Banyak orang fokus pada gerakan lahiriah saat haji, tetapi lupa bahwa inti haji justru ada pada hati. Padahal, amal haji tidak akan bernilai tanpa keikhlasan, ketakwaan, tawakal, dan pengagungan kepada Allah. Tulisan ini membahas tujuh ibadah hati terpenting dalam haji yang akan mengubah perjalanan haji biasa menjadi haji yang mabrur dan penuh bekas dalam kehidupan. Daftar Isi tutup 1. Ibadah Hati: Bekal Terbesar Saat Haji 2. Bentuk-Bentuk Ibadah Hati yang Paling Penting dalam Haji 2.1. 1. Mentauhidkan Allah dan Mengikhlaskan Ibadah Hanya untuk-Nya 2.1.1. Hadits Bithaqah: Tauhid yang Tulus Mengalahkan Tumpukan Dosa 2.1.2. Amal Besar Tanpa Ikhlas Tidak Bernilai 2.2. 2. Berserah Diri dan Tunduk kepada Syariat Allah Tabaraka wa Ta’ala 2.3. 3. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala 2.4. 4. Bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla 2.5. 5. Mengagungkan Syiar-Syiar Allah Jalla wa ‘Ala 2.6. 6. Mengingat Akhirat 2.7. 7. Mencintai Kebaikan untuk Kaum Muslimin dan Berbuat Baik kepada Mereka Ibadah Hati: Bekal Terbesar Saat HajiDi antara ibadah yang paling penting dan paling layak diperbanyak oleh seorang hamba ketika berhaji adalah ibadah-ibadah hati. Hendaknya waktu haji dipenuhi dengan amalan seperti mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, mencintai-Nya, bertawakal kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, mengagungkan-Nya, tunduk kepada-Nya, menampakkan kebutuhan dan kefakiran diri kepada-Nya, bersungguh-sungguh dalam berdoa, meminta, dan memohon kepada-Nya, disertai taubat, kembali kepada Allah, sabar, ridha, tenang, dan amalan hati lainnya.Sesungguhnya inti ajaran Islam berputar pada amalan-amalan hati tersebut.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Barang siapa memperhatikan syariat pada sumber-sumber dan cabang-cabangnya, ia akan mengetahui eratnya hubungan antara amalan anggota badan dengan amalan hati, dan bahwa amalan lahir tidak akan bermanfaat tanpa amalan hati.” (Badai’ Al-Fawaid, 3:330) Bentuk-Bentuk Ibadah Hati yang Paling Penting dalam Haji1. Mentauhidkan Allah dan Mengikhlaskan Ibadah Hanya untuk-NyaKetika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai ibadah haji, beliau berdoa kepada Rabb-nya sambil memohon pertolongan kepada-Nya. Beliau juga menunjukkan sikap zuhud terhadap dunia dan hidup sederhana selama berhaji, baik dalam sedikitnya bekal maupun kendaraan yang beliau gunakan. Semua itu beliau lakukan demi mengharap ridha Allah dan merealisasikan keikhlasan kepada-Nya.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,حَجَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَحْلٍ رَثٍّ، وَقَطِيفَةٍ تُسَاوِي أَرْبَعَةَ دَرَاهِمَ أَوْ لَا تُسَاوِي، ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ حَجَّةً لَا رِيَاءَ فِيهَا وَلَا سُمْعَةَ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhaji di atas pelana yang sudah usang dan dengan kain beludru yang harganya hanya sekitar empat dirham atau bahkan kurang dari itu. Kemudian beliau berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah hajiku ini haji yang tidak ada riya dan tidak pula mencari popularitas di dalamnya.’” (HR. Ibnu Majah, no. 2890; Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)Hal terbaik yang semestinya paling diperhatikan oleh seorang jamaah haji adalah memurnikan tauhid dan ibadah hanya untuk Allah Rabb semesta alam. Dengan tauhid dan keikhlasan itulah amal dan usahanya diterima. Sebaliknya, tanpa keikhlasan, amal akan tertolak dan usahanya menjadi sia-sia.Bahkan, rukun pertama dalam ibadah haji adalah ikhlas dalam berniat untuk Allah. Niat merupakan amalan hati, dan tidak ada satu ibadah pun yang sah tanpa niat tersebut.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan talbiyah sebagai syiar haji yang penuh dengan tauhid, penegasan keikhlasan kepada Allah, dan penolakan terhadap segala bentuk kesyirikan.Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkata, menjelaskan perhatian besar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap tauhid dan keikhlasan dalam ibadah haji,فَأَهَلَّ بِالتَّوْحِيدِ: «لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ»“Maka beliau bertalbiyah dengan tauhid: ‘Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.’” (HR. Muslim. no. 1218)Keikhlasan adalah amalan hati yang paling agung dan paling tinggi kedudukannya dalam definisi iman. Bahkan secara umum, amalan-amalan hati lebih besar dan lebih penting daripada amalan anggota badan.Sesungguhnya seorang jamaah haji yang memurnikan tauhid dan talbiyahnya hanya untuk Allah Rabb semesta alam, berarti ia telah menegakkan salah satu amalan hati yang paling agung dalam musim haji. Ia tidak menyekutukan Allah dengan siapa pun.Sungguh, kedudukan ikhlas dalam ibadah—bahkan dalam seluruh amalan, termasuk perkara mubah—adalah sesuatu yang sangat menakjubkan. Dengan keikhlasan, Allah memberikan pahala besar atas amalan yang sedikit. Sebaliknya, karena riya dan hilangnya keikhlasan, Allah tidak memberikan nilai apa pun pada amalan yang banyak.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Satu jenis amalan yang sama bisa dilakukan seseorang dengan cara yang sempurna keikhlasan dan penghambaan dirinya kepada Allah di dalamnya, sehingga Allah mengampuni dosa-dosa besar karenanya, sebagaimana dalam hadits bithaqah (kartu catatan amal).” (Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah, 6:219) Hadits Bithaqah: Tauhid yang Tulus Mengalahkan Tumpukan DosaHadits bithaqah diriwayatkan oleh Tirmidzi—dan beliau menilainya hasan—juga oleh An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مِدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يُقَالُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ. فَيُقَالُ: أَفَلَكَ عُذْرٌ أَوْ حَسَنَةٌ فِيهَا؟ فَيَقُولُ الرَّجُلُ: لَا. فَيُقَالُ: بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً، وَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ. فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولُ: يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ، وَالْبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ»“Akan dipanggil seorang laki-laki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibentangkan untuknya sembilan puluh sembilan catatan dosa, setiap catatan sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari semua ini? Apakah para malaikat pencatat-Ku menzalimimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, wahai Rabbku.’Lalu dikatakan lagi, ‘Apakah engkau memiliki alasan atau satu kebaikan?’ Maka orang itu pun ketakutan dan berkata, ‘Tidak.’Lalu Allah berfirman, ‘Bahkan, engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan pada hari ini engkau tidak akan dizalimi.’Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu bertuliskan:أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya.’Orang itu berkata, ‘Wahai Rabbku, apa arti kartu ini dibandingkan catatan-catatan dosa itu?’Lalu dikatakan, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan dizalimi.’Maka catatan-catatan dosa itu diletakkan di satu daun timbangan dan kartu tersebut di daun timbangan lainnya. Ternyata catatan-catatan dosa itu menjadi ringan dan kartu tersebut menjadi berat.” (HR. Tirmidzi, no. 2639; Ibnu Majah, no. 4300; Al-Hakim, no. 1937. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)Baca juga: Kartu Laa Ilaha Illallah Mengalahkan Catatan Dosa Sejauh Mata Memandang Amal Besar Tanpa Ikhlas Tidak BernilaiSebaliknya, kita mendapati bahwa melakukan ketaatan tanpa keikhlasan dan tanpa kejujuran kepada Allah tidak memiliki nilai dan pahala sedikit pun. Bahkan pelakunya terancam dengan ancaman yang sangat keras, walaupun amalan tersebut termasuk amalan besar seperti berinfak di jalan kebaikan, berjihad melawan orang kafir, atau menuntut serta mengajarkan ilmu syar’i.Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ…»“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah seorang yang mati syahid…”Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tiga golongan:orang yang berjihad agar disebut pemberani,orang yang belajar dan mengajarkan ilmu agar disebut alim,dan orang yang berinfak agar disebut dermawan.Masing-masing dikatakan kepada mereka:«كَذَبْتَ»“Engkau dusta.”Karena semua itu dilakukan agar dipuji manusia, bukan ikhlas karena Allah. Kemudian mereka diseret di atas wajah mereka dan dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim. no. 1905)Baca juga: Belajar Agama Hanya untuk Mencari DuniaKarena itu, wahai jamaah haji, jangan pergi ke Tanah Suci sementara dalam hatimu masih ada pengagungan kepada batu atau manusia, apalagi sampai berdoa kepada orang mati, thawaf di kuburan, atau meyakini bahwa Allah memiliki sekutu, penolong, atau pembantu.Murnikanlah tauhidmu. Ikutilah sunnah Nabimu. Dengan itu engkau akan selamat, mendapatkan penerimaan amal, dan meraih keberuntungan. 2. Berserah Diri dan Tunduk kepada Syariat Allah Tabaraka wa Ta’alaSeorang jamaah haji menjalankan berbagai amalan dan manasik ibadah dalam haji yang terkadang ia belum memahami hikmah di balik sebagian amalan tersebut. Namun hatinya tetap ridha, khusyuk, dan tenang terhadap apa yang ia lakukan karena semua itu dilakukan dalam rangka mengikuti sunnah. Ia tidak membiarkan keraguan dan bisikan setan merusak hatinya serta menghilangkan pahala amalnya.Betapa kita sangat membutuhkan latihan bagi akal dan jiwa agar tunduk kepada syariat Allah Ta’ala dengan penuh kepasrahan dan ketundukan. Haji merupakan contoh terbaik untuk mewujudkan sikap tersebut. Perpindahan jamaah haji dari satu masy’ar ke masy’ar lainnya, thawaf mengelilingi Ka’bah, mencium Hajar Aswad, melempar jumrah, dan amalan lainnya adalah contoh nyata dari sikap tunduk kepada syariat Allah Ta’ala dan menerima hukum-Nya dengan lapang dada serta hati yang tenteram.Nabi Ibrahim Al-Khalil dan putranya, Ismail ‘alaihimash shalatu wassalam, pernah berdoa,رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu dan jadikanlah di antara keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami tata cara manasik kami, serta terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 128)Mereka berdua berdoa untuk diri mereka dan keturunan mereka agar memiliki sifat Islam yang hakiki, yaitu tunduk dan patuhnya hati kepada Rabb-nya, yang kemudian tercermin pada ketundukan anggota badan.Sungguh indah perkataan Umar Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu tentang Hajar Aswad,«إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ»“Aku benar-benar tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak bisa memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat. Kalaulah aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari, no. 1597)Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dalam ucapan Umar tersebut terdapat sikap berserah diri kepada syariat dalam urusan agama, serta bagusnya mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perkara yang belum diketahui hikmahnya. Ini merupakan kaidah agung dalam mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada apa yang beliau lakukan, walaupun hikmahnya belum diketahui.” (Fath Al-Bari, 3:463)Qiwamus Sunnah Ismail Al-Ashbahani rahimahullah juga berkata, “Termasuk manhaj Ahlus Sunnah adalah bahwa setiap riwayat yang didengar seseorang namun belum dapat dijangkau oleh akalnya, maka wajib baginya untuk menerima, membenarkan, menyerahkan ilmunya kepada Allah, dan ridha terhadapnya. Ia tidak boleh menanggapi sesuatu pun dari perkara tersebut dengan akal dan hawa nafsunya.” (Al-Hujjah fi Bayan Al-Mahajjah, 2:435 dan Afdhal Ayyam Ad-Dunya oleh Jamaz bin ‘Abdurrahman, hlm. 18)Karena itu, siapa yang ingin meraih haji yang mabrur hendaknya menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Rabb-nya, memasrahkan seluruh urusannya kepada-Nya, serta berdoa kepada-Nya dengan penuh harap dan rasa takut. 3. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaIbadah-ibadah disyariatkan untuk menyucikan jiwa, memperbaiki hati, dan mewujudkan ketakwaan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dalam rangkaian ayat-ayat tentang haji terdapat banyak isyarat yang mendorong seorang hamba agar memperbanyak ketaatan ketika melaksanakan manasik, sekaligus mengingatkannya bahwa tujuan utama ibadah adalah meraih ketakwaan kepada Allah dan rasa takut kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى“Haji itu (dilaksanakan pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam bulan-bulan itu, janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Para jamaah haji diperintahkan membawa bekal untuk perjalanan mereka dan tidak bepergian tanpa bekal. Kemudian Allah mengingatkan mereka tentang bekal perjalanan menuju akhirat, yaitu takwa. Sebagaimana seorang musafir tidak akan sampai ke tujuannya tanpa bekal yang mengantarkannya, demikian pula seorang musafir menuju Allah dan negeri akhirat tidak akan sampai kecuali dengan bekal takwa. Maka Allah menggabungkan antara dua bekal tersebut: bekal lahir dan bekal batin.” (Ighatsah Al-Lahfaan, hlm. 58)Baca juga: Menjaga Kesucian Haji: Rafats, Fusuq, dan JidalMewujudkan ketakwaan hati termasuk amalan hati yang sangat penting dalam ibadah haji. Allah Ta’ala berfirman,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,«التَّقْوَى هَاهُنَا، التَّقْوَى هَاهُنَا، التَّقْوَى هَاهُنَا»“Takwa itu di sini, takwa itu di sini, takwa itu di sini,” sambil beliau menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali. (HR. Muslim, no. 2564)Tempat ketakwaan adalah hati. Takwa mencakup seluruh amal kebaikan, kebajikan, dan kesalehan, terlebih ketika kata “takwa” disebut secara mutlak. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah membahas masalah ini dalam awal kitab Al-Iman, ketika menjelaskan makna kata al-birr dan at-taqwa serta istilah-istilah lain dalam Al-Qur’an yang mencakup seluruh amal keimanan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.Mewujudkan ketakwaan juga menjadi sebab diraihnya rahmat Allah. Rahmat tersebut berlaku di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A‘raf: 156)Apabila seorang jamaah haji benar-benar mewujudkan ketakwaan kepada Allah, maka ia akan memperoleh kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13) 4. Bertawakal kepada Allah ‘Azza wa JallaSeorang jamaah haji keluar meninggalkan rumahnya dalam keadaan memikirkan apa yang ia tinggalkan di belakangnya: harta, pekerjaan, keluarga, dan anak-anaknya. Ia pergi meninggalkan mereka, berpamitan tanpa mengetahui apakah ia akan kembali dari safar dan perjalanannya itu, atau justru di sanalah ajal dan akhir hidupnya.Karena itulah tawakal kepada Allah menjadi obat bagi hati yang gelisah dan penenteram bagi jiwa yang bingung. Tawakal termasuk amalan hati yang dibutuhkan setiap waktu, dan semakin ditekankan pada musim haji.Tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla termasuk amalan hati yang paling agung. Hakikat tawakal adalah bersandarnya hati secara sempurna kepada Allah disertai keyakinan penuh kepada-Nya.Dari tawakal lahir banyak bentuk ibadah hati lainnya, seperti rasa takut, harap, cinta, rasa cemas, dan lainnya.Namun tawakal bukan berarti meninggalkan sebab, pasrah kepada kemalasan, atau bersikap tidak mau berusaha. Hakikat tawakal justru adalah menempuh sebab-sebab yang Allah perintahkan untuk diambil, tanpa bersandar kepada sebab tersebut dan tanpa menaruh kepercayaan penuh kepadanya. Yang menjadi sandaran dan tempat bergantung hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla, Dzat yang menciptakan sebab dan akibatnya.Dialah yang menjadikan sebab memiliki pengaruh. Seandainya Allah menghendaki, Dia mampu mencabut pengaruh tersebut sehingga sebab itu tidak lagi menghasilkan apa pun.Karena itu, termasuk tanda lemahnya tawakal kepada Allah adalah terlalu bergantung kepada sebab-sebab duniawi, merasa tenang sepenuhnya kepadanya, serta takut berlebihan ketika sebab itu hilang, seolah-olah sebab tersebut dapat memberi manfaat atau mudarat dengan sendirinya.Akibat sikap seperti ini, seseorang yang terlalu bergantung kepada sebab bisa terjatuh dalam perkara haram atau meninggalkan kewajiban. Bahkan bisa jadi ia mengarahkan rasa takut dan harapnya—yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla—kepada makhluk yang lemah, yang sebenarnya tidak mampu mendatangkan mudarat maupun manfaat untuk dirinya sendiri, apalagi untuk orang lain. 5. Mengagungkan Syiar-Syiar Allah Jalla wa ‘AlaDi antara tujuan dan hikmah terbesar ibadah haji adalah mendidik seorang hamba agar mengagungkan syiar-syiar Allah dan perkara-perkara yang dimuliakan-Nya, menghormatinya, mencintainya, serta merasa takut untuk meremehkan atau melanggarnya.Allah Ta’ala berfirman setelah menyebutkan beberapa hukum tentang haji,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Allah Ta’ala juga berfirman,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (QS. Al-Hajj: 30)Haji merupakan salah satu momen terbesar tampaknya pengagungan kepada Allah. Bahkan pengagungan tersebut termasuk tujuan utama dari ibadah haji. Di antara bentuk pengagungan terhadap syiar Allah adalah bersungguh-sungguh dalam menaati Allah sesuai syariat-Nya dan mengikuti sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.Wukuf di Arafah termasuk syiar Allah. Hewan kurban termasuk syiar Allah. Mencukur rambut ketika tahallul termasuk syiar Allah. Melempar jumrah juga termasuk syiar Allah. Barang siapa mengagungkannya, maka itu merupakan bagian dari ketakwaan hati.Karena itu, mengagungkan seluruh manasik haji termasuk bagian dari ketakwaan hati, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ahli tafsir.Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«لَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِخَيْرٍ مَا عَظَّمُوا هَذِهِ الْحُرْمَةَ حَقَّ تَعْظِيمِهَا، فَإِذَا تَرَكُوهَا وَضَيَّعُوهَا هَلَكُوا»“Umat ini akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengagungkan kehormatan ini dengan pengagungan yang semestinya. Jika mereka meninggalkan dan menyia-nyiakannya, maka mereka akan binasa.” (HR. Ahmad, 4:347; Ibnu Majah, no. 3110; Sanad Hadits ini hasan menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Fath Al-Bari, 3:449)Kita perlu memahami bahwa mengagungkan syiar Allah dilakukan dengan memuliakannya di dalam hati, mencintainya, dan menyempurnakan penghambaan kepada Allah ketika menjalankannya.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Ruh ibadah adalah pengagungan dan kecintaan. Jika salah satunya hilang, maka ibadah itu menjadi rusak.” (Madarij As-Salikin, 1:459)Mengagungkan syiar dan larangan Allah merupakan tanda kuatnya iman dan besarnya kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, meremehkan perintah-perintah Allah menunjukkan lemahnya iman dan kurangnya rasa takut kepada-Nya.Sangat disayangkan, sebagian jamaah haji—semoga Allah memberi mereka hidayah—masih meremehkan sebagian manasik, seperti melempar jumrah, mabit, dan amalan lainnya. Mereka mewakilkannya kepada orang lain tanpa kebutuhan yang mendesak. Bahkan ada yang pulang ke negerinya sebelum mabit dan sebelum melempar jumrah. Ini jelas menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan termasuk bentuk meremehkan syiar-syiar Allah.Haji bukan sekadar perjalanan santai, bukan pula wisata religi semata. Haji adalah ibadah yang agung dan momentum besar untuk memperkuat iman. Karena itu, hendaknya seorang hamba memperbanyak bekal amal saleh selama menjalankannya.Barang siapa merasakan keagungan Allah pada hari-hari mulia ini, ia tidak akan menyia-nyiakan walau satu jam pun darinya.Maka hendaklah orang-orang yang berani melanggar kehormatan Allah bertakwa kepada-Nya. Sesungguhnya dosa menjadi lebih besar ketika dilakukan di tanah haram dan di sekitar rumah Allah. Hendaknya mereka membersihkan jiwa dari dosa-dosa besar dan membersihkan Baitullah dari kotoran maksiat dan amal-amal buruk. 6. Mengingat AkhiratKetika seorang jamaah haji meninggalkan kampung halamannya dan menempuh beratnya perjalanan, hendaknya ia mengingat keluarnya manusia dari dunia ini melalui kematian menuju hari kebangkitan dan berbagai kedahsyatannya.Saat seorang yang berihram mengenakan pakaian ihramnya, hendaknya ia mengingat kain kafannya dan menyadari bahwa suatu saat nanti ia akan bertemu Rabb-nya dengan penampilan yang berbeda dari pakaian penduduk dunia.Baca juga: Dahsyatnya Hari Kiamat: Manusia Dikumpulkan Tanpa Busana dan Tanpa Alas KakiKetika ia berdiri di Arafah, melihat manusia yang berdesakan, suara yang saling meninggi, serta berbagai bahasa yang berbeda-beda, hendaknya ia mengingat padang mahsyar pada hari kiamat dan berkumpulnya seluruh umat manusia di tempat tersebut.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,فَلِلَّهِ ذَاكَ الْمَوْقِفُ الْأَعْظَمُ الَّذِي كَمَوْقِفِ يَوْمِ الْعَرْضِ بَلْ ذَاكَ أَعْظَمُ“Maka sungguh agung peristiwa itu,Seperti peristiwa hari dihadapkan kepada Allah, bahkan lebih agung lagi.”Belum lagi beratnya perjalanan dan kelelahan berpindah dari satu masy’ar ke masy’ar lainnya. Di sana seorang hamba akan teringat sempit dan sulitnya keadaan di padang kiamat, sampai-sampai ada manusia yang tenggelam dalam keringatnya sendiri.Ketika seorang jamaah haji meninggalkan negeri, keluarga, pekerjaan, harta, dan perdagangannya, hendaknya ia mengingat sebuah perjalanan yang tidak ada kepulangan setelahnya, yaitu perjalanan menuju akhirat.Apabila seorang hamba benar-benar mengingat hal tersebut, ia akan berhaji layaknya orang yang sedang berpamitan untuk terakhir kalinya. Ia akan lebih sering mengingat kematian dan kubur, lalu berdoa kepada Rabb-nya dengan sungguh-sungguh memohon ampunan, hingga ia kembali dari hajinya dalam keadaan bersih dari dosa seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya. 7. Mencintai Kebaikan untuk Kaum Muslimin dan Berbuat Baik kepada MerekaBerkumpulnya manusia dan padatnya jamaah haji sering kali menampakkan akhlak asli seseorang, terutama saat menghadapi kesulitan. Karena itu, di antara amalan hati yang sangat penting dalam musim haji adalah memiliki kasih sayang kepada sesama muslim, bersikap lembut kepada jamaah haji, serta mencintai kebaikan untuk mereka.Dalam penjelasan Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang haji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menggambarkan kelembutan dan kasih sayang Nabi kepada manusia. Jabir berkata,«وَقَدْ شَنَقَ لِلْقَصْوَاءِ الزِّمَامَ حَتَّى إِنَّ رَأْسَهَا لَيُصِيبُ مَوْرِكَ رَحْلِهِ وَيَقُولُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى: أَيُّهَا النَّاسُ السَّكِينَةَ السَّكِينَةَ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan tali kendali Al-Qashwa’ (unta beliau) agar tidak berjalan cepat sehingga tidak menyakiti manusia, sampai kepala untanya hampir menyentuh pelana. Sambil memberi isyarat dengan tangan kanannya beliau berkata, ‘Wahai manusia, tenanglah… tenanglah.’” (HR. Muslim, no. 1218)Maksudnya adalah bersikap lembut, tidak tergesa-gesa, memperhatikan orang-orang lemah, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.Allah Ta’ala telah menyiapkan pahala yang sangat besar bagi haji yang mabrur. Di antara makna al-birr (kebaikan) dalam haji adalah berbuat baik kepada manusia.Dalam hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ»“Kebaikan adalah akhlak yang mulia.” (HR. Muslim, no. 2553)Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama menjelaskan bahwa al-birr bisa bermakna menyambung hubungan, kelembutan, kebaikan, pergaulan yang baik, serta ketaatan. Semua itu merupakan inti dari akhlak yang mulia. Dan hal ini sangat dibutuhkan dalam ibadah haji, yaitu memperlakukan manusia dengan baik melalui ucapan maupun perbuatan.”Safar disebut sebagai safar karena perjalanan itu akan menyingkap akhlak asli seseorang.Dalam Musnad Ahmad, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ»“Haji mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.” Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan haji yang mabrur, wahai Rasulullah?”Beliau menjawab,«إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ»“Memberi makan dan menyebarkan salam.”Dalam riwayat lain disebutkan,«وَطِيبُ الْكَلَامِ»“Dan ucapan yang baik.” (HR. Ahmad, no. 3:325; Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 3:479)Sa’id bin Jubair rahimahullah pernah ditanya, “Haji seperti apa yang paling utama?”Beliau menjawab, “Haji orang yang memberi makan dan menjaga lisannya.”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku mendengar bahwa itu termasuk bentuk haji yang mabrur.”Dalam riwayat mursal Khalid bin Ma’dan disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa gunanya seseorang mendatangi Baitullah jika ia tidak memiliki tiga sifat:wara’ yang menghalanginya dari perkara haram,kelembutan (hilm) yang mampu mengendalikan emosinya,dan pergaulan yang baik terhadap teman seperjalanannya.Jika tidak demikian, maka Allah tidak membutuhkan hajinya.”Di antara sifat kebaikan yang paling mencakup dan sangat dibutuhkan oleh jamaah haji adalah wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Jurai Al-Hujaimi—yaitu Jabir bin Sulaim radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا أَنْ تَأْتِيَهُ، وَلَوْ أَنْ تَهَبَ صِلَةَ الْحَبْلِ، وَلَوْ أَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ الْمُسْتَسْقِي، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ الْمُسْلِمَ وَوَجْهُكَ بَسْطٌ إِلَيْهِ، وَلَوْ أَنْ تُؤْنِسَ الْوَحْشَانَ بِنَفْسِكَ، وَلَوْ أَنْ تَهَبَ الشِّسْعَ، وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ، فَإِنَّهُ مِنَ الْمَخِيلَةِ وَلَا يُحِبُّهَا اللَّهُ“Jangan sekali-kali engkau meremehkan sedikit pun perbuatan baik yang bisa engkau lakukan, walaupun hanya memberikan tali pengikat, atau menuangkan air dari timbamu ke wadah orang yang meminta air, atau bertemu saudaramu sesama muslim dengan wajah yang berseri kepadanya, atau menghibur orang yang kesepian dengan kehadiranmu, atau memberikan tali sandal. Dan jauhilah menjulurkan pakaian hingga melewati mata kaki, karena itu termasuk kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan tersebut.” (HR. Ahmad, 3:482. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini sahih)Karena itu, jangan sampai seorang jamaah haji meremehkan satu pun bentuk kebaikan, walaupun hanya menyingkirkan gangguan dari jalan, atau menyapa saudaranya dengan wajah yang berseri-seri.Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya dan paling sabar menghadapi gangguan manusia.Allah telah menyiapkan surga-surga ‘Adn bagi orang-orang yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, dan memaafkan manusia.Sesungguhnya haji adalah perjalanan iman yang sangat mendalam, dipenuhi ibadah-ibadah agung dan kenangan yang mulia. Sebaik-baik jamaah haji adalah yang paling bermanfaat bagi saudara-saudaranya sesama muslim, paling sabar menghadapi gangguan manusia, dan paling bertakwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita kesempatan berhaji ke Baitullah Al-Haram, memudahkan pelaksanaannya bagi kita, serta menerima amal tersebut dari kita semua. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia Referensi: albayan.co.uk —- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 6 Dzulhijjah 1447 H, 23 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak muslim haji mabrur ibadah hati ikhlas manasik haji musim haji syiar Allah takwa tauhid tawakal
Banyak orang fokus pada gerakan lahiriah saat haji, tetapi lupa bahwa inti haji justru ada pada hati. Padahal, amal haji tidak akan bernilai tanpa keikhlasan, ketakwaan, tawakal, dan pengagungan kepada Allah. Tulisan ini membahas tujuh ibadah hati terpenting dalam haji yang akan mengubah perjalanan haji biasa menjadi haji yang mabrur dan penuh bekas dalam kehidupan. Daftar Isi tutup 1. Ibadah Hati: Bekal Terbesar Saat Haji 2. Bentuk-Bentuk Ibadah Hati yang Paling Penting dalam Haji 2.1. 1. Mentauhidkan Allah dan Mengikhlaskan Ibadah Hanya untuk-Nya 2.1.1. Hadits Bithaqah: Tauhid yang Tulus Mengalahkan Tumpukan Dosa 2.1.2. Amal Besar Tanpa Ikhlas Tidak Bernilai 2.2. 2. Berserah Diri dan Tunduk kepada Syariat Allah Tabaraka wa Ta’ala 2.3. 3. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala 2.4. 4. Bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla 2.5. 5. Mengagungkan Syiar-Syiar Allah Jalla wa ‘Ala 2.6. 6. Mengingat Akhirat 2.7. 7. Mencintai Kebaikan untuk Kaum Muslimin dan Berbuat Baik kepada Mereka Ibadah Hati: Bekal Terbesar Saat HajiDi antara ibadah yang paling penting dan paling layak diperbanyak oleh seorang hamba ketika berhaji adalah ibadah-ibadah hati. Hendaknya waktu haji dipenuhi dengan amalan seperti mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, mencintai-Nya, bertawakal kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, mengagungkan-Nya, tunduk kepada-Nya, menampakkan kebutuhan dan kefakiran diri kepada-Nya, bersungguh-sungguh dalam berdoa, meminta, dan memohon kepada-Nya, disertai taubat, kembali kepada Allah, sabar, ridha, tenang, dan amalan hati lainnya.Sesungguhnya inti ajaran Islam berputar pada amalan-amalan hati tersebut.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Barang siapa memperhatikan syariat pada sumber-sumber dan cabang-cabangnya, ia akan mengetahui eratnya hubungan antara amalan anggota badan dengan amalan hati, dan bahwa amalan lahir tidak akan bermanfaat tanpa amalan hati.” (Badai’ Al-Fawaid, 3:330) Bentuk-Bentuk Ibadah Hati yang Paling Penting dalam Haji1. Mentauhidkan Allah dan Mengikhlaskan Ibadah Hanya untuk-NyaKetika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai ibadah haji, beliau berdoa kepada Rabb-nya sambil memohon pertolongan kepada-Nya. Beliau juga menunjukkan sikap zuhud terhadap dunia dan hidup sederhana selama berhaji, baik dalam sedikitnya bekal maupun kendaraan yang beliau gunakan. Semua itu beliau lakukan demi mengharap ridha Allah dan merealisasikan keikhlasan kepada-Nya.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,حَجَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَحْلٍ رَثٍّ، وَقَطِيفَةٍ تُسَاوِي أَرْبَعَةَ دَرَاهِمَ أَوْ لَا تُسَاوِي، ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ حَجَّةً لَا رِيَاءَ فِيهَا وَلَا سُمْعَةَ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhaji di atas pelana yang sudah usang dan dengan kain beludru yang harganya hanya sekitar empat dirham atau bahkan kurang dari itu. Kemudian beliau berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah hajiku ini haji yang tidak ada riya dan tidak pula mencari popularitas di dalamnya.’” (HR. Ibnu Majah, no. 2890; Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)Hal terbaik yang semestinya paling diperhatikan oleh seorang jamaah haji adalah memurnikan tauhid dan ibadah hanya untuk Allah Rabb semesta alam. Dengan tauhid dan keikhlasan itulah amal dan usahanya diterima. Sebaliknya, tanpa keikhlasan, amal akan tertolak dan usahanya menjadi sia-sia.Bahkan, rukun pertama dalam ibadah haji adalah ikhlas dalam berniat untuk Allah. Niat merupakan amalan hati, dan tidak ada satu ibadah pun yang sah tanpa niat tersebut.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan talbiyah sebagai syiar haji yang penuh dengan tauhid, penegasan keikhlasan kepada Allah, dan penolakan terhadap segala bentuk kesyirikan.Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkata, menjelaskan perhatian besar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap tauhid dan keikhlasan dalam ibadah haji,فَأَهَلَّ بِالتَّوْحِيدِ: «لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ»“Maka beliau bertalbiyah dengan tauhid: ‘Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.’” (HR. Muslim. no. 1218)Keikhlasan adalah amalan hati yang paling agung dan paling tinggi kedudukannya dalam definisi iman. Bahkan secara umum, amalan-amalan hati lebih besar dan lebih penting daripada amalan anggota badan.Sesungguhnya seorang jamaah haji yang memurnikan tauhid dan talbiyahnya hanya untuk Allah Rabb semesta alam, berarti ia telah menegakkan salah satu amalan hati yang paling agung dalam musim haji. Ia tidak menyekutukan Allah dengan siapa pun.Sungguh, kedudukan ikhlas dalam ibadah—bahkan dalam seluruh amalan, termasuk perkara mubah—adalah sesuatu yang sangat menakjubkan. Dengan keikhlasan, Allah memberikan pahala besar atas amalan yang sedikit. Sebaliknya, karena riya dan hilangnya keikhlasan, Allah tidak memberikan nilai apa pun pada amalan yang banyak.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Satu jenis amalan yang sama bisa dilakukan seseorang dengan cara yang sempurna keikhlasan dan penghambaan dirinya kepada Allah di dalamnya, sehingga Allah mengampuni dosa-dosa besar karenanya, sebagaimana dalam hadits bithaqah (kartu catatan amal).” (Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah, 6:219) Hadits Bithaqah: Tauhid yang Tulus Mengalahkan Tumpukan DosaHadits bithaqah diriwayatkan oleh Tirmidzi—dan beliau menilainya hasan—juga oleh An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مِدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يُقَالُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ. فَيُقَالُ: أَفَلَكَ عُذْرٌ أَوْ حَسَنَةٌ فِيهَا؟ فَيَقُولُ الرَّجُلُ: لَا. فَيُقَالُ: بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً، وَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ. فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولُ: يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ، وَالْبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ»“Akan dipanggil seorang laki-laki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibentangkan untuknya sembilan puluh sembilan catatan dosa, setiap catatan sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari semua ini? Apakah para malaikat pencatat-Ku menzalimimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, wahai Rabbku.’Lalu dikatakan lagi, ‘Apakah engkau memiliki alasan atau satu kebaikan?’ Maka orang itu pun ketakutan dan berkata, ‘Tidak.’Lalu Allah berfirman, ‘Bahkan, engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan pada hari ini engkau tidak akan dizalimi.’Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu bertuliskan:أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya.’Orang itu berkata, ‘Wahai Rabbku, apa arti kartu ini dibandingkan catatan-catatan dosa itu?’Lalu dikatakan, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan dizalimi.’Maka catatan-catatan dosa itu diletakkan di satu daun timbangan dan kartu tersebut di daun timbangan lainnya. Ternyata catatan-catatan dosa itu menjadi ringan dan kartu tersebut menjadi berat.” (HR. Tirmidzi, no. 2639; Ibnu Majah, no. 4300; Al-Hakim, no. 1937. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)Baca juga: Kartu Laa Ilaha Illallah Mengalahkan Catatan Dosa Sejauh Mata Memandang Amal Besar Tanpa Ikhlas Tidak BernilaiSebaliknya, kita mendapati bahwa melakukan ketaatan tanpa keikhlasan dan tanpa kejujuran kepada Allah tidak memiliki nilai dan pahala sedikit pun. Bahkan pelakunya terancam dengan ancaman yang sangat keras, walaupun amalan tersebut termasuk amalan besar seperti berinfak di jalan kebaikan, berjihad melawan orang kafir, atau menuntut serta mengajarkan ilmu syar’i.Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ…»“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah seorang yang mati syahid…”Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tiga golongan:orang yang berjihad agar disebut pemberani,orang yang belajar dan mengajarkan ilmu agar disebut alim,dan orang yang berinfak agar disebut dermawan.Masing-masing dikatakan kepada mereka:«كَذَبْتَ»“Engkau dusta.”Karena semua itu dilakukan agar dipuji manusia, bukan ikhlas karena Allah. Kemudian mereka diseret di atas wajah mereka dan dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim. no. 1905)Baca juga: Belajar Agama Hanya untuk Mencari DuniaKarena itu, wahai jamaah haji, jangan pergi ke Tanah Suci sementara dalam hatimu masih ada pengagungan kepada batu atau manusia, apalagi sampai berdoa kepada orang mati, thawaf di kuburan, atau meyakini bahwa Allah memiliki sekutu, penolong, atau pembantu.Murnikanlah tauhidmu. Ikutilah sunnah Nabimu. Dengan itu engkau akan selamat, mendapatkan penerimaan amal, dan meraih keberuntungan. 2. Berserah Diri dan Tunduk kepada Syariat Allah Tabaraka wa Ta’alaSeorang jamaah haji menjalankan berbagai amalan dan manasik ibadah dalam haji yang terkadang ia belum memahami hikmah di balik sebagian amalan tersebut. Namun hatinya tetap ridha, khusyuk, dan tenang terhadap apa yang ia lakukan karena semua itu dilakukan dalam rangka mengikuti sunnah. Ia tidak membiarkan keraguan dan bisikan setan merusak hatinya serta menghilangkan pahala amalnya.Betapa kita sangat membutuhkan latihan bagi akal dan jiwa agar tunduk kepada syariat Allah Ta’ala dengan penuh kepasrahan dan ketundukan. Haji merupakan contoh terbaik untuk mewujudkan sikap tersebut. Perpindahan jamaah haji dari satu masy’ar ke masy’ar lainnya, thawaf mengelilingi Ka’bah, mencium Hajar Aswad, melempar jumrah, dan amalan lainnya adalah contoh nyata dari sikap tunduk kepada syariat Allah Ta’ala dan menerima hukum-Nya dengan lapang dada serta hati yang tenteram.Nabi Ibrahim Al-Khalil dan putranya, Ismail ‘alaihimash shalatu wassalam, pernah berdoa,رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu dan jadikanlah di antara keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami tata cara manasik kami, serta terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 128)Mereka berdua berdoa untuk diri mereka dan keturunan mereka agar memiliki sifat Islam yang hakiki, yaitu tunduk dan patuhnya hati kepada Rabb-nya, yang kemudian tercermin pada ketundukan anggota badan.Sungguh indah perkataan Umar Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu tentang Hajar Aswad,«إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ»“Aku benar-benar tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak bisa memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat. Kalaulah aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari, no. 1597)Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dalam ucapan Umar tersebut terdapat sikap berserah diri kepada syariat dalam urusan agama, serta bagusnya mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perkara yang belum diketahui hikmahnya. Ini merupakan kaidah agung dalam mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada apa yang beliau lakukan, walaupun hikmahnya belum diketahui.” (Fath Al-Bari, 3:463)Qiwamus Sunnah Ismail Al-Ashbahani rahimahullah juga berkata, “Termasuk manhaj Ahlus Sunnah adalah bahwa setiap riwayat yang didengar seseorang namun belum dapat dijangkau oleh akalnya, maka wajib baginya untuk menerima, membenarkan, menyerahkan ilmunya kepada Allah, dan ridha terhadapnya. Ia tidak boleh menanggapi sesuatu pun dari perkara tersebut dengan akal dan hawa nafsunya.” (Al-Hujjah fi Bayan Al-Mahajjah, 2:435 dan Afdhal Ayyam Ad-Dunya oleh Jamaz bin ‘Abdurrahman, hlm. 18)Karena itu, siapa yang ingin meraih haji yang mabrur hendaknya menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Rabb-nya, memasrahkan seluruh urusannya kepada-Nya, serta berdoa kepada-Nya dengan penuh harap dan rasa takut. 3. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaIbadah-ibadah disyariatkan untuk menyucikan jiwa, memperbaiki hati, dan mewujudkan ketakwaan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dalam rangkaian ayat-ayat tentang haji terdapat banyak isyarat yang mendorong seorang hamba agar memperbanyak ketaatan ketika melaksanakan manasik, sekaligus mengingatkannya bahwa tujuan utama ibadah adalah meraih ketakwaan kepada Allah dan rasa takut kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى“Haji itu (dilaksanakan pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam bulan-bulan itu, janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Para jamaah haji diperintahkan membawa bekal untuk perjalanan mereka dan tidak bepergian tanpa bekal. Kemudian Allah mengingatkan mereka tentang bekal perjalanan menuju akhirat, yaitu takwa. Sebagaimana seorang musafir tidak akan sampai ke tujuannya tanpa bekal yang mengantarkannya, demikian pula seorang musafir menuju Allah dan negeri akhirat tidak akan sampai kecuali dengan bekal takwa. Maka Allah menggabungkan antara dua bekal tersebut: bekal lahir dan bekal batin.” (Ighatsah Al-Lahfaan, hlm. 58)Baca juga: Menjaga Kesucian Haji: Rafats, Fusuq, dan JidalMewujudkan ketakwaan hati termasuk amalan hati yang sangat penting dalam ibadah haji. Allah Ta’ala berfirman,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,«التَّقْوَى هَاهُنَا، التَّقْوَى هَاهُنَا، التَّقْوَى هَاهُنَا»“Takwa itu di sini, takwa itu di sini, takwa itu di sini,” sambil beliau menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali. (HR. Muslim, no. 2564)Tempat ketakwaan adalah hati. Takwa mencakup seluruh amal kebaikan, kebajikan, dan kesalehan, terlebih ketika kata “takwa” disebut secara mutlak. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah membahas masalah ini dalam awal kitab Al-Iman, ketika menjelaskan makna kata al-birr dan at-taqwa serta istilah-istilah lain dalam Al-Qur’an yang mencakup seluruh amal keimanan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.Mewujudkan ketakwaan juga menjadi sebab diraihnya rahmat Allah. Rahmat tersebut berlaku di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A‘raf: 156)Apabila seorang jamaah haji benar-benar mewujudkan ketakwaan kepada Allah, maka ia akan memperoleh kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13) 4. Bertawakal kepada Allah ‘Azza wa JallaSeorang jamaah haji keluar meninggalkan rumahnya dalam keadaan memikirkan apa yang ia tinggalkan di belakangnya: harta, pekerjaan, keluarga, dan anak-anaknya. Ia pergi meninggalkan mereka, berpamitan tanpa mengetahui apakah ia akan kembali dari safar dan perjalanannya itu, atau justru di sanalah ajal dan akhir hidupnya.Karena itulah tawakal kepada Allah menjadi obat bagi hati yang gelisah dan penenteram bagi jiwa yang bingung. Tawakal termasuk amalan hati yang dibutuhkan setiap waktu, dan semakin ditekankan pada musim haji.Tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla termasuk amalan hati yang paling agung. Hakikat tawakal adalah bersandarnya hati secara sempurna kepada Allah disertai keyakinan penuh kepada-Nya.Dari tawakal lahir banyak bentuk ibadah hati lainnya, seperti rasa takut, harap, cinta, rasa cemas, dan lainnya.Namun tawakal bukan berarti meninggalkan sebab, pasrah kepada kemalasan, atau bersikap tidak mau berusaha. Hakikat tawakal justru adalah menempuh sebab-sebab yang Allah perintahkan untuk diambil, tanpa bersandar kepada sebab tersebut dan tanpa menaruh kepercayaan penuh kepadanya. Yang menjadi sandaran dan tempat bergantung hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla, Dzat yang menciptakan sebab dan akibatnya.Dialah yang menjadikan sebab memiliki pengaruh. Seandainya Allah menghendaki, Dia mampu mencabut pengaruh tersebut sehingga sebab itu tidak lagi menghasilkan apa pun.Karena itu, termasuk tanda lemahnya tawakal kepada Allah adalah terlalu bergantung kepada sebab-sebab duniawi, merasa tenang sepenuhnya kepadanya, serta takut berlebihan ketika sebab itu hilang, seolah-olah sebab tersebut dapat memberi manfaat atau mudarat dengan sendirinya.Akibat sikap seperti ini, seseorang yang terlalu bergantung kepada sebab bisa terjatuh dalam perkara haram atau meninggalkan kewajiban. Bahkan bisa jadi ia mengarahkan rasa takut dan harapnya—yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla—kepada makhluk yang lemah, yang sebenarnya tidak mampu mendatangkan mudarat maupun manfaat untuk dirinya sendiri, apalagi untuk orang lain. 5. Mengagungkan Syiar-Syiar Allah Jalla wa ‘AlaDi antara tujuan dan hikmah terbesar ibadah haji adalah mendidik seorang hamba agar mengagungkan syiar-syiar Allah dan perkara-perkara yang dimuliakan-Nya, menghormatinya, mencintainya, serta merasa takut untuk meremehkan atau melanggarnya.Allah Ta’ala berfirman setelah menyebutkan beberapa hukum tentang haji,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Allah Ta’ala juga berfirman,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (QS. Al-Hajj: 30)Haji merupakan salah satu momen terbesar tampaknya pengagungan kepada Allah. Bahkan pengagungan tersebut termasuk tujuan utama dari ibadah haji. Di antara bentuk pengagungan terhadap syiar Allah adalah bersungguh-sungguh dalam menaati Allah sesuai syariat-Nya dan mengikuti sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.Wukuf di Arafah termasuk syiar Allah. Hewan kurban termasuk syiar Allah. Mencukur rambut ketika tahallul termasuk syiar Allah. Melempar jumrah juga termasuk syiar Allah. Barang siapa mengagungkannya, maka itu merupakan bagian dari ketakwaan hati.Karena itu, mengagungkan seluruh manasik haji termasuk bagian dari ketakwaan hati, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ahli tafsir.Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«لَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِخَيْرٍ مَا عَظَّمُوا هَذِهِ الْحُرْمَةَ حَقَّ تَعْظِيمِهَا، فَإِذَا تَرَكُوهَا وَضَيَّعُوهَا هَلَكُوا»“Umat ini akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengagungkan kehormatan ini dengan pengagungan yang semestinya. Jika mereka meninggalkan dan menyia-nyiakannya, maka mereka akan binasa.” (HR. Ahmad, 4:347; Ibnu Majah, no. 3110; Sanad Hadits ini hasan menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Fath Al-Bari, 3:449)Kita perlu memahami bahwa mengagungkan syiar Allah dilakukan dengan memuliakannya di dalam hati, mencintainya, dan menyempurnakan penghambaan kepada Allah ketika menjalankannya.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Ruh ibadah adalah pengagungan dan kecintaan. Jika salah satunya hilang, maka ibadah itu menjadi rusak.” (Madarij As-Salikin, 1:459)Mengagungkan syiar dan larangan Allah merupakan tanda kuatnya iman dan besarnya kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, meremehkan perintah-perintah Allah menunjukkan lemahnya iman dan kurangnya rasa takut kepada-Nya.Sangat disayangkan, sebagian jamaah haji—semoga Allah memberi mereka hidayah—masih meremehkan sebagian manasik, seperti melempar jumrah, mabit, dan amalan lainnya. Mereka mewakilkannya kepada orang lain tanpa kebutuhan yang mendesak. Bahkan ada yang pulang ke negerinya sebelum mabit dan sebelum melempar jumrah. Ini jelas menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan termasuk bentuk meremehkan syiar-syiar Allah.Haji bukan sekadar perjalanan santai, bukan pula wisata religi semata. Haji adalah ibadah yang agung dan momentum besar untuk memperkuat iman. Karena itu, hendaknya seorang hamba memperbanyak bekal amal saleh selama menjalankannya.Barang siapa merasakan keagungan Allah pada hari-hari mulia ini, ia tidak akan menyia-nyiakan walau satu jam pun darinya.Maka hendaklah orang-orang yang berani melanggar kehormatan Allah bertakwa kepada-Nya. Sesungguhnya dosa menjadi lebih besar ketika dilakukan di tanah haram dan di sekitar rumah Allah. Hendaknya mereka membersihkan jiwa dari dosa-dosa besar dan membersihkan Baitullah dari kotoran maksiat dan amal-amal buruk. 6. Mengingat AkhiratKetika seorang jamaah haji meninggalkan kampung halamannya dan menempuh beratnya perjalanan, hendaknya ia mengingat keluarnya manusia dari dunia ini melalui kematian menuju hari kebangkitan dan berbagai kedahsyatannya.Saat seorang yang berihram mengenakan pakaian ihramnya, hendaknya ia mengingat kain kafannya dan menyadari bahwa suatu saat nanti ia akan bertemu Rabb-nya dengan penampilan yang berbeda dari pakaian penduduk dunia.Baca juga: Dahsyatnya Hari Kiamat: Manusia Dikumpulkan Tanpa Busana dan Tanpa Alas KakiKetika ia berdiri di Arafah, melihat manusia yang berdesakan, suara yang saling meninggi, serta berbagai bahasa yang berbeda-beda, hendaknya ia mengingat padang mahsyar pada hari kiamat dan berkumpulnya seluruh umat manusia di tempat tersebut.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,فَلِلَّهِ ذَاكَ الْمَوْقِفُ الْأَعْظَمُ الَّذِي كَمَوْقِفِ يَوْمِ الْعَرْضِ بَلْ ذَاكَ أَعْظَمُ“Maka sungguh agung peristiwa itu,Seperti peristiwa hari dihadapkan kepada Allah, bahkan lebih agung lagi.”Belum lagi beratnya perjalanan dan kelelahan berpindah dari satu masy’ar ke masy’ar lainnya. Di sana seorang hamba akan teringat sempit dan sulitnya keadaan di padang kiamat, sampai-sampai ada manusia yang tenggelam dalam keringatnya sendiri.Ketika seorang jamaah haji meninggalkan negeri, keluarga, pekerjaan, harta, dan perdagangannya, hendaknya ia mengingat sebuah perjalanan yang tidak ada kepulangan setelahnya, yaitu perjalanan menuju akhirat.Apabila seorang hamba benar-benar mengingat hal tersebut, ia akan berhaji layaknya orang yang sedang berpamitan untuk terakhir kalinya. Ia akan lebih sering mengingat kematian dan kubur, lalu berdoa kepada Rabb-nya dengan sungguh-sungguh memohon ampunan, hingga ia kembali dari hajinya dalam keadaan bersih dari dosa seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya. 7. Mencintai Kebaikan untuk Kaum Muslimin dan Berbuat Baik kepada MerekaBerkumpulnya manusia dan padatnya jamaah haji sering kali menampakkan akhlak asli seseorang, terutama saat menghadapi kesulitan. Karena itu, di antara amalan hati yang sangat penting dalam musim haji adalah memiliki kasih sayang kepada sesama muslim, bersikap lembut kepada jamaah haji, serta mencintai kebaikan untuk mereka.Dalam penjelasan Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang haji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menggambarkan kelembutan dan kasih sayang Nabi kepada manusia. Jabir berkata,«وَقَدْ شَنَقَ لِلْقَصْوَاءِ الزِّمَامَ حَتَّى إِنَّ رَأْسَهَا لَيُصِيبُ مَوْرِكَ رَحْلِهِ وَيَقُولُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى: أَيُّهَا النَّاسُ السَّكِينَةَ السَّكِينَةَ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan tali kendali Al-Qashwa’ (unta beliau) agar tidak berjalan cepat sehingga tidak menyakiti manusia, sampai kepala untanya hampir menyentuh pelana. Sambil memberi isyarat dengan tangan kanannya beliau berkata, ‘Wahai manusia, tenanglah… tenanglah.’” (HR. Muslim, no. 1218)Maksudnya adalah bersikap lembut, tidak tergesa-gesa, memperhatikan orang-orang lemah, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.Allah Ta’ala telah menyiapkan pahala yang sangat besar bagi haji yang mabrur. Di antara makna al-birr (kebaikan) dalam haji adalah berbuat baik kepada manusia.Dalam hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ»“Kebaikan adalah akhlak yang mulia.” (HR. Muslim, no. 2553)Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama menjelaskan bahwa al-birr bisa bermakna menyambung hubungan, kelembutan, kebaikan, pergaulan yang baik, serta ketaatan. Semua itu merupakan inti dari akhlak yang mulia. Dan hal ini sangat dibutuhkan dalam ibadah haji, yaitu memperlakukan manusia dengan baik melalui ucapan maupun perbuatan.”Safar disebut sebagai safar karena perjalanan itu akan menyingkap akhlak asli seseorang.Dalam Musnad Ahmad, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ»“Haji mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.” Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan haji yang mabrur, wahai Rasulullah?”Beliau menjawab,«إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ»“Memberi makan dan menyebarkan salam.”Dalam riwayat lain disebutkan,«وَطِيبُ الْكَلَامِ»“Dan ucapan yang baik.” (HR. Ahmad, no. 3:325; Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 3:479)Sa’id bin Jubair rahimahullah pernah ditanya, “Haji seperti apa yang paling utama?”Beliau menjawab, “Haji orang yang memberi makan dan menjaga lisannya.”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku mendengar bahwa itu termasuk bentuk haji yang mabrur.”Dalam riwayat mursal Khalid bin Ma’dan disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa gunanya seseorang mendatangi Baitullah jika ia tidak memiliki tiga sifat:wara’ yang menghalanginya dari perkara haram,kelembutan (hilm) yang mampu mengendalikan emosinya,dan pergaulan yang baik terhadap teman seperjalanannya.Jika tidak demikian, maka Allah tidak membutuhkan hajinya.”Di antara sifat kebaikan yang paling mencakup dan sangat dibutuhkan oleh jamaah haji adalah wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Jurai Al-Hujaimi—yaitu Jabir bin Sulaim radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا أَنْ تَأْتِيَهُ، وَلَوْ أَنْ تَهَبَ صِلَةَ الْحَبْلِ، وَلَوْ أَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ الْمُسْتَسْقِي، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ الْمُسْلِمَ وَوَجْهُكَ بَسْطٌ إِلَيْهِ، وَلَوْ أَنْ تُؤْنِسَ الْوَحْشَانَ بِنَفْسِكَ، وَلَوْ أَنْ تَهَبَ الشِّسْعَ، وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ، فَإِنَّهُ مِنَ الْمَخِيلَةِ وَلَا يُحِبُّهَا اللَّهُ“Jangan sekali-kali engkau meremehkan sedikit pun perbuatan baik yang bisa engkau lakukan, walaupun hanya memberikan tali pengikat, atau menuangkan air dari timbamu ke wadah orang yang meminta air, atau bertemu saudaramu sesama muslim dengan wajah yang berseri kepadanya, atau menghibur orang yang kesepian dengan kehadiranmu, atau memberikan tali sandal. Dan jauhilah menjulurkan pakaian hingga melewati mata kaki, karena itu termasuk kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan tersebut.” (HR. Ahmad, 3:482. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini sahih)Karena itu, jangan sampai seorang jamaah haji meremehkan satu pun bentuk kebaikan, walaupun hanya menyingkirkan gangguan dari jalan, atau menyapa saudaranya dengan wajah yang berseri-seri.Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya dan paling sabar menghadapi gangguan manusia.Allah telah menyiapkan surga-surga ‘Adn bagi orang-orang yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, dan memaafkan manusia.Sesungguhnya haji adalah perjalanan iman yang sangat mendalam, dipenuhi ibadah-ibadah agung dan kenangan yang mulia. Sebaik-baik jamaah haji adalah yang paling bermanfaat bagi saudara-saudaranya sesama muslim, paling sabar menghadapi gangguan manusia, dan paling bertakwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita kesempatan berhaji ke Baitullah Al-Haram, memudahkan pelaksanaannya bagi kita, serta menerima amal tersebut dari kita semua. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia Referensi: albayan.co.uk —- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 6 Dzulhijjah 1447 H, 23 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak muslim haji mabrur ibadah hati ikhlas manasik haji musim haji syiar Allah takwa tauhid tawakal