Sempit Rezeki, Tetapi Sehat

Walau miskin namun kita diberi kesehatan, itu sudah nikmat yang luar biasa. Kadang kita mengeluh dengan sempitnya rezeki, padahal Allah tidak menimpakan kita penyakit. Kita terus masih sehat bugar.   Coba renungkan ayat berikut, فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) “Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku”. Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya Maka Dia berkata: “Rabbku menghinakanku“. (QS. Al-Fajr: 15-16) Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia ketika ia diuji oleh Rabbnya dengan diberi nikmat dan kekayaan, yaitu dimuliakan dengan harta dan kemuliaan serta diberi nikmat yang melimpah, ia pun katakan, “Allah benar-benar telah memuliakanku.” Ia pun bergembira dan senang, lantas ia katakan, “Rabbku telah memuliakanku dengan karunia ini.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Kemudian Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia jika ia ditimpa musibah oleh Rabbnya dengan disempitkan rezeki, yaitu rezekinya tidak begitu banyak, maka ia pun katakan bahwa Rabbnya telah menghinakan atau merendahkannya. Sehingga ia pun tidak bersyukur atas karunia yang Allah berikan berupa keselamatan anggota badan dan rezeki berupa nikmat sehat pada jasadnya.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Dari Mu’adz bin ‘Abdullah bin Khubaib, dari bapaknya, dari pamannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ “Tidak mengapa seseorang itu kaya asalkan bertakwa. Sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan hati yang bahagia adalah bagian dari nikmat.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad, 5: 372. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Sehat ternyata lebih penting … Walhamdulillah, Allah masih tetap terus beri kita kesehatan. Semoga jadi renungan berharga di pagi yang cerah ini. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki

Sempit Rezeki, Tetapi Sehat

Walau miskin namun kita diberi kesehatan, itu sudah nikmat yang luar biasa. Kadang kita mengeluh dengan sempitnya rezeki, padahal Allah tidak menimpakan kita penyakit. Kita terus masih sehat bugar.   Coba renungkan ayat berikut, فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) “Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku”. Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya Maka Dia berkata: “Rabbku menghinakanku“. (QS. Al-Fajr: 15-16) Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia ketika ia diuji oleh Rabbnya dengan diberi nikmat dan kekayaan, yaitu dimuliakan dengan harta dan kemuliaan serta diberi nikmat yang melimpah, ia pun katakan, “Allah benar-benar telah memuliakanku.” Ia pun bergembira dan senang, lantas ia katakan, “Rabbku telah memuliakanku dengan karunia ini.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Kemudian Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia jika ia ditimpa musibah oleh Rabbnya dengan disempitkan rezeki, yaitu rezekinya tidak begitu banyak, maka ia pun katakan bahwa Rabbnya telah menghinakan atau merendahkannya. Sehingga ia pun tidak bersyukur atas karunia yang Allah berikan berupa keselamatan anggota badan dan rezeki berupa nikmat sehat pada jasadnya.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Dari Mu’adz bin ‘Abdullah bin Khubaib, dari bapaknya, dari pamannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ “Tidak mengapa seseorang itu kaya asalkan bertakwa. Sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan hati yang bahagia adalah bagian dari nikmat.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad, 5: 372. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Sehat ternyata lebih penting … Walhamdulillah, Allah masih tetap terus beri kita kesehatan. Semoga jadi renungan berharga di pagi yang cerah ini. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki
Walau miskin namun kita diberi kesehatan, itu sudah nikmat yang luar biasa. Kadang kita mengeluh dengan sempitnya rezeki, padahal Allah tidak menimpakan kita penyakit. Kita terus masih sehat bugar.   Coba renungkan ayat berikut, فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) “Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku”. Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya Maka Dia berkata: “Rabbku menghinakanku“. (QS. Al-Fajr: 15-16) Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia ketika ia diuji oleh Rabbnya dengan diberi nikmat dan kekayaan, yaitu dimuliakan dengan harta dan kemuliaan serta diberi nikmat yang melimpah, ia pun katakan, “Allah benar-benar telah memuliakanku.” Ia pun bergembira dan senang, lantas ia katakan, “Rabbku telah memuliakanku dengan karunia ini.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Kemudian Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia jika ia ditimpa musibah oleh Rabbnya dengan disempitkan rezeki, yaitu rezekinya tidak begitu banyak, maka ia pun katakan bahwa Rabbnya telah menghinakan atau merendahkannya. Sehingga ia pun tidak bersyukur atas karunia yang Allah berikan berupa keselamatan anggota badan dan rezeki berupa nikmat sehat pada jasadnya.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Dari Mu’adz bin ‘Abdullah bin Khubaib, dari bapaknya, dari pamannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ “Tidak mengapa seseorang itu kaya asalkan bertakwa. Sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan hati yang bahagia adalah bagian dari nikmat.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad, 5: 372. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Sehat ternyata lebih penting … Walhamdulillah, Allah masih tetap terus beri kita kesehatan. Semoga jadi renungan berharga di pagi yang cerah ini. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki


Walau miskin namun kita diberi kesehatan, itu sudah nikmat yang luar biasa. Kadang kita mengeluh dengan sempitnya rezeki, padahal Allah tidak menimpakan kita penyakit. Kita terus masih sehat bugar.   Coba renungkan ayat berikut, فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) “Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku”. Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya Maka Dia berkata: “Rabbku menghinakanku“. (QS. Al-Fajr: 15-16) Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia ketika ia diuji oleh Rabbnya dengan diberi nikmat dan kekayaan, yaitu dimuliakan dengan harta dan kemuliaan serta diberi nikmat yang melimpah, ia pun katakan, “Allah benar-benar telah memuliakanku.” Ia pun bergembira dan senang, lantas ia katakan, “Rabbku telah memuliakanku dengan karunia ini.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Kemudian Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia jika ia ditimpa musibah oleh Rabbnya dengan disempitkan rezeki, yaitu rezekinya tidak begitu banyak, maka ia pun katakan bahwa Rabbnya telah menghinakan atau merendahkannya. Sehingga ia pun tidak bersyukur atas karunia yang Allah berikan berupa keselamatan anggota badan dan rezeki berupa nikmat sehat pada jasadnya.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Dari Mu’adz bin ‘Abdullah bin Khubaib, dari bapaknya, dari pamannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ “Tidak mengapa seseorang itu kaya asalkan bertakwa. Sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan hati yang bahagia adalah bagian dari nikmat.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad, 5: 372. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Sehat ternyata lebih penting … Walhamdulillah, Allah masih tetap terus beri kita kesehatan. Semoga jadi renungan berharga di pagi yang cerah ini. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki

Allah Beri Rezeki Tanpa Kesulitan

Allah memberi rezeki tanpa ada kesulitan dan sama sekali tidak terbebani. Imam Ath-Thahawi rahimahullah dalam matan kitab aqidahnya berkata, “Allah itu Maha Pemberi Rezeki dan sama sekali tidak terbebani.” Seandainya semua makhluk meminta pada Allah, Allah akan memberikan pada mereka dan itu sama sekali tidak akan mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun juga. Dalam hadits qudsi disebutkan, Allah Ta’ala berfirman, يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ “Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuh permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan.” (HR. Muslim no. 2577, dari Abu Dzar Al Ghifari). Mengenai hadits ini, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits ini memotivasi setiap makhluk untuk meminta pada Allah dan meminta segala kebutuhan pada-Nya.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 48) Dalam hadits dikatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِنَّ اللَّهَ قَالَ لِى أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ ». وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَمِينُ اللَّهِ مَلأَى لاَ يَغِيضُهَا سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُذْ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِى يَمِينِهِ » “Allah Ta’ala berfirman padaku, ‘Berinfaklah kamu, niscaya Aku akan berinfak (memberikan ganti) kepadamu.’ Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pemberian Allah selalu cukup, dan tidak pernah berkurang walaupun mengalir siang dan malam. Adakah terpikir olehmu, sudah berapa banyakkah yang diberikan Allah sejak terciptanya langit dan bumi? Sesungguhnya apa yang ada di Tangan Allah, tidak pernah berkurang karenanya.” (HR. Bukhari, no. 4684; Muslim, no. 993) Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata, “Allah sungguh Maha Kaya. Allah yang memegang setiap rezeki yang tak terhingga, yakni melebihi apa yang diketahui setiap makhluk-Nya.” (Fath Al-Bari, 13: 395) Semoga bermanfaat. — Diselesaikan ba’da Shubuh di Hotel Sentral Jl. Pramuka Jakarta, 9 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki

Allah Beri Rezeki Tanpa Kesulitan

Allah memberi rezeki tanpa ada kesulitan dan sama sekali tidak terbebani. Imam Ath-Thahawi rahimahullah dalam matan kitab aqidahnya berkata, “Allah itu Maha Pemberi Rezeki dan sama sekali tidak terbebani.” Seandainya semua makhluk meminta pada Allah, Allah akan memberikan pada mereka dan itu sama sekali tidak akan mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun juga. Dalam hadits qudsi disebutkan, Allah Ta’ala berfirman, يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ “Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuh permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan.” (HR. Muslim no. 2577, dari Abu Dzar Al Ghifari). Mengenai hadits ini, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits ini memotivasi setiap makhluk untuk meminta pada Allah dan meminta segala kebutuhan pada-Nya.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 48) Dalam hadits dikatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِنَّ اللَّهَ قَالَ لِى أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ ». وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَمِينُ اللَّهِ مَلأَى لاَ يَغِيضُهَا سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُذْ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِى يَمِينِهِ » “Allah Ta’ala berfirman padaku, ‘Berinfaklah kamu, niscaya Aku akan berinfak (memberikan ganti) kepadamu.’ Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pemberian Allah selalu cukup, dan tidak pernah berkurang walaupun mengalir siang dan malam. Adakah terpikir olehmu, sudah berapa banyakkah yang diberikan Allah sejak terciptanya langit dan bumi? Sesungguhnya apa yang ada di Tangan Allah, tidak pernah berkurang karenanya.” (HR. Bukhari, no. 4684; Muslim, no. 993) Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata, “Allah sungguh Maha Kaya. Allah yang memegang setiap rezeki yang tak terhingga, yakni melebihi apa yang diketahui setiap makhluk-Nya.” (Fath Al-Bari, 13: 395) Semoga bermanfaat. — Diselesaikan ba’da Shubuh di Hotel Sentral Jl. Pramuka Jakarta, 9 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki
Allah memberi rezeki tanpa ada kesulitan dan sama sekali tidak terbebani. Imam Ath-Thahawi rahimahullah dalam matan kitab aqidahnya berkata, “Allah itu Maha Pemberi Rezeki dan sama sekali tidak terbebani.” Seandainya semua makhluk meminta pada Allah, Allah akan memberikan pada mereka dan itu sama sekali tidak akan mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun juga. Dalam hadits qudsi disebutkan, Allah Ta’ala berfirman, يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ “Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuh permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan.” (HR. Muslim no. 2577, dari Abu Dzar Al Ghifari). Mengenai hadits ini, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits ini memotivasi setiap makhluk untuk meminta pada Allah dan meminta segala kebutuhan pada-Nya.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 48) Dalam hadits dikatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِنَّ اللَّهَ قَالَ لِى أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ ». وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَمِينُ اللَّهِ مَلأَى لاَ يَغِيضُهَا سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُذْ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِى يَمِينِهِ » “Allah Ta’ala berfirman padaku, ‘Berinfaklah kamu, niscaya Aku akan berinfak (memberikan ganti) kepadamu.’ Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pemberian Allah selalu cukup, dan tidak pernah berkurang walaupun mengalir siang dan malam. Adakah terpikir olehmu, sudah berapa banyakkah yang diberikan Allah sejak terciptanya langit dan bumi? Sesungguhnya apa yang ada di Tangan Allah, tidak pernah berkurang karenanya.” (HR. Bukhari, no. 4684; Muslim, no. 993) Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata, “Allah sungguh Maha Kaya. Allah yang memegang setiap rezeki yang tak terhingga, yakni melebihi apa yang diketahui setiap makhluk-Nya.” (Fath Al-Bari, 13: 395) Semoga bermanfaat. — Diselesaikan ba’da Shubuh di Hotel Sentral Jl. Pramuka Jakarta, 9 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki


Allah memberi rezeki tanpa ada kesulitan dan sama sekali tidak terbebani. Imam Ath-Thahawi rahimahullah dalam matan kitab aqidahnya berkata, “Allah itu Maha Pemberi Rezeki dan sama sekali tidak terbebani.” Seandainya semua makhluk meminta pada Allah, Allah akan memberikan pada mereka dan itu sama sekali tidak akan mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun juga. Dalam hadits qudsi disebutkan, Allah Ta’ala berfirman, يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ “Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuh permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan.” (HR. Muslim no. 2577, dari Abu Dzar Al Ghifari). Mengenai hadits ini, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits ini memotivasi setiap makhluk untuk meminta pada Allah dan meminta segala kebutuhan pada-Nya.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 48) Dalam hadits dikatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِنَّ اللَّهَ قَالَ لِى أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ ». وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَمِينُ اللَّهِ مَلأَى لاَ يَغِيضُهَا سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُذْ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِى يَمِينِهِ » “Allah Ta’ala berfirman padaku, ‘Berinfaklah kamu, niscaya Aku akan berinfak (memberikan ganti) kepadamu.’ Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pemberian Allah selalu cukup, dan tidak pernah berkurang walaupun mengalir siang dan malam. Adakah terpikir olehmu, sudah berapa banyakkah yang diberikan Allah sejak terciptanya langit dan bumi? Sesungguhnya apa yang ada di Tangan Allah, tidak pernah berkurang karenanya.” (HR. Bukhari, no. 4684; Muslim, no. 993) Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata, “Allah sungguh Maha Kaya. Allah yang memegang setiap rezeki yang tak terhingga, yakni melebihi apa yang diketahui setiap makhluk-Nya.” (Fath Al-Bari, 13: 395) Semoga bermanfaat. — Diselesaikan ba’da Shubuh di Hotel Sentral Jl. Pramuka Jakarta, 9 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki

Kaitan Ikhlas dan Mudah Jawab Pertanyaan Kubur

Apa kaitan ikhlas dan mudah jawab pertanyaan kubur?   Amalan yang dilakukan ikhlas karena Allah itulah yang diperintahkan. Setiap amalan sangat tergantung pada niat. Dari ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى “Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1; Muslim, no. 1907) Dan niat itu sangat tergantung dengan keikhlasan pada Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5) Dalam ayat lainnya, Allah memperingatkan dari bahaya riya’ –yang merupakan lawan dari ikhlas- dalam firman-Nya, لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ “Jika kamu mempersekutukan (Rabbmu), niscaya akan hapuslah amalmu.” (QS. Az-Zumar: 65) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya.” (HR. Muslim, no. 2985) Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas) adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa.” (Syarh Shahih Muslim, 18: 96) Adapun buah dari keikhlasan akan membuat amalan itu langgeng, alias istiqamah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, وَمَا لاَ يَكُوْنُ لَهُ لاَ يَنْفَعُ وَلاَ يَدُوْمُ “Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”  (Dar’ At-Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql, 2: 188). Para ulama juga memiliki istilah lain, مَا كَانَ للهِ يَبْقَى “Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng.” Ada juga perkataan dari Imam Malik di mana para ulama menyebutkan bahwa Imam Ibnu Abi Dzi’bi yang semasa dan senegeri dengan Imam Malik pernah menulis kitab yang lebih besar dari Muwatho’. Karena demikian, Imam Malik pernah ditanya, “Apa faedahnya engkau menulis kitab yang sama seperti itu?” Jawaban beliau, “Sesuatu yang ikhlas karena Allah, pasti akan lebih langgeng.” (Ar Risalah Al Mustathrofah, hal. 9. Dinukil dari Muwatho’ Imam Malik, 3: 521). Allah Ta’ala berfirman, يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27) Tafsiran ayat “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh …” dijelaskan dalam hadits berikut. عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « الْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِى الْقَبْرِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ ( يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِى الآخِرَةِ ) Dari Al-Bara’ bin ‘Azib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim ditanya di dalam kubur, ia akan berikrar bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka inilah tafsir ayat: ‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.’ ” (HR. Bukhari, no. 4699) Menurut salah satu penafsiran dalam ayat di atas, Allah akan meneguhkan orang beriman di dunia selama ia hidup dan di akhirat ketika ditanya di dalam kubur. Lihat Zaad Al-Masiir (4: 361) karya Ibnul Jauzi. Bukti di alam kubur, ahli ikhlas dan orang yang kuat imannya akan mudah menjawab pertanyaan kubur adalah riwayat berikut. Al-Mas’udi berkata, dari ‘Abdullah bin Mukhariq, dari bapaknya, dari ‘Abdullah, ia berkata,  “Sesungguhnya seorang mukmin jika meninggal dunia, ia akan didudukkan di kuburnya. Ia akan ditanya, ‘Siapa Rabbmu?’, ‘Apa agamamu?’, ‘Siapa nabimu?’. Allah akan menguatkan orang beriman itu untuk menjawab. Ia akan menjawab, ‘Rabbku Allah, agamaku Islam, nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lantas ‘Abdullah membacakan firman Allah surat Ibrahim ayat 27.” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dan ‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam As-Sunnah, no. 1429; Al-Baihaqi dalam ‘Adzab Al-Qabr, no. 9. Semuanya dari jalur Al-Mas’udi dengan sanad yang hasan. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4: 612) Semoga Allah menganugerahkan pada kita keikhlasan dan mudah menjawab pertanyaan kubur. — Diselesaikan di Darush Sholihin, 5 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsikhlas iman kubur riya

Kaitan Ikhlas dan Mudah Jawab Pertanyaan Kubur

Apa kaitan ikhlas dan mudah jawab pertanyaan kubur?   Amalan yang dilakukan ikhlas karena Allah itulah yang diperintahkan. Setiap amalan sangat tergantung pada niat. Dari ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى “Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1; Muslim, no. 1907) Dan niat itu sangat tergantung dengan keikhlasan pada Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5) Dalam ayat lainnya, Allah memperingatkan dari bahaya riya’ –yang merupakan lawan dari ikhlas- dalam firman-Nya, لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ “Jika kamu mempersekutukan (Rabbmu), niscaya akan hapuslah amalmu.” (QS. Az-Zumar: 65) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya.” (HR. Muslim, no. 2985) Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas) adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa.” (Syarh Shahih Muslim, 18: 96) Adapun buah dari keikhlasan akan membuat amalan itu langgeng, alias istiqamah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, وَمَا لاَ يَكُوْنُ لَهُ لاَ يَنْفَعُ وَلاَ يَدُوْمُ “Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”  (Dar’ At-Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql, 2: 188). Para ulama juga memiliki istilah lain, مَا كَانَ للهِ يَبْقَى “Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng.” Ada juga perkataan dari Imam Malik di mana para ulama menyebutkan bahwa Imam Ibnu Abi Dzi’bi yang semasa dan senegeri dengan Imam Malik pernah menulis kitab yang lebih besar dari Muwatho’. Karena demikian, Imam Malik pernah ditanya, “Apa faedahnya engkau menulis kitab yang sama seperti itu?” Jawaban beliau, “Sesuatu yang ikhlas karena Allah, pasti akan lebih langgeng.” (Ar Risalah Al Mustathrofah, hal. 9. Dinukil dari Muwatho’ Imam Malik, 3: 521). Allah Ta’ala berfirman, يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27) Tafsiran ayat “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh …” dijelaskan dalam hadits berikut. عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « الْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِى الْقَبْرِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ ( يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِى الآخِرَةِ ) Dari Al-Bara’ bin ‘Azib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim ditanya di dalam kubur, ia akan berikrar bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka inilah tafsir ayat: ‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.’ ” (HR. Bukhari, no. 4699) Menurut salah satu penafsiran dalam ayat di atas, Allah akan meneguhkan orang beriman di dunia selama ia hidup dan di akhirat ketika ditanya di dalam kubur. Lihat Zaad Al-Masiir (4: 361) karya Ibnul Jauzi. Bukti di alam kubur, ahli ikhlas dan orang yang kuat imannya akan mudah menjawab pertanyaan kubur adalah riwayat berikut. Al-Mas’udi berkata, dari ‘Abdullah bin Mukhariq, dari bapaknya, dari ‘Abdullah, ia berkata,  “Sesungguhnya seorang mukmin jika meninggal dunia, ia akan didudukkan di kuburnya. Ia akan ditanya, ‘Siapa Rabbmu?’, ‘Apa agamamu?’, ‘Siapa nabimu?’. Allah akan menguatkan orang beriman itu untuk menjawab. Ia akan menjawab, ‘Rabbku Allah, agamaku Islam, nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lantas ‘Abdullah membacakan firman Allah surat Ibrahim ayat 27.” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dan ‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam As-Sunnah, no. 1429; Al-Baihaqi dalam ‘Adzab Al-Qabr, no. 9. Semuanya dari jalur Al-Mas’udi dengan sanad yang hasan. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4: 612) Semoga Allah menganugerahkan pada kita keikhlasan dan mudah menjawab pertanyaan kubur. — Diselesaikan di Darush Sholihin, 5 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsikhlas iman kubur riya
Apa kaitan ikhlas dan mudah jawab pertanyaan kubur?   Amalan yang dilakukan ikhlas karena Allah itulah yang diperintahkan. Setiap amalan sangat tergantung pada niat. Dari ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى “Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1; Muslim, no. 1907) Dan niat itu sangat tergantung dengan keikhlasan pada Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5) Dalam ayat lainnya, Allah memperingatkan dari bahaya riya’ –yang merupakan lawan dari ikhlas- dalam firman-Nya, لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ “Jika kamu mempersekutukan (Rabbmu), niscaya akan hapuslah amalmu.” (QS. Az-Zumar: 65) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya.” (HR. Muslim, no. 2985) Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas) adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa.” (Syarh Shahih Muslim, 18: 96) Adapun buah dari keikhlasan akan membuat amalan itu langgeng, alias istiqamah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, وَمَا لاَ يَكُوْنُ لَهُ لاَ يَنْفَعُ وَلاَ يَدُوْمُ “Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”  (Dar’ At-Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql, 2: 188). Para ulama juga memiliki istilah lain, مَا كَانَ للهِ يَبْقَى “Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng.” Ada juga perkataan dari Imam Malik di mana para ulama menyebutkan bahwa Imam Ibnu Abi Dzi’bi yang semasa dan senegeri dengan Imam Malik pernah menulis kitab yang lebih besar dari Muwatho’. Karena demikian, Imam Malik pernah ditanya, “Apa faedahnya engkau menulis kitab yang sama seperti itu?” Jawaban beliau, “Sesuatu yang ikhlas karena Allah, pasti akan lebih langgeng.” (Ar Risalah Al Mustathrofah, hal. 9. Dinukil dari Muwatho’ Imam Malik, 3: 521). Allah Ta’ala berfirman, يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27) Tafsiran ayat “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh …” dijelaskan dalam hadits berikut. عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « الْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِى الْقَبْرِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ ( يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِى الآخِرَةِ ) Dari Al-Bara’ bin ‘Azib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim ditanya di dalam kubur, ia akan berikrar bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka inilah tafsir ayat: ‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.’ ” (HR. Bukhari, no. 4699) Menurut salah satu penafsiran dalam ayat di atas, Allah akan meneguhkan orang beriman di dunia selama ia hidup dan di akhirat ketika ditanya di dalam kubur. Lihat Zaad Al-Masiir (4: 361) karya Ibnul Jauzi. Bukti di alam kubur, ahli ikhlas dan orang yang kuat imannya akan mudah menjawab pertanyaan kubur adalah riwayat berikut. Al-Mas’udi berkata, dari ‘Abdullah bin Mukhariq, dari bapaknya, dari ‘Abdullah, ia berkata,  “Sesungguhnya seorang mukmin jika meninggal dunia, ia akan didudukkan di kuburnya. Ia akan ditanya, ‘Siapa Rabbmu?’, ‘Apa agamamu?’, ‘Siapa nabimu?’. Allah akan menguatkan orang beriman itu untuk menjawab. Ia akan menjawab, ‘Rabbku Allah, agamaku Islam, nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lantas ‘Abdullah membacakan firman Allah surat Ibrahim ayat 27.” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dan ‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam As-Sunnah, no. 1429; Al-Baihaqi dalam ‘Adzab Al-Qabr, no. 9. Semuanya dari jalur Al-Mas’udi dengan sanad yang hasan. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4: 612) Semoga Allah menganugerahkan pada kita keikhlasan dan mudah menjawab pertanyaan kubur. — Diselesaikan di Darush Sholihin, 5 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsikhlas iman kubur riya


Apa kaitan ikhlas dan mudah jawab pertanyaan kubur?   Amalan yang dilakukan ikhlas karena Allah itulah yang diperintahkan. Setiap amalan sangat tergantung pada niat. Dari ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى “Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1; Muslim, no. 1907) Dan niat itu sangat tergantung dengan keikhlasan pada Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5) Dalam ayat lainnya, Allah memperingatkan dari bahaya riya’ –yang merupakan lawan dari ikhlas- dalam firman-Nya, لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ “Jika kamu mempersekutukan (Rabbmu), niscaya akan hapuslah amalmu.” (QS. Az-Zumar: 65) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya.” (HR. Muslim, no. 2985) Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas) adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa.” (Syarh Shahih Muslim, 18: 96) Adapun buah dari keikhlasan akan membuat amalan itu langgeng, alias istiqamah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, وَمَا لاَ يَكُوْنُ لَهُ لاَ يَنْفَعُ وَلاَ يَدُوْمُ “Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”  (Dar’ At-Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql, 2: 188). Para ulama juga memiliki istilah lain, مَا كَانَ للهِ يَبْقَى “Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng.” Ada juga perkataan dari Imam Malik di mana para ulama menyebutkan bahwa Imam Ibnu Abi Dzi’bi yang semasa dan senegeri dengan Imam Malik pernah menulis kitab yang lebih besar dari Muwatho’. Karena demikian, Imam Malik pernah ditanya, “Apa faedahnya engkau menulis kitab yang sama seperti itu?” Jawaban beliau, “Sesuatu yang ikhlas karena Allah, pasti akan lebih langgeng.” (Ar Risalah Al Mustathrofah, hal. 9. Dinukil dari Muwatho’ Imam Malik, 3: 521). Allah Ta’ala berfirman, يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27) Tafsiran ayat “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh …” dijelaskan dalam hadits berikut. عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « الْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِى الْقَبْرِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ ( يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِى الآخِرَةِ ) Dari Al-Bara’ bin ‘Azib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim ditanya di dalam kubur, ia akan berikrar bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka inilah tafsir ayat: ‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.’ ” (HR. Bukhari, no. 4699) Menurut salah satu penafsiran dalam ayat di atas, Allah akan meneguhkan orang beriman di dunia selama ia hidup dan di akhirat ketika ditanya di dalam kubur. Lihat Zaad Al-Masiir (4: 361) karya Ibnul Jauzi. Bukti di alam kubur, ahli ikhlas dan orang yang kuat imannya akan mudah menjawab pertanyaan kubur adalah riwayat berikut. Al-Mas’udi berkata, dari ‘Abdullah bin Mukhariq, dari bapaknya, dari ‘Abdullah, ia berkata,  “Sesungguhnya seorang mukmin jika meninggal dunia, ia akan didudukkan di kuburnya. Ia akan ditanya, ‘Siapa Rabbmu?’, ‘Apa agamamu?’, ‘Siapa nabimu?’. Allah akan menguatkan orang beriman itu untuk menjawab. Ia akan menjawab, ‘Rabbku Allah, agamaku Islam, nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lantas ‘Abdullah membacakan firman Allah surat Ibrahim ayat 27.” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dan ‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam As-Sunnah, no. 1429; Al-Baihaqi dalam ‘Adzab Al-Qabr, no. 9. Semuanya dari jalur Al-Mas’udi dengan sanad yang hasan. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4: 612) Semoga Allah menganugerahkan pada kita keikhlasan dan mudah menjawab pertanyaan kubur. — Diselesaikan di Darush Sholihin, 5 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsikhlas iman kubur riya

Manfaat Teman yang Baik

Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita memiliki teman yang baik. Apa saja manfaatnya?   Allah Ta’ala berfirman, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28) Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 94) Teman yang shalih punya pengaruh untuk menguatkan iman dan terus istiqamah karena kita akan terpengaruh dengan kelakuan baiknya hingga semangat untuk beramal. Sebagaimana kata pepatah Arab, الصَّاحِبُ سَاحِبٌ “Yang namanya sahabat bisa menarik (mempengaruhi).” Ahli hikmah juga menuturkan, يُظَنُّ بِالمرْءِ مَا يُظَنُّ بِقَرِيْنِهِ “Seseorang itu bisa dinilai dari orang yang jadi teman dekatnya.” Para ulama pun memiliki nasehat agar kita selalu dekat dengan orang shalih. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata, نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ “Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.” (Siyar A’lam An- Nubala’, 8: 435) Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang shalih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang shalih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang shalih lainnya. ‘Abdullah bin Al-Mubarak mengatakan, “Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.” Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.” (Ta’thir Al-Anfas min Hadits Al-Ikhlas, hlm. 466)   Manfaat Berteman dengan Orang Shalih   1- Dia akan mengingatkan kita untuk beramal shalih, juga saat terjatuh dalam kesalahan. Yang menjadi dalil teman shalih akan selalu mendukung kita dalam kebaikan dan mengingatkan kita dari kesalahan, lihat kisah persaudaraan Salman dan Abu Darda’ berikut. Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.” Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali. Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.“ Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari, no. 1968).   2- Dia akan mendoakan kita dalam kebaikan. Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan –istrinya adalah Ad Darda’ binti Abid Darda’-, beliau mengatakan, “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.” Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu do’akanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,” دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733) Saat kita tasyahud, kita seringkali membaca bacaan berikut, السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ “Assalaamu ‘alainaa wa ‘ala ‘ibadillahish shalihiin (artinya: salam untuk kami dan juga untuk hamba Allah yang shalih).” Disebutkan dalam lanjutan hadits, فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمُوهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ “Jika kalian mengucapkan seperti itu, maka doa tadi akan tertuju pada setiap hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi.” (HR. Bukhari, no. 831 dan Muslim, no. 402). Shalihin adalah bentuk plural dari shalih. Ibnu Hajar berkata, “Shalih sendiri berarti, الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته “Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah. Kedudukan shalih pun bertingkat-tingkat.” (Fath Al-Bari, 2: 314).   3- Teman dekat yang baik akan dibangkitkan bersama kita pada hari kiamat. Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, قِيلَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الرَّجُلُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ قَالَ « الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ » “Ada yang berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ada seseorang yang mencintai suatu kaum, namun ia tak pernah berjumpa dengan mereka.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170; Muslim, no. 2640) Semoga Allah memberikan kita teman yang shalih di dunia dan akhirat. — Khutbah Jum’at di Bibal, Panggang, Jumat, 15 April 2016 Diselesaikan menjelang ‘Ashar di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssahabat teman bergaul

Manfaat Teman yang Baik

Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita memiliki teman yang baik. Apa saja manfaatnya?   Allah Ta’ala berfirman, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28) Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 94) Teman yang shalih punya pengaruh untuk menguatkan iman dan terus istiqamah karena kita akan terpengaruh dengan kelakuan baiknya hingga semangat untuk beramal. Sebagaimana kata pepatah Arab, الصَّاحِبُ سَاحِبٌ “Yang namanya sahabat bisa menarik (mempengaruhi).” Ahli hikmah juga menuturkan, يُظَنُّ بِالمرْءِ مَا يُظَنُّ بِقَرِيْنِهِ “Seseorang itu bisa dinilai dari orang yang jadi teman dekatnya.” Para ulama pun memiliki nasehat agar kita selalu dekat dengan orang shalih. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata, نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ “Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.” (Siyar A’lam An- Nubala’, 8: 435) Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang shalih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang shalih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang shalih lainnya. ‘Abdullah bin Al-Mubarak mengatakan, “Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.” Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.” (Ta’thir Al-Anfas min Hadits Al-Ikhlas, hlm. 466)   Manfaat Berteman dengan Orang Shalih   1- Dia akan mengingatkan kita untuk beramal shalih, juga saat terjatuh dalam kesalahan. Yang menjadi dalil teman shalih akan selalu mendukung kita dalam kebaikan dan mengingatkan kita dari kesalahan, lihat kisah persaudaraan Salman dan Abu Darda’ berikut. Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.” Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali. Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.“ Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari, no. 1968).   2- Dia akan mendoakan kita dalam kebaikan. Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan –istrinya adalah Ad Darda’ binti Abid Darda’-, beliau mengatakan, “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.” Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu do’akanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,” دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733) Saat kita tasyahud, kita seringkali membaca bacaan berikut, السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ “Assalaamu ‘alainaa wa ‘ala ‘ibadillahish shalihiin (artinya: salam untuk kami dan juga untuk hamba Allah yang shalih).” Disebutkan dalam lanjutan hadits, فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمُوهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ “Jika kalian mengucapkan seperti itu, maka doa tadi akan tertuju pada setiap hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi.” (HR. Bukhari, no. 831 dan Muslim, no. 402). Shalihin adalah bentuk plural dari shalih. Ibnu Hajar berkata, “Shalih sendiri berarti, الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته “Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah. Kedudukan shalih pun bertingkat-tingkat.” (Fath Al-Bari, 2: 314).   3- Teman dekat yang baik akan dibangkitkan bersama kita pada hari kiamat. Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, قِيلَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الرَّجُلُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ قَالَ « الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ » “Ada yang berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ada seseorang yang mencintai suatu kaum, namun ia tak pernah berjumpa dengan mereka.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170; Muslim, no. 2640) Semoga Allah memberikan kita teman yang shalih di dunia dan akhirat. — Khutbah Jum’at di Bibal, Panggang, Jumat, 15 April 2016 Diselesaikan menjelang ‘Ashar di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssahabat teman bergaul
Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita memiliki teman yang baik. Apa saja manfaatnya?   Allah Ta’ala berfirman, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28) Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 94) Teman yang shalih punya pengaruh untuk menguatkan iman dan terus istiqamah karena kita akan terpengaruh dengan kelakuan baiknya hingga semangat untuk beramal. Sebagaimana kata pepatah Arab, الصَّاحِبُ سَاحِبٌ “Yang namanya sahabat bisa menarik (mempengaruhi).” Ahli hikmah juga menuturkan, يُظَنُّ بِالمرْءِ مَا يُظَنُّ بِقَرِيْنِهِ “Seseorang itu bisa dinilai dari orang yang jadi teman dekatnya.” Para ulama pun memiliki nasehat agar kita selalu dekat dengan orang shalih. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata, نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ “Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.” (Siyar A’lam An- Nubala’, 8: 435) Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang shalih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang shalih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang shalih lainnya. ‘Abdullah bin Al-Mubarak mengatakan, “Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.” Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.” (Ta’thir Al-Anfas min Hadits Al-Ikhlas, hlm. 466)   Manfaat Berteman dengan Orang Shalih   1- Dia akan mengingatkan kita untuk beramal shalih, juga saat terjatuh dalam kesalahan. Yang menjadi dalil teman shalih akan selalu mendukung kita dalam kebaikan dan mengingatkan kita dari kesalahan, lihat kisah persaudaraan Salman dan Abu Darda’ berikut. Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.” Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali. Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.“ Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari, no. 1968).   2- Dia akan mendoakan kita dalam kebaikan. Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan –istrinya adalah Ad Darda’ binti Abid Darda’-, beliau mengatakan, “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.” Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu do’akanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,” دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733) Saat kita tasyahud, kita seringkali membaca bacaan berikut, السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ “Assalaamu ‘alainaa wa ‘ala ‘ibadillahish shalihiin (artinya: salam untuk kami dan juga untuk hamba Allah yang shalih).” Disebutkan dalam lanjutan hadits, فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمُوهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ “Jika kalian mengucapkan seperti itu, maka doa tadi akan tertuju pada setiap hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi.” (HR. Bukhari, no. 831 dan Muslim, no. 402). Shalihin adalah bentuk plural dari shalih. Ibnu Hajar berkata, “Shalih sendiri berarti, الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته “Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah. Kedudukan shalih pun bertingkat-tingkat.” (Fath Al-Bari, 2: 314).   3- Teman dekat yang baik akan dibangkitkan bersama kita pada hari kiamat. Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, قِيلَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الرَّجُلُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ قَالَ « الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ » “Ada yang berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ada seseorang yang mencintai suatu kaum, namun ia tak pernah berjumpa dengan mereka.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170; Muslim, no. 2640) Semoga Allah memberikan kita teman yang shalih di dunia dan akhirat. — Khutbah Jum’at di Bibal, Panggang, Jumat, 15 April 2016 Diselesaikan menjelang ‘Ashar di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssahabat teman bergaul


Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita memiliki teman yang baik. Apa saja manfaatnya?   Allah Ta’ala berfirman, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28) Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 94) Teman yang shalih punya pengaruh untuk menguatkan iman dan terus istiqamah karena kita akan terpengaruh dengan kelakuan baiknya hingga semangat untuk beramal. Sebagaimana kata pepatah Arab, الصَّاحِبُ سَاحِبٌ “Yang namanya sahabat bisa menarik (mempengaruhi).” Ahli hikmah juga menuturkan, يُظَنُّ بِالمرْءِ مَا يُظَنُّ بِقَرِيْنِهِ “Seseorang itu bisa dinilai dari orang yang jadi teman dekatnya.” Para ulama pun memiliki nasehat agar kita selalu dekat dengan orang shalih. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata, نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ “Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.” (Siyar A’lam An- Nubala’, 8: 435) Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang shalih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang shalih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang shalih lainnya. ‘Abdullah bin Al-Mubarak mengatakan, “Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.” Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.” (Ta’thir Al-Anfas min Hadits Al-Ikhlas, hlm. 466)   Manfaat Berteman dengan Orang Shalih   1- Dia akan mengingatkan kita untuk beramal shalih, juga saat terjatuh dalam kesalahan. Yang menjadi dalil teman shalih akan selalu mendukung kita dalam kebaikan dan mengingatkan kita dari kesalahan, lihat kisah persaudaraan Salman dan Abu Darda’ berikut. Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.” Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali. Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.“ Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari, no. 1968).   2- Dia akan mendoakan kita dalam kebaikan. Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan –istrinya adalah Ad Darda’ binti Abid Darda’-, beliau mengatakan, “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.” Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu do’akanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,” دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733) Saat kita tasyahud, kita seringkali membaca bacaan berikut, السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ “Assalaamu ‘alainaa wa ‘ala ‘ibadillahish shalihiin (artinya: salam untuk kami dan juga untuk hamba Allah yang shalih).” Disebutkan dalam lanjutan hadits, فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمُوهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ “Jika kalian mengucapkan seperti itu, maka doa tadi akan tertuju pada setiap hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi.” (HR. Bukhari, no. 831 dan Muslim, no. 402). Shalihin adalah bentuk plural dari shalih. Ibnu Hajar berkata, “Shalih sendiri berarti, الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته “Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah. Kedudukan shalih pun bertingkat-tingkat.” (Fath Al-Bari, 2: 314).   3- Teman dekat yang baik akan dibangkitkan bersama kita pada hari kiamat. Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, قِيلَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الرَّجُلُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ قَالَ « الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ » “Ada yang berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ada seseorang yang mencintai suatu kaum, namun ia tak pernah berjumpa dengan mereka.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170; Muslim, no. 2640) Semoga Allah memberikan kita teman yang shalih di dunia dan akhirat. — Khutbah Jum’at di Bibal, Panggang, Jumat, 15 April 2016 Diselesaikan menjelang ‘Ashar di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssahabat teman bergaul

Awas Makan Harta Warisan Yang Haram !!

Khotbah Jumat, Masjid Nabawi, 8  Rajab 1437 HOleh : Syekh Shalah Al-BudairKhotbah PertamaKaum muslimin sekalian! Siapa yang dikuasai keserakahan, akan segera mendapat kemurkaan. Siapa yang pandangan matanya tertuju kepada sesuatu yang bukan miliknya, akan mempercepat tertimpa kekecewaan, dan terus menerus dirundung kesedihan.            Memakan harta orang lain secara tidak sah telah menjadi kendaraan kaum murahan dan tunggangan golongan manusia rendahan. Sementara itu, akhirat merupakan sesuatu yang lebih dicintai oleh kaum beriman dibanding apapun benda koleksi unik, lebih berharga dari pada nilai sesuatu yang dapat tergantikan, dan lebih hebat dari pada karya seni indah nan antik.            Siapa yang telah kehilangan kepercayaan, terungkap pengkhianatannya,  buruk isi hatinya, tampak jelas dan terbongkar tipu dayanya, terpampang kemunafikan dan akal bulusnya, pastilah akan mudah melanggar (etika) pembagian, mengkhianati mitra kerjanya, mengambil jatah dirinya dan masih rakus terhadap jatah orang lain. Tidak akan dia biarkan mitranya mendapatkan bagian walau hanya seujung jari, tidak juga sejengkal, dan ia tidak akan memberikan bagi mitranya tempat duduk, tempat naik, tempat bernaung, tempat untuk berjalan, kesempatan, terlebih lagi harta.            Jika urusannya didiskusikan, iapun dendam. Jika diaudit maka iapun kabur. Jika dicari maka menghilang, sehingga tak seorangpun meilhatnya. Semua urusannya adalah yang penting menguntungkannya, selalu menjengkelkan, penipuan dan siasat pengelabuan.وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡخُلَطَآءِ لَيَبۡغِي بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَقَلِيلٞ مَّا هُمۡۗ [ ص / 24]“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu – yakni di antara para rekan, sahabat karib dan mitra kerja sama- sebagian mereka (memang) berbuat semena-mena terhadap sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; (namun sayangnya) amat sedikit mereka ini.” Qs Shad : 24Seburuk-buruk tipe manusia adalah orang yang jika hatinya rakus, langsung mencuri. Jika sudah kenyang, berbuat dosa. Jika kurang puas, terus menggerogoti. Jika telah merasa tercukupi, bertindak tidak senonoh.Termasuk kesemena-menaan yang terlampau jauh adalah memakan harta warisan milik ahli waris lainnya. Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman :وَتَأۡكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ أَكۡلٗا لَّمّٗا [ الفجر/19]“Dan kalian memakan harta warisan dengan cara mencampur adukkan (yang halal dan yang haram).” Qs Al-Fajr : 19Kata “At-Turats” di sini adalah harta warisan, sedangkan “Al-Lammu” adalah upaya pengumpulan harta warisan dengan melakukan pelanggaran, sehingga orang itu selain memakan bagiannya sendiri, juga bagian warisan milik orang lain. Padahal sistem pembagian harta peninggalan itu telah diatur dalam syariat Islam sebagai putusan hukum yang adil.Maka barangsiapa yang mengicu (mengakali) untuk menganulir (menggugurkan) putusan dan ketentuan yang ada, dengan mengubah bagian dan jatah (masing-masing ahli waris), melakukan keculasan dan kecurangan dalam pembagiannya, menghalangi salah seorang ahli waris dari haknya, menahan harta peninggalan, menyembunyikan aset-aset dan barang-barang peninggalan, lalu menyembunyikan berkas-berkas bukti harta warisan, berikut memonopoli pengelolaan dan pemanfaatannya untuk dirinya dengan memaksa ahli waris (yang berhak) untuk melepaskan bagiannya dan merasa puas dengan sebagian jatahnya, sungguh dia telah melanggar syariat Allah, ketetapan-ketetapan pembagian-Nya dan aturan-aturan hukum-Nya.Pada akhir ayat tentang harta warisan dalam Surah An-Nisa’ Allah berfirman :تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ [ النساء / 13-14]“Itulah ketentuan-ketentuan hukum Allah ( artinya ketentuan dan ukuran pembagian tersebut adalah keputusan dari Allah). Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya,(artinya tidak menambah jatah warisan sebagian ahli waris dan tidak pula mengurangi jatah sebagian yang lain, dengan cara mengakali atau cara apapun, namun membiarkan masing-masing menerapkan hukum Allah dalam ketentuan pembagian warisan tersebut),niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah keberuntungan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya serta melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, (artinya menentang Allah dalam ketentuan pembagian harta warisan tersebut), niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” Qs An-Nisa’ :13-14            Pengkhianat zalim yang kelewat batas selalu bersikap siaga untuk memangsa hak wanita dan anak yatim, meskipun Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- sang rasul pembawa petunjuk dalam doanya telah mewanti-wanti :اللَّهُمَّ إِنِّي أُحَرِّجُ حَقَّ الضَّعِيفَيْنِ الْيَتِيمِ وَالْمَرْأَةِ [ أخرجه ابن ماجه من حديث إبى هريرة ]“Ya Allah sesungguhnya aku akan menjadi penghalang ( bagi siapapun yang mencurangi ) hak dua golongan yang lemah, yaitu; anak yatim dan wanita.” HR. Ibnu Majah dari hadis Abu Hurairah.Wahai Anda yang mendapatkan harta warisan dengan begitu mudah! Merenunglah sejenak !Wahai Anda yang menguasai harta warisan milik para wanita karena tergoda oleh kondisi mereka yang labil, sikap pendiam dan rasa malu.Wahai Anda yang mendominasi harta warisan milik para wanita lajang dan anak-anak yatim karena tergoda oleh status mereka yang masih di bawah umur, atau ketidak berdayaan mereka dalam kesendirian dan hidup sebatang kara.Sungguh celaka kedua tangan Anda…, sungguh sia-sia usaha Anda…, karena kesengsaraan  akan terus menghantui Anda…Bagaimana jiwa Anda akan tenang, sementara Anda menganeksasi harta, tanah pemukiman dan lahan garapan.Anda telah menjerumuskan saudara-saudara Anda dan kerabat-kerabat Anda ke dalam kemiskinan dan keterlantaran…Mana mungkin jiwa Anda bisa tenang, sementara Anda raup sendiri keuntungan tanah, hasil buah-buahan, upah, dan hak milik bangunan… lantas Anda membalas saudara-saudara Anda dan kerabat Anda dengan sikap acuh tak acuh, pengabaian, pelecehan dan penistaan. ?Siapakah yang melegalkan Anda untuk melakukan ini semua dengan leluasa ?, melakukan dan membatalkan transaksi, mengesahkan dan menerbitkan surat-sertifikat…? Siapakah yang menyuruh Anda menahan atau melepas harta warisan?, melarang dan menggunakan sesukanya?Celakalah dan terkutuklah Anda… Anda bukanlah siapa-siapa melainkan salah satu di antara mereka yang punya andil memiliki harta warisan itu. Anda mempunyai hak dan kewajiban sama seperti mereka. Maka takutlah kepada Robb (Tuhan)-mu sebelum engkau tertimpa kehinaan dan kebinasaan. Hadapilah setiap persoalan menurut aturan dan ketentuan yang ada, dengan keseriusan dan ketegasan. Berikanlah hak kepada para pemiliknya dan yang berhak menerimanya. Janganlah malas, jangan menunda, jangan ragu, jangan memperlambat dan jangan bermain-main.Sesungguhnya bencana bisa saja datang, kendala bisa melintang, dan kematian mungkin datang tiba-tiba. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :اِقْسِمُوا الْمَالَ بَيْنَ أَهْلِ الْفَرَائِضِ عَلَى كِتَابِ اللهِ، فَمَا تَرَكَتِ الْفَرَائِضُ فَلِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ“Bagilah harta diantara ashaabul furud (yang berhak mendapat warisan berdasarkan bagian yang telah ditentukan) sesuai dengan kitabullah, dan jika masih tersisa maka berikanlah kepada lelaki yang paling dekat kekerabatannya Khotbah KeduaWahai Anda yang memonopoli harta wakaf beserta hasilnya.  Wahai Anda yang mengelola pembagian harta sedekah, harta zakat, harta warisan, dan harta-harta yang lain!Wahai Anda yang selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun membiarkan harta tersebut tersimpan dalam lumbungnya, dalam genggaman dan tanggun jawabnya! Mengapakah Anda menahan harta itu dan membiarkannya tidak bergerak di tangan Anda?Distribusikanlah harta-harta tersebut hari ini langsung kepada pihak yang berhak menerimanya jika memang Anda termasuk orang-orang yang takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya. Jadikanlah sunnah sebagai landasan dan pedoman bagi Anda.Dari ‘Uqbah bin al-Haarits -radhiallahu ‘anhu- berkata,صَلَّيْتُ وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ الْعَصْرَ فَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ مُسْرِعًا فَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ إِلَى بَعْضِ حُجَرِ نِسَائِهِ فَفَزِعَ النَّاسُ مِنْ سُرْعَتِهِ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ فَرَأَى أَنَّهُمْ عَجِبُوا مِنْ سُرْعَتِهِ فَقَالَ ذَكَرْتُ شَيْئًا مِنْ تِبْرٍ عِنْدَنَا فَكَرِهْتُ أَنْ يَحْبِسَنِي فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ“Aku sholat ashar di belakang Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- di Madinah, lalu Nabi salam kemudian berdiri untuk segera pergi hingga melompati punggung orang banyak. Beliau menuju ke sebuah rumah milik salah seorang istri beliau. Orang-orang pun terkejut melihat sikap beliau yang terburu-buru itu.  Maka Nabi pun keluar menemui mereka dan memang beliau melihat keheranan pada mereka karena ketergesaan beliau itu, lalu beliau berkata, “Aku mengingat sepotong emas dari harta sedekah yang ada pada kami, aku tidak ingin emas tersebut mengahalangi aku ( untuk mengingat Allah). Itulah sebabnya, aku memerintahkan untuk segera dibagikan.” (HR Al-Bukhari)Dari ‘Aisyah – radhiallahu ‘anhaa – berkata :اشْتَدَّ وَجَعُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ سَبْعَةُ دَنَانِيرَ أَوْ تِسْعَةٌ، فقَالَ: «يَا عَائِشَةُ مَا فَعَلَتْ تِلْكَ الذَّهَبُ»؟ فَقُلْتُ: هِيَ عِنْدِي، قَالَ: «تَصَدَّقِي بِهَا»، قَالَتْ: فَشُغِلْتُ بِهِ، ثُمَّ، قَالَ: «يَا عَائِشَةُ مَا فَعَلَتْ تِلْكَ الذَّهَبُ»؟ فَقُلْتُ: هِيَ عِنْدِي، فقَالَ: «ائْتِنِي بِهَا»، قَالَتْ: فَجِئْتُ بِهَا، فَوَضَعَهَا فِي كَفِّهِ، ثُمَّ، قَالَ:  «مَا ظَنُّ مُحَمَّدٍ أَنْ لَوْ لَقِيَ اللَّهَ وَهَذِهِ عِنْدَهُ»“Sakit Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- semakin keras, sementara di sisi beliau ada tujuh atau sembilan keping dinar, maka beliau berkata, “Wahai ‘Aisyah, bagaimana dengan kepingan-kepingan emas (dinar) tersebut?”. Aku berkata, “Masih ada padaku”. Beliau berkata, “Sedekahkanlah !”. Aisyah berkata, “Akupun tersibukan (sehingga tidak sempat menyedekahkannya)”. Maka kemudian beliau bertanya lagi, “Wahai ‘Aisyah, bagaimana dengan kepingan-kepingan emas tersebut?”, Aku berkata, “Masih ada padaku”. Beliau berkata, “Berikanlah kepadaku emas tersebut”. Aisyah berkata, “Maka akupun membawa emas tersebut, lalu aku letakkan di telapak tangan beliau, kemudian beliau berkata, “Bagaimana persangkaan Muhammad, kalau seandainya ia bertemu dengan Allah sementara emas ini masih ada padanya?” (HR Ibnu Hibbaan)Dan dari Ummu Salamah -radhiallahu ‘anha- ia berkata,دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ سَاهِمُ الْوَجْهِ، حَسِبْتُ ذَلِكَ مِنْ وَجْعٍ، فَقُلْتُ: مَا لِي أَرَاكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكَ، سَاهِمَ الْوَجْهِ، قَالَ:  «مِنْ أَجْلِ الدَّنَانِيرِ السَّبْعَةِ الَّتِي أَتَتْنَا الْأَمْسِ فَلَمْ نَقْسِمْهَا»“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- menemuiku dalam kondisi berubah raut wajahnya, aku menyangka hal itu karena sakit, maka aku berkata, “Mengapa aku melihat raut wajahmu berubah?”, beliau berkata, “Karena tujuh kepingan dinar yang datang kepada kita kemarin, dan belum kita bagikan” (HR Ibnu Hibban)Camkan, hanya gara-gara tujuh keping dinar saja yang belum terbagikan setelah berlalu sehari, begitu membuat raut wajah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berubah !!.Maka bertakwalah kepada Allah wahai kaum muslimin, dan lakukanlah apa yang dapat mempercepat Anda terbebas dari tanggung jawab, dan terhindar dari sikap suka menunda-nunda.Semoga Allah-subhanahu wa ta’ala- meridhai kita dan menghapus dosa-dosa kita.===  Doa ===Penerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirjafiranda.com 

Awas Makan Harta Warisan Yang Haram !!

Khotbah Jumat, Masjid Nabawi, 8  Rajab 1437 HOleh : Syekh Shalah Al-BudairKhotbah PertamaKaum muslimin sekalian! Siapa yang dikuasai keserakahan, akan segera mendapat kemurkaan. Siapa yang pandangan matanya tertuju kepada sesuatu yang bukan miliknya, akan mempercepat tertimpa kekecewaan, dan terus menerus dirundung kesedihan.            Memakan harta orang lain secara tidak sah telah menjadi kendaraan kaum murahan dan tunggangan golongan manusia rendahan. Sementara itu, akhirat merupakan sesuatu yang lebih dicintai oleh kaum beriman dibanding apapun benda koleksi unik, lebih berharga dari pada nilai sesuatu yang dapat tergantikan, dan lebih hebat dari pada karya seni indah nan antik.            Siapa yang telah kehilangan kepercayaan, terungkap pengkhianatannya,  buruk isi hatinya, tampak jelas dan terbongkar tipu dayanya, terpampang kemunafikan dan akal bulusnya, pastilah akan mudah melanggar (etika) pembagian, mengkhianati mitra kerjanya, mengambil jatah dirinya dan masih rakus terhadap jatah orang lain. Tidak akan dia biarkan mitranya mendapatkan bagian walau hanya seujung jari, tidak juga sejengkal, dan ia tidak akan memberikan bagi mitranya tempat duduk, tempat naik, tempat bernaung, tempat untuk berjalan, kesempatan, terlebih lagi harta.            Jika urusannya didiskusikan, iapun dendam. Jika diaudit maka iapun kabur. Jika dicari maka menghilang, sehingga tak seorangpun meilhatnya. Semua urusannya adalah yang penting menguntungkannya, selalu menjengkelkan, penipuan dan siasat pengelabuan.وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡخُلَطَآءِ لَيَبۡغِي بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَقَلِيلٞ مَّا هُمۡۗ [ ص / 24]“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu – yakni di antara para rekan, sahabat karib dan mitra kerja sama- sebagian mereka (memang) berbuat semena-mena terhadap sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; (namun sayangnya) amat sedikit mereka ini.” Qs Shad : 24Seburuk-buruk tipe manusia adalah orang yang jika hatinya rakus, langsung mencuri. Jika sudah kenyang, berbuat dosa. Jika kurang puas, terus menggerogoti. Jika telah merasa tercukupi, bertindak tidak senonoh.Termasuk kesemena-menaan yang terlampau jauh adalah memakan harta warisan milik ahli waris lainnya. Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman :وَتَأۡكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ أَكۡلٗا لَّمّٗا [ الفجر/19]“Dan kalian memakan harta warisan dengan cara mencampur adukkan (yang halal dan yang haram).” Qs Al-Fajr : 19Kata “At-Turats” di sini adalah harta warisan, sedangkan “Al-Lammu” adalah upaya pengumpulan harta warisan dengan melakukan pelanggaran, sehingga orang itu selain memakan bagiannya sendiri, juga bagian warisan milik orang lain. Padahal sistem pembagian harta peninggalan itu telah diatur dalam syariat Islam sebagai putusan hukum yang adil.Maka barangsiapa yang mengicu (mengakali) untuk menganulir (menggugurkan) putusan dan ketentuan yang ada, dengan mengubah bagian dan jatah (masing-masing ahli waris), melakukan keculasan dan kecurangan dalam pembagiannya, menghalangi salah seorang ahli waris dari haknya, menahan harta peninggalan, menyembunyikan aset-aset dan barang-barang peninggalan, lalu menyembunyikan berkas-berkas bukti harta warisan, berikut memonopoli pengelolaan dan pemanfaatannya untuk dirinya dengan memaksa ahli waris (yang berhak) untuk melepaskan bagiannya dan merasa puas dengan sebagian jatahnya, sungguh dia telah melanggar syariat Allah, ketetapan-ketetapan pembagian-Nya dan aturan-aturan hukum-Nya.Pada akhir ayat tentang harta warisan dalam Surah An-Nisa’ Allah berfirman :تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ [ النساء / 13-14]“Itulah ketentuan-ketentuan hukum Allah ( artinya ketentuan dan ukuran pembagian tersebut adalah keputusan dari Allah). Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya,(artinya tidak menambah jatah warisan sebagian ahli waris dan tidak pula mengurangi jatah sebagian yang lain, dengan cara mengakali atau cara apapun, namun membiarkan masing-masing menerapkan hukum Allah dalam ketentuan pembagian warisan tersebut),niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah keberuntungan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya serta melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, (artinya menentang Allah dalam ketentuan pembagian harta warisan tersebut), niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” Qs An-Nisa’ :13-14            Pengkhianat zalim yang kelewat batas selalu bersikap siaga untuk memangsa hak wanita dan anak yatim, meskipun Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- sang rasul pembawa petunjuk dalam doanya telah mewanti-wanti :اللَّهُمَّ إِنِّي أُحَرِّجُ حَقَّ الضَّعِيفَيْنِ الْيَتِيمِ وَالْمَرْأَةِ [ أخرجه ابن ماجه من حديث إبى هريرة ]“Ya Allah sesungguhnya aku akan menjadi penghalang ( bagi siapapun yang mencurangi ) hak dua golongan yang lemah, yaitu; anak yatim dan wanita.” HR. Ibnu Majah dari hadis Abu Hurairah.Wahai Anda yang mendapatkan harta warisan dengan begitu mudah! Merenunglah sejenak !Wahai Anda yang menguasai harta warisan milik para wanita karena tergoda oleh kondisi mereka yang labil, sikap pendiam dan rasa malu.Wahai Anda yang mendominasi harta warisan milik para wanita lajang dan anak-anak yatim karena tergoda oleh status mereka yang masih di bawah umur, atau ketidak berdayaan mereka dalam kesendirian dan hidup sebatang kara.Sungguh celaka kedua tangan Anda…, sungguh sia-sia usaha Anda…, karena kesengsaraan  akan terus menghantui Anda…Bagaimana jiwa Anda akan tenang, sementara Anda menganeksasi harta, tanah pemukiman dan lahan garapan.Anda telah menjerumuskan saudara-saudara Anda dan kerabat-kerabat Anda ke dalam kemiskinan dan keterlantaran…Mana mungkin jiwa Anda bisa tenang, sementara Anda raup sendiri keuntungan tanah, hasil buah-buahan, upah, dan hak milik bangunan… lantas Anda membalas saudara-saudara Anda dan kerabat Anda dengan sikap acuh tak acuh, pengabaian, pelecehan dan penistaan. ?Siapakah yang melegalkan Anda untuk melakukan ini semua dengan leluasa ?, melakukan dan membatalkan transaksi, mengesahkan dan menerbitkan surat-sertifikat…? Siapakah yang menyuruh Anda menahan atau melepas harta warisan?, melarang dan menggunakan sesukanya?Celakalah dan terkutuklah Anda… Anda bukanlah siapa-siapa melainkan salah satu di antara mereka yang punya andil memiliki harta warisan itu. Anda mempunyai hak dan kewajiban sama seperti mereka. Maka takutlah kepada Robb (Tuhan)-mu sebelum engkau tertimpa kehinaan dan kebinasaan. Hadapilah setiap persoalan menurut aturan dan ketentuan yang ada, dengan keseriusan dan ketegasan. Berikanlah hak kepada para pemiliknya dan yang berhak menerimanya. Janganlah malas, jangan menunda, jangan ragu, jangan memperlambat dan jangan bermain-main.Sesungguhnya bencana bisa saja datang, kendala bisa melintang, dan kematian mungkin datang tiba-tiba. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :اِقْسِمُوا الْمَالَ بَيْنَ أَهْلِ الْفَرَائِضِ عَلَى كِتَابِ اللهِ، فَمَا تَرَكَتِ الْفَرَائِضُ فَلِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ“Bagilah harta diantara ashaabul furud (yang berhak mendapat warisan berdasarkan bagian yang telah ditentukan) sesuai dengan kitabullah, dan jika masih tersisa maka berikanlah kepada lelaki yang paling dekat kekerabatannya Khotbah KeduaWahai Anda yang memonopoli harta wakaf beserta hasilnya.  Wahai Anda yang mengelola pembagian harta sedekah, harta zakat, harta warisan, dan harta-harta yang lain!Wahai Anda yang selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun membiarkan harta tersebut tersimpan dalam lumbungnya, dalam genggaman dan tanggun jawabnya! Mengapakah Anda menahan harta itu dan membiarkannya tidak bergerak di tangan Anda?Distribusikanlah harta-harta tersebut hari ini langsung kepada pihak yang berhak menerimanya jika memang Anda termasuk orang-orang yang takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya. Jadikanlah sunnah sebagai landasan dan pedoman bagi Anda.Dari ‘Uqbah bin al-Haarits -radhiallahu ‘anhu- berkata,صَلَّيْتُ وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ الْعَصْرَ فَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ مُسْرِعًا فَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ إِلَى بَعْضِ حُجَرِ نِسَائِهِ فَفَزِعَ النَّاسُ مِنْ سُرْعَتِهِ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ فَرَأَى أَنَّهُمْ عَجِبُوا مِنْ سُرْعَتِهِ فَقَالَ ذَكَرْتُ شَيْئًا مِنْ تِبْرٍ عِنْدَنَا فَكَرِهْتُ أَنْ يَحْبِسَنِي فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ“Aku sholat ashar di belakang Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- di Madinah, lalu Nabi salam kemudian berdiri untuk segera pergi hingga melompati punggung orang banyak. Beliau menuju ke sebuah rumah milik salah seorang istri beliau. Orang-orang pun terkejut melihat sikap beliau yang terburu-buru itu.  Maka Nabi pun keluar menemui mereka dan memang beliau melihat keheranan pada mereka karena ketergesaan beliau itu, lalu beliau berkata, “Aku mengingat sepotong emas dari harta sedekah yang ada pada kami, aku tidak ingin emas tersebut mengahalangi aku ( untuk mengingat Allah). Itulah sebabnya, aku memerintahkan untuk segera dibagikan.” (HR Al-Bukhari)Dari ‘Aisyah – radhiallahu ‘anhaa – berkata :اشْتَدَّ وَجَعُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ سَبْعَةُ دَنَانِيرَ أَوْ تِسْعَةٌ، فقَالَ: «يَا عَائِشَةُ مَا فَعَلَتْ تِلْكَ الذَّهَبُ»؟ فَقُلْتُ: هِيَ عِنْدِي، قَالَ: «تَصَدَّقِي بِهَا»، قَالَتْ: فَشُغِلْتُ بِهِ، ثُمَّ، قَالَ: «يَا عَائِشَةُ مَا فَعَلَتْ تِلْكَ الذَّهَبُ»؟ فَقُلْتُ: هِيَ عِنْدِي، فقَالَ: «ائْتِنِي بِهَا»، قَالَتْ: فَجِئْتُ بِهَا، فَوَضَعَهَا فِي كَفِّهِ، ثُمَّ، قَالَ:  «مَا ظَنُّ مُحَمَّدٍ أَنْ لَوْ لَقِيَ اللَّهَ وَهَذِهِ عِنْدَهُ»“Sakit Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- semakin keras, sementara di sisi beliau ada tujuh atau sembilan keping dinar, maka beliau berkata, “Wahai ‘Aisyah, bagaimana dengan kepingan-kepingan emas (dinar) tersebut?”. Aku berkata, “Masih ada padaku”. Beliau berkata, “Sedekahkanlah !”. Aisyah berkata, “Akupun tersibukan (sehingga tidak sempat menyedekahkannya)”. Maka kemudian beliau bertanya lagi, “Wahai ‘Aisyah, bagaimana dengan kepingan-kepingan emas tersebut?”, Aku berkata, “Masih ada padaku”. Beliau berkata, “Berikanlah kepadaku emas tersebut”. Aisyah berkata, “Maka akupun membawa emas tersebut, lalu aku letakkan di telapak tangan beliau, kemudian beliau berkata, “Bagaimana persangkaan Muhammad, kalau seandainya ia bertemu dengan Allah sementara emas ini masih ada padanya?” (HR Ibnu Hibbaan)Dan dari Ummu Salamah -radhiallahu ‘anha- ia berkata,دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ سَاهِمُ الْوَجْهِ، حَسِبْتُ ذَلِكَ مِنْ وَجْعٍ، فَقُلْتُ: مَا لِي أَرَاكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكَ، سَاهِمَ الْوَجْهِ، قَالَ:  «مِنْ أَجْلِ الدَّنَانِيرِ السَّبْعَةِ الَّتِي أَتَتْنَا الْأَمْسِ فَلَمْ نَقْسِمْهَا»“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- menemuiku dalam kondisi berubah raut wajahnya, aku menyangka hal itu karena sakit, maka aku berkata, “Mengapa aku melihat raut wajahmu berubah?”, beliau berkata, “Karena tujuh kepingan dinar yang datang kepada kita kemarin, dan belum kita bagikan” (HR Ibnu Hibban)Camkan, hanya gara-gara tujuh keping dinar saja yang belum terbagikan setelah berlalu sehari, begitu membuat raut wajah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berubah !!.Maka bertakwalah kepada Allah wahai kaum muslimin, dan lakukanlah apa yang dapat mempercepat Anda terbebas dari tanggung jawab, dan terhindar dari sikap suka menunda-nunda.Semoga Allah-subhanahu wa ta’ala- meridhai kita dan menghapus dosa-dosa kita.===  Doa ===Penerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirjafiranda.com 
Khotbah Jumat, Masjid Nabawi, 8  Rajab 1437 HOleh : Syekh Shalah Al-BudairKhotbah PertamaKaum muslimin sekalian! Siapa yang dikuasai keserakahan, akan segera mendapat kemurkaan. Siapa yang pandangan matanya tertuju kepada sesuatu yang bukan miliknya, akan mempercepat tertimpa kekecewaan, dan terus menerus dirundung kesedihan.            Memakan harta orang lain secara tidak sah telah menjadi kendaraan kaum murahan dan tunggangan golongan manusia rendahan. Sementara itu, akhirat merupakan sesuatu yang lebih dicintai oleh kaum beriman dibanding apapun benda koleksi unik, lebih berharga dari pada nilai sesuatu yang dapat tergantikan, dan lebih hebat dari pada karya seni indah nan antik.            Siapa yang telah kehilangan kepercayaan, terungkap pengkhianatannya,  buruk isi hatinya, tampak jelas dan terbongkar tipu dayanya, terpampang kemunafikan dan akal bulusnya, pastilah akan mudah melanggar (etika) pembagian, mengkhianati mitra kerjanya, mengambil jatah dirinya dan masih rakus terhadap jatah orang lain. Tidak akan dia biarkan mitranya mendapatkan bagian walau hanya seujung jari, tidak juga sejengkal, dan ia tidak akan memberikan bagi mitranya tempat duduk, tempat naik, tempat bernaung, tempat untuk berjalan, kesempatan, terlebih lagi harta.            Jika urusannya didiskusikan, iapun dendam. Jika diaudit maka iapun kabur. Jika dicari maka menghilang, sehingga tak seorangpun meilhatnya. Semua urusannya adalah yang penting menguntungkannya, selalu menjengkelkan, penipuan dan siasat pengelabuan.وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡخُلَطَآءِ لَيَبۡغِي بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَقَلِيلٞ مَّا هُمۡۗ [ ص / 24]“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu – yakni di antara para rekan, sahabat karib dan mitra kerja sama- sebagian mereka (memang) berbuat semena-mena terhadap sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; (namun sayangnya) amat sedikit mereka ini.” Qs Shad : 24Seburuk-buruk tipe manusia adalah orang yang jika hatinya rakus, langsung mencuri. Jika sudah kenyang, berbuat dosa. Jika kurang puas, terus menggerogoti. Jika telah merasa tercukupi, bertindak tidak senonoh.Termasuk kesemena-menaan yang terlampau jauh adalah memakan harta warisan milik ahli waris lainnya. Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman :وَتَأۡكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ أَكۡلٗا لَّمّٗا [ الفجر/19]“Dan kalian memakan harta warisan dengan cara mencampur adukkan (yang halal dan yang haram).” Qs Al-Fajr : 19Kata “At-Turats” di sini adalah harta warisan, sedangkan “Al-Lammu” adalah upaya pengumpulan harta warisan dengan melakukan pelanggaran, sehingga orang itu selain memakan bagiannya sendiri, juga bagian warisan milik orang lain. Padahal sistem pembagian harta peninggalan itu telah diatur dalam syariat Islam sebagai putusan hukum yang adil.Maka barangsiapa yang mengicu (mengakali) untuk menganulir (menggugurkan) putusan dan ketentuan yang ada, dengan mengubah bagian dan jatah (masing-masing ahli waris), melakukan keculasan dan kecurangan dalam pembagiannya, menghalangi salah seorang ahli waris dari haknya, menahan harta peninggalan, menyembunyikan aset-aset dan barang-barang peninggalan, lalu menyembunyikan berkas-berkas bukti harta warisan, berikut memonopoli pengelolaan dan pemanfaatannya untuk dirinya dengan memaksa ahli waris (yang berhak) untuk melepaskan bagiannya dan merasa puas dengan sebagian jatahnya, sungguh dia telah melanggar syariat Allah, ketetapan-ketetapan pembagian-Nya dan aturan-aturan hukum-Nya.Pada akhir ayat tentang harta warisan dalam Surah An-Nisa’ Allah berfirman :تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ [ النساء / 13-14]“Itulah ketentuan-ketentuan hukum Allah ( artinya ketentuan dan ukuran pembagian tersebut adalah keputusan dari Allah). Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya,(artinya tidak menambah jatah warisan sebagian ahli waris dan tidak pula mengurangi jatah sebagian yang lain, dengan cara mengakali atau cara apapun, namun membiarkan masing-masing menerapkan hukum Allah dalam ketentuan pembagian warisan tersebut),niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah keberuntungan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya serta melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, (artinya menentang Allah dalam ketentuan pembagian harta warisan tersebut), niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” Qs An-Nisa’ :13-14            Pengkhianat zalim yang kelewat batas selalu bersikap siaga untuk memangsa hak wanita dan anak yatim, meskipun Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- sang rasul pembawa petunjuk dalam doanya telah mewanti-wanti :اللَّهُمَّ إِنِّي أُحَرِّجُ حَقَّ الضَّعِيفَيْنِ الْيَتِيمِ وَالْمَرْأَةِ [ أخرجه ابن ماجه من حديث إبى هريرة ]“Ya Allah sesungguhnya aku akan menjadi penghalang ( bagi siapapun yang mencurangi ) hak dua golongan yang lemah, yaitu; anak yatim dan wanita.” HR. Ibnu Majah dari hadis Abu Hurairah.Wahai Anda yang mendapatkan harta warisan dengan begitu mudah! Merenunglah sejenak !Wahai Anda yang menguasai harta warisan milik para wanita karena tergoda oleh kondisi mereka yang labil, sikap pendiam dan rasa malu.Wahai Anda yang mendominasi harta warisan milik para wanita lajang dan anak-anak yatim karena tergoda oleh status mereka yang masih di bawah umur, atau ketidak berdayaan mereka dalam kesendirian dan hidup sebatang kara.Sungguh celaka kedua tangan Anda…, sungguh sia-sia usaha Anda…, karena kesengsaraan  akan terus menghantui Anda…Bagaimana jiwa Anda akan tenang, sementara Anda menganeksasi harta, tanah pemukiman dan lahan garapan.Anda telah menjerumuskan saudara-saudara Anda dan kerabat-kerabat Anda ke dalam kemiskinan dan keterlantaran…Mana mungkin jiwa Anda bisa tenang, sementara Anda raup sendiri keuntungan tanah, hasil buah-buahan, upah, dan hak milik bangunan… lantas Anda membalas saudara-saudara Anda dan kerabat Anda dengan sikap acuh tak acuh, pengabaian, pelecehan dan penistaan. ?Siapakah yang melegalkan Anda untuk melakukan ini semua dengan leluasa ?, melakukan dan membatalkan transaksi, mengesahkan dan menerbitkan surat-sertifikat…? Siapakah yang menyuruh Anda menahan atau melepas harta warisan?, melarang dan menggunakan sesukanya?Celakalah dan terkutuklah Anda… Anda bukanlah siapa-siapa melainkan salah satu di antara mereka yang punya andil memiliki harta warisan itu. Anda mempunyai hak dan kewajiban sama seperti mereka. Maka takutlah kepada Robb (Tuhan)-mu sebelum engkau tertimpa kehinaan dan kebinasaan. Hadapilah setiap persoalan menurut aturan dan ketentuan yang ada, dengan keseriusan dan ketegasan. Berikanlah hak kepada para pemiliknya dan yang berhak menerimanya. Janganlah malas, jangan menunda, jangan ragu, jangan memperlambat dan jangan bermain-main.Sesungguhnya bencana bisa saja datang, kendala bisa melintang, dan kematian mungkin datang tiba-tiba. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :اِقْسِمُوا الْمَالَ بَيْنَ أَهْلِ الْفَرَائِضِ عَلَى كِتَابِ اللهِ، فَمَا تَرَكَتِ الْفَرَائِضُ فَلِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ“Bagilah harta diantara ashaabul furud (yang berhak mendapat warisan berdasarkan bagian yang telah ditentukan) sesuai dengan kitabullah, dan jika masih tersisa maka berikanlah kepada lelaki yang paling dekat kekerabatannya Khotbah KeduaWahai Anda yang memonopoli harta wakaf beserta hasilnya.  Wahai Anda yang mengelola pembagian harta sedekah, harta zakat, harta warisan, dan harta-harta yang lain!Wahai Anda yang selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun membiarkan harta tersebut tersimpan dalam lumbungnya, dalam genggaman dan tanggun jawabnya! Mengapakah Anda menahan harta itu dan membiarkannya tidak bergerak di tangan Anda?Distribusikanlah harta-harta tersebut hari ini langsung kepada pihak yang berhak menerimanya jika memang Anda termasuk orang-orang yang takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya. Jadikanlah sunnah sebagai landasan dan pedoman bagi Anda.Dari ‘Uqbah bin al-Haarits -radhiallahu ‘anhu- berkata,صَلَّيْتُ وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ الْعَصْرَ فَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ مُسْرِعًا فَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ إِلَى بَعْضِ حُجَرِ نِسَائِهِ فَفَزِعَ النَّاسُ مِنْ سُرْعَتِهِ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ فَرَأَى أَنَّهُمْ عَجِبُوا مِنْ سُرْعَتِهِ فَقَالَ ذَكَرْتُ شَيْئًا مِنْ تِبْرٍ عِنْدَنَا فَكَرِهْتُ أَنْ يَحْبِسَنِي فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ“Aku sholat ashar di belakang Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- di Madinah, lalu Nabi salam kemudian berdiri untuk segera pergi hingga melompati punggung orang banyak. Beliau menuju ke sebuah rumah milik salah seorang istri beliau. Orang-orang pun terkejut melihat sikap beliau yang terburu-buru itu.  Maka Nabi pun keluar menemui mereka dan memang beliau melihat keheranan pada mereka karena ketergesaan beliau itu, lalu beliau berkata, “Aku mengingat sepotong emas dari harta sedekah yang ada pada kami, aku tidak ingin emas tersebut mengahalangi aku ( untuk mengingat Allah). Itulah sebabnya, aku memerintahkan untuk segera dibagikan.” (HR Al-Bukhari)Dari ‘Aisyah – radhiallahu ‘anhaa – berkata :اشْتَدَّ وَجَعُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ سَبْعَةُ دَنَانِيرَ أَوْ تِسْعَةٌ، فقَالَ: «يَا عَائِشَةُ مَا فَعَلَتْ تِلْكَ الذَّهَبُ»؟ فَقُلْتُ: هِيَ عِنْدِي، قَالَ: «تَصَدَّقِي بِهَا»، قَالَتْ: فَشُغِلْتُ بِهِ، ثُمَّ، قَالَ: «يَا عَائِشَةُ مَا فَعَلَتْ تِلْكَ الذَّهَبُ»؟ فَقُلْتُ: هِيَ عِنْدِي، فقَالَ: «ائْتِنِي بِهَا»، قَالَتْ: فَجِئْتُ بِهَا، فَوَضَعَهَا فِي كَفِّهِ، ثُمَّ، قَالَ:  «مَا ظَنُّ مُحَمَّدٍ أَنْ لَوْ لَقِيَ اللَّهَ وَهَذِهِ عِنْدَهُ»“Sakit Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- semakin keras, sementara di sisi beliau ada tujuh atau sembilan keping dinar, maka beliau berkata, “Wahai ‘Aisyah, bagaimana dengan kepingan-kepingan emas (dinar) tersebut?”. Aku berkata, “Masih ada padaku”. Beliau berkata, “Sedekahkanlah !”. Aisyah berkata, “Akupun tersibukan (sehingga tidak sempat menyedekahkannya)”. Maka kemudian beliau bertanya lagi, “Wahai ‘Aisyah, bagaimana dengan kepingan-kepingan emas tersebut?”, Aku berkata, “Masih ada padaku”. Beliau berkata, “Berikanlah kepadaku emas tersebut”. Aisyah berkata, “Maka akupun membawa emas tersebut, lalu aku letakkan di telapak tangan beliau, kemudian beliau berkata, “Bagaimana persangkaan Muhammad, kalau seandainya ia bertemu dengan Allah sementara emas ini masih ada padanya?” (HR Ibnu Hibbaan)Dan dari Ummu Salamah -radhiallahu ‘anha- ia berkata,دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ سَاهِمُ الْوَجْهِ، حَسِبْتُ ذَلِكَ مِنْ وَجْعٍ، فَقُلْتُ: مَا لِي أَرَاكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكَ، سَاهِمَ الْوَجْهِ، قَالَ:  «مِنْ أَجْلِ الدَّنَانِيرِ السَّبْعَةِ الَّتِي أَتَتْنَا الْأَمْسِ فَلَمْ نَقْسِمْهَا»“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- menemuiku dalam kondisi berubah raut wajahnya, aku menyangka hal itu karena sakit, maka aku berkata, “Mengapa aku melihat raut wajahmu berubah?”, beliau berkata, “Karena tujuh kepingan dinar yang datang kepada kita kemarin, dan belum kita bagikan” (HR Ibnu Hibban)Camkan, hanya gara-gara tujuh keping dinar saja yang belum terbagikan setelah berlalu sehari, begitu membuat raut wajah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berubah !!.Maka bertakwalah kepada Allah wahai kaum muslimin, dan lakukanlah apa yang dapat mempercepat Anda terbebas dari tanggung jawab, dan terhindar dari sikap suka menunda-nunda.Semoga Allah-subhanahu wa ta’ala- meridhai kita dan menghapus dosa-dosa kita.===  Doa ===Penerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirjafiranda.com 


Khotbah Jumat, Masjid Nabawi, 8  Rajab 1437 HOleh : Syekh Shalah Al-BudairKhotbah PertamaKaum muslimin sekalian! Siapa yang dikuasai keserakahan, akan segera mendapat kemurkaan. Siapa yang pandangan matanya tertuju kepada sesuatu yang bukan miliknya, akan mempercepat tertimpa kekecewaan, dan terus menerus dirundung kesedihan.            Memakan harta orang lain secara tidak sah telah menjadi kendaraan kaum murahan dan tunggangan golongan manusia rendahan. Sementara itu, akhirat merupakan sesuatu yang lebih dicintai oleh kaum beriman dibanding apapun benda koleksi unik, lebih berharga dari pada nilai sesuatu yang dapat tergantikan, dan lebih hebat dari pada karya seni indah nan antik.            Siapa yang telah kehilangan kepercayaan, terungkap pengkhianatannya,  buruk isi hatinya, tampak jelas dan terbongkar tipu dayanya, terpampang kemunafikan dan akal bulusnya, pastilah akan mudah melanggar (etika) pembagian, mengkhianati mitra kerjanya, mengambil jatah dirinya dan masih rakus terhadap jatah orang lain. Tidak akan dia biarkan mitranya mendapatkan bagian walau hanya seujung jari, tidak juga sejengkal, dan ia tidak akan memberikan bagi mitranya tempat duduk, tempat naik, tempat bernaung, tempat untuk berjalan, kesempatan, terlebih lagi harta.            Jika urusannya didiskusikan, iapun dendam. Jika diaudit maka iapun kabur. Jika dicari maka menghilang, sehingga tak seorangpun meilhatnya. Semua urusannya adalah yang penting menguntungkannya, selalu menjengkelkan, penipuan dan siasat pengelabuan.وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡخُلَطَآءِ لَيَبۡغِي بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَقَلِيلٞ مَّا هُمۡۗ [ ص / 24]“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu – yakni di antara para rekan, sahabat karib dan mitra kerja sama- sebagian mereka (memang) berbuat semena-mena terhadap sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; (namun sayangnya) amat sedikit mereka ini.” Qs Shad : 24Seburuk-buruk tipe manusia adalah orang yang jika hatinya rakus, langsung mencuri. Jika sudah kenyang, berbuat dosa. Jika kurang puas, terus menggerogoti. Jika telah merasa tercukupi, bertindak tidak senonoh.Termasuk kesemena-menaan yang terlampau jauh adalah memakan harta warisan milik ahli waris lainnya. Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman :وَتَأۡكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ أَكۡلٗا لَّمّٗا [ الفجر/19]“Dan kalian memakan harta warisan dengan cara mencampur adukkan (yang halal dan yang haram).” Qs Al-Fajr : 19Kata “At-Turats” di sini adalah harta warisan, sedangkan “Al-Lammu” adalah upaya pengumpulan harta warisan dengan melakukan pelanggaran, sehingga orang itu selain memakan bagiannya sendiri, juga bagian warisan milik orang lain. Padahal sistem pembagian harta peninggalan itu telah diatur dalam syariat Islam sebagai putusan hukum yang adil.Maka barangsiapa yang mengicu (mengakali) untuk menganulir (menggugurkan) putusan dan ketentuan yang ada, dengan mengubah bagian dan jatah (masing-masing ahli waris), melakukan keculasan dan kecurangan dalam pembagiannya, menghalangi salah seorang ahli waris dari haknya, menahan harta peninggalan, menyembunyikan aset-aset dan barang-barang peninggalan, lalu menyembunyikan berkas-berkas bukti harta warisan, berikut memonopoli pengelolaan dan pemanfaatannya untuk dirinya dengan memaksa ahli waris (yang berhak) untuk melepaskan bagiannya dan merasa puas dengan sebagian jatahnya, sungguh dia telah melanggar syariat Allah, ketetapan-ketetapan pembagian-Nya dan aturan-aturan hukum-Nya.Pada akhir ayat tentang harta warisan dalam Surah An-Nisa’ Allah berfirman :تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ [ النساء / 13-14]“Itulah ketentuan-ketentuan hukum Allah ( artinya ketentuan dan ukuran pembagian tersebut adalah keputusan dari Allah). Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya,(artinya tidak menambah jatah warisan sebagian ahli waris dan tidak pula mengurangi jatah sebagian yang lain, dengan cara mengakali atau cara apapun, namun membiarkan masing-masing menerapkan hukum Allah dalam ketentuan pembagian warisan tersebut),niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah keberuntungan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya serta melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, (artinya menentang Allah dalam ketentuan pembagian harta warisan tersebut), niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” Qs An-Nisa’ :13-14            Pengkhianat zalim yang kelewat batas selalu bersikap siaga untuk memangsa hak wanita dan anak yatim, meskipun Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- sang rasul pembawa petunjuk dalam doanya telah mewanti-wanti :اللَّهُمَّ إِنِّي أُحَرِّجُ حَقَّ الضَّعِيفَيْنِ الْيَتِيمِ وَالْمَرْأَةِ [ أخرجه ابن ماجه من حديث إبى هريرة ]“Ya Allah sesungguhnya aku akan menjadi penghalang ( bagi siapapun yang mencurangi ) hak dua golongan yang lemah, yaitu; anak yatim dan wanita.” HR. Ibnu Majah dari hadis Abu Hurairah.Wahai Anda yang mendapatkan harta warisan dengan begitu mudah! Merenunglah sejenak !Wahai Anda yang menguasai harta warisan milik para wanita karena tergoda oleh kondisi mereka yang labil, sikap pendiam dan rasa malu.Wahai Anda yang mendominasi harta warisan milik para wanita lajang dan anak-anak yatim karena tergoda oleh status mereka yang masih di bawah umur, atau ketidak berdayaan mereka dalam kesendirian dan hidup sebatang kara.Sungguh celaka kedua tangan Anda…, sungguh sia-sia usaha Anda…, karena kesengsaraan  akan terus menghantui Anda…Bagaimana jiwa Anda akan tenang, sementara Anda menganeksasi harta, tanah pemukiman dan lahan garapan.Anda telah menjerumuskan saudara-saudara Anda dan kerabat-kerabat Anda ke dalam kemiskinan dan keterlantaran…Mana mungkin jiwa Anda bisa tenang, sementara Anda raup sendiri keuntungan tanah, hasil buah-buahan, upah, dan hak milik bangunan… lantas Anda membalas saudara-saudara Anda dan kerabat Anda dengan sikap acuh tak acuh, pengabaian, pelecehan dan penistaan. ?Siapakah yang melegalkan Anda untuk melakukan ini semua dengan leluasa ?, melakukan dan membatalkan transaksi, mengesahkan dan menerbitkan surat-sertifikat…? Siapakah yang menyuruh Anda menahan atau melepas harta warisan?, melarang dan menggunakan sesukanya?Celakalah dan terkutuklah Anda… Anda bukanlah siapa-siapa melainkan salah satu di antara mereka yang punya andil memiliki harta warisan itu. Anda mempunyai hak dan kewajiban sama seperti mereka. Maka takutlah kepada Robb (Tuhan)-mu sebelum engkau tertimpa kehinaan dan kebinasaan. Hadapilah setiap persoalan menurut aturan dan ketentuan yang ada, dengan keseriusan dan ketegasan. Berikanlah hak kepada para pemiliknya dan yang berhak menerimanya. Janganlah malas, jangan menunda, jangan ragu, jangan memperlambat dan jangan bermain-main.Sesungguhnya bencana bisa saja datang, kendala bisa melintang, dan kematian mungkin datang tiba-tiba. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :اِقْسِمُوا الْمَالَ بَيْنَ أَهْلِ الْفَرَائِضِ عَلَى كِتَابِ اللهِ، فَمَا تَرَكَتِ الْفَرَائِضُ فَلِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ“Bagilah harta diantara ashaabul furud (yang berhak mendapat warisan berdasarkan bagian yang telah ditentukan) sesuai dengan kitabullah, dan jika masih tersisa maka berikanlah kepada lelaki yang paling dekat kekerabatannya Khotbah KeduaWahai Anda yang memonopoli harta wakaf beserta hasilnya.  Wahai Anda yang mengelola pembagian harta sedekah, harta zakat, harta warisan, dan harta-harta yang lain!Wahai Anda yang selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun membiarkan harta tersebut tersimpan dalam lumbungnya, dalam genggaman dan tanggun jawabnya! Mengapakah Anda menahan harta itu dan membiarkannya tidak bergerak di tangan Anda?Distribusikanlah harta-harta tersebut hari ini langsung kepada pihak yang berhak menerimanya jika memang Anda termasuk orang-orang yang takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya. Jadikanlah sunnah sebagai landasan dan pedoman bagi Anda.Dari ‘Uqbah bin al-Haarits -radhiallahu ‘anhu- berkata,صَلَّيْتُ وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ الْعَصْرَ فَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ مُسْرِعًا فَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ إِلَى بَعْضِ حُجَرِ نِسَائِهِ فَفَزِعَ النَّاسُ مِنْ سُرْعَتِهِ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ فَرَأَى أَنَّهُمْ عَجِبُوا مِنْ سُرْعَتِهِ فَقَالَ ذَكَرْتُ شَيْئًا مِنْ تِبْرٍ عِنْدَنَا فَكَرِهْتُ أَنْ يَحْبِسَنِي فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ“Aku sholat ashar di belakang Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- di Madinah, lalu Nabi salam kemudian berdiri untuk segera pergi hingga melompati punggung orang banyak. Beliau menuju ke sebuah rumah milik salah seorang istri beliau. Orang-orang pun terkejut melihat sikap beliau yang terburu-buru itu.  Maka Nabi pun keluar menemui mereka dan memang beliau melihat keheranan pada mereka karena ketergesaan beliau itu, lalu beliau berkata, “Aku mengingat sepotong emas dari harta sedekah yang ada pada kami, aku tidak ingin emas tersebut mengahalangi aku ( untuk mengingat Allah). Itulah sebabnya, aku memerintahkan untuk segera dibagikan.” (HR Al-Bukhari)Dari ‘Aisyah – radhiallahu ‘anhaa – berkata :اشْتَدَّ وَجَعُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ سَبْعَةُ دَنَانِيرَ أَوْ تِسْعَةٌ، فقَالَ: «يَا عَائِشَةُ مَا فَعَلَتْ تِلْكَ الذَّهَبُ»؟ فَقُلْتُ: هِيَ عِنْدِي، قَالَ: «تَصَدَّقِي بِهَا»، قَالَتْ: فَشُغِلْتُ بِهِ، ثُمَّ، قَالَ: «يَا عَائِشَةُ مَا فَعَلَتْ تِلْكَ الذَّهَبُ»؟ فَقُلْتُ: هِيَ عِنْدِي، فقَالَ: «ائْتِنِي بِهَا»، قَالَتْ: فَجِئْتُ بِهَا، فَوَضَعَهَا فِي كَفِّهِ، ثُمَّ، قَالَ:  «مَا ظَنُّ مُحَمَّدٍ أَنْ لَوْ لَقِيَ اللَّهَ وَهَذِهِ عِنْدَهُ»“Sakit Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- semakin keras, sementara di sisi beliau ada tujuh atau sembilan keping dinar, maka beliau berkata, “Wahai ‘Aisyah, bagaimana dengan kepingan-kepingan emas (dinar) tersebut?”. Aku berkata, “Masih ada padaku”. Beliau berkata, “Sedekahkanlah !”. Aisyah berkata, “Akupun tersibukan (sehingga tidak sempat menyedekahkannya)”. Maka kemudian beliau bertanya lagi, “Wahai ‘Aisyah, bagaimana dengan kepingan-kepingan emas tersebut?”, Aku berkata, “Masih ada padaku”. Beliau berkata, “Berikanlah kepadaku emas tersebut”. Aisyah berkata, “Maka akupun membawa emas tersebut, lalu aku letakkan di telapak tangan beliau, kemudian beliau berkata, “Bagaimana persangkaan Muhammad, kalau seandainya ia bertemu dengan Allah sementara emas ini masih ada padanya?” (HR Ibnu Hibbaan)Dan dari Ummu Salamah -radhiallahu ‘anha- ia berkata,دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ سَاهِمُ الْوَجْهِ، حَسِبْتُ ذَلِكَ مِنْ وَجْعٍ، فَقُلْتُ: مَا لِي أَرَاكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكَ، سَاهِمَ الْوَجْهِ، قَالَ:  «مِنْ أَجْلِ الدَّنَانِيرِ السَّبْعَةِ الَّتِي أَتَتْنَا الْأَمْسِ فَلَمْ نَقْسِمْهَا»“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- menemuiku dalam kondisi berubah raut wajahnya, aku menyangka hal itu karena sakit, maka aku berkata, “Mengapa aku melihat raut wajahmu berubah?”, beliau berkata, “Karena tujuh kepingan dinar yang datang kepada kita kemarin, dan belum kita bagikan” (HR Ibnu Hibban)Camkan, hanya gara-gara tujuh keping dinar saja yang belum terbagikan setelah berlalu sehari, begitu membuat raut wajah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berubah !!.Maka bertakwalah kepada Allah wahai kaum muslimin, dan lakukanlah apa yang dapat mempercepat Anda terbebas dari tanggung jawab, dan terhindar dari sikap suka menunda-nunda.Semoga Allah-subhanahu wa ta’ala- meridhai kita dan menghapus dosa-dosa kita.===  Doa ===Penerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirjafiranda.com 

Meminta Traktir Teman, Apa Sama dengan Mengemis?

Apakah meminta traktir teman sama dengan mengemis yang tercela?   Meminta-minta dan Mengemis itu Terlarang Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” (HR. Bukhari, no. 1474; Muslim, no. 1040) Dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ “Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka ia seakan-akan memakan bara api.” (HR. Ahmad 4: 165. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ “Meminta-minta adalah seperti seseorang mencakar wajahnya sendiri kecuali jika ia meminta-minta pada penguasa atau pada perkara yang benar-benar ia butuh.” (HR. An-Nasa’i, no. 2600; Tirmidzi, no. 681; Ahmad, 5: 19. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Hanya tiga orang yang diperkenankan boleh meminta-minta sebagaimana disebutkan dalam hadits Qobishoh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَحِلُّ إِلاَّ لأَحَدِ ثَلاَثَةٍ رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلاَثَةٌ مِنْ ذَوِى الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ لَقَدْ أَصَابَتْ فُلاَنًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا “Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk tiga orang: (1) seseorang yang menanggung utang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya berkata, ‘Si fulan benar-benar telah tertimpa kesengsaraan’, maka boleh baginya meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain ketiga hal itu, wahai Qobishoh adalah haram dan orang yang memakannya berarti memakan harta yang haram.” (HR. Muslim no. 1044)   Abu Hamid Al-Ghazali menyatakan dalam Ihya’ Al-‘Ulumuddin, “Meminta-minta itu haram, pada asalnya. Meminta-minta dibolehkan jika dalam keadaan darurat atau ada kebutuhan penting yang hampir darurat. Namun kalau tidak darurat atau tidak penting seperti itu, maka tetap haram.”   Disebut Meminta-minta yang Tercela Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir berkata, “Jika seseorang itu butuh, namun ia belum mampu bekerja dengan pekerjaan yang layak, maka dibolehkan dengan syarat ia tidak menghinakan dirinya, tidak meminta dengan terus mendesak, tidak pula menyakiti yang diminta. Jika syarat-syarat tadi tidak terpenuhi, maka haram menurut kesepakatan para ulama.” (Fatwa IslamWeb) Kalau kita perhatikan apa yang disampaikan oleh Al-Munawi disebutkan mengemis atau meminta-minta yang tercela jika terpenuhi syarat: Bukan dalam keadaan butuh. Belum mampu bekerja. Meminta dengan menghinakan diri. Meminta dengan terus mendesak. Menyakiti orang yang diminta.   Kesimpulan Hukum meminta traktir: Untuk memulai meminta: SEBAIKNYA JANGAN. Jika diberi: JANGAN DITOLAK.   Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى “Sesungguhnya tangan yang di atas itu lebih utama dibanding tangan yang di bawah.” (HR. Bukhari, no. 5355 dan Muslim, no. 1042) Wallahu waliyyut taufiq. — Referensi: Fatwa Islam Web, no. 150749   Diselesaikan menjelang Shubuh di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsfikih meminta hukum minta salam tempel hukum minta thr hukum minta traktir hukum salam tempel hukum thr hukum thr anak kaya dan miskin meminta upah mengemis miskin

Meminta Traktir Teman, Apa Sama dengan Mengemis?

Apakah meminta traktir teman sama dengan mengemis yang tercela?   Meminta-minta dan Mengemis itu Terlarang Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” (HR. Bukhari, no. 1474; Muslim, no. 1040) Dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ “Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka ia seakan-akan memakan bara api.” (HR. Ahmad 4: 165. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ “Meminta-minta adalah seperti seseorang mencakar wajahnya sendiri kecuali jika ia meminta-minta pada penguasa atau pada perkara yang benar-benar ia butuh.” (HR. An-Nasa’i, no. 2600; Tirmidzi, no. 681; Ahmad, 5: 19. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Hanya tiga orang yang diperkenankan boleh meminta-minta sebagaimana disebutkan dalam hadits Qobishoh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَحِلُّ إِلاَّ لأَحَدِ ثَلاَثَةٍ رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلاَثَةٌ مِنْ ذَوِى الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ لَقَدْ أَصَابَتْ فُلاَنًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا “Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk tiga orang: (1) seseorang yang menanggung utang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya berkata, ‘Si fulan benar-benar telah tertimpa kesengsaraan’, maka boleh baginya meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain ketiga hal itu, wahai Qobishoh adalah haram dan orang yang memakannya berarti memakan harta yang haram.” (HR. Muslim no. 1044)   Abu Hamid Al-Ghazali menyatakan dalam Ihya’ Al-‘Ulumuddin, “Meminta-minta itu haram, pada asalnya. Meminta-minta dibolehkan jika dalam keadaan darurat atau ada kebutuhan penting yang hampir darurat. Namun kalau tidak darurat atau tidak penting seperti itu, maka tetap haram.”   Disebut Meminta-minta yang Tercela Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir berkata, “Jika seseorang itu butuh, namun ia belum mampu bekerja dengan pekerjaan yang layak, maka dibolehkan dengan syarat ia tidak menghinakan dirinya, tidak meminta dengan terus mendesak, tidak pula menyakiti yang diminta. Jika syarat-syarat tadi tidak terpenuhi, maka haram menurut kesepakatan para ulama.” (Fatwa IslamWeb) Kalau kita perhatikan apa yang disampaikan oleh Al-Munawi disebutkan mengemis atau meminta-minta yang tercela jika terpenuhi syarat: Bukan dalam keadaan butuh. Belum mampu bekerja. Meminta dengan menghinakan diri. Meminta dengan terus mendesak. Menyakiti orang yang diminta.   Kesimpulan Hukum meminta traktir: Untuk memulai meminta: SEBAIKNYA JANGAN. Jika diberi: JANGAN DITOLAK.   Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى “Sesungguhnya tangan yang di atas itu lebih utama dibanding tangan yang di bawah.” (HR. Bukhari, no. 5355 dan Muslim, no. 1042) Wallahu waliyyut taufiq. — Referensi: Fatwa Islam Web, no. 150749   Diselesaikan menjelang Shubuh di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsfikih meminta hukum minta salam tempel hukum minta thr hukum minta traktir hukum salam tempel hukum thr hukum thr anak kaya dan miskin meminta upah mengemis miskin
Apakah meminta traktir teman sama dengan mengemis yang tercela?   Meminta-minta dan Mengemis itu Terlarang Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” (HR. Bukhari, no. 1474; Muslim, no. 1040) Dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ “Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka ia seakan-akan memakan bara api.” (HR. Ahmad 4: 165. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ “Meminta-minta adalah seperti seseorang mencakar wajahnya sendiri kecuali jika ia meminta-minta pada penguasa atau pada perkara yang benar-benar ia butuh.” (HR. An-Nasa’i, no. 2600; Tirmidzi, no. 681; Ahmad, 5: 19. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Hanya tiga orang yang diperkenankan boleh meminta-minta sebagaimana disebutkan dalam hadits Qobishoh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَحِلُّ إِلاَّ لأَحَدِ ثَلاَثَةٍ رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلاَثَةٌ مِنْ ذَوِى الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ لَقَدْ أَصَابَتْ فُلاَنًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا “Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk tiga orang: (1) seseorang yang menanggung utang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya berkata, ‘Si fulan benar-benar telah tertimpa kesengsaraan’, maka boleh baginya meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain ketiga hal itu, wahai Qobishoh adalah haram dan orang yang memakannya berarti memakan harta yang haram.” (HR. Muslim no. 1044)   Abu Hamid Al-Ghazali menyatakan dalam Ihya’ Al-‘Ulumuddin, “Meminta-minta itu haram, pada asalnya. Meminta-minta dibolehkan jika dalam keadaan darurat atau ada kebutuhan penting yang hampir darurat. Namun kalau tidak darurat atau tidak penting seperti itu, maka tetap haram.”   Disebut Meminta-minta yang Tercela Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir berkata, “Jika seseorang itu butuh, namun ia belum mampu bekerja dengan pekerjaan yang layak, maka dibolehkan dengan syarat ia tidak menghinakan dirinya, tidak meminta dengan terus mendesak, tidak pula menyakiti yang diminta. Jika syarat-syarat tadi tidak terpenuhi, maka haram menurut kesepakatan para ulama.” (Fatwa IslamWeb) Kalau kita perhatikan apa yang disampaikan oleh Al-Munawi disebutkan mengemis atau meminta-minta yang tercela jika terpenuhi syarat: Bukan dalam keadaan butuh. Belum mampu bekerja. Meminta dengan menghinakan diri. Meminta dengan terus mendesak. Menyakiti orang yang diminta.   Kesimpulan Hukum meminta traktir: Untuk memulai meminta: SEBAIKNYA JANGAN. Jika diberi: JANGAN DITOLAK.   Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى “Sesungguhnya tangan yang di atas itu lebih utama dibanding tangan yang di bawah.” (HR. Bukhari, no. 5355 dan Muslim, no. 1042) Wallahu waliyyut taufiq. — Referensi: Fatwa Islam Web, no. 150749   Diselesaikan menjelang Shubuh di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsfikih meminta hukum minta salam tempel hukum minta thr hukum minta traktir hukum salam tempel hukum thr hukum thr anak kaya dan miskin meminta upah mengemis miskin


Apakah meminta traktir teman sama dengan mengemis yang tercela?   Meminta-minta dan Mengemis itu Terlarang Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” (HR. Bukhari, no. 1474; Muslim, no. 1040) Dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ “Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka ia seakan-akan memakan bara api.” (HR. Ahmad 4: 165. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ “Meminta-minta adalah seperti seseorang mencakar wajahnya sendiri kecuali jika ia meminta-minta pada penguasa atau pada perkara yang benar-benar ia butuh.” (HR. An-Nasa’i, no. 2600; Tirmidzi, no. 681; Ahmad, 5: 19. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Hanya tiga orang yang diperkenankan boleh meminta-minta sebagaimana disebutkan dalam hadits Qobishoh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَحِلُّ إِلاَّ لأَحَدِ ثَلاَثَةٍ رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلاَثَةٌ مِنْ ذَوِى الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ لَقَدْ أَصَابَتْ فُلاَنًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا “Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk tiga orang: (1) seseorang yang menanggung utang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya berkata, ‘Si fulan benar-benar telah tertimpa kesengsaraan’, maka boleh baginya meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain ketiga hal itu, wahai Qobishoh adalah haram dan orang yang memakannya berarti memakan harta yang haram.” (HR. Muslim no. 1044)   Abu Hamid Al-Ghazali menyatakan dalam Ihya’ Al-‘Ulumuddin, “Meminta-minta itu haram, pada asalnya. Meminta-minta dibolehkan jika dalam keadaan darurat atau ada kebutuhan penting yang hampir darurat. Namun kalau tidak darurat atau tidak penting seperti itu, maka tetap haram.”   Disebut Meminta-minta yang Tercela Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir berkata, “Jika seseorang itu butuh, namun ia belum mampu bekerja dengan pekerjaan yang layak, maka dibolehkan dengan syarat ia tidak menghinakan dirinya, tidak meminta dengan terus mendesak, tidak pula menyakiti yang diminta. Jika syarat-syarat tadi tidak terpenuhi, maka haram menurut kesepakatan para ulama.” (Fatwa IslamWeb) Kalau kita perhatikan apa yang disampaikan oleh Al-Munawi disebutkan mengemis atau meminta-minta yang tercela jika terpenuhi syarat: Bukan dalam keadaan butuh. Belum mampu bekerja. Meminta dengan menghinakan diri. Meminta dengan terus mendesak. Menyakiti orang yang diminta.   Kesimpulan Hukum meminta traktir: Untuk memulai meminta: SEBAIKNYA JANGAN. Jika diberi: JANGAN DITOLAK.   Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى “Sesungguhnya tangan yang di atas itu lebih utama dibanding tangan yang di bawah.” (HR. Bukhari, no. 5355 dan Muslim, no. 1042) Wallahu waliyyut taufiq. — Referensi: Fatwa Islam Web, no. 150749   Diselesaikan menjelang Shubuh di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsfikih meminta hukum minta salam tempel hukum minta thr hukum minta traktir hukum salam tempel hukum thr hukum thr anak kaya dan miskin meminta upah mengemis miskin

Ini Ceritanya, Kenapa Nabi Terus Berdoa Meminta Istiqamah

Ini ceritanya, kenapa sampai Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam– terus berdoa agar diteguhkan hati dalam ketaatan. Ingatlah, kita butuh doa agar bisa istiqamah karena hati kita bisa saja berbolak-balik. Oleh karenanya, do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” Cerita lengkapnya bisa dilihat dalam hadits berikut ini. Syahr bin Hawsyab berkata bahwa ia berkata pada istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Salamah, يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَانَ عِنْدَكِ “Wahai Ummul Mukminin, apa do’a yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berada di sisimu?” Ummu Salamah menjawab, كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ « يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ ». “Yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’.” Ummu Salamah pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لأَكْثَرِ دُعَائِكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Wahai Rasulullah kenapa engkau lebih sering berdo’a dengan do’a, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’. ”   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab, يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ “Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” Setelah itu Mu’adz bin Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) membacakan ayat, رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (QS. Ali Imran: 8) (HR. Tirmidzi, no. 3522; Ahmad, 6: 315. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk terus berada di atas ketaatan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa istiqamah

Ini Ceritanya, Kenapa Nabi Terus Berdoa Meminta Istiqamah

Ini ceritanya, kenapa sampai Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam– terus berdoa agar diteguhkan hati dalam ketaatan. Ingatlah, kita butuh doa agar bisa istiqamah karena hati kita bisa saja berbolak-balik. Oleh karenanya, do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” Cerita lengkapnya bisa dilihat dalam hadits berikut ini. Syahr bin Hawsyab berkata bahwa ia berkata pada istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Salamah, يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَانَ عِنْدَكِ “Wahai Ummul Mukminin, apa do’a yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berada di sisimu?” Ummu Salamah menjawab, كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ « يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ ». “Yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’.” Ummu Salamah pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لأَكْثَرِ دُعَائِكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Wahai Rasulullah kenapa engkau lebih sering berdo’a dengan do’a, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’. ”   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab, يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ “Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” Setelah itu Mu’adz bin Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) membacakan ayat, رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (QS. Ali Imran: 8) (HR. Tirmidzi, no. 3522; Ahmad, 6: 315. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk terus berada di atas ketaatan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa istiqamah
Ini ceritanya, kenapa sampai Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam– terus berdoa agar diteguhkan hati dalam ketaatan. Ingatlah, kita butuh doa agar bisa istiqamah karena hati kita bisa saja berbolak-balik. Oleh karenanya, do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” Cerita lengkapnya bisa dilihat dalam hadits berikut ini. Syahr bin Hawsyab berkata bahwa ia berkata pada istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Salamah, يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَانَ عِنْدَكِ “Wahai Ummul Mukminin, apa do’a yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berada di sisimu?” Ummu Salamah menjawab, كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ « يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ ». “Yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’.” Ummu Salamah pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لأَكْثَرِ دُعَائِكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Wahai Rasulullah kenapa engkau lebih sering berdo’a dengan do’a, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’. ”   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab, يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ “Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” Setelah itu Mu’adz bin Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) membacakan ayat, رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (QS. Ali Imran: 8) (HR. Tirmidzi, no. 3522; Ahmad, 6: 315. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk terus berada di atas ketaatan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa istiqamah


Ini ceritanya, kenapa sampai Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam– terus berdoa agar diteguhkan hati dalam ketaatan. Ingatlah, kita butuh doa agar bisa istiqamah karena hati kita bisa saja berbolak-balik. Oleh karenanya, do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” Cerita lengkapnya bisa dilihat dalam hadits berikut ini. Syahr bin Hawsyab berkata bahwa ia berkata pada istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Salamah, يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَانَ عِنْدَكِ “Wahai Ummul Mukminin, apa do’a yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berada di sisimu?” Ummu Salamah menjawab, كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ « يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ ». “Yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’.” Ummu Salamah pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لأَكْثَرِ دُعَائِكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Wahai Rasulullah kenapa engkau lebih sering berdo’a dengan do’a, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’. ”   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab, يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ “Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” Setelah itu Mu’adz bin Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) membacakan ayat, رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (QS. Ali Imran: 8) (HR. Tirmidzi, no. 3522; Ahmad, 6: 315. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk terus berada di atas ketaatan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa istiqamah

Shalat Dhuha Pembuka Pintu Rezeki

Apakah benar shalat Dhuha itu pembuka pintu rezeki? Dari Nu’aim bin Hammar Al-Ghathafaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ “Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad, 5: 286; Abu Daud, no. 1289; At Tirmidzi, no. 475; Ad Darimi, no. 1451 . Syaikh Al-Albani dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih) Dari Uqbah bin Amir Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ‎shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ اكْفِنِى أَوَّلَ النَّهَارِ بِأَرْبَعِ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ بِهِنَّ آخِرَ يَوْمِكَ “Sesungguhnya Allah berfirman: “Wahai ‎anak adam, laksanakan untukKu 4 rakaat di awal siang, Aku akan cukupi ‎dirimu dengan shalat itu di akhir harimu.” (HR. Ahmad, 4: 153. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih. Perawinya tsiqah termasuk dalam jajaran perawi kitab shahih kecuali Nu’aim bin Himar termasuk dalam perawi Abu Daud dan An-Nasa’i).‎ Al-‘Azhim Abadi- menyebutkan, “Hadits ini bisa mengandung pengertian bahwa shalat Dhuha akan menyelematkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan. Bisa juga dimaksudkan bahwa shalat Dhuha dapat menjaga dirinya dari terjerumus dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya bisa lebih luas dari itu.” (‘Aun Al-Ma’bud, 4: 118) At-Thibiy berkata, “Yaitu  engkau akan diberi kecukupan dalam kesibukan dan urusanmu, serta akan dihilangkan dari hal-hal yang tidak disukai setelah engkau shalat hingga akhir siang. Yang dimaksud, selesaikanlah urusanmu dengan beribadah pada Allah di awal siang (di waktu Dhuha), maka Allah akan mudahkan urusanmu di akhir siang.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 2: 478). Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir (4: 615) menjelaskan maksud kalimat, akan dicukupi di akhirnya adalah akan diselamatkan dari cobaan dan musibah di akhir siang. Empat raka’at yang dimaksud di atas menurut penjelasan para ulama, bisa jadi termasuk dalam shalat Dhuha empat raka’at, bisa jadi maksudnya adalah shalat qabliyah shubuh dua raka’at dan shalat Shubuh dua raka’at.   Kesimpulan Kalau kita lihat maksud hadits dari penjelasan para ulama bahwa Allah akan mencukupinya, tidak ditunjukkan bahwa shalat dhuha jadi pembuka pintu rezeki. Namun tetap setiap amalan shalih memang jadi pembuka pintu rezeki karena amalan shalih adalah bentuk takwa. Sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا , وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Akan tetapi, jika dimaksud dengan dilaksanakannya shalat Dhuha hanya semata-mata untuk menambah rezeki dunia, tanpa ingin pahala atau balasan di sisi Allah, maka akan terancam dengan ayat berikut, مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat.” (QS. Asy-Syuraa: 20) Silakan direnungkan, apakah niatan shalat Dhuha lillah (karena Allah), atau hanya ingin cari dunia. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki shalat dhuha

Shalat Dhuha Pembuka Pintu Rezeki

Apakah benar shalat Dhuha itu pembuka pintu rezeki? Dari Nu’aim bin Hammar Al-Ghathafaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ “Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad, 5: 286; Abu Daud, no. 1289; At Tirmidzi, no. 475; Ad Darimi, no. 1451 . Syaikh Al-Albani dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih) Dari Uqbah bin Amir Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ‎shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ اكْفِنِى أَوَّلَ النَّهَارِ بِأَرْبَعِ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ بِهِنَّ آخِرَ يَوْمِكَ “Sesungguhnya Allah berfirman: “Wahai ‎anak adam, laksanakan untukKu 4 rakaat di awal siang, Aku akan cukupi ‎dirimu dengan shalat itu di akhir harimu.” (HR. Ahmad, 4: 153. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih. Perawinya tsiqah termasuk dalam jajaran perawi kitab shahih kecuali Nu’aim bin Himar termasuk dalam perawi Abu Daud dan An-Nasa’i).‎ Al-‘Azhim Abadi- menyebutkan, “Hadits ini bisa mengandung pengertian bahwa shalat Dhuha akan menyelematkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan. Bisa juga dimaksudkan bahwa shalat Dhuha dapat menjaga dirinya dari terjerumus dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya bisa lebih luas dari itu.” (‘Aun Al-Ma’bud, 4: 118) At-Thibiy berkata, “Yaitu  engkau akan diberi kecukupan dalam kesibukan dan urusanmu, serta akan dihilangkan dari hal-hal yang tidak disukai setelah engkau shalat hingga akhir siang. Yang dimaksud, selesaikanlah urusanmu dengan beribadah pada Allah di awal siang (di waktu Dhuha), maka Allah akan mudahkan urusanmu di akhir siang.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 2: 478). Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir (4: 615) menjelaskan maksud kalimat, akan dicukupi di akhirnya adalah akan diselamatkan dari cobaan dan musibah di akhir siang. Empat raka’at yang dimaksud di atas menurut penjelasan para ulama, bisa jadi termasuk dalam shalat Dhuha empat raka’at, bisa jadi maksudnya adalah shalat qabliyah shubuh dua raka’at dan shalat Shubuh dua raka’at.   Kesimpulan Kalau kita lihat maksud hadits dari penjelasan para ulama bahwa Allah akan mencukupinya, tidak ditunjukkan bahwa shalat dhuha jadi pembuka pintu rezeki. Namun tetap setiap amalan shalih memang jadi pembuka pintu rezeki karena amalan shalih adalah bentuk takwa. Sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا , وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Akan tetapi, jika dimaksud dengan dilaksanakannya shalat Dhuha hanya semata-mata untuk menambah rezeki dunia, tanpa ingin pahala atau balasan di sisi Allah, maka akan terancam dengan ayat berikut, مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat.” (QS. Asy-Syuraa: 20) Silakan direnungkan, apakah niatan shalat Dhuha lillah (karena Allah), atau hanya ingin cari dunia. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki shalat dhuha
Apakah benar shalat Dhuha itu pembuka pintu rezeki? Dari Nu’aim bin Hammar Al-Ghathafaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ “Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad, 5: 286; Abu Daud, no. 1289; At Tirmidzi, no. 475; Ad Darimi, no. 1451 . Syaikh Al-Albani dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih) Dari Uqbah bin Amir Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ‎shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ اكْفِنِى أَوَّلَ النَّهَارِ بِأَرْبَعِ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ بِهِنَّ آخِرَ يَوْمِكَ “Sesungguhnya Allah berfirman: “Wahai ‎anak adam, laksanakan untukKu 4 rakaat di awal siang, Aku akan cukupi ‎dirimu dengan shalat itu di akhir harimu.” (HR. Ahmad, 4: 153. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih. Perawinya tsiqah termasuk dalam jajaran perawi kitab shahih kecuali Nu’aim bin Himar termasuk dalam perawi Abu Daud dan An-Nasa’i).‎ Al-‘Azhim Abadi- menyebutkan, “Hadits ini bisa mengandung pengertian bahwa shalat Dhuha akan menyelematkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan. Bisa juga dimaksudkan bahwa shalat Dhuha dapat menjaga dirinya dari terjerumus dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya bisa lebih luas dari itu.” (‘Aun Al-Ma’bud, 4: 118) At-Thibiy berkata, “Yaitu  engkau akan diberi kecukupan dalam kesibukan dan urusanmu, serta akan dihilangkan dari hal-hal yang tidak disukai setelah engkau shalat hingga akhir siang. Yang dimaksud, selesaikanlah urusanmu dengan beribadah pada Allah di awal siang (di waktu Dhuha), maka Allah akan mudahkan urusanmu di akhir siang.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 2: 478). Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir (4: 615) menjelaskan maksud kalimat, akan dicukupi di akhirnya adalah akan diselamatkan dari cobaan dan musibah di akhir siang. Empat raka’at yang dimaksud di atas menurut penjelasan para ulama, bisa jadi termasuk dalam shalat Dhuha empat raka’at, bisa jadi maksudnya adalah shalat qabliyah shubuh dua raka’at dan shalat Shubuh dua raka’at.   Kesimpulan Kalau kita lihat maksud hadits dari penjelasan para ulama bahwa Allah akan mencukupinya, tidak ditunjukkan bahwa shalat dhuha jadi pembuka pintu rezeki. Namun tetap setiap amalan shalih memang jadi pembuka pintu rezeki karena amalan shalih adalah bentuk takwa. Sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا , وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Akan tetapi, jika dimaksud dengan dilaksanakannya shalat Dhuha hanya semata-mata untuk menambah rezeki dunia, tanpa ingin pahala atau balasan di sisi Allah, maka akan terancam dengan ayat berikut, مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat.” (QS. Asy-Syuraa: 20) Silakan direnungkan, apakah niatan shalat Dhuha lillah (karena Allah), atau hanya ingin cari dunia. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki shalat dhuha


Apakah benar shalat Dhuha itu pembuka pintu rezeki? Dari Nu’aim bin Hammar Al-Ghathafaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ “Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad, 5: 286; Abu Daud, no. 1289; At Tirmidzi, no. 475; Ad Darimi, no. 1451 . Syaikh Al-Albani dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih) Dari Uqbah bin Amir Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ‎shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ اكْفِنِى أَوَّلَ النَّهَارِ بِأَرْبَعِ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ بِهِنَّ آخِرَ يَوْمِكَ “Sesungguhnya Allah berfirman: “Wahai ‎anak adam, laksanakan untukKu 4 rakaat di awal siang, Aku akan cukupi ‎dirimu dengan shalat itu di akhir harimu.” (HR. Ahmad, 4: 153. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih. Perawinya tsiqah termasuk dalam jajaran perawi kitab shahih kecuali Nu’aim bin Himar termasuk dalam perawi Abu Daud dan An-Nasa’i).‎ Al-‘Azhim Abadi- menyebutkan, “Hadits ini bisa mengandung pengertian bahwa shalat Dhuha akan menyelematkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan. Bisa juga dimaksudkan bahwa shalat Dhuha dapat menjaga dirinya dari terjerumus dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya bisa lebih luas dari itu.” (‘Aun Al-Ma’bud, 4: 118) At-Thibiy berkata, “Yaitu  engkau akan diberi kecukupan dalam kesibukan dan urusanmu, serta akan dihilangkan dari hal-hal yang tidak disukai setelah engkau shalat hingga akhir siang. Yang dimaksud, selesaikanlah urusanmu dengan beribadah pada Allah di awal siang (di waktu Dhuha), maka Allah akan mudahkan urusanmu di akhir siang.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 2: 478). Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir (4: 615) menjelaskan maksud kalimat, akan dicukupi di akhirnya adalah akan diselamatkan dari cobaan dan musibah di akhir siang. Empat raka’at yang dimaksud di atas menurut penjelasan para ulama, bisa jadi termasuk dalam shalat Dhuha empat raka’at, bisa jadi maksudnya adalah shalat qabliyah shubuh dua raka’at dan shalat Shubuh dua raka’at.   Kesimpulan Kalau kita lihat maksud hadits dari penjelasan para ulama bahwa Allah akan mencukupinya, tidak ditunjukkan bahwa shalat dhuha jadi pembuka pintu rezeki. Namun tetap setiap amalan shalih memang jadi pembuka pintu rezeki karena amalan shalih adalah bentuk takwa. Sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا , وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Akan tetapi, jika dimaksud dengan dilaksanakannya shalat Dhuha hanya semata-mata untuk menambah rezeki dunia, tanpa ingin pahala atau balasan di sisi Allah, maka akan terancam dengan ayat berikut, مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat.” (QS. Asy-Syuraa: 20) Silakan direnungkan, apakah niatan shalat Dhuha lillah (karena Allah), atau hanya ingin cari dunia. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki shalat dhuha

Istiqamahlah, Jika Tidak, Mendekatilah Ideal

Dalam istiqamah kita butuh menggapai derajat yang tinggi. Kalau tidak bisa digapai, maka mendetilah yang ideal.   Istiqamah berarti kita menempuh jalan yang lurus, tidak condong ke kanan atau ke kiri. Istiqamah ini sangat kita butuhkan. Tidak sedikit ada yang berada di atas iman, malah ia condong pada kekafiran.   Seorang mukmin sudah sepatutnya terus meminta pada Allah keistiqamahan. Itulah yang kita pinta dalam shalat minimal 17 kali dalam sehari lewat doa, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) “Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6) Ini pertanda kita butuh untuk terus istiqamah. Namun tentu saja dalam istiqamah ada saja kekurangan. Makanya Allah perintahkan untuk mengiringi istiqamah itu dengan istighfar, فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ “Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya.” (QS. Fushshilat: 6). Ini menunjukkan bahwa dalam menempuh jalan yang lurus dan istiqamah di atasnya pasti ada kekurangan. Dari Abu Dzar dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan ikutilah setiap kejelekan dengan kebaikan, niscaya kejelekan tersebut akan terhapus dengan kebaikan yang dilakukan. Lalu berakhlaklah pada manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi, no. 1987; Ahmad, 5: 153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Hadits ini juga menunjukkan bahwa dalam istiqamah pasti ada kekurangan. Kalau tidak bisa ideal, baiknya tetap berusaha mendekati yang ideal. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سَدِّدُوا وَقَارِبُوا “Istiqamahlah (dalam perkataan, amalan dan niat, pen.). Kalau tidak mampu ideal, dekatilah yang ideal.” (HR. Bukhari, no. 6467; Muslim, no. 2818) Yang bisa dicapai oleh manusia adalah beristiqamahlah (yang ideal), kalau tidak mampu, maka mendekatilah. Jadi ada dua keadaan seperti itu yang bisa kita raih. Moga terus istiqamah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsistiqamah

Istiqamahlah, Jika Tidak, Mendekatilah Ideal

Dalam istiqamah kita butuh menggapai derajat yang tinggi. Kalau tidak bisa digapai, maka mendetilah yang ideal.   Istiqamah berarti kita menempuh jalan yang lurus, tidak condong ke kanan atau ke kiri. Istiqamah ini sangat kita butuhkan. Tidak sedikit ada yang berada di atas iman, malah ia condong pada kekafiran.   Seorang mukmin sudah sepatutnya terus meminta pada Allah keistiqamahan. Itulah yang kita pinta dalam shalat minimal 17 kali dalam sehari lewat doa, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) “Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6) Ini pertanda kita butuh untuk terus istiqamah. Namun tentu saja dalam istiqamah ada saja kekurangan. Makanya Allah perintahkan untuk mengiringi istiqamah itu dengan istighfar, فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ “Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya.” (QS. Fushshilat: 6). Ini menunjukkan bahwa dalam menempuh jalan yang lurus dan istiqamah di atasnya pasti ada kekurangan. Dari Abu Dzar dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan ikutilah setiap kejelekan dengan kebaikan, niscaya kejelekan tersebut akan terhapus dengan kebaikan yang dilakukan. Lalu berakhlaklah pada manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi, no. 1987; Ahmad, 5: 153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Hadits ini juga menunjukkan bahwa dalam istiqamah pasti ada kekurangan. Kalau tidak bisa ideal, baiknya tetap berusaha mendekati yang ideal. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سَدِّدُوا وَقَارِبُوا “Istiqamahlah (dalam perkataan, amalan dan niat, pen.). Kalau tidak mampu ideal, dekatilah yang ideal.” (HR. Bukhari, no. 6467; Muslim, no. 2818) Yang bisa dicapai oleh manusia adalah beristiqamahlah (yang ideal), kalau tidak mampu, maka mendekatilah. Jadi ada dua keadaan seperti itu yang bisa kita raih. Moga terus istiqamah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsistiqamah
Dalam istiqamah kita butuh menggapai derajat yang tinggi. Kalau tidak bisa digapai, maka mendetilah yang ideal.   Istiqamah berarti kita menempuh jalan yang lurus, tidak condong ke kanan atau ke kiri. Istiqamah ini sangat kita butuhkan. Tidak sedikit ada yang berada di atas iman, malah ia condong pada kekafiran.   Seorang mukmin sudah sepatutnya terus meminta pada Allah keistiqamahan. Itulah yang kita pinta dalam shalat minimal 17 kali dalam sehari lewat doa, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) “Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6) Ini pertanda kita butuh untuk terus istiqamah. Namun tentu saja dalam istiqamah ada saja kekurangan. Makanya Allah perintahkan untuk mengiringi istiqamah itu dengan istighfar, فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ “Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya.” (QS. Fushshilat: 6). Ini menunjukkan bahwa dalam menempuh jalan yang lurus dan istiqamah di atasnya pasti ada kekurangan. Dari Abu Dzar dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan ikutilah setiap kejelekan dengan kebaikan, niscaya kejelekan tersebut akan terhapus dengan kebaikan yang dilakukan. Lalu berakhlaklah pada manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi, no. 1987; Ahmad, 5: 153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Hadits ini juga menunjukkan bahwa dalam istiqamah pasti ada kekurangan. Kalau tidak bisa ideal, baiknya tetap berusaha mendekati yang ideal. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سَدِّدُوا وَقَارِبُوا “Istiqamahlah (dalam perkataan, amalan dan niat, pen.). Kalau tidak mampu ideal, dekatilah yang ideal.” (HR. Bukhari, no. 6467; Muslim, no. 2818) Yang bisa dicapai oleh manusia adalah beristiqamahlah (yang ideal), kalau tidak mampu, maka mendekatilah. Jadi ada dua keadaan seperti itu yang bisa kita raih. Moga terus istiqamah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsistiqamah


Dalam istiqamah kita butuh menggapai derajat yang tinggi. Kalau tidak bisa digapai, maka mendetilah yang ideal.   Istiqamah berarti kita menempuh jalan yang lurus, tidak condong ke kanan atau ke kiri. Istiqamah ini sangat kita butuhkan. Tidak sedikit ada yang berada di atas iman, malah ia condong pada kekafiran.   Seorang mukmin sudah sepatutnya terus meminta pada Allah keistiqamahan. Itulah yang kita pinta dalam shalat minimal 17 kali dalam sehari lewat doa, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) “Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6) Ini pertanda kita butuh untuk terus istiqamah. Namun tentu saja dalam istiqamah ada saja kekurangan. Makanya Allah perintahkan untuk mengiringi istiqamah itu dengan istighfar, فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ “Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya.” (QS. Fushshilat: 6). Ini menunjukkan bahwa dalam menempuh jalan yang lurus dan istiqamah di atasnya pasti ada kekurangan. Dari Abu Dzar dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan ikutilah setiap kejelekan dengan kebaikan, niscaya kejelekan tersebut akan terhapus dengan kebaikan yang dilakukan. Lalu berakhlaklah pada manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi, no. 1987; Ahmad, 5: 153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Hadits ini juga menunjukkan bahwa dalam istiqamah pasti ada kekurangan. Kalau tidak bisa ideal, baiknya tetap berusaha mendekati yang ideal. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سَدِّدُوا وَقَارِبُوا “Istiqamahlah (dalam perkataan, amalan dan niat, pen.). Kalau tidak mampu ideal, dekatilah yang ideal.” (HR. Bukhari, no. 6467; Muslim, no. 2818) Yang bisa dicapai oleh manusia adalah beristiqamahlah (yang ideal), kalau tidak mampu, maka mendekatilah. Jadi ada dua keadaan seperti itu yang bisa kita raih. Moga terus istiqamah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsistiqamah

Masih Layak, Mending Disumbangkan

Punya pakaian layak pakai, punya jilbab dan gamis muslimah atau mungkin koko pria masih layak pakai, jangan dibuang, jangan disimpan di lemari saja. Yuk beri pada yang masih membutuhkan untuk menutup aurat.   Dibutuhkan untuk dua agenda besar: 1. 19 April 2016 di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, ada program tebar 3000 jilbab dan gamis muslimah saat peresmian Pesantren Darush Sholihin oleh Bupati Gunungkidul. 2. 2-8 Juni 2016 di tiga pulau (Ambon, Haruku, dan Seram) tebar 5000 jilbab saat safari dakwah bersama Ustadz M. Abduh Tuasikal. Walau lewat jilbab bekas, tetap itu amat berharga sebagai jalan hidayah bagi saudara kita yang baru belajar berjilbab apalagi mereka mendapatkan kesulitan biaya untuk memilikinya.   CARA IKUT PROGRAM TEBAR JILBAB 1. Bisa mengirim paket jilbab gamis layak pakai ke: Alamat: Pesantren Darush Sholihin Binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222(Mas Slamet) Disarankan mengirim via Tiki, JNE atau POS Indonesia dan akan sampai ke tempat tujuan sesuai alamat di atas. Jangan lupa sertakan nomor telepon pengirim, biar bisa dikonfirmasi jika sudah sampai. * Paket yang dikirim bisa berupa jilbab, gamis muslimah, koko pria yang layak pakai. 2. Atau jika ingin berdonasi Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal). Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA ke 0811267791 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000. Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin | Rumaysho[dot]Com Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Laporan donasi: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab — SHARE YUK PADA YANG KAUM MUSLIMIN YANG BERBAIK HATI. Tagsjilbab tebar jilbab

Masih Layak, Mending Disumbangkan

Punya pakaian layak pakai, punya jilbab dan gamis muslimah atau mungkin koko pria masih layak pakai, jangan dibuang, jangan disimpan di lemari saja. Yuk beri pada yang masih membutuhkan untuk menutup aurat.   Dibutuhkan untuk dua agenda besar: 1. 19 April 2016 di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, ada program tebar 3000 jilbab dan gamis muslimah saat peresmian Pesantren Darush Sholihin oleh Bupati Gunungkidul. 2. 2-8 Juni 2016 di tiga pulau (Ambon, Haruku, dan Seram) tebar 5000 jilbab saat safari dakwah bersama Ustadz M. Abduh Tuasikal. Walau lewat jilbab bekas, tetap itu amat berharga sebagai jalan hidayah bagi saudara kita yang baru belajar berjilbab apalagi mereka mendapatkan kesulitan biaya untuk memilikinya.   CARA IKUT PROGRAM TEBAR JILBAB 1. Bisa mengirim paket jilbab gamis layak pakai ke: Alamat: Pesantren Darush Sholihin Binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222(Mas Slamet) Disarankan mengirim via Tiki, JNE atau POS Indonesia dan akan sampai ke tempat tujuan sesuai alamat di atas. Jangan lupa sertakan nomor telepon pengirim, biar bisa dikonfirmasi jika sudah sampai. * Paket yang dikirim bisa berupa jilbab, gamis muslimah, koko pria yang layak pakai. 2. Atau jika ingin berdonasi Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal). Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA ke 0811267791 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000. Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin | Rumaysho[dot]Com Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Laporan donasi: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab — SHARE YUK PADA YANG KAUM MUSLIMIN YANG BERBAIK HATI. Tagsjilbab tebar jilbab
Punya pakaian layak pakai, punya jilbab dan gamis muslimah atau mungkin koko pria masih layak pakai, jangan dibuang, jangan disimpan di lemari saja. Yuk beri pada yang masih membutuhkan untuk menutup aurat.   Dibutuhkan untuk dua agenda besar: 1. 19 April 2016 di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, ada program tebar 3000 jilbab dan gamis muslimah saat peresmian Pesantren Darush Sholihin oleh Bupati Gunungkidul. 2. 2-8 Juni 2016 di tiga pulau (Ambon, Haruku, dan Seram) tebar 5000 jilbab saat safari dakwah bersama Ustadz M. Abduh Tuasikal. Walau lewat jilbab bekas, tetap itu amat berharga sebagai jalan hidayah bagi saudara kita yang baru belajar berjilbab apalagi mereka mendapatkan kesulitan biaya untuk memilikinya.   CARA IKUT PROGRAM TEBAR JILBAB 1. Bisa mengirim paket jilbab gamis layak pakai ke: Alamat: Pesantren Darush Sholihin Binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222(Mas Slamet) Disarankan mengirim via Tiki, JNE atau POS Indonesia dan akan sampai ke tempat tujuan sesuai alamat di atas. Jangan lupa sertakan nomor telepon pengirim, biar bisa dikonfirmasi jika sudah sampai. * Paket yang dikirim bisa berupa jilbab, gamis muslimah, koko pria yang layak pakai. 2. Atau jika ingin berdonasi Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal). Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA ke 0811267791 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000. Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin | Rumaysho[dot]Com Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Laporan donasi: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab — SHARE YUK PADA YANG KAUM MUSLIMIN YANG BERBAIK HATI. Tagsjilbab tebar jilbab


Punya pakaian layak pakai, punya jilbab dan gamis muslimah atau mungkin koko pria masih layak pakai, jangan dibuang, jangan disimpan di lemari saja. Yuk beri pada yang masih membutuhkan untuk menutup aurat.   Dibutuhkan untuk dua agenda besar: 1. 19 April 2016 di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, ada program tebar 3000 jilbab dan gamis muslimah saat peresmian Pesantren Darush Sholihin oleh Bupati Gunungkidul. 2. 2-8 Juni 2016 di tiga pulau (Ambon, Haruku, dan Seram) tebar 5000 jilbab saat safari dakwah bersama Ustadz M. Abduh Tuasikal. Walau lewat jilbab bekas, tetap itu amat berharga sebagai jalan hidayah bagi saudara kita yang baru belajar berjilbab apalagi mereka mendapatkan kesulitan biaya untuk memilikinya.   CARA IKUT PROGRAM TEBAR JILBAB 1. Bisa mengirim paket jilbab gamis layak pakai ke: Alamat: Pesantren Darush Sholihin Binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222(Mas Slamet) Disarankan mengirim via Tiki, JNE atau POS Indonesia dan akan sampai ke tempat tujuan sesuai alamat di atas. Jangan lupa sertakan nomor telepon pengirim, biar bisa dikonfirmasi jika sudah sampai. * Paket yang dikirim bisa berupa jilbab, gamis muslimah, koko pria yang layak pakai. 2. Atau jika ingin berdonasi Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal). Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA ke 0811267791 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000. Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin | Rumaysho[dot]Com Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Laporan donasi: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab — SHARE YUK PADA YANG KAUM MUSLIMIN YANG BERBAIK HATI. Tagsjilbab tebar jilbab

MENUTUP CELAH-CELAH KESYIRIKAN

Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 23 Jumadal Akhir 1437 H.Oleh : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Al As-SyekhKhotbah PertamaPrinsip dasar yang membuat seorang muslim bahagia dan eksistensinya membuatnya selamat, aman dan sentosa  adalah penghambaan (ubudiyah) secara totalitas kepada Tuhan semesta alam (Rabbul Alamin).  Atas dasar itulah manusia diciptakan dan diwujudkan.Firman Allah :وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ [ الذاريات / 56]“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”Artinya mereka harus memurnikan ibadah (kepada Allah semata) sebagaimana pernyataan Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma-, bahwa Tauhid (peng-esa-an ) Allah merupakan sarana segala kesuksesan; di mana pengangungan dan pemurnian ibadah kepadaNya adalah penyebab keberuntungan, bahkan faktor utama kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat. Landasan terkuat bagi keamanan dan kesentosaan adalah penegakan tauhid kepada Allah yang Maha Esa, Tuhan satu-satunya, Yang menjadi tumpuan harapan (bagi semua makhluk). Maka hendaklah seorang hamba memurnikan tujuan ibadah kepada Allah semata  , memurnikan kecintaan dan pengagungan kepada Allah semata, memurnikan perasaan takut, kekhawatiran, pengharapan dan permohonan kepada Allah semata, memurnikan aspek lahir dan batinnya dalam menentukan arah dan kehendak hanya kepada Allah semata.Firman Allah –subhanahu wa ta’ala- kepada NabiNya –shallallahu alaihi wa sallam- :Firman Allah  :قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ، لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ [ الأنعام /  162- 163]“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. Qs Al-An’am :162Firman Allah :فَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ فَلَهُۥٓ أَسۡلِمُواْۗ  [ الحج/34]“Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya.” Qs Al-Haj : 34Firman Allah :وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُۥ [ الزمر/ 54]“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya.” Qs Al-Zumar : 54Saudara sesama muslim !Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-  sangat antusias memantapkan pondasi yang agung ini dalam pengarahan-pengarahan, seruan-seruan dan rekam jejak beliau, bertolak dari keinginan dan kecintaan beliau akan keselamatan umat dan para pengikut beliau. Itulah sebabnya, maka beliau –shallallahu alaihi wa sallam- membuntu segenap jalan dan mencegah segala cara yang dapat mencemari kemurnian tauhid atau berpengaruh terhadap kesempurnaan tauhid, atau melukai esensi tauhid.Di antara pengarahan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-  terkait dengan upaya mewujudkan  maksud luhur dan tujuan agung ini ialah pesan beliau yang merupakan salah satu pondasi agama ini dan merupakan prinsip yang amat kuat untuk membentengi substansinya, yakni tauhid dan keimanan.Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma- berkata, “Aku pernah berada di belakang Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pada suatu hari, beliau berpesan : “ Wahai bocah, sungguh aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu dapatkan-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah dan jika kamu memohon pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya umat manusia seluruhnya berkumpul (bersepakat) untuk memberikan manfaat kepadamu, tidaklah mereka dapat memberikan manfaat kepadamu sedikitpun kecuali karena Allah telah menetapkannya untukmu. (Demikian pula) seandainya seluruh umat manusia bersepakat menjatuhkan suatu bahaya atasmu, tidaklah mereka dapat membehayakanmu sedikitmun kecuali karena Allah telah menetapkannya atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering”. HR Tirmizi, dikatakannya hadis Hasan Shahih.Benar, ini merupakan suatu pesan yang di dalamnya terkandung penanaman pengagungan kepada Allah dalam jiwa manusia, dan bahwa Allah yang di tanganNya terletak segala kunci berbagai urusan, di tanganNya pula terletak penyelesaian persoalan-persoalan yang rumit, di sisi-Nya keberadaan perbendaharaan alam semesta dan kunci segala sesuatu, hanya Dia-lah yang dapat memenuhi segala kebutuhan dan memperkenankan permohonan hamba-hambaNya. Semua membutuhkan Allah, sangat memerlukan kedermawanan-Nya, pemberian-Nya dan kemurahan-Nya. Firman Allah :أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ [ النمل / 62]“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan”.Qs An-Naml :62Firman Allah :وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يُرِدۡكَ بِخَيۡرٖ فَلَا رَآدَّ لِفَضۡلِهِۦۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ [ يونس / 107]“ Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayan.” Qs Yunus : 107Suatu pesan agung disampaikan oleh Pemimpin para nabi dan rasul –shallallahu alaihi wa sallam- yang ditujukan kepada setip muslim agar menjadikan Allah –subhanahu wa ta’ala- semata sebagai tujuan satu-satunya dalam memenuhi hajat hidup, menghilangkan keprihatinan dan kesulitannya. Firman Allah :إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ [ الفاتحة / 5]“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” Qs Al-Fatihah :5Suatu pesan agung yang memperingatkan seorang muslim agar tidak terjatuh dalam hal-hal yang menyebabkan kehancuran secara permanen dan siksaan yang kekal abadi, suatu pesan yang mewanti-wanti manusia agar tidak berdoa dan meminta kepada selain Allah untuk menghilangkan krisis dan bencana, tidak pula mengarahkan permohonannya kepada selain Allah dalam mengangkat penderitaan atau  mendatangkan kesejahteraan. Firman Allah :إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ [ المائدة / 72]“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka.”Qs Al-Maidah : 72Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه مسلم“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah tanpa pernah menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah sementara dirinya menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia masuk neraka”. HR Muslim. Menurut hadis riwayat Ubnu Mas’ud –radhiyallahu anhu- : ” مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه البخاري“Barangsiapa meninggal dunia sedangkan dia memohon kepada selain Allah sebagai tandingan, masuklah ia ke neraka”. HR Bukhari.Suatu pesan agung yang me-resume untuk Anda –wahai muslim- bimbingan Al-Qur’an serta maksud, arah dan tujuan Al-Qur’an terkait dengan perintah, larangan, berita-berita dan kisah-kisah di dalamnya bahwa orang yang menggantungkan segala sesuatu kepada Allah, menitipkan segala kebutuhan kepadaNya dan menyerahkan segenap urusan kepadaNya semata, niscaya Allah akan mencukupikan dirinya dalam segala urusan, memudahkan segala kesulitannya dan mendekatkan baginya segala yang jauh.Firman Allah :إِنَّ ٱللَّهَ يُدَٰفِعُ عَنِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْۗ   [ الحج/38]“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” Qs Al-Haj : 38Firman Allah :وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ [ الطلاق /3]“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” Qs At-Thalaq : 3Bahwa sesungguhnya orang yang mengandalkan selain Allah dan merasa puas dengannya, Allah akan serahkan urusannya kepadanya sehingga ia menajadi rendah diri, lemah dan hina-dina serta terjatuh dalam keburukan dan berbagai bencana.عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ عِيسَى، أَخِيهِ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عُكَيْمٍ أَعُودُهُ وَبِهِ حُمْرَةٌ، فَقُلْنَا: أَلاَ تُعَلِّقُ شَيْئًا؟ قَالَ: الْمَوْتُ أَقْرَبُ مِنْ ذَلِكَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِDiriwayatkan dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Lalila, dari Isa, saudaranya berkata: Aku pernah menemui ‘Abdullah bin ‘Ukaim untuk membesuknya, sehubungan dengan penyakit Humrah (bercak-bercak merah pada kulit) yang diidapnya.  Aku pun berkata: Tidakkah sewajarnya engkau menggantungkan (hati) kepada sesuatu (jimat)? ‘Abdullah bin ‘Ukaim menjawab: “Kematian lebih baik bagiku dari pada perbuatan itu. Sebab Nabi -sallallahu alaihi wa sallam-  bersabda: Siapapun yang menggantungkan (hati) pada sesuatu benda, maka urusannya akan diserahkan sepenuhnya kepadanya’.HR Ahmad dan TirmiziRasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :” مَنْ نَزَلَ  بِهِ حَاجَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ، كَانَ قَمِنًا مِنْ أَنْ لَا تَسْهُلَ حَاجَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللهِ، أتَاهُ  اللهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ، أَوْ بِمَوْتٍ آجِلٍ ” أخرجه أحمد“Barangsiapa yang mempunyai suatu keperluan, lalu menyerahkannya kepada manusia, maka dapat dipastikan tidak lancar keperluannya itu. Dan barangsiapa yang menyerahkan keperluannya itu kepada Allah, maka Allah akan mendatangkan kepadanya rezeki dengan segera atau menunda ajal kematiannya.”HR AhmadMaka peganglah –wahai saudara sesama muslim- pesan agung itu secara konsisten agar Anda tidak dipermainkan oleh hawa nafsu dan tidak terombang-ambing oleh pemikiran liar yang tidak dapat menghindar dari bahayanya kecuali dengan mengikuti arahan pesan cemerlang dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- yang telah berhasil mencetak para sahabat sehingga mereka mencapai klimaks kesempurnaan tauhid berkat mengaplikasikan pesan agung beliau, sebagaimana yang dituturkan oleh Auf bin Malik Al-Asyja’i, ia bercerita : “كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً فَقَالَ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَسْأَلُوْا النَّاسَ شَيْئًا” فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ ” أخرجه مسلم“Kami di sisi Rasulullallah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kami sembilan atau delapan atau tujuh orang.  Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bersabda : “Janganlah kalian meminta apapun kepada manusia”. Sungguh aku telah melihat salah seorang di antara mereka ketika cemetinya terjatuh maka ia tidak meminta seorangpun untuk mengambilkannya dan memberikan kepadanya.” HR Muslim.Dari Tsauban, berkata : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “مَنْ يَكْفُلُ لِي أَنْ لَا يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ فَقُلتُ أنَا فَكَانَ لَا يَسْألُ أحَدًا شَيْئًا ” أخرجه أبو داود والنسائي“Adakah orang yang bisa menjamin untukku bahwa ia tidak meminta-minta suatu apapun kepada sehingga aku menjamin baginya surga. Aku (Tsauban) menjawab, ‘Aku Ya Rasulallah’. Sejak itulah ia (Tsauban) tidak pernah meminta sesuatu kepada siapapun.”. HR Abu Daud dan Nasa’i.Seorang keponakan Al-Akhnaf bin Qais mengeluhkan sakit gigi yang diderita, maka Akhnaf menasihatinya seraya berkata : “Aku kehilangan pengelihatanku semenjak 40 tahun yang lalu, namun begitu aku tidak pernah mengadu kepada siapapun.”Wahai saudara sesama muslim! Mengadulah kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- ketika Anda dalam kondisi krisis dan kesulitan. Bergantunglah kepada-Nya semata, bukan kepada lain-Nya ketika Anda tertimpa malapetaka, kegentingan dan kemelut.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :إذَا أصَابَ أحَدَكم هَمٌّ أوْ لَأوَاءٌ فَلْيَقلْ: اللّه، اللّه رَبّي لَا أشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ”   أخرجه الطبرانى فى الأوسط “Jika salah seorang di antara kalian tertimpa kesedihan atau gangguan kesehatan, maka hendaklah ia menyebut, “Allah – Allah adalah Tuhanku, aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesua-tu.” HR Tabrani dalam Al-Ausath.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- ketika dalam kesulitan selalu berdoa :” لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ” متفق عليه“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Agung. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan langit dan bumi dan Tuhan Arasy yang agung”. Muttafaq Alaih.Para Ulama telah bersepakat bahwa orang yang meminta pertolongan, bantuan dan perlindungan kepada sesama makhluk, yang telah meninggal, atau yang sedang raib atau bahkan yang masih hidup untuk mengatasi suatu persoalan yang sebenarnya hanya Allah sendiri yang mampu mengatasinya, maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan yang menghanguskan amalnya.Wahai kaum muslimin!Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- benar-benar antusias menanamkan bibit-bibit ketauhidan dalam jiwa. Beliau bersungguh-sungguh mengajak memperhatikan pondasi ini. Beliau berupaya dengan serius melindungi esensi tauhid secara sempurna, jangan sampai ada kekurangan dalam perkataan, perbuatan, maksud dan kehendak terkait dengan tauhid ini.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang seseorang yang berjumpa dengan sesamanya untuk memberi salam, apakah lalu ia membungkuk di hadapannya? Beliau menjawab, “Tidak boleh”. HR Ahmad dan Tirmizi. Status hadis ini adalah hasan.Semua itu tak lain hanyalah untuk mencegah sikap ketundukan apapun kecuali ketuntukan kepada Allah yang maha agung.Rasulullah yang penyayang telah memberi pengarahan kepada perkara yang bisa menolak godaan syaitan serta tipu daya dan makarnya. Anas meriwayatkan bahwasanya ada seseorang berkata :يَا مُحَمَّدُ، يَا سَيِّدَنَا، وَابْنَ سَيِّدِنَا وَابْنَ خَيْرِنَا“Wahai Muhammad, wahai pemimpin kami, putra pemimpin kami, putra lelaki terbaik kami”.Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata :أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِتَقْوَاكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشًّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِيَ اللهُ“Wahai manusia, hendaknya kalian tetap di atas ketakwaan kalian, jangan sampai syaitan menggelincirkan kalian. Aku adalah Muhammad, seorang hamba Allah dan rasulNya, aku tidak suka kalian mengangkatku lebih dari kedudukanku yang telah Allah tetapkan untukku” (HR An-Nasaai dan Ibnu Hibban)Dalam shahih Al-Bukhari, beliau –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُوْلُوا عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ“Janganlah kalian berlebih-lebihan kepadaku sebagaimana kaum nashoro berlebihan kepada ‘Isa bin Maryam. Karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : (Muhammad itu) hamba Allah dan rasulNya.” HR Al-BukhariSaudara-saudaraku seiman!Diantara contoh semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menekankan tauhid dan besarnya perhatian beliau untuk memantapkan tauid, maka beliau menutup segala sarana yang bisa digunakan syaitan untuk menjerumuskan para hamba ke dalam lumpur kesyirikan dan khurofat jahiliyah. Karenanya telah datang pengarahan-pengarahan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam rangka mengingatkan untuk tidak mengarahkan hati kepada para penghuni kubur, dan tidak bersandar kepada mereka atau merendahkan diri di hadapan pintu-pintu masuk kuburan mereka, atau beristighotsah kepada mereka tatkala dalam kondisi-kondisi sulit dan genting serta dalam kesulitan, yang hal ini semuanya selama-lamanya tidak pantas ditujukan kecuali hanya kepada pencipta bumi dan langit !!.Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ، اِشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ“Ya Allah, janganlah engkau menjadikan kuburanku adalah berhara yang disembah. Sungguh Allah sangat marah terhadap kaum yang menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai mesjid-mesjid.” HR Ahmad dan Malik dalam Muwattha’ dengan periwayatan ‘Atha bin Yasar.Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memberi perhatian yang sangat besar terhadap penjagaan tauhid, karenanya beliau memperingatkan akan bahaya sarana-sarana setan dan penyesatan syaitan yang memfitnah manusia dengan jimat-jimat dan kalung-kalung yang digantungkan (diikatkan) ke badan atau harta benda dengan alasan untuk menolak keburukan dan menghilangkan kemudorotan serta mendatangkan kebaikan.  Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan”.  HR Al-HakimSebagaimana Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memperingatkan agar tidak terpedaya oleh para dukun, pera peramal dan para pendusta. Beliau berkata ;مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau para normal lalu membenarkan apa yang diucapkannya maka sungguh ia telah kefir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” HR Al-Arba’ah (Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasaai, dan Ibnu Maajah) dan Al-Haakim).Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ditanya tentang An-Nusyroh, maka beliau menjawab :هِيَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ“Itu termasuk perbuatan syaitan.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan Al-BaihaqiAn-Nusyroh adalah berupaya menghilangkan sihir dengan menggunakan sihir yang serupa.Kaum muslimin sekalian!Tatkala kita berada pada kondisi yang mengajak jiwa untuk melakukan perkara yang tidak terpuji atau perkara yang tidak halal, yaitu tatkala kondisi berobat, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan umatnya dengan perkara tauhid dan wajibnya memberi perhatian yang besar kepada tauhid, sehingga tetap bergantung kepada Allah dan bersandar kepadaNya, serta bertawakkal kepadaNya dan tidak mengarahkan hati kecuali hanya kepadaNya. Maka beliau bersabda –sebagaiamana diriwayatkan oleh Aisyah- , bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika menjenguk orang sakit beliau berkata ;أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، اِشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءٌ لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا“Hilangkanlah penyakit wahai Tuhannya manusia, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari kesembuhanMu, kesembuhan yang tidak menyisakan satu penyakitpun.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Nabi berkata kepada Utsman bin Abil ‘Aash Ats-Tsaqofi tatkala ia menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan sakit yang beliau rasakan di tubuh beliau sejak beliau masuk Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada beliau:“Letakanlah tanganmu di lokasi bagian tubuhmu yang sakit, lalu ucapkanlah “Bismillah” tiga kali, lalu ucapkanlah sebanyak tujuh kali:أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yang aku dapati dan keburukan yang aku khawatirkan.”  HR Muslim.Kaum muslimin sekalian!Pada bentuk-bentuk semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjaga kemurnian tauhid dan perhatian besar beliau maka datanglah pengarahan beliau yang mulia sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- : مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ“Atas kehenda Allah dan kehendakmu”Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata kepadanya :أَجَعَلْتَنِي للهِ عِدْلاً، بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ“Apakah engkau menjadikan aku sama seperti Allah?, akan tetapi (katakanlah) “Atas kehendak Allah semata.”  HR Ahmad dan Ibnu Maajah.Dalam hadits riwayat Hudzaifah, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تَقُوْلُوا مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ، وَلَكِنْ قُوْلُوْا : مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءِ فُلاَنٌ“Janganlah kalian berkata, “Atas kehendak Allah dan kehendak si fulan”, akan tetapi katakanlah, “Atas kehendak Allah, kemudian kehendak si fulan.”  HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Maajah.Di antara sisi semangat Nabi kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membimbing umatnya agar waspada dari segala yang menyelisihi hakikat tauhid dan membatalkan pokok tauhid atau kewajibannya, maka beliau menyampaikan kepada umatnya pidato beliau yang agung sebagaimana yang diriwayatkan oleh Umar dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda :أَلآ إِنَّ اللهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بَآبَائِكُمْ، فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ وَإِلاَّ فَلْيَصْمُتْ“Ketahuilah bahwasanya Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan nenek moyang kalian, maka barangsiapa yang bersumpah hendaknya ia bersumpah dengan nama Allah, jika tidak maka hendaknya ia diam”Umar berkata :فَوَاللهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا مُنْذُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ذَاكِرًا وَلاَ آثِرًا“Demi Allah, aku tidak pernah bersumpah dengan nenek moyang semenjak aku mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, apakah aku bersumpah dari diri sendiri atau hanya menceritakan sumpah orang lain.” HR Al-Bukhari dan Muslim.Dalam hadits Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda ;مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah maka sungguh ia telah kafir atau telah syirik.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi.Kaum muslimin sekalian!Jadikanlah tauhid (pengesaan Allah) selalu di hadapan kalian, dan jalanilah kehidupan ini untuk beribadah kepada sang Pencipta dan mengagungkanNya, serta bergantung kepadaNya dalam segala kondisi. Ikatlah jiwa dan hati kepada Penciptanya. Gunakanlah anggota tubuh untuk perkara-perkara yang mendatangkan keridoan Penciptanya, maka akan terwujudkan bagi kalian kebaikan dan kalian akan memperoleh ganjaran yang besar.إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ، أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [ الأحقاف / 13-14]“Sesungguhnya orang-orang yang berkata Rabb kami adalah Allah lalu mereka beristiqomah, maka tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidaklah bersedih. Mereka itulah penghuni surga, kekal di dalamnya, sebagai ganjaran atas apa yang mereka amalkan. QS Al-AHqoof : 13-14Semoga Allah memberi keberkahan kepadaku dan kepada anda dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad pemimpin keturunan Adnan.=============== Khotbah KeduaDalam rangka penjagaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan kemurnian tauhid dan pembentengan beliau yang agung terhadap sisi tauhid dari segala perkara yang hanya merupakan prasangka-prasangka yang batil dan dugaan-dugaan yang hanya merupakan khayalan semata, maka dalam hadits ‘Imron beliau bersabda ;لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ“Bukan dari kami orang yang melakukan tathoyyur (yaitu mengkaitkan nasib sial dengan sesuatu yang dilihat atau didengar-pen) atau dilakukan tathoyyur untuknya, atau melakukan praktik perdukunan atau dilakukan praktik perdukunan untuknya, atau melakukan sihir atau dilakukan praktik sihir baginya.” HR Al-Bazzaar dan sanadnya hasan.Dalam hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, ia berkata :يَا رَسُوْلَ اللهِ أُمُوْرٌ كُنَّا نَصْنَعُهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، كُنَّا نَأْتِي الْكُهَّانَ“Wahai Rasulullah, ada perkara-perkara yang dahulu kami melakukannya di masa jahiliyah. Kami dahulu mendatangi para dukun.  فَلاَ تَأْتُوا الْكُهَّانَ  “Maka janganlah kalian mendatangi para dukun”   Aku berkata,  كُنَّا نَتَطَيَّر  “Kami dahulu bertathoyyur (merasa mendapatkan nasib sial) !”  Beliau berkata,  ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِي نَفْسِهِ فَلاَ يَصُدَنَّكُمْ  “Itu adalah Sesuatu yang salah seorang dari kalian mendapatinya dalam dirinya maka jangan sampai menghalangi kalian (dari kegiatan kalian)” (HR Muslim)Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi dari hadits Ibnu Mas’ud,  Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :الطِّيَرَةُ شِرْكٌ“Tathoyyur (meyakini mendapat kesialan) adalah suatu kesyirikan”Dan yang terakhir, Yakinlah bahwasanya seluruh perkara adalah di tangan Allah -subhanahu wa ta’ala-, dan hanya terjadi karena takdirNya dan ketentuanNya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَّةَ وَلاَ صَفَرَ“Tidak ada penyakit menular (yang menular dengan sendirinya), tidak ada tathoyyur (nasib sial), tidak ada haammah (burung hantu yang memberi kemudaratan tanpa seizin Allah) dan tidak ada (kesialan) di bulan Shafar.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Maka tempuhlah jalan Al-Qur’an dan jadikanlah kehidupan kalian selalu berada pada sunnah Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- pemimpin keturunan Adnan.======  Doa  ===== 

MENUTUP CELAH-CELAH KESYIRIKAN

Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 23 Jumadal Akhir 1437 H.Oleh : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Al As-SyekhKhotbah PertamaPrinsip dasar yang membuat seorang muslim bahagia dan eksistensinya membuatnya selamat, aman dan sentosa  adalah penghambaan (ubudiyah) secara totalitas kepada Tuhan semesta alam (Rabbul Alamin).  Atas dasar itulah manusia diciptakan dan diwujudkan.Firman Allah :وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ [ الذاريات / 56]“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”Artinya mereka harus memurnikan ibadah (kepada Allah semata) sebagaimana pernyataan Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma-, bahwa Tauhid (peng-esa-an ) Allah merupakan sarana segala kesuksesan; di mana pengangungan dan pemurnian ibadah kepadaNya adalah penyebab keberuntungan, bahkan faktor utama kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat. Landasan terkuat bagi keamanan dan kesentosaan adalah penegakan tauhid kepada Allah yang Maha Esa, Tuhan satu-satunya, Yang menjadi tumpuan harapan (bagi semua makhluk). Maka hendaklah seorang hamba memurnikan tujuan ibadah kepada Allah semata  , memurnikan kecintaan dan pengagungan kepada Allah semata, memurnikan perasaan takut, kekhawatiran, pengharapan dan permohonan kepada Allah semata, memurnikan aspek lahir dan batinnya dalam menentukan arah dan kehendak hanya kepada Allah semata.Firman Allah –subhanahu wa ta’ala- kepada NabiNya –shallallahu alaihi wa sallam- :Firman Allah  :قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ، لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ [ الأنعام /  162- 163]“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. Qs Al-An’am :162Firman Allah :فَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ فَلَهُۥٓ أَسۡلِمُواْۗ  [ الحج/34]“Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya.” Qs Al-Haj : 34Firman Allah :وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُۥ [ الزمر/ 54]“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya.” Qs Al-Zumar : 54Saudara sesama muslim !Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-  sangat antusias memantapkan pondasi yang agung ini dalam pengarahan-pengarahan, seruan-seruan dan rekam jejak beliau, bertolak dari keinginan dan kecintaan beliau akan keselamatan umat dan para pengikut beliau. Itulah sebabnya, maka beliau –shallallahu alaihi wa sallam- membuntu segenap jalan dan mencegah segala cara yang dapat mencemari kemurnian tauhid atau berpengaruh terhadap kesempurnaan tauhid, atau melukai esensi tauhid.Di antara pengarahan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-  terkait dengan upaya mewujudkan  maksud luhur dan tujuan agung ini ialah pesan beliau yang merupakan salah satu pondasi agama ini dan merupakan prinsip yang amat kuat untuk membentengi substansinya, yakni tauhid dan keimanan.Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma- berkata, “Aku pernah berada di belakang Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pada suatu hari, beliau berpesan : “ Wahai bocah, sungguh aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu dapatkan-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah dan jika kamu memohon pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya umat manusia seluruhnya berkumpul (bersepakat) untuk memberikan manfaat kepadamu, tidaklah mereka dapat memberikan manfaat kepadamu sedikitpun kecuali karena Allah telah menetapkannya untukmu. (Demikian pula) seandainya seluruh umat manusia bersepakat menjatuhkan suatu bahaya atasmu, tidaklah mereka dapat membehayakanmu sedikitmun kecuali karena Allah telah menetapkannya atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering”. HR Tirmizi, dikatakannya hadis Hasan Shahih.Benar, ini merupakan suatu pesan yang di dalamnya terkandung penanaman pengagungan kepada Allah dalam jiwa manusia, dan bahwa Allah yang di tanganNya terletak segala kunci berbagai urusan, di tanganNya pula terletak penyelesaian persoalan-persoalan yang rumit, di sisi-Nya keberadaan perbendaharaan alam semesta dan kunci segala sesuatu, hanya Dia-lah yang dapat memenuhi segala kebutuhan dan memperkenankan permohonan hamba-hambaNya. Semua membutuhkan Allah, sangat memerlukan kedermawanan-Nya, pemberian-Nya dan kemurahan-Nya. Firman Allah :أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ [ النمل / 62]“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan”.Qs An-Naml :62Firman Allah :وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يُرِدۡكَ بِخَيۡرٖ فَلَا رَآدَّ لِفَضۡلِهِۦۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ [ يونس / 107]“ Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayan.” Qs Yunus : 107Suatu pesan agung disampaikan oleh Pemimpin para nabi dan rasul –shallallahu alaihi wa sallam- yang ditujukan kepada setip muslim agar menjadikan Allah –subhanahu wa ta’ala- semata sebagai tujuan satu-satunya dalam memenuhi hajat hidup, menghilangkan keprihatinan dan kesulitannya. Firman Allah :إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ [ الفاتحة / 5]“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” Qs Al-Fatihah :5Suatu pesan agung yang memperingatkan seorang muslim agar tidak terjatuh dalam hal-hal yang menyebabkan kehancuran secara permanen dan siksaan yang kekal abadi, suatu pesan yang mewanti-wanti manusia agar tidak berdoa dan meminta kepada selain Allah untuk menghilangkan krisis dan bencana, tidak pula mengarahkan permohonannya kepada selain Allah dalam mengangkat penderitaan atau  mendatangkan kesejahteraan. Firman Allah :إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ [ المائدة / 72]“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka.”Qs Al-Maidah : 72Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه مسلم“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah tanpa pernah menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah sementara dirinya menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia masuk neraka”. HR Muslim. Menurut hadis riwayat Ubnu Mas’ud –radhiyallahu anhu- : ” مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه البخاري“Barangsiapa meninggal dunia sedangkan dia memohon kepada selain Allah sebagai tandingan, masuklah ia ke neraka”. HR Bukhari.Suatu pesan agung yang me-resume untuk Anda –wahai muslim- bimbingan Al-Qur’an serta maksud, arah dan tujuan Al-Qur’an terkait dengan perintah, larangan, berita-berita dan kisah-kisah di dalamnya bahwa orang yang menggantungkan segala sesuatu kepada Allah, menitipkan segala kebutuhan kepadaNya dan menyerahkan segenap urusan kepadaNya semata, niscaya Allah akan mencukupikan dirinya dalam segala urusan, memudahkan segala kesulitannya dan mendekatkan baginya segala yang jauh.Firman Allah :إِنَّ ٱللَّهَ يُدَٰفِعُ عَنِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْۗ   [ الحج/38]“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” Qs Al-Haj : 38Firman Allah :وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ [ الطلاق /3]“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” Qs At-Thalaq : 3Bahwa sesungguhnya orang yang mengandalkan selain Allah dan merasa puas dengannya, Allah akan serahkan urusannya kepadanya sehingga ia menajadi rendah diri, lemah dan hina-dina serta terjatuh dalam keburukan dan berbagai bencana.عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ عِيسَى، أَخِيهِ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عُكَيْمٍ أَعُودُهُ وَبِهِ حُمْرَةٌ، فَقُلْنَا: أَلاَ تُعَلِّقُ شَيْئًا؟ قَالَ: الْمَوْتُ أَقْرَبُ مِنْ ذَلِكَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِDiriwayatkan dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Lalila, dari Isa, saudaranya berkata: Aku pernah menemui ‘Abdullah bin ‘Ukaim untuk membesuknya, sehubungan dengan penyakit Humrah (bercak-bercak merah pada kulit) yang diidapnya.  Aku pun berkata: Tidakkah sewajarnya engkau menggantungkan (hati) kepada sesuatu (jimat)? ‘Abdullah bin ‘Ukaim menjawab: “Kematian lebih baik bagiku dari pada perbuatan itu. Sebab Nabi -sallallahu alaihi wa sallam-  bersabda: Siapapun yang menggantungkan (hati) pada sesuatu benda, maka urusannya akan diserahkan sepenuhnya kepadanya’.HR Ahmad dan TirmiziRasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :” مَنْ نَزَلَ  بِهِ حَاجَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ، كَانَ قَمِنًا مِنْ أَنْ لَا تَسْهُلَ حَاجَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللهِ، أتَاهُ  اللهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ، أَوْ بِمَوْتٍ آجِلٍ ” أخرجه أحمد“Barangsiapa yang mempunyai suatu keperluan, lalu menyerahkannya kepada manusia, maka dapat dipastikan tidak lancar keperluannya itu. Dan barangsiapa yang menyerahkan keperluannya itu kepada Allah, maka Allah akan mendatangkan kepadanya rezeki dengan segera atau menunda ajal kematiannya.”HR AhmadMaka peganglah –wahai saudara sesama muslim- pesan agung itu secara konsisten agar Anda tidak dipermainkan oleh hawa nafsu dan tidak terombang-ambing oleh pemikiran liar yang tidak dapat menghindar dari bahayanya kecuali dengan mengikuti arahan pesan cemerlang dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- yang telah berhasil mencetak para sahabat sehingga mereka mencapai klimaks kesempurnaan tauhid berkat mengaplikasikan pesan agung beliau, sebagaimana yang dituturkan oleh Auf bin Malik Al-Asyja’i, ia bercerita : “كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً فَقَالَ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَسْأَلُوْا النَّاسَ شَيْئًا” فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ ” أخرجه مسلم“Kami di sisi Rasulullallah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kami sembilan atau delapan atau tujuh orang.  Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bersabda : “Janganlah kalian meminta apapun kepada manusia”. Sungguh aku telah melihat salah seorang di antara mereka ketika cemetinya terjatuh maka ia tidak meminta seorangpun untuk mengambilkannya dan memberikan kepadanya.” HR Muslim.Dari Tsauban, berkata : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “مَنْ يَكْفُلُ لِي أَنْ لَا يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ فَقُلتُ أنَا فَكَانَ لَا يَسْألُ أحَدًا شَيْئًا ” أخرجه أبو داود والنسائي“Adakah orang yang bisa menjamin untukku bahwa ia tidak meminta-minta suatu apapun kepada sehingga aku menjamin baginya surga. Aku (Tsauban) menjawab, ‘Aku Ya Rasulallah’. Sejak itulah ia (Tsauban) tidak pernah meminta sesuatu kepada siapapun.”. HR Abu Daud dan Nasa’i.Seorang keponakan Al-Akhnaf bin Qais mengeluhkan sakit gigi yang diderita, maka Akhnaf menasihatinya seraya berkata : “Aku kehilangan pengelihatanku semenjak 40 tahun yang lalu, namun begitu aku tidak pernah mengadu kepada siapapun.”Wahai saudara sesama muslim! Mengadulah kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- ketika Anda dalam kondisi krisis dan kesulitan. Bergantunglah kepada-Nya semata, bukan kepada lain-Nya ketika Anda tertimpa malapetaka, kegentingan dan kemelut.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :إذَا أصَابَ أحَدَكم هَمٌّ أوْ لَأوَاءٌ فَلْيَقلْ: اللّه، اللّه رَبّي لَا أشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ”   أخرجه الطبرانى فى الأوسط “Jika salah seorang di antara kalian tertimpa kesedihan atau gangguan kesehatan, maka hendaklah ia menyebut, “Allah – Allah adalah Tuhanku, aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesua-tu.” HR Tabrani dalam Al-Ausath.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- ketika dalam kesulitan selalu berdoa :” لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ” متفق عليه“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Agung. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan langit dan bumi dan Tuhan Arasy yang agung”. Muttafaq Alaih.Para Ulama telah bersepakat bahwa orang yang meminta pertolongan, bantuan dan perlindungan kepada sesama makhluk, yang telah meninggal, atau yang sedang raib atau bahkan yang masih hidup untuk mengatasi suatu persoalan yang sebenarnya hanya Allah sendiri yang mampu mengatasinya, maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan yang menghanguskan amalnya.Wahai kaum muslimin!Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- benar-benar antusias menanamkan bibit-bibit ketauhidan dalam jiwa. Beliau bersungguh-sungguh mengajak memperhatikan pondasi ini. Beliau berupaya dengan serius melindungi esensi tauhid secara sempurna, jangan sampai ada kekurangan dalam perkataan, perbuatan, maksud dan kehendak terkait dengan tauhid ini.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang seseorang yang berjumpa dengan sesamanya untuk memberi salam, apakah lalu ia membungkuk di hadapannya? Beliau menjawab, “Tidak boleh”. HR Ahmad dan Tirmizi. Status hadis ini adalah hasan.Semua itu tak lain hanyalah untuk mencegah sikap ketundukan apapun kecuali ketuntukan kepada Allah yang maha agung.Rasulullah yang penyayang telah memberi pengarahan kepada perkara yang bisa menolak godaan syaitan serta tipu daya dan makarnya. Anas meriwayatkan bahwasanya ada seseorang berkata :يَا مُحَمَّدُ، يَا سَيِّدَنَا، وَابْنَ سَيِّدِنَا وَابْنَ خَيْرِنَا“Wahai Muhammad, wahai pemimpin kami, putra pemimpin kami, putra lelaki terbaik kami”.Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata :أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِتَقْوَاكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشًّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِيَ اللهُ“Wahai manusia, hendaknya kalian tetap di atas ketakwaan kalian, jangan sampai syaitan menggelincirkan kalian. Aku adalah Muhammad, seorang hamba Allah dan rasulNya, aku tidak suka kalian mengangkatku lebih dari kedudukanku yang telah Allah tetapkan untukku” (HR An-Nasaai dan Ibnu Hibban)Dalam shahih Al-Bukhari, beliau –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُوْلُوا عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ“Janganlah kalian berlebih-lebihan kepadaku sebagaimana kaum nashoro berlebihan kepada ‘Isa bin Maryam. Karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : (Muhammad itu) hamba Allah dan rasulNya.” HR Al-BukhariSaudara-saudaraku seiman!Diantara contoh semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menekankan tauhid dan besarnya perhatian beliau untuk memantapkan tauid, maka beliau menutup segala sarana yang bisa digunakan syaitan untuk menjerumuskan para hamba ke dalam lumpur kesyirikan dan khurofat jahiliyah. Karenanya telah datang pengarahan-pengarahan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam rangka mengingatkan untuk tidak mengarahkan hati kepada para penghuni kubur, dan tidak bersandar kepada mereka atau merendahkan diri di hadapan pintu-pintu masuk kuburan mereka, atau beristighotsah kepada mereka tatkala dalam kondisi-kondisi sulit dan genting serta dalam kesulitan, yang hal ini semuanya selama-lamanya tidak pantas ditujukan kecuali hanya kepada pencipta bumi dan langit !!.Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ، اِشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ“Ya Allah, janganlah engkau menjadikan kuburanku adalah berhara yang disembah. Sungguh Allah sangat marah terhadap kaum yang menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai mesjid-mesjid.” HR Ahmad dan Malik dalam Muwattha’ dengan periwayatan ‘Atha bin Yasar.Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memberi perhatian yang sangat besar terhadap penjagaan tauhid, karenanya beliau memperingatkan akan bahaya sarana-sarana setan dan penyesatan syaitan yang memfitnah manusia dengan jimat-jimat dan kalung-kalung yang digantungkan (diikatkan) ke badan atau harta benda dengan alasan untuk menolak keburukan dan menghilangkan kemudorotan serta mendatangkan kebaikan.  Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan”.  HR Al-HakimSebagaimana Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memperingatkan agar tidak terpedaya oleh para dukun, pera peramal dan para pendusta. Beliau berkata ;مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau para normal lalu membenarkan apa yang diucapkannya maka sungguh ia telah kefir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” HR Al-Arba’ah (Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasaai, dan Ibnu Maajah) dan Al-Haakim).Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ditanya tentang An-Nusyroh, maka beliau menjawab :هِيَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ“Itu termasuk perbuatan syaitan.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan Al-BaihaqiAn-Nusyroh adalah berupaya menghilangkan sihir dengan menggunakan sihir yang serupa.Kaum muslimin sekalian!Tatkala kita berada pada kondisi yang mengajak jiwa untuk melakukan perkara yang tidak terpuji atau perkara yang tidak halal, yaitu tatkala kondisi berobat, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan umatnya dengan perkara tauhid dan wajibnya memberi perhatian yang besar kepada tauhid, sehingga tetap bergantung kepada Allah dan bersandar kepadaNya, serta bertawakkal kepadaNya dan tidak mengarahkan hati kecuali hanya kepadaNya. Maka beliau bersabda –sebagaiamana diriwayatkan oleh Aisyah- , bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika menjenguk orang sakit beliau berkata ;أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، اِشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءٌ لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا“Hilangkanlah penyakit wahai Tuhannya manusia, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari kesembuhanMu, kesembuhan yang tidak menyisakan satu penyakitpun.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Nabi berkata kepada Utsman bin Abil ‘Aash Ats-Tsaqofi tatkala ia menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan sakit yang beliau rasakan di tubuh beliau sejak beliau masuk Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada beliau:“Letakanlah tanganmu di lokasi bagian tubuhmu yang sakit, lalu ucapkanlah “Bismillah” tiga kali, lalu ucapkanlah sebanyak tujuh kali:أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yang aku dapati dan keburukan yang aku khawatirkan.”  HR Muslim.Kaum muslimin sekalian!Pada bentuk-bentuk semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjaga kemurnian tauhid dan perhatian besar beliau maka datanglah pengarahan beliau yang mulia sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- : مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ“Atas kehenda Allah dan kehendakmu”Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata kepadanya :أَجَعَلْتَنِي للهِ عِدْلاً، بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ“Apakah engkau menjadikan aku sama seperti Allah?, akan tetapi (katakanlah) “Atas kehendak Allah semata.”  HR Ahmad dan Ibnu Maajah.Dalam hadits riwayat Hudzaifah, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تَقُوْلُوا مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ، وَلَكِنْ قُوْلُوْا : مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءِ فُلاَنٌ“Janganlah kalian berkata, “Atas kehendak Allah dan kehendak si fulan”, akan tetapi katakanlah, “Atas kehendak Allah, kemudian kehendak si fulan.”  HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Maajah.Di antara sisi semangat Nabi kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membimbing umatnya agar waspada dari segala yang menyelisihi hakikat tauhid dan membatalkan pokok tauhid atau kewajibannya, maka beliau menyampaikan kepada umatnya pidato beliau yang agung sebagaimana yang diriwayatkan oleh Umar dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda :أَلآ إِنَّ اللهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بَآبَائِكُمْ، فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ وَإِلاَّ فَلْيَصْمُتْ“Ketahuilah bahwasanya Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan nenek moyang kalian, maka barangsiapa yang bersumpah hendaknya ia bersumpah dengan nama Allah, jika tidak maka hendaknya ia diam”Umar berkata :فَوَاللهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا مُنْذُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ذَاكِرًا وَلاَ آثِرًا“Demi Allah, aku tidak pernah bersumpah dengan nenek moyang semenjak aku mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, apakah aku bersumpah dari diri sendiri atau hanya menceritakan sumpah orang lain.” HR Al-Bukhari dan Muslim.Dalam hadits Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda ;مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah maka sungguh ia telah kafir atau telah syirik.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi.Kaum muslimin sekalian!Jadikanlah tauhid (pengesaan Allah) selalu di hadapan kalian, dan jalanilah kehidupan ini untuk beribadah kepada sang Pencipta dan mengagungkanNya, serta bergantung kepadaNya dalam segala kondisi. Ikatlah jiwa dan hati kepada Penciptanya. Gunakanlah anggota tubuh untuk perkara-perkara yang mendatangkan keridoan Penciptanya, maka akan terwujudkan bagi kalian kebaikan dan kalian akan memperoleh ganjaran yang besar.إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ، أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [ الأحقاف / 13-14]“Sesungguhnya orang-orang yang berkata Rabb kami adalah Allah lalu mereka beristiqomah, maka tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidaklah bersedih. Mereka itulah penghuni surga, kekal di dalamnya, sebagai ganjaran atas apa yang mereka amalkan. QS Al-AHqoof : 13-14Semoga Allah memberi keberkahan kepadaku dan kepada anda dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad pemimpin keturunan Adnan.=============== Khotbah KeduaDalam rangka penjagaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan kemurnian tauhid dan pembentengan beliau yang agung terhadap sisi tauhid dari segala perkara yang hanya merupakan prasangka-prasangka yang batil dan dugaan-dugaan yang hanya merupakan khayalan semata, maka dalam hadits ‘Imron beliau bersabda ;لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ“Bukan dari kami orang yang melakukan tathoyyur (yaitu mengkaitkan nasib sial dengan sesuatu yang dilihat atau didengar-pen) atau dilakukan tathoyyur untuknya, atau melakukan praktik perdukunan atau dilakukan praktik perdukunan untuknya, atau melakukan sihir atau dilakukan praktik sihir baginya.” HR Al-Bazzaar dan sanadnya hasan.Dalam hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, ia berkata :يَا رَسُوْلَ اللهِ أُمُوْرٌ كُنَّا نَصْنَعُهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، كُنَّا نَأْتِي الْكُهَّانَ“Wahai Rasulullah, ada perkara-perkara yang dahulu kami melakukannya di masa jahiliyah. Kami dahulu mendatangi para dukun.  فَلاَ تَأْتُوا الْكُهَّانَ  “Maka janganlah kalian mendatangi para dukun”   Aku berkata,  كُنَّا نَتَطَيَّر  “Kami dahulu bertathoyyur (merasa mendapatkan nasib sial) !”  Beliau berkata,  ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِي نَفْسِهِ فَلاَ يَصُدَنَّكُمْ  “Itu adalah Sesuatu yang salah seorang dari kalian mendapatinya dalam dirinya maka jangan sampai menghalangi kalian (dari kegiatan kalian)” (HR Muslim)Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi dari hadits Ibnu Mas’ud,  Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :الطِّيَرَةُ شِرْكٌ“Tathoyyur (meyakini mendapat kesialan) adalah suatu kesyirikan”Dan yang terakhir, Yakinlah bahwasanya seluruh perkara adalah di tangan Allah -subhanahu wa ta’ala-, dan hanya terjadi karena takdirNya dan ketentuanNya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَّةَ وَلاَ صَفَرَ“Tidak ada penyakit menular (yang menular dengan sendirinya), tidak ada tathoyyur (nasib sial), tidak ada haammah (burung hantu yang memberi kemudaratan tanpa seizin Allah) dan tidak ada (kesialan) di bulan Shafar.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Maka tempuhlah jalan Al-Qur’an dan jadikanlah kehidupan kalian selalu berada pada sunnah Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- pemimpin keturunan Adnan.======  Doa  ===== 
Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 23 Jumadal Akhir 1437 H.Oleh : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Al As-SyekhKhotbah PertamaPrinsip dasar yang membuat seorang muslim bahagia dan eksistensinya membuatnya selamat, aman dan sentosa  adalah penghambaan (ubudiyah) secara totalitas kepada Tuhan semesta alam (Rabbul Alamin).  Atas dasar itulah manusia diciptakan dan diwujudkan.Firman Allah :وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ [ الذاريات / 56]“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”Artinya mereka harus memurnikan ibadah (kepada Allah semata) sebagaimana pernyataan Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma-, bahwa Tauhid (peng-esa-an ) Allah merupakan sarana segala kesuksesan; di mana pengangungan dan pemurnian ibadah kepadaNya adalah penyebab keberuntungan, bahkan faktor utama kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat. Landasan terkuat bagi keamanan dan kesentosaan adalah penegakan tauhid kepada Allah yang Maha Esa, Tuhan satu-satunya, Yang menjadi tumpuan harapan (bagi semua makhluk). Maka hendaklah seorang hamba memurnikan tujuan ibadah kepada Allah semata  , memurnikan kecintaan dan pengagungan kepada Allah semata, memurnikan perasaan takut, kekhawatiran, pengharapan dan permohonan kepada Allah semata, memurnikan aspek lahir dan batinnya dalam menentukan arah dan kehendak hanya kepada Allah semata.Firman Allah –subhanahu wa ta’ala- kepada NabiNya –shallallahu alaihi wa sallam- :Firman Allah  :قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ، لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ [ الأنعام /  162- 163]“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. Qs Al-An’am :162Firman Allah :فَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ فَلَهُۥٓ أَسۡلِمُواْۗ  [ الحج/34]“Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya.” Qs Al-Haj : 34Firman Allah :وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُۥ [ الزمر/ 54]“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya.” Qs Al-Zumar : 54Saudara sesama muslim !Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-  sangat antusias memantapkan pondasi yang agung ini dalam pengarahan-pengarahan, seruan-seruan dan rekam jejak beliau, bertolak dari keinginan dan kecintaan beliau akan keselamatan umat dan para pengikut beliau. Itulah sebabnya, maka beliau –shallallahu alaihi wa sallam- membuntu segenap jalan dan mencegah segala cara yang dapat mencemari kemurnian tauhid atau berpengaruh terhadap kesempurnaan tauhid, atau melukai esensi tauhid.Di antara pengarahan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-  terkait dengan upaya mewujudkan  maksud luhur dan tujuan agung ini ialah pesan beliau yang merupakan salah satu pondasi agama ini dan merupakan prinsip yang amat kuat untuk membentengi substansinya, yakni tauhid dan keimanan.Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma- berkata, “Aku pernah berada di belakang Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pada suatu hari, beliau berpesan : “ Wahai bocah, sungguh aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu dapatkan-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah dan jika kamu memohon pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya umat manusia seluruhnya berkumpul (bersepakat) untuk memberikan manfaat kepadamu, tidaklah mereka dapat memberikan manfaat kepadamu sedikitpun kecuali karena Allah telah menetapkannya untukmu. (Demikian pula) seandainya seluruh umat manusia bersepakat menjatuhkan suatu bahaya atasmu, tidaklah mereka dapat membehayakanmu sedikitmun kecuali karena Allah telah menetapkannya atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering”. HR Tirmizi, dikatakannya hadis Hasan Shahih.Benar, ini merupakan suatu pesan yang di dalamnya terkandung penanaman pengagungan kepada Allah dalam jiwa manusia, dan bahwa Allah yang di tanganNya terletak segala kunci berbagai urusan, di tanganNya pula terletak penyelesaian persoalan-persoalan yang rumit, di sisi-Nya keberadaan perbendaharaan alam semesta dan kunci segala sesuatu, hanya Dia-lah yang dapat memenuhi segala kebutuhan dan memperkenankan permohonan hamba-hambaNya. Semua membutuhkan Allah, sangat memerlukan kedermawanan-Nya, pemberian-Nya dan kemurahan-Nya. Firman Allah :أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ [ النمل / 62]“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan”.Qs An-Naml :62Firman Allah :وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يُرِدۡكَ بِخَيۡرٖ فَلَا رَآدَّ لِفَضۡلِهِۦۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ [ يونس / 107]“ Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayan.” Qs Yunus : 107Suatu pesan agung disampaikan oleh Pemimpin para nabi dan rasul –shallallahu alaihi wa sallam- yang ditujukan kepada setip muslim agar menjadikan Allah –subhanahu wa ta’ala- semata sebagai tujuan satu-satunya dalam memenuhi hajat hidup, menghilangkan keprihatinan dan kesulitannya. Firman Allah :إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ [ الفاتحة / 5]“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” Qs Al-Fatihah :5Suatu pesan agung yang memperingatkan seorang muslim agar tidak terjatuh dalam hal-hal yang menyebabkan kehancuran secara permanen dan siksaan yang kekal abadi, suatu pesan yang mewanti-wanti manusia agar tidak berdoa dan meminta kepada selain Allah untuk menghilangkan krisis dan bencana, tidak pula mengarahkan permohonannya kepada selain Allah dalam mengangkat penderitaan atau  mendatangkan kesejahteraan. Firman Allah :إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ [ المائدة / 72]“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka.”Qs Al-Maidah : 72Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه مسلم“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah tanpa pernah menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah sementara dirinya menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia masuk neraka”. HR Muslim. Menurut hadis riwayat Ubnu Mas’ud –radhiyallahu anhu- : ” مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه البخاري“Barangsiapa meninggal dunia sedangkan dia memohon kepada selain Allah sebagai tandingan, masuklah ia ke neraka”. HR Bukhari.Suatu pesan agung yang me-resume untuk Anda –wahai muslim- bimbingan Al-Qur’an serta maksud, arah dan tujuan Al-Qur’an terkait dengan perintah, larangan, berita-berita dan kisah-kisah di dalamnya bahwa orang yang menggantungkan segala sesuatu kepada Allah, menitipkan segala kebutuhan kepadaNya dan menyerahkan segenap urusan kepadaNya semata, niscaya Allah akan mencukupikan dirinya dalam segala urusan, memudahkan segala kesulitannya dan mendekatkan baginya segala yang jauh.Firman Allah :إِنَّ ٱللَّهَ يُدَٰفِعُ عَنِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْۗ   [ الحج/38]“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” Qs Al-Haj : 38Firman Allah :وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ [ الطلاق /3]“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” Qs At-Thalaq : 3Bahwa sesungguhnya orang yang mengandalkan selain Allah dan merasa puas dengannya, Allah akan serahkan urusannya kepadanya sehingga ia menajadi rendah diri, lemah dan hina-dina serta terjatuh dalam keburukan dan berbagai bencana.عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ عِيسَى، أَخِيهِ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عُكَيْمٍ أَعُودُهُ وَبِهِ حُمْرَةٌ، فَقُلْنَا: أَلاَ تُعَلِّقُ شَيْئًا؟ قَالَ: الْمَوْتُ أَقْرَبُ مِنْ ذَلِكَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِDiriwayatkan dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Lalila, dari Isa, saudaranya berkata: Aku pernah menemui ‘Abdullah bin ‘Ukaim untuk membesuknya, sehubungan dengan penyakit Humrah (bercak-bercak merah pada kulit) yang diidapnya.  Aku pun berkata: Tidakkah sewajarnya engkau menggantungkan (hati) kepada sesuatu (jimat)? ‘Abdullah bin ‘Ukaim menjawab: “Kematian lebih baik bagiku dari pada perbuatan itu. Sebab Nabi -sallallahu alaihi wa sallam-  bersabda: Siapapun yang menggantungkan (hati) pada sesuatu benda, maka urusannya akan diserahkan sepenuhnya kepadanya’.HR Ahmad dan TirmiziRasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :” مَنْ نَزَلَ  بِهِ حَاجَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ، كَانَ قَمِنًا مِنْ أَنْ لَا تَسْهُلَ حَاجَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللهِ، أتَاهُ  اللهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ، أَوْ بِمَوْتٍ آجِلٍ ” أخرجه أحمد“Barangsiapa yang mempunyai suatu keperluan, lalu menyerahkannya kepada manusia, maka dapat dipastikan tidak lancar keperluannya itu. Dan barangsiapa yang menyerahkan keperluannya itu kepada Allah, maka Allah akan mendatangkan kepadanya rezeki dengan segera atau menunda ajal kematiannya.”HR AhmadMaka peganglah –wahai saudara sesama muslim- pesan agung itu secara konsisten agar Anda tidak dipermainkan oleh hawa nafsu dan tidak terombang-ambing oleh pemikiran liar yang tidak dapat menghindar dari bahayanya kecuali dengan mengikuti arahan pesan cemerlang dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- yang telah berhasil mencetak para sahabat sehingga mereka mencapai klimaks kesempurnaan tauhid berkat mengaplikasikan pesan agung beliau, sebagaimana yang dituturkan oleh Auf bin Malik Al-Asyja’i, ia bercerita : “كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً فَقَالَ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَسْأَلُوْا النَّاسَ شَيْئًا” فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ ” أخرجه مسلم“Kami di sisi Rasulullallah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kami sembilan atau delapan atau tujuh orang.  Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bersabda : “Janganlah kalian meminta apapun kepada manusia”. Sungguh aku telah melihat salah seorang di antara mereka ketika cemetinya terjatuh maka ia tidak meminta seorangpun untuk mengambilkannya dan memberikan kepadanya.” HR Muslim.Dari Tsauban, berkata : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “مَنْ يَكْفُلُ لِي أَنْ لَا يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ فَقُلتُ أنَا فَكَانَ لَا يَسْألُ أحَدًا شَيْئًا ” أخرجه أبو داود والنسائي“Adakah orang yang bisa menjamin untukku bahwa ia tidak meminta-minta suatu apapun kepada sehingga aku menjamin baginya surga. Aku (Tsauban) menjawab, ‘Aku Ya Rasulallah’. Sejak itulah ia (Tsauban) tidak pernah meminta sesuatu kepada siapapun.”. HR Abu Daud dan Nasa’i.Seorang keponakan Al-Akhnaf bin Qais mengeluhkan sakit gigi yang diderita, maka Akhnaf menasihatinya seraya berkata : “Aku kehilangan pengelihatanku semenjak 40 tahun yang lalu, namun begitu aku tidak pernah mengadu kepada siapapun.”Wahai saudara sesama muslim! Mengadulah kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- ketika Anda dalam kondisi krisis dan kesulitan. Bergantunglah kepada-Nya semata, bukan kepada lain-Nya ketika Anda tertimpa malapetaka, kegentingan dan kemelut.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :إذَا أصَابَ أحَدَكم هَمٌّ أوْ لَأوَاءٌ فَلْيَقلْ: اللّه، اللّه رَبّي لَا أشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ”   أخرجه الطبرانى فى الأوسط “Jika salah seorang di antara kalian tertimpa kesedihan atau gangguan kesehatan, maka hendaklah ia menyebut, “Allah – Allah adalah Tuhanku, aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesua-tu.” HR Tabrani dalam Al-Ausath.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- ketika dalam kesulitan selalu berdoa :” لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ” متفق عليه“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Agung. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan langit dan bumi dan Tuhan Arasy yang agung”. Muttafaq Alaih.Para Ulama telah bersepakat bahwa orang yang meminta pertolongan, bantuan dan perlindungan kepada sesama makhluk, yang telah meninggal, atau yang sedang raib atau bahkan yang masih hidup untuk mengatasi suatu persoalan yang sebenarnya hanya Allah sendiri yang mampu mengatasinya, maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan yang menghanguskan amalnya.Wahai kaum muslimin!Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- benar-benar antusias menanamkan bibit-bibit ketauhidan dalam jiwa. Beliau bersungguh-sungguh mengajak memperhatikan pondasi ini. Beliau berupaya dengan serius melindungi esensi tauhid secara sempurna, jangan sampai ada kekurangan dalam perkataan, perbuatan, maksud dan kehendak terkait dengan tauhid ini.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang seseorang yang berjumpa dengan sesamanya untuk memberi salam, apakah lalu ia membungkuk di hadapannya? Beliau menjawab, “Tidak boleh”. HR Ahmad dan Tirmizi. Status hadis ini adalah hasan.Semua itu tak lain hanyalah untuk mencegah sikap ketundukan apapun kecuali ketuntukan kepada Allah yang maha agung.Rasulullah yang penyayang telah memberi pengarahan kepada perkara yang bisa menolak godaan syaitan serta tipu daya dan makarnya. Anas meriwayatkan bahwasanya ada seseorang berkata :يَا مُحَمَّدُ، يَا سَيِّدَنَا، وَابْنَ سَيِّدِنَا وَابْنَ خَيْرِنَا“Wahai Muhammad, wahai pemimpin kami, putra pemimpin kami, putra lelaki terbaik kami”.Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata :أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِتَقْوَاكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشًّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِيَ اللهُ“Wahai manusia, hendaknya kalian tetap di atas ketakwaan kalian, jangan sampai syaitan menggelincirkan kalian. Aku adalah Muhammad, seorang hamba Allah dan rasulNya, aku tidak suka kalian mengangkatku lebih dari kedudukanku yang telah Allah tetapkan untukku” (HR An-Nasaai dan Ibnu Hibban)Dalam shahih Al-Bukhari, beliau –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُوْلُوا عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ“Janganlah kalian berlebih-lebihan kepadaku sebagaimana kaum nashoro berlebihan kepada ‘Isa bin Maryam. Karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : (Muhammad itu) hamba Allah dan rasulNya.” HR Al-BukhariSaudara-saudaraku seiman!Diantara contoh semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menekankan tauhid dan besarnya perhatian beliau untuk memantapkan tauid, maka beliau menutup segala sarana yang bisa digunakan syaitan untuk menjerumuskan para hamba ke dalam lumpur kesyirikan dan khurofat jahiliyah. Karenanya telah datang pengarahan-pengarahan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam rangka mengingatkan untuk tidak mengarahkan hati kepada para penghuni kubur, dan tidak bersandar kepada mereka atau merendahkan diri di hadapan pintu-pintu masuk kuburan mereka, atau beristighotsah kepada mereka tatkala dalam kondisi-kondisi sulit dan genting serta dalam kesulitan, yang hal ini semuanya selama-lamanya tidak pantas ditujukan kecuali hanya kepada pencipta bumi dan langit !!.Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ، اِشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ“Ya Allah, janganlah engkau menjadikan kuburanku adalah berhara yang disembah. Sungguh Allah sangat marah terhadap kaum yang menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai mesjid-mesjid.” HR Ahmad dan Malik dalam Muwattha’ dengan periwayatan ‘Atha bin Yasar.Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memberi perhatian yang sangat besar terhadap penjagaan tauhid, karenanya beliau memperingatkan akan bahaya sarana-sarana setan dan penyesatan syaitan yang memfitnah manusia dengan jimat-jimat dan kalung-kalung yang digantungkan (diikatkan) ke badan atau harta benda dengan alasan untuk menolak keburukan dan menghilangkan kemudorotan serta mendatangkan kebaikan.  Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan”.  HR Al-HakimSebagaimana Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memperingatkan agar tidak terpedaya oleh para dukun, pera peramal dan para pendusta. Beliau berkata ;مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau para normal lalu membenarkan apa yang diucapkannya maka sungguh ia telah kefir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” HR Al-Arba’ah (Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasaai, dan Ibnu Maajah) dan Al-Haakim).Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ditanya tentang An-Nusyroh, maka beliau menjawab :هِيَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ“Itu termasuk perbuatan syaitan.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan Al-BaihaqiAn-Nusyroh adalah berupaya menghilangkan sihir dengan menggunakan sihir yang serupa.Kaum muslimin sekalian!Tatkala kita berada pada kondisi yang mengajak jiwa untuk melakukan perkara yang tidak terpuji atau perkara yang tidak halal, yaitu tatkala kondisi berobat, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan umatnya dengan perkara tauhid dan wajibnya memberi perhatian yang besar kepada tauhid, sehingga tetap bergantung kepada Allah dan bersandar kepadaNya, serta bertawakkal kepadaNya dan tidak mengarahkan hati kecuali hanya kepadaNya. Maka beliau bersabda –sebagaiamana diriwayatkan oleh Aisyah- , bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika menjenguk orang sakit beliau berkata ;أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، اِشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءٌ لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا“Hilangkanlah penyakit wahai Tuhannya manusia, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari kesembuhanMu, kesembuhan yang tidak menyisakan satu penyakitpun.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Nabi berkata kepada Utsman bin Abil ‘Aash Ats-Tsaqofi tatkala ia menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan sakit yang beliau rasakan di tubuh beliau sejak beliau masuk Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada beliau:“Letakanlah tanganmu di lokasi bagian tubuhmu yang sakit, lalu ucapkanlah “Bismillah” tiga kali, lalu ucapkanlah sebanyak tujuh kali:أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yang aku dapati dan keburukan yang aku khawatirkan.”  HR Muslim.Kaum muslimin sekalian!Pada bentuk-bentuk semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjaga kemurnian tauhid dan perhatian besar beliau maka datanglah pengarahan beliau yang mulia sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- : مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ“Atas kehenda Allah dan kehendakmu”Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata kepadanya :أَجَعَلْتَنِي للهِ عِدْلاً، بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ“Apakah engkau menjadikan aku sama seperti Allah?, akan tetapi (katakanlah) “Atas kehendak Allah semata.”  HR Ahmad dan Ibnu Maajah.Dalam hadits riwayat Hudzaifah, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تَقُوْلُوا مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ، وَلَكِنْ قُوْلُوْا : مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءِ فُلاَنٌ“Janganlah kalian berkata, “Atas kehendak Allah dan kehendak si fulan”, akan tetapi katakanlah, “Atas kehendak Allah, kemudian kehendak si fulan.”  HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Maajah.Di antara sisi semangat Nabi kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membimbing umatnya agar waspada dari segala yang menyelisihi hakikat tauhid dan membatalkan pokok tauhid atau kewajibannya, maka beliau menyampaikan kepada umatnya pidato beliau yang agung sebagaimana yang diriwayatkan oleh Umar dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda :أَلآ إِنَّ اللهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بَآبَائِكُمْ، فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ وَإِلاَّ فَلْيَصْمُتْ“Ketahuilah bahwasanya Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan nenek moyang kalian, maka barangsiapa yang bersumpah hendaknya ia bersumpah dengan nama Allah, jika tidak maka hendaknya ia diam”Umar berkata :فَوَاللهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا مُنْذُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ذَاكِرًا وَلاَ آثِرًا“Demi Allah, aku tidak pernah bersumpah dengan nenek moyang semenjak aku mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, apakah aku bersumpah dari diri sendiri atau hanya menceritakan sumpah orang lain.” HR Al-Bukhari dan Muslim.Dalam hadits Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda ;مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah maka sungguh ia telah kafir atau telah syirik.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi.Kaum muslimin sekalian!Jadikanlah tauhid (pengesaan Allah) selalu di hadapan kalian, dan jalanilah kehidupan ini untuk beribadah kepada sang Pencipta dan mengagungkanNya, serta bergantung kepadaNya dalam segala kondisi. Ikatlah jiwa dan hati kepada Penciptanya. Gunakanlah anggota tubuh untuk perkara-perkara yang mendatangkan keridoan Penciptanya, maka akan terwujudkan bagi kalian kebaikan dan kalian akan memperoleh ganjaran yang besar.إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ، أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [ الأحقاف / 13-14]“Sesungguhnya orang-orang yang berkata Rabb kami adalah Allah lalu mereka beristiqomah, maka tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidaklah bersedih. Mereka itulah penghuni surga, kekal di dalamnya, sebagai ganjaran atas apa yang mereka amalkan. QS Al-AHqoof : 13-14Semoga Allah memberi keberkahan kepadaku dan kepada anda dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad pemimpin keturunan Adnan.=============== Khotbah KeduaDalam rangka penjagaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan kemurnian tauhid dan pembentengan beliau yang agung terhadap sisi tauhid dari segala perkara yang hanya merupakan prasangka-prasangka yang batil dan dugaan-dugaan yang hanya merupakan khayalan semata, maka dalam hadits ‘Imron beliau bersabda ;لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ“Bukan dari kami orang yang melakukan tathoyyur (yaitu mengkaitkan nasib sial dengan sesuatu yang dilihat atau didengar-pen) atau dilakukan tathoyyur untuknya, atau melakukan praktik perdukunan atau dilakukan praktik perdukunan untuknya, atau melakukan sihir atau dilakukan praktik sihir baginya.” HR Al-Bazzaar dan sanadnya hasan.Dalam hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, ia berkata :يَا رَسُوْلَ اللهِ أُمُوْرٌ كُنَّا نَصْنَعُهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، كُنَّا نَأْتِي الْكُهَّانَ“Wahai Rasulullah, ada perkara-perkara yang dahulu kami melakukannya di masa jahiliyah. Kami dahulu mendatangi para dukun.  فَلاَ تَأْتُوا الْكُهَّانَ  “Maka janganlah kalian mendatangi para dukun”   Aku berkata,  كُنَّا نَتَطَيَّر  “Kami dahulu bertathoyyur (merasa mendapatkan nasib sial) !”  Beliau berkata,  ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِي نَفْسِهِ فَلاَ يَصُدَنَّكُمْ  “Itu adalah Sesuatu yang salah seorang dari kalian mendapatinya dalam dirinya maka jangan sampai menghalangi kalian (dari kegiatan kalian)” (HR Muslim)Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi dari hadits Ibnu Mas’ud,  Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :الطِّيَرَةُ شِرْكٌ“Tathoyyur (meyakini mendapat kesialan) adalah suatu kesyirikan”Dan yang terakhir, Yakinlah bahwasanya seluruh perkara adalah di tangan Allah -subhanahu wa ta’ala-, dan hanya terjadi karena takdirNya dan ketentuanNya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَّةَ وَلاَ صَفَرَ“Tidak ada penyakit menular (yang menular dengan sendirinya), tidak ada tathoyyur (nasib sial), tidak ada haammah (burung hantu yang memberi kemudaratan tanpa seizin Allah) dan tidak ada (kesialan) di bulan Shafar.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Maka tempuhlah jalan Al-Qur’an dan jadikanlah kehidupan kalian selalu berada pada sunnah Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- pemimpin keturunan Adnan.======  Doa  ===== 


Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 23 Jumadal Akhir 1437 H.Oleh : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Al As-SyekhKhotbah PertamaPrinsip dasar yang membuat seorang muslim bahagia dan eksistensinya membuatnya selamat, aman dan sentosa  adalah penghambaan (ubudiyah) secara totalitas kepada Tuhan semesta alam (Rabbul Alamin).  Atas dasar itulah manusia diciptakan dan diwujudkan.Firman Allah :وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ [ الذاريات / 56]“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”Artinya mereka harus memurnikan ibadah (kepada Allah semata) sebagaimana pernyataan Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma-, bahwa Tauhid (peng-esa-an ) Allah merupakan sarana segala kesuksesan; di mana pengangungan dan pemurnian ibadah kepadaNya adalah penyebab keberuntungan, bahkan faktor utama kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat. Landasan terkuat bagi keamanan dan kesentosaan adalah penegakan tauhid kepada Allah yang Maha Esa, Tuhan satu-satunya, Yang menjadi tumpuan harapan (bagi semua makhluk). Maka hendaklah seorang hamba memurnikan tujuan ibadah kepada Allah semata  , memurnikan kecintaan dan pengagungan kepada Allah semata, memurnikan perasaan takut, kekhawatiran, pengharapan dan permohonan kepada Allah semata, memurnikan aspek lahir dan batinnya dalam menentukan arah dan kehendak hanya kepada Allah semata.Firman Allah –subhanahu wa ta’ala- kepada NabiNya –shallallahu alaihi wa sallam- :Firman Allah  :قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ، لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ [ الأنعام /  162- 163]“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. Qs Al-An’am :162Firman Allah :فَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ فَلَهُۥٓ أَسۡلِمُواْۗ  [ الحج/34]“Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya.” Qs Al-Haj : 34Firman Allah :وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُۥ [ الزمر/ 54]“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya.” Qs Al-Zumar : 54Saudara sesama muslim !Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-  sangat antusias memantapkan pondasi yang agung ini dalam pengarahan-pengarahan, seruan-seruan dan rekam jejak beliau, bertolak dari keinginan dan kecintaan beliau akan keselamatan umat dan para pengikut beliau. Itulah sebabnya, maka beliau –shallallahu alaihi wa sallam- membuntu segenap jalan dan mencegah segala cara yang dapat mencemari kemurnian tauhid atau berpengaruh terhadap kesempurnaan tauhid, atau melukai esensi tauhid.Di antara pengarahan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-  terkait dengan upaya mewujudkan  maksud luhur dan tujuan agung ini ialah pesan beliau yang merupakan salah satu pondasi agama ini dan merupakan prinsip yang amat kuat untuk membentengi substansinya, yakni tauhid dan keimanan.Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma- berkata, “Aku pernah berada di belakang Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pada suatu hari, beliau berpesan : “ Wahai bocah, sungguh aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu dapatkan-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah dan jika kamu memohon pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya umat manusia seluruhnya berkumpul (bersepakat) untuk memberikan manfaat kepadamu, tidaklah mereka dapat memberikan manfaat kepadamu sedikitpun kecuali karena Allah telah menetapkannya untukmu. (Demikian pula) seandainya seluruh umat manusia bersepakat menjatuhkan suatu bahaya atasmu, tidaklah mereka dapat membehayakanmu sedikitmun kecuali karena Allah telah menetapkannya atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering”. HR Tirmizi, dikatakannya hadis Hasan Shahih.Benar, ini merupakan suatu pesan yang di dalamnya terkandung penanaman pengagungan kepada Allah dalam jiwa manusia, dan bahwa Allah yang di tanganNya terletak segala kunci berbagai urusan, di tanganNya pula terletak penyelesaian persoalan-persoalan yang rumit, di sisi-Nya keberadaan perbendaharaan alam semesta dan kunci segala sesuatu, hanya Dia-lah yang dapat memenuhi segala kebutuhan dan memperkenankan permohonan hamba-hambaNya. Semua membutuhkan Allah, sangat memerlukan kedermawanan-Nya, pemberian-Nya dan kemurahan-Nya. Firman Allah :أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ [ النمل / 62]“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan”.Qs An-Naml :62Firman Allah :وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يُرِدۡكَ بِخَيۡرٖ فَلَا رَآدَّ لِفَضۡلِهِۦۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ [ يونس / 107]“ Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayan.” Qs Yunus : 107Suatu pesan agung disampaikan oleh Pemimpin para nabi dan rasul –shallallahu alaihi wa sallam- yang ditujukan kepada setip muslim agar menjadikan Allah –subhanahu wa ta’ala- semata sebagai tujuan satu-satunya dalam memenuhi hajat hidup, menghilangkan keprihatinan dan kesulitannya. Firman Allah :إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ [ الفاتحة / 5]“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” Qs Al-Fatihah :5Suatu pesan agung yang memperingatkan seorang muslim agar tidak terjatuh dalam hal-hal yang menyebabkan kehancuran secara permanen dan siksaan yang kekal abadi, suatu pesan yang mewanti-wanti manusia agar tidak berdoa dan meminta kepada selain Allah untuk menghilangkan krisis dan bencana, tidak pula mengarahkan permohonannya kepada selain Allah dalam mengangkat penderitaan atau  mendatangkan kesejahteraan. Firman Allah :إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ [ المائدة / 72]“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka.”Qs Al-Maidah : 72Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه مسلم“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah tanpa pernah menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah sementara dirinya menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia masuk neraka”. HR Muslim. Menurut hadis riwayat Ubnu Mas’ud –radhiyallahu anhu- : ” مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه البخاري“Barangsiapa meninggal dunia sedangkan dia memohon kepada selain Allah sebagai tandingan, masuklah ia ke neraka”. HR Bukhari.Suatu pesan agung yang me-resume untuk Anda –wahai muslim- bimbingan Al-Qur’an serta maksud, arah dan tujuan Al-Qur’an terkait dengan perintah, larangan, berita-berita dan kisah-kisah di dalamnya bahwa orang yang menggantungkan segala sesuatu kepada Allah, menitipkan segala kebutuhan kepadaNya dan menyerahkan segenap urusan kepadaNya semata, niscaya Allah akan mencukupikan dirinya dalam segala urusan, memudahkan segala kesulitannya dan mendekatkan baginya segala yang jauh.Firman Allah :إِنَّ ٱللَّهَ يُدَٰفِعُ عَنِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْۗ   [ الحج/38]“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” Qs Al-Haj : 38Firman Allah :وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ [ الطلاق /3]“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” Qs At-Thalaq : 3Bahwa sesungguhnya orang yang mengandalkan selain Allah dan merasa puas dengannya, Allah akan serahkan urusannya kepadanya sehingga ia menajadi rendah diri, lemah dan hina-dina serta terjatuh dalam keburukan dan berbagai bencana.عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ عِيسَى، أَخِيهِ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عُكَيْمٍ أَعُودُهُ وَبِهِ حُمْرَةٌ، فَقُلْنَا: أَلاَ تُعَلِّقُ شَيْئًا؟ قَالَ: الْمَوْتُ أَقْرَبُ مِنْ ذَلِكَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِDiriwayatkan dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Lalila, dari Isa, saudaranya berkata: Aku pernah menemui ‘Abdullah bin ‘Ukaim untuk membesuknya, sehubungan dengan penyakit Humrah (bercak-bercak merah pada kulit) yang diidapnya.  Aku pun berkata: Tidakkah sewajarnya engkau menggantungkan (hati) kepada sesuatu (jimat)? ‘Abdullah bin ‘Ukaim menjawab: “Kematian lebih baik bagiku dari pada perbuatan itu. Sebab Nabi -sallallahu alaihi wa sallam-  bersabda: Siapapun yang menggantungkan (hati) pada sesuatu benda, maka urusannya akan diserahkan sepenuhnya kepadanya’.HR Ahmad dan TirmiziRasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :” مَنْ نَزَلَ  بِهِ حَاجَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ، كَانَ قَمِنًا مِنْ أَنْ لَا تَسْهُلَ حَاجَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللهِ، أتَاهُ  اللهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ، أَوْ بِمَوْتٍ آجِلٍ ” أخرجه أحمد“Barangsiapa yang mempunyai suatu keperluan, lalu menyerahkannya kepada manusia, maka dapat dipastikan tidak lancar keperluannya itu. Dan barangsiapa yang menyerahkan keperluannya itu kepada Allah, maka Allah akan mendatangkan kepadanya rezeki dengan segera atau menunda ajal kematiannya.”HR AhmadMaka peganglah –wahai saudara sesama muslim- pesan agung itu secara konsisten agar Anda tidak dipermainkan oleh hawa nafsu dan tidak terombang-ambing oleh pemikiran liar yang tidak dapat menghindar dari bahayanya kecuali dengan mengikuti arahan pesan cemerlang dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- yang telah berhasil mencetak para sahabat sehingga mereka mencapai klimaks kesempurnaan tauhid berkat mengaplikasikan pesan agung beliau, sebagaimana yang dituturkan oleh Auf bin Malik Al-Asyja’i, ia bercerita : “كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً فَقَالَ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَسْأَلُوْا النَّاسَ شَيْئًا” فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ ” أخرجه مسلم“Kami di sisi Rasulullallah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kami sembilan atau delapan atau tujuh orang.  Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bersabda : “Janganlah kalian meminta apapun kepada manusia”. Sungguh aku telah melihat salah seorang di antara mereka ketika cemetinya terjatuh maka ia tidak meminta seorangpun untuk mengambilkannya dan memberikan kepadanya.” HR Muslim.Dari Tsauban, berkata : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “مَنْ يَكْفُلُ لِي أَنْ لَا يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ فَقُلتُ أنَا فَكَانَ لَا يَسْألُ أحَدًا شَيْئًا ” أخرجه أبو داود والنسائي“Adakah orang yang bisa menjamin untukku bahwa ia tidak meminta-minta suatu apapun kepada sehingga aku menjamin baginya surga. Aku (Tsauban) menjawab, ‘Aku Ya Rasulallah’. Sejak itulah ia (Tsauban) tidak pernah meminta sesuatu kepada siapapun.”. HR Abu Daud dan Nasa’i.Seorang keponakan Al-Akhnaf bin Qais mengeluhkan sakit gigi yang diderita, maka Akhnaf menasihatinya seraya berkata : “Aku kehilangan pengelihatanku semenjak 40 tahun yang lalu, namun begitu aku tidak pernah mengadu kepada siapapun.”Wahai saudara sesama muslim! Mengadulah kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- ketika Anda dalam kondisi krisis dan kesulitan. Bergantunglah kepada-Nya semata, bukan kepada lain-Nya ketika Anda tertimpa malapetaka, kegentingan dan kemelut.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :إذَا أصَابَ أحَدَكم هَمٌّ أوْ لَأوَاءٌ فَلْيَقلْ: اللّه، اللّه رَبّي لَا أشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ”   أخرجه الطبرانى فى الأوسط “Jika salah seorang di antara kalian tertimpa kesedihan atau gangguan kesehatan, maka hendaklah ia menyebut, “Allah – Allah adalah Tuhanku, aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesua-tu.” HR Tabrani dalam Al-Ausath.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- ketika dalam kesulitan selalu berdoa :” لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ” متفق عليه“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Agung. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan langit dan bumi dan Tuhan Arasy yang agung”. Muttafaq Alaih.Para Ulama telah bersepakat bahwa orang yang meminta pertolongan, bantuan dan perlindungan kepada sesama makhluk, yang telah meninggal, atau yang sedang raib atau bahkan yang masih hidup untuk mengatasi suatu persoalan yang sebenarnya hanya Allah sendiri yang mampu mengatasinya, maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan yang menghanguskan amalnya.Wahai kaum muslimin!Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- benar-benar antusias menanamkan bibit-bibit ketauhidan dalam jiwa. Beliau bersungguh-sungguh mengajak memperhatikan pondasi ini. Beliau berupaya dengan serius melindungi esensi tauhid secara sempurna, jangan sampai ada kekurangan dalam perkataan, perbuatan, maksud dan kehendak terkait dengan tauhid ini.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang seseorang yang berjumpa dengan sesamanya untuk memberi salam, apakah lalu ia membungkuk di hadapannya? Beliau menjawab, “Tidak boleh”. HR Ahmad dan Tirmizi. Status hadis ini adalah hasan.Semua itu tak lain hanyalah untuk mencegah sikap ketundukan apapun kecuali ketuntukan kepada Allah yang maha agung.Rasulullah yang penyayang telah memberi pengarahan kepada perkara yang bisa menolak godaan syaitan serta tipu daya dan makarnya. Anas meriwayatkan bahwasanya ada seseorang berkata :يَا مُحَمَّدُ، يَا سَيِّدَنَا، وَابْنَ سَيِّدِنَا وَابْنَ خَيْرِنَا“Wahai Muhammad, wahai pemimpin kami, putra pemimpin kami, putra lelaki terbaik kami”.Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata :أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِتَقْوَاكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشًّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِيَ اللهُ“Wahai manusia, hendaknya kalian tetap di atas ketakwaan kalian, jangan sampai syaitan menggelincirkan kalian. Aku adalah Muhammad, seorang hamba Allah dan rasulNya, aku tidak suka kalian mengangkatku lebih dari kedudukanku yang telah Allah tetapkan untukku” (HR An-Nasaai dan Ibnu Hibban)Dalam shahih Al-Bukhari, beliau –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُوْلُوا عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ“Janganlah kalian berlebih-lebihan kepadaku sebagaimana kaum nashoro berlebihan kepada ‘Isa bin Maryam. Karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : (Muhammad itu) hamba Allah dan rasulNya.” HR Al-BukhariSaudara-saudaraku seiman!Diantara contoh semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menekankan tauhid dan besarnya perhatian beliau untuk memantapkan tauid, maka beliau menutup segala sarana yang bisa digunakan syaitan untuk menjerumuskan para hamba ke dalam lumpur kesyirikan dan khurofat jahiliyah. Karenanya telah datang pengarahan-pengarahan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam rangka mengingatkan untuk tidak mengarahkan hati kepada para penghuni kubur, dan tidak bersandar kepada mereka atau merendahkan diri di hadapan pintu-pintu masuk kuburan mereka, atau beristighotsah kepada mereka tatkala dalam kondisi-kondisi sulit dan genting serta dalam kesulitan, yang hal ini semuanya selama-lamanya tidak pantas ditujukan kecuali hanya kepada pencipta bumi dan langit !!.Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ، اِشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ“Ya Allah, janganlah engkau menjadikan kuburanku adalah berhara yang disembah. Sungguh Allah sangat marah terhadap kaum yang menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai mesjid-mesjid.” HR Ahmad dan Malik dalam Muwattha’ dengan periwayatan ‘Atha bin Yasar.Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memberi perhatian yang sangat besar terhadap penjagaan tauhid, karenanya beliau memperingatkan akan bahaya sarana-sarana setan dan penyesatan syaitan yang memfitnah manusia dengan jimat-jimat dan kalung-kalung yang digantungkan (diikatkan) ke badan atau harta benda dengan alasan untuk menolak keburukan dan menghilangkan kemudorotan serta mendatangkan kebaikan.  Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan”.  HR Al-HakimSebagaimana Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memperingatkan agar tidak terpedaya oleh para dukun, pera peramal dan para pendusta. Beliau berkata ;مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau para normal lalu membenarkan apa yang diucapkannya maka sungguh ia telah kefir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” HR Al-Arba’ah (Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasaai, dan Ibnu Maajah) dan Al-Haakim).Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ditanya tentang An-Nusyroh, maka beliau menjawab :هِيَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ“Itu termasuk perbuatan syaitan.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan Al-BaihaqiAn-Nusyroh adalah berupaya menghilangkan sihir dengan menggunakan sihir yang serupa.Kaum muslimin sekalian!Tatkala kita berada pada kondisi yang mengajak jiwa untuk melakukan perkara yang tidak terpuji atau perkara yang tidak halal, yaitu tatkala kondisi berobat, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan umatnya dengan perkara tauhid dan wajibnya memberi perhatian yang besar kepada tauhid, sehingga tetap bergantung kepada Allah dan bersandar kepadaNya, serta bertawakkal kepadaNya dan tidak mengarahkan hati kecuali hanya kepadaNya. Maka beliau bersabda –sebagaiamana diriwayatkan oleh Aisyah- , bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika menjenguk orang sakit beliau berkata ;أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، اِشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءٌ لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا“Hilangkanlah penyakit wahai Tuhannya manusia, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari kesembuhanMu, kesembuhan yang tidak menyisakan satu penyakitpun.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Nabi berkata kepada Utsman bin Abil ‘Aash Ats-Tsaqofi tatkala ia menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan sakit yang beliau rasakan di tubuh beliau sejak beliau masuk Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada beliau:“Letakanlah tanganmu di lokasi bagian tubuhmu yang sakit, lalu ucapkanlah “Bismillah” tiga kali, lalu ucapkanlah sebanyak tujuh kali:أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yang aku dapati dan keburukan yang aku khawatirkan.”  HR Muslim.Kaum muslimin sekalian!Pada bentuk-bentuk semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjaga kemurnian tauhid dan perhatian besar beliau maka datanglah pengarahan beliau yang mulia sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- : مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ“Atas kehenda Allah dan kehendakmu”Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata kepadanya :أَجَعَلْتَنِي للهِ عِدْلاً، بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ“Apakah engkau menjadikan aku sama seperti Allah?, akan tetapi (katakanlah) “Atas kehendak Allah semata.”  HR Ahmad dan Ibnu Maajah.Dalam hadits riwayat Hudzaifah, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تَقُوْلُوا مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ، وَلَكِنْ قُوْلُوْا : مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءِ فُلاَنٌ“Janganlah kalian berkata, “Atas kehendak Allah dan kehendak si fulan”, akan tetapi katakanlah, “Atas kehendak Allah, kemudian kehendak si fulan.”  HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Maajah.Di antara sisi semangat Nabi kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membimbing umatnya agar waspada dari segala yang menyelisihi hakikat tauhid dan membatalkan pokok tauhid atau kewajibannya, maka beliau menyampaikan kepada umatnya pidato beliau yang agung sebagaimana yang diriwayatkan oleh Umar dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda :أَلآ إِنَّ اللهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بَآبَائِكُمْ، فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ وَإِلاَّ فَلْيَصْمُتْ“Ketahuilah bahwasanya Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan nenek moyang kalian, maka barangsiapa yang bersumpah hendaknya ia bersumpah dengan nama Allah, jika tidak maka hendaknya ia diam”Umar berkata :فَوَاللهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا مُنْذُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ذَاكِرًا وَلاَ آثِرًا“Demi Allah, aku tidak pernah bersumpah dengan nenek moyang semenjak aku mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, apakah aku bersumpah dari diri sendiri atau hanya menceritakan sumpah orang lain.” HR Al-Bukhari dan Muslim.Dalam hadits Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda ;مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah maka sungguh ia telah kafir atau telah syirik.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi.Kaum muslimin sekalian!Jadikanlah tauhid (pengesaan Allah) selalu di hadapan kalian, dan jalanilah kehidupan ini untuk beribadah kepada sang Pencipta dan mengagungkanNya, serta bergantung kepadaNya dalam segala kondisi. Ikatlah jiwa dan hati kepada Penciptanya. Gunakanlah anggota tubuh untuk perkara-perkara yang mendatangkan keridoan Penciptanya, maka akan terwujudkan bagi kalian kebaikan dan kalian akan memperoleh ganjaran yang besar.إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ، أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [ الأحقاف / 13-14]“Sesungguhnya orang-orang yang berkata Rabb kami adalah Allah lalu mereka beristiqomah, maka tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidaklah bersedih. Mereka itulah penghuni surga, kekal di dalamnya, sebagai ganjaran atas apa yang mereka amalkan. QS Al-AHqoof : 13-14Semoga Allah memberi keberkahan kepadaku dan kepada anda dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad pemimpin keturunan Adnan.=============== Khotbah KeduaDalam rangka penjagaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan kemurnian tauhid dan pembentengan beliau yang agung terhadap sisi tauhid dari segala perkara yang hanya merupakan prasangka-prasangka yang batil dan dugaan-dugaan yang hanya merupakan khayalan semata, maka dalam hadits ‘Imron beliau bersabda ;لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ“Bukan dari kami orang yang melakukan tathoyyur (yaitu mengkaitkan nasib sial dengan sesuatu yang dilihat atau didengar-pen) atau dilakukan tathoyyur untuknya, atau melakukan praktik perdukunan atau dilakukan praktik perdukunan untuknya, atau melakukan sihir atau dilakukan praktik sihir baginya.” HR Al-Bazzaar dan sanadnya hasan.Dalam hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, ia berkata :يَا رَسُوْلَ اللهِ أُمُوْرٌ كُنَّا نَصْنَعُهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، كُنَّا نَأْتِي الْكُهَّانَ“Wahai Rasulullah, ada perkara-perkara yang dahulu kami melakukannya di masa jahiliyah. Kami dahulu mendatangi para dukun.  فَلاَ تَأْتُوا الْكُهَّانَ  “Maka janganlah kalian mendatangi para dukun”   Aku berkata,  كُنَّا نَتَطَيَّر  “Kami dahulu bertathoyyur (merasa mendapatkan nasib sial) !”  Beliau berkata,  ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِي نَفْسِهِ فَلاَ يَصُدَنَّكُمْ  “Itu adalah Sesuatu yang salah seorang dari kalian mendapatinya dalam dirinya maka jangan sampai menghalangi kalian (dari kegiatan kalian)” (HR Muslim)Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi dari hadits Ibnu Mas’ud,  Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :الطِّيَرَةُ شِرْكٌ“Tathoyyur (meyakini mendapat kesialan) adalah suatu kesyirikan”Dan yang terakhir, Yakinlah bahwasanya seluruh perkara adalah di tangan Allah -subhanahu wa ta’ala-, dan hanya terjadi karena takdirNya dan ketentuanNya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَّةَ وَلاَ صَفَرَ“Tidak ada penyakit menular (yang menular dengan sendirinya), tidak ada tathoyyur (nasib sial), tidak ada haammah (burung hantu yang memberi kemudaratan tanpa seizin Allah) dan tidak ada (kesialan) di bulan Shafar.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Maka tempuhlah jalan Al-Qur’an dan jadikanlah kehidupan kalian selalu berada pada sunnah Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- pemimpin keturunan Adnan.======  Doa  ===== 

YANG TERBAIK…

Khotbah Jum’at dari Masjid Nabawi, 1 Rajab 1437 H.Oleh : Syekh Dr. Abdul Muhsin Bin Muhamad Al-QasimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam sebanyak-banyaknya kepadanya, beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya.Selanjutnya ……. Kaum muslimin !Hanya Allah sajalah yang memilih dan melebihkan sesuatu, sebagaimana Dia pula satu-satunya yang menciptakan dan mengatur (segala urusan).Firman Allah :وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ [ القصص / 68]“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)”. Qs Al-Qashas : 68Suatu bukti kesempurnaan iilmu-Nya, Dia mengistimewakan apa yang dikehendakinya karena anugerah-Nya. Maka Pemilihan-Nya dan pengkhususan-Nya tersebut menjadi bukti Ketuhanan-Nya dan Keesaan-Nya serta kesempurnaan kebiajaksanaan-Nya dan kekuasaan-Nya.Allah –subhanahu wa ta’ala- memilih malaikat-Nya di atas seluruh makhlu-Nya; maka Allah ciptakan mereka dari cahaya dan menugaskan mereka mengurus kerajaan-Nya.لا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ [ التحريم / 6]“Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” Qs At-Tahrim : 6Allah –subhanahu wa ta’ala- memuliakan anak cucu Adam (manusia) dan memilih di antara mereka para nabi dan rasul-Nya. Allah –subhanahu wa ta’ala- memilih nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sebagai pemimpin anak cucu Adam, beliau manusia termulia di antara mereka, dan sebaik-baik para nabi dan rasul. Demikian pula sahabat-sahabat beliau, mereka sebaik-baik sahabat dan sebaik baik generasi, tidak ada manusia sebelum dan sesudah mereka yang setara dengan mereka.Sabda beliau –shallallahu alaihi wa sallam- :” خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ “ “Sebaik-baik manusia adalah generasi sezaman denganku, lalu disusul oleh generasi berikutnya, dan kemudian generasi berikutnya”.Umat Islam sebagai penyempurna 70 umat adalah umat terbaik dan termulia di sisi Allah. Penghuni surga terkelompokkan menjadi 120 baris; 80 baris di antaranya adalah umat Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sedangkan yang 40 baris adalah dari umat lain. Orang yang paling mulia di antara mereka adala yang paling bertakwa.Ada dua orang lelaki yang melintas di dekat Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-; Lelaki pertama termasuk orang miskin di antara kaum muslimin, sedangkan yang kedua termasuk orang kelas elit dalam masyarakat, maka ketika mengomentari orang yang pertama beliau berkata :” هَذا خَيْرٌ مِنْ مِلْء الأرْضِ مِثْل هَذَا ““Orang ini (yang pertama yang miskin) lebih baik dari pada yang seperti itu (orang kedua yang elit) sepenuh bumi” HR BukhariSurga tempat terhormat disiapkan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang mukmin.” وَلمَوْضِعُ سَوْطٍ أحَدِكُم فِي الجَنَّةِ، خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ” رواه البخاري“Sungguh tempat cemeti salah seorang di antara kalian di surga lebih baik nilainya dari pada dunia seisinya”. HR BukhariYang paling unggul adalah surga Firdaus, ia adalah surga paling tinggi dan paling tengah, dari situlah sungai-sungai di surga terpancar, dan di atasnya terdapat Arasy (tahta, singgasana Allah) yang Maha Pengasih. Puncak kenikmatan surgawi adalah melihat Allah –subhanahu wa ta’ala-.Firman Allah :” فيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ ” [ رواه مسلم ]“Maka Allah pun menyingkap tabir, ketika itulah penghuni surga merasa tidak mengecap kenikmatan yang lebih mereka sukai dibanding memandang Tuhan mereka, Allah –subhanahu wa ta’ala.” HR MuslimAllah –subhanahu wa ta’ala- menciptakan berbagai tempat (lokasi) dan mengistimewakan antara satu dengan lainnya. Sebaik-baik lokasi adalah yang dapat mengantarkan seorang hamba kepada Tuhannya, dan yang lebih dekat untuk meraih ridha-Nya dan surga-Nya. Mekah adalah bumi Allah yang terbaik dan paling dicintai oleh-Nya, merupakan tanah suci. Di dalamnya terdapat Kiblat kaum muslimin, dan Masjid pertama kali didirikan di muka bumi. Shalat di dalamnya lebih baik dari pada 100.000 X shalat di masjid lainnya.Allah –subhanahu wa ta’ala- menjadikannya sebagai tempat manasik ibadah (haji dan umrah) bagi hamba-hamba-Nya. Ke sanalah hati manusia condong, di sanalah umat manusia (beriman) datang dari seluruh penjuru negeri yang jauh.Madinah, tempat hijarah Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dan kota suci, keberkahan di dalamnya dua kali lipat dari yang di Mekah. Shalat di Masjid Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- lebih baik dari pada 1000 X shalat di masjid lain. Orang yang bersuci (berwudhu) di tempat tinggalnya lalu pergi menuju ke Masjid Quba’ mendapatkan pahala sebanding pahala umrah. Masjidil Aqsha, Qiblat pertama dan tempat isra’ Rasul –shallallahu alaihi wa sallam-, shalat di dalamnya menyamai 500 X shalat. Tidak dilakukan perjalanan jauh untuk ibadah kecuali ke 3 masjid; Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan Masjid Rasul –shallallahu alaihi wa sallam-.Sebaik-baik lokasi di bumi adalah Masjid, sedangkan seburuk-buruk lokasi di bumi adalah pasar. Majlis-majlis dzikir adalah laksana pertamanan surga. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ [ رواه مسلم]“Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada di dekatnya”. HR MuslimWaktu (zaman) adalah kendaraan menuju akhirat. Orang yang cerdas adalah orang yang memanfaatkan waktu-waktunya yang termahal. Bulan yang paling utama adalah Ramadhan; Allah mewajibkan berpuasa bulan Ramadhan dan menurunkan Al-Qur’an di dalamnya.Bulan-bulan haram yang mulia di sisi Allah patut diagungkan, bermaksiat kepada Allah di dalamnya lebih buruk dosanya dari pada bermaksiat di bulan-bulan lainnya.Sebaik-baik hari adalah hari nahar (hari raya Qurban,10 Zulhijah) lalu hari Arafah (9 Zulhijah). Tidak ada hari-hari yang mana amal shalih di dalamnya lebih Allah sukai dari pada sepuluh hari bulan Zulhijah.Hari jum’at adalah sebaik-baik hari yang disinari matahari; di hari jum’at terdapat suatu saat yang bilamana seorang muslim tepat pada saat itu sedang melakukan shalat dan memohon kebaikan kepada Allah, niscaya Allah memberinya. Demikian pula sepuluh malam bulan Ramadhan yang penuh berkah. Sebaik-baik malam sepanjang masa adalah Lailatul-Qadar, karena kebaikannya melebihi seribu bulan.Kemudian sepertiga akhir malam merupakan waktu yang paling berharga di antara waktu malam, karena di dalamnya Allah turun ke Langit dunia untuk mendekati dan menyayangi hamba-hambaNya seraya berfirman :” مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ” متفق عليه“Siapakah kiranya yang berdoa kepadaKu lalu aku kabulkan doanya, siapakah kiranya yang memohon kepadaKu lalu aku berkenan memberinya, siapakah kiranya yang meminta ampun kepadaKu lalu aku ampuninya.?” Muttafaq Alaih.Allah adalah Maha Baik, tidak menerima di antara ucapan dan amal perbuatan kecuali yang baik pula.Firman Allah :إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥۚ [ فاطر/10]“ Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” Qs Fathir : 10Amal shalih merupakan deposito bagi seorang hamba di sisi Tuhan-nya; dengan amal shalih mereka meraih kebahagiaan, keselamatan dan kesuksesan. Allah –subhanahu wa ta’ala- melebihkan mutu antara amal shalih satu dengan lainnya. Tidak ada suatu amal yang digunakan oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah dibanding amal fardhu yang Allah wajibkan atasnya. Dan tak henti-hentinya seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah melalui amal-amal sunnah sehingga Allah mencintainya.Amal fardhu (wajib) yang paling agung ialah keimanan yang benar dan keyakinan yang mantap. Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang : “Amal apakah yang lebih utama?” Jawab beliau : “Beriman kepada Allah.” Muttafaq Alaih.Sebaik-baik hati adalah hati yang sehat (bersih dari endapan dosa), sebab dengan kesehatan hati, maka seluruh organ tubuh akan menjadi sehat dan baik. Di akhirat kelak harta dan anak-anak lelaki tidak berguna, “Kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang sehat/bersih”.Para generasi pertama (umat ini) menempati garis terdepan (dalam kebaikan) berkat ketulusan batin mereka.Bakar Al-Muzani berkata, :” مَا سَبَقهم أبو بَكْرٍ بِكثْرَةِ صَلَاةٍ وَلَا صِيَامٍ وَلكنْ بشَئْ وَقرَ فِى صَدْرِهِ ““Bukanlah yang membuat Abu Bakar membalap mereka itu banyaknya shalat dan puasa, tetapi karena berkat sesuatu yang bersemayam di dalam dadanya”. Sebagian Ulama berkata :” الذِى وَقُرَ فِى صَدْرِه هُوَ حُبُّ اللهِ وَالنَّصِيْحَةُ لِخَلْقِهِ ““Sesuatu yang bersemayam di dalam dadanya adalah kecintaannya kepada Allah dan nasihatnya kepada hamba-hambaNya”.Memurnikan Ibadah kepada Allah semata, tanpa menyekutukanNya dengan sesuatu, merupakan sumber segala kebaikan dan kesuksesan. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sedangkan mengikuti sunnah beliau adalah penyebab terkabulnya ibadah dan keberkahan amal”.Kalimat Tauhid adalah lambang Islam dan kunci surga, menghimpun ajaran agama secara keseluruhan, maka kalimat Tauhid-lah yang menjadi pemula dan pemungkas agama, sekaligus merupakan puncak tertinggi cabang keimanan. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، فَأَعلاهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ [ متفق عليه] “Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang, yang tertinggi adalah pernyataan, ‘La ilaha Illallah’ (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah”. Muttafaq AlaihLoyalitas (karena Allah) dan berlepas diri (dari keburukan karena Allah) merupakan benteng kokoh bagi agama dan pemeluknya. Tali pengikat keimanan yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Barangsiapa yang cinta karena Allah dan benci-pun karena Allah, maka sungguh telah sempurna keimanannya. Itulah sebabnya maka kecintaan kepada Allah dan manisnya agama hanya dapat dirasakan dengan cara ini.Shalat adalah penghubung antara hamba dengan Tuhan-nya. Shalat adalah sebaik-baik ibadah anggota badan dan yang paling suci. Ia merupakan rukun kedua di antara rukun-rukun Islam dan bangunan-bangunannya yang kokoh. Shalat menjadi pembeda antara orang yang beriman dan orang kafir. Melaksanakan shalat secara berjamaah di masjid adalah wajib. Keutamaan pelaksanaannya secara berjamaah melebihi shalat seorang diri dengan 27 derajat. Yang paling besar pahala shalatnya adalah yang paling jauh jarak tempuhnya ke tempat shalat.Sebaik-baik baris kaum lelaki adalah paling depan, sedangkan bagi kaum wanita adalah paling belakang. Sebaik-baik shalat adalah yang dilaksanakan dengan lama berdiri, kecuali dalam kondisi seperti dalam hadis yang menuntut mempercepatnya.Suatu kondisi di mana seorang hamba paling dekat kepada Tuhan-nya adalah ketika ia sedang bersujud. Shalat wanita di rumahnya lebih baik dari pada di masjid. Bagi lelaki pun demikian; lebih baik shalat di rumahnya kecuali shalat wajib. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam. Shalat malam akan disaksikan (oleh para malaikat) jika dilakukan di sepertiga akhir malam. Sebaik-baik shalat malam adalah shalat seperti cara Nabi Daud –alaihissalam-; beliau tidur setengah malam, bangun shalat sepertiga malam dan tidur lagi seperenam malam. Dua rak’at fajar pahalanya lebih baik dari pada dunia seisinya.Sedekah dapat menghapus kesalahan seperti air dapat memadamkan api. Sedekah menjadi bukti keimanan seseorang dan termasuk sebaik-baik amal ibadahnya. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang, “Amal apakah dalam Islam yang paling baik ?” beliau menjawab :” تُطعِمُ الطَّعامَ وتَقرَأ السَّلامَ عَلى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ ” متفق عليه“Engkau memberi makan dan menyampaikan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal”.Muttafaq Alaih“Sedekah yang paling besar pahalanya adalah sedekah yang engkau keluarkan ketika engkau dalam keadaan sehat dan kikir, di mana engkau takut jatuh miskin dan berharap menjadi kaya. Janganlah engkau menunda-nunda sampai roh di tenggorokan, ketika itula engkau ingin katakan : “bagian si fulan sekian dan bagian si fulan sekian, padahal bagian itu seharusnya telah menjadi milik si fulan”. Muttafaq alaih.Sebaik-baik sedekah adalah yang dikeluarkan dari sisa kebutuhan sendiri. Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik dari pada tangan yang di bawah (penerima). Bersedakah secara samar-samar lebih baik dari pada secara terang-terangan, karena cara seperti itu lebih aman dari sikap pamer (riya’) kecuali bilamana bersedekah secara terang-terangan itu dapat mendatangkan kemaslahatan yang meyakinkan. Firman Allah :إِن تُبۡدُواْ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۖ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّ‍َٔاتِكُمۡۗ [ البقرة/271]“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu.” Qs Al-Baqarah : 271Di antara tujuh orang yang dinaungi Allah pada naungan Arasy-Nya adalah seorang yang mengeluarkan suatu sedekah secara samar-samar sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya.Memberi kelonggaran kepada orang yang sedang dalam kesulitan adalah sedekah. Siapa yang pinjam uang kepada seseorang dan bertekad akan mengembalikannya, maka Allah akan menunaikan (memudahkan) pembayarannya. Sesungguhnya orang pilihan di antara kalian adalah orang yang paling baik cara pengembalian hutangnya.Puasa merupakan perisai dari neraka. Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada aroma wewangian misk. Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa bulan Muharam. Puasa yang paling disenagi Allah ialah puasa Daud –alaihissalam-, beliau sehari puasa dan sehari berbuka.Umrah sebelumnya ke umrah berikutnya dapat menghapus dosa antara keduanya. Haji mabrur tiada suatu balasan baginya kecuali surga. Pelaksanaan haji yang terbaik adalah haji tamattu’ bagi orang yang mampu memotong hewan sembelian (hadyu). Mencukur gundul rambut dalam ibadah haji lebih baik dari pada hanya mencukur pendek. Tidak ada suatu amal yang dilakukan oleh seseorang pada hari raya lebih utama dari pada menyembelih hewan sembelihannya.Berangkat untuk berjihad di jalan Allah di waktu pagi atau sore hari lebih baik dari pada dunia dan seisinya. Berjaga sehari semalam (di daerah perbatasan dengan musuh) lebih baik dari pada berpuasa dan shalat malam sebulan, bahkan lebih baik dari pada dunia seisinya.Penguasaan ilmu seharusnya telah ada sebelum beramal dan lebih didahulukan dari amal. Sebab ilmu adalah nahkoda sedangkan amal menginduk pada ilmu. Barangsiapa yang Allah kehendaki suatu kebaikan baginya, maka Allah memahamkannya urusan agama.Allah –subhanahu wa ta’ala- menafikan kesejajaran orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu. Kelebihan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah bagaikan kelebihan cahaya bulan purnama atas bintang-bintang lainnya. Manusia adalah bagaikan barang tambang; mereka yang pernah menjadi orang-orang terbaik pada masa jahiliah akan menjadi orang-orang terbaik pula pada masa Islam jika mereka memahami ilmu Islam.  Sebaik-baik manusia adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.Sofyan –rahimahullah- berkata : ” مَا مِنْ عَمَل أفضَلَ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ إذَا صَحَّت النّيَةُ ““ Tidak ada suatu amal yang lebih baik dari pada upaya mencari ilmu jika niatnya lurus”.Berdzikir kepada Allah adalah amal sunnah yang paling layak dijalani seseorang, dan dzikir yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an, firman Tuhan semesta alam, sebaik-baik kitab suci yang diturunkan.Barangsiapa membaca :” لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ”“Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya, milikNya kerajaan dan milikNya pula segala puji. Dia Maha Kuasa atas segalanya”. 100 X sehari, maka baginya pahala sama dengan memerdekakan 10 budak, dicatat baginya 100 kebaikan, dihapuskan darinya 100 keburukan, dan kalimat tersebut menjadi benteng baginya dari gangguan setan pada hari itu hingga sore. Tidak ada orang yang melakukan suatu amal kebajikan lebih afdhal dari pada apa yang ia lakukan kecuali orang yang melakukan lebih banyak lagi dari pada itu”. HR MuslimPerkataan yang paling disenangi Allah sesudah Al-Qur’an ialah 4 kalimat :” سُبْحَانَ اللهِ ، وَالحمْدُ للهِ ، وَلَا إلهَ إلّا اللهَ ، وَاللهُ أكبَرُ ““Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar”.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” لَأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ” رواه مسلمSungguh jika aku mengucapkan ; “Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar” lebih aku sukai dari pada (bumi) yang tersinari matahari”. HR MuslimDua kalimat yang ringan di lidah, berat dalam timbangan, dicintai oleh Allah yang Maha Pengasih, ialah :  سُبحَانَ الله وَبحَمْدِهِ  (Maha suci Allah dan Maha terpuji).Berdakwah kepada Allah merupakan tugas para rasul, dan tidak ada perkataan yang lebih baik daripada perkataan orang yang berdakwah kepada Allah. Dengan dakwah, maka umat ini meraih yang terbaik dan mencapai kemuliaan. لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمرِ النِّعَمِ“Sungguh sekiranya Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui perantaramu akan lebih baik bagimu daripada onta merah)”.“Barangsiapa yang mengajak kepada kebenaran maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya hingga hari kiamat “.Dakwah dibuka pertama kali dimulai dari persoalan yang paling urgen kemudian beralih kepada persoalan yang urgen. Pokok dan asas dari segala persoalan adalah mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah semata dan menyelamatkan mereka dari kemurkaan dan siksaanNya.    Mendamaikan dua pihak yang bersengketa merupakan bagian dari agama dan bentuk pendekatan diri kepada Allah yang berdampak positif kepada masyarakat secara luas. Allah berfirman :لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar” QS An-Nisaa’ : 114Mengingat begitu besar manfaatnya, maka dengan mendamaikan, seseorang akan meraih derajat seorang yang rajin berpuasa dan tekun melakukan sholat malam. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :أَلآ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ؟“Maukah aku kabarkan kepada kalian yang lebih afdol dibanding derajat puasa dan shalat serta sedekah?”.Para sahabat berkata, “Tentu wahai Rasulullah”. Beliau berkata :إِصْلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ“Mendamaikan dua pihak yang beresengketa”. HR Abu Dawud    Seorang hamba diamanati oleh Allah untuk berbuat baik kepada sesama manusia, sedangkan orang paling utama yang harus diperlakukan dengan baik adalah kedua orang tua. Bakti kepada keduanya merupakan gandengan tauhid dan merupakan amal yang terbaik setelah keimanan. Selanjutnya berbuat baik kepada kaum kerabat terdekat.Seorang mukmin yang berinteraksi dengan masyarakat dan dapat menahan diri dalam menghadapi gangguan mereka lebih baik dari pada orang yang tidak berinteraksi dengan masyarakat dan tidak sabar dalam menghadapi gangguan mereka. Orang yang terbaik adalah yang paling bermanfaat dan mau memberikan andil kebaikan kepada orang lain sesuai kemampuannya. Ia memperlakukan masyarakat dengan cara yang dirinya ingin diperlakukan oleh mereka. Ia menyukai kebaikan bagi mereka, sama dengan yang ia menyukainya untuk dirinya. Ia berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakatnya dan bersikap sabar terhadap gangguan mereka.Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang terbaik akhlaknya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا“Sesungguhnya diantara yang terbaik diantara kalian adalah yang terindah akhlaknya” . HR Al-Bukhari dan MuslimTidak ada sesuatupun di timbangan kebajikan yang lebih berat daripada akhlak yang mulia.Sebaik-baik sahabat adalah yang terbaik bagi sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang terbaik bagi tetangganya. Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian, dan sebaik-baik lelaki adalah yang terbaik bagi istrinya.    Amal yang terbaik adalah amal yang paling langgeng meskipun sedikit.  Amal sedikit namun berkesinambungan akan membuahkan hasil hingga lebih dan bahkan berlipat-lipat dari pada yang banyak namun terputus.Sebaik-baik agama adalah yang lurus (jauh dari kesyirikan) dan yang memberikan kemudahan. Tidaklah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- dihadapkan kepada dua pilihan melainkan beliau memilih yang termudah selama pilihannya itu bukan dosa.Ibadah di masa fitnah adalah seperti berhijrah kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah dari pada orang mukmin yang lemah.Jika pencetus kejahatan telah menguat, maka saatnya berdiri tegak dengan ketegaran hati ( di atas keimanan untuk menghadapi kejahatan tersebut). Diantara mereka yang akan dinaungi oleh Allah pada naunganNya –pada hari kiamat- adalah seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, namun demikian lelaki tersebut berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”.Seorang yang tetap beramal dalam situasi yang memerlukan kesabaran, dan berpegang teguh pada agamanya, baginya pahal lima puluh orang sahabat. Sedangkan pahala menjadi sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- mengungguli itu semua”.Sesungguhnya fitnah (huru-hara) itu merupakan petaka, maka dalam hal ini orang yang memilih sikap defensif lebih baik dari pada yang agresif dan ofensif, namun begitu yang lebih aman adalah menghindar dari fitnah-fitnah tersebut.    Dunia merupakan ladang usaha dan perjuangan. Hasil usaha yang terbaik adalah hasil jerih payah tangan sendiri, dan tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dibanding hasil jerih payah tangannya sendiri. Maka makanan terbaik adalah apa yang diperoleh dari hasil usaha sendiri, dan sesungguhnya anak  merupakan hasil usahanya. Sekiranya ada seseorang yang mengambil talinya lalu pergi mencari kayu akan lebih baik dari pada meminta-minta kepada sesama, baik mereka mengabulkan permintaannya ataupun menolaknya.Dunia merupakan kesenangan sesaat, dan sebaik-baik kesenangan adalah istri yang sholihah. Sebaik-baik pernikahan adalah yang sederhana, dan pernikahan yang paling besar berkahnya adalah pernikahan yang paling sedikit biayayanya (maharnya). Lalu nama yang paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, dan yang paling benar adalah Harits dan Hammaam. Dan yang paling afdhal untuk menyemir (merubah) uban rambut adalah hinna dan katm. Cara terbaik untuk berobat adalah dengan hijamah (bekam). Sebaik-baik air adalah air zam-zam, ia adalah air yang berkah dan makanan mengenyangkan sekaligus obat penyakit.Selanjutnya wahai kaum muslimin sekalian…Sesungguhnya dunia adalah medan untuk berlomba dalam kebaikan dan berpacu dalam ketaatan. Maka orang yang muwaffaq (bernasib mujur) adalah yang segera melakukan amal ketaatan sebelum kedatangan ajal yang mengagetkan.  Ia bersaing dengan orang-orang yang bersegera melakukan kebaikan, dan tidak ingin berlama-lama dalam kehampaan dan kemalasan. Justru ia konsisten dalam ketaatan dan tidak meninggalkan perkara yang lebih afdhal dan lebih sempurna, bukan tersibukkan oleh persoalan-persoalan yang kurang afdhal. Oleh sebab itu, siapa yang mampu untuk tidak didahului oleh seorangpun dalam ketaatan menuju Allah, maka lakukanlah!.==========Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikan-Nya, puji syukur tertujukan kepada-Nya atas bimbingan dan karunia-Nya. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai bentuk pengagungan kepadaNya. Aku-pun bersaksi bahwasanya nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Semoga shalawat dan salam sebanyak-banyaknya selalu tercurahkan kepadanya, seluruh keluarganya dan sahabat-sahabatnya.Kaum muslimin sekalian…Kebahagiaan dan kelapangan dada seseorang terletak pada kedekatannya kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Ketaatan akan membuahkan ketenteraman batin dengan Allah dan kecintaan hati kepada-Nya. Seorang mukmin hendaknya berambisi dalam mencapai amalan yang paling tinggi dan yang paling sempurna serta paling afdhol. Berprasangka kepada Allah adalah perkara yang besar (sangat berpengaruh). Allah tidak akan mengecewakan orang yang berharap dan berbaik sangka kepadaNya.Barangsiapa yang bervariasi dalam melakukan amal shalih, maka akan semakin banyak pula variasi kenikmatan yang ia rasakan di dunia dan akhirat. Tentunya tidak sama antara ganjaran dan kelezatan bagi orang yang punya andil banyak dalam melakukan ketaatan dengan ganjaran dan kelezatan bagi orang yang hanya terbatas melakukan satu model ketaatan.Akhirnya ketahuilah, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk bershalawat dan bersalam kepada nabi-Nya. Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an :إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا“Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. QS Al-Ahzaab : 56======= Doa ========Penerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirja

YANG TERBAIK…

Khotbah Jum’at dari Masjid Nabawi, 1 Rajab 1437 H.Oleh : Syekh Dr. Abdul Muhsin Bin Muhamad Al-QasimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam sebanyak-banyaknya kepadanya, beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya.Selanjutnya ……. Kaum muslimin !Hanya Allah sajalah yang memilih dan melebihkan sesuatu, sebagaimana Dia pula satu-satunya yang menciptakan dan mengatur (segala urusan).Firman Allah :وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ [ القصص / 68]“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)”. Qs Al-Qashas : 68Suatu bukti kesempurnaan iilmu-Nya, Dia mengistimewakan apa yang dikehendakinya karena anugerah-Nya. Maka Pemilihan-Nya dan pengkhususan-Nya tersebut menjadi bukti Ketuhanan-Nya dan Keesaan-Nya serta kesempurnaan kebiajaksanaan-Nya dan kekuasaan-Nya.Allah –subhanahu wa ta’ala- memilih malaikat-Nya di atas seluruh makhlu-Nya; maka Allah ciptakan mereka dari cahaya dan menugaskan mereka mengurus kerajaan-Nya.لا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ [ التحريم / 6]“Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” Qs At-Tahrim : 6Allah –subhanahu wa ta’ala- memuliakan anak cucu Adam (manusia) dan memilih di antara mereka para nabi dan rasul-Nya. Allah –subhanahu wa ta’ala- memilih nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sebagai pemimpin anak cucu Adam, beliau manusia termulia di antara mereka, dan sebaik-baik para nabi dan rasul. Demikian pula sahabat-sahabat beliau, mereka sebaik-baik sahabat dan sebaik baik generasi, tidak ada manusia sebelum dan sesudah mereka yang setara dengan mereka.Sabda beliau –shallallahu alaihi wa sallam- :” خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ “ “Sebaik-baik manusia adalah generasi sezaman denganku, lalu disusul oleh generasi berikutnya, dan kemudian generasi berikutnya”.Umat Islam sebagai penyempurna 70 umat adalah umat terbaik dan termulia di sisi Allah. Penghuni surga terkelompokkan menjadi 120 baris; 80 baris di antaranya adalah umat Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sedangkan yang 40 baris adalah dari umat lain. Orang yang paling mulia di antara mereka adala yang paling bertakwa.Ada dua orang lelaki yang melintas di dekat Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-; Lelaki pertama termasuk orang miskin di antara kaum muslimin, sedangkan yang kedua termasuk orang kelas elit dalam masyarakat, maka ketika mengomentari orang yang pertama beliau berkata :” هَذا خَيْرٌ مِنْ مِلْء الأرْضِ مِثْل هَذَا ““Orang ini (yang pertama yang miskin) lebih baik dari pada yang seperti itu (orang kedua yang elit) sepenuh bumi” HR BukhariSurga tempat terhormat disiapkan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang mukmin.” وَلمَوْضِعُ سَوْطٍ أحَدِكُم فِي الجَنَّةِ، خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ” رواه البخاري“Sungguh tempat cemeti salah seorang di antara kalian di surga lebih baik nilainya dari pada dunia seisinya”. HR BukhariYang paling unggul adalah surga Firdaus, ia adalah surga paling tinggi dan paling tengah, dari situlah sungai-sungai di surga terpancar, dan di atasnya terdapat Arasy (tahta, singgasana Allah) yang Maha Pengasih. Puncak kenikmatan surgawi adalah melihat Allah –subhanahu wa ta’ala-.Firman Allah :” فيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ ” [ رواه مسلم ]“Maka Allah pun menyingkap tabir, ketika itulah penghuni surga merasa tidak mengecap kenikmatan yang lebih mereka sukai dibanding memandang Tuhan mereka, Allah –subhanahu wa ta’ala.” HR MuslimAllah –subhanahu wa ta’ala- menciptakan berbagai tempat (lokasi) dan mengistimewakan antara satu dengan lainnya. Sebaik-baik lokasi adalah yang dapat mengantarkan seorang hamba kepada Tuhannya, dan yang lebih dekat untuk meraih ridha-Nya dan surga-Nya. Mekah adalah bumi Allah yang terbaik dan paling dicintai oleh-Nya, merupakan tanah suci. Di dalamnya terdapat Kiblat kaum muslimin, dan Masjid pertama kali didirikan di muka bumi. Shalat di dalamnya lebih baik dari pada 100.000 X shalat di masjid lainnya.Allah –subhanahu wa ta’ala- menjadikannya sebagai tempat manasik ibadah (haji dan umrah) bagi hamba-hamba-Nya. Ke sanalah hati manusia condong, di sanalah umat manusia (beriman) datang dari seluruh penjuru negeri yang jauh.Madinah, tempat hijarah Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dan kota suci, keberkahan di dalamnya dua kali lipat dari yang di Mekah. Shalat di Masjid Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- lebih baik dari pada 1000 X shalat di masjid lain. Orang yang bersuci (berwudhu) di tempat tinggalnya lalu pergi menuju ke Masjid Quba’ mendapatkan pahala sebanding pahala umrah. Masjidil Aqsha, Qiblat pertama dan tempat isra’ Rasul –shallallahu alaihi wa sallam-, shalat di dalamnya menyamai 500 X shalat. Tidak dilakukan perjalanan jauh untuk ibadah kecuali ke 3 masjid; Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan Masjid Rasul –shallallahu alaihi wa sallam-.Sebaik-baik lokasi di bumi adalah Masjid, sedangkan seburuk-buruk lokasi di bumi adalah pasar. Majlis-majlis dzikir adalah laksana pertamanan surga. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ [ رواه مسلم]“Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada di dekatnya”. HR MuslimWaktu (zaman) adalah kendaraan menuju akhirat. Orang yang cerdas adalah orang yang memanfaatkan waktu-waktunya yang termahal. Bulan yang paling utama adalah Ramadhan; Allah mewajibkan berpuasa bulan Ramadhan dan menurunkan Al-Qur’an di dalamnya.Bulan-bulan haram yang mulia di sisi Allah patut diagungkan, bermaksiat kepada Allah di dalamnya lebih buruk dosanya dari pada bermaksiat di bulan-bulan lainnya.Sebaik-baik hari adalah hari nahar (hari raya Qurban,10 Zulhijah) lalu hari Arafah (9 Zulhijah). Tidak ada hari-hari yang mana amal shalih di dalamnya lebih Allah sukai dari pada sepuluh hari bulan Zulhijah.Hari jum’at adalah sebaik-baik hari yang disinari matahari; di hari jum’at terdapat suatu saat yang bilamana seorang muslim tepat pada saat itu sedang melakukan shalat dan memohon kebaikan kepada Allah, niscaya Allah memberinya. Demikian pula sepuluh malam bulan Ramadhan yang penuh berkah. Sebaik-baik malam sepanjang masa adalah Lailatul-Qadar, karena kebaikannya melebihi seribu bulan.Kemudian sepertiga akhir malam merupakan waktu yang paling berharga di antara waktu malam, karena di dalamnya Allah turun ke Langit dunia untuk mendekati dan menyayangi hamba-hambaNya seraya berfirman :” مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ” متفق عليه“Siapakah kiranya yang berdoa kepadaKu lalu aku kabulkan doanya, siapakah kiranya yang memohon kepadaKu lalu aku berkenan memberinya, siapakah kiranya yang meminta ampun kepadaKu lalu aku ampuninya.?” Muttafaq Alaih.Allah adalah Maha Baik, tidak menerima di antara ucapan dan amal perbuatan kecuali yang baik pula.Firman Allah :إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥۚ [ فاطر/10]“ Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” Qs Fathir : 10Amal shalih merupakan deposito bagi seorang hamba di sisi Tuhan-nya; dengan amal shalih mereka meraih kebahagiaan, keselamatan dan kesuksesan. Allah –subhanahu wa ta’ala- melebihkan mutu antara amal shalih satu dengan lainnya. Tidak ada suatu amal yang digunakan oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah dibanding amal fardhu yang Allah wajibkan atasnya. Dan tak henti-hentinya seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah melalui amal-amal sunnah sehingga Allah mencintainya.Amal fardhu (wajib) yang paling agung ialah keimanan yang benar dan keyakinan yang mantap. Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang : “Amal apakah yang lebih utama?” Jawab beliau : “Beriman kepada Allah.” Muttafaq Alaih.Sebaik-baik hati adalah hati yang sehat (bersih dari endapan dosa), sebab dengan kesehatan hati, maka seluruh organ tubuh akan menjadi sehat dan baik. Di akhirat kelak harta dan anak-anak lelaki tidak berguna, “Kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang sehat/bersih”.Para generasi pertama (umat ini) menempati garis terdepan (dalam kebaikan) berkat ketulusan batin mereka.Bakar Al-Muzani berkata, :” مَا سَبَقهم أبو بَكْرٍ بِكثْرَةِ صَلَاةٍ وَلَا صِيَامٍ وَلكنْ بشَئْ وَقرَ فِى صَدْرِهِ ““Bukanlah yang membuat Abu Bakar membalap mereka itu banyaknya shalat dan puasa, tetapi karena berkat sesuatu yang bersemayam di dalam dadanya”. Sebagian Ulama berkata :” الذِى وَقُرَ فِى صَدْرِه هُوَ حُبُّ اللهِ وَالنَّصِيْحَةُ لِخَلْقِهِ ““Sesuatu yang bersemayam di dalam dadanya adalah kecintaannya kepada Allah dan nasihatnya kepada hamba-hambaNya”.Memurnikan Ibadah kepada Allah semata, tanpa menyekutukanNya dengan sesuatu, merupakan sumber segala kebaikan dan kesuksesan. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sedangkan mengikuti sunnah beliau adalah penyebab terkabulnya ibadah dan keberkahan amal”.Kalimat Tauhid adalah lambang Islam dan kunci surga, menghimpun ajaran agama secara keseluruhan, maka kalimat Tauhid-lah yang menjadi pemula dan pemungkas agama, sekaligus merupakan puncak tertinggi cabang keimanan. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، فَأَعلاهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ [ متفق عليه] “Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang, yang tertinggi adalah pernyataan, ‘La ilaha Illallah’ (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah”. Muttafaq AlaihLoyalitas (karena Allah) dan berlepas diri (dari keburukan karena Allah) merupakan benteng kokoh bagi agama dan pemeluknya. Tali pengikat keimanan yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Barangsiapa yang cinta karena Allah dan benci-pun karena Allah, maka sungguh telah sempurna keimanannya. Itulah sebabnya maka kecintaan kepada Allah dan manisnya agama hanya dapat dirasakan dengan cara ini.Shalat adalah penghubung antara hamba dengan Tuhan-nya. Shalat adalah sebaik-baik ibadah anggota badan dan yang paling suci. Ia merupakan rukun kedua di antara rukun-rukun Islam dan bangunan-bangunannya yang kokoh. Shalat menjadi pembeda antara orang yang beriman dan orang kafir. Melaksanakan shalat secara berjamaah di masjid adalah wajib. Keutamaan pelaksanaannya secara berjamaah melebihi shalat seorang diri dengan 27 derajat. Yang paling besar pahala shalatnya adalah yang paling jauh jarak tempuhnya ke tempat shalat.Sebaik-baik baris kaum lelaki adalah paling depan, sedangkan bagi kaum wanita adalah paling belakang. Sebaik-baik shalat adalah yang dilaksanakan dengan lama berdiri, kecuali dalam kondisi seperti dalam hadis yang menuntut mempercepatnya.Suatu kondisi di mana seorang hamba paling dekat kepada Tuhan-nya adalah ketika ia sedang bersujud. Shalat wanita di rumahnya lebih baik dari pada di masjid. Bagi lelaki pun demikian; lebih baik shalat di rumahnya kecuali shalat wajib. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam. Shalat malam akan disaksikan (oleh para malaikat) jika dilakukan di sepertiga akhir malam. Sebaik-baik shalat malam adalah shalat seperti cara Nabi Daud –alaihissalam-; beliau tidur setengah malam, bangun shalat sepertiga malam dan tidur lagi seperenam malam. Dua rak’at fajar pahalanya lebih baik dari pada dunia seisinya.Sedekah dapat menghapus kesalahan seperti air dapat memadamkan api. Sedekah menjadi bukti keimanan seseorang dan termasuk sebaik-baik amal ibadahnya. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang, “Amal apakah dalam Islam yang paling baik ?” beliau menjawab :” تُطعِمُ الطَّعامَ وتَقرَأ السَّلامَ عَلى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ ” متفق عليه“Engkau memberi makan dan menyampaikan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal”.Muttafaq Alaih“Sedekah yang paling besar pahalanya adalah sedekah yang engkau keluarkan ketika engkau dalam keadaan sehat dan kikir, di mana engkau takut jatuh miskin dan berharap menjadi kaya. Janganlah engkau menunda-nunda sampai roh di tenggorokan, ketika itula engkau ingin katakan : “bagian si fulan sekian dan bagian si fulan sekian, padahal bagian itu seharusnya telah menjadi milik si fulan”. Muttafaq alaih.Sebaik-baik sedekah adalah yang dikeluarkan dari sisa kebutuhan sendiri. Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik dari pada tangan yang di bawah (penerima). Bersedakah secara samar-samar lebih baik dari pada secara terang-terangan, karena cara seperti itu lebih aman dari sikap pamer (riya’) kecuali bilamana bersedekah secara terang-terangan itu dapat mendatangkan kemaslahatan yang meyakinkan. Firman Allah :إِن تُبۡدُواْ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۖ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّ‍َٔاتِكُمۡۗ [ البقرة/271]“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu.” Qs Al-Baqarah : 271Di antara tujuh orang yang dinaungi Allah pada naungan Arasy-Nya adalah seorang yang mengeluarkan suatu sedekah secara samar-samar sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya.Memberi kelonggaran kepada orang yang sedang dalam kesulitan adalah sedekah. Siapa yang pinjam uang kepada seseorang dan bertekad akan mengembalikannya, maka Allah akan menunaikan (memudahkan) pembayarannya. Sesungguhnya orang pilihan di antara kalian adalah orang yang paling baik cara pengembalian hutangnya.Puasa merupakan perisai dari neraka. Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada aroma wewangian misk. Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa bulan Muharam. Puasa yang paling disenagi Allah ialah puasa Daud –alaihissalam-, beliau sehari puasa dan sehari berbuka.Umrah sebelumnya ke umrah berikutnya dapat menghapus dosa antara keduanya. Haji mabrur tiada suatu balasan baginya kecuali surga. Pelaksanaan haji yang terbaik adalah haji tamattu’ bagi orang yang mampu memotong hewan sembelian (hadyu). Mencukur gundul rambut dalam ibadah haji lebih baik dari pada hanya mencukur pendek. Tidak ada suatu amal yang dilakukan oleh seseorang pada hari raya lebih utama dari pada menyembelih hewan sembelihannya.Berangkat untuk berjihad di jalan Allah di waktu pagi atau sore hari lebih baik dari pada dunia dan seisinya. Berjaga sehari semalam (di daerah perbatasan dengan musuh) lebih baik dari pada berpuasa dan shalat malam sebulan, bahkan lebih baik dari pada dunia seisinya.Penguasaan ilmu seharusnya telah ada sebelum beramal dan lebih didahulukan dari amal. Sebab ilmu adalah nahkoda sedangkan amal menginduk pada ilmu. Barangsiapa yang Allah kehendaki suatu kebaikan baginya, maka Allah memahamkannya urusan agama.Allah –subhanahu wa ta’ala- menafikan kesejajaran orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu. Kelebihan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah bagaikan kelebihan cahaya bulan purnama atas bintang-bintang lainnya. Manusia adalah bagaikan barang tambang; mereka yang pernah menjadi orang-orang terbaik pada masa jahiliah akan menjadi orang-orang terbaik pula pada masa Islam jika mereka memahami ilmu Islam.  Sebaik-baik manusia adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.Sofyan –rahimahullah- berkata : ” مَا مِنْ عَمَل أفضَلَ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ إذَا صَحَّت النّيَةُ ““ Tidak ada suatu amal yang lebih baik dari pada upaya mencari ilmu jika niatnya lurus”.Berdzikir kepada Allah adalah amal sunnah yang paling layak dijalani seseorang, dan dzikir yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an, firman Tuhan semesta alam, sebaik-baik kitab suci yang diturunkan.Barangsiapa membaca :” لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ”“Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya, milikNya kerajaan dan milikNya pula segala puji. Dia Maha Kuasa atas segalanya”. 100 X sehari, maka baginya pahala sama dengan memerdekakan 10 budak, dicatat baginya 100 kebaikan, dihapuskan darinya 100 keburukan, dan kalimat tersebut menjadi benteng baginya dari gangguan setan pada hari itu hingga sore. Tidak ada orang yang melakukan suatu amal kebajikan lebih afdhal dari pada apa yang ia lakukan kecuali orang yang melakukan lebih banyak lagi dari pada itu”. HR MuslimPerkataan yang paling disenangi Allah sesudah Al-Qur’an ialah 4 kalimat :” سُبْحَانَ اللهِ ، وَالحمْدُ للهِ ، وَلَا إلهَ إلّا اللهَ ، وَاللهُ أكبَرُ ““Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar”.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” لَأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ” رواه مسلمSungguh jika aku mengucapkan ; “Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar” lebih aku sukai dari pada (bumi) yang tersinari matahari”. HR MuslimDua kalimat yang ringan di lidah, berat dalam timbangan, dicintai oleh Allah yang Maha Pengasih, ialah :  سُبحَانَ الله وَبحَمْدِهِ  (Maha suci Allah dan Maha terpuji).Berdakwah kepada Allah merupakan tugas para rasul, dan tidak ada perkataan yang lebih baik daripada perkataan orang yang berdakwah kepada Allah. Dengan dakwah, maka umat ini meraih yang terbaik dan mencapai kemuliaan. لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمرِ النِّعَمِ“Sungguh sekiranya Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui perantaramu akan lebih baik bagimu daripada onta merah)”.“Barangsiapa yang mengajak kepada kebenaran maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya hingga hari kiamat “.Dakwah dibuka pertama kali dimulai dari persoalan yang paling urgen kemudian beralih kepada persoalan yang urgen. Pokok dan asas dari segala persoalan adalah mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah semata dan menyelamatkan mereka dari kemurkaan dan siksaanNya.    Mendamaikan dua pihak yang bersengketa merupakan bagian dari agama dan bentuk pendekatan diri kepada Allah yang berdampak positif kepada masyarakat secara luas. Allah berfirman :لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar” QS An-Nisaa’ : 114Mengingat begitu besar manfaatnya, maka dengan mendamaikan, seseorang akan meraih derajat seorang yang rajin berpuasa dan tekun melakukan sholat malam. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :أَلآ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ؟“Maukah aku kabarkan kepada kalian yang lebih afdol dibanding derajat puasa dan shalat serta sedekah?”.Para sahabat berkata, “Tentu wahai Rasulullah”. Beliau berkata :إِصْلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ“Mendamaikan dua pihak yang beresengketa”. HR Abu Dawud    Seorang hamba diamanati oleh Allah untuk berbuat baik kepada sesama manusia, sedangkan orang paling utama yang harus diperlakukan dengan baik adalah kedua orang tua. Bakti kepada keduanya merupakan gandengan tauhid dan merupakan amal yang terbaik setelah keimanan. Selanjutnya berbuat baik kepada kaum kerabat terdekat.Seorang mukmin yang berinteraksi dengan masyarakat dan dapat menahan diri dalam menghadapi gangguan mereka lebih baik dari pada orang yang tidak berinteraksi dengan masyarakat dan tidak sabar dalam menghadapi gangguan mereka. Orang yang terbaik adalah yang paling bermanfaat dan mau memberikan andil kebaikan kepada orang lain sesuai kemampuannya. Ia memperlakukan masyarakat dengan cara yang dirinya ingin diperlakukan oleh mereka. Ia menyukai kebaikan bagi mereka, sama dengan yang ia menyukainya untuk dirinya. Ia berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakatnya dan bersikap sabar terhadap gangguan mereka.Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang terbaik akhlaknya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا“Sesungguhnya diantara yang terbaik diantara kalian adalah yang terindah akhlaknya” . HR Al-Bukhari dan MuslimTidak ada sesuatupun di timbangan kebajikan yang lebih berat daripada akhlak yang mulia.Sebaik-baik sahabat adalah yang terbaik bagi sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang terbaik bagi tetangganya. Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian, dan sebaik-baik lelaki adalah yang terbaik bagi istrinya.    Amal yang terbaik adalah amal yang paling langgeng meskipun sedikit.  Amal sedikit namun berkesinambungan akan membuahkan hasil hingga lebih dan bahkan berlipat-lipat dari pada yang banyak namun terputus.Sebaik-baik agama adalah yang lurus (jauh dari kesyirikan) dan yang memberikan kemudahan. Tidaklah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- dihadapkan kepada dua pilihan melainkan beliau memilih yang termudah selama pilihannya itu bukan dosa.Ibadah di masa fitnah adalah seperti berhijrah kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah dari pada orang mukmin yang lemah.Jika pencetus kejahatan telah menguat, maka saatnya berdiri tegak dengan ketegaran hati ( di atas keimanan untuk menghadapi kejahatan tersebut). Diantara mereka yang akan dinaungi oleh Allah pada naunganNya –pada hari kiamat- adalah seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, namun demikian lelaki tersebut berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”.Seorang yang tetap beramal dalam situasi yang memerlukan kesabaran, dan berpegang teguh pada agamanya, baginya pahal lima puluh orang sahabat. Sedangkan pahala menjadi sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- mengungguli itu semua”.Sesungguhnya fitnah (huru-hara) itu merupakan petaka, maka dalam hal ini orang yang memilih sikap defensif lebih baik dari pada yang agresif dan ofensif, namun begitu yang lebih aman adalah menghindar dari fitnah-fitnah tersebut.    Dunia merupakan ladang usaha dan perjuangan. Hasil usaha yang terbaik adalah hasil jerih payah tangan sendiri, dan tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dibanding hasil jerih payah tangannya sendiri. Maka makanan terbaik adalah apa yang diperoleh dari hasil usaha sendiri, dan sesungguhnya anak  merupakan hasil usahanya. Sekiranya ada seseorang yang mengambil talinya lalu pergi mencari kayu akan lebih baik dari pada meminta-minta kepada sesama, baik mereka mengabulkan permintaannya ataupun menolaknya.Dunia merupakan kesenangan sesaat, dan sebaik-baik kesenangan adalah istri yang sholihah. Sebaik-baik pernikahan adalah yang sederhana, dan pernikahan yang paling besar berkahnya adalah pernikahan yang paling sedikit biayayanya (maharnya). Lalu nama yang paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, dan yang paling benar adalah Harits dan Hammaam. Dan yang paling afdhal untuk menyemir (merubah) uban rambut adalah hinna dan katm. Cara terbaik untuk berobat adalah dengan hijamah (bekam). Sebaik-baik air adalah air zam-zam, ia adalah air yang berkah dan makanan mengenyangkan sekaligus obat penyakit.Selanjutnya wahai kaum muslimin sekalian…Sesungguhnya dunia adalah medan untuk berlomba dalam kebaikan dan berpacu dalam ketaatan. Maka orang yang muwaffaq (bernasib mujur) adalah yang segera melakukan amal ketaatan sebelum kedatangan ajal yang mengagetkan.  Ia bersaing dengan orang-orang yang bersegera melakukan kebaikan, dan tidak ingin berlama-lama dalam kehampaan dan kemalasan. Justru ia konsisten dalam ketaatan dan tidak meninggalkan perkara yang lebih afdhal dan lebih sempurna, bukan tersibukkan oleh persoalan-persoalan yang kurang afdhal. Oleh sebab itu, siapa yang mampu untuk tidak didahului oleh seorangpun dalam ketaatan menuju Allah, maka lakukanlah!.==========Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikan-Nya, puji syukur tertujukan kepada-Nya atas bimbingan dan karunia-Nya. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai bentuk pengagungan kepadaNya. Aku-pun bersaksi bahwasanya nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Semoga shalawat dan salam sebanyak-banyaknya selalu tercurahkan kepadanya, seluruh keluarganya dan sahabat-sahabatnya.Kaum muslimin sekalian…Kebahagiaan dan kelapangan dada seseorang terletak pada kedekatannya kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Ketaatan akan membuahkan ketenteraman batin dengan Allah dan kecintaan hati kepada-Nya. Seorang mukmin hendaknya berambisi dalam mencapai amalan yang paling tinggi dan yang paling sempurna serta paling afdhol. Berprasangka kepada Allah adalah perkara yang besar (sangat berpengaruh). Allah tidak akan mengecewakan orang yang berharap dan berbaik sangka kepadaNya.Barangsiapa yang bervariasi dalam melakukan amal shalih, maka akan semakin banyak pula variasi kenikmatan yang ia rasakan di dunia dan akhirat. Tentunya tidak sama antara ganjaran dan kelezatan bagi orang yang punya andil banyak dalam melakukan ketaatan dengan ganjaran dan kelezatan bagi orang yang hanya terbatas melakukan satu model ketaatan.Akhirnya ketahuilah, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk bershalawat dan bersalam kepada nabi-Nya. Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an :إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا“Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. QS Al-Ahzaab : 56======= Doa ========Penerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirja
Khotbah Jum’at dari Masjid Nabawi, 1 Rajab 1437 H.Oleh : Syekh Dr. Abdul Muhsin Bin Muhamad Al-QasimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam sebanyak-banyaknya kepadanya, beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya.Selanjutnya ……. Kaum muslimin !Hanya Allah sajalah yang memilih dan melebihkan sesuatu, sebagaimana Dia pula satu-satunya yang menciptakan dan mengatur (segala urusan).Firman Allah :وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ [ القصص / 68]“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)”. Qs Al-Qashas : 68Suatu bukti kesempurnaan iilmu-Nya, Dia mengistimewakan apa yang dikehendakinya karena anugerah-Nya. Maka Pemilihan-Nya dan pengkhususan-Nya tersebut menjadi bukti Ketuhanan-Nya dan Keesaan-Nya serta kesempurnaan kebiajaksanaan-Nya dan kekuasaan-Nya.Allah –subhanahu wa ta’ala- memilih malaikat-Nya di atas seluruh makhlu-Nya; maka Allah ciptakan mereka dari cahaya dan menugaskan mereka mengurus kerajaan-Nya.لا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ [ التحريم / 6]“Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” Qs At-Tahrim : 6Allah –subhanahu wa ta’ala- memuliakan anak cucu Adam (manusia) dan memilih di antara mereka para nabi dan rasul-Nya. Allah –subhanahu wa ta’ala- memilih nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sebagai pemimpin anak cucu Adam, beliau manusia termulia di antara mereka, dan sebaik-baik para nabi dan rasul. Demikian pula sahabat-sahabat beliau, mereka sebaik-baik sahabat dan sebaik baik generasi, tidak ada manusia sebelum dan sesudah mereka yang setara dengan mereka.Sabda beliau –shallallahu alaihi wa sallam- :” خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ “ “Sebaik-baik manusia adalah generasi sezaman denganku, lalu disusul oleh generasi berikutnya, dan kemudian generasi berikutnya”.Umat Islam sebagai penyempurna 70 umat adalah umat terbaik dan termulia di sisi Allah. Penghuni surga terkelompokkan menjadi 120 baris; 80 baris di antaranya adalah umat Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sedangkan yang 40 baris adalah dari umat lain. Orang yang paling mulia di antara mereka adala yang paling bertakwa.Ada dua orang lelaki yang melintas di dekat Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-; Lelaki pertama termasuk orang miskin di antara kaum muslimin, sedangkan yang kedua termasuk orang kelas elit dalam masyarakat, maka ketika mengomentari orang yang pertama beliau berkata :” هَذا خَيْرٌ مِنْ مِلْء الأرْضِ مِثْل هَذَا ““Orang ini (yang pertama yang miskin) lebih baik dari pada yang seperti itu (orang kedua yang elit) sepenuh bumi” HR BukhariSurga tempat terhormat disiapkan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang mukmin.” وَلمَوْضِعُ سَوْطٍ أحَدِكُم فِي الجَنَّةِ، خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ” رواه البخاري“Sungguh tempat cemeti salah seorang di antara kalian di surga lebih baik nilainya dari pada dunia seisinya”. HR BukhariYang paling unggul adalah surga Firdaus, ia adalah surga paling tinggi dan paling tengah, dari situlah sungai-sungai di surga terpancar, dan di atasnya terdapat Arasy (tahta, singgasana Allah) yang Maha Pengasih. Puncak kenikmatan surgawi adalah melihat Allah –subhanahu wa ta’ala-.Firman Allah :” فيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ ” [ رواه مسلم ]“Maka Allah pun menyingkap tabir, ketika itulah penghuni surga merasa tidak mengecap kenikmatan yang lebih mereka sukai dibanding memandang Tuhan mereka, Allah –subhanahu wa ta’ala.” HR MuslimAllah –subhanahu wa ta’ala- menciptakan berbagai tempat (lokasi) dan mengistimewakan antara satu dengan lainnya. Sebaik-baik lokasi adalah yang dapat mengantarkan seorang hamba kepada Tuhannya, dan yang lebih dekat untuk meraih ridha-Nya dan surga-Nya. Mekah adalah bumi Allah yang terbaik dan paling dicintai oleh-Nya, merupakan tanah suci. Di dalamnya terdapat Kiblat kaum muslimin, dan Masjid pertama kali didirikan di muka bumi. Shalat di dalamnya lebih baik dari pada 100.000 X shalat di masjid lainnya.Allah –subhanahu wa ta’ala- menjadikannya sebagai tempat manasik ibadah (haji dan umrah) bagi hamba-hamba-Nya. Ke sanalah hati manusia condong, di sanalah umat manusia (beriman) datang dari seluruh penjuru negeri yang jauh.Madinah, tempat hijarah Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dan kota suci, keberkahan di dalamnya dua kali lipat dari yang di Mekah. Shalat di Masjid Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- lebih baik dari pada 1000 X shalat di masjid lain. Orang yang bersuci (berwudhu) di tempat tinggalnya lalu pergi menuju ke Masjid Quba’ mendapatkan pahala sebanding pahala umrah. Masjidil Aqsha, Qiblat pertama dan tempat isra’ Rasul –shallallahu alaihi wa sallam-, shalat di dalamnya menyamai 500 X shalat. Tidak dilakukan perjalanan jauh untuk ibadah kecuali ke 3 masjid; Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan Masjid Rasul –shallallahu alaihi wa sallam-.Sebaik-baik lokasi di bumi adalah Masjid, sedangkan seburuk-buruk lokasi di bumi adalah pasar. Majlis-majlis dzikir adalah laksana pertamanan surga. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ [ رواه مسلم]“Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada di dekatnya”. HR MuslimWaktu (zaman) adalah kendaraan menuju akhirat. Orang yang cerdas adalah orang yang memanfaatkan waktu-waktunya yang termahal. Bulan yang paling utama adalah Ramadhan; Allah mewajibkan berpuasa bulan Ramadhan dan menurunkan Al-Qur’an di dalamnya.Bulan-bulan haram yang mulia di sisi Allah patut diagungkan, bermaksiat kepada Allah di dalamnya lebih buruk dosanya dari pada bermaksiat di bulan-bulan lainnya.Sebaik-baik hari adalah hari nahar (hari raya Qurban,10 Zulhijah) lalu hari Arafah (9 Zulhijah). Tidak ada hari-hari yang mana amal shalih di dalamnya lebih Allah sukai dari pada sepuluh hari bulan Zulhijah.Hari jum’at adalah sebaik-baik hari yang disinari matahari; di hari jum’at terdapat suatu saat yang bilamana seorang muslim tepat pada saat itu sedang melakukan shalat dan memohon kebaikan kepada Allah, niscaya Allah memberinya. Demikian pula sepuluh malam bulan Ramadhan yang penuh berkah. Sebaik-baik malam sepanjang masa adalah Lailatul-Qadar, karena kebaikannya melebihi seribu bulan.Kemudian sepertiga akhir malam merupakan waktu yang paling berharga di antara waktu malam, karena di dalamnya Allah turun ke Langit dunia untuk mendekati dan menyayangi hamba-hambaNya seraya berfirman :” مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ” متفق عليه“Siapakah kiranya yang berdoa kepadaKu lalu aku kabulkan doanya, siapakah kiranya yang memohon kepadaKu lalu aku berkenan memberinya, siapakah kiranya yang meminta ampun kepadaKu lalu aku ampuninya.?” Muttafaq Alaih.Allah adalah Maha Baik, tidak menerima di antara ucapan dan amal perbuatan kecuali yang baik pula.Firman Allah :إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥۚ [ فاطر/10]“ Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” Qs Fathir : 10Amal shalih merupakan deposito bagi seorang hamba di sisi Tuhan-nya; dengan amal shalih mereka meraih kebahagiaan, keselamatan dan kesuksesan. Allah –subhanahu wa ta’ala- melebihkan mutu antara amal shalih satu dengan lainnya. Tidak ada suatu amal yang digunakan oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah dibanding amal fardhu yang Allah wajibkan atasnya. Dan tak henti-hentinya seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah melalui amal-amal sunnah sehingga Allah mencintainya.Amal fardhu (wajib) yang paling agung ialah keimanan yang benar dan keyakinan yang mantap. Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang : “Amal apakah yang lebih utama?” Jawab beliau : “Beriman kepada Allah.” Muttafaq Alaih.Sebaik-baik hati adalah hati yang sehat (bersih dari endapan dosa), sebab dengan kesehatan hati, maka seluruh organ tubuh akan menjadi sehat dan baik. Di akhirat kelak harta dan anak-anak lelaki tidak berguna, “Kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang sehat/bersih”.Para generasi pertama (umat ini) menempati garis terdepan (dalam kebaikan) berkat ketulusan batin mereka.Bakar Al-Muzani berkata, :” مَا سَبَقهم أبو بَكْرٍ بِكثْرَةِ صَلَاةٍ وَلَا صِيَامٍ وَلكنْ بشَئْ وَقرَ فِى صَدْرِهِ ““Bukanlah yang membuat Abu Bakar membalap mereka itu banyaknya shalat dan puasa, tetapi karena berkat sesuatu yang bersemayam di dalam dadanya”. Sebagian Ulama berkata :” الذِى وَقُرَ فِى صَدْرِه هُوَ حُبُّ اللهِ وَالنَّصِيْحَةُ لِخَلْقِهِ ““Sesuatu yang bersemayam di dalam dadanya adalah kecintaannya kepada Allah dan nasihatnya kepada hamba-hambaNya”.Memurnikan Ibadah kepada Allah semata, tanpa menyekutukanNya dengan sesuatu, merupakan sumber segala kebaikan dan kesuksesan. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sedangkan mengikuti sunnah beliau adalah penyebab terkabulnya ibadah dan keberkahan amal”.Kalimat Tauhid adalah lambang Islam dan kunci surga, menghimpun ajaran agama secara keseluruhan, maka kalimat Tauhid-lah yang menjadi pemula dan pemungkas agama, sekaligus merupakan puncak tertinggi cabang keimanan. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، فَأَعلاهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ [ متفق عليه] “Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang, yang tertinggi adalah pernyataan, ‘La ilaha Illallah’ (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah”. Muttafaq AlaihLoyalitas (karena Allah) dan berlepas diri (dari keburukan karena Allah) merupakan benteng kokoh bagi agama dan pemeluknya. Tali pengikat keimanan yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Barangsiapa yang cinta karena Allah dan benci-pun karena Allah, maka sungguh telah sempurna keimanannya. Itulah sebabnya maka kecintaan kepada Allah dan manisnya agama hanya dapat dirasakan dengan cara ini.Shalat adalah penghubung antara hamba dengan Tuhan-nya. Shalat adalah sebaik-baik ibadah anggota badan dan yang paling suci. Ia merupakan rukun kedua di antara rukun-rukun Islam dan bangunan-bangunannya yang kokoh. Shalat menjadi pembeda antara orang yang beriman dan orang kafir. Melaksanakan shalat secara berjamaah di masjid adalah wajib. Keutamaan pelaksanaannya secara berjamaah melebihi shalat seorang diri dengan 27 derajat. Yang paling besar pahala shalatnya adalah yang paling jauh jarak tempuhnya ke tempat shalat.Sebaik-baik baris kaum lelaki adalah paling depan, sedangkan bagi kaum wanita adalah paling belakang. Sebaik-baik shalat adalah yang dilaksanakan dengan lama berdiri, kecuali dalam kondisi seperti dalam hadis yang menuntut mempercepatnya.Suatu kondisi di mana seorang hamba paling dekat kepada Tuhan-nya adalah ketika ia sedang bersujud. Shalat wanita di rumahnya lebih baik dari pada di masjid. Bagi lelaki pun demikian; lebih baik shalat di rumahnya kecuali shalat wajib. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam. Shalat malam akan disaksikan (oleh para malaikat) jika dilakukan di sepertiga akhir malam. Sebaik-baik shalat malam adalah shalat seperti cara Nabi Daud –alaihissalam-; beliau tidur setengah malam, bangun shalat sepertiga malam dan tidur lagi seperenam malam. Dua rak’at fajar pahalanya lebih baik dari pada dunia seisinya.Sedekah dapat menghapus kesalahan seperti air dapat memadamkan api. Sedekah menjadi bukti keimanan seseorang dan termasuk sebaik-baik amal ibadahnya. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang, “Amal apakah dalam Islam yang paling baik ?” beliau menjawab :” تُطعِمُ الطَّعامَ وتَقرَأ السَّلامَ عَلى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ ” متفق عليه“Engkau memberi makan dan menyampaikan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal”.Muttafaq Alaih“Sedekah yang paling besar pahalanya adalah sedekah yang engkau keluarkan ketika engkau dalam keadaan sehat dan kikir, di mana engkau takut jatuh miskin dan berharap menjadi kaya. Janganlah engkau menunda-nunda sampai roh di tenggorokan, ketika itula engkau ingin katakan : “bagian si fulan sekian dan bagian si fulan sekian, padahal bagian itu seharusnya telah menjadi milik si fulan”. Muttafaq alaih.Sebaik-baik sedekah adalah yang dikeluarkan dari sisa kebutuhan sendiri. Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik dari pada tangan yang di bawah (penerima). Bersedakah secara samar-samar lebih baik dari pada secara terang-terangan, karena cara seperti itu lebih aman dari sikap pamer (riya’) kecuali bilamana bersedekah secara terang-terangan itu dapat mendatangkan kemaslahatan yang meyakinkan. Firman Allah :إِن تُبۡدُواْ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۖ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّ‍َٔاتِكُمۡۗ [ البقرة/271]“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu.” Qs Al-Baqarah : 271Di antara tujuh orang yang dinaungi Allah pada naungan Arasy-Nya adalah seorang yang mengeluarkan suatu sedekah secara samar-samar sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya.Memberi kelonggaran kepada orang yang sedang dalam kesulitan adalah sedekah. Siapa yang pinjam uang kepada seseorang dan bertekad akan mengembalikannya, maka Allah akan menunaikan (memudahkan) pembayarannya. Sesungguhnya orang pilihan di antara kalian adalah orang yang paling baik cara pengembalian hutangnya.Puasa merupakan perisai dari neraka. Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada aroma wewangian misk. Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa bulan Muharam. Puasa yang paling disenagi Allah ialah puasa Daud –alaihissalam-, beliau sehari puasa dan sehari berbuka.Umrah sebelumnya ke umrah berikutnya dapat menghapus dosa antara keduanya. Haji mabrur tiada suatu balasan baginya kecuali surga. Pelaksanaan haji yang terbaik adalah haji tamattu’ bagi orang yang mampu memotong hewan sembelian (hadyu). Mencukur gundul rambut dalam ibadah haji lebih baik dari pada hanya mencukur pendek. Tidak ada suatu amal yang dilakukan oleh seseorang pada hari raya lebih utama dari pada menyembelih hewan sembelihannya.Berangkat untuk berjihad di jalan Allah di waktu pagi atau sore hari lebih baik dari pada dunia dan seisinya. Berjaga sehari semalam (di daerah perbatasan dengan musuh) lebih baik dari pada berpuasa dan shalat malam sebulan, bahkan lebih baik dari pada dunia seisinya.Penguasaan ilmu seharusnya telah ada sebelum beramal dan lebih didahulukan dari amal. Sebab ilmu adalah nahkoda sedangkan amal menginduk pada ilmu. Barangsiapa yang Allah kehendaki suatu kebaikan baginya, maka Allah memahamkannya urusan agama.Allah –subhanahu wa ta’ala- menafikan kesejajaran orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu. Kelebihan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah bagaikan kelebihan cahaya bulan purnama atas bintang-bintang lainnya. Manusia adalah bagaikan barang tambang; mereka yang pernah menjadi orang-orang terbaik pada masa jahiliah akan menjadi orang-orang terbaik pula pada masa Islam jika mereka memahami ilmu Islam.  Sebaik-baik manusia adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.Sofyan –rahimahullah- berkata : ” مَا مِنْ عَمَل أفضَلَ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ إذَا صَحَّت النّيَةُ ““ Tidak ada suatu amal yang lebih baik dari pada upaya mencari ilmu jika niatnya lurus”.Berdzikir kepada Allah adalah amal sunnah yang paling layak dijalani seseorang, dan dzikir yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an, firman Tuhan semesta alam, sebaik-baik kitab suci yang diturunkan.Barangsiapa membaca :” لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ”“Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya, milikNya kerajaan dan milikNya pula segala puji. Dia Maha Kuasa atas segalanya”. 100 X sehari, maka baginya pahala sama dengan memerdekakan 10 budak, dicatat baginya 100 kebaikan, dihapuskan darinya 100 keburukan, dan kalimat tersebut menjadi benteng baginya dari gangguan setan pada hari itu hingga sore. Tidak ada orang yang melakukan suatu amal kebajikan lebih afdhal dari pada apa yang ia lakukan kecuali orang yang melakukan lebih banyak lagi dari pada itu”. HR MuslimPerkataan yang paling disenangi Allah sesudah Al-Qur’an ialah 4 kalimat :” سُبْحَانَ اللهِ ، وَالحمْدُ للهِ ، وَلَا إلهَ إلّا اللهَ ، وَاللهُ أكبَرُ ““Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar”.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” لَأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ” رواه مسلمSungguh jika aku mengucapkan ; “Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar” lebih aku sukai dari pada (bumi) yang tersinari matahari”. HR MuslimDua kalimat yang ringan di lidah, berat dalam timbangan, dicintai oleh Allah yang Maha Pengasih, ialah :  سُبحَانَ الله وَبحَمْدِهِ  (Maha suci Allah dan Maha terpuji).Berdakwah kepada Allah merupakan tugas para rasul, dan tidak ada perkataan yang lebih baik daripada perkataan orang yang berdakwah kepada Allah. Dengan dakwah, maka umat ini meraih yang terbaik dan mencapai kemuliaan. لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمرِ النِّعَمِ“Sungguh sekiranya Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui perantaramu akan lebih baik bagimu daripada onta merah)”.“Barangsiapa yang mengajak kepada kebenaran maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya hingga hari kiamat “.Dakwah dibuka pertama kali dimulai dari persoalan yang paling urgen kemudian beralih kepada persoalan yang urgen. Pokok dan asas dari segala persoalan adalah mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah semata dan menyelamatkan mereka dari kemurkaan dan siksaanNya.    Mendamaikan dua pihak yang bersengketa merupakan bagian dari agama dan bentuk pendekatan diri kepada Allah yang berdampak positif kepada masyarakat secara luas. Allah berfirman :لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar” QS An-Nisaa’ : 114Mengingat begitu besar manfaatnya, maka dengan mendamaikan, seseorang akan meraih derajat seorang yang rajin berpuasa dan tekun melakukan sholat malam. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :أَلآ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ؟“Maukah aku kabarkan kepada kalian yang lebih afdol dibanding derajat puasa dan shalat serta sedekah?”.Para sahabat berkata, “Tentu wahai Rasulullah”. Beliau berkata :إِصْلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ“Mendamaikan dua pihak yang beresengketa”. HR Abu Dawud    Seorang hamba diamanati oleh Allah untuk berbuat baik kepada sesama manusia, sedangkan orang paling utama yang harus diperlakukan dengan baik adalah kedua orang tua. Bakti kepada keduanya merupakan gandengan tauhid dan merupakan amal yang terbaik setelah keimanan. Selanjutnya berbuat baik kepada kaum kerabat terdekat.Seorang mukmin yang berinteraksi dengan masyarakat dan dapat menahan diri dalam menghadapi gangguan mereka lebih baik dari pada orang yang tidak berinteraksi dengan masyarakat dan tidak sabar dalam menghadapi gangguan mereka. Orang yang terbaik adalah yang paling bermanfaat dan mau memberikan andil kebaikan kepada orang lain sesuai kemampuannya. Ia memperlakukan masyarakat dengan cara yang dirinya ingin diperlakukan oleh mereka. Ia menyukai kebaikan bagi mereka, sama dengan yang ia menyukainya untuk dirinya. Ia berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakatnya dan bersikap sabar terhadap gangguan mereka.Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang terbaik akhlaknya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا“Sesungguhnya diantara yang terbaik diantara kalian adalah yang terindah akhlaknya” . HR Al-Bukhari dan MuslimTidak ada sesuatupun di timbangan kebajikan yang lebih berat daripada akhlak yang mulia.Sebaik-baik sahabat adalah yang terbaik bagi sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang terbaik bagi tetangganya. Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian, dan sebaik-baik lelaki adalah yang terbaik bagi istrinya.    Amal yang terbaik adalah amal yang paling langgeng meskipun sedikit.  Amal sedikit namun berkesinambungan akan membuahkan hasil hingga lebih dan bahkan berlipat-lipat dari pada yang banyak namun terputus.Sebaik-baik agama adalah yang lurus (jauh dari kesyirikan) dan yang memberikan kemudahan. Tidaklah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- dihadapkan kepada dua pilihan melainkan beliau memilih yang termudah selama pilihannya itu bukan dosa.Ibadah di masa fitnah adalah seperti berhijrah kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah dari pada orang mukmin yang lemah.Jika pencetus kejahatan telah menguat, maka saatnya berdiri tegak dengan ketegaran hati ( di atas keimanan untuk menghadapi kejahatan tersebut). Diantara mereka yang akan dinaungi oleh Allah pada naunganNya –pada hari kiamat- adalah seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, namun demikian lelaki tersebut berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”.Seorang yang tetap beramal dalam situasi yang memerlukan kesabaran, dan berpegang teguh pada agamanya, baginya pahal lima puluh orang sahabat. Sedangkan pahala menjadi sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- mengungguli itu semua”.Sesungguhnya fitnah (huru-hara) itu merupakan petaka, maka dalam hal ini orang yang memilih sikap defensif lebih baik dari pada yang agresif dan ofensif, namun begitu yang lebih aman adalah menghindar dari fitnah-fitnah tersebut.    Dunia merupakan ladang usaha dan perjuangan. Hasil usaha yang terbaik adalah hasil jerih payah tangan sendiri, dan tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dibanding hasil jerih payah tangannya sendiri. Maka makanan terbaik adalah apa yang diperoleh dari hasil usaha sendiri, dan sesungguhnya anak  merupakan hasil usahanya. Sekiranya ada seseorang yang mengambil talinya lalu pergi mencari kayu akan lebih baik dari pada meminta-minta kepada sesama, baik mereka mengabulkan permintaannya ataupun menolaknya.Dunia merupakan kesenangan sesaat, dan sebaik-baik kesenangan adalah istri yang sholihah. Sebaik-baik pernikahan adalah yang sederhana, dan pernikahan yang paling besar berkahnya adalah pernikahan yang paling sedikit biayayanya (maharnya). Lalu nama yang paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, dan yang paling benar adalah Harits dan Hammaam. Dan yang paling afdhal untuk menyemir (merubah) uban rambut adalah hinna dan katm. Cara terbaik untuk berobat adalah dengan hijamah (bekam). Sebaik-baik air adalah air zam-zam, ia adalah air yang berkah dan makanan mengenyangkan sekaligus obat penyakit.Selanjutnya wahai kaum muslimin sekalian…Sesungguhnya dunia adalah medan untuk berlomba dalam kebaikan dan berpacu dalam ketaatan. Maka orang yang muwaffaq (bernasib mujur) adalah yang segera melakukan amal ketaatan sebelum kedatangan ajal yang mengagetkan.  Ia bersaing dengan orang-orang yang bersegera melakukan kebaikan, dan tidak ingin berlama-lama dalam kehampaan dan kemalasan. Justru ia konsisten dalam ketaatan dan tidak meninggalkan perkara yang lebih afdhal dan lebih sempurna, bukan tersibukkan oleh persoalan-persoalan yang kurang afdhal. Oleh sebab itu, siapa yang mampu untuk tidak didahului oleh seorangpun dalam ketaatan menuju Allah, maka lakukanlah!.==========Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikan-Nya, puji syukur tertujukan kepada-Nya atas bimbingan dan karunia-Nya. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai bentuk pengagungan kepadaNya. Aku-pun bersaksi bahwasanya nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Semoga shalawat dan salam sebanyak-banyaknya selalu tercurahkan kepadanya, seluruh keluarganya dan sahabat-sahabatnya.Kaum muslimin sekalian…Kebahagiaan dan kelapangan dada seseorang terletak pada kedekatannya kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Ketaatan akan membuahkan ketenteraman batin dengan Allah dan kecintaan hati kepada-Nya. Seorang mukmin hendaknya berambisi dalam mencapai amalan yang paling tinggi dan yang paling sempurna serta paling afdhol. Berprasangka kepada Allah adalah perkara yang besar (sangat berpengaruh). Allah tidak akan mengecewakan orang yang berharap dan berbaik sangka kepadaNya.Barangsiapa yang bervariasi dalam melakukan amal shalih, maka akan semakin banyak pula variasi kenikmatan yang ia rasakan di dunia dan akhirat. Tentunya tidak sama antara ganjaran dan kelezatan bagi orang yang punya andil banyak dalam melakukan ketaatan dengan ganjaran dan kelezatan bagi orang yang hanya terbatas melakukan satu model ketaatan.Akhirnya ketahuilah, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk bershalawat dan bersalam kepada nabi-Nya. Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an :إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا“Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. QS Al-Ahzaab : 56======= Doa ========Penerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirja


Khotbah Jum’at dari Masjid Nabawi, 1 Rajab 1437 H.Oleh : Syekh Dr. Abdul Muhsin Bin Muhamad Al-QasimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam sebanyak-banyaknya kepadanya, beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya.Selanjutnya ……. Kaum muslimin !Hanya Allah sajalah yang memilih dan melebihkan sesuatu, sebagaimana Dia pula satu-satunya yang menciptakan dan mengatur (segala urusan).Firman Allah :وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ [ القصص / 68]“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)”. Qs Al-Qashas : 68Suatu bukti kesempurnaan iilmu-Nya, Dia mengistimewakan apa yang dikehendakinya karena anugerah-Nya. Maka Pemilihan-Nya dan pengkhususan-Nya tersebut menjadi bukti Ketuhanan-Nya dan Keesaan-Nya serta kesempurnaan kebiajaksanaan-Nya dan kekuasaan-Nya.Allah –subhanahu wa ta’ala- memilih malaikat-Nya di atas seluruh makhlu-Nya; maka Allah ciptakan mereka dari cahaya dan menugaskan mereka mengurus kerajaan-Nya.لا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ [ التحريم / 6]“Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” Qs At-Tahrim : 6Allah –subhanahu wa ta’ala- memuliakan anak cucu Adam (manusia) dan memilih di antara mereka para nabi dan rasul-Nya. Allah –subhanahu wa ta’ala- memilih nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sebagai pemimpin anak cucu Adam, beliau manusia termulia di antara mereka, dan sebaik-baik para nabi dan rasul. Demikian pula sahabat-sahabat beliau, mereka sebaik-baik sahabat dan sebaik baik generasi, tidak ada manusia sebelum dan sesudah mereka yang setara dengan mereka.Sabda beliau –shallallahu alaihi wa sallam- :” خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ “ “Sebaik-baik manusia adalah generasi sezaman denganku, lalu disusul oleh generasi berikutnya, dan kemudian generasi berikutnya”.Umat Islam sebagai penyempurna 70 umat adalah umat terbaik dan termulia di sisi Allah. Penghuni surga terkelompokkan menjadi 120 baris; 80 baris di antaranya adalah umat Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sedangkan yang 40 baris adalah dari umat lain. Orang yang paling mulia di antara mereka adala yang paling bertakwa.Ada dua orang lelaki yang melintas di dekat Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-; Lelaki pertama termasuk orang miskin di antara kaum muslimin, sedangkan yang kedua termasuk orang kelas elit dalam masyarakat, maka ketika mengomentari orang yang pertama beliau berkata :” هَذا خَيْرٌ مِنْ مِلْء الأرْضِ مِثْل هَذَا ““Orang ini (yang pertama yang miskin) lebih baik dari pada yang seperti itu (orang kedua yang elit) sepenuh bumi” HR BukhariSurga tempat terhormat disiapkan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang mukmin.” وَلمَوْضِعُ سَوْطٍ أحَدِكُم فِي الجَنَّةِ، خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ” رواه البخاري“Sungguh tempat cemeti salah seorang di antara kalian di surga lebih baik nilainya dari pada dunia seisinya”. HR BukhariYang paling unggul adalah surga Firdaus, ia adalah surga paling tinggi dan paling tengah, dari situlah sungai-sungai di surga terpancar, dan di atasnya terdapat Arasy (tahta, singgasana Allah) yang Maha Pengasih. Puncak kenikmatan surgawi adalah melihat Allah –subhanahu wa ta’ala-.Firman Allah :” فيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ ” [ رواه مسلم ]“Maka Allah pun menyingkap tabir, ketika itulah penghuni surga merasa tidak mengecap kenikmatan yang lebih mereka sukai dibanding memandang Tuhan mereka, Allah –subhanahu wa ta’ala.” HR MuslimAllah –subhanahu wa ta’ala- menciptakan berbagai tempat (lokasi) dan mengistimewakan antara satu dengan lainnya. Sebaik-baik lokasi adalah yang dapat mengantarkan seorang hamba kepada Tuhannya, dan yang lebih dekat untuk meraih ridha-Nya dan surga-Nya. Mekah adalah bumi Allah yang terbaik dan paling dicintai oleh-Nya, merupakan tanah suci. Di dalamnya terdapat Kiblat kaum muslimin, dan Masjid pertama kali didirikan di muka bumi. Shalat di dalamnya lebih baik dari pada 100.000 X shalat di masjid lainnya.Allah –subhanahu wa ta’ala- menjadikannya sebagai tempat manasik ibadah (haji dan umrah) bagi hamba-hamba-Nya. Ke sanalah hati manusia condong, di sanalah umat manusia (beriman) datang dari seluruh penjuru negeri yang jauh.Madinah, tempat hijarah Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dan kota suci, keberkahan di dalamnya dua kali lipat dari yang di Mekah. Shalat di Masjid Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- lebih baik dari pada 1000 X shalat di masjid lain. Orang yang bersuci (berwudhu) di tempat tinggalnya lalu pergi menuju ke Masjid Quba’ mendapatkan pahala sebanding pahala umrah. Masjidil Aqsha, Qiblat pertama dan tempat isra’ Rasul –shallallahu alaihi wa sallam-, shalat di dalamnya menyamai 500 X shalat. Tidak dilakukan perjalanan jauh untuk ibadah kecuali ke 3 masjid; Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan Masjid Rasul –shallallahu alaihi wa sallam-.Sebaik-baik lokasi di bumi adalah Masjid, sedangkan seburuk-buruk lokasi di bumi adalah pasar. Majlis-majlis dzikir adalah laksana pertamanan surga. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ [ رواه مسلم]“Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada di dekatnya”. HR MuslimWaktu (zaman) adalah kendaraan menuju akhirat. Orang yang cerdas adalah orang yang memanfaatkan waktu-waktunya yang termahal. Bulan yang paling utama adalah Ramadhan; Allah mewajibkan berpuasa bulan Ramadhan dan menurunkan Al-Qur’an di dalamnya.Bulan-bulan haram yang mulia di sisi Allah patut diagungkan, bermaksiat kepada Allah di dalamnya lebih buruk dosanya dari pada bermaksiat di bulan-bulan lainnya.Sebaik-baik hari adalah hari nahar (hari raya Qurban,10 Zulhijah) lalu hari Arafah (9 Zulhijah). Tidak ada hari-hari yang mana amal shalih di dalamnya lebih Allah sukai dari pada sepuluh hari bulan Zulhijah.Hari jum’at adalah sebaik-baik hari yang disinari matahari; di hari jum’at terdapat suatu saat yang bilamana seorang muslim tepat pada saat itu sedang melakukan shalat dan memohon kebaikan kepada Allah, niscaya Allah memberinya. Demikian pula sepuluh malam bulan Ramadhan yang penuh berkah. Sebaik-baik malam sepanjang masa adalah Lailatul-Qadar, karena kebaikannya melebihi seribu bulan.Kemudian sepertiga akhir malam merupakan waktu yang paling berharga di antara waktu malam, karena di dalamnya Allah turun ke Langit dunia untuk mendekati dan menyayangi hamba-hambaNya seraya berfirman :” مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ” متفق عليه“Siapakah kiranya yang berdoa kepadaKu lalu aku kabulkan doanya, siapakah kiranya yang memohon kepadaKu lalu aku berkenan memberinya, siapakah kiranya yang meminta ampun kepadaKu lalu aku ampuninya.?” Muttafaq Alaih.Allah adalah Maha Baik, tidak menerima di antara ucapan dan amal perbuatan kecuali yang baik pula.Firman Allah :إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥۚ [ فاطر/10]“ Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” Qs Fathir : 10Amal shalih merupakan deposito bagi seorang hamba di sisi Tuhan-nya; dengan amal shalih mereka meraih kebahagiaan, keselamatan dan kesuksesan. Allah –subhanahu wa ta’ala- melebihkan mutu antara amal shalih satu dengan lainnya. Tidak ada suatu amal yang digunakan oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah dibanding amal fardhu yang Allah wajibkan atasnya. Dan tak henti-hentinya seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah melalui amal-amal sunnah sehingga Allah mencintainya.Amal fardhu (wajib) yang paling agung ialah keimanan yang benar dan keyakinan yang mantap. Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang : “Amal apakah yang lebih utama?” Jawab beliau : “Beriman kepada Allah.” Muttafaq Alaih.Sebaik-baik hati adalah hati yang sehat (bersih dari endapan dosa), sebab dengan kesehatan hati, maka seluruh organ tubuh akan menjadi sehat dan baik. Di akhirat kelak harta dan anak-anak lelaki tidak berguna, “Kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang sehat/bersih”.Para generasi pertama (umat ini) menempati garis terdepan (dalam kebaikan) berkat ketulusan batin mereka.Bakar Al-Muzani berkata, :” مَا سَبَقهم أبو بَكْرٍ بِكثْرَةِ صَلَاةٍ وَلَا صِيَامٍ وَلكنْ بشَئْ وَقرَ فِى صَدْرِهِ ““Bukanlah yang membuat Abu Bakar membalap mereka itu banyaknya shalat dan puasa, tetapi karena berkat sesuatu yang bersemayam di dalam dadanya”. Sebagian Ulama berkata :” الذِى وَقُرَ فِى صَدْرِه هُوَ حُبُّ اللهِ وَالنَّصِيْحَةُ لِخَلْقِهِ ““Sesuatu yang bersemayam di dalam dadanya adalah kecintaannya kepada Allah dan nasihatnya kepada hamba-hambaNya”.Memurnikan Ibadah kepada Allah semata, tanpa menyekutukanNya dengan sesuatu, merupakan sumber segala kebaikan dan kesuksesan. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sedangkan mengikuti sunnah beliau adalah penyebab terkabulnya ibadah dan keberkahan amal”.Kalimat Tauhid adalah lambang Islam dan kunci surga, menghimpun ajaran agama secara keseluruhan, maka kalimat Tauhid-lah yang menjadi pemula dan pemungkas agama, sekaligus merupakan puncak tertinggi cabang keimanan. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، فَأَعلاهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ [ متفق عليه] “Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang, yang tertinggi adalah pernyataan, ‘La ilaha Illallah’ (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah”. Muttafaq AlaihLoyalitas (karena Allah) dan berlepas diri (dari keburukan karena Allah) merupakan benteng kokoh bagi agama dan pemeluknya. Tali pengikat keimanan yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Barangsiapa yang cinta karena Allah dan benci-pun karena Allah, maka sungguh telah sempurna keimanannya. Itulah sebabnya maka kecintaan kepada Allah dan manisnya agama hanya dapat dirasakan dengan cara ini.Shalat adalah penghubung antara hamba dengan Tuhan-nya. Shalat adalah sebaik-baik ibadah anggota badan dan yang paling suci. Ia merupakan rukun kedua di antara rukun-rukun Islam dan bangunan-bangunannya yang kokoh. Shalat menjadi pembeda antara orang yang beriman dan orang kafir. Melaksanakan shalat secara berjamaah di masjid adalah wajib. Keutamaan pelaksanaannya secara berjamaah melebihi shalat seorang diri dengan 27 derajat. Yang paling besar pahala shalatnya adalah yang paling jauh jarak tempuhnya ke tempat shalat.Sebaik-baik baris kaum lelaki adalah paling depan, sedangkan bagi kaum wanita adalah paling belakang. Sebaik-baik shalat adalah yang dilaksanakan dengan lama berdiri, kecuali dalam kondisi seperti dalam hadis yang menuntut mempercepatnya.Suatu kondisi di mana seorang hamba paling dekat kepada Tuhan-nya adalah ketika ia sedang bersujud. Shalat wanita di rumahnya lebih baik dari pada di masjid. Bagi lelaki pun demikian; lebih baik shalat di rumahnya kecuali shalat wajib. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam. Shalat malam akan disaksikan (oleh para malaikat) jika dilakukan di sepertiga akhir malam. Sebaik-baik shalat malam adalah shalat seperti cara Nabi Daud –alaihissalam-; beliau tidur setengah malam, bangun shalat sepertiga malam dan tidur lagi seperenam malam. Dua rak’at fajar pahalanya lebih baik dari pada dunia seisinya.Sedekah dapat menghapus kesalahan seperti air dapat memadamkan api. Sedekah menjadi bukti keimanan seseorang dan termasuk sebaik-baik amal ibadahnya. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang, “Amal apakah dalam Islam yang paling baik ?” beliau menjawab :” تُطعِمُ الطَّعامَ وتَقرَأ السَّلامَ عَلى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ ” متفق عليه“Engkau memberi makan dan menyampaikan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal”.Muttafaq Alaih“Sedekah yang paling besar pahalanya adalah sedekah yang engkau keluarkan ketika engkau dalam keadaan sehat dan kikir, di mana engkau takut jatuh miskin dan berharap menjadi kaya. Janganlah engkau menunda-nunda sampai roh di tenggorokan, ketika itula engkau ingin katakan : “bagian si fulan sekian dan bagian si fulan sekian, padahal bagian itu seharusnya telah menjadi milik si fulan”. Muttafaq alaih.Sebaik-baik sedekah adalah yang dikeluarkan dari sisa kebutuhan sendiri. Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik dari pada tangan yang di bawah (penerima). Bersedakah secara samar-samar lebih baik dari pada secara terang-terangan, karena cara seperti itu lebih aman dari sikap pamer (riya’) kecuali bilamana bersedekah secara terang-terangan itu dapat mendatangkan kemaslahatan yang meyakinkan. Firman Allah :إِن تُبۡدُواْ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۖ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّ‍َٔاتِكُمۡۗ [ البقرة/271]“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu.” Qs Al-Baqarah : 271Di antara tujuh orang yang dinaungi Allah pada naungan Arasy-Nya adalah seorang yang mengeluarkan suatu sedekah secara samar-samar sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya.Memberi kelonggaran kepada orang yang sedang dalam kesulitan adalah sedekah. Siapa yang pinjam uang kepada seseorang dan bertekad akan mengembalikannya, maka Allah akan menunaikan (memudahkan) pembayarannya. Sesungguhnya orang pilihan di antara kalian adalah orang yang paling baik cara pengembalian hutangnya.Puasa merupakan perisai dari neraka. Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada aroma wewangian misk. Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa bulan Muharam. Puasa yang paling disenagi Allah ialah puasa Daud –alaihissalam-, beliau sehari puasa dan sehari berbuka.Umrah sebelumnya ke umrah berikutnya dapat menghapus dosa antara keduanya. Haji mabrur tiada suatu balasan baginya kecuali surga. Pelaksanaan haji yang terbaik adalah haji tamattu’ bagi orang yang mampu memotong hewan sembelian (hadyu). Mencukur gundul rambut dalam ibadah haji lebih baik dari pada hanya mencukur pendek. Tidak ada suatu amal yang dilakukan oleh seseorang pada hari raya lebih utama dari pada menyembelih hewan sembelihannya.Berangkat untuk berjihad di jalan Allah di waktu pagi atau sore hari lebih baik dari pada dunia dan seisinya. Berjaga sehari semalam (di daerah perbatasan dengan musuh) lebih baik dari pada berpuasa dan shalat malam sebulan, bahkan lebih baik dari pada dunia seisinya.Penguasaan ilmu seharusnya telah ada sebelum beramal dan lebih didahulukan dari amal. Sebab ilmu adalah nahkoda sedangkan amal menginduk pada ilmu. Barangsiapa yang Allah kehendaki suatu kebaikan baginya, maka Allah memahamkannya urusan agama.Allah –subhanahu wa ta’ala- menafikan kesejajaran orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu. Kelebihan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah bagaikan kelebihan cahaya bulan purnama atas bintang-bintang lainnya. Manusia adalah bagaikan barang tambang; mereka yang pernah menjadi orang-orang terbaik pada masa jahiliah akan menjadi orang-orang terbaik pula pada masa Islam jika mereka memahami ilmu Islam.  Sebaik-baik manusia adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.Sofyan –rahimahullah- berkata : ” مَا مِنْ عَمَل أفضَلَ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ إذَا صَحَّت النّيَةُ ““ Tidak ada suatu amal yang lebih baik dari pada upaya mencari ilmu jika niatnya lurus”.Berdzikir kepada Allah adalah amal sunnah yang paling layak dijalani seseorang, dan dzikir yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an, firman Tuhan semesta alam, sebaik-baik kitab suci yang diturunkan.Barangsiapa membaca :” لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ”“Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya, milikNya kerajaan dan milikNya pula segala puji. Dia Maha Kuasa atas segalanya”. 100 X sehari, maka baginya pahala sama dengan memerdekakan 10 budak, dicatat baginya 100 kebaikan, dihapuskan darinya 100 keburukan, dan kalimat tersebut menjadi benteng baginya dari gangguan setan pada hari itu hingga sore. Tidak ada orang yang melakukan suatu amal kebajikan lebih afdhal dari pada apa yang ia lakukan kecuali orang yang melakukan lebih banyak lagi dari pada itu”. HR MuslimPerkataan yang paling disenangi Allah sesudah Al-Qur’an ialah 4 kalimat :” سُبْحَانَ اللهِ ، وَالحمْدُ للهِ ، وَلَا إلهَ إلّا اللهَ ، وَاللهُ أكبَرُ ““Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar”.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” لَأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ” رواه مسلمSungguh jika aku mengucapkan ; “Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar” lebih aku sukai dari pada (bumi) yang tersinari matahari”. HR MuslimDua kalimat yang ringan di lidah, berat dalam timbangan, dicintai oleh Allah yang Maha Pengasih, ialah :  سُبحَانَ الله وَبحَمْدِهِ  (Maha suci Allah dan Maha terpuji).Berdakwah kepada Allah merupakan tugas para rasul, dan tidak ada perkataan yang lebih baik daripada perkataan orang yang berdakwah kepada Allah. Dengan dakwah, maka umat ini meraih yang terbaik dan mencapai kemuliaan. لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمرِ النِّعَمِ“Sungguh sekiranya Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui perantaramu akan lebih baik bagimu daripada onta merah)”.“Barangsiapa yang mengajak kepada kebenaran maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya hingga hari kiamat “.Dakwah dibuka pertama kali dimulai dari persoalan yang paling urgen kemudian beralih kepada persoalan yang urgen. Pokok dan asas dari segala persoalan adalah mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah semata dan menyelamatkan mereka dari kemurkaan dan siksaanNya.    Mendamaikan dua pihak yang bersengketa merupakan bagian dari agama dan bentuk pendekatan diri kepada Allah yang berdampak positif kepada masyarakat secara luas. Allah berfirman :لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar” QS An-Nisaa’ : 114Mengingat begitu besar manfaatnya, maka dengan mendamaikan, seseorang akan meraih derajat seorang yang rajin berpuasa dan tekun melakukan sholat malam. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :أَلآ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ؟“Maukah aku kabarkan kepada kalian yang lebih afdol dibanding derajat puasa dan shalat serta sedekah?”.Para sahabat berkata, “Tentu wahai Rasulullah”. Beliau berkata :إِصْلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ“Mendamaikan dua pihak yang beresengketa”. HR Abu Dawud    Seorang hamba diamanati oleh Allah untuk berbuat baik kepada sesama manusia, sedangkan orang paling utama yang harus diperlakukan dengan baik adalah kedua orang tua. Bakti kepada keduanya merupakan gandengan tauhid dan merupakan amal yang terbaik setelah keimanan. Selanjutnya berbuat baik kepada kaum kerabat terdekat.Seorang mukmin yang berinteraksi dengan masyarakat dan dapat menahan diri dalam menghadapi gangguan mereka lebih baik dari pada orang yang tidak berinteraksi dengan masyarakat dan tidak sabar dalam menghadapi gangguan mereka. Orang yang terbaik adalah yang paling bermanfaat dan mau memberikan andil kebaikan kepada orang lain sesuai kemampuannya. Ia memperlakukan masyarakat dengan cara yang dirinya ingin diperlakukan oleh mereka. Ia menyukai kebaikan bagi mereka, sama dengan yang ia menyukainya untuk dirinya. Ia berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakatnya dan bersikap sabar terhadap gangguan mereka.Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang terbaik akhlaknya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا“Sesungguhnya diantara yang terbaik diantara kalian adalah yang terindah akhlaknya” . HR Al-Bukhari dan MuslimTidak ada sesuatupun di timbangan kebajikan yang lebih berat daripada akhlak yang mulia.Sebaik-baik sahabat adalah yang terbaik bagi sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang terbaik bagi tetangganya. Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian, dan sebaik-baik lelaki adalah yang terbaik bagi istrinya.    Amal yang terbaik adalah amal yang paling langgeng meskipun sedikit.  Amal sedikit namun berkesinambungan akan membuahkan hasil hingga lebih dan bahkan berlipat-lipat dari pada yang banyak namun terputus.Sebaik-baik agama adalah yang lurus (jauh dari kesyirikan) dan yang memberikan kemudahan. Tidaklah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- dihadapkan kepada dua pilihan melainkan beliau memilih yang termudah selama pilihannya itu bukan dosa.Ibadah di masa fitnah adalah seperti berhijrah kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah dari pada orang mukmin yang lemah.Jika pencetus kejahatan telah menguat, maka saatnya berdiri tegak dengan ketegaran hati ( di atas keimanan untuk menghadapi kejahatan tersebut). Diantara mereka yang akan dinaungi oleh Allah pada naunganNya –pada hari kiamat- adalah seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, namun demikian lelaki tersebut berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”.Seorang yang tetap beramal dalam situasi yang memerlukan kesabaran, dan berpegang teguh pada agamanya, baginya pahal lima puluh orang sahabat. Sedangkan pahala menjadi sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- mengungguli itu semua”.Sesungguhnya fitnah (huru-hara) itu merupakan petaka, maka dalam hal ini orang yang memilih sikap defensif lebih baik dari pada yang agresif dan ofensif, namun begitu yang lebih aman adalah menghindar dari fitnah-fitnah tersebut.    Dunia merupakan ladang usaha dan perjuangan. Hasil usaha yang terbaik adalah hasil jerih payah tangan sendiri, dan tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dibanding hasil jerih payah tangannya sendiri. Maka makanan terbaik adalah apa yang diperoleh dari hasil usaha sendiri, dan sesungguhnya anak  merupakan hasil usahanya. Sekiranya ada seseorang yang mengambil talinya lalu pergi mencari kayu akan lebih baik dari pada meminta-minta kepada sesama, baik mereka mengabulkan permintaannya ataupun menolaknya.Dunia merupakan kesenangan sesaat, dan sebaik-baik kesenangan adalah istri yang sholihah. Sebaik-baik pernikahan adalah yang sederhana, dan pernikahan yang paling besar berkahnya adalah pernikahan yang paling sedikit biayayanya (maharnya). Lalu nama yang paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, dan yang paling benar adalah Harits dan Hammaam. Dan yang paling afdhal untuk menyemir (merubah) uban rambut adalah hinna dan katm. Cara terbaik untuk berobat adalah dengan hijamah (bekam). Sebaik-baik air adalah air zam-zam, ia adalah air yang berkah dan makanan mengenyangkan sekaligus obat penyakit.Selanjutnya wahai kaum muslimin sekalian…Sesungguhnya dunia adalah medan untuk berlomba dalam kebaikan dan berpacu dalam ketaatan. Maka orang yang muwaffaq (bernasib mujur) adalah yang segera melakukan amal ketaatan sebelum kedatangan ajal yang mengagetkan.  Ia bersaing dengan orang-orang yang bersegera melakukan kebaikan, dan tidak ingin berlama-lama dalam kehampaan dan kemalasan. Justru ia konsisten dalam ketaatan dan tidak meninggalkan perkara yang lebih afdhal dan lebih sempurna, bukan tersibukkan oleh persoalan-persoalan yang kurang afdhal. Oleh sebab itu, siapa yang mampu untuk tidak didahului oleh seorangpun dalam ketaatan menuju Allah, maka lakukanlah!.==========Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikan-Nya, puji syukur tertujukan kepada-Nya atas bimbingan dan karunia-Nya. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai bentuk pengagungan kepadaNya. Aku-pun bersaksi bahwasanya nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Semoga shalawat dan salam sebanyak-banyaknya selalu tercurahkan kepadanya, seluruh keluarganya dan sahabat-sahabatnya.Kaum muslimin sekalian…Kebahagiaan dan kelapangan dada seseorang terletak pada kedekatannya kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Ketaatan akan membuahkan ketenteraman batin dengan Allah dan kecintaan hati kepada-Nya. Seorang mukmin hendaknya berambisi dalam mencapai amalan yang paling tinggi dan yang paling sempurna serta paling afdhol. Berprasangka kepada Allah adalah perkara yang besar (sangat berpengaruh). Allah tidak akan mengecewakan orang yang berharap dan berbaik sangka kepadaNya.Barangsiapa yang bervariasi dalam melakukan amal shalih, maka akan semakin banyak pula variasi kenikmatan yang ia rasakan di dunia dan akhirat. Tentunya tidak sama antara ganjaran dan kelezatan bagi orang yang punya andil banyak dalam melakukan ketaatan dengan ganjaran dan kelezatan bagi orang yang hanya terbatas melakukan satu model ketaatan.Akhirnya ketahuilah, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk bershalawat dan bersalam kepada nabi-Nya. Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an :إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا“Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. QS Al-Ahzaab : 56======= Doa ========Penerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirja

Imam Syafi’i: Dzikir Setelah Shalat Tidak Dikeraskan

Kalau kita mau melihat perkataan Imam Syafi’i secara seksama yang dikatakan oleh Imam Nawawi, akan ada petunjuk bahwa dzikir setelah shalat tidak perlu dikeraskan terus menerus. Silakan kaji. Dari Ibnu Jarir, ia berkata, ‘Amr telah berkata padaku bahwa Abu Ma’bad –bekas budak Ibnu ‘Abbas- mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – . وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ “Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.” (HR. Bukhari, no. 805; Muslim, no. 583) Dalam riwayat lainnya disebutkan, كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالتَّكْبِيرِ “Kami dahulu mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui suara takbir.” (HR. Bukhari no. 806; Muslim, no. 583) Imam Nawawi rahimahullah mengatakan mengenai hadits di atas, menurut sebagian ulama salaf, disunnahkan mengeraskan bacaan takbir setelah shalat, termasuk pula bacaan dzikir setelahnya. Di antara ulama belakangan yang menganjurkan adalah Ibnu Hazm Az-Zahiri, begitu pula dinukil pendapat ini dari Ibnu Batthol dan ulama lainnya. Sedangkan ulama madzhab dan selain mereka sepakat tidak disunnahkan mengeraskan suara untuk dzikir setelah shalat, termasuk pula takbir. Adapun Imam Syafi’i rahimahullah memaknai hadits di atas bahwa waktu menjaherkan hanya sebentar sekali sehingga diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu berdzikir. Namun dzikir tadi bukan dikeraskan terus menerus. Cukup bagi imam dan makmum berdzikir pada Allah setelah selesai shalat dengan disirrkan (dilirihkan). Kecuali jika imam ingin mengajarkan pada makmum, maka ia boleh menjaherkan hingga makmum itu paham, setelah itu tetap disirrkan (dilirihkan). Demikian hadits tersebut dipahami. (Syarh Shahih Muslim, 5: 76) Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Al- Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Selesai disusun di pagi hari, 29 Jumadats Tsaniyyah 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat Dzikir

Imam Syafi’i: Dzikir Setelah Shalat Tidak Dikeraskan

Kalau kita mau melihat perkataan Imam Syafi’i secara seksama yang dikatakan oleh Imam Nawawi, akan ada petunjuk bahwa dzikir setelah shalat tidak perlu dikeraskan terus menerus. Silakan kaji. Dari Ibnu Jarir, ia berkata, ‘Amr telah berkata padaku bahwa Abu Ma’bad –bekas budak Ibnu ‘Abbas- mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – . وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ “Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.” (HR. Bukhari, no. 805; Muslim, no. 583) Dalam riwayat lainnya disebutkan, كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالتَّكْبِيرِ “Kami dahulu mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui suara takbir.” (HR. Bukhari no. 806; Muslim, no. 583) Imam Nawawi rahimahullah mengatakan mengenai hadits di atas, menurut sebagian ulama salaf, disunnahkan mengeraskan bacaan takbir setelah shalat, termasuk pula bacaan dzikir setelahnya. Di antara ulama belakangan yang menganjurkan adalah Ibnu Hazm Az-Zahiri, begitu pula dinukil pendapat ini dari Ibnu Batthol dan ulama lainnya. Sedangkan ulama madzhab dan selain mereka sepakat tidak disunnahkan mengeraskan suara untuk dzikir setelah shalat, termasuk pula takbir. Adapun Imam Syafi’i rahimahullah memaknai hadits di atas bahwa waktu menjaherkan hanya sebentar sekali sehingga diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu berdzikir. Namun dzikir tadi bukan dikeraskan terus menerus. Cukup bagi imam dan makmum berdzikir pada Allah setelah selesai shalat dengan disirrkan (dilirihkan). Kecuali jika imam ingin mengajarkan pada makmum, maka ia boleh menjaherkan hingga makmum itu paham, setelah itu tetap disirrkan (dilirihkan). Demikian hadits tersebut dipahami. (Syarh Shahih Muslim, 5: 76) Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Al- Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Selesai disusun di pagi hari, 29 Jumadats Tsaniyyah 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat Dzikir
Kalau kita mau melihat perkataan Imam Syafi’i secara seksama yang dikatakan oleh Imam Nawawi, akan ada petunjuk bahwa dzikir setelah shalat tidak perlu dikeraskan terus menerus. Silakan kaji. Dari Ibnu Jarir, ia berkata, ‘Amr telah berkata padaku bahwa Abu Ma’bad –bekas budak Ibnu ‘Abbas- mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – . وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ “Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.” (HR. Bukhari, no. 805; Muslim, no. 583) Dalam riwayat lainnya disebutkan, كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالتَّكْبِيرِ “Kami dahulu mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui suara takbir.” (HR. Bukhari no. 806; Muslim, no. 583) Imam Nawawi rahimahullah mengatakan mengenai hadits di atas, menurut sebagian ulama salaf, disunnahkan mengeraskan bacaan takbir setelah shalat, termasuk pula bacaan dzikir setelahnya. Di antara ulama belakangan yang menganjurkan adalah Ibnu Hazm Az-Zahiri, begitu pula dinukil pendapat ini dari Ibnu Batthol dan ulama lainnya. Sedangkan ulama madzhab dan selain mereka sepakat tidak disunnahkan mengeraskan suara untuk dzikir setelah shalat, termasuk pula takbir. Adapun Imam Syafi’i rahimahullah memaknai hadits di atas bahwa waktu menjaherkan hanya sebentar sekali sehingga diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu berdzikir. Namun dzikir tadi bukan dikeraskan terus menerus. Cukup bagi imam dan makmum berdzikir pada Allah setelah selesai shalat dengan disirrkan (dilirihkan). Kecuali jika imam ingin mengajarkan pada makmum, maka ia boleh menjaherkan hingga makmum itu paham, setelah itu tetap disirrkan (dilirihkan). Demikian hadits tersebut dipahami. (Syarh Shahih Muslim, 5: 76) Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Al- Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Selesai disusun di pagi hari, 29 Jumadats Tsaniyyah 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat Dzikir


Kalau kita mau melihat perkataan Imam Syafi’i secara seksama yang dikatakan oleh Imam Nawawi, akan ada petunjuk bahwa dzikir setelah shalat tidak perlu dikeraskan terus menerus. Silakan kaji. Dari Ibnu Jarir, ia berkata, ‘Amr telah berkata padaku bahwa Abu Ma’bad –bekas budak Ibnu ‘Abbas- mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – . وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ “Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.” (HR. Bukhari, no. 805; Muslim, no. 583) Dalam riwayat lainnya disebutkan, كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالتَّكْبِيرِ “Kami dahulu mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui suara takbir.” (HR. Bukhari no. 806; Muslim, no. 583) Imam Nawawi rahimahullah mengatakan mengenai hadits di atas, menurut sebagian ulama salaf, disunnahkan mengeraskan bacaan takbir setelah shalat, termasuk pula bacaan dzikir setelahnya. Di antara ulama belakangan yang menganjurkan adalah Ibnu Hazm Az-Zahiri, begitu pula dinukil pendapat ini dari Ibnu Batthol dan ulama lainnya. Sedangkan ulama madzhab dan selain mereka sepakat tidak disunnahkan mengeraskan suara untuk dzikir setelah shalat, termasuk pula takbir. Adapun Imam Syafi’i rahimahullah memaknai hadits di atas bahwa waktu menjaherkan hanya sebentar sekali sehingga diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu berdzikir. Namun dzikir tadi bukan dikeraskan terus menerus. Cukup bagi imam dan makmum berdzikir pada Allah setelah selesai shalat dengan disirrkan (dilirihkan). Kecuali jika imam ingin mengajarkan pada makmum, maka ia boleh menjaherkan hingga makmum itu paham, setelah itu tetap disirrkan (dilirihkan). Demikian hadits tersebut dipahami. (Syarh Shahih Muslim, 5: 76) Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Al- Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Selesai disusun di pagi hari, 29 Jumadats Tsaniyyah 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat Dzikir

Anjuran Puasa Tujuh Hari di Awal Rajab

Seseorang boleh saja berpuasa di bulan Rajab sebagaimana berpuasa pada bulan lainnya, seperti melakukan puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh (13, 14, 15 Hijriyah), puasa Daud (sehari berpuasa, sehari tidak). Namun bagaimana dengan motivasi puasa di bulan Rajab secara khusus? Adakah tuntunannya? Di antaranya, ada anjuran puasa tujuh hari di awal Rajab.   Hadits Puasa Rajab Ada beberapa hadits yang menganjurkan beberapa puasa di bulan Rajab, contohnya:   Pertama: Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إن في الجنة نهرا يقال له رجب أشد بياضا من اللبن و أحلى من العسل من صام من رجب يوما سقاه الله من ذلك النهر “Sesungguhnya di surga ada sebuah sungai, namanya sungai Rajab. Airnya lebih putih dari pada salju, lebih manis dari pada madu. Siapa yang puasa sehari di bulan Rajab, maka Allah akan memberinya minum dengan air sungai tersebut.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman,  no. 3800, 3: 367. Ibnul Jauzi dalam Al-‘Ilal Al-Muntanahiyah, no. 912 menyatakan bahwa hadits ini tidak shahih, di dalamnya ada perawi majhul yang tidak jelas siapa mereka)   Kedua: رجب شهر عظيم يضاعف الله فيه الحسنات فمن صام يوما من رجب فكأنما صام سنة ومن صام منه سبعة أيام غلقت عنه سبعة أبواب جهنم ومن صام منه ثمانية أيام فتح له ثمانية أبواب الجنة ومن صام منه عشر أيام لم يسأل الله إلا أعطاه ومن صام منه خمسة عشر يوما نادى مناد في السماء قد غفر لك ما مضى فاستأنف العمل ومن زاد زاده الله “Bulan Rajab adalah bulan yang agung, Allah akan melipatkan kebaikan pada bulan itu. Barang siapa yang berpuasa satu hari pada bulan Rajab, maka seakan-akan ia berpuasa selama satu tahun. Barang siapa yang berpuasa tujuh hari pada bulan Rajab, maka akan ditutup tujuh pintu api neraka jahanam darinya. Barang siapa yang berpuasa delapan hari pada bulan itu, maka akan dibukakan delapan pintu surga baginya. Barang siapa yang berpuasa sepuluh hari dari bulan Rajab, maka tidaklah Allah dimintai apa pun kecuali Allah akan memberinya. Barang siapa berpuasa lima belas hari pada bulan Rajab, maka ada yang memanggil dari langit, ‘Engkau telah diampuni dosamu yang telah lampau.’ Mulailah amal, siapa yang terus menambah, maka akan terus diberi pahala.”  (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 5538 dari jalur ‘Utsman Ibnu Mathor Asy-Syaibani, dari ‘Abdul Ghafur yaitu Ibnu Sa’id, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Sa’id dari bapaknya. Hadits ini dikatakan oleh Syaikh Al-Albani sebagai hadits maudhu’ atau palsu karena adanya ‘Utsman bin Mathar. Ibnu Hibban menyatakan bahwa ia meriwayatkan hadits-hadits palsu. Syaikh Al-Albani memasukkan hadits ini dalam kumpulan hadits lemah, dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, no. 5413, 11: 692)   Penilaian Ulama Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Setiap hadits yang membicarakan puasa Rajab dan shalat pada sebagian malam (seperti shalat setelah Maghrib pada malam-malam pertama bulan Rajab, pen), itu berdasarkan hadits dusta.” (Al-Manar Al-Munif, hlm. 49). Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits yang menunjukkan keutamaan puasa Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.” (Latha’if Al- Ma’arif, hlm. 213) Penulis Fiqh Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata, “Adapun puasa Rajab, maka ia tidak memiliki keutamaan dari bulan haram yang lain. Tidak ada hadits shahih yang menyebutkan keutamaan puasa Rajab secara khusus. Jika pun ada, maka hadits tersebut tidak bisa dijadikan dalil pendukung.” (Fiqh Sunnah, 1: 401). Sebagaimana dinukil oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah (1: 401), Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Tidak ada dalil yang menunjukkan keutamaan puasa di bulan Rajab atau menjelaskan puasa tertentu di bulan tersebut. Begitu pula tidak ada dalil yang menganjurkan shalat malam secara khusus pada bulan Rajab. Artinya, tidak ada dalil shahih yang bisa jadi pendukung.” Syaikh Shalih Al-Munajjid hafizhahullah berkata, “Adapun mengkhususkan puasa pada bulan Rajab, maka tidak ada hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya atau menunjukkan anjuran puasa saat bulan Rajab. Yang dikerjakan oleh sebagian orang dengan mengkhususkan sebagian hari di bulan Rajab untuk puasa dengan keyakinan bahwa puasa saat itu memiliki keutamaan dari yang lainnya, maka tidak ada dalil yang mendukung hal tersebut.” (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 75394) Kalau kita lihat hadits-hadits di atas dan masih banyak hadits lainnya, sungguh betapa besar keutamaan puasa pada bulan Rajab. Akan tetapi kalau kita lihat lebih teliti lagi, kita dapati hadits-hadits itu berkisar antara hadits lemah dan hadits palsu. Silakan timbang-timbang, apa dengan hadits lemah atau hadits palsu untuk kita beramal? Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk menerima amalan sesuai tuntunan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsamalan rajab hadits dhaif

Anjuran Puasa Tujuh Hari di Awal Rajab

Seseorang boleh saja berpuasa di bulan Rajab sebagaimana berpuasa pada bulan lainnya, seperti melakukan puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh (13, 14, 15 Hijriyah), puasa Daud (sehari berpuasa, sehari tidak). Namun bagaimana dengan motivasi puasa di bulan Rajab secara khusus? Adakah tuntunannya? Di antaranya, ada anjuran puasa tujuh hari di awal Rajab.   Hadits Puasa Rajab Ada beberapa hadits yang menganjurkan beberapa puasa di bulan Rajab, contohnya:   Pertama: Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إن في الجنة نهرا يقال له رجب أشد بياضا من اللبن و أحلى من العسل من صام من رجب يوما سقاه الله من ذلك النهر “Sesungguhnya di surga ada sebuah sungai, namanya sungai Rajab. Airnya lebih putih dari pada salju, lebih manis dari pada madu. Siapa yang puasa sehari di bulan Rajab, maka Allah akan memberinya minum dengan air sungai tersebut.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman,  no. 3800, 3: 367. Ibnul Jauzi dalam Al-‘Ilal Al-Muntanahiyah, no. 912 menyatakan bahwa hadits ini tidak shahih, di dalamnya ada perawi majhul yang tidak jelas siapa mereka)   Kedua: رجب شهر عظيم يضاعف الله فيه الحسنات فمن صام يوما من رجب فكأنما صام سنة ومن صام منه سبعة أيام غلقت عنه سبعة أبواب جهنم ومن صام منه ثمانية أيام فتح له ثمانية أبواب الجنة ومن صام منه عشر أيام لم يسأل الله إلا أعطاه ومن صام منه خمسة عشر يوما نادى مناد في السماء قد غفر لك ما مضى فاستأنف العمل ومن زاد زاده الله “Bulan Rajab adalah bulan yang agung, Allah akan melipatkan kebaikan pada bulan itu. Barang siapa yang berpuasa satu hari pada bulan Rajab, maka seakan-akan ia berpuasa selama satu tahun. Barang siapa yang berpuasa tujuh hari pada bulan Rajab, maka akan ditutup tujuh pintu api neraka jahanam darinya. Barang siapa yang berpuasa delapan hari pada bulan itu, maka akan dibukakan delapan pintu surga baginya. Barang siapa yang berpuasa sepuluh hari dari bulan Rajab, maka tidaklah Allah dimintai apa pun kecuali Allah akan memberinya. Barang siapa berpuasa lima belas hari pada bulan Rajab, maka ada yang memanggil dari langit, ‘Engkau telah diampuni dosamu yang telah lampau.’ Mulailah amal, siapa yang terus menambah, maka akan terus diberi pahala.”  (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 5538 dari jalur ‘Utsman Ibnu Mathor Asy-Syaibani, dari ‘Abdul Ghafur yaitu Ibnu Sa’id, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Sa’id dari bapaknya. Hadits ini dikatakan oleh Syaikh Al-Albani sebagai hadits maudhu’ atau palsu karena adanya ‘Utsman bin Mathar. Ibnu Hibban menyatakan bahwa ia meriwayatkan hadits-hadits palsu. Syaikh Al-Albani memasukkan hadits ini dalam kumpulan hadits lemah, dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, no. 5413, 11: 692)   Penilaian Ulama Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Setiap hadits yang membicarakan puasa Rajab dan shalat pada sebagian malam (seperti shalat setelah Maghrib pada malam-malam pertama bulan Rajab, pen), itu berdasarkan hadits dusta.” (Al-Manar Al-Munif, hlm. 49). Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits yang menunjukkan keutamaan puasa Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.” (Latha’if Al- Ma’arif, hlm. 213) Penulis Fiqh Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata, “Adapun puasa Rajab, maka ia tidak memiliki keutamaan dari bulan haram yang lain. Tidak ada hadits shahih yang menyebutkan keutamaan puasa Rajab secara khusus. Jika pun ada, maka hadits tersebut tidak bisa dijadikan dalil pendukung.” (Fiqh Sunnah, 1: 401). Sebagaimana dinukil oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah (1: 401), Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Tidak ada dalil yang menunjukkan keutamaan puasa di bulan Rajab atau menjelaskan puasa tertentu di bulan tersebut. Begitu pula tidak ada dalil yang menganjurkan shalat malam secara khusus pada bulan Rajab. Artinya, tidak ada dalil shahih yang bisa jadi pendukung.” Syaikh Shalih Al-Munajjid hafizhahullah berkata, “Adapun mengkhususkan puasa pada bulan Rajab, maka tidak ada hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya atau menunjukkan anjuran puasa saat bulan Rajab. Yang dikerjakan oleh sebagian orang dengan mengkhususkan sebagian hari di bulan Rajab untuk puasa dengan keyakinan bahwa puasa saat itu memiliki keutamaan dari yang lainnya, maka tidak ada dalil yang mendukung hal tersebut.” (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 75394) Kalau kita lihat hadits-hadits di atas dan masih banyak hadits lainnya, sungguh betapa besar keutamaan puasa pada bulan Rajab. Akan tetapi kalau kita lihat lebih teliti lagi, kita dapati hadits-hadits itu berkisar antara hadits lemah dan hadits palsu. Silakan timbang-timbang, apa dengan hadits lemah atau hadits palsu untuk kita beramal? Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk menerima amalan sesuai tuntunan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsamalan rajab hadits dhaif
Seseorang boleh saja berpuasa di bulan Rajab sebagaimana berpuasa pada bulan lainnya, seperti melakukan puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh (13, 14, 15 Hijriyah), puasa Daud (sehari berpuasa, sehari tidak). Namun bagaimana dengan motivasi puasa di bulan Rajab secara khusus? Adakah tuntunannya? Di antaranya, ada anjuran puasa tujuh hari di awal Rajab.   Hadits Puasa Rajab Ada beberapa hadits yang menganjurkan beberapa puasa di bulan Rajab, contohnya:   Pertama: Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إن في الجنة نهرا يقال له رجب أشد بياضا من اللبن و أحلى من العسل من صام من رجب يوما سقاه الله من ذلك النهر “Sesungguhnya di surga ada sebuah sungai, namanya sungai Rajab. Airnya lebih putih dari pada salju, lebih manis dari pada madu. Siapa yang puasa sehari di bulan Rajab, maka Allah akan memberinya minum dengan air sungai tersebut.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman,  no. 3800, 3: 367. Ibnul Jauzi dalam Al-‘Ilal Al-Muntanahiyah, no. 912 menyatakan bahwa hadits ini tidak shahih, di dalamnya ada perawi majhul yang tidak jelas siapa mereka)   Kedua: رجب شهر عظيم يضاعف الله فيه الحسنات فمن صام يوما من رجب فكأنما صام سنة ومن صام منه سبعة أيام غلقت عنه سبعة أبواب جهنم ومن صام منه ثمانية أيام فتح له ثمانية أبواب الجنة ومن صام منه عشر أيام لم يسأل الله إلا أعطاه ومن صام منه خمسة عشر يوما نادى مناد في السماء قد غفر لك ما مضى فاستأنف العمل ومن زاد زاده الله “Bulan Rajab adalah bulan yang agung, Allah akan melipatkan kebaikan pada bulan itu. Barang siapa yang berpuasa satu hari pada bulan Rajab, maka seakan-akan ia berpuasa selama satu tahun. Barang siapa yang berpuasa tujuh hari pada bulan Rajab, maka akan ditutup tujuh pintu api neraka jahanam darinya. Barang siapa yang berpuasa delapan hari pada bulan itu, maka akan dibukakan delapan pintu surga baginya. Barang siapa yang berpuasa sepuluh hari dari bulan Rajab, maka tidaklah Allah dimintai apa pun kecuali Allah akan memberinya. Barang siapa berpuasa lima belas hari pada bulan Rajab, maka ada yang memanggil dari langit, ‘Engkau telah diampuni dosamu yang telah lampau.’ Mulailah amal, siapa yang terus menambah, maka akan terus diberi pahala.”  (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 5538 dari jalur ‘Utsman Ibnu Mathor Asy-Syaibani, dari ‘Abdul Ghafur yaitu Ibnu Sa’id, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Sa’id dari bapaknya. Hadits ini dikatakan oleh Syaikh Al-Albani sebagai hadits maudhu’ atau palsu karena adanya ‘Utsman bin Mathar. Ibnu Hibban menyatakan bahwa ia meriwayatkan hadits-hadits palsu. Syaikh Al-Albani memasukkan hadits ini dalam kumpulan hadits lemah, dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, no. 5413, 11: 692)   Penilaian Ulama Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Setiap hadits yang membicarakan puasa Rajab dan shalat pada sebagian malam (seperti shalat setelah Maghrib pada malam-malam pertama bulan Rajab, pen), itu berdasarkan hadits dusta.” (Al-Manar Al-Munif, hlm. 49). Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits yang menunjukkan keutamaan puasa Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.” (Latha’if Al- Ma’arif, hlm. 213) Penulis Fiqh Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata, “Adapun puasa Rajab, maka ia tidak memiliki keutamaan dari bulan haram yang lain. Tidak ada hadits shahih yang menyebutkan keutamaan puasa Rajab secara khusus. Jika pun ada, maka hadits tersebut tidak bisa dijadikan dalil pendukung.” (Fiqh Sunnah, 1: 401). Sebagaimana dinukil oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah (1: 401), Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Tidak ada dalil yang menunjukkan keutamaan puasa di bulan Rajab atau menjelaskan puasa tertentu di bulan tersebut. Begitu pula tidak ada dalil yang menganjurkan shalat malam secara khusus pada bulan Rajab. Artinya, tidak ada dalil shahih yang bisa jadi pendukung.” Syaikh Shalih Al-Munajjid hafizhahullah berkata, “Adapun mengkhususkan puasa pada bulan Rajab, maka tidak ada hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya atau menunjukkan anjuran puasa saat bulan Rajab. Yang dikerjakan oleh sebagian orang dengan mengkhususkan sebagian hari di bulan Rajab untuk puasa dengan keyakinan bahwa puasa saat itu memiliki keutamaan dari yang lainnya, maka tidak ada dalil yang mendukung hal tersebut.” (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 75394) Kalau kita lihat hadits-hadits di atas dan masih banyak hadits lainnya, sungguh betapa besar keutamaan puasa pada bulan Rajab. Akan tetapi kalau kita lihat lebih teliti lagi, kita dapati hadits-hadits itu berkisar antara hadits lemah dan hadits palsu. Silakan timbang-timbang, apa dengan hadits lemah atau hadits palsu untuk kita beramal? Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk menerima amalan sesuai tuntunan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsamalan rajab hadits dhaif


Seseorang boleh saja berpuasa di bulan Rajab sebagaimana berpuasa pada bulan lainnya, seperti melakukan puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh (13, 14, 15 Hijriyah), puasa Daud (sehari berpuasa, sehari tidak). Namun bagaimana dengan motivasi puasa di bulan Rajab secara khusus? Adakah tuntunannya? Di antaranya, ada anjuran puasa tujuh hari di awal Rajab.   Hadits Puasa Rajab Ada beberapa hadits yang menganjurkan beberapa puasa di bulan Rajab, contohnya:   Pertama: Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إن في الجنة نهرا يقال له رجب أشد بياضا من اللبن و أحلى من العسل من صام من رجب يوما سقاه الله من ذلك النهر “Sesungguhnya di surga ada sebuah sungai, namanya sungai Rajab. Airnya lebih putih dari pada salju, lebih manis dari pada madu. Siapa yang puasa sehari di bulan Rajab, maka Allah akan memberinya minum dengan air sungai tersebut.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman,  no. 3800, 3: 367. Ibnul Jauzi dalam Al-‘Ilal Al-Muntanahiyah, no. 912 menyatakan bahwa hadits ini tidak shahih, di dalamnya ada perawi majhul yang tidak jelas siapa mereka)   Kedua: رجب شهر عظيم يضاعف الله فيه الحسنات فمن صام يوما من رجب فكأنما صام سنة ومن صام منه سبعة أيام غلقت عنه سبعة أبواب جهنم ومن صام منه ثمانية أيام فتح له ثمانية أبواب الجنة ومن صام منه عشر أيام لم يسأل الله إلا أعطاه ومن صام منه خمسة عشر يوما نادى مناد في السماء قد غفر لك ما مضى فاستأنف العمل ومن زاد زاده الله “Bulan Rajab adalah bulan yang agung, Allah akan melipatkan kebaikan pada bulan itu. Barang siapa yang berpuasa satu hari pada bulan Rajab, maka seakan-akan ia berpuasa selama satu tahun. Barang siapa yang berpuasa tujuh hari pada bulan Rajab, maka akan ditutup tujuh pintu api neraka jahanam darinya. Barang siapa yang berpuasa delapan hari pada bulan itu, maka akan dibukakan delapan pintu surga baginya. Barang siapa yang berpuasa sepuluh hari dari bulan Rajab, maka tidaklah Allah dimintai apa pun kecuali Allah akan memberinya. Barang siapa berpuasa lima belas hari pada bulan Rajab, maka ada yang memanggil dari langit, ‘Engkau telah diampuni dosamu yang telah lampau.’ Mulailah amal, siapa yang terus menambah, maka akan terus diberi pahala.”  (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 5538 dari jalur ‘Utsman Ibnu Mathor Asy-Syaibani, dari ‘Abdul Ghafur yaitu Ibnu Sa’id, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Sa’id dari bapaknya. Hadits ini dikatakan oleh Syaikh Al-Albani sebagai hadits maudhu’ atau palsu karena adanya ‘Utsman bin Mathar. Ibnu Hibban menyatakan bahwa ia meriwayatkan hadits-hadits palsu. Syaikh Al-Albani memasukkan hadits ini dalam kumpulan hadits lemah, dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, no. 5413, 11: 692)   Penilaian Ulama Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Setiap hadits yang membicarakan puasa Rajab dan shalat pada sebagian malam (seperti shalat setelah Maghrib pada malam-malam pertama bulan Rajab, pen), itu berdasarkan hadits dusta.” (Al-Manar Al-Munif, hlm. 49). Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits yang menunjukkan keutamaan puasa Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.” (Latha’if Al- Ma’arif, hlm. 213) Penulis Fiqh Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata, “Adapun puasa Rajab, maka ia tidak memiliki keutamaan dari bulan haram yang lain. Tidak ada hadits shahih yang menyebutkan keutamaan puasa Rajab secara khusus. Jika pun ada, maka hadits tersebut tidak bisa dijadikan dalil pendukung.” (Fiqh Sunnah, 1: 401). Sebagaimana dinukil oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah (1: 401), Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Tidak ada dalil yang menunjukkan keutamaan puasa di bulan Rajab atau menjelaskan puasa tertentu di bulan tersebut. Begitu pula tidak ada dalil yang menganjurkan shalat malam secara khusus pada bulan Rajab. Artinya, tidak ada dalil shahih yang bisa jadi pendukung.” Syaikh Shalih Al-Munajjid hafizhahullah berkata, “Adapun mengkhususkan puasa pada bulan Rajab, maka tidak ada hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya atau menunjukkan anjuran puasa saat bulan Rajab. Yang dikerjakan oleh sebagian orang dengan mengkhususkan sebagian hari di bulan Rajab untuk puasa dengan keyakinan bahwa puasa saat itu memiliki keutamaan dari yang lainnya, maka tidak ada dalil yang mendukung hal tersebut.” (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 75394) Kalau kita lihat hadits-hadits di atas dan masih banyak hadits lainnya, sungguh betapa besar keutamaan puasa pada bulan Rajab. Akan tetapi kalau kita lihat lebih teliti lagi, kita dapati hadits-hadits itu berkisar antara hadits lemah dan hadits palsu. Silakan timbang-timbang, apa dengan hadits lemah atau hadits palsu untuk kita beramal? Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk menerima amalan sesuai tuntunan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsamalan rajab hadits dhaif
Prev     Next