dan petang. Sebab, zikir itu dapat membentenginya dari berbagai keburukan dan gangguan setan yang terkutuk. Demikianlah cara yang tepat untuk mengobati kelesuan beribadah yang dirasakan seorang insan. ===== أُمُّ نَوْفٍ تَقُولُ مَا يُصِيبُ الْإِنْسَانَ مِنَ الْفُتُورِ فِي الْعِبَادَةِ كَيْفَ يَعْرِفُ أَنَّ هَذَا أَمْرٌ طَبِيعِيٌّ أَوْ أَنَّهُ عُقُوبَةٌ أَوْ أَنَّهُ عَيْنٌ وَحَسَدٌ هَذَا السُّؤَالُ لَا دَاعِيَ لَهُ وَإِنَّمَا الْمُنَاسِبُ أَنْ يَسْأَلَ الْإِنْسَانُ عَنِ الْفُتُورِ كَيْفَ يُعَالِجُهُ وَهَذَا هُوَ الَّذِي يَسْتَفِيدُ مِنْهُ وَالْجَوَابُ عَنْ هَذَا أَنَّ الْفُتُورَ يُمْكِنُ مُعَالَجَتُهُ بِأَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ أَوَّلُهَا بِالتَّوَجُّهِ إِلَى اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَسُؤَالِهِ الْعَزِيمَةَ وَالْإِعَانَةَ كَمَا أَرْشَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعَاذًا إِلَى أَنْ يَدْعُوَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَيَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى شُكْرِكَ وَذِكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ وَهُوَ مُقْتَضَى قَوْلِهِ جَلَّ وَعَلَا اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ وَالطَّرِيقَةُ الثَّانِيَةُ فِي انْتِقَاءِ أَنْوَاعِ الْعِبَادَاتِ فَإِذَا فَتَرَ الْإِنْسَانُ فِي عِبَادَةٍ فَتَحَ لِنَفْسِهِ بَابَ عِبَادَةٍ آخَرَ وَبِالتَّالِي يُبْعِدُ عَنْ نَفْسِهِ مَا قَدْ يُوجَدُ عِنْدَهَا مِنْ فُتُورٍ أَوْ مِلَالٍ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ وَالْأَمْرُ الثَّالِثُ أَنْ يُوجِدَ عِنْدَهُ بِيئَةً تُعِينُهُ عَلَى الطَّاعَةِ فَيَبْحَثُ عَنْ أَصْدِقَاءِ الْخَيْرِ الَّذِينَ يُعْرَفُ عَنْهُمْ فِعْلُ الطَّاعَاتِ لِيُنَشِّطُوهُ عَلَى الطَّاعَةِ وَالْأَمْرُ الرَّابِعُ الَّذِي يُعَالِجُ بِهِ الْفُتُورَ أَنْ يُكْثِرَ الْإِنْسَانُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَمِنَ الْأَوْرَادِ صَبَاحًا وَمَسَاءً فَإِنَّهَا تَطْرُدُ عَنْهُ الشُّرُورَ وَمِنْ هَؤُلَاءِ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ فَهَذَا طَرِيقَةٌ مُنَاسِبَةٌ لِمُعَالَجَةِ مَا قَدْ يَكُونُ عِنْدَ الْإِنْسَانِ مِنْ فُتُورٍ

Iman Lagi Drop? Lakukan 4 Langkah Ini Agar Ibadah Kembali Bersemangat! – Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri

Ummu Nauf bertanya: “Mengenai rasa lesu (futur) yang dialami seseorang dalam beribadah, bagaimana ia dapat mengetahui bahwa itu hal yang manusiawi, hukuman atas dosa, atau disebabkan mata jahat (ain) dan dengki?” Sebenarnya pertanyaan seperti ini tidak perlu diperuncing, tapi yang tepat adalah seseorang menanyakan bagaimana cara mengobati kelesuan dalam ibadah? Inilah pertanyaan yang bermanfaat baginya. Jawabannya, kelesuan ibadah ini dapat diatasi dengan empat langkah: Pertama, dengan sepenuhnya menghadap kepada Allah Jalla wa ‘Ala, seraya memohon keteguhan tekad dan pertolongan-Nya. Sebagaimana pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, agar senantiasa berdoa di setiap akhir shalat: “Allaahumma a-‘innii ‘alaa syukrika wa dzikrika wa husni ‘ibaadatika” (Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa bersyukur, berzikir, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya). Inilah implementasi dari firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6). Langkah kedua: Variasikanlah jenis ibadah yang Anda kerjakan. Apabila seseorang merasa lesu dalam satu jenis ibadah, cobalah untuk membuka pintu ibadah yang lainnya. Dengan begitu, ia dapat mengusir rasa bosan atau kelesuan yang tengah menghinggapi jiwa, dalam beramal saleh. Langkah ketiga: Mengondisikan lingkungan yang mendukungnya untuk tetap taat. Hendaknya ia mencari teman-teman yang baik, yang dikenal konsisten menjalankan ketaatan, agar mereka dapat memacu kembali semangatnya dalam ketaatan. Langkah keempat untuk mengobati kelesuan ibadah: Dengan memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, termasuk merutinkan zikir pagi dan petang. Sebab, zikir itu dapat membentenginya dari berbagai keburukan dan gangguan setan yang terkutuk. Demikianlah cara yang tepat untuk mengobati kelesuan beribadah yang dirasakan seorang insan. ===== أُمُّ نَوْفٍ تَقُولُ مَا يُصِيبُ الْإِنْسَانَ مِنَ الْفُتُورِ فِي الْعِبَادَةِ كَيْفَ يَعْرِفُ أَنَّ هَذَا أَمْرٌ طَبِيعِيٌّ أَوْ أَنَّهُ عُقُوبَةٌ أَوْ أَنَّهُ عَيْنٌ وَحَسَدٌ هَذَا السُّؤَالُ لَا دَاعِيَ لَهُ وَإِنَّمَا الْمُنَاسِبُ أَنْ يَسْأَلَ الْإِنْسَانُ عَنِ الْفُتُورِ كَيْفَ يُعَالِجُهُ وَهَذَا هُوَ الَّذِي يَسْتَفِيدُ مِنْهُ وَالْجَوَابُ عَنْ هَذَا أَنَّ الْفُتُورَ يُمْكِنُ مُعَالَجَتُهُ بِأَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ أَوَّلُهَا بِالتَّوَجُّهِ إِلَى اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَسُؤَالِهِ الْعَزِيمَةَ وَالْإِعَانَةَ كَمَا أَرْشَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعَاذًا إِلَى أَنْ يَدْعُوَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَيَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى شُكْرِكَ وَذِكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ وَهُوَ مُقْتَضَى قَوْلِهِ جَلَّ وَعَلَا اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ وَالطَّرِيقَةُ الثَّانِيَةُ فِي انْتِقَاءِ أَنْوَاعِ الْعِبَادَاتِ فَإِذَا فَتَرَ الْإِنْسَانُ فِي عِبَادَةٍ فَتَحَ لِنَفْسِهِ بَابَ عِبَادَةٍ آخَرَ وَبِالتَّالِي يُبْعِدُ عَنْ نَفْسِهِ مَا قَدْ يُوجَدُ عِنْدَهَا مِنْ فُتُورٍ أَوْ مِلَالٍ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ وَالْأَمْرُ الثَّالِثُ أَنْ يُوجِدَ عِنْدَهُ بِيئَةً تُعِينُهُ عَلَى الطَّاعَةِ فَيَبْحَثُ عَنْ أَصْدِقَاءِ الْخَيْرِ الَّذِينَ يُعْرَفُ عَنْهُمْ فِعْلُ الطَّاعَاتِ لِيُنَشِّطُوهُ عَلَى الطَّاعَةِ وَالْأَمْرُ الرَّابِعُ الَّذِي يُعَالِجُ بِهِ الْفُتُورَ أَنْ يُكْثِرَ الْإِنْسَانُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَمِنَ الْأَوْرَادِ صَبَاحًا وَمَسَاءً فَإِنَّهَا تَطْرُدُ عَنْهُ الشُّرُورَ وَمِنْ هَؤُلَاءِ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ فَهَذَا طَرِيقَةٌ مُنَاسِبَةٌ لِمُعَالَجَةِ مَا قَدْ يَكُونُ عِنْدَ الْإِنْسَانِ مِنْ فُتُورٍ
Ummu Nauf bertanya: “Mengenai rasa lesu (futur) yang dialami seseorang dalam beribadah, bagaimana ia dapat mengetahui bahwa itu hal yang manusiawi, hukuman atas dosa, atau disebabkan mata jahat (ain) dan dengki?” Sebenarnya pertanyaan seperti ini tidak perlu diperuncing, tapi yang tepat adalah seseorang menanyakan bagaimana cara mengobati kelesuan dalam ibadah? Inilah pertanyaan yang bermanfaat baginya. Jawabannya, kelesuan ibadah ini dapat diatasi dengan empat langkah: Pertama, dengan sepenuhnya menghadap kepada Allah Jalla wa ‘Ala, seraya memohon keteguhan tekad dan pertolongan-Nya. Sebagaimana pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, agar senantiasa berdoa di setiap akhir shalat: “Allaahumma a-‘innii ‘alaa syukrika wa dzikrika wa husni ‘ibaadatika” (Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa bersyukur, berzikir, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya). Inilah implementasi dari firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6). Langkah kedua: Variasikanlah jenis ibadah yang Anda kerjakan. Apabila seseorang merasa lesu dalam satu jenis ibadah, cobalah untuk membuka pintu ibadah yang lainnya. Dengan begitu, ia dapat mengusir rasa bosan atau kelesuan yang tengah menghinggapi jiwa, dalam beramal saleh. Langkah ketiga: Mengondisikan lingkungan yang mendukungnya untuk tetap taat. Hendaknya ia mencari teman-teman yang baik, yang dikenal konsisten menjalankan ketaatan, agar mereka dapat memacu kembali semangatnya dalam ketaatan. Langkah keempat untuk mengobati kelesuan ibadah: Dengan memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, termasuk merutinkan zikir pagi dan petang. Sebab, zikir itu dapat membentenginya dari berbagai keburukan dan gangguan setan yang terkutuk. Demikianlah cara yang tepat untuk mengobati kelesuan beribadah yang dirasakan seorang insan. ===== أُمُّ نَوْفٍ تَقُولُ مَا يُصِيبُ الْإِنْسَانَ مِنَ الْفُتُورِ فِي الْعِبَادَةِ كَيْفَ يَعْرِفُ أَنَّ هَذَا أَمْرٌ طَبِيعِيٌّ أَوْ أَنَّهُ عُقُوبَةٌ أَوْ أَنَّهُ عَيْنٌ وَحَسَدٌ هَذَا السُّؤَالُ لَا دَاعِيَ لَهُ وَإِنَّمَا الْمُنَاسِبُ أَنْ يَسْأَلَ الْإِنْسَانُ عَنِ الْفُتُورِ كَيْفَ يُعَالِجُهُ وَهَذَا هُوَ الَّذِي يَسْتَفِيدُ مِنْهُ وَالْجَوَابُ عَنْ هَذَا أَنَّ الْفُتُورَ يُمْكِنُ مُعَالَجَتُهُ بِأَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ أَوَّلُهَا بِالتَّوَجُّهِ إِلَى اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَسُؤَالِهِ الْعَزِيمَةَ وَالْإِعَانَةَ كَمَا أَرْشَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعَاذًا إِلَى أَنْ يَدْعُوَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَيَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى شُكْرِكَ وَذِكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ وَهُوَ مُقْتَضَى قَوْلِهِ جَلَّ وَعَلَا اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ وَالطَّرِيقَةُ الثَّانِيَةُ فِي انْتِقَاءِ أَنْوَاعِ الْعِبَادَاتِ فَإِذَا فَتَرَ الْإِنْسَانُ فِي عِبَادَةٍ فَتَحَ لِنَفْسِهِ بَابَ عِبَادَةٍ آخَرَ وَبِالتَّالِي يُبْعِدُ عَنْ نَفْسِهِ مَا قَدْ يُوجَدُ عِنْدَهَا مِنْ فُتُورٍ أَوْ مِلَالٍ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ وَالْأَمْرُ الثَّالِثُ أَنْ يُوجِدَ عِنْدَهُ بِيئَةً تُعِينُهُ عَلَى الطَّاعَةِ فَيَبْحَثُ عَنْ أَصْدِقَاءِ الْخَيْرِ الَّذِينَ يُعْرَفُ عَنْهُمْ فِعْلُ الطَّاعَاتِ لِيُنَشِّطُوهُ عَلَى الطَّاعَةِ وَالْأَمْرُ الرَّابِعُ الَّذِي يُعَالِجُ بِهِ الْفُتُورَ أَنْ يُكْثِرَ الْإِنْسَانُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَمِنَ الْأَوْرَادِ صَبَاحًا وَمَسَاءً فَإِنَّهَا تَطْرُدُ عَنْهُ الشُّرُورَ وَمِنْ هَؤُلَاءِ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ فَهَذَا طَرِيقَةٌ مُنَاسِبَةٌ لِمُعَالَجَةِ مَا قَدْ يَكُونُ عِنْدَ الْإِنْسَانِ مِنْ فُتُورٍ


Ummu Nauf bertanya: “Mengenai rasa lesu (futur) yang dialami seseorang dalam beribadah, bagaimana ia dapat mengetahui bahwa itu hal yang manusiawi, hukuman atas dosa, atau disebabkan mata jahat (ain) dan dengki?” Sebenarnya pertanyaan seperti ini tidak perlu diperuncing, tapi yang tepat adalah seseorang menanyakan bagaimana cara mengobati kelesuan dalam ibadah? Inilah pertanyaan yang bermanfaat baginya. Jawabannya, kelesuan ibadah ini dapat diatasi dengan empat langkah: Pertama, dengan sepenuhnya menghadap kepada Allah Jalla wa ‘Ala, seraya memohon keteguhan tekad dan pertolongan-Nya. Sebagaimana pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, agar senantiasa berdoa di setiap akhir shalat: “Allaahumma a-‘innii ‘alaa syukrika wa dzikrika wa husni ‘ibaadatika” (Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa bersyukur, berzikir, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya). Inilah implementasi dari firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6). Langkah kedua: Variasikanlah jenis ibadah yang Anda kerjakan. Apabila seseorang merasa lesu dalam satu jenis ibadah, cobalah untuk membuka pintu ibadah yang lainnya. Dengan begitu, ia dapat mengusir rasa bosan atau kelesuan yang tengah menghinggapi jiwa, dalam beramal saleh. Langkah ketiga: Mengondisikan lingkungan yang mendukungnya untuk tetap taat. Hendaknya ia mencari teman-teman yang baik, yang dikenal konsisten menjalankan ketaatan, agar mereka dapat memacu kembali semangatnya dalam ketaatan. Langkah keempat untuk mengobati kelesuan ibadah: Dengan memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, termasuk merutinkan zikir pagi dan petang. Sebab, zikir itu dapat membentenginya dari berbagai keburukan dan gangguan setan yang terkutuk. Demikianlah cara yang tepat untuk mengobati kelesuan beribadah yang dirasakan seorang insan. ===== أُمُّ نَوْفٍ تَقُولُ مَا يُصِيبُ الْإِنْسَانَ مِنَ الْفُتُورِ فِي الْعِبَادَةِ كَيْفَ يَعْرِفُ أَنَّ هَذَا أَمْرٌ طَبِيعِيٌّ أَوْ أَنَّهُ عُقُوبَةٌ أَوْ أَنَّهُ عَيْنٌ وَحَسَدٌ هَذَا السُّؤَالُ لَا دَاعِيَ لَهُ وَإِنَّمَا الْمُنَاسِبُ أَنْ يَسْأَلَ الْإِنْسَانُ عَنِ الْفُتُورِ كَيْفَ يُعَالِجُهُ وَهَذَا هُوَ الَّذِي يَسْتَفِيدُ مِنْهُ وَالْجَوَابُ عَنْ هَذَا أَنَّ الْفُتُورَ يُمْكِنُ مُعَالَجَتُهُ بِأَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ أَوَّلُهَا بِالتَّوَجُّهِ إِلَى اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَسُؤَالِهِ الْعَزِيمَةَ وَالْإِعَانَةَ كَمَا أَرْشَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعَاذًا إِلَى أَنْ يَدْعُوَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَيَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى شُكْرِكَ وَذِكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ وَهُوَ مُقْتَضَى قَوْلِهِ جَلَّ وَعَلَا اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ وَالطَّرِيقَةُ الثَّانِيَةُ فِي انْتِقَاءِ أَنْوَاعِ الْعِبَادَاتِ فَإِذَا فَتَرَ الْإِنْسَانُ فِي عِبَادَةٍ فَتَحَ لِنَفْسِهِ بَابَ عِبَادَةٍ آخَرَ وَبِالتَّالِي يُبْعِدُ عَنْ نَفْسِهِ مَا قَدْ يُوجَدُ عِنْدَهَا مِنْ فُتُورٍ أَوْ مِلَالٍ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ وَالْأَمْرُ الثَّالِثُ أَنْ يُوجِدَ عِنْدَهُ بِيئَةً تُعِينُهُ عَلَى الطَّاعَةِ فَيَبْحَثُ عَنْ أَصْدِقَاءِ الْخَيْرِ الَّذِينَ يُعْرَفُ عَنْهُمْ فِعْلُ الطَّاعَاتِ لِيُنَشِّطُوهُ عَلَى الطَّاعَةِ وَالْأَمْرُ الرَّابِعُ الَّذِي يُعَالِجُ بِهِ الْفُتُورَ أَنْ يُكْثِرَ الْإِنْسَانُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَمِنَ الْأَوْرَادِ صَبَاحًا وَمَسَاءً فَإِنَّهَا تَطْرُدُ عَنْهُ الشُّرُورَ وَمِنْ هَؤُلَاءِ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ فَهَذَا طَرِيقَةٌ مُنَاسِبَةٌ لِمُعَالَجَةِ مَا قَدْ يَكُونُ عِنْدَ الْإِنْسَانِ مِنْ فُتُورٍ
Prev     Next