Surah Al-Ahzab dalam Juz 22 memberikan panduan komprehensif bagi setiap Muslim untuk membangun rumah tangga yang penuh keberkahan. Keteladanan istri-istri Nabi ﷺ menjadi kunci utama dalam memahami bagaimana menjaga kesucian hati dan kehormatan keluarga. Dengan memahami tiga pilar utama dalam surah ini, kita dapat mewujudkan keluarga sakinah yang tidak hanya harmonis di dunia, tetapi juga selamat hingga akhirat. Daftar Isi tutup 1. 1. Pilar Visi: Orientasi Akhirat di Atas Materi 1.1. Kisah Istri Nabi Meminta Tambahan Nafkah (Ayat Takhyir) 1.2. Pelajaran dari Kisah Ayat Takhyir 2. 2. Pilar Adab: Menjaga Kesucian Interaksi 3. 3. Pilar Aktivitas: Menghidupkan Ilmu dan Ibadah di Rumah 4. Kesimpulan 1. Pilar Visi: Orientasi Akhirat di Atas MateriPilar pertama dan yang paling fundamental adalah kesamaan visi antara suami dan istri. Keluarga sakinah tidak dibangun di atas tumpukan harta semata, melainkan di atas fondasi keridaan Allah Ta’ala.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 28-29:يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 28)وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ فَإِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَٰتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا “Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 29)Pelajaran dari Ayat Takhyir:Ayat ini dikenal sebagai ayat takhyir (pilihan). Ketika istri-istri Nabi ﷺ diminta memilih antara kemewahan dunia atau Allah dan Rasul-Nya, mereka dengan tegas memilih Allah dan kehidupan akhirat. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan rumah tangga dimulai dari hati yang tidak diperbudak oleh materi.Aplikasi Praktis:Rumah tangga akan terasa tenang jika suami dan istri tidak menjadikan standar “kebahagiaan” hanya pada pencapaian materi. Jika visi sudah searah menuju akhirat, maka ujian ekonomi atau kesederhanaan hidup tidak akan menggoyahkan keharmonisan dan rasa syukur di antara keduanya.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas sebagai berikut:“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah, akan aku beri kalian mut‘ah (pemberian), lalu aku ceraikan kalian dengan cara yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 28)Ketika para istri Rasulullah ﷺ berkumpul karena rasa cemburu, mereka meminta tambahan nafkah dan pakaian kepada beliau. Mereka meminta sesuatu yang tidak selalu mampu beliau penuhi setiap saat. Mereka terus menyampaikan permintaan tersebut secara bersama-sama dan bersikap keras dalam keinginan mereka. Hal ini terasa berat bagi Rasulullah ﷺ, hingga akhirnya beliau bersumpah untuk tidak mendatangi mereka selama satu bulan.Allah kemudian menghendaki untuk memudahkan urusan Rasul-Nya, sekaligus meninggikan kedudukan para istri beliau dan menjauhkan mereka dari sesuatu yang dapat mengurangi pahala mereka. Maka Allah memerintahkan Rasul-Nya agar memberikan pilihan kepada mereka.Allah berfirman,يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia…”Maksudnya, jika dunia menjadi tujuan utama kalian—kalian merasa puas ketika mendapatkannya dan marah ketika kehilangannya—maka aku tidak membutuhkan kebersamaan dengan kalian dalam keadaan seperti itu.فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ“Maka kemarilah, akan aku beri kalian suatu pemberian dari apa yang aku miliki di dunia ini.”وَأُسَرِّحْكُنَّ“Lalu aku akan melepaskan kalian,” yaitu menceraikan kalian.سَرَاحًا جَمِيلًا“Dengan cara yang baik,” tanpa kemarahan dan tanpa saling mencela, tetapi dengan kelapangan hati dan ketenangan jiwa, sebelum keadaan berkembang menjadi sesuatu yang tidak pantas terjadi.Allah Ta’ala berfirman,“Namun jika kalian menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sungguh Allah telah menyediakan bagi siapa saja di antara kalian yang berbuat baik pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 29)Maksudnya, jika yang kalian inginkan adalah Allah, Rasul-Nya, dan kehidupan akhirat—dan itu menjadi tujuan serta harapan terbesar kalian—maka apabila kalian telah mendapatkan Allah, Rasul-Nya, dan surga, kalian tidak akan mempermasalahkan apakah dunia itu sempit atau luas, mudah atau sulit. Kalian akan merasa cukup dengan apa yang dapat diberikan Rasulullah ﷺ dan tidak akan menuntut sesuatu yang memberatkan beliau.Karena itu Allah berfirman,فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah telah menyiapkan bagi perempuan-perempuan yang berbuat baik di antara kalian pahala yang besar.”Allah menggantungkan pahala tersebut pada sifat ihsan, karena itulah sebab yang mendatangkan pahala tersebut. Bukan semata-mata karena mereka adalah istri Rasulullah. Kedudukan sebagai istri Nabi saja tidak cukup dan tidak memberi manfaat jika tidak disertai dengan ihsan.Maka Rasulullah ﷺ memberikan pilihan tersebut kepada mereka. Ternyata seluruhnya memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat. Tidak ada satu pun dari mereka yang memilih selain itu. Semoga Allah meridhai mereka semua.Dalam pilihan ini terdapat banyak hikmah, di antaranya:Menunjukkan perhatian Allah kepada Rasul-Nya dan kecemburuan-Nya agar beliau tidak berada dalam keadaan yang berat karena banyaknya tuntutan dunia dari para istrinya.Rasulullah ﷺ menjadi terbebas dari beban tuntutan hak-hak duniawi para istri, sehingga beliau tetap memiliki kebebasan dalam dirinya; jika beliau ingin memberi maka beliau memberi, dan jika tidak maka beliau tidak memberi.Menjaga Rasulullah ﷺ dari kemungkinan adanya istri yang lebih mengutamakan dunia daripada Allah, Rasul-Nya, dan akhirat.Menjaga para istri beliau dari dosa dan dari kemungkinan mendapatkan murka Allah dan Rasul-Nya.Dengan pilihan ini Allah memutus sebab yang dapat menimbulkan ketidakpuasan kepada Rasulullah ﷺ—yang dapat menyebabkan kemurkaan beliau dan pada akhirnya mendatangkan kemurkaan Allah serta hukuman-Nya.Menampakkan kemuliaan dan tingginya derajat para istri Nabi, serta menunjukkan tingginya cita-cita mereka, karena yang mereka inginkan adalah Allah, Rasul-Nya, dan akhirat, bukan dunia dan segala kesenangannya.Pilihan mereka ini menjadi sebab bertambahnya pahala dan dilipatgandakannya balasan bagi mereka, serta menjadikan mereka berada pada kedudukan yang tidak dimiliki oleh wanita mana pun.Tampak kesesuaian antara Rasulullah ﷺ dan para istri beliau, karena beliau adalah manusia paling sempurna. Allah menghendaki agar para istrinya juga menjadi wanita-wanita yang baik dan menyempurnakan kebaikan.Sebagaimana firman Allah:وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ“Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik.” (QS. An-Nur: 26)Pilihan ini mendorong mereka untuk bersikap qana‘ah (merasa cukup). Dengan qana‘ah, hati menjadi tenang, dada menjadi lapang, dan hilanglah sifat tamak serta ketidakpuasan yang dapat membuat hati gelisah, penuh kegundahan, dan kesedihan.Pilihan mereka tersebut juga menjadi sebab bertambahnya pahala mereka dan menjadikan mereka berada pada kedudukan yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lainnya. Kisah Istri Nabi Meminta Tambahan Nafkah (Ayat Takhyir)Ada sebuah kisah masyhur yang melibatkan para istri Nabi ﷺ yang pernah berkumpul untuk meminta tambahan nafkah (fasilitas duniawi) kepada Rasulullah ﷺ. Kisah ini menjadi latar belakang turunnya Ayat Takhyir (Ayat Pilihan) dalam Surah Al-Ahzab.Kisah ini memberikan pelajaran mendalam bagi pasangan suami-istri, terutama di era sekarang, tentang bagaimana menyikapi tuntutan ekonomi dalam rumah tangga.Abu Bakar datang meminta izin untuk masuk menemui Rasulullah ﷺ. Saat itu ia mendapati banyak orang sedang duduk di depan pintu rumah beliau, dan tidak seorang pun diizinkan masuk. Namun Abu Bakar diberi izin, lalu ia pun masuk.Setelah itu Umar datang dan meminta izin, lalu ia pun diizinkan masuk. Umar mendapati Nabi ﷺ sedang duduk, sementara istri-istri beliau berada di sekelilingnya. Saat itu Rasulullah ﷺ tampak diam dan murung, tidak berbicara.Umar berkata dalam hati, “Aku akan mengatakan sesuatu agar Nabi ﷺ tersenyum.”Lalu ia berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَوْ رَأَيْتَ بِنْتَ خَارِجَةَ، سَأَلَتْنِي النَّفَقَةَ، فَقُمْتُ إِلَيْهَا، فَوَجَأْتُ عُنُقَهَا.“Wahai Rasulullah, seandainya engkau melihat putri Kharijah (istri Umar, Habibah binti Kharijah). Ia meminta nafkah kepadaku, lalu aku berdiri menghampirinya dan menegur keras.”Mendengar itu Rasulullah ﷺ tertawa, lalu bersabda,هُنَّ حَوْلِي كَمَا تَرَى، يَسْأَلْنَنِي النَّفَقَةَ.“Mereka ini, sebagaimana yang engkau lihat, berada di sekelilingku dan meminta (tambahan) nafkah dariku.”فَقَامَ أَبُو بَكْرٍ إِلَى عَائِشَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، فَقَامَ عُمَرُ إِلَى حَفْصَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، كِلَاهُمَا يَقُولُ: تَسْأَلْنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَيْسَ عِنْدَهُ؟!Mendengar hal itu, Abu Bakar berdiri menuju Aisyah dan menegur keras ia. Umar pun berdiri menuju Hafshah dan menegur keras ia. Keduanya berkata, “Kalian meminta kepada Rasulullah ﷺ sesuatu yang tidak beliau miliki?!”Maka para istri Nabi ﷺ berkata,وَاللَّهِ لَا نَسْأَلُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا أَبَدًا لَيْسَ عِنْدَهُ.“Demi Allah, kami tidak akan pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ sesuatu yang tidak beliau miliki.”Setelah kejadian itu, Rasulullah ﷺ mengasingkan diri dari para istri beliau selama satu bulan, atau dua puluh sembilan hari. Kemudian turunlah ayat berikut kepada beliau:﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا﴾“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepada kalian kesenangan dunia dan aku ceraikan kalian dengan cara yang baik. Namun jika kalian menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sungguh Allah telah menyediakan pahala yang besar bagi siapa pun di antara kalian yang berbuat baik.” (QS. Al-Ahzab: 28–29)Rasulullah ﷺ memulai dari Aisyah. Beliau bersabda,يَا عَائِشَةُ، إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَعْرِضَ عَلَيْكِ أَمْرًا، أُحِبُّ أَنْ لَا تَعْجَلِي فِيهِ حَتَّى تَسْتَشِيرِي أَبَوَيْكِ.“Wahai Aisyah, aku ingin menyampaikan suatu perkara kepadamu. Aku berharap engkau tidak tergesa-gesa dalam menanggapinya sampai engkau bermusyawarah dengan kedua orang tuamu.”Aisyah bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulullah?”Maka Rasulullah ﷺ membacakan ayat tersebut kepadanya. Aisyah pun berkata,أَفِيكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَسْتَشِيرُ أَبَوَيَّ؟ بَلْ أَخْتَارُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ.وَأَسْأَلُكَ أَنْ لَا تُخْبِرَ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِكَ بِالَّذِي قُلْتُ.“Apakah dalam perkara tentang engkau ini aku harus meminta pendapat kedua orang tuaku, wahai Rasulullah? Bahkan aku memilih Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat.”Kemudian Aisyah berkata, “Aku memohon kepadamu agar engkau tidak memberitahukan kepada istri-istrimu yang lain tentang apa yang aku sampaikan ini.”Rasulullah ﷺ bersabda,لَا تَسْأَلُنِي امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ إِلَّا أَخْبَرْتُهَا، إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا، وَلَا مُتَعَنِّتًا، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا“Tidak ada seorang pun dari mereka yang bertanya kepadaku melainkan aku akan memberitahunya. Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang menyulitkan atau mencari-cari kesulitan, tetapi Dia mengutusku sebagai pendidik yang memudahkan.”(HR. Muslim no. 1478; juga diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra, dan Abu Ya’la dengan sedikit perbedaan lafaz. Hadits ini diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu). Pelajaran dari Kisah Ayat TakhyirValidasi Perasaan Manusiawi: Protes atau keinginan akan perbaikan ekonomi adalah hal yang manusiawi, bahkan pernah terjadi di rumah tangga termulia. Namun, syariat mengajarkan cara menyikapinya.Memilih Visi Akhirat: Para istri Nabi akhirnya serempak memilih Allah dan Rasul-Nya meskipun harus hidup sederhana. Ini adalah pengingat bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak selalu berbanding lurus dengan kemewahan.Keadilan dalam Nafkah: Rasulullah ﷺ tidak marah dengan kekerasan, melainkan memberikan pilihan yang adil secara hukum fikih (menetap dengan qanaah atau berpisah secara baik).Bahaya Membandingkan Hidup: Konflik tersebut dipicu karena para istri melihat “standar hidup” orang lain yang meningkat. Di era media sosial, ini adalah pengingat keras agar tidak silau dengan lifestyle orang lain sehingga menekan pasangan di luar kemampuannya. 2. Pilar Adab: Menjaga Kesucian InteraksiPilar kedua adalah penjagaan kehormatan (iffah). Surah Al-Ahzab sangat menekankan bagaimana interaksi dengan lawan jenis diatur secara ketat demi menjaga kesucian hati suami, istri, maupun orang lain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab pada ayat-ayat berikut ini ,يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِىِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ ٱلنِّسَآءِ ۚ إِنِ ٱتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِٱلْقَوْلِ فَيَطْمَعَ ٱلَّذِى فِى قَلْبِهِۦ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَدْخُلُوا۟ بُيُوتَ ٱلنَّبِىِّ إِلَّآ أَن يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَٰظِرِينَ إِنَىٰهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَٱدْخُلُوا۟ فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَٱنتَشِرُوا۟ وَلَا مُسْتَـْٔنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى ٱلنَّبِىَّ فَيَسْتَحْىِۦ مِنكُمْ ۖ وَٱللَّهُ لَا يَسْتَحْىِۦ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَٰعًا فَسْـَٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا۟ رَسُولَ ٱللَّهِ وَلَآ أَن تَنكِحُوٓا۟ أَزْوَٰجَهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦٓ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمًا“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 53)يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)Adab Lisan dan Hijab:Adab Lisan (Ayat 32): Istri-istri Nabi dilarang melembut-lembutkan suara kepada laki-laki asing agar tidak timbul fitnah bagi orang yang memiliki penyakit dalam hatinya.Adab Hijab (Ayat 53 & 59): Allah memerintahkan adanya batasan (hijab) dan mengenakan jilbab secara sempurna. Allah menegaskan bahwa cara ini “lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”.Aplikasi Praktis:Keluarga sakinah akan terjaga jika suami dan istri sama-sama menjaga adab pergaulan di luar rumah, termasuk dalam menjaga lisan dan pandangan di media sosial. Menutup pintu-pintu fitnah adalah kunci utama agar rasa percaya dan kasih sayang tetap murni.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 32 di atas sebagai berikut:“Wahai istri-istri Nabi, kalian tidak seperti wanita-wanita yang lain, jika kalian bertakwa. Maka janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi berkeinginan, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)Allah Ta’ala berfirman, “Wahai istri-istri Nabi,” yaitu seruan yang ditujukan kepada mereka semua.“Kalian tidak seperti wanita-wanita yang lain, jika kalian bertakwa kepada Allah.” Dengan ketakwaan itu, kedudukan kalian lebih tinggi daripada wanita-wanita lainnya, dan tidak ada wanita yang dapat menyamai kalian. Karena itu sempurnakanlah ketakwaan dengan semua sarana dan tujuannya.Oleh sebab itu Allah membimbing mereka untuk menutup jalan yang dapat mengantarkan kepada perbuatan yang diharamkan. Allah berfirman:“Maka janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara,” yaitu ketika berbicara dengan laki-laki atau ketika mereka dapat mendengar suara kalian. Jangan sampai kalian berbicara dengan nada yang lembut dan halus yang dapat mengundang dan menimbulkan keinginan.“Sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi berkeinginan,” yaitu penyakit syahwat zina. Orang seperti ini selalu siap terseret oleh hal yang paling kecil sekalipun yang dapat menggerakkan syahwatnya, karena hatinya tidak sehat. Adapun hati yang sehat tidak memiliki keinginan terhadap apa yang Allah haramkan. Sebab-sebab seperti itu hampir tidak mampu menggoyahkannya atau menggerakkannya karena hatinya sehat dan selamat dari penyakit.Berbeda dengan orang yang hatinya sakit. Ia tidak mampu menahan diri sebagaimana orang yang hatinya sehat, dan tidak mampu bersabar sebagaimana kesabaran orang yang sehat. Ketika ada sebab kecil yang mengajaknya kepada yang haram, ia segera memenuhi dorongan tersebut dan tidak mampu menolaknya.Ini menunjukkan bahwa sarana memiliki hukum yang sama dengan tujuannya. Melembutkan suara dalam berbicara pada asalnya adalah perkara yang mubah. Namun karena hal itu dapat menjadi sarana menuju yang haram, maka ia dilarang. Karena itu, seorang wanita ketika berbicara dengan laki-laki tidak boleh melembutkan ucapannya.Ketika Allah melarang mereka melembutkan suara dalam berbicara, mungkin ada yang menyangka bahwa mereka diperintahkan untuk berbicara dengan kasar. Maka Allah menolak anggapan ini dengan firman-Nya:“Dan ucapkanlah perkataan yang baik,” yaitu ucapan yang tidak kasar dan tidak kaku, namun juga tidak lembut dan merendahkan diri.Perhatikan bagaimana Allah berfirman:“Janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara,” dan tidak mengatakan, “janganlah kalian berbicara dengan lembut.”Sebab yang dilarang adalah kelembutan ucapan yang mengandung sikap tunduk dan merendahkan diri seorang wanita kepada laki-laki. Orang yang bersikap seperti ini biasanya menimbulkan keinginan pada pihak lain. Berbeda dengan ucapan yang lembut tetapi tidak mengandung ketundukan, bahkan terkadang mengandung wibawa atau ketegasan kepada lawan bicara. Dalam keadaan seperti ini, lawan bicara tidak akan berani berharap sesuatu darinya.Karena itu Allah memuji Rasul-Nya dengan kelembutan, sebagaimana firman-Nya:فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ“Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Ali Imran: 159)Allah juga berfirman kepada Musa dan Harun:اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى“Pergilah kalian berdua kepada Fir‘aun, karena sungguh ia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 43-44)Firman Allah: “Sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi berkeinginan,” bersama dengan perintah untuk menjaga kemaluan, pujian kepada orang-orang yang menjaga kemaluannya, serta larangan mendekati zina, menunjukkan bahwa seorang hamba jika melihat pada dirinya keadaan seperti ini—yaitu hatinya mudah tergoda melakukan yang haram ketika melihat atau mendengar ucapan dari orang yang ia sukai, dan ia merasakan dorongan untuk melakukan yang haram—maka hendaknya ia menyadari bahwa itu adalah penyakit.Karena itu hendaknya ia bersungguh-sungguh untuk melemahkan penyakit tersebut, memutus lintasan pikiran yang buruk, dan berjuang melawan dirinya agar hatinya selamat dari penyakit yang berbahaya ini. Ia juga hendaknya memohon kepada Allah agar diberi penjagaan dan taufik. Hal itu termasuk bagian dari menjaga kemaluan yang diperintahkan oleh Allah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 53 di atas sebagai berikut:Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar beradab kepada Rasulullah ﷺ ketika memasuki rumah beliau. Allah berfirman:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah Nabi kecuali jika kalian diizinkan untuk makan.”Maksudnya, janganlah kalian memasuki rumah beliau tanpa izin untuk masuk ke dalamnya karena suatu undangan makan. Kalian juga tidak boleh menunggu-nunggu masaknya makanan, yaitu duduk menunggu hingga makanan matang atau menunggu dengan berlama-lama setelah selesai makan.Maknanya, kalian tidak boleh memasuki rumah Nabi kecuali dengan dua syarat:pertama, kalian mendapatkan izin untuk masuk;kedua, kalian duduk hanya sekadar sesuai kebutuhan.Karena itu Allah berfirman:وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ“Akan tetapi jika kalian diundang maka masuklah. Setelah kalian selesai makan maka bertebaranlah, dan jangan berlama-lama untuk berbincang-bincang.”Maksudnya, jangan berlama-lama sebelum makan ataupun setelahnya.Kemudian Allah menjelaskan hikmah dan manfaat dari larangan tersebut. Allah berfirman:إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ“Sesungguhnya hal itu menyakiti Nabi.”Artinya, menunggu terlalu lama tanpa kebutuhan membuat Nabi merasa terbebani dan merasa berat karena kalian menahan beliau dari urusan rumah tangganya serta kesibukan beliau di dalamnya.فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ“Dan beliau merasa malu kepada kalian.”Beliau merasa malu untuk mengatakan kepada kalian, “Keluarlah.” Sebab biasanya manusia—terutama orang yang dermawan—merasa malu untuk mengusir orang dari rumah mereka.Namun Allah berfirman:وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ“Dan Allah tidak malu menyampaikan kebenaran.”Perintah syariat, meskipun kadang disangka bahwa meninggalkannya lebih menunjukkan adab atau rasa malu, tetap harus dijalankan. Sikap yang paling benar adalah mengikuti perintah syariat. Hendaknya diyakini bahwa apa pun yang menyelisihinya bukanlah adab yang benar. Allah tidak malu memerintahkan sesuatu yang membawa kebaikan bagi kalian dan memberikan kemudahan bagi Rasul-Nya.Ini adalah adab mereka ketika memasuki rumah Nabi. Adapun adab ketika berbicara dengan istri-istri beliau, maka terkadang ada kebutuhan untuk berbicara dengan mereka dan terkadang tidak.Jika tidak ada kebutuhan, maka tidak perlu berbicara dengan mereka, dan adab yang baik adalah meninggalkannya. Namun jika ada kebutuhan, misalnya meminta suatu barang atau peralatan rumah tangga dan sejenisnya, maka hendaklah mereka meminta:مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ“Dari balik tabir.”Artinya, ada penghalang antara kalian dan mereka yang menutupi pandangan, karena tidak ada kebutuhan untuk saling melihat.Dengan demikian, memandang mereka dilarang dalam segala keadaan. Adapun berbicara dengan mereka ada perinciannya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah.Kemudian Allah menyebutkan hikmahnya dengan firman-Nya:ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ“Yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.”Sebab hal itu lebih jauh dari kecurigaan dan sebab-sebab yang mengarah kepada keburukan. Semakin seseorang menjauh dari sebab-sebab yang mengajak kepada kejahatan, maka itu lebih selamat baginya dan lebih membersihkan hatinya.Karena itu termasuk aturan syariat yang dijelaskan Allah secara rinci adalah bahwa semua sarana, sebab, dan jalan menuju keburukan dilarang. Syariat juga menganjurkan untuk menjauhinya dengan berbagai cara.Kemudian Allah menyampaikan satu kaidah yang bersifat umum:وَمَا كَانَ لَكُمْ“Dan tidak pantas bagi kalian,” wahai kaum mukminin, yaitu sesuatu yang tidak layak dan tidak baik bagi kalian, bahkan termasuk perbuatan yang sangat buruk,أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ“Untuk menyakiti Rasulullah,” baik dengan ucapan maupun perbuatan, dalam segala hal yang berkaitan dengan beliau.وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا“Dan tidak pula menikahi istri-istrinya setelah beliau wafat selamanya.”Hal itu termasuk perbuatan yang menyakiti beliau. Rasulullah ﷺ memiliki kedudukan yang agung, tinggi, dan mulia. Menikahi istri-istrinya setelah beliau wafat akan merusak kehormatan kedudukan tersebut.Selain itu, mereka adalah istri-istri beliau di dunia dan di akhirat. Hubungan pernikahan tersebut tetap ada setelah wafatnya beliau. Oleh karena itu tidak halal bagi siapa pun dari umat ini untuk menikahi istri-istri beliau setelah beliau wafat.Allah berfirman:إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا“Sesungguhnya hal itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.”Umat ini telah menaati perintah tersebut dan menjauhi apa yang Allah larang dalam hal ini. Segala puji dan syukur hanya bagi Allah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 59 di atas sebagai berikut:“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan para wanita kaum mukminin agar mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)Ayat ini dikenal sebagai ayat hijab. Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menyuruh para wanita secara umum untuk berhijab, dan dimulai dari istri-istri beliau serta anak-anak perempuan beliau, karena mereka lebih ditekankan daripada yang lainnya. Selain itu, seseorang yang memerintahkan orang lain seharusnya memulai dari keluarganya terlebih dahulu sebelum orang lain.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”Perintah tersebut adalah agar para wanita mengulurkan jilbab mereka.Yang dimaksud dengan jilbab adalah pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian biasa, seperti selendang besar, kerudung, atau kain penutup dan sejenisnya. Maksudnya, mereka menutupi wajah dan dada mereka dengan jilbab tersebut.Kemudian Allah menjelaskan hikmahnya:ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ“Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali sehingga mereka tidak diganggu.”Ayat ini menunjukkan bahwa gangguan bisa terjadi jika mereka tidak menutup diri. Sebab jika mereka tidak berhijab, bisa saja orang mengira bahwa mereka bukan wanita yang menjaga kehormatan. Orang yang di dalam hatinya ada penyakit bisa saja mengganggu mereka. Bahkan mungkin mereka diremehkan dan disangka sebagai budak perempuan sehingga orang yang berniat buruk akan meremehkan mereka.Karena itu berhijab dapat memutus harapan orang-orang yang memiliki niat buruk terhadap mereka.Allah kemudian berfirman:وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا“Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Artinya, Allah mengampuni kesalahan yang telah lalu dan merahmati kalian dengan menjelaskan hukum-hukum kepada kalian serta menerangkan mana yang halal dan mana yang haram. Ini merupakan penutupan pintu keburukan dari sisi para wanita. 3. Pilar Aktivitas: Menghidupkan Ilmu dan Ibadah di RumahPilar ketiga adalah menjadikan rumah sebagai madrasah, bukan sekadar tempat singgah untuk beristirahat atau mencari hiburan kosong.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 33-34:وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)وَٱذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِى بُيُوتِكُنَّ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ وَٱلْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 34)Amal Saleh dan Dakwah di Rumah:Amal Saleh (Ayat 33): Perintah untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat disampaikan langsung dalam konteks kehidupan rumah tangga, menunjukkan bahwa ibadah adalah rutinitas utama penghuni rumah.Dakwah & Ilmu (Ayat 34): Istri Nabi diperintahkan untuk senantiasa mengingat dan mempelajari ayat-ayat Allah serta hikmah (Sunnah) yang dibacakan di rumah mereka.Aplikasi Praktis:Hidupkan suasana rumah dengan tilawah Al-Qur’an, rutin mengadakan kajian ilmu agama bersama pasangan, dan berjamaah dalam melakukan ketaatan. Rumah yang bercahaya dengan ilmu dan dzikir akan melahirkan ketenangan (sakinah) yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 33 di atas sebagai berikut:“Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah kalian, dan janganlah kalian berhias serta bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah dahulu. Dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)“Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah kalian,” yaitu menetaplah di dalam rumah, karena hal itu lebih aman dan lebih menjaga diri kalian.“Dan janganlah kalian berhias seperti berhiasnya orang-orang Jahiliah dahulu,” yaitu jangan sering keluar rumah dalam keadaan berhias atau memakai wewangian seperti kebiasaan masyarakat Jahiliah dahulu yang tidak memiliki ilmu dan tidak memiliki agama. Semua perintah ini bertujuan untuk menutup jalan menuju keburukan dan sebab-sebabnya.Ketika Allah memerintahkan mereka untuk bertakwa secara umum, dan juga menyebutkan beberapa bentuk ketakwaan secara khusus—karena kaum wanita sangat membutuhkan penjelasan tersebut—Allah juga memerintahkan mereka untuk taat, terutama dalam menegakkan shalat dan menunaikan zakat.Kedua ibadah ini sangat dibutuhkan oleh setiap orang dan menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan. Keduanya termasuk ibadah yang paling besar dan ketaatan yang paling agung. Dalam salat terdapat keikhlasan kepada Allah yang disembah, sedangkan dalam zakat terdapat kebaikan kepada sesama manusia.Kemudian Allah memerintahkan ketaatan secara umum dengan firman-Nya:وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.”Dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya termasuk semua perintah yang diberikan oleh keduanya, baik yang bersifat wajib maupun yang dianjurkan.Kemudian Allah berfirman:إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ“Sesungguhnya Allah menghendaki,” melalui perintah-perintah yang Dia berikan dan larangan-larangan yang Dia tetapkan kepada kalian,لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ“untuk menghilangkan dari kalian segala kotoran,” yaitu gangguan, keburukan, dan segala yang buruk,يَا أَهْلَ الْبَيْتِ“wahai Ahlul Bait,”وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا“dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya,” sehingga kalian menjadi orang-orang yang bersih dan disucikan.Karena itu hendaklah kalian memuji Rabb kalian dan bersyukur kepada-Nya atas perintah dan larangan ini. Allah telah menjelaskan kepada kalian bahwa semua itu adalah demi kebaikan kalian sendiri. Allah tidak bermaksud menjadikan hal itu sebagai kesulitan atau beban bagi kalian, tetapi agar jiwa kalian menjadi bersih, akhlak kalian menjadi suci, amal kalian menjadi baik, dan pahala kalian menjadi semakin besar.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 34 di atas sebagai berikut:“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 34)Setelah Allah memerintahkan mereka untuk beramal—yang mencakup melakukan perintah dan meninggalkan larangan—Allah juga memerintahkan mereka untuk menuntut ilmu serta menjelaskan jalan untuk mendapatkannya.Allah berfirman:وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah.”Yang dimaksud dengan ayat-ayat Allah adalah Al-Qur’an. Sedangkan hikmah adalah rahasia-rahasianya dan juga Sunnah Rasulullah ﷺ.Perintah untuk mengingatnya mencakup mengingat lafaznya dengan cara membacanya, mengingat maknanya dengan mentadabburi dan memikirkannya, menggali hukum-hukum serta hikmah yang terkandung di dalamnya, serta mengingat untuk mengamalkan dan menerapkannya.Baca juga: Empat Langkah Tadabbur Al-Qur’anKemudian Allah berfirman:إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا“Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.”Allah mengetahui rahasia segala perkara, apa yang tersembunyi di dalam hati, serta segala yang tersembunyi di langit dan di bumi, termasuk amal-amal yang tampak maupun yang tersembunyi.Kelembutan dan pengetahuan Allah menuntut agar mereka bersungguh-sungguh dalam berbuat ikhlas dan menyembunyikan amal-amal mereka, karena Allah akan membalas setiap amal tersebut.Di antara makna Al-Lathif adalah bahwa Allah menggiring hamba-Nya menuju kebaikan dan menjaganya dari keburukan melalui cara-cara yang halus dan tidak disadari oleh hamba tersebut. Allah juga mengalirkan rezeki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka, serta memperlihatkan kepadanya berbagai sebab yang kadang tidak disukai oleh jiwa, tetapi justru menjadi jalan baginya untuk mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia. KesimpulanMembangun keluarga sakinah menuntut kerja sama antara suami dan istri untuk menjaga visi akhirat, memelihara adab, dan terus belajar agama. Semoga Allah memudahkan kita semua untuk meneladani rumah tangga Rasulullah ﷺ.Baca juga: Rumah yang Seperti Kuburan Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic —– Malam Kamis, 23 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih keluarga keluarga keluarga harmoni Masalah keluarga nafkah keluarga renungan ayat renungan quran
Surah Al-Ahzab dalam Juz 22 memberikan panduan komprehensif bagi setiap Muslim untuk membangun rumah tangga yang penuh keberkahan. Keteladanan istri-istri Nabi ﷺ menjadi kunci utama dalam memahami bagaimana menjaga kesucian hati dan kehormatan keluarga. Dengan memahami tiga pilar utama dalam surah ini, kita dapat mewujudkan keluarga sakinah yang tidak hanya harmonis di dunia, tetapi juga selamat hingga akhirat. Daftar Isi tutup 1. 1. Pilar Visi: Orientasi Akhirat di Atas Materi 1.1. Kisah Istri Nabi Meminta Tambahan Nafkah (Ayat Takhyir) 1.2. Pelajaran dari Kisah Ayat Takhyir 2. 2. Pilar Adab: Menjaga Kesucian Interaksi 3. 3. Pilar Aktivitas: Menghidupkan Ilmu dan Ibadah di Rumah 4. Kesimpulan 1. Pilar Visi: Orientasi Akhirat di Atas MateriPilar pertama dan yang paling fundamental adalah kesamaan visi antara suami dan istri. Keluarga sakinah tidak dibangun di atas tumpukan harta semata, melainkan di atas fondasi keridaan Allah Ta’ala.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 28-29:يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 28)وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ فَإِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَٰتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا “Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 29)Pelajaran dari Ayat Takhyir:Ayat ini dikenal sebagai ayat takhyir (pilihan). Ketika istri-istri Nabi ﷺ diminta memilih antara kemewahan dunia atau Allah dan Rasul-Nya, mereka dengan tegas memilih Allah dan kehidupan akhirat. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan rumah tangga dimulai dari hati yang tidak diperbudak oleh materi.Aplikasi Praktis:Rumah tangga akan terasa tenang jika suami dan istri tidak menjadikan standar “kebahagiaan” hanya pada pencapaian materi. Jika visi sudah searah menuju akhirat, maka ujian ekonomi atau kesederhanaan hidup tidak akan menggoyahkan keharmonisan dan rasa syukur di antara keduanya.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas sebagai berikut:“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah, akan aku beri kalian mut‘ah (pemberian), lalu aku ceraikan kalian dengan cara yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 28)Ketika para istri Rasulullah ﷺ berkumpul karena rasa cemburu, mereka meminta tambahan nafkah dan pakaian kepada beliau. Mereka meminta sesuatu yang tidak selalu mampu beliau penuhi setiap saat. Mereka terus menyampaikan permintaan tersebut secara bersama-sama dan bersikap keras dalam keinginan mereka. Hal ini terasa berat bagi Rasulullah ﷺ, hingga akhirnya beliau bersumpah untuk tidak mendatangi mereka selama satu bulan.Allah kemudian menghendaki untuk memudahkan urusan Rasul-Nya, sekaligus meninggikan kedudukan para istri beliau dan menjauhkan mereka dari sesuatu yang dapat mengurangi pahala mereka. Maka Allah memerintahkan Rasul-Nya agar memberikan pilihan kepada mereka.Allah berfirman,يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia…”Maksudnya, jika dunia menjadi tujuan utama kalian—kalian merasa puas ketika mendapatkannya dan marah ketika kehilangannya—maka aku tidak membutuhkan kebersamaan dengan kalian dalam keadaan seperti itu.فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ“Maka kemarilah, akan aku beri kalian suatu pemberian dari apa yang aku miliki di dunia ini.”وَأُسَرِّحْكُنَّ“Lalu aku akan melepaskan kalian,” yaitu menceraikan kalian.سَرَاحًا جَمِيلًا“Dengan cara yang baik,” tanpa kemarahan dan tanpa saling mencela, tetapi dengan kelapangan hati dan ketenangan jiwa, sebelum keadaan berkembang menjadi sesuatu yang tidak pantas terjadi.Allah Ta’ala berfirman,“Namun jika kalian menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sungguh Allah telah menyediakan bagi siapa saja di antara kalian yang berbuat baik pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 29)Maksudnya, jika yang kalian inginkan adalah Allah, Rasul-Nya, dan kehidupan akhirat—dan itu menjadi tujuan serta harapan terbesar kalian—maka apabila kalian telah mendapatkan Allah, Rasul-Nya, dan surga, kalian tidak akan mempermasalahkan apakah dunia itu sempit atau luas, mudah atau sulit. Kalian akan merasa cukup dengan apa yang dapat diberikan Rasulullah ﷺ dan tidak akan menuntut sesuatu yang memberatkan beliau.Karena itu Allah berfirman,فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah telah menyiapkan bagi perempuan-perempuan yang berbuat baik di antara kalian pahala yang besar.”Allah menggantungkan pahala tersebut pada sifat ihsan, karena itulah sebab yang mendatangkan pahala tersebut. Bukan semata-mata karena mereka adalah istri Rasulullah. Kedudukan sebagai istri Nabi saja tidak cukup dan tidak memberi manfaat jika tidak disertai dengan ihsan.Maka Rasulullah ﷺ memberikan pilihan tersebut kepada mereka. Ternyata seluruhnya memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat. Tidak ada satu pun dari mereka yang memilih selain itu. Semoga Allah meridhai mereka semua.Dalam pilihan ini terdapat banyak hikmah, di antaranya:Menunjukkan perhatian Allah kepada Rasul-Nya dan kecemburuan-Nya agar beliau tidak berada dalam keadaan yang berat karena banyaknya tuntutan dunia dari para istrinya.Rasulullah ﷺ menjadi terbebas dari beban tuntutan hak-hak duniawi para istri, sehingga beliau tetap memiliki kebebasan dalam dirinya; jika beliau ingin memberi maka beliau memberi, dan jika tidak maka beliau tidak memberi.Menjaga Rasulullah ﷺ dari kemungkinan adanya istri yang lebih mengutamakan dunia daripada Allah, Rasul-Nya, dan akhirat.Menjaga para istri beliau dari dosa dan dari kemungkinan mendapatkan murka Allah dan Rasul-Nya.Dengan pilihan ini Allah memutus sebab yang dapat menimbulkan ketidakpuasan kepada Rasulullah ﷺ—yang dapat menyebabkan kemurkaan beliau dan pada akhirnya mendatangkan kemurkaan Allah serta hukuman-Nya.Menampakkan kemuliaan dan tingginya derajat para istri Nabi, serta menunjukkan tingginya cita-cita mereka, karena yang mereka inginkan adalah Allah, Rasul-Nya, dan akhirat, bukan dunia dan segala kesenangannya.Pilihan mereka ini menjadi sebab bertambahnya pahala dan dilipatgandakannya balasan bagi mereka, serta menjadikan mereka berada pada kedudukan yang tidak dimiliki oleh wanita mana pun.Tampak kesesuaian antara Rasulullah ﷺ dan para istri beliau, karena beliau adalah manusia paling sempurna. Allah menghendaki agar para istrinya juga menjadi wanita-wanita yang baik dan menyempurnakan kebaikan.Sebagaimana firman Allah:وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ“Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik.” (QS. An-Nur: 26)Pilihan ini mendorong mereka untuk bersikap qana‘ah (merasa cukup). Dengan qana‘ah, hati menjadi tenang, dada menjadi lapang, dan hilanglah sifat tamak serta ketidakpuasan yang dapat membuat hati gelisah, penuh kegundahan, dan kesedihan.Pilihan mereka tersebut juga menjadi sebab bertambahnya pahala mereka dan menjadikan mereka berada pada kedudukan yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lainnya. Kisah Istri Nabi Meminta Tambahan Nafkah (Ayat Takhyir)Ada sebuah kisah masyhur yang melibatkan para istri Nabi ﷺ yang pernah berkumpul untuk meminta tambahan nafkah (fasilitas duniawi) kepada Rasulullah ﷺ. Kisah ini menjadi latar belakang turunnya Ayat Takhyir (Ayat Pilihan) dalam Surah Al-Ahzab.Kisah ini memberikan pelajaran mendalam bagi pasangan suami-istri, terutama di era sekarang, tentang bagaimana menyikapi tuntutan ekonomi dalam rumah tangga.Abu Bakar datang meminta izin untuk masuk menemui Rasulullah ﷺ. Saat itu ia mendapati banyak orang sedang duduk di depan pintu rumah beliau, dan tidak seorang pun diizinkan masuk. Namun Abu Bakar diberi izin, lalu ia pun masuk.Setelah itu Umar datang dan meminta izin, lalu ia pun diizinkan masuk. Umar mendapati Nabi ﷺ sedang duduk, sementara istri-istri beliau berada di sekelilingnya. Saat itu Rasulullah ﷺ tampak diam dan murung, tidak berbicara.Umar berkata dalam hati, “Aku akan mengatakan sesuatu agar Nabi ﷺ tersenyum.”Lalu ia berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَوْ رَأَيْتَ بِنْتَ خَارِجَةَ، سَأَلَتْنِي النَّفَقَةَ، فَقُمْتُ إِلَيْهَا، فَوَجَأْتُ عُنُقَهَا.“Wahai Rasulullah, seandainya engkau melihat putri Kharijah (istri Umar, Habibah binti Kharijah). Ia meminta nafkah kepadaku, lalu aku berdiri menghampirinya dan menegur keras.”Mendengar itu Rasulullah ﷺ tertawa, lalu bersabda,هُنَّ حَوْلِي كَمَا تَرَى، يَسْأَلْنَنِي النَّفَقَةَ.“Mereka ini, sebagaimana yang engkau lihat, berada di sekelilingku dan meminta (tambahan) nafkah dariku.”فَقَامَ أَبُو بَكْرٍ إِلَى عَائِشَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، فَقَامَ عُمَرُ إِلَى حَفْصَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، كِلَاهُمَا يَقُولُ: تَسْأَلْنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَيْسَ عِنْدَهُ؟!Mendengar hal itu, Abu Bakar berdiri menuju Aisyah dan menegur keras ia. Umar pun berdiri menuju Hafshah dan menegur keras ia. Keduanya berkata, “Kalian meminta kepada Rasulullah ﷺ sesuatu yang tidak beliau miliki?!”Maka para istri Nabi ﷺ berkata,وَاللَّهِ لَا نَسْأَلُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا أَبَدًا لَيْسَ عِنْدَهُ.“Demi Allah, kami tidak akan pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ sesuatu yang tidak beliau miliki.”Setelah kejadian itu, Rasulullah ﷺ mengasingkan diri dari para istri beliau selama satu bulan, atau dua puluh sembilan hari. Kemudian turunlah ayat berikut kepada beliau:﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا﴾“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepada kalian kesenangan dunia dan aku ceraikan kalian dengan cara yang baik. Namun jika kalian menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sungguh Allah telah menyediakan pahala yang besar bagi siapa pun di antara kalian yang berbuat baik.” (QS. Al-Ahzab: 28–29)Rasulullah ﷺ memulai dari Aisyah. Beliau bersabda,يَا عَائِشَةُ، إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَعْرِضَ عَلَيْكِ أَمْرًا، أُحِبُّ أَنْ لَا تَعْجَلِي فِيهِ حَتَّى تَسْتَشِيرِي أَبَوَيْكِ.“Wahai Aisyah, aku ingin menyampaikan suatu perkara kepadamu. Aku berharap engkau tidak tergesa-gesa dalam menanggapinya sampai engkau bermusyawarah dengan kedua orang tuamu.”Aisyah bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulullah?”Maka Rasulullah ﷺ membacakan ayat tersebut kepadanya. Aisyah pun berkata,أَفِيكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَسْتَشِيرُ أَبَوَيَّ؟ بَلْ أَخْتَارُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ.وَأَسْأَلُكَ أَنْ لَا تُخْبِرَ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِكَ بِالَّذِي قُلْتُ.“Apakah dalam perkara tentang engkau ini aku harus meminta pendapat kedua orang tuaku, wahai Rasulullah? Bahkan aku memilih Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat.”Kemudian Aisyah berkata, “Aku memohon kepadamu agar engkau tidak memberitahukan kepada istri-istrimu yang lain tentang apa yang aku sampaikan ini.”Rasulullah ﷺ bersabda,لَا تَسْأَلُنِي امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ إِلَّا أَخْبَرْتُهَا، إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا، وَلَا مُتَعَنِّتًا، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا“Tidak ada seorang pun dari mereka yang bertanya kepadaku melainkan aku akan memberitahunya. Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang menyulitkan atau mencari-cari kesulitan, tetapi Dia mengutusku sebagai pendidik yang memudahkan.”(HR. Muslim no. 1478; juga diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra, dan Abu Ya’la dengan sedikit perbedaan lafaz. Hadits ini diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu). Pelajaran dari Kisah Ayat TakhyirValidasi Perasaan Manusiawi: Protes atau keinginan akan perbaikan ekonomi adalah hal yang manusiawi, bahkan pernah terjadi di rumah tangga termulia. Namun, syariat mengajarkan cara menyikapinya.Memilih Visi Akhirat: Para istri Nabi akhirnya serempak memilih Allah dan Rasul-Nya meskipun harus hidup sederhana. Ini adalah pengingat bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak selalu berbanding lurus dengan kemewahan.Keadilan dalam Nafkah: Rasulullah ﷺ tidak marah dengan kekerasan, melainkan memberikan pilihan yang adil secara hukum fikih (menetap dengan qanaah atau berpisah secara baik).Bahaya Membandingkan Hidup: Konflik tersebut dipicu karena para istri melihat “standar hidup” orang lain yang meningkat. Di era media sosial, ini adalah pengingat keras agar tidak silau dengan lifestyle orang lain sehingga menekan pasangan di luar kemampuannya. 2. Pilar Adab: Menjaga Kesucian InteraksiPilar kedua adalah penjagaan kehormatan (iffah). Surah Al-Ahzab sangat menekankan bagaimana interaksi dengan lawan jenis diatur secara ketat demi menjaga kesucian hati suami, istri, maupun orang lain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab pada ayat-ayat berikut ini ,يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِىِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ ٱلنِّسَآءِ ۚ إِنِ ٱتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِٱلْقَوْلِ فَيَطْمَعَ ٱلَّذِى فِى قَلْبِهِۦ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَدْخُلُوا۟ بُيُوتَ ٱلنَّبِىِّ إِلَّآ أَن يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَٰظِرِينَ إِنَىٰهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَٱدْخُلُوا۟ فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَٱنتَشِرُوا۟ وَلَا مُسْتَـْٔنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى ٱلنَّبِىَّ فَيَسْتَحْىِۦ مِنكُمْ ۖ وَٱللَّهُ لَا يَسْتَحْىِۦ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَٰعًا فَسْـَٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا۟ رَسُولَ ٱللَّهِ وَلَآ أَن تَنكِحُوٓا۟ أَزْوَٰجَهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦٓ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمًا“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 53)يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)Adab Lisan dan Hijab:Adab Lisan (Ayat 32): Istri-istri Nabi dilarang melembut-lembutkan suara kepada laki-laki asing agar tidak timbul fitnah bagi orang yang memiliki penyakit dalam hatinya.Adab Hijab (Ayat 53 & 59): Allah memerintahkan adanya batasan (hijab) dan mengenakan jilbab secara sempurna. Allah menegaskan bahwa cara ini “lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”.Aplikasi Praktis:Keluarga sakinah akan terjaga jika suami dan istri sama-sama menjaga adab pergaulan di luar rumah, termasuk dalam menjaga lisan dan pandangan di media sosial. Menutup pintu-pintu fitnah adalah kunci utama agar rasa percaya dan kasih sayang tetap murni.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 32 di atas sebagai berikut:“Wahai istri-istri Nabi, kalian tidak seperti wanita-wanita yang lain, jika kalian bertakwa. Maka janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi berkeinginan, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)Allah Ta’ala berfirman, “Wahai istri-istri Nabi,” yaitu seruan yang ditujukan kepada mereka semua.“Kalian tidak seperti wanita-wanita yang lain, jika kalian bertakwa kepada Allah.” Dengan ketakwaan itu, kedudukan kalian lebih tinggi daripada wanita-wanita lainnya, dan tidak ada wanita yang dapat menyamai kalian. Karena itu sempurnakanlah ketakwaan dengan semua sarana dan tujuannya.Oleh sebab itu Allah membimbing mereka untuk menutup jalan yang dapat mengantarkan kepada perbuatan yang diharamkan. Allah berfirman:“Maka janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara,” yaitu ketika berbicara dengan laki-laki atau ketika mereka dapat mendengar suara kalian. Jangan sampai kalian berbicara dengan nada yang lembut dan halus yang dapat mengundang dan menimbulkan keinginan.“Sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi berkeinginan,” yaitu penyakit syahwat zina. Orang seperti ini selalu siap terseret oleh hal yang paling kecil sekalipun yang dapat menggerakkan syahwatnya, karena hatinya tidak sehat. Adapun hati yang sehat tidak memiliki keinginan terhadap apa yang Allah haramkan. Sebab-sebab seperti itu hampir tidak mampu menggoyahkannya atau menggerakkannya karena hatinya sehat dan selamat dari penyakit.Berbeda dengan orang yang hatinya sakit. Ia tidak mampu menahan diri sebagaimana orang yang hatinya sehat, dan tidak mampu bersabar sebagaimana kesabaran orang yang sehat. Ketika ada sebab kecil yang mengajaknya kepada yang haram, ia segera memenuhi dorongan tersebut dan tidak mampu menolaknya.Ini menunjukkan bahwa sarana memiliki hukum yang sama dengan tujuannya. Melembutkan suara dalam berbicara pada asalnya adalah perkara yang mubah. Namun karena hal itu dapat menjadi sarana menuju yang haram, maka ia dilarang. Karena itu, seorang wanita ketika berbicara dengan laki-laki tidak boleh melembutkan ucapannya.Ketika Allah melarang mereka melembutkan suara dalam berbicara, mungkin ada yang menyangka bahwa mereka diperintahkan untuk berbicara dengan kasar. Maka Allah menolak anggapan ini dengan firman-Nya:“Dan ucapkanlah perkataan yang baik,” yaitu ucapan yang tidak kasar dan tidak kaku, namun juga tidak lembut dan merendahkan diri.Perhatikan bagaimana Allah berfirman:“Janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara,” dan tidak mengatakan, “janganlah kalian berbicara dengan lembut.”Sebab yang dilarang adalah kelembutan ucapan yang mengandung sikap tunduk dan merendahkan diri seorang wanita kepada laki-laki. Orang yang bersikap seperti ini biasanya menimbulkan keinginan pada pihak lain. Berbeda dengan ucapan yang lembut tetapi tidak mengandung ketundukan, bahkan terkadang mengandung wibawa atau ketegasan kepada lawan bicara. Dalam keadaan seperti ini, lawan bicara tidak akan berani berharap sesuatu darinya.Karena itu Allah memuji Rasul-Nya dengan kelembutan, sebagaimana firman-Nya:فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ“Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Ali Imran: 159)Allah juga berfirman kepada Musa dan Harun:اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى“Pergilah kalian berdua kepada Fir‘aun, karena sungguh ia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 43-44)Firman Allah: “Sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi berkeinginan,” bersama dengan perintah untuk menjaga kemaluan, pujian kepada orang-orang yang menjaga kemaluannya, serta larangan mendekati zina, menunjukkan bahwa seorang hamba jika melihat pada dirinya keadaan seperti ini—yaitu hatinya mudah tergoda melakukan yang haram ketika melihat atau mendengar ucapan dari orang yang ia sukai, dan ia merasakan dorongan untuk melakukan yang haram—maka hendaknya ia menyadari bahwa itu adalah penyakit.Karena itu hendaknya ia bersungguh-sungguh untuk melemahkan penyakit tersebut, memutus lintasan pikiran yang buruk, dan berjuang melawan dirinya agar hatinya selamat dari penyakit yang berbahaya ini. Ia juga hendaknya memohon kepada Allah agar diberi penjagaan dan taufik. Hal itu termasuk bagian dari menjaga kemaluan yang diperintahkan oleh Allah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 53 di atas sebagai berikut:Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar beradab kepada Rasulullah ﷺ ketika memasuki rumah beliau. Allah berfirman:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah Nabi kecuali jika kalian diizinkan untuk makan.”Maksudnya, janganlah kalian memasuki rumah beliau tanpa izin untuk masuk ke dalamnya karena suatu undangan makan. Kalian juga tidak boleh menunggu-nunggu masaknya makanan, yaitu duduk menunggu hingga makanan matang atau menunggu dengan berlama-lama setelah selesai makan.Maknanya, kalian tidak boleh memasuki rumah Nabi kecuali dengan dua syarat:pertama, kalian mendapatkan izin untuk masuk;kedua, kalian duduk hanya sekadar sesuai kebutuhan.Karena itu Allah berfirman:وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ“Akan tetapi jika kalian diundang maka masuklah. Setelah kalian selesai makan maka bertebaranlah, dan jangan berlama-lama untuk berbincang-bincang.”Maksudnya, jangan berlama-lama sebelum makan ataupun setelahnya.Kemudian Allah menjelaskan hikmah dan manfaat dari larangan tersebut. Allah berfirman:إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ“Sesungguhnya hal itu menyakiti Nabi.”Artinya, menunggu terlalu lama tanpa kebutuhan membuat Nabi merasa terbebani dan merasa berat karena kalian menahan beliau dari urusan rumah tangganya serta kesibukan beliau di dalamnya.فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ“Dan beliau merasa malu kepada kalian.”Beliau merasa malu untuk mengatakan kepada kalian, “Keluarlah.” Sebab biasanya manusia—terutama orang yang dermawan—merasa malu untuk mengusir orang dari rumah mereka.Namun Allah berfirman:وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ“Dan Allah tidak malu menyampaikan kebenaran.”Perintah syariat, meskipun kadang disangka bahwa meninggalkannya lebih menunjukkan adab atau rasa malu, tetap harus dijalankan. Sikap yang paling benar adalah mengikuti perintah syariat. Hendaknya diyakini bahwa apa pun yang menyelisihinya bukanlah adab yang benar. Allah tidak malu memerintahkan sesuatu yang membawa kebaikan bagi kalian dan memberikan kemudahan bagi Rasul-Nya.Ini adalah adab mereka ketika memasuki rumah Nabi. Adapun adab ketika berbicara dengan istri-istri beliau, maka terkadang ada kebutuhan untuk berbicara dengan mereka dan terkadang tidak.Jika tidak ada kebutuhan, maka tidak perlu berbicara dengan mereka, dan adab yang baik adalah meninggalkannya. Namun jika ada kebutuhan, misalnya meminta suatu barang atau peralatan rumah tangga dan sejenisnya, maka hendaklah mereka meminta:مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ“Dari balik tabir.”Artinya, ada penghalang antara kalian dan mereka yang menutupi pandangan, karena tidak ada kebutuhan untuk saling melihat.Dengan demikian, memandang mereka dilarang dalam segala keadaan. Adapun berbicara dengan mereka ada perinciannya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah.Kemudian Allah menyebutkan hikmahnya dengan firman-Nya:ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ“Yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.”Sebab hal itu lebih jauh dari kecurigaan dan sebab-sebab yang mengarah kepada keburukan. Semakin seseorang menjauh dari sebab-sebab yang mengajak kepada kejahatan, maka itu lebih selamat baginya dan lebih membersihkan hatinya.Karena itu termasuk aturan syariat yang dijelaskan Allah secara rinci adalah bahwa semua sarana, sebab, dan jalan menuju keburukan dilarang. Syariat juga menganjurkan untuk menjauhinya dengan berbagai cara.Kemudian Allah menyampaikan satu kaidah yang bersifat umum:وَمَا كَانَ لَكُمْ“Dan tidak pantas bagi kalian,” wahai kaum mukminin, yaitu sesuatu yang tidak layak dan tidak baik bagi kalian, bahkan termasuk perbuatan yang sangat buruk,أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ“Untuk menyakiti Rasulullah,” baik dengan ucapan maupun perbuatan, dalam segala hal yang berkaitan dengan beliau.وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا“Dan tidak pula menikahi istri-istrinya setelah beliau wafat selamanya.”Hal itu termasuk perbuatan yang menyakiti beliau. Rasulullah ﷺ memiliki kedudukan yang agung, tinggi, dan mulia. Menikahi istri-istrinya setelah beliau wafat akan merusak kehormatan kedudukan tersebut.Selain itu, mereka adalah istri-istri beliau di dunia dan di akhirat. Hubungan pernikahan tersebut tetap ada setelah wafatnya beliau. Oleh karena itu tidak halal bagi siapa pun dari umat ini untuk menikahi istri-istri beliau setelah beliau wafat.Allah berfirman:إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا“Sesungguhnya hal itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.”Umat ini telah menaati perintah tersebut dan menjauhi apa yang Allah larang dalam hal ini. Segala puji dan syukur hanya bagi Allah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 59 di atas sebagai berikut:“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan para wanita kaum mukminin agar mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)Ayat ini dikenal sebagai ayat hijab. Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menyuruh para wanita secara umum untuk berhijab, dan dimulai dari istri-istri beliau serta anak-anak perempuan beliau, karena mereka lebih ditekankan daripada yang lainnya. Selain itu, seseorang yang memerintahkan orang lain seharusnya memulai dari keluarganya terlebih dahulu sebelum orang lain.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”Perintah tersebut adalah agar para wanita mengulurkan jilbab mereka.Yang dimaksud dengan jilbab adalah pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian biasa, seperti selendang besar, kerudung, atau kain penutup dan sejenisnya. Maksudnya, mereka menutupi wajah dan dada mereka dengan jilbab tersebut.Kemudian Allah menjelaskan hikmahnya:ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ“Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali sehingga mereka tidak diganggu.”Ayat ini menunjukkan bahwa gangguan bisa terjadi jika mereka tidak menutup diri. Sebab jika mereka tidak berhijab, bisa saja orang mengira bahwa mereka bukan wanita yang menjaga kehormatan. Orang yang di dalam hatinya ada penyakit bisa saja mengganggu mereka. Bahkan mungkin mereka diremehkan dan disangka sebagai budak perempuan sehingga orang yang berniat buruk akan meremehkan mereka.Karena itu berhijab dapat memutus harapan orang-orang yang memiliki niat buruk terhadap mereka.Allah kemudian berfirman:وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا“Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Artinya, Allah mengampuni kesalahan yang telah lalu dan merahmati kalian dengan menjelaskan hukum-hukum kepada kalian serta menerangkan mana yang halal dan mana yang haram. Ini merupakan penutupan pintu keburukan dari sisi para wanita. 3. Pilar Aktivitas: Menghidupkan Ilmu dan Ibadah di RumahPilar ketiga adalah menjadikan rumah sebagai madrasah, bukan sekadar tempat singgah untuk beristirahat atau mencari hiburan kosong.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 33-34:وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)وَٱذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِى بُيُوتِكُنَّ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ وَٱلْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 34)Amal Saleh dan Dakwah di Rumah:Amal Saleh (Ayat 33): Perintah untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat disampaikan langsung dalam konteks kehidupan rumah tangga, menunjukkan bahwa ibadah adalah rutinitas utama penghuni rumah.Dakwah & Ilmu (Ayat 34): Istri Nabi diperintahkan untuk senantiasa mengingat dan mempelajari ayat-ayat Allah serta hikmah (Sunnah) yang dibacakan di rumah mereka.Aplikasi Praktis:Hidupkan suasana rumah dengan tilawah Al-Qur’an, rutin mengadakan kajian ilmu agama bersama pasangan, dan berjamaah dalam melakukan ketaatan. Rumah yang bercahaya dengan ilmu dan dzikir akan melahirkan ketenangan (sakinah) yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 33 di atas sebagai berikut:“Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah kalian, dan janganlah kalian berhias serta bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah dahulu. Dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)“Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah kalian,” yaitu menetaplah di dalam rumah, karena hal itu lebih aman dan lebih menjaga diri kalian.“Dan janganlah kalian berhias seperti berhiasnya orang-orang Jahiliah dahulu,” yaitu jangan sering keluar rumah dalam keadaan berhias atau memakai wewangian seperti kebiasaan masyarakat Jahiliah dahulu yang tidak memiliki ilmu dan tidak memiliki agama. Semua perintah ini bertujuan untuk menutup jalan menuju keburukan dan sebab-sebabnya.Ketika Allah memerintahkan mereka untuk bertakwa secara umum, dan juga menyebutkan beberapa bentuk ketakwaan secara khusus—karena kaum wanita sangat membutuhkan penjelasan tersebut—Allah juga memerintahkan mereka untuk taat, terutama dalam menegakkan shalat dan menunaikan zakat.Kedua ibadah ini sangat dibutuhkan oleh setiap orang dan menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan. Keduanya termasuk ibadah yang paling besar dan ketaatan yang paling agung. Dalam salat terdapat keikhlasan kepada Allah yang disembah, sedangkan dalam zakat terdapat kebaikan kepada sesama manusia.Kemudian Allah memerintahkan ketaatan secara umum dengan firman-Nya:وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.”Dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya termasuk semua perintah yang diberikan oleh keduanya, baik yang bersifat wajib maupun yang dianjurkan.Kemudian Allah berfirman:إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ“Sesungguhnya Allah menghendaki,” melalui perintah-perintah yang Dia berikan dan larangan-larangan yang Dia tetapkan kepada kalian,لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ“untuk menghilangkan dari kalian segala kotoran,” yaitu gangguan, keburukan, dan segala yang buruk,يَا أَهْلَ الْبَيْتِ“wahai Ahlul Bait,”وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا“dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya,” sehingga kalian menjadi orang-orang yang bersih dan disucikan.Karena itu hendaklah kalian memuji Rabb kalian dan bersyukur kepada-Nya atas perintah dan larangan ini. Allah telah menjelaskan kepada kalian bahwa semua itu adalah demi kebaikan kalian sendiri. Allah tidak bermaksud menjadikan hal itu sebagai kesulitan atau beban bagi kalian, tetapi agar jiwa kalian menjadi bersih, akhlak kalian menjadi suci, amal kalian menjadi baik, dan pahala kalian menjadi semakin besar.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 34 di atas sebagai berikut:“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 34)Setelah Allah memerintahkan mereka untuk beramal—yang mencakup melakukan perintah dan meninggalkan larangan—Allah juga memerintahkan mereka untuk menuntut ilmu serta menjelaskan jalan untuk mendapatkannya.Allah berfirman:وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah.”Yang dimaksud dengan ayat-ayat Allah adalah Al-Qur’an. Sedangkan hikmah adalah rahasia-rahasianya dan juga Sunnah Rasulullah ﷺ.Perintah untuk mengingatnya mencakup mengingat lafaznya dengan cara membacanya, mengingat maknanya dengan mentadabburi dan memikirkannya, menggali hukum-hukum serta hikmah yang terkandung di dalamnya, serta mengingat untuk mengamalkan dan menerapkannya.Baca juga: Empat Langkah Tadabbur Al-Qur’anKemudian Allah berfirman:إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا“Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.”Allah mengetahui rahasia segala perkara, apa yang tersembunyi di dalam hati, serta segala yang tersembunyi di langit dan di bumi, termasuk amal-amal yang tampak maupun yang tersembunyi.Kelembutan dan pengetahuan Allah menuntut agar mereka bersungguh-sungguh dalam berbuat ikhlas dan menyembunyikan amal-amal mereka, karena Allah akan membalas setiap amal tersebut.Di antara makna Al-Lathif adalah bahwa Allah menggiring hamba-Nya menuju kebaikan dan menjaganya dari keburukan melalui cara-cara yang halus dan tidak disadari oleh hamba tersebut. Allah juga mengalirkan rezeki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka, serta memperlihatkan kepadanya berbagai sebab yang kadang tidak disukai oleh jiwa, tetapi justru menjadi jalan baginya untuk mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia. KesimpulanMembangun keluarga sakinah menuntut kerja sama antara suami dan istri untuk menjaga visi akhirat, memelihara adab, dan terus belajar agama. Semoga Allah memudahkan kita semua untuk meneladani rumah tangga Rasulullah ﷺ.Baca juga: Rumah yang Seperti Kuburan Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic —– Malam Kamis, 23 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih keluarga keluarga keluarga harmoni Masalah keluarga nafkah keluarga renungan ayat renungan quran